NASKAH AKADEMIK

PERUBAHAN UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2012

1

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latarbelakang

Pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab adalah: apa kontribusi teknologi dalam negeri terhadap pembangunan nasional? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi tolok ukur bagi perkembangan Sistem Inovasi Nasional (SINas) di setiap negara, termasuk Indonesia.1 Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan ‘sederhana’ ini, maka perlu didahului dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang anatomi permasalahannya. Sesungguhnya banyak kelembagaan di Indonesia yang melakukan kegiatan riset. Setiap institusi pendidikan tinggi wajib melakukan kegiatan riset sebagaimana amanah Tridharma Perguruan Tinggi. Tiga tugas pokok institusi pendidikan tinggi negeri maupun swasta adalah melakukan kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain instansi pendidikan tinggi, di Indonesia juga terdapat banyak lembaga riset pemerintah dan non-pemerintah.2 Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi. Rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan
1

Sistem Inovasi Nasional adalah sistem aliran teknologi dan informasi antara kelembagaan pengembang-pengguna teknologi, didukung oleh kelembagaan terkait lainnya, yang menjadi kunci dari proses inovatif pada suatu negara. Dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi terdapat 7 kelembagaan yang tugas pokoknya menyelenggarakan riset atau kegiatan yang terkait dengan implementasi hasil riset. Kelembagaan riset tersebut berstatus sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK). Selain LPNK tersebut, pada masing-masing kementerian teknis juga terdapat Badan Penelitian dan Pengembangan masing-masing. Kelembagaan riset non-pemerintah terdapat di beberapa industri besar, selain itu juga ada yang berupa lembaga riset independen yang diselenggarakan oleh masyarakat.

2

2

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional. Berfungsinya SINas tidak hanya membutuhkan: [1] keberadaan lembaga pengembang teknologi yang produktif dan berkualitas;3 [2] industri yang dikelola dengan baik dan didukung tenaga kerja terampil dan/atau terdidik yang produktif serta kelimpahan bahan baku; dan [3] fasilitasi aktif dari pemerintahan serta kebijakan dan regulasi yang mendukung pewujudan ekosistem yang kondusif; tetapi juga membutuhkan [4] niat dan motivasi yang tinggi antara pihak pengembang dan pengguna teknologi untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain berdasarkan asas kesetaraan dan saling menguntungkan (mutualistik). UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan fungsi dari sistem nasional litbangrap iptek adalah untuk membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sistem nasional litbangrap iptek. Paradigma yang lalu menempatkan pihak pengembang teknologi (institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset) secara dominan dalam mewarnai ‘genre’ teknologi yang dikembangkan. Pendekatan yang lebih dominan bersifat supply-push ini ternyata gagal dalam mempersuasi industri dan pihak pengguna lainnya untuk mengadopsi teknologi hasil riset oleh perguruan tinggi maupun lembaga riset tersebut. Kegagalan paradigma yang lalu ini perlu disikapi secara cerdas dan objektif, dengan mengesampingkan kepentingan sektoral ataupun profesi. Tentu perlu telaah komprehensif terhadap anatomi permasalahan dalam implementasi paradigma supply-push yang kurang optimal tersebut, selain juga perlu dilakukan pencermatan yang matang terhadap alternatifalternatif untuk memperbaiki paradigma lama tersebut. Kenyataan ini menjadi argumen yang sangat kuat untuk melakukan penelaahan terhadap posisi SINas Indonesia saat ini dan mencari alternatif pendekatan yang tepat agar pola hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat efektif, efisien, dan produktif menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan rakyat Indonesia, yang berarti sekaligus secara nyata akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan (perekonomian) nasional. Upaya mengubah paradigma yang lama dengan paradigma yang baru agar ditekankan pada pola dan arah hubungan antara pengembang dan pengguna teknologi serta pihak-pihak lain yang terkait. Secara substansial upaya ini dapat disebut sebagai upaya reorientasi arah dan pola hubungan antar-aktor dalam sistem nasional litbangrap iptek. Diharapkan dengan melakukan
3

Kualitas kelembagaan pengembang teknologi dilihat dari kualitas akademik sumberdaya manusia (SDM) yang mengawakinya, ketersediaan sarana dan prasarana riset yang canggih dan sesuai dengan kebutuhan fokus riset yang menjadi tugas pokoknya, ketersediaan dan/atau kemudahan mengakses sumber informasi ilmiah, dan fasilitas pendukung lainnya untuk menciptakan suasana akademik (academic environment) yang kondusif, serta kemampuannya dalam mendifusikan teknologi yang dihasilkan kepada pengguna potensial.

3

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

reorientasi sistem nasional litbangrap iptek, maka teknologi domestik yang dihasilkan akan lebih berpeluang untuk diadopsi oleh para pengguna, terutama industri dan pelaku produksi lainnya di dalam negeri. Resultan dari adopsi teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa ini adalah peningkatan kontribusi nyata teknologi terhadap pembangunan nasional. Satu hal yang sangat fundamental yang perlu reorientasi adalah anggapan bahwa masalah litbangrap iptek merupakan permasalah teknologi yang berkaitan dengan ekonomi (economically-related technological problems), padahal sesungguhnya penguatan sistem nasional litbangrap iptek adalah permasalahan ekonomi yang butuh dukungan teknologi untuk memecahkannya (technologically-related economical problems). Kemajuan perekonomian sangat tergantung pada kinerja litbangrap iptek-nya, yang pada prinsipnya adalah tergantung pada kapasitas negara dalam mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dan sesuai pula dengan kapasitas adopsi dari para pengguna teknologi. Untuk kasus Indonesia, kesadaran akan pentingnya peran teknologi dalam pembangunan perekonomian nasional tersurat dari ditetapkannya pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sebagai salah satu dari tiga strategi utama dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), disamping dua strategi utama lainnya, yakni pengembangan potensi ekonomi melalui enam koridor yang telah ditetapkan dan memperkuat konektivitas nasional.4 Kesesuaian teknologi dengan kebutuhan nyata membuka peluang lebih lebar untuk teknologi tersebut dapat diadopsi, namun belum sepenuhnya menjamin bahwa sistem nasional litbangrap iptek akan otomatis terbangun. Ekosistem yang kondusif sangat dibutuhkan untuk tumbuh-kembang inovasi, terutama dalam bentuk kebijakan dan regulasi yang akomodatif, yang memudahkan para aktor inovasi untuk berkomunikasi dan berinteraksi serta juga memudahkan proses adopsi teknologi domestik oleh para pengguna di dalam negeri. Arahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono5 untuk mengutamakan upaya pemenuhan kebutuhan (demand) pasar domestik menumbuhkan semangat untuk lebih gigih mewujudkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek yang lebih handal. Penduduk Indonesia yang saat ini (BPS, 2010) telah mencapai 237 juta, merupakan pasar yang sangat besar dan menjadi target banyak negara asing dalam memasarkan produknya. Para pengembang teknologi dan industri dalam negeri harus bahu membahu membangun sinergi untuk tidak membiarkan pasar domestik Indonesia dibanjiri oleh produk dan/atau jasa dari negara-negara asing.

4

Untuk pelaksanaan MP3EI, telah pula diterbitkan Perpres 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menetapkan tiga kelompok kerja (Pokja), yakni: Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi, Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Pokja SDM dan Iptek. Pokja SDM dan Iptek diketuai oleh Menteri Pendidikan Nasional dan wakil ketuanya adalah Menteri Negara Riset dan Teknologi, dengan anggota dari kementerian PPN/Bappenas, Ristek, Diknas, Nakertrans, Keuangan, UKM dan Koperasi, serta dari anggota KIN, Kadin, dan ketua asosiasi profesi dan usaha terkait. Pada Seminar di Institut Teknologi 10 November Surabaya tanggal 14 Desember 2010.

5

4

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sinergi pengembang-pengguna teknologi dalam penguatan inovasi nasional merupakan aksi yang tepat dan sepatutnya dilakukan. Inisiatif inovasi dari Komite Inovasi Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan, Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), antara lain menyebutkan penguatan inovasi melalui skema 747 memerlukan pendanaan R&D hingga 1% dari GDP. Skema 747 ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi, pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi, dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. Peningkatan dukungan pendanaan untuk menunjang program inovasi ini dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan daya dukung pemerintah, BUMN, dan partisipasi badan usaha. Akan sangat ideal jika Pemerintah mampu mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 melalui pembentukan ekosistem yang lebih kondusif melalui regulasi dan kebijakan yang tepat. Adanya peraturan perundang-undangan yang konsisten dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance), sehingga tumbuh-kembang sistem nasional litbangrap iptek dapat berlangsung secara lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

1.2.

Permasalahan

Hasil penelitian LIPI (Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera, 2000) terkait dengan sistem penelitian iptek dan sistem inovasi nasional, antara lain menyimpulkan inovasi masih belum memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional. Menurut Benyamin Lakitan (2012), rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek

5

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi.

bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional.

1.3.

Maksud dan Tujuan Penulisan

Pertanyaan yang fundamental dan filosofis perlu ditranslasi menjadi pertanyaan-pertanyaan teknis dan operasional agar jawabannya juga menjadi lebih dapat ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang menjadi batu sandungan dalam upaya mewujudkan penguatan inovasi secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat.6 Berbagai persoalan terkait rendahnya kontribusi teknologi di Indonesia saat ini diyakini berakar pada tidak relevannya teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang dihadapi rakyat, bangsa, dan negara ini. Persoalan terkait dengan upaya penguatan inovasi tidak dapat disederhanakan secara berlebihan (over-simplified) hanya menjadi persoalan relevansi teknologi. Disadari betul bahwa upaya penguatan inovasi nasional merupakan upaya penguatan sistem inovasi yang sangat kompleks. Banyak aktor yang ikut berperan, dengan derajat dan jenis partisipasi yang berbeda tentunya. Banyak faktor yang mempengaruhi ekosistem dimana sistem inovasi ditumbuhkan, termasuk ekonomi, sosio-kultural, hukum, dan politik. Interaksi dari berbagai aktor dan faktorfaktor yang ikut berpengaruh tersebut yang akan membentuk sistem inovasi nasional yang lebih kokoh. Selain kompleks, upaya penguatan inovasi juga sensitif terhadap dinamika peran para aktor dan faktor-faktor pembentuk ekosistem tumbuhnya. Memahami persoalan dalam upaya penguatan inovasi nasional yang sangat kompleks tersebut, maka penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dimaksudkan untuk: [1] Memahami realita dan permasalahan dalam upaya penguatan kemampuan penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan iptek saat ini; [2] Mencoba merajut sosok ideal SINas Indonesia dalam mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat; [3] Mengidentifikasi dan mengantisipasi dinamika perubahan faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi ekosistem SINas (lingkungan strategis); dan [4] Mengembangkan konsepsi SINas Indonesia yang realistis yang diyakini mampu diaktualisasikan untuk mewujudkan sasaran penguatan inovasi. Penulisan dokumen ini bertujuan untuk digunakan sebagai bahan referensi akademik yang menjadi dasar pertimbangan perubahan UU No. 18 Tahun 2002, terutama dalam penyusunan regulasi yang relevan dengan upaya mewujudkan penguatan inovasi yang lebih produktif dan menyejahterakan rakyat. Sebagai referensi akademik, dokumen cetak biru ini diharapkan

6

Perlu selalu diingat bahwa konsitusi UUD 1945 jelas mengamanahkan bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa (Pasal 31 ayat 5).

6

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

1. maka dokumen cetak biru ini walaupun kental berbasis akademik. b. khususnya hukum tertulis yang berlaku yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan upaya-upaya penguatan inovasi secara nasional. Sesuai Perpres No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. dan g. pengembangan sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. namun diupayakan agar mudah dan enak dibaca dengan gaya bahasa dan penggunaan terminologi yang lebih bersahabat (reader-friendly). pembangunan klaster inovasi daerah. revitalisasi infrastruktur R&D. pengembangan sistem remunerasi peneliti yang lebih baik. Pengembangan. Metode Penelitian Hukum Penyusunan Naskah Akademik tentang Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menggunakan metode pendekatan deskriptifanalitis. serta memberikan kerangka konsepsi yang objektif dan mungkin-dicapai (achievable) dengan sumberdaya yang dimiliki Indonesia. e. c. Pengembangan. Selain itu.mampu memberikan informasi yang komprehensif. dan relevan dengan kondisi Indonesia. Informasi ini merupakan langkah langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan ekosistem inovasi. 18 Tahun 2002 . 32 Tahun 2011 tentang MP3EI. langkah-langkah perbaikan ekosistem inovasi mencakup: a. d. peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. Hasil analisis tersebut menjadi landasan untuk mengidentifikasi peraturan perundangundangan yang ada. Melalui pendekatan interdisipliner akan diketahui hukum dan ilmu hukum yang mengatur penguatan inovasi dan melalui pendekatan multi disipliner akan diketahui ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang mendukung pengaturan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang 7 Naskah Akademik Perubahan UU No. terutama bagi para pembuat kebijakan dan regulasi. Pendekatan ini menggambarkan berbagai permasalahan secara utuh dan menyeluruh. penelitian ini menggunakan pendekatan secara interdisipliner dan multidisipliner.4. mutakhir. f. Karena tujuannya adalah untuk menjadi landasan dalam pembuatan kebijakan dan/atau regulasi. dan dengan pendekatan dari segi pengelolaannya secara terpadu. selanjutnya dilakukan analisis yang menjadi bagian-bagian sebagai sistem yang terbagi atas sub sistem-sub sistem dari suatu ekosistem sebagai suatu kesatuan dalam merumuskan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. pengembangan sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi.

pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi). Sedangkan inventarisasi dan pengolahan data dilakukan melalui: 1. pengkajian. pemanfaatan dan pemajuan iptek untuk mendorong inovasi dan difusi teknologi seoptimal mungkin. Metode pendekatan sistemik ini digunakan sebagai konsekuensi dari pengertian dan pemahaman mengenai kompleksitas penguatan inovasi secara nasional. Tahapan penelitian diawali dengan melakukan inventarisasi hukum.Perubahan UU No. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. 8 Naskah Akademik Perubahan UU No. maupun difusi teknologi ini mengacu pada inventarisasi permasalahan. dengan data sekunder yang terdiri dari bahan-bahan hukum primer (peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perekayasaan. maupun putusan pengadilan yang terkait dengan inovasi teknologi. khususnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kegiatan perekayasaan. Penelusuran kepustakaan. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Metode ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis. 2. makalah. Mengkaji bahan-bahan seminar. majalah hukum. maupun yang terkait dengan perekayasaan. Oleh karena itu penelitian ini secara futuristik harus menyangkut upaya pembangunan yang berkelanjutan dalam sistem hukum yang ada bagi penguatan inovasi nasional. konvensi dan traktat internasional yang terkait alih teknologi. maupun difusi teknologi. Data ini selanjutnya dianalisis secara kualitatif berdasarkan norma-norma hukum yang berlaku dan disusun sebagai bagian dari pengembangan sistem hukum nasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. inovasi. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Penelitian ini harus pula mendekati permasalahan yang ada dalam upaya peningkatan penguasaan. dan sebagainya) serta data-data yang diperoleh dari para anggota tim penyusunan naskah akademik. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. serta kegiatan penelitian. inovasi. dengan mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan berlaku di Indonesia termasuk kebijakan inovasi nasional. 18 Tahun 2002 . serta kegiatan penelitian. maupun difusi teknologi. inovasi. dan merupakan bahan-bahan hukum dalam mempersiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. maupun difusi teknologi. Pengembangan. serta bahan hukum sekunder maupun tertier (hasil-hasil penelitian. Sumber hukum materiil masalah perekayasaan. kemudian diupayakan untuk menarik azas-azas hukum dan rumusan norma yang akan dijadikan acuan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. hasil focus group discussion. kertas kerja. inovasi. Pada dasarnya penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.

Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya penguatan inovasi. Mengkaji Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. pengembangan. maksud dan tujuan penulisan dokumen. dan 4. Ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya perlu diperhatikan.  Permasalahan secara garis besar memberikan gambaran kondisi kegiatan penelitian. 12/2011: latar belakang.5. termasuk pelaksanaan peraturan pelaksanaannya. argumen tentang pentingnya upaya memperkuat inovasi nasional dalam rangka meningkatkan kontribusi teknologi. . Kajian ini mencakup bagaimana implementasi. metode penelitian hukum. Inovasi dan Difusi Teknologi. serta berbagai kendala dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). Hasil Diskusi atau informasi anggota tim di Kementerian Riset dan Teknologi. 1.3. Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional yang lebih tangguh. terutama untuk meningkatkan produktivitas nasional dan kesejahteraan. sehingga 9 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi. serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagaian Pendapatan Badan Usaha untuk Kegiatan Perekayasaan. serta rincian sistematika penulisan dokumen. maka sistematika penulisan dirinci sebagai berikut: Bab I Pendahuluan (UU No. kendala-kendala dalam prakteknya. dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. permasalahan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. metode penelitian hukum) Judul dan Deskripsi Substansi  Latar Belakang memberikan informasi awal tentang persoalan pokok yang dihadapi terkait dengan rendahnya kontribusi teknologi terhadap pembangunan nasional Indonesia. 18 Tahun 2002 Mencakup tentang latar belakang penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002. Program penguatan inovasi nasional ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi. dan penerapan iptek. dan peraturan perundangundangan yang terkait. identifikasi masalah. Inisiatif inovasi nasional dari Komite Inovasi Nasional dalam rangka pencapaian tujuh sasaran inovasi nasional perlu diperkuat melalui peraturan perundang-undangan. Sistematika Penulisan Sesuai dengan maksud penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dan tujuan yang hendak dicapai. Pengembangan. tujuan dan kegunaan naskah akademik. terutama Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual.

 Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Kelembagaan Iptek.  Maksud dan tujuan penulisan adalah menjelaskan tentang niat yang terkandung dalam penyusunan dokumen naskah akademik ini dan kemanfaatan yang dapat diperoleh publik dengan tersedianya dokumen ini. 18 Tahun 2002 mencakup:  Analisis Undang-undang No. pengembangan. Kajian teoritis mencakup uraian tentang beberapa konsepsi penting termasuk makna inovasi. dan upaya penciptaan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang inovasi. dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-base economy).  Sistematika menjelaskan tentang tata urut penulisan dokumen yang sekaligus juga merinci tentang substansi isi dokumen. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. teori-teori hukum. dan fakta di masyarakat. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif. pendekatan kesisteman. para aktor inovasi nasional yang terdiri dari aktor pengembang. dengan analisis deskriptif terhadap berbagai peraturan perundangundangan.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan: Tatang A Taufik. ketenagakerjaan. terutama kebijakan-kebijakan yang secara langsung mempengaruhi tumbuh-kembang inovasi nasional. Kementerian Riset dan Teknologi. LIPI. maka akan diulas tentang kinerja perekonomian nasional. dan aktor penting lainnya yang ikut menentukan dinamika ekosistem inovasi. 2005. penguatan inovasi. termasuk kebijakan maupun peraturan perundang-undangan terkait makro ekonomi.Bab Judul dan Deskripsi Substansi memerlukan perubahan UU No. ketersediaan dan kesiapan infrastruktur inovasi. 18 Tahun 2002. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy) : Sri Mulatsih. pendidikan. 18 Tahun 2002. peran dan kontribusi aktor inovasi. pengguna.  Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . dan dilakukan pula identifikasi permasalahan dan analisis efisiensi sistem inovasi terkait orientasi pembangunan inovasi. 18 Tahun 2002 . Kajian implementasi UU No. dan penerapan iptek di Indonesia saat ini. maupun berbagai informasi yang relevan dari berbagai narasumber maupun diskusi-diskusi. Komersialisasi III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang-undangan Terkait Untuk menyajikan realita potret peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian. dinamika interaksi antar-aktor.  Metode penelitian hukum memberikan gambaran mengenai metode yang dilakukan di dalam penelitian ini. dilakukan analisis tentang ekosistem pembangunan nasional. dan 10 Naskah Akademik Perubahan UU No. BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. 2009. II Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi Mencakup kajian teoritis dan kajian implementasi UU No. Pengembangan. 2007. dan pembangunan infrastruktur sosial. dan Prakoso Bhairawa Putera. perindustrian dan perdagangan.

secara bertahan mengubah minset pada pengembang teknologi agar lebih berorientasi pada kebutuhan nyata dan lebih sensitif terhadap persoalan yang dihadapi pengguna teknologi.Bab Judul dan Deskripsi Substansi peran pemerintah dalam skenario pengembangan SINas. membangun semangat kebersamaan antar aktor inovasi. dalam rangka membangun kemandirian bangsa. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. peranan lembaga intermediasi akan sangat berat jika teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan dan tidak sepadan dengan kapasitas adopsi pengguna. sosiologis. teknologi yang relevan saja memang belum cukup menjadi jaminan bahwa teknologi tersebut akan diadopsi pengguna. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. karena efektivitas hukum merupakan fakta. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan.  Reorientasi Arah dan Prioritas Riset. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan. Selain itu. Syarat yuridis. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. 18 Tahun 2002 . yaitu syarat yuridis.  Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi diharapkan mampu mendorong pengembangan SDM yang relevan dengan kebutuhan. karena masih akan tergantung pada kapasitas adopsi pengguna teknologi. IV Landasan Filosofis. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. menurut Hans Kelsen. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. Sosiologis dan Yuridis Menurut UU No.  Ekosistem Inovasi yang Kondusif dibutuhkan untuk tumbuh-kembang SINas. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. kesesuaian teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna (demand-driven) merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam membangun inovasi nasional.  Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik menjadi isu yang sangat penting. Namun demikian. Ekosistem SINas yang kondusif dapat diwujudkan melalui kebijakan dan 11 Naskah Akademik Perubahan UU No. Secara sosiologis penguatan inovasi nasional dapat memenuhi karakteristik inovasi yang khas Indonesia yang mencakup: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. Menurut Kelsen. teknologi yang dikembangkan harus pula sesuai dengan potensi sumberdaya nasional. Menurut teori kekuasaan. dan filosofis.

terbangunnya masyarakat berbasis pengetahuan.  Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional pada akhirnya akan dievaluasi berdasarkan kontribusi inovasi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. baik pada tingkat global. Panggung SINas yang ideal perlu didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. sehingga lebih berpeluang untuk digunakan dalam proses produksi barang dan/atau jasa. kebijakan pendidikan nasional. dan stabilitas keamanan nasional. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro. disamping sebagai sasaran antaranya adalah pertumbuhan ekonomi. regional. perlu percepatan dalam mewujudkan dan memperkuat inovasi Indonesia yang dimulai dengan perubahan mindset para pengembang teknologi dan meningkatkan peran dunia usaha dalam pembangunan iptek. Selanjutnya secara nyata berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. Secara filosofis penguatan inovasi nasional harus mampu mengantisipasi perubahan lingkungan strategis.  Dinamika Lingkungan Nasional pada tahun 2011 ini ditandai dengan diluncurkannya MP3EI yang menempatkan pembangunan iptek sebagai salah satu strategi utama untuk percepatan dan perluasan pembanguan ekonomi Indonesia. V Jangkauan. kebijakan riset dan pengembangan teknologi. kebijakan 12 Naskah Akademik Perubahan UU No.Bab Judul dan Deskripsi Substansi regulasi yang tepat di berbagai sektor yang secara langsung mempengaruhi kinerja para aktor inovasi dan interaksi antar-aktor tersebut.  Dinamika Lingkungan Global yang paling penting adalah semakin kentaranya kecenderungan untuk mendorong pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Upaya penguatan inovasi nasional harus bersifat dinamis menyesuaikan dengan dinamika perubahan lingkungan strategis. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Oleh sebab itu. keuangan. Arah Pengaturan dan Ruang Lingkup  Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. Pengakuan atas potensi peran iptek ini diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat inovasi nasional. maupun nasional.  Dinamika Lingkungan Regional ASEAN memperlihatkan bahwa posisi Indonesia secara relatif lebih lamban kemajuan pembangunan ipteknya dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. kebijakan perindustrian dan perdagangan. 18 Tahun 2002 . kebijakan ketenagakerjaan. dan perpajakan.

dan swasta. pengembangan. 13 Naskah Akademik Perubahan UU No. [8] revitalisasi DRN. VI Rangkuman dan Rekomendasi Merupakan bagian akhir dokumen yang menyajikan rangkuman terkait dengan unsur dan isu penting dalam penguatan inovasi nasional serta rekomendasi materi perubahan kebijakan dan/atau regulasi yang ada. Kebijakan dapat mendukung arah penguatan inovasi nasional yang mencakup: [1] membangun inovasi sebagai sistem. secara garis besar menekankan pada penguatan empat hal. pendayagunaan. [2] revitalisasi lembaga pengembang teknologi. dan [10] berbasis sumberdaya dan memenuhi kebutuhan nasional. difusi. [6] membangun pusat unggulan inovasi. dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). 18 Tahun 2002 Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. rekayasa inovasi . dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. 4. [4] peningkatan peran lembaga intermediasi. [7] mendorong pembentukan konsorsium inovasi. dan pemanfaatan teknologi. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. 18 Tahun 2002 3. peningkatan hasil. lembaga ristek.  Lingkup Materi Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. 2. pengembangan. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. [3] peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. universitas. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. [5] penyiapan S&T Park. [9] sinkronisasi dan perbaikan regulasi. Dua kebijakan tersebut.Bab Judul dan Deskripsi Substansi penyediaan infrastruktur sosial. yaitu: 1. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian.pengembangan. dan .

Penguatan inovasi nasional haruslah menjadi simpul pengikat antara teknologi dan ekonomi. Keadaan menjadi lebih runyam karena di kalangan akademik pun. misalnya untuk menyejahterakan rakyat. definisi inovasi masih beragam.1. Ketika yang dibahas adalah inovasi. efektif. Oleh sebab itu. Inovasi sebagai suatu sistem yang kompleks tidak dapat dianalisis dengan cara memutilasi komponen-komponennya untuk ditelaah secara terpisah. 18 Tahun 2002 .1. dikaitkan dengan banyak aspek kehidupan. Kajian Teoritis 2. Pengembangan teknologi dalam kerangka penguatan inovasi dirancang agar dapat memberikan 14 Naskah Akademik Perubahan UU No. kebijakan penguatan inovasi secara tersurat mengindikasikan bahwa sistem inovasi yang dimaksud berada pada level negara. karena kata inovasi sudah sangat populer. Pendekatan sistem diperlukan dalam menganalisis maupun dalam merancang kebijakan inovasi nasional SINas yang paling cocok. Konsepsi Inovasi Nasional Adanya pemahaman yang tepat tentang terminologi dasar dan konsepsi pokok merupakan langkah awal yang sangat strategis dan penting untuk dilakukan.Bab 2 Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi 2. Rentang interpretasi itu mulai dari yang sangat ‘longgar’. maka pemahaman tentang inovasi sebagai suatu ‘sistem’ perlu dimantapkan. perlu penegasan tentang apa yang dimaksud dengan inovasi yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. serta dinamikan dan kontinyuitas sirkulasi aliran informasi kebutuhan dan pasokan teknologi merupakan kesatuan utuh yang diperlukan dalam upaya penguatan inovasi. interaksi antara aktor inovasi dengan ekosistemnya.1. digunakan dalam berbagai komunitas. tetapi dengan interpretasi yang sangat variatif. Penguatan inovasi yang akan diwujudkan tentu perlu dijelaskan kepada publik agar publik dapat secara nyata. Interaksi dinamis antar-aktor. atau terdiri dari banyak sub-sistem sesuai dengan karakteristik persoalan dan potensi sumberdaya masing-masing satuan wilayah dalam suatu negara yang diikat oleh satu tujuan kolektif. dan efisien memberikan kontribusinya bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. Hal ini sangat relevan dalam memformulasikan kebijakan publik dan/atau regulasi yang secara legal sifatnya mengikat semua pihak. sebaliknya juga tidak bisa dirancang komponen-komponennya secara parsial baru kemudian dirajut menjadi inovasi nasional. Namun masih perlu dijelaskan bahwa sistem dimaksud bersifat sentralistik menjadi sebuah sistem tunggal yang besar dan kompleks. Pemahaman yang tepat ini sangat diperlukan ketika pokok bahasannya terfokus pada inovasi. yakni inovasi dipadankan sebatas sesuatu yang berbeda (dari yang umumnya sudah diketahui) sampai ke definisi akademik yang lebih teknis dan spesifik. Dalam suatu sistem.

termasuk ekonomi. melakukan sesuatu dengan metoda yang berbeda. dan sosiologi. Semua komponen masyarakat menggunakan kata ini baik dalam komunikasi sosial maupun pada forum yang lebih formal. Pada awalnya inovasi diartikan sebagai suatu proses untuk memperbarui sesuatu yang sudah ada atau menghasilkan sesuatu yang dianggap baru. teknologi. bisnis. tidak dapat lagi hanya dengan mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam. Dalam perspektif ekonomi. Perubahan tersebut dapat terlihat dari produk yang dihasilkan. serta akan pula diberi penegasan pada bab ini tentang pengertian dan konsepsi dasar yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. namun belum tentu dapat menghasilkan uang dari hasil temuannya tersebut. kemudian ditransformasi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Walaupun inovasi lebih sering dikaitkan dengan produk yang dihasilkan. Inovasi dapat dimaknai sebagai upaya mengubah nilai-nilai yang selama ini telah menjadi landasan dari suatu sistem. maka sangat mungkin akan membuka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda. disingkat KBE). proses untuk menghasilkan produk tersebut. dan KBE selanjutnya akan ditelaah secara lebih komprehensif. Inovasi sering dicampur-aduk pengertiannya dengan invensi. Inovasi merupakan sebuah kata yang saat ini sedang ‘naik daun’. Persoalannya adalah walaupun masing-masing pihak menggunakan kata yang sama. 18 Tahun 2002 . inovasi harus menghasilkan nilai tambah atau peningkatan produktivitas. atau struktur dan fungsi organisasi yang berperan dalam proses produksinya. namun sangat mungkin bahwa pihak-pihak tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda tentang inovasi. Proses yang dimulai dari ide. pembangunan perekonomian harus berbasis pada pengetahuan (knowledge-based economy. sedangkan inovasi lebih dilihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. namun dalam perspektif ekonomi. memunculkan unsur yang sama sekali baru.kontribusi nyata terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Para ekonom era modern yakin bahwa di saat sekarang dan di masa yang akan datang mesin utama yang akan mendorong perkembangan perekonomian suatu negara adalah tingkat penguasaan dan aplikasi dari teknologi yang dikuasai tersebut. invensi adalah proses atau produk baru yang secara nyata berbeda atau sama sekali baru dibandingkan dengan proses atau produk serupa yang telah ada. atau sesuatu yang sama sekali baru. Ada perumpamaan yang menarik untuk membedakan antara invensi dan inovasi. engineering. Kedua terminologi ini sebetulnya berbeda. sedangkan inventor menemukan sesuatu yang baru. inovasi telah menjadi topik yang penting dalam berbagai bidang ilmu. Invensi merupakan proses konversi uang menjadi ide. proses untuk menghasilkan produk tersebut juga sama pentingnya. konsepsi tentang pendekatan sistem. World Bank (2010) menyatakan bahwa “what is not disseminated 15 Naskah Akademik Perubahan UU No. Saat ini. Inovasi diadopsi dari Bahasa Latin ‘innovatus’ yang berarti memperbarui. Pengertian inovasi. sedangkan inovasi mengubah ide menjadi uang. desain. atau melakukan perubahan cara berpikir yang radikal dan revolusioner. Jika suatu sistem berubah. Oleh sebab itu. atau memilih sesuatu yang diluar norma yang berlaku. Inovasi dapat berkaitan dengan penambahan atas sesuatu yang telah ada. Inovator menghasilkan keuntungan finansial dari hasil karyanya. Untuk melakukan suatu pembaruan berarti seseorang perlu mengubah caranya dalam membuat keputusan.

Hal ini perlu untuk membedakan antara penghela endogen (endogenous drivers). cara pemasaran. workplace organization or external relations”. is not an innovation”. Proses yang panjang ini hampir selalu melibatkan banyak aktor. yakni para aktor yang memberikan dukungan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi nasional (Bathelt. yakni para aktor yang secara langsung menggerakkan inovasi. maupun para aktor yang berperan dalam membangun ekosistem yang kondusif bagi keberlangsungan aliran tersebut. OECD’s Oslo Manual 2005 Guidelines for Collecting and Interpreting Innovation Data 8 16 Naskah Akademik Perubahan UU No.8 Inovasi merupakan implementasi dari suatu produk. Proses inovasi berlangsung mulai dari munculnya ide di benak para inovator sampai pada termanfaatkannya produk inovatif tersebut. membuka peluang bagi produk dan proses inovatif untuk digunakan dalam berbagai aktivitas manusia. maka inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). [3] status yang lebih baik ini. proses. Pengertian inovasi versi UUNo. a new marketing method. sehingga pada dasarnya inovasi merupakan sesuatu yang bermanfaat. organisasi kerja. [4] kemanfaatan suatu produk merupakan prasyarat untuk komersialisasi atau untuk peningkatan kesejahteraan sosial. Interaksi antar-aktor dan interaksi antara aktor dengan ekosistem inovasi bersifat sangat dinamis dan timbal-balik. Proses inovatif selalu membentuk suatu sistem yang kompleks. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini. pengembangan. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi ”. maka sangatlah penting untuk membekali setiap pihak yang terlibat dalam upaya mewujudkan inovasi nasional untuk memahami konsepsi pendekatan sistem. dengan penghela eksogen (exogenous drivers). 2003). Dengan demikian. 18 Tahun 2002 . atau pemerintah. yang tentunya hanya dapat terlahirkan dari pemikiran yang kreatif. cara pemasaran. Uraian dan referensi di atas memberikan pemahaman bahwa: [1] inovasi merupakan sesuatu (produk. proses. Metoda organisasi mencakup praktek bisnis. proses. metoda pemasaran. Berdasarkan ini. 7 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UUNo. atau metoda organisasi) yang baru. Produk dapat berupa barang maupun jasa. Telaah secara partial dengan pendekatan linier tak akan mampu menjelaskan sistem inovasi secara komprehensif dan benar. baik yang terlibat secara langsung dalam aliran ide menjadi produk yang bermanfaat. Oleh sebab itu. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. atau metoda organisasi yang telah dikenal sebelumnya. bermakna pula bahwa inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). tidak dapat dilakukan secara linier. Perlu dibedakan antara unsur sistem dengan lingkungannya (ekosistem). [2] inovasi selain baru.7 OECD (2005) menggunakan definisi inovasi: “An innovation is the implementation of a new or significantly improved product (good or service). or process. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. atau hubungan dengan pihak eksternal. masyarakat awam. penelaahan inovasi harus dilakukan dengan pendekatan sistem. juga harus pula secara signifikan lebih baik dari produk. atau metoda organisasi yang baru atau secara signifikan telah diperbaiki.and used. or a new organizational method in business practices. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru.

Sistem Inovasi Nasional (SINas) didefinisikan dalam beberapa versi. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Nelson (1993). difusi. disebutkan bahwa “ SINas adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. menyimpan. [3] memahami adanya hirarki/jenjang dalam suatu sistem dan ‘mutual casuality’ dalam masingmasing jenjang maupun antar-jenjang. yakni sebagai sekumpulan institusi yang secara sendiri dan bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan dan difusi teknologi baru serta memberikan kerangka bagi pemerintah dalam membuat dan mengimplementasikan kebijakan untuk mempengaruhi proses inovasi. 17 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dengan kata lain. ketrampilan. Definisi SINas yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Metcalfe (1995). yang menyatakan bahwa SINas sebagai sekelompok institusi yang interaksinya menentukan kinerja inovatif suatu negara. Pemilahan ini hanya untuk membedakan posisi peran para aktor yang terlibat. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. lembaga riset dan teknologi. mendayagunakan. mendukung. Mingers dan White (2010) merinci bahwa pendekatan sistem (systems approach) mencakup: [1] melihat situasi secara holistik (berarti tidak bersifat reduksionis). dapat ditemui dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional.Liu dan White (2001) menggunakan istilah aktor primer dan sekunder. dan artefak untuk melahirkan teknologi-teknologi baru.”. Mingers dan White (2010) menyatakan bahwa systems thinking is a discipline in its own right. Selanjutnya. dan penggunaan pengetahuan baru yang bernilai ekonomi yang berada dalam atau berasal dari suatu negara. with many theoretical and methodological developments. Sementara Patel dan Pavitt (1994) mengambarkan SINas sebagai kelembagaan-kelembagaan nasional dengan struktur dan kompetensinya yang menentukan laju dan arah pembelajaran teknologi (technological learning) pada suatu negara. difusi. 2005) Pendekatan sistem merupakan buah dari pemikiran sistemik (systems thinking). SINas merupakan suatu sistem keterkaitan antar-kelembagaan untuk menciptakan. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. 18 Tahun 2002 . sebagai kumpulan elemen yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan tertentu. modifikasi. but it is also applicable to almost any problem area because of its generality. dan [4] memahami bahwa manusia akan beraksi sesuai dengan tujuan dan rasionalitas yang berbeda. Definisi menurut peraturan perundang-undangan. sedangkan Lundvall (1992) mendefinisikan SINas sebagai elemen dan hubungan yang interaktif dalam proses produksi. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. tetapi akan keliru jika pembagian ini berdampak pada pengisolasian sistem dari lingkungannya (Asheim dan Coenen. [2] memposisikan hubungan atau interaksi antara elemen lebih penting dari elemen-elemennya sendiri dalam membentuk perilaku sebuah sistem. dan mentransfer pengetahuan. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. dan impor teknologi baru. Freeman (1987) mendefinisikan SINas sebagai jaringan kelembagaan pemerintah dan/atau swasta yang melaksanakan dan berinteraksi dalam inisiasi.

yakni berdasarkan pendekatan supply-push dan pendekatan demand-driven. adopsi teknologi oleh para pengguna teknologi di banyak negara (terutama negara-negara berkembang) masih sangat minimal. Oleh sebab itu.Berdasarkan berbagai definisi di atas. dan preferensi masyarakat yang dapat dideteksi langsung oleh pihak pengembang teknologi maupun melalui mitranya dari komunitas bisnis. The World Bank (2010) dengan sangat tegas mencanangkan bahwa sesuatu (baca: teknologi) yang tidak didiseminasikan dan tidak digunakan bukanlah inovasi. Berdasarkan informasi ini. dan [4] ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. [3] produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. difusi. terutama industri yang akan memanfaatkannya untuk menghasilkan produk komersial berupa barang dan jasa. dapat difasilitasi atau tanpa difasilitasi oleh Pemerintah atau pihak lain yang kompeten. kegalauan akan rendahnya adopsi teknologi tersebut terlihat mewarnai definisi atau deskripsi SINas yang diusung pada kurun waktu tahun 2000-an. yakni: [1] kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. lembaga riset dan/atau institusi pendidikan tinggi 9 Dicuplik dari keynote address oleh Nawaz Sharif (2010) berjudul ‘Govern ance of Innovation Systems in the Current Global Setting’. serta telah menyebutkan bahwa teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang punya potensi untuk dikomersialisasikan. kebutuhan. Produk teknologi yang dihasilkan kemudian didifusikan kepada pihak pengguna. Sinyal kebutuhan masyarakat ini diterjemahkan oleh industri dalam bentuk kebutuhan teknologi untuk memproduksi barang dan/atau jasa yang sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut. di LIPI. Proses difusi teknologi tersebut dapat melalui atau tanpa melalui lembaga intermediasi. yang memberi ketegasan bahwa teknologi yang dihasilkan harus berakhir dengan dimanfaatkannya teknologi tersebut oleh para pengguna. Sharif (2010) mendeskripsikan inovasi sebagai upaya kolektif mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai (turning idea into values).yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. Pendekatan supply-push mengutamakan dan dimulai dari proses pengembangan teknologi oleh institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset. 18 Tahun 2002 . Jakarta 18 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengertian dasar dalam sistem inovasi nasional ini diperkuat dalam Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. inovasi harus diawali dengan menjawab tiga pertanyaan yang sangat fundamental. Definisi SINas yang diusung pada periode 1980-1990an telah menyebutkan bahwa SINas mencakup kegiatan difusi dan pemanfaatan teknologi. Namun demikian. maka ada beberapa pengertian dasar yang dapat ditarik berkaitan dengan SINas. Prakteknya. dan pemanfaatan teknologi. yakni: [1] what is possible with technology? [2] what is desirable to the society? [3] what is viable in the market?9 Pendekatan dalam upaya penguatan inovasi nasional secara ekstrim dapat dibedakan menjadi dua. [2] pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan –baik pemerintah maupun swasta. Pengembangan inovasi nasional dengan pendekatan demand-driven mengutamakan dan dimulai dari pemahaman tentang masalah.

dalam penguatan inovasi. Keyakinan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kemajuan perekonomian dengan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan ‘mazhab’ ekonomi baru. and high skill levels. and the increasing need for ready access to all of these by the business and public sectors’ .10 KBE pada prinsipnya merupakan ekonomi yang secara langsung berbasis pada produksi. dalam kerangkeng regulasi yang kaku. dan tenaga kerja berketerampilan tinggi. informasi. maka sumberdaya ekonomi ini harus mudah diakses oleh dunia usaha dan para penguna lainnya. karena lebih berpeluang untuk diadopsi industri. Selain besaran nilai investasi untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi. Sejak tahun 1960-an mulai muncul keyakinan bahwa perbedaan kemajuan perekonomian antar-negara terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi dari masing-masing negara (Fagerberg dan Srholec. information. sebagian komunitas akademik dan peneliti menganggap pendekatan demand-driven akan mengebiri kreativitas ilmiah. sebagaimana halnya teori fisika. Teori Pertumbuhan Baru (New Growth Theory) mencerminkan upaya untuk memahami tentang peran pengetahuan dan teknologi dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. kemajuan perekonomian lebih banyak dikaitkan dengan jumlah uang yang terakumulasi (accumulated capital) per tenaga kerja. yakni dengan memadukan pendekatan supply-push dan demand-driven. misalnya dalam kondisi serba keterbatasan. Sebelum periode tersebut. Maknanya. Akan tetapi. dan penggunaan pengetahuan dan informasi. walaupun pendekatan demand-driven yang dipilih tetapi tidak berarti ruang untuk pendekatan supply-push digusur habis. ekonomi saat ini semakin bergantung pada kemajuan pengetahuan dan teknologi. Anggapan yang demikian. yakni ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy selanjutnya disingkat KBE) yang menunjukkan bahwa dalam perkembangannya. Inovasi yang dikembangkan melalui pendekatan demand-driven akan lebih berpeluang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan perekonomian. mengabaikan kenyataan bahwa kreativitas sesungguhnya lebih terangsang untuk muncul pada kondisi yang ‘tidak nyaman’. 18 Tahun 2002 . pendidikan dan pelatihan. Untuk dapat memberikan dampak nyata dan langsung. Walaupun demikian. Investasi di bidang riset dan pengembangan. distribusi. proses aliran hanya akan terjadi jika ada perbedaan derajat antara posisi asal dan posisi sasaran. 2008). kelancaran distribusi pengetahuan (baik melalui 10 OECD (2005) mendefinisikan ekonomi berbasis pengetahuan sebagai: ‘an expression coined to describe trends in advanced economic towards greater dependence on knowledge. 19 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta manajerial merupakan determinan penting KBE. Secara teoritis dapat dimunculkan pendekatan yang moderat dan akomodatif. Pilihan pendekatan tersebut lebih untuk menjamin agar aliran teknologi dapat terjadi secara berkesinambungan dan komersialisasi produk yang dihasilkan dapat menjadi pasokan ‘energi’ untuk kontinuitas aliran teknologi tersebut. di bawah tekanan. dan tentu termasuk dalam kondisi keharusan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan pasar.mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan. Saat ini banyak upaya yang dilakukan oleh para ahli ekonomi untuk menjelaskan secara langsung (baik secara teoritis maupun pengembangan model) tentang kontribusi pengetahuan dan teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi.

institusi pendidikan tinggi perlu dirancang agar selain mampu menyelenggarakan pendidikan yang secara akademik berkualitas. Dalam konteks komersialisasi. Lapangan kerja dalam konteks KBE akan lebih banyak membutuhkan tenaga kerja dengan ketrampilan tinggi atau berpendidikan tinggi. 18 Tahun 2002 . Upaya yang umum dilakukan untuk merangsang atau mempercepat difusi teknologi adalah membentuk lembaga intermediasi. mengingat bahwa dinamika perubahan pengetahuan dan teknologi berlangsung dalam tempo yang cepat. atau dibutuhkan tapi kalah handal secara teknis dan/atau kurang kompetitif secara ekonomi.jalur formal maupun informal) juga merupakan faktor esensial yang mempengaruhi kinerja perekonomian. Indikator dari sisi keluaran kegiatan riset dan pengembangan serta distribusinya diyakini akan lebih relevan. Produk teknologi yang pengembangannya tidak berorientasi pada kebutuhan nyata tentu akan sulit dijual ke pengguna. jumlah dan kualitas personel pengembang teknologi) belum cukup untuk memberikan gambaran tentang kinerja KBE. 11 Elaborasi lebih mendalam mengenai isu ini dapat dibaca pada Lakitan (2009):”Kebijakan Pengembangan dan Implementasi Sistem Inovasi Nasional: menjembatani pendidikan. untuk mendukung KBE. Walaupun demikian. tidak semua pakar ekonomi sependapat bahwa TFP bisa mencerminkan kontribusi teknologi. Oleh sebab itu. 20 Naskah Akademik Perubahan UU No. Prinsip dasarnya adalah bahwa teknologi hanya memberikan kontribusi jika digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk barang/jasa yang dibutuhkan konsumen. industri.11 Upaya untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan perekonomian dilakukan antara lain dengan menghitung Total Factor Productivity (TFP). riset. dan konsumen”. Adopsi teknologi akan terjadi jika pihak pengembang teknologi memahami kebutuhan pihak pengguna. Kesimpulan dari kajian yang dilakukan oleh Lipsey dan Carlaw (2001) patut direnungkan: “ There is no reason to believe that changes in TFP in any way measure technological change” . pendidikan dan ketrampilan tinggi tersebut perlu mempunyai relevansi yang juga tinggi dengan persoalan dan kebutuhan nyata. Penguasaan pengetahuan dan teknologi yang tinggi tetapi hanya terisolir di kalangan akademik atau periset semata tidak akan memberikan dampak terhadap kinerja perekonomian. Jurnal Dinamika Masyarakat 8(1):1501-1516. Kelemahan teoretis dan ketidakkonsistenan empiris dari hasil perhitungan pada berbagai negara dengan tingkat kemajuan teknologi yang berbeda menjadi lahan subur untuk perdebatan. Indikator yang berbasis pada nilai investasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semata (seperti jumlah belanja riset dan pengembangan. Intensitas hubungan dan kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi antaraktor dalam sistem inovasi akan menjadi faktor penentu kinerja perekonomian. lembaga intermediasi akan sulit berfungsi efektif jika teknologi yang ditawarkan adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan. juga harus pula memahami persoalan dan kebutuhan nyata agar dapat mengemas kurikulum yang relevan terhadap persoalan dan kebutuhan nyata tersebut. antara lain karena keterbatasan dan mutu indikator terkait pengetahuan yang saat ini tersedia. Akan tetapi. Ada kesulitan dalam mengevaluasi ekonomi berbasis pengetahuan. pengguna yang dimaksud adalah industri yang memahami kebutuhan dan preferensi konsumen. Namun demikian.

lembaga penelitian dan pengembangan. 18 Tahun 2002 menyebutkan pula perlunya peran aktif warganegara dalam pelaksanaan kegiatan penguasaan. para pengguna teknologi. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU No. lembaga litbang. Aktor Inovasi Nasional Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Gugus indikator [1] memperlihatkan pentingnya mengetahui penambahan stok pengetahuan per satuan input pada kegiatan riset dan pengembangan. maka ada baiknya aktor yang banyak tersebut dipilah menjadi: [1] aktor utama (primer) yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi. Untuk memudahkan pemahaman dan agar kompleksitas yang ada tidak mengaburkan esensi dasar dari inovasi. Sedangkan gugus indikator [4] melingkupi indikator ‘human capital’.misalnya data stok pengetahuan dan kelancaran aliran distribusi/difusinya. 18 Tahun 2002) menggunakan terminologi kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai aktor inovasi. Gugus indikator [2] merupakan indikasi dari besarnya perolehan sosial dan kemanfaatan bagi publik per satuan input kegiatan riset dan pengembangan.2. dan para pihak yang memfasilitasi dan/atau melakukan intermediasi interaksi dan komunikasi antara penyedia dan pengguna teknologi. atau kegiatan lain yang terkait langsung dengan upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. 18/2002 menetapkan bahwa ‘kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. dan pemajuan iptek.12 Namun demikian UU No. [3] knowledge networks. serta mengetahui kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi dari penyedia ke pengguna. yakni indikator terkait: [1] knowledge stocks and flows. Gugus indikator [3] memberikan indikasi tentang proses aliran dan intensitas interaksi antara aktor inovasi.1. serta tingkat ketrampilan dan relevansi pendidikan tenaga kerja. dan [4] knowledge and learning. dan lembaga penunjang’. Aktor utama terdiri dari para pengembang/penyedia teknologi. badan usaha. Kompleksitas penguatan inovasi tercermin antara lain dari banyaknya aktor yang terlibat dan ikut menentukan atau mempengaruhi kinerja sistem ini. dan [2] aktor penunjang (sekunder) yang berperan dalam membentuk ekosistem yang kondusif agar aktoraktor utama dapat unjuk kinerja secara optimal. mengukur kemanfaatan bagi publik untuk investasi di bidang pendidikan dan pelatihan. Pengembangan. mulai dari pengembangannya sampai pada penggunaannya untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. Nuansa kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini mencakup perguruan tinggi. dan lembaga penunjang merupakan aktor-aktor utama dalam inovasi. [2] knowledge rates of return. 2. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002 merupakan unsur penting dari 12 Pasal 6 ayat (1) UU No. 21 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemanfaatan. badan usaha. intensitas interaksi antara aktor sistem inovasi. OECD (1996) mengidentifikasi empat gugus indikator penting yang perlu dikembangkan teknik pengukurannya (secara statistik) untuk mengevaluasi kinerja KBE.

18 Tahun 2002 . sebelumnya dikenal sebagai LPND) yang (salah satu) tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan kegiatan riset dan pengembangan. misalnya institusi riset non-pemerintah. dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini antara lain disebabkan karena kegiatan riset masih lebih diposisikan sebagai ‘academic exercises’. belum fokus pada upaya untuk menghasilkan invensi dan inovasi. atau bagian dari organisasi pemerintah. unsur pelaksana riset dan pengembangan pada industri.pengembang/penyedia teknologi. UU No. 22 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengelompokan ini digunakan dalam mengevaluasi kinerja lembaga riset dan pengembangan negara-negara dunia. dan organisasi masyarakat. negeri maupun swasta. 13 OECD (2002) membuat klasifikasi lembaga riset dan pengembangan (R&D) berdasarkan pengelola. 18 Tahun 2002 hanya mengenal dua lembaga pengembang teknologi. [3] lembaga R&D pemerintah (government). penyandang dana. mengemban tiga tugas pokok yang dikenal sebagai tridharma perguruan tinggi. Lembaga R&D pemerintah termasuk: [1] Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK. lembaga penunjang. yakni melakukan pendidikan dan pengajaran. [2] lembaga R&D bisnis (business enterprise). Berdasarkan kriteria ini maka ada empat kelompok lembaga R&D. perguruan tinggi. penelitian. yakni dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. tetapi mencakup semua pihak yang secara nyata melakukan kegiatan pengembangan teknologi. dan [4] lembaga R&D nirlaba (private non-profit). 13 Pasal 8 ayat (3) UU No. yakni perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan. dan [2] unit kerja penelitian dan pengembangan pada kementerian dan pemerintah daerah. yakni: [1] perguruan tinggi (higher education). pemerintah daerah. pemegang kendali kebijakannya. Namun demikian pengembang/penyedia teknologi tidak hanya terbatas pada dua unsur tersebut. Seluruh perguruan tinggi di Indonesia. badan usaha.18/2002 menetapkan lembaga-lembaga yang tergolong sebagai lembaga litbang. Namun demikian. dan orientasi komersialisasi produk riset yang dihasilkannya (Gambar 1). Kiprah dan kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum kentara. dan para periset individual. mayoritas perguruan tinggi di Indonesia masih lebih dominan terkonsentrasi pada kegiatan pendidikan dan pengajaran.

baik riset untuk mendapatkan informasi kebutuhan dan selera konsumen yang akan dijadikan dasar dalam pengembangan strategi pemasaran maupun riset-riset pengembangan produk.Lembaga Riset & Pengembangan Apakah berada dalam institusi pendidikan tinggi? YA Perguruan Tinggi Apakah produknya dijual sesuai harga pasar? YA Badan Usaha Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh badan usaha? YA Badan Usaha YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Perguruan Tinggi Lembaga Pemerintah YA Perguruan Tinggi Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh pemerintah? TIDAK Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh lembaga non-pemerintah? TIDAK YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Lembaga Non-Pemerintah Jika kendali dan pembiayaan dilakukan oleh pihak yang berbeda. misalnya terkait dengan kepedulian mengenai isu lingkungan. kesejahteraan rakyat. 18 Tahun 2002 . Riset yang dilakukan badan usaha jelas berorientasi komersil. dan peningkatan peradaban bangsa. maka status lembaga riset & pengembangan tersebut tergantung pada pihak mana yang dominan membiayainya TIDAK TIDAK TIDAK YA Perguruan Tinggi Badan Usaha Lembaga Pemerintah Gambar 1. 2002) Sementara kegiatan riset di perguruan tinggi lebih berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Positif dalam konteks pengembangan teknologi akan mengalami akselerasi mengingat potensi kekuatan dunia usaha dalam membiayai kegiatan riset dan relevansi teknologi yang dikembangkan juga akan semakin meningkat. karena dunia usaha 14 Sesuai dengan amanah konstitusi UUD 1945. walaupun saat ini sering dikemas dengan berbagai ‘bungkus’ lain dalam rangka membangun citra perusahaan atau memanfaatkan kecenderungan preferensi konsumen. maka selayaknya riset yang dilaksanakan oleh lembaga R&D pemerintah lebih fokus pada upaya menyediakan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat dan negara dan/atau menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dalam rangka mendukung pembangunan perekonomian nasional.14 Banyak industri dan badan usaha lainnya mempunyai unit kerja yang tugas utamanya adalah melakukan riset dan pengembangan. Peningkatan intensitas kegiatan riset oleh badan usaha dapat menjadi indikasi yang positif tetapi sekaligus juga negatif. tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa. Klasifikasi berdasarkan status formal lembaga riset dan pengembangan (adaptasi dari OECD. 23 Naskah Akademik Perubahan UU No.

sedangkan masyarakat dan pemerintah lebih bersifat bauran antara komersial dan pelayanan publik. maka sudah sepatutnya teknologi yang dihasilkan tersebut dapat digunakan oleh pemerintah dan masyarakat secara bebas. apabila kecenderungan ini merupakan bentuk reaksi dari dunia usaha atas rendahnya relevansi dan/atau mutu teknologi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah. peternak. jika pengembang teknologinya adalah lembaga R&D pemerintah. Lembaga R&D nirlaba ini lebih banyak berkiprah di ranah ilmu-ilmu sosial. Walaupun saat ini.tidak akan melakukan kegiatan riset jika tidak ada potensi kemanfaatan hasilnya. Mengingat pada saat ini segmen industri besar cenderung lebih bergantung pada teknologi asing (yang mungkin disebabkan 15 UU No. misalnya petani. terutama fokus pada isu-isu hangat pada tataran global. Jurang yang masih membentang lebar antara perguruan tinggi atau lembaga R&D pemerintah dengan dunia usaha merupakan peluang untuk tumbuh kembang lembaga R&D independen. dan isu lingkungan (deforestasi. Dapat bersifat komersial jika lembaga pengembang teknologinya bukan merupakan lembaga R&D pemerintah. misalnya isu sosial (kesejahteraan rakyat. Bukan rahasia umum bahwa saat ini komunikasi dan interaksi antara para pihak pengembang teknologi (perguruan tinggi dan lembaga R&D pemerintah) dengan pihak industri belum terbangun secara intensif. 24 Naskah Akademik Perubahan UU No.15 Unsur pengguna lainnya adalah [1] masyarakat pelaku produksi barang/komoditas/jasa. Industri produsen barang dan jasa di Indonesia banyak yang hanya merupakan unit produksi dari sebuah perusahaan multinasional atau hanya bersifat sebagai penerap teknologi asing yang sudah mapan yang dilaksanakan berdasarkan lisensi yang diberikan oleh pihak-pihak pengembang teknologi luar negeri. Perlu diingat bahwa kepemilikan paten lazimnya adalah ditangan pihak yang membiayai kegiatan pengembangan teknologi yang bersangkutan. perubahan iklim). sehingga kebutuhan dan kapasitas adopsi teknologinya relatif rendah. Lembaga R&D swasta nirlaba sudah berkiprah lama di Indonesia dengan sumber pembiayaan umumnya dari lembaga-lembaga internasional. Kecenderungan peningkatan intensitas riset oleh dunia usaha dapat pula menjadi indikasi negatif. nelayan. pencemaran/polusi. pengrajin. kegiatannya tidak dibiayai oleh pemerintah. desentralisasi. Badan usaha di Indonesia masih dominan bergerak di sektor perdagangan. Sebaliknya. atau merupakan lembaga R&D asing. isu politik dan pemerintahan (demokratisasi. 18 Tahun 2002 hanya menyebutkan badan usaha sebagai aktor pengguna teknologi. atau kegiatan pengembangan teknologi dimaksud sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah. Badan usaha merupakan pengguna teknologi yang bersifat komersial. pendidikan anak). korupsi). hak asasi manusia. Dunia usaha akan selalu memposisikan biaya riset sebagai bagian dari investasi. Badan usaha atau industri merupakan salah satu unsur pengguna teknologi. 18 Tahun 2002 . penyakit menular. lembaga R&D yang berorientasi komersial umumnya masih merupakan unit kerja internal lembaga bisnis. namun cikal-bakal lembaga R&D komersial yang independen sudah mulai nampak tumbuh. Kapasitas adopsi para pengguna teknologi di Indonesia masih belum besar. dan [2] pemerintah dalam rangka melaksanakan pelayanan publik dan untuk menjaga kedaulatan negara.

tersebut di beberapa kota. 18 Tahun 2002 . Pemerintah seharusnya menjadi pengguna utama teknologi dalam negeri. baru setelah pasar domestik dikuasai (dan teknologi Indonesia sudah lebih kompetitif) maka pertimbangan ekspor teknologi nasional menjadi lebih layak diupayakan. Misalnya. Oleh sebab itu. maka pengguna teknologi domestik yang paling potensial adalah masyarakat awam dan usaha kecil dan menengah (UKM). 17 25 Naskah Akademik Perubahan UU No. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa dan kebutuhan peralatan utama sistem pertahanan (alutsista) nasional yang besar. masih dibanjiri oleh teknologi maupun produk teknologi asing. BTC yang dikelola BPPT telah dilebur masuk ke dalam organisasi BPPT Engineering. yakni Business Technology Center (BTC) di 8 lokasi. Sejak tahun 2010. dan sebagian lagi karena teknologi hasil pengembangan dalam negeri yang tidak sesuai dengan 16 Sudah ada arahan dari Presiden RI agar kebutuhan teknologi dan produk teknologi di bidang pertahanan dan keamanan memprioritaskan teknologi dalam negeri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian bangsa. harusnya segmen pengguna ini harus dipasok penuh oleh pengembang teknologi domestik. Kenyataannya. peran intermediasi dan fasilitasi ini diharapkan dimainkan lebih banyak oleh pemerintah. Orientasi pengembangan teknologi Indonesia perlu lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dan pemecahan persoalan dalam negeri terlebih dahulu.karena kemampuan teknologi nasional belum memadai untuk memasok kebutuhan teknologi tersebut atau mungkin karena alasan lain yang bersifat non-teknis). Pendirian BTC ini merupakan tidak lanjut rekomendasi dari hasil kajian ‘Periskop’ yang dilaksanakan pada tahun 2000 atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Jerman. terutama Jepang dan Cina. sebagian penyebabnya berasal dari kapasitas dan kompetensi lembaga yang tidak memadai. teknologi yang dibutuhkan masyarakat awam dan UKM pun belum sepenuhnya dikuasai oleh teknologi domestik. Kementerian Riset dan Teknologi. Untungnya benih padi sudah dapat dipenuhi dari hasil riset dan teknologi dalam negeri. karena secara langsung akan meningkatkan aliran dana untuk pembiayaannya. mengingat luas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sedemikian besar. pernah mendorong pembentukan lembaga yang dirancang khusus untuk fungsi intermediasi ini.16 Disamping untuk meningkatkan kemandirian bangsa. terutama teknologi di bidang pertahanan dan keamanan. kebutuhan alat dan mesin pertanian masih dominan diimpor dari berbagai negara. Pihak ketiga yang tergolong sebagai aktor utama inovasi adalah para pihak yang berperan sebagai intermediator atau fasilitator untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara para pengembang dengan para pengguna teknologi. juga penggunaan teknologi dalam negeri akan menggairahkan kegiatan pengembangan teknologi itu sendiri.17 Namun peran intermediasi dari lembaga-lembaga BTC tersebut kelihatannya masih jauh dari harapan. merupakan dua argumen utama untuk menjadikan kebutuhan domestik sebagai pasar utama bagi produk teknologi dalam negeri. Untuk menjalankan peran intermediasi. misalnya. Pada saat ini. Pemerintah tentunya dapat membentuk lembaga-lembaga khusus untuk menjalankan fungsi/tugas ini.

18 Tahun 2002. Pengembangan. dan pemerintah (A-B-G) dalam proses inovasi. Visi BIC adalah menjadi lembaga intermediasi inovasi bisnis yang terdepan. dimana aktor-aktor utama inovasi akan difasilitasi untuk berada dalam kawasan yang sama. BIC ditempatkan di kawasan Puspiptek Serpong sesuai dengan skenario untuk menjadikan kawasan ini sebagai Science and Technology Park (STP). [2] menyiapkan sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk aktor penggerak sistem inovasi. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (UU No. dalam menunjang daya saing ekonomi dan bisnis di Indonesia. sehingga dalam waktu 10 tahun. Lembaga pendukung mencakup lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan dan/atau kapasitas untuk: [1] membuat regulasi dan/atau kebijakan terkait tumbuh-kembang inovasi nasional maupun daerah. Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. pemanfaatan. dan pengguna teknologi di kawasan ini diharapkan dapat menjadi model implementasi Sistem Inovasi Nasional. pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi juga telah menfasilitasi pendirian Business Innovation Center (BIC) pada tahun 2008. bisnis. secara resmi disingkat MEXT) Jepang 18 19 Entah mengapa lembaga-lembaga intermediasi yang dibentuk penamaannya selalu menggunakan bahasa Inggeris. Sport. 19 . 18 Tahun 2002 Selain tiga aktor utama inovasi yang telah dijelaskan sebelumnya. juga banyak aktor atau lembaga pendukung lainnya yang berperan penting dalam membangun inovasi secara lebih produktif dan berkesinambungan. Budaya. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. dan [4] membangun infrastruktur sosial. walaupun lebih banyak orientasinya adalah untuk memediasi antara pengembang teknologi nasional dengan para (calon) pengguna potensial di dalam negeri. Teknologi yang dikembangkan lebih mahal dan/atau kalah handal dibandingkan dengan teknologi sejenis yang sudah tersedia di pasar. Sejak 2011. Science and Technology. Kelembagaan yang dikategorikan sebagai pendukung adalah lembaga atau aktor yang tidak terlibat langsung dalam proses pengembangan.18 Sejak tahun 2008 tersebut. dan yang terakhir ‘103 Inovasi Indonesia’ (2011). 26 Naskah Akademik Perubahan UU No. difusi. maupun penggunaan teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan publik maupun negara. Keterkaitan lembaga-lembaga pengembang. ‘101 Inovasi Indonesia (2009). tetapi berperan nyata dan signifikan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh-kembang inovasi. Untuk penguatan peran intermediasi ini. [3] memberikan dukungan finansial bagi para aktor inovasi dalam menjalankan perannya masing-masing. Hal ini dilakukan dengan mensinergikan elemen-elemen akademisi. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. Kedekatan secara fisik diyakini akan mampu merangsang aktor-aktor tersebut untuk meningkatkan komunikasi dan interaksinya. Culture. kegiatan inovasi di Indonesia akan menjadi unggulan (benchmark) negara-negara lain di ASEAN. Kementerian Pendidikan. Olahraga. intermediasi. ‘102 Inovasi Indonesia’ (2010). melalui serial terbitan buku ‘100 Inovasi Indonesia’ (2008).kebutuhan nyata (tidak relevan). BIC telah menerbitkan katalog tahunan hasil-hasil riset yang dianggap berpeluang untuk dikomersialisasikan. Pasal 10 ayat (1)).

tradisi. tidak ditampakkan posisi dan peran lembaga intermediasi dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. Namun demikian dalam konsepsi MEXT tersebut. Suatu hal yang menarik dari konsepsi ini adalah: [1] fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. ketenagakerjaan. Pasar Pasar Permintaan Produk & jasa Industri Basis Pengetahuan Pengembang Kerjasama Teknologi [Univesitas. Diagram Konsepsi Sistem Inovasi Nasional (adaptasi dari MEXT. antara lain misalnya: pemberian insentif teknis dan/atau finansial bagi badan usaha yang menggunakan teknologi nasional dalam kegiatan usahanya.menggunakan diagram konseptual untuk memperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang ini (Gambar 2). 2002) Regulasi dan kebijakan yang mendukung upaya penumbuh-kembangan inovasi. pendidikan. dan karakter bangsa. budaya. ilmu pengetahuan dan teknologi. [2] kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah akan tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. inovasi. serta pajak dan keuangan. yakni berupa lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. karakter bangsa Gambar 2. 18 Tahun 2002 Pajak&Keuangan Ekonomi Sosial Iptek . tradisi. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. infrastruktur sosial. pemberian kompensasi yang sebanding bagi badan usaha yang berkontribusi dalam pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi nasional. dan [3] secara jelas memperlihatkan bahwa pada akhirnya kegiatan perekayasaan. dan difusi teknologi harus berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. Basis Pengetahuan Litbang] Ketenagakerjaan Infrastruktur Pendidikan Pengguna Teknologi [Industri] AKTOR UTAMA Kebijakan AKTOR PENDUKUNG Pemerintah Masyarakat Politik dan Ekonomi Lingkungan. pemberian prioritas dukungan pembiayaan bagi lembaga dan/atau individu peneliti 27 Naskah Akademik Perubahan UU No. budaya.

maka institusi pendidikan (terutama pendidikan tinggi) perlu mengembangkan program studi dan kurikulum yang relevan dengan sektor atau profesi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Peran penting infrastruktur sosial sangat sering terabaikan dalam berbagai sektor pembangunan. juga ikut mengendalikan kebijakan dan pengambilan keputusan pada perusahaan tersebut. Kebijakan yang mendukung dan akses yang terbuka luas untuk mendapatkan sumber pembiayaan merupakan pra-kondisi yang dibutuhkan dalam upaya penguatan inovasi nasional. yakni: [1] seed money. disebut juga ‘bridge financing’. Karena resiko usaha baru yang tinggi dan investasi butuh waktu 3-7 tahun untuk bisa cair. untuk biaya pengembangan usaha bagi perusahaan yang mulai memperoleh keuntungan.atau perekayasa yang fokus pada upaya untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan/atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan nasional. [2] start-up. Academic excellence yang sering menjadi jargon pendidikan tinggi harus dibarengi dengan peningkatkan relevansinya dengan kebutuhan pembangunan dan potensi sumberdaya nasional. Untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang dapat menggerakkan inovasi. Skenario VC yang umum adalah pemodal memberikan dana awal bagi suatu usaha dan dana tersebut diperhitungkan sebagai saham pada perusahaan yang bersangkutan. Venture capital (VC) merupakan salah satu bentuk sumber pembiayaan bagi perusahaan baru tumbuh (startup companies). maka biasanya pemodal selain mendapat porsi saham yang signifikan. berbeda dengan infrastruktur fisik yang telah cukup dipahami peran dan kontribusinya. Ketersediaan dan akses ke skim kredit atau bentuk kemudahan lain untuk modal kerja baik bagi pengembang teknologi maupun industri akan ikut merangsang tumbuh-kembang inovasi. masih terlalu kecil untuk bisa menarik dana publik melalui pasar modal. disebut juga ‘mezzanine financing’. maupun pengembangan program pendampingan dari para tenaga ahli (peneliti dan perekayasa) juga dapat menjadi alternatif upaya penumbuh-kembangkan inovasi. dan [6] Fourth-Round. pembiayaan yang tidak besar dan dipergunakan untuk membuktikan bahwa ide baru yang digagas berpotensi untuk menghasilkan produk atau jasa komersial –biasanya disediakan oleh ‘angel investor’. dana untuk penjualan awal dan biaya produksi. atau masih sulit meyakinkan pihak perbankan untuk mendapatkan pinjaman. untuk biaya kerja tahap awal dimana perusahaan sudah mulai menjual produk tetapi belum memberikan keuntungan. 18 Tahun 2002 . pemberian insentif bagi lembaga intermediasi yang berhasil meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. [3] First-Round. [4] Second-Round. Oleh sebab itu. Konsepsi inovasi di Jepang (Gambar 2) dapat dijadikan referensi dalam konteks ini. upaya penguatan inovasi tidak boleh mengabaikan peran 28 Naskah Akademik Perubahan UU No. Secara umum ada 6 tahap pembiayaan yang mungkin didapat dari VC. pembiayaan tahap awal untuk dana pemasaran atau pengembangan produk. digunakan untuk pembiayaan persiapan ‘go public’. [5] Third-Round. VC menjadi opsi sumber pembiayaan bagi perusahaan yang belum berpengalaman. Memberikan akses yang lebih mudah dalam pemanfaatan laboratorium pemerintah di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan.

maka akan meningkatkan kemungkinan bagi teknologi tersebut untuk digunakan. Penelaahan aktor-aktor inovasi tidak dapat dilakukan secara terisolir satu sama lain. pendidikan. Pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan pengguna jika telah mempertimbangkan juga secara seksama kapasitas adopsi oleh pihak pengguna. olahraga dan rekreasi. pelatihan dan kesempatan kerja. Akan tetapi adalah keliru jika serta-merta disimpulkan bahwa hubungan sebab akibat tersebut bersifat otomatis. walaupun seandainya lembaga R&D Indonesia sudah sedemikian majunya sehingga setara dengan lembaga-lembaga serupa pada level dunia. Data empiris juga menunjukkan adanya korelasi antara penguasaan teknologi dengan kemajuan perekonomian suatu negara. seni dan budaya. sebagai contoh. transportasi publik. hukum dan keamanan publik. masih sangat sering terkendala. tetapi tidak otomatis bahwa inovasi di Indonesia menjadi lebih produktif dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. serta dukungan lain untuk individu. tidak dapat dimutilasi menjadi segmen-segmen yang terpisah satu sama lain.1. Infrastruktur sosial termasuk sarana dan prasarana kesehatan. dan komunitas (Casey. sarana komunitas/lingkungan. 2005). sebagaimana yang terlihat pada konsepsi SINas yang dikembangkan oleh MEXT (2002). 29 Naskah Akademik Perubahan UU No. layanan tanggap darurat. Tujuan ini hanya akan tercapai jika pembangunan infrastruktur sosial menjadi bagian esensial dari skenario membangun kemampuan inovasi nasional. pada saat ini justeru persoalan interaksi dan komunikasi antara aktor inovasi ini yang masih tersumbat. maupun sosio-kultural. Interaksi dan komunikasi antar-aktor yang intensif akan memperbesar peluang untuk terjadinya aliran informasi kebutuhan teknologi dari para pihak pengguna teknologi ke pihak pengembang teknologi.infrastruktur sosial ini. Sebagai contoh. upaya membangun kemampuan inovasi nasional merupakan suatu yang kompleks dan banyaknya aktor yang ikut berperan di dalamnya. keluarga. 20 Pemerintah Jepang. sehingga teknologi yang dikembangkan diharapkan sudah semakin mengacu pada upaya memenuhi kebutuhan nyata. Perlu diingat pula. finansial. baik dari dimensi teknis. Kemajuan R&D bisa menjadi modal untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih tangguh. 18 Tahun 2002 . Resultan dari interaksi antar-aktor juga masih sangat tergantung pada ekosistem dimana hal tersebut berlangsung. Keberhasilan untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih produktif dan berkontribusi positif terhadap pembangunan perekonomian suatu bangsa (yang pada gilirannya diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat) berkorelasi positif dengan intensitas komunikasi dan interaksi antara para aktor inovasi. Interaksi Antar-Aktor Inovasi Pendekatan untuk memahami inovasi tentunya harus bersifat sistemik.20 Sesungguhnya sangat jelas bahwa amanah konstitusi menyatakan bahwa tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan peradaban. perumahan. telah mengenali peran infrastruktur sosial ini dalam menentukan keberhasilan membangun SINas.3. informasi. Namun demikian. 2.

antara akademisi dengan bisnis. Ekosistem Inovasi Nasional Kemampuan inovasi nasional pada prinsipnya ditentukan oleh kelancaran aliran informasi kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh pihak (calon) pengguna potensial ke pihak pengembang teknologi dan sebaliknya. Disisi lain kelancaran aliran paket teknologi yang dihasilkan pihak pengembang ke pihak pengguna juga menjadi faktor yang menentukan. 18 Tahun 2002 . Terlepas dari konsepsi mana yang digunakan untuk menjelaskan tentang kinerja inovasi nasional. dan pemerintahan mewakili lembaga yang berfungsi untuk melakukan regulasi. Selanjutnya. akademisi dalam konsepsi ABG ini mewakili komunitas pengembang teknologi. Semarang.4. dan lembaga intermediasi teknologi masih sangat jarang. termasuk kebijakan-kebijakan yang diluar kendali para aktor utama inovasi. Surabaya. Kalaupun ada. 2010). maupun pemerintah. misalnya kebijakan pembangunan perekonomian. model triple helix menggunakan dinamika non-linier hubungan universitas-industri-pemerintah. Yogyakarta. kebijakan keuangan dan perpajakan. yang dilaksanakan di 10 kota besar Indonesia (Bandung. Manado. Pada dasarnya. 2. yaitu rendahnya intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi. Untuk menyederhanakan sebuah sistem yang kompleks. Teknologi yang dihasilkan oleh pengembangan seringkali tidak sesuai atau tidak relevan dengan kebutuhan para pengguna untuk meningkatkan produktivitas ataupun untuk dijadikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi. karena relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang rendah. Padang. dan fasilitasi. permasalahan fundamentalnya adalah sama. bisnis mewakili komunitas pengguna teknologi. Palembang. masyarakat. Komunikasi dan interaksi antara pengembang dengan pengguna teknologi.Survei Periskop tahun 2000. intermediasi. lembaga R&D.1. dan kebijakan pembangunan infrastruktur sosial (lihat 30 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Mataram) atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi dan Kementerian Pendidikan Jerman berhasil mengungkapkan bahwa kerjasama antara industri dengan perguruan tinggi. maka lembaga intermediasi mendapat beban yang sangat berat. pada tahun 1994 lahir model ‘Triple Helix’ dari upaya untuk mengawinkan antara analisis kelembagaan infrastruktur pengetahuan dengan analisis evolusioner ekonomi berbasis pengetahuan (Leydesdorff dan Meyer. konsepsi triple helix ini juga gencar dikumandangkan di Indonesia sebagai bentuk model penguatan kemampuan inovasi nasional dengan menggunakan nama populer triple helix ABG (academicbusiness-government) (Kadiman. 2006). bahkan mungkin menjadi ‘mission impossible’ bagi lembaga intermediasi untuk mendorong agar teknologi tersebut digunakan oleh industri/badan usaha. kebijakan pendidikan nasional. Berbagai regulasi dan kebijakan akan ikut mempengaruhi. kebijakan ketenaga-kerjaan. Pada periode tahun 2000-an. Samarinda. antara perguruan tinggi atau lembaga R&D dengan industri masih memerlukan dukungan kebijakan. umumnya hanya terbatas pada masalah operasional dan perawatan mesin dan peralatan saja (Hidayat. Namun demikian performa akhir dari upaya penguatan kemampuan inovasi nasional akan dipengaruhi oleh berbagai pihak. Makassar. Dalam konteks interaksi antar-aktor inovasi ini. 2008).

including social rival. Umumnya. level intervensi. ada lagi regulasi dan kebijakan daerah. noninnovation excludable generated by R&D Neutral but with implications for divergence/conve rgence Consideration of space Proximity (and space) play a role in inducing changes in behaviour Space as on dimension for specific evolutionary processes 21 Rationale dalam konteks ini adalah model yang diformalisasi dan didasarkan dari teori dan konsepsi terpilih yang memberikan informasi tentang desain. location costs Neo-Marshallian Evolutionary Broad Technology as applied knowledge Technology as Broad definition endogenous non. dan instrumen kebijakan yang berbeda pula. Synthesis of theoretical rationales for science. Pada level daerah. teori sangat jarang diadopsi secara utuh untuk diterjemahkannya menjadi rationale oleh pembuat kebijakan. Rationale yang berbasis teori lebih sering diposisikan sebagai justifikasi atau alasan untuk menetapkan kebijakan tertentu sesuai dengan yang diinginkan. (2008) mencoba menjawab tiga pertanyaan yang sangat mendasar. Technology as applied knowledge Neoclassical Consideration of technology Technology as information and “incorporated” in capital investment No consideration of space beyond reduction of information costs. yakni: (1) Apakah rationale untuk intervensi pemerintah dapat diturunkan dari berbagai teori dengan perspektif yang berbeda? (2) Apakah bentuk instrumen kebijakan yang digunakan dalam intervensi pemerintah berkaitan dengan berbagai rationale? Dan (3) Apakah yang dapat disimpulkan terkait level teritorial/kewilayahan yang tepat dari suatu kebijakan sistem inovasi yang didasarkan atas teori terpilih dan rationale yang dikembangkan berdasarkan teori tersebut? Untuk menjawab tiga pertanyaan di atas. dan evaluasi kebijakan (Laranja et al. Pemilihan teori yang berbeda sebagai landasannya. (3) Neo-Marshallian. implementasi. Laranja et al. Tabel 1. Dalam kajiannya yang terkait dengan upaya translasi rationale21 menjadi kebijakan. yakni: (1) Neoclassical. (2008). technology and innovation policy Schumpeterian growth theory Systemic institutional approaches Broad (including social innovations). 2008) 31 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan (5) Evolutionary (Tabel 1). 18 Tahun 2002 .. Berbagai regulasi dan kebijakan di berbagai sektor ini merupakan komponen dalam ekosistem inovasi nasional. transportas. Namun demikian. ada lima teori yang ditelaah Laranja et al. hanya akan dicuplik beberapa elemen saja sesuai dengan kepentingan yang hendak dikawal. (2) Schumpeterian Growth Theory. misalnya berupa berbagai peraturan daerah (Perda). akan melahirkan rationale untuk intervensi pemerintah.Gambar 2). jarang untuk merumuskan atau memilih alternatif kebijakan yang paling tepat. (4) Systemic Institutional Approaches.

Park for Science and Technology Subsides and tax incentives to R&D. Extension services Mode of operationalisation (target. Proactive intermediation brokerage (translation of implicit knowledge) Targets both individual actors and groups. Improve diversity and selectivity Multi-level. Learning Substitute for less Creat conditions than optimal use for increasing of resources returns to R&D Level of intervention Centralisednational level No differentiation of levels of intervention Compensate for less than optimal private investment. eligibility criteria. Appropriability failure Objective of intervention Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches Evolutionary Support to Flexible “external System failure. interactions and networking. Optimise resources Centralisednational level. Extension services(“servizi reali”) ranging from technology to education and training cluster policies Coodinating the system. but with focus in more advanced region Incentivate accumulation of “monopolistic” gains Regional level but National and also national regional levels level with regional focus(decentralis ed) Creation of a collaborative industrial community. Science push measures. Promote locally based networks of cooperation. Learning accumulation of economies of Institutional failures failures. Investment in local advanced technology infrastructure. networks of actors or systems of innovation. help in networking. Favours R&D support to hitech. criteria of Targets both individual actors and “collective” actions. Return on Investment and Targets different kind of individual actors. Adequate institutional setting Avoid lock-in. Design of segmented targeted intervention ”adaptive role” Subsidies and tax incentivate to R&D. roles and function of actors. Favours demand approaches and provision of “ shared” public services. Lack of diversity Reduction of costs in information. Favours supplyside initiatives. endogenous R&D agglomeration” System dysfunctions cognitive gaps.Neoclassical Rationale for Market failures. Education for creating pool of skills Technology infrastructure. Technology infrastructures. investment in local advanced technology infrastructure. Large mobilisation projects Subsidies and tax incentivate to R&D. and competition Overall coherence of the system. technology infrastructures. selectivity) Target different kinds of individual actors. Balances centralised with decentralised intervention Identification of technology specific failures. public intervention Informationtransmission failures. Criteria balances support to individual actors with increasing collaboration. Increase cognitive capacity. Favours collective 32 Naskah Akademik Perubahan UU No. transports. dysfunctions. Block-in. Favours science push and large R&D projects. “Animateur” Role of policy maker Examples of policy Subsidies and tax instruments incentives to R&D. Extension services. System as a target. 18 Tahun 2002 . Park for Science and Technology.

kebijakan. and variety (increase or reduction) as Criteria. 18 Tahun 2002 . serta dinamika kebutuhan dan persoalan pengguna teknologi akan mengharuskan terjadinya penyesuaian regulasi dan kebijakan. sebaliknya dinamika interaksi antar-aktor inovasi. Ekosistem inovasi terbangun dari komponen-komponen yang bersifat intangible maupun yang bersifat tangible. perkembangan iptek. tradisi. Regulasi dan kebijakan (baik yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pengaturan inovasi. Favours collective governance concentration for Use of the value increasing chain or cluster returns concept Source: Laranja et al (2008) Komponen ekosistem inovasi tidak hanya berupa regulasi dan kebijakan yang bersifat legalformal. dan komponen lain yang dapat mempengaruhi performa SINas tetapi tidak dapat divisualisasikan wujud fisiknya. Interaksi antara inovasi dengan ekosistem tempat dimana inovasi akan dikembangkan dan ditumbuhkan pada dasarnya bersifat saling-pengaruh. Saat ini kecenderungan yang terjadi adalah ketersediaan dan jenis keahlian sumberdaya manusia yang secara dominan mewarnai inovasi. 33 Naskah Akademik Perubahan UU No. Potensi sumberdaya alam juga merupakan komponen ekosistem yang menjadi acuan dalam merancang kemampuan inovasi nasional. dan sumberdaya finansial untuk mendukung kegiatan pengembangan teknologi maupun untuk proses produksi. tradisi. dan nilai-nilai luhur atau karakter bangsa (Gambar 2). Komponen yang bersifat intangible atau tak-berwujud mencakup semua regulasi. budaya. Komponen yang bersifat tangible (wujud fisiknya dapat divisualisasikan) mencakup antara lain sumberdaya manusia terdidik dan/atau terlatih yang tersedia. tetapi juga mencakup berbagai komponen non-formal. Seharusnya kebutuhan untuk mendukung tumbuhkembang inovasi sesuai dengan potensi nasional dan kebutuhan pasar (atau pengguna) yang menentukan pola penyiapan dan pengembangan sumberdaya manusia. komponen ini merupakan komponen ekosistem yang bersifat ‘statis’. dan nilai-nilai luhur atau karakter merupakan ‘penciri’ suatu bangsa yang cenderung untuk selalu dilestarikan eksistensinya. sumberdaya alam yang potensial untuk dikelola sebagai bahan baku proses produksi barang maupun jasa yang dibutuhkan. Dengan demikian. yang diposisikan sebagai fondasi untuk bangunan kebijakan inovasi. karakter. tradisi. dalam konteks inovasi. dan difusi teknologi) tentu akan mempengaruhi (secara positif atau mungkin juga negatif) performa inovasi nasional. seperti budaya (termasuk norma dan etika). MEXT (2002) sudah mengenali komponen ini dan mengintegrasikannya dalam upaya membangun kemampuan inovasi nasional di Jepang. Budaya.Neoclassical opportunity for appropristion as criteria Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches governance Evolutionary opportunity.

dan Prakoso Bhairawa Putera. Kondisi ini mendorong industri nasional cenderung memanfaatkan lisensi impor. 34 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pemerintah daerah berkewajiban menumbuh-kembangkan motivasi. tidak akan pula mampu memberikan kotribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. 2009. Selanjutnya pertumbuhan perekonomian secara langsung juga berarti meningkatnya ketersediaan sumberdaya finansial untuk membangun kemampuan inovasi nasional dengan kapasitas yang lebih besar.Sumberdaya finansial dan inovasi akan saling berhubungan secara interaktif. Menurut penelitian yang dilakukan. serta sumber daya iptek yang mampu diakumulasikan masih terbatas. 18/2002 menunjukkan pengembangan dan penerapan iptek masih belum dimanfaatkan secara optimal.2. 18 Tahun 2002 2. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera terhadap implementasi UU No. 18 Tahun 2002 . Pengembangan. hal itu disebabkan antara lain belum terjalinnya hubungan yang baik antara lembaga penelitian perguruan tinggi dan industri. 18 Tahun 2002 adalah lemahnya koordinasi kegiatan riset di daerah.1.2. 18 Tahun 2002. Padahal sejak awal UU No. 18 Tahun 2002 dimaksudkan untuk meletakkan dasar bagi perkembangan kelembagaan iptek dengan interaksinya. Mulatsih. secara umum Indonesia belum menjadi pelaku iptek yang diperhitungkan dalam dunia internasional. sehingga secara nyata akan mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara. 2. Selain itu. sumber daya dan jaringan iptek. tetapi sebaliknya akan menjadi faktor yang semakin tidak diperhitungkan dalam skenario besar pembanguan perekonomian suatu bangsa. Kajian Implementasi UU No. Berdasarkan implementasi UU No. terutama di kegiatan ekonomi dan sosial budaya.. Kondisi ini selain menyebabkan rendahnya sumberdaya finansial untuk mendukung pengembangan inovasi juga menghilangkan kepercayaan publik terhadap inovasi itu sendiri. Sebaliknya inovasi yang bersifat stagnan (atau dorman) karena tidak mampu menghasilkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas atau efisiensi proses produksi. Sumberdaya finansial yang tersedia akan mendorong kemampuan inovasi semakin tumbuh berkembang menjadi sebuah sistem yang lebih produktif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan jasa yang bernilai ekonomi. temuan mendasar yang diidentifikasikan dalam pelaksanaan UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Sri. saling beinteraksi secara positif (snowballing effect) sehingga masing-masing berkembang dan tumbuh semakin kuat. Akibatnya inovasi bukan akan tumbuh berkembang. dan interaksi pelaku iptek. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). memberi stimulus dan memfasilitasi dalam menciptakan iklim pertumbuhan dan sinergi unsur kelembagaan. 18 Tahun 2002 meletakkan pemerintah daerah sebagai salah satu komponen pendukung pelaksanaan sistem nasional penelitian. pengembangan dan penerapan iptek khususnya ditingkat daerah. UU No. Analisis Undang-undang No.

pengembangan dan penerapan iptek diharapkan akan memperkuat jaringan kelembagaan perguruan tinggi. Pada awalnya dan sampai saat ini. Dengan memberikan dana insentif untuk kegiatan penelitian. 18 Tahun 2002 Variabel Tanggapan/respon terhadap UU No. lembaga penunjang dan badan usaha. Selama ini balitbangda terikat dengan PP No. tanpa adanya keberlanjutan difusi hasil penelitian yang aplikatif oleh dunia usaha. Mulatsih dan Putera (2009) menggunakan indikator keadaan. lembaga penelitian dan pengembangan. 18/2002 Lembaga Perguruan tinggi Pandangan/Perspektif Pada umumnya pengetahuan tentang UU ini masih sangat sedikit. bahwa penelitian dan pengembangan itu tidak termasuk sebagai kegiatan wajib atau pilihan. 35 Tahun 2007 tentang alokasi dana sebagian pendapatan badan usaha. 18 Tahun 2002 Dalam menganalisis temuan dalam implementasi UU Nomor 18 Tahun 2002 di atas. kondisi yang terjadi cukup ironis karena interaksi yang terjadi hanya terjalin sebatas pemanfaatan dana riset. yaitu tanggapan lembaga-lembaga (stakeholders). Namun UU ini perlu untuk mengarahkan/mengatur kegiatan penelitian supaya efektif. Table 6. 38. khususnya dalam diskusi penyusunan PP No. karena sering diundang sebagai pemangku kepentingan. begitu juga dengan dana. pembentukan jalinan interaksi ini distimulus oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Perspektif Pemangku Kepentingan UU No. Namun demikian. Cukup paham dengan UU ini. Pelaksana undang-undang ini adalah perguruan tinggi. dan industri. Namun demikian menurut penelitian Mulatsih dan Putera (2009).Kondisi awal di lokasi yang menjadi sampel penelitian ini (tahun 2009) terlihat telah ada dukungan secara yuridis formal melalui pembentukan Peraturan Daerah ataupun Keputusan Gubernur tentang pembentukan badan/bagian/unit yang menangani kegiatan penelitian dan pengembangan di daerah. Balitbang pemerintah daerah (balitbangda) Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) 35 Naskah Akademik Perubahan UU No. Balitbangda merasa bahwa UU ini belum menjadikan lembagalembaga penelitian daerah sebagai garda terdepan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Temuan lainnya yang menarik adalah mengenai pembentukan jalinan interaksi antar kelembagaan yang diharapkan dapat membentuk pola sistem nasional bagi kemajuan iptek di Indonesia. sarana dan prasarana dalam pemaksimalan tugas dan fungsi di daerah. dukungan yuridis tidak diikuti ini tidak diikuti adanya dukungan sumber daya yang memadai. Secara umum UU ini belum diketahui. Yang lebih diperlukan lagi adalah sosialisasi dan implementasinya. 18 Tahun 2002 . lembaga litbang. Untuk mengetahui keadaan tersebut ditunjukkan pada tabel di bawah ini.1 Tanggapan terhadap UU No. Semua daerah responden menyebutkan minimnya sumber daya peneliti.

18 Tahun 2002 . khususnya yang diteliti tampaknya kurang memahami kedudukan dan fungsi mereka dalam memperkuat visi dan misi dalam upaya penguasaan. Bagian penelitian dan pengembangan yang menjadi subbagian di bawah struktur Sekretaris Daerah Provinsi Yogyakarta. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. seperti yang telihat dari Badan Litbang Daerah Sumatera Selatan. perusahaan (badan usaha) ini meletakkan visi dan misi usahanya untuk bisnis dan penelitian. Kelembagaan. seperti Balitbangda Sulawesi Selatan. belum mengimplementasikan kebijakan ini pada tingkat daerah. Sehingga bagian ini masih merencanakan tindakan untuk pelaksanaan kegiatan. lembaga litbang daerah. hanya salah badan usaha yang terlihat aktif dalam merespon kebijakan ini. “Keberadaan undang-undang ini cukup diketahui. walaupun sebenarnya berdasarkan surat pembentukan terjabarkan tugas dan fungsi bagian ini – tentunya memberikan tugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan di daerah.” Kondisi semacam ini memang berbeda dengan lembaga litbang di daerah yang lain. menimbulkan kebingungan pada balitbangda. yang didukung adanya peran pemerintah/pemerintah daerah. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menjadikan penelitian di daerah bukan merupakan urusan wajib. ada beberapa responden yang cukup tertarik dengan memaksimalkan peran dan fungsi litbang daerah dalam dua tahun terakhir. sumber daya. Karena dari temuan penelitian. Bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang daerah.Tabel di atas menunjukkan bahwa unsur kelembagaan yang diteliti (perguruan tinggi. tetapi pilihan. 18 Tahun 2002 diharapkan kelembagaan. Sumberdaya. Kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama ini diarahkan untuk mendukung visi dan misi pembangunan daerah. Namun demikian. Selain itu masih adanya paradigma memandang sebelah mata terhadap balitbangda oleh pihak-pihak di daerah. Akan tetapi dalam pelaksanaannya. Pemerintah Daerah Provinsi. sumber daya. dan jaringan iptek merupakan unsur-unsur utama dalam sistem nasional penelitian. Sehingga Balitbangda Sumsel berkolaborasi dengan lemlit-lemlit di perguruan tinggi yang berada di wilayah ini. khususnya dalam mengemban misi penelitian dan pengembangan baik untuk kepentingan industri maupun kepentingan nasional masih rendah. Adanya UU No. dan jaringan iptek menjadi berkembang lebih baik untuk 36 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengembangan dan penerapan iptek. Di samping itu juga interaktif terhadap kebijakan pemerintah. dan masyarakat. hal ini disebabkan karena alasan teknis dengan perpindahan struktur bagian penelitian dan pengembangan yang sebelumnya di bawah Badan Perencanaan Daerah. karena masing-masing instansi memiliki litbang sehingga fungsi dan tugas balitbangda apa. 18 Tahun 2002. pemanfaatan dan pemajuan iptek. dan Jaringan Kelembagaan. dan badan usaha/industri) masih rendah tanggapannya terhadap UU No. pelaksanaan penelitian dan pengembangan hanya menjadi tugas pendukung instansi lain di wilayah kerjanya. tetapi yang belum adalah menjadikan lembagalembaga penelitian dan pengembangan daerah ini sebagai garda terdepan dalam hal penelitian dan pengembangan di daerah. dan adanya PP No.

Namun demikian. lembaga litbang. perekayasaan. UNHAS. perekayasa. 18 Tahun 2002 menyebutkan. Untuk itu. perekayasa. perguruan tinggi sebagai kelembagaan iptek diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (peneliti. teknisi. Bahkan seperti Pemda DIY. 37 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 6 UU No. penelitian. inovasi. Dalam Pasal 13 UU No.Sulsel. DIY) Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Dalam mengembangkan inovasi melalui penelitian dan pengembangan. dan difusi teknologi. Selanjutnya untuk mengetahui fungsi kelembagaan iptek yang disurvei. pengembangan. pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang masih bersifat sektoral menjadikan amanah yang disebutkan dalam UU No. Sehingga kegiatan ini tidak selalu dilakukan seperti lembaga penelitian lainnya.membangun kemampuan iptek nasional yang lebih kuat untuk mencapai tingkatan ekonomi sejajar dengan negara lain. teknisi dan semberdaya manusia lain yang diperlukan untuk memperkuat kegiatan penelitian. Tugas utamanya adalah melakukan penelitian bidang mikrobiologi untuk sell kanker. Kelembagaan iptek juga diarahkan untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan iptek untuk menghasilkan kinerja dan manfaat lebih besar secara bersama. Tugas penelitian pada dasarnya sebagai tugas struktural dari Kemendagri. Namun demikian. termasuk pembentukan Sentra HKI. Sumber dana murni swasta di PT Kalbe Farma (bergerak di bidang farmasi). dan sebagainya) yang diperlukan dalam upaya peningkatan kemampuan penguasaan. Lembaga litbang menjadi mencari peneliti. dan penerapan iptek. lebih banyak dilandasi oleh Tri Darma Perguruan Tinggi. badan usaha dan lembaga penunjang) berfungsi mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia.2 Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Iptek Kelembagaan Perguruan tinggi (ITB. perguruan tinggi dan lembaga litbang agar mengusahakan penyebaran informasi hasil kegiatan. juga melakukan koordinasi untuk menginventarisasi hasil penelitian di daerah. 18 Tahun 2002 ini belum berjalan dengan baik.2 di bawah ini. UNSRI) Balitbangda (Sumsel. Tabel 6. dapat dilihat pada Tabel 6.UGM. Menurut Mulatsih dan Putera (2009). pemerintah mendorong kerja sama antar kelembagaan iptek dalam pengembangan jaringan informasi iptek. jaringan dan pembiayaan dipandang sebagai aspek inti dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) Selain kelembagaan. sumber daya. pemanfaatan dan pemajuan iptek. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002 disebutkan. pengembangan. setiap kelembagaan iptek (perguruan tinggi. bidang penelitian menurut struktur organisasi baru hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi ijin penelitian.

18 Tahun 2002. PP No.Aspek terpenting dalam pelaksanaan penguasaan. Undang-undang merupakan kebijakan yang dinilai mempunyai posisi tertinggi. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Pengembangan. peraturan presiden. UU No. Selama hampir sepuluh tahun pelaksanaan UU No. 18 Tahun 2002 . Akibatnya di Indonesia 38 Naskah Akademik Perubahan UU No. 22 dan Pasal 28. 35 Tahun 2007. Dalam pelaksanaannya. Tahun 2005 disahkan. pengembangan dan penerapan iptek merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. termasuk 2 bab di dalamnya tentang ketentuan sanksi dan ketentuan peralihan. UU No. Kemudian di tahun berikutnya. pengembangan. dan peraturan kebijakan PP. Inovasi dan Difusi Teknologi. 18 Tahun 2002 mencakup 9 bab dan 32 pasal dan penjelasannya. tiga tahun setelah disahkan diturunkan dua Peraturan Pemerintah (PP) sebagai peraturan pelaksanaannya. antara lain dapat mengacu penjelasan Riant Nugroho (2009). tertanggal 18 Juli 2009 dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. Dalam pelaksanaannya UU No. Sebagai payung hukum UU ini merupakan acuan seluruh elemen yang tercakup dalam sistem nasional penelitian. Secara hierarkis. yaitu peraturan pemerintah. pembiayaan pelaksanaan kegiatan penelitian. Menurut UU No. antara lain lembaga penelitian. Undang-Undang sebagai produk policy level akan diimplementasikan melalui tingkatan organisasi (level of organization) yaitu berupa peraturan pelaksanaannya. industri dan pihak terkait lainnya. model kebijakan yang dibuat berjenjang sesuai dengan hierarki implementabilitasnya. peraturan presiden. 20 Tahun 2005 dan PP No. perguruan tinggi. ketentuan ini masih memerlukan penjelasan bagaimana merealisasikan pembiayaan ini. berupa peraturan pemerintah. pemanfaatan dan pemajuan iptek adalah pembiayaan. 18 Tahun 2002 Pelaksanaan suatu undang-undang merupakan suatu penjabaran isi dari pasal-pasal ke dalam peraturan-peraturan atau kebijakan yang disebut sebagai arrangement institutions. 17. dan penerapan iptek. 18 Tahun 2002. dan peraturan daerah kabupaten/kota. Peraturan pemerintah terakhir yang diturunkan sebagai pelaksanaan dari undang-undang No. yaitu terkait dengan pelaksanaan Pasal 16. 18 Tahun 2002 telah diturunkan empat peraturan pemerintah yang perlu disusun. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berisiko Tinggi dan Berbahaya. 48 Tahun 2009 Pelaksanaan UU No. dalam public policy. PP No. Pelaksanaan UU No. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan dibuat dengan pasal-pasal yang bersifat makro atau umum untuk kemudian dibuat petunjuk pelaksanannya. 18 Tahun 2002. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. terutama dalam pelaksanaan fungsi dan pemerintah sebagai motivator dan stimulator perkembangan sistem nasional litbangrap iptek. menyebutkan peraturan pelaksanaan dari undang-undang adalah sesuai dengan hirarkhi-nya. yaitu PP No. peraturan daerah provinsi. 18 Tahun 2002 adalah mengenai Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian. undang-undang sebagai bentuk dari kebijakan di Indonesia masih menganut model kebijakan continental atau yang berasal dari Belanda. Secara politis UU ini telah memenuhi syarat dalam proses penyusunannya sehingga UU ini telah diundangkan sejak 29 Juli 2002.

LSM) belum ada. dan penelitian swasta. dan penerapan iptek. Untuk Dewan Riset Daerah.. memberikan stimulasi dan fasilitas. 18 Tahun 2002 Dukungan pemerintah daerah dalam menumbuhkembangkan motivasi.550. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat mengoptimalkan dan keberlanjutan aktivitas litbangrap iptek. pengembangan.323. Jaringan yang dikembangkan di perguruan tinggi. 39 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan penerapan iptek di daerah sesuai dengan amanat UU No. Bappeda. tetapi pelaksanaannya tidak effektif karena peraturan atau kebijakan pelaksanaannya belum dibuat. pada tahun 2008 kemarin melaksanakan sebanyak 2 program utama dan 60 kegiatan dengan pendanaan sebesar Rp. responden penelitian Mulatsih dan Putera (2009) berpendapat interaksi yang dilakukan antar pelaku iptek di lembaga litbang. Untuk kelengkapan lainnya sedang diproses. kerjasama atau interaksi yang terjalin selama ini hanya sebatas pemanfaatan dana riset yang dimiliki oleh badan litbang daerah saja.yang seluruhnya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah pemerintah provinsi. walaupun kami memiliki jaringan peneliti Sumatera Selatan yang telah mendapat pesetujuan dari gubernur tetapi belum maksimal. Dalam kaitannya dengan penguatan inovasi. .” Simpul pola interaksi terlihat lebih baik dilakukan oleh perguruan tinggi. beberapa telah dapat menyambung simpul industri (beberapa). “LPPM-ITB melakukan jejaring penelitian dengan lembaga lain disebut sebagai mitra kerja. Interaksi berjalan karena adanya kerjasama penelitian yang menggunakan dana atau dibiayai oleh balitbangda. Dukungan kebijakan serta pendanaan yang secara terus menerus dan berkelanjutan program yang dilakukan pada tingkat daerah. 18 Tahun 2002 secara bertahap mengalami kemajuan. 10. karena bagaimanapun juga sistem nasional tidak dapat berjalan secara maksimal tanpa adanya dukungan pelaksanaan sistem pada level daerah. serta menciptakan iklim kondusif dalam sistem penelitian.” “Dengan keluarnya Perda No. Responden lainnya menyatakan. pengembangan. Masuknya Bagian Penelitian dan Pengembangan di Biro Administrasi Pembangunan adalah indikasi baik.banyak terjadi kasus di mana sudah ada undang-undang. adanya ruang bagi masing-masing elemen dalam UU No. kebijakan internal di setiap daerah responden berbeda.072. Interaksi yang terlaksana sebatas antara balitbangda dengan peneliti yang bersangkutan yang mayoritas berasal dari perguruan tinggi. namun tampaknya jejaring peneliti yang dibangun antar lembaga penelitian di wilayah Jawa Barat (ITB. karena yang ada selama ini adanya kumpulan pakar-pakar di Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi DIY. Akan tetapi. 5 Tahun 2008 menunjukkan bahwa adanya perhatian dari pemerintah daerah.” Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah telah memberikan ruang untuk mendorong kegiatan penelitian. “Jalinan interaksi selama ini belum berjalan maksimal. Indikasi ini menandakan bahwa adanya dukungan dari pemerintah walaupun masih dirasa kurang dalam segi penambahan alokasi dana ataupun sarana prasarana untuk menunjang kegiatan penelitian. badan usaha maupun di masyarakat selama ini masih tidak terpola. pemerintah daerah masih mencari format terbaik.” “Pemerintah daerah telah menganggarkan sejumlah dana sehingga setiap tahunnya balitbangda melaksanakan program dan kegiatan penelitian pengembangan yang mengacu pada program prioritas pemerintah provinsi. perguruan tinggi. pola jalinan interaksi atau yang dikenal dengan jaringan. lembaga penelitian pemerintah lainnya. Interaksi yang dilakukan belum terlembaga dan hanya dilakukan secara personal (individu).

Menurut Tatang (2005) meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sistem inovasi. dan jaringan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh. perekayasaan. Penguatan sistem inovasi di tataran daerah merupakan bagian integral atau sub sistem dari pilar sistem inovasi nasional. tujuan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya Tatang (2005) menyebutkan. b. pemerintah daerah. mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumberdaya iptek. UU No. pembentukan iklim dan memberikan dukungan kebijakan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan.2. antara lain: a. serta b. landasan hukum yang diharapkan dapat memperkuat landasan pembangunan dan mempercepat perkembangan iptek. Dalam peraturan perundang-undangan yang ada. mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. pelayanan umum. sumber daya. esensi keterkaitan ini sama dengan atau setidaknya berangkat dari konsep sistem inovasi nasional. Pemajuan ataupun penguatan sistem inovasi pada tataran daerah menurut Tatang (2005) adalah sesuatu yang penting bagi perkembangan sistem inovasi nasional dan peningkatan daya saing secara nasional. dan daya saing daerah (Pasal 2 ayat (3)). memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. pemanfaatan. pengembangan. dan difusi teknologi. UU No.2. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. ‘Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . 18 Tahun 2002 . meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. 18 Tahun 2002 merupakan tonggak penting. dan pemajuan iptek. Upaya ini dilakukan melalui: a. b. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan 40 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. penelitian. dan UU No. Pengembangan. tanggung jawab daerah dalam pembangunan iptek dan sistem inovasi cukup besar. Tatang A Taufik: BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban antara lain: memajukan dan mengembangkan daya saing daerah (Pasal 27 ayat (1) butir g. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat memperkuat jaringan antara pemerintah pusat.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan’. Sistem nasional litbangrap iptek ini diperlukan untuk mencapai tujuan: a. Salah satu pelaksanaan UU No. maupun masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pemajuan iptek.) UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Hal ini juga ditegaskan dalam UU No. interaksi dan proses pembelajaran akan menjadi semakin penting pada tataran daerah. dan karenanya merupakan langkah penting bagi perkembangan sistem inovasi di Indonesia. 2005. inovasi. Upaya-upaya terpadu dalam penguatan kelembagaan.2. namun sistem nasional litbangrap iptek merupakan keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. Oleh karena itu perkembangan sistem inovasi ini akan ditentukan oleh pelaksanaan lebih lanjut (secara legal) dan implementasinya. 18 Tahun 2002 adalah penguatan fungsi kelembagaan iptek dalam sistem nasional litbangrap iptek.

pemanfaatan produk. 18 Tahun 2002 . seperti HKI. belum lagi ketepatan waktu pemanfaatannya. seringkali masih menghadapi persoalan yang cukup serius. Teknologi menjadi komoditas yang sangat mahal dan seringkali memberatkan beban keuangan negara secara keseluruhan. Kesulitan dalam proses transfer teknologi tersebut tidak hanya terjadi pada industri besar saja tapi terjadi juga pada industri kecil dan menengah. kurang dimanfaatkan secara optimal. Alasan yang melatarbelakangi kondisi tersebut sebenarnya adalah suatu hal yang cukup logis. sehingga transfer teknologi dapat dikatakan tidak terjadi. termasuk juga keberlanjutannya (sustainability). meningkatkan sinkronisasi dan sinergi dalam pengembangan sistem inovasi.Pembangunan Nasional. Jumlah dan kualitas sumberdaya manusia di Indonesia yang cukup memadai. Kementerian Riset dan Teknologi. Kerjasama-kerjasama yang dilakukan mengenai transfer teknologi cenderung mengarah pada kerjasama perdagangan. ‘Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Komersialisasi Kelembagaan Iptek’. meskipun peralatan yang dimiliki sebenarnya sudah cukup memadai. Para pengusaha kecil dan menengah ini masih meragukan kualitas produk teknologi hasil penelitian dan pengembangan. Dalam beberapa kasus. seringkali dibarengi kesulitan dalam pemeliharaannya. sektor usaha masih merasakan hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri belum dapat diterapkan dalam kegiatan industri. 2007 Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembangunan iptek dalam upaya memperkuat daya dukung iptek untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa adalah ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi luar. 2. karena tidak selalu mendapatkan akses secara lengkap teknologi yang ada. cenderung mengerjakan terlalu banyak kegiatan. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan umumnya masuk dalam publikasi ilmiah 41 Naskah Akademik Perubahan UU No. Andaipun ada keterkaitan antara dunia usaha dan lembaga penelitian dan pengembangan saat ini baru sebatas asistensi dari pihak penelitian dan pengembangan yang kebanyakan masih terbatas pada aspek pengujian produk dan peralatan.3. Kondisi ini memperlihatkan. pembagian royalty. maupun peraturan perundang-undangan lainnya diharapkan menjadi landasan legislasi untuk mengintegrasikan. adanya gap antara teknologi hasil penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan pasar yang ada. program yang direncanakan dan dilaksanakan masih kurang fokus. Ketergantungan ini sebagai akibat dari kurang berkembangnya teknologi/inovasi dalam negeri. Hal ini menyebabkan industri kecil dan menengah cenderung menggunakan tenaga konvensional yang dimiliki atau membeli dari luar negeri untuk perbaikan (improvement) dalam kegiatan proses produksinya.2. Transfer teknologi dari lembaga penelitian dan pengembangan kepada industri dan masyarakat melalui bentuk kemitraan. yang ada adalah jual beli teknologi. Alasan lainnya. Ketergantungan teknologi dari luar. Hal ini masih ditambah kurangnya perhitungan pencapaian optimal dalam penggunaan sumberdaya keuangan dan sumberdaya manusia. karena pembelian barang modal yang sarat dengan teknologi.

seperti Unit Komersialisasi Hasil Litbang. Hal ini juga menunjukkan. 18 Tahun 2002. seperti penambahan tugas dan fungsi lembaga Sentra HKI di perguruan tinggi dan lembaga litbang. atau masyarakat. Dalam Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut menyatakan.tingkat nasional. yang mungkin ditujukan untuk pengembangan teknologi tepat guna maupun sebagai upaya mendukung perbaikan pendapatan peneliti. Unit kerja ini dapat merupakan lembaga baru. dan tampaknya akan menjadi salah satu hambatan dalam merealisasikan komersialisasi hasil litbang. hanya sedikit yang menghasilkan hak paten dan masuk dalam publikasi internasional. menghasilkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. juga belum memadai untuk mendapatkan pengakuan secara ekonomis. Ketentuan ini ditujukan bagi kegiatan litbang yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah atau pemerintah daerah. misal Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) untuk mengurangi pembentukan lembaga baru. sebagai penambahan unit-unit kerja yang ada. Adanya perubahan struktur organisasi lembaga. Sedangkan pengaturan mengenai pembentukan. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Semua hasil penjualan hasil litbang dapat dikelola secara langsung oleh lembaga melalui unit komersialisasi hasil litbang ini. hasil-hasil kajian dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian masih belum sesuai dengan kebutuhan pasar. sesuai dengan PP No. Permasalahan krusial lainnya adalah pembentukan unit kerja dalam upaya komersialisasi hasil litbang. Pembentukan unit kerja yang mendorong peningkatan komersialisasi hasil litbang ini. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbangnya. dan penetapan prosedur pengelolaan dan alih tekologi kekayaan intektual serta hasil kegiatan litbang diatur oleh lembaga yang bersangkutan. Sesuai pasal 16 UU No. 18 Tahun 2002 . kajian pengembangan kebijakan yang mendukung komersialisasi hasil litbang masih perlu 42 Naskah Akademik Perubahan UU No. 20 Tahun 2005 masih mengalami hambatan. tata kerja unit kerja. sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kebijakan ini akan membatasi pembentukan lembaga baru. Dalam pelaksanaannya pembentukan unit kerja seperti yang disyaratkan pada PP No. Pengalihan ini dilakukan pada badan usaha. Di satu sisi perguruan tinggi maupun lembaga litbang memerlukan adanya unit kerja yang mandiri untuk melakukan pengelolaan administrasi hasil penjualan produk litbang secara lebih optimal. rincian tugas. Investasi pemerintah dalam bentuk hasil litbang ini diharapkan dapat menghasilkan public return sebesar mungkin. Kewajiban ini dimaksudkan agar hasil litbang dapat dimanfaatkan seluas mungkin oleh masyarakat. atau dengan memanfaatkan unit yang ada. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib membentuk unit kerja yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbang di lingkungannya. sehingga lembaga memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk investasi berbagai kegiatan litbang lainnya. pemerintah. sebagai pelaksanaan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu. susunan organisasi.

Kalangan dunia usaha lebih menyukai teknologi yang sudah siap pakai. lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu memperhatikan struktur biaya litbangnya agar menarik untuk dikomersialkan kepada para pelaku usaha dan masyarakat. suatu kegiatan komersialisasi hasil riset. Untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif. Upaya komersialisasi ini belum berjalan maksimal. Berdasarkan fakta di lapangan. Hasil riset di bidang teknologi industri yang dihasilkan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat maupun para peneliti di perguruan tinggi sebenarnya cukup banyak. tesis. Dilihat dari proses penelitian dan pengembangan. mudah. dan produk penelitian masih banyak yang bersifat teoritis dan belum dapat diterapkan di masyarakat. padahal banyak diantaranya yang memiliki potensi untuk dikomersialisasikan. umumnya pihak industri menghendaki hasil litbang yang dapat menghasilkan produk akhir secara cepat. melalui berbagai kegiatan penelitian yang bersifat aplikatif. Permasalahan lainnya adalah kurangnya sosialisasi hasil litbang. Oleh karena itu. Banyak skripsi. seperti misalnya birokrasi yang panjang dalam mekanisme pengelolaan dana penelitian. Struktur biaya penelitian yang tinggi menyebabkan hasil penelitian perguruan tinggi menjadi terlalu mahal untuk pengguna. Banyak karya ilmiah yang tidak aplikatif. serta aplikasi hasil litbang tersebut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. sehingga hasilnya belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal. sehingga ketika diterapkan tidak mampu bersaing dengan produk-produk yang dihasilkan oleh pihak lain. 18 Tahun 2002 . kegiatan penelitian menjadi kegiatan utama. disamping kegiatan pengajaran dan pengabdian masyarakat. meskipun secara akademik dapat dipertanggungjawabkan. melalui penjualan jasa konsultasi dan jasa teknis litbang. maupun desertasi tersimpan di perpustakaan. murah. swasta atau perusahaan. perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan kompetitif untuk dapat diterima pengusaha sebagai pengguna hasil penelitian. Pihak pengguna beranggapan hasil litbang perguruan tinggi maupun lembaga litbang Pemerintah masih bersifat teoritis dan belum dapat diaplikasikan. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi sebagai bagian integral dari pendidikan di Indonesia diarahkan seoptimal mungkin melakukan proses transformasi pendidikan dan pengajaran. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian dan pengabdian sebenarnya tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi tugas dan kewajiban dari perguruan tinggi untuk merealisasikannya.dilakukan dengan bersinergi lebih erat dengan para pengambil keputusan di bidang aparatur negara. dan memberikan sentuhan komersialisasi terhadap produk yang dihasilkan. Hasil dari riset ini juga seringkali tidak memperhatikan struktur biaya. maka perguruan tinggi didorong menuju terwujudnya universitas penelitian (research university). dan perpajakan. Tingginya biaya litbang antara lain disebabkan biaya administrasi yang tinggi. Para dosen dan mahasiswa harus memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah aktual yang ada di masyarakat. Hal ini menuntut perguruan tinggi untuk menggali sumber dana lainnya selain dari Pemerintah. namun kurang sosialisasi. daripada membeli hasil litbang perguruan tinggi yang masih belum teruji dalam 43 Naskah Akademik Perubahan UU No. penelitian dan pengembangan di bidang iptek. Dalam bentuk ini.

baik di masyarakat maupun di dunia usaha. Unit usaha ini dapat pula berbentuk unit usaha komersial. 18 Tahun 2002 . Agar inovasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diperlukan sosialisasi. 60 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi. (5) Usaha untuk meningkatkan penerimaan dana dari masyarakat didasarkan atas pola prinsip tidak mencari keuntungan. Pembiayaan kegiatan perguruan tinggi. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan tinggi. Kegiatan ini memerlukan pendekatan tersendiri. e. Sumbangan dan hibah dari perorangan. Biaya seleksi ujian masuk perguruan tinggi. Kegiatan terebut merupakan upaya pemanfaatan hasil litbang dan pengalihan kemampuan penguasaan iptek oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. (3) Dana yang diperoleh dari masyarakat adalah perolehan dana Perguruan Tinggi yang berasal dari sumber-sumber sebagai berikut : a. Inovasi yang memiliki nilai komersial yang harus dilindungi oleh hak atas kekayaan intelektual. lembaga Pemerintah atau lembaga nonPemerintah. dan seringkali tidak sama dengan pengelolaan kelembagaan lain.pemanfaatannya. perguruan tinggi dapat menggali penerimaan dari masyarakat. Dalam Pasal 114 antara lain diatur sebagai berikut : Pasal 114 (1) Pembiayaan Perguruan Tinggi dapat diperoleh dari sumber pemerintah. upaya untuk memperkenalkan berbagai produk litbang kepada masyarakat. masyarakat dan pihak luar negeri. Hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan pengalihan teknologi dapat berupa pengalihan codified knowledge maupun tacit knowledge transfer. dan f. Penerimaan masyarakat ini akan mendorong terjadinya alih teknologi. Hal ini memberikan kemungkinan bagi perguruan tinggi mendirikan unit usaha sebagai salah satu sumber pembiayaan dari masyarakat. Hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi perguruan tinggi. seperti pengelolaan perizinan. atau penerimaan hasil 44 Naskah Akademik Perubahan UU No. Penerimaan dari masyarakat lainnya. baik berupa kekayaan intelektual maupun hasil-hasil litbang lainnya. d. Dalam ketentuan di atas. (4) Penerimaan dan penggunaan dana yang diperoleh dari pihak luar negeri diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. b. suatu unit yang mampu menunjang penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengelolaan hasil litbang yang lebih profesional. Penyediaan dana penelitian kepada para peneliti sering kali belum dapat memberikan solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang ada di lapangan. termasuk biaya litbang mengacu pada PP No. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Lembaga Litbang Pembentukan unit pelayanan jasa teknis dan jasa konsultasi di lembaga litbang lebih diarahkan untuk mengkomersialkan kekayaan intelektual dan hasil-hasil litbang. (2) Penggunaan dana yang berasal dari Pemerintah baik dalam bentuk anggaran rutin maupun anggaran pembangunan serta subsidi diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hasil kajian yang dihasilkan masih kurang diminati dunia usaha karena adanya ketidaksesuaian antara hasil litbang dengan kebutuhan yang didasarkan pada tuntutan konsumen. serta sarana prasarana iptek. . Keuntungan yang diperoleh dari pengalihan teknologi juga dapat mengurangi ketergantungan pendanaan kegiatan litbang di Perguruan Tinggi maupun Lembaga Litbang pada anggaran Pemerintah. Perencanaan harus memperhatikan faktor-faktor lain. yang secara kondusif dapat mendukung upaya komersialisasi hasil litbang secara lebih proporsional dan berpihak kepada lembaga dan jajaran penelitiannya. Oleh karena itu. 5) meningkatkan kualitas dan memperluas jangkauan alih teknologi dan jasa iptek. perlindungan. Oleh karena itu. 6) memperluas jaringan kerja dengan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. baik dalam rangka pemecahan masalah di bidang teknis. baik di dalam negeri maupun luar negeri. membantu dunia usaha dalam kegiatan proses produksi maupun kegiatan manajemen lainnya. Pendapatan dari alih teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain: 1) memperbesar pendanaan litbang yang diperlukan untuk menguasai kemajuan iptek dan mengembangkan invensi serta menggali dayagunanya.selisih harga ataupun penerimaan keuntungan dari BUMN. Hal ini menyebabkan implementasi hasil litbang masih rendah. 3) memperkuat kemampuan pengelolaan kekayaan intelektual. 45 Naskah Akademik Perubahan UU No. Meskipun hampir semua perencanaan program lembaga litbang pemerintah ditujukan untuk tujuan penerapan iptek. 18 Tahun 2002 Lembaga litbang pemerintah umumnya ditujukan untuk melaksanakan penelitian. 2) memberikan insentif yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan invensi di lingkungan litbang. baik yang berbentuk keahlian sumber daya manusia dan pengorganisasiannya. 4) melakukan investasi untuk memperkuat sumber daya iptek yang dimiliki. dengan melibatkan calon pengguna. Hasil litbang masih belum dapat dimanfaatkan. dan alih teknologi. aset informasi dan iptek. upaya peningkatan komersialisasi hasil litbang memerlukan suatu perencanaan program yang lebih holistik. Faktor yang mempunyai peran penting adalah faktor finansial. pengembangan dan pengkajian dalam rangka mencapai suatu keunggulan iptek dalam rangka pemecahan masalah-masalah pembangunan di berbagai bidang. pola kerjasama yang berlaku dalam komersialisasi hasil litbang. termasuk pemeliharaan. Penyusunan rencana juga harus memperhatikan standar-standar teknologi yang berlaku di dunia usaha. adanya keleluasaan dalam pengelolaan penggunaan pendapatan alih teknologi mempunyai peran penting dalam mendorong kemandirian lembaga penelitian. namun dalam praktik belum banyak hasil-hasil litbang yang langsung dapat diterapkan.

Tahap berikutnya adalah dukungan kegiatan perekayasaan. bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga yang tercakup dalam penguatan inovasi akan menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. Culture. Budaya. perguruan tinggi. serta peraturan perundang-undangan lainnya berkaitan dengan infrastruktur sosial. bidang ketenagakerjaan. Mengacu pada strategi penguatan inovasi dari Kementerian Pendidikan. Di Indonesia. ilmu pengetahuan dan teknologi. Science and Technology. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. tradisi. dan karakter bangsa. fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. perdagangan dan industri. ketenagakerjaan. secara umum penguatan inovasi antar elemen-elemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang. bidang pendidikan. bidang pendidikan. budaya. maka secara konseptual dapat diperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. Menurut konsepsi ini. Sport. dan difusi teknologi yang berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. infrastruktur sosial. inovasi. Kurangnya komunikasi dan interaksi menyebabkan penerapan inovasi yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil inovasi tersebut belum dapat didayagunakan sepenuhnya. serta pajak dan keuangan. Olahraga. Selanjutnya perlu adanya kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah ak an tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. 46 Naskah Akademik Perubahan UU No. pendidikan. Peraturan ini terutama terkait dengan peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi. secara resmi disingkat MEXT) Jepang yang telah dikemukakan di bab sebelumnya. Pada ketiga tahapan posisi dan peran lembaga intermediasi sangat diperlukan dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. Olehkarena itu diperlukan evaluasi dan analisis kebijakan penguatan inovasi dalam peraturan perundang-undangan terkait. 18 Tahun 2002 .Bab 3 Evaluasi dan Analisis Kebijakan Penguatan Inovasi dalam Peraturan Perundang-undangan Penguatan inovasi secara garis besar ditandai adanya elemen-elemen/aktor yang melakukan jejaring untuk saling berinteraksi menghasilkan inovasi. Lembaga-lembaga ini merupakan lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. Kinerja dan perkembangan inovasi nasional sangat dipengaruhi oleh peraturan perundangundangan maupun kebijakan di berbagai sektor yang terkait. Padahal lembaga penelitian.

2 dan menduduki peringkat 35 dari 139 negara yang disurvei. 47 Naskah Akademik Perubahan UU No. Jika persepsi masyarakat dunia terhadap stabilitas makro ekonomi ini dapat terus dipelihara dan jika mungkin terus ditingkatkan. Peningkatan permintaan barang dan jasa yang lebih banyak dan/atau lebih bermutu akan meningkatkan kebutuhan industri akan teknologi yang lebih sesuai. sehingga akan sangat menentukan tingkat daya saing (competitiveness) suatu negara. ketersediaan dan kemurahan upah tenaga kerja. Amerika Serikat. karena daya tarik utama bagi para investor untuk menanamkam modalnya adalah ukuran pasar domestik dan laju pertumbuhan pasar domestik dari negara tujuan invenstasi tersebut. menjadi 16 (2009) dan 15 (2010). jika selalu terbelit hutang dan keharusan membayarnya dengan suku bunga tinggi atau dalam kondisi cenkeraman persoalan makro ekonomi yang tidak mampu dituntaskan. berdasarkan survei WEF peringkat ukuran pasar domestik Indonesia juga terus meningkat. Namun demikian. India. baik secara kuantitas maupun kualitasnya.1. Inggeris. Dinamika ini membuka peluang dan tantangan bagi lembaga pengembang teknologi untuk melakukan riset yang relevan dengan kebutuhan industri. 2010). setelah Cina. Rusia. peringkat ini perlu dilihat secara cermat. Perusahaan tidak dapat berbisnis secara efisien dan bergairah jika inflasi tidak dapat diprediksi. Kondisi makro ekonomi Indonesia untuk periode 2008-2010 tergolong stabil. skor untuk stabilitas makro ekonomi Indonesia pada tahun 2010 mencapai 5. Peningkatan kapasitas pasar bermakna peningkatan permintaan masyarakat akan barang dan jasa. Makro ekonomi yang terpelihara stabilitasnya dan kapasitas pasar domestik yang terus membesar merupakan ekosistem yang positif untuk tumbuh-kembang SINas. Bidang Perindustrian dan Perdagangan Stabilitas makro ekonomi sangat penting bagi dunia bisnis. Untuk periode 20082010. Dengan demikian perekonomian tidak dapat tumbuh secara ber-kesinambungan jika kondisi makro ekonomi tidak stabil. Jerman. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF. Pasar domestik Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi investor asing jika Indonesia tidak mampu membangun SINas yang kuat untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. Tumbuh kembang kegiatan bisnis akan membuka peluang untuk peningkatan daya beli masyarakat dan memperbesar kapasitas pasar domestik (market size). Pemerintah tidak akan dapat melakukan pelayanan publik dengan baik. produktivitas suatu negara tidak hanya ditentukan oleh stabilitas makro ekonominya. akses untuk pengelolaan sumberdaya alam. berturut-turut dari peringkat 17 (2008). dan Australia (Gambar 3). 18 Tahun 2002 . Brazil. dan efektivitas peran pemerintah. Dua faktor ini lebih dominan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi dibandingkan dengan program insentif yang ditawarkan. Walaupun tentu saja. Survei yang dilakukan oleh UNCTAD (2009) tentang prospek investasi dunia ( World Investment Prospects Survey) menyimpulkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 9 dunia. Indonesia dengan penduduknya yang lebih dari 237 juta jiwa dengan daya beli yang relatif baik merupakan pasar domestik yang sangat potensial bagi investor asing. maka akan semakin menarik bagi kalangan bisnis untuk berinvestasi dan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia.

32 Tahu 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah menetapkan enam koridor pembangunan ekonomi sesuai dengan potensi sumberdaya setempat perlu dibarengi dengan upaya membangun penguatan inovasi yang berkesesuaian. maka SINas akan lebih dirasakan geliatnya. termasuk perdagangan dan industri. 48 Naskah Akademik Perubahan UU No. Harus ada dorongan agar produk barang dan jasa yang diperdagangkan.Jika peningkatan kebutuhan teknologi yang relevan ini dikomunikasikan oleh industri ke pihak pengembang teknologi dan pihak pengembang teknologi mampu menyediakan paket teknologi yang tidak hanya relevan. Kinerja dan perkembangan SINas akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan di berbagai sektor yang terkait. Pada kurun waktu yang sama (2008-2010). Peringkat daya tarik Indonesia bagi investor asing Kebijakan pembangunan perekonomian Indonesia yang baru diluncurkan yang dikemas dalam Keppres No. Kebijakan yang berorientasi untuk mendorong ekspor agar lebih diprioritaskan pada produk jadi. Gambar 3. 18 Tahun 2002 . survei WEF juga memperlihatkan terjadinya peningkatan peringkat Indonesia dari 47 menjadi 36. diutamakan sudah merupakan produk-produk jadi yang dibutuhkan oleh konsumen akhir (consumer products). Apalagi pengembangan sumberdaya manusia dan iptek telah dipilih sebagai salah satu dari tiga strategi utamanya. tetapi juga handal dan sesuai kapasitas adopsi pelaku bisnis. terutama untuk ekspor.

bahwa seharusnya Indonesia tidak mengekspor bahan baku dan keringat. 49 Naskah Akademik Perubahan UU No. kemudian secara berangsur naik dan mencapai puncaknya pada awal tahun 2000-an yang mencapai kisaran antara 14-16 persen. 22 Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas atau produk ekspor sudah dilakukan. karena cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. misalnya produk sawit yang diekspor masih sangat dominan berbentuk minyak sawit kasar (crude palm oil.com (18 Januari 2011) Gambar 4. dan meningkatkan nilai tambah produk yang diekspor. disingkat CPO). sekaligus membuka lapangan kerja. Ekspor dalam bentuk produk dengan muatan teknologi tinggi sudah ada namun masih relatif rendah porsinya (Gambar 4). diunduh dari tradingeconomics.merupakan bentuk kebijakan yang secara nyata akan mendorong adopsi teknologi pada industri-industri di dalam negeri. Bermakna bahwa sebaiknya tidak mengekspor bahan mentah dan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Indonesia saat ini masih dominan mengekspor komoditas atau bahan mentah (raw materials) atau produk-produk setengah-jadi (intermediate products) yang secara ekonomi merugikan dan secara ekologi kurang bersahabat. hari selasa 18 Januari 2011. Sejak akhir tahun 1980-an sudah mulai ada produk dengan muatan teknologi tinggi. Menteri Negara Riset dan Teknologi. tetapi masih sangat rendah. dan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. tetapi dirasakan masih belum optimal. pada Rapim Lengkap Kementerian Riset dan Teknologi. Persentase ekspor produk Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi. tetapi pada akhir tahun 2000-an kembali menurun menjadi sekitar 10 persen. Sumber: The World Bank. 18 Tahun 2002 . tetapi perlu didorong untuk mengekspor barang jadi yang diproduksi di dalam negeri dengan memanfaatkan tenaga kerja dan teknologi nasional. periode 1989-2008 22 Disampaikan oleh Suharna Surapranata. yakni hanya sekitar 1 persen. Ungkapan yang dikemukakan Surapranata (2011) patut direnungkan. tetapi lebih didorong untuk mengekspor produk yang dihasilkan dengan keringat anak bangsa di dalam negeri.

Kontribusi produk teknologi tinggi ini masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai total ekspor Indonesia pada periode tersebut. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Perdagangan dan Industri. 1. sedangkan investor asing lebih banyak tertarik pada bidang usaha yang terkait dengan eksploitasi sumberdaya alam. Indonesia memang juga telah mengekspor produk teknologi tinggi. menyerap banyak tenaga kerja. yakni hanya berfluktuasi sekitar 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Menurut UU No. Produk dengan muatan teknologi tinggi mencakup produk-produk yang membutuhkan intensitas R&D tinggi.1. antara lain untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional.1. Sebagai upaya mendorong kemampuan teknologi nasional.4 sampai 6. 50 Naskah Akademik Perubahan UU No. 1. penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. seperti produk kedirgantaraan (aerospace). Tujuan penyelenggaraan penanaman modal. Pasal 18 Ayat (3) menyebutkan.1. 18 Tahun 2002 . kegiatan penanaman modal di Indonesia dapat memperoleh fasilitas. yakni: [1] keterbatasan kapasitas investasi nasional di sektor industri hilir untuk mengolah bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi produk jadi.5 milyar dolar Amerika (Tabel 2). Selain itu terkait dengan riset.Saat ini Indonesia masih dihadapkan pada dua kendala yang menjadi tantangan utama. dan [2] belum siapnya teknologi nasional untuk menyokong tumbuh kembang industri hilir tersebut. bahwa untuk mendapatkan fasilitas sekurang-kurangnya kegiatan penanaman modal memenuhi salah satu kriteria berikut ini: a. instrumen riset (scientific instruments). Indonesia tak akan mampu membangun kemandirian perekonomiannya jika tidak mampu mengatasi dua tantangan utama ini. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. baik di sektor pertanian (terutama perkebunan) maupun di sektor pertambangan. dan electrical machinery. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Namun demikian. nilai ekspor produk-produk bermuatan teknologi tinggi tersebut sejak tahun 2000 tidak mengalami kemajuan yang berarti dan relatif stagnan. mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan. yakni kapasitas untuk mengembangkan teknologi yang relevan. Pasal 10 Ayat (4) menyebutkan bahwa perusahaan penanaman modal yang mempekerjakan tenaga kerja asing diwajibkan menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. termasuk skala prioritas tinggi. serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing. komputer. menciptakan lapangan kerja. dan secara ekonomi kompetitif dibanding produk teknologi serupa yang tersedia di pasar dunia. b. farmasi (pharmaceuticals). meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan. handal.

2. perbatasan. meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru. terutama bagi penanaman modal baru bagi industry pionir. j. pemerintah. atau k. daerah g. melakukan alih teknologi. d. mempunyai nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi. dan menstimulasi kegiatan kemitraan yang saling membutuhkan. inovasi termasuk kriteria yang dapat diajukan untuk memperoleh fasilitas penanaman modal. bermitra dengan usaha mikro. 18 Tahun 2002 Peraturan perundang-undangan ini antara lain menyebutkan. f. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang (a) produksi dan pengolahan. Kecil. termasuk pembangunan infrastruktur. dunia usaha. memperkenalkan teknologi baru. c. (b) pemasaran. Selanjutnya dalam pasal ini disebutkan mengenai kemungkinan pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan dalam jumlah dan waktu tertentu. dan masyarakat dapat memfasilitasi. Menurut ketentuan di atas. d. mempercayai. Selain itu UMKM dapat melakukan: . i. berada di daerah terpencil. alih teknologi maupun inovasi merupakan salah satu strategi yang perlu dikembangkan. (c) sumber daya manusia. industri yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi di dalam negeri. memberikan insentif kepada Usaha Mikro. serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. e. dan (d) desain dan teknologi. b. dan Menengah untuk memperoleh sertifikat hak atas kekayaan intelektual. meningkatkan kerjasama dan alih teknologi. meningkatkan kemampuan di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu. pemerintah daerah. sumber 51 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kemitraan antar UMKM dengan Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi dan pengolahan. menengah atau koperasi. melaksanakan kegiatan penelitian. Guna mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.1. mendorong Usaha Mikro. Kecil. Kecil. 1. dan inovasi.c. dan e. pengembangan. Selanjutnya terkait dengan pengembangan dalam bidang desain dan teknologi. atau daerah lain yang dianggap perlu. memperkuat. daerah tertinggal. dan menguntungkan. permodalan. h. Industri pionir adalah industri yang memiliki keterkaitan luas. kecil. menjaga kelestarian lingkungan hidup. dan Menengah yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. melakukan industri pionir. dan Menengah a. pemasaran. mendukung.

Pengusaha mendapat fasilitas dan kemudahan dalam KEK. industri. Sementara dukungan kelembagaan ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator. Adapun yang dimaksud dengan “lembaga layanan pengembangan usaha” (bussines development services-providers) adalah lembaga yang memberikan jasa konsultasi dan pendampingan untuk mengembangkan Usaha Mikro. selain fasilitas PPh dapat diberikan tambahan fasilitas PPh sesuai dengan karakteristik zona. konsultan keuangan mitra bank. Pasal 30 menyebutkan bahwa (1) setiap wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha di KEK diberikan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh). 20 Tahun 2008. sepanjang barang tersebut merupakan bahan baku atau bahan penolong produksi. dan 52 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Menengah sebagai mitra usahanya.daya manusia. penangguhan bea masuk. sebagai upaya pengembangan teknologi tertentu untuk meningkatkan daya saing produk barang dan jasa.3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum RI yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. dan Menengah. penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. pembebasan cukai. dan energi yang kegiatannya dapat ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri. Upaya-upaya penguatan inovasi dapat masuk KEK. antara lain zona pengolahan ekspor. b. Menurut UU No. dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. pariwisata. impor. c. Inkubator yang dikembangkan meliputi: inkubator teknologi. 1. Pasal 32 ayat (1). Kecil. dan inkubator lainnya sesuai dengan potensi dan sumber daya ekonomi lokal. dan teknologi. serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. Kecil. tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk barang kena pajak. 18 Tahun 2002 . UMKM yang melakukan kemitraan dimungkinkan untuk mendapatkan insentif. Selain itu. Menurut Pasal 25. logistik. dan Ayat (2) menyebutkan. penyerapan tenaga kerja. Menteri dan Menteri Teknis mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan UMKM melalui inovasi dan pengembangan produk berorientasi ekspor. dan lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan Usaha Mikro. Kecil. dan Menengah. menyebutkan bahwa impor barang ke KEK dapat diberikan fasilitas berupa. bisnis. Yang dimaksud dengan “inkubator” adalah lembaga yang menyediakan layanan penumbuhan wirausaha baru dan perkuatan akses sumber daya kemajuan usaha kepada Usaha Mikro. ekspor. lembaga layanan pengembangan usaha. pengembangan teknologi. antara lain: a. KEK terdiri atas satu atau beberapa zona. KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri.1.

Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional antara lain menyebutkan. d.1. antara lain kepada kepada: industri yang melakukan penelitian. tidak dipungut PPh impor. c. dan industri yang melakukan alih teknologi. insentif non-fiskal. meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan iptek untuk menciptakan dan menyerap teknologi dan invoasi yang berorientasi pasar. mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri dan pembentukan lembaga R&D dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan bahan baku alternatif. peningkatan kapasitas difusi teknologi pada sistem produksi. b. Fasilitas tersebut berupa insentif fiskal. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Dalam UU No. 28 Tahun 2008 juga menekankan perlunya pengembangan teknologi industri melalui: a. peningkatan kapasitas (pendalaman) teknologi pada sistem produksi. Pemerintah dapat memberikan fasilitas.d. Perpres No. dan kemudahan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Keuangan dan Perpajakan.4. peningkatan intermediasi dan pola insentif yang mendorong kemitraan dan kegiatan litbang di dunia usaha. Perpres No. Bidang Keuangan dan Perpajakan 2. Meskipun insentif fiskal diberikan oleh Kementerian Keuangan. g.1. disamping manajemen dan kewiraswastaan. namun demikian bentuk insentif non fiskal maupun kemudahan lainnya merupakan peluang untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang diperlukan. e. 18 Tahun 2002 . Sebagai upaya mendorong penguatan inovasi nasional. peningkatan jumlah penemuan baru hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan oleh sistem produksi. Selain itu. 2. f. peningkatan kapasitas kelembagaan teknologi dalam mendukung sistem produksi. produk melalui teknologi tepat guna. 1. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional Terkait dengan penguatan inovasi. pengembangan dan inovasi.1. Permohonan pemberian fasilitas diajukan kepada Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi.1. 2. pengembangan sumberdaya manusia sektor industri secara intensif melalui akselerasi transformasi teknologi. 28 Tahun 2008 memungkinkan pengembangan kebijakan dalam upaya peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka penghematan. Ada pula penghasilan wajib pajak yang dapat dijadikan faktor pengurang pajak 53 Naskah Akademik Perubahan UU No. 36 Tahun 2008 disebutkan tidak semua penghasilan menjadi obyek pengenaan pajak.

1. 36 Tahun 2008 menyebutkan. dibebankan selama 6 (enam) tahun masing-masing sebesar 5 % (lima persen) per tahun. yaitu “biaya penelitian perusahaan dan/atau sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan di Indonesia”. menurut PP No.1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Menurut UU No. 2. dan 54 Naskah Akademik Perubahan UU No. Yang dimaksud dengan barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yaitu barang atau peralatan yang digunakan untuk melakukan penelitian/riset atau percobaan guna peningkatan atau pengembangan suatu penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.penghasilan bruto. 2. Insentif ini berupa pembebasan bea masuk atas impor buku ilmu pengetahuan dan barang atau peralatan untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan (Pasal 25). Selanjutnya dalam peraturan pelaksanaannya.2.3. Ketentuan UU No. (b) penyusutan dan amortisasi yang dipercepat. antara lain yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan. bukan menjadi obyek pajak adalah “sisa lebih yang diterima atau diperoleh lembaga atau badan nirlaba di bidang pendidikan formal dan/atau penelitian dan pengembangan yang ditanamkan kembali dalam jangka waktu 4 tahun”. Pembebasan bea masuk diberikan berdasarkan rekomendasi dari kementerian terkait. (c) pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen yang dibayarkan kepada Subjek Pajak Luar Negeri sebesar 10% (sepuluh persen). 18 Tahun 2002 . Adanya ketentuan pengecualian sebagai obyek pajak atau pengurangan penghasilan bruto merupakan fasilitas atau insentif di bidang perpajakan yang diberikan untuk mendorong kemampuan riset. 1 Tahun 2007. Pasal 2 menyebutkan bahwa wajib pajak badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi dapat diberikan fasilitas pajak penghasilan berupa: (a) pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman modal. Wajib pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerahdaerah tertentu dapat diberikan insentif dan fasilitas pajak penghasilan. inovasi dan investasi riset dan pengembangan badan usaha/industri di Indonesia. pemerintah dapat memberikan fasilitas insentif pajak. atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku. 17 Tahun 2006 ini dimungkinkan pemberian insentif dan fasilitas untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu Sejalan dengan upaya penguatan inovasi maupun investasi di bidang riset swasta di Indonesia. yang menjadi faktor pengurang (tax deduction) penghasilan bruto.

Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional.4. 36 Tahun 2008). dan/atau.(d) kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun.5. menurut Keppres No. dan Biaya Pembangunan Infrastuktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto PP No. diberikan perlakuan di bidang Pajak Penghasilan (fasilitas perpajakan) sebagai berikut: a. Melalui peraturan ini. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 93 Tahun 2010 merupakan aturan pelaksanaan UU No. b. impor barang dan/atau bahan untuk diolah di PDKB. kompensasi kerugian fiskal. Sedangkan yang dimaksudkan KAPET. penyusutan dan atau amortisasi yang dipercepat. dan/ atau c) memiliki potensi pengembalian investasi yang besar. b) mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya. 2. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlakuan Perpajakan Di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Peraturan ini memuat ketentuan berkaitan dengan perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). Setiap Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) di dalam wilayah KAPET juga dapat diberikan fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa.1. ke PDKB untuk diolah lebih lanjut. Bagi wajib pajak swasta yang menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan iptek dapat memperoleh fasilitas pajak/keringanan pajak. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas : a. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu adalah wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan: a) memiliki potensi untuk cepat tumbuh. 18 Tahun 2002 . 55 Naskah Akademik Perubahan UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (yang telah diubah dengan UU No. b. pajak penghasilan menurut Pasal 26 atas dividen sebesar 10%. c. Pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di dalam KAPET. Sumbangan dari pihak swasta ini akan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. pemasukan Barang Kena Pajak dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya. c. impor barang modal atau peralatan lain oleh PDKB yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi. diharapkan dapat meningkatkan pendanaan riset dari pihak swasta. untuk selanjutnya disebut DPIL. Pasal 1 menyebutkan bahwa sumbangan dan/atau biaya terkait penelitian dan pengembangan dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam satu tahun.1. mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai paling lama 10 (sepuluh) tahun.

melengkapi. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang Iptek” yang dituangkan sebagai “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek”. 3. 4) mengikat semua pihak. penyerahan kembali Barang Kena Pajak hasil pekerjaan subkontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di DPIL atau PDKB lainnya kepada Pengusaha Kena Pajak PDKB asal. Dalam rangka memadukan sinergisme kerja berbagai unsur kelembagaan Iptek. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Pasal 18 dan 19 UU No. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 3. memperkuat. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. e. prioritas utama. Untuk mengembangkan jaringan tersebut seluruh elemen Sisnas Iptek wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. f.1. perguruan tinggi. pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut. karena: 1) memberikan landasan hukum.1. dan . dan masyarakat untuk berperan serta secara aktif. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Diundangkannnya UU No. 56 Naskah Akademik Perubahan UU No. maupun jangka panjang. 18 Tahun 2002 3) menggalakkan pembentukan jaringan. Kunci penting untuk terlaksananya sinergisme kerja antar unsur Sisnas Iptek adalah terbangunnya suatu sistem perencanaan pembangunan nasional Iptek dalam jangka pendek. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai perlunya penguatan jaringan sistem nasional penelitian. peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal. UU No.1. pengembangan. 3. Jaringan tersebut berfungsi untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur unsur kelembagaan iptek (lembaga litbang.d. 2) mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumber daya Iptek secara lebih efektif.18 Tahun 2002 memberikan manfaat besar bagi pengembangan Iptek di Indonesia. 18 Tahun 2002 menyatakan bahwa “Pemerintah wajib merumuskan arah. pemerintah. pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka subkontrak. g. dan penerapan iptek (sisnas litbangrap iptek). badan usaha dan lembaga penunjang lainnya) untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih besar dibandingkan apabila masing-masing unsur kelembagaan berjalan secara sendiri-sendiri. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. menengah. pemerintah daerah.

Pemerintah Daerah juga dalam merumuskan kebijakan strategisnya harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. 18 Tahun 2002 adalah mengkoordinasikan perumusan “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek” dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. perekayasaan. dan difusi 57 Naskah Akademik Perubahan UU No. dapat dikatakan UU No. Menteri antara lain wajib memperhatikan pentingnya upaya penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. Dengan demikian. Dalam skala yang lebih kecil. dengan memperhatikan kepentingan masyarakat. 3) penguatan kemampuan audit teknologi yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia (SNI). antara lain: a. peraturan perundang-undangan ini sangat menekankan pentingnya pembentukan jaringan yang menjalin hubungan interaktif semua unsur kelembagaan iptek sehingga kapasitas dan kemampuannya dapat bersinergi secara optimal. Dalam upaya penguatan inovasi. Seperti halnya di tingkat nasional. 18 Tahun 2002 dapat menjadi acuan. 18 Tahun 2002 . Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. Dalam perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek. pengembangan. bangsa. beberapa ketentuan dalam UU No. 4) Mengembangkan instrumen kebijakan yang diperlukan. Pasal 20 UU No. inovasi. 18 Tahun 2002 merupakan pedoman dan landasan hukum utama dalam pelaksanaan pembangunan iptek nasional. Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri (Pasal 16 ayat (3)). c. lembaga riset. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. pengembangan. 2) penguatan pertumbuhan industri berbasis hasil litbang.Salah satu kewajiban Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam UU No. Menteri wajib memperhatikan: 1) penguatan ilmu dasar dan kapasitas litbang. Sebagai Undang-Undang yang mengatur sistem iptek nasional. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai kewajiban Pemerintah Daerah untuk merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan pembangunan daerah Iptek yang dituangkan dalam “kebijakan strategis pembangunan Iptek di daerah”. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. b. Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek dibentuk Dewan Riset Nasional dan Dewan Riset Daerah. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. dan badan usaha yang melaksanakannya (Pasal 13 ayat (4)).

Badan Usaha Asing dan Orang Asing. litbang kesehatan bertujuan untuk memberikan masukan iptek serta pengetahuan lain yang diperlukan untuk menunjang pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. f. e. klimatologi. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi. dimana disebutkan kegiatan litbang asing dilakukan atas dasar izin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penelitian bagi orang asing. 18 Tahun 2002. 39 Tahun 1995 litbang kesehatan dapat diselenggarakan oleh lembaga asing. dan Geofisika UU No. Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. 31 Tahun 2009 menyebutkan pengembangan industri meteorologi. inovasi.4.1. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. Dalam Pasal 2 disebutkan.2.). 3. Pasal 78 UU No. pemanfaatan. 3.1. Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain (Pasal 28 ayat (2)). klimatologi. 31 Tahun 2009 secara tegas menekankan perlunya penguatan inovasi dan alih teknologi dalam pengembangan industri meteorologi. Inovasi dan Difusi Teknologi Peraturan ini merupakan peraturan pelaksanan UU No. atau kerja sama dengan lembaga asing yang memenuhi persyaratan. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah (Pasal 26). 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan (Pasal 28 ayat (1)).1.teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan (Pasal 19 ayat (3) huruf b. Klimatologi. Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. dan geofisika. PP ini merupakan peraturan pelaksanaan ketentuan Pasal 69 UU No. Menurut PP No. 3. 18 Tahun 2002 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan . atau melibatkan peneliti asing. dan geofisika yang mencakup inovasi dan alih teknologi harus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nasional. Pengaturan kegiatan litbang asing dalam PP No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. 39 Tahun 1995 mempunyai keterkaitan dengan PP No. d. Peraturan ini memberi kewenangan kepada Menteri yang membidangi riset dan teknologi untuk memberikan rekomendasi insentif – di bidang perpajakan maupun bantuan teknis (technical assistance) – 58 Naskah Akademik Perubahan UU No.3.

35 Tahun 2007 berkaitan erat dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan (insentif fiskal). Sementara itu. Keputusan persetujuan dan penolakan pemberian insentif tetap berada dalam kewenangan masing-masing instansi yang berwenang dimaksud. Namun dalam hal ini. PP No. kewenangan Menteri hanya sebatas memberikan rekomendasi scientific opinion kepada instansi yang berwenang dibidang perpajakan maupun lembaga pemberi bantuan teknis. sebenarnya pemerintah sudah berupaya mengakelarasi kegiatan riset dan inovasi dunia usaha atau untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta. 3. 20 Tahun 2005 menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset/riset dengan badan usaha. Pelaksanaan insentif bantuan teknis terkait dengan ketentuan UU Kepegawaian. 18 Tahun 2002. badan usaha dapat mengajukan permohonan rekomendasi insentif litbang kepada Menteri. PP No. PP No. dan difusi teknologi di badan usaha. antara lain berkaitan dengan bagaimana kriteria yang menentukan badan usaha mendapatkan tax deduction. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan merupakan beberapa peraturan perundang-undangan yang menyediakan insentif riset. atau bagaimana urgensi dan pengaruh pemberian fasilitas/insentif terkait dengan usaha peningkatan kemampuan inovasi nasional. 18 Tahun 2002 . Upaya ini mutlak dilakukan. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan misalnya. mengingat regulasi masih menyisakan sejumlah pertanyaan selain sifatnya cenderung sektoral sehingga tidak mudah implementasinya. Selain itu. yang menekankan pentingnya alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan-kegiatan litbang agar memberikan nilai tambah ekonomi dan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidup. Sehingga persoalannya bukan pada kekosongan peraturan. inovasi. Pertanyaan menyangkut UU No. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Peraturan Pemerintah ini merupakan penjabaran Pasal 16 ayat (3) UU No. beberapa ketentuan dalam PP No. 36/2008 tentang Pajak Penghasilan. PP No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. Dari sisi regulasi.dalam rangka mendorong kemampuan peningkatan perekayasaan. 1/2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. seperti Pasal 26 huruf a 59 Naskah Akademik Perubahan UU No. Berdasarkan peraturan ini. Ketentuan dan pelaksanaan insentif atau fasilitas perpajakan yang dimaksud dalam PP No. 93 Tahun 2010 dan UU No. perekayasan dan dosen atau pemanfaatan laboratorium-laboratorium milik pemerintah.5. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS maupun ketentuan-ketentuan yang terkait dengan aturan tentang lembaga Kementerian LPNK dan LPK. insentif bantuan teknis (insentif non fiskal) berhubungan dengan penempatan tenaga ahli peneliti.1. UU No. namun bagaimana penyusunan kebijakan pelaksanaannya dapat bersinergi dengan baik. 12 Tahun 2002 jo.

asosiasi perikanan.7. asistensi teknis litbang. 3. meningkatkan kemandirian dalam penguasaan iptek di bidang perikanan. Sebagai peraturan pelaksanaannya. PP ini juga menyebutkan. menyatakan bahwa sinergi perguruan tinggi dan lembaga litbang dengan lembaga riset lainnya dapat dilakukan antara lain dengan mekanisme perjanjian kerjasama maupun perjanjian lisensi. mengungkapkan dan memahami potensi dan permasalahan sumber daya ikan dan lingkungannya serta mengembangkan teknologi pengelolaan perikanan dan konservasi sumber daya ikan. efisien. dan/atau (d) pengembangan eksperimental. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan harus melaporkan hak kekayaan intelektual yang telah diperoleh dan/atau yang sedang dalam proses pendaftaran. Pasal 15 menyebutkan penyelenggaraan litbang perikanan dapat bekerja sama dengan pelaksana litbang. 12 Tahun 2010 kegiatan litbang kehutanan meliputi kegiatan: (a) penelitian dasar. Dalam rangka pengembangan kerjasama litbang perikanan. menyiapkan dan menyediakan basis ilmiah yang kuat dan teknologi tepat guna sebagai kunci dalam menyusun kebijakan pengelolaan dan pengembangan usaha perikanan agar lebih efektif. antara lain Peraturan Menteri Negara Riset Dan Teknologi No. berdaya saing tinggi. Tujuan pelaporan adalah untuk mendayagunakan hasil kegiatan penelitian dan pengembangan yang dibiayai oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan hidupnya. dan masyarakat. hasil kegiatan penelitian dan pengembangan milik pemerintah dan/atau pemerintah daerah. dan ramah lingkungan serta menghargai kearifan tradisi/budaya lokal. ekonomis. penyediaan dana dan sarana litbang.6. Sedang Pasal 20. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Menurut PP No. dan dapat bekerja sama dengan lembaga litbang pemerintah provinsi. 04/M/PER/III/2007 tentang Tata Cara Pelaporan Kekayaan Intelektual. lembaga litbang kabupaten/kota. badan usaha. Kerjasama ini meliputi penyediaan tenaga ahli. serta pengelolaannya kepada Menteri. dan/atau lembaga litbang milik asing. pendidikan dan pelatihan serta kegiatan lain yang dapat mempercepat pembangunan perikanan. Hasil Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Dan Hasil Pengelolaannya.yang menyatakan bahwa sinergi berprinsip mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber daya tertentu untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat tertentu. b.1. Di dalam peraturan menteri ini. 3. pelaku usaha perikanan. (b) penelitian terapan. perguruan tinggi. 30 Tahun 2008 penyelenggaraan litbang perikanan bertujuan untuk: a. dan c.1. kegiatan litbang kehutanan diselenggarakan oleh Pemerintah. (c) penelitian kebijakan. 18 Tahun 2002 . Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan. 60 Naskah Akademik Perubahan UU No. Serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Menurut PP No. Upaya ini diharapkan juga mendorong inovasi di sektor usaha.

Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional Kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. 3. peneliti asing.1. 23 Tahun 2010. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. mendukung. Selanjutnya di ayat (2)-nya disebutkan lembaga litbang asing. Berkaitan dengan kerjasama penelitian internasional.8. Pasal 22 menyebutkan. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. transportasi dan industri pertahanan. lembaga riset dan teknologi. penguatan SINas diutamakan mencakup inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. Menurut Perpres No. atau badan usaha asing dapat menyelenggarakan litbang kehutanan setelah mendapatkan izin dari instansi Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. Dalam Perpres ini yang dimaksud dengan SINas adalah “suatu jaringan rantai antara institusi publik. manajemen bencana alam. bioteknologi. serta kondisi social budaya masyarakat. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. b. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. ilmu pengetahuan dan teknologi.” KIN mempunyai tugas untuk: (a) membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. terintegrasi. 12 Tahun 2010 juga mempunyai keterkaitan dengan PP No. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. industriinfrastruktur. 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. terpadu. (b) memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. ketahanan energi. Dalam rangka penguatan SINas ini dibentuk Komite Inovasi Nasional (KIN). 61 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta diklat kehutanan dilaksanakan dengan memperhatikan: a. 18 Tahun 2002 . perguruan tinggi asing. industri manufaktur. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. lembaga litbang asing. sebagaimana PP No. PP No. perguruan tinggi asing. potensi dan karakteristik biofisik setempat guna menjamin terjaganya kekayaan plasma nutfah khas Indonesia dari pencurian atau gangguan lainnya yang mengancam punahnya plasma nutfah tersebut. dan (c) melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program penguatan SINas. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghasilkan produk produk inovatif. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). dan terkoordinasi dalam satu kesatuan Sistem Inovasi Nasional (SINas) guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. peneliti asing. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. mendayagunakan. atau badan usaha asing dalam menyelenggarakan litbang kehutanan harus bekerja sama dengan Badan Litbang Kehutanan Kementerian. kearifan tradisional.Penyelenggaraan litbang.

16 Tahun 2005. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Instruksi Presiden dalam memberi arahan perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan strategis pembangunan nasional iptek (Jakstranas Iptek). prioritas utama dan kerangka kebijakan pemerintah dalam pembangunan iptek secara nasional.070 4. 3. tugas utama DRN adalah : a.1. program diploma. Dalam melaksanakan tugasnya itu. Koordinasi dilakukan terutama untuk menentukan dan melaksanakan arah kebijakan. DRN memperhatikan pemikiran dan pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. yakni sebagai tenaga kerja terampil untuk aplikasi teknologi di perusahaan industri. menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. 4. Perumusan Jakstranas Iptek dilakukan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi secara terkoordinasi dengan instansi-instansi terkait. pengembangan.672 5. memberikan berbagai pertimbangan kepada Menristek dalam penyusunan kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. Bidang Pendidikan. 18 Tahun 2002 . dan strata 1 lebih dilihat relevansinya sebagai elemen pendukung penguatan kapasitas adopsi dari sisi pengguna teknologi. b.698 4. pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Sesuai Perpres No.403 5. 62 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.10.580 Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam konteks penguatan inovasi. sedangkan pendidikan menengah kejuruan23. Tahun 1989 1990 1991 1992 1993 23 Nilai Ekspor (juta USD) 79 112 197 465 850 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 Nilai Ekspor (juta USD) 2.9.1. jenjang pendidikan yang paling relevan adalah pada strata 2 dan 3 untuk dukungan kemampuan individual dan kapasitas pengembangan teknologi nasional.3. atau usaha mandiri skala kecil dan menengah. prioritas utama maupun kerangka kebijakan di bidang penelitian. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Dewan Riset Nasional (DRN) Peraturan Presiden tentang DRN mengatur tentang pelaksanaan tugas DRN dalam membantu Menteri dalam merumuskan arah. Lebih spesifik berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang pendidikan menengah. membantu Menteri dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi.

unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. 18 Tahun 2002 . disamping mutu pendidikan. Konsepsi sistem inovasi nasional yang sangat baik sekalipun hanya akan bisa diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. topik riset masih ditentukan oleh keinginan mahasiswa dan arahan pembimbing/promotornya. Beberapa pengecualian tentu ada. PP No. tetapi arus utamanya harus diakui masih murni berorientasi akademik.340 1. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi.250 2. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. diunduh dari tradingeconomics.900 5. karena lulusan pada jenjang ini memang masih lebih diposisikan sebagai langkah penyiapan tenaga berpengetahuan dasar yang cukup dan/atau mempunyai ketrampilan di bidangnya masing-masing. Namun dalam prakteknya. ataupun kebutuhan pemerintah. sedangkan upaya untuk meningkatkan relevansinya dengan realita di bidang ilmu yang bersangkutan masih dirasakan minimal.571 5. riset tugas akhir program strata 2 dan 3 (thesis dan disertasi) masih dominan diposisikan hanya sebagai indikator penguasaan bidang ilmu yang sesuai dengan program studi yang diikuti. industri.1994 1995 1996 1997 1998 1. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap24 dan cukup banyak pula yang berkerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi sistem inovasi nasional.225 5. 63 Naskah Akademik Perubahan UU No.658 2. kegiatan tugas akhir yang hanya berorientasi akademik hanya diimplementasikan sampai pada jenjang strata 1 atau program diploma.808 6. 24 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur.188 2004 2005 2006 2007 2008 5. Persentase ekspor Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi untuk periode 1989-2008 Sumber : The World Bank. belum didorong oleh kesadaran agar hasil riset tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Idealnya. atau [2] meningkatkan kemampuannya sebagai pengembang teknologi. Sebagai contoh. Pendidikan program diploma dan sekolah menengah kejuruan sejak awal dirancang untuk menyiapkan tenaga terdidik dan terampil yang siap bekerja. Dengan kata lain.com (18 Januari 2011) Secara umum program pendidikan Indonesia belum dirancang agar dapat optimal mendukung tumbuh kembang inovasi.625 Tabel 2.561 2. Lulusan strata 1 kemudian dapat memilih alur karirnya untuk berkiprah: [1] memperkuat kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna.

Kewajiban yang pertama dikenal sebagai ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’. dan seni.1. i.1. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Pendidikan. dan (2) Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi.1. 4. dinamika perkembangan global. 4. kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dengan memperhatikan: a. 25 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. Menurut Pasal 36 UU No. dan minat peserta didik. UU No. UU No.4. keragaman potensi daerah dan lingkungan. 64 Naskah Akademik Perubahan UU No. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. 18 Tahun 2002 . b. kecerdasan. agama. h. 20 Tahun 2003. tuntutan pembangunan daerah dan nasional. penelitian. Pelaksanaan penelitian terutama dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar. e. dan pengabdian kepada masyarakat. g. Olehkarena itu perkembangan iptek juga merupakan salah satu materi kurikulum. peningkatan akhlak mulia. teknologi. 20 Tahun 2003 yang antara lain menyebutkan: (1) bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan. Namun dalam prakteknya.2. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. f. penelitian ilmiah. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap25 dan cukup banyak pula yang bekerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya. perkembangan ilmu pengetahuan. dan j. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Terkait dengan kegiatan penelitian. Peraturan Pemerintah Nomor Penyelenggaraan Pendidikan 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. d. peningkatan iman dan takwa. c. peningkatan potensi. tuntutan dunia kerja. di samping mutu pendidikan. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.1. dan pengabdian kepada masyarakat.

budaya. pemerintah daerah. teknologi. Pembangunan ketenagakerjaan sesuai dengan sifatnya akan lebih berada pada posisi sebagai pemasok kebutuhan tenaga kerja. 18 Tahun 2002 UU No. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Berdasarkan Pasal 26.3. atau pemerintah). dimana kebutuhan (demand) yang menentukan orientasi pembangunan dan pengembangannya. industri. penelitian. dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh sebab itu. . dan seni melalui pendidikan. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. Nuansa ini sangat sejalan dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. Lebih lanjut dinyatakan pada Pasal 4 UU No. Pasal 32. menyebutkan bahwa dosen dapat memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan.1. dan/atau olahraga. studi serta kesempatan melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. dan masyarakat. Bidang Ketenagakerjaan. 13 Tahun 2003. seni. penyelenggara pendidikan tinggi atau satuan pendidikan tinggi. 5. dosen memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi. mengembangkan. bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan: [a] memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi.Konsepsi sistem inovasi yang sangat baik sekalipun hanya akan berhasil apabila dapat diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. maka terlihat jelas benang merah keterkaitan antara kebijakan ketenagakerjaan dengan upaya penguatan inovasi nasional. yakni mencakup setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat (Pasal 1 butir 2). Apabila dikaitkan dengan tujuan pembangunan SINas sendiri. 37 Tahun 2009. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen Menurut PP No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan pengertian tentang tenaga kerja. hubungan yang sinergis dan serasi harus 65 Naskah Akademik Perubahan UU No. [b] mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. dan [d] meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. yakni untuk mewujudkan sistem pengelolaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih efektif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan/atau jasa sesuai kebutuhan pengguna (masyarakat. Kesempatan untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat mencakup kesempatan untuk memperoleh dan/atau memanfaatkan sumber daya pendidikan yang dimiliki oleh Pemerintah. Butir b Pasal 4 di atas memberikan penegasan bahwa salah satu tujuan pembangunan ketenagakerjaan adalah untuk penyediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. teknologi. 4. [c] memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan.

sebaliknya jika lebih banyak perannya hanya sebagai objek pembangunan. Inovasi yang dibangun berbasis pada potensi dan kebutuhan nasional bermakna telah mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. Sistem Pendidikan Nasional Kebijakan ketenagakerjaan Produktivitas Inovasi Nasional Kinerja Perekonomian Nasional Gambar 5. 18 Tahun 2002 Lulusan bermutu dan relevan kebutuhan lapangan kerja SDM pengembang. 66 Naskah Akademik Perubahan UU No. penyiapan tenaga kerja juga tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. Skenario untuk membangun keterpaduan antara pembangunan SINas dengan penyiapan tenaga kerja pendukungnya saat ini belum diformulasikan. SINas. pengguna & intermediasi Kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional Kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa . sangat jelas bahwa upaya mewujudkan SINas yang produktif dan efektif dalam memajukan perekonomian nasional membutuhkan keterpaduan dengan kebijakan ketenagakerjaan dan sekaligus juga dengan kebijakan pendidikan nasional (Gambar 5). tetapi perlu juga didasarkan atas persentase jumlah lulusan yang berperan sebagai subjek pembangunan atau sebagai tenaga kerja produktif yang berkontribusi terhadap keberhasilan pembangunan nasional di segala sektor. Dengan demikian. Jika lebih besar perannya sebagai subjek pembangunan yang secara aktif berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. sehingga dengan sendirinya diawali dengan kesenjangan (gap) yang minimal antara kebutuhan penguatan inovasi nasional dengan ketersediaan tenaga kerja domestik. Penyerasian Sistem Pendidikan. maka akan sangat berat beban yang diemban untuk memajukan bangsa dan negara tersebut. Lebih jauh. Dengan demikian maka keberhasilan pembangunan pendidikan harusnya tidak hanya dievaluasi berdasarkan jumlah atau persentase penduduk yang berpartisipasi pada setiap jenjang pendidikan atau persentase populasi yang menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Selanjutnya. ketenagakerjaan. secara bertahap dilakukan upaya meningkatkan produktivitas penguatan inovasi yang dalam prosesnya tentu mengharuskan adanya peningkatan mutu dan relevansi keahlian tenaga kerja. dan perekonomian nasional Tenaga kerja berperan sekaligus sebagai subjek dan objek pembangunan. maka bangsa dan negara tersebut akan berpeluang lebih besar untuk lebih maju. Kinerja sektor pendidikan tentu akan menjadi tumpuan utama dalam memperbesar porsi tenaga kerja yang menjadi subjek pembangunan. dengan tujuan dan kebutuhan yang jelas.dimulai dengan mewujudkan penguatan inovasi yang lebih mantab. Kemajuan suatu bangsa dan negara sangat tergantung dari peran mana yang lebih besar porsinya yang diperankan oleh tenaga kerja secara kolektif.

Kenyataan ini sebetulnya bukan hanya menjadi cerminan dari kualitas tenaga kerja yang masih rendah. 13 Tahun 2003 antara lain mengatur mengenai peranan dan kedudukan tenaga kerja. tetapi untuk kegiatan-kegiatan ekonomi dengan muatan teknologi yang minimal. perekayasa dan dosen pemerintah adalah PNS. 12/ Tahun 2002 jo. PP No.2. dan Keputusan Kepala BKN No. dan intermediasi. pengguna teknologi dalam sistem produksi. memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 jo. b. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 4 UU No. bukan hanya sebagai konsumen barang dan/atau jasa yang dihasilkan dari hasil aplikasi teknologi semata. Posisi tenaga kerja Indonesia saat ini masih belum terlalu membanggakan. Kegiatan ekonomi masih dominan pada fase eksploitasi sumberdaya alam atau produksi bahan mentah. tetapi juga karena industri dengan muatan teknologi tinggi masih belum berkembang di Indonesia. 5. belum banyak kontribusi industri hilir terhadap perekonomian nasional. meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. 5. Tenaga ahli sebagai PNS tunduk kepada UU No.1. Pasal 6 hruf c PP No. Dalam Pasal 3 disebutkan pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ketenagakerjaan. memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. UU No. 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan : a.1. PP No. 12 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS. 18 Tahun 2002 UU No.1. 12 Tahun 2002 tentang Kenaikan Pangkat PNS. . karena masih lebih banyak yang berperan dalam proses produksi barang atau jasa.1. c. mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah.Selanjutnya. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS Tenaga ahli terdiri dari peneliti. yang berkaitan dengan ketentuan PNS dipekerjakan atau diperbantukankan. 5. dan d. maka keberhasilan pembangunan sektor ketenagakerjaan perlu dievaluasi berdasarkan peran aktif dan produktifnya sebagai pengembang teknologi. Kualitas tenaga kerja ini tidak terlepas dari peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. 99 Tahun 2000 menyebutkan “PNS yg dipekerjakan atau diperbantukan 67 Naskah Akademik Perubahan UU No. pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. dan hak mendapatkan tunjangan. dalam kerangka penguatan inovasi.

22 Tahun 2008 diatur hal-hal yang berkaitan dengan usulan penilaian dan penetapan angka kredit. Untuk menjamin adanya persamaan persepsi. 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen. dan badan usaha yang ditentukan”. pembebasan sementara. Peneliti. 13/M/PB/VIII/2008 dan No. negara sahabat atau badan internasional. Sedangkan tunjangan khusus bagi guru dan dosen bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. .1. 18 Tahun 2002 Sedangkan tunjangan kehormatan. Tunjangan Khusus Guru dan Dosen Serta Tunjangan Kehormatan Profesor Berdasarkan Pasal 10 . masa kerja. pengangkatan. Menurut Peraturan Bersama Menristek dan Kepala BKN No. 99 Tahun 2000 tidak berlaku bagi keperluan technical assistance peneliti dan perekayasa pemerintah ke badan-badan usaha swasta. BPPT ditunjuk sebagai instansi pembina jabatan perekayasa. Menurut pihak BKN dan Menpan. menetapkan 11 standar kompetensi jabatan fungsional perekayasa. perekayasa dan dosen tidak diperkenankan bekerja dan diperbantukan di badan-badan usaha. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS ini sangat tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. kenaikan jabatan/pangkat. sebagaimana Pasal 15 dan 16 diberikan kepada dosen yang memiliki jabatan akademik profesor dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan sebesar 2 (dua) kali gaji PNS yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 31 Tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan PNS yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam Jabatan Fungsional Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan diberikan tunjangan jabatan fungsional sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. PP No. pemberhentian dalam dan dari jabatan. Peraturan Pemerintah No. pola pikir dan tindakan dalam melaksanakan pembinaan perekayasa. Peraturan Pemerintah No.4. dan kualifikasi akademik bagi guru dan dosen PNS.1. 12 Tahun 2002 jo. 5. penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan angka kredit. organisasi profesi. masa kerja. Peraturan Pemerintah No. 68 Naskah Akademik Perubahan UU No.berdasarkan ketentuan Pasal ini adalah PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh pada proyek pemerintah. 11 dan 12 tunjangan khusus diberikan bagi guru dan dosen PNS yang ditugaskan oleh pemerintah atau pemerintah daerah di daerah khusus. yang besarnya 1 (satu) kali gaji pokok pegawai negeri sipil yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. tim penilai. BPPT selaku pembina jabatan perekayasa. 5. ketentuan mengenai ‘badan usaha yang ditentukan’ ini hanya ditujukan bagi keperluan perbantuan guru-guru pemerintah yang mengajar ke sekolah-sekolah swasta. dan kualifikasi akademik yang berlaku bagi profesor PNS. antara lain melakukan : a. Namun ketentuan PP No.3. Tunjangan kehormatan bagi profesor bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat.

b. menetapkan pedoman formasi jabatan fungsional perekayasa; c. menyusun kurikulum pendidikan dan pelatihan jabatan fungsional perekayasa; d. melakukan pengkajian dan pengusulan tunjangan jabatan fungsional perekayasa; e. mensosialisasikan jabatan fungsional perekayasa serta petunjuk pelaksanaannya; f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional perekayasa; g. mengembangkan sistem informasi jabatan fungsional perekayasa; h. memfasilitasi pelaksanaan jabatan fungsional perekayasa; i. memfasilitasi pembentukan organisasi profesi perekayasa; j. memfasilitasi penyusunan dan penetapan etika profesi dan kode etik perekayasa; k. melakukan monitoring dan evaluasi Jabatan Fungsional Perekayasaan

6. Bidang Infrastruktur Sosial. Infrastruktur sosial pada prinsipnya mencakup semua fasilitas yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai infrastruktur komunitas (community infrastructure). Dengan demikian maka infrastruktur sosial tidak hanya mencakup ‘soft infrastructure’ (seperti dukungan untuk pengembangan komunitas, keluarga, dan individu; layanan informasi; pelatihan ketrampilan; perlindungan hukum; keamanan publik; dan layanan darurat); tetapi juga mencakup ‘hard infrastructure’ (seperti fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas untuk kegiatan seni dan budaya, fasilitas olahraga dan rekreasi, perumahan sehat, fasilitas lingkungan, fasilitas ibadah, dan tranportasi publik). Akibat buruk dari kurangnya perhatian dalam pembangunan infrastruktur sosial telah semakin dirasakan oleh negara-negara maju, misalnya berupa gangguan keamanan lingkungan atau mutu sumberdaya manusia yang rendah yang kemudian menjadi beban pembangunan. Kesenjangan sosial yang terjadi ternyata sangat mahal biaya remediasinya. Menyadari akan hal ini maka beberapa negara maju mulai secara sungguh-sungguh berupaya memperbaikinya. Misalnya Inggris menganggarkan hampir 3 milyar pound untuk pembenahan infrastruktur sosialnya. Pemerintah Australia juga mengambil inisiatif untuk membenahi infrastruktur sosial ini (Casey, 2005). Indonesia sebagai negara berkembang kelihatannya belum menunjukkan perhatian yang baik terhadap infrastruktur sosial ini pada sebagian besar wilayah perdesaan dan lingkungan kumuh perkotaan. Akibatnya kesenjangan sosial-ekonomi antara perdesaan dan perkotaan semakin melebar. Kenyataan ini telah secara nyata menyebabkan laju urbanisasi yang semakin sulit dibendung. Kesenjangan antara komunitas kaya dan miskin di perkotaan juga terasa semakin melebar. Kondisi ini menyebabkan antara lain semakin meningkatnya frekuensi kerusuhan di

69

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

perkotaan. Walaupun banyak yang mengkaitkan fenomena kerusuhan ini sebagai dampak dari demokratisasi di Indonesia. Kesenjangan sosial-ekonomi jelas tidak ‘compatible’ dengan upaya membangun inovasi nasional yang produktif dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, dalam skenario besar pengembangan sistem inovasi nasional Indonesia perlu disediakan ruang untuk pembangunan infrastruktur sosial. Beberapa peraturan perundang-uindangan terkait dengan pengembangan infrastruktur sosial sebagaimana di bawah ini.

6.1. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Infrastruktur Sosial. 6.1.1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Kereta Api

Menurut UU No. 23 Tahun 2007, pemerintah mendorong kemampuan di dalam negeri rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian nasional. Kegiatan ini antara lain mengedepankan lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang dikenal sebagai penghasil teknologi. Hal tersebut di ataur dalam Pasal 118 ayat (1) dan (2).
Pasal 118 (1) Untuk pengembangan perkeretaapian dilakukan rancang bangun dan rekayasa perkereta apian. (2) Rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh: a. pemerintah; b. pemerintah daerah: c. badan usaha; d. lembaga penelitian; atau e. perguruan tinggi.

6.1.2.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

Sebagaimana dengan UU No. 23 Tahun 2007, melalui UU No. 5 Tahun 1984 pemerintah juga berupaya mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri. Upaya ini memberikan kesempatan bagi peneliti dan perekayasa di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan maupun perguruan tinggi dalam peningkatan kemampuan industri nasional. UU No. 5 Tahun 1984 menyebutkan pembedaan teknologi industri dan teknologi tepat guna. Teknologi industri adalah cara pada proses pengolahan yang diterapkan dalam industri. Teknologi yang tepat guna adalah teknologi yang tepat dan berguna bagi suatu proses untuk menghasilkan nilai tambah. Sedangkan barang jadi adalah barang hasil industri yang sudah siap pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi. Pasal 9 UU No. 5 Tahun 1984 menyatakan bahwa pengaturan dan pembinaan bidang usaha industri dilakukan dengan memperhatikan “penyebaran dan pemerataan pembangunan industri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia dengan mempergunakan proses industri dan teknologi yang tepat guna untuk dapat tumbuh dan berkembang atas kemampuan dan kekuatan sendiri”.

70

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keterkaitan dengan teknologi, di Pasal 16, Bagian VI UU No. 5 Tahun 1984, ayat (1) disebutkan “Dalam menjalankan dan/atau mengembangkan bidang usaha industri, perusahaan industri menggunakan dan menciptakan teknologi industri yang tepat guna dengan memanfaatkan perangkat yang tersedia dan telah dikembangkan di dalam negeri. Pada ayat (2) Apabila perangkat teknologi industri yang diperlukan tidak tersedia atau tidak cukup tersedia di dalam negeri, Pemerintah membantu pemilihan perangkat teknologi industri dari luar negeri yang diperlukan dan mengatur pengalihannya ke dalam negeri.Dan pada ayat (3) Pemilihan dan pengalihan teknologi industri dari luar negeri yang bersifat strategis dan diperlukan bagi pengembangan industri di dalam negeri, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

71

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

sosiologis. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. yaitu konsepsi abstrak di dalam diri manusia tentang keserasian antara ketertiban dan ketenteraman atau kondisi yang sepantasnya diinginkan. Secara garis besar dalam penyusunan peraturan perundang-undangan memperhatikan dua hal. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundangundangan. Menurut UU No. hukum berlaku secara yuridis. 72 Naskah Akademik Perubahan UU No. karena efektivitas hukum merupakan fakta. maka peraturan perundang-undangan yang dibuat cenderung menjadi sekumpulan aturan-aturan pemaksa. Menurut Kelsen. Hukum yang baik adalah apabila terdapat keserasian antara politik hukum yang dibuat oleh pemerintah dengan kesadaran hukum masyarakat. apabila kaidah hukum terbentuk menurut cara yang telah ditetapkan. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. Syarat yuridis. Demikian halnya apabila peraturan perundangundangan hanya menekankan pada aspek sosiologis-nya saja. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. Apabila peraturan perundang-undangan hanya menekankan pada pemenuhan persyaratan yuridisnya saja. Kajian mengenai persyaratan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan yang baik selalu berkembang agar penerapan peraturan perundang-undangan sesuai dengan tujuannya. maka penyusunan suatu peraturan perundangundangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. Sosiologis. Pembentukan peraturan perundang-undangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. Logemann berpendapat. adanya kesadaran hukum masyarakat. dan Yuridis Pembentukan peraturan perundang-undangan umumnya telah memperhatikan proses pemberlakuannya. lebih menekankan teori kekuasaan. dan filosofis. Sedangkan Zevenbergen menyatakan. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. apabila menunjukan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat.Bab 4 Landasan Filosofis. yaitu pertama adanya politik hukum yang jelas. Hal itu diperkuat dengan teori pengakuan yang menyatakan bahwa berlakunya hukum ataupun peraturan perundangundangan didasarkan atas penerimaan atau pengakuan atas peraturan tersebut. Menurut teori kekuasaan. Kedua. maka peraturan tersebut hanya merupakan cita-cita saja. Dengan demikian apabila pembentukan peraturan perundang-undangan diartikan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat atau pencapaian tujuan-tujuan tertentu. merupakan kebijakan pemerintah mengenai arah mana hukum tersebut diarahkan. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. yaitu syarat yuridis. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. kaidah hukum mengikat. 18 Tahun 2002 . Apabila peraturan tersebut hanya berlaku secara filosofis. menurut Hans Kelsen. maka ada kemungkinan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan hanya merupakan kumpulan kaidah yang mati.

(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. dan masalah tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring. waktu. Terakhir adalah lingkup masalah yang bersangkutan dengan permasalahan apa saja yang akan menjadi obyek suatu peraturan perundang-undangan. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. yaitu wilayah. 4. rasa dan karsa. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. budi bahasa.Di samping syarat–syarat tersebut. Sebagai contoh : dahulu manusia menanam karet dan menunggu hasil sesuai kemampuan alam untuk memproduksi. secara jelas telah mengamanahkan pemajuan iptek. Pengembangan. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. dan kebudayaan suatu bangsa. Amandemen ini belum menjadi pertimbangan yuridis saat penetapan UU No. Lingkup wilayah menyangkut ruang atau wilayah yang akan dibatasi melalui pembentukan peraturan perundang-undangan. Dapat dikatakan manusia dan peradaban adalah hal yang tidak dapat dipisahkan karena manusia itu memiliki cipta. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya. kemajuan iptek secara tegas ditetapkan. Lingkup pribadi menunjukan siapa atau apa yang akan diatur peranannya melalui peraturan perundangundangan. Lingkup waktu berhubungan dengan jangka waktu tertentu yang diatur oleh suatu peraturan perundang-undangan. pribadi. Kemajuan kebudayaan ini sering dikatakan sebagai peradaban. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang disahkan pada tanggal 29 Juli 2002. Pendidikan dan Kebudayaan. yaitu agar diarahkan untuk mendorong kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. 2 hal yg menyangkut sopan santun. Menurut Amandemen keempat UUD 1945 ini. 18 Tahun 2002 . 2008) diartikan sebagai 1 kemajuan (kecerdasan. Amandemen keempat UUD 1945. Perkembangan cipta. Logemann berpendapat. lingkup berlakunya suatu peraturan perundangan-undangan agar ditentukan pula. Hal itu dapat ditemui di dalam Bab XIII. tetapi saat ini dengan adanya perkembangan pengetahuan. dan 73 Naskah Akademik Perubahan UU No. Aspek Yuridis Amandemen keempat UUD 1945 yang ditetapkan oleh MPR pada tanggal 10 Agustus 2002 merupakan landasan yuridis bagi pembentukan peraturan perundang-undangan yang ada. rasa dan karsa ini menimbulkan perkembangan pengetahuan. yang selengkapnya berbunyi: Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Lingkup ini dibedakan menjadi empat. Secara jelas ketentuan ini tercantum dalam Pasal 31.1. aplikasi pupuk.

Menurut UU No. Menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv). Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara umum adalah karya manusia.  Produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja. merupakan hasil dari penguasaan dan pemanfaatan iptek sehingga berbagai penyakit telah dapat disembuhkan. dan tanpa adanya manusia kedua karya tersebut tidak akan ada. teknologi adalah ”keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. telah membantu manusia dalam berbagai kegiatannya.teknik pemeliharaan menjadikan pohon karet menghasilkan lebih banyak. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. misalnya. pelestarian fungsi lingkungan hidup. 18 Tahun 2002. 74 Naskah Akademik Perubahan UU No. Adanya kemajuan penguasaan dan pemanfaatan iptek akan berimbas pada peningkatan daya saing dan akan mendorong kemajuan bangsa. disusun. Sedangkan kegunaan iptek bagi manusia juga ditentukan oleh nilai. maka dapat dikatakan penguasaan dan pemanfaatan iptek tidak berfungsi dengan baik. Dengan kata lain. kesejahteraan umat manusia juga meningkat. 18 Tahun 2002 Dapat dikatakan teknologi merupakan aplikasi dari pengetahuan sebagai respons atas tuntutan manusia akan kehidupan yang lebih baik. maupun pengembangan ilmu pengetahuan. kualitatif. 18 Tahun 2002 berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. moral. . 18 Tahun 2002 diartikan sebagai cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. kelangsungan. Berbagai inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. yang selanjutnya melahirkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. teknologi informasi dan mikroelektronika. Demikian halnya dengan penggunaan perangkat otomatis.  Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. atau bahkan menurun. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. apabila iptek terus berkembang. iptek mempunyai peran sentral. maupun penciptaan (invention). Dengan demikian dapat dikatakan dalam perkembangan peradaban manusia. baik yang bersifat kuantitatif. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. Apabila iptek berkembang tetapi kesejahteraan umat manusia tidak berkembang. Secara umum iptek berkembang melalui kreativitas berbagai penemuan (discovery). dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. norma dan hukum atau peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. kemajuan bangsa. Menurut UU No. Berbagai penemuan di bidang kesehatan.” Pengertian teknologi secara umum menurut Ellul (1967) adalah:  Proses yang meningkatkan nilai tambah. Sedangkan teknologi dalam UU No. memberi kemudahan dalam kehidupan manusia.

indikator perkembangan iptek antara lain adalah peningkatan berbagai penemuan (discovery).(lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. Aspek Sosiologis Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. .2. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru.4. atau dengan kata lain inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). sistematis. Meskipun inovasi sering dicampuraduk pengertiannya dengan invensi.26 Secara sosiologis penekanan ketentuan atau aturan-aturan yang memaksa (coercion) dalam pengembangan iptek kurang tepat. Walaupun dirasakan telah terjadi kemajuan dalam pemahaman tentang konsepsi dasar sistem inovasi dan telah terjadi perkembangan metodologis untuk analisis sistem inovasi. namun sampai saat ini masih belum berhasil dirumuskan kebijakan dan peraturan perundang-undangan sistem inovasi yang pas untuk kondisi Indonesia. serta pada tingkat kewilayahan mana sistem inovasi tersebut tepat untuk diimplementasikan. yang selanjutnya menumbuhkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. Saat ini. 18 Tahun 2002 Ketiga persyaratan di atas dirumuskan dan tercakup dalam penyusunan peraturan perundangan-undangan. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. asas kebebasan berpikir. 75 Naskah Akademik Perubahan UU No.. 18 Tahun 2002 dimungkinkan penggunaan sanksi pidana berupa denda paling banyak Rp. namun perbedaan yang menonjol adalah inovasi lebih melihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. Untuk dapat efektif. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”. 50. pengembangan. asas kebebasan akademis. atau pemerintah. maka kebijakan harus mengandung muatan pengaturan dan tidak hanya memberikan pemahaman umum. Menurut UU No. mengingat kondisi sosial. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. penggunaan sanksi dalam UU No. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini.000. Demikian halnya dengan upaya penguatan inovasi nasional melalui peraturan perundang-undangan. ekonomi. 26 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UU No. telaah tentang sistem inovasi sangat jarang berujung pada preskripsi kebijakan sistem inovasi yang konkrit. hanya terlihat pada kegiatan litbangrap iptek yang berisiko tinggi dan berbahaya. Bahkan secara tegas World Bank (2010). 18 Tahun 2002 penggunaan aturan pemaksa harus disesuaikan dengan asas undang-undang ini yang menekankan pada asas kebenaran ilmiah.000. masyarakat awam. dan potensi sumberdaya alam Indonesia yang sangat majemuk. kebebasan berpikir menjadikan penggunaan pemaksaan tidak relevan. Penekanan pada kreatifitas. Sejalan dengan semangat ini. serta tanggung jawab akademis. Umumnya hanya menghasilkan atau merekomendasikan prinsip dasar dan/atau taksonomi kebijakan sebagai bentuk intervensi yang dibutuhkan dari pihak pemerintah. dan detil. menekankan inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). p e n c i p t a a n ( invention). 18 Tahun 2002. Berbagai jenis instrumen kebijakan yang pas untuk digunakan. Pengertian inovasi versi UU No. Dalam UU No. budaya.

[2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi.2. Reorientasi Arah dan Prioritas Riset Inovasi nasional di Indonesia wajib berbasis pada potensi sumberdaya nasional.Teori sistem inovasi yang berkembang di Indonesia banyak yang diadopsi secara langsung dari sistem inovasi yang dianut oleh negara-negara maju. termasuk: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. Namun demikian. serta kemampuan pembiayaan dan infrastruktur pembangunan lainya yang telah dimiliki atau yang secara rasional akan dapat dikelola. atau wilayah laut dengan karakteristik marine ecology yang khas. dirancang untuk mendukung kegiatan ekonomi di lahan sub-optimal basah (lebak dan pasang surut). [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. Pendekatan ini dapat dilakukan pula untuk komoditas perkebunan dengan volume dan nilai produksi yang lebih besar sehingga memberikan kontribusi yang significant bagi perekonomian nasional (misalnya sawit dan karet). 4. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. MP3EI juga menganut pembangunan ekonomi berbasis wilayah yang membagi NKRI menjadi enam koridor dan sekaligus juga mengangkat komoditas tertentu sebagai fokus pembangunan pada masing-masing dari enam koridor ekonomi tersebut. walaupun didukung dengan regulasi yang kuat. atau dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan di wilayah Indonesia bagian timur. kecamatan. yang kondisinya dalam berbagai dimensi sangat berbeda dengan Indonesia. 18 Tahun 2002 . baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. Kebijakan yang tak kentara warna Indonesianya. misalnya pada hamparan lahan dengan karateristik agroekosistem tertentu yang menopang pembangunan ekonomi berbasis pertanian. kabupaten. Luasnya wilayah nusantara dan keragaman potensi sumberdaya merupakan alasan yang rasional untuk membangun sistem inovasi yang lebih operasional pada wilayah cakupan yang lebih kecil (sekarang digunakan terminologi Sistem Inovasi Daerah. atau dapat juga untuk satuan kawasan dengan karakteristik sosio-ekonomi-kultural masyarakatnya yang spesifik. Karakteristik inovasi yang khas Indonesia perlu diformulasikan dengan tepat. Pengembangan sistem inovasi tentu perlu diserasikan dengan realita strategi pembangunan bidang perekonomian tersebut. tetapi sebaiknya lebih berbasis pada satuan kawasan pembangunan perekonomian. Pengembangan inovasi daerah yang berbasis agroekosistem lahan misalnya. cakupan wilayah dari suatu sistem inovasi sebaiknya tidak berbasis pada satuan wilayah administrasi pemerintahan (provinsi. kota. tetap saja sering tidak efektif dalam implementasinya. Selain itu pendekatan sosial- 76 Naskah Akademik Perubahan UU No. baik itu terfokus pada komoditas tertentu yang bernilai ekonomi tinggi ataupun pada potensi sumberdaya lahan atau laut dengan karakteristek yang khas.1. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. desa). Teori inovasi yang tidak mengakar pada realita Indonesia akan sangat berisiko jika dijadikan pijakan dalam merumuskan kebijakan sistem inovasi Indonesia. atau disingkat SIDa) atau sistem inovasi yang secara spesifik fokus pada potensi ekonomi tertentu.

meskipun esensinya sama yakni mendorong agar pengembangan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi.ekonomi-budaya dilakukan untuk masyarakat pengrajin dan industri ukiran kayu di Jepara atau masyarakat dengan budaya yang khas seperti di Bali. Kecenderungan global saat ini cenderung menggiring pengembangan teknologi lebih ke arah pemenuhan kebutuhan atau menyediakan solusi bagi permasalahan nyata yang ada di masyarakat. antara lain demand-driven. marketdriven (mulai jarang digunakan karena terkesan terlalu mengarah pada komersialisasi). c. Keragaman istilah atau terminologi yang digunakan ini menunjukkan perlunya reorientasi dalam pengembangan teknologi untuk menopang sistem inovasi dalam upaya meningkatkan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian. Kemampuan inovasi juga merupakan faktor penguatan daya saing yang sangat penting (Taufik. Keragaman istilah ini disebabkan adanya perbedaan aspek atau dimensi yang ingin ditekankan. mission-driven (Swedia). sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. Pengembangan inovasi daerah dapat difokuskan pada pengembangan sistem inovasi yang lebih teknis dan operasional sesuai kebutuhan ataupun unggulan yang akan dikembangkan di daerah. issue-driven (Jepang). 18 Tahun 2002 . 77 Naskah Akademik Perubahan UU No. penguatan daya saing ini menjadi semakin relevan apabila dikaitkan dengan kecenderungan sebagai berikut: a. masyarakat. ataupun pemerintah. dan evidence-based (mulai digunakan oleh komunitas ilmu sosial atau pihak yang melihat teknologi dari perspektif ilmu sosial). Selain berbasis pada potensi sumberdaya nasional atau lokal. Dikotomi pilihan pengembangan sistem inovasi pada tingkat nasional dengan tingkat daerah/lokal seharusnya tidak perlu terjadi. Indonesia tentunya harus berada dalam mainstream ini jika secara sungguh-sungguh ingin mewujudkan sistem inovasi nasional ataupun daerah yang berkontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi dengan harapan dapat pula meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pengembangan inovasi nasional memberikan ‘template’ sebagai acuan untuk pengembangan inovasi daerah. yakni terutama untuk menyejahterakan rakyat sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi. untuk dapat dikelola dan dievaluasi kinerjanya secara lebih baik. 2005). sehingga tujuan pembangunan nasional yang sifatnya universal dapat dikawal. Kedua keadaan tersebut juga mengakibatkan persaingan pasar yang semakin cepat dan kompleks. needdriven. Tekanan persaingan global yang semakin meningkat. Selanjutnya Tatang Taufik menyebutkan. b. baik industri. Fokus dukungan dapat dilakukan pada aktivitas ekonomi tertentu yang diunggulkan. Produk yang semakin kompleks dan memilki siklus hidup yang semakin pendek karena cepatnya kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan konsumen. pengembangan sistem inovasi di Indonesia perlu didukung pengembangan teknologi yang lebih terarah. Istilah yang muncul untuk menggambarkan orientasi riset dan pengembangan teknologi sesuai kebutuhan pengguna ini cukup beragam.

juga ditentukan oleh relevansi substansi yang diteliti. 78 Naskah Akademik Perubahan UU No. tantangan utama bagi perusahaan di lingkungan bisnis yang kompleks dan persaingan global yang semakin ketat adalah mengembangkan dan mempertahankan keunggulan daya saing. tetapi merupakan hasil kerja kelompok ‘kecil’ peneliti pada satu laboratorium atau kolaborasi peneliti antar-laboratorium. Menurut EISDISR (2001). [2] jumlah peneliti yang banyak tidak otomatis berarti akan banyak teknologi bermanfaat yang dihasilkan. karena selain tergantung pada produktivitas peneliti. dan siklus produk atau time-to-market yang semakin pendek. dengan derajat penalaran akademik yang tinggi. Pengguna teknologi ini antara lain. yaitu inovasi. Lembaga penyelenggara pendidikan tinggi akan menjadi lembaga penunjang yang menentukan dalam konteks ini. pasar dan teknologi berubah sangat cepat. adalah tenaga teknis yang berperan mengaplikasikan teknologi dalam proses produksi barang atau jasa. 18 Tahun 2002 .Kemampuan inovasi yang rendah akan menempatkan badan usaha ataupun industri bersaing pada segmen pasar yang umumnya konvensional. Idealnya. Dalam situasi demikian. Rasio yang pas antara pengembang-pengguna teknologi tentu tergantung pada jenis teknologi yang diimplementasikan. Peter Drucker menekankan bahwa setiap organisasi harus mempunyai suatu kompetensi. Implementasi inovasi nasional juga memerlukan adanya pengguna teknologi yang terampil. tuntutan konsumen yang semakin tinggi. 4.2. dan sensitif terhadap dinamika persoalan dan kebutuhan masyarakat. dimana tekanan atas biaya cenderung meningkat.2. pendidikan juga diarahkan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa. populasi pengguna teknologi yang terampil jauh lebih banyak dibandingkan dengan populasi pengembang teknologi. optimalisasi fungsi kelembagaan pengelola pendidikan. Persentase jumlah peneliti atau perekayasa terhadap total populasi suatu negara sering dipakai sebagai indikator kemajuan inovasi nasional negara yang bersangkutan. serta penguatan kelembagaan yang bertanggung jawab dalam pengembangan teknologi. Kecenderungan industri saat ini. malah dapat menyesatkan. Selain untuk meningkatkan kecerdasan akademik. Walaupun angka ini mungkin mengindikasikan kemampuan negara tersebut untuk mengembangkan teknologi. Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi Strategi ini mempunyai rentang cakupan yang lebar. dari upaya sinkronisasi program penyiapan sumberdaya manusia yang relevan dan kompeten. Tidak semua disiapkan menjadi pengembang teknologi yang handal. Hal ini bisa dicermati dari beberapa perspektif: [1] teknologi yang berdampak signifikan dan mampu mengubah ‘wajah’ dunia dalam berbagai bidang bukan merupakan hasil kerja kolektif seluruh populasi peneliti suatu negara. Pangsa pasar yang cenderung menurun dan semakin jenuh akan lebih mengandalkan persaingan harga dengan nilai tambah yang relatif rendah. Pendidikan perlu diupayakan tidak hanya peningkatan mutunya tetapi juga dibarengi dengan upaya peningkatan relevansinya terhadap kebutuhan nyata. tetapi sesungguhnya basis argumennya sangat dangkal.

2005). Hal ini terlihat dari Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia tahun 79 Naskah Akademik Perubahan UU No. 2005). 18 Tahun 2002 . Implikasi operasionalnya adalah Indonesia tidak perlu terlalu berambisi untuk meningkatkan angka persentase jumlah peneliti per sejuta penduduk (atau indikator lain yang serupa). Kualitas dimaksud mencakup basis mutu akademik dan relevansi keahliannya terhadap kebutuhan nyata.dan [3] sebagian besar peneliti bekerja di perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah yang mayoritas pada saat ini lebih fokus pada riset akademik yang tak terkait langsung dengan persoalan nyata. baru kemudian ‘ditawarkan’ kepada industri untuk menggunakannya. Selanjutnya Tatang menggaris bawahi. Argumentasi di atas mencoba mengingatkan bahwa aspek yang paling penting untuk mendapat perhatian dalam proses penyiapan sumberdaya manusia yang diproyeksikan untuk menjadi pelaku utama pengembangan teknologi bukan terletak pada aspek kuantitasnya. kuantitas menjadi tidak penting. dari supply-push menjadi demand-driven. Pada tahap awal. yang perlu adalah Indonesia mampu dan produktif dalam menghasilkan solusi teknologi bagi permasalahan bangsa. Penyebab utamanya adalah ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan atau yang dihasilkan dengan kebutuhan industri. Inovasi tidak hanya bergantung pada bagaimana perusahaan. perguruan tinggi dan para pembuat kebijakan bekerja. bahkan adakalanya antara perusahaan yang saling bersaing. Jika selama ini aktor penentu arah inovasi nasional diperankan secara ‘terlalu’ dominan oleh para pengembang teknologi. Namun demikian perlu diperhatikan pula. tetapi lebih pada aspek kualitasnya. Indonesia tidak perlu ‘kelihatan’ baik secara statistik. proses reorientasi dalam pengembangan kerjasama ini tentunya belum akan berjalan mulus. Strategi untuk memperlancar aliran teknologi dalam inovasi nasional dan untuk meningkatkan intensitas kolaborasi antara pengembang dan pengguna teknologi adalah melakukan reorientasi. Aliran teknologi banyak yang tersumbat. inovasi juga merupakan proses yang kompleks dan dinamis yang sering menunjukkan paradoks. yakni melakukan pengembangan teknologi dahulu. sehingga pendekatan yang diterapkan adalah supply-push. namun juga bagaimana mereka bekerjasama (Tatang. tetapi lebih merupakan proses di antaranya atau kombinasi keduanya (Tatang. Pendekatan ini ternyata tidak efektif untuk meningkatkan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Kalaupun jenis teknologinya sesuai tetapi seringkali tidak kompetitif secara ekonomi untuk diaplikasikan. Pendekatan yang dipilih tentunya juga berubah arah. akibatnya hasil riset yang diperoleh masih sulit untuk diadopsi oleh industri. maka peran ini di masa yang akan datang perlu dipercayakan pihak pengguna teknologi. yakni jika sebelumnya pihak pengembang teknologi menjadi penentu arah dan prioritas pilihan teknologi. Kesiapan sumberdaya manusia wajib dibarengi dengan langkah reorientasi pengembangan teknologi dari supply-push ke demand-driven. Untuk konteks ini. inovasi seringkali bukan hanya menekankan technology push (driven) atau demand pull (driven) secara “hitam-putih” yang tegas. tetapi lebih perlu menyiapkan tenaga-tenaga pengembang teknologi yang punya basis kapasitas akademik yang hebat dan juga sensitif terhadap dinamika permasalahan dan kebutuhan bangsa. inovasi tidak berkembang tanpa adanya kerjasama (co-operation). Meski inovasi didorong oleh kompetisi atau persaingan.

sedangkan proposal untuk difusi dan aplikasi iptek hanya 10. proposal untuk riset pengembangan iptek mencapai 89. Pada tahun 2008. yakni program riset dasar. sedangkan kegiatan yang lebih bersifat hilir (difusi teknologi dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi) untuk mendorong agar hasil risetnya diadopsi oleh pengguna masih sangat kurang diminati. menjadi lebih fokus untuk menjawab permasalahan nyata atau memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat pengguna. Hal ini sesuai pula dengan kecenderungan yang diungkapkan OECD (1999).8.2007. Hal ini antara lain terlihat. riset terapan. Akan ada resistensi (penolakan) dari pihak pengembang teknologi dan adanya keengganan di pihak pengguna teknologi. sama dengan Vietnam (World Bank.84 persen. Dua program yang pertama merupakan pengembangan iptek. Pergeseran mindset selalu membutuhkan waktu relatif panjang. dari riset yang dilakukan untuk pemuasan rasa keingin tahuan akademik menjadi riset untuk menjawab permasalah nyata yang dihadapi masyarakat dan negara. Produk barang dan jasa semakin ‘sarat dengan pengetahuan’ ( knowledge intensive). pada skala 2. Ekspektasi pada tahap awal adalah mulai tumbuhnya kesepakatan bahwa pengembangan teknologi perlu berubah arah. dan penguatan kapasitas iptek sistem produksi. Akademisi dan periset masih nyaman di wilayah riset akademik (dasar dan terapan). 7 6 5 4 3 2 1 0 Singapura Malaysia Philipina Vietnam Resistensi internal sangat mungkin untuk muncul di kalangan akademisi dan periset dalam proses pergeseran prioritas riset dari curiousity-driven research menjadi goal-oriented research.16 persen. Pengalaman Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) melalui program insentifnya menjadi bukti empiris tentang sulitnya menggeser kegiatan para akademisi dan periset keluar dari zona nyamannya (comfortable zone). Dengan upaya yang 80 Naskah Akademik Perubahan UU No. saat Kementerian Riset dan Teknologi secara terbuka dan kompetitif menawarkan empat program insentif kepada komunitas akademik di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga riset pemerintah. 18 Tahun 2002 . karenanya proses ini akan berlangsung secara bertahap (gradual). tetapi juga tidak selalu ‘sarat dengan litbang’ (R&D intensive). difusi iptek. sedangkan dua program terakhir merupakan upaya mentransfer dan aplikasi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengguna teknologi. bahwa inovasi memerlukan lebih hanya sekedar litbang. 2010).

dimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara harus berpotensi menggerakkan perekonomian domestik. namun jauh di bawah Malaysia dan Thailand. Pengembang teknologi. Meski demikian secara akademik.lebih intensif untuk menumbuhkan minat komunitas akademisi dan peneliti untuk berperan dalam kegiatan difusi dan aplikasi iptek. negara harus mengeluarkan devisa yang signifikan karena kuatitas kebutuhannya yang masif. ternyata akademisi dan peneliti Indonesia masih belum tergolong produktif dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Apalagi jika untuk mengimpor teknologi asing tersebut (yang sebetulnya dalam tataran teknologi tergolong sederhana). terlebih lagi pada saat negara sedang mengalami krisis ekonomi. tetapi juga sekaligus dapat secara nyata menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. sulit bagi pengembang teknologi di 81 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi juga sekaligus sebagai investasi untuk menumbuhkan kemandirian bangsa dalam menyediakan solusi teknologi bagi masalah-masalah mendasar yang menyangkut hajat hidup asasi masyarakat. Capaian akademik seringkali lebih menarik dibandingkan dengan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan atau menyediakan solusi untuk persoalan yang dihadapi industri. Memperhatikan upaya yang telah dilakukan. Merupakan langkah yang tepat jika Pemerintah lebih mengarahkan bantuan pembiayaan risetnya pada kelompok goal-oriented research. jarang melakukan observasi secara cermat persoalan ataupun kebutuhan pihak pengguna. Riset yang direncanakan lebih terkait dengan latar belakang akademik peneliti atau akademisi yang bersangkutan dan mengarah pada topik yang sedang populer di kalangan akademisi. masyarakat. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah artikel pada jurnal sains dan teknik tahun 2003. Sejatinya. pada tahun 2009 proposal untuk kegiatan ini meningkat menjadi 24. Sudah saatnya. Kekeliruan pemahaman tentang ‘riset pesanan’ disebabkan bukan oleh makna hakiki dari goal-oriented research tersebut. baik di akademisi maupun peneliti. strategi yang perlu dilakukan dalam rangka memicu dan memacu pergeseran preferensi atau prioritas riset ini antara lain adalah: [1] meluruskan pemahaman tentang status ilmiah goal-oriented research dan [2] memberikan insentif yang lebih baik bagi pelaksanaan riset untuk solusi permasalahan nyata ini.95 persen. atau pemerintah. 18 Tahun 2002 . Sangat ironis jika untuk memenuhi kebutuhan solusi teknologi untuk masalah-masalah sederhana (misalnya di sektor pertanian). para peneliti Indonesia menghasilkan 178 tulisan. Kecenderungan lainnya adalah memilih topik-topik yang terkesan maju secara teknologi tetapi tidak terkait langsung dengan kebutuhan atau persoalan nyata. Indonesia masih tergantung pada pasokan teknologi asing. Salah satu persoalan yang serius saat ini adalah rendahnya sensitivitas atau kepedulian pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi. pembiayaan kegiatan riset diposisikan tidak hanya untuk mendukung upaya pencerdasan bangsa. Kenyataan ini tentu harus dibenahi. Angka ini tidak jauh berbeda dengan Filipina. tetapi lebih disebabkan karena riset ini telah diseleweng-kan pemaknaannya oleh kepentingan-kepentingan lain yang bersifat non-scientific. goal-oriented research harus dimaknai sebagai riset akademik yang tidak hanya potensial untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

yang belum termotivasi untuk melaksanakan riset yang berkualitas dan masih cenderung menganggap riset hanya sebagai ritual akademik. Sesungguhnya rentang spektrum teknologi yang berbasis kebutuhan atau teknologi tepat guna dapat bervariasi dari teknologi yang sangat sederhana sampai dengan teknologi super canggih. dan dapat menghasilkan paten yang diminati pengguna (karena relevan dengan kebutuhan sehingga berpeluang untuk diaplikasikan dalam proses produksi). termasuk pemerintah. 600 400 200 0 Negara Singapura Malaysia Filipina Vietnam Laos Riset yang dirancang sesuai kebutuhan nyata dapat menjadi riset yang berkualitas ilmiah tinggi apabila dilaksanakan dengan metodologi yang tepat dan dengan menjunjung tinggi etika akademik. . Namun sesungguhnya. sebagaimana juga kekeliruan dalam memahami definisi teknologi tepat guna (appropriate technology) yang sering dianggap identik dengan teknologi sederhana. untuk memberikan dukungan pembiayaan yang lebih besar akan lebih mungkin terwujud jika pengembang teknologi juga mampu membuktikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. sebaliknya petani membutuhkan teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsinya untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatannya. Berbagai kendala antara lain kurangnya alokasi anggaran untuk pembiayaan riset dan kurang memadainya peralatan dan fasilitas riset. terutama pembangunan perekonomian.Indonesia untuk berada posisi terdepan secara akademik. 82 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemerintah membutuhkan teknologi canggih untuk mewujudkan kemandirian dalam sektor pertahanan dan keamanan negara. kendala yang lebih serius terletak pada mindset para pengembang teknologi tersebut. Kekeliruan pemahaman yang sering terjadi adalah bahwa teknologi yang dihasilkan dari riset yang berbasis kebutuhan nyata statusnya akan kurang canggih. Sebagai contoh. Hasil riset dengan reputasi dan pilihan topik seperti ini jelas akan berpeluang untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah. 18 Tahun 2002 Perlu diyakini bahwa perhatian berbagai pihak. karena faktanya realita persoalan dan kebutuhan teknologi juga sangat variatif. sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan royalti.

pembudidaya ikan. misalnya melalui pelatihan atau pendidikan formal bagi para aktor pengguna. Pengguna teknologi ikut menikmati kontribusi teknologi terhadap pemenuhan kebutuhan dan menjadi alternatif solusi persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi tersebut. sosiokultural.3. yakni meningkatkan relevansi teknologi yang dibarengi dengan upaya meningkatkan kapasitas adopsi pengguna. Kapasitas adopsi pengguna teknologi bersifat multi dimensi. maka Indonesia akan memulai era baru dalam mengembangkan inovasi nasional. Satu faktor yang menentukan. Peningkatan kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi akan memberikan umpanbalik (feedback) yang positif. sehingga persentase teknologi yang relevan kebutuhan semakin meningkat dan kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional semakin dirasakan publik.Di antara banyak perubahan yang perlu dilakukan dalam rangka penguatan inovasi. Dukungan pembiayaan aktivitas riset akan semakin tumbuh. secara umum dapat dijumpai pada masyarakat pengguna teknologi di Indonesia. masyarakat. Upaya peningkatan relevansi teknologi dengan kebutuhan nyata belum sepenuhnya menjamin bahwa teknologi akan diadopsi pengguna. Relevansi dan produktivitas riset akan menjadi mesin produksi teknologi yang secara nyata akan meningkatkan kontribusi terhadap berbagai sektor pembangunan nasional. 18 Tahun 2002 . termasuk bidang perekonomian. Harapan akhirnya adalah teknologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan memajukan peradaban bangsa sebagaimana yang diamanahkan oleh Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945. baik dari pemerintah maupun dari dunia usaha. nelayan. Kondisi yang diharapkan sebagai modal untuk memperkuat inovasi nasional adalah pendekatan demand-driven dapat menjadi mainstream pengembangan teknologi domestik. 4. untuk memperbesar peluang pemanfaatan teknologi perlu dilakukan perbaikan di kedua sisi. Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik Sensitivitas dan kepedulian pengembang teknologi yang diikuti dengan perencanaan dan pelaksanaan riset yang tepat akan membuahkan teknologi yang relevan. Rendahnya 83 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni kemampuan atau kapasitas adopsi dari pengguna terhadap teknologi potensial yang dihasilkan. dan pengrajin atau berbagai pelaku usaha skala kecil lainnya. finansial. peternak. dan pemerintah. salah satu yang urgensinya paling tinggi adalah meningkatkan sensitivitas dan kepedulian para pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi industri. karena kepercayaan pihak pengguna teknologi akan semakin meningkat. efek bola salju akan terjadi. Kapasitas adopsi dari dimensi ekonomi/finansial akan lebih sulit ditingkatkan.2. dan kemungkinan juga politik. termasuk dimensi teknis. Oleh sebab itu. Persoalan rendahnya kapasitas adopsi teknologi. Peningkatan kapasitas adopsi untuk dimensi teknis relatif mudah dilakukan. namun kebijakan pemerintah terkait penyediaan kredit modal usaha dapat menjadi cara efektif untuk membantu pengguna teknologi dalam meningkatkan kapasitas adopsinya dari dimensi finansial. termasuk komunitas petani. Jika semakin banyak aktor pengembang teknologi yang mengikuti alur ini.

Kelompok industri ini yang paling berpotensi untuk mengadopsi teknologi domestik yang telah dikembangkan. karena berbagai kondisi yang terjadi saat ini masih belum ‘favorable’ untuk berfungsinya kelembagaan intermediasi. sumberdaya manusia. bisnis di Indonesia memerlukan transformasi. Oleh karena itu. dan teknologi yang sesuai secara teknis serta kompetitif secara ekonomi. hampir semua lembaga intermediasi terbentuk atas inisiatif pemerintah dan sebagian juga diawaki oleh aparatur pemerintah. Kondisi lain 84 Naskah Akademik Perubahan UU No. Hal ini juga dapat dijumpai pada pelaku bisnis Indonesia. Persepsi ini sesungguhnya dapat dipahami. dan [3] akses pasar yang terjamin. 18 Tahun 2002 . dengan aktivitas utama perdagangan. Oleh sebab itu. Pasar domestik Indonesia yang besar merupakan potensi untuk menjadi ‘penyerap’ bagi semua produk barang dan jasa yang dihasilkan industri dalam negeri. Penguatan inovasi tidak dapat berfungsi optimal apabila kegiatan bisnis yang dominan masih berupa perdagangan. atau masih diyakini belum akan membuahkan hasil. selain disebabkan teknologi yang tidak relevan. berbasis sumberdaya dalam negeri. pada fase awal diperlukan dukungan insentif tambahan agar perdagangan bertransformasi ke arah industri atau produsen barang dan jasa. harga yang pantas (dan relatif stabil). Kelembagaan intermediasi ini belum berfungsi secara efektif. serta cukup tersedia sesuai siklus produksi. Aksesibilitas untuk tiga kunci sukses industri produsen perlu dijamin. untuk meningkatkan adopsi teknologi. Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan kebutuhan pasar domestik perlu lebih diintensifkan. yakni adanya relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan industri yang merefleksikan preferensi dan daya beli konsumen. sesuai dengan spesifikasi teknis. Namun demikian. penguatan industri dalam negeri merupakan salah satu pilar utama pendukung strategi penguatan inovasi nasional. dari kecenderungan dominan perdagangan menjadi dominan industri produsen barang dan jasa. tidak hanya persoalan rendahnya kapasitas adopsi. Secara umum. Belum adanya lembaga intermediasi yang diinisiasi oleh pihak bisnis maupun masyarakat dapat menjadi indikasi bahwa kegiatan ini masih dianggap belum menarik. dan berorientasi pasar domestik menjadi tidak effektif. Kondisi ini menjadikan upaya riset dan pengembangan teknologi yang sudah diarahkan sesuai dengan kebutuhan nasional.adopsi teknologi. Percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh pengguna di dalam negeri dan upaya mendorong arus informasi kebutuhan teknologi untuk pihak pengembang memerlukan peran aktif dari lembaga intermediasi. Lembaga intermediasi berperan sebagai penghubung antara lembaga pengembang teknologi dengan pengguna teknologi. juga dikarenakan rendahnya kebutuhan teknologi. Ketersediaan teknologi domestik yang secara teknis sesuai dengan kebutuhan dan secara ekonomi menguntungkan akan dibutuhkan industri produsen barang dan jasa. jika prasyarat dasarnya belum terpenuhi. diperlukan transformasi dari pedagang menjadi produsen. Pada saat ini. [2] akses untuk mendapatkan modal. yakni: [1] akses untuk mendapatkan bahan baku yang cukup. Peningkatan investasi dan akses permodalan untuk pengembangan dan/atau penumbuhan industri baru berbasis teknologi nasional perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dan difasilitasi perkembangannya. bukan industri manufaktur.

dibutuhkan pula regulasi dan fasilitasi pemerintah dalam menyiapkan sumberdaya manusia sesuai kebutuhan untuk pengembangan teknologi dan kebutuhan tenaga terampil untuk aplikasi teknologi. dan dilatih ketrampilan pemasaran-nya.yang kurang kondusif bagi lembaga intermediasi adalah: [1] sistem perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual masih belum membudaya di kalangan pengembang teknologi di Indonesia. bukan atas usulan pihak industri. karena merubah karakter manusia (terkait marketing skills) lebih membutuhkan waktu dibandingkan dengan menambah pengetahuan tentang teknologi tertentu. proporsional kontribusinya. dan [3] pelaku industri dalam negeri belum percaya atas kehandalan teknologi domestik hasil karya anak bangsa. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. peran pemerintahan sangat dibutuhkan. Lembaga intermediasi perlu diawaki oleh personel yang memahami tentang teknologi dan sekaligus punya kemampuan persuatif yang tinggi dan terampil dalam menjual. Berkaitan dengan upaya membangun inovasi nasional secara utuh. tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. Opsi kedua kelihatannya lebih baik. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan. Bentuk fasilitasi dari pemerintah yang lain adalah dukungan untuk kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. [2] preferensi komunitas bisnis Indonesia masih cenderung sebagai pedagang daripada sebagai produsen. yakni dalam bentuk: [1] regulasi yang mendukung dan [2] fasilitasi percepatan laju proses reorientasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya ‘gesekan’ yang tidak perlu antar pihak terkait. melalui program pendidikan yang berkesesuaian. kalaupun masuk ke wilayah industri produsen barang/jasa. Upaya ini dapat dilakukan dengan merekrut peneliti/akademisi.2. dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya. sehingga berpotensi menjadi masalah jika dikomersialisasikan. Dalam 85 Naskah Akademik Perubahan UU No. 4. dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam implementasi penguatan inovasi nasional. 18 Tahun 2002 . [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya. maka lebih cenderung memilih memproduksi barang di bawah lisensi asing. Peran regulasi pemerintah ditujukan untuk mengawal agar implementasi penguatan inovasi secara konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat.4. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi. terutama pada jenjang pendidikan tinggi dan menengah kejuruan. sehingga lebih cenderung membeli teknologi asing. atau merekrut tenaga pemasaran dan diperkaya wawasan teknologinya. Ekosistem Inovasi yang Kondusif Selama proses transisi pergeseran orientasi arah dan prioritas riset.

bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. yakni dirumuskan berdasarkan asas keterbukaan (openess). konsensus dan tidak memihak (consensus and impartiality). SNI telah memenuhi WTO Code of Good Practices. Berdasarkan telaah yang telah diuraikan di atas. misalnya dukungan pembiayaan dari pihak industri untuk kegiatan riset dapat dianggap sebagai bagian dari pembayaran pajak yang menjadi kewajibannya (tax deductible). dan Difusi Teknologi. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. Dengan demikian. penerapan SNI diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan domestik tetapi juga untuk kepentingan perdagangan global. yakni dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. Jika lintasan (pathway) ini ditempuh dengan baik. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak dalam bentuk pembiayaan bersama. Dalam PP No. inovasi. (2) Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik. Regulasi pemerintah dapat pula berupa insentif bagi kedua belah pihak untuk berkolaborasi. masyarakat. merupakan modal kuat dalam menuju Indonesia yang lebih sejahtera di masa yang akan datang. dimana insentif tersebut dapat berbentuk insentif perpajakan. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. keefektifan dan relevan (effectiveness dan relevance). tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. maka ada beberapa komponen kebijakan yang dibutuhkan untuk mewujudkan adanya sistem inovasi nasional (SINas) yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. dan berdimensi pembangunan (development dimension). 35 Tahun 2007 dinyatakan badan usaha yang mengalokasikan pendapatannya untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. Agar diperhatikan apapun bentuk atau format riset kolaborasi. 86 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan pemerintah. akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat. Bentuk regulasi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi seluruh produk barang/jasa di Indonesia. koheren (coherence).beberapa kasus. Upaya ke arah ini sesungguhnya sudah dilakukan pemerintah. Strategi ini mencakup: (1) Sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi industri. transparansi (transparency). kepabeanan. pihak industri hanya diposisikan untuk memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. 18 Tahun 2002 . Inovasi. Adanya rasa bangga dan percaya diri warga negara sebagai sumberdaya manusia penggerak pembangunan yang diimbangi dengan terciptanya lingkungan yang kondusif untuk berusaha. maka tak akan ada lagi keraguan bahwa teknologi domestik akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan nasional dan standarisasi akan menyempurnakan upaya penguatan inovasi di Indonesia.

menstimulasi. Perjalanan panjang tersebut perlu diawali dengan keberhasilan mengembangkan dan memperkuat inovasi nasional di Indonesia yang mampu mendorong peradaban dan menyejahterakan rakyat. Pengembangan teknologi nasional perlu mengutamakan pemberdayaan dan pendayagunaan sumberdaya manusia Indonesia sebagai tenaga penggeraknya. dan mengakselerasi interaksi antar-aktor utama dalam penguatan inovasi nasional. seluruh strategi harus dilaksanakan secara interaktif dan sinambung. Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional Terlepas dari intensitas dan besaran (magnitude) kontribusinya. Walaupun sudah cukup lama diwacanakan. iptek akan selalu dibutuhkan dalam pembangunan semua sektor. memanfaatkan sumberdaya alam nasional sebagai bahan baku atau tapak operasionalnya (operational site). Keempat strategi ini mempunyai keterkaitan satu sama lain.(3) Vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh industri dalam negeri dan sebaliknya juga arus informasi kebutuhan teknologi kepada pihak pengembang teknologi. yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan upaya memberikan solusi atas permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. Kekeliruan persepsi sangat sering dan umum terjadi dalam konteks penilaian kinerja dan kontribusi inovasi. Keberhasilan penguatan inovasi nasional akan ditakar dari kelancaran aliran teknologi (fluidity of technology flow). bukan berdasarkan kecanggihan teknologi yang mampu dikembangkan. yang penting dilakukan adalah merancang inovasi nasional yang tepat. 18 Tahun 2002 .5. 4. Keberhasilan membangun inovasi nasional hanya dapat dicapai jika semua strategi ini dapat dieksekusi dengan baik. Kemampuan dan kemandirian pengembangan teknologi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata menjadi modal dasar implementasi penguatan inovasi di Indonesia. tetapi terletak pada bagaimana cara agar teknologi yang dikembangkan dapat efektif dan efisien dalam mendukung pembangunan nasional di semua sektor. Dengan demikian isu utamanya bukan terletak pada ada atau tidak adanya peranan teknologi dalam pembangunan nasional. Teknologi dengan warna Indonesia yang kental ini diyakini akan lebih berpeluang untuk mengalir lancar dari pihak atau lembaga pengembang teknologi ke pihak pengguna teknologi. Inovasi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata perlu didampingkan secara paralel dengan program pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas dan sensitif terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa dan kebutuhan 87 Naskah Akademik Perubahan UU No. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu. serta mendekatkan hubungan dengan kelembagaan pendukung lainnya. Pengembangan teknologi nasional juga perlu mempertimbangkan secara cermat kapasitas adopsi pengguna teknologi dalam negeri.2. dan (4) Dukungan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk memfasilitasi. yakni menganggap bahwa semakin maju teknologi yang dikuasai maka semakin baik penguasaan inovasi suatu negara. tetapi membangun masyarakat berbasis pengetahuan kelihatannya masih akan menempuh perjalanan panjang.

Ilmu statistik merupakan alat yang ‘handy’ untuk pekerjaan ini. efektif dan produktif. personal. terjaminnya keberlangsungan proses demokratisasi. Hasil akhir yang diharapkan dari segala bentuk upaya dalam pengembangan dan penguatan inovasi adalah peningkatan kesejahteraan rakyat. kolektif. Indikator keberhasilan dalam menciptakan kondisi aman antara lain: tidak terjadinya gerakan separatisme di wilayah NKRI. yakni kondisi aman. dengan ekstensi pada kapabilitas lembaga pengembang teknologi tersebut untuk merangkul mitra potensialnya. jumlah kerjasama penelitian antara universitas dan industri. Asumsi-asumsi tersebut umumnya diuji berdasarkan korelasi masingmasing indikator-antara yang dianggap berhubungan. dan sulit dideteksi. Indikator-antara lainnya dilihat dari sisi pengguna teknologi. semua indikator-antara hanya dapat dilihat sebagai titik-titik yang tercerai berai dan ‘diasumsikan’ terhubung satu sama lain oleh garis-garis imajiner yang diyakini sebagai bagian dari sistem tersebut. besarnya penerimaan universitas atau lembaga riset yang berasal dari royalti. Indikator-antara tersebut sesungguhnya baru melingkupi sisi pengembang teknologi. sebaliknya ukuran baku tentang tingkat keamanan nasional masih belum banyak dibahas. Dalam mengevaluasi suatu sistem yang utuh. Meskipun ukuran kesejahteraan rakyat dan keamanan nasional bersifat relatif. misalnya dalam bentuk demonstrasi anarkis. Beberapa indikator-antara yang sering digunakan dalam mengevaluasi kehandalan penguatan inovasi antara lain: jumlah publikasi ilmiah per juta penduduk. jumlah patent yang didaftarkan atau diperoleh (granted). Nilai-nilai positif atau kecenderungan peningkatan yang ditunjukkan oleh semua indikator-antara belum dapat secara otomatis diekstrapolasikan untuk sampai pada kesimpulan bahwa upaya pengembangan dan penguatan inovasi telah berjalan baik. dan persentase penerimaan univesitas yang berasal dari sumber non-pemerintah yang terkait dengan aktivitas dan hasil riset. Indikator di kelompok ini antara lain: alokasi dana oleh industri untuk kegiatan riset internal perusahaan atau untuk mendukung 88 Naskah Akademik Perubahan UU No. yang dapat mengganggu kegiatan produktif. dan [2] kondisi aman yang lebih bersifat eksternal. jumlah publikasi yang ditulis bersama oleh akademisi dan pelaku industri (co-authored publication). minimalisasi dampak negatif dari gejolak masyarakat. mobilitas sumberdaya manusia antara kelembagaan riset atau universitas dengan industri. dan dapat dideteksi berdasarkan persepsi indera penglihatan dan pendengaran ( audiovisual perception). Keamanan mempunyai dua dimensi yang berbeda. terkendalinya dinamika politik. dan terjaminnya kondisi yang kondusif untuk berinvestasi.pembangunan nasional. indikator lainnya dalam pengembangan dan penguatan inovasi nasional adalah terjaminnya keamanan nasional. subyek survei atau risetnya adalah industri-industri yang bergerak dalam berbagai sektor. Selain itu. Jika kedua hal ini dilakukan secara serasi dan saling mendukung maka cita-cita untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan diyakini dapat terwujud. yakni: [1] rasa aman yang lebih bersifat internal. Akan lebih realistis jika indikator keberhasilan implementasi inovasi nasional hanya didasarkan atas keamanan dimensi kedua. 18 Tahun 2002 . tetapi upaya kuantifikasi tingkat kesejahteraan rakyat lebih berkembang dan diterima secara luas.

identifikasi sumber informasi yang dianggap penting oleh industri dalam mengembangkan produk komersial. Aspek Filosofis 89 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi hasilnya seringkali tidak atau kurang memuaskan. indikator utama keberhasilan pengembangan dan implementasi inovasi hanya dua. walaupun secara teknis inovasi nasional dapat dibongkar menjadi empat komponen. preferensi industri untuk mengembangkan teknologi sendiri atau membeli teknologi yang sudah mapan (established). Pendekatan parsial biasanya hanya mengarah untuk menghasilkan justifikasi bahwa suatu negara sebetulnya sudah melakukan upaya (dan telah ada tanda-tanda perbaikan) walaupun hasilnya belum memuaskan. Banyak indikator keberhasilan yang dapat digunakan dalam mengevaluasi kinerja pada masingmasing komponen atau tahapan penguatan inovasi nasional. 4. Namun demikian. 18 Tahun 2002 . yakni modal dan tenaga kerja. Total Factor Productivity (TFP) telah digunakan beberapa ekonom sebagai proxy untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. karena hanya mampu menjelaskan secara ‘segmented’. yakni: pengembangan teknologi. indikator keberhasilan pengembangan inovasi nasional menjadi kurang bermakna jika difragmentasi menjadi indikator-indikator antara atau indikator yang bersifat parsial. perlu diingat kembali bahwa ukuran kinerja inovasi adalah kesejahteraan rakyat. dan konsumsi atau penggunaan produk akhir oleh konsumen. difusi teknologi dari pengembang ke pengguna. Dengan demikian untuk Indonesia. Banyak juga kajian mengenai inovasi yang telah dilakukan menggunakan indikator parsial ini. Indikator-antara yang digunakan baik dari sisi pengembang maupun pengguna teknologi memang telah mengarah pada upaya menakar ‘potensi’ kedua b elah pihak untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. Kemampuan dan tumbuhnya budaya masyarakat untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge-based society) dapat pula digunakan sebagai indikator tambahan untuk mengevaluasi performa penguatan inovasi di Indonesia.kegiatan riset di universitas dan lembaga riset eksternal. bukan pertumbuhan ekonomi semata. Indikator lainnya yang dapat ditambahkan adalah tingkat kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan teknologi untuk pembangunan perekonomian dan pembangunan hankam. sisanya (residu) merupakan kontribusi faktor bukan modal maupun tenaga kerja yang disimpulkan sebagai kontribusi dari faktor teknologi. interpretasi atas indikator-antara ini harus dilakukan dengan hati-hati. adopsi teknologi untuk proses produksi barang dan jasa. Sebagai suatu sistem. Dasarnya adalah pertumbuhan ekonomi terjadi atas kontribusi dari dua faktor utama. sehingga perlu dilengkapi pula dengan pola distribusi pendapatan. Walaupun tentunya. yakni peningkatan kesejahteraan rakyat dan terciptanya kondisi keamanan nasional.3.

Selandia Baru. karena ternyata bukan hanya perguruan tinggi dan lembaga riset di negara yang belum maju teknologinya saja yang ‘malas’ mendaftarkan paten. karena banyak kegiatan riset yang dilakukan industri bersama akademisi secara individual. [3] jumlah paten universitas atau lembaga riset yang dikomersialisasikan oleh industri. Di Indonesia data seperti ini tidak mudah untuk didapatkan. dan [4] timbangan industri terhadap universitas dan lembaga riset sebagai sumber informasi/pengetahuan untuk pengembangan produk inovatif. Jepang. Hasil kajian Rosenberg dan Nelson (1994) terkait dengan jumlah paten universitas patut untuk disimak. kelompok. dan Meksiko.2 persen pada tahun 1989 meningkat menjadi 17. Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya. 18 Tahun 2002 . Pengembangan inovasi nasional pada negara-negara OECD dan kajian akademik yang dilakukan oleh kelembagaan OECD telah menjadi referensi penting bagi dunia dalam memperlajari tentang upaya penguatan inovasi nasional dan kontribusinya bagi pembangunan perekonomian. Untuk menaksir intensitas interaksi tersebut. 4. Korea. 1996). [2] jumlah paten dan publikasi bersama antara akademisi dan pelaku industri. atau sesuai dengan nilai-nilai positif yang tertinggi. atau lembaga intra-universitas yang tidak dicatat sebagai penerimaan resmi universitas. dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. yakni 12.1.Secara umum syarat filosofis dalam penyusunan peraturan perundang-undangan adalah apabila peraturan perundang-undangan dapat diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. terutama antara universitas atau lembaga riset dengan pelaku industri. Nilai-nilai ini menjadi cita-cita hukum dan tujuan negara bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Hasil survei yang dilakukan di Belanda selama periode 1989-1992 menunjukkan bahwa pendapatan universitas yang berasal dari kerjasama riset dengan pihak industri secara konsisten meningkat. Namun saat ini.3. Publikasi yang ditulis bersama ini diasumsikan berakar pada hasil kolaborasi riset antara kedua pihak tersebut. walaupun persentasenya masih relatif rendah. peranan inovasi nasional dalam pembangunan perekonomian sangat ditentukan oleh intensitas dan kualitas interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. yakni hanya 90 Naskah Akademik Perubahan UU No. publikasi ilmiah yang ditulis bersama (co-authored) oleh peneliti universitas atau lembaga riset pemerintah dengan personel yang mewakili institusi bisnis terlihat secara konsisten meningkat antara tahun 1981 sampai 1994 (Hicks and Katz. Di Inggris. 1995). antara lain dengan mengevaluasi: [1] porsi pendapatan universitas atau lembaga riset yang berasal dari kerjasama dengan industri dalam melakukan riset. keanggotaan OECD telah bertambah dengan beberapa negara Eropa Timur. tetapi juga terjadi pada universitas di negara yang maju. Inisiatif pendirian OECD dilakukan oleh beberapa negara Eropa Barat plus Turki dan Amerika Serikat. Persentase paten universitas di Amerika Serikat secara relatif juga rendah. seperti Amerika Serikat. Australia.4 persen pada tahun 1992 (Hertog. Dinamika Lingkungan Global Negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah lama memposisikan Sistem Inovasi Nasional (SINas) sebagai strategi penting dalam memajukan perekonomian melalui pemanfaatkan keunggulan teknologi negara masing-masing.

pameran. Kelembagaan riset pemerintah (termasuk universitas) dianggap penting oleh mayoritas (>50%) pelaku industri untuk bidang fasilitas layanan publik (utilities) dan pharmaseutikal. tapi jumlah aktualnya tentu tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah paten universitas dan lembaga riset di Indonesia. dan konsultan. termasuk logam olahan (fabricated metals). yakni: [1] sumber informasi dari dalam kelembagaan bisnis sendiri. tetapi di Jepang dan Eropa kerjasama serupa tidak menunjukkan perubahan yang berarti (Haagedoorn. dan [4] sumber informasi umum seperti konferensi.1 persen untuk bidang rekayasa genetika. instrumen. dimana produk baru yang dihasilkan dari kolaborasi mampu meningkatkan penjualan. juga menunjukkan bahwa kolaborasi antar-perusahaan mampu meningkatkan penjualan untuk hampir semua produk yang dihasil melalui kolaborasi tersebut. dan teknologi material baru) meningkat di Amerika Serikat. informasi paten.000 kesepakatan kerjasama yang melibatkan lebih dari 6. Di Jepang ternyata kerjasama informal antar-kelembagaan bisnis berperan penting dalam keberhasilan pengembangan teknologi. Kerjasama terbukti mampu meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengadopsi teknologi yang bermanfaat (OECD. Kajian yang sama di Jerman. Data yang digunakan oleh Malerba (1996) berasal dari hasil Community Innovation Survey (CIS) antara 1991 sampai 1993 yang dilaksanakan atas inisiatif bersama Komisi Eropa dan Eurostat terhadap 40. plastik. Kolaborasi antar-lembaga bisnis memberikan sumbangan terhadap kinerja inovatif perusahaan di Norwegia dan Finlandia. 91 Naskah Akademik Perubahan UU No. permesinan. Hasil survei yang dilakukan oleh The Maastricht Economic Research Institute on Innovation and Technology (MERIT) memberikan gambaran tentang bagaimana pihak industri di negara-negara Eropa menilai peran universitas atau kelembagaan riset pemerintah. Sumber informasi tersebut dikelompokkan menjadi 4 kelompok. pangan. 1997). [3] lembaga riset pemerintah dan universitas. 1996). 18 Tahun 2002 . sedangkan informasi yang dianggap tidak penting adalah berasal dari lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. disingkat CATI) yang mencakup hampir 13.berkisar antara 0. pertemuan bisnis.000 industri manufaktur di Eropah. MERIT telah mengembangkan database kesepakatan kerjasama dan indikator teknologi (Co-operative Agreements and Technology Indicators. telekomunikasi.000 perusahaan (OECD. Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber informasi yang paling penting ternyata berasal dari pelanggan/konsumen dan sumber internal perusahaan. Data yang terkumpul selama periode 1980-1994 dalam studi ini menunjukkan bahwa kerjasama teknis untuk bidang-bidang tertentu (bioteknologi. pemasok bahan baku atau komponen. Walaupun persentasenya rendah. Malerba (1996) menganalisis 13 sumber informasi yang dianggap relevan untuk upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. perminyakan. komputer. Porsi paten yang lebih besar berasal dari industri atau pihak non-universitas lainnya. termasuk konsumen. tetapi sebaliknya mayoritas pelaku industri menganggap peranannya kurang penting untuk bidang-bidang lainnya. logam dasar. teknologi informasi dan komunikasi.7 persen untuk bidang komunikasi sampai 18. [2] bersumber dari pasar. otomotif. 1997). bahan kimia. elektronik. dan kedirgantaraan (aerospace).

Tantangan dan ancaman ini perlu dijawab dan/atau ditangkal dengan mewujudkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia yang handal. dan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. baik secara langsung maupun dalam bentuk produknya. digerakkan dengan motor teknologi domestik.3 54 Malaysia 63 32. 2007 Peringkat Daya Saing. Pergeseran yang wajib dilakukan adalah menambah porsi goal-oriented atau demand-driven research dalam grand scenario pengembangan riset dan teknologi. 4. Thailand. sedangkan Indonesia. 2007 Indonesia 107 17. Kondisi lingkungan strategis perlu mendapat perhatian. Tabel 6.3. Namun demikian. Dinamika Lingkungan Regional Dinamika lingkungan strategis pada tingkat dunia akan berpengaruh bagi perkembangan inovasi nasional di Indonesia. ekonomi. paling tidak untuk referensi. Selain itu. maka dinamika lingkungan strategis pada tingkat regional Asia Tenggara (ASEAN) perlu mendapat perhatian yang lebih intensif. Potensi pengembangan inovasi nasional Indonesia berdasarkan beberapa indikator akademik dibandingkan dengan Malaysia. 2007/08 Angka Partisipasi Kasar. Kemandirian teknologi merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan dan ancaman tersebut. Posisi Indonesia tersebut didasarkan atas beberapa indikator hasil analisis yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional (Tabel 6). dan negara-negara ASEAN lainnya berada pada lapisan bawah.Hasil ini bertentangan dengan anggapan yang umumnya dianut banyak pihak di Indonesia bahwa perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai motor penggerak utama untuk tumbuh dan berkembangnya inovasi nasional.2. Dalam konteks kemajuan inovasi saat ini.5 21 Thailand 78 42. Kehadiran MNC dapat menjadi ancaman bagi upaya pengembangan teknologi nasional jika tidak dibangun hubungan yang sinergis mutualistik dengan MNC tersebut. Filipina. Fakta ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi komunitas akademik dan peneliti Indonesia untuk melakukan reorientasi prioritas risetnya agar tidak semakin terkucil dari skenario global pengembangan inovasi. dan Singapura Indikator Peringkat HDI.7 28 Singapura 7 92 Naskah Akademik Perubahan UU No. berdasarkan kedekatan posisi geografis dan intensitas hubungan sosial. budaya dan politik. Malaysia dan Thailand pada lapisan tengah. berbasis sumberdaya nasional. komunitas akademik dan peneliti Indonesia tidak dapat lagi mengabaikan ancaman penjajahan teknologi asing dalam bentuk banjir produk barang dan jasa impor yang melanda pasar domestik dan invasi Multi National Company (MNC). 18 Tahun 2002 . negara-negara ASEAN dapat dibagi dari tiga lapisan: Singapura berada pada lapisan atas. Vietnam. sebaliknya bisa menjadi sumber spillover teknologi.

2009). Disamping itu.8 4. Peringkat Daya Saing dari Laporan World Economic Forum (Suhardi. Negara ASEAN umumnya masih mengandalkan sektor pertanian komoditas hasil eksploitasi kekayaan alamnya. aliran teknologi antara pengembang dan pengguna yang masih tersendat.3. Paten Terdaftar. dan industri jasa keuangan. Berbagai alasan dan argumen yang menyertainya telah dijabarkan sebelumnya. Jika Indonesia mampu mengembangkan industri barang dan jasa berbasis teknologi nasional yang kompetitif. 2008d).9 74. 4. Untuk kawasan ASEAN pun masih perlu perjuangan keras agar dapat menjadi yang terdepan. Indeks Kerjasama Riset. 2001/05 Publikasi Ilmiah. Untuk kondisi saat ini. dan publikasi ilmiah dari Laporan World Bank (Suhardi.2 41. serta kendala non-teknologi lainnya juga memerlukan perhatian.4 520 5. Singapura yang lebih maju di sektor perdagangan. Aspek yang akan ditelaah lebih mendalam adalah interaksinya dengan dinamika lingkungan strategis yang sedang berkembang saat ini dan kecenderungan perubahan lingkungan strategis tersebut di masa yang akan datang. 18 Tahun 2002 Struktur perekonomian negara-negara ASEAN secara umum relatif sama. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dari Depdiknas (Lakitan.6 1072 6. Kemajuan inovasi suatu negara dapat ditaksir berdasarkan beberapa indikator. 2003 4. Hal ini disebabkan belum terjadinya aliran teknologi yang signifikan dari pihak pengembangan teknologi ke pihak pengguna teknologi. mungkin dapat dikatakan masih berada pada posisi yang sangat minimal. kualitas sumberdaya manusia yang secara umum masih belum kompetitif. Indeks Daya Serap Teknologi.8 16. Paten USPTO. 2009).Indeks Daya Serap Teknologi. 2003 Indeks Kerjasama Riset. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius agar ketergantungan pada negara tetangga ini dapat dikurangi agar posisi Indonesia lebih kompetitif. .3. Perubahan lingkungan strategis di 93 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta sekaligus memanfaatkan bahan baku yang dihasilkan negara-negara di kawasan ASEAN. Dinamika Lingkungan Nasional Saat ini kontribusi teknologi pada tingkat nasional masih belum optimal. Hal ini tergantung kemampuan Indonesia dalam mewujudkan inovasi nasional. Indeks Kerjasama Riset (Warsono. Pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) dapat dikatakan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. industri pengolahan. Secara menyeluruh gambaran postur perkembangan inovasi di Indonesia masih jauh dari memuaskan.5 2. kecuali Singapura. dan Jumlah Publikasi Ilmiah (Tabel 6). 2003 Paten USPTO. merupakan mitra komplementer untuk pembangunan perekonomian nasional. 2009). 2009).0 409.3 4. Indeks Daya Serap Teknologi.4 3122 Sumber: Peringkat Human Development Index (HDI) dari Laporan UNDP (Hasta. maka Indonesia dapat menjadi pemasok barang dan jasa. antara lain Indeks Pembangunan Manusia (HDI).6 178 5. Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang pendidikan tinggi. Negara-negara ASEAN lainnya dapat menjadi kompetitor dan sekaligus mitra strategis yang potensial. Indeks Daya Saing Global.

2009). Artinya sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih didominasi faktor di luar teknologi. Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian 2006. termasuk: (1) Mengubah orientasi pendidikan nasional yang diterapkan melalui kurikulum pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik. penguatan inovasi diharapkan akan terjadi dan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian dapat ditingkatkan. maka upaya menumbuhkan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) tidak akan pernah terwujud. dan yudikatif. dengan TFP sebesar 4 persen. Selanjutnya Firdausy (2009b) menyebutkan bahwa kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia paling tinggi terjadi pada periode 1991-1995. tetapi 94 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni modal dan tenaga kerja (Firdausy. Jika kecenderungan yang telah berlangsung sekitar setengah abad ini tidak diimbangi dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukan reorientasi kebijakan pengembangan teknologi dan industri. melanjutkan kecederungan yang sedang terjadi saat ini dengan tanpa upaya mendorong perubahan ke arah yang diinginkan. Pengetahuan hanya bisa ditranslasi menjadi pertumbuhan ekonomi jika terlebih dahulu mampu menghasilkan teknologi yang dibutuhkan pengguna teknologi untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan. Agaknya tidak berlebihan atau terkesan pesimistik jika disimpulkan bahwa inovasi tidak akan tumbuh berkembang jika tidak terjadi perubahan lingkungan strategis yang mengarah kepada terwujudnya ekosistem yang lebih kondusif untuk tumbuh-kembang sistem inovasi nasional (SINas). bahkan mungkin semakin terpuruk. 18 Tahun 2002 . Perubahan lingkungan strategis tersebut. maka pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak akan pernah membaik. yakni skenario ‘business-as-usual’. Kadiman.38 persen. menghitung kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan proxy indikator Total Factor Productivity (TFP) dan mendapatkan bahwa TFP Indonesia hanya sebesar 1. dan skenario dengan upaya percepatan perubahan ke arah yang lebih kondusif untuk berkembangnya inovasi nasional. 2009a. yang suatu saat akan habis. Hanya dengan melakukan perubahan secara agresif-dan-terarah (agressive and welldirected) terhadap lingkungan strategis. Skenario business-as-usual jelas tidak akan mampu mendukung pengembangan inovasi nasional. legislatif. Salah satu modal utama pembangunan Indonesia sampai saat ini berasal dari kekayaan sumberdaya alam yang bersifat tak-terbarukan (non-renewable resources). Tanpa melakukan upaya mendorong agar teknologi domestik lebih sesuai untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan pembangunan ekonomi nasional dan tanpa upaya mendorong industri untuk lebih memprioritaskan penggunaan teknologi domestik dan memproduksi barang dan jasa sesuai kebutuhan pasar domestik. Perubahan lingkungan strategis ke arah yang lebih kondusif ini perlu dimulai dari setiap komponen bangsa di lembaga eksekutif. Hal ini kemudian dituangkan dalam bentuk regulasi yang mengikat semua pihak untuk mematuhi dan berperan aktif dalam implementasinya.masa depan akan direka berdasarkan dua ekstrim skenario.

menjadi ‘pengelolaan’ sumberdaya alam yang lebih efisien dan akrab lingkungan. yang didorong melalui pengembangan SDM dan iptek yang sesuai untuk peningkatan daya saing. Dalam struktur KP3EI ini terdapat tiga Kelompok Kerja. Dengan diluncurkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Semangat perubahan pendekatan pembangunan perekonomian tersebut tercermin dari: [1] MP3EI mengedepankan terobosan kebijakan dan strategi. swasta nasional. sehingga dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ekonomi dan ekologi yang lebih maksimal (orientasi jangka panjang). dan [3] Pokja SDM dan Iptek. Pada tahun 2011 ini terjadi perkembangan yang positif. yaitu: [1] pengembangan potensi ekonomi pada enam koridor pembangunan. bukan pada masalah yang dihadapi. lembaga penelitian dan pengembangan. dan (4) Menerbitkan regulasi yang lebih ‘favorable’ untuk pengembangan teknologi nasional dan untuk mendukung peningkatan market share produk nasional di pasar domestik. tiga strategi utama dikembangkan dalam pelaksanaan MP3EI. (3) Mengubah citra produk nasional di mata konsumen dalam negeri. Untuk itu. Keteladanan tokoh pemerintahan dan masyarakat dalam mendorong kecintaan dan kebanggaan atas produk nasional merupakan salah satu cara yang diyakini efektif. [2] MP3EI menitikberatkan pada percepatan transformasi ekonomi melalui peningkatan nilai tambah (value added). serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya. dengan cara mendorong investasi BUMN. [2] memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi untuk revitalisasi kinerja sektor riil. dan [3] MP3EI mengakomodir masukan dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan. masyarakat. 18 Tahun 2002 . dan [3] pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi. mendorong investasi. dengan cara meningkatkan kualitas barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri ( Made in Indonesia) yang dibarengi dengan harga yang lebih kompetitif. Keberadaan Pokja SDM dan Iptek ini membuka peluang bagi Kementerian Riset dan Teknologi. dan Foreign Direct Investment (FDI) pada 22 kegiatan ekonomi utama. Untuk melaksanakan MP3EI yang didasarkan pada Perpres No. Relevansi dan mutu pendidikan harus menjadi tujuan utama penyelenggaraan pendidikan pada semua strata. dalam upaya penguasaan dan pemanfaatan iptek. yakni: [1] Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi. mengintegrasikan sektor dan regional. (2) Perlu menggeser paradigma ‘eksploitasi’ kekayaan sumberdaya alam sebagai cara cepatdan-mudah untuk meningkatkan pendapatan negara (orientasi jangka pendek). dimana titik berat pendekatan terletak pada solusi. dan unsur kelembagaan iptek di perguruan tinggi. termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah. [2] Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur.juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap permasalahan dan kebutuhan pembangunan nasional. dan lembaga penunjang lainnya untuk secara 95 Naskah Akademik Perubahan UU No. pembangunan perekonomian tidak lagi dilakukan dengan pendekatan yang bersifat ‘Business as Not Usual’. dibentuk pula Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). maupun di lembaga lainnya di badan usaha. 32 Tahun 2011.

Secara teknis operasional. ini berarti upaya penguatan inovasi nasional di Indonesia mendapat pijakan yang lebih mantap.lebih signifikan dapat berkontribusi terhadap pembangunan perekonomian Indonesia. 18 Tahun 2002 . 96 Naskah Akademik Perubahan UU No.

serta ruang lingkup materi muatan rancangan undang-undang tentang perubahan UU No. Strategi keberhasilan negara-negara tertentu. dan Ruang Lingkup Materi Muatan RUU Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 Sangat mudah untuk menyatakan bahwa pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) merupakan upaya mendorong peningkatan inovasi secara nasional agar secara nyata memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Namun persoalannya adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya di Indonesia. mengabaikan fakta adanya perbedaan yang tajam antara negara yang dicontoh dengan realita di Indonesia.1. baik yang berperan sebagai pengembang maupun pengguna teknologi yang dimiliki suatu negara. sering menjadi reference utama dalam pengembangan kebijakan inovasi. maka seringkali pengembangan inovasi dianalisis secara terisolir.Bab 5 Jangkauan. dukungan dari berbagai aktor pendukungnya. Kehandalan SINas sebagai sebuah sistem lebih ditentukan oleh intensitas dan efektivitas interaksi antara aktor-aktor utamanya. Arah Pengaturan. 18 Tahun 2002 Di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD. 18 Tahun 2002. Namun demikian upaya untuk mengadopsi secara langsung konsepsi inovasi nasional di negara yang secara ekonomi lebih berhasil untuk diterapkan di negara lainnya seringkali mengalami kegagalan. Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Pejabat negara dan kadang juga akademisi yang (dianggap) pakar di bidang penguatan inovasi juga ikut melakukan upaya adopsi langsung ini tanpa melakukan analisis yang mendalam mengapa pengembangan konsepsi inovasi tertentu berhasil memajukan perekonomian di negara asalnya. dan kondusivitas ekosistem tempat tumbuhkembangnya. 5. Secara praktis. Pengembangan SINas tidak hanya merupakan sekumpulan aktor. . tercerabut dari ekosistem dimana sistem inovasi nasional (SINas) mampu unjuk kinerja dengan sangat baik. Sekumpulan aktor SINas yang hebat. belum menjamin bahwa negara yang bersangkutan akan secara otomatis memiliki SINas yang produktif dan berkelanjutan. kebijakan inovasi nasional umumnya telah dipublikasikan secara luas. kehandalan SINas sesungguhnya ditentukan oleh kelancaran aliran 97 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kalaupun dilakukan analisis. Untuk itu akan diuraikan dalam bab ini mengenai arah dan jangkauan kebijakan penguatan inovasi nasional. Demikian halnya.

informasi kebutuhan (demand) dari para aktor pengguna ke pengembang teknologi, yang diimbangi dengan kelancaran pasokan teknologi yang relevan dari aktor pengembang ke pengguna teknologi. Secara komprehensif, SINas merupakan sistem yang kompleks. Walaupun untuk simplifikasi dalam analisisnya unsur-unsur SINas dapat diurai lepas satu per satu, namun analisis hanya akan sahih jika masing-masing unsurnya tersebut selalu dilihat dari perpektif keterkaitannya dengan unsur SINas lainnya. Alur keterkaitan SINas dengan komponen pembentuk ekosistemnya dapat dilihat pada Gambar 6.

POTENSI SUMBERDAYA EKONOMI [Tangible Factors]  Sumberdaya Alam  Sumberdaya Manusia  Infrastruktur

POTENSI SOSIO-KULTURAL

[Intangible Factors]  Ideologi  Politik  Tata Kepemerintahan  Budaya Kerja

PERAN POKOK PEMERINTAH Memformulasikan kebijakan pendukung SINas berbasis pada Potensi Sumber daya Ekonomi dan Potensi SosioKultural dalam rangka penyiapan “Panggung SINas”, terutama kebijakan:  Perekonomian makro, keuangan, dan perpajakan  Perindustrian dan Perdagangan  Riset dan Pengembangan Teknologi  Ketenagakerjaan  Pendidikan Nasional  Infrastruktur Sosial  Tata Kepemerintahan

PENGEMBANG TEKNOLOGI  Perguruan Tinggi  Lembaga R&D Pemerintah  Lembaga R&D Swasta

PENGGUNA PASAR TEKNOLOGI  Domestik  Industri /  Global Bisnis  Masyarakat  Pemerintah Barang/Jasa Permintaan

LEMBAGA INTERMEDIASI

PANGGUNG SINAS  Fasiltas Komunikasi & Interaksi  Regulasi yang Kondusif  Dukungan & Insentif Finansial

Gambar 6. Peran Pemerintah dalam menyiapkan ‘panggung’ Sistem Inovasi Indonesia

Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Panggung SINas sebagai konsepsi dapat diaktualisasikan dalam bentuk: [1] fasilitas untuk para aktor berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif, [2] regulasi yang memungkinkan para aktor untuk memformulasikan dan mengimplementasikan upaya bersama dalam meningkatkan produktivitas, dan [3] dukungan dan/atau insentif finansial yang menjadi perangsang bagi para aktor untuk bersama-sama membangun dan memperkuat inovasi nasional. Panggung SINas yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro, keuangan, dan perpajakan; kebijakan perindustrian dan perdagangan; kebijakan riset dan pengembangan teknologi; kebijakan ketenagakerjaan; kebijakan pendidikan nasional; kebijakan penyediaan infrastruktur sosial; dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Kebijakan tersebut selain harus selaras dengan upaya mewujudkan SINas, juga harus berbasis pada potensi sumberdaya ekonomi dan potensi sosial budaya yang dimiliki Indonesia.

98

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Kebijakan yang tidak mengakar pada potensi dan kondisi sendiri akan lebih susah untuk secara efektif diimplementasikan. Dengan demikian tugas pokok pemerintah yang paling krusial adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung SINas yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. Kinerja aktor-aktor SINas pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik), baik berupa barang maupun jasa. Oleh sebab itu, peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ SINas, tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik.27

5.1.1. Membangun Inovasi sebagai Sistem Sebagai sebuah sistem, pengembangan inovasi nasional tidak dapat dipandang hanya sebagai kumpulan dari lembaga, tetapi yang lebih penting adalah terjadinya aliran informasi dan produk iptek yang lancar antar-lembaga. Keberadaan aktor atau kelembagaan pengembang dan pengguna teknologi, serta upaya fasilitasi, intermediasi, dan regulasi pemerintah belum menjamin bahwa sistem inovasi sudah terbangun atau pasti akan berjalan. Pada saat ini sesungguhnya para aktor dan lembaga-lembaga tersebut sudah ada, tetapi interaksi dan komunikasinya belum intensif dan produktif. Ini yang menjadi persoalan pokok saat ini. Pengembang teknologi (termasuk perguruan tinggi) melakukan kegiatan riset tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan kebutuhan pengguna; sebaliknya pengguna teknologi belum mau mengadopsi teknologi dalam negeri karena berbagai alasan, antara lain karena tidak relevan dengan kebutuhan, belum cukup handal secara teknis, tidak sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna, dan/atau belum kompetitif secara ekonomi. Untuk memperbesar peluang terwujudnya sistem inovasi, maka para pengguna teknologi harus terbuka untuk berbagi informasi tentang kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi; sebaliknya juga pihak pengembang teknologi harus peka terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang berkembang dan umumnya bersifat dinamis. Teknologi yang dikembangkan selain harus relevan dengan kebutuhan pengguna, juga harus sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya, baik kapasitas adopsinya secara teknis, ekonomi, dan sosiokultural (Gambar 7).

27

Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada beberapa kesempatan. Berbagai negara, juga melihat populasi Indonesia yang besar, lebih dari 237 juta jiwa (BPS, 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial.

99

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Gambar 7. Konsepsi Dasar Sistem Inovasi Nasional (Lakitan, 2010)

Lembaga litbang sebagai pengembang iptek perlu: [1] mengevaluasi kembali tentang kesesuaian orientasi pengembangan iptek dengan kebutuhan rakyat dan negara (isu relevansi riset); dan [2] meningkatkan pemaham tentang kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi rakyat dan negara (isu sensitivitas pelaku pengembang iptek); sebaliknya lembaga pengguna teknologi perlu meningkatkan kapasitas adopsinya dan kesediaannya dalam berbagi informasi kebutuhan dan persoalan terkait dengan teknologi. Perlu selalu diyakini bahwa iptek hanya akan berkontribusi terhadap pembangunan nasional, apabila iptek digunakan dan nyata bermanfaat, baik manfaat ekonomi maupun non-ekonomi. Prasyarat agar aliran teknologi ini terjadi adalah: [1] teknologi yang dikembangkan dan ditawarkan oleh lembaga litbang relevan dengan kebutuhan pengguna; [2] teknologi yang ditawarkan sepadan dengan

100

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Dalam konteks pengembangan SINas, maka mutlak perlu terjadi aliran informasi kebutuhan iptek dan persoalan nyata yang membutuhkan solusi iptek dari pihak pengguna ke pihak pengembang iptek. Prasyarat agar aliran ini terjadi adalah [1] keterbukaan atau keinginan dari pihak pengguna untuk berbagi informasi dan [2] sensitivitas pihak pengembang iptek dalam menangkap sinyal kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi pihak pengguna iptek. Keyakinan pihak pengguna atas kapasitas lembaga pengembang iptek dalam menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang sesuai kebutuhan, handal secara teknis, dan kompetitif secara ekonomi akan menjadi pemicu terjadinya aliran informasi dimaksud. Jika saat ini aliran tersebut masih tersendat, maka adalah bijak jika kedua belah pihak melakukan swa-evaluasi (self assessment), mencermati tentang apa yang perlu dibenahi di wilayah peran masing-masing. Lembaga litbang dan lembaga pengguna teknologi perlu melakukan pembenahan.

[2] kapasitas untuk melakukan riset dan pengembangan iptek (R&D capacity). 5. dan [3] kapasitas untuk mendiseminasikan pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan (disseminating capacity)(Gambar 8). Revitalisasi Lembaga Pengembang Teknologi Pada saat ini. 101 Naskah Akademik Perubahan UU No. menggerakkan aliran dua-arah ini akan membutuhkan daya yang besar dan upaya yang intensif. pada jenjang nasional. 18 Tahun 2002 . Oleh sebab itu. dan regulator agar suasana yang kondusif dapat diwujudkan. butuh peran dan komitmen yang sungguh-sungguh dari Pemerintah. Kesinambungan aliran dua arah ini yang menjadi indikator eksistensi sistem inovasi. Secara hakiki. sistem inovasi hanya akan terwujud jika terjadi komunikasi dan interaksi antara aktor atau lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. disajikan pada Tabel 7. Pada fase awal (seperti kondisi saat ini). tidak terjadi tumpang tindih riset yang dilakukan dengan riset yang (telah) dilakukan di tempat lain.kapasitas adopsi (calon) pengguna potensialnya.1. maupun kawasan ekonomi tertentu. dan efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan iptek yang bermanfaat. serta sebaliknya juga terjadi adopsi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengembang oleh pihak pengguna. Sedangkan kapasitas diseminasi terlihat dari intensitas dan jangkauan publikasi kegiatan riset yang dilakukan dan iptek yang dihasilkan baik melalui media cetak maupun elektronik. kuantitas dan kualitas iptek yang diadopsi oleh pihak pengguna. ada tiga kapasitas yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap lembaga pengembang teknologi. intermediator. dan produktivitas lembaga dalam menghasilkan teknologi per satuan sumberdaya dan/atau biaya yang dikelola. yakni: [1] kapasitas untuk menyerap iptek yang berasal dari luar (sourcing capacity). daerah. terbukti dengan adanya aliran informasi kebutuhan teknologi dan informasi tentang persoalan nyata yang dihadapi oleh pihak pengguna dalam melakukan proses produksi barang dan/atau jasa sesuai dengan permintaan konsumen. Kapasitas ‘outsourcing’ lembaga pengembang teknologi terindikasi antara lain dari aksesibilitas ke berbagai sumber informasi iptek. dan royalti yang diterima oleh lembaga atas produk teknologinya yang berhasil dikomersialisasikan.2. agar pengguna dan pengembang iptek terangsang untuk mengintensifkan komunikasi dan interaksinya. relevansi teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan nyata para pengguna. Kapasitas riset dan pengembangan tercermin dari kualitas riset dan iptek yang dihasilkan. Pemerintah diharapkan dapat memainkan peran sebagai fasilitator. dan [3] penggunaan iptek tersebut mempunyai prospek keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan iptek serupa yang sudah tersedia. Contoh indikator kinerja lembaga litbang berbasis pada tiga kapasitas pokoknya.

Ukuran keberhasilan dan pilihan indikator yang digunakan dalam melakukan evaluasi kinerja lembaga 102 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tiga kapasitas lembaga litbang dan contoh indikator kinerjanya Kapasitas Pokok Kapasitas Outsourcing Kapasitas Litbang Kapasitas Diseminasi Contoh Indikator Kinerja  Akses ke sumber informasi iptek  Tidak terjadi tumpang tindih dan replikasi riset  Efisiensi pemanfaatan sumberdaya  Jaringan kemitraan  Kualitas hasil litbang  Relevansi dengan kebutuhan/persoalan nyata  Produktivitas kelembagaan  Situs dan frekuensi pemutakhiran informasi  Publikasi ilmiah  Hasil riset yang dimanfaatkan pengguna  Royalti yang diterima Pada era inovasi yang terbuka ini. Tiga kapasitas yang harus dimilik lembaga litbang (Lakitan. 18 Tahun 2002 . tidak secara partial maupun tersegmentasi. 2011a) Tabel 7. ketiga jenis kapasitas ini secara paralel dikembangkan dalam sebuah sistem yang terintegrasi. Strategi revitalisasi lembaga pengembang teknologi dikemas secara komprehensif dan integratif.Gambar 8.

dan [3] mengubah mindset dan budaya kerja komunitas pengembang teknologi. Namun demikian tetap perlu dicermati. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi diyakini akan menempuh tiga langkah penting. [2] melakukan reformasi struktural agar organisasi lembaga dapat menjadi kendaraan yang efektif untuk mencapai tujuan. baru kemudian memilih indikator yang pas untuk mengevaluasi kemajuan yang dicapai secara berkala dengan interval waktu yang rasional. Indikator kinerja yang dikembangkan dan telah digunakan oleh lembaga internasional dengan reputasi baik serta telah diadopsi oleh berbagai negara. visi dan misi. Lembaga pengembang teknologi di Indonesia juga perlu melakukan reformasi. Peringatan dari Loikkanen et al. akan menjadi tantangan dan ujian yang paling sulit tetapi mutlak harus dilakukan. atau yang hanya bersifat sebagai academic exercise. Kegiatan riset yang cenderung untuk prestasi akademik semata. Rencana strategis dan rencana aksi lembaga perlu ditinjau ulang. we argue that frontiers and characteristics of STI indicators that were important last century may no longer be so relevant today and indeed may even be positively misleading” (Freeman and Soete. S&T indicators. dan inovasi (STI) berikut ini: “On the basis of 40 years of indicators work. 18 Tahun 2002 . dapat dijadikan sebagai referensi.pengembang teknologi perlu dikonstruksi secara cermat. maka langkah ketiga. agar transfer/difusi iptek dapat berjalan lebih lancar. can convey misleading policy messages”. Oleh sebab itu. Lembaga pengembang teknologi saat ini merupakan bagian integral dari sistem yang lebih besar. (2009) perlu mendapat perhatian: “Although useful in benchmarking of country performances. yakni: [1] merumuskan kembali tujuan dan menetapkan sasaran yang ingin dicapai. Langkah pertama dan kedua relatif tidak sulit untuk dilakukan. karena kasus ‘abuse’ indikator STI (dan data statistik lainnya) bukan merupakan kejadian langka di Indonesia. Cara yang bijak adalah pahami secara komprehensif dan mendalam tentang lembaga pengembang teknologi Indonesia saat ini dan ekspektasi peran lembaga ini yang ideal di masa yang akan datang. sangat bijaksana nasehat yang dikemukakan oleh seorang tokoh inovasi dunia yang berkerja puluhan tahun untuk lembaga internasional ternama dalam mengembangkan indikator ilmu pengetahuan. karena tidak secara otomatis menjamin indikator tersebut merupakan indikator yang paling pas untuk kondisi dan kepentingan Indonesia saat ini. sepanjang kurun waktu yang dibutuhkan untuk proses transformasi dari kondisi saat ini menjadi lembaga ideal yang diharapkan. Dalam penggunaan indikator ini. Boardman (2009) mengirimkan sinyal tentang tantangan yang sulit ini: [There is] a fundamental management task of aligning individual behaviors with [research] center goals and objectives. 2009). serta tujuan dan sasarannya perlu disesuaikan. Peringatan dan nasehat seperti ini perlu secara serius diperhatikan oleh para pengelola lembaga pengembang teknologi di Indonesia. teknologi. perlu 103 Naskah Akademik Perubahan UU No. Keberhasilan pada dua langkah pertama akan sia-sia jika langkah ketiga ini tidak berhasil dilaksanakan. yakni SINas. Apalagi individu-individu dalam komunitas pengembang teknologi selama ini terbiasa dan lebih nyaman berkerja secara individual dibandingkan sebagai bagian dari kelompok atau komunitas yang lebih besar. if poorly constructed. yakni mengubah mindset dan budaya kerja individu peneliti dan komunitas pengembang litbang.

Namun demikian. yakni untuk menghasilkan iptek yang bermanfaat bagi umat maupun negara. Untuk itu perlu kejelian dalam mengidentifikasi akar persoalan (fundamental problems). terutama karena regulasi yang kurang 104 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan [2] unsur-unsur ekosistem eksternal yang kurang kondusif. sejak awal kegiatan pengembangan teknologi harus mempunyai orientasi yang jelas. misalnya penyelenggaraan pemerintahan yang lebih bersih. sarana dan prasarana pendukung) lembaga-lembaga pengguna teknologi sangat minimal. Pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi sudah saatnya diperlakukan sebagai bagian dari investasi. akibatnya motivasi untuk melakukan upaya peningkatan tersebut juga tidak tumbuh. Peningkatan Kapasitas Adopsi Lembaga Pengguna Teknologi Konsepsi peningkatan kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna berpeluang untuk diterapkan jika dibangun berdasarkan realita posisi saat ini. walaupun banyak ragam istilah yang digunakan.1. dan [2] peningkatan kapasitas adopsi teknologi terkendala oleh ekosistem yang kurang kondusif. Kecenderungan global saat ini sangat kentara mengarah pada pengembangan teknologi berbasis kebutuhan. dan bentuk keuntungan sosial dan spiritual lainnya. need-driven. evidence-based. Hipotesis untuk kondisi saat ini adalah: [1] kapasitas adopsi lembaga-lembaga pengguna teknologi di Indonesia saat ini masih sangat rendah. 18 Tahun 2002 . Ragam istilah pendekatan pengembangan teknologi ini pada esensinya adalah kurang-lebih sama. Jika hanya gejala simptomatis yang mampu dikenali.3. turunnya tingkat kriminalitas atau tumbuhnya rasa aman. selain itu juga kebijakan internal lembaga masih belum memberikan prioritas untuk peningkatan kapasitas adopsi. atau challenge-driven. misalnya market-driven. mission-driven. issue-driven. terutama dari regulasi dan insentif yang belum optimal. kemampuan pembiayaan. Perspektif ini yang menjadi ruh pengembangan teknologi berbasis realita kebutuhan (demand-driven). yang disebabkan oleh mutu potensi internal yang rendah dan motivasi yang kurang. Upaya penguatan kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu memperhatikan: [1] potensi internal (sumberdaya manusia. 5. Kegiatan pengembangan teknologi dalam jangka panjang harus memberikan keuntungan yang sebanding dengan pembiayaannya. Keuntungan yang dimaksud tidak selalu dalam bentuk keuntungan ekonomi. maka konsepsi yang dikembangkan mungkin kelihatannya bagus tetapi sangat mungkin akan mengecewakan karena ternyata tidak mampu memberikan solusi sebagaimana yang diharapkan. tetapi dapat dalam bentuk non-ekonomi. kerukunan umat beragama.digeser prioritasnya untuk mendahulukan kegiatan riset untuk menghasilkan iptek yang sesuai dengan kebutuhan nyata. meningkatnya rasa bangga sebagai warga negara. maka konsepsi tersebut tidak akan mampu menjadi solusi mendasar bagi upaya meningkatkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi sebagaimana yang diniatkan. goal-oriented research. Pemahaman yang tepat tentang akar persoalan yang menyebabkan lembaga pengguna teknologi Indonesia berada pada posisi saat ini akan sangat membantu. agar tidak terkecoh oleh gejala simptomatis (symptomatical problems) yang mungkin tertangkap pada kesan pertama. Jika konsepsi hanya menyentuh persoalan simptomatis.

mendukung atau sebagian sudah mendukung namun implementasinya masih terkendala. Realita saat ini menumbuhkan keyakinan bahwa untuk mengoptimalkan kemampuan lembaga pengguna dalam mengadopsi teknologi yang paling krusial adalah melakukan pembenahan internal lembaga. terutama penguatan sumberdaya (manusia. Posisi ini cenderung sebagai konsumen akhir dari teknologi atau produk teknologi yang diakuisisi. Kerangka dasar konsepsi peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Berbeda dengan industri yang mengadopsi teknologi untuk diaplikasikan dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. sehingga mengurangi 105 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga pemerintah yang berperan sebagai lembaga pengguna teknologi juga harus diperkuat kapasitas litbangnya. tetapi juga mampu untuk melakukan asimilasi dan reformulasi teknologi agar lebih sesuai dengan kebutuhan spesifiknya dan/atau untuk meningkatkan kehandalan produk teknologi tersebut. atau dengan ungkapan yang lebih sederhana adalah dengan melakukan penguatan kapasitas litbang internal lembaga pengguna. Lembaga ini tidak hanya mampu menggunakan produk teknologi yang dibeli atau diakuisisi. lembaga pemerintah mengadopsi teknologi untuk digunakan dalam menjalankan tugas negara/pemerintahan. prasarana. Pembenahan ini mencakup. Sebagaimana industri. selain juga fasilitasi dan intermediasi yang masih belum optimal. 18 Tahun 2002 . serta program-program insentif yang ada masih kurang efektif dan/atau kurang menarik bagi lembaga pengguna (Gambar 9). misalnya dalam konteks teknologi pertahanan dan keamanan. dan dana) untuk mendukung aktivitas litbang pada lembaga pengguna. Minimal mampu melakukan pemeliharaan (maintenance). Gambar 9. sarana.

individu-individu masyarakat lebih pas jika diperlakukan secara independen. tetapi juga mampu secara proaktif mengenali jenis dan mengidentifikasi sumber teknologi yang maju. seniman. yakni regulasi dan 106 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan individu masyarakat). serta siap secara seutuhnya untuk mengadopsi teknologi tersebut. motivasi. dan relevan dengan kebutuhan lembaganya. Di era informasi terbuka ini. termasuk juga melalui spillover investasi asing. pelaksanaannya dapat saja dilakukan secara kolektif pada komunitas pengguna dengan kebutuhan jenis teknologi. nelayan. Namun perlu pula ditegaskan bahwa industri mikro atau kecil tradisional tetap harus dikategorikan sebagai satu entitas industri. terlepas dari jumlah karyawannya yang mungkin sangat sedikit. Untuk dapat melaksanakan peran ini. naluri bisnis. Upaya penguatan kapasitas adopsi masyarakat sebagai pengguna teknologi perlu pendekatan yang berbeda. dan efisien. dan [4] melakukan upaya institusional yang dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam meningkatkan peran aktifnya dalam proses adopsi dan pengembangan teknologi. Dalam rangka memaksimalkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. 18 Tahun 2002 . dan skala usaha yang setara. dan kualitas personal lainnya. misalnya insentif yang pantas untuk kontribusi atau prestasi yang dicapai. Mungkin saja organisasi atau asosiasi masyarakat yang memayungi individuindividu pengguna teknologi. walaupun tujuannya adalah sama. yakni untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi. dan lain-lain.ketergantungan kepada pihak produsennya sebagai langkah antisipatif jika ada kendala purnajualnya. lembaga pemerintah. kemampuan manajerial. Namun demikian. bidang usaha. terutama untuk yang secara langsung melaksanakan tugasnya terkait adopsi dan pengembangan teknologi. handal. baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri. namun lembaga masyarakat tersebut tidak bersifat ‘struktural’ sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang setara dengan lembaga pengguna sebagaimana pada industri dan pemerintahan. [3] menyepakati dan menjalankan secara konsisten kebijakan internal lembaga pengguna untuk memprioritaskan adopsi dan pengembangan teknologi. peternak. maka opsi utamanya adalah meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian sumberdaya manusia yang bekerja pada masing-masing lembaga pengguna tersebut. rasional. Ada empat faktor eksternal yang secara langsung mempengaruhi kapasitas adopsi teknologi. agar upaya meningkatkan kapasitas adopsi individu masyarakat ini dapat dilakukan secara lebih praktis. Dua faktor bersifat mendorong (pushing factors) lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. dibutuhkan pendekatan dan strategi yang berbeda untuk masing-masing kelompok pengguna tersebut. Kapasitas adopsi individu masyarakat dengan demikian akan tergantung pada kapasitas intelektual. Memahami karateristik masing-masing pengguna teknologi yang berbeda (antara industri. Dengan kata lain. diikuti dengan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan dukungan anggaran yang mencukupi. lembaga pengguna juga diharapkan tidak hanya mampu mengaplikasikan teknologi. maka perlu upaya sungguh-sungguh untuk: [1] meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian dan/atau ketrampilan sumberdaya manusia. [2] memberikan dukungan fasilitas dan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan adopsi dan pengembangan teknologi. misalnya petani.

Gambar 10. kepakaran. tetapi hanya lembaga pengguna yang siap yang mampu melakukan proses adopsi tersebut secara efektif dan efisien. serta mampu mengadaptasi teknologi tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhannya dan mampu memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari adopsi teknologi tersebut. tenaga kerja. serta ketersediaan sumberdaya (bahan baku. sedangkan dua faktor lagi bersifat menarik (pulling factors). Prinsip dasarnya dalam era informasi terbuka ini. potret kapasitas 107 Naskah Akademik Perubahan UU No. Secara ringkas. Faktor eksternal yang mempengaruhi kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Regulasi yang tepat akan mendorong lembaga pengguna untuk meningkatkan kemampuan internalnya yang berkaitan langsung dengan kapasitas adopsi teknologi. semua pihak bisa mendapatkan informasi tentang ketersediaan teknologi dan berpeluang untuk mengadopsinya. fasilitas dan infrastruktur pendukung) akan menumbuhkan motivasi dan menjadi pemicu untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi yang dibutuhkan lembaga pengguna untuk mengelola sumberdaya tersebut. Adanya permintaan pasar yang nyata dan signifikan. misalnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia. 18 Tahun 2002 . yakni adanya permintaan pasar dan ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan (Gambar 10).adanya kompetisi antara lembaga pengguna. sedangkan adanya kompetitor tentu akan menjadi faktor pendorong lainnya bagi lembaga pengguna untuk antara lain meningkatkan aktivitas serta fasilitas riset in-house.

adaptasi. serta mengaplikasikannya dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diembannya. [4] Perlu regulasi dan kebijakan yang kondusif untuk membuka peluang mobilisasi sumberdaya manusia antar-lembaga inovasi. sedangkan permintaan pasar dan potensi sumberdaya dapat menjadi faktor penarik (pulling factors) yang atraktif bagi lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. memformulasikan teknologi yang aplikatif sesuai kemampuan dan kebutuhannya. oleh sebab itu perlu melakukan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. sehingga dapat memperbesar peluang untuk terjadinya aliran atau limpasan (spillover) teknologi yang diserap oleh lembaga pengguna. tetapi juga sekaligus [2] menjadikan lembaga intermediasi yang sudah ada sulit untuk menjalankan perannya.adopsi yang ideal untuk lembaga pengguna teknologi adalah jika memiliki kemampuan untuk mengenali teknologi sesuai dengan kebutuhannya. Peningkatan Peran Lembaga Intermediasi Ketidakpaduan antara teknologi yang dihasilkan lembaga pengembang dengan kebutuhan pengguna dan rendahnya kebutuhan serta kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna merupakan kenyataan yang menjadi justifikasi: [1] kebutuhan akan lembaga intermediasi. yakni: [1] Kapasitas internal lembaga sangat krusial untuk dibangun. namun jika kapasitas adopsinya sudah berada pada jenjang yang ideal maka keberadaannya dalam klaster inovasi akan memperbesar peluangnya untuk mengadopsi teknologi tersedia yang sesuai dengan kebutuhannya.4. atau sesuai dengan core business-nya. adaptasi. baik pada tingkat nasional maupun pada jenjang yang lebih terbatas wilayah cakupannya. [3] Regulasi dan kompetisi menjadi faktor pendorong (pushing factors) yang efektif. [2] Perlu dukungan yang optimal untuk aktivitas dan penyediaan fasilitas riset in-house. dan [6] Kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu secara paralel dibangun bersama dengan kemampuan lembaga pengembang untuk menghasilkan teknologi yang relevan dalam rangka mewujudkan sistem inovasi. dan pengembangan teknologi.1. [5] Keberadaan lembaga pengguna dalam suatu klaster inovasi tidak menjamin akan efektif dalam mengadopsi teknologi yang tersedia. 18 Tahun 2002 . menyerap dan mengasimilasikan teknologi tersebut. 108 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan pengembangan teknologi. 5. terutama – tetapi tidak terbatas pada sumberdaya manusia yang ditugaskan pada atau terkait langsung dengan unit yang menangani adopsi. Ada beberapa catatan penting terkait dengan kapasitas adopsi yang ideal bagi lembaga pengguna teknologi. karena akan secara nyata berdampak positif pada kapasitas adopsi.

sekaligus sebagai pusat informasi dan pelayanan HKI. Dengan adanya Sentra HKI diharapkan perguruan tinggi dan lembaga litbang dapat mengembangkan unit organisasi dan prosedur untuk mengelola semua kekayaan intelektual dan informasi iptek yang dimilikinya. belum banyak berperan dalam membantu mengidentifikasi kebutuhan atau persoalan yang dihadapi pengguna dan mengalirkan informasi tersebut kepada lembaga pengembang teknologi. peran lembaga intermediasi perlu didorong agar dapat berperan ganda tersebut. memasarkan teknologi yang dihasilkan pengembang dan sekaligus menjadi perpanjangan tangan pengembang untuk memahami kebutuhan dan persoalan teknologi yang dihadapi pengguna (Gambar 11). Peran Ganda Lembaga Intermediasi Peran intermediasi ini dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga nonpemerintah. Oleh sebab itu.Lembaga intermediasi yang ada saat ini masih terlalu fokus pada upaya ‘memasarkan’ teknologi yang dihasilkan oleh lembaga pengembang. Sebagai contoh lembaga mediasi adalah Sentra HKI dan Business Innovation Center (BIC). lembaga intermediasi yang ada pada dasarnya diinisiasi oleh pemerintah tetapi kemudian dikelola oleh lembaga pemerintah itu sendiri atau personel yang bukan pegawai pemerintah. Menurut UU No. 109 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sentra HKI adalah unit kerja yang berfungsi mengelola dan mendayagunakan kekayaan intelektual. 18 Tahun 2002 . termasuk kemampuan menyelenggarakan kegiatan komersialisasi secara profesional yang didukung aspek legal. 18 Tahun 2002. Pada saat ini. Jumlah Sentra HKI saat ini mencapai 79 buah. Minat pihak swasta untuk berperan sebagai intermediator masih rendah dan belum akan tumbuh jika teknologi yang dihasilkan pengembang belum mempunyai nilai jual yang baik atau jika relevansi antara teknologi yang dikembangkan masih senjang dengan kebutuhan pengguna. Namun sebagian besar menghadapi permasalahan lemahnya kemampuan di bidang manajemen HKI. Gambar 11. sejak digagas Kementerian Riset dan Teknologi pada 1999.

mengatur pertemuan para pakar untuk dapat menjalin kerjasama. membantu menghubungkan kepada pihak dunia usaha dalam hal kerjasama. mempermudah pengembangan bisnis dengan penerapan inovasi. memberikan pengetahuan mengenai pasar dan trend yang ada di pasar.Padahal Sentra HKI harus mampu menjadi marketer atau sebagai intermediator antara pemilik dan pengguna HKI. Misi lembaga ini adalah mendorong inovasi business di Indonesia. dan memfasilitasi program incentif yang dibuat oleh pemerintah. pemasok. walaupun saat ini teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat berkembang dan juga 110 Naskah Akademik Perubahan UU No. swasta. memperluas hubungan dengan pemerintah dan akademisi. BIC memberikan beberapa jenis layanan yaitu layanan umum. akademisi dan pemerintah yang sesuai dengan fungsi dan tujuan BIC. membantu dalam hal finansial yang akan dibantu oleh pihak swasta/pelaku bisnis. dan membantu melakukan analisi terhadap pihak dunia usaha yang memiliki interest untuk berinvestasi terhadap riset yang dilakukan. memberikan secara terusmenerus informasi tentang perkembangan teknologi baru dan proses produksi. menghubungkan para pelaku bisnis dalm hal mendapatkan insentif yang diberikan oleh pemerintah. Layanan untuk pemerintah mencakup upaya mempererat hubungan pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. memberikan informasi mengenai kajian-kajian teknologi yang sedang berlangsung. Layanan umum mencakup kunjungan ke perusahaan-perusahaan. memajukan pengembangan teknologi inovasi dalam skala nasional.1. mengatur pertukaran para pakar yang dibutuhkan dengan keahlian tertentu. mengadakan gathering dan seminar dalam hal menjembatani ABG. Sedangkan layanan untuk akademisi/teknisi adalah membantu mengembangkan produk inovasi yang sudah ada untuk di komersialkan. BIC diharapkan menjadi lembaga intermediasi proses inovasi bisnis. Layanan untuk swasta/bisnis yang dilakukan BIC mencakup mempermudah proses pencarian informasi mengenai inovasi. menganalisa dan mengoptimalkan rangkaian nilai proses kerja. untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan bisnis dan daya saing nasional Indonesia. memberikan pendampingan pada perusahaan-perusahaan yang inovatif. 18 Tahun 2002 . mengidentifikasikan risiko dan mengenali potensinya. melalui kegiatan intermediasi antara inovator pengembangan teknologi dengan dunia bisnis.5. membuat database yang menampung informasi mengenai proses-proses inovasi. dan. memfasilitasi pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. memberikan jaringan/network pelaku bisnis dalam hal kerjasama terhadap pihak akademisi. Business Innovation Center atau yang disingkat BIC didirikan dengan tujuan mengoptimalkan pemberdayaan Inovasi di Indonesia dengan tujuan meningkatkan pembangunan nasional. membantu mencarikan mitra kerjasama yang tepat dari kalangan iptek. perusahaan. menyusun agenda dan pengaturan pertemuan dengan pusat-pusat kajian teknologi. memberikan dukungan terhadap program-program pemerintah dalam hal inovasi. dan. Penyiapan Science and Technology Park Kedekatan fisik atau lokasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi masih dianggap penting dalam upaya menumbuhkan interaksi yang lebih intensif dan produktif. 5.

Untuk tujuan ini. Kemampuan inovasi Indonesia ini sudah setara dengan negara-negara yang perekonomiannya sudah berbasis inovasi. yang disingkat sebagai I-STP. Peran lembaga intermediasi diharapkan dapat mengakselerasi proses adopsi teknologi tersebut. tetapi juga merupakan akibat dari teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan lembaga pengguna tersebut. Berdasarkan survei WEF tersebut. yakni pada peringkat ke 91.menjadi lebih murah untuk sarana berkomunikasi antara personel maupun lembaga. Secara kolektif. Lembaga intermediasi diharapkan menjadi gerbang untuk partisipasi lembaga pengguna teknologi. Upaya ini diharapkan akan meningkatkan relevansi teknologi yang dikembangkan (karena semakin memahami kebutuhan pengguna) dan sekaligus meningkatkan kapasitas adopsi pengguna (karena peningkatan kapasitas SDM-nya dalam mengenali dan mengaplikasikan teknologi). Wahana I-STP diproyeksikan akan menjadi model SINas dalam rangka membangun ekonomi Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge based economy (KBE). Dinamika interaksi pengembang-intermediator-pengguna teknologi yang intensif dan produktif akan dengan sendirinya ‘mengundang’ partisipasi lembaga-lembaga penunjang lainnya. Pembangunan I-STP (melalui revitalisasi Puspiptek Serpong) merupakan salah satu upaya untuk menyediakan wahana untuk meningkatan frekuensi dan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Oleh sebab itu. 18 Tahun 2002 . terutama pendidikan tinggi dan kejuruan. Aset pengetahuan (stock of knowledge) yang secara kolektif telah terakumulasi pada komunitas pengembang teknologi di kawasan Puspiptek Serpong perlu dikelola dan ‘dipasarkan’. yakni Business Technology Center (BTC) dan Business Innovation Center (BIC). yakni dengan merevitalisasi kawasan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong. terbukti dengan posisi indeks inovasi Indonesia dalam peringkat World Economic Forum (WEF) tahun 2010 yang berada pada posisi ke 36. terbukti dengan peringkat kesiapan teknologi (technological readiness) yang masih relatif rendah. Persoalan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah rendahnya hasil riset dan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang diadopsi oleh industri atau pengguna teknologi lainnya. Indonesia merencanakan untuk membangun Indonesian STP. upaya-upaya ini diharapkan dapat mendongkrak status kesiapan teknologi Indonesia. banyak negara membangun Science and Technology Park (STP) sebagai wahana untuk mendekatkan secara fisik antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi. Kapasitas lembaga pengembang teknologi Indonesia sesungguhnya cukup baik. Ketidak-siapan lembaga pengguna Indonesia untuk mengadopsi teknologi ini tidak sepenuhnya merupakan resultan dari rendahnya kapasitas adopsi teknologinya. terutama industri-industri berbasis teknologi (Gambar 12). dilaporkan bahwa kapasitas pengembangan teknologi ini ternyata belum diimbangi dengan kesiapan pengguna teknologi untuk mengadopsinya. Kementerian Riset dan Teknologi perlu merevitalisasi lembaga-lembaga intermedia yang sudah terbentuk. I-STP menjadi saluran efektif bagi teknologi untuk memberikan kontribusi 111 Naskah Akademik Perubahan UU No. termasuk lembaga keuangan dan lembaga pendidikan. Dengan demikian. Upaya membangun I-STP ini sudah mulai digarap.

Definisi umum tentang Pusat Unggulan adalah: ‘an organization which is 112 Naskah Akademik Perubahan UU No. maupun badan usaha.6. lembaga litbang. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. 5. Gambar 12. Untuk kondisi Indonesia. akan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan inovasi mandiri yang dapat menjadi model SINas Indonesia yang membanggakan. pemerintah maupun swasta dapat mengembangkan sarana dan prasarana iptek. serta pusat peragaan iptek untuk dapat menumbuhkan budaya iptek.1. kawasan Puspiptek Serpong. sebagai kawasan iptek sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. maka akan diyakini mampu menyejahterakan rakyat sebagaimana yang amanahkan oleh konstitusi.nyata terhadap peningkatan ekonomi nasional. tetapi juga digunakan di dunia bisnis maupun bidang-bidang lainnya. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. Kawasan ini diharapkan dapat memfasilitasi sinergi. pertumbuhan. Membangun Pusat Unggulan Inovasi Pusat Unggulan merupakan padanan kata untuk Center of Excellence yang sudah sangat dikenal dan digunakan tidak hanya dalam bidang iptek. dan sekolah menengah kejuruan di kawasan ‘InnoPark’ ini. dan interaksi antara perguruan tinggi. Gabungan dua kawasan ini akan membentuk Innovation Park (STP+IP = InnoPark). yang jika dibangun bersama rakyat. 18 Tahun 2002. Menghadirkan lembaga pendidikan tinggi. politeknik. Metamorfosis Puspiptek Menjadi I-STP Menurut UU No. dilengkapi dengan lembaga dan fasilitas pendukungnya yang sepadan. 18 Tahun 2002 . seperti kawasan iptek.

Dalam konteks pilihan ini. yakni dengan format pengembangan lembaga tunggal tapi dengan memperkaya tugas dan fungsinya. Pusat Unggulan harus dikenal oleh komunitasnya. Gambar 13. Tersirat dalam definisi ini adalah: [1] keberhasilan dan reputasi tersebut bersifat relatif (dibandingkan dengan lembaga-lembaga serupa di bidang tertentu). Penciri lain yang digunakan untuk mendeskripsikan pusat unggulan adalah: ‘a place where there are very high standards of work’. sesuai dengan kondisi awal dan sasaran yang ingin dicapai. dimana [3] bidang keunggulan tersebut bersifat terbuka untuk kompetensi atau spesifikasi fungsi tertentu. maka ada dua opsi dalam membangun pusat unggulan inovasi. Pengembangan Pusat Unggulan Inovasi yang Konsisten dengan Amanah Konstitusi 113 Naskah Akademik Perubahan UU No.recognized as being successful and having an excellent reputation in its field’ . Dengan demikian. Pusat unggulan yang akan didorong untuk tumbuh dan berkembang adalah lembaga atau konsorsium yang konsisten dengan amanah konstitusi. dalam melaksanakan fungsinya. sehingga dapat secara nyata mampu mewujudkan sistem inovasi. kebijakan nasional. kebijakan sektoral. dan program Kementerian Riset dan Teknologi (Gambar 13). maka sangat tepat jika Pusat Unggulan yang difasilitasi perkembangannya oleh Kementerian Riset dan Teknologi adalah keunggulan dalam membangun sistem inovasi. sebuat pusat unggulan harus menetapkan standar kinerja yang sangat tinggi. Maknanya. atau dengan membentuk konsorsium yang terdiri dari paling tidak lembaga pengembang dan pengguna teknologi (Gambar 14). dan [2] keunggulan tersebut khusus pada bidangnya. tepat jika disebut sebagai Pusat Unggulan Inovasi atau Center of Excellence on Innovation. Untuk mencapai standar ini. 18 Tahun 2002 . Oleh sebab itu. dianggap berhasil dan mempunyai reputasi yang sangat baik di bidangnya.

yakni: [1] mempunyai kepentingan atau tujuan bersama (shared goal atau core issue) yang jelas dan disepakati oleh semua anggota. intermediator. [2] hubungan yang dibangun harus bersifat mutualistik sebagai modal dasar untuk memotivasi semua anggota untuk memperjuangkan kepentingan bersama. dan regulator sewajarnya akan semakin berkurang jika komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi dalam wadah konsorsium ini telah berlangsung secara intensif dan produktif.Gambar 14. antara lain berupa konsorsium. Tentu dengan memperhatikan tugas dan fungsi lembaganya masing-masing. Tujuan bersama dimaksud perlu disepakati dari awal pembentukan konsorsium. Peran pemerintah sebagai fasilitator. Pilihan Alternatif Organisasi Pusat Unggulan Inovasi 5. Setiap konsorsium yang dibentuk mempunyai tujuan bersama yang jelas. Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya diharapkan berperan aktif dalam membentuk konsorsium ini. Mendorong Pembentukan Konsorsium Inovasi Interaksi dan komunikasi antara pengembang dan pengguna teknologi menjadi lebih baik apabila ada wahana untuk berinteraksi.1. kapasitas lembaga sebagai bentuk share yang dapat dikontribusikan. Secara umum terdapat tiga asas penting dalam membangun konsorsium. terutama pada fase inisiasinya. dan [3] semua anggota sepakat untuk sharing sumberdaya sepadan dengan fungsi dan kapasitasnya masing-masing. karena ini merupakan dasar komitmen bersama yang penting 114 Naskah Akademik Perubahan UU No.7. karena ini yang menjadi komitmen awal dan mendasar bagi setiap lembaga untuk memutuskan apakah akan ikut bergabung dalam konsorsium tersebut atau tidak. dan benefits yang diharapkan dapat diperoleh dengan bergabung dalam konsorsium tersebut. 18 Tahun 2002 .

sebaliknya jumlah anggota yang terlalu banyak juga dapat menyebabkan ketidak-efisienan dalam pelaksanaan pekerjaan. setiap konsorsium harus ada anggota yang disepakati sebagai koordinator. pola hubungan antar-anggota yang bersifat horizontal akan lebih dominan. Sedangkan jumlah anggota yang terlalu sedikit mengandung risiko akan kekurangan kapasitas dan kompetensi untuk mencapai tujuan. 18 Tahun 2002 . anggota konsorsium minimal dua lembaga. Kesepakatan ini sangat penting karena tujuan bersama tersebut mungkin baru akan dicapai dalam jangka menengah atau panjang. serta kewajibannya (Gambar 15). efektif. Konsorsium lebih berorientasi fungsional dan terfokus pada upaya mencapai tujuan bersama yang disepakati sejak awal pembentukannya. maka konsorsium harus dikelola secara profesional berlandaskan asas-asas good governance. Disamping itu. namun konsorsium pada hakikinya bersifat tidak-permanen. Setiap konsorsium tentu memiliki beberapa anggota. terutama harus transparan. yakni saling menguntungkan. Dalam konteks sistem inovasi. agar sifat mutualistik ini selalu terpelihara. serta juga dipengaruhi oleh beban kegiatan dan target waktu untuk pencapaian tujuan dimaksud. dan taat hukum. Namun jumlah anggota yang pas tentu tergantung dengan tujuan bersama yang ingin dicapai. walaupun mungkin butuh waktu yang relatif lama untuk mencapai tujuan bersama. Hubungan antar-anggota konsorsium harus bersifat mutualistik. Dalam konteks ini. akuntabel. Oleh sebab itu. semua anggota diposisikan secara sejajar. dimana anggota disepakati dari awal dan tidak berubah sampai tujuan bersama dicapai. atau [2] dilakukan secara tertutup dan bersifat statis. atau malah berpotensi kontra-produktif dan dapat saja ada free rider yang kontribusinya tidak signifikan terhadap kinerja konsorsium. Oleh sebab itu. dimana. semua lembaga yang relevan dapat bergabung dalam konsorsium atas persetujuan inisiator dan semua anggota yang telah bergabung (existing members). Salah satu alasan pembentukan konsorsium adalah agar penggunaan sumberdaya (manusia. juga perlu masuk dalam formula untuk penetapan jumlah anggota yang ideal. hak. yakni: [1] dilakukan secara terbuka dan dinamis. Sinergi fungsional merupakan asas yang menjiwai tata kerja organisasi konsorsium. 115 Naskah Akademik Perubahan UU No. budaya sharing perlu dibangun. Konsorsium merupakan sarana bersama dan bukan tujuan akhir bagi para pihak yang terlibat sebagai anggotanya.untuk kelangsungan eksistensi konsorsium. sama kedudukan. maka paling tidak satu lembaga mewakili pengembang teknologi dan lembaga lainnya mewakili pengguna teknologi. Lebih bagus jika ditambah satu lembaga lagi yang menjadi representasi unsur pemerintah. Kapasitas dan jenis kompetensi lembaga yang dibutuhkan. Oleh sebab itu. sarana dan prasarana. Secara formal. Keterjaminan sifat mutualistik tersebut akan memotivasi semua anggota untuk memberikan kemampuannya yang terbaik dan ikut berusaha keras untuk mencapai tujuan bersama. dan pembiayaan) dapat dilakukan secara lebih efisien dan juga untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. efisien. karena ia menjadi jiwa dari sebuah konsorsium. Ada dua opsi dalam menghimpun anggota konsorsium.

terutama pada fase awal. 18 Tahun 2002 Keberhasilan suatu konsorsium ditentukan beberapa faktor. [4] dikoordinir oleh figur kepemimpinan yang kuat (strong leadership) . Model Konsorsium Inovasi (Lakitan. .Gambar 15. 2011b) 116 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan [5] secara konsisten dikelola berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance)(Gambar 16). [2] sinergi anggota mampu membangun kapasitas kolektif yang cukup (adequate collective capacity) untuk mencapai tujuan/sasaran bersama. [3] mempunyai strategi pelaksanaan yang tepat dan implementatif (implementable strategy). yaitu: [1] mempunyai tujuan/sasaran bersama yang jelas dan disepakati semua anggota (clear shared goal) serta sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan publik (demand-driven).

Sebaiknya suatu konsorsium terbangun dari anggota dengan ‘core business’ yang berbeda atau mempunyai jenis kompetensi yang berbeda. Konsorsium. apalagi multi-tujuan. sistematis. tetapi semua sub-target tersebut harus berada dalam lingkup payung target utamanya atau berada dalam satu klaster. maka sangat mungkin terjadi ‘sibling rivalry’ antar-anggota tersebut. tetapi bersifat komplementatif satu dengan yang lainnya. Akan tetapi anggota suatu konsorsium dapat saja juga menjadi anggota konsorsium lain dengan tujuan/sasaran yang berbeda. serta berbasis pada kapasitas kolektif yang dimiliki. pendekatan konsorsium juga direkomendasikan oleh Malherbe dan Stanway (2010) sebagai bentuk kolaborasi yang tepat. tetapi secara kolektif sebuah konsorsium harus punya kemandirian untuk mencapai tujuan bersama. sehingga mampu menjalankan misinya dengan lebih baik dan komprehensif.Gambar 16. akan mudah terancam bubar. 18 Tahun 2002 Tujuan dan target/sasaran bersama merupakan perekat utama antar-anggota dari sebuah konsorsium. seperti berbagai bentuk kolaborasi yang lainnya. Konsorsium dengan multi-sasaran. pola 117 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kunci Sukses Konsorsium (Lakitan. sehingga dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien. dengan pentahapan yang logis. sehingga dapat membangun sinergi yang secara kolektif akan menghasilkan konsorsium dengan kapasitas lebih besar dan dengan ragam kompetensi yang lebih banyak. Jika ada dua atau lebih anggota konsorsium dengan jenis kompetensi yang sama. 2011b) Sejalan dengan ini. perlu menyusun strategi operasional yang terencana dengan baik. jika anggotanya mempunyai kompetensi inti yang beragam. . Target ini dapat saja terdiri dari beberapa sub-target. Keberlanjutan integrasi dan viabilitas dari sebuah konsorsium selain bertumpu pada tujuan bersama yang jelas. Konsorsium memang bertumpu pada inter-dependensi antar-anggota.

Kompetensi lembaga yang beragam sebagai anggota konsorsium juga membuka peluang untuk membangun kapasitas kolektif yang lebih besar dan komprehensif. Dengan demikian. yang butuh kontribusi dari berbagai kompetensi. konsorsium memang dirancang untuk menjawab tantangan yang lebih berat. Pergantian ini seharusnya tidak mempengaruhi kinerja konsorsium secara drastis. Selayaknya. Konsorsium sebagai wadah komunikasi dan interaksi antar-lembaga yang menjadi anggotanya. Tata kelola yang baik tentu harus dibangun berbasis pada prinsipprinsip good governance. juga sangat membutuhkan figur pemimpin yang kuat dan secara de facto mampu mengelola konsorsium secara bijak. setiap pemimpin memiliki style of leadership masing-masing. Apabila kompetensi anggotanya sama. serta biaya dalam upaya mencapai tujuan. tetapi hanya akan merupakan proses scale-up (memperbesar volume output) saja. [3] meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi yang menjadi modal dasar untuk mewujudkan/memperkuat sistem inovasi. [2] membuka peluang untuk mendapatkan capaian yang lebih besar/signifikan. yakni berupa peraturan internal tentang tata kelola yang disepakati semua anggota. sebaliknya akan sedikit dampaknya jika kompetensi anggota relatif homogen.hubungan antar-anggota yang bersifat mutualistik. akan lebih mampu untuk mengeksekusi aktivitas dengan lingkup yang lebih luas dan/atau tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Konsorsium dapat memberikan manfaat antara lain: [1] meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya manusia. sarana dan prasarana. jika terdapat anggotanya yang mewakili komunitas pengembang teknologi dan juga ada yang mewakili komunitas pengguna teknologi. konsorsium dapat dipandang sebagai mikro-ekosistem yang kondusif untuk mengalirkan informasi kebutuhan dari pengguna ke pengembang teknologi dan sebaliknya aliran paket teknologi dari pengembang ke pengguna teknologi. tidak cukup kuat faktor pendorong bagi anggota untuk berinteraksi secara lebih intensif. Pada fase awal terbentuknya konsorsium. peran figur yang kuat akan sangat krusial dalam rangka membangun ‘chemistry’ yang harmonis antar-anggota dengan keragaman latar belakang kompetensi dan budaya kerja. Selain itu. yang sangat mungkin akan berbeda satu sama lain. maka yang terjadi bukan sinergi fungsional yang mutualistik. Dalam konteks ini. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya akan lebih maksimal jika konsorsium terdiri dari anggotaanggota dengan kompetensi yang beragam dan bersifat komplementer. Namun demikian. Dalam jangka panjang. tentu akan perlu dilakukan pergantian pemimpin. atau lebih tepatnya koordinator konsorsium. karena tidak ada rasa saling membutuhkan yang kuat apabila kompetensi anggota konsorsiumnya sama. maka secara langsung juga akan penting kontribusinya dalam mengakselerasi upaya membangun 118 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan mungkin hanya dapat diselesaikan melalui paket solusi multi-dimensi yang komprehensif. yang tidak mungkin dicapai masing-masing anggota secara individual. pada dasarnya merupakan bentuk ‘miniatur’ dari sistem inovasi. Apabila proses komunikasi dan interaksi antar aktor inovasi yang bernaung dalam suatu konsorsium berfungsi sebagai ekosistem kondusif ini dapat dipertahankan selama kurun waktu yang lama. Sebagai langkah antisipasi maka perlu disiapkan stabilisator yang ampuh. 18 Tahun 2002 .

Untuk meningkatkan peran dan kontribusi DRN tersebut. Proses panjang ini harus diawali dengan membangun budaya inovasi pada jenjang yang paling mikro. Revitalisasi Dewan Riset Nasional Dewan Riset Nasional (DRN) merupakan lembaga non-struktural yang berfungsi memberikan masukan kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi terutama dalam menetapkan Agenda Riset Nasional (ARN). yakni pada lingkup sebuah konsorsium. pengembangan industri. Saat ini DRN memiliki kewenangan yang terbatas dan dukungan sumberdaya yang juga belum memadai. ARN diharapkan menjadi petunjuk pelaksanaan arah dan prioritas kegiatan riset secara nasional. 5. terutama yang terkait langsung dengan tujuh bidang fokus pembangunan. Namun demikian. ARN pada saat ini belum secara penuh diacu oleh lembaga-lembaga riset. yang memerlukan revisi peraturan perundang-undangan. dan difokuskan pada upaya restrukturisasi dan penyesuaian komposisi keanggotaan. Secara realistis. Pada Fase Pertama. restrukturisasi lebih terarah pada upaya penyesuaian pembagian Komisi Teknis agar dapat mengakomodir perkembangan dan prioritas bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.1. 119 Naskah Akademik Perubahan UU No. teknologi berwawasan ekologis (green technology). baik perguruan tinggi maupun lembaga litbang kementerian. Revitalisasi dilakukan berbasis pada peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku dengan tanpa memerlukan revisi produk legislasi yang ada. Sedangkan penyesuaian komposisi anggota selain untuk menyeimbangkan antara perwakilan dari komunitas pengembang dengan pengguna teknologi. Komisi Teknis DRN mengikuti tujuh bidang fokus prioritas pembangunan iptek sesuai dengan RPJPN 2005-2025. yakni Fase Pertama dilakukan segera selama periode 2009-2011 untuk diimplementasikan pada periode tugas selanjutnya (2012-2014). serta dengan terus mendukung pengembangan sains dasar dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Selain itu. termasuk upaya meningkatkan kapasitas teknologi untuk pengelolaan sumberdaya kemaritiman. masing-masing komisi teknis juga perlu memperhatikan cross-cutting issues. namun demikian pada masing-masing komisi teknis tersebut perlu didukung oleh anggota-anggota yang akan mendalami tentang lima unsur strategis untuk penguatan inovasi nasional. Budaya inovasi nasional tidak dapat dibangun secara instan. sehingga peran dan kontribusi DRN secara nyata dalam pembangunan iptek masih belum optimal. tetapi akan melalui proses panjang. juga diarahkan agar aktor-aktor utama dari sektor pembangunan (yang sesuai dengan pembagian komisi teknis DRN) dapat lebih efektif berperan. maka perlu dilakukan revitalisasi lembaga DRN.budaya inovasi. Matrik bidang dan kompetensi anggota DRN yang diusulkan disajikan pada Tabel 8. dan mengurangi kemiskinan (pro-poor technology). revitalisasi DRN perlu dilakukan dalam dua fase. maupun lembaga pemerintah non-kementerian yang melaksanakan kegiatan riset. difokuskan pada upaya membentuk DRN dengan peran yang lebih signifikan dan proyeksi kontribusi yang lebih nyata terhadap pembangunan iptek. termasuk kemungkinan reposisi organisasi DRN untuk langsung bertanggung jawab kepada Presiden. 18 Tahun 2002 . Fase Kedua diawali dengan penyesuaian produk regulasi untuk landasan bagi pembentukan DRN dengan tugas pokok dan fungsi yang lebih vital (revitalized DRN).8.

asosiasi industri untuk komisi teknis transportasi. dan pengguna langsung teknologi hankam (TNI dan Polri). asosiasi industri. dan lembaga pemerintah pengguna teknologi. 18 Tahun 2002  Anggota yang harus mengawal relevansi teknologi sudah sepatutnya berasal dari komunitas pengembang teknologi.  Anggota yang mewakili pihak yang memahami kebutuhan riset dan teknologi sesuai skenario penguatan inovasi nasional yang berorientasi demand-driven. dan kementerian hankam untuk komisi teknis pertahanan dan keamanan.  Anggota yang mewakili unsur regulator dan pembuat kebijakan publik dapat ditunjuk dari para Kepala Badan Litbang Kementerian Teknis terkait sesuai dengan bidang fokus masing-masing. yang sekaligus dapat ditetapkan sebagai Ketua Komisi Teknis. dan perguruan tinggi. industri besar. industri kreatif. sehingga ketua ini dapat dipilih dari ‘prominent figure’ yang dengan ketokohannya dapat meningkatkan kewibawaan lembaga DRN dan sekaligus dapat memimpin anggota DRN secara efektif agar dapat berkinerja dengan baik. yakni para pelaku produksi barang/jasa baik dari unsur masyarakat. yakni dari lembaga riset pemerintah. Tabel 8. sepatutnya dipilih dari unsur komunitas masyarakat.Anggota DRN yang diangkat berjumlah 50 orang.  Anggota yang diyakini akan memahami kapasitas adopsi pengguna teknologi adalah para pengguna teknologi itu sendiri. . lembaga riset swasta/industri. Pembagian komisi teknis DRN dan kompetensi anggotanya terkait upaya penguatan SINas. serta pengguna teknologi untuk tujuan nonkomersial lainnya. industri kecil dan menengah. Misalnya dari wakil asosiasi petani untuk komisi teknis pangan. KOMISI TEKNIS PENGUATAN SINAS 120 Naskah Akademik Perubahan UU No. dengan formula sebagai berikut: Jumlah anggota DRN = 1 Ketua + 7 Komtek [ 5 Isu SINas + 2 Unsur Penguat ] Formula keanggotaan DRN ini dapat dirinci sebagai berikut:  Satu orang ketua yang lebih fokus sebagai pimpinan puncak yang tidak perlu terlibat langsung dalam kegiatan teknis pada tingkat komisi.

[b] membangun kemampuan/kapasitas dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan teknologi di dalam negeri dan sekaligus juga menyediakan sistem 121 Naskah Akademik Perubahan UU No. nelayan. perencanaan pembangunan nasional/Bappenas. peternak. misalnya komisi teknis pangan dapat menambah satu anggota dari pakar kemaritiman untuk mendukung isu strategis pembangunan ketahanan pangan dan satu anggota dari pakar ilmu sosial karena berdasarkan realita. sedangkan  Anggota DRN yang mewakili DRD Provinsi (ex officio) tidak harus dimasukkan secara tetap dalam komisi teknis. revitalisasi diharapkan mampu memposisikan DRN untuk melaksanakan tugas pokok yang mencakup: [a] membangun basis data iptek yang akurat dan komprehensif. yakni kementerian keuangan. pendidikan nasional. 18 Tahun 2002 . tetapi sangat perlu terlibat secara langsung dalam pembahasan pada tingkat pleno sebagai penyampai aspirasi daerah yang diwakilinya.Relevansi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kapasitas Adopsi Pengguna Teknologi Intermediasi & Penunjang Sistem Inovasi Regulasi dan Kebijakan Publik Kebutuhan Riset dan Teknologi Teknologi Pangan Teknologi Energi Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Transportasi Teknologi Pertahanan dan Keamanan Teknologi Kesehatan Teknologi Material Maju  Anggota yang mewakili lembaga intermediasi dan lembaga penunjang lainnya juga diyakini sangat krusial perannya untuk peningkatan kinerja DRN. dan pembudidaya ikan karena belum mengintegrasikan pemahaman dimensi sosial.  Dua anggota untuk penguat ditentukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing komisi teknis. perindustrian. ekonomi. banyak teknologi pangan yang tidak diadopsi petani. dan kultural dalam pengembangan teknologi tersebut. serta jejaring lembaga iptek yang mantap dalam rangka menjamin pemutakhiran data iptek yang berkesinambungan. Pada Fase Kedua. dan lembaga intermediasi non-pemerintah. termasuk perwakilan dari kementerian terkait. sehingga sangat penting keterwakilannya dalam lembaga DRN.

Sebagai kompensasinya. telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 (PP No. 18/2002 ini disusun dalam nuansa pengembangan iptek yang masih sangat dominan bersifat supply-push. kecenderungan global saat ini juga secara kentara telah menggeser orientasi pengembangan teknologi dari yang bersifat supply-push menjadi demand-driven. 18/2002) tentang Sistem Nasional Penelitian. 18/2002 akan digunakan sebagai landasan legal utama untuk membangun inovasi nasional. untuk melaksanakan ketentuan UU No. yakni pengembangan teknologi harus lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang tengah dihadapi. 18/2002 ini masih belum sepenuhnya selaras dengan orientasi pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. Walaupun banyak ragam terminologi yang digunakan. Pengembangan. Substansi pokok dari PP No. dan [d] membantu mengawal investasi pemerintah untuk pembangunan iptek. [c] membangun kapasitas dan kewenangan untuk menetapkan prioritas riset nasional sesuai dengan kebutuhan ( demanddriven) dan berbasis potensi sumberdaya nasional. badan usaha tersebut 122 Naskah Akademik Perubahan UU No. oleh sebab itu secara umum UU No. sangat mungkin upaya untuk melengkapi undang-undang terkait dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih sesuai. Apabila UU No. atau dapat juga dilakukan amandemen/revisi terhadap produk hukum yang ada agar lebih sesuai dan/atau lengkap. sangat diperlukan upaya untuk menerbitkan regulasi baru atau sinkronisasi produk perundang-undangan yang telah ada dengan langkah aksi penguatan inovasi nasional yang akan ditempuh. Oleh sebab itu. Inovasi. 18 Tahun 2002 . dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lampiran 1). Selain itu. Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi Semua aksi yang akan dilakukan dalam rangka mewujudkan penguatan inovasi nasional memerlukan dukungan regulasi dan/atau kebijakan yang tepat dan menyeluruh. Secara operasional. 35/2007 ini adalah memberikan kesempatan bagi badan usaha untuk mengalokasikan dana dalam rangka mendukung kegiatan inovasi nasional. 5. Produk perundang-undangan yang menjadi basis legal untuk pengembangan SINas di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 (UU No. Peraturan perundang-undangan yang dilengkapi dengan pedoman teknis pelaksanaannya.informasi perkembangan dan ketersediaan teknologi nasional. dan Difusi Teknologi (Lampiran 2). agar secara konsisten fokus pada prioritas yang telah ditetapkan. 35/2007) tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. agar semua regulasi yang diharapkan dapat diimplementasikan secara utuh. Selanjutnya.9. maka diperlukan upaya revisi atau melakukan amandemen terhadap undang-undang ini agar lebih selaras dengan upaya penguatan inovasi nasional yang lebih bersifat demand-driven. khususnya Pasal 28 ayat (3). Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas ini. UU No. diperlukan penyesuaian kembali produk-produk regulasi agar ekosistem yang kondisif bisa terbangun dan reposisi organisasi DRN dalam tata organisasi pemerintah. Beberapa pemahaman dasar terkait upaya penguatan inovasi dirasakan masih perlu disinkronisasikan ulang. namun esensinya sama. 18/2002.1.

Upaya percepatan dan perluasan pembangunan dilakukan melalui penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi. Selanjutnya pada ayat (2). dampaknya kegiatan produksi barang dan jasa juga akan meningkat dan penerimaan pajak juga akan ikut meningkat. proses. terutama antara PP No. Dengan dikeluarkannya peraturan ini. keberhasilan implementasi MP3EI antara lain ditentukan adanya penguatan inovasi di sektor usaha. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan. mengingat jika penguatan inovasi nasional dapat berlangsung secara produktif. namun pelaksanaan peraturan ini sampai sekarang belum optimal. Arah yang akan ditempuh agar PP No. perlu dilakukan sinkronisasi dari sisi legal formal pendukungnya. 35/2007 ini sangat ‘favorable’ bagi upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. menuju innovation-driven economy. 123 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. Pasal 6 ayat (3) PP No. Agar insentif bagi pelaku bisnis/industri untuk lebih terlibat dalam pembiayaan kegiatan riset dapat terlaksana. 35/2007. sesuai Pasal 7 ayat (1) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. 18 Tahun 2002 . Sebagai pelaksanaan dari pasal ini. Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) telah mengagendakan untuk meninjau ulang peraturan perundang-undangan yang menjadi bottleneck pembangunan perekonomian Indonesia. Secara jelas pada Pasal 6 ayat (1) PP No. dinyatakan bahwa insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. sekaligus peningkatan kemampuan perekayasaan. yakni belum adanya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan yang mengakomodisasi pemberian insentif sebagaimana diamanahkan dalam Pasal 6 ayat (2) PP No. 35/2007 ini. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Hal ini disebabkan adanya ganjalan untuk implementasinya.mendapatkan insentif untuk mendukung kegiatan bisnisnya. 35 Tahun 2007 sejalan dengan Perpres No. 35/2007 dengan peraturan di bidang perpajakan dan kepabeanan. 35/2007 tersebut. 35/2007 menyatakan bahwa besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. kepabeanan. Oleh karena itu. maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan. Bantuan teknis ini. inovasi. diharapkan akan mendorong kolaborasi riset. Secara garis besar PP No. inovasi. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. dinyatakan bahwa badan usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi. Kekhawatiran yang berlebihan tentang kemungkinan penurunan penerimaan pendapatan pemerintah dari pajak dan kepabeanan akibat pemberlakuan kebijakan ini perlu dihilangkan. termasuk diantaranya implementasi PP No. Kementerian Riset dan Teknologi telah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 35/2007 ini dapat diimplementasikan adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur pedoman teknis untuk pemberian insentif tersebut. Walaupun PP No.

Sumbangan Fasilitas Pendidikan. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan (Pasal 1 butir b). Adanya PP No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 93/2010 ini mengatur bahwa sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak. termasuk sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. berbeda dengan PP No. namun setidaknya akan mencakup juga upaya untuk peningkatan kapasitas perekayasaan. 93/2010. Sumbangan Pembinaan Olahraga. Besarnya nilai sumbangan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya (Pasal 3). Dukungan regulasi ini diharapkan akan mengintensifkan interaksi dan komunikasi antara lembaga pengguna. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. 124 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sumbangan Penelitian Dan Pengembangan. Pengembangan. 35/2007 yang merupakan turunan UU No. Lampiran 3). Sumbangan dapat diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang (Pasal 5 ayat 1). 18 Tahun 2002 PP No. 35/2007.Namun demikian dalam pelaksanaannya. diperlukan dukungan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur kriteria teknis dan tata kelola dalam pemberian insentif riset di badan usaha. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. diperlukan dukungan terutama dari lembaga litbang yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian untuk implementasi insentif bantuan teknis litbang. Sumbangan Pembinaan Olahraga. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (selanjutnya disingkat PP No. yakni Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan sebagai pelaksanaan Pasal 7 ayat (3) PP No. karena PP No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Selain itu untuk memperkuat insentif non fiskal. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. 93/2010 merupakan turunan langsung dari UU No. Secara teknis dan psikologis. Upaya pemberian insentif kepada pihak pengguna teknologi (terutama industri) sekarang mempunyai landasan hukum lain yang baru. inovasi dan difusi teknologi. Meskipun sumbangan ini ditujukan untuk kegiatan litbang. terutama industri. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. dengan lembaga pengembang teknologi yang mendukung kebutuhan teknologi untuk industri. 35 Tahun 2007. sebagaimana kebijakan pemberian fasilitas insentif kepada badan usaha tentunya dapat lebih mendorong kegiatan litbang di badan usaha. PP No. 93/2010 lebih berpeluang untuk diimplementasikan dibandingkan dengan PP No. Interaksi yang lebih intensif diyakini akan berpengaruh langsung dan positif terhadap proses adopsi teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. baik karena teknologi yang dihasilkan oleh pengembang menjadi lebih relevan (karena pengembang menjadi lebih . Saat ini telah dikeluarkan Peraturan Menteri Riset dan Teknologi No.

memahami kebutuhan), juga karena peningkatan kapasitas adopsi dari pihak pengguna (karena meningkatkan pemahaman pengguna atas teknologi yang ditawarkan). Insentif non-finansial untuk mendorong kegiatan riset dalam negeri juga telah dilakukan, antara lain melalui Peraturan Menteri Perindustrian No. 11/M-IND/PER/3/2006 tentang kebijakan penetapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP). Selain itu, dengan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan, badan usaha dimungkinkan mendapatkan akses kapasitas litbang melalui penempatan tenaga ahli atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga litbang pemerintah. Regulasi dan kebijakan pemerintah diperlukan untuk mengawal implementasi penguatan inovasi dapat berjalan konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat; [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya, proporsional kontribusinya, dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya; dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam pengembangan dan implementasi SINas. Bentuk kebijakan pemerintah yang lain adalah untuk mendukung kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan, tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi, bukan atas usulan pihak pengguna. Dalam beberapa kasus, industri hanya pada posisi memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak harus dalam bentuk pembiayaan bersama, tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Akan tetapi yang selalu perlu diperhatikan adalah apapun bentuk atau format riset kolaborasi tersebut, ia akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti memang merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat, bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. Memahami bahwa keberhasilan perkuatan inovasi tidak hanya tergantung pada kinerja masingmasing aktor inovasi (lembaga pengembang dan pengguna teknologi, serta lembaga intermediasi), tetapi juga sangat tergantung pada berbagai pihak yang ikut mewujudkan ekosistem inovasi yang lebih kondusif, maka pengembangan legislasi sebagai bagian penting dari ekosistem SINas perlu mendapat perhatian serius. Perlu dilakukan telaah secara cermat terhadap semua produk hukum yang terkait dengan upaya penguatan inovasi, baik langsung maupun tidak langsung. Identifikasi untuk hal-hal yang perlu disinkronisasi, direvisi, atau bahkan perlu dicabut, serta untuk hal-hal yang masih perlu pengaturan secara legal formal.

125

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

5.1.10. Berbasis Sumberdaya dan Memenuhi Kebutuhan Nasional Untuk mewujudkan SINas Indonesia yang ‘workable’, harus secara seksama mempertimbangkan potensi sumberdaya nasional, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan infrastruktur ekonomi dan sosial, kemampuan permodalan domestik (plus modal asing secara selektif), dan kapasitas pengembangan teknologi saat ini. Selain itu juga perlu diselaraskan dengan peraturan perudang-undangan yang berlaku, kebijakan publik, budaya kerja, keragaman sosio kultural dan tradisi, serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia lainnya.28 Pilihan landasan sumberdaya dan budaya sendiri dalam membangun inovasi nasional akan membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berpartisipasi aktif. Perlu dipahami bahwa upaya memajukan bangsa tidak dapat dilakukan dengan memilih jalan pintas, dengan mengabaikan pentingnya fondasi yang kokoh agar pengembangan dan keberlanjutan inovasi lebih terjamin. Pembangunan nasional tidak hanya dilakukan untuk rakyat tetapi juga harus dilakukan bersama rakyat. Indonesia sering dikategorikan sebagai negara yang sangat kaya akan sumberdaya alamnya. Provokasi ini menyebabkan Indonesia terlalu mengandalkan kekayaan sumberdaya alam tersebut sebagai modal utama pembangunan nasional, seolah sumberdaya alam tersebut akan selalu tersedia selamanya. Eksploitasi sumberdaya alam yang tidak terkelola secara bijak dibarengi dengan pembangunan yang tidak terprogram dengan baik, telah membawa Indonesia pada kondisi saat ini: tetap menjadi negara berkembang dengan penguasaan dan penerapan teknologi yang terbatas. Indonesia terkena fenomena ‘resource curse’29 dimana kemajuan pembangunannya tak sebanding dengan nilai eksploitasi sumberdaya alamnya. Pengelolaan sumberdaya alam yang bijak bukan hanya terbatas pada penggunaan dana hasil eksploitasi yang diarahkan untuk peningkatan kualitas layanan publik dan investasi untuk infrastruktur sosial, tetapi juga perlu diarahkan untuk mendukung pengembangan teknologi yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produktivitas industri barang dan/atau jasa, sehingga memberikan nilai tambah bagi setiap produk nasional. Produk ekspor Indonesia tidak boleh selamanya dibiarkan hanya dalam bentuk komoditas bahan baku industri atau hanya sampai produk setengah-jadi (intermediate products). Produk ekspor Indonesia harus secara maksimal diupayakan sudah dalam bentuk akhir yang dibutuhkan konsumen (consumer goods). Indonesia adalah negara maritim, tak ada yang bisa memungkiri kenyataan ini. Telah sering didengungkan bahwa Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas. Berdasarkan Deklarasi Juanda 1957, wilayah laut NKRI adalah sekitar 3 juta kilometer persegi. Setelah diterimanya
28

29

Sebagai bandingan, negara maju seperti Jepang juga membangun SINas-nya di atas landasan ‘environment, culture, tradition, and national character’ bangsanya sendiri. Hasil kajian Komarulzaman dan Alisjahbana (2008) untuk kasus Indonesia menunjukkan bahwa “There appears to be resource curse when we estimate the resource rent in its three components. Forest, oil and gas sector rent have positive effect on regional economic growth. But the resource curse may occur if these resources revenues are not invested properly in public sector, either for the provision of public services or in public investment. Meanwhile, mining sector has persistently negative effect on regional economic growth. The existence of this curse will be lessened if the mining sector rent revenues are reinvested in public sector investment.”

126

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, wilayah laut NKRI bertambah luasnya dua kali lipat, menjadi sekitar 6 juta kilometer persegi. Hal yang perlu digarisbawahi, berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia mendapatkan hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil dari garis pangkal lurus Nusantara atau sampai ke batas ‘continental margin’ jika masih ada kelanjutan alamiah pulau-pulau Indonesia di dasar samudera. Masalah pokoknya, apakah setelah berhasil mengklaim teritori wilayah laut ini kita telah melakukan langkah-langkah konkret untuk mengelolanya, sebagaimana amanah konstitusi -UUD 1945 pasal 33 ayat (3)- bahwa kekayaan sumberdaya alam harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kekayaan alam yang terkandung dalam wilayah laut Indonesia juga belum diinventarisasi secara baik. Banyak potensi sumberdaya kelautan yang kita miliki, tetapi sesungguhnya belum mampu kita pahami nilai kemanfaatan ekonomi dan ekologinya. Lebih parah lagi, justru sebagian mungkin belum kita ketahui eksistensi keberadaannya di wilayah laut Nusantara. Ketidakmampuan tersebut terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi kelautan yang belum berkembang di Indonesia. Ironis memang, sebuah negara maritim seperti Indonesia tidak memprioritaskan pengembangan teknologi kelautan. Ketertinggalan dalam penguasaan teknologi kelautan tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Indonesia perlu segera meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi kelautan yang menjadi modal nasional untuk mampu mengelola sumberdaya dan wilayah laut Nusantara. Pengelolaan kelautan yang dimaksud adalah memanfaatkan kekayaan sumberdaya yang dimiliki untuk menyejahterakan rakyat yang diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutannya dengan mematuhi kaidahkaidah ekologis. Teknologi yang dikembangkan perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dengan kearifan ekologi. Ragam teknologi berasas keseimbangan ekonomi-ekologi yang perlu dikuasai mencakup: pertama, teknologi penangkapan ikan, budidaya ikan dan biota laut, serta teknologi pengolahannya; kedua, (bio)teknologi untuk memanfaatkan biodiversitas sebagai sumber bahan baku industri dan sumber tetua untuk program pemuliaan tanaman dan ikan atau biota laut lainnya; ketiga, teknologi eksplorasi dan eksploitasi migas, bahan tambang lainnya dan sumberdaya energi terbarukan; dan keempat, teknologi konservasi sumberdaya kelautan, yang dapat juga dilebarkan cakupannya pada potensi pengelolaannya untuk pariwisata bahari. Keunikan geografis dan kekayaan biodiversitas ekosistem laut Indonesia merupakan modal untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak asing. Modal alamiah ini perlu dilengkapi dengan modal kecerdasan intelektual, yakni penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi kelautan oleh pakar dalam negeri sangat krusial. Tanpa penguasaan teknologi ini, maka kita tidak akan pernah mengetahui secara tepat dan komprehensif tentang ‘apa’ dan ‘berapa banyak’ sumberdaya yang dimilikinya di wilayah laut. Ketidakpahaman ini jelas akan menempatkan Indonesia pada posisi yang lemah dalam setiap ‘dispute’ internasional di wilayah laut. Argumen yang baik tidak akan mampu dibangun di atas fondasi iptek yang rapuh. Diplomasi untuk memperjuangkan harkat martabat bangsa juga tak akan dapat dimenangkan jika tanpa amunisi pemahaman tentang potensi sumberdaya

127

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Jakarta. Kebijakan pro-growth. Sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan perediksi kebutuhan di masa yang akan datang. Pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi sumberdaya manusia. maka idealnya tiga persen dari Produk Domestik Bruto dialokasikan untuk pengembangan teknologi. antara lain pada pidato berjudul ‘Pertumbuhan Harus Berkeadilan’ pada Pembukaan Pe rdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu meningkatkan intensitas upayanya dalam meningkatkan relevansi pendidikan agar permasalahan pengangguran terdidik yang mulai meningkat signifikan selama dasawarsa 2000an ini tidak menjadi lebih buruk. dan secara nyata memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat. [2] muatan kurikulum dan program studi yang ditawarkan. 128 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan pro-environment31 sudah sangat tepat. 2010) merupakan kekuatan besar untuk membangun bangsa ini. Tentu saja potensi sumberdaya alam Indonesia tidak hanya di laut. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa (BPS. Potensi sumberdaya lahan untuk mendukung produksi pertanian dan beragam bahan tambang (termasuk minyak dan gas walaupun mulai menipis) yang terkandung di dalamnya juga cukup penting untuk dikelola sebagai modal pembangunan perekonomian nasional. 18 Tahun 2002 . tetapi lebih dimaknai sebagai keberpihakan yang memberi peluang bagi seluruh rakyat untuk ikut berperan aktif membangun bangsa dan negara ini. pro-job. diiringi dengan kebijakan ekonomi yang tepat. Sebaliknya dapat menjadi beban yang maha berat jika harus dipikul oleh sebagian kecil dari populasi tersebut. jika semua (atau paling tidak mayoritas) secara aktif ikut berpartisipasi. 30 31 Jika mengacu pada ‘Barcelona Target’. teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang relevan dan sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya. dan [3] tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. ekonomi. Indonesia sebagai negara maritim segera mulai secara sungguh-sungguh berupaya untuk meningkatkan penguasaan tekno-ekologinomi laut. maka proporsi kapasitas tampung jenjang pendidikan tinggi perlu digeser dari dominan jenis pendidikan akademik (lebih mengutamakan pengkayaan pengetahuan) yang terjadi saat ini menjadi dominan pendidikan profesional (lebih mengutamakan ketrampilan teknis untuk menghadapi permasalahan nyata). yakni menyediakan dukungan pembiayaan yang memadai untuk pengembangan teknologi nasional30 dan juga mengawal pengembangan teknologi agar fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nyata. 3 Januari 2011. dan/atau sosial) tertentu saja. Namun demikian. ‘Four Track Strategy’ yang sering disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. memacu pertumbuhan ekonomi. pro-poor. Perlu digarisbawahi bahwa untuk penguasaan ketrampilan teknis tetap saja selalu membutuhkan pengetahuan dasar yang relevan. misalnya hanya dibebankan pada sekelompok elit (politik. selama awalan ‘pro’ tersebut tidak sekedar bermakna keberpihakan dalam konteks pembangunan untuk rakyat. Beberapa penyesuaian perlu segera dilakukan.seluruh wilayah Indonesia dan potensi manusianya. terutama pada jenjang pendidikan tinggi. Oleh sebab itu. perlu dilakukan pencermatan dua arah. Penyesuaian yang dirasakan perlu dilakukan adalah: [1] proporsi antara pendidikan akademik dengan pendidikan profesional. Teknologi dibutuhkan untuk mengolah sumberdaya alam menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

atau [3] masih ada kebutuhan aktual dari dunia kerja tetapi imbalan (finansial) yang didapatkan dari jenis pekerjaan ini tidak kompetitif dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain. ternak. Inovasi adalah tentang mengkonversi ide menjadi uang. mayoritas rakyat bekerja disektor produksi pangan (tanaman. yang dapat dikembangkan dan digunakan oleh masyarakat dan/atau IKM dalam proses produksi pangan untuk pemenuhan konsumsi 237 juta penduduk Indonesia. Faktor penyebab [1] terkait dengan kemudahan sarana dan prasarana penyelenggaraan pendidikan (juga berarti biaya operasional penyelenggaraan pendidikannya lebih mudah) sehingga banyak instutusi pendidikan (terutama swasta) yang ikut menyelenggarakannya. dan hasil hutan. Pengembangan teknologi sederhana tetapi bermanfaat akan jauh lebih baik dari pada mengembangkan teknologi super-canggih yang hanya berakhir di ruang pajang. Penyesuaian tersebut lebih ditekankan pada upaya meningkatkan relevansi substansi materinya sehingga lebih padu dengan permasalah aktual. dan ikan). Dengan demikian. adalah jauh lebih baik menyediakan teknologi sederhana yang sesuai. Selanjutnya. Faktor penyebab [2] terkait dengan bidang keilmuan yang relatif statis perkembangannya dan kebutuhan keahliannya juga terbatas. Program-program studi yang sudah kurang diminati perlu dievaluasi faktor penyebabnya. Pencerdasan hanya dapat dicapai dengan pendidikan yang bermutu. Teknologi yang dibutuhkan mungkin saja hanya merupakan teknologi sederhana. Akibatnya kelembagaan pendidikan lebih berfungsi sebagai mesin produksi untuk menghasilkan penyandang gelar semata dan tidak menjadi pengemban amanah konstitusi untuk mencerdaskan bangsa. jika diniatkan pengembangan inovasi adalah untuk melibatkan mayoritas rakyat Indonesia sebagai pelaku pembangunan. Pendidikan adalah untuk mencerdaskan bangsa. Faktor penyebabnya bisa dipilah menjadi: [1] penyelenggara pendidikan yang menawarkan program studi tersebut lebih besar kapasitasnya dibandingkan dengan kebutuhan dunia kerja. Akan tetapi. sehingga pasar dunia kerjanya cepat menjadi jenuh. Tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang terlalu berkiblat pada produktivitas selayaknya ditinjau kembali. Oleh 129 Naskah Akademik Perubahan UU No. [2] keahlian yang dihasilkan dari program studi tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan dunia kerja. jelas bahwa nelayan juga perlu mendapat perhatian. 18 Tahun 2002 . ikan. misalnya pekerjaan di sektor pertanian. ternak. maka teknologi yang sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas pangan sudah sepatutnya diprioritaskan. karena sering mengakibatkan kelembagaan pendidikan pengorbankan kualitas untuk mengejar kuantitas. Dengan demikian. Kontribusi nyata tenaga terdidik terhadap pembangunan nasional hanya mungkin terjadi jika keahlian dan ketrampilan yang diasah adalah relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Jika surplus tidak akan menjadi persoalan karena dengan mudah bisa diekspor karena permintaan pasar global semakin tinggi dengan pertambahan penduduk dunia. mencakup pangan asal tanaman. Pangan yang dimaksud adalah pangan dalam arti luas. Pembiayaan untuk pengembangan teknologi harus diposisikan sebagai investasi bukan sebagai belanja rutin. Pendidikan formal rakyat Indonesia saat ini mayoritas masih relatif rendah.Penyesuaian muatan kurikulum dan program studi tidak perlu diartikan sebagai perubahan mendasar dari kurikulum dan program studi yang ada. Faktor penyebab [3] karena bidang pekerjaan tersebut tidak menjanjikan secara ekonomi.

Hanya saja kualitas dan intensitasnya terus perlu ditingkatkan. serta memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan sekaligus pemerataan kesejahteraan. dan nilai-nilai karakter bangsa lainnya merupakan faktor yang akan ikut mempengaruhi tingkat keberhasilan inovasi nasional. Idealnya kegiatan ini dilandasi oleh asas saling membutuhkan dan saling menguntungkan atau bersifat mutualistik. Di 130 Naskah Akademik Perubahan UU No. Akan lebih intensif. Saat ini. tetapi sangat potensial diacu untuk membangun Sistem Inovasi Daerah (SIDa). Kearifan tradisional merupakan akumulasi pengetahuan selama periode yang panjang. maka mungkin tidak dapat menjadi acuan dalam pengembangan SINas. walaupun unsur-unsur ini bersifat tak-berwujud dan sulit diukur secara objektif. Walaupun kadang sulit dijelaskan secara ilmiah. jika pelaku bisnis/industri tersebut menjadi ‘mitra penuh’ dari tenaga pengajar di perguruan tinggi. Penyesuaian terhadap tradisi. Hal itu berbeda dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang jelas wujudnya dan dapat dikuantifikasi besaran potensinya. memperbesar porsi sumberdaya manusia yang menjadi penggerak pembangunan dan sekaligus mengurangi porsi yang hanya menjadi beban pembanguan. juga perlu dibarengi dengan mengundang pelaku bisnis dan industri untuk menularkan pengetahuan dan/atau ketrampilan di lingkungan akademis. sehingga dapat dilakukan pengembangan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensinya. perlu mempertimbangkan potensi sosial masyarakat. Ukuran keberhasilan program pemagangan tergantung pada kualitas pembelajaran yang berlangsung selama peserta didik ditempatkan di lingkungan dunia kerja. relevansi menjadi isu pokok. terutama untuk mata kuliah tertentu yang kental kaitannya dengan kebutuhan implementasinya di dunia kerja. Namun demikian dengan kecermatan akademis. Kegiatan pemagangan (internship) telah dilakukan sejak lama di Indonesia. 18 Tahun 2002 . pelaku bisnis/industri umumnya hanya diundang sesekali ke lingkungan akademis dalam rangka kegiatan spesifik tertentu. selain potensi sumberdaya alam dan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas. norma. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Perindustrian perlu meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksinya dengan pihak industri. Teknologi yang sesuai dengan potensi sumberdaya alam lokal/nasional akan lebih terjamin keberlanjutannya dan sekaligus dapat mewujudkan kemandirian bangsa. etika. namun probabilitas kebenarannya relatif tinggi dan sudah teruji. tetapi jelas dampaknya dapat dirasakan. Upaya mewujudkan inovasi nasional yang lebih produktif dan efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Padu silang pendidikan-bisnis ini perlu dilakukan secara dua arah. Potensi sosial budaya dapat dikategorikan sebagai potensi non-ekonomi ini umumnya bersifat ‘intangible’. Teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsi mayoritas penduduk akan membuka peluang untuk berdampak lebih massal. budaya. banyak pula kearifan lokal yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan sistematis dan logis. Selain pemagangan peserta didik di lingkungan kerja. Karena sifatnya sering sangat spesifik dan lokal. Kearifan tradisional (tradisional wisdom) dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan sistem inovasi. Ide hibridisasi kegiatan pendidikan dengan aktivitas bisnis/industri memang bukan merupakan sesuatu yang baru.sebab itu. Sulit diukur secara kuantitatif dan divisualisasikan.

serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. 5. maka penting dibuat Undang-Undang tentang iptek guna 131 Naskah Akademik Perubahan UU No. Menjadi landasan hukum yang kokoh dalam memberikan peluang dan kesempatan yang lebih luas pada masyarakat. Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi DPR dalam Rapat Paripurna DPR-RI. maupun masyarakat merupakan modal keberhasilan pengembangan suatu SINas. 3. bisnis. kualitas sosial budaya yang selaras dengan prinsip-prinsip good governance dalam penyelenggaraan atau pengelolaan lembaga pemerintah. Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. tanggal 11 September 2001 terhadap RUU Sistem Nasional Penelitian.2. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sistem Nasional Penelitian. lembaga pendidikan dan pemerintah untuk mengembangkan iptek secara optimal. dan Penerapan Iptek adalah: 1. lembaga usaha. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Beberapa contoh di atas cukup untuk justifikasi tentang pentingnya dimensi sosial dalam mewujudkan inovasi nasional yang lebih komprehensif. Oleh sebab itu. 2. Menunjukan perlunya keterkaitan antara pengembangan iptek dengan upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia secara langsung dalam rangka memperoleh kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera.era modern ini. dan penerapan iptek menjadi undang-undang. 18 Tahun 2002 5. 18 Tahun 2002 ini sesuai dengan pemandangan umum fraksi-fraksi DPR terhadap urgensi sistem nasional penelitian. perlu juga secara sungguh-sungguh diintegrasikan ke dalam suatu formula kebijakan sebagai upaya membangun SINas. Negara Indonesia perlu segera memiliki suatu peraturan perundang-undangan yang komprehensif di bidang iptek. Urgensi Penguatan Inovasi UU No.1. 4. 5.2. pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk mempercepat pencapaian tujuan negara. Pengembangan. lembaga riset dan teknologi. Pengembangan. Keharusan untuk mengembangkan iptek yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan melibatkan publik (adanya audit iptek). Tujuan diundangkannya UU No. Menunjukan adanya komitmen yang lebih tegas dari pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang lebih komprehensif dalam membangun dan mengembangkan iptek. Pengembangan. 18 Tahun 2002 .

kenyataannya upaya penguatan inovasi nasional yang dicirikan dengan interaksi elemenelemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang baik.memberi landasan hukum bagi unsur-unsur pembentuk kemampuan Iptek serta sebagai koridor dan frame pengembangan Iptek di Tanah air kita. serta perlunya konsensus nasional tentang SINas. sumber daya. menyebutkan untuk mencapainya diperlukan adanya insitusi yg kuat dari sisi legalitas dan otoritas. pengembangan iptek seharusnya tidak terpisahkan dalam input dan output ekonomi nasional. produktivitas. Untuk itu. pengembangan dan penerapan iptek. yaitu penelitian. Kurangnya komunikasi dan interaksi antar elemen penghasil dan pengguna teknologi memberikan dampak terhadap penerapan berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil penghasil teknologi. Menurut UU No. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 menekankan perlunya penguatan kelembagaan dari sisi penghasil iptek dan pengguna iptek. UU No. Selain itu untuk mendukung penguatan inovasi nasional diperlukan efektifitas dan efisiensi regulasi dan sistem insentif yang mendukung inovasi nasional. Padahal dalam pengembangan ekonomi yang berbasis pengetahuan. Hal ini menjadikan hasil penelitian dan pengembangan belum didayagunakan sepenuhnya menjadi berbagai inovasi. program. serta adanya sistem aliran pengetahuan dan mobilitas human capital antara perguruan tinggi dan lembaga riset dengan perguruan tinggi. Di Indonesia. teknisi maupun SDM yang terlibat di dalam kegiatan litbang. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). perguruan tinggi. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga idealnya menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. beberapa kebijakan pemerintah juga menekankan perlunya penguatan inovasi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. 132 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sedangkan di sisi industri. komunikasi dan interaksi yang intens antara lembaga penelitian. peningkatan pemanfaatan teknologi dalam negeri masih diperlukan. Oleh karena itu. dan jaringan iptek secara lebih effektif. kualitas. 18 Tahun 2002 pembangunan sistem inovasi nasional dilakukan melalui penelitian. RPJM 2010-2014 menekankan adanya skema pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat inovasi nasional. sumberdaya. interaksi antara penghasil dan pengguna iptek. Dalam Bab IV Buku II RPJM 2010-2014. dan kesejahteraan peneliti. adanya tagline negara sebagai dasar penguatan SINas. 18 Tahun 2002 diharapkan menjadi wadah untuk menampung dan menjadi alat pemecah kesulitan segala hal yang terkait dengan inovasi. Selain itu lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu meningkatkan produktivitas penelitian dan pengembangan melalui pengembangan dan pemanfaatan kelembagaan iptek. selain mengurangi ketergantungan teknologi asing. Hal ini tidak mudah karena Indonesia menghadapi berbagai kendala dan penghambat dari sisi kelembagaan. Termasuk perlunya mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat. dan sebagainya. Selain itu. dan meningkatkan kontribusi iptek dalam aktivitas perekonomian dengan meningkatkan Total Factor Productivity (TFP). perekayasa. Sebagai upaya mencapai tujuan sebagaimana disebutkan dalam Bab IV Buku II RPJM 20102014. Upaya-upaya tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kuantitas. 18 Tahun 2002 .

18 Tahun 2002 Muatan rancangan undang-undang perubahan UU No. dan sesuai kebutuhan dan kondisi. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. SINas adalah: “suatu jaringan rantai antara institusi publik. setidaknya memuat materi kebijakan penguatan inovasi yang telah dirumuskan dalam Perpres No. 32 Tahun 2011 dan Kepmenristek No. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. komunitas ilmuwan dan swasta. Untuk itu.2. mendayagunakan. 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. dan pemanfaatan teknologi. Hal yang perlu dicatat dalam usulan ini adalah penguatan inovasi dapat dilakukan melalui tujuh langkah perbaikan ekosistemnya (Gambar 17). Menurut Keputusan Menristek No.Presiden Dr. ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. 5. merekayasa inovasiinovasi di berbagai sektor. dan d. Presiden menekankan agar penguatan inovasi nasional disesuaikan dengan corak yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. di Serpong pada tanggal 20 Januari 2010 juga menekankan perlunya upaya-upaya untuk penguatan inovasi nasional. Perpres No. Menurut Perpres No. difusi. 18 Tahun 2002 Sejalan dengan pengertian SINas dalam Perpres No. Tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi ini mencakup: 1) Sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. dengan memperhatikan capaian jangka panjang untuk mendorong. 32 Tahun 2011. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat.” a.2. c. Upaya ini mencakup pengaturan kelembagaan secara lebih sistemik. 133 Naskah Akademik Perubahan UU No. mendukung menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. 246 /M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. 246/M/Kp/IX/2011. 32 Tahun 2010. Kementerian Riset dan Teknologi mengeluarkan Keputusan Menristek No. mendukung. pengertian dasar berkaitan dengan SINas mencakup: . Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. menyebut strategi penguatan inovasi nasional dengan usulan inisiatif inovasi 1-747. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. lembaga riset dan teknologi. pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan – baik pemerintah maupun swasta – yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. penguatan SINas agar didasarkan pada kemitraan pemerintah. dan meningkatkan kolaborasi dengan dunia internasional. b. Peraturan perundang-undangan yang ada bahkan secara jelas menyebutkan pengertian dari SINas. 18 Tahun 2002.

2) Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa dalam upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif memerlukan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas. Tugas pemerintah yang paling krusial di sini adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung inovasi nasional yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. 4) Pembangunan klaster inovasi daerah. Gambar 17. 3) Pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. 18 Tahun 2002 . Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. 32/2011 ttg MP3EI) Kepmenristek No. 5) Sistem remunerasi peneliti. 6) Revitalisasi infrastruktur R&D. 7) Sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. Kinerja aktor-aktor 134 Naskah Akademik Perubahan UU No. Usulan Inisiatif Inovasi 1-747 (Perpres No. Panggung yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat.

18 Tahun 2002. 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial. Peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ inovasi. 10) Sinkronisasi dan optimalisasi UU No 18 Tahun 2002 serta peraturan pelaksanaannya. 135 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kebijakan strategi penguatan inovasi melalui usulan inisiatif inovasi 1-747 maupun penentuan arah penguatan SINas untuk peningkatan kontribusi Iptek terhadap pembangunan nasional seharusnya telah dapat menjadi acuan untuk mendorong inovasi nasional. keuangan. sebagaimana telah diuraikan dalam kebijakan arah penguatan SINas. 4) Optimalisasi peran lembaga intermediasi. ketenagakerjaan. lebih dari 237 juta jiwa (BPS. perindustrian. 5) Regulasi dan kebijakan yang kondusif. perlu dilakukan perubahan terhadap UU No. tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik. Nuansa pengembangan iptek yang masih bersifat supply-push. 18 Tahun 2002 . 2) Revitalisasi kapasitas lembaga pengembang teknologi . Namun demikian. 8) Pembentukan konsorsium inovasi . tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi pengguna teknologi. Susilo Bambang Yudhoyono. 3) Peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi . dan perdagangan agar para aktor inovasi dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. 11) Pengembangan SINas harus berbasis sumberdaya nasional dan unt pemenuhan kebutuhan domestik. Kedua peraturan tersebut dapat dikatakan merupakan dasar kebijakan bagi upaya-upaya penguatan inovasi nasional. juga melihat populasi Indonesia yang besar.32 Oleh karena itu upaya strategi pengembangan dan penguatan inovasi agar ditekankan pada: 1) Pengembangan teknologi yang difokuskan untuk pemenuhan realita kebutuhan atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna teknologi. pada beberapa kesempatan. agar diubah agar selaras dengan orientasi 32 Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia. 6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang-intermediasi-pengguna teknologi. baik berupa barang maupun jasa.pelaku inovasi pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik). 9) Revitalisasi peran Dewan Riset Nasional (DRN). terutama di sektor ristek. 35 Tahun 2007 secara efektif dan utuh. pendidikan. Implementasi PP No. 7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) untuk mendukung implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. Berbagai negara.

Tabel 9. • Pengembangan SINas sesuai kebutuhan dan kondisi. Bab IV Materi Pengaturan • Penguatan insitusi • Jakstranas sebagai konsensus nasional dalam upaya penguatan SINas. serta arahan Presiden RI. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 • Penguatan interaksi penghasil dan pengguna iptek • Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam sektor industri • Mendorong investasi industri untuk litbang Iptek masih sangat terbatas • Mendorong produktivitas litbang • Meningkatkan kualitas. secara garis besar menekankan pada empat hal. • Identifikasi dan penetapan sistem insentif yang mendukung SINas. Dokumen tersebut menekankan beberapa hal terkait dengan upaya penguatan inovasi nasional (Tabel 9. Komite Inovasi Nasional (KIN) • Mendorong inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. Dua kebijakan tersebut.pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. • Penguatan aliran pengetahuan dan mobilitas human capital. dan kesejahteraan SDM • Mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat Sambutan Presiden SBY.). Serpong. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. produktivitas. • Pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat SINas. 20 Januari 2010. Kecenderungan global saat ini juga lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang relevan dihadapi masyarakat. pengembangan. kebijakan-kebijakan lain yang terkait adalah dokumen RPJM 2010-2014. dlm Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masy Ilmiah. 18 Tahun 2002 • Mengurangi ketergantungan teknologi asing . • Pengembangan kemitraan dan kolaborasi dengan dunia internasional. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. Selain dua kebijakan tersebut di atas. Kebijakan Penguatan Inovasi Fokus Buku II RPJM 20102014. • Pengembangan pusat inovasi untuk mendorong industri kecil dan menengah • Pengembangan klaster inovasi daerah • Revitalisasi infrastruktur R&D • Sistem dan manajemen pendanaan riset • Sistem remunerasi peneliti • Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia • Sistem insentif dan regulasi yang mendukung. dan Kebijakan Strategis Nasional Iptek 2010-2014. Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. yaitu: 136 Naskah Akademik Perubahan UU No.

pendayagunaan. • Pasal 5 ayat (1) – keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu • Pasal 10 ayat (2) – peran lembaga penunjang dalam mendorong sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. dan pemanfaatan teknologi. pendayagunaan. pemanfaatan kekayaan intelektual dan 137 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tabel 9.). pengembangan.). penguatan jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek. 18 Tahun 2002 Fokus UU No. rekayasa inovasi . peningkatan hasil. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. Penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. tentunya agar diarahkan untuk mengakomodir upaya penguatan inovasi. penguatan daya dukung iptek. lembaga litbang. Perubahan ini juga diarahkan untuk memperkuat usulan inisiatif inovasi 1-747. rekayasa inovasi pengembangan. inovasi.pengembangan. 18 Tahun 2002. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. universitas. 18 Tahun 2002 .invensi di bidang iptek • Pasal 9 ayat (2) – pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang • Pasal 13 ayat (4) – pengelolaan. dan swasta. pemanfaatan. Pengaturan tersebut mencakup antara lain perlunya adanya keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu. difusi. dan 8. Perubahan ketentuan UU No. 18 Tahun 2002 di atas. 18 Tahun 2002.5. 7. dan pemajuan iptek Peningkatan penerapan dan diseminasi hasil litbangrap (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yg mempunyai • Pasal 8 ayat (2) . Fokus Perubahan dalam UU No. dan difusi teknologi • Pasal 16 ayat (1) – alih teknologi kekayaan intelektual dan hasil litbang • Pasal 27 ayat (3) – dukungan dana bagi penguasaan. serta penentuan arah penguatan SINas (Tabel 10. dan pemanfaatan teknologi. Keempat hal tersebut di atas telah diatur dalam UU No. 6. pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang. pemanfaatan dan pemajuan iptek • Pasal 9 ayat (1) – fungsi badan usaha dalam perekayasaan. difusi. lembaga ristek. dan badan usaha • Pasal 13 – jaringan informasi iptek • Pasal 15 ayat (1) – jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur kelembagaan iptek • Pasal 17 ayat (1) – kerjasama internasional • Pasal 28 ayat (2) – jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek Peningkatan hasil. • Pasal 4 – penguatan daya dukung iptek • Pasal 6 ayat (2) – fungsi kelembagaan dalam penguasaan. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. dan penguatan audit teknologi (Tabel 9. lembaga ristek. dan swasta. universitas.

inovasi. 18 Tahun 2002. dan audit teknologi dan SNI Tabel 10. dan inovasi dalam negeri • Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 9. Pasal 6 Pasal 9 Pasal 19 138 Naskah Akademik Perubahan UU No. untuk pemenfaatan hasil litbang. 18 Tahun 2002 hasil litbang Pasal 19 ayat (3) – penguatan tarikan pasar bagi hasil litbang. dan sertifikasi keahlian. Setelah Pasal 19 ditambahkan satu pasal. dan difusi teknologi. Pasal 13 • Ditambahkan ayat baru. Ruang lingkup kegiatan inovasi adalah NKRI. UU No. • Penambahan ayat unt penyebaran informasi hasil litbang dan kekayaan intelektual. pemerintah/pemerintah daerah dimungkinkan memberikan stimulan dan fasilitas untuk peningkatan kemampuan perekayasaan.Fokus nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. Usulan Perubahan dalam UU No. • Pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Pasal 12 • Ditambahkan 2 ayat. perekayasaan. • Ketentuan ini diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pasal 15 Pasal 17 Pasal 18 Penambahan pada ketentuan yang ada dg penekanan pada kemitraan. Pasal Pasal 3 Usulan Perubahan Ditambahkan 2 ayat unt mengakomodir amandemen keempat UUD 1945 Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 6. yang menekankan penyusunan Jakstranas Iptek ditetapkan dengan peraturan pemerintah. serta peningkatan pengelolaan kekayaan intelektual dan hasil litbang. 18 Tahun 2002 . persyaratan. serta kode etik. mengenai perlunya menentukan standar. Setelah Pasal 17 ditambahkan mengenai pengaturan MTA Setelah Pasal 18 ditambahkan penekanan pada Jakstranas Iptek sebagai acuan pengembangan iptek.

139 Naskah Akademik Perubahan UU No. Eksistensi inovasi tidak secara langsung dapat dijamin oleh keberadaan lembaga pengembang teknologi yang maju dan lembaga pengguna teknologi dengan kapasitas produksi yang besar. ataupun pemerintah. masyarakat. konstitusi Indonesia juga secara jelas dan tegas mengamanahkan bahwa pembangunan iptek ditujukan untuk meningkatkan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. yakni mewujudkan inovasi nasional yang lebih efektif dan produktif. terutama sektorsektor perekonomian. Dalam konteks ini. karena yang akan menentukan adalah kualitas interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut yang dibuktikan dengan terjadinya: [1] aliran informasi kebutuhan dan/atau persoalan teknologis yang dihadapi oleh para pengguna yang sampai ke pengembang teknologi. Dengan demikian.Bab 6 Rangkuman dan Rekomendasi 6. tentu dimaksudkan bahwa pengembangan teknologi harus diarahkan untuk menyejahterakan rakyat dan peningkatan peradaban bangsa Indonesia. 18 Tahun 2002 . dan [2] aliran teknologi yang relevan dan sesuai kapasitas adopsi pengguna.1. aktivitas riset di masa yang akan datang perlu lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menyediakan solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi para pengguna teknologi. Kecenderungan global saat ini dan kepentingan nasional dalam rangka menunaikan amanah konstitusi sebetulnya berjalan paralel dan menuju satu muara. Dari sisi lain. baik industri. Arah pembangunan iptek perlu diupayakan menuju peningkatan kontribusi teknologi terhadap pembangunan berbagai sektor. yang dihasilkan oleh pengembang dan diimplementasikan oleh pengguna dalam proses produksi barang/jasa sesuai kebutuhan konsumen atau permintaan pasar. terutama pasar domestik. Rangkuman Kepentingan nasional dan kecenderungan global membutuhkan perubahan yang mendasar tentang arah pembangunan iptek.

serta juga peran intermediasi dan fasilitasi agar interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut dapat lebih diintensifkan. Nyaman dalam pengertian kebijakan-kebijakan sektoral tersebut bermuara pada kondisi ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi ini diarahkan agar lembaga ini tidak hanya handal dalam mendukung aktivitas riset dan pengembangan (R&D capacity) semata.Dalam rangka mendayagunakan secara optimal kapasitas lembaga pengembang teknologi yang sudah baik. Gabungan antara STP dan IP ini akan dapat menjadi model SINas Indonesia yang handal. dan perdagangan. maka perlu dilakukan refocusing agar kapasitas tersebut dapat diarahkan sesuai dengan prioritas untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna. termasuk regulasi dan kebijakan riset dan teknologi. yang masing-masing fokus pada isu-isu ekonomi strategis sesuai dengan potensi 140 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi juga dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk mengakses infromasi. Fasilitasi pemerintah untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi dapat juga dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor-aktor inovasi tersebut untuk berinteraksi dalam satu kawasan. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. ketenagakerjaan. Upaya ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kompetensi sumberdaya manusia pada lembaga pengguna (industri dan pemerintah) atau pengguna individual dalam masyarakat. perindustrian. mitra kerja potensial. keuangan. kawasan Puspiptek Serpong sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. Untuk peran intermediasi dapat juga dimainkan oleh lembaga non-pemerintah. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. Mantab dalam makna mendapat dukungan dari berbagai regulasi dan kebijakan dari sektor-sektor yang terkait langsung dan berpengaruh nyata terhadap proses mewujudkan dan perkuatan inovasi nasional. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi perlu diimbangi dengan upaya peningkatan kapasitas adopsi teknologi pada lembaga pengguna. pendidikan. 18 Tahun 2002 . Ide ini diimplementasikan dengan membangun Science and Technology Park (STP). Sejalan dengan pengembangan MP3EI. diperlukan upaya pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) pada seluruh koridor pembangunan perekonomian nasional. disarankan dinamakan sebagai ‘Indonesian InnoPark’. Interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi membutuhkan ‘panggung’ yang yang mantab dan nyaman. Untuk kondisi Indonesia. dan sumber pembiayaan eksternal (sourcing capacity) serta kapasitasnya dalam mendifusikan hasil riset dan teknologi kepada pengguna potensialnya (disseminating capacity). Pengembang dan pengguna teknologi sebagai aktor utama dalam penguatan inovasi nasional sering masih membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan kebijakan yang memotivasi dan berkesesuaian. Pembentukan unit kerja dalam struktur organisasi lembaga pengguna dan/atau peningkatan aktivitas in-house research pada lembaga pengguna terbukti dapat mendorong peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi.

Memahami bahwa satu koridor ekonomi masih dapat dijumpai keragaman potensi ekonominya. Dalam konteks penguatan inovasi nasional. dan martabat bangsa Indonesia. yang terkait langsung dengan upaya mencapai sasaran bersama yang telah disepakati. 18 Tahun 2002 dan PP No. maka sangat mungkin pada masing-masing koridor dikembangkan beberapa pusat unggulan sesuai dengan realita kebutuhannya. Orientasi pengembangan inovasi nasional yang berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. anggota konsorsium merupakan representasi dari pengembang teknologi.2. serta koordinasi antara lembaga pengembang teknologi. dan pemerintah sebagai pengguna teknologi. termasuk sumberdaya alam. Dewan Riset Nasional (DRN) sebagai lembaga non-struktural yang terkait langsung dengan upaya membangun inovasi nasional perlu lebih dioptimalkan perannya. Kemungkinan penerbitan Undang-Undang Sistem Inovasi Nasional juga merupakan salah satu alternatif yang perlu diekplorasi lebih lanjut. atau bahkan dilengkapi sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. Untuk revitalisasi peran DRN ini. Alternatif lain yang dapat didorong adalah membangun konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dari anggota konsorsium. maka beberapa butir rekomendasi yang dapat disampaikan adalah: (1) Pengembangan teknologi Indonesia perlu difokuskan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna 141 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengguna teknologi. dan dapat juga jika dianggap strategis melibatkan lembaga penunjang tertentu. terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan iptek. Semua langkah-langkah yang akan ditempuh dalam rangka mewujudkan atau perkuatan inovasi nasional yang telah diuraikan di atas tetap secara konsisten berbasis pada potensi sumberdaya nasional. manusia. Regulasi dan kebijakan yang ada saat ini dirasakan masih perlu disinkronisasikan. lembaga intermediasi. diperbaiki. dan konsisi sosio-kultural serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. dan untuk menyediakan solusi teknologi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. Kemungkinan untuk reposisi DRN juga perlu mendapat pertimbangan agar peran koordinasi lebih efektif dapat dilaksanakan. Rekomendasi Berdasarkan telaah yang telah dilakukan secara komprehensif ini. 6. Selanjutnya langkah ini juga harus fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nasional. merekomendasikan arah dan prioritas riset nasional. industri.ekonomi masing-masing wilayah koridor. 18 Tahun 2002 . maka keanggotaan DRN perlu disesuaikan agar secara seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. termasuk pelaksanaan UU No. harkat. serta dari unsur pemerintah. 35 Tahun 2007. termasuk permintaan pasar domestik.

(8) Pembentukan konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dan memiliki nilai strategis nasional perlu didorong karena akan menjadi vehicle yang efektif sebagai model implementasi SINas. serta dari unsur pemerintah. (2) Kapasitas lembaga pengembang teknologi perlu direvitalisasi agar mempunyai tiga kapasitas yang dibutuhkan dalam menopang penguatan inovasi nasional. melalui pemberlakukan regulasi dan kebijakan yang kondusif. 35 Tahun 2007 142 Naskah Akademik Perubahan UU No. dimana kawasan Puspiptek Serpong dapat diprioritaskan untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP.teknologi. pendidikan. dan perdagangan. (4) Peran lembaga intermediasi perlu lebih dioptimalkan sehingga interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi dapat lebih intensif dan produktif. dan kapasitas difusinya. dan lembaga pemerintah sesuai dengan konsepsi penguatan SINas. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. (7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) perlu segera diinisiasi dalam rangka memberikan dukungan terhadap implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. Pengembangan. terutama di sektor riset dan teknologi. antara lain melalui perbaikan komposisi keanggotaannya agar secara lebih seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. yakni meningkatkan kontribusi teknologi terhadap percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Peran lembaga intermediasi perlu diperluas sehingga tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi para pengguna teknologi. ketenagakerjaan. perindustrian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta turunannya PP No. (6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) perlu disegerakan agar tersedia wahana untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi. keuangan. termasuk masyarakat. yakni kapasitas riset dan pengembangan. (5) Pemerintah menyiapkan ‘panggung’ bagi para aktor inovasi agar dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. industri. sehingga teknologi dapat secara nyata berkontribusi terhadap pembangunan nasional. Kemungkinan reposisi DRN juga perlu dipertimbangkan agar peran koordinasi DRN menjadi lebih efektif. kapasitas sourcing. (3) Kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi perlu ditingkatkan agar proses difusi teknologi dalam rangka mewujudkan inovasi nasional dapat lebih berpeluang untuk terlaksana. 18 Tahun 2002 . (10) UU No. (9) Peran Dewan Riset Nasional (DRN) perlu direvitalisasi. Partisipasi pihak non-pemerintah perlu dirangsang untuk berperan dalam intermediasi ini. dengan demikian maka upaya penguatan inovasi dapat mengalami akselerasi.

143 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Difusi Teknologi perlu disinkronisasikan. harkat. (11) Orientasi pengembangan inovasi nasional harus berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. Inovasi. dan martabat bangsa Indonesia. atau bahkan dilengkapi dengan produk turunannya sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. 18 Tahun 2002 . diperbaiki.tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan.

Assessing the Distributional Power of National Innovation System: pilot study of the Netherland. Jakarta Casey. 1996.R. 2008. 144 Naskah Akademik Perubahan UU No. P. 2009a. Establishing Standards for Social Infrastructure. and M. and social systems. Fagerberg. 1994. Nelson. 2009. 2008. Research Policy 37:1417-1435 Firdausy. Research Policy 34(8):1173-1190 Bathelt. Ipswich. 1987. S. Gramedia Pustaka Utama. B. London.N. Cambridge (USA). Catch-up and convergence in the postwar growth boom and after. Soete. 1995. C. The Belknap Press. Jakarta. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Developing science. institutions. C. 2010. And L. Gramedia Pustaka Utama. and E. 1962. Jadikan Iptek sebagai HAM. C. Freeman. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Review of Industrial Organization 11:601-616 Haryoto. Asheim. Coenen. J. C. Srholec. Technology and Economic Performance: lessons from Japan. and L.M. L. Oxford (UK). Economic Backwardness in Historical Perspective. Wolf (eds). Jakarta. Hertog. 2003. J. Foresight. Apeldoorn. Regulasi/Deregulasi. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 2005. 2009b. Geographies of Production: growth regimes in spatial perspective – innovation. Research Policy 38:1505–1516 BPS. Capabilities and Economic Development. Government centrality to university–industry interactions: University research centers and the industry involvement of academic researchers.M. Jakarta. P. Netherland. Dalam: Kadiman. H. Oxford University Press. A. Firdausy. Membangun Iptek yang Memihak Rakyat. Badan Pusat Statistik. Center for Technology and Policy Studies. Convergence of Productivity: Crossnational studies and historical evidence. Gramedia Pustaka Utama. Research Policy 38:583–589 Gerschenkron. R. Baumol. National Innovation Systems. Haagedoorn. Pinter. 18 Tahun 2002 . 2005. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. technology and innovation indicators: What we can learn from the past. Knowledge bases and regional innovation systems: comparing Nordic clusters. Iptek sebagai Keharusan untuk Pertumbuhan Ekonomi. Jakarta.J. 2009. 2009. Trends and Patterns in Strategic Technology Partnering since the Early Seventies. Hasta. M.T. In: W. University Of Queensland. E. Statistik Indonesia. Freeman. Progress in Human geography 27(6):763778 Boardman.C.Referensi Abramovitz.

12-15 April 2011. Uyarra. Technological Forecasting & Social Change 76:1177–1186 Lundvall. 23 November 2010.A. dan M. Meyer. Universitas Padjadjaran. Jakarta. The role of the technology barometer in assessing the performance of the national innovation system. Dalam: Kadiman. Alisjahbana. Revitalisasi (Reformasi) Lembaga Litbang untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. Testing the Natural Resource Curse Hypothesis in Indonesia: Evidence at the Regional Level. Paper presented at the OECD Workshop on New Indicators for the Knowledge-based Economy. Systemic Bibliometric Indicators for the Knowledge-based Economy. Research Policy 30(7):1091-1114 Loikkanen. Triple Helix indicators of knowledge-based innovation systems: Introduction to the special issue. 19-21 June. Lakitan. Laranja. Flanagan. and K. Kadiman. Lakitan. E. Simfoni Inovasi: cita dan realita. and Armida S. Policies for science. 2011b. 2008. 1992. 2004. Hidayat. 18 Tahun 2002 . T. Komarulzaman. Jakarta. M. Canadian Journal of Economics 37(4):1118-1150 Liu. 23 November 2010. D.I. P. 2009. and K.. peluang. Ahlqvist and. Total Factor Productivity and the Measurement of Technological Change. X. K. Bandung. 2008. Jakarta. R.D. Jakarta. 200602. 2001. Lakitan. A. L. Research Policy 37:823-835 Leydesdorff. Gramedia Pustaka Utama. National System Innovation: towards a theory of innovation and interactive learning. Keynote speech pada Seminar dan Lokakarya Nasional Pengembangan Agroindustri Kalimantan Selatan: prospek. H. 2008. Universitas Sahid. Foresight. London. 23 Juni 2011.Hicks. Indikator Kinerja Lembaga Litbang di Era Informasi Terbuka. Carlaw. 2006. and S. 2010. Working Paper in Economics and Development Studies No. Banjarbaru. Pellinen. Universitas Lambung Mangkurat. Perencanaan Lintas-Sektor. 1996. Kadiman. technology and innovation: Translating rationales into regional policies in a multi-level setting. B. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Makassar. B. 2009. 145 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan potensi. Simfoni Inovasi: cita dan realita. K. And S. Katz. Revitalisasi Kelembagaan Riset dan Pengembangan untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. White. Keynote speech pada Seminar Revitalisasi Kelembagaan Litbang. serta kendala. Makalah pengarahan pada Temu Peneliti Badan Litbang dan Diklat VIII Kementerian Agama.. 2010. Pinter. Foresight. B. Membangun Relasi Akademisi-Bisnis-Pemerintah. T. 2011a.G. B. Membangun Agroindustri dan Mewujudkan Sistem Inovasi: agar teknologi berkontribusi pada kesejahteraan rakyat. Universitas Sahid Jakarta. Research Policy 35:1441–1449 Lipsey. Ibrahim. Seminar Nasional Revitalisasi Lembaga Litbang. Comparing innovation system: a framework and applications to China’s transitional context. D. Paris. 2006.

Prihandana. Paris.Malerba. Organisation for Economic Co-Operation and Development. Corporate Innovation at Work: Defining the innovation consortium. and K. Industry Studies of Innovation Using CIS Data: computer and office machinery. Patel. 2008a. MEXT. Analisis Undang-undang No. R. Jakarta. France. dan Prakoso Bhairawa Putera. Cooperation and Development. Technology. 1997. Virtual Consulting International Ltd. LIPI Press: Jakarta Nelson. J. European Journal of Operational Research 207:1147–1161 Mulatsih. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Jakarta. OECD. France. 2005. 2010. Tokyo. Teknologi dan Tanggung Jawab Sosial. The Economic Foundations of Technology Policy: equilibrium and evolutionary perspective. The Knowledge-Based Economy. and G. Paper presented at the Eurostat Conference on Innovation Measurement and Policies. S. Sixth edition. Foresight. Ministry of Education. Sri. Mingers. Oxford. Industri. M. and Innovation Policy. Science and Technology. France. Foresight. Organisation for Economic Cooperation and Development. Strategic Priorities for Science. 1995. New York. Metcalfe. Blackwell Publishers. OECD. 2008. Culture. Paris. In: P. Oxford. OECD. Organisation for Economic Cooperation and Development. Frascati Manual: The Proposed Standard Practice for Surveys of Research and Experimental Development. Organisation for Economic Co-Operation and Development.. The Nature and Economic Importance of National Innovation Systems. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Dalam: Kadiman. Paris OECD. R. White. Paris OECD. 2008b. National Innovation Systems. Stanway. OECD. Oxford University Press. Panigoro. 1993. Handbook of the Economic of Innovation and Technological Change. Innovation Strategies: scoping document. Science Technology and Innovation Review No. Paris. Foresight. Annual Report on the Promotion of Science and Technology. Jakarta. 2008. Oslo Manual: guidelines for collecting and interpreting innovation data. And L. 1996. 18 Tahun 2002 . P.14. Stoneman (ed). 1994. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Konsistensi Regulasi. Paris. France. F. Organisation for Economic Cooperation and Development. Pavitt. OECD. Malherbe G. National Innovation System: a comparative analysis. 2009. bukan Pabrik. 1996. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). Third edition. Dalam: Kadiman. Sport. 146 Naskah Akademik Perubahan UU No. Organisation for Economic Oey-Gardiner. Pengembangan. 2010. Dalam: Kadiman.. 2002. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2008. A review of the recent contribution of systems thinking to operational research and management science. H. 2002. Paris.

S. Nalar Ekonomi versus Nalar Teknologi. 2008. Washington DC 147 Naskah Akademik Perubahan UU No. Gramedia Pustaka Utama. J. Schumpeter. B. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Governance of Innovation Systems in the Current Global Setting. 1994. .R. United Nations Conference on Trade and Development. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Jakarta.Y. Foresight.Y. 2009. 18 Tahun 2002 Warsono. dan S. Cambridge. Innovation Policy: a guide for developing countries. Dalam: Kadiman. Jakarta. Foresight. Foresight. Dalam: Kadiman. 2008. Jakarta. 2008. Geneva World Bank. Jakarta. Nelson. 2010. Peran Badan Intermediasi. The Theory of Economic Development. Bahan Ceramah di LIPI. 2007. 2009. World Economic Forum. T. American Universities and Technical Advance in Industry. Peran Intermediasi dalam Membangun Kolaborasi Lembaga Litbang dan Industri. Foresight. Dalam: Kadiman. 2009. Embargo sebagai Pemicu. Research Policy 23(3):323-348 Santoso. Setiawan. Jakarta. Simfoni Inovasi: cita dan realita. S. 2010. B. 2010. Simfoni Inovasi: cita dan realita. New York Wang. Jakarta. Sharif. UNCTAD. Gramedia Pustaka Utama. Inovasi untuk Pemberdayaan Industri. Dalam: Kadiman. 2008. Chien. Technovation 27:471–488 WEF. The Global Competitiveness Report 2010-2011. Thee Kian Wie. and R. The World Bank. N. Jakarta Suhardi.C. Harvard University Press. I. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan.Rosenberg. The influences of technology development on economic performance—The example of ASEAN countries. World Investment Prospects Survey 2008-2011. Kesinambungan Milestone. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 1934. Setiawan.

18 Tahun 2002 7. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). dalam Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. Sambutan Presiden Dr. Serpong. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional (KIN). Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 193/M/Kp/IV/2010 tentang Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek 2010. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 20 Januari 2010. 5. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 8. 6. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. 2. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahun dan Teknologi. 3. 148 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Difusi Teknologi. 4. Soesilo Bambang Yudhoyono. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional Untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Pembangunan Nasional 9.Lampiran Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Nasional 1. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto.2014. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. Inovasi. .

b. pengembangan. berbangsa. dan menyerasikan tata kehidupan manusia beserta kelestarian fungsi lingkungan hidupnya berdasarkan Pancasila. terakhir dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pemanfaatan. c. e. serta jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh di lingkungan Negara Republik Indonesia. Pengembangan. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI. b. 18 Tahun 2002 . d. memajukan kesejahteraan umum. bahwa penguasaan. Undang. dan d perlu dibentuk Undang-Undang tentang Sistem Nasional Penelitian. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tugas dan tanggung jawab negara. bahwa penumbuhkembangan sistem nasional penelitian. pemanfaatan. 149 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab. Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk kepentingan umat manusia yang dalam pengelolaan dan pendayagunaannya diperlukan penguasaan. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. PENGEMBANGAN. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada butir a.Lampiran 1. diperlukan sistem nasional penelitian. yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. bahwa untuk menumbuhkembangkan penguasaan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemanfaatan. ayat (2). ayat (4). Dengan persetujuan : DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan bermasyarakat. pengembangan. c. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengandung dan membentuk keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. dan bernegara di Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pencapaian tujuan negara sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. sumber daya. PENGEMBANGAN. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. serta mencerdaskan kehidupan bangsa.Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah.

bisnis. atau berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. manfaat. Penerapan adalah pemanfaatan hasil penelitian. dan/atau ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam kegiatan perekayasaan. dan estetika. atau orang. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. badan. kelangsungan. Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Inovasi adalah kegiatan penelitian. sosial budaya. disusun. 4. data. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk desain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat dipergunakan untuk menyempurnakan atau memperbarui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. baik yang berada di lingkungan dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya. pelestarian fungsi lingkungan hidup. 3. 18 Tahun 2002 5. 11. serta difusi teknologi. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. 8. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. pengembangan. 6. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. atau menghasilkan teknologi baru. Teknologi adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. produk. fungsional. 10. inovasi. 150 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis adalah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keterkaitan yang luas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh. baik yang bersifat kuantitatif. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 7. kemajuan bangsa. kualitatif. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. 2. . 9. pengembangan.

Pengembangan. 17. atau suatu bidang kegiatan profesi. pengembangan. 15. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lembaga penelitian dan pengembangan yang selanjutnya disebut lembaga litbang adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan penelitian dan/atau pengembangan. asas kebebasan berpikir. Pasal 4 Sistem Nasional Penelitian. DAN JARINGAN Bagian Pertama Fungsi Pasal 5 (1) Sistem Nasional Penelitian. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. 13. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dikembangkan berdasarkan asas iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pengembangan. asas kesisteman dan percepatan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan memperkuat daya dukung ilmu pengetahuan dan teknologi bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. 18 Tahun 2002 BAB II ASAS DAN TUJUAN . serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. KELEMBAGAAN. pemanfaatan. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. 16. Badan usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah pusat. 151 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 2 Pengertian peristilahan dalam Pasal 1 yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berpikir. Pasal 3 Sistem Nasional Penelitian. dan tanggung jawab akademis. serta asas tanggung jawab akademis. Hak kekayaan intelektual yang selanjutnya disebut HKI adalah hak memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas tanggung jawab negara. Organisasi profesi adalah wadah masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. 18. asas kebenaran ilmiah. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. selanjutnya disebut Pemerintah. BAB III FUNGSI. SUMBER DAYA. Pengembangan. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. asas kebebasan akademis. yang dijamin oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika profesi dalam masyarakat. Menteri adalah menteri yang membidangi penelitian.12. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan. 14. kebebasan akademis.

(2) Unsur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas unsur kelembagaan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. inovasi. inovasi. 18 Tahun 2002 (1) Lembaga litbang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. penelitian dan pengembangan. b. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 10 (1) Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. perguruan tinggi bertanggung jawab meningkatkan kemampuan pendidikan dan pengajaran. lembaga litbang. badan usaha. pengembangan. perguruan tinggi. membentuk iklim dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan difusi teknologi. dan difusi teknologi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomis. pemanfaatan. daya manusia. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi. serta pengabdian pada masyarakat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. mengorganisasikan pembentukan sumber perekayasaan. Pengembangan. atau bagian dari organisasi pemerintah. Pengembangan. Pasal 9 (1) Badan usaha sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. Bagian Kedua Kelembagaan Pasal 6 (1) Kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 7 (1) Perguruan tinggi sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. dan unsur jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Kelembagaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi : a. lembaga penunjang. Pengembangan. unsur sumber daya. dan lembaga penunjang. lembaga litbang bertanggung jawab mencari berbagai invensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menggali potensi pendayagunaannya. badan usaha. pemanfaatan. 152 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 8 (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). penelitian. Pengembangan. dan organisasi masyarakat. pemerintah daerah. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. . badan usaha bertanggung jawab mengusahakan pendayagunaan manfaat keluaran yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan perekayasaan. (3) Lembaga litbang dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri.

kepakaran. kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. Pasal 13 (2) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan penyebaran informasi hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan serta kekayaan yang dimiliki selama tidak mengurangi kepentingan perlindungan kekayaan intelektual. dan sertifikasi keahlian. serta kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. (3) Dalam meningkatkan pengelolaan kekayaan intelektual. dan/atau badan usaha dapat membangun kawasan. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi lain untuk memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan masyarakat. dan badan usaha. (4) Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. (2) Setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab meningkatkan secara terus menerus daya guna dan nilai guna sumber daya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Untuk menjamin tanggung jawab dan akuntabilitas profesionalisme. Pengembangan. pemerintah daerah. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah mendorong kerja sama antara semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan jaringan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. . pusat peragaan.(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih 153 Naskah Akademik Perubahan UU No. organisasi profesi wajib menentukan standar. Bagian Ketiga Sumber Daya Pasal 11 (1) Sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas keahlian. serta menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil di lingkungannya sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. lembaga litbang. jenjang karier sumber daya manusia. kepakaran. Pasal 14 Pemerintah. serta kode etik profesi. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan pembentukan sentra HKI sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. lembaga litbang. lembaga penunjang bertanggung jawab mengatasi permasalahan atau kesenjangan yang menghambat sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. perekayasaan. pengembangan. kekayaan intelektual dan informasi. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi. persyaratan. setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab mengembangkan struktur dan strata keahlian. Bagian Keempat Jaringan Pasal 15 (1) Jaringan Sistem Nasional Penelitian. dan badan usaha yang melaksanakannya. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. Pasal 12 (1) Dalam meningkatkan keahlian.

lembaga litbang. memberikan stimulasi dan fasilitas. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan Sistem Nasional Penelitian. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. selain pemerintah dan/atau pemerintah daerah. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 18 Tahun 2002 . (2) Apabila sebagian biaya kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibiayai oleh pihak lain. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia. sejauh tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan. (4) Perguruan tinggi asing. (2) Kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilaksanakan atas dasar persamaan kedudukan yang saling menguntungkan dengan tidak merugikan kepentingan nasional. Pasal 17 (1) Kerja sama internasional dapat diusahakan oleh semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan alih teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat ilmiah internasional. (3) Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri. (5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. dan orang asing yang tidak berdomisili di Indonesia yang akan melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia harus mendapatkan izin tertulis dari instansi pemerintah yang berwenang. BAB IV FUNGSI DAN PERAN PEMERINTAH Bagian Pertama Fungsi Pemerintah Pasal 18 (1) Pemerintah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Pengembangan. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. prioritas utama. pemerintah. yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah kepada badan usaha. (2) Untuk mengembangkan jaringan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). badan usaha. ayat (2). pengalihan teknologi dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang telah diatur sebelumnya dengan pihak lain tersebut. pemerintah wajib merumuskan arah. memperkuat. badan usaha asing. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. atau masyarakat. lembaga litbang asing.besar dari keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh masing-masing unsur kelembagaan secara sendirisendiri. perguruan tinggi. dan lembaga penunjang. melengkapi. (3) Pemerintah bertanggung jawab memberikan dukungan bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam rangka kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 16 (1) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. 154 Naskah Akademik Perubahan UU No.

penguatan kemampuan audit teknologi impor yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia untuk melindungi konsumen dan memfasilitasi pertumbuhan industri dalam negeri. pemerintah daerah wajib merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. sumber daya. c. (4) Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan penelitian. . (3) Dalam merumuskan kebijakan strategis yang dimaksud dalam ayat (2).Pasal 19 (1) Menteri wajib mengoordinasikan perumusan kebijakan strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemerintah daerah membentuk Dewan Riset Daerah yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. Pasal 20 (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. pemerintah daerah harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan. dan difusi teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. prioritas utama. penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. pengembangan. Bagian Kedua Peran Pemerintah Pasal 21 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah berperan mengembangkan instrumen kebijakan untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 155 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian. pengembangan. Menteri wajib memperhatikan pentingnya upaya : a. ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis. b. dan jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Nasional Penelitian. memberikan stimulasi dan fasilitas. (3) Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Untuk mendukung Menteri dalam merumuskan arah. Pengembangan. dan peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan yang merupakan tulang punggung perkembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. penguatan penguasaan ilmu-ilmu dasar. pemerintah membentuk Dewan Riset Nasional yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. inovasi. serta penguatan penguasaan ilmu-ilmu sosial dan budaya yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

dan akuntabel. 18 Tahun 2002 . (3) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat berbentuk dukungan sumber daya. (2) Pemerintah menjamin perlindungan bagi pengetahuan dan kearifan lokal. (2) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). penyelenggaraan program ilmu pengetahuan dan teknologi. pemanfaatan. Pengembangan. pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. (5) Pelaksanaan instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diselenggarakan secara adil. pemberian insentif. dan pembentukan lembaga. Pasal 23 (1) Pemerintah menjamin perlindungan bagi HKI yang dimiliki oleh perseorangan atau lembaga sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau masyarakat sesuai dengan kinerja yang dihasilkan. serta kekayaan hayati dan non hayati di Indonesia. (3) Pemerintah menjamin perlindungan bagi masyarakat sebagai konsumen. demokratis. (3) Setiap orang mempunyai hak untuk menggunakan dan mengendalikan kekayaan intelektual yang dimiliki sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dukungan dana. (4) Setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh informasi secara mudah dengan biaya murah tentang HKI yang sedang didaftarkan dan telah dipublikasikan secara resmi oleh pihak yang berwenang atau yang telah memperoleh perlindungan hukum di Indonesia.(2) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan sebagai bentuk kemudahan dan dukungan yang dapat mendorong pertumbuhan dan sinergi semua unsur Sistem Nasional Penelitian. pengembangan. nilai budaya asli masyarakat. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berisiko tinggi dan berbahaya dengan memperhatikan standar nasional dan ketentuan yang berlaku secara internasional. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. bangsa. terhadap penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. (4) Lembaga yang dimaksud dalam ayat (3) dapat meliputi lembaga litbang dan lembaga penunjang. BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 24 (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan serta dalam melaksanakan kegiatan penguasaan. Pasal 22 (1) Pemerintah menjamin kepentingan masyarakat. pemerintah mengatur perizinan bagi pelaksanaan kegiatan penelitian. Pasal 25 156 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemerintah daerah. baik yang berdiri sendiri sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen maupun sebagai unit kerja departemen atau pemerintah daerah tertentu. transparan. (2) Setiap warga negara yang melakukan penelitian. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai hak memperoleh penghargaan yang layak dari pemerintah.

BAB VII KETENTUAN SANKSI Bagian Pertama Sanksi Administratif Pasal 29 Pelanggaran ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dijatuhi sanksi administratif mulai dari teguran. organisasi masyarakat dan inventor mandiri berhak atas dukungan dana dari anggaran pemerintah dan pemerintah daerah untuk meningkatkan penguasaan. Pasal 20 ayat (1). (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. lembaga penunjang. pemanfaatan. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan. dan Pasal 21 ayat (1). Pengembangan. (2) Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. peringatan. pemberhentian sementara kegiatan. 157 Naskah Akademik Perubahan UU No. inovasi. pemanfaatan. (2) Anggaran yang dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk membiayai pelaksanaan fungsi dan peran pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1). 18 Tahun 2002 (3) Perguruan tinggi. sampai dengan pembatalan atau pencabutan izin oleh instansi pemberi izin. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 26 Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. . pemanfaatan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.(1) Masyarakat wajib memberikan dukungan serta turut membentuk iklim yang dapat mendorong perkembangan Sistem Nasional Penelitian. Pasal 28 (1) Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. (3) Setiap organisasi profesi wajib membentuk dewan kehormatan kode etik sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (2). lembaga litbang. badan usaha. (2) Masyarakat ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab untuk berperan serta mengembangkan profesionalisme dan etika profesi melalui organisasi profesi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 27 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran sebesar jumlah tertentu yang cukup memadai untuk memacu akselerasi penguasaan.

kerukunan bermasyarakat. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 84 158 Naskah Akademik Perubahan UU No. keselamatan bangsa. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.00 (lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. dijatuhi sanksi pidana penjara dan/atau denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. ttd.Bagian Kedua Sanksi Pidana Pasal 30 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin diancam pidana denda paling banyak Rp 50.000. semua peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak sesuai dengan undangundang ini dinyatakan tidak berlaku. Agar setiap orang mengetahuinya. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. ttd. dan merugikan negara. kesehatan masyarakat. kelestarian fungsi lingkungan hidup. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 31 Pada saat berlakunya undang-undang ini.000. 18 Tahun 2002 . (2) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) yang mengakibatkan bahaya bagi keselamatan manusia.

Inovasi adalah kegiatan penelitian. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). data. 4. INOVASI. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk disain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. MEMUTUSKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksudkan dengan : 1. Inovasi.Lampiran 2. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. bisnis. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. atau cara baru 159 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. produk. Mengingat : 1. DAN DIFUSI TEKNOLOGI. INOVASI. manfaat. sosial budaya. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan. 2. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. dan estetika. 3. . PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2007 TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. 2. pengembangan. atau menghasilkan teknologi baru. DAN DIFUSI TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat (3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. fungsional. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. Pengembangan. dan Difusi Teknologi.

inovasi. DAN DIFUSI TEKNOLOGI Pasal 4 Peningkatan kemampuan perekayasaan. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penelitian. BAB II ALOKASI SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA Pasal 2 (1) Badan Usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dapat melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi. INOVASI. lembaga penelitian dan pengembangan. inovasi. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. dan pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan dan/atau penerapan teknologi. kerjasama. Pasal 5 (1) Dalam melakukan kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa yang dihasilkan. (2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk lisensi. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengalokasikan sebagian pendapatan sesuai dengan kemampuannya. 6. dan/atau b. (2) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha swasta berbentuk perseroan terbatas. Badan Usaha Milik Negara. dan difusi teknologi. 8. penelitian. Insentif adalah pemberian kemudahan/keringanan yang diberikan kepada Badan Usaha dalam rangka upaya peningkatan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi dilakukan melalui kegiatan: a. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. dan badan usaha lain. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . Badan Usaha Milik Daerah. Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama badan usaha.untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. 9. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian dan pengembangan. 5. inovasi. 7. pengembangan. dan Koperasi. BAB IV 160 Naskah Akademik Perubahan UU No. inovasi. Badan Usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

d. (2) Pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan proposal kegiatan dan bentuk insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). guna melakukan pengkajian dan penilaian terhadap permohonan insentif. pengumpulan data. (3) Besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. e. b. Penghentian. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. . dan f. survei efisiensi atau studi manajemen. Pasal 9 (1) Menteri membentuk Tim Pengkajian dan Penilaian. riset pasar dan/atau promosi penjualan. kepabeanan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. pembelian dan/atau pembayaran royalti teknologi dari entitas lain di luar negeri. peralatan. 18 Tahun 2002 c. dan Perpanjangan Insentif Pasal 8 (1) Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) mengajukan permohonan untuk mendapatkan rekomendasi insentif secara tertulis kepada Menteri. kegiatan pengawasan dan/atau pengujian rutin terhadap kualitas produk.INSENTIF Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Badan Usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. (2) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. (2) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. bahan. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. kegiatan yang dilakukan di luar negeri. produk dan/atau proses. 161 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 7 (1) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. (2) Hasil pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri dalam bentuk saran dan pertimbangan. inovasi. Bagian Kedua Tata Cara Permohonan.

(3) Menteri menyampaikan saran dan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada instansi pemerintah yang berwenang dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. penggunaan sumber daya dalam negeri. Pasal 12 Dalam hal Menteri tidak memberikan rekomendasi insentif. dan d. 18 Tahun 2002 (1) Dalam hal Menteri memberikan rekomendasi insentif. 162 Naskah Akademik Perubahan UU No. c. potensi peningkatan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa. Pasal 13 (1) Dalam hal pemberian insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) berupa bantuan teknis penelitian dan pengembangan. pemberitahuan disampaikan kepada Badan Usaha disertai dengan alasannya.(3) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. Pasal 10 (1) Menteri dapat memberikan atau tidak memberikan rekomendasi insentif dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. (4) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja Tim Pengkajian dan Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan di dalam negeri. . (3) Tata cara pengajuan permohonan insentif perpajakan dan kepabeanan dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. rekomendasi disampaikan kepada Badan Usaha dengan tembusan kepada instansi pemerintah yang berwenang dalam pemberian insentif. (2) Menteri menyampaikan pemberitahuan persetujuan atau penolakan pemberian rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak penerimaan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. instansi pemerintah yang berwenang dapat menghentikan atau memperpanjang pemberian insentif. dan difusi teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. (2) Penetapan penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang setelah meminta saran dan pertimbangan Menteri. b. Pasal 11 (2) Badan Usaha mengajukan permohonan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang disertai dengan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1). inovasi. (4) Penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan pimpinan instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. (5) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan insentif diterima secara lengkap.

pada tanggal 22 Juni 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan difusi teknologi kepada Menteri. ttd DR. 18 Tahun 2002 Ditetapkan di Jakarta . (4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh.Bagian Ketiga Pelaporan Pasal 14 (1) Pada setiap akhir tahun dan akhir kegiatan. Badan Usaha yang mendapat insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) wajib menyerahkan laporan kegiatan peningkatan kemampuan. Agar setiap orang mengetahuinya. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. H. inovasi. (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pencapaian kegiatan yang telah dilakukan dan kriteria sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3). (3) Menteri dapat melakukan verifikasi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) guna memberikan saran dan pertimbangan penghentian atau perpanjangan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang. perekayasaan. ttd ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 78 163 Naskah Akademik Perubahan UU No. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. 18 Tahun 2002 2. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). . yang merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana. huruf l. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. Mengingat : 1. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2010 TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL.Lampiran 3. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO. 164 Naskah Akademik Perubahan UU No. huruf j. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 1 Sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak terdiri atas: a. huruf k. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. Sumbangan Pembinaan Olahraga. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. dan huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf i. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

harga pokok penjualan. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan. Pasal 4 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto bagi pihak pemberi apabila sumbangan dan/atau biaya diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. 165 Naskah Akademik Perubahan UU No. huruf c. dan d. Sumbangan fasilitas pendidikan. Pasal 5 (1) Sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a. Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya. Pasal 6 (1) Nilai sumbangan dalam bentuk barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) ditentukan berdasarkan: a. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga. atau c. b. (2) Biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf e diberikan hanya dalam bentuk sarana dan/atau prasarana. apabila barang yang disumbangkan sudah disusutkan. didukung oleh bukti yang sah. yang merupakan sumbangan untuk membina. nilai buku fiskal.b. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba. c. apabila barang yang disumbangkan merupakan barang produksi sendiri. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Pasal 2 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dengan syarat: a. nilai perolehan. kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga. yang merupakan sumbangan berupa fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan. c. dan huruf d dapat diberikan dalambentuk uang dan/atau barang. huruf b. dan e. d. Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya. apabila barang yang disumbangkan belum disusutkan. b. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan diberikan.

DR. ttd. Pasal 7 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib dicatat sesuai dengan peruntukannya oleh pemberi sumbangan. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 160 166 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 10 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2010. Pasal 8 (1) Badan penanggulangan bencana dan lembaga atau pihak yang menerima sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a harus menyampaikan laporan penerimaan dan penyaluran sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk setiap triwulan. huruf c. Pasal 9 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pencatatan dan pelaporan sumbangan dan/atau biaya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. huruf d. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. H. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan huruf e wajib menyampaikan laporan penerimaan sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat pada akhir Tahun Pajak diterimanya sumbangan dan/atau biaya. (3) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya yang mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak melaporkan sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai lampiran laporan keuangan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak diterimanya sumbangan.(2) Nilai biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) ditentukan berdasarkan jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan untuk membangun sarana dan/atau prasarana. 18 Tahun 2002 . (2) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b. ttd.

Pasal 2 Dalam rangka penguatan sistem Inovasi Nasional. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan.Lampiran 4. bahwa dalam rangka implementasi pelaksanaan sitem inovasi nasional secara efektif dan efisien. 18 Tahun 2002 . bahwa kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. mendukung. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. 167 Naskah Akademik Perubahan UU No. mendayagunakan. 2. membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b serta dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian sistem inovasi nasional. Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. b. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). lembaga riset dan teknologi. perlu dilakukan melalui institusi yang efektif dan berhasil-guna baik dari sisi legalitas dan otoritas. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sitem Nasional Penelitian. Pasal 3 (1) KIN bertugas untuk: a. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL Pasal 1 Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan Sistem Inovasi Nasional adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. terpadu. dibentuk Komite Inovasi Nasional yang selanjutnya disebut KIN. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan sistem inovasi nasional guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. perlu membentuk Komite Inovasi Nasional dengan Peraturan Presiden. Pengembangan. c. terintegrasi.

Ir. M. Dr.E. Dr. Sangkot Marzuki.D. 14.S. Marzan A. M. Dr. M.LL. 17. periset. ketahanan energi. Umar A.Sc. IR. Iskandar. 8. manajemen bencana alam. 19. 11. Prof. Rektor Institut Teknologi Bandung. 13.b. : Rektor Institut Pertanian Bogor : Prof. Ph.D.. Tri Mumpuni Wiyanto.S. serta komunitas ilmiah dan universitas. Rektor Universitas Indonesia. Tien Muchtadi. MBA. M.Pd. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). Dr. melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program pengutan sistem inovasi nasional. Sahari Besari.M. M.S. c. (2) Penguatan sistem inovasi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan meliputi inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. KIN melakukan konsultasi. Dr. . teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. 168 Naskah Akademik Perubahan UU No. Idwan Suhardi 7. M. 18.Sc : 1. S. 2.. Anton Apriantono.Sc. pakar teknologi dan inovator dalam rangka keterpaduan penguatan sistem inovasi nasional. 12. 10.E. Ph. Dr. Zuhal.. Ir. M. 18 Tahun 2002 3. Arief Rahman. Prof.Sc. Amir Sambodo. Bambang Kesowo. Dr. Ir. koordinasi. 16. Prof.Sc. Dr. MS. Sc. memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. 9. 20.. Ir. Dr. Ing... dan kerja sama dengan lembaga pemerintahan dan non pemerintahan. Prof. Betti Setiastuti Alisjahbana. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghsilkan produkproduk inovatif. Lukman Hakim. MA. Rachmat Gobel. M. wakil-wakil kelompok masyarakat. Jusman Syafii Djamal. industri manufaktur. 5. M. D.. (3) Dalam rangka melaksanakan tugasnya. Habibie. Ph. Ir. D. Dr. Industri infrastruktur. Freddy Permana Zen.Sc. Prof. transportasi dan industri pertahanan. Jenie. Ir.H. Ninok Leksono.D. Apt. Prof. 15. 6. Drs. bioteknologi. Ilham A. Dr. Pasal 4 Keanggotaan KIN terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Prof.. Bustanul Arifin. Drs. Dr. 4.

Rektor Universitas Cenderawasih. 22. (2) KIN melakukan rapat koordinasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. KIN memeperhatikan arahan dari pengarah. 2. Rektor Universitas Pattimura. Rektor Universitas Hasanudin. 5. 27. Rektor Universitas Gajah Mada. Menteri Koordinator Bidang Politik. Rektor Institut Teknologi Surabaya. dan Keamanan. Pasal 8 Hasil rapat koordinasi KIN oleh masing-masing anggota KIN dilaksanakan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing secara terkoordinasi dan terintegrasi dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. 24. Menteri Keuangan. Rektor Universitas Udayana. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Menteri Riset dan Teknologi.21. 6. 169 Naskah Akademik Perubahan UU No. 4. Hukum. Pasal 9 Mekanisme dan tata kerja Komite Inovasi Nasional diatur lebih lanjut oleh Ketua Komite Inovasi Nasional. 23. 25. (3) KIN dapat mengundang pimpinan instansi terkait dan pihak lain yang dipandang perlu pada rapat koordinasi KIN. Pasal 10 Ketua KIN melaporkan kepada presiden setiap perkembangan dan permasalahan yang ada dalam penyelenggaraan sistem inovasi nasional agar segera dapat diambil keputusan untuk penyelesaian masalahnya. Pasal 5 (1) Dalam melaksanakan tugasnya. 18 Tahun 2002 Pasal 6 . 26. Rektor Universitas Syiah Kuala. Pasal 7 (1) KIN melaksanakan tugasnya sejak berkoordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi. Menteri Sekretaris Negara. Sekretaris Kabinet KIN melaksanakan tugasnya sejak ditetapkan Peraturan Presiden ini sampai berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II. (2) Pengarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: Ketua Anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian : 1.

dan Permasalahan Hukum Bistok Simbolon. Pertanahan. ttd. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.Pasal 11 KIN dalam pelaksanaan tugasnya dibantu sebuah Sekretariat yang secara fungsional dilakukan oleh salah satu unit kerja di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Politik. DR. Ratifikasi. Pasal 13 Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Pasal 12 Segala biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi KIN dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c.q. H. 170 Naskah Akademik Perubahan UU No. Keamanan. 18 Tahun 2002 . anggaran Kementerian Riset dan Teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 1 (1) Menetapkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 -2025. Prasyarat dan Strategi MP3EI. 171 Naskah Akademik Perubahan UU No. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025.Lampiran 5. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025. 18 Tahun 2002 . bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. Menimbang : a. perlu menetapkan Peraturan Pr es iden tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. b. Pendahuluan. Mengingat : 1. fokus dan terukur. (4) MP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. 2. b. (3) MP3EI terdiri atas 4 (empat) bagian. diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas. meliputi: a. Pemantauan dan Evaluasi MP3EI. strategi yang tepat. dan d. c. Koridor Ekonomi Indonesia. Pelaksanaan. bahwa dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian nasional yang lebih solid. yang selanjutnya disebut MP3EI. (2) MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan.

yang selanjutnya disebut KP3EI. melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI. 5. yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan. berfungsi sebagai: a. 8. acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. 18 Tahun 2002 . b. Menteri Dalam Negeri. Wakil Ketua Harian II : Ketua Komite Ekonomi Nasional. Menteri Perhubungan. dan b. 9. 4. (2) KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: a. acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait. dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menteri Keuangan. Anggota : 1. melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI. Pasal 5 (1) KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Ketua Harian : Presiden Republik Indonesia. 10. Wakil Ketua Harian I : Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. : Wakil Presiden Republik Indonesia. menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI. 172 Naskah Akademik Perubahan UU No. Menteri Pertahanan. 3.Pasal 2 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. 6. 2. Menteri Pertanian. : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Pasal 4 (1) Koordinasi pelaksanaan MP3EI dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Menteri Perdagangan. Menteri Perindustrian. Menteri Pekerjaan Umum. 7. Pasal 3 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. dan c. Menteri Sekretaris Negara.

14. keanggotaan serta tata kerja Tim Kerja. Sekretaris Kabinet. 18 Tahun 2002 Untuk membantu pelaksanaan tugas KP3EI. Menteri Riset dan Teknologi. 15. 19. susunan organisasi. Pasal 9 Sekretaris KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. Sekretaris KP3EI mengangkat tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. 23. 24. Pasal 8 (1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya. Menteri Kelautan dan Perikanan. 13. (2) Pelaksanaan tugas KP3EI sehari-hari dipimpin oleh Ketua Harian.11. diangkat dan diberhent ikan oleh Menter i Koordinator Bidang Perekonomian. dipimpin oleh Sekretaris KP3EI. Menteri Komunikasi dan Informatika. 25. (2) Sekretariat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketua Komite Inovasi Nasional. 18. KP3EI didukung oleh Sekretariat KP3EI. (2) Tenaga profesional pada Sekretar iat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 173 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kepala Badan Pertanahan Nasional. . 16. Pasal 6 Pasal 7 Mekanisme dan tata kerja KP3EI. 17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 20. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia. (3) Susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat KP3EI ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. yang secara administrasi berkedudukan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Menteri Badan Usaha Milik Negara. Pasal 11 (1) PNS yang ditempatkan pada Sekretariat KP3EI berstatus dipekerjakan. Menteri Kehutanan. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. 21. dibentuk Tim Kerja. 12. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Menteri Pendidikan Nasional. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. dapat berasal dari unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non-PNS. 26. Menteri Lingkungan Hidup. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Pasal 10 (1) Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas Sekretariat KP3EI. 22.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO 174 Naskah Akademik Perubahan UU No. dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 13 Segala biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas KP3EI.(2) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikkan pangkatnya setiap kali setingkat lebih tinggi tanpa terikat jenjang pangkat. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian setelah mendapat pertimbangan dar i menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang keuangan dan menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang aparatur negara. yang berhenti atau telah berakhir masa baktinya. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dari jabatan organik di instansi induk yang bersangkutan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. H. Pasal 12 Hak keuangan dan fasilitas lainnya bagi Sekretaris KP3EI dan tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. (5) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dengan hormat sebagai PNS apabila telah mencapai batas usia pensiun dan diberi hak-hak kepegawaian. kembali kepada instansi induknya apabila belum mencapai usia pensiun. ttd DR. 18 Tahun 2002 . Pasal 14 Peraturan Presiden ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset dan Teknologi. Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45. 5. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. 7. perlu dilakukan perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 20102014. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 20102014. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. 2. 18 Tahun 2002 3. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4402). Menimbang : bahwa dalam rangka revitalisasi serta penajaman program dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi yang mendukung penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Tahun 2011-2025. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. 4. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243b /M/Kp/IX/2011 TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 2010-2014 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Bersatu II. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Mengingat : 1. Pengembangan. 9. 175 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4219).Lampiran 6. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2004 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). .

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. : Dengan berlakunya Keputusan ini. : Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 merupakan panduan dalam melaksanakan penyusunan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi.PERTAMA : Menetapkan Perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. SUHARNA SURAPRANATA KEDUA KETIGA KEEMPAT 176 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . program. maka Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. TTD.

percepatan koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi. 2. dan penerapan iptek. yaitu penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). bahwa strategi pembangunan iptek dilaksanakan melalui dua prioritas pembangunan. bahwa penguatan SINas diarahkan untuk penciptaan ruang bagi interaksi dan kolaborasi pelaku inovasi. bahwa arah penguatan SINas diperlukan sebagai pedoman untuk refocusing dan sinergi dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara efektif dan efisien. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246 /M/Kp/IX/2011 TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. 5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014. huruf b. dan huruf c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. c. b. serta mendorong pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. peningkatan penelitian.Lampiran 8. pengembangan. 3. yang selanjutnya 177 Naskah Akademik Perubahan UU No. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. . PERTAMA : Menetapkan Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). Menimbang : a. Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. maka perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II. 18 Tahun 2002 d.

: Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA merupakan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara lebih efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. 18 Tahun 2002 . SUHARNA SURAPRANATA KETIGA KEEMPAT 178 Naskah Akademik Perubahan UU No. : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 30 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. KEDUA : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA adalah dokumen kebijakan untuk refocusing dan sinergi dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. TTD.disebut Arah Penguatan SINas sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini.

pertemuan ini dapat merintis jalan ke arah peningkatan kerja sama antara Indonesia-Amerika Serikat. Namun kita semua juga merasa prihatin bahwa US Science and Technology Special Envoy. dan insya Allah kesehatan. yang mencakup kerja sama dalam berbagai sektor penting bagi kedua negara. 20 Januari 2010 Bismillah Hirrahmanirrahim. bahwa Amerika Serikat kini berkomitmen untuk membangun kemitraan baru—“a new beginning”—dengan dunia Islam. Presiden Republik Indonesia ketiga. sehingga kita dapat bertatap muka dalam kesempatan yang membahagiakan ini. Baharudin Jusuf Habibie. Bapak Prof. Allah SWT. SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA SILATURRAHIM DENGAN AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI) DAN MASYARAKAT ILMIAH Serpong. Dr. Mr. pendidikan. saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para ilmuwan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Kita sungguh berharap. bangsa. kerja sama di bidang pendidikan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemitraan strategis kedua negara. Bruce Alberts.Lampiran 9. Yang Mulia Ambassador Cameron Hume. energi dan perubahan iklim patut kita sambut dengan baik. karena atas rahmat dan karunia-Nya. tentu tidak terlepas dari kontribusi saudara semua. dan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. kajian. memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya juga menyambut baik pernyataan Presiden Obama di Kairo bulan Juni tahun lalu. yang di antaranya mencakup kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. atas pemikiran. 179 Naskah Akademik Perubahan UU No. Yang saya hormati. kita tetap diberi kekuatan. Yang saya hormati Gubernur Banten. Dalam kaitan ini. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Para Ilmuwan yang tergabung dalam AIPI. dan asosiasi-asosiasi ilmu pengetahuan di Indonesia. Melalui kesempatan ini pula. agar Mr. Marilah kita bersama-sama. di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Assalamu’alaikum Wr Wb Salam sejahtera untuk kita semua. 18 Tahun 2002 . Kemitraan Komprehensif ini dapat diresmikan dalam kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia yang direncanakan tahun ini. Hadirin sekalian yang saya muliakan. Saudara-saudara. dan negara. yang semula akan hadir di sini mengalami musibah kecelakaan. Insya Allah. Bruce Alberts dapat lekas pulih kembali seperti sediakala. Kemajuan yang kita capai hingga hari ini. yang baru saja dibacakan oleh Duta Besar Cameron Hume. Pandangan yang konstruktif dan ajakan positif Presiden Obama untuk meningkatkan kerjasama bilateral di bidang Iptek. Yang saya hormati Menteri Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Mari kita doakan. Indonesia dan Amerika Serikat kini sedang aktif menggarap suatu Kemitraan Strategis baru: yaitu suatu kemitraan komprehensif. LIPI. Saya juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pernyataan Presiden Barack Obama.

astrologi. Meskipun terdapat kemajuan di beberapa komunitas Islam. Kita yakini bahwa hal ini bukan sebuah utopia. dan juga dalam artikel The Economists yang saya tulis.3 miliar pengguna handphone–sekitar separuh dari jumlah penduduk dunia. saya menekankan bahwa Abad ke-21 tidak harus mengikuti skenario “clash of civilizations”. perubahan yang kita alami di Abad ke-21 akan bergerak sangat pesat. akan lebih deras daripada perubahan dalam 100 tahun terakhir. dan 3. Bahkan. Timur–dapat hidup berdampingan secara damai. ke kecepatan jet. Berbeda dari abad-abad sebelumnya. Peradaban manusia juga sering berubah karena ide-ide dan penemuan-penemuan baru. dan bahkan sudah mendarat di bulan. Kita lihat saja komputer. Penemuan mesin uap memulai revolusi industri dan mengubah sejarah Eropa. tetapi suatu visi yang realistis–an achieveable vision. dan Human Development Index. irigasi. KEDUA. terutama di antara dunia Barat dan dunia Islam. tidak akan pernah ada the second Islamic renaissance di Abad ke-21. ke kecepatan mobil. Hadirin yang saya hormati. Dengan pusat peradaban di Baghdad. 180 Naskah Akademik Perubahan UU No. Disadari atau tidak. dan dapat saling memperkaya dan melengkapi. kita perlu terus membangun jembatan antar-peradaban. di seluruh dunia. 1. Mari kita memulai dengan suatu preposisi: “Abad ke-21 akan menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia”. dan kapal-kapal perdagangan. Proses ini akan terus berkembang. sebagian besar umat Islam saat ini masih tertinggal dalam pencapaian Millenium Development Goals. puncak kejayaan Islam sebagai peradaban dunia yang paling maju di Abad ke-13 justru terjadi. di mana seluruh peradaban dunia–apakah Barat. Penemuan reaksi fisi nuklir menghasilkan bom atom dan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia. tanpa memahami bahwa peluang untuk maju dan berkarya di depan mata justru jauh lebih besar. Di awal tahun 1990an. Islam tidak pernah bertolak belakang atau memusuhi ilmu pengetahuan–bahkan Islam selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. Sewaktu saya berpidato di Harvard University akhir tahun lalu. anestesi. internet dan telepon selular. teknik sipil.4 milyar orang telah mempunyai e-mail. komputer dan handphone hanya dinikmati oleh segelintir orang.Hal ini penting karena beberapa hal : PERTAMA. memang. Penemuan vaksin di abad ke-18 mengubah ilmu kodokteran dan menyelamatkan jutaan umat manusia. ada 1 miliar komputer. masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. kimia. Kini. Dan KETIGA. kalau kita ingin membangun suatu peradaban dunia (global civilization). navigasi. rumah sakit pertama. Islam. serta masih termarginalisasi dalam era globalisasi. tanpa penguasaan umat Islam di bidang iptek. aljabar. email. Abad ke-21 justru dapat kita wujudkan menjadi suatu “confluence of civilizations”. Kita meyakini bahwa di paruh kedua Abad-21. internet dan handphone. Masih banyak umat Islam yang terlalu bernostalgia terhadap kejayaan di masa lalu. Ada yang menyatakan bahwa arus perubahan dalam 10 tahun mendatang. optik. manusia dapat bergerak dari kecepatan kuda. harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalnya: dalam kurun waktu hanya sekitar 100 tahun. Pesan dan pelajaran sejarah ini masih tetap relevan–bahkan semakin relevan–sekarang: “siapa yang mau maju. kita sedang berada dalam arus perubahan sejarah yang sangat dahsyat. Penemuan bubuk mesiu menimbulkan transformasi militer dengan segala implikasi politiknya. ke kecepatan suara. Semua pihak harus berperan aktif menyebarkan soft power. sebagian besar umat manusia akan terjamah oleh komputer. karena umat Islam membuka diri dan mengejar ilmu pengetahuan di manapun. yang akan memperkokoh landasan bagi perdamaian dunia. 20 tahun kemudian. 18 Tahun 2002 . umat Islam mencatat berbagai kemajuan dan penemuan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai sekarang kita rasakan manfaatnya: kompas.

Kalau kita gagal. Dalam menghadapi arus sejarah yang dahsyat ini. Saudara-saudara. Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan. Sesungguhnya pula merupakan bagian integral yang dinamis dari sebuah peradaban (civilization). untuk menangkal separatisme. Indonesia tidak punya musuh. apakah itu untuk pertanian. kunci dari keunggulan Indonesia di Abad ke-21 adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. situasinya telah berbeda: Hakikatnya. Karena itulah. dan untuk mengembangkan jati diri bangsa. kini telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. karena nenek moyang kita tidak mendapatkan akses terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari belahan dunia lain. untuk membangun perekonomian. jasa. kesehatan. 18 Tahun 2002 Saudara-saudara. Kecenderungan ini akan terus menguat. pertahanan. maju dan kompetitif. pertumbuhan ekonomi dan daya saing sebuah bangsa sangat disumbang oleh penguasaan teknologi. perdagangan. karena kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Itulah perjuangan kita di Abad ke-20. Dalam abad yang sangat progresif ini. atau “knowledge capital”. Semenjak revolusi industri di Eropa 200 tahun lalu. Kita mutlak membutuhkan persatuan untuk melawan penjajah. itu adalah kesalahan kita sendiri. dan kunci sukses untuk mencapai itu adalah inovasi. Amerika Latin menikmati masa kemakmuran. Kita juga melihat perubahan pesat ini di bidang lingkungan. dan lapisan ozon semakin menipis. Apakah itu bangsa. Teknologi tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu saja—bukan 181 Naskah Akademik Perubahan UU No. Jepang mengalami Restorasi Meiji. dan rakyat kita tenggelam dalam kebodohan dan kemiskinan. Abad ke-20 adalah abad kebangkitan nasional. the biggest driver for change adalah teknologi. dan lain-lain. itu terjadi karena kerja keras dan kemampuan kita dalam beradaptasi. karena ulah manusia. Inilah yang sering disebut sebagai “intangible intellectual resources”. yang dulu pernah menjadi salah satu bangsa paling miskin di Asia. komunitas. untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. perusahaan. Kalau kita kelak tampil unggul di depan yang lain. Konsentrasi karbondioksida meningkat 36%. dan Kerajaan Islam Otoman berjaya. kita semua telah melihat dan merasakan: porsi teknologi dalam PDB kita semakin besar. untuk mempertahankan kemerdekaan. industri. zero enemy”. abad kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. dan tidak ada negara lain yang memusuhi Indonesia. karena proses pengembangan teknologi tidak akan pernah berhenti. Makin nyata. untuk menjaga keutuhan wilayah. bangsa Indonesia masih terisolasi dalam penindasan kolonialisme. suhu dunia bisa naik 4 derajat Celsius dan membawa malapetaka bagi umat manusia dan bagi planet bumi—rumah kita satu-satunya. atau individu. . Politik bebas aktif Indonesia kini diabdikan untuk mewujudkan “a million friends. kita tidak bisa lagi hanya mengutuk masa lalu atau menyalahkan orang lain.Sejumlah negara–baik besar maupun kecil—yang dulu dikenal sebagai “negara miskin” kini telah melejit menjadi ekonomi yang unggul. Amerika Utara tumbuh pesat. Indonesia sendiri. Kunci sukses kita untuk mencapai itu tiada lain adalah persatuan. Sebelum kebangkitan nasional tahun 1908. Abad ke-21 adalah abad keunggulan. khususnya perubahan iklim. terutama di negara-negara industri maju. Porsi Teknologi dan know-how semakin menonjol. keuangan. pada saat Eropa mendominasi dunia. untuk memacu pertumbuhan dan produktivitas. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa adalah hasil dari suatu kerja besar yang terencana dan berkesinam-bungan. pendidikan.6 derajat celcius. Dewasa ini. dan untuk menjadi bangsa yang terhormat. Kalau kita tidak cepat meng-atasinya. saya yakin sekali bahwa dalam Abad ke-21 yang akan menjadi the most powerful driver of change adalah teknologi. untuk mengentaskan kemiskinan. Di Abad ke-21. Salah satu penyebab bangsa kita terbelakang selama ratusan tahun adalah. suhu dunia telah naik sekitar 0.

Komunitas iptek Indonesia harus berwawasan jauh lebih terbuka dan lebih progresif dari masanya. maupun di sektor swasta. Namun. peneliti dan inovator harus berada di garis terdepan perubahan nasib bangsa. Ini semua akan terwujud jika masyarakat kita. di universitas. Restorasi Meiji di Jepang. “the rise of” Cina dan India—semuanya dimulai dengan suatu semangat. innovation is a state of mind. dan lain-lain. Tentu saja jumlah inipun masih harus terus kita tingkatkan. inovasi juga memerlukan Investasi dan Insentif. yang kemudian menghasilkan berbagai inovasi baru. saya menyadari bahwa alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D-research and development) di Indonesia pada tahun 2005 masih rendah – yaitu sekitar Rp 1 trilyun. dan terbangunnya mindset baru. namun dalam kemampuan untuk menyerap ilmu dan teknologi dari manapun untuk kepentingan rakyat Indonesia. Pendanaan dari kerjasama internasional juga merupakan alternatif yang makin terbuka. Inovasi tidak datang dari langit. Pada awal saya mengemban amanah rakyat. baik di Indonesia maupun di luar negeri. Renaissance di Eropa. dan inventor. Mereka harus bisa menjadi ikon masyarakat. apalagi hidup tanpa penghormatan. universitas. Kita semua tahu bahwa enterpreneurship identik dengan inovasi. tetapi juga mesti dianggarkan oleh dunia usaha yang juga memerlukan inovasi di perusahaannya masing-masing. serta program yang berkesinambungan.seperti membeli barang di supermarket. Kita berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia mengadakan riset. kita semua. namun juga menyumbang ilmu untuk dunia. adalah mengubah mindset. Ingatlah. Pertama. Semua fenomena sejarah—apakah itu peradaban Islam. 182 Naskah Akademik Perubahan UU No. kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. Itulah mindset yang akan mengantarkan kita menjadi Innovation Nation. Dalam era globalisasi dewasa ini. Karena itulah. Ilmuwan. Jepang. dan tidak sejahtera. Mungkin satu dua teknologi bisa dibeli seperti itu—namun tidak untuk mencapai technological society. pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan porsi itu menjadi lebih memadai. peluang. kita bercita-cita agar Indonesia menjadi bagian integral dari komunitas ilmuwan dunia. tampilnya Amerika sebagai superpower. perlu diingat. Cina. dan Singapura. Untuk mencapai kondisi seperti itu ada sejumlah hal penting yang harus kita bangun dan lakukan. selain didukung mindset yang tepat. Nasionalisme kita dicerminkan bukan dalam tindakan melawan atau menutup diri dari dunia. kita melihat bahwa inovasi tumbuh pesat sejalan dengan merebaknya enterpreneurship. tanpa apresiasi. Korea. suatu energi. dan yang akhirnya mengakibatkan transformasi besarbesaran. Saya ingin ilmuwan Indonesia bahu membahu dengan ilmuwan internasional. 18 Tahun 2002 Karena itulah. dan menjadi pendekar keunggulan. Inovasi itu adalah suatu semangat. harus ada sumberdaya dan dana yang cukup. perusahaan. untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. bukan sikap yang kaku dan dogmatis. dan juga knowledge society. Kita harus aktif bukan saja menyerap ilmu dari dunia. Di Amerika. India. dan syukur alhamdullilah pada tahun 2010 dapat kita tingkatkan menjadi Rp 1. Sistem dan lingkungan nasional kita harus bisa melahirkan inovator-inovator yang kreatif. dan dari masyarakat. kita di Indonesia harus bisa mengembangkan budaya unggul—a culture of excellence— baik di birokrasi. . Mau tidak mau. bahwa cara penting untuk membangun inovasi adalah melalui pengembangan enterpreneurship. namun memerlukan inkubator-inkubator—di lingkungan pemerintah. dan bukan menjadi catatan pinggir. Kita harus bisa menjadi Innovation Nation —bangsa inovasi! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif. dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. benar-benar menghargai kerja keras kaum peneliti. Untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek. Inovasi juga menuntut sikap open-mind dan risk-taking. Karena itulah. sumberdaya dan dana penelitian dan pengembangan tidak hanya berasal dari APBN. ilmuwan. dan suatu etos.9 triliun. risk-taking. Saudara-saudara faktor kedua adalah. dan dinamisme. Sementara itu saya berpandangan.

serta penguasaan teknologi yang menjemput masa depan. atau kombinasi dari semuanya. Keempat. Karena itulah. bahkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Misalnya: telekomunikasi murah untuk desa terpencil. Saya mendorong ilmuwan Indonesia untuk menjalin networking dan kolaborasi yang seluas-luasnya dengan lembaga penelitian. Namun perlu diingat. kita harus menerapkan pembangunan yang hemat energi (low carbon footprint). untuk mendeteksi hotspot kebakaran hutan. teknologi air bersih. networking antara inkubator menjadi sangat penting. Hadirin sekalian yang saya hormati. peningkatan industri. yang dapat menjawab tantangan-tantangan pokok itu. teknologi yang kita cari dan pilih haruslah tetap relevan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan. hidroenergi dan Rumah Sederhana Tahan Gempa. Dunia kini boleh dikatakan sedang panen teknologi. apakah itu kolaborasi antarpemerintah. teknologi pangan. Padahal untuk negeri kita juga diperlukan teknologi yang dapat memberdayakan rakyat miskin. teknologi untuk mengentaskan kemiskinan–pro-poor technology. Hal ini penting karena pada saat ini dan ke depan. Kita sudah menetapkan target penurunan emisi 26% untuk tahun 2020 dari “business as usual”. Tantangan itu antara lain adalah : pengentasan kemiskinan. ke depan. antar-perusahaan. menyerap dan mengembangkan teknologi baru untuk pembangunan Indonesia. bibit unggul. Saya ingin. Kedua. ketangguhan pertahanan dan keamanan negara. Untuk itu. Ketiga. yang pasti akan terus bermutasi 183 Naskah Akademik Perubahan UU No. meningkatkan hasil panen. kebijakan pemerintah dan kolaborasi. teknologi industri. Produk-produk industri Indonesia harus bisa menunjang pencapaian 2 aspek penting. serta meningkatkan teknologi pengawasan hutan. Saya juga bangga bahwa seorang inovator energi kita. Inovasi segar seperti ini harus terus dikembangkan dan disebarkan. dan telah mendapatkan pengakuan internasional. meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan seperti geothermal. Pertama. Bahkan. antar-universitas. pihak yang lebih cerdik mendayagunakan teknologi bisa lebih maju dari pihak yang menemukan teknologi itu sendiri. dan target ini bisa ditingkatkan menjadi 41% apabila ada bantuan internasional yang memadai. misalnya melalui satelit. telah merintis pembangunan energi mikro-hidro di desa-desa. Namun kita harus cerdik mencari. teknologi kesehatan. angin. dan bahkan bisa bersaing dalam aspek desain yang selama ini cenderung didominasi industri negara-negara maju. sering terjadi. antar-ilmuwan. yang sangat penting bagi kesejahteraan rakyat kita (food security). Karena itulah. Salah satu ciri Era Globalisasi dewasa ini adalah keniscayaan untuk sebuah knowledge-sharing antar bangsa. ketahanan pangan dan energi. hampir semua inovasi teknologi merupakan hasil dari suatu kolaborasi. dan melipat-gandakan produktifitas pangan guna mencapai kondisi swasembada. lembaga kajian dan universitas manapun di dunia.Yang juga penting diingat: kita tidak harus selalu menjadi inventor teknologi baru. Kita memerlukan teknologi pertanian baru untuk mencari bibit unggul. dan surya. Saudari Tri Mumpuni. lebih produktif dan lebih mempunyai nilai tambah. Kalau kita lihat dari bukti-bukti empiris. Faktor ketiga adalah. Kita harus bisa membuat industri kita lebih efisien. 18 Tahun 2002 . H1N1 dan virus-virus berbahaya lainnya. Kelima. yaitu padat teknologi dan padat karya. Kita harus mencari teknologi terkini untuk memerangi penyakit-penyakit menular : apakah itu H5N1. teknologi hijau – green technology. pemeliharaan lingkungan hidup. menciptakan branding yang dikenal dunia internasional. karena ini adalah kunci sukses bagi masa depan kita. bangsa Indonesia harus makin menguasai teknologi. pada saatnya nanti Indonesia menjadi “major food producer” di dunia internasional. Kita juga harus mulai mencapai high-end products. industri akan tetap menjadi tulang panggung ekonomi Indonesia. Teknologi sering disalahpersepsikan seolah hanya untuk kepentingan industri besar yang canggih saja.

Karena itulah. sama seperti bencana alam. hydrocarbon dan mineral. berkaitan dengan pandangan ini. Hadirin sekalian yang saya hormati.yang kini mulai merintis teknologi-teknologi baru ini. serta kemampuan peace-keeping operation di wilayah-wilayah konflik di dunia. 18 Tahun 2002 . TNI harus terus meningkatkan postur dan kapabilitasnya. Keenam. kita belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melakukan offshore drilling apalagi deep sea drilling. robotics. dunia Islam. kita harus membangun teknologi kelautan. Sementara itu. 184 Naskah Akademik Perubahan UU No. yang terbentang dari Sabang ke Marauke. Indonesia tidak boleh tertinggal. Sebagai negara Nusantara. Setiap negara mempunyai Sistim Inovasi Nasional dengan corak yang berbeda dan khas. serta bentuk kerjasama yang lain. di Indonesia. dan dengan berkolaborasi dengan dunia internasional. termasuk kelompok teroris yang juga memanfaatkan teknologi yang canggih. yang terus dapat ditingkatkan keunggulan dan daya saingnya. teknologi pertahanan. Disini. teknologi maritim. Dan. dan lain-lain. mendukung. Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi knowledge society. Seperti yang kita alami dalam kasus epidemi H1N1 (Swine Flu). Kita juga harus mendapatkan teknologi canggih untuk bisa mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Kita mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. Saya senang sekali bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH) sudah mulai membangun pusat riset untuk nano-technology.mengancam keluarga kita dan bahkan umat manusia. meskipun sudah mulai diterapkan di beberapa negara yang mengalami transformasi. TNI juga harus mempunyai kemampuan untuk melakukan surveillance dan menjaga pulau-pulau terpencil. dari Miangas ke Pulau Rote. Saya berpendapat. menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor. Untuk mengembangkan semua ini. Banyak emerging economies --seperti Cina. yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. Kita dikaruniai wilayah yang sangat luas. dan lain-lain—yang semuanya dapat menjadi mitra pembangunan Indonesia. TNI harus meningkatkan kapasitas untuk melakukan military operations other than war (MOOTW). India. Ketujuh. Polri dan aparat intelijen juga harus terus meningkatkan kemampuan operasionalnya untuk melawan kejahatan trans-nasional. Konsep seperti ini relatif baru. dibutuhkan suatu Sistim Inovasi Nasional. dan Brazil . yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. dan dalam skala nasional. Teknologi-teknologi revolusioner ini tentu tidak sepatutnya hanya didominasi dan dimonopoli negara-negara maju saja. kedelapan adalah. Oleh karena itu. Dan kita mempunyai hubungan yang baik dengan semua pihak—baik dunia Barat. Saat ini. tapi kita belum menjadi negara maritim yang kuat. kita juga harus mengembangkan Sistem Inovasi Nasional. baik perikanan. termasuk penguasaan “revolution in military affairs” (RMA). kita harus bekerja-sama dua arah : kita berbagi ilmu dan penemuan dengan dunia kesehatan internasional. yang didasarkan pada suatu kemitraan antara pemerintah. apalagi kalau menyangkut virus yang datang dari luar yang kita tidak mempunyai vaksinnya. bio-engineering. Virus berbahaya. dalam waktu dekat saya akan membentuk Komite Inovasi Nasional. Indonesia secara fisik adalah negara Kepulauan terbesar di dunia. untuk ikut memastikan bahwa Sistem Inovasi Nasional dapat berkembang dan berjalan dengan baik. Kita harus bisa meningkatkan kualitas dan tingkat teknologi industri pertahanan kita– termasuk melalui joint production dengan industri militer negara-negara lain. emerging economies. yaitu suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka-panjang dapat mendorong. Indonesia tidak bisa menangani ancaman ini sendiri. negara-negara berkembang. komunitas ilmuwan dan swasta. teknologi masa depan: yaitu nano technology. genomics. misalnya untuk konversi air minum atau teknologi perkapalan. Kita memiliki sumberdaya manusia yang tangguh. sebagaimana kita terus mengharapkan dunia luar berbagi dengan kita. wilayah perbatasan dan lautan Nusantara yang terbentang luas. misalnya. akan menjadi salah satu ancaman paling riil bagi bangsa kita di abad ke-21.

atau knowledge-based. kebersamaan dan kerja keras kita. iptek dan budaya. resource-based and culture-based development. Kalau visi ini kelak tercapai.Karenanya. Terima kasih. developed country. serta dengan persatuan. Indonesia mempunyai peluang emas untuk memajukan kehidupan bangsa kita. masa gemilang itu akan datang. bangsa kita akan mengalami transformasi yang fundamental. Insya Allah. menjadi bangsa yang maju dan jaya di Abad ke-21. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju. 18 Tahun 2002 . adalah dengan memadukan pendekatan sumberdaya alam. 185 Naskah Akademik Perubahan UU No. dengan semua ini. ke depan. Mari kita songsong era itu dengan kepercayaan sebagai sebuah bangsa yang penuh inovasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful