Naskah Akademik SINas.pdf

NASKAH AKADEMIK

PERUBAHAN UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2012

1

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latarbelakang

Pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab adalah: apa kontribusi teknologi dalam negeri terhadap pembangunan nasional? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi tolok ukur bagi perkembangan Sistem Inovasi Nasional (SINas) di setiap negara, termasuk Indonesia.1 Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan ‘sederhana’ ini, maka perlu didahului dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang anatomi permasalahannya. Sesungguhnya banyak kelembagaan di Indonesia yang melakukan kegiatan riset. Setiap institusi pendidikan tinggi wajib melakukan kegiatan riset sebagaimana amanah Tridharma Perguruan Tinggi. Tiga tugas pokok institusi pendidikan tinggi negeri maupun swasta adalah melakukan kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain instansi pendidikan tinggi, di Indonesia juga terdapat banyak lembaga riset pemerintah dan non-pemerintah.2 Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi. Rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan
1

Sistem Inovasi Nasional adalah sistem aliran teknologi dan informasi antara kelembagaan pengembang-pengguna teknologi, didukung oleh kelembagaan terkait lainnya, yang menjadi kunci dari proses inovatif pada suatu negara. Dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi terdapat 7 kelembagaan yang tugas pokoknya menyelenggarakan riset atau kegiatan yang terkait dengan implementasi hasil riset. Kelembagaan riset tersebut berstatus sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK). Selain LPNK tersebut, pada masing-masing kementerian teknis juga terdapat Badan Penelitian dan Pengembangan masing-masing. Kelembagaan riset non-pemerintah terdapat di beberapa industri besar, selain itu juga ada yang berupa lembaga riset independen yang diselenggarakan oleh masyarakat.

2

2

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional. Berfungsinya SINas tidak hanya membutuhkan: [1] keberadaan lembaga pengembang teknologi yang produktif dan berkualitas;3 [2] industri yang dikelola dengan baik dan didukung tenaga kerja terampil dan/atau terdidik yang produktif serta kelimpahan bahan baku; dan [3] fasilitasi aktif dari pemerintahan serta kebijakan dan regulasi yang mendukung pewujudan ekosistem yang kondusif; tetapi juga membutuhkan [4] niat dan motivasi yang tinggi antara pihak pengembang dan pengguna teknologi untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain berdasarkan asas kesetaraan dan saling menguntungkan (mutualistik). UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan fungsi dari sistem nasional litbangrap iptek adalah untuk membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sistem nasional litbangrap iptek. Paradigma yang lalu menempatkan pihak pengembang teknologi (institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset) secara dominan dalam mewarnai ‘genre’ teknologi yang dikembangkan. Pendekatan yang lebih dominan bersifat supply-push ini ternyata gagal dalam mempersuasi industri dan pihak pengguna lainnya untuk mengadopsi teknologi hasil riset oleh perguruan tinggi maupun lembaga riset tersebut. Kegagalan paradigma yang lalu ini perlu disikapi secara cerdas dan objektif, dengan mengesampingkan kepentingan sektoral ataupun profesi. Tentu perlu telaah komprehensif terhadap anatomi permasalahan dalam implementasi paradigma supply-push yang kurang optimal tersebut, selain juga perlu dilakukan pencermatan yang matang terhadap alternatifalternatif untuk memperbaiki paradigma lama tersebut. Kenyataan ini menjadi argumen yang sangat kuat untuk melakukan penelaahan terhadap posisi SINas Indonesia saat ini dan mencari alternatif pendekatan yang tepat agar pola hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat efektif, efisien, dan produktif menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan rakyat Indonesia, yang berarti sekaligus secara nyata akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan (perekonomian) nasional. Upaya mengubah paradigma yang lama dengan paradigma yang baru agar ditekankan pada pola dan arah hubungan antara pengembang dan pengguna teknologi serta pihak-pihak lain yang terkait. Secara substansial upaya ini dapat disebut sebagai upaya reorientasi arah dan pola hubungan antar-aktor dalam sistem nasional litbangrap iptek. Diharapkan dengan melakukan
3

Kualitas kelembagaan pengembang teknologi dilihat dari kualitas akademik sumberdaya manusia (SDM) yang mengawakinya, ketersediaan sarana dan prasarana riset yang canggih dan sesuai dengan kebutuhan fokus riset yang menjadi tugas pokoknya, ketersediaan dan/atau kemudahan mengakses sumber informasi ilmiah, dan fasilitas pendukung lainnya untuk menciptakan suasana akademik (academic environment) yang kondusif, serta kemampuannya dalam mendifusikan teknologi yang dihasilkan kepada pengguna potensial.

3

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

reorientasi sistem nasional litbangrap iptek, maka teknologi domestik yang dihasilkan akan lebih berpeluang untuk diadopsi oleh para pengguna, terutama industri dan pelaku produksi lainnya di dalam negeri. Resultan dari adopsi teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa ini adalah peningkatan kontribusi nyata teknologi terhadap pembangunan nasional. Satu hal yang sangat fundamental yang perlu reorientasi adalah anggapan bahwa masalah litbangrap iptek merupakan permasalah teknologi yang berkaitan dengan ekonomi (economically-related technological problems), padahal sesungguhnya penguatan sistem nasional litbangrap iptek adalah permasalahan ekonomi yang butuh dukungan teknologi untuk memecahkannya (technologically-related economical problems). Kemajuan perekonomian sangat tergantung pada kinerja litbangrap iptek-nya, yang pada prinsipnya adalah tergantung pada kapasitas negara dalam mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dan sesuai pula dengan kapasitas adopsi dari para pengguna teknologi. Untuk kasus Indonesia, kesadaran akan pentingnya peran teknologi dalam pembangunan perekonomian nasional tersurat dari ditetapkannya pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sebagai salah satu dari tiga strategi utama dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), disamping dua strategi utama lainnya, yakni pengembangan potensi ekonomi melalui enam koridor yang telah ditetapkan dan memperkuat konektivitas nasional.4 Kesesuaian teknologi dengan kebutuhan nyata membuka peluang lebih lebar untuk teknologi tersebut dapat diadopsi, namun belum sepenuhnya menjamin bahwa sistem nasional litbangrap iptek akan otomatis terbangun. Ekosistem yang kondusif sangat dibutuhkan untuk tumbuh-kembang inovasi, terutama dalam bentuk kebijakan dan regulasi yang akomodatif, yang memudahkan para aktor inovasi untuk berkomunikasi dan berinteraksi serta juga memudahkan proses adopsi teknologi domestik oleh para pengguna di dalam negeri. Arahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono5 untuk mengutamakan upaya pemenuhan kebutuhan (demand) pasar domestik menumbuhkan semangat untuk lebih gigih mewujudkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek yang lebih handal. Penduduk Indonesia yang saat ini (BPS, 2010) telah mencapai 237 juta, merupakan pasar yang sangat besar dan menjadi target banyak negara asing dalam memasarkan produknya. Para pengembang teknologi dan industri dalam negeri harus bahu membahu membangun sinergi untuk tidak membiarkan pasar domestik Indonesia dibanjiri oleh produk dan/atau jasa dari negara-negara asing.

4

Untuk pelaksanaan MP3EI, telah pula diterbitkan Perpres 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menetapkan tiga kelompok kerja (Pokja), yakni: Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi, Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Pokja SDM dan Iptek. Pokja SDM dan Iptek diketuai oleh Menteri Pendidikan Nasional dan wakil ketuanya adalah Menteri Negara Riset dan Teknologi, dengan anggota dari kementerian PPN/Bappenas, Ristek, Diknas, Nakertrans, Keuangan, UKM dan Koperasi, serta dari anggota KIN, Kadin, dan ketua asosiasi profesi dan usaha terkait. Pada Seminar di Institut Teknologi 10 November Surabaya tanggal 14 Desember 2010.

5

4

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sinergi pengembang-pengguna teknologi dalam penguatan inovasi nasional merupakan aksi yang tepat dan sepatutnya dilakukan. Inisiatif inovasi dari Komite Inovasi Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan, Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), antara lain menyebutkan penguatan inovasi melalui skema 747 memerlukan pendanaan R&D hingga 1% dari GDP. Skema 747 ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi, pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi, dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. Peningkatan dukungan pendanaan untuk menunjang program inovasi ini dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan daya dukung pemerintah, BUMN, dan partisipasi badan usaha. Akan sangat ideal jika Pemerintah mampu mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 melalui pembentukan ekosistem yang lebih kondusif melalui regulasi dan kebijakan yang tepat. Adanya peraturan perundang-undangan yang konsisten dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance), sehingga tumbuh-kembang sistem nasional litbangrap iptek dapat berlangsung secara lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

1.2.

Permasalahan

Hasil penelitian LIPI (Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera, 2000) terkait dengan sistem penelitian iptek dan sistem inovasi nasional, antara lain menyimpulkan inovasi masih belum memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional. Menurut Benyamin Lakitan (2012), rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek

5

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi.

bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional.

1.3.

Maksud dan Tujuan Penulisan

Pertanyaan yang fundamental dan filosofis perlu ditranslasi menjadi pertanyaan-pertanyaan teknis dan operasional agar jawabannya juga menjadi lebih dapat ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang menjadi batu sandungan dalam upaya mewujudkan penguatan inovasi secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat.6 Berbagai persoalan terkait rendahnya kontribusi teknologi di Indonesia saat ini diyakini berakar pada tidak relevannya teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang dihadapi rakyat, bangsa, dan negara ini. Persoalan terkait dengan upaya penguatan inovasi tidak dapat disederhanakan secara berlebihan (over-simplified) hanya menjadi persoalan relevansi teknologi. Disadari betul bahwa upaya penguatan inovasi nasional merupakan upaya penguatan sistem inovasi yang sangat kompleks. Banyak aktor yang ikut berperan, dengan derajat dan jenis partisipasi yang berbeda tentunya. Banyak faktor yang mempengaruhi ekosistem dimana sistem inovasi ditumbuhkan, termasuk ekonomi, sosio-kultural, hukum, dan politik. Interaksi dari berbagai aktor dan faktorfaktor yang ikut berpengaruh tersebut yang akan membentuk sistem inovasi nasional yang lebih kokoh. Selain kompleks, upaya penguatan inovasi juga sensitif terhadap dinamika peran para aktor dan faktor-faktor pembentuk ekosistem tumbuhnya. Memahami persoalan dalam upaya penguatan inovasi nasional yang sangat kompleks tersebut, maka penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dimaksudkan untuk: [1] Memahami realita dan permasalahan dalam upaya penguatan kemampuan penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan iptek saat ini; [2] Mencoba merajut sosok ideal SINas Indonesia dalam mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat; [3] Mengidentifikasi dan mengantisipasi dinamika perubahan faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi ekosistem SINas (lingkungan strategis); dan [4] Mengembangkan konsepsi SINas Indonesia yang realistis yang diyakini mampu diaktualisasikan untuk mewujudkan sasaran penguatan inovasi. Penulisan dokumen ini bertujuan untuk digunakan sebagai bahan referensi akademik yang menjadi dasar pertimbangan perubahan UU No. 18 Tahun 2002, terutama dalam penyusunan regulasi yang relevan dengan upaya mewujudkan penguatan inovasi yang lebih produktif dan menyejahterakan rakyat. Sebagai referensi akademik, dokumen cetak biru ini diharapkan

6

Perlu selalu diingat bahwa konsitusi UUD 1945 jelas mengamanahkan bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa (Pasal 31 ayat 5).

6

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sesuai Perpres No. pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. 18 Tahun 2002 . namun diupayakan agar mudah dan enak dibaca dengan gaya bahasa dan penggunaan terminologi yang lebih bersahabat (reader-friendly). serta memberikan kerangka konsepsi yang objektif dan mungkin-dicapai (achievable) dengan sumberdaya yang dimiliki Indonesia. Hasil analisis tersebut menjadi landasan untuk mengidentifikasi peraturan perundangundangan yang ada. pengembangan sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. pembangunan klaster inovasi daerah. Pengembangan. 1. b. pengembangan sistem remunerasi peneliti yang lebih baik. 32 Tahun 2011 tentang MP3EI. dan relevan dengan kondisi Indonesia. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Informasi ini merupakan langkah langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan ekosistem inovasi. mutakhir. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menggunakan metode pendekatan deskriptifanalitis. Metode Penelitian Hukum Penyusunan Naskah Akademik tentang Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. e. Pendekatan ini menggambarkan berbagai permasalahan secara utuh dan menyeluruh. d. pengembangan sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia.4. revitalisasi infrastruktur R&D. maka dokumen cetak biru ini walaupun kental berbasis akademik. dan dengan pendekatan dari segi pengelolaannya secara terpadu. c. terutama bagi para pembuat kebijakan dan regulasi. f. Selain itu. penelitian ini menggunakan pendekatan secara interdisipliner dan multidisipliner. Melalui pendekatan interdisipliner akan diketahui hukum dan ilmu hukum yang mengatur penguatan inovasi dan melalui pendekatan multi disipliner akan diketahui ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang mendukung pengaturan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang 7 Naskah Akademik Perubahan UU No. langkah-langkah perbaikan ekosistem inovasi mencakup: a. dan g.mampu memberikan informasi yang komprehensif. selanjutnya dilakukan analisis yang menjadi bagian-bagian sebagai sistem yang terbagi atas sub sistem-sub sistem dari suatu ekosistem sebagai suatu kesatuan dalam merumuskan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Karena tujuannya adalah untuk menjadi landasan dalam pembuatan kebijakan dan/atau regulasi. Pengembangan. khususnya hukum tertulis yang berlaku yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan upaya-upaya penguatan inovasi secara nasional.

Mengkaji bahan-bahan seminar. Penelusuran kepustakaan. inovasi. Data ini selanjutnya dianalisis secara kualitatif berdasarkan norma-norma hukum yang berlaku dan disusun sebagai bagian dari pengembangan sistem hukum nasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Metode pendekatan sistemik ini digunakan sebagai konsekuensi dari pengertian dan pemahaman mengenai kompleksitas penguatan inovasi secara nasional. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sedangkan inventarisasi dan pengolahan data dilakukan melalui: 1. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi). dengan mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan berlaku di Indonesia termasuk kebijakan inovasi nasional. serta kegiatan penelitian. 2. maupun yang terkait dengan perekayasaan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. dan merupakan bahan-bahan hukum dalam mempersiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. pengkajian. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. hasil focus group discussion. kemudian diupayakan untuk menarik azas-azas hukum dan rumusan norma yang akan dijadikan acuan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. pemanfaatan dan pemajuan iptek untuk mendorong inovasi dan difusi teknologi seoptimal mungkin. dan sebagainya) serta data-data yang diperoleh dari para anggota tim penyusunan naskah akademik. inovasi. dengan data sekunder yang terdiri dari bahan-bahan hukum primer (peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perekayasaan. 18 Tahun 2002 .Perubahan UU No. maupun difusi teknologi. maupun difusi teknologi. maupun difusi teknologi ini mengacu pada inventarisasi permasalahan. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif. Pada dasarnya penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta bahan hukum sekunder maupun tertier (hasil-hasil penelitian. Sumber hukum materiil masalah perekayasaan. konvensi dan traktat internasional yang terkait alih teknologi. maupun putusan pengadilan yang terkait dengan inovasi teknologi. khususnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kegiatan perekayasaan. majalah hukum. kertas kerja. inovasi. 8 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta kegiatan penelitian. Tahapan penelitian diawali dengan melakukan inventarisasi hukum. Oleh karena itu penelitian ini secara futuristik harus menyangkut upaya pembangunan yang berkelanjutan dalam sistem hukum yang ada bagi penguatan inovasi nasional. maupun difusi teknologi. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pengembangan. Penelitian ini harus pula mendekati permasalahan yang ada dalam upaya peningkatan penguasaan. inovasi. makalah. Metode ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis.

dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Mengkaji Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta berbagai kendala dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). Kajian ini mencakup bagaimana implementasi. argumen tentang pentingnya upaya memperkuat inovasi nasional dalam rangka meningkatkan kontribusi teknologi. Program penguatan inovasi nasional ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi. dan peraturan perundangundangan yang terkait. 18 Tahun 2002 Mencakup tentang latar belakang penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002. dan 4. 12/2011: latar belakang. tujuan dan kegunaan naskah akademik. pengembangan. kendala-kendala dalam prakteknya. serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagaian Pendapatan Badan Usaha untuk Kegiatan Perekayasaan. dan penerapan iptek. metode penelitian hukum. serta rincian sistematika penulisan dokumen. maksud dan tujuan penulisan dokumen. 1. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi.5. terutama untuk meningkatkan produktivitas nasional dan kesejahteraan. Hasil Diskusi atau informasi anggota tim di Kementerian Riset dan Teknologi. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya penguatan inovasi. Sistematika Penulisan Sesuai dengan maksud penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dan tujuan yang hendak dicapai. terutama Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual. termasuk pelaksanaan peraturan pelaksanaannya. sehingga 9 Naskah Akademik Perubahan UU No. Inisiatif inovasi nasional dari Komite Inovasi Nasional dalam rangka pencapaian tujuh sasaran inovasi nasional perlu diperkuat melalui peraturan perundang-undangan. maka sistematika penulisan dirinci sebagai berikut: Bab I Pendahuluan (UU No.3. Pengembangan. metode penelitian hukum) Judul dan Deskripsi Substansi  Latar Belakang memberikan informasi awal tentang persoalan pokok yang dihadapi terkait dengan rendahnya kontribusi teknologi terhadap pembangunan nasional Indonesia. identifikasi masalah. Inovasi dan Difusi Teknologi.  Permasalahan secara garis besar memberikan gambaran kondisi kegiatan penelitian. . permasalahan. Ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya perlu diperhatikan. Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional yang lebih tangguh.

dan 10 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan. penguatan inovasi. ketersediaan dan kesiapan infrastruktur inovasi. pengguna. maka akan diulas tentang kinerja perekonomian nasional. pendidikan. dan dilakukan pula identifikasi permasalahan dan analisis efisiensi sistem inovasi terkait orientasi pembangunan inovasi. Komersialisasi III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang-undangan Terkait Untuk menyajikan realita potret peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian. dan aktor penting lainnya yang ikut menentukan dinamika ekosistem inovasi. 18 Tahun 2002.  Sistematika menjelaskan tentang tata urut penulisan dokumen yang sekaligus juga merinci tentang substansi isi dokumen. pengembangan. LIPI. 18 Tahun 2002 mencakup:  Analisis Undang-undang No. dan pembangunan infrastruktur sosial. dan penerapan iptek di Indonesia saat ini. dan Prakoso Bhairawa Putera. II Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi Mencakup kajian teoritis dan kajian implementasi UU No. Kementerian Riset dan Teknologi.  Metode penelitian hukum memberikan gambaran mengenai metode yang dilakukan di dalam penelitian ini. dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-base economy). 2005. Kajian implementasi UU No. pendekatan kesisteman.Bab Judul dan Deskripsi Substansi memerlukan perubahan UU No.  Maksud dan tujuan penulisan adalah menjelaskan tentang niat yang terkandung dalam penyusunan dokumen naskah akademik ini dan kemanfaatan yang dapat diperoleh publik dengan tersedianya dokumen ini. teori-teori hukum. dan upaya penciptaan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang inovasi.  Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Kelembagaan Iptek. BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. ketenagakerjaan.  Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . 2007. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif. dengan analisis deskriptif terhadap berbagai peraturan perundangundangan. dilakukan analisis tentang ekosistem pembangunan nasional. terutama kebijakan-kebijakan yang secara langsung mempengaruhi tumbuh-kembang inovasi nasional. dinamika interaksi antar-aktor.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan: Tatang A Taufik. 18 Tahun 2002 . dan fakta di masyarakat. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy) : Sri Mulatsih. 2009. Kajian teoritis mencakup uraian tentang beberapa konsepsi penting termasuk makna inovasi. termasuk kebijakan maupun peraturan perundang-undangan terkait makro ekonomi. para aktor inovasi nasional yang terdiri dari aktor pengembang. peran dan kontribusi aktor inovasi. maupun berbagai informasi yang relevan dari berbagai narasumber maupun diskusi-diskusi. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002. perindustrian dan perdagangan.

 Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik menjadi isu yang sangat penting. Secara sosiologis penguatan inovasi nasional dapat memenuhi karakteristik inovasi yang khas Indonesia yang mencakup: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. menurut Hans Kelsen. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya.Bab Judul dan Deskripsi Substansi peran pemerintah dalam skenario pengembangan SINas. secara bertahan mengubah minset pada pengembang teknologi agar lebih berorientasi pada kebutuhan nyata dan lebih sensitif terhadap persoalan yang dihadapi pengguna teknologi. dalam rangka membangun kemandirian bangsa. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. Namun demikian. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. IV Landasan Filosofis. peranan lembaga intermediasi akan sangat berat jika teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan dan tidak sepadan dengan kapasitas adopsi pengguna. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. kesesuaian teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna (demand-driven) merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam membangun inovasi nasional. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. membangun semangat kebersamaan antar aktor inovasi. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). karena efektivitas hukum merupakan fakta. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. sosiologis. karena masih akan tergantung pada kapasitas adopsi pengguna teknologi. Menurut Kelsen. teknologi yang dikembangkan harus pula sesuai dengan potensi sumberdaya nasional.  Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi diharapkan mampu mendorong pengembangan SDM yang relevan dengan kebutuhan. Sosiologis dan Yuridis Menurut UU No. yaitu syarat yuridis. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat.  Ekosistem Inovasi yang Kondusif dibutuhkan untuk tumbuh-kembang SINas. Selain itu. Syarat yuridis. dan filosofis. Menurut teori kekuasaan. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. teknologi yang relevan saja memang belum cukup menjadi jaminan bahwa teknologi tersebut akan diadopsi pengguna. 18 Tahun 2002 . Ekosistem SINas yang kondusif dapat diwujudkan melalui kebijakan dan 11 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi.  Reorientasi Arah dan Prioritas Riset. Syarat kedua adalah syarat sosiologis.

kebijakan perindustrian dan perdagangan. Arah Pengaturan dan Ruang Lingkup  Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. kebijakan 12 Naskah Akademik Perubahan UU No.  Dinamika Lingkungan Regional ASEAN memperlihatkan bahwa posisi Indonesia secara relatif lebih lamban kemajuan pembangunan ipteknya dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. regional. maupun nasional. perlu percepatan dalam mewujudkan dan memperkuat inovasi Indonesia yang dimulai dengan perubahan mindset para pengembang teknologi dan meningkatkan peran dunia usaha dalam pembangunan iptek. Selanjutnya secara nyata berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. sehingga lebih berpeluang untuk digunakan dalam proses produksi barang dan/atau jasa.  Dinamika Lingkungan Global yang paling penting adalah semakin kentaranya kecenderungan untuk mendorong pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. 18 Tahun 2002 . Oleh sebab itu. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro. Pengakuan atas potensi peran iptek ini diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat inovasi nasional. Panggung SINas yang ideal perlu didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. V Jangkauan. dan perpajakan.  Dinamika Lingkungan Nasional pada tahun 2011 ini ditandai dengan diluncurkannya MP3EI yang menempatkan pembangunan iptek sebagai salah satu strategi utama untuk percepatan dan perluasan pembanguan ekonomi Indonesia.  Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional pada akhirnya akan dievaluasi berdasarkan kontribusi inovasi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. dan stabilitas keamanan nasional. kebijakan pendidikan nasional. baik pada tingkat global. Upaya penguatan inovasi nasional harus bersifat dinamis menyesuaikan dengan dinamika perubahan lingkungan strategis. Secara filosofis penguatan inovasi nasional harus mampu mengantisipasi perubahan lingkungan strategis. kebijakan riset dan pengembangan teknologi.Bab Judul dan Deskripsi Substansi regulasi yang tepat di berbagai sektor yang secara langsung mempengaruhi kinerja para aktor inovasi dan interaksi antar-aktor tersebut. terbangunnya masyarakat berbasis pengetahuan. kebijakan ketenagakerjaan. keuangan. disamping sebagai sasaran antaranya adalah pertumbuhan ekonomi.

dan swasta. Kebijakan dapat mendukung arah penguatan inovasi nasional yang mencakup: [1] membangun inovasi sebagai sistem. difusi. dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian.pengembangan. [6] membangun pusat unggulan inovasi. peningkatan hasil. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. lembaga ristek. 2. [7] mendorong pembentukan konsorsium inovasi. [5] penyiapan S&T Park. 18 Tahun 2002 Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. VI Rangkuman dan Rekomendasi Merupakan bagian akhir dokumen yang menyajikan rangkuman terkait dengan unsur dan isu penting dalam penguatan inovasi nasional serta rekomendasi materi perubahan kebijakan dan/atau regulasi yang ada. universitas. dan pemanfaatan teknologi. pendayagunaan. rekayasa inovasi . [2] revitalisasi lembaga pengembang teknologi. Dua kebijakan tersebut. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. dan .Bab Judul dan Deskripsi Substansi penyediaan infrastruktur sosial. pengembangan. pengembangan. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. [8] revitalisasi DRN. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. dan [10] berbasis sumberdaya dan memenuhi kebutuhan nasional. secara garis besar menekankan pada penguatan empat hal. 13 Naskah Akademik Perubahan UU No. [4] peningkatan peran lembaga intermediasi. [9] sinkronisasi dan perbaikan regulasi. yaitu: 1. [3] peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. 18 Tahun 2002 3. 4.  Lingkup Materi Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No.

interaksi antara aktor inovasi dengan ekosistemnya. sebaliknya juga tidak bisa dirancang komponen-komponennya secara parsial baru kemudian dirajut menjadi inovasi nasional. Pengembangan teknologi dalam kerangka penguatan inovasi dirancang agar dapat memberikan 14 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni inovasi dipadankan sebatas sesuatu yang berbeda (dari yang umumnya sudah diketahui) sampai ke definisi akademik yang lebih teknis dan spesifik. efektif.1. digunakan dalam berbagai komunitas. definisi inovasi masih beragam. Penguatan inovasi yang akan diwujudkan tentu perlu dijelaskan kepada publik agar publik dapat secara nyata. Oleh sebab itu. kebijakan penguatan inovasi secara tersurat mengindikasikan bahwa sistem inovasi yang dimaksud berada pada level negara. Dalam suatu sistem. Interaksi dinamis antar-aktor. Rentang interpretasi itu mulai dari yang sangat ‘longgar’. Kajian Teoritis 2. Ketika yang dibahas adalah inovasi. dikaitkan dengan banyak aspek kehidupan. misalnya untuk menyejahterakan rakyat.1. Penguatan inovasi nasional haruslah menjadi simpul pengikat antara teknologi dan ekonomi. Keadaan menjadi lebih runyam karena di kalangan akademik pun. karena kata inovasi sudah sangat populer. tetapi dengan interpretasi yang sangat variatif. Hal ini sangat relevan dalam memformulasikan kebijakan publik dan/atau regulasi yang secara legal sifatnya mengikat semua pihak. Pemahaman yang tepat ini sangat diperlukan ketika pokok bahasannya terfokus pada inovasi. Konsepsi Inovasi Nasional Adanya pemahaman yang tepat tentang terminologi dasar dan konsepsi pokok merupakan langkah awal yang sangat strategis dan penting untuk dilakukan. 18 Tahun 2002 . serta dinamikan dan kontinyuitas sirkulasi aliran informasi kebutuhan dan pasokan teknologi merupakan kesatuan utuh yang diperlukan dalam upaya penguatan inovasi. Inovasi sebagai suatu sistem yang kompleks tidak dapat dianalisis dengan cara memutilasi komponen-komponennya untuk ditelaah secara terpisah. Namun masih perlu dijelaskan bahwa sistem dimaksud bersifat sentralistik menjadi sebuah sistem tunggal yang besar dan kompleks. Pendekatan sistem diperlukan dalam menganalisis maupun dalam merancang kebijakan inovasi nasional SINas yang paling cocok. dan efisien memberikan kontribusinya bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. perlu penegasan tentang apa yang dimaksud dengan inovasi yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini.1. maka pemahaman tentang inovasi sebagai suatu ‘sistem’ perlu dimantapkan. atau terdiri dari banyak sub-sistem sesuai dengan karakteristik persoalan dan potensi sumberdaya masing-masing satuan wilayah dalam suatu negara yang diikat oleh satu tujuan kolektif.Bab 2 Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi 2.

Inovasi diadopsi dari Bahasa Latin ‘innovatus’ yang berarti memperbarui. sedangkan inovasi lebih dilihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. invensi adalah proses atau produk baru yang secara nyata berbeda atau sama sekali baru dibandingkan dengan proses atau produk serupa yang telah ada. dan KBE selanjutnya akan ditelaah secara lebih komprehensif. disingkat KBE). Untuk melakukan suatu pembaruan berarti seseorang perlu mengubah caranya dalam membuat keputusan. konsepsi tentang pendekatan sistem. inovasi telah menjadi topik yang penting dalam berbagai bidang ilmu. Persoalannya adalah walaupun masing-masing pihak menggunakan kata yang sama. atau memilih sesuatu yang diluar norma yang berlaku. desain. Walaupun inovasi lebih sering dikaitkan dengan produk yang dihasilkan. sedangkan inventor menemukan sesuatu yang baru.kontribusi nyata terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. atau struktur dan fungsi organisasi yang berperan dalam proses produksinya. Inovasi dapat berkaitan dengan penambahan atas sesuatu yang telah ada. atau melakukan perubahan cara berpikir yang radikal dan revolusioner. Inovasi sering dicampur-aduk pengertiannya dengan invensi. kemudian ditransformasi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ada perumpamaan yang menarik untuk membedakan antara invensi dan inovasi. maka sangat mungkin akan membuka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda. sedangkan inovasi mengubah ide menjadi uang. Perubahan tersebut dapat terlihat dari produk yang dihasilkan. Inovator menghasilkan keuntungan finansial dari hasil karyanya. dan sosiologi. Pengertian inovasi. Para ekonom era modern yakin bahwa di saat sekarang dan di masa yang akan datang mesin utama yang akan mendorong perkembangan perekonomian suatu negara adalah tingkat penguasaan dan aplikasi dari teknologi yang dikuasai tersebut. Invensi merupakan proses konversi uang menjadi ide. Inovasi merupakan sebuah kata yang saat ini sedang ‘naik daun’. proses untuk menghasilkan produk tersebut juga sama pentingnya. pembangunan perekonomian harus berbasis pada pengetahuan (knowledge-based economy. inovasi harus menghasilkan nilai tambah atau peningkatan produktivitas. namun dalam perspektif ekonomi. Semua komponen masyarakat menggunakan kata ini baik dalam komunikasi sosial maupun pada forum yang lebih formal. proses untuk menghasilkan produk tersebut. Oleh sebab itu. Inovasi dapat dimaknai sebagai upaya mengubah nilai-nilai yang selama ini telah menjadi landasan dari suatu sistem. teknologi. Proses yang dimulai dari ide. Jika suatu sistem berubah. 18 Tahun 2002 . Pada awalnya inovasi diartikan sebagai suatu proses untuk memperbarui sesuatu yang sudah ada atau menghasilkan sesuatu yang dianggap baru. Saat ini. World Bank (2010) menyatakan bahwa “what is not disseminated 15 Naskah Akademik Perubahan UU No. engineering. namun belum tentu dapat menghasilkan uang dari hasil temuannya tersebut. namun sangat mungkin bahwa pihak-pihak tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda tentang inovasi. melakukan sesuatu dengan metoda yang berbeda. Kedua terminologi ini sebetulnya berbeda. memunculkan unsur yang sama sekali baru. serta akan pula diberi penegasan pada bab ini tentang pengertian dan konsepsi dasar yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. Dalam perspektif ekonomi. bisnis. atau sesuatu yang sama sekali baru. termasuk ekonomi. tidak dapat lagi hanya dengan mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam.

penelaahan inovasi harus dilakukan dengan pendekatan sistem. atau pemerintah. proses. masyarakat awam. proses. Interaksi antar-aktor dan interaksi antara aktor dengan ekosistem inovasi bersifat sangat dinamis dan timbal-balik. cara pemasaran. yakni para aktor yang memberikan dukungan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi nasional (Bathelt. atau metoda organisasi yang baru atau secara signifikan telah diperbaiki. 7 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UUNo. cara pemasaran.and used. Produk dapat berupa barang maupun jasa. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. Uraian dan referensi di atas memberikan pemahaman bahwa: [1] inovasi merupakan sesuatu (produk. Berdasarkan ini. pengembangan. organisasi kerja. Proses yang panjang ini hampir selalu melibatkan banyak aktor.8 Inovasi merupakan implementasi dari suatu produk. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. atau metoda organisasi) yang baru. tidak dapat dilakukan secara linier. [2] inovasi selain baru. 18 Tahun 2002 . Proses inovasi berlangsung mulai dari munculnya ide di benak para inovator sampai pada termanfaatkannya produk inovatif tersebut. yang tentunya hanya dapat terlahirkan dari pemikiran yang kreatif. maka inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). Metoda organisasi mencakup praktek bisnis. workplace organization or external relations”. Pengertian inovasi versi UUNo. baik yang terlibat secara langsung dalam aliran ide menjadi produk yang bermanfaat. Proses inovatif selalu membentuk suatu sistem yang kompleks. sehingga pada dasarnya inovasi merupakan sesuatu yang bermanfaat. is not an innovation”. Oleh sebab itu. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini. metoda pemasaran. OECD’s Oslo Manual 2005 Guidelines for Collecting and Interpreting Innovation Data 8 16 Naskah Akademik Perubahan UU No. or a new organizational method in business practices. Perlu dibedakan antara unsur sistem dengan lingkungannya (ekosistem). 2003). atau hubungan dengan pihak eksternal. juga harus pula secara signifikan lebih baik dari produk. yakni para aktor yang secara langsung menggerakkan inovasi. atau metoda organisasi yang telah dikenal sebelumnya. [4] kemanfaatan suatu produk merupakan prasyarat untuk komersialisasi atau untuk peningkatan kesejahteraan sosial. Telaah secara partial dengan pendekatan linier tak akan mampu menjelaskan sistem inovasi secara komprehensif dan benar. dengan penghela eksogen (exogenous drivers). maupun para aktor yang berperan dalam membangun ekosistem yang kondusif bagi keberlangsungan aliran tersebut. bermakna pula bahwa inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). Dengan demikian. or process. a new marketing method. maka sangatlah penting untuk membekali setiap pihak yang terlibat dalam upaya mewujudkan inovasi nasional untuk memahami konsepsi pendekatan sistem. [3] status yang lebih baik ini. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi ”. Hal ini perlu untuk membedakan antara penghela endogen (endogenous drivers). proses.7 OECD (2005) menggunakan definisi inovasi: “An innovation is the implementation of a new or significantly improved product (good or service). dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. membuka peluang bagi produk dan proses inovatif untuk digunakan dalam berbagai aktivitas manusia.

Definisi menurut peraturan perundang-undangan. SINas merupakan suatu sistem keterkaitan antar-kelembagaan untuk menciptakan. mendukung. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. Mingers dan White (2010) menyatakan bahwa systems thinking is a discipline in its own right. Mingers dan White (2010) merinci bahwa pendekatan sistem (systems approach) mencakup: [1] melihat situasi secara holistik (berarti tidak bersifat reduksionis). disebutkan bahwa “ SINas adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. 2005) Pendekatan sistem merupakan buah dari pemikiran sistemik (systems thinking). dapat ditemui dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional.Liu dan White (2001) menggunakan istilah aktor primer dan sekunder. 18 Tahun 2002 . universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. lembaga riset dan teknologi. Selanjutnya. difusi. difusi. [3] memahami adanya hirarki/jenjang dalam suatu sistem dan ‘mutual casuality’ dalam masingmasing jenjang maupun antar-jenjang. tetapi akan keliru jika pembagian ini berdampak pada pengisolasian sistem dari lingkungannya (Asheim dan Coenen. mendayagunakan. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. dan [4] memahami bahwa manusia akan beraksi sesuai dengan tujuan dan rasionalitas yang berbeda. [2] memposisikan hubungan atau interaksi antara elemen lebih penting dari elemen-elemennya sendiri dalam membentuk perilaku sebuah sistem. but it is also applicable to almost any problem area because of its generality. Pemilahan ini hanya untuk membedakan posisi peran para aktor yang terlibat. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Nelson (1993). 17 Naskah Akademik Perubahan UU No. yang menyatakan bahwa SINas sebagai sekelompok institusi yang interaksinya menentukan kinerja inovatif suatu negara. yakni sebagai sekumpulan institusi yang secara sendiri dan bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan dan difusi teknologi baru serta memberikan kerangka bagi pemerintah dalam membuat dan mengimplementasikan kebijakan untuk mempengaruhi proses inovasi. sebagai kumpulan elemen yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan tertentu. sedangkan Lundvall (1992) mendefinisikan SINas sebagai elemen dan hubungan yang interaktif dalam proses produksi. Freeman (1987) mendefinisikan SINas sebagai jaringan kelembagaan pemerintah dan/atau swasta yang melaksanakan dan berinteraksi dalam inisiasi. ketrampilan. Dengan kata lain. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. dan mentransfer pengetahuan. menyimpan.”. dan penggunaan pengetahuan baru yang bernilai ekonomi yang berada dalam atau berasal dari suatu negara. dan artefak untuk melahirkan teknologi-teknologi baru. Definisi SINas yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Metcalfe (1995). Sistem Inovasi Nasional (SINas) didefinisikan dalam beberapa versi. with many theoretical and methodological developments. dan impor teknologi baru. modifikasi. Sementara Patel dan Pavitt (1994) mengambarkan SINas sebagai kelembagaan-kelembagaan nasional dengan struktur dan kompetensinya yang menentukan laju dan arah pembelajaran teknologi (technological learning) pada suatu negara.

yakni: [1] what is possible with technology? [2] what is desirable to the society? [3] what is viable in the market?9 Pendekatan dalam upaya penguatan inovasi nasional secara ekstrim dapat dibedakan menjadi dua. terutama industri yang akan memanfaatkannya untuk menghasilkan produk komersial berupa barang dan jasa. Sinyal kebutuhan masyarakat ini diterjemahkan oleh industri dalam bentuk kebutuhan teknologi untuk memproduksi barang dan/atau jasa yang sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut.Berdasarkan berbagai definisi di atas. Pendekatan supply-push mengutamakan dan dimulai dari proses pengembangan teknologi oleh institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset.yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. Jakarta 18 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . Proses difusi teknologi tersebut dapat melalui atau tanpa melalui lembaga intermediasi. Pengertian dasar dalam sistem inovasi nasional ini diperkuat dalam Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. di LIPI. kegalauan akan rendahnya adopsi teknologi tersebut terlihat mewarnai definisi atau deskripsi SINas yang diusung pada kurun waktu tahun 2000-an. serta telah menyebutkan bahwa teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang punya potensi untuk dikomersialisasikan. lembaga riset dan/atau institusi pendidikan tinggi 9 Dicuplik dari keynote address oleh Nawaz Sharif (2010) berjudul ‘Govern ance of Innovation Systems in the Current Global Setting’. maka ada beberapa pengertian dasar yang dapat ditarik berkaitan dengan SINas. [2] pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan –baik pemerintah maupun swasta. The World Bank (2010) dengan sangat tegas mencanangkan bahwa sesuatu (baca: teknologi) yang tidak didiseminasikan dan tidak digunakan bukanlah inovasi. difusi. kebutuhan. dan [4] ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. dan preferensi masyarakat yang dapat dideteksi langsung oleh pihak pengembang teknologi maupun melalui mitranya dari komunitas bisnis. Oleh sebab itu. Pengembangan inovasi nasional dengan pendekatan demand-driven mengutamakan dan dimulai dari pemahaman tentang masalah. Definisi SINas yang diusung pada periode 1980-1990an telah menyebutkan bahwa SINas mencakup kegiatan difusi dan pemanfaatan teknologi. [3] produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. Sharif (2010) mendeskripsikan inovasi sebagai upaya kolektif mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai (turning idea into values). inovasi harus diawali dengan menjawab tiga pertanyaan yang sangat fundamental. yakni berdasarkan pendekatan supply-push dan pendekatan demand-driven. dapat difasilitasi atau tanpa difasilitasi oleh Pemerintah atau pihak lain yang kompeten. Prakteknya. Namun demikian. adopsi teknologi oleh para pengguna teknologi di banyak negara (terutama negara-negara berkembang) masih sangat minimal. Produk teknologi yang dihasilkan kemudian didifusikan kepada pihak pengguna. yang memberi ketegasan bahwa teknologi yang dihasilkan harus berakhir dengan dimanfaatkannya teknologi tersebut oleh para pengguna. dan pemanfaatan teknologi. Berdasarkan informasi ini. yakni: [1] kegiatan yang dicakup adalah pengembangan.

dan tenaga kerja berketerampilan tinggi. serta manajerial merupakan determinan penting KBE. yakni dengan memadukan pendekatan supply-push dan demand-driven. pendidikan dan pelatihan. and the increasing need for ready access to all of these by the business and public sectors’ . misalnya dalam kondisi serba keterbatasan. Sebelum periode tersebut. Teori Pertumbuhan Baru (New Growth Theory) mencerminkan upaya untuk memahami tentang peran pengetahuan dan teknologi dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Selain besaran nilai investasi untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi. maka sumberdaya ekonomi ini harus mudah diakses oleh dunia usaha dan para penguna lainnya. karena lebih berpeluang untuk diadopsi industri. Inovasi yang dikembangkan melalui pendekatan demand-driven akan lebih berpeluang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan perekonomian.10 KBE pada prinsipnya merupakan ekonomi yang secara langsung berbasis pada produksi. kemajuan perekonomian lebih banyak dikaitkan dengan jumlah uang yang terakumulasi (accumulated capital) per tenaga kerja. mengabaikan kenyataan bahwa kreativitas sesungguhnya lebih terangsang untuk muncul pada kondisi yang ‘tidak nyaman’. 19 Naskah Akademik Perubahan UU No. Walaupun demikian. walaupun pendekatan demand-driven yang dipilih tetapi tidak berarti ruang untuk pendekatan supply-push digusur habis. dan tentu termasuk dalam kondisi keharusan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan pasar. distribusi. sebagian komunitas akademik dan peneliti menganggap pendekatan demand-driven akan mengebiri kreativitas ilmiah. Untuk dapat memberikan dampak nyata dan langsung. Pilihan pendekatan tersebut lebih untuk menjamin agar aliran teknologi dapat terjadi secara berkesinambungan dan komersialisasi produk yang dihasilkan dapat menjadi pasokan ‘energi’ untuk kontinuitas aliran teknologi tersebut. Maknanya. kelancaran distribusi pengetahuan (baik melalui 10 OECD (2005) mendefinisikan ekonomi berbasis pengetahuan sebagai: ‘an expression coined to describe trends in advanced economic towards greater dependence on knowledge. dalam penguatan inovasi. Keyakinan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kemajuan perekonomian dengan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan ‘mazhab’ ekonomi baru. Investasi di bidang riset dan pengembangan. 2008). Sejak tahun 1960-an mulai muncul keyakinan bahwa perbedaan kemajuan perekonomian antar-negara terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi dari masing-masing negara (Fagerberg dan Srholec. information. and high skill levels. Anggapan yang demikian. 18 Tahun 2002 . yakni ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy selanjutnya disingkat KBE) yang menunjukkan bahwa dalam perkembangannya. dan penggunaan pengetahuan dan informasi. Akan tetapi. di bawah tekanan. dalam kerangkeng regulasi yang kaku. ekonomi saat ini semakin bergantung pada kemajuan pengetahuan dan teknologi. informasi. Saat ini banyak upaya yang dilakukan oleh para ahli ekonomi untuk menjelaskan secara langsung (baik secara teoritis maupun pengembangan model) tentang kontribusi pengetahuan dan teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. sebagaimana halnya teori fisika.mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan. Secara teoritis dapat dimunculkan pendekatan yang moderat dan akomodatif. proses aliran hanya akan terjadi jika ada perbedaan derajat antara posisi asal dan posisi sasaran.

jumlah dan kualitas personel pengembang teknologi) belum cukup untuk memberikan gambaran tentang kinerja KBE. pengguna yang dimaksud adalah industri yang memahami kebutuhan dan preferensi konsumen. riset. Prinsip dasarnya adalah bahwa teknologi hanya memberikan kontribusi jika digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk barang/jasa yang dibutuhkan konsumen. industri. Indikator yang berbasis pada nilai investasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semata (seperti jumlah belanja riset dan pengembangan. tidak semua pakar ekonomi sependapat bahwa TFP bisa mencerminkan kontribusi teknologi. institusi pendidikan tinggi perlu dirancang agar selain mampu menyelenggarakan pendidikan yang secara akademik berkualitas. Adopsi teknologi akan terjadi jika pihak pengembang teknologi memahami kebutuhan pihak pengguna. Ada kesulitan dalam mengevaluasi ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam konteks komersialisasi. dan konsumen”. Indikator dari sisi keluaran kegiatan riset dan pengembangan serta distribusinya diyakini akan lebih relevan.11 Upaya untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan perekonomian dilakukan antara lain dengan menghitung Total Factor Productivity (TFP). lembaga intermediasi akan sulit berfungsi efektif jika teknologi yang ditawarkan adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan.jalur formal maupun informal) juga merupakan faktor esensial yang mempengaruhi kinerja perekonomian. Namun demikian. Oleh sebab itu. untuk mendukung KBE. Penguasaan pengetahuan dan teknologi yang tinggi tetapi hanya terisolir di kalangan akademik atau periset semata tidak akan memberikan dampak terhadap kinerja perekonomian. atau dibutuhkan tapi kalah handal secara teknis dan/atau kurang kompetitif secara ekonomi. Upaya yang umum dilakukan untuk merangsang atau mempercepat difusi teknologi adalah membentuk lembaga intermediasi. Jurnal Dinamika Masyarakat 8(1):1501-1516. 20 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kelemahan teoretis dan ketidakkonsistenan empiris dari hasil perhitungan pada berbagai negara dengan tingkat kemajuan teknologi yang berbeda menjadi lahan subur untuk perdebatan. Kesimpulan dari kajian yang dilakukan oleh Lipsey dan Carlaw (2001) patut direnungkan: “ There is no reason to believe that changes in TFP in any way measure technological change” . juga harus pula memahami persoalan dan kebutuhan nyata agar dapat mengemas kurikulum yang relevan terhadap persoalan dan kebutuhan nyata tersebut. mengingat bahwa dinamika perubahan pengetahuan dan teknologi berlangsung dalam tempo yang cepat. 11 Elaborasi lebih mendalam mengenai isu ini dapat dibaca pada Lakitan (2009):”Kebijakan Pengembangan dan Implementasi Sistem Inovasi Nasional: menjembatani pendidikan. pendidikan dan ketrampilan tinggi tersebut perlu mempunyai relevansi yang juga tinggi dengan persoalan dan kebutuhan nyata. Lapangan kerja dalam konteks KBE akan lebih banyak membutuhkan tenaga kerja dengan ketrampilan tinggi atau berpendidikan tinggi. Intensitas hubungan dan kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi antaraktor dalam sistem inovasi akan menjadi faktor penentu kinerja perekonomian. 18 Tahun 2002 . Produk teknologi yang pengembangannya tidak berorientasi pada kebutuhan nyata tentu akan sulit dijual ke pengguna. antara lain karena keterbatasan dan mutu indikator terkait pengetahuan yang saat ini tersedia. Akan tetapi. Walaupun demikian.

12 Namun demikian UU No. 18/2002 menetapkan bahwa ‘kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. Nuansa kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini mencakup perguruan tinggi. dan pemajuan iptek. mulai dari pengembangannya sampai pada penggunaannya untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. 18 Tahun 2002 menyebutkan pula perlunya peran aktif warganegara dalam pelaksanaan kegiatan penguasaan. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud UU No. dan para pihak yang memfasilitasi dan/atau melakukan intermediasi interaksi dan komunikasi antara penyedia dan pengguna teknologi. dan [2] aktor penunjang (sekunder) yang berperan dalam membentuk ekosistem yang kondusif agar aktoraktor utama dapat unjuk kinerja secara optimal. 18 Tahun 2002 merupakan unsur penting dari 12 Pasal 6 ayat (1) UU No. atau kegiatan lain yang terkait langsung dengan upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Gugus indikator [1] memperlihatkan pentingnya mengetahui penambahan stok pengetahuan per satuan input pada kegiatan riset dan pengembangan. dan [4] knowledge and learning.misalnya data stok pengetahuan dan kelancaran aliran distribusi/difusinya. para pengguna teknologi. serta tingkat ketrampilan dan relevansi pendidikan tenaga kerja. [3] knowledge networks. serta mengetahui kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi dari penyedia ke pengguna. 21 Naskah Akademik Perubahan UU No. badan usaha.1. maka ada baiknya aktor yang banyak tersebut dipilah menjadi: [1] aktor utama (primer) yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi. Sedangkan gugus indikator [4] melingkupi indikator ‘human capital’. dan lembaga penunjang merupakan aktor-aktor utama dalam inovasi. 18 Tahun 2002 . lembaga litbang. OECD (1996) mengidentifikasi empat gugus indikator penting yang perlu dikembangkan teknik pengukurannya (secara statistik) untuk mengevaluasi kinerja KBE. mengukur kemanfaatan bagi publik untuk investasi di bidang pendidikan dan pelatihan. Gugus indikator [3] memberikan indikasi tentang proses aliran dan intensitas interaksi antara aktor inovasi. [2] knowledge rates of return. badan usaha. Pengembangan. lembaga penelitian dan pengembangan. 18 Tahun 2002) menggunakan terminologi kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai aktor inovasi.2. Untuk memudahkan pemahaman dan agar kompleksitas yang ada tidak mengaburkan esensi dasar dari inovasi. Aktor utama terdiri dari para pengembang/penyedia teknologi. Aktor Inovasi Nasional Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Kompleksitas penguatan inovasi tercermin antara lain dari banyaknya aktor yang terlibat dan ikut menentukan atau mempengaruhi kinerja sistem ini. yakni indikator terkait: [1] knowledge stocks and flows. pemanfaatan. intensitas interaksi antara aktor sistem inovasi. 2. dan lembaga penunjang’. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU No. Gugus indikator [2] merupakan indikasi dari besarnya perolehan sosial dan kemanfaatan bagi publik per satuan input kegiatan riset dan pengembangan.

tetapi mencakup semua pihak yang secara nyata melakukan kegiatan pengembangan teknologi. yakni perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan. dan orientasi komersialisasi produk riset yang dihasilkannya (Gambar 1). atau bagian dari organisasi pemerintah. dan [2] unit kerja penelitian dan pengembangan pada kementerian dan pemerintah daerah.pengembang/penyedia teknologi. penelitian. pemerintah daerah. sebelumnya dikenal sebagai LPND) yang (salah satu) tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan kegiatan riset dan pengembangan. [2] lembaga R&D bisnis (business enterprise). 18 Tahun 2002 .18/2002 menetapkan lembaga-lembaga yang tergolong sebagai lembaga litbang. Namun demikian. Hal ini antara lain disebabkan karena kegiatan riset masih lebih diposisikan sebagai ‘academic exercises’. Kiprah dan kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum kentara. misalnya institusi riset non-pemerintah. yakni: [1] perguruan tinggi (higher education). Lembaga R&D pemerintah termasuk: [1] Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK. Seluruh perguruan tinggi di Indonesia. 13 Pasal 8 ayat (3) UU No. UU No. Pengelompokan ini digunakan dalam mengevaluasi kinerja lembaga riset dan pengembangan negara-negara dunia. [3] lembaga R&D pemerintah (government). 13 OECD (2002) membuat klasifikasi lembaga riset dan pengembangan (R&D) berdasarkan pengelola. mengemban tiga tugas pokok yang dikenal sebagai tridharma perguruan tinggi. 18 Tahun 2002 hanya mengenal dua lembaga pengembang teknologi. dan organisasi masyarakat. yakni melakukan pendidikan dan pengajaran. dan para periset individual. dan [4] lembaga R&D nirlaba (private non-profit). lembaga penunjang. negeri maupun swasta. belum fokus pada upaya untuk menghasilkan invensi dan inovasi. pemegang kendali kebijakannya. mayoritas perguruan tinggi di Indonesia masih lebih dominan terkonsentrasi pada kegiatan pendidikan dan pengajaran. penyandang dana. 22 Naskah Akademik Perubahan UU No. badan usaha. Namun demikian pengembang/penyedia teknologi tidak hanya terbatas pada dua unsur tersebut. unsur pelaksana riset dan pengembangan pada industri. Berdasarkan kriteria ini maka ada empat kelompok lembaga R&D. yakni dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. dan pengabdian kepada masyarakat. perguruan tinggi.

23 Naskah Akademik Perubahan UU No. Klasifikasi berdasarkan status formal lembaga riset dan pengembangan (adaptasi dari OECD. baik riset untuk mendapatkan informasi kebutuhan dan selera konsumen yang akan dijadikan dasar dalam pengembangan strategi pemasaran maupun riset-riset pengembangan produk. tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa. 18 Tahun 2002 . dan peningkatan peradaban bangsa. Peningkatan intensitas kegiatan riset oleh badan usaha dapat menjadi indikasi yang positif tetapi sekaligus juga negatif. walaupun saat ini sering dikemas dengan berbagai ‘bungkus’ lain dalam rangka membangun citra perusahaan atau memanfaatkan kecenderungan preferensi konsumen.14 Banyak industri dan badan usaha lainnya mempunyai unit kerja yang tugas utamanya adalah melakukan riset dan pengembangan. Positif dalam konteks pengembangan teknologi akan mengalami akselerasi mengingat potensi kekuatan dunia usaha dalam membiayai kegiatan riset dan relevansi teknologi yang dikembangkan juga akan semakin meningkat. kesejahteraan rakyat. misalnya terkait dengan kepedulian mengenai isu lingkungan. karena dunia usaha 14 Sesuai dengan amanah konstitusi UUD 1945. maka status lembaga riset & pengembangan tersebut tergantung pada pihak mana yang dominan membiayainya TIDAK TIDAK TIDAK YA Perguruan Tinggi Badan Usaha Lembaga Pemerintah Gambar 1.Lembaga Riset & Pengembangan Apakah berada dalam institusi pendidikan tinggi? YA Perguruan Tinggi Apakah produknya dijual sesuai harga pasar? YA Badan Usaha Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh badan usaha? YA Badan Usaha YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Perguruan Tinggi Lembaga Pemerintah YA Perguruan Tinggi Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh pemerintah? TIDAK Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh lembaga non-pemerintah? TIDAK YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Lembaga Non-Pemerintah Jika kendali dan pembiayaan dilakukan oleh pihak yang berbeda. 2002) Sementara kegiatan riset di perguruan tinggi lebih berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Riset yang dilakukan badan usaha jelas berorientasi komersil. maka selayaknya riset yang dilaksanakan oleh lembaga R&D pemerintah lebih fokus pada upaya menyediakan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat dan negara dan/atau menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dalam rangka mendukung pembangunan perekonomian nasional.

Dapat bersifat komersial jika lembaga pengembang teknologinya bukan merupakan lembaga R&D pemerintah. pengrajin. sedangkan masyarakat dan pemerintah lebih bersifat bauran antara komersial dan pelayanan publik. Kecenderungan peningkatan intensitas riset oleh dunia usaha dapat pula menjadi indikasi negatif. nelayan. pendidikan anak). Lembaga R&D nirlaba ini lebih banyak berkiprah di ranah ilmu-ilmu sosial. atau kegiatan pengembangan teknologi dimaksud sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah. Badan usaha merupakan pengguna teknologi yang bersifat komersial. pencemaran/polusi. namun cikal-bakal lembaga R&D komersial yang independen sudah mulai nampak tumbuh. Sebaliknya. 24 Naskah Akademik Perubahan UU No. Badan usaha di Indonesia masih dominan bergerak di sektor perdagangan. isu politik dan pemerintahan (demokratisasi. penyakit menular. apabila kecenderungan ini merupakan bentuk reaksi dari dunia usaha atas rendahnya relevansi dan/atau mutu teknologi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah. atau merupakan lembaga R&D asing. jika pengembang teknologinya adalah lembaga R&D pemerintah. Bukan rahasia umum bahwa saat ini komunikasi dan interaksi antara para pihak pengembang teknologi (perguruan tinggi dan lembaga R&D pemerintah) dengan pihak industri belum terbangun secara intensif. Badan usaha atau industri merupakan salah satu unsur pengguna teknologi. hak asasi manusia. Dunia usaha akan selalu memposisikan biaya riset sebagai bagian dari investasi. sehingga kebutuhan dan kapasitas adopsi teknologinya relatif rendah. 18 Tahun 2002 hanya menyebutkan badan usaha sebagai aktor pengguna teknologi. Kapasitas adopsi para pengguna teknologi di Indonesia masih belum besar. dan isu lingkungan (deforestasi. terutama fokus pada isu-isu hangat pada tataran global. desentralisasi. Industri produsen barang dan jasa di Indonesia banyak yang hanya merupakan unit produksi dari sebuah perusahaan multinasional atau hanya bersifat sebagai penerap teknologi asing yang sudah mapan yang dilaksanakan berdasarkan lisensi yang diberikan oleh pihak-pihak pengembang teknologi luar negeri. Lembaga R&D swasta nirlaba sudah berkiprah lama di Indonesia dengan sumber pembiayaan umumnya dari lembaga-lembaga internasional. dan [2] pemerintah dalam rangka melaksanakan pelayanan publik dan untuk menjaga kedaulatan negara. 18 Tahun 2002 . perubahan iklim). Perlu diingat bahwa kepemilikan paten lazimnya adalah ditangan pihak yang membiayai kegiatan pengembangan teknologi yang bersangkutan. korupsi). kegiatannya tidak dibiayai oleh pemerintah. lembaga R&D yang berorientasi komersial umumnya masih merupakan unit kerja internal lembaga bisnis.15 Unsur pengguna lainnya adalah [1] masyarakat pelaku produksi barang/komoditas/jasa. maka sudah sepatutnya teknologi yang dihasilkan tersebut dapat digunakan oleh pemerintah dan masyarakat secara bebas.tidak akan melakukan kegiatan riset jika tidak ada potensi kemanfaatan hasilnya. Walaupun saat ini. peternak. misalnya isu sosial (kesejahteraan rakyat. Mengingat pada saat ini segmen industri besar cenderung lebih bergantung pada teknologi asing (yang mungkin disebabkan 15 UU No. misalnya petani. Jurang yang masih membentang lebar antara perguruan tinggi atau lembaga R&D pemerintah dengan dunia usaha merupakan peluang untuk tumbuh kembang lembaga R&D independen.

baru setelah pasar domestik dikuasai (dan teknologi Indonesia sudah lebih kompetitif) maka pertimbangan ekspor teknologi nasional menjadi lebih layak diupayakan. juga penggunaan teknologi dalam negeri akan menggairahkan kegiatan pengembangan teknologi itu sendiri.17 Namun peran intermediasi dari lembaga-lembaga BTC tersebut kelihatannya masih jauh dari harapan. Orientasi pengembangan teknologi Indonesia perlu lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dan pemecahan persoalan dalam negeri terlebih dahulu. Kementerian Riset dan Teknologi. masih dibanjiri oleh teknologi maupun produk teknologi asing. yakni Business Technology Center (BTC) di 8 lokasi. terutama Jepang dan Cina. harusnya segmen pengguna ini harus dipasok penuh oleh pengembang teknologi domestik. karena secara langsung akan meningkatkan aliran dana untuk pembiayaannya. Pihak ketiga yang tergolong sebagai aktor utama inovasi adalah para pihak yang berperan sebagai intermediator atau fasilitator untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara para pengembang dengan para pengguna teknologi. Sejak tahun 2010. Untungnya benih padi sudah dapat dipenuhi dari hasil riset dan teknologi dalam negeri. terutama teknologi di bidang pertahanan dan keamanan.16 Disamping untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Kenyataannya. sebagian penyebabnya berasal dari kapasitas dan kompetensi lembaga yang tidak memadai. BTC yang dikelola BPPT telah dilebur masuk ke dalam organisasi BPPT Engineering. kebutuhan alat dan mesin pertanian masih dominan diimpor dari berbagai negara. 18 Tahun 2002 . mengingat luas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sedemikian besar. Untuk menjalankan peran intermediasi. dan sebagian lagi karena teknologi hasil pengembangan dalam negeri yang tidak sesuai dengan 16 Sudah ada arahan dari Presiden RI agar kebutuhan teknologi dan produk teknologi di bidang pertahanan dan keamanan memprioritaskan teknologi dalam negeri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian bangsa. merupakan dua argumen utama untuk menjadikan kebutuhan domestik sebagai pasar utama bagi produk teknologi dalam negeri. teknologi yang dibutuhkan masyarakat awam dan UKM pun belum sepenuhnya dikuasai oleh teknologi domestik. pernah mendorong pembentukan lembaga yang dirancang khusus untuk fungsi intermediasi ini. Misalnya. Oleh sebab itu. 17 25 Naskah Akademik Perubahan UU No. misalnya. Pada saat ini. peran intermediasi dan fasilitasi ini diharapkan dimainkan lebih banyak oleh pemerintah. tersebut di beberapa kota. Pendirian BTC ini merupakan tidak lanjut rekomendasi dari hasil kajian ‘Periskop’ yang dilaksanakan pada tahun 2000 atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Jerman. Pemerintah tentunya dapat membentuk lembaga-lembaga khusus untuk menjalankan fungsi/tugas ini. maka pengguna teknologi domestik yang paling potensial adalah masyarakat awam dan usaha kecil dan menengah (UKM). Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa dan kebutuhan peralatan utama sistem pertahanan (alutsista) nasional yang besar.karena kemampuan teknologi nasional belum memadai untuk memasok kebutuhan teknologi tersebut atau mungkin karena alasan lain yang bersifat non-teknis). Pemerintah seharusnya menjadi pengguna utama teknologi dalam negeri.

Keterkaitan lembaga-lembaga pengembang. dan yang terakhir ‘103 Inovasi Indonesia’ (2011). walaupun lebih banyak orientasinya adalah untuk memediasi antara pengembang teknologi nasional dengan para (calon) pengguna potensial di dalam negeri. Lembaga pendukung mencakup lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan dan/atau kapasitas untuk: [1] membuat regulasi dan/atau kebijakan terkait tumbuh-kembang inovasi nasional maupun daerah. Pasal 10 ayat (1)). Budaya. 19 . dan pengguna teknologi di kawasan ini diharapkan dapat menjadi model implementasi Sistem Inovasi Nasional. BIC ditempatkan di kawasan Puspiptek Serpong sesuai dengan skenario untuk menjadikan kawasan ini sebagai Science and Technology Park (STP). pemanfaatan. Sejak 2011. [3] memberikan dukungan finansial bagi para aktor inovasi dalam menjalankan perannya masing-masing. Science and Technology. 18 Tahun 2002 Selain tiga aktor utama inovasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Kelembagaan yang dikategorikan sebagai pendukung adalah lembaga atau aktor yang tidak terlibat langsung dalam proses pengembangan. difusi.18 Sejak tahun 2008 tersebut. kegiatan inovasi di Indonesia akan menjadi unggulan (benchmark) negara-negara lain di ASEAN. dan pemerintah (A-B-G) dalam proses inovasi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. BIC telah menerbitkan katalog tahunan hasil-hasil riset yang dianggap berpeluang untuk dikomersialisasikan. Pengembangan. Olahraga. Hal ini dilakukan dengan mensinergikan elemen-elemen akademisi. dan [4] membangun infrastruktur sosial. 26 Naskah Akademik Perubahan UU No. Visi BIC adalah menjadi lembaga intermediasi inovasi bisnis yang terdepan. Sport. ‘102 Inovasi Indonesia’ (2010). dimana aktor-aktor utama inovasi akan difasilitasi untuk berada dalam kawasan yang sama. tetapi berperan nyata dan signifikan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh-kembang inovasi. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (UU No. ‘101 Inovasi Indonesia (2009). Kedekatan secara fisik diyakini akan mampu merangsang aktor-aktor tersebut untuk meningkatkan komunikasi dan interaksinya. secara resmi disingkat MEXT) Jepang 18 19 Entah mengapa lembaga-lembaga intermediasi yang dibentuk penamaannya selalu menggunakan bahasa Inggeris. intermediasi. pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi juga telah menfasilitasi pendirian Business Innovation Center (BIC) pada tahun 2008. 18 Tahun 2002. Untuk penguatan peran intermediasi ini. dalam menunjang daya saing ekonomi dan bisnis di Indonesia.kebutuhan nyata (tidak relevan). [2] menyiapkan sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk aktor penggerak sistem inovasi. maupun penggunaan teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan publik maupun negara. juga banyak aktor atau lembaga pendukung lainnya yang berperan penting dalam membangun inovasi secara lebih produktif dan berkesinambungan. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. Culture. bisnis. melalui serial terbitan buku ‘100 Inovasi Indonesia’ (2008). sehingga dalam waktu 10 tahun. Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. Kementerian Pendidikan. Teknologi yang dikembangkan lebih mahal dan/atau kalah handal dibandingkan dengan teknologi sejenis yang sudah tersedia di pasar.

Suatu hal yang menarik dari konsepsi ini adalah: [1] fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. antara lain misalnya: pemberian insentif teknis dan/atau finansial bagi badan usaha yang menggunakan teknologi nasional dalam kegiatan usahanya. dan karakter bangsa. tradisi. 18 Tahun 2002 Pajak&Keuangan Ekonomi Sosial Iptek . tidak ditampakkan posisi dan peran lembaga intermediasi dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. ketenagakerjaan. tradisi. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. pemberian kompensasi yang sebanding bagi badan usaha yang berkontribusi dalam pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi nasional. [2] kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah akan tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. Namun demikian dalam konsepsi MEXT tersebut. yakni berupa lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. Basis Pengetahuan Litbang] Ketenagakerjaan Infrastruktur Pendidikan Pengguna Teknologi [Industri] AKTOR UTAMA Kebijakan AKTOR PENDUKUNG Pemerintah Masyarakat Politik dan Ekonomi Lingkungan. ilmu pengetahuan dan teknologi. Diagram Konsepsi Sistem Inovasi Nasional (adaptasi dari MEXT. dan difusi teknologi harus berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. karakter bangsa Gambar 2. Pasar Pasar Permintaan Produk & jasa Industri Basis Pengetahuan Pengembang Kerjasama Teknologi [Univesitas. pemberian prioritas dukungan pembiayaan bagi lembaga dan/atau individu peneliti 27 Naskah Akademik Perubahan UU No. infrastruktur sosial. 2002) Regulasi dan kebijakan yang mendukung upaya penumbuh-kembangan inovasi. dan [3] secara jelas memperlihatkan bahwa pada akhirnya kegiatan perekayasaan. pendidikan. serta pajak dan keuangan. budaya.menggunakan diagram konseptual untuk memperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang ini (Gambar 2). budaya. inovasi.

masih terlalu kecil untuk bisa menarik dana publik melalui pasar modal. untuk biaya pengembangan usaha bagi perusahaan yang mulai memperoleh keuntungan. untuk biaya kerja tahap awal dimana perusahaan sudah mulai menjual produk tetapi belum memberikan keuntungan. upaya penguatan inovasi tidak boleh mengabaikan peran 28 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ketersediaan dan akses ke skim kredit atau bentuk kemudahan lain untuk modal kerja baik bagi pengembang teknologi maupun industri akan ikut merangsang tumbuh-kembang inovasi. yakni: [1] seed money. Kebijakan yang mendukung dan akses yang terbuka luas untuk mendapatkan sumber pembiayaan merupakan pra-kondisi yang dibutuhkan dalam upaya penguatan inovasi nasional. Skenario VC yang umum adalah pemodal memberikan dana awal bagi suatu usaha dan dana tersebut diperhitungkan sebagai saham pada perusahaan yang bersangkutan. [3] First-Round. maka biasanya pemodal selain mendapat porsi saham yang signifikan. pembiayaan tahap awal untuk dana pemasaran atau pengembangan produk.atau perekayasa yang fokus pada upaya untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan/atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan nasional. [2] start-up. berbeda dengan infrastruktur fisik yang telah cukup dipahami peran dan kontribusinya. 18 Tahun 2002 . digunakan untuk pembiayaan persiapan ‘go public’. Memberikan akses yang lebih mudah dalam pemanfaatan laboratorium pemerintah di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan. disebut juga ‘mezzanine financing’. Academic excellence yang sering menjadi jargon pendidikan tinggi harus dibarengi dengan peningkatkan relevansinya dengan kebutuhan pembangunan dan potensi sumberdaya nasional. Oleh sebab itu. pembiayaan yang tidak besar dan dipergunakan untuk membuktikan bahwa ide baru yang digagas berpotensi untuk menghasilkan produk atau jasa komersial –biasanya disediakan oleh ‘angel investor’. pemberian insentif bagi lembaga intermediasi yang berhasil meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang dapat menggerakkan inovasi. disebut juga ‘bridge financing’. dan [6] Fourth-Round. Secara umum ada 6 tahap pembiayaan yang mungkin didapat dari VC. VC menjadi opsi sumber pembiayaan bagi perusahaan yang belum berpengalaman. Konsepsi inovasi di Jepang (Gambar 2) dapat dijadikan referensi dalam konteks ini. atau masih sulit meyakinkan pihak perbankan untuk mendapatkan pinjaman. [4] Second-Round. maka institusi pendidikan (terutama pendidikan tinggi) perlu mengembangkan program studi dan kurikulum yang relevan dengan sektor atau profesi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. Peran penting infrastruktur sosial sangat sering terabaikan dalam berbagai sektor pembangunan. Karena resiko usaha baru yang tinggi dan investasi butuh waktu 3-7 tahun untuk bisa cair. [5] Third-Round. juga ikut mengendalikan kebijakan dan pengambilan keputusan pada perusahaan tersebut. maupun pengembangan program pendampingan dari para tenaga ahli (peneliti dan perekayasa) juga dapat menjadi alternatif upaya penumbuh-kembangkan inovasi. dana untuk penjualan awal dan biaya produksi. Venture capital (VC) merupakan salah satu bentuk sumber pembiayaan bagi perusahaan baru tumbuh (startup companies).

pelatihan dan kesempatan kerja. Kemajuan R&D bisa menjadi modal untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih tangguh. olahraga dan rekreasi. keluarga. 2005). perumahan. pada saat ini justeru persoalan interaksi dan komunikasi antara aktor inovasi ini yang masih tersumbat. 29 Naskah Akademik Perubahan UU No. layanan tanggap darurat. hukum dan keamanan publik. informasi. telah mengenali peran infrastruktur sosial ini dalam menentukan keberhasilan membangun SINas. sebagaimana yang terlihat pada konsepsi SINas yang dikembangkan oleh MEXT (2002). sebagai contoh. tidak dapat dimutilasi menjadi segmen-segmen yang terpisah satu sama lain. sehingga teknologi yang dikembangkan diharapkan sudah semakin mengacu pada upaya memenuhi kebutuhan nyata. pendidikan. transportasi publik. walaupun seandainya lembaga R&D Indonesia sudah sedemikian majunya sehingga setara dengan lembaga-lembaga serupa pada level dunia. sarana komunitas/lingkungan. maka akan meningkatkan kemungkinan bagi teknologi tersebut untuk digunakan. masih sangat sering terkendala. Sebagai contoh.20 Sesungguhnya sangat jelas bahwa amanah konstitusi menyatakan bahwa tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan peradaban. Akan tetapi adalah keliru jika serta-merta disimpulkan bahwa hubungan sebab akibat tersebut bersifat otomatis. 18 Tahun 2002 .3. Resultan dari interaksi antar-aktor juga masih sangat tergantung pada ekosistem dimana hal tersebut berlangsung. tetapi tidak otomatis bahwa inovasi di Indonesia menjadi lebih produktif dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 20 Pemerintah Jepang.1. Namun demikian.infrastruktur sosial ini. Tujuan ini hanya akan tercapai jika pembangunan infrastruktur sosial menjadi bagian esensial dari skenario membangun kemampuan inovasi nasional. Data empiris juga menunjukkan adanya korelasi antara penguasaan teknologi dengan kemajuan perekonomian suatu negara. Keberhasilan untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih produktif dan berkontribusi positif terhadap pembangunan perekonomian suatu bangsa (yang pada gilirannya diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat) berkorelasi positif dengan intensitas komunikasi dan interaksi antara para aktor inovasi. upaya membangun kemampuan inovasi nasional merupakan suatu yang kompleks dan banyaknya aktor yang ikut berperan di dalamnya. Infrastruktur sosial termasuk sarana dan prasarana kesehatan. Interaksi dan komunikasi antar-aktor yang intensif akan memperbesar peluang untuk terjadinya aliran informasi kebutuhan teknologi dari para pihak pengguna teknologi ke pihak pengembang teknologi. dan komunitas (Casey. 2. finansial. Pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan pengguna jika telah mempertimbangkan juga secara seksama kapasitas adopsi oleh pihak pengguna. serta dukungan lain untuk individu. Penelaahan aktor-aktor inovasi tidak dapat dilakukan secara terisolir satu sama lain. Perlu diingat pula. baik dari dimensi teknis. seni dan budaya. Interaksi Antar-Aktor Inovasi Pendekatan untuk memahami inovasi tentunya harus bersifat sistemik. maupun sosio-kultural.

dan fasilitasi. Namun demikian performa akhir dari upaya penguatan kemampuan inovasi nasional akan dipengaruhi oleh berbagai pihak. 18 Tahun 2002 . maka lembaga intermediasi mendapat beban yang sangat berat. Manado. Padang. Kalaupun ada. Pada periode tahun 2000-an. intermediasi. 2. permasalahan fundamentalnya adalah sama. Samarinda. kebijakan ketenaga-kerjaan. Semarang.1. Dalam konteks interaksi antar-aktor inovasi ini. antara akademisi dengan bisnis. masyarakat.4. Surabaya. konsepsi triple helix ini juga gencar dikumandangkan di Indonesia sebagai bentuk model penguatan kemampuan inovasi nasional dengan menggunakan nama populer triple helix ABG (academicbusiness-government) (Kadiman. akademisi dalam konsepsi ABG ini mewakili komunitas pengembang teknologi. karena relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang rendah. dan lembaga intermediasi teknologi masih sangat jarang. 2006). lembaga R&D. termasuk kebijakan-kebijakan yang diluar kendali para aktor utama inovasi. kebijakan keuangan dan perpajakan.Survei Periskop tahun 2000. Untuk menyederhanakan sebuah sistem yang kompleks. bahkan mungkin menjadi ‘mission impossible’ bagi lembaga intermediasi untuk mendorong agar teknologi tersebut digunakan oleh industri/badan usaha. yaitu rendahnya intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi. 2010). antara perguruan tinggi atau lembaga R&D dengan industri masih memerlukan dukungan kebijakan. umumnya hanya terbatas pada masalah operasional dan perawatan mesin dan peralatan saja (Hidayat. Terlepas dari konsepsi mana yang digunakan untuk menjelaskan tentang kinerja inovasi nasional. dan kebijakan pembangunan infrastruktur sosial (lihat 30 Naskah Akademik Perubahan UU No. yang dilaksanakan di 10 kota besar Indonesia (Bandung. 2008). misalnya kebijakan pembangunan perekonomian. Komunikasi dan interaksi antara pengembang dengan pengguna teknologi. Palembang. model triple helix menggunakan dinamika non-linier hubungan universitas-industri-pemerintah. Makassar. dan Mataram) atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi dan Kementerian Pendidikan Jerman berhasil mengungkapkan bahwa kerjasama antara industri dengan perguruan tinggi. kebijakan pendidikan nasional. Selanjutnya. Teknologi yang dihasilkan oleh pengembangan seringkali tidak sesuai atau tidak relevan dengan kebutuhan para pengguna untuk meningkatkan produktivitas ataupun untuk dijadikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi. Berbagai regulasi dan kebijakan akan ikut mempengaruhi. pada tahun 1994 lahir model ‘Triple Helix’ dari upaya untuk mengawinkan antara analisis kelembagaan infrastruktur pengetahuan dengan analisis evolusioner ekonomi berbasis pengetahuan (Leydesdorff dan Meyer. bisnis mewakili komunitas pengguna teknologi. Pada dasarnya. dan pemerintahan mewakili lembaga yang berfungsi untuk melakukan regulasi. Yogyakarta. Disisi lain kelancaran aliran paket teknologi yang dihasilkan pihak pengembang ke pihak pengguna juga menjadi faktor yang menentukan. maupun pemerintah. Ekosistem Inovasi Nasional Kemampuan inovasi nasional pada prinsipnya ditentukan oleh kelancaran aliran informasi kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh pihak (calon) pengguna potensial ke pihak pengembang teknologi dan sebaliknya.

(3) Neo-Marshallian. (4) Systemic Institutional Approaches. dan instrumen kebijakan yang berbeda pula. ada lagi regulasi dan kebijakan daerah. teori sangat jarang diadopsi secara utuh untuk diterjemahkannya menjadi rationale oleh pembuat kebijakan. Rationale yang berbasis teori lebih sering diposisikan sebagai justifikasi atau alasan untuk menetapkan kebijakan tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Umumnya. Synthesis of theoretical rationales for science. Namun demikian. akan melahirkan rationale untuk intervensi pemerintah. technology and innovation policy Schumpeterian growth theory Systemic institutional approaches Broad (including social innovations). yakni: (1) Neoclassical. yakni: (1) Apakah rationale untuk intervensi pemerintah dapat diturunkan dari berbagai teori dengan perspektif yang berbeda? (2) Apakah bentuk instrumen kebijakan yang digunakan dalam intervensi pemerintah berkaitan dengan berbagai rationale? Dan (3) Apakah yang dapat disimpulkan terkait level teritorial/kewilayahan yang tepat dari suatu kebijakan sistem inovasi yang didasarkan atas teori terpilih dan rationale yang dikembangkan berdasarkan teori tersebut? Untuk menjawab tiga pertanyaan di atas. implementasi. dan (5) Evolutionary (Tabel 1). level intervensi. Pada level daerah. Laranja et al. location costs Neo-Marshallian Evolutionary Broad Technology as applied knowledge Technology as Broad definition endogenous non.including social rival. jarang untuk merumuskan atau memilih alternatif kebijakan yang paling tepat. Dalam kajiannya yang terkait dengan upaya translasi rationale21 menjadi kebijakan. Tabel 1. (2008) mencoba menjawab tiga pertanyaan yang sangat mendasar. dan evaluasi kebijakan (Laranja et al. transportas. noninnovation excludable generated by R&D Neutral but with implications for divergence/conve rgence Consideration of space Proximity (and space) play a role in inducing changes in behaviour Space as on dimension for specific evolutionary processes 21 Rationale dalam konteks ini adalah model yang diformalisasi dan didasarkan dari teori dan konsepsi terpilih yang memberikan informasi tentang desain.Gambar 2). 18 Tahun 2002 . (2) Schumpeterian Growth Theory. Pemilihan teori yang berbeda sebagai landasannya. hanya akan dicuplik beberapa elemen saja sesuai dengan kepentingan yang hendak dikawal.. misalnya berupa berbagai peraturan daerah (Perda). ada lima teori yang ditelaah Laranja et al. Berbagai regulasi dan kebijakan di berbagai sektor ini merupakan komponen dalam ekosistem inovasi nasional. 2008) 31 Naskah Akademik Perubahan UU No. Technology as applied knowledge Neoclassical Consideration of technology Technology as information and “incorporated” in capital investment No consideration of space beyond reduction of information costs. (2008).

Criteria balances support to individual actors with increasing collaboration. Favours R&D support to hitech. Lack of diversity Reduction of costs in information. Large mobilisation projects Subsidies and tax incentivate to R&D. Favours science push and large R&D projects. Improve diversity and selectivity Multi-level. help in networking. Investment in local advanced technology infrastructure. public intervention Informationtransmission failures. selectivity) Target different kinds of individual actors. roles and function of actors. 18 Tahun 2002 . Increase cognitive capacity. Proactive intermediation brokerage (translation of implicit knowledge) Targets both individual actors and groups. Adequate institutional setting Avoid lock-in. transports. dysfunctions. Favours demand approaches and provision of “ shared” public services. Appropriability failure Objective of intervention Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches Evolutionary Support to Flexible “external System failure. but with focus in more advanced region Incentivate accumulation of “monopolistic” gains Regional level but National and also national regional levels level with regional focus(decentralis ed) Creation of a collaborative industrial community. Favours supplyside initiatives. Park for Science and Technology.Neoclassical Rationale for Market failures. eligibility criteria. “Animateur” Role of policy maker Examples of policy Subsidies and tax instruments incentives to R&D. Extension services Mode of operationalisation (target. interactions and networking. networks of actors or systems of innovation. endogenous R&D agglomeration” System dysfunctions cognitive gaps. Extension services(“servizi reali”) ranging from technology to education and training cluster policies Coodinating the system. Learning accumulation of economies of Institutional failures failures. Science push measures. Learning Substitute for less Creat conditions than optimal use for increasing of resources returns to R&D Level of intervention Centralisednational level No differentiation of levels of intervention Compensate for less than optimal private investment. Promote locally based networks of cooperation. System as a target. Technology infrastructures. Extension services. investment in local advanced technology infrastructure. Park for Science and Technology Subsides and tax incentives to R&D. and competition Overall coherence of the system. technology infrastructures. Education for creating pool of skills Technology infrastructure. Design of segmented targeted intervention ”adaptive role” Subsidies and tax incentivate to R&D. Return on Investment and Targets different kind of individual actors. Block-in. Favours collective 32 Naskah Akademik Perubahan UU No. Balances centralised with decentralised intervention Identification of technology specific failures. criteria of Targets both individual actors and “collective” actions. Optimise resources Centralisednational level.

Ekosistem inovasi terbangun dari komponen-komponen yang bersifat intangible maupun yang bersifat tangible. dan nilai-nilai luhur atau karakter bangsa (Gambar 2). karakter. Saat ini kecenderungan yang terjadi adalah ketersediaan dan jenis keahlian sumberdaya manusia yang secara dominan mewarnai inovasi. and variety (increase or reduction) as Criteria. dan nilai-nilai luhur atau karakter merupakan ‘penciri’ suatu bangsa yang cenderung untuk selalu dilestarikan eksistensinya. tradisi. dan sumberdaya finansial untuk mendukung kegiatan pengembangan teknologi maupun untuk proses produksi. tetapi juga mencakup berbagai komponen non-formal. Seharusnya kebutuhan untuk mendukung tumbuhkembang inovasi sesuai dengan potensi nasional dan kebutuhan pasar (atau pengguna) yang menentukan pola penyiapan dan pengembangan sumberdaya manusia. 33 Naskah Akademik Perubahan UU No. tradisi. serta dinamika kebutuhan dan persoalan pengguna teknologi akan mengharuskan terjadinya penyesuaian regulasi dan kebijakan. Interaksi antara inovasi dengan ekosistem tempat dimana inovasi akan dikembangkan dan ditumbuhkan pada dasarnya bersifat saling-pengaruh. Favours collective governance concentration for Use of the value increasing chain or cluster returns concept Source: Laranja et al (2008) Komponen ekosistem inovasi tidak hanya berupa regulasi dan kebijakan yang bersifat legalformal. sumberdaya alam yang potensial untuk dikelola sebagai bahan baku proses produksi barang maupun jasa yang dibutuhkan. tradisi. seperti budaya (termasuk norma dan etika). yang diposisikan sebagai fondasi untuk bangunan kebijakan inovasi. budaya. 18 Tahun 2002 . dalam konteks inovasi. kebijakan. komponen ini merupakan komponen ekosistem yang bersifat ‘statis’. Potensi sumberdaya alam juga merupakan komponen ekosistem yang menjadi acuan dalam merancang kemampuan inovasi nasional. Dengan demikian. Komponen yang bersifat intangible atau tak-berwujud mencakup semua regulasi. dan difusi teknologi) tentu akan mempengaruhi (secara positif atau mungkin juga negatif) performa inovasi nasional. Regulasi dan kebijakan (baik yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pengaturan inovasi.Neoclassical opportunity for appropristion as criteria Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches governance Evolutionary opportunity. dan komponen lain yang dapat mempengaruhi performa SINas tetapi tidak dapat divisualisasikan wujud fisiknya. MEXT (2002) sudah mengenali komponen ini dan mengintegrasikannya dalam upaya membangun kemampuan inovasi nasional di Jepang. sebaliknya dinamika interaksi antar-aktor inovasi. Budaya. Komponen yang bersifat tangible (wujud fisiknya dapat divisualisasikan) mencakup antara lain sumberdaya manusia terdidik dan/atau terlatih yang tersedia. perkembangan iptek.

34 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi sebaliknya akan menjadi faktor yang semakin tidak diperhitungkan dalam skenario besar pembanguan perekonomian suatu bangsa. Kondisi ini selain menyebabkan rendahnya sumberdaya finansial untuk mendukung pengembangan inovasi juga menghilangkan kepercayaan publik terhadap inovasi itu sendiri. secara umum Indonesia belum menjadi pelaku iptek yang diperhitungkan dalam dunia internasional.. 18 Tahun 2002 2. Menurut penelitian yang dilakukan. Analisis Undang-undang No.2. Sebaliknya inovasi yang bersifat stagnan (atau dorman) karena tidak mampu menghasilkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas atau efisiensi proses produksi. 18 Tahun 2002 dimaksudkan untuk meletakkan dasar bagi perkembangan kelembagaan iptek dengan interaksinya. memberi stimulus dan memfasilitasi dalam menciptakan iklim pertumbuhan dan sinergi unsur kelembagaan. sumber daya dan jaringan iptek.1. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan Prakoso Bhairawa Putera. Pemerintah daerah berkewajiban menumbuh-kembangkan motivasi. UU No. Pengembangan. Akibatnya inovasi bukan akan tumbuh berkembang. Selanjutnya pertumbuhan perekonomian secara langsung juga berarti meningkatnya ketersediaan sumberdaya finansial untuk membangun kemampuan inovasi nasional dengan kapasitas yang lebih besar. Sumberdaya finansial yang tersedia akan mendorong kemampuan inovasi semakin tumbuh berkembang menjadi sebuah sistem yang lebih produktif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan jasa yang bernilai ekonomi. 18 Tahun 2002 . Penelitian yang dilakukan oleh Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera terhadap implementasi UU No. Kajian Implementasi UU No. saling beinteraksi secara positif (snowballing effect) sehingga masing-masing berkembang dan tumbuh semakin kuat. Sri. tidak akan pula mampu memberikan kotribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. Kondisi ini mendorong industri nasional cenderung memanfaatkan lisensi impor. temuan mendasar yang diidentifikasikan dalam pelaksanaan UU No.Sumberdaya finansial dan inovasi akan saling berhubungan secara interaktif. 18/2002 menunjukkan pengembangan dan penerapan iptek masih belum dimanfaatkan secara optimal. serta sumber daya iptek yang mampu diakumulasikan masih terbatas. 18 Tahun 2002. Padahal sejak awal UU No. hal itu disebabkan antara lain belum terjalinnya hubungan yang baik antara lembaga penelitian perguruan tinggi dan industri. Berdasarkan implementasi UU No. sehingga secara nyata akan mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara. 18 Tahun 2002 meletakkan pemerintah daerah sebagai salah satu komponen pendukung pelaksanaan sistem nasional penelitian. terutama di kegiatan ekonomi dan sosial budaya. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy).2. dan interaksi pelaku iptek. 2009. 2. pengembangan dan penerapan iptek khususnya ditingkat daerah. Selain itu. 18 Tahun 2002 adalah lemahnya koordinasi kegiatan riset di daerah. Mulatsih.

18 Tahun 2002 Variabel Tanggapan/respon terhadap UU No. Namun demikian. Dengan memberikan dana insentif untuk kegiatan penelitian. pembentukan jalinan interaksi ini distimulus oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Pada awalnya dan sampai saat ini.1 Tanggapan terhadap UU No. Pelaksana undang-undang ini adalah perguruan tinggi. dan industri. 35 Tahun 2007 tentang alokasi dana sebagian pendapatan badan usaha. dukungan yuridis tidak diikuti ini tidak diikuti adanya dukungan sumber daya yang memadai. Balitbangda merasa bahwa UU ini belum menjadikan lembagalembaga penelitian daerah sebagai garda terdepan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. karena sering diundang sebagai pemangku kepentingan. Secara umum UU ini belum diketahui. bahwa penelitian dan pengembangan itu tidak termasuk sebagai kegiatan wajib atau pilihan. Mulatsih dan Putera (2009) menggunakan indikator keadaan. 18 Tahun 2002 . Untuk mengetahui keadaan tersebut ditunjukkan pada tabel di bawah ini. pengembangan dan penerapan iptek diharapkan akan memperkuat jaringan kelembagaan perguruan tinggi. Semua daerah responden menyebutkan minimnya sumber daya peneliti. sarana dan prasarana dalam pemaksimalan tugas dan fungsi di daerah. lembaga litbang. Namun demikian menurut penelitian Mulatsih dan Putera (2009). Cukup paham dengan UU ini. yaitu tanggapan lembaga-lembaga (stakeholders). Temuan lainnya yang menarik adalah mengenai pembentukan jalinan interaksi antar kelembagaan yang diharapkan dapat membentuk pola sistem nasional bagi kemajuan iptek di Indonesia. Table 6. Yang lebih diperlukan lagi adalah sosialisasi dan implementasinya. 18 Tahun 2002 Dalam menganalisis temuan dalam implementasi UU Nomor 18 Tahun 2002 di atas. begitu juga dengan dana.Kondisi awal di lokasi yang menjadi sampel penelitian ini (tahun 2009) terlihat telah ada dukungan secara yuridis formal melalui pembentukan Peraturan Daerah ataupun Keputusan Gubernur tentang pembentukan badan/bagian/unit yang menangani kegiatan penelitian dan pengembangan di daerah. kondisi yang terjadi cukup ironis karena interaksi yang terjadi hanya terjalin sebatas pemanfaatan dana riset. Balitbang pemerintah daerah (balitbangda) Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) 35 Naskah Akademik Perubahan UU No. Namun UU ini perlu untuk mengarahkan/mengatur kegiatan penelitian supaya efektif. 38. lembaga penunjang dan badan usaha. lembaga penelitian dan pengembangan. Perspektif Pemangku Kepentingan UU No. khususnya dalam diskusi penyusunan PP No. 18/2002 Lembaga Perguruan tinggi Pandangan/Perspektif Pada umumnya pengetahuan tentang UU ini masih sangat sedikit. Selama ini balitbangda terikat dengan PP No. tanpa adanya keberlanjutan difusi hasil penelitian yang aplikatif oleh dunia usaha.

sumber daya. dan masyarakat. pengembangan dan penerapan iptek. “Keberadaan undang-undang ini cukup diketahui. hal ini disebabkan karena alasan teknis dengan perpindahan struktur bagian penelitian dan pengembangan yang sebelumnya di bawah Badan Perencanaan Daerah. pelaksanaan penelitian dan pengembangan hanya menjadi tugas pendukung instansi lain di wilayah kerjanya. walaupun sebenarnya berdasarkan surat pembentukan terjabarkan tugas dan fungsi bagian ini – tentunya memberikan tugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan di daerah. ada beberapa responden yang cukup tertarik dengan memaksimalkan peran dan fungsi litbang daerah dalam dua tahun terakhir.” Kondisi semacam ini memang berbeda dengan lembaga litbang di daerah yang lain. seperti Balitbangda Sulawesi Selatan. Karena dari temuan penelitian. Sumberdaya. Di samping itu juga interaktif terhadap kebijakan pemerintah. 18 Tahun 2002 diharapkan kelembagaan. karena masing-masing instansi memiliki litbang sehingga fungsi dan tugas balitbangda apa. Kelembagaan. dan jaringan iptek merupakan unsur-unsur utama dalam sistem nasional penelitian. dan badan usaha/industri) masih rendah tanggapannya terhadap UU No. hanya salah badan usaha yang terlihat aktif dalam merespon kebijakan ini. pemanfaatan dan pemajuan iptek. Sehingga bagian ini masih merencanakan tindakan untuk pelaksanaan kegiatan. dan jaringan iptek menjadi berkembang lebih baik untuk 36 Naskah Akademik Perubahan UU No. Bagian penelitian dan pengembangan yang menjadi subbagian di bawah struktur Sekretaris Daerah Provinsi Yogyakarta.Tabel di atas menunjukkan bahwa unsur kelembagaan yang diteliti (perguruan tinggi. belum mengimplementasikan kebijakan ini pada tingkat daerah. Kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama ini diarahkan untuk mendukung visi dan misi pembangunan daerah. Adanya UU No. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menjadikan penelitian di daerah bukan merupakan urusan wajib. Bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang daerah. 18 Tahun 2002. dan adanya PP No. Pemerintah Daerah Provinsi. sumber daya. tetapi yang belum adalah menjadikan lembagalembaga penelitian dan pengembangan daerah ini sebagai garda terdepan dalam hal penelitian dan pengembangan di daerah. perusahaan (badan usaha) ini meletakkan visi dan misi usahanya untuk bisnis dan penelitian. menimbulkan kebingungan pada balitbangda. yang didukung adanya peran pemerintah/pemerintah daerah. Namun demikian. 18 Tahun 2002 . dan Jaringan Kelembagaan. lembaga litbang daerah. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Selain itu masih adanya paradigma memandang sebelah mata terhadap balitbangda oleh pihak-pihak di daerah. khususnya dalam mengemban misi penelitian dan pengembangan baik untuk kepentingan industri maupun kepentingan nasional masih rendah. Sehingga Balitbangda Sumsel berkolaborasi dengan lemlit-lemlit di perguruan tinggi yang berada di wilayah ini. Akan tetapi dalam pelaksanaannya. khususnya yang diteliti tampaknya kurang memahami kedudukan dan fungsi mereka dalam memperkuat visi dan misi dalam upaya penguasaan. tetapi pilihan. seperti yang telihat dari Badan Litbang Daerah Sumatera Selatan.

Namun demikian. pemanfaatan dan pemajuan iptek.UGM. perekayasa. 18 Tahun 2002 . perguruan tinggi sebagai kelembagaan iptek diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (peneliti. sumber daya. setiap kelembagaan iptek (perguruan tinggi. dan penerapan iptek. lebih banyak dilandasi oleh Tri Darma Perguruan Tinggi. 18 Tahun 2002 menyebutkan. 18 Tahun 2002 disebutkan.membangun kemampuan iptek nasional yang lebih kuat untuk mencapai tingkatan ekonomi sejajar dengan negara lain. pengembangan.Sulsel. Tabel 6. 37 Naskah Akademik Perubahan UU No. Selanjutnya untuk mengetahui fungsi kelembagaan iptek yang disurvei. termasuk pembentukan Sentra HKI. teknisi dan semberdaya manusia lain yang diperlukan untuk memperkuat kegiatan penelitian. perekayasa. jaringan dan pembiayaan dipandang sebagai aspek inti dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Sumber dana murni swasta di PT Kalbe Farma (bergerak di bidang farmasi). perekayasaan. Bahkan seperti Pemda DIY. Tugas penelitian pada dasarnya sebagai tugas struktural dari Kemendagri. teknisi. pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang masih bersifat sektoral menjadikan amanah yang disebutkan dalam UU No. penelitian. badan usaha dan lembaga penunjang) berfungsi mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. lembaga litbang. Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) Selain kelembagaan. bidang penelitian menurut struktur organisasi baru hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi ijin penelitian. Namun demikian.2 di bawah ini. dapat dilihat pada Tabel 6. Pasal 6 UU No. DIY) Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Dalam mengembangkan inovasi melalui penelitian dan pengembangan. UNSRI) Balitbangda (Sumsel. Kelembagaan iptek juga diarahkan untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan iptek untuk menghasilkan kinerja dan manfaat lebih besar secara bersama. UNHAS. dan sebagainya) yang diperlukan dalam upaya peningkatan kemampuan penguasaan. Untuk itu. perguruan tinggi dan lembaga litbang agar mengusahakan penyebaran informasi hasil kegiatan. Sehingga kegiatan ini tidak selalu dilakukan seperti lembaga penelitian lainnya. pemerintah mendorong kerja sama antar kelembagaan iptek dalam pengembangan jaringan informasi iptek. dan difusi teknologi. Menurut Mulatsih dan Putera (2009).2 Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Iptek Kelembagaan Perguruan tinggi (ITB. Lembaga litbang menjadi mencari peneliti. inovasi. Dalam Pasal 13 UU No. pengembangan. juga melakukan koordinasi untuk menginventarisasi hasil penelitian di daerah. Tugas utamanya adalah melakukan penelitian bidang mikrobiologi untuk sell kanker. 18 Tahun 2002 ini belum berjalan dengan baik.

Pelaksanaan UU No. dan dibuat dengan pasal-pasal yang bersifat makro atau umum untuk kemudian dibuat petunjuk pelaksanannya. 18 Tahun 2002 adalah mengenai Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian. antara lain lembaga penelitian. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Sebagai payung hukum UU ini merupakan acuan seluruh elemen yang tercakup dalam sistem nasional penelitian. terutama dalam pelaksanaan fungsi dan pemerintah sebagai motivator dan stimulator perkembangan sistem nasional litbangrap iptek. industri dan pihak terkait lainnya. pengembangan dan penerapan iptek merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. PP No. peraturan presiden. Undang-undang merupakan kebijakan yang dinilai mempunyai posisi tertinggi. 20 Tahun 2005 dan PP No. Peraturan pemerintah terakhir yang diturunkan sebagai pelaksanaan dari undang-undang No. 18 Tahun 2002. Inovasi dan Difusi Teknologi. UU No. yaitu terkait dengan pelaksanaan Pasal 16. yaitu PP No. Tahun 2005 disahkan. tertanggal 18 Juli 2009 dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. menyebutkan peraturan pelaksanaan dari undang-undang adalah sesuai dengan hirarkhi-nya. undang-undang sebagai bentuk dari kebijakan di Indonesia masih menganut model kebijakan continental atau yang berasal dari Belanda. UU No. pemanfaatan dan pemajuan iptek adalah pembiayaan. termasuk 2 bab di dalamnya tentang ketentuan sanksi dan ketentuan peralihan. Secara hierarkis. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. 18 Tahun 2002 telah diturunkan empat peraturan pemerintah yang perlu disusun. yaitu peraturan pemerintah. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 Pelaksanaan suatu undang-undang merupakan suatu penjabaran isi dari pasal-pasal ke dalam peraturan-peraturan atau kebijakan yang disebut sebagai arrangement institutions. 18 Tahun 2002 .Aspek terpenting dalam pelaksanaan penguasaan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berisiko Tinggi dan Berbahaya. PP No. model kebijakan yang dibuat berjenjang sesuai dengan hierarki implementabilitasnya. Kemudian di tahun berikutnya. 48 Tahun 2009 Pelaksanaan UU No. peraturan presiden. Dalam pelaksanaannya. 18 Tahun 2002. antara lain dapat mengacu penjelasan Riant Nugroho (2009). 18 Tahun 2002 mencakup 9 bab dan 32 pasal dan penjelasannya. perguruan tinggi. ketentuan ini masih memerlukan penjelasan bagaimana merealisasikan pembiayaan ini. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Selama hampir sepuluh tahun pelaksanaan UU No. dan peraturan daerah kabupaten/kota. Undang-Undang sebagai produk policy level akan diimplementasikan melalui tingkatan organisasi (level of organization) yaitu berupa peraturan pelaksanaannya. dan penerapan iptek. 17. pengembangan. dan peraturan kebijakan PP. Secara politis UU ini telah memenuhi syarat dalam proses penyusunannya sehingga UU ini telah diundangkan sejak 29 Juli 2002. Pengembangan. Menurut UU No. peraturan daerah provinsi. pembiayaan pelaksanaan kegiatan penelitian. Dalam pelaksanaannya UU No. 35 Tahun 2007. dalam public policy. 22 dan Pasal 28. tiga tahun setelah disahkan diturunkan dua Peraturan Pemerintah (PP) sebagai peraturan pelaksanaannya. berupa peraturan pemerintah. Akibatnya di Indonesia 38 Naskah Akademik Perubahan UU No.

Responden lainnya menyatakan. 5 Tahun 2008 menunjukkan bahwa adanya perhatian dari pemerintah daerah. dan penerapan iptek di daerah sesuai dengan amanat UU No.072. perguruan tinggi. badan usaha maupun di masyarakat selama ini masih tidak terpola. Bappeda. Masuknya Bagian Penelitian dan Pengembangan di Biro Administrasi Pembangunan adalah indikasi baik. Akan tetapi.” Simpul pola interaksi terlihat lebih baik dilakukan oleh perguruan tinggi. tetapi pelaksanaannya tidak effektif karena peraturan atau kebijakan pelaksanaannya belum dibuat. Dalam kaitannya dengan penguatan inovasi. Interaksi berjalan karena adanya kerjasama penelitian yang menggunakan dana atau dibiayai oleh balitbangda. Untuk Dewan Riset Daerah. pengembangan. serta menciptakan iklim kondusif dalam sistem penelitian.banyak terjadi kasus di mana sudah ada undang-undang. adanya ruang bagi masing-masing elemen dalam UU No. “LPPM-ITB melakukan jejaring penelitian dengan lembaga lain disebut sebagai mitra kerja.550. responden penelitian Mulatsih dan Putera (2009) berpendapat interaksi yang dilakukan antar pelaku iptek di lembaga litbang. dan penelitian swasta.” “Pemerintah daerah telah menganggarkan sejumlah dana sehingga setiap tahunnya balitbangda melaksanakan program dan kegiatan penelitian pengembangan yang mengacu pada program prioritas pemerintah provinsi. “Jalinan interaksi selama ini belum berjalan maksimal. Dukungan kebijakan serta pendanaan yang secara terus menerus dan berkelanjutan program yang dilakukan pada tingkat daerah. beberapa telah dapat menyambung simpul industri (beberapa). Interaksi yang dilakukan belum terlembaga dan hanya dilakukan secara personal (individu). namun tampaknya jejaring peneliti yang dibangun antar lembaga penelitian di wilayah Jawa Barat (ITB. lembaga penelitian pemerintah lainnya. pada tahun 2008 kemarin melaksanakan sebanyak 2 program utama dan 60 kegiatan dengan pendanaan sebesar Rp. karena bagaimanapun juga sistem nasional tidak dapat berjalan secara maksimal tanpa adanya dukungan pelaksanaan sistem pada level daerah. 18 Tahun 2002 Dukungan pemerintah daerah dalam menumbuhkembangkan motivasi. pola jalinan interaksi atau yang dikenal dengan jaringan.yang seluruhnya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah pemerintah provinsi. kerjasama atau interaksi yang terjalin selama ini hanya sebatas pemanfaatan dana riset yang dimiliki oleh badan litbang daerah saja.” Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah telah memberikan ruang untuk mendorong kegiatan penelitian. Indikasi ini menandakan bahwa adanya dukungan dari pemerintah walaupun masih dirasa kurang dalam segi penambahan alokasi dana ataupun sarana prasarana untuk menunjang kegiatan penelitian. pengembangan. Jaringan yang dikembangkan di perguruan tinggi.323. walaupun kami memiliki jaringan peneliti Sumatera Selatan yang telah mendapat pesetujuan dari gubernur tetapi belum maksimal. LSM) belum ada. kebijakan internal di setiap daerah responden berbeda. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat mengoptimalkan dan keberlanjutan aktivitas litbangrap iptek. 18 Tahun 2002 secara bertahap mengalami kemajuan. karena yang ada selama ini adanya kumpulan pakar-pakar di Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi DIY. memberikan stimulasi dan fasilitas. dan penerapan iptek. Interaksi yang terlaksana sebatas antara balitbangda dengan peneliti yang bersangkutan yang mayoritas berasal dari perguruan tinggi.” “Dengan keluarnya Perda No. pemerintah daerah masih mencari format terbaik. 10. 39 Naskah Akademik Perubahan UU No.. . Untuk kelengkapan lainnya sedang diproses.

dan karenanya merupakan langkah penting bagi perkembangan sistem inovasi di Indonesia. tujuan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu perkembangan sistem inovasi ini akan ditentukan oleh pelaksanaan lebih lanjut (secara legal) dan implementasinya. dan daya saing daerah (Pasal 2 ayat (3)). sumber daya.) UU No. memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. b. maupun masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pemajuan iptek. Pengembangan. interaksi dan proses pembelajaran akan menjadi semakin penting pada tataran daerah. mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. landasan hukum yang diharapkan dapat memperkuat landasan pembangunan dan mempercepat perkembangan iptek. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat memperkuat jaringan antara pemerintah pusat. 18 Tahun 2002 merupakan tonggak penting. pelayanan umum. pemerintah daerah. esensi keterkaitan ini sama dengan atau setidaknya berangkat dari konsep sistem inovasi nasional. Dalam peraturan perundang-undangan yang ada. Selanjutnya Tatang (2005) menyebutkan. ‘Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . Menurut Tatang (2005) meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sistem inovasi. Sistem nasional litbangrap iptek ini diperlukan untuk mencapai tujuan: a. Tatang A Taufik: BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumberdaya iptek. dan jaringan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh. pengembangan. b. inovasi. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban antara lain: memajukan dan mengembangkan daya saing daerah (Pasal 27 ayat (1) butir g. perekayasaan. Pemajuan ataupun penguatan sistem inovasi pada tataran daerah menurut Tatang (2005) adalah sesuatu yang penting bagi perkembangan sistem inovasi nasional dan peningkatan daya saing secara nasional.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan’. 2005.2. Hal ini juga ditegaskan dalam UU No. pembentukan iklim dan memberikan dukungan kebijakan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Penguatan sistem inovasi di tataran daerah merupakan bagian integral atau sub sistem dari pilar sistem inovasi nasional. pemanfaatan. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.2. serta b. UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan 40 Naskah Akademik Perubahan UU No.2. Upaya-upaya terpadu dalam penguatan kelembagaan. 18 Tahun 2002 . UU No. penelitian. Salah satu pelaksanaan UU No. dan difusi teknologi. namun sistem nasional litbangrap iptek merupakan keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. tanggung jawab daerah dalam pembangunan iptek dan sistem inovasi cukup besar. Upaya ini dilakukan melalui: a. dan pemajuan iptek. 18 Tahun 2002 adalah penguatan fungsi kelembagaan iptek dalam sistem nasional litbangrap iptek. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan UU No. antara lain: a.

Jumlah dan kualitas sumberdaya manusia di Indonesia yang cukup memadai. Teknologi menjadi komoditas yang sangat mahal dan seringkali memberatkan beban keuangan negara secara keseluruhan. meskipun peralatan yang dimiliki sebenarnya sudah cukup memadai.2. cenderung mengerjakan terlalu banyak kegiatan. Alasan lainnya. kurang dimanfaatkan secara optimal. Para pengusaha kecil dan menengah ini masih meragukan kualitas produk teknologi hasil penelitian dan pengembangan. Kerjasama-kerjasama yang dilakukan mengenai transfer teknologi cenderung mengarah pada kerjasama perdagangan. yang ada adalah jual beli teknologi.Pembangunan Nasional. termasuk juga keberlanjutannya (sustainability). Hasil-hasil penelitian dan pengembangan umumnya masuk dalam publikasi ilmiah 41 Naskah Akademik Perubahan UU No. ‘Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Komersialisasi Kelembagaan Iptek’. Alasan yang melatarbelakangi kondisi tersebut sebenarnya adalah suatu hal yang cukup logis. Ketergantungan ini sebagai akibat dari kurang berkembangnya teknologi/inovasi dalam negeri. 2. Kondisi ini memperlihatkan. adanya gap antara teknologi hasil penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan pasar yang ada. belum lagi ketepatan waktu pemanfaatannya.3. Hal ini masih ditambah kurangnya perhitungan pencapaian optimal dalam penggunaan sumberdaya keuangan dan sumberdaya manusia. Kementerian Riset dan Teknologi. karena tidak selalu mendapatkan akses secara lengkap teknologi yang ada. Dalam beberapa kasus. Andaipun ada keterkaitan antara dunia usaha dan lembaga penelitian dan pengembangan saat ini baru sebatas asistensi dari pihak penelitian dan pengembangan yang kebanyakan masih terbatas pada aspek pengujian produk dan peralatan. maupun peraturan perundang-undangan lainnya diharapkan menjadi landasan legislasi untuk mengintegrasikan. 2007 Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembangunan iptek dalam upaya memperkuat daya dukung iptek untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa adalah ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi luar. seringkali masih menghadapi persoalan yang cukup serius. pembagian royalty. 18 Tahun 2002 . karena pembelian barang modal yang sarat dengan teknologi. Kesulitan dalam proses transfer teknologi tersebut tidak hanya terjadi pada industri besar saja tapi terjadi juga pada industri kecil dan menengah. Transfer teknologi dari lembaga penelitian dan pengembangan kepada industri dan masyarakat melalui bentuk kemitraan. pemanfaatan produk. sehingga transfer teknologi dapat dikatakan tidak terjadi. meningkatkan sinkronisasi dan sinergi dalam pengembangan sistem inovasi. Ketergantungan teknologi dari luar. program yang direncanakan dan dilaksanakan masih kurang fokus. sektor usaha masih merasakan hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri belum dapat diterapkan dalam kegiatan industri. Hal ini menyebabkan industri kecil dan menengah cenderung menggunakan tenaga konvensional yang dimiliki atau membeli dari luar negeri untuk perbaikan (improvement) dalam kegiatan proses produksinya. seringkali dibarengi kesulitan dalam pemeliharaannya. seperti HKI.

hanya sedikit yang menghasilkan hak paten dan masuk dalam publikasi internasional.tingkat nasional. 18 Tahun 2002. Pembentukan unit kerja yang mendorong peningkatan komersialisasi hasil litbang ini. sebagai pelaksanaan kebijakan pemerintah. hasil-hasil kajian dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian masih belum sesuai dengan kebutuhan pasar. menghasilkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. sebagai penambahan unit-unit kerja yang ada. tata kerja unit kerja. Sedangkan pengaturan mengenai pembentukan. Investasi pemerintah dalam bentuk hasil litbang ini diharapkan dapat menghasilkan public return sebesar mungkin. misal Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) untuk mengurangi pembentukan lembaga baru. rincian tugas. Unit kerja ini dapat merupakan lembaga baru. yang mungkin ditujukan untuk pengembangan teknologi tepat guna maupun sebagai upaya mendukung perbaikan pendapatan peneliti. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib membentuk unit kerja yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbang di lingkungannya. Di satu sisi perguruan tinggi maupun lembaga litbang memerlukan adanya unit kerja yang mandiri untuk melakukan pengelolaan administrasi hasil penjualan produk litbang secara lebih optimal. Ketentuan ini ditujukan bagi kegiatan litbang yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah atau pemerintah daerah. 20 Tahun 2005 masih mengalami hambatan. Pengalihan ini dilakukan pada badan usaha. Permasalahan krusial lainnya adalah pembentukan unit kerja dalam upaya komersialisasi hasil litbang. sesuai dengan PP No. seperti penambahan tugas dan fungsi lembaga Sentra HKI di perguruan tinggi dan lembaga litbang. pemerintah. dan penetapan prosedur pengelolaan dan alih tekologi kekayaan intektual serta hasil kegiatan litbang diatur oleh lembaga yang bersangkutan. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbangnya. kajian pengembangan kebijakan yang mendukung komersialisasi hasil litbang masih perlu 42 Naskah Akademik Perubahan UU No. Adanya perubahan struktur organisasi lembaga. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. Sesuai pasal 16 UU No. Semua hasil penjualan hasil litbang dapat dikelola secara langsung oleh lembaga melalui unit komersialisasi hasil litbang ini. seperti Unit Komersialisasi Hasil Litbang. atau masyarakat. Oleh karena itu. dan tampaknya akan menjadi salah satu hambatan dalam merealisasikan komersialisasi hasil litbang. Dalam pelaksanaannya pembentukan unit kerja seperti yang disyaratkan pada PP No. Dalam Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut menyatakan. 18 Tahun 2002 . juga belum memadai untuk mendapatkan pengakuan secara ekonomis. Kebijakan ini akan membatasi pembentukan lembaga baru. Kewajiban ini dimaksudkan agar hasil litbang dapat dimanfaatkan seluas mungkin oleh masyarakat. susunan organisasi. Hal ini juga menunjukkan. atau dengan memanfaatkan unit yang ada. sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sehingga lembaga memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk investasi berbagai kegiatan litbang lainnya.

mudah. melalui penjualan jasa konsultasi dan jasa teknis litbang. namun kurang sosialisasi. Kalangan dunia usaha lebih menyukai teknologi yang sudah siap pakai. Struktur biaya penelitian yang tinggi menyebabkan hasil penelitian perguruan tinggi menjadi terlalu mahal untuk pengguna. disamping kegiatan pengajaran dan pengabdian masyarakat. Tingginya biaya litbang antara lain disebabkan biaya administrasi yang tinggi. perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan kompetitif untuk dapat diterima pengusaha sebagai pengguna hasil penelitian. Untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif. Dalam bentuk ini. Upaya komersialisasi ini belum berjalan maksimal. suatu kegiatan komersialisasi hasil riset. umumnya pihak industri menghendaki hasil litbang yang dapat menghasilkan produk akhir secara cepat. dan produk penelitian masih banyak yang bersifat teoritis dan belum dapat diterapkan di masyarakat. seperti misalnya birokrasi yang panjang dalam mekanisme pengelolaan dana penelitian. daripada membeli hasil litbang perguruan tinggi yang masih belum teruji dalam 43 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pihak pengguna beranggapan hasil litbang perguruan tinggi maupun lembaga litbang Pemerintah masih bersifat teoritis dan belum dapat diaplikasikan. dan memberikan sentuhan komersialisasi terhadap produk yang dihasilkan. Oleh karena itu. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian dan pengabdian sebenarnya tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi tugas dan kewajiban dari perguruan tinggi untuk merealisasikannya. maupun desertasi tersimpan di perpustakaan. Para dosen dan mahasiswa harus memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah aktual yang ada di masyarakat. murah. swasta atau perusahaan.dilakukan dengan bersinergi lebih erat dengan para pengambil keputusan di bidang aparatur negara. serta aplikasi hasil litbang tersebut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Hasil dari riset ini juga seringkali tidak memperhatikan struktur biaya. kegiatan penelitian menjadi kegiatan utama. Hal ini menuntut perguruan tinggi untuk menggali sumber dana lainnya selain dari Pemerintah. Permasalahan lainnya adalah kurangnya sosialisasi hasil litbang. sehingga hasilnya belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal. padahal banyak diantaranya yang memiliki potensi untuk dikomersialisasikan. penelitian dan pengembangan di bidang iptek. Hasil riset di bidang teknologi industri yang dihasilkan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat maupun para peneliti di perguruan tinggi sebenarnya cukup banyak. dan perpajakan. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi sebagai bagian integral dari pendidikan di Indonesia diarahkan seoptimal mungkin melakukan proses transformasi pendidikan dan pengajaran. tesis. lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu memperhatikan struktur biaya litbangnya agar menarik untuk dikomersialkan kepada para pelaku usaha dan masyarakat. sehingga ketika diterapkan tidak mampu bersaing dengan produk-produk yang dihasilkan oleh pihak lain. 18 Tahun 2002 . meskipun secara akademik dapat dipertanggungjawabkan. Banyak skripsi. Banyak karya ilmiah yang tidak aplikatif. melalui berbagai kegiatan penelitian yang bersifat aplikatif. Berdasarkan fakta di lapangan. Dilihat dari proses penelitian dan pengembangan. maka perguruan tinggi didorong menuju terwujudnya universitas penelitian (research university).

Biaya seleksi ujian masuk perguruan tinggi. (2) Penggunaan dana yang berasal dari Pemerintah baik dalam bentuk anggaran rutin maupun anggaran pembangunan serta subsidi diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. e. Dalam Pasal 114 antara lain diatur sebagai berikut : Pasal 114 (1) Pembiayaan Perguruan Tinggi dapat diperoleh dari sumber pemerintah. c. Penyediaan dana penelitian kepada para peneliti sering kali belum dapat memberikan solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang ada di lapangan. Dalam ketentuan di atas. atau penerimaan hasil 44 Naskah Akademik Perubahan UU No.pemanfaatannya. 18 Tahun 2002 . Hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan tinggi. upaya untuk memperkenalkan berbagai produk litbang kepada masyarakat. (4) Penerimaan dan penggunaan dana yang diperoleh dari pihak luar negeri diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (3) Dana yang diperoleh dari masyarakat adalah perolehan dana Perguruan Tinggi yang berasal dari sumber-sumber sebagai berikut : a. Hal ini memberikan kemungkinan bagi perguruan tinggi mendirikan unit usaha sebagai salah satu sumber pembiayaan dari masyarakat. termasuk biaya litbang mengacu pada PP No. Penerimaan masyarakat ini akan mendorong terjadinya alih teknologi. Hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan pengalihan teknologi dapat berupa pengalihan codified knowledge maupun tacit knowledge transfer. masyarakat dan pihak luar negeri. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Lembaga Litbang Pembentukan unit pelayanan jasa teknis dan jasa konsultasi di lembaga litbang lebih diarahkan untuk mengkomersialkan kekayaan intelektual dan hasil-hasil litbang. Penerimaan dari masyarakat lainnya. (5) Usaha untuk meningkatkan penerimaan dana dari masyarakat didasarkan atas pola prinsip tidak mencari keuntungan. 60 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi. perguruan tinggi dapat menggali penerimaan dari masyarakat. lembaga Pemerintah atau lembaga nonPemerintah. Sumbangan dan hibah dari perorangan. baik berupa kekayaan intelektual maupun hasil-hasil litbang lainnya. Inovasi yang memiliki nilai komersial yang harus dilindungi oleh hak atas kekayaan intelektual. suatu unit yang mampu menunjang penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengelolaan hasil litbang yang lebih profesional. b. Unit usaha ini dapat pula berbentuk unit usaha komersial. Agar inovasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diperlukan sosialisasi. baik di masyarakat maupun di dunia usaha. dan seringkali tidak sama dengan pengelolaan kelembagaan lain. d. seperti pengelolaan perizinan. Pembiayaan kegiatan perguruan tinggi. Kegiatan ini memerlukan pendekatan tersendiri. Kegiatan terebut merupakan upaya pemanfaatan hasil litbang dan pengalihan kemampuan penguasaan iptek oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. dan f. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi perguruan tinggi.

yang secara kondusif dapat mendukung upaya komersialisasi hasil litbang secara lebih proporsional dan berpihak kepada lembaga dan jajaran penelitiannya. 2) memberikan insentif yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan invensi di lingkungan litbang. baik dalam rangka pemecahan masalah di bidang teknis. Hal ini menyebabkan implementasi hasil litbang masih rendah. upaya peningkatan komersialisasi hasil litbang memerlukan suatu perencanaan program yang lebih holistik. baik yang berbentuk keahlian sumber daya manusia dan pengorganisasiannya. Faktor yang mempunyai peran penting adalah faktor finansial. adanya keleluasaan dalam pengelolaan penggunaan pendapatan alih teknologi mempunyai peran penting dalam mendorong kemandirian lembaga penelitian. Perencanaan harus memperhatikan faktor-faktor lain. termasuk pemeliharaan. pola kerjasama yang berlaku dalam komersialisasi hasil litbang. 6) memperluas jaringan kerja dengan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. Keuntungan yang diperoleh dari pengalihan teknologi juga dapat mengurangi ketergantungan pendanaan kegiatan litbang di Perguruan Tinggi maupun Lembaga Litbang pada anggaran Pemerintah. aset informasi dan iptek. Pendapatan dari alih teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain: 1) memperbesar pendanaan litbang yang diperlukan untuk menguasai kemajuan iptek dan mengembangkan invensi serta menggali dayagunanya. . dengan melibatkan calon pengguna. Hasil kajian yang dihasilkan masih kurang diminati dunia usaha karena adanya ketidaksesuaian antara hasil litbang dengan kebutuhan yang didasarkan pada tuntutan konsumen. Meskipun hampir semua perencanaan program lembaga litbang pemerintah ditujukan untuk tujuan penerapan iptek. namun dalam praktik belum banyak hasil-hasil litbang yang langsung dapat diterapkan. Oleh karena itu. baik di dalam negeri maupun luar negeri. 45 Naskah Akademik Perubahan UU No. 5) meningkatkan kualitas dan memperluas jangkauan alih teknologi dan jasa iptek. perlindungan. Oleh karena itu. 4) melakukan investasi untuk memperkuat sumber daya iptek yang dimiliki. 18 Tahun 2002 Lembaga litbang pemerintah umumnya ditujukan untuk melaksanakan penelitian. Hasil litbang masih belum dapat dimanfaatkan. 3) memperkuat kemampuan pengelolaan kekayaan intelektual. serta sarana prasarana iptek.selisih harga ataupun penerimaan keuntungan dari BUMN. membantu dunia usaha dalam kegiatan proses produksi maupun kegiatan manajemen lainnya. Penyusunan rencana juga harus memperhatikan standar-standar teknologi yang berlaku di dunia usaha. dan alih teknologi. pengembangan dan pengkajian dalam rangka mencapai suatu keunggulan iptek dalam rangka pemecahan masalah-masalah pembangunan di berbagai bidang.

Selanjutnya perlu adanya kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah ak an tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. secara resmi disingkat MEXT) Jepang yang telah dikemukakan di bab sebelumnya. budaya. perguruan tinggi. Kurangnya komunikasi dan interaksi menyebabkan penerapan inovasi yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil inovasi tersebut belum dapat didayagunakan sepenuhnya. ketenagakerjaan. Di Indonesia. serta pajak dan keuangan. inovasi. Olehkarena itu diperlukan evaluasi dan analisis kebijakan penguatan inovasi dalam peraturan perundang-undangan terkait. Culture.Bab 3 Evaluasi dan Analisis Kebijakan Penguatan Inovasi dalam Peraturan Perundang-undangan Penguatan inovasi secara garis besar ditandai adanya elemen-elemen/aktor yang melakukan jejaring untuk saling berinteraksi menghasilkan inovasi. Olahraga. Science and Technology. infrastruktur sosial. maka secara konseptual dapat diperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang. Tahap berikutnya adalah dukungan kegiatan perekayasaan. serta peraturan perundang-undangan lainnya berkaitan dengan infrastruktur sosial. fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan difusi teknologi yang berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. pendidikan. tradisi. Kinerja dan perkembangan inovasi nasional sangat dipengaruhi oleh peraturan perundangundangan maupun kebijakan di berbagai sektor yang terkait. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga yang tercakup dalam penguatan inovasi akan menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. Pada ketiga tahapan posisi dan peran lembaga intermediasi sangat diperlukan dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. bidang pendidikan. Peraturan ini terutama terkait dengan peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi. dan karakter bangsa. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. secara umum penguatan inovasi antar elemen-elemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang. bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. perdagangan dan industri. Sport. Padahal lembaga penelitian. Lembaga-lembaga ini merupakan lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. 18 Tahun 2002 . Menurut konsepsi ini. Mengacu pada strategi penguatan inovasi dari Kementerian Pendidikan. bidang ketenagakerjaan. Budaya. 46 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. bidang pendidikan.

karena daya tarik utama bagi para investor untuk menanamkam modalnya adalah ukuran pasar domestik dan laju pertumbuhan pasar domestik dari negara tujuan invenstasi tersebut. maka akan semakin menarik bagi kalangan bisnis untuk berinvestasi dan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. dan Australia (Gambar 3). Peningkatan permintaan barang dan jasa yang lebih banyak dan/atau lebih bermutu akan meningkatkan kebutuhan industri akan teknologi yang lebih sesuai. Survei yang dilakukan oleh UNCTAD (2009) tentang prospek investasi dunia ( World Investment Prospects Survey) menyimpulkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 9 dunia. berturut-turut dari peringkat 17 (2008). Untuk periode 20082010. peringkat ini perlu dilihat secara cermat. ketersediaan dan kemurahan upah tenaga kerja. dan efektivitas peran pemerintah. Dengan demikian perekonomian tidak dapat tumbuh secara ber-kesinambungan jika kondisi makro ekonomi tidak stabil. akses untuk pengelolaan sumberdaya alam. sehingga akan sangat menentukan tingkat daya saing (competitiveness) suatu negara. Walaupun tentu saja. Rusia. Dinamika ini membuka peluang dan tantangan bagi lembaga pengembang teknologi untuk melakukan riset yang relevan dengan kebutuhan industri.2 dan menduduki peringkat 35 dari 139 negara yang disurvei. Perusahaan tidak dapat berbisnis secara efisien dan bergairah jika inflasi tidak dapat diprediksi. Peningkatan kapasitas pasar bermakna peningkatan permintaan masyarakat akan barang dan jasa. Jika persepsi masyarakat dunia terhadap stabilitas makro ekonomi ini dapat terus dipelihara dan jika mungkin terus ditingkatkan. India. Jerman. berdasarkan survei WEF peringkat ukuran pasar domestik Indonesia juga terus meningkat. Pemerintah tidak akan dapat melakukan pelayanan publik dengan baik. skor untuk stabilitas makro ekonomi Indonesia pada tahun 2010 mencapai 5.1. jika selalu terbelit hutang dan keharusan membayarnya dengan suku bunga tinggi atau dalam kondisi cenkeraman persoalan makro ekonomi yang tidak mampu dituntaskan. 2010). 18 Tahun 2002 . Tumbuh kembang kegiatan bisnis akan membuka peluang untuk peningkatan daya beli masyarakat dan memperbesar kapasitas pasar domestik (market size). Bidang Perindustrian dan Perdagangan Stabilitas makro ekonomi sangat penting bagi dunia bisnis. Kondisi makro ekonomi Indonesia untuk periode 2008-2010 tergolong stabil. 47 Naskah Akademik Perubahan UU No. baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Inggeris. Amerika Serikat. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF. Pasar domestik Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi investor asing jika Indonesia tidak mampu membangun SINas yang kuat untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. produktivitas suatu negara tidak hanya ditentukan oleh stabilitas makro ekonominya. Dua faktor ini lebih dominan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi dibandingkan dengan program insentif yang ditawarkan. setelah Cina. Makro ekonomi yang terpelihara stabilitasnya dan kapasitas pasar domestik yang terus membesar merupakan ekosistem yang positif untuk tumbuh-kembang SINas. Brazil. Indonesia dengan penduduknya yang lebih dari 237 juta jiwa dengan daya beli yang relatif baik merupakan pasar domestik yang sangat potensial bagi investor asing. Namun demikian. menjadi 16 (2009) dan 15 (2010).

diutamakan sudah merupakan produk-produk jadi yang dibutuhkan oleh konsumen akhir (consumer products). survei WEF juga memperlihatkan terjadinya peningkatan peringkat Indonesia dari 47 menjadi 36. Apalagi pengembangan sumberdaya manusia dan iptek telah dipilih sebagai salah satu dari tiga strategi utamanya. 48 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pada kurun waktu yang sama (2008-2010). terutama untuk ekspor. 32 Tahu 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah menetapkan enam koridor pembangunan ekonomi sesuai dengan potensi sumberdaya setempat perlu dibarengi dengan upaya membangun penguatan inovasi yang berkesesuaian. Kebijakan yang berorientasi untuk mendorong ekspor agar lebih diprioritaskan pada produk jadi. Kinerja dan perkembangan SINas akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan di berbagai sektor yang terkait. termasuk perdagangan dan industri. Gambar 3. maka SINas akan lebih dirasakan geliatnya.Jika peningkatan kebutuhan teknologi yang relevan ini dikomunikasikan oleh industri ke pihak pengembang teknologi dan pihak pengembang teknologi mampu menyediakan paket teknologi yang tidak hanya relevan. tetapi juga handal dan sesuai kapasitas adopsi pelaku bisnis. Harus ada dorongan agar produk barang dan jasa yang diperdagangkan. 18 Tahun 2002 . Peringkat daya tarik Indonesia bagi investor asing Kebijakan pembangunan perekonomian Indonesia yang baru diluncurkan yang dikemas dalam Keppres No.

Sejak akhir tahun 1980-an sudah mulai ada produk dengan muatan teknologi tinggi. tetapi pada akhir tahun 2000-an kembali menurun menjadi sekitar 10 persen. misalnya produk sawit yang diekspor masih sangat dominan berbentuk minyak sawit kasar (crude palm oil. sekaligus membuka lapangan kerja. Persentase ekspor produk Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi. tetapi dirasakan masih belum optimal. Sumber: The World Bank. kemudian secara berangsur naik dan mencapai puncaknya pada awal tahun 2000-an yang mencapai kisaran antara 14-16 persen. pada Rapim Lengkap Kementerian Riset dan Teknologi. tetapi perlu didorong untuk mengekspor barang jadi yang diproduksi di dalam negeri dengan memanfaatkan tenaga kerja dan teknologi nasional. bahwa seharusnya Indonesia tidak mengekspor bahan baku dan keringat. Menteri Negara Riset dan Teknologi. periode 1989-2008 22 Disampaikan oleh Suharna Surapranata. tetapi lebih didorong untuk mengekspor produk yang dihasilkan dengan keringat anak bangsa di dalam negeri. dan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. Bermakna bahwa sebaiknya tidak mengekspor bahan mentah dan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. karena cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. Indonesia saat ini masih dominan mengekspor komoditas atau bahan mentah (raw materials) atau produk-produk setengah-jadi (intermediate products) yang secara ekonomi merugikan dan secara ekologi kurang bersahabat. tetapi masih sangat rendah. 18 Tahun 2002 .com (18 Januari 2011) Gambar 4. yakni hanya sekitar 1 persen. Ekspor dalam bentuk produk dengan muatan teknologi tinggi sudah ada namun masih relatif rendah porsinya (Gambar 4). Ungkapan yang dikemukakan Surapranata (2011) patut direnungkan. 22 Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas atau produk ekspor sudah dilakukan.merupakan bentuk kebijakan yang secara nyata akan mendorong adopsi teknologi pada industri-industri di dalam negeri. dan meningkatkan nilai tambah produk yang diekspor. 49 Naskah Akademik Perubahan UU No. diunduh dari tradingeconomics. hari selasa 18 Januari 2011. disingkat CPO).

Kontribusi produk teknologi tinggi ini masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai total ekspor Indonesia pada periode tersebut.Saat ini Indonesia masih dihadapkan pada dua kendala yang menjadi tantangan utama. Indonesia tak akan mampu membangun kemandirian perekonomiannya jika tidak mampu mengatasi dua tantangan utama ini. dan secara ekonomi kompetitif dibanding produk teknologi serupa yang tersedia di pasar dunia. kegiatan penanaman modal di Indonesia dapat memperoleh fasilitas. Tujuan penyelenggaraan penanaman modal. dan [2] belum siapnya teknologi nasional untuk menyokong tumbuh kembang industri hilir tersebut. mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan. 1. menciptakan lapangan kerja. Indonesia memang juga telah mengekspor produk teknologi tinggi. seperti produk kedirgantaraan (aerospace). handal. baik di sektor pertanian (terutama perkebunan) maupun di sektor pertambangan. antara lain untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Menurut UU No. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Perdagangan dan Industri. meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan.1.5 milyar dolar Amerika (Tabel 2). Pasal 10 Ayat (4) menyebutkan bahwa perusahaan penanaman modal yang mempekerjakan tenaga kerja asing diwajibkan menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. b. penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. 1. komputer. instrumen riset (scientific instruments). serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing. termasuk skala prioritas tinggi.1. 50 Naskah Akademik Perubahan UU No. Namun demikian. 18 Tahun 2002 .1. yakni: [1] keterbatasan kapasitas investasi nasional di sektor industri hilir untuk mengolah bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi produk jadi. yakni kapasitas untuk mengembangkan teknologi yang relevan. Pasal 18 Ayat (3) menyebutkan. Selain itu terkait dengan riset. bahwa untuk mendapatkan fasilitas sekurang-kurangnya kegiatan penanaman modal memenuhi salah satu kriteria berikut ini: a. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional.4 sampai 6. sedangkan investor asing lebih banyak tertarik pada bidang usaha yang terkait dengan eksploitasi sumberdaya alam. Sebagai upaya mendorong kemampuan teknologi nasional. yakni hanya berfluktuasi sekitar 4. nilai ekspor produk-produk bermuatan teknologi tinggi tersebut sejak tahun 2000 tidak mengalami kemajuan yang berarti dan relatif stagnan. farmasi (pharmaceuticals). menyerap banyak tenaga kerja. dan electrical machinery. Produk dengan muatan teknologi tinggi mencakup produk-produk yang membutuhkan intensitas R&D tinggi. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

pemasaran. alih teknologi maupun inovasi merupakan salah satu strategi yang perlu dikembangkan. dan menguntungkan.1. 18 Tahun 2002 Peraturan perundang-undangan ini antara lain menyebutkan. (b) pemasaran. f. daerah g. Kecil. berada di daerah terpencil. Kecil. pengembangan. Kecil. j. dunia usaha. meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru. i. meningkatkan kerjasama dan alih teknologi. melaksanakan kegiatan penelitian. serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. permodalan. dan inovasi. 1. atau daerah lain yang dianggap perlu. menengah atau koperasi. perbatasan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. inovasi termasuk kriteria yang dapat diajukan untuk memperoleh fasilitas penanaman modal. dan Menengah yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang (a) produksi dan pengolahan. Guna mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. mendukung. meningkatkan kemampuan di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu. Menurut ketentuan di atas. industri yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi di dalam negeri. b. daerah tertinggal. bermitra dengan usaha mikro. Selanjutnya dalam pasal ini disebutkan mengenai kemungkinan pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan dalam jumlah dan waktu tertentu.2. atau k. mendorong Usaha Mikro. (c) sumber daya manusia. melakukan industri pionir. dan (d) desain dan teknologi. Industri pionir adalah industri yang memiliki keterkaitan luas. dan e. memberikan insentif kepada Usaha Mikro. memperkenalkan teknologi baru. e. Kemitraan antar UMKM dengan Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi dan pengolahan. c. melakukan alih teknologi. dan menstimulasi kegiatan kemitraan yang saling membutuhkan. termasuk pembangunan infrastruktur. terutama bagi penanaman modal baru bagi industry pionir. memperkuat. pemerintah daerah. mempercayai. menjaga kelestarian lingkungan hidup. kecil. pemerintah.c. mempunyai nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi. d. sumber 51 Naskah Akademik Perubahan UU No. Selanjutnya terkait dengan pengembangan dalam bidang desain dan teknologi. dan masyarakat dapat memfasilitasi. dan Menengah a. dan Menengah untuk memperoleh sertifikat hak atas kekayaan intelektual. d. h. Selain itu UMKM dapat melakukan: .

pembebasan cukai. dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. dan Ayat (2) menyebutkan. penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri. bisnis. penyerapan tenaga kerja. Pasal 30 menyebutkan bahwa (1) setiap wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha di KEK diberikan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh).1. Menurut UU No. dan 52 Naskah Akademik Perubahan UU No. tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk barang kena pajak. dan inkubator lainnya sesuai dengan potensi dan sumber daya ekonomi lokal. pariwisata.3. Sementara dukungan kelembagaan ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator. Kecil. Pengusaha mendapat fasilitas dan kemudahan dalam KEK. Yang dimaksud dengan “inkubator” adalah lembaga yang menyediakan layanan penumbuhan wirausaha baru dan perkuatan akses sumber daya kemajuan usaha kepada Usaha Mikro. antara lain: a. pengembangan teknologi. menyebutkan bahwa impor barang ke KEK dapat diberikan fasilitas berupa. selain fasilitas PPh dapat diberikan tambahan fasilitas PPh sesuai dengan karakteristik zona. serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. UMKM yang melakukan kemitraan dimungkinkan untuk mendapatkan insentif. Kecil. Pasal 32 ayat (1). dan teknologi. dan Menengah sebagai mitra usahanya. b. Selain itu. Inkubator yang dikembangkan meliputi: inkubator teknologi. c. penangguhan bea masuk. logistik. sebagai upaya pengembangan teknologi tertentu untuk meningkatkan daya saing produk barang dan jasa.daya manusia. Adapun yang dimaksud dengan “lembaga layanan pengembangan usaha” (bussines development services-providers) adalah lembaga yang memberikan jasa konsultasi dan pendampingan untuk mengembangkan Usaha Mikro. KEK terdiri atas satu atau beberapa zona. 18 Tahun 2002 . Menurut Pasal 25. sepanjang barang tersebut merupakan bahan baku atau bahan penolong produksi. 1. konsultan keuangan mitra bank. Upaya-upaya penguatan inovasi dapat masuk KEK. Menteri dan Menteri Teknis mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan UMKM melalui inovasi dan pengembangan produk berorientasi ekspor. lembaga layanan pengembangan usaha. dan energi yang kegiatannya dapat ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum RI yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. antara lain zona pengolahan ekspor. ekspor. dan Menengah. dan lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan Usaha Mikro. industri. 20 Tahun 2008. Kecil. impor. dan Menengah.

dan kemudahan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Permohonan pemberian fasilitas diajukan kepada Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi. disamping manajemen dan kewiraswastaan.1. f. Selain itu. dan industri yang melakukan alih teknologi. Bidang Keuangan dan Perpajakan 2. c. 2. peningkatan kapasitas kelembagaan teknologi dalam mendukung sistem produksi. Fasilitas tersebut berupa insentif fiskal. meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan iptek untuk menciptakan dan menyerap teknologi dan invoasi yang berorientasi pasar. Ada pula penghasilan wajib pajak yang dapat dijadikan faktor pengurang pajak 53 Naskah Akademik Perubahan UU No. insentif non-fiskal.1. produk melalui teknologi tepat guna.1. g. tidak dipungut PPh impor. Perpres No. Meskipun insentif fiskal diberikan oleh Kementerian Keuangan. pengembangan dan inovasi. d. 28 Tahun 2008 juga menekankan perlunya pengembangan teknologi industri melalui: a. 36 Tahun 2008 disebutkan tidak semua penghasilan menjadi obyek pengenaan pajak. e. 2. peningkatan kapasitas (pendalaman) teknologi pada sistem produksi. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional Terkait dengan penguatan inovasi. namun demikian bentuk insentif non fiskal maupun kemudahan lainnya merupakan peluang untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang diperlukan. peningkatan intermediasi dan pola insentif yang mendorong kemitraan dan kegiatan litbang di dunia usaha. pengembangan sumberdaya manusia sektor industri secara intensif melalui akselerasi transformasi teknologi. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Keuangan dan Perpajakan. Pemerintah dapat memberikan fasilitas. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Dalam UU No. peningkatan jumlah penemuan baru hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan oleh sistem produksi. antara lain kepada kepada: industri yang melakukan penelitian.d. peningkatan kapasitas difusi teknologi pada sistem produksi. 28 Tahun 2008 memungkinkan pengembangan kebijakan dalam upaya peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka penghematan. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional antara lain menyebutkan. b. 18 Tahun 2002 . Perpres No. Sebagai upaya mendorong penguatan inovasi nasional. mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri dan pembentukan lembaga R&D dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan bahan baku alternatif. 1.1.4.

1. Selanjutnya dalam peraturan pelaksanaannya. dan 54 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pembebasan bea masuk diberikan berdasarkan rekomendasi dari kementerian terkait. Wajib pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerahdaerah tertentu dapat diberikan insentif dan fasilitas pajak penghasilan. yaitu “biaya penelitian perusahaan dan/atau sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan di Indonesia”. Pasal 2 menyebutkan bahwa wajib pajak badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi dapat diberikan fasilitas pajak penghasilan berupa: (a) pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman modal. Ketentuan UU No.3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Menurut UU No. menurut PP No. inovasi dan investasi riset dan pengembangan badan usaha/industri di Indonesia. Adanya ketentuan pengecualian sebagai obyek pajak atau pengurangan penghasilan bruto merupakan fasilitas atau insentif di bidang perpajakan yang diberikan untuk mendorong kemampuan riset. yang menjadi faktor pengurang (tax deduction) penghasilan bruto. pemerintah dapat memberikan fasilitas insentif pajak. antara lain yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan.penghasilan bruto.2. Insentif ini berupa pembebasan bea masuk atas impor buku ilmu pengetahuan dan barang atau peralatan untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan (Pasal 25). Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu Sejalan dengan upaya penguatan inovasi maupun investasi di bidang riset swasta di Indonesia. (c) pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen yang dibayarkan kepada Subjek Pajak Luar Negeri sebesar 10% (sepuluh persen). 17 Tahun 2006 ini dimungkinkan pemberian insentif dan fasilitas untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. 2. atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku. 18 Tahun 2002 . 1 Tahun 2007. bukan menjadi obyek pajak adalah “sisa lebih yang diterima atau diperoleh lembaga atau badan nirlaba di bidang pendidikan formal dan/atau penelitian dan pengembangan yang ditanamkan kembali dalam jangka waktu 4 tahun”. dibebankan selama 6 (enam) tahun masing-masing sebesar 5 % (lima persen) per tahun. 2. 36 Tahun 2008 menyebutkan.1. (b) penyusutan dan amortisasi yang dipercepat. Yang dimaksud dengan barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yaitu barang atau peralatan yang digunakan untuk melakukan penelitian/riset atau percobaan guna peningkatan atau pengembangan suatu penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

diharapkan dapat meningkatkan pendanaan riset dari pihak swasta. b. Sumbangan dari pihak swasta ini akan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai paling lama 10 (sepuluh) tahun. Pasal 1 menyebutkan bahwa sumbangan dan/atau biaya terkait penelitian dan pengembangan dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam satu tahun. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 55 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan/ atau c) memiliki potensi pengembalian investasi yang besar. Bagi wajib pajak swasta yang menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan iptek dapat memperoleh fasilitas pajak/keringanan pajak. impor barang modal atau peralatan lain oleh PDKB yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas : a. impor barang dan/atau bahan untuk diolah di PDKB. c. diberikan perlakuan di bidang Pajak Penghasilan (fasilitas perpajakan) sebagai berikut: a.1. dan Biaya Pembangunan Infrastuktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto PP No. 36 Tahun 2008). pajak penghasilan menurut Pasal 26 atas dividen sebesar 10%. untuk selanjutnya disebut DPIL.4. 2. 93 Tahun 2010 merupakan aturan pelaksanaan UU No. b. Melalui peraturan ini. Setiap Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) di dalam wilayah KAPET juga dapat diberikan fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. Sedangkan yang dimaksudkan KAPET. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlakuan Perpajakan Di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Peraturan ini memuat ketentuan berkaitan dengan perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (yang telah diubah dengan UU No. pemasukan Barang Kena Pajak dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu adalah wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan: a) memiliki potensi untuk cepat tumbuh.(d) kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. 18 Tahun 2002 .1.5. c. Pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di dalam KAPET. penyusutan dan atau amortisasi yang dipercepat. dan/atau. kompensasi kerugian fiskal. menurut Keppres No. ke PDKB untuk diolah lebih lanjut. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. 2. b) mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya.

Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.d. 18 Tahun 2002 menyatakan bahwa “Pemerintah wajib merumuskan arah. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 3. Kunci penting untuk terlaksananya sinergisme kerja antar unsur Sisnas Iptek adalah terbangunnya suatu sistem perencanaan pembangunan nasional Iptek dalam jangka pendek.1. UU No. maupun jangka panjang.1. dan masyarakat untuk berperan serta secara aktif. badan usaha dan lembaga penunjang lainnya) untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih besar dibandingkan apabila masing-masing unsur kelembagaan berjalan secara sendiri-sendiri. 18 Tahun 2002 3) menggalakkan pembentukan jaringan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut.18 Tahun 2002 memberikan manfaat besar bagi pengembangan Iptek di Indonesia. memperkuat. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. 4) mengikat semua pihak. Dalam rangka memadukan sinergisme kerja berbagai unsur kelembagaan Iptek. dan . prioritas utama. g. 2) mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumber daya Iptek secara lebih efektif. perguruan tinggi. Untuk mengembangkan jaringan tersebut seluruh elemen Sisnas Iptek wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal. 3. e. f. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai perlunya penguatan jaringan sistem nasional penelitian. 3. penyerahan kembali Barang Kena Pajak hasil pekerjaan subkontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di DPIL atau PDKB lainnya kepada Pengusaha Kena Pajak PDKB asal. pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka subkontrak. pemerintah. dan penerapan iptek (sisnas litbangrap iptek). dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang Iptek” yang dituangkan sebagai “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek”. menengah. Pasal 18 dan 19 UU No.1. pengembangan. karena: 1) memberikan landasan hukum. 56 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemerintah daerah. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Diundangkannnya UU No. Jaringan tersebut berfungsi untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur unsur kelembagaan iptek (lembaga litbang. melengkapi.

18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai kewajiban Pemerintah Daerah untuk merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan pembangunan daerah Iptek yang dituangkan dalam “kebijakan strategis pembangunan Iptek di daerah”. 2) penguatan pertumbuhan industri berbasis hasil litbang. Dalam perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek. pengembangan. dan badan usaha yang melaksanakannya (Pasal 13 ayat (4)). dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. Dalam skala yang lebih kecil. bangsa. 4) Mengembangkan instrumen kebijakan yang diperlukan. lembaga riset. dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.Salah satu kewajiban Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam UU No. Menteri antara lain wajib memperhatikan pentingnya upaya penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. pengembangan. Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek dibentuk Dewan Riset Nasional dan Dewan Riset Daerah. Dalam upaya penguatan inovasi. peraturan perundang-undangan ini sangat menekankan pentingnya pembentukan jaringan yang menjalin hubungan interaktif semua unsur kelembagaan iptek sehingga kapasitas dan kemampuannya dapat bersinergi secara optimal. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. dapat dikatakan UU No. 18 Tahun 2002 adalah mengkoordinasikan perumusan “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek” dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. 18 Tahun 2002 dapat menjadi acuan. 3) penguatan kemampuan audit teknologi yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan demikian. Pemerintah Daerah juga dalam merumuskan kebijakan strategisnya harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. inovasi. Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri (Pasal 16 ayat (3)). Seperti halnya di tingkat nasional. Menteri wajib memperhatikan: 1) penguatan ilmu dasar dan kapasitas litbang. perekayasaan. 18 Tahun 2002 . dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. Pasal 20 UU No. Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. antara lain: a. beberapa ketentuan dalam UU No. b. 18 Tahun 2002 merupakan pedoman dan landasan hukum utama dalam pelaksanaan pembangunan iptek nasional. dan difusi 57 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sebagai Undang-Undang yang mengatur sistem iptek nasional. c.

Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain (Pasal 28 ayat (2)). dimana disebutkan kegiatan litbang asing dilakukan atas dasar izin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penelitian bagi orang asing. 31 Tahun 2009 menyebutkan pengembangan industri meteorologi.1. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan (Pasal 28 ayat (1)). pemanfaatan. Klimatologi. 39 Tahun 1995 mempunyai keterkaitan dengan PP No. Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. f. e. 18 Tahun 2002. 3. klimatologi. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. 39 Tahun 1995 litbang kesehatan dapat diselenggarakan oleh lembaga asing. Peraturan ini memberi kewenangan kepada Menteri yang membidangi riset dan teknologi untuk memberikan rekomendasi insentif – di bidang perpajakan maupun bantuan teknis (technical assistance) – 58 Naskah Akademik Perubahan UU No. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. atau melibatkan peneliti asing. litbang kesehatan bertujuan untuk memberikan masukan iptek serta pengetahuan lain yang diperlukan untuk menunjang pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Dalam Pasal 2 disebutkan. klimatologi. dan geofisika yang mencakup inovasi dan alih teknologi harus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nasional. Inovasi dan Difusi Teknologi Peraturan ini merupakan peraturan pelaksanan UU No.3.1. atau kerja sama dengan lembaga asing yang memenuhi persyaratan. 18 Tahun 2002 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan . dan Geofisika UU No. Pasal 78 UU No. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. Pengaturan kegiatan litbang asing dalam PP No.teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan (Pasal 19 ayat (3) huruf b.).1.2.4. 3. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah (Pasal 26). PP ini merupakan peraturan pelaksanaan ketentuan Pasal 69 UU No. 31 Tahun 2009 secara tegas menekankan perlunya penguatan inovasi dan alih teknologi dalam pengembangan industri meteorologi. 3. dan geofisika. d. Menurut PP No. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi. inovasi. Badan Usaha Asing dan Orang Asing.

seperti Pasal 26 huruf a 59 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan difusi teknologi di badan usaha. Keputusan persetujuan dan penolakan pemberian insentif tetap berada dalam kewenangan masing-masing instansi yang berwenang dimaksud. badan usaha dapat mengajukan permohonan rekomendasi insentif litbang kepada Menteri. PP No. PP No. 18 Tahun 2002 . Sehingga persoalannya bukan pada kekosongan peraturan. Sementara itu. antara lain berkaitan dengan bagaimana kriteria yang menentukan badan usaha mendapatkan tax deduction. Selain itu. mengingat regulasi masih menyisakan sejumlah pertanyaan selain sifatnya cenderung sektoral sehingga tidak mudah implementasinya. Pelaksanaan insentif bantuan teknis terkait dengan ketentuan UU Kepegawaian. beberapa ketentuan dalam PP No. Namun dalam hal ini. 36/2008 tentang Pajak Penghasilan. 20 Tahun 2005 menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset/riset dengan badan usaha. PP No. Berdasarkan peraturan ini. 93 Tahun 2010 dan UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan merupakan beberapa peraturan perundang-undangan yang menyediakan insentif riset. namun bagaimana penyusunan kebijakan pelaksanaannya dapat bersinergi dengan baik. yang menekankan pentingnya alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan-kegiatan litbang agar memberikan nilai tambah ekonomi dan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidup. 35 Tahun 2007 berkaitan erat dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan (insentif fiskal).dalam rangka mendorong kemampuan peningkatan perekayasaan.5. Pertanyaan menyangkut UU No. sebenarnya pemerintah sudah berupaya mengakelarasi kegiatan riset dan inovasi dunia usaha atau untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta. atau bagaimana urgensi dan pengaruh pemberian fasilitas/insentif terkait dengan usaha peningkatan kemampuan inovasi nasional. perekayasan dan dosen atau pemanfaatan laboratorium-laboratorium milik pemerintah. inovasi. insentif bantuan teknis (insentif non fiskal) berhubungan dengan penempatan tenaga ahli peneliti. kewenangan Menteri hanya sebatas memberikan rekomendasi scientific opinion kepada instansi yang berwenang dibidang perpajakan maupun lembaga pemberi bantuan teknis. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Peraturan Pemerintah ini merupakan penjabaran Pasal 16 ayat (3) UU No. Dari sisi regulasi. 1/2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. 3. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS maupun ketentuan-ketentuan yang terkait dengan aturan tentang lembaga Kementerian LPNK dan LPK. UU No.1. PP No. Upaya ini mutlak dilakukan. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan misalnya. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. Ketentuan dan pelaksanaan insentif atau fasilitas perpajakan yang dimaksud dalam PP No. 12 Tahun 2002 jo. 18 Tahun 2002.

ekonomis. b. dan/atau (d) pengembangan eksperimental. dan ramah lingkungan serta menghargai kearifan tradisi/budaya lokal. dan dapat bekerja sama dengan lembaga litbang pemerintah provinsi.7. berdaya saing tinggi. Upaya ini diharapkan juga mendorong inovasi di sektor usaha. pelaku usaha perikanan. Tujuan pelaporan adalah untuk mendayagunakan hasil kegiatan penelitian dan pengembangan yang dibiayai oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan hidupnya. 3. serta pengelolaannya kepada Menteri. meningkatkan kemandirian dalam penguasaan iptek di bidang perikanan. dan masyarakat.yang menyatakan bahwa sinergi berprinsip mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber daya tertentu untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat tertentu. pendidikan dan pelatihan serta kegiatan lain yang dapat mempercepat pembangunan perikanan.1. dan c. lembaga litbang kabupaten/kota. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Menurut PP No. Sedang Pasal 20. 18 Tahun 2002 . Pasal 15 menyebutkan penyelenggaraan litbang perikanan dapat bekerja sama dengan pelaksana litbang. efisien. asistensi teknis litbang. menyatakan bahwa sinergi perguruan tinggi dan lembaga litbang dengan lembaga riset lainnya dapat dilakukan antara lain dengan mekanisme perjanjian kerjasama maupun perjanjian lisensi. menyiapkan dan menyediakan basis ilmiah yang kuat dan teknologi tepat guna sebagai kunci dalam menyusun kebijakan pengelolaan dan pengembangan usaha perikanan agar lebih efektif. 12 Tahun 2010 kegiatan litbang kehutanan meliputi kegiatan: (a) penelitian dasar. antara lain Peraturan Menteri Negara Riset Dan Teknologi No. Hasil Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Dan Hasil Pengelolaannya. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan. badan usaha. hasil kegiatan penelitian dan pengembangan milik pemerintah dan/atau pemerintah daerah. penyediaan dana dan sarana litbang. 3. Di dalam peraturan menteri ini.1. asosiasi perikanan. kegiatan litbang kehutanan diselenggarakan oleh Pemerintah. perguruan tinggi. Dalam rangka pengembangan kerjasama litbang perikanan. mengungkapkan dan memahami potensi dan permasalahan sumber daya ikan dan lingkungannya serta mengembangkan teknologi pengelolaan perikanan dan konservasi sumber daya ikan. 30 Tahun 2008 penyelenggaraan litbang perikanan bertujuan untuk: a. 04/M/PER/III/2007 tentang Tata Cara Pelaporan Kekayaan Intelektual.6. PP ini juga menyebutkan. (b) penelitian terapan. Kerjasama ini meliputi penyediaan tenaga ahli. (c) penelitian kebijakan. Serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Menurut PP No. 60 Naskah Akademik Perubahan UU No. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan harus melaporkan hak kekayaan intelektual yang telah diperoleh dan/atau yang sedang dalam proses pendaftaran. Sebagai peraturan pelaksanaannya. dan/atau lembaga litbang milik asing.

Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional Kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. sebagaimana PP No. (b) memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. mendukung. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. Dalam Perpres ini yang dimaksud dengan SINas adalah “suatu jaringan rantai antara institusi publik. serta diklat kehutanan dilaksanakan dengan memperhatikan: a. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan Sistem Inovasi Nasional (SINas) guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. Dalam rangka penguatan SINas ini dibentuk Komite Inovasi Nasional (KIN). Selanjutnya di ayat (2)-nya disebutkan lembaga litbang asing. perguruan tinggi asing. Pasal 22 menyebutkan. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. atau badan usaha asing dapat menyelenggarakan litbang kehutanan setelah mendapatkan izin dari instansi Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. potensi dan karakteristik biofisik setempat guna menjamin terjaganya kekayaan plasma nutfah khas Indonesia dari pencurian atau gangguan lainnya yang mengancam punahnya plasma nutfah tersebut. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. 23 Tahun 2010. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. kearifan tradisional. terintegrasi.1. serta kondisi social budaya masyarakat. penguatan SINas diutamakan mencakup inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. peneliti asing. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). peneliti asing. ketahanan energi. transportasi dan industri pertahanan. atau badan usaha asing dalam menyelenggarakan litbang kehutanan harus bekerja sama dengan Badan Litbang Kehutanan Kementerian. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghasilkan produk produk inovatif. mendayagunakan. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. terpadu. 3. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. industriinfrastruktur.Penyelenggaraan litbang. 12 Tahun 2010 juga mempunyai keterkaitan dengan PP No. lembaga litbang asing. b. 61 Naskah Akademik Perubahan UU No. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. dan (c) melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program penguatan SINas. perguruan tinggi asing. manajemen bencana alam. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. industri manufaktur.” KIN mempunyai tugas untuk: (a) membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. lembaga riset dan teknologi.8. Menurut Perpres No. bioteknologi. PP No. Berkaitan dengan kerjasama penelitian internasional. 18 Tahun 2002 .

tugas utama DRN adalah : a. 3.3.698 4. Koordinasi dilakukan terutama untuk menentukan dan melaksanakan arah kebijakan. dan strata 1 lebih dilihat relevansinya sebagai elemen pendukung penguatan kapasitas adopsi dari sisi pengguna teknologi. 62 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. 16 Tahun 2005. jenjang pendidikan yang paling relevan adalah pada strata 2 dan 3 untuk dukungan kemampuan individual dan kapasitas pengembangan teknologi nasional. pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. Bidang Pendidikan.1. Lebih spesifik berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang pendidikan menengah. prioritas utama dan kerangka kebijakan pemerintah dalam pembangunan iptek secara nasional.9. Dalam konteks penguatan inovasi. program diploma.403 5. 18 Tahun 2002 .1.070 4. prioritas utama maupun kerangka kebijakan di bidang penelitian. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Dewan Riset Nasional (DRN) Peraturan Presiden tentang DRN mengatur tentang pelaksanaan tugas DRN dalam membantu Menteri dalam merumuskan arah. yakni sebagai tenaga kerja terampil untuk aplikasi teknologi di perusahaan industri. memberikan berbagai pertimbangan kepada Menristek dalam penyusunan kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan. Perumusan Jakstranas Iptek dilakukan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi secara terkoordinasi dengan instansi-instansi terkait. Sesuai Perpres No.672 5. DRN memperhatikan pemikiran dan pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. atau usaha mandiri skala kecil dan menengah. membantu Menteri dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. 4.10. Dalam melaksanakan tugasnya itu. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Instruksi Presiden dalam memberi arahan perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan strategis pembangunan nasional iptek (Jakstranas Iptek). Tahun 1989 1990 1991 1992 1993 23 Nilai Ekspor (juta USD) 79 112 197 465 850 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 Nilai Ekspor (juta USD) 2.580 Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. sedangkan pendidikan menengah kejuruan23. b.

17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. tetapi arus utamanya harus diakui masih murni berorientasi akademik. atau [2] meningkatkan kemampuannya sebagai pengembang teknologi. Dengan kata lain.250 2. Sebagai contoh. disamping mutu pendidikan. Beberapa pengecualian tentu ada.808 6. riset tugas akhir program strata 2 dan 3 (thesis dan disertasi) masih dominan diposisikan hanya sebagai indikator penguasaan bidang ilmu yang sesuai dengan program studi yang diikuti. kegiatan tugas akhir yang hanya berorientasi akademik hanya diimplementasikan sampai pada jenjang strata 1 atau program diploma.1994 1995 1996 1997 1998 1.900 5. Idealnya. Persentase ekspor Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi untuk periode 1989-2008 Sumber : The World Bank. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap24 dan cukup banyak pula yang berkerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya.340 1. Pendidikan program diploma dan sekolah menengah kejuruan sejak awal dirancang untuk menyiapkan tenaga terdidik dan terampil yang siap bekerja. 63 Naskah Akademik Perubahan UU No. PP No.658 2. 24 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. Lulusan strata 1 kemudian dapat memilih alur karirnya untuk berkiprah: [1] memperkuat kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna. karena lulusan pada jenjang ini memang masih lebih diposisikan sebagai langkah penyiapan tenaga berpengetahuan dasar yang cukup dan/atau mempunyai ketrampilan di bidangnya masing-masing. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. ataupun kebutuhan pemerintah.561 2. 18 Tahun 2002 .625 Tabel 2.com (18 Januari 2011) Secara umum program pendidikan Indonesia belum dirancang agar dapat optimal mendukung tumbuh kembang inovasi. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi sistem inovasi nasional. diunduh dari tradingeconomics.225 5.571 5. topik riset masih ditentukan oleh keinginan mahasiswa dan arahan pembimbing/promotornya. industri. belum didorong oleh kesadaran agar hasil riset tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Konsepsi sistem inovasi nasional yang sangat baik sekalipun hanya akan bisa diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. Namun dalam prakteknya.188 2004 2005 2006 2007 2008 5. sedangkan upaya untuk meningkatkan relevansinya dengan realita di bidang ilmu yang bersangkutan masih dirasakan minimal.

kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dengan memperhatikan: a. tuntutan dunia kerja. d. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap25 dan cukup banyak pula yang bekerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. UU No. peningkatan potensi. i. Peraturan Pemerintah Nomor Penyelenggaraan Pendidikan 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”.4.1. Kewajiban yang pertama dikenal sebagai ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Terkait dengan kegiatan penelitian. tuntutan pembangunan daerah dan nasional. f. dan j. UU No.2. penelitian. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. 25 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. dan pengabdian kepada masyarakat. 4. h. agama. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. dan pengabdian kepada masyarakat. 18 Tahun 2002 . Peraturan Perundangan-undangan Bidang Pendidikan. Pelaksanaan penelitian terutama dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar. 20 Tahun 2003. Menurut Pasal 36 UU No. dan minat peserta didik. c. 20 Tahun 2003 yang antara lain menyebutkan: (1) bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan.1. Namun dalam prakteknya. g. e. keragaman potensi daerah dan lingkungan. di samping mutu pendidikan. kecerdasan. 4. teknologi. dan seni. Olehkarena itu perkembangan iptek juga merupakan salah satu materi kurikulum. dan (2) Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi.1. perkembangan ilmu pengetahuan. penelitian ilmiah. 64 Naskah Akademik Perubahan UU No. dinamika perkembangan global. b. peningkatan akhlak mulia.1. peningkatan iman dan takwa.

Pembangunan ketenagakerjaan sesuai dengan sifatnya akan lebih berada pada posisi sebagai pemasok kebutuhan tenaga kerja. bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan: [a] memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. dan [d] meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. penelitian.3. 5. [b] mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. budaya. [c] memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. Lebih lanjut dinyatakan pada Pasal 4 UU No. studi serta kesempatan melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. . dan/atau olahraga. 4. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi penguatan inovasi nasional.Konsepsi sistem inovasi yang sangat baik sekalipun hanya akan berhasil apabila dapat diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. teknologi. Oleh sebab itu. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan pengertian tentang tenaga kerja. seni.1. atau pemerintah). 13 Tahun 2003. 37 Tahun 2009. yakni untuk mewujudkan sistem pengelolaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih efektif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan/atau jasa sesuai kebutuhan pengguna (masyarakat. dan pengabdian kepada masyarakat. hubungan yang sinergis dan serasi harus 65 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Kesempatan untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat mencakup kesempatan untuk memperoleh dan/atau memanfaatkan sumber daya pendidikan yang dimiliki oleh Pemerintah. Berdasarkan Pasal 26. penyelenggara pendidikan tinggi atau satuan pendidikan tinggi. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen Menurut PP No. maka terlihat jelas benang merah keterkaitan antara kebijakan ketenagakerjaan dengan upaya penguatan inovasi nasional. dimana kebutuhan (demand) yang menentukan orientasi pembangunan dan pengembangannya. menyebutkan bahwa dosen dapat memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan. dan masyarakat. dosen memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi. dan seni melalui pendidikan. dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. industri. pemerintah daerah. Bidang Ketenagakerjaan. Nuansa ini sangat sejalan dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. 18 Tahun 2002 UU No. teknologi. Butir b Pasal 4 di atas memberikan penegasan bahwa salah satu tujuan pembangunan ketenagakerjaan adalah untuk penyediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. Pasal 32. Apabila dikaitkan dengan tujuan pembangunan SINas sendiri. yakni mencakup setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat (Pasal 1 butir 2). mengembangkan.

SINas. sehingga dengan sendirinya diawali dengan kesenjangan (gap) yang minimal antara kebutuhan penguatan inovasi nasional dengan ketersediaan tenaga kerja domestik. Skenario untuk membangun keterpaduan antara pembangunan SINas dengan penyiapan tenaga kerja pendukungnya saat ini belum diformulasikan. penyiapan tenaga kerja juga tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. Dengan demikian. ketenagakerjaan. sebaliknya jika lebih banyak perannya hanya sebagai objek pembangunan. dan perekonomian nasional Tenaga kerja berperan sekaligus sebagai subjek dan objek pembangunan. Selanjutnya. pengguna & intermediasi Kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional Kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa . 18 Tahun 2002 Lulusan bermutu dan relevan kebutuhan lapangan kerja SDM pengembang. Sistem Pendidikan Nasional Kebijakan ketenagakerjaan Produktivitas Inovasi Nasional Kinerja Perekonomian Nasional Gambar 5. sangat jelas bahwa upaya mewujudkan SINas yang produktif dan efektif dalam memajukan perekonomian nasional membutuhkan keterpaduan dengan kebijakan ketenagakerjaan dan sekaligus juga dengan kebijakan pendidikan nasional (Gambar 5). 66 Naskah Akademik Perubahan UU No. Lebih jauh. Kinerja sektor pendidikan tentu akan menjadi tumpuan utama dalam memperbesar porsi tenaga kerja yang menjadi subjek pembangunan. Penyerasian Sistem Pendidikan. Kemajuan suatu bangsa dan negara sangat tergantung dari peran mana yang lebih besar porsinya yang diperankan oleh tenaga kerja secara kolektif. Dengan demikian maka keberhasilan pembangunan pendidikan harusnya tidak hanya dievaluasi berdasarkan jumlah atau persentase penduduk yang berpartisipasi pada setiap jenjang pendidikan atau persentase populasi yang menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. secara bertahap dilakukan upaya meningkatkan produktivitas penguatan inovasi yang dalam prosesnya tentu mengharuskan adanya peningkatan mutu dan relevansi keahlian tenaga kerja. tetapi perlu juga didasarkan atas persentase jumlah lulusan yang berperan sebagai subjek pembangunan atau sebagai tenaga kerja produktif yang berkontribusi terhadap keberhasilan pembangunan nasional di segala sektor. maka akan sangat berat beban yang diemban untuk memajukan bangsa dan negara tersebut. maka bangsa dan negara tersebut akan berpeluang lebih besar untuk lebih maju. Jika lebih besar perannya sebagai subjek pembangunan yang secara aktif berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Inovasi yang dibangun berbasis pada potensi dan kebutuhan nasional bermakna telah mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. dengan tujuan dan kebutuhan yang jelas.dimulai dengan mewujudkan penguatan inovasi yang lebih mantab.

. 18 Tahun 2002 UU No. tetapi juga karena industri dengan muatan teknologi tinggi masih belum berkembang di Indonesia. tetapi untuk kegiatan-kegiatan ekonomi dengan muatan teknologi yang minimal. dan intermediasi. 5. memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS Tenaga ahli terdiri dari peneliti. 12/ Tahun 2002 jo. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS. 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan : a. Dalam Pasal 3 disebutkan pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. dan Keputusan Kepala BKN No. 5. c. PP No. Tenaga ahli sebagai PNS tunduk kepada UU No. bukan hanya sebagai konsumen barang dan/atau jasa yang dihasilkan dari hasil aplikasi teknologi semata. b. 12 Tahun 2002 tentang Kenaikan Pangkat PNS. memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi.1. 99 Tahun 2000 menyebutkan “PNS yg dipekerjakan atau diperbantukan 67 Naskah Akademik Perubahan UU No. belum banyak kontribusi industri hilir terhadap perekonomian nasional. Posisi tenaga kerja Indonesia saat ini masih belum terlalu membanggakan. dalam kerangka penguatan inovasi. 5. Pasal 6 hruf c PP No. UU No. karena masih lebih banyak yang berperan dalam proses produksi barang atau jasa. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 jo. pengguna teknologi dalam sistem produksi.Selanjutnya. dan hak mendapatkan tunjangan. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ketenagakerjaan. pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian.1. 13 Tahun 2003 antara lain mengatur mengenai peranan dan kedudukan tenaga kerja. Kualitas tenaga kerja ini tidak terlepas dari peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. dan d. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 4 UU No. mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. maka keberhasilan pembangunan sektor ketenagakerjaan perlu dievaluasi berdasarkan peran aktif dan produktifnya sebagai pengembang teknologi. meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. yang berkaitan dengan ketentuan PNS dipekerjakan atau diperbantukankan.2.1. perekayasa dan dosen pemerintah adalah PNS. Kenyataan ini sebetulnya bukan hanya menjadi cerminan dari kualitas tenaga kerja yang masih rendah. PP No. 12 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No.1. Kegiatan ekonomi masih dominan pada fase eksploitasi sumberdaya alam atau produksi bahan mentah.

negara sahabat atau badan internasional. penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan angka kredit. 18 Tahun 2002 Sedangkan tunjangan kehormatan. 68 Naskah Akademik Perubahan UU No. 31 Tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan PNS yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam Jabatan Fungsional Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan diberikan tunjangan jabatan fungsional sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. Namun ketentuan PP No. dan kualifikasi akademik yang berlaku bagi profesor PNS. pembebasan sementara. sebagaimana Pasal 15 dan 16 diberikan kepada dosen yang memiliki jabatan akademik profesor dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan sebesar 2 (dua) kali gaji PNS yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. perekayasa dan dosen tidak diperkenankan bekerja dan diperbantukan di badan-badan usaha. 99 Tahun 2000 tidak berlaku bagi keperluan technical assistance peneliti dan perekayasa pemerintah ke badan-badan usaha swasta. antara lain melakukan : a. Untuk menjamin adanya persamaan persepsi. menetapkan 11 standar kompetensi jabatan fungsional perekayasa. 12 Tahun 2002 jo. PP No. dan kualifikasi akademik bagi guru dan dosen PNS.1. Menurut pihak BKN dan Menpan. 5. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS ini sangat tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. dan badan usaha yang ditentukan”. Tunjangan Khusus Guru dan Dosen Serta Tunjangan Kehormatan Profesor Berdasarkan Pasal 10 . pemberhentian dalam dan dari jabatan. masa kerja. pola pikir dan tindakan dalam melaksanakan pembinaan perekayasa.4. Sedangkan tunjangan khusus bagi guru dan dosen bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. .3.1. Peraturan Pemerintah No. yang besarnya 1 (satu) kali gaji pokok pegawai negeri sipil yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Tunjangan kehormatan bagi profesor bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. kenaikan jabatan/pangkat. 22 Tahun 2008 diatur hal-hal yang berkaitan dengan usulan penilaian dan penetapan angka kredit. 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen. Peraturan Pemerintah No. organisasi profesi. 11 dan 12 tunjangan khusus diberikan bagi guru dan dosen PNS yang ditugaskan oleh pemerintah atau pemerintah daerah di daerah khusus. Peneliti.berdasarkan ketentuan Pasal ini adalah PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh pada proyek pemerintah. tim penilai. 13/M/PB/VIII/2008 dan No. 5. BPPT ditunjuk sebagai instansi pembina jabatan perekayasa. Menurut Peraturan Bersama Menristek dan Kepala BKN No. pengangkatan. masa kerja. ketentuan mengenai ‘badan usaha yang ditentukan’ ini hanya ditujukan bagi keperluan perbantuan guru-guru pemerintah yang mengajar ke sekolah-sekolah swasta. BPPT selaku pembina jabatan perekayasa. Peraturan Pemerintah No.

b. menetapkan pedoman formasi jabatan fungsional perekayasa; c. menyusun kurikulum pendidikan dan pelatihan jabatan fungsional perekayasa; d. melakukan pengkajian dan pengusulan tunjangan jabatan fungsional perekayasa; e. mensosialisasikan jabatan fungsional perekayasa serta petunjuk pelaksanaannya; f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional perekayasa; g. mengembangkan sistem informasi jabatan fungsional perekayasa; h. memfasilitasi pelaksanaan jabatan fungsional perekayasa; i. memfasilitasi pembentukan organisasi profesi perekayasa; j. memfasilitasi penyusunan dan penetapan etika profesi dan kode etik perekayasa; k. melakukan monitoring dan evaluasi Jabatan Fungsional Perekayasaan

6. Bidang Infrastruktur Sosial. Infrastruktur sosial pada prinsipnya mencakup semua fasilitas yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai infrastruktur komunitas (community infrastructure). Dengan demikian maka infrastruktur sosial tidak hanya mencakup ‘soft infrastructure’ (seperti dukungan untuk pengembangan komunitas, keluarga, dan individu; layanan informasi; pelatihan ketrampilan; perlindungan hukum; keamanan publik; dan layanan darurat); tetapi juga mencakup ‘hard infrastructure’ (seperti fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas untuk kegiatan seni dan budaya, fasilitas olahraga dan rekreasi, perumahan sehat, fasilitas lingkungan, fasilitas ibadah, dan tranportasi publik). Akibat buruk dari kurangnya perhatian dalam pembangunan infrastruktur sosial telah semakin dirasakan oleh negara-negara maju, misalnya berupa gangguan keamanan lingkungan atau mutu sumberdaya manusia yang rendah yang kemudian menjadi beban pembangunan. Kesenjangan sosial yang terjadi ternyata sangat mahal biaya remediasinya. Menyadari akan hal ini maka beberapa negara maju mulai secara sungguh-sungguh berupaya memperbaikinya. Misalnya Inggris menganggarkan hampir 3 milyar pound untuk pembenahan infrastruktur sosialnya. Pemerintah Australia juga mengambil inisiatif untuk membenahi infrastruktur sosial ini (Casey, 2005). Indonesia sebagai negara berkembang kelihatannya belum menunjukkan perhatian yang baik terhadap infrastruktur sosial ini pada sebagian besar wilayah perdesaan dan lingkungan kumuh perkotaan. Akibatnya kesenjangan sosial-ekonomi antara perdesaan dan perkotaan semakin melebar. Kenyataan ini telah secara nyata menyebabkan laju urbanisasi yang semakin sulit dibendung. Kesenjangan antara komunitas kaya dan miskin di perkotaan juga terasa semakin melebar. Kondisi ini menyebabkan antara lain semakin meningkatnya frekuensi kerusuhan di

69

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

perkotaan. Walaupun banyak yang mengkaitkan fenomena kerusuhan ini sebagai dampak dari demokratisasi di Indonesia. Kesenjangan sosial-ekonomi jelas tidak ‘compatible’ dengan upaya membangun inovasi nasional yang produktif dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, dalam skenario besar pengembangan sistem inovasi nasional Indonesia perlu disediakan ruang untuk pembangunan infrastruktur sosial. Beberapa peraturan perundang-uindangan terkait dengan pengembangan infrastruktur sosial sebagaimana di bawah ini.

6.1. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Infrastruktur Sosial. 6.1.1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Kereta Api

Menurut UU No. 23 Tahun 2007, pemerintah mendorong kemampuan di dalam negeri rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian nasional. Kegiatan ini antara lain mengedepankan lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang dikenal sebagai penghasil teknologi. Hal tersebut di ataur dalam Pasal 118 ayat (1) dan (2).
Pasal 118 (1) Untuk pengembangan perkeretaapian dilakukan rancang bangun dan rekayasa perkereta apian. (2) Rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh: a. pemerintah; b. pemerintah daerah: c. badan usaha; d. lembaga penelitian; atau e. perguruan tinggi.

6.1.2.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

Sebagaimana dengan UU No. 23 Tahun 2007, melalui UU No. 5 Tahun 1984 pemerintah juga berupaya mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri. Upaya ini memberikan kesempatan bagi peneliti dan perekayasa di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan maupun perguruan tinggi dalam peningkatan kemampuan industri nasional. UU No. 5 Tahun 1984 menyebutkan pembedaan teknologi industri dan teknologi tepat guna. Teknologi industri adalah cara pada proses pengolahan yang diterapkan dalam industri. Teknologi yang tepat guna adalah teknologi yang tepat dan berguna bagi suatu proses untuk menghasilkan nilai tambah. Sedangkan barang jadi adalah barang hasil industri yang sudah siap pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi. Pasal 9 UU No. 5 Tahun 1984 menyatakan bahwa pengaturan dan pembinaan bidang usaha industri dilakukan dengan memperhatikan “penyebaran dan pemerataan pembangunan industri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia dengan mempergunakan proses industri dan teknologi yang tepat guna untuk dapat tumbuh dan berkembang atas kemampuan dan kekuatan sendiri”.

70

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keterkaitan dengan teknologi, di Pasal 16, Bagian VI UU No. 5 Tahun 1984, ayat (1) disebutkan “Dalam menjalankan dan/atau mengembangkan bidang usaha industri, perusahaan industri menggunakan dan menciptakan teknologi industri yang tepat guna dengan memanfaatkan perangkat yang tersedia dan telah dikembangkan di dalam negeri. Pada ayat (2) Apabila perangkat teknologi industri yang diperlukan tidak tersedia atau tidak cukup tersedia di dalam negeri, Pemerintah membantu pemilihan perangkat teknologi industri dari luar negeri yang diperlukan dan mengatur pengalihannya ke dalam negeri.Dan pada ayat (3) Pemilihan dan pengalihan teknologi industri dari luar negeri yang bersifat strategis dan diperlukan bagi pengembangan industri di dalam negeri, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

71

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

menurut Hans Kelsen. Logemann berpendapat. Syarat yuridis. Sosiologis. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. maka penyusunan suatu peraturan perundangundangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. karena efektivitas hukum merupakan fakta. 72 Naskah Akademik Perubahan UU No. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundangundangan. Menurut UU No. kaidah hukum mengikat. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. 18 Tahun 2002 . Menurut teori kekuasaan. hukum berlaku secara yuridis. yaitu syarat yuridis. Hukum yang baik adalah apabila terdapat keserasian antara politik hukum yang dibuat oleh pemerintah dengan kesadaran hukum masyarakat. dan Yuridis Pembentukan peraturan perundang-undangan umumnya telah memperhatikan proses pemberlakuannya. Dengan demikian apabila pembentukan peraturan perundang-undangan diartikan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat atau pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Pembentukan peraturan perundang-undangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. lebih menekankan teori kekuasaan. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. maka peraturan perundang-undangan yang dibuat cenderung menjadi sekumpulan aturan-aturan pemaksa. maka peraturan tersebut hanya merupakan cita-cita saja. apabila kaidah hukum terbentuk menurut cara yang telah ditetapkan. apabila menunjukan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya. yaitu konsepsi abstrak di dalam diri manusia tentang keserasian antara ketertiban dan ketenteraman atau kondisi yang sepantasnya diinginkan. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. Apabila peraturan perundang-undangan hanya menekankan pada pemenuhan persyaratan yuridisnya saja. Demikian halnya apabila peraturan perundangundangan hanya menekankan pada aspek sosiologis-nya saja. adanya kesadaran hukum masyarakat. dan filosofis.Bab 4 Landasan Filosofis. Apabila peraturan tersebut hanya berlaku secara filosofis. sosiologis. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. Kajian mengenai persyaratan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan yang baik selalu berkembang agar penerapan peraturan perundang-undangan sesuai dengan tujuannya. yaitu pertama adanya politik hukum yang jelas. Secara garis besar dalam penyusunan peraturan perundang-undangan memperhatikan dua hal. merupakan kebijakan pemerintah mengenai arah mana hukum tersebut diarahkan. Menurut Kelsen. Kedua. Sedangkan Zevenbergen menyatakan. Hal itu diperkuat dengan teori pengakuan yang menyatakan bahwa berlakunya hukum ataupun peraturan perundangundangan didasarkan atas penerimaan atau pengakuan atas peraturan tersebut. maka ada kemungkinan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan hanya merupakan kumpulan kaidah yang mati.

waktu. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. rasa dan karsa ini menimbulkan perkembangan pengetahuan. 18 Tahun 2002 . Aspek Yuridis Amandemen keempat UUD 1945 yang ditetapkan oleh MPR pada tanggal 10 Agustus 2002 merupakan landasan yuridis bagi pembentukan peraturan perundang-undangan yang ada. budi bahasa. Lingkup pribadi menunjukan siapa atau apa yang akan diatur peranannya melalui peraturan perundangundangan. 4. Amandemen ini belum menjadi pertimbangan yuridis saat penetapan UU No. Hal itu dapat ditemui di dalam Bab XIII. yang selengkapnya berbunyi: Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang disahkan pada tanggal 29 Juli 2002. dan masalah tertentu. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Perkembangan cipta. Lingkup wilayah menyangkut ruang atau wilayah yang akan dibatasi melalui pembentukan peraturan perundang-undangan. 2008) diartikan sebagai 1 kemajuan (kecerdasan. lingkup berlakunya suatu peraturan perundangan-undangan agar ditentukan pula. Pendidikan dan Kebudayaan. secara jelas telah mengamanahkan pemajuan iptek. 2 hal yg menyangkut sopan santun. Pengembangan. tetapi saat ini dengan adanya perkembangan pengetahuan. Lingkup ini dibedakan menjadi empat. dan kebudayaan suatu bangsa. Dapat dikatakan manusia dan peradaban adalah hal yang tidak dapat dipisahkan karena manusia itu memiliki cipta.1. kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya. Amandemen keempat UUD 1945. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Secara jelas ketentuan ini tercantum dalam Pasal 31. yaitu agar diarahkan untuk mendorong kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. pribadi. Logemann berpendapat. kemajuan iptek secara tegas ditetapkan. rasa dan karsa. dan 73 Naskah Akademik Perubahan UU No.Di samping syarat–syarat tersebut. Terakhir adalah lingkup masalah yang bersangkutan dengan permasalahan apa saja yang akan menjadi obyek suatu peraturan perundang-undangan. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. yaitu wilayah. Lingkup waktu berhubungan dengan jangka waktu tertentu yang diatur oleh suatu peraturan perundang-undangan. Sebagai contoh : dahulu manusia menanam karet dan menunggu hasil sesuai kemampuan alam untuk memproduksi. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Menurut Amandemen keempat UUD 1945 ini. aplikasi pupuk. Kemajuan kebudayaan ini sering dikatakan sebagai peradaban.

” Pengertian teknologi secara umum menurut Ellul (1967) adalah:  Proses yang meningkatkan nilai tambah. Menurut UU No. 18 Tahun 2002 diartikan sebagai cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. maka dapat dikatakan penguasaan dan pemanfaatan iptek tidak berfungsi dengan baik. Sedangkan teknologi dalam UU No. Berbagai inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Berbagai penemuan di bidang kesehatan. teknologi adalah ”keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. Apabila iptek berkembang tetapi kesejahteraan umat manusia tidak berkembang. Menurut UU No.  Produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja. merupakan hasil dari penguasaan dan pemanfaatan iptek sehingga berbagai penyakit telah dapat disembuhkan. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. 74 Naskah Akademik Perubahan UU No. teknologi informasi dan mikroelektronika. Secara umum iptek berkembang melalui kreativitas berbagai penemuan (discovery). Dengan demikian dapat dikatakan dalam perkembangan peradaban manusia. kelangsungan. yang selanjutnya melahirkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. norma dan hukum atau peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. apabila iptek terus berkembang. Menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv). maupun pengembangan ilmu pengetahuan. pelestarian fungsi lingkungan hidup. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara umum adalah karya manusia. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. misalnya. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. baik yang bersifat kuantitatif. kesejahteraan umat manusia juga meningkat. Dengan kata lain. moral. Sedangkan kegunaan iptek bagi manusia juga ditentukan oleh nilai.teknik pemeliharaan menjadikan pohon karet menghasilkan lebih banyak. kemajuan bangsa. 18 Tahun 2002 berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. iptek mempunyai peran sentral. atau bahkan menurun. 18 Tahun 2002 Dapat dikatakan teknologi merupakan aplikasi dari pengetahuan sebagai respons atas tuntutan manusia akan kehidupan yang lebih baik. telah membantu manusia dalam berbagai kegiatannya. disusun. Demikian halnya dengan penggunaan perangkat otomatis. memberi kemudahan dalam kehidupan manusia. . dan tanpa adanya manusia kedua karya tersebut tidak akan ada.  Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan. 18 Tahun 2002. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. Adanya kemajuan penguasaan dan pemanfaatan iptek akan berimbas pada peningkatan daya saing dan akan mendorong kemajuan bangsa. maupun penciptaan (invention). pelestarian nilai luhur budaya bangsa. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. kualitatif.

Walaupun dirasakan telah terjadi kemajuan dalam pemahaman tentang konsepsi dasar sistem inovasi dan telah terjadi perkembangan metodologis untuk analisis sistem inovasi. .(lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. ekonomi. yang selanjutnya menumbuhkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. atau dengan kata lain inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). asas kebebasan akademis. 18 Tahun 2002 dimungkinkan penggunaan sanksi pidana berupa denda paling banyak Rp. 18 Tahun 2002. dan potensi sumberdaya alam Indonesia yang sangat majemuk. kebebasan berpikir menjadikan penggunaan pemaksaan tidak relevan. asas kebebasan berpikir. maka kebijakan harus mengandung muatan pengaturan dan tidak hanya memberikan pemahaman umum. dan detil. namun perbedaan yang menonjol adalah inovasi lebih melihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. Bahkan secara tegas World Bank (2010).4. Dalam UU No. p e n c i p t a a n ( invention). hanya terlihat pada kegiatan litbangrap iptek yang berisiko tinggi dan berbahaya. serta tanggung jawab akademis. 18 Tahun 2002 Ketiga persyaratan di atas dirumuskan dan tercakup dalam penyusunan peraturan perundangan-undangan. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. masyarakat awam. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini.26 Secara sosiologis penekanan ketentuan atau aturan-aturan yang memaksa (coercion) dalam pengembangan iptek kurang tepat. indikator perkembangan iptek antara lain adalah peningkatan berbagai penemuan (discovery).000.. budaya. 18 Tahun 2002 penggunaan aturan pemaksa harus disesuaikan dengan asas undang-undang ini yang menekankan pada asas kebenaran ilmiah. Meskipun inovasi sering dicampuraduk pengertiannya dengan invensi. Saat ini. atau pemerintah. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru.2. 26 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UU No. Demikian halnya dengan upaya penguatan inovasi nasional melalui peraturan perundang-undangan. Penekanan pada kreatifitas. menekankan inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). 75 Naskah Akademik Perubahan UU No.000. Untuk dapat efektif. mengingat kondisi sosial. namun sampai saat ini masih belum berhasil dirumuskan kebijakan dan peraturan perundang-undangan sistem inovasi yang pas untuk kondisi Indonesia. pengembangan. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”. Aspek Sosiologis Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Berbagai jenis instrumen kebijakan yang pas untuk digunakan. 50. Sejalan dengan semangat ini. Pengertian inovasi versi UU No. telaah tentang sistem inovasi sangat jarang berujung pada preskripsi kebijakan sistem inovasi yang konkrit. Menurut UU No. serta pada tingkat kewilayahan mana sistem inovasi tersebut tepat untuk diimplementasikan. sistematis. penggunaan sanksi dalam UU No. Umumnya hanya menghasilkan atau merekomendasikan prinsip dasar dan/atau taksonomi kebijakan sebagai bentuk intervensi yang dibutuhkan dari pihak pemerintah.

Teori sistem inovasi yang berkembang di Indonesia banyak yang diadopsi secara langsung dari sistem inovasi yang dianut oleh negara-negara maju. Namun demikian. serta kemampuan pembiayaan dan infrastruktur pembangunan lainya yang telah dimiliki atau yang secara rasional akan dapat dikelola. dirancang untuk mendukung kegiatan ekonomi di lahan sub-optimal basah (lebak dan pasang surut). Pengembangan inovasi daerah yang berbasis agroekosistem lahan misalnya. atau dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan di wilayah Indonesia bagian timur.2. 4. Pengembangan sistem inovasi tentu perlu diserasikan dengan realita strategi pembangunan bidang perekonomian tersebut. Teori inovasi yang tidak mengakar pada realita Indonesia akan sangat berisiko jika dijadikan pijakan dalam merumuskan kebijakan sistem inovasi Indonesia. yang kondisinya dalam berbagai dimensi sangat berbeda dengan Indonesia.1. kota. Pendekatan ini dapat dilakukan pula untuk komoditas perkebunan dengan volume dan nilai produksi yang lebih besar sehingga memberikan kontribusi yang significant bagi perekonomian nasional (misalnya sawit dan karet). Kebijakan yang tak kentara warna Indonesianya. MP3EI juga menganut pembangunan ekonomi berbasis wilayah yang membagi NKRI menjadi enam koridor dan sekaligus juga mengangkat komoditas tertentu sebagai fokus pembangunan pada masing-masing dari enam koridor ekonomi tersebut. Karakteristik inovasi yang khas Indonesia perlu diformulasikan dengan tepat. 18 Tahun 2002 . misalnya pada hamparan lahan dengan karateristik agroekosistem tertentu yang menopang pembangunan ekonomi berbasis pertanian. Reorientasi Arah dan Prioritas Riset Inovasi nasional di Indonesia wajib berbasis pada potensi sumberdaya nasional. termasuk: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. atau disingkat SIDa) atau sistem inovasi yang secara spesifik fokus pada potensi ekonomi tertentu. tetap saja sering tidak efektif dalam implementasinya. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. desa). [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. atau dapat juga untuk satuan kawasan dengan karakteristik sosio-ekonomi-kultural masyarakatnya yang spesifik. cakupan wilayah dari suatu sistem inovasi sebaiknya tidak berbasis pada satuan wilayah administrasi pemerintahan (provinsi. walaupun didukung dengan regulasi yang kuat. baik itu terfokus pada komoditas tertentu yang bernilai ekonomi tinggi ataupun pada potensi sumberdaya lahan atau laut dengan karakteristek yang khas. baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. atau wilayah laut dengan karakteristik marine ecology yang khas. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. tetapi sebaiknya lebih berbasis pada satuan kawasan pembangunan perekonomian. Selain itu pendekatan sosial- 76 Naskah Akademik Perubahan UU No. Luasnya wilayah nusantara dan keragaman potensi sumberdaya merupakan alasan yang rasional untuk membangun sistem inovasi yang lebih operasional pada wilayah cakupan yang lebih kecil (sekarang digunakan terminologi Sistem Inovasi Daerah. kabupaten. kecamatan.

masyarakat. Tekanan persaingan global yang semakin meningkat. 2005). Selanjutnya Tatang Taufik menyebutkan. b. sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. mission-driven (Swedia). Kedua keadaan tersebut juga mengakibatkan persaingan pasar yang semakin cepat dan kompleks. marketdriven (mulai jarang digunakan karena terkesan terlalu mengarah pada komersialisasi). needdriven. Produk yang semakin kompleks dan memilki siklus hidup yang semakin pendek karena cepatnya kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan konsumen. pengembangan sistem inovasi di Indonesia perlu didukung pengembangan teknologi yang lebih terarah. 77 Naskah Akademik Perubahan UU No. untuk dapat dikelola dan dievaluasi kinerjanya secara lebih baik. penguatan daya saing ini menjadi semakin relevan apabila dikaitkan dengan kecenderungan sebagai berikut: a. antara lain demand-driven. Selain berbasis pada potensi sumberdaya nasional atau lokal. Fokus dukungan dapat dilakukan pada aktivitas ekonomi tertentu yang diunggulkan. dan evidence-based (mulai digunakan oleh komunitas ilmu sosial atau pihak yang melihat teknologi dari perspektif ilmu sosial). Kecenderungan global saat ini cenderung menggiring pengembangan teknologi lebih ke arah pemenuhan kebutuhan atau menyediakan solusi bagi permasalahan nyata yang ada di masyarakat. sehingga tujuan pembangunan nasional yang sifatnya universal dapat dikawal. Dikotomi pilihan pengembangan sistem inovasi pada tingkat nasional dengan tingkat daerah/lokal seharusnya tidak perlu terjadi. Indonesia tentunya harus berada dalam mainstream ini jika secara sungguh-sungguh ingin mewujudkan sistem inovasi nasional ataupun daerah yang berkontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi dengan harapan dapat pula meningkatkan kesejahteraan rakyat.ekonomi-budaya dilakukan untuk masyarakat pengrajin dan industri ukiran kayu di Jepara atau masyarakat dengan budaya yang khas seperti di Bali. meskipun esensinya sama yakni mendorong agar pengembangan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. yakni terutama untuk menyejahterakan rakyat sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi. Kemampuan inovasi juga merupakan faktor penguatan daya saing yang sangat penting (Taufik. Pengembangan inovasi nasional memberikan ‘template’ sebagai acuan untuk pengembangan inovasi daerah. Keragaman istilah atau terminologi yang digunakan ini menunjukkan perlunya reorientasi dalam pengembangan teknologi untuk menopang sistem inovasi dalam upaya meningkatkan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian. 18 Tahun 2002 . baik industri. issue-driven (Jepang). Pengembangan inovasi daerah dapat difokuskan pada pengembangan sistem inovasi yang lebih teknis dan operasional sesuai kebutuhan ataupun unggulan yang akan dikembangkan di daerah. Istilah yang muncul untuk menggambarkan orientasi riset dan pengembangan teknologi sesuai kebutuhan pengguna ini cukup beragam. ataupun pemerintah. c. Keragaman istilah ini disebabkan adanya perbedaan aspek atau dimensi yang ingin ditekankan.

[2] jumlah peneliti yang banyak tidak otomatis berarti akan banyak teknologi bermanfaat yang dihasilkan. dan sensitif terhadap dinamika persoalan dan kebutuhan masyarakat. Walaupun angka ini mungkin mengindikasikan kemampuan negara tersebut untuk mengembangkan teknologi. Pendidikan perlu diupayakan tidak hanya peningkatan mutunya tetapi juga dibarengi dengan upaya peningkatan relevansinya terhadap kebutuhan nyata. Tidak semua disiapkan menjadi pengembang teknologi yang handal. adalah tenaga teknis yang berperan mengaplikasikan teknologi dalam proses produksi barang atau jasa. Hal ini bisa dicermati dari beberapa perspektif: [1] teknologi yang berdampak signifikan dan mampu mengubah ‘wajah’ dunia dalam berbagai bidang bukan merupakan hasil kerja kolektif seluruh populasi peneliti suatu negara. juga ditentukan oleh relevansi substansi yang diteliti. malah dapat menyesatkan. 78 Naskah Akademik Perubahan UU No. Idealnya. populasi pengguna teknologi yang terampil jauh lebih banyak dibandingkan dengan populasi pengembang teknologi. Implementasi inovasi nasional juga memerlukan adanya pengguna teknologi yang terampil. yaitu inovasi. dan siklus produk atau time-to-market yang semakin pendek. Lembaga penyelenggara pendidikan tinggi akan menjadi lembaga penunjang yang menentukan dalam konteks ini. Pangsa pasar yang cenderung menurun dan semakin jenuh akan lebih mengandalkan persaingan harga dengan nilai tambah yang relatif rendah. 18 Tahun 2002 . Kecenderungan industri saat ini. dari upaya sinkronisasi program penyiapan sumberdaya manusia yang relevan dan kompeten. Pengguna teknologi ini antara lain. Peter Drucker menekankan bahwa setiap organisasi harus mempunyai suatu kompetensi. tetapi sesungguhnya basis argumennya sangat dangkal. dimana tekanan atas biaya cenderung meningkat. tetapi merupakan hasil kerja kelompok ‘kecil’ peneliti pada satu laboratorium atau kolaborasi peneliti antar-laboratorium. Dalam situasi demikian.2. Selain untuk meningkatkan kecerdasan akademik. Persentase jumlah peneliti atau perekayasa terhadap total populasi suatu negara sering dipakai sebagai indikator kemajuan inovasi nasional negara yang bersangkutan. 4. serta penguatan kelembagaan yang bertanggung jawab dalam pengembangan teknologi.Kemampuan inovasi yang rendah akan menempatkan badan usaha ataupun industri bersaing pada segmen pasar yang umumnya konvensional.2. pendidikan juga diarahkan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa. optimalisasi fungsi kelembagaan pengelola pendidikan. karena selain tergantung pada produktivitas peneliti. pasar dan teknologi berubah sangat cepat. tantangan utama bagi perusahaan di lingkungan bisnis yang kompleks dan persaingan global yang semakin ketat adalah mengembangkan dan mempertahankan keunggulan daya saing. Menurut EISDISR (2001). Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi Strategi ini mempunyai rentang cakupan yang lebar. tuntutan konsumen yang semakin tinggi. Rasio yang pas antara pengembang-pengguna teknologi tentu tergantung pada jenis teknologi yang diimplementasikan. dengan derajat penalaran akademik yang tinggi.

Pada tahap awal. Kualitas dimaksud mencakup basis mutu akademik dan relevansi keahliannya terhadap kebutuhan nyata. yakni jika sebelumnya pihak pengembang teknologi menjadi penentu arah dan prioritas pilihan teknologi. kuantitas menjadi tidak penting. tetapi lebih merupakan proses di antaranya atau kombinasi keduanya (Tatang. maka peran ini di masa yang akan datang perlu dipercayakan pihak pengguna teknologi. inovasi seringkali bukan hanya menekankan technology push (driven) atau demand pull (driven) secara “hitam-putih” yang tegas. Implikasi operasionalnya adalah Indonesia tidak perlu terlalu berambisi untuk meningkatkan angka persentase jumlah peneliti per sejuta penduduk (atau indikator lain yang serupa). tetapi lebih perlu menyiapkan tenaga-tenaga pengembang teknologi yang punya basis kapasitas akademik yang hebat dan juga sensitif terhadap dinamika permasalahan dan kebutuhan bangsa. inovasi juga merupakan proses yang kompleks dan dinamis yang sering menunjukkan paradoks. akibatnya hasil riset yang diperoleh masih sulit untuk diadopsi oleh industri. Namun demikian perlu diperhatikan pula. baru kemudian ‘ditawarkan’ kepada industri untuk menggunakannya. namun juga bagaimana mereka bekerjasama (Tatang. Jika selama ini aktor penentu arah inovasi nasional diperankan secara ‘terlalu’ dominan oleh para pengembang teknologi.dan [3] sebagian besar peneliti bekerja di perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah yang mayoritas pada saat ini lebih fokus pada riset akademik yang tak terkait langsung dengan persoalan nyata. Kesiapan sumberdaya manusia wajib dibarengi dengan langkah reorientasi pengembangan teknologi dari supply-push ke demand-driven. Selanjutnya Tatang menggaris bawahi. bahkan adakalanya antara perusahaan yang saling bersaing. Strategi untuk memperlancar aliran teknologi dalam inovasi nasional dan untuk meningkatkan intensitas kolaborasi antara pengembang dan pengguna teknologi adalah melakukan reorientasi. 2005). Aliran teknologi banyak yang tersumbat. 2005). perguruan tinggi dan para pembuat kebijakan bekerja. Pendekatan ini ternyata tidak efektif untuk meningkatkan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. 18 Tahun 2002 . proses reorientasi dalam pengembangan kerjasama ini tentunya belum akan berjalan mulus. Kalaupun jenis teknologinya sesuai tetapi seringkali tidak kompetitif secara ekonomi untuk diaplikasikan. tetapi lebih pada aspek kualitasnya. inovasi tidak berkembang tanpa adanya kerjasama (co-operation). sehingga pendekatan yang diterapkan adalah supply-push. Argumentasi di atas mencoba mengingatkan bahwa aspek yang paling penting untuk mendapat perhatian dalam proses penyiapan sumberdaya manusia yang diproyeksikan untuk menjadi pelaku utama pengembangan teknologi bukan terletak pada aspek kuantitasnya. Untuk konteks ini. Hal ini terlihat dari Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia tahun 79 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pendekatan yang dipilih tentunya juga berubah arah. dari supply-push menjadi demand-driven. Inovasi tidak hanya bergantung pada bagaimana perusahaan. Indonesia tidak perlu ‘kelihatan’ baik secara statistik. yakni melakukan pengembangan teknologi dahulu. yang perlu adalah Indonesia mampu dan produktif dalam menghasilkan solusi teknologi bagi permasalahan bangsa. Penyebab utamanya adalah ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan atau yang dihasilkan dengan kebutuhan industri. Meski inovasi didorong oleh kompetisi atau persaingan.

menjadi lebih fokus untuk menjawab permasalahan nyata atau memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat pengguna. proposal untuk riset pengembangan iptek mencapai 89. karenanya proses ini akan berlangsung secara bertahap (gradual).8. 2010). pada skala 2. yakni program riset dasar. Produk barang dan jasa semakin ‘sarat dengan pengetahuan’ ( knowledge intensive). sedangkan kegiatan yang lebih bersifat hilir (difusi teknologi dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi) untuk mendorong agar hasil risetnya diadopsi oleh pengguna masih sangat kurang diminati.2007.84 persen. Pengalaman Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) melalui program insentifnya menjadi bukti empiris tentang sulitnya menggeser kegiatan para akademisi dan periset keluar dari zona nyamannya (comfortable zone). saat Kementerian Riset dan Teknologi secara terbuka dan kompetitif menawarkan empat program insentif kepada komunitas akademik di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga riset pemerintah. Dengan upaya yang 80 Naskah Akademik Perubahan UU No. sedangkan proposal untuk difusi dan aplikasi iptek hanya 10. Ekspektasi pada tahap awal adalah mulai tumbuhnya kesepakatan bahwa pengembangan teknologi perlu berubah arah. 7 6 5 4 3 2 1 0 Singapura Malaysia Philipina Vietnam Resistensi internal sangat mungkin untuk muncul di kalangan akademisi dan periset dalam proses pergeseran prioritas riset dari curiousity-driven research menjadi goal-oriented research. difusi iptek. bahwa inovasi memerlukan lebih hanya sekedar litbang. tetapi juga tidak selalu ‘sarat dengan litbang’ (R&D intensive). Hal ini antara lain terlihat. dari riset yang dilakukan untuk pemuasan rasa keingin tahuan akademik menjadi riset untuk menjawab permasalah nyata yang dihadapi masyarakat dan negara. riset terapan. dan penguatan kapasitas iptek sistem produksi.16 persen. Dua program yang pertama merupakan pengembangan iptek. 18 Tahun 2002 . sedangkan dua program terakhir merupakan upaya mentransfer dan aplikasi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengguna teknologi. Hal ini sesuai pula dengan kecenderungan yang diungkapkan OECD (1999). Pada tahun 2008. Pergeseran mindset selalu membutuhkan waktu relatif panjang. Akan ada resistensi (penolakan) dari pihak pengembang teknologi dan adanya keengganan di pihak pengguna teknologi. sama dengan Vietnam (World Bank. Akademisi dan periset masih nyaman di wilayah riset akademik (dasar dan terapan).

strategi yang perlu dilakukan dalam rangka memicu dan memacu pergeseran preferensi atau prioritas riset ini antara lain adalah: [1] meluruskan pemahaman tentang status ilmiah goal-oriented research dan [2] memberikan insentif yang lebih baik bagi pelaksanaan riset untuk solusi permasalahan nyata ini. Sudah saatnya. Salah satu persoalan yang serius saat ini adalah rendahnya sensitivitas atau kepedulian pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi. Kenyataan ini tentu harus dibenahi. Sangat ironis jika untuk memenuhi kebutuhan solusi teknologi untuk masalah-masalah sederhana (misalnya di sektor pertanian). Hal ini antara lain terlihat dari jumlah artikel pada jurnal sains dan teknik tahun 2003. negara harus mengeluarkan devisa yang signifikan karena kuatitas kebutuhannya yang masif. Capaian akademik seringkali lebih menarik dibandingkan dengan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan atau menyediakan solusi untuk persoalan yang dihadapi industri. Indonesia masih tergantung pada pasokan teknologi asing. Meski demikian secara akademik. pada tahun 2009 proposal untuk kegiatan ini meningkat menjadi 24. ternyata akademisi dan peneliti Indonesia masih belum tergolong produktif dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. namun jauh di bawah Malaysia dan Thailand. Merupakan langkah yang tepat jika Pemerintah lebih mengarahkan bantuan pembiayaan risetnya pada kelompok goal-oriented research. Kekeliruan pemahaman tentang ‘riset pesanan’ disebabkan bukan oleh makna hakiki dari goal-oriented research tersebut. Angka ini tidak jauh berbeda dengan Filipina.95 persen. dimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara harus berpotensi menggerakkan perekonomian domestik. Apalagi jika untuk mengimpor teknologi asing tersebut (yang sebetulnya dalam tataran teknologi tergolong sederhana). Sejatinya. para peneliti Indonesia menghasilkan 178 tulisan. sulit bagi pengembang teknologi di 81 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . tetapi juga sekaligus sebagai investasi untuk menumbuhkan kemandirian bangsa dalam menyediakan solusi teknologi bagi masalah-masalah mendasar yang menyangkut hajat hidup asasi masyarakat. goal-oriented research harus dimaknai sebagai riset akademik yang tidak hanya potensial untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Memperhatikan upaya yang telah dilakukan. atau pemerintah.lebih intensif untuk menumbuhkan minat komunitas akademisi dan peneliti untuk berperan dalam kegiatan difusi dan aplikasi iptek. masyarakat. Riset yang direncanakan lebih terkait dengan latar belakang akademik peneliti atau akademisi yang bersangkutan dan mengarah pada topik yang sedang populer di kalangan akademisi. tetapi lebih disebabkan karena riset ini telah diseleweng-kan pemaknaannya oleh kepentingan-kepentingan lain yang bersifat non-scientific. Kecenderungan lainnya adalah memilih topik-topik yang terkesan maju secara teknologi tetapi tidak terkait langsung dengan kebutuhan atau persoalan nyata. jarang melakukan observasi secara cermat persoalan ataupun kebutuhan pihak pengguna. pembiayaan kegiatan riset diposisikan tidak hanya untuk mendukung upaya pencerdasan bangsa. terlebih lagi pada saat negara sedang mengalami krisis ekonomi. tetapi juga sekaligus dapat secara nyata menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Pengembang teknologi. baik di akademisi maupun peneliti.

Berbagai kendala antara lain kurangnya alokasi anggaran untuk pembiayaan riset dan kurang memadainya peralatan dan fasilitas riset. sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan royalti. yang belum termotivasi untuk melaksanakan riset yang berkualitas dan masih cenderung menganggap riset hanya sebagai ritual akademik. Namun sesungguhnya.Indonesia untuk berada posisi terdepan secara akademik. sebagaimana juga kekeliruan dalam memahami definisi teknologi tepat guna (appropriate technology) yang sering dianggap identik dengan teknologi sederhana. Sebagai contoh. pemerintah membutuhkan teknologi canggih untuk mewujudkan kemandirian dalam sektor pertahanan dan keamanan negara. Sesungguhnya rentang spektrum teknologi yang berbasis kebutuhan atau teknologi tepat guna dapat bervariasi dari teknologi yang sangat sederhana sampai dengan teknologi super canggih. 600 400 200 0 Negara Singapura Malaysia Filipina Vietnam Laos Riset yang dirancang sesuai kebutuhan nyata dapat menjadi riset yang berkualitas ilmiah tinggi apabila dilaksanakan dengan metodologi yang tepat dan dengan menjunjung tinggi etika akademik. . Kekeliruan pemahaman yang sering terjadi adalah bahwa teknologi yang dihasilkan dari riset yang berbasis kebutuhan nyata statusnya akan kurang canggih. untuk memberikan dukungan pembiayaan yang lebih besar akan lebih mungkin terwujud jika pengembang teknologi juga mampu membuktikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. Hasil riset dengan reputasi dan pilihan topik seperti ini jelas akan berpeluang untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah. 82 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan dapat menghasilkan paten yang diminati pengguna (karena relevan dengan kebutuhan sehingga berpeluang untuk diaplikasikan dalam proses produksi). karena faktanya realita persoalan dan kebutuhan teknologi juga sangat variatif. sebaliknya petani membutuhkan teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsinya untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatannya. 18 Tahun 2002 Perlu diyakini bahwa perhatian berbagai pihak. terutama pembangunan perekonomian. kendala yang lebih serius terletak pada mindset para pengembang teknologi tersebut. termasuk pemerintah.

4. Harapan akhirnya adalah teknologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan memajukan peradaban bangsa sebagaimana yang diamanahkan oleh Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945. Upaya peningkatan relevansi teknologi dengan kebutuhan nyata belum sepenuhnya menjamin bahwa teknologi akan diadopsi pengguna. sehingga persentase teknologi yang relevan kebutuhan semakin meningkat dan kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional semakin dirasakan publik. namun kebijakan pemerintah terkait penyediaan kredit modal usaha dapat menjadi cara efektif untuk membantu pengguna teknologi dalam meningkatkan kapasitas adopsinya dari dimensi finansial. dan pemerintah. Rendahnya 83 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kapasitas adopsi pengguna teknologi bersifat multi dimensi.2. Kapasitas adopsi dari dimensi ekonomi/finansial akan lebih sulit ditingkatkan.Di antara banyak perubahan yang perlu dilakukan dalam rangka penguatan inovasi. salah satu yang urgensinya paling tinggi adalah meningkatkan sensitivitas dan kepedulian para pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi industri. termasuk dimensi teknis. Peningkatan kapasitas adopsi untuk dimensi teknis relatif mudah dilakukan. termasuk bidang perekonomian. peternak. baik dari pemerintah maupun dari dunia usaha. Kondisi yang diharapkan sebagai modal untuk memperkuat inovasi nasional adalah pendekatan demand-driven dapat menjadi mainstream pengembangan teknologi domestik.3. Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik Sensitivitas dan kepedulian pengembang teknologi yang diikuti dengan perencanaan dan pelaksanaan riset yang tepat akan membuahkan teknologi yang relevan. Relevansi dan produktivitas riset akan menjadi mesin produksi teknologi yang secara nyata akan meningkatkan kontribusi terhadap berbagai sektor pembangunan nasional. Pengguna teknologi ikut menikmati kontribusi teknologi terhadap pemenuhan kebutuhan dan menjadi alternatif solusi persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi tersebut. sosiokultural. Dukungan pembiayaan aktivitas riset akan semakin tumbuh. dan kemungkinan juga politik. Persoalan rendahnya kapasitas adopsi teknologi. Oleh sebab itu. pembudidaya ikan. finansial. masyarakat. Satu faktor yang menentukan. 18 Tahun 2002 . misalnya melalui pelatihan atau pendidikan formal bagi para aktor pengguna. karena kepercayaan pihak pengguna teknologi akan semakin meningkat. maka Indonesia akan memulai era baru dalam mengembangkan inovasi nasional. efek bola salju akan terjadi. yakni kemampuan atau kapasitas adopsi dari pengguna terhadap teknologi potensial yang dihasilkan. termasuk komunitas petani. dan pengrajin atau berbagai pelaku usaha skala kecil lainnya. untuk memperbesar peluang pemanfaatan teknologi perlu dilakukan perbaikan di kedua sisi. Jika semakin banyak aktor pengembang teknologi yang mengikuti alur ini. Peningkatan kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi akan memberikan umpanbalik (feedback) yang positif. yakni meningkatkan relevansi teknologi yang dibarengi dengan upaya meningkatkan kapasitas adopsi pengguna. secara umum dapat dijumpai pada masyarakat pengguna teknologi di Indonesia. nelayan.

Kondisi ini menjadikan upaya riset dan pengembangan teknologi yang sudah diarahkan sesuai dengan kebutuhan nasional. Belum adanya lembaga intermediasi yang diinisiasi oleh pihak bisnis maupun masyarakat dapat menjadi indikasi bahwa kegiatan ini masih dianggap belum menarik. 18 Tahun 2002 . yakni adanya relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan industri yang merefleksikan preferensi dan daya beli konsumen. Secara umum. Aksesibilitas untuk tiga kunci sukses industri produsen perlu dijamin. atau masih diyakini belum akan membuahkan hasil. Pasar domestik Indonesia yang besar merupakan potensi untuk menjadi ‘penyerap’ bagi semua produk barang dan jasa yang dihasilkan industri dalam negeri. [2] akses untuk mendapatkan modal. dengan aktivitas utama perdagangan. untuk meningkatkan adopsi teknologi. Namun demikian. Ketersediaan teknologi domestik yang secara teknis sesuai dengan kebutuhan dan secara ekonomi menguntungkan akan dibutuhkan industri produsen barang dan jasa. Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan kebutuhan pasar domestik perlu lebih diintensifkan. diperlukan transformasi dari pedagang menjadi produsen. dari kecenderungan dominan perdagangan menjadi dominan industri produsen barang dan jasa. bisnis di Indonesia memerlukan transformasi. Lembaga intermediasi berperan sebagai penghubung antara lembaga pengembang teknologi dengan pengguna teknologi.adopsi teknologi. dan [3] akses pasar yang terjamin. bukan industri manufaktur. Oleh karena itu. Hal ini juga dapat dijumpai pada pelaku bisnis Indonesia. Oleh sebab itu. sesuai dengan spesifikasi teknis. hampir semua lembaga intermediasi terbentuk atas inisiatif pemerintah dan sebagian juga diawaki oleh aparatur pemerintah. Percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh pengguna di dalam negeri dan upaya mendorong arus informasi kebutuhan teknologi untuk pihak pengembang memerlukan peran aktif dari lembaga intermediasi. penguatan industri dalam negeri merupakan salah satu pilar utama pendukung strategi penguatan inovasi nasional. Kelompok industri ini yang paling berpotensi untuk mengadopsi teknologi domestik yang telah dikembangkan. Pada saat ini. jika prasyarat dasarnya belum terpenuhi. yakni: [1] akses untuk mendapatkan bahan baku yang cukup. Persepsi ini sesungguhnya dapat dipahami. selain disebabkan teknologi yang tidak relevan. tidak hanya persoalan rendahnya kapasitas adopsi. Penguatan inovasi tidak dapat berfungsi optimal apabila kegiatan bisnis yang dominan masih berupa perdagangan. juga dikarenakan rendahnya kebutuhan teknologi. dan teknologi yang sesuai secara teknis serta kompetitif secara ekonomi. pada fase awal diperlukan dukungan insentif tambahan agar perdagangan bertransformasi ke arah industri atau produsen barang dan jasa. berbasis sumberdaya dalam negeri. Kondisi lain 84 Naskah Akademik Perubahan UU No. Peningkatan investasi dan akses permodalan untuk pengembangan dan/atau penumbuhan industri baru berbasis teknologi nasional perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dan difasilitasi perkembangannya. serta cukup tersedia sesuai siklus produksi. Kelembagaan intermediasi ini belum berfungsi secara efektif. harga yang pantas (dan relatif stabil). sumberdaya manusia. dan berorientasi pasar domestik menjadi tidak effektif. karena berbagai kondisi yang terjadi saat ini masih belum ‘favorable’ untuk berfungsinya kelembagaan intermediasi.

karena merubah karakter manusia (terkait marketing skills) lebih membutuhkan waktu dibandingkan dengan menambah pengetahuan tentang teknologi tertentu. maka lebih cenderung memilih memproduksi barang di bawah lisensi asing. Opsi kedua kelihatannya lebih baik. dan dilatih ketrampilan pemasaran-nya. 18 Tahun 2002 . Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya. 4. Ekosistem Inovasi yang Kondusif Selama proses transisi pergeseran orientasi arah dan prioritas riset. peran pemerintahan sangat dibutuhkan. Dalam 85 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni dalam bentuk: [1] regulasi yang mendukung dan [2] fasilitasi percepatan laju proses reorientasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya ‘gesekan’ yang tidak perlu antar pihak terkait. sehingga lebih cenderung membeli teknologi asing.2.4. Lembaga intermediasi perlu diawaki oleh personel yang memahami tentang teknologi dan sekaligus punya kemampuan persuatif yang tinggi dan terampil dalam menjual. sehingga berpotensi menjadi masalah jika dikomersialisasikan. proporsional kontribusinya. Upaya ini dapat dilakukan dengan merekrut peneliti/akademisi. Berkaitan dengan upaya membangun inovasi nasional secara utuh. [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya. terutama pada jenjang pendidikan tinggi dan menengah kejuruan. tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. bukan atas usulan pihak industri. dan [3] pelaku industri dalam negeri belum percaya atas kehandalan teknologi domestik hasil karya anak bangsa.yang kurang kondusif bagi lembaga intermediasi adalah: [1] sistem perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual masih belum membudaya di kalangan pengembang teknologi di Indonesia. Bentuk fasilitasi dari pemerintah yang lain adalah dukungan untuk kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. [2] preferensi komunitas bisnis Indonesia masih cenderung sebagai pedagang daripada sebagai produsen. Peran regulasi pemerintah ditujukan untuk mengawal agar implementasi penguatan inovasi secara konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan. kalaupun masuk ke wilayah industri produsen barang/jasa. dibutuhkan pula regulasi dan fasilitasi pemerintah dalam menyiapkan sumberdaya manusia sesuai kebutuhan untuk pengembangan teknologi dan kebutuhan tenaga terampil untuk aplikasi teknologi. melalui program pendidikan yang berkesesuaian. atau merekrut tenaga pemasaran dan diperkaya wawasan teknologinya. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi. dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam implementasi penguatan inovasi nasional.

Dengan demikian. Adanya rasa bangga dan percaya diri warga negara sebagai sumberdaya manusia penggerak pembangunan yang diimbangi dengan terciptanya lingkungan yang kondusif untuk berusaha. keefektifan dan relevan (effectiveness dan relevance). maka tak akan ada lagi keraguan bahwa teknologi domestik akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan nasional dan standarisasi akan menyempurnakan upaya penguatan inovasi di Indonesia. maka ada beberapa komponen kebijakan yang dibutuhkan untuk mewujudkan adanya sistem inovasi nasional (SINas) yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. Bentuk regulasi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi seluruh produk barang/jasa di Indonesia. Upaya ke arah ini sesungguhnya sudah dilakukan pemerintah. transparansi (transparency). (2) Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik. SNI telah memenuhi WTO Code of Good Practices. pihak industri hanya diposisikan untuk memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat. 86 Naskah Akademik Perubahan UU No. bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. yakni dirumuskan berdasarkan asas keterbukaan (openess). Regulasi pemerintah dapat pula berupa insentif bagi kedua belah pihak untuk berkolaborasi.beberapa kasus. dan Difusi Teknologi. Strategi ini mencakup: (1) Sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi industri. masyarakat. merupakan modal kuat dalam menuju Indonesia yang lebih sejahtera di masa yang akan datang. tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. dimana insentif tersebut dapat berbentuk insentif perpajakan. 18 Tahun 2002 . koheren (coherence). kepabeanan. misalnya dukungan pembiayaan dari pihak industri untuk kegiatan riset dapat dianggap sebagai bagian dari pembayaran pajak yang menjadi kewajibannya (tax deductible). Dalam PP No. inovasi. Agar diperhatikan apapun bentuk atau format riset kolaborasi. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. Berdasarkan telaah yang telah diuraikan di atas. 35 Tahun 2007 dinyatakan badan usaha yang mengalokasikan pendapatannya untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. dan berdimensi pembangunan (development dimension). konsensus dan tidak memihak (consensus and impartiality). Inovasi. dan pemerintah. penerapan SNI diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan domestik tetapi juga untuk kepentingan perdagangan global. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. yakni dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak dalam bentuk pembiayaan bersama. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Jika lintasan (pathway) ini ditempuh dengan baik.

Teknologi dengan warna Indonesia yang kental ini diyakini akan lebih berpeluang untuk mengalir lancar dari pihak atau lembaga pengembang teknologi ke pihak pengguna teknologi. Keberhasilan penguatan inovasi nasional akan ditakar dari kelancaran aliran teknologi (fluidity of technology flow). serta mendekatkan hubungan dengan kelembagaan pendukung lainnya. tetapi membangun masyarakat berbasis pengetahuan kelihatannya masih akan menempuh perjalanan panjang. Walaupun sudah cukup lama diwacanakan.(3) Vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh industri dalam negeri dan sebaliknya juga arus informasi kebutuhan teknologi kepada pihak pengembang teknologi. Pengembangan teknologi nasional perlu mengutamakan pemberdayaan dan pendayagunaan sumberdaya manusia Indonesia sebagai tenaga penggeraknya.5. Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional Terlepas dari intensitas dan besaran (magnitude) kontribusinya. iptek akan selalu dibutuhkan dalam pembangunan semua sektor. dan (4) Dukungan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk memfasilitasi. menstimulasi. bukan berdasarkan kecanggihan teknologi yang mampu dikembangkan. Oleh sebab itu. Keberhasilan membangun inovasi nasional hanya dapat dicapai jika semua strategi ini dapat dieksekusi dengan baik. Perjalanan panjang tersebut perlu diawali dengan keberhasilan mengembangkan dan memperkuat inovasi nasional di Indonesia yang mampu mendorong peradaban dan menyejahterakan rakyat. yakni menganggap bahwa semakin maju teknologi yang dikuasai maka semakin baik penguasaan inovasi suatu negara. Kemampuan dan kemandirian pengembangan teknologi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata menjadi modal dasar implementasi penguatan inovasi di Indonesia. 18 Tahun 2002 .2. yang penting dilakukan adalah merancang inovasi nasional yang tepat. memanfaatkan sumberdaya alam nasional sebagai bahan baku atau tapak operasionalnya (operational site). tetapi terletak pada bagaimana cara agar teknologi yang dikembangkan dapat efektif dan efisien dalam mendukung pembangunan nasional di semua sektor. dan mengakselerasi interaksi antar-aktor utama dalam penguatan inovasi nasional. 4. seluruh strategi harus dilaksanakan secara interaktif dan sinambung. Kekeliruan persepsi sangat sering dan umum terjadi dalam konteks penilaian kinerja dan kontribusi inovasi. Keempat strategi ini mempunyai keterkaitan satu sama lain. Pengembangan teknologi nasional juga perlu mempertimbangkan secara cermat kapasitas adopsi pengguna teknologi dalam negeri. yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan upaya memberikan solusi atas permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. Inovasi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata perlu didampingkan secara paralel dengan program pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas dan sensitif terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa dan kebutuhan 87 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dengan demikian isu utamanya bukan terletak pada ada atau tidak adanya peranan teknologi dalam pembangunan nasional. Oleh sebab itu.

terkendalinya dinamika politik. dan [2] kondisi aman yang lebih bersifat eksternal. Hasil akhir yang diharapkan dari segala bentuk upaya dalam pengembangan dan penguatan inovasi adalah peningkatan kesejahteraan rakyat. Indikator keberhasilan dalam menciptakan kondisi aman antara lain: tidak terjadinya gerakan separatisme di wilayah NKRI. dan sulit dideteksi. indikator lainnya dalam pengembangan dan penguatan inovasi nasional adalah terjaminnya keamanan nasional.pembangunan nasional. jumlah publikasi yang ditulis bersama oleh akademisi dan pelaku industri (co-authored publication). dan dapat dideteksi berdasarkan persepsi indera penglihatan dan pendengaran ( audiovisual perception). minimalisasi dampak negatif dari gejolak masyarakat. terjaminnya keberlangsungan proses demokratisasi. yakni: [1] rasa aman yang lebih bersifat internal. dan terjaminnya kondisi yang kondusif untuk berinvestasi. Beberapa indikator-antara yang sering digunakan dalam mengevaluasi kehandalan penguatan inovasi antara lain: jumlah publikasi ilmiah per juta penduduk. Akan lebih realistis jika indikator keberhasilan implementasi inovasi nasional hanya didasarkan atas keamanan dimensi kedua. Indikator-antara lainnya dilihat dari sisi pengguna teknologi. jumlah patent yang didaftarkan atau diperoleh (granted). Ilmu statistik merupakan alat yang ‘handy’ untuk pekerjaan ini. yakni kondisi aman. jumlah kerjasama penelitian antara universitas dan industri. besarnya penerimaan universitas atau lembaga riset yang berasal dari royalti. kolektif. tetapi upaya kuantifikasi tingkat kesejahteraan rakyat lebih berkembang dan diterima secara luas. personal. efektif dan produktif. Indikator-antara tersebut sesungguhnya baru melingkupi sisi pengembang teknologi. Meskipun ukuran kesejahteraan rakyat dan keamanan nasional bersifat relatif. Nilai-nilai positif atau kecenderungan peningkatan yang ditunjukkan oleh semua indikator-antara belum dapat secara otomatis diekstrapolasikan untuk sampai pada kesimpulan bahwa upaya pengembangan dan penguatan inovasi telah berjalan baik. sebaliknya ukuran baku tentang tingkat keamanan nasional masih belum banyak dibahas. Dalam mengevaluasi suatu sistem yang utuh. 18 Tahun 2002 . Selain itu. semua indikator-antara hanya dapat dilihat sebagai titik-titik yang tercerai berai dan ‘diasumsikan’ terhubung satu sama lain oleh garis-garis imajiner yang diyakini sebagai bagian dari sistem tersebut. mobilitas sumberdaya manusia antara kelembagaan riset atau universitas dengan industri. Indikator di kelompok ini antara lain: alokasi dana oleh industri untuk kegiatan riset internal perusahaan atau untuk mendukung 88 Naskah Akademik Perubahan UU No. misalnya dalam bentuk demonstrasi anarkis. Keamanan mempunyai dua dimensi yang berbeda. Asumsi-asumsi tersebut umumnya diuji berdasarkan korelasi masingmasing indikator-antara yang dianggap berhubungan. dengan ekstensi pada kapabilitas lembaga pengembang teknologi tersebut untuk merangkul mitra potensialnya. yang dapat mengganggu kegiatan produktif. Jika kedua hal ini dilakukan secara serasi dan saling mendukung maka cita-cita untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan diyakini dapat terwujud. subyek survei atau risetnya adalah industri-industri yang bergerak dalam berbagai sektor. dan persentase penerimaan univesitas yang berasal dari sumber non-pemerintah yang terkait dengan aktivitas dan hasil riset.

Banyak indikator keberhasilan yang dapat digunakan dalam mengevaluasi kinerja pada masingmasing komponen atau tahapan penguatan inovasi nasional. tetapi hasilnya seringkali tidak atau kurang memuaskan. interpretasi atas indikator-antara ini harus dilakukan dengan hati-hati. karena hanya mampu menjelaskan secara ‘segmented’. Pendekatan parsial biasanya hanya mengarah untuk menghasilkan justifikasi bahwa suatu negara sebetulnya sudah melakukan upaya (dan telah ada tanda-tanda perbaikan) walaupun hasilnya belum memuaskan. preferensi industri untuk mengembangkan teknologi sendiri atau membeli teknologi yang sudah mapan (established). indikator utama keberhasilan pengembangan dan implementasi inovasi hanya dua. Dasarnya adalah pertumbuhan ekonomi terjadi atas kontribusi dari dua faktor utama. 4. Banyak juga kajian mengenai inovasi yang telah dilakukan menggunakan indikator parsial ini. adopsi teknologi untuk proses produksi barang dan jasa. Indikator-antara yang digunakan baik dari sisi pengembang maupun pengguna teknologi memang telah mengarah pada upaya menakar ‘potensi’ kedua b elah pihak untuk berkomunikasi dan berkolaborasi.3. yakni peningkatan kesejahteraan rakyat dan terciptanya kondisi keamanan nasional. Sebagai suatu sistem. Aspek Filosofis 89 Naskah Akademik Perubahan UU No. sehingga perlu dilengkapi pula dengan pola distribusi pendapatan. Walaupun tentunya.kegiatan riset di universitas dan lembaga riset eksternal. walaupun secara teknis inovasi nasional dapat dibongkar menjadi empat komponen. perlu diingat kembali bahwa ukuran kinerja inovasi adalah kesejahteraan rakyat. bukan pertumbuhan ekonomi semata. difusi teknologi dari pengembang ke pengguna. indikator keberhasilan pengembangan inovasi nasional menjadi kurang bermakna jika difragmentasi menjadi indikator-indikator antara atau indikator yang bersifat parsial. 18 Tahun 2002 . Indikator lainnya yang dapat ditambahkan adalah tingkat kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan teknologi untuk pembangunan perekonomian dan pembangunan hankam. Total Factor Productivity (TFP) telah digunakan beberapa ekonom sebagai proxy untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. Kemampuan dan tumbuhnya budaya masyarakat untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge-based society) dapat pula digunakan sebagai indikator tambahan untuk mengevaluasi performa penguatan inovasi di Indonesia. identifikasi sumber informasi yang dianggap penting oleh industri dalam mengembangkan produk komersial. dan konsumsi atau penggunaan produk akhir oleh konsumen. Namun demikian. Dengan demikian untuk Indonesia. sisanya (residu) merupakan kontribusi faktor bukan modal maupun tenaga kerja yang disimpulkan sebagai kontribusi dari faktor teknologi. yakni: pengembangan teknologi. yakni modal dan tenaga kerja.

1995). Publikasi yang ditulis bersama ini diasumsikan berakar pada hasil kolaborasi riset antara kedua pihak tersebut. Jepang.4 persen pada tahun 1992 (Hertog. Korea. atau lembaga intra-universitas yang tidak dicatat sebagai penerimaan resmi universitas. [3] jumlah paten universitas atau lembaga riset yang dikomersialisasikan oleh industri. seperti Amerika Serikat. Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya. [2] jumlah paten dan publikasi bersama antara akademisi dan pelaku industri. atau sesuai dengan nilai-nilai positif yang tertinggi.3. 1996). antara lain dengan mengevaluasi: [1] porsi pendapatan universitas atau lembaga riset yang berasal dari kerjasama dengan industri dalam melakukan riset. karena ternyata bukan hanya perguruan tinggi dan lembaga riset di negara yang belum maju teknologinya saja yang ‘malas’ mendaftarkan paten. terutama antara universitas atau lembaga riset dengan pelaku industri. Hasil kajian Rosenberg dan Nelson (1994) terkait dengan jumlah paten universitas patut untuk disimak. Di Indonesia data seperti ini tidak mudah untuk didapatkan.1. tetapi juga terjadi pada universitas di negara yang maju. Selandia Baru. Australia. yakni 12. dan Meksiko. Di Inggris. 18 Tahun 2002 . dan [4] timbangan industri terhadap universitas dan lembaga riset sebagai sumber informasi/pengetahuan untuk pengembangan produk inovatif. Nilai-nilai ini menjadi cita-cita hukum dan tujuan negara bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. peranan inovasi nasional dalam pembangunan perekonomian sangat ditentukan oleh intensitas dan kualitas interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. walaupun persentasenya masih relatif rendah. 4. kelompok. Namun saat ini. publikasi ilmiah yang ditulis bersama (co-authored) oleh peneliti universitas atau lembaga riset pemerintah dengan personel yang mewakili institusi bisnis terlihat secara konsisten meningkat antara tahun 1981 sampai 1994 (Hicks and Katz. Inisiatif pendirian OECD dilakukan oleh beberapa negara Eropa Barat plus Turki dan Amerika Serikat. Pengembangan inovasi nasional pada negara-negara OECD dan kajian akademik yang dilakukan oleh kelembagaan OECD telah menjadi referensi penting bagi dunia dalam memperlajari tentang upaya penguatan inovasi nasional dan kontribusinya bagi pembangunan perekonomian. keanggotaan OECD telah bertambah dengan beberapa negara Eropa Timur.Secara umum syarat filosofis dalam penyusunan peraturan perundang-undangan adalah apabila peraturan perundang-undangan dapat diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. Dinamika Lingkungan Global Negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah lama memposisikan Sistem Inovasi Nasional (SINas) sebagai strategi penting dalam memajukan perekonomian melalui pemanfaatkan keunggulan teknologi negara masing-masing. dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Untuk menaksir intensitas interaksi tersebut. Hasil survei yang dilakukan di Belanda selama periode 1989-1992 menunjukkan bahwa pendapatan universitas yang berasal dari kerjasama riset dengan pihak industri secara konsisten meningkat. karena banyak kegiatan riset yang dilakukan industri bersama akademisi secara individual. yakni hanya 90 Naskah Akademik Perubahan UU No. Persentase paten universitas di Amerika Serikat secara relatif juga rendah.2 persen pada tahun 1989 meningkat menjadi 17.

tetapi di Jepang dan Eropa kerjasama serupa tidak menunjukkan perubahan yang berarti (Haagedoorn. Data yang terkumpul selama periode 1980-1994 dalam studi ini menunjukkan bahwa kerjasama teknis untuk bidang-bidang tertentu (bioteknologi. 91 Naskah Akademik Perubahan UU No.berkisar antara 0. informasi paten. Sumber informasi tersebut dikelompokkan menjadi 4 kelompok. 18 Tahun 2002 . Data yang digunakan oleh Malerba (1996) berasal dari hasil Community Innovation Survey (CIS) antara 1991 sampai 1993 yang dilaksanakan atas inisiatif bersama Komisi Eropa dan Eurostat terhadap 40. tapi jumlah aktualnya tentu tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah paten universitas dan lembaga riset di Indonesia. Kerjasama terbukti mampu meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengadopsi teknologi yang bermanfaat (OECD.000 kesepakatan kerjasama yang melibatkan lebih dari 6. MERIT telah mengembangkan database kesepakatan kerjasama dan indikator teknologi (Co-operative Agreements and Technology Indicators. Malerba (1996) menganalisis 13 sumber informasi yang dianggap relevan untuk upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. pemasok bahan baku atau komponen. termasuk logam olahan (fabricated metals). termasuk konsumen. dan kedirgantaraan (aerospace). instrumen. Di Jepang ternyata kerjasama informal antar-kelembagaan bisnis berperan penting dalam keberhasilan pengembangan teknologi. Hasil survei yang dilakukan oleh The Maastricht Economic Research Institute on Innovation and Technology (MERIT) memberikan gambaran tentang bagaimana pihak industri di negara-negara Eropa menilai peran universitas atau kelembagaan riset pemerintah. teknologi informasi dan komunikasi.000 perusahaan (OECD. komputer. pameran. [3] lembaga riset pemerintah dan universitas. bahan kimia. Porsi paten yang lebih besar berasal dari industri atau pihak non-universitas lainnya. pertemuan bisnis. permesinan. tetapi sebaliknya mayoritas pelaku industri menganggap peranannya kurang penting untuk bidang-bidang lainnya. Walaupun persentasenya rendah. Kajian yang sama di Jerman. dan konsultan. otomotif. dan teknologi material baru) meningkat di Amerika Serikat. 1997). 1996).1 persen untuk bidang rekayasa genetika.7 persen untuk bidang komunikasi sampai 18. elektronik. telekomunikasi. 1997). sedangkan informasi yang dianggap tidak penting adalah berasal dari lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Kelembagaan riset pemerintah (termasuk universitas) dianggap penting oleh mayoritas (>50%) pelaku industri untuk bidang fasilitas layanan publik (utilities) dan pharmaseutikal. [2] bersumber dari pasar. juga menunjukkan bahwa kolaborasi antar-perusahaan mampu meningkatkan penjualan untuk hampir semua produk yang dihasil melalui kolaborasi tersebut. plastik. dan [4] sumber informasi umum seperti konferensi. dimana produk baru yang dihasilkan dari kolaborasi mampu meningkatkan penjualan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber informasi yang paling penting ternyata berasal dari pelanggan/konsumen dan sumber internal perusahaan. disingkat CATI) yang mencakup hampir 13. yakni: [1] sumber informasi dari dalam kelembagaan bisnis sendiri.000 industri manufaktur di Eropah. perminyakan. Kolaborasi antar-lembaga bisnis memberikan sumbangan terhadap kinerja inovatif perusahaan di Norwegia dan Finlandia. pangan. logam dasar.

3 54 Malaysia 63 32. Posisi Indonesia tersebut didasarkan atas beberapa indikator hasil analisis yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional (Tabel 6). digerakkan dengan motor teknologi domestik. 18 Tahun 2002 . 4. dan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. berbasis sumberdaya nasional.7 28 Singapura 7 92 Naskah Akademik Perubahan UU No.Hasil ini bertentangan dengan anggapan yang umumnya dianut banyak pihak di Indonesia bahwa perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai motor penggerak utama untuk tumbuh dan berkembangnya inovasi nasional. sebaliknya bisa menjadi sumber spillover teknologi. Thailand. Dinamika Lingkungan Regional Dinamika lingkungan strategis pada tingkat dunia akan berpengaruh bagi perkembangan inovasi nasional di Indonesia. 2007 Indonesia 107 17. baik secara langsung maupun dalam bentuk produknya. Kehadiran MNC dapat menjadi ancaman bagi upaya pengembangan teknologi nasional jika tidak dibangun hubungan yang sinergis mutualistik dengan MNC tersebut. ekonomi. Tabel 6. Kondisi lingkungan strategis perlu mendapat perhatian. negara-negara ASEAN dapat dibagi dari tiga lapisan: Singapura berada pada lapisan atas. 2007/08 Angka Partisipasi Kasar. dan Singapura Indikator Peringkat HDI. dan negara-negara ASEAN lainnya berada pada lapisan bawah. budaya dan politik. Dalam konteks kemajuan inovasi saat ini. Kemandirian teknologi merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan dan ancaman tersebut. Namun demikian. berdasarkan kedekatan posisi geografis dan intensitas hubungan sosial. Tantangan dan ancaman ini perlu dijawab dan/atau ditangkal dengan mewujudkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia yang handal. paling tidak untuk referensi. maka dinamika lingkungan strategis pada tingkat regional Asia Tenggara (ASEAN) perlu mendapat perhatian yang lebih intensif. Fakta ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi komunitas akademik dan peneliti Indonesia untuk melakukan reorientasi prioritas risetnya agar tidak semakin terkucil dari skenario global pengembangan inovasi. Pergeseran yang wajib dilakukan adalah menambah porsi goal-oriented atau demand-driven research dalam grand scenario pengembangan riset dan teknologi. 2007 Peringkat Daya Saing. Potensi pengembangan inovasi nasional Indonesia berdasarkan beberapa indikator akademik dibandingkan dengan Malaysia.3. Malaysia dan Thailand pada lapisan tengah. Filipina.2. sedangkan Indonesia. komunitas akademik dan peneliti Indonesia tidak dapat lagi mengabaikan ancaman penjajahan teknologi asing dalam bentuk banjir produk barang dan jasa impor yang melanda pasar domestik dan invasi Multi National Company (MNC).5 21 Thailand 78 42. Vietnam. Selain itu.

antara lain Indeks Pembangunan Manusia (HDI). . Hal ini tergantung kemampuan Indonesia dalam mewujudkan inovasi nasional. kualitas sumberdaya manusia yang secara umum masih belum kompetitif. Disamping itu. dan Jumlah Publikasi Ilmiah (Tabel 6).8 16. Aspek yang akan ditelaah lebih mendalam adalah interaksinya dengan dinamika lingkungan strategis yang sedang berkembang saat ini dan kecenderungan perubahan lingkungan strategis tersebut di masa yang akan datang. 2009). Indeks Kerjasama Riset (Warsono. maka Indonesia dapat menjadi pemasok barang dan jasa. Secara menyeluruh gambaran postur perkembangan inovasi di Indonesia masih jauh dari memuaskan. Paten Terdaftar. 2003 4. Singapura yang lebih maju di sektor perdagangan. 2003 Paten USPTO. Hal ini disebabkan belum terjadinya aliran teknologi yang signifikan dari pihak pengembangan teknologi ke pihak pengguna teknologi.2 41. 2009). Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang pendidikan tinggi. 2008d).4 3122 Sumber: Peringkat Human Development Index (HDI) dari Laporan UNDP (Hasta. Indeks Kerjasama Riset. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius agar ketergantungan pada negara tetangga ini dapat dikurangi agar posisi Indonesia lebih kompetitif. kecuali Singapura. Untuk kawasan ASEAN pun masih perlu perjuangan keras agar dapat menjadi yang terdepan. 2001/05 Publikasi Ilmiah. serta sekaligus memanfaatkan bahan baku yang dihasilkan negara-negara di kawasan ASEAN. Negara-negara ASEAN lainnya dapat menjadi kompetitor dan sekaligus mitra strategis yang potensial. Indeks Daya Serap Teknologi. dan publikasi ilmiah dari Laporan World Bank (Suhardi.3. serta kendala non-teknologi lainnya juga memerlukan perhatian.4 520 5. Indeks Daya Saing Global.3 4. Paten USPTO. 4.8 4. industri pengolahan. Berbagai alasan dan argumen yang menyertainya telah dijabarkan sebelumnya. Negara ASEAN umumnya masih mengandalkan sektor pertanian komoditas hasil eksploitasi kekayaan alamnya. Kemajuan inovasi suatu negara dapat ditaksir berdasarkan beberapa indikator.Indeks Daya Serap Teknologi. mungkin dapat dikatakan masih berada pada posisi yang sangat minimal.6 1072 6. Peringkat Daya Saing dari Laporan World Economic Forum (Suhardi.3. Untuk kondisi saat ini. 18 Tahun 2002 Struktur perekonomian negara-negara ASEAN secara umum relatif sama. 2003 Indeks Kerjasama Riset. 2009).0 409. Perubahan lingkungan strategis di 93 Naskah Akademik Perubahan UU No.9 74. Pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) dapat dikatakan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Indeks Daya Serap Teknologi. Jika Indonesia mampu mengembangkan industri barang dan jasa berbasis teknologi nasional yang kompetitif. aliran teknologi antara pengembang dan pengguna yang masih tersendat. 2009). Dinamika Lingkungan Nasional Saat ini kontribusi teknologi pada tingkat nasional masih belum optimal.5 2. merupakan mitra komplementer untuk pembangunan perekonomian nasional.6 178 5. dan industri jasa keuangan. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dari Depdiknas (Lakitan.

Pengetahuan hanya bisa ditranslasi menjadi pertumbuhan ekonomi jika terlebih dahulu mampu menghasilkan teknologi yang dibutuhkan pengguna teknologi untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan. Perubahan lingkungan strategis tersebut. Perubahan lingkungan strategis ke arah yang lebih kondusif ini perlu dimulai dari setiap komponen bangsa di lembaga eksekutif. 18 Tahun 2002 . Hanya dengan melakukan perubahan secara agresif-dan-terarah (agressive and welldirected) terhadap lingkungan strategis. termasuk: (1) Mengubah orientasi pendidikan nasional yang diterapkan melalui kurikulum pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik. Jika kecenderungan yang telah berlangsung sekitar setengah abad ini tidak diimbangi dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukan reorientasi kebijakan pengembangan teknologi dan industri. penguatan inovasi diharapkan akan terjadi dan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian dapat ditingkatkan. Artinya sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih didominasi faktor di luar teknologi. tetapi 94 Naskah Akademik Perubahan UU No.masa depan akan direka berdasarkan dua ekstrim skenario. yakni skenario ‘business-as-usual’. dan skenario dengan upaya percepatan perubahan ke arah yang lebih kondusif untuk berkembangnya inovasi nasional. Selanjutnya Firdausy (2009b) menyebutkan bahwa kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia paling tinggi terjadi pada periode 1991-1995. yakni modal dan tenaga kerja (Firdausy. Hal ini kemudian dituangkan dalam bentuk regulasi yang mengikat semua pihak untuk mematuhi dan berperan aktif dalam implementasinya. maka pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak akan pernah membaik. dan yudikatif. maka upaya menumbuhkan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) tidak akan pernah terwujud. Tanpa melakukan upaya mendorong agar teknologi domestik lebih sesuai untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan pembangunan ekonomi nasional dan tanpa upaya mendorong industri untuk lebih memprioritaskan penggunaan teknologi domestik dan memproduksi barang dan jasa sesuai kebutuhan pasar domestik. Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian 2006. 2009a. Salah satu modal utama pembangunan Indonesia sampai saat ini berasal dari kekayaan sumberdaya alam yang bersifat tak-terbarukan (non-renewable resources). Kadiman. yang suatu saat akan habis. dengan TFP sebesar 4 persen. legislatif.38 persen. bahkan mungkin semakin terpuruk. Agaknya tidak berlebihan atau terkesan pesimistik jika disimpulkan bahwa inovasi tidak akan tumbuh berkembang jika tidak terjadi perubahan lingkungan strategis yang mengarah kepada terwujudnya ekosistem yang lebih kondusif untuk tumbuh-kembang sistem inovasi nasional (SINas). menghitung kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan proxy indikator Total Factor Productivity (TFP) dan mendapatkan bahwa TFP Indonesia hanya sebesar 1. Skenario business-as-usual jelas tidak akan mampu mendukung pengembangan inovasi nasional. melanjutkan kecederungan yang sedang terjadi saat ini dengan tanpa upaya mendorong perubahan ke arah yang diinginkan. 2009).

dan [3] MP3EI mengakomodir masukan dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan. dimana titik berat pendekatan terletak pada solusi. [2] Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur.juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap permasalahan dan kebutuhan pembangunan nasional. Keberadaan Pokja SDM dan Iptek ini membuka peluang bagi Kementerian Riset dan Teknologi. bukan pada masalah yang dihadapi. dibentuk pula Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). sehingga dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ekonomi dan ekologi yang lebih maksimal (orientasi jangka panjang). dan lembaga penunjang lainnya untuk secara 95 Naskah Akademik Perubahan UU No. swasta nasional. Dengan diluncurkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah. pembangunan perekonomian tidak lagi dilakukan dengan pendekatan yang bersifat ‘Business as Not Usual’. 32 Tahun 2011. dengan cara meningkatkan kualitas barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri ( Made in Indonesia) yang dibarengi dengan harga yang lebih kompetitif. [2] MP3EI menitikberatkan pada percepatan transformasi ekonomi melalui peningkatan nilai tambah (value added). yang didorong melalui pengembangan SDM dan iptek yang sesuai untuk peningkatan daya saing. Semangat perubahan pendekatan pembangunan perekonomian tersebut tercermin dari: [1] MP3EI mengedepankan terobosan kebijakan dan strategi. lembaga penelitian dan pengembangan. (3) Mengubah citra produk nasional di mata konsumen dalam negeri. dan [3] pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi. yakni: [1] Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi. Pada tahun 2011 ini terjadi perkembangan yang positif. dan [3] Pokja SDM dan Iptek. Keteladanan tokoh pemerintahan dan masyarakat dalam mendorong kecintaan dan kebanggaan atas produk nasional merupakan salah satu cara yang diyakini efektif. dalam upaya penguasaan dan pemanfaatan iptek. [2] memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi untuk revitalisasi kinerja sektor riil. tiga strategi utama dikembangkan dalam pelaksanaan MP3EI. dan Foreign Direct Investment (FDI) pada 22 kegiatan ekonomi utama. mendorong investasi. serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya. dan (4) Menerbitkan regulasi yang lebih ‘favorable’ untuk pengembangan teknologi nasional dan untuk mendukung peningkatan market share produk nasional di pasar domestik. menjadi ‘pengelolaan’ sumberdaya alam yang lebih efisien dan akrab lingkungan. 18 Tahun 2002 . (2) Perlu menggeser paradigma ‘eksploitasi’ kekayaan sumberdaya alam sebagai cara cepatdan-mudah untuk meningkatkan pendapatan negara (orientasi jangka pendek). dengan cara mendorong investasi BUMN. Dalam struktur KP3EI ini terdapat tiga Kelompok Kerja. Untuk melaksanakan MP3EI yang didasarkan pada Perpres No. maupun di lembaga lainnya di badan usaha. dan unsur kelembagaan iptek di perguruan tinggi. Untuk itu. masyarakat. mengintegrasikan sektor dan regional. Relevansi dan mutu pendidikan harus menjadi tujuan utama penyelenggaraan pendidikan pada semua strata. yaitu: [1] pengembangan potensi ekonomi pada enam koridor pembangunan.

96 Naskah Akademik Perubahan UU No. Secara teknis operasional. ini berarti upaya penguatan inovasi nasional di Indonesia mendapat pijakan yang lebih mantap. 18 Tahun 2002 .lebih signifikan dapat berkontribusi terhadap pembangunan perekonomian Indonesia.

Demikian halnya. 18 Tahun 2002 Di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD. serta ruang lingkup materi muatan rancangan undang-undang tentang perubahan UU No. Secara praktis. Kehandalan SINas sebagai sebuah sistem lebih ditentukan oleh intensitas dan efektivitas interaksi antara aktor-aktor utamanya. sering menjadi reference utama dalam pengembangan kebijakan inovasi. Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Pejabat negara dan kadang juga akademisi yang (dianggap) pakar di bidang penguatan inovasi juga ikut melakukan upaya adopsi langsung ini tanpa melakukan analisis yang mendalam mengapa pengembangan konsepsi inovasi tertentu berhasil memajukan perekonomian di negara asalnya. Pengembangan SINas tidak hanya merupakan sekumpulan aktor. Sekumpulan aktor SINas yang hebat. . baik yang berperan sebagai pengembang maupun pengguna teknologi yang dimiliki suatu negara. Kalaupun dilakukan analisis. 18 Tahun 2002. dukungan dari berbagai aktor pendukungnya. maka seringkali pengembangan inovasi dianalisis secara terisolir.1. Namun demikian upaya untuk mengadopsi secara langsung konsepsi inovasi nasional di negara yang secara ekonomi lebih berhasil untuk diterapkan di negara lainnya seringkali mengalami kegagalan. tercerabut dari ekosistem dimana sistem inovasi nasional (SINas) mampu unjuk kinerja dengan sangat baik. Arah Pengaturan. belum menjamin bahwa negara yang bersangkutan akan secara otomatis memiliki SINas yang produktif dan berkelanjutan. Untuk itu akan diuraikan dalam bab ini mengenai arah dan jangkauan kebijakan penguatan inovasi nasional. mengabaikan fakta adanya perbedaan yang tajam antara negara yang dicontoh dengan realita di Indonesia. dan Ruang Lingkup Materi Muatan RUU Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 Sangat mudah untuk menyatakan bahwa pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) merupakan upaya mendorong peningkatan inovasi secara nasional agar secara nyata memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan rakyat. kebijakan inovasi nasional umumnya telah dipublikasikan secara luas. 5. kehandalan SINas sesungguhnya ditentukan oleh kelancaran aliran 97 Naskah Akademik Perubahan UU No. Strategi keberhasilan negara-negara tertentu. Namun persoalannya adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya di Indonesia.Bab 5 Jangkauan. dan kondusivitas ekosistem tempat tumbuhkembangnya.

informasi kebutuhan (demand) dari para aktor pengguna ke pengembang teknologi, yang diimbangi dengan kelancaran pasokan teknologi yang relevan dari aktor pengembang ke pengguna teknologi. Secara komprehensif, SINas merupakan sistem yang kompleks. Walaupun untuk simplifikasi dalam analisisnya unsur-unsur SINas dapat diurai lepas satu per satu, namun analisis hanya akan sahih jika masing-masing unsurnya tersebut selalu dilihat dari perpektif keterkaitannya dengan unsur SINas lainnya. Alur keterkaitan SINas dengan komponen pembentuk ekosistemnya dapat dilihat pada Gambar 6.

POTENSI SUMBERDAYA EKONOMI [Tangible Factors]  Sumberdaya Alam  Sumberdaya Manusia  Infrastruktur

POTENSI SOSIO-KULTURAL

[Intangible Factors]  Ideologi  Politik  Tata Kepemerintahan  Budaya Kerja

PERAN POKOK PEMERINTAH Memformulasikan kebijakan pendukung SINas berbasis pada Potensi Sumber daya Ekonomi dan Potensi SosioKultural dalam rangka penyiapan “Panggung SINas”, terutama kebijakan:  Perekonomian makro, keuangan, dan perpajakan  Perindustrian dan Perdagangan  Riset dan Pengembangan Teknologi  Ketenagakerjaan  Pendidikan Nasional  Infrastruktur Sosial  Tata Kepemerintahan

PENGEMBANG TEKNOLOGI  Perguruan Tinggi  Lembaga R&D Pemerintah  Lembaga R&D Swasta

PENGGUNA PASAR TEKNOLOGI  Domestik  Industri /  Global Bisnis  Masyarakat  Pemerintah Barang/Jasa Permintaan

LEMBAGA INTERMEDIASI

PANGGUNG SINAS  Fasiltas Komunikasi & Interaksi  Regulasi yang Kondusif  Dukungan & Insentif Finansial

Gambar 6. Peran Pemerintah dalam menyiapkan ‘panggung’ Sistem Inovasi Indonesia

Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Panggung SINas sebagai konsepsi dapat diaktualisasikan dalam bentuk: [1] fasilitas untuk para aktor berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif, [2] regulasi yang memungkinkan para aktor untuk memformulasikan dan mengimplementasikan upaya bersama dalam meningkatkan produktivitas, dan [3] dukungan dan/atau insentif finansial yang menjadi perangsang bagi para aktor untuk bersama-sama membangun dan memperkuat inovasi nasional. Panggung SINas yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro, keuangan, dan perpajakan; kebijakan perindustrian dan perdagangan; kebijakan riset dan pengembangan teknologi; kebijakan ketenagakerjaan; kebijakan pendidikan nasional; kebijakan penyediaan infrastruktur sosial; dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Kebijakan tersebut selain harus selaras dengan upaya mewujudkan SINas, juga harus berbasis pada potensi sumberdaya ekonomi dan potensi sosial budaya yang dimiliki Indonesia.

98

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Kebijakan yang tidak mengakar pada potensi dan kondisi sendiri akan lebih susah untuk secara efektif diimplementasikan. Dengan demikian tugas pokok pemerintah yang paling krusial adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung SINas yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. Kinerja aktor-aktor SINas pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik), baik berupa barang maupun jasa. Oleh sebab itu, peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ SINas, tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik.27

5.1.1. Membangun Inovasi sebagai Sistem Sebagai sebuah sistem, pengembangan inovasi nasional tidak dapat dipandang hanya sebagai kumpulan dari lembaga, tetapi yang lebih penting adalah terjadinya aliran informasi dan produk iptek yang lancar antar-lembaga. Keberadaan aktor atau kelembagaan pengembang dan pengguna teknologi, serta upaya fasilitasi, intermediasi, dan regulasi pemerintah belum menjamin bahwa sistem inovasi sudah terbangun atau pasti akan berjalan. Pada saat ini sesungguhnya para aktor dan lembaga-lembaga tersebut sudah ada, tetapi interaksi dan komunikasinya belum intensif dan produktif. Ini yang menjadi persoalan pokok saat ini. Pengembang teknologi (termasuk perguruan tinggi) melakukan kegiatan riset tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan kebutuhan pengguna; sebaliknya pengguna teknologi belum mau mengadopsi teknologi dalam negeri karena berbagai alasan, antara lain karena tidak relevan dengan kebutuhan, belum cukup handal secara teknis, tidak sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna, dan/atau belum kompetitif secara ekonomi. Untuk memperbesar peluang terwujudnya sistem inovasi, maka para pengguna teknologi harus terbuka untuk berbagi informasi tentang kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi; sebaliknya juga pihak pengembang teknologi harus peka terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang berkembang dan umumnya bersifat dinamis. Teknologi yang dikembangkan selain harus relevan dengan kebutuhan pengguna, juga harus sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya, baik kapasitas adopsinya secara teknis, ekonomi, dan sosiokultural (Gambar 7).

27

Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada beberapa kesempatan. Berbagai negara, juga melihat populasi Indonesia yang besar, lebih dari 237 juta jiwa (BPS, 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial.

99

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Gambar 7. Konsepsi Dasar Sistem Inovasi Nasional (Lakitan, 2010)

Lembaga litbang sebagai pengembang iptek perlu: [1] mengevaluasi kembali tentang kesesuaian orientasi pengembangan iptek dengan kebutuhan rakyat dan negara (isu relevansi riset); dan [2] meningkatkan pemaham tentang kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi rakyat dan negara (isu sensitivitas pelaku pengembang iptek); sebaliknya lembaga pengguna teknologi perlu meningkatkan kapasitas adopsinya dan kesediaannya dalam berbagi informasi kebutuhan dan persoalan terkait dengan teknologi. Perlu selalu diyakini bahwa iptek hanya akan berkontribusi terhadap pembangunan nasional, apabila iptek digunakan dan nyata bermanfaat, baik manfaat ekonomi maupun non-ekonomi. Prasyarat agar aliran teknologi ini terjadi adalah: [1] teknologi yang dikembangkan dan ditawarkan oleh lembaga litbang relevan dengan kebutuhan pengguna; [2] teknologi yang ditawarkan sepadan dengan

100

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Dalam konteks pengembangan SINas, maka mutlak perlu terjadi aliran informasi kebutuhan iptek dan persoalan nyata yang membutuhkan solusi iptek dari pihak pengguna ke pihak pengembang iptek. Prasyarat agar aliran ini terjadi adalah [1] keterbukaan atau keinginan dari pihak pengguna untuk berbagi informasi dan [2] sensitivitas pihak pengembang iptek dalam menangkap sinyal kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi pihak pengguna iptek. Keyakinan pihak pengguna atas kapasitas lembaga pengembang iptek dalam menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang sesuai kebutuhan, handal secara teknis, dan kompetitif secara ekonomi akan menjadi pemicu terjadinya aliran informasi dimaksud. Jika saat ini aliran tersebut masih tersendat, maka adalah bijak jika kedua belah pihak melakukan swa-evaluasi (self assessment), mencermati tentang apa yang perlu dibenahi di wilayah peran masing-masing. Lembaga litbang dan lembaga pengguna teknologi perlu melakukan pembenahan.

5. dan [3] penggunaan iptek tersebut mempunyai prospek keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan iptek serupa yang sudah tersedia. disajikan pada Tabel 7. Secara hakiki. Oleh sebab itu. terbukti dengan adanya aliran informasi kebutuhan teknologi dan informasi tentang persoalan nyata yang dihadapi oleh pihak pengguna dalam melakukan proses produksi barang dan/atau jasa sesuai dengan permintaan konsumen. sistem inovasi hanya akan terwujud jika terjadi komunikasi dan interaksi antara aktor atau lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. butuh peran dan komitmen yang sungguh-sungguh dari Pemerintah. Pada fase awal (seperti kondisi saat ini). 18 Tahun 2002 . yakni: [1] kapasitas untuk menyerap iptek yang berasal dari luar (sourcing capacity). dan produktivitas lembaga dalam menghasilkan teknologi per satuan sumberdaya dan/atau biaya yang dikelola. relevansi teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan nyata para pengguna. serta sebaliknya juga terjadi adopsi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengembang oleh pihak pengguna. dan regulator agar suasana yang kondusif dapat diwujudkan. agar pengguna dan pengembang iptek terangsang untuk mengintensifkan komunikasi dan interaksinya. Revitalisasi Lembaga Pengembang Teknologi Pada saat ini. dan efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan iptek yang bermanfaat. Pemerintah diharapkan dapat memainkan peran sebagai fasilitator. pada jenjang nasional. 101 Naskah Akademik Perubahan UU No.2. Contoh indikator kinerja lembaga litbang berbasis pada tiga kapasitas pokoknya. [2] kapasitas untuk melakukan riset dan pengembangan iptek (R&D capacity).1. tidak terjadi tumpang tindih riset yang dilakukan dengan riset yang (telah) dilakukan di tempat lain. Kapasitas ‘outsourcing’ lembaga pengembang teknologi terindikasi antara lain dari aksesibilitas ke berbagai sumber informasi iptek. Kapasitas riset dan pengembangan tercermin dari kualitas riset dan iptek yang dihasilkan. maupun kawasan ekonomi tertentu. Sedangkan kapasitas diseminasi terlihat dari intensitas dan jangkauan publikasi kegiatan riset yang dilakukan dan iptek yang dihasilkan baik melalui media cetak maupun elektronik.kapasitas adopsi (calon) pengguna potensialnya. Kesinambungan aliran dua arah ini yang menjadi indikator eksistensi sistem inovasi. kuantitas dan kualitas iptek yang diadopsi oleh pihak pengguna. ada tiga kapasitas yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap lembaga pengembang teknologi. menggerakkan aliran dua-arah ini akan membutuhkan daya yang besar dan upaya yang intensif. intermediator. dan [3] kapasitas untuk mendiseminasikan pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan (disseminating capacity)(Gambar 8). dan royalti yang diterima oleh lembaga atas produk teknologinya yang berhasil dikomersialisasikan. daerah.

Strategi revitalisasi lembaga pengembang teknologi dikemas secara komprehensif dan integratif. Tiga kapasitas lembaga litbang dan contoh indikator kinerjanya Kapasitas Pokok Kapasitas Outsourcing Kapasitas Litbang Kapasitas Diseminasi Contoh Indikator Kinerja  Akses ke sumber informasi iptek  Tidak terjadi tumpang tindih dan replikasi riset  Efisiensi pemanfaatan sumberdaya  Jaringan kemitraan  Kualitas hasil litbang  Relevansi dengan kebutuhan/persoalan nyata  Produktivitas kelembagaan  Situs dan frekuensi pemutakhiran informasi  Publikasi ilmiah  Hasil riset yang dimanfaatkan pengguna  Royalti yang diterima Pada era inovasi yang terbuka ini. 2011a) Tabel 7.Gambar 8. tidak secara partial maupun tersegmentasi. Ukuran keberhasilan dan pilihan indikator yang digunakan dalam melakukan evaluasi kinerja lembaga 102 Naskah Akademik Perubahan UU No. Tiga kapasitas yang harus dimilik lembaga litbang (Lakitan. ketiga jenis kapasitas ini secara paralel dikembangkan dalam sebuah sistem yang terintegrasi. 18 Tahun 2002 .

baru kemudian memilih indikator yang pas untuk mengevaluasi kemajuan yang dicapai secara berkala dengan interval waktu yang rasional. sepanjang kurun waktu yang dibutuhkan untuk proses transformasi dari kondisi saat ini menjadi lembaga ideal yang diharapkan. Lembaga pengembang teknologi saat ini merupakan bagian integral dari sistem yang lebih besar. S&T indicators. serta tujuan dan sasarannya perlu disesuaikan. Kegiatan riset yang cenderung untuk prestasi akademik semata.pengembang teknologi perlu dikonstruksi secara cermat. yakni: [1] merumuskan kembali tujuan dan menetapkan sasaran yang ingin dicapai. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi diyakini akan menempuh tiga langkah penting. can convey misleading policy messages”. sangat bijaksana nasehat yang dikemukakan oleh seorang tokoh inovasi dunia yang berkerja puluhan tahun untuk lembaga internasional ternama dalam mengembangkan indikator ilmu pengetahuan. Peringatan dan nasehat seperti ini perlu secara serius diperhatikan oleh para pengelola lembaga pengembang teknologi di Indonesia. 2009). Namun demikian tetap perlu dicermati. Oleh sebab itu. visi dan misi. Boardman (2009) mengirimkan sinyal tentang tantangan yang sulit ini: [There is] a fundamental management task of aligning individual behaviors with [research] center goals and objectives. Apalagi individu-individu dalam komunitas pengembang teknologi selama ini terbiasa dan lebih nyaman berkerja secara individual dibandingkan sebagai bagian dari kelompok atau komunitas yang lebih besar. Peringatan dari Loikkanen et al. Cara yang bijak adalah pahami secara komprehensif dan mendalam tentang lembaga pengembang teknologi Indonesia saat ini dan ekspektasi peran lembaga ini yang ideal di masa yang akan datang. Keberhasilan pada dua langkah pertama akan sia-sia jika langkah ketiga ini tidak berhasil dilaksanakan. Dalam penggunaan indikator ini. Rencana strategis dan rencana aksi lembaga perlu ditinjau ulang. if poorly constructed. Indikator kinerja yang dikembangkan dan telah digunakan oleh lembaga internasional dengan reputasi baik serta telah diadopsi oleh berbagai negara. agar transfer/difusi iptek dapat berjalan lebih lancar. we argue that frontiers and characteristics of STI indicators that were important last century may no longer be so relevant today and indeed may even be positively misleading” (Freeman and Soete. karena kasus ‘abuse’ indikator STI (dan data statistik lainnya) bukan merupakan kejadian langka di Indonesia. atau yang hanya bersifat sebagai academic exercise. perlu 103 Naskah Akademik Perubahan UU No. [2] melakukan reformasi struktural agar organisasi lembaga dapat menjadi kendaraan yang efektif untuk mencapai tujuan. Langkah pertama dan kedua relatif tidak sulit untuk dilakukan. dan inovasi (STI) berikut ini: “On the basis of 40 years of indicators work. yakni SINas. dapat dijadikan sebagai referensi. akan menjadi tantangan dan ujian yang paling sulit tetapi mutlak harus dilakukan. Lembaga pengembang teknologi di Indonesia juga perlu melakukan reformasi. 18 Tahun 2002 . yakni mengubah mindset dan budaya kerja individu peneliti dan komunitas pengembang litbang. karena tidak secara otomatis menjamin indikator tersebut merupakan indikator yang paling pas untuk kondisi dan kepentingan Indonesia saat ini. (2009) perlu mendapat perhatian: “Although useful in benchmarking of country performances. dan [3] mengubah mindset dan budaya kerja komunitas pengembang teknologi. teknologi. maka langkah ketiga.

dan [2] peningkatan kapasitas adopsi teknologi terkendala oleh ekosistem yang kurang kondusif. yakni untuk menghasilkan iptek yang bermanfaat bagi umat maupun negara. meningkatnya rasa bangga sebagai warga negara. misalnya market-driven. terutama karena regulasi yang kurang 104 Naskah Akademik Perubahan UU No.3. dan [2] unsur-unsur ekosistem eksternal yang kurang kondusif. Perspektif ini yang menjadi ruh pengembangan teknologi berbasis realita kebutuhan (demand-driven). sejak awal kegiatan pengembangan teknologi harus mempunyai orientasi yang jelas. terutama dari regulasi dan insentif yang belum optimal. 18 Tahun 2002 . Jika konsepsi hanya menyentuh persoalan simptomatis. maka konsepsi yang dikembangkan mungkin kelihatannya bagus tetapi sangat mungkin akan mengecewakan karena ternyata tidak mampu memberikan solusi sebagaimana yang diharapkan. Hipotesis untuk kondisi saat ini adalah: [1] kapasitas adopsi lembaga-lembaga pengguna teknologi di Indonesia saat ini masih sangat rendah. Namun demikian. maka konsepsi tersebut tidak akan mampu menjadi solusi mendasar bagi upaya meningkatkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi sebagaimana yang diniatkan. dan bentuk keuntungan sosial dan spiritual lainnya. Upaya penguatan kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu memperhatikan: [1] potensi internal (sumberdaya manusia. turunnya tingkat kriminalitas atau tumbuhnya rasa aman. mission-driven. misalnya penyelenggaraan pemerintahan yang lebih bersih.1. walaupun banyak ragam istilah yang digunakan. Kegiatan pengembangan teknologi dalam jangka panjang harus memberikan keuntungan yang sebanding dengan pembiayaannya. goal-oriented research. Jika hanya gejala simptomatis yang mampu dikenali. selain itu juga kebijakan internal lembaga masih belum memberikan prioritas untuk peningkatan kapasitas adopsi. Untuk itu perlu kejelian dalam mengidentifikasi akar persoalan (fundamental problems). sarana dan prasarana pendukung) lembaga-lembaga pengguna teknologi sangat minimal. kerukunan umat beragama. Pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi sudah saatnya diperlakukan sebagai bagian dari investasi. Peningkatan Kapasitas Adopsi Lembaga Pengguna Teknologi Konsepsi peningkatan kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna berpeluang untuk diterapkan jika dibangun berdasarkan realita posisi saat ini. Keuntungan yang dimaksud tidak selalu dalam bentuk keuntungan ekonomi. kemampuan pembiayaan. agar tidak terkecoh oleh gejala simptomatis (symptomatical problems) yang mungkin tertangkap pada kesan pertama. tetapi dapat dalam bentuk non-ekonomi. Pemahaman yang tepat tentang akar persoalan yang menyebabkan lembaga pengguna teknologi Indonesia berada pada posisi saat ini akan sangat membantu. atau challenge-driven. Kecenderungan global saat ini sangat kentara mengarah pada pengembangan teknologi berbasis kebutuhan.digeser prioritasnya untuk mendahulukan kegiatan riset untuk menghasilkan iptek yang sesuai dengan kebutuhan nyata. evidence-based. yang disebabkan oleh mutu potensi internal yang rendah dan motivasi yang kurang. need-driven. akibatnya motivasi untuk melakukan upaya peningkatan tersebut juga tidak tumbuh. issue-driven. Ragam istilah pendekatan pengembangan teknologi ini pada esensinya adalah kurang-lebih sama. 5.

serta program-program insentif yang ada masih kurang efektif dan/atau kurang menarik bagi lembaga pengguna (Gambar 9). Realita saat ini menumbuhkan keyakinan bahwa untuk mengoptimalkan kemampuan lembaga pengguna dalam mengadopsi teknologi yang paling krusial adalah melakukan pembenahan internal lembaga. lembaga pemerintah yang berperan sebagai lembaga pengguna teknologi juga harus diperkuat kapasitas litbangnya. Lembaga ini tidak hanya mampu menggunakan produk teknologi yang dibeli atau diakuisisi. Posisi ini cenderung sebagai konsumen akhir dari teknologi atau produk teknologi yang diakuisisi.mendukung atau sebagian sudah mendukung namun implementasinya masih terkendala. selain juga fasilitasi dan intermediasi yang masih belum optimal. lembaga pemerintah mengadopsi teknologi untuk digunakan dalam menjalankan tugas negara/pemerintahan. 18 Tahun 2002 . Minimal mampu melakukan pemeliharaan (maintenance). Kerangka dasar konsepsi peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Berbeda dengan industri yang mengadopsi teknologi untuk diaplikasikan dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. Sebagaimana industri. atau dengan ungkapan yang lebih sederhana adalah dengan melakukan penguatan kapasitas litbang internal lembaga pengguna. Gambar 9. prasarana. terutama penguatan sumberdaya (manusia. dan dana) untuk mendukung aktivitas litbang pada lembaga pengguna. misalnya dalam konteks teknologi pertahanan dan keamanan. sarana. sehingga mengurangi 105 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pembenahan ini mencakup. tetapi juga mampu untuk melakukan asimilasi dan reformulasi teknologi agar lebih sesuai dengan kebutuhan spesifiknya dan/atau untuk meningkatkan kehandalan produk teknologi tersebut.

Upaya penguatan kapasitas adopsi masyarakat sebagai pengguna teknologi perlu pendekatan yang berbeda. Mungkin saja organisasi atau asosiasi masyarakat yang memayungi individuindividu pengguna teknologi.ketergantungan kepada pihak produsennya sebagai langkah antisipatif jika ada kendala purnajualnya. motivasi. dan [4] melakukan upaya institusional yang dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam meningkatkan peran aktifnya dalam proses adopsi dan pengembangan teknologi. dan lain-lain. Untuk dapat melaksanakan peran ini. namun lembaga masyarakat tersebut tidak bersifat ‘struktural’ sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang setara dengan lembaga pengguna sebagaimana pada industri dan pemerintahan. Dua faktor bersifat mendorong (pushing factors) lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. maka opsi utamanya adalah meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian sumberdaya manusia yang bekerja pada masing-masing lembaga pengguna tersebut. yakni regulasi dan 106 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta siap secara seutuhnya untuk mengadopsi teknologi tersebut. Namun demikian. handal. peternak. agar upaya meningkatkan kapasitas adopsi individu masyarakat ini dapat dilakukan secara lebih praktis. naluri bisnis. maka perlu upaya sungguh-sungguh untuk: [1] meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian dan/atau ketrampilan sumberdaya manusia. dan efisien. termasuk juga melalui spillover investasi asing. [2] memberikan dukungan fasilitas dan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan adopsi dan pengembangan teknologi. dan relevan dengan kebutuhan lembaganya. dan individu masyarakat). Di era informasi terbuka ini. bidang usaha. seniman. Dengan kata lain. misalnya insentif yang pantas untuk kontribusi atau prestasi yang dicapai. pelaksanaannya dapat saja dilakukan secara kolektif pada komunitas pengguna dengan kebutuhan jenis teknologi. terutama untuk yang secara langsung melaksanakan tugasnya terkait adopsi dan pengembangan teknologi. diikuti dengan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan dukungan anggaran yang mencukupi. misalnya petani. Dalam rangka memaksimalkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. Memahami karateristik masing-masing pengguna teknologi yang berbeda (antara industri. individu-individu masyarakat lebih pas jika diperlakukan secara independen. yakni untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi. terlepas dari jumlah karyawannya yang mungkin sangat sedikit. tetapi juga mampu secara proaktif mengenali jenis dan mengidentifikasi sumber teknologi yang maju. Kapasitas adopsi individu masyarakat dengan demikian akan tergantung pada kapasitas intelektual. rasional. dan skala usaha yang setara. nelayan. Ada empat faktor eksternal yang secara langsung mempengaruhi kapasitas adopsi teknologi. dan kualitas personal lainnya. 18 Tahun 2002 . [3] menyepakati dan menjalankan secara konsisten kebijakan internal lembaga pengguna untuk memprioritaskan adopsi dan pengembangan teknologi. lembaga pengguna juga diharapkan tidak hanya mampu mengaplikasikan teknologi. dibutuhkan pendekatan dan strategi yang berbeda untuk masing-masing kelompok pengguna tersebut. walaupun tujuannya adalah sama. baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri. lembaga pemerintah. Namun perlu pula ditegaskan bahwa industri mikro atau kecil tradisional tetap harus dikategorikan sebagai satu entitas industri. kemampuan manajerial.

serta ketersediaan sumberdaya (bahan baku. misalnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Secara ringkas. tetapi hanya lembaga pengguna yang siap yang mampu melakukan proses adopsi tersebut secara efektif dan efisien. fasilitas dan infrastruktur pendukung) akan menumbuhkan motivasi dan menjadi pemicu untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi yang dibutuhkan lembaga pengguna untuk mengelola sumberdaya tersebut. tenaga kerja. sedangkan adanya kompetitor tentu akan menjadi faktor pendorong lainnya bagi lembaga pengguna untuk antara lain meningkatkan aktivitas serta fasilitas riset in-house. serta mampu mengadaptasi teknologi tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhannya dan mampu memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari adopsi teknologi tersebut. Faktor eksternal yang mempengaruhi kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Regulasi yang tepat akan mendorong lembaga pengguna untuk meningkatkan kemampuan internalnya yang berkaitan langsung dengan kapasitas adopsi teknologi. Prinsip dasarnya dalam era informasi terbuka ini. semua pihak bisa mendapatkan informasi tentang ketersediaan teknologi dan berpeluang untuk mengadopsinya. yakni adanya permintaan pasar dan ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan (Gambar 10). kepakaran. 18 Tahun 2002 . potret kapasitas 107 Naskah Akademik Perubahan UU No. sedangkan dua faktor lagi bersifat menarik (pulling factors). Gambar 10.adanya kompetisi antara lembaga pengguna. Adanya permintaan pasar yang nyata dan signifikan.

menyerap dan mengasimilasikan teknologi tersebut. yakni: [1] Kapasitas internal lembaga sangat krusial untuk dibangun. Peningkatan Peran Lembaga Intermediasi Ketidakpaduan antara teknologi yang dihasilkan lembaga pengembang dengan kebutuhan pengguna dan rendahnya kebutuhan serta kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna merupakan kenyataan yang menjadi justifikasi: [1] kebutuhan akan lembaga intermediasi. serta mengaplikasikannya dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diembannya.adopsi yang ideal untuk lembaga pengguna teknologi adalah jika memiliki kemampuan untuk mengenali teknologi sesuai dengan kebutuhannya. [2] Perlu dukungan yang optimal untuk aktivitas dan penyediaan fasilitas riset in-house. terutama – tetapi tidak terbatas pada sumberdaya manusia yang ditugaskan pada atau terkait langsung dengan unit yang menangani adopsi. [3] Regulasi dan kompetisi menjadi faktor pendorong (pushing factors) yang efektif. sedangkan permintaan pasar dan potensi sumberdaya dapat menjadi faktor penarik (pulling factors) yang atraktif bagi lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya.1. memformulasikan teknologi yang aplikatif sesuai kemampuan dan kebutuhannya. namun jika kapasitas adopsinya sudah berada pada jenjang yang ideal maka keberadaannya dalam klaster inovasi akan memperbesar peluangnya untuk mengadopsi teknologi tersedia yang sesuai dengan kebutuhannya. 5. 18 Tahun 2002 .4. [5] Keberadaan lembaga pengguna dalam suatu klaster inovasi tidak menjamin akan efektif dalam mengadopsi teknologi yang tersedia. dan pengembangan teknologi. adaptasi. sehingga dapat memperbesar peluang untuk terjadinya aliran atau limpasan (spillover) teknologi yang diserap oleh lembaga pengguna. dan [6] Kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu secara paralel dibangun bersama dengan kemampuan lembaga pengembang untuk menghasilkan teknologi yang relevan dalam rangka mewujudkan sistem inovasi. adaptasi. baik pada tingkat nasional maupun pada jenjang yang lebih terbatas wilayah cakupannya. karena akan secara nyata berdampak positif pada kapasitas adopsi. dan pengembangan teknologi. tetapi juga sekaligus [2] menjadikan lembaga intermediasi yang sudah ada sulit untuk menjalankan perannya. 108 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau sesuai dengan core business-nya. [4] Perlu regulasi dan kebijakan yang kondusif untuk membuka peluang mobilisasi sumberdaya manusia antar-lembaga inovasi. oleh sebab itu perlu melakukan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Ada beberapa catatan penting terkait dengan kapasitas adopsi yang ideal bagi lembaga pengguna teknologi.

18 Tahun 2002. Sentra HKI adalah unit kerja yang berfungsi mengelola dan mendayagunakan kekayaan intelektual. lembaga intermediasi yang ada pada dasarnya diinisiasi oleh pemerintah tetapi kemudian dikelola oleh lembaga pemerintah itu sendiri atau personel yang bukan pegawai pemerintah. peran lembaga intermediasi perlu didorong agar dapat berperan ganda tersebut. Menurut UU No. Peran Ganda Lembaga Intermediasi Peran intermediasi ini dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga nonpemerintah. termasuk kemampuan menyelenggarakan kegiatan komersialisasi secara profesional yang didukung aspek legal. Dengan adanya Sentra HKI diharapkan perguruan tinggi dan lembaga litbang dapat mengembangkan unit organisasi dan prosedur untuk mengelola semua kekayaan intelektual dan informasi iptek yang dimilikinya. sekaligus sebagai pusat informasi dan pelayanan HKI. Jumlah Sentra HKI saat ini mencapai 79 buah. Minat pihak swasta untuk berperan sebagai intermediator masih rendah dan belum akan tumbuh jika teknologi yang dihasilkan pengembang belum mempunyai nilai jual yang baik atau jika relevansi antara teknologi yang dikembangkan masih senjang dengan kebutuhan pengguna. sejak digagas Kementerian Riset dan Teknologi pada 1999. 109 Naskah Akademik Perubahan UU No.Lembaga intermediasi yang ada saat ini masih terlalu fokus pada upaya ‘memasarkan’ teknologi yang dihasilkan oleh lembaga pengembang. Pada saat ini. 18 Tahun 2002 . Oleh sebab itu. Sebagai contoh lembaga mediasi adalah Sentra HKI dan Business Innovation Center (BIC). belum banyak berperan dalam membantu mengidentifikasi kebutuhan atau persoalan yang dihadapi pengguna dan mengalirkan informasi tersebut kepada lembaga pengembang teknologi. Gambar 11. memasarkan teknologi yang dihasilkan pengembang dan sekaligus menjadi perpanjangan tangan pengembang untuk memahami kebutuhan dan persoalan teknologi yang dihadapi pengguna (Gambar 11). Namun sebagian besar menghadapi permasalahan lemahnya kemampuan di bidang manajemen HKI.

membantu dalam hal finansial yang akan dibantu oleh pihak swasta/pelaku bisnis. dan. memberikan pengetahuan mengenai pasar dan trend yang ada di pasar. menyusun agenda dan pengaturan pertemuan dengan pusat-pusat kajian teknologi. untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan bisnis dan daya saing nasional Indonesia. mengidentifikasikan risiko dan mengenali potensinya. memberikan secara terusmenerus informasi tentang perkembangan teknologi baru dan proses produksi. Layanan untuk pemerintah mencakup upaya mempererat hubungan pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. akademisi dan pemerintah yang sesuai dengan fungsi dan tujuan BIC. memberikan jaringan/network pelaku bisnis dalam hal kerjasama terhadap pihak akademisi. 5. mengadakan gathering dan seminar dalam hal menjembatani ABG. memberikan dukungan terhadap program-program pemerintah dalam hal inovasi. memfasilitasi pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi.1. memberikan pendampingan pada perusahaan-perusahaan yang inovatif. mengatur pertemuan para pakar untuk dapat menjalin kerjasama. dan. 18 Tahun 2002 . Layanan untuk swasta/bisnis yang dilakukan BIC mencakup mempermudah proses pencarian informasi mengenai inovasi. swasta. melalui kegiatan intermediasi antara inovator pengembangan teknologi dengan dunia bisnis. memberikan informasi mengenai kajian-kajian teknologi yang sedang berlangsung.5. membantu menghubungkan kepada pihak dunia usaha dalam hal kerjasama. walaupun saat ini teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat berkembang dan juga 110 Naskah Akademik Perubahan UU No. mengatur pertukaran para pakar yang dibutuhkan dengan keahlian tertentu. dan membantu melakukan analisi terhadap pihak dunia usaha yang memiliki interest untuk berinvestasi terhadap riset yang dilakukan. menganalisa dan mengoptimalkan rangkaian nilai proses kerja. Misi lembaga ini adalah mendorong inovasi business di Indonesia. membantu mencarikan mitra kerjasama yang tepat dari kalangan iptek. BIC memberikan beberapa jenis layanan yaitu layanan umum. dan memfasilitasi program incentif yang dibuat oleh pemerintah. perusahaan. Business Innovation Center atau yang disingkat BIC didirikan dengan tujuan mengoptimalkan pemberdayaan Inovasi di Indonesia dengan tujuan meningkatkan pembangunan nasional. Penyiapan Science and Technology Park Kedekatan fisik atau lokasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi masih dianggap penting dalam upaya menumbuhkan interaksi yang lebih intensif dan produktif. BIC diharapkan menjadi lembaga intermediasi proses inovasi bisnis. memperluas hubungan dengan pemerintah dan akademisi. membuat database yang menampung informasi mengenai proses-proses inovasi. pemasok.Padahal Sentra HKI harus mampu menjadi marketer atau sebagai intermediator antara pemilik dan pengguna HKI. memajukan pengembangan teknologi inovasi dalam skala nasional. Sedangkan layanan untuk akademisi/teknisi adalah membantu mengembangkan produk inovasi yang sudah ada untuk di komersialkan. Layanan umum mencakup kunjungan ke perusahaan-perusahaan. menghubungkan para pelaku bisnis dalm hal mendapatkan insentif yang diberikan oleh pemerintah. mempermudah pengembangan bisnis dengan penerapan inovasi.

yakni dengan merevitalisasi kawasan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong. Aset pengetahuan (stock of knowledge) yang secara kolektif telah terakumulasi pada komunitas pengembang teknologi di kawasan Puspiptek Serpong perlu dikelola dan ‘dipasarkan’. termasuk lembaga keuangan dan lembaga pendidikan. yang disingkat sebagai I-STP. Oleh sebab itu. terutama pendidikan tinggi dan kejuruan. Kemampuan inovasi Indonesia ini sudah setara dengan negara-negara yang perekonomiannya sudah berbasis inovasi. Untuk tujuan ini. Pembangunan I-STP (melalui revitalisasi Puspiptek Serpong) merupakan salah satu upaya untuk menyediakan wahana untuk meningkatan frekuensi dan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. terbukti dengan peringkat kesiapan teknologi (technological readiness) yang masih relatif rendah. Kapasitas lembaga pengembang teknologi Indonesia sesungguhnya cukup baik.menjadi lebih murah untuk sarana berkomunikasi antara personel maupun lembaga. Persoalan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah rendahnya hasil riset dan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang diadopsi oleh industri atau pengguna teknologi lainnya. I-STP menjadi saluran efektif bagi teknologi untuk memberikan kontribusi 111 Naskah Akademik Perubahan UU No. Secara kolektif. Wahana I-STP diproyeksikan akan menjadi model SINas dalam rangka membangun ekonomi Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge based economy (KBE). Indonesia merencanakan untuk membangun Indonesian STP. Lembaga intermediasi diharapkan menjadi gerbang untuk partisipasi lembaga pengguna teknologi. Dinamika interaksi pengembang-intermediator-pengguna teknologi yang intensif dan produktif akan dengan sendirinya ‘mengundang’ partisipasi lembaga-lembaga penunjang lainnya. dilaporkan bahwa kapasitas pengembangan teknologi ini ternyata belum diimbangi dengan kesiapan pengguna teknologi untuk mengadopsinya. Upaya membangun I-STP ini sudah mulai digarap. 18 Tahun 2002 . terutama industri-industri berbasis teknologi (Gambar 12). Peran lembaga intermediasi diharapkan dapat mengakselerasi proses adopsi teknologi tersebut. yakni Business Technology Center (BTC) dan Business Innovation Center (BIC). banyak negara membangun Science and Technology Park (STP) sebagai wahana untuk mendekatkan secara fisik antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi. tetapi juga merupakan akibat dari teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan lembaga pengguna tersebut. yakni pada peringkat ke 91. Ketidak-siapan lembaga pengguna Indonesia untuk mengadopsi teknologi ini tidak sepenuhnya merupakan resultan dari rendahnya kapasitas adopsi teknologinya. Berdasarkan survei WEF tersebut. terbukti dengan posisi indeks inovasi Indonesia dalam peringkat World Economic Forum (WEF) tahun 2010 yang berada pada posisi ke 36. Kementerian Riset dan Teknologi perlu merevitalisasi lembaga-lembaga intermedia yang sudah terbentuk. upaya-upaya ini diharapkan dapat mendongkrak status kesiapan teknologi Indonesia. Upaya ini diharapkan akan meningkatkan relevansi teknologi yang dikembangkan (karena semakin memahami kebutuhan pengguna) dan sekaligus meningkatkan kapasitas adopsi pengguna (karena peningkatan kapasitas SDM-nya dalam mengenali dan mengaplikasikan teknologi). Dengan demikian.

Gabungan dua kawasan ini akan membentuk Innovation Park (STP+IP = InnoPark). pertumbuhan. maka akan diyakini mampu menyejahterakan rakyat sebagaimana yang amanahkan oleh konstitusi.nyata terhadap peningkatan ekonomi nasional.1.6. 5. kawasan Puspiptek Serpong. Definisi umum tentang Pusat Unggulan adalah: ‘an organization which is 112 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi juga digunakan di dunia bisnis maupun bidang-bidang lainnya. Metamorfosis Puspiptek Menjadi I-STP Menurut UU No. Untuk kondisi Indonesia. politeknik. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. maupun badan usaha. 18 Tahun 2002. serta pusat peragaan iptek untuk dapat menumbuhkan budaya iptek. lembaga litbang. dilengkapi dengan lembaga dan fasilitas pendukungnya yang sepadan. Kawasan ini diharapkan dapat memfasilitasi sinergi. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. seperti kawasan iptek. akan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan inovasi mandiri yang dapat menjadi model SINas Indonesia yang membanggakan. 18 Tahun 2002 . sebagai kawasan iptek sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. dan interaksi antara perguruan tinggi. yang jika dibangun bersama rakyat. dan sekolah menengah kejuruan di kawasan ‘InnoPark’ ini. Menghadirkan lembaga pendidikan tinggi. pemerintah maupun swasta dapat mengembangkan sarana dan prasarana iptek. Gambar 12. Membangun Pusat Unggulan Inovasi Pusat Unggulan merupakan padanan kata untuk Center of Excellence yang sudah sangat dikenal dan digunakan tidak hanya dalam bidang iptek.

sesuai dengan kondisi awal dan sasaran yang ingin dicapai. tepat jika disebut sebagai Pusat Unggulan Inovasi atau Center of Excellence on Innovation. sebuat pusat unggulan harus menetapkan standar kinerja yang sangat tinggi. yakni dengan format pengembangan lembaga tunggal tapi dengan memperkaya tugas dan fungsinya. Dengan demikian. Oleh sebab itu. 18 Tahun 2002 . kebijakan sektoral. Dalam konteks pilihan ini. kebijakan nasional. Penciri lain yang digunakan untuk mendeskripsikan pusat unggulan adalah: ‘a place where there are very high standards of work’. atau dengan membentuk konsorsium yang terdiri dari paling tidak lembaga pengembang dan pengguna teknologi (Gambar 14). sehingga dapat secara nyata mampu mewujudkan sistem inovasi. Gambar 13. maka sangat tepat jika Pusat Unggulan yang difasilitasi perkembangannya oleh Kementerian Riset dan Teknologi adalah keunggulan dalam membangun sistem inovasi. Pusat Unggulan harus dikenal oleh komunitasnya. Pusat unggulan yang akan didorong untuk tumbuh dan berkembang adalah lembaga atau konsorsium yang konsisten dengan amanah konstitusi. dan program Kementerian Riset dan Teknologi (Gambar 13). dianggap berhasil dan mempunyai reputasi yang sangat baik di bidangnya. dalam melaksanakan fungsinya.recognized as being successful and having an excellent reputation in its field’ . dan [2] keunggulan tersebut khusus pada bidangnya. Untuk mencapai standar ini. Tersirat dalam definisi ini adalah: [1] keberhasilan dan reputasi tersebut bersifat relatif (dibandingkan dengan lembaga-lembaga serupa di bidang tertentu). dimana [3] bidang keunggulan tersebut bersifat terbuka untuk kompetensi atau spesifikasi fungsi tertentu. maka ada dua opsi dalam membangun pusat unggulan inovasi. Pengembangan Pusat Unggulan Inovasi yang Konsisten dengan Amanah Konstitusi 113 Naskah Akademik Perubahan UU No. Maknanya.

Peran pemerintah sebagai fasilitator. yakni: [1] mempunyai kepentingan atau tujuan bersama (shared goal atau core issue) yang jelas dan disepakati oleh semua anggota. Tujuan bersama dimaksud perlu disepakati dari awal pembentukan konsorsium. 18 Tahun 2002 . kapasitas lembaga sebagai bentuk share yang dapat dikontribusikan. karena ini yang menjadi komitmen awal dan mendasar bagi setiap lembaga untuk memutuskan apakah akan ikut bergabung dalam konsorsium tersebut atau tidak. Secara umum terdapat tiga asas penting dalam membangun konsorsium. Mendorong Pembentukan Konsorsium Inovasi Interaksi dan komunikasi antara pengembang dan pengguna teknologi menjadi lebih baik apabila ada wahana untuk berinteraksi.Gambar 14.7.1. terutama pada fase inisiasinya. [2] hubungan yang dibangun harus bersifat mutualistik sebagai modal dasar untuk memotivasi semua anggota untuk memperjuangkan kepentingan bersama. antara lain berupa konsorsium. Pilihan Alternatif Organisasi Pusat Unggulan Inovasi 5. karena ini merupakan dasar komitmen bersama yang penting 114 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan regulator sewajarnya akan semakin berkurang jika komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi dalam wadah konsorsium ini telah berlangsung secara intensif dan produktif. Tentu dengan memperhatikan tugas dan fungsi lembaganya masing-masing. dan benefits yang diharapkan dapat diperoleh dengan bergabung dalam konsorsium tersebut. dan [3] semua anggota sepakat untuk sharing sumberdaya sepadan dengan fungsi dan kapasitasnya masing-masing. intermediator. Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya diharapkan berperan aktif dalam membentuk konsorsium ini. Setiap konsorsium yang dibentuk mempunyai tujuan bersama yang jelas.

setiap konsorsium harus ada anggota yang disepakati sebagai koordinator.untuk kelangsungan eksistensi konsorsium. atau malah berpotensi kontra-produktif dan dapat saja ada free rider yang kontribusinya tidak signifikan terhadap kinerja konsorsium. efisien. pola hubungan antar-anggota yang bersifat horizontal akan lebih dominan. Kapasitas dan jenis kompetensi lembaga yang dibutuhkan. Ada dua opsi dalam menghimpun anggota konsorsium. atau [2] dilakukan secara tertutup dan bersifat statis. Salah satu alasan pembentukan konsorsium adalah agar penggunaan sumberdaya (manusia. Oleh sebab itu. namun konsorsium pada hakikinya bersifat tidak-permanen. Namun jumlah anggota yang pas tentu tergantung dengan tujuan bersama yang ingin dicapai. Sinergi fungsional merupakan asas yang menjiwai tata kerja organisasi konsorsium. juga perlu masuk dalam formula untuk penetapan jumlah anggota yang ideal. dan taat hukum. maka paling tidak satu lembaga mewakili pengembang teknologi dan lembaga lainnya mewakili pengguna teknologi. Dalam konteks ini. dimana anggota disepakati dari awal dan tidak berubah sampai tujuan bersama dicapai. serta kewajibannya (Gambar 15). Kesepakatan ini sangat penting karena tujuan bersama tersebut mungkin baru akan dicapai dalam jangka menengah atau panjang. serta juga dipengaruhi oleh beban kegiatan dan target waktu untuk pencapaian tujuan dimaksud. akuntabel. anggota konsorsium minimal dua lembaga. semua lembaga yang relevan dapat bergabung dalam konsorsium atas persetujuan inisiator dan semua anggota yang telah bergabung (existing members). sebaliknya jumlah anggota yang terlalu banyak juga dapat menyebabkan ketidak-efisienan dalam pelaksanaan pekerjaan. semua anggota diposisikan secara sejajar. dan pembiayaan) dapat dilakukan secara lebih efisien dan juga untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. terutama harus transparan. sama kedudukan. walaupun mungkin butuh waktu yang relatif lama untuk mencapai tujuan bersama. yakni: [1] dilakukan secara terbuka dan dinamis. Disamping itu. sarana dan prasarana. Keterjaminan sifat mutualistik tersebut akan memotivasi semua anggota untuk memberikan kemampuannya yang terbaik dan ikut berusaha keras untuk mencapai tujuan bersama. dimana. Oleh sebab itu. hak. agar sifat mutualistik ini selalu terpelihara. Secara formal. Lebih bagus jika ditambah satu lembaga lagi yang menjadi representasi unsur pemerintah. efektif. Dalam konteks sistem inovasi. Konsorsium lebih berorientasi fungsional dan terfokus pada upaya mencapai tujuan bersama yang disepakati sejak awal pembentukannya. yakni saling menguntungkan. 18 Tahun 2002 . Hubungan antar-anggota konsorsium harus bersifat mutualistik. karena ia menjadi jiwa dari sebuah konsorsium. budaya sharing perlu dibangun. Oleh sebab itu. Setiap konsorsium tentu memiliki beberapa anggota. Sedangkan jumlah anggota yang terlalu sedikit mengandung risiko akan kekurangan kapasitas dan kompetensi untuk mencapai tujuan. 115 Naskah Akademik Perubahan UU No. maka konsorsium harus dikelola secara profesional berlandaskan asas-asas good governance. Konsorsium merupakan sarana bersama dan bukan tujuan akhir bagi para pihak yang terlibat sebagai anggotanya.

dan [5] secara konsisten dikelola berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance)(Gambar 16). Model Konsorsium Inovasi (Lakitan. [4] dikoordinir oleh figur kepemimpinan yang kuat (strong leadership) . terutama pada fase awal. 2011b) 116 Naskah Akademik Perubahan UU No.Gambar 15. [3] mempunyai strategi pelaksanaan yang tepat dan implementatif (implementable strategy). yaitu: [1] mempunyai tujuan/sasaran bersama yang jelas dan disepakati semua anggota (clear shared goal) serta sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan publik (demand-driven). 18 Tahun 2002 Keberhasilan suatu konsorsium ditentukan beberapa faktor. . [2] sinergi anggota mampu membangun kapasitas kolektif yang cukup (adequate collective capacity) untuk mencapai tujuan/sasaran bersama.

. Akan tetapi anggota suatu konsorsium dapat saja juga menjadi anggota konsorsium lain dengan tujuan/sasaran yang berbeda. 2011b) Sejalan dengan ini. sistematis. seperti berbagai bentuk kolaborasi yang lainnya. dengan pentahapan yang logis. maka sangat mungkin terjadi ‘sibling rivalry’ antar-anggota tersebut. sehingga dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien. Konsorsium memang bertumpu pada inter-dependensi antar-anggota. pendekatan konsorsium juga direkomendasikan oleh Malherbe dan Stanway (2010) sebagai bentuk kolaborasi yang tepat. 18 Tahun 2002 Tujuan dan target/sasaran bersama merupakan perekat utama antar-anggota dari sebuah konsorsium. Keberlanjutan integrasi dan viabilitas dari sebuah konsorsium selain bertumpu pada tujuan bersama yang jelas. tetapi bersifat komplementatif satu dengan yang lainnya.Gambar 16. Konsorsium dengan multi-sasaran. akan mudah terancam bubar. Target ini dapat saja terdiri dari beberapa sub-target. jika anggotanya mempunyai kompetensi inti yang beragam. Kunci Sukses Konsorsium (Lakitan. sehingga dapat membangun sinergi yang secara kolektif akan menghasilkan konsorsium dengan kapasitas lebih besar dan dengan ragam kompetensi yang lebih banyak. tetapi secara kolektif sebuah konsorsium harus punya kemandirian untuk mencapai tujuan bersama. sehingga mampu menjalankan misinya dengan lebih baik dan komprehensif. pola 117 Naskah Akademik Perubahan UU No. apalagi multi-tujuan. Jika ada dua atau lebih anggota konsorsium dengan jenis kompetensi yang sama. perlu menyusun strategi operasional yang terencana dengan baik. Sebaiknya suatu konsorsium terbangun dari anggota dengan ‘core business’ yang berbeda atau mempunyai jenis kompetensi yang berbeda. tetapi semua sub-target tersebut harus berada dalam lingkup payung target utamanya atau berada dalam satu klaster. serta berbasis pada kapasitas kolektif yang dimiliki. Konsorsium.

Dalam konteks ini. Pada fase awal terbentuknya konsorsium. tetapi hanya akan merupakan proses scale-up (memperbesar volume output) saja. maka yang terjadi bukan sinergi fungsional yang mutualistik. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya akan lebih maksimal jika konsorsium terdiri dari anggotaanggota dengan kompetensi yang beragam dan bersifat komplementer. Kompetensi lembaga yang beragam sebagai anggota konsorsium juga membuka peluang untuk membangun kapasitas kolektif yang lebih besar dan komprehensif. serta biaya dalam upaya mencapai tujuan. pada dasarnya merupakan bentuk ‘miniatur’ dari sistem inovasi. Apabila proses komunikasi dan interaksi antar aktor inovasi yang bernaung dalam suatu konsorsium berfungsi sebagai ekosistem kondusif ini dapat dipertahankan selama kurun waktu yang lama. maka secara langsung juga akan penting kontribusinya dalam mengakselerasi upaya membangun 118 Naskah Akademik Perubahan UU No. Konsorsium dapat memberikan manfaat antara lain: [1] meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya manusia. Selain itu. Namun demikian. Tata kelola yang baik tentu harus dibangun berbasis pada prinsipprinsip good governance. tentu akan perlu dilakukan pergantian pemimpin. 18 Tahun 2002 . yang butuh kontribusi dari berbagai kompetensi. Sebagai langkah antisipasi maka perlu disiapkan stabilisator yang ampuh. sebaliknya akan sedikit dampaknya jika kompetensi anggota relatif homogen. akan lebih mampu untuk mengeksekusi aktivitas dengan lingkup yang lebih luas dan/atau tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. tidak cukup kuat faktor pendorong bagi anggota untuk berinteraksi secara lebih intensif. Dalam jangka panjang. yang sangat mungkin akan berbeda satu sama lain. setiap pemimpin memiliki style of leadership masing-masing. Konsorsium sebagai wadah komunikasi dan interaksi antar-lembaga yang menjadi anggotanya. atau lebih tepatnya koordinator konsorsium. konsorsium dapat dipandang sebagai mikro-ekosistem yang kondusif untuk mengalirkan informasi kebutuhan dari pengguna ke pengembang teknologi dan sebaliknya aliran paket teknologi dari pengembang ke pengguna teknologi. [3] meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi yang menjadi modal dasar untuk mewujudkan/memperkuat sistem inovasi. dan mungkin hanya dapat diselesaikan melalui paket solusi multi-dimensi yang komprehensif. karena tidak ada rasa saling membutuhkan yang kuat apabila kompetensi anggota konsorsiumnya sama. juga sangat membutuhkan figur pemimpin yang kuat dan secara de facto mampu mengelola konsorsium secara bijak. yang tidak mungkin dicapai masing-masing anggota secara individual. Dengan demikian. Pergantian ini seharusnya tidak mempengaruhi kinerja konsorsium secara drastis. jika terdapat anggotanya yang mewakili komunitas pengembang teknologi dan juga ada yang mewakili komunitas pengguna teknologi. konsorsium memang dirancang untuk menjawab tantangan yang lebih berat. [2] membuka peluang untuk mendapatkan capaian yang lebih besar/signifikan. sarana dan prasarana. peran figur yang kuat akan sangat krusial dalam rangka membangun ‘chemistry’ yang harmonis antar-anggota dengan keragaman latar belakang kompetensi dan budaya kerja. Selayaknya.hubungan antar-anggota yang bersifat mutualistik. Apabila kompetensi anggotanya sama. yakni berupa peraturan internal tentang tata kelola yang disepakati semua anggota.

119 Naskah Akademik Perubahan UU No. restrukturisasi lebih terarah pada upaya penyesuaian pembagian Komisi Teknis agar dapat mengakomodir perkembangan dan prioritas bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. ARN diharapkan menjadi petunjuk pelaksanaan arah dan prioritas kegiatan riset secara nasional. 5. Proses panjang ini harus diawali dengan membangun budaya inovasi pada jenjang yang paling mikro. Sedangkan penyesuaian komposisi anggota selain untuk menyeimbangkan antara perwakilan dari komunitas pengembang dengan pengguna teknologi. revitalisasi DRN perlu dilakukan dalam dua fase. teknologi berwawasan ekologis (green technology). yakni pada lingkup sebuah konsorsium. Revitalisasi dilakukan berbasis pada peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku dengan tanpa memerlukan revisi produk legislasi yang ada. baik perguruan tinggi maupun lembaga litbang kementerian. pengembangan industri. Budaya inovasi nasional tidak dapat dibangun secara instan. Revitalisasi Dewan Riset Nasional Dewan Riset Nasional (DRN) merupakan lembaga non-struktural yang berfungsi memberikan masukan kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi terutama dalam menetapkan Agenda Riset Nasional (ARN). Untuk meningkatkan peran dan kontribusi DRN tersebut. ARN pada saat ini belum secara penuh diacu oleh lembaga-lembaga riset. serta dengan terus mendukung pengembangan sains dasar dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. sehingga peran dan kontribusi DRN secara nyata dalam pembangunan iptek masih belum optimal. Komisi Teknis DRN mengikuti tujuh bidang fokus prioritas pembangunan iptek sesuai dengan RPJPN 2005-2025. masing-masing komisi teknis juga perlu memperhatikan cross-cutting issues. Pada Fase Pertama. Namun demikian. namun demikian pada masing-masing komisi teknis tersebut perlu didukung oleh anggota-anggota yang akan mendalami tentang lima unsur strategis untuk penguatan inovasi nasional. maka perlu dilakukan revitalisasi lembaga DRN. Matrik bidang dan kompetensi anggota DRN yang diusulkan disajikan pada Tabel 8. Selain itu. 18 Tahun 2002 . Saat ini DRN memiliki kewenangan yang terbatas dan dukungan sumberdaya yang juga belum memadai. difokuskan pada upaya membentuk DRN dengan peran yang lebih signifikan dan proyeksi kontribusi yang lebih nyata terhadap pembangunan iptek. maupun lembaga pemerintah non-kementerian yang melaksanakan kegiatan riset. terutama yang terkait langsung dengan tujuh bidang fokus pembangunan. dan mengurangi kemiskinan (pro-poor technology). termasuk kemungkinan reposisi organisasi DRN untuk langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Fase Kedua diawali dengan penyesuaian produk regulasi untuk landasan bagi pembentukan DRN dengan tugas pokok dan fungsi yang lebih vital (revitalized DRN). termasuk upaya meningkatkan kapasitas teknologi untuk pengelolaan sumberdaya kemaritiman. tetapi akan melalui proses panjang. yakni Fase Pertama dilakukan segera selama periode 2009-2011 untuk diimplementasikan pada periode tugas selanjutnya (2012-2014). juga diarahkan agar aktor-aktor utama dari sektor pembangunan (yang sesuai dengan pembagian komisi teknis DRN) dapat lebih efektif berperan. yang memerlukan revisi peraturan perundang-undangan.1. dan difokuskan pada upaya restrukturisasi dan penyesuaian komposisi keanggotaan.budaya inovasi.8. Secara realistis.

Tabel 8. 18 Tahun 2002  Anggota yang harus mengawal relevansi teknologi sudah sepatutnya berasal dari komunitas pengembang teknologi. Pembagian komisi teknis DRN dan kompetensi anggotanya terkait upaya penguatan SINas.Anggota DRN yang diangkat berjumlah 50 orang. lembaga riset swasta/industri. serta pengguna teknologi untuk tujuan nonkomersial lainnya. dengan formula sebagai berikut: Jumlah anggota DRN = 1 Ketua + 7 Komtek [ 5 Isu SINas + 2 Unsur Penguat ] Formula keanggotaan DRN ini dapat dirinci sebagai berikut:  Satu orang ketua yang lebih fokus sebagai pimpinan puncak yang tidak perlu terlibat langsung dalam kegiatan teknis pada tingkat komisi.  Anggota yang mewakili pihak yang memahami kebutuhan riset dan teknologi sesuai skenario penguatan inovasi nasional yang berorientasi demand-driven.  Anggota yang mewakili unsur regulator dan pembuat kebijakan publik dapat ditunjuk dari para Kepala Badan Litbang Kementerian Teknis terkait sesuai dengan bidang fokus masing-masing. sehingga ketua ini dapat dipilih dari ‘prominent figure’ yang dengan ketokohannya dapat meningkatkan kewibawaan lembaga DRN dan sekaligus dapat memimpin anggota DRN secara efektif agar dapat berkinerja dengan baik. dan lembaga pemerintah pengguna teknologi. dan perguruan tinggi. industri kecil dan menengah. yang sekaligus dapat ditetapkan sebagai Ketua Komisi Teknis. industri besar. asosiasi industri untuk komisi teknis transportasi. industri kreatif. yakni para pelaku produksi barang/jasa baik dari unsur masyarakat. KOMISI TEKNIS PENGUATAN SINAS 120 Naskah Akademik Perubahan UU No. Misalnya dari wakil asosiasi petani untuk komisi teknis pangan.  Anggota yang diyakini akan memahami kapasitas adopsi pengguna teknologi adalah para pengguna teknologi itu sendiri. dan pengguna langsung teknologi hankam (TNI dan Polri). asosiasi industri. dan kementerian hankam untuk komisi teknis pertahanan dan keamanan. yakni dari lembaga riset pemerintah. . sepatutnya dipilih dari unsur komunitas masyarakat.

peternak. serta jejaring lembaga iptek yang mantap dalam rangka menjamin pemutakhiran data iptek yang berkesinambungan. banyak teknologi pangan yang tidak diadopsi petani. perindustrian. dan lembaga intermediasi non-pemerintah. dan pembudidaya ikan karena belum mengintegrasikan pemahaman dimensi sosial. pendidikan nasional. revitalisasi diharapkan mampu memposisikan DRN untuk melaksanakan tugas pokok yang mencakup: [a] membangun basis data iptek yang akurat dan komprehensif. tetapi sangat perlu terlibat secara langsung dalam pembahasan pada tingkat pleno sebagai penyampai aspirasi daerah yang diwakilinya. misalnya komisi teknis pangan dapat menambah satu anggota dari pakar kemaritiman untuk mendukung isu strategis pembangunan ketahanan pangan dan satu anggota dari pakar ilmu sosial karena berdasarkan realita. 18 Tahun 2002 . sedangkan  Anggota DRN yang mewakili DRD Provinsi (ex officio) tidak harus dimasukkan secara tetap dalam komisi teknis. termasuk perwakilan dari kementerian terkait.  Dua anggota untuk penguat ditentukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing komisi teknis. perencanaan pembangunan nasional/Bappenas. nelayan. ekonomi. [b] membangun kemampuan/kapasitas dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan teknologi di dalam negeri dan sekaligus juga menyediakan sistem 121 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan kultural dalam pengembangan teknologi tersebut.Relevansi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kapasitas Adopsi Pengguna Teknologi Intermediasi & Penunjang Sistem Inovasi Regulasi dan Kebijakan Publik Kebutuhan Riset dan Teknologi Teknologi Pangan Teknologi Energi Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Transportasi Teknologi Pertahanan dan Keamanan Teknologi Kesehatan Teknologi Material Maju  Anggota yang mewakili lembaga intermediasi dan lembaga penunjang lainnya juga diyakini sangat krusial perannya untuk peningkatan kinerja DRN. sehingga sangat penting keterwakilannya dalam lembaga DRN. yakni kementerian keuangan. Pada Fase Kedua.

18/2002) tentang Sistem Nasional Penelitian. dan Difusi Teknologi (Lampiran 2). diperlukan penyesuaian kembali produk-produk regulasi agar ekosistem yang kondisif bisa terbangun dan reposisi organisasi DRN dalam tata organisasi pemerintah. 18 Tahun 2002 . 18/2002 akan digunakan sebagai landasan legal utama untuk membangun inovasi nasional. atau dapat juga dilakukan amandemen/revisi terhadap produk hukum yang ada agar lebih sesuai dan/atau lengkap. Apabila UU No. Peraturan perundang-undangan yang dilengkapi dengan pedoman teknis pelaksanaannya.1. Selanjutnya. UU No. yakni pengembangan teknologi harus lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang tengah dihadapi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lampiran 1). 35/2007 ini adalah memberikan kesempatan bagi badan usaha untuk mengalokasikan dana dalam rangka mendukung kegiatan inovasi nasional.9. 35/2007) tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. khususnya Pasal 28 ayat (3). sangat mungkin upaya untuk melengkapi undang-undang terkait dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih sesuai. Selain itu. Pengembangan. 18/2002 ini disusun dalam nuansa pengembangan iptek yang masih sangat dominan bersifat supply-push. Beberapa pemahaman dasar terkait upaya penguatan inovasi dirasakan masih perlu disinkronisasikan ulang. sangat diperlukan upaya untuk menerbitkan regulasi baru atau sinkronisasi produk perundang-undangan yang telah ada dengan langkah aksi penguatan inovasi nasional yang akan ditempuh. 18/2002 ini masih belum sepenuhnya selaras dengan orientasi pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. [c] membangun kapasitas dan kewenangan untuk menetapkan prioritas riset nasional sesuai dengan kebutuhan ( demanddriven) dan berbasis potensi sumberdaya nasional. Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi Semua aksi yang akan dilakukan dalam rangka mewujudkan penguatan inovasi nasional memerlukan dukungan regulasi dan/atau kebijakan yang tepat dan menyeluruh. Walaupun banyak ragam terminologi yang digunakan. maka diperlukan upaya revisi atau melakukan amandemen terhadap undang-undang ini agar lebih selaras dengan upaya penguatan inovasi nasional yang lebih bersifat demand-driven. dan [d] membantu mengawal investasi pemerintah untuk pembangunan iptek. agar semua regulasi yang diharapkan dapat diimplementasikan secara utuh. Inovasi. agar secara konsisten fokus pada prioritas yang telah ditetapkan. kecenderungan global saat ini juga secara kentara telah menggeser orientasi pengembangan teknologi dari yang bersifat supply-push menjadi demand-driven. badan usaha tersebut 122 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18/2002. Secara operasional.informasi perkembangan dan ketersediaan teknologi nasional. Produk perundang-undangan yang menjadi basis legal untuk pengembangan SINas di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 (UU No. oleh sebab itu secara umum UU No. untuk melaksanakan ketentuan UU No. Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas ini. Substansi pokok dari PP No. Sebagai kompensasinya. telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 (PP No. Oleh sebab itu. 5. namun esensinya sama.

Secara garis besar PP No. diharapkan akan mendorong kolaborasi riset. Agar insentif bagi pelaku bisnis/industri untuk lebih terlibat dalam pembiayaan kegiatan riset dapat terlaksana. yakni belum adanya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan yang mengakomodisasi pemberian insentif sebagaimana diamanahkan dalam Pasal 6 ayat (2) PP No. 123 Naskah Akademik Perubahan UU No. 35/2007 ini. dinyatakan bahwa badan usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) telah mengagendakan untuk meninjau ulang peraturan perundang-undangan yang menjadi bottleneck pembangunan perekonomian Indonesia. inovasi. 35/2007 ini dapat diimplementasikan adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur pedoman teknis untuk pemberian insentif tersebut. 35/2007 ini sangat ‘favorable’ bagi upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). 18 Tahun 2002 . dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. Kementerian Riset dan Teknologi telah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No.mendapatkan insentif untuk mendukung kegiatan bisnisnya. kepabeanan. menuju innovation-driven economy. proses. mengingat jika penguatan inovasi nasional dapat berlangsung secara produktif. sekaligus peningkatan kemampuan perekayasaan. Secara jelas pada Pasal 6 ayat (1) PP No. terutama antara PP No. Hal ini disebabkan adanya ganjalan untuk implementasinya. perlu dilakukan sinkronisasi dari sisi legal formal pendukungnya. keberhasilan implementasi MP3EI antara lain ditentukan adanya penguatan inovasi di sektor usaha. dinyatakan bahwa insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. Kekhawatiran yang berlebihan tentang kemungkinan penurunan penerimaan pendapatan pemerintah dari pajak dan kepabeanan akibat pemberlakuan kebijakan ini perlu dihilangkan. 35/2007 tersebut. dan difusi teknologi. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan. inovasi. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. Oleh karena itu. Bantuan teknis ini. Sebagai pelaksanaan dari pasal ini. 35/2007. Pasal 6 ayat (3) PP No. namun pelaksanaan peraturan ini sampai sekarang belum optimal. Walaupun PP No. Dengan dikeluarkannya peraturan ini. maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan. 35 Tahun 2007 sejalan dengan Perpres No. 35/2007 menyatakan bahwa besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. Selanjutnya pada ayat (2). Arah yang akan ditempuh agar PP No. dampaknya kegiatan produksi barang dan jasa juga akan meningkat dan penerimaan pajak juga akan ikut meningkat. sesuai Pasal 7 ayat (1) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. 35/2007 dengan peraturan di bidang perpajakan dan kepabeanan. Upaya percepatan dan perluasan pembangunan dilakukan melalui penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi. termasuk diantaranya implementasi PP No.

sebagaimana kebijakan pemberian fasilitas insentif kepada badan usaha tentunya dapat lebih mendorong kegiatan litbang di badan usaha. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. 124 Naskah Akademik Perubahan UU No. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. termasuk sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. inovasi dan difusi teknologi. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. 35/2007 yang merupakan turunan UU No. diperlukan dukungan terutama dari lembaga litbang yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian untuk implementasi insentif bantuan teknis litbang. diperlukan dukungan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur kriteria teknis dan tata kelola dalam pemberian insentif riset di badan usaha. Pengembangan. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (selanjutnya disingkat PP No. karena PP No. berbeda dengan PP No. PP No. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. yakni Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2002 PP No. Saat ini telah dikeluarkan Peraturan Menteri Riset dan Teknologi No. Lampiran 3). 35/2007. Sumbangan Penelitian Dan Pengembangan. 93/2010 lebih berpeluang untuk diimplementasikan dibandingkan dengan PP No. terutama industri. 93/2010. Besarnya nilai sumbangan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya (Pasal 3). 93/2010 merupakan turunan langsung dari UU No. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. Adanya PP No. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Selain itu untuk memperkuat insentif non fiskal. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan sebagai pelaksanaan Pasal 7 ayat (3) PP No. dengan lembaga pengembang teknologi yang mendukung kebutuhan teknologi untuk industri. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 93/2010 ini mengatur bahwa sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak. Upaya pemberian insentif kepada pihak pengguna teknologi (terutama industri) sekarang mempunyai landasan hukum lain yang baru. Secara teknis dan psikologis. Dukungan regulasi ini diharapkan akan mengintensifkan interaksi dan komunikasi antara lembaga pengguna. baik karena teknologi yang dihasilkan oleh pengembang menjadi lebih relevan (karena pengembang menjadi lebih . yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan (Pasal 1 butir b).Namun demikian dalam pelaksanaannya. namun setidaknya akan mencakup juga upaya untuk peningkatan kapasitas perekayasaan. Meskipun sumbangan ini ditujukan untuk kegiatan litbang. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 35 Tahun 2007. Interaksi yang lebih intensif diyakini akan berpengaruh langsung dan positif terhadap proses adopsi teknologi. Sumbangan dapat diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang (Pasal 5 ayat 1).

memahami kebutuhan), juga karena peningkatan kapasitas adopsi dari pihak pengguna (karena meningkatkan pemahaman pengguna atas teknologi yang ditawarkan). Insentif non-finansial untuk mendorong kegiatan riset dalam negeri juga telah dilakukan, antara lain melalui Peraturan Menteri Perindustrian No. 11/M-IND/PER/3/2006 tentang kebijakan penetapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP). Selain itu, dengan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan, badan usaha dimungkinkan mendapatkan akses kapasitas litbang melalui penempatan tenaga ahli atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga litbang pemerintah. Regulasi dan kebijakan pemerintah diperlukan untuk mengawal implementasi penguatan inovasi dapat berjalan konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat; [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya, proporsional kontribusinya, dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya; dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam pengembangan dan implementasi SINas. Bentuk kebijakan pemerintah yang lain adalah untuk mendukung kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan, tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi, bukan atas usulan pihak pengguna. Dalam beberapa kasus, industri hanya pada posisi memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak harus dalam bentuk pembiayaan bersama, tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Akan tetapi yang selalu perlu diperhatikan adalah apapun bentuk atau format riset kolaborasi tersebut, ia akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti memang merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat, bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. Memahami bahwa keberhasilan perkuatan inovasi tidak hanya tergantung pada kinerja masingmasing aktor inovasi (lembaga pengembang dan pengguna teknologi, serta lembaga intermediasi), tetapi juga sangat tergantung pada berbagai pihak yang ikut mewujudkan ekosistem inovasi yang lebih kondusif, maka pengembangan legislasi sebagai bagian penting dari ekosistem SINas perlu mendapat perhatian serius. Perlu dilakukan telaah secara cermat terhadap semua produk hukum yang terkait dengan upaya penguatan inovasi, baik langsung maupun tidak langsung. Identifikasi untuk hal-hal yang perlu disinkronisasi, direvisi, atau bahkan perlu dicabut, serta untuk hal-hal yang masih perlu pengaturan secara legal formal.

125

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

5.1.10. Berbasis Sumberdaya dan Memenuhi Kebutuhan Nasional Untuk mewujudkan SINas Indonesia yang ‘workable’, harus secara seksama mempertimbangkan potensi sumberdaya nasional, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan infrastruktur ekonomi dan sosial, kemampuan permodalan domestik (plus modal asing secara selektif), dan kapasitas pengembangan teknologi saat ini. Selain itu juga perlu diselaraskan dengan peraturan perudang-undangan yang berlaku, kebijakan publik, budaya kerja, keragaman sosio kultural dan tradisi, serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia lainnya.28 Pilihan landasan sumberdaya dan budaya sendiri dalam membangun inovasi nasional akan membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berpartisipasi aktif. Perlu dipahami bahwa upaya memajukan bangsa tidak dapat dilakukan dengan memilih jalan pintas, dengan mengabaikan pentingnya fondasi yang kokoh agar pengembangan dan keberlanjutan inovasi lebih terjamin. Pembangunan nasional tidak hanya dilakukan untuk rakyat tetapi juga harus dilakukan bersama rakyat. Indonesia sering dikategorikan sebagai negara yang sangat kaya akan sumberdaya alamnya. Provokasi ini menyebabkan Indonesia terlalu mengandalkan kekayaan sumberdaya alam tersebut sebagai modal utama pembangunan nasional, seolah sumberdaya alam tersebut akan selalu tersedia selamanya. Eksploitasi sumberdaya alam yang tidak terkelola secara bijak dibarengi dengan pembangunan yang tidak terprogram dengan baik, telah membawa Indonesia pada kondisi saat ini: tetap menjadi negara berkembang dengan penguasaan dan penerapan teknologi yang terbatas. Indonesia terkena fenomena ‘resource curse’29 dimana kemajuan pembangunannya tak sebanding dengan nilai eksploitasi sumberdaya alamnya. Pengelolaan sumberdaya alam yang bijak bukan hanya terbatas pada penggunaan dana hasil eksploitasi yang diarahkan untuk peningkatan kualitas layanan publik dan investasi untuk infrastruktur sosial, tetapi juga perlu diarahkan untuk mendukung pengembangan teknologi yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produktivitas industri barang dan/atau jasa, sehingga memberikan nilai tambah bagi setiap produk nasional. Produk ekspor Indonesia tidak boleh selamanya dibiarkan hanya dalam bentuk komoditas bahan baku industri atau hanya sampai produk setengah-jadi (intermediate products). Produk ekspor Indonesia harus secara maksimal diupayakan sudah dalam bentuk akhir yang dibutuhkan konsumen (consumer goods). Indonesia adalah negara maritim, tak ada yang bisa memungkiri kenyataan ini. Telah sering didengungkan bahwa Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas. Berdasarkan Deklarasi Juanda 1957, wilayah laut NKRI adalah sekitar 3 juta kilometer persegi. Setelah diterimanya
28

29

Sebagai bandingan, negara maju seperti Jepang juga membangun SINas-nya di atas landasan ‘environment, culture, tradition, and national character’ bangsanya sendiri. Hasil kajian Komarulzaman dan Alisjahbana (2008) untuk kasus Indonesia menunjukkan bahwa “There appears to be resource curse when we estimate the resource rent in its three components. Forest, oil and gas sector rent have positive effect on regional economic growth. But the resource curse may occur if these resources revenues are not invested properly in public sector, either for the provision of public services or in public investment. Meanwhile, mining sector has persistently negative effect on regional economic growth. The existence of this curse will be lessened if the mining sector rent revenues are reinvested in public sector investment.”

126

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, wilayah laut NKRI bertambah luasnya dua kali lipat, menjadi sekitar 6 juta kilometer persegi. Hal yang perlu digarisbawahi, berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia mendapatkan hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil dari garis pangkal lurus Nusantara atau sampai ke batas ‘continental margin’ jika masih ada kelanjutan alamiah pulau-pulau Indonesia di dasar samudera. Masalah pokoknya, apakah setelah berhasil mengklaim teritori wilayah laut ini kita telah melakukan langkah-langkah konkret untuk mengelolanya, sebagaimana amanah konstitusi -UUD 1945 pasal 33 ayat (3)- bahwa kekayaan sumberdaya alam harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kekayaan alam yang terkandung dalam wilayah laut Indonesia juga belum diinventarisasi secara baik. Banyak potensi sumberdaya kelautan yang kita miliki, tetapi sesungguhnya belum mampu kita pahami nilai kemanfaatan ekonomi dan ekologinya. Lebih parah lagi, justru sebagian mungkin belum kita ketahui eksistensi keberadaannya di wilayah laut Nusantara. Ketidakmampuan tersebut terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi kelautan yang belum berkembang di Indonesia. Ironis memang, sebuah negara maritim seperti Indonesia tidak memprioritaskan pengembangan teknologi kelautan. Ketertinggalan dalam penguasaan teknologi kelautan tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Indonesia perlu segera meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi kelautan yang menjadi modal nasional untuk mampu mengelola sumberdaya dan wilayah laut Nusantara. Pengelolaan kelautan yang dimaksud adalah memanfaatkan kekayaan sumberdaya yang dimiliki untuk menyejahterakan rakyat yang diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutannya dengan mematuhi kaidahkaidah ekologis. Teknologi yang dikembangkan perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dengan kearifan ekologi. Ragam teknologi berasas keseimbangan ekonomi-ekologi yang perlu dikuasai mencakup: pertama, teknologi penangkapan ikan, budidaya ikan dan biota laut, serta teknologi pengolahannya; kedua, (bio)teknologi untuk memanfaatkan biodiversitas sebagai sumber bahan baku industri dan sumber tetua untuk program pemuliaan tanaman dan ikan atau biota laut lainnya; ketiga, teknologi eksplorasi dan eksploitasi migas, bahan tambang lainnya dan sumberdaya energi terbarukan; dan keempat, teknologi konservasi sumberdaya kelautan, yang dapat juga dilebarkan cakupannya pada potensi pengelolaannya untuk pariwisata bahari. Keunikan geografis dan kekayaan biodiversitas ekosistem laut Indonesia merupakan modal untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak asing. Modal alamiah ini perlu dilengkapi dengan modal kecerdasan intelektual, yakni penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi kelautan oleh pakar dalam negeri sangat krusial. Tanpa penguasaan teknologi ini, maka kita tidak akan pernah mengetahui secara tepat dan komprehensif tentang ‘apa’ dan ‘berapa banyak’ sumberdaya yang dimilikinya di wilayah laut. Ketidakpahaman ini jelas akan menempatkan Indonesia pada posisi yang lemah dalam setiap ‘dispute’ internasional di wilayah laut. Argumen yang baik tidak akan mampu dibangun di atas fondasi iptek yang rapuh. Diplomasi untuk memperjuangkan harkat martabat bangsa juga tak akan dapat dimenangkan jika tanpa amunisi pemahaman tentang potensi sumberdaya

127

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

jika semua (atau paling tidak mayoritas) secara aktif ikut berpartisipasi. perlu dilakukan pencermatan dua arah. Jakarta. pro-poor. Oleh sebab itu. maka idealnya tiga persen dari Produk Domestik Bruto dialokasikan untuk pengembangan teknologi. 30 31 Jika mengacu pada ‘Barcelona Target’. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa (BPS. Tentu saja potensi sumberdaya alam Indonesia tidak hanya di laut. Sebaliknya dapat menjadi beban yang maha berat jika harus dipikul oleh sebagian kecil dari populasi tersebut. misalnya hanya dibebankan pada sekelompok elit (politik. tetapi lebih dimaknai sebagai keberpihakan yang memberi peluang bagi seluruh rakyat untuk ikut berperan aktif membangun bangsa dan negara ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu meningkatkan intensitas upayanya dalam meningkatkan relevansi pendidikan agar permasalahan pengangguran terdidik yang mulai meningkat signifikan selama dasawarsa 2000an ini tidak menjadi lebih buruk. 2010) merupakan kekuatan besar untuk membangun bangsa ini. dan [3] tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. diiringi dengan kebijakan ekonomi yang tepat. dan/atau sosial) tertentu saja. Penyesuaian yang dirasakan perlu dilakukan adalah: [1] proporsi antara pendidikan akademik dengan pendidikan profesional. 18 Tahun 2002 . 3 Januari 2011. dan pro-environment31 sudah sangat tepat. ‘Four Track Strategy’ yang sering disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beberapa penyesuaian perlu segera dilakukan. ekonomi. terutama pada jenjang pendidikan tinggi. memacu pertumbuhan ekonomi. [2] muatan kurikulum dan program studi yang ditawarkan. 128 Naskah Akademik Perubahan UU No. selama awalan ‘pro’ tersebut tidak sekedar bermakna keberpihakan dalam konteks pembangunan untuk rakyat. antara lain pada pidato berjudul ‘Pertumbuhan Harus Berkeadilan’ pada Pembukaan Pe rdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia.seluruh wilayah Indonesia dan potensi manusianya. Sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan perediksi kebutuhan di masa yang akan datang. Namun demikian. Teknologi dibutuhkan untuk mengolah sumberdaya alam menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Kebijakan pro-growth. pro-job. teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang relevan dan sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya. maka proporsi kapasitas tampung jenjang pendidikan tinggi perlu digeser dari dominan jenis pendidikan akademik (lebih mengutamakan pengkayaan pengetahuan) yang terjadi saat ini menjadi dominan pendidikan profesional (lebih mengutamakan ketrampilan teknis untuk menghadapi permasalahan nyata). dan secara nyata memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat. Pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi sumberdaya manusia. Indonesia sebagai negara maritim segera mulai secara sungguh-sungguh berupaya untuk meningkatkan penguasaan tekno-ekologinomi laut. yakni menyediakan dukungan pembiayaan yang memadai untuk pengembangan teknologi nasional30 dan juga mengawal pengembangan teknologi agar fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nyata. Perlu digarisbawahi bahwa untuk penguasaan ketrampilan teknis tetap saja selalu membutuhkan pengetahuan dasar yang relevan. Potensi sumberdaya lahan untuk mendukung produksi pertanian dan beragam bahan tambang (termasuk minyak dan gas walaupun mulai menipis) yang terkandung di dalamnya juga cukup penting untuk dikelola sebagai modal pembangunan perekonomian nasional.

maka teknologi yang sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas pangan sudah sepatutnya diprioritaskan. ternak.Penyesuaian muatan kurikulum dan program studi tidak perlu diartikan sebagai perubahan mendasar dari kurikulum dan program studi yang ada. Akan tetapi. karena sering mengakibatkan kelembagaan pendidikan pengorbankan kualitas untuk mengejar kuantitas. Selanjutnya. Pangan yang dimaksud adalah pangan dalam arti luas. Pendidikan adalah untuk mencerdaskan bangsa. Pendidikan formal rakyat Indonesia saat ini mayoritas masih relatif rendah. Pengembangan teknologi sederhana tetapi bermanfaat akan jauh lebih baik dari pada mengembangkan teknologi super-canggih yang hanya berakhir di ruang pajang. Jika surplus tidak akan menjadi persoalan karena dengan mudah bisa diekspor karena permintaan pasar global semakin tinggi dengan pertambahan penduduk dunia. Akibatnya kelembagaan pendidikan lebih berfungsi sebagai mesin produksi untuk menghasilkan penyandang gelar semata dan tidak menjadi pengemban amanah konstitusi untuk mencerdaskan bangsa. Dengan demikian. dan hasil hutan. Oleh 129 Naskah Akademik Perubahan UU No. Faktor penyebabnya bisa dipilah menjadi: [1] penyelenggara pendidikan yang menawarkan program studi tersebut lebih besar kapasitasnya dibandingkan dengan kebutuhan dunia kerja. mayoritas rakyat bekerja disektor produksi pangan (tanaman. Faktor penyebab [3] karena bidang pekerjaan tersebut tidak menjanjikan secara ekonomi. Program-program studi yang sudah kurang diminati perlu dievaluasi faktor penyebabnya. Kontribusi nyata tenaga terdidik terhadap pembangunan nasional hanya mungkin terjadi jika keahlian dan ketrampilan yang diasah adalah relevan dengan kebutuhan dunia kerja. atau [3] masih ada kebutuhan aktual dari dunia kerja tetapi imbalan (finansial) yang didapatkan dari jenis pekerjaan ini tidak kompetitif dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain. adalah jauh lebih baik menyediakan teknologi sederhana yang sesuai. Tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang terlalu berkiblat pada produktivitas selayaknya ditinjau kembali. mencakup pangan asal tanaman. yang dapat dikembangkan dan digunakan oleh masyarakat dan/atau IKM dalam proses produksi pangan untuk pemenuhan konsumsi 237 juta penduduk Indonesia. ikan. jelas bahwa nelayan juga perlu mendapat perhatian. Dengan demikian. sehingga pasar dunia kerjanya cepat menjadi jenuh. Faktor penyebab [2] terkait dengan bidang keilmuan yang relatif statis perkembangannya dan kebutuhan keahliannya juga terbatas. Teknologi yang dibutuhkan mungkin saja hanya merupakan teknologi sederhana. Penyesuaian tersebut lebih ditekankan pada upaya meningkatkan relevansi substansi materinya sehingga lebih padu dengan permasalah aktual. Inovasi adalah tentang mengkonversi ide menjadi uang. 18 Tahun 2002 . dan ikan). jika diniatkan pengembangan inovasi adalah untuk melibatkan mayoritas rakyat Indonesia sebagai pelaku pembangunan. Faktor penyebab [1] terkait dengan kemudahan sarana dan prasarana penyelenggaraan pendidikan (juga berarti biaya operasional penyelenggaraan pendidikannya lebih mudah) sehingga banyak instutusi pendidikan (terutama swasta) yang ikut menyelenggarakannya. Pencerdasan hanya dapat dicapai dengan pendidikan yang bermutu. ternak. [2] keahlian yang dihasilkan dari program studi tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan dunia kerja. Pembiayaan untuk pengembangan teknologi harus diposisikan sebagai investasi bukan sebagai belanja rutin. misalnya pekerjaan di sektor pertanian.

Akan lebih intensif. Upaya mewujudkan inovasi nasional yang lebih produktif dan efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Perindustrian perlu meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksinya dengan pihak industri. pelaku bisnis/industri umumnya hanya diundang sesekali ke lingkungan akademis dalam rangka kegiatan spesifik tertentu. Saat ini. Potensi sosial budaya dapat dikategorikan sebagai potensi non-ekonomi ini umumnya bersifat ‘intangible’. etika. norma. Penyesuaian terhadap tradisi. relevansi menjadi isu pokok. serta memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan sekaligus pemerataan kesejahteraan. 18 Tahun 2002 . dan nilai-nilai karakter bangsa lainnya merupakan faktor yang akan ikut mempengaruhi tingkat keberhasilan inovasi nasional. Di 130 Naskah Akademik Perubahan UU No. selain potensi sumberdaya alam dan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas. Idealnya kegiatan ini dilandasi oleh asas saling membutuhkan dan saling menguntungkan atau bersifat mutualistik. budaya. Padu silang pendidikan-bisnis ini perlu dilakukan secara dua arah. jika pelaku bisnis/industri tersebut menjadi ‘mitra penuh’ dari tenaga pengajar di perguruan tinggi. Hal itu berbeda dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang jelas wujudnya dan dapat dikuantifikasi besaran potensinya. Kearifan tradisional merupakan akumulasi pengetahuan selama periode yang panjang. Ukuran keberhasilan program pemagangan tergantung pada kualitas pembelajaran yang berlangsung selama peserta didik ditempatkan di lingkungan dunia kerja. juga perlu dibarengi dengan mengundang pelaku bisnis dan industri untuk menularkan pengetahuan dan/atau ketrampilan di lingkungan akademis. Teknologi yang sesuai dengan potensi sumberdaya alam lokal/nasional akan lebih terjamin keberlanjutannya dan sekaligus dapat mewujudkan kemandirian bangsa. maka mungkin tidak dapat menjadi acuan dalam pengembangan SINas. namun probabilitas kebenarannya relatif tinggi dan sudah teruji. walaupun unsur-unsur ini bersifat tak-berwujud dan sulit diukur secara objektif. tetapi jelas dampaknya dapat dirasakan. Karena sifatnya sering sangat spesifik dan lokal. Sulit diukur secara kuantitatif dan divisualisasikan. Walaupun kadang sulit dijelaskan secara ilmiah. perlu mempertimbangkan potensi sosial masyarakat. Namun demikian dengan kecermatan akademis. banyak pula kearifan lokal yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan sistematis dan logis. memperbesar porsi sumberdaya manusia yang menjadi penggerak pembangunan dan sekaligus mengurangi porsi yang hanya menjadi beban pembanguan. tetapi sangat potensial diacu untuk membangun Sistem Inovasi Daerah (SIDa).sebab itu. Hanya saja kualitas dan intensitasnya terus perlu ditingkatkan. Teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsi mayoritas penduduk akan membuka peluang untuk berdampak lebih massal. sehingga dapat dilakukan pengembangan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensinya. terutama untuk mata kuliah tertentu yang kental kaitannya dengan kebutuhan implementasinya di dunia kerja. Kearifan tradisional (tradisional wisdom) dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan sistem inovasi. Selain pemagangan peserta didik di lingkungan kerja. Ide hibridisasi kegiatan pendidikan dengan aktivitas bisnis/industri memang bukan merupakan sesuatu yang baru. Kegiatan pemagangan (internship) telah dilakukan sejak lama di Indonesia.

1. tanggal 11 September 2001 terhadap RUU Sistem Nasional Penelitian. lembaga riset dan teknologi.2. maupun masyarakat merupakan modal keberhasilan pengembangan suatu SINas. pengembangan. Beberapa contoh di atas cukup untuk justifikasi tentang pentingnya dimensi sosial dalam mewujudkan inovasi nasional yang lebih komprehensif. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Pengembangan. 18 Tahun 2002 . 5. lembaga pendidikan dan pemerintah untuk mengembangkan iptek secara optimal. kualitas sosial budaya yang selaras dengan prinsip-prinsip good governance dalam penyelenggaraan atau pengelolaan lembaga pemerintah. dan Penerapan Iptek adalah: 1. Tujuan diundangkannya UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk mempercepat pencapaian tujuan negara. 3. lembaga usaha. Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 18 Tahun 2002 ini sesuai dengan pemandangan umum fraksi-fraksi DPR terhadap urgensi sistem nasional penelitian. Oleh sebab itu. perlu juga secara sungguh-sungguh diintegrasikan ke dalam suatu formula kebijakan sebagai upaya membangun SINas. maka penting dibuat Undang-Undang tentang iptek guna 131 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 5. Keharusan untuk mengembangkan iptek yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan melibatkan publik (adanya audit iptek).era modern ini. dan penerapan iptek menjadi undang-undang. Negara Indonesia perlu segera memiliki suatu peraturan perundang-undangan yang komprehensif di bidang iptek. 2. bisnis.2. Menunjukan perlunya keterkaitan antara pengembangan iptek dengan upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia secara langsung dalam rangka memperoleh kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera. Pengembangan. Menunjukan adanya komitmen yang lebih tegas dari pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang lebih komprehensif dalam membangun dan mengembangkan iptek. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sistem Nasional Penelitian. Menjadi landasan hukum yang kokoh dalam memberikan peluang dan kesempatan yang lebih luas pada masyarakat. Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi DPR dalam Rapat Paripurna DPR-RI. Pengembangan. 5. 4. Urgensi Penguatan Inovasi UU No.

dan meningkatkan kontribusi iptek dalam aktivitas perekonomian dengan meningkatkan Total Factor Productivity (TFP). perekayasa. Hal ini tidak mudah karena Indonesia menghadapi berbagai kendala dan penghambat dari sisi kelembagaan. Selain itu lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu meningkatkan produktivitas penelitian dan pengembangan melalui pengembangan dan pemanfaatan kelembagaan iptek. produktivitas. Untuk itu. kualitas. Selain itu. sumber daya. selain mengurangi ketergantungan teknologi asing. perguruan tinggi. dan sebagainya. Menurut UU No. Kurangnya komunikasi dan interaksi antar elemen penghasil dan pengguna teknologi memberikan dampak terhadap penerapan berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil penghasil teknologi. 18 Tahun 2002 diharapkan menjadi wadah untuk menampung dan menjadi alat pemecah kesulitan segala hal yang terkait dengan inovasi.memberi landasan hukum bagi unsur-unsur pembentuk kemampuan Iptek serta sebagai koridor dan frame pengembangan Iptek di Tanah air kita. interaksi antara penghasil dan pengguna iptek. Di Indonesia. Upaya-upaya tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kuantitas. dan kesejahteraan peneliti. pengembangan dan penerapan iptek. Sebagai upaya mencapai tujuan sebagaimana disebutkan dalam Bab IV Buku II RPJM 20102014. serta perlunya konsensus nasional tentang SINas. komunikasi dan interaksi yang intens antara lembaga penelitian. UU No. 132 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta adanya sistem aliran pengetahuan dan mobilitas human capital antara perguruan tinggi dan lembaga riset dengan perguruan tinggi. menyebutkan untuk mencapainya diperlukan adanya insitusi yg kuat dari sisi legalitas dan otoritas. Oleh karena itu. peningkatan pemanfaatan teknologi dalam negeri masih diperlukan. kenyataannya upaya penguatan inovasi nasional yang dicirikan dengan interaksi elemenelemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang baik. Sedangkan di sisi industri. teknisi maupun SDM yang terlibat di dalam kegiatan litbang. Termasuk perlunya mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat. Selain itu untuk mendukung penguatan inovasi nasional diperlukan efektifitas dan efisiensi regulasi dan sistem insentif yang mendukung inovasi nasional. program. Padahal dalam pengembangan ekonomi yang berbasis pengetahuan. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 menekankan perlunya penguatan kelembagaan dari sisi penghasil iptek dan pengguna iptek. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga idealnya menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. dan jaringan iptek secara lebih effektif. beberapa kebijakan pemerintah juga menekankan perlunya penguatan inovasi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. sumberdaya. pengembangan iptek seharusnya tidak terpisahkan dalam input dan output ekonomi nasional. 18 Tahun 2002 pembangunan sistem inovasi nasional dilakukan melalui penelitian. RPJM 2010-2014 menekankan adanya skema pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat inovasi nasional. yaitu penelitian. 18 Tahun 2002 . Hal ini menjadikan hasil penelitian dan pengembangan belum didayagunakan sepenuhnya menjadi berbagai inovasi. adanya tagline negara sebagai dasar penguatan SINas. Dalam Bab IV Buku II RPJM 2010-2014. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. setidaknya memuat materi kebijakan penguatan inovasi yang telah dirumuskan dalam Perpres No. dengan memperhatikan capaian jangka panjang untuk mendorong. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. b. 32 Tahun 2010. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. pengertian dasar berkaitan dengan SINas mencakup: . Kementerian Riset dan Teknologi mengeluarkan Keputusan Menristek No. Upaya ini mencakup pengaturan kelembagaan secara lebih sistemik.2. dan meningkatkan kolaborasi dengan dunia internasional. dan sesuai kebutuhan dan kondisi. mendukung menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. Menurut Keputusan Menristek No. komunitas ilmuwan dan swasta. Peraturan perundang-undangan yang ada bahkan secara jelas menyebutkan pengertian dari SINas. 246 /M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. 18 Tahun 2002 Sejalan dengan pengertian SINas dalam Perpres No. di Serpong pada tanggal 20 Januari 2010 juga menekankan perlunya upaya-upaya untuk penguatan inovasi nasional. 5. 18 Tahun 2002 Muatan rancangan undang-undang perubahan UU No.Presiden Dr. 18 Tahun 2002. 32 Tahun 2011. SINas adalah: “suatu jaringan rantai antara institusi publik. Hal yang perlu dicatat dalam usulan ini adalah penguatan inovasi dapat dilakukan melalui tujuh langkah perbaikan ekosistemnya (Gambar 17). dan pemanfaatan teknologi. menyebut strategi penguatan inovasi nasional dengan usulan inisiatif inovasi 1-747. 246/M/Kp/IX/2011. 133 Naskah Akademik Perubahan UU No. mendayagunakan. pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan – baik pemerintah maupun swasta – yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. 32 Tahun 2011 dan Kepmenristek No. dan d. kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. lembaga riset dan teknologi.” a.2. Perpres No. penguatan SINas agar didasarkan pada kemitraan pemerintah. Untuk itu. merekayasa inovasiinovasi di berbagai sektor. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. mendukung. Tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi ini mencakup: 1) Sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. c. 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. Presiden menekankan agar penguatan inovasi nasional disesuaikan dengan corak yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. Menurut Perpres No. produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. difusi. Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah.

Tugas pemerintah yang paling krusial di sini adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung inovasi nasional yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa dalam upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif memerlukan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas. Panggung yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. 7) Sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Gambar 17. 3) Pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. 18 Tahun 2002 . 6) Revitalisasi infrastruktur R&D. 5) Sistem remunerasi peneliti. 32/2011 ttg MP3EI) Kepmenristek No. Kinerja aktor-aktor 134 Naskah Akademik Perubahan UU No. 4) Pembangunan klaster inovasi daerah. Usulan Inisiatif Inovasi 1-747 (Perpres No.2) Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia.

tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik. dan perdagangan agar para aktor inovasi dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. 18 Tahun 2002 . Berbagai negara. perlu dilakukan perubahan terhadap UU No. 4) Optimalisasi peran lembaga intermediasi. Susilo Bambang Yudhoyono. 3) Peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi . Peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ inovasi. sebagaimana telah diuraikan dalam kebijakan arah penguatan SINas. Kedua peraturan tersebut dapat dikatakan merupakan dasar kebijakan bagi upaya-upaya penguatan inovasi nasional. lebih dari 237 juta jiwa (BPS. 18 Tahun 2002. pada beberapa kesempatan. 2) Revitalisasi kapasitas lembaga pengembang teknologi . juga melihat populasi Indonesia yang besar. ketenagakerjaan. Nuansa pengembangan iptek yang masih bersifat supply-push. 7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) untuk mendukung implementasi strategi pokok ketiga MP3EI.pelaku inovasi pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik). 9) Revitalisasi peran Dewan Riset Nasional (DRN). terutama di sektor ristek. 135 Naskah Akademik Perubahan UU No. baik berupa barang maupun jasa.32 Oleh karena itu upaya strategi pengembangan dan penguatan inovasi agar ditekankan pada: 1) Pengembangan teknologi yang difokuskan untuk pemenuhan realita kebutuhan atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna teknologi. 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial. keuangan. tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi pengguna teknologi. perindustrian. 8) Pembentukan konsorsium inovasi . Implementasi PP No. 11) Pengembangan SINas harus berbasis sumberdaya nasional dan unt pemenuhan kebutuhan domestik. agar diubah agar selaras dengan orientasi 32 Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia. 5) Regulasi dan kebijakan yang kondusif. 35 Tahun 2007 secara efektif dan utuh. Namun demikian. 6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang-intermediasi-pengguna teknologi. 10) Sinkronisasi dan optimalisasi UU No 18 Tahun 2002 serta peraturan pelaksanaannya. pendidikan. Kebijakan strategi penguatan inovasi melalui usulan inisiatif inovasi 1-747 maupun penentuan arah penguatan SINas untuk peningkatan kontribusi Iptek terhadap pembangunan nasional seharusnya telah dapat menjadi acuan untuk mendorong inovasi nasional.

Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. Kebijakan Penguatan Inovasi Fokus Buku II RPJM 20102014. kebijakan-kebijakan lain yang terkait adalah dokumen RPJM 2010-2014. Selain dua kebijakan tersebut di atas. Komite Inovasi Nasional (KIN) • Mendorong inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. pengembangan. • Penguatan aliran pengetahuan dan mobilitas human capital. • Pengembangan SINas sesuai kebutuhan dan kondisi. 18 Tahun 2002 • Mengurangi ketergantungan teknologi asing . • Pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat SINas.). dan Kebijakan Strategis Nasional Iptek 2010-2014. Dokumen tersebut menekankan beberapa hal terkait dengan upaya penguatan inovasi nasional (Tabel 9. yaitu: 136 Naskah Akademik Perubahan UU No. Serpong. • Pengembangan pusat inovasi untuk mendorong industri kecil dan menengah • Pengembangan klaster inovasi daerah • Revitalisasi infrastruktur R&D • Sistem dan manajemen pendanaan riset • Sistem remunerasi peneliti • Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia • Sistem insentif dan regulasi yang mendukung. serta arahan Presiden RI. • Pengembangan kemitraan dan kolaborasi dengan dunia internasional. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. secara garis besar menekankan pada empat hal. Tabel 9. Kecenderungan global saat ini juga lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang relevan dihadapi masyarakat. 20 Januari 2010. • Identifikasi dan penetapan sistem insentif yang mendukung SINas. dlm Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masy Ilmiah. produktivitas. Bab IV Materi Pengaturan • Penguatan insitusi • Jakstranas sebagai konsensus nasional dalam upaya penguatan SINas.pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. Dua kebijakan tersebut. dan kesejahteraan SDM • Mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat Sambutan Presiden SBY. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 • Penguatan interaksi penghasil dan pengguna iptek • Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam sektor industri • Mendorong investasi industri untuk litbang Iptek masih sangat terbatas • Mendorong produktivitas litbang • Meningkatkan kualitas.

dan 8.5. Pengaturan tersebut mencakup antara lain perlunya adanya keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu. lembaga ristek. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. penguatan daya dukung iptek. pemanfaatan dan pemajuan iptek • Pasal 9 ayat (1) – fungsi badan usaha dalam perekayasaan. pendayagunaan. Perubahan ini juga diarahkan untuk memperkuat usulan inisiatif inovasi 1-747. universitas. pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. • Pasal 4 – penguatan daya dukung iptek • Pasal 6 ayat (2) – fungsi kelembagaan dalam penguasaan. pendayagunaan. Perubahan ketentuan UU No. peningkatan hasil. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. difusi. dan penguatan audit teknologi (Tabel 9. Tabel 9. difusi. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. 6. rekayasa inovasi . universitas.invensi di bidang iptek • Pasal 9 ayat (2) – pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang • Pasal 13 ayat (4) – pengelolaan. penguatan jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek. lembaga litbang. 18 Tahun 2002 Fokus UU No. dan pemanfaatan teknologi. tentunya agar diarahkan untuk mengakomodir upaya penguatan inovasi.pengembangan. dan swasta.). Penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. dan badan usaha • Pasal 13 – jaringan informasi iptek • Pasal 15 ayat (1) – jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur kelembagaan iptek • Pasal 17 ayat (1) – kerjasama internasional • Pasal 28 ayat (2) – jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek Peningkatan hasil. Keempat hal tersebut di atas telah diatur dalam UU No. 18 Tahun 2002.). inovasi. 7. serta penentuan arah penguatan SINas (Tabel 10. dan difusi teknologi • Pasal 16 ayat (1) – alih teknologi kekayaan intelektual dan hasil litbang • Pasal 27 ayat (3) – dukungan dana bagi penguasaan. pengembangan. pemanfaatan kekayaan intelektual dan 137 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan pemanfaatan teknologi. dan swasta. 18 Tahun 2002 . lembaga ristek. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 di atas. pemanfaatan. • Pasal 5 ayat (1) – keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu • Pasal 10 ayat (2) – peran lembaga penunjang dalam mendorong sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. dan pemajuan iptek Peningkatan penerapan dan diseminasi hasil litbangrap (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yg mempunyai • Pasal 8 ayat (2) . rekayasa inovasi pengembangan. Fokus Perubahan dalam UU No.

Fokus nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. Pasal 15 Pasal 17 Pasal 18 Penambahan pada ketentuan yang ada dg penekanan pada kemitraan. Ruang lingkup kegiatan inovasi adalah NKRI. dan inovasi dalam negeri • Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 9. 18 Tahun 2002 hasil litbang Pasal 19 ayat (3) – penguatan tarikan pasar bagi hasil litbang. dan sertifikasi keahlian. Usulan Perubahan dalam UU No. Setelah Pasal 17 ditambahkan mengenai pengaturan MTA Setelah Pasal 18 ditambahkan penekanan pada Jakstranas Iptek sebagai acuan pengembangan iptek. serta kode etik. dan audit teknologi dan SNI Tabel 10. Pasal Pasal 3 Usulan Perubahan Ditambahkan 2 ayat unt mengakomodir amandemen keempat UUD 1945 Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 6. • Pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Pasal 12 • Ditambahkan 2 ayat. 18 Tahun 2002 . dan difusi teknologi. inovasi. yang menekankan penyusunan Jakstranas Iptek ditetapkan dengan peraturan pemerintah. • Penambahan ayat unt penyebaran informasi hasil litbang dan kekayaan intelektual. serta peningkatan pengelolaan kekayaan intelektual dan hasil litbang. pemerintah/pemerintah daerah dimungkinkan memberikan stimulan dan fasilitas untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. mengenai perlunya menentukan standar. 18 Tahun 2002. Pasal 6 Pasal 9 Pasal 19 138 Naskah Akademik Perubahan UU No. UU No. untuk pemenfaatan hasil litbang. perekayasaan. Pasal 13 • Ditambahkan ayat baru. • Ketentuan ini diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Setelah Pasal 19 ditambahkan satu pasal. persyaratan.

1.Bab 6 Rangkuman dan Rekomendasi 6. tentu dimaksudkan bahwa pengembangan teknologi harus diarahkan untuk menyejahterakan rakyat dan peningkatan peradaban bangsa Indonesia. Dengan demikian. Dari sisi lain. terutama sektorsektor perekonomian. dan [2] aliran teknologi yang relevan dan sesuai kapasitas adopsi pengguna. baik industri. karena yang akan menentukan adalah kualitas interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut yang dibuktikan dengan terjadinya: [1] aliran informasi kebutuhan dan/atau persoalan teknologis yang dihadapi oleh para pengguna yang sampai ke pengembang teknologi. Kecenderungan global saat ini dan kepentingan nasional dalam rangka menunaikan amanah konstitusi sebetulnya berjalan paralel dan menuju satu muara. 139 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . Rangkuman Kepentingan nasional dan kecenderungan global membutuhkan perubahan yang mendasar tentang arah pembangunan iptek. yang dihasilkan oleh pengembang dan diimplementasikan oleh pengguna dalam proses produksi barang/jasa sesuai kebutuhan konsumen atau permintaan pasar. masyarakat. Dalam konteks ini. terutama pasar domestik. aktivitas riset di masa yang akan datang perlu lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menyediakan solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi para pengguna teknologi. Arah pembangunan iptek perlu diupayakan menuju peningkatan kontribusi teknologi terhadap pembangunan berbagai sektor. ataupun pemerintah. Eksistensi inovasi tidak secara langsung dapat dijamin oleh keberadaan lembaga pengembang teknologi yang maju dan lembaga pengguna teknologi dengan kapasitas produksi yang besar. yakni mewujudkan inovasi nasional yang lebih efektif dan produktif. konstitusi Indonesia juga secara jelas dan tegas mengamanahkan bahwa pembangunan iptek ditujukan untuk meningkatkan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.

dan perdagangan. mitra kerja potensial. termasuk regulasi dan kebijakan riset dan teknologi. maka perlu dilakukan refocusing agar kapasitas tersebut dapat diarahkan sesuai dengan prioritas untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna. Mantab dalam makna mendapat dukungan dari berbagai regulasi dan kebijakan dari sektor-sektor yang terkait langsung dan berpengaruh nyata terhadap proses mewujudkan dan perkuatan inovasi nasional. keuangan. Pengembang dan pengguna teknologi sebagai aktor utama dalam penguatan inovasi nasional sering masih membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan kebijakan yang memotivasi dan berkesesuaian. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi ini diarahkan agar lembaga ini tidak hanya handal dalam mendukung aktivitas riset dan pengembangan (R&D capacity) semata. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. Nyaman dalam pengertian kebijakan-kebijakan sektoral tersebut bermuara pada kondisi ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi. Untuk kondisi Indonesia. Interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi membutuhkan ‘panggung’ yang yang mantab dan nyaman. yang masing-masing fokus pada isu-isu ekonomi strategis sesuai dengan potensi 140 Naskah Akademik Perubahan UU No. Untuk peran intermediasi dapat juga dimainkan oleh lembaga non-pemerintah. Sejalan dengan pengembangan MP3EI. kawasan Puspiptek Serpong sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. pendidikan. 18 Tahun 2002 . Pembentukan unit kerja dalam struktur organisasi lembaga pengguna dan/atau peningkatan aktivitas in-house research pada lembaga pengguna terbukti dapat mendorong peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. disarankan dinamakan sebagai ‘Indonesian InnoPark’. ketenagakerjaan. Upaya ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kompetensi sumberdaya manusia pada lembaga pengguna (industri dan pemerintah) atau pengguna individual dalam masyarakat. diperlukan upaya pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) pada seluruh koridor pembangunan perekonomian nasional. Gabungan antara STP dan IP ini akan dapat menjadi model SINas Indonesia yang handal. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi perlu diimbangi dengan upaya peningkatan kapasitas adopsi teknologi pada lembaga pengguna. perindustrian.Dalam rangka mendayagunakan secara optimal kapasitas lembaga pengembang teknologi yang sudah baik. tetapi juga dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk mengakses infromasi. Ide ini diimplementasikan dengan membangun Science and Technology Park (STP). serta juga peran intermediasi dan fasilitasi agar interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut dapat lebih diintensifkan. dan sumber pembiayaan eksternal (sourcing capacity) serta kapasitasnya dalam mendifusikan hasil riset dan teknologi kepada pengguna potensialnya (disseminating capacity). Fasilitasi pemerintah untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi dapat juga dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor-aktor inovasi tersebut untuk berinteraksi dalam satu kawasan. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya.

serta dari unsur pemerintah. Rekomendasi Berdasarkan telaah yang telah dilakukan secara komprehensif ini. industri. maka beberapa butir rekomendasi yang dapat disampaikan adalah: (1) Pengembangan teknologi Indonesia perlu difokuskan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna 141 Naskah Akademik Perubahan UU No. maka sangat mungkin pada masing-masing koridor dikembangkan beberapa pusat unggulan sesuai dengan realita kebutuhannya. maka keanggotaan DRN perlu disesuaikan agar secara seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. dan konsisi sosio-kultural serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Kemungkinan penerbitan Undang-Undang Sistem Inovasi Nasional juga merupakan salah satu alternatif yang perlu diekplorasi lebih lanjut. termasuk pelaksanaan UU No. lembaga intermediasi. Orientasi pengembangan inovasi nasional yang berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. atau bahkan dilengkapi sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. anggota konsorsium merupakan representasi dari pengembang teknologi. 35 Tahun 2007. Untuk revitalisasi peran DRN ini. Selanjutnya langkah ini juga harus fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nasional. serta koordinasi antara lembaga pengembang teknologi. termasuk permintaan pasar domestik. pengguna teknologi. 18 Tahun 2002 . Semua langkah-langkah yang akan ditempuh dalam rangka mewujudkan atau perkuatan inovasi nasional yang telah diuraikan di atas tetap secara konsisten berbasis pada potensi sumberdaya nasional. dan dapat juga jika dianggap strategis melibatkan lembaga penunjang tertentu.ekonomi masing-masing wilayah koridor. merekomendasikan arah dan prioritas riset nasional. Memahami bahwa satu koridor ekonomi masih dapat dijumpai keragaman potensi ekonominya.2. harkat. dan martabat bangsa Indonesia. 6. dan untuk menyediakan solusi teknologi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. diperbaiki. yang terkait langsung dengan upaya mencapai sasaran bersama yang telah disepakati. Dalam konteks penguatan inovasi nasional. manusia. Regulasi dan kebijakan yang ada saat ini dirasakan masih perlu disinkronisasikan. 18 Tahun 2002 dan PP No. Kemungkinan untuk reposisi DRN juga perlu mendapat pertimbangan agar peran koordinasi lebih efektif dapat dilaksanakan. Dewan Riset Nasional (DRN) sebagai lembaga non-struktural yang terkait langsung dengan upaya membangun inovasi nasional perlu lebih dioptimalkan perannya. Alternatif lain yang dapat didorong adalah membangun konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dari anggota konsorsium. termasuk sumberdaya alam. dan pemerintah sebagai pengguna teknologi. terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan iptek.

keuangan. (10) UU No. (9) Peran Dewan Riset Nasional (DRN) perlu direvitalisasi. dan lembaga pemerintah sesuai dengan konsepsi penguatan SINas. yakni meningkatkan kontribusi teknologi terhadap percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. (7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) perlu segera diinisiasi dalam rangka memberikan dukungan terhadap implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. termasuk masyarakat. dimana kawasan Puspiptek Serpong dapat diprioritaskan untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. dengan demikian maka upaya penguatan inovasi dapat mengalami akselerasi. yakni kapasitas riset dan pengembangan. serta dari unsur pemerintah. perindustrian.teknologi. Peran lembaga intermediasi perlu diperluas sehingga tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi para pengguna teknologi. dan perdagangan. dan kapasitas difusinya. Partisipasi pihak non-pemerintah perlu dirangsang untuk berperan dalam intermediasi ini. sehingga teknologi dapat secara nyata berkontribusi terhadap pembangunan nasional. (4) Peran lembaga intermediasi perlu lebih dioptimalkan sehingga interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi dapat lebih intensif dan produktif. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta turunannya PP No. (8) Pembentukan konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dan memiliki nilai strategis nasional perlu didorong karena akan menjadi vehicle yang efektif sebagai model implementasi SINas. terutama di sektor riset dan teknologi. Kemungkinan reposisi DRN juga perlu dipertimbangkan agar peran koordinasi DRN menjadi lebih efektif. (3) Kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi perlu ditingkatkan agar proses difusi teknologi dalam rangka mewujudkan inovasi nasional dapat lebih berpeluang untuk terlaksana. (2) Kapasitas lembaga pengembang teknologi perlu direvitalisasi agar mempunyai tiga kapasitas yang dibutuhkan dalam menopang penguatan inovasi nasional. industri. (5) Pemerintah menyiapkan ‘panggung’ bagi para aktor inovasi agar dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. kapasitas sourcing. pendidikan. melalui pemberlakukan regulasi dan kebijakan yang kondusif. 18 Tahun 2002 . ketenagakerjaan. 35 Tahun 2007 142 Naskah Akademik Perubahan UU No. (6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) perlu disegerakan agar tersedia wahana untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi. antara lain melalui perbaikan komposisi keanggotaannya agar secara lebih seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. Pengembangan.

143 Naskah Akademik Perubahan UU No. harkat. (11) Orientasi pengembangan inovasi nasional harus berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. diperbaiki. dan Difusi Teknologi perlu disinkronisasikan. 18 Tahun 2002 .tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Inovasi. atau bahkan dilengkapi dengan produk turunannya sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. dan martabat bangsa Indonesia.

Nelson. Government centrality to university–industry interactions: University research centers and the industry involvement of academic researchers. Economic Backwardness in Historical Perspective. Catch-up and convergence in the postwar growth boom and after. The Belknap Press. Research Policy 38:1505–1516 BPS. Developing science. 144 Naskah Akademik Perubahan UU No. 2009. 2005. Jakarta. Technology and Economic Performance: lessons from Japan. Jakarta. Establishing Standards for Social Infrastructure. 2009. Research Policy 37:1417-1435 Firdausy. Freeman. Assessing the Distributional Power of National Innovation System: pilot study of the Netherland.M. Ipswich. Membangun Iptek yang Memihak Rakyat. Srholec. Apeldoorn. 2008. Gramedia Pustaka Utama. Cambridge (USA).T. In: W. C.R. S. C. and social systems. 18 Tahun 2002 .M. Research Policy 38:583–589 Gerschenkron. 2003. Iptek sebagai Keharusan untuk Pertumbuhan Ekonomi.N. Badan Pusat Statistik. Asheim. Wolf (eds). C. Jakarta. Coenen. Convergence of Productivity: Crossnational studies and historical evidence. and L. H. technology and innovation indicators: What we can learn from the past. 1962. Freeman. Regulasi/Deregulasi. 2005. B. Knowledge bases and regional innovation systems: comparing Nordic clusters. Capabilities and Economic Development. Geographies of Production: growth regimes in spatial perspective – innovation. Netherland. J. Hasta.C. University Of Queensland. and E. Research Policy 34(8):1173-1190 Bathelt. Jadikan Iptek sebagai HAM. Haagedoorn. 2010.J. Progress in Human geography 27(6):763778 Boardman. London. Firdausy. Fagerberg. 2009a. J. R. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Gramedia Pustaka Utama. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Review of Industrial Organization 11:601-616 Haryoto. Soete. M. Foresight. Trends and Patterns in Strategic Technology Partnering since the Early Seventies. P. 1987. Hertog. 1996. Jakarta. Pinter. Statistik Indonesia. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 1994. Oxford University Press. Jakarta Casey. and M. And L. P. Baumol. Gramedia Pustaka Utama. E. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Center for Technology and Policy Studies. 1995. L. C. A. 2008.Referensi Abramovitz. Oxford (UK). National Innovation Systems. 2009b. 2009. institutions. Dalam: Kadiman.

Uyarra. Jakarta. B. 1996. K. dan M. Simfoni Inovasi: cita dan realita. X. Pellinen. K. D. Seminar Nasional Revitalisasi Lembaga Litbang. Ibrahim. 2006. 1992. Foresight. Hidayat. Systemic Bibliometric Indicators for the Knowledge-based Economy. and K. T. B. 23 Juni 2011. Jakarta. Banjarbaru. White. Membangun Agroindustri dan Mewujudkan Sistem Inovasi: agar teknologi berkontribusi pada kesejahteraan rakyat. Universitas Padjadjaran. Revitalisasi (Reformasi) Lembaga Litbang untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. Komarulzaman. Universitas Sahid Jakarta.I. Alisjahbana. Canadian Journal of Economics 37(4):1118-1150 Liu. Keynote speech pada Seminar dan Lokakarya Nasional Pengembangan Agroindustri Kalimantan Selatan: prospek. Membangun Relasi Akademisi-Bisnis-Pemerintah. 2010. National System Innovation: towards a theory of innovation and interactive learning. Universitas Sahid. M. Universitas Lambung Mangkurat. Flanagan. Lakitan. 2008. Makalah pengarahan pada Temu Peneliti Badan Litbang dan Diklat VIII Kementerian Agama. and K. 2006. P. Lakitan. Makassar. Indikator Kinerja Lembaga Litbang di Era Informasi Terbuka. and S.Hicks. Kadiman. 23 November 2010. Working Paper in Economics and Development Studies No. R. A. L. technology and innovation: Translating rationales into regional policies in a multi-level setting. Meyer. 23 November 2010. D.A. Perencanaan Lintas-Sektor. Bandung. Policies for science. London. Revitalisasi Kelembagaan Riset dan Pengembangan untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional.D. 2004. 2010. peluang. 18 Tahun 2002 . Gramedia Pustaka Utama. Lakitan. 12-15 April 2011. B. 145 Naskah Akademik Perubahan UU No.. Research Policy 37:823-835 Leydesdorff. Laranja. Paris. Comparing innovation system: a framework and applications to China’s transitional context. Triple Helix indicators of knowledge-based innovation systems: Introduction to the special issue. Dalam: Kadiman. Paper presented at the OECD Workshop on New Indicators for the Knowledge-based Economy. T. Kadiman. Ahlqvist and. 200602. Jakarta. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2011a. serta kendala. E. 19-21 June. Katz. 2011b. Testing the Natural Resource Curse Hypothesis in Indonesia: Evidence at the Regional Level. 2008. Total Factor Productivity and the Measurement of Technological Change. Research Policy 35:1441–1449 Lipsey. 2001. dan potensi. 2009. Carlaw. Technological Forecasting & Social Change 76:1177–1186 Lundvall..G. Research Policy 30(7):1091-1114 Loikkanen. 2009. Keynote speech pada Seminar Revitalisasi Kelembagaan Litbang. Foresight. Jakarta. Pinter. The role of the technology barometer in assessing the performance of the national innovation system. B. H. and Armida S. 2008. And S. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan.

Paper presented at the Eurostat Conference on Innovation Measurement and Policies. Annual Report on the Promotion of Science and Technology. Teknologi dan Tanggung Jawab Sosial. National Innovation System: a comparative analysis. The Economic Foundations of Technology Policy: equilibrium and evolutionary perspective. P. France. Oxford. Paris. Konsistensi Regulasi. And L. 2002. Foresight. Oxford. and K. Paris OECD. France. Dalam: Kadiman. dan Prakoso Bhairawa Putera. OECD. Pengembangan. Paris. OECD. Third edition. Cooperation and Development. Paris OECD. 2002. Oslo Manual: guidelines for collecting and interpreting innovation data. F.. A review of the recent contribution of systems thinking to operational research and management science. M. 2008. 2008b. Blackwell Publishers. New York. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Paris. France. 2010. Mingers. Innovation Strategies: scoping document. and G. 146 Naskah Akademik Perubahan UU No. R. Virtual Consulting International Ltd. Industri. Frascati Manual: The Proposed Standard Practice for Surveys of Research and Experimental Development. National Innovation Systems. 1994. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2010. 1997. Corporate Innovation at Work: Defining the innovation consortium. Organisation for Economic Oey-Gardiner. OECD. Foresight. Science Technology and Innovation Review No. Stanway. White. OECD..Malerba. Sri. Patel. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Stoneman (ed). Technology. 1995. H. S. Oxford University Press. Panigoro. LIPI Press: Jakarta Nelson. 2009. France. Organisation for Economic Cooperation and Development. 1996. R. Malherbe G. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Pavitt. In: P. Organisation for Economic Cooperation and Development. Jakarta. Organisation for Economic Co-Operation and Development. bukan Pabrik. Metcalfe. Ministry of Education. 2008. Jakarta. The Knowledge-Based Economy. 1996. 2005. European Journal of Operational Research 207:1147–1161 Mulatsih. J. Jakarta. and Innovation Policy. Prihandana. Sport. Strategic Priorities for Science. 1993. Foresight. Organisation for Economic Co-Operation and Development. Handbook of the Economic of Innovation and Technological Change. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). Science and Technology.14. OECD. Organisation for Economic Cooperation and Development. Sixth edition. Tokyo. 18 Tahun 2002 . Culture. Analisis Undang-undang No. Paris. Dalam: Kadiman. Dalam: Kadiman. The Nature and Economic Importance of National Innovation Systems. 2008. Paris. 2008a. Industry Studies of Innovation Using CIS Data: computer and office machinery. MEXT.

The Theory of Economic Development. Embargo sebagai Pemicu. and R. B. Jakarta. . Cambridge. Bahan Ceramah di LIPI.Rosenberg. Jakarta. Governance of Innovation Systems in the Current Global Setting. 18 Tahun 2002 Warsono. Dalam: Kadiman. Simfoni Inovasi: cita dan realita. I. Gramedia Pustaka Utama. Peran Intermediasi dalam Membangun Kolaborasi Lembaga Litbang dan Industri. Schumpeter. Chien. Jakarta. The Global Competitiveness Report 2010-2011. Nalar Ekonomi versus Nalar Teknologi. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 2009. The World Bank. UNCTAD. 1934. 2009. dan S. Washington DC 147 Naskah Akademik Perubahan UU No. Jakarta Suhardi.C. Technovation 27:471–488 WEF. Setiawan. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 1994. 2009. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Jakarta. Kesinambungan Milestone. B. Foresight. Dalam: Kadiman. Gramedia Pustaka Utama. American Universities and Technical Advance in Industry. Sharif. S. Jakarta. J.Y. 2008. World Economic Forum. Nelson. 2010. Innovation Policy: a guide for developing countries. 2010. Foresight. World Investment Prospects Survey 2008-2011. Peran Badan Intermediasi. Simfoni Inovasi: cita dan realita. S. 2008. N. 2007. New York Wang. United Nations Conference on Trade and Development. Setiawan. Harvard University Press. Thee Kian Wie.R. Foresight.Y. Dalam: Kadiman. T. Geneva World Bank. Inovasi untuk Pemberdayaan Industri. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2010. 2008. Foresight. 2008. Dalam: Kadiman. Research Policy 23(3):323-348 Santoso. The influences of technology development on economic performance—The example of ASEAN countries. Jakarta.

6. Pengembangan. dalam Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. 148 Naskah Akademik Perubahan UU No. 3. 2. 18 Tahun 2002 7. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional (KIN). Serpong. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 193/M/Kp/IV/2010 tentang Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek 2010. Soesilo Bambang Yudhoyono. Sambutan Presiden Dr.2014. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. 4. dan Difusi Teknologi. 20 Januari 2010. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 8. . 5. Inovasi. Sumbangan Pembinaan Olahraga. dan Penerapan Ilmu Pengetahun dan Teknologi. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional Untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Pembangunan Nasional 9. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional.Lampiran Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Nasional 1. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Sumbangan Penelitian dan Pengembangan.

pemanfaatan. Dengan persetujuan : DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. c. d. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tugas dan tanggung jawab negara. Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). b. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengandung dan membentuk keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada butir a. bahwa untuk menumbuhkembangkan penguasaan.Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah. PENGEMBANGAN. sumber daya. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan bermasyarakat. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. diperlukan sistem nasional penelitian. Undang. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pemanfaatan. yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Pengembangan. b. berbangsa. ayat (2). bahwa penumbuhkembangan sistem nasional penelitian. memajukan kesejahteraan umum. 149 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengembangan. PENGEMBANGAN. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a.Lampiran 1. c. 18 Tahun 2002 . serta mencerdaskan kehidupan bangsa. dan d perlu dibentuk Undang-Undang tentang Sistem Nasional Penelitian. e. ayat (4). bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk kepentingan umat manusia yang dalam pengelolaan dan pendayagunaannya diperlukan penguasaan. bahwa penguasaan. pemanfaatan. dan menyerasikan tata kehidupan manusia beserta kelestarian fungsi lingkungan hidupnya berdasarkan Pancasila. dan bernegara di Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pencapaian tujuan negara sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. terakhir dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. serta jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh di lingkungan Negara Republik Indonesia. pengembangan.

dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga. pengembangan. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. sosial budaya. dan estetika. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. 2. 150 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. 11. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis adalah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keterkaitan yang luas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh. 6. baik yang bersifat kuantitatif. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk desain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. badan. 3. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. 7. disusun. Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat dipergunakan untuk menyempurnakan atau memperbarui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. dan/atau ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam kegiatan perekayasaan. 4. kemajuan bangsa. manfaat.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. data. Teknologi adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. fungsional. kualitatif. pengembangan. . produk. serta difusi teknologi. inovasi. 9. 18 Tahun 2002 5. atau orang. atau menghasilkan teknologi baru. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. bisnis. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Penerapan adalah pemanfaatan hasil penelitian. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. atau berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. kelangsungan. 8. 10. Inovasi adalah kegiatan penelitian. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. baik yang berada di lingkungan dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya. pelestarian fungsi lingkungan hidup. Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali.

sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas kebebasan berpikir. serta asas tanggung jawab akademis. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dikembangkan berdasarkan asas iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lembaga penelitian dan pengembangan yang selanjutnya disebut lembaga litbang adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan penelitian dan/atau pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan memperkuat daya dukung ilmu pengetahuan dan teknologi bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. kebebasan akademis. asas kebebasan akademis. SUMBER DAYA. BAB III FUNGSI. Menteri adalah menteri yang membidangi penelitian. yang dijamin oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika profesi dalam masyarakat. Pasal 4 Sistem Nasional Penelitian. 14. 151 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengembangan. 13. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. dan tanggung jawab akademis. Pasal 2 Pengertian peristilahan dalam Pasal 1 yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berpikir. 16. Pengembangan. 17. 18. Organisasi profesi adalah wadah masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. DAN JARINGAN Bagian Pertama Fungsi Pasal 5 (1) Sistem Nasional Penelitian. Badan usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 15. asas kebenaran ilmiah. Hak kekayaan intelektual yang selanjutnya disebut HKI adalah hak memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas kesisteman dan percepatan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. KELEMBAGAAN. Pemerintah pusat. Pengembangan.12. pemanfaatan. Pengembangan. asas tanggung jawab negara. 18 Tahun 2002 BAB II ASAS DAN TUJUAN . atau suatu bidang kegiatan profesi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan. Pasal 3 Sistem Nasional Penelitian. selanjutnya disebut Pemerintah.

lembaga litbang. inovasi. penelitian. badan usaha. pemerintah daerah. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan perekayasaan. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). unsur sumber daya. 18 Tahun 2002 (1) Lembaga litbang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. Pasal 7 (1) Perguruan tinggi sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. Pasal 8 (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 10 (1) Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. daya manusia. serta pengabdian pada masyarakat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. perguruan tinggi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Kelembagaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi : a. lembaga litbang bertanggung jawab mencari berbagai invensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menggali potensi pendayagunaannya. Pengembangan. Pengembangan. b. dan organisasi masyarakat. badan usaha bertanggung jawab mengusahakan pendayagunaan manfaat keluaran yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. atau bagian dari organisasi pemerintah.(2) Unsur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas unsur kelembagaan. dan unsur jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan difusi teknologi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomis. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi. 152 Naskah Akademik Perubahan UU No. Bagian Kedua Kelembagaan Pasal 6 (1) Kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. membentuk iklim dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. penelitian dan pengembangan. lembaga penunjang. pemanfaatan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. mengorganisasikan pembentukan sumber perekayasaan. (3) Lembaga litbang dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. dan lembaga penunjang. . Pasal 9 (1) Badan usaha sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. perguruan tinggi bertanggung jawab meningkatkan kemampuan pendidikan dan pengajaran. dan difusi teknologi. badan usaha. Pengembangan. inovasi. pemanfaatan. Pengembangan.

kepakaran. (2) Untuk menjamin tanggung jawab dan akuntabilitas profesionalisme. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. pengembangan. kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi. jenjang karier sumber daya manusia. . Bagian Keempat Jaringan Pasal 15 (1) Jaringan Sistem Nasional Penelitian. (4) Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. dan sertifikasi keahlian. dan badan usaha yang melaksanakannya. dan badan usaha. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan pembentukan sentra HKI sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah mendorong kerja sama antara semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan jaringan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. serta menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil di lingkungannya sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 12 (1) Dalam meningkatkan keahlian. pemerintah daerah. Pasal 14 Pemerintah. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi lain untuk memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan masyarakat. lembaga penunjang bertanggung jawab mengatasi permasalahan atau kesenjangan yang menghambat sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. lembaga litbang. dan/atau badan usaha dapat membangun kawasan. lembaga litbang. serta kode etik profesi. (3) Dalam meningkatkan pengelolaan kekayaan intelektual. (2) Setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab meningkatkan secara terus menerus daya guna dan nilai guna sumber daya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). persyaratan. Pengembangan. Pasal 13 (2) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan penyebaran informasi hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan serta kekayaan yang dimiliki selama tidak mengurangi kepentingan perlindungan kekayaan intelektual. Bagian Ketiga Sumber Daya Pasal 11 (1) Sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas keahlian. organisasi profesi wajib menentukan standar. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih 153 Naskah Akademik Perubahan UU No. pusat peragaan. serta kompetensi manusia dan pengorganisasiannya.(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab mengembangkan struktur dan strata keahlian. kepakaran. kekayaan intelektual dan informasi. perekayasaan.

memperkuat. (2) Apabila sebagian biaya kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibiayai oleh pihak lain. (5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. BAB IV FUNGSI DAN PERAN PEMERINTAH Bagian Pertama Fungsi Pemerintah Pasal 18 (1) Pemerintah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. memberikan stimulasi dan fasilitas. (2) Kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilaksanakan atas dasar persamaan kedudukan yang saling menguntungkan dengan tidak merugikan kepentingan nasional. Pasal 17 (1) Kerja sama internasional dapat diusahakan oleh semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan alih teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat ilmiah internasional. 18 Tahun 2002 . sejauh tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan. lembaga litbang asing. (3) Pemerintah bertanggung jawab memberikan dukungan bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam rangka kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. (4) Perguruan tinggi asing. ayat (2). selain pemerintah dan/atau pemerintah daerah. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan Sistem Nasional Penelitian. (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). perguruan tinggi. pengalihan teknologi dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang telah diatur sebelumnya dengan pihak lain tersebut. (3) Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri. lembaga litbang. 154 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Untuk mengembangkan jaringan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia. melengkapi. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. atau masyarakat. wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. Pengembangan. pemerintah. pemerintah wajib merumuskan arah. yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah kepada badan usaha. badan usaha.besar dari keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh masing-masing unsur kelembagaan secara sendirisendiri. Pasal 16 (1) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan orang asing yang tidak berdomisili di Indonesia yang akan melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia harus mendapatkan izin tertulis dari instansi pemerintah yang berwenang. badan usaha asing. prioritas utama. dan lembaga penunjang.

dan jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Nasional Penelitian. (3) Dalam merumuskan kebijakan strategis yang dimaksud dalam ayat (2). pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. (3) Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. inovasi. pemerintah daerah membentuk Dewan Riset Daerah yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. penguatan penguasaan ilmu-ilmu dasar. c. pemerintah daerah wajib merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. 155 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian. prioritas utama. sumber daya. ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis. Bagian Kedua Peran Pemerintah Pasal 21 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah berperan mengembangkan instrumen kebijakan untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). (4) Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan penelitian. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. b. Pengembangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. memberikan stimulasi dan fasilitas. pengembangan. . 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. (2) Untuk mendukung Menteri dalam merumuskan arah.Pasal 19 (1) Menteri wajib mengoordinasikan perumusan kebijakan strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menteri wajib memperhatikan pentingnya upaya : a. pemerintah membentuk Dewan Riset Nasional yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemerintah daerah harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. penguatan kemampuan audit teknologi impor yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia untuk melindungi konsumen dan memfasilitasi pertumbuhan industri dalam negeri. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan. dan difusi teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. dan peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan yang merupakan tulang punggung perkembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. serta penguatan penguasaan ilmu-ilmu sosial dan budaya yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasal 20 (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan.

dukungan dana. (3) Pemerintah menjamin perlindungan bagi masyarakat sebagai konsumen. pemanfaatan. pemberian insentif. (2) Setiap warga negara yang melakukan penelitian. dan akuntabel. baik yang berdiri sendiri sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen maupun sebagai unit kerja departemen atau pemerintah daerah tertentu. (3) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat berbentuk dukungan sumber daya. dan pembentukan lembaga. pemerintah mengatur perizinan bagi pelaksanaan kegiatan penelitian. pengembangan. (2) Pemerintah menjamin perlindungan bagi pengetahuan dan kearifan lokal. BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 24 (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan serta dalam melaksanakan kegiatan penguasaan. transparan. serta kekayaan hayati dan non hayati di Indonesia. (4) Lembaga yang dimaksud dalam ayat (3) dapat meliputi lembaga litbang dan lembaga penunjang. (5) Pelaksanaan instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diselenggarakan secara adil. pemerintah daerah. Pengembangan. pengembangan. terhadap penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 22 (1) Pemerintah menjamin kepentingan masyarakat. (3) Setiap orang mempunyai hak untuk menggunakan dan mengendalikan kekayaan intelektual yang dimiliki sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penyelenggaraan program ilmu pengetahuan dan teknologi. (4) Setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh informasi secara mudah dengan biaya murah tentang HKI yang sedang didaftarkan dan telah dipublikasikan secara resmi oleh pihak yang berwenang atau yang telah memperoleh perlindungan hukum di Indonesia. demokratis. 18 Tahun 2002 . dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berisiko tinggi dan berbahaya dengan memperhatikan standar nasional dan ketentuan yang berlaku secara internasional. (2) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). bangsa.(2) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan sebagai bentuk kemudahan dan dukungan yang dapat mendorong pertumbuhan dan sinergi semua unsur Sistem Nasional Penelitian. nilai budaya asli masyarakat. Pasal 23 (1) Pemerintah menjamin perlindungan bagi HKI yang dimiliki oleh perseorangan atau lembaga sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. dan/atau masyarakat sesuai dengan kinerja yang dihasilkan. Pasal 25 156 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai hak memperoleh penghargaan yang layak dari pemerintah.

dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. badan usaha. (2) Anggaran yang dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk membiayai pelaksanaan fungsi dan peran pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1). lembaga litbang. Pasal 28 (1) Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. inovasi. pemberhentian sementara kegiatan. Pasal 20 ayat (1). organisasi masyarakat dan inventor mandiri berhak atas dukungan dana dari anggaran pemerintah dan pemerintah daerah untuk meningkatkan penguasaan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan. pemanfaatan. BAB VII KETENTUAN SANKSI Bagian Pertama Sanksi Administratif Pasal 29 Pelanggaran ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dijatuhi sanksi administratif mulai dari teguran. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 26 Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. (2) Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. pemanfaatan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. . dan Pasal 21 ayat (1). dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Pengembangan. 157 Naskah Akademik Perubahan UU No. sampai dengan pembatalan atau pencabutan izin oleh instansi pemberi izin. 18 Tahun 2002 (3) Perguruan tinggi. lembaga penunjang. (2) Masyarakat ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab untuk berperan serta mengembangkan profesionalisme dan etika profesi melalui organisasi profesi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. peringatan.(1) Masyarakat wajib memberikan dukungan serta turut membentuk iklim yang dapat mendorong perkembangan Sistem Nasional Penelitian. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. Pasal 27 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran sebesar jumlah tertentu yang cukup memadai untuk memacu akselerasi penguasaan. (3) Setiap organisasi profesi wajib membentuk dewan kehormatan kode etik sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (2).

Disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. kesehatan masyarakat. dan merugikan negara. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. ttd. 18 Tahun 2002 . memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. keselamatan bangsa.000. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 84 158 Naskah Akademik Perubahan UU No. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 31 Pada saat berlakunya undang-undang ini.Bagian Kedua Sanksi Pidana Pasal 30 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin diancam pidana denda paling banyak Rp 50. ttd. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. semua peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak sesuai dengan undangundang ini dinyatakan tidak berlaku.00 (lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. kerukunan bermasyarakat. (2) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) yang mengakibatkan bahaya bagi keselamatan manusia.000. kelestarian fungsi lingkungan hidup. Agar setiap orang mengetahuinya. dijatuhi sanksi pidana penjara dan/atau denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

atau cara baru 159 Naskah Akademik Perubahan UU No. pengembangan. 2. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. Mengingat : 1. data. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. fungsional. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2007 TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. INOVASI. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). Pengembangan. 2. Pengembangan. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. . 3. DAN DIFUSI TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat (3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. INOVASI. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan estetika. Inovasi. bisnis. Inovasi adalah kegiatan penelitian. manfaat. dan Difusi Teknologi. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal.Lampiran 2. DAN DIFUSI TEKNOLOGI. 4. sosial budaya. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. atau menghasilkan teknologi baru. 18 Tahun 2002 Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. produk. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk disain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. MEMUTUSKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksudkan dengan : 1. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84.

penelitian. 5. INOVASI. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. inovasi. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . dan Koperasi. Badan Usaha Milik Daerah. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengalokasikan sebagian pendapatan sesuai dengan kemampuannya. dan badan usaha lain. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penelitian. 6. Badan Usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Pasal 5 (1) Dalam melakukan kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dapat melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi. Badan Usaha Milik Negara. (2) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha swasta berbentuk perseroan terbatas. Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama badan usaha. 8. Insentif adalah pemberian kemudahan/keringanan yang diberikan kepada Badan Usaha dalam rangka upaya peningkatan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi.untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. 7. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian dan pengembangan. inovasi. pengembangan. inovasi. (2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk lisensi. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. BAB II ALOKASI SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA Pasal 2 (1) Badan Usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. DAN DIFUSI TEKNOLOGI Pasal 4 Peningkatan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa yang dihasilkan. dan difusi teknologi dilakukan melalui kegiatan: a. 9. dan/atau b. BAB IV 160 Naskah Akademik Perubahan UU No. inovasi. dan difusi teknologi. kerjasama. lembaga penelitian dan pengembangan. dan pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan dan/atau penerapan teknologi.

dan f. (2) Hasil pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri dalam bentuk saran dan pertimbangan. (2) Pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan proposal kegiatan dan bentuk insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2).INSENTIF Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Badan Usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. kegiatan yang dilakukan di luar negeri. bahan. Bagian Kedua Tata Cara Permohonan. 18 Tahun 2002 c. kegiatan pengawasan dan/atau pengujian rutin terhadap kualitas produk. e. Penghentian. kepabeanan. peralatan. pengumpulan data. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. survei efisiensi atau studi manajemen. . Pasal 7 (1) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. produk dan/atau proses. dan Perpanjangan Insentif Pasal 8 (1) Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) mengajukan permohonan untuk mendapatkan rekomendasi insentif secara tertulis kepada Menteri. inovasi. guna melakukan pengkajian dan penilaian terhadap permohonan insentif. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. pembelian dan/atau pembayaran royalti teknologi dari entitas lain di luar negeri. (2) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. 161 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) Besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. Pasal 9 (1) Menteri membentuk Tim Pengkajian dan Penilaian. riset pasar dan/atau promosi penjualan. b. d.

. potensi peningkatan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa. instansi pemerintah yang berwenang dapat menghentikan atau memperpanjang pemberian insentif. penggunaan sumber daya dalam negeri. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan di dalam negeri. (3) Tata cara pengajuan permohonan insentif perpajakan dan kepabeanan dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. (4) Penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan pimpinan instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.(3) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. (5) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan insentif diterima secara lengkap. dan d. c. (2) Menteri menyampaikan pemberitahuan persetujuan atau penolakan pemberian rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak penerimaan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. Pasal 11 (2) Badan Usaha mengajukan permohonan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang disertai dengan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja Tim Pengkajian dan Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. (4) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. (2) Penetapan penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang setelah meminta saran dan pertimbangan Menteri. rekomendasi disampaikan kepada Badan Usaha dengan tembusan kepada instansi pemerintah yang berwenang dalam pemberian insentif. Pasal 12 Dalam hal Menteri tidak memberikan rekomendasi insentif. Pasal 13 (1) Dalam hal pemberian insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) berupa bantuan teknis penelitian dan pengembangan. 162 Naskah Akademik Perubahan UU No. inovasi. kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. Pasal 10 (1) Menteri dapat memberikan atau tidak memberikan rekomendasi insentif dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. 18 Tahun 2002 (1) Dalam hal Menteri memberikan rekomendasi insentif. b. dan difusi teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. pemberitahuan disampaikan kepada Badan Usaha disertai dengan alasannya. (3) Menteri menyampaikan saran dan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada instansi pemerintah yang berwenang dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian.

(4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. ttd ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 78 163 Naskah Akademik Perubahan UU No. perekayasaan. 18 Tahun 2002 Ditetapkan di Jakarta . memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan difusi teknologi kepada Menteri. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pencapaian kegiatan yang telah dilakukan dan kriteria sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3). pada tanggal 22 Juni 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. ttd DR. Badan Usaha yang mendapat insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) wajib menyerahkan laporan kegiatan peningkatan kemampuan. Agar setiap orang mengetahuinya. inovasi. (3) Menteri dapat melakukan verifikasi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) guna memberikan saran dan pertimbangan penghentian atau perpanjangan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang. H.Bagian Ketiga Pelaporan Pasal 14 (1) Pada setiap akhir tahun dan akhir kegiatan.

Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. Mengingat : 1. huruf k. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2010 TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. . SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. Pasal 1 Sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak terdiri atas: a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). huruf l. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. dan huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. yang merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf i. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.Lampiran 3. 18 Tahun 2002 2. 164 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sumbangan Pembinaan Olahraga. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. huruf j.

dan huruf d dapat diberikan dalambentuk uang dan/atau barang. Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan diberikan. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga. apabila barang yang disumbangkan sudah disusutkan. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . c. Pasal 4 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto bagi pihak pemberi apabila sumbangan dan/atau biaya diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. Sumbangan fasilitas pendidikan. atau c. huruf c. yang merupakan sumbangan untuk membina. Pasal 5 (1) Sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a. nilai perolehan. didukung oleh bukti yang sah. (2) Biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf e diberikan hanya dalam bentuk sarana dan/atau prasarana. Pasal 2 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dengan syarat: a. Pasal 6 (1) Nilai sumbangan dalam bentuk barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) ditentukan berdasarkan: a. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan. nilai buku fiskal. apabila barang yang disumbangkan merupakan barang produksi sendiri. Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya. Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba. dan e. 165 Naskah Akademik Perubahan UU No. kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. harga pokok penjualan. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. d. b. huruf b. b. c. dan d. apabila barang yang disumbangkan belum disusutkan. mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga.b. yang merupakan sumbangan berupa fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan.

dan huruf e wajib menyampaikan laporan penerimaan sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat pada akhir Tahun Pajak diterimanya sumbangan dan/atau biaya. ttd. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 8 (1) Badan penanggulangan bencana dan lembaga atau pihak yang menerima sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a harus menyampaikan laporan penerimaan dan penyaluran sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk setiap triwulan. Pasal 9 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pencatatan dan pelaporan sumbangan dan/atau biaya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. huruf c. 18 Tahun 2002 . memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 160 166 Naskah Akademik Perubahan UU No. huruf d.(2) Nilai biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) ditentukan berdasarkan jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan untuk membangun sarana dan/atau prasarana. Pasal 7 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib dicatat sesuai dengan peruntukannya oleh pemberi sumbangan. (3) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya yang mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak melaporkan sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai lampiran laporan keuangan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak diterimanya sumbangan. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. (2) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b. DR. ttd. Pasal 10 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2010. H.

lembaga riset dan teknologi. bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b serta dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian sistem inovasi nasional. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. perlu membentuk Komite Inovasi Nasional dengan Peraturan Presiden. c. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. 18 Tahun 2002 . mendayagunakan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sitem Nasional Penelitian. bahwa dalam rangka implementasi pelaksanaan sitem inovasi nasional secara efektif dan efisien. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL Pasal 1 Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan Sistem Inovasi Nasional adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. mendukung. membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. Mengingat : 1. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan sistem inovasi nasional guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. Pengembangan. Pasal 3 (1) KIN bertugas untuk: a. b. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. terintegrasi.Lampiran 4. bahwa kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. 167 Naskah Akademik Perubahan UU No. 2. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. terpadu. dibentuk Komite Inovasi Nasional yang selanjutnya disebut KIN. perlu dilakukan melalui institusi yang efektif dan berhasil-guna baik dari sisi legalitas dan otoritas. Pasal 2 Dalam rangka penguatan sistem Inovasi Nasional.

. M. Habibie. Umar A. MA. 11. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghsilkan produkproduk inovatif.S. Lukman Hakim. Dr. M. Dr. Betti Setiastuti Alisjahbana.D.Sc. M. Dr. Dr. transportasi dan industri pertahanan. Tien Muchtadi. Sangkot Marzuki.Sc.Pd. 8. serta komunitas ilmiah dan universitas. Dr. M.S. 14. bioteknologi. Dr. Prof. c. M. IR. Tri Mumpuni Wiyanto. Sc. koordinasi. Arief Rahman. Iskandar. melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program pengutan sistem inovasi nasional. Jenie.Sc. . M.D. Ilham A. 2. Rektor Universitas Indonesia. Ir. Amir Sambodo. (3) Dalam rangka melaksanakan tugasnya. Dr. D. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam. MBA.LL. Prof.. Anton Apriantono.D. : Rektor Institut Pertanian Bogor : Prof. Ph. Idwan Suhardi 7. Prof. D. Sahari Besari. Prof.. 15. 17. Dr. manajemen bencana alam. Dr. Marzan A. M. (2) Penguatan sistem inovasi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan meliputi inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan.. Pasal 4 Keanggotaan KIN terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Prof. Ir.. pakar teknologi dan inovator dalam rangka keterpaduan penguatan sistem inovasi nasional. Dr. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). Ir. 12. Drs. 13. Ing. Industri infrastruktur. Zuhal. Rachmat Gobel. Apt. 18 Tahun 2002 3. wakil-wakil kelompok masyarakat. S.Sc : 1. ketahanan energi. industri manufaktur. 20.b. 16. MS.S. M. 168 Naskah Akademik Perubahan UU No. M. 19.E. memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi.Sc. 6. Freddy Permana Zen. 18. Rektor Institut Teknologi Bandung.H. Prof. Ir. 9. Bustanul Arifin.. 4.. dan kerja sama dengan lembaga pemerintahan dan non pemerintahan.E.. Jusman Syafii Djamal. KIN melakukan konsultasi.Sc. 10.M. Bambang Kesowo. Ir. Dr. periset. Ir. Dr. 5. Ph. Drs. Ninok Leksono. Ph. Prof.

Sekretaris Kabinet KIN melaksanakan tugasnya sejak ditetapkan Peraturan Presiden ini sampai berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II. Rektor Universitas Hasanudin. 27. Pasal 5 (1) Dalam melaksanakan tugasnya. 25. dan Keamanan. Menteri Riset dan Teknologi. KIN memeperhatikan arahan dari pengarah. 22. Hukum. Rektor Universitas Udayana. Pasal 9 Mekanisme dan tata kerja Komite Inovasi Nasional diatur lebih lanjut oleh Ketua Komite Inovasi Nasional. Menteri Keuangan. 4. Pasal 8 Hasil rapat koordinasi KIN oleh masing-masing anggota KIN dilaksanakan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing secara terkoordinasi dan terintegrasi dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) KIN dapat mengundang pimpinan instansi terkait dan pihak lain yang dipandang perlu pada rapat koordinasi KIN. 169 Naskah Akademik Perubahan UU No. Rektor Institut Teknologi Surabaya. 2. 24. Rektor Universitas Syiah Kuala. 26. Pasal 10 Ketua KIN melaporkan kepada presiden setiap perkembangan dan permasalahan yang ada dalam penyelenggaraan sistem inovasi nasional agar segera dapat diambil keputusan untuk penyelesaian masalahnya. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Rektor Universitas Cenderawasih. (2) Pengarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: Ketua Anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian : 1. 5. Pasal 7 (1) KIN melaksanakan tugasnya sejak berkoordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi. 23. 3. (2) KIN melakukan rapat koordinasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. Rektor Universitas Pattimura. Rektor Universitas Gajah Mada. Menteri Sekretaris Negara. 18 Tahun 2002 Pasal 6 . 6. Menteri Koordinator Bidang Politik.21.

Pertanahan. 18 Tahun 2002 .Pasal 11 KIN dalam pelaksanaan tugasnya dibantu sebuah Sekretariat yang secara fungsional dilakukan oleh salah satu unit kerja di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi. Pasal 13 Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 170 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Permasalahan Hukum Bistok Simbolon. Keamanan. ttd. Ratifikasi. anggaran Kementerian Riset dan Teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Politik.q. H. Pasal 12 Segala biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi KIN dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c. DR. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

Mengingat : 1. strategi yang tepat. Prasyarat dan Strategi MP3EI. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. Pelaksanaan. meliputi: a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian nasional yang lebih solid. Pemantauan dan Evaluasi MP3EI. diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas. b. b. (3) MP3EI terdiri atas 4 (empat) bagian. Menimbang : a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. Pendahuluan. 171 Naskah Akademik Perubahan UU No.Lampiran 5. Koridor Ekonomi Indonesia. Pasal 1 (1) Menetapkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 -2025. 18 Tahun 2002 . (2) MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025. dan d. 2. yang selanjutnya disebut MP3EI. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. c. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (4) MP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. perlu menetapkan Peraturan Pr es iden tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. fokus dan terukur.

Pasal 3 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. : Wakil Presiden Republik Indonesia. (2) KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: a. 6. 172 Naskah Akademik Perubahan UU No. 3. Anggota : 1. 5. Wakil Ketua Harian II : Ketua Komite Ekonomi Nasional. dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menteri Pertanian. Menteri Dalam Negeri. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Menteri Pekerjaan Umum. Menteri Keuangan. yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan. Menteri Sekretaris Negara. Pasal 4 (1) Koordinasi pelaksanaan MP3EI dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Menteri Pertahanan. dan b. dan c. Wakil Ketua Harian I : Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 4. acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait. b. 18 Tahun 2002 . 8. 7. Menteri Perindustrian. Menteri Perhubungan. 9. 2. : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing.Pasal 2 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. 10. berfungsi sebagai: a. Menteri Perdagangan. menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI. melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI. Pasal 5 (1) KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Ketua Harian : Presiden Republik Indonesia. yang selanjutnya disebut KP3EI. melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI.

Pasal 9 Sekretaris KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). Menteri Riset dan Teknologi. 21. KP3EI didukung oleh Sekretariat KP3EI. 15. 12. Pasal 8 (1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 24. 19. dapat berasal dari unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non-PNS. . Menteri Lingkungan Hidup. 20. 14. 18 Tahun 2002 Untuk membantu pelaksanaan tugas KP3EI. 173 Naskah Akademik Perubahan UU No. 22. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Menteri Badan Usaha Milik Negara. susunan organisasi. Menteri Kehutanan. (2) Tenaga profesional pada Sekretar iat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pelaksanaan tugas KP3EI sehari-hari dipimpin oleh Ketua Harian. Menteri Pendidikan Nasional. 16. Ketua Komite Inovasi Nasional. 18. dipimpin oleh Sekretaris KP3EI. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. 23. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. (2) Sekretariat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. 26. (3) Susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat KP3EI ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. keanggotaan serta tata kerja Tim Kerja. Menteri Komunikasi dan Informatika. Sekretaris KP3EI mengangkat tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. Pasal 10 (1) Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas Sekretariat KP3EI. Pasal 11 (1) PNS yang ditempatkan pada Sekretariat KP3EI berstatus dipekerjakan. Pasal 6 Pasal 7 Mekanisme dan tata kerja KP3EI. 13. yang secara administrasi berkedudukan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 25. dibentuk Tim Kerja. diangkat dan diberhent ikan oleh Menter i Koordinator Bidang Perekonomian. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Menteri Kelautan dan Perikanan. 17. Sekretaris Kabinet.11. Kepala Badan Pertanahan Nasional.

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO 174 Naskah Akademik Perubahan UU No. ttd DR. H. Pasal 12 Hak keuangan dan fasilitas lainnya bagi Sekretaris KP3EI dan tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. (3) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dari jabatan organik di instansi induk yang bersangkutan. (5) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dengan hormat sebagai PNS apabila telah mencapai batas usia pensiun dan diberi hak-hak kepegawaian. dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. yang berhenti atau telah berakhir masa baktinya. sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.(2) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikkan pangkatnya setiap kali setingkat lebih tinggi tanpa terikat jenjang pangkat. Pasal 14 Peraturan Presiden ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Pasal 13 Segala biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas KP3EI. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian setelah mendapat pertimbangan dar i menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang keuangan dan menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang aparatur negara. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kembali kepada instansi induknya apabila belum mencapai usia pensiun. (4) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 18 Tahun 2002 . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 20102014. Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. 175 Naskah Akademik Perubahan UU No. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Pengembangan. 7. perlu dilakukan perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 20102014. 18 Tahun 2002 3. 8. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. Mengingat : 1. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2004 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Bersatu II. Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset dan Teknologi. Menimbang : bahwa dalam rangka revitalisasi serta penajaman program dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi yang mendukung penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4402). 6. 9. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4219). 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian.Lampiran 6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Tahun 2011-2025. . 5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243b /M/Kp/IX/2011 TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 2010-2014 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA.

dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi. program. SUHARNA SURAPRANATA KEDUA KETIGA KEEMPAT 176 Naskah Akademik Perubahan UU No.PERTAMA : Menetapkan Perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. : Dengan berlakunya Keputusan ini. yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. maka Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. 18 Tahun 2002 . : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. : Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 merupakan panduan dalam melaksanakan penyusunan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. TTD.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. bahwa penguatan SINas diarahkan untuk penciptaan ruang bagi interaksi dan kolaborasi pelaku inovasi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). c.Lampiran 8. peningkatan penelitian. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014. pengembangan. 18 Tahun 2002 d. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL. 5. 2. yang selanjutnya 177 Naskah Akademik Perubahan UU No. dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. Menimbang : a. yaitu penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). maka perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. Mengingat : 1. 3. huruf b. dan huruf c. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. percepatan koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi. . PERTAMA : Menetapkan Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. serta mendorong pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan. b. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II. bahwa strategi pembangunan iptek dilaksanakan melalui dua prioritas pembangunan. bahwa arah penguatan SINas diperlukan sebagai pedoman untuk refocusing dan sinergi dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara efektif dan efisien. dan penerapan iptek. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246 /M/Kp/IX/2011 TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 4.

disebut Arah Penguatan SINas sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA merupakan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara lebih efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. TTD. : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 30 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. KEDUA : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA adalah dokumen kebijakan untuk refocusing dan sinergi dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. 18 Tahun 2002 . SUHARNA SURAPRANATA KETIGA KEEMPAT 178 Naskah Akademik Perubahan UU No.

energi dan perubahan iklim patut kita sambut dengan baik. Yang Mulia Ambassador Cameron Hume. tentu tidak terlepas dari kontribusi saudara semua. Assalamu’alaikum Wr Wb Salam sejahtera untuk kita semua. Bruce Alberts. pertemuan ini dapat merintis jalan ke arah peningkatan kerja sama antara Indonesia-Amerika Serikat. 18 Tahun 2002 . agar Mr. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Para Ilmuwan yang tergabung dalam AIPI. Kita sungguh berharap. yang baru saja dibacakan oleh Duta Besar Cameron Hume. Saya juga menyambut baik pernyataan Presiden Obama di Kairo bulan Juni tahun lalu. di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pernyataan Presiden Barack Obama. kajian. Mr. bangsa. Allah SWT. dan insya Allah kesehatan.Lampiran 9. Yang saya hormati Menteri Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. 20 Januari 2010 Bismillah Hirrahmanirrahim. Bapak Prof. Kemajuan yang kita capai hingga hari ini. yang semula akan hadir di sini mengalami musibah kecelakaan. Yang saya hormati Gubernur Banten. yang di antaranya mencakup kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang saya hormati. pendidikan. Dr. memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Marilah kita bersama-sama. bahwa Amerika Serikat kini berkomitmen untuk membangun kemitraan baru—“a new beginning”—dengan dunia Islam. dan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA SILATURRAHIM DENGAN AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI) DAN MASYARAKAT ILMIAH Serpong. Indonesia dan Amerika Serikat kini sedang aktif menggarap suatu Kemitraan Strategis baru: yaitu suatu kemitraan komprehensif. Melalui kesempatan ini pula. 179 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pandangan yang konstruktif dan ajakan positif Presiden Obama untuk meningkatkan kerjasama bilateral di bidang Iptek. Presiden Republik Indonesia ketiga. dan negara. karena atas rahmat dan karunia-Nya. Insya Allah. Mari kita doakan. LIPI. atas pemikiran. yang mencakup kerja sama dalam berbagai sektor penting bagi kedua negara. Kemitraan Komprehensif ini dapat diresmikan dalam kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia yang direncanakan tahun ini. Baharudin Jusuf Habibie. kerja sama di bidang pendidikan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemitraan strategis kedua negara. Hadirin sekalian yang saya muliakan. Dalam kaitan ini. Namun kita semua juga merasa prihatin bahwa US Science and Technology Special Envoy. Saudara-saudara. Bruce Alberts dapat lekas pulih kembali seperti sediakala. saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para ilmuwan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). kita tetap diberi kekuatan. sehingga kita dapat bertatap muka dalam kesempatan yang membahagiakan ini. dan asosiasi-asosiasi ilmu pengetahuan di Indonesia.

kalau kita ingin membangun suatu peradaban dunia (global civilization). ke kecepatan mobil. serta masih termarginalisasi dalam era globalisasi. rumah sakit pertama. Dengan pusat peradaban di Baghdad. ke kecepatan suara. Meskipun terdapat kemajuan di beberapa komunitas Islam. masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. dan bahkan sudah mendarat di bulan. anestesi. Penemuan reaksi fisi nuklir menghasilkan bom atom dan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia. aljabar. optik. Sewaktu saya berpidato di Harvard University akhir tahun lalu. KEDUA. kimia. Abad ke-21 justru dapat kita wujudkan menjadi suatu “confluence of civilizations”. Pesan dan pelajaran sejarah ini masih tetap relevan–bahkan semakin relevan–sekarang: “siapa yang mau maju. kita perlu terus membangun jembatan antar-peradaban. 20 tahun kemudian. dan 3. tetapi suatu visi yang realistis–an achieveable vision. irigasi. teknik sipil. Kita yakini bahwa hal ini bukan sebuah utopia. terutama di antara dunia Barat dan dunia Islam. perubahan yang kita alami di Abad ke-21 akan bergerak sangat pesat. Penemuan bubuk mesiu menimbulkan transformasi militer dengan segala implikasi politiknya. Semua pihak harus berperan aktif menyebarkan soft power. 180 Naskah Akademik Perubahan UU No. Penemuan vaksin di abad ke-18 mengubah ilmu kodokteran dan menyelamatkan jutaan umat manusia. yang akan memperkokoh landasan bagi perdamaian dunia. di mana seluruh peradaban dunia–apakah Barat. harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. akan lebih deras daripada perubahan dalam 100 tahun terakhir. Mari kita memulai dengan suatu preposisi: “Abad ke-21 akan menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia”. 1. astrologi. internet dan handphone. Kita meyakini bahwa di paruh kedua Abad-21. internet dan telepon selular.Hal ini penting karena beberapa hal : PERTAMA. Bahkan. manusia dapat bergerak dari kecepatan kuda. Penemuan mesin uap memulai revolusi industri dan mengubah sejarah Eropa. Ada yang menyatakan bahwa arus perubahan dalam 10 tahun mendatang. Proses ini akan terus berkembang. dan Human Development Index. karena umat Islam membuka diri dan mengejar ilmu pengetahuan di manapun.4 milyar orang telah mempunyai e-mail. Hadirin yang saya hormati. kita sedang berada dalam arus perubahan sejarah yang sangat dahsyat. komputer dan handphone hanya dinikmati oleh segelintir orang. di seluruh dunia. sebagian besar umat Islam saat ini masih tertinggal dalam pencapaian Millenium Development Goals. memang. navigasi. tidak akan pernah ada the second Islamic renaissance di Abad ke-21. Masih banyak umat Islam yang terlalu bernostalgia terhadap kejayaan di masa lalu. ke kecepatan jet. Dan KETIGA. Kita lihat saja komputer. Disadari atau tidak. email. tanpa memahami bahwa peluang untuk maju dan berkarya di depan mata justru jauh lebih besar. Peradaban manusia juga sering berubah karena ide-ide dan penemuan-penemuan baru. puncak kejayaan Islam sebagai peradaban dunia yang paling maju di Abad ke-13 justru terjadi. saya menekankan bahwa Abad ke-21 tidak harus mengikuti skenario “clash of civilizations”. Islam tidak pernah bertolak belakang atau memusuhi ilmu pengetahuan–bahkan Islam selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. 18 Tahun 2002 . Kini. dan kapal-kapal perdagangan. Di awal tahun 1990an. umat Islam mencatat berbagai kemajuan dan penemuan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai sekarang kita rasakan manfaatnya: kompas. Berbeda dari abad-abad sebelumnya. Misalnya: dalam kurun waktu hanya sekitar 100 tahun. ada 1 miliar komputer. Islam.3 miliar pengguna handphone–sekitar separuh dari jumlah penduduk dunia. tanpa penguasaan umat Islam di bidang iptek. dan juga dalam artikel The Economists yang saya tulis. dan dapat saling memperkaya dan melengkapi. Timur–dapat hidup berdampingan secara damai. sebagian besar umat manusia akan terjamah oleh komputer.

keuangan. dan Kerajaan Islam Otoman berjaya. Sebelum kebangkitan nasional tahun 1908. suhu dunia bisa naik 4 derajat Celsius dan membawa malapetaka bagi umat manusia dan bagi planet bumi—rumah kita satu-satunya. Kalau kita gagal. untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. khususnya perubahan iklim. Amerika Latin menikmati masa kemakmuran. Semenjak revolusi industri di Eropa 200 tahun lalu. karena proses pengembangan teknologi tidak akan pernah berhenti. Indonesia sendiri. yang dulu pernah menjadi salah satu bangsa paling miskin di Asia. kunci dari keunggulan Indonesia di Abad ke-21 adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. kini telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. untuk menangkal separatisme. kita semua telah melihat dan merasakan: porsi teknologi dalam PDB kita semakin besar. dan tidak ada negara lain yang memusuhi Indonesia. maju dan kompetitif. kesehatan. Karena itulah. dan kunci sukses untuk mencapai itu adalah inovasi. 18 Tahun 2002 Saudara-saudara. bangsa Indonesia masih terisolasi dalam penindasan kolonialisme. Apakah itu bangsa. dan lapisan ozon semakin menipis. abad kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Indonesia tidak punya musuh. saya yakin sekali bahwa dalam Abad ke-21 yang akan menjadi the most powerful driver of change adalah teknologi. pada saat Eropa mendominasi dunia. Konsentrasi karbondioksida meningkat 36%. dan lain-lain. . terutama di negara-negara industri maju. Kita mutlak membutuhkan persatuan untuk melawan penjajah. Di Abad ke-21. Dalam abad yang sangat progresif ini. pertumbuhan ekonomi dan daya saing sebuah bangsa sangat disumbang oleh penguasaan teknologi. Kecenderungan ini akan terus menguat. karena ulah manusia. Kalau kita tidak cepat meng-atasinya. pendidikan. Salah satu penyebab bangsa kita terbelakang selama ratusan tahun adalah.Sejumlah negara–baik besar maupun kecil—yang dulu dikenal sebagai “negara miskin” kini telah melejit menjadi ekonomi yang unggul. untuk memacu pertumbuhan dan produktivitas. atau “knowledge capital”. situasinya telah berbeda: Hakikatnya. untuk menjaga keutuhan wilayah. Kalau kita kelak tampil unggul di depan yang lain. untuk mempertahankan kemerdekaan. dan untuk menjadi bangsa yang terhormat. the biggest driver for change adalah teknologi. Makin nyata. pertahanan. jasa. itu terjadi karena kerja keras dan kemampuan kita dalam beradaptasi. itu adalah kesalahan kita sendiri. Kunci sukses kita untuk mencapai itu tiada lain adalah persatuan. Kita juga melihat perubahan pesat ini di bidang lingkungan. Abad ke-20 adalah abad kebangkitan nasional. apakah itu untuk pertanian. Dalam menghadapi arus sejarah yang dahsyat ini. Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan. perusahaan. Abad ke-21 adalah abad keunggulan. Amerika Utara tumbuh pesat. kita tidak bisa lagi hanya mengutuk masa lalu atau menyalahkan orang lain. Itulah perjuangan kita di Abad ke-20.6 derajat celcius. Saudara-saudara. industri. atau individu. dan rakyat kita tenggelam dalam kebodohan dan kemiskinan. Porsi Teknologi dan know-how semakin menonjol. Teknologi tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu saja—bukan 181 Naskah Akademik Perubahan UU No. Inilah yang sering disebut sebagai “intangible intellectual resources”. perdagangan. dan untuk mengembangkan jati diri bangsa. komunitas. untuk membangun perekonomian. Jepang mengalami Restorasi Meiji. Dewasa ini. zero enemy”. suhu dunia telah naik sekitar 0. karena kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Politik bebas aktif Indonesia kini diabdikan untuk mewujudkan “a million friends. Sesungguhnya pula merupakan bagian integral yang dinamis dari sebuah peradaban (civilization). karena nenek moyang kita tidak mendapatkan akses terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari belahan dunia lain. untuk mengentaskan kemiskinan. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa adalah hasil dari suatu kerja besar yang terencana dan berkesinam-bungan.

kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. baik di Indonesia maupun di luar negeri. di universitas. Sistem dan lingkungan nasional kita harus bisa melahirkan inovator-inovator yang kreatif. dan bukan menjadi catatan pinggir.9 triliun. tetapi juga mesti dianggarkan oleh dunia usaha yang juga memerlukan inovasi di perusahaannya masing-masing. benar-benar menghargai kerja keras kaum peneliti. untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. serta program yang berkesinambungan. Pertama. bukan sikap yang kaku dan dogmatis. Untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek. kita di Indonesia harus bisa mengembangkan budaya unggul—a culture of excellence— baik di birokrasi. Semua fenomena sejarah—apakah itu peradaban Islam. inovasi juga memerlukan Investasi dan Insentif. Nasionalisme kita dicerminkan bukan dalam tindakan melawan atau menutup diri dari dunia. Di Amerika. tanpa apresiasi. Ilmuwan. Karena itulah. ilmuwan. Mereka harus bisa menjadi ikon masyarakat. suatu energi. Inovasi tidak datang dari langit. apalagi hidup tanpa penghormatan.seperti membeli barang di supermarket. namun memerlukan inkubator-inkubator—di lingkungan pemerintah. dan yang akhirnya mengakibatkan transformasi besarbesaran. Restorasi Meiji di Jepang. Kita harus bisa menjadi Innovation Nation —bangsa inovasi! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif. Renaissance di Eropa. Saya ingin ilmuwan Indonesia bahu membahu dengan ilmuwan internasional. Kita semua tahu bahwa enterpreneurship identik dengan inovasi. saya menyadari bahwa alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D-research and development) di Indonesia pada tahun 2005 masih rendah – yaitu sekitar Rp 1 trilyun. Cina. kita bercita-cita agar Indonesia menjadi bagian integral dari komunitas ilmuwan dunia. Karena itulah. Pada awal saya mengemban amanah rakyat. 18 Tahun 2002 Karena itulah. adalah mengubah mindset. India. . dan dari masyarakat. dan tidak sejahtera. dan juga knowledge society. kita melihat bahwa inovasi tumbuh pesat sejalan dengan merebaknya enterpreneurship. selain didukung mindset yang tepat. tampilnya Amerika sebagai superpower. Kita berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia mengadakan riset. Dalam era globalisasi dewasa ini. Tentu saja jumlah inipun masih harus terus kita tingkatkan. Namun. Untuk mencapai kondisi seperti itu ada sejumlah hal penting yang harus kita bangun dan lakukan. Saudara-saudara faktor kedua adalah. dan dinamisme. Komunitas iptek Indonesia harus berwawasan jauh lebih terbuka dan lebih progresif dari masanya. Inovasi juga menuntut sikap open-mind dan risk-taking. maupun di sektor swasta. “the rise of” Cina dan India—semuanya dimulai dengan suatu semangat. peluang. 182 Naskah Akademik Perubahan UU No. perlu diingat. Jepang. Ini semua akan terwujud jika masyarakat kita. dan syukur alhamdullilah pada tahun 2010 dapat kita tingkatkan menjadi Rp 1. universitas. Ingatlah. perusahaan. dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. dan menjadi pendekar keunggulan. dan suatu etos. risk-taking. dan Singapura. innovation is a state of mind. Mungkin satu dua teknologi bisa dibeli seperti itu—namun tidak untuk mencapai technological society. namun dalam kemampuan untuk menyerap ilmu dan teknologi dari manapun untuk kepentingan rakyat Indonesia. Itulah mindset yang akan mengantarkan kita menjadi Innovation Nation. sumberdaya dan dana penelitian dan pengembangan tidak hanya berasal dari APBN. harus ada sumberdaya dan dana yang cukup. dan lain-lain. Inovasi itu adalah suatu semangat. Sementara itu saya berpandangan. peneliti dan inovator harus berada di garis terdepan perubahan nasib bangsa. kita semua. bahwa cara penting untuk membangun inovasi adalah melalui pengembangan enterpreneurship. namun juga menyumbang ilmu untuk dunia. Korea. Kita harus aktif bukan saja menyerap ilmu dari dunia. Mau tidak mau. Pendanaan dari kerjasama internasional juga merupakan alternatif yang makin terbuka. yang kemudian menghasilkan berbagai inovasi baru. dan inventor. pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan porsi itu menjadi lebih memadai. dan terbangunnya mindset baru.

dan telah mendapatkan pengakuan internasional. misalnya melalui satelit. menciptakan branding yang dikenal dunia internasional. teknologi untuk mengentaskan kemiskinan–pro-poor technology. teknologi yang kita cari dan pilih haruslah tetap relevan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan. kebijakan pemerintah dan kolaborasi. Hadirin sekalian yang saya hormati. Teknologi sering disalahpersepsikan seolah hanya untuk kepentingan industri besar yang canggih saja. hidroenergi dan Rumah Sederhana Tahan Gempa. yang sangat penting bagi kesejahteraan rakyat kita (food security). lembaga kajian dan universitas manapun di dunia. Misalnya: telekomunikasi murah untuk desa terpencil. Kita harus mencari teknologi terkini untuk memerangi penyakit-penyakit menular : apakah itu H5N1. 18 Tahun 2002 . Kalau kita lihat dari bukti-bukti empiris. Ketiga. Kedua. atau kombinasi dari semuanya. Inovasi segar seperti ini harus terus dikembangkan dan disebarkan. Pertama. Dunia kini boleh dikatakan sedang panen teknologi. pihak yang lebih cerdik mendayagunakan teknologi bisa lebih maju dari pihak yang menemukan teknologi itu sendiri. Saudari Tri Mumpuni. dan target ini bisa ditingkatkan menjadi 41% apabila ada bantuan internasional yang memadai. Karena itulah. Namun perlu diingat. teknologi pangan. Faktor ketiga adalah. teknologi kesehatan. hampir semua inovasi teknologi merupakan hasil dari suatu kolaborasi. antar-perusahaan. pemeliharaan lingkungan hidup. yang pasti akan terus bermutasi 183 Naskah Akademik Perubahan UU No. antar-ilmuwan. dan surya. teknologi industri. telah merintis pembangunan energi mikro-hidro di desa-desa. Tantangan itu antara lain adalah : pengentasan kemiskinan. dan bahkan bisa bersaing dalam aspek desain yang selama ini cenderung didominasi industri negara-negara maju. Hal ini penting karena pada saat ini dan ke depan. Kita memerlukan teknologi pertanian baru untuk mencari bibit unggul. Salah satu ciri Era Globalisasi dewasa ini adalah keniscayaan untuk sebuah knowledge-sharing antar bangsa. H1N1 dan virus-virus berbahaya lainnya. Untuk itu. peningkatan industri. yaitu padat teknologi dan padat karya. teknologi air bersih. Padahal untuk negeri kita juga diperlukan teknologi yang dapat memberdayakan rakyat miskin. Keempat. meningkatkan hasil panen. lebih produktif dan lebih mempunyai nilai tambah. dan melipat-gandakan produktifitas pangan guna mencapai kondisi swasembada. ketahanan pangan dan energi. ke depan. Karena itulah. yang dapat menjawab tantangan-tantangan pokok itu. menyerap dan mengembangkan teknologi baru untuk pembangunan Indonesia. untuk mendeteksi hotspot kebakaran hutan. karena ini adalah kunci sukses bagi masa depan kita. Kelima. Namun kita harus cerdik mencari. pada saatnya nanti Indonesia menjadi “major food producer” di dunia internasional. Kita sudah menetapkan target penurunan emisi 26% untuk tahun 2020 dari “business as usual”. apakah itu kolaborasi antarpemerintah. Saya mendorong ilmuwan Indonesia untuk menjalin networking dan kolaborasi yang seluas-luasnya dengan lembaga penelitian. Bahkan. sering terjadi. networking antara inkubator menjadi sangat penting. kita harus menerapkan pembangunan yang hemat energi (low carbon footprint).Yang juga penting diingat: kita tidak harus selalu menjadi inventor teknologi baru. bahkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Kita harus bisa membuat industri kita lebih efisien. ketangguhan pertahanan dan keamanan negara. Saya juga bangga bahwa seorang inovator energi kita. teknologi hijau – green technology. Produk-produk industri Indonesia harus bisa menunjang pencapaian 2 aspek penting. bibit unggul. serta meningkatkan teknologi pengawasan hutan. angin. serta penguasaan teknologi yang menjemput masa depan. Saya ingin. bangsa Indonesia harus makin menguasai teknologi. antar-universitas. Kita juga harus mulai mencapai high-end products. industri akan tetap menjadi tulang panggung ekonomi Indonesia. meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan seperti geothermal.

Sebagai negara Nusantara. kita juga harus mengembangkan Sistem Inovasi Nasional. Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi knowledge society. untuk ikut memastikan bahwa Sistem Inovasi Nasional dapat berkembang dan berjalan dengan baik. yang terbentang dari Sabang ke Marauke. Setiap negara mempunyai Sistim Inovasi Nasional dengan corak yang berbeda dan khas. bio-engineering. Saya senang sekali bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH) sudah mulai membangun pusat riset untuk nano-technology. dan lain-lain. negara-negara berkembang. hydrocarbon dan mineral. Saya berpendapat. yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Saat ini. TNI harus terus meningkatkan postur dan kapabilitasnya. Seperti yang kita alami dalam kasus epidemi H1N1 (Swine Flu). TNI harus meningkatkan kapasitas untuk melakukan military operations other than war (MOOTW). serta kemampuan peace-keeping operation di wilayah-wilayah konflik di dunia. Indonesia tidak bisa menangani ancaman ini sendiri. komunitas ilmuwan dan swasta. yang didasarkan pada suatu kemitraan antara pemerintah. Kita harus bisa meningkatkan kualitas dan tingkat teknologi industri pertahanan kita– termasuk melalui joint production dengan industri militer negara-negara lain. teknologi pertahanan. baik perikanan. termasuk kelompok teroris yang juga memanfaatkan teknologi yang canggih. Hadirin sekalian yang saya hormati. teknologi masa depan: yaitu nano technology. Untuk mengembangkan semua ini. Kita juga harus mendapatkan teknologi canggih untuk bisa mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. sebagaimana kita terus mengharapkan dunia luar berbagi dengan kita. menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor. dan dalam skala nasional. 18 Tahun 2002 . robotics. emerging economies. yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. meskipun sudah mulai diterapkan di beberapa negara yang mengalami transformasi.yang kini mulai merintis teknologi-teknologi baru ini. Kita mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. yang terus dapat ditingkatkan keunggulan dan daya saingnya. Kita dikaruniai wilayah yang sangat luas. Virus berbahaya. Polri dan aparat intelijen juga harus terus meningkatkan kemampuan operasionalnya untuk melawan kejahatan trans-nasional. kita harus membangun teknologi kelautan. sama seperti bencana alam. dari Miangas ke Pulau Rote. apalagi kalau menyangkut virus yang datang dari luar yang kita tidak mempunyai vaksinnya. India. Banyak emerging economies --seperti Cina. mendukung. Karena itulah. Konsep seperti ini relatif baru. Disini.mengancam keluarga kita dan bahkan umat manusia. kita harus bekerja-sama dua arah : kita berbagi ilmu dan penemuan dengan dunia kesehatan internasional. dibutuhkan suatu Sistim Inovasi Nasional. di Indonesia. serta bentuk kerjasama yang lain. teknologi maritim. kita belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melakukan offshore drilling apalagi deep sea drilling. genomics. Teknologi-teknologi revolusioner ini tentu tidak sepatutnya hanya didominasi dan dimonopoli negara-negara maju saja. yaitu suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka-panjang dapat mendorong. tapi kita belum menjadi negara maritim yang kuat. wilayah perbatasan dan lautan Nusantara yang terbentang luas. Indonesia secara fisik adalah negara Kepulauan terbesar di dunia. dalam waktu dekat saya akan membentuk Komite Inovasi Nasional. Ketujuh. Sementara itu. misalnya untuk konversi air minum atau teknologi perkapalan. dunia Islam. Keenam. dan lain-lain—yang semuanya dapat menjadi mitra pembangunan Indonesia. dan dengan berkolaborasi dengan dunia internasional. Dan kita mempunyai hubungan yang baik dengan semua pihak—baik dunia Barat. dan Brazil . termasuk penguasaan “revolution in military affairs” (RMA). Oleh karena itu. misalnya. Kita memiliki sumberdaya manusia yang tangguh. TNI juga harus mempunyai kemampuan untuk melakukan surveillance dan menjaga pulau-pulau terpencil. Indonesia tidak boleh tertinggal. kedelapan adalah. Dan. akan menjadi salah satu ancaman paling riil bagi bangsa kita di abad ke-21. 184 Naskah Akademik Perubahan UU No. berkaitan dengan pandangan ini.

serta dengan persatuan. 185 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kalau visi ini kelak tercapai. 18 Tahun 2002 . bangsa kita akan mengalami transformasi yang fundamental. Insya Allah. adalah dengan memadukan pendekatan sumberdaya alam. dengan semua ini. ke depan. Strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju.Karenanya. atau knowledge-based. menjadi bangsa yang maju dan jaya di Abad ke-21. kebersamaan dan kerja keras kita. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. developed country. Mari kita songsong era itu dengan kepercayaan sebagai sebuah bangsa yang penuh inovasi. resource-based and culture-based development. iptek dan budaya. Terima kasih. Indonesia mempunyai peluang emas untuk memajukan kehidupan bangsa kita. masa gemilang itu akan datang. dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful