NASKAH AKADEMIK

PERUBAHAN UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2012

1

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latarbelakang

Pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab adalah: apa kontribusi teknologi dalam negeri terhadap pembangunan nasional? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi tolok ukur bagi perkembangan Sistem Inovasi Nasional (SINas) di setiap negara, termasuk Indonesia.1 Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan ‘sederhana’ ini, maka perlu didahului dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang anatomi permasalahannya. Sesungguhnya banyak kelembagaan di Indonesia yang melakukan kegiatan riset. Setiap institusi pendidikan tinggi wajib melakukan kegiatan riset sebagaimana amanah Tridharma Perguruan Tinggi. Tiga tugas pokok institusi pendidikan tinggi negeri maupun swasta adalah melakukan kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain instansi pendidikan tinggi, di Indonesia juga terdapat banyak lembaga riset pemerintah dan non-pemerintah.2 Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi. Rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan
1

Sistem Inovasi Nasional adalah sistem aliran teknologi dan informasi antara kelembagaan pengembang-pengguna teknologi, didukung oleh kelembagaan terkait lainnya, yang menjadi kunci dari proses inovatif pada suatu negara. Dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi terdapat 7 kelembagaan yang tugas pokoknya menyelenggarakan riset atau kegiatan yang terkait dengan implementasi hasil riset. Kelembagaan riset tersebut berstatus sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK). Selain LPNK tersebut, pada masing-masing kementerian teknis juga terdapat Badan Penelitian dan Pengembangan masing-masing. Kelembagaan riset non-pemerintah terdapat di beberapa industri besar, selain itu juga ada yang berupa lembaga riset independen yang diselenggarakan oleh masyarakat.

2

2

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional. Berfungsinya SINas tidak hanya membutuhkan: [1] keberadaan lembaga pengembang teknologi yang produktif dan berkualitas;3 [2] industri yang dikelola dengan baik dan didukung tenaga kerja terampil dan/atau terdidik yang produktif serta kelimpahan bahan baku; dan [3] fasilitasi aktif dari pemerintahan serta kebijakan dan regulasi yang mendukung pewujudan ekosistem yang kondusif; tetapi juga membutuhkan [4] niat dan motivasi yang tinggi antara pihak pengembang dan pengguna teknologi untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain berdasarkan asas kesetaraan dan saling menguntungkan (mutualistik). UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan fungsi dari sistem nasional litbangrap iptek adalah untuk membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sistem nasional litbangrap iptek. Paradigma yang lalu menempatkan pihak pengembang teknologi (institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset) secara dominan dalam mewarnai ‘genre’ teknologi yang dikembangkan. Pendekatan yang lebih dominan bersifat supply-push ini ternyata gagal dalam mempersuasi industri dan pihak pengguna lainnya untuk mengadopsi teknologi hasil riset oleh perguruan tinggi maupun lembaga riset tersebut. Kegagalan paradigma yang lalu ini perlu disikapi secara cerdas dan objektif, dengan mengesampingkan kepentingan sektoral ataupun profesi. Tentu perlu telaah komprehensif terhadap anatomi permasalahan dalam implementasi paradigma supply-push yang kurang optimal tersebut, selain juga perlu dilakukan pencermatan yang matang terhadap alternatifalternatif untuk memperbaiki paradigma lama tersebut. Kenyataan ini menjadi argumen yang sangat kuat untuk melakukan penelaahan terhadap posisi SINas Indonesia saat ini dan mencari alternatif pendekatan yang tepat agar pola hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat efektif, efisien, dan produktif menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan rakyat Indonesia, yang berarti sekaligus secara nyata akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan (perekonomian) nasional. Upaya mengubah paradigma yang lama dengan paradigma yang baru agar ditekankan pada pola dan arah hubungan antara pengembang dan pengguna teknologi serta pihak-pihak lain yang terkait. Secara substansial upaya ini dapat disebut sebagai upaya reorientasi arah dan pola hubungan antar-aktor dalam sistem nasional litbangrap iptek. Diharapkan dengan melakukan
3

Kualitas kelembagaan pengembang teknologi dilihat dari kualitas akademik sumberdaya manusia (SDM) yang mengawakinya, ketersediaan sarana dan prasarana riset yang canggih dan sesuai dengan kebutuhan fokus riset yang menjadi tugas pokoknya, ketersediaan dan/atau kemudahan mengakses sumber informasi ilmiah, dan fasilitas pendukung lainnya untuk menciptakan suasana akademik (academic environment) yang kondusif, serta kemampuannya dalam mendifusikan teknologi yang dihasilkan kepada pengguna potensial.

3

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

reorientasi sistem nasional litbangrap iptek, maka teknologi domestik yang dihasilkan akan lebih berpeluang untuk diadopsi oleh para pengguna, terutama industri dan pelaku produksi lainnya di dalam negeri. Resultan dari adopsi teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa ini adalah peningkatan kontribusi nyata teknologi terhadap pembangunan nasional. Satu hal yang sangat fundamental yang perlu reorientasi adalah anggapan bahwa masalah litbangrap iptek merupakan permasalah teknologi yang berkaitan dengan ekonomi (economically-related technological problems), padahal sesungguhnya penguatan sistem nasional litbangrap iptek adalah permasalahan ekonomi yang butuh dukungan teknologi untuk memecahkannya (technologically-related economical problems). Kemajuan perekonomian sangat tergantung pada kinerja litbangrap iptek-nya, yang pada prinsipnya adalah tergantung pada kapasitas negara dalam mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dan sesuai pula dengan kapasitas adopsi dari para pengguna teknologi. Untuk kasus Indonesia, kesadaran akan pentingnya peran teknologi dalam pembangunan perekonomian nasional tersurat dari ditetapkannya pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sebagai salah satu dari tiga strategi utama dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), disamping dua strategi utama lainnya, yakni pengembangan potensi ekonomi melalui enam koridor yang telah ditetapkan dan memperkuat konektivitas nasional.4 Kesesuaian teknologi dengan kebutuhan nyata membuka peluang lebih lebar untuk teknologi tersebut dapat diadopsi, namun belum sepenuhnya menjamin bahwa sistem nasional litbangrap iptek akan otomatis terbangun. Ekosistem yang kondusif sangat dibutuhkan untuk tumbuh-kembang inovasi, terutama dalam bentuk kebijakan dan regulasi yang akomodatif, yang memudahkan para aktor inovasi untuk berkomunikasi dan berinteraksi serta juga memudahkan proses adopsi teknologi domestik oleh para pengguna di dalam negeri. Arahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono5 untuk mengutamakan upaya pemenuhan kebutuhan (demand) pasar domestik menumbuhkan semangat untuk lebih gigih mewujudkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek yang lebih handal. Penduduk Indonesia yang saat ini (BPS, 2010) telah mencapai 237 juta, merupakan pasar yang sangat besar dan menjadi target banyak negara asing dalam memasarkan produknya. Para pengembang teknologi dan industri dalam negeri harus bahu membahu membangun sinergi untuk tidak membiarkan pasar domestik Indonesia dibanjiri oleh produk dan/atau jasa dari negara-negara asing.

4

Untuk pelaksanaan MP3EI, telah pula diterbitkan Perpres 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menetapkan tiga kelompok kerja (Pokja), yakni: Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi, Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Pokja SDM dan Iptek. Pokja SDM dan Iptek diketuai oleh Menteri Pendidikan Nasional dan wakil ketuanya adalah Menteri Negara Riset dan Teknologi, dengan anggota dari kementerian PPN/Bappenas, Ristek, Diknas, Nakertrans, Keuangan, UKM dan Koperasi, serta dari anggota KIN, Kadin, dan ketua asosiasi profesi dan usaha terkait. Pada Seminar di Institut Teknologi 10 November Surabaya tanggal 14 Desember 2010.

5

4

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sinergi pengembang-pengguna teknologi dalam penguatan inovasi nasional merupakan aksi yang tepat dan sepatutnya dilakukan. Inisiatif inovasi dari Komite Inovasi Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan, Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), antara lain menyebutkan penguatan inovasi melalui skema 747 memerlukan pendanaan R&D hingga 1% dari GDP. Skema 747 ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi, pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi, dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. Peningkatan dukungan pendanaan untuk menunjang program inovasi ini dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan daya dukung pemerintah, BUMN, dan partisipasi badan usaha. Akan sangat ideal jika Pemerintah mampu mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 melalui pembentukan ekosistem yang lebih kondusif melalui regulasi dan kebijakan yang tepat. Adanya peraturan perundang-undangan yang konsisten dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance), sehingga tumbuh-kembang sistem nasional litbangrap iptek dapat berlangsung secara lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

1.2.

Permasalahan

Hasil penelitian LIPI (Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera, 2000) terkait dengan sistem penelitian iptek dan sistem inovasi nasional, antara lain menyimpulkan inovasi masih belum memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional. Menurut Benyamin Lakitan (2012), rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek

5

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi.

bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional.

1.3.

Maksud dan Tujuan Penulisan

Pertanyaan yang fundamental dan filosofis perlu ditranslasi menjadi pertanyaan-pertanyaan teknis dan operasional agar jawabannya juga menjadi lebih dapat ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang menjadi batu sandungan dalam upaya mewujudkan penguatan inovasi secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat.6 Berbagai persoalan terkait rendahnya kontribusi teknologi di Indonesia saat ini diyakini berakar pada tidak relevannya teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang dihadapi rakyat, bangsa, dan negara ini. Persoalan terkait dengan upaya penguatan inovasi tidak dapat disederhanakan secara berlebihan (over-simplified) hanya menjadi persoalan relevansi teknologi. Disadari betul bahwa upaya penguatan inovasi nasional merupakan upaya penguatan sistem inovasi yang sangat kompleks. Banyak aktor yang ikut berperan, dengan derajat dan jenis partisipasi yang berbeda tentunya. Banyak faktor yang mempengaruhi ekosistem dimana sistem inovasi ditumbuhkan, termasuk ekonomi, sosio-kultural, hukum, dan politik. Interaksi dari berbagai aktor dan faktorfaktor yang ikut berpengaruh tersebut yang akan membentuk sistem inovasi nasional yang lebih kokoh. Selain kompleks, upaya penguatan inovasi juga sensitif terhadap dinamika peran para aktor dan faktor-faktor pembentuk ekosistem tumbuhnya. Memahami persoalan dalam upaya penguatan inovasi nasional yang sangat kompleks tersebut, maka penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dimaksudkan untuk: [1] Memahami realita dan permasalahan dalam upaya penguatan kemampuan penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan iptek saat ini; [2] Mencoba merajut sosok ideal SINas Indonesia dalam mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat; [3] Mengidentifikasi dan mengantisipasi dinamika perubahan faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi ekosistem SINas (lingkungan strategis); dan [4] Mengembangkan konsepsi SINas Indonesia yang realistis yang diyakini mampu diaktualisasikan untuk mewujudkan sasaran penguatan inovasi. Penulisan dokumen ini bertujuan untuk digunakan sebagai bahan referensi akademik yang menjadi dasar pertimbangan perubahan UU No. 18 Tahun 2002, terutama dalam penyusunan regulasi yang relevan dengan upaya mewujudkan penguatan inovasi yang lebih produktif dan menyejahterakan rakyat. Sebagai referensi akademik, dokumen cetak biru ini diharapkan

6

Perlu selalu diingat bahwa konsitusi UUD 1945 jelas mengamanahkan bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa (Pasal 31 ayat 5).

6

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sesuai Perpres No. Selain itu. f. b. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. d. pengembangan sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. mutakhir. 32 Tahun 2011 tentang MP3EI. dan relevan dengan kondisi Indonesia. dan dengan pendekatan dari segi pengelolaannya secara terpadu. Informasi ini merupakan langkah langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan ekosistem inovasi. revitalisasi infrastruktur R&D. Pendekatan ini menggambarkan berbagai permasalahan secara utuh dan menyeluruh. selanjutnya dilakukan analisis yang menjadi bagian-bagian sebagai sistem yang terbagi atas sub sistem-sub sistem dari suatu ekosistem sebagai suatu kesatuan dalam merumuskan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. c. maka dokumen cetak biru ini walaupun kental berbasis akademik. Pengembangan. Hasil analisis tersebut menjadi landasan untuk mengidentifikasi peraturan perundangundangan yang ada. 18 Tahun 2002 . Metode Penelitian Hukum Penyusunan Naskah Akademik tentang Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta memberikan kerangka konsepsi yang objektif dan mungkin-dicapai (achievable) dengan sumberdaya yang dimiliki Indonesia. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menggunakan metode pendekatan deskriptifanalitis.4. penelitian ini menggunakan pendekatan secara interdisipliner dan multidisipliner. khususnya hukum tertulis yang berlaku yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan upaya-upaya penguatan inovasi secara nasional.mampu memberikan informasi yang komprehensif. dan g. Melalui pendekatan interdisipliner akan diketahui hukum dan ilmu hukum yang mengatur penguatan inovasi dan melalui pendekatan multi disipliner akan diketahui ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang mendukung pengaturan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang 7 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengembangan sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. terutama bagi para pembuat kebijakan dan regulasi. langkah-langkah perbaikan ekosistem inovasi mencakup: a. e. Karena tujuannya adalah untuk menjadi landasan dalam pembuatan kebijakan dan/atau regulasi. namun diupayakan agar mudah dan enak dibaca dengan gaya bahasa dan penggunaan terminologi yang lebih bersahabat (reader-friendly). 1. pengembangan sistem remunerasi peneliti yang lebih baik. Pengembangan. pembangunan klaster inovasi daerah.

2. Data ini selanjutnya dianalisis secara kualitatif berdasarkan norma-norma hukum yang berlaku dan disusun sebagai bagian dari pengembangan sistem hukum nasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. kertas kerja. inovasi. serta kegiatan penelitian. inovasi. Mengkaji bahan-bahan seminar. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sumber hukum materiil masalah perekayasaan. Penelusuran kepustakaan. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi). dan sebagainya) serta data-data yang diperoleh dari para anggota tim penyusunan naskah akademik. dan merupakan bahan-bahan hukum dalam mempersiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. maupun putusan pengadilan yang terkait dengan inovasi teknologi. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 8 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif. dengan data sekunder yang terdiri dari bahan-bahan hukum primer (peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perekayasaan. pemanfaatan dan pemajuan iptek untuk mendorong inovasi dan difusi teknologi seoptimal mungkin. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. makalah. Penelitian ini harus pula mendekati permasalahan yang ada dalam upaya peningkatan penguasaan. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Metode ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis. pengkajian. majalah hukum. Oleh karena itu penelitian ini secara futuristik harus menyangkut upaya pembangunan yang berkelanjutan dalam sistem hukum yang ada bagi penguatan inovasi nasional. Tahapan penelitian diawali dengan melakukan inventarisasi hukum. maupun difusi teknologi. Pada dasarnya penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta bahan hukum sekunder maupun tertier (hasil-hasil penelitian.Perubahan UU No. Pengembangan. konvensi dan traktat internasional yang terkait alih teknologi. maupun difusi teknologi. khususnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kegiatan perekayasaan. kemudian diupayakan untuk menarik azas-azas hukum dan rumusan norma yang akan dijadikan acuan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. inovasi. serta kegiatan penelitian. Metode pendekatan sistemik ini digunakan sebagai konsekuensi dari pengertian dan pemahaman mengenai kompleksitas penguatan inovasi secara nasional. Sedangkan inventarisasi dan pengolahan data dilakukan melalui: 1. maupun difusi teknologi ini mengacu pada inventarisasi permasalahan. dengan mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan berlaku di Indonesia termasuk kebijakan inovasi nasional. hasil focus group discussion. inovasi. maupun yang terkait dengan perekayasaan. 18 Tahun 2002 . maupun difusi teknologi.

maksud dan tujuan penulisan dokumen. serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagaian Pendapatan Badan Usaha untuk Kegiatan Perekayasaan. tujuan dan kegunaan naskah akademik. kendala-kendala dalam prakteknya. Program penguatan inovasi nasional ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi. terutama untuk meningkatkan produktivitas nasional dan kesejahteraan. pengembangan.  Permasalahan secara garis besar memberikan gambaran kondisi kegiatan penelitian. Sistematika Penulisan Sesuai dengan maksud penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dan tujuan yang hendak dicapai. 18 Tahun 2002 Mencakup tentang latar belakang penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002. permasalahan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional yang lebih tangguh. serta berbagai kendala dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). terutama Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual. pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi. Ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya perlu diperhatikan. dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. . dan 4. Kajian ini mencakup bagaimana implementasi. maka sistematika penulisan dirinci sebagai berikut: Bab I Pendahuluan (UU No.5.3. 12/2011: latar belakang. Inovasi dan Difusi Teknologi. Mengkaji Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. termasuk pelaksanaan peraturan pelaksanaannya. Hasil Diskusi atau informasi anggota tim di Kementerian Riset dan Teknologi. serta rincian sistematika penulisan dokumen. identifikasi masalah. metode penelitian hukum. dan peraturan perundangundangan yang terkait. dan penerapan iptek. Inisiatif inovasi nasional dari Komite Inovasi Nasional dalam rangka pencapaian tujuh sasaran inovasi nasional perlu diperkuat melalui peraturan perundang-undangan. metode penelitian hukum) Judul dan Deskripsi Substansi  Latar Belakang memberikan informasi awal tentang persoalan pokok yang dihadapi terkait dengan rendahnya kontribusi teknologi terhadap pembangunan nasional Indonesia. Pengembangan. 1. sehingga 9 Naskah Akademik Perubahan UU No. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya penguatan inovasi. argumen tentang pentingnya upaya memperkuat inovasi nasional dalam rangka meningkatkan kontribusi teknologi.

BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. penguatan inovasi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy) : Sri Mulatsih. dan fakta di masyarakat. dan upaya penciptaan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang inovasi.  Metode penelitian hukum memberikan gambaran mengenai metode yang dilakukan di dalam penelitian ini. teori-teori hukum. dan dilakukan pula identifikasi permasalahan dan analisis efisiensi sistem inovasi terkait orientasi pembangunan inovasi. dan aktor penting lainnya yang ikut menentukan dinamika ekosistem inovasi. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif. pendidikan. 18 Tahun 2002. maka akan diulas tentang kinerja perekonomian nasional. maupun berbagai informasi yang relevan dari berbagai narasumber maupun diskusi-diskusi.  Sistematika menjelaskan tentang tata urut penulisan dokumen yang sekaligus juga merinci tentang substansi isi dokumen. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 mencakup:  Analisis Undang-undang No. Kajian teoritis mencakup uraian tentang beberapa konsepsi penting termasuk makna inovasi. 2009. para aktor inovasi nasional yang terdiri dari aktor pengembang. dengan analisis deskriptif terhadap berbagai peraturan perundangundangan. pengguna.Bab Judul dan Deskripsi Substansi memerlukan perubahan UU No. peran dan kontribusi aktor inovasi. II Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi Mencakup kajian teoritis dan kajian implementasi UU No. dan penerapan iptek di Indonesia saat ini. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 . termasuk kebijakan maupun peraturan perundang-undangan terkait makro ekonomi. LIPI. 2007.  Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . Kementerian Riset dan Teknologi. 2005. dinamika interaksi antar-aktor. dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-base economy). perindustrian dan perdagangan. pengembangan. dan pembangunan infrastruktur sosial. ketersediaan dan kesiapan infrastruktur inovasi. Pengembangan.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan: Tatang A Taufik. dan 10 Naskah Akademik Perubahan UU No. ketenagakerjaan. pendekatan kesisteman. terutama kebijakan-kebijakan yang secara langsung mempengaruhi tumbuh-kembang inovasi nasional. Komersialisasi III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang-undangan Terkait Untuk menyajikan realita potret peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian. Kajian implementasi UU No. dilakukan analisis tentang ekosistem pembangunan nasional.  Maksud dan tujuan penulisan adalah menjelaskan tentang niat yang terkandung dalam penyusunan dokumen naskah akademik ini dan kemanfaatan yang dapat diperoleh publik dengan tersedianya dokumen ini. dan Prakoso Bhairawa Putera.  Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Kelembagaan Iptek.

12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. dalam rangka membangun kemandirian bangsa. Namun demikian. Sosiologis dan Yuridis Menurut UU No. teknologi yang dikembangkan harus pula sesuai dengan potensi sumberdaya nasional. Selain itu.  Reorientasi Arah dan Prioritas Riset. Menurut teori kekuasaan. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan. IV Landasan Filosofis. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). Syarat kedua adalah syarat sosiologis. secara bertahan mengubah minset pada pengembang teknologi agar lebih berorientasi pada kebutuhan nyata dan lebih sensitif terhadap persoalan yang dihadapi pengguna teknologi. kesesuaian teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna (demand-driven) merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam membangun inovasi nasional. 18 Tahun 2002 . karena masih akan tergantung pada kapasitas adopsi pengguna teknologi. Ekosistem SINas yang kondusif dapat diwujudkan melalui kebijakan dan 11 Naskah Akademik Perubahan UU No. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. peranan lembaga intermediasi akan sangat berat jika teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan dan tidak sepadan dengan kapasitas adopsi pengguna. Secara sosiologis penguatan inovasi nasional dapat memenuhi karakteristik inovasi yang khas Indonesia yang mencakup: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan.  Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik menjadi isu yang sangat penting.  Ekosistem Inovasi yang Kondusif dibutuhkan untuk tumbuh-kembang SINas. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional.  Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi diharapkan mampu mendorong pengembangan SDM yang relevan dengan kebutuhan. yaitu syarat yuridis.Bab Judul dan Deskripsi Substansi peran pemerintah dalam skenario pengembangan SINas. sosiologis. membangun semangat kebersamaan antar aktor inovasi. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. karena efektivitas hukum merupakan fakta. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. menurut Hans Kelsen. Menurut Kelsen. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. Syarat yuridis. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. teknologi yang relevan saja memang belum cukup menjadi jaminan bahwa teknologi tersebut akan diadopsi pengguna. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. dan filosofis.

terbangunnya masyarakat berbasis pengetahuan. keuangan. kebijakan perindustrian dan perdagangan. Upaya penguatan inovasi nasional harus bersifat dinamis menyesuaikan dengan dinamika perubahan lingkungan strategis. dan perpajakan. maupun nasional. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro.Bab Judul dan Deskripsi Substansi regulasi yang tepat di berbagai sektor yang secara langsung mempengaruhi kinerja para aktor inovasi dan interaksi antar-aktor tersebut. sehingga lebih berpeluang untuk digunakan dalam proses produksi barang dan/atau jasa.  Dinamika Lingkungan Nasional pada tahun 2011 ini ditandai dengan diluncurkannya MP3EI yang menempatkan pembangunan iptek sebagai salah satu strategi utama untuk percepatan dan perluasan pembanguan ekonomi Indonesia. Panggung SINas yang ideal perlu didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. 18 Tahun 2002 .  Dinamika Lingkungan Global yang paling penting adalah semakin kentaranya kecenderungan untuk mendorong pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Selanjutnya secara nyata berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. dan stabilitas keamanan nasional. Arah Pengaturan dan Ruang Lingkup  Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. kebijakan riset dan pengembangan teknologi. Pengakuan atas potensi peran iptek ini diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat inovasi nasional. baik pada tingkat global. kebijakan 12 Naskah Akademik Perubahan UU No. kebijakan ketenagakerjaan. perlu percepatan dalam mewujudkan dan memperkuat inovasi Indonesia yang dimulai dengan perubahan mindset para pengembang teknologi dan meningkatkan peran dunia usaha dalam pembangunan iptek. Secara filosofis penguatan inovasi nasional harus mampu mengantisipasi perubahan lingkungan strategis. kebijakan pendidikan nasional.  Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional pada akhirnya akan dievaluasi berdasarkan kontribusi inovasi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat.  Dinamika Lingkungan Regional ASEAN memperlihatkan bahwa posisi Indonesia secara relatif lebih lamban kemajuan pembangunan ipteknya dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. disamping sebagai sasaran antaranya adalah pertumbuhan ekonomi. V Jangkauan. regional. Oleh sebab itu.

universitas. [5] penyiapan S&T Park. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. dan . difusi. 4. [3] peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi.Bab Judul dan Deskripsi Substansi penyediaan infrastruktur sosial. 18 Tahun 2002 Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian.  Lingkup Materi Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. lembaga ristek. [8] revitalisasi DRN. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. dan [10] berbasis sumberdaya dan memenuhi kebutuhan nasional. VI Rangkuman dan Rekomendasi Merupakan bagian akhir dokumen yang menyajikan rangkuman terkait dengan unsur dan isu penting dalam penguatan inovasi nasional serta rekomendasi materi perubahan kebijakan dan/atau regulasi yang ada. pengembangan. [4] peningkatan peran lembaga intermediasi. dan swasta. [6] membangun pusat unggulan inovasi. dan pemanfaatan teknologi. Dua kebijakan tersebut. 18 Tahun 2002 3. [2] revitalisasi lembaga pengembang teknologi.pengembangan. [9] sinkronisasi dan perbaikan regulasi. [7] mendorong pembentukan konsorsium inovasi. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. 2. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. Kebijakan dapat mendukung arah penguatan inovasi nasional yang mencakup: [1] membangun inovasi sebagai sistem. peningkatan hasil. pengembangan. 13 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). yaitu: 1. rekayasa inovasi . secara garis besar menekankan pada penguatan empat hal. pendayagunaan.

Oleh sebab itu. Pengembangan teknologi dalam kerangka penguatan inovasi dirancang agar dapat memberikan 14 Naskah Akademik Perubahan UU No. Hal ini sangat relevan dalam memformulasikan kebijakan publik dan/atau regulasi yang secara legal sifatnya mengikat semua pihak. perlu penegasan tentang apa yang dimaksud dengan inovasi yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. sebaliknya juga tidak bisa dirancang komponen-komponennya secara parsial baru kemudian dirajut menjadi inovasi nasional. Inovasi sebagai suatu sistem yang kompleks tidak dapat dianalisis dengan cara memutilasi komponen-komponennya untuk ditelaah secara terpisah. Konsepsi Inovasi Nasional Adanya pemahaman yang tepat tentang terminologi dasar dan konsepsi pokok merupakan langkah awal yang sangat strategis dan penting untuk dilakukan. Interaksi dinamis antar-aktor. 18 Tahun 2002 . dan efisien memberikan kontribusinya bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. definisi inovasi masih beragam. maka pemahaman tentang inovasi sebagai suatu ‘sistem’ perlu dimantapkan. digunakan dalam berbagai komunitas. misalnya untuk menyejahterakan rakyat. Penguatan inovasi nasional haruslah menjadi simpul pengikat antara teknologi dan ekonomi. Penguatan inovasi yang akan diwujudkan tentu perlu dijelaskan kepada publik agar publik dapat secara nyata. karena kata inovasi sudah sangat populer. Kajian Teoritis 2.1. Keadaan menjadi lebih runyam karena di kalangan akademik pun. dikaitkan dengan banyak aspek kehidupan. kebijakan penguatan inovasi secara tersurat mengindikasikan bahwa sistem inovasi yang dimaksud berada pada level negara. Ketika yang dibahas adalah inovasi. atau terdiri dari banyak sub-sistem sesuai dengan karakteristik persoalan dan potensi sumberdaya masing-masing satuan wilayah dalam suatu negara yang diikat oleh satu tujuan kolektif. Pemahaman yang tepat ini sangat diperlukan ketika pokok bahasannya terfokus pada inovasi. Rentang interpretasi itu mulai dari yang sangat ‘longgar’.1. Namun masih perlu dijelaskan bahwa sistem dimaksud bersifat sentralistik menjadi sebuah sistem tunggal yang besar dan kompleks. tetapi dengan interpretasi yang sangat variatif.1. Dalam suatu sistem. serta dinamikan dan kontinyuitas sirkulasi aliran informasi kebutuhan dan pasokan teknologi merupakan kesatuan utuh yang diperlukan dalam upaya penguatan inovasi. yakni inovasi dipadankan sebatas sesuatu yang berbeda (dari yang umumnya sudah diketahui) sampai ke definisi akademik yang lebih teknis dan spesifik. efektif.Bab 2 Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi 2. interaksi antara aktor inovasi dengan ekosistemnya. Pendekatan sistem diperlukan dalam menganalisis maupun dalam merancang kebijakan inovasi nasional SINas yang paling cocok.

Inovasi dapat dimaknai sebagai upaya mengubah nilai-nilai yang selama ini telah menjadi landasan dari suatu sistem. proses untuk menghasilkan produk tersebut juga sama pentingnya. termasuk ekonomi. invensi adalah proses atau produk baru yang secara nyata berbeda atau sama sekali baru dibandingkan dengan proses atau produk serupa yang telah ada. Kedua terminologi ini sebetulnya berbeda. inovasi harus menghasilkan nilai tambah atau peningkatan produktivitas. namun belum tentu dapat menghasilkan uang dari hasil temuannya tersebut. tidak dapat lagi hanya dengan mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam. namun dalam perspektif ekonomi. sedangkan inventor menemukan sesuatu yang baru. Semua komponen masyarakat menggunakan kata ini baik dalam komunikasi sosial maupun pada forum yang lebih formal. Inovasi merupakan sebuah kata yang saat ini sedang ‘naik daun’. namun sangat mungkin bahwa pihak-pihak tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda tentang inovasi. engineering. Proses yang dimulai dari ide. atau struktur dan fungsi organisasi yang berperan dalam proses produksinya. Persoalannya adalah walaupun masing-masing pihak menggunakan kata yang sama. Saat ini. World Bank (2010) menyatakan bahwa “what is not disseminated 15 Naskah Akademik Perubahan UU No. Invensi merupakan proses konversi uang menjadi ide. dan KBE selanjutnya akan ditelaah secara lebih komprehensif. 18 Tahun 2002 . bisnis. disingkat KBE).kontribusi nyata terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. serta akan pula diberi penegasan pada bab ini tentang pengertian dan konsepsi dasar yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. Inovasi sering dicampur-aduk pengertiannya dengan invensi. atau memilih sesuatu yang diluar norma yang berlaku. Pada awalnya inovasi diartikan sebagai suatu proses untuk memperbarui sesuatu yang sudah ada atau menghasilkan sesuatu yang dianggap baru. Perubahan tersebut dapat terlihat dari produk yang dihasilkan. pembangunan perekonomian harus berbasis pada pengetahuan (knowledge-based economy. Ada perumpamaan yang menarik untuk membedakan antara invensi dan inovasi. kemudian ditransformasi menjadi sesuatu yang bermanfaat. inovasi telah menjadi topik yang penting dalam berbagai bidang ilmu. Untuk melakukan suatu pembaruan berarti seseorang perlu mengubah caranya dalam membuat keputusan. konsepsi tentang pendekatan sistem. Jika suatu sistem berubah. atau melakukan perubahan cara berpikir yang radikal dan revolusioner. Inovasi dapat berkaitan dengan penambahan atas sesuatu yang telah ada. atau sesuatu yang sama sekali baru. memunculkan unsur yang sama sekali baru. sedangkan inovasi mengubah ide menjadi uang. Walaupun inovasi lebih sering dikaitkan dengan produk yang dihasilkan. sedangkan inovasi lebih dilihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. teknologi. desain. Inovator menghasilkan keuntungan finansial dari hasil karyanya. Inovasi diadopsi dari Bahasa Latin ‘innovatus’ yang berarti memperbarui. dan sosiologi. Pengertian inovasi. Oleh sebab itu. Para ekonom era modern yakin bahwa di saat sekarang dan di masa yang akan datang mesin utama yang akan mendorong perkembangan perekonomian suatu negara adalah tingkat penguasaan dan aplikasi dari teknologi yang dikuasai tersebut. proses untuk menghasilkan produk tersebut. melakukan sesuatu dengan metoda yang berbeda. maka sangat mungkin akan membuka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda. Dalam perspektif ekonomi.

yakni para aktor yang memberikan dukungan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi nasional (Bathelt. atau hubungan dengan pihak eksternal. penelaahan inovasi harus dilakukan dengan pendekatan sistem. Perlu dibedakan antara unsur sistem dengan lingkungannya (ekosistem). [2] inovasi selain baru.8 Inovasi merupakan implementasi dari suatu produk. Proses yang panjang ini hampir selalu melibatkan banyak aktor.7 OECD (2005) menggunakan definisi inovasi: “An innovation is the implementation of a new or significantly improved product (good or service). Metoda organisasi mencakup praktek bisnis. [3] status yang lebih baik ini. Interaksi antar-aktor dan interaksi antara aktor dengan ekosistem inovasi bersifat sangat dinamis dan timbal-balik. 2003). a new marketing method. atau metoda organisasi) yang baru. Berdasarkan ini. Uraian dan referensi di atas memberikan pemahaman bahwa: [1] inovasi merupakan sesuatu (produk. 7 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UUNo. metoda pemasaran. Hal ini perlu untuk membedakan antara penghela endogen (endogenous drivers). Oleh sebab itu. [4] kemanfaatan suatu produk merupakan prasyarat untuk komersialisasi atau untuk peningkatan kesejahteraan sosial. atau pemerintah. Proses inovatif selalu membentuk suatu sistem yang kompleks. atau metoda organisasi yang baru atau secara signifikan telah diperbaiki. masyarakat awam. maupun para aktor yang berperan dalam membangun ekosistem yang kondusif bagi keberlangsungan aliran tersebut. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. or process. juga harus pula secara signifikan lebih baik dari produk. sehingga pada dasarnya inovasi merupakan sesuatu yang bermanfaat. maka inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). membuka peluang bagi produk dan proses inovatif untuk digunakan dalam berbagai aktivitas manusia. dengan penghela eksogen (exogenous drivers). workplace organization or external relations”. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi ”. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini. cara pemasaran. cara pemasaran. yang tentunya hanya dapat terlahirkan dari pemikiran yang kreatif. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. proses. Pengertian inovasi versi UUNo. yakni para aktor yang secara langsung menggerakkan inovasi. atau metoda organisasi yang telah dikenal sebelumnya. Produk dapat berupa barang maupun jasa. bermakna pula bahwa inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). Dengan demikian. Proses inovasi berlangsung mulai dari munculnya ide di benak para inovator sampai pada termanfaatkannya produk inovatif tersebut. organisasi kerja. pengembangan. or a new organizational method in business practices. tidak dapat dilakukan secara linier. OECD’s Oslo Manual 2005 Guidelines for Collecting and Interpreting Innovation Data 8 16 Naskah Akademik Perubahan UU No.and used. 18 Tahun 2002 . is not an innovation”. proses. maka sangatlah penting untuk membekali setiap pihak yang terlibat dalam upaya mewujudkan inovasi nasional untuk memahami konsepsi pendekatan sistem. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. baik yang terlibat secara langsung dalam aliran ide menjadi produk yang bermanfaat. Telaah secara partial dengan pendekatan linier tak akan mampu menjelaskan sistem inovasi secara komprehensif dan benar. proses.

disebutkan bahwa “ SINas adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. lembaga riset dan teknologi. Sementara Patel dan Pavitt (1994) mengambarkan SINas sebagai kelembagaan-kelembagaan nasional dengan struktur dan kompetensinya yang menentukan laju dan arah pembelajaran teknologi (technological learning) pada suatu negara. dan impor teknologi baru. sedangkan Lundvall (1992) mendefinisikan SINas sebagai elemen dan hubungan yang interaktif dalam proses produksi. 17 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan [4] memahami bahwa manusia akan beraksi sesuai dengan tujuan dan rasionalitas yang berbeda. mendukung.Liu dan White (2001) menggunakan istilah aktor primer dan sekunder. Dengan kata lain. Mingers dan White (2010) menyatakan bahwa systems thinking is a discipline in its own right. mendayagunakan. with many theoretical and methodological developments. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. Definisi menurut peraturan perundang-undangan. menyimpan. yang menyatakan bahwa SINas sebagai sekelompok institusi yang interaksinya menentukan kinerja inovatif suatu negara. Definisi SINas yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Metcalfe (1995). SINas merupakan suatu sistem keterkaitan antar-kelembagaan untuk menciptakan. 18 Tahun 2002 . tetapi akan keliru jika pembagian ini berdampak pada pengisolasian sistem dari lingkungannya (Asheim dan Coenen.”. difusi. yakni sebagai sekumpulan institusi yang secara sendiri dan bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan dan difusi teknologi baru serta memberikan kerangka bagi pemerintah dalam membuat dan mengimplementasikan kebijakan untuk mempengaruhi proses inovasi. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Nelson (1993). universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. dapat ditemui dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. but it is also applicable to almost any problem area because of its generality. [2] memposisikan hubungan atau interaksi antara elemen lebih penting dari elemen-elemennya sendiri dalam membentuk perilaku sebuah sistem. Sistem Inovasi Nasional (SINas) didefinisikan dalam beberapa versi. difusi. Selanjutnya. Pemilahan ini hanya untuk membedakan posisi peran para aktor yang terlibat. [3] memahami adanya hirarki/jenjang dalam suatu sistem dan ‘mutual casuality’ dalam masingmasing jenjang maupun antar-jenjang. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. modifikasi. sebagai kumpulan elemen yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan tertentu. ketrampilan. dan artefak untuk melahirkan teknologi-teknologi baru. Freeman (1987) mendefinisikan SINas sebagai jaringan kelembagaan pemerintah dan/atau swasta yang melaksanakan dan berinteraksi dalam inisiasi. dan penggunaan pengetahuan baru yang bernilai ekonomi yang berada dalam atau berasal dari suatu negara. dan mentransfer pengetahuan. 2005) Pendekatan sistem merupakan buah dari pemikiran sistemik (systems thinking). Mingers dan White (2010) merinci bahwa pendekatan sistem (systems approach) mencakup: [1] melihat situasi secara holistik (berarti tidak bersifat reduksionis). dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan.

[2] pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan –baik pemerintah maupun swasta. Namun demikian. Pengertian dasar dalam sistem inovasi nasional ini diperkuat dalam Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional.yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. kegalauan akan rendahnya adopsi teknologi tersebut terlihat mewarnai definisi atau deskripsi SINas yang diusung pada kurun waktu tahun 2000-an. adopsi teknologi oleh para pengguna teknologi di banyak negara (terutama negara-negara berkembang) masih sangat minimal. yakni berdasarkan pendekatan supply-push dan pendekatan demand-driven. 18 Tahun 2002 . Prakteknya. Pengembangan inovasi nasional dengan pendekatan demand-driven mengutamakan dan dimulai dari pemahaman tentang masalah. kebutuhan. Jakarta 18 Naskah Akademik Perubahan UU No. Definisi SINas yang diusung pada periode 1980-1990an telah menyebutkan bahwa SINas mencakup kegiatan difusi dan pemanfaatan teknologi. Sinyal kebutuhan masyarakat ini diterjemahkan oleh industri dalam bentuk kebutuhan teknologi untuk memproduksi barang dan/atau jasa yang sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut. maka ada beberapa pengertian dasar yang dapat ditarik berkaitan dengan SINas.Berdasarkan berbagai definisi di atas. dan pemanfaatan teknologi. difusi. dan preferensi masyarakat yang dapat dideteksi langsung oleh pihak pengembang teknologi maupun melalui mitranya dari komunitas bisnis. Proses difusi teknologi tersebut dapat melalui atau tanpa melalui lembaga intermediasi. yakni: [1] what is possible with technology? [2] what is desirable to the society? [3] what is viable in the market?9 Pendekatan dalam upaya penguatan inovasi nasional secara ekstrim dapat dibedakan menjadi dua. yang memberi ketegasan bahwa teknologi yang dihasilkan harus berakhir dengan dimanfaatkannya teknologi tersebut oleh para pengguna. Berdasarkan informasi ini. lembaga riset dan/atau institusi pendidikan tinggi 9 Dicuplik dari keynote address oleh Nawaz Sharif (2010) berjudul ‘Govern ance of Innovation Systems in the Current Global Setting’. [3] produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. yakni: [1] kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. Pendekatan supply-push mengutamakan dan dimulai dari proses pengembangan teknologi oleh institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset. Oleh sebab itu. serta telah menyebutkan bahwa teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang punya potensi untuk dikomersialisasikan. dan [4] ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. The World Bank (2010) dengan sangat tegas mencanangkan bahwa sesuatu (baca: teknologi) yang tidak didiseminasikan dan tidak digunakan bukanlah inovasi. Sharif (2010) mendeskripsikan inovasi sebagai upaya kolektif mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai (turning idea into values). di LIPI. dapat difasilitasi atau tanpa difasilitasi oleh Pemerintah atau pihak lain yang kompeten. terutama industri yang akan memanfaatkannya untuk menghasilkan produk komersial berupa barang dan jasa. Produk teknologi yang dihasilkan kemudian didifusikan kepada pihak pengguna. inovasi harus diawali dengan menjawab tiga pertanyaan yang sangat fundamental.

proses aliran hanya akan terjadi jika ada perbedaan derajat antara posisi asal dan posisi sasaran. Inovasi yang dikembangkan melalui pendekatan demand-driven akan lebih berpeluang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan perekonomian. yakni dengan memadukan pendekatan supply-push dan demand-driven. Untuk dapat memberikan dampak nyata dan langsung. dan tenaga kerja berketerampilan tinggi. yakni ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy selanjutnya disingkat KBE) yang menunjukkan bahwa dalam perkembangannya. sebagaimana halnya teori fisika. walaupun pendekatan demand-driven yang dipilih tetapi tidak berarti ruang untuk pendekatan supply-push digusur habis. mengabaikan kenyataan bahwa kreativitas sesungguhnya lebih terangsang untuk muncul pada kondisi yang ‘tidak nyaman’. Akan tetapi. karena lebih berpeluang untuk diadopsi industri. serta manajerial merupakan determinan penting KBE. informasi.10 KBE pada prinsipnya merupakan ekonomi yang secara langsung berbasis pada produksi. 19 Naskah Akademik Perubahan UU No. maka sumberdaya ekonomi ini harus mudah diakses oleh dunia usaha dan para penguna lainnya. Sejak tahun 1960-an mulai muncul keyakinan bahwa perbedaan kemajuan perekonomian antar-negara terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi dari masing-masing negara (Fagerberg dan Srholec. dan penggunaan pengetahuan dan informasi. distribusi.mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan. pendidikan dan pelatihan. Selain besaran nilai investasi untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi. kelancaran distribusi pengetahuan (baik melalui 10 OECD (2005) mendefinisikan ekonomi berbasis pengetahuan sebagai: ‘an expression coined to describe trends in advanced economic towards greater dependence on knowledge. kemajuan perekonomian lebih banyak dikaitkan dengan jumlah uang yang terakumulasi (accumulated capital) per tenaga kerja. Teori Pertumbuhan Baru (New Growth Theory) mencerminkan upaya untuk memahami tentang peran pengetahuan dan teknologi dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Investasi di bidang riset dan pengembangan. 2008). Secara teoritis dapat dimunculkan pendekatan yang moderat dan akomodatif. Pilihan pendekatan tersebut lebih untuk menjamin agar aliran teknologi dapat terjadi secara berkesinambungan dan komersialisasi produk yang dihasilkan dapat menjadi pasokan ‘energi’ untuk kontinuitas aliran teknologi tersebut. dan tentu termasuk dalam kondisi keharusan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan pasar. 18 Tahun 2002 . sebagian komunitas akademik dan peneliti menganggap pendekatan demand-driven akan mengebiri kreativitas ilmiah. di bawah tekanan. dalam kerangkeng regulasi yang kaku. Maknanya. Keyakinan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kemajuan perekonomian dengan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan ‘mazhab’ ekonomi baru. ekonomi saat ini semakin bergantung pada kemajuan pengetahuan dan teknologi. Walaupun demikian. Saat ini banyak upaya yang dilakukan oleh para ahli ekonomi untuk menjelaskan secara langsung (baik secara teoritis maupun pengembangan model) tentang kontribusi pengetahuan dan teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. dalam penguatan inovasi. Anggapan yang demikian. misalnya dalam kondisi serba keterbatasan. and the increasing need for ready access to all of these by the business and public sectors’ . and high skill levels. information. Sebelum periode tersebut.

11 Elaborasi lebih mendalam mengenai isu ini dapat dibaca pada Lakitan (2009):”Kebijakan Pengembangan dan Implementasi Sistem Inovasi Nasional: menjembatani pendidikan. riset. Lapangan kerja dalam konteks KBE akan lebih banyak membutuhkan tenaga kerja dengan ketrampilan tinggi atau berpendidikan tinggi. jumlah dan kualitas personel pengembang teknologi) belum cukup untuk memberikan gambaran tentang kinerja KBE. Indikator yang berbasis pada nilai investasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semata (seperti jumlah belanja riset dan pengembangan. Upaya yang umum dilakukan untuk merangsang atau mempercepat difusi teknologi adalah membentuk lembaga intermediasi. Indikator dari sisi keluaran kegiatan riset dan pengembangan serta distribusinya diyakini akan lebih relevan. industri. Oleh sebab itu. juga harus pula memahami persoalan dan kebutuhan nyata agar dapat mengemas kurikulum yang relevan terhadap persoalan dan kebutuhan nyata tersebut. tidak semua pakar ekonomi sependapat bahwa TFP bisa mencerminkan kontribusi teknologi. untuk mendukung KBE. pengguna yang dimaksud adalah industri yang memahami kebutuhan dan preferensi konsumen. Produk teknologi yang pengembangannya tidak berorientasi pada kebutuhan nyata tentu akan sulit dijual ke pengguna. Prinsip dasarnya adalah bahwa teknologi hanya memberikan kontribusi jika digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk barang/jasa yang dibutuhkan konsumen.11 Upaya untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan perekonomian dilakukan antara lain dengan menghitung Total Factor Productivity (TFP). antara lain karena keterbatasan dan mutu indikator terkait pengetahuan yang saat ini tersedia. Namun demikian. Kelemahan teoretis dan ketidakkonsistenan empiris dari hasil perhitungan pada berbagai negara dengan tingkat kemajuan teknologi yang berbeda menjadi lahan subur untuk perdebatan. pendidikan dan ketrampilan tinggi tersebut perlu mempunyai relevansi yang juga tinggi dengan persoalan dan kebutuhan nyata. institusi pendidikan tinggi perlu dirancang agar selain mampu menyelenggarakan pendidikan yang secara akademik berkualitas. dan konsumen”. lembaga intermediasi akan sulit berfungsi efektif jika teknologi yang ditawarkan adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan. Walaupun demikian. Jurnal Dinamika Masyarakat 8(1):1501-1516. Penguasaan pengetahuan dan teknologi yang tinggi tetapi hanya terisolir di kalangan akademik atau periset semata tidak akan memberikan dampak terhadap kinerja perekonomian.jalur formal maupun informal) juga merupakan faktor esensial yang mempengaruhi kinerja perekonomian. Akan tetapi. Adopsi teknologi akan terjadi jika pihak pengembang teknologi memahami kebutuhan pihak pengguna. Ada kesulitan dalam mengevaluasi ekonomi berbasis pengetahuan. 18 Tahun 2002 . Intensitas hubungan dan kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi antaraktor dalam sistem inovasi akan menjadi faktor penentu kinerja perekonomian. mengingat bahwa dinamika perubahan pengetahuan dan teknologi berlangsung dalam tempo yang cepat. Kesimpulan dari kajian yang dilakukan oleh Lipsey dan Carlaw (2001) patut direnungkan: “ There is no reason to believe that changes in TFP in any way measure technological change” . 20 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam konteks komersialisasi. atau dibutuhkan tapi kalah handal secara teknis dan/atau kurang kompetitif secara ekonomi.

pemanfaatan. Gugus indikator [2] merupakan indikasi dari besarnya perolehan sosial dan kemanfaatan bagi publik per satuan input kegiatan riset dan pengembangan. Untuk memudahkan pemahaman dan agar kompleksitas yang ada tidak mengaburkan esensi dasar dari inovasi. yakni indikator terkait: [1] knowledge stocks and flows. mengukur kemanfaatan bagi publik untuk investasi di bidang pendidikan dan pelatihan. serta mengetahui kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi dari penyedia ke pengguna. Sedangkan gugus indikator [4] melingkupi indikator ‘human capital’. 18 Tahun 2002 merupakan unsur penting dari 12 Pasal 6 ayat (1) UU No. 18/2002 menetapkan bahwa ‘kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud UU No. serta tingkat ketrampilan dan relevansi pendidikan tenaga kerja. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU No. dan pemajuan iptek. Aktor utama terdiri dari para pengembang/penyedia teknologi. 2. dan lembaga penunjang’. dan [4] knowledge and learning. Pengembangan. Kompleksitas penguatan inovasi tercermin antara lain dari banyaknya aktor yang terlibat dan ikut menentukan atau mempengaruhi kinerja sistem ini. Aktor Inovasi Nasional Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan [2] aktor penunjang (sekunder) yang berperan dalam membentuk ekosistem yang kondusif agar aktoraktor utama dapat unjuk kinerja secara optimal.misalnya data stok pengetahuan dan kelancaran aliran distribusi/difusinya. [3] knowledge networks. OECD (1996) mengidentifikasi empat gugus indikator penting yang perlu dikembangkan teknik pengukurannya (secara statistik) untuk mengevaluasi kinerja KBE. 18 Tahun 2002 menyebutkan pula perlunya peran aktif warganegara dalam pelaksanaan kegiatan penguasaan. badan usaha. 18 Tahun 2002 . 21 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau kegiatan lain yang terkait langsung dengan upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. [2] knowledge rates of return. intensitas interaksi antara aktor sistem inovasi. dan lembaga penunjang merupakan aktor-aktor utama dalam inovasi. mulai dari pengembangannya sampai pada penggunaannya untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. lembaga penelitian dan pengembangan. lembaga litbang.2. Gugus indikator [1] memperlihatkan pentingnya mengetahui penambahan stok pengetahuan per satuan input pada kegiatan riset dan pengembangan. maka ada baiknya aktor yang banyak tersebut dipilah menjadi: [1] aktor utama (primer) yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi. Nuansa kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini mencakup perguruan tinggi. dan para pihak yang memfasilitasi dan/atau melakukan intermediasi interaksi dan komunikasi antara penyedia dan pengguna teknologi. badan usaha. 18 Tahun 2002) menggunakan terminologi kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai aktor inovasi.12 Namun demikian UU No. para pengguna teknologi.1. Gugus indikator [3] memberikan indikasi tentang proses aliran dan intensitas interaksi antara aktor inovasi.

dan [4] lembaga R&D nirlaba (private non-profit). lembaga penunjang. pemerintah daerah. dan [2] unit kerja penelitian dan pengembangan pada kementerian dan pemerintah daerah. Namun demikian. UU No. Hal ini antara lain disebabkan karena kegiatan riset masih lebih diposisikan sebagai ‘academic exercises’. yakni: [1] perguruan tinggi (higher education). dan organisasi masyarakat. tetapi mencakup semua pihak yang secara nyata melakukan kegiatan pengembangan teknologi. Pengelompokan ini digunakan dalam mengevaluasi kinerja lembaga riset dan pengembangan negara-negara dunia. 13 Pasal 8 ayat (3) UU No. pemegang kendali kebijakannya. Namun demikian pengembang/penyedia teknologi tidak hanya terbatas pada dua unsur tersebut. misalnya institusi riset non-pemerintah. Kiprah dan kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum kentara. unsur pelaksana riset dan pengembangan pada industri. yakni melakukan pendidikan dan pengajaran. badan usaha. Lembaga R&D pemerintah termasuk: [1] Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK. dan para periset individual.18/2002 menetapkan lembaga-lembaga yang tergolong sebagai lembaga litbang. belum fokus pada upaya untuk menghasilkan invensi dan inovasi. [3] lembaga R&D pemerintah (government). Seluruh perguruan tinggi di Indonesia. yakni perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan. [2] lembaga R&D bisnis (business enterprise). atau bagian dari organisasi pemerintah. mengemban tiga tugas pokok yang dikenal sebagai tridharma perguruan tinggi. penelitian. sebelumnya dikenal sebagai LPND) yang (salah satu) tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan kegiatan riset dan pengembangan. 13 OECD (2002) membuat klasifikasi lembaga riset dan pengembangan (R&D) berdasarkan pengelola. perguruan tinggi.pengembang/penyedia teknologi. mayoritas perguruan tinggi di Indonesia masih lebih dominan terkonsentrasi pada kegiatan pendidikan dan pengajaran. Berdasarkan kriteria ini maka ada empat kelompok lembaga R&D. negeri maupun swasta. yakni dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. 18 Tahun 2002 hanya mengenal dua lembaga pengembang teknologi. 18 Tahun 2002 . penyandang dana. dan orientasi komersialisasi produk riset yang dihasilkannya (Gambar 1). dan pengabdian kepada masyarakat. 22 Naskah Akademik Perubahan UU No.

14 Banyak industri dan badan usaha lainnya mempunyai unit kerja yang tugas utamanya adalah melakukan riset dan pengembangan. dan peningkatan peradaban bangsa. tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa. misalnya terkait dengan kepedulian mengenai isu lingkungan.Lembaga Riset & Pengembangan Apakah berada dalam institusi pendidikan tinggi? YA Perguruan Tinggi Apakah produknya dijual sesuai harga pasar? YA Badan Usaha Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh badan usaha? YA Badan Usaha YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Perguruan Tinggi Lembaga Pemerintah YA Perguruan Tinggi Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh pemerintah? TIDAK Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh lembaga non-pemerintah? TIDAK YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Lembaga Non-Pemerintah Jika kendali dan pembiayaan dilakukan oleh pihak yang berbeda. 18 Tahun 2002 . kesejahteraan rakyat. 23 Naskah Akademik Perubahan UU No. Riset yang dilakukan badan usaha jelas berorientasi komersil. baik riset untuk mendapatkan informasi kebutuhan dan selera konsumen yang akan dijadikan dasar dalam pengembangan strategi pemasaran maupun riset-riset pengembangan produk. maka selayaknya riset yang dilaksanakan oleh lembaga R&D pemerintah lebih fokus pada upaya menyediakan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat dan negara dan/atau menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dalam rangka mendukung pembangunan perekonomian nasional. Positif dalam konteks pengembangan teknologi akan mengalami akselerasi mengingat potensi kekuatan dunia usaha dalam membiayai kegiatan riset dan relevansi teknologi yang dikembangkan juga akan semakin meningkat. Peningkatan intensitas kegiatan riset oleh badan usaha dapat menjadi indikasi yang positif tetapi sekaligus juga negatif. walaupun saat ini sering dikemas dengan berbagai ‘bungkus’ lain dalam rangka membangun citra perusahaan atau memanfaatkan kecenderungan preferensi konsumen. 2002) Sementara kegiatan riset di perguruan tinggi lebih berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. karena dunia usaha 14 Sesuai dengan amanah konstitusi UUD 1945. maka status lembaga riset & pengembangan tersebut tergantung pada pihak mana yang dominan membiayainya TIDAK TIDAK TIDAK YA Perguruan Tinggi Badan Usaha Lembaga Pemerintah Gambar 1. Klasifikasi berdasarkan status formal lembaga riset dan pengembangan (adaptasi dari OECD.

isu politik dan pemerintahan (demokratisasi. pendidikan anak). peternak. Lembaga R&D nirlaba ini lebih banyak berkiprah di ranah ilmu-ilmu sosial. jika pengembang teknologinya adalah lembaga R&D pemerintah. Lembaga R&D swasta nirlaba sudah berkiprah lama di Indonesia dengan sumber pembiayaan umumnya dari lembaga-lembaga internasional. Badan usaha atau industri merupakan salah satu unsur pengguna teknologi. desentralisasi. dan isu lingkungan (deforestasi. terutama fokus pada isu-isu hangat pada tataran global. Dunia usaha akan selalu memposisikan biaya riset sebagai bagian dari investasi. nelayan. apabila kecenderungan ini merupakan bentuk reaksi dari dunia usaha atas rendahnya relevansi dan/atau mutu teknologi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah. Walaupun saat ini. Badan usaha di Indonesia masih dominan bergerak di sektor perdagangan. penyakit menular. Dapat bersifat komersial jika lembaga pengembang teknologinya bukan merupakan lembaga R&D pemerintah. 24 Naskah Akademik Perubahan UU No. Industri produsen barang dan jasa di Indonesia banyak yang hanya merupakan unit produksi dari sebuah perusahaan multinasional atau hanya bersifat sebagai penerap teknologi asing yang sudah mapan yang dilaksanakan berdasarkan lisensi yang diberikan oleh pihak-pihak pengembang teknologi luar negeri. sehingga kebutuhan dan kapasitas adopsi teknologinya relatif rendah. misalnya isu sosial (kesejahteraan rakyat. atau kegiatan pengembangan teknologi dimaksud sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah. hak asasi manusia. maka sudah sepatutnya teknologi yang dihasilkan tersebut dapat digunakan oleh pemerintah dan masyarakat secara bebas. pengrajin.15 Unsur pengguna lainnya adalah [1] masyarakat pelaku produksi barang/komoditas/jasa. Bukan rahasia umum bahwa saat ini komunikasi dan interaksi antara para pihak pengembang teknologi (perguruan tinggi dan lembaga R&D pemerintah) dengan pihak industri belum terbangun secara intensif. dan [2] pemerintah dalam rangka melaksanakan pelayanan publik dan untuk menjaga kedaulatan negara. pencemaran/polusi. Mengingat pada saat ini segmen industri besar cenderung lebih bergantung pada teknologi asing (yang mungkin disebabkan 15 UU No. 18 Tahun 2002 . Sebaliknya. Kapasitas adopsi para pengguna teknologi di Indonesia masih belum besar. 18 Tahun 2002 hanya menyebutkan badan usaha sebagai aktor pengguna teknologi. lembaga R&D yang berorientasi komersial umumnya masih merupakan unit kerja internal lembaga bisnis. kegiatannya tidak dibiayai oleh pemerintah.tidak akan melakukan kegiatan riset jika tidak ada potensi kemanfaatan hasilnya. namun cikal-bakal lembaga R&D komersial yang independen sudah mulai nampak tumbuh. Kecenderungan peningkatan intensitas riset oleh dunia usaha dapat pula menjadi indikasi negatif. atau merupakan lembaga R&D asing. Badan usaha merupakan pengguna teknologi yang bersifat komersial. Perlu diingat bahwa kepemilikan paten lazimnya adalah ditangan pihak yang membiayai kegiatan pengembangan teknologi yang bersangkutan. misalnya petani. perubahan iklim). sedangkan masyarakat dan pemerintah lebih bersifat bauran antara komersial dan pelayanan publik. Jurang yang masih membentang lebar antara perguruan tinggi atau lembaga R&D pemerintah dengan dunia usaha merupakan peluang untuk tumbuh kembang lembaga R&D independen. korupsi).

Pendirian BTC ini merupakan tidak lanjut rekomendasi dari hasil kajian ‘Periskop’ yang dilaksanakan pada tahun 2000 atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Jerman. pernah mendorong pembentukan lembaga yang dirancang khusus untuk fungsi intermediasi ini. masih dibanjiri oleh teknologi maupun produk teknologi asing. Sejak tahun 2010. dan sebagian lagi karena teknologi hasil pengembangan dalam negeri yang tidak sesuai dengan 16 Sudah ada arahan dari Presiden RI agar kebutuhan teknologi dan produk teknologi di bidang pertahanan dan keamanan memprioritaskan teknologi dalam negeri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Orientasi pengembangan teknologi Indonesia perlu lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dan pemecahan persoalan dalam negeri terlebih dahulu.karena kemampuan teknologi nasional belum memadai untuk memasok kebutuhan teknologi tersebut atau mungkin karena alasan lain yang bersifat non-teknis). 17 25 Naskah Akademik Perubahan UU No.17 Namun peran intermediasi dari lembaga-lembaga BTC tersebut kelihatannya masih jauh dari harapan. BTC yang dikelola BPPT telah dilebur masuk ke dalam organisasi BPPT Engineering. Kementerian Riset dan Teknologi. Pihak ketiga yang tergolong sebagai aktor utama inovasi adalah para pihak yang berperan sebagai intermediator atau fasilitator untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara para pengembang dengan para pengguna teknologi. maka pengguna teknologi domestik yang paling potensial adalah masyarakat awam dan usaha kecil dan menengah (UKM). misalnya.16 Disamping untuk meningkatkan kemandirian bangsa. tersebut di beberapa kota. mengingat luas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sedemikian besar. Untuk menjalankan peran intermediasi. juga penggunaan teknologi dalam negeri akan menggairahkan kegiatan pengembangan teknologi itu sendiri. terutama teknologi di bidang pertahanan dan keamanan. Misalnya. merupakan dua argumen utama untuk menjadikan kebutuhan domestik sebagai pasar utama bagi produk teknologi dalam negeri. peran intermediasi dan fasilitasi ini diharapkan dimainkan lebih banyak oleh pemerintah. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa dan kebutuhan peralatan utama sistem pertahanan (alutsista) nasional yang besar. Pemerintah tentunya dapat membentuk lembaga-lembaga khusus untuk menjalankan fungsi/tugas ini. terutama Jepang dan Cina. Kenyataannya. Pemerintah seharusnya menjadi pengguna utama teknologi dalam negeri. sebagian penyebabnya berasal dari kapasitas dan kompetensi lembaga yang tidak memadai. teknologi yang dibutuhkan masyarakat awam dan UKM pun belum sepenuhnya dikuasai oleh teknologi domestik. karena secara langsung akan meningkatkan aliran dana untuk pembiayaannya. yakni Business Technology Center (BTC) di 8 lokasi. Oleh sebab itu. Pada saat ini. baru setelah pasar domestik dikuasai (dan teknologi Indonesia sudah lebih kompetitif) maka pertimbangan ekspor teknologi nasional menjadi lebih layak diupayakan. harusnya segmen pengguna ini harus dipasok penuh oleh pengembang teknologi domestik. kebutuhan alat dan mesin pertanian masih dominan diimpor dari berbagai negara. 18 Tahun 2002 . Untungnya benih padi sudah dapat dipenuhi dari hasil riset dan teknologi dalam negeri.

Hal ini dilakukan dengan mensinergikan elemen-elemen akademisi. bisnis. dimana aktor-aktor utama inovasi akan difasilitasi untuk berada dalam kawasan yang sama. Olahraga. Untuk penguatan peran intermediasi ini. Sejak 2011. difusi. dan pengguna teknologi di kawasan ini diharapkan dapat menjadi model implementasi Sistem Inovasi Nasional. pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi juga telah menfasilitasi pendirian Business Innovation Center (BIC) pada tahun 2008. dan yang terakhir ‘103 Inovasi Indonesia’ (2011). Visi BIC adalah menjadi lembaga intermediasi inovasi bisnis yang terdepan. pemanfaatan. dan pemerintah (A-B-G) dalam proses inovasi. [2] menyiapkan sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk aktor penggerak sistem inovasi. BIC telah menerbitkan katalog tahunan hasil-hasil riset yang dianggap berpeluang untuk dikomersialisasikan. 26 Naskah Akademik Perubahan UU No. sehingga dalam waktu 10 tahun. melalui serial terbitan buku ‘100 Inovasi Indonesia’ (2008). Keterkaitan lembaga-lembaga pengembang.kebutuhan nyata (tidak relevan). Kelembagaan yang dikategorikan sebagai pendukung adalah lembaga atau aktor yang tidak terlibat langsung dalam proses pengembangan. 18 Tahun 2002. Culture. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. Pasal 10 ayat (1)). dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. Teknologi yang dikembangkan lebih mahal dan/atau kalah handal dibandingkan dengan teknologi sejenis yang sudah tersedia di pasar. Lembaga pendukung mencakup lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan dan/atau kapasitas untuk: [1] membuat regulasi dan/atau kebijakan terkait tumbuh-kembang inovasi nasional maupun daerah. Sport. Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. BIC ditempatkan di kawasan Puspiptek Serpong sesuai dengan skenario untuk menjadikan kawasan ini sebagai Science and Technology Park (STP). secara resmi disingkat MEXT) Jepang 18 19 Entah mengapa lembaga-lembaga intermediasi yang dibentuk penamaannya selalu menggunakan bahasa Inggeris.18 Sejak tahun 2008 tersebut. tetapi berperan nyata dan signifikan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh-kembang inovasi. 18 Tahun 2002 Selain tiga aktor utama inovasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Pengembangan. ‘102 Inovasi Indonesia’ (2010). maupun penggunaan teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan publik maupun negara. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (UU No. Science and Technology. [3] memberikan dukungan finansial bagi para aktor inovasi dalam menjalankan perannya masing-masing. dalam menunjang daya saing ekonomi dan bisnis di Indonesia. kegiatan inovasi di Indonesia akan menjadi unggulan (benchmark) negara-negara lain di ASEAN. intermediasi. Budaya. Kementerian Pendidikan. Kedekatan secara fisik diyakini akan mampu merangsang aktor-aktor tersebut untuk meningkatkan komunikasi dan interaksinya. walaupun lebih banyak orientasinya adalah untuk memediasi antara pengembang teknologi nasional dengan para (calon) pengguna potensial di dalam negeri. juga banyak aktor atau lembaga pendukung lainnya yang berperan penting dalam membangun inovasi secara lebih produktif dan berkesinambungan. dan [4] membangun infrastruktur sosial. 19 . ‘101 Inovasi Indonesia (2009).

pemberian prioritas dukungan pembiayaan bagi lembaga dan/atau individu peneliti 27 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. serta pajak dan keuangan. pendidikan. Pasar Pasar Permintaan Produk & jasa Industri Basis Pengetahuan Pengembang Kerjasama Teknologi [Univesitas. karakter bangsa Gambar 2. tradisi. Basis Pengetahuan Litbang] Ketenagakerjaan Infrastruktur Pendidikan Pengguna Teknologi [Industri] AKTOR UTAMA Kebijakan AKTOR PENDUKUNG Pemerintah Masyarakat Politik dan Ekonomi Lingkungan. inovasi. tradisi. 2002) Regulasi dan kebijakan yang mendukung upaya penumbuh-kembangan inovasi. antara lain misalnya: pemberian insentif teknis dan/atau finansial bagi badan usaha yang menggunakan teknologi nasional dalam kegiatan usahanya. yakni berupa lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. budaya. dan karakter bangsa. tidak ditampakkan posisi dan peran lembaga intermediasi dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. Suatu hal yang menarik dari konsepsi ini adalah: [1] fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. Diagram Konsepsi Sistem Inovasi Nasional (adaptasi dari MEXT. [2] kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah akan tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. pemberian kompensasi yang sebanding bagi badan usaha yang berkontribusi dalam pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi nasional.menggunakan diagram konseptual untuk memperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang ini (Gambar 2). budaya. infrastruktur sosial. ketenagakerjaan. ilmu pengetahuan dan teknologi. 18 Tahun 2002 Pajak&Keuangan Ekonomi Sosial Iptek . dan difusi teknologi harus berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. Namun demikian dalam konsepsi MEXT tersebut. dan [3] secara jelas memperlihatkan bahwa pada akhirnya kegiatan perekayasaan.

atau masih sulit meyakinkan pihak perbankan untuk mendapatkan pinjaman. digunakan untuk pembiayaan persiapan ‘go public’. juga ikut mengendalikan kebijakan dan pengambilan keputusan pada perusahaan tersebut. maka institusi pendidikan (terutama pendidikan tinggi) perlu mengembangkan program studi dan kurikulum yang relevan dengan sektor atau profesi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Academic excellence yang sering menjadi jargon pendidikan tinggi harus dibarengi dengan peningkatkan relevansinya dengan kebutuhan pembangunan dan potensi sumberdaya nasional. [4] Second-Round. Memberikan akses yang lebih mudah dalam pemanfaatan laboratorium pemerintah di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan. Ketersediaan dan akses ke skim kredit atau bentuk kemudahan lain untuk modal kerja baik bagi pengembang teknologi maupun industri akan ikut merangsang tumbuh-kembang inovasi. disebut juga ‘bridge financing’. Skenario VC yang umum adalah pemodal memberikan dana awal bagi suatu usaha dan dana tersebut diperhitungkan sebagai saham pada perusahaan yang bersangkutan. 18 Tahun 2002 . [3] First-Round. Oleh sebab itu. Konsepsi inovasi di Jepang (Gambar 2) dapat dijadikan referensi dalam konteks ini. upaya penguatan inovasi tidak boleh mengabaikan peran 28 Naskah Akademik Perubahan UU No. pembiayaan yang tidak besar dan dipergunakan untuk membuktikan bahwa ide baru yang digagas berpotensi untuk menghasilkan produk atau jasa komersial –biasanya disediakan oleh ‘angel investor’. masih terlalu kecil untuk bisa menarik dana publik melalui pasar modal.atau perekayasa yang fokus pada upaya untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan/atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan nasional. Karena resiko usaha baru yang tinggi dan investasi butuh waktu 3-7 tahun untuk bisa cair. disebut juga ‘mezzanine financing’. berbeda dengan infrastruktur fisik yang telah cukup dipahami peran dan kontribusinya. Kebijakan yang mendukung dan akses yang terbuka luas untuk mendapatkan sumber pembiayaan merupakan pra-kondisi yang dibutuhkan dalam upaya penguatan inovasi nasional. untuk biaya kerja tahap awal dimana perusahaan sudah mulai menjual produk tetapi belum memberikan keuntungan. pemberian insentif bagi lembaga intermediasi yang berhasil meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. [2] start-up. dan [6] Fourth-Round. Untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang dapat menggerakkan inovasi. VC menjadi opsi sumber pembiayaan bagi perusahaan yang belum berpengalaman. dana untuk penjualan awal dan biaya produksi. untuk biaya pengembangan usaha bagi perusahaan yang mulai memperoleh keuntungan. pembiayaan tahap awal untuk dana pemasaran atau pengembangan produk. Venture capital (VC) merupakan salah satu bentuk sumber pembiayaan bagi perusahaan baru tumbuh (startup companies). Secara umum ada 6 tahap pembiayaan yang mungkin didapat dari VC. Peran penting infrastruktur sosial sangat sering terabaikan dalam berbagai sektor pembangunan. yakni: [1] seed money. [5] Third-Round. maupun pengembangan program pendampingan dari para tenaga ahli (peneliti dan perekayasa) juga dapat menjadi alternatif upaya penumbuh-kembangkan inovasi. maka biasanya pemodal selain mendapat porsi saham yang signifikan.

20 Sesungguhnya sangat jelas bahwa amanah konstitusi menyatakan bahwa tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan peradaban. Infrastruktur sosial termasuk sarana dan prasarana kesehatan. Data empiris juga menunjukkan adanya korelasi antara penguasaan teknologi dengan kemajuan perekonomian suatu negara.3.1. Perlu diingat pula.infrastruktur sosial ini. Akan tetapi adalah keliru jika serta-merta disimpulkan bahwa hubungan sebab akibat tersebut bersifat otomatis. olahraga dan rekreasi. perumahan. sarana komunitas/lingkungan. maka akan meningkatkan kemungkinan bagi teknologi tersebut untuk digunakan. tetapi tidak otomatis bahwa inovasi di Indonesia menjadi lebih produktif dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. tidak dapat dimutilasi menjadi segmen-segmen yang terpisah satu sama lain. 20 Pemerintah Jepang. maupun sosio-kultural. finansial. pelatihan dan kesempatan kerja. sebagaimana yang terlihat pada konsepsi SINas yang dikembangkan oleh MEXT (2002). masih sangat sering terkendala. dan komunitas (Casey. informasi. Interaksi Antar-Aktor Inovasi Pendekatan untuk memahami inovasi tentunya harus bersifat sistemik. Kemajuan R&D bisa menjadi modal untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih tangguh. pada saat ini justeru persoalan interaksi dan komunikasi antara aktor inovasi ini yang masih tersumbat. 2. seni dan budaya. 29 Naskah Akademik Perubahan UU No. upaya membangun kemampuan inovasi nasional merupakan suatu yang kompleks dan banyaknya aktor yang ikut berperan di dalamnya. Keberhasilan untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih produktif dan berkontribusi positif terhadap pembangunan perekonomian suatu bangsa (yang pada gilirannya diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat) berkorelasi positif dengan intensitas komunikasi dan interaksi antara para aktor inovasi. Tujuan ini hanya akan tercapai jika pembangunan infrastruktur sosial menjadi bagian esensial dari skenario membangun kemampuan inovasi nasional. layanan tanggap darurat. baik dari dimensi teknis. transportasi publik. Namun demikian. walaupun seandainya lembaga R&D Indonesia sudah sedemikian majunya sehingga setara dengan lembaga-lembaga serupa pada level dunia. Pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan pengguna jika telah mempertimbangkan juga secara seksama kapasitas adopsi oleh pihak pengguna. 18 Tahun 2002 . 2005). hukum dan keamanan publik. sehingga teknologi yang dikembangkan diharapkan sudah semakin mengacu pada upaya memenuhi kebutuhan nyata. telah mengenali peran infrastruktur sosial ini dalam menentukan keberhasilan membangun SINas. keluarga. Resultan dari interaksi antar-aktor juga masih sangat tergantung pada ekosistem dimana hal tersebut berlangsung. pendidikan. serta dukungan lain untuk individu. sebagai contoh. Sebagai contoh. Interaksi dan komunikasi antar-aktor yang intensif akan memperbesar peluang untuk terjadinya aliran informasi kebutuhan teknologi dari para pihak pengguna teknologi ke pihak pengembang teknologi. Penelaahan aktor-aktor inovasi tidak dapat dilakukan secara terisolir satu sama lain.

Kalaupun ada. masyarakat. Surabaya. Padang. maka lembaga intermediasi mendapat beban yang sangat berat. antara perguruan tinggi atau lembaga R&D dengan industri masih memerlukan dukungan kebijakan. dan kebijakan pembangunan infrastruktur sosial (lihat 30 Naskah Akademik Perubahan UU No. Selanjutnya. Semarang. 2008). 2. umumnya hanya terbatas pada masalah operasional dan perawatan mesin dan peralatan saja (Hidayat. lembaga R&D. misalnya kebijakan pembangunan perekonomian. dan lembaga intermediasi teknologi masih sangat jarang. yang dilaksanakan di 10 kota besar Indonesia (Bandung.4. Namun demikian performa akhir dari upaya penguatan kemampuan inovasi nasional akan dipengaruhi oleh berbagai pihak.Survei Periskop tahun 2000. kebijakan pendidikan nasional. Dalam konteks interaksi antar-aktor inovasi ini. Komunikasi dan interaksi antara pengembang dengan pengguna teknologi. Pada periode tahun 2000-an. akademisi dalam konsepsi ABG ini mewakili komunitas pengembang teknologi. dan pemerintahan mewakili lembaga yang berfungsi untuk melakukan regulasi. 2006). Teknologi yang dihasilkan oleh pengembangan seringkali tidak sesuai atau tidak relevan dengan kebutuhan para pengguna untuk meningkatkan produktivitas ataupun untuk dijadikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi. Pada dasarnya. model triple helix menggunakan dinamika non-linier hubungan universitas-industri-pemerintah. permasalahan fundamentalnya adalah sama. intermediasi. 18 Tahun 2002 . pada tahun 1994 lahir model ‘Triple Helix’ dari upaya untuk mengawinkan antara analisis kelembagaan infrastruktur pengetahuan dengan analisis evolusioner ekonomi berbasis pengetahuan (Leydesdorff dan Meyer. Yogyakarta. bahkan mungkin menjadi ‘mission impossible’ bagi lembaga intermediasi untuk mendorong agar teknologi tersebut digunakan oleh industri/badan usaha. Berbagai regulasi dan kebijakan akan ikut mempengaruhi. konsepsi triple helix ini juga gencar dikumandangkan di Indonesia sebagai bentuk model penguatan kemampuan inovasi nasional dengan menggunakan nama populer triple helix ABG (academicbusiness-government) (Kadiman. Makassar. Untuk menyederhanakan sebuah sistem yang kompleks. Manado. bisnis mewakili komunitas pengguna teknologi. dan Mataram) atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi dan Kementerian Pendidikan Jerman berhasil mengungkapkan bahwa kerjasama antara industri dengan perguruan tinggi. antara akademisi dengan bisnis. termasuk kebijakan-kebijakan yang diluar kendali para aktor utama inovasi. Terlepas dari konsepsi mana yang digunakan untuk menjelaskan tentang kinerja inovasi nasional. kebijakan ketenaga-kerjaan. kebijakan keuangan dan perpajakan. Disisi lain kelancaran aliran paket teknologi yang dihasilkan pihak pengembang ke pihak pengguna juga menjadi faktor yang menentukan. 2010). dan fasilitasi. karena relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang rendah. Palembang.1. Ekosistem Inovasi Nasional Kemampuan inovasi nasional pada prinsipnya ditentukan oleh kelancaran aliran informasi kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh pihak (calon) pengguna potensial ke pihak pengembang teknologi dan sebaliknya. maupun pemerintah. yaitu rendahnya intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi. Samarinda.

teori sangat jarang diadopsi secara utuh untuk diterjemahkannya menjadi rationale oleh pembuat kebijakan. location costs Neo-Marshallian Evolutionary Broad Technology as applied knowledge Technology as Broad definition endogenous non. (4) Systemic Institutional Approaches. noninnovation excludable generated by R&D Neutral but with implications for divergence/conve rgence Consideration of space Proximity (and space) play a role in inducing changes in behaviour Space as on dimension for specific evolutionary processes 21 Rationale dalam konteks ini adalah model yang diformalisasi dan didasarkan dari teori dan konsepsi terpilih yang memberikan informasi tentang desain. (2008) mencoba menjawab tiga pertanyaan yang sangat mendasar.including social rival. Pemilihan teori yang berbeda sebagai landasannya. technology and innovation policy Schumpeterian growth theory Systemic institutional approaches Broad (including social innovations). Rationale yang berbasis teori lebih sering diposisikan sebagai justifikasi atau alasan untuk menetapkan kebijakan tertentu sesuai dengan yang diinginkan. dan evaluasi kebijakan (Laranja et al. Laranja et al. Synthesis of theoretical rationales for science. Tabel 1. jarang untuk merumuskan atau memilih alternatif kebijakan yang paling tepat. (2) Schumpeterian Growth Theory. Namun demikian. level intervensi. yakni: (1) Neoclassical. hanya akan dicuplik beberapa elemen saja sesuai dengan kepentingan yang hendak dikawal. 2008) 31 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pada level daerah. Technology as applied knowledge Neoclassical Consideration of technology Technology as information and “incorporated” in capital investment No consideration of space beyond reduction of information costs.. Dalam kajiannya yang terkait dengan upaya translasi rationale21 menjadi kebijakan. misalnya berupa berbagai peraturan daerah (Perda). Berbagai regulasi dan kebijakan di berbagai sektor ini merupakan komponen dalam ekosistem inovasi nasional. transportas. dan (5) Evolutionary (Tabel 1). (3) Neo-Marshallian. ada lagi regulasi dan kebijakan daerah. Umumnya. yakni: (1) Apakah rationale untuk intervensi pemerintah dapat diturunkan dari berbagai teori dengan perspektif yang berbeda? (2) Apakah bentuk instrumen kebijakan yang digunakan dalam intervensi pemerintah berkaitan dengan berbagai rationale? Dan (3) Apakah yang dapat disimpulkan terkait level teritorial/kewilayahan yang tepat dari suatu kebijakan sistem inovasi yang didasarkan atas teori terpilih dan rationale yang dikembangkan berdasarkan teori tersebut? Untuk menjawab tiga pertanyaan di atas. ada lima teori yang ditelaah Laranja et al. implementasi. akan melahirkan rationale untuk intervensi pemerintah. 18 Tahun 2002 .Gambar 2). (2008). dan instrumen kebijakan yang berbeda pula.

Park for Science and Technology. Lack of diversity Reduction of costs in information. selectivity) Target different kinds of individual actors. Increase cognitive capacity. criteria of Targets both individual actors and “collective” actions. dysfunctions. technology infrastructures. endogenous R&D agglomeration” System dysfunctions cognitive gaps. Education for creating pool of skills Technology infrastructure. but with focus in more advanced region Incentivate accumulation of “monopolistic” gains Regional level but National and also national regional levels level with regional focus(decentralis ed) Creation of a collaborative industrial community. Criteria balances support to individual actors with increasing collaboration. Learning Substitute for less Creat conditions than optimal use for increasing of resources returns to R&D Level of intervention Centralisednational level No differentiation of levels of intervention Compensate for less than optimal private investment. investment in local advanced technology infrastructure. public intervention Informationtransmission failures. Favours collective 32 Naskah Akademik Perubahan UU No. Favours R&D support to hitech. transports. Favours demand approaches and provision of “ shared” public services. Favours supplyside initiatives. and competition Overall coherence of the system. System as a target. Favours science push and large R&D projects. help in networking. Optimise resources Centralisednational level. Science push measures. Large mobilisation projects Subsidies and tax incentivate to R&D. Learning accumulation of economies of Institutional failures failures. Technology infrastructures. Promote locally based networks of cooperation. Block-in. networks of actors or systems of innovation. Proactive intermediation brokerage (translation of implicit knowledge) Targets both individual actors and groups. Design of segmented targeted intervention ”adaptive role” Subsidies and tax incentivate to R&D. Adequate institutional setting Avoid lock-in. Extension services(“servizi reali”) ranging from technology to education and training cluster policies Coodinating the system. Extension services. Appropriability failure Objective of intervention Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches Evolutionary Support to Flexible “external System failure. eligibility criteria. Return on Investment and Targets different kind of individual actors. Extension services Mode of operationalisation (target. roles and function of actors. Balances centralised with decentralised intervention Identification of technology specific failures. Improve diversity and selectivity Multi-level.Neoclassical Rationale for Market failures. interactions and networking. Investment in local advanced technology infrastructure. Park for Science and Technology Subsides and tax incentives to R&D. “Animateur” Role of policy maker Examples of policy Subsidies and tax instruments incentives to R&D. 18 Tahun 2002 .

Budaya. tradisi. Potensi sumberdaya alam juga merupakan komponen ekosistem yang menjadi acuan dalam merancang kemampuan inovasi nasional. MEXT (2002) sudah mengenali komponen ini dan mengintegrasikannya dalam upaya membangun kemampuan inovasi nasional di Jepang. Komponen yang bersifat intangible atau tak-berwujud mencakup semua regulasi. Dengan demikian. Seharusnya kebutuhan untuk mendukung tumbuhkembang inovasi sesuai dengan potensi nasional dan kebutuhan pasar (atau pengguna) yang menentukan pola penyiapan dan pengembangan sumberdaya manusia. Komponen yang bersifat tangible (wujud fisiknya dapat divisualisasikan) mencakup antara lain sumberdaya manusia terdidik dan/atau terlatih yang tersedia. budaya. tetapi juga mencakup berbagai komponen non-formal. dan komponen lain yang dapat mempengaruhi performa SINas tetapi tidak dapat divisualisasikan wujud fisiknya. 33 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan difusi teknologi) tentu akan mempengaruhi (secara positif atau mungkin juga negatif) performa inovasi nasional. Regulasi dan kebijakan (baik yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pengaturan inovasi. komponen ini merupakan komponen ekosistem yang bersifat ‘statis’.Neoclassical opportunity for appropristion as criteria Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches governance Evolutionary opportunity. dan sumberdaya finansial untuk mendukung kegiatan pengembangan teknologi maupun untuk proses produksi. tradisi. dan nilai-nilai luhur atau karakter merupakan ‘penciri’ suatu bangsa yang cenderung untuk selalu dilestarikan eksistensinya. Saat ini kecenderungan yang terjadi adalah ketersediaan dan jenis keahlian sumberdaya manusia yang secara dominan mewarnai inovasi. tradisi. perkembangan iptek. 18 Tahun 2002 . sebaliknya dinamika interaksi antar-aktor inovasi. Ekosistem inovasi terbangun dari komponen-komponen yang bersifat intangible maupun yang bersifat tangible. dalam konteks inovasi. serta dinamika kebutuhan dan persoalan pengguna teknologi akan mengharuskan terjadinya penyesuaian regulasi dan kebijakan. yang diposisikan sebagai fondasi untuk bangunan kebijakan inovasi. and variety (increase or reduction) as Criteria. sumberdaya alam yang potensial untuk dikelola sebagai bahan baku proses produksi barang maupun jasa yang dibutuhkan. kebijakan. Interaksi antara inovasi dengan ekosistem tempat dimana inovasi akan dikembangkan dan ditumbuhkan pada dasarnya bersifat saling-pengaruh. karakter. seperti budaya (termasuk norma dan etika). dan nilai-nilai luhur atau karakter bangsa (Gambar 2). Favours collective governance concentration for Use of the value increasing chain or cluster returns concept Source: Laranja et al (2008) Komponen ekosistem inovasi tidak hanya berupa regulasi dan kebijakan yang bersifat legalformal.

saling beinteraksi secara positif (snowballing effect) sehingga masing-masing berkembang dan tumbuh semakin kuat. 18 Tahun 2002 adalah lemahnya koordinasi kegiatan riset di daerah. UU No. Akibatnya inovasi bukan akan tumbuh berkembang.Sumberdaya finansial dan inovasi akan saling berhubungan secara interaktif. Analisis Undang-undang No. 18 Tahun 2002. memberi stimulus dan memfasilitasi dalam menciptakan iklim pertumbuhan dan sinergi unsur kelembagaan. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera terhadap implementasi UU No. Kondisi ini mendorong industri nasional cenderung memanfaatkan lisensi impor. temuan mendasar yang diidentifikasikan dalam pelaksanaan UU No.1. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Sri. 18 Tahun 2002 . dan Prakoso Bhairawa Putera. Pengembangan.2. tetapi sebaliknya akan menjadi faktor yang semakin tidak diperhitungkan dalam skenario besar pembanguan perekonomian suatu bangsa. Kajian Implementasi UU No.. Selanjutnya pertumbuhan perekonomian secara langsung juga berarti meningkatnya ketersediaan sumberdaya finansial untuk membangun kemampuan inovasi nasional dengan kapasitas yang lebih besar. Kondisi ini selain menyebabkan rendahnya sumberdaya finansial untuk mendukung pengembangan inovasi juga menghilangkan kepercayaan publik terhadap inovasi itu sendiri. 18 Tahun 2002 dimaksudkan untuk meletakkan dasar bagi perkembangan kelembagaan iptek dengan interaksinya. Selain itu. pengembangan dan penerapan iptek khususnya ditingkat daerah. Sebaliknya inovasi yang bersifat stagnan (atau dorman) karena tidak mampu menghasilkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas atau efisiensi proses produksi. hal itu disebabkan antara lain belum terjalinnya hubungan yang baik antara lembaga penelitian perguruan tinggi dan industri. Mulatsih. 2. 18 Tahun 2002 2. Pemerintah daerah berkewajiban menumbuh-kembangkan motivasi. 18 Tahun 2002 meletakkan pemerintah daerah sebagai salah satu komponen pendukung pelaksanaan sistem nasional penelitian. Menurut penelitian yang dilakukan. 18/2002 menunjukkan pengembangan dan penerapan iptek masih belum dimanfaatkan secara optimal. 2009. secara umum Indonesia belum menjadi pelaku iptek yang diperhitungkan dalam dunia internasional. sehingga secara nyata akan mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara. Padahal sejak awal UU No. tidak akan pula mampu memberikan kotribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. Sumberdaya finansial yang tersedia akan mendorong kemampuan inovasi semakin tumbuh berkembang menjadi sebuah sistem yang lebih produktif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan jasa yang bernilai ekonomi. 34 Naskah Akademik Perubahan UU No. terutama di kegiatan ekonomi dan sosial budaya. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). Berdasarkan implementasi UU No.2. dan interaksi pelaku iptek. serta sumber daya iptek yang mampu diakumulasikan masih terbatas. sumber daya dan jaringan iptek.

yaitu tanggapan lembaga-lembaga (stakeholders). Cukup paham dengan UU ini. sarana dan prasarana dalam pemaksimalan tugas dan fungsi di daerah. 18 Tahun 2002 . khususnya dalam diskusi penyusunan PP No. lembaga penelitian dan pengembangan. 35 Tahun 2007 tentang alokasi dana sebagian pendapatan badan usaha. Selama ini balitbangda terikat dengan PP No. Balitbang pemerintah daerah (balitbangda) Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) 35 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Variabel Tanggapan/respon terhadap UU No. tanpa adanya keberlanjutan difusi hasil penelitian yang aplikatif oleh dunia usaha. Table 6. bahwa penelitian dan pengembangan itu tidak termasuk sebagai kegiatan wajib atau pilihan. 18 Tahun 2002 Dalam menganalisis temuan dalam implementasi UU Nomor 18 Tahun 2002 di atas. Namun demikian. Untuk mengetahui keadaan tersebut ditunjukkan pada tabel di bawah ini. pengembangan dan penerapan iptek diharapkan akan memperkuat jaringan kelembagaan perguruan tinggi. Dengan memberikan dana insentif untuk kegiatan penelitian. karena sering diundang sebagai pemangku kepentingan. 38. dukungan yuridis tidak diikuti ini tidak diikuti adanya dukungan sumber daya yang memadai. Balitbangda merasa bahwa UU ini belum menjadikan lembagalembaga penelitian daerah sebagai garda terdepan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. kondisi yang terjadi cukup ironis karena interaksi yang terjadi hanya terjalin sebatas pemanfaatan dana riset. lembaga litbang. Pelaksana undang-undang ini adalah perguruan tinggi. begitu juga dengan dana. Perspektif Pemangku Kepentingan UU No. lembaga penunjang dan badan usaha. Secara umum UU ini belum diketahui. Yang lebih diperlukan lagi adalah sosialisasi dan implementasinya. Namun demikian menurut penelitian Mulatsih dan Putera (2009). dan industri. pembentukan jalinan interaksi ini distimulus oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Mulatsih dan Putera (2009) menggunakan indikator keadaan. Temuan lainnya yang menarik adalah mengenai pembentukan jalinan interaksi antar kelembagaan yang diharapkan dapat membentuk pola sistem nasional bagi kemajuan iptek di Indonesia. 18/2002 Lembaga Perguruan tinggi Pandangan/Perspektif Pada umumnya pengetahuan tentang UU ini masih sangat sedikit. Semua daerah responden menyebutkan minimnya sumber daya peneliti.Kondisi awal di lokasi yang menjadi sampel penelitian ini (tahun 2009) terlihat telah ada dukungan secara yuridis formal melalui pembentukan Peraturan Daerah ataupun Keputusan Gubernur tentang pembentukan badan/bagian/unit yang menangani kegiatan penelitian dan pengembangan di daerah. Namun UU ini perlu untuk mengarahkan/mengatur kegiatan penelitian supaya efektif. Pada awalnya dan sampai saat ini.1 Tanggapan terhadap UU No.

Bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang daerah. Selain itu masih adanya paradigma memandang sebelah mata terhadap balitbangda oleh pihak-pihak di daerah. Kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama ini diarahkan untuk mendukung visi dan misi pembangunan daerah.Tabel di atas menunjukkan bahwa unsur kelembagaan yang diteliti (perguruan tinggi. Sehingga Balitbangda Sumsel berkolaborasi dengan lemlit-lemlit di perguruan tinggi yang berada di wilayah ini. yang didukung adanya peran pemerintah/pemerintah daerah. dan masyarakat. dan Jaringan Kelembagaan. dan adanya PP No. Bagian penelitian dan pengembangan yang menjadi subbagian di bawah struktur Sekretaris Daerah Provinsi Yogyakarta. sumber daya. karena masing-masing instansi memiliki litbang sehingga fungsi dan tugas balitbangda apa. pemanfaatan dan pemajuan iptek. sumber daya. Akan tetapi dalam pelaksanaannya. Adanya UU No. Pemerintah Daerah Provinsi. tetapi pilihan. khususnya yang diteliti tampaknya kurang memahami kedudukan dan fungsi mereka dalam memperkuat visi dan misi dalam upaya penguasaan. seperti Balitbangda Sulawesi Selatan. seperti yang telihat dari Badan Litbang Daerah Sumatera Selatan. perusahaan (badan usaha) ini meletakkan visi dan misi usahanya untuk bisnis dan penelitian. hal ini disebabkan karena alasan teknis dengan perpindahan struktur bagian penelitian dan pengembangan yang sebelumnya di bawah Badan Perencanaan Daerah. walaupun sebenarnya berdasarkan surat pembentukan terjabarkan tugas dan fungsi bagian ini – tentunya memberikan tugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan di daerah. 18 Tahun 2002. lembaga litbang daerah. hanya salah badan usaha yang terlihat aktif dalam merespon kebijakan ini. Sehingga bagian ini masih merencanakan tindakan untuk pelaksanaan kegiatan. pelaksanaan penelitian dan pengembangan hanya menjadi tugas pendukung instansi lain di wilayah kerjanya. dan jaringan iptek merupakan unsur-unsur utama dalam sistem nasional penelitian. menimbulkan kebingungan pada balitbangda. dan badan usaha/industri) masih rendah tanggapannya terhadap UU No. belum mengimplementasikan kebijakan ini pada tingkat daerah. tetapi yang belum adalah menjadikan lembagalembaga penelitian dan pengembangan daerah ini sebagai garda terdepan dalam hal penelitian dan pengembangan di daerah. Kelembagaan. Namun demikian.” Kondisi semacam ini memang berbeda dengan lembaga litbang di daerah yang lain. pengembangan dan penerapan iptek. khususnya dalam mengemban misi penelitian dan pengembangan baik untuk kepentingan industri maupun kepentingan nasional masih rendah. Sumberdaya. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. ada beberapa responden yang cukup tertarik dengan memaksimalkan peran dan fungsi litbang daerah dalam dua tahun terakhir. Karena dari temuan penelitian. “Keberadaan undang-undang ini cukup diketahui. 18 Tahun 2002 . dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menjadikan penelitian di daerah bukan merupakan urusan wajib. 18 Tahun 2002 diharapkan kelembagaan. dan jaringan iptek menjadi berkembang lebih baik untuk 36 Naskah Akademik Perubahan UU No. Di samping itu juga interaktif terhadap kebijakan pemerintah.

pengembangan. sumber daya. 18 Tahun 2002 ini belum berjalan dengan baik. Sehingga kegiatan ini tidak selalu dilakukan seperti lembaga penelitian lainnya. inovasi. pemanfaatan dan pemajuan iptek. 37 Naskah Akademik Perubahan UU No. termasuk pembentukan Sentra HKI. pengembangan. perekayasa. teknisi.membangun kemampuan iptek nasional yang lebih kuat untuk mencapai tingkatan ekonomi sejajar dengan negara lain. Tabel 6. badan usaha dan lembaga penunjang) berfungsi mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. lembaga litbang. pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang masih bersifat sektoral menjadikan amanah yang disebutkan dalam UU No. Namun demikian. Lembaga litbang menjadi mencari peneliti. jaringan dan pembiayaan dipandang sebagai aspek inti dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. perekayasaan. Untuk itu. Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) Selain kelembagaan. perguruan tinggi dan lembaga litbang agar mengusahakan penyebaran informasi hasil kegiatan.UGM. DIY) Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Dalam mengembangkan inovasi melalui penelitian dan pengembangan. Pasal 6 UU No. UNHAS. Menurut Mulatsih dan Putera (2009). Dalam Pasal 13 UU No. perekayasa. teknisi dan semberdaya manusia lain yang diperlukan untuk memperkuat kegiatan penelitian. Selanjutnya untuk mengetahui fungsi kelembagaan iptek yang disurvei. setiap kelembagaan iptek (perguruan tinggi. dan difusi teknologi. UNSRI) Balitbangda (Sumsel. dapat dilihat pada Tabel 6.2 di bawah ini. Sumber dana murni swasta di PT Kalbe Farma (bergerak di bidang farmasi). 18 Tahun 2002 disebutkan. 18 Tahun 2002 . lebih banyak dilandasi oleh Tri Darma Perguruan Tinggi. 18 Tahun 2002 menyebutkan. juga melakukan koordinasi untuk menginventarisasi hasil penelitian di daerah. Bahkan seperti Pemda DIY. dan penerapan iptek. perguruan tinggi sebagai kelembagaan iptek diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (peneliti.Sulsel. Namun demikian. penelitian. bidang penelitian menurut struktur organisasi baru hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi ijin penelitian.2 Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Iptek Kelembagaan Perguruan tinggi (ITB. dan sebagainya) yang diperlukan dalam upaya peningkatan kemampuan penguasaan. pemerintah mendorong kerja sama antar kelembagaan iptek dalam pengembangan jaringan informasi iptek. Kelembagaan iptek juga diarahkan untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan iptek untuk menghasilkan kinerja dan manfaat lebih besar secara bersama. Tugas utamanya adalah melakukan penelitian bidang mikrobiologi untuk sell kanker. Tugas penelitian pada dasarnya sebagai tugas struktural dari Kemendagri.

tertanggal 18 Juli 2009 dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 18 Tahun 2002 Pelaksanaan suatu undang-undang merupakan suatu penjabaran isi dari pasal-pasal ke dalam peraturan-peraturan atau kebijakan yang disebut sebagai arrangement institutions. pembiayaan pelaksanaan kegiatan penelitian. Pengembangan. Dalam pelaksanaannya UU No. pemanfaatan dan pemajuan iptek adalah pembiayaan. 18 Tahun 2002. Tahun 2005 disahkan. 48 Tahun 2009 Pelaksanaan UU No. Kemudian di tahun berikutnya. Secara politis UU ini telah memenuhi syarat dalam proses penyusunannya sehingga UU ini telah diundangkan sejak 29 Juli 2002. Peraturan pemerintah terakhir yang diturunkan sebagai pelaksanaan dari undang-undang No. model kebijakan yang dibuat berjenjang sesuai dengan hierarki implementabilitasnya. 18 Tahun 2002 mencakup 9 bab dan 32 pasal dan penjelasannya. 18 Tahun 2002 adalah mengenai Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian. UU No. 18 Tahun 2002. Dalam pelaksanaannya. industri dan pihak terkait lainnya. pengembangan. Menurut UU No. antara lain dapat mengacu penjelasan Riant Nugroho (2009). dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berisiko Tinggi dan Berbahaya. dalam public policy. yaitu terkait dengan pelaksanaan Pasal 16. 18 Tahun 2002 telah diturunkan empat peraturan pemerintah yang perlu disusun. Inovasi dan Difusi Teknologi. ketentuan ini masih memerlukan penjelasan bagaimana merealisasikan pembiayaan ini. termasuk 2 bab di dalamnya tentang ketentuan sanksi dan ketentuan peralihan. antara lain lembaga penelitian. menyebutkan peraturan pelaksanaan dari undang-undang adalah sesuai dengan hirarkhi-nya. 17. Pelaksanaan UU No. pengembangan dan penerapan iptek merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. UU No. peraturan presiden. yaitu peraturan pemerintah. dan peraturan kebijakan PP. Akibatnya di Indonesia 38 Naskah Akademik Perubahan UU No. Undang-Undang sebagai produk policy level akan diimplementasikan melalui tingkatan organisasi (level of organization) yaitu berupa peraturan pelaksanaannya. peraturan presiden. PP No. peraturan daerah provinsi. perguruan tinggi. 35 Tahun 2007. dan dibuat dengan pasal-pasal yang bersifat makro atau umum untuk kemudian dibuat petunjuk pelaksanannya. terutama dalam pelaksanaan fungsi dan pemerintah sebagai motivator dan stimulator perkembangan sistem nasional litbangrap iptek. 20 Tahun 2005 dan PP No. Selama hampir sepuluh tahun pelaksanaan UU No. PP No. undang-undang sebagai bentuk dari kebijakan di Indonesia masih menganut model kebijakan continental atau yang berasal dari Belanda. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan penerapan iptek. 18 Tahun 2002 . yaitu PP No. Undang-undang merupakan kebijakan yang dinilai mempunyai posisi tertinggi. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. berupa peraturan pemerintah. Sebagai payung hukum UU ini merupakan acuan seluruh elemen yang tercakup dalam sistem nasional penelitian. Secara hierarkis.Aspek terpenting dalam pelaksanaan penguasaan. tiga tahun setelah disahkan diturunkan dua Peraturan Pemerintah (PP) sebagai peraturan pelaksanaannya. dan peraturan daerah kabupaten/kota. 22 dan Pasal 28. 18 Tahun 2002.

pemerintah daerah masih mencari format terbaik. Interaksi yang dilakukan belum terlembaga dan hanya dilakukan secara personal (individu). karena bagaimanapun juga sistem nasional tidak dapat berjalan secara maksimal tanpa adanya dukungan pelaksanaan sistem pada level daerah. 18 Tahun 2002 secara bertahap mengalami kemajuan. 18 Tahun 2002 Dukungan pemerintah daerah dalam menumbuhkembangkan motivasi. Dalam kaitannya dengan penguatan inovasi.yang seluruhnya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah pemerintah provinsi. Jaringan yang dikembangkan di perguruan tinggi. Indikasi ini menandakan bahwa adanya dukungan dari pemerintah walaupun masih dirasa kurang dalam segi penambahan alokasi dana ataupun sarana prasarana untuk menunjang kegiatan penelitian. 10. pada tahun 2008 kemarin melaksanakan sebanyak 2 program utama dan 60 kegiatan dengan pendanaan sebesar Rp.” Simpul pola interaksi terlihat lebih baik dilakukan oleh perguruan tinggi. serta menciptakan iklim kondusif dalam sistem penelitian. .. Akan tetapi. Dukungan kebijakan serta pendanaan yang secara terus menerus dan berkelanjutan program yang dilakukan pada tingkat daerah. dan penelitian swasta. 5 Tahun 2008 menunjukkan bahwa adanya perhatian dari pemerintah daerah. 39 Naskah Akademik Perubahan UU No. Masuknya Bagian Penelitian dan Pengembangan di Biro Administrasi Pembangunan adalah indikasi baik. beberapa telah dapat menyambung simpul industri (beberapa). 18 Tahun 2002 diharapkan dapat mengoptimalkan dan keberlanjutan aktivitas litbangrap iptek.banyak terjadi kasus di mana sudah ada undang-undang. “Jalinan interaksi selama ini belum berjalan maksimal. pengembangan.550. Bappeda. dan penerapan iptek di daerah sesuai dengan amanat UU No. tetapi pelaksanaannya tidak effektif karena peraturan atau kebijakan pelaksanaannya belum dibuat. walaupun kami memiliki jaringan peneliti Sumatera Selatan yang telah mendapat pesetujuan dari gubernur tetapi belum maksimal. responden penelitian Mulatsih dan Putera (2009) berpendapat interaksi yang dilakukan antar pelaku iptek di lembaga litbang. memberikan stimulasi dan fasilitas. Untuk kelengkapan lainnya sedang diproses. perguruan tinggi. Interaksi yang terlaksana sebatas antara balitbangda dengan peneliti yang bersangkutan yang mayoritas berasal dari perguruan tinggi. badan usaha maupun di masyarakat selama ini masih tidak terpola. “LPPM-ITB melakukan jejaring penelitian dengan lembaga lain disebut sebagai mitra kerja. pola jalinan interaksi atau yang dikenal dengan jaringan. adanya ruang bagi masing-masing elemen dalam UU No. Interaksi berjalan karena adanya kerjasama penelitian yang menggunakan dana atau dibiayai oleh balitbangda. Responden lainnya menyatakan.” “Dengan keluarnya Perda No. dan penerapan iptek. kerjasama atau interaksi yang terjalin selama ini hanya sebatas pemanfaatan dana riset yang dimiliki oleh badan litbang daerah saja.323. pengembangan. LSM) belum ada. Untuk Dewan Riset Daerah. karena yang ada selama ini adanya kumpulan pakar-pakar di Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi DIY. lembaga penelitian pemerintah lainnya.072.” “Pemerintah daerah telah menganggarkan sejumlah dana sehingga setiap tahunnya balitbangda melaksanakan program dan kegiatan penelitian pengembangan yang mengacu pada program prioritas pemerintah provinsi. namun tampaknya jejaring peneliti yang dibangun antar lembaga penelitian di wilayah Jawa Barat (ITB. kebijakan internal di setiap daerah responden berbeda.” Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah telah memberikan ruang untuk mendorong kegiatan penelitian.

Upaya ini dilakukan melalui: a. dan UU No. Salah satu pelaksanaan UU No. dan jaringan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh.2. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan 40 Naskah Akademik Perubahan UU No. UU No.2. b. mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumberdaya iptek. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Oleh karena itu perkembangan sistem inovasi ini akan ditentukan oleh pelaksanaan lebih lanjut (secara legal) dan implementasinya. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pengembangan. Menurut Tatang (2005) meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sistem inovasi. 18 Tahun 2002 merupakan tonggak penting. pembentukan iklim dan memberikan dukungan kebijakan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. namun sistem nasional litbangrap iptek merupakan keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan.2. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat memperkuat jaringan antara pemerintah pusat. UU No. Pemajuan ataupun penguatan sistem inovasi pada tataran daerah menurut Tatang (2005) adalah sesuatu yang penting bagi perkembangan sistem inovasi nasional dan peningkatan daya saing secara nasional. pemanfaatan. 18 Tahun 2002 adalah penguatan fungsi kelembagaan iptek dalam sistem nasional litbangrap iptek. Hal ini juga ditegaskan dalam UU No. dan pemajuan iptek. tujuan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. landasan hukum yang diharapkan dapat memperkuat landasan pembangunan dan mempercepat perkembangan iptek.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan’. Penguatan sistem inovasi di tataran daerah merupakan bagian integral atau sub sistem dari pilar sistem inovasi nasional. Selanjutnya Tatang (2005) menyebutkan. esensi keterkaitan ini sama dengan atau setidaknya berangkat dari konsep sistem inovasi nasional. pelayanan umum. perekayasaan. antara lain: a. maupun masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pemajuan iptek. mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. 2005. dan karenanya merupakan langkah penting bagi perkembangan sistem inovasi di Indonesia. sumber daya.) UU No. penelitian. dan difusi teknologi. dan daya saing daerah (Pasal 2 ayat (3)). ‘Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . inovasi. pengembangan. Tatang A Taufik: BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. serta b. interaksi dan proses pembelajaran akan menjadi semakin penting pada tataran daerah. Dalam peraturan perundang-undangan yang ada. pemerintah daerah. Upaya-upaya terpadu dalam penguatan kelembagaan. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban antara lain: memajukan dan mengembangkan daya saing daerah (Pasal 27 ayat (1) butir g. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. tanggung jawab daerah dalam pembangunan iptek dan sistem inovasi cukup besar. b. Sistem nasional litbangrap iptek ini diperlukan untuk mencapai tujuan: a. 18 Tahun 2002 . meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional.

Teknologi menjadi komoditas yang sangat mahal dan seringkali memberatkan beban keuangan negara secara keseluruhan. 2007 Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembangunan iptek dalam upaya memperkuat daya dukung iptek untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa adalah ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi luar. sehingga transfer teknologi dapat dikatakan tidak terjadi. 2. meskipun peralatan yang dimiliki sebenarnya sudah cukup memadai. seperti HKI. Dalam beberapa kasus. Alasan yang melatarbelakangi kondisi tersebut sebenarnya adalah suatu hal yang cukup logis. Transfer teknologi dari lembaga penelitian dan pengembangan kepada industri dan masyarakat melalui bentuk kemitraan. seringkali dibarengi kesulitan dalam pemeliharaannya.Pembangunan Nasional.2.3. Alasan lainnya. pembagian royalty. yang ada adalah jual beli teknologi. karena tidak selalu mendapatkan akses secara lengkap teknologi yang ada. seringkali masih menghadapi persoalan yang cukup serius. Kondisi ini memperlihatkan. karena pembelian barang modal yang sarat dengan teknologi. pemanfaatan produk. adanya gap antara teknologi hasil penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan pasar yang ada. termasuk juga keberlanjutannya (sustainability). Kesulitan dalam proses transfer teknologi tersebut tidak hanya terjadi pada industri besar saja tapi terjadi juga pada industri kecil dan menengah. Hal ini masih ditambah kurangnya perhitungan pencapaian optimal dalam penggunaan sumberdaya keuangan dan sumberdaya manusia. cenderung mengerjakan terlalu banyak kegiatan. ‘Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Komersialisasi Kelembagaan Iptek’. program yang direncanakan dan dilaksanakan masih kurang fokus. maupun peraturan perundang-undangan lainnya diharapkan menjadi landasan legislasi untuk mengintegrasikan. kurang dimanfaatkan secara optimal. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan umumnya masuk dalam publikasi ilmiah 41 Naskah Akademik Perubahan UU No. Jumlah dan kualitas sumberdaya manusia di Indonesia yang cukup memadai. 18 Tahun 2002 . Ketergantungan ini sebagai akibat dari kurang berkembangnya teknologi/inovasi dalam negeri. Andaipun ada keterkaitan antara dunia usaha dan lembaga penelitian dan pengembangan saat ini baru sebatas asistensi dari pihak penelitian dan pengembangan yang kebanyakan masih terbatas pada aspek pengujian produk dan peralatan. belum lagi ketepatan waktu pemanfaatannya. meningkatkan sinkronisasi dan sinergi dalam pengembangan sistem inovasi. sektor usaha masih merasakan hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri belum dapat diterapkan dalam kegiatan industri. Hal ini menyebabkan industri kecil dan menengah cenderung menggunakan tenaga konvensional yang dimiliki atau membeli dari luar negeri untuk perbaikan (improvement) dalam kegiatan proses produksinya. Kerjasama-kerjasama yang dilakukan mengenai transfer teknologi cenderung mengarah pada kerjasama perdagangan. Ketergantungan teknologi dari luar. Para pengusaha kecil dan menengah ini masih meragukan kualitas produk teknologi hasil penelitian dan pengembangan. Kementerian Riset dan Teknologi.

Permasalahan krusial lainnya adalah pembentukan unit kerja dalam upaya komersialisasi hasil litbang. sebagai penambahan unit-unit kerja yang ada. seperti Unit Komersialisasi Hasil Litbang.tingkat nasional. Sedangkan pengaturan mengenai pembentukan. 18 Tahun 2002 . Kebijakan ini akan membatasi pembentukan lembaga baru. sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. atau masyarakat. sesuai dengan PP No. Investasi pemerintah dalam bentuk hasil litbang ini diharapkan dapat menghasilkan public return sebesar mungkin. hasil-hasil kajian dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian masih belum sesuai dengan kebutuhan pasar. Semua hasil penjualan hasil litbang dapat dikelola secara langsung oleh lembaga melalui unit komersialisasi hasil litbang ini. Di satu sisi perguruan tinggi maupun lembaga litbang memerlukan adanya unit kerja yang mandiri untuk melakukan pengelolaan administrasi hasil penjualan produk litbang secara lebih optimal. susunan organisasi. Hal ini juga menunjukkan. Dalam pelaksanaannya pembentukan unit kerja seperti yang disyaratkan pada PP No. Dalam Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut menyatakan. yang mungkin ditujukan untuk pengembangan teknologi tepat guna maupun sebagai upaya mendukung perbaikan pendapatan peneliti. seperti penambahan tugas dan fungsi lembaga Sentra HKI di perguruan tinggi dan lembaga litbang. misal Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) untuk mengurangi pembentukan lembaga baru. Unit kerja ini dapat merupakan lembaga baru. sebagai pelaksanaan kebijakan pemerintah. dan penetapan prosedur pengelolaan dan alih tekologi kekayaan intektual serta hasil kegiatan litbang diatur oleh lembaga yang bersangkutan. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. dan tampaknya akan menjadi salah satu hambatan dalam merealisasikan komersialisasi hasil litbang. 20 Tahun 2005 masih mengalami hambatan. atau dengan memanfaatkan unit yang ada. pemerintah. Pembentukan unit kerja yang mendorong peningkatan komersialisasi hasil litbang ini. rincian tugas. 18 Tahun 2002. tata kerja unit kerja. Adanya perubahan struktur organisasi lembaga. Sesuai pasal 16 UU No. Kewajiban ini dimaksudkan agar hasil litbang dapat dimanfaatkan seluas mungkin oleh masyarakat. hanya sedikit yang menghasilkan hak paten dan masuk dalam publikasi internasional. kajian pengembangan kebijakan yang mendukung komersialisasi hasil litbang masih perlu 42 Naskah Akademik Perubahan UU No. Oleh karena itu. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib membentuk unit kerja yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbang di lingkungannya. sehingga lembaga memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk investasi berbagai kegiatan litbang lainnya. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbangnya. menghasilkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. Ketentuan ini ditujukan bagi kegiatan litbang yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah atau pemerintah daerah. Pengalihan ini dilakukan pada badan usaha. juga belum memadai untuk mendapatkan pengakuan secara ekonomis.

umumnya pihak industri menghendaki hasil litbang yang dapat menghasilkan produk akhir secara cepat. Tingginya biaya litbang antara lain disebabkan biaya administrasi yang tinggi.dilakukan dengan bersinergi lebih erat dengan para pengambil keputusan di bidang aparatur negara. sehingga hasilnya belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal. Para dosen dan mahasiswa harus memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah aktual yang ada di masyarakat. namun kurang sosialisasi. Dalam bentuk ini. Untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif. Permasalahan lainnya adalah kurangnya sosialisasi hasil litbang. seperti misalnya birokrasi yang panjang dalam mekanisme pengelolaan dana penelitian. maka perguruan tinggi didorong menuju terwujudnya universitas penelitian (research university). melalui berbagai kegiatan penelitian yang bersifat aplikatif. 18 Tahun 2002 . murah. Pihak pengguna beranggapan hasil litbang perguruan tinggi maupun lembaga litbang Pemerintah masih bersifat teoritis dan belum dapat diaplikasikan. padahal banyak diantaranya yang memiliki potensi untuk dikomersialisasikan. Banyak karya ilmiah yang tidak aplikatif. Upaya komersialisasi ini belum berjalan maksimal. maupun desertasi tersimpan di perpustakaan. Struktur biaya penelitian yang tinggi menyebabkan hasil penelitian perguruan tinggi menjadi terlalu mahal untuk pengguna. Hal ini menuntut perguruan tinggi untuk menggali sumber dana lainnya selain dari Pemerintah. lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu memperhatikan struktur biaya litbangnya agar menarik untuk dikomersialkan kepada para pelaku usaha dan masyarakat. disamping kegiatan pengajaran dan pengabdian masyarakat. perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan kompetitif untuk dapat diterima pengusaha sebagai pengguna hasil penelitian. sehingga ketika diterapkan tidak mampu bersaing dengan produk-produk yang dihasilkan oleh pihak lain. penelitian dan pengembangan di bidang iptek. suatu kegiatan komersialisasi hasil riset. dan produk penelitian masih banyak yang bersifat teoritis dan belum dapat diterapkan di masyarakat. Banyak skripsi. mudah. tesis. dan perpajakan. melalui penjualan jasa konsultasi dan jasa teknis litbang. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi sebagai bagian integral dari pendidikan di Indonesia diarahkan seoptimal mungkin melakukan proses transformasi pendidikan dan pengajaran. serta aplikasi hasil litbang tersebut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Hasil riset di bidang teknologi industri yang dihasilkan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat maupun para peneliti di perguruan tinggi sebenarnya cukup banyak. Berdasarkan fakta di lapangan. Kalangan dunia usaha lebih menyukai teknologi yang sudah siap pakai. Oleh karena itu. Dilihat dari proses penelitian dan pengembangan. Hasil dari riset ini juga seringkali tidak memperhatikan struktur biaya. daripada membeli hasil litbang perguruan tinggi yang masih belum teruji dalam 43 Naskah Akademik Perubahan UU No. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian dan pengabdian sebenarnya tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi tugas dan kewajiban dari perguruan tinggi untuk merealisasikannya. dan memberikan sentuhan komersialisasi terhadap produk yang dihasilkan. kegiatan penelitian menjadi kegiatan utama. swasta atau perusahaan. meskipun secara akademik dapat dipertanggungjawabkan.

Pembiayaan kegiatan perguruan tinggi. Dalam ketentuan di atas. Dalam Pasal 114 antara lain diatur sebagai berikut : Pasal 114 (1) Pembiayaan Perguruan Tinggi dapat diperoleh dari sumber pemerintah. (2) Penggunaan dana yang berasal dari Pemerintah baik dalam bentuk anggaran rutin maupun anggaran pembangunan serta subsidi diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 18 Tahun 2002 . Penerimaan masyarakat ini akan mendorong terjadinya alih teknologi. 60 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi. d. Inovasi yang memiliki nilai komersial yang harus dilindungi oleh hak atas kekayaan intelektual. Hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan pengalihan teknologi dapat berupa pengalihan codified knowledge maupun tacit knowledge transfer. perguruan tinggi dapat menggali penerimaan dari masyarakat. Agar inovasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diperlukan sosialisasi. Penerimaan dari masyarakat lainnya. masyarakat dan pihak luar negeri. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). b. (5) Usaha untuk meningkatkan penerimaan dana dari masyarakat didasarkan atas pola prinsip tidak mencari keuntungan. (3) Dana yang diperoleh dari masyarakat adalah perolehan dana Perguruan Tinggi yang berasal dari sumber-sumber sebagai berikut : a. Unit usaha ini dapat pula berbentuk unit usaha komersial. seperti pengelolaan perizinan. Hal ini memberikan kemungkinan bagi perguruan tinggi mendirikan unit usaha sebagai salah satu sumber pembiayaan dari masyarakat. upaya untuk memperkenalkan berbagai produk litbang kepada masyarakat. Kegiatan terebut merupakan upaya pemanfaatan hasil litbang dan pengalihan kemampuan penguasaan iptek oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. Kegiatan ini memerlukan pendekatan tersendiri. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Lembaga Litbang Pembentukan unit pelayanan jasa teknis dan jasa konsultasi di lembaga litbang lebih diarahkan untuk mengkomersialkan kekayaan intelektual dan hasil-hasil litbang. suatu unit yang mampu menunjang penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengelolaan hasil litbang yang lebih profesional. termasuk biaya litbang mengacu pada PP No. Penyediaan dana penelitian kepada para peneliti sering kali belum dapat memberikan solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang ada di lapangan. Biaya seleksi ujian masuk perguruan tinggi.pemanfaatannya. c. baik di masyarakat maupun di dunia usaha. (4) Penerimaan dan penggunaan dana yang diperoleh dari pihak luar negeri diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sumbangan dan hibah dari perorangan. atau penerimaan hasil 44 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga Pemerintah atau lembaga nonPemerintah. Hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan tinggi. dan seringkali tidak sama dengan pengelolaan kelembagaan lain. Hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi perguruan tinggi. dan f. e. baik berupa kekayaan intelektual maupun hasil-hasil litbang lainnya.

serta sarana prasarana iptek. baik yang berbentuk keahlian sumber daya manusia dan pengorganisasiannya. upaya peningkatan komersialisasi hasil litbang memerlukan suatu perencanaan program yang lebih holistik. 5) meningkatkan kualitas dan memperluas jangkauan alih teknologi dan jasa iptek. 6) memperluas jaringan kerja dengan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. baik di dalam negeri maupun luar negeri. Faktor yang mempunyai peran penting adalah faktor finansial. perlindungan. 2) memberikan insentif yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan invensi di lingkungan litbang. Oleh karena itu. 3) memperkuat kemampuan pengelolaan kekayaan intelektual. . aset informasi dan iptek. Hasil kajian yang dihasilkan masih kurang diminati dunia usaha karena adanya ketidaksesuaian antara hasil litbang dengan kebutuhan yang didasarkan pada tuntutan konsumen. termasuk pemeliharaan. Meskipun hampir semua perencanaan program lembaga litbang pemerintah ditujukan untuk tujuan penerapan iptek. Oleh karena itu. yang secara kondusif dapat mendukung upaya komersialisasi hasil litbang secara lebih proporsional dan berpihak kepada lembaga dan jajaran penelitiannya. pola kerjasama yang berlaku dalam komersialisasi hasil litbang. Pendapatan dari alih teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain: 1) memperbesar pendanaan litbang yang diperlukan untuk menguasai kemajuan iptek dan mengembangkan invensi serta menggali dayagunanya. Penyusunan rencana juga harus memperhatikan standar-standar teknologi yang berlaku di dunia usaha. 18 Tahun 2002 Lembaga litbang pemerintah umumnya ditujukan untuk melaksanakan penelitian. Perencanaan harus memperhatikan faktor-faktor lain. 4) melakukan investasi untuk memperkuat sumber daya iptek yang dimiliki. namun dalam praktik belum banyak hasil-hasil litbang yang langsung dapat diterapkan. Keuntungan yang diperoleh dari pengalihan teknologi juga dapat mengurangi ketergantungan pendanaan kegiatan litbang di Perguruan Tinggi maupun Lembaga Litbang pada anggaran Pemerintah. Hasil litbang masih belum dapat dimanfaatkan. Hal ini menyebabkan implementasi hasil litbang masih rendah. dengan melibatkan calon pengguna. 45 Naskah Akademik Perubahan UU No. membantu dunia usaha dalam kegiatan proses produksi maupun kegiatan manajemen lainnya. dan alih teknologi.selisih harga ataupun penerimaan keuntungan dari BUMN. baik dalam rangka pemecahan masalah di bidang teknis. pengembangan dan pengkajian dalam rangka mencapai suatu keunggulan iptek dalam rangka pemecahan masalah-masalah pembangunan di berbagai bidang. adanya keleluasaan dalam pengelolaan penggunaan pendapatan alih teknologi mempunyai peran penting dalam mendorong kemandirian lembaga penelitian.

18 Tahun 2002 . Culture. dan karakter bangsa. inovasi. Kinerja dan perkembangan inovasi nasional sangat dipengaruhi oleh peraturan perundangundangan maupun kebijakan di berbagai sektor yang terkait. bidang pendidikan. Olehkarena itu diperlukan evaluasi dan analisis kebijakan penguatan inovasi dalam peraturan perundang-undangan terkait. perguruan tinggi. Pada ketiga tahapan posisi dan peran lembaga intermediasi sangat diperlukan dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. maka secara konseptual dapat diperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang. Selanjutnya perlu adanya kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah ak an tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. infrastruktur sosial. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. dan difusi teknologi yang berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. perdagangan dan industri. secara umum penguatan inovasi antar elemen-elemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang. Di Indonesia. bidang ketenagakerjaan. ilmu pengetahuan dan teknologi. tradisi. Tahap berikutnya adalah dukungan kegiatan perekayasaan. Lembaga-lembaga ini merupakan lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. Peraturan ini terutama terkait dengan peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi. bidang pendidikan. 46 Naskah Akademik Perubahan UU No. Budaya. secara resmi disingkat MEXT) Jepang yang telah dikemukakan di bab sebelumnya. Sport. serta peraturan perundang-undangan lainnya berkaitan dengan infrastruktur sosial. Padahal lembaga penelitian. bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. budaya. Olahraga. serta pajak dan keuangan. Kurangnya komunikasi dan interaksi menyebabkan penerapan inovasi yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil inovasi tersebut belum dapat didayagunakan sepenuhnya. Science and Technology. ketenagakerjaan.Bab 3 Evaluasi dan Analisis Kebijakan Penguatan Inovasi dalam Peraturan Perundang-undangan Penguatan inovasi secara garis besar ditandai adanya elemen-elemen/aktor yang melakukan jejaring untuk saling berinteraksi menghasilkan inovasi. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga yang tercakup dalam penguatan inovasi akan menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. pendidikan. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. Mengacu pada strategi penguatan inovasi dari Kementerian Pendidikan. Menurut konsepsi ini.

Amerika Serikat. Namun demikian. Peningkatan kapasitas pasar bermakna peningkatan permintaan masyarakat akan barang dan jasa. Jerman. Walaupun tentu saja. Kondisi makro ekonomi Indonesia untuk periode 2008-2010 tergolong stabil. 2010). Indonesia dengan penduduknya yang lebih dari 237 juta jiwa dengan daya beli yang relatif baik merupakan pasar domestik yang sangat potensial bagi investor asing. Inggeris. 47 Naskah Akademik Perubahan UU No. berdasarkan survei WEF peringkat ukuran pasar domestik Indonesia juga terus meningkat. Brazil. Untuk periode 20082010. Jika persepsi masyarakat dunia terhadap stabilitas makro ekonomi ini dapat terus dipelihara dan jika mungkin terus ditingkatkan. 18 Tahun 2002 . jika selalu terbelit hutang dan keharusan membayarnya dengan suku bunga tinggi atau dalam kondisi cenkeraman persoalan makro ekonomi yang tidak mampu dituntaskan. peringkat ini perlu dilihat secara cermat. skor untuk stabilitas makro ekonomi Indonesia pada tahun 2010 mencapai 5. produktivitas suatu negara tidak hanya ditentukan oleh stabilitas makro ekonominya. dan efektivitas peran pemerintah. berturut-turut dari peringkat 17 (2008). Dengan demikian perekonomian tidak dapat tumbuh secara ber-kesinambungan jika kondisi makro ekonomi tidak stabil. sehingga akan sangat menentukan tingkat daya saing (competitiveness) suatu negara. dan Australia (Gambar 3). Tumbuh kembang kegiatan bisnis akan membuka peluang untuk peningkatan daya beli masyarakat dan memperbesar kapasitas pasar domestik (market size).2 dan menduduki peringkat 35 dari 139 negara yang disurvei. ketersediaan dan kemurahan upah tenaga kerja.1. karena daya tarik utama bagi para investor untuk menanamkam modalnya adalah ukuran pasar domestik dan laju pertumbuhan pasar domestik dari negara tujuan invenstasi tersebut. maka akan semakin menarik bagi kalangan bisnis untuk berinvestasi dan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh UNCTAD (2009) tentang prospek investasi dunia ( World Investment Prospects Survey) menyimpulkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 9 dunia. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF. Dinamika ini membuka peluang dan tantangan bagi lembaga pengembang teknologi untuk melakukan riset yang relevan dengan kebutuhan industri. Bidang Perindustrian dan Perdagangan Stabilitas makro ekonomi sangat penting bagi dunia bisnis. menjadi 16 (2009) dan 15 (2010). Perusahaan tidak dapat berbisnis secara efisien dan bergairah jika inflasi tidak dapat diprediksi. Pemerintah tidak akan dapat melakukan pelayanan publik dengan baik. setelah Cina. akses untuk pengelolaan sumberdaya alam. Peningkatan permintaan barang dan jasa yang lebih banyak dan/atau lebih bermutu akan meningkatkan kebutuhan industri akan teknologi yang lebih sesuai. India. baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Makro ekonomi yang terpelihara stabilitasnya dan kapasitas pasar domestik yang terus membesar merupakan ekosistem yang positif untuk tumbuh-kembang SINas. Rusia. Pasar domestik Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi investor asing jika Indonesia tidak mampu membangun SINas yang kuat untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. Dua faktor ini lebih dominan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi dibandingkan dengan program insentif yang ditawarkan.

Apalagi pengembangan sumberdaya manusia dan iptek telah dipilih sebagai salah satu dari tiga strategi utamanya. Kinerja dan perkembangan SINas akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan di berbagai sektor yang terkait. 48 Naskah Akademik Perubahan UU No. Peringkat daya tarik Indonesia bagi investor asing Kebijakan pembangunan perekonomian Indonesia yang baru diluncurkan yang dikemas dalam Keppres No. 18 Tahun 2002 . Harus ada dorongan agar produk barang dan jasa yang diperdagangkan. survei WEF juga memperlihatkan terjadinya peningkatan peringkat Indonesia dari 47 menjadi 36. Pada kurun waktu yang sama (2008-2010). maka SINas akan lebih dirasakan geliatnya. tetapi juga handal dan sesuai kapasitas adopsi pelaku bisnis. Kebijakan yang berorientasi untuk mendorong ekspor agar lebih diprioritaskan pada produk jadi. diutamakan sudah merupakan produk-produk jadi yang dibutuhkan oleh konsumen akhir (consumer products). termasuk perdagangan dan industri. terutama untuk ekspor. Gambar 3.Jika peningkatan kebutuhan teknologi yang relevan ini dikomunikasikan oleh industri ke pihak pengembang teknologi dan pihak pengembang teknologi mampu menyediakan paket teknologi yang tidak hanya relevan. 32 Tahu 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah menetapkan enam koridor pembangunan ekonomi sesuai dengan potensi sumberdaya setempat perlu dibarengi dengan upaya membangun penguatan inovasi yang berkesesuaian.

kemudian secara berangsur naik dan mencapai puncaknya pada awal tahun 2000-an yang mencapai kisaran antara 14-16 persen. Indonesia saat ini masih dominan mengekspor komoditas atau bahan mentah (raw materials) atau produk-produk setengah-jadi (intermediate products) yang secara ekonomi merugikan dan secara ekologi kurang bersahabat. Ekspor dalam bentuk produk dengan muatan teknologi tinggi sudah ada namun masih relatif rendah porsinya (Gambar 4). bahwa seharusnya Indonesia tidak mengekspor bahan baku dan keringat. karena cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. tetapi perlu didorong untuk mengekspor barang jadi yang diproduksi di dalam negeri dengan memanfaatkan tenaga kerja dan teknologi nasional. dan meningkatkan nilai tambah produk yang diekspor. Persentase ekspor produk Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi. tetapi dirasakan masih belum optimal. Sejak akhir tahun 1980-an sudah mulai ada produk dengan muatan teknologi tinggi. hari selasa 18 Januari 2011. misalnya produk sawit yang diekspor masih sangat dominan berbentuk minyak sawit kasar (crude palm oil.com (18 Januari 2011) Gambar 4. sekaligus membuka lapangan kerja. 22 Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas atau produk ekspor sudah dilakukan. disingkat CPO). dan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. Sumber: The World Bank. yakni hanya sekitar 1 persen. Menteri Negara Riset dan Teknologi. tetapi pada akhir tahun 2000-an kembali menurun menjadi sekitar 10 persen. tetapi lebih didorong untuk mengekspor produk yang dihasilkan dengan keringat anak bangsa di dalam negeri. periode 1989-2008 22 Disampaikan oleh Suharna Surapranata. tetapi masih sangat rendah.merupakan bentuk kebijakan yang secara nyata akan mendorong adopsi teknologi pada industri-industri di dalam negeri. diunduh dari tradingeconomics. 18 Tahun 2002 . pada Rapim Lengkap Kementerian Riset dan Teknologi. Bermakna bahwa sebaiknya tidak mengekspor bahan mentah dan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Ungkapan yang dikemukakan Surapranata (2011) patut direnungkan. 49 Naskah Akademik Perubahan UU No.

farmasi (pharmaceuticals). Peraturan Perundangan-undangan Bidang Perdagangan dan Industri. Indonesia memang juga telah mengekspor produk teknologi tinggi. sedangkan investor asing lebih banyak tertarik pada bidang usaha yang terkait dengan eksploitasi sumberdaya alam. bahwa untuk mendapatkan fasilitas sekurang-kurangnya kegiatan penanaman modal memenuhi salah satu kriteria berikut ini: a.1. nilai ekspor produk-produk bermuatan teknologi tinggi tersebut sejak tahun 2000 tidak mengalami kemajuan yang berarti dan relatif stagnan. dan secara ekonomi kompetitif dibanding produk teknologi serupa yang tersedia di pasar dunia. Selain itu terkait dengan riset. serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing.4 sampai 6. Pasal 10 Ayat (4) menyebutkan bahwa perusahaan penanaman modal yang mempekerjakan tenaga kerja asing diwajibkan menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 1. komputer. Tujuan penyelenggaraan penanaman modal. dan [2] belum siapnya teknologi nasional untuk menyokong tumbuh kembang industri hilir tersebut. handal.1. yakni: [1] keterbatasan kapasitas investasi nasional di sektor industri hilir untuk mengolah bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi produk jadi. Sebagai upaya mendorong kemampuan teknologi nasional. penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. instrumen riset (scientific instruments). 1. menciptakan lapangan kerja. Kontribusi produk teknologi tinggi ini masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai total ekspor Indonesia pada periode tersebut. dan electrical machinery. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Menurut UU No. 50 Naskah Akademik Perubahan UU No.1. b. termasuk skala prioritas tinggi.5 milyar dolar Amerika (Tabel 2). yakni hanya berfluktuasi sekitar 4.Saat ini Indonesia masih dihadapkan pada dua kendala yang menjadi tantangan utama. seperti produk kedirgantaraan (aerospace). yakni kapasitas untuk mengembangkan teknologi yang relevan. Indonesia tak akan mampu membangun kemandirian perekonomiannya jika tidak mampu mengatasi dua tantangan utama ini. antara lain untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. menyerap banyak tenaga kerja. kegiatan penanaman modal di Indonesia dapat memperoleh fasilitas. meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. Produk dengan muatan teknologi tinggi mencakup produk-produk yang membutuhkan intensitas R&D tinggi. mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan. Namun demikian. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. 18 Tahun 2002 . Pasal 18 Ayat (3) menyebutkan. baik di sektor pertanian (terutama perkebunan) maupun di sektor pertambangan.

dan e. permodalan. Industri pionir adalah industri yang memiliki keterkaitan luas. e.c. atau k. memberikan insentif kepada Usaha Mikro. melakukan industri pionir. dan menguntungkan. menengah atau koperasi. b. kecil. i.1. termasuk pembangunan infrastruktur. meningkatkan kemampuan di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu. Kecil. melakukan alih teknologi. Guna mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.2. dan Menengah yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup. dan menstimulasi kegiatan kemitraan yang saling membutuhkan. atau daerah lain yang dianggap perlu. mempunyai nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi. Selanjutnya terkait dengan pengembangan dalam bidang desain dan teknologi. berada di daerah terpencil. terutama bagi penanaman modal baru bagi industry pionir. perbatasan. memperkuat. meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru. dan Menengah untuk memperoleh sertifikat hak atas kekayaan intelektual. daerah tertinggal. mendukung. dunia usaha. inovasi termasuk kriteria yang dapat diajukan untuk memperoleh fasilitas penanaman modal. j. alih teknologi maupun inovasi merupakan salah satu strategi yang perlu dikembangkan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. melaksanakan kegiatan penelitian. d. dan (d) desain dan teknologi. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang (a) produksi dan pengolahan. dan Menengah a. Selanjutnya dalam pasal ini disebutkan mengenai kemungkinan pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan dalam jumlah dan waktu tertentu. 1. serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. Menurut ketentuan di atas. mempercayai. pengembangan. Kecil. pemasaran. menjaga kelestarian lingkungan hidup. d. h. (b) pemasaran. Selain itu UMKM dapat melakukan: . sumber 51 Naskah Akademik Perubahan UU No. daerah g. dan masyarakat dapat memfasilitasi. memperkenalkan teknologi baru. pemerintah. 18 Tahun 2002 Peraturan perundang-undangan ini antara lain menyebutkan. meningkatkan kerjasama dan alih teknologi. pemerintah daerah. c. f. dan inovasi. industri yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi di dalam negeri. mendorong Usaha Mikro. Kemitraan antar UMKM dengan Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi dan pengolahan. (c) sumber daya manusia. Kecil. bermitra dengan usaha mikro.

dan teknologi. impor. Selain itu. Inkubator yang dikembangkan meliputi: inkubator teknologi. dan inkubator lainnya sesuai dengan potensi dan sumber daya ekonomi lokal. dan Menengah. Yang dimaksud dengan “inkubator” adalah lembaga yang menyediakan layanan penumbuhan wirausaha baru dan perkuatan akses sumber daya kemajuan usaha kepada Usaha Mikro. 1. sebagai upaya pengembangan teknologi tertentu untuk meningkatkan daya saing produk barang dan jasa. tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk barang kena pajak. Sementara dukungan kelembagaan ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator. Kecil. dan 52 Naskah Akademik Perubahan UU No. c. konsultan keuangan mitra bank. lembaga layanan pengembangan usaha. Menteri dan Menteri Teknis mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan UMKM melalui inovasi dan pengembangan produk berorientasi ekspor. KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri. bisnis. Menurut UU No. Pasal 30 menyebutkan bahwa (1) setiap wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha di KEK diberikan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh). penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. selain fasilitas PPh dapat diberikan tambahan fasilitas PPh sesuai dengan karakteristik zona. pembebasan cukai. dan lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan Usaha Mikro. Kecil. logistik.daya manusia. serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. sepanjang barang tersebut merupakan bahan baku atau bahan penolong produksi. dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. pengembangan teknologi. Upaya-upaya penguatan inovasi dapat masuk KEK. Menurut Pasal 25. b. penyerapan tenaga kerja. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum RI yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. dan Menengah sebagai mitra usahanya.3. antara lain zona pengolahan ekspor.1. Pasal 32 ayat (1). dan Menengah. UMKM yang melakukan kemitraan dimungkinkan untuk mendapatkan insentif. pariwisata. Kecil. KEK terdiri atas satu atau beberapa zona. 20 Tahun 2008. 18 Tahun 2002 . dan Ayat (2) menyebutkan. penangguhan bea masuk. industri. ekspor. antara lain: a. dan energi yang kegiatannya dapat ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri. menyebutkan bahwa impor barang ke KEK dapat diberikan fasilitas berupa. Pengusaha mendapat fasilitas dan kemudahan dalam KEK. Adapun yang dimaksud dengan “lembaga layanan pengembangan usaha” (bussines development services-providers) adalah lembaga yang memberikan jasa konsultasi dan pendampingan untuk mengembangkan Usaha Mikro.

disamping manajemen dan kewiraswastaan. meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan iptek untuk menciptakan dan menyerap teknologi dan invoasi yang berorientasi pasar. insentif non-fiskal.1. 1. Fasilitas tersebut berupa insentif fiskal. Selain itu. c.1. Sebagai upaya mendorong penguatan inovasi nasional. dan kemudahan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2.d.1. 18 Tahun 2002 . 28 Tahun 2008 memungkinkan pengembangan kebijakan dalam upaya peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka penghematan.1. mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri dan pembentukan lembaga R&D dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan bahan baku alternatif. Meskipun insentif fiskal diberikan oleh Kementerian Keuangan. antara lain kepada kepada: industri yang melakukan penelitian. pengembangan dan inovasi. Perpres No. namun demikian bentuk insentif non fiskal maupun kemudahan lainnya merupakan peluang untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang diperlukan. 2. Pemerintah dapat memberikan fasilitas. Ada pula penghasilan wajib pajak yang dapat dijadikan faktor pengurang pajak 53 Naskah Akademik Perubahan UU No. f. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Dalam UU No. peningkatan jumlah penemuan baru hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan oleh sistem produksi.4. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Keuangan dan Perpajakan. Perpres No. 28 Tahun 2008 juga menekankan perlunya pengembangan teknologi industri melalui: a. peningkatan intermediasi dan pola insentif yang mendorong kemitraan dan kegiatan litbang di dunia usaha. produk melalui teknologi tepat guna. tidak dipungut PPh impor. dan industri yang melakukan alih teknologi. b. peningkatan kapasitas kelembagaan teknologi dalam mendukung sistem produksi. g. peningkatan kapasitas (pendalaman) teknologi pada sistem produksi. e. 36 Tahun 2008 disebutkan tidak semua penghasilan menjadi obyek pengenaan pajak. peningkatan kapasitas difusi teknologi pada sistem produksi. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional antara lain menyebutkan. Bidang Keuangan dan Perpajakan 2. d. pengembangan sumberdaya manusia sektor industri secara intensif melalui akselerasi transformasi teknologi. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional Terkait dengan penguatan inovasi. Permohonan pemberian fasilitas diajukan kepada Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi.

Insentif ini berupa pembebasan bea masuk atas impor buku ilmu pengetahuan dan barang atau peralatan untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan (Pasal 25). Adanya ketentuan pengecualian sebagai obyek pajak atau pengurangan penghasilan bruto merupakan fasilitas atau insentif di bidang perpajakan yang diberikan untuk mendorong kemampuan riset. inovasi dan investasi riset dan pengembangan badan usaha/industri di Indonesia. (c) pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen yang dibayarkan kepada Subjek Pajak Luar Negeri sebesar 10% (sepuluh persen). Pasal 2 menyebutkan bahwa wajib pajak badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi dapat diberikan fasilitas pajak penghasilan berupa: (a) pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman modal. antara lain yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan.1. 1 Tahun 2007. 2. menurut PP No. Wajib pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerahdaerah tertentu dapat diberikan insentif dan fasilitas pajak penghasilan. pemerintah dapat memberikan fasilitas insentif pajak. 18 Tahun 2002 . Pembebasan bea masuk diberikan berdasarkan rekomendasi dari kementerian terkait. (b) penyusutan dan amortisasi yang dipercepat. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Menurut UU No. 36 Tahun 2008 menyebutkan.1. Yang dimaksud dengan barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yaitu barang atau peralatan yang digunakan untuk melakukan penelitian/riset atau percobaan guna peningkatan atau pengembangan suatu penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.penghasilan bruto. atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku. 2.2.3. dibebankan selama 6 (enam) tahun masing-masing sebesar 5 % (lima persen) per tahun. yaitu “biaya penelitian perusahaan dan/atau sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan di Indonesia”. Selanjutnya dalam peraturan pelaksanaannya. Ketentuan UU No. bukan menjadi obyek pajak adalah “sisa lebih yang diterima atau diperoleh lembaga atau badan nirlaba di bidang pendidikan formal dan/atau penelitian dan pengembangan yang ditanamkan kembali dalam jangka waktu 4 tahun”. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu Sejalan dengan upaya penguatan inovasi maupun investasi di bidang riset swasta di Indonesia. 17 Tahun 2006 ini dimungkinkan pemberian insentif dan fasilitas untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. dan 54 Naskah Akademik Perubahan UU No. yang menjadi faktor pengurang (tax deduction) penghasilan bruto.

7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (yang telah diubah dengan UU No. b. Sumbangan dari pihak swasta ini akan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu adalah wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan: a) memiliki potensi untuk cepat tumbuh. b. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan.(d) kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. Sedangkan yang dimaksudkan KAPET. 2. impor barang modal atau peralatan lain oleh PDKB yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. dan Biaya Pembangunan Infrastuktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto PP No. impor barang dan/atau bahan untuk diolah di PDKB. untuk selanjutnya disebut DPIL. kompensasi kerugian fiskal. Bagi wajib pajak swasta yang menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan iptek dapat memperoleh fasilitas pajak/keringanan pajak. diberikan perlakuan di bidang Pajak Penghasilan (fasilitas perpajakan) sebagai berikut: a.5. 93 Tahun 2010 merupakan aturan pelaksanaan UU No. dan/atau. dan/ atau c) memiliki potensi pengembalian investasi yang besar. 18 Tahun 2002 .1. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. diharapkan dapat meningkatkan pendanaan riset dari pihak swasta. b) mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya. 2. ke PDKB untuk diolah lebih lanjut. 36 Tahun 2008). Pasal 1 menyebutkan bahwa sumbangan dan/atau biaya terkait penelitian dan pengembangan dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam satu tahun. 55 Naskah Akademik Perubahan UU No. menurut Keppres No. Sumbangan Pembinaan Olahraga. pemasukan Barang Kena Pajak dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya. penyusutan dan atau amortisasi yang dipercepat. Pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di dalam KAPET. Melalui peraturan ini. mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai paling lama 10 (sepuluh) tahun. c. Setiap Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) di dalam wilayah KAPET juga dapat diberikan fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa.1. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas : a. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlakuan Perpajakan Di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Peraturan ini memuat ketentuan berkaitan dengan perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET).4. c. pajak penghasilan menurut Pasal 26 atas dividen sebesar 10%.

Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Diundangkannnya UU No.d. pengembangan. UU No. 18 Tahun 2002 3) menggalakkan pembentukan jaringan. menengah. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai perlunya penguatan jaringan sistem nasional penelitian. dan . Jaringan tersebut berfungsi untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur unsur kelembagaan iptek (lembaga litbang.1. pemerintah daerah. memperkuat. 18 Tahun 2002 menyatakan bahwa “Pemerintah wajib merumuskan arah. pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut.18 Tahun 2002 memberikan manfaat besar bagi pengembangan Iptek di Indonesia. Dalam rangka memadukan sinergisme kerja berbagai unsur kelembagaan Iptek. 2) mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumber daya Iptek secara lebih efektif. g. badan usaha dan lembaga penunjang lainnya) untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih besar dibandingkan apabila masing-masing unsur kelembagaan berjalan secara sendiri-sendiri. dan penerapan iptek (sisnas litbangrap iptek). dan masyarakat untuk berperan serta secara aktif. prioritas utama. 3. penyerahan kembali Barang Kena Pajak hasil pekerjaan subkontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di DPIL atau PDKB lainnya kepada Pengusaha Kena Pajak PDKB asal. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. f. 56 Naskah Akademik Perubahan UU No. karena: 1) memberikan landasan hukum. Untuk mengembangkan jaringan tersebut seluruh elemen Sisnas Iptek wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. 4) mengikat semua pihak. Kunci penting untuk terlaksananya sinergisme kerja antar unsur Sisnas Iptek adalah terbangunnya suatu sistem perencanaan pembangunan nasional Iptek dalam jangka pendek. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 3.1. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang Iptek” yang dituangkan sebagai “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek”. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. perguruan tinggi. maupun jangka panjang. 3. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal.1. e. Pasal 18 dan 19 UU No. pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka subkontrak. melengkapi. pemerintah.

18 Tahun 2002 . pengembangan. 18 Tahun 2002 dapat menjadi acuan. Dalam skala yang lebih kecil. Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri (Pasal 16 ayat (3)). Pasal 20 UU No.Salah satu kewajiban Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam UU No. dapat dikatakan UU No. peraturan perundang-undangan ini sangat menekankan pentingnya pembentukan jaringan yang menjalin hubungan interaktif semua unsur kelembagaan iptek sehingga kapasitas dan kemampuannya dapat bersinergi secara optimal. dan badan usaha yang melaksanakannya (Pasal 13 ayat (4)). 18 Tahun 2002 adalah mengkoordinasikan perumusan “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek” dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. antara lain: a. lembaga riset. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. 3) penguatan kemampuan audit teknologi yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia (SNI). Menteri antara lain wajib memperhatikan pentingnya upaya penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. Sebagai Undang-Undang yang mengatur sistem iptek nasional. Dengan demikian. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti halnya di tingkat nasional. beberapa ketentuan dalam UU No. pengembangan. b. 4) Mengembangkan instrumen kebijakan yang diperlukan. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. inovasi. Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. perekayasaan. Dalam upaya penguatan inovasi. Pemerintah Daerah juga dalam merumuskan kebijakan strategisnya harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. dengan memperhatikan kepentingan masyarakat. 2) penguatan pertumbuhan industri berbasis hasil litbang. c. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai kewajiban Pemerintah Daerah untuk merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan pembangunan daerah Iptek yang dituangkan dalam “kebijakan strategis pembangunan Iptek di daerah”. Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek dibentuk Dewan Riset Nasional dan Dewan Riset Daerah. Menteri wajib memperhatikan: 1) penguatan ilmu dasar dan kapasitas litbang. bangsa. Dalam perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek. dan difusi 57 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 merupakan pedoman dan landasan hukum utama dalam pelaksanaan pembangunan iptek nasional.

e. klimatologi. Pengaturan kegiatan litbang asing dalam PP No.4. dan geofisika.1. Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. 18 Tahun 2002. 39 Tahun 1995 mempunyai keterkaitan dengan PP No. dimana disebutkan kegiatan litbang asing dilakukan atas dasar izin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penelitian bagi orang asing. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah (Pasal 26).1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi. f. 31 Tahun 2009 menyebutkan pengembangan industri meteorologi. atau kerja sama dengan lembaga asing yang memenuhi persyaratan. PP ini merupakan peraturan pelaksanaan ketentuan Pasal 69 UU No. d. dan Geofisika UU No. 39 Tahun 1995 litbang kesehatan dapat diselenggarakan oleh lembaga asing. 18 Tahun 2002 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan . 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. Pasal 78 UU No. Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. 31 Tahun 2009 secara tegas menekankan perlunya penguatan inovasi dan alih teknologi dalam pengembangan industri meteorologi. Dalam Pasal 2 disebutkan. klimatologi. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan (Pasal 28 ayat (1)). Peraturan ini memberi kewenangan kepada Menteri yang membidangi riset dan teknologi untuk memberikan rekomendasi insentif – di bidang perpajakan maupun bantuan teknis (technical assistance) – 58 Naskah Akademik Perubahan UU No. 3. litbang kesehatan bertujuan untuk memberikan masukan iptek serta pengetahuan lain yang diperlukan untuk menunjang pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Inovasi dan Difusi Teknologi Peraturan ini merupakan peraturan pelaksanan UU No. Klimatologi. Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain (Pasal 28 ayat (2)). 3. Menurut PP No.). 3. inovasi. atau melibatkan peneliti asing.1.3.teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan (Pasal 19 ayat (3) huruf b.2. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. pemanfaatan. dan geofisika yang mencakup inovasi dan alih teknologi harus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nasional.

Berdasarkan peraturan ini. Sehingga persoalannya bukan pada kekosongan peraturan. 18 Tahun 2002. perekayasan dan dosen atau pemanfaatan laboratorium-laboratorium milik pemerintah. antara lain berkaitan dengan bagaimana kriteria yang menentukan badan usaha mendapatkan tax deduction. Ketentuan dan pelaksanaan insentif atau fasilitas perpajakan yang dimaksud dalam PP No. seperti Pasal 26 huruf a 59 Naskah Akademik Perubahan UU No. Upaya ini mutlak dilakukan.5. PP No. namun bagaimana penyusunan kebijakan pelaksanaannya dapat bersinergi dengan baik. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Peraturan Pemerintah ini merupakan penjabaran Pasal 16 ayat (3) UU No. PP No. badan usaha dapat mengajukan permohonan rekomendasi insentif litbang kepada Menteri.dalam rangka mendorong kemampuan peningkatan perekayasaan. Pelaksanaan insentif bantuan teknis terkait dengan ketentuan UU Kepegawaian. 35 Tahun 2007 berkaitan erat dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan (insentif fiskal). Dari sisi regulasi. PP No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan misalnya.1. insentif bantuan teknis (insentif non fiskal) berhubungan dengan penempatan tenaga ahli peneliti. 12 Tahun 2002 jo. yang menekankan pentingnya alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan-kegiatan litbang agar memberikan nilai tambah ekonomi dan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidup. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 36/2008 tentang Pajak Penghasilan. mengingat regulasi masih menyisakan sejumlah pertanyaan selain sifatnya cenderung sektoral sehingga tidak mudah implementasinya. Keputusan persetujuan dan penolakan pemberian insentif tetap berada dalam kewenangan masing-masing instansi yang berwenang dimaksud. 18 Tahun 2002 . 3. atau bagaimana urgensi dan pengaruh pemberian fasilitas/insentif terkait dengan usaha peningkatan kemampuan inovasi nasional. Pertanyaan menyangkut UU No. 93 Tahun 2010 dan UU No. 1/2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. Namun dalam hal ini. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS maupun ketentuan-ketentuan yang terkait dengan aturan tentang lembaga Kementerian LPNK dan LPK. beberapa ketentuan dalam PP No. dan difusi teknologi di badan usaha. inovasi. sebenarnya pemerintah sudah berupaya mengakelarasi kegiatan riset dan inovasi dunia usaha atau untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta. 20 Tahun 2005 menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset/riset dengan badan usaha. PP No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan merupakan beberapa peraturan perundang-undangan yang menyediakan insentif riset. kewenangan Menteri hanya sebatas memberikan rekomendasi scientific opinion kepada instansi yang berwenang dibidang perpajakan maupun lembaga pemberi bantuan teknis. Selain itu. UU No. Sementara itu.

1. meningkatkan kemandirian dalam penguasaan iptek di bidang perikanan. Di dalam peraturan menteri ini. PP ini juga menyebutkan. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan harus melaporkan hak kekayaan intelektual yang telah diperoleh dan/atau yang sedang dalam proses pendaftaran. pelaku usaha perikanan. Hasil Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Dan Hasil Pengelolaannya. serta pengelolaannya kepada Menteri. 30 Tahun 2008 penyelenggaraan litbang perikanan bertujuan untuk: a. menyatakan bahwa sinergi perguruan tinggi dan lembaga litbang dengan lembaga riset lainnya dapat dilakukan antara lain dengan mekanisme perjanjian kerjasama maupun perjanjian lisensi. Pasal 15 menyebutkan penyelenggaraan litbang perikanan dapat bekerja sama dengan pelaksana litbang. asistensi teknis litbang.yang menyatakan bahwa sinergi berprinsip mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber daya tertentu untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat tertentu. Serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Menurut PP No. 3.6. badan usaha. Dalam rangka pengembangan kerjasama litbang perikanan. pendidikan dan pelatihan serta kegiatan lain yang dapat mempercepat pembangunan perikanan. berdaya saing tinggi. menyiapkan dan menyediakan basis ilmiah yang kuat dan teknologi tepat guna sebagai kunci dalam menyusun kebijakan pengelolaan dan pengembangan usaha perikanan agar lebih efektif. 04/M/PER/III/2007 tentang Tata Cara Pelaporan Kekayaan Intelektual. b. 12 Tahun 2010 kegiatan litbang kehutanan meliputi kegiatan: (a) penelitian dasar. efisien. dan masyarakat. dan dapat bekerja sama dengan lembaga litbang pemerintah provinsi. dan/atau lembaga litbang milik asing. mengungkapkan dan memahami potensi dan permasalahan sumber daya ikan dan lingkungannya serta mengembangkan teknologi pengelolaan perikanan dan konservasi sumber daya ikan. (b) penelitian terapan.1. dan ramah lingkungan serta menghargai kearifan tradisi/budaya lokal. 18 Tahun 2002 . Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Menurut PP No. perguruan tinggi. ekonomis. asosiasi perikanan. antara lain Peraturan Menteri Negara Riset Dan Teknologi No. hasil kegiatan penelitian dan pengembangan milik pemerintah dan/atau pemerintah daerah. Sebagai peraturan pelaksanaannya. 60 Naskah Akademik Perubahan UU No. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan. Sedang Pasal 20. dan c.7. kegiatan litbang kehutanan diselenggarakan oleh Pemerintah. lembaga litbang kabupaten/kota. Tujuan pelaporan adalah untuk mendayagunakan hasil kegiatan penelitian dan pengembangan yang dibiayai oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan hidupnya. 3. Kerjasama ini meliputi penyediaan tenaga ahli. penyediaan dana dan sarana litbang. Upaya ini diharapkan juga mendorong inovasi di sektor usaha. (c) penelitian kebijakan. dan/atau (d) pengembangan eksperimental.

bioteknologi. Menurut Perpres No. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. b. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing.” KIN mempunyai tugas untuk: (a) membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. 23 Tahun 2010.8. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional Kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. kearifan tradisional. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. atau badan usaha asing dapat menyelenggarakan litbang kehutanan setelah mendapatkan izin dari instansi Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. potensi dan karakteristik biofisik setempat guna menjamin terjaganya kekayaan plasma nutfah khas Indonesia dari pencurian atau gangguan lainnya yang mengancam punahnya plasma nutfah tersebut. mendukung. serta diklat kehutanan dilaksanakan dengan memperhatikan: a. industriinfrastruktur.Penyelenggaraan litbang. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan Sistem Inovasi Nasional (SINas) guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. Dalam rangka penguatan SINas ini dibentuk Komite Inovasi Nasional (KIN). PP No. peneliti asing. mendayagunakan.1. perguruan tinggi asing. serta kondisi social budaya masyarakat. manajemen bencana alam. perguruan tinggi asing. Dalam Perpres ini yang dimaksud dengan SINas adalah “suatu jaringan rantai antara institusi publik. terpadu. ilmu pengetahuan dan teknologi. 61 Naskah Akademik Perubahan UU No. (b) memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. sebagaimana PP No. terintegrasi. penguatan SINas diutamakan mencakup inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. Berkaitan dengan kerjasama penelitian internasional. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. atau badan usaha asing dalam menyelenggarakan litbang kehutanan harus bekerja sama dengan Badan Litbang Kehutanan Kementerian. lembaga riset dan teknologi. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. peneliti asing. transportasi dan industri pertahanan. ketahanan energi. dan (c) melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program penguatan SINas. Selanjutnya di ayat (2)-nya disebutkan lembaga litbang asing. 3. industri manufaktur. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghasilkan produk produk inovatif. 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 12 Tahun 2010 juga mempunyai keterkaitan dengan PP No. Pasal 22 menyebutkan. lembaga litbang asing. 18 Tahun 2002 .

atau usaha mandiri skala kecil dan menengah. Koordinasi dilakukan terutama untuk menentukan dan melaksanakan arah kebijakan. Tahun 1989 1990 1991 1992 1993 23 Nilai Ekspor (juta USD) 79 112 197 465 850 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 Nilai Ekspor (juta USD) 2. Dalam konteks penguatan inovasi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu.1. Bidang Pendidikan. prioritas utama dan kerangka kebijakan pemerintah dalam pembangunan iptek secara nasional. tugas utama DRN adalah : a. 16 Tahun 2005. prioritas utama maupun kerangka kebijakan di bidang penelitian. 18 Tahun 2002 . DRN memperhatikan pemikiran dan pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. yakni sebagai tenaga kerja terampil untuk aplikasi teknologi di perusahaan industri. Dalam melaksanakan tugasnya itu. Sesuai Perpres No.9.580 Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.672 5.1. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Dewan Riset Nasional (DRN) Peraturan Presiden tentang DRN mengatur tentang pelaksanaan tugas DRN dalam membantu Menteri dalam merumuskan arah.070 4. sedangkan pendidikan menengah kejuruan23. jenjang pendidikan yang paling relevan adalah pada strata 2 dan 3 untuk dukungan kemampuan individual dan kapasitas pengembangan teknologi nasional. Perumusan Jakstranas Iptek dilakukan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi secara terkoordinasi dengan instansi-instansi terkait. program diploma.10. dan strata 1 lebih dilihat relevansinya sebagai elemen pendukung penguatan kapasitas adopsi dari sisi pengguna teknologi. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Instruksi Presiden dalam memberi arahan perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan strategis pembangunan nasional iptek (Jakstranas Iptek). menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. 62 Naskah Akademik Perubahan UU No. membantu Menteri dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. 4.698 4.3. pengembangan. Lebih spesifik berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang pendidikan menengah. memberikan berbagai pertimbangan kepada Menristek dalam penyusunan kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. b.403 5.

Beberapa pengecualian tentu ada.658 2. riset tugas akhir program strata 2 dan 3 (thesis dan disertasi) masih dominan diposisikan hanya sebagai indikator penguasaan bidang ilmu yang sesuai dengan program studi yang diikuti. 24 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. PP No. tetapi arus utamanya harus diakui masih murni berorientasi akademik. kegiatan tugas akhir yang hanya berorientasi akademik hanya diimplementasikan sampai pada jenjang strata 1 atau program diploma. karena lulusan pada jenjang ini memang masih lebih diposisikan sebagai langkah penyiapan tenaga berpengetahuan dasar yang cukup dan/atau mempunyai ketrampilan di bidangnya masing-masing. Idealnya. disamping mutu pendidikan. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap24 dan cukup banyak pula yang berkerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya.808 6. 63 Naskah Akademik Perubahan UU No.561 2. 18 Tahun 2002 . unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Namun dalam prakteknya.900 5.250 2. industri. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi.571 5. diunduh dari tradingeconomics. ataupun kebutuhan pemerintah.188 2004 2005 2006 2007 2008 5. Pendidikan program diploma dan sekolah menengah kejuruan sejak awal dirancang untuk menyiapkan tenaga terdidik dan terampil yang siap bekerja. belum didorong oleh kesadaran agar hasil riset tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Lulusan strata 1 kemudian dapat memilih alur karirnya untuk berkiprah: [1] memperkuat kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna. atau [2] meningkatkan kemampuannya sebagai pengembang teknologi. sedangkan upaya untuk meningkatkan relevansinya dengan realita di bidang ilmu yang bersangkutan masih dirasakan minimal. Sebagai contoh. Konsepsi sistem inovasi nasional yang sangat baik sekalipun hanya akan bisa diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan.1994 1995 1996 1997 1998 1. Persentase ekspor Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi untuk periode 1989-2008 Sumber : The World Bank. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi sistem inovasi nasional.com (18 Januari 2011) Secara umum program pendidikan Indonesia belum dirancang agar dapat optimal mendukung tumbuh kembang inovasi.225 5.625 Tabel 2. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. topik riset masih ditentukan oleh keinginan mahasiswa dan arahan pembimbing/promotornya.340 1. Dengan kata lain.

unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. dinamika perkembangan global. b. 20 Tahun 2003. dan j. penelitian. dan pengabdian kepada masyarakat.1. perkembangan ilmu pengetahuan. kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dengan memperhatikan: a. 4.1. penelitian ilmiah. 20 Tahun 2003 yang antara lain menyebutkan: (1) bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan. d. 25 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. agama. c. peningkatan iman dan takwa. keragaman potensi daerah dan lingkungan.1. Menurut Pasal 36 UU No.2. Pelaksanaan penelitian terutama dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar. UU No. peningkatan akhlak mulia. tuntutan pembangunan daerah dan nasional. f. dan (2) Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi. 4. dan pengabdian kepada masyarakat. Kewajiban yang pertama dikenal sebagai ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’. i. 18 Tahun 2002 . persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.4. 64 Naskah Akademik Perubahan UU No. g. Peraturan Pemerintah Nomor Penyelenggaraan Pendidikan 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. dan seni. kecerdasan. teknologi. h. di samping mutu pendidikan. Olehkarena itu perkembangan iptek juga merupakan salah satu materi kurikulum. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. tuntutan dunia kerja. Namun dalam prakteknya. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Terkait dengan kegiatan penelitian. e. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap25 dan cukup banyak pula yang bekerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Pendidikan. dan minat peserta didik.1. peningkatan potensi.

Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. hubungan yang sinergis dan serasi harus 65 Naskah Akademik Perubahan UU No. 37 Tahun 2009. dan/atau olahraga. 13 Tahun 2003. . Lebih lanjut dinyatakan pada Pasal 4 UU No. [b] mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen Menurut PP No. budaya. Nuansa ini sangat sejalan dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. dan masyarakat. dan pengabdian kepada masyarakat. penyelenggara pendidikan tinggi atau satuan pendidikan tinggi. dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. dimana kebutuhan (demand) yang menentukan orientasi pembangunan dan pengembangannya. seni. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan.Konsepsi sistem inovasi yang sangat baik sekalipun hanya akan berhasil apabila dapat diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. Pembangunan ketenagakerjaan sesuai dengan sifatnya akan lebih berada pada posisi sebagai pemasok kebutuhan tenaga kerja. 4. Apabila dikaitkan dengan tujuan pembangunan SINas sendiri. Oleh sebab itu. Pasal 32. dan seni melalui pendidikan. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan pengertian tentang tenaga kerja. industri. Bidang Ketenagakerjaan. teknologi. yakni untuk mewujudkan sistem pengelolaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih efektif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan/atau jasa sesuai kebutuhan pengguna (masyarakat. studi serta kesempatan melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.1. pemerintah daerah. yakni mencakup setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat (Pasal 1 butir 2). Kesempatan untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat mencakup kesempatan untuk memperoleh dan/atau memanfaatkan sumber daya pendidikan yang dimiliki oleh Pemerintah. atau pemerintah). dan [d] meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Berdasarkan Pasal 26. maka terlihat jelas benang merah keterkaitan antara kebijakan ketenagakerjaan dengan upaya penguatan inovasi nasional. menyebutkan bahwa dosen dapat memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan. 5. Butir b Pasal 4 di atas memberikan penegasan bahwa salah satu tujuan pembangunan ketenagakerjaan adalah untuk penyediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. 18 Tahun 2002 UU No. mengembangkan. teknologi. [c] memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. dosen memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi.3. penelitian. bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan: [a] memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi.

Lebih jauh. secara bertahap dilakukan upaya meningkatkan produktivitas penguatan inovasi yang dalam prosesnya tentu mengharuskan adanya peningkatan mutu dan relevansi keahlian tenaga kerja. Dengan demikian maka keberhasilan pembangunan pendidikan harusnya tidak hanya dievaluasi berdasarkan jumlah atau persentase penduduk yang berpartisipasi pada setiap jenjang pendidikan atau persentase populasi yang menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. pengguna & intermediasi Kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional Kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa . maka akan sangat berat beban yang diemban untuk memajukan bangsa dan negara tersebut. SINas. ketenagakerjaan. Selanjutnya. 66 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Lulusan bermutu dan relevan kebutuhan lapangan kerja SDM pengembang. Kemajuan suatu bangsa dan negara sangat tergantung dari peran mana yang lebih besar porsinya yang diperankan oleh tenaga kerja secara kolektif. sebaliknya jika lebih banyak perannya hanya sebagai objek pembangunan. Skenario untuk membangun keterpaduan antara pembangunan SINas dengan penyiapan tenaga kerja pendukungnya saat ini belum diformulasikan. Kinerja sektor pendidikan tentu akan menjadi tumpuan utama dalam memperbesar porsi tenaga kerja yang menjadi subjek pembangunan. dengan tujuan dan kebutuhan yang jelas. dan perekonomian nasional Tenaga kerja berperan sekaligus sebagai subjek dan objek pembangunan.dimulai dengan mewujudkan penguatan inovasi yang lebih mantab. Penyerasian Sistem Pendidikan. Sistem Pendidikan Nasional Kebijakan ketenagakerjaan Produktivitas Inovasi Nasional Kinerja Perekonomian Nasional Gambar 5. Inovasi yang dibangun berbasis pada potensi dan kebutuhan nasional bermakna telah mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. Dengan demikian. penyiapan tenaga kerja juga tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. tetapi perlu juga didasarkan atas persentase jumlah lulusan yang berperan sebagai subjek pembangunan atau sebagai tenaga kerja produktif yang berkontribusi terhadap keberhasilan pembangunan nasional di segala sektor. Jika lebih besar perannya sebagai subjek pembangunan yang secara aktif berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. maka bangsa dan negara tersebut akan berpeluang lebih besar untuk lebih maju. sehingga dengan sendirinya diawali dengan kesenjangan (gap) yang minimal antara kebutuhan penguatan inovasi nasional dengan ketersediaan tenaga kerja domestik. sangat jelas bahwa upaya mewujudkan SINas yang produktif dan efektif dalam memajukan perekonomian nasional membutuhkan keterpaduan dengan kebijakan ketenagakerjaan dan sekaligus juga dengan kebijakan pendidikan nasional (Gambar 5).

Tenaga ahli sebagai PNS tunduk kepada UU No. mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. belum banyak kontribusi industri hilir terhadap perekonomian nasional. tetapi juga karena industri dengan muatan teknologi tinggi masih belum berkembang di Indonesia. 12 Tahun 2002 tentang Kenaikan Pangkat PNS. maka keberhasilan pembangunan sektor ketenagakerjaan perlu dievaluasi berdasarkan peran aktif dan produktifnya sebagai pengembang teknologi. 99 Tahun 2000 menyebutkan “PNS yg dipekerjakan atau diperbantukan 67 Naskah Akademik Perubahan UU No. meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya.1. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS. dan intermediasi. PP No. dan d. Kualitas tenaga kerja ini tidak terlepas dari peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. 18 Tahun 2002 UU No. Kegiatan ekonomi masih dominan pada fase eksploitasi sumberdaya alam atau produksi bahan mentah. yang berkaitan dengan ketentuan PNS dipekerjakan atau diperbantukankan. . dalam kerangka penguatan inovasi. dan Keputusan Kepala BKN No. PP No.Selanjutnya. karena masih lebih banyak yang berperan dalam proses produksi barang atau jasa. Dalam Pasal 3 disebutkan pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. perekayasa dan dosen pemerintah adalah PNS. UU No.1. b.1. tetapi untuk kegiatan-kegiatan ekonomi dengan muatan teknologi yang minimal. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ketenagakerjaan. 5. pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. c. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS Tenaga ahli terdiri dari peneliti. Kenyataan ini sebetulnya bukan hanya menjadi cerminan dari kualitas tenaga kerja yang masih rendah. 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan : a. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 4 UU No. memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. dan hak mendapatkan tunjangan.1. Posisi tenaga kerja Indonesia saat ini masih belum terlalu membanggakan.2. 12 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 jo. Pasal 6 hruf c PP No. 13 Tahun 2003 antara lain mengatur mengenai peranan dan kedudukan tenaga kerja. 12/ Tahun 2002 jo. 5. 5. bukan hanya sebagai konsumen barang dan/atau jasa yang dihasilkan dari hasil aplikasi teknologi semata. pengguna teknologi dalam sistem produksi.

masa kerja. pengangkatan. pembebasan sementara.berdasarkan ketentuan Pasal ini adalah PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh pada proyek pemerintah. . Peneliti.1. 13/M/PB/VIII/2008 dan No. menetapkan 11 standar kompetensi jabatan fungsional perekayasa. 31 Tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan PNS yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam Jabatan Fungsional Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan diberikan tunjangan jabatan fungsional sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. dan kualifikasi akademik yang berlaku bagi profesor PNS. 22 Tahun 2008 diatur hal-hal yang berkaitan dengan usulan penilaian dan penetapan angka kredit.3.1. Peraturan Pemerintah No. yang besarnya 1 (satu) kali gaji pokok pegawai negeri sipil yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Tunjangan kehormatan bagi profesor bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS ini sangat tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. antara lain melakukan : a. BPPT selaku pembina jabatan perekayasa.4. perekayasa dan dosen tidak diperkenankan bekerja dan diperbantukan di badan-badan usaha. Menurut Peraturan Bersama Menristek dan Kepala BKN No. masa kerja. 68 Naskah Akademik Perubahan UU No. 99 Tahun 2000 tidak berlaku bagi keperluan technical assistance peneliti dan perekayasa pemerintah ke badan-badan usaha swasta. pemberhentian dalam dan dari jabatan. PP No. Namun ketentuan PP No. penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan angka kredit. pola pikir dan tindakan dalam melaksanakan pembinaan perekayasa. sebagaimana Pasal 15 dan 16 diberikan kepada dosen yang memiliki jabatan akademik profesor dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan sebesar 2 (dua) kali gaji PNS yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kenaikan jabatan/pangkat. 5. dan badan usaha yang ditentukan”. 11 dan 12 tunjangan khusus diberikan bagi guru dan dosen PNS yang ditugaskan oleh pemerintah atau pemerintah daerah di daerah khusus. Tunjangan Khusus Guru dan Dosen Serta Tunjangan Kehormatan Profesor Berdasarkan Pasal 10 . dan kualifikasi akademik bagi guru dan dosen PNS. BPPT ditunjuk sebagai instansi pembina jabatan perekayasa. ketentuan mengenai ‘badan usaha yang ditentukan’ ini hanya ditujukan bagi keperluan perbantuan guru-guru pemerintah yang mengajar ke sekolah-sekolah swasta. organisasi profesi. Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2002 jo. Untuk menjamin adanya persamaan persepsi. 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen. 18 Tahun 2002 Sedangkan tunjangan kehormatan. Sedangkan tunjangan khusus bagi guru dan dosen bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. Peraturan Pemerintah No. negara sahabat atau badan internasional. tim penilai. Menurut pihak BKN dan Menpan. 5.

b. menetapkan pedoman formasi jabatan fungsional perekayasa; c. menyusun kurikulum pendidikan dan pelatihan jabatan fungsional perekayasa; d. melakukan pengkajian dan pengusulan tunjangan jabatan fungsional perekayasa; e. mensosialisasikan jabatan fungsional perekayasa serta petunjuk pelaksanaannya; f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional perekayasa; g. mengembangkan sistem informasi jabatan fungsional perekayasa; h. memfasilitasi pelaksanaan jabatan fungsional perekayasa; i. memfasilitasi pembentukan organisasi profesi perekayasa; j. memfasilitasi penyusunan dan penetapan etika profesi dan kode etik perekayasa; k. melakukan monitoring dan evaluasi Jabatan Fungsional Perekayasaan

6. Bidang Infrastruktur Sosial. Infrastruktur sosial pada prinsipnya mencakup semua fasilitas yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai infrastruktur komunitas (community infrastructure). Dengan demikian maka infrastruktur sosial tidak hanya mencakup ‘soft infrastructure’ (seperti dukungan untuk pengembangan komunitas, keluarga, dan individu; layanan informasi; pelatihan ketrampilan; perlindungan hukum; keamanan publik; dan layanan darurat); tetapi juga mencakup ‘hard infrastructure’ (seperti fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas untuk kegiatan seni dan budaya, fasilitas olahraga dan rekreasi, perumahan sehat, fasilitas lingkungan, fasilitas ibadah, dan tranportasi publik). Akibat buruk dari kurangnya perhatian dalam pembangunan infrastruktur sosial telah semakin dirasakan oleh negara-negara maju, misalnya berupa gangguan keamanan lingkungan atau mutu sumberdaya manusia yang rendah yang kemudian menjadi beban pembangunan. Kesenjangan sosial yang terjadi ternyata sangat mahal biaya remediasinya. Menyadari akan hal ini maka beberapa negara maju mulai secara sungguh-sungguh berupaya memperbaikinya. Misalnya Inggris menganggarkan hampir 3 milyar pound untuk pembenahan infrastruktur sosialnya. Pemerintah Australia juga mengambil inisiatif untuk membenahi infrastruktur sosial ini (Casey, 2005). Indonesia sebagai negara berkembang kelihatannya belum menunjukkan perhatian yang baik terhadap infrastruktur sosial ini pada sebagian besar wilayah perdesaan dan lingkungan kumuh perkotaan. Akibatnya kesenjangan sosial-ekonomi antara perdesaan dan perkotaan semakin melebar. Kenyataan ini telah secara nyata menyebabkan laju urbanisasi yang semakin sulit dibendung. Kesenjangan antara komunitas kaya dan miskin di perkotaan juga terasa semakin melebar. Kondisi ini menyebabkan antara lain semakin meningkatnya frekuensi kerusuhan di

69

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

perkotaan. Walaupun banyak yang mengkaitkan fenomena kerusuhan ini sebagai dampak dari demokratisasi di Indonesia. Kesenjangan sosial-ekonomi jelas tidak ‘compatible’ dengan upaya membangun inovasi nasional yang produktif dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, dalam skenario besar pengembangan sistem inovasi nasional Indonesia perlu disediakan ruang untuk pembangunan infrastruktur sosial. Beberapa peraturan perundang-uindangan terkait dengan pengembangan infrastruktur sosial sebagaimana di bawah ini.

6.1. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Infrastruktur Sosial. 6.1.1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Kereta Api

Menurut UU No. 23 Tahun 2007, pemerintah mendorong kemampuan di dalam negeri rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian nasional. Kegiatan ini antara lain mengedepankan lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang dikenal sebagai penghasil teknologi. Hal tersebut di ataur dalam Pasal 118 ayat (1) dan (2).
Pasal 118 (1) Untuk pengembangan perkeretaapian dilakukan rancang bangun dan rekayasa perkereta apian. (2) Rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh: a. pemerintah; b. pemerintah daerah: c. badan usaha; d. lembaga penelitian; atau e. perguruan tinggi.

6.1.2.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

Sebagaimana dengan UU No. 23 Tahun 2007, melalui UU No. 5 Tahun 1984 pemerintah juga berupaya mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri. Upaya ini memberikan kesempatan bagi peneliti dan perekayasa di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan maupun perguruan tinggi dalam peningkatan kemampuan industri nasional. UU No. 5 Tahun 1984 menyebutkan pembedaan teknologi industri dan teknologi tepat guna. Teknologi industri adalah cara pada proses pengolahan yang diterapkan dalam industri. Teknologi yang tepat guna adalah teknologi yang tepat dan berguna bagi suatu proses untuk menghasilkan nilai tambah. Sedangkan barang jadi adalah barang hasil industri yang sudah siap pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi. Pasal 9 UU No. 5 Tahun 1984 menyatakan bahwa pengaturan dan pembinaan bidang usaha industri dilakukan dengan memperhatikan “penyebaran dan pemerataan pembangunan industri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia dengan mempergunakan proses industri dan teknologi yang tepat guna untuk dapat tumbuh dan berkembang atas kemampuan dan kekuatan sendiri”.

70

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keterkaitan dengan teknologi, di Pasal 16, Bagian VI UU No. 5 Tahun 1984, ayat (1) disebutkan “Dalam menjalankan dan/atau mengembangkan bidang usaha industri, perusahaan industri menggunakan dan menciptakan teknologi industri yang tepat guna dengan memanfaatkan perangkat yang tersedia dan telah dikembangkan di dalam negeri. Pada ayat (2) Apabila perangkat teknologi industri yang diperlukan tidak tersedia atau tidak cukup tersedia di dalam negeri, Pemerintah membantu pemilihan perangkat teknologi industri dari luar negeri yang diperlukan dan mengatur pengalihannya ke dalam negeri.Dan pada ayat (3) Pemilihan dan pengalihan teknologi industri dari luar negeri yang bersifat strategis dan diperlukan bagi pengembangan industri di dalam negeri, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

71

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

yaitu konsepsi abstrak di dalam diri manusia tentang keserasian antara ketertiban dan ketenteraman atau kondisi yang sepantasnya diinginkan. maka ada kemungkinan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan hanya merupakan kumpulan kaidah yang mati. menurut Hans Kelsen. Secara garis besar dalam penyusunan peraturan perundang-undangan memperhatikan dua hal. Logemann berpendapat. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. Menurut UU No. Apabila peraturan tersebut hanya berlaku secara filosofis. lebih menekankan teori kekuasaan. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). hukum berlaku secara yuridis. yaitu pertama adanya politik hukum yang jelas. Sedangkan Zevenbergen menyatakan. sosiologis. merupakan kebijakan pemerintah mengenai arah mana hukum tersebut diarahkan. Demikian halnya apabila peraturan perundangundangan hanya menekankan pada aspek sosiologis-nya saja. 72 Naskah Akademik Perubahan UU No. Apabila peraturan perundang-undangan hanya menekankan pada pemenuhan persyaratan yuridisnya saja. maka peraturan perundang-undangan yang dibuat cenderung menjadi sekumpulan aturan-aturan pemaksa. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. Menurut Kelsen. 18 Tahun 2002 . Hukum yang baik adalah apabila terdapat keserasian antara politik hukum yang dibuat oleh pemerintah dengan kesadaran hukum masyarakat. Pembentukan peraturan perundang-undangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. karena efektivitas hukum merupakan fakta. Hal itu diperkuat dengan teori pengakuan yang menyatakan bahwa berlakunya hukum ataupun peraturan perundangundangan didasarkan atas penerimaan atau pengakuan atas peraturan tersebut. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi.Bab 4 Landasan Filosofis. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. yaitu syarat yuridis. dan Yuridis Pembentukan peraturan perundang-undangan umumnya telah memperhatikan proses pemberlakuannya. kaidah hukum mengikat. maka peraturan tersebut hanya merupakan cita-cita saja. Kajian mengenai persyaratan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan yang baik selalu berkembang agar penerapan peraturan perundang-undangan sesuai dengan tujuannya. apabila menunjukan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya. Menurut teori kekuasaan. Dengan demikian apabila pembentukan peraturan perundang-undangan diartikan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat atau pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Sosiologis. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. Kedua. dan filosofis. adanya kesadaran hukum masyarakat. maka penyusunan suatu peraturan perundangundangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. Syarat yuridis. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundangundangan. apabila kaidah hukum terbentuk menurut cara yang telah ditetapkan.

Terakhir adalah lingkup masalah yang bersangkutan dengan permasalahan apa saja yang akan menjadi obyek suatu peraturan perundang-undangan. budi bahasa. Menurut Amandemen keempat UUD 1945 ini. Lingkup ini dibedakan menjadi empat. kemajuan iptek secara tegas ditetapkan. Amandemen keempat UUD 1945. dan kebudayaan suatu bangsa. yaitu agar diarahkan untuk mendorong kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. lingkup berlakunya suatu peraturan perundangan-undangan agar ditentukan pula. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. rasa dan karsa. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. tetapi saat ini dengan adanya perkembangan pengetahuan. Lingkup pribadi menunjukan siapa atau apa yang akan diatur peranannya melalui peraturan perundangundangan. Lingkup waktu berhubungan dengan jangka waktu tertentu yang diatur oleh suatu peraturan perundang-undangan. Secara jelas ketentuan ini tercantum dalam Pasal 31. 2 hal yg menyangkut sopan santun. waktu. Logemann berpendapat. dan masalah tertentu. Sebagai contoh : dahulu manusia menanam karet dan menunggu hasil sesuai kemampuan alam untuk memproduksi. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Pendidikan dan Kebudayaan. aplikasi pupuk. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Amandemen ini belum menjadi pertimbangan yuridis saat penetapan UU No. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. 2008) diartikan sebagai 1 kemajuan (kecerdasan. Dapat dikatakan manusia dan peradaban adalah hal yang tidak dapat dipisahkan karena manusia itu memiliki cipta. Kemajuan kebudayaan ini sering dikatakan sebagai peradaban. 4.1. secara jelas telah mengamanahkan pemajuan iptek. dan 73 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang disahkan pada tanggal 29 Juli 2002. Aspek Yuridis Amandemen keempat UUD 1945 yang ditetapkan oleh MPR pada tanggal 10 Agustus 2002 merupakan landasan yuridis bagi pembentukan peraturan perundang-undangan yang ada. yang selengkapnya berbunyi: Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Hal itu dapat ditemui di dalam Bab XIII. Perkembangan cipta. pribadi. Lingkup wilayah menyangkut ruang atau wilayah yang akan dibatasi melalui pembentukan peraturan perundang-undangan. rasa dan karsa ini menimbulkan perkembangan pengetahuan. 18 Tahun 2002 . (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. yaitu wilayah. Pengembangan. kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya.Di samping syarat–syarat tersebut.

kelangsungan. Apabila iptek berkembang tetapi kesejahteraan umat manusia tidak berkembang. iptek mempunyai peran sentral. Dengan kata lain. merupakan hasil dari penguasaan dan pemanfaatan iptek sehingga berbagai penyakit telah dapat disembuhkan.teknik pemeliharaan menjadikan pohon karet menghasilkan lebih banyak. Secara umum iptek berkembang melalui kreativitas berbagai penemuan (discovery). yang selanjutnya melahirkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa.  Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan. misalnya. kualitatif. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. Dengan demikian dapat dikatakan dalam perkembangan peradaban manusia. Berbagai inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. moral. maka dapat dikatakan penguasaan dan pemanfaatan iptek tidak berfungsi dengan baik. kesejahteraan umat manusia juga meningkat. apabila iptek terus berkembang. Sedangkan teknologi dalam UU No. Menurut UU No. 18 Tahun 2002 diartikan sebagai cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. kemajuan bangsa. ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. Sedangkan kegunaan iptek bagi manusia juga ditentukan oleh nilai. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. norma dan hukum atau peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. dan tanpa adanya manusia kedua karya tersebut tidak akan ada. disusun. Adanya kemajuan penguasaan dan pemanfaatan iptek akan berimbas pada peningkatan daya saing dan akan mendorong kemajuan bangsa. Berbagai penemuan di bidang kesehatan. Demikian halnya dengan penggunaan perangkat otomatis. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. teknologi adalah ”keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara umum adalah karya manusia. maupun penciptaan (invention). maupun pengembangan ilmu pengetahuan. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. Menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv). baik yang bersifat kuantitatif. atau bahkan menurun. memberi kemudahan dalam kehidupan manusia.  Produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja.” Pengertian teknologi secara umum menurut Ellul (1967) adalah:  Proses yang meningkatkan nilai tambah. 18 Tahun 2002 berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. 18 Tahun 2002. Menurut UU No. teknologi informasi dan mikroelektronika. telah membantu manusia dalam berbagai kegiatannya. 18 Tahun 2002 Dapat dikatakan teknologi merupakan aplikasi dari pengetahuan sebagai respons atas tuntutan manusia akan kehidupan yang lebih baik. . 74 Naskah Akademik Perubahan UU No. pelestarian fungsi lingkungan hidup.

asas kebebasan akademis. atau dengan kata lain inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna).. namun perbedaan yang menonjol adalah inovasi lebih melihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. sistematis. ekonomi. penggunaan sanksi dalam UU No. Untuk dapat efektif.4.(lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan.000. serta tanggung jawab akademis. Umumnya hanya menghasilkan atau merekomendasikan prinsip dasar dan/atau taksonomi kebijakan sebagai bentuk intervensi yang dibutuhkan dari pihak pemerintah.26 Secara sosiologis penekanan ketentuan atau aturan-aturan yang memaksa (coercion) dalam pengembangan iptek kurang tepat. Dalam UU No. dan potensi sumberdaya alam Indonesia yang sangat majemuk. 18 Tahun 2002. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini. yang selanjutnya menumbuhkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. dan detil. telaah tentang sistem inovasi sangat jarang berujung pada preskripsi kebijakan sistem inovasi yang konkrit. pengembangan. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. budaya.2. Saat ini. Walaupun dirasakan telah terjadi kemajuan dalam pemahaman tentang konsepsi dasar sistem inovasi dan telah terjadi perkembangan metodologis untuk analisis sistem inovasi. menekankan inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). atau pemerintah. masyarakat awam. Demikian halnya dengan upaya penguatan inovasi nasional melalui peraturan perundang-undangan. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”. hanya terlihat pada kegiatan litbangrap iptek yang berisiko tinggi dan berbahaya.000. Pengertian inovasi versi UU No. 26 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UU No. Penekanan pada kreatifitas. 18 Tahun 2002 dimungkinkan penggunaan sanksi pidana berupa denda paling banyak Rp. 50. Berbagai jenis instrumen kebijakan yang pas untuk digunakan. mengingat kondisi sosial. 18 Tahun 2002 Ketiga persyaratan di atas dirumuskan dan tercakup dalam penyusunan peraturan perundangan-undangan. Bahkan secara tegas World Bank (2010). 18 Tahun 2002 penggunaan aturan pemaksa harus disesuaikan dengan asas undang-undang ini yang menekankan pada asas kebenaran ilmiah. namun sampai saat ini masih belum berhasil dirumuskan kebijakan dan peraturan perundang-undangan sistem inovasi yang pas untuk kondisi Indonesia. serta pada tingkat kewilayahan mana sistem inovasi tersebut tepat untuk diimplementasikan. maka kebijakan harus mengandung muatan pengaturan dan tidak hanya memberikan pemahaman umum. Aspek Sosiologis Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Sejalan dengan semangat ini. kebebasan berpikir menjadikan penggunaan pemaksaan tidak relevan. asas kebebasan berpikir. Meskipun inovasi sering dicampuraduk pengertiannya dengan invensi. Menurut UU No. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. 75 Naskah Akademik Perubahan UU No. p e n c i p t a a n ( invention). . indikator perkembangan iptek antara lain adalah peningkatan berbagai penemuan (discovery).

atau wilayah laut dengan karakteristik marine ecology yang khas. atau disingkat SIDa) atau sistem inovasi yang secara spesifik fokus pada potensi ekonomi tertentu. Pengembangan sistem inovasi tentu perlu diserasikan dengan realita strategi pembangunan bidang perekonomian tersebut. 4.2. serta kemampuan pembiayaan dan infrastruktur pembangunan lainya yang telah dimiliki atau yang secara rasional akan dapat dikelola. termasuk: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan.1. kota. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. Namun demikian.Teori sistem inovasi yang berkembang di Indonesia banyak yang diadopsi secara langsung dari sistem inovasi yang dianut oleh negara-negara maju. Pendekatan ini dapat dilakukan pula untuk komoditas perkebunan dengan volume dan nilai produksi yang lebih besar sehingga memberikan kontribusi yang significant bagi perekonomian nasional (misalnya sawit dan karet). tetapi sebaiknya lebih berbasis pada satuan kawasan pembangunan perekonomian. Reorientasi Arah dan Prioritas Riset Inovasi nasional di Indonesia wajib berbasis pada potensi sumberdaya nasional. tetap saja sering tidak efektif dalam implementasinya. kabupaten. yang kondisinya dalam berbagai dimensi sangat berbeda dengan Indonesia. misalnya pada hamparan lahan dengan karateristik agroekosistem tertentu yang menopang pembangunan ekonomi berbasis pertanian. baik itu terfokus pada komoditas tertentu yang bernilai ekonomi tinggi ataupun pada potensi sumberdaya lahan atau laut dengan karakteristek yang khas. MP3EI juga menganut pembangunan ekonomi berbasis wilayah yang membagi NKRI menjadi enam koridor dan sekaligus juga mengangkat komoditas tertentu sebagai fokus pembangunan pada masing-masing dari enam koridor ekonomi tersebut. Karakteristik inovasi yang khas Indonesia perlu diformulasikan dengan tepat. Teori inovasi yang tidak mengakar pada realita Indonesia akan sangat berisiko jika dijadikan pijakan dalam merumuskan kebijakan sistem inovasi Indonesia. kecamatan. cakupan wilayah dari suatu sistem inovasi sebaiknya tidak berbasis pada satuan wilayah administrasi pemerintahan (provinsi. Kebijakan yang tak kentara warna Indonesianya. dirancang untuk mendukung kegiatan ekonomi di lahan sub-optimal basah (lebak dan pasang surut). atau dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan di wilayah Indonesia bagian timur. Selain itu pendekatan sosial- 76 Naskah Akademik Perubahan UU No. baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. 18 Tahun 2002 . desa). [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. Luasnya wilayah nusantara dan keragaman potensi sumberdaya merupakan alasan yang rasional untuk membangun sistem inovasi yang lebih operasional pada wilayah cakupan yang lebih kecil (sekarang digunakan terminologi Sistem Inovasi Daerah. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. walaupun didukung dengan regulasi yang kuat. atau dapat juga untuk satuan kawasan dengan karakteristik sosio-ekonomi-kultural masyarakatnya yang spesifik. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. Pengembangan inovasi daerah yang berbasis agroekosistem lahan misalnya.

mission-driven (Swedia). meskipun esensinya sama yakni mendorong agar pengembangan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. c. pengembangan sistem inovasi di Indonesia perlu didukung pengembangan teknologi yang lebih terarah. untuk dapat dikelola dan dievaluasi kinerjanya secara lebih baik. Pengembangan inovasi daerah dapat difokuskan pada pengembangan sistem inovasi yang lebih teknis dan operasional sesuai kebutuhan ataupun unggulan yang akan dikembangkan di daerah. masyarakat. needdriven. Kemampuan inovasi juga merupakan faktor penguatan daya saing yang sangat penting (Taufik. Pengembangan inovasi nasional memberikan ‘template’ sebagai acuan untuk pengembangan inovasi daerah. issue-driven (Jepang). Fokus dukungan dapat dilakukan pada aktivitas ekonomi tertentu yang diunggulkan.ekonomi-budaya dilakukan untuk masyarakat pengrajin dan industri ukiran kayu di Jepara atau masyarakat dengan budaya yang khas seperti di Bali. antara lain demand-driven. Kecenderungan global saat ini cenderung menggiring pengembangan teknologi lebih ke arah pemenuhan kebutuhan atau menyediakan solusi bagi permasalahan nyata yang ada di masyarakat. Selanjutnya Tatang Taufik menyebutkan. Indonesia tentunya harus berada dalam mainstream ini jika secara sungguh-sungguh ingin mewujudkan sistem inovasi nasional ataupun daerah yang berkontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi dengan harapan dapat pula meningkatkan kesejahteraan rakyat. sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. sehingga tujuan pembangunan nasional yang sifatnya universal dapat dikawal. ataupun pemerintah. Dikotomi pilihan pengembangan sistem inovasi pada tingkat nasional dengan tingkat daerah/lokal seharusnya tidak perlu terjadi. 18 Tahun 2002 . Keragaman istilah ini disebabkan adanya perbedaan aspek atau dimensi yang ingin ditekankan. b. Keragaman istilah atau terminologi yang digunakan ini menunjukkan perlunya reorientasi dalam pengembangan teknologi untuk menopang sistem inovasi dalam upaya meningkatkan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian. 2005). dan evidence-based (mulai digunakan oleh komunitas ilmu sosial atau pihak yang melihat teknologi dari perspektif ilmu sosial). Produk yang semakin kompleks dan memilki siklus hidup yang semakin pendek karena cepatnya kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan konsumen. Kedua keadaan tersebut juga mengakibatkan persaingan pasar yang semakin cepat dan kompleks. marketdriven (mulai jarang digunakan karena terkesan terlalu mengarah pada komersialisasi). penguatan daya saing ini menjadi semakin relevan apabila dikaitkan dengan kecenderungan sebagai berikut: a. yakni terutama untuk menyejahterakan rakyat sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi. baik industri. Istilah yang muncul untuk menggambarkan orientasi riset dan pengembangan teknologi sesuai kebutuhan pengguna ini cukup beragam. Tekanan persaingan global yang semakin meningkat. 77 Naskah Akademik Perubahan UU No. Selain berbasis pada potensi sumberdaya nasional atau lokal.

dengan derajat penalaran akademik yang tinggi. juga ditentukan oleh relevansi substansi yang diteliti. Lembaga penyelenggara pendidikan tinggi akan menjadi lembaga penunjang yang menentukan dalam konteks ini. Rasio yang pas antara pengembang-pengguna teknologi tentu tergantung pada jenis teknologi yang diimplementasikan. Pangsa pasar yang cenderung menurun dan semakin jenuh akan lebih mengandalkan persaingan harga dengan nilai tambah yang relatif rendah. 4.2. Tidak semua disiapkan menjadi pengembang teknologi yang handal. Menurut EISDISR (2001). tuntutan konsumen yang semakin tinggi. populasi pengguna teknologi yang terampil jauh lebih banyak dibandingkan dengan populasi pengembang teknologi. malah dapat menyesatkan. tetapi sesungguhnya basis argumennya sangat dangkal. Pengguna teknologi ini antara lain. Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi Strategi ini mempunyai rentang cakupan yang lebar. [2] jumlah peneliti yang banyak tidak otomatis berarti akan banyak teknologi bermanfaat yang dihasilkan. adalah tenaga teknis yang berperan mengaplikasikan teknologi dalam proses produksi barang atau jasa. Peter Drucker menekankan bahwa setiap organisasi harus mempunyai suatu kompetensi.Kemampuan inovasi yang rendah akan menempatkan badan usaha ataupun industri bersaing pada segmen pasar yang umumnya konvensional. karena selain tergantung pada produktivitas peneliti. 78 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam situasi demikian. Hal ini bisa dicermati dari beberapa perspektif: [1] teknologi yang berdampak signifikan dan mampu mengubah ‘wajah’ dunia dalam berbagai bidang bukan merupakan hasil kerja kolektif seluruh populasi peneliti suatu negara. yaitu inovasi. dimana tekanan atas biaya cenderung meningkat. dan siklus produk atau time-to-market yang semakin pendek. pasar dan teknologi berubah sangat cepat. dan sensitif terhadap dinamika persoalan dan kebutuhan masyarakat. Walaupun angka ini mungkin mengindikasikan kemampuan negara tersebut untuk mengembangkan teknologi. optimalisasi fungsi kelembagaan pengelola pendidikan. Implementasi inovasi nasional juga memerlukan adanya pengguna teknologi yang terampil. Pendidikan perlu diupayakan tidak hanya peningkatan mutunya tetapi juga dibarengi dengan upaya peningkatan relevansinya terhadap kebutuhan nyata. Persentase jumlah peneliti atau perekayasa terhadap total populasi suatu negara sering dipakai sebagai indikator kemajuan inovasi nasional negara yang bersangkutan. Kecenderungan industri saat ini. tantangan utama bagi perusahaan di lingkungan bisnis yang kompleks dan persaingan global yang semakin ketat adalah mengembangkan dan mempertahankan keunggulan daya saing. Idealnya. dari upaya sinkronisasi program penyiapan sumberdaya manusia yang relevan dan kompeten. pendidikan juga diarahkan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa. tetapi merupakan hasil kerja kelompok ‘kecil’ peneliti pada satu laboratorium atau kolaborasi peneliti antar-laboratorium.2. Selain untuk meningkatkan kecerdasan akademik. serta penguatan kelembagaan yang bertanggung jawab dalam pengembangan teknologi. 18 Tahun 2002 .

yakni jika sebelumnya pihak pengembang teknologi menjadi penentu arah dan prioritas pilihan teknologi. inovasi juga merupakan proses yang kompleks dan dinamis yang sering menunjukkan paradoks. tetapi lebih merupakan proses di antaranya atau kombinasi keduanya (Tatang. Inovasi tidak hanya bergantung pada bagaimana perusahaan. dari supply-push menjadi demand-driven. Pada tahap awal. Meski inovasi didorong oleh kompetisi atau persaingan. Aliran teknologi banyak yang tersumbat. tetapi lebih perlu menyiapkan tenaga-tenaga pengembang teknologi yang punya basis kapasitas akademik yang hebat dan juga sensitif terhadap dinamika permasalahan dan kebutuhan bangsa. 18 Tahun 2002 . Selanjutnya Tatang menggaris bawahi. Kalaupun jenis teknologinya sesuai tetapi seringkali tidak kompetitif secara ekonomi untuk diaplikasikan. yakni melakukan pengembangan teknologi dahulu. Pendekatan yang dipilih tentunya juga berubah arah. bahkan adakalanya antara perusahaan yang saling bersaing. Namun demikian perlu diperhatikan pula. Hal ini terlihat dari Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia tahun 79 Naskah Akademik Perubahan UU No. Implikasi operasionalnya adalah Indonesia tidak perlu terlalu berambisi untuk meningkatkan angka persentase jumlah peneliti per sejuta penduduk (atau indikator lain yang serupa). baru kemudian ‘ditawarkan’ kepada industri untuk menggunakannya. 2005). Argumentasi di atas mencoba mengingatkan bahwa aspek yang paling penting untuk mendapat perhatian dalam proses penyiapan sumberdaya manusia yang diproyeksikan untuk menjadi pelaku utama pengembangan teknologi bukan terletak pada aspek kuantitasnya. Penyebab utamanya adalah ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan atau yang dihasilkan dengan kebutuhan industri. perguruan tinggi dan para pembuat kebijakan bekerja. inovasi seringkali bukan hanya menekankan technology push (driven) atau demand pull (driven) secara “hitam-putih” yang tegas. kuantitas menjadi tidak penting. 2005). akibatnya hasil riset yang diperoleh masih sulit untuk diadopsi oleh industri. Pendekatan ini ternyata tidak efektif untuk meningkatkan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Untuk konteks ini. maka peran ini di masa yang akan datang perlu dipercayakan pihak pengguna teknologi. Kualitas dimaksud mencakup basis mutu akademik dan relevansi keahliannya terhadap kebutuhan nyata. Strategi untuk memperlancar aliran teknologi dalam inovasi nasional dan untuk meningkatkan intensitas kolaborasi antara pengembang dan pengguna teknologi adalah melakukan reorientasi. yang perlu adalah Indonesia mampu dan produktif dalam menghasilkan solusi teknologi bagi permasalahan bangsa. Kesiapan sumberdaya manusia wajib dibarengi dengan langkah reorientasi pengembangan teknologi dari supply-push ke demand-driven. Indonesia tidak perlu ‘kelihatan’ baik secara statistik. namun juga bagaimana mereka bekerjasama (Tatang. sehingga pendekatan yang diterapkan adalah supply-push. tetapi lebih pada aspek kualitasnya.dan [3] sebagian besar peneliti bekerja di perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah yang mayoritas pada saat ini lebih fokus pada riset akademik yang tak terkait langsung dengan persoalan nyata. inovasi tidak berkembang tanpa adanya kerjasama (co-operation). Jika selama ini aktor penentu arah inovasi nasional diperankan secara ‘terlalu’ dominan oleh para pengembang teknologi. proses reorientasi dalam pengembangan kerjasama ini tentunya belum akan berjalan mulus.

7 6 5 4 3 2 1 0 Singapura Malaysia Philipina Vietnam Resistensi internal sangat mungkin untuk muncul di kalangan akademisi dan periset dalam proses pergeseran prioritas riset dari curiousity-driven research menjadi goal-oriented research. sama dengan Vietnam (World Bank. karenanya proses ini akan berlangsung secara bertahap (gradual). difusi iptek.84 persen. dari riset yang dilakukan untuk pemuasan rasa keingin tahuan akademik menjadi riset untuk menjawab permasalah nyata yang dihadapi masyarakat dan negara. sedangkan dua program terakhir merupakan upaya mentransfer dan aplikasi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengguna teknologi.2007. Dua program yang pertama merupakan pengembangan iptek.8. riset terapan. Akan ada resistensi (penolakan) dari pihak pengembang teknologi dan adanya keengganan di pihak pengguna teknologi. Dengan upaya yang 80 Naskah Akademik Perubahan UU No. Hal ini sesuai pula dengan kecenderungan yang diungkapkan OECD (1999). pada skala 2. yakni program riset dasar. 2010). menjadi lebih fokus untuk menjawab permasalahan nyata atau memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat pengguna. saat Kementerian Riset dan Teknologi secara terbuka dan kompetitif menawarkan empat program insentif kepada komunitas akademik di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga riset pemerintah. Akademisi dan periset masih nyaman di wilayah riset akademik (dasar dan terapan). dan penguatan kapasitas iptek sistem produksi. bahwa inovasi memerlukan lebih hanya sekedar litbang. Hal ini antara lain terlihat. Pada tahun 2008. 18 Tahun 2002 .16 persen. Produk barang dan jasa semakin ‘sarat dengan pengetahuan’ ( knowledge intensive). tetapi juga tidak selalu ‘sarat dengan litbang’ (R&D intensive). sedangkan kegiatan yang lebih bersifat hilir (difusi teknologi dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi) untuk mendorong agar hasil risetnya diadopsi oleh pengguna masih sangat kurang diminati. proposal untuk riset pengembangan iptek mencapai 89. Ekspektasi pada tahap awal adalah mulai tumbuhnya kesepakatan bahwa pengembangan teknologi perlu berubah arah. Pengalaman Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) melalui program insentifnya menjadi bukti empiris tentang sulitnya menggeser kegiatan para akademisi dan periset keluar dari zona nyamannya (comfortable zone). Pergeseran mindset selalu membutuhkan waktu relatif panjang. sedangkan proposal untuk difusi dan aplikasi iptek hanya 10.

Pengembang teknologi. Meski demikian secara akademik. Riset yang direncanakan lebih terkait dengan latar belakang akademik peneliti atau akademisi yang bersangkutan dan mengarah pada topik yang sedang populer di kalangan akademisi.95 persen. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah artikel pada jurnal sains dan teknik tahun 2003. Indonesia masih tergantung pada pasokan teknologi asing. pembiayaan kegiatan riset diposisikan tidak hanya untuk mendukung upaya pencerdasan bangsa. Salah satu persoalan yang serius saat ini adalah rendahnya sensitivitas atau kepedulian pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi. Kecenderungan lainnya adalah memilih topik-topik yang terkesan maju secara teknologi tetapi tidak terkait langsung dengan kebutuhan atau persoalan nyata. dimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara harus berpotensi menggerakkan perekonomian domestik. terlebih lagi pada saat negara sedang mengalami krisis ekonomi. ternyata akademisi dan peneliti Indonesia masih belum tergolong produktif dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Apalagi jika untuk mengimpor teknologi asing tersebut (yang sebetulnya dalam tataran teknologi tergolong sederhana). Kekeliruan pemahaman tentang ‘riset pesanan’ disebabkan bukan oleh makna hakiki dari goal-oriented research tersebut. Memperhatikan upaya yang telah dilakukan. tetapi lebih disebabkan karena riset ini telah diseleweng-kan pemaknaannya oleh kepentingan-kepentingan lain yang bersifat non-scientific. atau pemerintah. strategi yang perlu dilakukan dalam rangka memicu dan memacu pergeseran preferensi atau prioritas riset ini antara lain adalah: [1] meluruskan pemahaman tentang status ilmiah goal-oriented research dan [2] memberikan insentif yang lebih baik bagi pelaksanaan riset untuk solusi permasalahan nyata ini. Sudah saatnya. Sangat ironis jika untuk memenuhi kebutuhan solusi teknologi untuk masalah-masalah sederhana (misalnya di sektor pertanian). jarang melakukan observasi secara cermat persoalan ataupun kebutuhan pihak pengguna. namun jauh di bawah Malaysia dan Thailand. goal-oriented research harus dimaknai sebagai riset akademik yang tidak hanya potensial untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. tetapi juga sekaligus sebagai investasi untuk menumbuhkan kemandirian bangsa dalam menyediakan solusi teknologi bagi masalah-masalah mendasar yang menyangkut hajat hidup asasi masyarakat.lebih intensif untuk menumbuhkan minat komunitas akademisi dan peneliti untuk berperan dalam kegiatan difusi dan aplikasi iptek. Kenyataan ini tentu harus dibenahi. negara harus mengeluarkan devisa yang signifikan karena kuatitas kebutuhannya yang masif. Merupakan langkah yang tepat jika Pemerintah lebih mengarahkan bantuan pembiayaan risetnya pada kelompok goal-oriented research. Sejatinya. Angka ini tidak jauh berbeda dengan Filipina. pada tahun 2009 proposal untuk kegiatan ini meningkat menjadi 24. masyarakat. baik di akademisi maupun peneliti. 18 Tahun 2002 . sulit bagi pengembang teknologi di 81 Naskah Akademik Perubahan UU No. para peneliti Indonesia menghasilkan 178 tulisan. Capaian akademik seringkali lebih menarik dibandingkan dengan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan atau menyediakan solusi untuk persoalan yang dihadapi industri. tetapi juga sekaligus dapat secara nyata menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Hasil riset dengan reputasi dan pilihan topik seperti ini jelas akan berpeluang untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah. . Sebagai contoh. Kekeliruan pemahaman yang sering terjadi adalah bahwa teknologi yang dihasilkan dari riset yang berbasis kebutuhan nyata statusnya akan kurang canggih. yang belum termotivasi untuk melaksanakan riset yang berkualitas dan masih cenderung menganggap riset hanya sebagai ritual akademik. terutama pembangunan perekonomian. untuk memberikan dukungan pembiayaan yang lebih besar akan lebih mungkin terwujud jika pengembang teknologi juga mampu membuktikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. sebaliknya petani membutuhkan teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsinya untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatannya. pemerintah membutuhkan teknologi canggih untuk mewujudkan kemandirian dalam sektor pertahanan dan keamanan negara. Sesungguhnya rentang spektrum teknologi yang berbasis kebutuhan atau teknologi tepat guna dapat bervariasi dari teknologi yang sangat sederhana sampai dengan teknologi super canggih. sebagaimana juga kekeliruan dalam memahami definisi teknologi tepat guna (appropriate technology) yang sering dianggap identik dengan teknologi sederhana. Berbagai kendala antara lain kurangnya alokasi anggaran untuk pembiayaan riset dan kurang memadainya peralatan dan fasilitas riset. 600 400 200 0 Negara Singapura Malaysia Filipina Vietnam Laos Riset yang dirancang sesuai kebutuhan nyata dapat menjadi riset yang berkualitas ilmiah tinggi apabila dilaksanakan dengan metodologi yang tepat dan dengan menjunjung tinggi etika akademik. Namun sesungguhnya. sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan royalti. dan dapat menghasilkan paten yang diminati pengguna (karena relevan dengan kebutuhan sehingga berpeluang untuk diaplikasikan dalam proses produksi). 18 Tahun 2002 Perlu diyakini bahwa perhatian berbagai pihak. termasuk pemerintah. 82 Naskah Akademik Perubahan UU No. kendala yang lebih serius terletak pada mindset para pengembang teknologi tersebut.Indonesia untuk berada posisi terdepan secara akademik. karena faktanya realita persoalan dan kebutuhan teknologi juga sangat variatif.

termasuk bidang perekonomian. sosiokultural. sehingga persentase teknologi yang relevan kebutuhan semakin meningkat dan kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional semakin dirasakan publik.2. karena kepercayaan pihak pengguna teknologi akan semakin meningkat. Satu faktor yang menentukan. yakni kemampuan atau kapasitas adopsi dari pengguna terhadap teknologi potensial yang dihasilkan. Harapan akhirnya adalah teknologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan memajukan peradaban bangsa sebagaimana yang diamanahkan oleh Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945. Kapasitas adopsi pengguna teknologi bersifat multi dimensi. Upaya peningkatan relevansi teknologi dengan kebutuhan nyata belum sepenuhnya menjamin bahwa teknologi akan diadopsi pengguna. finansial. Pengguna teknologi ikut menikmati kontribusi teknologi terhadap pemenuhan kebutuhan dan menjadi alternatif solusi persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi tersebut. dan pemerintah. baik dari pemerintah maupun dari dunia usaha.3. yakni meningkatkan relevansi teknologi yang dibarengi dengan upaya meningkatkan kapasitas adopsi pengguna. termasuk komunitas petani. masyarakat. termasuk dimensi teknis. efek bola salju akan terjadi. Peningkatan kapasitas adopsi untuk dimensi teknis relatif mudah dilakukan.Di antara banyak perubahan yang perlu dilakukan dalam rangka penguatan inovasi. pembudidaya ikan. Jika semakin banyak aktor pengembang teknologi yang mengikuti alur ini. namun kebijakan pemerintah terkait penyediaan kredit modal usaha dapat menjadi cara efektif untuk membantu pengguna teknologi dalam meningkatkan kapasitas adopsinya dari dimensi finansial. maka Indonesia akan memulai era baru dalam mengembangkan inovasi nasional. secara umum dapat dijumpai pada masyarakat pengguna teknologi di Indonesia. dan pengrajin atau berbagai pelaku usaha skala kecil lainnya. Dukungan pembiayaan aktivitas riset akan semakin tumbuh. dan kemungkinan juga politik. Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik Sensitivitas dan kepedulian pengembang teknologi yang diikuti dengan perencanaan dan pelaksanaan riset yang tepat akan membuahkan teknologi yang relevan. Persoalan rendahnya kapasitas adopsi teknologi. Oleh sebab itu. nelayan. Kapasitas adopsi dari dimensi ekonomi/finansial akan lebih sulit ditingkatkan. Relevansi dan produktivitas riset akan menjadi mesin produksi teknologi yang secara nyata akan meningkatkan kontribusi terhadap berbagai sektor pembangunan nasional. Peningkatan kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi akan memberikan umpanbalik (feedback) yang positif. Rendahnya 83 Naskah Akademik Perubahan UU No. misalnya melalui pelatihan atau pendidikan formal bagi para aktor pengguna. peternak. 18 Tahun 2002 . Kondisi yang diharapkan sebagai modal untuk memperkuat inovasi nasional adalah pendekatan demand-driven dapat menjadi mainstream pengembangan teknologi domestik. untuk memperbesar peluang pemanfaatan teknologi perlu dilakukan perbaikan di kedua sisi. salah satu yang urgensinya paling tinggi adalah meningkatkan sensitivitas dan kepedulian para pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi industri. 4.

berbasis sumberdaya dalam negeri. Ketersediaan teknologi domestik yang secara teknis sesuai dengan kebutuhan dan secara ekonomi menguntungkan akan dibutuhkan industri produsen barang dan jasa. Lembaga intermediasi berperan sebagai penghubung antara lembaga pengembang teknologi dengan pengguna teknologi. Kelompok industri ini yang paling berpotensi untuk mengadopsi teknologi domestik yang telah dikembangkan. Secara umum. yakni: [1] akses untuk mendapatkan bahan baku yang cukup. Percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh pengguna di dalam negeri dan upaya mendorong arus informasi kebutuhan teknologi untuk pihak pengembang memerlukan peran aktif dari lembaga intermediasi. Hal ini juga dapat dijumpai pada pelaku bisnis Indonesia. dari kecenderungan dominan perdagangan menjadi dominan industri produsen barang dan jasa. Oleh karena itu. Aksesibilitas untuk tiga kunci sukses industri produsen perlu dijamin. sesuai dengan spesifikasi teknis. Pada saat ini. hampir semua lembaga intermediasi terbentuk atas inisiatif pemerintah dan sebagian juga diawaki oleh aparatur pemerintah. Penguatan inovasi tidak dapat berfungsi optimal apabila kegiatan bisnis yang dominan masih berupa perdagangan. Oleh sebab itu. untuk meningkatkan adopsi teknologi. dan berorientasi pasar domestik menjadi tidak effektif. bukan industri manufaktur. [2] akses untuk mendapatkan modal. tidak hanya persoalan rendahnya kapasitas adopsi. 18 Tahun 2002 . dengan aktivitas utama perdagangan. penguatan industri dalam negeri merupakan salah satu pilar utama pendukung strategi penguatan inovasi nasional. atau masih diyakini belum akan membuahkan hasil. dan teknologi yang sesuai secara teknis serta kompetitif secara ekonomi. Namun demikian. Kondisi ini menjadikan upaya riset dan pengembangan teknologi yang sudah diarahkan sesuai dengan kebutuhan nasional. sumberdaya manusia. Kondisi lain 84 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan [3] akses pasar yang terjamin. pada fase awal diperlukan dukungan insentif tambahan agar perdagangan bertransformasi ke arah industri atau produsen barang dan jasa. Kelembagaan intermediasi ini belum berfungsi secara efektif. karena berbagai kondisi yang terjadi saat ini masih belum ‘favorable’ untuk berfungsinya kelembagaan intermediasi. Pasar domestik Indonesia yang besar merupakan potensi untuk menjadi ‘penyerap’ bagi semua produk barang dan jasa yang dihasilkan industri dalam negeri. harga yang pantas (dan relatif stabil). jika prasyarat dasarnya belum terpenuhi. diperlukan transformasi dari pedagang menjadi produsen. Persepsi ini sesungguhnya dapat dipahami.adopsi teknologi. serta cukup tersedia sesuai siklus produksi. bisnis di Indonesia memerlukan transformasi. Peningkatan investasi dan akses permodalan untuk pengembangan dan/atau penumbuhan industri baru berbasis teknologi nasional perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dan difasilitasi perkembangannya. Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan kebutuhan pasar domestik perlu lebih diintensifkan. Belum adanya lembaga intermediasi yang diinisiasi oleh pihak bisnis maupun masyarakat dapat menjadi indikasi bahwa kegiatan ini masih dianggap belum menarik. selain disebabkan teknologi yang tidak relevan. juga dikarenakan rendahnya kebutuhan teknologi. yakni adanya relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan industri yang merefleksikan preferensi dan daya beli konsumen.

dan dilatih ketrampilan pemasaran-nya. dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam implementasi penguatan inovasi nasional. dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya. peran pemerintahan sangat dibutuhkan. Upaya ini dapat dilakukan dengan merekrut peneliti/akademisi. sehingga lebih cenderung membeli teknologi asing.4. dibutuhkan pula regulasi dan fasilitasi pemerintah dalam menyiapkan sumberdaya manusia sesuai kebutuhan untuk pengembangan teknologi dan kebutuhan tenaga terampil untuk aplikasi teknologi. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi. karena merubah karakter manusia (terkait marketing skills) lebih membutuhkan waktu dibandingkan dengan menambah pengetahuan tentang teknologi tertentu. bukan atas usulan pihak industri. Bentuk fasilitasi dari pemerintah yang lain adalah dukungan untuk kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. 18 Tahun 2002 . sehingga berpotensi menjadi masalah jika dikomersialisasikan. terutama pada jenjang pendidikan tinggi dan menengah kejuruan. maka lebih cenderung memilih memproduksi barang di bawah lisensi asing. proporsional kontribusinya. atau merekrut tenaga pemasaran dan diperkaya wawasan teknologinya. Opsi kedua kelihatannya lebih baik. 4. Lembaga intermediasi perlu diawaki oleh personel yang memahami tentang teknologi dan sekaligus punya kemampuan persuatif yang tinggi dan terampil dalam menjual. Peran regulasi pemerintah ditujukan untuk mengawal agar implementasi penguatan inovasi secara konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. yakni dalam bentuk: [1] regulasi yang mendukung dan [2] fasilitasi percepatan laju proses reorientasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya ‘gesekan’ yang tidak perlu antar pihak terkait. [2] preferensi komunitas bisnis Indonesia masih cenderung sebagai pedagang daripada sebagai produsen. dan [3] pelaku industri dalam negeri belum percaya atas kehandalan teknologi domestik hasil karya anak bangsa. Ekosistem Inovasi yang Kondusif Selama proses transisi pergeseran orientasi arah dan prioritas riset. tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya.yang kurang kondusif bagi lembaga intermediasi adalah: [1] sistem perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual masih belum membudaya di kalangan pengembang teknologi di Indonesia. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan. melalui program pendidikan yang berkesesuaian. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. kalaupun masuk ke wilayah industri produsen barang/jasa. [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya.2. Dalam 85 Naskah Akademik Perubahan UU No. Berkaitan dengan upaya membangun inovasi nasional secara utuh.

yakni dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. maka ada beberapa komponen kebijakan yang dibutuhkan untuk mewujudkan adanya sistem inovasi nasional (SINas) yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. merupakan modal kuat dalam menuju Indonesia yang lebih sejahtera di masa yang akan datang. dan berdimensi pembangunan (development dimension). bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. Upaya ke arah ini sesungguhnya sudah dilakukan pemerintah. tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak dalam bentuk pembiayaan bersama. Berdasarkan telaah yang telah diuraikan di atas. Dalam PP No. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. keefektifan dan relevan (effectiveness dan relevance). SNI telah memenuhi WTO Code of Good Practices. Strategi ini mencakup: (1) Sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi industri. Agar diperhatikan apapun bentuk atau format riset kolaborasi. kepabeanan. yakni dirumuskan berdasarkan asas keterbukaan (openess). 18 Tahun 2002 . 86 Naskah Akademik Perubahan UU No. pihak industri hanya diposisikan untuk memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. Dengan demikian. Regulasi pemerintah dapat pula berupa insentif bagi kedua belah pihak untuk berkolaborasi. inovasi. dan Difusi Teknologi. Inovasi. maka tak akan ada lagi keraguan bahwa teknologi domestik akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan nasional dan standarisasi akan menyempurnakan upaya penguatan inovasi di Indonesia. konsensus dan tidak memihak (consensus and impartiality). misalnya dukungan pembiayaan dari pihak industri untuk kegiatan riset dapat dianggap sebagai bagian dari pembayaran pajak yang menjadi kewajibannya (tax deductible). dimana insentif tersebut dapat berbentuk insentif perpajakan. akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat. (2) Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. Adanya rasa bangga dan percaya diri warga negara sebagai sumberdaya manusia penggerak pembangunan yang diimbangi dengan terciptanya lingkungan yang kondusif untuk berusaha. penerapan SNI diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan domestik tetapi juga untuk kepentingan perdagangan global. 35 Tahun 2007 dinyatakan badan usaha yang mengalokasikan pendapatannya untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. dan pemerintah. Jika lintasan (pathway) ini ditempuh dengan baik. transparansi (transparency). Bentuk regulasi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi seluruh produk barang/jasa di Indonesia. koheren (coherence).beberapa kasus. masyarakat.

seluruh strategi harus dilaksanakan secara interaktif dan sinambung. dan (4) Dukungan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk memfasilitasi. Perjalanan panjang tersebut perlu diawali dengan keberhasilan mengembangkan dan memperkuat inovasi nasional di Indonesia yang mampu mendorong peradaban dan menyejahterakan rakyat. bukan berdasarkan kecanggihan teknologi yang mampu dikembangkan. Teknologi dengan warna Indonesia yang kental ini diyakini akan lebih berpeluang untuk mengalir lancar dari pihak atau lembaga pengembang teknologi ke pihak pengguna teknologi. Inovasi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata perlu didampingkan secara paralel dengan program pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas dan sensitif terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa dan kebutuhan 87 Naskah Akademik Perubahan UU No. Keberhasilan membangun inovasi nasional hanya dapat dicapai jika semua strategi ini dapat dieksekusi dengan baik. Kekeliruan persepsi sangat sering dan umum terjadi dalam konteks penilaian kinerja dan kontribusi inovasi. tetapi terletak pada bagaimana cara agar teknologi yang dikembangkan dapat efektif dan efisien dalam mendukung pembangunan nasional di semua sektor. yakni menganggap bahwa semakin maju teknologi yang dikuasai maka semakin baik penguasaan inovasi suatu negara. iptek akan selalu dibutuhkan dalam pembangunan semua sektor.(3) Vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh industri dalam negeri dan sebaliknya juga arus informasi kebutuhan teknologi kepada pihak pengembang teknologi. Pengembangan teknologi nasional perlu mengutamakan pemberdayaan dan pendayagunaan sumberdaya manusia Indonesia sebagai tenaga penggeraknya. Walaupun sudah cukup lama diwacanakan. serta mendekatkan hubungan dengan kelembagaan pendukung lainnya. Oleh sebab itu. Keberhasilan penguatan inovasi nasional akan ditakar dari kelancaran aliran teknologi (fluidity of technology flow). dan mengakselerasi interaksi antar-aktor utama dalam penguatan inovasi nasional. yang penting dilakukan adalah merancang inovasi nasional yang tepat. Dengan demikian isu utamanya bukan terletak pada ada atau tidak adanya peranan teknologi dalam pembangunan nasional.5. 18 Tahun 2002 . Oleh sebab itu. Pengembangan teknologi nasional juga perlu mempertimbangkan secara cermat kapasitas adopsi pengguna teknologi dalam negeri. Kemampuan dan kemandirian pengembangan teknologi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata menjadi modal dasar implementasi penguatan inovasi di Indonesia. Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional Terlepas dari intensitas dan besaran (magnitude) kontribusinya. menstimulasi. yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan upaya memberikan solusi atas permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. memanfaatkan sumberdaya alam nasional sebagai bahan baku atau tapak operasionalnya (operational site). tetapi membangun masyarakat berbasis pengetahuan kelihatannya masih akan menempuh perjalanan panjang.2. 4. Keempat strategi ini mempunyai keterkaitan satu sama lain.

efektif dan produktif.pembangunan nasional. Dalam mengevaluasi suatu sistem yang utuh. dan persentase penerimaan univesitas yang berasal dari sumber non-pemerintah yang terkait dengan aktivitas dan hasil riset. misalnya dalam bentuk demonstrasi anarkis. terkendalinya dinamika politik. Indikator keberhasilan dalam menciptakan kondisi aman antara lain: tidak terjadinya gerakan separatisme di wilayah NKRI. Hasil akhir yang diharapkan dari segala bentuk upaya dalam pengembangan dan penguatan inovasi adalah peningkatan kesejahteraan rakyat. Meskipun ukuran kesejahteraan rakyat dan keamanan nasional bersifat relatif. Indikator-antara tersebut sesungguhnya baru melingkupi sisi pengembang teknologi. Akan lebih realistis jika indikator keberhasilan implementasi inovasi nasional hanya didasarkan atas keamanan dimensi kedua. Asumsi-asumsi tersebut umumnya diuji berdasarkan korelasi masingmasing indikator-antara yang dianggap berhubungan. Beberapa indikator-antara yang sering digunakan dalam mengevaluasi kehandalan penguatan inovasi antara lain: jumlah publikasi ilmiah per juta penduduk. dan sulit dideteksi. terjaminnya keberlangsungan proses demokratisasi. dan [2] kondisi aman yang lebih bersifat eksternal. dengan ekstensi pada kapabilitas lembaga pengembang teknologi tersebut untuk merangkul mitra potensialnya. minimalisasi dampak negatif dari gejolak masyarakat. dan terjaminnya kondisi yang kondusif untuk berinvestasi. Selain itu. Nilai-nilai positif atau kecenderungan peningkatan yang ditunjukkan oleh semua indikator-antara belum dapat secara otomatis diekstrapolasikan untuk sampai pada kesimpulan bahwa upaya pengembangan dan penguatan inovasi telah berjalan baik. sebaliknya ukuran baku tentang tingkat keamanan nasional masih belum banyak dibahas. kolektif. subyek survei atau risetnya adalah industri-industri yang bergerak dalam berbagai sektor. Indikator di kelompok ini antara lain: alokasi dana oleh industri untuk kegiatan riset internal perusahaan atau untuk mendukung 88 Naskah Akademik Perubahan UU No. mobilitas sumberdaya manusia antara kelembagaan riset atau universitas dengan industri. Ilmu statistik merupakan alat yang ‘handy’ untuk pekerjaan ini. semua indikator-antara hanya dapat dilihat sebagai titik-titik yang tercerai berai dan ‘diasumsikan’ terhubung satu sama lain oleh garis-garis imajiner yang diyakini sebagai bagian dari sistem tersebut. indikator lainnya dalam pengembangan dan penguatan inovasi nasional adalah terjaminnya keamanan nasional. jumlah patent yang didaftarkan atau diperoleh (granted). personal. tetapi upaya kuantifikasi tingkat kesejahteraan rakyat lebih berkembang dan diterima secara luas. jumlah kerjasama penelitian antara universitas dan industri. Jika kedua hal ini dilakukan secara serasi dan saling mendukung maka cita-cita untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan diyakini dapat terwujud. besarnya penerimaan universitas atau lembaga riset yang berasal dari royalti. jumlah publikasi yang ditulis bersama oleh akademisi dan pelaku industri (co-authored publication). yakni: [1] rasa aman yang lebih bersifat internal. dan dapat dideteksi berdasarkan persepsi indera penglihatan dan pendengaran ( audiovisual perception). Indikator-antara lainnya dilihat dari sisi pengguna teknologi. Keamanan mempunyai dua dimensi yang berbeda. 18 Tahun 2002 . yakni kondisi aman. yang dapat mengganggu kegiatan produktif.

adopsi teknologi untuk proses produksi barang dan jasa. yakni modal dan tenaga kerja. Dengan demikian untuk Indonesia. preferensi industri untuk mengembangkan teknologi sendiri atau membeli teknologi yang sudah mapan (established). indikator utama keberhasilan pengembangan dan implementasi inovasi hanya dua. sehingga perlu dilengkapi pula dengan pola distribusi pendapatan. 18 Tahun 2002 .kegiatan riset di universitas dan lembaga riset eksternal. sisanya (residu) merupakan kontribusi faktor bukan modal maupun tenaga kerja yang disimpulkan sebagai kontribusi dari faktor teknologi. Kemampuan dan tumbuhnya budaya masyarakat untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge-based society) dapat pula digunakan sebagai indikator tambahan untuk mengevaluasi performa penguatan inovasi di Indonesia. Indikator lainnya yang dapat ditambahkan adalah tingkat kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan teknologi untuk pembangunan perekonomian dan pembangunan hankam. Aspek Filosofis 89 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sebagai suatu sistem. bukan pertumbuhan ekonomi semata. Pendekatan parsial biasanya hanya mengarah untuk menghasilkan justifikasi bahwa suatu negara sebetulnya sudah melakukan upaya (dan telah ada tanda-tanda perbaikan) walaupun hasilnya belum memuaskan. Namun demikian. 4. tetapi hasilnya seringkali tidak atau kurang memuaskan. dan konsumsi atau penggunaan produk akhir oleh konsumen. Walaupun tentunya. perlu diingat kembali bahwa ukuran kinerja inovasi adalah kesejahteraan rakyat. yakni: pengembangan teknologi. Banyak juga kajian mengenai inovasi yang telah dilakukan menggunakan indikator parsial ini. Total Factor Productivity (TFP) telah digunakan beberapa ekonom sebagai proxy untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. difusi teknologi dari pengembang ke pengguna. indikator keberhasilan pengembangan inovasi nasional menjadi kurang bermakna jika difragmentasi menjadi indikator-indikator antara atau indikator yang bersifat parsial. Indikator-antara yang digunakan baik dari sisi pengembang maupun pengguna teknologi memang telah mengarah pada upaya menakar ‘potensi’ kedua b elah pihak untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. Dasarnya adalah pertumbuhan ekonomi terjadi atas kontribusi dari dua faktor utama. yakni peningkatan kesejahteraan rakyat dan terciptanya kondisi keamanan nasional.3. identifikasi sumber informasi yang dianggap penting oleh industri dalam mengembangkan produk komersial. karena hanya mampu menjelaskan secara ‘segmented’. walaupun secara teknis inovasi nasional dapat dibongkar menjadi empat komponen. interpretasi atas indikator-antara ini harus dilakukan dengan hati-hati. Banyak indikator keberhasilan yang dapat digunakan dalam mengevaluasi kinerja pada masingmasing komponen atau tahapan penguatan inovasi nasional.

antara lain dengan mengevaluasi: [1] porsi pendapatan universitas atau lembaga riset yang berasal dari kerjasama dengan industri dalam melakukan riset. karena banyak kegiatan riset yang dilakukan industri bersama akademisi secara individual. Australia. publikasi ilmiah yang ditulis bersama (co-authored) oleh peneliti universitas atau lembaga riset pemerintah dengan personel yang mewakili institusi bisnis terlihat secara konsisten meningkat antara tahun 1981 sampai 1994 (Hicks and Katz. tetapi juga terjadi pada universitas di negara yang maju. Jepang. Persentase paten universitas di Amerika Serikat secara relatif juga rendah. Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya.1. Nilai-nilai ini menjadi cita-cita hukum dan tujuan negara bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Inisiatif pendirian OECD dilakukan oleh beberapa negara Eropa Barat plus Turki dan Amerika Serikat. Namun saat ini.3. karena ternyata bukan hanya perguruan tinggi dan lembaga riset di negara yang belum maju teknologinya saja yang ‘malas’ mendaftarkan paten. Di Indonesia data seperti ini tidak mudah untuk didapatkan. Di Inggris. 4. atau sesuai dengan nilai-nilai positif yang tertinggi. 1995). Korea. atau lembaga intra-universitas yang tidak dicatat sebagai penerimaan resmi universitas. yakni 12. Dinamika Lingkungan Global Negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah lama memposisikan Sistem Inovasi Nasional (SINas) sebagai strategi penting dalam memajukan perekonomian melalui pemanfaatkan keunggulan teknologi negara masing-masing. Publikasi yang ditulis bersama ini diasumsikan berakar pada hasil kolaborasi riset antara kedua pihak tersebut. dan Meksiko. Untuk menaksir intensitas interaksi tersebut. [3] jumlah paten universitas atau lembaga riset yang dikomersialisasikan oleh industri. walaupun persentasenya masih relatif rendah. terutama antara universitas atau lembaga riset dengan pelaku industri.4 persen pada tahun 1992 (Hertog. 1996). Hasil survei yang dilakukan di Belanda selama periode 1989-1992 menunjukkan bahwa pendapatan universitas yang berasal dari kerjasama riset dengan pihak industri secara konsisten meningkat.2 persen pada tahun 1989 meningkat menjadi 17. dan [4] timbangan industri terhadap universitas dan lembaga riset sebagai sumber informasi/pengetahuan untuk pengembangan produk inovatif. Pengembangan inovasi nasional pada negara-negara OECD dan kajian akademik yang dilakukan oleh kelembagaan OECD telah menjadi referensi penting bagi dunia dalam memperlajari tentang upaya penguatan inovasi nasional dan kontribusinya bagi pembangunan perekonomian. keanggotaan OECD telah bertambah dengan beberapa negara Eropa Timur. kelompok. Selandia Baru. Hasil kajian Rosenberg dan Nelson (1994) terkait dengan jumlah paten universitas patut untuk disimak. [2] jumlah paten dan publikasi bersama antara akademisi dan pelaku industri. peranan inovasi nasional dalam pembangunan perekonomian sangat ditentukan oleh intensitas dan kualitas interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dengan pengguna teknologi.Secara umum syarat filosofis dalam penyusunan peraturan perundang-undangan adalah apabila peraturan perundang-undangan dapat diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. yakni hanya 90 Naskah Akademik Perubahan UU No. seperti Amerika Serikat. 18 Tahun 2002 .

Hasil survei yang dilakukan oleh The Maastricht Economic Research Institute on Innovation and Technology (MERIT) memberikan gambaran tentang bagaimana pihak industri di negara-negara Eropa menilai peran universitas atau kelembagaan riset pemerintah. tapi jumlah aktualnya tentu tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah paten universitas dan lembaga riset di Indonesia. tetapi sebaliknya mayoritas pelaku industri menganggap peranannya kurang penting untuk bidang-bidang lainnya. Malerba (1996) menganalisis 13 sumber informasi yang dianggap relevan untuk upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. telekomunikasi. Kelembagaan riset pemerintah (termasuk universitas) dianggap penting oleh mayoritas (>50%) pelaku industri untuk bidang fasilitas layanan publik (utilities) dan pharmaseutikal. yakni: [1] sumber informasi dari dalam kelembagaan bisnis sendiri. 1997). permesinan.7 persen untuk bidang komunikasi sampai 18. 1997).000 industri manufaktur di Eropah. Data yang digunakan oleh Malerba (1996) berasal dari hasil Community Innovation Survey (CIS) antara 1991 sampai 1993 yang dilaksanakan atas inisiatif bersama Komisi Eropa dan Eurostat terhadap 40. dan kedirgantaraan (aerospace). 18 Tahun 2002 . komputer. dan konsultan. logam dasar. dan [4] sumber informasi umum seperti konferensi. perminyakan. pertemuan bisnis. Data yang terkumpul selama periode 1980-1994 dalam studi ini menunjukkan bahwa kerjasama teknis untuk bidang-bidang tertentu (bioteknologi. dimana produk baru yang dihasilkan dari kolaborasi mampu meningkatkan penjualan. pangan. [2] bersumber dari pasar. [3] lembaga riset pemerintah dan universitas. Walaupun persentasenya rendah. Kolaborasi antar-lembaga bisnis memberikan sumbangan terhadap kinerja inovatif perusahaan di Norwegia dan Finlandia. otomotif.000 kesepakatan kerjasama yang melibatkan lebih dari 6.berkisar antara 0. pemasok bahan baku atau komponen. pameran. 1996). termasuk konsumen.000 perusahaan (OECD. tetapi di Jepang dan Eropa kerjasama serupa tidak menunjukkan perubahan yang berarti (Haagedoorn. 91 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan teknologi material baru) meningkat di Amerika Serikat. disingkat CATI) yang mencakup hampir 13. informasi paten. termasuk logam olahan (fabricated metals).1 persen untuk bidang rekayasa genetika. juga menunjukkan bahwa kolaborasi antar-perusahaan mampu meningkatkan penjualan untuk hampir semua produk yang dihasil melalui kolaborasi tersebut. sedangkan informasi yang dianggap tidak penting adalah berasal dari lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Kerjasama terbukti mampu meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengadopsi teknologi yang bermanfaat (OECD. elektronik. Di Jepang ternyata kerjasama informal antar-kelembagaan bisnis berperan penting dalam keberhasilan pengembangan teknologi. plastik. bahan kimia. Kajian yang sama di Jerman. teknologi informasi dan komunikasi. Porsi paten yang lebih besar berasal dari industri atau pihak non-universitas lainnya. Sumber informasi tersebut dikelompokkan menjadi 4 kelompok. Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber informasi yang paling penting ternyata berasal dari pelanggan/konsumen dan sumber internal perusahaan. MERIT telah mengembangkan database kesepakatan kerjasama dan indikator teknologi (Co-operative Agreements and Technology Indicators. instrumen.

dan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Tantangan dan ancaman ini perlu dijawab dan/atau ditangkal dengan mewujudkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia yang handal. Potensi pengembangan inovasi nasional Indonesia berdasarkan beberapa indikator akademik dibandingkan dengan Malaysia. Vietnam. Dinamika Lingkungan Regional Dinamika lingkungan strategis pada tingkat dunia akan berpengaruh bagi perkembangan inovasi nasional di Indonesia.Hasil ini bertentangan dengan anggapan yang umumnya dianut banyak pihak di Indonesia bahwa perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai motor penggerak utama untuk tumbuh dan berkembangnya inovasi nasional. sedangkan Indonesia. sebaliknya bisa menjadi sumber spillover teknologi. dan Singapura Indikator Peringkat HDI.7 28 Singapura 7 92 Naskah Akademik Perubahan UU No. Filipina. ekonomi. Kondisi lingkungan strategis perlu mendapat perhatian.3 54 Malaysia 63 32. berdasarkan kedekatan posisi geografis dan intensitas hubungan sosial. komunitas akademik dan peneliti Indonesia tidak dapat lagi mengabaikan ancaman penjajahan teknologi asing dalam bentuk banjir produk barang dan jasa impor yang melanda pasar domestik dan invasi Multi National Company (MNC). Kehadiran MNC dapat menjadi ancaman bagi upaya pengembangan teknologi nasional jika tidak dibangun hubungan yang sinergis mutualistik dengan MNC tersebut. Posisi Indonesia tersebut didasarkan atas beberapa indikator hasil analisis yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional (Tabel 6).3.5 21 Thailand 78 42. negara-negara ASEAN dapat dibagi dari tiga lapisan: Singapura berada pada lapisan atas. paling tidak untuk referensi.2. Dalam konteks kemajuan inovasi saat ini. baik secara langsung maupun dalam bentuk produknya. Kemandirian teknologi merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan dan ancaman tersebut. maka dinamika lingkungan strategis pada tingkat regional Asia Tenggara (ASEAN) perlu mendapat perhatian yang lebih intensif. 2007/08 Angka Partisipasi Kasar. Malaysia dan Thailand pada lapisan tengah. digerakkan dengan motor teknologi domestik. Selain itu. berbasis sumberdaya nasional. budaya dan politik. Tabel 6. Fakta ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi komunitas akademik dan peneliti Indonesia untuk melakukan reorientasi prioritas risetnya agar tidak semakin terkucil dari skenario global pengembangan inovasi. Namun demikian. 2007 Indonesia 107 17. 4. 2007 Peringkat Daya Saing. 18 Tahun 2002 . Pergeseran yang wajib dilakukan adalah menambah porsi goal-oriented atau demand-driven research dalam grand scenario pengembangan riset dan teknologi. Thailand. dan negara-negara ASEAN lainnya berada pada lapisan bawah.

antara lain Indeks Pembangunan Manusia (HDI). 2009). 2003 Paten USPTO. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius agar ketergantungan pada negara tetangga ini dapat dikurangi agar posisi Indonesia lebih kompetitif. . Pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) dapat dikatakan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. 2003 Indeks Kerjasama Riset. 2001/05 Publikasi Ilmiah. Peringkat Daya Saing dari Laporan World Economic Forum (Suhardi. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dari Depdiknas (Lakitan. Dinamika Lingkungan Nasional Saat ini kontribusi teknologi pada tingkat nasional masih belum optimal. Indeks Daya Saing Global. Indeks Daya Serap Teknologi. Untuk kawasan ASEAN pun masih perlu perjuangan keras agar dapat menjadi yang terdepan. serta sekaligus memanfaatkan bahan baku yang dihasilkan negara-negara di kawasan ASEAN. 2009). Perubahan lingkungan strategis di 93 Naskah Akademik Perubahan UU No. 2003 4. serta kendala non-teknologi lainnya juga memerlukan perhatian. Secara menyeluruh gambaran postur perkembangan inovasi di Indonesia masih jauh dari memuaskan. Disamping itu.3.3. Berbagai alasan dan argumen yang menyertainya telah dijabarkan sebelumnya. industri pengolahan. Singapura yang lebih maju di sektor perdagangan. 2009). Paten USPTO. Kemajuan inovasi suatu negara dapat ditaksir berdasarkan beberapa indikator. 18 Tahun 2002 Struktur perekonomian negara-negara ASEAN secara umum relatif sama. Indeks Kerjasama Riset (Warsono. 4. mungkin dapat dikatakan masih berada pada posisi yang sangat minimal.8 4. Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang pendidikan tinggi. Negara ASEAN umumnya masih mengandalkan sektor pertanian komoditas hasil eksploitasi kekayaan alamnya.9 74.6 1072 6. dan publikasi ilmiah dari Laporan World Bank (Suhardi. Negara-negara ASEAN lainnya dapat menjadi kompetitor dan sekaligus mitra strategis yang potensial. Indeks Kerjasama Riset.Indeks Daya Serap Teknologi. 2008d).5 2. maka Indonesia dapat menjadi pemasok barang dan jasa. kecuali Singapura.4 3122 Sumber: Peringkat Human Development Index (HDI) dari Laporan UNDP (Hasta. Paten Terdaftar.0 409. aliran teknologi antara pengembang dan pengguna yang masih tersendat. merupakan mitra komplementer untuk pembangunan perekonomian nasional. Untuk kondisi saat ini.3 4. Hal ini tergantung kemampuan Indonesia dalam mewujudkan inovasi nasional. Jika Indonesia mampu mengembangkan industri barang dan jasa berbasis teknologi nasional yang kompetitif.2 41. Hal ini disebabkan belum terjadinya aliran teknologi yang signifikan dari pihak pengembangan teknologi ke pihak pengguna teknologi. 2009).8 16.6 178 5. dan Jumlah Publikasi Ilmiah (Tabel 6). dan industri jasa keuangan.4 520 5. kualitas sumberdaya manusia yang secara umum masih belum kompetitif. Aspek yang akan ditelaah lebih mendalam adalah interaksinya dengan dinamika lingkungan strategis yang sedang berkembang saat ini dan kecenderungan perubahan lingkungan strategis tersebut di masa yang akan datang. Indeks Daya Serap Teknologi.

termasuk: (1) Mengubah orientasi pendidikan nasional yang diterapkan melalui kurikulum pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik. Skenario business-as-usual jelas tidak akan mampu mendukung pengembangan inovasi nasional. maka pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak akan pernah membaik. yakni modal dan tenaga kerja (Firdausy. Kadiman. menghitung kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan proxy indikator Total Factor Productivity (TFP) dan mendapatkan bahwa TFP Indonesia hanya sebesar 1. Jika kecenderungan yang telah berlangsung sekitar setengah abad ini tidak diimbangi dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukan reorientasi kebijakan pengembangan teknologi dan industri. bahkan mungkin semakin terpuruk. dan yudikatif. Pengetahuan hanya bisa ditranslasi menjadi pertumbuhan ekonomi jika terlebih dahulu mampu menghasilkan teknologi yang dibutuhkan pengguna teknologi untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan. Salah satu modal utama pembangunan Indonesia sampai saat ini berasal dari kekayaan sumberdaya alam yang bersifat tak-terbarukan (non-renewable resources). Hanya dengan melakukan perubahan secara agresif-dan-terarah (agressive and welldirected) terhadap lingkungan strategis. Hal ini kemudian dituangkan dalam bentuk regulasi yang mengikat semua pihak untuk mematuhi dan berperan aktif dalam implementasinya. Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian 2006.masa depan akan direka berdasarkan dua ekstrim skenario. Perubahan lingkungan strategis ke arah yang lebih kondusif ini perlu dimulai dari setiap komponen bangsa di lembaga eksekutif. Perubahan lingkungan strategis tersebut. Artinya sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih didominasi faktor di luar teknologi. dengan TFP sebesar 4 persen. melanjutkan kecederungan yang sedang terjadi saat ini dengan tanpa upaya mendorong perubahan ke arah yang diinginkan. legislatif. yang suatu saat akan habis. penguatan inovasi diharapkan akan terjadi dan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian dapat ditingkatkan. Selanjutnya Firdausy (2009b) menyebutkan bahwa kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia paling tinggi terjadi pada periode 1991-1995. Tanpa melakukan upaya mendorong agar teknologi domestik lebih sesuai untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan pembangunan ekonomi nasional dan tanpa upaya mendorong industri untuk lebih memprioritaskan penggunaan teknologi domestik dan memproduksi barang dan jasa sesuai kebutuhan pasar domestik.38 persen. Agaknya tidak berlebihan atau terkesan pesimistik jika disimpulkan bahwa inovasi tidak akan tumbuh berkembang jika tidak terjadi perubahan lingkungan strategis yang mengarah kepada terwujudnya ekosistem yang lebih kondusif untuk tumbuh-kembang sistem inovasi nasional (SINas). 18 Tahun 2002 . dan skenario dengan upaya percepatan perubahan ke arah yang lebih kondusif untuk berkembangnya inovasi nasional. yakni skenario ‘business-as-usual’. tetapi 94 Naskah Akademik Perubahan UU No. maka upaya menumbuhkan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) tidak akan pernah terwujud. 2009). 2009a.

dan lembaga penunjang lainnya untuk secara 95 Naskah Akademik Perubahan UU No. Relevansi dan mutu pendidikan harus menjadi tujuan utama penyelenggaraan pendidikan pada semua strata. swasta nasional. dan [3] Pokja SDM dan Iptek. tiga strategi utama dikembangkan dalam pelaksanaan MP3EI. Semangat perubahan pendekatan pembangunan perekonomian tersebut tercermin dari: [1] MP3EI mengedepankan terobosan kebijakan dan strategi. Pada tahun 2011 ini terjadi perkembangan yang positif. pembangunan perekonomian tidak lagi dilakukan dengan pendekatan yang bersifat ‘Business as Not Usual’. maupun di lembaga lainnya di badan usaha. dan [3] MP3EI mengakomodir masukan dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan. Dengan diluncurkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). [2] memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi untuk revitalisasi kinerja sektor riil. 32 Tahun 2011. dibentuk pula Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). yakni: [1] Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi. Untuk itu. (2) Perlu menggeser paradigma ‘eksploitasi’ kekayaan sumberdaya alam sebagai cara cepatdan-mudah untuk meningkatkan pendapatan negara (orientasi jangka pendek). termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah. dengan cara mendorong investasi BUMN.juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap permasalahan dan kebutuhan pembangunan nasional. dan [3] pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi. Untuk melaksanakan MP3EI yang didasarkan pada Perpres No. [2] MP3EI menitikberatkan pada percepatan transformasi ekonomi melalui peningkatan nilai tambah (value added). menjadi ‘pengelolaan’ sumberdaya alam yang lebih efisien dan akrab lingkungan. dan unsur kelembagaan iptek di perguruan tinggi. lembaga penelitian dan pengembangan. [2] Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur. mengintegrasikan sektor dan regional. yaitu: [1] pengembangan potensi ekonomi pada enam koridor pembangunan. (3) Mengubah citra produk nasional di mata konsumen dalam negeri. bukan pada masalah yang dihadapi. dengan cara meningkatkan kualitas barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri ( Made in Indonesia) yang dibarengi dengan harga yang lebih kompetitif. Keteladanan tokoh pemerintahan dan masyarakat dalam mendorong kecintaan dan kebanggaan atas produk nasional merupakan salah satu cara yang diyakini efektif. Dalam struktur KP3EI ini terdapat tiga Kelompok Kerja. masyarakat. dan Foreign Direct Investment (FDI) pada 22 kegiatan ekonomi utama. dimana titik berat pendekatan terletak pada solusi. 18 Tahun 2002 . dan (4) Menerbitkan regulasi yang lebih ‘favorable’ untuk pengembangan teknologi nasional dan untuk mendukung peningkatan market share produk nasional di pasar domestik. dalam upaya penguasaan dan pemanfaatan iptek. serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya. yang didorong melalui pengembangan SDM dan iptek yang sesuai untuk peningkatan daya saing. sehingga dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ekonomi dan ekologi yang lebih maksimal (orientasi jangka panjang). mendorong investasi. Keberadaan Pokja SDM dan Iptek ini membuka peluang bagi Kementerian Riset dan Teknologi.

lebih signifikan dapat berkontribusi terhadap pembangunan perekonomian Indonesia. Secara teknis operasional. 96 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . ini berarti upaya penguatan inovasi nasional di Indonesia mendapat pijakan yang lebih mantap.

Bab 5 Jangkauan. kebijakan inovasi nasional umumnya telah dipublikasikan secara luas. kehandalan SINas sesungguhnya ditentukan oleh kelancaran aliran 97 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta ruang lingkup materi muatan rancangan undang-undang tentang perubahan UU No. Sekumpulan aktor SINas yang hebat. tercerabut dari ekosistem dimana sistem inovasi nasional (SINas) mampu unjuk kinerja dengan sangat baik. 18 Tahun 2002 Di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD. sering menjadi reference utama dalam pengembangan kebijakan inovasi. Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Pejabat negara dan kadang juga akademisi yang (dianggap) pakar di bidang penguatan inovasi juga ikut melakukan upaya adopsi langsung ini tanpa melakukan analisis yang mendalam mengapa pengembangan konsepsi inovasi tertentu berhasil memajukan perekonomian di negara asalnya. baik yang berperan sebagai pengembang maupun pengguna teknologi yang dimiliki suatu negara. Strategi keberhasilan negara-negara tertentu. Namun demikian upaya untuk mengadopsi secara langsung konsepsi inovasi nasional di negara yang secara ekonomi lebih berhasil untuk diterapkan di negara lainnya seringkali mengalami kegagalan. mengabaikan fakta adanya perbedaan yang tajam antara negara yang dicontoh dengan realita di Indonesia. 18 Tahun 2002. maka seringkali pengembangan inovasi dianalisis secara terisolir. dukungan dari berbagai aktor pendukungnya. belum menjamin bahwa negara yang bersangkutan akan secara otomatis memiliki SINas yang produktif dan berkelanjutan. Secara praktis. Kehandalan SINas sebagai sebuah sistem lebih ditentukan oleh intensitas dan efektivitas interaksi antara aktor-aktor utamanya. dan Ruang Lingkup Materi Muatan RUU Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 Sangat mudah untuk menyatakan bahwa pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) merupakan upaya mendorong peningkatan inovasi secara nasional agar secara nyata memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan rakyat. .1. Demikian halnya. dan kondusivitas ekosistem tempat tumbuhkembangnya. Arah Pengaturan. Kalaupun dilakukan analisis. Pengembangan SINas tidak hanya merupakan sekumpulan aktor. Untuk itu akan diuraikan dalam bab ini mengenai arah dan jangkauan kebijakan penguatan inovasi nasional. 5. Namun persoalannya adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya di Indonesia.

informasi kebutuhan (demand) dari para aktor pengguna ke pengembang teknologi, yang diimbangi dengan kelancaran pasokan teknologi yang relevan dari aktor pengembang ke pengguna teknologi. Secara komprehensif, SINas merupakan sistem yang kompleks. Walaupun untuk simplifikasi dalam analisisnya unsur-unsur SINas dapat diurai lepas satu per satu, namun analisis hanya akan sahih jika masing-masing unsurnya tersebut selalu dilihat dari perpektif keterkaitannya dengan unsur SINas lainnya. Alur keterkaitan SINas dengan komponen pembentuk ekosistemnya dapat dilihat pada Gambar 6.

POTENSI SUMBERDAYA EKONOMI [Tangible Factors]  Sumberdaya Alam  Sumberdaya Manusia  Infrastruktur

POTENSI SOSIO-KULTURAL

[Intangible Factors]  Ideologi  Politik  Tata Kepemerintahan  Budaya Kerja

PERAN POKOK PEMERINTAH Memformulasikan kebijakan pendukung SINas berbasis pada Potensi Sumber daya Ekonomi dan Potensi SosioKultural dalam rangka penyiapan “Panggung SINas”, terutama kebijakan:  Perekonomian makro, keuangan, dan perpajakan  Perindustrian dan Perdagangan  Riset dan Pengembangan Teknologi  Ketenagakerjaan  Pendidikan Nasional  Infrastruktur Sosial  Tata Kepemerintahan

PENGEMBANG TEKNOLOGI  Perguruan Tinggi  Lembaga R&D Pemerintah  Lembaga R&D Swasta

PENGGUNA PASAR TEKNOLOGI  Domestik  Industri /  Global Bisnis  Masyarakat  Pemerintah Barang/Jasa Permintaan

LEMBAGA INTERMEDIASI

PANGGUNG SINAS  Fasiltas Komunikasi & Interaksi  Regulasi yang Kondusif  Dukungan & Insentif Finansial

Gambar 6. Peran Pemerintah dalam menyiapkan ‘panggung’ Sistem Inovasi Indonesia

Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Panggung SINas sebagai konsepsi dapat diaktualisasikan dalam bentuk: [1] fasilitas untuk para aktor berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif, [2] regulasi yang memungkinkan para aktor untuk memformulasikan dan mengimplementasikan upaya bersama dalam meningkatkan produktivitas, dan [3] dukungan dan/atau insentif finansial yang menjadi perangsang bagi para aktor untuk bersama-sama membangun dan memperkuat inovasi nasional. Panggung SINas yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro, keuangan, dan perpajakan; kebijakan perindustrian dan perdagangan; kebijakan riset dan pengembangan teknologi; kebijakan ketenagakerjaan; kebijakan pendidikan nasional; kebijakan penyediaan infrastruktur sosial; dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Kebijakan tersebut selain harus selaras dengan upaya mewujudkan SINas, juga harus berbasis pada potensi sumberdaya ekonomi dan potensi sosial budaya yang dimiliki Indonesia.

98

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Kebijakan yang tidak mengakar pada potensi dan kondisi sendiri akan lebih susah untuk secara efektif diimplementasikan. Dengan demikian tugas pokok pemerintah yang paling krusial adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung SINas yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. Kinerja aktor-aktor SINas pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik), baik berupa barang maupun jasa. Oleh sebab itu, peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ SINas, tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik.27

5.1.1. Membangun Inovasi sebagai Sistem Sebagai sebuah sistem, pengembangan inovasi nasional tidak dapat dipandang hanya sebagai kumpulan dari lembaga, tetapi yang lebih penting adalah terjadinya aliran informasi dan produk iptek yang lancar antar-lembaga. Keberadaan aktor atau kelembagaan pengembang dan pengguna teknologi, serta upaya fasilitasi, intermediasi, dan regulasi pemerintah belum menjamin bahwa sistem inovasi sudah terbangun atau pasti akan berjalan. Pada saat ini sesungguhnya para aktor dan lembaga-lembaga tersebut sudah ada, tetapi interaksi dan komunikasinya belum intensif dan produktif. Ini yang menjadi persoalan pokok saat ini. Pengembang teknologi (termasuk perguruan tinggi) melakukan kegiatan riset tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan kebutuhan pengguna; sebaliknya pengguna teknologi belum mau mengadopsi teknologi dalam negeri karena berbagai alasan, antara lain karena tidak relevan dengan kebutuhan, belum cukup handal secara teknis, tidak sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna, dan/atau belum kompetitif secara ekonomi. Untuk memperbesar peluang terwujudnya sistem inovasi, maka para pengguna teknologi harus terbuka untuk berbagi informasi tentang kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi; sebaliknya juga pihak pengembang teknologi harus peka terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang berkembang dan umumnya bersifat dinamis. Teknologi yang dikembangkan selain harus relevan dengan kebutuhan pengguna, juga harus sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya, baik kapasitas adopsinya secara teknis, ekonomi, dan sosiokultural (Gambar 7).

27

Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada beberapa kesempatan. Berbagai negara, juga melihat populasi Indonesia yang besar, lebih dari 237 juta jiwa (BPS, 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial.

99

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Gambar 7. Konsepsi Dasar Sistem Inovasi Nasional (Lakitan, 2010)

Lembaga litbang sebagai pengembang iptek perlu: [1] mengevaluasi kembali tentang kesesuaian orientasi pengembangan iptek dengan kebutuhan rakyat dan negara (isu relevansi riset); dan [2] meningkatkan pemaham tentang kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi rakyat dan negara (isu sensitivitas pelaku pengembang iptek); sebaliknya lembaga pengguna teknologi perlu meningkatkan kapasitas adopsinya dan kesediaannya dalam berbagi informasi kebutuhan dan persoalan terkait dengan teknologi. Perlu selalu diyakini bahwa iptek hanya akan berkontribusi terhadap pembangunan nasional, apabila iptek digunakan dan nyata bermanfaat, baik manfaat ekonomi maupun non-ekonomi. Prasyarat agar aliran teknologi ini terjadi adalah: [1] teknologi yang dikembangkan dan ditawarkan oleh lembaga litbang relevan dengan kebutuhan pengguna; [2] teknologi yang ditawarkan sepadan dengan

100

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Dalam konteks pengembangan SINas, maka mutlak perlu terjadi aliran informasi kebutuhan iptek dan persoalan nyata yang membutuhkan solusi iptek dari pihak pengguna ke pihak pengembang iptek. Prasyarat agar aliran ini terjadi adalah [1] keterbukaan atau keinginan dari pihak pengguna untuk berbagi informasi dan [2] sensitivitas pihak pengembang iptek dalam menangkap sinyal kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi pihak pengguna iptek. Keyakinan pihak pengguna atas kapasitas lembaga pengembang iptek dalam menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang sesuai kebutuhan, handal secara teknis, dan kompetitif secara ekonomi akan menjadi pemicu terjadinya aliran informasi dimaksud. Jika saat ini aliran tersebut masih tersendat, maka adalah bijak jika kedua belah pihak melakukan swa-evaluasi (self assessment), mencermati tentang apa yang perlu dibenahi di wilayah peran masing-masing. Lembaga litbang dan lembaga pengguna teknologi perlu melakukan pembenahan.

serta sebaliknya juga terjadi adopsi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengembang oleh pihak pengguna. dan regulator agar suasana yang kondusif dapat diwujudkan. butuh peran dan komitmen yang sungguh-sungguh dari Pemerintah. Pada fase awal (seperti kondisi saat ini). Kapasitas ‘outsourcing’ lembaga pengembang teknologi terindikasi antara lain dari aksesibilitas ke berbagai sumber informasi iptek. [2] kapasitas untuk melakukan riset dan pengembangan iptek (R&D capacity). yakni: [1] kapasitas untuk menyerap iptek yang berasal dari luar (sourcing capacity). dan [3] kapasitas untuk mendiseminasikan pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan (disseminating capacity)(Gambar 8). Sedangkan kapasitas diseminasi terlihat dari intensitas dan jangkauan publikasi kegiatan riset yang dilakukan dan iptek yang dihasilkan baik melalui media cetak maupun elektronik. 101 Naskah Akademik Perubahan UU No. sistem inovasi hanya akan terwujud jika terjadi komunikasi dan interaksi antara aktor atau lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. dan royalti yang diterima oleh lembaga atas produk teknologinya yang berhasil dikomersialisasikan. dan [3] penggunaan iptek tersebut mempunyai prospek keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan iptek serupa yang sudah tersedia. kuantitas dan kualitas iptek yang diadopsi oleh pihak pengguna. Revitalisasi Lembaga Pengembang Teknologi Pada saat ini.kapasitas adopsi (calon) pengguna potensialnya. daerah. 18 Tahun 2002 . menggerakkan aliran dua-arah ini akan membutuhkan daya yang besar dan upaya yang intensif. maupun kawasan ekonomi tertentu. Secara hakiki. disajikan pada Tabel 7. intermediator. terbukti dengan adanya aliran informasi kebutuhan teknologi dan informasi tentang persoalan nyata yang dihadapi oleh pihak pengguna dalam melakukan proses produksi barang dan/atau jasa sesuai dengan permintaan konsumen. Kapasitas riset dan pengembangan tercermin dari kualitas riset dan iptek yang dihasilkan. agar pengguna dan pengembang iptek terangsang untuk mengintensifkan komunikasi dan interaksinya. dan produktivitas lembaga dalam menghasilkan teknologi per satuan sumberdaya dan/atau biaya yang dikelola. Pemerintah diharapkan dapat memainkan peran sebagai fasilitator. Contoh indikator kinerja lembaga litbang berbasis pada tiga kapasitas pokoknya. dan efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan iptek yang bermanfaat. Kesinambungan aliran dua arah ini yang menjadi indikator eksistensi sistem inovasi. ada tiga kapasitas yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap lembaga pengembang teknologi.1. 5. tidak terjadi tumpang tindih riset yang dilakukan dengan riset yang (telah) dilakukan di tempat lain. relevansi teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan nyata para pengguna. pada jenjang nasional. Oleh sebab itu.2.

Strategi revitalisasi lembaga pengembang teknologi dikemas secara komprehensif dan integratif.Gambar 8. 18 Tahun 2002 . 2011a) Tabel 7. Ukuran keberhasilan dan pilihan indikator yang digunakan dalam melakukan evaluasi kinerja lembaga 102 Naskah Akademik Perubahan UU No. tidak secara partial maupun tersegmentasi. Tiga kapasitas yang harus dimilik lembaga litbang (Lakitan. ketiga jenis kapasitas ini secara paralel dikembangkan dalam sebuah sistem yang terintegrasi. Tiga kapasitas lembaga litbang dan contoh indikator kinerjanya Kapasitas Pokok Kapasitas Outsourcing Kapasitas Litbang Kapasitas Diseminasi Contoh Indikator Kinerja  Akses ke sumber informasi iptek  Tidak terjadi tumpang tindih dan replikasi riset  Efisiensi pemanfaatan sumberdaya  Jaringan kemitraan  Kualitas hasil litbang  Relevansi dengan kebutuhan/persoalan nyata  Produktivitas kelembagaan  Situs dan frekuensi pemutakhiran informasi  Publikasi ilmiah  Hasil riset yang dimanfaatkan pengguna  Royalti yang diterima Pada era inovasi yang terbuka ini.

akan menjadi tantangan dan ujian yang paling sulit tetapi mutlak harus dilakukan. we argue that frontiers and characteristics of STI indicators that were important last century may no longer be so relevant today and indeed may even be positively misleading” (Freeman and Soete. yakni SINas. Lembaga pengembang teknologi di Indonesia juga perlu melakukan reformasi. dapat dijadikan sebagai referensi. can convey misleading policy messages”. Peringatan dari Loikkanen et al. dan [3] mengubah mindset dan budaya kerja komunitas pengembang teknologi. yakni mengubah mindset dan budaya kerja individu peneliti dan komunitas pengembang litbang. sangat bijaksana nasehat yang dikemukakan oleh seorang tokoh inovasi dunia yang berkerja puluhan tahun untuk lembaga internasional ternama dalam mengembangkan indikator ilmu pengetahuan. teknologi. Dalam penggunaan indikator ini. (2009) perlu mendapat perhatian: “Although useful in benchmarking of country performances. Rencana strategis dan rencana aksi lembaga perlu ditinjau ulang. Boardman (2009) mengirimkan sinyal tentang tantangan yang sulit ini: [There is] a fundamental management task of aligning individual behaviors with [research] center goals and objectives. yakni: [1] merumuskan kembali tujuan dan menetapkan sasaran yang ingin dicapai. Kegiatan riset yang cenderung untuk prestasi akademik semata. atau yang hanya bersifat sebagai academic exercise.pengembang teknologi perlu dikonstruksi secara cermat. Lembaga pengembang teknologi saat ini merupakan bagian integral dari sistem yang lebih besar. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi diyakini akan menempuh tiga langkah penting. S&T indicators. perlu 103 Naskah Akademik Perubahan UU No. Cara yang bijak adalah pahami secara komprehensif dan mendalam tentang lembaga pengembang teknologi Indonesia saat ini dan ekspektasi peran lembaga ini yang ideal di masa yang akan datang. agar transfer/difusi iptek dapat berjalan lebih lancar. if poorly constructed. baru kemudian memilih indikator yang pas untuk mengevaluasi kemajuan yang dicapai secara berkala dengan interval waktu yang rasional. Keberhasilan pada dua langkah pertama akan sia-sia jika langkah ketiga ini tidak berhasil dilaksanakan. dan inovasi (STI) berikut ini: “On the basis of 40 years of indicators work. 2009). [2] melakukan reformasi struktural agar organisasi lembaga dapat menjadi kendaraan yang efektif untuk mencapai tujuan. serta tujuan dan sasarannya perlu disesuaikan. 18 Tahun 2002 . Langkah pertama dan kedua relatif tidak sulit untuk dilakukan. maka langkah ketiga. Apalagi individu-individu dalam komunitas pengembang teknologi selama ini terbiasa dan lebih nyaman berkerja secara individual dibandingkan sebagai bagian dari kelompok atau komunitas yang lebih besar. Oleh sebab itu. Peringatan dan nasehat seperti ini perlu secara serius diperhatikan oleh para pengelola lembaga pengembang teknologi di Indonesia. Indikator kinerja yang dikembangkan dan telah digunakan oleh lembaga internasional dengan reputasi baik serta telah diadopsi oleh berbagai negara. visi dan misi. sepanjang kurun waktu yang dibutuhkan untuk proses transformasi dari kondisi saat ini menjadi lembaga ideal yang diharapkan. Namun demikian tetap perlu dicermati. karena kasus ‘abuse’ indikator STI (dan data statistik lainnya) bukan merupakan kejadian langka di Indonesia. karena tidak secara otomatis menjamin indikator tersebut merupakan indikator yang paling pas untuk kondisi dan kepentingan Indonesia saat ini.

meningkatnya rasa bangga sebagai warga negara. Pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi sudah saatnya diperlakukan sebagai bagian dari investasi. Kegiatan pengembangan teknologi dalam jangka panjang harus memberikan keuntungan yang sebanding dengan pembiayaannya. Pemahaman yang tepat tentang akar persoalan yang menyebabkan lembaga pengguna teknologi Indonesia berada pada posisi saat ini akan sangat membantu. goal-oriented research. Keuntungan yang dimaksud tidak selalu dalam bentuk keuntungan ekonomi.3. selain itu juga kebijakan internal lembaga masih belum memberikan prioritas untuk peningkatan kapasitas adopsi. need-driven. Hipotesis untuk kondisi saat ini adalah: [1] kapasitas adopsi lembaga-lembaga pengguna teknologi di Indonesia saat ini masih sangat rendah. akibatnya motivasi untuk melakukan upaya peningkatan tersebut juga tidak tumbuh. 5. terutama karena regulasi yang kurang 104 Naskah Akademik Perubahan UU No. maka konsepsi tersebut tidak akan mampu menjadi solusi mendasar bagi upaya meningkatkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi sebagaimana yang diniatkan. misalnya market-driven. Perspektif ini yang menjadi ruh pengembangan teknologi berbasis realita kebutuhan (demand-driven). maka konsepsi yang dikembangkan mungkin kelihatannya bagus tetapi sangat mungkin akan mengecewakan karena ternyata tidak mampu memberikan solusi sebagaimana yang diharapkan. sarana dan prasarana pendukung) lembaga-lembaga pengguna teknologi sangat minimal. kemampuan pembiayaan. walaupun banyak ragam istilah yang digunakan.1. yakni untuk menghasilkan iptek yang bermanfaat bagi umat maupun negara. sejak awal kegiatan pengembangan teknologi harus mempunyai orientasi yang jelas. Jika konsepsi hanya menyentuh persoalan simptomatis. agar tidak terkecoh oleh gejala simptomatis (symptomatical problems) yang mungkin tertangkap pada kesan pertama. dan [2] unsur-unsur ekosistem eksternal yang kurang kondusif. 18 Tahun 2002 . Untuk itu perlu kejelian dalam mengidentifikasi akar persoalan (fundamental problems).digeser prioritasnya untuk mendahulukan kegiatan riset untuk menghasilkan iptek yang sesuai dengan kebutuhan nyata. misalnya penyelenggaraan pemerintahan yang lebih bersih. Peningkatan Kapasitas Adopsi Lembaga Pengguna Teknologi Konsepsi peningkatan kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna berpeluang untuk diterapkan jika dibangun berdasarkan realita posisi saat ini. mission-driven. Kecenderungan global saat ini sangat kentara mengarah pada pengembangan teknologi berbasis kebutuhan. kerukunan umat beragama. evidence-based. dan [2] peningkatan kapasitas adopsi teknologi terkendala oleh ekosistem yang kurang kondusif. terutama dari regulasi dan insentif yang belum optimal. turunnya tingkat kriminalitas atau tumbuhnya rasa aman. Upaya penguatan kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu memperhatikan: [1] potensi internal (sumberdaya manusia. yang disebabkan oleh mutu potensi internal yang rendah dan motivasi yang kurang. dan bentuk keuntungan sosial dan spiritual lainnya. issue-driven. atau challenge-driven. Namun demikian. Ragam istilah pendekatan pengembangan teknologi ini pada esensinya adalah kurang-lebih sama. Jika hanya gejala simptomatis yang mampu dikenali. tetapi dapat dalam bentuk non-ekonomi.

atau dengan ungkapan yang lebih sederhana adalah dengan melakukan penguatan kapasitas litbang internal lembaga pengguna. Kerangka dasar konsepsi peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Berbeda dengan industri yang mengadopsi teknologi untuk diaplikasikan dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. misalnya dalam konteks teknologi pertahanan dan keamanan. Minimal mampu melakukan pemeliharaan (maintenance). lembaga pemerintah mengadopsi teknologi untuk digunakan dalam menjalankan tugas negara/pemerintahan.mendukung atau sebagian sudah mendukung namun implementasinya masih terkendala. Gambar 9. tetapi juga mampu untuk melakukan asimilasi dan reformulasi teknologi agar lebih sesuai dengan kebutuhan spesifiknya dan/atau untuk meningkatkan kehandalan produk teknologi tersebut. Pembenahan ini mencakup. Sebagaimana industri. serta program-program insentif yang ada masih kurang efektif dan/atau kurang menarik bagi lembaga pengguna (Gambar 9). Posisi ini cenderung sebagai konsumen akhir dari teknologi atau produk teknologi yang diakuisisi. lembaga pemerintah yang berperan sebagai lembaga pengguna teknologi juga harus diperkuat kapasitas litbangnya. dan dana) untuk mendukung aktivitas litbang pada lembaga pengguna. sarana. 18 Tahun 2002 . terutama penguatan sumberdaya (manusia. prasarana. Realita saat ini menumbuhkan keyakinan bahwa untuk mengoptimalkan kemampuan lembaga pengguna dalam mengadopsi teknologi yang paling krusial adalah melakukan pembenahan internal lembaga. Lembaga ini tidak hanya mampu menggunakan produk teknologi yang dibeli atau diakuisisi. sehingga mengurangi 105 Naskah Akademik Perubahan UU No. selain juga fasilitasi dan intermediasi yang masih belum optimal.

maka perlu upaya sungguh-sungguh untuk: [1] meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian dan/atau ketrampilan sumberdaya manusia. Dua faktor bersifat mendorong (pushing factors) lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. naluri bisnis. dan efisien. rasional. dibutuhkan pendekatan dan strategi yang berbeda untuk masing-masing kelompok pengguna tersebut. motivasi. termasuk juga melalui spillover investasi asing. Di era informasi terbuka ini. Ada empat faktor eksternal yang secara langsung mempengaruhi kapasitas adopsi teknologi. Namun perlu pula ditegaskan bahwa industri mikro atau kecil tradisional tetap harus dikategorikan sebagai satu entitas industri. terutama untuk yang secara langsung melaksanakan tugasnya terkait adopsi dan pengembangan teknologi. dan kualitas personal lainnya. serta siap secara seutuhnya untuk mengadopsi teknologi tersebut. yakni untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi. agar upaya meningkatkan kapasitas adopsi individu masyarakat ini dapat dilakukan secara lebih praktis. Dalam rangka memaksimalkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi.ketergantungan kepada pihak produsennya sebagai langkah antisipatif jika ada kendala purnajualnya. dan lain-lain. walaupun tujuannya adalah sama. dan skala usaha yang setara. Dengan kata lain. 18 Tahun 2002 . dan individu masyarakat). pelaksanaannya dapat saja dilakukan secara kolektif pada komunitas pengguna dengan kebutuhan jenis teknologi. [2] memberikan dukungan fasilitas dan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan adopsi dan pengembangan teknologi. Untuk dapat melaksanakan peran ini. dan [4] melakukan upaya institusional yang dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam meningkatkan peran aktifnya dalam proses adopsi dan pengembangan teknologi. kemampuan manajerial. peternak. dan relevan dengan kebutuhan lembaganya. yakni regulasi dan 106 Naskah Akademik Perubahan UU No. seniman. Upaya penguatan kapasitas adopsi masyarakat sebagai pengguna teknologi perlu pendekatan yang berbeda. Memahami karateristik masing-masing pengguna teknologi yang berbeda (antara industri. handal. Mungkin saja organisasi atau asosiasi masyarakat yang memayungi individuindividu pengguna teknologi. diikuti dengan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan dukungan anggaran yang mencukupi. namun lembaga masyarakat tersebut tidak bersifat ‘struktural’ sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang setara dengan lembaga pengguna sebagaimana pada industri dan pemerintahan. individu-individu masyarakat lebih pas jika diperlakukan secara independen. bidang usaha. lembaga pemerintah. [3] menyepakati dan menjalankan secara konsisten kebijakan internal lembaga pengguna untuk memprioritaskan adopsi dan pengembangan teknologi. nelayan. terlepas dari jumlah karyawannya yang mungkin sangat sedikit. baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri. lembaga pengguna juga diharapkan tidak hanya mampu mengaplikasikan teknologi. misalnya petani. Namun demikian. maka opsi utamanya adalah meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian sumberdaya manusia yang bekerja pada masing-masing lembaga pengguna tersebut. Kapasitas adopsi individu masyarakat dengan demikian akan tergantung pada kapasitas intelektual. misalnya insentif yang pantas untuk kontribusi atau prestasi yang dicapai. tetapi juga mampu secara proaktif mengenali jenis dan mengidentifikasi sumber teknologi yang maju.

Adanya permintaan pasar yang nyata dan signifikan. misalnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia. serta ketersediaan sumberdaya (bahan baku. Faktor eksternal yang mempengaruhi kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Regulasi yang tepat akan mendorong lembaga pengguna untuk meningkatkan kemampuan internalnya yang berkaitan langsung dengan kapasitas adopsi teknologi. tetapi hanya lembaga pengguna yang siap yang mampu melakukan proses adopsi tersebut secara efektif dan efisien. Gambar 10. 18 Tahun 2002 . fasilitas dan infrastruktur pendukung) akan menumbuhkan motivasi dan menjadi pemicu untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi yang dibutuhkan lembaga pengguna untuk mengelola sumberdaya tersebut. semua pihak bisa mendapatkan informasi tentang ketersediaan teknologi dan berpeluang untuk mengadopsinya. sedangkan dua faktor lagi bersifat menarik (pulling factors).adanya kompetisi antara lembaga pengguna. potret kapasitas 107 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni adanya permintaan pasar dan ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan (Gambar 10). kepakaran. Secara ringkas. Prinsip dasarnya dalam era informasi terbuka ini. sedangkan adanya kompetitor tentu akan menjadi faktor pendorong lainnya bagi lembaga pengguna untuk antara lain meningkatkan aktivitas serta fasilitas riset in-house. tenaga kerja. serta mampu mengadaptasi teknologi tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhannya dan mampu memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari adopsi teknologi tersebut.

[2] Perlu dukungan yang optimal untuk aktivitas dan penyediaan fasilitas riset in-house. adaptasi. dan pengembangan teknologi. atau sesuai dengan core business-nya. Ada beberapa catatan penting terkait dengan kapasitas adopsi yang ideal bagi lembaga pengguna teknologi. namun jika kapasitas adopsinya sudah berada pada jenjang yang ideal maka keberadaannya dalam klaster inovasi akan memperbesar peluangnya untuk mengadopsi teknologi tersedia yang sesuai dengan kebutuhannya. terutama – tetapi tidak terbatas pada sumberdaya manusia yang ditugaskan pada atau terkait langsung dengan unit yang menangani adopsi. yakni: [1] Kapasitas internal lembaga sangat krusial untuk dibangun. [5] Keberadaan lembaga pengguna dalam suatu klaster inovasi tidak menjamin akan efektif dalam mengadopsi teknologi yang tersedia. baik pada tingkat nasional maupun pada jenjang yang lebih terbatas wilayah cakupannya. sehingga dapat memperbesar peluang untuk terjadinya aliran atau limpasan (spillover) teknologi yang diserap oleh lembaga pengguna. karena akan secara nyata berdampak positif pada kapasitas adopsi. dan [6] Kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu secara paralel dibangun bersama dengan kemampuan lembaga pengembang untuk menghasilkan teknologi yang relevan dalam rangka mewujudkan sistem inovasi.4. 108 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta mengaplikasikannya dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diembannya. menyerap dan mengasimilasikan teknologi tersebut. 18 Tahun 2002 .adopsi yang ideal untuk lembaga pengguna teknologi adalah jika memiliki kemampuan untuk mengenali teknologi sesuai dengan kebutuhannya. adaptasi. Peningkatan Peran Lembaga Intermediasi Ketidakpaduan antara teknologi yang dihasilkan lembaga pengembang dengan kebutuhan pengguna dan rendahnya kebutuhan serta kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna merupakan kenyataan yang menjadi justifikasi: [1] kebutuhan akan lembaga intermediasi.1. 5. sedangkan permintaan pasar dan potensi sumberdaya dapat menjadi faktor penarik (pulling factors) yang atraktif bagi lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. [4] Perlu regulasi dan kebijakan yang kondusif untuk membuka peluang mobilisasi sumberdaya manusia antar-lembaga inovasi. dan pengembangan teknologi. memformulasikan teknologi yang aplikatif sesuai kemampuan dan kebutuhannya. [3] Regulasi dan kompetisi menjadi faktor pendorong (pushing factors) yang efektif. tetapi juga sekaligus [2] menjadikan lembaga intermediasi yang sudah ada sulit untuk menjalankan perannya. oleh sebab itu perlu melakukan peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

109 Naskah Akademik Perubahan UU No. Minat pihak swasta untuk berperan sebagai intermediator masih rendah dan belum akan tumbuh jika teknologi yang dihasilkan pengembang belum mempunyai nilai jual yang baik atau jika relevansi antara teknologi yang dikembangkan masih senjang dengan kebutuhan pengguna. Sentra HKI adalah unit kerja yang berfungsi mengelola dan mendayagunakan kekayaan intelektual. termasuk kemampuan menyelenggarakan kegiatan komersialisasi secara profesional yang didukung aspek legal. memasarkan teknologi yang dihasilkan pengembang dan sekaligus menjadi perpanjangan tangan pengembang untuk memahami kebutuhan dan persoalan teknologi yang dihadapi pengguna (Gambar 11). Menurut UU No. peran lembaga intermediasi perlu didorong agar dapat berperan ganda tersebut. 18 Tahun 2002 . sejak digagas Kementerian Riset dan Teknologi pada 1999. Gambar 11. Oleh sebab itu. Namun sebagian besar menghadapi permasalahan lemahnya kemampuan di bidang manajemen HKI. Pada saat ini. Jumlah Sentra HKI saat ini mencapai 79 buah. belum banyak berperan dalam membantu mengidentifikasi kebutuhan atau persoalan yang dihadapi pengguna dan mengalirkan informasi tersebut kepada lembaga pengembang teknologi. Dengan adanya Sentra HKI diharapkan perguruan tinggi dan lembaga litbang dapat mengembangkan unit organisasi dan prosedur untuk mengelola semua kekayaan intelektual dan informasi iptek yang dimilikinya. Peran Ganda Lembaga Intermediasi Peran intermediasi ini dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga nonpemerintah. Sebagai contoh lembaga mediasi adalah Sentra HKI dan Business Innovation Center (BIC). sekaligus sebagai pusat informasi dan pelayanan HKI.Lembaga intermediasi yang ada saat ini masih terlalu fokus pada upaya ‘memasarkan’ teknologi yang dihasilkan oleh lembaga pengembang. lembaga intermediasi yang ada pada dasarnya diinisiasi oleh pemerintah tetapi kemudian dikelola oleh lembaga pemerintah itu sendiri atau personel yang bukan pegawai pemerintah. 18 Tahun 2002.

memberikan informasi mengenai kajian-kajian teknologi yang sedang berlangsung. memajukan pengembangan teknologi inovasi dalam skala nasional. mempermudah pengembangan bisnis dengan penerapan inovasi. dan membantu melakukan analisi terhadap pihak dunia usaha yang memiliki interest untuk berinvestasi terhadap riset yang dilakukan. dan. memberikan pengetahuan mengenai pasar dan trend yang ada di pasar. BIC diharapkan menjadi lembaga intermediasi proses inovasi bisnis. membantu dalam hal finansial yang akan dibantu oleh pihak swasta/pelaku bisnis.5. membantu menghubungkan kepada pihak dunia usaha dalam hal kerjasama. akademisi dan pemerintah yang sesuai dengan fungsi dan tujuan BIC. mengatur pertukaran para pakar yang dibutuhkan dengan keahlian tertentu. membantu mencarikan mitra kerjasama yang tepat dari kalangan iptek. memfasilitasi pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. swasta. memberikan dukungan terhadap program-program pemerintah dalam hal inovasi. membuat database yang menampung informasi mengenai proses-proses inovasi. memberikan jaringan/network pelaku bisnis dalam hal kerjasama terhadap pihak akademisi. mengatur pertemuan para pakar untuk dapat menjalin kerjasama. dan. Misi lembaga ini adalah mendorong inovasi business di Indonesia. Penyiapan Science and Technology Park Kedekatan fisik atau lokasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi masih dianggap penting dalam upaya menumbuhkan interaksi yang lebih intensif dan produktif. untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan bisnis dan daya saing nasional Indonesia. 5. Layanan untuk swasta/bisnis yang dilakukan BIC mencakup mempermudah proses pencarian informasi mengenai inovasi. perusahaan. Sedangkan layanan untuk akademisi/teknisi adalah membantu mengembangkan produk inovasi yang sudah ada untuk di komersialkan. menghubungkan para pelaku bisnis dalm hal mendapatkan insentif yang diberikan oleh pemerintah. Business Innovation Center atau yang disingkat BIC didirikan dengan tujuan mengoptimalkan pemberdayaan Inovasi di Indonesia dengan tujuan meningkatkan pembangunan nasional. melalui kegiatan intermediasi antara inovator pengembangan teknologi dengan dunia bisnis. Layanan umum mencakup kunjungan ke perusahaan-perusahaan.Padahal Sentra HKI harus mampu menjadi marketer atau sebagai intermediator antara pemilik dan pengguna HKI. BIC memberikan beberapa jenis layanan yaitu layanan umum. mengadakan gathering dan seminar dalam hal menjembatani ABG. 18 Tahun 2002 . memberikan secara terusmenerus informasi tentang perkembangan teknologi baru dan proses produksi. walaupun saat ini teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat berkembang dan juga 110 Naskah Akademik Perubahan UU No. Layanan untuk pemerintah mencakup upaya mempererat hubungan pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. memperluas hubungan dengan pemerintah dan akademisi.1. pemasok. menganalisa dan mengoptimalkan rangkaian nilai proses kerja. dan memfasilitasi program incentif yang dibuat oleh pemerintah. mengidentifikasikan risiko dan mengenali potensinya. memberikan pendampingan pada perusahaan-perusahaan yang inovatif. menyusun agenda dan pengaturan pertemuan dengan pusat-pusat kajian teknologi.

Secara kolektif. Ketidak-siapan lembaga pengguna Indonesia untuk mengadopsi teknologi ini tidak sepenuhnya merupakan resultan dari rendahnya kapasitas adopsi teknologinya. yakni dengan merevitalisasi kawasan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong. Persoalan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah rendahnya hasil riset dan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang diadopsi oleh industri atau pengguna teknologi lainnya. upaya-upaya ini diharapkan dapat mendongkrak status kesiapan teknologi Indonesia. Peran lembaga intermediasi diharapkan dapat mengakselerasi proses adopsi teknologi tersebut. terutama pendidikan tinggi dan kejuruan.menjadi lebih murah untuk sarana berkomunikasi antara personel maupun lembaga. Dengan demikian. Berdasarkan survei WEF tersebut. Oleh sebab itu. Lembaga intermediasi diharapkan menjadi gerbang untuk partisipasi lembaga pengguna teknologi. I-STP menjadi saluran efektif bagi teknologi untuk memberikan kontribusi 111 Naskah Akademik Perubahan UU No. Upaya membangun I-STP ini sudah mulai digarap. 18 Tahun 2002 . yakni Business Technology Center (BTC) dan Business Innovation Center (BIC). Aset pengetahuan (stock of knowledge) yang secara kolektif telah terakumulasi pada komunitas pengembang teknologi di kawasan Puspiptek Serpong perlu dikelola dan ‘dipasarkan’. Indonesia merencanakan untuk membangun Indonesian STP. Upaya ini diharapkan akan meningkatkan relevansi teknologi yang dikembangkan (karena semakin memahami kebutuhan pengguna) dan sekaligus meningkatkan kapasitas adopsi pengguna (karena peningkatan kapasitas SDM-nya dalam mengenali dan mengaplikasikan teknologi). dilaporkan bahwa kapasitas pengembangan teknologi ini ternyata belum diimbangi dengan kesiapan pengguna teknologi untuk mengadopsinya. Pembangunan I-STP (melalui revitalisasi Puspiptek Serpong) merupakan salah satu upaya untuk menyediakan wahana untuk meningkatan frekuensi dan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Wahana I-STP diproyeksikan akan menjadi model SINas dalam rangka membangun ekonomi Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge based economy (KBE). Dinamika interaksi pengembang-intermediator-pengguna teknologi yang intensif dan produktif akan dengan sendirinya ‘mengundang’ partisipasi lembaga-lembaga penunjang lainnya. Kapasitas lembaga pengembang teknologi Indonesia sesungguhnya cukup baik. terutama industri-industri berbasis teknologi (Gambar 12). Kemampuan inovasi Indonesia ini sudah setara dengan negara-negara yang perekonomiannya sudah berbasis inovasi. tetapi juga merupakan akibat dari teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan lembaga pengguna tersebut. termasuk lembaga keuangan dan lembaga pendidikan. terbukti dengan posisi indeks inovasi Indonesia dalam peringkat World Economic Forum (WEF) tahun 2010 yang berada pada posisi ke 36. yang disingkat sebagai I-STP. terbukti dengan peringkat kesiapan teknologi (technological readiness) yang masih relatif rendah. Untuk tujuan ini. Kementerian Riset dan Teknologi perlu merevitalisasi lembaga-lembaga intermedia yang sudah terbentuk. banyak negara membangun Science and Technology Park (STP) sebagai wahana untuk mendekatkan secara fisik antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi. yakni pada peringkat ke 91.

lembaga litbang.1. maupun badan usaha. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. dilengkapi dengan lembaga dan fasilitas pendukungnya yang sepadan. pertumbuhan. dan interaksi antara perguruan tinggi. seperti kawasan iptek. tetapi juga digunakan di dunia bisnis maupun bidang-bidang lainnya. Untuk kondisi Indonesia. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 . pemerintah maupun swasta dapat mengembangkan sarana dan prasarana iptek. Membangun Pusat Unggulan Inovasi Pusat Unggulan merupakan padanan kata untuk Center of Excellence yang sudah sangat dikenal dan digunakan tidak hanya dalam bidang iptek. yang jika dibangun bersama rakyat. Menghadirkan lembaga pendidikan tinggi. Definisi umum tentang Pusat Unggulan adalah: ‘an organization which is 112 Naskah Akademik Perubahan UU No. maka akan diyakini mampu menyejahterakan rakyat sebagaimana yang amanahkan oleh konstitusi. Gambar 12. akan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan inovasi mandiri yang dapat menjadi model SINas Indonesia yang membanggakan. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. Kawasan ini diharapkan dapat memfasilitasi sinergi.6. sebagai kawasan iptek sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. Metamorfosis Puspiptek Menjadi I-STP Menurut UU No. serta pusat peragaan iptek untuk dapat menumbuhkan budaya iptek. politeknik. kawasan Puspiptek Serpong. 5. Gabungan dua kawasan ini akan membentuk Innovation Park (STP+IP = InnoPark). dan sekolah menengah kejuruan di kawasan ‘InnoPark’ ini.nyata terhadap peningkatan ekonomi nasional.

kebijakan nasional. Pengembangan Pusat Unggulan Inovasi yang Konsisten dengan Amanah Konstitusi 113 Naskah Akademik Perubahan UU No. sesuai dengan kondisi awal dan sasaran yang ingin dicapai. dan program Kementerian Riset dan Teknologi (Gambar 13). Tersirat dalam definisi ini adalah: [1] keberhasilan dan reputasi tersebut bersifat relatif (dibandingkan dengan lembaga-lembaga serupa di bidang tertentu). Penciri lain yang digunakan untuk mendeskripsikan pusat unggulan adalah: ‘a place where there are very high standards of work’. tepat jika disebut sebagai Pusat Unggulan Inovasi atau Center of Excellence on Innovation. yakni dengan format pengembangan lembaga tunggal tapi dengan memperkaya tugas dan fungsinya. Pusat Unggulan harus dikenal oleh komunitasnya. dimana [3] bidang keunggulan tersebut bersifat terbuka untuk kompetensi atau spesifikasi fungsi tertentu. sebuat pusat unggulan harus menetapkan standar kinerja yang sangat tinggi. atau dengan membentuk konsorsium yang terdiri dari paling tidak lembaga pengembang dan pengguna teknologi (Gambar 14). Dalam konteks pilihan ini. Oleh sebab itu. Untuk mencapai standar ini. Dengan demikian. Maknanya. dianggap berhasil dan mempunyai reputasi yang sangat baik di bidangnya. dan [2] keunggulan tersebut khusus pada bidangnya. maka sangat tepat jika Pusat Unggulan yang difasilitasi perkembangannya oleh Kementerian Riset dan Teknologi adalah keunggulan dalam membangun sistem inovasi. kebijakan sektoral. Gambar 13. 18 Tahun 2002 . dalam melaksanakan fungsinya. sehingga dapat secara nyata mampu mewujudkan sistem inovasi. Pusat unggulan yang akan didorong untuk tumbuh dan berkembang adalah lembaga atau konsorsium yang konsisten dengan amanah konstitusi. maka ada dua opsi dalam membangun pusat unggulan inovasi.recognized as being successful and having an excellent reputation in its field’ .

Tentu dengan memperhatikan tugas dan fungsi lembaganya masing-masing. dan regulator sewajarnya akan semakin berkurang jika komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi dalam wadah konsorsium ini telah berlangsung secara intensif dan produktif.Gambar 14. karena ini merupakan dasar komitmen bersama yang penting 114 Naskah Akademik Perubahan UU No. Setiap konsorsium yang dibentuk mempunyai tujuan bersama yang jelas. Secara umum terdapat tiga asas penting dalam membangun konsorsium. 18 Tahun 2002 . antara lain berupa konsorsium.1.7. Peran pemerintah sebagai fasilitator. [2] hubungan yang dibangun harus bersifat mutualistik sebagai modal dasar untuk memotivasi semua anggota untuk memperjuangkan kepentingan bersama. yakni: [1] mempunyai kepentingan atau tujuan bersama (shared goal atau core issue) yang jelas dan disepakati oleh semua anggota. Pilihan Alternatif Organisasi Pusat Unggulan Inovasi 5. Mendorong Pembentukan Konsorsium Inovasi Interaksi dan komunikasi antara pengembang dan pengguna teknologi menjadi lebih baik apabila ada wahana untuk berinteraksi. karena ini yang menjadi komitmen awal dan mendasar bagi setiap lembaga untuk memutuskan apakah akan ikut bergabung dalam konsorsium tersebut atau tidak. Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya diharapkan berperan aktif dalam membentuk konsorsium ini. terutama pada fase inisiasinya. dan [3] semua anggota sepakat untuk sharing sumberdaya sepadan dengan fungsi dan kapasitasnya masing-masing. Tujuan bersama dimaksud perlu disepakati dari awal pembentukan konsorsium. dan benefits yang diharapkan dapat diperoleh dengan bergabung dalam konsorsium tersebut. kapasitas lembaga sebagai bentuk share yang dapat dikontribusikan. intermediator.

semua lembaga yang relevan dapat bergabung dalam konsorsium atas persetujuan inisiator dan semua anggota yang telah bergabung (existing members). anggota konsorsium minimal dua lembaga. efisien. dan pembiayaan) dapat dilakukan secara lebih efisien dan juga untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Namun jumlah anggota yang pas tentu tergantung dengan tujuan bersama yang ingin dicapai. dan taat hukum. Kesepakatan ini sangat penting karena tujuan bersama tersebut mungkin baru akan dicapai dalam jangka menengah atau panjang. dimana. agar sifat mutualistik ini selalu terpelihara. setiap konsorsium harus ada anggota yang disepakati sebagai koordinator. Disamping itu. 115 Naskah Akademik Perubahan UU No. sarana dan prasarana. atau [2] dilakukan secara tertutup dan bersifat statis. serta kewajibannya (Gambar 15). Keterjaminan sifat mutualistik tersebut akan memotivasi semua anggota untuk memberikan kemampuannya yang terbaik dan ikut berusaha keras untuk mencapai tujuan bersama. dimana anggota disepakati dari awal dan tidak berubah sampai tujuan bersama dicapai. yakni: [1] dilakukan secara terbuka dan dinamis. sebaliknya jumlah anggota yang terlalu banyak juga dapat menyebabkan ketidak-efisienan dalam pelaksanaan pekerjaan. Salah satu alasan pembentukan konsorsium adalah agar penggunaan sumberdaya (manusia. efektif. Oleh sebab itu. semua anggota diposisikan secara sejajar. budaya sharing perlu dibangun. Konsorsium merupakan sarana bersama dan bukan tujuan akhir bagi para pihak yang terlibat sebagai anggotanya. Oleh sebab itu. Sedangkan jumlah anggota yang terlalu sedikit mengandung risiko akan kekurangan kapasitas dan kompetensi untuk mencapai tujuan. 18 Tahun 2002 . Sinergi fungsional merupakan asas yang menjiwai tata kerja organisasi konsorsium. Ada dua opsi dalam menghimpun anggota konsorsium. walaupun mungkin butuh waktu yang relatif lama untuk mencapai tujuan bersama. Secara formal. Hubungan antar-anggota konsorsium harus bersifat mutualistik. Dalam konteks ini. pola hubungan antar-anggota yang bersifat horizontal akan lebih dominan. atau malah berpotensi kontra-produktif dan dapat saja ada free rider yang kontribusinya tidak signifikan terhadap kinerja konsorsium. akuntabel. sama kedudukan. karena ia menjadi jiwa dari sebuah konsorsium. Lebih bagus jika ditambah satu lembaga lagi yang menjadi representasi unsur pemerintah. hak. juga perlu masuk dalam formula untuk penetapan jumlah anggota yang ideal. maka konsorsium harus dikelola secara profesional berlandaskan asas-asas good governance. Kapasitas dan jenis kompetensi lembaga yang dibutuhkan. Dalam konteks sistem inovasi. serta juga dipengaruhi oleh beban kegiatan dan target waktu untuk pencapaian tujuan dimaksud. namun konsorsium pada hakikinya bersifat tidak-permanen. Setiap konsorsium tentu memiliki beberapa anggota.untuk kelangsungan eksistensi konsorsium. maka paling tidak satu lembaga mewakili pengembang teknologi dan lembaga lainnya mewakili pengguna teknologi. Konsorsium lebih berorientasi fungsional dan terfokus pada upaya mencapai tujuan bersama yang disepakati sejak awal pembentukannya. yakni saling menguntungkan. Oleh sebab itu. terutama harus transparan.

[2] sinergi anggota mampu membangun kapasitas kolektif yang cukup (adequate collective capacity) untuk mencapai tujuan/sasaran bersama. 18 Tahun 2002 Keberhasilan suatu konsorsium ditentukan beberapa faktor. Model Konsorsium Inovasi (Lakitan. yaitu: [1] mempunyai tujuan/sasaran bersama yang jelas dan disepakati semua anggota (clear shared goal) serta sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan publik (demand-driven). terutama pada fase awal. [3] mempunyai strategi pelaksanaan yang tepat dan implementatif (implementable strategy). 2011b) 116 Naskah Akademik Perubahan UU No. [4] dikoordinir oleh figur kepemimpinan yang kuat (strong leadership) . .Gambar 15. dan [5] secara konsisten dikelola berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance)(Gambar 16).

Konsorsium. perlu menyusun strategi operasional yang terencana dengan baik. dengan pentahapan yang logis. serta berbasis pada kapasitas kolektif yang dimiliki. akan mudah terancam bubar. sehingga mampu menjalankan misinya dengan lebih baik dan komprehensif. sehingga dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien. Keberlanjutan integrasi dan viabilitas dari sebuah konsorsium selain bertumpu pada tujuan bersama yang jelas. pendekatan konsorsium juga direkomendasikan oleh Malherbe dan Stanway (2010) sebagai bentuk kolaborasi yang tepat. Akan tetapi anggota suatu konsorsium dapat saja juga menjadi anggota konsorsium lain dengan tujuan/sasaran yang berbeda. Target ini dapat saja terdiri dari beberapa sub-target. tetapi secara kolektif sebuah konsorsium harus punya kemandirian untuk mencapai tujuan bersama. Konsorsium memang bertumpu pada inter-dependensi antar-anggota. . 2011b) Sejalan dengan ini. seperti berbagai bentuk kolaborasi yang lainnya. Kunci Sukses Konsorsium (Lakitan. jika anggotanya mempunyai kompetensi inti yang beragam. Jika ada dua atau lebih anggota konsorsium dengan jenis kompetensi yang sama. tetapi semua sub-target tersebut harus berada dalam lingkup payung target utamanya atau berada dalam satu klaster. Sebaiknya suatu konsorsium terbangun dari anggota dengan ‘core business’ yang berbeda atau mempunyai jenis kompetensi yang berbeda. sistematis. 18 Tahun 2002 Tujuan dan target/sasaran bersama merupakan perekat utama antar-anggota dari sebuah konsorsium.Gambar 16. tetapi bersifat komplementatif satu dengan yang lainnya. pola 117 Naskah Akademik Perubahan UU No. apalagi multi-tujuan. Konsorsium dengan multi-sasaran. sehingga dapat membangun sinergi yang secara kolektif akan menghasilkan konsorsium dengan kapasitas lebih besar dan dengan ragam kompetensi yang lebih banyak. maka sangat mungkin terjadi ‘sibling rivalry’ antar-anggota tersebut.

tidak cukup kuat faktor pendorong bagi anggota untuk berinteraksi secara lebih intensif. Apabila kompetensi anggotanya sama. Dengan demikian. serta biaya dalam upaya mencapai tujuan. Dalam konteks ini. Kompetensi lembaga yang beragam sebagai anggota konsorsium juga membuka peluang untuk membangun kapasitas kolektif yang lebih besar dan komprehensif. akan lebih mampu untuk mengeksekusi aktivitas dengan lingkup yang lebih luas dan/atau tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. [3] meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi yang menjadi modal dasar untuk mewujudkan/memperkuat sistem inovasi. tetapi hanya akan merupakan proses scale-up (memperbesar volume output) saja. [2] membuka peluang untuk mendapatkan capaian yang lebih besar/signifikan. konsorsium memang dirancang untuk menjawab tantangan yang lebih berat. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya akan lebih maksimal jika konsorsium terdiri dari anggotaanggota dengan kompetensi yang beragam dan bersifat komplementer. dan mungkin hanya dapat diselesaikan melalui paket solusi multi-dimensi yang komprehensif. setiap pemimpin memiliki style of leadership masing-masing. sarana dan prasarana. Namun demikian.hubungan antar-anggota yang bersifat mutualistik. tentu akan perlu dilakukan pergantian pemimpin. sebaliknya akan sedikit dampaknya jika kompetensi anggota relatif homogen. peran figur yang kuat akan sangat krusial dalam rangka membangun ‘chemistry’ yang harmonis antar-anggota dengan keragaman latar belakang kompetensi dan budaya kerja. maka secara langsung juga akan penting kontribusinya dalam mengakselerasi upaya membangun 118 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pergantian ini seharusnya tidak mempengaruhi kinerja konsorsium secara drastis. yang sangat mungkin akan berbeda satu sama lain. Dalam jangka panjang. atau lebih tepatnya koordinator konsorsium. pada dasarnya merupakan bentuk ‘miniatur’ dari sistem inovasi. jika terdapat anggotanya yang mewakili komunitas pengembang teknologi dan juga ada yang mewakili komunitas pengguna teknologi. maka yang terjadi bukan sinergi fungsional yang mutualistik. juga sangat membutuhkan figur pemimpin yang kuat dan secara de facto mampu mengelola konsorsium secara bijak. yang tidak mungkin dicapai masing-masing anggota secara individual. Apabila proses komunikasi dan interaksi antar aktor inovasi yang bernaung dalam suatu konsorsium berfungsi sebagai ekosistem kondusif ini dapat dipertahankan selama kurun waktu yang lama. Konsorsium sebagai wadah komunikasi dan interaksi antar-lembaga yang menjadi anggotanya. konsorsium dapat dipandang sebagai mikro-ekosistem yang kondusif untuk mengalirkan informasi kebutuhan dari pengguna ke pengembang teknologi dan sebaliknya aliran paket teknologi dari pengembang ke pengguna teknologi. Sebagai langkah antisipasi maka perlu disiapkan stabilisator yang ampuh. Selain itu. 18 Tahun 2002 . Selayaknya. Pada fase awal terbentuknya konsorsium. yakni berupa peraturan internal tentang tata kelola yang disepakati semua anggota. karena tidak ada rasa saling membutuhkan yang kuat apabila kompetensi anggota konsorsiumnya sama. yang butuh kontribusi dari berbagai kompetensi. Tata kelola yang baik tentu harus dibangun berbasis pada prinsipprinsip good governance. Konsorsium dapat memberikan manfaat antara lain: [1] meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya manusia.

maupun lembaga pemerintah non-kementerian yang melaksanakan kegiatan riset. baik perguruan tinggi maupun lembaga litbang kementerian. juga diarahkan agar aktor-aktor utama dari sektor pembangunan (yang sesuai dengan pembagian komisi teknis DRN) dapat lebih efektif berperan. dan difokuskan pada upaya restrukturisasi dan penyesuaian komposisi keanggotaan. Namun demikian.1. masing-masing komisi teknis juga perlu memperhatikan cross-cutting issues. ARN pada saat ini belum secara penuh diacu oleh lembaga-lembaga riset. serta dengan terus mendukung pengembangan sains dasar dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Selain itu. revitalisasi DRN perlu dilakukan dalam dua fase. 119 Naskah Akademik Perubahan UU No. Revitalisasi Dewan Riset Nasional Dewan Riset Nasional (DRN) merupakan lembaga non-struktural yang berfungsi memberikan masukan kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi terutama dalam menetapkan Agenda Riset Nasional (ARN).budaya inovasi.8. Pada Fase Pertama. termasuk kemungkinan reposisi organisasi DRN untuk langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Untuk meningkatkan peran dan kontribusi DRN tersebut. Budaya inovasi nasional tidak dapat dibangun secara instan. Matrik bidang dan kompetensi anggota DRN yang diusulkan disajikan pada Tabel 8. dan mengurangi kemiskinan (pro-poor technology). Proses panjang ini harus diawali dengan membangun budaya inovasi pada jenjang yang paling mikro. Sedangkan penyesuaian komposisi anggota selain untuk menyeimbangkan antara perwakilan dari komunitas pengembang dengan pengguna teknologi. terutama yang terkait langsung dengan tujuh bidang fokus pembangunan. ARN diharapkan menjadi petunjuk pelaksanaan arah dan prioritas kegiatan riset secara nasional. maka perlu dilakukan revitalisasi lembaga DRN. 18 Tahun 2002 . yakni pada lingkup sebuah konsorsium. restrukturisasi lebih terarah pada upaya penyesuaian pembagian Komisi Teknis agar dapat mengakomodir perkembangan dan prioritas bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. namun demikian pada masing-masing komisi teknis tersebut perlu didukung oleh anggota-anggota yang akan mendalami tentang lima unsur strategis untuk penguatan inovasi nasional. Secara realistis. yang memerlukan revisi peraturan perundang-undangan. Komisi Teknis DRN mengikuti tujuh bidang fokus prioritas pembangunan iptek sesuai dengan RPJPN 2005-2025. Saat ini DRN memiliki kewenangan yang terbatas dan dukungan sumberdaya yang juga belum memadai. teknologi berwawasan ekologis (green technology). Fase Kedua diawali dengan penyesuaian produk regulasi untuk landasan bagi pembentukan DRN dengan tugas pokok dan fungsi yang lebih vital (revitalized DRN). 5. Revitalisasi dilakukan berbasis pada peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku dengan tanpa memerlukan revisi produk legislasi yang ada. yakni Fase Pertama dilakukan segera selama periode 2009-2011 untuk diimplementasikan pada periode tugas selanjutnya (2012-2014). sehingga peran dan kontribusi DRN secara nyata dalam pembangunan iptek masih belum optimal. tetapi akan melalui proses panjang. pengembangan industri. difokuskan pada upaya membentuk DRN dengan peran yang lebih signifikan dan proyeksi kontribusi yang lebih nyata terhadap pembangunan iptek. termasuk upaya meningkatkan kapasitas teknologi untuk pengelolaan sumberdaya kemaritiman.

industri besar.  Anggota yang mewakili pihak yang memahami kebutuhan riset dan teknologi sesuai skenario penguatan inovasi nasional yang berorientasi demand-driven. yakni dari lembaga riset pemerintah. yakni para pelaku produksi barang/jasa baik dari unsur masyarakat. . serta pengguna teknologi untuk tujuan nonkomersial lainnya. dengan formula sebagai berikut: Jumlah anggota DRN = 1 Ketua + 7 Komtek [ 5 Isu SINas + 2 Unsur Penguat ] Formula keanggotaan DRN ini dapat dirinci sebagai berikut:  Satu orang ketua yang lebih fokus sebagai pimpinan puncak yang tidak perlu terlibat langsung dalam kegiatan teknis pada tingkat komisi. yang sekaligus dapat ditetapkan sebagai Ketua Komisi Teknis. asosiasi industri untuk komisi teknis transportasi.Anggota DRN yang diangkat berjumlah 50 orang. asosiasi industri. dan lembaga pemerintah pengguna teknologi. Tabel 8. sehingga ketua ini dapat dipilih dari ‘prominent figure’ yang dengan ketokohannya dapat meningkatkan kewibawaan lembaga DRN dan sekaligus dapat memimpin anggota DRN secara efektif agar dapat berkinerja dengan baik. 18 Tahun 2002  Anggota yang harus mengawal relevansi teknologi sudah sepatutnya berasal dari komunitas pengembang teknologi. KOMISI TEKNIS PENGUATAN SINAS 120 Naskah Akademik Perubahan UU No.  Anggota yang diyakini akan memahami kapasitas adopsi pengguna teknologi adalah para pengguna teknologi itu sendiri. dan kementerian hankam untuk komisi teknis pertahanan dan keamanan. dan pengguna langsung teknologi hankam (TNI dan Polri). Misalnya dari wakil asosiasi petani untuk komisi teknis pangan. industri kreatif. industri kecil dan menengah. dan perguruan tinggi. sepatutnya dipilih dari unsur komunitas masyarakat. Pembagian komisi teknis DRN dan kompetensi anggotanya terkait upaya penguatan SINas. lembaga riset swasta/industri.  Anggota yang mewakili unsur regulator dan pembuat kebijakan publik dapat ditunjuk dari para Kepala Badan Litbang Kementerian Teknis terkait sesuai dengan bidang fokus masing-masing.

pendidikan nasional. revitalisasi diharapkan mampu memposisikan DRN untuk melaksanakan tugas pokok yang mencakup: [a] membangun basis data iptek yang akurat dan komprehensif. sehingga sangat penting keterwakilannya dalam lembaga DRN. sedangkan  Anggota DRN yang mewakili DRD Provinsi (ex officio) tidak harus dimasukkan secara tetap dalam komisi teknis. termasuk perwakilan dari kementerian terkait. peternak. ekonomi. nelayan. dan lembaga intermediasi non-pemerintah.  Dua anggota untuk penguat ditentukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing komisi teknis. dan pembudidaya ikan karena belum mengintegrasikan pemahaman dimensi sosial. yakni kementerian keuangan. [b] membangun kemampuan/kapasitas dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan teknologi di dalam negeri dan sekaligus juga menyediakan sistem 121 Naskah Akademik Perubahan UU No.Relevansi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kapasitas Adopsi Pengguna Teknologi Intermediasi & Penunjang Sistem Inovasi Regulasi dan Kebijakan Publik Kebutuhan Riset dan Teknologi Teknologi Pangan Teknologi Energi Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Transportasi Teknologi Pertahanan dan Keamanan Teknologi Kesehatan Teknologi Material Maju  Anggota yang mewakili lembaga intermediasi dan lembaga penunjang lainnya juga diyakini sangat krusial perannya untuk peningkatan kinerja DRN. misalnya komisi teknis pangan dapat menambah satu anggota dari pakar kemaritiman untuk mendukung isu strategis pembangunan ketahanan pangan dan satu anggota dari pakar ilmu sosial karena berdasarkan realita. serta jejaring lembaga iptek yang mantap dalam rangka menjamin pemutakhiran data iptek yang berkesinambungan. Pada Fase Kedua. perencanaan pembangunan nasional/Bappenas. perindustrian. tetapi sangat perlu terlibat secara langsung dalam pembahasan pada tingkat pleno sebagai penyampai aspirasi daerah yang diwakilinya. dan kultural dalam pengembangan teknologi tersebut. banyak teknologi pangan yang tidak diadopsi petani. 18 Tahun 2002 .

5. Walaupun banyak ragam terminologi yang digunakan.informasi perkembangan dan ketersediaan teknologi nasional. Apabila UU No. Produk perundang-undangan yang menjadi basis legal untuk pengembangan SINas di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 (UU No. 18/2002. Pengembangan. dan [d] membantu mengawal investasi pemerintah untuk pembangunan iptek. Selain itu. 35/2007 ini adalah memberikan kesempatan bagi badan usaha untuk mengalokasikan dana dalam rangka mendukung kegiatan inovasi nasional. badan usaha tersebut 122 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lampiran 1). sangat mungkin upaya untuk melengkapi undang-undang terkait dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih sesuai. 18/2002 akan digunakan sebagai landasan legal utama untuk membangun inovasi nasional. namun esensinya sama. agar secara konsisten fokus pada prioritas yang telah ditetapkan.1. 18/2002 ini disusun dalam nuansa pengembangan iptek yang masih sangat dominan bersifat supply-push. sangat diperlukan upaya untuk menerbitkan regulasi baru atau sinkronisasi produk perundang-undangan yang telah ada dengan langkah aksi penguatan inovasi nasional yang akan ditempuh. Inovasi. atau dapat juga dilakukan amandemen/revisi terhadap produk hukum yang ada agar lebih sesuai dan/atau lengkap. dan Difusi Teknologi (Lampiran 2). kecenderungan global saat ini juga secara kentara telah menggeser orientasi pengembangan teknologi dari yang bersifat supply-push menjadi demand-driven. Sebagai kompensasinya. 18/2002 ini masih belum sepenuhnya selaras dengan orientasi pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. 18/2002) tentang Sistem Nasional Penelitian. UU No. 18 Tahun 2002 . agar semua regulasi yang diharapkan dapat diimplementasikan secara utuh. oleh sebab itu secara umum UU No. maka diperlukan upaya revisi atau melakukan amandemen terhadap undang-undang ini agar lebih selaras dengan upaya penguatan inovasi nasional yang lebih bersifat demand-driven. Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi Semua aksi yang akan dilakukan dalam rangka mewujudkan penguatan inovasi nasional memerlukan dukungan regulasi dan/atau kebijakan yang tepat dan menyeluruh. Peraturan perundang-undangan yang dilengkapi dengan pedoman teknis pelaksanaannya.9. Selanjutnya. 35/2007) tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. khususnya Pasal 28 ayat (3). Substansi pokok dari PP No. untuk melaksanakan ketentuan UU No. Beberapa pemahaman dasar terkait upaya penguatan inovasi dirasakan masih perlu disinkronisasikan ulang. Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas ini. diperlukan penyesuaian kembali produk-produk regulasi agar ekosistem yang kondisif bisa terbangun dan reposisi organisasi DRN dalam tata organisasi pemerintah. [c] membangun kapasitas dan kewenangan untuk menetapkan prioritas riset nasional sesuai dengan kebutuhan ( demanddriven) dan berbasis potensi sumberdaya nasional. telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 (PP No. Secara operasional. Oleh sebab itu. yakni pengembangan teknologi harus lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang tengah dihadapi.

Agar insentif bagi pelaku bisnis/industri untuk lebih terlibat dalam pembiayaan kegiatan riset dapat terlaksana. 35/2007 ini dapat diimplementasikan adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur pedoman teknis untuk pemberian insentif tersebut. Upaya percepatan dan perluasan pembangunan dilakukan melalui penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi. Kementerian Riset dan Teknologi telah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. dampaknya kegiatan produksi barang dan jasa juga akan meningkat dan penerimaan pajak juga akan ikut meningkat. sesuai Pasal 7 ayat (1) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. Selanjutnya pada ayat (2). yakni belum adanya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan yang mengakomodisasi pemberian insentif sebagaimana diamanahkan dalam Pasal 6 ayat (2) PP No. Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) telah mengagendakan untuk meninjau ulang peraturan perundang-undangan yang menjadi bottleneck pembangunan perekonomian Indonesia. Dengan dikeluarkannya peraturan ini. keberhasilan implementasi MP3EI antara lain ditentukan adanya penguatan inovasi di sektor usaha. Walaupun PP No. dan difusi teknologi. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan. sekaligus peningkatan kemampuan perekayasaan. menuju innovation-driven economy. 35/2007 dengan peraturan di bidang perpajakan dan kepabeanan. Arah yang akan ditempuh agar PP No. dinyatakan bahwa badan usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. 35/2007 tersebut.mendapatkan insentif untuk mendukung kegiatan bisnisnya. 123 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. 35/2007 ini. Pasal 6 ayat (3) PP No. termasuk diantaranya implementasi PP No. Hal ini disebabkan adanya ganjalan untuk implementasinya. terutama antara PP No. diharapkan akan mendorong kolaborasi riset. 18 Tahun 2002 . perlu dilakukan sinkronisasi dari sisi legal formal pendukungnya. 35 Tahun 2007 sejalan dengan Perpres No. maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan. inovasi. 35/2007 ini sangat ‘favorable’ bagi upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. 35/2007. Secara jelas pada Pasal 6 ayat (1) PP No. Bantuan teknis ini. namun pelaksanaan peraturan ini sampai sekarang belum optimal. proses. 35/2007 menyatakan bahwa besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. mengingat jika penguatan inovasi nasional dapat berlangsung secara produktif. Secara garis besar PP No. dinyatakan bahwa insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. Oleh karena itu. Kekhawatiran yang berlebihan tentang kemungkinan penurunan penerimaan pendapatan pemerintah dari pajak dan kepabeanan akibat pemberlakuan kebijakan ini perlu dihilangkan. kepabeanan. Sebagai pelaksanaan dari pasal ini. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). inovasi.

Sumbangan dapat diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang (Pasal 5 ayat 1). 93/2010 ini mengatur bahwa sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak. Sumbangan Pembinaan Olahraga. baik karena teknologi yang dihasilkan oleh pengembang menjadi lebih relevan (karena pengembang menjadi lebih . 93/2010 lebih berpeluang untuk diimplementasikan dibandingkan dengan PP No. Secara teknis dan psikologis. Meskipun sumbangan ini ditujukan untuk kegiatan litbang. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. Upaya pemberian insentif kepada pihak pengguna teknologi (terutama industri) sekarang mempunyai landasan hukum lain yang baru. 93/2010. PP No. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan (Pasal 1 butir b).Namun demikian dalam pelaksanaannya. Lampiran 3). Interaksi yang lebih intensif diyakini akan berpengaruh langsung dan positif terhadap proses adopsi teknologi. 18 Tahun 2002 PP No. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. dengan lembaga pengembang teknologi yang mendukung kebutuhan teknologi untuk industri. namun setidaknya akan mencakup juga upaya untuk peningkatan kapasitas perekayasaan. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. diperlukan dukungan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur kriteria teknis dan tata kelola dalam pemberian insentif riset di badan usaha. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Saat ini telah dikeluarkan Peraturan Menteri Riset dan Teknologi No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan sebagai pelaksanaan Pasal 7 ayat (3) PP No. 35 Tahun 2007. termasuk sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. berbeda dengan PP No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. 93/2010 merupakan turunan langsung dari UU No. 124 Naskah Akademik Perubahan UU No. karena PP No. inovasi dan difusi teknologi. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 35/2007 yang merupakan turunan UU No. Adanya PP No. Selain itu untuk memperkuat insentif non fiskal. sebagaimana kebijakan pemberian fasilitas insentif kepada badan usaha tentunya dapat lebih mendorong kegiatan litbang di badan usaha. diperlukan dukungan terutama dari lembaga litbang yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian untuk implementasi insentif bantuan teknis litbang. yakni Peraturan Pemerintah No. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (selanjutnya disingkat PP No. 35/2007. terutama industri. Besarnya nilai sumbangan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya (Pasal 3). Sumbangan Penelitian Dan Pengembangan. Dukungan regulasi ini diharapkan akan mengintensifkan interaksi dan komunikasi antara lembaga pengguna. Pengembangan.

memahami kebutuhan), juga karena peningkatan kapasitas adopsi dari pihak pengguna (karena meningkatkan pemahaman pengguna atas teknologi yang ditawarkan). Insentif non-finansial untuk mendorong kegiatan riset dalam negeri juga telah dilakukan, antara lain melalui Peraturan Menteri Perindustrian No. 11/M-IND/PER/3/2006 tentang kebijakan penetapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP). Selain itu, dengan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan, badan usaha dimungkinkan mendapatkan akses kapasitas litbang melalui penempatan tenaga ahli atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga litbang pemerintah. Regulasi dan kebijakan pemerintah diperlukan untuk mengawal implementasi penguatan inovasi dapat berjalan konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat; [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya, proporsional kontribusinya, dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya; dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam pengembangan dan implementasi SINas. Bentuk kebijakan pemerintah yang lain adalah untuk mendukung kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan, tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi, bukan atas usulan pihak pengguna. Dalam beberapa kasus, industri hanya pada posisi memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak harus dalam bentuk pembiayaan bersama, tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Akan tetapi yang selalu perlu diperhatikan adalah apapun bentuk atau format riset kolaborasi tersebut, ia akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti memang merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat, bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. Memahami bahwa keberhasilan perkuatan inovasi tidak hanya tergantung pada kinerja masingmasing aktor inovasi (lembaga pengembang dan pengguna teknologi, serta lembaga intermediasi), tetapi juga sangat tergantung pada berbagai pihak yang ikut mewujudkan ekosistem inovasi yang lebih kondusif, maka pengembangan legislasi sebagai bagian penting dari ekosistem SINas perlu mendapat perhatian serius. Perlu dilakukan telaah secara cermat terhadap semua produk hukum yang terkait dengan upaya penguatan inovasi, baik langsung maupun tidak langsung. Identifikasi untuk hal-hal yang perlu disinkronisasi, direvisi, atau bahkan perlu dicabut, serta untuk hal-hal yang masih perlu pengaturan secara legal formal.

125

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

5.1.10. Berbasis Sumberdaya dan Memenuhi Kebutuhan Nasional Untuk mewujudkan SINas Indonesia yang ‘workable’, harus secara seksama mempertimbangkan potensi sumberdaya nasional, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan infrastruktur ekonomi dan sosial, kemampuan permodalan domestik (plus modal asing secara selektif), dan kapasitas pengembangan teknologi saat ini. Selain itu juga perlu diselaraskan dengan peraturan perudang-undangan yang berlaku, kebijakan publik, budaya kerja, keragaman sosio kultural dan tradisi, serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia lainnya.28 Pilihan landasan sumberdaya dan budaya sendiri dalam membangun inovasi nasional akan membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berpartisipasi aktif. Perlu dipahami bahwa upaya memajukan bangsa tidak dapat dilakukan dengan memilih jalan pintas, dengan mengabaikan pentingnya fondasi yang kokoh agar pengembangan dan keberlanjutan inovasi lebih terjamin. Pembangunan nasional tidak hanya dilakukan untuk rakyat tetapi juga harus dilakukan bersama rakyat. Indonesia sering dikategorikan sebagai negara yang sangat kaya akan sumberdaya alamnya. Provokasi ini menyebabkan Indonesia terlalu mengandalkan kekayaan sumberdaya alam tersebut sebagai modal utama pembangunan nasional, seolah sumberdaya alam tersebut akan selalu tersedia selamanya. Eksploitasi sumberdaya alam yang tidak terkelola secara bijak dibarengi dengan pembangunan yang tidak terprogram dengan baik, telah membawa Indonesia pada kondisi saat ini: tetap menjadi negara berkembang dengan penguasaan dan penerapan teknologi yang terbatas. Indonesia terkena fenomena ‘resource curse’29 dimana kemajuan pembangunannya tak sebanding dengan nilai eksploitasi sumberdaya alamnya. Pengelolaan sumberdaya alam yang bijak bukan hanya terbatas pada penggunaan dana hasil eksploitasi yang diarahkan untuk peningkatan kualitas layanan publik dan investasi untuk infrastruktur sosial, tetapi juga perlu diarahkan untuk mendukung pengembangan teknologi yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produktivitas industri barang dan/atau jasa, sehingga memberikan nilai tambah bagi setiap produk nasional. Produk ekspor Indonesia tidak boleh selamanya dibiarkan hanya dalam bentuk komoditas bahan baku industri atau hanya sampai produk setengah-jadi (intermediate products). Produk ekspor Indonesia harus secara maksimal diupayakan sudah dalam bentuk akhir yang dibutuhkan konsumen (consumer goods). Indonesia adalah negara maritim, tak ada yang bisa memungkiri kenyataan ini. Telah sering didengungkan bahwa Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas. Berdasarkan Deklarasi Juanda 1957, wilayah laut NKRI adalah sekitar 3 juta kilometer persegi. Setelah diterimanya
28

29

Sebagai bandingan, negara maju seperti Jepang juga membangun SINas-nya di atas landasan ‘environment, culture, tradition, and national character’ bangsanya sendiri. Hasil kajian Komarulzaman dan Alisjahbana (2008) untuk kasus Indonesia menunjukkan bahwa “There appears to be resource curse when we estimate the resource rent in its three components. Forest, oil and gas sector rent have positive effect on regional economic growth. But the resource curse may occur if these resources revenues are not invested properly in public sector, either for the provision of public services or in public investment. Meanwhile, mining sector has persistently negative effect on regional economic growth. The existence of this curse will be lessened if the mining sector rent revenues are reinvested in public sector investment.”

126

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, wilayah laut NKRI bertambah luasnya dua kali lipat, menjadi sekitar 6 juta kilometer persegi. Hal yang perlu digarisbawahi, berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia mendapatkan hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil dari garis pangkal lurus Nusantara atau sampai ke batas ‘continental margin’ jika masih ada kelanjutan alamiah pulau-pulau Indonesia di dasar samudera. Masalah pokoknya, apakah setelah berhasil mengklaim teritori wilayah laut ini kita telah melakukan langkah-langkah konkret untuk mengelolanya, sebagaimana amanah konstitusi -UUD 1945 pasal 33 ayat (3)- bahwa kekayaan sumberdaya alam harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kekayaan alam yang terkandung dalam wilayah laut Indonesia juga belum diinventarisasi secara baik. Banyak potensi sumberdaya kelautan yang kita miliki, tetapi sesungguhnya belum mampu kita pahami nilai kemanfaatan ekonomi dan ekologinya. Lebih parah lagi, justru sebagian mungkin belum kita ketahui eksistensi keberadaannya di wilayah laut Nusantara. Ketidakmampuan tersebut terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi kelautan yang belum berkembang di Indonesia. Ironis memang, sebuah negara maritim seperti Indonesia tidak memprioritaskan pengembangan teknologi kelautan. Ketertinggalan dalam penguasaan teknologi kelautan tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Indonesia perlu segera meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi kelautan yang menjadi modal nasional untuk mampu mengelola sumberdaya dan wilayah laut Nusantara. Pengelolaan kelautan yang dimaksud adalah memanfaatkan kekayaan sumberdaya yang dimiliki untuk menyejahterakan rakyat yang diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutannya dengan mematuhi kaidahkaidah ekologis. Teknologi yang dikembangkan perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dengan kearifan ekologi. Ragam teknologi berasas keseimbangan ekonomi-ekologi yang perlu dikuasai mencakup: pertama, teknologi penangkapan ikan, budidaya ikan dan biota laut, serta teknologi pengolahannya; kedua, (bio)teknologi untuk memanfaatkan biodiversitas sebagai sumber bahan baku industri dan sumber tetua untuk program pemuliaan tanaman dan ikan atau biota laut lainnya; ketiga, teknologi eksplorasi dan eksploitasi migas, bahan tambang lainnya dan sumberdaya energi terbarukan; dan keempat, teknologi konservasi sumberdaya kelautan, yang dapat juga dilebarkan cakupannya pada potensi pengelolaannya untuk pariwisata bahari. Keunikan geografis dan kekayaan biodiversitas ekosistem laut Indonesia merupakan modal untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak asing. Modal alamiah ini perlu dilengkapi dengan modal kecerdasan intelektual, yakni penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi kelautan oleh pakar dalam negeri sangat krusial. Tanpa penguasaan teknologi ini, maka kita tidak akan pernah mengetahui secara tepat dan komprehensif tentang ‘apa’ dan ‘berapa banyak’ sumberdaya yang dimilikinya di wilayah laut. Ketidakpahaman ini jelas akan menempatkan Indonesia pada posisi yang lemah dalam setiap ‘dispute’ internasional di wilayah laut. Argumen yang baik tidak akan mampu dibangun di atas fondasi iptek yang rapuh. Diplomasi untuk memperjuangkan harkat martabat bangsa juga tak akan dapat dimenangkan jika tanpa amunisi pemahaman tentang potensi sumberdaya

127

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sebaliknya dapat menjadi beban yang maha berat jika harus dipikul oleh sebagian kecil dari populasi tersebut. dan/atau sosial) tertentu saja. perlu dilakukan pencermatan dua arah. selama awalan ‘pro’ tersebut tidak sekedar bermakna keberpihakan dalam konteks pembangunan untuk rakyat. 2010) merupakan kekuatan besar untuk membangun bangsa ini. yakni menyediakan dukungan pembiayaan yang memadai untuk pengembangan teknologi nasional30 dan juga mengawal pengembangan teknologi agar fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nyata. dan secara nyata memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa (BPS. terutama pada jenjang pendidikan tinggi. tetapi lebih dimaknai sebagai keberpihakan yang memberi peluang bagi seluruh rakyat untuk ikut berperan aktif membangun bangsa dan negara ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu meningkatkan intensitas upayanya dalam meningkatkan relevansi pendidikan agar permasalahan pengangguran terdidik yang mulai meningkat signifikan selama dasawarsa 2000an ini tidak menjadi lebih buruk. maka proporsi kapasitas tampung jenjang pendidikan tinggi perlu digeser dari dominan jenis pendidikan akademik (lebih mengutamakan pengkayaan pengetahuan) yang terjadi saat ini menjadi dominan pendidikan profesional (lebih mengutamakan ketrampilan teknis untuk menghadapi permasalahan nyata). Tentu saja potensi sumberdaya alam Indonesia tidak hanya di laut. Teknologi dibutuhkan untuk mengolah sumberdaya alam menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. ‘Four Track Strategy’ yang sering disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.seluruh wilayah Indonesia dan potensi manusianya. Kebijakan pro-growth. Potensi sumberdaya lahan untuk mendukung produksi pertanian dan beragam bahan tambang (termasuk minyak dan gas walaupun mulai menipis) yang terkandung di dalamnya juga cukup penting untuk dikelola sebagai modal pembangunan perekonomian nasional. 18 Tahun 2002 . teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang relevan dan sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya. Namun demikian. dan [3] tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. memacu pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu. pro-job. jika semua (atau paling tidak mayoritas) secara aktif ikut berpartisipasi. dan pro-environment31 sudah sangat tepat. Beberapa penyesuaian perlu segera dilakukan. Perlu digarisbawahi bahwa untuk penguasaan ketrampilan teknis tetap saja selalu membutuhkan pengetahuan dasar yang relevan. ekonomi. diiringi dengan kebijakan ekonomi yang tepat. Jakarta. 3 Januari 2011. 128 Naskah Akademik Perubahan UU No. misalnya hanya dibebankan pada sekelompok elit (politik. Sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan perediksi kebutuhan di masa yang akan datang. [2] muatan kurikulum dan program studi yang ditawarkan. Indonesia sebagai negara maritim segera mulai secara sungguh-sungguh berupaya untuk meningkatkan penguasaan tekno-ekologinomi laut. pro-poor. Pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi sumberdaya manusia. 30 31 Jika mengacu pada ‘Barcelona Target’. Penyesuaian yang dirasakan perlu dilakukan adalah: [1] proporsi antara pendidikan akademik dengan pendidikan profesional. antara lain pada pidato berjudul ‘Pertumbuhan Harus Berkeadilan’ pada Pembukaan Pe rdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia. maka idealnya tiga persen dari Produk Domestik Bruto dialokasikan untuk pengembangan teknologi.

Akibatnya kelembagaan pendidikan lebih berfungsi sebagai mesin produksi untuk menghasilkan penyandang gelar semata dan tidak menjadi pengemban amanah konstitusi untuk mencerdaskan bangsa. Selanjutnya. Faktor penyebabnya bisa dipilah menjadi: [1] penyelenggara pendidikan yang menawarkan program studi tersebut lebih besar kapasitasnya dibandingkan dengan kebutuhan dunia kerja. atau [3] masih ada kebutuhan aktual dari dunia kerja tetapi imbalan (finansial) yang didapatkan dari jenis pekerjaan ini tidak kompetitif dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain. mayoritas rakyat bekerja disektor produksi pangan (tanaman. ternak. Oleh 129 Naskah Akademik Perubahan UU No. Faktor penyebab [3] karena bidang pekerjaan tersebut tidak menjanjikan secara ekonomi. mencakup pangan asal tanaman. dan hasil hutan. jika diniatkan pengembangan inovasi adalah untuk melibatkan mayoritas rakyat Indonesia sebagai pelaku pembangunan. Pembiayaan untuk pengembangan teknologi harus diposisikan sebagai investasi bukan sebagai belanja rutin. dan ikan). Kontribusi nyata tenaga terdidik terhadap pembangunan nasional hanya mungkin terjadi jika keahlian dan ketrampilan yang diasah adalah relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Program-program studi yang sudah kurang diminati perlu dievaluasi faktor penyebabnya. Faktor penyebab [2] terkait dengan bidang keilmuan yang relatif statis perkembangannya dan kebutuhan keahliannya juga terbatas. ikan. Teknologi yang dibutuhkan mungkin saja hanya merupakan teknologi sederhana. sehingga pasar dunia kerjanya cepat menjadi jenuh. misalnya pekerjaan di sektor pertanian. Dengan demikian. yang dapat dikembangkan dan digunakan oleh masyarakat dan/atau IKM dalam proses produksi pangan untuk pemenuhan konsumsi 237 juta penduduk Indonesia. jelas bahwa nelayan juga perlu mendapat perhatian. Pangan yang dimaksud adalah pangan dalam arti luas.Penyesuaian muatan kurikulum dan program studi tidak perlu diartikan sebagai perubahan mendasar dari kurikulum dan program studi yang ada. Pendidikan adalah untuk mencerdaskan bangsa. maka teknologi yang sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas pangan sudah sepatutnya diprioritaskan. 18 Tahun 2002 . karena sering mengakibatkan kelembagaan pendidikan pengorbankan kualitas untuk mengejar kuantitas. Pencerdasan hanya dapat dicapai dengan pendidikan yang bermutu. ternak. Inovasi adalah tentang mengkonversi ide menjadi uang. Penyesuaian tersebut lebih ditekankan pada upaya meningkatkan relevansi substansi materinya sehingga lebih padu dengan permasalah aktual. Jika surplus tidak akan menjadi persoalan karena dengan mudah bisa diekspor karena permintaan pasar global semakin tinggi dengan pertambahan penduduk dunia. Tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang terlalu berkiblat pada produktivitas selayaknya ditinjau kembali. adalah jauh lebih baik menyediakan teknologi sederhana yang sesuai. Pendidikan formal rakyat Indonesia saat ini mayoritas masih relatif rendah. Dengan demikian. Faktor penyebab [1] terkait dengan kemudahan sarana dan prasarana penyelenggaraan pendidikan (juga berarti biaya operasional penyelenggaraan pendidikannya lebih mudah) sehingga banyak instutusi pendidikan (terutama swasta) yang ikut menyelenggarakannya. Akan tetapi. [2] keahlian yang dihasilkan dari program studi tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan dunia kerja. Pengembangan teknologi sederhana tetapi bermanfaat akan jauh lebih baik dari pada mengembangkan teknologi super-canggih yang hanya berakhir di ruang pajang.

namun probabilitas kebenarannya relatif tinggi dan sudah teruji. Sulit diukur secara kuantitatif dan divisualisasikan. tetapi jelas dampaknya dapat dirasakan. norma. maka mungkin tidak dapat menjadi acuan dalam pengembangan SINas.sebab itu. Kegiatan pemagangan (internship) telah dilakukan sejak lama di Indonesia. Di 130 Naskah Akademik Perubahan UU No. Hal itu berbeda dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang jelas wujudnya dan dapat dikuantifikasi besaran potensinya. serta memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan sekaligus pemerataan kesejahteraan. Walaupun kadang sulit dijelaskan secara ilmiah. juga perlu dibarengi dengan mengundang pelaku bisnis dan industri untuk menularkan pengetahuan dan/atau ketrampilan di lingkungan akademis. Karena sifatnya sering sangat spesifik dan lokal. Ide hibridisasi kegiatan pendidikan dengan aktivitas bisnis/industri memang bukan merupakan sesuatu yang baru. dan nilai-nilai karakter bangsa lainnya merupakan faktor yang akan ikut mempengaruhi tingkat keberhasilan inovasi nasional. Saat ini. memperbesar porsi sumberdaya manusia yang menjadi penggerak pembangunan dan sekaligus mengurangi porsi yang hanya menjadi beban pembanguan. Akan lebih intensif. Kearifan tradisional (tradisional wisdom) dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan sistem inovasi. Upaya mewujudkan inovasi nasional yang lebih produktif dan efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. terutama untuk mata kuliah tertentu yang kental kaitannya dengan kebutuhan implementasinya di dunia kerja. etika. relevansi menjadi isu pokok. Namun demikian dengan kecermatan akademis. Teknologi yang sesuai dengan potensi sumberdaya alam lokal/nasional akan lebih terjamin keberlanjutannya dan sekaligus dapat mewujudkan kemandirian bangsa. Ukuran keberhasilan program pemagangan tergantung pada kualitas pembelajaran yang berlangsung selama peserta didik ditempatkan di lingkungan dunia kerja. jika pelaku bisnis/industri tersebut menjadi ‘mitra penuh’ dari tenaga pengajar di perguruan tinggi. 18 Tahun 2002 . Penyesuaian terhadap tradisi. Teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsi mayoritas penduduk akan membuka peluang untuk berdampak lebih massal. Kearifan tradisional merupakan akumulasi pengetahuan selama periode yang panjang. sehingga dapat dilakukan pengembangan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensinya. perlu mempertimbangkan potensi sosial masyarakat. selain potensi sumberdaya alam dan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas. Idealnya kegiatan ini dilandasi oleh asas saling membutuhkan dan saling menguntungkan atau bersifat mutualistik. Hanya saja kualitas dan intensitasnya terus perlu ditingkatkan. banyak pula kearifan lokal yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan sistematis dan logis. budaya. Selain pemagangan peserta didik di lingkungan kerja. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Perindustrian perlu meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksinya dengan pihak industri. Potensi sosial budaya dapat dikategorikan sebagai potensi non-ekonomi ini umumnya bersifat ‘intangible’. tetapi sangat potensial diacu untuk membangun Sistem Inovasi Daerah (SIDa). walaupun unsur-unsur ini bersifat tak-berwujud dan sulit diukur secara objektif. Padu silang pendidikan-bisnis ini perlu dilakukan secara dua arah. pelaku bisnis/industri umumnya hanya diundang sesekali ke lingkungan akademis dalam rangka kegiatan spesifik tertentu.

Urgensi Penguatan Inovasi UU No. 18 Tahun 2002 5. 4. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk mempercepat pencapaian tujuan negara. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. perlu juga secara sungguh-sungguh diintegrasikan ke dalam suatu formula kebijakan sebagai upaya membangun SINas. Menunjukan perlunya keterkaitan antara pengembangan iptek dengan upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia secara langsung dalam rangka memperoleh kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera. Menunjukan adanya komitmen yang lebih tegas dari pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang lebih komprehensif dalam membangun dan mengembangkan iptek. Keharusan untuk mengembangkan iptek yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan melibatkan publik (adanya audit iptek). tanggal 11 September 2001 terhadap RUU Sistem Nasional Penelitian.era modern ini. kualitas sosial budaya yang selaras dengan prinsip-prinsip good governance dalam penyelenggaraan atau pengelolaan lembaga pemerintah. Menjadi landasan hukum yang kokoh dalam memberikan peluang dan kesempatan yang lebih luas pada masyarakat. Pengembangan. 3. maupun masyarakat merupakan modal keberhasilan pengembangan suatu SINas. Pengembangan. Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. lembaga usaha.2. lembaga pendidikan dan pemerintah untuk mengembangkan iptek secara optimal. dan Penerapan Iptek adalah: 1. Oleh sebab itu. Negara Indonesia perlu segera memiliki suatu peraturan perundang-undangan yang komprehensif di bidang iptek. lembaga riset dan teknologi. Pengembangan. dan penerapan iptek menjadi undang-undang. 5. Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi DPR dalam Rapat Paripurna DPR-RI. 18 Tahun 2002 . Beberapa contoh di atas cukup untuk justifikasi tentang pentingnya dimensi sosial dalam mewujudkan inovasi nasional yang lebih komprehensif. 18 Tahun 2002 ini sesuai dengan pemandangan umum fraksi-fraksi DPR terhadap urgensi sistem nasional penelitian.2. bisnis. 5. maka penting dibuat Undang-Undang tentang iptek guna 131 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Tujuan diundangkannya UU No. 2. pengembangan.1.

18 Tahun 2002 pembangunan sistem inovasi nasional dilakukan melalui penelitian. adanya tagline negara sebagai dasar penguatan SINas. dan meningkatkan kontribusi iptek dalam aktivitas perekonomian dengan meningkatkan Total Factor Productivity (TFP). Hal ini menjadikan hasil penelitian dan pengembangan belum didayagunakan sepenuhnya menjadi berbagai inovasi. program. dan kesejahteraan peneliti. Untuk itu. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sedangkan di sisi industri. 18 Tahun 2002 diharapkan menjadi wadah untuk menampung dan menjadi alat pemecah kesulitan segala hal yang terkait dengan inovasi.memberi landasan hukum bagi unsur-unsur pembentuk kemampuan Iptek serta sebagai koridor dan frame pengembangan Iptek di Tanah air kita. Padahal dalam pengembangan ekonomi yang berbasis pengetahuan. selain mengurangi ketergantungan teknologi asing. produktivitas. Selain itu. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 menekankan perlunya penguatan kelembagaan dari sisi penghasil iptek dan pengguna iptek. 132 Naskah Akademik Perubahan UU No. RPJM 2010-2014 menekankan adanya skema pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat inovasi nasional. sumber daya. kualitas. yaitu penelitian. Selain itu untuk mendukung penguatan inovasi nasional diperlukan efektifitas dan efisiensi regulasi dan sistem insentif yang mendukung inovasi nasional. Menurut UU No. Termasuk perlunya mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga idealnya menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. serta perlunya konsensus nasional tentang SINas. pengembangan iptek seharusnya tidak terpisahkan dalam input dan output ekonomi nasional. menyebutkan untuk mencapainya diperlukan adanya insitusi yg kuat dari sisi legalitas dan otoritas. Hal ini tidak mudah karena Indonesia menghadapi berbagai kendala dan penghambat dari sisi kelembagaan. sumberdaya. komunikasi dan interaksi yang intens antara lembaga penelitian. serta adanya sistem aliran pengetahuan dan mobilitas human capital antara perguruan tinggi dan lembaga riset dengan perguruan tinggi. peningkatan pemanfaatan teknologi dalam negeri masih diperlukan. 18 Tahun 2002 . Dalam Bab IV Buku II RPJM 2010-2014. kenyataannya upaya penguatan inovasi nasional yang dicirikan dengan interaksi elemenelemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang baik. Sebagai upaya mencapai tujuan sebagaimana disebutkan dalam Bab IV Buku II RPJM 20102014. UU No. pengembangan dan penerapan iptek. Selain itu lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu meningkatkan produktivitas penelitian dan pengembangan melalui pengembangan dan pemanfaatan kelembagaan iptek. dan jaringan iptek secara lebih effektif. beberapa kebijakan pemerintah juga menekankan perlunya penguatan inovasi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. Kurangnya komunikasi dan interaksi antar elemen penghasil dan pengguna teknologi memberikan dampak terhadap penerapan berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil penghasil teknologi. Di Indonesia. dan sebagainya. Oleh karena itu. Upaya-upaya tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kuantitas. interaksi antara penghasil dan pengguna iptek. teknisi maupun SDM yang terlibat di dalam kegiatan litbang. perekayasa. perguruan tinggi.

setidaknya memuat materi kebijakan penguatan inovasi yang telah dirumuskan dalam Perpres No. 32 Tahun 2011 dan Kepmenristek No. 32 Tahun 2010. difusi. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. Untuk itu. menyebut strategi penguatan inovasi nasional dengan usulan inisiatif inovasi 1-747. Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. dengan memperhatikan capaian jangka panjang untuk mendorong. pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan – baik pemerintah maupun swasta – yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. Hal yang perlu dicatat dalam usulan ini adalah penguatan inovasi dapat dilakukan melalui tujuh langkah perbaikan ekosistemnya (Gambar 17). mendukung. dan meningkatkan kolaborasi dengan dunia internasional. produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. Menurut Perpres No. di Serpong pada tanggal 20 Januari 2010 juga menekankan perlunya upaya-upaya untuk penguatan inovasi nasional. komunitas ilmuwan dan swasta. 246/M/Kp/IX/2011. Presiden menekankan agar penguatan inovasi nasional disesuaikan dengan corak yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. Upaya ini mencakup pengaturan kelembagaan secara lebih sistemik. 18 Tahun 2002 Sejalan dengan pengertian SINas dalam Perpres No. lembaga riset dan teknologi. ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. mendayagunakan. Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. c. penguatan SINas agar didasarkan pada kemitraan pemerintah. dan sesuai kebutuhan dan kondisi.2. 246 /M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. Peraturan perundang-undangan yang ada bahkan secara jelas menyebutkan pengertian dari SINas. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 Muatan rancangan undang-undang perubahan UU No. SINas adalah: “suatu jaringan rantai antara institusi publik. 133 Naskah Akademik Perubahan UU No. kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. Perpres No. 32 Tahun 2011. dan d. dan pemanfaatan teknologi. Menurut Keputusan Menristek No. pengertian dasar berkaitan dengan SINas mencakup: . Kementerian Riset dan Teknologi mengeluarkan Keputusan Menristek No. Tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi ini mencakup: 1) Sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional.Presiden Dr. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. mendukung menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. 5. merekayasa inovasiinovasi di berbagai sektor.2. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. b.” a.

6) Revitalisasi infrastruktur R&D. 3) Pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa dalam upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif memerlukan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas. Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Usulan Inisiatif Inovasi 1-747 (Perpres No. 32/2011 ttg MP3EI) Kepmenristek No. Gambar 17. 4) Pembangunan klaster inovasi daerah. 7) Sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. Tugas pemerintah yang paling krusial di sini adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung inovasi nasional yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. Panggung yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. 5) Sistem remunerasi peneliti. 18 Tahun 2002 .2) Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. Kinerja aktor-aktor 134 Naskah Akademik Perubahan UU No.

4) Optimalisasi peran lembaga intermediasi. lebih dari 237 juta jiwa (BPS. 9) Revitalisasi peran Dewan Riset Nasional (DRN). Kedua peraturan tersebut dapat dikatakan merupakan dasar kebijakan bagi upaya-upaya penguatan inovasi nasional. sebagaimana telah diuraikan dalam kebijakan arah penguatan SINas. 11) Pengembangan SINas harus berbasis sumberdaya nasional dan unt pemenuhan kebutuhan domestik. 35 Tahun 2007 secara efektif dan utuh. agar diubah agar selaras dengan orientasi 32 Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia. Nuansa pengembangan iptek yang masih bersifat supply-push. baik berupa barang maupun jasa. terutama di sektor ristek. tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik. perindustrian. 6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang-intermediasi-pengguna teknologi. pada beberapa kesempatan. Kebijakan strategi penguatan inovasi melalui usulan inisiatif inovasi 1-747 maupun penentuan arah penguatan SINas untuk peningkatan kontribusi Iptek terhadap pembangunan nasional seharusnya telah dapat menjadi acuan untuk mendorong inovasi nasional. Berbagai negara. 18 Tahun 2002. 3) Peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi . 7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) untuk mendukung implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi pengguna teknologi. pendidikan. juga melihat populasi Indonesia yang besar. Namun demikian.32 Oleh karena itu upaya strategi pengembangan dan penguatan inovasi agar ditekankan pada: 1) Pengembangan teknologi yang difokuskan untuk pemenuhan realita kebutuhan atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna teknologi. Implementasi PP No.pelaku inovasi pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik). ketenagakerjaan. perlu dilakukan perubahan terhadap UU No. 135 Naskah Akademik Perubahan UU No. 8) Pembentukan konsorsium inovasi . keuangan. Susilo Bambang Yudhoyono. 2) Revitalisasi kapasitas lembaga pengembang teknologi . 10) Sinkronisasi dan optimalisasi UU No 18 Tahun 2002 serta peraturan pelaksanaannya. dan perdagangan agar para aktor inovasi dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. 5) Regulasi dan kebijakan yang kondusif. 18 Tahun 2002 . Peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ inovasi. 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial.

• Identifikasi dan penetapan sistem insentif yang mendukung SINas. • Pengembangan pusat inovasi untuk mendorong industri kecil dan menengah • Pengembangan klaster inovasi daerah • Revitalisasi infrastruktur R&D • Sistem dan manajemen pendanaan riset • Sistem remunerasi peneliti • Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia • Sistem insentif dan regulasi yang mendukung. pengembangan. Bab IV Materi Pengaturan • Penguatan insitusi • Jakstranas sebagai konsensus nasional dalam upaya penguatan SINas. • Pengembangan SINas sesuai kebutuhan dan kondisi. • Pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat SINas. dan kesejahteraan SDM • Mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat Sambutan Presiden SBY. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. kebijakan-kebijakan lain yang terkait adalah dokumen RPJM 2010-2014. 20 Januari 2010. Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. dan Kebijakan Strategis Nasional Iptek 2010-2014. dlm Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masy Ilmiah. Kebijakan Penguatan Inovasi Fokus Buku II RPJM 20102014. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 • Penguatan interaksi penghasil dan pengguna iptek • Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam sektor industri • Mendorong investasi industri untuk litbang Iptek masih sangat terbatas • Mendorong produktivitas litbang • Meningkatkan kualitas. • Penguatan aliran pengetahuan dan mobilitas human capital. • Pengembangan kemitraan dan kolaborasi dengan dunia internasional. secara garis besar menekankan pada empat hal. yaitu: 136 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tabel 9.).pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. serta arahan Presiden RI. Selain dua kebijakan tersebut di atas. Kecenderungan global saat ini juga lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang relevan dihadapi masyarakat. Komite Inovasi Nasional (KIN) • Mendorong inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. Serpong. Dokumen tersebut menekankan beberapa hal terkait dengan upaya penguatan inovasi nasional (Tabel 9. Dua kebijakan tersebut. produktivitas. 18 Tahun 2002 • Mengurangi ketergantungan teknologi asing .

rekayasa inovasi . pemanfaatan. dan pemanfaatan teknologi. tentunya agar diarahkan untuk mengakomodir upaya penguatan inovasi.). 18 Tahun 2002 di atas. 18 Tahun 2002. pemanfaatan dan pemajuan iptek • Pasal 9 ayat (1) – fungsi badan usaha dalam perekayasaan. 7. lembaga litbang. 6. dan pemanfaatan teknologi. Perubahan ini juga diarahkan untuk memperkuat usulan inisiatif inovasi 1-747. dan difusi teknologi • Pasal 16 ayat (1) – alih teknologi kekayaan intelektual dan hasil litbang • Pasal 27 ayat (3) – dukungan dana bagi penguasaan. dan swasta. pengembangan. lembaga ristek.). peningkatan hasil. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat.pengembangan. lembaga ristek. inovasi. dan penguatan audit teknologi (Tabel 9. Tabel 9. • Pasal 4 – penguatan daya dukung iptek • Pasal 6 ayat (2) – fungsi kelembagaan dalam penguasaan. universitas. pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang. pendayagunaan. rekayasa inovasi pengembangan. Keempat hal tersebut di atas telah diatur dalam UU No. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. Penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. difusi. Fokus Perubahan dalam UU No. dan 8. 18 Tahun 2002.invensi di bidang iptek • Pasal 9 ayat (2) – pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang • Pasal 13 ayat (4) – pengelolaan. dan pemajuan iptek Peningkatan penerapan dan diseminasi hasil litbangrap (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yg mempunyai • Pasal 8 ayat (2) . penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. Perubahan ketentuan UU No. Pengaturan tersebut mencakup antara lain perlunya adanya keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu. penguatan jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek. pemanfaatan kekayaan intelektual dan 137 Naskah Akademik Perubahan UU No. penguatan daya dukung iptek. difusi. • Pasal 5 ayat (1) – keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu • Pasal 10 ayat (2) – peran lembaga penunjang dalam mendorong sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. pendayagunaan.5. serta penentuan arah penguatan SINas (Tabel 10. dan badan usaha • Pasal 13 – jaringan informasi iptek • Pasal 15 ayat (1) – jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur kelembagaan iptek • Pasal 17 ayat (1) – kerjasama internasional • Pasal 28 ayat (2) – jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek Peningkatan hasil. dan swasta. 18 Tahun 2002 Fokus UU No. universitas. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. 18 Tahun 2002 .

Pasal 15 Pasal 17 Pasal 18 Penambahan pada ketentuan yang ada dg penekanan pada kemitraan. Ruang lingkup kegiatan inovasi adalah NKRI. serta kode etik. 18 Tahun 2002 hasil litbang Pasal 19 ayat (3) – penguatan tarikan pasar bagi hasil litbang. serta peningkatan pengelolaan kekayaan intelektual dan hasil litbang. pemerintah/pemerintah daerah dimungkinkan memberikan stimulan dan fasilitas untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. yang menekankan penyusunan Jakstranas Iptek ditetapkan dengan peraturan pemerintah.Fokus nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. untuk pemenfaatan hasil litbang. dan inovasi dalam negeri • Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 9. Setelah Pasal 17 ditambahkan mengenai pengaturan MTA Setelah Pasal 18 ditambahkan penekanan pada Jakstranas Iptek sebagai acuan pengembangan iptek. Usulan Perubahan dalam UU No. • Penambahan ayat unt penyebaran informasi hasil litbang dan kekayaan intelektual. dan sertifikasi keahlian. Pasal Pasal 3 Usulan Perubahan Ditambahkan 2 ayat unt mengakomodir amandemen keempat UUD 1945 Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 6. Pasal 13 • Ditambahkan ayat baru. inovasi. Setelah Pasal 19 ditambahkan satu pasal. UU No. 18 Tahun 2002. dan difusi teknologi. • Pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Pasal 12 • Ditambahkan 2 ayat. perekayasaan. mengenai perlunya menentukan standar. persyaratan. Pasal 6 Pasal 9 Pasal 19 138 Naskah Akademik Perubahan UU No. • Ketentuan ini diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. dan audit teknologi dan SNI Tabel 10. 18 Tahun 2002 .

Bab 6 Rangkuman dan Rekomendasi 6. ataupun pemerintah.1. Eksistensi inovasi tidak secara langsung dapat dijamin oleh keberadaan lembaga pengembang teknologi yang maju dan lembaga pengguna teknologi dengan kapasitas produksi yang besar. yang dihasilkan oleh pengembang dan diimplementasikan oleh pengguna dalam proses produksi barang/jasa sesuai kebutuhan konsumen atau permintaan pasar. karena yang akan menentukan adalah kualitas interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut yang dibuktikan dengan terjadinya: [1] aliran informasi kebutuhan dan/atau persoalan teknologis yang dihadapi oleh para pengguna yang sampai ke pengembang teknologi. masyarakat. tentu dimaksudkan bahwa pengembangan teknologi harus diarahkan untuk menyejahterakan rakyat dan peningkatan peradaban bangsa Indonesia. konstitusi Indonesia juga secara jelas dan tegas mengamanahkan bahwa pembangunan iptek ditujukan untuk meningkatkan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. aktivitas riset di masa yang akan datang perlu lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menyediakan solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi para pengguna teknologi. terutama pasar domestik. 18 Tahun 2002 . Arah pembangunan iptek perlu diupayakan menuju peningkatan kontribusi teknologi terhadap pembangunan berbagai sektor. Dalam konteks ini. Rangkuman Kepentingan nasional dan kecenderungan global membutuhkan perubahan yang mendasar tentang arah pembangunan iptek. yakni mewujudkan inovasi nasional yang lebih efektif dan produktif. Dari sisi lain. 139 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kecenderungan global saat ini dan kepentingan nasional dalam rangka menunaikan amanah konstitusi sebetulnya berjalan paralel dan menuju satu muara. Dengan demikian. dan [2] aliran teknologi yang relevan dan sesuai kapasitas adopsi pengguna. terutama sektorsektor perekonomian. baik industri.

Dalam rangka mendayagunakan secara optimal kapasitas lembaga pengembang teknologi yang sudah baik. Gabungan antara STP dan IP ini akan dapat menjadi model SINas Indonesia yang handal. termasuk regulasi dan kebijakan riset dan teknologi. Untuk kondisi Indonesia. dan sumber pembiayaan eksternal (sourcing capacity) serta kapasitasnya dalam mendifusikan hasil riset dan teknologi kepada pengguna potensialnya (disseminating capacity). Sejalan dengan pengembangan MP3EI. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi ini diarahkan agar lembaga ini tidak hanya handal dalam mendukung aktivitas riset dan pengembangan (R&D capacity) semata. Pembentukan unit kerja dalam struktur organisasi lembaga pengguna dan/atau peningkatan aktivitas in-house research pada lembaga pengguna terbukti dapat mendorong peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. pendidikan. maka perlu dilakukan refocusing agar kapasitas tersebut dapat diarahkan sesuai dengan prioritas untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna. Upaya ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kompetensi sumberdaya manusia pada lembaga pengguna (industri dan pemerintah) atau pengguna individual dalam masyarakat. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. disarankan dinamakan sebagai ‘Indonesian InnoPark’. Ide ini diimplementasikan dengan membangun Science and Technology Park (STP). tetapi juga dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk mengakses infromasi. Nyaman dalam pengertian kebijakan-kebijakan sektoral tersebut bermuara pada kondisi ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi perlu diimbangi dengan upaya peningkatan kapasitas adopsi teknologi pada lembaga pengguna. Untuk peran intermediasi dapat juga dimainkan oleh lembaga non-pemerintah. Mantab dalam makna mendapat dukungan dari berbagai regulasi dan kebijakan dari sektor-sektor yang terkait langsung dan berpengaruh nyata terhadap proses mewujudkan dan perkuatan inovasi nasional. yang masing-masing fokus pada isu-isu ekonomi strategis sesuai dengan potensi 140 Naskah Akademik Perubahan UU No. kawasan Puspiptek Serpong sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. Interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi membutuhkan ‘panggung’ yang yang mantab dan nyaman. dan perdagangan. mitra kerja potensial. diperlukan upaya pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) pada seluruh koridor pembangunan perekonomian nasional. keuangan. serta juga peran intermediasi dan fasilitasi agar interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut dapat lebih diintensifkan. 18 Tahun 2002 . perindustrian. Fasilitasi pemerintah untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi dapat juga dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor-aktor inovasi tersebut untuk berinteraksi dalam satu kawasan. ketenagakerjaan. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. Pengembang dan pengguna teknologi sebagai aktor utama dalam penguatan inovasi nasional sering masih membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan kebijakan yang memotivasi dan berkesesuaian.

Semua langkah-langkah yang akan ditempuh dalam rangka mewujudkan atau perkuatan inovasi nasional yang telah diuraikan di atas tetap secara konsisten berbasis pada potensi sumberdaya nasional. harkat. Alternatif lain yang dapat didorong adalah membangun konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dari anggota konsorsium. Orientasi pengembangan inovasi nasional yang berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. serta dari unsur pemerintah. Dalam konteks penguatan inovasi nasional. dan konsisi sosio-kultural serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Kemungkinan penerbitan Undang-Undang Sistem Inovasi Nasional juga merupakan salah satu alternatif yang perlu diekplorasi lebih lanjut. industri. diperbaiki. atau bahkan dilengkapi sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. Regulasi dan kebijakan yang ada saat ini dirasakan masih perlu disinkronisasikan. 18 Tahun 2002 . termasuk pelaksanaan UU No. dan martabat bangsa Indonesia. maka keanggotaan DRN perlu disesuaikan agar secara seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. maka beberapa butir rekomendasi yang dapat disampaikan adalah: (1) Pengembangan teknologi Indonesia perlu difokuskan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna 141 Naskah Akademik Perubahan UU No. yang terkait langsung dengan upaya mencapai sasaran bersama yang telah disepakati. Untuk revitalisasi peran DRN ini. Dewan Riset Nasional (DRN) sebagai lembaga non-struktural yang terkait langsung dengan upaya membangun inovasi nasional perlu lebih dioptimalkan perannya. 18 Tahun 2002 dan PP No. lembaga intermediasi. termasuk permintaan pasar domestik. maka sangat mungkin pada masing-masing koridor dikembangkan beberapa pusat unggulan sesuai dengan realita kebutuhannya. dan dapat juga jika dianggap strategis melibatkan lembaga penunjang tertentu. Kemungkinan untuk reposisi DRN juga perlu mendapat pertimbangan agar peran koordinasi lebih efektif dapat dilaksanakan. termasuk sumberdaya alam. serta koordinasi antara lembaga pengembang teknologi. Selanjutnya langkah ini juga harus fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nasional. Rekomendasi Berdasarkan telaah yang telah dilakukan secara komprehensif ini. Memahami bahwa satu koridor ekonomi masih dapat dijumpai keragaman potensi ekonominya. 35 Tahun 2007. anggota konsorsium merupakan representasi dari pengembang teknologi. manusia.2. merekomendasikan arah dan prioritas riset nasional. dan pemerintah sebagai pengguna teknologi.ekonomi masing-masing wilayah koridor. terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan iptek. pengguna teknologi. dan untuk menyediakan solusi teknologi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. 6.

dan perdagangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta turunannya PP No.teknologi. yakni kapasitas riset dan pengembangan. dengan demikian maka upaya penguatan inovasi dapat mengalami akselerasi. termasuk masyarakat. keuangan. Kemungkinan reposisi DRN juga perlu dipertimbangkan agar peran koordinasi DRN menjadi lebih efektif. ketenagakerjaan. Pengembangan. (9) Peran Dewan Riset Nasional (DRN) perlu direvitalisasi. 18 Tahun 2002 . dan lembaga pemerintah sesuai dengan konsepsi penguatan SINas. (7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) perlu segera diinisiasi dalam rangka memberikan dukungan terhadap implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. antara lain melalui perbaikan komposisi keanggotaannya agar secara lebih seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. dimana kawasan Puspiptek Serpong dapat diprioritaskan untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. pendidikan. terutama di sektor riset dan teknologi. industri. (8) Pembentukan konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dan memiliki nilai strategis nasional perlu didorong karena akan menjadi vehicle yang efektif sebagai model implementasi SINas. (5) Pemerintah menyiapkan ‘panggung’ bagi para aktor inovasi agar dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. (3) Kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi perlu ditingkatkan agar proses difusi teknologi dalam rangka mewujudkan inovasi nasional dapat lebih berpeluang untuk terlaksana. (4) Peran lembaga intermediasi perlu lebih dioptimalkan sehingga interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi dapat lebih intensif dan produktif. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta dari unsur pemerintah. Peran lembaga intermediasi perlu diperluas sehingga tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi para pengguna teknologi. (10) UU No. melalui pemberlakukan regulasi dan kebijakan yang kondusif. perindustrian. (2) Kapasitas lembaga pengembang teknologi perlu direvitalisasi agar mempunyai tiga kapasitas yang dibutuhkan dalam menopang penguatan inovasi nasional. (6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) perlu disegerakan agar tersedia wahana untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi. kapasitas sourcing. yakni meningkatkan kontribusi teknologi terhadap percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. sehingga teknologi dapat secara nyata berkontribusi terhadap pembangunan nasional. 35 Tahun 2007 142 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan kapasitas difusinya. Partisipasi pihak non-pemerintah perlu dirangsang untuk berperan dalam intermediasi ini.

atau bahkan dilengkapi dengan produk turunannya sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. dan martabat bangsa Indonesia.tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. diperbaiki. (11) Orientasi pengembangan inovasi nasional harus berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. dan Difusi Teknologi perlu disinkronisasikan. 18 Tahun 2002 . 143 Naskah Akademik Perubahan UU No. Inovasi. harkat.

Jakarta Casey. Gramedia Pustaka Utama. Hasta. 2009. Foresight. 2008. 2008. Freeman. 2003. institutions. and L. Wolf (eds). 1987. London. Regulasi/Deregulasi. 2009. Haagedoorn. H. C.T. Developing science. Firdausy. P. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 1996. In: W. L. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 144 Naskah Akademik Perubahan UU No. 2009. Srholec. Gramedia Pustaka Utama. Government centrality to university–industry interactions: University research centers and the industry involvement of academic researchers. and E. Establishing Standards for Social Infrastructure. And L. The Belknap Press. Research Policy 37:1417-1435 Firdausy. J. 18 Tahun 2002 . P. Fagerberg. Jakarta. Catch-up and convergence in the postwar growth boom and after.M. Iptek sebagai Keharusan untuk Pertumbuhan Ekonomi. Membangun Iptek yang Memihak Rakyat. Geographies of Production: growth regimes in spatial perspective – innovation. Freeman. Research Policy 34(8):1173-1190 Bathelt.J. Capabilities and Economic Development. 1994. Pinter. 2009b.M. J. Oxford University Press. National Innovation Systems. C. University Of Queensland. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Knowledge bases and regional innovation systems: comparing Nordic clusters. S. Jadikan Iptek sebagai HAM. 2005. and social systems.R.C. Oxford (UK). Progress in Human geography 27(6):763778 Boardman. Baumol.N. Assessing the Distributional Power of National Innovation System: pilot study of the Netherland.Referensi Abramovitz. Cambridge (USA). Economic Backwardness in Historical Perspective. Review of Industrial Organization 11:601-616 Haryoto. A. Netherland. Center for Technology and Policy Studies. 2010. Dalam: Kadiman. Badan Pusat Statistik. Hertog. Coenen. 1995. 2005. E. Apeldoorn. Asheim. Jakarta. Research Policy 38:583–589 Gerschenkron. C. 1962. Jakarta. and M. Research Policy 38:1505–1516 BPS. Statistik Indonesia. technology and innovation indicators: What we can learn from the past. Soete. Nelson. Trends and Patterns in Strategic Technology Partnering since the Early Seventies. Gramedia Pustaka Utama. R. 2009a. C. B. Convergence of Productivity: Crossnational studies and historical evidence. M. Ipswich. Technology and Economic Performance: lessons from Japan. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Jakarta.

Dalam: Kadiman. Universitas Padjadjaran. and K. Paper presented at the OECD Workshop on New Indicators for the Knowledge-based Economy. dan potensi. 2009. 19-21 June. 18 Tahun 2002 . Meyer. Lakitan. Uyarra. dan M. Membangun Relasi Akademisi-Bisnis-Pemerintah. The role of the technology barometer in assessing the performance of the national innovation system. Laranja. 200602. 2009. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 2011b. Kadiman. Technological Forecasting & Social Change 76:1177–1186 Lundvall. Flanagan. Universitas Sahid. White.D. K. A. Testing the Natural Resource Curse Hypothesis in Indonesia: Evidence at the Regional Level. Simfoni Inovasi: cita dan realita. National System Innovation: towards a theory of innovation and interactive learning. Research Policy 37:823-835 Leydesdorff. 12-15 April 2011. K. Keynote speech pada Seminar Revitalisasi Kelembagaan Litbang. 23 November 2010. 2010. 2008. and K. Revitalisasi Kelembagaan Riset dan Pengembangan untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. Ahlqvist and. Ibrahim. Triple Helix indicators of knowledge-based innovation systems: Introduction to the special issue. R. Makalah pengarahan pada Temu Peneliti Badan Litbang dan Diklat VIII Kementerian Agama. Comparing innovation system: a framework and applications to China’s transitional context. 145 Naskah Akademik Perubahan UU No. Seminar Nasional Revitalisasi Lembaga Litbang. B. Foresight. Jakarta. 2006. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Pinter. 2006. Carlaw. serta kendala. 23 November 2010. 2011a. Kadiman. Revitalisasi (Reformasi) Lembaga Litbang untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional.I. T. Universitas Lambung Mangkurat. B. B. Hidayat. Lakitan. Lakitan. Komarulzaman.. Jakarta. Policies for science. Research Policy 35:1441–1449 Lipsey. And S.A. M. Systemic Bibliometric Indicators for the Knowledge-based Economy. Pellinen. 2008. 23 Juni 2011. 2004. Canadian Journal of Economics 37(4):1118-1150 Liu. X. Gramedia Pustaka Utama. D. and S. 2001. Total Factor Productivity and the Measurement of Technological Change.G. E. technology and innovation: Translating rationales into regional policies in a multi-level setting. L. 1996. peluang. 1992. Perencanaan Lintas-Sektor. T. 2010. B. and Armida S. Katz. D. Membangun Agroindustri dan Mewujudkan Sistem Inovasi: agar teknologi berkontribusi pada kesejahteraan rakyat. London. Working Paper in Economics and Development Studies No. H. Indikator Kinerja Lembaga Litbang di Era Informasi Terbuka. Banjarbaru. Universitas Sahid Jakarta. Jakarta. Research Policy 30(7):1091-1114 Loikkanen. P. Makassar. Bandung. Foresight. 2008. Keynote speech pada Seminar dan Lokakarya Nasional Pengembangan Agroindustri Kalimantan Selatan: prospek. Alisjahbana. Jakarta.Hicks. Paris..

Organisation for Economic Cooperation and Development. The Nature and Economic Importance of National Innovation Systems. Organisation for Economic Oey-Gardiner. Jakarta. OECD. Organisation for Economic Co-Operation and Development. R. Paris. The Knowledge-Based Economy. bukan Pabrik. OECD. 2002. 2008. H. R. A review of the recent contribution of systems thinking to operational research and management science. Prihandana. Virtual Consulting International Ltd. 1997. Paris. Patel. OECD. 2002. Sport. Paris. The Economic Foundations of Technology Policy: equilibrium and evolutionary perspective.. New York. France. 2009. Paris OECD. OECD. Stoneman (ed). 2008. Industry Studies of Innovation Using CIS Data: computer and office machinery. France. 2010. Konsistensi Regulasi. Strategic Priorities for Science. and G. Oxford. Oxford. Technology. and Innovation Policy. Paris OECD. European Journal of Operational Research 207:1147–1161 Mulatsih. Sixth edition. Organisation for Economic Cooperation and Development. Frascati Manual: The Proposed Standard Practice for Surveys of Research and Experimental Development. P. Simfoni Inovasi: cita dan realita.14. 2008a. Mingers. National Innovation Systems. Oslo Manual: guidelines for collecting and interpreting innovation data. 1996. Handbook of the Economic of Innovation and Technological Change. Foresight. MEXT. Cooperation and Development. M. Corporate Innovation at Work: Defining the innovation consortium. In: P. And L. Pengembangan. 2008. Oxford University Press. OECD. National Innovation System: a comparative analysis. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Dalam: Kadiman. J. Culture. Sri. Metcalfe. Science and Technology. Blackwell Publishers. Innovation Strategies: scoping document. Teknologi dan Tanggung Jawab Sosial.. Foresight. Analisis Undang-undang No. LIPI Press: Jakarta Nelson.Malerba. Pavitt. Paris. 1996. France. Foresight. 1994. Dalam: Kadiman. 146 Naskah Akademik Perubahan UU No. Panigoro. Paris. Industri. 2008b. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). Organisation for Economic Co-Operation and Development. Jakarta. Organisation for Economic Cooperation and Development. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2010. 2005. Ministry of Education. S. 1993. Malherbe G. Dalam: Kadiman. White. Annual Report on the Promotion of Science and Technology. Simfoni Inovasi: cita dan realita. F. 18 Tahun 2002 . France. dan Prakoso Bhairawa Putera. Science Technology and Innovation Review No. Third edition. Stanway. Paper presented at the Eurostat Conference on Innovation Measurement and Policies. Jakarta. Tokyo. and K. 1995.

Embargo sebagai Pemicu. Technovation 27:471–488 WEF. The influences of technology development on economic performance—The example of ASEAN countries. 1994. Cambridge. UNCTAD. Setiawan. 2010. Nalar Ekonomi versus Nalar Teknologi. 2008. Peran Intermediasi dalam Membangun Kolaborasi Lembaga Litbang dan Industri. . N. The Theory of Economic Development. World Investment Prospects Survey 2008-2011. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Jakarta Suhardi. Research Policy 23(3):323-348 Santoso. S. World Economic Forum. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 2008. 2007. Foresight. Innovation Policy: a guide for developing countries. 2008. B.C. Foresight.Rosenberg. Jakarta.Y. Geneva World Bank. American Universities and Technical Advance in Industry. B. Setiawan. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Jakarta. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Harvard University Press. Peran Badan Intermediasi. Kesinambungan Milestone. United Nations Conference on Trade and Development. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2010. Jakarta.Y. I. Nelson. Governance of Innovation Systems in the Current Global Setting. J. Thee Kian Wie. and R. Dalam: Kadiman. Gramedia Pustaka Utama. Foresight. Dalam: Kadiman. Inovasi untuk Pemberdayaan Industri. Schumpeter. 18 Tahun 2002 Warsono. Dalam: Kadiman. T. 2010. Foresight. S. Washington DC 147 Naskah Akademik Perubahan UU No. Chien. Jakarta. 2009. The Global Competitiveness Report 2010-2011. Jakarta. Jakarta.R. 1934. Sharif. Gramedia Pustaka Utama. The World Bank. 2008. dan S. Dalam: Kadiman. Bahan Ceramah di LIPI. New York Wang. 2009. 2009. Simfoni Inovasi: cita dan realita.

5. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. 148 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sumbangan Pembinaan Olahraga.Lampiran Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Nasional 1. dan Difusi Teknologi. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dalam Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. 18 Tahun 2002 7. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. Inovasi. Sambutan Presiden Dr. . Pengembangan.2014. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional Untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Pembangunan Nasional 9. 2. 6. 20 Januari 2010. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. 4. Serpong. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 8. 3. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional (KIN). Soesilo Bambang Yudhoyono. dan Penerapan Ilmu Pengetahun dan Teknologi. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 193/M/Kp/IV/2010 tentang Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek 2010.

yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah. bahwa penguasaan. d. pemanfaatan.Lampiran 1. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengandung dan membentuk keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. PENGEMBANGAN. PENGEMBANGAN. sumber daya. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. b. pemanfaatan. 18 Tahun 2002 . berbangsa. terakhir dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. serta mencerdaskan kehidupan bangsa. 149 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan menyerasikan tata kehidupan manusia beserta kelestarian fungsi lingkungan hidupnya berdasarkan Pancasila. bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk kepentingan umat manusia yang dalam pengelolaan dan pendayagunaannya diperlukan penguasaan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan d perlu dibentuk Undang-Undang tentang Sistem Nasional Penelitian. Pengembangan. ayat (2). DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tugas dan tanggung jawab negara. pemanfaatan. ayat (4). c. dan bernegara di Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pencapaian tujuan negara sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Dengan persetujuan : DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. diperlukan sistem nasional penelitian. b. serta jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh di lingkungan Negara Republik Indonesia. bahwa untuk menumbuhkembangkan penguasaan. e. memajukan kesejahteraan umum. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. pengembangan. Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). c. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan bermasyarakat. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada butir a. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Undang. bahwa penumbuhkembangan sistem nasional penelitian. pengembangan.

18 Tahun 2002 5. pelestarian fungsi lingkungan hidup. . atau berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. Inovasi adalah kegiatan penelitian. Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga. 10. baik yang bersifat kuantitatif. data. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. Teknologi adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. inovasi. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. badan. serta difusi teknologi. dan/atau ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam kegiatan perekayasaan. 3.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. 150 Naskah Akademik Perubahan UU No. produk. 4. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. manfaat. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis adalah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keterkaitan yang luas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh. baik yang berada di lingkungan dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. atau menghasilkan teknologi baru. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. sosial budaya. bisnis. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. kualitatif. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. 2. kelangsungan. dan estetika. 7. 11. pengembangan. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. Penerapan adalah pemanfaatan hasil penelitian. 9. atau orang. pengembangan. 6. 8. kemajuan bangsa. disusun. fungsional. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat dipergunakan untuk menyempurnakan atau memperbarui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk desain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali.

dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dikembangkan berdasarkan asas iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Pengembangan. Hak kekayaan intelektual yang selanjutnya disebut HKI adalah hak memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang-undangan. SUMBER DAYA. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. 18 Tahun 2002 BAB II ASAS DAN TUJUAN . 14. Pasal 3 Sistem Nasional Penelitian. Menteri adalah menteri yang membidangi penelitian. serta asas tanggung jawab akademis. 15. Organisasi profesi adalah wadah masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. Lembaga penelitian dan pengembangan yang selanjutnya disebut lembaga litbang adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan penelitian dan/atau pengembangan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. 17. kebebasan akademis. asas kebebasan akademis. dan tanggung jawab akademis. BAB III FUNGSI. Pasal 2 Pengertian peristilahan dalam Pasal 1 yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berpikir. selanjutnya disebut Pemerintah. asas tanggung jawab negara.12. yang dijamin oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika profesi dalam masyarakat. DAN JARINGAN Bagian Pertama Fungsi Pasal 5 (1) Sistem Nasional Penelitian. KELEMBAGAAN. Pengembangan. pengembangan. asas kesisteman dan percepatan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan memperkuat daya dukung ilmu pengetahuan dan teknologi bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. 16. Pasal 4 Sistem Nasional Penelitian. 18. pemanfaatan. Pemerintah pusat. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. asas kebebasan berpikir. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 151 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau suatu bidang kegiatan profesi. 13. asas kebenaran ilmiah. Pengembangan. Badan usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Unsur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas unsur kelembagaan. lembaga penunjang. perguruan tinggi bertanggung jawab meningkatkan kemampuan pendidikan dan pengajaran. dan lembaga penunjang. membentuk iklim dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. inovasi. lembaga litbang bertanggung jawab mencari berbagai invensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menggali potensi pendayagunaannya. inovasi. pemanfaatan. badan usaha. daya manusia. perguruan tinggi. penelitian dan pengembangan. dan difusi teknologi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomis. lembaga litbang. serta pengabdian pada masyarakat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemerintah daerah. badan usaha. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan. dan difusi teknologi. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. mengorganisasikan pembentukan sumber perekayasaan. badan usaha bertanggung jawab mengusahakan pendayagunaan manfaat keluaran yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. Pengembangan. . 152 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau bagian dari organisasi pemerintah. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). penelitian. unsur sumber daya. dan unsur jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan organisasi masyarakat. Pengembangan. pemanfaatan. (3) Lembaga litbang dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. b. pengembangan. 18 Tahun 2002 (1) Lembaga litbang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. Pasal 10 (1) Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. Pengembangan. Pasal 7 (1) Perguruan tinggi sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Kelembagaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi : a. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 8 (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Bagian Kedua Kelembagaan Pasal 6 (1) Kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan perekayasaan. Pasal 9 (1) Badan usaha sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian.

dan badan usaha. kekayaan intelektual dan informasi. serta menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil di lingkungannya sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Untuk menjamin tanggung jawab dan akuntabilitas profesionalisme. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi lain untuk memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan masyarakat. persyaratan. lembaga penunjang bertanggung jawab mengatasi permasalahan atau kesenjangan yang menghambat sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. organisasi profesi wajib menentukan standar. kepakaran. (4) Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. pusat peragaan. kepakaran. serta kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. lembaga litbang. dan sertifikasi keahlian. pemerintah daerah. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi. jenjang karier sumber daya manusia. (2) Setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab meningkatkan secara terus menerus daya guna dan nilai guna sumber daya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih 153 Naskah Akademik Perubahan UU No. perekayasaan. Pengembangan. Pasal 13 (2) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan penyebaran informasi hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan serta kekayaan yang dimiliki selama tidak mengurangi kepentingan perlindungan kekayaan intelektual. . 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah mendorong kerja sama antara semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan jaringan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Dalam meningkatkan pengelolaan kekayaan intelektual. Pasal 12 (1) Dalam meningkatkan keahlian. Bagian Keempat Jaringan Pasal 15 (1) Jaringan Sistem Nasional Penelitian. setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab mengembangkan struktur dan strata keahlian. dan/atau badan usaha dapat membangun kawasan. Pasal 14 Pemerintah. pengembangan. Bagian Ketiga Sumber Daya Pasal 11 (1) Sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas keahlian. kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan pembentukan sentra HKI sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. lembaga litbang. dan badan usaha yang melaksanakannya.(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). serta kode etik profesi.

154 Naskah Akademik Perubahan UU No. memberikan stimulasi dan fasilitas. pengalihan teknologi dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang telah diatur sebelumnya dengan pihak lain tersebut. selain pemerintah dan/atau pemerintah daerah. dan orang asing yang tidak berdomisili di Indonesia yang akan melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia harus mendapatkan izin tertulis dari instansi pemerintah yang berwenang. wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. pemerintah wajib merumuskan arah. (2) Untuk mengembangkan jaringan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (4) Perguruan tinggi asing. Pasal 16 (1) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. prioritas utama. (3) Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia. badan usaha asing. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan Sistem Nasional Penelitian. sejauh tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan. lembaga litbang asing. (2) Apabila sebagian biaya kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibiayai oleh pihak lain. perguruan tinggi. badan usaha. ayat (2).besar dari keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh masing-masing unsur kelembagaan secara sendirisendiri. melengkapi. (3) Pemerintah bertanggung jawab memberikan dukungan bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam rangka kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan lembaga penunjang. yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah kepada badan usaha. pemerintah. BAB IV FUNGSI DAN PERAN PEMERINTAH Bagian Pertama Fungsi Pemerintah Pasal 18 (1) Pemerintah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. atau masyarakat. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. lembaga litbang. 18 Tahun 2002 . dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilaksanakan atas dasar persamaan kedudukan yang saling menguntungkan dengan tidak merugikan kepentingan nasional. Pasal 17 (1) Kerja sama internasional dapat diusahakan oleh semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan alih teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat ilmiah internasional. memperkuat. Pengembangan. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan.

(3) Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. Menteri wajib memperhatikan pentingnya upaya : a. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pemerintah daerah membentuk Dewan Riset Daerah yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian. b. serta penguatan penguasaan ilmu-ilmu sosial dan budaya yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. penguatan kemampuan audit teknologi impor yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia untuk melindungi konsumen dan memfasilitasi pertumbuhan industri dalam negeri. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. memberikan stimulasi dan fasilitas. dan peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan yang merupakan tulang punggung perkembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.Pasal 19 (1) Menteri wajib mengoordinasikan perumusan kebijakan strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Dalam merumuskan kebijakan strategis yang dimaksud dalam ayat (2). . (2) Untuk mendukung Menteri dalam merumuskan arah. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 20 (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pengembangan. inovasi. dan jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Nasional Penelitian. pemerintah membentuk Dewan Riset Nasional yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. c. Bagian Kedua Peran Pemerintah Pasal 21 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah berperan mengembangkan instrumen kebijakan untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan. penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis. pemerintah daerah harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan. 155 Naskah Akademik Perubahan UU No. sumber daya. pemerintah daerah wajib merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. penguatan penguasaan ilmu-ilmu dasar. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. (4) Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan penelitian. prioritas utama. pengembangan.

(2) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dukungan dana.(2) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan sebagai bentuk kemudahan dan dukungan yang dapat mendorong pertumbuhan dan sinergi semua unsur Sistem Nasional Penelitian. (4) Lembaga yang dimaksud dalam ayat (3) dapat meliputi lembaga litbang dan lembaga penunjang. transparan. pemanfaatan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. bangsa. pengembangan. Pasal 25 156 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan. nilai budaya asli masyarakat. (5) Pelaksanaan instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diselenggarakan secara adil. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. serta kekayaan hayati dan non hayati di Indonesia. dan/atau masyarakat sesuai dengan kinerja yang dihasilkan. (2) Pemerintah menjamin perlindungan bagi pengetahuan dan kearifan lokal. Pasal 22 (1) Pemerintah menjamin kepentingan masyarakat. (4) Setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh informasi secara mudah dengan biaya murah tentang HKI yang sedang didaftarkan dan telah dipublikasikan secara resmi oleh pihak yang berwenang atau yang telah memperoleh perlindungan hukum di Indonesia. 18 Tahun 2002 . pemberian insentif. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. demokratis. pengembangan. Pasal 23 (1) Pemerintah menjamin perlindungan bagi HKI yang dimiliki oleh perseorangan atau lembaga sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pembentukan lembaga. (3) Setiap orang mempunyai hak untuk menggunakan dan mengendalikan kekayaan intelektual yang dimiliki sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berisiko tinggi dan berbahaya dengan memperhatikan standar nasional dan ketentuan yang berlaku secara internasional. (3) Pemerintah menjamin perlindungan bagi masyarakat sebagai konsumen. BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 24 (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan serta dalam melaksanakan kegiatan penguasaan. (3) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat berbentuk dukungan sumber daya. penyelenggaraan program ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Setiap warga negara yang melakukan penelitian. terhadap penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemerintah mengatur perizinan bagi pelaksanaan kegiatan penelitian. baik yang berdiri sendiri sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen maupun sebagai unit kerja departemen atau pemerintah daerah tertentu. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai hak memperoleh penghargaan yang layak dari pemerintah. dan akuntabel. pemerintah daerah.

dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Anggaran yang dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk membiayai pelaksanaan fungsi dan peran pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1). Pengembangan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Setiap organisasi profesi wajib membentuk dewan kehormatan kode etik sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (2). peringatan. BAB VII KETENTUAN SANKSI Bagian Pertama Sanksi Administratif Pasal 29 Pelanggaran ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dijatuhi sanksi administratif mulai dari teguran. . dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pemberhentian sementara kegiatan. lembaga penunjang. inovasi. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan.(1) Masyarakat wajib memberikan dukungan serta turut membentuk iklim yang dapat mendorong perkembangan Sistem Nasional Penelitian. pemanfaatan. Pasal 20 ayat (1). lembaga litbang. pemanfaatan. (2) Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. Pasal 28 (1) Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. dan Pasal 21 ayat (1). 18 Tahun 2002 (3) Perguruan tinggi. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 27 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran sebesar jumlah tertentu yang cukup memadai untuk memacu akselerasi penguasaan. pemanfaatan. badan usaha. 157 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Masyarakat ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab untuk berperan serta mengembangkan profesionalisme dan etika profesi melalui organisasi profesi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. organisasi masyarakat dan inventor mandiri berhak atas dukungan dana dari anggaran pemerintah dan pemerintah daerah untuk meningkatkan penguasaan. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 26 Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. sampai dengan pembatalan atau pencabutan izin oleh instansi pemberi izin.

keselamatan bangsa.000. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. kerukunan bermasyarakat. dan merugikan negara. ttd.00 (lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. ttd. kesehatan masyarakat. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 84 158 Naskah Akademik Perubahan UU No. semua peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak sesuai dengan undangundang ini dinyatakan tidak berlaku. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 31 Pada saat berlakunya undang-undang ini. Disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dijatuhi sanksi pidana penjara dan/atau denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 18 Tahun 2002 . MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA.000.Bagian Kedua Sanksi Pidana Pasal 30 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin diancam pidana denda paling banyak Rp 50. kelestarian fungsi lingkungan hidup. (2) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) yang mengakibatkan bahaya bagi keselamatan manusia. Agar setiap orang mengetahuinya.

dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. INOVASI. data. atau menghasilkan teknologi baru. MEMUTUSKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksudkan dengan : 1. Pengembangan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. fungsional. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. 2. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. 3. 18 Tahun 2002 Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk disain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. bisnis. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. manfaat. dan estetika. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. atau cara baru 159 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. 2. DAN DIFUSI TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat (3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. produk. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan.Lampiran 2. DAN DIFUSI TEKNOLOGI. pengembangan. sosial budaya. Mengingat : 1. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2007 TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. Inovasi adalah kegiatan penelitian. . Pengembangan. INOVASI. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. 4. Inovasi. dan Difusi Teknologi.

inovasi. 9. kerjasama. pengembangan. 5. Badan Usaha Milik Daerah. lembaga penelitian dan pengembangan. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengalokasikan sebagian pendapatan sesuai dengan kemampuannya. Badan Usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. dan difusi teknologi. 6. INOVASI. inovasi. BAB IV 160 Naskah Akademik Perubahan UU No. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. inovasi. 8. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa yang dihasilkan. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian dan pengembangan.untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. Insentif adalah pemberian kemudahan/keringanan yang diberikan kepada Badan Usaha dalam rangka upaya peningkatan kemampuan perekayasaan. dan Koperasi. Badan Usaha Milik Negara. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penelitian. dan/atau b. Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama badan usaha. dan difusi teknologi. DAN DIFUSI TEKNOLOGI Pasal 4 Peningkatan kemampuan perekayasaan. dan pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi. BAB II ALOKASI SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA Pasal 2 (1) Badan Usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. inovasi. dan badan usaha lain. penelitian. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 5 (1) Dalam melakukan kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. (2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk lisensi. (2) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha swasta berbentuk perseroan terbatas. pengembangan dan/atau penerapan teknologi. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dapat melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi. 7. dan difusi teknologi dilakukan melalui kegiatan: a.

(2) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. pembelian dan/atau pembayaran royalti teknologi dari entitas lain di luar negeri. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) Besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. b. 161 Naskah Akademik Perubahan UU No. inovasi. Penghentian. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. Pasal 7 (1) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. kegiatan yang dilakukan di luar negeri. kepabeanan. Pasal 9 (1) Menteri membentuk Tim Pengkajian dan Penilaian. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. (2) Hasil pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri dalam bentuk saran dan pertimbangan. guna melakukan pengkajian dan penilaian terhadap permohonan insentif. peralatan. 18 Tahun 2002 c. Bagian Kedua Tata Cara Permohonan. pengumpulan data. (2) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. bahan. e. (2) Pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan proposal kegiatan dan bentuk insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2).INSENTIF Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Badan Usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. dan Perpanjangan Insentif Pasal 8 (1) Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) mengajukan permohonan untuk mendapatkan rekomendasi insentif secara tertulis kepada Menteri. kegiatan pengawasan dan/atau pengujian rutin terhadap kualitas produk. produk dan/atau proses. d. survei efisiensi atau studi manajemen. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. dan f. riset pasar dan/atau promosi penjualan. .

penggunaan sumber daya dalam negeri. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja Tim Pengkajian dan Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Menteri menyampaikan pemberitahuan persetujuan atau penolakan pemberian rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak penerimaan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. potensi peningkatan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa. instansi pemerintah yang berwenang dapat menghentikan atau memperpanjang pemberian insentif. (3) Menteri menyampaikan saran dan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada instansi pemerintah yang berwenang dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan di dalam negeri. pemberitahuan disampaikan kepada Badan Usaha disertai dengan alasannya. (2) Penetapan penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang setelah meminta saran dan pertimbangan Menteri.(3) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. (5) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan insentif diterima secara lengkap. Pasal 10 (1) Menteri dapat memberikan atau tidak memberikan rekomendasi insentif dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. (4) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. 18 Tahun 2002 (1) Dalam hal Menteri memberikan rekomendasi insentif. dan d. Pasal 12 Dalam hal Menteri tidak memberikan rekomendasi insentif. (4) Penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan pimpinan instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. inovasi. b. 162 Naskah Akademik Perubahan UU No. c. Pasal 11 (2) Badan Usaha mengajukan permohonan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang disertai dengan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Tata cara pengajuan permohonan insentif perpajakan dan kepabeanan dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. rekomendasi disampaikan kepada Badan Usaha dengan tembusan kepada instansi pemerintah yang berwenang dalam pemberian insentif. Pasal 13 (1) Dalam hal pemberian insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) berupa bantuan teknis penelitian dan pengembangan. dan difusi teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. .

memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. perekayasaan. 18 Tahun 2002 Ditetapkan di Jakarta . dan difusi teknologi kepada Menteri.Bagian Ketiga Pelaporan Pasal 14 (1) Pada setiap akhir tahun dan akhir kegiatan. Badan Usaha yang mendapat insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) wajib menyerahkan laporan kegiatan peningkatan kemampuan. inovasi. ttd DR. ttd ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 78 163 Naskah Akademik Perubahan UU No. (3) Menteri dapat melakukan verifikasi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) guna memberikan saran dan pertimbangan penghentian atau perpanjangan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pencapaian kegiatan yang telah dilakukan dan kriteria sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3). pada tanggal 22 Juni 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. H. Agar setiap orang mengetahuinya. (4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

huruf l. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. yang merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana.Lampiran 3. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. Mengingat : 1. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2010 TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 18 Tahun 2002 2. huruf k. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. huruf j. dan huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). . DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 164 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 1 Sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak terdiri atas: a. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf i. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA.

Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. Pasal 2 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dengan syarat: a. c. apabila barang yang disumbangkan belum disusutkan.b. dan huruf d dapat diberikan dalambentuk uang dan/atau barang. Sumbangan fasilitas pendidikan. Pasal 4 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto bagi pihak pemberi apabila sumbangan dan/atau biaya diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya. apabila barang yang disumbangkan merupakan barang produksi sendiri. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . apabila barang yang disumbangkan sudah disusutkan. dan e. dan d. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan. huruf b. didukung oleh bukti yang sah. b. 165 Naskah Akademik Perubahan UU No. huruf c. d. Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan diberikan. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga. nilai perolehan. c. (2) Biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf e diberikan hanya dalam bentuk sarana dan/atau prasarana. yang merupakan sumbangan berupa fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan. Pasal 6 (1) Nilai sumbangan dalam bentuk barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) ditentukan berdasarkan: a. yang merupakan sumbangan untuk membina. harga pokok penjualan. kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga. atau c. b. nilai buku fiskal. Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba. Pasal 5 (1) Sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a.

DR. (2) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b. (3) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya yang mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak melaporkan sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai lampiran laporan keuangan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak diterimanya sumbangan.(2) Nilai biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) ditentukan berdasarkan jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan untuk membangun sarana dan/atau prasarana. 18 Tahun 2002 . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 7 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib dicatat sesuai dengan peruntukannya oleh pemberi sumbangan. Pasal 8 (1) Badan penanggulangan bencana dan lembaga atau pihak yang menerima sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a harus menyampaikan laporan penerimaan dan penyaluran sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk setiap triwulan. Pasal 10 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2010. Agar setiap orang mengetahuinya. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. H. huruf d. Pasal 9 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pencatatan dan pelaporan sumbangan dan/atau biaya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 160 166 Naskah Akademik Perubahan UU No. ttd. ttd. huruf c. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan huruf e wajib menyampaikan laporan penerimaan sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat pada akhir Tahun Pajak diterimanya sumbangan dan/atau biaya.

bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b serta dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian sistem inovasi nasional. dibentuk Komite Inovasi Nasional yang selanjutnya disebut KIN. terintegrasi. Pengembangan. 2.Lampiran 4. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. mendayagunakan. Mengingat : 1. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL Pasal 1 Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan Sistem Inovasi Nasional adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. 18 Tahun 2002 . mendukung. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. c. membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 3 (1) KIN bertugas untuk: a. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sitem Nasional Penelitian. lembaga riset dan teknologi. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan sistem inovasi nasional guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. perlu dilakukan melalui institusi yang efektif dan berhasil-guna baik dari sisi legalitas dan otoritas. bahwa dalam rangka implementasi pelaksanaan sitem inovasi nasional secara efektif dan efisien. perlu membentuk Komite Inovasi Nasional dengan Peraturan Presiden. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). bahwa kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. Pasal 2 Dalam rangka penguatan sistem Inovasi Nasional. b. terpadu. 167 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat.

ketahanan energi. Dr. D. Ir.Sc. M. 15. Jenie. Habibie.Sc. Prof. MBA. 17. 10. Dr.M. M. Iskandar. Ing. Apt. M. D.. Ph. Drs. Anton Apriantono.D. serta komunitas ilmiah dan universitas. 13. Ir.E. Ir. Prof. periset. transportasi dan industri pertahanan. (3) Dalam rangka melaksanakan tugasnya.E. Sahari Besari. 6. 20. 8. Ninok Leksono. 16. Prof. S.S. M.LL. pakar teknologi dan inovator dalam rangka keterpaduan penguatan sistem inovasi nasional.S..H. Industri infrastruktur. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghsilkan produkproduk inovatif. Freddy Permana Zen. bioteknologi.. MS.. Sangkot Marzuki. 2. M. Idwan Suhardi 7.. Bustanul Arifin. dan kerja sama dengan lembaga pemerintahan dan non pemerintahan. Ir. Rektor Institut Teknologi Bandung. Ir. 9. koordinasi. Dr. Rektor Universitas Indonesia. M.Sc. M.D. M. 14. Dr. Jusman Syafii Djamal..Sc : 1. Tien Muchtadi.. Dr. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. Prof. 19. Dr. Prof. 4. : Rektor Institut Pertanian Bogor : Prof. Betti Setiastuti Alisjahbana. c. Sc. 18. 5. Ph. manajemen bencana alam. Marzan A.Sc. memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. Dr. Bambang Kesowo. Arief Rahman. Tri Mumpuni Wiyanto.b.S. Pasal 4 Keanggotaan KIN terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Prof. Dr.Sc. KIN melakukan konsultasi.D.Pd. Rachmat Gobel. Drs. Dr. Prof. Dr. M. MA. 11. melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program pengutan sistem inovasi nasional.. Ilham A. 168 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Penguatan sistem inovasi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan meliputi inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. wakil-wakil kelompok masyarakat. IR. Dr. Dr. Zuhal. Ph. 12. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). Amir Sambodo. Ir. Umar A. industri manufaktur. Lukman Hakim. . 18 Tahun 2002 3.

Menteri Koordinator Bidang Politik. 3. (3) KIN dapat mengundang pimpinan instansi terkait dan pihak lain yang dipandang perlu pada rapat koordinasi KIN. Menteri Keuangan. Rektor Institut Teknologi Surabaya. 169 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Pengarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: Ketua Anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian : 1. 27. Pasal 7 (1) KIN melaksanakan tugasnya sejak berkoordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi. Pasal 10 Ketua KIN melaporkan kepada presiden setiap perkembangan dan permasalahan yang ada dalam penyelenggaraan sistem inovasi nasional agar segera dapat diambil keputusan untuk penyelesaian masalahnya. Rektor Universitas Udayana. Hukum. Sekretaris Kabinet KIN melaksanakan tugasnya sejak ditetapkan Peraturan Presiden ini sampai berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II. Rektor Universitas Gajah Mada. 24.21. 18 Tahun 2002 Pasal 6 . (2) KIN melakukan rapat koordinasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. 26. Pasal 8 Hasil rapat koordinasi KIN oleh masing-masing anggota KIN dilaksanakan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing secara terkoordinasi dan terintegrasi dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. 23. 6. Rektor Universitas Cenderawasih. 25. dan Keamanan. Menteri Sekretaris Negara. Rektor Universitas Pattimura. Pasal 5 (1) Dalam melaksanakan tugasnya. KIN memeperhatikan arahan dari pengarah. 5. 22. Rektor Universitas Hasanudin. 4. 2. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Pasal 9 Mekanisme dan tata kerja Komite Inovasi Nasional diatur lebih lanjut oleh Ketua Komite Inovasi Nasional. Menteri Riset dan Teknologi. Rektor Universitas Syiah Kuala.

dan Permasalahan Hukum Bistok Simbolon.q. Pasal 13 Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keamanan.Pasal 11 KIN dalam pelaksanaan tugasnya dibantu sebuah Sekretariat yang secara fungsional dilakukan oleh salah satu unit kerja di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi. 170 Naskah Akademik Perubahan UU No. anggaran Kementerian Riset dan Teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. H. 18 Tahun 2002 . DR. ttd. Pasal 12 Segala biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi KIN dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Ratifikasi. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Politik. Pertanahan.

dan d. Mengingat : 1. (3) MP3EI terdiri atas 4 (empat) bagian. Pasal 1 (1) Menetapkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 -2025. Koridor Ekonomi Indonesia. fokus dan terukur. 2. meliputi: a. Menimbang : a. c. Prasyarat dan Strategi MP3EI. strategi yang tepat. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas. b. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025.Lampiran 5. Pemantauan dan Evaluasi MP3EI. 171 Naskah Akademik Perubahan UU No. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. 18 Tahun 2002 . Pelaksanaan. perlu menetapkan Peraturan Pr es iden tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. bahwa dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian nasional yang lebih solid. yang selanjutnya disebut MP3EI. b. (2) MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan. Pendahuluan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. (4) MP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini.

Menteri Keuangan. 4. 172 Naskah Akademik Perubahan UU No. 2.Pasal 2 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. (2) KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: a. melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI. menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI. Wakil Ketua Harian II : Ketua Komite Ekonomi Nasional. Menteri Perdagangan. berfungsi sebagai: a. Menteri Perhubungan. Menteri Dalam Negeri. yang selanjutnya disebut KP3EI. 18 Tahun 2002 . : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. dan b. 7. Menteri Pertanian. yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan. Menteri Perindustrian. Wakil Ketua Harian I : Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Menteri Sekretaris Negara. Anggota : 1. melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Menteri Pertahanan. 3. 6. 10. Pasal 5 (1) KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Ketua Harian : Presiden Republik Indonesia. Pasal 4 (1) Koordinasi pelaksanaan MP3EI dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. 9. dan c. : Wakil Presiden Republik Indonesia. dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 5. acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait. b. Menteri Pekerjaan Umum. acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing. Pasal 3 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. 8.

diangkat dan diberhent ikan oleh Menter i Koordinator Bidang Perekonomian. (2) Pelaksanaan tugas KP3EI sehari-hari dipimpin oleh Ketua Harian. Menteri Badan Usaha Milik Negara. 24. dapat berasal dari unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non-PNS. Menteri Pendidikan Nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Menteri Riset dan Teknologi. Menteri Lingkungan Hidup. Menteri Kelautan dan Perikanan. Kepala Badan Pertanahan Nasional. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. Menteri Kehutanan. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. 21. 22. Sekretaris Kabinet. . Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. keanggotaan serta tata kerja Tim Kerja. 18 Tahun 2002 Untuk membantu pelaksanaan tugas KP3EI. 19. dipimpin oleh Sekretaris KP3EI. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. 13. 18.11. (2) Tenaga profesional pada Sekretar iat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 173 Naskah Akademik Perubahan UU No. KP3EI didukung oleh Sekretariat KP3EI. Pasal 11 (1) PNS yang ditempatkan pada Sekretariat KP3EI berstatus dipekerjakan. dibentuk Tim Kerja. (2) Sekretariat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri Komunikasi dan Informatika. 12. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia. 14. Ketua Komite Inovasi Nasional. Pasal 9 Sekretaris KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). 15. susunan organisasi. Pasal 10 (1) Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas Sekretariat KP3EI. 20. 16. (3) Susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat KP3EI ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. Sekretaris KP3EI mengangkat tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. Pasal 6 Pasal 7 Mekanisme dan tata kerja KP3EI. 17. 25. 26. 23. Pasal 8 (1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya. yang secara administrasi berkedudukan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

yang berhenti atau telah berakhir masa baktinya. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pasal 12 Hak keuangan dan fasilitas lainnya bagi Sekretaris KP3EI dan tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. (3) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dari jabatan organik di instansi induk yang bersangkutan. Pasal 14 Peraturan Presiden ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. H. Pasal 13 Segala biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas KP3EI. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO 174 Naskah Akademik Perubahan UU No.(2) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikkan pangkatnya setiap kali setingkat lebih tinggi tanpa terikat jenjang pangkat. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kembali kepada instansi induknya apabila belum mencapai usia pensiun. ttd DR. 18 Tahun 2002 . (5) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dengan hormat sebagai PNS apabila telah mencapai batas usia pensiun dan diberi hak-hak kepegawaian. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. (4) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian setelah mendapat pertimbangan dar i menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang keuangan dan menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang aparatur negara.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. . Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset dan Teknologi. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Bersatu II. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 20102014. 175 Naskah Akademik Perubahan UU No. 7. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2004 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP).Lampiran 6. 5. 2. 8. 9. 4. Pengembangan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). 18 Tahun 2002 3. Menimbang : bahwa dalam rangka revitalisasi serta penajaman program dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi yang mendukung penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45. 6. Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. Mengingat : 1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Tahun 2011-2025. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. perlu dilakukan perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 20102014. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243b /M/Kp/IX/2011 TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 2010-2014 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4402). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4219). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.

dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. program. : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. 18 Tahun 2002 . : Dengan berlakunya Keputusan ini. : Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 merupakan panduan dalam melaksanakan penyusunan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. TTD.PERTAMA : Menetapkan Perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi. maka Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. SUHARNA SURAPRANATA KEDUA KETIGA KEEMPAT 176 Naskah Akademik Perubahan UU No.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II. bahwa strategi pembangunan iptek dilaksanakan melalui dua prioritas pembangunan. 3. yang selanjutnya 177 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. maka perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. peningkatan penelitian. pengembangan. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246 /M/Kp/IX/2011 TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. b. . bahwa arah penguatan SINas diperlukan sebagai pedoman untuk refocusing dan sinergi dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara efektif dan efisien. PERTAMA : Menetapkan Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. bahwa penguatan SINas diarahkan untuk penciptaan ruang bagi interaksi dan kolaborasi pelaku inovasi. Mengingat : 1. 2. dan huruf c. 18 Tahun 2002 d. dan penerapan iptek. 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 5. serta mendorong pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. huruf b.Lampiran 8. Menimbang : a. c. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL. yaitu penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014. percepatan koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi.

SUHARNA SURAPRANATA KETIGA KEEMPAT 178 Naskah Akademik Perubahan UU No.disebut Arah Penguatan SINas sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. TTD. KEDUA : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA adalah dokumen kebijakan untuk refocusing dan sinergi dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 30 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. 18 Tahun 2002 . : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA merupakan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara lebih efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional.

tentu tidak terlepas dari kontribusi saudara semua. Bruce Alberts dapat lekas pulih kembali seperti sediakala. dan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. pendidikan. Indonesia dan Amerika Serikat kini sedang aktif menggarap suatu Kemitraan Strategis baru: yaitu suatu kemitraan komprehensif. yang mencakup kerja sama dalam berbagai sektor penting bagi kedua negara. Yang Mulia Ambassador Cameron Hume. yang baru saja dibacakan oleh Duta Besar Cameron Hume. yang semula akan hadir di sini mengalami musibah kecelakaan. SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA SILATURRAHIM DENGAN AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI) DAN MASYARAKAT ILMIAH Serpong. bangsa. Kita sungguh berharap. Dr. Saya juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pernyataan Presiden Barack Obama. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Para Ilmuwan yang tergabung dalam AIPI. 179 Naskah Akademik Perubahan UU No. kerja sama di bidang pendidikan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemitraan strategis kedua negara. pertemuan ini dapat merintis jalan ke arah peningkatan kerja sama antara Indonesia-Amerika Serikat. Yang saya hormati Gubernur Banten. yang di antaranya mencakup kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan insya Allah kesehatan. Insya Allah. kita tetap diberi kekuatan. Mr. 18 Tahun 2002 . atas pemikiran. LIPI. Kemajuan yang kita capai hingga hari ini. sehingga kita dapat bertatap muka dalam kesempatan yang membahagiakan ini. Kemitraan Komprehensif ini dapat diresmikan dalam kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia yang direncanakan tahun ini. Allah SWT. saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para ilmuwan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Hadirin sekalian yang saya muliakan. Bapak Prof. kajian. Assalamu’alaikum Wr Wb Salam sejahtera untuk kita semua. dan negara. Pandangan yang konstruktif dan ajakan positif Presiden Obama untuk meningkatkan kerjasama bilateral di bidang Iptek. dan asosiasi-asosiasi ilmu pengetahuan di Indonesia. Melalui kesempatan ini pula. energi dan perubahan iklim patut kita sambut dengan baik. Saudara-saudara. Mari kita doakan. memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Presiden Republik Indonesia ketiga. karena atas rahmat dan karunia-Nya. Yang saya hormati Menteri Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II.Lampiran 9. Marilah kita bersama-sama. Saya juga menyambut baik pernyataan Presiden Obama di Kairo bulan Juni tahun lalu. 20 Januari 2010 Bismillah Hirrahmanirrahim. Bruce Alberts. Baharudin Jusuf Habibie. Yang saya hormati. agar Mr. Namun kita semua juga merasa prihatin bahwa US Science and Technology Special Envoy. di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam kaitan ini. bahwa Amerika Serikat kini berkomitmen untuk membangun kemitraan baru—“a new beginning”—dengan dunia Islam.

komputer dan handphone hanya dinikmati oleh segelintir orang. perubahan yang kita alami di Abad ke-21 akan bergerak sangat pesat. harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. irigasi. Penemuan mesin uap memulai revolusi industri dan mengubah sejarah Eropa. KEDUA. Penemuan reaksi fisi nuklir menghasilkan bom atom dan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia. Abad ke-21 justru dapat kita wujudkan menjadi suatu “confluence of civilizations”. dan dapat saling memperkaya dan melengkapi. yang akan memperkokoh landasan bagi perdamaian dunia. kalau kita ingin membangun suatu peradaban dunia (global civilization). ada 1 miliar komputer. kita perlu terus membangun jembatan antar-peradaban. teknik sipil. sebagian besar umat Islam saat ini masih tertinggal dalam pencapaian Millenium Development Goals. anestesi. sebagian besar umat manusia akan terjamah oleh komputer. Semua pihak harus berperan aktif menyebarkan soft power. Mari kita memulai dengan suatu preposisi: “Abad ke-21 akan menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia”. Peradaban manusia juga sering berubah karena ide-ide dan penemuan-penemuan baru. kita sedang berada dalam arus perubahan sejarah yang sangat dahsyat. kimia. Ada yang menyatakan bahwa arus perubahan dalam 10 tahun mendatang. aljabar. internet dan telepon selular. Dan KETIGA. navigasi. Misalnya: dalam kurun waktu hanya sekitar 100 tahun. Masih banyak umat Islam yang terlalu bernostalgia terhadap kejayaan di masa lalu. rumah sakit pertama. email. Islam. tanpa memahami bahwa peluang untuk maju dan berkarya di depan mata justru jauh lebih besar. ke kecepatan suara. Dengan pusat peradaban di Baghdad. dan juga dalam artikel The Economists yang saya tulis. Sewaktu saya berpidato di Harvard University akhir tahun lalu.3 miliar pengguna handphone–sekitar separuh dari jumlah penduduk dunia. masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kini. Penemuan bubuk mesiu menimbulkan transformasi militer dengan segala implikasi politiknya. dan bahkan sudah mendarat di bulan. Penemuan vaksin di abad ke-18 mengubah ilmu kodokteran dan menyelamatkan jutaan umat manusia. tetapi suatu visi yang realistis–an achieveable vision. dan 3. Kita lihat saja komputer. saya menekankan bahwa Abad ke-21 tidak harus mengikuti skenario “clash of civilizations”. Berbeda dari abad-abad sebelumnya. Proses ini akan terus berkembang. 180 Naskah Akademik Perubahan UU No. ke kecepatan jet. Meskipun terdapat kemajuan di beberapa komunitas Islam. Kita meyakini bahwa di paruh kedua Abad-21. manusia dapat bergerak dari kecepatan kuda. Bahkan. Disadari atau tidak. karena umat Islam membuka diri dan mengejar ilmu pengetahuan di manapun. optik. ke kecepatan mobil. memang. puncak kejayaan Islam sebagai peradaban dunia yang paling maju di Abad ke-13 justru terjadi. 18 Tahun 2002 . di seluruh dunia. serta masih termarginalisasi dalam era globalisasi. astrologi. tanpa penguasaan umat Islam di bidang iptek. Timur–dapat hidup berdampingan secara damai. Pesan dan pelajaran sejarah ini masih tetap relevan–bahkan semakin relevan–sekarang: “siapa yang mau maju. 20 tahun kemudian. Islam tidak pernah bertolak belakang atau memusuhi ilmu pengetahuan–bahkan Islam selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. Kita yakini bahwa hal ini bukan sebuah utopia.4 milyar orang telah mempunyai e-mail.Hal ini penting karena beberapa hal : PERTAMA. di mana seluruh peradaban dunia–apakah Barat. dan kapal-kapal perdagangan. Hadirin yang saya hormati. terutama di antara dunia Barat dan dunia Islam. dan Human Development Index. tidak akan pernah ada the second Islamic renaissance di Abad ke-21. umat Islam mencatat berbagai kemajuan dan penemuan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai sekarang kita rasakan manfaatnya: kompas. 1. Di awal tahun 1990an. internet dan handphone. akan lebih deras daripada perubahan dalam 100 tahun terakhir.

Teknologi tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu saja—bukan 181 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Saudara-saudara. industri. the biggest driver for change adalah teknologi. apakah itu untuk pertanian. karena kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Indonesia tidak punya musuh. Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan. Saudara-saudara. suhu dunia telah naik sekitar 0. Sebelum kebangkitan nasional tahun 1908. atau individu. kita tidak bisa lagi hanya mengutuk masa lalu atau menyalahkan orang lain. untuk membangun perekonomian. kunci dari keunggulan Indonesia di Abad ke-21 adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. dan untuk menjadi bangsa yang terhormat. Kecenderungan ini akan terus menguat. maju dan kompetitif. khususnya perubahan iklim. dan tidak ada negara lain yang memusuhi Indonesia. Dalam menghadapi arus sejarah yang dahsyat ini. Amerika Utara tumbuh pesat. Di Abad ke-21. Dalam abad yang sangat progresif ini. karena proses pengembangan teknologi tidak akan pernah berhenti. untuk memacu pertumbuhan dan produktivitas. Jepang mengalami Restorasi Meiji. Konsentrasi karbondioksida meningkat 36%. dan Kerajaan Islam Otoman berjaya. dan lapisan ozon semakin menipis. dan kunci sukses untuk mencapai itu adalah inovasi. pendidikan.Sejumlah negara–baik besar maupun kecil—yang dulu dikenal sebagai “negara miskin” kini telah melejit menjadi ekonomi yang unggul. untuk menjaga keutuhan wilayah. Dewasa ini. perdagangan. keuangan. Kalau kita kelak tampil unggul di depan yang lain. Kalau kita tidak cepat meng-atasinya. Indonesia sendiri. Inilah yang sering disebut sebagai “intangible intellectual resources”. atau “knowledge capital”. Abad ke-20 adalah abad kebangkitan nasional. abad kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. untuk menangkal separatisme. Salah satu penyebab bangsa kita terbelakang selama ratusan tahun adalah.6 derajat celcius. pada saat Eropa mendominasi dunia. . Itulah perjuangan kita di Abad ke-20. jasa. pertahanan. dan lain-lain. Amerika Latin menikmati masa kemakmuran. Kita juga melihat perubahan pesat ini di bidang lingkungan. Semenjak revolusi industri di Eropa 200 tahun lalu. Politik bebas aktif Indonesia kini diabdikan untuk mewujudkan “a million friends. saya yakin sekali bahwa dalam Abad ke-21 yang akan menjadi the most powerful driver of change adalah teknologi. zero enemy”. pertumbuhan ekonomi dan daya saing sebuah bangsa sangat disumbang oleh penguasaan teknologi. dan untuk mengembangkan jati diri bangsa. untuk mempertahankan kemerdekaan. Sesungguhnya pula merupakan bagian integral yang dinamis dari sebuah peradaban (civilization). karena nenek moyang kita tidak mendapatkan akses terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari belahan dunia lain. bangsa Indonesia masih terisolasi dalam penindasan kolonialisme. kita semua telah melihat dan merasakan: porsi teknologi dalam PDB kita semakin besar. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa adalah hasil dari suatu kerja besar yang terencana dan berkesinam-bungan. Kalau kita gagal. Kita mutlak membutuhkan persatuan untuk melawan penjajah. yang dulu pernah menjadi salah satu bangsa paling miskin di Asia. kesehatan. dan rakyat kita tenggelam dalam kebodohan dan kemiskinan. Makin nyata. situasinya telah berbeda: Hakikatnya. Kunci sukses kita untuk mencapai itu tiada lain adalah persatuan. karena ulah manusia. itu adalah kesalahan kita sendiri. Porsi Teknologi dan know-how semakin menonjol. terutama di negara-negara industri maju. untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. itu terjadi karena kerja keras dan kemampuan kita dalam beradaptasi. Karena itulah. perusahaan. untuk mengentaskan kemiskinan. Abad ke-21 adalah abad keunggulan. suhu dunia bisa naik 4 derajat Celsius dan membawa malapetaka bagi umat manusia dan bagi planet bumi—rumah kita satu-satunya. komunitas. kini telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. Apakah itu bangsa.

baik di Indonesia maupun di luar negeri. dan suatu etos. kita semua. Untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek. yang kemudian menghasilkan berbagai inovasi baru. suatu energi. dan bukan menjadi catatan pinggir. Itulah mindset yang akan mengantarkan kita menjadi Innovation Nation. Saya ingin ilmuwan Indonesia bahu membahu dengan ilmuwan internasional. Mungkin satu dua teknologi bisa dibeli seperti itu—namun tidak untuk mencapai technological society. dan syukur alhamdullilah pada tahun 2010 dapat kita tingkatkan menjadi Rp 1. Pendanaan dari kerjasama internasional juga merupakan alternatif yang makin terbuka. Inovasi juga menuntut sikap open-mind dan risk-taking. Sementara itu saya berpandangan. Dalam era globalisasi dewasa ini. tetapi juga mesti dianggarkan oleh dunia usaha yang juga memerlukan inovasi di perusahaannya masing-masing. Kita harus aktif bukan saja menyerap ilmu dari dunia. perlu diingat. Ini semua akan terwujud jika masyarakat kita. peneliti dan inovator harus berada di garis terdepan perubahan nasib bangsa. Kita berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia mengadakan riset. serta program yang berkesinambungan. inovasi juga memerlukan Investasi dan Insentif. bahwa cara penting untuk membangun inovasi adalah melalui pengembangan enterpreneurship. Di Amerika. namun dalam kemampuan untuk menyerap ilmu dan teknologi dari manapun untuk kepentingan rakyat Indonesia. Mau tidak mau. risk-taking. Komunitas iptek Indonesia harus berwawasan jauh lebih terbuka dan lebih progresif dari masanya. harus ada sumberdaya dan dana yang cukup. kita bercita-cita agar Indonesia menjadi bagian integral dari komunitas ilmuwan dunia. kita melihat bahwa inovasi tumbuh pesat sejalan dengan merebaknya enterpreneurship. Ingatlah. Jepang. dan juga knowledge society. peluang. saya menyadari bahwa alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D-research and development) di Indonesia pada tahun 2005 masih rendah – yaitu sekitar Rp 1 trilyun. Kita semua tahu bahwa enterpreneurship identik dengan inovasi. Cina. dan menjadi pendekar keunggulan. Namun. dan yang akhirnya mengakibatkan transformasi besarbesaran. sumberdaya dan dana penelitian dan pengembangan tidak hanya berasal dari APBN. Tentu saja jumlah inipun masih harus terus kita tingkatkan. “the rise of” Cina dan India—semuanya dimulai dengan suatu semangat. dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. dan Singapura. untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. Nasionalisme kita dicerminkan bukan dalam tindakan melawan atau menutup diri dari dunia. dan inventor.9 triliun. Saudara-saudara faktor kedua adalah. ilmuwan. 18 Tahun 2002 Karena itulah. dan tidak sejahtera. Sistem dan lingkungan nasional kita harus bisa melahirkan inovator-inovator yang kreatif. Mereka harus bisa menjadi ikon masyarakat. Untuk mencapai kondisi seperti itu ada sejumlah hal penting yang harus kita bangun dan lakukan. kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. dan dari masyarakat. Pertama. Inovasi tidak datang dari langit. perusahaan. pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan porsi itu menjadi lebih memadai. dan terbangunnya mindset baru. Karena itulah. Semua fenomena sejarah—apakah itu peradaban Islam. kita di Indonesia harus bisa mengembangkan budaya unggul—a culture of excellence— baik di birokrasi. maupun di sektor swasta. . adalah mengubah mindset. innovation is a state of mind. selain didukung mindset yang tepat. 182 Naskah Akademik Perubahan UU No. universitas. namun juga menyumbang ilmu untuk dunia.seperti membeli barang di supermarket. Renaissance di Eropa. apalagi hidup tanpa penghormatan. tanpa apresiasi. dan lain-lain. namun memerlukan inkubator-inkubator—di lingkungan pemerintah. Karena itulah. tampilnya Amerika sebagai superpower. di universitas. Kita harus bisa menjadi Innovation Nation —bangsa inovasi! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif. Restorasi Meiji di Jepang. bukan sikap yang kaku dan dogmatis. benar-benar menghargai kerja keras kaum peneliti. Ilmuwan. Korea. dan dinamisme. Inovasi itu adalah suatu semangat. India. Pada awal saya mengemban amanah rakyat.

bahkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. sering terjadi. Saudari Tri Mumpuni. Kedua. Kita juga harus mulai mencapai high-end products. serta penguasaan teknologi yang menjemput masa depan. teknologi kesehatan. dan surya. Ketiga. Bahkan. hidroenergi dan Rumah Sederhana Tahan Gempa. Pertama. atau kombinasi dari semuanya. Saya juga bangga bahwa seorang inovator energi kita. meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan seperti geothermal. Hadirin sekalian yang saya hormati. teknologi air bersih. kebijakan pemerintah dan kolaborasi. networking antara inkubator menjadi sangat penting. 18 Tahun 2002 . misalnya melalui satelit. Kelima. apakah itu kolaborasi antarpemerintah. pemeliharaan lingkungan hidup. Hal ini penting karena pada saat ini dan ke depan. industri akan tetap menjadi tulang panggung ekonomi Indonesia. bibit unggul. serta meningkatkan teknologi pengawasan hutan. peningkatan industri. lembaga kajian dan universitas manapun di dunia. ketahanan pangan dan energi. Faktor ketiga adalah. Saya mendorong ilmuwan Indonesia untuk menjalin networking dan kolaborasi yang seluas-luasnya dengan lembaga penelitian. yang pasti akan terus bermutasi 183 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kita sudah menetapkan target penurunan emisi 26% untuk tahun 2020 dari “business as usual”. teknologi pangan. hampir semua inovasi teknologi merupakan hasil dari suatu kolaborasi. Inovasi segar seperti ini harus terus dikembangkan dan disebarkan. pihak yang lebih cerdik mendayagunakan teknologi bisa lebih maju dari pihak yang menemukan teknologi itu sendiri. antar-ilmuwan. teknologi yang kita cari dan pilih haruslah tetap relevan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan. Namun perlu diingat. Kalau kita lihat dari bukti-bukti empiris. teknologi untuk mengentaskan kemiskinan–pro-poor technology. bangsa Indonesia harus makin menguasai teknologi. antar-perusahaan. meningkatkan hasil panen. pada saatnya nanti Indonesia menjadi “major food producer” di dunia internasional. ke depan. yaitu padat teknologi dan padat karya. H1N1 dan virus-virus berbahaya lainnya. Dunia kini boleh dikatakan sedang panen teknologi. yang sangat penting bagi kesejahteraan rakyat kita (food security). dan melipat-gandakan produktifitas pangan guna mencapai kondisi swasembada. lebih produktif dan lebih mempunyai nilai tambah. yang dapat menjawab tantangan-tantangan pokok itu. ketangguhan pertahanan dan keamanan negara. Karena itulah. Kita memerlukan teknologi pertanian baru untuk mencari bibit unggul. Produk-produk industri Indonesia harus bisa menunjang pencapaian 2 aspek penting. menyerap dan mengembangkan teknologi baru untuk pembangunan Indonesia. angin. Misalnya: telekomunikasi murah untuk desa terpencil. Kita harus mencari teknologi terkini untuk memerangi penyakit-penyakit menular : apakah itu H5N1. teknologi industri. untuk mendeteksi hotspot kebakaran hutan. Tantangan itu antara lain adalah : pengentasan kemiskinan. dan telah mendapatkan pengakuan internasional. Saya ingin. menciptakan branding yang dikenal dunia internasional. Keempat. dan target ini bisa ditingkatkan menjadi 41% apabila ada bantuan internasional yang memadai. Teknologi sering disalahpersepsikan seolah hanya untuk kepentingan industri besar yang canggih saja. teknologi hijau – green technology. karena ini adalah kunci sukses bagi masa depan kita. Salah satu ciri Era Globalisasi dewasa ini adalah keniscayaan untuk sebuah knowledge-sharing antar bangsa. telah merintis pembangunan energi mikro-hidro di desa-desa. dan bahkan bisa bersaing dalam aspek desain yang selama ini cenderung didominasi industri negara-negara maju. Padahal untuk negeri kita juga diperlukan teknologi yang dapat memberdayakan rakyat miskin. Untuk itu. antar-universitas.Yang juga penting diingat: kita tidak harus selalu menjadi inventor teknologi baru. kita harus menerapkan pembangunan yang hemat energi (low carbon footprint). Namun kita harus cerdik mencari. Kita harus bisa membuat industri kita lebih efisien. Karena itulah.

Banyak emerging economies --seperti Cina. di Indonesia. termasuk penguasaan “revolution in military affairs” (RMA). baik perikanan. Saya berpendapat. 18 Tahun 2002 . komunitas ilmuwan dan swasta. negara-negara berkembang. Dan. yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. berkaitan dengan pandangan ini. untuk ikut memastikan bahwa Sistem Inovasi Nasional dapat berkembang dan berjalan dengan baik. tapi kita belum menjadi negara maritim yang kuat. TNI harus terus meningkatkan postur dan kapabilitasnya. sama seperti bencana alam. akan menjadi salah satu ancaman paling riil bagi bangsa kita di abad ke-21. TNI harus meningkatkan kapasitas untuk melakukan military operations other than war (MOOTW). teknologi masa depan: yaitu nano technology. dunia Islam. kita belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melakukan offshore drilling apalagi deep sea drilling. emerging economies. Seperti yang kita alami dalam kasus epidemi H1N1 (Swine Flu). Polri dan aparat intelijen juga harus terus meningkatkan kemampuan operasionalnya untuk melawan kejahatan trans-nasional. teknologi pertahanan. yang terus dapat ditingkatkan keunggulan dan daya saingnya. Indonesia tidak boleh tertinggal. dan dengan berkolaborasi dengan dunia internasional.mengancam keluarga kita dan bahkan umat manusia. Dan kita mempunyai hubungan yang baik dengan semua pihak—baik dunia Barat. Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi knowledge society. kita juga harus mengembangkan Sistem Inovasi Nasional. menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor. Setiap negara mempunyai Sistim Inovasi Nasional dengan corak yang berbeda dan khas.yang kini mulai merintis teknologi-teknologi baru ini. Kita memiliki sumberdaya manusia yang tangguh. Sementara itu. yaitu suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka-panjang dapat mendorong. dari Miangas ke Pulau Rote. meskipun sudah mulai diterapkan di beberapa negara yang mengalami transformasi. Saya senang sekali bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH) sudah mulai membangun pusat riset untuk nano-technology. Sebagai negara Nusantara. Untuk mengembangkan semua ini. 184 Naskah Akademik Perubahan UU No. kedelapan adalah. dan lain-lain—yang semuanya dapat menjadi mitra pembangunan Indonesia. TNI juga harus mempunyai kemampuan untuk melakukan surveillance dan menjaga pulau-pulau terpencil. yang terbentang dari Sabang ke Marauke. Kita dikaruniai wilayah yang sangat luas. Kita juga harus mendapatkan teknologi canggih untuk bisa mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Saat ini. Karena itulah. Ketujuh. termasuk kelompok teroris yang juga memanfaatkan teknologi yang canggih. hydrocarbon dan mineral. kita harus membangun teknologi kelautan. Disini. serta bentuk kerjasama yang lain. Oleh karena itu. apalagi kalau menyangkut virus yang datang dari luar yang kita tidak mempunyai vaksinnya. bio-engineering. Indonesia secara fisik adalah negara Kepulauan terbesar di dunia. Kita harus bisa meningkatkan kualitas dan tingkat teknologi industri pertahanan kita– termasuk melalui joint production dengan industri militer negara-negara lain. misalnya untuk konversi air minum atau teknologi perkapalan. dan dalam skala nasional. genomics. dibutuhkan suatu Sistim Inovasi Nasional. dan lain-lain. Virus berbahaya. Indonesia tidak bisa menangani ancaman ini sendiri. dalam waktu dekat saya akan membentuk Komite Inovasi Nasional. teknologi maritim. yang didasarkan pada suatu kemitraan antara pemerintah. serta kemampuan peace-keeping operation di wilayah-wilayah konflik di dunia. kita harus bekerja-sama dua arah : kita berbagi ilmu dan penemuan dengan dunia kesehatan internasional. Teknologi-teknologi revolusioner ini tentu tidak sepatutnya hanya didominasi dan dimonopoli negara-negara maju saja. misalnya. India. Hadirin sekalian yang saya hormati. sebagaimana kita terus mengharapkan dunia luar berbagi dengan kita. Keenam. yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Kita mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. Konsep seperti ini relatif baru. mendukung. wilayah perbatasan dan lautan Nusantara yang terbentang luas. dan Brazil . robotics.

ke depan. menjadi bangsa yang maju dan jaya di Abad ke-21. masa gemilang itu akan datang. Insya Allah. kebersamaan dan kerja keras kita. Terima kasih. Kalau visi ini kelak tercapai. 185 Naskah Akademik Perubahan UU No. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. resource-based and culture-based development. atau knowledge-based. Indonesia mempunyai peluang emas untuk memajukan kehidupan bangsa kita. serta dengan persatuan. bangsa kita akan mengalami transformasi yang fundamental. developed country. Strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju.Karenanya. adalah dengan memadukan pendekatan sumberdaya alam. 18 Tahun 2002 . dengan semua ini. iptek dan budaya. Mari kita songsong era itu dengan kepercayaan sebagai sebuah bangsa yang penuh inovasi. dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful