NASKAH AKADEMIK

PERUBAHAN UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2012

1

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latarbelakang

Pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab adalah: apa kontribusi teknologi dalam negeri terhadap pembangunan nasional? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi tolok ukur bagi perkembangan Sistem Inovasi Nasional (SINas) di setiap negara, termasuk Indonesia.1 Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan ‘sederhana’ ini, maka perlu didahului dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang anatomi permasalahannya. Sesungguhnya banyak kelembagaan di Indonesia yang melakukan kegiatan riset. Setiap institusi pendidikan tinggi wajib melakukan kegiatan riset sebagaimana amanah Tridharma Perguruan Tinggi. Tiga tugas pokok institusi pendidikan tinggi negeri maupun swasta adalah melakukan kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain instansi pendidikan tinggi, di Indonesia juga terdapat banyak lembaga riset pemerintah dan non-pemerintah.2 Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi. Rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan
1

Sistem Inovasi Nasional adalah sistem aliran teknologi dan informasi antara kelembagaan pengembang-pengguna teknologi, didukung oleh kelembagaan terkait lainnya, yang menjadi kunci dari proses inovatif pada suatu negara. Dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi terdapat 7 kelembagaan yang tugas pokoknya menyelenggarakan riset atau kegiatan yang terkait dengan implementasi hasil riset. Kelembagaan riset tersebut berstatus sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK). Selain LPNK tersebut, pada masing-masing kementerian teknis juga terdapat Badan Penelitian dan Pengembangan masing-masing. Kelembagaan riset non-pemerintah terdapat di beberapa industri besar, selain itu juga ada yang berupa lembaga riset independen yang diselenggarakan oleh masyarakat.

2

2

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional. Berfungsinya SINas tidak hanya membutuhkan: [1] keberadaan lembaga pengembang teknologi yang produktif dan berkualitas;3 [2] industri yang dikelola dengan baik dan didukung tenaga kerja terampil dan/atau terdidik yang produktif serta kelimpahan bahan baku; dan [3] fasilitasi aktif dari pemerintahan serta kebijakan dan regulasi yang mendukung pewujudan ekosistem yang kondusif; tetapi juga membutuhkan [4] niat dan motivasi yang tinggi antara pihak pengembang dan pengguna teknologi untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain berdasarkan asas kesetaraan dan saling menguntungkan (mutualistik). UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan fungsi dari sistem nasional litbangrap iptek adalah untuk membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sistem nasional litbangrap iptek. Paradigma yang lalu menempatkan pihak pengembang teknologi (institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset) secara dominan dalam mewarnai ‘genre’ teknologi yang dikembangkan. Pendekatan yang lebih dominan bersifat supply-push ini ternyata gagal dalam mempersuasi industri dan pihak pengguna lainnya untuk mengadopsi teknologi hasil riset oleh perguruan tinggi maupun lembaga riset tersebut. Kegagalan paradigma yang lalu ini perlu disikapi secara cerdas dan objektif, dengan mengesampingkan kepentingan sektoral ataupun profesi. Tentu perlu telaah komprehensif terhadap anatomi permasalahan dalam implementasi paradigma supply-push yang kurang optimal tersebut, selain juga perlu dilakukan pencermatan yang matang terhadap alternatifalternatif untuk memperbaiki paradigma lama tersebut. Kenyataan ini menjadi argumen yang sangat kuat untuk melakukan penelaahan terhadap posisi SINas Indonesia saat ini dan mencari alternatif pendekatan yang tepat agar pola hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat efektif, efisien, dan produktif menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan rakyat Indonesia, yang berarti sekaligus secara nyata akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan (perekonomian) nasional. Upaya mengubah paradigma yang lama dengan paradigma yang baru agar ditekankan pada pola dan arah hubungan antara pengembang dan pengguna teknologi serta pihak-pihak lain yang terkait. Secara substansial upaya ini dapat disebut sebagai upaya reorientasi arah dan pola hubungan antar-aktor dalam sistem nasional litbangrap iptek. Diharapkan dengan melakukan
3

Kualitas kelembagaan pengembang teknologi dilihat dari kualitas akademik sumberdaya manusia (SDM) yang mengawakinya, ketersediaan sarana dan prasarana riset yang canggih dan sesuai dengan kebutuhan fokus riset yang menjadi tugas pokoknya, ketersediaan dan/atau kemudahan mengakses sumber informasi ilmiah, dan fasilitas pendukung lainnya untuk menciptakan suasana akademik (academic environment) yang kondusif, serta kemampuannya dalam mendifusikan teknologi yang dihasilkan kepada pengguna potensial.

3

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

reorientasi sistem nasional litbangrap iptek, maka teknologi domestik yang dihasilkan akan lebih berpeluang untuk diadopsi oleh para pengguna, terutama industri dan pelaku produksi lainnya di dalam negeri. Resultan dari adopsi teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa ini adalah peningkatan kontribusi nyata teknologi terhadap pembangunan nasional. Satu hal yang sangat fundamental yang perlu reorientasi adalah anggapan bahwa masalah litbangrap iptek merupakan permasalah teknologi yang berkaitan dengan ekonomi (economically-related technological problems), padahal sesungguhnya penguatan sistem nasional litbangrap iptek adalah permasalahan ekonomi yang butuh dukungan teknologi untuk memecahkannya (technologically-related economical problems). Kemajuan perekonomian sangat tergantung pada kinerja litbangrap iptek-nya, yang pada prinsipnya adalah tergantung pada kapasitas negara dalam mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dan sesuai pula dengan kapasitas adopsi dari para pengguna teknologi. Untuk kasus Indonesia, kesadaran akan pentingnya peran teknologi dalam pembangunan perekonomian nasional tersurat dari ditetapkannya pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sebagai salah satu dari tiga strategi utama dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), disamping dua strategi utama lainnya, yakni pengembangan potensi ekonomi melalui enam koridor yang telah ditetapkan dan memperkuat konektivitas nasional.4 Kesesuaian teknologi dengan kebutuhan nyata membuka peluang lebih lebar untuk teknologi tersebut dapat diadopsi, namun belum sepenuhnya menjamin bahwa sistem nasional litbangrap iptek akan otomatis terbangun. Ekosistem yang kondusif sangat dibutuhkan untuk tumbuh-kembang inovasi, terutama dalam bentuk kebijakan dan regulasi yang akomodatif, yang memudahkan para aktor inovasi untuk berkomunikasi dan berinteraksi serta juga memudahkan proses adopsi teknologi domestik oleh para pengguna di dalam negeri. Arahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono5 untuk mengutamakan upaya pemenuhan kebutuhan (demand) pasar domestik menumbuhkan semangat untuk lebih gigih mewujudkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek yang lebih handal. Penduduk Indonesia yang saat ini (BPS, 2010) telah mencapai 237 juta, merupakan pasar yang sangat besar dan menjadi target banyak negara asing dalam memasarkan produknya. Para pengembang teknologi dan industri dalam negeri harus bahu membahu membangun sinergi untuk tidak membiarkan pasar domestik Indonesia dibanjiri oleh produk dan/atau jasa dari negara-negara asing.

4

Untuk pelaksanaan MP3EI, telah pula diterbitkan Perpres 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menetapkan tiga kelompok kerja (Pokja), yakni: Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi, Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Pokja SDM dan Iptek. Pokja SDM dan Iptek diketuai oleh Menteri Pendidikan Nasional dan wakil ketuanya adalah Menteri Negara Riset dan Teknologi, dengan anggota dari kementerian PPN/Bappenas, Ristek, Diknas, Nakertrans, Keuangan, UKM dan Koperasi, serta dari anggota KIN, Kadin, dan ketua asosiasi profesi dan usaha terkait. Pada Seminar di Institut Teknologi 10 November Surabaya tanggal 14 Desember 2010.

5

4

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sinergi pengembang-pengguna teknologi dalam penguatan inovasi nasional merupakan aksi yang tepat dan sepatutnya dilakukan. Inisiatif inovasi dari Komite Inovasi Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan, Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), antara lain menyebutkan penguatan inovasi melalui skema 747 memerlukan pendanaan R&D hingga 1% dari GDP. Skema 747 ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi, pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi, dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. Peningkatan dukungan pendanaan untuk menunjang program inovasi ini dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan daya dukung pemerintah, BUMN, dan partisipasi badan usaha. Akan sangat ideal jika Pemerintah mampu mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 melalui pembentukan ekosistem yang lebih kondusif melalui regulasi dan kebijakan yang tepat. Adanya peraturan perundang-undangan yang konsisten dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance), sehingga tumbuh-kembang sistem nasional litbangrap iptek dapat berlangsung secara lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

1.2.

Permasalahan

Hasil penelitian LIPI (Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera, 2000) terkait dengan sistem penelitian iptek dan sistem inovasi nasional, antara lain menyimpulkan inovasi masih belum memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional. Menurut Benyamin Lakitan (2012), rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek

5

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi.

bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional.

1.3.

Maksud dan Tujuan Penulisan

Pertanyaan yang fundamental dan filosofis perlu ditranslasi menjadi pertanyaan-pertanyaan teknis dan operasional agar jawabannya juga menjadi lebih dapat ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang menjadi batu sandungan dalam upaya mewujudkan penguatan inovasi secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat.6 Berbagai persoalan terkait rendahnya kontribusi teknologi di Indonesia saat ini diyakini berakar pada tidak relevannya teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang dihadapi rakyat, bangsa, dan negara ini. Persoalan terkait dengan upaya penguatan inovasi tidak dapat disederhanakan secara berlebihan (over-simplified) hanya menjadi persoalan relevansi teknologi. Disadari betul bahwa upaya penguatan inovasi nasional merupakan upaya penguatan sistem inovasi yang sangat kompleks. Banyak aktor yang ikut berperan, dengan derajat dan jenis partisipasi yang berbeda tentunya. Banyak faktor yang mempengaruhi ekosistem dimana sistem inovasi ditumbuhkan, termasuk ekonomi, sosio-kultural, hukum, dan politik. Interaksi dari berbagai aktor dan faktorfaktor yang ikut berpengaruh tersebut yang akan membentuk sistem inovasi nasional yang lebih kokoh. Selain kompleks, upaya penguatan inovasi juga sensitif terhadap dinamika peran para aktor dan faktor-faktor pembentuk ekosistem tumbuhnya. Memahami persoalan dalam upaya penguatan inovasi nasional yang sangat kompleks tersebut, maka penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dimaksudkan untuk: [1] Memahami realita dan permasalahan dalam upaya penguatan kemampuan penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan iptek saat ini; [2] Mencoba merajut sosok ideal SINas Indonesia dalam mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat; [3] Mengidentifikasi dan mengantisipasi dinamika perubahan faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi ekosistem SINas (lingkungan strategis); dan [4] Mengembangkan konsepsi SINas Indonesia yang realistis yang diyakini mampu diaktualisasikan untuk mewujudkan sasaran penguatan inovasi. Penulisan dokumen ini bertujuan untuk digunakan sebagai bahan referensi akademik yang menjadi dasar pertimbangan perubahan UU No. 18 Tahun 2002, terutama dalam penyusunan regulasi yang relevan dengan upaya mewujudkan penguatan inovasi yang lebih produktif dan menyejahterakan rakyat. Sebagai referensi akademik, dokumen cetak biru ini diharapkan

6

Perlu selalu diingat bahwa konsitusi UUD 1945 jelas mengamanahkan bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa (Pasal 31 ayat 5).

6

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

khususnya hukum tertulis yang berlaku yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan upaya-upaya penguatan inovasi secara nasional. Informasi ini merupakan langkah langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan ekosistem inovasi. namun diupayakan agar mudah dan enak dibaca dengan gaya bahasa dan penggunaan terminologi yang lebih bersahabat (reader-friendly). c. pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. Hasil analisis tersebut menjadi landasan untuk mengidentifikasi peraturan perundangundangan yang ada. Pengembangan. dan g. Metode Penelitian Hukum Penyusunan Naskah Akademik tentang Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Pendekatan ini menggambarkan berbagai permasalahan secara utuh dan menyeluruh. 32 Tahun 2011 tentang MP3EI. penelitian ini menggunakan pendekatan secara interdisipliner dan multidisipliner. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menggunakan metode pendekatan deskriptifanalitis. pengembangan sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. pembangunan klaster inovasi daerah. Selain itu. langkah-langkah perbaikan ekosistem inovasi mencakup: a. mutakhir.4. dan relevan dengan kondisi Indonesia. d. 1. serta memberikan kerangka konsepsi yang objektif dan mungkin-dicapai (achievable) dengan sumberdaya yang dimiliki Indonesia. pengembangan sistem remunerasi peneliti yang lebih baik. dan dengan pendekatan dari segi pengelolaannya secara terpadu. Karena tujuannya adalah untuk menjadi landasan dalam pembuatan kebijakan dan/atau regulasi. f. Sesuai Perpres No. terutama bagi para pembuat kebijakan dan regulasi. e. peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. b. Melalui pendekatan interdisipliner akan diketahui hukum dan ilmu hukum yang mengatur penguatan inovasi dan melalui pendekatan multi disipliner akan diketahui ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang mendukung pengaturan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang 7 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan. selanjutnya dilakukan analisis yang menjadi bagian-bagian sebagai sistem yang terbagi atas sub sistem-sub sistem dari suatu ekosistem sebagai suatu kesatuan dalam merumuskan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. revitalisasi infrastruktur R&D. 18 Tahun 2002 . dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pengembangan sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. maka dokumen cetak biru ini walaupun kental berbasis akademik.mampu memberikan informasi yang komprehensif.

konvensi dan traktat internasional yang terkait alih teknologi. Tahapan penelitian diawali dengan melakukan inventarisasi hukum. majalah hukum. maupun yang terkait dengan perekayasaan. maupun difusi teknologi. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Penelusuran kepustakaan. dan sebagainya) serta data-data yang diperoleh dari para anggota tim penyusunan naskah akademik. 8 Naskah Akademik Perubahan UU No. inovasi. serta kegiatan penelitian. serta bahan hukum sekunder maupun tertier (hasil-hasil penelitian. maupun difusi teknologi. 2. kertas kerja. Penelitian ini harus pula mendekati permasalahan yang ada dalam upaya peningkatan penguasaan. Oleh karena itu penelitian ini secara futuristik harus menyangkut upaya pembangunan yang berkelanjutan dalam sistem hukum yang ada bagi penguatan inovasi nasional. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. makalah. pemanfaatan dan pemajuan iptek untuk mendorong inovasi dan difusi teknologi seoptimal mungkin. Data ini selanjutnya dianalisis secara kualitatif berdasarkan norma-norma hukum yang berlaku dan disusun sebagai bagian dari pengembangan sistem hukum nasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Metode pendekatan sistemik ini digunakan sebagai konsekuensi dari pengertian dan pemahaman mengenai kompleksitas penguatan inovasi secara nasional. inovasi. Mengkaji bahan-bahan seminar. Sedangkan inventarisasi dan pengolahan data dilakukan melalui: 1. Metode ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. hasil focus group discussion. maupun difusi teknologi ini mengacu pada inventarisasi permasalahan. khususnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kegiatan perekayasaan. Sumber hukum materiil masalah perekayasaan. maupun difusi teknologi. Pada dasarnya penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta kegiatan penelitian. Pengembangan. dengan data sekunder yang terdiri dari bahan-bahan hukum primer (peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perekayasaan. inovasi. pengkajian. dan merupakan bahan-bahan hukum dalam mempersiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dengan mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan berlaku di Indonesia termasuk kebijakan inovasi nasional. 18 Tahun 2002 . inovasi. kemudian diupayakan untuk menarik azas-azas hukum dan rumusan norma yang akan dijadikan acuan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. maupun putusan pengadilan yang terkait dengan inovasi teknologi. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi). Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif.Perubahan UU No.

sehingga 9 Naskah Akademik Perubahan UU No. Program penguatan inovasi nasional ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi. Kajian ini mencakup bagaimana implementasi. dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Hasil Diskusi atau informasi anggota tim di Kementerian Riset dan Teknologi. dan penerapan iptek. dan 4. permasalahan. dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. Ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya perlu diperhatikan. 12/2011: latar belakang. pengembangan. . Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya penguatan inovasi. Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional yang lebih tangguh. maka sistematika penulisan dirinci sebagai berikut: Bab I Pendahuluan (UU No. Pengembangan. terutama untuk meningkatkan produktivitas nasional dan kesejahteraan. Inovasi dan Difusi Teknologi. 18 Tahun 2002 Mencakup tentang latar belakang penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002. serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagaian Pendapatan Badan Usaha untuk Kegiatan Perekayasaan. Mengkaji Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 1. serta berbagai kendala dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). serta rincian sistematika penulisan dokumen. maksud dan tujuan penulisan dokumen. pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi.3. tujuan dan kegunaan naskah akademik. termasuk pelaksanaan peraturan pelaksanaannya.5. metode penelitian hukum. kendala-kendala dalam prakteknya. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. terutama Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual. metode penelitian hukum) Judul dan Deskripsi Substansi  Latar Belakang memberikan informasi awal tentang persoalan pokok yang dihadapi terkait dengan rendahnya kontribusi teknologi terhadap pembangunan nasional Indonesia. Inisiatif inovasi nasional dari Komite Inovasi Nasional dalam rangka pencapaian tujuh sasaran inovasi nasional perlu diperkuat melalui peraturan perundang-undangan. identifikasi masalah. argumen tentang pentingnya upaya memperkuat inovasi nasional dalam rangka meningkatkan kontribusi teknologi. dan peraturan perundangundangan yang terkait. Sistematika Penulisan Sesuai dengan maksud penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dan tujuan yang hendak dicapai.  Permasalahan secara garis besar memberikan gambaran kondisi kegiatan penelitian.

 Sistematika menjelaskan tentang tata urut penulisan dokumen yang sekaligus juga merinci tentang substansi isi dokumen. dan upaya penciptaan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang inovasi. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. peran dan kontribusi aktor inovasi. pendidikan. maupun berbagai informasi yang relevan dari berbagai narasumber maupun diskusi-diskusi. termasuk kebijakan maupun peraturan perundang-undangan terkait makro ekonomi. dan pembangunan infrastruktur sosial. Kajian teoritis mencakup uraian tentang beberapa konsepsi penting termasuk makna inovasi.  Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Kelembagaan Iptek. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy) : Sri Mulatsih. ketenagakerjaan. LIPI. ketersediaan dan kesiapan infrastruktur inovasi. teori-teori hukum. dengan analisis deskriptif terhadap berbagai peraturan perundangundangan. terutama kebijakan-kebijakan yang secara langsung mempengaruhi tumbuh-kembang inovasi nasional. maka akan diulas tentang kinerja perekonomian nasional. pengembangan. BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. Kajian implementasi UU No. Komersialisasi III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang-undangan Terkait Untuk menyajikan realita potret peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian. 18 Tahun 2002. dan 10 Naskah Akademik Perubahan UU No.  Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . para aktor inovasi nasional yang terdiri dari aktor pengembang. 18 Tahun 2002 mencakup:  Analisis Undang-undang No.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan: Tatang A Taufik. II Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi Mencakup kajian teoritis dan kajian implementasi UU No. pendekatan kesisteman. dilakukan analisis tentang ekosistem pembangunan nasional. 2005. 18 Tahun 2002 . dinamika interaksi antar-aktor. dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-base economy). Metode yang digunakan adalah yuridis normatif. Kementerian Riset dan Teknologi. dan Prakoso Bhairawa Putera. Pengembangan. penguatan inovasi. dan dilakukan pula identifikasi permasalahan dan analisis efisiensi sistem inovasi terkait orientasi pembangunan inovasi. dan penerapan iptek di Indonesia saat ini.  Metode penelitian hukum memberikan gambaran mengenai metode yang dilakukan di dalam penelitian ini. 2009. perindustrian dan perdagangan. dan fakta di masyarakat.  Maksud dan tujuan penulisan adalah menjelaskan tentang niat yang terkandung dalam penyusunan dokumen naskah akademik ini dan kemanfaatan yang dapat diperoleh publik dengan tersedianya dokumen ini.Bab Judul dan Deskripsi Substansi memerlukan perubahan UU No. 2007. pengguna. dan aktor penting lainnya yang ikut menentukan dinamika ekosistem inovasi. 18 Tahun 2002.

secara bertahan mengubah minset pada pengembang teknologi agar lebih berorientasi pada kebutuhan nyata dan lebih sensitif terhadap persoalan yang dihadapi pengguna teknologi. 18 Tahun 2002 . apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). membangun semangat kebersamaan antar aktor inovasi. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. peranan lembaga intermediasi akan sangat berat jika teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan dan tidak sepadan dengan kapasitas adopsi pengguna. Selain itu. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. dalam rangka membangun kemandirian bangsa. teknologi yang dikembangkan harus pula sesuai dengan potensi sumberdaya nasional. kesesuaian teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna (demand-driven) merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam membangun inovasi nasional. Namun demikian. sosiologis. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. Sosiologis dan Yuridis Menurut UU No. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi.  Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi diharapkan mampu mendorong pengembangan SDM yang relevan dengan kebutuhan. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. teknologi yang relevan saja memang belum cukup menjadi jaminan bahwa teknologi tersebut akan diadopsi pengguna. Ekosistem SINas yang kondusif dapat diwujudkan melalui kebijakan dan 11 Naskah Akademik Perubahan UU No. menurut Hans Kelsen.  Ekosistem Inovasi yang Kondusif dibutuhkan untuk tumbuh-kembang SINas.  Reorientasi Arah dan Prioritas Riset.  Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik menjadi isu yang sangat penting. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. Menurut teori kekuasaan. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. Secara sosiologis penguatan inovasi nasional dapat memenuhi karakteristik inovasi yang khas Indonesia yang mencakup: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. Menurut Kelsen. Syarat yuridis. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan. yaitu syarat yuridis. karena efektivitas hukum merupakan fakta. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. IV Landasan Filosofis. karena masih akan tergantung pada kapasitas adopsi pengguna teknologi.Bab Judul dan Deskripsi Substansi peran pemerintah dalam skenario pengembangan SINas. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. dan filosofis.

V Jangkauan.Bab Judul dan Deskripsi Substansi regulasi yang tepat di berbagai sektor yang secara langsung mempengaruhi kinerja para aktor inovasi dan interaksi antar-aktor tersebut.  Dinamika Lingkungan Nasional pada tahun 2011 ini ditandai dengan diluncurkannya MP3EI yang menempatkan pembangunan iptek sebagai salah satu strategi utama untuk percepatan dan perluasan pembanguan ekonomi Indonesia.  Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional pada akhirnya akan dievaluasi berdasarkan kontribusi inovasi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. baik pada tingkat global. maupun nasional. Arah Pengaturan dan Ruang Lingkup  Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. dan perpajakan. kebijakan perindustrian dan perdagangan. kebijakan pendidikan nasional. keuangan. Pengakuan atas potensi peran iptek ini diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat inovasi nasional. disamping sebagai sasaran antaranya adalah pertumbuhan ekonomi. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. sehingga lebih berpeluang untuk digunakan dalam proses produksi barang dan/atau jasa.  Dinamika Lingkungan Regional ASEAN memperlihatkan bahwa posisi Indonesia secara relatif lebih lamban kemajuan pembangunan ipteknya dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. dan stabilitas keamanan nasional. kebijakan ketenagakerjaan. 18 Tahun 2002 . regional. kebijakan 12 Naskah Akademik Perubahan UU No. Secara filosofis penguatan inovasi nasional harus mampu mengantisipasi perubahan lingkungan strategis. terbangunnya masyarakat berbasis pengetahuan. kebijakan riset dan pengembangan teknologi. Selanjutnya secara nyata berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. Oleh sebab itu.  Dinamika Lingkungan Global yang paling penting adalah semakin kentaranya kecenderungan untuk mendorong pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Upaya penguatan inovasi nasional harus bersifat dinamis menyesuaikan dengan dinamika perubahan lingkungan strategis. perlu percepatan dalam mewujudkan dan memperkuat inovasi Indonesia yang dimulai dengan perubahan mindset para pengembang teknologi dan meningkatkan peran dunia usaha dalam pembangunan iptek. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro. Panggung SINas yang ideal perlu didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat.

rekayasa inovasi . peningkatan hasil.pengembangan. 13 Naskah Akademik Perubahan UU No. [2] revitalisasi lembaga pengembang teknologi.Bab Judul dan Deskripsi Substansi penyediaan infrastruktur sosial. difusi. dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). [4] peningkatan peran lembaga intermediasi. dan swasta. pendayagunaan. [6] membangun pusat unggulan inovasi. universitas. secara garis besar menekankan pada penguatan empat hal. dan pemanfaatan teknologi.  Lingkup Materi Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. dan [10] berbasis sumberdaya dan memenuhi kebutuhan nasional. pengembangan. Dua kebijakan tersebut. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. [7] mendorong pembentukan konsorsium inovasi. 4. 18 Tahun 2002 Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. [5] penyiapan S&T Park. 18 Tahun 2002 3. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. lembaga ristek. [3] peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. 2. yaitu: 1. VI Rangkuman dan Rekomendasi Merupakan bagian akhir dokumen yang menyajikan rangkuman terkait dengan unsur dan isu penting dalam penguatan inovasi nasional serta rekomendasi materi perubahan kebijakan dan/atau regulasi yang ada. [9] sinkronisasi dan perbaikan regulasi. dan . [8] revitalisasi DRN. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. pengembangan. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. Kebijakan dapat mendukung arah penguatan inovasi nasional yang mencakup: [1] membangun inovasi sebagai sistem. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI.

Keadaan menjadi lebih runyam karena di kalangan akademik pun. Dalam suatu sistem. Ketika yang dibahas adalah inovasi. interaksi antara aktor inovasi dengan ekosistemnya. Inovasi sebagai suatu sistem yang kompleks tidak dapat dianalisis dengan cara memutilasi komponen-komponennya untuk ditelaah secara terpisah. Interaksi dinamis antar-aktor. maka pemahaman tentang inovasi sebagai suatu ‘sistem’ perlu dimantapkan. serta dinamikan dan kontinyuitas sirkulasi aliran informasi kebutuhan dan pasokan teknologi merupakan kesatuan utuh yang diperlukan dalam upaya penguatan inovasi. efektif. Pemahaman yang tepat ini sangat diperlukan ketika pokok bahasannya terfokus pada inovasi. yakni inovasi dipadankan sebatas sesuatu yang berbeda (dari yang umumnya sudah diketahui) sampai ke definisi akademik yang lebih teknis dan spesifik. dikaitkan dengan banyak aspek kehidupan. 18 Tahun 2002 .Bab 2 Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi 2.1. atau terdiri dari banyak sub-sistem sesuai dengan karakteristik persoalan dan potensi sumberdaya masing-masing satuan wilayah dalam suatu negara yang diikat oleh satu tujuan kolektif. perlu penegasan tentang apa yang dimaksud dengan inovasi yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. Kajian Teoritis 2. Penguatan inovasi yang akan diwujudkan tentu perlu dijelaskan kepada publik agar publik dapat secara nyata.1. Namun masih perlu dijelaskan bahwa sistem dimaksud bersifat sentralistik menjadi sebuah sistem tunggal yang besar dan kompleks. sebaliknya juga tidak bisa dirancang komponen-komponennya secara parsial baru kemudian dirajut menjadi inovasi nasional. Rentang interpretasi itu mulai dari yang sangat ‘longgar’. Oleh sebab itu. definisi inovasi masih beragam. Pendekatan sistem diperlukan dalam menganalisis maupun dalam merancang kebijakan inovasi nasional SINas yang paling cocok. kebijakan penguatan inovasi secara tersurat mengindikasikan bahwa sistem inovasi yang dimaksud berada pada level negara. Penguatan inovasi nasional haruslah menjadi simpul pengikat antara teknologi dan ekonomi. karena kata inovasi sudah sangat populer. tetapi dengan interpretasi yang sangat variatif. digunakan dalam berbagai komunitas. Hal ini sangat relevan dalam memformulasikan kebijakan publik dan/atau regulasi yang secara legal sifatnya mengikat semua pihak. misalnya untuk menyejahterakan rakyat. dan efisien memberikan kontribusinya bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.1. Pengembangan teknologi dalam kerangka penguatan inovasi dirancang agar dapat memberikan 14 Naskah Akademik Perubahan UU No. Konsepsi Inovasi Nasional Adanya pemahaman yang tepat tentang terminologi dasar dan konsepsi pokok merupakan langkah awal yang sangat strategis dan penting untuk dilakukan.

dan KBE selanjutnya akan ditelaah secara lebih komprehensif. bisnis. Oleh sebab itu. serta akan pula diberi penegasan pada bab ini tentang pengertian dan konsepsi dasar yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. 18 Tahun 2002 . Invensi merupakan proses konversi uang menjadi ide. Jika suatu sistem berubah. proses untuk menghasilkan produk tersebut juga sama pentingnya. desain. atau sesuatu yang sama sekali baru. dan sosiologi. teknologi. invensi adalah proses atau produk baru yang secara nyata berbeda atau sama sekali baru dibandingkan dengan proses atau produk serupa yang telah ada. Walaupun inovasi lebih sering dikaitkan dengan produk yang dihasilkan. atau struktur dan fungsi organisasi yang berperan dalam proses produksinya. World Bank (2010) menyatakan bahwa “what is not disseminated 15 Naskah Akademik Perubahan UU No. Saat ini. atau memilih sesuatu yang diluar norma yang berlaku. Proses yang dimulai dari ide. Inovasi diadopsi dari Bahasa Latin ‘innovatus’ yang berarti memperbarui. engineering. Kedua terminologi ini sebetulnya berbeda. sedangkan inovasi mengubah ide menjadi uang. kemudian ditransformasi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pengertian inovasi. Inovasi dapat dimaknai sebagai upaya mengubah nilai-nilai yang selama ini telah menjadi landasan dari suatu sistem. namun dalam perspektif ekonomi. proses untuk menghasilkan produk tersebut. Untuk melakukan suatu pembaruan berarti seseorang perlu mengubah caranya dalam membuat keputusan. Semua komponen masyarakat menggunakan kata ini baik dalam komunikasi sosial maupun pada forum yang lebih formal. maka sangat mungkin akan membuka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda.kontribusi nyata terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. inovasi harus menghasilkan nilai tambah atau peningkatan produktivitas. Dalam perspektif ekonomi. Pada awalnya inovasi diartikan sebagai suatu proses untuk memperbarui sesuatu yang sudah ada atau menghasilkan sesuatu yang dianggap baru. Persoalannya adalah walaupun masing-masing pihak menggunakan kata yang sama. pembangunan perekonomian harus berbasis pada pengetahuan (knowledge-based economy. termasuk ekonomi. Inovasi sering dicampur-aduk pengertiannya dengan invensi. namun sangat mungkin bahwa pihak-pihak tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda tentang inovasi. melakukan sesuatu dengan metoda yang berbeda. konsepsi tentang pendekatan sistem. Inovasi dapat berkaitan dengan penambahan atas sesuatu yang telah ada. inovasi telah menjadi topik yang penting dalam berbagai bidang ilmu. atau melakukan perubahan cara berpikir yang radikal dan revolusioner. Perubahan tersebut dapat terlihat dari produk yang dihasilkan. Ada perumpamaan yang menarik untuk membedakan antara invensi dan inovasi. Inovator menghasilkan keuntungan finansial dari hasil karyanya. Inovasi merupakan sebuah kata yang saat ini sedang ‘naik daun’. disingkat KBE). namun belum tentu dapat menghasilkan uang dari hasil temuannya tersebut. Para ekonom era modern yakin bahwa di saat sekarang dan di masa yang akan datang mesin utama yang akan mendorong perkembangan perekonomian suatu negara adalah tingkat penguasaan dan aplikasi dari teknologi yang dikuasai tersebut. tidak dapat lagi hanya dengan mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam. sedangkan inovasi lebih dilihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. memunculkan unsur yang sama sekali baru. sedangkan inventor menemukan sesuatu yang baru.

yakni para aktor yang secara langsung menggerakkan inovasi. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. atau pemerintah. 18 Tahun 2002 . Pengertian inovasi versi UUNo. Metoda organisasi mencakup praktek bisnis. metoda pemasaran. cara pemasaran. Perlu dibedakan antara unsur sistem dengan lingkungannya (ekosistem). Berdasarkan ini. masyarakat awam. [2] inovasi selain baru. proses. maka sangatlah penting untuk membekali setiap pihak yang terlibat dalam upaya mewujudkan inovasi nasional untuk memahami konsepsi pendekatan sistem. maupun para aktor yang berperan dalam membangun ekosistem yang kondusif bagi keberlangsungan aliran tersebut. juga harus pula secara signifikan lebih baik dari produk. Proses inovatif selalu membentuk suatu sistem yang kompleks. Oleh sebab itu. atau metoda organisasi yang telah dikenal sebelumnya. is not an innovation”. 7 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UUNo. sehingga pada dasarnya inovasi merupakan sesuatu yang bermanfaat. [4] kemanfaatan suatu produk merupakan prasyarat untuk komersialisasi atau untuk peningkatan kesejahteraan sosial. Proses yang panjang ini hampir selalu melibatkan banyak aktor. Interaksi antar-aktor dan interaksi antara aktor dengan ekosistem inovasi bersifat sangat dinamis dan timbal-balik. atau hubungan dengan pihak eksternal. atau metoda organisasi) yang baru. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi ”.and used. 2003). Uraian dan referensi di atas memberikan pemahaman bahwa: [1] inovasi merupakan sesuatu (produk. penelaahan inovasi harus dilakukan dengan pendekatan sistem. OECD’s Oslo Manual 2005 Guidelines for Collecting and Interpreting Innovation Data 8 16 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni para aktor yang memberikan dukungan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi nasional (Bathelt. a new marketing method. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini. workplace organization or external relations”. Produk dapat berupa barang maupun jasa. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. pengembangan. maka inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). Hal ini perlu untuk membedakan antara penghela endogen (endogenous drivers). membuka peluang bagi produk dan proses inovatif untuk digunakan dalam berbagai aktivitas manusia. baik yang terlibat secara langsung dalam aliran ide menjadi produk yang bermanfaat. Dengan demikian. or a new organizational method in business practices. organisasi kerja. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. [3] status yang lebih baik ini.8 Inovasi merupakan implementasi dari suatu produk. proses. cara pemasaran. Telaah secara partial dengan pendekatan linier tak akan mampu menjelaskan sistem inovasi secara komprehensif dan benar. Proses inovasi berlangsung mulai dari munculnya ide di benak para inovator sampai pada termanfaatkannya produk inovatif tersebut.7 OECD (2005) menggunakan definisi inovasi: “An innovation is the implementation of a new or significantly improved product (good or service). tidak dapat dilakukan secara linier. proses. or process. bermakna pula bahwa inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). atau metoda organisasi yang baru atau secara signifikan telah diperbaiki. yang tentunya hanya dapat terlahirkan dari pemikiran yang kreatif. dengan penghela eksogen (exogenous drivers).

Sementara Patel dan Pavitt (1994) mengambarkan SINas sebagai kelembagaan-kelembagaan nasional dengan struktur dan kompetensinya yang menentukan laju dan arah pembelajaran teknologi (technological learning) pada suatu negara. sebagai kumpulan elemen yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan tertentu. Dengan kata lain. mendayagunakan. tetapi akan keliru jika pembagian ini berdampak pada pengisolasian sistem dari lingkungannya (Asheim dan Coenen. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. dapat ditemui dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. but it is also applicable to almost any problem area because of its generality. 2005) Pendekatan sistem merupakan buah dari pemikiran sistemik (systems thinking). Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Nelson (1993). 17 Naskah Akademik Perubahan UU No.Liu dan White (2001) menggunakan istilah aktor primer dan sekunder. dan artefak untuk melahirkan teknologi-teknologi baru. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. menyimpan. Freeman (1987) mendefinisikan SINas sebagai jaringan kelembagaan pemerintah dan/atau swasta yang melaksanakan dan berinteraksi dalam inisiasi. dan impor teknologi baru. disebutkan bahwa “ SINas adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. Selanjutnya. 18 Tahun 2002 . mendukung. Mingers dan White (2010) merinci bahwa pendekatan sistem (systems approach) mencakup: [1] melihat situasi secara holistik (berarti tidak bersifat reduksionis). sedangkan Lundvall (1992) mendefinisikan SINas sebagai elemen dan hubungan yang interaktif dalam proses produksi. yang menyatakan bahwa SINas sebagai sekelompok institusi yang interaksinya menentukan kinerja inovatif suatu negara. [3] memahami adanya hirarki/jenjang dalam suatu sistem dan ‘mutual casuality’ dalam masingmasing jenjang maupun antar-jenjang. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. difusi. lembaga riset dan teknologi. Mingers dan White (2010) menyatakan bahwa systems thinking is a discipline in its own right. ketrampilan.”. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. Definisi SINas yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Metcalfe (1995). dan mentransfer pengetahuan. Pemilahan ini hanya untuk membedakan posisi peran para aktor yang terlibat. modifikasi. difusi. Sistem Inovasi Nasional (SINas) didefinisikan dalam beberapa versi. with many theoretical and methodological developments. SINas merupakan suatu sistem keterkaitan antar-kelembagaan untuk menciptakan. Definisi menurut peraturan perundang-undangan. yakni sebagai sekumpulan institusi yang secara sendiri dan bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan dan difusi teknologi baru serta memberikan kerangka bagi pemerintah dalam membuat dan mengimplementasikan kebijakan untuk mempengaruhi proses inovasi. dan [4] memahami bahwa manusia akan beraksi sesuai dengan tujuan dan rasionalitas yang berbeda. [2] memposisikan hubungan atau interaksi antara elemen lebih penting dari elemen-elemennya sendiri dalam membentuk perilaku sebuah sistem. dan penggunaan pengetahuan baru yang bernilai ekonomi yang berada dalam atau berasal dari suatu negara.

Berdasarkan berbagai definisi di atas. Oleh sebab itu. kebutuhan. yakni: [1] what is possible with technology? [2] what is desirable to the society? [3] what is viable in the market?9 Pendekatan dalam upaya penguatan inovasi nasional secara ekstrim dapat dibedakan menjadi dua. Namun demikian. terutama industri yang akan memanfaatkannya untuk menghasilkan produk komersial berupa barang dan jasa. Pengembangan inovasi nasional dengan pendekatan demand-driven mengutamakan dan dimulai dari pemahaman tentang masalah. Berdasarkan informasi ini. yakni: [1] kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. Jakarta 18 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan pemanfaatan teknologi. adopsi teknologi oleh para pengguna teknologi di banyak negara (terutama negara-negara berkembang) masih sangat minimal. kegalauan akan rendahnya adopsi teknologi tersebut terlihat mewarnai definisi atau deskripsi SINas yang diusung pada kurun waktu tahun 2000-an. difusi. Proses difusi teknologi tersebut dapat melalui atau tanpa melalui lembaga intermediasi. 18 Tahun 2002 . The World Bank (2010) dengan sangat tegas mencanangkan bahwa sesuatu (baca: teknologi) yang tidak didiseminasikan dan tidak digunakan bukanlah inovasi. Sinyal kebutuhan masyarakat ini diterjemahkan oleh industri dalam bentuk kebutuhan teknologi untuk memproduksi barang dan/atau jasa yang sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut. inovasi harus diawali dengan menjawab tiga pertanyaan yang sangat fundamental. yakni berdasarkan pendekatan supply-push dan pendekatan demand-driven. yang memberi ketegasan bahwa teknologi yang dihasilkan harus berakhir dengan dimanfaatkannya teknologi tersebut oleh para pengguna. [2] pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan –baik pemerintah maupun swasta. lembaga riset dan/atau institusi pendidikan tinggi 9 Dicuplik dari keynote address oleh Nawaz Sharif (2010) berjudul ‘Govern ance of Innovation Systems in the Current Global Setting’. serta telah menyebutkan bahwa teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang punya potensi untuk dikomersialisasikan. maka ada beberapa pengertian dasar yang dapat ditarik berkaitan dengan SINas. Definisi SINas yang diusung pada periode 1980-1990an telah menyebutkan bahwa SINas mencakup kegiatan difusi dan pemanfaatan teknologi. Pendekatan supply-push mengutamakan dan dimulai dari proses pengembangan teknologi oleh institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset. [3] produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. Produk teknologi yang dihasilkan kemudian didifusikan kepada pihak pengguna.yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. dapat difasilitasi atau tanpa difasilitasi oleh Pemerintah atau pihak lain yang kompeten. Sharif (2010) mendeskripsikan inovasi sebagai upaya kolektif mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai (turning idea into values). Prakteknya. Pengertian dasar dalam sistem inovasi nasional ini diperkuat dalam Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. di LIPI. dan preferensi masyarakat yang dapat dideteksi langsung oleh pihak pengembang teknologi maupun melalui mitranya dari komunitas bisnis. dan [4] ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara.

Sebelum periode tersebut. Investasi di bidang riset dan pengembangan. yakni ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy selanjutnya disingkat KBE) yang menunjukkan bahwa dalam perkembangannya. walaupun pendekatan demand-driven yang dipilih tetapi tidak berarti ruang untuk pendekatan supply-push digusur habis. Untuk dapat memberikan dampak nyata dan langsung. Akan tetapi.10 KBE pada prinsipnya merupakan ekonomi yang secara langsung berbasis pada produksi. 19 Naskah Akademik Perubahan UU No. and high skill levels. Secara teoritis dapat dimunculkan pendekatan yang moderat dan akomodatif.mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan. Maknanya. ekonomi saat ini semakin bergantung pada kemajuan pengetahuan dan teknologi. dalam kerangkeng regulasi yang kaku. serta manajerial merupakan determinan penting KBE. Selain besaran nilai investasi untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi. dan tentu termasuk dalam kondisi keharusan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan pasar. 18 Tahun 2002 . Teori Pertumbuhan Baru (New Growth Theory) mencerminkan upaya untuk memahami tentang peran pengetahuan dan teknologi dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. informasi. Inovasi yang dikembangkan melalui pendekatan demand-driven akan lebih berpeluang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan perekonomian. Saat ini banyak upaya yang dilakukan oleh para ahli ekonomi untuk menjelaskan secara langsung (baik secara teoritis maupun pengembangan model) tentang kontribusi pengetahuan dan teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. Anggapan yang demikian. maka sumberdaya ekonomi ini harus mudah diakses oleh dunia usaha dan para penguna lainnya. kelancaran distribusi pengetahuan (baik melalui 10 OECD (2005) mendefinisikan ekonomi berbasis pengetahuan sebagai: ‘an expression coined to describe trends in advanced economic towards greater dependence on knowledge. dan tenaga kerja berketerampilan tinggi. karena lebih berpeluang untuk diadopsi industri. and the increasing need for ready access to all of these by the business and public sectors’ . misalnya dalam kondisi serba keterbatasan. Pilihan pendekatan tersebut lebih untuk menjamin agar aliran teknologi dapat terjadi secara berkesinambungan dan komersialisasi produk yang dihasilkan dapat menjadi pasokan ‘energi’ untuk kontinuitas aliran teknologi tersebut. Walaupun demikian. distribusi. proses aliran hanya akan terjadi jika ada perbedaan derajat antara posisi asal dan posisi sasaran. 2008). yakni dengan memadukan pendekatan supply-push dan demand-driven. Sejak tahun 1960-an mulai muncul keyakinan bahwa perbedaan kemajuan perekonomian antar-negara terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi dari masing-masing negara (Fagerberg dan Srholec. sebagaimana halnya teori fisika. pendidikan dan pelatihan. kemajuan perekonomian lebih banyak dikaitkan dengan jumlah uang yang terakumulasi (accumulated capital) per tenaga kerja. dan penggunaan pengetahuan dan informasi. mengabaikan kenyataan bahwa kreativitas sesungguhnya lebih terangsang untuk muncul pada kondisi yang ‘tidak nyaman’. di bawah tekanan. sebagian komunitas akademik dan peneliti menganggap pendekatan demand-driven akan mengebiri kreativitas ilmiah. Keyakinan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kemajuan perekonomian dengan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan ‘mazhab’ ekonomi baru. dalam penguatan inovasi. information.

institusi pendidikan tinggi perlu dirancang agar selain mampu menyelenggarakan pendidikan yang secara akademik berkualitas. 18 Tahun 2002 . pengguna yang dimaksud adalah industri yang memahami kebutuhan dan preferensi konsumen. Upaya yang umum dilakukan untuk merangsang atau mempercepat difusi teknologi adalah membentuk lembaga intermediasi. jumlah dan kualitas personel pengembang teknologi) belum cukup untuk memberikan gambaran tentang kinerja KBE. 11 Elaborasi lebih mendalam mengenai isu ini dapat dibaca pada Lakitan (2009):”Kebijakan Pengembangan dan Implementasi Sistem Inovasi Nasional: menjembatani pendidikan. Walaupun demikian. Adopsi teknologi akan terjadi jika pihak pengembang teknologi memahami kebutuhan pihak pengguna. juga harus pula memahami persoalan dan kebutuhan nyata agar dapat mengemas kurikulum yang relevan terhadap persoalan dan kebutuhan nyata tersebut. Indikator yang berbasis pada nilai investasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semata (seperti jumlah belanja riset dan pengembangan. atau dibutuhkan tapi kalah handal secara teknis dan/atau kurang kompetitif secara ekonomi. Dalam konteks komersialisasi. Intensitas hubungan dan kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi antaraktor dalam sistem inovasi akan menjadi faktor penentu kinerja perekonomian. Ada kesulitan dalam mengevaluasi ekonomi berbasis pengetahuan. Prinsip dasarnya adalah bahwa teknologi hanya memberikan kontribusi jika digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk barang/jasa yang dibutuhkan konsumen. Kesimpulan dari kajian yang dilakukan oleh Lipsey dan Carlaw (2001) patut direnungkan: “ There is no reason to believe that changes in TFP in any way measure technological change” . riset.11 Upaya untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan perekonomian dilakukan antara lain dengan menghitung Total Factor Productivity (TFP).jalur formal maupun informal) juga merupakan faktor esensial yang mempengaruhi kinerja perekonomian. Akan tetapi. Produk teknologi yang pengembangannya tidak berorientasi pada kebutuhan nyata tentu akan sulit dijual ke pengguna. tidak semua pakar ekonomi sependapat bahwa TFP bisa mencerminkan kontribusi teknologi. Oleh sebab itu. pendidikan dan ketrampilan tinggi tersebut perlu mempunyai relevansi yang juga tinggi dengan persoalan dan kebutuhan nyata. Jurnal Dinamika Masyarakat 8(1):1501-1516. industri. Lapangan kerja dalam konteks KBE akan lebih banyak membutuhkan tenaga kerja dengan ketrampilan tinggi atau berpendidikan tinggi. dan konsumen”. Kelemahan teoretis dan ketidakkonsistenan empiris dari hasil perhitungan pada berbagai negara dengan tingkat kemajuan teknologi yang berbeda menjadi lahan subur untuk perdebatan. 20 Naskah Akademik Perubahan UU No. Penguasaan pengetahuan dan teknologi yang tinggi tetapi hanya terisolir di kalangan akademik atau periset semata tidak akan memberikan dampak terhadap kinerja perekonomian. untuk mendukung KBE. antara lain karena keterbatasan dan mutu indikator terkait pengetahuan yang saat ini tersedia. mengingat bahwa dinamika perubahan pengetahuan dan teknologi berlangsung dalam tempo yang cepat. lembaga intermediasi akan sulit berfungsi efektif jika teknologi yang ditawarkan adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan. Namun demikian. Indikator dari sisi keluaran kegiatan riset dan pengembangan serta distribusinya diyakini akan lebih relevan.

OECD (1996) mengidentifikasi empat gugus indikator penting yang perlu dikembangkan teknik pengukurannya (secara statistik) untuk mengevaluasi kinerja KBE. [2] knowledge rates of return. Aktor utama terdiri dari para pengembang/penyedia teknologi. Untuk memudahkan pemahaman dan agar kompleksitas yang ada tidak mengaburkan esensi dasar dari inovasi. 18 Tahun 2002 menyebutkan pula perlunya peran aktif warganegara dalam pelaksanaan kegiatan penguasaan. Gugus indikator [2] merupakan indikasi dari besarnya perolehan sosial dan kemanfaatan bagi publik per satuan input kegiatan riset dan pengembangan. serta tingkat ketrampilan dan relevansi pendidikan tenaga kerja. Sedangkan gugus indikator [4] melingkupi indikator ‘human capital’. 2. intensitas interaksi antara aktor sistem inovasi. 18 Tahun 2002) menggunakan terminologi kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai aktor inovasi. [3] knowledge networks. pemanfaatan.misalnya data stok pengetahuan dan kelancaran aliran distribusi/difusinya. dan lembaga penunjang’. serta mengetahui kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi dari penyedia ke pengguna. lembaga litbang. Gugus indikator [1] memperlihatkan pentingnya mengetahui penambahan stok pengetahuan per satuan input pada kegiatan riset dan pengembangan. dan [4] knowledge and learning. dan [2] aktor penunjang (sekunder) yang berperan dalam membentuk ekosistem yang kondusif agar aktoraktor utama dapat unjuk kinerja secara optimal. Aktor Inovasi Nasional Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.2. 18/2002 menetapkan bahwa ‘kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi.1. dan lembaga penunjang merupakan aktor-aktor utama dalam inovasi. 18 Tahun 2002 merupakan unsur penting dari 12 Pasal 6 ayat (1) UU No. dan para pihak yang memfasilitasi dan/atau melakukan intermediasi interaksi dan komunikasi antara penyedia dan pengguna teknologi.12 Namun demikian UU No. lembaga penelitian dan pengembangan. 21 Naskah Akademik Perubahan UU No. badan usaha. para pengguna teknologi. Gugus indikator [3] memberikan indikasi tentang proses aliran dan intensitas interaksi antara aktor inovasi. badan usaha. yakni indikator terkait: [1] knowledge stocks and flows. atau kegiatan lain yang terkait langsung dengan upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. 18 Tahun 2002 . dan pemajuan iptek. mengukur kemanfaatan bagi publik untuk investasi di bidang pendidikan dan pelatihan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU No. Nuansa kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini mencakup perguruan tinggi. mulai dari pengembangannya sampai pada penggunaannya untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. Kompleksitas penguatan inovasi tercermin antara lain dari banyaknya aktor yang terlibat dan ikut menentukan atau mempengaruhi kinerja sistem ini. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud UU No. maka ada baiknya aktor yang banyak tersebut dipilah menjadi: [1] aktor utama (primer) yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi. Pengembangan.

dan [2] unit kerja penelitian dan pengembangan pada kementerian dan pemerintah daerah. belum fokus pada upaya untuk menghasilkan invensi dan inovasi. mayoritas perguruan tinggi di Indonesia masih lebih dominan terkonsentrasi pada kegiatan pendidikan dan pengajaran. 18 Tahun 2002 .18/2002 menetapkan lembaga-lembaga yang tergolong sebagai lembaga litbang. negeri maupun swasta. yakni dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. atau bagian dari organisasi pemerintah. 22 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemerintah daerah. perguruan tinggi. Hal ini antara lain disebabkan karena kegiatan riset masih lebih diposisikan sebagai ‘academic exercises’. dan [4] lembaga R&D nirlaba (private non-profit). sebelumnya dikenal sebagai LPND) yang (salah satu) tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan kegiatan riset dan pengembangan. [2] lembaga R&D bisnis (business enterprise). Pengelompokan ini digunakan dalam mengevaluasi kinerja lembaga riset dan pengembangan negara-negara dunia. unsur pelaksana riset dan pengembangan pada industri. Seluruh perguruan tinggi di Indonesia. dan pengabdian kepada masyarakat. dan para periset individual. penelitian.pengembang/penyedia teknologi. dan organisasi masyarakat. penyandang dana. [3] lembaga R&D pemerintah (government). 18 Tahun 2002 hanya mengenal dua lembaga pengembang teknologi. Namun demikian. misalnya institusi riset non-pemerintah. Namun demikian pengembang/penyedia teknologi tidak hanya terbatas pada dua unsur tersebut. yakni perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan. Kiprah dan kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum kentara. pemegang kendali kebijakannya. Berdasarkan kriteria ini maka ada empat kelompok lembaga R&D. dan orientasi komersialisasi produk riset yang dihasilkannya (Gambar 1). mengemban tiga tugas pokok yang dikenal sebagai tridharma perguruan tinggi. yakni: [1] perguruan tinggi (higher education). UU No. lembaga penunjang. yakni melakukan pendidikan dan pengajaran. Lembaga R&D pemerintah termasuk: [1] Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK. tetapi mencakup semua pihak yang secara nyata melakukan kegiatan pengembangan teknologi. badan usaha. 13 OECD (2002) membuat klasifikasi lembaga riset dan pengembangan (R&D) berdasarkan pengelola. 13 Pasal 8 ayat (3) UU No.

maka status lembaga riset & pengembangan tersebut tergantung pada pihak mana yang dominan membiayainya TIDAK TIDAK TIDAK YA Perguruan Tinggi Badan Usaha Lembaga Pemerintah Gambar 1. 23 Naskah Akademik Perubahan UU No. misalnya terkait dengan kepedulian mengenai isu lingkungan. tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa. dan peningkatan peradaban bangsa. maka selayaknya riset yang dilaksanakan oleh lembaga R&D pemerintah lebih fokus pada upaya menyediakan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat dan negara dan/atau menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dalam rangka mendukung pembangunan perekonomian nasional. kesejahteraan rakyat. Riset yang dilakukan badan usaha jelas berorientasi komersil. Positif dalam konteks pengembangan teknologi akan mengalami akselerasi mengingat potensi kekuatan dunia usaha dalam membiayai kegiatan riset dan relevansi teknologi yang dikembangkan juga akan semakin meningkat.Lembaga Riset & Pengembangan Apakah berada dalam institusi pendidikan tinggi? YA Perguruan Tinggi Apakah produknya dijual sesuai harga pasar? YA Badan Usaha Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh badan usaha? YA Badan Usaha YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Perguruan Tinggi Lembaga Pemerintah YA Perguruan Tinggi Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh pemerintah? TIDAK Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh lembaga non-pemerintah? TIDAK YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Lembaga Non-Pemerintah Jika kendali dan pembiayaan dilakukan oleh pihak yang berbeda. walaupun saat ini sering dikemas dengan berbagai ‘bungkus’ lain dalam rangka membangun citra perusahaan atau memanfaatkan kecenderungan preferensi konsumen. 18 Tahun 2002 . karena dunia usaha 14 Sesuai dengan amanah konstitusi UUD 1945. baik riset untuk mendapatkan informasi kebutuhan dan selera konsumen yang akan dijadikan dasar dalam pengembangan strategi pemasaran maupun riset-riset pengembangan produk. Peningkatan intensitas kegiatan riset oleh badan usaha dapat menjadi indikasi yang positif tetapi sekaligus juga negatif. Klasifikasi berdasarkan status formal lembaga riset dan pengembangan (adaptasi dari OECD. 2002) Sementara kegiatan riset di perguruan tinggi lebih berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan.14 Banyak industri dan badan usaha lainnya mempunyai unit kerja yang tugas utamanya adalah melakukan riset dan pengembangan.

pendidikan anak). nelayan. Mengingat pada saat ini segmen industri besar cenderung lebih bergantung pada teknologi asing (yang mungkin disebabkan 15 UU No. pengrajin. korupsi). Lembaga R&D nirlaba ini lebih banyak berkiprah di ranah ilmu-ilmu sosial. sedangkan masyarakat dan pemerintah lebih bersifat bauran antara komersial dan pelayanan publik. atau kegiatan pengembangan teknologi dimaksud sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah. Lembaga R&D swasta nirlaba sudah berkiprah lama di Indonesia dengan sumber pembiayaan umumnya dari lembaga-lembaga internasional. Badan usaha di Indonesia masih dominan bergerak di sektor perdagangan. pencemaran/polusi. hak asasi manusia. namun cikal-bakal lembaga R&D komersial yang independen sudah mulai nampak tumbuh. misalnya isu sosial (kesejahteraan rakyat. Kecenderungan peningkatan intensitas riset oleh dunia usaha dapat pula menjadi indikasi negatif. maka sudah sepatutnya teknologi yang dihasilkan tersebut dapat digunakan oleh pemerintah dan masyarakat secara bebas. 18 Tahun 2002 . Dapat bersifat komersial jika lembaga pengembang teknologinya bukan merupakan lembaga R&D pemerintah. Industri produsen barang dan jasa di Indonesia banyak yang hanya merupakan unit produksi dari sebuah perusahaan multinasional atau hanya bersifat sebagai penerap teknologi asing yang sudah mapan yang dilaksanakan berdasarkan lisensi yang diberikan oleh pihak-pihak pengembang teknologi luar negeri.tidak akan melakukan kegiatan riset jika tidak ada potensi kemanfaatan hasilnya. Badan usaha merupakan pengguna teknologi yang bersifat komersial. jika pengembang teknologinya adalah lembaga R&D pemerintah. penyakit menular. isu politik dan pemerintahan (demokratisasi. 18 Tahun 2002 hanya menyebutkan badan usaha sebagai aktor pengguna teknologi. atau merupakan lembaga R&D asing. 24 Naskah Akademik Perubahan UU No. sehingga kebutuhan dan kapasitas adopsi teknologinya relatif rendah. misalnya petani. dan isu lingkungan (deforestasi.15 Unsur pengguna lainnya adalah [1] masyarakat pelaku produksi barang/komoditas/jasa. Walaupun saat ini. Sebaliknya. desentralisasi. Jurang yang masih membentang lebar antara perguruan tinggi atau lembaga R&D pemerintah dengan dunia usaha merupakan peluang untuk tumbuh kembang lembaga R&D independen. lembaga R&D yang berorientasi komersial umumnya masih merupakan unit kerja internal lembaga bisnis. peternak. apabila kecenderungan ini merupakan bentuk reaksi dari dunia usaha atas rendahnya relevansi dan/atau mutu teknologi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah. perubahan iklim). kegiatannya tidak dibiayai oleh pemerintah. Dunia usaha akan selalu memposisikan biaya riset sebagai bagian dari investasi. Kapasitas adopsi para pengguna teknologi di Indonesia masih belum besar. Bukan rahasia umum bahwa saat ini komunikasi dan interaksi antara para pihak pengembang teknologi (perguruan tinggi dan lembaga R&D pemerintah) dengan pihak industri belum terbangun secara intensif. Perlu diingat bahwa kepemilikan paten lazimnya adalah ditangan pihak yang membiayai kegiatan pengembangan teknologi yang bersangkutan. Badan usaha atau industri merupakan salah satu unsur pengguna teknologi. terutama fokus pada isu-isu hangat pada tataran global. dan [2] pemerintah dalam rangka melaksanakan pelayanan publik dan untuk menjaga kedaulatan negara.

Pemerintah seharusnya menjadi pengguna utama teknologi dalam negeri. sebagian penyebabnya berasal dari kapasitas dan kompetensi lembaga yang tidak memadai. Kenyataannya. Pada saat ini.16 Disamping untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Pihak ketiga yang tergolong sebagai aktor utama inovasi adalah para pihak yang berperan sebagai intermediator atau fasilitator untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara para pengembang dengan para pengguna teknologi. peran intermediasi dan fasilitasi ini diharapkan dimainkan lebih banyak oleh pemerintah. kebutuhan alat dan mesin pertanian masih dominan diimpor dari berbagai negara. Orientasi pengembangan teknologi Indonesia perlu lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dan pemecahan persoalan dalam negeri terlebih dahulu. mengingat luas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sedemikian besar.karena kemampuan teknologi nasional belum memadai untuk memasok kebutuhan teknologi tersebut atau mungkin karena alasan lain yang bersifat non-teknis). Pemerintah tentunya dapat membentuk lembaga-lembaga khusus untuk menjalankan fungsi/tugas ini. juga penggunaan teknologi dalam negeri akan menggairahkan kegiatan pengembangan teknologi itu sendiri. dan sebagian lagi karena teknologi hasil pengembangan dalam negeri yang tidak sesuai dengan 16 Sudah ada arahan dari Presiden RI agar kebutuhan teknologi dan produk teknologi di bidang pertahanan dan keamanan memprioritaskan teknologi dalam negeri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian bangsa. terutama Jepang dan Cina. 18 Tahun 2002 . harusnya segmen pengguna ini harus dipasok penuh oleh pengembang teknologi domestik. maka pengguna teknologi domestik yang paling potensial adalah masyarakat awam dan usaha kecil dan menengah (UKM). teknologi yang dibutuhkan masyarakat awam dan UKM pun belum sepenuhnya dikuasai oleh teknologi domestik. Misalnya. Untuk menjalankan peran intermediasi. Kementerian Riset dan Teknologi. merupakan dua argumen utama untuk menjadikan kebutuhan domestik sebagai pasar utama bagi produk teknologi dalam negeri. Sejak tahun 2010. Oleh sebab itu. 17 25 Naskah Akademik Perubahan UU No. karena secara langsung akan meningkatkan aliran dana untuk pembiayaannya. tersebut di beberapa kota.17 Namun peran intermediasi dari lembaga-lembaga BTC tersebut kelihatannya masih jauh dari harapan. misalnya. BTC yang dikelola BPPT telah dilebur masuk ke dalam organisasi BPPT Engineering. yakni Business Technology Center (BTC) di 8 lokasi. Untungnya benih padi sudah dapat dipenuhi dari hasil riset dan teknologi dalam negeri. masih dibanjiri oleh teknologi maupun produk teknologi asing. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa dan kebutuhan peralatan utama sistem pertahanan (alutsista) nasional yang besar. terutama teknologi di bidang pertahanan dan keamanan. Pendirian BTC ini merupakan tidak lanjut rekomendasi dari hasil kajian ‘Periskop’ yang dilaksanakan pada tahun 2000 atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Jerman. baru setelah pasar domestik dikuasai (dan teknologi Indonesia sudah lebih kompetitif) maka pertimbangan ekspor teknologi nasional menjadi lebih layak diupayakan. pernah mendorong pembentukan lembaga yang dirancang khusus untuk fungsi intermediasi ini.

‘101 Inovasi Indonesia (2009). melalui serial terbitan buku ‘100 Inovasi Indonesia’ (2008). pemanfaatan. dan yang terakhir ‘103 Inovasi Indonesia’ (2011). tetapi berperan nyata dan signifikan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh-kembang inovasi. intermediasi. Sejak 2011. Kementerian Pendidikan. Teknologi yang dikembangkan lebih mahal dan/atau kalah handal dibandingkan dengan teknologi sejenis yang sudah tersedia di pasar. difusi. walaupun lebih banyak orientasinya adalah untuk memediasi antara pengembang teknologi nasional dengan para (calon) pengguna potensial di dalam negeri. kegiatan inovasi di Indonesia akan menjadi unggulan (benchmark) negara-negara lain di ASEAN. Budaya. 18 Tahun 2002. dan [4] membangun infrastruktur sosial. Pasal 10 ayat (1)).kebutuhan nyata (tidak relevan). Untuk penguatan peran intermediasi ini. Culture. BIC ditempatkan di kawasan Puspiptek Serpong sesuai dengan skenario untuk menjadikan kawasan ini sebagai Science and Technology Park (STP). Kedekatan secara fisik diyakini akan mampu merangsang aktor-aktor tersebut untuk meningkatkan komunikasi dan interaksinya. Science and Technology. 18 Tahun 2002 Selain tiga aktor utama inovasi yang telah dijelaskan sebelumnya. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. Visi BIC adalah menjadi lembaga intermediasi inovasi bisnis yang terdepan. [2] menyiapkan sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk aktor penggerak sistem inovasi. maupun penggunaan teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan publik maupun negara. dimana aktor-aktor utama inovasi akan difasilitasi untuk berada dalam kawasan yang sama.18 Sejak tahun 2008 tersebut. Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. 19 . ‘102 Inovasi Indonesia’ (2010). dalam menunjang daya saing ekonomi dan bisnis di Indonesia. juga banyak aktor atau lembaga pendukung lainnya yang berperan penting dalam membangun inovasi secara lebih produktif dan berkesinambungan. Hal ini dilakukan dengan mensinergikan elemen-elemen akademisi. secara resmi disingkat MEXT) Jepang 18 19 Entah mengapa lembaga-lembaga intermediasi yang dibentuk penamaannya selalu menggunakan bahasa Inggeris. Olahraga. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (UU No. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. BIC telah menerbitkan katalog tahunan hasil-hasil riset yang dianggap berpeluang untuk dikomersialisasikan. [3] memberikan dukungan finansial bagi para aktor inovasi dalam menjalankan perannya masing-masing. Kelembagaan yang dikategorikan sebagai pendukung adalah lembaga atau aktor yang tidak terlibat langsung dalam proses pengembangan. Pengembangan. sehingga dalam waktu 10 tahun. Lembaga pendukung mencakup lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan dan/atau kapasitas untuk: [1] membuat regulasi dan/atau kebijakan terkait tumbuh-kembang inovasi nasional maupun daerah. dan pengguna teknologi di kawasan ini diharapkan dapat menjadi model implementasi Sistem Inovasi Nasional. 26 Naskah Akademik Perubahan UU No. Keterkaitan lembaga-lembaga pengembang. Sport. pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi juga telah menfasilitasi pendirian Business Innovation Center (BIC) pada tahun 2008. bisnis. dan pemerintah (A-B-G) dalam proses inovasi.

budaya. tradisi. inovasi. pemberian kompensasi yang sebanding bagi badan usaha yang berkontribusi dalam pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi nasional. serta pajak dan keuangan. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. Namun demikian dalam konsepsi MEXT tersebut. karakter bangsa Gambar 2. [2] kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah akan tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. antara lain misalnya: pemberian insentif teknis dan/atau finansial bagi badan usaha yang menggunakan teknologi nasional dalam kegiatan usahanya. budaya. ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasar Pasar Permintaan Produk & jasa Industri Basis Pengetahuan Pengembang Kerjasama Teknologi [Univesitas.menggunakan diagram konseptual untuk memperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang ini (Gambar 2). Suatu hal yang menarik dari konsepsi ini adalah: [1] fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. infrastruktur sosial. tradisi. Basis Pengetahuan Litbang] Ketenagakerjaan Infrastruktur Pendidikan Pengguna Teknologi [Industri] AKTOR UTAMA Kebijakan AKTOR PENDUKUNG Pemerintah Masyarakat Politik dan Ekonomi Lingkungan. dan karakter bangsa. 2002) Regulasi dan kebijakan yang mendukung upaya penumbuh-kembangan inovasi. yakni berupa lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. tidak ditampakkan posisi dan peran lembaga intermediasi dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. pemberian prioritas dukungan pembiayaan bagi lembaga dan/atau individu peneliti 27 Naskah Akademik Perubahan UU No. Diagram Konsepsi Sistem Inovasi Nasional (adaptasi dari MEXT. dan difusi teknologi harus berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. ketenagakerjaan. 18 Tahun 2002 Pajak&Keuangan Ekonomi Sosial Iptek . dan [3] secara jelas memperlihatkan bahwa pada akhirnya kegiatan perekayasaan. pendidikan.

digunakan untuk pembiayaan persiapan ‘go public’. Oleh sebab itu. pembiayaan yang tidak besar dan dipergunakan untuk membuktikan bahwa ide baru yang digagas berpotensi untuk menghasilkan produk atau jasa komersial –biasanya disediakan oleh ‘angel investor’. Skenario VC yang umum adalah pemodal memberikan dana awal bagi suatu usaha dan dana tersebut diperhitungkan sebagai saham pada perusahaan yang bersangkutan. Konsepsi inovasi di Jepang (Gambar 2) dapat dijadikan referensi dalam konteks ini. yakni: [1] seed money. untuk biaya kerja tahap awal dimana perusahaan sudah mulai menjual produk tetapi belum memberikan keuntungan.atau perekayasa yang fokus pada upaya untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan/atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan nasional. maupun pengembangan program pendampingan dari para tenaga ahli (peneliti dan perekayasa) juga dapat menjadi alternatif upaya penumbuh-kembangkan inovasi. [4] Second-Round. atau masih sulit meyakinkan pihak perbankan untuk mendapatkan pinjaman. disebut juga ‘bridge financing’. Ketersediaan dan akses ke skim kredit atau bentuk kemudahan lain untuk modal kerja baik bagi pengembang teknologi maupun industri akan ikut merangsang tumbuh-kembang inovasi. masih terlalu kecil untuk bisa menarik dana publik melalui pasar modal. maka biasanya pemodal selain mendapat porsi saham yang signifikan. maka institusi pendidikan (terutama pendidikan tinggi) perlu mengembangkan program studi dan kurikulum yang relevan dengan sektor atau profesi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. disebut juga ‘mezzanine financing’. Academic excellence yang sering menjadi jargon pendidikan tinggi harus dibarengi dengan peningkatkan relevansinya dengan kebutuhan pembangunan dan potensi sumberdaya nasional. pembiayaan tahap awal untuk dana pemasaran atau pengembangan produk. Venture capital (VC) merupakan salah satu bentuk sumber pembiayaan bagi perusahaan baru tumbuh (startup companies). [3] First-Round. dan [6] Fourth-Round. dana untuk penjualan awal dan biaya produksi. berbeda dengan infrastruktur fisik yang telah cukup dipahami peran dan kontribusinya. [2] start-up. upaya penguatan inovasi tidak boleh mengabaikan peran 28 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemberian insentif bagi lembaga intermediasi yang berhasil meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Karena resiko usaha baru yang tinggi dan investasi butuh waktu 3-7 tahun untuk bisa cair. VC menjadi opsi sumber pembiayaan bagi perusahaan yang belum berpengalaman. 18 Tahun 2002 . juga ikut mengendalikan kebijakan dan pengambilan keputusan pada perusahaan tersebut. [5] Third-Round. untuk biaya pengembangan usaha bagi perusahaan yang mulai memperoleh keuntungan. Secara umum ada 6 tahap pembiayaan yang mungkin didapat dari VC. Untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang dapat menggerakkan inovasi. Kebijakan yang mendukung dan akses yang terbuka luas untuk mendapatkan sumber pembiayaan merupakan pra-kondisi yang dibutuhkan dalam upaya penguatan inovasi nasional. Memberikan akses yang lebih mudah dalam pemanfaatan laboratorium pemerintah di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan. Peran penting infrastruktur sosial sangat sering terabaikan dalam berbagai sektor pembangunan.

pendidikan. baik dari dimensi teknis. dan komunitas (Casey. transportasi publik. Sebagai contoh. sarana komunitas/lingkungan. maka akan meningkatkan kemungkinan bagi teknologi tersebut untuk digunakan. pada saat ini justeru persoalan interaksi dan komunikasi antara aktor inovasi ini yang masih tersumbat. 18 Tahun 2002 . Interaksi Antar-Aktor Inovasi Pendekatan untuk memahami inovasi tentunya harus bersifat sistemik. maupun sosio-kultural. Akan tetapi adalah keliru jika serta-merta disimpulkan bahwa hubungan sebab akibat tersebut bersifat otomatis. Tujuan ini hanya akan tercapai jika pembangunan infrastruktur sosial menjadi bagian esensial dari skenario membangun kemampuan inovasi nasional.3. masih sangat sering terkendala.20 Sesungguhnya sangat jelas bahwa amanah konstitusi menyatakan bahwa tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan peradaban. 2005). finansial. olahraga dan rekreasi. Data empiris juga menunjukkan adanya korelasi antara penguasaan teknologi dengan kemajuan perekonomian suatu negara. layanan tanggap darurat. telah mengenali peran infrastruktur sosial ini dalam menentukan keberhasilan membangun SINas. 29 Naskah Akademik Perubahan UU No.1. Interaksi dan komunikasi antar-aktor yang intensif akan memperbesar peluang untuk terjadinya aliran informasi kebutuhan teknologi dari para pihak pengguna teknologi ke pihak pengembang teknologi. seni dan budaya. Keberhasilan untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih produktif dan berkontribusi positif terhadap pembangunan perekonomian suatu bangsa (yang pada gilirannya diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat) berkorelasi positif dengan intensitas komunikasi dan interaksi antara para aktor inovasi. 20 Pemerintah Jepang. informasi. Perlu diingat pula. Pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan pengguna jika telah mempertimbangkan juga secara seksama kapasitas adopsi oleh pihak pengguna. sehingga teknologi yang dikembangkan diharapkan sudah semakin mengacu pada upaya memenuhi kebutuhan nyata. tetapi tidak otomatis bahwa inovasi di Indonesia menjadi lebih produktif dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. upaya membangun kemampuan inovasi nasional merupakan suatu yang kompleks dan banyaknya aktor yang ikut berperan di dalamnya. Namun demikian. Kemajuan R&D bisa menjadi modal untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih tangguh. Resultan dari interaksi antar-aktor juga masih sangat tergantung pada ekosistem dimana hal tersebut berlangsung. perumahan. 2. sebagaimana yang terlihat pada konsepsi SINas yang dikembangkan oleh MEXT (2002). serta dukungan lain untuk individu. walaupun seandainya lembaga R&D Indonesia sudah sedemikian majunya sehingga setara dengan lembaga-lembaga serupa pada level dunia. Infrastruktur sosial termasuk sarana dan prasarana kesehatan. hukum dan keamanan publik. Penelaahan aktor-aktor inovasi tidak dapat dilakukan secara terisolir satu sama lain. pelatihan dan kesempatan kerja. tidak dapat dimutilasi menjadi segmen-segmen yang terpisah satu sama lain. keluarga.infrastruktur sosial ini. sebagai contoh.

misalnya kebijakan pembangunan perekonomian. Manado. 2006). umumnya hanya terbatas pada masalah operasional dan perawatan mesin dan peralatan saja (Hidayat. kebijakan ketenaga-kerjaan. Untuk menyederhanakan sebuah sistem yang kompleks. 2010). 18 Tahun 2002 . 2. akademisi dalam konsepsi ABG ini mewakili komunitas pengembang teknologi. Kalaupun ada. Pada dasarnya.4. masyarakat. Semarang. Padang. kebijakan pendidikan nasional. termasuk kebijakan-kebijakan yang diluar kendali para aktor utama inovasi. dan lembaga intermediasi teknologi masih sangat jarang. antara akademisi dengan bisnis. lembaga R&D.Survei Periskop tahun 2000. Samarinda. maka lembaga intermediasi mendapat beban yang sangat berat. Selanjutnya. maupun pemerintah. model triple helix menggunakan dinamika non-linier hubungan universitas-industri-pemerintah. dan kebijakan pembangunan infrastruktur sosial (lihat 30 Naskah Akademik Perubahan UU No.1. Teknologi yang dihasilkan oleh pengembangan seringkali tidak sesuai atau tidak relevan dengan kebutuhan para pengguna untuk meningkatkan produktivitas ataupun untuk dijadikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi. karena relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang rendah. bisnis mewakili komunitas pengguna teknologi. Yogyakarta. pada tahun 1994 lahir model ‘Triple Helix’ dari upaya untuk mengawinkan antara analisis kelembagaan infrastruktur pengetahuan dengan analisis evolusioner ekonomi berbasis pengetahuan (Leydesdorff dan Meyer. 2008). Palembang. dan pemerintahan mewakili lembaga yang berfungsi untuk melakukan regulasi. Ekosistem Inovasi Nasional Kemampuan inovasi nasional pada prinsipnya ditentukan oleh kelancaran aliran informasi kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh pihak (calon) pengguna potensial ke pihak pengembang teknologi dan sebaliknya. antara perguruan tinggi atau lembaga R&D dengan industri masih memerlukan dukungan kebijakan. Namun demikian performa akhir dari upaya penguatan kemampuan inovasi nasional akan dipengaruhi oleh berbagai pihak. Pada periode tahun 2000-an. kebijakan keuangan dan perpajakan. Makassar. konsepsi triple helix ini juga gencar dikumandangkan di Indonesia sebagai bentuk model penguatan kemampuan inovasi nasional dengan menggunakan nama populer triple helix ABG (academicbusiness-government) (Kadiman. Berbagai regulasi dan kebijakan akan ikut mempengaruhi. yang dilaksanakan di 10 kota besar Indonesia (Bandung. intermediasi. permasalahan fundamentalnya adalah sama. Terlepas dari konsepsi mana yang digunakan untuk menjelaskan tentang kinerja inovasi nasional. Disisi lain kelancaran aliran paket teknologi yang dihasilkan pihak pengembang ke pihak pengguna juga menjadi faktor yang menentukan. dan fasilitasi. Komunikasi dan interaksi antara pengembang dengan pengguna teknologi. yaitu rendahnya intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi. Dalam konteks interaksi antar-aktor inovasi ini. bahkan mungkin menjadi ‘mission impossible’ bagi lembaga intermediasi untuk mendorong agar teknologi tersebut digunakan oleh industri/badan usaha. dan Mataram) atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi dan Kementerian Pendidikan Jerman berhasil mengungkapkan bahwa kerjasama antara industri dengan perguruan tinggi. Surabaya.

dan (5) Evolutionary (Tabel 1). 2008) 31 Naskah Akademik Perubahan UU No. Rationale yang berbasis teori lebih sering diposisikan sebagai justifikasi atau alasan untuk menetapkan kebijakan tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Technology as applied knowledge Neoclassical Consideration of technology Technology as information and “incorporated” in capital investment No consideration of space beyond reduction of information costs. (4) Systemic Institutional Approaches. noninnovation excludable generated by R&D Neutral but with implications for divergence/conve rgence Consideration of space Proximity (and space) play a role in inducing changes in behaviour Space as on dimension for specific evolutionary processes 21 Rationale dalam konteks ini adalah model yang diformalisasi dan didasarkan dari teori dan konsepsi terpilih yang memberikan informasi tentang desain. teori sangat jarang diadopsi secara utuh untuk diterjemahkannya menjadi rationale oleh pembuat kebijakan. Umumnya. implementasi.Gambar 2). 18 Tahun 2002 . Namun demikian. akan melahirkan rationale untuk intervensi pemerintah. technology and innovation policy Schumpeterian growth theory Systemic institutional approaches Broad (including social innovations). yakni: (1) Apakah rationale untuk intervensi pemerintah dapat diturunkan dari berbagai teori dengan perspektif yang berbeda? (2) Apakah bentuk instrumen kebijakan yang digunakan dalam intervensi pemerintah berkaitan dengan berbagai rationale? Dan (3) Apakah yang dapat disimpulkan terkait level teritorial/kewilayahan yang tepat dari suatu kebijakan sistem inovasi yang didasarkan atas teori terpilih dan rationale yang dikembangkan berdasarkan teori tersebut? Untuk menjawab tiga pertanyaan di atas. level intervensi. Synthesis of theoretical rationales for science. location costs Neo-Marshallian Evolutionary Broad Technology as applied knowledge Technology as Broad definition endogenous non. Laranja et al. (2008). hanya akan dicuplik beberapa elemen saja sesuai dengan kepentingan yang hendak dikawal. (2) Schumpeterian Growth Theory. dan instrumen kebijakan yang berbeda pula. (2008) mencoba menjawab tiga pertanyaan yang sangat mendasar. ada lagi regulasi dan kebijakan daerah. (3) Neo-Marshallian. Pemilihan teori yang berbeda sebagai landasannya. dan evaluasi kebijakan (Laranja et al. Berbagai regulasi dan kebijakan di berbagai sektor ini merupakan komponen dalam ekosistem inovasi nasional. jarang untuk merumuskan atau memilih alternatif kebijakan yang paling tepat. Tabel 1. transportas. Pada level daerah.including social rival. yakni: (1) Neoclassical.. Dalam kajiannya yang terkait dengan upaya translasi rationale21 menjadi kebijakan. misalnya berupa berbagai peraturan daerah (Perda). ada lima teori yang ditelaah Laranja et al.

Return on Investment and Targets different kind of individual actors. Park for Science and Technology. Appropriability failure Objective of intervention Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches Evolutionary Support to Flexible “external System failure.Neoclassical Rationale for Market failures. technology infrastructures. Criteria balances support to individual actors with increasing collaboration. interactions and networking. eligibility criteria. Extension services(“servizi reali”) ranging from technology to education and training cluster policies Coodinating the system. Adequate institutional setting Avoid lock-in. Park for Science and Technology Subsides and tax incentives to R&D. dysfunctions. Increase cognitive capacity. criteria of Targets both individual actors and “collective” actions. networks of actors or systems of innovation. Extension services Mode of operationalisation (target. roles and function of actors. “Animateur” Role of policy maker Examples of policy Subsidies and tax instruments incentives to R&D. Investment in local advanced technology infrastructure. Promote locally based networks of cooperation. System as a target. Favours demand approaches and provision of “ shared” public services. Learning accumulation of economies of Institutional failures failures. Optimise resources Centralisednational level. investment in local advanced technology infrastructure. Education for creating pool of skills Technology infrastructure. Favours R&D support to hitech. selectivity) Target different kinds of individual actors. transports. and competition Overall coherence of the system. help in networking. Lack of diversity Reduction of costs in information. endogenous R&D agglomeration” System dysfunctions cognitive gaps. Proactive intermediation brokerage (translation of implicit knowledge) Targets both individual actors and groups. Favours collective 32 Naskah Akademik Perubahan UU No. Technology infrastructures. Favours supplyside initiatives. Science push measures. Design of segmented targeted intervention ”adaptive role” Subsidies and tax incentivate to R&D. Large mobilisation projects Subsidies and tax incentivate to R&D. Learning Substitute for less Creat conditions than optimal use for increasing of resources returns to R&D Level of intervention Centralisednational level No differentiation of levels of intervention Compensate for less than optimal private investment. public intervention Informationtransmission failures. 18 Tahun 2002 . Extension services. Favours science push and large R&D projects. Block-in. Improve diversity and selectivity Multi-level. but with focus in more advanced region Incentivate accumulation of “monopolistic” gains Regional level but National and also national regional levels level with regional focus(decentralis ed) Creation of a collaborative industrial community. Balances centralised with decentralised intervention Identification of technology specific failures.

tradisi. karakter. 33 Naskah Akademik Perubahan UU No. seperti budaya (termasuk norma dan etika). and variety (increase or reduction) as Criteria. dan sumberdaya finansial untuk mendukung kegiatan pengembangan teknologi maupun untuk proses produksi. sumberdaya alam yang potensial untuk dikelola sebagai bahan baku proses produksi barang maupun jasa yang dibutuhkan. komponen ini merupakan komponen ekosistem yang bersifat ‘statis’. serta dinamika kebutuhan dan persoalan pengguna teknologi akan mengharuskan terjadinya penyesuaian regulasi dan kebijakan. yang diposisikan sebagai fondasi untuk bangunan kebijakan inovasi. tradisi. Dengan demikian. tetapi juga mencakup berbagai komponen non-formal. Komponen yang bersifat intangible atau tak-berwujud mencakup semua regulasi. Saat ini kecenderungan yang terjadi adalah ketersediaan dan jenis keahlian sumberdaya manusia yang secara dominan mewarnai inovasi. perkembangan iptek. Seharusnya kebutuhan untuk mendukung tumbuhkembang inovasi sesuai dengan potensi nasional dan kebutuhan pasar (atau pengguna) yang menentukan pola penyiapan dan pengembangan sumberdaya manusia.Neoclassical opportunity for appropristion as criteria Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches governance Evolutionary opportunity. Komponen yang bersifat tangible (wujud fisiknya dapat divisualisasikan) mencakup antara lain sumberdaya manusia terdidik dan/atau terlatih yang tersedia. dan difusi teknologi) tentu akan mempengaruhi (secara positif atau mungkin juga negatif) performa inovasi nasional. kebijakan. 18 Tahun 2002 . Ekosistem inovasi terbangun dari komponen-komponen yang bersifat intangible maupun yang bersifat tangible. Interaksi antara inovasi dengan ekosistem tempat dimana inovasi akan dikembangkan dan ditumbuhkan pada dasarnya bersifat saling-pengaruh. MEXT (2002) sudah mengenali komponen ini dan mengintegrasikannya dalam upaya membangun kemampuan inovasi nasional di Jepang. Regulasi dan kebijakan (baik yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pengaturan inovasi. dan nilai-nilai luhur atau karakter bangsa (Gambar 2). sebaliknya dinamika interaksi antar-aktor inovasi. Favours collective governance concentration for Use of the value increasing chain or cluster returns concept Source: Laranja et al (2008) Komponen ekosistem inovasi tidak hanya berupa regulasi dan kebijakan yang bersifat legalformal. budaya. Budaya. dan nilai-nilai luhur atau karakter merupakan ‘penciri’ suatu bangsa yang cenderung untuk selalu dilestarikan eksistensinya. tradisi. dalam konteks inovasi. Potensi sumberdaya alam juga merupakan komponen ekosistem yang menjadi acuan dalam merancang kemampuan inovasi nasional. dan komponen lain yang dapat mempengaruhi performa SINas tetapi tidak dapat divisualisasikan wujud fisiknya.

Akibatnya inovasi bukan akan tumbuh berkembang. memberi stimulus dan memfasilitasi dalam menciptakan iklim pertumbuhan dan sinergi unsur kelembagaan. 18 Tahun 2002 adalah lemahnya koordinasi kegiatan riset di daerah. 18 Tahun 2002. Padahal sejak awal UU No. sumber daya dan jaringan iptek. UU No. sehingga secara nyata akan mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara. Berdasarkan implementasi UU No. 18/2002 menunjukkan pengembangan dan penerapan iptek masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sri. secara umum Indonesia belum menjadi pelaku iptek yang diperhitungkan dalam dunia internasional. Analisis Undang-undang No. Mulatsih. Pengembangan. dan interaksi pelaku iptek. pengembangan dan penerapan iptek khususnya ditingkat daerah. tetapi sebaliknya akan menjadi faktor yang semakin tidak diperhitungkan dalam skenario besar pembanguan perekonomian suatu bangsa. 18 Tahun 2002 2. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). 18 Tahun 2002 dimaksudkan untuk meletakkan dasar bagi perkembangan kelembagaan iptek dengan interaksinya. 2009. Pemerintah daerah berkewajiban menumbuh-kembangkan motivasi. 34 Naskah Akademik Perubahan UU No.2.2. hal itu disebabkan antara lain belum terjalinnya hubungan yang baik antara lembaga penelitian perguruan tinggi dan industri. 18 Tahun 2002 . Kondisi ini mendorong industri nasional cenderung memanfaatkan lisensi impor. Sumberdaya finansial yang tersedia akan mendorong kemampuan inovasi semakin tumbuh berkembang menjadi sebuah sistem yang lebih produktif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan jasa yang bernilai ekonomi. Sebaliknya inovasi yang bersifat stagnan (atau dorman) karena tidak mampu menghasilkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas atau efisiensi proses produksi. 2. tidak akan pula mampu memberikan kotribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. 18 Tahun 2002 meletakkan pemerintah daerah sebagai salah satu komponen pendukung pelaksanaan sistem nasional penelitian.Sumberdaya finansial dan inovasi akan saling berhubungan secara interaktif. saling beinteraksi secara positif (snowballing effect) sehingga masing-masing berkembang dan tumbuh semakin kuat. dan Prakoso Bhairawa Putera. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera terhadap implementasi UU No. Selain itu. Menurut penelitian yang dilakukan.. temuan mendasar yang diidentifikasikan dalam pelaksanaan UU No. Selanjutnya pertumbuhan perekonomian secara langsung juga berarti meningkatnya ketersediaan sumberdaya finansial untuk membangun kemampuan inovasi nasional dengan kapasitas yang lebih besar. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta sumber daya iptek yang mampu diakumulasikan masih terbatas. Kondisi ini selain menyebabkan rendahnya sumberdaya finansial untuk mendukung pengembangan inovasi juga menghilangkan kepercayaan publik terhadap inovasi itu sendiri.1. terutama di kegiatan ekonomi dan sosial budaya. Kajian Implementasi UU No.

Table 6. bahwa penelitian dan pengembangan itu tidak termasuk sebagai kegiatan wajib atau pilihan. Dengan memberikan dana insentif untuk kegiatan penelitian. khususnya dalam diskusi penyusunan PP No. Secara umum UU ini belum diketahui.Kondisi awal di lokasi yang menjadi sampel penelitian ini (tahun 2009) terlihat telah ada dukungan secara yuridis formal melalui pembentukan Peraturan Daerah ataupun Keputusan Gubernur tentang pembentukan badan/bagian/unit yang menangani kegiatan penelitian dan pengembangan di daerah. Namun demikian. Balitbangda merasa bahwa UU ini belum menjadikan lembagalembaga penelitian daerah sebagai garda terdepan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Mulatsih dan Putera (2009) menggunakan indikator keadaan. Balitbang pemerintah daerah (balitbangda) Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) 35 Naskah Akademik Perubahan UU No. pembentukan jalinan interaksi ini distimulus oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Namun UU ini perlu untuk mengarahkan/mengatur kegiatan penelitian supaya efektif. 18 Tahun 2002 Variabel Tanggapan/respon terhadap UU No. 18 Tahun 2002 . Untuk mengetahui keadaan tersebut ditunjukkan pada tabel di bawah ini. 38. lembaga penunjang dan badan usaha.1 Tanggapan terhadap UU No. Temuan lainnya yang menarik adalah mengenai pembentukan jalinan interaksi antar kelembagaan yang diharapkan dapat membentuk pola sistem nasional bagi kemajuan iptek di Indonesia. karena sering diundang sebagai pemangku kepentingan. dukungan yuridis tidak diikuti ini tidak diikuti adanya dukungan sumber daya yang memadai. tanpa adanya keberlanjutan difusi hasil penelitian yang aplikatif oleh dunia usaha. kondisi yang terjadi cukup ironis karena interaksi yang terjadi hanya terjalin sebatas pemanfaatan dana riset. begitu juga dengan dana. Semua daerah responden menyebutkan minimnya sumber daya peneliti. lembaga litbang. dan industri. Yang lebih diperlukan lagi adalah sosialisasi dan implementasinya. 18/2002 Lembaga Perguruan tinggi Pandangan/Perspektif Pada umumnya pengetahuan tentang UU ini masih sangat sedikit. pengembangan dan penerapan iptek diharapkan akan memperkuat jaringan kelembagaan perguruan tinggi. yaitu tanggapan lembaga-lembaga (stakeholders). sarana dan prasarana dalam pemaksimalan tugas dan fungsi di daerah. 18 Tahun 2002 Dalam menganalisis temuan dalam implementasi UU Nomor 18 Tahun 2002 di atas. Perspektif Pemangku Kepentingan UU No. Selama ini balitbangda terikat dengan PP No. 35 Tahun 2007 tentang alokasi dana sebagian pendapatan badan usaha. Pada awalnya dan sampai saat ini. Namun demikian menurut penelitian Mulatsih dan Putera (2009). lembaga penelitian dan pengembangan. Cukup paham dengan UU ini. Pelaksana undang-undang ini adalah perguruan tinggi.

sumber daya. tetapi pilihan. lembaga litbang daerah. Karena dari temuan penelitian. “Keberadaan undang-undang ini cukup diketahui. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menjadikan penelitian di daerah bukan merupakan urusan wajib. 18 Tahun 2002. Selain itu masih adanya paradigma memandang sebelah mata terhadap balitbangda oleh pihak-pihak di daerah. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. 18 Tahun 2002 diharapkan kelembagaan. Pemerintah Daerah Provinsi. Kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama ini diarahkan untuk mendukung visi dan misi pembangunan daerah. perusahaan (badan usaha) ini meletakkan visi dan misi usahanya untuk bisnis dan penelitian. khususnya yang diteliti tampaknya kurang memahami kedudukan dan fungsi mereka dalam memperkuat visi dan misi dalam upaya penguasaan. dan adanya PP No. yang didukung adanya peran pemerintah/pemerintah daerah. seperti Balitbangda Sulawesi Selatan. khususnya dalam mengemban misi penelitian dan pengembangan baik untuk kepentingan industri maupun kepentingan nasional masih rendah. karena masing-masing instansi memiliki litbang sehingga fungsi dan tugas balitbangda apa. Namun demikian. 18 Tahun 2002 . pemanfaatan dan pemajuan iptek. Sehingga bagian ini masih merencanakan tindakan untuk pelaksanaan kegiatan. dan jaringan iptek merupakan unsur-unsur utama dalam sistem nasional penelitian. belum mengimplementasikan kebijakan ini pada tingkat daerah. Bagian penelitian dan pengembangan yang menjadi subbagian di bawah struktur Sekretaris Daerah Provinsi Yogyakarta. menimbulkan kebingungan pada balitbangda. Bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang daerah. Adanya UU No. tetapi yang belum adalah menjadikan lembagalembaga penelitian dan pengembangan daerah ini sebagai garda terdepan dalam hal penelitian dan pengembangan di daerah. dan badan usaha/industri) masih rendah tanggapannya terhadap UU No. dan jaringan iptek menjadi berkembang lebih baik untuk 36 Naskah Akademik Perubahan UU No. hal ini disebabkan karena alasan teknis dengan perpindahan struktur bagian penelitian dan pengembangan yang sebelumnya di bawah Badan Perencanaan Daerah. Sumberdaya. Di samping itu juga interaktif terhadap kebijakan pemerintah. ada beberapa responden yang cukup tertarik dengan memaksimalkan peran dan fungsi litbang daerah dalam dua tahun terakhir. pelaksanaan penelitian dan pengembangan hanya menjadi tugas pendukung instansi lain di wilayah kerjanya. Sehingga Balitbangda Sumsel berkolaborasi dengan lemlit-lemlit di perguruan tinggi yang berada di wilayah ini. seperti yang telihat dari Badan Litbang Daerah Sumatera Selatan. hanya salah badan usaha yang terlihat aktif dalam merespon kebijakan ini. dan masyarakat. Kelembagaan.Tabel di atas menunjukkan bahwa unsur kelembagaan yang diteliti (perguruan tinggi. walaupun sebenarnya berdasarkan surat pembentukan terjabarkan tugas dan fungsi bagian ini – tentunya memberikan tugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan di daerah. Akan tetapi dalam pelaksanaannya. sumber daya.” Kondisi semacam ini memang berbeda dengan lembaga litbang di daerah yang lain. pengembangan dan penerapan iptek. dan Jaringan Kelembagaan.

Untuk itu. perekayasaan. UNSRI) Balitbangda (Sumsel.Sulsel. 18 Tahun 2002 . Namun demikian. setiap kelembagaan iptek (perguruan tinggi. pengembangan. bidang penelitian menurut struktur organisasi baru hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi ijin penelitian. penelitian. Sehingga kegiatan ini tidak selalu dilakukan seperti lembaga penelitian lainnya.2 Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Iptek Kelembagaan Perguruan tinggi (ITB. 37 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam Pasal 13 UU No. perguruan tinggi dan lembaga litbang agar mengusahakan penyebaran informasi hasil kegiatan. Tabel 6.2 di bawah ini. inovasi. Sumber dana murni swasta di PT Kalbe Farma (bergerak di bidang farmasi). Menurut Mulatsih dan Putera (2009). pengembangan. dapat dilihat pada Tabel 6. perekayasa. sumber daya. Selanjutnya untuk mengetahui fungsi kelembagaan iptek yang disurvei. Bahkan seperti Pemda DIY. termasuk pembentukan Sentra HKI. Namun demikian. teknisi dan semberdaya manusia lain yang diperlukan untuk memperkuat kegiatan penelitian. Kelembagaan iptek juga diarahkan untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan iptek untuk menghasilkan kinerja dan manfaat lebih besar secara bersama. pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang masih bersifat sektoral menjadikan amanah yang disebutkan dalam UU No. DIY) Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Dalam mengembangkan inovasi melalui penelitian dan pengembangan. juga melakukan koordinasi untuk menginventarisasi hasil penelitian di daerah. lembaga litbang. perekayasa.membangun kemampuan iptek nasional yang lebih kuat untuk mencapai tingkatan ekonomi sejajar dengan negara lain. teknisi. dan penerapan iptek. Tugas penelitian pada dasarnya sebagai tugas struktural dari Kemendagri. 18 Tahun 2002 disebutkan. Lembaga litbang menjadi mencari peneliti. dan sebagainya) yang diperlukan dalam upaya peningkatan kemampuan penguasaan. Pasal 6 UU No. Tugas utamanya adalah melakukan penelitian bidang mikrobiologi untuk sell kanker. UNHAS. Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) Selain kelembagaan. 18 Tahun 2002 menyebutkan. perguruan tinggi sebagai kelembagaan iptek diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (peneliti. jaringan dan pembiayaan dipandang sebagai aspek inti dalam kegiatan penelitian dan pengembangan.UGM. badan usaha dan lembaga penunjang) berfungsi mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. lebih banyak dilandasi oleh Tri Darma Perguruan Tinggi. 18 Tahun 2002 ini belum berjalan dengan baik. pemanfaatan dan pemajuan iptek. dan difusi teknologi. pemerintah mendorong kerja sama antar kelembagaan iptek dalam pengembangan jaringan informasi iptek.

PP No. Pelaksanaan UU No. antara lain dapat mengacu penjelasan Riant Nugroho (2009). yaitu peraturan pemerintah. pemanfaatan dan pemajuan iptek adalah pembiayaan. 18 Tahun 2002 Pelaksanaan suatu undang-undang merupakan suatu penjabaran isi dari pasal-pasal ke dalam peraturan-peraturan atau kebijakan yang disebut sebagai arrangement institutions. Menurut UU No. Akibatnya di Indonesia 38 Naskah Akademik Perubahan UU No. perguruan tinggi. 20 Tahun 2005 dan PP No.Aspek terpenting dalam pelaksanaan penguasaan. Kemudian di tahun berikutnya. 18 Tahun 2002 . Sebagai payung hukum UU ini merupakan acuan seluruh elemen yang tercakup dalam sistem nasional penelitian. 18 Tahun 2002 adalah mengenai Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian. 35 Tahun 2007. tiga tahun setelah disahkan diturunkan dua Peraturan Pemerintah (PP) sebagai peraturan pelaksanaannya. dan peraturan daerah kabupaten/kota. Secara politis UU ini telah memenuhi syarat dalam proses penyusunannya sehingga UU ini telah diundangkan sejak 29 Juli 2002. Undang-Undang sebagai produk policy level akan diimplementasikan melalui tingkatan organisasi (level of organization) yaitu berupa peraturan pelaksanaannya. 18 Tahun 2002. Inovasi dan Difusi Teknologi. 18 Tahun 2002 mencakup 9 bab dan 32 pasal dan penjelasannya. dan penerapan iptek. 18 Tahun 2002. pembiayaan pelaksanaan kegiatan penelitian. peraturan presiden. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. industri dan pihak terkait lainnya. terutama dalam pelaksanaan fungsi dan pemerintah sebagai motivator dan stimulator perkembangan sistem nasional litbangrap iptek. model kebijakan yang dibuat berjenjang sesuai dengan hierarki implementabilitasnya. 18 Tahun 2002 telah diturunkan empat peraturan pemerintah yang perlu disusun. pengembangan dan penerapan iptek merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. dan peraturan kebijakan PP. yaitu PP No. peraturan presiden. tertanggal 18 Juli 2009 dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. UU No. Undang-undang merupakan kebijakan yang dinilai mempunyai posisi tertinggi. Tahun 2005 disahkan. dan dibuat dengan pasal-pasal yang bersifat makro atau umum untuk kemudian dibuat petunjuk pelaksanannya. pengembangan. Pengembangan. UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. termasuk 2 bab di dalamnya tentang ketentuan sanksi dan ketentuan peralihan. Selama hampir sepuluh tahun pelaksanaan UU No. yaitu terkait dengan pelaksanaan Pasal 16. 18 Tahun 2002. berupa peraturan pemerintah. Dalam pelaksanaannya UU No. dalam public policy. undang-undang sebagai bentuk dari kebijakan di Indonesia masih menganut model kebijakan continental atau yang berasal dari Belanda. ketentuan ini masih memerlukan penjelasan bagaimana merealisasikan pembiayaan ini. antara lain lembaga penelitian. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Peraturan pemerintah terakhir yang diturunkan sebagai pelaksanaan dari undang-undang No. menyebutkan peraturan pelaksanaan dari undang-undang adalah sesuai dengan hirarkhi-nya. 48 Tahun 2009 Pelaksanaan UU No. Dalam pelaksanaannya. PP No. 17. 22 dan Pasal 28. Secara hierarkis. peraturan daerah provinsi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berisiko Tinggi dan Berbahaya.

pada tahun 2008 kemarin melaksanakan sebanyak 2 program utama dan 60 kegiatan dengan pendanaan sebesar Rp. memberikan stimulasi dan fasilitas. kebijakan internal di setiap daerah responden berbeda. Untuk kelengkapan lainnya sedang diproses. pola jalinan interaksi atau yang dikenal dengan jaringan. lembaga penelitian pemerintah lainnya. tetapi pelaksanaannya tidak effektif karena peraturan atau kebijakan pelaksanaannya belum dibuat. walaupun kami memiliki jaringan peneliti Sumatera Selatan yang telah mendapat pesetujuan dari gubernur tetapi belum maksimal. .. 10. Masuknya Bagian Penelitian dan Pengembangan di Biro Administrasi Pembangunan adalah indikasi baik. perguruan tinggi. badan usaha maupun di masyarakat selama ini masih tidak terpola. 39 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan penelitian swasta. responden penelitian Mulatsih dan Putera (2009) berpendapat interaksi yang dilakukan antar pelaku iptek di lembaga litbang.yang seluruhnya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah pemerintah provinsi.” Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah telah memberikan ruang untuk mendorong kegiatan penelitian. Dukungan kebijakan serta pendanaan yang secara terus menerus dan berkelanjutan program yang dilakukan pada tingkat daerah. karena yang ada selama ini adanya kumpulan pakar-pakar di Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi DIY.550. Interaksi yang terlaksana sebatas antara balitbangda dengan peneliti yang bersangkutan yang mayoritas berasal dari perguruan tinggi. Untuk Dewan Riset Daerah. Bappeda. Indikasi ini menandakan bahwa adanya dukungan dari pemerintah walaupun masih dirasa kurang dalam segi penambahan alokasi dana ataupun sarana prasarana untuk menunjang kegiatan penelitian. Interaksi berjalan karena adanya kerjasama penelitian yang menggunakan dana atau dibiayai oleh balitbangda. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat mengoptimalkan dan keberlanjutan aktivitas litbangrap iptek. adanya ruang bagi masing-masing elemen dalam UU No. “Jalinan interaksi selama ini belum berjalan maksimal.” “Pemerintah daerah telah menganggarkan sejumlah dana sehingga setiap tahunnya balitbangda melaksanakan program dan kegiatan penelitian pengembangan yang mengacu pada program prioritas pemerintah provinsi.banyak terjadi kasus di mana sudah ada undang-undang. 18 Tahun 2002 Dukungan pemerintah daerah dalam menumbuhkembangkan motivasi. LSM) belum ada.” “Dengan keluarnya Perda No. Akan tetapi. karena bagaimanapun juga sistem nasional tidak dapat berjalan secara maksimal tanpa adanya dukungan pelaksanaan sistem pada level daerah. pengembangan. Responden lainnya menyatakan.” Simpul pola interaksi terlihat lebih baik dilakukan oleh perguruan tinggi. pemerintah daerah masih mencari format terbaik. dan penerapan iptek di daerah sesuai dengan amanat UU No.072.323. dan penerapan iptek. kerjasama atau interaksi yang terjalin selama ini hanya sebatas pemanfaatan dana riset yang dimiliki oleh badan litbang daerah saja. serta menciptakan iklim kondusif dalam sistem penelitian. namun tampaknya jejaring peneliti yang dibangun antar lembaga penelitian di wilayah Jawa Barat (ITB. Jaringan yang dikembangkan di perguruan tinggi. 5 Tahun 2008 menunjukkan bahwa adanya perhatian dari pemerintah daerah. pengembangan. Interaksi yang dilakukan belum terlembaga dan hanya dilakukan secara personal (individu). Dalam kaitannya dengan penguatan inovasi. 18 Tahun 2002 secara bertahap mengalami kemajuan. beberapa telah dapat menyambung simpul industri (beberapa). “LPPM-ITB melakukan jejaring penelitian dengan lembaga lain disebut sebagai mitra kerja.

18 Tahun 2002 diharapkan dapat memperkuat jaringan antara pemerintah pusat. b. ‘Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . Pengembangan. Upaya-upaya terpadu dalam penguatan kelembagaan. perekayasaan. UU No. mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumberdaya iptek. 2005. meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. dan jaringan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh.2. pengembangan.2. 18 Tahun 2002 . b. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban antara lain: memajukan dan mengembangkan daya saing daerah (Pasal 27 ayat (1) butir g. Penguatan sistem inovasi di tataran daerah merupakan bagian integral atau sub sistem dari pilar sistem inovasi nasional. interaksi dan proses pembelajaran akan menjadi semakin penting pada tataran daerah.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan’. Sistem nasional litbangrap iptek ini diperlukan untuk mencapai tujuan: a. tujuan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. dan pemajuan iptek. maupun masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pemajuan iptek. dan karenanya merupakan langkah penting bagi perkembangan sistem inovasi di Indonesia. Dalam peraturan perundang-undangan yang ada. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. penelitian. serta b. mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. UU No. dan daya saing daerah (Pasal 2 ayat (3)). 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. sumber daya. pemerintah daerah. 18 Tahun 2002 merupakan tonggak penting. tanggung jawab daerah dalam pembangunan iptek dan sistem inovasi cukup besar. memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. dan difusi teknologi. inovasi. Hal ini juga ditegaskan dalam UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan 40 Naskah Akademik Perubahan UU No. pembentukan iklim dan memberikan dukungan kebijakan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. antara lain: a. Menurut Tatang (2005) meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sistem inovasi. pemanfaatan. Upaya ini dilakukan melalui: a. esensi keterkaitan ini sama dengan atau setidaknya berangkat dari konsep sistem inovasi nasional. Pemajuan ataupun penguatan sistem inovasi pada tataran daerah menurut Tatang (2005) adalah sesuatu yang penting bagi perkembangan sistem inovasi nasional dan peningkatan daya saing secara nasional. landasan hukum yang diharapkan dapat memperkuat landasan pembangunan dan mempercepat perkembangan iptek. dan UU No. Salah satu pelaksanaan UU No.) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. namun sistem nasional litbangrap iptek merupakan keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. Oleh karena itu perkembangan sistem inovasi ini akan ditentukan oleh pelaksanaan lebih lanjut (secara legal) dan implementasinya. pelayanan umum. Tatang A Taufik: BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. Selanjutnya Tatang (2005) menyebutkan.2. 18 Tahun 2002 adalah penguatan fungsi kelembagaan iptek dalam sistem nasional litbangrap iptek.

adanya gap antara teknologi hasil penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan pasar yang ada. Kerjasama-kerjasama yang dilakukan mengenai transfer teknologi cenderung mengarah pada kerjasama perdagangan.Pembangunan Nasional. belum lagi ketepatan waktu pemanfaatannya. Alasan lainnya. Jumlah dan kualitas sumberdaya manusia di Indonesia yang cukup memadai. ‘Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Komersialisasi Kelembagaan Iptek’. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan umumnya masuk dalam publikasi ilmiah 41 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam beberapa kasus. Kementerian Riset dan Teknologi. karena tidak selalu mendapatkan akses secara lengkap teknologi yang ada. seringkali dibarengi kesulitan dalam pemeliharaannya. Kesulitan dalam proses transfer teknologi tersebut tidak hanya terjadi pada industri besar saja tapi terjadi juga pada industri kecil dan menengah. Kondisi ini memperlihatkan. Hal ini menyebabkan industri kecil dan menengah cenderung menggunakan tenaga konvensional yang dimiliki atau membeli dari luar negeri untuk perbaikan (improvement) dalam kegiatan proses produksinya. 2. Andaipun ada keterkaitan antara dunia usaha dan lembaga penelitian dan pengembangan saat ini baru sebatas asistensi dari pihak penelitian dan pengembangan yang kebanyakan masih terbatas pada aspek pengujian produk dan peralatan. Ketergantungan ini sebagai akibat dari kurang berkembangnya teknologi/inovasi dalam negeri. termasuk juga keberlanjutannya (sustainability). Alasan yang melatarbelakangi kondisi tersebut sebenarnya adalah suatu hal yang cukup logis. Para pengusaha kecil dan menengah ini masih meragukan kualitas produk teknologi hasil penelitian dan pengembangan. pembagian royalty. Hal ini masih ditambah kurangnya perhitungan pencapaian optimal dalam penggunaan sumberdaya keuangan dan sumberdaya manusia. sehingga transfer teknologi dapat dikatakan tidak terjadi. Ketergantungan teknologi dari luar.2. seperti HKI. sektor usaha masih merasakan hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri belum dapat diterapkan dalam kegiatan industri.3. karena pembelian barang modal yang sarat dengan teknologi. 18 Tahun 2002 . seringkali masih menghadapi persoalan yang cukup serius. Transfer teknologi dari lembaga penelitian dan pengembangan kepada industri dan masyarakat melalui bentuk kemitraan. pemanfaatan produk. program yang direncanakan dan dilaksanakan masih kurang fokus. Teknologi menjadi komoditas yang sangat mahal dan seringkali memberatkan beban keuangan negara secara keseluruhan. kurang dimanfaatkan secara optimal. maupun peraturan perundang-undangan lainnya diharapkan menjadi landasan legislasi untuk mengintegrasikan. 2007 Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembangunan iptek dalam upaya memperkuat daya dukung iptek untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa adalah ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi luar. cenderung mengerjakan terlalu banyak kegiatan. meningkatkan sinkronisasi dan sinergi dalam pengembangan sistem inovasi. meskipun peralatan yang dimiliki sebenarnya sudah cukup memadai. yang ada adalah jual beli teknologi.

sesuai dengan PP No. Permasalahan krusial lainnya adalah pembentukan unit kerja dalam upaya komersialisasi hasil litbang. tata kerja unit kerja. Kewajiban ini dimaksudkan agar hasil litbang dapat dimanfaatkan seluas mungkin oleh masyarakat. rincian tugas. 20 Tahun 2005 masih mengalami hambatan. seperti Unit Komersialisasi Hasil Litbang. Pembentukan unit kerja yang mendorong peningkatan komersialisasi hasil litbang ini. hasil-hasil kajian dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian masih belum sesuai dengan kebutuhan pasar. atau dengan memanfaatkan unit yang ada. seperti penambahan tugas dan fungsi lembaga Sentra HKI di perguruan tinggi dan lembaga litbang. Di satu sisi perguruan tinggi maupun lembaga litbang memerlukan adanya unit kerja yang mandiri untuk melakukan pengelolaan administrasi hasil penjualan produk litbang secara lebih optimal. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbangnya. Dalam pelaksanaannya pembentukan unit kerja seperti yang disyaratkan pada PP No. juga belum memadai untuk mendapatkan pengakuan secara ekonomis. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Dalam Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut menyatakan. Ketentuan ini ditujukan bagi kegiatan litbang yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah atau pemerintah daerah. pemerintah. Oleh karena itu. Sesuai pasal 16 UU No. Sedangkan pengaturan mengenai pembentukan. kajian pengembangan kebijakan yang mendukung komersialisasi hasil litbang masih perlu 42 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kebijakan ini akan membatasi pembentukan lembaga baru. hanya sedikit yang menghasilkan hak paten dan masuk dalam publikasi internasional. sehingga lembaga memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk investasi berbagai kegiatan litbang lainnya. yang mungkin ditujukan untuk pengembangan teknologi tepat guna maupun sebagai upaya mendukung perbaikan pendapatan peneliti. atau masyarakat. misal Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) untuk mengurangi pembentukan lembaga baru. menghasilkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib membentuk unit kerja yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbang di lingkungannya. Unit kerja ini dapat merupakan lembaga baru. sebagai pelaksanaan kebijakan pemerintah.tingkat nasional. dan tampaknya akan menjadi salah satu hambatan dalam merealisasikan komersialisasi hasil litbang. sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini juga menunjukkan. 18 Tahun 2002 . Adanya perubahan struktur organisasi lembaga. dan penetapan prosedur pengelolaan dan alih tekologi kekayaan intektual serta hasil kegiatan litbang diatur oleh lembaga yang bersangkutan. Pengalihan ini dilakukan pada badan usaha. susunan organisasi. Investasi pemerintah dalam bentuk hasil litbang ini diharapkan dapat menghasilkan public return sebesar mungkin. Semua hasil penjualan hasil litbang dapat dikelola secara langsung oleh lembaga melalui unit komersialisasi hasil litbang ini. 18 Tahun 2002. sebagai penambahan unit-unit kerja yang ada.

Struktur biaya penelitian yang tinggi menyebabkan hasil penelitian perguruan tinggi menjadi terlalu mahal untuk pengguna. murah. melalui berbagai kegiatan penelitian yang bersifat aplikatif. perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan kompetitif untuk dapat diterima pengusaha sebagai pengguna hasil penelitian. kegiatan penelitian menjadi kegiatan utama. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi sebagai bagian integral dari pendidikan di Indonesia diarahkan seoptimal mungkin melakukan proses transformasi pendidikan dan pengajaran. disamping kegiatan pengajaran dan pengabdian masyarakat. Banyak karya ilmiah yang tidak aplikatif. dan produk penelitian masih banyak yang bersifat teoritis dan belum dapat diterapkan di masyarakat. Hasil dari riset ini juga seringkali tidak memperhatikan struktur biaya. umumnya pihak industri menghendaki hasil litbang yang dapat menghasilkan produk akhir secara cepat. Banyak skripsi.dilakukan dengan bersinergi lebih erat dengan para pengambil keputusan di bidang aparatur negara. Para dosen dan mahasiswa harus memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah aktual yang ada di masyarakat. meskipun secara akademik dapat dipertanggungjawabkan. Pihak pengguna beranggapan hasil litbang perguruan tinggi maupun lembaga litbang Pemerintah masih bersifat teoritis dan belum dapat diaplikasikan. maka perguruan tinggi didorong menuju terwujudnya universitas penelitian (research university). Hasil riset di bidang teknologi industri yang dihasilkan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat maupun para peneliti di perguruan tinggi sebenarnya cukup banyak. Oleh karena itu. seperti misalnya birokrasi yang panjang dalam mekanisme pengelolaan dana penelitian. suatu kegiatan komersialisasi hasil riset. swasta atau perusahaan. padahal banyak diantaranya yang memiliki potensi untuk dikomersialisasikan. dan perpajakan. Hal ini menuntut perguruan tinggi untuk menggali sumber dana lainnya selain dari Pemerintah. tesis. penelitian dan pengembangan di bidang iptek. dan memberikan sentuhan komersialisasi terhadap produk yang dihasilkan. daripada membeli hasil litbang perguruan tinggi yang masih belum teruji dalam 43 Naskah Akademik Perubahan UU No. maupun desertasi tersimpan di perpustakaan. mudah. Berdasarkan fakta di lapangan. Permasalahan lainnya adalah kurangnya sosialisasi hasil litbang. sehingga hasilnya belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal. serta aplikasi hasil litbang tersebut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu memperhatikan struktur biaya litbangnya agar menarik untuk dikomersialkan kepada para pelaku usaha dan masyarakat. 18 Tahun 2002 . Kalangan dunia usaha lebih menyukai teknologi yang sudah siap pakai. Untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif. melalui penjualan jasa konsultasi dan jasa teknis litbang. Tingginya biaya litbang antara lain disebabkan biaya administrasi yang tinggi. Upaya komersialisasi ini belum berjalan maksimal. namun kurang sosialisasi. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian dan pengabdian sebenarnya tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi tugas dan kewajiban dari perguruan tinggi untuk merealisasikannya. sehingga ketika diterapkan tidak mampu bersaing dengan produk-produk yang dihasilkan oleh pihak lain. Dalam bentuk ini. Dilihat dari proses penelitian dan pengembangan.

baik berupa kekayaan intelektual maupun hasil-hasil litbang lainnya. (3) Dana yang diperoleh dari masyarakat adalah perolehan dana Perguruan Tinggi yang berasal dari sumber-sumber sebagai berikut : a. Sumbangan dan hibah dari perorangan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan pengalihan teknologi dapat berupa pengalihan codified knowledge maupun tacit knowledge transfer. 18 Tahun 2002 . Penerimaan dari masyarakat lainnya. 60 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi. suatu unit yang mampu menunjang penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengelolaan hasil litbang yang lebih profesional. lembaga Pemerintah atau lembaga nonPemerintah. d. Unit usaha ini dapat pula berbentuk unit usaha komersial. Hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan tinggi. dan seringkali tidak sama dengan pengelolaan kelembagaan lain. Dalam Pasal 114 antara lain diatur sebagai berikut : Pasal 114 (1) Pembiayaan Perguruan Tinggi dapat diperoleh dari sumber pemerintah. b. c. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Lembaga Litbang Pembentukan unit pelayanan jasa teknis dan jasa konsultasi di lembaga litbang lebih diarahkan untuk mengkomersialkan kekayaan intelektual dan hasil-hasil litbang. upaya untuk memperkenalkan berbagai produk litbang kepada masyarakat. Inovasi yang memiliki nilai komersial yang harus dilindungi oleh hak atas kekayaan intelektual.pemanfaatannya. Dalam ketentuan di atas. Penyediaan dana penelitian kepada para peneliti sering kali belum dapat memberikan solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang ada di lapangan. perguruan tinggi dapat menggali penerimaan dari masyarakat. Agar inovasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diperlukan sosialisasi. Penerimaan masyarakat ini akan mendorong terjadinya alih teknologi. termasuk biaya litbang mengacu pada PP No. atau penerimaan hasil 44 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Penggunaan dana yang berasal dari Pemerintah baik dalam bentuk anggaran rutin maupun anggaran pembangunan serta subsidi diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan ini memerlukan pendekatan tersendiri. Hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi perguruan tinggi. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). e. Biaya seleksi ujian masuk perguruan tinggi. masyarakat dan pihak luar negeri. seperti pengelolaan perizinan. (5) Usaha untuk meningkatkan penerimaan dana dari masyarakat didasarkan atas pola prinsip tidak mencari keuntungan. Kegiatan terebut merupakan upaya pemanfaatan hasil litbang dan pengalihan kemampuan penguasaan iptek oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. baik di masyarakat maupun di dunia usaha. dan f. (4) Penerimaan dan penggunaan dana yang diperoleh dari pihak luar negeri diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembiayaan kegiatan perguruan tinggi. Hal ini memberikan kemungkinan bagi perguruan tinggi mendirikan unit usaha sebagai salah satu sumber pembiayaan dari masyarakat.

Oleh karena itu. 5) meningkatkan kualitas dan memperluas jangkauan alih teknologi dan jasa iptek. Hasil kajian yang dihasilkan masih kurang diminati dunia usaha karena adanya ketidaksesuaian antara hasil litbang dengan kebutuhan yang didasarkan pada tuntutan konsumen. Pendapatan dari alih teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain: 1) memperbesar pendanaan litbang yang diperlukan untuk menguasai kemajuan iptek dan mengembangkan invensi serta menggali dayagunanya. 3) memperkuat kemampuan pengelolaan kekayaan intelektual. Faktor yang mempunyai peran penting adalah faktor finansial. baik dalam rangka pemecahan masalah di bidang teknis. dan alih teknologi. 2) memberikan insentif yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan invensi di lingkungan litbang.selisih harga ataupun penerimaan keuntungan dari BUMN. 45 Naskah Akademik Perubahan UU No. membantu dunia usaha dalam kegiatan proses produksi maupun kegiatan manajemen lainnya. Oleh karena itu. 6) memperluas jaringan kerja dengan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. Penyusunan rencana juga harus memperhatikan standar-standar teknologi yang berlaku di dunia usaha. Perencanaan harus memperhatikan faktor-faktor lain. yang secara kondusif dapat mendukung upaya komersialisasi hasil litbang secara lebih proporsional dan berpihak kepada lembaga dan jajaran penelitiannya. adanya keleluasaan dalam pengelolaan penggunaan pendapatan alih teknologi mempunyai peran penting dalam mendorong kemandirian lembaga penelitian. namun dalam praktik belum banyak hasil-hasil litbang yang langsung dapat diterapkan. baik yang berbentuk keahlian sumber daya manusia dan pengorganisasiannya. serta sarana prasarana iptek. baik di dalam negeri maupun luar negeri. pola kerjasama yang berlaku dalam komersialisasi hasil litbang. 4) melakukan investasi untuk memperkuat sumber daya iptek yang dimiliki. pengembangan dan pengkajian dalam rangka mencapai suatu keunggulan iptek dalam rangka pemecahan masalah-masalah pembangunan di berbagai bidang. . aset informasi dan iptek. Hasil litbang masih belum dapat dimanfaatkan. Hal ini menyebabkan implementasi hasil litbang masih rendah. upaya peningkatan komersialisasi hasil litbang memerlukan suatu perencanaan program yang lebih holistik. termasuk pemeliharaan. Meskipun hampir semua perencanaan program lembaga litbang pemerintah ditujukan untuk tujuan penerapan iptek. Keuntungan yang diperoleh dari pengalihan teknologi juga dapat mengurangi ketergantungan pendanaan kegiatan litbang di Perguruan Tinggi maupun Lembaga Litbang pada anggaran Pemerintah. dengan melibatkan calon pengguna. 18 Tahun 2002 Lembaga litbang pemerintah umumnya ditujukan untuk melaksanakan penelitian. perlindungan.

Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. ketenagakerjaan. Pada ketiga tahapan posisi dan peran lembaga intermediasi sangat diperlukan dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. Menurut konsepsi ini. dan karakter bangsa. dan difusi teknologi yang berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. maka secara konseptual dapat diperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang. infrastruktur sosial. Di Indonesia. Science and Technology. Olahraga.Bab 3 Evaluasi dan Analisis Kebijakan Penguatan Inovasi dalam Peraturan Perundang-undangan Penguatan inovasi secara garis besar ditandai adanya elemen-elemen/aktor yang melakukan jejaring untuk saling berinteraksi menghasilkan inovasi. perguruan tinggi. inovasi. secara resmi disingkat MEXT) Jepang yang telah dikemukakan di bab sebelumnya. Culture. budaya. Selanjutnya perlu adanya kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah ak an tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. Kurangnya komunikasi dan interaksi menyebabkan penerapan inovasi yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil inovasi tersebut belum dapat didayagunakan sepenuhnya. Peraturan ini terutama terkait dengan peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi. Kinerja dan perkembangan inovasi nasional sangat dipengaruhi oleh peraturan perundangundangan maupun kebijakan di berbagai sektor yang terkait. pendidikan. serta peraturan perundang-undangan lainnya berkaitan dengan infrastruktur sosial. 46 Naskah Akademik Perubahan UU No. Mengacu pada strategi penguatan inovasi dari Kementerian Pendidikan. Olehkarena itu diperlukan evaluasi dan analisis kebijakan penguatan inovasi dalam peraturan perundang-undangan terkait. tradisi. 18 Tahun 2002 . secara umum penguatan inovasi antar elemen-elemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang. Sport. perdagangan dan industri. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. Lembaga-lembaga ini merupakan lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga yang tercakup dalam penguatan inovasi akan menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. bidang ketenagakerjaan. bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. serta pajak dan keuangan. bidang pendidikan. bidang pendidikan. ilmu pengetahuan dan teknologi. Budaya. fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. Padahal lembaga penelitian. Tahap berikutnya adalah dukungan kegiatan perekayasaan.

berturut-turut dari peringkat 17 (2008). 2010). Rusia. Tumbuh kembang kegiatan bisnis akan membuka peluang untuk peningkatan daya beli masyarakat dan memperbesar kapasitas pasar domestik (market size). sehingga akan sangat menentukan tingkat daya saing (competitiveness) suatu negara. Indonesia dengan penduduknya yang lebih dari 237 juta jiwa dengan daya beli yang relatif baik merupakan pasar domestik yang sangat potensial bagi investor asing. baik secara kuantitas maupun kualitasnya. maka akan semakin menarik bagi kalangan bisnis untuk berinvestasi dan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. Amerika Serikat. Untuk periode 20082010. Peningkatan kapasitas pasar bermakna peningkatan permintaan masyarakat akan barang dan jasa. karena daya tarik utama bagi para investor untuk menanamkam modalnya adalah ukuran pasar domestik dan laju pertumbuhan pasar domestik dari negara tujuan invenstasi tersebut. Dengan demikian perekonomian tidak dapat tumbuh secara ber-kesinambungan jika kondisi makro ekonomi tidak stabil. India. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF. ketersediaan dan kemurahan upah tenaga kerja. jika selalu terbelit hutang dan keharusan membayarnya dengan suku bunga tinggi atau dalam kondisi cenkeraman persoalan makro ekonomi yang tidak mampu dituntaskan. 18 Tahun 2002 . menjadi 16 (2009) dan 15 (2010). Walaupun tentu saja. Dua faktor ini lebih dominan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi dibandingkan dengan program insentif yang ditawarkan. Dinamika ini membuka peluang dan tantangan bagi lembaga pengembang teknologi untuk melakukan riset yang relevan dengan kebutuhan industri. Kondisi makro ekonomi Indonesia untuk periode 2008-2010 tergolong stabil. dan efektivitas peran pemerintah. akses untuk pengelolaan sumberdaya alam. peringkat ini perlu dilihat secara cermat. dan Australia (Gambar 3). Perusahaan tidak dapat berbisnis secara efisien dan bergairah jika inflasi tidak dapat diprediksi. berdasarkan survei WEF peringkat ukuran pasar domestik Indonesia juga terus meningkat. produktivitas suatu negara tidak hanya ditentukan oleh stabilitas makro ekonominya. Namun demikian. Inggeris.1. Bidang Perindustrian dan Perdagangan Stabilitas makro ekonomi sangat penting bagi dunia bisnis. Peningkatan permintaan barang dan jasa yang lebih banyak dan/atau lebih bermutu akan meningkatkan kebutuhan industri akan teknologi yang lebih sesuai. setelah Cina.2 dan menduduki peringkat 35 dari 139 negara yang disurvei. Brazil. Jerman. Survei yang dilakukan oleh UNCTAD (2009) tentang prospek investasi dunia ( World Investment Prospects Survey) menyimpulkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 9 dunia. skor untuk stabilitas makro ekonomi Indonesia pada tahun 2010 mencapai 5. Pemerintah tidak akan dapat melakukan pelayanan publik dengan baik. 47 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasar domestik Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi investor asing jika Indonesia tidak mampu membangun SINas yang kuat untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. Jika persepsi masyarakat dunia terhadap stabilitas makro ekonomi ini dapat terus dipelihara dan jika mungkin terus ditingkatkan. Makro ekonomi yang terpelihara stabilitasnya dan kapasitas pasar domestik yang terus membesar merupakan ekosistem yang positif untuk tumbuh-kembang SINas.

18 Tahun 2002 . 48 Naskah Akademik Perubahan UU No. Apalagi pengembangan sumberdaya manusia dan iptek telah dipilih sebagai salah satu dari tiga strategi utamanya. tetapi juga handal dan sesuai kapasitas adopsi pelaku bisnis. termasuk perdagangan dan industri.Jika peningkatan kebutuhan teknologi yang relevan ini dikomunikasikan oleh industri ke pihak pengembang teknologi dan pihak pengembang teknologi mampu menyediakan paket teknologi yang tidak hanya relevan. Gambar 3. Kinerja dan perkembangan SINas akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan di berbagai sektor yang terkait. Kebijakan yang berorientasi untuk mendorong ekspor agar lebih diprioritaskan pada produk jadi. survei WEF juga memperlihatkan terjadinya peningkatan peringkat Indonesia dari 47 menjadi 36. Harus ada dorongan agar produk barang dan jasa yang diperdagangkan. terutama untuk ekspor. Peringkat daya tarik Indonesia bagi investor asing Kebijakan pembangunan perekonomian Indonesia yang baru diluncurkan yang dikemas dalam Keppres No. 32 Tahu 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah menetapkan enam koridor pembangunan ekonomi sesuai dengan potensi sumberdaya setempat perlu dibarengi dengan upaya membangun penguatan inovasi yang berkesesuaian. Pada kurun waktu yang sama (2008-2010). maka SINas akan lebih dirasakan geliatnya. diutamakan sudah merupakan produk-produk jadi yang dibutuhkan oleh konsumen akhir (consumer products).

Ekspor dalam bentuk produk dengan muatan teknologi tinggi sudah ada namun masih relatif rendah porsinya (Gambar 4). 22 Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas atau produk ekspor sudah dilakukan. tetapi pada akhir tahun 2000-an kembali menurun menjadi sekitar 10 persen. periode 1989-2008 22 Disampaikan oleh Suharna Surapranata. dan meningkatkan nilai tambah produk yang diekspor. yakni hanya sekitar 1 persen. misalnya produk sawit yang diekspor masih sangat dominan berbentuk minyak sawit kasar (crude palm oil.merupakan bentuk kebijakan yang secara nyata akan mendorong adopsi teknologi pada industri-industri di dalam negeri.com (18 Januari 2011) Gambar 4. hari selasa 18 Januari 2011. Sejak akhir tahun 1980-an sudah mulai ada produk dengan muatan teknologi tinggi. tetapi masih sangat rendah. Ungkapan yang dikemukakan Surapranata (2011) patut direnungkan. 18 Tahun 2002 . Indonesia saat ini masih dominan mengekspor komoditas atau bahan mentah (raw materials) atau produk-produk setengah-jadi (intermediate products) yang secara ekonomi merugikan dan secara ekologi kurang bersahabat. Bermakna bahwa sebaiknya tidak mengekspor bahan mentah dan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. kemudian secara berangsur naik dan mencapai puncaknya pada awal tahun 2000-an yang mencapai kisaran antara 14-16 persen. pada Rapim Lengkap Kementerian Riset dan Teknologi. dan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. tetapi perlu didorong untuk mengekspor barang jadi yang diproduksi di dalam negeri dengan memanfaatkan tenaga kerja dan teknologi nasional. karena cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. tetapi lebih didorong untuk mengekspor produk yang dihasilkan dengan keringat anak bangsa di dalam negeri. sekaligus membuka lapangan kerja. bahwa seharusnya Indonesia tidak mengekspor bahan baku dan keringat. Menteri Negara Riset dan Teknologi. tetapi dirasakan masih belum optimal. diunduh dari tradingeconomics. Persentase ekspor produk Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi. Sumber: The World Bank. disingkat CPO). 49 Naskah Akademik Perubahan UU No.

1. baik di sektor pertanian (terutama perkebunan) maupun di sektor pertambangan. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Menurut UU No.Saat ini Indonesia masih dihadapkan pada dua kendala yang menjadi tantangan utama.1. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Perdagangan dan Industri. nilai ekspor produk-produk bermuatan teknologi tinggi tersebut sejak tahun 2000 tidak mengalami kemajuan yang berarti dan relatif stagnan. yakni hanya berfluktuasi sekitar 4. Indonesia memang juga telah mengekspor produk teknologi tinggi. komputer. mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan.4 sampai 6. 50 Naskah Akademik Perubahan UU No.1. antara lain untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. dan secara ekonomi kompetitif dibanding produk teknologi serupa yang tersedia di pasar dunia. 1. Sebagai upaya mendorong kemampuan teknologi nasional. Tujuan penyelenggaraan penanaman modal. kegiatan penanaman modal di Indonesia dapat memperoleh fasilitas. termasuk skala prioritas tinggi. sedangkan investor asing lebih banyak tertarik pada bidang usaha yang terkait dengan eksploitasi sumberdaya alam.5 milyar dolar Amerika (Tabel 2). farmasi (pharmaceuticals). yakni: [1] keterbatasan kapasitas investasi nasional di sektor industri hilir untuk mengolah bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi produk jadi. dan electrical machinery. Pasal 10 Ayat (4) menyebutkan bahwa perusahaan penanaman modal yang mempekerjakan tenaga kerja asing diwajibkan menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Indonesia tak akan mampu membangun kemandirian perekonomiannya jika tidak mampu mengatasi dua tantangan utama ini. menciptakan lapangan kerja. handal. Produk dengan muatan teknologi tinggi mencakup produk-produk yang membutuhkan intensitas R&D tinggi. meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan. Selain itu terkait dengan riset. Pasal 18 Ayat (3) menyebutkan. penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.1. dan [2] belum siapnya teknologi nasional untuk menyokong tumbuh kembang industri hilir tersebut. yakni kapasitas untuk mengembangkan teknologi yang relevan. Kontribusi produk teknologi tinggi ini masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai total ekspor Indonesia pada periode tersebut. bahwa untuk mendapatkan fasilitas sekurang-kurangnya kegiatan penanaman modal memenuhi salah satu kriteria berikut ini: a. 18 Tahun 2002 . instrumen riset (scientific instruments). b. serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. seperti produk kedirgantaraan (aerospace). Namun demikian. menyerap banyak tenaga kerja.

memperkuat. atau k. c.c. Guna mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang (a) produksi dan pengolahan. h. pengembangan. dan Menengah untuk memperoleh sertifikat hak atas kekayaan intelektual. Kecil. serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. 18 Tahun 2002 Peraturan perundang-undangan ini antara lain menyebutkan. dan masyarakat dapat memfasilitasi. (c) sumber daya manusia. meningkatkan kemampuan di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu. memberikan insentif kepada Usaha Mikro. meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. meningkatkan kerjasama dan alih teknologi. alih teknologi maupun inovasi merupakan salah satu strategi yang perlu dikembangkan. pemerintah. melakukan industri pionir. sumber 51 Naskah Akademik Perubahan UU No. bermitra dengan usaha mikro. Menurut ketentuan di atas. b. menjaga kelestarian lingkungan hidup. mendukung. kecil. 1. inovasi termasuk kriteria yang dapat diajukan untuk memperoleh fasilitas penanaman modal.2. e. melakukan alih teknologi. Selanjutnya terkait dengan pengembangan dalam bidang desain dan teknologi. d. dan e. pemerintah daerah. atau daerah lain yang dianggap perlu. menengah atau koperasi. mempunyai nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi. mendorong Usaha Mikro. terutama bagi penanaman modal baru bagi industry pionir. daerah g. Industri pionir adalah industri yang memiliki keterkaitan luas. dan (d) desain dan teknologi. dan Menengah yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup. dan Menengah a. pemasaran. dan menstimulasi kegiatan kemitraan yang saling membutuhkan. j. melaksanakan kegiatan penelitian. Kecil. memperkenalkan teknologi baru. Kemitraan antar UMKM dengan Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi dan pengolahan. i. Selain itu UMKM dapat melakukan: . Kecil. daerah tertinggal. f. industri yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi di dalam negeri. perbatasan. mempercayai.1. dan menguntungkan. Selanjutnya dalam pasal ini disebutkan mengenai kemungkinan pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan dalam jumlah dan waktu tertentu. d. termasuk pembangunan infrastruktur. dan inovasi. (b) pemasaran. permodalan. berada di daerah terpencil. dunia usaha.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum RI yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. Yang dimaksud dengan “inkubator” adalah lembaga yang menyediakan layanan penumbuhan wirausaha baru dan perkuatan akses sumber daya kemajuan usaha kepada Usaha Mikro. dan Menengah. penyerapan tenaga kerja. lembaga layanan pengembangan usaha. Kecil. antara lain zona pengolahan ekspor. ekspor. Menurut UU No. penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. pengembangan teknologi. Selain itu. Pasal 30 menyebutkan bahwa (1) setiap wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha di KEK diberikan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh). dan Menengah sebagai mitra usahanya. dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. Kecil. konsultan keuangan mitra bank. sebagai upaya pengembangan teknologi tertentu untuk meningkatkan daya saing produk barang dan jasa. antara lain: a. 20 Tahun 2008. dan 52 Naskah Akademik Perubahan UU No. bisnis. tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk barang kena pajak. logistik. dan lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan Usaha Mikro. Menteri dan Menteri Teknis mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan UMKM melalui inovasi dan pengembangan produk berorientasi ekspor. industri. dan energi yang kegiatannya dapat ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri. Pengusaha mendapat fasilitas dan kemudahan dalam KEK. selain fasilitas PPh dapat diberikan tambahan fasilitas PPh sesuai dengan karakteristik zona. pembebasan cukai. c. Sementara dukungan kelembagaan ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator. dan teknologi. 1. KEK terdiri atas satu atau beberapa zona. impor. penangguhan bea masuk. sepanjang barang tersebut merupakan bahan baku atau bahan penolong produksi.3. dan Ayat (2) menyebutkan. b. 18 Tahun 2002 . UMKM yang melakukan kemitraan dimungkinkan untuk mendapatkan insentif.1. Upaya-upaya penguatan inovasi dapat masuk KEK. Pasal 32 ayat (1). dan Menengah. KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri. dan inkubator lainnya sesuai dengan potensi dan sumber daya ekonomi lokal. pariwisata.daya manusia. Adapun yang dimaksud dengan “lembaga layanan pengembangan usaha” (bussines development services-providers) adalah lembaga yang memberikan jasa konsultasi dan pendampingan untuk mengembangkan Usaha Mikro. Menurut Pasal 25. menyebutkan bahwa impor barang ke KEK dapat diberikan fasilitas berupa. Kecil. serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. Inkubator yang dikembangkan meliputi: inkubator teknologi.

disamping manajemen dan kewiraswastaan. peningkatan kapasitas difusi teknologi pada sistem produksi. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Dalam UU No.1. mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri dan pembentukan lembaga R&D dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan bahan baku alternatif.1. Perpres No. Bidang Keuangan dan Perpajakan 2. pengembangan dan inovasi. Pemerintah dapat memberikan fasilitas. namun demikian bentuk insentif non fiskal maupun kemudahan lainnya merupakan peluang untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang diperlukan. insentif non-fiskal. tidak dipungut PPh impor. 1. pengembangan sumberdaya manusia sektor industri secara intensif melalui akselerasi transformasi teknologi. 28 Tahun 2008 juga menekankan perlunya pengembangan teknologi industri melalui: a. peningkatan intermediasi dan pola insentif yang mendorong kemitraan dan kegiatan litbang di dunia usaha. Selain itu. dan kemudahan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.d.4. f. produk melalui teknologi tepat guna. c. dan industri yang melakukan alih teknologi. Permohonan pemberian fasilitas diajukan kepada Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi. e. 28 Tahun 2008 memungkinkan pengembangan kebijakan dalam upaya peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka penghematan. Perpres No. peningkatan jumlah penemuan baru hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan oleh sistem produksi. 36 Tahun 2008 disebutkan tidak semua penghasilan menjadi obyek pengenaan pajak. Fasilitas tersebut berupa insentif fiskal. meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan iptek untuk menciptakan dan menyerap teknologi dan invoasi yang berorientasi pasar. peningkatan kapasitas kelembagaan teknologi dalam mendukung sistem produksi. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional antara lain menyebutkan. b. 18 Tahun 2002 . Sebagai upaya mendorong penguatan inovasi nasional. g. 2. d.1.1. Meskipun insentif fiskal diberikan oleh Kementerian Keuangan. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional Terkait dengan penguatan inovasi. Ada pula penghasilan wajib pajak yang dapat dijadikan faktor pengurang pajak 53 Naskah Akademik Perubahan UU No. peningkatan kapasitas (pendalaman) teknologi pada sistem produksi. antara lain kepada kepada: industri yang melakukan penelitian. 2. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Keuangan dan Perpajakan.

17 Tahun 2006 ini dimungkinkan pemberian insentif dan fasilitas untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. yang menjadi faktor pengurang (tax deduction) penghasilan bruto. antara lain yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan. 18 Tahun 2002 .penghasilan bruto.3. Selanjutnya dalam peraturan pelaksanaannya. atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Menurut UU No. 2. menurut PP No. Yang dimaksud dengan barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yaitu barang atau peralatan yang digunakan untuk melakukan penelitian/riset atau percobaan guna peningkatan atau pengembangan suatu penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 2 menyebutkan bahwa wajib pajak badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi dapat diberikan fasilitas pajak penghasilan berupa: (a) pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman modal. (b) penyusutan dan amortisasi yang dipercepat.1. Wajib pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerahdaerah tertentu dapat diberikan insentif dan fasilitas pajak penghasilan. Insentif ini berupa pembebasan bea masuk atas impor buku ilmu pengetahuan dan barang atau peralatan untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan (Pasal 25). Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu Sejalan dengan upaya penguatan inovasi maupun investasi di bidang riset swasta di Indonesia. Adanya ketentuan pengecualian sebagai obyek pajak atau pengurangan penghasilan bruto merupakan fasilitas atau insentif di bidang perpajakan yang diberikan untuk mendorong kemampuan riset. dibebankan selama 6 (enam) tahun masing-masing sebesar 5 % (lima persen) per tahun.1. (c) pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen yang dibayarkan kepada Subjek Pajak Luar Negeri sebesar 10% (sepuluh persen). 2. bukan menjadi obyek pajak adalah “sisa lebih yang diterima atau diperoleh lembaga atau badan nirlaba di bidang pendidikan formal dan/atau penelitian dan pengembangan yang ditanamkan kembali dalam jangka waktu 4 tahun”. pemerintah dapat memberikan fasilitas insentif pajak. 1 Tahun 2007. dan 54 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ketentuan UU No. inovasi dan investasi riset dan pengembangan badan usaha/industri di Indonesia. yaitu “biaya penelitian perusahaan dan/atau sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan di Indonesia”. Pembebasan bea masuk diberikan berdasarkan rekomendasi dari kementerian terkait.2. 36 Tahun 2008 menyebutkan.

kompensasi kerugian fiskal. 18 Tahun 2002 . Setiap Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) di dalam wilayah KAPET juga dapat diberikan fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. ke PDKB untuk diolah lebih lanjut. b) mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya. b. Bagi wajib pajak swasta yang menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan iptek dapat memperoleh fasilitas pajak/keringanan pajak. penyusutan dan atau amortisasi yang dipercepat. 36 Tahun 2008). Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlakuan Perpajakan Di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Peraturan ini memuat ketentuan berkaitan dengan perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). Sumbangan Pembinaan Olahraga. mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai paling lama 10 (sepuluh) tahun. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (yang telah diubah dengan UU No.5. 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu adalah wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan: a) memiliki potensi untuk cepat tumbuh. c. dan Biaya Pembangunan Infrastuktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto PP No. diberikan perlakuan di bidang Pajak Penghasilan (fasilitas perpajakan) sebagai berikut: a. 2. 93 Tahun 2010 merupakan aturan pelaksanaan UU No. dan/ atau c) memiliki potensi pengembalian investasi yang besar. Sumbangan dari pihak swasta ini akan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. c.4.1. Sedangkan yang dimaksudkan KAPET. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. dan/atau. 2. Melalui peraturan ini. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas : a.1. impor barang modal atau peralatan lain oleh PDKB yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi.(d) kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. diharapkan dapat meningkatkan pendanaan riset dari pihak swasta. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. untuk selanjutnya disebut DPIL. b. pajak penghasilan menurut Pasal 26 atas dividen sebesar 10%. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. pemasukan Barang Kena Pajak dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya. menurut Keppres No. impor barang dan/atau bahan untuk diolah di PDKB. Pasal 1 menyebutkan bahwa sumbangan dan/atau biaya terkait penelitian dan pengembangan dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam satu tahun. Pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di dalam KAPET. 55 Naskah Akademik Perubahan UU No.

penyerahan kembali Barang Kena Pajak hasil pekerjaan subkontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di DPIL atau PDKB lainnya kepada Pengusaha Kena Pajak PDKB asal.18 Tahun 2002 memberikan manfaat besar bagi pengembangan Iptek di Indonesia. pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut. 18 Tahun 2002 menyatakan bahwa “Pemerintah wajib merumuskan arah. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pengembangan. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. badan usaha dan lembaga penunjang lainnya) untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih besar dibandingkan apabila masing-masing unsur kelembagaan berjalan secara sendiri-sendiri. melengkapi. Pasal 18 dan 19 UU No. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang Iptek” yang dituangkan sebagai “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek”. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan . menengah.1. f.1. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 3. Kunci penting untuk terlaksananya sinergisme kerja antar unsur Sisnas Iptek adalah terbangunnya suatu sistem perencanaan pembangunan nasional Iptek dalam jangka pendek. 56 Naskah Akademik Perubahan UU No. prioritas utama.d. Untuk mengembangkan jaringan tersebut seluruh elemen Sisnas Iptek wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. 3. Dalam rangka memadukan sinergisme kerja berbagai unsur kelembagaan Iptek. perguruan tinggi. pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka subkontrak. maupun jangka panjang. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai perlunya penguatan jaringan sistem nasional penelitian. g. 18 Tahun 2002 3) menggalakkan pembentukan jaringan. 2) mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumber daya Iptek secara lebih efektif. dan penerapan iptek (sisnas litbangrap iptek). peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal. e. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Diundangkannnya UU No.1. 4) mengikat semua pihak. 3. karena: 1) memberikan landasan hukum. Jaringan tersebut berfungsi untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur unsur kelembagaan iptek (lembaga litbang. pemerintah daerah. UU No. dan masyarakat untuk berperan serta secara aktif. memperkuat. pemerintah.

b. 18 Tahun 2002 . Sebagai Undang-Undang yang mengatur sistem iptek nasional. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai kewajiban Pemerintah Daerah untuk merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan pembangunan daerah Iptek yang dituangkan dalam “kebijakan strategis pembangunan Iptek di daerah”. 3) penguatan kemampuan audit teknologi yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia (SNI). 18 Tahun 2002 dapat menjadi acuan. Pemerintah Daerah juga dalam merumuskan kebijakan strategisnya harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. lembaga riset. c. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. Pasal 20 UU No. dan badan usaha yang melaksanakannya (Pasal 13 ayat (4)). Menteri antara lain wajib memperhatikan pentingnya upaya penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. 18 Tahun 2002 adalah mengkoordinasikan perumusan “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek” dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. peraturan perundang-undangan ini sangat menekankan pentingnya pembentukan jaringan yang menjalin hubungan interaktif semua unsur kelembagaan iptek sehingga kapasitas dan kemampuannya dapat bersinergi secara optimal. 18 Tahun 2002 merupakan pedoman dan landasan hukum utama dalam pelaksanaan pembangunan iptek nasional. 2) penguatan pertumbuhan industri berbasis hasil litbang. pengembangan. beberapa ketentuan dalam UU No. Dalam skala yang lebih kecil. dengan memperhatikan kepentingan masyarakat. pengembangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. Dalam perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek. perekayasaan. Seperti halnya di tingkat nasional. Menteri wajib memperhatikan: 1) penguatan ilmu dasar dan kapasitas litbang. Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek dibentuk Dewan Riset Nasional dan Dewan Riset Daerah. 4) Mengembangkan instrumen kebijakan yang diperlukan. Dalam upaya penguatan inovasi. Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. antara lain: a.Salah satu kewajiban Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam UU No. inovasi. Dengan demikian. bangsa. dapat dikatakan UU No. dan difusi 57 Naskah Akademik Perubahan UU No. Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri (Pasal 16 ayat (3)).

1. inovasi.3. 39 Tahun 1995 litbang kesehatan dapat diselenggarakan oleh lembaga asing. 18 Tahun 2002. pemanfaatan. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. d. Peraturan ini memberi kewenangan kepada Menteri yang membidangi riset dan teknologi untuk memberikan rekomendasi insentif – di bidang perpajakan maupun bantuan teknis (technical assistance) – 58 Naskah Akademik Perubahan UU No.1. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. 3. Pasal 78 UU No. e. dan Geofisika UU No. atau melibatkan peneliti asing. Dalam Pasal 2 disebutkan. Pengaturan kegiatan litbang asing dalam PP No. 31 Tahun 2009 menyebutkan pengembangan industri meteorologi. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan (Pasal 28 ayat (1)).1. 3. 39 Tahun 1995 mempunyai keterkaitan dengan PP No.). PP ini merupakan peraturan pelaksanaan ketentuan Pasal 69 UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.4. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. 31 Tahun 2009 secara tegas menekankan perlunya penguatan inovasi dan alih teknologi dalam pengembangan industri meteorologi. klimatologi. dimana disebutkan kegiatan litbang asing dilakukan atas dasar izin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penelitian bagi orang asing. atau kerja sama dengan lembaga asing yang memenuhi persyaratan. Inovasi dan Difusi Teknologi Peraturan ini merupakan peraturan pelaksanan UU No. Menurut PP No. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. litbang kesehatan bertujuan untuk memberikan masukan iptek serta pengetahuan lain yang diperlukan untuk menunjang pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi.2. dan geofisika yang mencakup inovasi dan alih teknologi harus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nasional. 18 Tahun 2002 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan . Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah (Pasal 26). Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain (Pasal 28 ayat (2)). 3. dan geofisika. f.teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan (Pasal 19 ayat (3) huruf b. Klimatologi. klimatologi.

18 Tahun 2002. Pelaksanaan insentif bantuan teknis terkait dengan ketentuan UU Kepegawaian. Pertanyaan menyangkut UU No. badan usaha dapat mengajukan permohonan rekomendasi insentif litbang kepada Menteri. Berdasarkan peraturan ini. PP No. Sehingga persoalannya bukan pada kekosongan peraturan.1. UU No. Sementara itu. 35 Tahun 2007 berkaitan erat dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan (insentif fiskal). PP No. PP No. atau bagaimana urgensi dan pengaruh pemberian fasilitas/insentif terkait dengan usaha peningkatan kemampuan inovasi nasional. PP No. mengingat regulasi masih menyisakan sejumlah pertanyaan selain sifatnya cenderung sektoral sehingga tidak mudah implementasinya. Dari sisi regulasi. 20 Tahun 2005 menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset/riset dengan badan usaha. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan misalnya. 93 Tahun 2010 dan UU No. sebenarnya pemerintah sudah berupaya mengakelarasi kegiatan riset dan inovasi dunia usaha atau untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta. 1/2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. 12 Tahun 2002 jo. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS maupun ketentuan-ketentuan yang terkait dengan aturan tentang lembaga Kementerian LPNK dan LPK. yang menekankan pentingnya alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan-kegiatan litbang agar memberikan nilai tambah ekonomi dan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidup. insentif bantuan teknis (insentif non fiskal) berhubungan dengan penempatan tenaga ahli peneliti.5. namun bagaimana penyusunan kebijakan pelaksanaannya dapat bersinergi dengan baik. 18 Tahun 2002 .dalam rangka mendorong kemampuan peningkatan perekayasaan. perekayasan dan dosen atau pemanfaatan laboratorium-laboratorium milik pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Peraturan Pemerintah ini merupakan penjabaran Pasal 16 ayat (3) UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan merupakan beberapa peraturan perundang-undangan yang menyediakan insentif riset. Upaya ini mutlak dilakukan. Selain itu. Keputusan persetujuan dan penolakan pemberian insentif tetap berada dalam kewenangan masing-masing instansi yang berwenang dimaksud. Ketentuan dan pelaksanaan insentif atau fasilitas perpajakan yang dimaksud dalam PP No. inovasi. dan difusi teknologi di badan usaha. 36/2008 tentang Pajak Penghasilan. Namun dalam hal ini. antara lain berkaitan dengan bagaimana kriteria yang menentukan badan usaha mendapatkan tax deduction. beberapa ketentuan dalam PP No. kewenangan Menteri hanya sebatas memberikan rekomendasi scientific opinion kepada instansi yang berwenang dibidang perpajakan maupun lembaga pemberi bantuan teknis. seperti Pasal 26 huruf a 59 Naskah Akademik Perubahan UU No. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 3.

menyiapkan dan menyediakan basis ilmiah yang kuat dan teknologi tepat guna sebagai kunci dalam menyusun kebijakan pengelolaan dan pengembangan usaha perikanan agar lebih efektif. dan dapat bekerja sama dengan lembaga litbang pemerintah provinsi. 04/M/PER/III/2007 tentang Tata Cara Pelaporan Kekayaan Intelektual. 30 Tahun 2008 penyelenggaraan litbang perikanan bertujuan untuk: a. asistensi teknis litbang. Kerjasama ini meliputi penyediaan tenaga ahli. menyatakan bahwa sinergi perguruan tinggi dan lembaga litbang dengan lembaga riset lainnya dapat dilakukan antara lain dengan mekanisme perjanjian kerjasama maupun perjanjian lisensi. meningkatkan kemandirian dalam penguasaan iptek di bidang perikanan. badan usaha. b. lembaga litbang kabupaten/kota. Pasal 15 menyebutkan penyelenggaraan litbang perikanan dapat bekerja sama dengan pelaksana litbang. dan/atau (d) pengembangan eksperimental. PP ini juga menyebutkan. Sebagai peraturan pelaksanaannya. ekonomis. (c) penelitian kebijakan. Hasil Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Dan Hasil Pengelolaannya. penyediaan dana dan sarana litbang. Sedang Pasal 20.1. 3. 12 Tahun 2010 kegiatan litbang kehutanan meliputi kegiatan: (a) penelitian dasar. asosiasi perikanan. hasil kegiatan penelitian dan pengembangan milik pemerintah dan/atau pemerintah daerah. 3.yang menyatakan bahwa sinergi berprinsip mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber daya tertentu untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat tertentu.7. dan masyarakat. berdaya saing tinggi. pelaku usaha perikanan. dan c. kegiatan litbang kehutanan diselenggarakan oleh Pemerintah. 60 Naskah Akademik Perubahan UU No. Di dalam peraturan menteri ini. Serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Menurut PP No. perguruan tinggi. mengungkapkan dan memahami potensi dan permasalahan sumber daya ikan dan lingkungannya serta mengembangkan teknologi pengelolaan perikanan dan konservasi sumber daya ikan. pendidikan dan pelatihan serta kegiatan lain yang dapat mempercepat pembangunan perikanan. efisien. Dalam rangka pengembangan kerjasama litbang perikanan.1. 18 Tahun 2002 . Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Menurut PP No. dan ramah lingkungan serta menghargai kearifan tradisi/budaya lokal. serta pengelolaannya kepada Menteri. Upaya ini diharapkan juga mendorong inovasi di sektor usaha. dan/atau lembaga litbang milik asing. Tujuan pelaporan adalah untuk mendayagunakan hasil kegiatan penelitian dan pengembangan yang dibiayai oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan hidupnya. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan.6. antara lain Peraturan Menteri Negara Riset Dan Teknologi No. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan harus melaporkan hak kekayaan intelektual yang telah diperoleh dan/atau yang sedang dalam proses pendaftaran. (b) penelitian terapan.

3. bioteknologi. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. penguatan SINas diutamakan mencakup inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. Dalam Perpres ini yang dimaksud dengan SINas adalah “suatu jaringan rantai antara institusi publik. kearifan tradisional. peneliti asing. Pasal 22 menyebutkan.Penyelenggaraan litbang. lembaga litbang asing. mendayagunakan. PP No. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. manajemen bencana alam. b. industri manufaktur. (b) memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. Berkaitan dengan kerjasama penelitian internasional. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. transportasi dan industri pertahanan. terpadu. 12 Tahun 2010 juga mempunyai keterkaitan dengan PP No. industriinfrastruktur. serta diklat kehutanan dilaksanakan dengan memperhatikan: a. dan (c) melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program penguatan SINas. peneliti asing. Menurut Perpres No. perguruan tinggi asing.” KIN mempunyai tugas untuk: (a) membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. lembaga riset dan teknologi. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional Kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 18 Tahun 2002 . perguruan tinggi asing. sebagaimana PP No. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). atau badan usaha asing dapat menyelenggarakan litbang kehutanan setelah mendapatkan izin dari instansi Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.1. 23 Tahun 2010.8. 61 Naskah Akademik Perubahan UU No. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan Sistem Inovasi Nasional (SINas) guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. serta kondisi social budaya masyarakat. ilmu pengetahuan dan teknologi. potensi dan karakteristik biofisik setempat guna menjamin terjaganya kekayaan plasma nutfah khas Indonesia dari pencurian atau gangguan lainnya yang mengancam punahnya plasma nutfah tersebut. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. ketahanan energi. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. terintegrasi. Selanjutnya di ayat (2)-nya disebutkan lembaga litbang asing. mendukung. atau badan usaha asing dalam menyelenggarakan litbang kehutanan harus bekerja sama dengan Badan Litbang Kehutanan Kementerian. Dalam rangka penguatan SINas ini dibentuk Komite Inovasi Nasional (KIN). termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghasilkan produk produk inovatif.

prioritas utama dan kerangka kebijakan pemerintah dalam pembangunan iptek secara nasional. DRN memperhatikan pemikiran dan pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.9. program diploma. Dalam melaksanakan tugasnya itu.672 5. tugas utama DRN adalah : a. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. yakni sebagai tenaga kerja terampil untuk aplikasi teknologi di perusahaan industri. 4. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Instruksi Presiden dalam memberi arahan perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan strategis pembangunan nasional iptek (Jakstranas Iptek). jenjang pendidikan yang paling relevan adalah pada strata 2 dan 3 untuk dukungan kemampuan individual dan kapasitas pengembangan teknologi nasional. b. menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. Dalam konteks penguatan inovasi.10. membantu Menteri dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Koordinasi dilakukan terutama untuk menentukan dan melaksanakan arah kebijakan. 16 Tahun 2005. sedangkan pendidikan menengah kejuruan23.698 4.1. memberikan berbagai pertimbangan kepada Menristek dalam penyusunan kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi.403 5. dan strata 1 lebih dilihat relevansinya sebagai elemen pendukung penguatan kapasitas adopsi dari sisi pengguna teknologi. 62 Naskah Akademik Perubahan UU No.580 Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.070 4. Lebih spesifik berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang pendidikan menengah. Tahun 1989 1990 1991 1992 1993 23 Nilai Ekspor (juta USD) 79 112 197 465 850 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 Nilai Ekspor (juta USD) 2. pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. atau usaha mandiri skala kecil dan menengah.1. Sesuai Perpres No.3. prioritas utama maupun kerangka kebijakan di bidang penelitian. Perumusan Jakstranas Iptek dilakukan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi secara terkoordinasi dengan instansi-instansi terkait. Bidang Pendidikan. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Dewan Riset Nasional (DRN) Peraturan Presiden tentang DRN mengatur tentang pelaksanaan tugas DRN dalam membantu Menteri dalam merumuskan arah. 18 Tahun 2002 . pengembangan.

561 2.1994 1995 1996 1997 1998 1. 24 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. industri.250 2. Persentase ekspor Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi untuk periode 1989-2008 Sumber : The World Bank. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. 18 Tahun 2002 . Dengan kata lain. Idealnya. tetapi arus utamanya harus diakui masih murni berorientasi akademik.900 5. belum didorong oleh kesadaran agar hasil riset tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi sistem inovasi nasional.571 5. diunduh dari tradingeconomics. topik riset masih ditentukan oleh keinginan mahasiswa dan arahan pembimbing/promotornya.340 1. 63 Naskah Akademik Perubahan UU No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. atau [2] meningkatkan kemampuannya sebagai pengembang teknologi. disamping mutu pendidikan.com (18 Januari 2011) Secara umum program pendidikan Indonesia belum dirancang agar dapat optimal mendukung tumbuh kembang inovasi. Pendidikan program diploma dan sekolah menengah kejuruan sejak awal dirancang untuk menyiapkan tenaga terdidik dan terampil yang siap bekerja. Sebagai contoh. Lulusan strata 1 kemudian dapat memilih alur karirnya untuk berkiprah: [1] memperkuat kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna. PP No. Konsepsi sistem inovasi nasional yang sangat baik sekalipun hanya akan bisa diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. Namun dalam prakteknya. Beberapa pengecualian tentu ada. ataupun kebutuhan pemerintah. kegiatan tugas akhir yang hanya berorientasi akademik hanya diimplementasikan sampai pada jenjang strata 1 atau program diploma. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap24 dan cukup banyak pula yang berkerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya.225 5. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. sedangkan upaya untuk meningkatkan relevansinya dengan realita di bidang ilmu yang bersangkutan masih dirasakan minimal.188 2004 2005 2006 2007 2008 5. riset tugas akhir program strata 2 dan 3 (thesis dan disertasi) masih dominan diposisikan hanya sebagai indikator penguasaan bidang ilmu yang sesuai dengan program studi yang diikuti.625 Tabel 2. karena lulusan pada jenjang ini memang masih lebih diposisikan sebagai langkah penyiapan tenaga berpengetahuan dasar yang cukup dan/atau mempunyai ketrampilan di bidangnya masing-masing.658 2.808 6.

25 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur.1. tuntutan pembangunan daerah dan nasional. Peraturan Pemerintah Nomor Penyelenggaraan Pendidikan 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. c. dan pengabdian kepada masyarakat. h. di samping mutu pendidikan. UU No. penelitian. b. kecerdasan. Namun dalam prakteknya. g. 4. kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dengan memperhatikan: a. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap25 dan cukup banyak pula yang bekerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. teknologi. 20 Tahun 2003 yang antara lain menyebutkan: (1) bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan. keragaman potensi daerah dan lingkungan. peningkatan potensi.1. peningkatan iman dan takwa. agama. dan j. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Pendidikan. Kewajiban yang pertama dikenal sebagai ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’. perkembangan ilmu pengetahuan. Olehkarena itu perkembangan iptek juga merupakan salah satu materi kurikulum. Menurut Pasal 36 UU No.1. peningkatan akhlak mulia.1. dan pengabdian kepada masyarakat. d. i. UU No. Pelaksanaan penelitian terutama dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar. dan (2) Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi. f. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. dinamika perkembangan global. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Terkait dengan kegiatan penelitian.2. e. 4. 64 Naskah Akademik Perubahan UU No. tuntutan dunia kerja.4. penelitian ilmiah. dan seni. 18 Tahun 2002 . dan minat peserta didik. 20 Tahun 2003.

Apabila dikaitkan dengan tujuan pembangunan SINas sendiri. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. 18 Tahun 2002 UU No. penyelenggara pendidikan tinggi atau satuan pendidikan tinggi. 5. Bidang Ketenagakerjaan. [c] memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. yakni mencakup setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat (Pasal 1 butir 2). hubungan yang sinergis dan serasi harus 65 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau pemerintah). mengembangkan. dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. dan [d] meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. industri. dan seni melalui pendidikan. Butir b Pasal 4 di atas memberikan penegasan bahwa salah satu tujuan pembangunan ketenagakerjaan adalah untuk penyediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. maka terlihat jelas benang merah keterkaitan antara kebijakan ketenagakerjaan dengan upaya penguatan inovasi nasional. Oleh sebab itu. Nuansa ini sangat sejalan dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. dan/atau olahraga. seni. pemerintah daerah. menyebutkan bahwa dosen dapat memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan.Konsepsi sistem inovasi yang sangat baik sekalipun hanya akan berhasil apabila dapat diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. Kesempatan untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat mencakup kesempatan untuk memperoleh dan/atau memanfaatkan sumber daya pendidikan yang dimiliki oleh Pemerintah. [b] mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. Pembangunan ketenagakerjaan sesuai dengan sifatnya akan lebih berada pada posisi sebagai pemasok kebutuhan tenaga kerja. bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan: [a] memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. 37 Tahun 2009. Pasal 32. 4. dan pengabdian kepada masyarakat. dan masyarakat. dimana kebutuhan (demand) yang menentukan orientasi pembangunan dan pengembangannya. studi serta kesempatan melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.1. dosen memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi. penelitian. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan pengertian tentang tenaga kerja. Berdasarkan Pasal 26. . 13 Tahun 2003.3. yakni untuk mewujudkan sistem pengelolaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih efektif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan/atau jasa sesuai kebutuhan pengguna (masyarakat. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen Menurut PP No. budaya. teknologi. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. Lebih lanjut dinyatakan pada Pasal 4 UU No. teknologi.

sebaliknya jika lebih banyak perannya hanya sebagai objek pembangunan. Dengan demikian maka keberhasilan pembangunan pendidikan harusnya tidak hanya dievaluasi berdasarkan jumlah atau persentase penduduk yang berpartisipasi pada setiap jenjang pendidikan atau persentase populasi yang menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Sistem Pendidikan Nasional Kebijakan ketenagakerjaan Produktivitas Inovasi Nasional Kinerja Perekonomian Nasional Gambar 5. penyiapan tenaga kerja juga tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. Lebih jauh. maka akan sangat berat beban yang diemban untuk memajukan bangsa dan negara tersebut. 66 Naskah Akademik Perubahan UU No. Penyerasian Sistem Pendidikan. Kinerja sektor pendidikan tentu akan menjadi tumpuan utama dalam memperbesar porsi tenaga kerja yang menjadi subjek pembangunan. tetapi perlu juga didasarkan atas persentase jumlah lulusan yang berperan sebagai subjek pembangunan atau sebagai tenaga kerja produktif yang berkontribusi terhadap keberhasilan pembangunan nasional di segala sektor. SINas.dimulai dengan mewujudkan penguatan inovasi yang lebih mantab. Jika lebih besar perannya sebagai subjek pembangunan yang secara aktif berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Skenario untuk membangun keterpaduan antara pembangunan SINas dengan penyiapan tenaga kerja pendukungnya saat ini belum diformulasikan. Kemajuan suatu bangsa dan negara sangat tergantung dari peran mana yang lebih besar porsinya yang diperankan oleh tenaga kerja secara kolektif. ketenagakerjaan. dan perekonomian nasional Tenaga kerja berperan sekaligus sebagai subjek dan objek pembangunan. dengan tujuan dan kebutuhan yang jelas. Selanjutnya. secara bertahap dilakukan upaya meningkatkan produktivitas penguatan inovasi yang dalam prosesnya tentu mengharuskan adanya peningkatan mutu dan relevansi keahlian tenaga kerja. sangat jelas bahwa upaya mewujudkan SINas yang produktif dan efektif dalam memajukan perekonomian nasional membutuhkan keterpaduan dengan kebijakan ketenagakerjaan dan sekaligus juga dengan kebijakan pendidikan nasional (Gambar 5). sehingga dengan sendirinya diawali dengan kesenjangan (gap) yang minimal antara kebutuhan penguatan inovasi nasional dengan ketersediaan tenaga kerja domestik. 18 Tahun 2002 Lulusan bermutu dan relevan kebutuhan lapangan kerja SDM pengembang. maka bangsa dan negara tersebut akan berpeluang lebih besar untuk lebih maju. Inovasi yang dibangun berbasis pada potensi dan kebutuhan nasional bermakna telah mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. pengguna & intermediasi Kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional Kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa . Dengan demikian.

Pasal 6 hruf c PP No. belum banyak kontribusi industri hilir terhadap perekonomian nasional. mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. UU No. b.1. dan hak mendapatkan tunjangan. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian.1. tetapi untuk kegiatan-kegiatan ekonomi dengan muatan teknologi yang minimal.1. Posisi tenaga kerja Indonesia saat ini masih belum terlalu membanggakan. PP No. dan d. 5. 12 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. dalam kerangka penguatan inovasi. dan intermediasi. Kenyataan ini sebetulnya bukan hanya menjadi cerminan dari kualitas tenaga kerja yang masih rendah. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 4 UU No. dan Keputusan Kepala BKN No. memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS Tenaga ahli terdiri dari peneliti. karena masih lebih banyak yang berperan dalam proses produksi barang atau jasa. bukan hanya sebagai konsumen barang dan/atau jasa yang dihasilkan dari hasil aplikasi teknologi semata.1. c. pengguna teknologi dalam sistem produksi. 5.Selanjutnya. tetapi juga karena industri dengan muatan teknologi tinggi masih belum berkembang di Indonesia. perekayasa dan dosen pemerintah adalah PNS. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 jo. memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. 99 Tahun 2000 menyebutkan “PNS yg dipekerjakan atau diperbantukan 67 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kegiatan ekonomi masih dominan pada fase eksploitasi sumberdaya alam atau produksi bahan mentah. yang berkaitan dengan ketentuan PNS dipekerjakan atau diperbantukankan. PP No. maka keberhasilan pembangunan sektor ketenagakerjaan perlu dievaluasi berdasarkan peran aktif dan produktifnya sebagai pengembang teknologi. . 18 Tahun 2002 UU No. 13 Tahun 2003 antara lain mengatur mengenai peranan dan kedudukan tenaga kerja. pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. Tenaga ahli sebagai PNS tunduk kepada UU No.2. 12/ Tahun 2002 jo. meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ketenagakerjaan. Dalam Pasal 3 disebutkan pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan : a. 5. 12 Tahun 2002 tentang Kenaikan Pangkat PNS. Kualitas tenaga kerja ini tidak terlepas dari peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.

31 Tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan PNS yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam Jabatan Fungsional Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan diberikan tunjangan jabatan fungsional sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. pola pikir dan tindakan dalam melaksanakan pembinaan perekayasa. 99 Tahun 2000 tidak berlaku bagi keperluan technical assistance peneliti dan perekayasa pemerintah ke badan-badan usaha swasta.4. BPPT ditunjuk sebagai instansi pembina jabatan perekayasa. tim penilai. sebagaimana Pasal 15 dan 16 diberikan kepada dosen yang memiliki jabatan akademik profesor dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan sebesar 2 (dua) kali gaji PNS yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kenaikan jabatan/pangkat. pemberhentian dalam dan dari jabatan. masa kerja. dan kualifikasi akademik bagi guru dan dosen PNS. 12 Tahun 2002 jo. Menurut pihak BKN dan Menpan. dan kualifikasi akademik yang berlaku bagi profesor PNS. organisasi profesi. 5. Sedangkan tunjangan khusus bagi guru dan dosen bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. menetapkan 11 standar kompetensi jabatan fungsional perekayasa. negara sahabat atau badan internasional.3. ketentuan mengenai ‘badan usaha yang ditentukan’ ini hanya ditujukan bagi keperluan perbantuan guru-guru pemerintah yang mengajar ke sekolah-sekolah swasta. penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan angka kredit.1. BPPT selaku pembina jabatan perekayasa. pengangkatan. 13/M/PB/VIII/2008 dan No. 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen. dan badan usaha yang ditentukan”. yang besarnya 1 (satu) kali gaji pokok pegawai negeri sipil yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk menjamin adanya persamaan persepsi. 22 Tahun 2008 diatur hal-hal yang berkaitan dengan usulan penilaian dan penetapan angka kredit. Menurut Peraturan Bersama Menristek dan Kepala BKN No. Namun ketentuan PP No. 5. . pembebasan sementara. 11 dan 12 tunjangan khusus diberikan bagi guru dan dosen PNS yang ditugaskan oleh pemerintah atau pemerintah daerah di daerah khusus. Peneliti. 68 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Sedangkan tunjangan kehormatan. perekayasa dan dosen tidak diperkenankan bekerja dan diperbantukan di badan-badan usaha. antara lain melakukan : a. Tunjangan kehormatan bagi profesor bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. Tunjangan Khusus Guru dan Dosen Serta Tunjangan Kehormatan Profesor Berdasarkan Pasal 10 . Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS ini sangat tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. PP No. masa kerja. Peraturan Pemerintah No.berdasarkan ketentuan Pasal ini adalah PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh pada proyek pemerintah. Peraturan Pemerintah No.1.

b. menetapkan pedoman formasi jabatan fungsional perekayasa; c. menyusun kurikulum pendidikan dan pelatihan jabatan fungsional perekayasa; d. melakukan pengkajian dan pengusulan tunjangan jabatan fungsional perekayasa; e. mensosialisasikan jabatan fungsional perekayasa serta petunjuk pelaksanaannya; f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional perekayasa; g. mengembangkan sistem informasi jabatan fungsional perekayasa; h. memfasilitasi pelaksanaan jabatan fungsional perekayasa; i. memfasilitasi pembentukan organisasi profesi perekayasa; j. memfasilitasi penyusunan dan penetapan etika profesi dan kode etik perekayasa; k. melakukan monitoring dan evaluasi Jabatan Fungsional Perekayasaan

6. Bidang Infrastruktur Sosial. Infrastruktur sosial pada prinsipnya mencakup semua fasilitas yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai infrastruktur komunitas (community infrastructure). Dengan demikian maka infrastruktur sosial tidak hanya mencakup ‘soft infrastructure’ (seperti dukungan untuk pengembangan komunitas, keluarga, dan individu; layanan informasi; pelatihan ketrampilan; perlindungan hukum; keamanan publik; dan layanan darurat); tetapi juga mencakup ‘hard infrastructure’ (seperti fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas untuk kegiatan seni dan budaya, fasilitas olahraga dan rekreasi, perumahan sehat, fasilitas lingkungan, fasilitas ibadah, dan tranportasi publik). Akibat buruk dari kurangnya perhatian dalam pembangunan infrastruktur sosial telah semakin dirasakan oleh negara-negara maju, misalnya berupa gangguan keamanan lingkungan atau mutu sumberdaya manusia yang rendah yang kemudian menjadi beban pembangunan. Kesenjangan sosial yang terjadi ternyata sangat mahal biaya remediasinya. Menyadari akan hal ini maka beberapa negara maju mulai secara sungguh-sungguh berupaya memperbaikinya. Misalnya Inggris menganggarkan hampir 3 milyar pound untuk pembenahan infrastruktur sosialnya. Pemerintah Australia juga mengambil inisiatif untuk membenahi infrastruktur sosial ini (Casey, 2005). Indonesia sebagai negara berkembang kelihatannya belum menunjukkan perhatian yang baik terhadap infrastruktur sosial ini pada sebagian besar wilayah perdesaan dan lingkungan kumuh perkotaan. Akibatnya kesenjangan sosial-ekonomi antara perdesaan dan perkotaan semakin melebar. Kenyataan ini telah secara nyata menyebabkan laju urbanisasi yang semakin sulit dibendung. Kesenjangan antara komunitas kaya dan miskin di perkotaan juga terasa semakin melebar. Kondisi ini menyebabkan antara lain semakin meningkatnya frekuensi kerusuhan di

69

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

perkotaan. Walaupun banyak yang mengkaitkan fenomena kerusuhan ini sebagai dampak dari demokratisasi di Indonesia. Kesenjangan sosial-ekonomi jelas tidak ‘compatible’ dengan upaya membangun inovasi nasional yang produktif dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, dalam skenario besar pengembangan sistem inovasi nasional Indonesia perlu disediakan ruang untuk pembangunan infrastruktur sosial. Beberapa peraturan perundang-uindangan terkait dengan pengembangan infrastruktur sosial sebagaimana di bawah ini.

6.1. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Infrastruktur Sosial. 6.1.1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Kereta Api

Menurut UU No. 23 Tahun 2007, pemerintah mendorong kemampuan di dalam negeri rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian nasional. Kegiatan ini antara lain mengedepankan lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang dikenal sebagai penghasil teknologi. Hal tersebut di ataur dalam Pasal 118 ayat (1) dan (2).
Pasal 118 (1) Untuk pengembangan perkeretaapian dilakukan rancang bangun dan rekayasa perkereta apian. (2) Rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh: a. pemerintah; b. pemerintah daerah: c. badan usaha; d. lembaga penelitian; atau e. perguruan tinggi.

6.1.2.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

Sebagaimana dengan UU No. 23 Tahun 2007, melalui UU No. 5 Tahun 1984 pemerintah juga berupaya mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri. Upaya ini memberikan kesempatan bagi peneliti dan perekayasa di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan maupun perguruan tinggi dalam peningkatan kemampuan industri nasional. UU No. 5 Tahun 1984 menyebutkan pembedaan teknologi industri dan teknologi tepat guna. Teknologi industri adalah cara pada proses pengolahan yang diterapkan dalam industri. Teknologi yang tepat guna adalah teknologi yang tepat dan berguna bagi suatu proses untuk menghasilkan nilai tambah. Sedangkan barang jadi adalah barang hasil industri yang sudah siap pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi. Pasal 9 UU No. 5 Tahun 1984 menyatakan bahwa pengaturan dan pembinaan bidang usaha industri dilakukan dengan memperhatikan “penyebaran dan pemerataan pembangunan industri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia dengan mempergunakan proses industri dan teknologi yang tepat guna untuk dapat tumbuh dan berkembang atas kemampuan dan kekuatan sendiri”.

70

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keterkaitan dengan teknologi, di Pasal 16, Bagian VI UU No. 5 Tahun 1984, ayat (1) disebutkan “Dalam menjalankan dan/atau mengembangkan bidang usaha industri, perusahaan industri menggunakan dan menciptakan teknologi industri yang tepat guna dengan memanfaatkan perangkat yang tersedia dan telah dikembangkan di dalam negeri. Pada ayat (2) Apabila perangkat teknologi industri yang diperlukan tidak tersedia atau tidak cukup tersedia di dalam negeri, Pemerintah membantu pemilihan perangkat teknologi industri dari luar negeri yang diperlukan dan mengatur pengalihannya ke dalam negeri.Dan pada ayat (3) Pemilihan dan pengalihan teknologi industri dari luar negeri yang bersifat strategis dan diperlukan bagi pengembangan industri di dalam negeri, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

71

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. Apabila peraturan tersebut hanya berlaku secara filosofis. maka peraturan perundang-undangan yang dibuat cenderung menjadi sekumpulan aturan-aturan pemaksa. apabila menunjukan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya. maka ada kemungkinan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan hanya merupakan kumpulan kaidah yang mati. menurut Hans Kelsen. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. merupakan kebijakan pemerintah mengenai arah mana hukum tersebut diarahkan. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). Menurut UU No. yaitu syarat yuridis. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. 72 Naskah Akademik Perubahan UU No. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. maka penyusunan suatu peraturan perundangundangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. Demikian halnya apabila peraturan perundangundangan hanya menekankan pada aspek sosiologis-nya saja. Hal itu diperkuat dengan teori pengakuan yang menyatakan bahwa berlakunya hukum ataupun peraturan perundangundangan didasarkan atas penerimaan atau pengakuan atas peraturan tersebut. Syarat yuridis. Pembentukan peraturan perundang-undangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. lebih menekankan teori kekuasaan. karena efektivitas hukum merupakan fakta. Dengan demikian apabila pembentukan peraturan perundang-undangan diartikan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat atau pencapaian tujuan-tujuan tertentu. kaidah hukum mengikat. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. apabila kaidah hukum terbentuk menurut cara yang telah ditetapkan. Sedangkan Zevenbergen menyatakan. Kajian mengenai persyaratan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan yang baik selalu berkembang agar penerapan peraturan perundang-undangan sesuai dengan tujuannya. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundangundangan. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. maka peraturan tersebut hanya merupakan cita-cita saja.Bab 4 Landasan Filosofis. Logemann berpendapat. 18 Tahun 2002 . dan filosofis. dan Yuridis Pembentukan peraturan perundang-undangan umumnya telah memperhatikan proses pemberlakuannya. Sosiologis. Hukum yang baik adalah apabila terdapat keserasian antara politik hukum yang dibuat oleh pemerintah dengan kesadaran hukum masyarakat. hukum berlaku secara yuridis. yaitu konsepsi abstrak di dalam diri manusia tentang keserasian antara ketertiban dan ketenteraman atau kondisi yang sepantasnya diinginkan. adanya kesadaran hukum masyarakat. yaitu pertama adanya politik hukum yang jelas. Menurut teori kekuasaan. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Secara garis besar dalam penyusunan peraturan perundang-undangan memperhatikan dua hal. Menurut Kelsen. Kedua. Apabila peraturan perundang-undangan hanya menekankan pada pemenuhan persyaratan yuridisnya saja. sosiologis.

dan masalah tertentu. secara jelas telah mengamanahkan pemajuan iptek. yaitu agar diarahkan untuk mendorong kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. 2008) diartikan sebagai 1 kemajuan (kecerdasan. Lingkup wilayah menyangkut ruang atau wilayah yang akan dibatasi melalui pembentukan peraturan perundang-undangan. Menurut Amandemen keempat UUD 1945 ini. Amandemen ini belum menjadi pertimbangan yuridis saat penetapan UU No. 2 hal yg menyangkut sopan santun. lingkup berlakunya suatu peraturan perundangan-undangan agar ditentukan pula. dan kebudayaan suatu bangsa. Lingkup ini dibedakan menjadi empat. waktu. budi bahasa.Di samping syarat–syarat tersebut. dan 73 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang disahkan pada tanggal 29 Juli 2002. 4. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring. Hal itu dapat ditemui di dalam Bab XIII. Kemajuan kebudayaan ini sering dikatakan sebagai peradaban. Secara jelas ketentuan ini tercantum dalam Pasal 31. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Dapat dikatakan manusia dan peradaban adalah hal yang tidak dapat dipisahkan karena manusia itu memiliki cipta. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya. Pendidikan dan Kebudayaan. kemajuan iptek secara tegas ditetapkan. rasa dan karsa ini menimbulkan perkembangan pengetahuan. yaitu wilayah. yang selengkapnya berbunyi: Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. rasa dan karsa. Terakhir adalah lingkup masalah yang bersangkutan dengan permasalahan apa saja yang akan menjadi obyek suatu peraturan perundang-undangan. Lingkup pribadi menunjukan siapa atau apa yang akan diatur peranannya melalui peraturan perundangundangan. tetapi saat ini dengan adanya perkembangan pengetahuan. Amandemen keempat UUD 1945. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Sebagai contoh : dahulu manusia menanam karet dan menunggu hasil sesuai kemampuan alam untuk memproduksi. 18 Tahun 2002 . pribadi. Logemann berpendapat. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. aplikasi pupuk.1. Aspek Yuridis Amandemen keempat UUD 1945 yang ditetapkan oleh MPR pada tanggal 10 Agustus 2002 merupakan landasan yuridis bagi pembentukan peraturan perundang-undangan yang ada. Perkembangan cipta. Pengembangan. Lingkup waktu berhubungan dengan jangka waktu tertentu yang diatur oleh suatu peraturan perundang-undangan.

Dengan kata lain. 18 Tahun 2002 diartikan sebagai cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. maupun penciptaan (invention). 74 Naskah Akademik Perubahan UU No.teknik pemeliharaan menjadikan pohon karet menghasilkan lebih banyak. apabila iptek terus berkembang. atau bahkan menurun. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. kelangsungan. maka dapat dikatakan penguasaan dan pemanfaatan iptek tidak berfungsi dengan baik. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. . Demikian halnya dengan penggunaan perangkat otomatis. kualitatif. memberi kemudahan dalam kehidupan manusia. Secara umum iptek berkembang melalui kreativitas berbagai penemuan (discovery). kesejahteraan umat manusia juga meningkat. Berbagai inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia.  Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan. maupun pengembangan ilmu pengetahuan. iptek mempunyai peran sentral. dan tanpa adanya manusia kedua karya tersebut tidak akan ada. teknologi informasi dan mikroelektronika. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara umum adalah karya manusia. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. telah membantu manusia dalam berbagai kegiatannya. Apabila iptek berkembang tetapi kesejahteraan umat manusia tidak berkembang. baik yang bersifat kuantitatif. pelestarian fungsi lingkungan hidup.  Produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja. merupakan hasil dari penguasaan dan pemanfaatan iptek sehingga berbagai penyakit telah dapat disembuhkan. 18 Tahun 2002. Sedangkan kegunaan iptek bagi manusia juga ditentukan oleh nilai. Sedangkan teknologi dalam UU No. misalnya. Menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv). serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. Berbagai penemuan di bidang kesehatan. kemajuan bangsa. disusun. 18 Tahun 2002 berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. 18 Tahun 2002 Dapat dikatakan teknologi merupakan aplikasi dari pengetahuan sebagai respons atas tuntutan manusia akan kehidupan yang lebih baik. Menurut UU No. Menurut UU No. yang selanjutnya melahirkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. teknologi adalah ”keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. Dengan demikian dapat dikatakan dalam perkembangan peradaban manusia. moral.” Pengertian teknologi secara umum menurut Ellul (1967) adalah:  Proses yang meningkatkan nilai tambah. Adanya kemajuan penguasaan dan pemanfaatan iptek akan berimbas pada peningkatan daya saing dan akan mendorong kemajuan bangsa. norma dan hukum atau peraturan perundang-undangan yang mendasarinya.

dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. asas kebebasan akademis. asas kebebasan berpikir. Untuk dapat efektif. atau pemerintah. Sejalan dengan semangat ini. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini. indikator perkembangan iptek antara lain adalah peningkatan berbagai penemuan (discovery). Walaupun dirasakan telah terjadi kemajuan dalam pemahaman tentang konsepsi dasar sistem inovasi dan telah terjadi perkembangan metodologis untuk analisis sistem inovasi. atau dengan kata lain inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). 75 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. sistematis. penggunaan sanksi dalam UU No. yang selanjutnya menumbuhkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa.26 Secara sosiologis penekanan ketentuan atau aturan-aturan yang memaksa (coercion) dalam pengembangan iptek kurang tepat. 18 Tahun 2002. p e n c i p t a a n ( invention). Saat ini.. hanya terlihat pada kegiatan litbangrap iptek yang berisiko tinggi dan berbahaya.000. Menurut UU No. namun sampai saat ini masih belum berhasil dirumuskan kebijakan dan peraturan perundang-undangan sistem inovasi yang pas untuk kondisi Indonesia. 18 Tahun 2002 dimungkinkan penggunaan sanksi pidana berupa denda paling banyak Rp. telaah tentang sistem inovasi sangat jarang berujung pada preskripsi kebijakan sistem inovasi yang konkrit. serta pada tingkat kewilayahan mana sistem inovasi tersebut tepat untuk diimplementasikan. 18 Tahun 2002 penggunaan aturan pemaksa harus disesuaikan dengan asas undang-undang ini yang menekankan pada asas kebenaran ilmiah.4. dan detil. Meskipun inovasi sering dicampuraduk pengertiannya dengan invensi.2. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. 50. . Demikian halnya dengan upaya penguatan inovasi nasional melalui peraturan perundang-undangan. 26 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UU No. Dalam UU No.(lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. Penekanan pada kreatifitas. budaya. dan potensi sumberdaya alam Indonesia yang sangat majemuk. masyarakat awam. mengingat kondisi sosial. kebebasan berpikir menjadikan penggunaan pemaksaan tidak relevan. ekonomi. maka kebijakan harus mengandung muatan pengaturan dan tidak hanya memberikan pemahaman umum. serta tanggung jawab akademis. menekankan inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). namun perbedaan yang menonjol adalah inovasi lebih melihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. pengembangan. Bahkan secara tegas World Bank (2010). 18 Tahun 2002 Ketiga persyaratan di atas dirumuskan dan tercakup dalam penyusunan peraturan perundangan-undangan. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”. Aspek Sosiologis Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Pengertian inovasi versi UU No. Berbagai jenis instrumen kebijakan yang pas untuk digunakan. Umumnya hanya menghasilkan atau merekomendasikan prinsip dasar dan/atau taksonomi kebijakan sebagai bentuk intervensi yang dibutuhkan dari pihak pemerintah.000.

cakupan wilayah dari suatu sistem inovasi sebaiknya tidak berbasis pada satuan wilayah administrasi pemerintahan (provinsi. kecamatan.2. tetap saja sering tidak efektif dalam implementasinya. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. serta kemampuan pembiayaan dan infrastruktur pembangunan lainya yang telah dimiliki atau yang secara rasional akan dapat dikelola. tetapi sebaiknya lebih berbasis pada satuan kawasan pembangunan perekonomian. Selain itu pendekatan sosial- 76 Naskah Akademik Perubahan UU No. termasuk: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. kabupaten. 4. Pendekatan ini dapat dilakukan pula untuk komoditas perkebunan dengan volume dan nilai produksi yang lebih besar sehingga memberikan kontribusi yang significant bagi perekonomian nasional (misalnya sawit dan karet). atau dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan di wilayah Indonesia bagian timur. desa). walaupun didukung dengan regulasi yang kuat. Reorientasi Arah dan Prioritas Riset Inovasi nasional di Indonesia wajib berbasis pada potensi sumberdaya nasional. yang kondisinya dalam berbagai dimensi sangat berbeda dengan Indonesia. MP3EI juga menganut pembangunan ekonomi berbasis wilayah yang membagi NKRI menjadi enam koridor dan sekaligus juga mengangkat komoditas tertentu sebagai fokus pembangunan pada masing-masing dari enam koridor ekonomi tersebut. Kebijakan yang tak kentara warna Indonesianya. dirancang untuk mendukung kegiatan ekonomi di lahan sub-optimal basah (lebak dan pasang surut). Luasnya wilayah nusantara dan keragaman potensi sumberdaya merupakan alasan yang rasional untuk membangun sistem inovasi yang lebih operasional pada wilayah cakupan yang lebih kecil (sekarang digunakan terminologi Sistem Inovasi Daerah. kota. 18 Tahun 2002 . atau wilayah laut dengan karakteristik marine ecology yang khas. Namun demikian. Pengembangan sistem inovasi tentu perlu diserasikan dengan realita strategi pembangunan bidang perekonomian tersebut. baik itu terfokus pada komoditas tertentu yang bernilai ekonomi tinggi ataupun pada potensi sumberdaya lahan atau laut dengan karakteristek yang khas. Teori inovasi yang tidak mengakar pada realita Indonesia akan sangat berisiko jika dijadikan pijakan dalam merumuskan kebijakan sistem inovasi Indonesia. misalnya pada hamparan lahan dengan karateristik agroekosistem tertentu yang menopang pembangunan ekonomi berbasis pertanian.1. baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. atau disingkat SIDa) atau sistem inovasi yang secara spesifik fokus pada potensi ekonomi tertentu. atau dapat juga untuk satuan kawasan dengan karakteristik sosio-ekonomi-kultural masyarakatnya yang spesifik. Pengembangan inovasi daerah yang berbasis agroekosistem lahan misalnya. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional.Teori sistem inovasi yang berkembang di Indonesia banyak yang diadopsi secara langsung dari sistem inovasi yang dianut oleh negara-negara maju. Karakteristik inovasi yang khas Indonesia perlu diformulasikan dengan tepat. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi.

issue-driven (Jepang). Selanjutnya Tatang Taufik menyebutkan. 2005). sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. Kedua keadaan tersebut juga mengakibatkan persaingan pasar yang semakin cepat dan kompleks. marketdriven (mulai jarang digunakan karena terkesan terlalu mengarah pada komersialisasi). Fokus dukungan dapat dilakukan pada aktivitas ekonomi tertentu yang diunggulkan. Tekanan persaingan global yang semakin meningkat. masyarakat. Kecenderungan global saat ini cenderung menggiring pengembangan teknologi lebih ke arah pemenuhan kebutuhan atau menyediakan solusi bagi permasalahan nyata yang ada di masyarakat. Istilah yang muncul untuk menggambarkan orientasi riset dan pengembangan teknologi sesuai kebutuhan pengguna ini cukup beragam. pengembangan sistem inovasi di Indonesia perlu didukung pengembangan teknologi yang lebih terarah. antara lain demand-driven. Dikotomi pilihan pengembangan sistem inovasi pada tingkat nasional dengan tingkat daerah/lokal seharusnya tidak perlu terjadi. c. b. Selain berbasis pada potensi sumberdaya nasional atau lokal. 77 Naskah Akademik Perubahan UU No. Keragaman istilah ini disebabkan adanya perbedaan aspek atau dimensi yang ingin ditekankan. Pengembangan inovasi daerah dapat difokuskan pada pengembangan sistem inovasi yang lebih teknis dan operasional sesuai kebutuhan ataupun unggulan yang akan dikembangkan di daerah. dan evidence-based (mulai digunakan oleh komunitas ilmu sosial atau pihak yang melihat teknologi dari perspektif ilmu sosial). yakni terutama untuk menyejahterakan rakyat sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi. mission-driven (Swedia). ataupun pemerintah. Keragaman istilah atau terminologi yang digunakan ini menunjukkan perlunya reorientasi dalam pengembangan teknologi untuk menopang sistem inovasi dalam upaya meningkatkan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian. Produk yang semakin kompleks dan memilki siklus hidup yang semakin pendek karena cepatnya kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan konsumen. penguatan daya saing ini menjadi semakin relevan apabila dikaitkan dengan kecenderungan sebagai berikut: a. needdriven. Pengembangan inovasi nasional memberikan ‘template’ sebagai acuan untuk pengembangan inovasi daerah. meskipun esensinya sama yakni mendorong agar pengembangan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi.ekonomi-budaya dilakukan untuk masyarakat pengrajin dan industri ukiran kayu di Jepara atau masyarakat dengan budaya yang khas seperti di Bali. Kemampuan inovasi juga merupakan faktor penguatan daya saing yang sangat penting (Taufik. untuk dapat dikelola dan dievaluasi kinerjanya secara lebih baik. baik industri. Indonesia tentunya harus berada dalam mainstream ini jika secara sungguh-sungguh ingin mewujudkan sistem inovasi nasional ataupun daerah yang berkontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi dengan harapan dapat pula meningkatkan kesejahteraan rakyat. sehingga tujuan pembangunan nasional yang sifatnya universal dapat dikawal. 18 Tahun 2002 .

18 Tahun 2002 . [2] jumlah peneliti yang banyak tidak otomatis berarti akan banyak teknologi bermanfaat yang dihasilkan.2. Idealnya. malah dapat menyesatkan. karena selain tergantung pada produktivitas peneliti. tuntutan konsumen yang semakin tinggi. dimana tekanan atas biaya cenderung meningkat. dengan derajat penalaran akademik yang tinggi. dan sensitif terhadap dinamika persoalan dan kebutuhan masyarakat. tetapi merupakan hasil kerja kelompok ‘kecil’ peneliti pada satu laboratorium atau kolaborasi peneliti antar-laboratorium. tetapi sesungguhnya basis argumennya sangat dangkal. populasi pengguna teknologi yang terampil jauh lebih banyak dibandingkan dengan populasi pengembang teknologi. Kecenderungan industri saat ini. Pangsa pasar yang cenderung menurun dan semakin jenuh akan lebih mengandalkan persaingan harga dengan nilai tambah yang relatif rendah. Selain untuk meningkatkan kecerdasan akademik. adalah tenaga teknis yang berperan mengaplikasikan teknologi dalam proses produksi barang atau jasa. Peter Drucker menekankan bahwa setiap organisasi harus mempunyai suatu kompetensi. Walaupun angka ini mungkin mengindikasikan kemampuan negara tersebut untuk mengembangkan teknologi. Dalam situasi demikian. serta penguatan kelembagaan yang bertanggung jawab dalam pengembangan teknologi. dari upaya sinkronisasi program penyiapan sumberdaya manusia yang relevan dan kompeten. Lembaga penyelenggara pendidikan tinggi akan menjadi lembaga penunjang yang menentukan dalam konteks ini. Rasio yang pas antara pengembang-pengguna teknologi tentu tergantung pada jenis teknologi yang diimplementasikan.Kemampuan inovasi yang rendah akan menempatkan badan usaha ataupun industri bersaing pada segmen pasar yang umumnya konvensional. pendidikan juga diarahkan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa. 4. Tidak semua disiapkan menjadi pengembang teknologi yang handal. tantangan utama bagi perusahaan di lingkungan bisnis yang kompleks dan persaingan global yang semakin ketat adalah mengembangkan dan mempertahankan keunggulan daya saing. Hal ini bisa dicermati dari beberapa perspektif: [1] teknologi yang berdampak signifikan dan mampu mengubah ‘wajah’ dunia dalam berbagai bidang bukan merupakan hasil kerja kolektif seluruh populasi peneliti suatu negara. juga ditentukan oleh relevansi substansi yang diteliti. Menurut EISDISR (2001). optimalisasi fungsi kelembagaan pengelola pendidikan. Persentase jumlah peneliti atau perekayasa terhadap total populasi suatu negara sering dipakai sebagai indikator kemajuan inovasi nasional negara yang bersangkutan. Pengguna teknologi ini antara lain. pasar dan teknologi berubah sangat cepat. Pendidikan perlu diupayakan tidak hanya peningkatan mutunya tetapi juga dibarengi dengan upaya peningkatan relevansinya terhadap kebutuhan nyata. 78 Naskah Akademik Perubahan UU No.2. dan siklus produk atau time-to-market yang semakin pendek. Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi Strategi ini mempunyai rentang cakupan yang lebar. yaitu inovasi. Implementasi inovasi nasional juga memerlukan adanya pengguna teknologi yang terampil.

18 Tahun 2002 . Kalaupun jenis teknologinya sesuai tetapi seringkali tidak kompetitif secara ekonomi untuk diaplikasikan. yakni melakukan pengembangan teknologi dahulu. Pada tahap awal. Pendekatan yang dipilih tentunya juga berubah arah. inovasi tidak berkembang tanpa adanya kerjasama (co-operation).dan [3] sebagian besar peneliti bekerja di perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah yang mayoritas pada saat ini lebih fokus pada riset akademik yang tak terkait langsung dengan persoalan nyata. 2005). baru kemudian ‘ditawarkan’ kepada industri untuk menggunakannya. Kesiapan sumberdaya manusia wajib dibarengi dengan langkah reorientasi pengembangan teknologi dari supply-push ke demand-driven. tetapi lebih perlu menyiapkan tenaga-tenaga pengembang teknologi yang punya basis kapasitas akademik yang hebat dan juga sensitif terhadap dinamika permasalahan dan kebutuhan bangsa. Inovasi tidak hanya bergantung pada bagaimana perusahaan. yakni jika sebelumnya pihak pengembang teknologi menjadi penentu arah dan prioritas pilihan teknologi. proses reorientasi dalam pengembangan kerjasama ini tentunya belum akan berjalan mulus. kuantitas menjadi tidak penting. Jika selama ini aktor penentu arah inovasi nasional diperankan secara ‘terlalu’ dominan oleh para pengembang teknologi. Selanjutnya Tatang menggaris bawahi. Penyebab utamanya adalah ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan atau yang dihasilkan dengan kebutuhan industri. 2005). bahkan adakalanya antara perusahaan yang saling bersaing. yang perlu adalah Indonesia mampu dan produktif dalam menghasilkan solusi teknologi bagi permasalahan bangsa. akibatnya hasil riset yang diperoleh masih sulit untuk diadopsi oleh industri. maka peran ini di masa yang akan datang perlu dipercayakan pihak pengguna teknologi. Namun demikian perlu diperhatikan pula. sehingga pendekatan yang diterapkan adalah supply-push. Meski inovasi didorong oleh kompetisi atau persaingan. Pendekatan ini ternyata tidak efektif untuk meningkatkan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. dari supply-push menjadi demand-driven. inovasi seringkali bukan hanya menekankan technology push (driven) atau demand pull (driven) secara “hitam-putih” yang tegas. Kualitas dimaksud mencakup basis mutu akademik dan relevansi keahliannya terhadap kebutuhan nyata. Untuk konteks ini. perguruan tinggi dan para pembuat kebijakan bekerja. Implikasi operasionalnya adalah Indonesia tidak perlu terlalu berambisi untuk meningkatkan angka persentase jumlah peneliti per sejuta penduduk (atau indikator lain yang serupa). tetapi lebih pada aspek kualitasnya. Aliran teknologi banyak yang tersumbat. Strategi untuk memperlancar aliran teknologi dalam inovasi nasional dan untuk meningkatkan intensitas kolaborasi antara pengembang dan pengguna teknologi adalah melakukan reorientasi. Indonesia tidak perlu ‘kelihatan’ baik secara statistik. Hal ini terlihat dari Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia tahun 79 Naskah Akademik Perubahan UU No. namun juga bagaimana mereka bekerjasama (Tatang. tetapi lebih merupakan proses di antaranya atau kombinasi keduanya (Tatang. Argumentasi di atas mencoba mengingatkan bahwa aspek yang paling penting untuk mendapat perhatian dalam proses penyiapan sumberdaya manusia yang diproyeksikan untuk menjadi pelaku utama pengembangan teknologi bukan terletak pada aspek kuantitasnya. inovasi juga merupakan proses yang kompleks dan dinamis yang sering menunjukkan paradoks.

bahwa inovasi memerlukan lebih hanya sekedar litbang. sedangkan kegiatan yang lebih bersifat hilir (difusi teknologi dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi) untuk mendorong agar hasil risetnya diadopsi oleh pengguna masih sangat kurang diminati. Hal ini antara lain terlihat. sedangkan dua program terakhir merupakan upaya mentransfer dan aplikasi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengguna teknologi. Pergeseran mindset selalu membutuhkan waktu relatif panjang. riset terapan. Akademisi dan periset masih nyaman di wilayah riset akademik (dasar dan terapan). Produk barang dan jasa semakin ‘sarat dengan pengetahuan’ ( knowledge intensive).16 persen. 2010).84 persen. Hal ini sesuai pula dengan kecenderungan yang diungkapkan OECD (1999). pada skala 2. karenanya proses ini akan berlangsung secara bertahap (gradual). Pengalaman Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) melalui program insentifnya menjadi bukti empiris tentang sulitnya menggeser kegiatan para akademisi dan periset keluar dari zona nyamannya (comfortable zone). yakni program riset dasar. tetapi juga tidak selalu ‘sarat dengan litbang’ (R&D intensive). dari riset yang dilakukan untuk pemuasan rasa keingin tahuan akademik menjadi riset untuk menjawab permasalah nyata yang dihadapi masyarakat dan negara. sedangkan proposal untuk difusi dan aplikasi iptek hanya 10. sama dengan Vietnam (World Bank. menjadi lebih fokus untuk menjawab permasalahan nyata atau memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat pengguna. Dengan upaya yang 80 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ekspektasi pada tahap awal adalah mulai tumbuhnya kesepakatan bahwa pengembangan teknologi perlu berubah arah. proposal untuk riset pengembangan iptek mencapai 89. dan penguatan kapasitas iptek sistem produksi. Dua program yang pertama merupakan pengembangan iptek. Pada tahun 2008. 18 Tahun 2002 . 7 6 5 4 3 2 1 0 Singapura Malaysia Philipina Vietnam Resistensi internal sangat mungkin untuk muncul di kalangan akademisi dan periset dalam proses pergeseran prioritas riset dari curiousity-driven research menjadi goal-oriented research. Akan ada resistensi (penolakan) dari pihak pengembang teknologi dan adanya keengganan di pihak pengguna teknologi. difusi iptek.2007. saat Kementerian Riset dan Teknologi secara terbuka dan kompetitif menawarkan empat program insentif kepada komunitas akademik di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga riset pemerintah.8.

atau pemerintah. Sangat ironis jika untuk memenuhi kebutuhan solusi teknologi untuk masalah-masalah sederhana (misalnya di sektor pertanian). negara harus mengeluarkan devisa yang signifikan karena kuatitas kebutuhannya yang masif. pembiayaan kegiatan riset diposisikan tidak hanya untuk mendukung upaya pencerdasan bangsa. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah artikel pada jurnal sains dan teknik tahun 2003.95 persen. namun jauh di bawah Malaysia dan Thailand. goal-oriented research harus dimaknai sebagai riset akademik yang tidak hanya potensial untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Pengembang teknologi. Indonesia masih tergantung pada pasokan teknologi asing. Sejatinya. Memperhatikan upaya yang telah dilakukan. Capaian akademik seringkali lebih menarik dibandingkan dengan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan atau menyediakan solusi untuk persoalan yang dihadapi industri. tetapi juga sekaligus dapat secara nyata menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. dimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara harus berpotensi menggerakkan perekonomian domestik. Sudah saatnya. para peneliti Indonesia menghasilkan 178 tulisan. Angka ini tidak jauh berbeda dengan Filipina. baik di akademisi maupun peneliti. tetapi juga sekaligus sebagai investasi untuk menumbuhkan kemandirian bangsa dalam menyediakan solusi teknologi bagi masalah-masalah mendasar yang menyangkut hajat hidup asasi masyarakat. strategi yang perlu dilakukan dalam rangka memicu dan memacu pergeseran preferensi atau prioritas riset ini antara lain adalah: [1] meluruskan pemahaman tentang status ilmiah goal-oriented research dan [2] memberikan insentif yang lebih baik bagi pelaksanaan riset untuk solusi permasalahan nyata ini. masyarakat. Merupakan langkah yang tepat jika Pemerintah lebih mengarahkan bantuan pembiayaan risetnya pada kelompok goal-oriented research. Meski demikian secara akademik. Kenyataan ini tentu harus dibenahi. ternyata akademisi dan peneliti Indonesia masih belum tergolong produktif dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Salah satu persoalan yang serius saat ini adalah rendahnya sensitivitas atau kepedulian pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi. tetapi lebih disebabkan karena riset ini telah diseleweng-kan pemaknaannya oleh kepentingan-kepentingan lain yang bersifat non-scientific. Riset yang direncanakan lebih terkait dengan latar belakang akademik peneliti atau akademisi yang bersangkutan dan mengarah pada topik yang sedang populer di kalangan akademisi.lebih intensif untuk menumbuhkan minat komunitas akademisi dan peneliti untuk berperan dalam kegiatan difusi dan aplikasi iptek. terlebih lagi pada saat negara sedang mengalami krisis ekonomi. sulit bagi pengembang teknologi di 81 Naskah Akademik Perubahan UU No. pada tahun 2009 proposal untuk kegiatan ini meningkat menjadi 24. 18 Tahun 2002 . jarang melakukan observasi secara cermat persoalan ataupun kebutuhan pihak pengguna. Kecenderungan lainnya adalah memilih topik-topik yang terkesan maju secara teknologi tetapi tidak terkait langsung dengan kebutuhan atau persoalan nyata. Apalagi jika untuk mengimpor teknologi asing tersebut (yang sebetulnya dalam tataran teknologi tergolong sederhana). Kekeliruan pemahaman tentang ‘riset pesanan’ disebabkan bukan oleh makna hakiki dari goal-oriented research tersebut.

terutama pembangunan perekonomian. pemerintah membutuhkan teknologi canggih untuk mewujudkan kemandirian dalam sektor pertahanan dan keamanan negara. Sesungguhnya rentang spektrum teknologi yang berbasis kebutuhan atau teknologi tepat guna dapat bervariasi dari teknologi yang sangat sederhana sampai dengan teknologi super canggih. Hasil riset dengan reputasi dan pilihan topik seperti ini jelas akan berpeluang untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah. Sebagai contoh. . yang belum termotivasi untuk melaksanakan riset yang berkualitas dan masih cenderung menganggap riset hanya sebagai ritual akademik. karena faktanya realita persoalan dan kebutuhan teknologi juga sangat variatif. termasuk pemerintah.Indonesia untuk berada posisi terdepan secara akademik. Berbagai kendala antara lain kurangnya alokasi anggaran untuk pembiayaan riset dan kurang memadainya peralatan dan fasilitas riset. sebagaimana juga kekeliruan dalam memahami definisi teknologi tepat guna (appropriate technology) yang sering dianggap identik dengan teknologi sederhana. untuk memberikan dukungan pembiayaan yang lebih besar akan lebih mungkin terwujud jika pengembang teknologi juga mampu membuktikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. 82 Naskah Akademik Perubahan UU No. sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan royalti. 18 Tahun 2002 Perlu diyakini bahwa perhatian berbagai pihak. kendala yang lebih serius terletak pada mindset para pengembang teknologi tersebut. 600 400 200 0 Negara Singapura Malaysia Filipina Vietnam Laos Riset yang dirancang sesuai kebutuhan nyata dapat menjadi riset yang berkualitas ilmiah tinggi apabila dilaksanakan dengan metodologi yang tepat dan dengan menjunjung tinggi etika akademik. Kekeliruan pemahaman yang sering terjadi adalah bahwa teknologi yang dihasilkan dari riset yang berbasis kebutuhan nyata statusnya akan kurang canggih. Namun sesungguhnya. sebaliknya petani membutuhkan teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsinya untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatannya. dan dapat menghasilkan paten yang diminati pengguna (karena relevan dengan kebutuhan sehingga berpeluang untuk diaplikasikan dalam proses produksi).

4. termasuk bidang perekonomian. Kapasitas adopsi pengguna teknologi bersifat multi dimensi. untuk memperbesar peluang pemanfaatan teknologi perlu dilakukan perbaikan di kedua sisi. pembudidaya ikan.Di antara banyak perubahan yang perlu dilakukan dalam rangka penguatan inovasi. efek bola salju akan terjadi. Kapasitas adopsi dari dimensi ekonomi/finansial akan lebih sulit ditingkatkan. yakni kemampuan atau kapasitas adopsi dari pengguna terhadap teknologi potensial yang dihasilkan.3. termasuk dimensi teknis. sosiokultural. Relevansi dan produktivitas riset akan menjadi mesin produksi teknologi yang secara nyata akan meningkatkan kontribusi terhadap berbagai sektor pembangunan nasional. salah satu yang urgensinya paling tinggi adalah meningkatkan sensitivitas dan kepedulian para pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi industri. Rendahnya 83 Naskah Akademik Perubahan UU No.2. yakni meningkatkan relevansi teknologi yang dibarengi dengan upaya meningkatkan kapasitas adopsi pengguna. peternak. Kondisi yang diharapkan sebagai modal untuk memperkuat inovasi nasional adalah pendekatan demand-driven dapat menjadi mainstream pengembangan teknologi domestik. Persoalan rendahnya kapasitas adopsi teknologi. secara umum dapat dijumpai pada masyarakat pengguna teknologi di Indonesia. namun kebijakan pemerintah terkait penyediaan kredit modal usaha dapat menjadi cara efektif untuk membantu pengguna teknologi dalam meningkatkan kapasitas adopsinya dari dimensi finansial. Oleh sebab itu. Satu faktor yang menentukan. Harapan akhirnya adalah teknologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan memajukan peradaban bangsa sebagaimana yang diamanahkan oleh Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945. dan kemungkinan juga politik. dan pengrajin atau berbagai pelaku usaha skala kecil lainnya. Peningkatan kapasitas adopsi untuk dimensi teknis relatif mudah dilakukan. Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik Sensitivitas dan kepedulian pengembang teknologi yang diikuti dengan perencanaan dan pelaksanaan riset yang tepat akan membuahkan teknologi yang relevan. Dukungan pembiayaan aktivitas riset akan semakin tumbuh. karena kepercayaan pihak pengguna teknologi akan semakin meningkat. masyarakat. sehingga persentase teknologi yang relevan kebutuhan semakin meningkat dan kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional semakin dirasakan publik. Upaya peningkatan relevansi teknologi dengan kebutuhan nyata belum sepenuhnya menjamin bahwa teknologi akan diadopsi pengguna. 18 Tahun 2002 . Jika semakin banyak aktor pengembang teknologi yang mengikuti alur ini. Pengguna teknologi ikut menikmati kontribusi teknologi terhadap pemenuhan kebutuhan dan menjadi alternatif solusi persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi tersebut. maka Indonesia akan memulai era baru dalam mengembangkan inovasi nasional. dan pemerintah. baik dari pemerintah maupun dari dunia usaha. Peningkatan kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi akan memberikan umpanbalik (feedback) yang positif. termasuk komunitas petani. finansial. misalnya melalui pelatihan atau pendidikan formal bagi para aktor pengguna. nelayan.

tidak hanya persoalan rendahnya kapasitas adopsi. untuk meningkatkan adopsi teknologi. dan [3] akses pasar yang terjamin. atau masih diyakini belum akan membuahkan hasil. juga dikarenakan rendahnya kebutuhan teknologi. 18 Tahun 2002 . Pasar domestik Indonesia yang besar merupakan potensi untuk menjadi ‘penyerap’ bagi semua produk barang dan jasa yang dihasilkan industri dalam negeri. Oleh sebab itu. dari kecenderungan dominan perdagangan menjadi dominan industri produsen barang dan jasa. bisnis di Indonesia memerlukan transformasi. Kelembagaan intermediasi ini belum berfungsi secara efektif. sumberdaya manusia.adopsi teknologi. serta cukup tersedia sesuai siklus produksi. Oleh karena itu. sesuai dengan spesifikasi teknis. harga yang pantas (dan relatif stabil). Belum adanya lembaga intermediasi yang diinisiasi oleh pihak bisnis maupun masyarakat dapat menjadi indikasi bahwa kegiatan ini masih dianggap belum menarik. hampir semua lembaga intermediasi terbentuk atas inisiatif pemerintah dan sebagian juga diawaki oleh aparatur pemerintah. pada fase awal diperlukan dukungan insentif tambahan agar perdagangan bertransformasi ke arah industri atau produsen barang dan jasa. karena berbagai kondisi yang terjadi saat ini masih belum ‘favorable’ untuk berfungsinya kelembagaan intermediasi. Pada saat ini. Hal ini juga dapat dijumpai pada pelaku bisnis Indonesia. dan teknologi yang sesuai secara teknis serta kompetitif secara ekonomi. jika prasyarat dasarnya belum terpenuhi. yakni: [1] akses untuk mendapatkan bahan baku yang cukup. berbasis sumberdaya dalam negeri. dengan aktivitas utama perdagangan. Peningkatan investasi dan akses permodalan untuk pengembangan dan/atau penumbuhan industri baru berbasis teknologi nasional perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dan difasilitasi perkembangannya. Ketersediaan teknologi domestik yang secara teknis sesuai dengan kebutuhan dan secara ekonomi menguntungkan akan dibutuhkan industri produsen barang dan jasa. Penguatan inovasi tidak dapat berfungsi optimal apabila kegiatan bisnis yang dominan masih berupa perdagangan. bukan industri manufaktur. Percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh pengguna di dalam negeri dan upaya mendorong arus informasi kebutuhan teknologi untuk pihak pengembang memerlukan peran aktif dari lembaga intermediasi. [2] akses untuk mendapatkan modal. yakni adanya relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan industri yang merefleksikan preferensi dan daya beli konsumen. Lembaga intermediasi berperan sebagai penghubung antara lembaga pengembang teknologi dengan pengguna teknologi. Secara umum. penguatan industri dalam negeri merupakan salah satu pilar utama pendukung strategi penguatan inovasi nasional. Namun demikian. selain disebabkan teknologi yang tidak relevan. Kondisi ini menjadikan upaya riset dan pengembangan teknologi yang sudah diarahkan sesuai dengan kebutuhan nasional. Kondisi lain 84 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kelompok industri ini yang paling berpotensi untuk mengadopsi teknologi domestik yang telah dikembangkan. dan berorientasi pasar domestik menjadi tidak effektif. Persepsi ini sesungguhnya dapat dipahami. Aksesibilitas untuk tiga kunci sukses industri produsen perlu dijamin. Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan kebutuhan pasar domestik perlu lebih diintensifkan. diperlukan transformasi dari pedagang menjadi produsen.

18 Tahun 2002 . sehingga berpotensi menjadi masalah jika dikomersialisasikan. dibutuhkan pula regulasi dan fasilitasi pemerintah dalam menyiapkan sumberdaya manusia sesuai kebutuhan untuk pengembangan teknologi dan kebutuhan tenaga terampil untuk aplikasi teknologi.2. yakni dalam bentuk: [1] regulasi yang mendukung dan [2] fasilitasi percepatan laju proses reorientasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya ‘gesekan’ yang tidak perlu antar pihak terkait. kalaupun masuk ke wilayah industri produsen barang/jasa. tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. karena merubah karakter manusia (terkait marketing skills) lebih membutuhkan waktu dibandingkan dengan menambah pengetahuan tentang teknologi tertentu. peran pemerintahan sangat dibutuhkan. [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya. dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya. [2] preferensi komunitas bisnis Indonesia masih cenderung sebagai pedagang daripada sebagai produsen. dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam implementasi penguatan inovasi nasional. 4. Dalam 85 Naskah Akademik Perubahan UU No. Peran regulasi pemerintah ditujukan untuk mengawal agar implementasi penguatan inovasi secara konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. Ekosistem Inovasi yang Kondusif Selama proses transisi pergeseran orientasi arah dan prioritas riset. maka lebih cenderung memilih memproduksi barang di bawah lisensi asing. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan. Upaya ini dapat dilakukan dengan merekrut peneliti/akademisi. bukan atas usulan pihak industri. terutama pada jenjang pendidikan tinggi dan menengah kejuruan. proporsional kontribusinya. dan dilatih ketrampilan pemasaran-nya. melalui program pendidikan yang berkesesuaian. Opsi kedua kelihatannya lebih baik.yang kurang kondusif bagi lembaga intermediasi adalah: [1] sistem perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual masih belum membudaya di kalangan pengembang teknologi di Indonesia. Lembaga intermediasi perlu diawaki oleh personel yang memahami tentang teknologi dan sekaligus punya kemampuan persuatif yang tinggi dan terampil dalam menjual. atau merekrut tenaga pemasaran dan diperkaya wawasan teknologinya. Bentuk fasilitasi dari pemerintah yang lain adalah dukungan untuk kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Berkaitan dengan upaya membangun inovasi nasional secara utuh.4. dan [3] pelaku industri dalam negeri belum percaya atas kehandalan teknologi domestik hasil karya anak bangsa. sehingga lebih cenderung membeli teknologi asing.

keefektifan dan relevan (effectiveness dan relevance). (2) Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik. Bentuk regulasi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi seluruh produk barang/jasa di Indonesia. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. merupakan modal kuat dalam menuju Indonesia yang lebih sejahtera di masa yang akan datang. kepabeanan. dimana insentif tersebut dapat berbentuk insentif perpajakan. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. koheren (coherence). bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. inovasi. Agar diperhatikan apapun bentuk atau format riset kolaborasi. akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat. dan berdimensi pembangunan (development dimension). Dalam PP No. Dengan demikian. pihak industri hanya diposisikan untuk memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi.beberapa kasus. 86 Naskah Akademik Perubahan UU No. Jika lintasan (pathway) ini ditempuh dengan baik. SNI telah memenuhi WTO Code of Good Practices. penerapan SNI diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan domestik tetapi juga untuk kepentingan perdagangan global. yakni dirumuskan berdasarkan asas keterbukaan (openess). 35 Tahun 2007 dinyatakan badan usaha yang mengalokasikan pendapatannya untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. dan Difusi Teknologi. maka ada beberapa komponen kebijakan yang dibutuhkan untuk mewujudkan adanya sistem inovasi nasional (SINas) yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. Inovasi. dan pemerintah. transparansi (transparency). Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak dalam bentuk pembiayaan bersama. Strategi ini mencakup: (1) Sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi industri. 18 Tahun 2002 . konsensus dan tidak memihak (consensus and impartiality). dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. yakni dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. misalnya dukungan pembiayaan dari pihak industri untuk kegiatan riset dapat dianggap sebagai bagian dari pembayaran pajak yang menjadi kewajibannya (tax deductible). Adanya rasa bangga dan percaya diri warga negara sebagai sumberdaya manusia penggerak pembangunan yang diimbangi dengan terciptanya lingkungan yang kondusif untuk berusaha. Berdasarkan telaah yang telah diuraikan di atas. maka tak akan ada lagi keraguan bahwa teknologi domestik akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan nasional dan standarisasi akan menyempurnakan upaya penguatan inovasi di Indonesia. tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Upaya ke arah ini sesungguhnya sudah dilakukan pemerintah. masyarakat. Regulasi pemerintah dapat pula berupa insentif bagi kedua belah pihak untuk berkolaborasi.

Kemampuan dan kemandirian pengembangan teknologi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata menjadi modal dasar implementasi penguatan inovasi di Indonesia. Walaupun sudah cukup lama diwacanakan. Keberhasilan penguatan inovasi nasional akan ditakar dari kelancaran aliran teknologi (fluidity of technology flow). dan (4) Dukungan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk memfasilitasi. 18 Tahun 2002 . seluruh strategi harus dilaksanakan secara interaktif dan sinambung. menstimulasi. yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan upaya memberikan solusi atas permasalahan nyata yang dihadapi rakyat.2.5. Oleh sebab itu. iptek akan selalu dibutuhkan dalam pembangunan semua sektor. yakni menganggap bahwa semakin maju teknologi yang dikuasai maka semakin baik penguasaan inovasi suatu negara.(3) Vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh industri dalam negeri dan sebaliknya juga arus informasi kebutuhan teknologi kepada pihak pengembang teknologi. tetapi membangun masyarakat berbasis pengetahuan kelihatannya masih akan menempuh perjalanan panjang. Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional Terlepas dari intensitas dan besaran (magnitude) kontribusinya. Keberhasilan membangun inovasi nasional hanya dapat dicapai jika semua strategi ini dapat dieksekusi dengan baik. Dengan demikian isu utamanya bukan terletak pada ada atau tidak adanya peranan teknologi dalam pembangunan nasional. Oleh sebab itu. Pengembangan teknologi nasional juga perlu mempertimbangkan secara cermat kapasitas adopsi pengguna teknologi dalam negeri. yang penting dilakukan adalah merancang inovasi nasional yang tepat. serta mendekatkan hubungan dengan kelembagaan pendukung lainnya. Keempat strategi ini mempunyai keterkaitan satu sama lain. Inovasi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata perlu didampingkan secara paralel dengan program pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas dan sensitif terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa dan kebutuhan 87 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan teknologi nasional perlu mengutamakan pemberdayaan dan pendayagunaan sumberdaya manusia Indonesia sebagai tenaga penggeraknya. tetapi terletak pada bagaimana cara agar teknologi yang dikembangkan dapat efektif dan efisien dalam mendukung pembangunan nasional di semua sektor. Perjalanan panjang tersebut perlu diawali dengan keberhasilan mengembangkan dan memperkuat inovasi nasional di Indonesia yang mampu mendorong peradaban dan menyejahterakan rakyat. memanfaatkan sumberdaya alam nasional sebagai bahan baku atau tapak operasionalnya (operational site). dan mengakselerasi interaksi antar-aktor utama dalam penguatan inovasi nasional. Kekeliruan persepsi sangat sering dan umum terjadi dalam konteks penilaian kinerja dan kontribusi inovasi. Teknologi dengan warna Indonesia yang kental ini diyakini akan lebih berpeluang untuk mengalir lancar dari pihak atau lembaga pengembang teknologi ke pihak pengguna teknologi. bukan berdasarkan kecanggihan teknologi yang mampu dikembangkan. 4.

kolektif. dengan ekstensi pada kapabilitas lembaga pengembang teknologi tersebut untuk merangkul mitra potensialnya. sebaliknya ukuran baku tentang tingkat keamanan nasional masih belum banyak dibahas. subyek survei atau risetnya adalah industri-industri yang bergerak dalam berbagai sektor. Asumsi-asumsi tersebut umumnya diuji berdasarkan korelasi masingmasing indikator-antara yang dianggap berhubungan. semua indikator-antara hanya dapat dilihat sebagai titik-titik yang tercerai berai dan ‘diasumsikan’ terhubung satu sama lain oleh garis-garis imajiner yang diyakini sebagai bagian dari sistem tersebut. yakni kondisi aman. Indikator-antara lainnya dilihat dari sisi pengguna teknologi. Hasil akhir yang diharapkan dari segala bentuk upaya dalam pengembangan dan penguatan inovasi adalah peningkatan kesejahteraan rakyat. yang dapat mengganggu kegiatan produktif. Beberapa indikator-antara yang sering digunakan dalam mengevaluasi kehandalan penguatan inovasi antara lain: jumlah publikasi ilmiah per juta penduduk. Akan lebih realistis jika indikator keberhasilan implementasi inovasi nasional hanya didasarkan atas keamanan dimensi kedua. jumlah kerjasama penelitian antara universitas dan industri. Ilmu statistik merupakan alat yang ‘handy’ untuk pekerjaan ini. Nilai-nilai positif atau kecenderungan peningkatan yang ditunjukkan oleh semua indikator-antara belum dapat secara otomatis diekstrapolasikan untuk sampai pada kesimpulan bahwa upaya pengembangan dan penguatan inovasi telah berjalan baik. jumlah publikasi yang ditulis bersama oleh akademisi dan pelaku industri (co-authored publication). tetapi upaya kuantifikasi tingkat kesejahteraan rakyat lebih berkembang dan diterima secara luas.pembangunan nasional. dan terjaminnya kondisi yang kondusif untuk berinvestasi. Meskipun ukuran kesejahteraan rakyat dan keamanan nasional bersifat relatif. efektif dan produktif. Indikator keberhasilan dalam menciptakan kondisi aman antara lain: tidak terjadinya gerakan separatisme di wilayah NKRI. yakni: [1] rasa aman yang lebih bersifat internal. dan sulit dideteksi. dan persentase penerimaan univesitas yang berasal dari sumber non-pemerintah yang terkait dengan aktivitas dan hasil riset. terjaminnya keberlangsungan proses demokratisasi. Selain itu. Indikator-antara tersebut sesungguhnya baru melingkupi sisi pengembang teknologi. personal. mobilitas sumberdaya manusia antara kelembagaan riset atau universitas dengan industri. Dalam mengevaluasi suatu sistem yang utuh. minimalisasi dampak negatif dari gejolak masyarakat. besarnya penerimaan universitas atau lembaga riset yang berasal dari royalti. Indikator di kelompok ini antara lain: alokasi dana oleh industri untuk kegiatan riset internal perusahaan atau untuk mendukung 88 Naskah Akademik Perubahan UU No. Jika kedua hal ini dilakukan secara serasi dan saling mendukung maka cita-cita untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan diyakini dapat terwujud. Keamanan mempunyai dua dimensi yang berbeda. dan [2] kondisi aman yang lebih bersifat eksternal. misalnya dalam bentuk demonstrasi anarkis. jumlah patent yang didaftarkan atau diperoleh (granted). terkendalinya dinamika politik. dan dapat dideteksi berdasarkan persepsi indera penglihatan dan pendengaran ( audiovisual perception). indikator lainnya dalam pengembangan dan penguatan inovasi nasional adalah terjaminnya keamanan nasional. 18 Tahun 2002 .

karena hanya mampu menjelaskan secara ‘segmented’. dan konsumsi atau penggunaan produk akhir oleh konsumen. Walaupun tentunya. 18 Tahun 2002 . identifikasi sumber informasi yang dianggap penting oleh industri dalam mengembangkan produk komersial. Banyak juga kajian mengenai inovasi yang telah dilakukan menggunakan indikator parsial ini. sisanya (residu) merupakan kontribusi faktor bukan modal maupun tenaga kerja yang disimpulkan sebagai kontribusi dari faktor teknologi.kegiatan riset di universitas dan lembaga riset eksternal. indikator utama keberhasilan pengembangan dan implementasi inovasi hanya dua. adopsi teknologi untuk proses produksi barang dan jasa. perlu diingat kembali bahwa ukuran kinerja inovasi adalah kesejahteraan rakyat. yakni peningkatan kesejahteraan rakyat dan terciptanya kondisi keamanan nasional. yakni modal dan tenaga kerja. Sebagai suatu sistem. Pendekatan parsial biasanya hanya mengarah untuk menghasilkan justifikasi bahwa suatu negara sebetulnya sudah melakukan upaya (dan telah ada tanda-tanda perbaikan) walaupun hasilnya belum memuaskan. yakni: pengembangan teknologi. Kemampuan dan tumbuhnya budaya masyarakat untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge-based society) dapat pula digunakan sebagai indikator tambahan untuk mengevaluasi performa penguatan inovasi di Indonesia. Dengan demikian untuk Indonesia. difusi teknologi dari pengembang ke pengguna. indikator keberhasilan pengembangan inovasi nasional menjadi kurang bermakna jika difragmentasi menjadi indikator-indikator antara atau indikator yang bersifat parsial. Banyak indikator keberhasilan yang dapat digunakan dalam mengevaluasi kinerja pada masingmasing komponen atau tahapan penguatan inovasi nasional. Total Factor Productivity (TFP) telah digunakan beberapa ekonom sebagai proxy untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. 4. interpretasi atas indikator-antara ini harus dilakukan dengan hati-hati. preferensi industri untuk mengembangkan teknologi sendiri atau membeli teknologi yang sudah mapan (established). tetapi hasilnya seringkali tidak atau kurang memuaskan. Aspek Filosofis 89 Naskah Akademik Perubahan UU No. Indikator lainnya yang dapat ditambahkan adalah tingkat kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan teknologi untuk pembangunan perekonomian dan pembangunan hankam. Namun demikian. walaupun secara teknis inovasi nasional dapat dibongkar menjadi empat komponen. sehingga perlu dilengkapi pula dengan pola distribusi pendapatan. Indikator-antara yang digunakan baik dari sisi pengembang maupun pengguna teknologi memang telah mengarah pada upaya menakar ‘potensi’ kedua b elah pihak untuk berkomunikasi dan berkolaborasi.3. Dasarnya adalah pertumbuhan ekonomi terjadi atas kontribusi dari dua faktor utama. bukan pertumbuhan ekonomi semata.

yakni hanya 90 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . peranan inovasi nasional dalam pembangunan perekonomian sangat ditentukan oleh intensitas dan kualitas interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan.Secara umum syarat filosofis dalam penyusunan peraturan perundang-undangan adalah apabila peraturan perundang-undangan dapat diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. Di Inggris.1. Hasil kajian Rosenberg dan Nelson (1994) terkait dengan jumlah paten universitas patut untuk disimak. Inisiatif pendirian OECD dilakukan oleh beberapa negara Eropa Barat plus Turki dan Amerika Serikat. terutama antara universitas atau lembaga riset dengan pelaku industri. seperti Amerika Serikat. Di Indonesia data seperti ini tidak mudah untuk didapatkan. yakni 12. 1995). atau sesuai dengan nilai-nilai positif yang tertinggi. [2] jumlah paten dan publikasi bersama antara akademisi dan pelaku industri.3. Nilai-nilai ini menjadi cita-cita hukum dan tujuan negara bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Australia. Selandia Baru. Korea. 1996). keanggotaan OECD telah bertambah dengan beberapa negara Eropa Timur. Dinamika Lingkungan Global Negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah lama memposisikan Sistem Inovasi Nasional (SINas) sebagai strategi penting dalam memajukan perekonomian melalui pemanfaatkan keunggulan teknologi negara masing-masing. Untuk menaksir intensitas interaksi tersebut. tetapi juga terjadi pada universitas di negara yang maju. Jepang. publikasi ilmiah yang ditulis bersama (co-authored) oleh peneliti universitas atau lembaga riset pemerintah dengan personel yang mewakili institusi bisnis terlihat secara konsisten meningkat antara tahun 1981 sampai 1994 (Hicks and Katz. Persentase paten universitas di Amerika Serikat secara relatif juga rendah. Publikasi yang ditulis bersama ini diasumsikan berakar pada hasil kolaborasi riset antara kedua pihak tersebut. antara lain dengan mengevaluasi: [1] porsi pendapatan universitas atau lembaga riset yang berasal dari kerjasama dengan industri dalam melakukan riset. walaupun persentasenya masih relatif rendah. Pengembangan inovasi nasional pada negara-negara OECD dan kajian akademik yang dilakukan oleh kelembagaan OECD telah menjadi referensi penting bagi dunia dalam memperlajari tentang upaya penguatan inovasi nasional dan kontribusinya bagi pembangunan perekonomian. Hasil survei yang dilakukan di Belanda selama periode 1989-1992 menunjukkan bahwa pendapatan universitas yang berasal dari kerjasama riset dengan pihak industri secara konsisten meningkat. Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya. [3] jumlah paten universitas atau lembaga riset yang dikomersialisasikan oleh industri. kelompok. dan Meksiko. karena ternyata bukan hanya perguruan tinggi dan lembaga riset di negara yang belum maju teknologinya saja yang ‘malas’ mendaftarkan paten. Namun saat ini. karena banyak kegiatan riset yang dilakukan industri bersama akademisi secara individual.4 persen pada tahun 1992 (Hertog. 4.2 persen pada tahun 1989 meningkat menjadi 17. atau lembaga intra-universitas yang tidak dicatat sebagai penerimaan resmi universitas. dan [4] timbangan industri terhadap universitas dan lembaga riset sebagai sumber informasi/pengetahuan untuk pengembangan produk inovatif.

pemasok bahan baku atau komponen.7 persen untuk bidang komunikasi sampai 18. informasi paten. Data yang terkumpul selama periode 1980-1994 dalam studi ini menunjukkan bahwa kerjasama teknis untuk bidang-bidang tertentu (bioteknologi. MERIT telah mengembangkan database kesepakatan kerjasama dan indikator teknologi (Co-operative Agreements and Technology Indicators. permesinan. dan konsultan. Kolaborasi antar-lembaga bisnis memberikan sumbangan terhadap kinerja inovatif perusahaan di Norwegia dan Finlandia. bahan kimia. tetapi di Jepang dan Eropa kerjasama serupa tidak menunjukkan perubahan yang berarti (Haagedoorn. Hasil survei yang dilakukan oleh The Maastricht Economic Research Institute on Innovation and Technology (MERIT) memberikan gambaran tentang bagaimana pihak industri di negara-negara Eropa menilai peran universitas atau kelembagaan riset pemerintah. tetapi sebaliknya mayoritas pelaku industri menganggap peranannya kurang penting untuk bidang-bidang lainnya. pameran. Walaupun persentasenya rendah. pangan. Kelembagaan riset pemerintah (termasuk universitas) dianggap penting oleh mayoritas (>50%) pelaku industri untuk bidang fasilitas layanan publik (utilities) dan pharmaseutikal. Porsi paten yang lebih besar berasal dari industri atau pihak non-universitas lainnya. otomotif. juga menunjukkan bahwa kolaborasi antar-perusahaan mampu meningkatkan penjualan untuk hampir semua produk yang dihasil melalui kolaborasi tersebut. dan [4] sumber informasi umum seperti konferensi.000 industri manufaktur di Eropah. dan kedirgantaraan (aerospace). disingkat CATI) yang mencakup hampir 13. teknologi informasi dan komunikasi. Data yang digunakan oleh Malerba (1996) berasal dari hasil Community Innovation Survey (CIS) antara 1991 sampai 1993 yang dilaksanakan atas inisiatif bersama Komisi Eropa dan Eurostat terhadap 40. pertemuan bisnis. Kajian yang sama di Jerman. perminyakan. Di Jepang ternyata kerjasama informal antar-kelembagaan bisnis berperan penting dalam keberhasilan pengembangan teknologi. komputer. logam dasar. Sumber informasi tersebut dikelompokkan menjadi 4 kelompok. Malerba (1996) menganalisis 13 sumber informasi yang dianggap relevan untuk upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. dimana produk baru yang dihasilkan dari kolaborasi mampu meningkatkan penjualan. tapi jumlah aktualnya tentu tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah paten universitas dan lembaga riset di Indonesia. yakni: [1] sumber informasi dari dalam kelembagaan bisnis sendiri. instrumen. Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber informasi yang paling penting ternyata berasal dari pelanggan/konsumen dan sumber internal perusahaan. sedangkan informasi yang dianggap tidak penting adalah berasal dari lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. 91 Naskah Akademik Perubahan UU No. plastik. termasuk logam olahan (fabricated metals). [2] bersumber dari pasar. 1997). 1997). 18 Tahun 2002 .000 perusahaan (OECD. telekomunikasi. elektronik. dan teknologi material baru) meningkat di Amerika Serikat. termasuk konsumen. [3] lembaga riset pemerintah dan universitas. 1996). Kerjasama terbukti mampu meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengadopsi teknologi yang bermanfaat (OECD.berkisar antara 0.1 persen untuk bidang rekayasa genetika.000 kesepakatan kerjasama yang melibatkan lebih dari 6.

2007 Indonesia 107 17.5 21 Thailand 78 42. 2007/08 Angka Partisipasi Kasar.3. maka dinamika lingkungan strategis pada tingkat regional Asia Tenggara (ASEAN) perlu mendapat perhatian yang lebih intensif. 2007 Peringkat Daya Saing. dan negara-negara ASEAN lainnya berada pada lapisan bawah. komunitas akademik dan peneliti Indonesia tidak dapat lagi mengabaikan ancaman penjajahan teknologi asing dalam bentuk banjir produk barang dan jasa impor yang melanda pasar domestik dan invasi Multi National Company (MNC). Selain itu. ekonomi. paling tidak untuk referensi. Vietnam. sedangkan Indonesia. Kondisi lingkungan strategis perlu mendapat perhatian. Tantangan dan ancaman ini perlu dijawab dan/atau ditangkal dengan mewujudkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia yang handal. 4. Kemandirian teknologi merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan dan ancaman tersebut. digerakkan dengan motor teknologi domestik. Fakta ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi komunitas akademik dan peneliti Indonesia untuk melakukan reorientasi prioritas risetnya agar tidak semakin terkucil dari skenario global pengembangan inovasi. Potensi pengembangan inovasi nasional Indonesia berdasarkan beberapa indikator akademik dibandingkan dengan Malaysia. Tabel 6. baik secara langsung maupun dalam bentuk produknya. Malaysia dan Thailand pada lapisan tengah. 18 Tahun 2002 . Dinamika Lingkungan Regional Dinamika lingkungan strategis pada tingkat dunia akan berpengaruh bagi perkembangan inovasi nasional di Indonesia. dan Singapura Indikator Peringkat HDI.3 54 Malaysia 63 32. Filipina. Kehadiran MNC dapat menjadi ancaman bagi upaya pengembangan teknologi nasional jika tidak dibangun hubungan yang sinergis mutualistik dengan MNC tersebut.2. berdasarkan kedekatan posisi geografis dan intensitas hubungan sosial. dan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. budaya dan politik. sebaliknya bisa menjadi sumber spillover teknologi. Pergeseran yang wajib dilakukan adalah menambah porsi goal-oriented atau demand-driven research dalam grand scenario pengembangan riset dan teknologi. Namun demikian. Thailand.7 28 Singapura 7 92 Naskah Akademik Perubahan UU No. berbasis sumberdaya nasional. Posisi Indonesia tersebut didasarkan atas beberapa indikator hasil analisis yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional (Tabel 6). Dalam konteks kemajuan inovasi saat ini.Hasil ini bertentangan dengan anggapan yang umumnya dianut banyak pihak di Indonesia bahwa perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai motor penggerak utama untuk tumbuh dan berkembangnya inovasi nasional. negara-negara ASEAN dapat dibagi dari tiga lapisan: Singapura berada pada lapisan atas.

mungkin dapat dikatakan masih berada pada posisi yang sangat minimal. dan Jumlah Publikasi Ilmiah (Tabel 6). Untuk kawasan ASEAN pun masih perlu perjuangan keras agar dapat menjadi yang terdepan. 2003 4. Disamping itu. Negara-negara ASEAN lainnya dapat menjadi kompetitor dan sekaligus mitra strategis yang potensial. maka Indonesia dapat menjadi pemasok barang dan jasa.6 1072 6.0 409. aliran teknologi antara pengembang dan pengguna yang masih tersendat. 4.3 4.5 2.Indeks Daya Serap Teknologi. merupakan mitra komplementer untuk pembangunan perekonomian nasional.8 4.3. 2003 Indeks Kerjasama Riset. Peringkat Daya Saing dari Laporan World Economic Forum (Suhardi.4 3122 Sumber: Peringkat Human Development Index (HDI) dari Laporan UNDP (Hasta. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dari Depdiknas (Lakitan. Paten Terdaftar. Hal ini tergantung kemampuan Indonesia dalam mewujudkan inovasi nasional. Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang pendidikan tinggi.6 178 5. kualitas sumberdaya manusia yang secara umum masih belum kompetitif. dan industri jasa keuangan. Kemajuan inovasi suatu negara dapat ditaksir berdasarkan beberapa indikator.2 41. Untuk kondisi saat ini. 2008d). Indeks Kerjasama Riset. 2009). 2009). kecuali Singapura.8 16. serta sekaligus memanfaatkan bahan baku yang dihasilkan negara-negara di kawasan ASEAN. Paten USPTO. Berbagai alasan dan argumen yang menyertainya telah dijabarkan sebelumnya. Secara menyeluruh gambaran postur perkembangan inovasi di Indonesia masih jauh dari memuaskan. 18 Tahun 2002 Struktur perekonomian negara-negara ASEAN secara umum relatif sama. Indeks Daya Serap Teknologi. Jika Indonesia mampu mengembangkan industri barang dan jasa berbasis teknologi nasional yang kompetitif. Singapura yang lebih maju di sektor perdagangan.9 74. 2003 Paten USPTO. . antara lain Indeks Pembangunan Manusia (HDI). 2009).3.4 520 5. Indeks Kerjasama Riset (Warsono. industri pengolahan. Pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) dapat dikatakan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal ini disebabkan belum terjadinya aliran teknologi yang signifikan dari pihak pengembangan teknologi ke pihak pengguna teknologi. Dinamika Lingkungan Nasional Saat ini kontribusi teknologi pada tingkat nasional masih belum optimal. Aspek yang akan ditelaah lebih mendalam adalah interaksinya dengan dinamika lingkungan strategis yang sedang berkembang saat ini dan kecenderungan perubahan lingkungan strategis tersebut di masa yang akan datang. dan publikasi ilmiah dari Laporan World Bank (Suhardi. serta kendala non-teknologi lainnya juga memerlukan perhatian. Perubahan lingkungan strategis di 93 Naskah Akademik Perubahan UU No. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius agar ketergantungan pada negara tetangga ini dapat dikurangi agar posisi Indonesia lebih kompetitif. Negara ASEAN umumnya masih mengandalkan sektor pertanian komoditas hasil eksploitasi kekayaan alamnya. Indeks Daya Saing Global. 2001/05 Publikasi Ilmiah. 2009). Indeks Daya Serap Teknologi.

dan yudikatif. legislatif. Kadiman. Salah satu modal utama pembangunan Indonesia sampai saat ini berasal dari kekayaan sumberdaya alam yang bersifat tak-terbarukan (non-renewable resources). Hanya dengan melakukan perubahan secara agresif-dan-terarah (agressive and welldirected) terhadap lingkungan strategis. maka pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak akan pernah membaik. Artinya sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih didominasi faktor di luar teknologi. yang suatu saat akan habis. 2009a.38 persen. Agaknya tidak berlebihan atau terkesan pesimistik jika disimpulkan bahwa inovasi tidak akan tumbuh berkembang jika tidak terjadi perubahan lingkungan strategis yang mengarah kepada terwujudnya ekosistem yang lebih kondusif untuk tumbuh-kembang sistem inovasi nasional (SINas). maka upaya menumbuhkan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) tidak akan pernah terwujud. Perubahan lingkungan strategis ke arah yang lebih kondusif ini perlu dimulai dari setiap komponen bangsa di lembaga eksekutif. penguatan inovasi diharapkan akan terjadi dan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian dapat ditingkatkan. Skenario business-as-usual jelas tidak akan mampu mendukung pengembangan inovasi nasional. dengan TFP sebesar 4 persen. Tanpa melakukan upaya mendorong agar teknologi domestik lebih sesuai untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan pembangunan ekonomi nasional dan tanpa upaya mendorong industri untuk lebih memprioritaskan penggunaan teknologi domestik dan memproduksi barang dan jasa sesuai kebutuhan pasar domestik. bahkan mungkin semakin terpuruk. termasuk: (1) Mengubah orientasi pendidikan nasional yang diterapkan melalui kurikulum pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik. Pengetahuan hanya bisa ditranslasi menjadi pertumbuhan ekonomi jika terlebih dahulu mampu menghasilkan teknologi yang dibutuhkan pengguna teknologi untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan. melanjutkan kecederungan yang sedang terjadi saat ini dengan tanpa upaya mendorong perubahan ke arah yang diinginkan. Perubahan lingkungan strategis tersebut. Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian 2006. tetapi 94 Naskah Akademik Perubahan UU No. Selanjutnya Firdausy (2009b) menyebutkan bahwa kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia paling tinggi terjadi pada periode 1991-1995. dan skenario dengan upaya percepatan perubahan ke arah yang lebih kondusif untuk berkembangnya inovasi nasional. 2009).masa depan akan direka berdasarkan dua ekstrim skenario. yakni skenario ‘business-as-usual’. yakni modal dan tenaga kerja (Firdausy. menghitung kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan proxy indikator Total Factor Productivity (TFP) dan mendapatkan bahwa TFP Indonesia hanya sebesar 1. 18 Tahun 2002 . Hal ini kemudian dituangkan dalam bentuk regulasi yang mengikat semua pihak untuk mematuhi dan berperan aktif dalam implementasinya. Jika kecenderungan yang telah berlangsung sekitar setengah abad ini tidak diimbangi dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukan reorientasi kebijakan pengembangan teknologi dan industri.

32 Tahun 2011. mendorong investasi. bukan pada masalah yang dihadapi. dan [3] Pokja SDM dan Iptek. Relevansi dan mutu pendidikan harus menjadi tujuan utama penyelenggaraan pendidikan pada semua strata. dan lembaga penunjang lainnya untuk secara 95 Naskah Akademik Perubahan UU No. pembangunan perekonomian tidak lagi dilakukan dengan pendekatan yang bersifat ‘Business as Not Usual’. dan unsur kelembagaan iptek di perguruan tinggi. lembaga penelitian dan pengembangan. Semangat perubahan pendekatan pembangunan perekonomian tersebut tercermin dari: [1] MP3EI mengedepankan terobosan kebijakan dan strategi. dan [3] pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi. yaitu: [1] pengembangan potensi ekonomi pada enam koridor pembangunan. swasta nasional. mengintegrasikan sektor dan regional. Keberadaan Pokja SDM dan Iptek ini membuka peluang bagi Kementerian Riset dan Teknologi. [2] MP3EI menitikberatkan pada percepatan transformasi ekonomi melalui peningkatan nilai tambah (value added). dimana titik berat pendekatan terletak pada solusi. Untuk itu. dengan cara mendorong investasi BUMN. dalam upaya penguasaan dan pemanfaatan iptek. yakni: [1] Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi. dan (4) Menerbitkan regulasi yang lebih ‘favorable’ untuk pengembangan teknologi nasional dan untuk mendukung peningkatan market share produk nasional di pasar domestik. Pada tahun 2011 ini terjadi perkembangan yang positif. serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya. maupun di lembaga lainnya di badan usaha. termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah. Keteladanan tokoh pemerintahan dan masyarakat dalam mendorong kecintaan dan kebanggaan atas produk nasional merupakan salah satu cara yang diyakini efektif. (3) Mengubah citra produk nasional di mata konsumen dalam negeri. (2) Perlu menggeser paradigma ‘eksploitasi’ kekayaan sumberdaya alam sebagai cara cepatdan-mudah untuk meningkatkan pendapatan negara (orientasi jangka pendek). 18 Tahun 2002 . sehingga dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ekonomi dan ekologi yang lebih maksimal (orientasi jangka panjang). masyarakat. [2] Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur. dan Foreign Direct Investment (FDI) pada 22 kegiatan ekonomi utama. Dengan diluncurkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap permasalahan dan kebutuhan pembangunan nasional. dan [3] MP3EI mengakomodir masukan dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan. Dalam struktur KP3EI ini terdapat tiga Kelompok Kerja. tiga strategi utama dikembangkan dalam pelaksanaan MP3EI. [2] memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi untuk revitalisasi kinerja sektor riil. menjadi ‘pengelolaan’ sumberdaya alam yang lebih efisien dan akrab lingkungan. yang didorong melalui pengembangan SDM dan iptek yang sesuai untuk peningkatan daya saing. Untuk melaksanakan MP3EI yang didasarkan pada Perpres No. dengan cara meningkatkan kualitas barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri ( Made in Indonesia) yang dibarengi dengan harga yang lebih kompetitif. dibentuk pula Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI).

18 Tahun 2002 . Secara teknis operasional. 96 Naskah Akademik Perubahan UU No.lebih signifikan dapat berkontribusi terhadap pembangunan perekonomian Indonesia. ini berarti upaya penguatan inovasi nasional di Indonesia mendapat pijakan yang lebih mantap.

Pengembangan SINas tidak hanya merupakan sekumpulan aktor. kebijakan inovasi nasional umumnya telah dipublikasikan secara luas.Bab 5 Jangkauan. dan kondusivitas ekosistem tempat tumbuhkembangnya. Kehandalan SINas sebagai sebuah sistem lebih ditentukan oleh intensitas dan efektivitas interaksi antara aktor-aktor utamanya. Secara praktis. Namun demikian upaya untuk mengadopsi secara langsung konsepsi inovasi nasional di negara yang secara ekonomi lebih berhasil untuk diterapkan di negara lainnya seringkali mengalami kegagalan. 5. tercerabut dari ekosistem dimana sistem inovasi nasional (SINas) mampu unjuk kinerja dengan sangat baik. Demikian halnya. serta ruang lingkup materi muatan rancangan undang-undang tentang perubahan UU No. Strategi keberhasilan negara-negara tertentu. Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Pejabat negara dan kadang juga akademisi yang (dianggap) pakar di bidang penguatan inovasi juga ikut melakukan upaya adopsi langsung ini tanpa melakukan analisis yang mendalam mengapa pengembangan konsepsi inovasi tertentu berhasil memajukan perekonomian di negara asalnya. 18 Tahun 2002 Di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD. 18 Tahun 2002.1. . mengabaikan fakta adanya perbedaan yang tajam antara negara yang dicontoh dengan realita di Indonesia. maka seringkali pengembangan inovasi dianalisis secara terisolir. dukungan dari berbagai aktor pendukungnya. Kalaupun dilakukan analisis. belum menjamin bahwa negara yang bersangkutan akan secara otomatis memiliki SINas yang produktif dan berkelanjutan. Arah Pengaturan. kehandalan SINas sesungguhnya ditentukan oleh kelancaran aliran 97 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Ruang Lingkup Materi Muatan RUU Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 Sangat mudah untuk menyatakan bahwa pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) merupakan upaya mendorong peningkatan inovasi secara nasional agar secara nyata memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Sekumpulan aktor SINas yang hebat. Untuk itu akan diuraikan dalam bab ini mengenai arah dan jangkauan kebijakan penguatan inovasi nasional. baik yang berperan sebagai pengembang maupun pengguna teknologi yang dimiliki suatu negara. Namun persoalannya adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya di Indonesia. sering menjadi reference utama dalam pengembangan kebijakan inovasi.

informasi kebutuhan (demand) dari para aktor pengguna ke pengembang teknologi, yang diimbangi dengan kelancaran pasokan teknologi yang relevan dari aktor pengembang ke pengguna teknologi. Secara komprehensif, SINas merupakan sistem yang kompleks. Walaupun untuk simplifikasi dalam analisisnya unsur-unsur SINas dapat diurai lepas satu per satu, namun analisis hanya akan sahih jika masing-masing unsurnya tersebut selalu dilihat dari perpektif keterkaitannya dengan unsur SINas lainnya. Alur keterkaitan SINas dengan komponen pembentuk ekosistemnya dapat dilihat pada Gambar 6.

POTENSI SUMBERDAYA EKONOMI [Tangible Factors]  Sumberdaya Alam  Sumberdaya Manusia  Infrastruktur

POTENSI SOSIO-KULTURAL

[Intangible Factors]  Ideologi  Politik  Tata Kepemerintahan  Budaya Kerja

PERAN POKOK PEMERINTAH Memformulasikan kebijakan pendukung SINas berbasis pada Potensi Sumber daya Ekonomi dan Potensi SosioKultural dalam rangka penyiapan “Panggung SINas”, terutama kebijakan:  Perekonomian makro, keuangan, dan perpajakan  Perindustrian dan Perdagangan  Riset dan Pengembangan Teknologi  Ketenagakerjaan  Pendidikan Nasional  Infrastruktur Sosial  Tata Kepemerintahan

PENGEMBANG TEKNOLOGI  Perguruan Tinggi  Lembaga R&D Pemerintah  Lembaga R&D Swasta

PENGGUNA PASAR TEKNOLOGI  Domestik  Industri /  Global Bisnis  Masyarakat  Pemerintah Barang/Jasa Permintaan

LEMBAGA INTERMEDIASI

PANGGUNG SINAS  Fasiltas Komunikasi & Interaksi  Regulasi yang Kondusif  Dukungan & Insentif Finansial

Gambar 6. Peran Pemerintah dalam menyiapkan ‘panggung’ Sistem Inovasi Indonesia

Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Panggung SINas sebagai konsepsi dapat diaktualisasikan dalam bentuk: [1] fasilitas untuk para aktor berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif, [2] regulasi yang memungkinkan para aktor untuk memformulasikan dan mengimplementasikan upaya bersama dalam meningkatkan produktivitas, dan [3] dukungan dan/atau insentif finansial yang menjadi perangsang bagi para aktor untuk bersama-sama membangun dan memperkuat inovasi nasional. Panggung SINas yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro, keuangan, dan perpajakan; kebijakan perindustrian dan perdagangan; kebijakan riset dan pengembangan teknologi; kebijakan ketenagakerjaan; kebijakan pendidikan nasional; kebijakan penyediaan infrastruktur sosial; dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Kebijakan tersebut selain harus selaras dengan upaya mewujudkan SINas, juga harus berbasis pada potensi sumberdaya ekonomi dan potensi sosial budaya yang dimiliki Indonesia.

98

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Kebijakan yang tidak mengakar pada potensi dan kondisi sendiri akan lebih susah untuk secara efektif diimplementasikan. Dengan demikian tugas pokok pemerintah yang paling krusial adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung SINas yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. Kinerja aktor-aktor SINas pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik), baik berupa barang maupun jasa. Oleh sebab itu, peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ SINas, tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik.27

5.1.1. Membangun Inovasi sebagai Sistem Sebagai sebuah sistem, pengembangan inovasi nasional tidak dapat dipandang hanya sebagai kumpulan dari lembaga, tetapi yang lebih penting adalah terjadinya aliran informasi dan produk iptek yang lancar antar-lembaga. Keberadaan aktor atau kelembagaan pengembang dan pengguna teknologi, serta upaya fasilitasi, intermediasi, dan regulasi pemerintah belum menjamin bahwa sistem inovasi sudah terbangun atau pasti akan berjalan. Pada saat ini sesungguhnya para aktor dan lembaga-lembaga tersebut sudah ada, tetapi interaksi dan komunikasinya belum intensif dan produktif. Ini yang menjadi persoalan pokok saat ini. Pengembang teknologi (termasuk perguruan tinggi) melakukan kegiatan riset tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan kebutuhan pengguna; sebaliknya pengguna teknologi belum mau mengadopsi teknologi dalam negeri karena berbagai alasan, antara lain karena tidak relevan dengan kebutuhan, belum cukup handal secara teknis, tidak sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna, dan/atau belum kompetitif secara ekonomi. Untuk memperbesar peluang terwujudnya sistem inovasi, maka para pengguna teknologi harus terbuka untuk berbagi informasi tentang kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi; sebaliknya juga pihak pengembang teknologi harus peka terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang berkembang dan umumnya bersifat dinamis. Teknologi yang dikembangkan selain harus relevan dengan kebutuhan pengguna, juga harus sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya, baik kapasitas adopsinya secara teknis, ekonomi, dan sosiokultural (Gambar 7).

27

Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada beberapa kesempatan. Berbagai negara, juga melihat populasi Indonesia yang besar, lebih dari 237 juta jiwa (BPS, 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial.

99

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Gambar 7. Konsepsi Dasar Sistem Inovasi Nasional (Lakitan, 2010)

Lembaga litbang sebagai pengembang iptek perlu: [1] mengevaluasi kembali tentang kesesuaian orientasi pengembangan iptek dengan kebutuhan rakyat dan negara (isu relevansi riset); dan [2] meningkatkan pemaham tentang kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi rakyat dan negara (isu sensitivitas pelaku pengembang iptek); sebaliknya lembaga pengguna teknologi perlu meningkatkan kapasitas adopsinya dan kesediaannya dalam berbagi informasi kebutuhan dan persoalan terkait dengan teknologi. Perlu selalu diyakini bahwa iptek hanya akan berkontribusi terhadap pembangunan nasional, apabila iptek digunakan dan nyata bermanfaat, baik manfaat ekonomi maupun non-ekonomi. Prasyarat agar aliran teknologi ini terjadi adalah: [1] teknologi yang dikembangkan dan ditawarkan oleh lembaga litbang relevan dengan kebutuhan pengguna; [2] teknologi yang ditawarkan sepadan dengan

100

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Dalam konteks pengembangan SINas, maka mutlak perlu terjadi aliran informasi kebutuhan iptek dan persoalan nyata yang membutuhkan solusi iptek dari pihak pengguna ke pihak pengembang iptek. Prasyarat agar aliran ini terjadi adalah [1] keterbukaan atau keinginan dari pihak pengguna untuk berbagi informasi dan [2] sensitivitas pihak pengembang iptek dalam menangkap sinyal kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi pihak pengguna iptek. Keyakinan pihak pengguna atas kapasitas lembaga pengembang iptek dalam menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang sesuai kebutuhan, handal secara teknis, dan kompetitif secara ekonomi akan menjadi pemicu terjadinya aliran informasi dimaksud. Jika saat ini aliran tersebut masih tersendat, maka adalah bijak jika kedua belah pihak melakukan swa-evaluasi (self assessment), mencermati tentang apa yang perlu dibenahi di wilayah peran masing-masing. Lembaga litbang dan lembaga pengguna teknologi perlu melakukan pembenahan.

dan regulator agar suasana yang kondusif dapat diwujudkan. Secara hakiki. dan produktivitas lembaga dalam menghasilkan teknologi per satuan sumberdaya dan/atau biaya yang dikelola. intermediator.2. 5. Revitalisasi Lembaga Pengembang Teknologi Pada saat ini. dan efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan iptek yang bermanfaat. kuantitas dan kualitas iptek yang diadopsi oleh pihak pengguna. Contoh indikator kinerja lembaga litbang berbasis pada tiga kapasitas pokoknya. daerah. disajikan pada Tabel 7. Kapasitas ‘outsourcing’ lembaga pengembang teknologi terindikasi antara lain dari aksesibilitas ke berbagai sumber informasi iptek. butuh peran dan komitmen yang sungguh-sungguh dari Pemerintah. sistem inovasi hanya akan terwujud jika terjadi komunikasi dan interaksi antara aktor atau lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. terbukti dengan adanya aliran informasi kebutuhan teknologi dan informasi tentang persoalan nyata yang dihadapi oleh pihak pengguna dalam melakukan proses produksi barang dan/atau jasa sesuai dengan permintaan konsumen. dan [3] kapasitas untuk mendiseminasikan pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan (disseminating capacity)(Gambar 8). Kesinambungan aliran dua arah ini yang menjadi indikator eksistensi sistem inovasi. relevansi teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan nyata para pengguna. 101 Naskah Akademik Perubahan UU No. tidak terjadi tumpang tindih riset yang dilakukan dengan riset yang (telah) dilakukan di tempat lain. menggerakkan aliran dua-arah ini akan membutuhkan daya yang besar dan upaya yang intensif. Oleh sebab itu. agar pengguna dan pengembang iptek terangsang untuk mengintensifkan komunikasi dan interaksinya. maupun kawasan ekonomi tertentu. pada jenjang nasional. dan royalti yang diterima oleh lembaga atas produk teknologinya yang berhasil dikomersialisasikan. Pemerintah diharapkan dapat memainkan peran sebagai fasilitator. ada tiga kapasitas yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap lembaga pengembang teknologi. dan [3] penggunaan iptek tersebut mempunyai prospek keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan iptek serupa yang sudah tersedia.kapasitas adopsi (calon) pengguna potensialnya. yakni: [1] kapasitas untuk menyerap iptek yang berasal dari luar (sourcing capacity). Kapasitas riset dan pengembangan tercermin dari kualitas riset dan iptek yang dihasilkan. serta sebaliknya juga terjadi adopsi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengembang oleh pihak pengguna.1. Pada fase awal (seperti kondisi saat ini). Sedangkan kapasitas diseminasi terlihat dari intensitas dan jangkauan publikasi kegiatan riset yang dilakukan dan iptek yang dihasilkan baik melalui media cetak maupun elektronik. 18 Tahun 2002 . [2] kapasitas untuk melakukan riset dan pengembangan iptek (R&D capacity).

tidak secara partial maupun tersegmentasi. Tiga kapasitas yang harus dimilik lembaga litbang (Lakitan. 18 Tahun 2002 . Strategi revitalisasi lembaga pengembang teknologi dikemas secara komprehensif dan integratif.Gambar 8. Ukuran keberhasilan dan pilihan indikator yang digunakan dalam melakukan evaluasi kinerja lembaga 102 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tiga kapasitas lembaga litbang dan contoh indikator kinerjanya Kapasitas Pokok Kapasitas Outsourcing Kapasitas Litbang Kapasitas Diseminasi Contoh Indikator Kinerja  Akses ke sumber informasi iptek  Tidak terjadi tumpang tindih dan replikasi riset  Efisiensi pemanfaatan sumberdaya  Jaringan kemitraan  Kualitas hasil litbang  Relevansi dengan kebutuhan/persoalan nyata  Produktivitas kelembagaan  Situs dan frekuensi pemutakhiran informasi  Publikasi ilmiah  Hasil riset yang dimanfaatkan pengguna  Royalti yang diterima Pada era inovasi yang terbuka ini. 2011a) Tabel 7. ketiga jenis kapasitas ini secara paralel dikembangkan dalam sebuah sistem yang terintegrasi.

Peringatan dan nasehat seperti ini perlu secara serius diperhatikan oleh para pengelola lembaga pengembang teknologi di Indonesia. karena tidak secara otomatis menjamin indikator tersebut merupakan indikator yang paling pas untuk kondisi dan kepentingan Indonesia saat ini.pengembang teknologi perlu dikonstruksi secara cermat. baru kemudian memilih indikator yang pas untuk mengevaluasi kemajuan yang dicapai secara berkala dengan interval waktu yang rasional. can convey misleading policy messages”. karena kasus ‘abuse’ indikator STI (dan data statistik lainnya) bukan merupakan kejadian langka di Indonesia. Boardman (2009) mengirimkan sinyal tentang tantangan yang sulit ini: [There is] a fundamental management task of aligning individual behaviors with [research] center goals and objectives. Kegiatan riset yang cenderung untuk prestasi akademik semata. agar transfer/difusi iptek dapat berjalan lebih lancar. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi diyakini akan menempuh tiga langkah penting. yakni mengubah mindset dan budaya kerja individu peneliti dan komunitas pengembang litbang. Rencana strategis dan rencana aksi lembaga perlu ditinjau ulang. sangat bijaksana nasehat yang dikemukakan oleh seorang tokoh inovasi dunia yang berkerja puluhan tahun untuk lembaga internasional ternama dalam mengembangkan indikator ilmu pengetahuan. Dalam penggunaan indikator ini. [2] melakukan reformasi struktural agar organisasi lembaga dapat menjadi kendaraan yang efektif untuk mencapai tujuan. (2009) perlu mendapat perhatian: “Although useful in benchmarking of country performances. perlu 103 Naskah Akademik Perubahan UU No. Cara yang bijak adalah pahami secara komprehensif dan mendalam tentang lembaga pengembang teknologi Indonesia saat ini dan ekspektasi peran lembaga ini yang ideal di masa yang akan datang. atau yang hanya bersifat sebagai academic exercise. yakni SINas. visi dan misi. S&T indicators. dan [3] mengubah mindset dan budaya kerja komunitas pengembang teknologi. maka langkah ketiga. dapat dijadikan sebagai referensi. teknologi. Indikator kinerja yang dikembangkan dan telah digunakan oleh lembaga internasional dengan reputasi baik serta telah diadopsi oleh berbagai negara. Keberhasilan pada dua langkah pertama akan sia-sia jika langkah ketiga ini tidak berhasil dilaksanakan. 2009). Langkah pertama dan kedua relatif tidak sulit untuk dilakukan. Lembaga pengembang teknologi di Indonesia juga perlu melakukan reformasi. serta tujuan dan sasarannya perlu disesuaikan. Apalagi individu-individu dalam komunitas pengembang teknologi selama ini terbiasa dan lebih nyaman berkerja secara individual dibandingkan sebagai bagian dari kelompok atau komunitas yang lebih besar. Oleh sebab itu. Lembaga pengembang teknologi saat ini merupakan bagian integral dari sistem yang lebih besar. sepanjang kurun waktu yang dibutuhkan untuk proses transformasi dari kondisi saat ini menjadi lembaga ideal yang diharapkan. we argue that frontiers and characteristics of STI indicators that were important last century may no longer be so relevant today and indeed may even be positively misleading” (Freeman and Soete. 18 Tahun 2002 . Peringatan dari Loikkanen et al. dan inovasi (STI) berikut ini: “On the basis of 40 years of indicators work. akan menjadi tantangan dan ujian yang paling sulit tetapi mutlak harus dilakukan. Namun demikian tetap perlu dicermati. if poorly constructed. yakni: [1] merumuskan kembali tujuan dan menetapkan sasaran yang ingin dicapai.

kemampuan pembiayaan. tetapi dapat dalam bentuk non-ekonomi. 5. goal-oriented research. terutama dari regulasi dan insentif yang belum optimal. maka konsepsi tersebut tidak akan mampu menjadi solusi mendasar bagi upaya meningkatkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi sebagaimana yang diniatkan. misalnya market-driven. Namun demikian. yakni untuk menghasilkan iptek yang bermanfaat bagi umat maupun negara. need-driven. selain itu juga kebijakan internal lembaga masih belum memberikan prioritas untuk peningkatan kapasitas adopsi. evidence-based. Untuk itu perlu kejelian dalam mengidentifikasi akar persoalan (fundamental problems).3. maka konsepsi yang dikembangkan mungkin kelihatannya bagus tetapi sangat mungkin akan mengecewakan karena ternyata tidak mampu memberikan solusi sebagaimana yang diharapkan. walaupun banyak ragam istilah yang digunakan. akibatnya motivasi untuk melakukan upaya peningkatan tersebut juga tidak tumbuh. sarana dan prasarana pendukung) lembaga-lembaga pengguna teknologi sangat minimal. Hipotesis untuk kondisi saat ini adalah: [1] kapasitas adopsi lembaga-lembaga pengguna teknologi di Indonesia saat ini masih sangat rendah. Kegiatan pengembangan teknologi dalam jangka panjang harus memberikan keuntungan yang sebanding dengan pembiayaannya. Ragam istilah pendekatan pengembangan teknologi ini pada esensinya adalah kurang-lebih sama. Pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi sudah saatnya diperlakukan sebagai bagian dari investasi. Pemahaman yang tepat tentang akar persoalan yang menyebabkan lembaga pengguna teknologi Indonesia berada pada posisi saat ini akan sangat membantu. Jika konsepsi hanya menyentuh persoalan simptomatis. dan [2] unsur-unsur ekosistem eksternal yang kurang kondusif. Kecenderungan global saat ini sangat kentara mengarah pada pengembangan teknologi berbasis kebutuhan. Perspektif ini yang menjadi ruh pengembangan teknologi berbasis realita kebutuhan (demand-driven).1. dan bentuk keuntungan sosial dan spiritual lainnya. sejak awal kegiatan pengembangan teknologi harus mempunyai orientasi yang jelas. misalnya penyelenggaraan pemerintahan yang lebih bersih. kerukunan umat beragama. atau challenge-driven. turunnya tingkat kriminalitas atau tumbuhnya rasa aman. issue-driven. terutama karena regulasi yang kurang 104 Naskah Akademik Perubahan UU No. agar tidak terkecoh oleh gejala simptomatis (symptomatical problems) yang mungkin tertangkap pada kesan pertama. Jika hanya gejala simptomatis yang mampu dikenali. Upaya penguatan kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu memperhatikan: [1] potensi internal (sumberdaya manusia. mission-driven. dan [2] peningkatan kapasitas adopsi teknologi terkendala oleh ekosistem yang kurang kondusif. yang disebabkan oleh mutu potensi internal yang rendah dan motivasi yang kurang.digeser prioritasnya untuk mendahulukan kegiatan riset untuk menghasilkan iptek yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Keuntungan yang dimaksud tidak selalu dalam bentuk keuntungan ekonomi. 18 Tahun 2002 . meningkatnya rasa bangga sebagai warga negara. Peningkatan Kapasitas Adopsi Lembaga Pengguna Teknologi Konsepsi peningkatan kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna berpeluang untuk diterapkan jika dibangun berdasarkan realita posisi saat ini.

mendukung atau sebagian sudah mendukung namun implementasinya masih terkendala. serta program-program insentif yang ada masih kurang efektif dan/atau kurang menarik bagi lembaga pengguna (Gambar 9). Lembaga ini tidak hanya mampu menggunakan produk teknologi yang dibeli atau diakuisisi. 18 Tahun 2002 . Posisi ini cenderung sebagai konsumen akhir dari teknologi atau produk teknologi yang diakuisisi. sehingga mengurangi 105 Naskah Akademik Perubahan UU No. terutama penguatan sumberdaya (manusia. lembaga pemerintah yang berperan sebagai lembaga pengguna teknologi juga harus diperkuat kapasitas litbangnya. Gambar 9. Realita saat ini menumbuhkan keyakinan bahwa untuk mengoptimalkan kemampuan lembaga pengguna dalam mengadopsi teknologi yang paling krusial adalah melakukan pembenahan internal lembaga. tetapi juga mampu untuk melakukan asimilasi dan reformulasi teknologi agar lebih sesuai dengan kebutuhan spesifiknya dan/atau untuk meningkatkan kehandalan produk teknologi tersebut. lembaga pemerintah mengadopsi teknologi untuk digunakan dalam menjalankan tugas negara/pemerintahan. Minimal mampu melakukan pemeliharaan (maintenance). prasarana. atau dengan ungkapan yang lebih sederhana adalah dengan melakukan penguatan kapasitas litbang internal lembaga pengguna. dan dana) untuk mendukung aktivitas litbang pada lembaga pengguna. Kerangka dasar konsepsi peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Berbeda dengan industri yang mengadopsi teknologi untuk diaplikasikan dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. sarana. selain juga fasilitasi dan intermediasi yang masih belum optimal. misalnya dalam konteks teknologi pertahanan dan keamanan. Sebagaimana industri. Pembenahan ini mencakup.

peternak. Dalam rangka memaksimalkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. Untuk dapat melaksanakan peran ini. [3] menyepakati dan menjalankan secara konsisten kebijakan internal lembaga pengguna untuk memprioritaskan adopsi dan pengembangan teknologi. dan skala usaha yang setara. maka perlu upaya sungguh-sungguh untuk: [1] meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian dan/atau ketrampilan sumberdaya manusia. misalnya petani. Ada empat faktor eksternal yang secara langsung mempengaruhi kapasitas adopsi teknologi. serta siap secara seutuhnya untuk mengadopsi teknologi tersebut. yakni regulasi dan 106 Naskah Akademik Perubahan UU No. Namun perlu pula ditegaskan bahwa industri mikro atau kecil tradisional tetap harus dikategorikan sebagai satu entitas industri. individu-individu masyarakat lebih pas jika diperlakukan secara independen. Kapasitas adopsi individu masyarakat dengan demikian akan tergantung pada kapasitas intelektual. termasuk juga melalui spillover investasi asing. Dengan kata lain. Namun demikian. dan efisien. naluri bisnis.ketergantungan kepada pihak produsennya sebagai langkah antisipatif jika ada kendala purnajualnya. pelaksanaannya dapat saja dilakukan secara kolektif pada komunitas pengguna dengan kebutuhan jenis teknologi. dan kualitas personal lainnya. terlepas dari jumlah karyawannya yang mungkin sangat sedikit. motivasi. [2] memberikan dukungan fasilitas dan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan adopsi dan pengembangan teknologi. handal. Upaya penguatan kapasitas adopsi masyarakat sebagai pengguna teknologi perlu pendekatan yang berbeda. diikuti dengan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan dukungan anggaran yang mencukupi. Mungkin saja organisasi atau asosiasi masyarakat yang memayungi individuindividu pengguna teknologi. kemampuan manajerial. dan relevan dengan kebutuhan lembaganya. Di era informasi terbuka ini. dibutuhkan pendekatan dan strategi yang berbeda untuk masing-masing kelompok pengguna tersebut. walaupun tujuannya adalah sama. seniman. nelayan. terutama untuk yang secara langsung melaksanakan tugasnya terkait adopsi dan pengembangan teknologi. Dua faktor bersifat mendorong (pushing factors) lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. Memahami karateristik masing-masing pengguna teknologi yang berbeda (antara industri. misalnya insentif yang pantas untuk kontribusi atau prestasi yang dicapai. maka opsi utamanya adalah meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian sumberdaya manusia yang bekerja pada masing-masing lembaga pengguna tersebut. rasional. agar upaya meningkatkan kapasitas adopsi individu masyarakat ini dapat dilakukan secara lebih praktis. lembaga pengguna juga diharapkan tidak hanya mampu mengaplikasikan teknologi. lembaga pemerintah. baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri. dan lain-lain. yakni untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi. dan [4] melakukan upaya institusional yang dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam meningkatkan peran aktifnya dalam proses adopsi dan pengembangan teknologi. bidang usaha. tetapi juga mampu secara proaktif mengenali jenis dan mengidentifikasi sumber teknologi yang maju. namun lembaga masyarakat tersebut tidak bersifat ‘struktural’ sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang setara dengan lembaga pengguna sebagaimana pada industri dan pemerintahan. 18 Tahun 2002 . dan individu masyarakat).

Secara ringkas. Gambar 10. kepakaran. Adanya permintaan pasar yang nyata dan signifikan. sedangkan adanya kompetitor tentu akan menjadi faktor pendorong lainnya bagi lembaga pengguna untuk antara lain meningkatkan aktivitas serta fasilitas riset in-house. semua pihak bisa mendapatkan informasi tentang ketersediaan teknologi dan berpeluang untuk mengadopsinya. yakni adanya permintaan pasar dan ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan (Gambar 10).adanya kompetisi antara lembaga pengguna. tenaga kerja. fasilitas dan infrastruktur pendukung) akan menumbuhkan motivasi dan menjadi pemicu untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi yang dibutuhkan lembaga pengguna untuk mengelola sumberdaya tersebut. serta ketersediaan sumberdaya (bahan baku. tetapi hanya lembaga pengguna yang siap yang mampu melakukan proses adopsi tersebut secara efektif dan efisien. misalnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Faktor eksternal yang mempengaruhi kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Regulasi yang tepat akan mendorong lembaga pengguna untuk meningkatkan kemampuan internalnya yang berkaitan langsung dengan kapasitas adopsi teknologi. sedangkan dua faktor lagi bersifat menarik (pulling factors). Prinsip dasarnya dalam era informasi terbuka ini. potret kapasitas 107 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . serta mampu mengadaptasi teknologi tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhannya dan mampu memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari adopsi teknologi tersebut.

Ada beberapa catatan penting terkait dengan kapasitas adopsi yang ideal bagi lembaga pengguna teknologi. sedangkan permintaan pasar dan potensi sumberdaya dapat menjadi faktor penarik (pulling factors) yang atraktif bagi lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. karena akan secara nyata berdampak positif pada kapasitas adopsi.4. memformulasikan teknologi yang aplikatif sesuai kemampuan dan kebutuhannya. yakni: [1] Kapasitas internal lembaga sangat krusial untuk dibangun. dan [6] Kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu secara paralel dibangun bersama dengan kemampuan lembaga pengembang untuk menghasilkan teknologi yang relevan dalam rangka mewujudkan sistem inovasi. dan pengembangan teknologi. oleh sebab itu perlu melakukan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. [3] Regulasi dan kompetisi menjadi faktor pendorong (pushing factors) yang efektif. serta mengaplikasikannya dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diembannya. menyerap dan mengasimilasikan teknologi tersebut. namun jika kapasitas adopsinya sudah berada pada jenjang yang ideal maka keberadaannya dalam klaster inovasi akan memperbesar peluangnya untuk mengadopsi teknologi tersedia yang sesuai dengan kebutuhannya. dan pengembangan teknologi. 5. 18 Tahun 2002 . [5] Keberadaan lembaga pengguna dalam suatu klaster inovasi tidak menjamin akan efektif dalam mengadopsi teknologi yang tersedia. baik pada tingkat nasional maupun pada jenjang yang lebih terbatas wilayah cakupannya.1.adopsi yang ideal untuk lembaga pengguna teknologi adalah jika memiliki kemampuan untuk mengenali teknologi sesuai dengan kebutuhannya. atau sesuai dengan core business-nya. Peningkatan Peran Lembaga Intermediasi Ketidakpaduan antara teknologi yang dihasilkan lembaga pengembang dengan kebutuhan pengguna dan rendahnya kebutuhan serta kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna merupakan kenyataan yang menjadi justifikasi: [1] kebutuhan akan lembaga intermediasi. [4] Perlu regulasi dan kebijakan yang kondusif untuk membuka peluang mobilisasi sumberdaya manusia antar-lembaga inovasi. tetapi juga sekaligus [2] menjadikan lembaga intermediasi yang sudah ada sulit untuk menjalankan perannya. 108 Naskah Akademik Perubahan UU No. terutama – tetapi tidak terbatas pada sumberdaya manusia yang ditugaskan pada atau terkait langsung dengan unit yang menangani adopsi. [2] Perlu dukungan yang optimal untuk aktivitas dan penyediaan fasilitas riset in-house. adaptasi. sehingga dapat memperbesar peluang untuk terjadinya aliran atau limpasan (spillover) teknologi yang diserap oleh lembaga pengguna. adaptasi.

Namun sebagian besar menghadapi permasalahan lemahnya kemampuan di bidang manajemen HKI. Jumlah Sentra HKI saat ini mencapai 79 buah.Lembaga intermediasi yang ada saat ini masih terlalu fokus pada upaya ‘memasarkan’ teknologi yang dihasilkan oleh lembaga pengembang. Dengan adanya Sentra HKI diharapkan perguruan tinggi dan lembaga litbang dapat mengembangkan unit organisasi dan prosedur untuk mengelola semua kekayaan intelektual dan informasi iptek yang dimilikinya. belum banyak berperan dalam membantu mengidentifikasi kebutuhan atau persoalan yang dihadapi pengguna dan mengalirkan informasi tersebut kepada lembaga pengembang teknologi. 109 Naskah Akademik Perubahan UU No. Oleh sebab itu. Sentra HKI adalah unit kerja yang berfungsi mengelola dan mendayagunakan kekayaan intelektual. termasuk kemampuan menyelenggarakan kegiatan komersialisasi secara profesional yang didukung aspek legal. sejak digagas Kementerian Riset dan Teknologi pada 1999. 18 Tahun 2002 . Minat pihak swasta untuk berperan sebagai intermediator masih rendah dan belum akan tumbuh jika teknologi yang dihasilkan pengembang belum mempunyai nilai jual yang baik atau jika relevansi antara teknologi yang dikembangkan masih senjang dengan kebutuhan pengguna. sekaligus sebagai pusat informasi dan pelayanan HKI. 18 Tahun 2002. Pada saat ini. lembaga intermediasi yang ada pada dasarnya diinisiasi oleh pemerintah tetapi kemudian dikelola oleh lembaga pemerintah itu sendiri atau personel yang bukan pegawai pemerintah. Gambar 11. Peran Ganda Lembaga Intermediasi Peran intermediasi ini dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga nonpemerintah. memasarkan teknologi yang dihasilkan pengembang dan sekaligus menjadi perpanjangan tangan pengembang untuk memahami kebutuhan dan persoalan teknologi yang dihadapi pengguna (Gambar 11). peran lembaga intermediasi perlu didorong agar dapat berperan ganda tersebut. Menurut UU No. Sebagai contoh lembaga mediasi adalah Sentra HKI dan Business Innovation Center (BIC).

memberikan jaringan/network pelaku bisnis dalam hal kerjasama terhadap pihak akademisi. melalui kegiatan intermediasi antara inovator pengembangan teknologi dengan dunia bisnis. BIC memberikan beberapa jenis layanan yaitu layanan umum. dan membantu melakukan analisi terhadap pihak dunia usaha yang memiliki interest untuk berinvestasi terhadap riset yang dilakukan. 5. mengatur pertukaran para pakar yang dibutuhkan dengan keahlian tertentu. membantu dalam hal finansial yang akan dibantu oleh pihak swasta/pelaku bisnis. Layanan untuk swasta/bisnis yang dilakukan BIC mencakup mempermudah proses pencarian informasi mengenai inovasi. Sedangkan layanan untuk akademisi/teknisi adalah membantu mengembangkan produk inovasi yang sudah ada untuk di komersialkan. mempermudah pengembangan bisnis dengan penerapan inovasi. memperluas hubungan dengan pemerintah dan akademisi.5. membuat database yang menampung informasi mengenai proses-proses inovasi. pemasok. dan memfasilitasi program incentif yang dibuat oleh pemerintah. menghubungkan para pelaku bisnis dalm hal mendapatkan insentif yang diberikan oleh pemerintah.Padahal Sentra HKI harus mampu menjadi marketer atau sebagai intermediator antara pemilik dan pengguna HKI. perusahaan.1. dan. memberikan informasi mengenai kajian-kajian teknologi yang sedang berlangsung. 18 Tahun 2002 . memfasilitasi pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. Business Innovation Center atau yang disingkat BIC didirikan dengan tujuan mengoptimalkan pemberdayaan Inovasi di Indonesia dengan tujuan meningkatkan pembangunan nasional. memberikan pengetahuan mengenai pasar dan trend yang ada di pasar. Penyiapan Science and Technology Park Kedekatan fisik atau lokasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi masih dianggap penting dalam upaya menumbuhkan interaksi yang lebih intensif dan produktif. walaupun saat ini teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat berkembang dan juga 110 Naskah Akademik Perubahan UU No. membantu menghubungkan kepada pihak dunia usaha dalam hal kerjasama. membantu mencarikan mitra kerjasama yang tepat dari kalangan iptek. Layanan untuk pemerintah mencakup upaya mempererat hubungan pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. menyusun agenda dan pengaturan pertemuan dengan pusat-pusat kajian teknologi. menganalisa dan mengoptimalkan rangkaian nilai proses kerja. mengidentifikasikan risiko dan mengenali potensinya. memberikan pendampingan pada perusahaan-perusahaan yang inovatif. akademisi dan pemerintah yang sesuai dengan fungsi dan tujuan BIC. Layanan umum mencakup kunjungan ke perusahaan-perusahaan. untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan bisnis dan daya saing nasional Indonesia. memajukan pengembangan teknologi inovasi dalam skala nasional. mengadakan gathering dan seminar dalam hal menjembatani ABG. dan. memberikan secara terusmenerus informasi tentang perkembangan teknologi baru dan proses produksi. mengatur pertemuan para pakar untuk dapat menjalin kerjasama. Misi lembaga ini adalah mendorong inovasi business di Indonesia. BIC diharapkan menjadi lembaga intermediasi proses inovasi bisnis. memberikan dukungan terhadap program-program pemerintah dalam hal inovasi. swasta.

Persoalan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah rendahnya hasil riset dan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang diadopsi oleh industri atau pengguna teknologi lainnya. Berdasarkan survei WEF tersebut. terutama industri-industri berbasis teknologi (Gambar 12). Aset pengetahuan (stock of knowledge) yang secara kolektif telah terakumulasi pada komunitas pengembang teknologi di kawasan Puspiptek Serpong perlu dikelola dan ‘dipasarkan’. Peran lembaga intermediasi diharapkan dapat mengakselerasi proses adopsi teknologi tersebut. banyak negara membangun Science and Technology Park (STP) sebagai wahana untuk mendekatkan secara fisik antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi. Kapasitas lembaga pengembang teknologi Indonesia sesungguhnya cukup baik. Upaya membangun I-STP ini sudah mulai digarap. Lembaga intermediasi diharapkan menjadi gerbang untuk partisipasi lembaga pengguna teknologi.menjadi lebih murah untuk sarana berkomunikasi antara personel maupun lembaga. Wahana I-STP diproyeksikan akan menjadi model SINas dalam rangka membangun ekonomi Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge based economy (KBE). terbukti dengan posisi indeks inovasi Indonesia dalam peringkat World Economic Forum (WEF) tahun 2010 yang berada pada posisi ke 36. terutama pendidikan tinggi dan kejuruan. Kemampuan inovasi Indonesia ini sudah setara dengan negara-negara yang perekonomiannya sudah berbasis inovasi. Dengan demikian. Ketidak-siapan lembaga pengguna Indonesia untuk mengadopsi teknologi ini tidak sepenuhnya merupakan resultan dari rendahnya kapasitas adopsi teknologinya. Indonesia merencanakan untuk membangun Indonesian STP. upaya-upaya ini diharapkan dapat mendongkrak status kesiapan teknologi Indonesia. Secara kolektif. Kementerian Riset dan Teknologi perlu merevitalisasi lembaga-lembaga intermedia yang sudah terbentuk. tetapi juga merupakan akibat dari teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan lembaga pengguna tersebut. 18 Tahun 2002 . termasuk lembaga keuangan dan lembaga pendidikan. Oleh sebab itu. Untuk tujuan ini. Upaya ini diharapkan akan meningkatkan relevansi teknologi yang dikembangkan (karena semakin memahami kebutuhan pengguna) dan sekaligus meningkatkan kapasitas adopsi pengguna (karena peningkatan kapasitas SDM-nya dalam mengenali dan mengaplikasikan teknologi). yang disingkat sebagai I-STP. I-STP menjadi saluran efektif bagi teknologi untuk memberikan kontribusi 111 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni dengan merevitalisasi kawasan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong. yakni pada peringkat ke 91. Dinamika interaksi pengembang-intermediator-pengguna teknologi yang intensif dan produktif akan dengan sendirinya ‘mengundang’ partisipasi lembaga-lembaga penunjang lainnya. terbukti dengan peringkat kesiapan teknologi (technological readiness) yang masih relatif rendah. yakni Business Technology Center (BTC) dan Business Innovation Center (BIC). dilaporkan bahwa kapasitas pengembangan teknologi ini ternyata belum diimbangi dengan kesiapan pengguna teknologi untuk mengadopsinya. Pembangunan I-STP (melalui revitalisasi Puspiptek Serpong) merupakan salah satu upaya untuk menyediakan wahana untuk meningkatan frekuensi dan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi.

Definisi umum tentang Pusat Unggulan adalah: ‘an organization which is 112 Naskah Akademik Perubahan UU No. kawasan Puspiptek Serpong. 5.1. akan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan inovasi mandiri yang dapat menjadi model SINas Indonesia yang membanggakan. Metamorfosis Puspiptek Menjadi I-STP Menurut UU No. lembaga litbang. serta pusat peragaan iptek untuk dapat menumbuhkan budaya iptek. sebagai kawasan iptek sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. Gabungan dua kawasan ini akan membentuk Innovation Park (STP+IP = InnoPark). Menghadirkan lembaga pendidikan tinggi. Kawasan ini diharapkan dapat memfasilitasi sinergi. yang jika dibangun bersama rakyat. 18 Tahun 2002 .nyata terhadap peningkatan ekonomi nasional. 18 Tahun 2002. Membangun Pusat Unggulan Inovasi Pusat Unggulan merupakan padanan kata untuk Center of Excellence yang sudah sangat dikenal dan digunakan tidak hanya dalam bidang iptek. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. seperti kawasan iptek.6. dan sekolah menengah kejuruan di kawasan ‘InnoPark’ ini. maupun badan usaha. politeknik. tetapi juga digunakan di dunia bisnis maupun bidang-bidang lainnya. maka akan diyakini mampu menyejahterakan rakyat sebagaimana yang amanahkan oleh konstitusi. Gambar 12. pertumbuhan. dilengkapi dengan lembaga dan fasilitas pendukungnya yang sepadan. Untuk kondisi Indonesia. pemerintah maupun swasta dapat mengembangkan sarana dan prasarana iptek. dan interaksi antara perguruan tinggi. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya.

Tersirat dalam definisi ini adalah: [1] keberhasilan dan reputasi tersebut bersifat relatif (dibandingkan dengan lembaga-lembaga serupa di bidang tertentu). Dengan demikian. dianggap berhasil dan mempunyai reputasi yang sangat baik di bidangnya. Pengembangan Pusat Unggulan Inovasi yang Konsisten dengan Amanah Konstitusi 113 Naskah Akademik Perubahan UU No. maka ada dua opsi dalam membangun pusat unggulan inovasi. Maknanya. Pusat Unggulan harus dikenal oleh komunitasnya. Gambar 13. Pusat unggulan yang akan didorong untuk tumbuh dan berkembang adalah lembaga atau konsorsium yang konsisten dengan amanah konstitusi. dan program Kementerian Riset dan Teknologi (Gambar 13). 18 Tahun 2002 . kebijakan sektoral. Oleh sebab itu. Untuk mencapai standar ini. sebuat pusat unggulan harus menetapkan standar kinerja yang sangat tinggi. sesuai dengan kondisi awal dan sasaran yang ingin dicapai. dalam melaksanakan fungsinya. yakni dengan format pengembangan lembaga tunggal tapi dengan memperkaya tugas dan fungsinya. atau dengan membentuk konsorsium yang terdiri dari paling tidak lembaga pengembang dan pengguna teknologi (Gambar 14). kebijakan nasional. dimana [3] bidang keunggulan tersebut bersifat terbuka untuk kompetensi atau spesifikasi fungsi tertentu. maka sangat tepat jika Pusat Unggulan yang difasilitasi perkembangannya oleh Kementerian Riset dan Teknologi adalah keunggulan dalam membangun sistem inovasi. sehingga dapat secara nyata mampu mewujudkan sistem inovasi. Dalam konteks pilihan ini.recognized as being successful and having an excellent reputation in its field’ . tepat jika disebut sebagai Pusat Unggulan Inovasi atau Center of Excellence on Innovation. dan [2] keunggulan tersebut khusus pada bidangnya. Penciri lain yang digunakan untuk mendeskripsikan pusat unggulan adalah: ‘a place where there are very high standards of work’.

yakni: [1] mempunyai kepentingan atau tujuan bersama (shared goal atau core issue) yang jelas dan disepakati oleh semua anggota. dan regulator sewajarnya akan semakin berkurang jika komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi dalam wadah konsorsium ini telah berlangsung secara intensif dan produktif. Mendorong Pembentukan Konsorsium Inovasi Interaksi dan komunikasi antara pengembang dan pengguna teknologi menjadi lebih baik apabila ada wahana untuk berinteraksi. Setiap konsorsium yang dibentuk mempunyai tujuan bersama yang jelas. dan benefits yang diharapkan dapat diperoleh dengan bergabung dalam konsorsium tersebut.Gambar 14. karena ini yang menjadi komitmen awal dan mendasar bagi setiap lembaga untuk memutuskan apakah akan ikut bergabung dalam konsorsium tersebut atau tidak. [2] hubungan yang dibangun harus bersifat mutualistik sebagai modal dasar untuk memotivasi semua anggota untuk memperjuangkan kepentingan bersama. intermediator. 18 Tahun 2002 . kapasitas lembaga sebagai bentuk share yang dapat dikontribusikan. Pilihan Alternatif Organisasi Pusat Unggulan Inovasi 5. Secara umum terdapat tiga asas penting dalam membangun konsorsium.1. Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya diharapkan berperan aktif dalam membentuk konsorsium ini. antara lain berupa konsorsium. Tentu dengan memperhatikan tugas dan fungsi lembaganya masing-masing.7. Tujuan bersama dimaksud perlu disepakati dari awal pembentukan konsorsium. dan [3] semua anggota sepakat untuk sharing sumberdaya sepadan dengan fungsi dan kapasitasnya masing-masing. terutama pada fase inisiasinya. karena ini merupakan dasar komitmen bersama yang penting 114 Naskah Akademik Perubahan UU No. Peran pemerintah sebagai fasilitator.

Dalam konteks sistem inovasi. Salah satu alasan pembentukan konsorsium adalah agar penggunaan sumberdaya (manusia. semua lembaga yang relevan dapat bergabung dalam konsorsium atas persetujuan inisiator dan semua anggota yang telah bergabung (existing members). Oleh sebab itu. atau malah berpotensi kontra-produktif dan dapat saja ada free rider yang kontribusinya tidak signifikan terhadap kinerja konsorsium. efisien. Kapasitas dan jenis kompetensi lembaga yang dibutuhkan.untuk kelangsungan eksistensi konsorsium. 18 Tahun 2002 . namun konsorsium pada hakikinya bersifat tidak-permanen. Keterjaminan sifat mutualistik tersebut akan memotivasi semua anggota untuk memberikan kemampuannya yang terbaik dan ikut berusaha keras untuk mencapai tujuan bersama. 115 Naskah Akademik Perubahan UU No. dimana anggota disepakati dari awal dan tidak berubah sampai tujuan bersama dicapai. Konsorsium lebih berorientasi fungsional dan terfokus pada upaya mencapai tujuan bersama yang disepakati sejak awal pembentukannya. Secara formal. Oleh sebab itu. serta kewajibannya (Gambar 15). Setiap konsorsium tentu memiliki beberapa anggota. sarana dan prasarana. efektif. Sedangkan jumlah anggota yang terlalu sedikit mengandung risiko akan kekurangan kapasitas dan kompetensi untuk mencapai tujuan. Disamping itu. hak. anggota konsorsium minimal dua lembaga. yakni saling menguntungkan. maka konsorsium harus dikelola secara profesional berlandaskan asas-asas good governance. Dalam konteks ini. sebaliknya jumlah anggota yang terlalu banyak juga dapat menyebabkan ketidak-efisienan dalam pelaksanaan pekerjaan. walaupun mungkin butuh waktu yang relatif lama untuk mencapai tujuan bersama. maka paling tidak satu lembaga mewakili pengembang teknologi dan lembaga lainnya mewakili pengguna teknologi. dimana. akuntabel. serta juga dipengaruhi oleh beban kegiatan dan target waktu untuk pencapaian tujuan dimaksud. Konsorsium merupakan sarana bersama dan bukan tujuan akhir bagi para pihak yang terlibat sebagai anggotanya. Oleh sebab itu. semua anggota diposisikan secara sejajar. Sinergi fungsional merupakan asas yang menjiwai tata kerja organisasi konsorsium. yakni: [1] dilakukan secara terbuka dan dinamis. Lebih bagus jika ditambah satu lembaga lagi yang menjadi representasi unsur pemerintah. Namun jumlah anggota yang pas tentu tergantung dengan tujuan bersama yang ingin dicapai. terutama harus transparan. atau [2] dilakukan secara tertutup dan bersifat statis. dan pembiayaan) dapat dilakukan secara lebih efisien dan juga untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. juga perlu masuk dalam formula untuk penetapan jumlah anggota yang ideal. dan taat hukum. agar sifat mutualistik ini selalu terpelihara. Ada dua opsi dalam menghimpun anggota konsorsium. karena ia menjadi jiwa dari sebuah konsorsium. pola hubungan antar-anggota yang bersifat horizontal akan lebih dominan. budaya sharing perlu dibangun. Kesepakatan ini sangat penting karena tujuan bersama tersebut mungkin baru akan dicapai dalam jangka menengah atau panjang. Hubungan antar-anggota konsorsium harus bersifat mutualistik. sama kedudukan. setiap konsorsium harus ada anggota yang disepakati sebagai koordinator.

[2] sinergi anggota mampu membangun kapasitas kolektif yang cukup (adequate collective capacity) untuk mencapai tujuan/sasaran bersama. 18 Tahun 2002 Keberhasilan suatu konsorsium ditentukan beberapa faktor. terutama pada fase awal. . [3] mempunyai strategi pelaksanaan yang tepat dan implementatif (implementable strategy). 2011b) 116 Naskah Akademik Perubahan UU No. yaitu: [1] mempunyai tujuan/sasaran bersama yang jelas dan disepakati semua anggota (clear shared goal) serta sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan publik (demand-driven). Model Konsorsium Inovasi (Lakitan.Gambar 15. [4] dikoordinir oleh figur kepemimpinan yang kuat (strong leadership) . dan [5] secara konsisten dikelola berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance)(Gambar 16).

serta berbasis pada kapasitas kolektif yang dimiliki. seperti berbagai bentuk kolaborasi yang lainnya. . 18 Tahun 2002 Tujuan dan target/sasaran bersama merupakan perekat utama antar-anggota dari sebuah konsorsium. Akan tetapi anggota suatu konsorsium dapat saja juga menjadi anggota konsorsium lain dengan tujuan/sasaran yang berbeda. sistematis. jika anggotanya mempunyai kompetensi inti yang beragam. Target ini dapat saja terdiri dari beberapa sub-target. perlu menyusun strategi operasional yang terencana dengan baik. pendekatan konsorsium juga direkomendasikan oleh Malherbe dan Stanway (2010) sebagai bentuk kolaborasi yang tepat.Gambar 16. Konsorsium memang bertumpu pada inter-dependensi antar-anggota. pola 117 Naskah Akademik Perubahan UU No. apalagi multi-tujuan. Kunci Sukses Konsorsium (Lakitan. Konsorsium dengan multi-sasaran. Keberlanjutan integrasi dan viabilitas dari sebuah konsorsium selain bertumpu pada tujuan bersama yang jelas. maka sangat mungkin terjadi ‘sibling rivalry’ antar-anggota tersebut. dengan pentahapan yang logis. tetapi secara kolektif sebuah konsorsium harus punya kemandirian untuk mencapai tujuan bersama. Sebaiknya suatu konsorsium terbangun dari anggota dengan ‘core business’ yang berbeda atau mempunyai jenis kompetensi yang berbeda. tetapi bersifat komplementatif satu dengan yang lainnya. sehingga mampu menjalankan misinya dengan lebih baik dan komprehensif. Jika ada dua atau lebih anggota konsorsium dengan jenis kompetensi yang sama. sehingga dapat membangun sinergi yang secara kolektif akan menghasilkan konsorsium dengan kapasitas lebih besar dan dengan ragam kompetensi yang lebih banyak. tetapi semua sub-target tersebut harus berada dalam lingkup payung target utamanya atau berada dalam satu klaster. akan mudah terancam bubar. 2011b) Sejalan dengan ini. sehingga dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien. Konsorsium.

Konsorsium sebagai wadah komunikasi dan interaksi antar-lembaga yang menjadi anggotanya. Konsorsium dapat memberikan manfaat antara lain: [1] meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya manusia. peran figur yang kuat akan sangat krusial dalam rangka membangun ‘chemistry’ yang harmonis antar-anggota dengan keragaman latar belakang kompetensi dan budaya kerja. Sebagai langkah antisipasi maka perlu disiapkan stabilisator yang ampuh. konsorsium memang dirancang untuk menjawab tantangan yang lebih berat. pada dasarnya merupakan bentuk ‘miniatur’ dari sistem inovasi. Dalam jangka panjang. serta biaya dalam upaya mencapai tujuan. yakni berupa peraturan internal tentang tata kelola yang disepakati semua anggota. Dalam konteks ini. jika terdapat anggotanya yang mewakili komunitas pengembang teknologi dan juga ada yang mewakili komunitas pengguna teknologi. maka yang terjadi bukan sinergi fungsional yang mutualistik. Tata kelola yang baik tentu harus dibangun berbasis pada prinsipprinsip good governance.hubungan antar-anggota yang bersifat mutualistik. Namun demikian. [3] meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi yang menjadi modal dasar untuk mewujudkan/memperkuat sistem inovasi. tetapi hanya akan merupakan proses scale-up (memperbesar volume output) saja. atau lebih tepatnya koordinator konsorsium. tidak cukup kuat faktor pendorong bagi anggota untuk berinteraksi secara lebih intensif. 18 Tahun 2002 . [2] membuka peluang untuk mendapatkan capaian yang lebih besar/signifikan. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya akan lebih maksimal jika konsorsium terdiri dari anggotaanggota dengan kompetensi yang beragam dan bersifat komplementer. karena tidak ada rasa saling membutuhkan yang kuat apabila kompetensi anggota konsorsiumnya sama. Selayaknya. sarana dan prasarana. Kompetensi lembaga yang beragam sebagai anggota konsorsium juga membuka peluang untuk membangun kapasitas kolektif yang lebih besar dan komprehensif. yang sangat mungkin akan berbeda satu sama lain. yang tidak mungkin dicapai masing-masing anggota secara individual. Selain itu. yang butuh kontribusi dari berbagai kompetensi. juga sangat membutuhkan figur pemimpin yang kuat dan secara de facto mampu mengelola konsorsium secara bijak. maka secara langsung juga akan penting kontribusinya dalam mengakselerasi upaya membangun 118 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pergantian ini seharusnya tidak mempengaruhi kinerja konsorsium secara drastis. sebaliknya akan sedikit dampaknya jika kompetensi anggota relatif homogen. konsorsium dapat dipandang sebagai mikro-ekosistem yang kondusif untuk mengalirkan informasi kebutuhan dari pengguna ke pengembang teknologi dan sebaliknya aliran paket teknologi dari pengembang ke pengguna teknologi. Apabila kompetensi anggotanya sama. Dengan demikian. Apabila proses komunikasi dan interaksi antar aktor inovasi yang bernaung dalam suatu konsorsium berfungsi sebagai ekosistem kondusif ini dapat dipertahankan selama kurun waktu yang lama. akan lebih mampu untuk mengeksekusi aktivitas dengan lingkup yang lebih luas dan/atau tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. tentu akan perlu dilakukan pergantian pemimpin. setiap pemimpin memiliki style of leadership masing-masing. dan mungkin hanya dapat diselesaikan melalui paket solusi multi-dimensi yang komprehensif. Pada fase awal terbentuknya konsorsium.

Proses panjang ini harus diawali dengan membangun budaya inovasi pada jenjang yang paling mikro. Komisi Teknis DRN mengikuti tujuh bidang fokus prioritas pembangunan iptek sesuai dengan RPJPN 2005-2025. yang memerlukan revisi peraturan perundang-undangan. Secara realistis. difokuskan pada upaya membentuk DRN dengan peran yang lebih signifikan dan proyeksi kontribusi yang lebih nyata terhadap pembangunan iptek. Revitalisasi Dewan Riset Nasional Dewan Riset Nasional (DRN) merupakan lembaga non-struktural yang berfungsi memberikan masukan kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi terutama dalam menetapkan Agenda Riset Nasional (ARN).8. sehingga peran dan kontribusi DRN secara nyata dalam pembangunan iptek masih belum optimal. termasuk kemungkinan reposisi organisasi DRN untuk langsung bertanggung jawab kepada Presiden. 5. maka perlu dilakukan revitalisasi lembaga DRN. revitalisasi DRN perlu dilakukan dalam dua fase. teknologi berwawasan ekologis (green technology). Saat ini DRN memiliki kewenangan yang terbatas dan dukungan sumberdaya yang juga belum memadai. Pada Fase Pertama. ARN pada saat ini belum secara penuh diacu oleh lembaga-lembaga riset. Namun demikian. Sedangkan penyesuaian komposisi anggota selain untuk menyeimbangkan antara perwakilan dari komunitas pengembang dengan pengguna teknologi. dan difokuskan pada upaya restrukturisasi dan penyesuaian komposisi keanggotaan. yakni pada lingkup sebuah konsorsium. Untuk meningkatkan peran dan kontribusi DRN tersebut. restrukturisasi lebih terarah pada upaya penyesuaian pembagian Komisi Teknis agar dapat mengakomodir perkembangan dan prioritas bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.budaya inovasi. termasuk upaya meningkatkan kapasitas teknologi untuk pengelolaan sumberdaya kemaritiman. Revitalisasi dilakukan berbasis pada peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku dengan tanpa memerlukan revisi produk legislasi yang ada. Matrik bidang dan kompetensi anggota DRN yang diusulkan disajikan pada Tabel 8. serta dengan terus mendukung pengembangan sains dasar dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. dan mengurangi kemiskinan (pro-poor technology). Selain itu. juga diarahkan agar aktor-aktor utama dari sektor pembangunan (yang sesuai dengan pembagian komisi teknis DRN) dapat lebih efektif berperan.1. yakni Fase Pertama dilakukan segera selama periode 2009-2011 untuk diimplementasikan pada periode tugas selanjutnya (2012-2014). terutama yang terkait langsung dengan tujuh bidang fokus pembangunan. namun demikian pada masing-masing komisi teknis tersebut perlu didukung oleh anggota-anggota yang akan mendalami tentang lima unsur strategis untuk penguatan inovasi nasional. maupun lembaga pemerintah non-kementerian yang melaksanakan kegiatan riset. pengembangan industri. 119 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi akan melalui proses panjang. 18 Tahun 2002 . Fase Kedua diawali dengan penyesuaian produk regulasi untuk landasan bagi pembentukan DRN dengan tugas pokok dan fungsi yang lebih vital (revitalized DRN). masing-masing komisi teknis juga perlu memperhatikan cross-cutting issues. baik perguruan tinggi maupun lembaga litbang kementerian. Budaya inovasi nasional tidak dapat dibangun secara instan. ARN diharapkan menjadi petunjuk pelaksanaan arah dan prioritas kegiatan riset secara nasional.

yang sekaligus dapat ditetapkan sebagai Ketua Komisi Teknis.  Anggota yang mewakili unsur regulator dan pembuat kebijakan publik dapat ditunjuk dari para Kepala Badan Litbang Kementerian Teknis terkait sesuai dengan bidang fokus masing-masing. yakni dari lembaga riset pemerintah. . industri kreatif. industri kecil dan menengah.  Anggota yang diyakini akan memahami kapasitas adopsi pengguna teknologi adalah para pengguna teknologi itu sendiri. asosiasi industri untuk komisi teknis transportasi.Anggota DRN yang diangkat berjumlah 50 orang. lembaga riset swasta/industri. serta pengguna teknologi untuk tujuan nonkomersial lainnya.  Anggota yang mewakili pihak yang memahami kebutuhan riset dan teknologi sesuai skenario penguatan inovasi nasional yang berorientasi demand-driven. dan kementerian hankam untuk komisi teknis pertahanan dan keamanan. dengan formula sebagai berikut: Jumlah anggota DRN = 1 Ketua + 7 Komtek [ 5 Isu SINas + 2 Unsur Penguat ] Formula keanggotaan DRN ini dapat dirinci sebagai berikut:  Satu orang ketua yang lebih fokus sebagai pimpinan puncak yang tidak perlu terlibat langsung dalam kegiatan teknis pada tingkat komisi. sehingga ketua ini dapat dipilih dari ‘prominent figure’ yang dengan ketokohannya dapat meningkatkan kewibawaan lembaga DRN dan sekaligus dapat memimpin anggota DRN secara efektif agar dapat berkinerja dengan baik. Pembagian komisi teknis DRN dan kompetensi anggotanya terkait upaya penguatan SINas. industri besar. KOMISI TEKNIS PENGUATAN SINAS 120 Naskah Akademik Perubahan UU No. asosiasi industri. dan lembaga pemerintah pengguna teknologi. dan perguruan tinggi. yakni para pelaku produksi barang/jasa baik dari unsur masyarakat. sepatutnya dipilih dari unsur komunitas masyarakat. Misalnya dari wakil asosiasi petani untuk komisi teknis pangan. dan pengguna langsung teknologi hankam (TNI dan Polri). 18 Tahun 2002  Anggota yang harus mengawal relevansi teknologi sudah sepatutnya berasal dari komunitas pengembang teknologi. Tabel 8.

serta jejaring lembaga iptek yang mantap dalam rangka menjamin pemutakhiran data iptek yang berkesinambungan. 18 Tahun 2002 . misalnya komisi teknis pangan dapat menambah satu anggota dari pakar kemaritiman untuk mendukung isu strategis pembangunan ketahanan pangan dan satu anggota dari pakar ilmu sosial karena berdasarkan realita. tetapi sangat perlu terlibat secara langsung dalam pembahasan pada tingkat pleno sebagai penyampai aspirasi daerah yang diwakilinya. pendidikan nasional. nelayan. ekonomi. sehingga sangat penting keterwakilannya dalam lembaga DRN. sedangkan  Anggota DRN yang mewakili DRD Provinsi (ex officio) tidak harus dimasukkan secara tetap dalam komisi teknis. termasuk perwakilan dari kementerian terkait. perencanaan pembangunan nasional/Bappenas. dan lembaga intermediasi non-pemerintah. dan pembudidaya ikan karena belum mengintegrasikan pemahaman dimensi sosial. yakni kementerian keuangan.Relevansi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kapasitas Adopsi Pengguna Teknologi Intermediasi & Penunjang Sistem Inovasi Regulasi dan Kebijakan Publik Kebutuhan Riset dan Teknologi Teknologi Pangan Teknologi Energi Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Transportasi Teknologi Pertahanan dan Keamanan Teknologi Kesehatan Teknologi Material Maju  Anggota yang mewakili lembaga intermediasi dan lembaga penunjang lainnya juga diyakini sangat krusial perannya untuk peningkatan kinerja DRN. revitalisasi diharapkan mampu memposisikan DRN untuk melaksanakan tugas pokok yang mencakup: [a] membangun basis data iptek yang akurat dan komprehensif. Pada Fase Kedua. peternak. [b] membangun kemampuan/kapasitas dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan teknologi di dalam negeri dan sekaligus juga menyediakan sistem 121 Naskah Akademik Perubahan UU No. perindustrian.  Dua anggota untuk penguat ditentukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing komisi teknis. banyak teknologi pangan yang tidak diadopsi petani. dan kultural dalam pengembangan teknologi tersebut.

diperlukan penyesuaian kembali produk-produk regulasi agar ekosistem yang kondisif bisa terbangun dan reposisi organisasi DRN dalam tata organisasi pemerintah. khususnya Pasal 28 ayat (3).informasi perkembangan dan ketersediaan teknologi nasional. namun esensinya sama. atau dapat juga dilakukan amandemen/revisi terhadap produk hukum yang ada agar lebih sesuai dan/atau lengkap. 18/2002) tentang Sistem Nasional Penelitian. Beberapa pemahaman dasar terkait upaya penguatan inovasi dirasakan masih perlu disinkronisasikan ulang. Pengembangan. badan usaha tersebut 122 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Difusi Teknologi (Lampiran 2). Walaupun banyak ragam terminologi yang digunakan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lampiran 1). 18/2002. untuk melaksanakan ketentuan UU No. 18/2002 ini disusun dalam nuansa pengembangan iptek yang masih sangat dominan bersifat supply-push. 5. kecenderungan global saat ini juga secara kentara telah menggeser orientasi pengembangan teknologi dari yang bersifat supply-push menjadi demand-driven. telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 (PP No. oleh sebab itu secara umum UU No. [c] membangun kapasitas dan kewenangan untuk menetapkan prioritas riset nasional sesuai dengan kebutuhan ( demanddriven) dan berbasis potensi sumberdaya nasional. UU No. Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas ini. 18/2002 ini masih belum sepenuhnya selaras dengan orientasi pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. 35/2007) tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Produk perundang-undangan yang menjadi basis legal untuk pengembangan SINas di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 (UU No. 18/2002 akan digunakan sebagai landasan legal utama untuk membangun inovasi nasional. sangat diperlukan upaya untuk menerbitkan regulasi baru atau sinkronisasi produk perundang-undangan yang telah ada dengan langkah aksi penguatan inovasi nasional yang akan ditempuh. yakni pengembangan teknologi harus lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang tengah dihadapi.9. Substansi pokok dari PP No. sangat mungkin upaya untuk melengkapi undang-undang terkait dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih sesuai. 35/2007 ini adalah memberikan kesempatan bagi badan usaha untuk mengalokasikan dana dalam rangka mendukung kegiatan inovasi nasional. maka diperlukan upaya revisi atau melakukan amandemen terhadap undang-undang ini agar lebih selaras dengan upaya penguatan inovasi nasional yang lebih bersifat demand-driven. dan [d] membantu mengawal investasi pemerintah untuk pembangunan iptek. Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi Semua aksi yang akan dilakukan dalam rangka mewujudkan penguatan inovasi nasional memerlukan dukungan regulasi dan/atau kebijakan yang tepat dan menyeluruh. Sebagai kompensasinya. Inovasi. Selanjutnya. Oleh sebab itu. 18 Tahun 2002 . agar secara konsisten fokus pada prioritas yang telah ditetapkan.1. Peraturan perundang-undangan yang dilengkapi dengan pedoman teknis pelaksanaannya. Secara operasional. agar semua regulasi yang diharapkan dapat diimplementasikan secara utuh. Apabila UU No. Selain itu.

35/2007 ini dapat diimplementasikan adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur pedoman teknis untuk pemberian insentif tersebut. Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) telah mengagendakan untuk meninjau ulang peraturan perundang-undangan yang menjadi bottleneck pembangunan perekonomian Indonesia. termasuk diantaranya implementasi PP No. Kekhawatiran yang berlebihan tentang kemungkinan penurunan penerimaan pendapatan pemerintah dari pajak dan kepabeanan akibat pemberlakuan kebijakan ini perlu dihilangkan. menuju innovation-driven economy. dinyatakan bahwa badan usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. Secara jelas pada Pasal 6 ayat (1) PP No. yakni belum adanya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan yang mengakomodisasi pemberian insentif sebagaimana diamanahkan dalam Pasal 6 ayat (2) PP No. Kementerian Riset dan Teknologi telah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. Selanjutnya pada ayat (2). dampaknya kegiatan produksi barang dan jasa juga akan meningkat dan penerimaan pajak juga akan ikut meningkat. 35/2007. Sebagai pelaksanaan dari pasal ini. 35/2007 dengan peraturan di bidang perpajakan dan kepabeanan. keberhasilan implementasi MP3EI antara lain ditentukan adanya penguatan inovasi di sektor usaha. sesuai Pasal 7 ayat (1) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. 35/2007 tersebut. Pasal 6 ayat (3) PP No. 35/2007 ini sangat ‘favorable’ bagi upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. Arah yang akan ditempuh agar PP No. maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan. Agar insentif bagi pelaku bisnis/industri untuk lebih terlibat dalam pembiayaan kegiatan riset dapat terlaksana. 35 Tahun 2007 sejalan dengan Perpres No. Walaupun PP No. dinyatakan bahwa insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. kepabeanan. inovasi. mengingat jika penguatan inovasi nasional dapat berlangsung secara produktif. 35/2007 menyatakan bahwa besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. Bantuan teknis ini. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. 35/2007 ini. diharapkan akan mendorong kolaborasi riset. perlu dilakukan sinkronisasi dari sisi legal formal pendukungnya. 123 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dengan dikeluarkannya peraturan ini. Upaya percepatan dan perluasan pembangunan dilakukan melalui penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). dan difusi teknologi. Hal ini disebabkan adanya ganjalan untuk implementasinya. terutama antara PP No. 18 Tahun 2002 . Oleh karena itu. sekaligus peningkatan kemampuan perekayasaan. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan. namun pelaksanaan peraturan ini sampai sekarang belum optimal. Secara garis besar PP No. inovasi. proses.mendapatkan insentif untuk mendukung kegiatan bisnisnya.

Sumbangan Penelitian Dan Pengembangan. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. Interaksi yang lebih intensif diyakini akan berpengaruh langsung dan positif terhadap proses adopsi teknologi. 93/2010 lebih berpeluang untuk diimplementasikan dibandingkan dengan PP No.Namun demikian dalam pelaksanaannya. 35/2007 yang merupakan turunan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Meskipun sumbangan ini ditujukan untuk kegiatan litbang. termasuk sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 93/2010 ini mengatur bahwa sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak. 35 Tahun 2007. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Selain itu untuk memperkuat insentif non fiskal. 93/2010. Sumbangan Pembinaan Olahraga. dengan lembaga pengembang teknologi yang mendukung kebutuhan teknologi untuk industri. Lampiran 3). yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan (Pasal 1 butir b). Sumbangan Fasilitas Pendidikan. 124 Naskah Akademik Perubahan UU No. sebagaimana kebijakan pemberian fasilitas insentif kepada badan usaha tentunya dapat lebih mendorong kegiatan litbang di badan usaha. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan sebagai pelaksanaan Pasal 7 ayat (3) PP No. diperlukan dukungan terutama dari lembaga litbang yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian untuk implementasi insentif bantuan teknis litbang. Upaya pemberian insentif kepada pihak pengguna teknologi (terutama industri) sekarang mempunyai landasan hukum lain yang baru. karena PP No. inovasi dan difusi teknologi. Secara teknis dan psikologis. namun setidaknya akan mencakup juga upaya untuk peningkatan kapasitas perekayasaan. Saat ini telah dikeluarkan Peraturan Menteri Riset dan Teknologi No. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. berbeda dengan PP No. diperlukan dukungan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur kriteria teknis dan tata kelola dalam pemberian insentif riset di badan usaha. terutama industri. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. 93/2010 merupakan turunan langsung dari UU No. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. Pengembangan. baik karena teknologi yang dihasilkan oleh pengembang menjadi lebih relevan (karena pengembang menjadi lebih . PP No. Dukungan regulasi ini diharapkan akan mengintensifkan interaksi dan komunikasi antara lembaga pengguna. Besarnya nilai sumbangan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya (Pasal 3). 18 Tahun 2002 PP No. yakni Peraturan Pemerintah No. 35/2007. Sumbangan dapat diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang (Pasal 5 ayat 1). 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. Adanya PP No. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (selanjutnya disingkat PP No.

memahami kebutuhan), juga karena peningkatan kapasitas adopsi dari pihak pengguna (karena meningkatkan pemahaman pengguna atas teknologi yang ditawarkan). Insentif non-finansial untuk mendorong kegiatan riset dalam negeri juga telah dilakukan, antara lain melalui Peraturan Menteri Perindustrian No. 11/M-IND/PER/3/2006 tentang kebijakan penetapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP). Selain itu, dengan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan, badan usaha dimungkinkan mendapatkan akses kapasitas litbang melalui penempatan tenaga ahli atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga litbang pemerintah. Regulasi dan kebijakan pemerintah diperlukan untuk mengawal implementasi penguatan inovasi dapat berjalan konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat; [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya, proporsional kontribusinya, dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya; dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam pengembangan dan implementasi SINas. Bentuk kebijakan pemerintah yang lain adalah untuk mendukung kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan, tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi, bukan atas usulan pihak pengguna. Dalam beberapa kasus, industri hanya pada posisi memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak harus dalam bentuk pembiayaan bersama, tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Akan tetapi yang selalu perlu diperhatikan adalah apapun bentuk atau format riset kolaborasi tersebut, ia akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti memang merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat, bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. Memahami bahwa keberhasilan perkuatan inovasi tidak hanya tergantung pada kinerja masingmasing aktor inovasi (lembaga pengembang dan pengguna teknologi, serta lembaga intermediasi), tetapi juga sangat tergantung pada berbagai pihak yang ikut mewujudkan ekosistem inovasi yang lebih kondusif, maka pengembangan legislasi sebagai bagian penting dari ekosistem SINas perlu mendapat perhatian serius. Perlu dilakukan telaah secara cermat terhadap semua produk hukum yang terkait dengan upaya penguatan inovasi, baik langsung maupun tidak langsung. Identifikasi untuk hal-hal yang perlu disinkronisasi, direvisi, atau bahkan perlu dicabut, serta untuk hal-hal yang masih perlu pengaturan secara legal formal.

125

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

5.1.10. Berbasis Sumberdaya dan Memenuhi Kebutuhan Nasional Untuk mewujudkan SINas Indonesia yang ‘workable’, harus secara seksama mempertimbangkan potensi sumberdaya nasional, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan infrastruktur ekonomi dan sosial, kemampuan permodalan domestik (plus modal asing secara selektif), dan kapasitas pengembangan teknologi saat ini. Selain itu juga perlu diselaraskan dengan peraturan perudang-undangan yang berlaku, kebijakan publik, budaya kerja, keragaman sosio kultural dan tradisi, serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia lainnya.28 Pilihan landasan sumberdaya dan budaya sendiri dalam membangun inovasi nasional akan membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berpartisipasi aktif. Perlu dipahami bahwa upaya memajukan bangsa tidak dapat dilakukan dengan memilih jalan pintas, dengan mengabaikan pentingnya fondasi yang kokoh agar pengembangan dan keberlanjutan inovasi lebih terjamin. Pembangunan nasional tidak hanya dilakukan untuk rakyat tetapi juga harus dilakukan bersama rakyat. Indonesia sering dikategorikan sebagai negara yang sangat kaya akan sumberdaya alamnya. Provokasi ini menyebabkan Indonesia terlalu mengandalkan kekayaan sumberdaya alam tersebut sebagai modal utama pembangunan nasional, seolah sumberdaya alam tersebut akan selalu tersedia selamanya. Eksploitasi sumberdaya alam yang tidak terkelola secara bijak dibarengi dengan pembangunan yang tidak terprogram dengan baik, telah membawa Indonesia pada kondisi saat ini: tetap menjadi negara berkembang dengan penguasaan dan penerapan teknologi yang terbatas. Indonesia terkena fenomena ‘resource curse’29 dimana kemajuan pembangunannya tak sebanding dengan nilai eksploitasi sumberdaya alamnya. Pengelolaan sumberdaya alam yang bijak bukan hanya terbatas pada penggunaan dana hasil eksploitasi yang diarahkan untuk peningkatan kualitas layanan publik dan investasi untuk infrastruktur sosial, tetapi juga perlu diarahkan untuk mendukung pengembangan teknologi yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produktivitas industri barang dan/atau jasa, sehingga memberikan nilai tambah bagi setiap produk nasional. Produk ekspor Indonesia tidak boleh selamanya dibiarkan hanya dalam bentuk komoditas bahan baku industri atau hanya sampai produk setengah-jadi (intermediate products). Produk ekspor Indonesia harus secara maksimal diupayakan sudah dalam bentuk akhir yang dibutuhkan konsumen (consumer goods). Indonesia adalah negara maritim, tak ada yang bisa memungkiri kenyataan ini. Telah sering didengungkan bahwa Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas. Berdasarkan Deklarasi Juanda 1957, wilayah laut NKRI adalah sekitar 3 juta kilometer persegi. Setelah diterimanya
28

29

Sebagai bandingan, negara maju seperti Jepang juga membangun SINas-nya di atas landasan ‘environment, culture, tradition, and national character’ bangsanya sendiri. Hasil kajian Komarulzaman dan Alisjahbana (2008) untuk kasus Indonesia menunjukkan bahwa “There appears to be resource curse when we estimate the resource rent in its three components. Forest, oil and gas sector rent have positive effect on regional economic growth. But the resource curse may occur if these resources revenues are not invested properly in public sector, either for the provision of public services or in public investment. Meanwhile, mining sector has persistently negative effect on regional economic growth. The existence of this curse will be lessened if the mining sector rent revenues are reinvested in public sector investment.”

126

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, wilayah laut NKRI bertambah luasnya dua kali lipat, menjadi sekitar 6 juta kilometer persegi. Hal yang perlu digarisbawahi, berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia mendapatkan hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil dari garis pangkal lurus Nusantara atau sampai ke batas ‘continental margin’ jika masih ada kelanjutan alamiah pulau-pulau Indonesia di dasar samudera. Masalah pokoknya, apakah setelah berhasil mengklaim teritori wilayah laut ini kita telah melakukan langkah-langkah konkret untuk mengelolanya, sebagaimana amanah konstitusi -UUD 1945 pasal 33 ayat (3)- bahwa kekayaan sumberdaya alam harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kekayaan alam yang terkandung dalam wilayah laut Indonesia juga belum diinventarisasi secara baik. Banyak potensi sumberdaya kelautan yang kita miliki, tetapi sesungguhnya belum mampu kita pahami nilai kemanfaatan ekonomi dan ekologinya. Lebih parah lagi, justru sebagian mungkin belum kita ketahui eksistensi keberadaannya di wilayah laut Nusantara. Ketidakmampuan tersebut terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi kelautan yang belum berkembang di Indonesia. Ironis memang, sebuah negara maritim seperti Indonesia tidak memprioritaskan pengembangan teknologi kelautan. Ketertinggalan dalam penguasaan teknologi kelautan tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Indonesia perlu segera meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi kelautan yang menjadi modal nasional untuk mampu mengelola sumberdaya dan wilayah laut Nusantara. Pengelolaan kelautan yang dimaksud adalah memanfaatkan kekayaan sumberdaya yang dimiliki untuk menyejahterakan rakyat yang diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutannya dengan mematuhi kaidahkaidah ekologis. Teknologi yang dikembangkan perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dengan kearifan ekologi. Ragam teknologi berasas keseimbangan ekonomi-ekologi yang perlu dikuasai mencakup: pertama, teknologi penangkapan ikan, budidaya ikan dan biota laut, serta teknologi pengolahannya; kedua, (bio)teknologi untuk memanfaatkan biodiversitas sebagai sumber bahan baku industri dan sumber tetua untuk program pemuliaan tanaman dan ikan atau biota laut lainnya; ketiga, teknologi eksplorasi dan eksploitasi migas, bahan tambang lainnya dan sumberdaya energi terbarukan; dan keempat, teknologi konservasi sumberdaya kelautan, yang dapat juga dilebarkan cakupannya pada potensi pengelolaannya untuk pariwisata bahari. Keunikan geografis dan kekayaan biodiversitas ekosistem laut Indonesia merupakan modal untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak asing. Modal alamiah ini perlu dilengkapi dengan modal kecerdasan intelektual, yakni penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi kelautan oleh pakar dalam negeri sangat krusial. Tanpa penguasaan teknologi ini, maka kita tidak akan pernah mengetahui secara tepat dan komprehensif tentang ‘apa’ dan ‘berapa banyak’ sumberdaya yang dimilikinya di wilayah laut. Ketidakpahaman ini jelas akan menempatkan Indonesia pada posisi yang lemah dalam setiap ‘dispute’ internasional di wilayah laut. Argumen yang baik tidak akan mampu dibangun di atas fondasi iptek yang rapuh. Diplomasi untuk memperjuangkan harkat martabat bangsa juga tak akan dapat dimenangkan jika tanpa amunisi pemahaman tentang potensi sumberdaya

127

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

dan [3] tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. selama awalan ‘pro’ tersebut tidak sekedar bermakna keberpihakan dalam konteks pembangunan untuk rakyat. Sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan perediksi kebutuhan di masa yang akan datang. Penyesuaian yang dirasakan perlu dilakukan adalah: [1] proporsi antara pendidikan akademik dengan pendidikan profesional. pro-job. perlu dilakukan pencermatan dua arah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu meningkatkan intensitas upayanya dalam meningkatkan relevansi pendidikan agar permasalahan pengangguran terdidik yang mulai meningkat signifikan selama dasawarsa 2000an ini tidak menjadi lebih buruk. Sebaliknya dapat menjadi beban yang maha berat jika harus dipikul oleh sebagian kecil dari populasi tersebut. Pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi sumberdaya manusia. [2] muatan kurikulum dan program studi yang ditawarkan. pro-poor. yakni menyediakan dukungan pembiayaan yang memadai untuk pengembangan teknologi nasional30 dan juga mengawal pengembangan teknologi agar fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nyata. 30 31 Jika mengacu pada ‘Barcelona Target’. Beberapa penyesuaian perlu segera dilakukan. terutama pada jenjang pendidikan tinggi. memacu pertumbuhan ekonomi. 128 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi lebih dimaknai sebagai keberpihakan yang memberi peluang bagi seluruh rakyat untuk ikut berperan aktif membangun bangsa dan negara ini. maka proporsi kapasitas tampung jenjang pendidikan tinggi perlu digeser dari dominan jenis pendidikan akademik (lebih mengutamakan pengkayaan pengetahuan) yang terjadi saat ini menjadi dominan pendidikan profesional (lebih mengutamakan ketrampilan teknis untuk menghadapi permasalahan nyata). Oleh sebab itu. ‘Four Track Strategy’ yang sering disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 18 Tahun 2002 . Perlu digarisbawahi bahwa untuk penguasaan ketrampilan teknis tetap saja selalu membutuhkan pengetahuan dasar yang relevan. jika semua (atau paling tidak mayoritas) secara aktif ikut berpartisipasi. antara lain pada pidato berjudul ‘Pertumbuhan Harus Berkeadilan’ pada Pembukaan Pe rdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia. Teknologi dibutuhkan untuk mengolah sumberdaya alam menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Jakarta. 2010) merupakan kekuatan besar untuk membangun bangsa ini. 3 Januari 2011. dan/atau sosial) tertentu saja. Tentu saja potensi sumberdaya alam Indonesia tidak hanya di laut. Potensi sumberdaya lahan untuk mendukung produksi pertanian dan beragam bahan tambang (termasuk minyak dan gas walaupun mulai menipis) yang terkandung di dalamnya juga cukup penting untuk dikelola sebagai modal pembangunan perekonomian nasional. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa (BPS. diiringi dengan kebijakan ekonomi yang tepat. dan secara nyata memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat. maka idealnya tiga persen dari Produk Domestik Bruto dialokasikan untuk pengembangan teknologi. Indonesia sebagai negara maritim segera mulai secara sungguh-sungguh berupaya untuk meningkatkan penguasaan tekno-ekologinomi laut. misalnya hanya dibebankan pada sekelompok elit (politik. Namun demikian. dan pro-environment31 sudah sangat tepat.seluruh wilayah Indonesia dan potensi manusianya. Kebijakan pro-growth. ekonomi. teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang relevan dan sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya.

Pendidikan formal rakyat Indonesia saat ini mayoritas masih relatif rendah. misalnya pekerjaan di sektor pertanian. Faktor penyebab [2] terkait dengan bidang keilmuan yang relatif statis perkembangannya dan kebutuhan keahliannya juga terbatas. Pengembangan teknologi sederhana tetapi bermanfaat akan jauh lebih baik dari pada mengembangkan teknologi super-canggih yang hanya berakhir di ruang pajang. Penyesuaian tersebut lebih ditekankan pada upaya meningkatkan relevansi substansi materinya sehingga lebih padu dengan permasalah aktual. mencakup pangan asal tanaman. karena sering mengakibatkan kelembagaan pendidikan pengorbankan kualitas untuk mengejar kuantitas. Pencerdasan hanya dapat dicapai dengan pendidikan yang bermutu. Faktor penyebabnya bisa dipilah menjadi: [1] penyelenggara pendidikan yang menawarkan program studi tersebut lebih besar kapasitasnya dibandingkan dengan kebutuhan dunia kerja. Akan tetapi. Faktor penyebab [1] terkait dengan kemudahan sarana dan prasarana penyelenggaraan pendidikan (juga berarti biaya operasional penyelenggaraan pendidikannya lebih mudah) sehingga banyak instutusi pendidikan (terutama swasta) yang ikut menyelenggarakannya. Selanjutnya. adalah jauh lebih baik menyediakan teknologi sederhana yang sesuai. dan ikan). atau [3] masih ada kebutuhan aktual dari dunia kerja tetapi imbalan (finansial) yang didapatkan dari jenis pekerjaan ini tidak kompetitif dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain. [2] keahlian yang dihasilkan dari program studi tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan demikian. Faktor penyebab [3] karena bidang pekerjaan tersebut tidak menjanjikan secara ekonomi. Tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang terlalu berkiblat pada produktivitas selayaknya ditinjau kembali. jelas bahwa nelayan juga perlu mendapat perhatian. Program-program studi yang sudah kurang diminati perlu dievaluasi faktor penyebabnya. mayoritas rakyat bekerja disektor produksi pangan (tanaman. Pendidikan adalah untuk mencerdaskan bangsa. sehingga pasar dunia kerjanya cepat menjadi jenuh.Penyesuaian muatan kurikulum dan program studi tidak perlu diartikan sebagai perubahan mendasar dari kurikulum dan program studi yang ada. Teknologi yang dibutuhkan mungkin saja hanya merupakan teknologi sederhana. Pangan yang dimaksud adalah pangan dalam arti luas. ternak. Kontribusi nyata tenaga terdidik terhadap pembangunan nasional hanya mungkin terjadi jika keahlian dan ketrampilan yang diasah adalah relevan dengan kebutuhan dunia kerja. dan hasil hutan. Oleh 129 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dengan demikian. jika diniatkan pengembangan inovasi adalah untuk melibatkan mayoritas rakyat Indonesia sebagai pelaku pembangunan. Akibatnya kelembagaan pendidikan lebih berfungsi sebagai mesin produksi untuk menghasilkan penyandang gelar semata dan tidak menjadi pengemban amanah konstitusi untuk mencerdaskan bangsa. Inovasi adalah tentang mengkonversi ide menjadi uang. maka teknologi yang sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas pangan sudah sepatutnya diprioritaskan. 18 Tahun 2002 . yang dapat dikembangkan dan digunakan oleh masyarakat dan/atau IKM dalam proses produksi pangan untuk pemenuhan konsumsi 237 juta penduduk Indonesia. ikan. Pembiayaan untuk pengembangan teknologi harus diposisikan sebagai investasi bukan sebagai belanja rutin. Jika surplus tidak akan menjadi persoalan karena dengan mudah bisa diekspor karena permintaan pasar global semakin tinggi dengan pertambahan penduduk dunia. ternak.

memperbesar porsi sumberdaya manusia yang menjadi penggerak pembangunan dan sekaligus mengurangi porsi yang hanya menjadi beban pembanguan. Penyesuaian terhadap tradisi. relevansi menjadi isu pokok. Idealnya kegiatan ini dilandasi oleh asas saling membutuhkan dan saling menguntungkan atau bersifat mutualistik. Akan lebih intensif. Teknologi yang sesuai dengan potensi sumberdaya alam lokal/nasional akan lebih terjamin keberlanjutannya dan sekaligus dapat mewujudkan kemandirian bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Perindustrian perlu meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksinya dengan pihak industri. Selain pemagangan peserta didik di lingkungan kerja. Upaya mewujudkan inovasi nasional yang lebih produktif dan efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. walaupun unsur-unsur ini bersifat tak-berwujud dan sulit diukur secara objektif. Ide hibridisasi kegiatan pendidikan dengan aktivitas bisnis/industri memang bukan merupakan sesuatu yang baru. tetapi jelas dampaknya dapat dirasakan. Ukuran keberhasilan program pemagangan tergantung pada kualitas pembelajaran yang berlangsung selama peserta didik ditempatkan di lingkungan dunia kerja. budaya. Hal itu berbeda dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang jelas wujudnya dan dapat dikuantifikasi besaran potensinya.sebab itu. 18 Tahun 2002 . norma. pelaku bisnis/industri umumnya hanya diundang sesekali ke lingkungan akademis dalam rangka kegiatan spesifik tertentu. selain potensi sumberdaya alam dan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas. serta memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan sekaligus pemerataan kesejahteraan. Karena sifatnya sering sangat spesifik dan lokal. sehingga dapat dilakukan pengembangan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensinya. Padu silang pendidikan-bisnis ini perlu dilakukan secara dua arah. Di 130 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kearifan tradisional (tradisional wisdom) dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan sistem inovasi. jika pelaku bisnis/industri tersebut menjadi ‘mitra penuh’ dari tenaga pengajar di perguruan tinggi. Walaupun kadang sulit dijelaskan secara ilmiah. Namun demikian dengan kecermatan akademis. juga perlu dibarengi dengan mengundang pelaku bisnis dan industri untuk menularkan pengetahuan dan/atau ketrampilan di lingkungan akademis. banyak pula kearifan lokal yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan sistematis dan logis. tetapi sangat potensial diacu untuk membangun Sistem Inovasi Daerah (SIDa). namun probabilitas kebenarannya relatif tinggi dan sudah teruji. Sulit diukur secara kuantitatif dan divisualisasikan. dan nilai-nilai karakter bangsa lainnya merupakan faktor yang akan ikut mempengaruhi tingkat keberhasilan inovasi nasional. Potensi sosial budaya dapat dikategorikan sebagai potensi non-ekonomi ini umumnya bersifat ‘intangible’. terutama untuk mata kuliah tertentu yang kental kaitannya dengan kebutuhan implementasinya di dunia kerja. Hanya saja kualitas dan intensitasnya terus perlu ditingkatkan. etika. maka mungkin tidak dapat menjadi acuan dalam pengembangan SINas. Kearifan tradisional merupakan akumulasi pengetahuan selama periode yang panjang. Teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsi mayoritas penduduk akan membuka peluang untuk berdampak lebih massal. Saat ini. perlu mempertimbangkan potensi sosial masyarakat. Kegiatan pemagangan (internship) telah dilakukan sejak lama di Indonesia.

bisnis. Menjadi landasan hukum yang kokoh dalam memberikan peluang dan kesempatan yang lebih luas pada masyarakat. perlu juga secara sungguh-sungguh diintegrasikan ke dalam suatu formula kebijakan sebagai upaya membangun SINas. 5. Keharusan untuk mengembangkan iptek yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan melibatkan publik (adanya audit iptek). 2. Pengembangan. Pengembangan. 18 Tahun 2002 . dan Penerapan Iptek adalah: 1. 18 Tahun 2002 5. tanggal 11 September 2001 terhadap RUU Sistem Nasional Penelitian. kualitas sosial budaya yang selaras dengan prinsip-prinsip good governance dalam penyelenggaraan atau pengelolaan lembaga pemerintah.2. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. maka penting dibuat Undang-Undang tentang iptek guna 131 Naskah Akademik Perubahan UU No.1. lembaga riset dan teknologi. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. Pengembangan. Tujuan diundangkannya UU No. Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi DPR dalam Rapat Paripurna DPR-RI. Oleh sebab itu. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sistem Nasional Penelitian. dan penerapan iptek menjadi undang-undang. pengembangan. Menunjukan adanya komitmen yang lebih tegas dari pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang lebih komprehensif dalam membangun dan mengembangkan iptek. 3. 4. Negara Indonesia perlu segera memiliki suatu peraturan perundang-undangan yang komprehensif di bidang iptek. Urgensi Penguatan Inovasi UU No. Beberapa contoh di atas cukup untuk justifikasi tentang pentingnya dimensi sosial dalam mewujudkan inovasi nasional yang lebih komprehensif. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk mempercepat pencapaian tujuan negara.2. lembaga pendidikan dan pemerintah untuk mengembangkan iptek secara optimal. maupun masyarakat merupakan modal keberhasilan pengembangan suatu SINas. 5.era modern ini. 18 Tahun 2002 ini sesuai dengan pemandangan umum fraksi-fraksi DPR terhadap urgensi sistem nasional penelitian. lembaga usaha. Menunjukan perlunya keterkaitan antara pengembangan iptek dengan upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia secara langsung dalam rangka memperoleh kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera.

Jakstranas Iptek 2010 – 2014 menekankan perlunya penguatan kelembagaan dari sisi penghasil iptek dan pengguna iptek. dan jaringan iptek secara lebih effektif. dan sebagainya. interaksi antara penghasil dan pengguna iptek. teknisi maupun SDM yang terlibat di dalam kegiatan litbang. Sebagai upaya mencapai tujuan sebagaimana disebutkan dalam Bab IV Buku II RPJM 20102014. Sedangkan di sisi industri. 132 Naskah Akademik Perubahan UU No. perekayasa. serta perlunya konsensus nasional tentang SINas. sumber daya. pengembangan dan penerapan iptek. Menurut UU No. 18 Tahun 2002 pembangunan sistem inovasi nasional dilakukan melalui penelitian. adanya tagline negara sebagai dasar penguatan SINas. Selain itu lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu meningkatkan produktivitas penelitian dan pengembangan melalui pengembangan dan pemanfaatan kelembagaan iptek. produktivitas. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). program. komunikasi dan interaksi yang intens antara lembaga penelitian. Kurangnya komunikasi dan interaksi antar elemen penghasil dan pengguna teknologi memberikan dampak terhadap penerapan berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil penghasil teknologi. Hal ini tidak mudah karena Indonesia menghadapi berbagai kendala dan penghambat dari sisi kelembagaan. beberapa kebijakan pemerintah juga menekankan perlunya penguatan inovasi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya-upaya tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kuantitas. dan kesejahteraan peneliti. kualitas. UU No. 18 Tahun 2002 . Selain itu untuk mendukung penguatan inovasi nasional diperlukan efektifitas dan efisiensi regulasi dan sistem insentif yang mendukung inovasi nasional. sumberdaya. Hal ini menjadikan hasil penelitian dan pengembangan belum didayagunakan sepenuhnya menjadi berbagai inovasi. kenyataannya upaya penguatan inovasi nasional yang dicirikan dengan interaksi elemenelemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang baik. menyebutkan untuk mencapainya diperlukan adanya insitusi yg kuat dari sisi legalitas dan otoritas. Selain itu. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga idealnya menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam Bab IV Buku II RPJM 2010-2014. yaitu penelitian. dan meningkatkan kontribusi iptek dalam aktivitas perekonomian dengan meningkatkan Total Factor Productivity (TFP). serta adanya sistem aliran pengetahuan dan mobilitas human capital antara perguruan tinggi dan lembaga riset dengan perguruan tinggi.memberi landasan hukum bagi unsur-unsur pembentuk kemampuan Iptek serta sebagai koridor dan frame pengembangan Iptek di Tanah air kita. pengembangan iptek seharusnya tidak terpisahkan dalam input dan output ekonomi nasional. Untuk itu. Di Indonesia. Termasuk perlunya mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat. 18 Tahun 2002 diharapkan menjadi wadah untuk menampung dan menjadi alat pemecah kesulitan segala hal yang terkait dengan inovasi. Padahal dalam pengembangan ekonomi yang berbasis pengetahuan. peningkatan pemanfaatan teknologi dalam negeri masih diperlukan. selain mengurangi ketergantungan teknologi asing. RPJM 2010-2014 menekankan adanya skema pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat inovasi nasional. Oleh karena itu. perguruan tinggi.

mendayagunakan. dan sesuai kebutuhan dan kondisi.2. kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. Menurut Perpres No. c.” a. lembaga riset dan teknologi. produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. dan pemanfaatan teknologi. 32 Tahun 2011 dan Kepmenristek No. difusi. b. pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan – baik pemerintah maupun swasta – yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. Kementerian Riset dan Teknologi mengeluarkan Keputusan Menristek No. Upaya ini mencakup pengaturan kelembagaan secara lebih sistemik. 32 Tahun 2010. dan d.Presiden Dr. 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. di Serpong pada tanggal 20 Januari 2010 juga menekankan perlunya upaya-upaya untuk penguatan inovasi nasional. menyebut strategi penguatan inovasi nasional dengan usulan inisiatif inovasi 1-747. Presiden menekankan agar penguatan inovasi nasional disesuaikan dengan corak yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. SINas adalah: “suatu jaringan rantai antara institusi publik. penguatan SINas agar didasarkan pada kemitraan pemerintah. Perpres No. Tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi ini mencakup: 1) Sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. 32 Tahun 2011. 18 Tahun 2002 Sejalan dengan pengertian SINas dalam Perpres No. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. komunitas ilmuwan dan swasta. Peraturan perundang-undangan yang ada bahkan secara jelas menyebutkan pengertian dari SINas. 133 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002. 246/M/Kp/IX/2011. dengan memperhatikan capaian jangka panjang untuk mendorong. Untuk itu. Hal yang perlu dicatat dalam usulan ini adalah penguatan inovasi dapat dilakukan melalui tujuh langkah perbaikan ekosistemnya (Gambar 17). 18 Tahun 2002 Muatan rancangan undang-undang perubahan UU No. dan meningkatkan kolaborasi dengan dunia internasional. mendukung menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. 246 /M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. Menurut Keputusan Menristek No.2. pengertian dasar berkaitan dengan SINas mencakup: . mendukung. setidaknya memuat materi kebijakan penguatan inovasi yang telah dirumuskan dalam Perpres No. 5. merekayasa inovasiinovasi di berbagai sektor. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah.

246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa dalam upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif memerlukan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas. Usulan Inisiatif Inovasi 1-747 (Perpres No. Tugas pemerintah yang paling krusial di sini adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung inovasi nasional yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. 3) Pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. Panggung yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. 18 Tahun 2002 . 6) Revitalisasi infrastruktur R&D. 5) Sistem remunerasi peneliti.2) Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. Gambar 17. 7) Sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. Kinerja aktor-aktor 134 Naskah Akademik Perubahan UU No. 32/2011 ttg MP3EI) Kepmenristek No. 4) Pembangunan klaster inovasi daerah.

Namun demikian. Peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ inovasi. 9) Revitalisasi peran Dewan Riset Nasional (DRN). Kebijakan strategi penguatan inovasi melalui usulan inisiatif inovasi 1-747 maupun penentuan arah penguatan SINas untuk peningkatan kontribusi Iptek terhadap pembangunan nasional seharusnya telah dapat menjadi acuan untuk mendorong inovasi nasional. 18 Tahun 2002. 35 Tahun 2007 secara efektif dan utuh. perindustrian. Nuansa pengembangan iptek yang masih bersifat supply-push. lebih dari 237 juta jiwa (BPS. Kedua peraturan tersebut dapat dikatakan merupakan dasar kebijakan bagi upaya-upaya penguatan inovasi nasional. 2) Revitalisasi kapasitas lembaga pengembang teknologi . 135 Naskah Akademik Perubahan UU No. tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi pengguna teknologi. 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial. agar diubah agar selaras dengan orientasi 32 Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia. 7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) untuk mendukung implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. 6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang-intermediasi-pengguna teknologi. 8) Pembentukan konsorsium inovasi . 11) Pengembangan SINas harus berbasis sumberdaya nasional dan unt pemenuhan kebutuhan domestik. 3) Peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi . Implementasi PP No. Berbagai negara. keuangan. baik berupa barang maupun jasa. 18 Tahun 2002 . pendidikan. juga melihat populasi Indonesia yang besar. pada beberapa kesempatan. 5) Regulasi dan kebijakan yang kondusif. perlu dilakukan perubahan terhadap UU No. sebagaimana telah diuraikan dalam kebijakan arah penguatan SINas.32 Oleh karena itu upaya strategi pengembangan dan penguatan inovasi agar ditekankan pada: 1) Pengembangan teknologi yang difokuskan untuk pemenuhan realita kebutuhan atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna teknologi. terutama di sektor ristek. 10) Sinkronisasi dan optimalisasi UU No 18 Tahun 2002 serta peraturan pelaksanaannya. dan perdagangan agar para aktor inovasi dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. Susilo Bambang Yudhoyono. ketenagakerjaan. tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik. 4) Optimalisasi peran lembaga intermediasi.pelaku inovasi pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik).

• Pengembangan pusat inovasi untuk mendorong industri kecil dan menengah • Pengembangan klaster inovasi daerah • Revitalisasi infrastruktur R&D • Sistem dan manajemen pendanaan riset • Sistem remunerasi peneliti • Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia • Sistem insentif dan regulasi yang mendukung. dan Kebijakan Strategis Nasional Iptek 2010-2014. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 • Penguatan interaksi penghasil dan pengguna iptek • Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam sektor industri • Mendorong investasi industri untuk litbang Iptek masih sangat terbatas • Mendorong produktivitas litbang • Meningkatkan kualitas. 20 Januari 2010. • Pengembangan kemitraan dan kolaborasi dengan dunia internasional. serta arahan Presiden RI. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. Selain dua kebijakan tersebut di atas. • Pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat SINas. Bab IV Materi Pengaturan • Penguatan insitusi • Jakstranas sebagai konsensus nasional dalam upaya penguatan SINas. Kecenderungan global saat ini juga lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang relevan dihadapi masyarakat. Dua kebijakan tersebut. kebijakan-kebijakan lain yang terkait adalah dokumen RPJM 2010-2014. Tabel 9. dlm Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masy Ilmiah. Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. • Penguatan aliran pengetahuan dan mobilitas human capital. Kebijakan Penguatan Inovasi Fokus Buku II RPJM 20102014. pengembangan.). Dokumen tersebut menekankan beberapa hal terkait dengan upaya penguatan inovasi nasional (Tabel 9. Serpong. secara garis besar menekankan pada empat hal. produktivitas. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven.pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. • Identifikasi dan penetapan sistem insentif yang mendukung SINas. 18 Tahun 2002 • Mengurangi ketergantungan teknologi asing . • Pengembangan SINas sesuai kebutuhan dan kondisi. Komite Inovasi Nasional (KIN) • Mendorong inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. yaitu: 136 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan kesejahteraan SDM • Mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat Sambutan Presiden SBY.

pengembangan. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. dan difusi teknologi • Pasal 16 ayat (1) – alih teknologi kekayaan intelektual dan hasil litbang • Pasal 27 ayat (3) – dukungan dana bagi penguasaan. dan pemanfaatan teknologi. universitas. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. dan swasta. 18 Tahun 2002.pengembangan. lembaga litbang. 7. Perubahan ini juga diarahkan untuk memperkuat usulan inisiatif inovasi 1-747. Perubahan ketentuan UU No. dan 8. rekayasa inovasi . Fokus Perubahan dalam UU No. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002 di atas. dan swasta.5. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. pemanfaatan. penguatan daya dukung iptek. penguatan jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek. inovasi. Tabel 9. pemanfaatan kekayaan intelektual dan 137 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga ristek. pendayagunaan. 6. tentunya agar diarahkan untuk mengakomodir upaya penguatan inovasi. dan pemanfaatan teknologi. 18 Tahun 2002 Fokus UU No. pemanfaatan dan pemajuan iptek • Pasal 9 ayat (1) – fungsi badan usaha dalam perekayasaan. universitas. dan penguatan audit teknologi (Tabel 9. difusi. Pengaturan tersebut mencakup antara lain perlunya adanya keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu. peningkatan hasil. Penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik.).). rekayasa inovasi pengembangan. Keempat hal tersebut di atas telah diatur dalam UU No. serta penentuan arah penguatan SINas (Tabel 10. difusi. pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. lembaga ristek. dan badan usaha • Pasal 13 – jaringan informasi iptek • Pasal 15 ayat (1) – jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur kelembagaan iptek • Pasal 17 ayat (1) – kerjasama internasional • Pasal 28 ayat (2) – jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek Peningkatan hasil. • Pasal 5 ayat (1) – keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu • Pasal 10 ayat (2) – peran lembaga penunjang dalam mendorong sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi.invensi di bidang iptek • Pasal 9 ayat (2) – pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang • Pasal 13 ayat (4) – pengelolaan. • Pasal 4 – penguatan daya dukung iptek • Pasal 6 ayat (2) – fungsi kelembagaan dalam penguasaan. dan pemajuan iptek Peningkatan penerapan dan diseminasi hasil litbangrap (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yg mempunyai • Pasal 8 ayat (2) . pendayagunaan.

dan sertifikasi keahlian. 18 Tahun 2002. • Penambahan ayat unt penyebaran informasi hasil litbang dan kekayaan intelektual. • Pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Pasal 12 • Ditambahkan 2 ayat. Pasal 6 Pasal 9 Pasal 19 138 Naskah Akademik Perubahan UU No. untuk pemenfaatan hasil litbang. Ruang lingkup kegiatan inovasi adalah NKRI. Pasal 15 Pasal 17 Pasal 18 Penambahan pada ketentuan yang ada dg penekanan pada kemitraan. • Ketentuan ini diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. persyaratan. serta peningkatan pengelolaan kekayaan intelektual dan hasil litbang. Setelah Pasal 19 ditambahkan satu pasal. Pasal Pasal 3 Usulan Perubahan Ditambahkan 2 ayat unt mengakomodir amandemen keempat UUD 1945 Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 6. mengenai perlunya menentukan standar. inovasi. Pasal 13 • Ditambahkan ayat baru. 18 Tahun 2002 hasil litbang Pasal 19 ayat (3) – penguatan tarikan pasar bagi hasil litbang. yang menekankan penyusunan Jakstranas Iptek ditetapkan dengan peraturan pemerintah. serta kode etik. UU No. pemerintah/pemerintah daerah dimungkinkan memberikan stimulan dan fasilitas untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. Usulan Perubahan dalam UU No. Setelah Pasal 17 ditambahkan mengenai pengaturan MTA Setelah Pasal 18 ditambahkan penekanan pada Jakstranas Iptek sebagai acuan pengembangan iptek. perekayasaan. 18 Tahun 2002 . dan inovasi dalam negeri • Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 9. dan audit teknologi dan SNI Tabel 10.Fokus nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. dan difusi teknologi.

masyarakat.Bab 6 Rangkuman dan Rekomendasi 6. Rangkuman Kepentingan nasional dan kecenderungan global membutuhkan perubahan yang mendasar tentang arah pembangunan iptek. Dengan demikian. Eksistensi inovasi tidak secara langsung dapat dijamin oleh keberadaan lembaga pengembang teknologi yang maju dan lembaga pengguna teknologi dengan kapasitas produksi yang besar. tentu dimaksudkan bahwa pengembangan teknologi harus diarahkan untuk menyejahterakan rakyat dan peningkatan peradaban bangsa Indonesia. dan [2] aliran teknologi yang relevan dan sesuai kapasitas adopsi pengguna. Arah pembangunan iptek perlu diupayakan menuju peningkatan kontribusi teknologi terhadap pembangunan berbagai sektor. karena yang akan menentukan adalah kualitas interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut yang dibuktikan dengan terjadinya: [1] aliran informasi kebutuhan dan/atau persoalan teknologis yang dihadapi oleh para pengguna yang sampai ke pengembang teknologi.1. terutama pasar domestik. 18 Tahun 2002 . baik industri. Kecenderungan global saat ini dan kepentingan nasional dalam rangka menunaikan amanah konstitusi sebetulnya berjalan paralel dan menuju satu muara. yang dihasilkan oleh pengembang dan diimplementasikan oleh pengguna dalam proses produksi barang/jasa sesuai kebutuhan konsumen atau permintaan pasar. 139 Naskah Akademik Perubahan UU No. aktivitas riset di masa yang akan datang perlu lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menyediakan solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi para pengguna teknologi. ataupun pemerintah. terutama sektorsektor perekonomian. konstitusi Indonesia juga secara jelas dan tegas mengamanahkan bahwa pembangunan iptek ditujukan untuk meningkatkan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. Dalam konteks ini. yakni mewujudkan inovasi nasional yang lebih efektif dan produktif. Dari sisi lain.

Gabungan antara STP dan IP ini akan dapat menjadi model SINas Indonesia yang handal. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. tetapi juga dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk mengakses infromasi. Fasilitasi pemerintah untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi dapat juga dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor-aktor inovasi tersebut untuk berinteraksi dalam satu kawasan. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. maka perlu dilakukan refocusing agar kapasitas tersebut dapat diarahkan sesuai dengan prioritas untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna. serta juga peran intermediasi dan fasilitasi agar interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut dapat lebih diintensifkan. pendidikan. Mantab dalam makna mendapat dukungan dari berbagai regulasi dan kebijakan dari sektor-sektor yang terkait langsung dan berpengaruh nyata terhadap proses mewujudkan dan perkuatan inovasi nasional. Interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi membutuhkan ‘panggung’ yang yang mantab dan nyaman. keuangan. dan sumber pembiayaan eksternal (sourcing capacity) serta kapasitasnya dalam mendifusikan hasil riset dan teknologi kepada pengguna potensialnya (disseminating capacity). yang masing-masing fokus pada isu-isu ekonomi strategis sesuai dengan potensi 140 Naskah Akademik Perubahan UU No. disarankan dinamakan sebagai ‘Indonesian InnoPark’. Sejalan dengan pengembangan MP3EI. Nyaman dalam pengertian kebijakan-kebijakan sektoral tersebut bermuara pada kondisi ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi. mitra kerja potensial. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi ini diarahkan agar lembaga ini tidak hanya handal dalam mendukung aktivitas riset dan pengembangan (R&D capacity) semata. Upaya ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kompetensi sumberdaya manusia pada lembaga pengguna (industri dan pemerintah) atau pengguna individual dalam masyarakat. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi perlu diimbangi dengan upaya peningkatan kapasitas adopsi teknologi pada lembaga pengguna. 18 Tahun 2002 . Ide ini diimplementasikan dengan membangun Science and Technology Park (STP). perindustrian. dan perdagangan. Untuk kondisi Indonesia.Dalam rangka mendayagunakan secara optimal kapasitas lembaga pengembang teknologi yang sudah baik. Pembentukan unit kerja dalam struktur organisasi lembaga pengguna dan/atau peningkatan aktivitas in-house research pada lembaga pengguna terbukti dapat mendorong peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. diperlukan upaya pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) pada seluruh koridor pembangunan perekonomian nasional. Untuk peran intermediasi dapat juga dimainkan oleh lembaga non-pemerintah. Pengembang dan pengguna teknologi sebagai aktor utama dalam penguatan inovasi nasional sering masih membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan kebijakan yang memotivasi dan berkesesuaian. kawasan Puspiptek Serpong sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. termasuk regulasi dan kebijakan riset dan teknologi. ketenagakerjaan.

termasuk permintaan pasar domestik. 18 Tahun 2002 . termasuk sumberdaya alam. Alternatif lain yang dapat didorong adalah membangun konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dari anggota konsorsium.2. Semua langkah-langkah yang akan ditempuh dalam rangka mewujudkan atau perkuatan inovasi nasional yang telah diuraikan di atas tetap secara konsisten berbasis pada potensi sumberdaya nasional. maka beberapa butir rekomendasi yang dapat disampaikan adalah: (1) Pengembangan teknologi Indonesia perlu difokuskan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna 141 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga intermediasi. dan untuk menyediakan solusi teknologi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. manusia. diperbaiki. harkat. 18 Tahun 2002 dan PP No. Regulasi dan kebijakan yang ada saat ini dirasakan masih perlu disinkronisasikan. serta koordinasi antara lembaga pengembang teknologi. serta dari unsur pemerintah. dan pemerintah sebagai pengguna teknologi. pengguna teknologi. yang terkait langsung dengan upaya mencapai sasaran bersama yang telah disepakati. dan konsisi sosio-kultural serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Dalam konteks penguatan inovasi nasional. Dewan Riset Nasional (DRN) sebagai lembaga non-struktural yang terkait langsung dengan upaya membangun inovasi nasional perlu lebih dioptimalkan perannya. Rekomendasi Berdasarkan telaah yang telah dilakukan secara komprehensif ini. Orientasi pengembangan inovasi nasional yang berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. dan dapat juga jika dianggap strategis melibatkan lembaga penunjang tertentu. dan martabat bangsa Indonesia. anggota konsorsium merupakan representasi dari pengembang teknologi. industri. merekomendasikan arah dan prioritas riset nasional. Kemungkinan untuk reposisi DRN juga perlu mendapat pertimbangan agar peran koordinasi lebih efektif dapat dilaksanakan. Untuk revitalisasi peran DRN ini. maka keanggotaan DRN perlu disesuaikan agar secara seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. termasuk pelaksanaan UU No. Kemungkinan penerbitan Undang-Undang Sistem Inovasi Nasional juga merupakan salah satu alternatif yang perlu diekplorasi lebih lanjut. atau bahkan dilengkapi sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. 6.ekonomi masing-masing wilayah koridor. terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan iptek. Selanjutnya langkah ini juga harus fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nasional. 35 Tahun 2007. Memahami bahwa satu koridor ekonomi masih dapat dijumpai keragaman potensi ekonominya. maka sangat mungkin pada masing-masing koridor dikembangkan beberapa pusat unggulan sesuai dengan realita kebutuhannya.

yakni meningkatkan kontribusi teknologi terhadap percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. Partisipasi pihak non-pemerintah perlu dirangsang untuk berperan dalam intermediasi ini. (3) Kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi perlu ditingkatkan agar proses difusi teknologi dalam rangka mewujudkan inovasi nasional dapat lebih berpeluang untuk terlaksana. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta turunannya PP No. pendidikan. dan kapasitas difusinya. serta dari unsur pemerintah. sehingga teknologi dapat secara nyata berkontribusi terhadap pembangunan nasional. 18 Tahun 2002 . termasuk masyarakat. perindustrian. yakni kapasitas riset dan pengembangan. dan lembaga pemerintah sesuai dengan konsepsi penguatan SINas. dan perdagangan. dengan demikian maka upaya penguatan inovasi dapat mengalami akselerasi. dimana kawasan Puspiptek Serpong dapat diprioritaskan untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. (2) Kapasitas lembaga pengembang teknologi perlu direvitalisasi agar mempunyai tiga kapasitas yang dibutuhkan dalam menopang penguatan inovasi nasional. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. keuangan. kapasitas sourcing. (7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) perlu segera diinisiasi dalam rangka memberikan dukungan terhadap implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. (5) Pemerintah menyiapkan ‘panggung’ bagi para aktor inovasi agar dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. antara lain melalui perbaikan komposisi keanggotaannya agar secara lebih seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi.teknologi. 35 Tahun 2007 142 Naskah Akademik Perubahan UU No. (8) Pembentukan konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dan memiliki nilai strategis nasional perlu didorong karena akan menjadi vehicle yang efektif sebagai model implementasi SINas. ketenagakerjaan. Kemungkinan reposisi DRN juga perlu dipertimbangkan agar peran koordinasi DRN menjadi lebih efektif. Peran lembaga intermediasi perlu diperluas sehingga tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi para pengguna teknologi. terutama di sektor riset dan teknologi. (4) Peran lembaga intermediasi perlu lebih dioptimalkan sehingga interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi dapat lebih intensif dan produktif. (9) Peran Dewan Riset Nasional (DRN) perlu direvitalisasi. melalui pemberlakukan regulasi dan kebijakan yang kondusif. (6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) perlu disegerakan agar tersedia wahana untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi. industri. (10) UU No. Pengembangan.

143 Naskah Akademik Perubahan UU No.tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan Difusi Teknologi perlu disinkronisasikan. diperbaiki. 18 Tahun 2002 . Inovasi. atau bahkan dilengkapi dengan produk turunannya sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. (11) Orientasi pengembangan inovasi nasional harus berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. harkat. dan martabat bangsa Indonesia.

C. Apeldoorn. Jakarta. Jakarta Casey. Trends and Patterns in Strategic Technology Partnering since the Early Seventies. and L. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan.M. Progress in Human geography 27(6):763778 Boardman. The Belknap Press. B. 1995. Cambridge (USA). Wolf (eds). C. Government centrality to university–industry interactions: University research centers and the industry involvement of academic researchers. Foresight.C. Nelson. Soete. London. H. 2008. 1962. Freeman. 2009. In: W. Jakarta. Baumol. Geographies of Production: growth regimes in spatial perspective – innovation. Membangun Iptek yang Memihak Rakyat. Statistik Indonesia. Economic Backwardness in Historical Perspective. Gramedia Pustaka Utama. Establishing Standards for Social Infrastructure. 2010. E. University Of Queensland. P.T. Netherland. S. Research Policy 38:583–589 Gerschenkron. Jadikan Iptek sebagai HAM. P. Developing science. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2009a. Freeman. 144 Naskah Akademik Perubahan UU No. Badan Pusat Statistik. Review of Industrial Organization 11:601-616 Haryoto. Oxford University Press. 1987.R. Coenen. Jakarta. Knowledge bases and regional innovation systems: comparing Nordic clusters. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Ipswich. Research Policy 37:1417-1435 Firdausy. 2005.J. C. Fagerberg. J. 1994. Jakarta. Srholec. Assessing the Distributional Power of National Innovation System: pilot study of the Netherland. technology and innovation indicators: What we can learn from the past.Referensi Abramovitz. Regulasi/Deregulasi. and social systems. and E. Dalam: Kadiman. Pinter. Technology and Economic Performance: lessons from Japan. M. J. Catch-up and convergence in the postwar growth boom and after. 2005. Oxford (UK). Gramedia Pustaka Utama. R. Gramedia Pustaka Utama. Hasta. L. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Capabilities and Economic Development.M. 2008. National Innovation Systems. Asheim. and M. 2009. institutions. 2009b. C. Iptek sebagai Keharusan untuk Pertumbuhan Ekonomi. And L. Firdausy. Hertog. Haagedoorn. 2009.N. Center for Technology and Policy Studies. Research Policy 38:1505–1516 BPS. A. Convergence of Productivity: Crossnational studies and historical evidence. 2003. 18 Tahun 2002 . Research Policy 34(8):1173-1190 Bathelt. 1996.

1996. Research Policy 35:1441–1449 Lipsey. 2011b. B. Universitas Sahid. Makassar. Banjarbaru. and K. 23 November 2010. dan M. Ibrahim. 2006. 18 Tahun 2002 . Perencanaan Lintas-Sektor. Universitas Lambung Mangkurat. Lakitan. Kadiman. Systemic Bibliometric Indicators for the Knowledge-based Economy. peluang. Membangun Agroindustri dan Mewujudkan Sistem Inovasi: agar teknologi berkontribusi pada kesejahteraan rakyat. Foresight. Jakarta.G. Foresight.Hicks. 145 Naskah Akademik Perubahan UU No. K. Lakitan. National System Innovation: towards a theory of innovation and interactive learning. Bandung. And S. Katz. Indikator Kinerja Lembaga Litbang di Era Informasi Terbuka. T. White. M. London.D.A. serta kendala.. Research Policy 37:823-835 Leydesdorff. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Paris.. R. Alisjahbana. Jakarta. Laranja. 1992. Ahlqvist and. 2008. Pinter. D. dan potensi. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Meyer. Research Policy 30(7):1091-1114 Loikkanen. Testing the Natural Resource Curse Hypothesis in Indonesia: Evidence at the Regional Level. 23 November 2010. Membangun Relasi Akademisi-Bisnis-Pemerintah. Triple Helix indicators of knowledge-based innovation systems: Introduction to the special issue. and Armida S. Revitalisasi Kelembagaan Riset dan Pengembangan untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. and S. Technological Forecasting & Social Change 76:1177–1186 Lundvall. 2009. Paper presented at the OECD Workshop on New Indicators for the Knowledge-based Economy. B.I. E. Total Factor Productivity and the Measurement of Technological Change. 12-15 April 2011. Gramedia Pustaka Utama. Policies for science. Keynote speech pada Seminar Revitalisasi Kelembagaan Litbang. Seminar Nasional Revitalisasi Lembaga Litbang. Hidayat. and K. Pellinen. The role of the technology barometer in assessing the performance of the national innovation system. Canadian Journal of Economics 37(4):1118-1150 Liu. 2008. 2006. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Flanagan. 2001. H. B. 2010. 2011a. 19-21 June. Revitalisasi (Reformasi) Lembaga Litbang untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. Kadiman. P. Komarulzaman. 2009. A. D. Dalam: Kadiman. K. technology and innovation: Translating rationales into regional policies in a multi-level setting. 2010. 23 Juni 2011. Comparing innovation system: a framework and applications to China’s transitional context. Keynote speech pada Seminar dan Lokakarya Nasional Pengembangan Agroindustri Kalimantan Selatan: prospek. T. L. Universitas Padjadjaran. 2008. Jakarta. Uyarra. 2004. Working Paper in Economics and Development Studies No. Jakarta. 200602. Lakitan. B. Carlaw. Universitas Sahid Jakarta. X. Makalah pengarahan pada Temu Peneliti Badan Litbang dan Diklat VIII Kementerian Agama.

The Economic Foundations of Technology Policy: equilibrium and evolutionary perspective. 1993. Foresight. A review of the recent contribution of systems thinking to operational research and management science. 2010. dan Prakoso Bhairawa Putera. Patel. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). Annual Report on the Promotion of Science and Technology. Oxford. 2002. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 146 Naskah Akademik Perubahan UU No. OECD. Paper presented at the Eurostat Conference on Innovation Measurement and Policies. 2010. Dalam: Kadiman. 2005. Prihandana. Culture. Corporate Innovation at Work: Defining the innovation consortium. Science and Technology. H. France. Paris OECD. Third edition. Stanway. 1994. Ministry of Education. and G. Oxford. Organisation for Economic Co-Operation and Development. New York. Paris. OECD. Organisation for Economic Cooperation and Development.14. Oslo Manual: guidelines for collecting and interpreting innovation data. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Paris. Jakarta. European Journal of Operational Research 207:1147–1161 Mulatsih. Organisation for Economic Co-Operation and Development. M. Paris OECD. Foresight. P. 18 Tahun 2002 . Innovation Strategies: scoping document. Analisis Undang-undang No. White. Teknologi dan Tanggung Jawab Sosial. 1995. France. Virtual Consulting International Ltd. Pengembangan. OECD. 1996. J. bukan Pabrik. 2008. 1996. and K. 2008a. Sport. MEXT. The Knowledge-Based Economy. 2008b. Simfoni Inovasi: cita dan realita. National Innovation Systems. France. Konsistensi Regulasi. Dalam: Kadiman. France. Jakarta. Jakarta. Panigoro. F. Paris. 2008. Tokyo. R. Industry Studies of Innovation Using CIS Data: computer and office machinery.Malerba. OECD. Organisation for Economic Cooperation and Development. And L. 2009. 2008.. Strategic Priorities for Science. Mingers. Pavitt. In: P. National Innovation System: a comparative analysis. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Paris. Organisation for Economic Oey-Gardiner. Foresight. OECD. Frascati Manual: The Proposed Standard Practice for Surveys of Research and Experimental Development. Paris. Industri. 1997. and Innovation Policy. R. Handbook of the Economic of Innovation and Technological Change. Organisation for Economic Cooperation and Development. Metcalfe. Stoneman (ed). 2002. S.. Oxford University Press. LIPI Press: Jakarta Nelson. Dalam: Kadiman. Sri. The Nature and Economic Importance of National Innovation Systems. Cooperation and Development. Malherbe G. Science Technology and Innovation Review No. Blackwell Publishers. Technology. Sixth edition.

18 Tahun 2002 Warsono.C. United Nations Conference on Trade and Development. S. T. Jakarta Suhardi. Foresight. Setiawan. Harvard University Press. The Theory of Economic Development. I. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Foresight. . Dalam: Kadiman. 2010. Governance of Innovation Systems in the Current Global Setting. Bahan Ceramah di LIPI. Nelson. The influences of technology development on economic performance—The example of ASEAN countries. 2008. Jakarta. Foresight. Sharif. Thee Kian Wie. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 2009. 2010.R. Embargo sebagai Pemicu.Rosenberg. Cambridge. J. Kesinambungan Milestone. The World Bank. New York Wang. Jakarta. Foresight. and R. Technovation 27:471–488 WEF. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. 2007. 1934. Chien. 2009. Dalam: Kadiman. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2009. Research Policy 23(3):323-348 Santoso. World Investment Prospects Survey 2008-2011. dan S. Peran Intermediasi dalam Membangun Kolaborasi Lembaga Litbang dan Industri. Innovation Policy: a guide for developing countries. B. Jakarta. 1994. Schumpeter. 2010. N.Y. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Gramedia Pustaka Utama. Inovasi untuk Pemberdayaan Industri. Jakarta. World Economic Forum. 2008. The Global Competitiveness Report 2010-2011. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Peran Badan Intermediasi. Nalar Ekonomi versus Nalar Teknologi. Geneva World Bank. Dalam: Kadiman. 2008. Washington DC 147 Naskah Akademik Perubahan UU No. B. Setiawan. Dalam: Kadiman. UNCTAD. 2008. S. Jakarta. American Universities and Technical Advance in Industry.Y.

2.Lampiran Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Nasional 1. Pengembangan. 3. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional (KIN). 148 Naskah Akademik Perubahan UU No. 4. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 193/M/Kp/IV/2010 tentang Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek 2010. Inovasi. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 8. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional Untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Pembangunan Nasional 9. Sumbangan Pembinaan Olahraga. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).2014. 18 Tahun 2002 7. 20 Januari 2010. dan Difusi Teknologi. Serpong. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. 5. Soesilo Bambang Yudhoyono. Sambutan Presiden Dr. dan Penerapan Ilmu Pengetahun dan Teknologi. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dalam Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. . Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 6.

dan menyerasikan tata kehidupan manusia beserta kelestarian fungsi lingkungan hidupnya berdasarkan Pancasila. pemanfaatan. serta mencerdaskan kehidupan bangsa. e. c. b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada butir a. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengandung dan membentuk keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. berbangsa. pengembangan. bahwa penguasaan. Dengan persetujuan : DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. 149 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh di lingkungan Negara Republik Indonesia. ayat (4). Pengembangan. yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab. 18 Tahun 2002 . memajukan kesejahteraan umum. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Undang. b. PENGEMBANGAN. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tugas dan tanggung jawab negara. sumber daya. Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. ayat (2). pemanfaatan. bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk kepentingan umat manusia yang dalam pengelolaan dan pendayagunaannya diperlukan penguasaan. diperlukan sistem nasional penelitian. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI. d. bahwa penumbuhkembangan sistem nasional penelitian. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a.Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah. terakhir dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. dan bernegara di Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pencapaian tujuan negara sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. dan d perlu dibentuk Undang-Undang tentang Sistem Nasional Penelitian. pemanfaatan. pengembangan.Lampiran 1. bahwa untuk menumbuhkembangkan penguasaan. c. PENGEMBANGAN. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan bermasyarakat.

Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. 2. dan estetika. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. pengembangan. pengembangan. Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga. dan/atau ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam kegiatan perekayasaan. sosial budaya. manfaat. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. baik yang bersifat kuantitatif. bisnis. atau berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. Penerapan adalah pemanfaatan hasil penelitian.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. 3. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. Inovasi adalah kegiatan penelitian. 10. atau menghasilkan teknologi baru. 11. disusun. kelangsungan. badan. 6. 150 Naskah Akademik Perubahan UU No. fungsional. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. baik yang berada di lingkungan dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis adalah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keterkaitan yang luas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh. Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat dipergunakan untuk menyempurnakan atau memperbarui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Teknologi adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. . kualitatif. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. 9. data. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. kemajuan bangsa. 7. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. 18 Tahun 2002 5. inovasi. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk desain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. 4. atau orang. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. produk. serta difusi teknologi. Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. pelestarian fungsi lingkungan hidup. 8.

13. Lembaga penelitian dan pengembangan yang selanjutnya disebut lembaga litbang adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan penelitian dan/atau pengembangan. kebebasan akademis. 14. atau suatu bidang kegiatan profesi. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. asas kesisteman dan percepatan. asas kebebasan berpikir. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. KELEMBAGAAN. 17. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dikembangkan berdasarkan asas iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. selanjutnya disebut Pemerintah. yang dijamin oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika profesi dalam masyarakat. DAN JARINGAN Bagian Pertama Fungsi Pasal 5 (1) Sistem Nasional Penelitian. BAB III FUNGSI. Pasal 3 Sistem Nasional Penelitian. Pasal 4 Sistem Nasional Penelitian. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. 151 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. Pengembangan. Pasal 2 Pengertian peristilahan dalam Pasal 1 yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berpikir. asas kebebasan akademis. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menteri adalah menteri yang membidangi penelitian.12. serta asas tanggung jawab akademis. Organisasi profesi adalah wadah masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. Hak kekayaan intelektual yang selanjutnya disebut HKI adalah hak memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas kebenaran ilmiah. 16. SUMBER DAYA. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan memperkuat daya dukung ilmu pengetahuan dan teknologi bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. 15. asas tanggung jawab negara. pemanfaatan. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Badan usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah pusat. 18 Tahun 2002 BAB II ASAS DAN TUJUAN . Pengembangan. pengembangan. Pengembangan. dan tanggung jawab akademis.

dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi. lembaga litbang. dan organisasi masyarakat. 152 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan perekayasaan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan. pemanfaatan. lembaga penunjang. penelitian. (3) Lembaga litbang dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. atau bagian dari organisasi pemerintah. Bagian Kedua Kelembagaan Pasal 6 (1) Kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. unsur sumber daya. Pengembangan. 18 Tahun 2002 (1) Lembaga litbang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. perguruan tinggi bertanggung jawab meningkatkan kemampuan pendidikan dan pengajaran. serta pengabdian pada masyarakat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 7 (1) Perguruan tinggi sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. pemerintah daerah. dan unsur jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan. lembaga litbang bertanggung jawab mencari berbagai invensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menggali potensi pendayagunaannya. penelitian dan pengembangan. Pasal 8 (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pemanfaatan. . inovasi. mengorganisasikan pembentukan sumber perekayasaan. badan usaha bertanggung jawab mengusahakan pendayagunaan manfaat keluaran yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. b. Pasal 10 (1) Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. dan difusi teknologi. dan lembaga penunjang. (2) Kelembagaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi : a. inovasi. badan usaha. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. Pengembangan. daya manusia. perguruan tinggi. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pengembangan. membentuk iklim dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. Pasal 9 (1) Badan usaha sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. dan difusi teknologi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomis. badan usaha.(2) Unsur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas unsur kelembagaan.

perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan pembentukan sentra HKI sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. lembaga litbang. dan/atau badan usaha dapat membangun kawasan. kepakaran. Pengembangan. Bagian Keempat Jaringan Pasal 15 (1) Jaringan Sistem Nasional Penelitian. setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab mengembangkan struktur dan strata keahlian. . pemerintah daerah. pusat peragaan. (2) Setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab meningkatkan secara terus menerus daya guna dan nilai guna sumber daya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 12 (1) Dalam meningkatkan keahlian. Pasal 13 (2) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan penyebaran informasi hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan serta kekayaan yang dimiliki selama tidak mengurangi kepentingan perlindungan kekayaan intelektual. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi lain untuk memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan masyarakat. (4) Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. lembaga litbang.(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). serta menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil di lingkungannya sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. kekayaan intelektual dan informasi. jenjang karier sumber daya manusia. (3) Dalam meningkatkan pengelolaan kekayaan intelektual. dan badan usaha yang melaksanakannya. perekayasaan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih 153 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan sertifikasi keahlian. lembaga penunjang bertanggung jawab mengatasi permasalahan atau kesenjangan yang menghambat sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. serta kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. serta kode etik profesi. Bagian Ketiga Sumber Daya Pasal 11 (1) Sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas keahlian. organisasi profesi wajib menentukan standar. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 14 Pemerintah. (2) Untuk menjamin tanggung jawab dan akuntabilitas profesionalisme. dan badan usaha. pengembangan. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah mendorong kerja sama antara semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan jaringan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. persyaratan. kepakaran. kompetensi manusia dan pengorganisasiannya.

(3) Pemerintah bertanggung jawab memberikan dukungan bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam rangka kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Apabila sebagian biaya kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibiayai oleh pihak lain. (2) Kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilaksanakan atas dasar persamaan kedudukan yang saling menguntungkan dengan tidak merugikan kepentingan nasional. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia. sejauh tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan. ayat (2). (2) Untuk mengembangkan jaringan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). prioritas utama. BAB IV FUNGSI DAN PERAN PEMERINTAH Bagian Pertama Fungsi Pemerintah Pasal 18 (1) Pemerintah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. memperkuat. (3) Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri. melengkapi. (5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. 18 Tahun 2002 . dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah kepada badan usaha. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan Sistem Nasional Penelitian. perguruan tinggi. lembaga litbang. memberikan stimulasi dan fasilitas. pemerintah. Pasal 17 (1) Kerja sama internasional dapat diusahakan oleh semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan alih teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat ilmiah internasional. badan usaha asing. (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). selain pemerintah dan/atau pemerintah daerah. atau masyarakat. Pasal 16 (1) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. lembaga litbang asing. serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. 154 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan lembaga penunjang. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pengalihan teknologi dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang telah diatur sebelumnya dengan pihak lain tersebut. badan usaha. wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. pemerintah wajib merumuskan arah.besar dari keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh masing-masing unsur kelembagaan secara sendirisendiri. (4) Perguruan tinggi asing. dan orang asing yang tidak berdomisili di Indonesia yang akan melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia harus mendapatkan izin tertulis dari instansi pemerintah yang berwenang.

155 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemerintah daerah wajib merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis. Menteri wajib memperhatikan pentingnya upaya : a.Pasal 19 (1) Menteri wajib mengoordinasikan perumusan kebijakan strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. (4) Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan penelitian. penguatan penguasaan ilmu-ilmu dasar. (3) Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. pemerintah daerah harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan difusi teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. Pasal 20 (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Nasional Penelitian. pengembangan. serta penguatan penguasaan ilmu-ilmu sosial dan budaya yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. inovasi. pengembangan. Pengembangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Dalam merumuskan kebijakan strategis yang dimaksud dalam ayat (2). serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan. b. pengembangan. . dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Untuk mendukung Menteri dalam merumuskan arah. Bagian Kedua Peran Pemerintah Pasal 21 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah berperan mengembangkan instrumen kebijakan untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). pemerintah daerah membentuk Dewan Riset Daerah yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. prioritas utama. penguatan kemampuan audit teknologi impor yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia untuk melindungi konsumen dan memfasilitasi pertumbuhan industri dalam negeri. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian. c. penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. memberikan stimulasi dan fasilitas. dan peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan yang merupakan tulang punggung perkembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. sumber daya. pemerintah membentuk Dewan Riset Nasional yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

nilai budaya asli masyarakat. baik yang berdiri sendiri sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen maupun sebagai unit kerja departemen atau pemerintah daerah tertentu. penyelenggaraan program ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pemberian insentif. serta kekayaan hayati dan non hayati di Indonesia. Pasal 23 (1) Pemerintah menjamin perlindungan bagi HKI yang dimiliki oleh perseorangan atau lembaga sesuai dengan peraturan perundang-undangan. bangsa. dan pembentukan lembaga. (3) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat berbentuk dukungan sumber daya. demokratis. dukungan dana. pemerintah mengatur perizinan bagi pelaksanaan kegiatan penelitian. (2) Pemerintah menjamin perlindungan bagi pengetahuan dan kearifan lokal. transparan. (3) Setiap orang mempunyai hak untuk menggunakan dan mengendalikan kekayaan intelektual yang dimiliki sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengembangan. dan akuntabel. terhadap penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan. (3) Pemerintah menjamin perlindungan bagi masyarakat sebagai konsumen. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berisiko tinggi dan berbahaya dengan memperhatikan standar nasional dan ketentuan yang berlaku secara internasional. dan/atau masyarakat sesuai dengan kinerja yang dihasilkan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. 18 Tahun 2002 . pemerintah daerah. (5) Pelaksanaan instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diselenggarakan secara adil. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh informasi secara mudah dengan biaya murah tentang HKI yang sedang didaftarkan dan telah dipublikasikan secara resmi oleh pihak yang berwenang atau yang telah memperoleh perlindungan hukum di Indonesia.(2) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan sebagai bentuk kemudahan dan dukungan yang dapat mendorong pertumbuhan dan sinergi semua unsur Sistem Nasional Penelitian. BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 24 (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan serta dalam melaksanakan kegiatan penguasaan. pengembangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai hak memperoleh penghargaan yang layak dari pemerintah. (4) Lembaga yang dimaksud dalam ayat (3) dapat meliputi lembaga litbang dan lembaga penunjang. Pasal 22 (1) Pemerintah menjamin kepentingan masyarakat. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. pengembangan. Pasal 25 156 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Setiap warga negara yang melakukan penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan. pemberhentian sementara kegiatan. badan usaha. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pasal 20 ayat (1). sampai dengan pembatalan atau pencabutan izin oleh instansi pemberi izin. 18 Tahun 2002 (3) Perguruan tinggi. lembaga litbang. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.(1) Masyarakat wajib memberikan dukungan serta turut membentuk iklim yang dapat mendorong perkembangan Sistem Nasional Penelitian. inovasi. lembaga penunjang. Pasal 27 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran sebesar jumlah tertentu yang cukup memadai untuk memacu akselerasi penguasaan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemanfaatan. organisasi masyarakat dan inventor mandiri berhak atas dukungan dana dari anggaran pemerintah dan pemerintah daerah untuk meningkatkan penguasaan. (2) Anggaran yang dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk membiayai pelaksanaan fungsi dan peran pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1). Pasal 28 (1) Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 26 Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. peringatan. Pengembangan. 157 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemanfaatan. dan Pasal 21 ayat (1). dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. (3) Setiap organisasi profesi wajib membentuk dewan kehormatan kode etik sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (2). (2) Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. BAB VII KETENTUAN SANKSI Bagian Pertama Sanksi Administratif Pasal 29 Pelanggaran ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dijatuhi sanksi administratif mulai dari teguran. . (2) Masyarakat ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab untuk berperan serta mengembangkan profesionalisme dan etika profesi melalui organisasi profesi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

ttd.000. semua peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak sesuai dengan undangundang ini dinyatakan tidak berlaku.Bagian Kedua Sanksi Pidana Pasal 30 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin diancam pidana denda paling banyak Rp 50. ttd. keselamatan bangsa. kerukunan bermasyarakat.000. kesehatan masyarakat. Disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 84 158 Naskah Akademik Perubahan UU No. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. 18 Tahun 2002 . dijatuhi sanksi pidana penjara dan/atau denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 31 Pada saat berlakunya undang-undang ini.00 (lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dan merugikan negara. (2) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) yang mengakibatkan bahaya bagi keselamatan manusia. kelestarian fungsi lingkungan hidup.

perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. 2. INOVASI. MEMUTUSKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksudkan dengan : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mengingat : 1. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. data. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. 3. atau cara baru 159 Naskah Akademik Perubahan UU No. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. DAN DIFUSI TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat (3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. Pengembangan. atau menghasilkan teknologi baru.Lampiran 2. Inovasi. produk. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk disain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. . dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. sosial budaya. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). DAN DIFUSI TEKNOLOGI. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. pengembangan. dan estetika. 2. bisnis. manfaat. 4. Pengembangan. INOVASI. dan Difusi Teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Inovasi adalah kegiatan penelitian. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2007 TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. fungsional.

inovasi. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. 7. Badan Usaha Milik Negara. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. BAB II ALOKASI SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA Pasal 2 (1) Badan Usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi dilakukan melalui kegiatan: a. Badan Usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. dan difusi teknologi. Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama badan usaha. Badan Usaha Milik Daerah. DAN DIFUSI TEKNOLOGI Pasal 4 Peningkatan kemampuan perekayasaan. 8. INOVASI. inovasi. 6. pengembangan. 5. BAB IV 160 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 5 (1) Dalam melakukan kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. inovasi. dan Koperasi. pengembangan dan/atau penerapan teknologi.untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. kerjasama. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian dan pengembangan. (2) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha swasta berbentuk perseroan terbatas. penelitian. Insentif adalah pemberian kemudahan/keringanan yang diberikan kepada Badan Usaha dalam rangka upaya peningkatan kemampuan perekayasaan. inovasi. dan badan usaha lain. 9. dan difusi teknologi. dan/atau b. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengalokasikan sebagian pendapatan sesuai dengan kemampuannya. dan pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penelitian. lembaga penelitian dan pengembangan. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa yang dihasilkan. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dapat melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi. (2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk lisensi.

guna melakukan pengkajian dan penilaian terhadap permohonan insentif. dan Perpanjangan Insentif Pasal 8 (1) Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) mengajukan permohonan untuk mendapatkan rekomendasi insentif secara tertulis kepada Menteri. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. (2) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. riset pasar dan/atau promosi penjualan. dan f. b. bahan. . d. Bagian Kedua Tata Cara Permohonan. Pasal 9 (1) Menteri membentuk Tim Pengkajian dan Penilaian. (2) Hasil pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri dalam bentuk saran dan pertimbangan. survei efisiensi atau studi manajemen. kegiatan yang dilakukan di luar negeri. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. Penghentian. (3) Besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. kepabeanan. (2) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. pembelian dan/atau pembayaran royalti teknologi dari entitas lain di luar negeri. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. e. peralatan. (2) Pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan proposal kegiatan dan bentuk insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). produk dan/atau proses. 161 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengumpulan data.INSENTIF Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Badan Usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. inovasi. kegiatan pengawasan dan/atau pengujian rutin terhadap kualitas produk. Pasal 7 (1) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. 18 Tahun 2002 c.

dan difusi teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. (2) Penetapan penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang setelah meminta saran dan pertimbangan Menteri. b. (2) Menteri menyampaikan pemberitahuan persetujuan atau penolakan pemberian rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak penerimaan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. 162 Naskah Akademik Perubahan UU No. c. Pasal 11 (2) Badan Usaha mengajukan permohonan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang disertai dengan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . pemberitahuan disampaikan kepada Badan Usaha disertai dengan alasannya. Pasal 10 (1) Menteri dapat memberikan atau tidak memberikan rekomendasi insentif dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja Tim Pengkajian dan Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. penggunaan sumber daya dalam negeri. potensi peningkatan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa. (3) Menteri menyampaikan saran dan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada instansi pemerintah yang berwenang dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. inovasi. (3) Tata cara pengajuan permohonan insentif perpajakan dan kepabeanan dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. rekomendasi disampaikan kepada Badan Usaha dengan tembusan kepada instansi pemerintah yang berwenang dalam pemberian insentif.(3) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. (4) Penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan pimpinan instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan di dalam negeri. instansi pemerintah yang berwenang dapat menghentikan atau memperpanjang pemberian insentif. Pasal 13 (1) Dalam hal pemberian insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) berupa bantuan teknis penelitian dan pengembangan. dan d. (5) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan insentif diterima secara lengkap. 18 Tahun 2002 (1) Dalam hal Menteri memberikan rekomendasi insentif. Pasal 12 Dalam hal Menteri tidak memberikan rekomendasi insentif. (4) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh.

H. Badan Usaha yang mendapat insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) wajib menyerahkan laporan kegiatan peningkatan kemampuan. pada tanggal 22 Juni 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya.Bagian Ketiga Pelaporan Pasal 14 (1) Pada setiap akhir tahun dan akhir kegiatan. dan difusi teknologi kepada Menteri. ttd ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 78 163 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pencapaian kegiatan yang telah dilakukan dan kriteria sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3). BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 18 Tahun 2002 Ditetapkan di Jakarta . inovasi. perekayasaan. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. (4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. ttd DR. (3) Menteri dapat melakukan verifikasi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) guna memberikan saran dan pertimbangan penghentian atau perpanjangan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang.

Lampiran 3. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. 164 Naskah Akademik Perubahan UU No. huruf j. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf i. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. . Mengingat : 1. yang merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2010 TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. Pasal 1 Sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak terdiri atas: a. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. dan huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. 18 Tahun 2002 2. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO. huruf l. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. huruf k. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. Sumbangan Pembinaan Olahraga. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional.

b. Pasal 2 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dengan syarat: a. Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba. huruf c. Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. apabila barang yang disumbangkan merupakan barang produksi sendiri. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. atau c. Sumbangan fasilitas pendidikan. Pasal 6 (1) Nilai sumbangan dalam bentuk barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) ditentukan berdasarkan: a. yang merupakan sumbangan berupa fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga. Pasal 4 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto bagi pihak pemberi apabila sumbangan dan/atau biaya diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. dan d. huruf b. d. (2) Biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf e diberikan hanya dalam bentuk sarana dan/atau prasarana.b. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan diberikan. apabila barang yang disumbangkan sudah disusutkan. b. dan huruf d dapat diberikan dalambentuk uang dan/atau barang. dan e. Pasal 5 (1) Sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a. Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya. kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. c. harga pokok penjualan. c. didukung oleh bukti yang sah. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan. apabila barang yang disumbangkan belum disusutkan. 165 Naskah Akademik Perubahan UU No. nilai buku fiskal. yang merupakan sumbangan untuk membina. nilai perolehan.

PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 160 166 Naskah Akademik Perubahan UU No. huruf d. Pasal 7 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib dicatat sesuai dengan peruntukannya oleh pemberi sumbangan. 18 Tahun 2002 . huruf c. Pasal 9 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pencatatan dan pelaporan sumbangan dan/atau biaya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 8 (1) Badan penanggulangan bencana dan lembaga atau pihak yang menerima sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a harus menyampaikan laporan penerimaan dan penyaluran sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk setiap triwulan. Pasal 10 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2010. ttd.(2) Nilai biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) ditentukan berdasarkan jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan untuk membangun sarana dan/atau prasarana. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. (2) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b. dan huruf e wajib menyampaikan laporan penerimaan sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat pada akhir Tahun Pajak diterimanya sumbangan dan/atau biaya. DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. ttd. (3) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya yang mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak melaporkan sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai lampiran laporan keuangan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak diterimanya sumbangan. H. Agar setiap orang mengetahuinya.

18 Tahun 2002 . bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b serta dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian sistem inovasi nasional. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. terpadu. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. dibentuk Komite Inovasi Nasional yang selanjutnya disebut KIN. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). mendukung. 167 Naskah Akademik Perubahan UU No. perlu dilakukan melalui institusi yang efektif dan berhasil-guna baik dari sisi legalitas dan otoritas. membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. lembaga riset dan teknologi. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan sistem inovasi nasional guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. 2. c.Lampiran 4. perlu membentuk Komite Inovasi Nasional dengan Peraturan Presiden. Mengingat : 1. bahwa dalam rangka implementasi pelaksanaan sitem inovasi nasional secara efektif dan efisien. b. bahwa kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sitem Nasional Penelitian. Pasal 2 Dalam rangka penguatan sistem Inovasi Nasional. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. Pasal 3 (1) KIN bertugas untuk: a. terintegrasi. mendayagunakan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengembangan. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL Pasal 1 Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan Sistem Inovasi Nasional adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik.

16. Bambang Kesowo.. Sahari Besari. (3) Dalam rangka melaksanakan tugasnya.D. Umar A. Dr. D.Sc. dan kerja sama dengan lembaga pemerintahan dan non pemerintahan. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghsilkan produkproduk inovatif. Dr.. Ir. Anton Apriantono. 12. melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program pengutan sistem inovasi nasional. Arief Rahman. 11..Pd. M. bioteknologi. Dr. M. Ir. Ir. Prof. 20.E. Apt. M. Ing. : Rektor Institut Pertanian Bogor : Prof. Dr. 10. Dr. Tri Mumpuni Wiyanto. Prof. 4. Zuhal. Jusman Syafii Djamal. IR. Pasal 4 Keanggotaan KIN terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Prof. Freddy Permana Zen. Ninok Leksono. . M. Rektor Institut Teknologi Bandung.D. Tien Muchtadi. M. Jenie.Sc. Prof. M. memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. S. Betti Setiastuti Alisjahbana. Dr. Prof. MS. Amir Sambodo. M. KIN melakukan konsultasi. wakil-wakil kelompok masyarakat. 17. Sc. 9.. 6.Sc : 1. periset. Ir. D. 8. Prof. Dr. serta komunitas ilmiah dan universitas. Industri infrastruktur.S. Dr. pakar teknologi dan inovator dalam rangka keterpaduan penguatan sistem inovasi nasional. Ph. Bustanul Arifin. M.. Ir. Marzan A. koordinasi. Habibie. transportasi dan industri pertahanan. Rachmat Gobel. 14. Ir.S. Lukman Hakim.D. MA.Sc. Iskandar. M. Drs.b. Ilham A. MBA. Dr. Dr. ketahanan energi. Dr. 19. Drs.. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. 18. 2.H.Sc. Ph. (2) Penguatan sistem inovasi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan meliputi inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. Ph. 18 Tahun 2002 3.LL. 13. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). Rektor Universitas Indonesia.E. 5..S. Idwan Suhardi 7. manajemen bencana alam. 168 Naskah Akademik Perubahan UU No.M. c. Prof.Sc. Sangkot Marzuki.. industri manufaktur. Dr. 15.

Rektor Universitas Gajah Mada. Rektor Universitas Syiah Kuala. 2. Pasal 10 Ketua KIN melaporkan kepada presiden setiap perkembangan dan permasalahan yang ada dalam penyelenggaraan sistem inovasi nasional agar segera dapat diambil keputusan untuk penyelesaian masalahnya. 27. 22.21. 26. Menteri Riset dan Teknologi. (2) KIN melakukan rapat koordinasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. 25. KIN memeperhatikan arahan dari pengarah. 6. Menteri Keuangan. Rektor Universitas Pattimura. Pasal 5 (1) Dalam melaksanakan tugasnya. 5. Rektor Universitas Hasanudin. 23. Rektor Universitas Udayana. (2) Pengarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: Ketua Anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian : 1. 3. Rektor Institut Teknologi Surabaya. Sekretaris Kabinet KIN melaksanakan tugasnya sejak ditetapkan Peraturan Presiden ini sampai berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II. Rektor Universitas Cenderawasih. Pasal 9 Mekanisme dan tata kerja Komite Inovasi Nasional diatur lebih lanjut oleh Ketua Komite Inovasi Nasional. Menteri Koordinator Bidang Politik. 24. Pasal 8 Hasil rapat koordinasi KIN oleh masing-masing anggota KIN dilaksanakan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing secara terkoordinasi dan terintegrasi dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. 169 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Pasal 6 . 4. (3) KIN dapat mengundang pimpinan instansi terkait dan pihak lain yang dipandang perlu pada rapat koordinasi KIN. Hukum. dan Keamanan. Menteri Sekretaris Negara. Pasal 7 (1) KIN melaksanakan tugasnya sejak berkoordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Pasal 13 Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. ttd. Pertanahan.Pasal 11 KIN dalam pelaksanaan tugasnya dibantu sebuah Sekretariat yang secara fungsional dilakukan oleh salah satu unit kerja di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi. DR. 170 Naskah Akademik Perubahan UU No. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Politik.q. Pasal 12 Segala biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi KIN dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c. Keamanan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. anggaran Kementerian Riset dan Teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ratifikasi. 18 Tahun 2002 . dan Permasalahan Hukum Bistok Simbolon. H.

Pasal 1 (1) Menetapkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 -2025. dan d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a.Lampiran 5. Pelaksanaan. strategi yang tepat. 171 Naskah Akademik Perubahan UU No. c. perlu menetapkan Peraturan Pr es iden tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. 18 Tahun 2002 . diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas. Menimbang : a. Koridor Ekonomi Indonesia. b. (3) MP3EI terdiri atas 4 (empat) bagian. (4) MP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. Mengingat : 1. bahwa dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian nasional yang lebih solid. Pendahuluan. fokus dan terukur. (2) MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan. yang selanjutnya disebut MP3EI. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemantauan dan Evaluasi MP3EI. 2. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025. Prasyarat dan Strategi MP3EI. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. meliputi: a. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. b.

: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. 3. 7. Menteri Perindustrian. acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing. Menteri Perdagangan. melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI. berfungsi sebagai: a. Pasal 5 (1) KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Ketua Harian : Presiden Republik Indonesia. Menteri Pekerjaan Umum. yang selanjutnya disebut KP3EI. Anggota : 1.Pasal 2 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. 9. Menteri Sekretaris Negara. (2) KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: a. menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI. Menteri Pertahanan. : Wakil Presiden Republik Indonesia. 172 Naskah Akademik Perubahan UU No. Menteri Pertanian. yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan. 2. dan c. Wakil Ketua Harian I : Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Pasal 3 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. Pasal 4 (1) Koordinasi pelaksanaan MP3EI dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. dan b. dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 6. acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait. 4. b. Wakil Ketua Harian II : Ketua Komite Ekonomi Nasional. 10. Menteri Perhubungan. Menteri Keuangan. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI. Menteri Dalam Negeri. 18 Tahun 2002 . 8. 5.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. dipimpin oleh Sekretaris KP3EI. 26. 17. dapat berasal dari unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non-PNS. (2) Pelaksanaan tugas KP3EI sehari-hari dipimpin oleh Ketua Harian. Pasal 9 Sekretaris KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). Pasal 6 Pasal 7 Mekanisme dan tata kerja KP3EI. diangkat dan diberhent ikan oleh Menter i Koordinator Bidang Perekonomian. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Pasal 11 (1) PNS yang ditempatkan pada Sekretariat KP3EI berstatus dipekerjakan. Ketua Komite Inovasi Nasional. . 173 Naskah Akademik Perubahan UU No. 25. susunan organisasi. 23. 16. 15. 21. Menteri Pendidikan Nasional. Sekretaris Kabinet. Pasal 8 (1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya. (2) Tenaga profesional pada Sekretar iat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Menteri Kelautan dan Perikanan. dibentuk Tim Kerja. 24. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. 13. KP3EI didukung oleh Sekretariat KP3EI. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia. (2) Sekretariat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 12. Menteri Lingkungan Hidup. Menteri Riset dan Teknologi. 19. 22. Menteri Badan Usaha Milik Negara. keanggotaan serta tata kerja Tim Kerja. Pasal 10 (1) Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas Sekretariat KP3EI. 18. 18 Tahun 2002 Untuk membantu pelaksanaan tugas KP3EI. yang secara administrasi berkedudukan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.11. 14. (3) Susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat KP3EI ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. 20. Menteri Komunikasi dan Informatika. Menteri Kehutanan. Sekretaris KP3EI mengangkat tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. Kepala Badan Pertanahan Nasional. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI.

(2) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikkan pangkatnya setiap kali setingkat lebih tinggi tanpa terikat jenjang pangkat. H. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian setelah mendapat pertimbangan dar i menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang keuangan dan menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang aparatur negara. Pasal 14 Peraturan Presiden ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 13 Segala biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas KP3EI. (4) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dari jabatan organik di instansi induk yang bersangkutan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO 174 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. ttd DR. (5) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dengan hormat sebagai PNS apabila telah mencapai batas usia pensiun dan diberi hak-hak kepegawaian. Pasal 12 Hak keuangan dan fasilitas lainnya bagi Sekretaris KP3EI dan tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. kembali kepada instansi induknya apabila belum mencapai usia pensiun. yang berhenti atau telah berakhir masa baktinya. sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

5. Mengingat : 1. 4. 175 Naskah Akademik Perubahan UU No. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. . Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. perlu dilakukan perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 20102014. Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset dan Teknologi. 6. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 20102014. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4219). 2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Tahun 2011-2025. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4402). Menimbang : bahwa dalam rangka revitalisasi serta penajaman program dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi yang mendukung penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). 18 Tahun 2002 3. 9. 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Bersatu II.Lampiran 6. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243b /M/Kp/IX/2011 TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 2010-2014 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. Pengembangan. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2004 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). 8.

dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. : Dengan berlakunya Keputusan ini. TTD. maka Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. SUHARNA SURAPRANATA KEDUA KETIGA KEEMPAT 176 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA.PERTAMA : Menetapkan Perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. 18 Tahun 2002 . program. dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi. : Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 merupakan panduan dalam melaksanakan penyusunan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan.

peningkatan penelitian. pengembangan. bahwa penguatan SINas diarahkan untuk penciptaan ruang bagi interaksi dan kolaborasi pelaku inovasi. 18 Tahun 2002 d. 5. 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II. PERTAMA : Menetapkan Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. 2. dan penerapan iptek. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. Mengingat : 1. maka perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL.Lampiran 8. yang selanjutnya 177 Naskah Akademik Perubahan UU No. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246 /M/Kp/IX/2011 TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. serta mendorong pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan. Menimbang : a. huruf b. bahwa strategi pembangunan iptek dilaksanakan melalui dua prioritas pembangunan. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014. c. Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. yaitu penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. bahwa arah penguatan SINas diperlukan sebagai pedoman untuk refocusing dan sinergi dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara efektif dan efisien. . 4. b. percepatan koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi. dan huruf c. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a.

18 Tahun 2002 .disebut Arah Penguatan SINas sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. SUHARNA SURAPRANATA KETIGA KEEMPAT 178 Naskah Akademik Perubahan UU No. TTD. : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 30 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. KEDUA : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA adalah dokumen kebijakan untuk refocusing dan sinergi dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA merupakan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara lebih efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional.

Allah SWT. Indonesia dan Amerika Serikat kini sedang aktif menggarap suatu Kemitraan Strategis baru: yaitu suatu kemitraan komprehensif. Bapak Prof. energi dan perubahan iklim patut kita sambut dengan baik. dan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. pertemuan ini dapat merintis jalan ke arah peningkatan kerja sama antara Indonesia-Amerika Serikat. yang baru saja dibacakan oleh Duta Besar Cameron Hume. bangsa. Pandangan yang konstruktif dan ajakan positif Presiden Obama untuk meningkatkan kerjasama bilateral di bidang Iptek. sehingga kita dapat bertatap muka dalam kesempatan yang membahagiakan ini. 179 Naskah Akademik Perubahan UU No. Yang saya hormati Menteri Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. 20 Januari 2010 Bismillah Hirrahmanirrahim. Dr. kerja sama di bidang pendidikan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemitraan strategis kedua negara. kajian. Saya juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pernyataan Presiden Barack Obama. Insya Allah. SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA SILATURRAHIM DENGAN AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI) DAN MASYARAKAT ILMIAH Serpong. LIPI. Assalamu’alaikum Wr Wb Salam sejahtera untuk kita semua. Saudara-saudara. Bruce Alberts dapat lekas pulih kembali seperti sediakala. Marilah kita bersama-sama. Kemitraan Komprehensif ini dapat diresmikan dalam kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia yang direncanakan tahun ini. yang di antaranya mencakup kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. tentu tidak terlepas dari kontribusi saudara semua. 18 Tahun 2002 . Yang saya hormati Gubernur Banten. dan asosiasi-asosiasi ilmu pengetahuan di Indonesia. Kemajuan yang kita capai hingga hari ini. Namun kita semua juga merasa prihatin bahwa US Science and Technology Special Envoy. Melalui kesempatan ini pula. Baharudin Jusuf Habibie. karena atas rahmat dan karunia-Nya. Dalam kaitan ini. Mr. Mari kita doakan. agar Mr. atas pemikiran. Bruce Alberts. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Para Ilmuwan yang tergabung dalam AIPI. Presiden Republik Indonesia ketiga. kita tetap diberi kekuatan. Kita sungguh berharap. Saya juga menyambut baik pernyataan Presiden Obama di Kairo bulan Juni tahun lalu. dan negara. memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang saya hormati.Lampiran 9. pendidikan. dan insya Allah kesehatan. Hadirin sekalian yang saya muliakan. yang mencakup kerja sama dalam berbagai sektor penting bagi kedua negara. bahwa Amerika Serikat kini berkomitmen untuk membangun kemitraan baru—“a new beginning”—dengan dunia Islam. saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para ilmuwan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). yang semula akan hadir di sini mengalami musibah kecelakaan. Yang Mulia Ambassador Cameron Hume.

astrologi. kimia. kita sedang berada dalam arus perubahan sejarah yang sangat dahsyat. serta masih termarginalisasi dalam era globalisasi. terutama di antara dunia Barat dan dunia Islam. 20 tahun kemudian. Peradaban manusia juga sering berubah karena ide-ide dan penemuan-penemuan baru. ke kecepatan jet. saya menekankan bahwa Abad ke-21 tidak harus mengikuti skenario “clash of civilizations”.3 miliar pengguna handphone–sekitar separuh dari jumlah penduduk dunia. Dan KETIGA. ke kecepatan suara. tidak akan pernah ada the second Islamic renaissance di Abad ke-21. Penemuan bubuk mesiu menimbulkan transformasi militer dengan segala implikasi politiknya. ada 1 miliar komputer. Semua pihak harus berperan aktif menyebarkan soft power. anestesi. dan kapal-kapal perdagangan. Pesan dan pelajaran sejarah ini masih tetap relevan–bahkan semakin relevan–sekarang: “siapa yang mau maju. irigasi. Meskipun terdapat kemajuan di beberapa komunitas Islam. tanpa memahami bahwa peluang untuk maju dan berkarya di depan mata justru jauh lebih besar. Bahkan. Misalnya: dalam kurun waktu hanya sekitar 100 tahun. Di awal tahun 1990an. Mari kita memulai dengan suatu preposisi: “Abad ke-21 akan menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia”. internet dan telepon selular. Berbeda dari abad-abad sebelumnya. 180 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kita meyakini bahwa di paruh kedua Abad-21. internet dan handphone. Islam. dan juga dalam artikel The Economists yang saya tulis. komputer dan handphone hanya dinikmati oleh segelintir orang. optik. Masih banyak umat Islam yang terlalu bernostalgia terhadap kejayaan di masa lalu. puncak kejayaan Islam sebagai peradaban dunia yang paling maju di Abad ke-13 justru terjadi. Proses ini akan terus berkembang. navigasi. umat Islam mencatat berbagai kemajuan dan penemuan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai sekarang kita rasakan manfaatnya: kompas. Dengan pusat peradaban di Baghdad. Penemuan mesin uap memulai revolusi industri dan mengubah sejarah Eropa. karena umat Islam membuka diri dan mengejar ilmu pengetahuan di manapun. akan lebih deras daripada perubahan dalam 100 tahun terakhir. dan 3. aljabar. Abad ke-21 justru dapat kita wujudkan menjadi suatu “confluence of civilizations”. teknik sipil. kalau kita ingin membangun suatu peradaban dunia (global civilization). dan Human Development Index. Hadirin yang saya hormati. di mana seluruh peradaban dunia–apakah Barat. sebagian besar umat Islam saat ini masih tertinggal dalam pencapaian Millenium Development Goals. Ada yang menyatakan bahwa arus perubahan dalam 10 tahun mendatang. KEDUA. dan bahkan sudah mendarat di bulan. Timur–dapat hidup berdampingan secara damai. masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Penemuan reaksi fisi nuklir menghasilkan bom atom dan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia. tetapi suatu visi yang realistis–an achieveable vision. Disadari atau tidak. Kita lihat saja komputer. email. 1. Kini. dan dapat saling memperkaya dan melengkapi. sebagian besar umat manusia akan terjamah oleh komputer. yang akan memperkokoh landasan bagi perdamaian dunia.4 milyar orang telah mempunyai e-mail. di seluruh dunia. tanpa penguasaan umat Islam di bidang iptek. harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. ke kecepatan mobil. rumah sakit pertama. 18 Tahun 2002 . memang. Islam tidak pernah bertolak belakang atau memusuhi ilmu pengetahuan–bahkan Islam selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. kita perlu terus membangun jembatan antar-peradaban. Penemuan vaksin di abad ke-18 mengubah ilmu kodokteran dan menyelamatkan jutaan umat manusia. manusia dapat bergerak dari kecepatan kuda. Sewaktu saya berpidato di Harvard University akhir tahun lalu. Kita yakini bahwa hal ini bukan sebuah utopia.Hal ini penting karena beberapa hal : PERTAMA. perubahan yang kita alami di Abad ke-21 akan bergerak sangat pesat.

the biggest driver for change adalah teknologi. Politik bebas aktif Indonesia kini diabdikan untuk mewujudkan “a million friends.Sejumlah negara–baik besar maupun kecil—yang dulu dikenal sebagai “negara miskin” kini telah melejit menjadi ekonomi yang unggul. abad kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Sebelum kebangkitan nasional tahun 1908. kunci dari keunggulan Indonesia di Abad ke-21 adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu penyebab bangsa kita terbelakang selama ratusan tahun adalah. bangsa Indonesia masih terisolasi dalam penindasan kolonialisme. pendidikan. itu terjadi karena kerja keras dan kemampuan kita dalam beradaptasi. Kalau kita gagal. Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan. karena proses pengembangan teknologi tidak akan pernah berhenti. karena kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. dan Kerajaan Islam Otoman berjaya. Kalau kita tidak cepat meng-atasinya. Inilah yang sering disebut sebagai “intangible intellectual resources”. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa adalah hasil dari suatu kerja besar yang terencana dan berkesinam-bungan. suhu dunia bisa naik 4 derajat Celsius dan membawa malapetaka bagi umat manusia dan bagi planet bumi—rumah kita satu-satunya. Dalam menghadapi arus sejarah yang dahsyat ini. itu adalah kesalahan kita sendiri. perusahaan. dan kunci sukses untuk mencapai itu adalah inovasi. Kita juga melihat perubahan pesat ini di bidang lingkungan. pada saat Eropa mendominasi dunia. kita tidak bisa lagi hanya mengutuk masa lalu atau menyalahkan orang lain. Kalau kita kelak tampil unggul di depan yang lain.6 derajat celcius. kita semua telah melihat dan merasakan: porsi teknologi dalam PDB kita semakin besar. atau “knowledge capital”. Saudara-saudara. Konsentrasi karbondioksida meningkat 36%. Indonesia tidak punya musuh. dan lapisan ozon semakin menipis. dan tidak ada negara lain yang memusuhi Indonesia. . kesehatan. Semenjak revolusi industri di Eropa 200 tahun lalu. Indonesia sendiri. Dalam abad yang sangat progresif ini. situasinya telah berbeda: Hakikatnya. pertahanan. Kita mutlak membutuhkan persatuan untuk melawan penjajah. untuk mempertahankan kemerdekaan. dan untuk mengembangkan jati diri bangsa. saya yakin sekali bahwa dalam Abad ke-21 yang akan menjadi the most powerful driver of change adalah teknologi. suhu dunia telah naik sekitar 0. Amerika Utara tumbuh pesat. Dewasa ini. Teknologi tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu saja—bukan 181 Naskah Akademik Perubahan UU No. apakah itu untuk pertanian. maju dan kompetitif. Amerika Latin menikmati masa kemakmuran. Porsi Teknologi dan know-how semakin menonjol. zero enemy”. Apakah itu bangsa. karena ulah manusia. untuk memacu pertumbuhan dan produktivitas. kini telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. untuk menangkal separatisme. yang dulu pernah menjadi salah satu bangsa paling miskin di Asia. Abad ke-21 adalah abad keunggulan. keuangan. 18 Tahun 2002 Saudara-saudara. untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. komunitas. Kecenderungan ini akan terus menguat. dan rakyat kita tenggelam dalam kebodohan dan kemiskinan. jasa. Sesungguhnya pula merupakan bagian integral yang dinamis dari sebuah peradaban (civilization). untuk mengentaskan kemiskinan. untuk menjaga keutuhan wilayah. dan lain-lain. pertumbuhan ekonomi dan daya saing sebuah bangsa sangat disumbang oleh penguasaan teknologi. Makin nyata. Karena itulah. atau individu. perdagangan. Itulah perjuangan kita di Abad ke-20. Di Abad ke-21. untuk membangun perekonomian. dan untuk menjadi bangsa yang terhormat. karena nenek moyang kita tidak mendapatkan akses terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari belahan dunia lain. khususnya perubahan iklim. industri. Jepang mengalami Restorasi Meiji. terutama di negara-negara industri maju. Kunci sukses kita untuk mencapai itu tiada lain adalah persatuan. Abad ke-20 adalah abad kebangkitan nasional.

dan tidak sejahtera. tanpa apresiasi. dan terbangunnya mindset baru. apalagi hidup tanpa penghormatan. tampilnya Amerika sebagai superpower. dan Singapura. dan inventor. adalah mengubah mindset. Mau tidak mau. 182 Naskah Akademik Perubahan UU No. baik di Indonesia maupun di luar negeri. Dalam era globalisasi dewasa ini. namun memerlukan inkubator-inkubator—di lingkungan pemerintah. Semua fenomena sejarah—apakah itu peradaban Islam. peluang. Pertama. sumberdaya dan dana penelitian dan pengembangan tidak hanya berasal dari APBN. ilmuwan. Ilmuwan. Untuk mencapai kondisi seperti itu ada sejumlah hal penting yang harus kita bangun dan lakukan. Ini semua akan terwujud jika masyarakat kita. bukan sikap yang kaku dan dogmatis. yang kemudian menghasilkan berbagai inovasi baru. Kita semua tahu bahwa enterpreneurship identik dengan inovasi. kita di Indonesia harus bisa mengembangkan budaya unggul—a culture of excellence— baik di birokrasi. dan menjadi pendekar keunggulan. perlu diingat. dan dari masyarakat. Pendanaan dari kerjasama internasional juga merupakan alternatif yang makin terbuka. dan yang akhirnya mengakibatkan transformasi besarbesaran. namun dalam kemampuan untuk menyerap ilmu dan teknologi dari manapun untuk kepentingan rakyat Indonesia. Cina. dan juga knowledge society. dan lain-lain. dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. Saya ingin ilmuwan Indonesia bahu membahu dengan ilmuwan internasional. Korea. dan bukan menjadi catatan pinggir. dan dinamisme. perusahaan. Mungkin satu dua teknologi bisa dibeli seperti itu—namun tidak untuk mencapai technological society. Ingatlah. Mereka harus bisa menjadi ikon masyarakat. selain didukung mindset yang tepat. untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. 18 Tahun 2002 Karena itulah. universitas. Untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek. Karena itulah. “the rise of” Cina dan India—semuanya dimulai dengan suatu semangat. tetapi juga mesti dianggarkan oleh dunia usaha yang juga memerlukan inovasi di perusahaannya masing-masing. pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan porsi itu menjadi lebih memadai. Kita harus bisa menjadi Innovation Nation —bangsa inovasi! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif.seperti membeli barang di supermarket. Karena itulah. Renaissance di Eropa. Nasionalisme kita dicerminkan bukan dalam tindakan melawan atau menutup diri dari dunia. inovasi juga memerlukan Investasi dan Insentif. Kita harus aktif bukan saja menyerap ilmu dari dunia. Inovasi itu adalah suatu semangat. . harus ada sumberdaya dan dana yang cukup. Sementara itu saya berpandangan. Sistem dan lingkungan nasional kita harus bisa melahirkan inovator-inovator yang kreatif. peneliti dan inovator harus berada di garis terdepan perubahan nasib bangsa. Komunitas iptek Indonesia harus berwawasan jauh lebih terbuka dan lebih progresif dari masanya. Itulah mindset yang akan mengantarkan kita menjadi Innovation Nation. di universitas. maupun di sektor swasta. risk-taking. kita melihat bahwa inovasi tumbuh pesat sejalan dengan merebaknya enterpreneurship. suatu energi. Tentu saja jumlah inipun masih harus terus kita tingkatkan. Kita berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia mengadakan riset. Jepang. benar-benar menghargai kerja keras kaum peneliti. India.9 triliun. Inovasi tidak datang dari langit. kita bercita-cita agar Indonesia menjadi bagian integral dari komunitas ilmuwan dunia. namun juga menyumbang ilmu untuk dunia. Di Amerika. Restorasi Meiji di Jepang. saya menyadari bahwa alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D-research and development) di Indonesia pada tahun 2005 masih rendah – yaitu sekitar Rp 1 trilyun. serta program yang berkesinambungan. bahwa cara penting untuk membangun inovasi adalah melalui pengembangan enterpreneurship. Pada awal saya mengemban amanah rakyat. Namun. kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. kita semua. innovation is a state of mind. Saudara-saudara faktor kedua adalah. Inovasi juga menuntut sikap open-mind dan risk-taking. dan syukur alhamdullilah pada tahun 2010 dapat kita tingkatkan menjadi Rp 1. dan suatu etos.

teknologi kesehatan. serta penguasaan teknologi yang menjemput masa depan. hidroenergi dan Rumah Sederhana Tahan Gempa. menciptakan branding yang dikenal dunia internasional. Hal ini penting karena pada saat ini dan ke depan. peningkatan industri. Inovasi segar seperti ini harus terus dikembangkan dan disebarkan. menyerap dan mengembangkan teknologi baru untuk pembangunan Indonesia. Namun perlu diingat. misalnya melalui satelit. angin. ketangguhan pertahanan dan keamanan negara. pada saatnya nanti Indonesia menjadi “major food producer” di dunia internasional. Bahkan. yang dapat menjawab tantangan-tantangan pokok itu. Produk-produk industri Indonesia harus bisa menunjang pencapaian 2 aspek penting. serta meningkatkan teknologi pengawasan hutan. Dunia kini boleh dikatakan sedang panen teknologi.Yang juga penting diingat: kita tidak harus selalu menjadi inventor teknologi baru. Saudari Tri Mumpuni. Kalau kita lihat dari bukti-bukti empiris. 18 Tahun 2002 . Padahal untuk negeri kita juga diperlukan teknologi yang dapat memberdayakan rakyat miskin. teknologi industri. Namun kita harus cerdik mencari. telah merintis pembangunan energi mikro-hidro di desa-desa. yang sangat penting bagi kesejahteraan rakyat kita (food security). Saya ingin. Pertama. Tantangan itu antara lain adalah : pengentasan kemiskinan. lembaga kajian dan universitas manapun di dunia. antar-universitas. dan target ini bisa ditingkatkan menjadi 41% apabila ada bantuan internasional yang memadai. dan surya. antar-perusahaan. Kita sudah menetapkan target penurunan emisi 26% untuk tahun 2020 dari “business as usual”. Salah satu ciri Era Globalisasi dewasa ini adalah keniscayaan untuk sebuah knowledge-sharing antar bangsa. Kita juga harus mulai mencapai high-end products. dan telah mendapatkan pengakuan internasional. sering terjadi. yang pasti akan terus bermutasi 183 Naskah Akademik Perubahan UU No. teknologi air bersih. Keempat. karena ini adalah kunci sukses bagi masa depan kita. Untuk itu. Karena itulah. Kelima. Kedua. ketahanan pangan dan energi. antar-ilmuwan. ke depan. bahkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. teknologi untuk mengentaskan kemiskinan–pro-poor technology. Misalnya: telekomunikasi murah untuk desa terpencil. Kita harus mencari teknologi terkini untuk memerangi penyakit-penyakit menular : apakah itu H5N1. meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan seperti geothermal. Kita memerlukan teknologi pertanian baru untuk mencari bibit unggul. Saya juga bangga bahwa seorang inovator energi kita. dan bahkan bisa bersaing dalam aspek desain yang selama ini cenderung didominasi industri negara-negara maju. atau kombinasi dari semuanya. bangsa Indonesia harus makin menguasai teknologi. hampir semua inovasi teknologi merupakan hasil dari suatu kolaborasi. teknologi yang kita cari dan pilih haruslah tetap relevan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan. Ketiga. industri akan tetap menjadi tulang panggung ekonomi Indonesia. yaitu padat teknologi dan padat karya. Kita harus bisa membuat industri kita lebih efisien. H1N1 dan virus-virus berbahaya lainnya. Teknologi sering disalahpersepsikan seolah hanya untuk kepentingan industri besar yang canggih saja. kebijakan pemerintah dan kolaborasi. Karena itulah. untuk mendeteksi hotspot kebakaran hutan. Hadirin sekalian yang saya hormati. kita harus menerapkan pembangunan yang hemat energi (low carbon footprint). bibit unggul. meningkatkan hasil panen. teknologi pangan. pemeliharaan lingkungan hidup. networking antara inkubator menjadi sangat penting. Faktor ketiga adalah. lebih produktif dan lebih mempunyai nilai tambah. Saya mendorong ilmuwan Indonesia untuk menjalin networking dan kolaborasi yang seluas-luasnya dengan lembaga penelitian. teknologi hijau – green technology. apakah itu kolaborasi antarpemerintah. pihak yang lebih cerdik mendayagunakan teknologi bisa lebih maju dari pihak yang menemukan teknologi itu sendiri. dan melipat-gandakan produktifitas pangan guna mencapai kondisi swasembada.

dan lain-lain. yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. Sebagai negara Nusantara. Ketujuh. kita harus membangun teknologi kelautan. yang terbentang dari Sabang ke Marauke. yang terus dapat ditingkatkan keunggulan dan daya saingnya. 184 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan lain-lain—yang semuanya dapat menjadi mitra pembangunan Indonesia. Teknologi-teknologi revolusioner ini tentu tidak sepatutnya hanya didominasi dan dimonopoli negara-negara maju saja. Hadirin sekalian yang saya hormati. sebagaimana kita terus mengharapkan dunia luar berbagi dengan kita. Dan. yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi knowledge society. yaitu suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka-panjang dapat mendorong. Kita dikaruniai wilayah yang sangat luas. Oleh karena itu. serta kemampuan peace-keeping operation di wilayah-wilayah konflik di dunia. TNI harus meningkatkan kapasitas untuk melakukan military operations other than war (MOOTW). dunia Islam. sama seperti bencana alam. teknologi masa depan: yaitu nano technology. Kita mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. Banyak emerging economies --seperti Cina. Karena itulah. Indonesia tidak boleh tertinggal. Saya senang sekali bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH) sudah mulai membangun pusat riset untuk nano-technology. menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor. Kita juga harus mendapatkan teknologi canggih untuk bisa mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. 18 Tahun 2002 . teknologi maritim. Virus berbahaya. Kita harus bisa meningkatkan kualitas dan tingkat teknologi industri pertahanan kita– termasuk melalui joint production dengan industri militer negara-negara lain. tapi kita belum menjadi negara maritim yang kuat. Dan kita mempunyai hubungan yang baik dengan semua pihak—baik dunia Barat. kita belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melakukan offshore drilling apalagi deep sea drilling. kita harus bekerja-sama dua arah : kita berbagi ilmu dan penemuan dengan dunia kesehatan internasional. berkaitan dengan pandangan ini. wilayah perbatasan dan lautan Nusantara yang terbentang luas. Untuk mengembangkan semua ini. Indonesia secara fisik adalah negara Kepulauan terbesar di dunia. teknologi pertahanan. dan dalam skala nasional. komunitas ilmuwan dan swasta. untuk ikut memastikan bahwa Sistem Inovasi Nasional dapat berkembang dan berjalan dengan baik. emerging economies. Sementara itu. negara-negara berkembang. misalnya. misalnya untuk konversi air minum atau teknologi perkapalan. bio-engineering. TNI juga harus mempunyai kemampuan untuk melakukan surveillance dan menjaga pulau-pulau terpencil. akan menjadi salah satu ancaman paling riil bagi bangsa kita di abad ke-21. dalam waktu dekat saya akan membentuk Komite Inovasi Nasional. hydrocarbon dan mineral. dan Brazil . di Indonesia. termasuk kelompok teroris yang juga memanfaatkan teknologi yang canggih.mengancam keluarga kita dan bahkan umat manusia. Saat ini. Seperti yang kita alami dalam kasus epidemi H1N1 (Swine Flu). dibutuhkan suatu Sistim Inovasi Nasional. Saya berpendapat. Disini. yang didasarkan pada suatu kemitraan antara pemerintah. serta bentuk kerjasama yang lain. TNI harus terus meningkatkan postur dan kapabilitasnya. termasuk penguasaan “revolution in military affairs” (RMA). Kita memiliki sumberdaya manusia yang tangguh. India. Keenam. Polri dan aparat intelijen juga harus terus meningkatkan kemampuan operasionalnya untuk melawan kejahatan trans-nasional. kedelapan adalah. baik perikanan. Konsep seperti ini relatif baru. dan dengan berkolaborasi dengan dunia internasional. apalagi kalau menyangkut virus yang datang dari luar yang kita tidak mempunyai vaksinnya. meskipun sudah mulai diterapkan di beberapa negara yang mengalami transformasi. dari Miangas ke Pulau Rote. mendukung. Setiap negara mempunyai Sistim Inovasi Nasional dengan corak yang berbeda dan khas. Indonesia tidak bisa menangani ancaman ini sendiri. robotics.yang kini mulai merintis teknologi-teknologi baru ini. kita juga harus mengembangkan Sistem Inovasi Nasional. genomics.

iptek dan budaya. developed country. serta dengan persatuan. menjadi bangsa yang maju dan jaya di Abad ke-21. 185 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau knowledge-based. dengan semua ini. resource-based and culture-based development. Mari kita songsong era itu dengan kepercayaan sebagai sebuah bangsa yang penuh inovasi. adalah dengan memadukan pendekatan sumberdaya alam. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. kebersamaan dan kerja keras kita. ke depan. Terima kasih.Karenanya. bangsa kita akan mengalami transformasi yang fundamental. Indonesia mempunyai peluang emas untuk memajukan kehidupan bangsa kita. masa gemilang itu akan datang. 18 Tahun 2002 . Insya Allah. Strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju. Kalau visi ini kelak tercapai. dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa.