NASKAH AKADEMIK

PERUBAHAN UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2012

1

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latarbelakang

Pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab adalah: apa kontribusi teknologi dalam negeri terhadap pembangunan nasional? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi tolok ukur bagi perkembangan Sistem Inovasi Nasional (SINas) di setiap negara, termasuk Indonesia.1 Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan ‘sederhana’ ini, maka perlu didahului dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang anatomi permasalahannya. Sesungguhnya banyak kelembagaan di Indonesia yang melakukan kegiatan riset. Setiap institusi pendidikan tinggi wajib melakukan kegiatan riset sebagaimana amanah Tridharma Perguruan Tinggi. Tiga tugas pokok institusi pendidikan tinggi negeri maupun swasta adalah melakukan kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain instansi pendidikan tinggi, di Indonesia juga terdapat banyak lembaga riset pemerintah dan non-pemerintah.2 Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi. Rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan
1

Sistem Inovasi Nasional adalah sistem aliran teknologi dan informasi antara kelembagaan pengembang-pengguna teknologi, didukung oleh kelembagaan terkait lainnya, yang menjadi kunci dari proses inovatif pada suatu negara. Dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi terdapat 7 kelembagaan yang tugas pokoknya menyelenggarakan riset atau kegiatan yang terkait dengan implementasi hasil riset. Kelembagaan riset tersebut berstatus sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK). Selain LPNK tersebut, pada masing-masing kementerian teknis juga terdapat Badan Penelitian dan Pengembangan masing-masing. Kelembagaan riset non-pemerintah terdapat di beberapa industri besar, selain itu juga ada yang berupa lembaga riset independen yang diselenggarakan oleh masyarakat.

2

2

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional. Berfungsinya SINas tidak hanya membutuhkan: [1] keberadaan lembaga pengembang teknologi yang produktif dan berkualitas;3 [2] industri yang dikelola dengan baik dan didukung tenaga kerja terampil dan/atau terdidik yang produktif serta kelimpahan bahan baku; dan [3] fasilitasi aktif dari pemerintahan serta kebijakan dan regulasi yang mendukung pewujudan ekosistem yang kondusif; tetapi juga membutuhkan [4] niat dan motivasi yang tinggi antara pihak pengembang dan pengguna teknologi untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain berdasarkan asas kesetaraan dan saling menguntungkan (mutualistik). UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan fungsi dari sistem nasional litbangrap iptek adalah untuk membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sistem nasional litbangrap iptek. Paradigma yang lalu menempatkan pihak pengembang teknologi (institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset) secara dominan dalam mewarnai ‘genre’ teknologi yang dikembangkan. Pendekatan yang lebih dominan bersifat supply-push ini ternyata gagal dalam mempersuasi industri dan pihak pengguna lainnya untuk mengadopsi teknologi hasil riset oleh perguruan tinggi maupun lembaga riset tersebut. Kegagalan paradigma yang lalu ini perlu disikapi secara cerdas dan objektif, dengan mengesampingkan kepentingan sektoral ataupun profesi. Tentu perlu telaah komprehensif terhadap anatomi permasalahan dalam implementasi paradigma supply-push yang kurang optimal tersebut, selain juga perlu dilakukan pencermatan yang matang terhadap alternatifalternatif untuk memperbaiki paradigma lama tersebut. Kenyataan ini menjadi argumen yang sangat kuat untuk melakukan penelaahan terhadap posisi SINas Indonesia saat ini dan mencari alternatif pendekatan yang tepat agar pola hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat efektif, efisien, dan produktif menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan rakyat Indonesia, yang berarti sekaligus secara nyata akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan (perekonomian) nasional. Upaya mengubah paradigma yang lama dengan paradigma yang baru agar ditekankan pada pola dan arah hubungan antara pengembang dan pengguna teknologi serta pihak-pihak lain yang terkait. Secara substansial upaya ini dapat disebut sebagai upaya reorientasi arah dan pola hubungan antar-aktor dalam sistem nasional litbangrap iptek. Diharapkan dengan melakukan
3

Kualitas kelembagaan pengembang teknologi dilihat dari kualitas akademik sumberdaya manusia (SDM) yang mengawakinya, ketersediaan sarana dan prasarana riset yang canggih dan sesuai dengan kebutuhan fokus riset yang menjadi tugas pokoknya, ketersediaan dan/atau kemudahan mengakses sumber informasi ilmiah, dan fasilitas pendukung lainnya untuk menciptakan suasana akademik (academic environment) yang kondusif, serta kemampuannya dalam mendifusikan teknologi yang dihasilkan kepada pengguna potensial.

3

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

reorientasi sistem nasional litbangrap iptek, maka teknologi domestik yang dihasilkan akan lebih berpeluang untuk diadopsi oleh para pengguna, terutama industri dan pelaku produksi lainnya di dalam negeri. Resultan dari adopsi teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa ini adalah peningkatan kontribusi nyata teknologi terhadap pembangunan nasional. Satu hal yang sangat fundamental yang perlu reorientasi adalah anggapan bahwa masalah litbangrap iptek merupakan permasalah teknologi yang berkaitan dengan ekonomi (economically-related technological problems), padahal sesungguhnya penguatan sistem nasional litbangrap iptek adalah permasalahan ekonomi yang butuh dukungan teknologi untuk memecahkannya (technologically-related economical problems). Kemajuan perekonomian sangat tergantung pada kinerja litbangrap iptek-nya, yang pada prinsipnya adalah tergantung pada kapasitas negara dalam mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dan sesuai pula dengan kapasitas adopsi dari para pengguna teknologi. Untuk kasus Indonesia, kesadaran akan pentingnya peran teknologi dalam pembangunan perekonomian nasional tersurat dari ditetapkannya pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sebagai salah satu dari tiga strategi utama dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), disamping dua strategi utama lainnya, yakni pengembangan potensi ekonomi melalui enam koridor yang telah ditetapkan dan memperkuat konektivitas nasional.4 Kesesuaian teknologi dengan kebutuhan nyata membuka peluang lebih lebar untuk teknologi tersebut dapat diadopsi, namun belum sepenuhnya menjamin bahwa sistem nasional litbangrap iptek akan otomatis terbangun. Ekosistem yang kondusif sangat dibutuhkan untuk tumbuh-kembang inovasi, terutama dalam bentuk kebijakan dan regulasi yang akomodatif, yang memudahkan para aktor inovasi untuk berkomunikasi dan berinteraksi serta juga memudahkan proses adopsi teknologi domestik oleh para pengguna di dalam negeri. Arahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono5 untuk mengutamakan upaya pemenuhan kebutuhan (demand) pasar domestik menumbuhkan semangat untuk lebih gigih mewujudkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek yang lebih handal. Penduduk Indonesia yang saat ini (BPS, 2010) telah mencapai 237 juta, merupakan pasar yang sangat besar dan menjadi target banyak negara asing dalam memasarkan produknya. Para pengembang teknologi dan industri dalam negeri harus bahu membahu membangun sinergi untuk tidak membiarkan pasar domestik Indonesia dibanjiri oleh produk dan/atau jasa dari negara-negara asing.

4

Untuk pelaksanaan MP3EI, telah pula diterbitkan Perpres 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menetapkan tiga kelompok kerja (Pokja), yakni: Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi, Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Pokja SDM dan Iptek. Pokja SDM dan Iptek diketuai oleh Menteri Pendidikan Nasional dan wakil ketuanya adalah Menteri Negara Riset dan Teknologi, dengan anggota dari kementerian PPN/Bappenas, Ristek, Diknas, Nakertrans, Keuangan, UKM dan Koperasi, serta dari anggota KIN, Kadin, dan ketua asosiasi profesi dan usaha terkait. Pada Seminar di Institut Teknologi 10 November Surabaya tanggal 14 Desember 2010.

5

4

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sinergi pengembang-pengguna teknologi dalam penguatan inovasi nasional merupakan aksi yang tepat dan sepatutnya dilakukan. Inisiatif inovasi dari Komite Inovasi Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan, Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), antara lain menyebutkan penguatan inovasi melalui skema 747 memerlukan pendanaan R&D hingga 1% dari GDP. Skema 747 ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi, pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi, dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. Peningkatan dukungan pendanaan untuk menunjang program inovasi ini dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan daya dukung pemerintah, BUMN, dan partisipasi badan usaha. Akan sangat ideal jika Pemerintah mampu mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 melalui pembentukan ekosistem yang lebih kondusif melalui regulasi dan kebijakan yang tepat. Adanya peraturan perundang-undangan yang konsisten dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance), sehingga tumbuh-kembang sistem nasional litbangrap iptek dapat berlangsung secara lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

1.2.

Permasalahan

Hasil penelitian LIPI (Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera, 2000) terkait dengan sistem penelitian iptek dan sistem inovasi nasional, antara lain menyimpulkan inovasi masih belum memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional. Menurut Benyamin Lakitan (2012), rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek

5

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi.

bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional.

1.3.

Maksud dan Tujuan Penulisan

Pertanyaan yang fundamental dan filosofis perlu ditranslasi menjadi pertanyaan-pertanyaan teknis dan operasional agar jawabannya juga menjadi lebih dapat ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang menjadi batu sandungan dalam upaya mewujudkan penguatan inovasi secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat.6 Berbagai persoalan terkait rendahnya kontribusi teknologi di Indonesia saat ini diyakini berakar pada tidak relevannya teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang dihadapi rakyat, bangsa, dan negara ini. Persoalan terkait dengan upaya penguatan inovasi tidak dapat disederhanakan secara berlebihan (over-simplified) hanya menjadi persoalan relevansi teknologi. Disadari betul bahwa upaya penguatan inovasi nasional merupakan upaya penguatan sistem inovasi yang sangat kompleks. Banyak aktor yang ikut berperan, dengan derajat dan jenis partisipasi yang berbeda tentunya. Banyak faktor yang mempengaruhi ekosistem dimana sistem inovasi ditumbuhkan, termasuk ekonomi, sosio-kultural, hukum, dan politik. Interaksi dari berbagai aktor dan faktorfaktor yang ikut berpengaruh tersebut yang akan membentuk sistem inovasi nasional yang lebih kokoh. Selain kompleks, upaya penguatan inovasi juga sensitif terhadap dinamika peran para aktor dan faktor-faktor pembentuk ekosistem tumbuhnya. Memahami persoalan dalam upaya penguatan inovasi nasional yang sangat kompleks tersebut, maka penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dimaksudkan untuk: [1] Memahami realita dan permasalahan dalam upaya penguatan kemampuan penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan iptek saat ini; [2] Mencoba merajut sosok ideal SINas Indonesia dalam mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat; [3] Mengidentifikasi dan mengantisipasi dinamika perubahan faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi ekosistem SINas (lingkungan strategis); dan [4] Mengembangkan konsepsi SINas Indonesia yang realistis yang diyakini mampu diaktualisasikan untuk mewujudkan sasaran penguatan inovasi. Penulisan dokumen ini bertujuan untuk digunakan sebagai bahan referensi akademik yang menjadi dasar pertimbangan perubahan UU No. 18 Tahun 2002, terutama dalam penyusunan regulasi yang relevan dengan upaya mewujudkan penguatan inovasi yang lebih produktif dan menyejahterakan rakyat. Sebagai referensi akademik, dokumen cetak biru ini diharapkan

6

Perlu selalu diingat bahwa konsitusi UUD 1945 jelas mengamanahkan bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa (Pasal 31 ayat 5).

6

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

dan dengan pendekatan dari segi pengelolaannya secara terpadu. f. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sesuai Perpres No. Pengembangan. Informasi ini merupakan langkah langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan ekosistem inovasi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menggunakan metode pendekatan deskriptifanalitis. Selain itu. namun diupayakan agar mudah dan enak dibaca dengan gaya bahasa dan penggunaan terminologi yang lebih bersahabat (reader-friendly). 18 Tahun 2002 . dan relevan dengan kondisi Indonesia. selanjutnya dilakukan analisis yang menjadi bagian-bagian sebagai sistem yang terbagi atas sub sistem-sub sistem dari suatu ekosistem sebagai suatu kesatuan dalam merumuskan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 1. peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. maka dokumen cetak biru ini walaupun kental berbasis akademik. pengembangan sistem remunerasi peneliti yang lebih baik.4. Karena tujuannya adalah untuk menjadi landasan dalam pembuatan kebijakan dan/atau regulasi. pengembangan sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. khususnya hukum tertulis yang berlaku yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan upaya-upaya penguatan inovasi secara nasional. mutakhir. pengembangan sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. pembangunan klaster inovasi daerah. dan g. 32 Tahun 2011 tentang MP3EI. Melalui pendekatan interdisipliner akan diketahui hukum dan ilmu hukum yang mengatur penguatan inovasi dan melalui pendekatan multi disipliner akan diketahui ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang mendukung pengaturan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang 7 Naskah Akademik Perubahan UU No. b. Metode Penelitian Hukum Penyusunan Naskah Akademik tentang Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Hasil analisis tersebut menjadi landasan untuk mengidentifikasi peraturan perundangundangan yang ada. terutama bagi para pembuat kebijakan dan regulasi. e.mampu memberikan informasi yang komprehensif. revitalisasi infrastruktur R&D. langkah-langkah perbaikan ekosistem inovasi mencakup: a. pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. d. Pendekatan ini menggambarkan berbagai permasalahan secara utuh dan menyeluruh. penelitian ini menggunakan pendekatan secara interdisipliner dan multidisipliner. Pengembangan. c. serta memberikan kerangka konsepsi yang objektif dan mungkin-dicapai (achievable) dengan sumberdaya yang dimiliki Indonesia.

khususnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kegiatan perekayasaan. Sedangkan inventarisasi dan pengolahan data dilakukan melalui: 1. Oleh karena itu penelitian ini secara futuristik harus menyangkut upaya pembangunan yang berkelanjutan dalam sistem hukum yang ada bagi penguatan inovasi nasional. kertas kerja. Mengkaji bahan-bahan seminar. Tahapan penelitian diawali dengan melakukan inventarisasi hukum. makalah. serta bahan hukum sekunder maupun tertier (hasil-hasil penelitian. kemudian diupayakan untuk menarik azas-azas hukum dan rumusan norma yang akan dijadikan acuan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. maupun difusi teknologi.Perubahan UU No. dengan mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan berlaku di Indonesia termasuk kebijakan inovasi nasional. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif. konvensi dan traktat internasional yang terkait alih teknologi. 2. Metode ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. inovasi. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. pemanfaatan dan pemajuan iptek untuk mendorong inovasi dan difusi teknologi seoptimal mungkin. hasil focus group discussion. Penelitian ini harus pula mendekati permasalahan yang ada dalam upaya peningkatan penguasaan. inovasi. maupun difusi teknologi ini mengacu pada inventarisasi permasalahan. Metode pendekatan sistemik ini digunakan sebagai konsekuensi dari pengertian dan pemahaman mengenai kompleksitas penguatan inovasi secara nasional. Pada dasarnya penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi). dan merupakan bahan-bahan hukum dalam mempersiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. majalah hukum. Data ini selanjutnya dianalisis secara kualitatif berdasarkan norma-norma hukum yang berlaku dan disusun sebagai bagian dari pengembangan sistem hukum nasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. maupun yang terkait dengan perekayasaan. inovasi. maupun difusi teknologi. dan sebagainya) serta data-data yang diperoleh dari para anggota tim penyusunan naskah akademik. serta kegiatan penelitian. 18 Tahun 2002 . inovasi. Penelusuran kepustakaan. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan. maupun difusi teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sumber hukum materiil masalah perekayasaan. dengan data sekunder yang terdiri dari bahan-bahan hukum primer (peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perekayasaan. serta kegiatan penelitian. maupun putusan pengadilan yang terkait dengan inovasi teknologi. 8 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengkajian.

maksud dan tujuan penulisan dokumen. metode penelitian hukum. sehingga 9 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Mengkaji Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Kajian ini mencakup bagaimana implementasi. 18 Tahun 2002 Mencakup tentang latar belakang penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002. Pengembangan. argumen tentang pentingnya upaya memperkuat inovasi nasional dalam rangka meningkatkan kontribusi teknologi.5. pengembangan. Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional yang lebih tangguh. 1. termasuk pelaksanaan peraturan pelaksanaannya. metode penelitian hukum) Judul dan Deskripsi Substansi  Latar Belakang memberikan informasi awal tentang persoalan pokok yang dihadapi terkait dengan rendahnya kontribusi teknologi terhadap pembangunan nasional Indonesia. Inisiatif inovasi nasional dari Komite Inovasi Nasional dalam rangka pencapaian tujuh sasaran inovasi nasional perlu diperkuat melalui peraturan perundang-undangan. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya penguatan inovasi. dan peraturan perundangundangan yang terkait.3. maka sistematika penulisan dirinci sebagai berikut: Bab I Pendahuluan (UU No. dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. 12/2011: latar belakang. Sistematika Penulisan Sesuai dengan maksud penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dan tujuan yang hendak dicapai. serta berbagai kendala dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). dan 4.  Permasalahan secara garis besar memberikan gambaran kondisi kegiatan penelitian. dan penerapan iptek. . tujuan dan kegunaan naskah akademik. permasalahan. Hasil Diskusi atau informasi anggota tim di Kementerian Riset dan Teknologi. serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagaian Pendapatan Badan Usaha untuk Kegiatan Perekayasaan. Inovasi dan Difusi Teknologi. kendala-kendala dalam prakteknya. terutama Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual. Ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya perlu diperhatikan. serta rincian sistematika penulisan dokumen. Program penguatan inovasi nasional ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi. dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. identifikasi masalah. terutama untuk meningkatkan produktivitas nasional dan kesejahteraan. pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi.

dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy) : Sri Mulatsih.  Sistematika menjelaskan tentang tata urut penulisan dokumen yang sekaligus juga merinci tentang substansi isi dokumen. dan dilakukan pula identifikasi permasalahan dan analisis efisiensi sistem inovasi terkait orientasi pembangunan inovasi. dengan analisis deskriptif terhadap berbagai peraturan perundangundangan. LIPI. dan upaya penciptaan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang inovasi. terutama kebijakan-kebijakan yang secara langsung mempengaruhi tumbuh-kembang inovasi nasional. ketersediaan dan kesiapan infrastruktur inovasi. penguatan inovasi. 2005. dan Prakoso Bhairawa Putera. 18 Tahun 2002 . pengguna. BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. pengembangan. 18 Tahun 2002 mencakup:  Analisis Undang-undang No. dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-base economy).Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan: Tatang A Taufik. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif. termasuk kebijakan maupun peraturan perundang-undangan terkait makro ekonomi. dan fakta di masyarakat. Pengembangan.  Metode penelitian hukum memberikan gambaran mengenai metode yang dilakukan di dalam penelitian ini. pendekatan kesisteman. 18 Tahun 2002. maupun berbagai informasi yang relevan dari berbagai narasumber maupun diskusi-diskusi. Komersialisasi III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang-undangan Terkait Untuk menyajikan realita potret peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian.  Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . pendidikan.  Maksud dan tujuan penulisan adalah menjelaskan tentang niat yang terkandung dalam penyusunan dokumen naskah akademik ini dan kemanfaatan yang dapat diperoleh publik dengan tersedianya dokumen ini. dan 10 Naskah Akademik Perubahan UU No. ketenagakerjaan. 2007. dan pembangunan infrastruktur sosial.  Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Kelembagaan Iptek. Kajian teoritis mencakup uraian tentang beberapa konsepsi penting termasuk makna inovasi. dinamika interaksi antar-aktor. dan penerapan iptek di Indonesia saat ini. 18 Tahun 2002. maka akan diulas tentang kinerja perekonomian nasional.Bab Judul dan Deskripsi Substansi memerlukan perubahan UU No. II Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi Mencakup kajian teoritis dan kajian implementasi UU No. para aktor inovasi nasional yang terdiri dari aktor pengembang. Kajian implementasi UU No. Kementerian Riset dan Teknologi. peran dan kontribusi aktor inovasi. 2009. dilakukan analisis tentang ekosistem pembangunan nasional. perindustrian dan perdagangan. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan aktor penting lainnya yang ikut menentukan dinamika ekosistem inovasi. teori-teori hukum.

18 Tahun 2002 .  Ekosistem Inovasi yang Kondusif dibutuhkan untuk tumbuh-kembang SINas. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. teknologi yang dikembangkan harus pula sesuai dengan potensi sumberdaya nasional. Secara sosiologis penguatan inovasi nasional dapat memenuhi karakteristik inovasi yang khas Indonesia yang mencakup: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. Menurut Kelsen. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Ekosistem SINas yang kondusif dapat diwujudkan melalui kebijakan dan 11 Naskah Akademik Perubahan UU No. menurut Hans Kelsen. sosiologis. karena efektivitas hukum merupakan fakta.  Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi diharapkan mampu mendorong pengembangan SDM yang relevan dengan kebutuhan. Syarat yuridis. kesesuaian teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna (demand-driven) merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam membangun inovasi nasional. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). Menurut teori kekuasaan. teknologi yang relevan saja memang belum cukup menjadi jaminan bahwa teknologi tersebut akan diadopsi pengguna. IV Landasan Filosofis.  Reorientasi Arah dan Prioritas Riset. Selain itu. karena masih akan tergantung pada kapasitas adopsi pengguna teknologi. Namun demikian. yaitu syarat yuridis. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan.Bab Judul dan Deskripsi Substansi peran pemerintah dalam skenario pengembangan SINas. secara bertahan mengubah minset pada pengembang teknologi agar lebih berorientasi pada kebutuhan nyata dan lebih sensitif terhadap persoalan yang dihadapi pengguna teknologi. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. dan filosofis. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. membangun semangat kebersamaan antar aktor inovasi. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. Sosiologis dan Yuridis Menurut UU No. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi.  Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik menjadi isu yang sangat penting. dalam rangka membangun kemandirian bangsa. peranan lembaga intermediasi akan sangat berat jika teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan dan tidak sepadan dengan kapasitas adopsi pengguna.

kebijakan ketenagakerjaan.  Dinamika Lingkungan Regional ASEAN memperlihatkan bahwa posisi Indonesia secara relatif lebih lamban kemajuan pembangunan ipteknya dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Panggung SINas yang ideal perlu didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. baik pada tingkat global.  Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional pada akhirnya akan dievaluasi berdasarkan kontribusi inovasi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. disamping sebagai sasaran antaranya adalah pertumbuhan ekonomi. regional. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro. Upaya penguatan inovasi nasional harus bersifat dinamis menyesuaikan dengan dinamika perubahan lingkungan strategis. Arah Pengaturan dan Ruang Lingkup  Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. V Jangkauan. kebijakan riset dan pengembangan teknologi. maupun nasional. Selanjutnya secara nyata berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. Secara filosofis penguatan inovasi nasional harus mampu mengantisipasi perubahan lingkungan strategis. 18 Tahun 2002 . Pengakuan atas potensi peran iptek ini diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat inovasi nasional.  Dinamika Lingkungan Global yang paling penting adalah semakin kentaranya kecenderungan untuk mendorong pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Oleh sebab itu.Bab Judul dan Deskripsi Substansi regulasi yang tepat di berbagai sektor yang secara langsung mempengaruhi kinerja para aktor inovasi dan interaksi antar-aktor tersebut. dan perpajakan. terbangunnya masyarakat berbasis pengetahuan. kebijakan pendidikan nasional. keuangan. sehingga lebih berpeluang untuk digunakan dalam proses produksi barang dan/atau jasa. kebijakan 12 Naskah Akademik Perubahan UU No. kebijakan perindustrian dan perdagangan. perlu percepatan dalam mewujudkan dan memperkuat inovasi Indonesia yang dimulai dengan perubahan mindset para pengembang teknologi dan meningkatkan peran dunia usaha dalam pembangunan iptek. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. dan stabilitas keamanan nasional.  Dinamika Lingkungan Nasional pada tahun 2011 ini ditandai dengan diluncurkannya MP3EI yang menempatkan pembangunan iptek sebagai salah satu strategi utama untuk percepatan dan perluasan pembanguan ekonomi Indonesia.

18 Tahun 2002 3. yaitu: 1. [2] revitalisasi lembaga pengembang teknologi. pengembangan. [9] sinkronisasi dan perbaikan regulasi. [5] penyiapan S&T Park. secara garis besar menekankan pada penguatan empat hal. lembaga ristek.Bab Judul dan Deskripsi Substansi penyediaan infrastruktur sosial. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. 2. dan swasta. 18 Tahun 2002 Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). peningkatan hasil. Dua kebijakan tersebut. [8] revitalisasi DRN. pengembangan. VI Rangkuman dan Rekomendasi Merupakan bagian akhir dokumen yang menyajikan rangkuman terkait dengan unsur dan isu penting dalam penguatan inovasi nasional serta rekomendasi materi perubahan kebijakan dan/atau regulasi yang ada. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. [6] membangun pusat unggulan inovasi. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. rekayasa inovasi . dan . dan pemanfaatan teknologi. 13 Naskah Akademik Perubahan UU No. pendayagunaan. [3] peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. universitas. 4. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. dan [10] berbasis sumberdaya dan memenuhi kebutuhan nasional. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. [4] peningkatan peran lembaga intermediasi. difusi.pengembangan.  Lingkup Materi Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. [7] mendorong pembentukan konsorsium inovasi. Kebijakan dapat mendukung arah penguatan inovasi nasional yang mencakup: [1] membangun inovasi sebagai sistem.

Hal ini sangat relevan dalam memformulasikan kebijakan publik dan/atau regulasi yang secara legal sifatnya mengikat semua pihak. efektif. atau terdiri dari banyak sub-sistem sesuai dengan karakteristik persoalan dan potensi sumberdaya masing-masing satuan wilayah dalam suatu negara yang diikat oleh satu tujuan kolektif. Oleh sebab itu. Pemahaman yang tepat ini sangat diperlukan ketika pokok bahasannya terfokus pada inovasi.1. tetapi dengan interpretasi yang sangat variatif. yakni inovasi dipadankan sebatas sesuatu yang berbeda (dari yang umumnya sudah diketahui) sampai ke definisi akademik yang lebih teknis dan spesifik. kebijakan penguatan inovasi secara tersurat mengindikasikan bahwa sistem inovasi yang dimaksud berada pada level negara. Keadaan menjadi lebih runyam karena di kalangan akademik pun. Penguatan inovasi yang akan diwujudkan tentu perlu dijelaskan kepada publik agar publik dapat secara nyata. Inovasi sebagai suatu sistem yang kompleks tidak dapat dianalisis dengan cara memutilasi komponen-komponennya untuk ditelaah secara terpisah. Penguatan inovasi nasional haruslah menjadi simpul pengikat antara teknologi dan ekonomi. Interaksi dinamis antar-aktor. Ketika yang dibahas adalah inovasi. karena kata inovasi sudah sangat populer. Kajian Teoritis 2. maka pemahaman tentang inovasi sebagai suatu ‘sistem’ perlu dimantapkan. misalnya untuk menyejahterakan rakyat. Rentang interpretasi itu mulai dari yang sangat ‘longgar’.1. perlu penegasan tentang apa yang dimaksud dengan inovasi yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. 18 Tahun 2002 . interaksi antara aktor inovasi dengan ekosistemnya. Pendekatan sistem diperlukan dalam menganalisis maupun dalam merancang kebijakan inovasi nasional SINas yang paling cocok. dan efisien memberikan kontribusinya bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.Bab 2 Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi 2. serta dinamikan dan kontinyuitas sirkulasi aliran informasi kebutuhan dan pasokan teknologi merupakan kesatuan utuh yang diperlukan dalam upaya penguatan inovasi. digunakan dalam berbagai komunitas. Dalam suatu sistem. dikaitkan dengan banyak aspek kehidupan. Pengembangan teknologi dalam kerangka penguatan inovasi dirancang agar dapat memberikan 14 Naskah Akademik Perubahan UU No. Konsepsi Inovasi Nasional Adanya pemahaman yang tepat tentang terminologi dasar dan konsepsi pokok merupakan langkah awal yang sangat strategis dan penting untuk dilakukan. Namun masih perlu dijelaskan bahwa sistem dimaksud bersifat sentralistik menjadi sebuah sistem tunggal yang besar dan kompleks. sebaliknya juga tidak bisa dirancang komponen-komponennya secara parsial baru kemudian dirajut menjadi inovasi nasional. definisi inovasi masih beragam.1.

atau melakukan perubahan cara berpikir yang radikal dan revolusioner. konsepsi tentang pendekatan sistem. sedangkan inventor menemukan sesuatu yang baru. Ada perumpamaan yang menarik untuk membedakan antara invensi dan inovasi. teknologi. engineering. Oleh sebab itu. proses untuk menghasilkan produk tersebut juga sama pentingnya. melakukan sesuatu dengan metoda yang berbeda. Inovasi dapat berkaitan dengan penambahan atas sesuatu yang telah ada. pembangunan perekonomian harus berbasis pada pengetahuan (knowledge-based economy. World Bank (2010) menyatakan bahwa “what is not disseminated 15 Naskah Akademik Perubahan UU No. termasuk ekonomi. Perubahan tersebut dapat terlihat dari produk yang dihasilkan. sedangkan inovasi mengubah ide menjadi uang. invensi adalah proses atau produk baru yang secara nyata berbeda atau sama sekali baru dibandingkan dengan proses atau produk serupa yang telah ada. proses untuk menghasilkan produk tersebut. Pengertian inovasi. dan sosiologi. Inovasi merupakan sebuah kata yang saat ini sedang ‘naik daun’.kontribusi nyata terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Para ekonom era modern yakin bahwa di saat sekarang dan di masa yang akan datang mesin utama yang akan mendorong perkembangan perekonomian suatu negara adalah tingkat penguasaan dan aplikasi dari teknologi yang dikuasai tersebut. tidak dapat lagi hanya dengan mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam. Inovasi dapat dimaknai sebagai upaya mengubah nilai-nilai yang selama ini telah menjadi landasan dari suatu sistem. Persoalannya adalah walaupun masing-masing pihak menggunakan kata yang sama. Inovasi diadopsi dari Bahasa Latin ‘innovatus’ yang berarti memperbarui. namun dalam perspektif ekonomi. inovasi telah menjadi topik yang penting dalam berbagai bidang ilmu. sedangkan inovasi lebih dilihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. kemudian ditransformasi menjadi sesuatu yang bermanfaat. atau sesuatu yang sama sekali baru. atau memilih sesuatu yang diluar norma yang berlaku. desain. Saat ini. dan KBE selanjutnya akan ditelaah secara lebih komprehensif. namun belum tentu dapat menghasilkan uang dari hasil temuannya tersebut. serta akan pula diberi penegasan pada bab ini tentang pengertian dan konsepsi dasar yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. Pada awalnya inovasi diartikan sebagai suatu proses untuk memperbarui sesuatu yang sudah ada atau menghasilkan sesuatu yang dianggap baru. inovasi harus menghasilkan nilai tambah atau peningkatan produktivitas. memunculkan unsur yang sama sekali baru. namun sangat mungkin bahwa pihak-pihak tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda tentang inovasi. Invensi merupakan proses konversi uang menjadi ide. Inovator menghasilkan keuntungan finansial dari hasil karyanya. atau struktur dan fungsi organisasi yang berperan dalam proses produksinya. maka sangat mungkin akan membuka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda. Untuk melakukan suatu pembaruan berarti seseorang perlu mengubah caranya dalam membuat keputusan. Proses yang dimulai dari ide. Semua komponen masyarakat menggunakan kata ini baik dalam komunikasi sosial maupun pada forum yang lebih formal. Jika suatu sistem berubah. 18 Tahun 2002 . Walaupun inovasi lebih sering dikaitkan dengan produk yang dihasilkan. disingkat KBE). Dalam perspektif ekonomi. Kedua terminologi ini sebetulnya berbeda. Inovasi sering dicampur-aduk pengertiannya dengan invensi. bisnis.

[4] kemanfaatan suatu produk merupakan prasyarat untuk komersialisasi atau untuk peningkatan kesejahteraan sosial. Proses yang panjang ini hampir selalu melibatkan banyak aktor. yang tentunya hanya dapat terlahirkan dari pemikiran yang kreatif. atau metoda organisasi yang telah dikenal sebelumnya. 18 Tahun 2002 . [3] status yang lebih baik ini. maupun para aktor yang berperan dalam membangun ekosistem yang kondusif bagi keberlangsungan aliran tersebut. Metoda organisasi mencakup praktek bisnis. proses. proses. Telaah secara partial dengan pendekatan linier tak akan mampu menjelaskan sistem inovasi secara komprehensif dan benar. atau pemerintah. Hal ini perlu untuk membedakan antara penghela endogen (endogenous drivers). atau metoda organisasi) yang baru.and used. a new marketing method. Pengertian inovasi versi UUNo. atau metoda organisasi yang baru atau secara signifikan telah diperbaiki. Oleh sebab itu. dengan penghela eksogen (exogenous drivers). Produk dapat berupa barang maupun jasa. membuka peluang bagi produk dan proses inovatif untuk digunakan dalam berbagai aktivitas manusia. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi ”. penelaahan inovasi harus dilakukan dengan pendekatan sistem. cara pemasaran. Interaksi antar-aktor dan interaksi antara aktor dengan ekosistem inovasi bersifat sangat dinamis dan timbal-balik. metoda pemasaran. tidak dapat dilakukan secara linier. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian.8 Inovasi merupakan implementasi dari suatu produk. Proses inovatif selalu membentuk suatu sistem yang kompleks. Berdasarkan ini. yakni para aktor yang secara langsung menggerakkan inovasi. or a new organizational method in business practices. juga harus pula secara signifikan lebih baik dari produk. masyarakat awam. [2] inovasi selain baru. 2003). Uraian dan referensi di atas memberikan pemahaman bahwa: [1] inovasi merupakan sesuatu (produk. organisasi kerja. OECD’s Oslo Manual 2005 Guidelines for Collecting and Interpreting Innovation Data 8 16 Naskah Akademik Perubahan UU No.7 OECD (2005) menggunakan definisi inovasi: “An innovation is the implementation of a new or significantly improved product (good or service). baik yang terlibat secara langsung dalam aliran ide menjadi produk yang bermanfaat. 7 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UUNo. pengembangan. bermakna pula bahwa inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). or process. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. Proses inovasi berlangsung mulai dari munculnya ide di benak para inovator sampai pada termanfaatkannya produk inovatif tersebut. workplace organization or external relations”. proses. maka inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). atau hubungan dengan pihak eksternal. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini. yakni para aktor yang memberikan dukungan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi nasional (Bathelt. sehingga pada dasarnya inovasi merupakan sesuatu yang bermanfaat. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. is not an innovation”. Perlu dibedakan antara unsur sistem dengan lingkungannya (ekosistem). maka sangatlah penting untuk membekali setiap pihak yang terlibat dalam upaya mewujudkan inovasi nasional untuk memahami konsepsi pendekatan sistem. Dengan demikian. cara pemasaran.

18 Tahun 2002 . SINas merupakan suatu sistem keterkaitan antar-kelembagaan untuk menciptakan. dan impor teknologi baru. yang menyatakan bahwa SINas sebagai sekelompok institusi yang interaksinya menentukan kinerja inovatif suatu negara. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. dan mentransfer pengetahuan. yakni sebagai sekumpulan institusi yang secara sendiri dan bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan dan difusi teknologi baru serta memberikan kerangka bagi pemerintah dalam membuat dan mengimplementasikan kebijakan untuk mempengaruhi proses inovasi. Mingers dan White (2010) merinci bahwa pendekatan sistem (systems approach) mencakup: [1] melihat situasi secara holistik (berarti tidak bersifat reduksionis). 17 Naskah Akademik Perubahan UU No. sebagai kumpulan elemen yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan tertentu. sedangkan Lundvall (1992) mendefinisikan SINas sebagai elemen dan hubungan yang interaktif dalam proses produksi. dan artefak untuk melahirkan teknologi-teknologi baru. Definisi SINas yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Metcalfe (1995). [3] memahami adanya hirarki/jenjang dalam suatu sistem dan ‘mutual casuality’ dalam masingmasing jenjang maupun antar-jenjang. difusi. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. disebutkan bahwa “ SINas adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. mendukung. Definisi menurut peraturan perundang-undangan. Sementara Patel dan Pavitt (1994) mengambarkan SINas sebagai kelembagaan-kelembagaan nasional dengan struktur dan kompetensinya yang menentukan laju dan arah pembelajaran teknologi (technological learning) pada suatu negara. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. 2005) Pendekatan sistem merupakan buah dari pemikiran sistemik (systems thinking). Selanjutnya. Dengan kata lain. Mingers dan White (2010) menyatakan bahwa systems thinking is a discipline in its own right. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Nelson (1993). difusi. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. menyimpan.Liu dan White (2001) menggunakan istilah aktor primer dan sekunder. but it is also applicable to almost any problem area because of its generality.”. dan [4] memahami bahwa manusia akan beraksi sesuai dengan tujuan dan rasionalitas yang berbeda. Pemilahan ini hanya untuk membedakan posisi peran para aktor yang terlibat. [2] memposisikan hubungan atau interaksi antara elemen lebih penting dari elemen-elemennya sendiri dalam membentuk perilaku sebuah sistem. ketrampilan. lembaga riset dan teknologi. dan penggunaan pengetahuan baru yang bernilai ekonomi yang berada dalam atau berasal dari suatu negara. modifikasi. mendayagunakan. with many theoretical and methodological developments. Sistem Inovasi Nasional (SINas) didefinisikan dalam beberapa versi. dapat ditemui dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. Freeman (1987) mendefinisikan SINas sebagai jaringan kelembagaan pemerintah dan/atau swasta yang melaksanakan dan berinteraksi dalam inisiasi. tetapi akan keliru jika pembagian ini berdampak pada pengisolasian sistem dari lingkungannya (Asheim dan Coenen.

[2] pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan –baik pemerintah maupun swasta. Sinyal kebutuhan masyarakat ini diterjemahkan oleh industri dalam bentuk kebutuhan teknologi untuk memproduksi barang dan/atau jasa yang sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut. inovasi harus diawali dengan menjawab tiga pertanyaan yang sangat fundamental. Definisi SINas yang diusung pada periode 1980-1990an telah menyebutkan bahwa SINas mencakup kegiatan difusi dan pemanfaatan teknologi. dan pemanfaatan teknologi. yang memberi ketegasan bahwa teknologi yang dihasilkan harus berakhir dengan dimanfaatkannya teknologi tersebut oleh para pengguna. Produk teknologi yang dihasilkan kemudian didifusikan kepada pihak pengguna. di LIPI. kebutuhan. dan [4] ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. [3] produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. kegalauan akan rendahnya adopsi teknologi tersebut terlihat mewarnai definisi atau deskripsi SINas yang diusung pada kurun waktu tahun 2000-an. Pengembangan inovasi nasional dengan pendekatan demand-driven mengutamakan dan dimulai dari pemahaman tentang masalah. maka ada beberapa pengertian dasar yang dapat ditarik berkaitan dengan SINas. yakni: [1] what is possible with technology? [2] what is desirable to the society? [3] what is viable in the market?9 Pendekatan dalam upaya penguatan inovasi nasional secara ekstrim dapat dibedakan menjadi dua.Berdasarkan berbagai definisi di atas. Berdasarkan informasi ini. Prakteknya. yakni: [1] kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. Pendekatan supply-push mengutamakan dan dimulai dari proses pengembangan teknologi oleh institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset. adopsi teknologi oleh para pengguna teknologi di banyak negara (terutama negara-negara berkembang) masih sangat minimal. Pengertian dasar dalam sistem inovasi nasional ini diperkuat dalam Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. Proses difusi teknologi tersebut dapat melalui atau tanpa melalui lembaga intermediasi. yakni berdasarkan pendekatan supply-push dan pendekatan demand-driven. 18 Tahun 2002 . Oleh sebab itu. serta telah menyebutkan bahwa teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang punya potensi untuk dikomersialisasikan.yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. Sharif (2010) mendeskripsikan inovasi sebagai upaya kolektif mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai (turning idea into values). Namun demikian. lembaga riset dan/atau institusi pendidikan tinggi 9 Dicuplik dari keynote address oleh Nawaz Sharif (2010) berjudul ‘Govern ance of Innovation Systems in the Current Global Setting’. Jakarta 18 Naskah Akademik Perubahan UU No. The World Bank (2010) dengan sangat tegas mencanangkan bahwa sesuatu (baca: teknologi) yang tidak didiseminasikan dan tidak digunakan bukanlah inovasi. dan preferensi masyarakat yang dapat dideteksi langsung oleh pihak pengembang teknologi maupun melalui mitranya dari komunitas bisnis. terutama industri yang akan memanfaatkannya untuk menghasilkan produk komersial berupa barang dan jasa. dapat difasilitasi atau tanpa difasilitasi oleh Pemerintah atau pihak lain yang kompeten. difusi.

and the increasing need for ready access to all of these by the business and public sectors’ . dalam penguatan inovasi. yakni ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy selanjutnya disingkat KBE) yang menunjukkan bahwa dalam perkembangannya. dan tentu termasuk dalam kondisi keharusan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan pasar. Sejak tahun 1960-an mulai muncul keyakinan bahwa perbedaan kemajuan perekonomian antar-negara terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi dari masing-masing negara (Fagerberg dan Srholec. dalam kerangkeng regulasi yang kaku. Investasi di bidang riset dan pengembangan.10 KBE pada prinsipnya merupakan ekonomi yang secara langsung berbasis pada produksi. informasi. Secara teoritis dapat dimunculkan pendekatan yang moderat dan akomodatif. Inovasi yang dikembangkan melalui pendekatan demand-driven akan lebih berpeluang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan perekonomian. Walaupun demikian. and high skill levels. Sebelum periode tersebut. sebagaimana halnya teori fisika. information. Pilihan pendekatan tersebut lebih untuk menjamin agar aliran teknologi dapat terjadi secara berkesinambungan dan komersialisasi produk yang dihasilkan dapat menjadi pasokan ‘energi’ untuk kontinuitas aliran teknologi tersebut. Selain besaran nilai investasi untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi. Keyakinan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kemajuan perekonomian dengan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan ‘mazhab’ ekonomi baru. Untuk dapat memberikan dampak nyata dan langsung. misalnya dalam kondisi serba keterbatasan. mengabaikan kenyataan bahwa kreativitas sesungguhnya lebih terangsang untuk muncul pada kondisi yang ‘tidak nyaman’. kelancaran distribusi pengetahuan (baik melalui 10 OECD (2005) mendefinisikan ekonomi berbasis pengetahuan sebagai: ‘an expression coined to describe trends in advanced economic towards greater dependence on knowledge. kemajuan perekonomian lebih banyak dikaitkan dengan jumlah uang yang terakumulasi (accumulated capital) per tenaga kerja. yakni dengan memadukan pendekatan supply-push dan demand-driven. walaupun pendekatan demand-driven yang dipilih tetapi tidak berarti ruang untuk pendekatan supply-push digusur habis. 2008). 19 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan tenaga kerja berketerampilan tinggi. Saat ini banyak upaya yang dilakukan oleh para ahli ekonomi untuk menjelaskan secara langsung (baik secara teoritis maupun pengembangan model) tentang kontribusi pengetahuan dan teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. 18 Tahun 2002 . maka sumberdaya ekonomi ini harus mudah diakses oleh dunia usaha dan para penguna lainnya. dan penggunaan pengetahuan dan informasi. Maknanya. pendidikan dan pelatihan. karena lebih berpeluang untuk diadopsi industri.mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan. Akan tetapi. di bawah tekanan. sebagian komunitas akademik dan peneliti menganggap pendekatan demand-driven akan mengebiri kreativitas ilmiah. proses aliran hanya akan terjadi jika ada perbedaan derajat antara posisi asal dan posisi sasaran. Anggapan yang demikian. distribusi. serta manajerial merupakan determinan penting KBE. Teori Pertumbuhan Baru (New Growth Theory) mencerminkan upaya untuk memahami tentang peran pengetahuan dan teknologi dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. ekonomi saat ini semakin bergantung pada kemajuan pengetahuan dan teknologi.

pengguna yang dimaksud adalah industri yang memahami kebutuhan dan preferensi konsumen. atau dibutuhkan tapi kalah handal secara teknis dan/atau kurang kompetitif secara ekonomi. Adopsi teknologi akan terjadi jika pihak pengembang teknologi memahami kebutuhan pihak pengguna. Akan tetapi.jalur formal maupun informal) juga merupakan faktor esensial yang mempengaruhi kinerja perekonomian. Jurnal Dinamika Masyarakat 8(1):1501-1516. Produk teknologi yang pengembangannya tidak berorientasi pada kebutuhan nyata tentu akan sulit dijual ke pengguna. Indikator yang berbasis pada nilai investasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semata (seperti jumlah belanja riset dan pengembangan. Namun demikian. riset. Indikator dari sisi keluaran kegiatan riset dan pengembangan serta distribusinya diyakini akan lebih relevan. mengingat bahwa dinamika perubahan pengetahuan dan teknologi berlangsung dalam tempo yang cepat. juga harus pula memahami persoalan dan kebutuhan nyata agar dapat mengemas kurikulum yang relevan terhadap persoalan dan kebutuhan nyata tersebut. Prinsip dasarnya adalah bahwa teknologi hanya memberikan kontribusi jika digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk barang/jasa yang dibutuhkan konsumen. tidak semua pakar ekonomi sependapat bahwa TFP bisa mencerminkan kontribusi teknologi. Kelemahan teoretis dan ketidakkonsistenan empiris dari hasil perhitungan pada berbagai negara dengan tingkat kemajuan teknologi yang berbeda menjadi lahan subur untuk perdebatan. 11 Elaborasi lebih mendalam mengenai isu ini dapat dibaca pada Lakitan (2009):”Kebijakan Pengembangan dan Implementasi Sistem Inovasi Nasional: menjembatani pendidikan. Upaya yang umum dilakukan untuk merangsang atau mempercepat difusi teknologi adalah membentuk lembaga intermediasi. industri. Penguasaan pengetahuan dan teknologi yang tinggi tetapi hanya terisolir di kalangan akademik atau periset semata tidak akan memberikan dampak terhadap kinerja perekonomian. Oleh sebab itu. pendidikan dan ketrampilan tinggi tersebut perlu mempunyai relevansi yang juga tinggi dengan persoalan dan kebutuhan nyata.11 Upaya untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan perekonomian dilakukan antara lain dengan menghitung Total Factor Productivity (TFP). untuk mendukung KBE. lembaga intermediasi akan sulit berfungsi efektif jika teknologi yang ditawarkan adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan. Dalam konteks komersialisasi. antara lain karena keterbatasan dan mutu indikator terkait pengetahuan yang saat ini tersedia. 20 Naskah Akademik Perubahan UU No. institusi pendidikan tinggi perlu dirancang agar selain mampu menyelenggarakan pendidikan yang secara akademik berkualitas. Ada kesulitan dalam mengevaluasi ekonomi berbasis pengetahuan. Lapangan kerja dalam konteks KBE akan lebih banyak membutuhkan tenaga kerja dengan ketrampilan tinggi atau berpendidikan tinggi. 18 Tahun 2002 . Kesimpulan dari kajian yang dilakukan oleh Lipsey dan Carlaw (2001) patut direnungkan: “ There is no reason to believe that changes in TFP in any way measure technological change” . jumlah dan kualitas personel pengembang teknologi) belum cukup untuk memberikan gambaran tentang kinerja KBE. Walaupun demikian. Intensitas hubungan dan kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi antaraktor dalam sistem inovasi akan menjadi faktor penentu kinerja perekonomian. dan konsumen”.

Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud UU No. Aktor utama terdiri dari para pengembang/penyedia teknologi. intensitas interaksi antara aktor sistem inovasi. 18 Tahun 2002 merupakan unsur penting dari 12 Pasal 6 ayat (1) UU No. dan lembaga penunjang’. yakni indikator terkait: [1] knowledge stocks and flows. lembaga litbang. lembaga penelitian dan pengembangan. mulai dari pengembangannya sampai pada penggunaannya untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU No. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002) menggunakan terminologi kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai aktor inovasi. serta tingkat ketrampilan dan relevansi pendidikan tenaga kerja.2.12 Namun demikian UU No. dan pemajuan iptek.1. Gugus indikator [1] memperlihatkan pentingnya mengetahui penambahan stok pengetahuan per satuan input pada kegiatan riset dan pengembangan. maka ada baiknya aktor yang banyak tersebut dipilah menjadi: [1] aktor utama (primer) yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi. pemanfaatan. atau kegiatan lain yang terkait langsung dengan upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. 21 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18/2002 menetapkan bahwa ‘kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. serta mengetahui kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi dari penyedia ke pengguna. dan lembaga penunjang merupakan aktor-aktor utama dalam inovasi. Kompleksitas penguatan inovasi tercermin antara lain dari banyaknya aktor yang terlibat dan ikut menentukan atau mempengaruhi kinerja sistem ini. para pengguna teknologi. badan usaha. 18 Tahun 2002 menyebutkan pula perlunya peran aktif warganegara dalam pelaksanaan kegiatan penguasaan. Untuk memudahkan pemahaman dan agar kompleksitas yang ada tidak mengaburkan esensi dasar dari inovasi. 2. Pengembangan. badan usaha. dan [4] knowledge and learning. Gugus indikator [2] merupakan indikasi dari besarnya perolehan sosial dan kemanfaatan bagi publik per satuan input kegiatan riset dan pengembangan. Sedangkan gugus indikator [4] melingkupi indikator ‘human capital’. mengukur kemanfaatan bagi publik untuk investasi di bidang pendidikan dan pelatihan. Nuansa kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini mencakup perguruan tinggi.misalnya data stok pengetahuan dan kelancaran aliran distribusi/difusinya. [2] knowledge rates of return. dan [2] aktor penunjang (sekunder) yang berperan dalam membentuk ekosistem yang kondusif agar aktoraktor utama dapat unjuk kinerja secara optimal. Gugus indikator [3] memberikan indikasi tentang proses aliran dan intensitas interaksi antara aktor inovasi. OECD (1996) mengidentifikasi empat gugus indikator penting yang perlu dikembangkan teknik pengukurannya (secara statistik) untuk mengevaluasi kinerja KBE. dan para pihak yang memfasilitasi dan/atau melakukan intermediasi interaksi dan komunikasi antara penyedia dan pengguna teknologi. [3] knowledge networks. Aktor Inovasi Nasional Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.

yakni: [1] perguruan tinggi (higher education). 13 OECD (2002) membuat klasifikasi lembaga riset dan pengembangan (R&D) berdasarkan pengelola. lembaga penunjang. badan usaha. dan orientasi komersialisasi produk riset yang dihasilkannya (Gambar 1). UU No. dan para periset individual. negeri maupun swasta. Hal ini antara lain disebabkan karena kegiatan riset masih lebih diposisikan sebagai ‘academic exercises’. yakni melakukan pendidikan dan pengajaran. penyandang dana. dan [2] unit kerja penelitian dan pengembangan pada kementerian dan pemerintah daerah. belum fokus pada upaya untuk menghasilkan invensi dan inovasi. dan pengabdian kepada masyarakat. unsur pelaksana riset dan pengembangan pada industri. 18 Tahun 2002 . sebelumnya dikenal sebagai LPND) yang (salah satu) tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan kegiatan riset dan pengembangan.pengembang/penyedia teknologi. pemerintah daerah. [2] lembaga R&D bisnis (business enterprise). 13 Pasal 8 ayat (3) UU No. Pengelompokan ini digunakan dalam mengevaluasi kinerja lembaga riset dan pengembangan negara-negara dunia. yakni perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan. Namun demikian pengembang/penyedia teknologi tidak hanya terbatas pada dua unsur tersebut. Seluruh perguruan tinggi di Indonesia. dan [4] lembaga R&D nirlaba (private non-profit). yakni dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. Lembaga R&D pemerintah termasuk: [1] Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK. mengemban tiga tugas pokok yang dikenal sebagai tridharma perguruan tinggi. Berdasarkan kriteria ini maka ada empat kelompok lembaga R&D. tetapi mencakup semua pihak yang secara nyata melakukan kegiatan pengembangan teknologi. perguruan tinggi. Kiprah dan kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum kentara. [3] lembaga R&D pemerintah (government). 22 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan organisasi masyarakat. Namun demikian. 18 Tahun 2002 hanya mengenal dua lembaga pengembang teknologi.18/2002 menetapkan lembaga-lembaga yang tergolong sebagai lembaga litbang. mayoritas perguruan tinggi di Indonesia masih lebih dominan terkonsentrasi pada kegiatan pendidikan dan pengajaran. misalnya institusi riset non-pemerintah. atau bagian dari organisasi pemerintah. penelitian. pemegang kendali kebijakannya.

dan peningkatan peradaban bangsa. maka selayaknya riset yang dilaksanakan oleh lembaga R&D pemerintah lebih fokus pada upaya menyediakan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat dan negara dan/atau menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dalam rangka mendukung pembangunan perekonomian nasional. baik riset untuk mendapatkan informasi kebutuhan dan selera konsumen yang akan dijadikan dasar dalam pengembangan strategi pemasaran maupun riset-riset pengembangan produk. 2002) Sementara kegiatan riset di perguruan tinggi lebih berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. walaupun saat ini sering dikemas dengan berbagai ‘bungkus’ lain dalam rangka membangun citra perusahaan atau memanfaatkan kecenderungan preferensi konsumen. maka status lembaga riset & pengembangan tersebut tergantung pada pihak mana yang dominan membiayainya TIDAK TIDAK TIDAK YA Perguruan Tinggi Badan Usaha Lembaga Pemerintah Gambar 1. Riset yang dilakukan badan usaha jelas berorientasi komersil. 18 Tahun 2002 . karena dunia usaha 14 Sesuai dengan amanah konstitusi UUD 1945.14 Banyak industri dan badan usaha lainnya mempunyai unit kerja yang tugas utamanya adalah melakukan riset dan pengembangan. Klasifikasi berdasarkan status formal lembaga riset dan pengembangan (adaptasi dari OECD. Peningkatan intensitas kegiatan riset oleh badan usaha dapat menjadi indikasi yang positif tetapi sekaligus juga negatif. misalnya terkait dengan kepedulian mengenai isu lingkungan. Positif dalam konteks pengembangan teknologi akan mengalami akselerasi mengingat potensi kekuatan dunia usaha dalam membiayai kegiatan riset dan relevansi teknologi yang dikembangkan juga akan semakin meningkat.Lembaga Riset & Pengembangan Apakah berada dalam institusi pendidikan tinggi? YA Perguruan Tinggi Apakah produknya dijual sesuai harga pasar? YA Badan Usaha Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh badan usaha? YA Badan Usaha YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Perguruan Tinggi Lembaga Pemerintah YA Perguruan Tinggi Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh pemerintah? TIDAK Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh lembaga non-pemerintah? TIDAK YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Lembaga Non-Pemerintah Jika kendali dan pembiayaan dilakukan oleh pihak yang berbeda. tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa. 23 Naskah Akademik Perubahan UU No. kesejahteraan rakyat.

nelayan. Badan usaha merupakan pengguna teknologi yang bersifat komersial. korupsi). lembaga R&D yang berorientasi komersial umumnya masih merupakan unit kerja internal lembaga bisnis. isu politik dan pemerintahan (demokratisasi. Perlu diingat bahwa kepemilikan paten lazimnya adalah ditangan pihak yang membiayai kegiatan pengembangan teknologi yang bersangkutan. namun cikal-bakal lembaga R&D komersial yang independen sudah mulai nampak tumbuh. desentralisasi. pencemaran/polusi. peternak. penyakit menular.tidak akan melakukan kegiatan riset jika tidak ada potensi kemanfaatan hasilnya. sehingga kebutuhan dan kapasitas adopsi teknologinya relatif rendah. 18 Tahun 2002 . Dapat bersifat komersial jika lembaga pengembang teknologinya bukan merupakan lembaga R&D pemerintah. Sebaliknya. atau kegiatan pengembangan teknologi dimaksud sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah. hak asasi manusia. Lembaga R&D nirlaba ini lebih banyak berkiprah di ranah ilmu-ilmu sosial. Badan usaha di Indonesia masih dominan bergerak di sektor perdagangan. misalnya isu sosial (kesejahteraan rakyat. pengrajin. terutama fokus pada isu-isu hangat pada tataran global. atau merupakan lembaga R&D asing. kegiatannya tidak dibiayai oleh pemerintah. Dunia usaha akan selalu memposisikan biaya riset sebagai bagian dari investasi. dan isu lingkungan (deforestasi. maka sudah sepatutnya teknologi yang dihasilkan tersebut dapat digunakan oleh pemerintah dan masyarakat secara bebas. Walaupun saat ini.15 Unsur pengguna lainnya adalah [1] masyarakat pelaku produksi barang/komoditas/jasa. Kecenderungan peningkatan intensitas riset oleh dunia usaha dapat pula menjadi indikasi negatif. 24 Naskah Akademik Perubahan UU No. Jurang yang masih membentang lebar antara perguruan tinggi atau lembaga R&D pemerintah dengan dunia usaha merupakan peluang untuk tumbuh kembang lembaga R&D independen. perubahan iklim). Mengingat pada saat ini segmen industri besar cenderung lebih bergantung pada teknologi asing (yang mungkin disebabkan 15 UU No. Kapasitas adopsi para pengguna teknologi di Indonesia masih belum besar. misalnya petani. pendidikan anak). jika pengembang teknologinya adalah lembaga R&D pemerintah. sedangkan masyarakat dan pemerintah lebih bersifat bauran antara komersial dan pelayanan publik. apabila kecenderungan ini merupakan bentuk reaksi dari dunia usaha atas rendahnya relevansi dan/atau mutu teknologi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah. Industri produsen barang dan jasa di Indonesia banyak yang hanya merupakan unit produksi dari sebuah perusahaan multinasional atau hanya bersifat sebagai penerap teknologi asing yang sudah mapan yang dilaksanakan berdasarkan lisensi yang diberikan oleh pihak-pihak pengembang teknologi luar negeri. Lembaga R&D swasta nirlaba sudah berkiprah lama di Indonesia dengan sumber pembiayaan umumnya dari lembaga-lembaga internasional. Badan usaha atau industri merupakan salah satu unsur pengguna teknologi. dan [2] pemerintah dalam rangka melaksanakan pelayanan publik dan untuk menjaga kedaulatan negara. 18 Tahun 2002 hanya menyebutkan badan usaha sebagai aktor pengguna teknologi. Bukan rahasia umum bahwa saat ini komunikasi dan interaksi antara para pihak pengembang teknologi (perguruan tinggi dan lembaga R&D pemerintah) dengan pihak industri belum terbangun secara intensif.

Sejak tahun 2010. dan sebagian lagi karena teknologi hasil pengembangan dalam negeri yang tidak sesuai dengan 16 Sudah ada arahan dari Presiden RI agar kebutuhan teknologi dan produk teknologi di bidang pertahanan dan keamanan memprioritaskan teknologi dalam negeri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian bangsa. masih dibanjiri oleh teknologi maupun produk teknologi asing. Untungnya benih padi sudah dapat dipenuhi dari hasil riset dan teknologi dalam negeri. merupakan dua argumen utama untuk menjadikan kebutuhan domestik sebagai pasar utama bagi produk teknologi dalam negeri. yakni Business Technology Center (BTC) di 8 lokasi. sebagian penyebabnya berasal dari kapasitas dan kompetensi lembaga yang tidak memadai. maka pengguna teknologi domestik yang paling potensial adalah masyarakat awam dan usaha kecil dan menengah (UKM). Pihak ketiga yang tergolong sebagai aktor utama inovasi adalah para pihak yang berperan sebagai intermediator atau fasilitator untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara para pengembang dengan para pengguna teknologi. teknologi yang dibutuhkan masyarakat awam dan UKM pun belum sepenuhnya dikuasai oleh teknologi domestik. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa dan kebutuhan peralatan utama sistem pertahanan (alutsista) nasional yang besar. tersebut di beberapa kota. BTC yang dikelola BPPT telah dilebur masuk ke dalam organisasi BPPT Engineering. Pada saat ini. Oleh sebab itu. 17 25 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pemerintah seharusnya menjadi pengguna utama teknologi dalam negeri. juga penggunaan teknologi dalam negeri akan menggairahkan kegiatan pengembangan teknologi itu sendiri. Kementerian Riset dan Teknologi. peran intermediasi dan fasilitasi ini diharapkan dimainkan lebih banyak oleh pemerintah. terutama Jepang dan Cina. karena secara langsung akan meningkatkan aliran dana untuk pembiayaannya. kebutuhan alat dan mesin pertanian masih dominan diimpor dari berbagai negara.karena kemampuan teknologi nasional belum memadai untuk memasok kebutuhan teknologi tersebut atau mungkin karena alasan lain yang bersifat non-teknis). 18 Tahun 2002 . baru setelah pasar domestik dikuasai (dan teknologi Indonesia sudah lebih kompetitif) maka pertimbangan ekspor teknologi nasional menjadi lebih layak diupayakan. Kenyataannya. Pendirian BTC ini merupakan tidak lanjut rekomendasi dari hasil kajian ‘Periskop’ yang dilaksanakan pada tahun 2000 atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Jerman. harusnya segmen pengguna ini harus dipasok penuh oleh pengembang teknologi domestik. Orientasi pengembangan teknologi Indonesia perlu lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dan pemecahan persoalan dalam negeri terlebih dahulu.16 Disamping untuk meningkatkan kemandirian bangsa.17 Namun peran intermediasi dari lembaga-lembaga BTC tersebut kelihatannya masih jauh dari harapan. Misalnya. pernah mendorong pembentukan lembaga yang dirancang khusus untuk fungsi intermediasi ini. mengingat luas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sedemikian besar. Pemerintah tentunya dapat membentuk lembaga-lembaga khusus untuk menjalankan fungsi/tugas ini. misalnya. terutama teknologi di bidang pertahanan dan keamanan. Untuk menjalankan peran intermediasi.

bisnis. Teknologi yang dikembangkan lebih mahal dan/atau kalah handal dibandingkan dengan teknologi sejenis yang sudah tersedia di pasar. Budaya. Kedekatan secara fisik diyakini akan mampu merangsang aktor-aktor tersebut untuk meningkatkan komunikasi dan interaksinya. Untuk penguatan peran intermediasi ini. tetapi berperan nyata dan signifikan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh-kembang inovasi. melalui serial terbitan buku ‘100 Inovasi Indonesia’ (2008). dan [4] membangun infrastruktur sosial. juga banyak aktor atau lembaga pendukung lainnya yang berperan penting dalam membangun inovasi secara lebih produktif dan berkesinambungan. Culture. sehingga dalam waktu 10 tahun. dimana aktor-aktor utama inovasi akan difasilitasi untuk berada dalam kawasan yang sama. ‘102 Inovasi Indonesia’ (2010). Sejak 2011. 26 Naskah Akademik Perubahan UU No. dalam menunjang daya saing ekonomi dan bisnis di Indonesia.kebutuhan nyata (tidak relevan). Hal ini dilakukan dengan mensinergikan elemen-elemen akademisi. Kementerian Pendidikan. dan pengguna teknologi di kawasan ini diharapkan dapat menjadi model implementasi Sistem Inovasi Nasional. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. Pasal 10 ayat (1)). walaupun lebih banyak orientasinya adalah untuk memediasi antara pengembang teknologi nasional dengan para (calon) pengguna potensial di dalam negeri. intermediasi. difusi. Pengembangan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (UU No. pemanfaatan. [2] menyiapkan sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk aktor penggerak sistem inovasi. Science and Technology. pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi juga telah menfasilitasi pendirian Business Innovation Center (BIC) pada tahun 2008. dan pemerintah (A-B-G) dalam proses inovasi. ‘101 Inovasi Indonesia (2009). Lembaga pendukung mencakup lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan dan/atau kapasitas untuk: [1] membuat regulasi dan/atau kebijakan terkait tumbuh-kembang inovasi nasional maupun daerah. maupun penggunaan teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan publik maupun negara. kegiatan inovasi di Indonesia akan menjadi unggulan (benchmark) negara-negara lain di ASEAN. [3] memberikan dukungan finansial bagi para aktor inovasi dalam menjalankan perannya masing-masing. Keterkaitan lembaga-lembaga pengembang. secara resmi disingkat MEXT) Jepang 18 19 Entah mengapa lembaga-lembaga intermediasi yang dibentuk penamaannya selalu menggunakan bahasa Inggeris. dan yang terakhir ‘103 Inovasi Indonesia’ (2011). 18 Tahun 2002 Selain tiga aktor utama inovasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Sport. Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. BIC telah menerbitkan katalog tahunan hasil-hasil riset yang dianggap berpeluang untuk dikomersialisasikan. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. Kelembagaan yang dikategorikan sebagai pendukung adalah lembaga atau aktor yang tidak terlibat langsung dalam proses pengembangan. 18 Tahun 2002. Visi BIC adalah menjadi lembaga intermediasi inovasi bisnis yang terdepan.18 Sejak tahun 2008 tersebut. 19 . Olahraga. BIC ditempatkan di kawasan Puspiptek Serpong sesuai dengan skenario untuk menjadikan kawasan ini sebagai Science and Technology Park (STP).

[2] kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah akan tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. dan [3] secara jelas memperlihatkan bahwa pada akhirnya kegiatan perekayasaan. yakni berupa lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. Suatu hal yang menarik dari konsepsi ini adalah: [1] fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. budaya. Pasar Pasar Permintaan Produk & jasa Industri Basis Pengetahuan Pengembang Kerjasama Teknologi [Univesitas.menggunakan diagram konseptual untuk memperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang ini (Gambar 2). serta pajak dan keuangan. tradisi. pemberian kompensasi yang sebanding bagi badan usaha yang berkontribusi dalam pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi nasional. ilmu pengetahuan dan teknologi. karakter bangsa Gambar 2. infrastruktur sosial. Namun demikian dalam konsepsi MEXT tersebut. 2002) Regulasi dan kebijakan yang mendukung upaya penumbuh-kembangan inovasi. inovasi. pendidikan. ketenagakerjaan. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. antara lain misalnya: pemberian insentif teknis dan/atau finansial bagi badan usaha yang menggunakan teknologi nasional dalam kegiatan usahanya. budaya. pemberian prioritas dukungan pembiayaan bagi lembaga dan/atau individu peneliti 27 Naskah Akademik Perubahan UU No. Diagram Konsepsi Sistem Inovasi Nasional (adaptasi dari MEXT. dan difusi teknologi harus berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. tradisi. tidak ditampakkan posisi dan peran lembaga intermediasi dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. 18 Tahun 2002 Pajak&Keuangan Ekonomi Sosial Iptek . dan karakter bangsa. Basis Pengetahuan Litbang] Ketenagakerjaan Infrastruktur Pendidikan Pengguna Teknologi [Industri] AKTOR UTAMA Kebijakan AKTOR PENDUKUNG Pemerintah Masyarakat Politik dan Ekonomi Lingkungan.

Untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang dapat menggerakkan inovasi. Ketersediaan dan akses ke skim kredit atau bentuk kemudahan lain untuk modal kerja baik bagi pengembang teknologi maupun industri akan ikut merangsang tumbuh-kembang inovasi. Academic excellence yang sering menjadi jargon pendidikan tinggi harus dibarengi dengan peningkatkan relevansinya dengan kebutuhan pembangunan dan potensi sumberdaya nasional. disebut juga ‘bridge financing’. Konsepsi inovasi di Jepang (Gambar 2) dapat dijadikan referensi dalam konteks ini. VC menjadi opsi sumber pembiayaan bagi perusahaan yang belum berpengalaman. maka biasanya pemodal selain mendapat porsi saham yang signifikan. [4] Second-Round. [2] start-up. dana untuk penjualan awal dan biaya produksi. juga ikut mengendalikan kebijakan dan pengambilan keputusan pada perusahaan tersebut. maka institusi pendidikan (terutama pendidikan tinggi) perlu mengembangkan program studi dan kurikulum yang relevan dengan sektor atau profesi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. atau masih sulit meyakinkan pihak perbankan untuk mendapatkan pinjaman. [5] Third-Round. Memberikan akses yang lebih mudah dalam pemanfaatan laboratorium pemerintah di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan. disebut juga ‘mezzanine financing’. pemberian insentif bagi lembaga intermediasi yang berhasil meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. berbeda dengan infrastruktur fisik yang telah cukup dipahami peran dan kontribusinya. 18 Tahun 2002 . dan [6] Fourth-Round. Venture capital (VC) merupakan salah satu bentuk sumber pembiayaan bagi perusahaan baru tumbuh (startup companies). Peran penting infrastruktur sosial sangat sering terabaikan dalam berbagai sektor pembangunan. upaya penguatan inovasi tidak boleh mengabaikan peran 28 Naskah Akademik Perubahan UU No. Karena resiko usaha baru yang tinggi dan investasi butuh waktu 3-7 tahun untuk bisa cair. masih terlalu kecil untuk bisa menarik dana publik melalui pasar modal. Secara umum ada 6 tahap pembiayaan yang mungkin didapat dari VC. pembiayaan tahap awal untuk dana pemasaran atau pengembangan produk.atau perekayasa yang fokus pada upaya untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan/atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan nasional. [3] First-Round. Oleh sebab itu. maupun pengembangan program pendampingan dari para tenaga ahli (peneliti dan perekayasa) juga dapat menjadi alternatif upaya penumbuh-kembangkan inovasi. yakni: [1] seed money. digunakan untuk pembiayaan persiapan ‘go public’. untuk biaya pengembangan usaha bagi perusahaan yang mulai memperoleh keuntungan. pembiayaan yang tidak besar dan dipergunakan untuk membuktikan bahwa ide baru yang digagas berpotensi untuk menghasilkan produk atau jasa komersial –biasanya disediakan oleh ‘angel investor’. untuk biaya kerja tahap awal dimana perusahaan sudah mulai menjual produk tetapi belum memberikan keuntungan. Kebijakan yang mendukung dan akses yang terbuka luas untuk mendapatkan sumber pembiayaan merupakan pra-kondisi yang dibutuhkan dalam upaya penguatan inovasi nasional. Skenario VC yang umum adalah pemodal memberikan dana awal bagi suatu usaha dan dana tersebut diperhitungkan sebagai saham pada perusahaan yang bersangkutan.

maka akan meningkatkan kemungkinan bagi teknologi tersebut untuk digunakan. Interaksi dan komunikasi antar-aktor yang intensif akan memperbesar peluang untuk terjadinya aliran informasi kebutuhan teknologi dari para pihak pengguna teknologi ke pihak pengembang teknologi. sebagai contoh.3. baik dari dimensi teknis. dan komunitas (Casey. serta dukungan lain untuk individu. telah mengenali peran infrastruktur sosial ini dalam menentukan keberhasilan membangun SINas. Sebagai contoh. Resultan dari interaksi antar-aktor juga masih sangat tergantung pada ekosistem dimana hal tersebut berlangsung. pada saat ini justeru persoalan interaksi dan komunikasi antara aktor inovasi ini yang masih tersumbat. tidak dapat dimutilasi menjadi segmen-segmen yang terpisah satu sama lain. pendidikan. Infrastruktur sosial termasuk sarana dan prasarana kesehatan. perumahan. pelatihan dan kesempatan kerja. upaya membangun kemampuan inovasi nasional merupakan suatu yang kompleks dan banyaknya aktor yang ikut berperan di dalamnya. hukum dan keamanan publik.infrastruktur sosial ini. Pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan pengguna jika telah mempertimbangkan juga secara seksama kapasitas adopsi oleh pihak pengguna. 2005). layanan tanggap darurat. 2. 18 Tahun 2002 . Kemajuan R&D bisa menjadi modal untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih tangguh. keluarga. 29 Naskah Akademik Perubahan UU No. finansial. 20 Pemerintah Jepang. masih sangat sering terkendala. Namun demikian. Interaksi Antar-Aktor Inovasi Pendekatan untuk memahami inovasi tentunya harus bersifat sistemik. seni dan budaya. Tujuan ini hanya akan tercapai jika pembangunan infrastruktur sosial menjadi bagian esensial dari skenario membangun kemampuan inovasi nasional. informasi. Perlu diingat pula. sarana komunitas/lingkungan. Keberhasilan untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih produktif dan berkontribusi positif terhadap pembangunan perekonomian suatu bangsa (yang pada gilirannya diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat) berkorelasi positif dengan intensitas komunikasi dan interaksi antara para aktor inovasi.20 Sesungguhnya sangat jelas bahwa amanah konstitusi menyatakan bahwa tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan peradaban. maupun sosio-kultural. Data empiris juga menunjukkan adanya korelasi antara penguasaan teknologi dengan kemajuan perekonomian suatu negara. olahraga dan rekreasi. tetapi tidak otomatis bahwa inovasi di Indonesia menjadi lebih produktif dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. transportasi publik. Penelaahan aktor-aktor inovasi tidak dapat dilakukan secara terisolir satu sama lain. sehingga teknologi yang dikembangkan diharapkan sudah semakin mengacu pada upaya memenuhi kebutuhan nyata.1. walaupun seandainya lembaga R&D Indonesia sudah sedemikian majunya sehingga setara dengan lembaga-lembaga serupa pada level dunia. sebagaimana yang terlihat pada konsepsi SINas yang dikembangkan oleh MEXT (2002). Akan tetapi adalah keliru jika serta-merta disimpulkan bahwa hubungan sebab akibat tersebut bersifat otomatis.

Terlepas dari konsepsi mana yang digunakan untuk menjelaskan tentang kinerja inovasi nasional. Berbagai regulasi dan kebijakan akan ikut mempengaruhi. yang dilaksanakan di 10 kota besar Indonesia (Bandung. termasuk kebijakan-kebijakan yang diluar kendali para aktor utama inovasi. karena relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang rendah. antara akademisi dengan bisnis. misalnya kebijakan pembangunan perekonomian. maka lembaga intermediasi mendapat beban yang sangat berat. Semarang. kebijakan pendidikan nasional. kebijakan keuangan dan perpajakan. Palembang. yaitu rendahnya intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi. Manado. dan lembaga intermediasi teknologi masih sangat jarang. konsepsi triple helix ini juga gencar dikumandangkan di Indonesia sebagai bentuk model penguatan kemampuan inovasi nasional dengan menggunakan nama populer triple helix ABG (academicbusiness-government) (Kadiman. bahkan mungkin menjadi ‘mission impossible’ bagi lembaga intermediasi untuk mendorong agar teknologi tersebut digunakan oleh industri/badan usaha. Kalaupun ada. Komunikasi dan interaksi antara pengembang dengan pengguna teknologi. Selanjutnya. 18 Tahun 2002 . intermediasi. Makassar. Samarinda. maupun pemerintah.1. masyarakat. kebijakan ketenaga-kerjaan. antara perguruan tinggi atau lembaga R&D dengan industri masih memerlukan dukungan kebijakan. dan Mataram) atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi dan Kementerian Pendidikan Jerman berhasil mengungkapkan bahwa kerjasama antara industri dengan perguruan tinggi. dan pemerintahan mewakili lembaga yang berfungsi untuk melakukan regulasi. Ekosistem Inovasi Nasional Kemampuan inovasi nasional pada prinsipnya ditentukan oleh kelancaran aliran informasi kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh pihak (calon) pengguna potensial ke pihak pengembang teknologi dan sebaliknya. pada tahun 1994 lahir model ‘Triple Helix’ dari upaya untuk mengawinkan antara analisis kelembagaan infrastruktur pengetahuan dengan analisis evolusioner ekonomi berbasis pengetahuan (Leydesdorff dan Meyer. umumnya hanya terbatas pada masalah operasional dan perawatan mesin dan peralatan saja (Hidayat. Disisi lain kelancaran aliran paket teknologi yang dihasilkan pihak pengembang ke pihak pengguna juga menjadi faktor yang menentukan. 2008). 2010). Surabaya. Yogyakarta. model triple helix menggunakan dinamika non-linier hubungan universitas-industri-pemerintah.4.Survei Periskop tahun 2000. Pada periode tahun 2000-an. 2006). Padang. akademisi dalam konsepsi ABG ini mewakili komunitas pengembang teknologi. Teknologi yang dihasilkan oleh pengembangan seringkali tidak sesuai atau tidak relevan dengan kebutuhan para pengguna untuk meningkatkan produktivitas ataupun untuk dijadikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi. bisnis mewakili komunitas pengguna teknologi. permasalahan fundamentalnya adalah sama. 2. Pada dasarnya. Namun demikian performa akhir dari upaya penguatan kemampuan inovasi nasional akan dipengaruhi oleh berbagai pihak. dan kebijakan pembangunan infrastruktur sosial (lihat 30 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam konteks interaksi antar-aktor inovasi ini. dan fasilitasi. Untuk menyederhanakan sebuah sistem yang kompleks. lembaga R&D.

Technology as applied knowledge Neoclassical Consideration of technology Technology as information and “incorporated” in capital investment No consideration of space beyond reduction of information costs. akan melahirkan rationale untuk intervensi pemerintah. dan instrumen kebijakan yang berbeda pula. hanya akan dicuplik beberapa elemen saja sesuai dengan kepentingan yang hendak dikawal. teori sangat jarang diadopsi secara utuh untuk diterjemahkannya menjadi rationale oleh pembuat kebijakan. Tabel 1. ada lagi regulasi dan kebijakan daerah. Dalam kajiannya yang terkait dengan upaya translasi rationale21 menjadi kebijakan. Pemilihan teori yang berbeda sebagai landasannya. Umumnya. implementasi. misalnya berupa berbagai peraturan daerah (Perda). 18 Tahun 2002 . Berbagai regulasi dan kebijakan di berbagai sektor ini merupakan komponen dalam ekosistem inovasi nasional. dan (5) Evolutionary (Tabel 1). Pada level daerah. dan evaluasi kebijakan (Laranja et al. (2008) mencoba menjawab tiga pertanyaan yang sangat mendasar. noninnovation excludable generated by R&D Neutral but with implications for divergence/conve rgence Consideration of space Proximity (and space) play a role in inducing changes in behaviour Space as on dimension for specific evolutionary processes 21 Rationale dalam konteks ini adalah model yang diformalisasi dan didasarkan dari teori dan konsepsi terpilih yang memberikan informasi tentang desain. (2) Schumpeterian Growth Theory.. ada lima teori yang ditelaah Laranja et al. transportas. Namun demikian. yakni: (1) Apakah rationale untuk intervensi pemerintah dapat diturunkan dari berbagai teori dengan perspektif yang berbeda? (2) Apakah bentuk instrumen kebijakan yang digunakan dalam intervensi pemerintah berkaitan dengan berbagai rationale? Dan (3) Apakah yang dapat disimpulkan terkait level teritorial/kewilayahan yang tepat dari suatu kebijakan sistem inovasi yang didasarkan atas teori terpilih dan rationale yang dikembangkan berdasarkan teori tersebut? Untuk menjawab tiga pertanyaan di atas.including social rival. technology and innovation policy Schumpeterian growth theory Systemic institutional approaches Broad (including social innovations). (2008). Rationale yang berbasis teori lebih sering diposisikan sebagai justifikasi atau alasan untuk menetapkan kebijakan tertentu sesuai dengan yang diinginkan. location costs Neo-Marshallian Evolutionary Broad Technology as applied knowledge Technology as Broad definition endogenous non. level intervensi.Gambar 2). (3) Neo-Marshallian. 2008) 31 Naskah Akademik Perubahan UU No. jarang untuk merumuskan atau memilih alternatif kebijakan yang paling tepat. yakni: (1) Neoclassical. (4) Systemic Institutional Approaches. Synthesis of theoretical rationales for science. Laranja et al.

but with focus in more advanced region Incentivate accumulation of “monopolistic” gains Regional level but National and also national regional levels level with regional focus(decentralis ed) Creation of a collaborative industrial community. Promote locally based networks of cooperation. Criteria balances support to individual actors with increasing collaboration. Return on Investment and Targets different kind of individual actors. criteria of Targets both individual actors and “collective” actions. networks of actors or systems of innovation. Favours demand approaches and provision of “ shared” public services. endogenous R&D agglomeration” System dysfunctions cognitive gaps. Learning Substitute for less Creat conditions than optimal use for increasing of resources returns to R&D Level of intervention Centralisednational level No differentiation of levels of intervention Compensate for less than optimal private investment. Extension services Mode of operationalisation (target. Science push measures.Neoclassical Rationale for Market failures. help in networking. and competition Overall coherence of the system. Extension services. selectivity) Target different kinds of individual actors. Favours science push and large R&D projects. investment in local advanced technology infrastructure. eligibility criteria. Balances centralised with decentralised intervention Identification of technology specific failures. technology infrastructures. “Animateur” Role of policy maker Examples of policy Subsidies and tax instruments incentives to R&D. public intervention Informationtransmission failures. Technology infrastructures. System as a target. 18 Tahun 2002 . Park for Science and Technology. Education for creating pool of skills Technology infrastructure. Extension services(“servizi reali”) ranging from technology to education and training cluster policies Coodinating the system. interactions and networking. Large mobilisation projects Subsidies and tax incentivate to R&D. Design of segmented targeted intervention ”adaptive role” Subsidies and tax incentivate to R&D. roles and function of actors. Investment in local advanced technology infrastructure. Park for Science and Technology Subsides and tax incentives to R&D. Optimise resources Centralisednational level. dysfunctions. Favours supplyside initiatives. Favours collective 32 Naskah Akademik Perubahan UU No. Improve diversity and selectivity Multi-level. Learning accumulation of economies of Institutional failures failures. Block-in. Increase cognitive capacity. Lack of diversity Reduction of costs in information. transports. Favours R&D support to hitech. Appropriability failure Objective of intervention Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches Evolutionary Support to Flexible “external System failure. Adequate institutional setting Avoid lock-in. Proactive intermediation brokerage (translation of implicit knowledge) Targets both individual actors and groups.

tetapi juga mencakup berbagai komponen non-formal. tradisi. Ekosistem inovasi terbangun dari komponen-komponen yang bersifat intangible maupun yang bersifat tangible.Neoclassical opportunity for appropristion as criteria Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches governance Evolutionary opportunity. komponen ini merupakan komponen ekosistem yang bersifat ‘statis’. Interaksi antara inovasi dengan ekosistem tempat dimana inovasi akan dikembangkan dan ditumbuhkan pada dasarnya bersifat saling-pengaruh. karakter. sumberdaya alam yang potensial untuk dikelola sebagai bahan baku proses produksi barang maupun jasa yang dibutuhkan. Budaya. dan nilai-nilai luhur atau karakter bangsa (Gambar 2). yang diposisikan sebagai fondasi untuk bangunan kebijakan inovasi. sebaliknya dinamika interaksi antar-aktor inovasi. dan komponen lain yang dapat mempengaruhi performa SINas tetapi tidak dapat divisualisasikan wujud fisiknya. dalam konteks inovasi. dan sumberdaya finansial untuk mendukung kegiatan pengembangan teknologi maupun untuk proses produksi. seperti budaya (termasuk norma dan etika). 18 Tahun 2002 . tradisi. Dengan demikian. Favours collective governance concentration for Use of the value increasing chain or cluster returns concept Source: Laranja et al (2008) Komponen ekosistem inovasi tidak hanya berupa regulasi dan kebijakan yang bersifat legalformal. budaya. dan nilai-nilai luhur atau karakter merupakan ‘penciri’ suatu bangsa yang cenderung untuk selalu dilestarikan eksistensinya. Regulasi dan kebijakan (baik yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pengaturan inovasi. Komponen yang bersifat tangible (wujud fisiknya dapat divisualisasikan) mencakup antara lain sumberdaya manusia terdidik dan/atau terlatih yang tersedia. Komponen yang bersifat intangible atau tak-berwujud mencakup semua regulasi. and variety (increase or reduction) as Criteria. 33 Naskah Akademik Perubahan UU No. Seharusnya kebutuhan untuk mendukung tumbuhkembang inovasi sesuai dengan potensi nasional dan kebutuhan pasar (atau pengguna) yang menentukan pola penyiapan dan pengembangan sumberdaya manusia. tradisi. serta dinamika kebutuhan dan persoalan pengguna teknologi akan mengharuskan terjadinya penyesuaian regulasi dan kebijakan. MEXT (2002) sudah mengenali komponen ini dan mengintegrasikannya dalam upaya membangun kemampuan inovasi nasional di Jepang. perkembangan iptek. Saat ini kecenderungan yang terjadi adalah ketersediaan dan jenis keahlian sumberdaya manusia yang secara dominan mewarnai inovasi. kebijakan. Potensi sumberdaya alam juga merupakan komponen ekosistem yang menjadi acuan dalam merancang kemampuan inovasi nasional. dan difusi teknologi) tentu akan mempengaruhi (secara positif atau mungkin juga negatif) performa inovasi nasional.

Analisis Undang-undang No. Kondisi ini selain menyebabkan rendahnya sumberdaya finansial untuk mendukung pengembangan inovasi juga menghilangkan kepercayaan publik terhadap inovasi itu sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera terhadap implementasi UU No. Selanjutnya pertumbuhan perekonomian secara langsung juga berarti meningkatnya ketersediaan sumberdaya finansial untuk membangun kemampuan inovasi nasional dengan kapasitas yang lebih besar. Menurut penelitian yang dilakukan. Sumberdaya finansial yang tersedia akan mendorong kemampuan inovasi semakin tumbuh berkembang menjadi sebuah sistem yang lebih produktif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan jasa yang bernilai ekonomi.1.. serta sumber daya iptek yang mampu diakumulasikan masih terbatas. hal itu disebabkan antara lain belum terjalinnya hubungan yang baik antara lembaga penelitian perguruan tinggi dan industri. pengembangan dan penerapan iptek khususnya ditingkat daerah. Sebaliknya inovasi yang bersifat stagnan (atau dorman) karena tidak mampu menghasilkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas atau efisiensi proses produksi. memberi stimulus dan memfasilitasi dalam menciptakan iklim pertumbuhan dan sinergi unsur kelembagaan. 18 Tahun 2002 adalah lemahnya koordinasi kegiatan riset di daerah. sumber daya dan jaringan iptek. Pengembangan. Selain itu. Mulatsih. 2009. secara umum Indonesia belum menjadi pelaku iptek yang diperhitungkan dalam dunia internasional. 34 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pemerintah daerah berkewajiban menumbuh-kembangkan motivasi.2. 18 Tahun 2002 meletakkan pemerintah daerah sebagai salah satu komponen pendukung pelaksanaan sistem nasional penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy).Sumberdaya finansial dan inovasi akan saling berhubungan secara interaktif. tidak akan pula mampu memberikan kotribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. Akibatnya inovasi bukan akan tumbuh berkembang. Padahal sejak awal UU No. dan Prakoso Bhairawa Putera. 2. temuan mendasar yang diidentifikasikan dalam pelaksanaan UU No. dan interaksi pelaku iptek. 18 Tahun 2002 dimaksudkan untuk meletakkan dasar bagi perkembangan kelembagaan iptek dengan interaksinya. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 2. Berdasarkan implementasi UU No. Kajian Implementasi UU No. Sri. UU No. 18 Tahun 2002 . tetapi sebaliknya akan menjadi faktor yang semakin tidak diperhitungkan dalam skenario besar pembanguan perekonomian suatu bangsa. saling beinteraksi secara positif (snowballing effect) sehingga masing-masing berkembang dan tumbuh semakin kuat. sehingga secara nyata akan mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara. Kondisi ini mendorong industri nasional cenderung memanfaatkan lisensi impor.2. terutama di kegiatan ekonomi dan sosial budaya. 18/2002 menunjukkan pengembangan dan penerapan iptek masih belum dimanfaatkan secara optimal. 18 Tahun 2002.

Balitbang pemerintah daerah (balitbangda) Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) 35 Naskah Akademik Perubahan UU No. tanpa adanya keberlanjutan difusi hasil penelitian yang aplikatif oleh dunia usaha. Selama ini balitbangda terikat dengan PP No. 38. Semua daerah responden menyebutkan minimnya sumber daya peneliti. Balitbangda merasa bahwa UU ini belum menjadikan lembagalembaga penelitian daerah sebagai garda terdepan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. begitu juga dengan dana. dukungan yuridis tidak diikuti ini tidak diikuti adanya dukungan sumber daya yang memadai. 18 Tahun 2002 Variabel Tanggapan/respon terhadap UU No. Pada awalnya dan sampai saat ini.1 Tanggapan terhadap UU No. Table 6. 18 Tahun 2002 . sarana dan prasarana dalam pemaksimalan tugas dan fungsi di daerah. dan industri. Untuk mengetahui keadaan tersebut ditunjukkan pada tabel di bawah ini. 35 Tahun 2007 tentang alokasi dana sebagian pendapatan badan usaha. lembaga penunjang dan badan usaha. Cukup paham dengan UU ini. yaitu tanggapan lembaga-lembaga (stakeholders). bahwa penelitian dan pengembangan itu tidak termasuk sebagai kegiatan wajib atau pilihan. Secara umum UU ini belum diketahui. Namun demikian menurut penelitian Mulatsih dan Putera (2009). khususnya dalam diskusi penyusunan PP No. Namun UU ini perlu untuk mengarahkan/mengatur kegiatan penelitian supaya efektif. pengembangan dan penerapan iptek diharapkan akan memperkuat jaringan kelembagaan perguruan tinggi. Pelaksana undang-undang ini adalah perguruan tinggi. pembentukan jalinan interaksi ini distimulus oleh Kementerian Riset dan Teknologi. lembaga penelitian dan pengembangan. 18/2002 Lembaga Perguruan tinggi Pandangan/Perspektif Pada umumnya pengetahuan tentang UU ini masih sangat sedikit. lembaga litbang. Dengan memberikan dana insentif untuk kegiatan penelitian. Mulatsih dan Putera (2009) menggunakan indikator keadaan. kondisi yang terjadi cukup ironis karena interaksi yang terjadi hanya terjalin sebatas pemanfaatan dana riset. 18 Tahun 2002 Dalam menganalisis temuan dalam implementasi UU Nomor 18 Tahun 2002 di atas. karena sering diundang sebagai pemangku kepentingan.Kondisi awal di lokasi yang menjadi sampel penelitian ini (tahun 2009) terlihat telah ada dukungan secara yuridis formal melalui pembentukan Peraturan Daerah ataupun Keputusan Gubernur tentang pembentukan badan/bagian/unit yang menangani kegiatan penelitian dan pengembangan di daerah. Namun demikian. Perspektif Pemangku Kepentingan UU No. Yang lebih diperlukan lagi adalah sosialisasi dan implementasinya. Temuan lainnya yang menarik adalah mengenai pembentukan jalinan interaksi antar kelembagaan yang diharapkan dapat membentuk pola sistem nasional bagi kemajuan iptek di Indonesia.

hanya salah badan usaha yang terlihat aktif dalam merespon kebijakan ini. seperti Balitbangda Sulawesi Selatan.” Kondisi semacam ini memang berbeda dengan lembaga litbang di daerah yang lain. Sehingga bagian ini masih merencanakan tindakan untuk pelaksanaan kegiatan.Tabel di atas menunjukkan bahwa unsur kelembagaan yang diteliti (perguruan tinggi. hal ini disebabkan karena alasan teknis dengan perpindahan struktur bagian penelitian dan pengembangan yang sebelumnya di bawah Badan Perencanaan Daerah. pengembangan dan penerapan iptek. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menjadikan penelitian di daerah bukan merupakan urusan wajib. Di samping itu juga interaktif terhadap kebijakan pemerintah. Bagian penelitian dan pengembangan yang menjadi subbagian di bawah struktur Sekretaris Daerah Provinsi Yogyakarta. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. dan masyarakat. 18 Tahun 2002 . sumber daya. Pemerintah Daerah Provinsi. Kelembagaan. khususnya yang diteliti tampaknya kurang memahami kedudukan dan fungsi mereka dalam memperkuat visi dan misi dalam upaya penguasaan. seperti yang telihat dari Badan Litbang Daerah Sumatera Selatan. perusahaan (badan usaha) ini meletakkan visi dan misi usahanya untuk bisnis dan penelitian. Kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama ini diarahkan untuk mendukung visi dan misi pembangunan daerah. Namun demikian. 18 Tahun 2002. menimbulkan kebingungan pada balitbangda. dan adanya PP No. karena masing-masing instansi memiliki litbang sehingga fungsi dan tugas balitbangda apa. Selain itu masih adanya paradigma memandang sebelah mata terhadap balitbangda oleh pihak-pihak di daerah. Sumberdaya. walaupun sebenarnya berdasarkan surat pembentukan terjabarkan tugas dan fungsi bagian ini – tentunya memberikan tugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan di daerah. lembaga litbang daerah. “Keberadaan undang-undang ini cukup diketahui. Bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang daerah. pelaksanaan penelitian dan pengembangan hanya menjadi tugas pendukung instansi lain di wilayah kerjanya. sumber daya. Adanya UU No. Sehingga Balitbangda Sumsel berkolaborasi dengan lemlit-lemlit di perguruan tinggi yang berada di wilayah ini. pemanfaatan dan pemajuan iptek. ada beberapa responden yang cukup tertarik dengan memaksimalkan peran dan fungsi litbang daerah dalam dua tahun terakhir. dan badan usaha/industri) masih rendah tanggapannya terhadap UU No. dan jaringan iptek menjadi berkembang lebih baik untuk 36 Naskah Akademik Perubahan UU No. Akan tetapi dalam pelaksanaannya. yang didukung adanya peran pemerintah/pemerintah daerah. tetapi yang belum adalah menjadikan lembagalembaga penelitian dan pengembangan daerah ini sebagai garda terdepan dalam hal penelitian dan pengembangan di daerah. belum mengimplementasikan kebijakan ini pada tingkat daerah. 18 Tahun 2002 diharapkan kelembagaan. Karena dari temuan penelitian. khususnya dalam mengemban misi penelitian dan pengembangan baik untuk kepentingan industri maupun kepentingan nasional masih rendah. dan Jaringan Kelembagaan. tetapi pilihan. dan jaringan iptek merupakan unsur-unsur utama dalam sistem nasional penelitian.

pemerintah mendorong kerja sama antar kelembagaan iptek dalam pengembangan jaringan informasi iptek. perguruan tinggi sebagai kelembagaan iptek diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (peneliti. lebih banyak dilandasi oleh Tri Darma Perguruan Tinggi. DIY) Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Dalam mengembangkan inovasi melalui penelitian dan pengembangan. jaringan dan pembiayaan dipandang sebagai aspek inti dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Tabel 6. dan sebagainya) yang diperlukan dalam upaya peningkatan kemampuan penguasaan. Untuk itu. pengembangan. UNSRI) Balitbangda (Sumsel. teknisi dan semberdaya manusia lain yang diperlukan untuk memperkuat kegiatan penelitian. Dalam Pasal 13 UU No.2 di bawah ini. Sehingga kegiatan ini tidak selalu dilakukan seperti lembaga penelitian lainnya. Namun demikian. 18 Tahun 2002 menyebutkan.2 Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Iptek Kelembagaan Perguruan tinggi (ITB. Bahkan seperti Pemda DIY. termasuk pembentukan Sentra HKI. perekayasa. 18 Tahun 2002 . Tugas utamanya adalah melakukan penelitian bidang mikrobiologi untuk sell kanker. 18 Tahun 2002 disebutkan. badan usaha dan lembaga penunjang) berfungsi mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. UNHAS. pengembangan.UGM. dan difusi teknologi. Tugas penelitian pada dasarnya sebagai tugas struktural dari Kemendagri. perekayasaan. setiap kelembagaan iptek (perguruan tinggi. Lembaga litbang menjadi mencari peneliti. juga melakukan koordinasi untuk menginventarisasi hasil penelitian di daerah. dan penerapan iptek. Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) Selain kelembagaan. 18 Tahun 2002 ini belum berjalan dengan baik. pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang masih bersifat sektoral menjadikan amanah yang disebutkan dalam UU No. sumber daya. Kelembagaan iptek juga diarahkan untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan iptek untuk menghasilkan kinerja dan manfaat lebih besar secara bersama. inovasi. Selanjutnya untuk mengetahui fungsi kelembagaan iptek yang disurvei. pemanfaatan dan pemajuan iptek. Sumber dana murni swasta di PT Kalbe Farma (bergerak di bidang farmasi). lembaga litbang. Namun demikian. penelitian. perekayasa. Pasal 6 UU No. bidang penelitian menurut struktur organisasi baru hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi ijin penelitian.membangun kemampuan iptek nasional yang lebih kuat untuk mencapai tingkatan ekonomi sejajar dengan negara lain. perguruan tinggi dan lembaga litbang agar mengusahakan penyebaran informasi hasil kegiatan. teknisi. Menurut Mulatsih dan Putera (2009). 37 Naskah Akademik Perubahan UU No. dapat dilihat pada Tabel 6.Sulsel.

Undang-Undang sebagai produk policy level akan diimplementasikan melalui tingkatan organisasi (level of organization) yaitu berupa peraturan pelaksanaannya. menyebutkan peraturan pelaksanaan dari undang-undang adalah sesuai dengan hirarkhi-nya. dalam public policy. 18 Tahun 2002. termasuk 2 bab di dalamnya tentang ketentuan sanksi dan ketentuan peralihan. peraturan presiden. pembiayaan pelaksanaan kegiatan penelitian. Pelaksanaan UU No. pengembangan. dan penerapan iptek. perguruan tinggi. 17. 22 dan Pasal 28. Selama hampir sepuluh tahun pelaksanaan UU No. antara lain lembaga penelitian. PP No. 18 Tahun 2002. Undang-undang merupakan kebijakan yang dinilai mempunyai posisi tertinggi. PP No. 35 Tahun 2007. 18 Tahun 2002 Pelaksanaan suatu undang-undang merupakan suatu penjabaran isi dari pasal-pasal ke dalam peraturan-peraturan atau kebijakan yang disebut sebagai arrangement institutions. dan peraturan kebijakan PP. 18 Tahun 2002 adalah mengenai Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian. 18 Tahun 2002. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berisiko Tinggi dan Berbahaya. pengembangan dan penerapan iptek merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. dan dibuat dengan pasal-pasal yang bersifat makro atau umum untuk kemudian dibuat petunjuk pelaksanannya. peraturan daerah provinsi. 20 Tahun 2005 dan PP No. Peraturan pemerintah terakhir yang diturunkan sebagai pelaksanaan dari undang-undang No. 18 Tahun 2002 telah diturunkan empat peraturan pemerintah yang perlu disusun. 18 Tahun 2002 . 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. industri dan pihak terkait lainnya. Secara hierarkis. antara lain dapat mengacu penjelasan Riant Nugroho (2009). dan peraturan daerah kabupaten/kota. UU No. yaitu terkait dengan pelaksanaan Pasal 16. model kebijakan yang dibuat berjenjang sesuai dengan hierarki implementabilitasnya. Sebagai payung hukum UU ini merupakan acuan seluruh elemen yang tercakup dalam sistem nasional penelitian. tiga tahun setelah disahkan diturunkan dua Peraturan Pemerintah (PP) sebagai peraturan pelaksanaannya. pemanfaatan dan pemajuan iptek adalah pembiayaan. Dalam pelaksanaannya. ketentuan ini masih memerlukan penjelasan bagaimana merealisasikan pembiayaan ini. Inovasi dan Difusi Teknologi. Menurut UU No. Secara politis UU ini telah memenuhi syarat dalam proses penyusunannya sehingga UU ini telah diundangkan sejak 29 Juli 2002. peraturan presiden. undang-undang sebagai bentuk dari kebijakan di Indonesia masih menganut model kebijakan continental atau yang berasal dari Belanda. UU No. Kemudian di tahun berikutnya. yaitu peraturan pemerintah. berupa peraturan pemerintah. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. 18 Tahun 2002 mencakup 9 bab dan 32 pasal dan penjelasannya. terutama dalam pelaksanaan fungsi dan pemerintah sebagai motivator dan stimulator perkembangan sistem nasional litbangrap iptek. Tahun 2005 disahkan. 48 Tahun 2009 Pelaksanaan UU No. Akibatnya di Indonesia 38 Naskah Akademik Perubahan UU No.Aspek terpenting dalam pelaksanaan penguasaan. tertanggal 18 Juli 2009 dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. yaitu PP No. Dalam pelaksanaannya UU No. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan.

39 Naskah Akademik Perubahan UU No.550. Untuk Dewan Riset Daerah.323. . beberapa telah dapat menyambung simpul industri (beberapa). Dalam kaitannya dengan penguatan inovasi. Dukungan kebijakan serta pendanaan yang secara terus menerus dan berkelanjutan program yang dilakukan pada tingkat daerah. dan penelitian swasta. namun tampaknya jejaring peneliti yang dibangun antar lembaga penelitian di wilayah Jawa Barat (ITB. Akan tetapi. perguruan tinggi.” “Pemerintah daerah telah menganggarkan sejumlah dana sehingga setiap tahunnya balitbangda melaksanakan program dan kegiatan penelitian pengembangan yang mengacu pada program prioritas pemerintah provinsi. karena bagaimanapun juga sistem nasional tidak dapat berjalan secara maksimal tanpa adanya dukungan pelaksanaan sistem pada level daerah. walaupun kami memiliki jaringan peneliti Sumatera Selatan yang telah mendapat pesetujuan dari gubernur tetapi belum maksimal. memberikan stimulasi dan fasilitas. pola jalinan interaksi atau yang dikenal dengan jaringan. “LPPM-ITB melakukan jejaring penelitian dengan lembaga lain disebut sebagai mitra kerja.banyak terjadi kasus di mana sudah ada undang-undang. pengembangan. dan penerapan iptek di daerah sesuai dengan amanat UU No. 5 Tahun 2008 menunjukkan bahwa adanya perhatian dari pemerintah daerah. serta menciptakan iklim kondusif dalam sistem penelitian.072. Jaringan yang dikembangkan di perguruan tinggi. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat mengoptimalkan dan keberlanjutan aktivitas litbangrap iptek. badan usaha maupun di masyarakat selama ini masih tidak terpola.yang seluruhnya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah pemerintah provinsi. responden penelitian Mulatsih dan Putera (2009) berpendapat interaksi yang dilakukan antar pelaku iptek di lembaga litbang.” “Dengan keluarnya Perda No. Responden lainnya menyatakan. Untuk kelengkapan lainnya sedang diproses. karena yang ada selama ini adanya kumpulan pakar-pakar di Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi DIY.” Simpul pola interaksi terlihat lebih baik dilakukan oleh perguruan tinggi. 18 Tahun 2002 Dukungan pemerintah daerah dalam menumbuhkembangkan motivasi. pengembangan. dan penerapan iptek. “Jalinan interaksi selama ini belum berjalan maksimal. Interaksi berjalan karena adanya kerjasama penelitian yang menggunakan dana atau dibiayai oleh balitbangda. lembaga penelitian pemerintah lainnya. LSM) belum ada. Interaksi yang terlaksana sebatas antara balitbangda dengan peneliti yang bersangkutan yang mayoritas berasal dari perguruan tinggi. pada tahun 2008 kemarin melaksanakan sebanyak 2 program utama dan 60 kegiatan dengan pendanaan sebesar Rp.” Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah telah memberikan ruang untuk mendorong kegiatan penelitian. 18 Tahun 2002 secara bertahap mengalami kemajuan. tetapi pelaksanaannya tidak effektif karena peraturan atau kebijakan pelaksanaannya belum dibuat. Interaksi yang dilakukan belum terlembaga dan hanya dilakukan secara personal (individu). 10.. kerjasama atau interaksi yang terjalin selama ini hanya sebatas pemanfaatan dana riset yang dimiliki oleh badan litbang daerah saja. pemerintah daerah masih mencari format terbaik. Masuknya Bagian Penelitian dan Pengembangan di Biro Administrasi Pembangunan adalah indikasi baik. adanya ruang bagi masing-masing elemen dalam UU No. kebijakan internal di setiap daerah responden berbeda. Indikasi ini menandakan bahwa adanya dukungan dari pemerintah walaupun masih dirasa kurang dalam segi penambahan alokasi dana ataupun sarana prasarana untuk menunjang kegiatan penelitian. Bappeda.

pembentukan iklim dan memberikan dukungan kebijakan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. pelayanan umum. ‘Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . tujuan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. tanggung jawab daerah dalam pembangunan iptek dan sistem inovasi cukup besar. pemanfaatan. pemerintah daerah. dan pemajuan iptek. Sistem nasional litbangrap iptek ini diperlukan untuk mencapai tujuan: a. Salah satu pelaksanaan UU No. Tatang A Taufik: BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. Selanjutnya Tatang (2005) menyebutkan. memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara.2. b. 2005. interaksi dan proses pembelajaran akan menjadi semakin penting pada tataran daerah. dan karenanya merupakan langkah penting bagi perkembangan sistem inovasi di Indonesia. mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumberdaya iptek. dan UU No. UU No. Penguatan sistem inovasi di tataran daerah merupakan bagian integral atau sub sistem dari pilar sistem inovasi nasional. Upaya-upaya terpadu dalam penguatan kelembagaan. meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan’. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Upaya ini dilakukan melalui: a.2. dan daya saing daerah (Pasal 2 ayat (3)). Oleh karena itu perkembangan sistem inovasi ini akan ditentukan oleh pelaksanaan lebih lanjut (secara legal) dan implementasinya. perekayasaan. Hal ini juga ditegaskan dalam UU No. Menurut Tatang (2005) meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sistem inovasi. Pemajuan ataupun penguatan sistem inovasi pada tataran daerah menurut Tatang (2005) adalah sesuatu yang penting bagi perkembangan sistem inovasi nasional dan peningkatan daya saing secara nasional. inovasi.2. antara lain: a. sumber daya. serta b. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban antara lain: memajukan dan mengembangkan daya saing daerah (Pasal 27 ayat (1) butir g. b. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. dan difusi teknologi. penelitian. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat memperkuat jaringan antara pemerintah pusat. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Pengembangan. 18 Tahun 2002 adalah penguatan fungsi kelembagaan iptek dalam sistem nasional litbangrap iptek. landasan hukum yang diharapkan dapat memperkuat landasan pembangunan dan mempercepat perkembangan iptek. maupun masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pemajuan iptek. namun sistem nasional litbangrap iptek merupakan keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan.) UU No. esensi keterkaitan ini sama dengan atau setidaknya berangkat dari konsep sistem inovasi nasional. dan jaringan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh. Dalam peraturan perundang-undangan yang ada. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002 merupakan tonggak penting. UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan 40 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengembangan.

Dalam beberapa kasus. kurang dimanfaatkan secara optimal. Kementerian Riset dan Teknologi. Kesulitan dalam proses transfer teknologi tersebut tidak hanya terjadi pada industri besar saja tapi terjadi juga pada industri kecil dan menengah.Pembangunan Nasional. yang ada adalah jual beli teknologi. seringkali dibarengi kesulitan dalam pemeliharaannya. Ketergantungan teknologi dari luar. 2. Transfer teknologi dari lembaga penelitian dan pengembangan kepada industri dan masyarakat melalui bentuk kemitraan. Jumlah dan kualitas sumberdaya manusia di Indonesia yang cukup memadai. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan umumnya masuk dalam publikasi ilmiah 41 Naskah Akademik Perubahan UU No. belum lagi ketepatan waktu pemanfaatannya. Teknologi menjadi komoditas yang sangat mahal dan seringkali memberatkan beban keuangan negara secara keseluruhan. pemanfaatan produk. pembagian royalty.2. Kondisi ini memperlihatkan. Ketergantungan ini sebagai akibat dari kurang berkembangnya teknologi/inovasi dalam negeri. meskipun peralatan yang dimiliki sebenarnya sudah cukup memadai. Kerjasama-kerjasama yang dilakukan mengenai transfer teknologi cenderung mengarah pada kerjasama perdagangan. meningkatkan sinkronisasi dan sinergi dalam pengembangan sistem inovasi.3. karena tidak selalu mendapatkan akses secara lengkap teknologi yang ada. ‘Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Komersialisasi Kelembagaan Iptek’. 2007 Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembangunan iptek dalam upaya memperkuat daya dukung iptek untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa adalah ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi luar. Para pengusaha kecil dan menengah ini masih meragukan kualitas produk teknologi hasil penelitian dan pengembangan. Alasan yang melatarbelakangi kondisi tersebut sebenarnya adalah suatu hal yang cukup logis. sektor usaha masih merasakan hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri belum dapat diterapkan dalam kegiatan industri. sehingga transfer teknologi dapat dikatakan tidak terjadi. 18 Tahun 2002 . karena pembelian barang modal yang sarat dengan teknologi. cenderung mengerjakan terlalu banyak kegiatan. program yang direncanakan dan dilaksanakan masih kurang fokus. Hal ini masih ditambah kurangnya perhitungan pencapaian optimal dalam penggunaan sumberdaya keuangan dan sumberdaya manusia. Hal ini menyebabkan industri kecil dan menengah cenderung menggunakan tenaga konvensional yang dimiliki atau membeli dari luar negeri untuk perbaikan (improvement) dalam kegiatan proses produksinya. adanya gap antara teknologi hasil penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan pasar yang ada. maupun peraturan perundang-undangan lainnya diharapkan menjadi landasan legislasi untuk mengintegrasikan. Alasan lainnya. Andaipun ada keterkaitan antara dunia usaha dan lembaga penelitian dan pengembangan saat ini baru sebatas asistensi dari pihak penelitian dan pengembangan yang kebanyakan masih terbatas pada aspek pengujian produk dan peralatan. seringkali masih menghadapi persoalan yang cukup serius. termasuk juga keberlanjutannya (sustainability). seperti HKI.

hanya sedikit yang menghasilkan hak paten dan masuk dalam publikasi internasional. Di satu sisi perguruan tinggi maupun lembaga litbang memerlukan adanya unit kerja yang mandiri untuk melakukan pengelolaan administrasi hasil penjualan produk litbang secara lebih optimal. Dalam Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut menyatakan. Kebijakan ini akan membatasi pembentukan lembaga baru. kajian pengembangan kebijakan yang mendukung komersialisasi hasil litbang masih perlu 42 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ketentuan ini ditujukan bagi kegiatan litbang yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah atau pemerintah daerah. 20 Tahun 2005 masih mengalami hambatan. dan penetapan prosedur pengelolaan dan alih tekologi kekayaan intektual serta hasil kegiatan litbang diatur oleh lembaga yang bersangkutan. Sedangkan pengaturan mengenai pembentukan. Adanya perubahan struktur organisasi lembaga. dan tampaknya akan menjadi salah satu hambatan dalam merealisasikan komersialisasi hasil litbang. Permasalahan krusial lainnya adalah pembentukan unit kerja dalam upaya komersialisasi hasil litbang. atau dengan memanfaatkan unit yang ada. misal Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) untuk mengurangi pembentukan lembaga baru. Pembentukan unit kerja yang mendorong peningkatan komersialisasi hasil litbang ini. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbangnya. Oleh karena itu. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Sesuai pasal 16 UU No. juga belum memadai untuk mendapatkan pengakuan secara ekonomis. Pengalihan ini dilakukan pada badan usaha. menghasilkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. sehingga lembaga memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk investasi berbagai kegiatan litbang lainnya. hasil-hasil kajian dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian masih belum sesuai dengan kebutuhan pasar. Investasi pemerintah dalam bentuk hasil litbang ini diharapkan dapat menghasilkan public return sebesar mungkin. seperti penambahan tugas dan fungsi lembaga Sentra HKI di perguruan tinggi dan lembaga litbang. sesuai dengan PP No. 18 Tahun 2002. atau masyarakat. pemerintah. sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kewajiban ini dimaksudkan agar hasil litbang dapat dimanfaatkan seluas mungkin oleh masyarakat. susunan organisasi. tata kerja unit kerja. Hal ini juga menunjukkan. sebagai penambahan unit-unit kerja yang ada. sebagai pelaksanaan kebijakan pemerintah. Dalam pelaksanaannya pembentukan unit kerja seperti yang disyaratkan pada PP No. yang mungkin ditujukan untuk pengembangan teknologi tepat guna maupun sebagai upaya mendukung perbaikan pendapatan peneliti. rincian tugas. Semua hasil penjualan hasil litbang dapat dikelola secara langsung oleh lembaga melalui unit komersialisasi hasil litbang ini. Unit kerja ini dapat merupakan lembaga baru. seperti Unit Komersialisasi Hasil Litbang. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib membentuk unit kerja yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbang di lingkungannya.tingkat nasional. 18 Tahun 2002 .

18 Tahun 2002 . Berdasarkan fakta di lapangan. maka perguruan tinggi didorong menuju terwujudnya universitas penelitian (research university). kegiatan penelitian menjadi kegiatan utama. padahal banyak diantaranya yang memiliki potensi untuk dikomersialisasikan. serta aplikasi hasil litbang tersebut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. sehingga ketika diterapkan tidak mampu bersaing dengan produk-produk yang dihasilkan oleh pihak lain. meskipun secara akademik dapat dipertanggungjawabkan. dan perpajakan. Tingginya biaya litbang antara lain disebabkan biaya administrasi yang tinggi. seperti misalnya birokrasi yang panjang dalam mekanisme pengelolaan dana penelitian. suatu kegiatan komersialisasi hasil riset. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi sebagai bagian integral dari pendidikan di Indonesia diarahkan seoptimal mungkin melakukan proses transformasi pendidikan dan pengajaran. perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan kompetitif untuk dapat diterima pengusaha sebagai pengguna hasil penelitian. Banyak karya ilmiah yang tidak aplikatif. daripada membeli hasil litbang perguruan tinggi yang masih belum teruji dalam 43 Naskah Akademik Perubahan UU No. tesis. Pihak pengguna beranggapan hasil litbang perguruan tinggi maupun lembaga litbang Pemerintah masih bersifat teoritis dan belum dapat diaplikasikan. Para dosen dan mahasiswa harus memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah aktual yang ada di masyarakat. disamping kegiatan pengajaran dan pengabdian masyarakat.dilakukan dengan bersinergi lebih erat dengan para pengambil keputusan di bidang aparatur negara. Banyak skripsi. umumnya pihak industri menghendaki hasil litbang yang dapat menghasilkan produk akhir secara cepat. maupun desertasi tersimpan di perpustakaan. Oleh karena itu. Dilihat dari proses penelitian dan pengembangan. lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu memperhatikan struktur biaya litbangnya agar menarik untuk dikomersialkan kepada para pelaku usaha dan masyarakat. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian dan pengabdian sebenarnya tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi tugas dan kewajiban dari perguruan tinggi untuk merealisasikannya. melalui berbagai kegiatan penelitian yang bersifat aplikatif. penelitian dan pengembangan di bidang iptek. Hasil riset di bidang teknologi industri yang dihasilkan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat maupun para peneliti di perguruan tinggi sebenarnya cukup banyak. Upaya komersialisasi ini belum berjalan maksimal. Kalangan dunia usaha lebih menyukai teknologi yang sudah siap pakai. murah. Untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif. melalui penjualan jasa konsultasi dan jasa teknis litbang. dan produk penelitian masih banyak yang bersifat teoritis dan belum dapat diterapkan di masyarakat. swasta atau perusahaan. mudah. Hal ini menuntut perguruan tinggi untuk menggali sumber dana lainnya selain dari Pemerintah. Struktur biaya penelitian yang tinggi menyebabkan hasil penelitian perguruan tinggi menjadi terlalu mahal untuk pengguna. namun kurang sosialisasi. Dalam bentuk ini. Permasalahan lainnya adalah kurangnya sosialisasi hasil litbang. dan memberikan sentuhan komersialisasi terhadap produk yang dihasilkan. Hasil dari riset ini juga seringkali tidak memperhatikan struktur biaya. sehingga hasilnya belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal.

Sumbangan dan hibah dari perorangan. perguruan tinggi dapat menggali penerimaan dari masyarakat. (2) Penggunaan dana yang berasal dari Pemerintah baik dalam bentuk anggaran rutin maupun anggaran pembangunan serta subsidi diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Unit usaha ini dapat pula berbentuk unit usaha komersial. Hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi perguruan tinggi. dan f. Hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan pengalihan teknologi dapat berupa pengalihan codified knowledge maupun tacit knowledge transfer. Hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan tinggi. baik di masyarakat maupun di dunia usaha. e. Kegiatan ini memerlukan pendekatan tersendiri. 60 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi. masyarakat dan pihak luar negeri. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Lembaga Litbang Pembentukan unit pelayanan jasa teknis dan jasa konsultasi di lembaga litbang lebih diarahkan untuk mengkomersialkan kekayaan intelektual dan hasil-hasil litbang. 18 Tahun 2002 . Biaya seleksi ujian masuk perguruan tinggi. Penerimaan dari masyarakat lainnya. Dalam ketentuan di atas. suatu unit yang mampu menunjang penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengelolaan hasil litbang yang lebih profesional. (4) Penerimaan dan penggunaan dana yang diperoleh dari pihak luar negeri diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan terebut merupakan upaya pemanfaatan hasil litbang dan pengalihan kemampuan penguasaan iptek oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. (3) Dana yang diperoleh dari masyarakat adalah perolehan dana Perguruan Tinggi yang berasal dari sumber-sumber sebagai berikut : a. lembaga Pemerintah atau lembaga nonPemerintah. upaya untuk memperkenalkan berbagai produk litbang kepada masyarakat. Penerimaan masyarakat ini akan mendorong terjadinya alih teknologi. Penyediaan dana penelitian kepada para peneliti sering kali belum dapat memberikan solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang ada di lapangan. dan seringkali tidak sama dengan pengelolaan kelembagaan lain. Inovasi yang memiliki nilai komersial yang harus dilindungi oleh hak atas kekayaan intelektual. seperti pengelolaan perizinan. Hal ini memberikan kemungkinan bagi perguruan tinggi mendirikan unit usaha sebagai salah satu sumber pembiayaan dari masyarakat. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). b. (5) Usaha untuk meningkatkan penerimaan dana dari masyarakat didasarkan atas pola prinsip tidak mencari keuntungan.pemanfaatannya. Pembiayaan kegiatan perguruan tinggi. Dalam Pasal 114 antara lain diatur sebagai berikut : Pasal 114 (1) Pembiayaan Perguruan Tinggi dapat diperoleh dari sumber pemerintah. d. c. termasuk biaya litbang mengacu pada PP No. baik berupa kekayaan intelektual maupun hasil-hasil litbang lainnya. atau penerimaan hasil 44 Naskah Akademik Perubahan UU No. Agar inovasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diperlukan sosialisasi.

dan alih teknologi. 6) memperluas jaringan kerja dengan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. perlindungan. 45 Naskah Akademik Perubahan UU No. 4) melakukan investasi untuk memperkuat sumber daya iptek yang dimiliki. Pendapatan dari alih teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain: 1) memperbesar pendanaan litbang yang diperlukan untuk menguasai kemajuan iptek dan mengembangkan invensi serta menggali dayagunanya. dengan melibatkan calon pengguna. termasuk pemeliharaan. . serta sarana prasarana iptek. 18 Tahun 2002 Lembaga litbang pemerintah umumnya ditujukan untuk melaksanakan penelitian. Hasil kajian yang dihasilkan masih kurang diminati dunia usaha karena adanya ketidaksesuaian antara hasil litbang dengan kebutuhan yang didasarkan pada tuntutan konsumen. baik yang berbentuk keahlian sumber daya manusia dan pengorganisasiannya. Meskipun hampir semua perencanaan program lembaga litbang pemerintah ditujukan untuk tujuan penerapan iptek. Oleh karena itu. 3) memperkuat kemampuan pengelolaan kekayaan intelektual.selisih harga ataupun penerimaan keuntungan dari BUMN. upaya peningkatan komersialisasi hasil litbang memerlukan suatu perencanaan program yang lebih holistik. baik dalam rangka pemecahan masalah di bidang teknis. Hal ini menyebabkan implementasi hasil litbang masih rendah. aset informasi dan iptek. Perencanaan harus memperhatikan faktor-faktor lain. Hasil litbang masih belum dapat dimanfaatkan. baik di dalam negeri maupun luar negeri. yang secara kondusif dapat mendukung upaya komersialisasi hasil litbang secara lebih proporsional dan berpihak kepada lembaga dan jajaran penelitiannya. Oleh karena itu. pola kerjasama yang berlaku dalam komersialisasi hasil litbang. membantu dunia usaha dalam kegiatan proses produksi maupun kegiatan manajemen lainnya. pengembangan dan pengkajian dalam rangka mencapai suatu keunggulan iptek dalam rangka pemecahan masalah-masalah pembangunan di berbagai bidang. namun dalam praktik belum banyak hasil-hasil litbang yang langsung dapat diterapkan. Penyusunan rencana juga harus memperhatikan standar-standar teknologi yang berlaku di dunia usaha. 5) meningkatkan kualitas dan memperluas jangkauan alih teknologi dan jasa iptek. 2) memberikan insentif yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan invensi di lingkungan litbang. Faktor yang mempunyai peran penting adalah faktor finansial. adanya keleluasaan dalam pengelolaan penggunaan pendapatan alih teknologi mempunyai peran penting dalam mendorong kemandirian lembaga penelitian. Keuntungan yang diperoleh dari pengalihan teknologi juga dapat mengurangi ketergantungan pendanaan kegiatan litbang di Perguruan Tinggi maupun Lembaga Litbang pada anggaran Pemerintah.

serta peraturan perundang-undangan lainnya berkaitan dengan infrastruktur sosial. Pada ketiga tahapan posisi dan peran lembaga intermediasi sangat diperlukan dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. ilmu pengetahuan dan teknologi. Olehkarena itu diperlukan evaluasi dan analisis kebijakan penguatan inovasi dalam peraturan perundang-undangan terkait. Di Indonesia. ketenagakerjaan. Selanjutnya perlu adanya kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah ak an tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan.Bab 3 Evaluasi dan Analisis Kebijakan Penguatan Inovasi dalam Peraturan Perundang-undangan Penguatan inovasi secara garis besar ditandai adanya elemen-elemen/aktor yang melakukan jejaring untuk saling berinteraksi menghasilkan inovasi. Culture. serta pajak dan keuangan. Padahal lembaga penelitian. pendidikan. Budaya. bidang pendidikan. 18 Tahun 2002 . Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. Sport. secara resmi disingkat MEXT) Jepang yang telah dikemukakan di bab sebelumnya. Kinerja dan perkembangan inovasi nasional sangat dipengaruhi oleh peraturan perundangundangan maupun kebijakan di berbagai sektor yang terkait. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. Olahraga. perguruan tinggi. fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. Science and Technology. bidang ketenagakerjaan. perdagangan dan industri. Mengacu pada strategi penguatan inovasi dari Kementerian Pendidikan. infrastruktur sosial. Kurangnya komunikasi dan interaksi menyebabkan penerapan inovasi yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil inovasi tersebut belum dapat didayagunakan sepenuhnya. Tahap berikutnya adalah dukungan kegiatan perekayasaan. tradisi. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga yang tercakup dalam penguatan inovasi akan menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. Peraturan ini terutama terkait dengan peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi. dan difusi teknologi yang berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. inovasi. budaya. bidang pendidikan. bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. secara umum penguatan inovasi antar elemen-elemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang. dan karakter bangsa. 46 Naskah Akademik Perubahan UU No. Lembaga-lembaga ini merupakan lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. Menurut konsepsi ini. maka secara konseptual dapat diperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang.

peringkat ini perlu dilihat secara cermat. India. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF. Untuk periode 20082010. Dua faktor ini lebih dominan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi dibandingkan dengan program insentif yang ditawarkan. menjadi 16 (2009) dan 15 (2010). Jerman. dan efektivitas peran pemerintah. maka akan semakin menarik bagi kalangan bisnis untuk berinvestasi dan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. Brazil. Inggeris. Perusahaan tidak dapat berbisnis secara efisien dan bergairah jika inflasi tidak dapat diprediksi. Namun demikian.1. skor untuk stabilitas makro ekonomi Indonesia pada tahun 2010 mencapai 5. dan Australia (Gambar 3). jika selalu terbelit hutang dan keharusan membayarnya dengan suku bunga tinggi atau dalam kondisi cenkeraman persoalan makro ekonomi yang tidak mampu dituntaskan. Jika persepsi masyarakat dunia terhadap stabilitas makro ekonomi ini dapat terus dipelihara dan jika mungkin terus ditingkatkan.2 dan menduduki peringkat 35 dari 139 negara yang disurvei. Dengan demikian perekonomian tidak dapat tumbuh secara ber-kesinambungan jika kondisi makro ekonomi tidak stabil. akses untuk pengelolaan sumberdaya alam. Pasar domestik Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi investor asing jika Indonesia tidak mampu membangun SINas yang kuat untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. Survei yang dilakukan oleh UNCTAD (2009) tentang prospek investasi dunia ( World Investment Prospects Survey) menyimpulkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 9 dunia. Bidang Perindustrian dan Perdagangan Stabilitas makro ekonomi sangat penting bagi dunia bisnis. Amerika Serikat. 18 Tahun 2002 . karena daya tarik utama bagi para investor untuk menanamkam modalnya adalah ukuran pasar domestik dan laju pertumbuhan pasar domestik dari negara tujuan invenstasi tersebut. Rusia. Pemerintah tidak akan dapat melakukan pelayanan publik dengan baik. sehingga akan sangat menentukan tingkat daya saing (competitiveness) suatu negara. 47 Naskah Akademik Perubahan UU No. produktivitas suatu negara tidak hanya ditentukan oleh stabilitas makro ekonominya. Walaupun tentu saja. 2010). Peningkatan kapasitas pasar bermakna peningkatan permintaan masyarakat akan barang dan jasa. Tumbuh kembang kegiatan bisnis akan membuka peluang untuk peningkatan daya beli masyarakat dan memperbesar kapasitas pasar domestik (market size). Peningkatan permintaan barang dan jasa yang lebih banyak dan/atau lebih bermutu akan meningkatkan kebutuhan industri akan teknologi yang lebih sesuai. Kondisi makro ekonomi Indonesia untuk periode 2008-2010 tergolong stabil. berdasarkan survei WEF peringkat ukuran pasar domestik Indonesia juga terus meningkat. Dinamika ini membuka peluang dan tantangan bagi lembaga pengembang teknologi untuk melakukan riset yang relevan dengan kebutuhan industri. berturut-turut dari peringkat 17 (2008). setelah Cina. Indonesia dengan penduduknya yang lebih dari 237 juta jiwa dengan daya beli yang relatif baik merupakan pasar domestik yang sangat potensial bagi investor asing. Makro ekonomi yang terpelihara stabilitasnya dan kapasitas pasar domestik yang terus membesar merupakan ekosistem yang positif untuk tumbuh-kembang SINas. baik secara kuantitas maupun kualitasnya. ketersediaan dan kemurahan upah tenaga kerja.

Kebijakan yang berorientasi untuk mendorong ekspor agar lebih diprioritaskan pada produk jadi. survei WEF juga memperlihatkan terjadinya peningkatan peringkat Indonesia dari 47 menjadi 36. Peringkat daya tarik Indonesia bagi investor asing Kebijakan pembangunan perekonomian Indonesia yang baru diluncurkan yang dikemas dalam Keppres No. Kinerja dan perkembangan SINas akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan di berbagai sektor yang terkait. maka SINas akan lebih dirasakan geliatnya. diutamakan sudah merupakan produk-produk jadi yang dibutuhkan oleh konsumen akhir (consumer products). Apalagi pengembangan sumberdaya manusia dan iptek telah dipilih sebagai salah satu dari tiga strategi utamanya. Harus ada dorongan agar produk barang dan jasa yang diperdagangkan. Gambar 3.Jika peningkatan kebutuhan teknologi yang relevan ini dikomunikasikan oleh industri ke pihak pengembang teknologi dan pihak pengembang teknologi mampu menyediakan paket teknologi yang tidak hanya relevan. 18 Tahun 2002 . Pada kurun waktu yang sama (2008-2010). terutama untuk ekspor. 48 Naskah Akademik Perubahan UU No. termasuk perdagangan dan industri. tetapi juga handal dan sesuai kapasitas adopsi pelaku bisnis. 32 Tahu 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah menetapkan enam koridor pembangunan ekonomi sesuai dengan potensi sumberdaya setempat perlu dibarengi dengan upaya membangun penguatan inovasi yang berkesesuaian.

com (18 Januari 2011) Gambar 4. Menteri Negara Riset dan Teknologi. Ekspor dalam bentuk produk dengan muatan teknologi tinggi sudah ada namun masih relatif rendah porsinya (Gambar 4). tetapi dirasakan masih belum optimal. dan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. Indonesia saat ini masih dominan mengekspor komoditas atau bahan mentah (raw materials) atau produk-produk setengah-jadi (intermediate products) yang secara ekonomi merugikan dan secara ekologi kurang bersahabat. 22 Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas atau produk ekspor sudah dilakukan. karena cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. misalnya produk sawit yang diekspor masih sangat dominan berbentuk minyak sawit kasar (crude palm oil. tetapi masih sangat rendah. tetapi perlu didorong untuk mengekspor barang jadi yang diproduksi di dalam negeri dengan memanfaatkan tenaga kerja dan teknologi nasional. Bermakna bahwa sebaiknya tidak mengekspor bahan mentah dan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Persentase ekspor produk Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi. hari selasa 18 Januari 2011. periode 1989-2008 22 Disampaikan oleh Suharna Surapranata. sekaligus membuka lapangan kerja. tetapi lebih didorong untuk mengekspor produk yang dihasilkan dengan keringat anak bangsa di dalam negeri. tetapi pada akhir tahun 2000-an kembali menurun menjadi sekitar 10 persen. diunduh dari tradingeconomics. 18 Tahun 2002 . Sejak akhir tahun 1980-an sudah mulai ada produk dengan muatan teknologi tinggi. disingkat CPO). bahwa seharusnya Indonesia tidak mengekspor bahan baku dan keringat. Ungkapan yang dikemukakan Surapranata (2011) patut direnungkan. dan meningkatkan nilai tambah produk yang diekspor. 49 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sumber: The World Bank. pada Rapim Lengkap Kementerian Riset dan Teknologi.merupakan bentuk kebijakan yang secara nyata akan mendorong adopsi teknologi pada industri-industri di dalam negeri. yakni hanya sekitar 1 persen. kemudian secara berangsur naik dan mencapai puncaknya pada awal tahun 2000-an yang mencapai kisaran antara 14-16 persen.

Saat ini Indonesia masih dihadapkan pada dua kendala yang menjadi tantangan utama. Tujuan penyelenggaraan penanaman modal. nilai ekspor produk-produk bermuatan teknologi tinggi tersebut sejak tahun 2000 tidak mengalami kemajuan yang berarti dan relatif stagnan. mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan. Namun demikian. menyerap banyak tenaga kerja. 1. dan [2] belum siapnya teknologi nasional untuk menyokong tumbuh kembang industri hilir tersebut. Selain itu terkait dengan riset. serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing. instrumen riset (scientific instruments).4 sampai 6. komputer. termasuk skala prioritas tinggi.1. meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan. 18 Tahun 2002 . 1. sedangkan investor asing lebih banyak tertarik pada bidang usaha yang terkait dengan eksploitasi sumberdaya alam. Pasal 10 Ayat (4) menyebutkan bahwa perusahaan penanaman modal yang mempekerjakan tenaga kerja asing diwajibkan menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. yakni: [1] keterbatasan kapasitas investasi nasional di sektor industri hilir untuk mengolah bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi produk jadi. antara lain untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. farmasi (pharmaceuticals). Sebagai upaya mendorong kemampuan teknologi nasional. Pasal 18 Ayat (3) menyebutkan. seperti produk kedirgantaraan (aerospace). 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Indonesia tak akan mampu membangun kemandirian perekonomiannya jika tidak mampu mengatasi dua tantangan utama ini.5 milyar dolar Amerika (Tabel 2). kegiatan penanaman modal di Indonesia dapat memperoleh fasilitas. baik di sektor pertanian (terutama perkebunan) maupun di sektor pertambangan.1. dan electrical machinery. 50 Naskah Akademik Perubahan UU No. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Menurut UU No. menciptakan lapangan kerja. yakni kapasitas untuk mengembangkan teknologi yang relevan. yakni hanya berfluktuasi sekitar 4. penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. dan secara ekonomi kompetitif dibanding produk teknologi serupa yang tersedia di pasar dunia. handal. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Perdagangan dan Industri. Kontribusi produk teknologi tinggi ini masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai total ekspor Indonesia pada periode tersebut.1. b. bahwa untuk mendapatkan fasilitas sekurang-kurangnya kegiatan penanaman modal memenuhi salah satu kriteria berikut ini: a. Produk dengan muatan teknologi tinggi mencakup produk-produk yang membutuhkan intensitas R&D tinggi. Indonesia memang juga telah mengekspor produk teknologi tinggi.

pemerintah. e. memberikan insentif kepada Usaha Mikro. dan (d) desain dan teknologi. (c) sumber daya manusia. 1. pemerintah daerah. pemasaran. meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru. mendorong Usaha Mikro. daerah tertinggal. meningkatkan kerjasama dan alih teknologi. Kecil. atau k. permodalan. mendukung.c.1. Kecil. j. dan inovasi. industri yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi di dalam negeri. Selain itu UMKM dapat melakukan: . termasuk pembangunan infrastruktur. Guna mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang (a) produksi dan pengolahan. Menurut ketentuan di atas. alih teknologi maupun inovasi merupakan salah satu strategi yang perlu dikembangkan. atau daerah lain yang dianggap perlu. dan Menengah a. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. dan Menengah yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup. kecil. mempercayai. dan Menengah untuk memperoleh sertifikat hak atas kekayaan intelektual. melaksanakan kegiatan penelitian. i.2. memperkuat. dunia usaha. sumber 51 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kecil. berada di daerah terpencil. menjaga kelestarian lingkungan hidup. dan menstimulasi kegiatan kemitraan yang saling membutuhkan. melakukan industri pionir. f. meningkatkan kemampuan di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu. Kemitraan antar UMKM dengan Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi dan pengolahan. memperkenalkan teknologi baru. perbatasan. terutama bagi penanaman modal baru bagi industry pionir. mempunyai nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi. Selanjutnya dalam pasal ini disebutkan mengenai kemungkinan pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan dalam jumlah dan waktu tertentu. 18 Tahun 2002 Peraturan perundang-undangan ini antara lain menyebutkan. h. daerah g. c. Selanjutnya terkait dengan pengembangan dalam bidang desain dan teknologi. dan menguntungkan. melakukan alih teknologi. serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. (b) pemasaran. d. bermitra dengan usaha mikro. pengembangan. Industri pionir adalah industri yang memiliki keterkaitan luas. dan e. dan masyarakat dapat memfasilitasi. d. menengah atau koperasi. inovasi termasuk kriteria yang dapat diajukan untuk memperoleh fasilitas penanaman modal. b.

Kecil. Pasal 30 menyebutkan bahwa (1) setiap wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha di KEK diberikan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh). KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri. industri. impor. konsultan keuangan mitra bank.daya manusia. Sementara dukungan kelembagaan ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator. serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. Kecil. Menurut Pasal 25. selain fasilitas PPh dapat diberikan tambahan fasilitas PPh sesuai dengan karakteristik zona. sebagai upaya pengembangan teknologi tertentu untuk meningkatkan daya saing produk barang dan jasa. Kecil. dan 52 Naskah Akademik Perubahan UU No.1. 20 Tahun 2008. pembebasan cukai. dan energi yang kegiatannya dapat ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri. lembaga layanan pengembangan usaha. dan Menengah sebagai mitra usahanya. dan Menengah. Pengusaha mendapat fasilitas dan kemudahan dalam KEK. pariwisata.3. pengembangan teknologi. Menteri dan Menteri Teknis mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan UMKM melalui inovasi dan pengembangan produk berorientasi ekspor. Menurut UU No. 18 Tahun 2002 . Upaya-upaya penguatan inovasi dapat masuk KEK. penangguhan bea masuk. antara lain zona pengolahan ekspor. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum RI yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. menyebutkan bahwa impor barang ke KEK dapat diberikan fasilitas berupa. c. penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. Pasal 32 ayat (1). 1. dan teknologi. b. Selain itu. dan Menengah. bisnis. sepanjang barang tersebut merupakan bahan baku atau bahan penolong produksi. antara lain: a. Yang dimaksud dengan “inkubator” adalah lembaga yang menyediakan layanan penumbuhan wirausaha baru dan perkuatan akses sumber daya kemajuan usaha kepada Usaha Mikro. dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. penyerapan tenaga kerja. Inkubator yang dikembangkan meliputi: inkubator teknologi. UMKM yang melakukan kemitraan dimungkinkan untuk mendapatkan insentif. dan Ayat (2) menyebutkan. KEK terdiri atas satu atau beberapa zona. Adapun yang dimaksud dengan “lembaga layanan pengembangan usaha” (bussines development services-providers) adalah lembaga yang memberikan jasa konsultasi dan pendampingan untuk mengembangkan Usaha Mikro. logistik. dan inkubator lainnya sesuai dengan potensi dan sumber daya ekonomi lokal. dan lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan Usaha Mikro. ekspor. tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk barang kena pajak.

c. namun demikian bentuk insentif non fiskal maupun kemudahan lainnya merupakan peluang untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang diperlukan. pengembangan sumberdaya manusia sektor industri secara intensif melalui akselerasi transformasi teknologi. 36 Tahun 2008 disebutkan tidak semua penghasilan menjadi obyek pengenaan pajak. meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan iptek untuk menciptakan dan menyerap teknologi dan invoasi yang berorientasi pasar. mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri dan pembentukan lembaga R&D dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan bahan baku alternatif. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional Terkait dengan penguatan inovasi. Meskipun insentif fiskal diberikan oleh Kementerian Keuangan. 28 Tahun 2008 memungkinkan pengembangan kebijakan dalam upaya peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka penghematan. e. f.1. produk melalui teknologi tepat guna. peningkatan jumlah penemuan baru hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan oleh sistem produksi. Bidang Keuangan dan Perpajakan 2. peningkatan kapasitas kelembagaan teknologi dalam mendukung sistem produksi.1. b. peningkatan kapasitas (pendalaman) teknologi pada sistem produksi. Pemerintah dapat memberikan fasilitas. peningkatan kapasitas difusi teknologi pada sistem produksi. Ada pula penghasilan wajib pajak yang dapat dijadikan faktor pengurang pajak 53 Naskah Akademik Perubahan UU No. disamping manajemen dan kewiraswastaan. 2. 2. dan industri yang melakukan alih teknologi. Perpres No.4. Fasilitas tersebut berupa insentif fiskal. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Keuangan dan Perpajakan.1.d. Permohonan pemberian fasilitas diajukan kepada Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi. d. Perpres No. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional antara lain menyebutkan. tidak dipungut PPh impor. pengembangan dan inovasi.1. peningkatan intermediasi dan pola insentif yang mendorong kemitraan dan kegiatan litbang di dunia usaha. insentif non-fiskal. 18 Tahun 2002 . antara lain kepada kepada: industri yang melakukan penelitian. Selain itu. Sebagai upaya mendorong penguatan inovasi nasional. 28 Tahun 2008 juga menekankan perlunya pengembangan teknologi industri melalui: a. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Dalam UU No. dan kemudahan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. g. 1.

17 Tahun 2006 ini dimungkinkan pemberian insentif dan fasilitas untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku. yang menjadi faktor pengurang (tax deduction) penghasilan bruto. (b) penyusutan dan amortisasi yang dipercepat. Adanya ketentuan pengecualian sebagai obyek pajak atau pengurangan penghasilan bruto merupakan fasilitas atau insentif di bidang perpajakan yang diberikan untuk mendorong kemampuan riset.penghasilan bruto. yaitu “biaya penelitian perusahaan dan/atau sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan di Indonesia”.2. Wajib pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerahdaerah tertentu dapat diberikan insentif dan fasilitas pajak penghasilan. 1 Tahun 2007. dibebankan selama 6 (enam) tahun masing-masing sebesar 5 % (lima persen) per tahun. inovasi dan investasi riset dan pengembangan badan usaha/industri di Indonesia. 18 Tahun 2002 . Selanjutnya dalam peraturan pelaksanaannya. menurut PP No. Insentif ini berupa pembebasan bea masuk atas impor buku ilmu pengetahuan dan barang atau peralatan untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan (Pasal 25). pemerintah dapat memberikan fasilitas insentif pajak. antara lain yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan. 36 Tahun 2008 menyebutkan. (c) pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen yang dibayarkan kepada Subjek Pajak Luar Negeri sebesar 10% (sepuluh persen).3. 2. bukan menjadi obyek pajak adalah “sisa lebih yang diterima atau diperoleh lembaga atau badan nirlaba di bidang pendidikan formal dan/atau penelitian dan pengembangan yang ditanamkan kembali dalam jangka waktu 4 tahun”. Yang dimaksud dengan barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yaitu barang atau peralatan yang digunakan untuk melakukan penelitian/riset atau percobaan guna peningkatan atau pengembangan suatu penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu Sejalan dengan upaya penguatan inovasi maupun investasi di bidang riset swasta di Indonesia.1. Pasal 2 menyebutkan bahwa wajib pajak badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi dapat diberikan fasilitas pajak penghasilan berupa: (a) pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman modal. Ketentuan UU No. 2. dan 54 Naskah Akademik Perubahan UU No.1. Pembebasan bea masuk diberikan berdasarkan rekomendasi dari kementerian terkait. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Menurut UU No.

b. 55 Naskah Akademik Perubahan UU No. Bagi wajib pajak swasta yang menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan iptek dapat memperoleh fasilitas pajak/keringanan pajak. b. diberikan perlakuan di bidang Pajak Penghasilan (fasilitas perpajakan) sebagai berikut: a. Pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di dalam KAPET. pemasukan Barang Kena Pajak dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya. 93 Tahun 2010 merupakan aturan pelaksanaan UU No. kompensasi kerugian fiskal. dan Biaya Pembangunan Infrastuktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto PP No. b) mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. impor barang dan/atau bahan untuk diolah di PDKB. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlakuan Perpajakan Di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Peraturan ini memuat ketentuan berkaitan dengan perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET).4. diharapkan dapat meningkatkan pendanaan riset dari pihak swasta. dan/ atau c) memiliki potensi pengembalian investasi yang besar. menurut Keppres No. 36 Tahun 2008). mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai paling lama 10 (sepuluh) tahun. Sedangkan yang dimaksudkan KAPET. 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu adalah wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan: a) memiliki potensi untuk cepat tumbuh. impor barang modal atau peralatan lain oleh PDKB yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi. penyusutan dan atau amortisasi yang dipercepat. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 2.1. 18 Tahun 2002 . 2. Sumbangan dari pihak swasta ini akan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. ke PDKB untuk diolah lebih lanjut.(d) kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. c.5. Setiap Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) di dalam wilayah KAPET juga dapat diberikan fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. c. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (yang telah diubah dengan UU No. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. pajak penghasilan menurut Pasal 26 atas dividen sebesar 10%. Melalui peraturan ini. Sumbangan Pembinaan Olahraga. untuk selanjutnya disebut DPIL. dan/atau. Pasal 1 menyebutkan bahwa sumbangan dan/atau biaya terkait penelitian dan pengembangan dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam satu tahun. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas : a.1.

3. dan penerapan iptek (sisnas litbangrap iptek). e. pengembangan. 4) mengikat semua pihak. 56 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai perlunya penguatan jaringan sistem nasional penelitian. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pemerintah. dan masyarakat untuk berperan serta secara aktif.1.18 Tahun 2002 memberikan manfaat besar bagi pengembangan Iptek di Indonesia. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 3. Dalam rangka memadukan sinergisme kerja berbagai unsur kelembagaan Iptek. 3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 3) menggalakkan pembentukan jaringan. memperkuat. pemerintah daerah. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Diundangkannnya UU No. Kunci penting untuk terlaksananya sinergisme kerja antar unsur Sisnas Iptek adalah terbangunnya suatu sistem perencanaan pembangunan nasional Iptek dalam jangka pendek. prioritas utama. f. Untuk mengembangkan jaringan tersebut seluruh elemen Sisnas Iptek wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang Iptek” yang dituangkan sebagai “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek”. penyerahan kembali Barang Kena Pajak hasil pekerjaan subkontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di DPIL atau PDKB lainnya kepada Pengusaha Kena Pajak PDKB asal. 18 Tahun 2002 menyatakan bahwa “Pemerintah wajib merumuskan arah.d. maupun jangka panjang. dan . badan usaha dan lembaga penunjang lainnya) untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih besar dibandingkan apabila masing-masing unsur kelembagaan berjalan secara sendiri-sendiri. pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka subkontrak.1. Jaringan tersebut berfungsi untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur unsur kelembagaan iptek (lembaga litbang.1. 2) mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumber daya Iptek secara lebih efektif. Pasal 18 dan 19 UU No. g. perguruan tinggi. peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. karena: 1) memberikan landasan hukum. UU No. melengkapi. menengah.

Pemerintah Daerah juga dalam merumuskan kebijakan strategisnya harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. b. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek dibentuk Dewan Riset Nasional dan Dewan Riset Daerah. bangsa. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai kewajiban Pemerintah Daerah untuk merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan pembangunan daerah Iptek yang dituangkan dalam “kebijakan strategis pembangunan Iptek di daerah”. Sebagai Undang-Undang yang mengatur sistem iptek nasional. dengan memperhatikan kepentingan masyarakat. Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian.Salah satu kewajiban Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam UU No. peraturan perundang-undangan ini sangat menekankan pentingnya pembentukan jaringan yang menjalin hubungan interaktif semua unsur kelembagaan iptek sehingga kapasitas dan kemampuannya dapat bersinergi secara optimal. Dengan demikian. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. beberapa ketentuan dalam UU No. dan difusi 57 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga riset. antara lain: a. Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri (Pasal 16 ayat (3)). Dalam skala yang lebih kecil. 18 Tahun 2002 merupakan pedoman dan landasan hukum utama dalam pelaksanaan pembangunan iptek nasional. Menteri antara lain wajib memperhatikan pentingnya upaya penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. Dalam upaya penguatan inovasi. Seperti halnya di tingkat nasional. dapat dikatakan UU No. Menteri wajib memperhatikan: 1) penguatan ilmu dasar dan kapasitas litbang. 2) penguatan pertumbuhan industri berbasis hasil litbang. 4) Mengembangkan instrumen kebijakan yang diperlukan. 18 Tahun 2002 . c. pengembangan. Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. 3) penguatan kemampuan audit teknologi yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia (SNI). 18 Tahun 2002 dapat menjadi acuan. perekayasaan. inovasi. Pasal 20 UU No. 18 Tahun 2002 adalah mengkoordinasikan perumusan “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek” dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. dan badan usaha yang melaksanakannya (Pasal 13 ayat (4)). Dalam perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek. pengembangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pengaturan kegiatan litbang asing dalam PP No. dimana disebutkan kegiatan litbang asing dilakukan atas dasar izin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penelitian bagi orang asing. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi.). dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah (Pasal 26). atau melibatkan peneliti asing.1. 18 Tahun 2002. 3. f. 39 Tahun 1995 litbang kesehatan dapat diselenggarakan oleh lembaga asing.4. Dalam Pasal 2 disebutkan. klimatologi. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. Klimatologi. dan geofisika.3. d. pemanfaatan. Pasal 78 UU No. klimatologi. litbang kesehatan bertujuan untuk memberikan masukan iptek serta pengetahuan lain yang diperlukan untuk menunjang pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. e. PP ini merupakan peraturan pelaksanaan ketentuan Pasal 69 UU No. Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain (Pasal 28 ayat (2)).1. dan Geofisika UU No.1. dan geofisika yang mencakup inovasi dan alih teknologi harus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nasional. Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan (Pasal 28 ayat (1)). 3. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing.2. 3. 31 Tahun 2009 secara tegas menekankan perlunya penguatan inovasi dan alih teknologi dalam pengembangan industri meteorologi. inovasi.teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan (Pasal 19 ayat (3) huruf b. Menurut PP No. 18 Tahun 2002 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan . Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Peraturan ini memberi kewenangan kepada Menteri yang membidangi riset dan teknologi untuk memberikan rekomendasi insentif – di bidang perpajakan maupun bantuan teknis (technical assistance) – 58 Naskah Akademik Perubahan UU No. Inovasi dan Difusi Teknologi Peraturan ini merupakan peraturan pelaksanan UU No. Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. atau kerja sama dengan lembaga asing yang memenuhi persyaratan. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. 39 Tahun 1995 mempunyai keterkaitan dengan PP No. 31 Tahun 2009 menyebutkan pengembangan industri meteorologi.

perekayasan dan dosen atau pemanfaatan laboratorium-laboratorium milik pemerintah. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS maupun ketentuan-ketentuan yang terkait dengan aturan tentang lembaga Kementerian LPNK dan LPK. Sehingga persoalannya bukan pada kekosongan peraturan. UU No. antara lain berkaitan dengan bagaimana kriteria yang menentukan badan usaha mendapatkan tax deduction. 3. inovasi. beberapa ketentuan dalam PP No. PP No. Keputusan persetujuan dan penolakan pemberian insentif tetap berada dalam kewenangan masing-masing instansi yang berwenang dimaksud.5. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan misalnya. yang menekankan pentingnya alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan-kegiatan litbang agar memberikan nilai tambah ekonomi dan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidup. seperti Pasal 26 huruf a 59 Naskah Akademik Perubahan UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. badan usaha dapat mengajukan permohonan rekomendasi insentif litbang kepada Menteri. dan difusi teknologi di badan usaha. 12 Tahun 2002 jo. Namun dalam hal ini. 20 Tahun 2005 menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset/riset dengan badan usaha. Upaya ini mutlak dilakukan. mengingat regulasi masih menyisakan sejumlah pertanyaan selain sifatnya cenderung sektoral sehingga tidak mudah implementasinya. 18 Tahun 2002. 1/2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. 35 Tahun 2007 berkaitan erat dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan (insentif fiskal). PP No. Ketentuan dan pelaksanaan insentif atau fasilitas perpajakan yang dimaksud dalam PP No.1. Berdasarkan peraturan ini. PP No. namun bagaimana penyusunan kebijakan pelaksanaannya dapat bersinergi dengan baik. Dari sisi regulasi.dalam rangka mendorong kemampuan peningkatan perekayasaan. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan merupakan beberapa peraturan perundang-undangan yang menyediakan insentif riset. atau bagaimana urgensi dan pengaruh pemberian fasilitas/insentif terkait dengan usaha peningkatan kemampuan inovasi nasional. Pertanyaan menyangkut UU No. PP No. Selain itu. Sementara itu. 93 Tahun 2010 dan UU No. 18 Tahun 2002 . Pelaksanaan insentif bantuan teknis terkait dengan ketentuan UU Kepegawaian. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Peraturan Pemerintah ini merupakan penjabaran Pasal 16 ayat (3) UU No. sebenarnya pemerintah sudah berupaya mengakelarasi kegiatan riset dan inovasi dunia usaha atau untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta. 36/2008 tentang Pajak Penghasilan. kewenangan Menteri hanya sebatas memberikan rekomendasi scientific opinion kepada instansi yang berwenang dibidang perpajakan maupun lembaga pemberi bantuan teknis. insentif bantuan teknis (insentif non fiskal) berhubungan dengan penempatan tenaga ahli peneliti.

pendidikan dan pelatihan serta kegiatan lain yang dapat mempercepat pembangunan perikanan.yang menyatakan bahwa sinergi berprinsip mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber daya tertentu untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat tertentu. dan c. Dalam rangka pengembangan kerjasama litbang perikanan. asistensi teknis litbang.7. 3. Upaya ini diharapkan juga mendorong inovasi di sektor usaha. perguruan tinggi. Di dalam peraturan menteri ini. menyiapkan dan menyediakan basis ilmiah yang kuat dan teknologi tepat guna sebagai kunci dalam menyusun kebijakan pengelolaan dan pengembangan usaha perikanan agar lebih efektif. badan usaha. dan/atau lembaga litbang milik asing. hasil kegiatan penelitian dan pengembangan milik pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Menurut PP No. efisien. penyediaan dana dan sarana litbang. 3. Pasal 15 menyebutkan penyelenggaraan litbang perikanan dapat bekerja sama dengan pelaksana litbang. 04/M/PER/III/2007 tentang Tata Cara Pelaporan Kekayaan Intelektual. 12 Tahun 2010 kegiatan litbang kehutanan meliputi kegiatan: (a) penelitian dasar. Hasil Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Dan Hasil Pengelolaannya. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan. dan ramah lingkungan serta menghargai kearifan tradisi/budaya lokal.1. (c) penelitian kebijakan. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan harus melaporkan hak kekayaan intelektual yang telah diperoleh dan/atau yang sedang dalam proses pendaftaran. PP ini juga menyebutkan. b. kegiatan litbang kehutanan diselenggarakan oleh Pemerintah. dan/atau (d) pengembangan eksperimental. dan dapat bekerja sama dengan lembaga litbang pemerintah provinsi. mengungkapkan dan memahami potensi dan permasalahan sumber daya ikan dan lingkungannya serta mengembangkan teknologi pengelolaan perikanan dan konservasi sumber daya ikan. 18 Tahun 2002 . Kerjasama ini meliputi penyediaan tenaga ahli. Sedang Pasal 20. lembaga litbang kabupaten/kota. menyatakan bahwa sinergi perguruan tinggi dan lembaga litbang dengan lembaga riset lainnya dapat dilakukan antara lain dengan mekanisme perjanjian kerjasama maupun perjanjian lisensi. 30 Tahun 2008 penyelenggaraan litbang perikanan bertujuan untuk: a. Tujuan pelaporan adalah untuk mendayagunakan hasil kegiatan penelitian dan pengembangan yang dibiayai oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan hidupnya.1.6. (b) penelitian terapan. pelaku usaha perikanan. berdaya saing tinggi. Serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Menurut PP No. meningkatkan kemandirian dalam penguasaan iptek di bidang perikanan. 60 Naskah Akademik Perubahan UU No. antara lain Peraturan Menteri Negara Riset Dan Teknologi No. ekonomis. dan masyarakat. Sebagai peraturan pelaksanaannya. serta pengelolaannya kepada Menteri. asosiasi perikanan.

Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional Kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. atau badan usaha asing dalam menyelenggarakan litbang kehutanan harus bekerja sama dengan Badan Litbang Kehutanan Kementerian. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. 3. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghasilkan produk produk inovatif. Pasal 22 menyebutkan.Penyelenggaraan litbang. Berkaitan dengan kerjasama penelitian internasional. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). ilmu pengetahuan dan teknologi. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. lembaga litbang asing. perguruan tinggi asing. lembaga riset dan teknologi. atau badan usaha asing dapat menyelenggarakan litbang kehutanan setelah mendapatkan izin dari instansi Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 12 Tahun 2010 juga mempunyai keterkaitan dengan PP No. Dalam rangka penguatan SINas ini dibentuk Komite Inovasi Nasional (KIN). mendayagunakan. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. kearifan tradisional. PP No. mendukung. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. industriinfrastruktur. manajemen bencana alam. bioteknologi. potensi dan karakteristik biofisik setempat guna menjamin terjaganya kekayaan plasma nutfah khas Indonesia dari pencurian atau gangguan lainnya yang mengancam punahnya plasma nutfah tersebut. Selanjutnya di ayat (2)-nya disebutkan lembaga litbang asing.” KIN mempunyai tugas untuk: (a) membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. penguatan SINas diutamakan mencakup inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. industri manufaktur. terintegrasi. 61 Naskah Akademik Perubahan UU No. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. sebagaimana PP No. perguruan tinggi asing. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan Sistem Inovasi Nasional (SINas) guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. 23 Tahun 2010. transportasi dan industri pertahanan. Dalam Perpres ini yang dimaksud dengan SINas adalah “suatu jaringan rantai antara institusi publik. serta kondisi social budaya masyarakat. 18 Tahun 2002 . b. (b) memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. ketahanan energi. terpadu. Menurut Perpres No. serta diklat kehutanan dilaksanakan dengan memperhatikan: a. peneliti asing.8.1. dan (c) melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program penguatan SINas. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. peneliti asing.

Sesuai Perpres No.9. atau usaha mandiri skala kecil dan menengah.10.580 Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. prioritas utama maupun kerangka kebijakan di bidang penelitian.1. pengembangan. yakni sebagai tenaga kerja terampil untuk aplikasi teknologi di perusahaan industri. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perumusan Jakstranas Iptek dilakukan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi secara terkoordinasi dengan instansi-instansi terkait.3. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Instruksi Presiden dalam memberi arahan perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan strategis pembangunan nasional iptek (Jakstranas Iptek). Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Dewan Riset Nasional (DRN) Peraturan Presiden tentang DRN mengatur tentang pelaksanaan tugas DRN dalam membantu Menteri dalam merumuskan arah. Dalam konteks penguatan inovasi. dan strata 1 lebih dilihat relevansinya sebagai elemen pendukung penguatan kapasitas adopsi dari sisi pengguna teknologi. memberikan berbagai pertimbangan kepada Menristek dalam penyusunan kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi.698 4. 3. program diploma.672 5. jenjang pendidikan yang paling relevan adalah pada strata 2 dan 3 untuk dukungan kemampuan individual dan kapasitas pengembangan teknologi nasional. 18 Tahun 2002 . DRN memperhatikan pemikiran dan pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tahun 1989 1990 1991 1992 1993 23 Nilai Ekspor (juta USD) 79 112 197 465 850 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 Nilai Ekspor (juta USD) 2. Koordinasi dilakukan terutama untuk menentukan dan melaksanakan arah kebijakan. Dalam melaksanakan tugasnya itu. 16 Tahun 2005.1. b. menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Bidang Pendidikan. membantu Menteri dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. 4. 62 Naskah Akademik Perubahan UU No.403 5. prioritas utama dan kerangka kebijakan pemerintah dalam pembangunan iptek secara nasional.070 4. tugas utama DRN adalah : a. Lebih spesifik berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang pendidikan menengah. sedangkan pendidikan menengah kejuruan23.

ataupun kebutuhan pemerintah. atau [2] meningkatkan kemampuannya sebagai pengembang teknologi. Idealnya.188 2004 2005 2006 2007 2008 5. 24 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur.250 2. kegiatan tugas akhir yang hanya berorientasi akademik hanya diimplementasikan sampai pada jenjang strata 1 atau program diploma.561 2. Namun dalam prakteknya.225 5.808 6.com (18 Januari 2011) Secara umum program pendidikan Indonesia belum dirancang agar dapat optimal mendukung tumbuh kembang inovasi. industri. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi sistem inovasi nasional. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi.1994 1995 1996 1997 1998 1. 18 Tahun 2002 . Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap24 dan cukup banyak pula yang berkerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya. 63 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi arus utamanya harus diakui masih murni berorientasi akademik.658 2.571 5. sedangkan upaya untuk meningkatkan relevansinya dengan realita di bidang ilmu yang bersangkutan masih dirasakan minimal. Pendidikan program diploma dan sekolah menengah kejuruan sejak awal dirancang untuk menyiapkan tenaga terdidik dan terampil yang siap bekerja. topik riset masih ditentukan oleh keinginan mahasiswa dan arahan pembimbing/promotornya. Lulusan strata 1 kemudian dapat memilih alur karirnya untuk berkiprah: [1] memperkuat kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna. Beberapa pengecualian tentu ada. PP No. Sebagai contoh.900 5.340 1. disamping mutu pendidikan. belum didorong oleh kesadaran agar hasil riset tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. riset tugas akhir program strata 2 dan 3 (thesis dan disertasi) masih dominan diposisikan hanya sebagai indikator penguasaan bidang ilmu yang sesuai dengan program studi yang diikuti. Persentase ekspor Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi untuk periode 1989-2008 Sumber : The World Bank.625 Tabel 2. karena lulusan pada jenjang ini memang masih lebih diposisikan sebagai langkah penyiapan tenaga berpengetahuan dasar yang cukup dan/atau mempunyai ketrampilan di bidangnya masing-masing. diunduh dari tradingeconomics. Dengan kata lain. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. Konsepsi sistem inovasi nasional yang sangat baik sekalipun hanya akan bisa diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan.

persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. peningkatan iman dan takwa. c.1. f. perkembangan ilmu pengetahuan. 20 Tahun 2003 yang antara lain menyebutkan: (1) bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan. i.1. Pelaksanaan penelitian terutama dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar. keragaman potensi daerah dan lingkungan. dinamika perkembangan global. di samping mutu pendidikan. UU No. UU No. 64 Naskah Akademik Perubahan UU No. 4. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. agama. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. Kewajiban yang pertama dikenal sebagai ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’. 18 Tahun 2002 . teknologi. 25 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. dan (2) Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Terkait dengan kegiatan penelitian. b. Namun dalam prakteknya. dan j. 20 Tahun 2003. g. dan minat peserta didik.2.1. 4. tuntutan dunia kerja. kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dengan memperhatikan: a. Olehkarena itu perkembangan iptek juga merupakan salah satu materi kurikulum. penelitian. d. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap25 dan cukup banyak pula yang bekerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya.4. peningkatan akhlak mulia. h. kecerdasan. penelitian ilmiah. dan pengabdian kepada masyarakat.1. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor Penyelenggaraan Pendidikan 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. tuntutan pembangunan daerah dan nasional. dan pengabdian kepada masyarakat. dan seni. Menurut Pasal 36 UU No. peningkatan potensi. e.

3. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan pengertian tentang tenaga kerja. 4. Apabila dikaitkan dengan tujuan pembangunan SINas sendiri. penelitian. budaya. dan seni melalui pendidikan.Konsepsi sistem inovasi yang sangat baik sekalipun hanya akan berhasil apabila dapat diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen Menurut PP No. Bidang Ketenagakerjaan. 13 Tahun 2003. dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. Pembangunan ketenagakerjaan sesuai dengan sifatnya akan lebih berada pada posisi sebagai pemasok kebutuhan tenaga kerja. seni. . Berdasarkan Pasal 26. maka terlihat jelas benang merah keterkaitan antara kebijakan ketenagakerjaan dengan upaya penguatan inovasi nasional. dimana kebutuhan (demand) yang menentukan orientasi pembangunan dan pengembangannya. dosen memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi. teknologi. Kesempatan untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat mencakup kesempatan untuk memperoleh dan/atau memanfaatkan sumber daya pendidikan yang dimiliki oleh Pemerintah. Nuansa ini sangat sejalan dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. 37 Tahun 2009. industri. [c] memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. menyebutkan bahwa dosen dapat memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan. studi serta kesempatan melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Lebih lanjut dinyatakan pada Pasal 4 UU No. yakni mencakup setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat (Pasal 1 butir 2). dan masyarakat. Pasal 32. penyelenggara pendidikan tinggi atau satuan pendidikan tinggi. mengembangkan. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. hubungan yang sinergis dan serasi harus 65 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 UU No. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. [b] mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. dan [d] meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. pemerintah daerah. bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan: [a] memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. atau pemerintah).1. teknologi. dan/atau olahraga. yakni untuk mewujudkan sistem pengelolaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih efektif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan/atau jasa sesuai kebutuhan pengguna (masyarakat. dan pengabdian kepada masyarakat. 5. Oleh sebab itu. Butir b Pasal 4 di atas memberikan penegasan bahwa salah satu tujuan pembangunan ketenagakerjaan adalah untuk penyediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan.

sangat jelas bahwa upaya mewujudkan SINas yang produktif dan efektif dalam memajukan perekonomian nasional membutuhkan keterpaduan dengan kebijakan ketenagakerjaan dan sekaligus juga dengan kebijakan pendidikan nasional (Gambar 5).dimulai dengan mewujudkan penguatan inovasi yang lebih mantab. Jika lebih besar perannya sebagai subjek pembangunan yang secara aktif berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. tetapi perlu juga didasarkan atas persentase jumlah lulusan yang berperan sebagai subjek pembangunan atau sebagai tenaga kerja produktif yang berkontribusi terhadap keberhasilan pembangunan nasional di segala sektor. sehingga dengan sendirinya diawali dengan kesenjangan (gap) yang minimal antara kebutuhan penguatan inovasi nasional dengan ketersediaan tenaga kerja domestik. SINas. 66 Naskah Akademik Perubahan UU No. Penyerasian Sistem Pendidikan. sebaliknya jika lebih banyak perannya hanya sebagai objek pembangunan. ketenagakerjaan. Dengan demikian maka keberhasilan pembangunan pendidikan harusnya tidak hanya dievaluasi berdasarkan jumlah atau persentase penduduk yang berpartisipasi pada setiap jenjang pendidikan atau persentase populasi yang menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Skenario untuk membangun keterpaduan antara pembangunan SINas dengan penyiapan tenaga kerja pendukungnya saat ini belum diformulasikan. Sistem Pendidikan Nasional Kebijakan ketenagakerjaan Produktivitas Inovasi Nasional Kinerja Perekonomian Nasional Gambar 5. Dengan demikian. Kinerja sektor pendidikan tentu akan menjadi tumpuan utama dalam memperbesar porsi tenaga kerja yang menjadi subjek pembangunan. maka akan sangat berat beban yang diemban untuk memajukan bangsa dan negara tersebut. Selanjutnya. maka bangsa dan negara tersebut akan berpeluang lebih besar untuk lebih maju. penyiapan tenaga kerja juga tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. dan perekonomian nasional Tenaga kerja berperan sekaligus sebagai subjek dan objek pembangunan. 18 Tahun 2002 Lulusan bermutu dan relevan kebutuhan lapangan kerja SDM pengembang. Lebih jauh. Kemajuan suatu bangsa dan negara sangat tergantung dari peran mana yang lebih besar porsinya yang diperankan oleh tenaga kerja secara kolektif. secara bertahap dilakukan upaya meningkatkan produktivitas penguatan inovasi yang dalam prosesnya tentu mengharuskan adanya peningkatan mutu dan relevansi keahlian tenaga kerja. Inovasi yang dibangun berbasis pada potensi dan kebutuhan nasional bermakna telah mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. dengan tujuan dan kebutuhan yang jelas. pengguna & intermediasi Kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional Kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa .

mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. 5. belum banyak kontribusi industri hilir terhadap perekonomian nasional. Pasal 6 hruf c PP No. 12 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. UU No. tetapi untuk kegiatan-kegiatan ekonomi dengan muatan teknologi yang minimal. dan Keputusan Kepala BKN No. 5. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 4 UU No. Kualitas tenaga kerja ini tidak terlepas dari peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Kegiatan ekonomi masih dominan pada fase eksploitasi sumberdaya alam atau produksi bahan mentah. 5. dan hak mendapatkan tunjangan.1. dalam kerangka penguatan inovasi. Dalam Pasal 3 disebutkan pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. b. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ketenagakerjaan.1. 99 Tahun 2000 menyebutkan “PNS yg dipekerjakan atau diperbantukan 67 Naskah Akademik Perubahan UU No. 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan : a.1. 13 Tahun 2003 antara lain mengatur mengenai peranan dan kedudukan tenaga kerja. Posisi tenaga kerja Indonesia saat ini masih belum terlalu membanggakan.1. c. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. karena masih lebih banyak yang berperan dalam proses produksi barang atau jasa.2. Kenyataan ini sebetulnya bukan hanya menjadi cerminan dari kualitas tenaga kerja yang masih rendah. dan d. memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. . Tenaga ahli sebagai PNS tunduk kepada UU No. 12 Tahun 2002 tentang Kenaikan Pangkat PNS. bukan hanya sebagai konsumen barang dan/atau jasa yang dihasilkan dari hasil aplikasi teknologi semata. dan intermediasi. PP No. tetapi juga karena industri dengan muatan teknologi tinggi masih belum berkembang di Indonesia. yang berkaitan dengan ketentuan PNS dipekerjakan atau diperbantukankan. memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. maka keberhasilan pembangunan sektor ketenagakerjaan perlu dievaluasi berdasarkan peran aktif dan produktifnya sebagai pengembang teknologi. pengguna teknologi dalam sistem produksi. perekayasa dan dosen pemerintah adalah PNS.Selanjutnya. 12/ Tahun 2002 jo. 18 Tahun 2002 UU No. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 jo. PP No. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS Tenaga ahli terdiri dari peneliti.

31 Tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan PNS yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam Jabatan Fungsional Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan diberikan tunjangan jabatan fungsional sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. Peneliti.3. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS ini sangat tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2002 jo. masa kerja. pengangkatan. Menurut pihak BKN dan Menpan. 5.1. 99 Tahun 2000 tidak berlaku bagi keperluan technical assistance peneliti dan perekayasa pemerintah ke badan-badan usaha swasta. 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen. PP No. sebagaimana Pasal 15 dan 16 diberikan kepada dosen yang memiliki jabatan akademik profesor dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan sebesar 2 (dua) kali gaji PNS yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan angka kredit. Namun ketentuan PP No. dan badan usaha yang ditentukan”.1. 18 Tahun 2002 Sedangkan tunjangan kehormatan. Sedangkan tunjangan khusus bagi guru dan dosen bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. yang besarnya 1 (satu) kali gaji pokok pegawai negeri sipil yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menurut Peraturan Bersama Menristek dan Kepala BKN No. 68 Naskah Akademik Perubahan UU No.4. pola pikir dan tindakan dalam melaksanakan pembinaan perekayasa. dan kualifikasi akademik bagi guru dan dosen PNS. Untuk menjamin adanya persamaan persepsi. pembebasan sementara. antara lain melakukan : a. dan kualifikasi akademik yang berlaku bagi profesor PNS. 11 dan 12 tunjangan khusus diberikan bagi guru dan dosen PNS yang ditugaskan oleh pemerintah atau pemerintah daerah di daerah khusus. BPPT ditunjuk sebagai instansi pembina jabatan perekayasa. menetapkan 11 standar kompetensi jabatan fungsional perekayasa. Peraturan Pemerintah No. 13/M/PB/VIII/2008 dan No. organisasi profesi. . pemberhentian dalam dan dari jabatan. masa kerja. Peraturan Pemerintah No. Tunjangan kehormatan bagi profesor bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. 22 Tahun 2008 diatur hal-hal yang berkaitan dengan usulan penilaian dan penetapan angka kredit. tim penilai. negara sahabat atau badan internasional. perekayasa dan dosen tidak diperkenankan bekerja dan diperbantukan di badan-badan usaha. 5.berdasarkan ketentuan Pasal ini adalah PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh pada proyek pemerintah. BPPT selaku pembina jabatan perekayasa. ketentuan mengenai ‘badan usaha yang ditentukan’ ini hanya ditujukan bagi keperluan perbantuan guru-guru pemerintah yang mengajar ke sekolah-sekolah swasta. kenaikan jabatan/pangkat. Tunjangan Khusus Guru dan Dosen Serta Tunjangan Kehormatan Profesor Berdasarkan Pasal 10 .

b. menetapkan pedoman formasi jabatan fungsional perekayasa; c. menyusun kurikulum pendidikan dan pelatihan jabatan fungsional perekayasa; d. melakukan pengkajian dan pengusulan tunjangan jabatan fungsional perekayasa; e. mensosialisasikan jabatan fungsional perekayasa serta petunjuk pelaksanaannya; f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional perekayasa; g. mengembangkan sistem informasi jabatan fungsional perekayasa; h. memfasilitasi pelaksanaan jabatan fungsional perekayasa; i. memfasilitasi pembentukan organisasi profesi perekayasa; j. memfasilitasi penyusunan dan penetapan etika profesi dan kode etik perekayasa; k. melakukan monitoring dan evaluasi Jabatan Fungsional Perekayasaan

6. Bidang Infrastruktur Sosial. Infrastruktur sosial pada prinsipnya mencakup semua fasilitas yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai infrastruktur komunitas (community infrastructure). Dengan demikian maka infrastruktur sosial tidak hanya mencakup ‘soft infrastructure’ (seperti dukungan untuk pengembangan komunitas, keluarga, dan individu; layanan informasi; pelatihan ketrampilan; perlindungan hukum; keamanan publik; dan layanan darurat); tetapi juga mencakup ‘hard infrastructure’ (seperti fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas untuk kegiatan seni dan budaya, fasilitas olahraga dan rekreasi, perumahan sehat, fasilitas lingkungan, fasilitas ibadah, dan tranportasi publik). Akibat buruk dari kurangnya perhatian dalam pembangunan infrastruktur sosial telah semakin dirasakan oleh negara-negara maju, misalnya berupa gangguan keamanan lingkungan atau mutu sumberdaya manusia yang rendah yang kemudian menjadi beban pembangunan. Kesenjangan sosial yang terjadi ternyata sangat mahal biaya remediasinya. Menyadari akan hal ini maka beberapa negara maju mulai secara sungguh-sungguh berupaya memperbaikinya. Misalnya Inggris menganggarkan hampir 3 milyar pound untuk pembenahan infrastruktur sosialnya. Pemerintah Australia juga mengambil inisiatif untuk membenahi infrastruktur sosial ini (Casey, 2005). Indonesia sebagai negara berkembang kelihatannya belum menunjukkan perhatian yang baik terhadap infrastruktur sosial ini pada sebagian besar wilayah perdesaan dan lingkungan kumuh perkotaan. Akibatnya kesenjangan sosial-ekonomi antara perdesaan dan perkotaan semakin melebar. Kenyataan ini telah secara nyata menyebabkan laju urbanisasi yang semakin sulit dibendung. Kesenjangan antara komunitas kaya dan miskin di perkotaan juga terasa semakin melebar. Kondisi ini menyebabkan antara lain semakin meningkatnya frekuensi kerusuhan di

69

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

perkotaan. Walaupun banyak yang mengkaitkan fenomena kerusuhan ini sebagai dampak dari demokratisasi di Indonesia. Kesenjangan sosial-ekonomi jelas tidak ‘compatible’ dengan upaya membangun inovasi nasional yang produktif dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, dalam skenario besar pengembangan sistem inovasi nasional Indonesia perlu disediakan ruang untuk pembangunan infrastruktur sosial. Beberapa peraturan perundang-uindangan terkait dengan pengembangan infrastruktur sosial sebagaimana di bawah ini.

6.1. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Infrastruktur Sosial. 6.1.1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Kereta Api

Menurut UU No. 23 Tahun 2007, pemerintah mendorong kemampuan di dalam negeri rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian nasional. Kegiatan ini antara lain mengedepankan lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang dikenal sebagai penghasil teknologi. Hal tersebut di ataur dalam Pasal 118 ayat (1) dan (2).
Pasal 118 (1) Untuk pengembangan perkeretaapian dilakukan rancang bangun dan rekayasa perkereta apian. (2) Rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh: a. pemerintah; b. pemerintah daerah: c. badan usaha; d. lembaga penelitian; atau e. perguruan tinggi.

6.1.2.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

Sebagaimana dengan UU No. 23 Tahun 2007, melalui UU No. 5 Tahun 1984 pemerintah juga berupaya mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri. Upaya ini memberikan kesempatan bagi peneliti dan perekayasa di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan maupun perguruan tinggi dalam peningkatan kemampuan industri nasional. UU No. 5 Tahun 1984 menyebutkan pembedaan teknologi industri dan teknologi tepat guna. Teknologi industri adalah cara pada proses pengolahan yang diterapkan dalam industri. Teknologi yang tepat guna adalah teknologi yang tepat dan berguna bagi suatu proses untuk menghasilkan nilai tambah. Sedangkan barang jadi adalah barang hasil industri yang sudah siap pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi. Pasal 9 UU No. 5 Tahun 1984 menyatakan bahwa pengaturan dan pembinaan bidang usaha industri dilakukan dengan memperhatikan “penyebaran dan pemerataan pembangunan industri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia dengan mempergunakan proses industri dan teknologi yang tepat guna untuk dapat tumbuh dan berkembang atas kemampuan dan kekuatan sendiri”.

70

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keterkaitan dengan teknologi, di Pasal 16, Bagian VI UU No. 5 Tahun 1984, ayat (1) disebutkan “Dalam menjalankan dan/atau mengembangkan bidang usaha industri, perusahaan industri menggunakan dan menciptakan teknologi industri yang tepat guna dengan memanfaatkan perangkat yang tersedia dan telah dikembangkan di dalam negeri. Pada ayat (2) Apabila perangkat teknologi industri yang diperlukan tidak tersedia atau tidak cukup tersedia di dalam negeri, Pemerintah membantu pemilihan perangkat teknologi industri dari luar negeri yang diperlukan dan mengatur pengalihannya ke dalam negeri.Dan pada ayat (3) Pemilihan dan pengalihan teknologi industri dari luar negeri yang bersifat strategis dan diperlukan bagi pengembangan industri di dalam negeri, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

71

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. Sedangkan Zevenbergen menyatakan. Hukum yang baik adalah apabila terdapat keserasian antara politik hukum yang dibuat oleh pemerintah dengan kesadaran hukum masyarakat. menurut Hans Kelsen. yaitu konsepsi abstrak di dalam diri manusia tentang keserasian antara ketertiban dan ketenteraman atau kondisi yang sepantasnya diinginkan. Apabila peraturan perundang-undangan hanya menekankan pada pemenuhan persyaratan yuridisnya saja. Menurut UU No. Secara garis besar dalam penyusunan peraturan perundang-undangan memperhatikan dua hal. hukum berlaku secara yuridis. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. kaidah hukum mengikat. Sosiologis. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. apabila kaidah hukum terbentuk menurut cara yang telah ditetapkan. adanya kesadaran hukum masyarakat. Syarat yuridis. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). Logemann berpendapat. maka peraturan tersebut hanya merupakan cita-cita saja. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundangundangan. Menurut Kelsen. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. 18 Tahun 2002 . 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. karena efektivitas hukum merupakan fakta. maka ada kemungkinan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan hanya merupakan kumpulan kaidah yang mati. Kedua. Dengan demikian apabila pembentukan peraturan perundang-undangan diartikan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat atau pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Kajian mengenai persyaratan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan yang baik selalu berkembang agar penerapan peraturan perundang-undangan sesuai dengan tujuannya. dan filosofis.Bab 4 Landasan Filosofis. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. Menurut teori kekuasaan. Hal itu diperkuat dengan teori pengakuan yang menyatakan bahwa berlakunya hukum ataupun peraturan perundangundangan didasarkan atas penerimaan atau pengakuan atas peraturan tersebut. sosiologis. apabila menunjukan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya. 72 Naskah Akademik Perubahan UU No. yaitu syarat yuridis. dan Yuridis Pembentukan peraturan perundang-undangan umumnya telah memperhatikan proses pemberlakuannya. maka penyusunan suatu peraturan perundangundangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. yaitu pertama adanya politik hukum yang jelas. Pembentukan peraturan perundang-undangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. merupakan kebijakan pemerintah mengenai arah mana hukum tersebut diarahkan. lebih menekankan teori kekuasaan. Demikian halnya apabila peraturan perundangundangan hanya menekankan pada aspek sosiologis-nya saja. maka peraturan perundang-undangan yang dibuat cenderung menjadi sekumpulan aturan-aturan pemaksa. Apabila peraturan tersebut hanya berlaku secara filosofis.

Sebagai contoh : dahulu manusia menanam karet dan menunggu hasil sesuai kemampuan alam untuk memproduksi. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan masalah tertentu.Di samping syarat–syarat tersebut.1. yang selengkapnya berbunyi: Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Amandemen keempat UUD 1945. Lingkup pribadi menunjukan siapa atau apa yang akan diatur peranannya melalui peraturan perundangundangan. Pendidikan dan Kebudayaan. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Dapat dikatakan manusia dan peradaban adalah hal yang tidak dapat dipisahkan karena manusia itu memiliki cipta. Logemann berpendapat. waktu. aplikasi pupuk. Menurut Amandemen keempat UUD 1945 ini. Aspek Yuridis Amandemen keempat UUD 1945 yang ditetapkan oleh MPR pada tanggal 10 Agustus 2002 merupakan landasan yuridis bagi pembentukan peraturan perundang-undangan yang ada. pribadi. Amandemen ini belum menjadi pertimbangan yuridis saat penetapan UU No. Lingkup ini dibedakan menjadi empat. rasa dan karsa. lingkup berlakunya suatu peraturan perundangan-undangan agar ditentukan pula. 2008) diartikan sebagai 1 kemajuan (kecerdasan. Lingkup wilayah menyangkut ruang atau wilayah yang akan dibatasi melalui pembentukan peraturan perundang-undangan. budi bahasa. 2 hal yg menyangkut sopan santun. rasa dan karsa ini menimbulkan perkembangan pengetahuan. dan 73 Naskah Akademik Perubahan UU No. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Hal itu dapat ditemui di dalam Bab XIII. Secara jelas ketentuan ini tercantum dalam Pasal 31. Perkembangan cipta. Lingkup waktu berhubungan dengan jangka waktu tertentu yang diatur oleh suatu peraturan perundang-undangan. Terakhir adalah lingkup masalah yang bersangkutan dengan permasalahan apa saja yang akan menjadi obyek suatu peraturan perundang-undangan. secara jelas telah mengamanahkan pemajuan iptek. yaitu wilayah. dan kebudayaan suatu bangsa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring. Kemajuan kebudayaan ini sering dikatakan sebagai peradaban. 18 Tahun 2002 . (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. yaitu agar diarahkan untuk mendorong kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya. tetapi saat ini dengan adanya perkembangan pengetahuan. Pengembangan. kemajuan iptek secara tegas ditetapkan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang disahkan pada tanggal 29 Juli 2002. 4.

telah membantu manusia dalam berbagai kegiatannya. maka dapat dikatakan penguasaan dan pemanfaatan iptek tidak berfungsi dengan baik. maupun penciptaan (invention).” Pengertian teknologi secara umum menurut Ellul (1967) adalah:  Proses yang meningkatkan nilai tambah. atau bahkan menurun. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. disusun. misalnya. 18 Tahun 2002 berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. Secara umum iptek berkembang melalui kreativitas berbagai penemuan (discovery). Apabila iptek berkembang tetapi kesejahteraan umat manusia tidak berkembang. memberi kemudahan dalam kehidupan manusia. yang selanjutnya melahirkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. Menurut UU No. Berbagai inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Berbagai penemuan di bidang kesehatan. kelangsungan. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. apabila iptek terus berkembang.  Produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja. . Dengan kata lain. Adanya kemajuan penguasaan dan pemanfaatan iptek akan berimbas pada peningkatan daya saing dan akan mendorong kemajuan bangsa. maupun pengembangan ilmu pengetahuan.teknik pemeliharaan menjadikan pohon karet menghasilkan lebih banyak. teknologi informasi dan mikroelektronika. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. 74 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Dapat dikatakan teknologi merupakan aplikasi dari pengetahuan sebagai respons atas tuntutan manusia akan kehidupan yang lebih baik. kesejahteraan umat manusia juga meningkat. Sedangkan teknologi dalam UU No. Dengan demikian dapat dikatakan dalam perkembangan peradaban manusia. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. moral. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. Menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv). merupakan hasil dari penguasaan dan pemanfaatan iptek sehingga berbagai penyakit telah dapat disembuhkan. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara umum adalah karya manusia. Sedangkan kegunaan iptek bagi manusia juga ditentukan oleh nilai. teknologi adalah ”keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. norma dan hukum atau peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. 18 Tahun 2002 diartikan sebagai cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. dan tanpa adanya manusia kedua karya tersebut tidak akan ada. iptek mempunyai peran sentral. kualitatif. 18 Tahun 2002. Demikian halnya dengan penggunaan perangkat otomatis. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah.  Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan. kemajuan bangsa. baik yang bersifat kuantitatif. pelestarian fungsi lingkungan hidup. Menurut UU No.

Walaupun dirasakan telah terjadi kemajuan dalam pemahaman tentang konsepsi dasar sistem inovasi dan telah terjadi perkembangan metodologis untuk analisis sistem inovasi. yang selanjutnya menumbuhkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. indikator perkembangan iptek antara lain adalah peningkatan berbagai penemuan (discovery). atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”. Menurut UU No. 18 Tahun 2002. hanya terlihat pada kegiatan litbangrap iptek yang berisiko tinggi dan berbahaya. p e n c i p t a a n ( invention). 75 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 dimungkinkan penggunaan sanksi pidana berupa denda paling banyak Rp.4. masyarakat awam.. Untuk dapat efektif. kebebasan berpikir menjadikan penggunaan pemaksaan tidak relevan. serta pada tingkat kewilayahan mana sistem inovasi tersebut tepat untuk diimplementasikan. 18 Tahun 2002 penggunaan aturan pemaksa harus disesuaikan dengan asas undang-undang ini yang menekankan pada asas kebenaran ilmiah. pengembangan. penggunaan sanksi dalam UU No. Aspek Sosiologis Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Umumnya hanya menghasilkan atau merekomendasikan prinsip dasar dan/atau taksonomi kebijakan sebagai bentuk intervensi yang dibutuhkan dari pihak pemerintah. atau dengan kata lain inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). asas kebebasan akademis. asas kebebasan berpikir. Demikian halnya dengan upaya penguatan inovasi nasional melalui peraturan perundang-undangan. Pengertian inovasi versi UU No. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. serta tanggung jawab akademis. 50. ekonomi. mengingat kondisi sosial.(lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. Bahkan secara tegas World Bank (2010). sistematis. dan potensi sumberdaya alam Indonesia yang sangat majemuk. maka kebijakan harus mengandung muatan pengaturan dan tidak hanya memberikan pemahaman umum. telaah tentang sistem inovasi sangat jarang berujung pada preskripsi kebijakan sistem inovasi yang konkrit. . budaya. namun perbedaan yang menonjol adalah inovasi lebih melihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. Sejalan dengan semangat ini. namun sampai saat ini masih belum berhasil dirumuskan kebijakan dan peraturan perundang-undangan sistem inovasi yang pas untuk kondisi Indonesia. Penekanan pada kreatifitas.2. 26 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UU No. menekankan inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). Dalam UU No.26 Secara sosiologis penekanan ketentuan atau aturan-aturan yang memaksa (coercion) dalam pengembangan iptek kurang tepat. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. atau pemerintah. 18 Tahun 2002 Ketiga persyaratan di atas dirumuskan dan tercakup dalam penyusunan peraturan perundangan-undangan. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini.000. Saat ini. dan detil. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. Meskipun inovasi sering dicampuraduk pengertiannya dengan invensi.000. Berbagai jenis instrumen kebijakan yang pas untuk digunakan.

Namun demikian. kota. atau dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan di wilayah Indonesia bagian timur. kecamatan. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia.2. Reorientasi Arah dan Prioritas Riset Inovasi nasional di Indonesia wajib berbasis pada potensi sumberdaya nasional. 4. Teori inovasi yang tidak mengakar pada realita Indonesia akan sangat berisiko jika dijadikan pijakan dalam merumuskan kebijakan sistem inovasi Indonesia. 18 Tahun 2002 . Pengembangan inovasi daerah yang berbasis agroekosistem lahan misalnya. atau dapat juga untuk satuan kawasan dengan karakteristik sosio-ekonomi-kultural masyarakatnya yang spesifik. atau wilayah laut dengan karakteristik marine ecology yang khas. Selain itu pendekatan sosial- 76 Naskah Akademik Perubahan UU No. cakupan wilayah dari suatu sistem inovasi sebaiknya tidak berbasis pada satuan wilayah administrasi pemerintahan (provinsi. tetapi sebaiknya lebih berbasis pada satuan kawasan pembangunan perekonomian. tetap saja sering tidak efektif dalam implementasinya. baik itu terfokus pada komoditas tertentu yang bernilai ekonomi tinggi ataupun pada potensi sumberdaya lahan atau laut dengan karakteristek yang khas. kabupaten. desa). atau disingkat SIDa) atau sistem inovasi yang secara spesifik fokus pada potensi ekonomi tertentu. dirancang untuk mendukung kegiatan ekonomi di lahan sub-optimal basah (lebak dan pasang surut). Pengembangan sistem inovasi tentu perlu diserasikan dengan realita strategi pembangunan bidang perekonomian tersebut. Pendekatan ini dapat dilakukan pula untuk komoditas perkebunan dengan volume dan nilai produksi yang lebih besar sehingga memberikan kontribusi yang significant bagi perekonomian nasional (misalnya sawit dan karet). Kebijakan yang tak kentara warna Indonesianya. serta kemampuan pembiayaan dan infrastruktur pembangunan lainya yang telah dimiliki atau yang secara rasional akan dapat dikelola.1. yang kondisinya dalam berbagai dimensi sangat berbeda dengan Indonesia. misalnya pada hamparan lahan dengan karateristik agroekosistem tertentu yang menopang pembangunan ekonomi berbasis pertanian. Luasnya wilayah nusantara dan keragaman potensi sumberdaya merupakan alasan yang rasional untuk membangun sistem inovasi yang lebih operasional pada wilayah cakupan yang lebih kecil (sekarang digunakan terminologi Sistem Inovasi Daerah. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. walaupun didukung dengan regulasi yang kuat. termasuk: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan.Teori sistem inovasi yang berkembang di Indonesia banyak yang diadopsi secara langsung dari sistem inovasi yang dianut oleh negara-negara maju. Karakteristik inovasi yang khas Indonesia perlu diformulasikan dengan tepat. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. MP3EI juga menganut pembangunan ekonomi berbasis wilayah yang membagi NKRI menjadi enam koridor dan sekaligus juga mengangkat komoditas tertentu sebagai fokus pembangunan pada masing-masing dari enam koridor ekonomi tersebut. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi.

Pengembangan inovasi nasional memberikan ‘template’ sebagai acuan untuk pengembangan inovasi daerah. pengembangan sistem inovasi di Indonesia perlu didukung pengembangan teknologi yang lebih terarah. Kecenderungan global saat ini cenderung menggiring pengembangan teknologi lebih ke arah pemenuhan kebutuhan atau menyediakan solusi bagi permasalahan nyata yang ada di masyarakat. meskipun esensinya sama yakni mendorong agar pengembangan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. Produk yang semakin kompleks dan memilki siklus hidup yang semakin pendek karena cepatnya kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan konsumen. Selain berbasis pada potensi sumberdaya nasional atau lokal. Fokus dukungan dapat dilakukan pada aktivitas ekonomi tertentu yang diunggulkan. 18 Tahun 2002 . Tekanan persaingan global yang semakin meningkat. baik industri. sehingga tujuan pembangunan nasional yang sifatnya universal dapat dikawal. b. c. untuk dapat dikelola dan dievaluasi kinerjanya secara lebih baik. issue-driven (Jepang). Indonesia tentunya harus berada dalam mainstream ini jika secara sungguh-sungguh ingin mewujudkan sistem inovasi nasional ataupun daerah yang berkontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi dengan harapan dapat pula meningkatkan kesejahteraan rakyat. ataupun pemerintah. marketdriven (mulai jarang digunakan karena terkesan terlalu mengarah pada komersialisasi). masyarakat. Keragaman istilah atau terminologi yang digunakan ini menunjukkan perlunya reorientasi dalam pengembangan teknologi untuk menopang sistem inovasi dalam upaya meningkatkan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian. Selanjutnya Tatang Taufik menyebutkan. mission-driven (Swedia). antara lain demand-driven. Kedua keadaan tersebut juga mengakibatkan persaingan pasar yang semakin cepat dan kompleks.ekonomi-budaya dilakukan untuk masyarakat pengrajin dan industri ukiran kayu di Jepara atau masyarakat dengan budaya yang khas seperti di Bali. Kemampuan inovasi juga merupakan faktor penguatan daya saing yang sangat penting (Taufik. 2005). yakni terutama untuk menyejahterakan rakyat sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi. penguatan daya saing ini menjadi semakin relevan apabila dikaitkan dengan kecenderungan sebagai berikut: a. Dikotomi pilihan pengembangan sistem inovasi pada tingkat nasional dengan tingkat daerah/lokal seharusnya tidak perlu terjadi. dan evidence-based (mulai digunakan oleh komunitas ilmu sosial atau pihak yang melihat teknologi dari perspektif ilmu sosial). Pengembangan inovasi daerah dapat difokuskan pada pengembangan sistem inovasi yang lebih teknis dan operasional sesuai kebutuhan ataupun unggulan yang akan dikembangkan di daerah. Keragaman istilah ini disebabkan adanya perbedaan aspek atau dimensi yang ingin ditekankan. sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. Istilah yang muncul untuk menggambarkan orientasi riset dan pengembangan teknologi sesuai kebutuhan pengguna ini cukup beragam. 77 Naskah Akademik Perubahan UU No. needdriven.

Idealnya. Persentase jumlah peneliti atau perekayasa terhadap total populasi suatu negara sering dipakai sebagai indikator kemajuan inovasi nasional negara yang bersangkutan. yaitu inovasi. Pendidikan perlu diupayakan tidak hanya peningkatan mutunya tetapi juga dibarengi dengan upaya peningkatan relevansinya terhadap kebutuhan nyata. pasar dan teknologi berubah sangat cepat. 78 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi merupakan hasil kerja kelompok ‘kecil’ peneliti pada satu laboratorium atau kolaborasi peneliti antar-laboratorium. dari upaya sinkronisasi program penyiapan sumberdaya manusia yang relevan dan kompeten. 4. Walaupun angka ini mungkin mengindikasikan kemampuan negara tersebut untuk mengembangkan teknologi. Tidak semua disiapkan menjadi pengembang teknologi yang handal. pendidikan juga diarahkan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa. Hal ini bisa dicermati dari beberapa perspektif: [1] teknologi yang berdampak signifikan dan mampu mengubah ‘wajah’ dunia dalam berbagai bidang bukan merupakan hasil kerja kolektif seluruh populasi peneliti suatu negara. tuntutan konsumen yang semakin tinggi. Kecenderungan industri saat ini. 18 Tahun 2002 . malah dapat menyesatkan. [2] jumlah peneliti yang banyak tidak otomatis berarti akan banyak teknologi bermanfaat yang dihasilkan. Implementasi inovasi nasional juga memerlukan adanya pengguna teknologi yang terampil. optimalisasi fungsi kelembagaan pengelola pendidikan. juga ditentukan oleh relevansi substansi yang diteliti. Selain untuk meningkatkan kecerdasan akademik. populasi pengguna teknologi yang terampil jauh lebih banyak dibandingkan dengan populasi pengembang teknologi. dengan derajat penalaran akademik yang tinggi. serta penguatan kelembagaan yang bertanggung jawab dalam pengembangan teknologi.2. Menurut EISDISR (2001).Kemampuan inovasi yang rendah akan menempatkan badan usaha ataupun industri bersaing pada segmen pasar yang umumnya konvensional.2. tetapi sesungguhnya basis argumennya sangat dangkal. Rasio yang pas antara pengembang-pengguna teknologi tentu tergantung pada jenis teknologi yang diimplementasikan. karena selain tergantung pada produktivitas peneliti. tantangan utama bagi perusahaan di lingkungan bisnis yang kompleks dan persaingan global yang semakin ketat adalah mengembangkan dan mempertahankan keunggulan daya saing. Peter Drucker menekankan bahwa setiap organisasi harus mempunyai suatu kompetensi. adalah tenaga teknis yang berperan mengaplikasikan teknologi dalam proses produksi barang atau jasa. Pengguna teknologi ini antara lain. Lembaga penyelenggara pendidikan tinggi akan menjadi lembaga penunjang yang menentukan dalam konteks ini. dan sensitif terhadap dinamika persoalan dan kebutuhan masyarakat. Dalam situasi demikian. dan siklus produk atau time-to-market yang semakin pendek. Pangsa pasar yang cenderung menurun dan semakin jenuh akan lebih mengandalkan persaingan harga dengan nilai tambah yang relatif rendah. dimana tekanan atas biaya cenderung meningkat. Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi Strategi ini mempunyai rentang cakupan yang lebar.

inovasi tidak berkembang tanpa adanya kerjasama (co-operation). Argumentasi di atas mencoba mengingatkan bahwa aspek yang paling penting untuk mendapat perhatian dalam proses penyiapan sumberdaya manusia yang diproyeksikan untuk menjadi pelaku utama pengembangan teknologi bukan terletak pada aspek kuantitasnya. Kalaupun jenis teknologinya sesuai tetapi seringkali tidak kompetitif secara ekonomi untuk diaplikasikan. Jika selama ini aktor penentu arah inovasi nasional diperankan secara ‘terlalu’ dominan oleh para pengembang teknologi. 18 Tahun 2002 . Pendekatan yang dipilih tentunya juga berubah arah. Kesiapan sumberdaya manusia wajib dibarengi dengan langkah reorientasi pengembangan teknologi dari supply-push ke demand-driven. yakni melakukan pengembangan teknologi dahulu. Selanjutnya Tatang menggaris bawahi. Strategi untuk memperlancar aliran teknologi dalam inovasi nasional dan untuk meningkatkan intensitas kolaborasi antara pengembang dan pengguna teknologi adalah melakukan reorientasi. Pendekatan ini ternyata tidak efektif untuk meningkatkan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. inovasi juga merupakan proses yang kompleks dan dinamis yang sering menunjukkan paradoks. proses reorientasi dalam pengembangan kerjasama ini tentunya belum akan berjalan mulus. yang perlu adalah Indonesia mampu dan produktif dalam menghasilkan solusi teknologi bagi permasalahan bangsa. 2005). maka peran ini di masa yang akan datang perlu dipercayakan pihak pengguna teknologi. baru kemudian ‘ditawarkan’ kepada industri untuk menggunakannya. tetapi lebih pada aspek kualitasnya. tetapi lebih perlu menyiapkan tenaga-tenaga pengembang teknologi yang punya basis kapasitas akademik yang hebat dan juga sensitif terhadap dinamika permasalahan dan kebutuhan bangsa. dari supply-push menjadi demand-driven. tetapi lebih merupakan proses di antaranya atau kombinasi keduanya (Tatang. bahkan adakalanya antara perusahaan yang saling bersaing. Untuk konteks ini. yakni jika sebelumnya pihak pengembang teknologi menjadi penentu arah dan prioritas pilihan teknologi. Namun demikian perlu diperhatikan pula. Indonesia tidak perlu ‘kelihatan’ baik secara statistik. Implikasi operasionalnya adalah Indonesia tidak perlu terlalu berambisi untuk meningkatkan angka persentase jumlah peneliti per sejuta penduduk (atau indikator lain yang serupa). Meski inovasi didorong oleh kompetisi atau persaingan. sehingga pendekatan yang diterapkan adalah supply-push. inovasi seringkali bukan hanya menekankan technology push (driven) atau demand pull (driven) secara “hitam-putih” yang tegas. Kualitas dimaksud mencakup basis mutu akademik dan relevansi keahliannya terhadap kebutuhan nyata. Pada tahap awal. 2005). perguruan tinggi dan para pembuat kebijakan bekerja.dan [3] sebagian besar peneliti bekerja di perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah yang mayoritas pada saat ini lebih fokus pada riset akademik yang tak terkait langsung dengan persoalan nyata. Hal ini terlihat dari Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia tahun 79 Naskah Akademik Perubahan UU No. kuantitas menjadi tidak penting. Inovasi tidak hanya bergantung pada bagaimana perusahaan. namun juga bagaimana mereka bekerjasama (Tatang. akibatnya hasil riset yang diperoleh masih sulit untuk diadopsi oleh industri. Penyebab utamanya adalah ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan atau yang dihasilkan dengan kebutuhan industri. Aliran teknologi banyak yang tersumbat.

Pergeseran mindset selalu membutuhkan waktu relatif panjang. Ekspektasi pada tahap awal adalah mulai tumbuhnya kesepakatan bahwa pengembangan teknologi perlu berubah arah. yakni program riset dasar. sedangkan dua program terakhir merupakan upaya mentransfer dan aplikasi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengguna teknologi. sama dengan Vietnam (World Bank. Hal ini antara lain terlihat. 7 6 5 4 3 2 1 0 Singapura Malaysia Philipina Vietnam Resistensi internal sangat mungkin untuk muncul di kalangan akademisi dan periset dalam proses pergeseran prioritas riset dari curiousity-driven research menjadi goal-oriented research. bahwa inovasi memerlukan lebih hanya sekedar litbang.84 persen. difusi iptek. 2010). proposal untuk riset pengembangan iptek mencapai 89. riset terapan. saat Kementerian Riset dan Teknologi secara terbuka dan kompetitif menawarkan empat program insentif kepada komunitas akademik di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga riset pemerintah. Dengan upaya yang 80 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dua program yang pertama merupakan pengembangan iptek.2007. dan penguatan kapasitas iptek sistem produksi. tetapi juga tidak selalu ‘sarat dengan litbang’ (R&D intensive). Pada tahun 2008. pada skala 2. menjadi lebih fokus untuk menjawab permasalahan nyata atau memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat pengguna.8. 18 Tahun 2002 .16 persen. Pengalaman Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) melalui program insentifnya menjadi bukti empiris tentang sulitnya menggeser kegiatan para akademisi dan periset keluar dari zona nyamannya (comfortable zone). Produk barang dan jasa semakin ‘sarat dengan pengetahuan’ ( knowledge intensive). Akan ada resistensi (penolakan) dari pihak pengembang teknologi dan adanya keengganan di pihak pengguna teknologi. dari riset yang dilakukan untuk pemuasan rasa keingin tahuan akademik menjadi riset untuk menjawab permasalah nyata yang dihadapi masyarakat dan negara. sedangkan proposal untuk difusi dan aplikasi iptek hanya 10. Hal ini sesuai pula dengan kecenderungan yang diungkapkan OECD (1999). karenanya proses ini akan berlangsung secara bertahap (gradual). Akademisi dan periset masih nyaman di wilayah riset akademik (dasar dan terapan). sedangkan kegiatan yang lebih bersifat hilir (difusi teknologi dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi) untuk mendorong agar hasil risetnya diadopsi oleh pengguna masih sangat kurang diminati.

lebih intensif untuk menumbuhkan minat komunitas akademisi dan peneliti untuk berperan dalam kegiatan difusi dan aplikasi iptek. Kecenderungan lainnya adalah memilih topik-topik yang terkesan maju secara teknologi tetapi tidak terkait langsung dengan kebutuhan atau persoalan nyata. Riset yang direncanakan lebih terkait dengan latar belakang akademik peneliti atau akademisi yang bersangkutan dan mengarah pada topik yang sedang populer di kalangan akademisi. 18 Tahun 2002 . dimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara harus berpotensi menggerakkan perekonomian domestik. strategi yang perlu dilakukan dalam rangka memicu dan memacu pergeseran preferensi atau prioritas riset ini antara lain adalah: [1] meluruskan pemahaman tentang status ilmiah goal-oriented research dan [2] memberikan insentif yang lebih baik bagi pelaksanaan riset untuk solusi permasalahan nyata ini. atau pemerintah. negara harus mengeluarkan devisa yang signifikan karena kuatitas kebutuhannya yang masif. Capaian akademik seringkali lebih menarik dibandingkan dengan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan atau menyediakan solusi untuk persoalan yang dihadapi industri. Indonesia masih tergantung pada pasokan teknologi asing. Kekeliruan pemahaman tentang ‘riset pesanan’ disebabkan bukan oleh makna hakiki dari goal-oriented research tersebut. Sangat ironis jika untuk memenuhi kebutuhan solusi teknologi untuk masalah-masalah sederhana (misalnya di sektor pertanian). tetapi lebih disebabkan karena riset ini telah diseleweng-kan pemaknaannya oleh kepentingan-kepentingan lain yang bersifat non-scientific. goal-oriented research harus dimaknai sebagai riset akademik yang tidak hanya potensial untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. terlebih lagi pada saat negara sedang mengalami krisis ekonomi. baik di akademisi maupun peneliti. Apalagi jika untuk mengimpor teknologi asing tersebut (yang sebetulnya dalam tataran teknologi tergolong sederhana). pada tahun 2009 proposal untuk kegiatan ini meningkat menjadi 24. tetapi juga sekaligus sebagai investasi untuk menumbuhkan kemandirian bangsa dalam menyediakan solusi teknologi bagi masalah-masalah mendasar yang menyangkut hajat hidup asasi masyarakat. namun jauh di bawah Malaysia dan Thailand. Merupakan langkah yang tepat jika Pemerintah lebih mengarahkan bantuan pembiayaan risetnya pada kelompok goal-oriented research. masyarakat. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah artikel pada jurnal sains dan teknik tahun 2003. ternyata akademisi dan peneliti Indonesia masih belum tergolong produktif dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Sejatinya. Pengembang teknologi. Angka ini tidak jauh berbeda dengan Filipina. Memperhatikan upaya yang telah dilakukan.95 persen. pembiayaan kegiatan riset diposisikan tidak hanya untuk mendukung upaya pencerdasan bangsa. Kenyataan ini tentu harus dibenahi. jarang melakukan observasi secara cermat persoalan ataupun kebutuhan pihak pengguna. para peneliti Indonesia menghasilkan 178 tulisan. tetapi juga sekaligus dapat secara nyata menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Sudah saatnya. Salah satu persoalan yang serius saat ini adalah rendahnya sensitivitas atau kepedulian pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi. Meski demikian secara akademik. sulit bagi pengembang teknologi di 81 Naskah Akademik Perubahan UU No.

sebaliknya petani membutuhkan teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsinya untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatannya. Sesungguhnya rentang spektrum teknologi yang berbasis kebutuhan atau teknologi tepat guna dapat bervariasi dari teknologi yang sangat sederhana sampai dengan teknologi super canggih. yang belum termotivasi untuk melaksanakan riset yang berkualitas dan masih cenderung menganggap riset hanya sebagai ritual akademik. kendala yang lebih serius terletak pada mindset para pengembang teknologi tersebut. Sebagai contoh. untuk memberikan dukungan pembiayaan yang lebih besar akan lebih mungkin terwujud jika pengembang teknologi juga mampu membuktikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. terutama pembangunan perekonomian. sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan royalti. 18 Tahun 2002 Perlu diyakini bahwa perhatian berbagai pihak. Hasil riset dengan reputasi dan pilihan topik seperti ini jelas akan berpeluang untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah. . dan dapat menghasilkan paten yang diminati pengguna (karena relevan dengan kebutuhan sehingga berpeluang untuk diaplikasikan dalam proses produksi). Berbagai kendala antara lain kurangnya alokasi anggaran untuk pembiayaan riset dan kurang memadainya peralatan dan fasilitas riset. Kekeliruan pemahaman yang sering terjadi adalah bahwa teknologi yang dihasilkan dari riset yang berbasis kebutuhan nyata statusnya akan kurang canggih. pemerintah membutuhkan teknologi canggih untuk mewujudkan kemandirian dalam sektor pertahanan dan keamanan negara. 82 Naskah Akademik Perubahan UU No.Indonesia untuk berada posisi terdepan secara akademik. termasuk pemerintah. karena faktanya realita persoalan dan kebutuhan teknologi juga sangat variatif. Namun sesungguhnya. 600 400 200 0 Negara Singapura Malaysia Filipina Vietnam Laos Riset yang dirancang sesuai kebutuhan nyata dapat menjadi riset yang berkualitas ilmiah tinggi apabila dilaksanakan dengan metodologi yang tepat dan dengan menjunjung tinggi etika akademik. sebagaimana juga kekeliruan dalam memahami definisi teknologi tepat guna (appropriate technology) yang sering dianggap identik dengan teknologi sederhana.

sosiokultural. secara umum dapat dijumpai pada masyarakat pengguna teknologi di Indonesia. Rendahnya 83 Naskah Akademik Perubahan UU No. Relevansi dan produktivitas riset akan menjadi mesin produksi teknologi yang secara nyata akan meningkatkan kontribusi terhadap berbagai sektor pembangunan nasional. Persoalan rendahnya kapasitas adopsi teknologi. maka Indonesia akan memulai era baru dalam mengembangkan inovasi nasional. Oleh sebab itu. Kondisi yang diharapkan sebagai modal untuk memperkuat inovasi nasional adalah pendekatan demand-driven dapat menjadi mainstream pengembangan teknologi domestik. Satu faktor yang menentukan. Peningkatan kapasitas adopsi untuk dimensi teknis relatif mudah dilakukan. Harapan akhirnya adalah teknologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan memajukan peradaban bangsa sebagaimana yang diamanahkan oleh Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945. termasuk dimensi teknis. dan pemerintah. Upaya peningkatan relevansi teknologi dengan kebutuhan nyata belum sepenuhnya menjamin bahwa teknologi akan diadopsi pengguna. Pengguna teknologi ikut menikmati kontribusi teknologi terhadap pemenuhan kebutuhan dan menjadi alternatif solusi persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi tersebut. dan pengrajin atau berbagai pelaku usaha skala kecil lainnya. efek bola salju akan terjadi. dan kemungkinan juga politik. karena kepercayaan pihak pengguna teknologi akan semakin meningkat. Kapasitas adopsi pengguna teknologi bersifat multi dimensi. misalnya melalui pelatihan atau pendidikan formal bagi para aktor pengguna. masyarakat. Jika semakin banyak aktor pengembang teknologi yang mengikuti alur ini. untuk memperbesar peluang pemanfaatan teknologi perlu dilakukan perbaikan di kedua sisi. nelayan. pembudidaya ikan.Di antara banyak perubahan yang perlu dilakukan dalam rangka penguatan inovasi. Kapasitas adopsi dari dimensi ekonomi/finansial akan lebih sulit ditingkatkan.3. termasuk komunitas petani. salah satu yang urgensinya paling tinggi adalah meningkatkan sensitivitas dan kepedulian para pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi industri. Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik Sensitivitas dan kepedulian pengembang teknologi yang diikuti dengan perencanaan dan pelaksanaan riset yang tepat akan membuahkan teknologi yang relevan. sehingga persentase teknologi yang relevan kebutuhan semakin meningkat dan kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional semakin dirasakan publik. finansial. yakni meningkatkan relevansi teknologi yang dibarengi dengan upaya meningkatkan kapasitas adopsi pengguna. termasuk bidang perekonomian. 4. 18 Tahun 2002 . Peningkatan kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi akan memberikan umpanbalik (feedback) yang positif. yakni kemampuan atau kapasitas adopsi dari pengguna terhadap teknologi potensial yang dihasilkan. baik dari pemerintah maupun dari dunia usaha. namun kebijakan pemerintah terkait penyediaan kredit modal usaha dapat menjadi cara efektif untuk membantu pengguna teknologi dalam meningkatkan kapasitas adopsinya dari dimensi finansial.2. peternak. Dukungan pembiayaan aktivitas riset akan semakin tumbuh.

18 Tahun 2002 . berbasis sumberdaya dalam negeri. Namun demikian. yakni: [1] akses untuk mendapatkan bahan baku yang cukup. harga yang pantas (dan relatif stabil). Kelembagaan intermediasi ini belum berfungsi secara efektif. dan teknologi yang sesuai secara teknis serta kompetitif secara ekonomi. sesuai dengan spesifikasi teknis. Belum adanya lembaga intermediasi yang diinisiasi oleh pihak bisnis maupun masyarakat dapat menjadi indikasi bahwa kegiatan ini masih dianggap belum menarik. pada fase awal diperlukan dukungan insentif tambahan agar perdagangan bertransformasi ke arah industri atau produsen barang dan jasa. [2] akses untuk mendapatkan modal. untuk meningkatkan adopsi teknologi. tidak hanya persoalan rendahnya kapasitas adopsi. Lembaga intermediasi berperan sebagai penghubung antara lembaga pengembang teknologi dengan pengguna teknologi. Aksesibilitas untuk tiga kunci sukses industri produsen perlu dijamin. Oleh karena itu. Kondisi lain 84 Naskah Akademik Perubahan UU No. sumberdaya manusia. Peningkatan investasi dan akses permodalan untuk pengembangan dan/atau penumbuhan industri baru berbasis teknologi nasional perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dan difasilitasi perkembangannya. karena berbagai kondisi yang terjadi saat ini masih belum ‘favorable’ untuk berfungsinya kelembagaan intermediasi. Kondisi ini menjadikan upaya riset dan pengembangan teknologi yang sudah diarahkan sesuai dengan kebutuhan nasional. Secara umum. Penguatan inovasi tidak dapat berfungsi optimal apabila kegiatan bisnis yang dominan masih berupa perdagangan. bukan industri manufaktur. atau masih diyakini belum akan membuahkan hasil. yakni adanya relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan industri yang merefleksikan preferensi dan daya beli konsumen. Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan kebutuhan pasar domestik perlu lebih diintensifkan. serta cukup tersedia sesuai siklus produksi. Pasar domestik Indonesia yang besar merupakan potensi untuk menjadi ‘penyerap’ bagi semua produk barang dan jasa yang dihasilkan industri dalam negeri. hampir semua lembaga intermediasi terbentuk atas inisiatif pemerintah dan sebagian juga diawaki oleh aparatur pemerintah. dari kecenderungan dominan perdagangan menjadi dominan industri produsen barang dan jasa. Persepsi ini sesungguhnya dapat dipahami.adopsi teknologi. Percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh pengguna di dalam negeri dan upaya mendorong arus informasi kebutuhan teknologi untuk pihak pengembang memerlukan peran aktif dari lembaga intermediasi. Kelompok industri ini yang paling berpotensi untuk mengadopsi teknologi domestik yang telah dikembangkan. dan [3] akses pasar yang terjamin. Hal ini juga dapat dijumpai pada pelaku bisnis Indonesia. dengan aktivitas utama perdagangan. dan berorientasi pasar domestik menjadi tidak effektif. penguatan industri dalam negeri merupakan salah satu pilar utama pendukung strategi penguatan inovasi nasional. jika prasyarat dasarnya belum terpenuhi. Pada saat ini. juga dikarenakan rendahnya kebutuhan teknologi. selain disebabkan teknologi yang tidak relevan. Oleh sebab itu. Ketersediaan teknologi domestik yang secara teknis sesuai dengan kebutuhan dan secara ekonomi menguntungkan akan dibutuhkan industri produsen barang dan jasa. diperlukan transformasi dari pedagang menjadi produsen. bisnis di Indonesia memerlukan transformasi.

Ekosistem Inovasi yang Kondusif Selama proses transisi pergeseran orientasi arah dan prioritas riset. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. dan [3] pelaku industri dalam negeri belum percaya atas kehandalan teknologi domestik hasil karya anak bangsa. Upaya ini dapat dilakukan dengan merekrut peneliti/akademisi. 4. Berkaitan dengan upaya membangun inovasi nasional secara utuh. Bentuk fasilitasi dari pemerintah yang lain adalah dukungan untuk kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan. [2] preferensi komunitas bisnis Indonesia masih cenderung sebagai pedagang daripada sebagai produsen. dibutuhkan pula regulasi dan fasilitasi pemerintah dalam menyiapkan sumberdaya manusia sesuai kebutuhan untuk pengembangan teknologi dan kebutuhan tenaga terampil untuk aplikasi teknologi. melalui program pendidikan yang berkesesuaian. maka lebih cenderung memilih memproduksi barang di bawah lisensi asing.yang kurang kondusif bagi lembaga intermediasi adalah: [1] sistem perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual masih belum membudaya di kalangan pengembang teknologi di Indonesia. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi. dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya. [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya. Dalam 85 Naskah Akademik Perubahan UU No. peran pemerintahan sangat dibutuhkan. dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam implementasi penguatan inovasi nasional. proporsional kontribusinya. karena merubah karakter manusia (terkait marketing skills) lebih membutuhkan waktu dibandingkan dengan menambah pengetahuan tentang teknologi tertentu. Peran regulasi pemerintah ditujukan untuk mengawal agar implementasi penguatan inovasi secara konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. 18 Tahun 2002 .4. sehingga lebih cenderung membeli teknologi asing. atau merekrut tenaga pemasaran dan diperkaya wawasan teknologinya.2. Opsi kedua kelihatannya lebih baik. kalaupun masuk ke wilayah industri produsen barang/jasa. tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. terutama pada jenjang pendidikan tinggi dan menengah kejuruan. dan dilatih ketrampilan pemasaran-nya. bukan atas usulan pihak industri. Lembaga intermediasi perlu diawaki oleh personel yang memahami tentang teknologi dan sekaligus punya kemampuan persuatif yang tinggi dan terampil dalam menjual. yakni dalam bentuk: [1] regulasi yang mendukung dan [2] fasilitasi percepatan laju proses reorientasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya ‘gesekan’ yang tidak perlu antar pihak terkait. sehingga berpotensi menjadi masalah jika dikomersialisasikan.

pihak industri hanya diposisikan untuk memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. yakni dirumuskan berdasarkan asas keterbukaan (openess). 86 Naskah Akademik Perubahan UU No. SNI telah memenuhi WTO Code of Good Practices. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. kepabeanan.beberapa kasus. (2) Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik. maka tak akan ada lagi keraguan bahwa teknologi domestik akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan nasional dan standarisasi akan menyempurnakan upaya penguatan inovasi di Indonesia. koheren (coherence). Strategi ini mencakup: (1) Sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi industri. konsensus dan tidak memihak (consensus and impartiality). Adanya rasa bangga dan percaya diri warga negara sebagai sumberdaya manusia penggerak pembangunan yang diimbangi dengan terciptanya lingkungan yang kondusif untuk berusaha. Dalam PP No. Upaya ke arah ini sesungguhnya sudah dilakukan pemerintah. misalnya dukungan pembiayaan dari pihak industri untuk kegiatan riset dapat dianggap sebagai bagian dari pembayaran pajak yang menjadi kewajibannya (tax deductible). bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. dan pemerintah. transparansi (transparency). dan Difusi Teknologi. maka ada beberapa komponen kebijakan yang dibutuhkan untuk mewujudkan adanya sistem inovasi nasional (SINas) yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. Agar diperhatikan apapun bentuk atau format riset kolaborasi. Bentuk regulasi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi seluruh produk barang/jasa di Indonesia. merupakan modal kuat dalam menuju Indonesia yang lebih sejahtera di masa yang akan datang. dimana insentif tersebut dapat berbentuk insentif perpajakan. Berdasarkan telaah yang telah diuraikan di atas. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. yakni dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. keefektifan dan relevan (effectiveness dan relevance). 35 Tahun 2007 dinyatakan badan usaha yang mengalokasikan pendapatannya untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. masyarakat. Dengan demikian. 18 Tahun 2002 . Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak dalam bentuk pembiayaan bersama. penerapan SNI diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan domestik tetapi juga untuk kepentingan perdagangan global. Jika lintasan (pathway) ini ditempuh dengan baik. Regulasi pemerintah dapat pula berupa insentif bagi kedua belah pihak untuk berkolaborasi. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat. dan berdimensi pembangunan (development dimension). Inovasi. inovasi.

bukan berdasarkan kecanggihan teknologi yang mampu dikembangkan. memanfaatkan sumberdaya alam nasional sebagai bahan baku atau tapak operasionalnya (operational site). Walaupun sudah cukup lama diwacanakan. Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional Terlepas dari intensitas dan besaran (magnitude) kontribusinya. seluruh strategi harus dilaksanakan secara interaktif dan sinambung. yang penting dilakukan adalah merancang inovasi nasional yang tepat. menstimulasi. Keberhasilan membangun inovasi nasional hanya dapat dicapai jika semua strategi ini dapat dieksekusi dengan baik. Inovasi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata perlu didampingkan secara paralel dengan program pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas dan sensitif terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa dan kebutuhan 87 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kekeliruan persepsi sangat sering dan umum terjadi dalam konteks penilaian kinerja dan kontribusi inovasi. Keempat strategi ini mempunyai keterkaitan satu sama lain. yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan upaya memberikan solusi atas permasalahan nyata yang dihadapi rakyat.(3) Vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh industri dalam negeri dan sebaliknya juga arus informasi kebutuhan teknologi kepada pihak pengembang teknologi. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu. Kemampuan dan kemandirian pengembangan teknologi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata menjadi modal dasar implementasi penguatan inovasi di Indonesia. dan (4) Dukungan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk memfasilitasi.5. Pengembangan teknologi nasional perlu mengutamakan pemberdayaan dan pendayagunaan sumberdaya manusia Indonesia sebagai tenaga penggeraknya. yakni menganggap bahwa semakin maju teknologi yang dikuasai maka semakin baik penguasaan inovasi suatu negara. 18 Tahun 2002 . Pengembangan teknologi nasional juga perlu mempertimbangkan secara cermat kapasitas adopsi pengguna teknologi dalam negeri. Teknologi dengan warna Indonesia yang kental ini diyakini akan lebih berpeluang untuk mengalir lancar dari pihak atau lembaga pengembang teknologi ke pihak pengguna teknologi. tetapi terletak pada bagaimana cara agar teknologi yang dikembangkan dapat efektif dan efisien dalam mendukung pembangunan nasional di semua sektor. 4. Perjalanan panjang tersebut perlu diawali dengan keberhasilan mengembangkan dan memperkuat inovasi nasional di Indonesia yang mampu mendorong peradaban dan menyejahterakan rakyat. iptek akan selalu dibutuhkan dalam pembangunan semua sektor. serta mendekatkan hubungan dengan kelembagaan pendukung lainnya.2. Dengan demikian isu utamanya bukan terletak pada ada atau tidak adanya peranan teknologi dalam pembangunan nasional. Keberhasilan penguatan inovasi nasional akan ditakar dari kelancaran aliran teknologi (fluidity of technology flow). dan mengakselerasi interaksi antar-aktor utama dalam penguatan inovasi nasional. tetapi membangun masyarakat berbasis pengetahuan kelihatannya masih akan menempuh perjalanan panjang.

minimalisasi dampak negatif dari gejolak masyarakat. Akan lebih realistis jika indikator keberhasilan implementasi inovasi nasional hanya didasarkan atas keamanan dimensi kedua. jumlah kerjasama penelitian antara universitas dan industri. terkendalinya dinamika politik. Selain itu. subyek survei atau risetnya adalah industri-industri yang bergerak dalam berbagai sektor. jumlah publikasi yang ditulis bersama oleh akademisi dan pelaku industri (co-authored publication). Indikator-antara lainnya dilihat dari sisi pengguna teknologi. Indikator di kelompok ini antara lain: alokasi dana oleh industri untuk kegiatan riset internal perusahaan atau untuk mendukung 88 Naskah Akademik Perubahan UU No. misalnya dalam bentuk demonstrasi anarkis. semua indikator-antara hanya dapat dilihat sebagai titik-titik yang tercerai berai dan ‘diasumsikan’ terhubung satu sama lain oleh garis-garis imajiner yang diyakini sebagai bagian dari sistem tersebut. personal. Meskipun ukuran kesejahteraan rakyat dan keamanan nasional bersifat relatif. besarnya penerimaan universitas atau lembaga riset yang berasal dari royalti. efektif dan produktif. yang dapat mengganggu kegiatan produktif. dan terjaminnya kondisi yang kondusif untuk berinvestasi. terjaminnya keberlangsungan proses demokratisasi. tetapi upaya kuantifikasi tingkat kesejahteraan rakyat lebih berkembang dan diterima secara luas.pembangunan nasional. Beberapa indikator-antara yang sering digunakan dalam mengevaluasi kehandalan penguatan inovasi antara lain: jumlah publikasi ilmiah per juta penduduk. Jika kedua hal ini dilakukan secara serasi dan saling mendukung maka cita-cita untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan diyakini dapat terwujud. dan dapat dideteksi berdasarkan persepsi indera penglihatan dan pendengaran ( audiovisual perception). sebaliknya ukuran baku tentang tingkat keamanan nasional masih belum banyak dibahas. indikator lainnya dalam pengembangan dan penguatan inovasi nasional adalah terjaminnya keamanan nasional. Ilmu statistik merupakan alat yang ‘handy’ untuk pekerjaan ini. Hasil akhir yang diharapkan dari segala bentuk upaya dalam pengembangan dan penguatan inovasi adalah peningkatan kesejahteraan rakyat. Indikator keberhasilan dalam menciptakan kondisi aman antara lain: tidak terjadinya gerakan separatisme di wilayah NKRI. jumlah patent yang didaftarkan atau diperoleh (granted). Keamanan mempunyai dua dimensi yang berbeda. Indikator-antara tersebut sesungguhnya baru melingkupi sisi pengembang teknologi. Nilai-nilai positif atau kecenderungan peningkatan yang ditunjukkan oleh semua indikator-antara belum dapat secara otomatis diekstrapolasikan untuk sampai pada kesimpulan bahwa upaya pengembangan dan penguatan inovasi telah berjalan baik. dengan ekstensi pada kapabilitas lembaga pengembang teknologi tersebut untuk merangkul mitra potensialnya. mobilitas sumberdaya manusia antara kelembagaan riset atau universitas dengan industri. 18 Tahun 2002 . dan sulit dideteksi. dan persentase penerimaan univesitas yang berasal dari sumber non-pemerintah yang terkait dengan aktivitas dan hasil riset. kolektif. Asumsi-asumsi tersebut umumnya diuji berdasarkan korelasi masingmasing indikator-antara yang dianggap berhubungan. yakni kondisi aman. Dalam mengevaluasi suatu sistem yang utuh. dan [2] kondisi aman yang lebih bersifat eksternal. yakni: [1] rasa aman yang lebih bersifat internal.

yakni: pengembangan teknologi. yakni modal dan tenaga kerja. interpretasi atas indikator-antara ini harus dilakukan dengan hati-hati. Pendekatan parsial biasanya hanya mengarah untuk menghasilkan justifikasi bahwa suatu negara sebetulnya sudah melakukan upaya (dan telah ada tanda-tanda perbaikan) walaupun hasilnya belum memuaskan.kegiatan riset di universitas dan lembaga riset eksternal. Kemampuan dan tumbuhnya budaya masyarakat untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge-based society) dapat pula digunakan sebagai indikator tambahan untuk mengevaluasi performa penguatan inovasi di Indonesia. 4. Banyak juga kajian mengenai inovasi yang telah dilakukan menggunakan indikator parsial ini. sehingga perlu dilengkapi pula dengan pola distribusi pendapatan. Banyak indikator keberhasilan yang dapat digunakan dalam mengevaluasi kinerja pada masingmasing komponen atau tahapan penguatan inovasi nasional. Walaupun tentunya. tetapi hasilnya seringkali tidak atau kurang memuaskan. Dasarnya adalah pertumbuhan ekonomi terjadi atas kontribusi dari dua faktor utama. adopsi teknologi untuk proses produksi barang dan jasa. Namun demikian. bukan pertumbuhan ekonomi semata. yakni peningkatan kesejahteraan rakyat dan terciptanya kondisi keamanan nasional. walaupun secara teknis inovasi nasional dapat dibongkar menjadi empat komponen. sisanya (residu) merupakan kontribusi faktor bukan modal maupun tenaga kerja yang disimpulkan sebagai kontribusi dari faktor teknologi. identifikasi sumber informasi yang dianggap penting oleh industri dalam mengembangkan produk komersial. indikator keberhasilan pengembangan inovasi nasional menjadi kurang bermakna jika difragmentasi menjadi indikator-indikator antara atau indikator yang bersifat parsial.3. preferensi industri untuk mengembangkan teknologi sendiri atau membeli teknologi yang sudah mapan (established). karena hanya mampu menjelaskan secara ‘segmented’. Dengan demikian untuk Indonesia. Aspek Filosofis 89 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . Total Factor Productivity (TFP) telah digunakan beberapa ekonom sebagai proxy untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. perlu diingat kembali bahwa ukuran kinerja inovasi adalah kesejahteraan rakyat. Indikator-antara yang digunakan baik dari sisi pengembang maupun pengguna teknologi memang telah mengarah pada upaya menakar ‘potensi’ kedua b elah pihak untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. indikator utama keberhasilan pengembangan dan implementasi inovasi hanya dua. Indikator lainnya yang dapat ditambahkan adalah tingkat kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan teknologi untuk pembangunan perekonomian dan pembangunan hankam. dan konsumsi atau penggunaan produk akhir oleh konsumen. Sebagai suatu sistem. difusi teknologi dari pengembang ke pengguna.

1. Di Inggris. 18 Tahun 2002 . dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Hasil survei yang dilakukan di Belanda selama periode 1989-1992 menunjukkan bahwa pendapatan universitas yang berasal dari kerjasama riset dengan pihak industri secara konsisten meningkat. Korea. Pengembangan inovasi nasional pada negara-negara OECD dan kajian akademik yang dilakukan oleh kelembagaan OECD telah menjadi referensi penting bagi dunia dalam memperlajari tentang upaya penguatan inovasi nasional dan kontribusinya bagi pembangunan perekonomian. Di Indonesia data seperti ini tidak mudah untuk didapatkan. Inisiatif pendirian OECD dilakukan oleh beberapa negara Eropa Barat plus Turki dan Amerika Serikat. [3] jumlah paten universitas atau lembaga riset yang dikomersialisasikan oleh industri. karena ternyata bukan hanya perguruan tinggi dan lembaga riset di negara yang belum maju teknologinya saja yang ‘malas’ mendaftarkan paten. Dinamika Lingkungan Global Negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah lama memposisikan Sistem Inovasi Nasional (SINas) sebagai strategi penting dalam memajukan perekonomian melalui pemanfaatkan keunggulan teknologi negara masing-masing. Jepang. yakni hanya 90 Naskah Akademik Perubahan UU No. Selandia Baru. Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya. atau lembaga intra-universitas yang tidak dicatat sebagai penerimaan resmi universitas. antara lain dengan mengevaluasi: [1] porsi pendapatan universitas atau lembaga riset yang berasal dari kerjasama dengan industri dalam melakukan riset. 4. Namun saat ini. keanggotaan OECD telah bertambah dengan beberapa negara Eropa Timur. dan [4] timbangan industri terhadap universitas dan lembaga riset sebagai sumber informasi/pengetahuan untuk pengembangan produk inovatif. peranan inovasi nasional dalam pembangunan perekonomian sangat ditentukan oleh intensitas dan kualitas interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. publikasi ilmiah yang ditulis bersama (co-authored) oleh peneliti universitas atau lembaga riset pemerintah dengan personel yang mewakili institusi bisnis terlihat secara konsisten meningkat antara tahun 1981 sampai 1994 (Hicks and Katz. Hasil kajian Rosenberg dan Nelson (1994) terkait dengan jumlah paten universitas patut untuk disimak. seperti Amerika Serikat. 1996). dan Meksiko. kelompok. Australia.4 persen pada tahun 1992 (Hertog. Publikasi yang ditulis bersama ini diasumsikan berakar pada hasil kolaborasi riset antara kedua pihak tersebut. Nilai-nilai ini menjadi cita-cita hukum dan tujuan negara bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. 1995).2 persen pada tahun 1989 meningkat menjadi 17. yakni 12. terutama antara universitas atau lembaga riset dengan pelaku industri.Secara umum syarat filosofis dalam penyusunan peraturan perundang-undangan adalah apabila peraturan perundang-undangan dapat diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum.3. [2] jumlah paten dan publikasi bersama antara akademisi dan pelaku industri. karena banyak kegiatan riset yang dilakukan industri bersama akademisi secara individual. walaupun persentasenya masih relatif rendah. Untuk menaksir intensitas interaksi tersebut. Persentase paten universitas di Amerika Serikat secara relatif juga rendah. atau sesuai dengan nilai-nilai positif yang tertinggi. tetapi juga terjadi pada universitas di negara yang maju.

000 kesepakatan kerjasama yang melibatkan lebih dari 6. dimana produk baru yang dihasilkan dari kolaborasi mampu meningkatkan penjualan. tapi jumlah aktualnya tentu tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah paten universitas dan lembaga riset di Indonesia. 1997). instrumen. disingkat CATI) yang mencakup hampir 13.7 persen untuk bidang komunikasi sampai 18. termasuk logam olahan (fabricated metals). Di Jepang ternyata kerjasama informal antar-kelembagaan bisnis berperan penting dalam keberhasilan pengembangan teknologi. Kerjasama terbukti mampu meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengadopsi teknologi yang bermanfaat (OECD.000 perusahaan (OECD. perminyakan. elektronik. Kajian yang sama di Jerman. pameran.berkisar antara 0. Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber informasi yang paling penting ternyata berasal dari pelanggan/konsumen dan sumber internal perusahaan. dan kedirgantaraan (aerospace). logam dasar. informasi paten. 1997). Data yang digunakan oleh Malerba (1996) berasal dari hasil Community Innovation Survey (CIS) antara 1991 sampai 1993 yang dilaksanakan atas inisiatif bersama Komisi Eropa dan Eurostat terhadap 40. Malerba (1996) menganalisis 13 sumber informasi yang dianggap relevan untuk upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. bahan kimia. Porsi paten yang lebih besar berasal dari industri atau pihak non-universitas lainnya. yakni: [1] sumber informasi dari dalam kelembagaan bisnis sendiri. Data yang terkumpul selama periode 1980-1994 dalam studi ini menunjukkan bahwa kerjasama teknis untuk bidang-bidang tertentu (bioteknologi. [2] bersumber dari pasar. 18 Tahun 2002 .000 industri manufaktur di Eropah. Walaupun persentasenya rendah. Hasil survei yang dilakukan oleh The Maastricht Economic Research Institute on Innovation and Technology (MERIT) memberikan gambaran tentang bagaimana pihak industri di negara-negara Eropa menilai peran universitas atau kelembagaan riset pemerintah. 1996). otomotif. tetapi sebaliknya mayoritas pelaku industri menganggap peranannya kurang penting untuk bidang-bidang lainnya. pemasok bahan baku atau komponen. komputer. MERIT telah mengembangkan database kesepakatan kerjasama dan indikator teknologi (Co-operative Agreements and Technology Indicators. tetapi di Jepang dan Eropa kerjasama serupa tidak menunjukkan perubahan yang berarti (Haagedoorn. pangan. permesinan. Kelembagaan riset pemerintah (termasuk universitas) dianggap penting oleh mayoritas (>50%) pelaku industri untuk bidang fasilitas layanan publik (utilities) dan pharmaseutikal. 91 Naskah Akademik Perubahan UU No. sedangkan informasi yang dianggap tidak penting adalah berasal dari lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. pertemuan bisnis. termasuk konsumen. Sumber informasi tersebut dikelompokkan menjadi 4 kelompok. dan teknologi material baru) meningkat di Amerika Serikat.1 persen untuk bidang rekayasa genetika. Kolaborasi antar-lembaga bisnis memberikan sumbangan terhadap kinerja inovatif perusahaan di Norwegia dan Finlandia. [3] lembaga riset pemerintah dan universitas. teknologi informasi dan komunikasi. dan konsultan. dan [4] sumber informasi umum seperti konferensi. plastik. telekomunikasi. juga menunjukkan bahwa kolaborasi antar-perusahaan mampu meningkatkan penjualan untuk hampir semua produk yang dihasil melalui kolaborasi tersebut.

7 28 Singapura 7 92 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tabel 6. 18 Tahun 2002 .3. Tantangan dan ancaman ini perlu dijawab dan/atau ditangkal dengan mewujudkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia yang handal. maka dinamika lingkungan strategis pada tingkat regional Asia Tenggara (ASEAN) perlu mendapat perhatian yang lebih intensif. Fakta ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi komunitas akademik dan peneliti Indonesia untuk melakukan reorientasi prioritas risetnya agar tidak semakin terkucil dari skenario global pengembangan inovasi. negara-negara ASEAN dapat dibagi dari tiga lapisan: Singapura berada pada lapisan atas. berdasarkan kedekatan posisi geografis dan intensitas hubungan sosial. Filipina. 2007 Indonesia 107 17. budaya dan politik. sebaliknya bisa menjadi sumber spillover teknologi. Thailand.3 54 Malaysia 63 32. Namun demikian. 2007 Peringkat Daya Saing. komunitas akademik dan peneliti Indonesia tidak dapat lagi mengabaikan ancaman penjajahan teknologi asing dalam bentuk banjir produk barang dan jasa impor yang melanda pasar domestik dan invasi Multi National Company (MNC). baik secara langsung maupun dalam bentuk produknya. Posisi Indonesia tersebut didasarkan atas beberapa indikator hasil analisis yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional (Tabel 6). 2007/08 Angka Partisipasi Kasar. Pergeseran yang wajib dilakukan adalah menambah porsi goal-oriented atau demand-driven research dalam grand scenario pengembangan riset dan teknologi. Potensi pengembangan inovasi nasional Indonesia berdasarkan beberapa indikator akademik dibandingkan dengan Malaysia. Selain itu. 4. Dalam konteks kemajuan inovasi saat ini. Dinamika Lingkungan Regional Dinamika lingkungan strategis pada tingkat dunia akan berpengaruh bagi perkembangan inovasi nasional di Indonesia. digerakkan dengan motor teknologi domestik.5 21 Thailand 78 42. Vietnam. ekonomi. berbasis sumberdaya nasional. Kemandirian teknologi merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan dan ancaman tersebut. Malaysia dan Thailand pada lapisan tengah. dan Singapura Indikator Peringkat HDI. Kehadiran MNC dapat menjadi ancaman bagi upaya pengembangan teknologi nasional jika tidak dibangun hubungan yang sinergis mutualistik dengan MNC tersebut.2. paling tidak untuk referensi. sedangkan Indonesia. dan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.Hasil ini bertentangan dengan anggapan yang umumnya dianut banyak pihak di Indonesia bahwa perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai motor penggerak utama untuk tumbuh dan berkembangnya inovasi nasional. dan negara-negara ASEAN lainnya berada pada lapisan bawah. Kondisi lingkungan strategis perlu mendapat perhatian.

Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dari Depdiknas (Lakitan. 2001/05 Publikasi Ilmiah. Jika Indonesia mampu mengembangkan industri barang dan jasa berbasis teknologi nasional yang kompetitif. dan industri jasa keuangan. Indeks Daya Saing Global. antara lain Indeks Pembangunan Manusia (HDI). 2008d). Indeks Kerjasama Riset. 2009). 2009). serta sekaligus memanfaatkan bahan baku yang dihasilkan negara-negara di kawasan ASEAN.4 520 5. industri pengolahan. mungkin dapat dikatakan masih berada pada posisi yang sangat minimal. dan publikasi ilmiah dari Laporan World Bank (Suhardi. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius agar ketergantungan pada negara tetangga ini dapat dikurangi agar posisi Indonesia lebih kompetitif. serta kendala non-teknologi lainnya juga memerlukan perhatian. Perubahan lingkungan strategis di 93 Naskah Akademik Perubahan UU No.6 178 5. Peringkat Daya Saing dari Laporan World Economic Forum (Suhardi. Disamping itu.3. Untuk kondisi saat ini. Indeks Kerjasama Riset (Warsono. 2003 4. Dinamika Lingkungan Nasional Saat ini kontribusi teknologi pada tingkat nasional masih belum optimal. dan Jumlah Publikasi Ilmiah (Tabel 6).3 4. merupakan mitra komplementer untuk pembangunan perekonomian nasional.0 409. Pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) dapat dikatakan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. . kecuali Singapura.6 1072 6. Indeks Daya Serap Teknologi. Negara ASEAN umumnya masih mengandalkan sektor pertanian komoditas hasil eksploitasi kekayaan alamnya. 2003 Paten USPTO.9 74.Indeks Daya Serap Teknologi. 4. Paten USPTO. Indeks Daya Serap Teknologi. Hal ini disebabkan belum terjadinya aliran teknologi yang signifikan dari pihak pengembangan teknologi ke pihak pengguna teknologi.2 41. maka Indonesia dapat menjadi pemasok barang dan jasa. Singapura yang lebih maju di sektor perdagangan. kualitas sumberdaya manusia yang secara umum masih belum kompetitif. Untuk kawasan ASEAN pun masih perlu perjuangan keras agar dapat menjadi yang terdepan. 18 Tahun 2002 Struktur perekonomian negara-negara ASEAN secara umum relatif sama. aliran teknologi antara pengembang dan pengguna yang masih tersendat.3.8 4. Hal ini tergantung kemampuan Indonesia dalam mewujudkan inovasi nasional. Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang pendidikan tinggi. Berbagai alasan dan argumen yang menyertainya telah dijabarkan sebelumnya.4 3122 Sumber: Peringkat Human Development Index (HDI) dari Laporan UNDP (Hasta. 2009). 2003 Indeks Kerjasama Riset. Paten Terdaftar. 2009).5 2. Aspek yang akan ditelaah lebih mendalam adalah interaksinya dengan dinamika lingkungan strategis yang sedang berkembang saat ini dan kecenderungan perubahan lingkungan strategis tersebut di masa yang akan datang. Negara-negara ASEAN lainnya dapat menjadi kompetitor dan sekaligus mitra strategis yang potensial. Kemajuan inovasi suatu negara dapat ditaksir berdasarkan beberapa indikator. Secara menyeluruh gambaran postur perkembangan inovasi di Indonesia masih jauh dari memuaskan.8 16.

2009a. maka pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak akan pernah membaik. Selanjutnya Firdausy (2009b) menyebutkan bahwa kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia paling tinggi terjadi pada periode 1991-1995. penguatan inovasi diharapkan akan terjadi dan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian dapat ditingkatkan. dan skenario dengan upaya percepatan perubahan ke arah yang lebih kondusif untuk berkembangnya inovasi nasional. yang suatu saat akan habis. tetapi 94 Naskah Akademik Perubahan UU No. bahkan mungkin semakin terpuruk. melanjutkan kecederungan yang sedang terjadi saat ini dengan tanpa upaya mendorong perubahan ke arah yang diinginkan. termasuk: (1) Mengubah orientasi pendidikan nasional yang diterapkan melalui kurikulum pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik. Jika kecenderungan yang telah berlangsung sekitar setengah abad ini tidak diimbangi dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukan reorientasi kebijakan pengembangan teknologi dan industri.38 persen.masa depan akan direka berdasarkan dua ekstrim skenario. Artinya sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih didominasi faktor di luar teknologi. Perubahan lingkungan strategis tersebut. Kadiman. dan yudikatif. Pengetahuan hanya bisa ditranslasi menjadi pertumbuhan ekonomi jika terlebih dahulu mampu menghasilkan teknologi yang dibutuhkan pengguna teknologi untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan. legislatif. maka upaya menumbuhkan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) tidak akan pernah terwujud. Hal ini kemudian dituangkan dalam bentuk regulasi yang mengikat semua pihak untuk mematuhi dan berperan aktif dalam implementasinya. Hanya dengan melakukan perubahan secara agresif-dan-terarah (agressive and welldirected) terhadap lingkungan strategis. Agaknya tidak berlebihan atau terkesan pesimistik jika disimpulkan bahwa inovasi tidak akan tumbuh berkembang jika tidak terjadi perubahan lingkungan strategis yang mengarah kepada terwujudnya ekosistem yang lebih kondusif untuk tumbuh-kembang sistem inovasi nasional (SINas). menghitung kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan proxy indikator Total Factor Productivity (TFP) dan mendapatkan bahwa TFP Indonesia hanya sebesar 1. Skenario business-as-usual jelas tidak akan mampu mendukung pengembangan inovasi nasional. yakni modal dan tenaga kerja (Firdausy. Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian 2006. Tanpa melakukan upaya mendorong agar teknologi domestik lebih sesuai untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan pembangunan ekonomi nasional dan tanpa upaya mendorong industri untuk lebih memprioritaskan penggunaan teknologi domestik dan memproduksi barang dan jasa sesuai kebutuhan pasar domestik. Perubahan lingkungan strategis ke arah yang lebih kondusif ini perlu dimulai dari setiap komponen bangsa di lembaga eksekutif. Salah satu modal utama pembangunan Indonesia sampai saat ini berasal dari kekayaan sumberdaya alam yang bersifat tak-terbarukan (non-renewable resources). yakni skenario ‘business-as-usual’. dengan TFP sebesar 4 persen. 2009). 18 Tahun 2002 .

dan unsur kelembagaan iptek di perguruan tinggi. Semangat perubahan pendekatan pembangunan perekonomian tersebut tercermin dari: [1] MP3EI mengedepankan terobosan kebijakan dan strategi. Untuk melaksanakan MP3EI yang didasarkan pada Perpres No. Dalam struktur KP3EI ini terdapat tiga Kelompok Kerja. lembaga penelitian dan pengembangan. (2) Perlu menggeser paradigma ‘eksploitasi’ kekayaan sumberdaya alam sebagai cara cepatdan-mudah untuk meningkatkan pendapatan negara (orientasi jangka pendek). dan lembaga penunjang lainnya untuk secara 95 Naskah Akademik Perubahan UU No. mendorong investasi. bukan pada masalah yang dihadapi. [2] Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur. [2] memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi untuk revitalisasi kinerja sektor riil. pembangunan perekonomian tidak lagi dilakukan dengan pendekatan yang bersifat ‘Business as Not Usual’. Pada tahun 2011 ini terjadi perkembangan yang positif. dibentuk pula Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI).juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap permasalahan dan kebutuhan pembangunan nasional. dengan cara meningkatkan kualitas barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri ( Made in Indonesia) yang dibarengi dengan harga yang lebih kompetitif. serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya. dan Foreign Direct Investment (FDI) pada 22 kegiatan ekonomi utama. yaitu: [1] pengembangan potensi ekonomi pada enam koridor pembangunan. sehingga dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ekonomi dan ekologi yang lebih maksimal (orientasi jangka panjang). dimana titik berat pendekatan terletak pada solusi. Dengan diluncurkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). menjadi ‘pengelolaan’ sumberdaya alam yang lebih efisien dan akrab lingkungan. dengan cara mendorong investasi BUMN. 32 Tahun 2011. 18 Tahun 2002 . dan [3] Pokja SDM dan Iptek. yakni: [1] Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi. masyarakat. termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah. dan [3] MP3EI mengakomodir masukan dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan. tiga strategi utama dikembangkan dalam pelaksanaan MP3EI. yang didorong melalui pengembangan SDM dan iptek yang sesuai untuk peningkatan daya saing. swasta nasional. mengintegrasikan sektor dan regional. Keteladanan tokoh pemerintahan dan masyarakat dalam mendorong kecintaan dan kebanggaan atas produk nasional merupakan salah satu cara yang diyakini efektif. maupun di lembaga lainnya di badan usaha. dalam upaya penguasaan dan pemanfaatan iptek. [2] MP3EI menitikberatkan pada percepatan transformasi ekonomi melalui peningkatan nilai tambah (value added). dan (4) Menerbitkan regulasi yang lebih ‘favorable’ untuk pengembangan teknologi nasional dan untuk mendukung peningkatan market share produk nasional di pasar domestik. Keberadaan Pokja SDM dan Iptek ini membuka peluang bagi Kementerian Riset dan Teknologi. Relevansi dan mutu pendidikan harus menjadi tujuan utama penyelenggaraan pendidikan pada semua strata. dan [3] pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi. Untuk itu. (3) Mengubah citra produk nasional di mata konsumen dalam negeri.

18 Tahun 2002 . Secara teknis operasional. ini berarti upaya penguatan inovasi nasional di Indonesia mendapat pijakan yang lebih mantap. 96 Naskah Akademik Perubahan UU No.lebih signifikan dapat berkontribusi terhadap pembangunan perekonomian Indonesia.

serta ruang lingkup materi muatan rancangan undang-undang tentang perubahan UU No. dan kondusivitas ekosistem tempat tumbuhkembangnya. . Sekumpulan aktor SINas yang hebat. 18 Tahun 2002 Di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD. Namun persoalannya adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya di Indonesia. kebijakan inovasi nasional umumnya telah dipublikasikan secara luas. dukungan dari berbagai aktor pendukungnya. 18 Tahun 2002. Pengembangan SINas tidak hanya merupakan sekumpulan aktor. belum menjamin bahwa negara yang bersangkutan akan secara otomatis memiliki SINas yang produktif dan berkelanjutan. Secara praktis. baik yang berperan sebagai pengembang maupun pengguna teknologi yang dimiliki suatu negara. Untuk itu akan diuraikan dalam bab ini mengenai arah dan jangkauan kebijakan penguatan inovasi nasional. 5. kehandalan SINas sesungguhnya ditentukan oleh kelancaran aliran 97 Naskah Akademik Perubahan UU No. Strategi keberhasilan negara-negara tertentu. Kehandalan SINas sebagai sebuah sistem lebih ditentukan oleh intensitas dan efektivitas interaksi antara aktor-aktor utamanya. Namun demikian upaya untuk mengadopsi secara langsung konsepsi inovasi nasional di negara yang secara ekonomi lebih berhasil untuk diterapkan di negara lainnya seringkali mengalami kegagalan. mengabaikan fakta adanya perbedaan yang tajam antara negara yang dicontoh dengan realita di Indonesia. dan Ruang Lingkup Materi Muatan RUU Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 Sangat mudah untuk menyatakan bahwa pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) merupakan upaya mendorong peningkatan inovasi secara nasional agar secara nyata memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan rakyat. tercerabut dari ekosistem dimana sistem inovasi nasional (SINas) mampu unjuk kinerja dengan sangat baik. sering menjadi reference utama dalam pengembangan kebijakan inovasi.Bab 5 Jangkauan.1. Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Pejabat negara dan kadang juga akademisi yang (dianggap) pakar di bidang penguatan inovasi juga ikut melakukan upaya adopsi langsung ini tanpa melakukan analisis yang mendalam mengapa pengembangan konsepsi inovasi tertentu berhasil memajukan perekonomian di negara asalnya. Arah Pengaturan. Demikian halnya. Kalaupun dilakukan analisis. maka seringkali pengembangan inovasi dianalisis secara terisolir.

informasi kebutuhan (demand) dari para aktor pengguna ke pengembang teknologi, yang diimbangi dengan kelancaran pasokan teknologi yang relevan dari aktor pengembang ke pengguna teknologi. Secara komprehensif, SINas merupakan sistem yang kompleks. Walaupun untuk simplifikasi dalam analisisnya unsur-unsur SINas dapat diurai lepas satu per satu, namun analisis hanya akan sahih jika masing-masing unsurnya tersebut selalu dilihat dari perpektif keterkaitannya dengan unsur SINas lainnya. Alur keterkaitan SINas dengan komponen pembentuk ekosistemnya dapat dilihat pada Gambar 6.

POTENSI SUMBERDAYA EKONOMI [Tangible Factors]  Sumberdaya Alam  Sumberdaya Manusia  Infrastruktur

POTENSI SOSIO-KULTURAL

[Intangible Factors]  Ideologi  Politik  Tata Kepemerintahan  Budaya Kerja

PERAN POKOK PEMERINTAH Memformulasikan kebijakan pendukung SINas berbasis pada Potensi Sumber daya Ekonomi dan Potensi SosioKultural dalam rangka penyiapan “Panggung SINas”, terutama kebijakan:  Perekonomian makro, keuangan, dan perpajakan  Perindustrian dan Perdagangan  Riset dan Pengembangan Teknologi  Ketenagakerjaan  Pendidikan Nasional  Infrastruktur Sosial  Tata Kepemerintahan

PENGEMBANG TEKNOLOGI  Perguruan Tinggi  Lembaga R&D Pemerintah  Lembaga R&D Swasta

PENGGUNA PASAR TEKNOLOGI  Domestik  Industri /  Global Bisnis  Masyarakat  Pemerintah Barang/Jasa Permintaan

LEMBAGA INTERMEDIASI

PANGGUNG SINAS  Fasiltas Komunikasi & Interaksi  Regulasi yang Kondusif  Dukungan & Insentif Finansial

Gambar 6. Peran Pemerintah dalam menyiapkan ‘panggung’ Sistem Inovasi Indonesia

Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Panggung SINas sebagai konsepsi dapat diaktualisasikan dalam bentuk: [1] fasilitas untuk para aktor berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif, [2] regulasi yang memungkinkan para aktor untuk memformulasikan dan mengimplementasikan upaya bersama dalam meningkatkan produktivitas, dan [3] dukungan dan/atau insentif finansial yang menjadi perangsang bagi para aktor untuk bersama-sama membangun dan memperkuat inovasi nasional. Panggung SINas yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro, keuangan, dan perpajakan; kebijakan perindustrian dan perdagangan; kebijakan riset dan pengembangan teknologi; kebijakan ketenagakerjaan; kebijakan pendidikan nasional; kebijakan penyediaan infrastruktur sosial; dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Kebijakan tersebut selain harus selaras dengan upaya mewujudkan SINas, juga harus berbasis pada potensi sumberdaya ekonomi dan potensi sosial budaya yang dimiliki Indonesia.

98

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Kebijakan yang tidak mengakar pada potensi dan kondisi sendiri akan lebih susah untuk secara efektif diimplementasikan. Dengan demikian tugas pokok pemerintah yang paling krusial adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung SINas yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. Kinerja aktor-aktor SINas pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik), baik berupa barang maupun jasa. Oleh sebab itu, peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ SINas, tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik.27

5.1.1. Membangun Inovasi sebagai Sistem Sebagai sebuah sistem, pengembangan inovasi nasional tidak dapat dipandang hanya sebagai kumpulan dari lembaga, tetapi yang lebih penting adalah terjadinya aliran informasi dan produk iptek yang lancar antar-lembaga. Keberadaan aktor atau kelembagaan pengembang dan pengguna teknologi, serta upaya fasilitasi, intermediasi, dan regulasi pemerintah belum menjamin bahwa sistem inovasi sudah terbangun atau pasti akan berjalan. Pada saat ini sesungguhnya para aktor dan lembaga-lembaga tersebut sudah ada, tetapi interaksi dan komunikasinya belum intensif dan produktif. Ini yang menjadi persoalan pokok saat ini. Pengembang teknologi (termasuk perguruan tinggi) melakukan kegiatan riset tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan kebutuhan pengguna; sebaliknya pengguna teknologi belum mau mengadopsi teknologi dalam negeri karena berbagai alasan, antara lain karena tidak relevan dengan kebutuhan, belum cukup handal secara teknis, tidak sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna, dan/atau belum kompetitif secara ekonomi. Untuk memperbesar peluang terwujudnya sistem inovasi, maka para pengguna teknologi harus terbuka untuk berbagi informasi tentang kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi; sebaliknya juga pihak pengembang teknologi harus peka terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang berkembang dan umumnya bersifat dinamis. Teknologi yang dikembangkan selain harus relevan dengan kebutuhan pengguna, juga harus sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya, baik kapasitas adopsinya secara teknis, ekonomi, dan sosiokultural (Gambar 7).

27

Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada beberapa kesempatan. Berbagai negara, juga melihat populasi Indonesia yang besar, lebih dari 237 juta jiwa (BPS, 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial.

99

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Gambar 7. Konsepsi Dasar Sistem Inovasi Nasional (Lakitan, 2010)

Lembaga litbang sebagai pengembang iptek perlu: [1] mengevaluasi kembali tentang kesesuaian orientasi pengembangan iptek dengan kebutuhan rakyat dan negara (isu relevansi riset); dan [2] meningkatkan pemaham tentang kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi rakyat dan negara (isu sensitivitas pelaku pengembang iptek); sebaliknya lembaga pengguna teknologi perlu meningkatkan kapasitas adopsinya dan kesediaannya dalam berbagi informasi kebutuhan dan persoalan terkait dengan teknologi. Perlu selalu diyakini bahwa iptek hanya akan berkontribusi terhadap pembangunan nasional, apabila iptek digunakan dan nyata bermanfaat, baik manfaat ekonomi maupun non-ekonomi. Prasyarat agar aliran teknologi ini terjadi adalah: [1] teknologi yang dikembangkan dan ditawarkan oleh lembaga litbang relevan dengan kebutuhan pengguna; [2] teknologi yang ditawarkan sepadan dengan

100

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Dalam konteks pengembangan SINas, maka mutlak perlu terjadi aliran informasi kebutuhan iptek dan persoalan nyata yang membutuhkan solusi iptek dari pihak pengguna ke pihak pengembang iptek. Prasyarat agar aliran ini terjadi adalah [1] keterbukaan atau keinginan dari pihak pengguna untuk berbagi informasi dan [2] sensitivitas pihak pengembang iptek dalam menangkap sinyal kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi pihak pengguna iptek. Keyakinan pihak pengguna atas kapasitas lembaga pengembang iptek dalam menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang sesuai kebutuhan, handal secara teknis, dan kompetitif secara ekonomi akan menjadi pemicu terjadinya aliran informasi dimaksud. Jika saat ini aliran tersebut masih tersendat, maka adalah bijak jika kedua belah pihak melakukan swa-evaluasi (self assessment), mencermati tentang apa yang perlu dibenahi di wilayah peran masing-masing. Lembaga litbang dan lembaga pengguna teknologi perlu melakukan pembenahan.

101 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kapasitas riset dan pengembangan tercermin dari kualitas riset dan iptek yang dihasilkan. Kapasitas ‘outsourcing’ lembaga pengembang teknologi terindikasi antara lain dari aksesibilitas ke berbagai sumber informasi iptek. Revitalisasi Lembaga Pengembang Teknologi Pada saat ini. daerah. sistem inovasi hanya akan terwujud jika terjadi komunikasi dan interaksi antara aktor atau lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. terbukti dengan adanya aliran informasi kebutuhan teknologi dan informasi tentang persoalan nyata yang dihadapi oleh pihak pengguna dalam melakukan proses produksi barang dan/atau jasa sesuai dengan permintaan konsumen.1. dan efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan iptek yang bermanfaat. intermediator. yakni: [1] kapasitas untuk menyerap iptek yang berasal dari luar (sourcing capacity). menggerakkan aliran dua-arah ini akan membutuhkan daya yang besar dan upaya yang intensif. agar pengguna dan pengembang iptek terangsang untuk mengintensifkan komunikasi dan interaksinya. Contoh indikator kinerja lembaga litbang berbasis pada tiga kapasitas pokoknya. dan royalti yang diterima oleh lembaga atas produk teknologinya yang berhasil dikomersialisasikan. kuantitas dan kualitas iptek yang diadopsi oleh pihak pengguna. serta sebaliknya juga terjadi adopsi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengembang oleh pihak pengguna.kapasitas adopsi (calon) pengguna potensialnya. Pemerintah diharapkan dapat memainkan peran sebagai fasilitator. tidak terjadi tumpang tindih riset yang dilakukan dengan riset yang (telah) dilakukan di tempat lain. dan [3] penggunaan iptek tersebut mempunyai prospek keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan iptek serupa yang sudah tersedia. Secara hakiki. dan regulator agar suasana yang kondusif dapat diwujudkan. disajikan pada Tabel 7. Pada fase awal (seperti kondisi saat ini). butuh peran dan komitmen yang sungguh-sungguh dari Pemerintah. dan produktivitas lembaga dalam menghasilkan teknologi per satuan sumberdaya dan/atau biaya yang dikelola. Kesinambungan aliran dua arah ini yang menjadi indikator eksistensi sistem inovasi. Oleh sebab itu. 5. ada tiga kapasitas yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap lembaga pengembang teknologi. [2] kapasitas untuk melakukan riset dan pengembangan iptek (R&D capacity). dan [3] kapasitas untuk mendiseminasikan pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan (disseminating capacity)(Gambar 8).2. maupun kawasan ekonomi tertentu. relevansi teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan nyata para pengguna. pada jenjang nasional. Sedangkan kapasitas diseminasi terlihat dari intensitas dan jangkauan publikasi kegiatan riset yang dilakukan dan iptek yang dihasilkan baik melalui media cetak maupun elektronik. 18 Tahun 2002 .

Tiga kapasitas yang harus dimilik lembaga litbang (Lakitan. 18 Tahun 2002 . ketiga jenis kapasitas ini secara paralel dikembangkan dalam sebuah sistem yang terintegrasi.Gambar 8. Strategi revitalisasi lembaga pengembang teknologi dikemas secara komprehensif dan integratif. tidak secara partial maupun tersegmentasi. Ukuran keberhasilan dan pilihan indikator yang digunakan dalam melakukan evaluasi kinerja lembaga 102 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tiga kapasitas lembaga litbang dan contoh indikator kinerjanya Kapasitas Pokok Kapasitas Outsourcing Kapasitas Litbang Kapasitas Diseminasi Contoh Indikator Kinerja  Akses ke sumber informasi iptek  Tidak terjadi tumpang tindih dan replikasi riset  Efisiensi pemanfaatan sumberdaya  Jaringan kemitraan  Kualitas hasil litbang  Relevansi dengan kebutuhan/persoalan nyata  Produktivitas kelembagaan  Situs dan frekuensi pemutakhiran informasi  Publikasi ilmiah  Hasil riset yang dimanfaatkan pengguna  Royalti yang diterima Pada era inovasi yang terbuka ini. 2011a) Tabel 7.

2009). agar transfer/difusi iptek dapat berjalan lebih lancar. yakni mengubah mindset dan budaya kerja individu peneliti dan komunitas pengembang litbang. 18 Tahun 2002 .pengembang teknologi perlu dikonstruksi secara cermat. sangat bijaksana nasehat yang dikemukakan oleh seorang tokoh inovasi dunia yang berkerja puluhan tahun untuk lembaga internasional ternama dalam mengembangkan indikator ilmu pengetahuan. baru kemudian memilih indikator yang pas untuk mengevaluasi kemajuan yang dicapai secara berkala dengan interval waktu yang rasional. karena kasus ‘abuse’ indikator STI (dan data statistik lainnya) bukan merupakan kejadian langka di Indonesia. dapat dijadikan sebagai referensi. Oleh sebab itu. Peringatan dan nasehat seperti ini perlu secara serius diperhatikan oleh para pengelola lembaga pengembang teknologi di Indonesia. if poorly constructed. Kegiatan riset yang cenderung untuk prestasi akademik semata. karena tidak secara otomatis menjamin indikator tersebut merupakan indikator yang paling pas untuk kondisi dan kepentingan Indonesia saat ini. yakni SINas. dan inovasi (STI) berikut ini: “On the basis of 40 years of indicators work. Namun demikian tetap perlu dicermati. atau yang hanya bersifat sebagai academic exercise. we argue that frontiers and characteristics of STI indicators that were important last century may no longer be so relevant today and indeed may even be positively misleading” (Freeman and Soete. yakni: [1] merumuskan kembali tujuan dan menetapkan sasaran yang ingin dicapai. perlu 103 Naskah Akademik Perubahan UU No. akan menjadi tantangan dan ujian yang paling sulit tetapi mutlak harus dilakukan. S&T indicators. [2] melakukan reformasi struktural agar organisasi lembaga dapat menjadi kendaraan yang efektif untuk mencapai tujuan. dan [3] mengubah mindset dan budaya kerja komunitas pengembang teknologi. Cara yang bijak adalah pahami secara komprehensif dan mendalam tentang lembaga pengembang teknologi Indonesia saat ini dan ekspektasi peran lembaga ini yang ideal di masa yang akan datang. Langkah pertama dan kedua relatif tidak sulit untuk dilakukan. (2009) perlu mendapat perhatian: “Although useful in benchmarking of country performances. Peringatan dari Loikkanen et al. serta tujuan dan sasarannya perlu disesuaikan. visi dan misi. can convey misleading policy messages”. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi diyakini akan menempuh tiga langkah penting. Apalagi individu-individu dalam komunitas pengembang teknologi selama ini terbiasa dan lebih nyaman berkerja secara individual dibandingkan sebagai bagian dari kelompok atau komunitas yang lebih besar. sepanjang kurun waktu yang dibutuhkan untuk proses transformasi dari kondisi saat ini menjadi lembaga ideal yang diharapkan. Lembaga pengembang teknologi di Indonesia juga perlu melakukan reformasi. Dalam penggunaan indikator ini. maka langkah ketiga. Indikator kinerja yang dikembangkan dan telah digunakan oleh lembaga internasional dengan reputasi baik serta telah diadopsi oleh berbagai negara. teknologi. Keberhasilan pada dua langkah pertama akan sia-sia jika langkah ketiga ini tidak berhasil dilaksanakan. Rencana strategis dan rencana aksi lembaga perlu ditinjau ulang. Lembaga pengembang teknologi saat ini merupakan bagian integral dari sistem yang lebih besar. Boardman (2009) mengirimkan sinyal tentang tantangan yang sulit ini: [There is] a fundamental management task of aligning individual behaviors with [research] center goals and objectives.

sejak awal kegiatan pengembangan teknologi harus mempunyai orientasi yang jelas. akibatnya motivasi untuk melakukan upaya peningkatan tersebut juga tidak tumbuh. 18 Tahun 2002 .1.3. yang disebabkan oleh mutu potensi internal yang rendah dan motivasi yang kurang. kemampuan pembiayaan. 5. selain itu juga kebijakan internal lembaga masih belum memberikan prioritas untuk peningkatan kapasitas adopsi. goal-oriented research. atau challenge-driven. Ragam istilah pendekatan pengembangan teknologi ini pada esensinya adalah kurang-lebih sama. misalnya penyelenggaraan pemerintahan yang lebih bersih. walaupun banyak ragam istilah yang digunakan. meningkatnya rasa bangga sebagai warga negara. misalnya market-driven. Kegiatan pengembangan teknologi dalam jangka panjang harus memberikan keuntungan yang sebanding dengan pembiayaannya. Untuk itu perlu kejelian dalam mengidentifikasi akar persoalan (fundamental problems). Hipotesis untuk kondisi saat ini adalah: [1] kapasitas adopsi lembaga-lembaga pengguna teknologi di Indonesia saat ini masih sangat rendah. Pemahaman yang tepat tentang akar persoalan yang menyebabkan lembaga pengguna teknologi Indonesia berada pada posisi saat ini akan sangat membantu. mission-driven. Jika konsepsi hanya menyentuh persoalan simptomatis. Namun demikian. turunnya tingkat kriminalitas atau tumbuhnya rasa aman. agar tidak terkecoh oleh gejala simptomatis (symptomatical problems) yang mungkin tertangkap pada kesan pertama. dan bentuk keuntungan sosial dan spiritual lainnya. Kecenderungan global saat ini sangat kentara mengarah pada pengembangan teknologi berbasis kebutuhan. maka konsepsi yang dikembangkan mungkin kelihatannya bagus tetapi sangat mungkin akan mengecewakan karena ternyata tidak mampu memberikan solusi sebagaimana yang diharapkan. evidence-based. issue-driven. dan [2] unsur-unsur ekosistem eksternal yang kurang kondusif.digeser prioritasnya untuk mendahulukan kegiatan riset untuk menghasilkan iptek yang sesuai dengan kebutuhan nyata. terutama karena regulasi yang kurang 104 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni untuk menghasilkan iptek yang bermanfaat bagi umat maupun negara. tetapi dapat dalam bentuk non-ekonomi. Peningkatan Kapasitas Adopsi Lembaga Pengguna Teknologi Konsepsi peningkatan kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna berpeluang untuk diterapkan jika dibangun berdasarkan realita posisi saat ini. terutama dari regulasi dan insentif yang belum optimal. maka konsepsi tersebut tidak akan mampu menjadi solusi mendasar bagi upaya meningkatkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi sebagaimana yang diniatkan. Upaya penguatan kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu memperhatikan: [1] potensi internal (sumberdaya manusia. sarana dan prasarana pendukung) lembaga-lembaga pengguna teknologi sangat minimal. kerukunan umat beragama. dan [2] peningkatan kapasitas adopsi teknologi terkendala oleh ekosistem yang kurang kondusif. Pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi sudah saatnya diperlakukan sebagai bagian dari investasi. Perspektif ini yang menjadi ruh pengembangan teknologi berbasis realita kebutuhan (demand-driven). Keuntungan yang dimaksud tidak selalu dalam bentuk keuntungan ekonomi. need-driven. Jika hanya gejala simptomatis yang mampu dikenali.

sehingga mengurangi 105 Naskah Akademik Perubahan UU No. Minimal mampu melakukan pemeliharaan (maintenance). selain juga fasilitasi dan intermediasi yang masih belum optimal. prasarana. lembaga pemerintah mengadopsi teknologi untuk digunakan dalam menjalankan tugas negara/pemerintahan. terutama penguatan sumberdaya (manusia. Posisi ini cenderung sebagai konsumen akhir dari teknologi atau produk teknologi yang diakuisisi.mendukung atau sebagian sudah mendukung namun implementasinya masih terkendala. atau dengan ungkapan yang lebih sederhana adalah dengan melakukan penguatan kapasitas litbang internal lembaga pengguna. tetapi juga mampu untuk melakukan asimilasi dan reformulasi teknologi agar lebih sesuai dengan kebutuhan spesifiknya dan/atau untuk meningkatkan kehandalan produk teknologi tersebut. Kerangka dasar konsepsi peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Berbeda dengan industri yang mengadopsi teknologi untuk diaplikasikan dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. misalnya dalam konteks teknologi pertahanan dan keamanan. Realita saat ini menumbuhkan keyakinan bahwa untuk mengoptimalkan kemampuan lembaga pengguna dalam mengadopsi teknologi yang paling krusial adalah melakukan pembenahan internal lembaga. 18 Tahun 2002 . Pembenahan ini mencakup. Lembaga ini tidak hanya mampu menggunakan produk teknologi yang dibeli atau diakuisisi. serta program-program insentif yang ada masih kurang efektif dan/atau kurang menarik bagi lembaga pengguna (Gambar 9). Gambar 9. lembaga pemerintah yang berperan sebagai lembaga pengguna teknologi juga harus diperkuat kapasitas litbangnya. dan dana) untuk mendukung aktivitas litbang pada lembaga pengguna. sarana. Sebagaimana industri.

misalnya petani. terlepas dari jumlah karyawannya yang mungkin sangat sedikit. kemampuan manajerial. rasional. lembaga pengguna juga diharapkan tidak hanya mampu mengaplikasikan teknologi. serta siap secara seutuhnya untuk mengadopsi teknologi tersebut. individu-individu masyarakat lebih pas jika diperlakukan secara independen. Dua faktor bersifat mendorong (pushing factors) lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. misalnya insentif yang pantas untuk kontribusi atau prestasi yang dicapai. Untuk dapat melaksanakan peran ini. Memahami karateristik masing-masing pengguna teknologi yang berbeda (antara industri. pelaksanaannya dapat saja dilakukan secara kolektif pada komunitas pengguna dengan kebutuhan jenis teknologi. dan individu masyarakat). diikuti dengan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan dukungan anggaran yang mencukupi. dan [4] melakukan upaya institusional yang dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam meningkatkan peran aktifnya dalam proses adopsi dan pengembangan teknologi. maka opsi utamanya adalah meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian sumberdaya manusia yang bekerja pada masing-masing lembaga pengguna tersebut. tetapi juga mampu secara proaktif mengenali jenis dan mengidentifikasi sumber teknologi yang maju. dan relevan dengan kebutuhan lembaganya. yakni untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi. nelayan. Kapasitas adopsi individu masyarakat dengan demikian akan tergantung pada kapasitas intelektual. dibutuhkan pendekatan dan strategi yang berbeda untuk masing-masing kelompok pengguna tersebut. bidang usaha. baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri. terutama untuk yang secara langsung melaksanakan tugasnya terkait adopsi dan pengembangan teknologi. dan skala usaha yang setara. lembaga pemerintah. Upaya penguatan kapasitas adopsi masyarakat sebagai pengguna teknologi perlu pendekatan yang berbeda. 18 Tahun 2002 . Namun perlu pula ditegaskan bahwa industri mikro atau kecil tradisional tetap harus dikategorikan sebagai satu entitas industri. agar upaya meningkatkan kapasitas adopsi individu masyarakat ini dapat dilakukan secara lebih praktis. dan lain-lain. naluri bisnis. [2] memberikan dukungan fasilitas dan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan adopsi dan pengembangan teknologi. seniman. [3] menyepakati dan menjalankan secara konsisten kebijakan internal lembaga pengguna untuk memprioritaskan adopsi dan pengembangan teknologi. motivasi. peternak. Dalam rangka memaksimalkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. handal. Mungkin saja organisasi atau asosiasi masyarakat yang memayungi individuindividu pengguna teknologi. maka perlu upaya sungguh-sungguh untuk: [1] meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian dan/atau ketrampilan sumberdaya manusia. Namun demikian. dan efisien. namun lembaga masyarakat tersebut tidak bersifat ‘struktural’ sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang setara dengan lembaga pengguna sebagaimana pada industri dan pemerintahan. Di era informasi terbuka ini. dan kualitas personal lainnya. Ada empat faktor eksternal yang secara langsung mempengaruhi kapasitas adopsi teknologi. walaupun tujuannya adalah sama. Dengan kata lain.ketergantungan kepada pihak produsennya sebagai langkah antisipatif jika ada kendala purnajualnya. yakni regulasi dan 106 Naskah Akademik Perubahan UU No. termasuk juga melalui spillover investasi asing.

Prinsip dasarnya dalam era informasi terbuka ini. Gambar 10. potret kapasitas 107 Naskah Akademik Perubahan UU No.adanya kompetisi antara lembaga pengguna. sedangkan dua faktor lagi bersifat menarik (pulling factors). tetapi hanya lembaga pengguna yang siap yang mampu melakukan proses adopsi tersebut secara efektif dan efisien. serta ketersediaan sumberdaya (bahan baku. yakni adanya permintaan pasar dan ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan (Gambar 10). sedangkan adanya kompetitor tentu akan menjadi faktor pendorong lainnya bagi lembaga pengguna untuk antara lain meningkatkan aktivitas serta fasilitas riset in-house. semua pihak bisa mendapatkan informasi tentang ketersediaan teknologi dan berpeluang untuk mengadopsinya. 18 Tahun 2002 . tenaga kerja. serta mampu mengadaptasi teknologi tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhannya dan mampu memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari adopsi teknologi tersebut. Secara ringkas. kepakaran. Adanya permintaan pasar yang nyata dan signifikan. fasilitas dan infrastruktur pendukung) akan menumbuhkan motivasi dan menjadi pemicu untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi yang dibutuhkan lembaga pengguna untuk mengelola sumberdaya tersebut. Faktor eksternal yang mempengaruhi kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Regulasi yang tepat akan mendorong lembaga pengguna untuk meningkatkan kemampuan internalnya yang berkaitan langsung dengan kapasitas adopsi teknologi. misalnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

dan pengembangan teknologi.1. baik pada tingkat nasional maupun pada jenjang yang lebih terbatas wilayah cakupannya. Peningkatan Peran Lembaga Intermediasi Ketidakpaduan antara teknologi yang dihasilkan lembaga pengembang dengan kebutuhan pengguna dan rendahnya kebutuhan serta kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna merupakan kenyataan yang menjadi justifikasi: [1] kebutuhan akan lembaga intermediasi. Ada beberapa catatan penting terkait dengan kapasitas adopsi yang ideal bagi lembaga pengguna teknologi. dan [6] Kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu secara paralel dibangun bersama dengan kemampuan lembaga pengembang untuk menghasilkan teknologi yang relevan dalam rangka mewujudkan sistem inovasi. menyerap dan mengasimilasikan teknologi tersebut. tetapi juga sekaligus [2] menjadikan lembaga intermediasi yang sudah ada sulit untuk menjalankan perannya. memformulasikan teknologi yang aplikatif sesuai kemampuan dan kebutuhannya. oleh sebab itu perlu melakukan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. adaptasi. [3] Regulasi dan kompetisi menjadi faktor pendorong (pushing factors) yang efektif. 108 Naskah Akademik Perubahan UU No. [4] Perlu regulasi dan kebijakan yang kondusif untuk membuka peluang mobilisasi sumberdaya manusia antar-lembaga inovasi. namun jika kapasitas adopsinya sudah berada pada jenjang yang ideal maka keberadaannya dalam klaster inovasi akan memperbesar peluangnya untuk mengadopsi teknologi tersedia yang sesuai dengan kebutuhannya. dan pengembangan teknologi. [2] Perlu dukungan yang optimal untuk aktivitas dan penyediaan fasilitas riset in-house.4. serta mengaplikasikannya dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diembannya. terutama – tetapi tidak terbatas pada sumberdaya manusia yang ditugaskan pada atau terkait langsung dengan unit yang menangani adopsi. sehingga dapat memperbesar peluang untuk terjadinya aliran atau limpasan (spillover) teknologi yang diserap oleh lembaga pengguna.adopsi yang ideal untuk lembaga pengguna teknologi adalah jika memiliki kemampuan untuk mengenali teknologi sesuai dengan kebutuhannya. 18 Tahun 2002 . [5] Keberadaan lembaga pengguna dalam suatu klaster inovasi tidak menjamin akan efektif dalam mengadopsi teknologi yang tersedia. adaptasi. sedangkan permintaan pasar dan potensi sumberdaya dapat menjadi faktor penarik (pulling factors) yang atraktif bagi lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. karena akan secara nyata berdampak positif pada kapasitas adopsi. 5. atau sesuai dengan core business-nya. yakni: [1] Kapasitas internal lembaga sangat krusial untuk dibangun.

sekaligus sebagai pusat informasi dan pelayanan HKI. lembaga intermediasi yang ada pada dasarnya diinisiasi oleh pemerintah tetapi kemudian dikelola oleh lembaga pemerintah itu sendiri atau personel yang bukan pegawai pemerintah. belum banyak berperan dalam membantu mengidentifikasi kebutuhan atau persoalan yang dihadapi pengguna dan mengalirkan informasi tersebut kepada lembaga pengembang teknologi. Dengan adanya Sentra HKI diharapkan perguruan tinggi dan lembaga litbang dapat mengembangkan unit organisasi dan prosedur untuk mengelola semua kekayaan intelektual dan informasi iptek yang dimilikinya. 18 Tahun 2002. Peran Ganda Lembaga Intermediasi Peran intermediasi ini dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga nonpemerintah. Sentra HKI adalah unit kerja yang berfungsi mengelola dan mendayagunakan kekayaan intelektual. Namun sebagian besar menghadapi permasalahan lemahnya kemampuan di bidang manajemen HKI. 109 Naskah Akademik Perubahan UU No. peran lembaga intermediasi perlu didorong agar dapat berperan ganda tersebut. Sebagai contoh lembaga mediasi adalah Sentra HKI dan Business Innovation Center (BIC). Menurut UU No. Jumlah Sentra HKI saat ini mencapai 79 buah. Pada saat ini. termasuk kemampuan menyelenggarakan kegiatan komersialisasi secara profesional yang didukung aspek legal. Oleh sebab itu. memasarkan teknologi yang dihasilkan pengembang dan sekaligus menjadi perpanjangan tangan pengembang untuk memahami kebutuhan dan persoalan teknologi yang dihadapi pengguna (Gambar 11). sejak digagas Kementerian Riset dan Teknologi pada 1999. Gambar 11. Minat pihak swasta untuk berperan sebagai intermediator masih rendah dan belum akan tumbuh jika teknologi yang dihasilkan pengembang belum mempunyai nilai jual yang baik atau jika relevansi antara teknologi yang dikembangkan masih senjang dengan kebutuhan pengguna.Lembaga intermediasi yang ada saat ini masih terlalu fokus pada upaya ‘memasarkan’ teknologi yang dihasilkan oleh lembaga pengembang. 18 Tahun 2002 .

memberikan secara terusmenerus informasi tentang perkembangan teknologi baru dan proses produksi.5. akademisi dan pemerintah yang sesuai dengan fungsi dan tujuan BIC. 18 Tahun 2002 . membantu menghubungkan kepada pihak dunia usaha dalam hal kerjasama. 5. menganalisa dan mengoptimalkan rangkaian nilai proses kerja. untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan bisnis dan daya saing nasional Indonesia. pemasok. dan membantu melakukan analisi terhadap pihak dunia usaha yang memiliki interest untuk berinvestasi terhadap riset yang dilakukan. memberikan pendampingan pada perusahaan-perusahaan yang inovatif. Sedangkan layanan untuk akademisi/teknisi adalah membantu mengembangkan produk inovasi yang sudah ada untuk di komersialkan. membantu mencarikan mitra kerjasama yang tepat dari kalangan iptek. dan. memajukan pengembangan teknologi inovasi dalam skala nasional. mengatur pertukaran para pakar yang dibutuhkan dengan keahlian tertentu. mengatur pertemuan para pakar untuk dapat menjalin kerjasama. Layanan untuk swasta/bisnis yang dilakukan BIC mencakup mempermudah proses pencarian informasi mengenai inovasi. dan. swasta. Layanan umum mencakup kunjungan ke perusahaan-perusahaan. melalui kegiatan intermediasi antara inovator pengembangan teknologi dengan dunia bisnis. memberikan pengetahuan mengenai pasar dan trend yang ada di pasar. mengidentifikasikan risiko dan mengenali potensinya. BIC diharapkan menjadi lembaga intermediasi proses inovasi bisnis. Business Innovation Center atau yang disingkat BIC didirikan dengan tujuan mengoptimalkan pemberdayaan Inovasi di Indonesia dengan tujuan meningkatkan pembangunan nasional. perusahaan. mempermudah pengembangan bisnis dengan penerapan inovasi. dan memfasilitasi program incentif yang dibuat oleh pemerintah. menyusun agenda dan pengaturan pertemuan dengan pusat-pusat kajian teknologi. BIC memberikan beberapa jenis layanan yaitu layanan umum. memfasilitasi pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. memberikan dukungan terhadap program-program pemerintah dalam hal inovasi. Layanan untuk pemerintah mencakup upaya mempererat hubungan pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi.Padahal Sentra HKI harus mampu menjadi marketer atau sebagai intermediator antara pemilik dan pengguna HKI. walaupun saat ini teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat berkembang dan juga 110 Naskah Akademik Perubahan UU No. Misi lembaga ini adalah mendorong inovasi business di Indonesia.1. Penyiapan Science and Technology Park Kedekatan fisik atau lokasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi masih dianggap penting dalam upaya menumbuhkan interaksi yang lebih intensif dan produktif. memberikan jaringan/network pelaku bisnis dalam hal kerjasama terhadap pihak akademisi. memberikan informasi mengenai kajian-kajian teknologi yang sedang berlangsung. menghubungkan para pelaku bisnis dalm hal mendapatkan insentif yang diberikan oleh pemerintah. mengadakan gathering dan seminar dalam hal menjembatani ABG. memperluas hubungan dengan pemerintah dan akademisi. membantu dalam hal finansial yang akan dibantu oleh pihak swasta/pelaku bisnis. membuat database yang menampung informasi mengenai proses-proses inovasi.

Untuk tujuan ini. yang disingkat sebagai I-STP. Wahana I-STP diproyeksikan akan menjadi model SINas dalam rangka membangun ekonomi Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge based economy (KBE). Oleh sebab itu. Ketidak-siapan lembaga pengguna Indonesia untuk mengadopsi teknologi ini tidak sepenuhnya merupakan resultan dari rendahnya kapasitas adopsi teknologinya. Berdasarkan survei WEF tersebut. yakni Business Technology Center (BTC) dan Business Innovation Center (BIC). Lembaga intermediasi diharapkan menjadi gerbang untuk partisipasi lembaga pengguna teknologi. terutama industri-industri berbasis teknologi (Gambar 12). Upaya membangun I-STP ini sudah mulai digarap. Dinamika interaksi pengembang-intermediator-pengguna teknologi yang intensif dan produktif akan dengan sendirinya ‘mengundang’ partisipasi lembaga-lembaga penunjang lainnya. Upaya ini diharapkan akan meningkatkan relevansi teknologi yang dikembangkan (karena semakin memahami kebutuhan pengguna) dan sekaligus meningkatkan kapasitas adopsi pengguna (karena peningkatan kapasitas SDM-nya dalam mengenali dan mengaplikasikan teknologi). Kemampuan inovasi Indonesia ini sudah setara dengan negara-negara yang perekonomiannya sudah berbasis inovasi. Kapasitas lembaga pengembang teknologi Indonesia sesungguhnya cukup baik. 18 Tahun 2002 . upaya-upaya ini diharapkan dapat mendongkrak status kesiapan teknologi Indonesia. Indonesia merencanakan untuk membangun Indonesian STP. dilaporkan bahwa kapasitas pengembangan teknologi ini ternyata belum diimbangi dengan kesiapan pengguna teknologi untuk mengadopsinya. Pembangunan I-STP (melalui revitalisasi Puspiptek Serpong) merupakan salah satu upaya untuk menyediakan wahana untuk meningkatan frekuensi dan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. terbukti dengan posisi indeks inovasi Indonesia dalam peringkat World Economic Forum (WEF) tahun 2010 yang berada pada posisi ke 36. Dengan demikian. terbukti dengan peringkat kesiapan teknologi (technological readiness) yang masih relatif rendah. terutama pendidikan tinggi dan kejuruan. Aset pengetahuan (stock of knowledge) yang secara kolektif telah terakumulasi pada komunitas pengembang teknologi di kawasan Puspiptek Serpong perlu dikelola dan ‘dipasarkan’.menjadi lebih murah untuk sarana berkomunikasi antara personel maupun lembaga. tetapi juga merupakan akibat dari teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan lembaga pengguna tersebut. yakni dengan merevitalisasi kawasan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong. banyak negara membangun Science and Technology Park (STP) sebagai wahana untuk mendekatkan secara fisik antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi. I-STP menjadi saluran efektif bagi teknologi untuk memberikan kontribusi 111 Naskah Akademik Perubahan UU No. Secara kolektif. termasuk lembaga keuangan dan lembaga pendidikan. Kementerian Riset dan Teknologi perlu merevitalisasi lembaga-lembaga intermedia yang sudah terbentuk. Persoalan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah rendahnya hasil riset dan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang diadopsi oleh industri atau pengguna teknologi lainnya. Peran lembaga intermediasi diharapkan dapat mengakselerasi proses adopsi teknologi tersebut. yakni pada peringkat ke 91.

Untuk kondisi Indonesia.nyata terhadap peningkatan ekonomi nasional. sebagai kawasan iptek sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. Kawasan ini diharapkan dapat memfasilitasi sinergi. dan sekolah menengah kejuruan di kawasan ‘InnoPark’ ini. Metamorfosis Puspiptek Menjadi I-STP Menurut UU No. seperti kawasan iptek. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. dilengkapi dengan lembaga dan fasilitas pendukungnya yang sepadan. maka akan diyakini mampu menyejahterakan rakyat sebagaimana yang amanahkan oleh konstitusi. 18 Tahun 2002 . lembaga litbang. pemerintah maupun swasta dapat mengembangkan sarana dan prasarana iptek. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. Gambar 12. Menghadirkan lembaga pendidikan tinggi. Membangun Pusat Unggulan Inovasi Pusat Unggulan merupakan padanan kata untuk Center of Excellence yang sudah sangat dikenal dan digunakan tidak hanya dalam bidang iptek. akan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan inovasi mandiri yang dapat menjadi model SINas Indonesia yang membanggakan. kawasan Puspiptek Serpong. pertumbuhan. Gabungan dua kawasan ini akan membentuk Innovation Park (STP+IP = InnoPark). Definisi umum tentang Pusat Unggulan adalah: ‘an organization which is 112 Naskah Akademik Perubahan UU No. maupun badan usaha. tetapi juga digunakan di dunia bisnis maupun bidang-bidang lainnya.1. politeknik. serta pusat peragaan iptek untuk dapat menumbuhkan budaya iptek.6. yang jika dibangun bersama rakyat. 18 Tahun 2002. dan interaksi antara perguruan tinggi. 5.

sebuat pusat unggulan harus menetapkan standar kinerja yang sangat tinggi. tepat jika disebut sebagai Pusat Unggulan Inovasi atau Center of Excellence on Innovation. dan [2] keunggulan tersebut khusus pada bidangnya. kebijakan sektoral. Pusat Unggulan harus dikenal oleh komunitasnya. dianggap berhasil dan mempunyai reputasi yang sangat baik di bidangnya. maka sangat tepat jika Pusat Unggulan yang difasilitasi perkembangannya oleh Kementerian Riset dan Teknologi adalah keunggulan dalam membangun sistem inovasi. Oleh sebab itu. dalam melaksanakan fungsinya.recognized as being successful and having an excellent reputation in its field’ . Pengembangan Pusat Unggulan Inovasi yang Konsisten dengan Amanah Konstitusi 113 Naskah Akademik Perubahan UU No. Gambar 13. dimana [3] bidang keunggulan tersebut bersifat terbuka untuk kompetensi atau spesifikasi fungsi tertentu. Dalam konteks pilihan ini. Penciri lain yang digunakan untuk mendeskripsikan pusat unggulan adalah: ‘a place where there are very high standards of work’. Untuk mencapai standar ini. 18 Tahun 2002 . sesuai dengan kondisi awal dan sasaran yang ingin dicapai. dan program Kementerian Riset dan Teknologi (Gambar 13). Tersirat dalam definisi ini adalah: [1] keberhasilan dan reputasi tersebut bersifat relatif (dibandingkan dengan lembaga-lembaga serupa di bidang tertentu). sehingga dapat secara nyata mampu mewujudkan sistem inovasi. Dengan demikian. kebijakan nasional. yakni dengan format pengembangan lembaga tunggal tapi dengan memperkaya tugas dan fungsinya. atau dengan membentuk konsorsium yang terdiri dari paling tidak lembaga pengembang dan pengguna teknologi (Gambar 14). Pusat unggulan yang akan didorong untuk tumbuh dan berkembang adalah lembaga atau konsorsium yang konsisten dengan amanah konstitusi. Maknanya. maka ada dua opsi dalam membangun pusat unggulan inovasi.

terutama pada fase inisiasinya. karena ini yang menjadi komitmen awal dan mendasar bagi setiap lembaga untuk memutuskan apakah akan ikut bergabung dalam konsorsium tersebut atau tidak. Secara umum terdapat tiga asas penting dalam membangun konsorsium. Peran pemerintah sebagai fasilitator. Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya diharapkan berperan aktif dalam membentuk konsorsium ini. yakni: [1] mempunyai kepentingan atau tujuan bersama (shared goal atau core issue) yang jelas dan disepakati oleh semua anggota. [2] hubungan yang dibangun harus bersifat mutualistik sebagai modal dasar untuk memotivasi semua anggota untuk memperjuangkan kepentingan bersama. antara lain berupa konsorsium. karena ini merupakan dasar komitmen bersama yang penting 114 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan [3] semua anggota sepakat untuk sharing sumberdaya sepadan dengan fungsi dan kapasitasnya masing-masing. Setiap konsorsium yang dibentuk mempunyai tujuan bersama yang jelas. dan regulator sewajarnya akan semakin berkurang jika komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi dalam wadah konsorsium ini telah berlangsung secara intensif dan produktif.7. Mendorong Pembentukan Konsorsium Inovasi Interaksi dan komunikasi antara pengembang dan pengguna teknologi menjadi lebih baik apabila ada wahana untuk berinteraksi. kapasitas lembaga sebagai bentuk share yang dapat dikontribusikan. Tujuan bersama dimaksud perlu disepakati dari awal pembentukan konsorsium. Tentu dengan memperhatikan tugas dan fungsi lembaganya masing-masing. Pilihan Alternatif Organisasi Pusat Unggulan Inovasi 5.Gambar 14.1. 18 Tahun 2002 . intermediator. dan benefits yang diharapkan dapat diperoleh dengan bergabung dalam konsorsium tersebut.

semua lembaga yang relevan dapat bergabung dalam konsorsium atas persetujuan inisiator dan semua anggota yang telah bergabung (existing members). dimana anggota disepakati dari awal dan tidak berubah sampai tujuan bersama dicapai. Keterjaminan sifat mutualistik tersebut akan memotivasi semua anggota untuk memberikan kemampuannya yang terbaik dan ikut berusaha keras untuk mencapai tujuan bersama. Konsorsium lebih berorientasi fungsional dan terfokus pada upaya mencapai tujuan bersama yang disepakati sejak awal pembentukannya. maka paling tidak satu lembaga mewakili pengembang teknologi dan lembaga lainnya mewakili pengguna teknologi. atau [2] dilakukan secara tertutup dan bersifat statis. Namun jumlah anggota yang pas tentu tergantung dengan tujuan bersama yang ingin dicapai. Setiap konsorsium tentu memiliki beberapa anggota. hak. Sinergi fungsional merupakan asas yang menjiwai tata kerja organisasi konsorsium. maka konsorsium harus dikelola secara profesional berlandaskan asas-asas good governance. 18 Tahun 2002 . Salah satu alasan pembentukan konsorsium adalah agar penggunaan sumberdaya (manusia. Ada dua opsi dalam menghimpun anggota konsorsium. setiap konsorsium harus ada anggota yang disepakati sebagai koordinator. anggota konsorsium minimal dua lembaga. yakni: [1] dilakukan secara terbuka dan dinamis. serta juga dipengaruhi oleh beban kegiatan dan target waktu untuk pencapaian tujuan dimaksud. Secara formal. efisien. dan pembiayaan) dapat dilakukan secara lebih efisien dan juga untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Lebih bagus jika ditambah satu lembaga lagi yang menjadi representasi unsur pemerintah. namun konsorsium pada hakikinya bersifat tidak-permanen. Dalam konteks ini. sebaliknya jumlah anggota yang terlalu banyak juga dapat menyebabkan ketidak-efisienan dalam pelaksanaan pekerjaan. semua anggota diposisikan secara sejajar. yakni saling menguntungkan. sama kedudukan. Konsorsium merupakan sarana bersama dan bukan tujuan akhir bagi para pihak yang terlibat sebagai anggotanya. pola hubungan antar-anggota yang bersifat horizontal akan lebih dominan. dan taat hukum. Hubungan antar-anggota konsorsium harus bersifat mutualistik. terutama harus transparan. 115 Naskah Akademik Perubahan UU No. sarana dan prasarana. agar sifat mutualistik ini selalu terpelihara.untuk kelangsungan eksistensi konsorsium. Oleh sebab itu. Dalam konteks sistem inovasi. Kapasitas dan jenis kompetensi lembaga yang dibutuhkan. Oleh sebab itu. serta kewajibannya (Gambar 15). akuntabel. Kesepakatan ini sangat penting karena tujuan bersama tersebut mungkin baru akan dicapai dalam jangka menengah atau panjang. atau malah berpotensi kontra-produktif dan dapat saja ada free rider yang kontribusinya tidak signifikan terhadap kinerja konsorsium. Sedangkan jumlah anggota yang terlalu sedikit mengandung risiko akan kekurangan kapasitas dan kompetensi untuk mencapai tujuan. efektif. walaupun mungkin butuh waktu yang relatif lama untuk mencapai tujuan bersama. dimana. karena ia menjadi jiwa dari sebuah konsorsium. juga perlu masuk dalam formula untuk penetapan jumlah anggota yang ideal. Oleh sebab itu. budaya sharing perlu dibangun. Disamping itu.

dan [5] secara konsisten dikelola berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance)(Gambar 16). [2] sinergi anggota mampu membangun kapasitas kolektif yang cukup (adequate collective capacity) untuk mencapai tujuan/sasaran bersama. 2011b) 116 Naskah Akademik Perubahan UU No. yaitu: [1] mempunyai tujuan/sasaran bersama yang jelas dan disepakati semua anggota (clear shared goal) serta sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan publik (demand-driven). [3] mempunyai strategi pelaksanaan yang tepat dan implementatif (implementable strategy). Model Konsorsium Inovasi (Lakitan.Gambar 15. 18 Tahun 2002 Keberhasilan suatu konsorsium ditentukan beberapa faktor. [4] dikoordinir oleh figur kepemimpinan yang kuat (strong leadership) . terutama pada fase awal. .

jika anggotanya mempunyai kompetensi inti yang beragam. . pola 117 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Tujuan dan target/sasaran bersama merupakan perekat utama antar-anggota dari sebuah konsorsium. sehingga dapat membangun sinergi yang secara kolektif akan menghasilkan konsorsium dengan kapasitas lebih besar dan dengan ragam kompetensi yang lebih banyak. tetapi secara kolektif sebuah konsorsium harus punya kemandirian untuk mencapai tujuan bersama. Konsorsium memang bertumpu pada inter-dependensi antar-anggota. apalagi multi-tujuan. Sebaiknya suatu konsorsium terbangun dari anggota dengan ‘core business’ yang berbeda atau mempunyai jenis kompetensi yang berbeda. akan mudah terancam bubar. dengan pentahapan yang logis. 2011b) Sejalan dengan ini. tetapi bersifat komplementatif satu dengan yang lainnya. seperti berbagai bentuk kolaborasi yang lainnya. sehingga dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien. Konsorsium dengan multi-sasaran. sistematis. serta berbasis pada kapasitas kolektif yang dimiliki. tetapi semua sub-target tersebut harus berada dalam lingkup payung target utamanya atau berada dalam satu klaster. sehingga mampu menjalankan misinya dengan lebih baik dan komprehensif. pendekatan konsorsium juga direkomendasikan oleh Malherbe dan Stanway (2010) sebagai bentuk kolaborasi yang tepat. maka sangat mungkin terjadi ‘sibling rivalry’ antar-anggota tersebut. Jika ada dua atau lebih anggota konsorsium dengan jenis kompetensi yang sama. Konsorsium. Kunci Sukses Konsorsium (Lakitan. Akan tetapi anggota suatu konsorsium dapat saja juga menjadi anggota konsorsium lain dengan tujuan/sasaran yang berbeda. Keberlanjutan integrasi dan viabilitas dari sebuah konsorsium selain bertumpu pada tujuan bersama yang jelas. perlu menyusun strategi operasional yang terencana dengan baik.Gambar 16. Target ini dapat saja terdiri dari beberapa sub-target.

karena tidak ada rasa saling membutuhkan yang kuat apabila kompetensi anggota konsorsiumnya sama. Pergantian ini seharusnya tidak mempengaruhi kinerja konsorsium secara drastis. Pada fase awal terbentuknya konsorsium. tidak cukup kuat faktor pendorong bagi anggota untuk berinteraksi secara lebih intensif. pada dasarnya merupakan bentuk ‘miniatur’ dari sistem inovasi. Dalam jangka panjang. yang butuh kontribusi dari berbagai kompetensi. Namun demikian. tentu akan perlu dilakukan pergantian pemimpin. setiap pemimpin memiliki style of leadership masing-masing. Kompetensi lembaga yang beragam sebagai anggota konsorsium juga membuka peluang untuk membangun kapasitas kolektif yang lebih besar dan komprehensif. Konsorsium sebagai wadah komunikasi dan interaksi antar-lembaga yang menjadi anggotanya. Konsorsium dapat memberikan manfaat antara lain: [1] meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya manusia. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya akan lebih maksimal jika konsorsium terdiri dari anggotaanggota dengan kompetensi yang beragam dan bersifat komplementer. Apabila proses komunikasi dan interaksi antar aktor inovasi yang bernaung dalam suatu konsorsium berfungsi sebagai ekosistem kondusif ini dapat dipertahankan selama kurun waktu yang lama.hubungan antar-anggota yang bersifat mutualistik. sebaliknya akan sedikit dampaknya jika kompetensi anggota relatif homogen. maka secara langsung juga akan penting kontribusinya dalam mengakselerasi upaya membangun 118 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi hanya akan merupakan proses scale-up (memperbesar volume output) saja. konsorsium dapat dipandang sebagai mikro-ekosistem yang kondusif untuk mengalirkan informasi kebutuhan dari pengguna ke pengembang teknologi dan sebaliknya aliran paket teknologi dari pengembang ke pengguna teknologi. peran figur yang kuat akan sangat krusial dalam rangka membangun ‘chemistry’ yang harmonis antar-anggota dengan keragaman latar belakang kompetensi dan budaya kerja. Tata kelola yang baik tentu harus dibangun berbasis pada prinsipprinsip good governance. Selain itu. atau lebih tepatnya koordinator konsorsium. akan lebih mampu untuk mengeksekusi aktivitas dengan lingkup yang lebih luas dan/atau tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. yang tidak mungkin dicapai masing-masing anggota secara individual. Selayaknya. sarana dan prasarana. Sebagai langkah antisipasi maka perlu disiapkan stabilisator yang ampuh. Dengan demikian. [3] meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi yang menjadi modal dasar untuk mewujudkan/memperkuat sistem inovasi. yakni berupa peraturan internal tentang tata kelola yang disepakati semua anggota. Apabila kompetensi anggotanya sama. jika terdapat anggotanya yang mewakili komunitas pengembang teknologi dan juga ada yang mewakili komunitas pengguna teknologi. serta biaya dalam upaya mencapai tujuan. Dalam konteks ini. maka yang terjadi bukan sinergi fungsional yang mutualistik. yang sangat mungkin akan berbeda satu sama lain. [2] membuka peluang untuk mendapatkan capaian yang lebih besar/signifikan. 18 Tahun 2002 . juga sangat membutuhkan figur pemimpin yang kuat dan secara de facto mampu mengelola konsorsium secara bijak. konsorsium memang dirancang untuk menjawab tantangan yang lebih berat. dan mungkin hanya dapat diselesaikan melalui paket solusi multi-dimensi yang komprehensif.

Namun demikian. Sedangkan penyesuaian komposisi anggota selain untuk menyeimbangkan antara perwakilan dari komunitas pengembang dengan pengguna teknologi. Selain itu. baik perguruan tinggi maupun lembaga litbang kementerian. ARN pada saat ini belum secara penuh diacu oleh lembaga-lembaga riset. tetapi akan melalui proses panjang.8. Budaya inovasi nasional tidak dapat dibangun secara instan. yakni Fase Pertama dilakukan segera selama periode 2009-2011 untuk diimplementasikan pada periode tugas selanjutnya (2012-2014). termasuk kemungkinan reposisi organisasi DRN untuk langsung bertanggung jawab kepada Presiden. yakni pada lingkup sebuah konsorsium. teknologi berwawasan ekologis (green technology). Fase Kedua diawali dengan penyesuaian produk regulasi untuk landasan bagi pembentukan DRN dengan tugas pokok dan fungsi yang lebih vital (revitalized DRN). Untuk meningkatkan peran dan kontribusi DRN tersebut. termasuk upaya meningkatkan kapasitas teknologi untuk pengelolaan sumberdaya kemaritiman. maupun lembaga pemerintah non-kementerian yang melaksanakan kegiatan riset. pengembangan industri. restrukturisasi lebih terarah pada upaya penyesuaian pembagian Komisi Teknis agar dapat mengakomodir perkembangan dan prioritas bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. terutama yang terkait langsung dengan tujuh bidang fokus pembangunan. namun demikian pada masing-masing komisi teknis tersebut perlu didukung oleh anggota-anggota yang akan mendalami tentang lima unsur strategis untuk penguatan inovasi nasional.budaya inovasi. maka perlu dilakukan revitalisasi lembaga DRN. Revitalisasi Dewan Riset Nasional Dewan Riset Nasional (DRN) merupakan lembaga non-struktural yang berfungsi memberikan masukan kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi terutama dalam menetapkan Agenda Riset Nasional (ARN). Proses panjang ini harus diawali dengan membangun budaya inovasi pada jenjang yang paling mikro. Secara realistis. masing-masing komisi teknis juga perlu memperhatikan cross-cutting issues. Revitalisasi dilakukan berbasis pada peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku dengan tanpa memerlukan revisi produk legislasi yang ada. revitalisasi DRN perlu dilakukan dalam dua fase. Saat ini DRN memiliki kewenangan yang terbatas dan dukungan sumberdaya yang juga belum memadai. 5. Komisi Teknis DRN mengikuti tujuh bidang fokus prioritas pembangunan iptek sesuai dengan RPJPN 2005-2025. Matrik bidang dan kompetensi anggota DRN yang diusulkan disajikan pada Tabel 8. ARN diharapkan menjadi petunjuk pelaksanaan arah dan prioritas kegiatan riset secara nasional.1. dan difokuskan pada upaya restrukturisasi dan penyesuaian komposisi keanggotaan. Pada Fase Pertama. yang memerlukan revisi peraturan perundang-undangan. difokuskan pada upaya membentuk DRN dengan peran yang lebih signifikan dan proyeksi kontribusi yang lebih nyata terhadap pembangunan iptek. sehingga peran dan kontribusi DRN secara nyata dalam pembangunan iptek masih belum optimal. juga diarahkan agar aktor-aktor utama dari sektor pembangunan (yang sesuai dengan pembagian komisi teknis DRN) dapat lebih efektif berperan. serta dengan terus mendukung pengembangan sains dasar dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. 119 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan mengurangi kemiskinan (pro-poor technology). 18 Tahun 2002 .

serta pengguna teknologi untuk tujuan nonkomersial lainnya.Anggota DRN yang diangkat berjumlah 50 orang. industri kecil dan menengah. asosiasi industri. lembaga riset swasta/industri. asosiasi industri untuk komisi teknis transportasi. yakni para pelaku produksi barang/jasa baik dari unsur masyarakat. dan pengguna langsung teknologi hankam (TNI dan Polri).  Anggota yang mewakili pihak yang memahami kebutuhan riset dan teknologi sesuai skenario penguatan inovasi nasional yang berorientasi demand-driven. yakni dari lembaga riset pemerintah. industri besar. dan lembaga pemerintah pengguna teknologi. Tabel 8. dan perguruan tinggi. KOMISI TEKNIS PENGUATAN SINAS 120 Naskah Akademik Perubahan UU No. sepatutnya dipilih dari unsur komunitas masyarakat. Misalnya dari wakil asosiasi petani untuk komisi teknis pangan.  Anggota yang mewakili unsur regulator dan pembuat kebijakan publik dapat ditunjuk dari para Kepala Badan Litbang Kementerian Teknis terkait sesuai dengan bidang fokus masing-masing. dengan formula sebagai berikut: Jumlah anggota DRN = 1 Ketua + 7 Komtek [ 5 Isu SINas + 2 Unsur Penguat ] Formula keanggotaan DRN ini dapat dirinci sebagai berikut:  Satu orang ketua yang lebih fokus sebagai pimpinan puncak yang tidak perlu terlibat langsung dalam kegiatan teknis pada tingkat komisi.  Anggota yang diyakini akan memahami kapasitas adopsi pengguna teknologi adalah para pengguna teknologi itu sendiri. yang sekaligus dapat ditetapkan sebagai Ketua Komisi Teknis. Pembagian komisi teknis DRN dan kompetensi anggotanya terkait upaya penguatan SINas. sehingga ketua ini dapat dipilih dari ‘prominent figure’ yang dengan ketokohannya dapat meningkatkan kewibawaan lembaga DRN dan sekaligus dapat memimpin anggota DRN secara efektif agar dapat berkinerja dengan baik. industri kreatif. . 18 Tahun 2002  Anggota yang harus mengawal relevansi teknologi sudah sepatutnya berasal dari komunitas pengembang teknologi. dan kementerian hankam untuk komisi teknis pertahanan dan keamanan.

tetapi sangat perlu terlibat secara langsung dalam pembahasan pada tingkat pleno sebagai penyampai aspirasi daerah yang diwakilinya. nelayan. serta jejaring lembaga iptek yang mantap dalam rangka menjamin pemutakhiran data iptek yang berkesinambungan. pendidikan nasional. dan pembudidaya ikan karena belum mengintegrasikan pemahaman dimensi sosial. banyak teknologi pangan yang tidak diadopsi petani. dan lembaga intermediasi non-pemerintah. ekonomi. peternak. sedangkan  Anggota DRN yang mewakili DRD Provinsi (ex officio) tidak harus dimasukkan secara tetap dalam komisi teknis. termasuk perwakilan dari kementerian terkait. dan kultural dalam pengembangan teknologi tersebut. perindustrian. [b] membangun kemampuan/kapasitas dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan teknologi di dalam negeri dan sekaligus juga menyediakan sistem 121 Naskah Akademik Perubahan UU No.Relevansi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kapasitas Adopsi Pengguna Teknologi Intermediasi & Penunjang Sistem Inovasi Regulasi dan Kebijakan Publik Kebutuhan Riset dan Teknologi Teknologi Pangan Teknologi Energi Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Transportasi Teknologi Pertahanan dan Keamanan Teknologi Kesehatan Teknologi Material Maju  Anggota yang mewakili lembaga intermediasi dan lembaga penunjang lainnya juga diyakini sangat krusial perannya untuk peningkatan kinerja DRN. perencanaan pembangunan nasional/Bappenas.  Dua anggota untuk penguat ditentukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing komisi teknis. misalnya komisi teknis pangan dapat menambah satu anggota dari pakar kemaritiman untuk mendukung isu strategis pembangunan ketahanan pangan dan satu anggota dari pakar ilmu sosial karena berdasarkan realita. Pada Fase Kedua. revitalisasi diharapkan mampu memposisikan DRN untuk melaksanakan tugas pokok yang mencakup: [a] membangun basis data iptek yang akurat dan komprehensif. 18 Tahun 2002 . sehingga sangat penting keterwakilannya dalam lembaga DRN. yakni kementerian keuangan.

Oleh sebab itu. Sebagai kompensasinya. yakni pengembangan teknologi harus lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang tengah dihadapi. dan [d] membantu mengawal investasi pemerintah untuk pembangunan iptek. telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 (PP No. [c] membangun kapasitas dan kewenangan untuk menetapkan prioritas riset nasional sesuai dengan kebutuhan ( demanddriven) dan berbasis potensi sumberdaya nasional. khususnya Pasal 28 ayat (3). sangat diperlukan upaya untuk menerbitkan regulasi baru atau sinkronisasi produk perundang-undangan yang telah ada dengan langkah aksi penguatan inovasi nasional yang akan ditempuh. Apabila UU No. Substansi pokok dari PP No. 35/2007 ini adalah memberikan kesempatan bagi badan usaha untuk mengalokasikan dana dalam rangka mendukung kegiatan inovasi nasional. Pengembangan. Peraturan perundang-undangan yang dilengkapi dengan pedoman teknis pelaksanaannya. Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi Semua aksi yang akan dilakukan dalam rangka mewujudkan penguatan inovasi nasional memerlukan dukungan regulasi dan/atau kebijakan yang tepat dan menyeluruh. sangat mungkin upaya untuk melengkapi undang-undang terkait dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih sesuai. agar secara konsisten fokus pada prioritas yang telah ditetapkan.1. 5. Secara operasional. Selanjutnya. badan usaha tersebut 122 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18/2002. oleh sebab itu secara umum UU No. Produk perundang-undangan yang menjadi basis legal untuk pengembangan SINas di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 (UU No. 18/2002 ini disusun dalam nuansa pengembangan iptek yang masih sangat dominan bersifat supply-push. 18/2002 ini masih belum sepenuhnya selaras dengan orientasi pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. kecenderungan global saat ini juga secara kentara telah menggeser orientasi pengembangan teknologi dari yang bersifat supply-push menjadi demand-driven. Walaupun banyak ragam terminologi yang digunakan. 35/2007) tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. namun esensinya sama. 18 Tahun 2002 . UU No. Selain itu. dan Difusi Teknologi (Lampiran 2). 18/2002) tentang Sistem Nasional Penelitian. atau dapat juga dilakukan amandemen/revisi terhadap produk hukum yang ada agar lebih sesuai dan/atau lengkap.9. Inovasi. Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas ini. untuk melaksanakan ketentuan UU No. diperlukan penyesuaian kembali produk-produk regulasi agar ekosistem yang kondisif bisa terbangun dan reposisi organisasi DRN dalam tata organisasi pemerintah. maka diperlukan upaya revisi atau melakukan amandemen terhadap undang-undang ini agar lebih selaras dengan upaya penguatan inovasi nasional yang lebih bersifat demand-driven. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lampiran 1).informasi perkembangan dan ketersediaan teknologi nasional. 18/2002 akan digunakan sebagai landasan legal utama untuk membangun inovasi nasional. agar semua regulasi yang diharapkan dapat diimplementasikan secara utuh. Beberapa pemahaman dasar terkait upaya penguatan inovasi dirasakan masih perlu disinkronisasikan ulang.

Upaya percepatan dan perluasan pembangunan dilakukan melalui penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi. Sebagai pelaksanaan dari pasal ini. Secara garis besar PP No. Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) telah mengagendakan untuk meninjau ulang peraturan perundang-undangan yang menjadi bottleneck pembangunan perekonomian Indonesia. 35/2007 menyatakan bahwa besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan. namun pelaksanaan peraturan ini sampai sekarang belum optimal. mengingat jika penguatan inovasi nasional dapat berlangsung secara produktif. Kekhawatiran yang berlebihan tentang kemungkinan penurunan penerimaan pendapatan pemerintah dari pajak dan kepabeanan akibat pemberlakuan kebijakan ini perlu dihilangkan. inovasi. 35/2007 ini dapat diimplementasikan adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur pedoman teknis untuk pemberian insentif tersebut. dinyatakan bahwa badan usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. menuju innovation-driven economy. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). inovasi. 18 Tahun 2002 . termasuk diantaranya implementasi PP No. kepabeanan. Arah yang akan ditempuh agar PP No. yakni belum adanya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan yang mengakomodisasi pemberian insentif sebagaimana diamanahkan dalam Pasal 6 ayat (2) PP No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan. 123 Naskah Akademik Perubahan UU No.mendapatkan insentif untuk mendukung kegiatan bisnisnya. terutama antara PP No. Secara jelas pada Pasal 6 ayat (1) PP No. dampaknya kegiatan produksi barang dan jasa juga akan meningkat dan penerimaan pajak juga akan ikut meningkat. Bantuan teknis ini. proses. Kementerian Riset dan Teknologi telah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. Pasal 6 ayat (3) PP No. 35/2007 dengan peraturan di bidang perpajakan dan kepabeanan. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. 35/2007 ini sangat ‘favorable’ bagi upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. Oleh karena itu. 35/2007 tersebut. Dengan dikeluarkannya peraturan ini. keberhasilan implementasi MP3EI antara lain ditentukan adanya penguatan inovasi di sektor usaha. sesuai Pasal 7 ayat (1) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. Selanjutnya pada ayat (2). 35 Tahun 2007 sejalan dengan Perpres No. Agar insentif bagi pelaku bisnis/industri untuk lebih terlibat dalam pembiayaan kegiatan riset dapat terlaksana. dan difusi teknologi. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. sekaligus peningkatan kemampuan perekayasaan. dinyatakan bahwa insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. Walaupun PP No. diharapkan akan mendorong kolaborasi riset. 35/2007. perlu dilakukan sinkronisasi dari sisi legal formal pendukungnya. 35/2007 ini. Hal ini disebabkan adanya ganjalan untuk implementasinya.

Selain itu untuk memperkuat insentif non fiskal. Lampiran 3). 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. Sumbangan dapat diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang (Pasal 5 ayat 1). dengan lembaga pengembang teknologi yang mendukung kebutuhan teknologi untuk industri. Secara teknis dan psikologis. Adanya PP No. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. Meskipun sumbangan ini ditujukan untuk kegiatan litbang. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan (Pasal 1 butir b). Sumbangan Fasilitas Pendidikan. 124 Naskah Akademik Perubahan UU No. namun setidaknya akan mencakup juga upaya untuk peningkatan kapasitas perekayasaan. 93/2010 ini mengatur bahwa sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak. berbeda dengan PP No.Namun demikian dalam pelaksanaannya. 93/2010 lebih berpeluang untuk diimplementasikan dibandingkan dengan PP No. termasuk sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. 35/2007. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. karena PP No. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 18 Tahun 2002 PP No. Saat ini telah dikeluarkan Peraturan Menteri Riset dan Teknologi No. Sumbangan Penelitian Dan Pengembangan. 93/2010. Dukungan regulasi ini diharapkan akan mengintensifkan interaksi dan komunikasi antara lembaga pengguna. baik karena teknologi yang dihasilkan oleh pengembang menjadi lebih relevan (karena pengembang menjadi lebih . Sumbangan Pembinaan Olahraga. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. 93/2010 merupakan turunan langsung dari UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (selanjutnya disingkat PP No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Interaksi yang lebih intensif diyakini akan berpengaruh langsung dan positif terhadap proses adopsi teknologi. diperlukan dukungan terutama dari lembaga litbang yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian untuk implementasi insentif bantuan teknis litbang. inovasi dan difusi teknologi. yakni Peraturan Pemerintah No. diperlukan dukungan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur kriteria teknis dan tata kelola dalam pemberian insentif riset di badan usaha. Upaya pemberian insentif kepada pihak pengguna teknologi (terutama industri) sekarang mempunyai landasan hukum lain yang baru. 35/2007 yang merupakan turunan UU No. Sumbangan Pembinaan Olahraga. sebagaimana kebijakan pemberian fasilitas insentif kepada badan usaha tentunya dapat lebih mendorong kegiatan litbang di badan usaha. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan sebagai pelaksanaan Pasal 7 ayat (3) PP No. Besarnya nilai sumbangan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya (Pasal 3). terutama industri. PP No. 35 Tahun 2007. Pengembangan.

memahami kebutuhan), juga karena peningkatan kapasitas adopsi dari pihak pengguna (karena meningkatkan pemahaman pengguna atas teknologi yang ditawarkan). Insentif non-finansial untuk mendorong kegiatan riset dalam negeri juga telah dilakukan, antara lain melalui Peraturan Menteri Perindustrian No. 11/M-IND/PER/3/2006 tentang kebijakan penetapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP). Selain itu, dengan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan, badan usaha dimungkinkan mendapatkan akses kapasitas litbang melalui penempatan tenaga ahli atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga litbang pemerintah. Regulasi dan kebijakan pemerintah diperlukan untuk mengawal implementasi penguatan inovasi dapat berjalan konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat; [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya, proporsional kontribusinya, dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya; dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam pengembangan dan implementasi SINas. Bentuk kebijakan pemerintah yang lain adalah untuk mendukung kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan, tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi, bukan atas usulan pihak pengguna. Dalam beberapa kasus, industri hanya pada posisi memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak harus dalam bentuk pembiayaan bersama, tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Akan tetapi yang selalu perlu diperhatikan adalah apapun bentuk atau format riset kolaborasi tersebut, ia akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti memang merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat, bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. Memahami bahwa keberhasilan perkuatan inovasi tidak hanya tergantung pada kinerja masingmasing aktor inovasi (lembaga pengembang dan pengguna teknologi, serta lembaga intermediasi), tetapi juga sangat tergantung pada berbagai pihak yang ikut mewujudkan ekosistem inovasi yang lebih kondusif, maka pengembangan legislasi sebagai bagian penting dari ekosistem SINas perlu mendapat perhatian serius. Perlu dilakukan telaah secara cermat terhadap semua produk hukum yang terkait dengan upaya penguatan inovasi, baik langsung maupun tidak langsung. Identifikasi untuk hal-hal yang perlu disinkronisasi, direvisi, atau bahkan perlu dicabut, serta untuk hal-hal yang masih perlu pengaturan secara legal formal.

125

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

5.1.10. Berbasis Sumberdaya dan Memenuhi Kebutuhan Nasional Untuk mewujudkan SINas Indonesia yang ‘workable’, harus secara seksama mempertimbangkan potensi sumberdaya nasional, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan infrastruktur ekonomi dan sosial, kemampuan permodalan domestik (plus modal asing secara selektif), dan kapasitas pengembangan teknologi saat ini. Selain itu juga perlu diselaraskan dengan peraturan perudang-undangan yang berlaku, kebijakan publik, budaya kerja, keragaman sosio kultural dan tradisi, serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia lainnya.28 Pilihan landasan sumberdaya dan budaya sendiri dalam membangun inovasi nasional akan membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berpartisipasi aktif. Perlu dipahami bahwa upaya memajukan bangsa tidak dapat dilakukan dengan memilih jalan pintas, dengan mengabaikan pentingnya fondasi yang kokoh agar pengembangan dan keberlanjutan inovasi lebih terjamin. Pembangunan nasional tidak hanya dilakukan untuk rakyat tetapi juga harus dilakukan bersama rakyat. Indonesia sering dikategorikan sebagai negara yang sangat kaya akan sumberdaya alamnya. Provokasi ini menyebabkan Indonesia terlalu mengandalkan kekayaan sumberdaya alam tersebut sebagai modal utama pembangunan nasional, seolah sumberdaya alam tersebut akan selalu tersedia selamanya. Eksploitasi sumberdaya alam yang tidak terkelola secara bijak dibarengi dengan pembangunan yang tidak terprogram dengan baik, telah membawa Indonesia pada kondisi saat ini: tetap menjadi negara berkembang dengan penguasaan dan penerapan teknologi yang terbatas. Indonesia terkena fenomena ‘resource curse’29 dimana kemajuan pembangunannya tak sebanding dengan nilai eksploitasi sumberdaya alamnya. Pengelolaan sumberdaya alam yang bijak bukan hanya terbatas pada penggunaan dana hasil eksploitasi yang diarahkan untuk peningkatan kualitas layanan publik dan investasi untuk infrastruktur sosial, tetapi juga perlu diarahkan untuk mendukung pengembangan teknologi yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produktivitas industri barang dan/atau jasa, sehingga memberikan nilai tambah bagi setiap produk nasional. Produk ekspor Indonesia tidak boleh selamanya dibiarkan hanya dalam bentuk komoditas bahan baku industri atau hanya sampai produk setengah-jadi (intermediate products). Produk ekspor Indonesia harus secara maksimal diupayakan sudah dalam bentuk akhir yang dibutuhkan konsumen (consumer goods). Indonesia adalah negara maritim, tak ada yang bisa memungkiri kenyataan ini. Telah sering didengungkan bahwa Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas. Berdasarkan Deklarasi Juanda 1957, wilayah laut NKRI adalah sekitar 3 juta kilometer persegi. Setelah diterimanya
28

29

Sebagai bandingan, negara maju seperti Jepang juga membangun SINas-nya di atas landasan ‘environment, culture, tradition, and national character’ bangsanya sendiri. Hasil kajian Komarulzaman dan Alisjahbana (2008) untuk kasus Indonesia menunjukkan bahwa “There appears to be resource curse when we estimate the resource rent in its three components. Forest, oil and gas sector rent have positive effect on regional economic growth. But the resource curse may occur if these resources revenues are not invested properly in public sector, either for the provision of public services or in public investment. Meanwhile, mining sector has persistently negative effect on regional economic growth. The existence of this curse will be lessened if the mining sector rent revenues are reinvested in public sector investment.”

126

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, wilayah laut NKRI bertambah luasnya dua kali lipat, menjadi sekitar 6 juta kilometer persegi. Hal yang perlu digarisbawahi, berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia mendapatkan hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil dari garis pangkal lurus Nusantara atau sampai ke batas ‘continental margin’ jika masih ada kelanjutan alamiah pulau-pulau Indonesia di dasar samudera. Masalah pokoknya, apakah setelah berhasil mengklaim teritori wilayah laut ini kita telah melakukan langkah-langkah konkret untuk mengelolanya, sebagaimana amanah konstitusi -UUD 1945 pasal 33 ayat (3)- bahwa kekayaan sumberdaya alam harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kekayaan alam yang terkandung dalam wilayah laut Indonesia juga belum diinventarisasi secara baik. Banyak potensi sumberdaya kelautan yang kita miliki, tetapi sesungguhnya belum mampu kita pahami nilai kemanfaatan ekonomi dan ekologinya. Lebih parah lagi, justru sebagian mungkin belum kita ketahui eksistensi keberadaannya di wilayah laut Nusantara. Ketidakmampuan tersebut terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi kelautan yang belum berkembang di Indonesia. Ironis memang, sebuah negara maritim seperti Indonesia tidak memprioritaskan pengembangan teknologi kelautan. Ketertinggalan dalam penguasaan teknologi kelautan tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Indonesia perlu segera meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi kelautan yang menjadi modal nasional untuk mampu mengelola sumberdaya dan wilayah laut Nusantara. Pengelolaan kelautan yang dimaksud adalah memanfaatkan kekayaan sumberdaya yang dimiliki untuk menyejahterakan rakyat yang diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutannya dengan mematuhi kaidahkaidah ekologis. Teknologi yang dikembangkan perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dengan kearifan ekologi. Ragam teknologi berasas keseimbangan ekonomi-ekologi yang perlu dikuasai mencakup: pertama, teknologi penangkapan ikan, budidaya ikan dan biota laut, serta teknologi pengolahannya; kedua, (bio)teknologi untuk memanfaatkan biodiversitas sebagai sumber bahan baku industri dan sumber tetua untuk program pemuliaan tanaman dan ikan atau biota laut lainnya; ketiga, teknologi eksplorasi dan eksploitasi migas, bahan tambang lainnya dan sumberdaya energi terbarukan; dan keempat, teknologi konservasi sumberdaya kelautan, yang dapat juga dilebarkan cakupannya pada potensi pengelolaannya untuk pariwisata bahari. Keunikan geografis dan kekayaan biodiversitas ekosistem laut Indonesia merupakan modal untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak asing. Modal alamiah ini perlu dilengkapi dengan modal kecerdasan intelektual, yakni penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi kelautan oleh pakar dalam negeri sangat krusial. Tanpa penguasaan teknologi ini, maka kita tidak akan pernah mengetahui secara tepat dan komprehensif tentang ‘apa’ dan ‘berapa banyak’ sumberdaya yang dimilikinya di wilayah laut. Ketidakpahaman ini jelas akan menempatkan Indonesia pada posisi yang lemah dalam setiap ‘dispute’ internasional di wilayah laut. Argumen yang baik tidak akan mampu dibangun di atas fondasi iptek yang rapuh. Diplomasi untuk memperjuangkan harkat martabat bangsa juga tak akan dapat dimenangkan jika tanpa amunisi pemahaman tentang potensi sumberdaya

127

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

[2] muatan kurikulum dan program studi yang ditawarkan. dan secara nyata memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat. Teknologi dibutuhkan untuk mengolah sumberdaya alam menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. dan pro-environment31 sudah sangat tepat. pro-poor. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa (BPS. Beberapa penyesuaian perlu segera dilakukan. Tentu saja potensi sumberdaya alam Indonesia tidak hanya di laut. diiringi dengan kebijakan ekonomi yang tepat. antara lain pada pidato berjudul ‘Pertumbuhan Harus Berkeadilan’ pada Pembukaan Pe rdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia. terutama pada jenjang pendidikan tinggi. 2010) merupakan kekuatan besar untuk membangun bangsa ini. Penyesuaian yang dirasakan perlu dilakukan adalah: [1] proporsi antara pendidikan akademik dengan pendidikan profesional. Kebijakan pro-growth. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu meningkatkan intensitas upayanya dalam meningkatkan relevansi pendidikan agar permasalahan pengangguran terdidik yang mulai meningkat signifikan selama dasawarsa 2000an ini tidak menjadi lebih buruk. Perlu digarisbawahi bahwa untuk penguasaan ketrampilan teknis tetap saja selalu membutuhkan pengetahuan dasar yang relevan. jika semua (atau paling tidak mayoritas) secara aktif ikut berpartisipasi. Sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan perediksi kebutuhan di masa yang akan datang. 3 Januari 2011. memacu pertumbuhan ekonomi. maka idealnya tiga persen dari Produk Domestik Bruto dialokasikan untuk pengembangan teknologi. yakni menyediakan dukungan pembiayaan yang memadai untuk pengembangan teknologi nasional30 dan juga mengawal pengembangan teknologi agar fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nyata. selama awalan ‘pro’ tersebut tidak sekedar bermakna keberpihakan dalam konteks pembangunan untuk rakyat. teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang relevan dan sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya. dan/atau sosial) tertentu saja. 18 Tahun 2002 . Indonesia sebagai negara maritim segera mulai secara sungguh-sungguh berupaya untuk meningkatkan penguasaan tekno-ekologinomi laut. perlu dilakukan pencermatan dua arah. 128 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi lebih dimaknai sebagai keberpihakan yang memberi peluang bagi seluruh rakyat untuk ikut berperan aktif membangun bangsa dan negara ini. Potensi sumberdaya lahan untuk mendukung produksi pertanian dan beragam bahan tambang (termasuk minyak dan gas walaupun mulai menipis) yang terkandung di dalamnya juga cukup penting untuk dikelola sebagai modal pembangunan perekonomian nasional. ekonomi. maka proporsi kapasitas tampung jenjang pendidikan tinggi perlu digeser dari dominan jenis pendidikan akademik (lebih mengutamakan pengkayaan pengetahuan) yang terjadi saat ini menjadi dominan pendidikan profesional (lebih mengutamakan ketrampilan teknis untuk menghadapi permasalahan nyata).seluruh wilayah Indonesia dan potensi manusianya. misalnya hanya dibebankan pada sekelompok elit (politik. pro-job. Jakarta. Pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi sumberdaya manusia. 30 31 Jika mengacu pada ‘Barcelona Target’. dan [3] tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. Sebaliknya dapat menjadi beban yang maha berat jika harus dipikul oleh sebagian kecil dari populasi tersebut. Namun demikian. Oleh sebab itu. ‘Four Track Strategy’ yang sering disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Faktor penyebabnya bisa dipilah menjadi: [1] penyelenggara pendidikan yang menawarkan program studi tersebut lebih besar kapasitasnya dibandingkan dengan kebutuhan dunia kerja. Pendidikan adalah untuk mencerdaskan bangsa. [2] keahlian yang dihasilkan dari program studi tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan dunia kerja. jelas bahwa nelayan juga perlu mendapat perhatian. Akibatnya kelembagaan pendidikan lebih berfungsi sebagai mesin produksi untuk menghasilkan penyandang gelar semata dan tidak menjadi pengemban amanah konstitusi untuk mencerdaskan bangsa. Dengan demikian. adalah jauh lebih baik menyediakan teknologi sederhana yang sesuai. dan ikan). Faktor penyebab [2] terkait dengan bidang keilmuan yang relatif statis perkembangannya dan kebutuhan keahliannya juga terbatas. Selanjutnya. atau [3] masih ada kebutuhan aktual dari dunia kerja tetapi imbalan (finansial) yang didapatkan dari jenis pekerjaan ini tidak kompetitif dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain. ternak. jika diniatkan pengembangan inovasi adalah untuk melibatkan mayoritas rakyat Indonesia sebagai pelaku pembangunan. Pencerdasan hanya dapat dicapai dengan pendidikan yang bermutu. sehingga pasar dunia kerjanya cepat menjadi jenuh. maka teknologi yang sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas pangan sudah sepatutnya diprioritaskan. karena sering mengakibatkan kelembagaan pendidikan pengorbankan kualitas untuk mengejar kuantitas. dan hasil hutan. Pendidikan formal rakyat Indonesia saat ini mayoritas masih relatif rendah. ternak. Oleh 129 Naskah Akademik Perubahan UU No. mencakup pangan asal tanaman. ikan. Faktor penyebab [1] terkait dengan kemudahan sarana dan prasarana penyelenggaraan pendidikan (juga berarti biaya operasional penyelenggaraan pendidikannya lebih mudah) sehingga banyak instutusi pendidikan (terutama swasta) yang ikut menyelenggarakannya. Akan tetapi. Inovasi adalah tentang mengkonversi ide menjadi uang. Pembiayaan untuk pengembangan teknologi harus diposisikan sebagai investasi bukan sebagai belanja rutin. Jika surplus tidak akan menjadi persoalan karena dengan mudah bisa diekspor karena permintaan pasar global semakin tinggi dengan pertambahan penduduk dunia. Kontribusi nyata tenaga terdidik terhadap pembangunan nasional hanya mungkin terjadi jika keahlian dan ketrampilan yang diasah adalah relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Pangan yang dimaksud adalah pangan dalam arti luas. yang dapat dikembangkan dan digunakan oleh masyarakat dan/atau IKM dalam proses produksi pangan untuk pemenuhan konsumsi 237 juta penduduk Indonesia. 18 Tahun 2002 . Program-program studi yang sudah kurang diminati perlu dievaluasi faktor penyebabnya.Penyesuaian muatan kurikulum dan program studi tidak perlu diartikan sebagai perubahan mendasar dari kurikulum dan program studi yang ada. misalnya pekerjaan di sektor pertanian. Tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang terlalu berkiblat pada produktivitas selayaknya ditinjau kembali. Teknologi yang dibutuhkan mungkin saja hanya merupakan teknologi sederhana. Penyesuaian tersebut lebih ditekankan pada upaya meningkatkan relevansi substansi materinya sehingga lebih padu dengan permasalah aktual. Pengembangan teknologi sederhana tetapi bermanfaat akan jauh lebih baik dari pada mengembangkan teknologi super-canggih yang hanya berakhir di ruang pajang. Dengan demikian. mayoritas rakyat bekerja disektor produksi pangan (tanaman. Faktor penyebab [3] karena bidang pekerjaan tersebut tidak menjanjikan secara ekonomi.

Penyesuaian terhadap tradisi. juga perlu dibarengi dengan mengundang pelaku bisnis dan industri untuk menularkan pengetahuan dan/atau ketrampilan di lingkungan akademis. budaya. Di 130 Naskah Akademik Perubahan UU No. maka mungkin tidak dapat menjadi acuan dalam pengembangan SINas. Kegiatan pemagangan (internship) telah dilakukan sejak lama di Indonesia. Potensi sosial budaya dapat dikategorikan sebagai potensi non-ekonomi ini umumnya bersifat ‘intangible’. pelaku bisnis/industri umumnya hanya diundang sesekali ke lingkungan akademis dalam rangka kegiatan spesifik tertentu. Teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsi mayoritas penduduk akan membuka peluang untuk berdampak lebih massal. banyak pula kearifan lokal yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan sistematis dan logis. sehingga dapat dilakukan pengembangan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensinya. relevansi menjadi isu pokok. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Perindustrian perlu meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksinya dengan pihak industri. memperbesar porsi sumberdaya manusia yang menjadi penggerak pembangunan dan sekaligus mengurangi porsi yang hanya menjadi beban pembanguan. selain potensi sumberdaya alam dan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas. Kearifan tradisional (tradisional wisdom) dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan sistem inovasi. jika pelaku bisnis/industri tersebut menjadi ‘mitra penuh’ dari tenaga pengajar di perguruan tinggi. Ide hibridisasi kegiatan pendidikan dengan aktivitas bisnis/industri memang bukan merupakan sesuatu yang baru. Karena sifatnya sering sangat spesifik dan lokal. Upaya mewujudkan inovasi nasional yang lebih produktif dan efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.sebab itu. dan nilai-nilai karakter bangsa lainnya merupakan faktor yang akan ikut mempengaruhi tingkat keberhasilan inovasi nasional. etika. serta memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan sekaligus pemerataan kesejahteraan. Sulit diukur secara kuantitatif dan divisualisasikan. Hal itu berbeda dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang jelas wujudnya dan dapat dikuantifikasi besaran potensinya. norma. namun probabilitas kebenarannya relatif tinggi dan sudah teruji. Selain pemagangan peserta didik di lingkungan kerja. Akan lebih intensif. walaupun unsur-unsur ini bersifat tak-berwujud dan sulit diukur secara objektif. Namun demikian dengan kecermatan akademis. Teknologi yang sesuai dengan potensi sumberdaya alam lokal/nasional akan lebih terjamin keberlanjutannya dan sekaligus dapat mewujudkan kemandirian bangsa. Hanya saja kualitas dan intensitasnya terus perlu ditingkatkan. 18 Tahun 2002 . tetapi jelas dampaknya dapat dirasakan. perlu mempertimbangkan potensi sosial masyarakat. Walaupun kadang sulit dijelaskan secara ilmiah. Saat ini. Padu silang pendidikan-bisnis ini perlu dilakukan secara dua arah. terutama untuk mata kuliah tertentu yang kental kaitannya dengan kebutuhan implementasinya di dunia kerja. Ukuran keberhasilan program pemagangan tergantung pada kualitas pembelajaran yang berlangsung selama peserta didik ditempatkan di lingkungan dunia kerja. Idealnya kegiatan ini dilandasi oleh asas saling membutuhkan dan saling menguntungkan atau bersifat mutualistik. Kearifan tradisional merupakan akumulasi pengetahuan selama periode yang panjang. tetapi sangat potensial diacu untuk membangun Sistem Inovasi Daerah (SIDa).

lembaga usaha. 18 Tahun 2002 ini sesuai dengan pemandangan umum fraksi-fraksi DPR terhadap urgensi sistem nasional penelitian. Pengembangan. maka penting dibuat Undang-Undang tentang iptek guna 131 Naskah Akademik Perubahan UU No. Menunjukan adanya komitmen yang lebih tegas dari pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang lebih komprehensif dalam membangun dan mengembangkan iptek. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk mempercepat pencapaian tujuan negara. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sistem Nasional Penelitian. Pengembangan. Menunjukan perlunya keterkaitan antara pengembangan iptek dengan upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia secara langsung dalam rangka memperoleh kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera. Negara Indonesia perlu segera memiliki suatu peraturan perundang-undangan yang komprehensif di bidang iptek. 2.era modern ini. 5. pengembangan.1. perlu juga secara sungguh-sungguh diintegrasikan ke dalam suatu formula kebijakan sebagai upaya membangun SINas. Tujuan diundangkannya UU No.2. Keharusan untuk mengembangkan iptek yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan melibatkan publik (adanya audit iptek). Urgensi Penguatan Inovasi UU No. Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. Pengembangan. Beberapa contoh di atas cukup untuk justifikasi tentang pentingnya dimensi sosial dalam mewujudkan inovasi nasional yang lebih komprehensif. 4. bisnis.2. lembaga pendidikan dan pemerintah untuk mengembangkan iptek secara optimal. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi DPR dalam Rapat Paripurna DPR-RI. tanggal 11 September 2001 terhadap RUU Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Menjadi landasan hukum yang kokoh dalam memberikan peluang dan kesempatan yang lebih luas pada masyarakat. 18 Tahun 2002 . lembaga riset dan teknologi. maupun masyarakat merupakan modal keberhasilan pengembangan suatu SINas. dan penerapan iptek menjadi undang-undang. 3. dan Penerapan Iptek adalah: 1. kualitas sosial budaya yang selaras dengan prinsip-prinsip good governance dalam penyelenggaraan atau pengelolaan lembaga pemerintah. 5. Oleh sebab itu. 18 Tahun 2002 5.

memberi landasan hukum bagi unsur-unsur pembentuk kemampuan Iptek serta sebagai koridor dan frame pengembangan Iptek di Tanah air kita. dan meningkatkan kontribusi iptek dalam aktivitas perekonomian dengan meningkatkan Total Factor Productivity (TFP). pengembangan dan penerapan iptek. UU No. Dalam Bab IV Buku II RPJM 2010-2014. peningkatan pemanfaatan teknologi dalam negeri masih diperlukan. selain mengurangi ketergantungan teknologi asing. perguruan tinggi. adanya tagline negara sebagai dasar penguatan SINas. dan jaringan iptek secara lebih effektif. produktivitas. beberapa kebijakan pemerintah juga menekankan perlunya penguatan inovasi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. kualitas. teknisi maupun SDM yang terlibat di dalam kegiatan litbang. sumber daya. kenyataannya upaya penguatan inovasi nasional yang dicirikan dengan interaksi elemenelemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang baik. Hal ini menjadikan hasil penelitian dan pengembangan belum didayagunakan sepenuhnya menjadi berbagai inovasi. sumberdaya. 18 Tahun 2002 pembangunan sistem inovasi nasional dilakukan melalui penelitian. yaitu penelitian. Selain itu. serta adanya sistem aliran pengetahuan dan mobilitas human capital antara perguruan tinggi dan lembaga riset dengan perguruan tinggi. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga idealnya menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal dalam pengembangan ekonomi yang berbasis pengetahuan. Selain itu lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu meningkatkan produktivitas penelitian dan pengembangan melalui pengembangan dan pemanfaatan kelembagaan iptek. serta perlunya konsensus nasional tentang SINas. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). program. Di Indonesia. Upaya-upaya tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kuantitas. 18 Tahun 2002 . dan sebagainya. Selain itu untuk mendukung penguatan inovasi nasional diperlukan efektifitas dan efisiensi regulasi dan sistem insentif yang mendukung inovasi nasional. menyebutkan untuk mencapainya diperlukan adanya insitusi yg kuat dari sisi legalitas dan otoritas. Menurut UU No. RPJM 2010-2014 menekankan adanya skema pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat inovasi nasional. Untuk itu. dan kesejahteraan peneliti. interaksi antara penghasil dan pengguna iptek. Sebagai upaya mencapai tujuan sebagaimana disebutkan dalam Bab IV Buku II RPJM 20102014. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 menekankan perlunya penguatan kelembagaan dari sisi penghasil iptek dan pengguna iptek. perekayasa. Hal ini tidak mudah karena Indonesia menghadapi berbagai kendala dan penghambat dari sisi kelembagaan. pengembangan iptek seharusnya tidak terpisahkan dalam input dan output ekonomi nasional. 18 Tahun 2002 diharapkan menjadi wadah untuk menampung dan menjadi alat pemecah kesulitan segala hal yang terkait dengan inovasi. Sedangkan di sisi industri. Kurangnya komunikasi dan interaksi antar elemen penghasil dan pengguna teknologi memberikan dampak terhadap penerapan berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil penghasil teknologi. 132 Naskah Akademik Perubahan UU No. Termasuk perlunya mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat. komunikasi dan interaksi yang intens antara lembaga penelitian. Oleh karena itu.

Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. menyebut strategi penguatan inovasi nasional dengan usulan inisiatif inovasi 1-747.2. lembaga riset dan teknologi. dan d. merekayasa inovasiinovasi di berbagai sektor. 18 Tahun 2002. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. dan sesuai kebutuhan dan kondisi. 5. 133 Naskah Akademik Perubahan UU No. b.Presiden Dr. setidaknya memuat materi kebijakan penguatan inovasi yang telah dirumuskan dalam Perpres No. Kementerian Riset dan Teknologi mengeluarkan Keputusan Menristek No. 18 Tahun 2002 Sejalan dengan pengertian SINas dalam Perpres No. difusi. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. 32 Tahun 2010. Menurut Perpres No. Peraturan perundang-undangan yang ada bahkan secara jelas menyebutkan pengertian dari SINas.2. Presiden menekankan agar penguatan inovasi nasional disesuaikan dengan corak yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk itu. dan pemanfaatan teknologi. di Serpong pada tanggal 20 Januari 2010 juga menekankan perlunya upaya-upaya untuk penguatan inovasi nasional. c. 32 Tahun 2011. produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. SINas adalah: “suatu jaringan rantai antara institusi publik. mendayagunakan. Menurut Keputusan Menristek No. mendukung. pengertian dasar berkaitan dengan SINas mencakup: . Upaya ini mencakup pengaturan kelembagaan secara lebih sistemik.” a. 18 Tahun 2002 Muatan rancangan undang-undang perubahan UU No. mendukung menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. Hal yang perlu dicatat dalam usulan ini adalah penguatan inovasi dapat dilakukan melalui tujuh langkah perbaikan ekosistemnya (Gambar 17). universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. dengan memperhatikan capaian jangka panjang untuk mendorong. kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. penguatan SINas agar didasarkan pada kemitraan pemerintah. 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. dan meningkatkan kolaborasi dengan dunia internasional. Tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi ini mencakup: 1) Sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. Perpres No. 246/M/Kp/IX/2011. pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan – baik pemerintah maupun swasta – yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. 32 Tahun 2011 dan Kepmenristek No. komunitas ilmuwan dan swasta. 246 /M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah.

7) Sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. Usulan Inisiatif Inovasi 1-747 (Perpres No. 5) Sistem remunerasi peneliti. 6) Revitalisasi infrastruktur R&D.2) Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. Tugas pemerintah yang paling krusial di sini adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung inovasi nasional yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. 3) Pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. Panggung yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa dalam upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif memerlukan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas. Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. 4) Pembangunan klaster inovasi daerah. 32/2011 ttg MP3EI) Kepmenristek No. 18 Tahun 2002 . Kinerja aktor-aktor 134 Naskah Akademik Perubahan UU No. Gambar 17.

Berbagai negara. terutama di sektor ristek. tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi pengguna teknologi. juga melihat populasi Indonesia yang besar. lebih dari 237 juta jiwa (BPS. Peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ inovasi.pelaku inovasi pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik). perindustrian. Nuansa pengembangan iptek yang masih bersifat supply-push. 18 Tahun 2002. 5) Regulasi dan kebijakan yang kondusif. 35 Tahun 2007 secara efektif dan utuh. baik berupa barang maupun jasa. 9) Revitalisasi peran Dewan Riset Nasional (DRN). perlu dilakukan perubahan terhadap UU No. 3) Peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi . 10) Sinkronisasi dan optimalisasi UU No 18 Tahun 2002 serta peraturan pelaksanaannya. sebagaimana telah diuraikan dalam kebijakan arah penguatan SINas. Kedua peraturan tersebut dapat dikatakan merupakan dasar kebijakan bagi upaya-upaya penguatan inovasi nasional. ketenagakerjaan. 18 Tahun 2002 . keuangan. Implementasi PP No. agar diubah agar selaras dengan orientasi 32 Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia. 8) Pembentukan konsorsium inovasi . 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial. pendidikan. 11) Pengembangan SINas harus berbasis sumberdaya nasional dan unt pemenuhan kebutuhan domestik.32 Oleh karena itu upaya strategi pengembangan dan penguatan inovasi agar ditekankan pada: 1) Pengembangan teknologi yang difokuskan untuk pemenuhan realita kebutuhan atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna teknologi. pada beberapa kesempatan. 6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang-intermediasi-pengguna teknologi. 2) Revitalisasi kapasitas lembaga pengembang teknologi . dan perdagangan agar para aktor inovasi dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik. 4) Optimalisasi peran lembaga intermediasi. 7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) untuk mendukung implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. Susilo Bambang Yudhoyono. Namun demikian. Kebijakan strategi penguatan inovasi melalui usulan inisiatif inovasi 1-747 maupun penentuan arah penguatan SINas untuk peningkatan kontribusi Iptek terhadap pembangunan nasional seharusnya telah dapat menjadi acuan untuk mendorong inovasi nasional. 135 Naskah Akademik Perubahan UU No.

• Pengembangan pusat inovasi untuk mendorong industri kecil dan menengah • Pengembangan klaster inovasi daerah • Revitalisasi infrastruktur R&D • Sistem dan manajemen pendanaan riset • Sistem remunerasi peneliti • Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia • Sistem insentif dan regulasi yang mendukung. Kebijakan Penguatan Inovasi Fokus Buku II RPJM 20102014. Serpong. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian.). produktivitas. Kecenderungan global saat ini juga lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang relevan dihadapi masyarakat. serta arahan Presiden RI. dlm Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masy Ilmiah. Komite Inovasi Nasional (KIN) • Mendorong inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. • Pengembangan SINas sesuai kebutuhan dan kondisi. kebijakan-kebijakan lain yang terkait adalah dokumen RPJM 2010-2014. secara garis besar menekankan pada empat hal. Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. yaitu: 136 Naskah Akademik Perubahan UU No. Bab IV Materi Pengaturan • Penguatan insitusi • Jakstranas sebagai konsensus nasional dalam upaya penguatan SINas. • Penguatan aliran pengetahuan dan mobilitas human capital. Tabel 9. Dokumen tersebut menekankan beberapa hal terkait dengan upaya penguatan inovasi nasional (Tabel 9. • Pengembangan kemitraan dan kolaborasi dengan dunia internasional. • Identifikasi dan penetapan sistem insentif yang mendukung SINas. pengembangan. • Pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat SINas. Selain dua kebijakan tersebut di atas.pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 • Penguatan interaksi penghasil dan pengguna iptek • Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam sektor industri • Mendorong investasi industri untuk litbang Iptek masih sangat terbatas • Mendorong produktivitas litbang • Meningkatkan kualitas. 18 Tahun 2002 • Mengurangi ketergantungan teknologi asing . dan Kebijakan Strategis Nasional Iptek 2010-2014. 20 Januari 2010. dan kesejahteraan SDM • Mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat Sambutan Presiden SBY. Dua kebijakan tersebut.

penguatan daya dukung iptek. 18 Tahun 2002. lembaga ristek. lembaga ristek. inovasi.invensi di bidang iptek • Pasal 9 ayat (2) – pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang • Pasal 13 ayat (4) – pengelolaan. pendayagunaan.). 7. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. pemanfaatan. dan pemanfaatan teknologi. difusi. penguatan jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek. rekayasa inovasi . pengembangan. 18 Tahun 2002 di atas. pendayagunaan. • Pasal 4 – penguatan daya dukung iptek • Pasal 6 ayat (2) – fungsi kelembagaan dalam penguasaan. dan swasta. Perubahan ini juga diarahkan untuk memperkuat usulan inisiatif inovasi 1-747. universitas. 18 Tahun 2002 . Tabel 9. dan difusi teknologi • Pasal 16 ayat (1) – alih teknologi kekayaan intelektual dan hasil litbang • Pasal 27 ayat (3) – dukungan dana bagi penguasaan. dan 8. rekayasa inovasi pengembangan. universitas. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. 18 Tahun 2002 Fokus UU No. pemanfaatan kekayaan intelektual dan 137 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan pemajuan iptek Peningkatan penerapan dan diseminasi hasil litbangrap (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yg mempunyai • Pasal 8 ayat (2) . Keempat hal tersebut di atas telah diatur dalam UU No.).pengembangan. dan pemanfaatan teknologi. pemanfaatan dan pemajuan iptek • Pasal 9 ayat (1) – fungsi badan usaha dalam perekayasaan.5. Pengaturan tersebut mencakup antara lain perlunya adanya keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu. 6. 18 Tahun 2002. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang. • Pasal 5 ayat (1) – keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu • Pasal 10 ayat (2) – peran lembaga penunjang dalam mendorong sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. dan swasta. serta penentuan arah penguatan SINas (Tabel 10. difusi. peningkatan hasil. Perubahan ketentuan UU No. Fokus Perubahan dalam UU No. dan badan usaha • Pasal 13 – jaringan informasi iptek • Pasal 15 ayat (1) – jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur kelembagaan iptek • Pasal 17 ayat (1) – kerjasama internasional • Pasal 28 ayat (2) – jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek Peningkatan hasil. Penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. tentunya agar diarahkan untuk mengakomodir upaya penguatan inovasi. lembaga litbang. dan penguatan audit teknologi (Tabel 9.

dan difusi teknologi. • Penambahan ayat unt penyebaran informasi hasil litbang dan kekayaan intelektual. dan sertifikasi keahlian. Pasal 13 • Ditambahkan ayat baru. UU No. yang menekankan penyusunan Jakstranas Iptek ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Ruang lingkup kegiatan inovasi adalah NKRI. untuk pemenfaatan hasil litbang. dan audit teknologi dan SNI Tabel 10. 18 Tahun 2002. persyaratan. Setelah Pasal 19 ditambahkan satu pasal. Setelah Pasal 17 ditambahkan mengenai pengaturan MTA Setelah Pasal 18 ditambahkan penekanan pada Jakstranas Iptek sebagai acuan pengembangan iptek. serta peningkatan pengelolaan kekayaan intelektual dan hasil litbang. Pasal Pasal 3 Usulan Perubahan Ditambahkan 2 ayat unt mengakomodir amandemen keempat UUD 1945 Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 6. Usulan Perubahan dalam UU No. mengenai perlunya menentukan standar. pemerintah/pemerintah daerah dimungkinkan memberikan stimulan dan fasilitas untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. Pasal 6 Pasal 9 Pasal 19 138 Naskah Akademik Perubahan UU No. perekayasaan. • Pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Pasal 12 • Ditambahkan 2 ayat. serta kode etik. inovasi. 18 Tahun 2002 . dan inovasi dalam negeri • Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 9.Fokus nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. Pasal 15 Pasal 17 Pasal 18 Penambahan pada ketentuan yang ada dg penekanan pada kemitraan. • Ketentuan ini diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. 18 Tahun 2002 hasil litbang Pasal 19 ayat (3) – penguatan tarikan pasar bagi hasil litbang.

139 Naskah Akademik Perubahan UU No. ataupun pemerintah. yang dihasilkan oleh pengembang dan diimplementasikan oleh pengguna dalam proses produksi barang/jasa sesuai kebutuhan konsumen atau permintaan pasar. Kecenderungan global saat ini dan kepentingan nasional dalam rangka menunaikan amanah konstitusi sebetulnya berjalan paralel dan menuju satu muara. aktivitas riset di masa yang akan datang perlu lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menyediakan solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi para pengguna teknologi. Eksistensi inovasi tidak secara langsung dapat dijamin oleh keberadaan lembaga pengembang teknologi yang maju dan lembaga pengguna teknologi dengan kapasitas produksi yang besar. Rangkuman Kepentingan nasional dan kecenderungan global membutuhkan perubahan yang mendasar tentang arah pembangunan iptek. masyarakat. Dari sisi lain. Dengan demikian. terutama pasar domestik.1. karena yang akan menentukan adalah kualitas interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut yang dibuktikan dengan terjadinya: [1] aliran informasi kebutuhan dan/atau persoalan teknologis yang dihadapi oleh para pengguna yang sampai ke pengembang teknologi. Arah pembangunan iptek perlu diupayakan menuju peningkatan kontribusi teknologi terhadap pembangunan berbagai sektor. konstitusi Indonesia juga secara jelas dan tegas mengamanahkan bahwa pembangunan iptek ditujukan untuk meningkatkan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. dan [2] aliran teknologi yang relevan dan sesuai kapasitas adopsi pengguna. Dalam konteks ini. tentu dimaksudkan bahwa pengembangan teknologi harus diarahkan untuk menyejahterakan rakyat dan peningkatan peradaban bangsa Indonesia. terutama sektorsektor perekonomian. baik industri. 18 Tahun 2002 . yakni mewujudkan inovasi nasional yang lebih efektif dan produktif.Bab 6 Rangkuman dan Rekomendasi 6.

Mantab dalam makna mendapat dukungan dari berbagai regulasi dan kebijakan dari sektor-sektor yang terkait langsung dan berpengaruh nyata terhadap proses mewujudkan dan perkuatan inovasi nasional. diperlukan upaya pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) pada seluruh koridor pembangunan perekonomian nasional. Fasilitasi pemerintah untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi dapat juga dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor-aktor inovasi tersebut untuk berinteraksi dalam satu kawasan. Untuk kondisi Indonesia. termasuk regulasi dan kebijakan riset dan teknologi. Ide ini diimplementasikan dengan membangun Science and Technology Park (STP). Pembentukan unit kerja dalam struktur organisasi lembaga pengguna dan/atau peningkatan aktivitas in-house research pada lembaga pengguna terbukti dapat mendorong peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. disarankan dinamakan sebagai ‘Indonesian InnoPark’. Interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi membutuhkan ‘panggung’ yang yang mantab dan nyaman. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. pendidikan. Gabungan antara STP dan IP ini akan dapat menjadi model SINas Indonesia yang handal. Pengembang dan pengguna teknologi sebagai aktor utama dalam penguatan inovasi nasional sering masih membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan kebijakan yang memotivasi dan berkesesuaian. mitra kerja potensial. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi perlu diimbangi dengan upaya peningkatan kapasitas adopsi teknologi pada lembaga pengguna. Upaya ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kompetensi sumberdaya manusia pada lembaga pengguna (industri dan pemerintah) atau pengguna individual dalam masyarakat. tetapi juga dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk mengakses infromasi. 18 Tahun 2002 . Revitalisasi lembaga pengembang teknologi ini diarahkan agar lembaga ini tidak hanya handal dalam mendukung aktivitas riset dan pengembangan (R&D capacity) semata. maka perlu dilakukan refocusing agar kapasitas tersebut dapat diarahkan sesuai dengan prioritas untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna.Dalam rangka mendayagunakan secara optimal kapasitas lembaga pengembang teknologi yang sudah baik. Nyaman dalam pengertian kebijakan-kebijakan sektoral tersebut bermuara pada kondisi ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi. keuangan. dan perdagangan. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. kawasan Puspiptek Serpong sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. perindustrian. dan sumber pembiayaan eksternal (sourcing capacity) serta kapasitasnya dalam mendifusikan hasil riset dan teknologi kepada pengguna potensialnya (disseminating capacity). yang masing-masing fokus pada isu-isu ekonomi strategis sesuai dengan potensi 140 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta juga peran intermediasi dan fasilitasi agar interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut dapat lebih diintensifkan. Sejalan dengan pengembangan MP3EI. ketenagakerjaan. Untuk peran intermediasi dapat juga dimainkan oleh lembaga non-pemerintah.

18 Tahun 2002 dan PP No. diperbaiki. dan martabat bangsa Indonesia. maka beberapa butir rekomendasi yang dapat disampaikan adalah: (1) Pengembangan teknologi Indonesia perlu difokuskan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna 141 Naskah Akademik Perubahan UU No. Orientasi pengembangan inovasi nasional yang berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. Dalam konteks penguatan inovasi nasional. serta koordinasi antara lembaga pengembang teknologi. atau bahkan dilengkapi sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. termasuk pelaksanaan UU No. maka sangat mungkin pada masing-masing koridor dikembangkan beberapa pusat unggulan sesuai dengan realita kebutuhannya. Semua langkah-langkah yang akan ditempuh dalam rangka mewujudkan atau perkuatan inovasi nasional yang telah diuraikan di atas tetap secara konsisten berbasis pada potensi sumberdaya nasional. industri. Regulasi dan kebijakan yang ada saat ini dirasakan masih perlu disinkronisasikan. Kemungkinan penerbitan Undang-Undang Sistem Inovasi Nasional juga merupakan salah satu alternatif yang perlu diekplorasi lebih lanjut. manusia.ekonomi masing-masing wilayah koridor. termasuk permintaan pasar domestik. merekomendasikan arah dan prioritas riset nasional. maka keanggotaan DRN perlu disesuaikan agar secara seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. dan dapat juga jika dianggap strategis melibatkan lembaga penunjang tertentu. Alternatif lain yang dapat didorong adalah membangun konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dari anggota konsorsium. Kemungkinan untuk reposisi DRN juga perlu mendapat pertimbangan agar peran koordinasi lebih efektif dapat dilaksanakan. dan pemerintah sebagai pengguna teknologi. 18 Tahun 2002 . dan konsisi sosio-kultural serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. harkat. Rekomendasi Berdasarkan telaah yang telah dilakukan secara komprehensif ini.2. terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan iptek. 6. dan untuk menyediakan solusi teknologi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. Dewan Riset Nasional (DRN) sebagai lembaga non-struktural yang terkait langsung dengan upaya membangun inovasi nasional perlu lebih dioptimalkan perannya. Memahami bahwa satu koridor ekonomi masih dapat dijumpai keragaman potensi ekonominya. Untuk revitalisasi peran DRN ini. yang terkait langsung dengan upaya mencapai sasaran bersama yang telah disepakati. termasuk sumberdaya alam. 35 Tahun 2007. lembaga intermediasi. Selanjutnya langkah ini juga harus fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nasional. anggota konsorsium merupakan representasi dari pengembang teknologi. pengguna teknologi. serta dari unsur pemerintah.

termasuk masyarakat. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Kemungkinan reposisi DRN juga perlu dipertimbangkan agar peran koordinasi DRN menjadi lebih efektif. (3) Kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi perlu ditingkatkan agar proses difusi teknologi dalam rangka mewujudkan inovasi nasional dapat lebih berpeluang untuk terlaksana. keuangan. yakni meningkatkan kontribusi teknologi terhadap percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. perindustrian. (2) Kapasitas lembaga pengembang teknologi perlu direvitalisasi agar mempunyai tiga kapasitas yang dibutuhkan dalam menopang penguatan inovasi nasional. (5) Pemerintah menyiapkan ‘panggung’ bagi para aktor inovasi agar dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. (4) Peran lembaga intermediasi perlu lebih dioptimalkan sehingga interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi dapat lebih intensif dan produktif. dengan demikian maka upaya penguatan inovasi dapat mengalami akselerasi. (10) UU No. dimana kawasan Puspiptek Serpong dapat diprioritaskan untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta turunannya PP No. dan lembaga pemerintah sesuai dengan konsepsi penguatan SINas. melalui pemberlakukan regulasi dan kebijakan yang kondusif. (8) Pembentukan konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dan memiliki nilai strategis nasional perlu didorong karena akan menjadi vehicle yang efektif sebagai model implementasi SINas. dan kapasitas difusinya. yakni kapasitas riset dan pengembangan. kapasitas sourcing. Peran lembaga intermediasi perlu diperluas sehingga tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi para pengguna teknologi.teknologi. dan perdagangan. industri. Partisipasi pihak non-pemerintah perlu dirangsang untuk berperan dalam intermediasi ini. Pengembangan. ketenagakerjaan. terutama di sektor riset dan teknologi. (7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) perlu segera diinisiasi dalam rangka memberikan dukungan terhadap implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. serta dari unsur pemerintah. sehingga teknologi dapat secara nyata berkontribusi terhadap pembangunan nasional. 18 Tahun 2002 . pendidikan. (9) Peran Dewan Riset Nasional (DRN) perlu direvitalisasi. antara lain melalui perbaikan komposisi keanggotaannya agar secara lebih seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. 35 Tahun 2007 142 Naskah Akademik Perubahan UU No. (6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) perlu disegerakan agar tersedia wahana untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi.

atau bahkan dilengkapi dengan produk turunannya sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. 18 Tahun 2002 . Inovasi. harkat. diperbaiki. 143 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Difusi Teknologi perlu disinkronisasikan. (11) Orientasi pengembangan inovasi nasional harus berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian.tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan martabat bangsa Indonesia.

R. Firdausy. Soete. 1996. Jadikan Iptek sebagai HAM. And L. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Hasta. Jakarta. 2005. Nelson.Referensi Abramovitz. Geographies of Production: growth regimes in spatial perspective – innovation. and E. 1995. P. Developing science. Iptek sebagai Keharusan untuk Pertumbuhan Ekonomi. London. Technology and Economic Performance: lessons from Japan. 2008. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Convergence of Productivity: Crossnational studies and historical evidence. 2008. Oxford University Press. Dalam: Kadiman. Asheim. Ipswich. 2009. Trends and Patterns in Strategic Technology Partnering since the Early Seventies. P. In: W. Review of Industrial Organization 11:601-616 Haryoto. H. Research Policy 38:583–589 Gerschenkron. B. Pinter. Economic Backwardness in Historical Perspective. Baumol.N. Assessing the Distributional Power of National Innovation System: pilot study of the Netherland. 1987. and L. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Freeman. Foresight. Knowledge bases and regional innovation systems: comparing Nordic clusters. National Innovation Systems. Jakarta. S. Netherland. Research Policy 38:1505–1516 BPS.R. Cambridge (USA). Fagerberg. C. Establishing Standards for Social Infrastructure. Gramedia Pustaka Utama. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Gramedia Pustaka Utama. and M. Catch-up and convergence in the postwar growth boom and after. Haagedoorn. 2009. Research Policy 34(8):1173-1190 Bathelt. Research Policy 37:1417-1435 Firdausy. Membangun Iptek yang Memihak Rakyat. 2009. Apeldoorn. Jakarta Casey. E. Regulasi/Deregulasi. Jakarta. The Belknap Press. 1962. C. Capabilities and Economic Development. 2009b. Hertog. institutions.M. J.J. 18 Tahun 2002 . 2003. Jakarta. M. Coenen. Statistik Indonesia. 2009a. 144 Naskah Akademik Perubahan UU No. 2010. Center for Technology and Policy Studies. Gramedia Pustaka Utama. Oxford (UK). Badan Pusat Statistik. technology and innovation indicators: What we can learn from the past. Wolf (eds). L. C. A. Government centrality to university–industry interactions: University research centers and the industry involvement of academic researchers. C.T. Freeman. J. Srholec. 2005. University Of Queensland. 1994.C. Progress in Human geography 27(6):763778 Boardman. and social systems.M.

Katz. Universitas Sahid Jakarta. serta kendala. Keynote speech pada Seminar Revitalisasi Kelembagaan Litbang. B. Lakitan. R. Jakarta. Total Factor Productivity and the Measurement of Technological Change. K. Comparing innovation system: a framework and applications to China’s transitional context. 2006. Systemic Bibliometric Indicators for the Knowledge-based Economy. A. 2010. and S. Triple Helix indicators of knowledge-based innovation systems: Introduction to the special issue. Revitalisasi (Reformasi) Lembaga Litbang untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. National System Innovation: towards a theory of innovation and interactive learning. E. Banjarbaru. technology and innovation: Translating rationales into regional policies in a multi-level setting. Research Policy 30(7):1091-1114 Loikkanen. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Bandung. D. Simfoni Inovasi: cita dan realita.G. Pinter. 2009. B.. 2008. Foresight. Carlaw. Seminar Nasional Revitalisasi Lembaga Litbang. T. 2011b. 2010. Ibrahim. H. 2008. Hidayat. Makalah pengarahan pada Temu Peneliti Badan Litbang dan Diklat VIII Kementerian Agama. T. Gramedia Pustaka Utama. 23 November 2010. And S. Research Policy 35:1441–1449 Lipsey. Dalam: Kadiman. 23 November 2010. Revitalisasi Kelembagaan Riset dan Pengembangan untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. White. Research Policy 37:823-835 Leydesdorff. Jakarta. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Jakarta. D. Lakitan. Lakitan. Testing the Natural Resource Curse Hypothesis in Indonesia: Evidence at the Regional Level. Komarulzaman. Indikator Kinerja Lembaga Litbang di Era Informasi Terbuka. K. 1992. Pellinen.. Membangun Relasi Akademisi-Bisnis-Pemerintah. B. Jakarta. and Armida S. Policies for science. peluang. Universitas Padjadjaran. 23 Juni 2011. Working Paper in Economics and Development Studies No. Foresight. 200602. 19-21 June. Alisjahbana. dan M.D. and K. 12-15 April 2011. Technological Forecasting & Social Change 76:1177–1186 Lundvall. X. B. Perencanaan Lintas-Sektor. dan potensi. Paris. 145 Naskah Akademik Perubahan UU No. Paper presented at the OECD Workshop on New Indicators for the Knowledge-based Economy. 2009. 1996. Kadiman. 18 Tahun 2002 . 2006. The role of the technology barometer in assessing the performance of the national innovation system. Ahlqvist and. Meyer.I. and K. London.Hicks. L. 2001. P. Laranja. Makassar. Universitas Lambung Mangkurat. Flanagan. M. 2004. Uyarra. Canadian Journal of Economics 37(4):1118-1150 Liu. Universitas Sahid. Membangun Agroindustri dan Mewujudkan Sistem Inovasi: agar teknologi berkontribusi pada kesejahteraan rakyat. Kadiman. 2008. Keynote speech pada Seminar dan Lokakarya Nasional Pengembangan Agroindustri Kalimantan Selatan: prospek.A. 2011a.

The Knowledge-Based Economy. Third edition. 18 Tahun 2002 . Paris. Stoneman (ed). Strategic Priorities for Science. Handbook of the Economic of Innovation and Technological Change. Science and Technology. Sri. Ministry of Education. New York. Jakarta. Organisation for Economic Co-Operation and Development. H. Tokyo. 2009. Panigoro. Organisation for Economic Cooperation and Development. Teknologi dan Tanggung Jawab Sosial. Technology. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 1996. Sixth edition. Prihandana. 2008. Metcalfe. Stanway. Dalam: Kadiman. LIPI Press: Jakarta Nelson. OECD. 2002. MEXT. Corporate Innovation at Work: Defining the innovation consortium. Paper presented at the Eurostat Conference on Innovation Measurement and Policies. R. Virtual Consulting International Ltd. Jakarta. Foresight. OECD. Pavitt. Malherbe G. and Innovation Policy. Jakarta. 2008. and K. Foresight. 1997. Analisis Undang-undang No. Sport.. Patel. Pengembangan. Paris OECD. National Innovation System: a comparative analysis. Industry Studies of Innovation Using CIS Data: computer and office machinery. 1995. OECD.. White. P. Cooperation and Development. The Economic Foundations of Technology Policy: equilibrium and evolutionary perspective. Foresight. Science Technology and Innovation Review No. OECD. Frascati Manual: The Proposed Standard Practice for Surveys of Research and Experimental Development. Dalam: Kadiman. 2008b. European Journal of Operational Research 207:1147–1161 Mulatsih. Culture. 1993. dan Prakoso Bhairawa Putera. bukan Pabrik. Organisation for Economic Oey-Gardiner. Innovation Strategies: scoping document. 2005. 2008a. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2010. OECD. Oxford. Organisation for Economic Co-Operation and Development. M. R. Organisation for Economic Cooperation and Development. S.14. Industri. 2010. Dalam: Kadiman. and G. Blackwell Publishers. Organisation for Economic Cooperation and Development. France. A review of the recent contribution of systems thinking to operational research and management science. 2002. Paris. Mingers. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Oxford University Press. The Nature and Economic Importance of National Innovation Systems. In: P. J. 146 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). France. Paris. Annual Report on the Promotion of Science and Technology. France. 2008. Paris. Paris. France. Paris OECD. Simfoni Inovasi: cita dan realita.Malerba. 1996. And L. F. Konsistensi Regulasi. National Innovation Systems. 1994. Oxford. Oslo Manual: guidelines for collecting and interpreting innovation data.

Simfoni Inovasi: cita dan realita. Geneva World Bank. Peran Intermediasi dalam Membangun Kolaborasi Lembaga Litbang dan Industri. Washington DC 147 Naskah Akademik Perubahan UU No.Rosenberg. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2009. World Investment Prospects Survey 2008-2011. Jakarta. The influences of technology development on economic performance—The example of ASEAN countries. Dalam: Kadiman. Research Policy 23(3):323-348 Santoso.R. Governance of Innovation Systems in the Current Global Setting. N. World Economic Forum. United Nations Conference on Trade and Development. The Theory of Economic Development. Thee Kian Wie. Chien. Bahan Ceramah di LIPI. Gramedia Pustaka Utama. Schumpeter. Foresight. J. 2010. 2008. UNCTAD. Nelson. 2008. 18 Tahun 2002 Warsono. Foresight. Dalam: Kadiman. 1994. 2008. Embargo sebagai Pemicu. Sharif. Dalam: Kadiman. Setiawan. American Universities and Technical Advance in Industry. 2009. S. The Global Competitiveness Report 2010-2011. Setiawan. 2007. Nalar Ekonomi versus Nalar Teknologi. Harvard University Press. Technovation 27:471–488 WEF. I. Gramedia Pustaka Utama. 1934. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Cambridge. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Jakarta. Inovasi untuk Pemberdayaan Industri. Innovation Policy: a guide for developing countries. B. Dalam: Kadiman. 2010. Jakarta. 2010. and R. New York Wang. Foresight. . B. Jakarta. Jakarta.Y. S. The World Bank. Foresight. dan S. 2009. Kesinambungan Milestone. T. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Jakarta Suhardi. 2008. Jakarta. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Peran Badan Intermediasi.C.Y.

6. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. Serpong. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 8. 2. 18 Tahun 2002 7. 5. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional Untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Pembangunan Nasional 9. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan Difusi Teknologi.Lampiran Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Nasional 1. dalam Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. dan Penerapan Ilmu Pengetahun dan Teknologi. Sambutan Presiden Dr. 4. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sumbangan Pembinaan Olahraga. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 193/M/Kp/IV/2010 tentang Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek 2010. 20 Januari 2010. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional (KIN). Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. Soesilo Bambang Yudhoyono. . 3.2014. Inovasi. 148 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan.

dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada butir a. dan bernegara di Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pencapaian tujuan negara sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Dengan persetujuan : DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan bermasyarakat. bahwa penumbuhkembangan sistem nasional penelitian. b. Pengembangan. memajukan kesejahteraan umum. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). c. terakhir dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. pemanfaatan. PENGEMBANGAN.Lampiran 1. pemanfaatan. bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk kepentingan umat manusia yang dalam pengelolaan dan pendayagunaannya diperlukan penguasaan. ayat (2). ayat (4). yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. bahwa untuk menumbuhkembangkan penguasaan. Undang. bahwa penguasaan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengandung dan membentuk keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. PENGEMBANGAN. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tugas dan tanggung jawab negara.Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah. serta jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh di lingkungan Negara Republik Indonesia. b. dan menyerasikan tata kehidupan manusia beserta kelestarian fungsi lingkungan hidupnya berdasarkan Pancasila. sumber daya. berbangsa. d. 18 Tahun 2002 . diperlukan sistem nasional penelitian. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI. e. pengembangan. pemanfaatan. pengembangan. dan d perlu dibentuk Undang-Undang tentang Sistem Nasional Penelitian. serta mencerdaskan kehidupan bangsa. c. 149 Naskah Akademik Perubahan UU No. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

dan/atau ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam kegiatan perekayasaan. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. sosial budaya. disusun. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. atau orang. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. 18 Tahun 2002 5. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis adalah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keterkaitan yang luas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh. 4. atau menghasilkan teknologi baru. Teknologi adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. kemajuan bangsa. badan. manfaat. atau berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. pengembangan. serta difusi teknologi. 8. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk desain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. 2. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat dipergunakan untuk menyempurnakan atau memperbarui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. 150 Naskah Akademik Perubahan UU No. . 6. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. pengembangan. fungsional. kualitatif. 11. pelestarian fungsi lingkungan hidup. inovasi. Penerapan adalah pemanfaatan hasil penelitian. baik yang berada di lingkungan dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya. 9.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Inovasi adalah kegiatan penelitian. produk. kelangsungan. baik yang bersifat kuantitatif. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. bisnis. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. 7. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. 10. data. Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. dan estetika.

Pengembangan. DAN JARINGAN Bagian Pertama Fungsi Pasal 5 (1) Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 BAB II ASAS DAN TUJUAN . sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas kebebasan berpikir. yang dijamin oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika profesi dalam masyarakat. Pasal 4 Sistem Nasional Penelitian. Menteri adalah menteri yang membidangi penelitian. 17. Pasal 3 Sistem Nasional Penelitian. 16. asas kesisteman dan percepatan. asas tanggung jawab negara. 18. selanjutnya disebut Pemerintah. Organisasi profesi adalah wadah masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. pemanfaatan. asas kebebasan akademis. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. SUMBER DAYA. dan tanggung jawab akademis. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan. atau suatu bidang kegiatan profesi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dikembangkan berdasarkan asas iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. serta asas tanggung jawab akademis. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Pemerintah pusat. Pengembangan. asas kebenaran ilmiah. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan memperkuat daya dukung ilmu pengetahuan dan teknologi bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. pengembangan. 151 Naskah Akademik Perubahan UU No. 15. 13. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Badan usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hak kekayaan intelektual yang selanjutnya disebut HKI adalah hak memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang-undangan. KELEMBAGAAN. BAB III FUNGSI.12. kebebasan akademis. 14. Pengembangan. Pasal 2 Pengertian peristilahan dalam Pasal 1 yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berpikir. Lembaga penelitian dan pengembangan yang selanjutnya disebut lembaga litbang adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan penelitian dan/atau pengembangan.

dan organisasi masyarakat. serta pengabdian pada masyarakat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. perguruan tinggi bertanggung jawab meningkatkan kemampuan pendidikan dan pengajaran. Pasal 10 (1) Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. pemanfaatan. Pengembangan. Pengembangan. inovasi. lembaga litbang. unsur sumber daya. Pengembangan. daya manusia. mengorganisasikan pembentukan sumber perekayasaan. pemanfaatan. membentuk iklim dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. badan usaha bertanggung jawab mengusahakan pendayagunaan manfaat keluaran yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. . dan unsur jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi. lembaga litbang bertanggung jawab mencari berbagai invensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menggali potensi pendayagunaannya. 18 Tahun 2002 (1) Lembaga litbang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. pengembangan. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi. dan lembaga penunjang. atau bagian dari organisasi pemerintah. inovasi. b. dan difusi teknologi. pemerintah daerah. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 8 (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Bagian Kedua Kelembagaan Pasal 6 (1) Kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. dan difusi teknologi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomis. penelitian. (2) Kelembagaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi : a. (3) Lembaga litbang dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. Pasal 7 (1) Perguruan tinggi sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. Pengembangan. 152 Naskah Akademik Perubahan UU No.(2) Unsur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas unsur kelembagaan. badan usaha. Pasal 9 (1) Badan usaha sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. lembaga penunjang. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan perekayasaan. penelitian dan pengembangan. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). badan usaha. perguruan tinggi.

lembaga litbang. Pasal 12 (1) Dalam meningkatkan keahlian. pusat peragaan. perekayasaan. serta menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil di lingkungannya sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemerintah daerah. kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih 153 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan. kepakaran. Pasal 14 Pemerintah. pengembangan. serta kode etik profesi. dan badan usaha. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi lain untuk memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan masyarakat. dan/atau badan usaha dapat membangun kawasan. Bagian Ketiga Sumber Daya Pasal 11 (1) Sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas keahlian. setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab mengembangkan struktur dan strata keahlian. dan badan usaha yang melaksanakannya. Bagian Keempat Jaringan Pasal 15 (1) Jaringan Sistem Nasional Penelitian. Pasal 13 (2) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan penyebaran informasi hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan serta kekayaan yang dimiliki selama tidak mengurangi kepentingan perlindungan kekayaan intelektual. (2) Setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab meningkatkan secara terus menerus daya guna dan nilai guna sumber daya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). serta kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. . (2) Untuk menjamin tanggung jawab dan akuntabilitas profesionalisme. (4) Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. (3) Dalam meningkatkan pengelolaan kekayaan intelektual. lembaga litbang. persyaratan. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah mendorong kerja sama antara semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan jaringan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. kekayaan intelektual dan informasi. jenjang karier sumber daya manusia. lembaga penunjang bertanggung jawab mengatasi permasalahan atau kesenjangan yang menghambat sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. dan sertifikasi keahlian. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan pembentukan sentra HKI sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. kepakaran. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi.(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). organisasi profesi wajib menentukan standar.

Pengembangan. dan orang asing yang tidak berdomisili di Indonesia yang akan melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia harus mendapatkan izin tertulis dari instansi pemerintah yang berwenang.besar dari keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh masing-masing unsur kelembagaan secara sendirisendiri. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia. yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah kepada badan usaha. (3) Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri. badan usaha. pengalihan teknologi dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang telah diatur sebelumnya dengan pihak lain tersebut. ayat (2). (2) Kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilaksanakan atas dasar persamaan kedudukan yang saling menguntungkan dengan tidak merugikan kepentingan nasional. 154 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 16 (1) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. memperkuat. BAB IV FUNGSI DAN PERAN PEMERINTAH Bagian Pertama Fungsi Pemerintah Pasal 18 (1) Pemerintah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. melengkapi. dan lembaga penunjang. serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 17 (1) Kerja sama internasional dapat diusahakan oleh semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan alih teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat ilmiah internasional. (2) Apabila sebagian biaya kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibiayai oleh pihak lain. perguruan tinggi. pemerintah wajib merumuskan arah. (4) Perguruan tinggi asing. pemerintah. lembaga litbang asing. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan Sistem Nasional Penelitian. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. 18 Tahun 2002 . (3) Pemerintah bertanggung jawab memberikan dukungan bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam rangka kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. lembaga litbang. wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). selain pemerintah dan/atau pemerintah daerah. memberikan stimulasi dan fasilitas. (2) Untuk mengembangkan jaringan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). prioritas utama. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. badan usaha asing. atau masyarakat. sejauh tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan.

penguatan kemampuan audit teknologi impor yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia untuk melindungi konsumen dan memfasilitasi pertumbuhan industri dalam negeri. pemerintah daerah wajib merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. pemerintah membentuk Dewan Riset Nasional yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemerintah daerah membentuk Dewan Riset Daerah yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. memberikan stimulasi dan fasilitas. pengembangan. 155 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan yang merupakan tulang punggung perkembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (4) Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan penelitian. Bagian Kedua Peran Pemerintah Pasal 21 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah berperan mengembangkan instrumen kebijakan untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). (3) Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. dan difusi teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan.Pasal 19 (1) Menteri wajib mengoordinasikan perumusan kebijakan strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Dalam merumuskan kebijakan strategis yang dimaksud dalam ayat (2). dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian. . prioritas utama. serta penguatan penguasaan ilmu-ilmu sosial dan budaya yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. sumber daya. Pasal 20 (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Untuk mendukung Menteri dalam merumuskan arah. inovasi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis. Pengembangan. penguatan penguasaan ilmu-ilmu dasar. Menteri wajib memperhatikan pentingnya upaya : a. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Nasional Penelitian. pemerintah daerah harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. pengembangan. c. b.

bangsa. (2) Setiap warga negara yang melakukan penelitian. Pasal 23 (1) Pemerintah menjamin perlindungan bagi HKI yang dimiliki oleh perseorangan atau lembaga sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penyelenggaraan program ilmu pengetahuan dan teknologi. baik yang berdiri sendiri sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen maupun sebagai unit kerja departemen atau pemerintah daerah tertentu. (2) Pemerintah menjamin perlindungan bagi pengetahuan dan kearifan lokal. pemerintah mengatur perizinan bagi pelaksanaan kegiatan penelitian. pemanfaatan. (4) Lembaga yang dimaksud dalam ayat (3) dapat meliputi lembaga litbang dan lembaga penunjang. Pengembangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai hak memperoleh penghargaan yang layak dari pemerintah. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pengembangan.(2) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan sebagai bentuk kemudahan dan dukungan yang dapat mendorong pertumbuhan dan sinergi semua unsur Sistem Nasional Penelitian. nilai budaya asli masyarakat. Pasal 22 (1) Pemerintah menjamin kepentingan masyarakat. demokratis. dan pembentukan lembaga. terhadap penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan akuntabel. serta kekayaan hayati dan non hayati di Indonesia. Pasal 25 156 Naskah Akademik Perubahan UU No. (3) Setiap orang mempunyai hak untuk menggunakan dan mengendalikan kekayaan intelektual yang dimiliki sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemberian insentif. (3) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat berbentuk dukungan sumber daya. dan/atau masyarakat sesuai dengan kinerja yang dihasilkan. (4) Setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh informasi secara mudah dengan biaya murah tentang HKI yang sedang didaftarkan dan telah dipublikasikan secara resmi oleh pihak yang berwenang atau yang telah memperoleh perlindungan hukum di Indonesia. transparan. pemerintah daerah. 18 Tahun 2002 . pengembangan. dukungan dana. (2) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berisiko tinggi dan berbahaya dengan memperhatikan standar nasional dan ketentuan yang berlaku secara internasional. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. (5) Pelaksanaan instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diselenggarakan secara adil. (3) Pemerintah menjamin perlindungan bagi masyarakat sebagai konsumen. BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 24 (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan serta dalam melaksanakan kegiatan penguasaan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

pemberhentian sementara kegiatan. organisasi masyarakat dan inventor mandiri berhak atas dukungan dana dari anggaran pemerintah dan pemerintah daerah untuk meningkatkan penguasaan. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 26 Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan. (2) Masyarakat ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab untuk berperan serta mengembangkan profesionalisme dan etika profesi melalui organisasi profesi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan. lembaga litbang. dan Pasal 21 ayat (1). Pengembangan. Pasal 20 ayat (1). dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. inovasi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pasal 28 (1) Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. pemanfaatan. (2) Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. 18 Tahun 2002 (3) Perguruan tinggi. (2) Anggaran yang dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk membiayai pelaksanaan fungsi dan peran pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1). 157 Naskah Akademik Perubahan UU No. sampai dengan pembatalan atau pencabutan izin oleh instansi pemberi izin. Pasal 27 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran sebesar jumlah tertentu yang cukup memadai untuk memacu akselerasi penguasaan.(1) Masyarakat wajib memberikan dukungan serta turut membentuk iklim yang dapat mendorong perkembangan Sistem Nasional Penelitian. badan usaha. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. lembaga penunjang. pemanfaatan. BAB VII KETENTUAN SANKSI Bagian Pertama Sanksi Administratif Pasal 29 Pelanggaran ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dijatuhi sanksi administratif mulai dari teguran. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. . (3) Setiap organisasi profesi wajib membentuk dewan kehormatan kode etik sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (2). peringatan.

keselamatan bangsa. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dijatuhi sanksi pidana penjara dan/atau denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) yang mengakibatkan bahaya bagi keselamatan manusia. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 31 Pada saat berlakunya undang-undang ini.000. kerukunan bermasyarakat. semua peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak sesuai dengan undangundang ini dinyatakan tidak berlaku. dan merugikan negara. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 84 158 Naskah Akademik Perubahan UU No.00 (lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. Disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. kesehatan masyarakat. ttd.000. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. ttd.Bagian Kedua Sanksi Pidana Pasal 30 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin diancam pidana denda paling banyak Rp 50. 18 Tahun 2002 . kelestarian fungsi lingkungan hidup.

INOVASI. bisnis. pengembangan. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2. 3. atau menghasilkan teknologi baru. DAN DIFUSI TEKNOLOGI. Pengembangan. 18 Tahun 2002 Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. Inovasi adalah kegiatan penelitian. dan estetika. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Pengembangan. manfaat. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.Lampiran 2. 4. DAN DIFUSI TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat (3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. INOVASI. Inovasi. data. 2. . dan Difusi Teknologi. fungsional. produk. sosial budaya. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk disain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2007 TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). Mengingat : 1. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. atau cara baru 159 Naskah Akademik Perubahan UU No. MEMUTUSKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksudkan dengan : 1.

Insentif adalah pemberian kemudahan/keringanan yang diberikan kepada Badan Usaha dalam rangka upaya peningkatan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi. Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama badan usaha. lembaga penelitian dan pengembangan. Badan Usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. 7. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. DAN DIFUSI TEKNOLOGI Pasal 4 Peningkatan kemampuan perekayasaan. dan Koperasi. pengembangan.untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian dan pengembangan. 6. inovasi. dan pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi. 9. (2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk lisensi. BAB II ALOKASI SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA Pasal 2 (1) Badan Usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. BAB IV 160 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan difusi teknologi dilakukan melalui kegiatan: a. kerjasama. inovasi. 8. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . (2) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha swasta berbentuk perseroan terbatas. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengalokasikan sebagian pendapatan sesuai dengan kemampuannya. dan difusi teknologi. penelitian. inovasi. INOVASI. Pasal 5 (1) Dalam melakukan kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penelitian. 5. dan/atau b. inovasi. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dapat melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi. Badan Usaha Milik Negara. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa yang dihasilkan. Badan Usaha Milik Daerah. dan badan usaha lain. pengembangan dan/atau penerapan teknologi.

dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. survei efisiensi atau studi manajemen. dan f. pembelian dan/atau pembayaran royalti teknologi dari entitas lain di luar negeri. (2) Hasil pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri dalam bentuk saran dan pertimbangan. 18 Tahun 2002 c. (3) Besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. b. Bagian Kedua Tata Cara Permohonan. riset pasar dan/atau promosi penjualan. (2) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan proposal kegiatan dan bentuk insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). e. Pasal 7 (1) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. produk dan/atau proses. inovasi. bahan. Penghentian. . kepabeanan. kegiatan pengawasan dan/atau pengujian rutin terhadap kualitas produk. d. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. (2) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. kegiatan yang dilakukan di luar negeri. pengumpulan data.INSENTIF Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Badan Usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. 161 Naskah Akademik Perubahan UU No. guna melakukan pengkajian dan penilaian terhadap permohonan insentif. dan Perpanjangan Insentif Pasal 8 (1) Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) mengajukan permohonan untuk mendapatkan rekomendasi insentif secara tertulis kepada Menteri. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. peralatan. Pasal 9 (1) Menteri membentuk Tim Pengkajian dan Penilaian.

(2) Menteri menyampaikan pemberitahuan persetujuan atau penolakan pemberian rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak penerimaan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. (4) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. b. 18 Tahun 2002 (1) Dalam hal Menteri memberikan rekomendasi insentif. kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. (4) Penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan pimpinan instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.(3) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. 162 Naskah Akademik Perubahan UU No. rekomendasi disampaikan kepada Badan Usaha dengan tembusan kepada instansi pemerintah yang berwenang dalam pemberian insentif. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja Tim Pengkajian dan Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 12 Dalam hal Menteri tidak memberikan rekomendasi insentif. pemberitahuan disampaikan kepada Badan Usaha disertai dengan alasannya. Pasal 11 (2) Badan Usaha mengajukan permohonan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang disertai dengan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Menteri menyampaikan saran dan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada instansi pemerintah yang berwenang dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan di dalam negeri. inovasi. Pasal 10 (1) Menteri dapat memberikan atau tidak memberikan rekomendasi insentif dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. (3) Tata cara pengajuan permohonan insentif perpajakan dan kepabeanan dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. . dan difusi teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. c. Pasal 13 (1) Dalam hal pemberian insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) berupa bantuan teknis penelitian dan pengembangan. (2) Penetapan penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang setelah meminta saran dan pertimbangan Menteri. dan d. instansi pemerintah yang berwenang dapat menghentikan atau memperpanjang pemberian insentif. penggunaan sumber daya dalam negeri. (5) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan insentif diterima secara lengkap. potensi peningkatan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa.

(2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pencapaian kegiatan yang telah dilakukan dan kriteria sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3). ttd DR. perekayasaan. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. H. Agar setiap orang mengetahuinya. Badan Usaha yang mendapat insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) wajib menyerahkan laporan kegiatan peningkatan kemampuan. inovasi. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. dan difusi teknologi kepada Menteri. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. ttd ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 78 163 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Ditetapkan di Jakarta . pada tanggal 22 Juni 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.Bagian Ketiga Pelaporan Pasal 14 (1) Pada setiap akhir tahun dan akhir kegiatan. (3) Menteri dapat melakukan verifikasi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) guna memberikan saran dan pertimbangan penghentian atau perpanjangan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang.

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf i. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. dan huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2010 TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA.Lampiran 3. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. huruf l. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional. 18 Tahun 2002 2. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. yang merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana. Pasal 1 Sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak terdiri atas: a. 164 Naskah Akademik Perubahan UU No. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Sumbangan Pembinaan Olahraga. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. . huruf k. huruf j.

huruf c. apabila barang yang disumbangkan merupakan barang produksi sendiri. nilai perolehan. atau c. dan e. dan d. didukung oleh bukti yang sah. yang merupakan sumbangan untuk membina. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. c. Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan. Pasal 4 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto bagi pihak pemberi apabila sumbangan dan/atau biaya diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. apabila barang yang disumbangkan sudah disusutkan. apabila barang yang disumbangkan belum disusutkan. Pasal 6 (1) Nilai sumbangan dalam bentuk barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) ditentukan berdasarkan: a. mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga. Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya. harga pokok penjualan. Pasal 2 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dengan syarat: a. Sumbangan fasilitas pendidikan. c. b. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. yang merupakan sumbangan berupa fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan. kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. 165 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf e diberikan hanya dalam bentuk sarana dan/atau prasarana. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . dan huruf d dapat diberikan dalambentuk uang dan/atau barang. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan diberikan. b. nilai buku fiskal. huruf b.b. Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya. d. Pasal 5 (1) Sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a.

huruf d. huruf c.(2) Nilai biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) ditentukan berdasarkan jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan untuk membangun sarana dan/atau prasarana. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. dan huruf e wajib menyampaikan laporan penerimaan sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat pada akhir Tahun Pajak diterimanya sumbangan dan/atau biaya. Pasal 10 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2010. Agar setiap orang mengetahuinya. 18 Tahun 2002 . (3) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya yang mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak melaporkan sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai lampiran laporan keuangan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak diterimanya sumbangan. ttd. DR. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 160 166 Naskah Akademik Perubahan UU No. H. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 8 (1) Badan penanggulangan bencana dan lembaga atau pihak yang menerima sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a harus menyampaikan laporan penerimaan dan penyaluran sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk setiap triwulan. Pasal 7 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib dicatat sesuai dengan peruntukannya oleh pemberi sumbangan. ttd. (2) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b. Pasal 9 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pencatatan dan pelaporan sumbangan dan/atau biaya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sitem Nasional Penelitian. bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b serta dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian sistem inovasi nasional. perlu dilakukan melalui institusi yang efektif dan berhasil-guna baik dari sisi legalitas dan otoritas. 18 Tahun 2002 . bahwa dalam rangka implementasi pelaksanaan sitem inovasi nasional secara efektif dan efisien. bahwa kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. Pengembangan. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. mendayagunakan. 167 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga riset dan teknologi. perlu membentuk Komite Inovasi Nasional dengan Peraturan Presiden. c.Lampiran 4. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. terintegrasi. Pasal 2 Dalam rangka penguatan sistem Inovasi Nasional. mendukung. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL Pasal 1 Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan Sistem Inovasi Nasional adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). b. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan sistem inovasi nasional guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. terpadu. 2. Pasal 3 (1) KIN bertugas untuk: a. Mengingat : 1. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. dibentuk Komite Inovasi Nasional yang selanjutnya disebut KIN.

Arief Rahman. Rektor Institut Teknologi Bandung. D.. 20. Ilham A. Freddy Permana Zen. M. S. 12. Ir... Jenie. wakil-wakil kelompok masyarakat. Iskandar. Marzan A. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam.E. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghsilkan produkproduk inovatif. Sc. Prof. Ph. Drs.Sc : 1.Sc. Pasal 4 Keanggotaan KIN terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Prof..D. Tien Muchtadi.M. 4. Amir Sambodo. Industri infrastruktur. Dr. 168 Naskah Akademik Perubahan UU No.D. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). 8. Ph. Sahari Besari. : Rektor Institut Pertanian Bogor : Prof. Prof. Rektor Universitas Indonesia. M. Jusman Syafii Djamal. dan kerja sama dengan lembaga pemerintahan dan non pemerintahan. 15. memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi.E.D. Dr. Sangkot Marzuki. melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program pengutan sistem inovasi nasional. 5. MBA.. Dr. Drs. Prof. Ir. MA.Sc. Tri Mumpuni Wiyanto. c.S. Dr.Sc. Ir. pakar teknologi dan inovator dalam rangka keterpaduan penguatan sistem inovasi nasional. koordinasi. IR. Dr.S. Dr. (3) Dalam rangka melaksanakan tugasnya. Ir. Zuhal. 18 Tahun 2002 3.Sc.. 13. Dr.Sc. 11. Bustanul Arifin. 14. transportasi dan industri pertahanan.S. Idwan Suhardi 7. Dr. 17.b. ketahanan energi. Rachmat Gobel. Ph. Habibie. Betti Setiastuti Alisjahbana. KIN melakukan konsultasi. 6. Bambang Kesowo. M. 9. 10. M. industri manufaktur.Pd. Ninok Leksono. manajemen bencana alam. M. M. 19. 16. Prof. Ing.H. Lukman Hakim.. serta komunitas ilmiah dan universitas. bioteknologi. Prof. 18.LL. Dr. . Ir. D. 2. Ir. Dr. Prof. Apt. Dr. Anton Apriantono.. M. MS. Umar A. (2) Penguatan sistem inovasi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan meliputi inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. periset. Dr. M. M.

Menteri Sekretaris Negara. Pasal 10 Ketua KIN melaporkan kepada presiden setiap perkembangan dan permasalahan yang ada dalam penyelenggaraan sistem inovasi nasional agar segera dapat diambil keputusan untuk penyelesaian masalahnya. (3) KIN dapat mengundang pimpinan instansi terkait dan pihak lain yang dipandang perlu pada rapat koordinasi KIN. 24. 26. Rektor Universitas Udayana. 27. Rektor Institut Teknologi Surabaya. 4. 169 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Pasal 6 . 6. Rektor Universitas Gajah Mada. Hukum.21. 23. Menteri Riset dan Teknologi. 5. Pasal 9 Mekanisme dan tata kerja Komite Inovasi Nasional diatur lebih lanjut oleh Ketua Komite Inovasi Nasional. Rektor Universitas Hasanudin. Pasal 8 Hasil rapat koordinasi KIN oleh masing-masing anggota KIN dilaksanakan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing secara terkoordinasi dan terintegrasi dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. Rektor Universitas Pattimura. 22. 2. Pasal 7 (1) KIN melaksanakan tugasnya sejak berkoordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi. Rektor Universitas Cenderawasih. Menteri Keuangan. KIN memeperhatikan arahan dari pengarah. 25. Rektor Universitas Syiah Kuala. dan Keamanan. Pasal 5 (1) Dalam melaksanakan tugasnya. Menteri Koordinator Bidang Politik. 3. Sekretaris Kabinet KIN melaksanakan tugasnya sejak ditetapkan Peraturan Presiden ini sampai berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II. (2) KIN melakukan rapat koordinasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. (2) Pengarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: Ketua Anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian : 1.

Pasal 13 Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.Pasal 11 KIN dalam pelaksanaan tugasnya dibantu sebuah Sekretariat yang secara fungsional dilakukan oleh salah satu unit kerja di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi. Pasal 12 Segala biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi KIN dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c. Pertanahan. DR. 18 Tahun 2002 . 170 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Permasalahan Hukum Bistok Simbolon. Keamanan. H. anggaran Kementerian Riset dan Teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.q. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Ratifikasi. ttd. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Politik.

Pendahuluan. (4) MP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. Koridor Ekonomi Indonesia. 2. perlu menetapkan Peraturan Pr es iden tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Pemantauan dan Evaluasi MP3EI. meliputi: a.Lampiran 5. dan d. bahwa dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian nasional yang lebih solid. Pasal 1 (1) Menetapkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 -2025. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025. 171 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. Pelaksanaan. c. diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas. (3) MP3EI terdiri atas 4 (empat) bagian. yang selanjutnya disebut MP3EI. strategi yang tepat. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 18 Tahun 2002 . Mengingat : 1. fokus dan terukur. Prasyarat dan Strategi MP3EI. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. b. b. Menimbang : a.

Menteri Perindustrian. Pasal 5 (1) KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Ketua Harian : Presiden Republik Indonesia. Anggota : 1. Pasal 4 (1) Koordinasi pelaksanaan MP3EI dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. 8. 18 Tahun 2002 . Menteri Perhubungan. melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI. 5. melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI. berfungsi sebagai: a. 6. Pasal 3 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. Menteri Perdagangan. b. 9. Wakil Ketua Harian II : Ketua Komite Ekonomi Nasional. : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan.Pasal 2 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. dan c. 7. 2. Menteri Pertahanan. (2) KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: a. Menteri Pekerjaan Umum. Menteri Keuangan. 10. Menteri Sekretaris Negara. yang selanjutnya disebut KP3EI. : Wakil Presiden Republik Indonesia. 4. dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait. Menteri Pertanian. menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI. Wakil Ketua Harian I : Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. dan b. 3. 172 Naskah Akademik Perubahan UU No. acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing. Menteri Dalam Negeri.

Menteri Pendidikan Nasional. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. Menteri Riset dan Teknologi. 16. Ketua Komite Inovasi Nasional. 22. 21. (3) Susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat KP3EI ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. Pasal 8 (1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya. Pasal 11 (1) PNS yang ditempatkan pada Sekretariat KP3EI berstatus dipekerjakan. (2) Sekretariat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Pasal 9 Sekretaris KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). 14. 20. susunan organisasi. 12. Menteri Komunikasi dan Informatika. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. dibentuk Tim Kerja. . Kepala Badan Pertanahan Nasional. dapat berasal dari unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non-PNS. 13. Menteri Kehutanan. 17. keanggotaan serta tata kerja Tim Kerja. Menteri Badan Usaha Milik Negara. yang secara administrasi berkedudukan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.11. 19. (2) Tenaga profesional pada Sekretar iat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 26. 173 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Menteri Kelautan dan Perikanan. diangkat dan diberhent ikan oleh Menter i Koordinator Bidang Perekonomian. Pasal 10 (1) Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas Sekretariat KP3EI. Pasal 6 Pasal 7 Mekanisme dan tata kerja KP3EI. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup. (2) Pelaksanaan tugas KP3EI sehari-hari dipimpin oleh Ketua Harian. 18 Tahun 2002 Untuk membantu pelaksanaan tugas KP3EI. 18. 15. Sekretaris KP3EI mengangkat tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. 23. 25. Sekretaris Kabinet. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. KP3EI didukung oleh Sekretariat KP3EI. 24. dipimpin oleh Sekretaris KP3EI.

H. yang berhenti atau telah berakhir masa baktinya. Pasal 14 Peraturan Presiden ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian setelah mendapat pertimbangan dar i menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang keuangan dan menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang aparatur negara. ttd DR. sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (4) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dengan hormat sebagai PNS apabila telah mencapai batas usia pensiun dan diberi hak-hak kepegawaian.(2) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikkan pangkatnya setiap kali setingkat lebih tinggi tanpa terikat jenjang pangkat. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 18 Tahun 2002 . (3) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dari jabatan organik di instansi induk yang bersangkutan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 13 Segala biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas KP3EI. Pasal 12 Hak keuangan dan fasilitas lainnya bagi Sekretaris KP3EI dan tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO 174 Naskah Akademik Perubahan UU No. kembali kepada instansi induknya apabila belum mencapai usia pensiun.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.Lampiran 6. 175 Naskah Akademik Perubahan UU No. perlu dilakukan perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 20102014. Menimbang : bahwa dalam rangka revitalisasi serta penajaman program dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi yang mendukung penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Tahun 2011-2025. Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. 9. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243b /M/Kp/IX/2011 TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 2010-2014 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. 7. 5. Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset dan Teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. Pengembangan. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4402). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. 2. 18 Tahun 2002 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2004 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). 8. 6. . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4219). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Bersatu II. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 20102014.

dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi. yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. maka Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014.PERTAMA : Menetapkan Perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. program. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. SUHARNA SURAPRANATA KEDUA KETIGA KEEMPAT 176 Naskah Akademik Perubahan UU No. : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. : Dengan berlakunya Keputusan ini. TTD. : Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 merupakan panduan dalam melaksanakan penyusunan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 18 Tahun 2002 .

PERTAMA : Menetapkan Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. 18 Tahun 2002 d. huruf b. 4. maka perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pengembangan. Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. peningkatan penelitian. dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. yaitu penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246 /M/Kp/IX/2011 TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. 5. Mengingat : 1. serta mendorong pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan. bahwa strategi pembangunan iptek dilaksanakan melalui dua prioritas pembangunan. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. .Lampiran 8. 2. dan penerapan iptek. b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 3. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL. c. dan huruf c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. percepatan koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi. bahwa arah penguatan SINas diperlukan sebagai pedoman untuk refocusing dan sinergi dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara efektif dan efisien. bahwa penguatan SINas diarahkan untuk penciptaan ruang bagi interaksi dan kolaborasi pelaku inovasi. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II. Menimbang : a. yang selanjutnya 177 Naskah Akademik Perubahan UU No.

: Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 30 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. KEDUA : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA adalah dokumen kebijakan untuk refocusing dan sinergi dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. SUHARNA SURAPRANATA KETIGA KEEMPAT 178 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA merupakan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara lebih efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. TTD.disebut Arah Penguatan SINas sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini.

tentu tidak terlepas dari kontribusi saudara semua. Marilah kita bersama-sama. bahwa Amerika Serikat kini berkomitmen untuk membangun kemitraan baru—“a new beginning”—dengan dunia Islam. dan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. pertemuan ini dapat merintis jalan ke arah peningkatan kerja sama antara Indonesia-Amerika Serikat. Indonesia dan Amerika Serikat kini sedang aktif menggarap suatu Kemitraan Strategis baru: yaitu suatu kemitraan komprehensif. Presiden Republik Indonesia ketiga. Saya juga menyambut baik pernyataan Presiden Obama di Kairo bulan Juni tahun lalu. SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA SILATURRAHIM DENGAN AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI) DAN MASYARAKAT ILMIAH Serpong. sehingga kita dapat bertatap muka dalam kesempatan yang membahagiakan ini. Yang Mulia Ambassador Cameron Hume.Lampiran 9. Bapak Prof. Dalam kaitan ini. dan asosiasi-asosiasi ilmu pengetahuan di Indonesia. yang mencakup kerja sama dalam berbagai sektor penting bagi kedua negara. karena atas rahmat dan karunia-Nya. dan insya Allah kesehatan. kajian. Saudara-saudara. Baharudin Jusuf Habibie. Yang saya hormati Gubernur Banten. Kemitraan Komprehensif ini dapat diresmikan dalam kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia yang direncanakan tahun ini. kerja sama di bidang pendidikan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemitraan strategis kedua negara. Insya Allah. atas pemikiran. Bruce Alberts. Allah SWT. Yang saya hormati. yang baru saja dibacakan oleh Duta Besar Cameron Hume. 18 Tahun 2002 . Dr. Namun kita semua juga merasa prihatin bahwa US Science and Technology Special Envoy. 179 Naskah Akademik Perubahan UU No. Bruce Alberts dapat lekas pulih kembali seperti sediakala. Mari kita doakan. energi dan perubahan iklim patut kita sambut dengan baik. LIPI. di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. agar Mr. Hadirin sekalian yang saya muliakan. Mr. memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemajuan yang kita capai hingga hari ini. kita tetap diberi kekuatan. Yang saya hormati Menteri Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. yang semula akan hadir di sini mengalami musibah kecelakaan. saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para ilmuwan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Melalui kesempatan ini pula. Pandangan yang konstruktif dan ajakan positif Presiden Obama untuk meningkatkan kerjasama bilateral di bidang Iptek. 20 Januari 2010 Bismillah Hirrahmanirrahim. dan negara. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Para Ilmuwan yang tergabung dalam AIPI. Assalamu’alaikum Wr Wb Salam sejahtera untuk kita semua. pendidikan. Saya juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pernyataan Presiden Barack Obama. Kita sungguh berharap. yang di antaranya mencakup kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. bangsa.

masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. tanpa memahami bahwa peluang untuk maju dan berkarya di depan mata justru jauh lebih besar. 180 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta masih termarginalisasi dalam era globalisasi. Kita yakini bahwa hal ini bukan sebuah utopia. Ada yang menyatakan bahwa arus perubahan dalam 10 tahun mendatang. ke kecepatan mobil. ke kecepatan suara. Islam tidak pernah bertolak belakang atau memusuhi ilmu pengetahuan–bahkan Islam selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. puncak kejayaan Islam sebagai peradaban dunia yang paling maju di Abad ke-13 justru terjadi. internet dan handphone. ke kecepatan jet. umat Islam mencatat berbagai kemajuan dan penemuan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai sekarang kita rasakan manfaatnya: kompas. Mari kita memulai dengan suatu preposisi: “Abad ke-21 akan menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia”. di seluruh dunia. Pesan dan pelajaran sejarah ini masih tetap relevan–bahkan semakin relevan–sekarang: “siapa yang mau maju. Islam. kita sedang berada dalam arus perubahan sejarah yang sangat dahsyat. Misalnya: dalam kurun waktu hanya sekitar 100 tahun. anestesi. harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. tetapi suatu visi yang realistis–an achieveable vision. optik. perubahan yang kita alami di Abad ke-21 akan bergerak sangat pesat. Kita lihat saja komputer. tanpa penguasaan umat Islam di bidang iptek. akan lebih deras daripada perubahan dalam 100 tahun terakhir. tidak akan pernah ada the second Islamic renaissance di Abad ke-21. Penemuan bubuk mesiu menimbulkan transformasi militer dengan segala implikasi politiknya. 1. di mana seluruh peradaban dunia–apakah Barat. teknik sipil. memang. kimia. sebagian besar umat manusia akan terjamah oleh komputer. ada 1 miliar komputer. komputer dan handphone hanya dinikmati oleh segelintir orang.4 milyar orang telah mempunyai e-mail. email. KEDUA. Semua pihak harus berperan aktif menyebarkan soft power. Disadari atau tidak. Masih banyak umat Islam yang terlalu bernostalgia terhadap kejayaan di masa lalu. Penemuan reaksi fisi nuklir menghasilkan bom atom dan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia. Penemuan vaksin di abad ke-18 mengubah ilmu kodokteran dan menyelamatkan jutaan umat manusia. aljabar. Hadirin yang saya hormati. Sewaktu saya berpidato di Harvard University akhir tahun lalu. dan juga dalam artikel The Economists yang saya tulis. 18 Tahun 2002 . karena umat Islam membuka diri dan mengejar ilmu pengetahuan di manapun. manusia dapat bergerak dari kecepatan kuda. dan Human Development Index. Peradaban manusia juga sering berubah karena ide-ide dan penemuan-penemuan baru. dan bahkan sudah mendarat di bulan. Penemuan mesin uap memulai revolusi industri dan mengubah sejarah Eropa. dan 3. 20 tahun kemudian. saya menekankan bahwa Abad ke-21 tidak harus mengikuti skenario “clash of civilizations”. Kita meyakini bahwa di paruh kedua Abad-21. rumah sakit pertama. internet dan telepon selular. dan dapat saling memperkaya dan melengkapi. kita perlu terus membangun jembatan antar-peradaban. Di awal tahun 1990an. Timur–dapat hidup berdampingan secara damai. Bahkan. Kini. Abad ke-21 justru dapat kita wujudkan menjadi suatu “confluence of civilizations”.3 miliar pengguna handphone–sekitar separuh dari jumlah penduduk dunia. Dengan pusat peradaban di Baghdad. astrologi. terutama di antara dunia Barat dan dunia Islam. dan kapal-kapal perdagangan. Dan KETIGA. irigasi.Hal ini penting karena beberapa hal : PERTAMA. Berbeda dari abad-abad sebelumnya. Proses ini akan terus berkembang. navigasi. kalau kita ingin membangun suatu peradaban dunia (global civilization). sebagian besar umat Islam saat ini masih tertinggal dalam pencapaian Millenium Development Goals. yang akan memperkokoh landasan bagi perdamaian dunia. Meskipun terdapat kemajuan di beberapa komunitas Islam.

perdagangan. Politik bebas aktif Indonesia kini diabdikan untuk mewujudkan “a million friends. Kita mutlak membutuhkan persatuan untuk melawan penjajah. kunci dari keunggulan Indonesia di Abad ke-21 adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Semenjak revolusi industri di Eropa 200 tahun lalu. Karena itulah. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa adalah hasil dari suatu kerja besar yang terencana dan berkesinam-bungan. Sebelum kebangkitan nasional tahun 1908. Abad ke-20 adalah abad kebangkitan nasional. dan tidak ada negara lain yang memusuhi Indonesia. Kunci sukses kita untuk mencapai itu tiada lain adalah persatuan. Salah satu penyebab bangsa kita terbelakang selama ratusan tahun adalah. Inilah yang sering disebut sebagai “intangible intellectual resources”. dan lain-lain. Dalam menghadapi arus sejarah yang dahsyat ini. Indonesia sendiri. Kalau kita tidak cepat meng-atasinya. karena nenek moyang kita tidak mendapatkan akses terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari belahan dunia lain. jasa. Saudara-saudara. pertumbuhan ekonomi dan daya saing sebuah bangsa sangat disumbang oleh penguasaan teknologi. yang dulu pernah menjadi salah satu bangsa paling miskin di Asia. itu terjadi karena kerja keras dan kemampuan kita dalam beradaptasi. keuangan. komunitas. kita tidak bisa lagi hanya mengutuk masa lalu atau menyalahkan orang lain. untuk mempertahankan kemerdekaan. Kita juga melihat perubahan pesat ini di bidang lingkungan. apakah itu untuk pertanian. untuk memacu pertumbuhan dan produktivitas.6 derajat celcius. untuk membangun perekonomian. Porsi Teknologi dan know-how semakin menonjol. untuk menangkal separatisme. perusahaan. . Abad ke-21 adalah abad keunggulan. karena proses pengembangan teknologi tidak akan pernah berhenti. the biggest driver for change adalah teknologi. dan rakyat kita tenggelam dalam kebodohan dan kemiskinan. abad kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. kini telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan. dan untuk menjadi bangsa yang terhormat. pada saat Eropa mendominasi dunia. itu adalah kesalahan kita sendiri. Kecenderungan ini akan terus menguat. kesehatan. atau “knowledge capital”. 18 Tahun 2002 Saudara-saudara. maju dan kompetitif. zero enemy”. Konsentrasi karbondioksida meningkat 36%. karena kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. industri. bangsa Indonesia masih terisolasi dalam penindasan kolonialisme. atau individu. Jepang mengalami Restorasi Meiji. Indonesia tidak punya musuh. suhu dunia telah naik sekitar 0. Kalau kita gagal. Teknologi tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu saja—bukan 181 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam abad yang sangat progresif ini. dan Kerajaan Islam Otoman berjaya. dan kunci sukses untuk mencapai itu adalah inovasi. saya yakin sekali bahwa dalam Abad ke-21 yang akan menjadi the most powerful driver of change adalah teknologi. Di Abad ke-21. dan untuk mengembangkan jati diri bangsa. untuk menjaga keutuhan wilayah. dan lapisan ozon semakin menipis. Kalau kita kelak tampil unggul di depan yang lain. Sesungguhnya pula merupakan bagian integral yang dinamis dari sebuah peradaban (civilization). Apakah itu bangsa. pendidikan. Itulah perjuangan kita di Abad ke-20. suhu dunia bisa naik 4 derajat Celsius dan membawa malapetaka bagi umat manusia dan bagi planet bumi—rumah kita satu-satunya. khususnya perubahan iklim. kita semua telah melihat dan merasakan: porsi teknologi dalam PDB kita semakin besar. pertahanan. terutama di negara-negara industri maju. Amerika Utara tumbuh pesat. Amerika Latin menikmati masa kemakmuran. Makin nyata. untuk mengentaskan kemiskinan. situasinya telah berbeda: Hakikatnya.Sejumlah negara–baik besar maupun kecil—yang dulu dikenal sebagai “negara miskin” kini telah melejit menjadi ekonomi yang unggul. untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. karena ulah manusia. Dewasa ini.

“the rise of” Cina dan India—semuanya dimulai dengan suatu semangat. saya menyadari bahwa alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D-research and development) di Indonesia pada tahun 2005 masih rendah – yaitu sekitar Rp 1 trilyun. dan dari masyarakat. Ilmuwan. kita bercita-cita agar Indonesia menjadi bagian integral dari komunitas ilmuwan dunia. baik di Indonesia maupun di luar negeri. dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. Kita harus aktif bukan saja menyerap ilmu dari dunia. Ini semua akan terwujud jika masyarakat kita. Karena itulah. serta program yang berkesinambungan. dan syukur alhamdullilah pada tahun 2010 dapat kita tingkatkan menjadi Rp 1. Ingatlah. peluang. maupun di sektor swasta. Di Amerika. adalah mengubah mindset. kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. dan dinamisme. Kita berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia mengadakan riset. dan yang akhirnya mengakibatkan transformasi besarbesaran. benar-benar menghargai kerja keras kaum peneliti. Tentu saja jumlah inipun masih harus terus kita tingkatkan. Pada awal saya mengemban amanah rakyat. . bahwa cara penting untuk membangun inovasi adalah melalui pengembangan enterpreneurship. namun memerlukan inkubator-inkubator—di lingkungan pemerintah. kita semua. pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan porsi itu menjadi lebih memadai. harus ada sumberdaya dan dana yang cukup. Inovasi juga menuntut sikap open-mind dan risk-taking. dan suatu etos. dan bukan menjadi catatan pinggir. dan terbangunnya mindset baru. Jepang. Inovasi itu adalah suatu semangat. Renaissance di Eropa. Kita semua tahu bahwa enterpreneurship identik dengan inovasi. 182 Naskah Akademik Perubahan UU No. Saya ingin ilmuwan Indonesia bahu membahu dengan ilmuwan internasional. Pertama. India. bukan sikap yang kaku dan dogmatis. Untuk mencapai kondisi seperti itu ada sejumlah hal penting yang harus kita bangun dan lakukan. Mereka harus bisa menjadi ikon masyarakat. ilmuwan.seperti membeli barang di supermarket. Korea. risk-taking. dan Singapura. Semua fenomena sejarah—apakah itu peradaban Islam. Karena itulah. Dalam era globalisasi dewasa ini. Restorasi Meiji di Jepang. sumberdaya dan dana penelitian dan pengembangan tidak hanya berasal dari APBN. dan inventor. Itulah mindset yang akan mengantarkan kita menjadi Innovation Nation. 18 Tahun 2002 Karena itulah. Mau tidak mau. apalagi hidup tanpa penghormatan. Namun. Komunitas iptek Indonesia harus berwawasan jauh lebih terbuka dan lebih progresif dari masanya. Cina. Inovasi tidak datang dari langit. Kita harus bisa menjadi Innovation Nation —bangsa inovasi! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif. dan menjadi pendekar keunggulan. perlu diingat. Pendanaan dari kerjasama internasional juga merupakan alternatif yang makin terbuka. suatu energi.9 triliun. Untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek. Mungkin satu dua teknologi bisa dibeli seperti itu—namun tidak untuk mencapai technological society. kita di Indonesia harus bisa mengembangkan budaya unggul—a culture of excellence— baik di birokrasi. namun juga menyumbang ilmu untuk dunia. Sementara itu saya berpandangan. universitas. kita melihat bahwa inovasi tumbuh pesat sejalan dengan merebaknya enterpreneurship. peneliti dan inovator harus berada di garis terdepan perubahan nasib bangsa. tetapi juga mesti dianggarkan oleh dunia usaha yang juga memerlukan inovasi di perusahaannya masing-masing. dan juga knowledge society. tanpa apresiasi. yang kemudian menghasilkan berbagai inovasi baru. namun dalam kemampuan untuk menyerap ilmu dan teknologi dari manapun untuk kepentingan rakyat Indonesia. dan tidak sejahtera. Saudara-saudara faktor kedua adalah. inovasi juga memerlukan Investasi dan Insentif. selain didukung mindset yang tepat. dan lain-lain. tampilnya Amerika sebagai superpower. Sistem dan lingkungan nasional kita harus bisa melahirkan inovator-inovator yang kreatif. innovation is a state of mind. untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. perusahaan. Nasionalisme kita dicerminkan bukan dalam tindakan melawan atau menutup diri dari dunia. di universitas.

teknologi yang kita cari dan pilih haruslah tetap relevan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan. yaitu padat teknologi dan padat karya. apakah itu kolaborasi antarpemerintah. dan melipat-gandakan produktifitas pangan guna mencapai kondisi swasembada. Karena itulah. Kita memerlukan teknologi pertanian baru untuk mencari bibit unggul. pada saatnya nanti Indonesia menjadi “major food producer” di dunia internasional. Misalnya: telekomunikasi murah untuk desa terpencil. kebijakan pemerintah dan kolaborasi. atau kombinasi dari semuanya. angin. Kelima. Faktor ketiga adalah. sering terjadi. Namun kita harus cerdik mencari. karena ini adalah kunci sukses bagi masa depan kita. 18 Tahun 2002 . Pertama. pemeliharaan lingkungan hidup. Hadirin sekalian yang saya hormati. Namun perlu diingat. H1N1 dan virus-virus berbahaya lainnya. Saya juga bangga bahwa seorang inovator energi kita. ke depan. menciptakan branding yang dikenal dunia internasional. Kalau kita lihat dari bukti-bukti empiris. Saudari Tri Mumpuni. antar-ilmuwan. teknologi air bersih. Kita harus mencari teknologi terkini untuk memerangi penyakit-penyakit menular : apakah itu H5N1. dan surya. Tantangan itu antara lain adalah : pengentasan kemiskinan. hampir semua inovasi teknologi merupakan hasil dari suatu kolaborasi. bahkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Saya ingin. Keempat. Karena itulah. Padahal untuk negeri kita juga diperlukan teknologi yang dapat memberdayakan rakyat miskin. Untuk itu. ketangguhan pertahanan dan keamanan negara. teknologi pangan. ketahanan pangan dan energi. serta penguasaan teknologi yang menjemput masa depan. Inovasi segar seperti ini harus terus dikembangkan dan disebarkan. industri akan tetap menjadi tulang panggung ekonomi Indonesia. antar-perusahaan. telah merintis pembangunan energi mikro-hidro di desa-desa. bibit unggul. teknologi kesehatan. serta meningkatkan teknologi pengawasan hutan. Salah satu ciri Era Globalisasi dewasa ini adalah keniscayaan untuk sebuah knowledge-sharing antar bangsa. teknologi hijau – green technology. dan telah mendapatkan pengakuan internasional. meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan seperti geothermal. bangsa Indonesia harus makin menguasai teknologi. pihak yang lebih cerdik mendayagunakan teknologi bisa lebih maju dari pihak yang menemukan teknologi itu sendiri. Kita sudah menetapkan target penurunan emisi 26% untuk tahun 2020 dari “business as usual”. dan bahkan bisa bersaing dalam aspek desain yang selama ini cenderung didominasi industri negara-negara maju. Hal ini penting karena pada saat ini dan ke depan. Saya mendorong ilmuwan Indonesia untuk menjalin networking dan kolaborasi yang seluas-luasnya dengan lembaga penelitian. untuk mendeteksi hotspot kebakaran hutan. menyerap dan mengembangkan teknologi baru untuk pembangunan Indonesia. peningkatan industri. hidroenergi dan Rumah Sederhana Tahan Gempa. antar-universitas. lembaga kajian dan universitas manapun di dunia. Kita juga harus mulai mencapai high-end products. misalnya melalui satelit. networking antara inkubator menjadi sangat penting. Ketiga.Yang juga penting diingat: kita tidak harus selalu menjadi inventor teknologi baru. lebih produktif dan lebih mempunyai nilai tambah. Kita harus bisa membuat industri kita lebih efisien. teknologi industri. kita harus menerapkan pembangunan yang hemat energi (low carbon footprint). Dunia kini boleh dikatakan sedang panen teknologi. dan target ini bisa ditingkatkan menjadi 41% apabila ada bantuan internasional yang memadai. Kedua. Teknologi sering disalahpersepsikan seolah hanya untuk kepentingan industri besar yang canggih saja. teknologi untuk mengentaskan kemiskinan–pro-poor technology. yang pasti akan terus bermutasi 183 Naskah Akademik Perubahan UU No. meningkatkan hasil panen. Produk-produk industri Indonesia harus bisa menunjang pencapaian 2 aspek penting. yang sangat penting bagi kesejahteraan rakyat kita (food security). Bahkan. yang dapat menjawab tantangan-tantangan pokok itu.

Setiap negara mempunyai Sistim Inovasi Nasional dengan corak yang berbeda dan khas. termasuk kelompok teroris yang juga memanfaatkan teknologi yang canggih. meskipun sudah mulai diterapkan di beberapa negara yang mengalami transformasi. Dan kita mempunyai hubungan yang baik dengan semua pihak—baik dunia Barat. TNI harus meningkatkan kapasitas untuk melakukan military operations other than war (MOOTW). Banyak emerging economies --seperti Cina. untuk ikut memastikan bahwa Sistem Inovasi Nasional dapat berkembang dan berjalan dengan baik. serta kemampuan peace-keeping operation di wilayah-wilayah konflik di dunia. Kita juga harus mendapatkan teknologi canggih untuk bisa mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. apalagi kalau menyangkut virus yang datang dari luar yang kita tidak mempunyai vaksinnya. teknologi masa depan: yaitu nano technology. kita harus bekerja-sama dua arah : kita berbagi ilmu dan penemuan dengan dunia kesehatan internasional. bio-engineering. misalnya. Konsep seperti ini relatif baru. genomics. Ketujuh. hydrocarbon dan mineral. Untuk mengembangkan semua ini. Hadirin sekalian yang saya hormati. emerging economies. teknologi pertahanan. Keenam. mendukung. serta bentuk kerjasama yang lain. negara-negara berkembang. yang didasarkan pada suatu kemitraan antara pemerintah. sebagaimana kita terus mengharapkan dunia luar berbagi dengan kita. Dan. Saat ini. dan Brazil . Teknologi-teknologi revolusioner ini tentu tidak sepatutnya hanya didominasi dan dimonopoli negara-negara maju saja. dan dalam skala nasional. Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi knowledge society. misalnya untuk konversi air minum atau teknologi perkapalan. robotics. Sebagai negara Nusantara. menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor. dibutuhkan suatu Sistim Inovasi Nasional. kita juga harus mengembangkan Sistem Inovasi Nasional. yaitu suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka-panjang dapat mendorong. Indonesia secara fisik adalah negara Kepulauan terbesar di dunia. Oleh karena itu. kita belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melakukan offshore drilling apalagi deep sea drilling. Indonesia tidak boleh tertinggal. wilayah perbatasan dan lautan Nusantara yang terbentang luas. kita harus membangun teknologi kelautan. tapi kita belum menjadi negara maritim yang kuat. Indonesia tidak bisa menangani ancaman ini sendiri. termasuk penguasaan “revolution in military affairs” (RMA). dan lain-lain. yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. Sementara itu. Saya berpendapat. Disini. TNI harus terus meningkatkan postur dan kapabilitasnya. India. Kita memiliki sumberdaya manusia yang tangguh. kedelapan adalah. di Indonesia. berkaitan dengan pandangan ini. teknologi maritim.yang kini mulai merintis teknologi-teknologi baru ini. Virus berbahaya. akan menjadi salah satu ancaman paling riil bagi bangsa kita di abad ke-21. dari Miangas ke Pulau Rote. sama seperti bencana alam. dan lain-lain—yang semuanya dapat menjadi mitra pembangunan Indonesia. 18 Tahun 2002 .mengancam keluarga kita dan bahkan umat manusia. yang terus dapat ditingkatkan keunggulan dan daya saingnya. dalam waktu dekat saya akan membentuk Komite Inovasi Nasional. 184 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kita mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. Kita dikaruniai wilayah yang sangat luas. komunitas ilmuwan dan swasta. TNI juga harus mempunyai kemampuan untuk melakukan surveillance dan menjaga pulau-pulau terpencil. baik perikanan. dan dengan berkolaborasi dengan dunia internasional. yang terbentang dari Sabang ke Marauke. Karena itulah. dunia Islam. Kita harus bisa meningkatkan kualitas dan tingkat teknologi industri pertahanan kita– termasuk melalui joint production dengan industri militer negara-negara lain. Seperti yang kita alami dalam kasus epidemi H1N1 (Swine Flu). Saya senang sekali bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH) sudah mulai membangun pusat riset untuk nano-technology. Polri dan aparat intelijen juga harus terus meningkatkan kemampuan operasionalnya untuk melawan kejahatan trans-nasional.

dengan semua ini. atau knowledge-based. Terima kasih. kebersamaan dan kerja keras kita. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Indonesia mempunyai peluang emas untuk memajukan kehidupan bangsa kita. Kalau visi ini kelak tercapai.Karenanya. adalah dengan memadukan pendekatan sumberdaya alam. developed country. Strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju. ke depan. 185 Naskah Akademik Perubahan UU No. resource-based and culture-based development. Insya Allah. Mari kita songsong era itu dengan kepercayaan sebagai sebuah bangsa yang penuh inovasi. menjadi bangsa yang maju dan jaya di Abad ke-21. masa gemilang itu akan datang. serta dengan persatuan. dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. bangsa kita akan mengalami transformasi yang fundamental. iptek dan budaya. 18 Tahun 2002 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful