NASKAH AKADEMIK

PERUBAHAN UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2012

1

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latarbelakang

Pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab adalah: apa kontribusi teknologi dalam negeri terhadap pembangunan nasional? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi tolok ukur bagi perkembangan Sistem Inovasi Nasional (SINas) di setiap negara, termasuk Indonesia.1 Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan ‘sederhana’ ini, maka perlu didahului dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang anatomi permasalahannya. Sesungguhnya banyak kelembagaan di Indonesia yang melakukan kegiatan riset. Setiap institusi pendidikan tinggi wajib melakukan kegiatan riset sebagaimana amanah Tridharma Perguruan Tinggi. Tiga tugas pokok institusi pendidikan tinggi negeri maupun swasta adalah melakukan kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain instansi pendidikan tinggi, di Indonesia juga terdapat banyak lembaga riset pemerintah dan non-pemerintah.2 Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi. Rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan
1

Sistem Inovasi Nasional adalah sistem aliran teknologi dan informasi antara kelembagaan pengembang-pengguna teknologi, didukung oleh kelembagaan terkait lainnya, yang menjadi kunci dari proses inovatif pada suatu negara. Dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi terdapat 7 kelembagaan yang tugas pokoknya menyelenggarakan riset atau kegiatan yang terkait dengan implementasi hasil riset. Kelembagaan riset tersebut berstatus sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK). Selain LPNK tersebut, pada masing-masing kementerian teknis juga terdapat Badan Penelitian dan Pengembangan masing-masing. Kelembagaan riset non-pemerintah terdapat di beberapa industri besar, selain itu juga ada yang berupa lembaga riset independen yang diselenggarakan oleh masyarakat.

2

2

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional. Berfungsinya SINas tidak hanya membutuhkan: [1] keberadaan lembaga pengembang teknologi yang produktif dan berkualitas;3 [2] industri yang dikelola dengan baik dan didukung tenaga kerja terampil dan/atau terdidik yang produktif serta kelimpahan bahan baku; dan [3] fasilitasi aktif dari pemerintahan serta kebijakan dan regulasi yang mendukung pewujudan ekosistem yang kondusif; tetapi juga membutuhkan [4] niat dan motivasi yang tinggi antara pihak pengembang dan pengguna teknologi untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain berdasarkan asas kesetaraan dan saling menguntungkan (mutualistik). UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan fungsi dari sistem nasional litbangrap iptek adalah untuk membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sistem nasional litbangrap iptek. Paradigma yang lalu menempatkan pihak pengembang teknologi (institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset) secara dominan dalam mewarnai ‘genre’ teknologi yang dikembangkan. Pendekatan yang lebih dominan bersifat supply-push ini ternyata gagal dalam mempersuasi industri dan pihak pengguna lainnya untuk mengadopsi teknologi hasil riset oleh perguruan tinggi maupun lembaga riset tersebut. Kegagalan paradigma yang lalu ini perlu disikapi secara cerdas dan objektif, dengan mengesampingkan kepentingan sektoral ataupun profesi. Tentu perlu telaah komprehensif terhadap anatomi permasalahan dalam implementasi paradigma supply-push yang kurang optimal tersebut, selain juga perlu dilakukan pencermatan yang matang terhadap alternatifalternatif untuk memperbaiki paradigma lama tersebut. Kenyataan ini menjadi argumen yang sangat kuat untuk melakukan penelaahan terhadap posisi SINas Indonesia saat ini dan mencari alternatif pendekatan yang tepat agar pola hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat efektif, efisien, dan produktif menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan rakyat Indonesia, yang berarti sekaligus secara nyata akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan (perekonomian) nasional. Upaya mengubah paradigma yang lama dengan paradigma yang baru agar ditekankan pada pola dan arah hubungan antara pengembang dan pengguna teknologi serta pihak-pihak lain yang terkait. Secara substansial upaya ini dapat disebut sebagai upaya reorientasi arah dan pola hubungan antar-aktor dalam sistem nasional litbangrap iptek. Diharapkan dengan melakukan
3

Kualitas kelembagaan pengembang teknologi dilihat dari kualitas akademik sumberdaya manusia (SDM) yang mengawakinya, ketersediaan sarana dan prasarana riset yang canggih dan sesuai dengan kebutuhan fokus riset yang menjadi tugas pokoknya, ketersediaan dan/atau kemudahan mengakses sumber informasi ilmiah, dan fasilitas pendukung lainnya untuk menciptakan suasana akademik (academic environment) yang kondusif, serta kemampuannya dalam mendifusikan teknologi yang dihasilkan kepada pengguna potensial.

3

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

reorientasi sistem nasional litbangrap iptek, maka teknologi domestik yang dihasilkan akan lebih berpeluang untuk diadopsi oleh para pengguna, terutama industri dan pelaku produksi lainnya di dalam negeri. Resultan dari adopsi teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa ini adalah peningkatan kontribusi nyata teknologi terhadap pembangunan nasional. Satu hal yang sangat fundamental yang perlu reorientasi adalah anggapan bahwa masalah litbangrap iptek merupakan permasalah teknologi yang berkaitan dengan ekonomi (economically-related technological problems), padahal sesungguhnya penguatan sistem nasional litbangrap iptek adalah permasalahan ekonomi yang butuh dukungan teknologi untuk memecahkannya (technologically-related economical problems). Kemajuan perekonomian sangat tergantung pada kinerja litbangrap iptek-nya, yang pada prinsipnya adalah tergantung pada kapasitas negara dalam mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dan sesuai pula dengan kapasitas adopsi dari para pengguna teknologi. Untuk kasus Indonesia, kesadaran akan pentingnya peran teknologi dalam pembangunan perekonomian nasional tersurat dari ditetapkannya pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sebagai salah satu dari tiga strategi utama dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), disamping dua strategi utama lainnya, yakni pengembangan potensi ekonomi melalui enam koridor yang telah ditetapkan dan memperkuat konektivitas nasional.4 Kesesuaian teknologi dengan kebutuhan nyata membuka peluang lebih lebar untuk teknologi tersebut dapat diadopsi, namun belum sepenuhnya menjamin bahwa sistem nasional litbangrap iptek akan otomatis terbangun. Ekosistem yang kondusif sangat dibutuhkan untuk tumbuh-kembang inovasi, terutama dalam bentuk kebijakan dan regulasi yang akomodatif, yang memudahkan para aktor inovasi untuk berkomunikasi dan berinteraksi serta juga memudahkan proses adopsi teknologi domestik oleh para pengguna di dalam negeri. Arahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono5 untuk mengutamakan upaya pemenuhan kebutuhan (demand) pasar domestik menumbuhkan semangat untuk lebih gigih mewujudkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek yang lebih handal. Penduduk Indonesia yang saat ini (BPS, 2010) telah mencapai 237 juta, merupakan pasar yang sangat besar dan menjadi target banyak negara asing dalam memasarkan produknya. Para pengembang teknologi dan industri dalam negeri harus bahu membahu membangun sinergi untuk tidak membiarkan pasar domestik Indonesia dibanjiri oleh produk dan/atau jasa dari negara-negara asing.

4

Untuk pelaksanaan MP3EI, telah pula diterbitkan Perpres 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menetapkan tiga kelompok kerja (Pokja), yakni: Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi, Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Pokja SDM dan Iptek. Pokja SDM dan Iptek diketuai oleh Menteri Pendidikan Nasional dan wakil ketuanya adalah Menteri Negara Riset dan Teknologi, dengan anggota dari kementerian PPN/Bappenas, Ristek, Diknas, Nakertrans, Keuangan, UKM dan Koperasi, serta dari anggota KIN, Kadin, dan ketua asosiasi profesi dan usaha terkait. Pada Seminar di Institut Teknologi 10 November Surabaya tanggal 14 Desember 2010.

5

4

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sinergi pengembang-pengguna teknologi dalam penguatan inovasi nasional merupakan aksi yang tepat dan sepatutnya dilakukan. Inisiatif inovasi dari Komite Inovasi Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan, Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), antara lain menyebutkan penguatan inovasi melalui skema 747 memerlukan pendanaan R&D hingga 1% dari GDP. Skema 747 ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi, pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi, dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. Peningkatan dukungan pendanaan untuk menunjang program inovasi ini dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan daya dukung pemerintah, BUMN, dan partisipasi badan usaha. Akan sangat ideal jika Pemerintah mampu mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 melalui pembentukan ekosistem yang lebih kondusif melalui regulasi dan kebijakan yang tepat. Adanya peraturan perundang-undangan yang konsisten dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance), sehingga tumbuh-kembang sistem nasional litbangrap iptek dapat berlangsung secara lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

1.2.

Permasalahan

Hasil penelitian LIPI (Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera, 2000) terkait dengan sistem penelitian iptek dan sistem inovasi nasional, antara lain menyimpulkan inovasi masih belum memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional. Menurut Benyamin Lakitan (2012), rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek

5

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi.

bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional.

1.3.

Maksud dan Tujuan Penulisan

Pertanyaan yang fundamental dan filosofis perlu ditranslasi menjadi pertanyaan-pertanyaan teknis dan operasional agar jawabannya juga menjadi lebih dapat ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang menjadi batu sandungan dalam upaya mewujudkan penguatan inovasi secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat.6 Berbagai persoalan terkait rendahnya kontribusi teknologi di Indonesia saat ini diyakini berakar pada tidak relevannya teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang dihadapi rakyat, bangsa, dan negara ini. Persoalan terkait dengan upaya penguatan inovasi tidak dapat disederhanakan secara berlebihan (over-simplified) hanya menjadi persoalan relevansi teknologi. Disadari betul bahwa upaya penguatan inovasi nasional merupakan upaya penguatan sistem inovasi yang sangat kompleks. Banyak aktor yang ikut berperan, dengan derajat dan jenis partisipasi yang berbeda tentunya. Banyak faktor yang mempengaruhi ekosistem dimana sistem inovasi ditumbuhkan, termasuk ekonomi, sosio-kultural, hukum, dan politik. Interaksi dari berbagai aktor dan faktorfaktor yang ikut berpengaruh tersebut yang akan membentuk sistem inovasi nasional yang lebih kokoh. Selain kompleks, upaya penguatan inovasi juga sensitif terhadap dinamika peran para aktor dan faktor-faktor pembentuk ekosistem tumbuhnya. Memahami persoalan dalam upaya penguatan inovasi nasional yang sangat kompleks tersebut, maka penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dimaksudkan untuk: [1] Memahami realita dan permasalahan dalam upaya penguatan kemampuan penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan iptek saat ini; [2] Mencoba merajut sosok ideal SINas Indonesia dalam mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat; [3] Mengidentifikasi dan mengantisipasi dinamika perubahan faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi ekosistem SINas (lingkungan strategis); dan [4] Mengembangkan konsepsi SINas Indonesia yang realistis yang diyakini mampu diaktualisasikan untuk mewujudkan sasaran penguatan inovasi. Penulisan dokumen ini bertujuan untuk digunakan sebagai bahan referensi akademik yang menjadi dasar pertimbangan perubahan UU No. 18 Tahun 2002, terutama dalam penyusunan regulasi yang relevan dengan upaya mewujudkan penguatan inovasi yang lebih produktif dan menyejahterakan rakyat. Sebagai referensi akademik, dokumen cetak biru ini diharapkan

6

Perlu selalu diingat bahwa konsitusi UUD 1945 jelas mengamanahkan bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa (Pasal 31 ayat 5).

6

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

pembangunan klaster inovasi daerah. peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. mutakhir. maka dokumen cetak biru ini walaupun kental berbasis akademik. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menggunakan metode pendekatan deskriptifanalitis. pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. serta memberikan kerangka konsepsi yang objektif dan mungkin-dicapai (achievable) dengan sumberdaya yang dimiliki Indonesia. 32 Tahun 2011 tentang MP3EI.4. pengembangan sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. namun diupayakan agar mudah dan enak dibaca dengan gaya bahasa dan penggunaan terminologi yang lebih bersahabat (reader-friendly). dan g. Metode Penelitian Hukum Penyusunan Naskah Akademik tentang Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Sesuai Perpres No. terutama bagi para pembuat kebijakan dan regulasi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pengembangan. d. selanjutnya dilakukan analisis yang menjadi bagian-bagian sebagai sistem yang terbagi atas sub sistem-sub sistem dari suatu ekosistem sebagai suatu kesatuan dalam merumuskan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. f. c. dan dengan pendekatan dari segi pengelolaannya secara terpadu. penelitian ini menggunakan pendekatan secara interdisipliner dan multidisipliner. Pendekatan ini menggambarkan berbagai permasalahan secara utuh dan menyeluruh. Karena tujuannya adalah untuk menjadi landasan dalam pembuatan kebijakan dan/atau regulasi. Selain itu. dan relevan dengan kondisi Indonesia. 1. b. pengembangan sistem remunerasi peneliti yang lebih baik.mampu memberikan informasi yang komprehensif. e. Melalui pendekatan interdisipliner akan diketahui hukum dan ilmu hukum yang mengatur penguatan inovasi dan melalui pendekatan multi disipliner akan diketahui ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang mendukung pengaturan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang 7 Naskah Akademik Perubahan UU No. Hasil analisis tersebut menjadi landasan untuk mengidentifikasi peraturan perundangundangan yang ada. revitalisasi infrastruktur R&D. langkah-langkah perbaikan ekosistem inovasi mencakup: a. 18 Tahun 2002 . Informasi ini merupakan langkah langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan ekosistem inovasi. khususnya hukum tertulis yang berlaku yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan upaya-upaya penguatan inovasi secara nasional. pengembangan sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. Pengembangan.

pemanfaatan dan pemajuan iptek untuk mendorong inovasi dan difusi teknologi seoptimal mungkin. serta kegiatan penelitian. Metode ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis. Sumber hukum materiil masalah perekayasaan. kemudian diupayakan untuk menarik azas-azas hukum dan rumusan norma yang akan dijadikan acuan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. majalah hukum. serta kegiatan penelitian. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi). inovasi. maupun putusan pengadilan yang terkait dengan inovasi teknologi. 8 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. maupun difusi teknologi. kertas kerja. Penelitian ini harus pula mendekati permasalahan yang ada dalam upaya peningkatan penguasaan. Penelusuran kepustakaan. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif. dan sebagainya) serta data-data yang diperoleh dari para anggota tim penyusunan naskah akademik. maupun yang terkait dengan perekayasaan. serta bahan hukum sekunder maupun tertier (hasil-hasil penelitian.Perubahan UU No. inovasi. 2. dengan data sekunder yang terdiri dari bahan-bahan hukum primer (peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perekayasaan. dengan mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan berlaku di Indonesia termasuk kebijakan inovasi nasional. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. maupun difusi teknologi ini mengacu pada inventarisasi permasalahan. Data ini selanjutnya dianalisis secara kualitatif berdasarkan norma-norma hukum yang berlaku dan disusun sebagai bagian dari pengembangan sistem hukum nasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. inovasi. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengkaji bahan-bahan seminar. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. hasil focus group discussion. Metode pendekatan sistemik ini digunakan sebagai konsekuensi dari pengertian dan pemahaman mengenai kompleksitas penguatan inovasi secara nasional. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Oleh karena itu penelitian ini secara futuristik harus menyangkut upaya pembangunan yang berkelanjutan dalam sistem hukum yang ada bagi penguatan inovasi nasional. pengkajian. 18 Tahun 2002 . dan merupakan bahan-bahan hukum dalam mempersiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. inovasi. makalah. konvensi dan traktat internasional yang terkait alih teknologi. Tahapan penelitian diawali dengan melakukan inventarisasi hukum. Pengembangan. khususnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kegiatan perekayasaan. Pada dasarnya penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Sedangkan inventarisasi dan pengolahan data dilakukan melalui: 1. maupun difusi teknologi. maupun difusi teknologi.

Hasil Diskusi atau informasi anggota tim di Kementerian Riset dan Teknologi. terutama untuk meningkatkan produktivitas nasional dan kesejahteraan. serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagaian Pendapatan Badan Usaha untuk Kegiatan Perekayasaan. Inisiatif inovasi nasional dari Komite Inovasi Nasional dalam rangka pencapaian tujuh sasaran inovasi nasional perlu diperkuat melalui peraturan perundang-undangan.3. kendala-kendala dalam prakteknya. dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. identifikasi masalah.5. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya penguatan inovasi. argumen tentang pentingnya upaya memperkuat inovasi nasional dalam rangka meningkatkan kontribusi teknologi. dan penerapan iptek. 18 Tahun 2002 Mencakup tentang latar belakang penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002. pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi. serta rincian sistematika penulisan dokumen. Ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya perlu diperhatikan. dan peraturan perundangundangan yang terkait.  Permasalahan secara garis besar memberikan gambaran kondisi kegiatan penelitian. tujuan dan kegunaan naskah akademik. Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional yang lebih tangguh. . dan 4. Program penguatan inovasi nasional ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi. termasuk pelaksanaan peraturan pelaksanaannya. Pengembangan. maka sistematika penulisan dirinci sebagai berikut: Bab I Pendahuluan (UU No. Inovasi dan Difusi Teknologi. pengembangan. maksud dan tujuan penulisan dokumen. serta berbagai kendala dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). metode penelitian hukum) Judul dan Deskripsi Substansi  Latar Belakang memberikan informasi awal tentang persoalan pokok yang dihadapi terkait dengan rendahnya kontribusi teknologi terhadap pembangunan nasional Indonesia. terutama Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual. Kajian ini mencakup bagaimana implementasi. metode penelitian hukum. Sistematika Penulisan Sesuai dengan maksud penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dan tujuan yang hendak dicapai. permasalahan. Mengkaji Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. sehingga 9 Naskah Akademik Perubahan UU No. 1. 12/2011: latar belakang. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

18 Tahun 2002. teori-teori hukum. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy) : Sri Mulatsih.  Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . pendidikan. penguatan inovasi. dan upaya penciptaan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang inovasi. dan fakta di masyarakat. pendekatan kesisteman. Kajian teoritis mencakup uraian tentang beberapa konsepsi penting termasuk makna inovasi. dan Prakoso Bhairawa Putera. Kementerian Riset dan Teknologi. 18 Tahun 2002. dilakukan analisis tentang ekosistem pembangunan nasional. dan aktor penting lainnya yang ikut menentukan dinamika ekosistem inovasi. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif. 18 Tahun 2002 . II Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi Mencakup kajian teoritis dan kajian implementasi UU No. ketenagakerjaan. dinamika interaksi antar-aktor. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Kajian implementasi UU No. pengembangan. 2005. dan penerapan iptek di Indonesia saat ini.  Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Kelembagaan Iptek.  Maksud dan tujuan penulisan adalah menjelaskan tentang niat yang terkandung dalam penyusunan dokumen naskah akademik ini dan kemanfaatan yang dapat diperoleh publik dengan tersedianya dokumen ini. Pengembangan. Komersialisasi III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang-undangan Terkait Untuk menyajikan realita potret peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian. LIPI. pengguna. maupun berbagai informasi yang relevan dari berbagai narasumber maupun diskusi-diskusi. dengan analisis deskriptif terhadap berbagai peraturan perundangundangan. 2007. termasuk kebijakan maupun peraturan perundang-undangan terkait makro ekonomi. terutama kebijakan-kebijakan yang secara langsung mempengaruhi tumbuh-kembang inovasi nasional.Bab Judul dan Deskripsi Substansi memerlukan perubahan UU No. para aktor inovasi nasional yang terdiri dari aktor pengembang. 18 Tahun 2002 mencakup:  Analisis Undang-undang No.  Metode penelitian hukum memberikan gambaran mengenai metode yang dilakukan di dalam penelitian ini. ketersediaan dan kesiapan infrastruktur inovasi. peran dan kontribusi aktor inovasi. 2009. maka akan diulas tentang kinerja perekonomian nasional. dan dilakukan pula identifikasi permasalahan dan analisis efisiensi sistem inovasi terkait orientasi pembangunan inovasi.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan: Tatang A Taufik. dan pembangunan infrastruktur sosial. dan 10 Naskah Akademik Perubahan UU No. perindustrian dan perdagangan. dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-base economy).  Sistematika menjelaskan tentang tata urut penulisan dokumen yang sekaligus juga merinci tentang substansi isi dokumen. BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi.

18 Tahun 2002 .Bab Judul dan Deskripsi Substansi peran pemerintah dalam skenario pengembangan SINas. dalam rangka membangun kemandirian bangsa. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. Syarat yuridis. Menurut teori kekuasaan. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. Selain itu. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. secara bertahan mengubah minset pada pengembang teknologi agar lebih berorientasi pada kebutuhan nyata dan lebih sensitif terhadap persoalan yang dihadapi pengguna teknologi. teknologi yang relevan saja memang belum cukup menjadi jaminan bahwa teknologi tersebut akan diadopsi pengguna.  Ekosistem Inovasi yang Kondusif dibutuhkan untuk tumbuh-kembang SINas. karena masih akan tergantung pada kapasitas adopsi pengguna teknologi. Namun demikian. teknologi yang dikembangkan harus pula sesuai dengan potensi sumberdaya nasional. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). IV Landasan Filosofis. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi.  Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi diharapkan mampu mendorong pengembangan SDM yang relevan dengan kebutuhan. menurut Hans Kelsen. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. peranan lembaga intermediasi akan sangat berat jika teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan dan tidak sepadan dengan kapasitas adopsi pengguna. Secara sosiologis penguatan inovasi nasional dapat memenuhi karakteristik inovasi yang khas Indonesia yang mencakup: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. Sosiologis dan Yuridis Menurut UU No. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. dan filosofis. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. Menurut Kelsen. yaitu syarat yuridis.  Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik menjadi isu yang sangat penting. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi.  Reorientasi Arah dan Prioritas Riset. Ekosistem SINas yang kondusif dapat diwujudkan melalui kebijakan dan 11 Naskah Akademik Perubahan UU No. karena efektivitas hukum merupakan fakta. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. membangun semangat kebersamaan antar aktor inovasi. sosiologis. kesesuaian teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna (demand-driven) merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam membangun inovasi nasional.

Upaya penguatan inovasi nasional harus bersifat dinamis menyesuaikan dengan dinamika perubahan lingkungan strategis. kebijakan 12 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 .  Dinamika Lingkungan Regional ASEAN memperlihatkan bahwa posisi Indonesia secara relatif lebih lamban kemajuan pembangunan ipteknya dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.  Dinamika Lingkungan Nasional pada tahun 2011 ini ditandai dengan diluncurkannya MP3EI yang menempatkan pembangunan iptek sebagai salah satu strategi utama untuk percepatan dan perluasan pembanguan ekonomi Indonesia. regional. kebijakan pendidikan nasional. maupun nasional. Panggung SINas yang ideal perlu didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. terbangunnya masyarakat berbasis pengetahuan. dan perpajakan. keuangan. kebijakan riset dan pengembangan teknologi. baik pada tingkat global. sehingga lebih berpeluang untuk digunakan dalam proses produksi barang dan/atau jasa.  Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional pada akhirnya akan dievaluasi berdasarkan kontribusi inovasi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. kebijakan ketenagakerjaan. disamping sebagai sasaran antaranya adalah pertumbuhan ekonomi. perlu percepatan dalam mewujudkan dan memperkuat inovasi Indonesia yang dimulai dengan perubahan mindset para pengembang teknologi dan meningkatkan peran dunia usaha dalam pembangunan iptek. kebijakan perindustrian dan perdagangan. Arah Pengaturan dan Ruang Lingkup  Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro. Pengakuan atas potensi peran iptek ini diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat inovasi nasional. dan stabilitas keamanan nasional. Oleh sebab itu. V Jangkauan.  Dinamika Lingkungan Global yang paling penting adalah semakin kentaranya kecenderungan untuk mendorong pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Selanjutnya secara nyata berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. Secara filosofis penguatan inovasi nasional harus mampu mengantisipasi perubahan lingkungan strategis.Bab Judul dan Deskripsi Substansi regulasi yang tepat di berbagai sektor yang secara langsung mempengaruhi kinerja para aktor inovasi dan interaksi antar-aktor tersebut. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing.

dan . dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. pendayagunaan. [9] sinkronisasi dan perbaikan regulasi. dan swasta.Bab Judul dan Deskripsi Substansi penyediaan infrastruktur sosial. pengembangan. 18 Tahun 2002 3. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. dan [10] berbasis sumberdaya dan memenuhi kebutuhan nasional. [2] revitalisasi lembaga pengembang teknologi. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. [3] peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. difusi. 2. 4. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. [4] peningkatan peran lembaga intermediasi. universitas.pengembangan. 13 Naskah Akademik Perubahan UU No. [5] penyiapan S&T Park. [7] mendorong pembentukan konsorsium inovasi. yaitu: 1. Dua kebijakan tersebut. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). secara garis besar menekankan pada penguatan empat hal. VI Rangkuman dan Rekomendasi Merupakan bagian akhir dokumen yang menyajikan rangkuman terkait dengan unsur dan isu penting dalam penguatan inovasi nasional serta rekomendasi materi perubahan kebijakan dan/atau regulasi yang ada. rekayasa inovasi . Kebijakan dapat mendukung arah penguatan inovasi nasional yang mencakup: [1] membangun inovasi sebagai sistem. peningkatan hasil. [6] membangun pusat unggulan inovasi. 18 Tahun 2002 Kebijakan inisiatif inovasi 1-747.  Lingkup Materi Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. pengembangan. dan pemanfaatan teknologi. [8] revitalisasi DRN. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. lembaga ristek.

Konsepsi Inovasi Nasional Adanya pemahaman yang tepat tentang terminologi dasar dan konsepsi pokok merupakan langkah awal yang sangat strategis dan penting untuk dilakukan. yakni inovasi dipadankan sebatas sesuatu yang berbeda (dari yang umumnya sudah diketahui) sampai ke definisi akademik yang lebih teknis dan spesifik. serta dinamikan dan kontinyuitas sirkulasi aliran informasi kebutuhan dan pasokan teknologi merupakan kesatuan utuh yang diperlukan dalam upaya penguatan inovasi. definisi inovasi masih beragam. karena kata inovasi sudah sangat populer. tetapi dengan interpretasi yang sangat variatif. interaksi antara aktor inovasi dengan ekosistemnya. Rentang interpretasi itu mulai dari yang sangat ‘longgar’. Pendekatan sistem diperlukan dalam menganalisis maupun dalam merancang kebijakan inovasi nasional SINas yang paling cocok. Interaksi dinamis antar-aktor. sebaliknya juga tidak bisa dirancang komponen-komponennya secara parsial baru kemudian dirajut menjadi inovasi nasional. kebijakan penguatan inovasi secara tersurat mengindikasikan bahwa sistem inovasi yang dimaksud berada pada level negara. Pemahaman yang tepat ini sangat diperlukan ketika pokok bahasannya terfokus pada inovasi.Bab 2 Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi 2. Dalam suatu sistem.1. maka pemahaman tentang inovasi sebagai suatu ‘sistem’ perlu dimantapkan. Penguatan inovasi nasional haruslah menjadi simpul pengikat antara teknologi dan ekonomi. Kajian Teoritis 2. Penguatan inovasi yang akan diwujudkan tentu perlu dijelaskan kepada publik agar publik dapat secara nyata. misalnya untuk menyejahterakan rakyat. Namun masih perlu dijelaskan bahwa sistem dimaksud bersifat sentralistik menjadi sebuah sistem tunggal yang besar dan kompleks. perlu penegasan tentang apa yang dimaksud dengan inovasi yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. Pengembangan teknologi dalam kerangka penguatan inovasi dirancang agar dapat memberikan 14 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . dikaitkan dengan banyak aspek kehidupan. atau terdiri dari banyak sub-sistem sesuai dengan karakteristik persoalan dan potensi sumberdaya masing-masing satuan wilayah dalam suatu negara yang diikat oleh satu tujuan kolektif. efektif. Inovasi sebagai suatu sistem yang kompleks tidak dapat dianalisis dengan cara memutilasi komponen-komponennya untuk ditelaah secara terpisah. Oleh sebab itu.1.1. Keadaan menjadi lebih runyam karena di kalangan akademik pun. digunakan dalam berbagai komunitas. dan efisien memberikan kontribusinya bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. Ketika yang dibahas adalah inovasi. Hal ini sangat relevan dalam memformulasikan kebijakan publik dan/atau regulasi yang secara legal sifatnya mengikat semua pihak.

kontribusi nyata terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. maka sangat mungkin akan membuka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda. Invensi merupakan proses konversi uang menjadi ide. Persoalannya adalah walaupun masing-masing pihak menggunakan kata yang sama. Inovasi dapat berkaitan dengan penambahan atas sesuatu yang telah ada. sedangkan inventor menemukan sesuatu yang baru. Pada awalnya inovasi diartikan sebagai suatu proses untuk memperbarui sesuatu yang sudah ada atau menghasilkan sesuatu yang dianggap baru. Inovasi dapat dimaknai sebagai upaya mengubah nilai-nilai yang selama ini telah menjadi landasan dari suatu sistem. Jika suatu sistem berubah. teknologi. atau sesuatu yang sama sekali baru. Proses yang dimulai dari ide. atau struktur dan fungsi organisasi yang berperan dalam proses produksinya. kemudian ditransformasi menjadi sesuatu yang bermanfaat. pembangunan perekonomian harus berbasis pada pengetahuan (knowledge-based economy. inovasi harus menghasilkan nilai tambah atau peningkatan produktivitas. namun dalam perspektif ekonomi. serta akan pula diberi penegasan pada bab ini tentang pengertian dan konsepsi dasar yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. Walaupun inovasi lebih sering dikaitkan dengan produk yang dihasilkan. Untuk melakukan suatu pembaruan berarti seseorang perlu mengubah caranya dalam membuat keputusan. termasuk ekonomi. namun belum tentu dapat menghasilkan uang dari hasil temuannya tersebut. Perubahan tersebut dapat terlihat dari produk yang dihasilkan. memunculkan unsur yang sama sekali baru. invensi adalah proses atau produk baru yang secara nyata berbeda atau sama sekali baru dibandingkan dengan proses atau produk serupa yang telah ada. Ada perumpamaan yang menarik untuk membedakan antara invensi dan inovasi. Inovasi sering dicampur-aduk pengertiannya dengan invensi. Dalam perspektif ekonomi. Inovator menghasilkan keuntungan finansial dari hasil karyanya. Oleh sebab itu. proses untuk menghasilkan produk tersebut. proses untuk menghasilkan produk tersebut juga sama pentingnya. atau melakukan perubahan cara berpikir yang radikal dan revolusioner. Inovasi diadopsi dari Bahasa Latin ‘innovatus’ yang berarti memperbarui. 18 Tahun 2002 . namun sangat mungkin bahwa pihak-pihak tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda tentang inovasi. World Bank (2010) menyatakan bahwa “what is not disseminated 15 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau memilih sesuatu yang diluar norma yang berlaku. dan KBE selanjutnya akan ditelaah secara lebih komprehensif. Pengertian inovasi. Kedua terminologi ini sebetulnya berbeda. bisnis. sedangkan inovasi mengubah ide menjadi uang. inovasi telah menjadi topik yang penting dalam berbagai bidang ilmu. Inovasi merupakan sebuah kata yang saat ini sedang ‘naik daun’. sedangkan inovasi lebih dilihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. disingkat KBE). Saat ini. desain. tidak dapat lagi hanya dengan mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam. konsepsi tentang pendekatan sistem. melakukan sesuatu dengan metoda yang berbeda. dan sosiologi. engineering. Para ekonom era modern yakin bahwa di saat sekarang dan di masa yang akan datang mesin utama yang akan mendorong perkembangan perekonomian suatu negara adalah tingkat penguasaan dan aplikasi dari teknologi yang dikuasai tersebut. Semua komponen masyarakat menggunakan kata ini baik dalam komunikasi sosial maupun pada forum yang lebih formal.

atau metoda organisasi) yang baru. yakni para aktor yang secara langsung menggerakkan inovasi. maka sangatlah penting untuk membekali setiap pihak yang terlibat dalam upaya mewujudkan inovasi nasional untuk memahami konsepsi pendekatan sistem. 2003). maupun para aktor yang berperan dalam membangun ekosistem yang kondusif bagi keberlangsungan aliran tersebut. proses. maka inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). pengembangan. Proses inovasi berlangsung mulai dari munculnya ide di benak para inovator sampai pada termanfaatkannya produk inovatif tersebut. sehingga pada dasarnya inovasi merupakan sesuatu yang bermanfaat. baik yang terlibat secara langsung dalam aliran ide menjadi produk yang bermanfaat. masyarakat awam. [2] inovasi selain baru. Oleh sebab itu. 18 Tahun 2002 . Perlu dibedakan antara unsur sistem dengan lingkungannya (ekosistem). atau metoda organisasi yang telah dikenal sebelumnya. Telaah secara partial dengan pendekatan linier tak akan mampu menjelaskan sistem inovasi secara komprehensif dan benar. cara pemasaran. workplace organization or external relations”. bermakna pula bahwa inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). dengan penghela eksogen (exogenous drivers). proses. a new marketing method. Proses inovatif selalu membentuk suatu sistem yang kompleks.8 Inovasi merupakan implementasi dari suatu produk. is not an innovation”. or a new organizational method in business practices. [4] kemanfaatan suatu produk merupakan prasyarat untuk komersialisasi atau untuk peningkatan kesejahteraan sosial. Dengan demikian. atau metoda organisasi yang baru atau secara signifikan telah diperbaiki. [3] status yang lebih baik ini. 7 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UUNo. cara pemasaran. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. Pengertian inovasi versi UUNo. yang tentunya hanya dapat terlahirkan dari pemikiran yang kreatif. Uraian dan referensi di atas memberikan pemahaman bahwa: [1] inovasi merupakan sesuatu (produk. or process. tidak dapat dilakukan secara linier. Interaksi antar-aktor dan interaksi antara aktor dengan ekosistem inovasi bersifat sangat dinamis dan timbal-balik. Metoda organisasi mencakup praktek bisnis. metoda pemasaran. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi ”. organisasi kerja. Hal ini perlu untuk membedakan antara penghela endogen (endogenous drivers). membuka peluang bagi produk dan proses inovatif untuk digunakan dalam berbagai aktivitas manusia. OECD’s Oslo Manual 2005 Guidelines for Collecting and Interpreting Innovation Data 8 16 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau pemerintah. atau hubungan dengan pihak eksternal. juga harus pula secara signifikan lebih baik dari produk. penelaahan inovasi harus dilakukan dengan pendekatan sistem. Berdasarkan ini. Proses yang panjang ini hampir selalu melibatkan banyak aktor. proses. Produk dapat berupa barang maupun jasa. yakni para aktor yang memberikan dukungan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi nasional (Bathelt.7 OECD (2005) menggunakan definisi inovasi: “An innovation is the implementation of a new or significantly improved product (good or service). 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini.and used.

merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. Definisi menurut peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain. mendayagunakan. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. Mingers dan White (2010) merinci bahwa pendekatan sistem (systems approach) mencakup: [1] melihat situasi secara holistik (berarti tidak bersifat reduksionis).”. Mingers dan White (2010) menyatakan bahwa systems thinking is a discipline in its own right. lembaga riset dan teknologi. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Nelson (1993). Pemilahan ini hanya untuk membedakan posisi peran para aktor yang terlibat. but it is also applicable to almost any problem area because of its generality. sedangkan Lundvall (1992) mendefinisikan SINas sebagai elemen dan hubungan yang interaktif dalam proses produksi. [2] memposisikan hubungan atau interaksi antara elemen lebih penting dari elemen-elemennya sendiri dalam membentuk perilaku sebuah sistem. dan artefak untuk melahirkan teknologi-teknologi baru. Freeman (1987) mendefinisikan SINas sebagai jaringan kelembagaan pemerintah dan/atau swasta yang melaksanakan dan berinteraksi dalam inisiasi. dan [4] memahami bahwa manusia akan beraksi sesuai dengan tujuan dan rasionalitas yang berbeda. 2005) Pendekatan sistem merupakan buah dari pemikiran sistemik (systems thinking). dapat ditemui dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. Sementara Patel dan Pavitt (1994) mengambarkan SINas sebagai kelembagaan-kelembagaan nasional dengan struktur dan kompetensinya yang menentukan laju dan arah pembelajaran teknologi (technological learning) pada suatu negara. Definisi SINas yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Metcalfe (1995). 17 Naskah Akademik Perubahan UU No. difusi. difusi. [3] memahami adanya hirarki/jenjang dalam suatu sistem dan ‘mutual casuality’ dalam masingmasing jenjang maupun antar-jenjang. sebagai kumpulan elemen yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan tertentu. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. SINas merupakan suatu sistem keterkaitan antar-kelembagaan untuk menciptakan. menyimpan.Liu dan White (2001) menggunakan istilah aktor primer dan sekunder. ketrampilan. yakni sebagai sekumpulan institusi yang secara sendiri dan bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan dan difusi teknologi baru serta memberikan kerangka bagi pemerintah dalam membuat dan mengimplementasikan kebijakan untuk mempengaruhi proses inovasi. dan mentransfer pengetahuan. 18 Tahun 2002 . universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. modifikasi. disebutkan bahwa “ SINas adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. Sistem Inovasi Nasional (SINas) didefinisikan dalam beberapa versi. tetapi akan keliru jika pembagian ini berdampak pada pengisolasian sistem dari lingkungannya (Asheim dan Coenen. dan penggunaan pengetahuan baru yang bernilai ekonomi yang berada dalam atau berasal dari suatu negara. Selanjutnya. yang menyatakan bahwa SINas sebagai sekelompok institusi yang interaksinya menentukan kinerja inovatif suatu negara. dan impor teknologi baru. mendukung. with many theoretical and methodological developments.

Pengertian dasar dalam sistem inovasi nasional ini diperkuat dalam Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. dan preferensi masyarakat yang dapat dideteksi langsung oleh pihak pengembang teknologi maupun melalui mitranya dari komunitas bisnis. Proses difusi teknologi tersebut dapat melalui atau tanpa melalui lembaga intermediasi. Jakarta 18 Naskah Akademik Perubahan UU No.Berdasarkan berbagai definisi di atas. yakni: [1] kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. Berdasarkan informasi ini. Sinyal kebutuhan masyarakat ini diterjemahkan oleh industri dalam bentuk kebutuhan teknologi untuk memproduksi barang dan/atau jasa yang sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut. yang memberi ketegasan bahwa teknologi yang dihasilkan harus berakhir dengan dimanfaatkannya teknologi tersebut oleh para pengguna. terutama industri yang akan memanfaatkannya untuk menghasilkan produk komersial berupa barang dan jasa. dan pemanfaatan teknologi. Pendekatan supply-push mengutamakan dan dimulai dari proses pengembangan teknologi oleh institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset. 18 Tahun 2002 . Definisi SINas yang diusung pada periode 1980-1990an telah menyebutkan bahwa SINas mencakup kegiatan difusi dan pemanfaatan teknologi. The World Bank (2010) dengan sangat tegas mencanangkan bahwa sesuatu (baca: teknologi) yang tidak didiseminasikan dan tidak digunakan bukanlah inovasi. yakni berdasarkan pendekatan supply-push dan pendekatan demand-driven. dapat difasilitasi atau tanpa difasilitasi oleh Pemerintah atau pihak lain yang kompeten. di LIPI.yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. Prakteknya. serta telah menyebutkan bahwa teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang punya potensi untuk dikomersialisasikan. difusi. [3] produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. kegalauan akan rendahnya adopsi teknologi tersebut terlihat mewarnai definisi atau deskripsi SINas yang diusung pada kurun waktu tahun 2000-an. Oleh sebab itu. inovasi harus diawali dengan menjawab tiga pertanyaan yang sangat fundamental. Pengembangan inovasi nasional dengan pendekatan demand-driven mengutamakan dan dimulai dari pemahaman tentang masalah. Produk teknologi yang dihasilkan kemudian didifusikan kepada pihak pengguna. Sharif (2010) mendeskripsikan inovasi sebagai upaya kolektif mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai (turning idea into values). dan [4] ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. [2] pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan –baik pemerintah maupun swasta. Namun demikian. lembaga riset dan/atau institusi pendidikan tinggi 9 Dicuplik dari keynote address oleh Nawaz Sharif (2010) berjudul ‘Govern ance of Innovation Systems in the Current Global Setting’. yakni: [1] what is possible with technology? [2] what is desirable to the society? [3] what is viable in the market?9 Pendekatan dalam upaya penguatan inovasi nasional secara ekstrim dapat dibedakan menjadi dua. maka ada beberapa pengertian dasar yang dapat ditarik berkaitan dengan SINas. adopsi teknologi oleh para pengguna teknologi di banyak negara (terutama negara-negara berkembang) masih sangat minimal. kebutuhan.

Akan tetapi.mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan. dalam kerangkeng regulasi yang kaku. misalnya dalam kondisi serba keterbatasan. Anggapan yang demikian. Teori Pertumbuhan Baru (New Growth Theory) mencerminkan upaya untuk memahami tentang peran pengetahuan dan teknologi dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. pendidikan dan pelatihan. Investasi di bidang riset dan pengembangan. serta manajerial merupakan determinan penting KBE. Sejak tahun 1960-an mulai muncul keyakinan bahwa perbedaan kemajuan perekonomian antar-negara terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi dari masing-masing negara (Fagerberg dan Srholec. di bawah tekanan. ekonomi saat ini semakin bergantung pada kemajuan pengetahuan dan teknologi. Untuk dapat memberikan dampak nyata dan langsung. mengabaikan kenyataan bahwa kreativitas sesungguhnya lebih terangsang untuk muncul pada kondisi yang ‘tidak nyaman’. maka sumberdaya ekonomi ini harus mudah diakses oleh dunia usaha dan para penguna lainnya. 18 Tahun 2002 . dan tenaga kerja berketerampilan tinggi. Selain besaran nilai investasi untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi. distribusi. 19 Naskah Akademik Perubahan UU No. dalam penguatan inovasi. and the increasing need for ready access to all of these by the business and public sectors’ . Sebelum periode tersebut. proses aliran hanya akan terjadi jika ada perbedaan derajat antara posisi asal dan posisi sasaran. kemajuan perekonomian lebih banyak dikaitkan dengan jumlah uang yang terakumulasi (accumulated capital) per tenaga kerja. information. 2008). dan penggunaan pengetahuan dan informasi. yakni ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy selanjutnya disingkat KBE) yang menunjukkan bahwa dalam perkembangannya. Walaupun demikian. Pilihan pendekatan tersebut lebih untuk menjamin agar aliran teknologi dapat terjadi secara berkesinambungan dan komersialisasi produk yang dihasilkan dapat menjadi pasokan ‘energi’ untuk kontinuitas aliran teknologi tersebut. sebagaimana halnya teori fisika. Secara teoritis dapat dimunculkan pendekatan yang moderat dan akomodatif. walaupun pendekatan demand-driven yang dipilih tetapi tidak berarti ruang untuk pendekatan supply-push digusur habis. sebagian komunitas akademik dan peneliti menganggap pendekatan demand-driven akan mengebiri kreativitas ilmiah. informasi.10 KBE pada prinsipnya merupakan ekonomi yang secara langsung berbasis pada produksi. yakni dengan memadukan pendekatan supply-push dan demand-driven. Keyakinan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kemajuan perekonomian dengan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan ‘mazhab’ ekonomi baru. kelancaran distribusi pengetahuan (baik melalui 10 OECD (2005) mendefinisikan ekonomi berbasis pengetahuan sebagai: ‘an expression coined to describe trends in advanced economic towards greater dependence on knowledge. Saat ini banyak upaya yang dilakukan oleh para ahli ekonomi untuk menjelaskan secara langsung (baik secara teoritis maupun pengembangan model) tentang kontribusi pengetahuan dan teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. Inovasi yang dikembangkan melalui pendekatan demand-driven akan lebih berpeluang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan perekonomian. Maknanya. dan tentu termasuk dalam kondisi keharusan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan pasar. karena lebih berpeluang untuk diadopsi industri. and high skill levels.

Oleh sebab itu. 18 Tahun 2002 . Adopsi teknologi akan terjadi jika pihak pengembang teknologi memahami kebutuhan pihak pengguna. Penguasaan pengetahuan dan teknologi yang tinggi tetapi hanya terisolir di kalangan akademik atau periset semata tidak akan memberikan dampak terhadap kinerja perekonomian. Intensitas hubungan dan kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi antaraktor dalam sistem inovasi akan menjadi faktor penentu kinerja perekonomian. riset. 11 Elaborasi lebih mendalam mengenai isu ini dapat dibaca pada Lakitan (2009):”Kebijakan Pengembangan dan Implementasi Sistem Inovasi Nasional: menjembatani pendidikan. industri. Prinsip dasarnya adalah bahwa teknologi hanya memberikan kontribusi jika digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk barang/jasa yang dibutuhkan konsumen.11 Upaya untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan perekonomian dilakukan antara lain dengan menghitung Total Factor Productivity (TFP). institusi pendidikan tinggi perlu dirancang agar selain mampu menyelenggarakan pendidikan yang secara akademik berkualitas. pendidikan dan ketrampilan tinggi tersebut perlu mempunyai relevansi yang juga tinggi dengan persoalan dan kebutuhan nyata. Jurnal Dinamika Masyarakat 8(1):1501-1516. Kelemahan teoretis dan ketidakkonsistenan empiris dari hasil perhitungan pada berbagai negara dengan tingkat kemajuan teknologi yang berbeda menjadi lahan subur untuk perdebatan. Akan tetapi. Lapangan kerja dalam konteks KBE akan lebih banyak membutuhkan tenaga kerja dengan ketrampilan tinggi atau berpendidikan tinggi. jumlah dan kualitas personel pengembang teknologi) belum cukup untuk memberikan gambaran tentang kinerja KBE. juga harus pula memahami persoalan dan kebutuhan nyata agar dapat mengemas kurikulum yang relevan terhadap persoalan dan kebutuhan nyata tersebut. Indikator yang berbasis pada nilai investasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semata (seperti jumlah belanja riset dan pengembangan. tidak semua pakar ekonomi sependapat bahwa TFP bisa mencerminkan kontribusi teknologi. Indikator dari sisi keluaran kegiatan riset dan pengembangan serta distribusinya diyakini akan lebih relevan. Kesimpulan dari kajian yang dilakukan oleh Lipsey dan Carlaw (2001) patut direnungkan: “ There is no reason to believe that changes in TFP in any way measure technological change” . Produk teknologi yang pengembangannya tidak berorientasi pada kebutuhan nyata tentu akan sulit dijual ke pengguna. Dalam konteks komersialisasi. atau dibutuhkan tapi kalah handal secara teknis dan/atau kurang kompetitif secara ekonomi. Upaya yang umum dilakukan untuk merangsang atau mempercepat difusi teknologi adalah membentuk lembaga intermediasi. antara lain karena keterbatasan dan mutu indikator terkait pengetahuan yang saat ini tersedia. 20 Naskah Akademik Perubahan UU No. Walaupun demikian. untuk mendukung KBE. lembaga intermediasi akan sulit berfungsi efektif jika teknologi yang ditawarkan adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan.jalur formal maupun informal) juga merupakan faktor esensial yang mempengaruhi kinerja perekonomian. pengguna yang dimaksud adalah industri yang memahami kebutuhan dan preferensi konsumen. Ada kesulitan dalam mengevaluasi ekonomi berbasis pengetahuan. Namun demikian. dan konsumen”. mengingat bahwa dinamika perubahan pengetahuan dan teknologi berlangsung dalam tempo yang cepat.

intensitas interaksi antara aktor sistem inovasi. dan lembaga penunjang merupakan aktor-aktor utama dalam inovasi. dan [4] knowledge and learning. Aktor Inovasi Nasional Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. atau kegiatan lain yang terkait langsung dengan upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Kompleksitas penguatan inovasi tercermin antara lain dari banyaknya aktor yang terlibat dan ikut menentukan atau mempengaruhi kinerja sistem ini. 18 Tahun 2002 merupakan unsur penting dari 12 Pasal 6 ayat (1) UU No. 18/2002 menetapkan bahwa ‘kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. dan [2] aktor penunjang (sekunder) yang berperan dalam membentuk ekosistem yang kondusif agar aktoraktor utama dapat unjuk kinerja secara optimal. Nuansa kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini mencakup perguruan tinggi. dan para pihak yang memfasilitasi dan/atau melakukan intermediasi interaksi dan komunikasi antara penyedia dan pengguna teknologi. para pengguna teknologi. 2. serta tingkat ketrampilan dan relevansi pendidikan tenaga kerja. Pengembangan. maka ada baiknya aktor yang banyak tersebut dipilah menjadi: [1] aktor utama (primer) yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi.misalnya data stok pengetahuan dan kelancaran aliran distribusi/difusinya. serta mengetahui kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi dari penyedia ke pengguna.1. badan usaha. 21 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002) menggunakan terminologi kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai aktor inovasi. Gugus indikator [1] memperlihatkan pentingnya mengetahui penambahan stok pengetahuan per satuan input pada kegiatan riset dan pengembangan. dan pemajuan iptek. mulai dari pengembangannya sampai pada penggunaannya untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen.12 Namun demikian UU No. mengukur kemanfaatan bagi publik untuk investasi di bidang pendidikan dan pelatihan. Gugus indikator [3] memberikan indikasi tentang proses aliran dan intensitas interaksi antara aktor inovasi. 18 Tahun 2002 . lembaga penelitian dan pengembangan.2. 18 Tahun 2002 menyebutkan pula perlunya peran aktif warganegara dalam pelaksanaan kegiatan penguasaan. [2] knowledge rates of return. Aktor utama terdiri dari para pengembang/penyedia teknologi. Gugus indikator [2] merupakan indikasi dari besarnya perolehan sosial dan kemanfaatan bagi publik per satuan input kegiatan riset dan pengembangan. OECD (1996) mengidentifikasi empat gugus indikator penting yang perlu dikembangkan teknik pengukurannya (secara statistik) untuk mengevaluasi kinerja KBE. Untuk memudahkan pemahaman dan agar kompleksitas yang ada tidak mengaburkan esensi dasar dari inovasi. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud UU No. dan lembaga penunjang’. pemanfaatan. yakni indikator terkait: [1] knowledge stocks and flows. lembaga litbang. badan usaha. Sedangkan gugus indikator [4] melingkupi indikator ‘human capital’. [3] knowledge networks. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU No.

Pengelompokan ini digunakan dalam mengevaluasi kinerja lembaga riset dan pengembangan negara-negara dunia. yakni: [1] perguruan tinggi (higher education). Kiprah dan kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum kentara. 18 Tahun 2002 hanya mengenal dua lembaga pengembang teknologi. dan organisasi masyarakat. pemegang kendali kebijakannya. yakni dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. pemerintah daerah. [3] lembaga R&D pemerintah (government). misalnya institusi riset non-pemerintah. UU No. sebelumnya dikenal sebagai LPND) yang (salah satu) tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan kegiatan riset dan pengembangan. yakni melakukan pendidikan dan pengajaran. dan [2] unit kerja penelitian dan pengembangan pada kementerian dan pemerintah daerah. unsur pelaksana riset dan pengembangan pada industri. dan pengabdian kepada masyarakat. mayoritas perguruan tinggi di Indonesia masih lebih dominan terkonsentrasi pada kegiatan pendidikan dan pengajaran. 13 Pasal 8 ayat (3) UU No. mengemban tiga tugas pokok yang dikenal sebagai tridharma perguruan tinggi. Hal ini antara lain disebabkan karena kegiatan riset masih lebih diposisikan sebagai ‘academic exercises’. dan [4] lembaga R&D nirlaba (private non-profit). 13 OECD (2002) membuat klasifikasi lembaga riset dan pengembangan (R&D) berdasarkan pengelola. Berdasarkan kriteria ini maka ada empat kelompok lembaga R&D. badan usaha. Lembaga R&D pemerintah termasuk: [1] Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK. Seluruh perguruan tinggi di Indonesia. 22 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan. negeri maupun swasta. penelitian. 18 Tahun 2002 . dan para periset individual. penyandang dana. [2] lembaga R&D bisnis (business enterprise). Namun demikian pengembang/penyedia teknologi tidak hanya terbatas pada dua unsur tersebut. tetapi mencakup semua pihak yang secara nyata melakukan kegiatan pengembangan teknologi. atau bagian dari organisasi pemerintah. Namun demikian. dan orientasi komersialisasi produk riset yang dihasilkannya (Gambar 1).pengembang/penyedia teknologi. belum fokus pada upaya untuk menghasilkan invensi dan inovasi. lembaga penunjang. perguruan tinggi.18/2002 menetapkan lembaga-lembaga yang tergolong sebagai lembaga litbang.

maka selayaknya riset yang dilaksanakan oleh lembaga R&D pemerintah lebih fokus pada upaya menyediakan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat dan negara dan/atau menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dalam rangka mendukung pembangunan perekonomian nasional. Riset yang dilakukan badan usaha jelas berorientasi komersil. kesejahteraan rakyat. 2002) Sementara kegiatan riset di perguruan tinggi lebih berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. 18 Tahun 2002 . Klasifikasi berdasarkan status formal lembaga riset dan pengembangan (adaptasi dari OECD. tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa. Positif dalam konteks pengembangan teknologi akan mengalami akselerasi mengingat potensi kekuatan dunia usaha dalam membiayai kegiatan riset dan relevansi teknologi yang dikembangkan juga akan semakin meningkat. walaupun saat ini sering dikemas dengan berbagai ‘bungkus’ lain dalam rangka membangun citra perusahaan atau memanfaatkan kecenderungan preferensi konsumen. misalnya terkait dengan kepedulian mengenai isu lingkungan. karena dunia usaha 14 Sesuai dengan amanah konstitusi UUD 1945. baik riset untuk mendapatkan informasi kebutuhan dan selera konsumen yang akan dijadikan dasar dalam pengembangan strategi pemasaran maupun riset-riset pengembangan produk. maka status lembaga riset & pengembangan tersebut tergantung pada pihak mana yang dominan membiayainya TIDAK TIDAK TIDAK YA Perguruan Tinggi Badan Usaha Lembaga Pemerintah Gambar 1. Peningkatan intensitas kegiatan riset oleh badan usaha dapat menjadi indikasi yang positif tetapi sekaligus juga negatif.Lembaga Riset & Pengembangan Apakah berada dalam institusi pendidikan tinggi? YA Perguruan Tinggi Apakah produknya dijual sesuai harga pasar? YA Badan Usaha Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh badan usaha? YA Badan Usaha YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Perguruan Tinggi Lembaga Pemerintah YA Perguruan Tinggi Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh pemerintah? TIDAK Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh lembaga non-pemerintah? TIDAK YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Lembaga Non-Pemerintah Jika kendali dan pembiayaan dilakukan oleh pihak yang berbeda. 23 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan peningkatan peradaban bangsa.14 Banyak industri dan badan usaha lainnya mempunyai unit kerja yang tugas utamanya adalah melakukan riset dan pengembangan.

pengrajin. Badan usaha merupakan pengguna teknologi yang bersifat komersial. lembaga R&D yang berorientasi komersial umumnya masih merupakan unit kerja internal lembaga bisnis. misalnya isu sosial (kesejahteraan rakyat. sehingga kebutuhan dan kapasitas adopsi teknologinya relatif rendah. Kecenderungan peningkatan intensitas riset oleh dunia usaha dapat pula menjadi indikasi negatif. perubahan iklim). Dunia usaha akan selalu memposisikan biaya riset sebagai bagian dari investasi. pencemaran/polusi.15 Unsur pengguna lainnya adalah [1] masyarakat pelaku produksi barang/komoditas/jasa. kegiatannya tidak dibiayai oleh pemerintah. 18 Tahun 2002 hanya menyebutkan badan usaha sebagai aktor pengguna teknologi. Walaupun saat ini. peternak. sedangkan masyarakat dan pemerintah lebih bersifat bauran antara komersial dan pelayanan publik. isu politik dan pemerintahan (demokratisasi. misalnya petani. maka sudah sepatutnya teknologi yang dihasilkan tersebut dapat digunakan oleh pemerintah dan masyarakat secara bebas. Badan usaha di Indonesia masih dominan bergerak di sektor perdagangan. Lembaga R&D nirlaba ini lebih banyak berkiprah di ranah ilmu-ilmu sosial. dan isu lingkungan (deforestasi. pendidikan anak). 24 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau merupakan lembaga R&D asing. Bukan rahasia umum bahwa saat ini komunikasi dan interaksi antara para pihak pengembang teknologi (perguruan tinggi dan lembaga R&D pemerintah) dengan pihak industri belum terbangun secara intensif. hak asasi manusia. nelayan. Jurang yang masih membentang lebar antara perguruan tinggi atau lembaga R&D pemerintah dengan dunia usaha merupakan peluang untuk tumbuh kembang lembaga R&D independen. Sebaliknya. Industri produsen barang dan jasa di Indonesia banyak yang hanya merupakan unit produksi dari sebuah perusahaan multinasional atau hanya bersifat sebagai penerap teknologi asing yang sudah mapan yang dilaksanakan berdasarkan lisensi yang diberikan oleh pihak-pihak pengembang teknologi luar negeri. jika pengembang teknologinya adalah lembaga R&D pemerintah. penyakit menular. Kapasitas adopsi para pengguna teknologi di Indonesia masih belum besar. Badan usaha atau industri merupakan salah satu unsur pengguna teknologi. terutama fokus pada isu-isu hangat pada tataran global. Dapat bersifat komersial jika lembaga pengembang teknologinya bukan merupakan lembaga R&D pemerintah.tidak akan melakukan kegiatan riset jika tidak ada potensi kemanfaatan hasilnya. namun cikal-bakal lembaga R&D komersial yang independen sudah mulai nampak tumbuh. Mengingat pada saat ini segmen industri besar cenderung lebih bergantung pada teknologi asing (yang mungkin disebabkan 15 UU No. atau kegiatan pengembangan teknologi dimaksud sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah. Perlu diingat bahwa kepemilikan paten lazimnya adalah ditangan pihak yang membiayai kegiatan pengembangan teknologi yang bersangkutan. desentralisasi. apabila kecenderungan ini merupakan bentuk reaksi dari dunia usaha atas rendahnya relevansi dan/atau mutu teknologi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah. Lembaga R&D swasta nirlaba sudah berkiprah lama di Indonesia dengan sumber pembiayaan umumnya dari lembaga-lembaga internasional. korupsi). dan [2] pemerintah dalam rangka melaksanakan pelayanan publik dan untuk menjaga kedaulatan negara. 18 Tahun 2002 .

Pihak ketiga yang tergolong sebagai aktor utama inovasi adalah para pihak yang berperan sebagai intermediator atau fasilitator untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara para pengembang dengan para pengguna teknologi. Sejak tahun 2010. terutama teknologi di bidang pertahanan dan keamanan. pernah mendorong pembentukan lembaga yang dirancang khusus untuk fungsi intermediasi ini. 18 Tahun 2002 . misalnya. Untuk menjalankan peran intermediasi.karena kemampuan teknologi nasional belum memadai untuk memasok kebutuhan teknologi tersebut atau mungkin karena alasan lain yang bersifat non-teknis). tersebut di beberapa kota. dan sebagian lagi karena teknologi hasil pengembangan dalam negeri yang tidak sesuai dengan 16 Sudah ada arahan dari Presiden RI agar kebutuhan teknologi dan produk teknologi di bidang pertahanan dan keamanan memprioritaskan teknologi dalam negeri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Pendirian BTC ini merupakan tidak lanjut rekomendasi dari hasil kajian ‘Periskop’ yang dilaksanakan pada tahun 2000 atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Jerman. maka pengguna teknologi domestik yang paling potensial adalah masyarakat awam dan usaha kecil dan menengah (UKM). Pemerintah tentunya dapat membentuk lembaga-lembaga khusus untuk menjalankan fungsi/tugas ini. harusnya segmen pengguna ini harus dipasok penuh oleh pengembang teknologi domestik. merupakan dua argumen utama untuk menjadikan kebutuhan domestik sebagai pasar utama bagi produk teknologi dalam negeri. peran intermediasi dan fasilitasi ini diharapkan dimainkan lebih banyak oleh pemerintah. kebutuhan alat dan mesin pertanian masih dominan diimpor dari berbagai negara. Misalnya. teknologi yang dibutuhkan masyarakat awam dan UKM pun belum sepenuhnya dikuasai oleh teknologi domestik. sebagian penyebabnya berasal dari kapasitas dan kompetensi lembaga yang tidak memadai. mengingat luas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sedemikian besar. masih dibanjiri oleh teknologi maupun produk teknologi asing. BTC yang dikelola BPPT telah dilebur masuk ke dalam organisasi BPPT Engineering. Pemerintah seharusnya menjadi pengguna utama teknologi dalam negeri. Kenyataannya.17 Namun peran intermediasi dari lembaga-lembaga BTC tersebut kelihatannya masih jauh dari harapan.16 Disamping untuk meningkatkan kemandirian bangsa. juga penggunaan teknologi dalam negeri akan menggairahkan kegiatan pengembangan teknologi itu sendiri. yakni Business Technology Center (BTC) di 8 lokasi. 17 25 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pada saat ini. terutama Jepang dan Cina. Orientasi pengembangan teknologi Indonesia perlu lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dan pemecahan persoalan dalam negeri terlebih dahulu. karena secara langsung akan meningkatkan aliran dana untuk pembiayaannya. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa dan kebutuhan peralatan utama sistem pertahanan (alutsista) nasional yang besar. Untungnya benih padi sudah dapat dipenuhi dari hasil riset dan teknologi dalam negeri. baru setelah pasar domestik dikuasai (dan teknologi Indonesia sudah lebih kompetitif) maka pertimbangan ekspor teknologi nasional menjadi lebih layak diupayakan. Oleh sebab itu. Kementerian Riset dan Teknologi.

18 Tahun 2002 Selain tiga aktor utama inovasi yang telah dijelaskan sebelumnya. dan [4] membangun infrastruktur sosial. juga banyak aktor atau lembaga pendukung lainnya yang berperan penting dalam membangun inovasi secara lebih produktif dan berkesinambungan. Kedekatan secara fisik diyakini akan mampu merangsang aktor-aktor tersebut untuk meningkatkan komunikasi dan interaksinya. Visi BIC adalah menjadi lembaga intermediasi inovasi bisnis yang terdepan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (UU No. Culture. kegiatan inovasi di Indonesia akan menjadi unggulan (benchmark) negara-negara lain di ASEAN. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. maupun penggunaan teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan publik maupun negara. Pengembangan. melalui serial terbitan buku ‘100 Inovasi Indonesia’ (2008). tetapi berperan nyata dan signifikan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh-kembang inovasi. [2] menyiapkan sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk aktor penggerak sistem inovasi. Sport. Kementerian Pendidikan. bisnis. Teknologi yang dikembangkan lebih mahal dan/atau kalah handal dibandingkan dengan teknologi sejenis yang sudah tersedia di pasar. Keterkaitan lembaga-lembaga pengembang. BIC telah menerbitkan katalog tahunan hasil-hasil riset yang dianggap berpeluang untuk dikomersialisasikan. ‘102 Inovasi Indonesia’ (2010). Budaya. Kelembagaan yang dikategorikan sebagai pendukung adalah lembaga atau aktor yang tidak terlibat langsung dalam proses pengembangan. 18 Tahun 2002. dan yang terakhir ‘103 Inovasi Indonesia’ (2011). BIC ditempatkan di kawasan Puspiptek Serpong sesuai dengan skenario untuk menjadikan kawasan ini sebagai Science and Technology Park (STP). sehingga dalam waktu 10 tahun. Pasal 10 ayat (1)). ‘101 Inovasi Indonesia (2009).kebutuhan nyata (tidak relevan). walaupun lebih banyak orientasinya adalah untuk memediasi antara pengembang teknologi nasional dengan para (calon) pengguna potensial di dalam negeri. pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi juga telah menfasilitasi pendirian Business Innovation Center (BIC) pada tahun 2008. [3] memberikan dukungan finansial bagi para aktor inovasi dalam menjalankan perannya masing-masing. dan pemerintah (A-B-G) dalam proses inovasi. pemanfaatan.18 Sejak tahun 2008 tersebut. intermediasi. difusi. 19 . Lembaga pendukung mencakup lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan dan/atau kapasitas untuk: [1] membuat regulasi dan/atau kebijakan terkait tumbuh-kembang inovasi nasional maupun daerah. dalam menunjang daya saing ekonomi dan bisnis di Indonesia. Science and Technology. dan pengguna teknologi di kawasan ini diharapkan dapat menjadi model implementasi Sistem Inovasi Nasional. secara resmi disingkat MEXT) Jepang 18 19 Entah mengapa lembaga-lembaga intermediasi yang dibentuk penamaannya selalu menggunakan bahasa Inggeris. dimana aktor-aktor utama inovasi akan difasilitasi untuk berada dalam kawasan yang sama. 26 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sejak 2011. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. Untuk penguatan peran intermediasi ini. Olahraga. Hal ini dilakukan dengan mensinergikan elemen-elemen akademisi.

2002) Regulasi dan kebijakan yang mendukung upaya penumbuh-kembangan inovasi. serta pajak dan keuangan. Diagram Konsepsi Sistem Inovasi Nasional (adaptasi dari MEXT. antara lain misalnya: pemberian insentif teknis dan/atau finansial bagi badan usaha yang menggunakan teknologi nasional dalam kegiatan usahanya. Namun demikian dalam konsepsi MEXT tersebut. inovasi. ilmu pengetahuan dan teknologi. tidak ditampakkan posisi dan peran lembaga intermediasi dalam mewujudkan suatu sistem inovasi.menggunakan diagram konseptual untuk memperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang ini (Gambar 2). Suatu hal yang menarik dari konsepsi ini adalah: [1] fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. budaya. [2] kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah akan tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. tradisi. pemberian kompensasi yang sebanding bagi badan usaha yang berkontribusi dalam pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi nasional. dan [3] secara jelas memperlihatkan bahwa pada akhirnya kegiatan perekayasaan. 18 Tahun 2002 Pajak&Keuangan Ekonomi Sosial Iptek . ketenagakerjaan. dan difusi teknologi harus berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. Basis Pengetahuan Litbang] Ketenagakerjaan Infrastruktur Pendidikan Pengguna Teknologi [Industri] AKTOR UTAMA Kebijakan AKTOR PENDUKUNG Pemerintah Masyarakat Politik dan Ekonomi Lingkungan. karakter bangsa Gambar 2. tradisi. pemberian prioritas dukungan pembiayaan bagi lembaga dan/atau individu peneliti 27 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. Pasar Pasar Permintaan Produk & jasa Industri Basis Pengetahuan Pengembang Kerjasama Teknologi [Univesitas. yakni berupa lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. pendidikan. infrastruktur sosial. budaya. dan karakter bangsa.

dana untuk penjualan awal dan biaya produksi. digunakan untuk pembiayaan persiapan ‘go public’. disebut juga ‘mezzanine financing’. 18 Tahun 2002 . Ketersediaan dan akses ke skim kredit atau bentuk kemudahan lain untuk modal kerja baik bagi pengembang teknologi maupun industri akan ikut merangsang tumbuh-kembang inovasi. juga ikut mengendalikan kebijakan dan pengambilan keputusan pada perusahaan tersebut. Skenario VC yang umum adalah pemodal memberikan dana awal bagi suatu usaha dan dana tersebut diperhitungkan sebagai saham pada perusahaan yang bersangkutan. Memberikan akses yang lebih mudah dalam pemanfaatan laboratorium pemerintah di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan. [5] Third-Round. Secara umum ada 6 tahap pembiayaan yang mungkin didapat dari VC. berbeda dengan infrastruktur fisik yang telah cukup dipahami peran dan kontribusinya. atau masih sulit meyakinkan pihak perbankan untuk mendapatkan pinjaman. yakni: [1] seed money. Kebijakan yang mendukung dan akses yang terbuka luas untuk mendapatkan sumber pembiayaan merupakan pra-kondisi yang dibutuhkan dalam upaya penguatan inovasi nasional. [2] start-up. pembiayaan tahap awal untuk dana pemasaran atau pengembangan produk. Oleh sebab itu. untuk biaya kerja tahap awal dimana perusahaan sudah mulai menjual produk tetapi belum memberikan keuntungan. maka biasanya pemodal selain mendapat porsi saham yang signifikan. Karena resiko usaha baru yang tinggi dan investasi butuh waktu 3-7 tahun untuk bisa cair. maka institusi pendidikan (terutama pendidikan tinggi) perlu mengembangkan program studi dan kurikulum yang relevan dengan sektor atau profesi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. pemberian insentif bagi lembaga intermediasi yang berhasil meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. [3] First-Round. [4] Second-Round. Konsepsi inovasi di Jepang (Gambar 2) dapat dijadikan referensi dalam konteks ini. Untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang dapat menggerakkan inovasi. dan [6] Fourth-Round. Venture capital (VC) merupakan salah satu bentuk sumber pembiayaan bagi perusahaan baru tumbuh (startup companies). Academic excellence yang sering menjadi jargon pendidikan tinggi harus dibarengi dengan peningkatkan relevansinya dengan kebutuhan pembangunan dan potensi sumberdaya nasional. maupun pengembangan program pendampingan dari para tenaga ahli (peneliti dan perekayasa) juga dapat menjadi alternatif upaya penumbuh-kembangkan inovasi.atau perekayasa yang fokus pada upaya untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan/atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan nasional. disebut juga ‘bridge financing’. masih terlalu kecil untuk bisa menarik dana publik melalui pasar modal. pembiayaan yang tidak besar dan dipergunakan untuk membuktikan bahwa ide baru yang digagas berpotensi untuk menghasilkan produk atau jasa komersial –biasanya disediakan oleh ‘angel investor’. upaya penguatan inovasi tidak boleh mengabaikan peran 28 Naskah Akademik Perubahan UU No. VC menjadi opsi sumber pembiayaan bagi perusahaan yang belum berpengalaman. Peran penting infrastruktur sosial sangat sering terabaikan dalam berbagai sektor pembangunan. untuk biaya pengembangan usaha bagi perusahaan yang mulai memperoleh keuntungan.

Interaksi dan komunikasi antar-aktor yang intensif akan memperbesar peluang untuk terjadinya aliran informasi kebutuhan teknologi dari para pihak pengguna teknologi ke pihak pengembang teknologi. maka akan meningkatkan kemungkinan bagi teknologi tersebut untuk digunakan. informasi. Tujuan ini hanya akan tercapai jika pembangunan infrastruktur sosial menjadi bagian esensial dari skenario membangun kemampuan inovasi nasional. Penelaahan aktor-aktor inovasi tidak dapat dilakukan secara terisolir satu sama lain. keluarga. 2. serta dukungan lain untuk individu. sebagai contoh. 20 Pemerintah Jepang. Sebagai contoh. telah mengenali peran infrastruktur sosial ini dalam menentukan keberhasilan membangun SINas. sehingga teknologi yang dikembangkan diharapkan sudah semakin mengacu pada upaya memenuhi kebutuhan nyata. tidak dapat dimutilasi menjadi segmen-segmen yang terpisah satu sama lain. olahraga dan rekreasi. Resultan dari interaksi antar-aktor juga masih sangat tergantung pada ekosistem dimana hal tersebut berlangsung. walaupun seandainya lembaga R&D Indonesia sudah sedemikian majunya sehingga setara dengan lembaga-lembaga serupa pada level dunia. 18 Tahun 2002 . pada saat ini justeru persoalan interaksi dan komunikasi antara aktor inovasi ini yang masih tersumbat. pelatihan dan kesempatan kerja. dan komunitas (Casey. Perlu diingat pula. perumahan. pendidikan. sebagaimana yang terlihat pada konsepsi SINas yang dikembangkan oleh MEXT (2002). layanan tanggap darurat. transportasi publik. Keberhasilan untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih produktif dan berkontribusi positif terhadap pembangunan perekonomian suatu bangsa (yang pada gilirannya diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat) berkorelasi positif dengan intensitas komunikasi dan interaksi antara para aktor inovasi. Data empiris juga menunjukkan adanya korelasi antara penguasaan teknologi dengan kemajuan perekonomian suatu negara. upaya membangun kemampuan inovasi nasional merupakan suatu yang kompleks dan banyaknya aktor yang ikut berperan di dalamnya.infrastruktur sosial ini.3. 29 Naskah Akademik Perubahan UU No. Akan tetapi adalah keliru jika serta-merta disimpulkan bahwa hubungan sebab akibat tersebut bersifat otomatis. tetapi tidak otomatis bahwa inovasi di Indonesia menjadi lebih produktif dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan pengguna jika telah mempertimbangkan juga secara seksama kapasitas adopsi oleh pihak pengguna. 2005). Kemajuan R&D bisa menjadi modal untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih tangguh. Namun demikian. seni dan budaya. Interaksi Antar-Aktor Inovasi Pendekatan untuk memahami inovasi tentunya harus bersifat sistemik. masih sangat sering terkendala. maupun sosio-kultural. finansial.1. Infrastruktur sosial termasuk sarana dan prasarana kesehatan.20 Sesungguhnya sangat jelas bahwa amanah konstitusi menyatakan bahwa tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan peradaban. baik dari dimensi teknis. hukum dan keamanan publik. sarana komunitas/lingkungan.

kebijakan pendidikan nasional. 2010). Ekosistem Inovasi Nasional Kemampuan inovasi nasional pada prinsipnya ditentukan oleh kelancaran aliran informasi kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh pihak (calon) pengguna potensial ke pihak pengembang teknologi dan sebaliknya. Pada periode tahun 2000-an. Yogyakarta. Kalaupun ada. permasalahan fundamentalnya adalah sama. intermediasi. Terlepas dari konsepsi mana yang digunakan untuk menjelaskan tentang kinerja inovasi nasional. Pada dasarnya. pada tahun 1994 lahir model ‘Triple Helix’ dari upaya untuk mengawinkan antara analisis kelembagaan infrastruktur pengetahuan dengan analisis evolusioner ekonomi berbasis pengetahuan (Leydesdorff dan Meyer. dan fasilitasi. Palembang. Berbagai regulasi dan kebijakan akan ikut mempengaruhi. 2006). kebijakan ketenaga-kerjaan. antara akademisi dengan bisnis. Teknologi yang dihasilkan oleh pengembangan seringkali tidak sesuai atau tidak relevan dengan kebutuhan para pengguna untuk meningkatkan produktivitas ataupun untuk dijadikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi. masyarakat. yang dilaksanakan di 10 kota besar Indonesia (Bandung. maka lembaga intermediasi mendapat beban yang sangat berat. 18 Tahun 2002 . Makassar. antara perguruan tinggi atau lembaga R&D dengan industri masih memerlukan dukungan kebijakan. Manado. Komunikasi dan interaksi antara pengembang dengan pengguna teknologi. konsepsi triple helix ini juga gencar dikumandangkan di Indonesia sebagai bentuk model penguatan kemampuan inovasi nasional dengan menggunakan nama populer triple helix ABG (academicbusiness-government) (Kadiman. model triple helix menggunakan dinamika non-linier hubungan universitas-industri-pemerintah. yaitu rendahnya intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi. dan pemerintahan mewakili lembaga yang berfungsi untuk melakukan regulasi.4. dan lembaga intermediasi teknologi masih sangat jarang. Namun demikian performa akhir dari upaya penguatan kemampuan inovasi nasional akan dipengaruhi oleh berbagai pihak. akademisi dalam konsepsi ABG ini mewakili komunitas pengembang teknologi. 2008). Dalam konteks interaksi antar-aktor inovasi ini. Selanjutnya. termasuk kebijakan-kebijakan yang diluar kendali para aktor utama inovasi. 2. Samarinda. Padang. umumnya hanya terbatas pada masalah operasional dan perawatan mesin dan peralatan saja (Hidayat. bisnis mewakili komunitas pengguna teknologi. kebijakan keuangan dan perpajakan. misalnya kebijakan pembangunan perekonomian. karena relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang rendah. dan Mataram) atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi dan Kementerian Pendidikan Jerman berhasil mengungkapkan bahwa kerjasama antara industri dengan perguruan tinggi. Semarang. Untuk menyederhanakan sebuah sistem yang kompleks. lembaga R&D.1. Surabaya.Survei Periskop tahun 2000. maupun pemerintah. bahkan mungkin menjadi ‘mission impossible’ bagi lembaga intermediasi untuk mendorong agar teknologi tersebut digunakan oleh industri/badan usaha. dan kebijakan pembangunan infrastruktur sosial (lihat 30 Naskah Akademik Perubahan UU No. Disisi lain kelancaran aliran paket teknologi yang dihasilkan pihak pengembang ke pihak pengguna juga menjadi faktor yang menentukan.

transportas.. jarang untuk merumuskan atau memilih alternatif kebijakan yang paling tepat. Pada level daerah. Umumnya. (2) Schumpeterian Growth Theory. Dalam kajiannya yang terkait dengan upaya translasi rationale21 menjadi kebijakan. dan evaluasi kebijakan (Laranja et al. Laranja et al. (3) Neo-Marshallian.Gambar 2). Synthesis of theoretical rationales for science. Rationale yang berbasis teori lebih sering diposisikan sebagai justifikasi atau alasan untuk menetapkan kebijakan tertentu sesuai dengan yang diinginkan. dan instrumen kebijakan yang berbeda pula. ada lima teori yang ditelaah Laranja et al. hanya akan dicuplik beberapa elemen saja sesuai dengan kepentingan yang hendak dikawal. ada lagi regulasi dan kebijakan daerah. noninnovation excludable generated by R&D Neutral but with implications for divergence/conve rgence Consideration of space Proximity (and space) play a role in inducing changes in behaviour Space as on dimension for specific evolutionary processes 21 Rationale dalam konteks ini adalah model yang diformalisasi dan didasarkan dari teori dan konsepsi terpilih yang memberikan informasi tentang desain. misalnya berupa berbagai peraturan daerah (Perda). teori sangat jarang diadopsi secara utuh untuk diterjemahkannya menjadi rationale oleh pembuat kebijakan.including social rival. technology and innovation policy Schumpeterian growth theory Systemic institutional approaches Broad (including social innovations). Namun demikian. (2008). 18 Tahun 2002 . (2008) mencoba menjawab tiga pertanyaan yang sangat mendasar. level intervensi. Technology as applied knowledge Neoclassical Consideration of technology Technology as information and “incorporated” in capital investment No consideration of space beyond reduction of information costs. yakni: (1) Neoclassical. akan melahirkan rationale untuk intervensi pemerintah. yakni: (1) Apakah rationale untuk intervensi pemerintah dapat diturunkan dari berbagai teori dengan perspektif yang berbeda? (2) Apakah bentuk instrumen kebijakan yang digunakan dalam intervensi pemerintah berkaitan dengan berbagai rationale? Dan (3) Apakah yang dapat disimpulkan terkait level teritorial/kewilayahan yang tepat dari suatu kebijakan sistem inovasi yang didasarkan atas teori terpilih dan rationale yang dikembangkan berdasarkan teori tersebut? Untuk menjawab tiga pertanyaan di atas. dan (5) Evolutionary (Tabel 1). implementasi. Berbagai regulasi dan kebijakan di berbagai sektor ini merupakan komponen dalam ekosistem inovasi nasional. 2008) 31 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pemilihan teori yang berbeda sebagai landasannya. location costs Neo-Marshallian Evolutionary Broad Technology as applied knowledge Technology as Broad definition endogenous non. Tabel 1. (4) Systemic Institutional Approaches.

eligibility criteria. Increase cognitive capacity. Extension services Mode of operationalisation (target. Design of segmented targeted intervention ”adaptive role” Subsidies and tax incentivate to R&D. 18 Tahun 2002 . Adequate institutional setting Avoid lock-in. Extension services(“servizi reali”) ranging from technology to education and training cluster policies Coodinating the system. help in networking. Favours R&D support to hitech. Optimise resources Centralisednational level. Education for creating pool of skills Technology infrastructure. Return on Investment and Targets different kind of individual actors. investment in local advanced technology infrastructure. selectivity) Target different kinds of individual actors. Favours demand approaches and provision of “ shared” public services. dysfunctions. Technology infrastructures. Balances centralised with decentralised intervention Identification of technology specific failures. and competition Overall coherence of the system. Block-in. Criteria balances support to individual actors with increasing collaboration. Extension services. Promote locally based networks of cooperation. Large mobilisation projects Subsidies and tax incentivate to R&D.Neoclassical Rationale for Market failures. “Animateur” Role of policy maker Examples of policy Subsidies and tax instruments incentives to R&D. Favours supplyside initiatives. Park for Science and Technology Subsides and tax incentives to R&D. System as a target. Appropriability failure Objective of intervention Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches Evolutionary Support to Flexible “external System failure. Improve diversity and selectivity Multi-level. networks of actors or systems of innovation. Favours collective 32 Naskah Akademik Perubahan UU No. endogenous R&D agglomeration” System dysfunctions cognitive gaps. Lack of diversity Reduction of costs in information. public intervention Informationtransmission failures. Science push measures. Investment in local advanced technology infrastructure. interactions and networking. technology infrastructures. roles and function of actors. Learning accumulation of economies of Institutional failures failures. but with focus in more advanced region Incentivate accumulation of “monopolistic” gains Regional level but National and also national regional levels level with regional focus(decentralis ed) Creation of a collaborative industrial community. transports. criteria of Targets both individual actors and “collective” actions. Park for Science and Technology. Proactive intermediation brokerage (translation of implicit knowledge) Targets both individual actors and groups. Learning Substitute for less Creat conditions than optimal use for increasing of resources returns to R&D Level of intervention Centralisednational level No differentiation of levels of intervention Compensate for less than optimal private investment. Favours science push and large R&D projects.

dan difusi teknologi) tentu akan mempengaruhi (secara positif atau mungkin juga negatif) performa inovasi nasional. dan nilai-nilai luhur atau karakter bangsa (Gambar 2). 18 Tahun 2002 . Potensi sumberdaya alam juga merupakan komponen ekosistem yang menjadi acuan dalam merancang kemampuan inovasi nasional. Ekosistem inovasi terbangun dari komponen-komponen yang bersifat intangible maupun yang bersifat tangible. dan sumberdaya finansial untuk mendukung kegiatan pengembangan teknologi maupun untuk proses produksi. dalam konteks inovasi. Regulasi dan kebijakan (baik yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pengaturan inovasi. Interaksi antara inovasi dengan ekosistem tempat dimana inovasi akan dikembangkan dan ditumbuhkan pada dasarnya bersifat saling-pengaruh. sebaliknya dinamika interaksi antar-aktor inovasi. kebijakan. Dengan demikian. yang diposisikan sebagai fondasi untuk bangunan kebijakan inovasi. tradisi. karakter.Neoclassical opportunity for appropristion as criteria Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches governance Evolutionary opportunity. Saat ini kecenderungan yang terjadi adalah ketersediaan dan jenis keahlian sumberdaya manusia yang secara dominan mewarnai inovasi. Budaya. dan nilai-nilai luhur atau karakter merupakan ‘penciri’ suatu bangsa yang cenderung untuk selalu dilestarikan eksistensinya. MEXT (2002) sudah mengenali komponen ini dan mengintegrasikannya dalam upaya membangun kemampuan inovasi nasional di Jepang. tetapi juga mencakup berbagai komponen non-formal. Seharusnya kebutuhan untuk mendukung tumbuhkembang inovasi sesuai dengan potensi nasional dan kebutuhan pasar (atau pengguna) yang menentukan pola penyiapan dan pengembangan sumberdaya manusia. tradisi. seperti budaya (termasuk norma dan etika). komponen ini merupakan komponen ekosistem yang bersifat ‘statis’. 33 Naskah Akademik Perubahan UU No. perkembangan iptek. and variety (increase or reduction) as Criteria. serta dinamika kebutuhan dan persoalan pengguna teknologi akan mengharuskan terjadinya penyesuaian regulasi dan kebijakan. dan komponen lain yang dapat mempengaruhi performa SINas tetapi tidak dapat divisualisasikan wujud fisiknya. Komponen yang bersifat intangible atau tak-berwujud mencakup semua regulasi. sumberdaya alam yang potensial untuk dikelola sebagai bahan baku proses produksi barang maupun jasa yang dibutuhkan. Favours collective governance concentration for Use of the value increasing chain or cluster returns concept Source: Laranja et al (2008) Komponen ekosistem inovasi tidak hanya berupa regulasi dan kebijakan yang bersifat legalformal. budaya. tradisi. Komponen yang bersifat tangible (wujud fisiknya dapat divisualisasikan) mencakup antara lain sumberdaya manusia terdidik dan/atau terlatih yang tersedia.

Sri. Akibatnya inovasi bukan akan tumbuh berkembang. Kondisi ini selain menyebabkan rendahnya sumberdaya finansial untuk mendukung pengembangan inovasi juga menghilangkan kepercayaan publik terhadap inovasi itu sendiri. 18 Tahun 2002 adalah lemahnya koordinasi kegiatan riset di daerah. Selain itu. serta sumber daya iptek yang mampu diakumulasikan masih terbatas. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera terhadap implementasi UU No. Sumberdaya finansial yang tersedia akan mendorong kemampuan inovasi semakin tumbuh berkembang menjadi sebuah sistem yang lebih produktif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan jasa yang bernilai ekonomi. sumber daya dan jaringan iptek. tetapi sebaliknya akan menjadi faktor yang semakin tidak diperhitungkan dalam skenario besar pembanguan perekonomian suatu bangsa. pengembangan dan penerapan iptek khususnya ditingkat daerah. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. memberi stimulus dan memfasilitasi dalam menciptakan iklim pertumbuhan dan sinergi unsur kelembagaan. UU No. 2009. 18 Tahun 2002 meletakkan pemerintah daerah sebagai salah satu komponen pendukung pelaksanaan sistem nasional penelitian. tidak akan pula mampu memberikan kotribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. Pengembangan. Menurut penelitian yang dilakukan. secara umum Indonesia belum menjadi pelaku iptek yang diperhitungkan dalam dunia internasional. temuan mendasar yang diidentifikasikan dalam pelaksanaan UU No. hal itu disebabkan antara lain belum terjalinnya hubungan yang baik antara lembaga penelitian perguruan tinggi dan industri. Sebaliknya inovasi yang bersifat stagnan (atau dorman) karena tidak mampu menghasilkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas atau efisiensi proses produksi. Padahal sejak awal UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). Selanjutnya pertumbuhan perekonomian secara langsung juga berarti meningkatnya ketersediaan sumberdaya finansial untuk membangun kemampuan inovasi nasional dengan kapasitas yang lebih besar.1. 18 Tahun 2002 dimaksudkan untuk meletakkan dasar bagi perkembangan kelembagaan iptek dengan interaksinya. Mulatsih.2. terutama di kegiatan ekonomi dan sosial budaya. dan interaksi pelaku iptek.. Kajian Implementasi UU No. 18 Tahun 2002. 2. Pemerintah daerah berkewajiban menumbuh-kembangkan motivasi.2. Kondisi ini mendorong industri nasional cenderung memanfaatkan lisensi impor. saling beinteraksi secara positif (snowballing effect) sehingga masing-masing berkembang dan tumbuh semakin kuat. 34 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Prakoso Bhairawa Putera. 18 Tahun 2002 2. 18/2002 menunjukkan pengembangan dan penerapan iptek masih belum dimanfaatkan secara optimal. sehingga secara nyata akan mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara.Sumberdaya finansial dan inovasi akan saling berhubungan secara interaktif. Berdasarkan implementasi UU No. Analisis Undang-undang No.

dan industri. Secara umum UU ini belum diketahui. lembaga penunjang dan badan usaha. begitu juga dengan dana. Mulatsih dan Putera (2009) menggunakan indikator keadaan. Table 6. Balitbang pemerintah daerah (balitbangda) Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) 35 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga litbang. Dengan memberikan dana insentif untuk kegiatan penelitian. pembentukan jalinan interaksi ini distimulus oleh Kementerian Riset dan Teknologi. 18 Tahun 2002 . dukungan yuridis tidak diikuti ini tidak diikuti adanya dukungan sumber daya yang memadai. Namun demikian menurut penelitian Mulatsih dan Putera (2009). kondisi yang terjadi cukup ironis karena interaksi yang terjadi hanya terjalin sebatas pemanfaatan dana riset. khususnya dalam diskusi penyusunan PP No. Cukup paham dengan UU ini.Kondisi awal di lokasi yang menjadi sampel penelitian ini (tahun 2009) terlihat telah ada dukungan secara yuridis formal melalui pembentukan Peraturan Daerah ataupun Keputusan Gubernur tentang pembentukan badan/bagian/unit yang menangani kegiatan penelitian dan pengembangan di daerah. Pelaksana undang-undang ini adalah perguruan tinggi. Temuan lainnya yang menarik adalah mengenai pembentukan jalinan interaksi antar kelembagaan yang diharapkan dapat membentuk pola sistem nasional bagi kemajuan iptek di Indonesia. 38. Untuk mengetahui keadaan tersebut ditunjukkan pada tabel di bawah ini. 35 Tahun 2007 tentang alokasi dana sebagian pendapatan badan usaha. Pada awalnya dan sampai saat ini. Selama ini balitbangda terikat dengan PP No. yaitu tanggapan lembaga-lembaga (stakeholders).1 Tanggapan terhadap UU No. Balitbangda merasa bahwa UU ini belum menjadikan lembagalembaga penelitian daerah sebagai garda terdepan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Perspektif Pemangku Kepentingan UU No. tanpa adanya keberlanjutan difusi hasil penelitian yang aplikatif oleh dunia usaha. 18 Tahun 2002 Dalam menganalisis temuan dalam implementasi UU Nomor 18 Tahun 2002 di atas. Semua daerah responden menyebutkan minimnya sumber daya peneliti. sarana dan prasarana dalam pemaksimalan tugas dan fungsi di daerah. bahwa penelitian dan pengembangan itu tidak termasuk sebagai kegiatan wajib atau pilihan. Namun demikian. Yang lebih diperlukan lagi adalah sosialisasi dan implementasinya. pengembangan dan penerapan iptek diharapkan akan memperkuat jaringan kelembagaan perguruan tinggi. 18/2002 Lembaga Perguruan tinggi Pandangan/Perspektif Pada umumnya pengetahuan tentang UU ini masih sangat sedikit. 18 Tahun 2002 Variabel Tanggapan/respon terhadap UU No. karena sering diundang sebagai pemangku kepentingan. lembaga penelitian dan pengembangan. Namun UU ini perlu untuk mengarahkan/mengatur kegiatan penelitian supaya efektif.

Tabel di atas menunjukkan bahwa unsur kelembagaan yang diteliti (perguruan tinggi. dan adanya PP No. perusahaan (badan usaha) ini meletakkan visi dan misi usahanya untuk bisnis dan penelitian. 18 Tahun 2002 . pengembangan dan penerapan iptek. Bagian penelitian dan pengembangan yang menjadi subbagian di bawah struktur Sekretaris Daerah Provinsi Yogyakarta. Sehingga bagian ini masih merencanakan tindakan untuk pelaksanaan kegiatan. ada beberapa responden yang cukup tertarik dengan memaksimalkan peran dan fungsi litbang daerah dalam dua tahun terakhir. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Sumberdaya. dan Jaringan Kelembagaan. dan jaringan iptek merupakan unsur-unsur utama dalam sistem nasional penelitian. Karena dari temuan penelitian. yang didukung adanya peran pemerintah/pemerintah daerah. walaupun sebenarnya berdasarkan surat pembentukan terjabarkan tugas dan fungsi bagian ini – tentunya memberikan tugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan di daerah. 18 Tahun 2002 diharapkan kelembagaan. karena masing-masing instansi memiliki litbang sehingga fungsi dan tugas balitbangda apa. khususnya yang diteliti tampaknya kurang memahami kedudukan dan fungsi mereka dalam memperkuat visi dan misi dalam upaya penguasaan. seperti yang telihat dari Badan Litbang Daerah Sumatera Selatan. Adanya UU No.” Kondisi semacam ini memang berbeda dengan lembaga litbang di daerah yang lain. dan jaringan iptek menjadi berkembang lebih baik untuk 36 Naskah Akademik Perubahan UU No. Di samping itu juga interaktif terhadap kebijakan pemerintah. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menjadikan penelitian di daerah bukan merupakan urusan wajib. Kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama ini diarahkan untuk mendukung visi dan misi pembangunan daerah. Namun demikian. hal ini disebabkan karena alasan teknis dengan perpindahan struktur bagian penelitian dan pengembangan yang sebelumnya di bawah Badan Perencanaan Daerah. sumber daya. tetapi yang belum adalah menjadikan lembagalembaga penelitian dan pengembangan daerah ini sebagai garda terdepan dalam hal penelitian dan pengembangan di daerah. khususnya dalam mengemban misi penelitian dan pengembangan baik untuk kepentingan industri maupun kepentingan nasional masih rendah. 18 Tahun 2002. pelaksanaan penelitian dan pengembangan hanya menjadi tugas pendukung instansi lain di wilayah kerjanya. “Keberadaan undang-undang ini cukup diketahui. hanya salah badan usaha yang terlihat aktif dalam merespon kebijakan ini. Sehingga Balitbangda Sumsel berkolaborasi dengan lemlit-lemlit di perguruan tinggi yang berada di wilayah ini. lembaga litbang daerah. Kelembagaan. Pemerintah Daerah Provinsi. dan badan usaha/industri) masih rendah tanggapannya terhadap UU No. sumber daya. pemanfaatan dan pemajuan iptek. Selain itu masih adanya paradigma memandang sebelah mata terhadap balitbangda oleh pihak-pihak di daerah. seperti Balitbangda Sulawesi Selatan. tetapi pilihan. menimbulkan kebingungan pada balitbangda. Bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang daerah. belum mengimplementasikan kebijakan ini pada tingkat daerah. Akan tetapi dalam pelaksanaannya. dan masyarakat.

perguruan tinggi sebagai kelembagaan iptek diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (peneliti. perekayasa. 18 Tahun 2002 ini belum berjalan dengan baik.2 di bawah ini. dapat dilihat pada Tabel 6.membangun kemampuan iptek nasional yang lebih kuat untuk mencapai tingkatan ekonomi sejajar dengan negara lain. pemerintah mendorong kerja sama antar kelembagaan iptek dalam pengembangan jaringan informasi iptek. 37 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan sebagainya) yang diperlukan dalam upaya peningkatan kemampuan penguasaan. pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang masih bersifat sektoral menjadikan amanah yang disebutkan dalam UU No. dan penerapan iptek. penelitian. pengembangan. jaringan dan pembiayaan dipandang sebagai aspek inti dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. perekayasa. Dalam Pasal 13 UU No. lembaga litbang.2 Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Iptek Kelembagaan Perguruan tinggi (ITB. pengembangan.Sulsel. Untuk itu. Lembaga litbang menjadi mencari peneliti. Tabel 6. 18 Tahun 2002 menyebutkan. Tugas utamanya adalah melakukan penelitian bidang mikrobiologi untuk sell kanker. UNSRI) Balitbangda (Sumsel. Pasal 6 UU No. Namun demikian. teknisi. Sumber dana murni swasta di PT Kalbe Farma (bergerak di bidang farmasi). setiap kelembagaan iptek (perguruan tinggi. perguruan tinggi dan lembaga litbang agar mengusahakan penyebaran informasi hasil kegiatan. Menurut Mulatsih dan Putera (2009). badan usaha dan lembaga penunjang) berfungsi mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. Namun demikian. teknisi dan semberdaya manusia lain yang diperlukan untuk memperkuat kegiatan penelitian. 18 Tahun 2002 disebutkan. Bahkan seperti Pemda DIY. Selanjutnya untuk mengetahui fungsi kelembagaan iptek yang disurvei. lebih banyak dilandasi oleh Tri Darma Perguruan Tinggi. juga melakukan koordinasi untuk menginventarisasi hasil penelitian di daerah. Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) Selain kelembagaan. Tugas penelitian pada dasarnya sebagai tugas struktural dari Kemendagri. DIY) Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Dalam mengembangkan inovasi melalui penelitian dan pengembangan. bidang penelitian menurut struktur organisasi baru hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi ijin penelitian. 18 Tahun 2002 . Kelembagaan iptek juga diarahkan untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan iptek untuk menghasilkan kinerja dan manfaat lebih besar secara bersama. dan difusi teknologi. perekayasaan. sumber daya. pemanfaatan dan pemajuan iptek. termasuk pembentukan Sentra HKI.UGM. inovasi. Sehingga kegiatan ini tidak selalu dilakukan seperti lembaga penelitian lainnya. UNHAS.

Menurut UU No. terutama dalam pelaksanaan fungsi dan pemerintah sebagai motivator dan stimulator perkembangan sistem nasional litbangrap iptek. industri dan pihak terkait lainnya. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. antara lain lembaga penelitian. yaitu PP No. Selama hampir sepuluh tahun pelaksanaan UU No. pembiayaan pelaksanaan kegiatan penelitian. Undang-Undang sebagai produk policy level akan diimplementasikan melalui tingkatan organisasi (level of organization) yaitu berupa peraturan pelaksanaannya. menyebutkan peraturan pelaksanaan dari undang-undang adalah sesuai dengan hirarkhi-nya. 18 Tahun 2002 Pelaksanaan suatu undang-undang merupakan suatu penjabaran isi dari pasal-pasal ke dalam peraturan-peraturan atau kebijakan yang disebut sebagai arrangement institutions. Dalam pelaksanaannya UU No. dalam public policy. Kemudian di tahun berikutnya. peraturan presiden. dan peraturan kebijakan PP. model kebijakan yang dibuat berjenjang sesuai dengan hierarki implementabilitasnya. Secara hierarkis. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. antara lain dapat mengacu penjelasan Riant Nugroho (2009). 48 Tahun 2009 Pelaksanaan UU No. tiga tahun setelah disahkan diturunkan dua Peraturan Pemerintah (PP) sebagai peraturan pelaksanaannya. PP No. Akibatnya di Indonesia 38 Naskah Akademik Perubahan UU No. Secara politis UU ini telah memenuhi syarat dalam proses penyusunannya sehingga UU ini telah diundangkan sejak 29 Juli 2002. Pengembangan. 35 Tahun 2007. Peraturan pemerintah terakhir yang diturunkan sebagai pelaksanaan dari undang-undang No. Inovasi dan Difusi Teknologi. termasuk 2 bab di dalamnya tentang ketentuan sanksi dan ketentuan peralihan. peraturan daerah provinsi. pengembangan dan penerapan iptek merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. yaitu terkait dengan pelaksanaan Pasal 16. yaitu peraturan pemerintah. 18 Tahun 2002.Aspek terpenting dalam pelaksanaan penguasaan. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 telah diturunkan empat peraturan pemerintah yang perlu disusun. Tahun 2005 disahkan. UU No. perguruan tinggi. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. berupa peraturan pemerintah. Undang-undang merupakan kebijakan yang dinilai mempunyai posisi tertinggi. undang-undang sebagai bentuk dari kebijakan di Indonesia masih menganut model kebijakan continental atau yang berasal dari Belanda. 18 Tahun 2002 adalah mengenai Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian. pemanfaatan dan pemajuan iptek adalah pembiayaan. UU No. 17. dan dibuat dengan pasal-pasal yang bersifat makro atau umum untuk kemudian dibuat petunjuk pelaksanannya. dan peraturan daerah kabupaten/kota. 18 Tahun 2002 mencakup 9 bab dan 32 pasal dan penjelasannya. 20 Tahun 2005 dan PP No. tertanggal 18 Juli 2009 dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. dan penerapan iptek. 18 Tahun 2002. ketentuan ini masih memerlukan penjelasan bagaimana merealisasikan pembiayaan ini. PP No. Sebagai payung hukum UU ini merupakan acuan seluruh elemen yang tercakup dalam sistem nasional penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berisiko Tinggi dan Berbahaya. peraturan presiden. 22 dan Pasal 28. Dalam pelaksanaannya. Pelaksanaan UU No. pengembangan.

dan penelitian swasta. tetapi pelaksanaannya tidak effektif karena peraturan atau kebijakan pelaksanaannya belum dibuat. “Jalinan interaksi selama ini belum berjalan maksimal. serta menciptakan iklim kondusif dalam sistem penelitian. . walaupun kami memiliki jaringan peneliti Sumatera Selatan yang telah mendapat pesetujuan dari gubernur tetapi belum maksimal. lembaga penelitian pemerintah lainnya. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat mengoptimalkan dan keberlanjutan aktivitas litbangrap iptek. “LPPM-ITB melakukan jejaring penelitian dengan lembaga lain disebut sebagai mitra kerja.” Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah telah memberikan ruang untuk mendorong kegiatan penelitian. karena yang ada selama ini adanya kumpulan pakar-pakar di Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi DIY. dan penerapan iptek. Interaksi berjalan karena adanya kerjasama penelitian yang menggunakan dana atau dibiayai oleh balitbangda. badan usaha maupun di masyarakat selama ini masih tidak terpola. perguruan tinggi. beberapa telah dapat menyambung simpul industri (beberapa). pola jalinan interaksi atau yang dikenal dengan jaringan. 5 Tahun 2008 menunjukkan bahwa adanya perhatian dari pemerintah daerah. dan penerapan iptek di daerah sesuai dengan amanat UU No. memberikan stimulasi dan fasilitas. pengembangan.banyak terjadi kasus di mana sudah ada undang-undang.550.” “Dengan keluarnya Perda No. 18 Tahun 2002 secara bertahap mengalami kemajuan.. Responden lainnya menyatakan.072.323. Untuk kelengkapan lainnya sedang diproses. Jaringan yang dikembangkan di perguruan tinggi. kerjasama atau interaksi yang terjalin selama ini hanya sebatas pemanfaatan dana riset yang dimiliki oleh badan litbang daerah saja. 18 Tahun 2002 Dukungan pemerintah daerah dalam menumbuhkembangkan motivasi.” Simpul pola interaksi terlihat lebih baik dilakukan oleh perguruan tinggi. responden penelitian Mulatsih dan Putera (2009) berpendapat interaksi yang dilakukan antar pelaku iptek di lembaga litbang. kebijakan internal di setiap daerah responden berbeda. Untuk Dewan Riset Daerah. 39 Naskah Akademik Perubahan UU No. pada tahun 2008 kemarin melaksanakan sebanyak 2 program utama dan 60 kegiatan dengan pendanaan sebesar Rp. 10.” “Pemerintah daerah telah menganggarkan sejumlah dana sehingga setiap tahunnya balitbangda melaksanakan program dan kegiatan penelitian pengembangan yang mengacu pada program prioritas pemerintah provinsi. Bappeda. Akan tetapi. Interaksi yang terlaksana sebatas antara balitbangda dengan peneliti yang bersangkutan yang mayoritas berasal dari perguruan tinggi. LSM) belum ada. pemerintah daerah masih mencari format terbaik. karena bagaimanapun juga sistem nasional tidak dapat berjalan secara maksimal tanpa adanya dukungan pelaksanaan sistem pada level daerah.yang seluruhnya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah pemerintah provinsi. pengembangan. namun tampaknya jejaring peneliti yang dibangun antar lembaga penelitian di wilayah Jawa Barat (ITB. Dukungan kebijakan serta pendanaan yang secara terus menerus dan berkelanjutan program yang dilakukan pada tingkat daerah. Masuknya Bagian Penelitian dan Pengembangan di Biro Administrasi Pembangunan adalah indikasi baik. Dalam kaitannya dengan penguatan inovasi. Indikasi ini menandakan bahwa adanya dukungan dari pemerintah walaupun masih dirasa kurang dalam segi penambahan alokasi dana ataupun sarana prasarana untuk menunjang kegiatan penelitian. Interaksi yang dilakukan belum terlembaga dan hanya dilakukan secara personal (individu). adanya ruang bagi masing-masing elemen dalam UU No.

25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan 40 Naskah Akademik Perubahan UU No. Upaya-upaya terpadu dalam penguatan kelembagaan. Selanjutnya Tatang (2005) menyebutkan. namun sistem nasional litbangrap iptek merupakan keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. dan karenanya merupakan langkah penting bagi perkembangan sistem inovasi di Indonesia. esensi keterkaitan ini sama dengan atau setidaknya berangkat dari konsep sistem inovasi nasional. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban antara lain: memajukan dan mengembangkan daya saing daerah (Pasal 27 ayat (1) butir g. inovasi. mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumberdaya iptek. Oleh karena itu perkembangan sistem inovasi ini akan ditentukan oleh pelaksanaan lebih lanjut (secara legal) dan implementasinya. serta b. pemerintah daerah. 18 Tahun 2002 adalah penguatan fungsi kelembagaan iptek dalam sistem nasional litbangrap iptek. mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. perekayasaan.2.) UU No. dan difusi teknologi. penelitian. pengembangan. Pemajuan ataupun penguatan sistem inovasi pada tataran daerah menurut Tatang (2005) adalah sesuatu yang penting bagi perkembangan sistem inovasi nasional dan peningkatan daya saing secara nasional. antara lain: a.2. Hal ini juga ditegaskan dalam UU No. b. Upaya ini dilakukan melalui: a. meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Menurut Tatang (2005) meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sistem inovasi. dan daya saing daerah (Pasal 2 ayat (3)). landasan hukum yang diharapkan dapat memperkuat landasan pembangunan dan mempercepat perkembangan iptek. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat memperkuat jaringan antara pemerintah pusat. Dalam peraturan perundang-undangan yang ada. b. ‘Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . dan jaringan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh. Salah satu pelaksanaan UU No. pemanfaatan.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan’. pelayanan umum. dan UU No. Tatang A Taufik: BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi.2. memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. Pengembangan. sumber daya. UU No. 18 Tahun 2002 merupakan tonggak penting. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. tanggung jawab daerah dalam pembangunan iptek dan sistem inovasi cukup besar. interaksi dan proses pembelajaran akan menjadi semakin penting pada tataran daerah. dan pemajuan iptek. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Sistem nasional litbangrap iptek ini diperlukan untuk mencapai tujuan: a. maupun masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pemajuan iptek. Penguatan sistem inovasi di tataran daerah merupakan bagian integral atau sub sistem dari pilar sistem inovasi nasional. pembentukan iklim dan memberikan dukungan kebijakan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 2005. UU No. tujuan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

kurang dimanfaatkan secara optimal. 2007 Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembangunan iptek dalam upaya memperkuat daya dukung iptek untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa adalah ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi luar.2. pembagian royalty. yang ada adalah jual beli teknologi. adanya gap antara teknologi hasil penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan pasar yang ada. 2. meningkatkan sinkronisasi dan sinergi dalam pengembangan sistem inovasi. Kementerian Riset dan Teknologi. Hal ini masih ditambah kurangnya perhitungan pencapaian optimal dalam penggunaan sumberdaya keuangan dan sumberdaya manusia. cenderung mengerjakan terlalu banyak kegiatan. seperti HKI. Alasan yang melatarbelakangi kondisi tersebut sebenarnya adalah suatu hal yang cukup logis. seringkali masih menghadapi persoalan yang cukup serius. Alasan lainnya. Ketergantungan ini sebagai akibat dari kurang berkembangnya teknologi/inovasi dalam negeri. pemanfaatan produk. Kondisi ini memperlihatkan. karena tidak selalu mendapatkan akses secara lengkap teknologi yang ada. termasuk juga keberlanjutannya (sustainability). 18 Tahun 2002 . Transfer teknologi dari lembaga penelitian dan pengembangan kepada industri dan masyarakat melalui bentuk kemitraan. program yang direncanakan dan dilaksanakan masih kurang fokus. Ketergantungan teknologi dari luar. Hal ini menyebabkan industri kecil dan menengah cenderung menggunakan tenaga konvensional yang dimiliki atau membeli dari luar negeri untuk perbaikan (improvement) dalam kegiatan proses produksinya. Kesulitan dalam proses transfer teknologi tersebut tidak hanya terjadi pada industri besar saja tapi terjadi juga pada industri kecil dan menengah. seringkali dibarengi kesulitan dalam pemeliharaannya. maupun peraturan perundang-undangan lainnya diharapkan menjadi landasan legislasi untuk mengintegrasikan. meskipun peralatan yang dimiliki sebenarnya sudah cukup memadai. sektor usaha masih merasakan hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri belum dapat diterapkan dalam kegiatan industri.Pembangunan Nasional. sehingga transfer teknologi dapat dikatakan tidak terjadi. Jumlah dan kualitas sumberdaya manusia di Indonesia yang cukup memadai. Kerjasama-kerjasama yang dilakukan mengenai transfer teknologi cenderung mengarah pada kerjasama perdagangan. Dalam beberapa kasus. Para pengusaha kecil dan menengah ini masih meragukan kualitas produk teknologi hasil penelitian dan pengembangan. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan umumnya masuk dalam publikasi ilmiah 41 Naskah Akademik Perubahan UU No. Andaipun ada keterkaitan antara dunia usaha dan lembaga penelitian dan pengembangan saat ini baru sebatas asistensi dari pihak penelitian dan pengembangan yang kebanyakan masih terbatas pada aspek pengujian produk dan peralatan. karena pembelian barang modal yang sarat dengan teknologi. belum lagi ketepatan waktu pemanfaatannya.3. Teknologi menjadi komoditas yang sangat mahal dan seringkali memberatkan beban keuangan negara secara keseluruhan. ‘Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Komersialisasi Kelembagaan Iptek’.

perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib membentuk unit kerja yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbang di lingkungannya. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbangnya. Dalam pelaksanaannya pembentukan unit kerja seperti yang disyaratkan pada PP No. menghasilkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. Ketentuan ini ditujukan bagi kegiatan litbang yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah atau pemerintah daerah. susunan organisasi. dan tampaknya akan menjadi salah satu hambatan dalam merealisasikan komersialisasi hasil litbang. tata kerja unit kerja. seperti Unit Komersialisasi Hasil Litbang. hanya sedikit yang menghasilkan hak paten dan masuk dalam publikasi internasional.tingkat nasional. sebagai pelaksanaan kebijakan pemerintah. 18 Tahun 2002. sehingga lembaga memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk investasi berbagai kegiatan litbang lainnya. Adanya perubahan struktur organisasi lembaga. Di satu sisi perguruan tinggi maupun lembaga litbang memerlukan adanya unit kerja yang mandiri untuk melakukan pengelolaan administrasi hasil penjualan produk litbang secara lebih optimal. Unit kerja ini dapat merupakan lembaga baru. Hal ini juga menunjukkan. atau dengan memanfaatkan unit yang ada. Sesuai pasal 16 UU No. kajian pengembangan kebijakan yang mendukung komersialisasi hasil litbang masih perlu 42 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengalihan ini dilakukan pada badan usaha. misal Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) untuk mengurangi pembentukan lembaga baru. Oleh karena itu. Pembentukan unit kerja yang mendorong peningkatan komersialisasi hasil litbang ini. dan penetapan prosedur pengelolaan dan alih tekologi kekayaan intektual serta hasil kegiatan litbang diatur oleh lembaga yang bersangkutan. sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sebagai penambahan unit-unit kerja yang ada. Semua hasil penjualan hasil litbang dapat dikelola secara langsung oleh lembaga melalui unit komersialisasi hasil litbang ini. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Dalam Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut menyatakan. seperti penambahan tugas dan fungsi lembaga Sentra HKI di perguruan tinggi dan lembaga litbang. Investasi pemerintah dalam bentuk hasil litbang ini diharapkan dapat menghasilkan public return sebesar mungkin. 20 Tahun 2005 masih mengalami hambatan. Permasalahan krusial lainnya adalah pembentukan unit kerja dalam upaya komersialisasi hasil litbang. pemerintah. sesuai dengan PP No. Kebijakan ini akan membatasi pembentukan lembaga baru. juga belum memadai untuk mendapatkan pengakuan secara ekonomis. hasil-hasil kajian dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian masih belum sesuai dengan kebutuhan pasar. atau masyarakat. Sedangkan pengaturan mengenai pembentukan. 18 Tahun 2002 . rincian tugas. yang mungkin ditujukan untuk pengembangan teknologi tepat guna maupun sebagai upaya mendukung perbaikan pendapatan peneliti. Kewajiban ini dimaksudkan agar hasil litbang dapat dimanfaatkan seluas mungkin oleh masyarakat.

disamping kegiatan pengajaran dan pengabdian masyarakat. melalui berbagai kegiatan penelitian yang bersifat aplikatif. serta aplikasi hasil litbang tersebut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dalam bentuk ini. Berdasarkan fakta di lapangan. Kalangan dunia usaha lebih menyukai teknologi yang sudah siap pakai. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian dan pengabdian sebenarnya tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi tugas dan kewajiban dari perguruan tinggi untuk merealisasikannya. Hasil riset di bidang teknologi industri yang dihasilkan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat maupun para peneliti di perguruan tinggi sebenarnya cukup banyak. namun kurang sosialisasi. daripada membeli hasil litbang perguruan tinggi yang masih belum teruji dalam 43 Naskah Akademik Perubahan UU No. Upaya komersialisasi ini belum berjalan maksimal. Pihak pengguna beranggapan hasil litbang perguruan tinggi maupun lembaga litbang Pemerintah masih bersifat teoritis dan belum dapat diaplikasikan. Permasalahan lainnya adalah kurangnya sosialisasi hasil litbang. Hal ini menuntut perguruan tinggi untuk menggali sumber dana lainnya selain dari Pemerintah. kegiatan penelitian menjadi kegiatan utama. Tingginya biaya litbang antara lain disebabkan biaya administrasi yang tinggi. swasta atau perusahaan. seperti misalnya birokrasi yang panjang dalam mekanisme pengelolaan dana penelitian. melalui penjualan jasa konsultasi dan jasa teknis litbang. mudah. maka perguruan tinggi didorong menuju terwujudnya universitas penelitian (research university).dilakukan dengan bersinergi lebih erat dengan para pengambil keputusan di bidang aparatur negara. Banyak karya ilmiah yang tidak aplikatif. penelitian dan pengembangan di bidang iptek. Untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif. 18 Tahun 2002 . sehingga hasilnya belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal. lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu memperhatikan struktur biaya litbangnya agar menarik untuk dikomersialkan kepada para pelaku usaha dan masyarakat. Hasil dari riset ini juga seringkali tidak memperhatikan struktur biaya. suatu kegiatan komersialisasi hasil riset. sehingga ketika diterapkan tidak mampu bersaing dengan produk-produk yang dihasilkan oleh pihak lain. Struktur biaya penelitian yang tinggi menyebabkan hasil penelitian perguruan tinggi menjadi terlalu mahal untuk pengguna. padahal banyak diantaranya yang memiliki potensi untuk dikomersialisasikan. perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan kompetitif untuk dapat diterima pengusaha sebagai pengguna hasil penelitian. Para dosen dan mahasiswa harus memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah aktual yang ada di masyarakat. dan produk penelitian masih banyak yang bersifat teoritis dan belum dapat diterapkan di masyarakat. maupun desertasi tersimpan di perpustakaan. tesis. murah. meskipun secara akademik dapat dipertanggungjawabkan. dan memberikan sentuhan komersialisasi terhadap produk yang dihasilkan. Banyak skripsi. Oleh karena itu. Dilihat dari proses penelitian dan pengembangan. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi sebagai bagian integral dari pendidikan di Indonesia diarahkan seoptimal mungkin melakukan proses transformasi pendidikan dan pengajaran. dan perpajakan. umumnya pihak industri menghendaki hasil litbang yang dapat menghasilkan produk akhir secara cepat.

Dalam Pasal 114 antara lain diatur sebagai berikut : Pasal 114 (1) Pembiayaan Perguruan Tinggi dapat diperoleh dari sumber pemerintah. seperti pengelolaan perizinan. (2) Penggunaan dana yang berasal dari Pemerintah baik dalam bentuk anggaran rutin maupun anggaran pembangunan serta subsidi diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Biaya seleksi ujian masuk perguruan tinggi. masyarakat dan pihak luar negeri. e. dan seringkali tidak sama dengan pengelolaan kelembagaan lain. lembaga Pemerintah atau lembaga nonPemerintah. baik di masyarakat maupun di dunia usaha. Hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi perguruan tinggi. termasuk biaya litbang mengacu pada PP No. Unit usaha ini dapat pula berbentuk unit usaha komersial. Sumbangan dan hibah dari perorangan. 60 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).pemanfaatannya. Hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan tinggi. upaya untuk memperkenalkan berbagai produk litbang kepada masyarakat. (4) Penerimaan dan penggunaan dana yang diperoleh dari pihak luar negeri diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. suatu unit yang mampu menunjang penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengelolaan hasil litbang yang lebih profesional. (3) Dana yang diperoleh dari masyarakat adalah perolehan dana Perguruan Tinggi yang berasal dari sumber-sumber sebagai berikut : a. 18 Tahun 2002 . Penyediaan dana penelitian kepada para peneliti sering kali belum dapat memberikan solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang ada di lapangan. Penerimaan dari masyarakat lainnya. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Lembaga Litbang Pembentukan unit pelayanan jasa teknis dan jasa konsultasi di lembaga litbang lebih diarahkan untuk mengkomersialkan kekayaan intelektual dan hasil-hasil litbang. d. c. atau penerimaan hasil 44 Naskah Akademik Perubahan UU No. Agar inovasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diperlukan sosialisasi. dan f. Hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan pengalihan teknologi dapat berupa pengalihan codified knowledge maupun tacit knowledge transfer. Kegiatan terebut merupakan upaya pemanfaatan hasil litbang dan pengalihan kemampuan penguasaan iptek oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. Pembiayaan kegiatan perguruan tinggi. Kegiatan ini memerlukan pendekatan tersendiri. (5) Usaha untuk meningkatkan penerimaan dana dari masyarakat didasarkan atas pola prinsip tidak mencari keuntungan. b. perguruan tinggi dapat menggali penerimaan dari masyarakat. Inovasi yang memiliki nilai komersial yang harus dilindungi oleh hak atas kekayaan intelektual. Dalam ketentuan di atas. Penerimaan masyarakat ini akan mendorong terjadinya alih teknologi. baik berupa kekayaan intelektual maupun hasil-hasil litbang lainnya. Hal ini memberikan kemungkinan bagi perguruan tinggi mendirikan unit usaha sebagai salah satu sumber pembiayaan dari masyarakat.

.selisih harga ataupun penerimaan keuntungan dari BUMN. 18 Tahun 2002 Lembaga litbang pemerintah umumnya ditujukan untuk melaksanakan penelitian. 45 Naskah Akademik Perubahan UU No. Oleh karena itu. adanya keleluasaan dalam pengelolaan penggunaan pendapatan alih teknologi mempunyai peran penting dalam mendorong kemandirian lembaga penelitian. baik dalam rangka pemecahan masalah di bidang teknis. Hasil kajian yang dihasilkan masih kurang diminati dunia usaha karena adanya ketidaksesuaian antara hasil litbang dengan kebutuhan yang didasarkan pada tuntutan konsumen. membantu dunia usaha dalam kegiatan proses produksi maupun kegiatan manajemen lainnya. dan alih teknologi. serta sarana prasarana iptek. pola kerjasama yang berlaku dalam komersialisasi hasil litbang. 3) memperkuat kemampuan pengelolaan kekayaan intelektual. Oleh karena itu. 2) memberikan insentif yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan invensi di lingkungan litbang. dengan melibatkan calon pengguna. upaya peningkatan komersialisasi hasil litbang memerlukan suatu perencanaan program yang lebih holistik. perlindungan. aset informasi dan iptek. Faktor yang mempunyai peran penting adalah faktor finansial. Penyusunan rencana juga harus memperhatikan standar-standar teknologi yang berlaku di dunia usaha. baik yang berbentuk keahlian sumber daya manusia dan pengorganisasiannya. 5) meningkatkan kualitas dan memperluas jangkauan alih teknologi dan jasa iptek. termasuk pemeliharaan. 6) memperluas jaringan kerja dengan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. yang secara kondusif dapat mendukung upaya komersialisasi hasil litbang secara lebih proporsional dan berpihak kepada lembaga dan jajaran penelitiannya. Meskipun hampir semua perencanaan program lembaga litbang pemerintah ditujukan untuk tujuan penerapan iptek. Perencanaan harus memperhatikan faktor-faktor lain. Keuntungan yang diperoleh dari pengalihan teknologi juga dapat mengurangi ketergantungan pendanaan kegiatan litbang di Perguruan Tinggi maupun Lembaga Litbang pada anggaran Pemerintah. Hasil litbang masih belum dapat dimanfaatkan. 4) melakukan investasi untuk memperkuat sumber daya iptek yang dimiliki. Pendapatan dari alih teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain: 1) memperbesar pendanaan litbang yang diperlukan untuk menguasai kemajuan iptek dan mengembangkan invensi serta menggali dayagunanya. baik di dalam negeri maupun luar negeri. pengembangan dan pengkajian dalam rangka mencapai suatu keunggulan iptek dalam rangka pemecahan masalah-masalah pembangunan di berbagai bidang. namun dalam praktik belum banyak hasil-hasil litbang yang langsung dapat diterapkan. Hal ini menyebabkan implementasi hasil litbang masih rendah.

Olehkarena itu diperlukan evaluasi dan analisis kebijakan penguatan inovasi dalam peraturan perundang-undangan terkait. Kinerja dan perkembangan inovasi nasional sangat dipengaruhi oleh peraturan perundangundangan maupun kebijakan di berbagai sektor yang terkait. fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. Selanjutnya perlu adanya kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah ak an tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. budaya. serta pajak dan keuangan. Pada ketiga tahapan posisi dan peran lembaga intermediasi sangat diperlukan dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. Mengacu pada strategi penguatan inovasi dari Kementerian Pendidikan. Peraturan ini terutama terkait dengan peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi. Kurangnya komunikasi dan interaksi menyebabkan penerapan inovasi yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil inovasi tersebut belum dapat didayagunakan sepenuhnya. secara resmi disingkat MEXT) Jepang yang telah dikemukakan di bab sebelumnya. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. bidang ketenagakerjaan. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. 46 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . serta peraturan perundang-undangan lainnya berkaitan dengan infrastruktur sosial. secara umum penguatan inovasi antar elemen-elemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang. dan karakter bangsa. inovasi. infrastruktur sosial. bidang pendidikan. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga yang tercakup dalam penguatan inovasi akan menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. tradisi. maka secara konseptual dapat diperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang. Di Indonesia. perdagangan dan industri. Science and Technology.Bab 3 Evaluasi dan Analisis Kebijakan Penguatan Inovasi dalam Peraturan Perundang-undangan Penguatan inovasi secara garis besar ditandai adanya elemen-elemen/aktor yang melakukan jejaring untuk saling berinteraksi menghasilkan inovasi. ketenagakerjaan. Sport. Culture. perguruan tinggi. pendidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi. Lembaga-lembaga ini merupakan lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. Olahraga. Padahal lembaga penelitian. Menurut konsepsi ini. dan difusi teknologi yang berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Tahap berikutnya adalah dukungan kegiatan perekayasaan. bidang pendidikan. Budaya.

Peningkatan permintaan barang dan jasa yang lebih banyak dan/atau lebih bermutu akan meningkatkan kebutuhan industri akan teknologi yang lebih sesuai. ketersediaan dan kemurahan upah tenaga kerja.1. maka akan semakin menarik bagi kalangan bisnis untuk berinvestasi dan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. Perusahaan tidak dapat berbisnis secara efisien dan bergairah jika inflasi tidak dapat diprediksi. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF. Dinamika ini membuka peluang dan tantangan bagi lembaga pengembang teknologi untuk melakukan riset yang relevan dengan kebutuhan industri. dan efektivitas peran pemerintah. 18 Tahun 2002 . Walaupun tentu saja. Pemerintah tidak akan dapat melakukan pelayanan publik dengan baik. Jerman. Kondisi makro ekonomi Indonesia untuk periode 2008-2010 tergolong stabil. jika selalu terbelit hutang dan keharusan membayarnya dengan suku bunga tinggi atau dalam kondisi cenkeraman persoalan makro ekonomi yang tidak mampu dituntaskan. produktivitas suatu negara tidak hanya ditentukan oleh stabilitas makro ekonominya. Indonesia dengan penduduknya yang lebih dari 237 juta jiwa dengan daya beli yang relatif baik merupakan pasar domestik yang sangat potensial bagi investor asing. sehingga akan sangat menentukan tingkat daya saing (competitiveness) suatu negara. karena daya tarik utama bagi para investor untuk menanamkam modalnya adalah ukuran pasar domestik dan laju pertumbuhan pasar domestik dari negara tujuan invenstasi tersebut. Jika persepsi masyarakat dunia terhadap stabilitas makro ekonomi ini dapat terus dipelihara dan jika mungkin terus ditingkatkan. skor untuk stabilitas makro ekonomi Indonesia pada tahun 2010 mencapai 5. Dengan demikian perekonomian tidak dapat tumbuh secara ber-kesinambungan jika kondisi makro ekonomi tidak stabil. Peningkatan kapasitas pasar bermakna peningkatan permintaan masyarakat akan barang dan jasa. 47 Naskah Akademik Perubahan UU No. setelah Cina. Survei yang dilakukan oleh UNCTAD (2009) tentang prospek investasi dunia ( World Investment Prospects Survey) menyimpulkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 9 dunia. akses untuk pengelolaan sumberdaya alam. Brazil. Tumbuh kembang kegiatan bisnis akan membuka peluang untuk peningkatan daya beli masyarakat dan memperbesar kapasitas pasar domestik (market size). Bidang Perindustrian dan Perdagangan Stabilitas makro ekonomi sangat penting bagi dunia bisnis. Inggeris. berdasarkan survei WEF peringkat ukuran pasar domestik Indonesia juga terus meningkat. dan Australia (Gambar 3). Pasar domestik Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi investor asing jika Indonesia tidak mampu membangun SINas yang kuat untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. berturut-turut dari peringkat 17 (2008). peringkat ini perlu dilihat secara cermat.2 dan menduduki peringkat 35 dari 139 negara yang disurvei. Rusia. Amerika Serikat. Makro ekonomi yang terpelihara stabilitasnya dan kapasitas pasar domestik yang terus membesar merupakan ekosistem yang positif untuk tumbuh-kembang SINas. Untuk periode 20082010. menjadi 16 (2009) dan 15 (2010). Namun demikian. India. 2010). baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Dua faktor ini lebih dominan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi dibandingkan dengan program insentif yang ditawarkan.

Kebijakan yang berorientasi untuk mendorong ekspor agar lebih diprioritaskan pada produk jadi. 32 Tahu 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah menetapkan enam koridor pembangunan ekonomi sesuai dengan potensi sumberdaya setempat perlu dibarengi dengan upaya membangun penguatan inovasi yang berkesesuaian. Gambar 3. 18 Tahun 2002 . Harus ada dorongan agar produk barang dan jasa yang diperdagangkan.Jika peningkatan kebutuhan teknologi yang relevan ini dikomunikasikan oleh industri ke pihak pengembang teknologi dan pihak pengembang teknologi mampu menyediakan paket teknologi yang tidak hanya relevan. terutama untuk ekspor. Apalagi pengembangan sumberdaya manusia dan iptek telah dipilih sebagai salah satu dari tiga strategi utamanya. Peringkat daya tarik Indonesia bagi investor asing Kebijakan pembangunan perekonomian Indonesia yang baru diluncurkan yang dikemas dalam Keppres No. 48 Naskah Akademik Perubahan UU No. diutamakan sudah merupakan produk-produk jadi yang dibutuhkan oleh konsumen akhir (consumer products). tetapi juga handal dan sesuai kapasitas adopsi pelaku bisnis. maka SINas akan lebih dirasakan geliatnya. Pada kurun waktu yang sama (2008-2010). Kinerja dan perkembangan SINas akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan di berbagai sektor yang terkait. survei WEF juga memperlihatkan terjadinya peningkatan peringkat Indonesia dari 47 menjadi 36. termasuk perdagangan dan industri.

sekaligus membuka lapangan kerja. kemudian secara berangsur naik dan mencapai puncaknya pada awal tahun 2000-an yang mencapai kisaran antara 14-16 persen. Bermakna bahwa sebaiknya tidak mengekspor bahan mentah dan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. karena cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. 22 Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas atau produk ekspor sudah dilakukan. tetapi perlu didorong untuk mengekspor barang jadi yang diproduksi di dalam negeri dengan memanfaatkan tenaga kerja dan teknologi nasional. Sumber: The World Bank. hari selasa 18 Januari 2011. periode 1989-2008 22 Disampaikan oleh Suharna Surapranata. Persentase ekspor produk Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi. dan meningkatkan nilai tambah produk yang diekspor. pada Rapim Lengkap Kementerian Riset dan Teknologi. tetapi masih sangat rendah. 49 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . tetapi pada akhir tahun 2000-an kembali menurun menjadi sekitar 10 persen. tetapi lebih didorong untuk mengekspor produk yang dihasilkan dengan keringat anak bangsa di dalam negeri. Menteri Negara Riset dan Teknologi.com (18 Januari 2011) Gambar 4. misalnya produk sawit yang diekspor masih sangat dominan berbentuk minyak sawit kasar (crude palm oil.merupakan bentuk kebijakan yang secara nyata akan mendorong adopsi teknologi pada industri-industri di dalam negeri. Indonesia saat ini masih dominan mengekspor komoditas atau bahan mentah (raw materials) atau produk-produk setengah-jadi (intermediate products) yang secara ekonomi merugikan dan secara ekologi kurang bersahabat. disingkat CPO). diunduh dari tradingeconomics. Ekspor dalam bentuk produk dengan muatan teknologi tinggi sudah ada namun masih relatif rendah porsinya (Gambar 4). dan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. Ungkapan yang dikemukakan Surapranata (2011) patut direnungkan. yakni hanya sekitar 1 persen. tetapi dirasakan masih belum optimal. Sejak akhir tahun 1980-an sudah mulai ada produk dengan muatan teknologi tinggi. bahwa seharusnya Indonesia tidak mengekspor bahan baku dan keringat.

b. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. kegiatan penanaman modal di Indonesia dapat memperoleh fasilitas. Sebagai upaya mendorong kemampuan teknologi nasional. 1. serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing. Pasal 18 Ayat (3) menyebutkan.1. nilai ekspor produk-produk bermuatan teknologi tinggi tersebut sejak tahun 2000 tidak mengalami kemajuan yang berarti dan relatif stagnan. menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu terkait dengan riset. Produk dengan muatan teknologi tinggi mencakup produk-produk yang membutuhkan intensitas R&D tinggi. penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Perdagangan dan Industri. komputer. dan electrical machinery. antara lain untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. 18 Tahun 2002 . yakni: [1] keterbatasan kapasitas investasi nasional di sektor industri hilir untuk mengolah bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi produk jadi. menciptakan lapangan kerja. mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan. Kontribusi produk teknologi tinggi ini masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai total ekspor Indonesia pada periode tersebut. Namun demikian. instrumen riset (scientific instruments). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Menurut UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Tujuan penyelenggaraan penanaman modal. dan secara ekonomi kompetitif dibanding produk teknologi serupa yang tersedia di pasar dunia. seperti produk kedirgantaraan (aerospace).5 milyar dolar Amerika (Tabel 2).4 sampai 6.1.Saat ini Indonesia masih dihadapkan pada dua kendala yang menjadi tantangan utama. farmasi (pharmaceuticals). meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan. bahwa untuk mendapatkan fasilitas sekurang-kurangnya kegiatan penanaman modal memenuhi salah satu kriteria berikut ini: a. termasuk skala prioritas tinggi. handal. sedangkan investor asing lebih banyak tertarik pada bidang usaha yang terkait dengan eksploitasi sumberdaya alam. 50 Naskah Akademik Perubahan UU No. Indonesia memang juga telah mengekspor produk teknologi tinggi. baik di sektor pertanian (terutama perkebunan) maupun di sektor pertambangan. 1. Indonesia tak akan mampu membangun kemandirian perekonomiannya jika tidak mampu mengatasi dua tantangan utama ini. yakni hanya berfluktuasi sekitar 4. yakni kapasitas untuk mengembangkan teknologi yang relevan. Pasal 10 Ayat (4) menyebutkan bahwa perusahaan penanaman modal yang mempekerjakan tenaga kerja asing diwajibkan menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.1. dan [2] belum siapnya teknologi nasional untuk menyokong tumbuh kembang industri hilir tersebut.

dan menstimulasi kegiatan kemitraan yang saling membutuhkan. c. Kemitraan antar UMKM dengan Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi dan pengolahan. dunia usaha. mendorong Usaha Mikro.2. dan menguntungkan. sumber 51 Naskah Akademik Perubahan UU No. perbatasan. Selain itu UMKM dapat melakukan: . kecil. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. memperkenalkan teknologi baru. Kecil. meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru. e. dan masyarakat dapat memfasilitasi. (c) sumber daya manusia. alih teknologi maupun inovasi merupakan salah satu strategi yang perlu dikembangkan. bermitra dengan usaha mikro. d. melakukan alih teknologi. h.c. i. Industri pionir adalah industri yang memiliki keterkaitan luas. j. memberikan insentif kepada Usaha Mikro. dan e. serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. atau daerah lain yang dianggap perlu. Menurut ketentuan di atas. mempunyai nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi. berada di daerah terpencil. 18 Tahun 2002 Peraturan perundang-undangan ini antara lain menyebutkan. 1. daerah g. daerah tertinggal. atau k. terutama bagi penanaman modal baru bagi industry pionir. dan (d) desain dan teknologi. Guna mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. f. mendukung. menjaga kelestarian lingkungan hidup. pengembangan. b. (b) pemasaran. Selanjutnya terkait dengan pengembangan dalam bidang desain dan teknologi. dan inovasi. pemasaran.1. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang (a) produksi dan pengolahan. dan Menengah yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup. inovasi termasuk kriteria yang dapat diajukan untuk memperoleh fasilitas penanaman modal. d. meningkatkan kemampuan di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu. mempercayai. melaksanakan kegiatan penelitian. pemerintah daerah. industri yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi di dalam negeri. termasuk pembangunan infrastruktur. dan Menengah untuk memperoleh sertifikat hak atas kekayaan intelektual. melakukan industri pionir. permodalan. menengah atau koperasi. dan Menengah a. memperkuat. pemerintah. meningkatkan kerjasama dan alih teknologi. Kecil. Kecil. Selanjutnya dalam pasal ini disebutkan mengenai kemungkinan pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan dalam jumlah dan waktu tertentu.

konsultan keuangan mitra bank. Menurut Pasal 25. industri. serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. dan teknologi. ekspor. sebagai upaya pengembangan teknologi tertentu untuk meningkatkan daya saing produk barang dan jasa. Selain itu.3. UMKM yang melakukan kemitraan dimungkinkan untuk mendapatkan insentif. b. Yang dimaksud dengan “inkubator” adalah lembaga yang menyediakan layanan penumbuhan wirausaha baru dan perkuatan akses sumber daya kemajuan usaha kepada Usaha Mikro. impor. dan 52 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengusaha mendapat fasilitas dan kemudahan dalam KEK. dan Menengah sebagai mitra usahanya. dan Ayat (2) menyebutkan. pengembangan teknologi. sepanjang barang tersebut merupakan bahan baku atau bahan penolong produksi.1. Sementara dukungan kelembagaan ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator. Menurut UU No. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum RI yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu.daya manusia. dan lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan Usaha Mikro. Pasal 32 ayat (1). selain fasilitas PPh dapat diberikan tambahan fasilitas PPh sesuai dengan karakteristik zona. Kecil. bisnis. 18 Tahun 2002 . KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri. pembebasan cukai. Upaya-upaya penguatan inovasi dapat masuk KEK. dan Menengah. Menteri dan Menteri Teknis mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan UMKM melalui inovasi dan pengembangan produk berorientasi ekspor. penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. KEK terdiri atas satu atau beberapa zona. dan inkubator lainnya sesuai dengan potensi dan sumber daya ekonomi lokal. Kecil. pariwisata. antara lain zona pengolahan ekspor. 20 Tahun 2008. Inkubator yang dikembangkan meliputi: inkubator teknologi. Pasal 30 menyebutkan bahwa (1) setiap wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha di KEK diberikan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh). dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. c. Kecil. dan Menengah. Adapun yang dimaksud dengan “lembaga layanan pengembangan usaha” (bussines development services-providers) adalah lembaga yang memberikan jasa konsultasi dan pendampingan untuk mengembangkan Usaha Mikro. menyebutkan bahwa impor barang ke KEK dapat diberikan fasilitas berupa. penyerapan tenaga kerja. lembaga layanan pengembangan usaha. antara lain: a. logistik. penangguhan bea masuk. tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk barang kena pajak. 1. dan energi yang kegiatannya dapat ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri.

Peraturan Perundangan-undangan Bidang Keuangan dan Perpajakan. dan kemudahan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri dan pembentukan lembaga R&D dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan bahan baku alternatif. meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan iptek untuk menciptakan dan menyerap teknologi dan invoasi yang berorientasi pasar. c.1. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional antara lain menyebutkan. Perpres No. 2. 2. Permohonan pemberian fasilitas diajukan kepada Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi. Fasilitas tersebut berupa insentif fiskal. dan industri yang melakukan alih teknologi.1. peningkatan kapasitas difusi teknologi pada sistem produksi. Pemerintah dapat memberikan fasilitas. Bidang Keuangan dan Perpajakan 2. b. Selain itu. namun demikian bentuk insentif non fiskal maupun kemudahan lainnya merupakan peluang untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang diperlukan. g. 28 Tahun 2008 juga menekankan perlunya pengembangan teknologi industri melalui: a. Sebagai upaya mendorong penguatan inovasi nasional. Meskipun insentif fiskal diberikan oleh Kementerian Keuangan. e. peningkatan intermediasi dan pola insentif yang mendorong kemitraan dan kegiatan litbang di dunia usaha. Perpres No. Ada pula penghasilan wajib pajak yang dapat dijadikan faktor pengurang pajak 53 Naskah Akademik Perubahan UU No. insentif non-fiskal. pengembangan dan inovasi. 36 Tahun 2008 disebutkan tidak semua penghasilan menjadi obyek pengenaan pajak.d. f. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional Terkait dengan penguatan inovasi. 18 Tahun 2002 . Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Dalam UU No. peningkatan kapasitas kelembagaan teknologi dalam mendukung sistem produksi.1. 28 Tahun 2008 memungkinkan pengembangan kebijakan dalam upaya peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka penghematan. peningkatan kapasitas (pendalaman) teknologi pada sistem produksi. disamping manajemen dan kewiraswastaan.1. 1. pengembangan sumberdaya manusia sektor industri secara intensif melalui akselerasi transformasi teknologi. antara lain kepada kepada: industri yang melakukan penelitian. peningkatan jumlah penemuan baru hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan oleh sistem produksi. tidak dipungut PPh impor. produk melalui teknologi tepat guna. d.4.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Menurut UU No. Ketentuan UU No. pemerintah dapat memberikan fasilitas insentif pajak. menurut PP No. Pasal 2 menyebutkan bahwa wajib pajak badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi dapat diberikan fasilitas pajak penghasilan berupa: (a) pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman modal. Insentif ini berupa pembebasan bea masuk atas impor buku ilmu pengetahuan dan barang atau peralatan untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan (Pasal 25). Yang dimaksud dengan barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yaitu barang atau peralatan yang digunakan untuk melakukan penelitian/riset atau percobaan guna peningkatan atau pengembangan suatu penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. inovasi dan investasi riset dan pengembangan badan usaha/industri di Indonesia. Pembebasan bea masuk diberikan berdasarkan rekomendasi dari kementerian terkait. 17 Tahun 2006 ini dimungkinkan pemberian insentif dan fasilitas untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. (c) pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen yang dibayarkan kepada Subjek Pajak Luar Negeri sebesar 10% (sepuluh persen). atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku. yaitu “biaya penelitian perusahaan dan/atau sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan di Indonesia”. 2.1. Wajib pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerahdaerah tertentu dapat diberikan insentif dan fasilitas pajak penghasilan. 2. 18 Tahun 2002 . yang menjadi faktor pengurang (tax deduction) penghasilan bruto. dan 54 Naskah Akademik Perubahan UU No. Selanjutnya dalam peraturan pelaksanaannya.3. 36 Tahun 2008 menyebutkan. bukan menjadi obyek pajak adalah “sisa lebih yang diterima atau diperoleh lembaga atau badan nirlaba di bidang pendidikan formal dan/atau penelitian dan pengembangan yang ditanamkan kembali dalam jangka waktu 4 tahun”. antara lain yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan. 1 Tahun 2007. dibebankan selama 6 (enam) tahun masing-masing sebesar 5 % (lima persen) per tahun.2.1.penghasilan bruto. (b) penyusutan dan amortisasi yang dipercepat. Adanya ketentuan pengecualian sebagai obyek pajak atau pengurangan penghasilan bruto merupakan fasilitas atau insentif di bidang perpajakan yang diberikan untuk mendorong kemampuan riset. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu Sejalan dengan upaya penguatan inovasi maupun investasi di bidang riset swasta di Indonesia.

impor barang modal atau peralatan lain oleh PDKB yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi. Sumbangan dari pihak swasta ini akan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.(d) kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. kompensasi kerugian fiskal. c. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (yang telah diubah dengan UU No. Pasal 1 menyebutkan bahwa sumbangan dan/atau biaya terkait penelitian dan pengembangan dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam satu tahun. 93 Tahun 2010 merupakan aturan pelaksanaan UU No. dan/atau. 2. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas : a. c.1. Sumbangan Pembinaan Olahraga. untuk selanjutnya disebut DPIL.4. pemasukan Barang Kena Pajak dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. menurut Keppres No. 36 Tahun 2008). dan Biaya Pembangunan Infrastuktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto PP No. Sedangkan yang dimaksudkan KAPET. b) mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya. Bagi wajib pajak swasta yang menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan iptek dapat memperoleh fasilitas pajak/keringanan pajak. 2. impor barang dan/atau bahan untuk diolah di PDKB. mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai paling lama 10 (sepuluh) tahun. b. diberikan perlakuan di bidang Pajak Penghasilan (fasilitas perpajakan) sebagai berikut: a. 18 Tahun 2002 . Setiap Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) di dalam wilayah KAPET juga dapat diberikan fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. 55 Naskah Akademik Perubahan UU No. ke PDKB untuk diolah lebih lanjut. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. dan/ atau c) memiliki potensi pengembalian investasi yang besar. Melalui peraturan ini. b. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. pajak penghasilan menurut Pasal 26 atas dividen sebesar 10%.1.5. 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu adalah wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan: a) memiliki potensi untuk cepat tumbuh. Pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di dalam KAPET. diharapkan dapat meningkatkan pendanaan riset dari pihak swasta. penyusutan dan atau amortisasi yang dipercepat. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlakuan Perpajakan Di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Peraturan ini memuat ketentuan berkaitan dengan perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET).

dan . badan usaha dan lembaga penunjang lainnya) untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih besar dibandingkan apabila masing-masing unsur kelembagaan berjalan secara sendiri-sendiri. Dalam rangka memadukan sinergisme kerja berbagai unsur kelembagaan Iptek. 2) mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumber daya Iptek secara lebih efektif. Untuk mengembangkan jaringan tersebut seluruh elemen Sisnas Iptek wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. menengah. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai perlunya penguatan jaringan sistem nasional penelitian. 18 Tahun 2002 menyatakan bahwa “Pemerintah wajib merumuskan arah. e. melengkapi.1. pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka subkontrak. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Diundangkannnya UU No. prioritas utama. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.1.18 Tahun 2002 memberikan manfaat besar bagi pengembangan Iptek di Indonesia. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. perguruan tinggi. UU No. penyerahan kembali Barang Kena Pajak hasil pekerjaan subkontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di DPIL atau PDKB lainnya kepada Pengusaha Kena Pajak PDKB asal. karena: 1) memberikan landasan hukum. pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut. peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal.1. Jaringan tersebut berfungsi untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur unsur kelembagaan iptek (lembaga litbang. memperkuat. f. dan penerapan iptek (sisnas litbangrap iptek). 4) mengikat semua pihak. pemerintah daerah. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Kunci penting untuk terlaksananya sinergisme kerja antar unsur Sisnas Iptek adalah terbangunnya suatu sistem perencanaan pembangunan nasional Iptek dalam jangka pendek. dan masyarakat untuk berperan serta secara aktif. 56 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 18 dan 19 UU No. pemerintah.d. 3. 18 Tahun 2002 3) menggalakkan pembentukan jaringan. 3. pengembangan. maupun jangka panjang. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang Iptek” yang dituangkan sebagai “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek”. g. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 3.

dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. 18 Tahun 2002 adalah mengkoordinasikan perumusan “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek” dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. 18 Tahun 2002 merupakan pedoman dan landasan hukum utama dalam pelaksanaan pembangunan iptek nasional.Salah satu kewajiban Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam UU No. Seperti halnya di tingkat nasional. lembaga riset. beberapa ketentuan dalam UU No. bangsa. Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek dibentuk Dewan Riset Nasional dan Dewan Riset Daerah. peraturan perundang-undangan ini sangat menekankan pentingnya pembentukan jaringan yang menjalin hubungan interaktif semua unsur kelembagaan iptek sehingga kapasitas dan kemampuannya dapat bersinergi secara optimal. Dalam upaya penguatan inovasi. dengan memperhatikan kepentingan masyarakat. Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. Dalam perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek. Sebagai Undang-Undang yang mengatur sistem iptek nasional. Menteri wajib memperhatikan: 1) penguatan ilmu dasar dan kapasitas litbang. b. Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. c. dapat dikatakan UU No. perekayasaan. 4) Mengembangkan instrumen kebijakan yang diperlukan. Dengan demikian. antara lain: a. pengembangan. dan difusi 57 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. pengembangan. Pasal 20 UU No. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai kewajiban Pemerintah Daerah untuk merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan pembangunan daerah Iptek yang dituangkan dalam “kebijakan strategis pembangunan Iptek di daerah”. 3) penguatan kemampuan audit teknologi yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia (SNI). Dalam skala yang lebih kecil. dan badan usaha yang melaksanakannya (Pasal 13 ayat (4)). Pemerintah Daerah juga dalam merumuskan kebijakan strategisnya harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. Menteri antara lain wajib memperhatikan pentingnya upaya penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. 18 Tahun 2002 dapat menjadi acuan. 2) penguatan pertumbuhan industri berbasis hasil litbang. inovasi. Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri (Pasal 16 ayat (3)). 18 Tahun 2002 .

pemanfaatan. Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain (Pasal 28 ayat (2)). klimatologi. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. 3.1. klimatologi. atau melibatkan peneliti asing.). Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. Pengaturan kegiatan litbang asing dalam PP No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. f. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dimana disebutkan kegiatan litbang asing dilakukan atas dasar izin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penelitian bagi orang asing. d. 18 Tahun 2002. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. 3. Klimatologi.1. inovasi. dan geofisika yang mencakup inovasi dan alih teknologi harus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nasional. 31 Tahun 2009 menyebutkan pengembangan industri meteorologi. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah (Pasal 26). 39 Tahun 1995 litbang kesehatan dapat diselenggarakan oleh lembaga asing. Inovasi dan Difusi Teknologi Peraturan ini merupakan peraturan pelaksanan UU No.teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan (Pasal 19 ayat (3) huruf b. 31 Tahun 2009 secara tegas menekankan perlunya penguatan inovasi dan alih teknologi dalam pengembangan industri meteorologi.3.1. PP ini merupakan peraturan pelaksanaan ketentuan Pasal 69 UU No. 18 Tahun 2002 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan . Peraturan ini memberi kewenangan kepada Menteri yang membidangi riset dan teknologi untuk memberikan rekomendasi insentif – di bidang perpajakan maupun bantuan teknis (technical assistance) – 58 Naskah Akademik Perubahan UU No.2. dan Geofisika UU No. Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. Pasal 78 UU No. 3. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. Menurut PP No.4. atau kerja sama dengan lembaga asing yang memenuhi persyaratan. 39 Tahun 1995 mempunyai keterkaitan dengan PP No. e. litbang kesehatan bertujuan untuk memberikan masukan iptek serta pengetahuan lain yang diperlukan untuk menunjang pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan (Pasal 28 ayat (1)). Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi. Dalam Pasal 2 disebutkan. dan geofisika.

36/2008 tentang Pajak Penghasilan. insentif bantuan teknis (insentif non fiskal) berhubungan dengan penempatan tenaga ahli peneliti. Sementara itu. 18 Tahun 2002. Keputusan persetujuan dan penolakan pemberian insentif tetap berada dalam kewenangan masing-masing instansi yang berwenang dimaksud. dan difusi teknologi di badan usaha. mengingat regulasi masih menyisakan sejumlah pertanyaan selain sifatnya cenderung sektoral sehingga tidak mudah implementasinya. namun bagaimana penyusunan kebijakan pelaksanaannya dapat bersinergi dengan baik. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan misalnya. PP No. PP No. seperti Pasal 26 huruf a 59 Naskah Akademik Perubahan UU No. 35 Tahun 2007 berkaitan erat dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan (insentif fiskal).1. kewenangan Menteri hanya sebatas memberikan rekomendasi scientific opinion kepada instansi yang berwenang dibidang perpajakan maupun lembaga pemberi bantuan teknis. UU No.dalam rangka mendorong kemampuan peningkatan perekayasaan. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. Dari sisi regulasi. Sehingga persoalannya bukan pada kekosongan peraturan. atau bagaimana urgensi dan pengaruh pemberian fasilitas/insentif terkait dengan usaha peningkatan kemampuan inovasi nasional. Pelaksanaan insentif bantuan teknis terkait dengan ketentuan UU Kepegawaian. Namun dalam hal ini. perekayasan dan dosen atau pemanfaatan laboratorium-laboratorium milik pemerintah. 3. 18 Tahun 2002 . 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS maupun ketentuan-ketentuan yang terkait dengan aturan tentang lembaga Kementerian LPNK dan LPK. Upaya ini mutlak dilakukan. Berdasarkan peraturan ini. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan merupakan beberapa peraturan perundang-undangan yang menyediakan insentif riset. 20 Tahun 2005 menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset/riset dengan badan usaha. 93 Tahun 2010 dan UU No. PP No. yang menekankan pentingnya alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan-kegiatan litbang agar memberikan nilai tambah ekonomi dan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidup. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Peraturan Pemerintah ini merupakan penjabaran Pasal 16 ayat (3) UU No. Selain itu. Pertanyaan menyangkut UU No. sebenarnya pemerintah sudah berupaya mengakelarasi kegiatan riset dan inovasi dunia usaha atau untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta. Ketentuan dan pelaksanaan insentif atau fasilitas perpajakan yang dimaksud dalam PP No. 1/2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. badan usaha dapat mengajukan permohonan rekomendasi insentif litbang kepada Menteri.5. inovasi. beberapa ketentuan dalam PP No. 12 Tahun 2002 jo. PP No. antara lain berkaitan dengan bagaimana kriteria yang menentukan badan usaha mendapatkan tax deduction.

asosiasi perikanan.1.1. 12 Tahun 2010 kegiatan litbang kehutanan meliputi kegiatan: (a) penelitian dasar. PP ini juga menyebutkan. menyiapkan dan menyediakan basis ilmiah yang kuat dan teknologi tepat guna sebagai kunci dalam menyusun kebijakan pengelolaan dan pengembangan usaha perikanan agar lebih efektif. 18 Tahun 2002 . Tujuan pelaporan adalah untuk mendayagunakan hasil kegiatan penelitian dan pengembangan yang dibiayai oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan hidupnya. Upaya ini diharapkan juga mendorong inovasi di sektor usaha. Kerjasama ini meliputi penyediaan tenaga ahli. Hasil Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Dan Hasil Pengelolaannya.6. perguruan tinggi. dan ramah lingkungan serta menghargai kearifan tradisi/budaya lokal. ekonomis. dan/atau (d) pengembangan eksperimental. dan dapat bekerja sama dengan lembaga litbang pemerintah provinsi. dan/atau lembaga litbang milik asing. 3. asistensi teknis litbang. Sedang Pasal 20. pendidikan dan pelatihan serta kegiatan lain yang dapat mempercepat pembangunan perikanan. pelaku usaha perikanan. mengungkapkan dan memahami potensi dan permasalahan sumber daya ikan dan lingkungannya serta mengembangkan teknologi pengelolaan perikanan dan konservasi sumber daya ikan. 3. penyediaan dana dan sarana litbang. Di dalam peraturan menteri ini. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Menurut PP No.7. badan usaha. (b) penelitian terapan. b. antara lain Peraturan Menteri Negara Riset Dan Teknologi No. dan c. lembaga litbang kabupaten/kota. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan. Dalam rangka pengembangan kerjasama litbang perikanan.yang menyatakan bahwa sinergi berprinsip mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber daya tertentu untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat tertentu. 04/M/PER/III/2007 tentang Tata Cara Pelaporan Kekayaan Intelektual. meningkatkan kemandirian dalam penguasaan iptek di bidang perikanan. berdaya saing tinggi. hasil kegiatan penelitian dan pengembangan milik pemerintah dan/atau pemerintah daerah. kegiatan litbang kehutanan diselenggarakan oleh Pemerintah. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan harus melaporkan hak kekayaan intelektual yang telah diperoleh dan/atau yang sedang dalam proses pendaftaran. (c) penelitian kebijakan. dan masyarakat. Sebagai peraturan pelaksanaannya. serta pengelolaannya kepada Menteri. menyatakan bahwa sinergi perguruan tinggi dan lembaga litbang dengan lembaga riset lainnya dapat dilakukan antara lain dengan mekanisme perjanjian kerjasama maupun perjanjian lisensi. 30 Tahun 2008 penyelenggaraan litbang perikanan bertujuan untuk: a. efisien. Pasal 15 menyebutkan penyelenggaraan litbang perikanan dapat bekerja sama dengan pelaksana litbang. 60 Naskah Akademik Perubahan UU No. Serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Menurut PP No.

Menurut Perpres No. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing.1. dan (c) melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program penguatan SINas. Pasal 22 menyebutkan. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. peneliti asing. terpadu. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). peneliti asing. kearifan tradisional. lembaga litbang asing. ketahanan energi. 12 Tahun 2010 juga mempunyai keterkaitan dengan PP No. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional Kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. bioteknologi. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. transportasi dan industri pertahanan. mendukung. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghasilkan produk produk inovatif. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam.8. atau badan usaha asing dalam menyelenggarakan litbang kehutanan harus bekerja sama dengan Badan Litbang Kehutanan Kementerian. 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. perguruan tinggi asing. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. 61 Naskah Akademik Perubahan UU No. Berkaitan dengan kerjasama penelitian internasional. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. industri manufaktur. manajemen bencana alam. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. b. 18 Tahun 2002 .” KIN mempunyai tugas untuk: (a) membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. mendayagunakan. perguruan tinggi asing. serta diklat kehutanan dilaksanakan dengan memperhatikan: a. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan Sistem Inovasi Nasional (SINas) guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. 23 Tahun 2010.Penyelenggaraan litbang. 3. PP No. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. serta kondisi social budaya masyarakat. ilmu pengetahuan dan teknologi. industriinfrastruktur. Dalam rangka penguatan SINas ini dibentuk Komite Inovasi Nasional (KIN). lembaga riset dan teknologi. potensi dan karakteristik biofisik setempat guna menjamin terjaganya kekayaan plasma nutfah khas Indonesia dari pencurian atau gangguan lainnya yang mengancam punahnya plasma nutfah tersebut. atau badan usaha asing dapat menyelenggarakan litbang kehutanan setelah mendapatkan izin dari instansi Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. terintegrasi. sebagaimana PP No. Selanjutnya di ayat (2)-nya disebutkan lembaga litbang asing. (b) memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. Dalam Perpres ini yang dimaksud dengan SINas adalah “suatu jaringan rantai antara institusi publik. penguatan SINas diutamakan mencakup inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan.

3. Perumusan Jakstranas Iptek dilakukan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi secara terkoordinasi dengan instansi-instansi terkait.1. Sesuai Perpres No. 16 Tahun 2005. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Instruksi Presiden dalam memberi arahan perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan strategis pembangunan nasional iptek (Jakstranas Iptek). sedangkan pendidikan menengah kejuruan23. Tahun 1989 1990 1991 1992 1993 23 Nilai Ekspor (juta USD) 79 112 197 465 850 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 Nilai Ekspor (juta USD) 2. yakni sebagai tenaga kerja terampil untuk aplikasi teknologi di perusahaan industri. dan strata 1 lebih dilihat relevansinya sebagai elemen pendukung penguatan kapasitas adopsi dari sisi pengguna teknologi. atau usaha mandiri skala kecil dan menengah.403 5.10. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Dewan Riset Nasional (DRN) Peraturan Presiden tentang DRN mengatur tentang pelaksanaan tugas DRN dalam membantu Menteri dalam merumuskan arah.9.580 Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. jenjang pendidikan yang paling relevan adalah pada strata 2 dan 3 untuk dukungan kemampuan individual dan kapasitas pengembangan teknologi nasional. b. prioritas utama dan kerangka kebijakan pemerintah dalam pembangunan iptek secara nasional. Bidang Pendidikan. program diploma.672 5. Lebih spesifik berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang pendidikan menengah. tugas utama DRN adalah : a.070 4. Koordinasi dilakukan terutama untuk menentukan dan melaksanakan arah kebijakan. pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. 4. prioritas utama maupun kerangka kebijakan di bidang penelitian. DRN memperhatikan pemikiran dan pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.3. Dalam konteks penguatan inovasi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. 18 Tahun 2002 . pengembangan.1.698 4. membantu Menteri dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. 62 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam melaksanakan tugasnya itu. memberikan berbagai pertimbangan kepada Menristek dalam penyusunan kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu.

Konsepsi sistem inovasi nasional yang sangat baik sekalipun hanya akan bisa diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. sedangkan upaya untuk meningkatkan relevansinya dengan realita di bidang ilmu yang bersangkutan masih dirasakan minimal. Namun dalam prakteknya.250 2. Pendidikan program diploma dan sekolah menengah kejuruan sejak awal dirancang untuk menyiapkan tenaga terdidik dan terampil yang siap bekerja. riset tugas akhir program strata 2 dan 3 (thesis dan disertasi) masih dominan diposisikan hanya sebagai indikator penguasaan bidang ilmu yang sesuai dengan program studi yang diikuti. 63 Naskah Akademik Perubahan UU No. Persentase ekspor Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi untuk periode 1989-2008 Sumber : The World Bank. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. ataupun kebutuhan pemerintah. PP No. belum didorong oleh kesadaran agar hasil riset tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Idealnya. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”.900 5. topik riset masih ditentukan oleh keinginan mahasiswa dan arahan pembimbing/promotornya.625 Tabel 2. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. Dengan kata lain. karena lulusan pada jenjang ini memang masih lebih diposisikan sebagai langkah penyiapan tenaga berpengetahuan dasar yang cukup dan/atau mempunyai ketrampilan di bidangnya masing-masing. 24 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur.225 5.561 2. industri. Sebagai contoh.1994 1995 1996 1997 1998 1.571 5.808 6. disamping mutu pendidikan. Lulusan strata 1 kemudian dapat memilih alur karirnya untuk berkiprah: [1] memperkuat kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna.188 2004 2005 2006 2007 2008 5. kegiatan tugas akhir yang hanya berorientasi akademik hanya diimplementasikan sampai pada jenjang strata 1 atau program diploma.com (18 Januari 2011) Secara umum program pendidikan Indonesia belum dirancang agar dapat optimal mendukung tumbuh kembang inovasi. Beberapa pengecualian tentu ada.340 1. diunduh dari tradingeconomics. atau [2] meningkatkan kemampuannya sebagai pengembang teknologi. 18 Tahun 2002 . tetapi arus utamanya harus diakui masih murni berorientasi akademik.658 2. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi sistem inovasi nasional. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap24 dan cukup banyak pula yang berkerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya.

Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. kecerdasan. dan (2) Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi.1. keragaman potensi daerah dan lingkungan. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Terkait dengan kegiatan penelitian.1. b. penelitian ilmiah.1. 20 Tahun 2003 yang antara lain menyebutkan: (1) bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. peningkatan potensi. e. c. Kewajiban yang pertama dikenal sebagai ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’. dan seni. kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dengan memperhatikan: a. UU No. perkembangan ilmu pengetahuan. dan pengabdian kepada masyarakat. tuntutan dunia kerja. g.1. 20 Tahun 2003. Menurut Pasal 36 UU No.4. agama. 25 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. f.2. dan pengabdian kepada masyarakat. 64 Naskah Akademik Perubahan UU No. di samping mutu pendidikan. i. 4. dan minat peserta didik. peningkatan iman dan takwa. dinamika perkembangan global. Olehkarena itu perkembangan iptek juga merupakan salah satu materi kurikulum. UU No. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Pendidikan. dan j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. teknologi. Peraturan Pemerintah Nomor Penyelenggaraan Pendidikan 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. penelitian. peningkatan akhlak mulia. d. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap25 dan cukup banyak pula yang bekerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya. tuntutan pembangunan daerah dan nasional. 4. Namun dalam prakteknya. 18 Tahun 2002 . h. Pelaksanaan penelitian terutama dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar.

studi serta kesempatan melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Oleh sebab itu. Pasal 32. [b] mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. dosen memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi.1. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan pengertian tentang tenaga kerja. Kesempatan untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat mencakup kesempatan untuk memperoleh dan/atau memanfaatkan sumber daya pendidikan yang dimiliki oleh Pemerintah. atau pemerintah). Bidang Ketenagakerjaan. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. yakni mencakup setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat (Pasal 1 butir 2). 5. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen Menurut PP No. bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan: [a] memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. Berdasarkan Pasal 26. menyebutkan bahwa dosen dapat memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan. dan [d] meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Pembangunan ketenagakerjaan sesuai dengan sifatnya akan lebih berada pada posisi sebagai pemasok kebutuhan tenaga kerja. teknologi. 4. mengembangkan. 13 Tahun 2003. Apabila dikaitkan dengan tujuan pembangunan SINas sendiri. dan seni melalui pendidikan. teknologi. 18 Tahun 2002 UU No. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. 37 Tahun 2009.3. dan masyarakat. Nuansa ini sangat sejalan dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. hubungan yang sinergis dan serasi harus 65 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni untuk mewujudkan sistem pengelolaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih efektif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan/atau jasa sesuai kebutuhan pengguna (masyarakat. Butir b Pasal 4 di atas memberikan penegasan bahwa salah satu tujuan pembangunan ketenagakerjaan adalah untuk penyediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan.Konsepsi sistem inovasi yang sangat baik sekalipun hanya akan berhasil apabila dapat diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. pemerintah daerah. dimana kebutuhan (demand) yang menentukan orientasi pembangunan dan pengembangannya. industri. budaya. penyelenggara pendidikan tinggi atau satuan pendidikan tinggi. . [c] memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. seni. dan/atau olahraga. dan pengabdian kepada masyarakat. Lebih lanjut dinyatakan pada Pasal 4 UU No. maka terlihat jelas benang merah keterkaitan antara kebijakan ketenagakerjaan dengan upaya penguatan inovasi nasional. penelitian.

66 Naskah Akademik Perubahan UU No. SINas. secara bertahap dilakukan upaya meningkatkan produktivitas penguatan inovasi yang dalam prosesnya tentu mengharuskan adanya peningkatan mutu dan relevansi keahlian tenaga kerja. Dengan demikian. Lebih jauh. sehingga dengan sendirinya diawali dengan kesenjangan (gap) yang minimal antara kebutuhan penguatan inovasi nasional dengan ketersediaan tenaga kerja domestik. Dengan demikian maka keberhasilan pembangunan pendidikan harusnya tidak hanya dievaluasi berdasarkan jumlah atau persentase penduduk yang berpartisipasi pada setiap jenjang pendidikan atau persentase populasi yang menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. sangat jelas bahwa upaya mewujudkan SINas yang produktif dan efektif dalam memajukan perekonomian nasional membutuhkan keterpaduan dengan kebijakan ketenagakerjaan dan sekaligus juga dengan kebijakan pendidikan nasional (Gambar 5). Selanjutnya. tetapi perlu juga didasarkan atas persentase jumlah lulusan yang berperan sebagai subjek pembangunan atau sebagai tenaga kerja produktif yang berkontribusi terhadap keberhasilan pembangunan nasional di segala sektor. dan perekonomian nasional Tenaga kerja berperan sekaligus sebagai subjek dan objek pembangunan. maka akan sangat berat beban yang diemban untuk memajukan bangsa dan negara tersebut. Jika lebih besar perannya sebagai subjek pembangunan yang secara aktif berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. dengan tujuan dan kebutuhan yang jelas. sebaliknya jika lebih banyak perannya hanya sebagai objek pembangunan. Kinerja sektor pendidikan tentu akan menjadi tumpuan utama dalam memperbesar porsi tenaga kerja yang menjadi subjek pembangunan. Penyerasian Sistem Pendidikan. Inovasi yang dibangun berbasis pada potensi dan kebutuhan nasional bermakna telah mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. penyiapan tenaga kerja juga tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. pengguna & intermediasi Kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional Kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa .dimulai dengan mewujudkan penguatan inovasi yang lebih mantab. 18 Tahun 2002 Lulusan bermutu dan relevan kebutuhan lapangan kerja SDM pengembang. Skenario untuk membangun keterpaduan antara pembangunan SINas dengan penyiapan tenaga kerja pendukungnya saat ini belum diformulasikan. Kemajuan suatu bangsa dan negara sangat tergantung dari peran mana yang lebih besar porsinya yang diperankan oleh tenaga kerja secara kolektif. ketenagakerjaan. Sistem Pendidikan Nasional Kebijakan ketenagakerjaan Produktivitas Inovasi Nasional Kinerja Perekonomian Nasional Gambar 5. maka bangsa dan negara tersebut akan berpeluang lebih besar untuk lebih maju.

memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. bukan hanya sebagai konsumen barang dan/atau jasa yang dihasilkan dari hasil aplikasi teknologi semata. Kegiatan ekonomi masih dominan pada fase eksploitasi sumberdaya alam atau produksi bahan mentah. 5. pengguna teknologi dalam sistem produksi. maka keberhasilan pembangunan sektor ketenagakerjaan perlu dievaluasi berdasarkan peran aktif dan produktifnya sebagai pengembang teknologi. dan d. dan intermediasi. 5. belum banyak kontribusi industri hilir terhadap perekonomian nasional. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS. .Selanjutnya. pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. tetapi juga karena industri dengan muatan teknologi tinggi masih belum berkembang di Indonesia. 18 Tahun 2002 UU No. Dalam Pasal 3 disebutkan pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. Kenyataan ini sebetulnya bukan hanya menjadi cerminan dari kualitas tenaga kerja yang masih rendah.1. Pasal 6 hruf c PP No. meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ketenagakerjaan. Posisi tenaga kerja Indonesia saat ini masih belum terlalu membanggakan. karena masih lebih banyak yang berperan dalam proses produksi barang atau jasa. b.2.1. PP No. 12 Tahun 2002 tentang Kenaikan Pangkat PNS. 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan : a. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 jo.1. 5.1. 13 Tahun 2003 antara lain mengatur mengenai peranan dan kedudukan tenaga kerja. c. tetapi untuk kegiatan-kegiatan ekonomi dengan muatan teknologi yang minimal. PP No. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS Tenaga ahli terdiri dari peneliti. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 4 UU No. 12 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 12/ Tahun 2002 jo. Kualitas tenaga kerja ini tidak terlepas dari peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. UU No. yang berkaitan dengan ketentuan PNS dipekerjakan atau diperbantukankan. 99 Tahun 2000 menyebutkan “PNS yg dipekerjakan atau diperbantukan 67 Naskah Akademik Perubahan UU No. memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. dan Keputusan Kepala BKN No. mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. dan hak mendapatkan tunjangan. Tenaga ahli sebagai PNS tunduk kepada UU No. dalam kerangka penguatan inovasi. perekayasa dan dosen pemerintah adalah PNS.

masa kerja. pengangkatan. masa kerja. perekayasa dan dosen tidak diperkenankan bekerja dan diperbantukan di badan-badan usaha. 12 Tahun 2002 jo. pemberhentian dalam dan dari jabatan. 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen. 11 dan 12 tunjangan khusus diberikan bagi guru dan dosen PNS yang ditugaskan oleh pemerintah atau pemerintah daerah di daerah khusus. 18 Tahun 2002 Sedangkan tunjangan kehormatan. Tunjangan Khusus Guru dan Dosen Serta Tunjangan Kehormatan Profesor Berdasarkan Pasal 10 . 22 Tahun 2008 diatur hal-hal yang berkaitan dengan usulan penilaian dan penetapan angka kredit.1. Peraturan Pemerintah No. BPPT ditunjuk sebagai instansi pembina jabatan perekayasa. 68 Naskah Akademik Perubahan UU No. PP No. Sedangkan tunjangan khusus bagi guru dan dosen bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. Peraturan Pemerintah No. dan kualifikasi akademik yang berlaku bagi profesor PNS. 99 Tahun 2000 tidak berlaku bagi keperluan technical assistance peneliti dan perekayasa pemerintah ke badan-badan usaha swasta. Peraturan Pemerintah No. sebagaimana Pasal 15 dan 16 diberikan kepada dosen yang memiliki jabatan akademik profesor dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan sebesar 2 (dua) kali gaji PNS yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peneliti. BPPT selaku pembina jabatan perekayasa.berdasarkan ketentuan Pasal ini adalah PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh pada proyek pemerintah. penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan angka kredit.1. . 31 Tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan PNS yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam Jabatan Fungsional Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan diberikan tunjangan jabatan fungsional sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. 5. pola pikir dan tindakan dalam melaksanakan pembinaan perekayasa. 5.4. ketentuan mengenai ‘badan usaha yang ditentukan’ ini hanya ditujukan bagi keperluan perbantuan guru-guru pemerintah yang mengajar ke sekolah-sekolah swasta.3. menetapkan 11 standar kompetensi jabatan fungsional perekayasa. antara lain melakukan : a. Untuk menjamin adanya persamaan persepsi. Tunjangan kehormatan bagi profesor bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. organisasi profesi. Menurut Peraturan Bersama Menristek dan Kepala BKN No. tim penilai. Menurut pihak BKN dan Menpan. dan kualifikasi akademik bagi guru dan dosen PNS. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS ini sangat tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. 13/M/PB/VIII/2008 dan No. dan badan usaha yang ditentukan”. yang besarnya 1 (satu) kali gaji pokok pegawai negeri sipil yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kenaikan jabatan/pangkat. pembebasan sementara. Namun ketentuan PP No. negara sahabat atau badan internasional.

b. menetapkan pedoman formasi jabatan fungsional perekayasa; c. menyusun kurikulum pendidikan dan pelatihan jabatan fungsional perekayasa; d. melakukan pengkajian dan pengusulan tunjangan jabatan fungsional perekayasa; e. mensosialisasikan jabatan fungsional perekayasa serta petunjuk pelaksanaannya; f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional perekayasa; g. mengembangkan sistem informasi jabatan fungsional perekayasa; h. memfasilitasi pelaksanaan jabatan fungsional perekayasa; i. memfasilitasi pembentukan organisasi profesi perekayasa; j. memfasilitasi penyusunan dan penetapan etika profesi dan kode etik perekayasa; k. melakukan monitoring dan evaluasi Jabatan Fungsional Perekayasaan

6. Bidang Infrastruktur Sosial. Infrastruktur sosial pada prinsipnya mencakup semua fasilitas yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai infrastruktur komunitas (community infrastructure). Dengan demikian maka infrastruktur sosial tidak hanya mencakup ‘soft infrastructure’ (seperti dukungan untuk pengembangan komunitas, keluarga, dan individu; layanan informasi; pelatihan ketrampilan; perlindungan hukum; keamanan publik; dan layanan darurat); tetapi juga mencakup ‘hard infrastructure’ (seperti fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas untuk kegiatan seni dan budaya, fasilitas olahraga dan rekreasi, perumahan sehat, fasilitas lingkungan, fasilitas ibadah, dan tranportasi publik). Akibat buruk dari kurangnya perhatian dalam pembangunan infrastruktur sosial telah semakin dirasakan oleh negara-negara maju, misalnya berupa gangguan keamanan lingkungan atau mutu sumberdaya manusia yang rendah yang kemudian menjadi beban pembangunan. Kesenjangan sosial yang terjadi ternyata sangat mahal biaya remediasinya. Menyadari akan hal ini maka beberapa negara maju mulai secara sungguh-sungguh berupaya memperbaikinya. Misalnya Inggris menganggarkan hampir 3 milyar pound untuk pembenahan infrastruktur sosialnya. Pemerintah Australia juga mengambil inisiatif untuk membenahi infrastruktur sosial ini (Casey, 2005). Indonesia sebagai negara berkembang kelihatannya belum menunjukkan perhatian yang baik terhadap infrastruktur sosial ini pada sebagian besar wilayah perdesaan dan lingkungan kumuh perkotaan. Akibatnya kesenjangan sosial-ekonomi antara perdesaan dan perkotaan semakin melebar. Kenyataan ini telah secara nyata menyebabkan laju urbanisasi yang semakin sulit dibendung. Kesenjangan antara komunitas kaya dan miskin di perkotaan juga terasa semakin melebar. Kondisi ini menyebabkan antara lain semakin meningkatnya frekuensi kerusuhan di

69

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

perkotaan. Walaupun banyak yang mengkaitkan fenomena kerusuhan ini sebagai dampak dari demokratisasi di Indonesia. Kesenjangan sosial-ekonomi jelas tidak ‘compatible’ dengan upaya membangun inovasi nasional yang produktif dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, dalam skenario besar pengembangan sistem inovasi nasional Indonesia perlu disediakan ruang untuk pembangunan infrastruktur sosial. Beberapa peraturan perundang-uindangan terkait dengan pengembangan infrastruktur sosial sebagaimana di bawah ini.

6.1. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Infrastruktur Sosial. 6.1.1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Kereta Api

Menurut UU No. 23 Tahun 2007, pemerintah mendorong kemampuan di dalam negeri rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian nasional. Kegiatan ini antara lain mengedepankan lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang dikenal sebagai penghasil teknologi. Hal tersebut di ataur dalam Pasal 118 ayat (1) dan (2).
Pasal 118 (1) Untuk pengembangan perkeretaapian dilakukan rancang bangun dan rekayasa perkereta apian. (2) Rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh: a. pemerintah; b. pemerintah daerah: c. badan usaha; d. lembaga penelitian; atau e. perguruan tinggi.

6.1.2.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

Sebagaimana dengan UU No. 23 Tahun 2007, melalui UU No. 5 Tahun 1984 pemerintah juga berupaya mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri. Upaya ini memberikan kesempatan bagi peneliti dan perekayasa di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan maupun perguruan tinggi dalam peningkatan kemampuan industri nasional. UU No. 5 Tahun 1984 menyebutkan pembedaan teknologi industri dan teknologi tepat guna. Teknologi industri adalah cara pada proses pengolahan yang diterapkan dalam industri. Teknologi yang tepat guna adalah teknologi yang tepat dan berguna bagi suatu proses untuk menghasilkan nilai tambah. Sedangkan barang jadi adalah barang hasil industri yang sudah siap pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi. Pasal 9 UU No. 5 Tahun 1984 menyatakan bahwa pengaturan dan pembinaan bidang usaha industri dilakukan dengan memperhatikan “penyebaran dan pemerataan pembangunan industri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia dengan mempergunakan proses industri dan teknologi yang tepat guna untuk dapat tumbuh dan berkembang atas kemampuan dan kekuatan sendiri”.

70

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keterkaitan dengan teknologi, di Pasal 16, Bagian VI UU No. 5 Tahun 1984, ayat (1) disebutkan “Dalam menjalankan dan/atau mengembangkan bidang usaha industri, perusahaan industri menggunakan dan menciptakan teknologi industri yang tepat guna dengan memanfaatkan perangkat yang tersedia dan telah dikembangkan di dalam negeri. Pada ayat (2) Apabila perangkat teknologi industri yang diperlukan tidak tersedia atau tidak cukup tersedia di dalam negeri, Pemerintah membantu pemilihan perangkat teknologi industri dari luar negeri yang diperlukan dan mengatur pengalihannya ke dalam negeri.Dan pada ayat (3) Pemilihan dan pengalihan teknologi industri dari luar negeri yang bersifat strategis dan diperlukan bagi pengembangan industri di dalam negeri, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

71

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

merupakan kebijakan pemerintah mengenai arah mana hukum tersebut diarahkan. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. 18 Tahun 2002 . maka peraturan perundang-undangan yang dibuat cenderung menjadi sekumpulan aturan-aturan pemaksa. 72 Naskah Akademik Perubahan UU No. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. Sedangkan Zevenbergen menyatakan. dan filosofis. Menurut Kelsen. Kajian mengenai persyaratan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan yang baik selalu berkembang agar penerapan peraturan perundang-undangan sesuai dengan tujuannya. Pembentukan peraturan perundang-undangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Hukum yang baik adalah apabila terdapat keserasian antara politik hukum yang dibuat oleh pemerintah dengan kesadaran hukum masyarakat. Syarat kedua adalah syarat sosiologis.Bab 4 Landasan Filosofis. sosiologis. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). Demikian halnya apabila peraturan perundangundangan hanya menekankan pada aspek sosiologis-nya saja. Apabila peraturan tersebut hanya berlaku secara filosofis. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. maka ada kemungkinan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan hanya merupakan kumpulan kaidah yang mati. dan Yuridis Pembentukan peraturan perundang-undangan umumnya telah memperhatikan proses pemberlakuannya. Dengan demikian apabila pembentukan peraturan perundang-undangan diartikan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat atau pencapaian tujuan-tujuan tertentu. adanya kesadaran hukum masyarakat. kaidah hukum mengikat. apabila kaidah hukum terbentuk menurut cara yang telah ditetapkan. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. karena efektivitas hukum merupakan fakta. Menurut UU No. Apabila peraturan perundang-undangan hanya menekankan pada pemenuhan persyaratan yuridisnya saja. maka peraturan tersebut hanya merupakan cita-cita saja. yaitu syarat yuridis. Logemann berpendapat. hukum berlaku secara yuridis. lebih menekankan teori kekuasaan. yaitu konsepsi abstrak di dalam diri manusia tentang keserasian antara ketertiban dan ketenteraman atau kondisi yang sepantasnya diinginkan. Secara garis besar dalam penyusunan peraturan perundang-undangan memperhatikan dua hal. Syarat yuridis. maka penyusunan suatu peraturan perundangundangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. menurut Hans Kelsen. Kedua. Hal itu diperkuat dengan teori pengakuan yang menyatakan bahwa berlakunya hukum ataupun peraturan perundangundangan didasarkan atas penerimaan atau pengakuan atas peraturan tersebut. yaitu pertama adanya politik hukum yang jelas. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. Menurut teori kekuasaan. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. Sosiologis. apabila menunjukan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundangundangan.

dan 73 Naskah Akademik Perubahan UU No. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. 4. 2 hal yg menyangkut sopan santun. kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya. Terakhir adalah lingkup masalah yang bersangkutan dengan permasalahan apa saja yang akan menjadi obyek suatu peraturan perundang-undangan. dan kebudayaan suatu bangsa.Di samping syarat–syarat tersebut. Pengembangan. lingkup berlakunya suatu peraturan perundangan-undangan agar ditentukan pula. Dapat dikatakan manusia dan peradaban adalah hal yang tidak dapat dipisahkan karena manusia itu memiliki cipta. waktu. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. Logemann berpendapat. Amandemen keempat UUD 1945. budi bahasa. rasa dan karsa. Lingkup waktu berhubungan dengan jangka waktu tertentu yang diatur oleh suatu peraturan perundang-undangan. Kemajuan kebudayaan ini sering dikatakan sebagai peradaban. Aspek Yuridis Amandemen keempat UUD 1945 yang ditetapkan oleh MPR pada tanggal 10 Agustus 2002 merupakan landasan yuridis bagi pembentukan peraturan perundang-undangan yang ada. yang selengkapnya berbunyi: Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Perkembangan cipta. 2008) diartikan sebagai 1 kemajuan (kecerdasan. pribadi. yaitu agar diarahkan untuk mendorong kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. Lingkup wilayah menyangkut ruang atau wilayah yang akan dibatasi melalui pembentukan peraturan perundang-undangan. Lingkup pribadi menunjukan siapa atau apa yang akan diatur peranannya melalui peraturan perundangundangan. aplikasi pupuk. secara jelas telah mengamanahkan pemajuan iptek. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. kemajuan iptek secara tegas ditetapkan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang disahkan pada tanggal 29 Juli 2002.1. Sebagai contoh : dahulu manusia menanam karet dan menunggu hasil sesuai kemampuan alam untuk memproduksi. Lingkup ini dibedakan menjadi empat. Hal itu dapat ditemui di dalam Bab XIII. Menurut Amandemen keempat UUD 1945 ini. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. tetapi saat ini dengan adanya perkembangan pengetahuan. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Secara jelas ketentuan ini tercantum dalam Pasal 31. 18 Tahun 2002 . Pendidikan dan Kebudayaan. dan masalah tertentu. yaitu wilayah. Amandemen ini belum menjadi pertimbangan yuridis saat penetapan UU No. rasa dan karsa ini menimbulkan perkembangan pengetahuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring.

maupun penciptaan (invention).  Produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja. norma dan hukum atau peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. Menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv). Apabila iptek berkembang tetapi kesejahteraan umat manusia tidak berkembang. 18 Tahun 2002 berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. Berbagai penemuan di bidang kesehatan. baik yang bersifat kuantitatif. kualitatif. kesejahteraan umat manusia juga meningkat. teknologi informasi dan mikroelektronika. iptek mempunyai peran sentral. maupun pengembangan ilmu pengetahuan. memberi kemudahan dalam kehidupan manusia. teknologi adalah ”keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. dan tanpa adanya manusia kedua karya tersebut tidak akan ada. merupakan hasil dari penguasaan dan pemanfaatan iptek sehingga berbagai penyakit telah dapat disembuhkan. Secara umum iptek berkembang melalui kreativitas berbagai penemuan (discovery). 74 Naskah Akademik Perubahan UU No. yang selanjutnya melahirkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. atau bahkan menurun. Dengan demikian dapat dikatakan dalam perkembangan peradaban manusia. apabila iptek terus berkembang.” Pengertian teknologi secara umum menurut Ellul (1967) adalah:  Proses yang meningkatkan nilai tambah. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. maka dapat dikatakan penguasaan dan pemanfaatan iptek tidak berfungsi dengan baik. kelangsungan. moral. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. disusun. Sedangkan kegunaan iptek bagi manusia juga ditentukan oleh nilai. telah membantu manusia dalam berbagai kegiatannya. ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali.  Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan. kemajuan bangsa. misalnya.teknik pemeliharaan menjadikan pohon karet menghasilkan lebih banyak. Menurut UU No. pelestarian fungsi lingkungan hidup. Berbagai inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara umum adalah karya manusia. Demikian halnya dengan penggunaan perangkat otomatis. . 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 Dapat dikatakan teknologi merupakan aplikasi dari pengetahuan sebagai respons atas tuntutan manusia akan kehidupan yang lebih baik. Adanya kemajuan penguasaan dan pemanfaatan iptek akan berimbas pada peningkatan daya saing dan akan mendorong kemajuan bangsa. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. Sedangkan teknologi dalam UU No. Menurut UU No. 18 Tahun 2002 diartikan sebagai cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. Dengan kata lain. dan peningkatan mutu kehidupan manusia.

4. Pengertian inovasi versi UU No. 18 Tahun 2002. Sejalan dengan semangat ini. 18 Tahun 2002 Ketiga persyaratan di atas dirumuskan dan tercakup dalam penyusunan peraturan perundangan-undangan. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini.(lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. 18 Tahun 2002 dimungkinkan penggunaan sanksi pidana berupa denda paling banyak Rp.000. Dalam UU No. serta tanggung jawab akademis. 26 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UU No. pengembangan. atau dengan kata lain inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). penggunaan sanksi dalam UU No. Penekanan pada kreatifitas. Untuk dapat efektif.26 Secara sosiologis penekanan ketentuan atau aturan-aturan yang memaksa (coercion) dalam pengembangan iptek kurang tepat. Berbagai jenis instrumen kebijakan yang pas untuk digunakan. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru..2. Demikian halnya dengan upaya penguatan inovasi nasional melalui peraturan perundang-undangan. indikator perkembangan iptek antara lain adalah peningkatan berbagai penemuan (discovery). atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”. yang selanjutnya menumbuhkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa.000. 50. 75 Naskah Akademik Perubahan UU No. ekonomi. dan detil. Umumnya hanya menghasilkan atau merekomendasikan prinsip dasar dan/atau taksonomi kebijakan sebagai bentuk intervensi yang dibutuhkan dari pihak pemerintah. atau pemerintah. p e n c i p t a a n ( invention). Bahkan secara tegas World Bank (2010). sistematis. budaya. Aspek Sosiologis Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. kebebasan berpikir menjadikan penggunaan pemaksaan tidak relevan. 18 Tahun 2002 penggunaan aturan pemaksa harus disesuaikan dengan asas undang-undang ini yang menekankan pada asas kebenaran ilmiah. telaah tentang sistem inovasi sangat jarang berujung pada preskripsi kebijakan sistem inovasi yang konkrit. namun sampai saat ini masih belum berhasil dirumuskan kebijakan dan peraturan perundang-undangan sistem inovasi yang pas untuk kondisi Indonesia. namun perbedaan yang menonjol adalah inovasi lebih melihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. masyarakat awam. Saat ini. serta pada tingkat kewilayahan mana sistem inovasi tersebut tepat untuk diimplementasikan. mengingat kondisi sosial. menekankan inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). asas kebebasan akademis. dan potensi sumberdaya alam Indonesia yang sangat majemuk. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. Meskipun inovasi sering dicampuraduk pengertiannya dengan invensi. Walaupun dirasakan telah terjadi kemajuan dalam pemahaman tentang konsepsi dasar sistem inovasi dan telah terjadi perkembangan metodologis untuk analisis sistem inovasi. hanya terlihat pada kegiatan litbangrap iptek yang berisiko tinggi dan berbahaya. . asas kebebasan berpikir. maka kebijakan harus mengandung muatan pengaturan dan tidak hanya memberikan pemahaman umum. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. Menurut UU No.

[3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. atau dapat juga untuk satuan kawasan dengan karakteristik sosio-ekonomi-kultural masyarakatnya yang spesifik. kecamatan. cakupan wilayah dari suatu sistem inovasi sebaiknya tidak berbasis pada satuan wilayah administrasi pemerintahan (provinsi. MP3EI juga menganut pembangunan ekonomi berbasis wilayah yang membagi NKRI menjadi enam koridor dan sekaligus juga mengangkat komoditas tertentu sebagai fokus pembangunan pada masing-masing dari enam koridor ekonomi tersebut. 18 Tahun 2002 . misalnya pada hamparan lahan dengan karateristik agroekosistem tertentu yang menopang pembangunan ekonomi berbasis pertanian. 4. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. tetapi sebaiknya lebih berbasis pada satuan kawasan pembangunan perekonomian.Teori sistem inovasi yang berkembang di Indonesia banyak yang diadopsi secara langsung dari sistem inovasi yang dianut oleh negara-negara maju. atau disingkat SIDa) atau sistem inovasi yang secara spesifik fokus pada potensi ekonomi tertentu. Pendekatan ini dapat dilakukan pula untuk komoditas perkebunan dengan volume dan nilai produksi yang lebih besar sehingga memberikan kontribusi yang significant bagi perekonomian nasional (misalnya sawit dan karet). Pengembangan sistem inovasi tentu perlu diserasikan dengan realita strategi pembangunan bidang perekonomian tersebut. Teori inovasi yang tidak mengakar pada realita Indonesia akan sangat berisiko jika dijadikan pijakan dalam merumuskan kebijakan sistem inovasi Indonesia. serta kemampuan pembiayaan dan infrastruktur pembangunan lainya yang telah dimiliki atau yang secara rasional akan dapat dikelola. yang kondisinya dalam berbagai dimensi sangat berbeda dengan Indonesia. Karakteristik inovasi yang khas Indonesia perlu diformulasikan dengan tepat. termasuk: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. baik itu terfokus pada komoditas tertentu yang bernilai ekonomi tinggi ataupun pada potensi sumberdaya lahan atau laut dengan karakteristek yang khas. kota. Selain itu pendekatan sosial- 76 Naskah Akademik Perubahan UU No. Namun demikian. Luasnya wilayah nusantara dan keragaman potensi sumberdaya merupakan alasan yang rasional untuk membangun sistem inovasi yang lebih operasional pada wilayah cakupan yang lebih kecil (sekarang digunakan terminologi Sistem Inovasi Daerah. Pengembangan inovasi daerah yang berbasis agroekosistem lahan misalnya.2. dirancang untuk mendukung kegiatan ekonomi di lahan sub-optimal basah (lebak dan pasang surut). [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. Kebijakan yang tak kentara warna Indonesianya. desa). walaupun didukung dengan regulasi yang kuat. atau dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan di wilayah Indonesia bagian timur.1. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. kabupaten. Reorientasi Arah dan Prioritas Riset Inovasi nasional di Indonesia wajib berbasis pada potensi sumberdaya nasional. atau wilayah laut dengan karakteristik marine ecology yang khas. tetap saja sering tidak efektif dalam implementasinya. baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia.

antara lain demand-driven. Keragaman istilah atau terminologi yang digunakan ini menunjukkan perlunya reorientasi dalam pengembangan teknologi untuk menopang sistem inovasi dalam upaya meningkatkan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian. Pengembangan inovasi daerah dapat difokuskan pada pengembangan sistem inovasi yang lebih teknis dan operasional sesuai kebutuhan ataupun unggulan yang akan dikembangkan di daerah. penguatan daya saing ini menjadi semakin relevan apabila dikaitkan dengan kecenderungan sebagai berikut: a. 18 Tahun 2002 . issue-driven (Jepang). Kecenderungan global saat ini cenderung menggiring pengembangan teknologi lebih ke arah pemenuhan kebutuhan atau menyediakan solusi bagi permasalahan nyata yang ada di masyarakat. Istilah yang muncul untuk menggambarkan orientasi riset dan pengembangan teknologi sesuai kebutuhan pengguna ini cukup beragam. marketdriven (mulai jarang digunakan karena terkesan terlalu mengarah pada komersialisasi). Tekanan persaingan global yang semakin meningkat. Fokus dukungan dapat dilakukan pada aktivitas ekonomi tertentu yang diunggulkan. needdriven. ataupun pemerintah. b. sehingga tujuan pembangunan nasional yang sifatnya universal dapat dikawal. masyarakat. 2005). Dikotomi pilihan pengembangan sistem inovasi pada tingkat nasional dengan tingkat daerah/lokal seharusnya tidak perlu terjadi. c. Pengembangan inovasi nasional memberikan ‘template’ sebagai acuan untuk pengembangan inovasi daerah. Selanjutnya Tatang Taufik menyebutkan. Produk yang semakin kompleks dan memilki siklus hidup yang semakin pendek karena cepatnya kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan konsumen. Indonesia tentunya harus berada dalam mainstream ini jika secara sungguh-sungguh ingin mewujudkan sistem inovasi nasional ataupun daerah yang berkontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi dengan harapan dapat pula meningkatkan kesejahteraan rakyat. mission-driven (Swedia). Kedua keadaan tersebut juga mengakibatkan persaingan pasar yang semakin cepat dan kompleks. 77 Naskah Akademik Perubahan UU No. Selain berbasis pada potensi sumberdaya nasional atau lokal. sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. Kemampuan inovasi juga merupakan faktor penguatan daya saing yang sangat penting (Taufik. untuk dapat dikelola dan dievaluasi kinerjanya secara lebih baik.ekonomi-budaya dilakukan untuk masyarakat pengrajin dan industri ukiran kayu di Jepara atau masyarakat dengan budaya yang khas seperti di Bali. yakni terutama untuk menyejahterakan rakyat sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi. pengembangan sistem inovasi di Indonesia perlu didukung pengembangan teknologi yang lebih terarah. dan evidence-based (mulai digunakan oleh komunitas ilmu sosial atau pihak yang melihat teknologi dari perspektif ilmu sosial). baik industri. meskipun esensinya sama yakni mendorong agar pengembangan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. Keragaman istilah ini disebabkan adanya perbedaan aspek atau dimensi yang ingin ditekankan.

Persentase jumlah peneliti atau perekayasa terhadap total populasi suatu negara sering dipakai sebagai indikator kemajuan inovasi nasional negara yang bersangkutan. dan sensitif terhadap dinamika persoalan dan kebutuhan masyarakat. pasar dan teknologi berubah sangat cepat. tantangan utama bagi perusahaan di lingkungan bisnis yang kompleks dan persaingan global yang semakin ketat adalah mengembangkan dan mempertahankan keunggulan daya saing. 4. Tidak semua disiapkan menjadi pengembang teknologi yang handal. yaitu inovasi. Rasio yang pas antara pengembang-pengguna teknologi tentu tergantung pada jenis teknologi yang diimplementasikan. Lembaga penyelenggara pendidikan tinggi akan menjadi lembaga penunjang yang menentukan dalam konteks ini. 78 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pangsa pasar yang cenderung menurun dan semakin jenuh akan lebih mengandalkan persaingan harga dengan nilai tambah yang relatif rendah. Kecenderungan industri saat ini. adalah tenaga teknis yang berperan mengaplikasikan teknologi dalam proses produksi barang atau jasa. Implementasi inovasi nasional juga memerlukan adanya pengguna teknologi yang terampil. tetapi merupakan hasil kerja kelompok ‘kecil’ peneliti pada satu laboratorium atau kolaborasi peneliti antar-laboratorium. Pendidikan perlu diupayakan tidak hanya peningkatan mutunya tetapi juga dibarengi dengan upaya peningkatan relevansinya terhadap kebutuhan nyata. tetapi sesungguhnya basis argumennya sangat dangkal. Walaupun angka ini mungkin mengindikasikan kemampuan negara tersebut untuk mengembangkan teknologi. serta penguatan kelembagaan yang bertanggung jawab dalam pengembangan teknologi.2. dari upaya sinkronisasi program penyiapan sumberdaya manusia yang relevan dan kompeten. populasi pengguna teknologi yang terampil jauh lebih banyak dibandingkan dengan populasi pengembang teknologi.2. malah dapat menyesatkan. Peter Drucker menekankan bahwa setiap organisasi harus mempunyai suatu kompetensi. karena selain tergantung pada produktivitas peneliti. 18 Tahun 2002 .Kemampuan inovasi yang rendah akan menempatkan badan usaha ataupun industri bersaing pada segmen pasar yang umumnya konvensional. Selain untuk meningkatkan kecerdasan akademik. Menurut EISDISR (2001). dan siklus produk atau time-to-market yang semakin pendek. Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi Strategi ini mempunyai rentang cakupan yang lebar. optimalisasi fungsi kelembagaan pengelola pendidikan. juga ditentukan oleh relevansi substansi yang diteliti. Dalam situasi demikian. pendidikan juga diarahkan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa. tuntutan konsumen yang semakin tinggi. Pengguna teknologi ini antara lain. Idealnya. dimana tekanan atas biaya cenderung meningkat. [2] jumlah peneliti yang banyak tidak otomatis berarti akan banyak teknologi bermanfaat yang dihasilkan. dengan derajat penalaran akademik yang tinggi. Hal ini bisa dicermati dari beberapa perspektif: [1] teknologi yang berdampak signifikan dan mampu mengubah ‘wajah’ dunia dalam berbagai bidang bukan merupakan hasil kerja kolektif seluruh populasi peneliti suatu negara.

Kualitas dimaksud mencakup basis mutu akademik dan relevansi keahliannya terhadap kebutuhan nyata. Selanjutnya Tatang menggaris bawahi. Kalaupun jenis teknologinya sesuai tetapi seringkali tidak kompetitif secara ekonomi untuk diaplikasikan. Pendekatan yang dipilih tentunya juga berubah arah. Jika selama ini aktor penentu arah inovasi nasional diperankan secara ‘terlalu’ dominan oleh para pengembang teknologi. akibatnya hasil riset yang diperoleh masih sulit untuk diadopsi oleh industri. Pada tahap awal. Kesiapan sumberdaya manusia wajib dibarengi dengan langkah reorientasi pengembangan teknologi dari supply-push ke demand-driven. inovasi seringkali bukan hanya menekankan technology push (driven) atau demand pull (driven) secara “hitam-putih” yang tegas. inovasi tidak berkembang tanpa adanya kerjasama (co-operation). Implikasi operasionalnya adalah Indonesia tidak perlu terlalu berambisi untuk meningkatkan angka persentase jumlah peneliti per sejuta penduduk (atau indikator lain yang serupa). Meski inovasi didorong oleh kompetisi atau persaingan. Argumentasi di atas mencoba mengingatkan bahwa aspek yang paling penting untuk mendapat perhatian dalam proses penyiapan sumberdaya manusia yang diproyeksikan untuk menjadi pelaku utama pengembangan teknologi bukan terletak pada aspek kuantitasnya. Indonesia tidak perlu ‘kelihatan’ baik secara statistik. 2005). yakni jika sebelumnya pihak pengembang teknologi menjadi penentu arah dan prioritas pilihan teknologi. yang perlu adalah Indonesia mampu dan produktif dalam menghasilkan solusi teknologi bagi permasalahan bangsa. kuantitas menjadi tidak penting. Penyebab utamanya adalah ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan atau yang dihasilkan dengan kebutuhan industri. Namun demikian perlu diperhatikan pula. Untuk konteks ini.dan [3] sebagian besar peneliti bekerja di perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah yang mayoritas pada saat ini lebih fokus pada riset akademik yang tak terkait langsung dengan persoalan nyata. Aliran teknologi banyak yang tersumbat. 2005). namun juga bagaimana mereka bekerjasama (Tatang. tetapi lebih perlu menyiapkan tenaga-tenaga pengembang teknologi yang punya basis kapasitas akademik yang hebat dan juga sensitif terhadap dinamika permasalahan dan kebutuhan bangsa. tetapi lebih merupakan proses di antaranya atau kombinasi keduanya (Tatang. tetapi lebih pada aspek kualitasnya. Inovasi tidak hanya bergantung pada bagaimana perusahaan. inovasi juga merupakan proses yang kompleks dan dinamis yang sering menunjukkan paradoks. dari supply-push menjadi demand-driven. 18 Tahun 2002 . Pendekatan ini ternyata tidak efektif untuk meningkatkan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. baru kemudian ‘ditawarkan’ kepada industri untuk menggunakannya. sehingga pendekatan yang diterapkan adalah supply-push. proses reorientasi dalam pengembangan kerjasama ini tentunya belum akan berjalan mulus. perguruan tinggi dan para pembuat kebijakan bekerja. bahkan adakalanya antara perusahaan yang saling bersaing. maka peran ini di masa yang akan datang perlu dipercayakan pihak pengguna teknologi. yakni melakukan pengembangan teknologi dahulu. Strategi untuk memperlancar aliran teknologi dalam inovasi nasional dan untuk meningkatkan intensitas kolaborasi antara pengembang dan pengguna teknologi adalah melakukan reorientasi. Hal ini terlihat dari Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia tahun 79 Naskah Akademik Perubahan UU No.

saat Kementerian Riset dan Teknologi secara terbuka dan kompetitif menawarkan empat program insentif kepada komunitas akademik di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga riset pemerintah. bahwa inovasi memerlukan lebih hanya sekedar litbang. proposal untuk riset pengembangan iptek mencapai 89.84 persen. Produk barang dan jasa semakin ‘sarat dengan pengetahuan’ ( knowledge intensive). Pengalaman Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) melalui program insentifnya menjadi bukti empiris tentang sulitnya menggeser kegiatan para akademisi dan periset keluar dari zona nyamannya (comfortable zone). 2010). Pergeseran mindset selalu membutuhkan waktu relatif panjang. Ekspektasi pada tahap awal adalah mulai tumbuhnya kesepakatan bahwa pengembangan teknologi perlu berubah arah. 18 Tahun 2002 . sedangkan dua program terakhir merupakan upaya mentransfer dan aplikasi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengguna teknologi. tetapi juga tidak selalu ‘sarat dengan litbang’ (R&D intensive). yakni program riset dasar. dari riset yang dilakukan untuk pemuasan rasa keingin tahuan akademik menjadi riset untuk menjawab permasalah nyata yang dihadapi masyarakat dan negara. Hal ini sesuai pula dengan kecenderungan yang diungkapkan OECD (1999). sedangkan kegiatan yang lebih bersifat hilir (difusi teknologi dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi) untuk mendorong agar hasil risetnya diadopsi oleh pengguna masih sangat kurang diminati. Dua program yang pertama merupakan pengembangan iptek. dan penguatan kapasitas iptek sistem produksi.8. riset terapan. menjadi lebih fokus untuk menjawab permasalahan nyata atau memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat pengguna. karenanya proses ini akan berlangsung secara bertahap (gradual). Dengan upaya yang 80 Naskah Akademik Perubahan UU No.16 persen. Akademisi dan periset masih nyaman di wilayah riset akademik (dasar dan terapan). sama dengan Vietnam (World Bank. Pada tahun 2008. 7 6 5 4 3 2 1 0 Singapura Malaysia Philipina Vietnam Resistensi internal sangat mungkin untuk muncul di kalangan akademisi dan periset dalam proses pergeseran prioritas riset dari curiousity-driven research menjadi goal-oriented research. Akan ada resistensi (penolakan) dari pihak pengembang teknologi dan adanya keengganan di pihak pengguna teknologi.2007. pada skala 2. sedangkan proposal untuk difusi dan aplikasi iptek hanya 10. difusi iptek. Hal ini antara lain terlihat.

tetapi lebih disebabkan karena riset ini telah diseleweng-kan pemaknaannya oleh kepentingan-kepentingan lain yang bersifat non-scientific. Merupakan langkah yang tepat jika Pemerintah lebih mengarahkan bantuan pembiayaan risetnya pada kelompok goal-oriented research. negara harus mengeluarkan devisa yang signifikan karena kuatitas kebutuhannya yang masif. strategi yang perlu dilakukan dalam rangka memicu dan memacu pergeseran preferensi atau prioritas riset ini antara lain adalah: [1] meluruskan pemahaman tentang status ilmiah goal-oriented research dan [2] memberikan insentif yang lebih baik bagi pelaksanaan riset untuk solusi permasalahan nyata ini. Memperhatikan upaya yang telah dilakukan. Pengembang teknologi. Capaian akademik seringkali lebih menarik dibandingkan dengan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan atau menyediakan solusi untuk persoalan yang dihadapi industri.lebih intensif untuk menumbuhkan minat komunitas akademisi dan peneliti untuk berperan dalam kegiatan difusi dan aplikasi iptek. Sangat ironis jika untuk memenuhi kebutuhan solusi teknologi untuk masalah-masalah sederhana (misalnya di sektor pertanian). ternyata akademisi dan peneliti Indonesia masih belum tergolong produktif dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. para peneliti Indonesia menghasilkan 178 tulisan. Sudah saatnya. baik di akademisi maupun peneliti. terlebih lagi pada saat negara sedang mengalami krisis ekonomi. Sejatinya. Angka ini tidak jauh berbeda dengan Filipina.95 persen. masyarakat. Meski demikian secara akademik. Kekeliruan pemahaman tentang ‘riset pesanan’ disebabkan bukan oleh makna hakiki dari goal-oriented research tersebut. tetapi juga sekaligus sebagai investasi untuk menumbuhkan kemandirian bangsa dalam menyediakan solusi teknologi bagi masalah-masalah mendasar yang menyangkut hajat hidup asasi masyarakat. Apalagi jika untuk mengimpor teknologi asing tersebut (yang sebetulnya dalam tataran teknologi tergolong sederhana). dimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara harus berpotensi menggerakkan perekonomian domestik. jarang melakukan observasi secara cermat persoalan ataupun kebutuhan pihak pengguna. tetapi juga sekaligus dapat secara nyata menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. 18 Tahun 2002 . Salah satu persoalan yang serius saat ini adalah rendahnya sensitivitas atau kepedulian pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi. Riset yang direncanakan lebih terkait dengan latar belakang akademik peneliti atau akademisi yang bersangkutan dan mengarah pada topik yang sedang populer di kalangan akademisi. Kecenderungan lainnya adalah memilih topik-topik yang terkesan maju secara teknologi tetapi tidak terkait langsung dengan kebutuhan atau persoalan nyata. Kenyataan ini tentu harus dibenahi. Indonesia masih tergantung pada pasokan teknologi asing. namun jauh di bawah Malaysia dan Thailand. pada tahun 2009 proposal untuk kegiatan ini meningkat menjadi 24. pembiayaan kegiatan riset diposisikan tidak hanya untuk mendukung upaya pencerdasan bangsa. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah artikel pada jurnal sains dan teknik tahun 2003. goal-oriented research harus dimaknai sebagai riset akademik yang tidak hanya potensial untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. sulit bagi pengembang teknologi di 81 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau pemerintah.

Hasil riset dengan reputasi dan pilihan topik seperti ini jelas akan berpeluang untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah. Namun sesungguhnya. Kekeliruan pemahaman yang sering terjadi adalah bahwa teknologi yang dihasilkan dari riset yang berbasis kebutuhan nyata statusnya akan kurang canggih. 82 Naskah Akademik Perubahan UU No. sebagaimana juga kekeliruan dalam memahami definisi teknologi tepat guna (appropriate technology) yang sering dianggap identik dengan teknologi sederhana. dan dapat menghasilkan paten yang diminati pengguna (karena relevan dengan kebutuhan sehingga berpeluang untuk diaplikasikan dalam proses produksi). kendala yang lebih serius terletak pada mindset para pengembang teknologi tersebut. Sesungguhnya rentang spektrum teknologi yang berbasis kebutuhan atau teknologi tepat guna dapat bervariasi dari teknologi yang sangat sederhana sampai dengan teknologi super canggih.Indonesia untuk berada posisi terdepan secara akademik. 18 Tahun 2002 Perlu diyakini bahwa perhatian berbagai pihak. Berbagai kendala antara lain kurangnya alokasi anggaran untuk pembiayaan riset dan kurang memadainya peralatan dan fasilitas riset. pemerintah membutuhkan teknologi canggih untuk mewujudkan kemandirian dalam sektor pertahanan dan keamanan negara. untuk memberikan dukungan pembiayaan yang lebih besar akan lebih mungkin terwujud jika pengembang teknologi juga mampu membuktikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. yang belum termotivasi untuk melaksanakan riset yang berkualitas dan masih cenderung menganggap riset hanya sebagai ritual akademik. sebaliknya petani membutuhkan teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsinya untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatannya. Sebagai contoh. 600 400 200 0 Negara Singapura Malaysia Filipina Vietnam Laos Riset yang dirancang sesuai kebutuhan nyata dapat menjadi riset yang berkualitas ilmiah tinggi apabila dilaksanakan dengan metodologi yang tepat dan dengan menjunjung tinggi etika akademik. sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan royalti. termasuk pemerintah. karena faktanya realita persoalan dan kebutuhan teknologi juga sangat variatif. terutama pembangunan perekonomian. .

yakni meningkatkan relevansi teknologi yang dibarengi dengan upaya meningkatkan kapasitas adopsi pengguna. baik dari pemerintah maupun dari dunia usaha. Kapasitas adopsi pengguna teknologi bersifat multi dimensi. pembudidaya ikan. karena kepercayaan pihak pengguna teknologi akan semakin meningkat. dan kemungkinan juga politik. masyarakat. Upaya peningkatan relevansi teknologi dengan kebutuhan nyata belum sepenuhnya menjamin bahwa teknologi akan diadopsi pengguna. peternak. Persoalan rendahnya kapasitas adopsi teknologi. Dukungan pembiayaan aktivitas riset akan semakin tumbuh. dan pengrajin atau berbagai pelaku usaha skala kecil lainnya. Kapasitas adopsi dari dimensi ekonomi/finansial akan lebih sulit ditingkatkan. secara umum dapat dijumpai pada masyarakat pengguna teknologi di Indonesia. Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik Sensitivitas dan kepedulian pengembang teknologi yang diikuti dengan perencanaan dan pelaksanaan riset yang tepat akan membuahkan teknologi yang relevan. nelayan. Jika semakin banyak aktor pengembang teknologi yang mengikuti alur ini.Di antara banyak perubahan yang perlu dilakukan dalam rangka penguatan inovasi. Pengguna teknologi ikut menikmati kontribusi teknologi terhadap pemenuhan kebutuhan dan menjadi alternatif solusi persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi tersebut. Peningkatan kapasitas adopsi untuk dimensi teknis relatif mudah dilakukan. termasuk komunitas petani. sehingga persentase teknologi yang relevan kebutuhan semakin meningkat dan kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional semakin dirasakan publik. sosiokultural. termasuk bidang perekonomian. efek bola salju akan terjadi. namun kebijakan pemerintah terkait penyediaan kredit modal usaha dapat menjadi cara efektif untuk membantu pengguna teknologi dalam meningkatkan kapasitas adopsinya dari dimensi finansial.2. maka Indonesia akan memulai era baru dalam mengembangkan inovasi nasional. 4.3. Satu faktor yang menentukan. salah satu yang urgensinya paling tinggi adalah meningkatkan sensitivitas dan kepedulian para pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi industri. termasuk dimensi teknis. misalnya melalui pelatihan atau pendidikan formal bagi para aktor pengguna. 18 Tahun 2002 . untuk memperbesar peluang pemanfaatan teknologi perlu dilakukan perbaikan di kedua sisi. Oleh sebab itu. Rendahnya 83 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan pemerintah. finansial. Relevansi dan produktivitas riset akan menjadi mesin produksi teknologi yang secara nyata akan meningkatkan kontribusi terhadap berbagai sektor pembangunan nasional. Peningkatan kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi akan memberikan umpanbalik (feedback) yang positif. yakni kemampuan atau kapasitas adopsi dari pengguna terhadap teknologi potensial yang dihasilkan. Harapan akhirnya adalah teknologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan memajukan peradaban bangsa sebagaimana yang diamanahkan oleh Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945. Kondisi yang diharapkan sebagai modal untuk memperkuat inovasi nasional adalah pendekatan demand-driven dapat menjadi mainstream pengembangan teknologi domestik.

berbasis sumberdaya dalam negeri. dan teknologi yang sesuai secara teknis serta kompetitif secara ekonomi. Kondisi lain 84 Naskah Akademik Perubahan UU No. diperlukan transformasi dari pedagang menjadi produsen. yakni: [1] akses untuk mendapatkan bahan baku yang cukup. Namun demikian. Kelembagaan intermediasi ini belum berfungsi secara efektif. sumberdaya manusia. tidak hanya persoalan rendahnya kapasitas adopsi. Pada saat ini. jika prasyarat dasarnya belum terpenuhi. bisnis di Indonesia memerlukan transformasi. sesuai dengan spesifikasi teknis. Oleh sebab itu. Aksesibilitas untuk tiga kunci sukses industri produsen perlu dijamin. atau masih diyakini belum akan membuahkan hasil. bukan industri manufaktur. Secara umum. dengan aktivitas utama perdagangan. juga dikarenakan rendahnya kebutuhan teknologi. penguatan industri dalam negeri merupakan salah satu pilar utama pendukung strategi penguatan inovasi nasional. dan berorientasi pasar domestik menjadi tidak effektif. Lembaga intermediasi berperan sebagai penghubung antara lembaga pengembang teknologi dengan pengguna teknologi. Pasar domestik Indonesia yang besar merupakan potensi untuk menjadi ‘penyerap’ bagi semua produk barang dan jasa yang dihasilkan industri dalam negeri. 18 Tahun 2002 . yakni adanya relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan industri yang merefleksikan preferensi dan daya beli konsumen. Belum adanya lembaga intermediasi yang diinisiasi oleh pihak bisnis maupun masyarakat dapat menjadi indikasi bahwa kegiatan ini masih dianggap belum menarik. pada fase awal diperlukan dukungan insentif tambahan agar perdagangan bertransformasi ke arah industri atau produsen barang dan jasa.adopsi teknologi. Percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh pengguna di dalam negeri dan upaya mendorong arus informasi kebutuhan teknologi untuk pihak pengembang memerlukan peran aktif dari lembaga intermediasi. Ketersediaan teknologi domestik yang secara teknis sesuai dengan kebutuhan dan secara ekonomi menguntungkan akan dibutuhkan industri produsen barang dan jasa. Kelompok industri ini yang paling berpotensi untuk mengadopsi teknologi domestik yang telah dikembangkan. Oleh karena itu. Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan kebutuhan pasar domestik perlu lebih diintensifkan. Penguatan inovasi tidak dapat berfungsi optimal apabila kegiatan bisnis yang dominan masih berupa perdagangan. Hal ini juga dapat dijumpai pada pelaku bisnis Indonesia. Peningkatan investasi dan akses permodalan untuk pengembangan dan/atau penumbuhan industri baru berbasis teknologi nasional perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dan difasilitasi perkembangannya. selain disebabkan teknologi yang tidak relevan. Persepsi ini sesungguhnya dapat dipahami. [2] akses untuk mendapatkan modal. serta cukup tersedia sesuai siklus produksi. dari kecenderungan dominan perdagangan menjadi dominan industri produsen barang dan jasa. untuk meningkatkan adopsi teknologi. harga yang pantas (dan relatif stabil). dan [3] akses pasar yang terjamin. Kondisi ini menjadikan upaya riset dan pengembangan teknologi yang sudah diarahkan sesuai dengan kebutuhan nasional. hampir semua lembaga intermediasi terbentuk atas inisiatif pemerintah dan sebagian juga diawaki oleh aparatur pemerintah. karena berbagai kondisi yang terjadi saat ini masih belum ‘favorable’ untuk berfungsinya kelembagaan intermediasi.

dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam implementasi penguatan inovasi nasional. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi.2. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. bukan atas usulan pihak industri. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan. tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. 4. Peran regulasi pemerintah ditujukan untuk mengawal agar implementasi penguatan inovasi secara konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. terutama pada jenjang pendidikan tinggi dan menengah kejuruan. maka lebih cenderung memilih memproduksi barang di bawah lisensi asing. Opsi kedua kelihatannya lebih baik. Ekosistem Inovasi yang Kondusif Selama proses transisi pergeseran orientasi arah dan prioritas riset. [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya. Dalam 85 Naskah Akademik Perubahan UU No.4. dan [3] pelaku industri dalam negeri belum percaya atas kehandalan teknologi domestik hasil karya anak bangsa. kalaupun masuk ke wilayah industri produsen barang/jasa. dibutuhkan pula regulasi dan fasilitasi pemerintah dalam menyiapkan sumberdaya manusia sesuai kebutuhan untuk pengembangan teknologi dan kebutuhan tenaga terampil untuk aplikasi teknologi. sehingga lebih cenderung membeli teknologi asing. [2] preferensi komunitas bisnis Indonesia masih cenderung sebagai pedagang daripada sebagai produsen. dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya. dan dilatih ketrampilan pemasaran-nya. atau merekrut tenaga pemasaran dan diperkaya wawasan teknologinya. peran pemerintahan sangat dibutuhkan. Berkaitan dengan upaya membangun inovasi nasional secara utuh. sehingga berpotensi menjadi masalah jika dikomersialisasikan. Upaya ini dapat dilakukan dengan merekrut peneliti/akademisi. melalui program pendidikan yang berkesesuaian. Bentuk fasilitasi dari pemerintah yang lain adalah dukungan untuk kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Lembaga intermediasi perlu diawaki oleh personel yang memahami tentang teknologi dan sekaligus punya kemampuan persuatif yang tinggi dan terampil dalam menjual. karena merubah karakter manusia (terkait marketing skills) lebih membutuhkan waktu dibandingkan dengan menambah pengetahuan tentang teknologi tertentu. 18 Tahun 2002 . yakni dalam bentuk: [1] regulasi yang mendukung dan [2] fasilitasi percepatan laju proses reorientasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya ‘gesekan’ yang tidak perlu antar pihak terkait. proporsional kontribusinya.yang kurang kondusif bagi lembaga intermediasi adalah: [1] sistem perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual masih belum membudaya di kalangan pengembang teknologi di Indonesia.

86 Naskah Akademik Perubahan UU No. Agar diperhatikan apapun bentuk atau format riset kolaborasi. keefektifan dan relevan (effectiveness dan relevance). yakni dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. konsensus dan tidak memihak (consensus and impartiality). dan berdimensi pembangunan (development dimension). merupakan modal kuat dalam menuju Indonesia yang lebih sejahtera di masa yang akan datang.beberapa kasus. dan pemerintah. kepabeanan. Upaya ke arah ini sesungguhnya sudah dilakukan pemerintah. Dengan demikian. Berdasarkan telaah yang telah diuraikan di atas. akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat. Bentuk regulasi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi seluruh produk barang/jasa di Indonesia. maka ada beberapa komponen kebijakan yang dibutuhkan untuk mewujudkan adanya sistem inovasi nasional (SINas) yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. pihak industri hanya diposisikan untuk memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. 18 Tahun 2002 . maka tak akan ada lagi keraguan bahwa teknologi domestik akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan nasional dan standarisasi akan menyempurnakan upaya penguatan inovasi di Indonesia. misalnya dukungan pembiayaan dari pihak industri untuk kegiatan riset dapat dianggap sebagai bagian dari pembayaran pajak yang menjadi kewajibannya (tax deductible). 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. Strategi ini mencakup: (1) Sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi industri. Regulasi pemerintah dapat pula berupa insentif bagi kedua belah pihak untuk berkolaborasi. dan Difusi Teknologi. penerapan SNI diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan domestik tetapi juga untuk kepentingan perdagangan global. SNI telah memenuhi WTO Code of Good Practices. yakni dirumuskan berdasarkan asas keterbukaan (openess). Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak dalam bentuk pembiayaan bersama. masyarakat. Dalam PP No. 35 Tahun 2007 dinyatakan badan usaha yang mengalokasikan pendapatannya untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. Jika lintasan (pathway) ini ditempuh dengan baik. Inovasi. bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. inovasi. transparansi (transparency). koheren (coherence). Adanya rasa bangga dan percaya diri warga negara sebagai sumberdaya manusia penggerak pembangunan yang diimbangi dengan terciptanya lingkungan yang kondusif untuk berusaha. tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. (2) Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik. dimana insentif tersebut dapat berbentuk insentif perpajakan.

Kekeliruan persepsi sangat sering dan umum terjadi dalam konteks penilaian kinerja dan kontribusi inovasi.2. menstimulasi. 4. Kemampuan dan kemandirian pengembangan teknologi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata menjadi modal dasar implementasi penguatan inovasi di Indonesia. seluruh strategi harus dilaksanakan secara interaktif dan sinambung. yakni menganggap bahwa semakin maju teknologi yang dikuasai maka semakin baik penguasaan inovasi suatu negara. memanfaatkan sumberdaya alam nasional sebagai bahan baku atau tapak operasionalnya (operational site). Oleh sebab itu. Dengan demikian isu utamanya bukan terletak pada ada atau tidak adanya peranan teknologi dalam pembangunan nasional. serta mendekatkan hubungan dengan kelembagaan pendukung lainnya. Walaupun sudah cukup lama diwacanakan. dan (4) Dukungan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk memfasilitasi. bukan berdasarkan kecanggihan teknologi yang mampu dikembangkan. yang penting dilakukan adalah merancang inovasi nasional yang tepat. yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan upaya memberikan solusi atas permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. Keberhasilan membangun inovasi nasional hanya dapat dicapai jika semua strategi ini dapat dieksekusi dengan baik. Pengembangan teknologi nasional juga perlu mempertimbangkan secara cermat kapasitas adopsi pengguna teknologi dalam negeri. tetapi terletak pada bagaimana cara agar teknologi yang dikembangkan dapat efektif dan efisien dalam mendukung pembangunan nasional di semua sektor. Pengembangan teknologi nasional perlu mengutamakan pemberdayaan dan pendayagunaan sumberdaya manusia Indonesia sebagai tenaga penggeraknya. Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional Terlepas dari intensitas dan besaran (magnitude) kontribusinya. Perjalanan panjang tersebut perlu diawali dengan keberhasilan mengembangkan dan memperkuat inovasi nasional di Indonesia yang mampu mendorong peradaban dan menyejahterakan rakyat. Inovasi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata perlu didampingkan secara paralel dengan program pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas dan sensitif terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa dan kebutuhan 87 Naskah Akademik Perubahan UU No. Teknologi dengan warna Indonesia yang kental ini diyakini akan lebih berpeluang untuk mengalir lancar dari pihak atau lembaga pengembang teknologi ke pihak pengguna teknologi.5.(3) Vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh industri dalam negeri dan sebaliknya juga arus informasi kebutuhan teknologi kepada pihak pengembang teknologi. iptek akan selalu dibutuhkan dalam pembangunan semua sektor. dan mengakselerasi interaksi antar-aktor utama dalam penguatan inovasi nasional. Keberhasilan penguatan inovasi nasional akan ditakar dari kelancaran aliran teknologi (fluidity of technology flow). Oleh sebab itu. 18 Tahun 2002 . Keempat strategi ini mempunyai keterkaitan satu sama lain. tetapi membangun masyarakat berbasis pengetahuan kelihatannya masih akan menempuh perjalanan panjang.

terkendalinya dinamika politik.pembangunan nasional. Keamanan mempunyai dua dimensi yang berbeda. dan dapat dideteksi berdasarkan persepsi indera penglihatan dan pendengaran ( audiovisual perception). dan [2] kondisi aman yang lebih bersifat eksternal. efektif dan produktif. minimalisasi dampak negatif dari gejolak masyarakat. misalnya dalam bentuk demonstrasi anarkis. jumlah patent yang didaftarkan atau diperoleh (granted). Ilmu statistik merupakan alat yang ‘handy’ untuk pekerjaan ini. terjaminnya keberlangsungan proses demokratisasi. Selain itu. dan sulit dideteksi. Hasil akhir yang diharapkan dari segala bentuk upaya dalam pengembangan dan penguatan inovasi adalah peningkatan kesejahteraan rakyat. Indikator-antara tersebut sesungguhnya baru melingkupi sisi pengembang teknologi. dengan ekstensi pada kapabilitas lembaga pengembang teknologi tersebut untuk merangkul mitra potensialnya. dan terjaminnya kondisi yang kondusif untuk berinvestasi. indikator lainnya dalam pengembangan dan penguatan inovasi nasional adalah terjaminnya keamanan nasional. Asumsi-asumsi tersebut umumnya diuji berdasarkan korelasi masingmasing indikator-antara yang dianggap berhubungan. Beberapa indikator-antara yang sering digunakan dalam mengevaluasi kehandalan penguatan inovasi antara lain: jumlah publikasi ilmiah per juta penduduk. Nilai-nilai positif atau kecenderungan peningkatan yang ditunjukkan oleh semua indikator-antara belum dapat secara otomatis diekstrapolasikan untuk sampai pada kesimpulan bahwa upaya pengembangan dan penguatan inovasi telah berjalan baik. 18 Tahun 2002 . semua indikator-antara hanya dapat dilihat sebagai titik-titik yang tercerai berai dan ‘diasumsikan’ terhubung satu sama lain oleh garis-garis imajiner yang diyakini sebagai bagian dari sistem tersebut. dan persentase penerimaan univesitas yang berasal dari sumber non-pemerintah yang terkait dengan aktivitas dan hasil riset. jumlah kerjasama penelitian antara universitas dan industri. sebaliknya ukuran baku tentang tingkat keamanan nasional masih belum banyak dibahas. Indikator keberhasilan dalam menciptakan kondisi aman antara lain: tidak terjadinya gerakan separatisme di wilayah NKRI. yakni: [1] rasa aman yang lebih bersifat internal. subyek survei atau risetnya adalah industri-industri yang bergerak dalam berbagai sektor. personal. Indikator di kelompok ini antara lain: alokasi dana oleh industri untuk kegiatan riset internal perusahaan atau untuk mendukung 88 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi upaya kuantifikasi tingkat kesejahteraan rakyat lebih berkembang dan diterima secara luas. yakni kondisi aman. kolektif. Indikator-antara lainnya dilihat dari sisi pengguna teknologi. Jika kedua hal ini dilakukan secara serasi dan saling mendukung maka cita-cita untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan diyakini dapat terwujud. jumlah publikasi yang ditulis bersama oleh akademisi dan pelaku industri (co-authored publication). yang dapat mengganggu kegiatan produktif. Dalam mengevaluasi suatu sistem yang utuh. mobilitas sumberdaya manusia antara kelembagaan riset atau universitas dengan industri. besarnya penerimaan universitas atau lembaga riset yang berasal dari royalti. Akan lebih realistis jika indikator keberhasilan implementasi inovasi nasional hanya didasarkan atas keamanan dimensi kedua. Meskipun ukuran kesejahteraan rakyat dan keamanan nasional bersifat relatif.

Namun demikian. bukan pertumbuhan ekonomi semata. Banyak juga kajian mengenai inovasi yang telah dilakukan menggunakan indikator parsial ini. Total Factor Productivity (TFP) telah digunakan beberapa ekonom sebagai proxy untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. 18 Tahun 2002 . indikator utama keberhasilan pengembangan dan implementasi inovasi hanya dua. indikator keberhasilan pengembangan inovasi nasional menjadi kurang bermakna jika difragmentasi menjadi indikator-indikator antara atau indikator yang bersifat parsial. karena hanya mampu menjelaskan secara ‘segmented’. sisanya (residu) merupakan kontribusi faktor bukan modal maupun tenaga kerja yang disimpulkan sebagai kontribusi dari faktor teknologi. tetapi hasilnya seringkali tidak atau kurang memuaskan. Kemampuan dan tumbuhnya budaya masyarakat untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge-based society) dapat pula digunakan sebagai indikator tambahan untuk mengevaluasi performa penguatan inovasi di Indonesia. yakni modal dan tenaga kerja. perlu diingat kembali bahwa ukuran kinerja inovasi adalah kesejahteraan rakyat. Banyak indikator keberhasilan yang dapat digunakan dalam mengevaluasi kinerja pada masingmasing komponen atau tahapan penguatan inovasi nasional. preferensi industri untuk mengembangkan teknologi sendiri atau membeli teknologi yang sudah mapan (established). Walaupun tentunya. Aspek Filosofis 89 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni peningkatan kesejahteraan rakyat dan terciptanya kondisi keamanan nasional. walaupun secara teknis inovasi nasional dapat dibongkar menjadi empat komponen. Indikator lainnya yang dapat ditambahkan adalah tingkat kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan teknologi untuk pembangunan perekonomian dan pembangunan hankam.3. Indikator-antara yang digunakan baik dari sisi pengembang maupun pengguna teknologi memang telah mengarah pada upaya menakar ‘potensi’ kedua b elah pihak untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. adopsi teknologi untuk proses produksi barang dan jasa. Sebagai suatu sistem. yakni: pengembangan teknologi. Dengan demikian untuk Indonesia. 4. dan konsumsi atau penggunaan produk akhir oleh konsumen. difusi teknologi dari pengembang ke pengguna.kegiatan riset di universitas dan lembaga riset eksternal. identifikasi sumber informasi yang dianggap penting oleh industri dalam mengembangkan produk komersial. interpretasi atas indikator-antara ini harus dilakukan dengan hati-hati. Pendekatan parsial biasanya hanya mengarah untuk menghasilkan justifikasi bahwa suatu negara sebetulnya sudah melakukan upaya (dan telah ada tanda-tanda perbaikan) walaupun hasilnya belum memuaskan. sehingga perlu dilengkapi pula dengan pola distribusi pendapatan. Dasarnya adalah pertumbuhan ekonomi terjadi atas kontribusi dari dua faktor utama.

atau lembaga intra-universitas yang tidak dicatat sebagai penerimaan resmi universitas. seperti Amerika Serikat. terutama antara universitas atau lembaga riset dengan pelaku industri.Secara umum syarat filosofis dalam penyusunan peraturan perundang-undangan adalah apabila peraturan perundang-undangan dapat diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. antara lain dengan mengevaluasi: [1] porsi pendapatan universitas atau lembaga riset yang berasal dari kerjasama dengan industri dalam melakukan riset. keanggotaan OECD telah bertambah dengan beberapa negara Eropa Timur. Di Indonesia data seperti ini tidak mudah untuk didapatkan. Australia. peranan inovasi nasional dalam pembangunan perekonomian sangat ditentukan oleh intensitas dan kualitas interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya. Korea. Untuk menaksir intensitas interaksi tersebut. yakni 12. 1995). atau sesuai dengan nilai-nilai positif yang tertinggi. Namun saat ini. Pengembangan inovasi nasional pada negara-negara OECD dan kajian akademik yang dilakukan oleh kelembagaan OECD telah menjadi referensi penting bagi dunia dalam memperlajari tentang upaya penguatan inovasi nasional dan kontribusinya bagi pembangunan perekonomian.3. kelompok. dan [4] timbangan industri terhadap universitas dan lembaga riset sebagai sumber informasi/pengetahuan untuk pengembangan produk inovatif. tetapi juga terjadi pada universitas di negara yang maju. Nilai-nilai ini menjadi cita-cita hukum dan tujuan negara bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.4 persen pada tahun 1992 (Hertog. 1996). Jepang. Di Inggris. Dinamika Lingkungan Global Negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah lama memposisikan Sistem Inovasi Nasional (SINas) sebagai strategi penting dalam memajukan perekonomian melalui pemanfaatkan keunggulan teknologi negara masing-masing. walaupun persentasenya masih relatif rendah. [3] jumlah paten universitas atau lembaga riset yang dikomersialisasikan oleh industri. dan Meksiko. karena ternyata bukan hanya perguruan tinggi dan lembaga riset di negara yang belum maju teknologinya saja yang ‘malas’ mendaftarkan paten. Selandia Baru.1. Hasil kajian Rosenberg dan Nelson (1994) terkait dengan jumlah paten universitas patut untuk disimak. 18 Tahun 2002 . Inisiatif pendirian OECD dilakukan oleh beberapa negara Eropa Barat plus Turki dan Amerika Serikat. publikasi ilmiah yang ditulis bersama (co-authored) oleh peneliti universitas atau lembaga riset pemerintah dengan personel yang mewakili institusi bisnis terlihat secara konsisten meningkat antara tahun 1981 sampai 1994 (Hicks and Katz. dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. karena banyak kegiatan riset yang dilakukan industri bersama akademisi secara individual.2 persen pada tahun 1989 meningkat menjadi 17. 4. Hasil survei yang dilakukan di Belanda selama periode 1989-1992 menunjukkan bahwa pendapatan universitas yang berasal dari kerjasama riset dengan pihak industri secara konsisten meningkat. Publikasi yang ditulis bersama ini diasumsikan berakar pada hasil kolaborasi riset antara kedua pihak tersebut. yakni hanya 90 Naskah Akademik Perubahan UU No. Persentase paten universitas di Amerika Serikat secara relatif juga rendah. [2] jumlah paten dan publikasi bersama antara akademisi dan pelaku industri.

pemasok bahan baku atau komponen. 18 Tahun 2002 . Kelembagaan riset pemerintah (termasuk universitas) dianggap penting oleh mayoritas (>50%) pelaku industri untuk bidang fasilitas layanan publik (utilities) dan pharmaseutikal. termasuk konsumen. komputer. dan [4] sumber informasi umum seperti konferensi. Di Jepang ternyata kerjasama informal antar-kelembagaan bisnis berperan penting dalam keberhasilan pengembangan teknologi. tetapi sebaliknya mayoritas pelaku industri menganggap peranannya kurang penting untuk bidang-bidang lainnya. perminyakan. juga menunjukkan bahwa kolaborasi antar-perusahaan mampu meningkatkan penjualan untuk hampir semua produk yang dihasil melalui kolaborasi tersebut. pameran. 1996).000 kesepakatan kerjasama yang melibatkan lebih dari 6. Kajian yang sama di Jerman. [3] lembaga riset pemerintah dan universitas. Malerba (1996) menganalisis 13 sumber informasi yang dianggap relevan untuk upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. Kerjasama terbukti mampu meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengadopsi teknologi yang bermanfaat (OECD. pertemuan bisnis. permesinan. teknologi informasi dan komunikasi. [2] bersumber dari pasar. disingkat CATI) yang mencakup hampir 13.000 perusahaan (OECD. logam dasar. pangan. Kolaborasi antar-lembaga bisnis memberikan sumbangan terhadap kinerja inovatif perusahaan di Norwegia dan Finlandia. Walaupun persentasenya rendah. bahan kimia. Sumber informasi tersebut dikelompokkan menjadi 4 kelompok. informasi paten. Hasil survei yang dilakukan oleh The Maastricht Economic Research Institute on Innovation and Technology (MERIT) memberikan gambaran tentang bagaimana pihak industri di negara-negara Eropa menilai peran universitas atau kelembagaan riset pemerintah. telekomunikasi. dan konsultan. dan teknologi material baru) meningkat di Amerika Serikat. tapi jumlah aktualnya tentu tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah paten universitas dan lembaga riset di Indonesia. yakni: [1] sumber informasi dari dalam kelembagaan bisnis sendiri. otomotif. elektronik. 1997). Porsi paten yang lebih besar berasal dari industri atau pihak non-universitas lainnya.7 persen untuk bidang komunikasi sampai 18. plastik. dimana produk baru yang dihasilkan dari kolaborasi mampu meningkatkan penjualan. termasuk logam olahan (fabricated metals). Data yang terkumpul selama periode 1980-1994 dalam studi ini menunjukkan bahwa kerjasama teknis untuk bidang-bidang tertentu (bioteknologi. dan kedirgantaraan (aerospace). tetapi di Jepang dan Eropa kerjasama serupa tidak menunjukkan perubahan yang berarti (Haagedoorn. instrumen.000 industri manufaktur di Eropah. 91 Naskah Akademik Perubahan UU No. 1997). Data yang digunakan oleh Malerba (1996) berasal dari hasil Community Innovation Survey (CIS) antara 1991 sampai 1993 yang dilaksanakan atas inisiatif bersama Komisi Eropa dan Eurostat terhadap 40. MERIT telah mengembangkan database kesepakatan kerjasama dan indikator teknologi (Co-operative Agreements and Technology Indicators. Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber informasi yang paling penting ternyata berasal dari pelanggan/konsumen dan sumber internal perusahaan. sedangkan informasi yang dianggap tidak penting adalah berasal dari lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi.1 persen untuk bidang rekayasa genetika.berkisar antara 0.

Tantangan dan ancaman ini perlu dijawab dan/atau ditangkal dengan mewujudkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia yang handal. Dalam konteks kemajuan inovasi saat ini. berbasis sumberdaya nasional. 4. Selain itu. sebaliknya bisa menjadi sumber spillover teknologi.3 54 Malaysia 63 32. paling tidak untuk referensi. budaya dan politik. Fakta ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi komunitas akademik dan peneliti Indonesia untuk melakukan reorientasi prioritas risetnya agar tidak semakin terkucil dari skenario global pengembangan inovasi. Malaysia dan Thailand pada lapisan tengah. Kondisi lingkungan strategis perlu mendapat perhatian.2. Thailand. komunitas akademik dan peneliti Indonesia tidak dapat lagi mengabaikan ancaman penjajahan teknologi asing dalam bentuk banjir produk barang dan jasa impor yang melanda pasar domestik dan invasi Multi National Company (MNC). Posisi Indonesia tersebut didasarkan atas beberapa indikator hasil analisis yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional (Tabel 6). baik secara langsung maupun dalam bentuk produknya.5 21 Thailand 78 42. sedangkan Indonesia. Dinamika Lingkungan Regional Dinamika lingkungan strategis pada tingkat dunia akan berpengaruh bagi perkembangan inovasi nasional di Indonesia. Pergeseran yang wajib dilakukan adalah menambah porsi goal-oriented atau demand-driven research dalam grand scenario pengembangan riset dan teknologi. Filipina. dan negara-negara ASEAN lainnya berada pada lapisan bawah. 2007 Indonesia 107 17. digerakkan dengan motor teknologi domestik. Namun demikian.Hasil ini bertentangan dengan anggapan yang umumnya dianut banyak pihak di Indonesia bahwa perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai motor penggerak utama untuk tumbuh dan berkembangnya inovasi nasional. maka dinamika lingkungan strategis pada tingkat regional Asia Tenggara (ASEAN) perlu mendapat perhatian yang lebih intensif. ekonomi. 2007 Peringkat Daya Saing.3. Potensi pengembangan inovasi nasional Indonesia berdasarkan beberapa indikator akademik dibandingkan dengan Malaysia. 2007/08 Angka Partisipasi Kasar. 18 Tahun 2002 . negara-negara ASEAN dapat dibagi dari tiga lapisan: Singapura berada pada lapisan atas. Kehadiran MNC dapat menjadi ancaman bagi upaya pengembangan teknologi nasional jika tidak dibangun hubungan yang sinergis mutualistik dengan MNC tersebut. dan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. dan Singapura Indikator Peringkat HDI. Kemandirian teknologi merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan dan ancaman tersebut.7 28 Singapura 7 92 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tabel 6. Vietnam. berdasarkan kedekatan posisi geografis dan intensitas hubungan sosial.

2009). Peringkat Daya Saing dari Laporan World Economic Forum (Suhardi. maka Indonesia dapat menjadi pemasok barang dan jasa. Kemajuan inovasi suatu negara dapat ditaksir berdasarkan beberapa indikator.3. 2009). merupakan mitra komplementer untuk pembangunan perekonomian nasional. Untuk kawasan ASEAN pun masih perlu perjuangan keras agar dapat menjadi yang terdepan. Indeks Daya Serap Teknologi. Indeks Daya Serap Teknologi. 2009). serta kendala non-teknologi lainnya juga memerlukan perhatian. 18 Tahun 2002 Struktur perekonomian negara-negara ASEAN secara umum relatif sama. Indeks Kerjasama Riset (Warsono. Berbagai alasan dan argumen yang menyertainya telah dijabarkan sebelumnya. Singapura yang lebih maju di sektor perdagangan.6 178 5.Indeks Daya Serap Teknologi. Aspek yang akan ditelaah lebih mendalam adalah interaksinya dengan dinamika lingkungan strategis yang sedang berkembang saat ini dan kecenderungan perubahan lingkungan strategis tersebut di masa yang akan datang. 2008d). Hal ini disebabkan belum terjadinya aliran teknologi yang signifikan dari pihak pengembangan teknologi ke pihak pengguna teknologi.6 1072 6. Dinamika Lingkungan Nasional Saat ini kontribusi teknologi pada tingkat nasional masih belum optimal. Negara ASEAN umumnya masih mengandalkan sektor pertanian komoditas hasil eksploitasi kekayaan alamnya. Indeks Kerjasama Riset.2 41. . dan publikasi ilmiah dari Laporan World Bank (Suhardi. kualitas sumberdaya manusia yang secara umum masih belum kompetitif. serta sekaligus memanfaatkan bahan baku yang dihasilkan negara-negara di kawasan ASEAN. 4.4 520 5. Paten USPTO. kecuali Singapura.8 16. 2003 4. 2003 Paten USPTO. Secara menyeluruh gambaran postur perkembangan inovasi di Indonesia masih jauh dari memuaskan. Hal ini tergantung kemampuan Indonesia dalam mewujudkan inovasi nasional. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dari Depdiknas (Lakitan. 2001/05 Publikasi Ilmiah. dan industri jasa keuangan. aliran teknologi antara pengembang dan pengguna yang masih tersendat.0 409. Paten Terdaftar.3. Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang pendidikan tinggi. Negara-negara ASEAN lainnya dapat menjadi kompetitor dan sekaligus mitra strategis yang potensial. Jika Indonesia mampu mengembangkan industri barang dan jasa berbasis teknologi nasional yang kompetitif.3 4. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius agar ketergantungan pada negara tetangga ini dapat dikurangi agar posisi Indonesia lebih kompetitif.8 4. antara lain Indeks Pembangunan Manusia (HDI).5 2. Perubahan lingkungan strategis di 93 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Jumlah Publikasi Ilmiah (Tabel 6). Disamping itu. Indeks Daya Saing Global.4 3122 Sumber: Peringkat Human Development Index (HDI) dari Laporan UNDP (Hasta. 2009). industri pengolahan. Untuk kondisi saat ini. mungkin dapat dikatakan masih berada pada posisi yang sangat minimal. Pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) dapat dikatakan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. 2003 Indeks Kerjasama Riset.9 74.

Salah satu modal utama pembangunan Indonesia sampai saat ini berasal dari kekayaan sumberdaya alam yang bersifat tak-terbarukan (non-renewable resources). Kadiman. Perubahan lingkungan strategis ke arah yang lebih kondusif ini perlu dimulai dari setiap komponen bangsa di lembaga eksekutif. Hal ini kemudian dituangkan dalam bentuk regulasi yang mengikat semua pihak untuk mematuhi dan berperan aktif dalam implementasinya. dan skenario dengan upaya percepatan perubahan ke arah yang lebih kondusif untuk berkembangnya inovasi nasional. Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian 2006. 18 Tahun 2002 . penguatan inovasi diharapkan akan terjadi dan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian dapat ditingkatkan. Jika kecenderungan yang telah berlangsung sekitar setengah abad ini tidak diimbangi dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukan reorientasi kebijakan pengembangan teknologi dan industri. menghitung kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan proxy indikator Total Factor Productivity (TFP) dan mendapatkan bahwa TFP Indonesia hanya sebesar 1. 2009a. maka pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak akan pernah membaik. Artinya sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih didominasi faktor di luar teknologi.masa depan akan direka berdasarkan dua ekstrim skenario.38 persen. Perubahan lingkungan strategis tersebut. dengan TFP sebesar 4 persen. Tanpa melakukan upaya mendorong agar teknologi domestik lebih sesuai untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan pembangunan ekonomi nasional dan tanpa upaya mendorong industri untuk lebih memprioritaskan penggunaan teknologi domestik dan memproduksi barang dan jasa sesuai kebutuhan pasar domestik. Selanjutnya Firdausy (2009b) menyebutkan bahwa kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia paling tinggi terjadi pada periode 1991-1995. Agaknya tidak berlebihan atau terkesan pesimistik jika disimpulkan bahwa inovasi tidak akan tumbuh berkembang jika tidak terjadi perubahan lingkungan strategis yang mengarah kepada terwujudnya ekosistem yang lebih kondusif untuk tumbuh-kembang sistem inovasi nasional (SINas). Pengetahuan hanya bisa ditranslasi menjadi pertumbuhan ekonomi jika terlebih dahulu mampu menghasilkan teknologi yang dibutuhkan pengguna teknologi untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan. yakni skenario ‘business-as-usual’. tetapi 94 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni modal dan tenaga kerja (Firdausy. bahkan mungkin semakin terpuruk. melanjutkan kecederungan yang sedang terjadi saat ini dengan tanpa upaya mendorong perubahan ke arah yang diinginkan. yang suatu saat akan habis. Skenario business-as-usual jelas tidak akan mampu mendukung pengembangan inovasi nasional. 2009). dan yudikatif. maka upaya menumbuhkan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) tidak akan pernah terwujud. legislatif. termasuk: (1) Mengubah orientasi pendidikan nasional yang diterapkan melalui kurikulum pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik. Hanya dengan melakukan perubahan secara agresif-dan-terarah (agressive and welldirected) terhadap lingkungan strategis.

Keteladanan tokoh pemerintahan dan masyarakat dalam mendorong kecintaan dan kebanggaan atas produk nasional merupakan salah satu cara yang diyakini efektif. Semangat perubahan pendekatan pembangunan perekonomian tersebut tercermin dari: [1] MP3EI mengedepankan terobosan kebijakan dan strategi. dimana titik berat pendekatan terletak pada solusi. Pada tahun 2011 ini terjadi perkembangan yang positif. yaitu: [1] pengembangan potensi ekonomi pada enam koridor pembangunan. bukan pada masalah yang dihadapi. Dalam struktur KP3EI ini terdapat tiga Kelompok Kerja. dan lembaga penunjang lainnya untuk secara 95 Naskah Akademik Perubahan UU No. Keberadaan Pokja SDM dan Iptek ini membuka peluang bagi Kementerian Riset dan Teknologi. yakni: [1] Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi. [2] memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi untuk revitalisasi kinerja sektor riil. swasta nasional. tiga strategi utama dikembangkan dalam pelaksanaan MP3EI.juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap permasalahan dan kebutuhan pembangunan nasional. yang didorong melalui pengembangan SDM dan iptek yang sesuai untuk peningkatan daya saing. Dengan diluncurkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). pembangunan perekonomian tidak lagi dilakukan dengan pendekatan yang bersifat ‘Business as Not Usual’. dengan cara meningkatkan kualitas barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri ( Made in Indonesia) yang dibarengi dengan harga yang lebih kompetitif. dan (4) Menerbitkan regulasi yang lebih ‘favorable’ untuk pengembangan teknologi nasional dan untuk mendukung peningkatan market share produk nasional di pasar domestik. maupun di lembaga lainnya di badan usaha. mendorong investasi. (3) Mengubah citra produk nasional di mata konsumen dalam negeri. menjadi ‘pengelolaan’ sumberdaya alam yang lebih efisien dan akrab lingkungan. [2] MP3EI menitikberatkan pada percepatan transformasi ekonomi melalui peningkatan nilai tambah (value added). 18 Tahun 2002 . mengintegrasikan sektor dan regional. dan unsur kelembagaan iptek di perguruan tinggi. (2) Perlu menggeser paradigma ‘eksploitasi’ kekayaan sumberdaya alam sebagai cara cepatdan-mudah untuk meningkatkan pendapatan negara (orientasi jangka pendek). sehingga dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ekonomi dan ekologi yang lebih maksimal (orientasi jangka panjang). 32 Tahun 2011. [2] Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur. dalam upaya penguasaan dan pemanfaatan iptek. lembaga penelitian dan pengembangan. dibentuk pula Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah. Untuk melaksanakan MP3EI yang didasarkan pada Perpres No. masyarakat. dengan cara mendorong investasi BUMN. Relevansi dan mutu pendidikan harus menjadi tujuan utama penyelenggaraan pendidikan pada semua strata. dan Foreign Direct Investment (FDI) pada 22 kegiatan ekonomi utama. dan [3] MP3EI mengakomodir masukan dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan. dan [3] Pokja SDM dan Iptek. serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya. dan [3] pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi. Untuk itu.

96 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 .lebih signifikan dapat berkontribusi terhadap pembangunan perekonomian Indonesia. Secara teknis operasional. ini berarti upaya penguatan inovasi nasional di Indonesia mendapat pijakan yang lebih mantap.

Namun persoalannya adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya di Indonesia. Sekumpulan aktor SINas yang hebat. kehandalan SINas sesungguhnya ditentukan oleh kelancaran aliran 97 Naskah Akademik Perubahan UU No. belum menjamin bahwa negara yang bersangkutan akan secara otomatis memiliki SINas yang produktif dan berkelanjutan. baik yang berperan sebagai pengembang maupun pengguna teknologi yang dimiliki suatu negara.1. Arah Pengaturan. tercerabut dari ekosistem dimana sistem inovasi nasional (SINas) mampu unjuk kinerja dengan sangat baik. Namun demikian upaya untuk mengadopsi secara langsung konsepsi inovasi nasional di negara yang secara ekonomi lebih berhasil untuk diterapkan di negara lainnya seringkali mengalami kegagalan. dukungan dari berbagai aktor pendukungnya. 18 Tahun 2002. Kalaupun dilakukan analisis. sering menjadi reference utama dalam pengembangan kebijakan inovasi. mengabaikan fakta adanya perbedaan yang tajam antara negara yang dicontoh dengan realita di Indonesia. . kebijakan inovasi nasional umumnya telah dipublikasikan secara luas. 18 Tahun 2002 Di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD. Untuk itu akan diuraikan dalam bab ini mengenai arah dan jangkauan kebijakan penguatan inovasi nasional. dan Ruang Lingkup Materi Muatan RUU Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 Sangat mudah untuk menyatakan bahwa pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) merupakan upaya mendorong peningkatan inovasi secara nasional agar secara nyata memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan rakyat. serta ruang lingkup materi muatan rancangan undang-undang tentang perubahan UU No. Demikian halnya. Secara praktis.Bab 5 Jangkauan. Strategi keberhasilan negara-negara tertentu. Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Pejabat negara dan kadang juga akademisi yang (dianggap) pakar di bidang penguatan inovasi juga ikut melakukan upaya adopsi langsung ini tanpa melakukan analisis yang mendalam mengapa pengembangan konsepsi inovasi tertentu berhasil memajukan perekonomian di negara asalnya. dan kondusivitas ekosistem tempat tumbuhkembangnya. Kehandalan SINas sebagai sebuah sistem lebih ditentukan oleh intensitas dan efektivitas interaksi antara aktor-aktor utamanya. 5. Pengembangan SINas tidak hanya merupakan sekumpulan aktor. maka seringkali pengembangan inovasi dianalisis secara terisolir.

informasi kebutuhan (demand) dari para aktor pengguna ke pengembang teknologi, yang diimbangi dengan kelancaran pasokan teknologi yang relevan dari aktor pengembang ke pengguna teknologi. Secara komprehensif, SINas merupakan sistem yang kompleks. Walaupun untuk simplifikasi dalam analisisnya unsur-unsur SINas dapat diurai lepas satu per satu, namun analisis hanya akan sahih jika masing-masing unsurnya tersebut selalu dilihat dari perpektif keterkaitannya dengan unsur SINas lainnya. Alur keterkaitan SINas dengan komponen pembentuk ekosistemnya dapat dilihat pada Gambar 6.

POTENSI SUMBERDAYA EKONOMI [Tangible Factors]  Sumberdaya Alam  Sumberdaya Manusia  Infrastruktur

POTENSI SOSIO-KULTURAL

[Intangible Factors]  Ideologi  Politik  Tata Kepemerintahan  Budaya Kerja

PERAN POKOK PEMERINTAH Memformulasikan kebijakan pendukung SINas berbasis pada Potensi Sumber daya Ekonomi dan Potensi SosioKultural dalam rangka penyiapan “Panggung SINas”, terutama kebijakan:  Perekonomian makro, keuangan, dan perpajakan  Perindustrian dan Perdagangan  Riset dan Pengembangan Teknologi  Ketenagakerjaan  Pendidikan Nasional  Infrastruktur Sosial  Tata Kepemerintahan

PENGEMBANG TEKNOLOGI  Perguruan Tinggi  Lembaga R&D Pemerintah  Lembaga R&D Swasta

PENGGUNA PASAR TEKNOLOGI  Domestik  Industri /  Global Bisnis  Masyarakat  Pemerintah Barang/Jasa Permintaan

LEMBAGA INTERMEDIASI

PANGGUNG SINAS  Fasiltas Komunikasi & Interaksi  Regulasi yang Kondusif  Dukungan & Insentif Finansial

Gambar 6. Peran Pemerintah dalam menyiapkan ‘panggung’ Sistem Inovasi Indonesia

Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Panggung SINas sebagai konsepsi dapat diaktualisasikan dalam bentuk: [1] fasilitas untuk para aktor berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif, [2] regulasi yang memungkinkan para aktor untuk memformulasikan dan mengimplementasikan upaya bersama dalam meningkatkan produktivitas, dan [3] dukungan dan/atau insentif finansial yang menjadi perangsang bagi para aktor untuk bersama-sama membangun dan memperkuat inovasi nasional. Panggung SINas yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro, keuangan, dan perpajakan; kebijakan perindustrian dan perdagangan; kebijakan riset dan pengembangan teknologi; kebijakan ketenagakerjaan; kebijakan pendidikan nasional; kebijakan penyediaan infrastruktur sosial; dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Kebijakan tersebut selain harus selaras dengan upaya mewujudkan SINas, juga harus berbasis pada potensi sumberdaya ekonomi dan potensi sosial budaya yang dimiliki Indonesia.

98

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Kebijakan yang tidak mengakar pada potensi dan kondisi sendiri akan lebih susah untuk secara efektif diimplementasikan. Dengan demikian tugas pokok pemerintah yang paling krusial adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung SINas yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. Kinerja aktor-aktor SINas pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik), baik berupa barang maupun jasa. Oleh sebab itu, peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ SINas, tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik.27

5.1.1. Membangun Inovasi sebagai Sistem Sebagai sebuah sistem, pengembangan inovasi nasional tidak dapat dipandang hanya sebagai kumpulan dari lembaga, tetapi yang lebih penting adalah terjadinya aliran informasi dan produk iptek yang lancar antar-lembaga. Keberadaan aktor atau kelembagaan pengembang dan pengguna teknologi, serta upaya fasilitasi, intermediasi, dan regulasi pemerintah belum menjamin bahwa sistem inovasi sudah terbangun atau pasti akan berjalan. Pada saat ini sesungguhnya para aktor dan lembaga-lembaga tersebut sudah ada, tetapi interaksi dan komunikasinya belum intensif dan produktif. Ini yang menjadi persoalan pokok saat ini. Pengembang teknologi (termasuk perguruan tinggi) melakukan kegiatan riset tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan kebutuhan pengguna; sebaliknya pengguna teknologi belum mau mengadopsi teknologi dalam negeri karena berbagai alasan, antara lain karena tidak relevan dengan kebutuhan, belum cukup handal secara teknis, tidak sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna, dan/atau belum kompetitif secara ekonomi. Untuk memperbesar peluang terwujudnya sistem inovasi, maka para pengguna teknologi harus terbuka untuk berbagi informasi tentang kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi; sebaliknya juga pihak pengembang teknologi harus peka terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang berkembang dan umumnya bersifat dinamis. Teknologi yang dikembangkan selain harus relevan dengan kebutuhan pengguna, juga harus sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya, baik kapasitas adopsinya secara teknis, ekonomi, dan sosiokultural (Gambar 7).

27

Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada beberapa kesempatan. Berbagai negara, juga melihat populasi Indonesia yang besar, lebih dari 237 juta jiwa (BPS, 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial.

99

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Gambar 7. Konsepsi Dasar Sistem Inovasi Nasional (Lakitan, 2010)

Lembaga litbang sebagai pengembang iptek perlu: [1] mengevaluasi kembali tentang kesesuaian orientasi pengembangan iptek dengan kebutuhan rakyat dan negara (isu relevansi riset); dan [2] meningkatkan pemaham tentang kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi rakyat dan negara (isu sensitivitas pelaku pengembang iptek); sebaliknya lembaga pengguna teknologi perlu meningkatkan kapasitas adopsinya dan kesediaannya dalam berbagi informasi kebutuhan dan persoalan terkait dengan teknologi. Perlu selalu diyakini bahwa iptek hanya akan berkontribusi terhadap pembangunan nasional, apabila iptek digunakan dan nyata bermanfaat, baik manfaat ekonomi maupun non-ekonomi. Prasyarat agar aliran teknologi ini terjadi adalah: [1] teknologi yang dikembangkan dan ditawarkan oleh lembaga litbang relevan dengan kebutuhan pengguna; [2] teknologi yang ditawarkan sepadan dengan

100

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Dalam konteks pengembangan SINas, maka mutlak perlu terjadi aliran informasi kebutuhan iptek dan persoalan nyata yang membutuhkan solusi iptek dari pihak pengguna ke pihak pengembang iptek. Prasyarat agar aliran ini terjadi adalah [1] keterbukaan atau keinginan dari pihak pengguna untuk berbagi informasi dan [2] sensitivitas pihak pengembang iptek dalam menangkap sinyal kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi pihak pengguna iptek. Keyakinan pihak pengguna atas kapasitas lembaga pengembang iptek dalam menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang sesuai kebutuhan, handal secara teknis, dan kompetitif secara ekonomi akan menjadi pemicu terjadinya aliran informasi dimaksud. Jika saat ini aliran tersebut masih tersendat, maka adalah bijak jika kedua belah pihak melakukan swa-evaluasi (self assessment), mencermati tentang apa yang perlu dibenahi di wilayah peran masing-masing. Lembaga litbang dan lembaga pengguna teknologi perlu melakukan pembenahan.

101 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan regulator agar suasana yang kondusif dapat diwujudkan. disajikan pada Tabel 7. serta sebaliknya juga terjadi adopsi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengembang oleh pihak pengguna. [2] kapasitas untuk melakukan riset dan pengembangan iptek (R&D capacity). maupun kawasan ekonomi tertentu. Pada fase awal (seperti kondisi saat ini). agar pengguna dan pengembang iptek terangsang untuk mengintensifkan komunikasi dan interaksinya. Secara hakiki. intermediator.kapasitas adopsi (calon) pengguna potensialnya. Sedangkan kapasitas diseminasi terlihat dari intensitas dan jangkauan publikasi kegiatan riset yang dilakukan dan iptek yang dihasilkan baik melalui media cetak maupun elektronik. daerah. dan produktivitas lembaga dalam menghasilkan teknologi per satuan sumberdaya dan/atau biaya yang dikelola. dan [3] penggunaan iptek tersebut mempunyai prospek keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan iptek serupa yang sudah tersedia. kuantitas dan kualitas iptek yang diadopsi oleh pihak pengguna. 5. sistem inovasi hanya akan terwujud jika terjadi komunikasi dan interaksi antara aktor atau lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. Kesinambungan aliran dua arah ini yang menjadi indikator eksistensi sistem inovasi. Kapasitas ‘outsourcing’ lembaga pengembang teknologi terindikasi antara lain dari aksesibilitas ke berbagai sumber informasi iptek. terbukti dengan adanya aliran informasi kebutuhan teknologi dan informasi tentang persoalan nyata yang dihadapi oleh pihak pengguna dalam melakukan proses produksi barang dan/atau jasa sesuai dengan permintaan konsumen. Contoh indikator kinerja lembaga litbang berbasis pada tiga kapasitas pokoknya. Kapasitas riset dan pengembangan tercermin dari kualitas riset dan iptek yang dihasilkan. menggerakkan aliran dua-arah ini akan membutuhkan daya yang besar dan upaya yang intensif. pada jenjang nasional. tidak terjadi tumpang tindih riset yang dilakukan dengan riset yang (telah) dilakukan di tempat lain. Oleh sebab itu. dan royalti yang diterima oleh lembaga atas produk teknologinya yang berhasil dikomersialisasikan. Revitalisasi Lembaga Pengembang Teknologi Pada saat ini. dan [3] kapasitas untuk mendiseminasikan pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan (disseminating capacity)(Gambar 8). Pemerintah diharapkan dapat memainkan peran sebagai fasilitator. butuh peran dan komitmen yang sungguh-sungguh dari Pemerintah. ada tiga kapasitas yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap lembaga pengembang teknologi.1. yakni: [1] kapasitas untuk menyerap iptek yang berasal dari luar (sourcing capacity). relevansi teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan nyata para pengguna. dan efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan iptek yang bermanfaat. 18 Tahun 2002 .2.

ketiga jenis kapasitas ini secara paralel dikembangkan dalam sebuah sistem yang terintegrasi. Strategi revitalisasi lembaga pengembang teknologi dikemas secara komprehensif dan integratif. tidak secara partial maupun tersegmentasi. 18 Tahun 2002 . 2011a) Tabel 7. Ukuran keberhasilan dan pilihan indikator yang digunakan dalam melakukan evaluasi kinerja lembaga 102 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tiga kapasitas yang harus dimilik lembaga litbang (Lakitan. Tiga kapasitas lembaga litbang dan contoh indikator kinerjanya Kapasitas Pokok Kapasitas Outsourcing Kapasitas Litbang Kapasitas Diseminasi Contoh Indikator Kinerja  Akses ke sumber informasi iptek  Tidak terjadi tumpang tindih dan replikasi riset  Efisiensi pemanfaatan sumberdaya  Jaringan kemitraan  Kualitas hasil litbang  Relevansi dengan kebutuhan/persoalan nyata  Produktivitas kelembagaan  Situs dan frekuensi pemutakhiran informasi  Publikasi ilmiah  Hasil riset yang dimanfaatkan pengguna  Royalti yang diterima Pada era inovasi yang terbuka ini.Gambar 8.

visi dan misi. sepanjang kurun waktu yang dibutuhkan untuk proses transformasi dari kondisi saat ini menjadi lembaga ideal yang diharapkan. teknologi. Oleh sebab itu. akan menjadi tantangan dan ujian yang paling sulit tetapi mutlak harus dilakukan. Peringatan dan nasehat seperti ini perlu secara serius diperhatikan oleh para pengelola lembaga pengembang teknologi di Indonesia. Dalam penggunaan indikator ini.pengembang teknologi perlu dikonstruksi secara cermat. serta tujuan dan sasarannya perlu disesuaikan. Langkah pertama dan kedua relatif tidak sulit untuk dilakukan. Keberhasilan pada dua langkah pertama akan sia-sia jika langkah ketiga ini tidak berhasil dilaksanakan. Rencana strategis dan rencana aksi lembaga perlu ditinjau ulang. Cara yang bijak adalah pahami secara komprehensif dan mendalam tentang lembaga pengembang teknologi Indonesia saat ini dan ekspektasi peran lembaga ini yang ideal di masa yang akan datang. Peringatan dari Loikkanen et al. baru kemudian memilih indikator yang pas untuk mengevaluasi kemajuan yang dicapai secara berkala dengan interval waktu yang rasional. Namun demikian tetap perlu dicermati. karena tidak secara otomatis menjamin indikator tersebut merupakan indikator yang paling pas untuk kondisi dan kepentingan Indonesia saat ini. 18 Tahun 2002 . Revitalisasi lembaga pengembang teknologi diyakini akan menempuh tiga langkah penting. we argue that frontiers and characteristics of STI indicators that were important last century may no longer be so relevant today and indeed may even be positively misleading” (Freeman and Soete. perlu 103 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2009) perlu mendapat perhatian: “Although useful in benchmarking of country performances. Lembaga pengembang teknologi di Indonesia juga perlu melakukan reformasi. atau yang hanya bersifat sebagai academic exercise. yakni SINas. yakni mengubah mindset dan budaya kerja individu peneliti dan komunitas pengembang litbang. dan inovasi (STI) berikut ini: “On the basis of 40 years of indicators work. Apalagi individu-individu dalam komunitas pengembang teknologi selama ini terbiasa dan lebih nyaman berkerja secara individual dibandingkan sebagai bagian dari kelompok atau komunitas yang lebih besar. Kegiatan riset yang cenderung untuk prestasi akademik semata. 2009). yakni: [1] merumuskan kembali tujuan dan menetapkan sasaran yang ingin dicapai. dan [3] mengubah mindset dan budaya kerja komunitas pengembang teknologi. Boardman (2009) mengirimkan sinyal tentang tantangan yang sulit ini: [There is] a fundamental management task of aligning individual behaviors with [research] center goals and objectives. karena kasus ‘abuse’ indikator STI (dan data statistik lainnya) bukan merupakan kejadian langka di Indonesia. Lembaga pengembang teknologi saat ini merupakan bagian integral dari sistem yang lebih besar. sangat bijaksana nasehat yang dikemukakan oleh seorang tokoh inovasi dunia yang berkerja puluhan tahun untuk lembaga internasional ternama dalam mengembangkan indikator ilmu pengetahuan. if poorly constructed. maka langkah ketiga. [2] melakukan reformasi struktural agar organisasi lembaga dapat menjadi kendaraan yang efektif untuk mencapai tujuan. can convey misleading policy messages”. Indikator kinerja yang dikembangkan dan telah digunakan oleh lembaga internasional dengan reputasi baik serta telah diadopsi oleh berbagai negara. S&T indicators. dapat dijadikan sebagai referensi. agar transfer/difusi iptek dapat berjalan lebih lancar.

agar tidak terkecoh oleh gejala simptomatis (symptomatical problems) yang mungkin tertangkap pada kesan pertama. kerukunan umat beragama. Pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi sudah saatnya diperlakukan sebagai bagian dari investasi. Upaya penguatan kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu memperhatikan: [1] potensi internal (sumberdaya manusia. Kegiatan pengembangan teknologi dalam jangka panjang harus memberikan keuntungan yang sebanding dengan pembiayaannya. misalnya penyelenggaraan pemerintahan yang lebih bersih.3. atau challenge-driven. terutama karena regulasi yang kurang 104 Naskah Akademik Perubahan UU No. issue-driven. sarana dan prasarana pendukung) lembaga-lembaga pengguna teknologi sangat minimal. turunnya tingkat kriminalitas atau tumbuhnya rasa aman. yakni untuk menghasilkan iptek yang bermanfaat bagi umat maupun negara. Pemahaman yang tepat tentang akar persoalan yang menyebabkan lembaga pengguna teknologi Indonesia berada pada posisi saat ini akan sangat membantu. Namun demikian. Peningkatan Kapasitas Adopsi Lembaga Pengguna Teknologi Konsepsi peningkatan kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna berpeluang untuk diterapkan jika dibangun berdasarkan realita posisi saat ini. Untuk itu perlu kejelian dalam mengidentifikasi akar persoalan (fundamental problems). kemampuan pembiayaan. akibatnya motivasi untuk melakukan upaya peningkatan tersebut juga tidak tumbuh. Ragam istilah pendekatan pengembangan teknologi ini pada esensinya adalah kurang-lebih sama. Jika hanya gejala simptomatis yang mampu dikenali. misalnya market-driven. meningkatnya rasa bangga sebagai warga negara. maka konsepsi yang dikembangkan mungkin kelihatannya bagus tetapi sangat mungkin akan mengecewakan karena ternyata tidak mampu memberikan solusi sebagaimana yang diharapkan. evidence-based. tetapi dapat dalam bentuk non-ekonomi. Keuntungan yang dimaksud tidak selalu dalam bentuk keuntungan ekonomi. need-driven. goal-oriented research. walaupun banyak ragam istilah yang digunakan. dan bentuk keuntungan sosial dan spiritual lainnya. selain itu juga kebijakan internal lembaga masih belum memberikan prioritas untuk peningkatan kapasitas adopsi. dan [2] unsur-unsur ekosistem eksternal yang kurang kondusif.digeser prioritasnya untuk mendahulukan kegiatan riset untuk menghasilkan iptek yang sesuai dengan kebutuhan nyata. 18 Tahun 2002 .1. mission-driven. Hipotesis untuk kondisi saat ini adalah: [1] kapasitas adopsi lembaga-lembaga pengguna teknologi di Indonesia saat ini masih sangat rendah. 5. yang disebabkan oleh mutu potensi internal yang rendah dan motivasi yang kurang. terutama dari regulasi dan insentif yang belum optimal. sejak awal kegiatan pengembangan teknologi harus mempunyai orientasi yang jelas. maka konsepsi tersebut tidak akan mampu menjadi solusi mendasar bagi upaya meningkatkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi sebagaimana yang diniatkan. Perspektif ini yang menjadi ruh pengembangan teknologi berbasis realita kebutuhan (demand-driven). dan [2] peningkatan kapasitas adopsi teknologi terkendala oleh ekosistem yang kurang kondusif. Kecenderungan global saat ini sangat kentara mengarah pada pengembangan teknologi berbasis kebutuhan. Jika konsepsi hanya menyentuh persoalan simptomatis.

atau dengan ungkapan yang lebih sederhana adalah dengan melakukan penguatan kapasitas litbang internal lembaga pengguna. Posisi ini cenderung sebagai konsumen akhir dari teknologi atau produk teknologi yang diakuisisi. misalnya dalam konteks teknologi pertahanan dan keamanan. Sebagaimana industri. sarana. tetapi juga mampu untuk melakukan asimilasi dan reformulasi teknologi agar lebih sesuai dengan kebutuhan spesifiknya dan/atau untuk meningkatkan kehandalan produk teknologi tersebut. Pembenahan ini mencakup.mendukung atau sebagian sudah mendukung namun implementasinya masih terkendala. Lembaga ini tidak hanya mampu menggunakan produk teknologi yang dibeli atau diakuisisi. Minimal mampu melakukan pemeliharaan (maintenance). 18 Tahun 2002 . selain juga fasilitasi dan intermediasi yang masih belum optimal. serta program-program insentif yang ada masih kurang efektif dan/atau kurang menarik bagi lembaga pengguna (Gambar 9). Gambar 9. prasarana. Realita saat ini menumbuhkan keyakinan bahwa untuk mengoptimalkan kemampuan lembaga pengguna dalam mengadopsi teknologi yang paling krusial adalah melakukan pembenahan internal lembaga. lembaga pemerintah yang berperan sebagai lembaga pengguna teknologi juga harus diperkuat kapasitas litbangnya. Kerangka dasar konsepsi peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Berbeda dengan industri yang mengadopsi teknologi untuk diaplikasikan dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. sehingga mengurangi 105 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga pemerintah mengadopsi teknologi untuk digunakan dalam menjalankan tugas negara/pemerintahan. terutama penguatan sumberdaya (manusia. dan dana) untuk mendukung aktivitas litbang pada lembaga pengguna.

Namun perlu pula ditegaskan bahwa industri mikro atau kecil tradisional tetap harus dikategorikan sebagai satu entitas industri. maka perlu upaya sungguh-sungguh untuk: [1] meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian dan/atau ketrampilan sumberdaya manusia. dan relevan dengan kebutuhan lembaganya. individu-individu masyarakat lebih pas jika diperlakukan secara independen. Upaya penguatan kapasitas adopsi masyarakat sebagai pengguna teknologi perlu pendekatan yang berbeda. Namun demikian. [2] memberikan dukungan fasilitas dan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan adopsi dan pengembangan teknologi. Kapasitas adopsi individu masyarakat dengan demikian akan tergantung pada kapasitas intelektual. misalnya petani. Di era informasi terbuka ini.ketergantungan kepada pihak produsennya sebagai langkah antisipatif jika ada kendala purnajualnya. Untuk dapat melaksanakan peran ini. misalnya insentif yang pantas untuk kontribusi atau prestasi yang dicapai. lembaga pemerintah. terutama untuk yang secara langsung melaksanakan tugasnya terkait adopsi dan pengembangan teknologi. Dalam rangka memaksimalkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. tetapi juga mampu secara proaktif mengenali jenis dan mengidentifikasi sumber teknologi yang maju. serta siap secara seutuhnya untuk mengadopsi teknologi tersebut. terlepas dari jumlah karyawannya yang mungkin sangat sedikit. pelaksanaannya dapat saja dilakukan secara kolektif pada komunitas pengguna dengan kebutuhan jenis teknologi. yakni untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi. dan efisien. 18 Tahun 2002 . dan skala usaha yang setara. kemampuan manajerial. maka opsi utamanya adalah meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian sumberdaya manusia yang bekerja pada masing-masing lembaga pengguna tersebut. Dengan kata lain. [3] menyepakati dan menjalankan secara konsisten kebijakan internal lembaga pengguna untuk memprioritaskan adopsi dan pengembangan teknologi. baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri. yakni regulasi dan 106 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan lain-lain. dibutuhkan pendekatan dan strategi yang berbeda untuk masing-masing kelompok pengguna tersebut. Dua faktor bersifat mendorong (pushing factors) lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. rasional. peternak. dan individu masyarakat). motivasi. agar upaya meningkatkan kapasitas adopsi individu masyarakat ini dapat dilakukan secara lebih praktis. walaupun tujuannya adalah sama. naluri bisnis. nelayan. dan kualitas personal lainnya. diikuti dengan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan dukungan anggaran yang mencukupi. Memahami karateristik masing-masing pengguna teknologi yang berbeda (antara industri. handal. lembaga pengguna juga diharapkan tidak hanya mampu mengaplikasikan teknologi. namun lembaga masyarakat tersebut tidak bersifat ‘struktural’ sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang setara dengan lembaga pengguna sebagaimana pada industri dan pemerintahan. seniman. Ada empat faktor eksternal yang secara langsung mempengaruhi kapasitas adopsi teknologi. termasuk juga melalui spillover investasi asing. Mungkin saja organisasi atau asosiasi masyarakat yang memayungi individuindividu pengguna teknologi. dan [4] melakukan upaya institusional yang dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam meningkatkan peran aktifnya dalam proses adopsi dan pengembangan teknologi. bidang usaha.

yakni adanya permintaan pasar dan ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan (Gambar 10). sedangkan dua faktor lagi bersifat menarik (pulling factors). 18 Tahun 2002 . misalnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Faktor eksternal yang mempengaruhi kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Regulasi yang tepat akan mendorong lembaga pengguna untuk meningkatkan kemampuan internalnya yang berkaitan langsung dengan kapasitas adopsi teknologi. sedangkan adanya kompetitor tentu akan menjadi faktor pendorong lainnya bagi lembaga pengguna untuk antara lain meningkatkan aktivitas serta fasilitas riset in-house. tetapi hanya lembaga pengguna yang siap yang mampu melakukan proses adopsi tersebut secara efektif dan efisien. Gambar 10. fasilitas dan infrastruktur pendukung) akan menumbuhkan motivasi dan menjadi pemicu untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi yang dibutuhkan lembaga pengguna untuk mengelola sumberdaya tersebut. serta ketersediaan sumberdaya (bahan baku. tenaga kerja. Secara ringkas. kepakaran. Prinsip dasarnya dalam era informasi terbuka ini. serta mampu mengadaptasi teknologi tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhannya dan mampu memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari adopsi teknologi tersebut. Adanya permintaan pasar yang nyata dan signifikan. semua pihak bisa mendapatkan informasi tentang ketersediaan teknologi dan berpeluang untuk mengadopsinya. potret kapasitas 107 Naskah Akademik Perubahan UU No.adanya kompetisi antara lembaga pengguna.

adaptasi. tetapi juga sekaligus [2] menjadikan lembaga intermediasi yang sudah ada sulit untuk menjalankan perannya. sedangkan permintaan pasar dan potensi sumberdaya dapat menjadi faktor penarik (pulling factors) yang atraktif bagi lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. yakni: [1] Kapasitas internal lembaga sangat krusial untuk dibangun. [3] Regulasi dan kompetisi menjadi faktor pendorong (pushing factors) yang efektif. adaptasi. 5.adopsi yang ideal untuk lembaga pengguna teknologi adalah jika memiliki kemampuan untuk mengenali teknologi sesuai dengan kebutuhannya. karena akan secara nyata berdampak positif pada kapasitas adopsi. terutama – tetapi tidak terbatas pada sumberdaya manusia yang ditugaskan pada atau terkait langsung dengan unit yang menangani adopsi. 108 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau sesuai dengan core business-nya. dan [6] Kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu secara paralel dibangun bersama dengan kemampuan lembaga pengembang untuk menghasilkan teknologi yang relevan dalam rangka mewujudkan sistem inovasi. dan pengembangan teknologi. oleh sebab itu perlu melakukan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. dan pengembangan teknologi. 18 Tahun 2002 . [4] Perlu regulasi dan kebijakan yang kondusif untuk membuka peluang mobilisasi sumberdaya manusia antar-lembaga inovasi.1.4. [5] Keberadaan lembaga pengguna dalam suatu klaster inovasi tidak menjamin akan efektif dalam mengadopsi teknologi yang tersedia. menyerap dan mengasimilasikan teknologi tersebut. memformulasikan teknologi yang aplikatif sesuai kemampuan dan kebutuhannya. baik pada tingkat nasional maupun pada jenjang yang lebih terbatas wilayah cakupannya. serta mengaplikasikannya dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diembannya. Peningkatan Peran Lembaga Intermediasi Ketidakpaduan antara teknologi yang dihasilkan lembaga pengembang dengan kebutuhan pengguna dan rendahnya kebutuhan serta kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna merupakan kenyataan yang menjadi justifikasi: [1] kebutuhan akan lembaga intermediasi. Ada beberapa catatan penting terkait dengan kapasitas adopsi yang ideal bagi lembaga pengguna teknologi. namun jika kapasitas adopsinya sudah berada pada jenjang yang ideal maka keberadaannya dalam klaster inovasi akan memperbesar peluangnya untuk mengadopsi teknologi tersedia yang sesuai dengan kebutuhannya. sehingga dapat memperbesar peluang untuk terjadinya aliran atau limpasan (spillover) teknologi yang diserap oleh lembaga pengguna. [2] Perlu dukungan yang optimal untuk aktivitas dan penyediaan fasilitas riset in-house.

Dengan adanya Sentra HKI diharapkan perguruan tinggi dan lembaga litbang dapat mengembangkan unit organisasi dan prosedur untuk mengelola semua kekayaan intelektual dan informasi iptek yang dimilikinya. termasuk kemampuan menyelenggarakan kegiatan komersialisasi secara profesional yang didukung aspek legal. peran lembaga intermediasi perlu didorong agar dapat berperan ganda tersebut. sekaligus sebagai pusat informasi dan pelayanan HKI. Pada saat ini. 109 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . Minat pihak swasta untuk berperan sebagai intermediator masih rendah dan belum akan tumbuh jika teknologi yang dihasilkan pengembang belum mempunyai nilai jual yang baik atau jika relevansi antara teknologi yang dikembangkan masih senjang dengan kebutuhan pengguna. Jumlah Sentra HKI saat ini mencapai 79 buah.Lembaga intermediasi yang ada saat ini masih terlalu fokus pada upaya ‘memasarkan’ teknologi yang dihasilkan oleh lembaga pengembang. sejak digagas Kementerian Riset dan Teknologi pada 1999. 18 Tahun 2002. Gambar 11. belum banyak berperan dalam membantu mengidentifikasi kebutuhan atau persoalan yang dihadapi pengguna dan mengalirkan informasi tersebut kepada lembaga pengembang teknologi. Menurut UU No. memasarkan teknologi yang dihasilkan pengembang dan sekaligus menjadi perpanjangan tangan pengembang untuk memahami kebutuhan dan persoalan teknologi yang dihadapi pengguna (Gambar 11). lembaga intermediasi yang ada pada dasarnya diinisiasi oleh pemerintah tetapi kemudian dikelola oleh lembaga pemerintah itu sendiri atau personel yang bukan pegawai pemerintah. Sentra HKI adalah unit kerja yang berfungsi mengelola dan mendayagunakan kekayaan intelektual. Oleh sebab itu. Namun sebagian besar menghadapi permasalahan lemahnya kemampuan di bidang manajemen HKI. Sebagai contoh lembaga mediasi adalah Sentra HKI dan Business Innovation Center (BIC). Peran Ganda Lembaga Intermediasi Peran intermediasi ini dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga nonpemerintah.

walaupun saat ini teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat berkembang dan juga 110 Naskah Akademik Perubahan UU No. memberikan informasi mengenai kajian-kajian teknologi yang sedang berlangsung. swasta. mengatur pertukaran para pakar yang dibutuhkan dengan keahlian tertentu. dan membantu melakukan analisi terhadap pihak dunia usaha yang memiliki interest untuk berinvestasi terhadap riset yang dilakukan. mengidentifikasikan risiko dan mengenali potensinya.Padahal Sentra HKI harus mampu menjadi marketer atau sebagai intermediator antara pemilik dan pengguna HKI. memajukan pengembangan teknologi inovasi dalam skala nasional. Misi lembaga ini adalah mendorong inovasi business di Indonesia. Penyiapan Science and Technology Park Kedekatan fisik atau lokasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi masih dianggap penting dalam upaya menumbuhkan interaksi yang lebih intensif dan produktif. BIC memberikan beberapa jenis layanan yaitu layanan umum. Sedangkan layanan untuk akademisi/teknisi adalah membantu mengembangkan produk inovasi yang sudah ada untuk di komersialkan. Business Innovation Center atau yang disingkat BIC didirikan dengan tujuan mengoptimalkan pemberdayaan Inovasi di Indonesia dengan tujuan meningkatkan pembangunan nasional. memberikan pendampingan pada perusahaan-perusahaan yang inovatif. BIC diharapkan menjadi lembaga intermediasi proses inovasi bisnis. pemasok. 18 Tahun 2002 . menyusun agenda dan pengaturan pertemuan dengan pusat-pusat kajian teknologi. memberikan dukungan terhadap program-program pemerintah dalam hal inovasi. membantu dalam hal finansial yang akan dibantu oleh pihak swasta/pelaku bisnis. untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan bisnis dan daya saing nasional Indonesia. Layanan untuk swasta/bisnis yang dilakukan BIC mencakup mempermudah proses pencarian informasi mengenai inovasi. mengatur pertemuan para pakar untuk dapat menjalin kerjasama. menganalisa dan mengoptimalkan rangkaian nilai proses kerja. memberikan secara terusmenerus informasi tentang perkembangan teknologi baru dan proses produksi. dan. membuat database yang menampung informasi mengenai proses-proses inovasi.5. menghubungkan para pelaku bisnis dalm hal mendapatkan insentif yang diberikan oleh pemerintah. Layanan umum mencakup kunjungan ke perusahaan-perusahaan. mempermudah pengembangan bisnis dengan penerapan inovasi. akademisi dan pemerintah yang sesuai dengan fungsi dan tujuan BIC. membantu mencarikan mitra kerjasama yang tepat dari kalangan iptek. melalui kegiatan intermediasi antara inovator pengembangan teknologi dengan dunia bisnis. memberikan jaringan/network pelaku bisnis dalam hal kerjasama terhadap pihak akademisi. dan. memberikan pengetahuan mengenai pasar dan trend yang ada di pasar. dan memfasilitasi program incentif yang dibuat oleh pemerintah. membantu menghubungkan kepada pihak dunia usaha dalam hal kerjasama. memperluas hubungan dengan pemerintah dan akademisi. 5. mengadakan gathering dan seminar dalam hal menjembatani ABG. perusahaan.1. memfasilitasi pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. Layanan untuk pemerintah mencakup upaya mempererat hubungan pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi.

terbukti dengan peringkat kesiapan teknologi (technological readiness) yang masih relatif rendah. Wahana I-STP diproyeksikan akan menjadi model SINas dalam rangka membangun ekonomi Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge based economy (KBE). Aset pengetahuan (stock of knowledge) yang secara kolektif telah terakumulasi pada komunitas pengembang teknologi di kawasan Puspiptek Serpong perlu dikelola dan ‘dipasarkan’. Kapasitas lembaga pengembang teknologi Indonesia sesungguhnya cukup baik. yakni dengan merevitalisasi kawasan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong. Lembaga intermediasi diharapkan menjadi gerbang untuk partisipasi lembaga pengguna teknologi. Oleh sebab itu. yang disingkat sebagai I-STP. terutama industri-industri berbasis teknologi (Gambar 12). Kemampuan inovasi Indonesia ini sudah setara dengan negara-negara yang perekonomiannya sudah berbasis inovasi. Dengan demikian. Pembangunan I-STP (melalui revitalisasi Puspiptek Serpong) merupakan salah satu upaya untuk menyediakan wahana untuk meningkatan frekuensi dan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Dinamika interaksi pengembang-intermediator-pengguna teknologi yang intensif dan produktif akan dengan sendirinya ‘mengundang’ partisipasi lembaga-lembaga penunjang lainnya. I-STP menjadi saluran efektif bagi teknologi untuk memberikan kontribusi 111 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ketidak-siapan lembaga pengguna Indonesia untuk mengadopsi teknologi ini tidak sepenuhnya merupakan resultan dari rendahnya kapasitas adopsi teknologinya. upaya-upaya ini diharapkan dapat mendongkrak status kesiapan teknologi Indonesia. termasuk lembaga keuangan dan lembaga pendidikan. banyak negara membangun Science and Technology Park (STP) sebagai wahana untuk mendekatkan secara fisik antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi. dilaporkan bahwa kapasitas pengembangan teknologi ini ternyata belum diimbangi dengan kesiapan pengguna teknologi untuk mengadopsinya. yakni pada peringkat ke 91. Persoalan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah rendahnya hasil riset dan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang diadopsi oleh industri atau pengguna teknologi lainnya. 18 Tahun 2002 . Berdasarkan survei WEF tersebut. Upaya membangun I-STP ini sudah mulai digarap. tetapi juga merupakan akibat dari teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan lembaga pengguna tersebut.menjadi lebih murah untuk sarana berkomunikasi antara personel maupun lembaga. Indonesia merencanakan untuk membangun Indonesian STP. Untuk tujuan ini. Peran lembaga intermediasi diharapkan dapat mengakselerasi proses adopsi teknologi tersebut. Kementerian Riset dan Teknologi perlu merevitalisasi lembaga-lembaga intermedia yang sudah terbentuk. Upaya ini diharapkan akan meningkatkan relevansi teknologi yang dikembangkan (karena semakin memahami kebutuhan pengguna) dan sekaligus meningkatkan kapasitas adopsi pengguna (karena peningkatan kapasitas SDM-nya dalam mengenali dan mengaplikasikan teknologi). terbukti dengan posisi indeks inovasi Indonesia dalam peringkat World Economic Forum (WEF) tahun 2010 yang berada pada posisi ke 36. yakni Business Technology Center (BTC) dan Business Innovation Center (BIC). terutama pendidikan tinggi dan kejuruan. Secara kolektif.

nyata terhadap peningkatan ekonomi nasional. tetapi juga digunakan di dunia bisnis maupun bidang-bidang lainnya. akan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan inovasi mandiri yang dapat menjadi model SINas Indonesia yang membanggakan. maupun badan usaha. 18 Tahun 2002. serta pusat peragaan iptek untuk dapat menumbuhkan budaya iptek.1. Gambar 12. politeknik. kawasan Puspiptek Serpong. lembaga litbang.6. Kawasan ini diharapkan dapat memfasilitasi sinergi. Definisi umum tentang Pusat Unggulan adalah: ‘an organization which is 112 Naskah Akademik Perubahan UU No. maka akan diyakini mampu menyejahterakan rakyat sebagaimana yang amanahkan oleh konstitusi. dan sekolah menengah kejuruan di kawasan ‘InnoPark’ ini. pertumbuhan. Gabungan dua kawasan ini akan membentuk Innovation Park (STP+IP = InnoPark). yang jika dibangun bersama rakyat. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. seperti kawasan iptek. 18 Tahun 2002 . pemerintah maupun swasta dapat mengembangkan sarana dan prasarana iptek. dan interaksi antara perguruan tinggi. Menghadirkan lembaga pendidikan tinggi. dilengkapi dengan lembaga dan fasilitas pendukungnya yang sepadan. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. Untuk kondisi Indonesia. Metamorfosis Puspiptek Menjadi I-STP Menurut UU No. Membangun Pusat Unggulan Inovasi Pusat Unggulan merupakan padanan kata untuk Center of Excellence yang sudah sangat dikenal dan digunakan tidak hanya dalam bidang iptek. 5. sebagai kawasan iptek sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP.

maka ada dua opsi dalam membangun pusat unggulan inovasi.recognized as being successful and having an excellent reputation in its field’ . sebuat pusat unggulan harus menetapkan standar kinerja yang sangat tinggi. dianggap berhasil dan mempunyai reputasi yang sangat baik di bidangnya. yakni dengan format pengembangan lembaga tunggal tapi dengan memperkaya tugas dan fungsinya. kebijakan nasional. Penciri lain yang digunakan untuk mendeskripsikan pusat unggulan adalah: ‘a place where there are very high standards of work’. Pusat Unggulan harus dikenal oleh komunitasnya. Gambar 13. sehingga dapat secara nyata mampu mewujudkan sistem inovasi. maka sangat tepat jika Pusat Unggulan yang difasilitasi perkembangannya oleh Kementerian Riset dan Teknologi adalah keunggulan dalam membangun sistem inovasi. atau dengan membentuk konsorsium yang terdiri dari paling tidak lembaga pengembang dan pengguna teknologi (Gambar 14). dalam melaksanakan fungsinya. Maknanya. dan [2] keunggulan tersebut khusus pada bidangnya. kebijakan sektoral. dan program Kementerian Riset dan Teknologi (Gambar 13). Pusat unggulan yang akan didorong untuk tumbuh dan berkembang adalah lembaga atau konsorsium yang konsisten dengan amanah konstitusi. Dengan demikian. Untuk mencapai standar ini. Pengembangan Pusat Unggulan Inovasi yang Konsisten dengan Amanah Konstitusi 113 Naskah Akademik Perubahan UU No. dimana [3] bidang keunggulan tersebut bersifat terbuka untuk kompetensi atau spesifikasi fungsi tertentu. tepat jika disebut sebagai Pusat Unggulan Inovasi atau Center of Excellence on Innovation. Dalam konteks pilihan ini. Tersirat dalam definisi ini adalah: [1] keberhasilan dan reputasi tersebut bersifat relatif (dibandingkan dengan lembaga-lembaga serupa di bidang tertentu). 18 Tahun 2002 . sesuai dengan kondisi awal dan sasaran yang ingin dicapai. Oleh sebab itu.

Pilihan Alternatif Organisasi Pusat Unggulan Inovasi 5.1. terutama pada fase inisiasinya. antara lain berupa konsorsium. [2] hubungan yang dibangun harus bersifat mutualistik sebagai modal dasar untuk memotivasi semua anggota untuk memperjuangkan kepentingan bersama. Tujuan bersama dimaksud perlu disepakati dari awal pembentukan konsorsium. Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya diharapkan berperan aktif dalam membentuk konsorsium ini. Secara umum terdapat tiga asas penting dalam membangun konsorsium. yakni: [1] mempunyai kepentingan atau tujuan bersama (shared goal atau core issue) yang jelas dan disepakati oleh semua anggota.7. karena ini yang menjadi komitmen awal dan mendasar bagi setiap lembaga untuk memutuskan apakah akan ikut bergabung dalam konsorsium tersebut atau tidak. 18 Tahun 2002 . Mendorong Pembentukan Konsorsium Inovasi Interaksi dan komunikasi antara pengembang dan pengguna teknologi menjadi lebih baik apabila ada wahana untuk berinteraksi. dan [3] semua anggota sepakat untuk sharing sumberdaya sepadan dengan fungsi dan kapasitasnya masing-masing. Setiap konsorsium yang dibentuk mempunyai tujuan bersama yang jelas.Gambar 14. dan regulator sewajarnya akan semakin berkurang jika komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi dalam wadah konsorsium ini telah berlangsung secara intensif dan produktif. dan benefits yang diharapkan dapat diperoleh dengan bergabung dalam konsorsium tersebut. karena ini merupakan dasar komitmen bersama yang penting 114 Naskah Akademik Perubahan UU No. Peran pemerintah sebagai fasilitator. kapasitas lembaga sebagai bentuk share yang dapat dikontribusikan. intermediator. Tentu dengan memperhatikan tugas dan fungsi lembaganya masing-masing.

Ada dua opsi dalam menghimpun anggota konsorsium. Salah satu alasan pembentukan konsorsium adalah agar penggunaan sumberdaya (manusia. Konsorsium merupakan sarana bersama dan bukan tujuan akhir bagi para pihak yang terlibat sebagai anggotanya. sama kedudukan. yakni saling menguntungkan. dimana. atau malah berpotensi kontra-produktif dan dapat saja ada free rider yang kontribusinya tidak signifikan terhadap kinerja konsorsium. Secara formal. Dalam konteks ini. anggota konsorsium minimal dua lembaga. 18 Tahun 2002 . maka konsorsium harus dikelola secara profesional berlandaskan asas-asas good governance. serta kewajibannya (Gambar 15). maka paling tidak satu lembaga mewakili pengembang teknologi dan lembaga lainnya mewakili pengguna teknologi. dimana anggota disepakati dari awal dan tidak berubah sampai tujuan bersama dicapai. agar sifat mutualistik ini selalu terpelihara. budaya sharing perlu dibangun. efisien. juga perlu masuk dalam formula untuk penetapan jumlah anggota yang ideal. Oleh sebab itu. Kesepakatan ini sangat penting karena tujuan bersama tersebut mungkin baru akan dicapai dalam jangka menengah atau panjang. serta juga dipengaruhi oleh beban kegiatan dan target waktu untuk pencapaian tujuan dimaksud. sarana dan prasarana. Keterjaminan sifat mutualistik tersebut akan memotivasi semua anggota untuk memberikan kemampuannya yang terbaik dan ikut berusaha keras untuk mencapai tujuan bersama. atau [2] dilakukan secara tertutup dan bersifat statis. terutama harus transparan. karena ia menjadi jiwa dari sebuah konsorsium. walaupun mungkin butuh waktu yang relatif lama untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan jumlah anggota yang terlalu sedikit mengandung risiko akan kekurangan kapasitas dan kompetensi untuk mencapai tujuan. Oleh sebab itu. hak. akuntabel. namun konsorsium pada hakikinya bersifat tidak-permanen. Konsorsium lebih berorientasi fungsional dan terfokus pada upaya mencapai tujuan bersama yang disepakati sejak awal pembentukannya. Namun jumlah anggota yang pas tentu tergantung dengan tujuan bersama yang ingin dicapai. Lebih bagus jika ditambah satu lembaga lagi yang menjadi representasi unsur pemerintah. Hubungan antar-anggota konsorsium harus bersifat mutualistik. Oleh sebab itu.untuk kelangsungan eksistensi konsorsium. semua anggota diposisikan secara sejajar. dan taat hukum. Disamping itu. pola hubungan antar-anggota yang bersifat horizontal akan lebih dominan. 115 Naskah Akademik Perubahan UU No. sebaliknya jumlah anggota yang terlalu banyak juga dapat menyebabkan ketidak-efisienan dalam pelaksanaan pekerjaan. yakni: [1] dilakukan secara terbuka dan dinamis. Kapasitas dan jenis kompetensi lembaga yang dibutuhkan. Dalam konteks sistem inovasi. efektif. setiap konsorsium harus ada anggota yang disepakati sebagai koordinator. dan pembiayaan) dapat dilakukan secara lebih efisien dan juga untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Setiap konsorsium tentu memiliki beberapa anggota. semua lembaga yang relevan dapat bergabung dalam konsorsium atas persetujuan inisiator dan semua anggota yang telah bergabung (existing members). Sinergi fungsional merupakan asas yang menjiwai tata kerja organisasi konsorsium.

[2] sinergi anggota mampu membangun kapasitas kolektif yang cukup (adequate collective capacity) untuk mencapai tujuan/sasaran bersama. dan [5] secara konsisten dikelola berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance)(Gambar 16). [3] mempunyai strategi pelaksanaan yang tepat dan implementatif (implementable strategy). 2011b) 116 Naskah Akademik Perubahan UU No.Gambar 15. . yaitu: [1] mempunyai tujuan/sasaran bersama yang jelas dan disepakati semua anggota (clear shared goal) serta sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan publik (demand-driven). Model Konsorsium Inovasi (Lakitan. [4] dikoordinir oleh figur kepemimpinan yang kuat (strong leadership) . terutama pada fase awal. 18 Tahun 2002 Keberhasilan suatu konsorsium ditentukan beberapa faktor.

Jika ada dua atau lebih anggota konsorsium dengan jenis kompetensi yang sama. serta berbasis pada kapasitas kolektif yang dimiliki. seperti berbagai bentuk kolaborasi yang lainnya. Target ini dapat saja terdiri dari beberapa sub-target. Keberlanjutan integrasi dan viabilitas dari sebuah konsorsium selain bertumpu pada tujuan bersama yang jelas. Konsorsium dengan multi-sasaran. Konsorsium memang bertumpu pada inter-dependensi antar-anggota. perlu menyusun strategi operasional yang terencana dengan baik. sehingga mampu menjalankan misinya dengan lebih baik dan komprehensif. jika anggotanya mempunyai kompetensi inti yang beragam. 2011b) Sejalan dengan ini. tetapi bersifat komplementatif satu dengan yang lainnya. sistematis.Gambar 16. maka sangat mungkin terjadi ‘sibling rivalry’ antar-anggota tersebut. pola 117 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kunci Sukses Konsorsium (Lakitan. apalagi multi-tujuan. 18 Tahun 2002 Tujuan dan target/sasaran bersama merupakan perekat utama antar-anggota dari sebuah konsorsium. tetapi semua sub-target tersebut harus berada dalam lingkup payung target utamanya atau berada dalam satu klaster. tetapi secara kolektif sebuah konsorsium harus punya kemandirian untuk mencapai tujuan bersama. Sebaiknya suatu konsorsium terbangun dari anggota dengan ‘core business’ yang berbeda atau mempunyai jenis kompetensi yang berbeda. . sehingga dapat membangun sinergi yang secara kolektif akan menghasilkan konsorsium dengan kapasitas lebih besar dan dengan ragam kompetensi yang lebih banyak. pendekatan konsorsium juga direkomendasikan oleh Malherbe dan Stanway (2010) sebagai bentuk kolaborasi yang tepat. akan mudah terancam bubar. sehingga dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien. Konsorsium. dengan pentahapan yang logis. Akan tetapi anggota suatu konsorsium dapat saja juga menjadi anggota konsorsium lain dengan tujuan/sasaran yang berbeda.

Pergantian ini seharusnya tidak mempengaruhi kinerja konsorsium secara drastis. dan mungkin hanya dapat diselesaikan melalui paket solusi multi-dimensi yang komprehensif. Konsorsium dapat memberikan manfaat antara lain: [1] meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya manusia. Dalam konteks ini. yang tidak mungkin dicapai masing-masing anggota secara individual. maka secara langsung juga akan penting kontribusinya dalam mengakselerasi upaya membangun 118 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau lebih tepatnya koordinator konsorsium. pada dasarnya merupakan bentuk ‘miniatur’ dari sistem inovasi.hubungan antar-anggota yang bersifat mutualistik. akan lebih mampu untuk mengeksekusi aktivitas dengan lingkup yang lebih luas dan/atau tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Kompetensi lembaga yang beragam sebagai anggota konsorsium juga membuka peluang untuk membangun kapasitas kolektif yang lebih besar dan komprehensif. tetapi hanya akan merupakan proses scale-up (memperbesar volume output) saja. Selain itu. Dalam jangka panjang. jika terdapat anggotanya yang mewakili komunitas pengembang teknologi dan juga ada yang mewakili komunitas pengguna teknologi. konsorsium dapat dipandang sebagai mikro-ekosistem yang kondusif untuk mengalirkan informasi kebutuhan dari pengguna ke pengembang teknologi dan sebaliknya aliran paket teknologi dari pengembang ke pengguna teknologi. juga sangat membutuhkan figur pemimpin yang kuat dan secara de facto mampu mengelola konsorsium secara bijak. sarana dan prasarana. maka yang terjadi bukan sinergi fungsional yang mutualistik. setiap pemimpin memiliki style of leadership masing-masing. karena tidak ada rasa saling membutuhkan yang kuat apabila kompetensi anggota konsorsiumnya sama. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya akan lebih maksimal jika konsorsium terdiri dari anggotaanggota dengan kompetensi yang beragam dan bersifat komplementer. Selayaknya. peran figur yang kuat akan sangat krusial dalam rangka membangun ‘chemistry’ yang harmonis antar-anggota dengan keragaman latar belakang kompetensi dan budaya kerja. serta biaya dalam upaya mencapai tujuan. 18 Tahun 2002 . Apabila proses komunikasi dan interaksi antar aktor inovasi yang bernaung dalam suatu konsorsium berfungsi sebagai ekosistem kondusif ini dapat dipertahankan selama kurun waktu yang lama. konsorsium memang dirancang untuk menjawab tantangan yang lebih berat. Sebagai langkah antisipasi maka perlu disiapkan stabilisator yang ampuh. tidak cukup kuat faktor pendorong bagi anggota untuk berinteraksi secara lebih intensif. yang butuh kontribusi dari berbagai kompetensi. Pada fase awal terbentuknya konsorsium. [2] membuka peluang untuk mendapatkan capaian yang lebih besar/signifikan. Tata kelola yang baik tentu harus dibangun berbasis pada prinsipprinsip good governance. sebaliknya akan sedikit dampaknya jika kompetensi anggota relatif homogen. Apabila kompetensi anggotanya sama. tentu akan perlu dilakukan pergantian pemimpin. Dengan demikian. [3] meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi yang menjadi modal dasar untuk mewujudkan/memperkuat sistem inovasi. yang sangat mungkin akan berbeda satu sama lain. yakni berupa peraturan internal tentang tata kelola yang disepakati semua anggota. Konsorsium sebagai wadah komunikasi dan interaksi antar-lembaga yang menjadi anggotanya. Namun demikian.

119 Naskah Akademik Perubahan UU No. Proses panjang ini harus diawali dengan membangun budaya inovasi pada jenjang yang paling mikro. Budaya inovasi nasional tidak dapat dibangun secara instan. Sedangkan penyesuaian komposisi anggota selain untuk menyeimbangkan antara perwakilan dari komunitas pengembang dengan pengguna teknologi.1. Untuk meningkatkan peran dan kontribusi DRN tersebut. yang memerlukan revisi peraturan perundang-undangan. Revitalisasi Dewan Riset Nasional Dewan Riset Nasional (DRN) merupakan lembaga non-struktural yang berfungsi memberikan masukan kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi terutama dalam menetapkan Agenda Riset Nasional (ARN). Matrik bidang dan kompetensi anggota DRN yang diusulkan disajikan pada Tabel 8. baik perguruan tinggi maupun lembaga litbang kementerian. maka perlu dilakukan revitalisasi lembaga DRN. terutama yang terkait langsung dengan tujuh bidang fokus pembangunan. juga diarahkan agar aktor-aktor utama dari sektor pembangunan (yang sesuai dengan pembagian komisi teknis DRN) dapat lebih efektif berperan. tetapi akan melalui proses panjang. Revitalisasi dilakukan berbasis pada peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku dengan tanpa memerlukan revisi produk legislasi yang ada. ARN pada saat ini belum secara penuh diacu oleh lembaga-lembaga riset. yakni Fase Pertama dilakukan segera selama periode 2009-2011 untuk diimplementasikan pada periode tugas selanjutnya (2012-2014). dan difokuskan pada upaya restrukturisasi dan penyesuaian komposisi keanggotaan. Saat ini DRN memiliki kewenangan yang terbatas dan dukungan sumberdaya yang juga belum memadai. pengembangan industri. Namun demikian. yakni pada lingkup sebuah konsorsium.8. namun demikian pada masing-masing komisi teknis tersebut perlu didukung oleh anggota-anggota yang akan mendalami tentang lima unsur strategis untuk penguatan inovasi nasional. maupun lembaga pemerintah non-kementerian yang melaksanakan kegiatan riset.budaya inovasi. 5. masing-masing komisi teknis juga perlu memperhatikan cross-cutting issues. teknologi berwawasan ekologis (green technology). termasuk kemungkinan reposisi organisasi DRN untuk langsung bertanggung jawab kepada Presiden. termasuk upaya meningkatkan kapasitas teknologi untuk pengelolaan sumberdaya kemaritiman. Komisi Teknis DRN mengikuti tujuh bidang fokus prioritas pembangunan iptek sesuai dengan RPJPN 2005-2025. sehingga peran dan kontribusi DRN secara nyata dalam pembangunan iptek masih belum optimal. ARN diharapkan menjadi petunjuk pelaksanaan arah dan prioritas kegiatan riset secara nasional. serta dengan terus mendukung pengembangan sains dasar dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Selain itu. Pada Fase Pertama. Secara realistis. dan mengurangi kemiskinan (pro-poor technology). revitalisasi DRN perlu dilakukan dalam dua fase. Fase Kedua diawali dengan penyesuaian produk regulasi untuk landasan bagi pembentukan DRN dengan tugas pokok dan fungsi yang lebih vital (revitalized DRN). difokuskan pada upaya membentuk DRN dengan peran yang lebih signifikan dan proyeksi kontribusi yang lebih nyata terhadap pembangunan iptek. restrukturisasi lebih terarah pada upaya penyesuaian pembagian Komisi Teknis agar dapat mengakomodir perkembangan dan prioritas bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. 18 Tahun 2002 .

Pembagian komisi teknis DRN dan kompetensi anggotanya terkait upaya penguatan SINas.  Anggota yang mewakili unsur regulator dan pembuat kebijakan publik dapat ditunjuk dari para Kepala Badan Litbang Kementerian Teknis terkait sesuai dengan bidang fokus masing-masing. yakni para pelaku produksi barang/jasa baik dari unsur masyarakat. dan pengguna langsung teknologi hankam (TNI dan Polri). sepatutnya dipilih dari unsur komunitas masyarakat. dan perguruan tinggi. lembaga riset swasta/industri. dan kementerian hankam untuk komisi teknis pertahanan dan keamanan. industri besar. dan lembaga pemerintah pengguna teknologi. asosiasi industri. Tabel 8.Anggota DRN yang diangkat berjumlah 50 orang. 18 Tahun 2002  Anggota yang harus mengawal relevansi teknologi sudah sepatutnya berasal dari komunitas pengembang teknologi. . serta pengguna teknologi untuk tujuan nonkomersial lainnya. yang sekaligus dapat ditetapkan sebagai Ketua Komisi Teknis. dengan formula sebagai berikut: Jumlah anggota DRN = 1 Ketua + 7 Komtek [ 5 Isu SINas + 2 Unsur Penguat ] Formula keanggotaan DRN ini dapat dirinci sebagai berikut:  Satu orang ketua yang lebih fokus sebagai pimpinan puncak yang tidak perlu terlibat langsung dalam kegiatan teknis pada tingkat komisi. Misalnya dari wakil asosiasi petani untuk komisi teknis pangan.  Anggota yang mewakili pihak yang memahami kebutuhan riset dan teknologi sesuai skenario penguatan inovasi nasional yang berorientasi demand-driven.  Anggota yang diyakini akan memahami kapasitas adopsi pengguna teknologi adalah para pengguna teknologi itu sendiri. sehingga ketua ini dapat dipilih dari ‘prominent figure’ yang dengan ketokohannya dapat meningkatkan kewibawaan lembaga DRN dan sekaligus dapat memimpin anggota DRN secara efektif agar dapat berkinerja dengan baik. asosiasi industri untuk komisi teknis transportasi. KOMISI TEKNIS PENGUATAN SINAS 120 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni dari lembaga riset pemerintah. industri kecil dan menengah. industri kreatif.

[b] membangun kemampuan/kapasitas dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan teknologi di dalam negeri dan sekaligus juga menyediakan sistem 121 Naskah Akademik Perubahan UU No. nelayan.Relevansi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kapasitas Adopsi Pengguna Teknologi Intermediasi & Penunjang Sistem Inovasi Regulasi dan Kebijakan Publik Kebutuhan Riset dan Teknologi Teknologi Pangan Teknologi Energi Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Transportasi Teknologi Pertahanan dan Keamanan Teknologi Kesehatan Teknologi Material Maju  Anggota yang mewakili lembaga intermediasi dan lembaga penunjang lainnya juga diyakini sangat krusial perannya untuk peningkatan kinerja DRN. serta jejaring lembaga iptek yang mantap dalam rangka menjamin pemutakhiran data iptek yang berkesinambungan.  Dua anggota untuk penguat ditentukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing komisi teknis. perindustrian. banyak teknologi pangan yang tidak diadopsi petani. peternak. tetapi sangat perlu terlibat secara langsung dalam pembahasan pada tingkat pleno sebagai penyampai aspirasi daerah yang diwakilinya. dan lembaga intermediasi non-pemerintah. 18 Tahun 2002 . Pada Fase Kedua. termasuk perwakilan dari kementerian terkait. yakni kementerian keuangan. revitalisasi diharapkan mampu memposisikan DRN untuk melaksanakan tugas pokok yang mencakup: [a] membangun basis data iptek yang akurat dan komprehensif. pendidikan nasional. perencanaan pembangunan nasional/Bappenas. sehingga sangat penting keterwakilannya dalam lembaga DRN. dan kultural dalam pengembangan teknologi tersebut. sedangkan  Anggota DRN yang mewakili DRD Provinsi (ex officio) tidak harus dimasukkan secara tetap dalam komisi teknis. dan pembudidaya ikan karena belum mengintegrasikan pemahaman dimensi sosial. misalnya komisi teknis pangan dapat menambah satu anggota dari pakar kemaritiman untuk mendukung isu strategis pembangunan ketahanan pangan dan satu anggota dari pakar ilmu sosial karena berdasarkan realita. ekonomi.

badan usaha tersebut 122 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan [d] membantu mengawal investasi pemerintah untuk pembangunan iptek. khususnya Pasal 28 ayat (3). Sebagai kompensasinya. Oleh sebab itu. Inovasi. Produk perundang-undangan yang menjadi basis legal untuk pengembangan SINas di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 (UU No. 18/2002. UU No. 35/2007 ini adalah memberikan kesempatan bagi badan usaha untuk mengalokasikan dana dalam rangka mendukung kegiatan inovasi nasional. oleh sebab itu secara umum UU No. sangat mungkin upaya untuk melengkapi undang-undang terkait dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih sesuai.9. Apabila UU No.1. [c] membangun kapasitas dan kewenangan untuk menetapkan prioritas riset nasional sesuai dengan kebutuhan ( demanddriven) dan berbasis potensi sumberdaya nasional. atau dapat juga dilakukan amandemen/revisi terhadap produk hukum yang ada agar lebih sesuai dan/atau lengkap. yakni pengembangan teknologi harus lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang tengah dihadapi. Walaupun banyak ragam terminologi yang digunakan. Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas ini. diperlukan penyesuaian kembali produk-produk regulasi agar ekosistem yang kondisif bisa terbangun dan reposisi organisasi DRN dalam tata organisasi pemerintah. 18/2002 akan digunakan sebagai landasan legal utama untuk membangun inovasi nasional. telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 (PP No. Secara operasional. 5. 35/2007) tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. 18/2002 ini masih belum sepenuhnya selaras dengan orientasi pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. agar secara konsisten fokus pada prioritas yang telah ditetapkan. 18 Tahun 2002 . Peraturan perundang-undangan yang dilengkapi dengan pedoman teknis pelaksanaannya. maka diperlukan upaya revisi atau melakukan amandemen terhadap undang-undang ini agar lebih selaras dengan upaya penguatan inovasi nasional yang lebih bersifat demand-driven. dan Difusi Teknologi (Lampiran 2). kecenderungan global saat ini juga secara kentara telah menggeser orientasi pengembangan teknologi dari yang bersifat supply-push menjadi demand-driven. agar semua regulasi yang diharapkan dapat diimplementasikan secara utuh. untuk melaksanakan ketentuan UU No. sangat diperlukan upaya untuk menerbitkan regulasi baru atau sinkronisasi produk perundang-undangan yang telah ada dengan langkah aksi penguatan inovasi nasional yang akan ditempuh. Selanjutnya. namun esensinya sama. 18/2002) tentang Sistem Nasional Penelitian. Selain itu. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lampiran 1). Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi Semua aksi yang akan dilakukan dalam rangka mewujudkan penguatan inovasi nasional memerlukan dukungan regulasi dan/atau kebijakan yang tepat dan menyeluruh. 18/2002 ini disusun dalam nuansa pengembangan iptek yang masih sangat dominan bersifat supply-push. Pengembangan. Substansi pokok dari PP No.informasi perkembangan dan ketersediaan teknologi nasional. Beberapa pemahaman dasar terkait upaya penguatan inovasi dirasakan masih perlu disinkronisasikan ulang.

dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan. namun pelaksanaan peraturan ini sampai sekarang belum optimal.mendapatkan insentif untuk mendukung kegiatan bisnisnya. dinyatakan bahwa badan usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. Walaupun PP No. kepabeanan. 35/2007 dengan peraturan di bidang perpajakan dan kepabeanan. 35/2007 tersebut. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan. Bantuan teknis ini. keberhasilan implementasi MP3EI antara lain ditentukan adanya penguatan inovasi di sektor usaha. 35/2007. terutama antara PP No. Oleh karena itu. Secara garis besar PP No. inovasi. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. 35/2007 menyatakan bahwa besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. diharapkan akan mendorong kolaborasi riset. inovasi. 35/2007 ini dapat diimplementasikan adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur pedoman teknis untuk pemberian insentif tersebut. Arah yang akan ditempuh agar PP No. Pasal 6 ayat (3) PP No. Hal ini disebabkan adanya ganjalan untuk implementasinya. sekaligus peningkatan kemampuan perekayasaan. mengingat jika penguatan inovasi nasional dapat berlangsung secara produktif. Kementerian Riset dan Teknologi telah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. Selanjutnya pada ayat (2). 18 Tahun 2002 . Upaya percepatan dan perluasan pembangunan dilakukan melalui penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi. 35/2007 ini. Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) telah mengagendakan untuk meninjau ulang peraturan perundang-undangan yang menjadi bottleneck pembangunan perekonomian Indonesia. termasuk diantaranya implementasi PP No. 35/2007 ini sangat ‘favorable’ bagi upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. Dengan dikeluarkannya peraturan ini. sesuai Pasal 7 ayat (1) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. proses. 123 Naskah Akademik Perubahan UU No. menuju innovation-driven economy. yakni belum adanya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan yang mengakomodisasi pemberian insentif sebagaimana diamanahkan dalam Pasal 6 ayat (2) PP No. Sebagai pelaksanaan dari pasal ini. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). 35 Tahun 2007 sejalan dengan Perpres No. dan difusi teknologi. dampaknya kegiatan produksi barang dan jasa juga akan meningkat dan penerimaan pajak juga akan ikut meningkat. perlu dilakukan sinkronisasi dari sisi legal formal pendukungnya. Secara jelas pada Pasal 6 ayat (1) PP No. Agar insentif bagi pelaku bisnis/industri untuk lebih terlibat dalam pembiayaan kegiatan riset dapat terlaksana. dinyatakan bahwa insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. Kekhawatiran yang berlebihan tentang kemungkinan penurunan penerimaan pendapatan pemerintah dari pajak dan kepabeanan akibat pemberlakuan kebijakan ini perlu dihilangkan.

Sumbangan dapat diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang (Pasal 5 ayat 1). karena PP No. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan (Pasal 1 butir b). inovasi dan difusi teknologi. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. Adanya PP No. sebagaimana kebijakan pemberian fasilitas insentif kepada badan usaha tentunya dapat lebih mendorong kegiatan litbang di badan usaha. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. namun setidaknya akan mencakup juga upaya untuk peningkatan kapasitas perekayasaan. termasuk sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. Besarnya nilai sumbangan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya (Pasal 3). 18 Tahun 2002 PP No. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.Namun demikian dalam pelaksanaannya. Meskipun sumbangan ini ditujukan untuk kegiatan litbang. Secara teknis dan psikologis. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 93/2010. 93/2010 merupakan turunan langsung dari UU No. terutama industri. diperlukan dukungan terutama dari lembaga litbang yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian untuk implementasi insentif bantuan teknis litbang. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. diperlukan dukungan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur kriteria teknis dan tata kelola dalam pemberian insentif riset di badan usaha. Interaksi yang lebih intensif diyakini akan berpengaruh langsung dan positif terhadap proses adopsi teknologi. 35/2007 yang merupakan turunan UU No. baik karena teknologi yang dihasilkan oleh pengembang menjadi lebih relevan (karena pengembang menjadi lebih . Pengembangan. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan sebagai pelaksanaan Pasal 7 ayat (3) PP No. 93/2010 lebih berpeluang untuk diimplementasikan dibandingkan dengan PP No. Lampiran 3). 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 93/2010 ini mengatur bahwa sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak. Dukungan regulasi ini diharapkan akan mengintensifkan interaksi dan komunikasi antara lembaga pengguna. berbeda dengan PP No. dengan lembaga pengembang teknologi yang mendukung kebutuhan teknologi untuk industri. Sumbangan Penelitian Dan Pengembangan. PP No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (selanjutnya disingkat PP No. 124 Naskah Akademik Perubahan UU No. Saat ini telah dikeluarkan Peraturan Menteri Riset dan Teknologi No. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 35 Tahun 2007. 35/2007. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. yakni Peraturan Pemerintah No. Upaya pemberian insentif kepada pihak pengguna teknologi (terutama industri) sekarang mempunyai landasan hukum lain yang baru. Sumbangan Pembinaan Olahraga. Selain itu untuk memperkuat insentif non fiskal.

memahami kebutuhan), juga karena peningkatan kapasitas adopsi dari pihak pengguna (karena meningkatkan pemahaman pengguna atas teknologi yang ditawarkan). Insentif non-finansial untuk mendorong kegiatan riset dalam negeri juga telah dilakukan, antara lain melalui Peraturan Menteri Perindustrian No. 11/M-IND/PER/3/2006 tentang kebijakan penetapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP). Selain itu, dengan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan, badan usaha dimungkinkan mendapatkan akses kapasitas litbang melalui penempatan tenaga ahli atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga litbang pemerintah. Regulasi dan kebijakan pemerintah diperlukan untuk mengawal implementasi penguatan inovasi dapat berjalan konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat; [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya, proporsional kontribusinya, dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya; dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam pengembangan dan implementasi SINas. Bentuk kebijakan pemerintah yang lain adalah untuk mendukung kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan, tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi, bukan atas usulan pihak pengguna. Dalam beberapa kasus, industri hanya pada posisi memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak harus dalam bentuk pembiayaan bersama, tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Akan tetapi yang selalu perlu diperhatikan adalah apapun bentuk atau format riset kolaborasi tersebut, ia akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti memang merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat, bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. Memahami bahwa keberhasilan perkuatan inovasi tidak hanya tergantung pada kinerja masingmasing aktor inovasi (lembaga pengembang dan pengguna teknologi, serta lembaga intermediasi), tetapi juga sangat tergantung pada berbagai pihak yang ikut mewujudkan ekosistem inovasi yang lebih kondusif, maka pengembangan legislasi sebagai bagian penting dari ekosistem SINas perlu mendapat perhatian serius. Perlu dilakukan telaah secara cermat terhadap semua produk hukum yang terkait dengan upaya penguatan inovasi, baik langsung maupun tidak langsung. Identifikasi untuk hal-hal yang perlu disinkronisasi, direvisi, atau bahkan perlu dicabut, serta untuk hal-hal yang masih perlu pengaturan secara legal formal.

125

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

5.1.10. Berbasis Sumberdaya dan Memenuhi Kebutuhan Nasional Untuk mewujudkan SINas Indonesia yang ‘workable’, harus secara seksama mempertimbangkan potensi sumberdaya nasional, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan infrastruktur ekonomi dan sosial, kemampuan permodalan domestik (plus modal asing secara selektif), dan kapasitas pengembangan teknologi saat ini. Selain itu juga perlu diselaraskan dengan peraturan perudang-undangan yang berlaku, kebijakan publik, budaya kerja, keragaman sosio kultural dan tradisi, serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia lainnya.28 Pilihan landasan sumberdaya dan budaya sendiri dalam membangun inovasi nasional akan membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berpartisipasi aktif. Perlu dipahami bahwa upaya memajukan bangsa tidak dapat dilakukan dengan memilih jalan pintas, dengan mengabaikan pentingnya fondasi yang kokoh agar pengembangan dan keberlanjutan inovasi lebih terjamin. Pembangunan nasional tidak hanya dilakukan untuk rakyat tetapi juga harus dilakukan bersama rakyat. Indonesia sering dikategorikan sebagai negara yang sangat kaya akan sumberdaya alamnya. Provokasi ini menyebabkan Indonesia terlalu mengandalkan kekayaan sumberdaya alam tersebut sebagai modal utama pembangunan nasional, seolah sumberdaya alam tersebut akan selalu tersedia selamanya. Eksploitasi sumberdaya alam yang tidak terkelola secara bijak dibarengi dengan pembangunan yang tidak terprogram dengan baik, telah membawa Indonesia pada kondisi saat ini: tetap menjadi negara berkembang dengan penguasaan dan penerapan teknologi yang terbatas. Indonesia terkena fenomena ‘resource curse’29 dimana kemajuan pembangunannya tak sebanding dengan nilai eksploitasi sumberdaya alamnya. Pengelolaan sumberdaya alam yang bijak bukan hanya terbatas pada penggunaan dana hasil eksploitasi yang diarahkan untuk peningkatan kualitas layanan publik dan investasi untuk infrastruktur sosial, tetapi juga perlu diarahkan untuk mendukung pengembangan teknologi yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produktivitas industri barang dan/atau jasa, sehingga memberikan nilai tambah bagi setiap produk nasional. Produk ekspor Indonesia tidak boleh selamanya dibiarkan hanya dalam bentuk komoditas bahan baku industri atau hanya sampai produk setengah-jadi (intermediate products). Produk ekspor Indonesia harus secara maksimal diupayakan sudah dalam bentuk akhir yang dibutuhkan konsumen (consumer goods). Indonesia adalah negara maritim, tak ada yang bisa memungkiri kenyataan ini. Telah sering didengungkan bahwa Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas. Berdasarkan Deklarasi Juanda 1957, wilayah laut NKRI adalah sekitar 3 juta kilometer persegi. Setelah diterimanya
28

29

Sebagai bandingan, negara maju seperti Jepang juga membangun SINas-nya di atas landasan ‘environment, culture, tradition, and national character’ bangsanya sendiri. Hasil kajian Komarulzaman dan Alisjahbana (2008) untuk kasus Indonesia menunjukkan bahwa “There appears to be resource curse when we estimate the resource rent in its three components. Forest, oil and gas sector rent have positive effect on regional economic growth. But the resource curse may occur if these resources revenues are not invested properly in public sector, either for the provision of public services or in public investment. Meanwhile, mining sector has persistently negative effect on regional economic growth. The existence of this curse will be lessened if the mining sector rent revenues are reinvested in public sector investment.”

126

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, wilayah laut NKRI bertambah luasnya dua kali lipat, menjadi sekitar 6 juta kilometer persegi. Hal yang perlu digarisbawahi, berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia mendapatkan hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil dari garis pangkal lurus Nusantara atau sampai ke batas ‘continental margin’ jika masih ada kelanjutan alamiah pulau-pulau Indonesia di dasar samudera. Masalah pokoknya, apakah setelah berhasil mengklaim teritori wilayah laut ini kita telah melakukan langkah-langkah konkret untuk mengelolanya, sebagaimana amanah konstitusi -UUD 1945 pasal 33 ayat (3)- bahwa kekayaan sumberdaya alam harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kekayaan alam yang terkandung dalam wilayah laut Indonesia juga belum diinventarisasi secara baik. Banyak potensi sumberdaya kelautan yang kita miliki, tetapi sesungguhnya belum mampu kita pahami nilai kemanfaatan ekonomi dan ekologinya. Lebih parah lagi, justru sebagian mungkin belum kita ketahui eksistensi keberadaannya di wilayah laut Nusantara. Ketidakmampuan tersebut terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi kelautan yang belum berkembang di Indonesia. Ironis memang, sebuah negara maritim seperti Indonesia tidak memprioritaskan pengembangan teknologi kelautan. Ketertinggalan dalam penguasaan teknologi kelautan tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Indonesia perlu segera meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi kelautan yang menjadi modal nasional untuk mampu mengelola sumberdaya dan wilayah laut Nusantara. Pengelolaan kelautan yang dimaksud adalah memanfaatkan kekayaan sumberdaya yang dimiliki untuk menyejahterakan rakyat yang diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutannya dengan mematuhi kaidahkaidah ekologis. Teknologi yang dikembangkan perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dengan kearifan ekologi. Ragam teknologi berasas keseimbangan ekonomi-ekologi yang perlu dikuasai mencakup: pertama, teknologi penangkapan ikan, budidaya ikan dan biota laut, serta teknologi pengolahannya; kedua, (bio)teknologi untuk memanfaatkan biodiversitas sebagai sumber bahan baku industri dan sumber tetua untuk program pemuliaan tanaman dan ikan atau biota laut lainnya; ketiga, teknologi eksplorasi dan eksploitasi migas, bahan tambang lainnya dan sumberdaya energi terbarukan; dan keempat, teknologi konservasi sumberdaya kelautan, yang dapat juga dilebarkan cakupannya pada potensi pengelolaannya untuk pariwisata bahari. Keunikan geografis dan kekayaan biodiversitas ekosistem laut Indonesia merupakan modal untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak asing. Modal alamiah ini perlu dilengkapi dengan modal kecerdasan intelektual, yakni penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi kelautan oleh pakar dalam negeri sangat krusial. Tanpa penguasaan teknologi ini, maka kita tidak akan pernah mengetahui secara tepat dan komprehensif tentang ‘apa’ dan ‘berapa banyak’ sumberdaya yang dimilikinya di wilayah laut. Ketidakpahaman ini jelas akan menempatkan Indonesia pada posisi yang lemah dalam setiap ‘dispute’ internasional di wilayah laut. Argumen yang baik tidak akan mampu dibangun di atas fondasi iptek yang rapuh. Diplomasi untuk memperjuangkan harkat martabat bangsa juga tak akan dapat dimenangkan jika tanpa amunisi pemahaman tentang potensi sumberdaya

127

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Teknologi dibutuhkan untuk mengolah sumberdaya alam menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. dan pro-environment31 sudah sangat tepat. Kebijakan pro-growth. ekonomi. diiringi dengan kebijakan ekonomi yang tepat. Tentu saja potensi sumberdaya alam Indonesia tidak hanya di laut. dan secara nyata memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat. pro-job. 128 Naskah Akademik Perubahan UU No. Penyesuaian yang dirasakan perlu dilakukan adalah: [1] proporsi antara pendidikan akademik dengan pendidikan profesional. perlu dilakukan pencermatan dua arah. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa (BPS. memacu pertumbuhan ekonomi. Potensi sumberdaya lahan untuk mendukung produksi pertanian dan beragam bahan tambang (termasuk minyak dan gas walaupun mulai menipis) yang terkandung di dalamnya juga cukup penting untuk dikelola sebagai modal pembangunan perekonomian nasional. teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang relevan dan sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya. terutama pada jenjang pendidikan tinggi.seluruh wilayah Indonesia dan potensi manusianya. 18 Tahun 2002 . Namun demikian. maka idealnya tiga persen dari Produk Domestik Bruto dialokasikan untuk pengembangan teknologi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu meningkatkan intensitas upayanya dalam meningkatkan relevansi pendidikan agar permasalahan pengangguran terdidik yang mulai meningkat signifikan selama dasawarsa 2000an ini tidak menjadi lebih buruk. tetapi lebih dimaknai sebagai keberpihakan yang memberi peluang bagi seluruh rakyat untuk ikut berperan aktif membangun bangsa dan negara ini. Pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi sumberdaya manusia. selama awalan ‘pro’ tersebut tidak sekedar bermakna keberpihakan dalam konteks pembangunan untuk rakyat. jika semua (atau paling tidak mayoritas) secara aktif ikut berpartisipasi. pro-poor. Sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan perediksi kebutuhan di masa yang akan datang. misalnya hanya dibebankan pada sekelompok elit (politik. Indonesia sebagai negara maritim segera mulai secara sungguh-sungguh berupaya untuk meningkatkan penguasaan tekno-ekologinomi laut. maka proporsi kapasitas tampung jenjang pendidikan tinggi perlu digeser dari dominan jenis pendidikan akademik (lebih mengutamakan pengkayaan pengetahuan) yang terjadi saat ini menjadi dominan pendidikan profesional (lebih mengutamakan ketrampilan teknis untuk menghadapi permasalahan nyata). Perlu digarisbawahi bahwa untuk penguasaan ketrampilan teknis tetap saja selalu membutuhkan pengetahuan dasar yang relevan. 2010) merupakan kekuatan besar untuk membangun bangsa ini. yakni menyediakan dukungan pembiayaan yang memadai untuk pengembangan teknologi nasional30 dan juga mengawal pengembangan teknologi agar fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nyata. Jakarta. 30 31 Jika mengacu pada ‘Barcelona Target’. Oleh sebab itu. dan [3] tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. dan/atau sosial) tertentu saja. ‘Four Track Strategy’ yang sering disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. antara lain pada pidato berjudul ‘Pertumbuhan Harus Berkeadilan’ pada Pembukaan Pe rdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia. 3 Januari 2011. Beberapa penyesuaian perlu segera dilakukan. Sebaliknya dapat menjadi beban yang maha berat jika harus dipikul oleh sebagian kecil dari populasi tersebut. [2] muatan kurikulum dan program studi yang ditawarkan.

Tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang terlalu berkiblat pada produktivitas selayaknya ditinjau kembali. Oleh 129 Naskah Akademik Perubahan UU No. Teknologi yang dibutuhkan mungkin saja hanya merupakan teknologi sederhana. sehingga pasar dunia kerjanya cepat menjadi jenuh. Faktor penyebab [3] karena bidang pekerjaan tersebut tidak menjanjikan secara ekonomi. yang dapat dikembangkan dan digunakan oleh masyarakat dan/atau IKM dalam proses produksi pangan untuk pemenuhan konsumsi 237 juta penduduk Indonesia. jelas bahwa nelayan juga perlu mendapat perhatian. mayoritas rakyat bekerja disektor produksi pangan (tanaman. Kontribusi nyata tenaga terdidik terhadap pembangunan nasional hanya mungkin terjadi jika keahlian dan ketrampilan yang diasah adalah relevan dengan kebutuhan dunia kerja. ternak. ikan. ternak. Inovasi adalah tentang mengkonversi ide menjadi uang. atau [3] masih ada kebutuhan aktual dari dunia kerja tetapi imbalan (finansial) yang didapatkan dari jenis pekerjaan ini tidak kompetitif dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain. Pengembangan teknologi sederhana tetapi bermanfaat akan jauh lebih baik dari pada mengembangkan teknologi super-canggih yang hanya berakhir di ruang pajang. Penyesuaian tersebut lebih ditekankan pada upaya meningkatkan relevansi substansi materinya sehingga lebih padu dengan permasalah aktual. Pencerdasan hanya dapat dicapai dengan pendidikan yang bermutu.Penyesuaian muatan kurikulum dan program studi tidak perlu diartikan sebagai perubahan mendasar dari kurikulum dan program studi yang ada. misalnya pekerjaan di sektor pertanian. [2] keahlian yang dihasilkan dari program studi tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan dunia kerja. Akibatnya kelembagaan pendidikan lebih berfungsi sebagai mesin produksi untuk menghasilkan penyandang gelar semata dan tidak menjadi pengemban amanah konstitusi untuk mencerdaskan bangsa. dan hasil hutan. Selanjutnya. Pendidikan formal rakyat Indonesia saat ini mayoritas masih relatif rendah. Dengan demikian. adalah jauh lebih baik menyediakan teknologi sederhana yang sesuai. karena sering mengakibatkan kelembagaan pendidikan pengorbankan kualitas untuk mengejar kuantitas. Akan tetapi. Pangan yang dimaksud adalah pangan dalam arti luas. Faktor penyebabnya bisa dipilah menjadi: [1] penyelenggara pendidikan yang menawarkan program studi tersebut lebih besar kapasitasnya dibandingkan dengan kebutuhan dunia kerja. mencakup pangan asal tanaman. jika diniatkan pengembangan inovasi adalah untuk melibatkan mayoritas rakyat Indonesia sebagai pelaku pembangunan. 18 Tahun 2002 . Faktor penyebab [2] terkait dengan bidang keilmuan yang relatif statis perkembangannya dan kebutuhan keahliannya juga terbatas. Jika surplus tidak akan menjadi persoalan karena dengan mudah bisa diekspor karena permintaan pasar global semakin tinggi dengan pertambahan penduduk dunia. maka teknologi yang sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas pangan sudah sepatutnya diprioritaskan. dan ikan). Pembiayaan untuk pengembangan teknologi harus diposisikan sebagai investasi bukan sebagai belanja rutin. Faktor penyebab [1] terkait dengan kemudahan sarana dan prasarana penyelenggaraan pendidikan (juga berarti biaya operasional penyelenggaraan pendidikannya lebih mudah) sehingga banyak instutusi pendidikan (terutama swasta) yang ikut menyelenggarakannya. Dengan demikian. Program-program studi yang sudah kurang diminati perlu dievaluasi faktor penyebabnya. Pendidikan adalah untuk mencerdaskan bangsa.

Teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsi mayoritas penduduk akan membuka peluang untuk berdampak lebih massal. Ide hibridisasi kegiatan pendidikan dengan aktivitas bisnis/industri memang bukan merupakan sesuatu yang baru. Di 130 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi sangat potensial diacu untuk membangun Sistem Inovasi Daerah (SIDa). Walaupun kadang sulit dijelaskan secara ilmiah. Kegiatan pemagangan (internship) telah dilakukan sejak lama di Indonesia. Teknologi yang sesuai dengan potensi sumberdaya alam lokal/nasional akan lebih terjamin keberlanjutannya dan sekaligus dapat mewujudkan kemandirian bangsa. Kearifan tradisional (tradisional wisdom) dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan sistem inovasi. Sulit diukur secara kuantitatif dan divisualisasikan. pelaku bisnis/industri umumnya hanya diundang sesekali ke lingkungan akademis dalam rangka kegiatan spesifik tertentu. dan nilai-nilai karakter bangsa lainnya merupakan faktor yang akan ikut mempengaruhi tingkat keberhasilan inovasi nasional. norma. Hanya saja kualitas dan intensitasnya terus perlu ditingkatkan. Kearifan tradisional merupakan akumulasi pengetahuan selama periode yang panjang. namun probabilitas kebenarannya relatif tinggi dan sudah teruji. Padu silang pendidikan-bisnis ini perlu dilakukan secara dua arah. perlu mempertimbangkan potensi sosial masyarakat. Akan lebih intensif. banyak pula kearifan lokal yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan sistematis dan logis. budaya. Hal itu berbeda dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang jelas wujudnya dan dapat dikuantifikasi besaran potensinya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Perindustrian perlu meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksinya dengan pihak industri. sehingga dapat dilakukan pengembangan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensinya. terutama untuk mata kuliah tertentu yang kental kaitannya dengan kebutuhan implementasinya di dunia kerja. serta memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan sekaligus pemerataan kesejahteraan. Upaya mewujudkan inovasi nasional yang lebih produktif dan efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Potensi sosial budaya dapat dikategorikan sebagai potensi non-ekonomi ini umumnya bersifat ‘intangible’. walaupun unsur-unsur ini bersifat tak-berwujud dan sulit diukur secara objektif. relevansi menjadi isu pokok. jika pelaku bisnis/industri tersebut menjadi ‘mitra penuh’ dari tenaga pengajar di perguruan tinggi. Karena sifatnya sering sangat spesifik dan lokal. Ukuran keberhasilan program pemagangan tergantung pada kualitas pembelajaran yang berlangsung selama peserta didik ditempatkan di lingkungan dunia kerja. Saat ini. 18 Tahun 2002 . Penyesuaian terhadap tradisi. selain potensi sumberdaya alam dan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas. memperbesar porsi sumberdaya manusia yang menjadi penggerak pembangunan dan sekaligus mengurangi porsi yang hanya menjadi beban pembanguan. Idealnya kegiatan ini dilandasi oleh asas saling membutuhkan dan saling menguntungkan atau bersifat mutualistik. Namun demikian dengan kecermatan akademis. maka mungkin tidak dapat menjadi acuan dalam pengembangan SINas.sebab itu. Selain pemagangan peserta didik di lingkungan kerja. juga perlu dibarengi dengan mengundang pelaku bisnis dan industri untuk menularkan pengetahuan dan/atau ketrampilan di lingkungan akademis. etika. tetapi jelas dampaknya dapat dirasakan.

pengembangan. Pengembangan. Menjadi landasan hukum yang kokoh dalam memberikan peluang dan kesempatan yang lebih luas pada masyarakat. 4. Negara Indonesia perlu segera memiliki suatu peraturan perundang-undangan yang komprehensif di bidang iptek. lembaga pendidikan dan pemerintah untuk mengembangkan iptek secara optimal. 3. perlu juga secara sungguh-sungguh diintegrasikan ke dalam suatu formula kebijakan sebagai upaya membangun SINas. Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi DPR dalam Rapat Paripurna DPR-RI. dan Penerapan Iptek adalah: 1. Urgensi Penguatan Inovasi UU No. lembaga usaha. 5. Menunjukan adanya komitmen yang lebih tegas dari pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang lebih komprehensif dalam membangun dan mengembangkan iptek. 18 Tahun 2002 ini sesuai dengan pemandangan umum fraksi-fraksi DPR terhadap urgensi sistem nasional penelitian. maupun masyarakat merupakan modal keberhasilan pengembangan suatu SINas.1. tanggal 11 September 2001 terhadap RUU Sistem Nasional Penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 5. Pengembangan. 2. maka penting dibuat Undang-Undang tentang iptek guna 131 Naskah Akademik Perubahan UU No. bisnis. dan penerapan iptek menjadi undang-undang. Beberapa contoh di atas cukup untuk justifikasi tentang pentingnya dimensi sosial dalam mewujudkan inovasi nasional yang lebih komprehensif. Menunjukan perlunya keterkaitan antara pengembangan iptek dengan upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia secara langsung dalam rangka memperoleh kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera. Keharusan untuk mengembangkan iptek yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan melibatkan publik (adanya audit iptek).2. 18 Tahun 2002 . kualitas sosial budaya yang selaras dengan prinsip-prinsip good governance dalam penyelenggaraan atau pengelolaan lembaga pemerintah. lembaga riset dan teknologi.2. Pengembangan. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. Oleh sebab itu. 5. Tujuan diundangkannya UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk mempercepat pencapaian tujuan negara.era modern ini.

Upaya-upaya tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kuantitas. Menurut UU No. yaitu penelitian. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). produktivitas. pengembangan iptek seharusnya tidak terpisahkan dalam input dan output ekonomi nasional. interaksi antara penghasil dan pengguna iptek. adanya tagline negara sebagai dasar penguatan SINas. sumberdaya. Untuk itu. perguruan tinggi. serta perlunya konsensus nasional tentang SINas. dan meningkatkan kontribusi iptek dalam aktivitas perekonomian dengan meningkatkan Total Factor Productivity (TFP). 18 Tahun 2002 pembangunan sistem inovasi nasional dilakukan melalui penelitian. kualitas. dan jaringan iptek secara lebih effektif. UU No. serta adanya sistem aliran pengetahuan dan mobilitas human capital antara perguruan tinggi dan lembaga riset dengan perguruan tinggi. 18 Tahun 2002 . Padahal dalam pengembangan ekonomi yang berbasis pengetahuan. 18 Tahun 2002 diharapkan menjadi wadah untuk menampung dan menjadi alat pemecah kesulitan segala hal yang terkait dengan inovasi. menyebutkan untuk mencapainya diperlukan adanya insitusi yg kuat dari sisi legalitas dan otoritas. Sedangkan di sisi industri. dan kesejahteraan peneliti. peningkatan pemanfaatan teknologi dalam negeri masih diperlukan. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga idealnya menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional.memberi landasan hukum bagi unsur-unsur pembentuk kemampuan Iptek serta sebagai koridor dan frame pengembangan Iptek di Tanah air kita. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 menekankan perlunya penguatan kelembagaan dari sisi penghasil iptek dan pengguna iptek. teknisi maupun SDM yang terlibat di dalam kegiatan litbang. 132 Naskah Akademik Perubahan UU No. Selain itu untuk mendukung penguatan inovasi nasional diperlukan efektifitas dan efisiensi regulasi dan sistem insentif yang mendukung inovasi nasional. pengembangan dan penerapan iptek. Hal ini menjadikan hasil penelitian dan pengembangan belum didayagunakan sepenuhnya menjadi berbagai inovasi. Dalam Bab IV Buku II RPJM 2010-2014. RPJM 2010-2014 menekankan adanya skema pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat inovasi nasional. perekayasa. program. Termasuk perlunya mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat. sumber daya. Di Indonesia. kenyataannya upaya penguatan inovasi nasional yang dicirikan dengan interaksi elemenelemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang baik. Selain itu. Kurangnya komunikasi dan interaksi antar elemen penghasil dan pengguna teknologi memberikan dampak terhadap penerapan berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil penghasil teknologi. beberapa kebijakan pemerintah juga menekankan perlunya penguatan inovasi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. dan sebagainya. Selain itu lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu meningkatkan produktivitas penelitian dan pengembangan melalui pengembangan dan pemanfaatan kelembagaan iptek. komunikasi dan interaksi yang intens antara lembaga penelitian. selain mengurangi ketergantungan teknologi asing. Oleh karena itu. Sebagai upaya mencapai tujuan sebagaimana disebutkan dalam Bab IV Buku II RPJM 20102014. Hal ini tidak mudah karena Indonesia menghadapi berbagai kendala dan penghambat dari sisi kelembagaan.

dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. c.2. Hal yang perlu dicatat dalam usulan ini adalah penguatan inovasi dapat dilakukan melalui tujuh langkah perbaikan ekosistemnya (Gambar 17). lembaga riset dan teknologi. dengan memperhatikan capaian jangka panjang untuk mendorong. Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. 5. Peraturan perundang-undangan yang ada bahkan secara jelas menyebutkan pengertian dari SINas. ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan – baik pemerintah maupun swasta – yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. 246 /M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. penguatan SINas agar didasarkan pada kemitraan pemerintah.2. dan pemanfaatan teknologi. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 Muatan rancangan undang-undang perubahan UU No. difusi. mendayagunakan. merekayasa inovasiinovasi di berbagai sektor. Menurut Keputusan Menristek No. mendukung. kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. pengertian dasar berkaitan dengan SINas mencakup: . dan sesuai kebutuhan dan kondisi. menyebut strategi penguatan inovasi nasional dengan usulan inisiatif inovasi 1-747. 32 Tahun 2011 dan Kepmenristek No. 32 Tahun 2010. Untuk itu. 133 Naskah Akademik Perubahan UU No. Upaya ini mencakup pengaturan kelembagaan secara lebih sistemik. dan meningkatkan kolaborasi dengan dunia internasional. SINas adalah: “suatu jaringan rantai antara institusi publik. Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. Presiden menekankan agar penguatan inovasi nasional disesuaikan dengan corak yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. Tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi ini mencakup: 1) Sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. b. 246/M/Kp/IX/2011. Kementerian Riset dan Teknologi mengeluarkan Keputusan Menristek No. Menurut Perpres No.” a. di Serpong pada tanggal 20 Januari 2010 juga menekankan perlunya upaya-upaya untuk penguatan inovasi nasional.Presiden Dr. komunitas ilmuwan dan swasta. Perpres No. mendukung menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. setidaknya memuat materi kebijakan penguatan inovasi yang telah dirumuskan dalam Perpres No. 32 Tahun 2011. dan d. 18 Tahun 2002 Sejalan dengan pengertian SINas dalam Perpres No.

5) Sistem remunerasi peneliti. 6) Revitalisasi infrastruktur R&D. 32/2011 ttg MP3EI) Kepmenristek No. 7) Sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. Tugas pemerintah yang paling krusial di sini adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung inovasi nasional yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. 3) Pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa dalam upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif memerlukan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas. 4) Pembangunan klaster inovasi daerah. Usulan Inisiatif Inovasi 1-747 (Perpres No. Gambar 17. Panggung yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing.2) Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. Kinerja aktor-aktor 134 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 .

32 Oleh karena itu upaya strategi pengembangan dan penguatan inovasi agar ditekankan pada: 1) Pengembangan teknologi yang difokuskan untuk pemenuhan realita kebutuhan atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna teknologi. agar diubah agar selaras dengan orientasi 32 Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia. Peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ inovasi. 3) Peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi . 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial. 10) Sinkronisasi dan optimalisasi UU No 18 Tahun 2002 serta peraturan pelaksanaannya.pelaku inovasi pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik). 4) Optimalisasi peran lembaga intermediasi. 18 Tahun 2002. 11) Pengembangan SINas harus berbasis sumberdaya nasional dan unt pemenuhan kebutuhan domestik. 2) Revitalisasi kapasitas lembaga pengembang teknologi . Kedua peraturan tersebut dapat dikatakan merupakan dasar kebijakan bagi upaya-upaya penguatan inovasi nasional. 7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) untuk mendukung implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. perlu dilakukan perubahan terhadap UU No. baik berupa barang maupun jasa. 5) Regulasi dan kebijakan yang kondusif. 8) Pembentukan konsorsium inovasi . juga melihat populasi Indonesia yang besar. 18 Tahun 2002 . 6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang-intermediasi-pengguna teknologi. pada beberapa kesempatan. 135 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kebijakan strategi penguatan inovasi melalui usulan inisiatif inovasi 1-747 maupun penentuan arah penguatan SINas untuk peningkatan kontribusi Iptek terhadap pembangunan nasional seharusnya telah dapat menjadi acuan untuk mendorong inovasi nasional. 35 Tahun 2007 secara efektif dan utuh. perindustrian. tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi pengguna teknologi. Namun demikian. lebih dari 237 juta jiwa (BPS. Nuansa pengembangan iptek yang masih bersifat supply-push. 9) Revitalisasi peran Dewan Riset Nasional (DRN). dan perdagangan agar para aktor inovasi dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. terutama di sektor ristek. Implementasi PP No. Berbagai negara. tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik. keuangan. pendidikan. sebagaimana telah diuraikan dalam kebijakan arah penguatan SINas. ketenagakerjaan. Susilo Bambang Yudhoyono.

Komite Inovasi Nasional (KIN) • Mendorong inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. yaitu: 136 Naskah Akademik Perubahan UU No. • Pengembangan SINas sesuai kebutuhan dan kondisi. serta arahan Presiden RI. Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. dlm Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masy Ilmiah. Serpong. Kebijakan Penguatan Inovasi Fokus Buku II RPJM 20102014. Bab IV Materi Pengaturan • Penguatan insitusi • Jakstranas sebagai konsensus nasional dalam upaya penguatan SINas. Tabel 9. Kecenderungan global saat ini juga lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang relevan dihadapi masyarakat. Selain dua kebijakan tersebut di atas. produktivitas.pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. • Identifikasi dan penetapan sistem insentif yang mendukung SINas.). • Pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat SINas. dan Kebijakan Strategis Nasional Iptek 2010-2014. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. dan kesejahteraan SDM • Mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat Sambutan Presiden SBY. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. 20 Januari 2010. 18 Tahun 2002 • Mengurangi ketergantungan teknologi asing . Jakstranas Iptek 2010 – 2014 • Penguatan interaksi penghasil dan pengguna iptek • Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam sektor industri • Mendorong investasi industri untuk litbang Iptek masih sangat terbatas • Mendorong produktivitas litbang • Meningkatkan kualitas. pengembangan. • Pengembangan pusat inovasi untuk mendorong industri kecil dan menengah • Pengembangan klaster inovasi daerah • Revitalisasi infrastruktur R&D • Sistem dan manajemen pendanaan riset • Sistem remunerasi peneliti • Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia • Sistem insentif dan regulasi yang mendukung. Dokumen tersebut menekankan beberapa hal terkait dengan upaya penguatan inovasi nasional (Tabel 9. secara garis besar menekankan pada empat hal. • Pengembangan kemitraan dan kolaborasi dengan dunia internasional. • Penguatan aliran pengetahuan dan mobilitas human capital. Dua kebijakan tersebut. kebijakan-kebijakan lain yang terkait adalah dokumen RPJM 2010-2014.

pengembangan. difusi.). dan badan usaha • Pasal 13 – jaringan informasi iptek • Pasal 15 ayat (1) – jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur kelembagaan iptek • Pasal 17 ayat (1) – kerjasama internasional • Pasal 28 ayat (2) – jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek Peningkatan hasil. dan penguatan audit teknologi (Tabel 9. dan swasta. pendayagunaan. 6.invensi di bidang iptek • Pasal 9 ayat (2) – pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang • Pasal 13 ayat (4) – pengelolaan. Keempat hal tersebut di atas telah diatur dalam UU No. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. lembaga litbang.). peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. lembaga ristek. 18 Tahun 2002 di atas. lembaga ristek. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 Fokus UU No. Fokus Perubahan dalam UU No. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. 18 Tahun 2002 . Penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. dan pemajuan iptek Peningkatan penerapan dan diseminasi hasil litbangrap (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yg mempunyai • Pasal 8 ayat (2) . dan swasta. Perubahan ini juga diarahkan untuk memperkuat usulan inisiatif inovasi 1-747. penguatan daya dukung iptek. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. penguatan jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek. dan 8.5. 7. inovasi. rekayasa inovasi pengembangan. difusi. rekayasa inovasi . dan pemanfaatan teknologi. • Pasal 5 ayat (1) – keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu • Pasal 10 ayat (2) – peran lembaga penunjang dalam mendorong sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. serta penentuan arah penguatan SINas (Tabel 10. pendayagunaan. Pengaturan tersebut mencakup antara lain perlunya adanya keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu. 18 Tahun 2002. universitas. pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang. Perubahan ketentuan UU No. pemanfaatan dan pemajuan iptek • Pasal 9 ayat (1) – fungsi badan usaha dalam perekayasaan. dan difusi teknologi • Pasal 16 ayat (1) – alih teknologi kekayaan intelektual dan hasil litbang • Pasal 27 ayat (3) – dukungan dana bagi penguasaan. pemanfaatan. peningkatan hasil. pengembangan. Tabel 9. universitas. dan pemanfaatan teknologi. • Pasal 4 – penguatan daya dukung iptek • Pasal 6 ayat (2) – fungsi kelembagaan dalam penguasaan. pemanfaatan kekayaan intelektual dan 137 Naskah Akademik Perubahan UU No. tentunya agar diarahkan untuk mengakomodir upaya penguatan inovasi.

• Penambahan ayat unt penyebaran informasi hasil litbang dan kekayaan intelektual. serta kode etik. Pasal 15 Pasal 17 Pasal 18 Penambahan pada ketentuan yang ada dg penekanan pada kemitraan. dan audit teknologi dan SNI Tabel 10. 18 Tahun 2002 hasil litbang Pasal 19 ayat (3) – penguatan tarikan pasar bagi hasil litbang. pemerintah/pemerintah daerah dimungkinkan memberikan stimulan dan fasilitas untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. Pasal 6 Pasal 9 Pasal 19 138 Naskah Akademik Perubahan UU No. perekayasaan. dan sertifikasi keahlian. • Ketentuan ini diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. inovasi. • Pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Pasal 12 • Ditambahkan 2 ayat.Fokus nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. mengenai perlunya menentukan standar. yang menekankan penyusunan Jakstranas Iptek ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Setelah Pasal 17 ditambahkan mengenai pengaturan MTA Setelah Pasal 18 ditambahkan penekanan pada Jakstranas Iptek sebagai acuan pengembangan iptek. Pasal Pasal 3 Usulan Perubahan Ditambahkan 2 ayat unt mengakomodir amandemen keempat UUD 1945 Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 6. untuk pemenfaatan hasil litbang. 18 Tahun 2002. Pasal 13 • Ditambahkan ayat baru. UU No. Setelah Pasal 19 ditambahkan satu pasal. Usulan Perubahan dalam UU No. 18 Tahun 2002 . dan inovasi dalam negeri • Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 9. serta peningkatan pengelolaan kekayaan intelektual dan hasil litbang. dan difusi teknologi. persyaratan. Ruang lingkup kegiatan inovasi adalah NKRI.

18 Tahun 2002 . baik industri. yang dihasilkan oleh pengembang dan diimplementasikan oleh pengguna dalam proses produksi barang/jasa sesuai kebutuhan konsumen atau permintaan pasar. Dari sisi lain.Bab 6 Rangkuman dan Rekomendasi 6. Kecenderungan global saat ini dan kepentingan nasional dalam rangka menunaikan amanah konstitusi sebetulnya berjalan paralel dan menuju satu muara. karena yang akan menentukan adalah kualitas interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut yang dibuktikan dengan terjadinya: [1] aliran informasi kebutuhan dan/atau persoalan teknologis yang dihadapi oleh para pengguna yang sampai ke pengembang teknologi. masyarakat. aktivitas riset di masa yang akan datang perlu lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menyediakan solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi para pengguna teknologi.1. terutama pasar domestik. Arah pembangunan iptek perlu diupayakan menuju peningkatan kontribusi teknologi terhadap pembangunan berbagai sektor. 139 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam konteks ini. dan [2] aliran teknologi yang relevan dan sesuai kapasitas adopsi pengguna. Rangkuman Kepentingan nasional dan kecenderungan global membutuhkan perubahan yang mendasar tentang arah pembangunan iptek. tentu dimaksudkan bahwa pengembangan teknologi harus diarahkan untuk menyejahterakan rakyat dan peningkatan peradaban bangsa Indonesia. Dengan demikian. terutama sektorsektor perekonomian. Eksistensi inovasi tidak secara langsung dapat dijamin oleh keberadaan lembaga pengembang teknologi yang maju dan lembaga pengguna teknologi dengan kapasitas produksi yang besar. konstitusi Indonesia juga secara jelas dan tegas mengamanahkan bahwa pembangunan iptek ditujukan untuk meningkatkan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. yakni mewujudkan inovasi nasional yang lebih efektif dan produktif. ataupun pemerintah.

Gabungan antara STP dan IP ini akan dapat menjadi model SINas Indonesia yang handal. mitra kerja potensial. Mantab dalam makna mendapat dukungan dari berbagai regulasi dan kebijakan dari sektor-sektor yang terkait langsung dan berpengaruh nyata terhadap proses mewujudkan dan perkuatan inovasi nasional. Nyaman dalam pengertian kebijakan-kebijakan sektoral tersebut bermuara pada kondisi ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi. Fasilitasi pemerintah untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi dapat juga dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor-aktor inovasi tersebut untuk berinteraksi dalam satu kawasan. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. dan perdagangan. termasuk regulasi dan kebijakan riset dan teknologi. serta juga peran intermediasi dan fasilitasi agar interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut dapat lebih diintensifkan. kawasan Puspiptek Serpong sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. Upaya ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kompetensi sumberdaya manusia pada lembaga pengguna (industri dan pemerintah) atau pengguna individual dalam masyarakat. Ide ini diimplementasikan dengan membangun Science and Technology Park (STP). dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. maka perlu dilakukan refocusing agar kapasitas tersebut dapat diarahkan sesuai dengan prioritas untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna. Pengembang dan pengguna teknologi sebagai aktor utama dalam penguatan inovasi nasional sering masih membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan kebijakan yang memotivasi dan berkesesuaian. tetapi juga dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk mengakses infromasi. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi perlu diimbangi dengan upaya peningkatan kapasitas adopsi teknologi pada lembaga pengguna. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi ini diarahkan agar lembaga ini tidak hanya handal dalam mendukung aktivitas riset dan pengembangan (R&D capacity) semata. diperlukan upaya pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) pada seluruh koridor pembangunan perekonomian nasional. perindustrian. Sejalan dengan pengembangan MP3EI. Untuk peran intermediasi dapat juga dimainkan oleh lembaga non-pemerintah. 18 Tahun 2002 .Dalam rangka mendayagunakan secara optimal kapasitas lembaga pengembang teknologi yang sudah baik. dan sumber pembiayaan eksternal (sourcing capacity) serta kapasitasnya dalam mendifusikan hasil riset dan teknologi kepada pengguna potensialnya (disseminating capacity). ketenagakerjaan. keuangan. pendidikan. Untuk kondisi Indonesia. Interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi membutuhkan ‘panggung’ yang yang mantab dan nyaman. Pembentukan unit kerja dalam struktur organisasi lembaga pengguna dan/atau peningkatan aktivitas in-house research pada lembaga pengguna terbukti dapat mendorong peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. yang masing-masing fokus pada isu-isu ekonomi strategis sesuai dengan potensi 140 Naskah Akademik Perubahan UU No. disarankan dinamakan sebagai ‘Indonesian InnoPark’.

dan untuk menyediakan solusi teknologi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. maka beberapa butir rekomendasi yang dapat disampaikan adalah: (1) Pengembangan teknologi Indonesia perlu difokuskan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna 141 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . dan dapat juga jika dianggap strategis melibatkan lembaga penunjang tertentu. termasuk sumberdaya alam.2. industri. Alternatif lain yang dapat didorong adalah membangun konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dari anggota konsorsium. diperbaiki. Kemungkinan untuk reposisi DRN juga perlu mendapat pertimbangan agar peran koordinasi lebih efektif dapat dilaksanakan. Untuk revitalisasi peran DRN ini. anggota konsorsium merupakan representasi dari pengembang teknologi. dan konsisi sosio-kultural serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. dan pemerintah sebagai pengguna teknologi. 35 Tahun 2007. termasuk permintaan pasar domestik. atau bahkan dilengkapi sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. maka sangat mungkin pada masing-masing koridor dikembangkan beberapa pusat unggulan sesuai dengan realita kebutuhannya. lembaga intermediasi. serta dari unsur pemerintah. Orientasi pengembangan inovasi nasional yang berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. Dewan Riset Nasional (DRN) sebagai lembaga non-struktural yang terkait langsung dengan upaya membangun inovasi nasional perlu lebih dioptimalkan perannya. Dalam konteks penguatan inovasi nasional. maka keanggotaan DRN perlu disesuaikan agar secara seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. termasuk pelaksanaan UU No. Kemungkinan penerbitan Undang-Undang Sistem Inovasi Nasional juga merupakan salah satu alternatif yang perlu diekplorasi lebih lanjut. Selanjutnya langkah ini juga harus fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nasional. harkat. Regulasi dan kebijakan yang ada saat ini dirasakan masih perlu disinkronisasikan. terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan iptek. merekomendasikan arah dan prioritas riset nasional. dan martabat bangsa Indonesia. pengguna teknologi.ekonomi masing-masing wilayah koridor. serta koordinasi antara lembaga pengembang teknologi. manusia. 6. Semua langkah-langkah yang akan ditempuh dalam rangka mewujudkan atau perkuatan inovasi nasional yang telah diuraikan di atas tetap secara konsisten berbasis pada potensi sumberdaya nasional. 18 Tahun 2002 dan PP No. yang terkait langsung dengan upaya mencapai sasaran bersama yang telah disepakati. Memahami bahwa satu koridor ekonomi masih dapat dijumpai keragaman potensi ekonominya. Rekomendasi Berdasarkan telaah yang telah dilakukan secara komprehensif ini.

(5) Pemerintah menyiapkan ‘panggung’ bagi para aktor inovasi agar dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. Kemungkinan reposisi DRN juga perlu dipertimbangkan agar peran koordinasi DRN menjadi lebih efektif. serta dari unsur pemerintah. yakni kapasitas riset dan pengembangan. dan kapasitas difusinya.teknologi. dengan demikian maka upaya penguatan inovasi dapat mengalami akselerasi. sehingga teknologi dapat secara nyata berkontribusi terhadap pembangunan nasional. keuangan. Partisipasi pihak non-pemerintah perlu dirangsang untuk berperan dalam intermediasi ini. dimana kawasan Puspiptek Serpong dapat diprioritaskan untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. pendidikan. (8) Pembentukan konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dan memiliki nilai strategis nasional perlu didorong karena akan menjadi vehicle yang efektif sebagai model implementasi SINas. dan lembaga pemerintah sesuai dengan konsepsi penguatan SINas. (6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) perlu disegerakan agar tersedia wahana untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi. (10) UU No. 18 Tahun 2002 . (4) Peran lembaga intermediasi perlu lebih dioptimalkan sehingga interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi dapat lebih intensif dan produktif. industri. kapasitas sourcing. termasuk masyarakat. dan perdagangan. antara lain melalui perbaikan komposisi keanggotaannya agar secara lebih seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. (3) Kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi perlu ditingkatkan agar proses difusi teknologi dalam rangka mewujudkan inovasi nasional dapat lebih berpeluang untuk terlaksana. melalui pemberlakukan regulasi dan kebijakan yang kondusif. 35 Tahun 2007 142 Naskah Akademik Perubahan UU No. (7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) perlu segera diinisiasi dalam rangka memberikan dukungan terhadap implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. Pengembangan. (9) Peran Dewan Riset Nasional (DRN) perlu direvitalisasi. ketenagakerjaan. yakni meningkatkan kontribusi teknologi terhadap percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. (2) Kapasitas lembaga pengembang teknologi perlu direvitalisasi agar mempunyai tiga kapasitas yang dibutuhkan dalam menopang penguatan inovasi nasional. Peran lembaga intermediasi perlu diperluas sehingga tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi para pengguna teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta turunannya PP No. terutama di sektor riset dan teknologi. perindustrian.

Inovasi. dan martabat bangsa Indonesia. dan Difusi Teknologi perlu disinkronisasikan. atau bahkan dilengkapi dengan produk turunannya sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. harkat. (11) Orientasi pengembangan inovasi nasional harus berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. 18 Tahun 2002 . diperbaiki. 143 Naskah Akademik Perubahan UU No.tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan.

Ipswich. 1987. 2003. 1994. Gramedia Pustaka Utama. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Freeman. Knowledge bases and regional innovation systems: comparing Nordic clusters. National Innovation Systems. E. Simfoni Inovasi: cita dan realita. In: W. Pinter. Jakarta. 2009. Research Policy 37:1417-1435 Firdausy.N.T. 1995. and E. Baumol. Dalam: Kadiman. University Of Queensland. Catch-up and convergence in the postwar growth boom and after. S. H. Center for Technology and Policy Studies. London. 2008. technology and innovation indicators: What we can learn from the past. and M.M. Government centrality to university–industry interactions: University research centers and the industry involvement of academic researchers. Apeldoorn. Geographies of Production: growth regimes in spatial perspective – innovation. 2009. Oxford University Press. J. 144 Naskah Akademik Perubahan UU No. Badan Pusat Statistik. Progress in Human geography 27(6):763778 Boardman. Assessing the Distributional Power of National Innovation System: pilot study of the Netherland. Cambridge (USA). 2005. and L.C. R. Nelson. Wolf (eds). Soete.R. M. Asheim. Statistik Indonesia. 2005. Convergence of Productivity: Crossnational studies and historical evidence. Netherland. 2009b. Technology and Economic Performance: lessons from Japan. Jakarta. Developing science. 2008. Jakarta. C. And L. P. Coenen. Jakarta Casey. 2009a. C. Oxford (UK). and social systems. Jakarta. 2010. Gramedia Pustaka Utama. A. Jadikan Iptek sebagai HAM. The Belknap Press. Regulasi/Deregulasi. Research Policy 38:1505–1516 BPS. B. Establishing Standards for Social Infrastructure. Hasta. Research Policy 34(8):1173-1190 Bathelt. 1996. C. Review of Industrial Organization 11:601-616 Haryoto. Foresight. Haagedoorn. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan.M. Srholec. Trends and Patterns in Strategic Technology Partnering since the Early Seventies. P. Capabilities and Economic Development. institutions. 1962. Freeman. Firdausy. Membangun Iptek yang Memihak Rakyat.J. Economic Backwardness in Historical Perspective. J. Gramedia Pustaka Utama. Iptek sebagai Keharusan untuk Pertumbuhan Ekonomi. 2009. C. Research Policy 38:583–589 Gerschenkron.Referensi Abramovitz. Hertog. L. Fagerberg. 18 Tahun 2002 . Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan.

2001. Perencanaan Lintas-Sektor. and S. B. 2008. Indikator Kinerja Lembaga Litbang di Era Informasi Terbuka. L. Paris. Flanagan. Uyarra. serta kendala. P. Research Policy 30(7):1091-1114 Loikkanen. 2009. and K. Comparing innovation system: a framework and applications to China’s transitional context. Kadiman. 23 Juni 2011.A.. Banjarbaru. Jakarta. Pinter. R. National System Innovation: towards a theory of innovation and interactive learning. 19-21 June. 1996. Pellinen. B. Simfoni Inovasi: cita dan realita. K. Paper presented at the OECD Workshop on New Indicators for the Knowledge-based Economy. Universitas Sahid.. T. Testing the Natural Resource Curse Hypothesis in Indonesia: Evidence at the Regional Level. dan M. 2004. B. Universitas Sahid Jakarta. Laranja. Bandung. Katz. Jakarta. Triple Helix indicators of knowledge-based innovation systems: Introduction to the special issue.D. Seminar Nasional Revitalisasi Lembaga Litbang. The role of the technology barometer in assessing the performance of the national innovation system. Policies for science. 2009. A. Kadiman. E. Lakitan. and K. 23 November 2010. 2006. Gramedia Pustaka Utama. D. Jakarta. And S. 2011a. Carlaw. Technological Forecasting & Social Change 76:1177–1186 Lundvall. 18 Tahun 2002 . 2011b. Ibrahim. Total Factor Productivity and the Measurement of Technological Change. 145 Naskah Akademik Perubahan UU No. Meyer. 23 November 2010. 12-15 April 2011. 2006. Keynote speech pada Seminar dan Lokakarya Nasional Pengembangan Agroindustri Kalimantan Selatan: prospek. Systemic Bibliometric Indicators for the Knowledge-based Economy. Simfoni Inovasi: cita dan realita. X. Research Policy 37:823-835 Leydesdorff. Foresight. Makalah pengarahan pada Temu Peneliti Badan Litbang dan Diklat VIII Kementerian Agama. H. Working Paper in Economics and Development Studies No. Lakitan. Research Policy 35:1441–1449 Lipsey. Canadian Journal of Economics 37(4):1118-1150 Liu. peluang. Foresight. London. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Membangun Relasi Akademisi-Bisnis-Pemerintah. White. Dalam: Kadiman. Keynote speech pada Seminar Revitalisasi Kelembagaan Litbang. K. 2008. Revitalisasi (Reformasi) Lembaga Litbang untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. Jakarta. M. Revitalisasi Kelembagaan Riset dan Pengembangan untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional.G. 2010. Membangun Agroindustri dan Mewujudkan Sistem Inovasi: agar teknologi berkontribusi pada kesejahteraan rakyat. Alisjahbana. Ahlqvist and. T.Hicks. Lakitan. D. 200602. 2008. B. Makassar. and Armida S. Komarulzaman. 2010.I. Universitas Lambung Mangkurat. Universitas Padjadjaran. Hidayat. 1992. technology and innovation: Translating rationales into regional policies in a multi-level setting. dan potensi.

Dalam: Kadiman. Dalam: Kadiman. Strategic Priorities for Science. Organisation for Economic Co-Operation and Development. H.14. Oxford University Press. 1995. Organisation for Economic Oey-Gardiner. The Economic Foundations of Technology Policy: equilibrium and evolutionary perspective. A review of the recent contribution of systems thinking to operational research and management science. National Innovation System: a comparative analysis. and G. 2009. Industri. OECD. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2010. National Innovation Systems. 2002. Science Technology and Innovation Review No. 2008. The Nature and Economic Importance of National Innovation Systems. Analisis Undang-undang No. Malherbe G. Sixth edition.. Metcalfe. 2008. 2002. France. 2008a. Foresight. Innovation Strategies: scoping document. Patel. Frascati Manual: The Proposed Standard Practice for Surveys of Research and Experimental Development. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Stoneman (ed). Oxford. Foresight. In: P. 2005. Oslo Manual: guidelines for collecting and interpreting innovation data. and K. Organisation for Economic Co-Operation and Development. Paris. Jakarta. R. Paper presented at the Eurostat Conference on Innovation Measurement and Policies. European Journal of Operational Research 207:1147–1161 Mulatsih. France. bukan Pabrik. P. Culture. The Knowledge-Based Economy. Technology. And L. Paris OECD. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Dalam: Kadiman. Virtual Consulting International Ltd. 146 Naskah Akademik Perubahan UU No. Paris OECD. 1994. 2010. Konsistensi Regulasi. Industry Studies of Innovation Using CIS Data: computer and office machinery. Sri. OECD. 2008. New York. 1996. Handbook of the Economic of Innovation and Technological Change. 18 Tahun 2002 . Ministry of Education. Panigoro. and Innovation Policy. White. 1996. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). dan Prakoso Bhairawa Putera. Corporate Innovation at Work: Defining the innovation consortium. Oxford. Tokyo. Paris. Jakarta. M. Organisation for Economic Cooperation and Development..Malerba. France. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. S. Pengembangan. Paris. 2008b. Third edition. 1993. 1997. OECD. Prihandana. Sport. Mingers. Jakarta. Pavitt. J. Paris. OECD. F. R. Foresight. Teknologi dan Tanggung Jawab Sosial. Annual Report on the Promotion of Science and Technology. Cooperation and Development. Paris. Stanway. Blackwell Publishers. Organisation for Economic Cooperation and Development. France. LIPI Press: Jakarta Nelson. MEXT. Science and Technology. Organisation for Economic Cooperation and Development. OECD.

The influences of technology development on economic performance—The example of ASEAN countries.R. World Economic Forum. Chien. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Jakarta. Foresight. . Foresight. 2008.Rosenberg. United Nations Conference on Trade and Development. I. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan.C. 2009. Jakarta. Jakarta. New York Wang. Washington DC 147 Naskah Akademik Perubahan UU No. Simfoni Inovasi: cita dan realita. S. Jakarta. Harvard University Press. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Nalar Ekonomi versus Nalar Teknologi. 2007. Dalam: Kadiman. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2010. 1994. American Universities and Technical Advance in Industry. dan S. Jakarta. T. Nelson. 2010. Foresight. Governance of Innovation Systems in the Current Global Setting. S.Y.Y. Jakarta. B. N. 18 Tahun 2002 Warsono. 2009. Embargo sebagai Pemicu. The Global Competitiveness Report 2010-2011. Jakarta Suhardi. Dalam: Kadiman. Research Policy 23(3):323-348 Santoso. Dalam: Kadiman. and R. UNCTAD. 2008. The Theory of Economic Development. 2010. Gramedia Pustaka Utama. Sharif. Foresight. Dalam: Kadiman. 2008. 2008. The World Bank. Bahan Ceramah di LIPI. Thee Kian Wie. Innovation Policy: a guide for developing countries. Technovation 27:471–488 WEF. J. Gramedia Pustaka Utama. Setiawan. Peran Intermediasi dalam Membangun Kolaborasi Lembaga Litbang dan Industri. 2009. Inovasi untuk Pemberdayaan Industri. B. World Investment Prospects Survey 2008-2011. Schumpeter. Cambridge. Peran Badan Intermediasi. 1934. Setiawan. Kesinambungan Milestone. Geneva World Bank.

Sumbangan Pembinaan Olahraga. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Soesilo Bambang Yudhoyono. dan Difusi Teknologi. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional (KIN). dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. 18 Tahun 2002 7. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional Untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Pembangunan Nasional 9. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. dalam Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. Serpong. 2.Lampiran Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Nasional 1. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 193/M/Kp/IV/2010 tentang Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek 2010.2014. dan Penerapan Ilmu Pengetahun dan Teknologi. 148 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 20 Januari 2010. Sambutan Presiden Dr. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Inovasi. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 6. 5. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 8. 3. 4. .

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. terakhir dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. memajukan kesejahteraan umum. ayat (2). Undang. dan menyerasikan tata kehidupan manusia beserta kelestarian fungsi lingkungan hidupnya berdasarkan Pancasila. pengembangan. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI. yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). b. PENGEMBANGAN. e. berbangsa. 149 Naskah Akademik Perubahan UU No. c. dan d perlu dibentuk Undang-Undang tentang Sistem Nasional Penelitian. PENGEMBANGAN. diperlukan sistem nasional penelitian. serta mencerdaskan kehidupan bangsa. 18 Tahun 2002 . dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengandung dan membentuk keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. d. pemanfaatan. Dengan persetujuan : DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. Pengembangan. serta jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh di lingkungan Negara Republik Indonesia. sumber daya. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan bermasyarakat. pemanfaatan.Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah. ayat (4). DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. c. bahwa untuk menumbuhkembangkan penguasaan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pemanfaatan. b. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada butir a. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tugas dan tanggung jawab negara. bahwa penumbuhkembangan sistem nasional penelitian.Lampiran 1. pengembangan. bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk kepentingan umat manusia yang dalam pengelolaan dan pendayagunaannya diperlukan penguasaan. dan bernegara di Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pencapaian tujuan negara sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. bahwa penguasaan.

9. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. produk. sosial budaya. 3. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. atau berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. baik yang berada di lingkungan dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya. Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga. Penerapan adalah pemanfaatan hasil penelitian. disusun. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Inovasi adalah kegiatan penelitian. 7.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. 6. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. atau orang. 18 Tahun 2002 5. pelestarian fungsi lingkungan hidup. 8. Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat dipergunakan untuk menyempurnakan atau memperbarui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. 150 Naskah Akademik Perubahan UU No. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. inovasi. data. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. pengembangan. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk desain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. . kemajuan bangsa. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. manfaat. kualitatif. bisnis. 2. dan estetika. atau menghasilkan teknologi baru. pengembangan. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. baik yang bersifat kuantitatif. 4. 10. 11. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis adalah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keterkaitan yang luas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh. badan. kelangsungan. serta difusi teknologi. Teknologi adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. dan/atau ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam kegiatan perekayasaan. fungsional. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada.

Badan usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. serta asas tanggung jawab akademis. asas kebenaran ilmiah. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. 17. selanjutnya disebut Pemerintah. Lembaga penelitian dan pengembangan yang selanjutnya disebut lembaga litbang adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan penelitian dan/atau pengembangan. asas kebebasan berpikir.12. 15. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kebebasan akademis. Pengembangan. 151 Naskah Akademik Perubahan UU No. asas kesisteman dan percepatan. atau suatu bidang kegiatan profesi. pemanfaatan. BAB III FUNGSI. DAN JARINGAN Bagian Pertama Fungsi Pasal 5 (1) Sistem Nasional Penelitian. Pengembangan. 13. dan tanggung jawab akademis. Pasal 4 Sistem Nasional Penelitian. Pasal 3 Sistem Nasional Penelitian. asas kebebasan akademis. KELEMBAGAAN. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan memperkuat daya dukung ilmu pengetahuan dan teknologi bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. 16. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. Pemerintah pusat. 18. Menteri adalah menteri yang membidangi penelitian. SUMBER DAYA. yang dijamin oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika profesi dalam masyarakat. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan. pengembangan. 18 Tahun 2002 BAB II ASAS DAN TUJUAN . Pengembangan. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. asas tanggung jawab negara. Organisasi profesi adalah wadah masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Pasal 2 Pengertian peristilahan dalam Pasal 1 yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berpikir. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dikembangkan berdasarkan asas iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 14. Hak kekayaan intelektual yang selanjutnya disebut HKI adalah hak memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

pemanfaatan. lembaga litbang bertanggung jawab mencari berbagai invensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menggali potensi pendayagunaannya. Pasal 10 (1) Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. pemerintah daerah. unsur sumber daya. pengembangan. Pasal 8 (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).(2) Unsur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas unsur kelembagaan. lembaga penunjang. dan unsur jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Lembaga litbang dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. dan organisasi masyarakat. (2) Kelembagaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi : a. dan difusi teknologi. Pengembangan. mengorganisasikan pembentukan sumber perekayasaan. pemanfaatan. Bagian Kedua Kelembagaan Pasal 6 (1) Kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. membentuk iklim dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. daya manusia. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. 152 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 9 (1) Badan usaha sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. dan difusi teknologi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomis. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. penelitian. inovasi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 18 Tahun 2002 (1) Lembaga litbang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. penelitian dan pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan perekayasaan. atau bagian dari organisasi pemerintah. dan lembaga penunjang. Pengembangan. lembaga litbang. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan. inovasi. badan usaha bertanggung jawab mengusahakan pendayagunaan manfaat keluaran yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. perguruan tinggi bertanggung jawab meningkatkan kemampuan pendidikan dan pengajaran. badan usaha. . perguruan tinggi. Pasal 7 (1) Perguruan tinggi sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi. badan usaha. serta pengabdian pada masyarakat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab mengembangkan struktur dan strata keahlian. Pasal 12 (1) Dalam meningkatkan keahlian. dan badan usaha. dan/atau badan usaha dapat membangun kawasan. jenjang karier sumber daya manusia. Bagian Ketiga Sumber Daya Pasal 11 (1) Sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas keahlian. pusat peragaan. perekayasaan. lembaga litbang. serta kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. lembaga penunjang bertanggung jawab mengatasi permasalahan atau kesenjangan yang menghambat sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. serta menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil di lingkungannya sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. persyaratan. dan badan usaha yang melaksanakannya. kepakaran. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. (2) Untuk menjamin tanggung jawab dan akuntabilitas profesionalisme. kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. kekayaan intelektual dan informasi. Pasal 13 (2) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan penyebaran informasi hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan serta kekayaan yang dimiliki selama tidak mengurangi kepentingan perlindungan kekayaan intelektual. Pasal 14 Pemerintah. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih 153 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi lain untuk memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan masyarakat. Pengembangan. serta kode etik profesi. organisasi profesi wajib menentukan standar. Bagian Keempat Jaringan Pasal 15 (1) Jaringan Sistem Nasional Penelitian. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan pembentukan sentra HKI sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. pengembangan. (2) Setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab meningkatkan secara terus menerus daya guna dan nilai guna sumber daya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). kepakaran. . serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah mendorong kerja sama antara semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan jaringan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. dan sertifikasi keahlian. (3) Dalam meningkatkan pengelolaan kekayaan intelektual. lembaga litbang. pemerintah daerah. (4) Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian.

(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. melengkapi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia. lembaga litbang asing. pengalihan teknologi dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang telah diatur sebelumnya dengan pihak lain tersebut. wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. selain pemerintah dan/atau pemerintah daerah. BAB IV FUNGSI DAN PERAN PEMERINTAH Bagian Pertama Fungsi Pemerintah Pasal 18 (1) Pemerintah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah kepada badan usaha. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. dan orang asing yang tidak berdomisili di Indonesia yang akan melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia harus mendapatkan izin tertulis dari instansi pemerintah yang berwenang. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Pemerintah bertanggung jawab memberikan dukungan bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam rangka kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan Sistem Nasional Penelitian. memberikan stimulasi dan fasilitas. (3) Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri. sejauh tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan. Pasal 17 (1) Kerja sama internasional dapat diusahakan oleh semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan alih teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat ilmiah internasional. badan usaha asing. lembaga litbang. (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pemerintah wajib merumuskan arah. dan lembaga penunjang. Pengembangan. ayat (2). (2) Untuk mengembangkan jaringan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). perguruan tinggi. serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).besar dari keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh masing-masing unsur kelembagaan secara sendirisendiri. 18 Tahun 2002 . (4) Perguruan tinggi asing. prioritas utama. 154 Naskah Akademik Perubahan UU No. memperkuat. Pasal 16 (1) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. (2) Apabila sebagian biaya kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibiayai oleh pihak lain. pemerintah. badan usaha. (2) Kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilaksanakan atas dasar persamaan kedudukan yang saling menguntungkan dengan tidak merugikan kepentingan nasional. atau masyarakat.

serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan. dan peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan yang merupakan tulang punggung perkembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. prioritas utama. penguatan penguasaan ilmu-ilmu dasar. (4) Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan penelitian. pengembangan. b. penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. 155 Naskah Akademik Perubahan UU No. (3) Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian. penguatan kemampuan audit teknologi impor yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia untuk melindungi konsumen dan memfasilitasi pertumbuhan industri dalam negeri.Pasal 19 (1) Menteri wajib mengoordinasikan perumusan kebijakan strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. . dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan difusi teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. pemerintah daerah wajib merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. Pasal 20 (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. memberikan stimulasi dan fasilitas. Bagian Kedua Peran Pemerintah Pasal 21 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah berperan mengembangkan instrumen kebijakan untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). c. Pengembangan. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. pengembangan. (3) Dalam merumuskan kebijakan strategis yang dimaksud dalam ayat (2). ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis. pemerintah daerah membentuk Dewan Riset Daerah yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. pemerintah membentuk Dewan Riset Nasional yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. serta penguatan penguasaan ilmu-ilmu sosial dan budaya yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. sumber daya. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Untuk mendukung Menteri dalam merumuskan arah. dan jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Nasional Penelitian. pemerintah daerah harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menteri wajib memperhatikan pentingnya upaya : a. inovasi.

(5) Pelaksanaan instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diselenggarakan secara adil. baik yang berdiri sendiri sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen maupun sebagai unit kerja departemen atau pemerintah daerah tertentu. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Setiap orang mempunyai hak untuk menggunakan dan mengendalikan kekayaan intelektual yang dimiliki sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pembentukan lembaga. demokratis. Pasal 23 (1) Pemerintah menjamin perlindungan bagi HKI yang dimiliki oleh perseorangan atau lembaga sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dukungan dana. serta kekayaan hayati dan non hayati di Indonesia. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. (2) Pemerintah menjamin perlindungan bagi pengetahuan dan kearifan lokal. terhadap penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemberian insentif. 18 Tahun 2002 . dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai hak memperoleh penghargaan yang layak dari pemerintah. (2) Setiap warga negara yang melakukan penelitian. pengembangan. pengembangan. BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 24 (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan serta dalam melaksanakan kegiatan penguasaan. nilai budaya asli masyarakat. (2) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. transparan. Pasal 25 156 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 22 (1) Pemerintah menjamin kepentingan masyarakat. dan akuntabel. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berisiko tinggi dan berbahaya dengan memperhatikan standar nasional dan ketentuan yang berlaku secara internasional. penyelenggaraan program ilmu pengetahuan dan teknologi. (4) Lembaga yang dimaksud dalam ayat (3) dapat meliputi lembaga litbang dan lembaga penunjang. Pengembangan. dan/atau masyarakat sesuai dengan kinerja yang dihasilkan.(2) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan sebagai bentuk kemudahan dan dukungan yang dapat mendorong pertumbuhan dan sinergi semua unsur Sistem Nasional Penelitian. (4) Setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh informasi secara mudah dengan biaya murah tentang HKI yang sedang didaftarkan dan telah dipublikasikan secara resmi oleh pihak yang berwenang atau yang telah memperoleh perlindungan hukum di Indonesia. (3) Pemerintah menjamin perlindungan bagi masyarakat sebagai konsumen. (3) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat berbentuk dukungan sumber daya. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. pemerintah mengatur perizinan bagi pelaksanaan kegiatan penelitian. bangsa. pemanfaatan. pemerintah daerah.

(2) Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. 18 Tahun 2002 (3) Perguruan tinggi. dan Pasal 21 ayat (1). Pasal 20 ayat (1). pemanfaatan. (2) Masyarakat ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab untuk berperan serta mengembangkan profesionalisme dan etika profesi melalui organisasi profesi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. organisasi masyarakat dan inventor mandiri berhak atas dukungan dana dari anggaran pemerintah dan pemerintah daerah untuk meningkatkan penguasaan. badan usaha. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 27 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran sebesar jumlah tertentu yang cukup memadai untuk memacu akselerasi penguasaan. (2) Anggaran yang dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk membiayai pelaksanaan fungsi dan peran pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1). sampai dengan pembatalan atau pencabutan izin oleh instansi pemberi izin. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan. inovasi. pemanfaatan. pemberhentian sementara kegiatan. peringatan. . (3) Setiap organisasi profesi wajib membentuk dewan kehormatan kode etik sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (2). lembaga penunjang.(1) Masyarakat wajib memberikan dukungan serta turut membentuk iklim yang dapat mendorong perkembangan Sistem Nasional Penelitian. lembaga litbang. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 26 Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pengembangan. BAB VII KETENTUAN SANKSI Bagian Pertama Sanksi Administratif Pasal 29 Pelanggaran ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dijatuhi sanksi administratif mulai dari teguran. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. 157 Naskah Akademik Perubahan UU No. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. pemanfaatan. Pasal 28 (1) Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan.

BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 31 Pada saat berlakunya undang-undang ini. kerukunan bermasyarakat.000.Bagian Kedua Sanksi Pidana Pasal 30 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin diancam pidana denda paling banyak Rp 50. ttd.00 (lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. kelestarian fungsi lingkungan hidup.000. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 84 158 Naskah Akademik Perubahan UU No. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. keselamatan bangsa. Disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dijatuhi sanksi pidana penjara dan/atau denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) yang mengakibatkan bahaya bagi keselamatan manusia. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. ttd. kesehatan masyarakat. Agar setiap orang mengetahuinya. dan merugikan negara. 18 Tahun 2002 . semua peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak sesuai dengan undangundang ini dinyatakan tidak berlaku.

INOVASI. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2007 TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. INOVASI. sosial budaya. data. atau menghasilkan teknologi baru. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. . dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219).Lampiran 2. fungsional. Pengembangan. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. DAN DIFUSI TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat (3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Inovasi. produk. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. dan estetika. DAN DIFUSI TEKNOLOGI. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. bisnis. manfaat. Pengembangan. pengembangan. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk disain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. Mengingat : 1. dan Difusi Teknologi. 2. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 3. Inovasi adalah kegiatan penelitian. atau cara baru 159 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. MEMUTUSKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksudkan dengan : 1.

DAN DIFUSI TEKNOLOGI Pasal 4 Peningkatan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa yang dihasilkan. inovasi. dan difusi teknologi dilakukan melalui kegiatan: a. (2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk lisensi. inovasi. Insentif adalah pemberian kemudahan/keringanan yang diberikan kepada Badan Usaha dalam rangka upaya peningkatan kemampuan perekayasaan. penelitian. pengembangan dan/atau penerapan teknologi. Badan Usaha Milik Daerah. inovasi. 6. Pasal 5 (1) Dalam melakukan kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. 7. BAB IV 160 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha swasta berbentuk perseroan terbatas. dan difusi teknologi. Badan Usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dapat melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi. INOVASI. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penelitian. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian dan pengembangan. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengalokasikan sebagian pendapatan sesuai dengan kemampuannya. BAB II ALOKASI SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA Pasal 2 (1) Badan Usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. pengembangan. dan Koperasi.untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. dan difusi teknologi. Badan Usaha Milik Negara. dan pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau b. 5. inovasi. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. 8. dan badan usaha lain. Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama badan usaha. kerjasama. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. 9. lembaga penelitian dan pengembangan.

Pasal 7 (1) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. produk dan/atau proses.INSENTIF Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Badan Usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. inovasi. riset pasar dan/atau promosi penjualan. pengumpulan data. 18 Tahun 2002 c. (2) Hasil pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri dalam bentuk saran dan pertimbangan. e. (2) Pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan proposal kegiatan dan bentuk insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). Bagian Kedua Tata Cara Permohonan. guna melakukan pengkajian dan penilaian terhadap permohonan insentif. kegiatan pengawasan dan/atau pengujian rutin terhadap kualitas produk. kegiatan yang dilakukan di luar negeri. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. peralatan. (3) Besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. dan Perpanjangan Insentif Pasal 8 (1) Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) mengajukan permohonan untuk mendapatkan rekomendasi insentif secara tertulis kepada Menteri. Penghentian. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. kepabeanan. Pasal 9 (1) Menteri membentuk Tim Pengkajian dan Penilaian. dan f. bahan. b. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. d. 161 Naskah Akademik Perubahan UU No. . pembelian dan/atau pembayaran royalti teknologi dari entitas lain di luar negeri. (2) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. (2) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. survei efisiensi atau studi manajemen.

pemberitahuan disampaikan kepada Badan Usaha disertai dengan alasannya. Pasal 13 (1) Dalam hal pemberian insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) berupa bantuan teknis penelitian dan pengembangan. (4) Penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan pimpinan instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. (3) Tata cara pengajuan permohonan insentif perpajakan dan kepabeanan dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. rekomendasi disampaikan kepada Badan Usaha dengan tembusan kepada instansi pemerintah yang berwenang dalam pemberian insentif.(3) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja Tim Pengkajian dan Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. (4) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. Pasal 11 (2) Badan Usaha mengajukan permohonan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang disertai dengan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penggunaan sumber daya dalam negeri. 18 Tahun 2002 (1) Dalam hal Menteri memberikan rekomendasi insentif. c. Pasal 10 (1) Menteri dapat memberikan atau tidak memberikan rekomendasi insentif dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. (5) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan insentif diterima secara lengkap. kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. Pasal 12 Dalam hal Menteri tidak memberikan rekomendasi insentif. (3) Menteri menyampaikan saran dan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada instansi pemerintah yang berwenang dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. inovasi. potensi peningkatan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa. instansi pemerintah yang berwenang dapat menghentikan atau memperpanjang pemberian insentif. . (2) Penetapan penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang setelah meminta saran dan pertimbangan Menteri. 162 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan di dalam negeri. b. dan d. dan difusi teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. (2) Menteri menyampaikan pemberitahuan persetujuan atau penolakan pemberian rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak penerimaan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian.

18 Tahun 2002 Ditetapkan di Jakarta . (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pencapaian kegiatan yang telah dilakukan dan kriteria sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3). memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. ttd DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. ttd ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 78 163 Naskah Akademik Perubahan UU No. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. perekayasaan. (4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. Badan Usaha yang mendapat insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) wajib menyerahkan laporan kegiatan peningkatan kemampuan. pada tanggal 22 Juni 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.Bagian Ketiga Pelaporan Pasal 14 (1) Pada setiap akhir tahun dan akhir kegiatan. dan difusi teknologi kepada Menteri. Agar setiap orang mengetahuinya. (3) Menteri dapat melakukan verifikasi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) guna memberikan saran dan pertimbangan penghentian atau perpanjangan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang. inovasi. H.

Lampiran 3. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. huruf j. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2010 TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. yang merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana. 18 Tahun 2002 2. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 164 Naskah Akademik Perubahan UU No. huruf k. dan huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf i. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). Sumbangan Pembinaan Olahraga. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. . Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. huruf l. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. Pasal 1 Sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak terdiri atas: a.

apabila barang yang disumbangkan sudah disusutkan. dan huruf d dapat diberikan dalambentuk uang dan/atau barang. Pasal 4 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto bagi pihak pemberi apabila sumbangan dan/atau biaya diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. c.b. 165 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau c. Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya. Pasal 6 (1) Nilai sumbangan dalam bentuk barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) ditentukan berdasarkan: a. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . c. harga pokok penjualan. huruf b. Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba. dan d. kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. b. Pasal 5 (1) Sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a. nilai perolehan. apabila barang yang disumbangkan merupakan barang produksi sendiri. b. yang merupakan sumbangan berupa fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga. yang merupakan sumbangan untuk membina. apabila barang yang disumbangkan belum disusutkan. mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga. huruf c. d. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya. Sumbangan fasilitas pendidikan. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan diberikan. (2) Biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf e diberikan hanya dalam bentuk sarana dan/atau prasarana. didukung oleh bukti yang sah. dan e. Pasal 2 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dengan syarat: a. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. nilai buku fiskal.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 8 (1) Badan penanggulangan bencana dan lembaga atau pihak yang menerima sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a harus menyampaikan laporan penerimaan dan penyaluran sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk setiap triwulan. huruf d. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 160 166 Naskah Akademik Perubahan UU No. ttd.(2) Nilai biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) ditentukan berdasarkan jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan untuk membangun sarana dan/atau prasarana. DR. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 10 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2010. (3) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya yang mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak melaporkan sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai lampiran laporan keuangan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak diterimanya sumbangan. 18 Tahun 2002 . ttd. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. (2) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b. Pasal 9 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pencatatan dan pelaporan sumbangan dan/atau biaya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. huruf c. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 7 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib dicatat sesuai dengan peruntukannya oleh pemberi sumbangan. H. dan huruf e wajib menyampaikan laporan penerimaan sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat pada akhir Tahun Pajak diterimanya sumbangan dan/atau biaya.

167 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. perlu dilakukan melalui institusi yang efektif dan berhasil-guna baik dari sisi legalitas dan otoritas. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL Pasal 1 Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan Sistem Inovasi Nasional adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. dibentuk Komite Inovasi Nasional yang selanjutnya disebut KIN. Pasal 2 Dalam rangka penguatan sistem Inovasi Nasional. c. Pasal 3 (1) KIN bertugas untuk: a. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. bahwa kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sitem Nasional Penelitian. lembaga riset dan teknologi. bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b serta dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian sistem inovasi nasional. 2. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan sistem inovasi nasional guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa.Lampiran 4. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. perlu membentuk Komite Inovasi Nasional dengan Peraturan Presiden. terpadu. mendayagunakan. 18 Tahun 2002 . terintegrasi. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Mengingat : 1. mendukung. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. bahwa dalam rangka implementasi pelaksanaan sitem inovasi nasional secara efektif dan efisien. b.

IR.E.. M. Ph. Prof. Iskandar. Jenie. 13. Prof.Sc. D.Sc. Prof. wakil-wakil kelompok masyarakat. Ing. Drs. Dr. Dr. Ilham A. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). Arief Rahman.D.S.Sc : 1. 10.D.Sc. D. Dr.. Zuhal. Ph. pakar teknologi dan inovator dalam rangka keterpaduan penguatan sistem inovasi nasional. Habibie.. Dr. Tri Mumpuni Wiyanto. M. 17. Bustanul Arifin. M. Sc. MS. Tien Muchtadi. Pasal 4 Keanggotaan KIN terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Prof. manajemen bencana alam.Sc. 18 Tahun 2002 3.H. Freddy Permana Zen. (2) Penguatan sistem inovasi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan meliputi inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. Betti Setiastuti Alisjahbana. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. Dr. Ir. M. Ph.M. Dr.LL. 4. . Ir. Umar A. Marzan A.b. MBA. Dr. memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi..D.S. 6.. 12. periset. 15. Dr. S. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghsilkan produkproduk inovatif. industri manufaktur.. serta komunitas ilmiah dan universitas. Amir Sambodo. KIN melakukan konsultasi. Ir. 16. Dr. 168 Naskah Akademik Perubahan UU No. bioteknologi. Rektor Institut Teknologi Bandung. 18. Sangkot Marzuki.S. 8. Rektor Universitas Indonesia. Industri infrastruktur.Sc. Anton Apriantono. koordinasi. Prof. (3) Dalam rangka melaksanakan tugasnya. c. Apt. M. MA. Prof. 11. 5. Drs. transportasi dan industri pertahanan. Ir. Dr. 2. Rachmat Gobel. Bambang Kesowo.Pd. Ir. 9. Lukman Hakim. M. melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program pengutan sistem inovasi nasional.E. dan kerja sama dengan lembaga pemerintahan dan non pemerintahan. M. M. M. 20. Ninok Leksono. 14. Prof. ketahanan energi. Dr. Dr. Sahari Besari. : Rektor Institut Pertanian Bogor : Prof.. Jusman Syafii Djamal. 19. Idwan Suhardi 7. Ir..

(2) KIN melakukan rapat koordinasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. Hukum. 22. Rektor Universitas Udayana. Menteri Keuangan. Menteri Koordinator Bidang Politik. (3) KIN dapat mengundang pimpinan instansi terkait dan pihak lain yang dipandang perlu pada rapat koordinasi KIN. Pasal 9 Mekanisme dan tata kerja Komite Inovasi Nasional diatur lebih lanjut oleh Ketua Komite Inovasi Nasional. 24. Rektor Institut Teknologi Surabaya. (2) Pengarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: Ketua Anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian : 1. Pasal 7 (1) KIN melaksanakan tugasnya sejak berkoordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi. KIN memeperhatikan arahan dari pengarah. Rektor Universitas Hasanudin. Rektor Universitas Syiah Kuala. Pasal 10 Ketua KIN melaporkan kepada presiden setiap perkembangan dan permasalahan yang ada dalam penyelenggaraan sistem inovasi nasional agar segera dapat diambil keputusan untuk penyelesaian masalahnya. 18 Tahun 2002 Pasal 6 . 2. Rektor Universitas Pattimura. 25. 23. Pasal 5 (1) Dalam melaksanakan tugasnya. 26. Sekretaris Kabinet KIN melaksanakan tugasnya sejak ditetapkan Peraturan Presiden ini sampai berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II. dan Keamanan. Menteri Sekretaris Negara. 27. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Rektor Universitas Gajah Mada. 3. 6.21. 5. Menteri Riset dan Teknologi. Rektor Universitas Cenderawasih. Pasal 8 Hasil rapat koordinasi KIN oleh masing-masing anggota KIN dilaksanakan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing secara terkoordinasi dan terintegrasi dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. 4. 169 Naskah Akademik Perubahan UU No.

H. Pertanahan. DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Politik.q. dan Permasalahan Hukum Bistok Simbolon. 170 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 12 Segala biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi KIN dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c. anggaran Kementerian Riset dan Teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ttd. Ratifikasi. Keamanan. 18 Tahun 2002 . Pasal 13 Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.Pasal 11 KIN dalam pelaksanaan tugasnya dibantu sebuah Sekretariat yang secara fungsional dilakukan oleh salah satu unit kerja di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi.

diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. strategi yang tepat. Prasyarat dan Strategi MP3EI. (4) MP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. fokus dan terukur. meliputi: a. Pendahuluan. 18 Tahun 2002 . Pasal 1 (1) Menetapkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 -2025. perlu menetapkan Peraturan Pr es iden tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. dan d. c. b. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mengingat : 1. Koridor Ekonomi Indonesia.Lampiran 5. yang selanjutnya disebut MP3EI. (2) MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. (3) MP3EI terdiri atas 4 (empat) bagian. Pelaksanaan. bahwa dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian nasional yang lebih solid. 171 Naskah Akademik Perubahan UU No. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025. 2. Pemantauan dan Evaluasi MP3EI. b. Menimbang : a.

9. dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menteri Perhubungan. yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan. Wakil Ketua Harian I : Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Pasal 4 (1) Koordinasi pelaksanaan MP3EI dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI. 172 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 3 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. 2. 10. 3. dan c. berfungsi sebagai: a. Pasal 5 (1) KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Ketua Harian : Presiden Republik Indonesia. Menteri Dalam Negeri. Menteri Sekretaris Negara. Menteri Pekerjaan Umum. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. (2) KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: a. 6. 7. dan b. 18 Tahun 2002 . 8. 5. Menteri Perindustrian. melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI. : Wakil Presiden Republik Indonesia. Menteri Pertahanan. Menteri Pertanian. yang selanjutnya disebut KP3EI.Pasal 2 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI. Wakil Ketua Harian II : Ketua Komite Ekonomi Nasional. 4. acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait. acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing. Menteri Keuangan. : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Anggota : 1. Menteri Perdagangan. b.

keanggotaan serta tata kerja Tim Kerja. 23. (3) Susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat KP3EI ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. Pasal 11 (1) PNS yang ditempatkan pada Sekretariat KP3EI berstatus dipekerjakan. Pasal 9 Sekretaris KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). Menteri Komunikasi dan Informatika. (2) Pelaksanaan tugas KP3EI sehari-hari dipimpin oleh Ketua Harian. Ketua Komite Inovasi Nasional. Kepala Badan Pertanahan Nasional. Menteri Badan Usaha Milik Negara. Sekretaris KP3EI mengangkat tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. . dipimpin oleh Sekretaris KP3EI. 20. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia. 17. Pasal 6 Pasal 7 Mekanisme dan tata kerja KP3EI. (2) Sekretariat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 10 (1) Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas Sekretariat KP3EI. 18.11. 19. Sekretaris Kabinet. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. 16. Menteri Riset dan Teknologi. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. 26. 25. Pasal 8 (1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya. 12. Menteri Kehutanan. Menteri Pendidikan Nasional. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. 14. diangkat dan diberhent ikan oleh Menter i Koordinator Bidang Perekonomian. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. 173 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Untuk membantu pelaksanaan tugas KP3EI. 13. (2) Tenaga profesional pada Sekretar iat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). KP3EI didukung oleh Sekretariat KP3EI. 21. dapat berasal dari unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non-PNS. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. yang secara administrasi berkedudukan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 22. Menteri Kelautan dan Perikanan. 24. susunan organisasi. 15. Menteri Lingkungan Hidup. dibentuk Tim Kerja.

18 Tahun 2002 . ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian setelah mendapat pertimbangan dar i menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang keuangan dan menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang aparatur negara. Pasal 14 Peraturan Presiden ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. yang berhenti atau telah berakhir masa baktinya. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. kembali kepada instansi induknya apabila belum mencapai usia pensiun.(2) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikkan pangkatnya setiap kali setingkat lebih tinggi tanpa terikat jenjang pangkat. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO 174 Naskah Akademik Perubahan UU No. H. dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. ttd DR. (5) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dengan hormat sebagai PNS apabila telah mencapai batas usia pensiun dan diberi hak-hak kepegawaian. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 12 Hak keuangan dan fasilitas lainnya bagi Sekretaris KP3EI dan tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. Pasal 13 Segala biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas KP3EI. (4) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dari jabatan organik di instansi induk yang bersangkutan.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Tahun 2011-2025. 6. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 20102014. 8. . 4. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4402). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Mengingat : 1. 9. 2. 18 Tahun 2002 3. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243b /M/Kp/IX/2011 TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 2010-2014 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. 5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4219). Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2004 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45. Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset dan Teknologi. 175 Naskah Akademik Perubahan UU No.Lampiran 6. perlu dilakukan perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 20102014. Menimbang : bahwa dalam rangka revitalisasi serta penajaman program dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi yang mendukung penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). 7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Bersatu II.

yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. SUHARNA SURAPRANATA KEDUA KETIGA KEEMPAT 176 Naskah Akademik Perubahan UU No. : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. program.PERTAMA : Menetapkan Perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. maka Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. : Dengan berlakunya Keputusan ini. TTD. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi. 18 Tahun 2002 . : Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 merupakan panduan dalam melaksanakan penyusunan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan.

Lampiran 8. yang selanjutnya 177 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan huruf c. Mengingat : 1. maka perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. pengembangan. PERTAMA : Menetapkan Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246 /M/Kp/IX/2011 TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. dan penerapan iptek. percepatan koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi. 3. huruf b. . Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014. yaitu penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). 18 Tahun 2002 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). b. bahwa strategi pembangunan iptek dilaksanakan melalui dua prioritas pembangunan. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL. bahwa penguatan SINas diarahkan untuk penciptaan ruang bagi interaksi dan kolaborasi pelaku inovasi. Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 5. Menimbang : a. bahwa arah penguatan SINas diperlukan sebagai pedoman untuk refocusing dan sinergi dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara efektif dan efisien. peningkatan penelitian. 4. serta mendorong pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. 2. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. c.

KEDUA : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA adalah dokumen kebijakan untuk refocusing dan sinergi dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA merupakan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara lebih efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. SUHARNA SURAPRANATA KETIGA KEEMPAT 178 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . TTD. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 30 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA.disebut Arah Penguatan SINas sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

yang di antaranya mencakup kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Mari kita doakan. Pandangan yang konstruktif dan ajakan positif Presiden Obama untuk meningkatkan kerjasama bilateral di bidang Iptek. memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. dan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. Saudara-saudara. Dr. Yang saya hormati Menteri Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. energi dan perubahan iklim patut kita sambut dengan baik. pertemuan ini dapat merintis jalan ke arah peningkatan kerja sama antara Indonesia-Amerika Serikat. agar Mr. dan negara. Kemajuan yang kita capai hingga hari ini. Marilah kita bersama-sama. yang mencakup kerja sama dalam berbagai sektor penting bagi kedua negara. tentu tidak terlepas dari kontribusi saudara semua. Insya Allah.Lampiran 9. di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang saya hormati Gubernur Banten. LIPI. dan insya Allah kesehatan. SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA SILATURRAHIM DENGAN AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI) DAN MASYARAKAT ILMIAH Serpong. yang semula akan hadir di sini mengalami musibah kecelakaan. Allah SWT. Namun kita semua juga merasa prihatin bahwa US Science and Technology Special Envoy. Kita sungguh berharap. karena atas rahmat dan karunia-Nya. Dalam kaitan ini. kerja sama di bidang pendidikan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemitraan strategis kedua negara. saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para ilmuwan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). bangsa. dan asosiasi-asosiasi ilmu pengetahuan di Indonesia. kajian. Saya juga menyambut baik pernyataan Presiden Obama di Kairo bulan Juni tahun lalu. Saya juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pernyataan Presiden Barack Obama. Baharudin Jusuf Habibie. Bruce Alberts dapat lekas pulih kembali seperti sediakala. bahwa Amerika Serikat kini berkomitmen untuk membangun kemitraan baru—“a new beginning”—dengan dunia Islam. Presiden Republik Indonesia ketiga. Kemitraan Komprehensif ini dapat diresmikan dalam kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia yang direncanakan tahun ini. Assalamu’alaikum Wr Wb Salam sejahtera untuk kita semua. kita tetap diberi kekuatan. Mr. 18 Tahun 2002 . yang baru saja dibacakan oleh Duta Besar Cameron Hume. atas pemikiran. Melalui kesempatan ini pula. 20 Januari 2010 Bismillah Hirrahmanirrahim. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Para Ilmuwan yang tergabung dalam AIPI. Indonesia dan Amerika Serikat kini sedang aktif menggarap suatu Kemitraan Strategis baru: yaitu suatu kemitraan komprehensif. Hadirin sekalian yang saya muliakan. 179 Naskah Akademik Perubahan UU No. Bapak Prof. Bruce Alberts. Yang Mulia Ambassador Cameron Hume. Yang saya hormati. sehingga kita dapat bertatap muka dalam kesempatan yang membahagiakan ini. pendidikan.

3 miliar pengguna handphone–sekitar separuh dari jumlah penduduk dunia. serta masih termarginalisasi dalam era globalisasi. Di awal tahun 1990an. yang akan memperkokoh landasan bagi perdamaian dunia. tanpa penguasaan umat Islam di bidang iptek. Penemuan reaksi fisi nuklir menghasilkan bom atom dan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia. 18 Tahun 2002 . ke kecepatan jet. memang. Bahkan. Berbeda dari abad-abad sebelumnya. Abad ke-21 justru dapat kita wujudkan menjadi suatu “confluence of civilizations”. Pesan dan pelajaran sejarah ini masih tetap relevan–bahkan semakin relevan–sekarang: “siapa yang mau maju. Disadari atau tidak. dan bahkan sudah mendarat di bulan. Proses ini akan terus berkembang. 20 tahun kemudian. Kini. Semua pihak harus berperan aktif menyebarkan soft power. Penemuan bubuk mesiu menimbulkan transformasi militer dengan segala implikasi politiknya. masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. dan dapat saling memperkaya dan melengkapi. Hadirin yang saya hormati. email. Masih banyak umat Islam yang terlalu bernostalgia terhadap kejayaan di masa lalu. dan 3. teknik sipil. optik.4 milyar orang telah mempunyai e-mail. kalau kita ingin membangun suatu peradaban dunia (global civilization). sebagian besar umat manusia akan terjamah oleh komputer. Kita meyakini bahwa di paruh kedua Abad-21. Sewaktu saya berpidato di Harvard University akhir tahun lalu. KEDUA.Hal ini penting karena beberapa hal : PERTAMA. irigasi. akan lebih deras daripada perubahan dalam 100 tahun terakhir. internet dan telepon selular. di mana seluruh peradaban dunia–apakah Barat. dan kapal-kapal perdagangan. dan juga dalam artikel The Economists yang saya tulis. kita perlu terus membangun jembatan antar-peradaban. 1. rumah sakit pertama. internet dan handphone. ke kecepatan mobil. kita sedang berada dalam arus perubahan sejarah yang sangat dahsyat. tetapi suatu visi yang realistis–an achieveable vision. Dan KETIGA. Kita lihat saja komputer. manusia dapat bergerak dari kecepatan kuda. 180 Naskah Akademik Perubahan UU No. ada 1 miliar komputer. dan Human Development Index. anestesi. tanpa memahami bahwa peluang untuk maju dan berkarya di depan mata justru jauh lebih besar. terutama di antara dunia Barat dan dunia Islam. aljabar. Islam. Meskipun terdapat kemajuan di beberapa komunitas Islam. karena umat Islam membuka diri dan mengejar ilmu pengetahuan di manapun. ke kecepatan suara. umat Islam mencatat berbagai kemajuan dan penemuan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai sekarang kita rasakan manfaatnya: kompas. Misalnya: dalam kurun waktu hanya sekitar 100 tahun. Timur–dapat hidup berdampingan secara damai. Penemuan mesin uap memulai revolusi industri dan mengubah sejarah Eropa. astrologi. saya menekankan bahwa Abad ke-21 tidak harus mengikuti skenario “clash of civilizations”. navigasi. Penemuan vaksin di abad ke-18 mengubah ilmu kodokteran dan menyelamatkan jutaan umat manusia. sebagian besar umat Islam saat ini masih tertinggal dalam pencapaian Millenium Development Goals. komputer dan handphone hanya dinikmati oleh segelintir orang. Dengan pusat peradaban di Baghdad. Islam tidak pernah bertolak belakang atau memusuhi ilmu pengetahuan–bahkan Islam selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. Kita yakini bahwa hal ini bukan sebuah utopia. tidak akan pernah ada the second Islamic renaissance di Abad ke-21. perubahan yang kita alami di Abad ke-21 akan bergerak sangat pesat. Mari kita memulai dengan suatu preposisi: “Abad ke-21 akan menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia”. kimia. harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada yang menyatakan bahwa arus perubahan dalam 10 tahun mendatang. di seluruh dunia. Peradaban manusia juga sering berubah karena ide-ide dan penemuan-penemuan baru. puncak kejayaan Islam sebagai peradaban dunia yang paling maju di Abad ke-13 justru terjadi.

kunci dari keunggulan Indonesia di Abad ke-21 adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau kita kelak tampil unggul di depan yang lain. untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kunci sukses kita untuk mencapai itu tiada lain adalah persatuan. itu adalah kesalahan kita sendiri. Dalam menghadapi arus sejarah yang dahsyat ini. atau “knowledge capital”. kita semua telah melihat dan merasakan: porsi teknologi dalam PDB kita semakin besar. pendidikan. Teknologi tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu saja—bukan 181 Naskah Akademik Perubahan UU No. industri. suhu dunia telah naik sekitar 0. Jepang mengalami Restorasi Meiji. Amerika Latin menikmati masa kemakmuran. Makin nyata. untuk mengentaskan kemiskinan. dan rakyat kita tenggelam dalam kebodohan dan kemiskinan. kita tidak bisa lagi hanya mengutuk masa lalu atau menyalahkan orang lain. Sebelum kebangkitan nasional tahun 1908. zero enemy”. Dalam abad yang sangat progresif ini. Kalau kita tidak cepat meng-atasinya. dan lapisan ozon semakin menipis. Di Abad ke-21. itu terjadi karena kerja keras dan kemampuan kita dalam beradaptasi. Salah satu penyebab bangsa kita terbelakang selama ratusan tahun adalah. Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan. Indonesia sendiri. untuk memacu pertumbuhan dan produktivitas. abad kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Abad ke-21 adalah abad keunggulan. karena kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman.6 derajat celcius. karena nenek moyang kita tidak mendapatkan akses terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari belahan dunia lain. dan kunci sukses untuk mencapai itu adalah inovasi. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa adalah hasil dari suatu kerja besar yang terencana dan berkesinam-bungan. Kalau kita gagal. karena proses pengembangan teknologi tidak akan pernah berhenti. bangsa Indonesia masih terisolasi dalam penindasan kolonialisme. untuk menjaga keutuhan wilayah. Apakah itu bangsa. suhu dunia bisa naik 4 derajat Celsius dan membawa malapetaka bagi umat manusia dan bagi planet bumi—rumah kita satu-satunya. Itulah perjuangan kita di Abad ke-20. perdagangan. pertahanan. Inilah yang sering disebut sebagai “intangible intellectual resources”. karena ulah manusia. maju dan kompetitif. dan untuk mengembangkan jati diri bangsa. 18 Tahun 2002 Saudara-saudara. Kita juga melihat perubahan pesat ini di bidang lingkungan. perusahaan. terutama di negara-negara industri maju. Karena itulah. situasinya telah berbeda: Hakikatnya. Konsentrasi karbondioksida meningkat 36%. yang dulu pernah menjadi salah satu bangsa paling miskin di Asia. Sesungguhnya pula merupakan bagian integral yang dinamis dari sebuah peradaban (civilization). jasa. Abad ke-20 adalah abad kebangkitan nasional. kini telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. komunitas. Indonesia tidak punya musuh. saya yakin sekali bahwa dalam Abad ke-21 yang akan menjadi the most powerful driver of change adalah teknologi. keuangan. Saudara-saudara. dan tidak ada negara lain yang memusuhi Indonesia. dan Kerajaan Islam Otoman berjaya. pada saat Eropa mendominasi dunia. pertumbuhan ekonomi dan daya saing sebuah bangsa sangat disumbang oleh penguasaan teknologi. the biggest driver for change adalah teknologi. . Kita mutlak membutuhkan persatuan untuk melawan penjajah. apakah itu untuk pertanian. Semenjak revolusi industri di Eropa 200 tahun lalu. untuk mempertahankan kemerdekaan. Amerika Utara tumbuh pesat. khususnya perubahan iklim.Sejumlah negara–baik besar maupun kecil—yang dulu dikenal sebagai “negara miskin” kini telah melejit menjadi ekonomi yang unggul. untuk menangkal separatisme. Politik bebas aktif Indonesia kini diabdikan untuk mewujudkan “a million friends. kesehatan. untuk membangun perekonomian. Dewasa ini. dan lain-lain. dan untuk menjadi bangsa yang terhormat. Porsi Teknologi dan know-how semakin menonjol. Kecenderungan ini akan terus menguat. atau individu.

peluang. kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. Kita harus aktif bukan saja menyerap ilmu dari dunia. dan bukan menjadi catatan pinggir. tanpa apresiasi. saya menyadari bahwa alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D-research and development) di Indonesia pada tahun 2005 masih rendah – yaitu sekitar Rp 1 trilyun. perlu diingat. Ilmuwan. Untuk mencapai kondisi seperti itu ada sejumlah hal penting yang harus kita bangun dan lakukan. Pada awal saya mengemban amanah rakyat. kita bercita-cita agar Indonesia menjadi bagian integral dari komunitas ilmuwan dunia. peneliti dan inovator harus berada di garis terdepan perubahan nasib bangsa. namun memerlukan inkubator-inkubator—di lingkungan pemerintah. dan dinamisme. kita di Indonesia harus bisa mengembangkan budaya unggul—a culture of excellence— baik di birokrasi. dan tidak sejahtera. Pertama. di universitas. Jepang. tetapi juga mesti dianggarkan oleh dunia usaha yang juga memerlukan inovasi di perusahaannya masing-masing. Ingatlah. Sistem dan lingkungan nasional kita harus bisa melahirkan inovator-inovator yang kreatif. dan suatu etos. universitas. apalagi hidup tanpa penghormatan. Tentu saja jumlah inipun masih harus terus kita tingkatkan.seperti membeli barang di supermarket. maupun di sektor swasta. untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. Mereka harus bisa menjadi ikon masyarakat. Pendanaan dari kerjasama internasional juga merupakan alternatif yang makin terbuka. dan Singapura. Semua fenomena sejarah—apakah itu peradaban Islam. Saya ingin ilmuwan Indonesia bahu membahu dengan ilmuwan internasional. . risk-taking. dan syukur alhamdullilah pada tahun 2010 dapat kita tingkatkan menjadi Rp 1. sumberdaya dan dana penelitian dan pengembangan tidak hanya berasal dari APBN. Ini semua akan terwujud jika masyarakat kita. Kita semua tahu bahwa enterpreneurship identik dengan inovasi. Inovasi itu adalah suatu semangat. serta program yang berkesinambungan. yang kemudian menghasilkan berbagai inovasi baru. namun juga menyumbang ilmu untuk dunia. dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. Untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek. Inovasi juga menuntut sikap open-mind dan risk-taking. dan inventor. Saudara-saudara faktor kedua adalah. dan yang akhirnya mengakibatkan transformasi besarbesaran. adalah mengubah mindset. Itulah mindset yang akan mengantarkan kita menjadi Innovation Nation. Restorasi Meiji di Jepang. Mungkin satu dua teknologi bisa dibeli seperti itu—namun tidak untuk mencapai technological society. perusahaan. dan terbangunnya mindset baru. dan juga knowledge society. bahwa cara penting untuk membangun inovasi adalah melalui pengembangan enterpreneurship. Namun. dan lain-lain. suatu energi. 18 Tahun 2002 Karena itulah. Komunitas iptek Indonesia harus berwawasan jauh lebih terbuka dan lebih progresif dari masanya. India. pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan porsi itu menjadi lebih memadai. namun dalam kemampuan untuk menyerap ilmu dan teknologi dari manapun untuk kepentingan rakyat Indonesia.9 triliun. inovasi juga memerlukan Investasi dan Insentif. Renaissance di Eropa. dan menjadi pendekar keunggulan. 182 Naskah Akademik Perubahan UU No. tampilnya Amerika sebagai superpower. kita melihat bahwa inovasi tumbuh pesat sejalan dengan merebaknya enterpreneurship. Mau tidak mau. harus ada sumberdaya dan dana yang cukup. kita semua. innovation is a state of mind. ilmuwan. Sementara itu saya berpandangan. Nasionalisme kita dicerminkan bukan dalam tindakan melawan atau menutup diri dari dunia. Inovasi tidak datang dari langit. baik di Indonesia maupun di luar negeri. Kita berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia mengadakan riset. bukan sikap yang kaku dan dogmatis. Cina. Dalam era globalisasi dewasa ini. selain didukung mindset yang tepat. Kita harus bisa menjadi Innovation Nation —bangsa inovasi! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif. dan dari masyarakat. “the rise of” Cina dan India—semuanya dimulai dengan suatu semangat. benar-benar menghargai kerja keras kaum peneliti. Karena itulah. Karena itulah. Korea. Di Amerika.

Saudari Tri Mumpuni. dan bahkan bisa bersaing dalam aspek desain yang selama ini cenderung didominasi industri negara-negara maju. Kita sudah menetapkan target penurunan emisi 26% untuk tahun 2020 dari “business as usual”. untuk mendeteksi hotspot kebakaran hutan. bahkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Inovasi segar seperti ini harus terus dikembangkan dan disebarkan. bibit unggul. Saya mendorong ilmuwan Indonesia untuk menjalin networking dan kolaborasi yang seluas-luasnya dengan lembaga penelitian. Hal ini penting karena pada saat ini dan ke depan. ketangguhan pertahanan dan keamanan negara. dan target ini bisa ditingkatkan menjadi 41% apabila ada bantuan internasional yang memadai. atau kombinasi dari semuanya. Saya ingin. serta penguasaan teknologi yang menjemput masa depan. menyerap dan mengembangkan teknologi baru untuk pembangunan Indonesia. menciptakan branding yang dikenal dunia internasional. Faktor ketiga adalah. pada saatnya nanti Indonesia menjadi “major food producer” di dunia internasional. Teknologi sering disalahpersepsikan seolah hanya untuk kepentingan industri besar yang canggih saja. Namun kita harus cerdik mencari. kebijakan pemerintah dan kolaborasi. Kedua. teknologi air bersih. Karena itulah. teknologi kesehatan. Untuk itu. Namun perlu diingat. kita harus menerapkan pembangunan yang hemat energi (low carbon footprint). angin. Pertama. antar-ilmuwan. dan melipat-gandakan produktifitas pangan guna mencapai kondisi swasembada. Produk-produk industri Indonesia harus bisa menunjang pencapaian 2 aspek penting. meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan seperti geothermal. serta meningkatkan teknologi pengawasan hutan. Ketiga. dan surya. 18 Tahun 2002 . teknologi pangan. Padahal untuk negeri kita juga diperlukan teknologi yang dapat memberdayakan rakyat miskin. lebih produktif dan lebih mempunyai nilai tambah. antar-universitas. Kita juga harus mulai mencapai high-end products. antar-perusahaan. Kelima. telah merintis pembangunan energi mikro-hidro di desa-desa.Yang juga penting diingat: kita tidak harus selalu menjadi inventor teknologi baru. Tantangan itu antara lain adalah : pengentasan kemiskinan. yang dapat menjawab tantangan-tantangan pokok itu. lembaga kajian dan universitas manapun di dunia. Keempat. yang sangat penting bagi kesejahteraan rakyat kita (food security). ke depan. industri akan tetap menjadi tulang panggung ekonomi Indonesia. Kita memerlukan teknologi pertanian baru untuk mencari bibit unggul. teknologi yang kita cari dan pilih haruslah tetap relevan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan. hampir semua inovasi teknologi merupakan hasil dari suatu kolaborasi. bangsa Indonesia harus makin menguasai teknologi. Hadirin sekalian yang saya hormati. apakah itu kolaborasi antarpemerintah. sering terjadi. peningkatan industri. hidroenergi dan Rumah Sederhana Tahan Gempa. Kalau kita lihat dari bukti-bukti empiris. Karena itulah. dan telah mendapatkan pengakuan internasional. misalnya melalui satelit. Kita harus mencari teknologi terkini untuk memerangi penyakit-penyakit menular : apakah itu H5N1. meningkatkan hasil panen. Saya juga bangga bahwa seorang inovator energi kita. teknologi industri. Kita harus bisa membuat industri kita lebih efisien. teknologi untuk mengentaskan kemiskinan–pro-poor technology. Dunia kini boleh dikatakan sedang panen teknologi. teknologi hijau – green technology. Salah satu ciri Era Globalisasi dewasa ini adalah keniscayaan untuk sebuah knowledge-sharing antar bangsa. pemeliharaan lingkungan hidup. ketahanan pangan dan energi. yaitu padat teknologi dan padat karya. pihak yang lebih cerdik mendayagunakan teknologi bisa lebih maju dari pihak yang menemukan teknologi itu sendiri. Bahkan. Misalnya: telekomunikasi murah untuk desa terpencil. yang pasti akan terus bermutasi 183 Naskah Akademik Perubahan UU No. networking antara inkubator menjadi sangat penting. karena ini adalah kunci sukses bagi masa depan kita. H1N1 dan virus-virus berbahaya lainnya.

kita belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melakukan offshore drilling apalagi deep sea drilling. Kita memiliki sumberdaya manusia yang tangguh. teknologi maritim. TNI harus terus meningkatkan postur dan kapabilitasnya. Oleh karena itu. Saat ini. berkaitan dengan pandangan ini. Indonesia secara fisik adalah negara Kepulauan terbesar di dunia. termasuk kelompok teroris yang juga memanfaatkan teknologi yang canggih. Kita mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor.mengancam keluarga kita dan bahkan umat manusia. dunia Islam. Banyak emerging economies --seperti Cina. misalnya untuk konversi air minum atau teknologi perkapalan. Dan. yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Keenam. kita harus bekerja-sama dua arah : kita berbagi ilmu dan penemuan dengan dunia kesehatan internasional. Kita harus bisa meningkatkan kualitas dan tingkat teknologi industri pertahanan kita– termasuk melalui joint production dengan industri militer negara-negara lain. Sementara itu. Virus berbahaya. Seperti yang kita alami dalam kasus epidemi H1N1 (Swine Flu). Saya berpendapat. serta kemampuan peace-keeping operation di wilayah-wilayah konflik di dunia. genomics. Setiap negara mempunyai Sistim Inovasi Nasional dengan corak yang berbeda dan khas. kita juga harus mengembangkan Sistem Inovasi Nasional. akan menjadi salah satu ancaman paling riil bagi bangsa kita di abad ke-21. robotics. Konsep seperti ini relatif baru. yaitu suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka-panjang dapat mendorong. yang terbentang dari Sabang ke Marauke. yang terus dapat ditingkatkan keunggulan dan daya saingnya. untuk ikut memastikan bahwa Sistem Inovasi Nasional dapat berkembang dan berjalan dengan baik. 18 Tahun 2002 . Kita dikaruniai wilayah yang sangat luas. Indonesia tidak boleh tertinggal. Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi knowledge society. Kita juga harus mendapatkan teknologi canggih untuk bisa mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. misalnya. dan lain-lain—yang semuanya dapat menjadi mitra pembangunan Indonesia. Sebagai negara Nusantara. meskipun sudah mulai diterapkan di beberapa negara yang mengalami transformasi. dan dengan berkolaborasi dengan dunia internasional. Karena itulah. Indonesia tidak bisa menangani ancaman ini sendiri. Dan kita mempunyai hubungan yang baik dengan semua pihak—baik dunia Barat. Teknologi-teknologi revolusioner ini tentu tidak sepatutnya hanya didominasi dan dimonopoli negara-negara maju saja. dan Brazil . emerging economies. dalam waktu dekat saya akan membentuk Komite Inovasi Nasional. dan dalam skala nasional. Polri dan aparat intelijen juga harus terus meningkatkan kemampuan operasionalnya untuk melawan kejahatan trans-nasional. kedelapan adalah. komunitas ilmuwan dan swasta. teknologi pertahanan. termasuk penguasaan “revolution in military affairs” (RMA). sebagaimana kita terus mengharapkan dunia luar berbagi dengan kita. mendukung. negara-negara berkembang. dari Miangas ke Pulau Rote. yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. di Indonesia. Untuk mengembangkan semua ini. dan lain-lain.yang kini mulai merintis teknologi-teknologi baru ini. teknologi masa depan: yaitu nano technology. Disini. serta bentuk kerjasama yang lain. tapi kita belum menjadi negara maritim yang kuat. Hadirin sekalian yang saya hormati. Ketujuh. 184 Naskah Akademik Perubahan UU No. Saya senang sekali bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH) sudah mulai membangun pusat riset untuk nano-technology. baik perikanan. apalagi kalau menyangkut virus yang datang dari luar yang kita tidak mempunyai vaksinnya. TNI harus meningkatkan kapasitas untuk melakukan military operations other than war (MOOTW). yang didasarkan pada suatu kemitraan antara pemerintah. kita harus membangun teknologi kelautan. dibutuhkan suatu Sistim Inovasi Nasional. hydrocarbon dan mineral. sama seperti bencana alam. wilayah perbatasan dan lautan Nusantara yang terbentang luas. bio-engineering. TNI juga harus mempunyai kemampuan untuk melakukan surveillance dan menjaga pulau-pulau terpencil. India.

kebersamaan dan kerja keras kita. Indonesia mempunyai peluang emas untuk memajukan kehidupan bangsa kita. serta dengan persatuan. atau knowledge-based. 18 Tahun 2002 . Insya Allah. adalah dengan memadukan pendekatan sumberdaya alam. masa gemilang itu akan datang.Karenanya. resource-based and culture-based development. Mari kita songsong era itu dengan kepercayaan sebagai sebuah bangsa yang penuh inovasi. dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Terima kasih. ke depan. Kalau visi ini kelak tercapai. bangsa kita akan mengalami transformasi yang fundamental. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju. developed country. iptek dan budaya. dengan semua ini. menjadi bangsa yang maju dan jaya di Abad ke-21. 185 Naskah Akademik Perubahan UU No.