P. 1
Naskah Akademik SINas.pdf

Naskah Akademik SINas.pdf

|Views: 108|Likes:
Published by Kurnia Aliyanti
NASKAH AKADEMIK PERUBAHAN
UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2002
TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
NASKAH AKADEMIK PERUBAHAN
UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2002
TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

More info:

Published by: Kurnia Aliyanti on May 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/07/2013

pdf

text

original

NASKAH AKADEMIK

PERUBAHAN UNDANG UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2012

1

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Bab 1 Pendahuluan
1.1. Latarbelakang

Pertanyaan yang paling mendasar yang perlu dijawab adalah: apa kontribusi teknologi dalam negeri terhadap pembangunan nasional? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi tolok ukur bagi perkembangan Sistem Inovasi Nasional (SINas) di setiap negara, termasuk Indonesia.1 Akan tetapi untuk menjawab pertanyaan ‘sederhana’ ini, maka perlu didahului dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang anatomi permasalahannya. Sesungguhnya banyak kelembagaan di Indonesia yang melakukan kegiatan riset. Setiap institusi pendidikan tinggi wajib melakukan kegiatan riset sebagaimana amanah Tridharma Perguruan Tinggi. Tiga tugas pokok institusi pendidikan tinggi negeri maupun swasta adalah melakukan kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Selain instansi pendidikan tinggi, di Indonesia juga terdapat banyak lembaga riset pemerintah dan non-pemerintah.2 Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi. Rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan
1

Sistem Inovasi Nasional adalah sistem aliran teknologi dan informasi antara kelembagaan pengembang-pengguna teknologi, didukung oleh kelembagaan terkait lainnya, yang menjadi kunci dari proses inovatif pada suatu negara. Dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi terdapat 7 kelembagaan yang tugas pokoknya menyelenggarakan riset atau kegiatan yang terkait dengan implementasi hasil riset. Kelembagaan riset tersebut berstatus sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK). Selain LPNK tersebut, pada masing-masing kementerian teknis juga terdapat Badan Penelitian dan Pengembangan masing-masing. Kelembagaan riset non-pemerintah terdapat di beberapa industri besar, selain itu juga ada yang berupa lembaga riset independen yang diselenggarakan oleh masyarakat.

2

2

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional. Berfungsinya SINas tidak hanya membutuhkan: [1] keberadaan lembaga pengembang teknologi yang produktif dan berkualitas;3 [2] industri yang dikelola dengan baik dan didukung tenaga kerja terampil dan/atau terdidik yang produktif serta kelimpahan bahan baku; dan [3] fasilitasi aktif dari pemerintahan serta kebijakan dan regulasi yang mendukung pewujudan ekosistem yang kondusif; tetapi juga membutuhkan [4] niat dan motivasi yang tinggi antara pihak pengembang dan pengguna teknologi untuk berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain berdasarkan asas kesetaraan dan saling menguntungkan (mutualistik). UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan fungsi dari sistem nasional litbangrap iptek adalah untuk membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sistem nasional litbangrap iptek. Paradigma yang lalu menempatkan pihak pengembang teknologi (institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset) secara dominan dalam mewarnai ‘genre’ teknologi yang dikembangkan. Pendekatan yang lebih dominan bersifat supply-push ini ternyata gagal dalam mempersuasi industri dan pihak pengguna lainnya untuk mengadopsi teknologi hasil riset oleh perguruan tinggi maupun lembaga riset tersebut. Kegagalan paradigma yang lalu ini perlu disikapi secara cerdas dan objektif, dengan mengesampingkan kepentingan sektoral ataupun profesi. Tentu perlu telaah komprehensif terhadap anatomi permasalahan dalam implementasi paradigma supply-push yang kurang optimal tersebut, selain juga perlu dilakukan pencermatan yang matang terhadap alternatifalternatif untuk memperbaiki paradigma lama tersebut. Kenyataan ini menjadi argumen yang sangat kuat untuk melakukan penelaahan terhadap posisi SINas Indonesia saat ini dan mencari alternatif pendekatan yang tepat agar pola hubungan pengembang-pengguna teknologi dapat efektif, efisien, dan produktif menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan rakyat Indonesia, yang berarti sekaligus secara nyata akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan (perekonomian) nasional. Upaya mengubah paradigma yang lama dengan paradigma yang baru agar ditekankan pada pola dan arah hubungan antara pengembang dan pengguna teknologi serta pihak-pihak lain yang terkait. Secara substansial upaya ini dapat disebut sebagai upaya reorientasi arah dan pola hubungan antar-aktor dalam sistem nasional litbangrap iptek. Diharapkan dengan melakukan
3

Kualitas kelembagaan pengembang teknologi dilihat dari kualitas akademik sumberdaya manusia (SDM) yang mengawakinya, ketersediaan sarana dan prasarana riset yang canggih dan sesuai dengan kebutuhan fokus riset yang menjadi tugas pokoknya, ketersediaan dan/atau kemudahan mengakses sumber informasi ilmiah, dan fasilitas pendukung lainnya untuk menciptakan suasana akademik (academic environment) yang kondusif, serta kemampuannya dalam mendifusikan teknologi yang dihasilkan kepada pengguna potensial.

3

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

reorientasi sistem nasional litbangrap iptek, maka teknologi domestik yang dihasilkan akan lebih berpeluang untuk diadopsi oleh para pengguna, terutama industri dan pelaku produksi lainnya di dalam negeri. Resultan dari adopsi teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa ini adalah peningkatan kontribusi nyata teknologi terhadap pembangunan nasional. Satu hal yang sangat fundamental yang perlu reorientasi adalah anggapan bahwa masalah litbangrap iptek merupakan permasalah teknologi yang berkaitan dengan ekonomi (economically-related technological problems), padahal sesungguhnya penguatan sistem nasional litbangrap iptek adalah permasalahan ekonomi yang butuh dukungan teknologi untuk memecahkannya (technologically-related economical problems). Kemajuan perekonomian sangat tergantung pada kinerja litbangrap iptek-nya, yang pada prinsipnya adalah tergantung pada kapasitas negara dalam mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dan sesuai pula dengan kapasitas adopsi dari para pengguna teknologi. Untuk kasus Indonesia, kesadaran akan pentingnya peran teknologi dalam pembangunan perekonomian nasional tersurat dari ditetapkannya pengembangan sumberdaya manusia (SDM) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sebagai salah satu dari tiga strategi utama dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), disamping dua strategi utama lainnya, yakni pengembangan potensi ekonomi melalui enam koridor yang telah ditetapkan dan memperkuat konektivitas nasional.4 Kesesuaian teknologi dengan kebutuhan nyata membuka peluang lebih lebar untuk teknologi tersebut dapat diadopsi, namun belum sepenuhnya menjamin bahwa sistem nasional litbangrap iptek akan otomatis terbangun. Ekosistem yang kondusif sangat dibutuhkan untuk tumbuh-kembang inovasi, terutama dalam bentuk kebijakan dan regulasi yang akomodatif, yang memudahkan para aktor inovasi untuk berkomunikasi dan berinteraksi serta juga memudahkan proses adopsi teknologi domestik oleh para pengguna di dalam negeri. Arahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono5 untuk mengutamakan upaya pemenuhan kebutuhan (demand) pasar domestik menumbuhkan semangat untuk lebih gigih mewujudkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek yang lebih handal. Penduduk Indonesia yang saat ini (BPS, 2010) telah mencapai 237 juta, merupakan pasar yang sangat besar dan menjadi target banyak negara asing dalam memasarkan produknya. Para pengembang teknologi dan industri dalam negeri harus bahu membahu membangun sinergi untuk tidak membiarkan pasar domestik Indonesia dibanjiri oleh produk dan/atau jasa dari negara-negara asing.

4

Untuk pelaksanaan MP3EI, telah pula diterbitkan Perpres 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang menetapkan tiga kelompok kerja (Pokja), yakni: Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi, Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Pokja SDM dan Iptek. Pokja SDM dan Iptek diketuai oleh Menteri Pendidikan Nasional dan wakil ketuanya adalah Menteri Negara Riset dan Teknologi, dengan anggota dari kementerian PPN/Bappenas, Ristek, Diknas, Nakertrans, Keuangan, UKM dan Koperasi, serta dari anggota KIN, Kadin, dan ketua asosiasi profesi dan usaha terkait. Pada Seminar di Institut Teknologi 10 November Surabaya tanggal 14 Desember 2010.

5

4

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Sinergi pengembang-pengguna teknologi dalam penguatan inovasi nasional merupakan aksi yang tepat dan sepatutnya dilakukan. Inisiatif inovasi dari Komite Inovasi Nasional yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan, Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), antara lain menyebutkan penguatan inovasi melalui skema 747 memerlukan pendanaan R&D hingga 1% dari GDP. Skema 747 ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi, pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi, dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. Peningkatan dukungan pendanaan untuk menunjang program inovasi ini dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan daya dukung pemerintah, BUMN, dan partisipasi badan usaha. Akan sangat ideal jika Pemerintah mampu mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 melalui pembentukan ekosistem yang lebih kondusif melalui regulasi dan kebijakan yang tepat. Adanya peraturan perundang-undangan yang konsisten dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance), sehingga tumbuh-kembang sistem nasional litbangrap iptek dapat berlangsung secara lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

1.2.

Permasalahan

Hasil penelitian LIPI (Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera, 2000) terkait dengan sistem penelitian iptek dan sistem inovasi nasional, antara lain menyimpulkan inovasi masih belum memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional. Menurut Benyamin Lakitan (2012), rendahnya adopsi teknologi tersebut antara lain berakar pada kenyataan bahwa intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara lembaga riset atau perguruan tinggi (sebagai aktor pengembang teknologi) dengan industri atau pengguna teknologi lainnya yang masih sangat terbatas. Hal ini mengakibatkan ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya mewujudkan SINas. UU No. 18 Tahun 2002 menyebutkan sistem nasional penelitian, pengembangan dan penerapan (litbangrap) iptek

5

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keberadaan lembaga riset yang banyak, aktivitas riset yang rutin dan masif, serta dukungan pembiayaan dari berbagai sumber ternyata belum menjadi jaminan bahwa akan mampu menghasilkan teknologi yang secara langsung dapat ditranslasi menjadi produk barang dan/atau jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya, sampai saat ini masih sangat sedikit teknologi domestik yang dihasilkan oleh akademisi, peneliti, atau perekayasa di dalam negeri yang diadopsi oleh industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik. Tidak banyak juga teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang digunakan oleh masyarakat, maupun oleh berbagai lembaga pemerintah, baik untuk peningkatan kualitas pelayanan publik maupun sebagai landasan pembuatan kebijakan dan regulasi.

bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk percepatan pencapaian tujuan negara, peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa dalam pergaulan internasional.

1.3.

Maksud dan Tujuan Penulisan

Pertanyaan yang fundamental dan filosofis perlu ditranslasi menjadi pertanyaan-pertanyaan teknis dan operasional agar jawabannya juga menjadi lebih dapat ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata yang diharapkan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang menjadi batu sandungan dalam upaya mewujudkan penguatan inovasi secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat.6 Berbagai persoalan terkait rendahnya kontribusi teknologi di Indonesia saat ini diyakini berakar pada tidak relevannya teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang dihadapi rakyat, bangsa, dan negara ini. Persoalan terkait dengan upaya penguatan inovasi tidak dapat disederhanakan secara berlebihan (over-simplified) hanya menjadi persoalan relevansi teknologi. Disadari betul bahwa upaya penguatan inovasi nasional merupakan upaya penguatan sistem inovasi yang sangat kompleks. Banyak aktor yang ikut berperan, dengan derajat dan jenis partisipasi yang berbeda tentunya. Banyak faktor yang mempengaruhi ekosistem dimana sistem inovasi ditumbuhkan, termasuk ekonomi, sosio-kultural, hukum, dan politik. Interaksi dari berbagai aktor dan faktorfaktor yang ikut berpengaruh tersebut yang akan membentuk sistem inovasi nasional yang lebih kokoh. Selain kompleks, upaya penguatan inovasi juga sensitif terhadap dinamika peran para aktor dan faktor-faktor pembentuk ekosistem tumbuhnya. Memahami persoalan dalam upaya penguatan inovasi nasional yang sangat kompleks tersebut, maka penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dimaksudkan untuk: [1] Memahami realita dan permasalahan dalam upaya penguatan kemampuan penguasaan, pemanfaatan dan pemajuan iptek saat ini; [2] Mencoba merajut sosok ideal SINas Indonesia dalam mewujudkan tujuh sasaran visi inovasi 2025 secara lebih produktif dan menyejahterakan rakyat; [3] Mengidentifikasi dan mengantisipasi dinamika perubahan faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi ekosistem SINas (lingkungan strategis); dan [4] Mengembangkan konsepsi SINas Indonesia yang realistis yang diyakini mampu diaktualisasikan untuk mewujudkan sasaran penguatan inovasi. Penulisan dokumen ini bertujuan untuk digunakan sebagai bahan referensi akademik yang menjadi dasar pertimbangan perubahan UU No. 18 Tahun 2002, terutama dalam penyusunan regulasi yang relevan dengan upaya mewujudkan penguatan inovasi yang lebih produktif dan menyejahterakan rakyat. Sebagai referensi akademik, dokumen cetak biru ini diharapkan

6

Perlu selalu diingat bahwa konsitusi UUD 1945 jelas mengamanahkan bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa (Pasal 31 ayat 5).

6

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Hasil analisis tersebut menjadi landasan untuk mengidentifikasi peraturan perundangundangan yang ada. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. langkah-langkah perbaikan ekosistem inovasi mencakup: a. 32 Tahun 2011 tentang MP3EI. Melalui pendekatan interdisipliner akan diketahui hukum dan ilmu hukum yang mengatur penguatan inovasi dan melalui pendekatan multi disipliner akan diketahui ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang mendukung pengaturan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang 7 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan dengan pendekatan dari segi pengelolaannya secara terpadu. penelitian ini menggunakan pendekatan secara interdisipliner dan multidisipliner. d. pengembangan sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. Selain itu. 1. 18 Tahun 2002 . pengembangan sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. revitalisasi infrastruktur R&D. khususnya hukum tertulis yang berlaku yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan upaya-upaya penguatan inovasi secara nasional. terutama bagi para pembuat kebijakan dan regulasi. Informasi ini merupakan langkah langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan ekosistem inovasi. selanjutnya dilakukan analisis yang menjadi bagian-bagian sebagai sistem yang terbagi atas sub sistem-sub sistem dari suatu ekosistem sebagai suatu kesatuan dalam merumuskan penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta memberikan kerangka konsepsi yang objektif dan mungkin-dicapai (achievable) dengan sumberdaya yang dimiliki Indonesia.4. Pengembangan. namun diupayakan agar mudah dan enak dibaca dengan gaya bahasa dan penggunaan terminologi yang lebih bersahabat (reader-friendly). Sesuai Perpres No.mampu memberikan informasi yang komprehensif. Pendekatan ini menggambarkan berbagai permasalahan secara utuh dan menyeluruh. Karena tujuannya adalah untuk menjadi landasan dalam pembuatan kebijakan dan/atau regulasi. Pengembangan. dan g. mutakhir. f. c. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menggunakan metode pendekatan deskriptifanalitis. b. pembangunan klaster inovasi daerah. peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. Metode Penelitian Hukum Penyusunan Naskah Akademik tentang Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. e. pengembangan sistem remunerasi peneliti yang lebih baik. dan relevan dengan kondisi Indonesia. maka dokumen cetak biru ini walaupun kental berbasis akademik.

majalah hukum. inovasi. Penelusuran kepustakaan. pengkajian. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Sumber hukum materiil masalah perekayasaan. maupun difusi teknologi. pemanfaatan dan pemajuan iptek untuk mendorong inovasi dan difusi teknologi seoptimal mungkin. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Penelitian ini harus pula mendekati permasalahan yang ada dalam upaya peningkatan penguasaan. maupun yang terkait dengan perekayasaan. maupun difusi teknologi ini mengacu pada inventarisasi permasalahan. dan sebagainya) serta data-data yang diperoleh dari para anggota tim penyusunan naskah akademik. inovasi. kemudian diupayakan untuk menarik azas-azas hukum dan rumusan norma yang akan dijadikan acuan penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. kertas kerja. Data ini selanjutnya dianalisis secara kualitatif berdasarkan norma-norma hukum yang berlaku dan disusun sebagai bagian dari pengembangan sistem hukum nasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. 18 Tahun 2002 .Perubahan UU No. khususnya peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kegiatan perekayasaan. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan merupakan bahan-bahan hukum dalam mempersiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta bahan hukum sekunder maupun tertier (hasil-hasil penelitian. dengan data sekunder yang terdiri dari bahan-bahan hukum primer (peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perekayasaan. hasil focus group discussion. inovasi. serta kegiatan penelitian. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Metode ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis. konvensi dan traktat internasional yang terkait alih teknologi. Sedangkan inventarisasi dan pengolahan data dilakukan melalui: 1. 8 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pengembangan. Tahapan penelitian diawali dengan melakukan inventarisasi hukum. maupun difusi teknologi. Metode pendekatan sistemik ini digunakan sebagai konsekuensi dari pengertian dan pemahaman mengenai kompleksitas penguatan inovasi secara nasional. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi). Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif. inovasi. maupun difusi teknologi. Oleh karena itu penelitian ini secara futuristik harus menyangkut upaya pembangunan yang berkelanjutan dalam sistem hukum yang ada bagi penguatan inovasi nasional. dengan mengkaji berbagai peraturan perundang-undangan yang sudah ada dan berlaku di Indonesia termasuk kebijakan inovasi nasional. maupun putusan pengadilan yang terkait dengan inovasi teknologi. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. serta kegiatan penelitian. makalah. Mengkaji bahan-bahan seminar. Pada dasarnya penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 2.

Kajian ini mencakup bagaimana implementasi. Ketidakpaduan (mismatch) antara teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan industri atau para pengguna teknologi lainnya perlu diperhatikan. 12/2011: latar belakang. Inisiatif inovasi nasional dari Komite Inovasi Nasional dalam rangka pencapaian tujuh sasaran inovasi nasional perlu diperkuat melalui peraturan perundang-undangan. dan pencapaian tujuh sasaran visi inovasi 2025. Inovasi dan Difusi Teknologi. maka sistematika penulisan dirinci sebagai berikut: Bab I Pendahuluan (UU No.5. tujuan dan kegunaan naskah akademik. . dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sistematika Penulisan Sesuai dengan maksud penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 ini dan tujuan yang hendak dicapai. Masalah ini merupakan masalah yang paling serius dan mendasar (fundamental problem) dalam upaya penguatan inovasi. sehingga 9 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan penerapan iptek. Interaksi dan koordinasi antar elemen dalam menghasilkan inovasi masih sangat diperlukan dalam membangun suatu sistem inovasi nasional yang lebih tangguh. Program penguatan inovasi nasional ini mencakup tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi. serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagaian Pendapatan Badan Usaha untuk Kegiatan Perekayasaan. kendala-kendala dalam prakteknya. terutama Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual.  Permasalahan secara garis besar memberikan gambaran kondisi kegiatan penelitian. pengembangan empat wahana percepatan pertumbuhan ekonomi. termasuk pelaksanaan peraturan pelaksanaannya. dan 4. Pengembangan. metode penelitian hukum) Judul dan Deskripsi Substansi  Latar Belakang memberikan informasi awal tentang persoalan pokok yang dihadapi terkait dengan rendahnya kontribusi teknologi terhadap pembangunan nasional Indonesia. dan peraturan perundangundangan yang terkait. terutama untuk meningkatkan produktivitas nasional dan kesejahteraan. metode penelitian hukum. pengembangan.3. Mengkaji Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. serta rincian sistematika penulisan dokumen. argumen tentang pentingnya upaya memperkuat inovasi nasional dalam rangka meningkatkan kontribusi teknologi. 18 Tahun 2002 Mencakup tentang latar belakang penulisan naskah akademik perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002. serta berbagai kendala dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar (ekonomi). 1. dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. identifikasi masalah. Hasil Diskusi atau informasi anggota tim di Kementerian Riset dan Teknologi. permasalahan. maksud dan tujuan penulisan dokumen.

Metode yang digunakan adalah yuridis normatif. dan pembangunan infrastruktur sosial. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. dengan analisis deskriptif terhadap berbagai peraturan perundangundangan. dan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-base economy). Komersialisasi III Evaluasi dan Analisis Peraturan Perundang-undangan Terkait Untuk menyajikan realita potret peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penelitian. terutama kebijakan-kebijakan yang secara langsung mempengaruhi tumbuh-kembang inovasi nasional. dan fakta di masyarakat.  Sistematika menjelaskan tentang tata urut penulisan dokumen yang sekaligus juga merinci tentang substansi isi dokumen. dan upaya penciptaan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang inovasi. pengguna. 18 Tahun 2002. pendidikan. Kementerian Riset dan Teknologi. perindustrian dan perdagangan. termasuk kebijakan maupun peraturan perundang-undangan terkait makro ekonomi. pendekatan kesisteman. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy) : Sri Mulatsih. dilakukan analisis tentang ekosistem pembangunan nasional. peran dan kontribusi aktor inovasi. ketersediaan dan kesiapan infrastruktur inovasi. 2007.  Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . pengembangan. maka akan diulas tentang kinerja perekonomian nasional. dan Prakoso Bhairawa Putera. 2009. dan dilakukan pula identifikasi permasalahan dan analisis efisiensi sistem inovasi terkait orientasi pembangunan inovasi. 2005. dinamika interaksi antar-aktor.  Maksud dan tujuan penulisan adalah menjelaskan tentang niat yang terkandung dalam penyusunan dokumen naskah akademik ini dan kemanfaatan yang dapat diperoleh publik dengan tersedianya dokumen ini. penguatan inovasi. ketenagakerjaan. teori-teori hukum. Kajian implementasi UU No. maupun berbagai informasi yang relevan dari berbagai narasumber maupun diskusi-diskusi. dan 10 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan aktor penting lainnya yang ikut menentukan dinamika ekosistem inovasi.  Metode penelitian hukum memberikan gambaran mengenai metode yang dilakukan di dalam penelitian ini.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan: Tatang A Taufik. II Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi Mencakup kajian teoritis dan kajian implementasi UU No. dan penerapan iptek di Indonesia saat ini.Bab Judul dan Deskripsi Substansi memerlukan perubahan UU No.  Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Kelembagaan Iptek. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 . Kajian teoritis mencakup uraian tentang beberapa konsepsi penting termasuk makna inovasi. para aktor inovasi nasional yang terdiri dari aktor pengembang. LIPI. 18 Tahun 2002 mencakup:  Analisis Undang-undang No. Pengembangan.

penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. dalam rangka membangun kemandirian bangsa. Syarat yuridis. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. 18 Tahun 2002 . yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. sosiologis. Secara sosiologis penguatan inovasi nasional dapat memenuhi karakteristik inovasi yang khas Indonesia yang mencakup: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. kesesuaian teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan pengguna (demand-driven) merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam membangun inovasi nasional. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. teknologi yang dikembangkan harus pula sesuai dengan potensi sumberdaya nasional. teknologi yang relevan saja memang belum cukup menjadi jaminan bahwa teknologi tersebut akan diadopsi pengguna. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. Menurut Kelsen. efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan. menurut Hans Kelsen. karena efektivitas hukum merupakan fakta. secara bertahan mengubah minset pada pengembang teknologi agar lebih berorientasi pada kebutuhan nyata dan lebih sensitif terhadap persoalan yang dihadapi pengguna teknologi. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Sosiologis dan Yuridis Menurut UU No. Selain itu.  Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik menjadi isu yang sangat penting. IV Landasan Filosofis. membangun semangat kebersamaan antar aktor inovasi. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi.  Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi diharapkan mampu mendorong pengembangan SDM yang relevan dengan kebutuhan. Menurut teori kekuasaan. karena masih akan tergantung pada kapasitas adopsi pengguna teknologi.  Reorientasi Arah dan Prioritas Riset. peranan lembaga intermediasi akan sangat berat jika teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan dan tidak sepadan dengan kapasitas adopsi pengguna. dan filosofis.  Ekosistem Inovasi yang Kondusif dibutuhkan untuk tumbuh-kembang SINas. Ekosistem SINas yang kondusif dapat diwujudkan melalui kebijakan dan 11 Naskah Akademik Perubahan UU No. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. yaitu syarat yuridis. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). Namun demikian. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional.Bab Judul dan Deskripsi Substansi peran pemerintah dalam skenario pengembangan SINas.

Oleh sebab itu. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro. disamping sebagai sasaran antaranya adalah pertumbuhan ekonomi. kebijakan 12 Naskah Akademik Perubahan UU No. Upaya penguatan inovasi nasional harus bersifat dinamis menyesuaikan dengan dinamika perubahan lingkungan strategis.  Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional pada akhirnya akan dievaluasi berdasarkan kontribusi inovasi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. V Jangkauan. dan stabilitas keamanan nasional.  Dinamika Lingkungan Regional ASEAN memperlihatkan bahwa posisi Indonesia secara relatif lebih lamban kemajuan pembangunan ipteknya dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. kebijakan riset dan pengembangan teknologi. dan perpajakan. kebijakan ketenagakerjaan. Secara filosofis penguatan inovasi nasional harus mampu mengantisipasi perubahan lingkungan strategis. Selanjutnya secara nyata berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian.  Dinamika Lingkungan Nasional pada tahun 2011 ini ditandai dengan diluncurkannya MP3EI yang menempatkan pembangunan iptek sebagai salah satu strategi utama untuk percepatan dan perluasan pembanguan ekonomi Indonesia.  Dinamika Lingkungan Global yang paling penting adalah semakin kentaranya kecenderungan untuk mendorong pengembangan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. kebijakan perindustrian dan perdagangan. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Panggung SINas yang ideal perlu didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. baik pada tingkat global. keuangan.Bab Judul dan Deskripsi Substansi regulasi yang tepat di berbagai sektor yang secara langsung mempengaruhi kinerja para aktor inovasi dan interaksi antar-aktor tersebut. maupun nasional. perlu percepatan dalam mewujudkan dan memperkuat inovasi Indonesia yang dimulai dengan perubahan mindset para pengembang teknologi dan meningkatkan peran dunia usaha dalam pembangunan iptek. Pengakuan atas potensi peran iptek ini diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat inovasi nasional. sehingga lebih berpeluang untuk digunakan dalam proses produksi barang dan/atau jasa. kebijakan pendidikan nasional. terbangunnya masyarakat berbasis pengetahuan. Arah Pengaturan dan Ruang Lingkup  Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. 18 Tahun 2002 . regional.

pengembangan. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. [9] sinkronisasi dan perbaikan regulasi. Dua kebijakan tersebut. 18 Tahun 2002 3. universitas. [4] peningkatan peran lembaga intermediasi. 4. dan . [5] penyiapan S&T Park. [2] revitalisasi lembaga pengembang teknologi. peningkatan hasil. dan swasta. [3] peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. rekayasa inovasi .  Lingkup Materi Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). 2. [6] membangun pusat unggulan inovasi. yaitu: 1. [7] mendorong pembentukan konsorsium inovasi. Kebijakan dapat mendukung arah penguatan inovasi nasional yang mencakup: [1] membangun inovasi sebagai sistem. 18 Tahun 2002 Kebijakan inisiatif inovasi 1-747.pengembangan. difusi. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. secara garis besar menekankan pada penguatan empat hal. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. 13 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga ristek. dan pemanfaatan teknologi. dan [10] berbasis sumberdaya dan memenuhi kebutuhan nasional. VI Rangkuman dan Rekomendasi Merupakan bagian akhir dokumen yang menyajikan rangkuman terkait dengan unsur dan isu penting dalam penguatan inovasi nasional serta rekomendasi materi perubahan kebijakan dan/atau regulasi yang ada.Bab Judul dan Deskripsi Substansi penyediaan infrastruktur sosial. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. [8] revitalisasi DRN. pendayagunaan. pengembangan.

serta dinamikan dan kontinyuitas sirkulasi aliran informasi kebutuhan dan pasokan teknologi merupakan kesatuan utuh yang diperlukan dalam upaya penguatan inovasi. kebijakan penguatan inovasi secara tersurat mengindikasikan bahwa sistem inovasi yang dimaksud berada pada level negara. tetapi dengan interpretasi yang sangat variatif. Kajian Teoritis 2. Hal ini sangat relevan dalam memformulasikan kebijakan publik dan/atau regulasi yang secara legal sifatnya mengikat semua pihak. Rentang interpretasi itu mulai dari yang sangat ‘longgar’. Inovasi sebagai suatu sistem yang kompleks tidak dapat dianalisis dengan cara memutilasi komponen-komponennya untuk ditelaah secara terpisah. Pengembangan teknologi dalam kerangka penguatan inovasi dirancang agar dapat memberikan 14 Naskah Akademik Perubahan UU No. karena kata inovasi sudah sangat populer. Oleh sebab itu. definisi inovasi masih beragam.1. sebaliknya juga tidak bisa dirancang komponen-komponennya secara parsial baru kemudian dirajut menjadi inovasi nasional. interaksi antara aktor inovasi dengan ekosistemnya. Penguatan inovasi yang akan diwujudkan tentu perlu dijelaskan kepada publik agar publik dapat secara nyata. Namun masih perlu dijelaskan bahwa sistem dimaksud bersifat sentralistik menjadi sebuah sistem tunggal yang besar dan kompleks. digunakan dalam berbagai komunitas. yakni inovasi dipadankan sebatas sesuatu yang berbeda (dari yang umumnya sudah diketahui) sampai ke definisi akademik yang lebih teknis dan spesifik.1. Konsepsi Inovasi Nasional Adanya pemahaman yang tepat tentang terminologi dasar dan konsepsi pokok merupakan langkah awal yang sangat strategis dan penting untuk dilakukan. efektif. Penguatan inovasi nasional haruslah menjadi simpul pengikat antara teknologi dan ekonomi. Keadaan menjadi lebih runyam karena di kalangan akademik pun. Pemahaman yang tepat ini sangat diperlukan ketika pokok bahasannya terfokus pada inovasi.Bab 2 Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi 2.1. maka pemahaman tentang inovasi sebagai suatu ‘sistem’ perlu dimantapkan. atau terdiri dari banyak sub-sistem sesuai dengan karakteristik persoalan dan potensi sumberdaya masing-masing satuan wilayah dalam suatu negara yang diikat oleh satu tujuan kolektif. dan efisien memberikan kontribusinya bagi kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. Ketika yang dibahas adalah inovasi. Pendekatan sistem diperlukan dalam menganalisis maupun dalam merancang kebijakan inovasi nasional SINas yang paling cocok. Dalam suatu sistem. perlu penegasan tentang apa yang dimaksud dengan inovasi yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. dikaitkan dengan banyak aspek kehidupan. misalnya untuk menyejahterakan rakyat. 18 Tahun 2002 . Interaksi dinamis antar-aktor.

pembangunan perekonomian harus berbasis pada pengetahuan (knowledge-based economy. sedangkan inventor menemukan sesuatu yang baru. World Bank (2010) menyatakan bahwa “what is not disseminated 15 Naskah Akademik Perubahan UU No. invensi adalah proses atau produk baru yang secara nyata berbeda atau sama sekali baru dibandingkan dengan proses atau produk serupa yang telah ada. namun belum tentu dapat menghasilkan uang dari hasil temuannya tersebut. Inovasi merupakan sebuah kata yang saat ini sedang ‘naik daun’. Inovasi sering dicampur-aduk pengertiannya dengan invensi. 18 Tahun 2002 . tidak dapat lagi hanya dengan mengandalkan kelimpahan sumberdaya alam. proses untuk menghasilkan produk tersebut juga sama pentingnya. inovasi telah menjadi topik yang penting dalam berbagai bidang ilmu. inovasi harus menghasilkan nilai tambah atau peningkatan produktivitas. Jika suatu sistem berubah. Dalam perspektif ekonomi. Para ekonom era modern yakin bahwa di saat sekarang dan di masa yang akan datang mesin utama yang akan mendorong perkembangan perekonomian suatu negara adalah tingkat penguasaan dan aplikasi dari teknologi yang dikuasai tersebut. Ada perumpamaan yang menarik untuk membedakan antara invensi dan inovasi. namun sangat mungkin bahwa pihak-pihak tersebut mempunyai pemahaman yang berbeda tentang inovasi. Inovasi diadopsi dari Bahasa Latin ‘innovatus’ yang berarti memperbarui. memunculkan unsur yang sama sekali baru. Untuk melakukan suatu pembaruan berarti seseorang perlu mengubah caranya dalam membuat keputusan. Oleh sebab itu. atau memilih sesuatu yang diluar norma yang berlaku. Kedua terminologi ini sebetulnya berbeda. Semua komponen masyarakat menggunakan kata ini baik dalam komunikasi sosial maupun pada forum yang lebih formal. sedangkan inovasi lebih dilihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. Pengertian inovasi. dan sosiologi. bisnis. sedangkan inovasi mengubah ide menjadi uang. termasuk ekonomi. Inovasi dapat dimaknai sebagai upaya mengubah nilai-nilai yang selama ini telah menjadi landasan dari suatu sistem. Perubahan tersebut dapat terlihat dari produk yang dihasilkan.kontribusi nyata terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Saat ini. teknologi. Proses yang dimulai dari ide. engineering. disingkat KBE). desain. maka sangat mungkin akan membuka peluang untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda. namun dalam perspektif ekonomi. atau melakukan perubahan cara berpikir yang radikal dan revolusioner. Inovasi dapat berkaitan dengan penambahan atas sesuatu yang telah ada. konsepsi tentang pendekatan sistem. kemudian ditransformasi menjadi sesuatu yang bermanfaat. dan KBE selanjutnya akan ditelaah secara lebih komprehensif. Pada awalnya inovasi diartikan sebagai suatu proses untuk memperbarui sesuatu yang sudah ada atau menghasilkan sesuatu yang dianggap baru. Persoalannya adalah walaupun masing-masing pihak menggunakan kata yang sama. Invensi merupakan proses konversi uang menjadi ide. melakukan sesuatu dengan metoda yang berbeda. atau sesuatu yang sama sekali baru. Walaupun inovasi lebih sering dikaitkan dengan produk yang dihasilkan. proses untuk menghasilkan produk tersebut. Inovator menghasilkan keuntungan finansial dari hasil karyanya. serta akan pula diberi penegasan pada bab ini tentang pengertian dan konsepsi dasar yang digunakan dalam dokumen naskah akademik ini. atau struktur dan fungsi organisasi yang berperan dalam proses produksinya.

Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha.8 Inovasi merupakan implementasi dari suatu produk. atau metoda organisasi yang telah dikenal sebelumnya. 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. Metoda organisasi mencakup praktek bisnis. OECD’s Oslo Manual 2005 Guidelines for Collecting and Interpreting Innovation Data 8 16 Naskah Akademik Perubahan UU No. metoda pemasaran. yang tentunya hanya dapat terlahirkan dari pemikiran yang kreatif. maupun para aktor yang berperan dalam membangun ekosistem yang kondusif bagi keberlangsungan aliran tersebut. Pengertian inovasi versi UUNo. Hal ini perlu untuk membedakan antara penghela endogen (endogenous drivers). 2003). Proses yang panjang ini hampir selalu melibatkan banyak aktor. cara pemasaran. sehingga pada dasarnya inovasi merupakan sesuatu yang bermanfaat. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi ”. atau hubungan dengan pihak eksternal. bermakna pula bahwa inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). Perlu dibedakan antara unsur sistem dengan lingkungannya (ekosistem). 7 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UUNo.and used. cara pemasaran. proses. workplace organization or external relations”. Berdasarkan ini. yakni para aktor yang memberikan dukungan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi nasional (Bathelt. [2] inovasi selain baru. [4] kemanfaatan suatu produk merupakan prasyarat untuk komersialisasi atau untuk peningkatan kesejahteraan sosial. penelaahan inovasi harus dilakukan dengan pendekatan sistem.7 OECD (2005) menggunakan definisi inovasi: “An innovation is the implementation of a new or significantly improved product (good or service). maka sangatlah penting untuk membekali setiap pihak yang terlibat dalam upaya mewujudkan inovasi nasional untuk memahami konsepsi pendekatan sistem. yakni para aktor yang secara langsung menggerakkan inovasi. Proses inovasi berlangsung mulai dari munculnya ide di benak para inovator sampai pada termanfaatkannya produk inovatif tersebut. baik yang terlibat secara langsung dalam aliran ide menjadi produk yang bermanfaat. 18 Tahun 2002 . Telaah secara partial dengan pendekatan linier tak akan mampu menjelaskan sistem inovasi secara komprehensif dan benar. Interaksi antar-aktor dan interaksi antara aktor dengan ekosistem inovasi bersifat sangat dinamis dan timbal-balik. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. a new marketing method. juga harus pula secara signifikan lebih baik dari produk. masyarakat awam. Proses inovatif selalu membentuk suatu sistem yang kompleks. dengan penghela eksogen (exogenous drivers). maka inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). Dengan demikian. membuka peluang bagi produk dan proses inovatif untuk digunakan dalam berbagai aktivitas manusia. tidak dapat dilakukan secara linier. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini. or a new organizational method in business practices. [3] status yang lebih baik ini. or process. Oleh sebab itu. proses. proses. Produk dapat berupa barang maupun jasa. atau metoda organisasi yang baru atau secara signifikan telah diperbaiki. Uraian dan referensi di atas memberikan pemahaman bahwa: [1] inovasi merupakan sesuatu (produk. atau metoda organisasi) yang baru. pengembangan. atau pemerintah. is not an innovation”. organisasi kerja.

disebutkan bahwa “ SINas adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. Sistem Inovasi Nasional (SINas) didefinisikan dalam beberapa versi.Liu dan White (2001) menggunakan istilah aktor primer dan sekunder. Mingers dan White (2010) merinci bahwa pendekatan sistem (systems approach) mencakup: [1] melihat situasi secara holistik (berarti tidak bersifat reduksionis). yang menyatakan bahwa SINas sebagai sekelompok institusi yang interaksinya menentukan kinerja inovatif suatu negara. dan impor teknologi baru. with many theoretical and methodological developments. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. Freeman (1987) mendefinisikan SINas sebagai jaringan kelembagaan pemerintah dan/atau swasta yang melaksanakan dan berinteraksi dalam inisiasi. yakni sebagai sekumpulan institusi yang secara sendiri dan bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan dan difusi teknologi baru serta memberikan kerangka bagi pemerintah dalam membuat dan mengimplementasikan kebijakan untuk mempengaruhi proses inovasi.”. [2] memposisikan hubungan atau interaksi antara elemen lebih penting dari elemen-elemennya sendiri dalam membentuk perilaku sebuah sistem. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. Dengan kata lain. Sementara Patel dan Pavitt (1994) mengambarkan SINas sebagai kelembagaan-kelembagaan nasional dengan struktur dan kompetensinya yang menentukan laju dan arah pembelajaran teknologi (technological learning) pada suatu negara. modifikasi. SINas merupakan suatu sistem keterkaitan antar-kelembagaan untuk menciptakan. 17 Naskah Akademik Perubahan UU No. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. tetapi akan keliru jika pembagian ini berdampak pada pengisolasian sistem dari lingkungannya (Asheim dan Coenen. mendukung. sebagai kumpulan elemen yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan tertentu. mendayagunakan. Definisi SINas yang lebih komprehensif dikemukakan oleh Metcalfe (1995). dapat ditemui dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Nelson (1993). Definisi menurut peraturan perundang-undangan. dan [4] memahami bahwa manusia akan beraksi sesuai dengan tujuan dan rasionalitas yang berbeda. difusi. Selanjutnya. menyimpan. lembaga riset dan teknologi. [3] memahami adanya hirarki/jenjang dalam suatu sistem dan ‘mutual casuality’ dalam masingmasing jenjang maupun antar-jenjang. ketrampilan. dan penggunaan pengetahuan baru yang bernilai ekonomi yang berada dalam atau berasal dari suatu negara. sedangkan Lundvall (1992) mendefinisikan SINas sebagai elemen dan hubungan yang interaktif dalam proses produksi. Mingers dan White (2010) menyatakan bahwa systems thinking is a discipline in its own right. but it is also applicable to almost any problem area because of its generality. dan mentransfer pengetahuan. 2005) Pendekatan sistem merupakan buah dari pemikiran sistemik (systems thinking). Pemilahan ini hanya untuk membedakan posisi peran para aktor yang terlibat. dan artefak untuk melahirkan teknologi-teknologi baru. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. difusi. 18 Tahun 2002 .

dan pemanfaatan teknologi. serta telah menyebutkan bahwa teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang punya potensi untuk dikomersialisasikan. [3] produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. yakni: [1] what is possible with technology? [2] what is desirable to the society? [3] what is viable in the market?9 Pendekatan dalam upaya penguatan inovasi nasional secara ekstrim dapat dibedakan menjadi dua. adopsi teknologi oleh para pengguna teknologi di banyak negara (terutama negara-negara berkembang) masih sangat minimal. dan [4] ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. 18 Tahun 2002 . yakni: [1] kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. terutama industri yang akan memanfaatkannya untuk menghasilkan produk komersial berupa barang dan jasa. Jakarta 18 Naskah Akademik Perubahan UU No. Produk teknologi yang dihasilkan kemudian didifusikan kepada pihak pengguna. yakni berdasarkan pendekatan supply-push dan pendekatan demand-driven. difusi. di LIPI. [2] pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan –baik pemerintah maupun swasta.yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. dan preferensi masyarakat yang dapat dideteksi langsung oleh pihak pengembang teknologi maupun melalui mitranya dari komunitas bisnis. Sharif (2010) mendeskripsikan inovasi sebagai upaya kolektif mengubah ide menjadi sesuatu yang bernilai (turning idea into values).Berdasarkan berbagai definisi di atas. kebutuhan. maka ada beberapa pengertian dasar yang dapat ditarik berkaitan dengan SINas. yang memberi ketegasan bahwa teknologi yang dihasilkan harus berakhir dengan dimanfaatkannya teknologi tersebut oleh para pengguna. lembaga riset dan/atau institusi pendidikan tinggi 9 Dicuplik dari keynote address oleh Nawaz Sharif (2010) berjudul ‘Govern ance of Innovation Systems in the Current Global Setting’. Berdasarkan informasi ini. Proses difusi teknologi tersebut dapat melalui atau tanpa melalui lembaga intermediasi. Pendekatan supply-push mengutamakan dan dimulai dari proses pengembangan teknologi oleh institusi pendidikan tinggi dan lembaga riset. Prakteknya. Pengertian dasar dalam sistem inovasi nasional ini diperkuat dalam Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. Oleh sebab itu. Definisi SINas yang diusung pada periode 1980-1990an telah menyebutkan bahwa SINas mencakup kegiatan difusi dan pemanfaatan teknologi. Pengembangan inovasi nasional dengan pendekatan demand-driven mengutamakan dan dimulai dari pemahaman tentang masalah. kegalauan akan rendahnya adopsi teknologi tersebut terlihat mewarnai definisi atau deskripsi SINas yang diusung pada kurun waktu tahun 2000-an. inovasi harus diawali dengan menjawab tiga pertanyaan yang sangat fundamental. dapat difasilitasi atau tanpa difasilitasi oleh Pemerintah atau pihak lain yang kompeten. Namun demikian. The World Bank (2010) dengan sangat tegas mencanangkan bahwa sesuatu (baca: teknologi) yang tidak didiseminasikan dan tidak digunakan bukanlah inovasi. Sinyal kebutuhan masyarakat ini diterjemahkan oleh industri dalam bentuk kebutuhan teknologi untuk memproduksi barang dan/atau jasa yang sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut.

informasi. pendidikan dan pelatihan. kemajuan perekonomian lebih banyak dikaitkan dengan jumlah uang yang terakumulasi (accumulated capital) per tenaga kerja. Selain besaran nilai investasi untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi. dalam kerangkeng regulasi yang kaku. di bawah tekanan. misalnya dalam kondisi serba keterbatasan. and high skill levels. serta manajerial merupakan determinan penting KBE. information. Teori Pertumbuhan Baru (New Growth Theory) mencerminkan upaya untuk memahami tentang peran pengetahuan dan teknologi dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Saat ini banyak upaya yang dilakukan oleh para ahli ekonomi untuk menjelaskan secara langsung (baik secara teoritis maupun pengembangan model) tentang kontribusi pengetahuan dan teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. Investasi di bidang riset dan pengembangan. Sejak tahun 1960-an mulai muncul keyakinan bahwa perbedaan kemajuan perekonomian antar-negara terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi dari masing-masing negara (Fagerberg dan Srholec. 19 Naskah Akademik Perubahan UU No. karena lebih berpeluang untuk diadopsi industri. Pilihan pendekatan tersebut lebih untuk menjamin agar aliran teknologi dapat terjadi secara berkesinambungan dan komersialisasi produk yang dihasilkan dapat menjadi pasokan ‘energi’ untuk kontinuitas aliran teknologi tersebut. dalam penguatan inovasi. dan tenaga kerja berketerampilan tinggi. 2008).10 KBE pada prinsipnya merupakan ekonomi yang secara langsung berbasis pada produksi. Sebelum periode tersebut. and the increasing need for ready access to all of these by the business and public sectors’ . mengabaikan kenyataan bahwa kreativitas sesungguhnya lebih terangsang untuk muncul pada kondisi yang ‘tidak nyaman’. walaupun pendekatan demand-driven yang dipilih tetapi tidak berarti ruang untuk pendekatan supply-push digusur habis. yakni ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy selanjutnya disingkat KBE) yang menunjukkan bahwa dalam perkembangannya. ekonomi saat ini semakin bergantung pada kemajuan pengetahuan dan teknologi. sebagaimana halnya teori fisika. Maknanya. proses aliran hanya akan terjadi jika ada perbedaan derajat antara posisi asal dan posisi sasaran. Keyakinan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kemajuan perekonomian dengan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan ‘mazhab’ ekonomi baru. Akan tetapi. Walaupun demikian. distribusi.mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan. dan tentu termasuk dalam kondisi keharusan mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan pasar. Secara teoritis dapat dimunculkan pendekatan yang moderat dan akomodatif. kelancaran distribusi pengetahuan (baik melalui 10 OECD (2005) mendefinisikan ekonomi berbasis pengetahuan sebagai: ‘an expression coined to describe trends in advanced economic towards greater dependence on knowledge. dan penggunaan pengetahuan dan informasi. yakni dengan memadukan pendekatan supply-push dan demand-driven. maka sumberdaya ekonomi ini harus mudah diakses oleh dunia usaha dan para penguna lainnya. Inovasi yang dikembangkan melalui pendekatan demand-driven akan lebih berpeluang untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan perekonomian. Anggapan yang demikian. sebagian komunitas akademik dan peneliti menganggap pendekatan demand-driven akan mengebiri kreativitas ilmiah. Untuk dapat memberikan dampak nyata dan langsung. 18 Tahun 2002 .

mengingat bahwa dinamika perubahan pengetahuan dan teknologi berlangsung dalam tempo yang cepat. Intensitas hubungan dan kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi antaraktor dalam sistem inovasi akan menjadi faktor penentu kinerja perekonomian. Produk teknologi yang pengembangannya tidak berorientasi pada kebutuhan nyata tentu akan sulit dijual ke pengguna. pengguna yang dimaksud adalah industri yang memahami kebutuhan dan preferensi konsumen. untuk mendukung KBE. Jurnal Dinamika Masyarakat 8(1):1501-1516. 18 Tahun 2002 . Kelemahan teoretis dan ketidakkonsistenan empiris dari hasil perhitungan pada berbagai negara dengan tingkat kemajuan teknologi yang berbeda menjadi lahan subur untuk perdebatan. pendidikan dan ketrampilan tinggi tersebut perlu mempunyai relevansi yang juga tinggi dengan persoalan dan kebutuhan nyata. Adopsi teknologi akan terjadi jika pihak pengembang teknologi memahami kebutuhan pihak pengguna. Akan tetapi. Kesimpulan dari kajian yang dilakukan oleh Lipsey dan Carlaw (2001) patut direnungkan: “ There is no reason to believe that changes in TFP in any way measure technological change” . Oleh sebab itu.11 Upaya untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan perekonomian dilakukan antara lain dengan menghitung Total Factor Productivity (TFP). Penguasaan pengetahuan dan teknologi yang tinggi tetapi hanya terisolir di kalangan akademik atau periset semata tidak akan memberikan dampak terhadap kinerja perekonomian. Indikator dari sisi keluaran kegiatan riset dan pengembangan serta distribusinya diyakini akan lebih relevan. Prinsip dasarnya adalah bahwa teknologi hanya memberikan kontribusi jika digunakan dalam proses produksi untuk menghasilkan produk barang/jasa yang dibutuhkan konsumen. industri. atau dibutuhkan tapi kalah handal secara teknis dan/atau kurang kompetitif secara ekonomi. dan konsumen”. antara lain karena keterbatasan dan mutu indikator terkait pengetahuan yang saat ini tersedia. lembaga intermediasi akan sulit berfungsi efektif jika teknologi yang ditawarkan adalah sesuatu yang tidak dibutuhkan. Walaupun demikian. Indikator yang berbasis pada nilai investasi untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semata (seperti jumlah belanja riset dan pengembangan. Namun demikian. jumlah dan kualitas personel pengembang teknologi) belum cukup untuk memberikan gambaran tentang kinerja KBE. Upaya yang umum dilakukan untuk merangsang atau mempercepat difusi teknologi adalah membentuk lembaga intermediasi. tidak semua pakar ekonomi sependapat bahwa TFP bisa mencerminkan kontribusi teknologi. Lapangan kerja dalam konteks KBE akan lebih banyak membutuhkan tenaga kerja dengan ketrampilan tinggi atau berpendidikan tinggi. Dalam konteks komersialisasi. riset. institusi pendidikan tinggi perlu dirancang agar selain mampu menyelenggarakan pendidikan yang secara akademik berkualitas.jalur formal maupun informal) juga merupakan faktor esensial yang mempengaruhi kinerja perekonomian. Ada kesulitan dalam mengevaluasi ekonomi berbasis pengetahuan. 20 Naskah Akademik Perubahan UU No. 11 Elaborasi lebih mendalam mengenai isu ini dapat dibaca pada Lakitan (2009):”Kebijakan Pengembangan dan Implementasi Sistem Inovasi Nasional: menjembatani pendidikan. juga harus pula memahami persoalan dan kebutuhan nyata agar dapat mengemas kurikulum yang relevan terhadap persoalan dan kebutuhan nyata tersebut.

serta mengetahui kelancaran aliran pengetahuan dan teknologi dari penyedia ke pengguna. badan usaha. Gugus indikator [1] memperlihatkan pentingnya mengetahui penambahan stok pengetahuan per satuan input pada kegiatan riset dan pengembangan. dan lembaga penunjang merupakan aktor-aktor utama dalam inovasi. 2. Gugus indikator [3] memberikan indikasi tentang proses aliran dan intensitas interaksi antara aktor inovasi. 18 Tahun 2002) menggunakan terminologi kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai aktor inovasi. 18 Tahun 2002 menyebutkan pula perlunya peran aktif warganegara dalam pelaksanaan kegiatan penguasaan. OECD (1996) mengidentifikasi empat gugus indikator penting yang perlu dikembangkan teknik pengukurannya (secara statistik) untuk mengevaluasi kinerja KBE. mulai dari pengembangannya sampai pada penggunaannya untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. serta tingkat ketrampilan dan relevansi pendidikan tenaga kerja. yakni indikator terkait: [1] knowledge stocks and flows. lembaga litbang. Kompleksitas penguatan inovasi tercermin antara lain dari banyaknya aktor yang terlibat dan ikut menentukan atau mempengaruhi kinerja sistem ini. 21 Naskah Akademik Perubahan UU No. Aktor Inovasi Nasional Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. pemanfaatan. para pengguna teknologi. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud UU No. mengukur kemanfaatan bagi publik untuk investasi di bidang pendidikan dan pelatihan. dan [4] knowledge and learning. Gugus indikator [2] merupakan indikasi dari besarnya perolehan sosial dan kemanfaatan bagi publik per satuan input kegiatan riset dan pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU No. dan [2] aktor penunjang (sekunder) yang berperan dalam membentuk ekosistem yang kondusif agar aktoraktor utama dapat unjuk kinerja secara optimal. atau kegiatan lain yang terkait langsung dengan upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. maka ada baiknya aktor yang banyak tersebut dipilah menjadi: [1] aktor utama (primer) yang terlibat langsung dalam proses aliran teknologi. Aktor utama terdiri dari para pengembang/penyedia teknologi. dan pemajuan iptek.1. Nuansa kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini mencakup perguruan tinggi. [2] knowledge rates of return. Sedangkan gugus indikator [4] melingkupi indikator ‘human capital’. 18/2002 menetapkan bahwa ‘kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. 18 Tahun 2002 . badan usaha. 18 Tahun 2002 merupakan unsur penting dari 12 Pasal 6 ayat (1) UU No. lembaga penelitian dan pengembangan. Pengembangan.12 Namun demikian UU No.2. Untuk memudahkan pemahaman dan agar kompleksitas yang ada tidak mengaburkan esensi dasar dari inovasi. [3] knowledge networks.misalnya data stok pengetahuan dan kelancaran aliran distribusi/difusinya. dan para pihak yang memfasilitasi dan/atau melakukan intermediasi interaksi dan komunikasi antara penyedia dan pengguna teknologi. dan lembaga penunjang’. intensitas interaksi antara aktor sistem inovasi.

Hal ini antara lain disebabkan karena kegiatan riset masih lebih diposisikan sebagai ‘academic exercises’. dan para periset individual. 18 Tahun 2002 hanya mengenal dua lembaga pengembang teknologi. penelitian.pengembang/penyedia teknologi. penyandang dana. Berdasarkan kriteria ini maka ada empat kelompok lembaga R&D.18/2002 menetapkan lembaga-lembaga yang tergolong sebagai lembaga litbang. 13 OECD (2002) membuat klasifikasi lembaga riset dan pengembangan (R&D) berdasarkan pengelola. [3] lembaga R&D pemerintah (government). mayoritas perguruan tinggi di Indonesia masih lebih dominan terkonsentrasi pada kegiatan pendidikan dan pengajaran. unsur pelaksana riset dan pengembangan pada industri. pemegang kendali kebijakannya. tetapi mencakup semua pihak yang secara nyata melakukan kegiatan pengembangan teknologi. misalnya institusi riset non-pemerintah. 22 Naskah Akademik Perubahan UU No. negeri maupun swasta. dan [4] lembaga R&D nirlaba (private non-profit). yakni perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan. badan usaha. dan orientasi komersialisasi produk riset yang dihasilkannya (Gambar 1). yakni: [1] perguruan tinggi (higher education). Namun demikian pengembang/penyedia teknologi tidak hanya terbatas pada dua unsur tersebut. UU No. Kiprah dan kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum kentara. pemerintah daerah. mengemban tiga tugas pokok yang dikenal sebagai tridharma perguruan tinggi. [2] lembaga R&D bisnis (business enterprise). dan pengabdian kepada masyarakat. lembaga penunjang. Seluruh perguruan tinggi di Indonesia. sebelumnya dikenal sebagai LPND) yang (salah satu) tugas pokok dan fungsinya adalah melaksanakan kegiatan riset dan pengembangan. perguruan tinggi. 18 Tahun 2002 . yakni dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. Pengelompokan ini digunakan dalam mengevaluasi kinerja lembaga riset dan pengembangan negara-negara dunia. 13 Pasal 8 ayat (3) UU No. belum fokus pada upaya untuk menghasilkan invensi dan inovasi. dan organisasi masyarakat. Namun demikian. Lembaga R&D pemerintah termasuk: [1] Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK. yakni melakukan pendidikan dan pengajaran. atau bagian dari organisasi pemerintah. dan [2] unit kerja penelitian dan pengembangan pada kementerian dan pemerintah daerah.

tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kemajuan peradaban bangsa.14 Banyak industri dan badan usaha lainnya mempunyai unit kerja yang tugas utamanya adalah melakukan riset dan pengembangan. dan peningkatan peradaban bangsa. Klasifikasi berdasarkan status formal lembaga riset dan pengembangan (adaptasi dari OECD. 18 Tahun 2002 . baik riset untuk mendapatkan informasi kebutuhan dan selera konsumen yang akan dijadikan dasar dalam pengembangan strategi pemasaran maupun riset-riset pengembangan produk. karena dunia usaha 14 Sesuai dengan amanah konstitusi UUD 1945. maka status lembaga riset & pengembangan tersebut tergantung pada pihak mana yang dominan membiayainya TIDAK TIDAK TIDAK YA Perguruan Tinggi Badan Usaha Lembaga Pemerintah Gambar 1. maka selayaknya riset yang dilaksanakan oleh lembaga R&D pemerintah lebih fokus pada upaya menyediakan solusi teknologi bagi berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat dan negara dan/atau menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nyata dalam rangka mendukung pembangunan perekonomian nasional.Lembaga Riset & Pengembangan Apakah berada dalam institusi pendidikan tinggi? YA Perguruan Tinggi Apakah produknya dijual sesuai harga pasar? YA Badan Usaha Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh badan usaha? YA Badan Usaha YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Perguruan Tinggi Lembaga Pemerintah YA Perguruan Tinggi Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh pemerintah? TIDAK Apakah dikendalikan atau dominan dibiayai oleh lembaga non-pemerintah? TIDAK YA Apakah secara administratif dikelola oleh perguruan tinggi? TIDAK Lembaga Non-Pemerintah Jika kendali dan pembiayaan dilakukan oleh pihak yang berbeda. misalnya terkait dengan kepedulian mengenai isu lingkungan. Peningkatan intensitas kegiatan riset oleh badan usaha dapat menjadi indikasi yang positif tetapi sekaligus juga negatif. kesejahteraan rakyat. Riset yang dilakukan badan usaha jelas berorientasi komersil. 2002) Sementara kegiatan riset di perguruan tinggi lebih berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. 23 Naskah Akademik Perubahan UU No. walaupun saat ini sering dikemas dengan berbagai ‘bungkus’ lain dalam rangka membangun citra perusahaan atau memanfaatkan kecenderungan preferensi konsumen. Positif dalam konteks pengembangan teknologi akan mengalami akselerasi mengingat potensi kekuatan dunia usaha dalam membiayai kegiatan riset dan relevansi teknologi yang dikembangkan juga akan semakin meningkat.

Lembaga R&D swasta nirlaba sudah berkiprah lama di Indonesia dengan sumber pembiayaan umumnya dari lembaga-lembaga internasional. Perlu diingat bahwa kepemilikan paten lazimnya adalah ditangan pihak yang membiayai kegiatan pengembangan teknologi yang bersangkutan. Walaupun saat ini. perubahan iklim). 24 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau merupakan lembaga R&D asing. Kecenderungan peningkatan intensitas riset oleh dunia usaha dapat pula menjadi indikasi negatif. Lembaga R&D nirlaba ini lebih banyak berkiprah di ranah ilmu-ilmu sosial. maka sudah sepatutnya teknologi yang dihasilkan tersebut dapat digunakan oleh pemerintah dan masyarakat secara bebas. pendidikan anak). Mengingat pada saat ini segmen industri besar cenderung lebih bergantung pada teknologi asing (yang mungkin disebabkan 15 UU No. Jurang yang masih membentang lebar antara perguruan tinggi atau lembaga R&D pemerintah dengan dunia usaha merupakan peluang untuk tumbuh kembang lembaga R&D independen.tidak akan melakukan kegiatan riset jika tidak ada potensi kemanfaatan hasilnya. sehingga kebutuhan dan kapasitas adopsi teknologinya relatif rendah. dan [2] pemerintah dalam rangka melaksanakan pelayanan publik dan untuk menjaga kedaulatan negara. Badan usaha di Indonesia masih dominan bergerak di sektor perdagangan. Industri produsen barang dan jasa di Indonesia banyak yang hanya merupakan unit produksi dari sebuah perusahaan multinasional atau hanya bersifat sebagai penerap teknologi asing yang sudah mapan yang dilaksanakan berdasarkan lisensi yang diberikan oleh pihak-pihak pengembang teknologi luar negeri. peternak. pencemaran/polusi. misalnya petani. 18 Tahun 2002 . Kapasitas adopsi para pengguna teknologi di Indonesia masih belum besar. hak asasi manusia. terutama fokus pada isu-isu hangat pada tataran global. lembaga R&D yang berorientasi komersial umumnya masih merupakan unit kerja internal lembaga bisnis. pengrajin. sedangkan masyarakat dan pemerintah lebih bersifat bauran antara komersial dan pelayanan publik. atau kegiatan pengembangan teknologi dimaksud sepenuhnya dibiayai oleh pemerintah. penyakit menular. nelayan. Dapat bersifat komersial jika lembaga pengembang teknologinya bukan merupakan lembaga R&D pemerintah. Bukan rahasia umum bahwa saat ini komunikasi dan interaksi antara para pihak pengembang teknologi (perguruan tinggi dan lembaga R&D pemerintah) dengan pihak industri belum terbangun secara intensif. Badan usaha merupakan pengguna teknologi yang bersifat komersial. apabila kecenderungan ini merupakan bentuk reaksi dari dunia usaha atas rendahnya relevansi dan/atau mutu teknologi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah.15 Unsur pengguna lainnya adalah [1] masyarakat pelaku produksi barang/komoditas/jasa. Badan usaha atau industri merupakan salah satu unsur pengguna teknologi. misalnya isu sosial (kesejahteraan rakyat. dan isu lingkungan (deforestasi. jika pengembang teknologinya adalah lembaga R&D pemerintah. kegiatannya tidak dibiayai oleh pemerintah. desentralisasi. namun cikal-bakal lembaga R&D komersial yang independen sudah mulai nampak tumbuh. isu politik dan pemerintahan (demokratisasi. 18 Tahun 2002 hanya menyebutkan badan usaha sebagai aktor pengguna teknologi. Dunia usaha akan selalu memposisikan biaya riset sebagai bagian dari investasi. Sebaliknya. korupsi).

Pendirian BTC ini merupakan tidak lanjut rekomendasi dari hasil kajian ‘Periskop’ yang dilaksanakan pada tahun 2000 atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia dengan Kementerian Pendidikan Jerman. mengingat luas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sedemikian besar. juga penggunaan teknologi dalam negeri akan menggairahkan kegiatan pengembangan teknologi itu sendiri. misalnya. Sejak tahun 2010. terutama Jepang dan Cina. baru setelah pasar domestik dikuasai (dan teknologi Indonesia sudah lebih kompetitif) maka pertimbangan ekspor teknologi nasional menjadi lebih layak diupayakan. Misalnya. Pihak ketiga yang tergolong sebagai aktor utama inovasi adalah para pihak yang berperan sebagai intermediator atau fasilitator untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara para pengembang dengan para pengguna teknologi. BTC yang dikelola BPPT telah dilebur masuk ke dalam organisasi BPPT Engineering. dan sebagian lagi karena teknologi hasil pengembangan dalam negeri yang tidak sesuai dengan 16 Sudah ada arahan dari Presiden RI agar kebutuhan teknologi dan produk teknologi di bidang pertahanan dan keamanan memprioritaskan teknologi dalam negeri sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Orientasi pengembangan teknologi Indonesia perlu lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dan pemecahan persoalan dalam negeri terlebih dahulu. Pemerintah tentunya dapat membentuk lembaga-lembaga khusus untuk menjalankan fungsi/tugas ini. karena secara langsung akan meningkatkan aliran dana untuk pembiayaannya. tersebut di beberapa kota. yakni Business Technology Center (BTC) di 8 lokasi. Oleh sebab itu.17 Namun peran intermediasi dari lembaga-lembaga BTC tersebut kelihatannya masih jauh dari harapan. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa dan kebutuhan peralatan utama sistem pertahanan (alutsista) nasional yang besar. Kenyataannya. kebutuhan alat dan mesin pertanian masih dominan diimpor dari berbagai negara. harusnya segmen pengguna ini harus dipasok penuh oleh pengembang teknologi domestik.16 Disamping untuk meningkatkan kemandirian bangsa. 18 Tahun 2002 . peran intermediasi dan fasilitasi ini diharapkan dimainkan lebih banyak oleh pemerintah. Pada saat ini. pernah mendorong pembentukan lembaga yang dirancang khusus untuk fungsi intermediasi ini. sebagian penyebabnya berasal dari kapasitas dan kompetensi lembaga yang tidak memadai. terutama teknologi di bidang pertahanan dan keamanan. Untungnya benih padi sudah dapat dipenuhi dari hasil riset dan teknologi dalam negeri. Kementerian Riset dan Teknologi.karena kemampuan teknologi nasional belum memadai untuk memasok kebutuhan teknologi tersebut atau mungkin karena alasan lain yang bersifat non-teknis). masih dibanjiri oleh teknologi maupun produk teknologi asing. Pemerintah seharusnya menjadi pengguna utama teknologi dalam negeri. Untuk menjalankan peran intermediasi. maka pengguna teknologi domestik yang paling potensial adalah masyarakat awam dan usaha kecil dan menengah (UKM). teknologi yang dibutuhkan masyarakat awam dan UKM pun belum sepenuhnya dikuasai oleh teknologi domestik. 17 25 Naskah Akademik Perubahan UU No. merupakan dua argumen utama untuk menjadikan kebutuhan domestik sebagai pasar utama bagi produk teknologi dalam negeri.

tetapi berperan nyata dan signifikan dalam mewujudkan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh-kembang inovasi. melalui serial terbitan buku ‘100 Inovasi Indonesia’ (2008). Lembaga pendukung mencakup lembaga-lembaga yang mempunyai kewenangan dan/atau kapasitas untuk: [1] membuat regulasi dan/atau kebijakan terkait tumbuh-kembang inovasi nasional maupun daerah. BIC telah menerbitkan katalog tahunan hasil-hasil riset yang dianggap berpeluang untuk dikomersialisasikan. ‘101 Inovasi Indonesia (2009). Visi BIC adalah menjadi lembaga intermediasi inovasi bisnis yang terdepan. [2] menyiapkan sumberdaya manusia yang dibutuhkan untuk aktor penggerak sistem inovasi. bisnis. pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi juga telah menfasilitasi pendirian Business Innovation Center (BIC) pada tahun 2008.kebutuhan nyata (tidak relevan). Sport. Culture. Teknologi yang dikembangkan lebih mahal dan/atau kalah handal dibandingkan dengan teknologi sejenis yang sudah tersedia di pasar. Kedekatan secara fisik diyakini akan mampu merangsang aktor-aktor tersebut untuk meningkatkan komunikasi dan interaksinya. 18 Tahun 2002. secara resmi disingkat MEXT) Jepang 18 19 Entah mengapa lembaga-lembaga intermediasi yang dibentuk penamaannya selalu menggunakan bahasa Inggeris. intermediasi. dimana aktor-aktor utama inovasi akan difasilitasi untuk berada dalam kawasan yang sama. [3] memberikan dukungan finansial bagi para aktor inovasi dalam menjalankan perannya masing-masing. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. walaupun lebih banyak orientasinya adalah untuk memediasi antara pengembang teknologi nasional dengan para (calon) pengguna potensial di dalam negeri. Sejak 2011. Untuk penguatan peran intermediasi ini. 19 . kegiatan inovasi di Indonesia akan menjadi unggulan (benchmark) negara-negara lain di ASEAN. Budaya. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. juga banyak aktor atau lembaga pendukung lainnya yang berperan penting dalam membangun inovasi secara lebih produktif dan berkesinambungan. maupun penggunaan teknologi untuk produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan publik maupun negara.18 Sejak tahun 2008 tersebut. Pengembangan. dan pemerintah (A-B-G) dalam proses inovasi. Kelembagaan yang dikategorikan sebagai pendukung adalah lembaga atau aktor yang tidak terlibat langsung dalam proses pengembangan. Olahraga. Kementerian Pendidikan. dan pengguna teknologi di kawasan ini diharapkan dapat menjadi model implementasi Sistem Inovasi Nasional. Pasal 10 ayat (1)). Hal ini dilakukan dengan mensinergikan elemen-elemen akademisi. difusi. Keterkaitan lembaga-lembaga pengembang. 18 Tahun 2002 Selain tiga aktor utama inovasi yang telah dijelaskan sebelumnya. Science and Technology. dalam menunjang daya saing ekonomi dan bisnis di Indonesia. dan [4] membangun infrastruktur sosial. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (UU No. dan yang terakhir ‘103 Inovasi Indonesia’ (2011). Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. 26 Naskah Akademik Perubahan UU No. ‘102 Inovasi Indonesia’ (2010). BIC ditempatkan di kawasan Puspiptek Serpong sesuai dengan skenario untuk menjadikan kawasan ini sebagai Science and Technology Park (STP). pemanfaatan. sehingga dalam waktu 10 tahun.

Diagram Konsepsi Sistem Inovasi Nasional (adaptasi dari MEXT. dan karakter bangsa. pendidikan. dan difusi teknologi harus berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. 2002) Regulasi dan kebijakan yang mendukung upaya penumbuh-kembangan inovasi. karakter bangsa Gambar 2. ilmu pengetahuan dan teknologi. dan [3] secara jelas memperlihatkan bahwa pada akhirnya kegiatan perekayasaan. tradisi. [2] kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah akan tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan. Namun demikian dalam konsepsi MEXT tersebut. budaya. Basis Pengetahuan Litbang] Ketenagakerjaan Infrastruktur Pendidikan Pengguna Teknologi [Industri] AKTOR UTAMA Kebijakan AKTOR PENDUKUNG Pemerintah Masyarakat Politik dan Ekonomi Lingkungan. Suatu hal yang menarik dari konsepsi ini adalah: [1] fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. budaya. antara lain misalnya: pemberian insentif teknis dan/atau finansial bagi badan usaha yang menggunakan teknologi nasional dalam kegiatan usahanya. tradisi. inovasi. 18 Tahun 2002 Pajak&Keuangan Ekonomi Sosial Iptek . serta pajak dan keuangan. pemberian kompensasi yang sebanding bagi badan usaha yang berkontribusi dalam pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi nasional. tidak ditampakkan posisi dan peran lembaga intermediasi dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. ketenagakerjaan. yakni berupa lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi.menggunakan diagram konseptual untuk memperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang ini (Gambar 2). Pasar Pasar Permintaan Produk & jasa Industri Basis Pengetahuan Pengembang Kerjasama Teknologi [Univesitas. pemberian prioritas dukungan pembiayaan bagi lembaga dan/atau individu peneliti 27 Naskah Akademik Perubahan UU No. infrastruktur sosial.

Venture capital (VC) merupakan salah satu bentuk sumber pembiayaan bagi perusahaan baru tumbuh (startup companies). berbeda dengan infrastruktur fisik yang telah cukup dipahami peran dan kontribusinya. dana untuk penjualan awal dan biaya produksi. Oleh sebab itu. pembiayaan yang tidak besar dan dipergunakan untuk membuktikan bahwa ide baru yang digagas berpotensi untuk menghasilkan produk atau jasa komersial –biasanya disediakan oleh ‘angel investor’. untuk biaya pengembangan usaha bagi perusahaan yang mulai memperoleh keuntungan. [4] Second-Round. Karena resiko usaha baru yang tinggi dan investasi butuh waktu 3-7 tahun untuk bisa cair. [5] Third-Round. masih terlalu kecil untuk bisa menarik dana publik melalui pasar modal. dan [6] Fourth-Round. atau masih sulit meyakinkan pihak perbankan untuk mendapatkan pinjaman. Konsepsi inovasi di Jepang (Gambar 2) dapat dijadikan referensi dalam konteks ini. untuk biaya kerja tahap awal dimana perusahaan sudah mulai menjual produk tetapi belum memberikan keuntungan. 18 Tahun 2002 . digunakan untuk pembiayaan persiapan ‘go public’. [2] start-up. [3] First-Round. yakni: [1] seed money. pembiayaan tahap awal untuk dana pemasaran atau pengembangan produk. maka institusi pendidikan (terutama pendidikan tinggi) perlu mengembangkan program studi dan kurikulum yang relevan dengan sektor atau profesi yang sesuai dengan kebutuhan nyata. juga ikut mengendalikan kebijakan dan pengambilan keputusan pada perusahaan tersebut. Memberikan akses yang lebih mudah dalam pemanfaatan laboratorium pemerintah di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan. Ketersediaan dan akses ke skim kredit atau bentuk kemudahan lain untuk modal kerja baik bagi pengembang teknologi maupun industri akan ikut merangsang tumbuh-kembang inovasi. Academic excellence yang sering menjadi jargon pendidikan tinggi harus dibarengi dengan peningkatkan relevansinya dengan kebutuhan pembangunan dan potensi sumberdaya nasional. VC menjadi opsi sumber pembiayaan bagi perusahaan yang belum berpengalaman. pemberian insentif bagi lembaga intermediasi yang berhasil meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Peran penting infrastruktur sosial sangat sering terabaikan dalam berbagai sektor pembangunan. upaya penguatan inovasi tidak boleh mengabaikan peran 28 Naskah Akademik Perubahan UU No. maupun pengembangan program pendampingan dari para tenaga ahli (peneliti dan perekayasa) juga dapat menjadi alternatif upaya penumbuh-kembangkan inovasi. Skenario VC yang umum adalah pemodal memberikan dana awal bagi suatu usaha dan dana tersebut diperhitungkan sebagai saham pada perusahaan yang bersangkutan. disebut juga ‘mezzanine financing’. disebut juga ‘bridge financing’.atau perekayasa yang fokus pada upaya untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan/atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan nasional. Untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang dapat menggerakkan inovasi. Secara umum ada 6 tahap pembiayaan yang mungkin didapat dari VC. maka biasanya pemodal selain mendapat porsi saham yang signifikan. Kebijakan yang mendukung dan akses yang terbuka luas untuk mendapatkan sumber pembiayaan merupakan pra-kondisi yang dibutuhkan dalam upaya penguatan inovasi nasional.

3. 2. Namun demikian. upaya membangun kemampuan inovasi nasional merupakan suatu yang kompleks dan banyaknya aktor yang ikut berperan di dalamnya. tetapi tidak otomatis bahwa inovasi di Indonesia menjadi lebih produktif dan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 2005). finansial. Keberhasilan untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih produktif dan berkontribusi positif terhadap pembangunan perekonomian suatu bangsa (yang pada gilirannya diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat) berkorelasi positif dengan intensitas komunikasi dan interaksi antara para aktor inovasi.1. Sebagai contoh. Infrastruktur sosial termasuk sarana dan prasarana kesehatan. 29 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta dukungan lain untuk individu. sarana komunitas/lingkungan. sehingga teknologi yang dikembangkan diharapkan sudah semakin mengacu pada upaya memenuhi kebutuhan nyata. keluarga. maka akan meningkatkan kemungkinan bagi teknologi tersebut untuk digunakan. sebagai contoh. Akan tetapi adalah keliru jika serta-merta disimpulkan bahwa hubungan sebab akibat tersebut bersifat otomatis. Tujuan ini hanya akan tercapai jika pembangunan infrastruktur sosial menjadi bagian esensial dari skenario membangun kemampuan inovasi nasional. pendidikan. layanan tanggap darurat. 18 Tahun 2002 . hukum dan keamanan publik. pelatihan dan kesempatan kerja. sebagaimana yang terlihat pada konsepsi SINas yang dikembangkan oleh MEXT (2002). Pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan pengguna jika telah mempertimbangkan juga secara seksama kapasitas adopsi oleh pihak pengguna.infrastruktur sosial ini. perumahan. masih sangat sering terkendala. olahraga dan rekreasi. tidak dapat dimutilasi menjadi segmen-segmen yang terpisah satu sama lain. walaupun seandainya lembaga R&D Indonesia sudah sedemikian majunya sehingga setara dengan lembaga-lembaga serupa pada level dunia. transportasi publik. telah mengenali peran infrastruktur sosial ini dalam menentukan keberhasilan membangun SINas. Interaksi dan komunikasi antar-aktor yang intensif akan memperbesar peluang untuk terjadinya aliran informasi kebutuhan teknologi dari para pihak pengguna teknologi ke pihak pengembang teknologi. Kemajuan R&D bisa menjadi modal untuk mewujudkan kemampuan inovasi yang lebih tangguh. dan komunitas (Casey. maupun sosio-kultural. Perlu diingat pula.20 Sesungguhnya sangat jelas bahwa amanah konstitusi menyatakan bahwa tujuan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk menyejahterakan rakyat dan memajukan peradaban. Data empiris juga menunjukkan adanya korelasi antara penguasaan teknologi dengan kemajuan perekonomian suatu negara. seni dan budaya. baik dari dimensi teknis. 20 Pemerintah Jepang. informasi. Penelaahan aktor-aktor inovasi tidak dapat dilakukan secara terisolir satu sama lain. pada saat ini justeru persoalan interaksi dan komunikasi antara aktor inovasi ini yang masih tersumbat. Resultan dari interaksi antar-aktor juga masih sangat tergantung pada ekosistem dimana hal tersebut berlangsung. Interaksi Antar-Aktor Inovasi Pendekatan untuk memahami inovasi tentunya harus bersifat sistemik.

masyarakat. karena relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan nyata yang rendah. misalnya kebijakan pembangunan perekonomian. Teknologi yang dihasilkan oleh pengembangan seringkali tidak sesuai atau tidak relevan dengan kebutuhan para pengguna untuk meningkatkan produktivitas ataupun untuk dijadikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi. yang dilaksanakan di 10 kota besar Indonesia (Bandung.4. Surabaya. yaitu rendahnya intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi. 2008). 18 Tahun 2002 . model triple helix menggunakan dinamika non-linier hubungan universitas-industri-pemerintah. intermediasi. konsepsi triple helix ini juga gencar dikumandangkan di Indonesia sebagai bentuk model penguatan kemampuan inovasi nasional dengan menggunakan nama populer triple helix ABG (academicbusiness-government) (Kadiman. termasuk kebijakan-kebijakan yang diluar kendali para aktor utama inovasi. umumnya hanya terbatas pada masalah operasional dan perawatan mesin dan peralatan saja (Hidayat. Dalam konteks interaksi antar-aktor inovasi ini. permasalahan fundamentalnya adalah sama. dan Mataram) atas kerjasama antara Kementerian Riset dan Teknologi dan Kementerian Pendidikan Jerman berhasil mengungkapkan bahwa kerjasama antara industri dengan perguruan tinggi. Samarinda. 2006). dan lembaga intermediasi teknologi masih sangat jarang. 2010). maka lembaga intermediasi mendapat beban yang sangat berat. Berbagai regulasi dan kebijakan akan ikut mempengaruhi. antara akademisi dengan bisnis. Pada dasarnya. bahkan mungkin menjadi ‘mission impossible’ bagi lembaga intermediasi untuk mendorong agar teknologi tersebut digunakan oleh industri/badan usaha. kebijakan ketenaga-kerjaan. maupun pemerintah. kebijakan pendidikan nasional. pada tahun 1994 lahir model ‘Triple Helix’ dari upaya untuk mengawinkan antara analisis kelembagaan infrastruktur pengetahuan dengan analisis evolusioner ekonomi berbasis pengetahuan (Leydesdorff dan Meyer. Komunikasi dan interaksi antara pengembang dengan pengguna teknologi. akademisi dalam konsepsi ABG ini mewakili komunitas pengembang teknologi. Namun demikian performa akhir dari upaya penguatan kemampuan inovasi nasional akan dipengaruhi oleh berbagai pihak. Palembang. kebijakan keuangan dan perpajakan.1. Selanjutnya. dan pemerintahan mewakili lembaga yang berfungsi untuk melakukan regulasi. dan kebijakan pembangunan infrastruktur sosial (lihat 30 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ekosistem Inovasi Nasional Kemampuan inovasi nasional pada prinsipnya ditentukan oleh kelancaran aliran informasi kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh pihak (calon) pengguna potensial ke pihak pengembang teknologi dan sebaliknya. Kalaupun ada. dan fasilitasi. antara perguruan tinggi atau lembaga R&D dengan industri masih memerlukan dukungan kebijakan. Makassar. Yogyakarta. Semarang. 2.Survei Periskop tahun 2000. Untuk menyederhanakan sebuah sistem yang kompleks. Padang. Pada periode tahun 2000-an. lembaga R&D. Terlepas dari konsepsi mana yang digunakan untuk menjelaskan tentang kinerja inovasi nasional. bisnis mewakili komunitas pengguna teknologi. Disisi lain kelancaran aliran paket teknologi yang dihasilkan pihak pengembang ke pihak pengguna juga menjadi faktor yang menentukan. Manado.

jarang untuk merumuskan atau memilih alternatif kebijakan yang paling tepat. location costs Neo-Marshallian Evolutionary Broad Technology as applied knowledge Technology as Broad definition endogenous non. (2008). 2008) 31 Naskah Akademik Perubahan UU No. implementasi. transportas. yakni: (1) Apakah rationale untuk intervensi pemerintah dapat diturunkan dari berbagai teori dengan perspektif yang berbeda? (2) Apakah bentuk instrumen kebijakan yang digunakan dalam intervensi pemerintah berkaitan dengan berbagai rationale? Dan (3) Apakah yang dapat disimpulkan terkait level teritorial/kewilayahan yang tepat dari suatu kebijakan sistem inovasi yang didasarkan atas teori terpilih dan rationale yang dikembangkan berdasarkan teori tersebut? Untuk menjawab tiga pertanyaan di atas. Pada level daerah. (3) Neo-Marshallian. ada lima teori yang ditelaah Laranja et al. yakni: (1) Neoclassical. noninnovation excludable generated by R&D Neutral but with implications for divergence/conve rgence Consideration of space Proximity (and space) play a role in inducing changes in behaviour Space as on dimension for specific evolutionary processes 21 Rationale dalam konteks ini adalah model yang diformalisasi dan didasarkan dari teori dan konsepsi terpilih yang memberikan informasi tentang desain. Technology as applied knowledge Neoclassical Consideration of technology Technology as information and “incorporated” in capital investment No consideration of space beyond reduction of information costs. 18 Tahun 2002 . Tabel 1. (4) Systemic Institutional Approaches. hanya akan dicuplik beberapa elemen saja sesuai dengan kepentingan yang hendak dikawal. (2) Schumpeterian Growth Theory.Gambar 2). Synthesis of theoretical rationales for science. Laranja et al. Dalam kajiannya yang terkait dengan upaya translasi rationale21 menjadi kebijakan. dan (5) Evolutionary (Tabel 1). Pemilihan teori yang berbeda sebagai landasannya. misalnya berupa berbagai peraturan daerah (Perda). Umumnya. akan melahirkan rationale untuk intervensi pemerintah. (2008) mencoba menjawab tiga pertanyaan yang sangat mendasar. dan evaluasi kebijakan (Laranja et al. Rationale yang berbasis teori lebih sering diposisikan sebagai justifikasi atau alasan untuk menetapkan kebijakan tertentu sesuai dengan yang diinginkan. dan instrumen kebijakan yang berbeda pula.. technology and innovation policy Schumpeterian growth theory Systemic institutional approaches Broad (including social innovations). teori sangat jarang diadopsi secara utuh untuk diterjemahkannya menjadi rationale oleh pembuat kebijakan. ada lagi regulasi dan kebijakan daerah. Namun demikian. level intervensi. Berbagai regulasi dan kebijakan di berbagai sektor ini merupakan komponen dalam ekosistem inovasi nasional.including social rival.

Investment in local advanced technology infrastructure. Extension services(“servizi reali”) ranging from technology to education and training cluster policies Coodinating the system. dysfunctions. roles and function of actors. criteria of Targets both individual actors and “collective” actions. Improve diversity and selectivity Multi-level. Promote locally based networks of cooperation. Favours demand approaches and provision of “ shared” public services. transports. Park for Science and Technology Subsides and tax incentives to R&D. Balances centralised with decentralised intervention Identification of technology specific failures. Extension services. Criteria balances support to individual actors with increasing collaboration. Appropriability failure Objective of intervention Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches Evolutionary Support to Flexible “external System failure. help in networking. Increase cognitive capacity. endogenous R&D agglomeration” System dysfunctions cognitive gaps. Favours collective 32 Naskah Akademik Perubahan UU No. “Animateur” Role of policy maker Examples of policy Subsidies and tax instruments incentives to R&D. Science push measures. Proactive intermediation brokerage (translation of implicit knowledge) Targets both individual actors and groups. eligibility criteria. Design of segmented targeted intervention ”adaptive role” Subsidies and tax incentivate to R&D. Adequate institutional setting Avoid lock-in. Park for Science and Technology. Block-in. and competition Overall coherence of the system. Learning Substitute for less Creat conditions than optimal use for increasing of resources returns to R&D Level of intervention Centralisednational level No differentiation of levels of intervention Compensate for less than optimal private investment. Large mobilisation projects Subsidies and tax incentivate to R&D. Favours science push and large R&D projects. 18 Tahun 2002 . networks of actors or systems of innovation. Favours R&D support to hitech. but with focus in more advanced region Incentivate accumulation of “monopolistic” gains Regional level but National and also national regional levels level with regional focus(decentralis ed) Creation of a collaborative industrial community. Lack of diversity Reduction of costs in information. public intervention Informationtransmission failures. technology infrastructures. Education for creating pool of skills Technology infrastructure. Extension services Mode of operationalisation (target. System as a target. interactions and networking. investment in local advanced technology infrastructure.Neoclassical Rationale for Market failures. Learning accumulation of economies of Institutional failures failures. Return on Investment and Targets different kind of individual actors. Optimise resources Centralisednational level. Favours supplyside initiatives. Technology infrastructures. selectivity) Target different kinds of individual actors.

Seharusnya kebutuhan untuk mendukung tumbuhkembang inovasi sesuai dengan potensi nasional dan kebutuhan pasar (atau pengguna) yang menentukan pola penyiapan dan pengembangan sumberdaya manusia. dan sumberdaya finansial untuk mendukung kegiatan pengembangan teknologi maupun untuk proses produksi. perkembangan iptek.Neoclassical opportunity for appropristion as criteria Schumpeterian growth theory Neo-Marshallian Systemic institutional approaches governance Evolutionary opportunity. Komponen yang bersifat tangible (wujud fisiknya dapat divisualisasikan) mencakup antara lain sumberdaya manusia terdidik dan/atau terlatih yang tersedia. Dengan demikian. 33 Naskah Akademik Perubahan UU No. sebaliknya dinamika interaksi antar-aktor inovasi. tradisi. Komponen yang bersifat intangible atau tak-berwujud mencakup semua regulasi. Budaya. dan nilai-nilai luhur atau karakter merupakan ‘penciri’ suatu bangsa yang cenderung untuk selalu dilestarikan eksistensinya. karakter. dan nilai-nilai luhur atau karakter bangsa (Gambar 2). tetapi juga mencakup berbagai komponen non-formal. tradisi. Ekosistem inovasi terbangun dari komponen-komponen yang bersifat intangible maupun yang bersifat tangible. dan difusi teknologi) tentu akan mempengaruhi (secara positif atau mungkin juga negatif) performa inovasi nasional. kebijakan. komponen ini merupakan komponen ekosistem yang bersifat ‘statis’. Regulasi dan kebijakan (baik yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pengaturan inovasi. tradisi. yang diposisikan sebagai fondasi untuk bangunan kebijakan inovasi. 18 Tahun 2002 . and variety (increase or reduction) as Criteria. dalam konteks inovasi. seperti budaya (termasuk norma dan etika). Potensi sumberdaya alam juga merupakan komponen ekosistem yang menjadi acuan dalam merancang kemampuan inovasi nasional. Interaksi antara inovasi dengan ekosistem tempat dimana inovasi akan dikembangkan dan ditumbuhkan pada dasarnya bersifat saling-pengaruh. dan komponen lain yang dapat mempengaruhi performa SINas tetapi tidak dapat divisualisasikan wujud fisiknya. Favours collective governance concentration for Use of the value increasing chain or cluster returns concept Source: Laranja et al (2008) Komponen ekosistem inovasi tidak hanya berupa regulasi dan kebijakan yang bersifat legalformal. budaya. sumberdaya alam yang potensial untuk dikelola sebagai bahan baku proses produksi barang maupun jasa yang dibutuhkan. MEXT (2002) sudah mengenali komponen ini dan mengintegrasikannya dalam upaya membangun kemampuan inovasi nasional di Jepang. Saat ini kecenderungan yang terjadi adalah ketersediaan dan jenis keahlian sumberdaya manusia yang secara dominan mewarnai inovasi. serta dinamika kebutuhan dan persoalan pengguna teknologi akan mengharuskan terjadinya penyesuaian regulasi dan kebijakan.

Padahal sejak awal UU No. Selain itu. 18 Tahun 2002 . Selanjutnya pertumbuhan perekonomian secara langsung juga berarti meningkatnya ketersediaan sumberdaya finansial untuk membangun kemampuan inovasi nasional dengan kapasitas yang lebih besar. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Kondisi ini mendorong industri nasional cenderung memanfaatkan lisensi impor. 18 Tahun 2002. memberi stimulus dan memfasilitasi dalam menciptakan iklim pertumbuhan dan sinergi unsur kelembagaan. hal itu disebabkan antara lain belum terjalinnya hubungan yang baik antara lembaga penelitian perguruan tinggi dan industri. UU No. Pengembangan. sumber daya dan jaringan iptek. 2. Kondisi ini selain menyebabkan rendahnya sumberdaya finansial untuk mendukung pengembangan inovasi juga menghilangkan kepercayaan publik terhadap inovasi itu sendiri. Analisis Undang-undang No. terutama di kegiatan ekonomi dan sosial budaya. 2009.2. secara umum Indonesia belum menjadi pelaku iptek yang diperhitungkan dalam dunia internasional. 18 Tahun 2002 dimaksudkan untuk meletakkan dasar bagi perkembangan kelembagaan iptek dengan interaksinya.1. 18 Tahun 2002 meletakkan pemerintah daerah sebagai salah satu komponen pendukung pelaksanaan sistem nasional penelitian. Sri. pengembangan dan penerapan iptek khususnya ditingkat daerah.Sumberdaya finansial dan inovasi akan saling berhubungan secara interaktif. Sebaliknya inovasi yang bersifat stagnan (atau dorman) karena tidak mampu menghasilkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas atau efisiensi proses produksi. Akibatnya inovasi bukan akan tumbuh berkembang. temuan mendasar yang diidentifikasikan dalam pelaksanaan UU No. 34 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). Pemerintah daerah berkewajiban menumbuh-kembangkan motivasi. 18/2002 menunjukkan pengembangan dan penerapan iptek masih belum dimanfaatkan secara optimal. Menurut penelitian yang dilakukan. saling beinteraksi secara positif (snowballing effect) sehingga masing-masing berkembang dan tumbuh semakin kuat. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Mulatsih dan Prakoso Bhairawa Putera terhadap implementasi UU No. Berdasarkan implementasi UU No. 18 Tahun 2002 adalah lemahnya koordinasi kegiatan riset di daerah. Sumberdaya finansial yang tersedia akan mendorong kemampuan inovasi semakin tumbuh berkembang menjadi sebuah sistem yang lebih produktif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan jasa yang bernilai ekonomi. serta sumber daya iptek yang mampu diakumulasikan masih terbatas.. Kajian Implementasi UU No. dan interaksi pelaku iptek. Mulatsih. tetapi sebaliknya akan menjadi faktor yang semakin tidak diperhitungkan dalam skenario besar pembanguan perekonomian suatu bangsa. sehingga secara nyata akan mendorong pertumbuhan perekonomian suatu negara.2. tidak akan pula mampu memberikan kotribusi terhadap pertumbuhan perekonomian. 18 Tahun 2002 2. dan Prakoso Bhairawa Putera.

Namun demikian. Mulatsih dan Putera (2009) menggunakan indikator keadaan. tanpa adanya keberlanjutan difusi hasil penelitian yang aplikatif oleh dunia usaha. dukungan yuridis tidak diikuti ini tidak diikuti adanya dukungan sumber daya yang memadai. lembaga penunjang dan badan usaha. Namun UU ini perlu untuk mengarahkan/mengatur kegiatan penelitian supaya efektif. Temuan lainnya yang menarik adalah mengenai pembentukan jalinan interaksi antar kelembagaan yang diharapkan dapat membentuk pola sistem nasional bagi kemajuan iptek di Indonesia. Balitbang pemerintah daerah (balitbangda) Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) 35 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan industri. Dengan memberikan dana insentif untuk kegiatan penelitian. 18/2002 Lembaga Perguruan tinggi Pandangan/Perspektif Pada umumnya pengetahuan tentang UU ini masih sangat sedikit. pembentukan jalinan interaksi ini distimulus oleh Kementerian Riset dan Teknologi. 18 Tahun 2002 Dalam menganalisis temuan dalam implementasi UU Nomor 18 Tahun 2002 di atas. 18 Tahun 2002 Variabel Tanggapan/respon terhadap UU No. Untuk mengetahui keadaan tersebut ditunjukkan pada tabel di bawah ini. Yang lebih diperlukan lagi adalah sosialisasi dan implementasinya. karena sering diundang sebagai pemangku kepentingan. pengembangan dan penerapan iptek diharapkan akan memperkuat jaringan kelembagaan perguruan tinggi. khususnya dalam diskusi penyusunan PP No. Pelaksana undang-undang ini adalah perguruan tinggi. lembaga penelitian dan pengembangan. sarana dan prasarana dalam pemaksimalan tugas dan fungsi di daerah. Namun demikian menurut penelitian Mulatsih dan Putera (2009). Selama ini balitbangda terikat dengan PP No. Cukup paham dengan UU ini.Kondisi awal di lokasi yang menjadi sampel penelitian ini (tahun 2009) terlihat telah ada dukungan secara yuridis formal melalui pembentukan Peraturan Daerah ataupun Keputusan Gubernur tentang pembentukan badan/bagian/unit yang menangani kegiatan penelitian dan pengembangan di daerah. 35 Tahun 2007 tentang alokasi dana sebagian pendapatan badan usaha.1 Tanggapan terhadap UU No. bahwa penelitian dan pengembangan itu tidak termasuk sebagai kegiatan wajib atau pilihan. Secara umum UU ini belum diketahui. begitu juga dengan dana. Balitbangda merasa bahwa UU ini belum menjadikan lembagalembaga penelitian daerah sebagai garda terdepan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Pada awalnya dan sampai saat ini. 18 Tahun 2002 . Semua daerah responden menyebutkan minimnya sumber daya peneliti. kondisi yang terjadi cukup ironis karena interaksi yang terjadi hanya terjalin sebatas pemanfaatan dana riset. Perspektif Pemangku Kepentingan UU No. 38. Table 6. lembaga litbang. yaitu tanggapan lembaga-lembaga (stakeholders).

dan jaringan iptek menjadi berkembang lebih baik untuk 36 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pemerintah Daerah Provinsi. dan jaringan iptek merupakan unsur-unsur utama dalam sistem nasional penelitian. lembaga litbang daerah. Sehingga Balitbangda Sumsel berkolaborasi dengan lemlit-lemlit di perguruan tinggi yang berada di wilayah ini.” Kondisi semacam ini memang berbeda dengan lembaga litbang di daerah yang lain. sumber daya. sumber daya. dan masyarakat. perusahaan (badan usaha) ini meletakkan visi dan misi usahanya untuk bisnis dan penelitian. 18 Tahun 2002 .Tabel di atas menunjukkan bahwa unsur kelembagaan yang diteliti (perguruan tinggi. Akan tetapi dalam pelaksanaannya. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menjadikan penelitian di daerah bukan merupakan urusan wajib. Sumberdaya. dan Jaringan Kelembagaan. tetapi yang belum adalah menjadikan lembagalembaga penelitian dan pengembangan daerah ini sebagai garda terdepan dalam hal penelitian dan pengembangan di daerah. Sehingga bagian ini masih merencanakan tindakan untuk pelaksanaan kegiatan. karena masing-masing instansi memiliki litbang sehingga fungsi dan tugas balitbangda apa. hanya salah badan usaha yang terlihat aktif dalam merespon kebijakan ini. “Keberadaan undang-undang ini cukup diketahui. dan adanya PP No. khususnya dalam mengemban misi penelitian dan pengembangan baik untuk kepentingan industri maupun kepentingan nasional masih rendah. Namun demikian. belum mengimplementasikan kebijakan ini pada tingkat daerah. Kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama ini diarahkan untuk mendukung visi dan misi pembangunan daerah. Karena dari temuan penelitian. yang didukung adanya peran pemerintah/pemerintah daerah. walaupun sebenarnya berdasarkan surat pembentukan terjabarkan tugas dan fungsi bagian ini – tentunya memberikan tugas untuk melakukan penelitian dan pengembangan di daerah. pemanfaatan dan pemajuan iptek. 18 Tahun 2002 diharapkan kelembagaan. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Bagian penelitian dan pengembangan yang menjadi subbagian di bawah struktur Sekretaris Daerah Provinsi Yogyakarta. pelaksanaan penelitian dan pengembangan hanya menjadi tugas pendukung instansi lain di wilayah kerjanya. seperti yang telihat dari Badan Litbang Daerah Sumatera Selatan. Kelembagaan. khususnya yang diteliti tampaknya kurang memahami kedudukan dan fungsi mereka dalam memperkuat visi dan misi dalam upaya penguasaan. hal ini disebabkan karena alasan teknis dengan perpindahan struktur bagian penelitian dan pengembangan yang sebelumnya di bawah Badan Perencanaan Daerah. 18 Tahun 2002. seperti Balitbangda Sulawesi Selatan. ada beberapa responden yang cukup tertarik dengan memaksimalkan peran dan fungsi litbang daerah dalam dua tahun terakhir. Adanya UU No. Bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang daerah. menimbulkan kebingungan pada balitbangda. dan badan usaha/industri) masih rendah tanggapannya terhadap UU No. tetapi pilihan. pengembangan dan penerapan iptek. Selain itu masih adanya paradigma memandang sebelah mata terhadap balitbangda oleh pihak-pihak di daerah. Di samping itu juga interaktif terhadap kebijakan pemerintah.

pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang masih bersifat sektoral menjadikan amanah yang disebutkan dalam UU No. 18 Tahun 2002 ini belum berjalan dengan baik. dan difusi teknologi. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002 disebutkan. dan penerapan iptek. Pasal 6 UU No. lembaga litbang. Dalam Pasal 13 UU No. badan usaha dan lembaga penunjang) berfungsi mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. teknisi dan semberdaya manusia lain yang diperlukan untuk memperkuat kegiatan penelitian.membangun kemampuan iptek nasional yang lebih kuat untuk mencapai tingkatan ekonomi sejajar dengan negara lain. Kelembagaan iptek juga diarahkan untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan iptek untuk menghasilkan kinerja dan manfaat lebih besar secara bersama. Menurut Mulatsih dan Putera (2009). pengembangan. Badan usaha (Stem cell and cancer institute-PT Kalbe Farma) Selain kelembagaan. pengembangan. bidang penelitian menurut struktur organisasi baru hanya berfungsi sebagai lembaga pemberi ijin penelitian. sumber daya. Tabel 6.2 Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Iptek Kelembagaan Perguruan tinggi (ITB. Namun demikian. inovasi.UGM. UNSRI) Balitbangda (Sumsel.2 di bawah ini. setiap kelembagaan iptek (perguruan tinggi. dan sebagainya) yang diperlukan dalam upaya peningkatan kemampuan penguasaan. Sumber dana murni swasta di PT Kalbe Farma (bergerak di bidang farmasi). juga melakukan koordinasi untuk menginventarisasi hasil penelitian di daerah. perekayasa. Bahkan seperti Pemda DIY. dapat dilihat pada Tabel 6. Untuk itu. Tugas penelitian pada dasarnya sebagai tugas struktural dari Kemendagri. Namun demikian. Selanjutnya untuk mengetahui fungsi kelembagaan iptek yang disurvei. perekayasaan. UNHAS. perguruan tinggi sebagai kelembagaan iptek diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia (peneliti. penelitian. jaringan dan pembiayaan dipandang sebagai aspek inti dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. perguruan tinggi dan lembaga litbang agar mengusahakan penyebaran informasi hasil kegiatan. lebih banyak dilandasi oleh Tri Darma Perguruan Tinggi. Sehingga kegiatan ini tidak selalu dilakukan seperti lembaga penelitian lainnya. termasuk pembentukan Sentra HKI. Tugas utamanya adalah melakukan penelitian bidang mikrobiologi untuk sell kanker. pemerintah mendorong kerja sama antar kelembagaan iptek dalam pengembangan jaringan informasi iptek. pemanfaatan dan pemajuan iptek. DIY) Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi Kelembagaan Dalam mengembangkan inovasi melalui penelitian dan pengembangan. 37 Naskah Akademik Perubahan UU No. Lembaga litbang menjadi mencari peneliti. perekayasa. teknisi.Sulsel. 18 Tahun 2002 menyebutkan.

Secara politis UU ini telah memenuhi syarat dalam proses penyusunannya sehingga UU ini telah diundangkan sejak 29 Juli 2002. 35 Tahun 2007. perguruan tinggi. Peraturan pemerintah terakhir yang diturunkan sebagai pelaksanaan dari undang-undang No. 18 Tahun 2002. yaitu peraturan pemerintah. 18 Tahun 2002. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. industri dan pihak terkait lainnya. Undang-undang merupakan kebijakan yang dinilai mempunyai posisi tertinggi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang Berisiko Tinggi dan Berbahaya. PP No.Aspek terpenting dalam pelaksanaan penguasaan. Secara hierarkis. Sebagai payung hukum UU ini merupakan acuan seluruh elemen yang tercakup dalam sistem nasional penelitian. 18 Tahun 2002. Dalam pelaksanaannya. antara lain lembaga penelitian. Akibatnya di Indonesia 38 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 telah diturunkan empat peraturan pemerintah yang perlu disusun. menyebutkan peraturan pelaksanaan dari undang-undang adalah sesuai dengan hirarkhi-nya. Menurut UU No. peraturan presiden. termasuk 2 bab di dalamnya tentang ketentuan sanksi dan ketentuan peralihan. Tahun 2005 disahkan. 22 dan Pasal 28. pembiayaan pelaksanaan kegiatan penelitian. Undang-Undang sebagai produk policy level akan diimplementasikan melalui tingkatan organisasi (level of organization) yaitu berupa peraturan pelaksanaannya. 18 Tahun 2002 Pelaksanaan suatu undang-undang merupakan suatu penjabaran isi dari pasal-pasal ke dalam peraturan-peraturan atau kebijakan yang disebut sebagai arrangement institutions. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan peraturan kebijakan PP. tiga tahun setelah disahkan diturunkan dua Peraturan Pemerintah (PP) sebagai peraturan pelaksanaannya. ketentuan ini masih memerlukan penjelasan bagaimana merealisasikan pembiayaan ini. pemanfaatan dan pemajuan iptek adalah pembiayaan. dalam public policy. peraturan presiden. 48 Tahun 2009 Pelaksanaan UU No. 18 Tahun 2002 mencakup 9 bab dan 32 pasal dan penjelasannya. tertanggal 18 Juli 2009 dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 18 Tahun 2002 adalah mengenai Perizinan Pelaksanaan Kegiatan Penelitian. PP No. antara lain dapat mengacu penjelasan Riant Nugroho (2009). dan penerapan iptek. pengembangan. peraturan daerah provinsi. yaitu PP No. yaitu terkait dengan pelaksanaan Pasal 16. Inovasi dan Difusi Teknologi. model kebijakan yang dibuat berjenjang sesuai dengan hierarki implementabilitasnya. dan dibuat dengan pasal-pasal yang bersifat makro atau umum untuk kemudian dibuat petunjuk pelaksanannya. Kemudian di tahun berikutnya. UU No. UU No. pengembangan dan penerapan iptek merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. 18 Tahun 2002 . 20 Tahun 2005 dan PP No. 17. dan peraturan daerah kabupaten/kota. undang-undang sebagai bentuk dari kebijakan di Indonesia masih menganut model kebijakan continental atau yang berasal dari Belanda. Pelaksanaan UU No. berupa peraturan pemerintah. terutama dalam pelaksanaan fungsi dan pemerintah sebagai motivator dan stimulator perkembangan sistem nasional litbangrap iptek. Dalam pelaksanaannya UU No. Selama hampir sepuluh tahun pelaksanaan UU No. Pengembangan.

” “Dengan keluarnya Perda No. tetapi pelaksanaannya tidak effektif karena peraturan atau kebijakan pelaksanaannya belum dibuat.072. pengembangan. perguruan tinggi. “LPPM-ITB melakukan jejaring penelitian dengan lembaga lain disebut sebagai mitra kerja. kebijakan internal di setiap daerah responden berbeda. Dalam kaitannya dengan penguatan inovasi. . lembaga penelitian pemerintah lainnya. Masuknya Bagian Penelitian dan Pengembangan di Biro Administrasi Pembangunan adalah indikasi baik. pemerintah daerah masih mencari format terbaik. Interaksi berjalan karena adanya kerjasama penelitian yang menggunakan dana atau dibiayai oleh balitbangda. 18 Tahun 2002 secara bertahap mengalami kemajuan. adanya ruang bagi masing-masing elemen dalam UU No. kerjasama atau interaksi yang terjalin selama ini hanya sebatas pemanfaatan dana riset yang dimiliki oleh badan litbang daerah saja. beberapa telah dapat menyambung simpul industri (beberapa).” “Pemerintah daerah telah menganggarkan sejumlah dana sehingga setiap tahunnya balitbangda melaksanakan program dan kegiatan penelitian pengembangan yang mengacu pada program prioritas pemerintah provinsi. 18 Tahun 2002 diharapkan dapat mengoptimalkan dan keberlanjutan aktivitas litbangrap iptek. 5 Tahun 2008 menunjukkan bahwa adanya perhatian dari pemerintah daerah. Indikasi ini menandakan bahwa adanya dukungan dari pemerintah walaupun masih dirasa kurang dalam segi penambahan alokasi dana ataupun sarana prasarana untuk menunjang kegiatan penelitian. memberikan stimulasi dan fasilitas.550. serta menciptakan iklim kondusif dalam sistem penelitian. 18 Tahun 2002 Dukungan pemerintah daerah dalam menumbuhkembangkan motivasi. pada tahun 2008 kemarin melaksanakan sebanyak 2 program utama dan 60 kegiatan dengan pendanaan sebesar Rp.” Simpul pola interaksi terlihat lebih baik dilakukan oleh perguruan tinggi.” Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah telah memberikan ruang untuk mendorong kegiatan penelitian.323. Jaringan yang dikembangkan di perguruan tinggi. pola jalinan interaksi atau yang dikenal dengan jaringan. badan usaha maupun di masyarakat selama ini masih tidak terpola. Akan tetapi. karena yang ada selama ini adanya kumpulan pakar-pakar di Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi DIY. 10.. LSM) belum ada. walaupun kami memiliki jaringan peneliti Sumatera Selatan yang telah mendapat pesetujuan dari gubernur tetapi belum maksimal. Responden lainnya menyatakan. namun tampaknya jejaring peneliti yang dibangun antar lembaga penelitian di wilayah Jawa Barat (ITB. 39 Naskah Akademik Perubahan UU No. karena bagaimanapun juga sistem nasional tidak dapat berjalan secara maksimal tanpa adanya dukungan pelaksanaan sistem pada level daerah. pengembangan.banyak terjadi kasus di mana sudah ada undang-undang. Interaksi yang dilakukan belum terlembaga dan hanya dilakukan secara personal (individu). Untuk kelengkapan lainnya sedang diproses. Interaksi yang terlaksana sebatas antara balitbangda dengan peneliti yang bersangkutan yang mayoritas berasal dari perguruan tinggi.yang seluruhnya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah pemerintah provinsi. dan penerapan iptek. “Jalinan interaksi selama ini belum berjalan maksimal. Dukungan kebijakan serta pendanaan yang secara terus menerus dan berkelanjutan program yang dilakukan pada tingkat daerah. responden penelitian Mulatsih dan Putera (2009) berpendapat interaksi yang dilakukan antar pelaku iptek di lembaga litbang. dan penerapan iptek di daerah sesuai dengan amanat UU No. Untuk Dewan Riset Daerah. Bappeda. dan penelitian swasta.

18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Dalam peraturan perundang-undangan yang ada. dan difusi teknologi. Upaya ini dilakukan melalui: a. serta b. Penguatan sistem inovasi di tataran daerah merupakan bagian integral atau sub sistem dari pilar sistem inovasi nasional. 2005. maupun masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam pemajuan iptek. Upaya-upaya terpadu dalam penguatan kelembagaan. tujuan otonomi daerah adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengembangan. pemanfaatan. namun sistem nasional litbangrap iptek merupakan keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. Menurut Tatang (2005) meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sistem inovasi. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Selanjutnya Tatang (2005) menyebutkan. mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumberdaya iptek. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan 40 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan UU No. Hal ini juga ditegaskan dalam UU No. esensi keterkaitan ini sama dengan atau setidaknya berangkat dari konsep sistem inovasi nasional. mengorganisasikan pembentukan sumber daya manusia. 18 Tahun 2002 adalah penguatan fungsi kelembagaan iptek dalam sistem nasional litbangrap iptek.Pengembangan Sistem Inovasi Daerah: Perspektif Kebijakan’. b. Oleh karena itu perkembangan sistem inovasi ini akan ditentukan oleh pelaksanaan lebih lanjut (secara legal) dan implementasinya. pengembangan. dan karenanya merupakan langkah penting bagi perkembangan sistem inovasi di Indonesia. landasan hukum yang diharapkan dapat memperkuat landasan pembangunan dan mempercepat perkembangan iptek. 18 Tahun 2002 . 18 Tahun 2002 diharapkan dapat memperkuat jaringan antara pemerintah pusat. b. kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai kewajiban antara lain: memajukan dan mengembangkan daya saing daerah (Pasal 27 ayat (1) butir g. Salah satu pelaksanaan UU No. Sistem nasional litbangrap iptek ini diperlukan untuk mencapai tujuan: a.2. tanggung jawab daerah dalam pembangunan iptek dan sistem inovasi cukup besar. meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. UU No. interaksi dan proses pembelajaran akan menjadi semakin penting pada tataran daerah. perekayasaan.) UU No. pembentukan iklim dan memberikan dukungan kebijakan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. Pemajuan ataupun penguatan sistem inovasi pada tataran daerah menurut Tatang (2005) adalah sesuatu yang penting bagi perkembangan sistem inovasi nasional dan peningkatan daya saing secara nasional. pelayanan umum. dan pemajuan iptek. pemerintah daerah.2. memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. inovasi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. antara lain: a. dan jaringan iptek dalam satu keseluruhan yang utuh. penelitian. sumber daya. Tatang A Taufik: BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi. dan daya saing daerah (Pasal 2 ayat (3)).2. ‘Seri Diskusi Sistem Inovasi dan Daya Saing . UU No. 18 Tahun 2002 merupakan tonggak penting.

Ketergantungan ini sebagai akibat dari kurang berkembangnya teknologi/inovasi dalam negeri. Ketergantungan teknologi dari luar. kurang dimanfaatkan secara optimal. belum lagi ketepatan waktu pemanfaatannya. 18 Tahun 2002 . karena pembelian barang modal yang sarat dengan teknologi. seperti HKI. Andaipun ada keterkaitan antara dunia usaha dan lembaga penelitian dan pengembangan saat ini baru sebatas asistensi dari pihak penelitian dan pengembangan yang kebanyakan masih terbatas pada aspek pengujian produk dan peralatan. sehingga transfer teknologi dapat dikatakan tidak terjadi. 2007 Salah satu masalah yang dihadapi dalam pembangunan iptek dalam upaya memperkuat daya dukung iptek untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa adalah ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi luar. pembagian royalty. karena tidak selalu mendapatkan akses secara lengkap teknologi yang ada. Para pengusaha kecil dan menengah ini masih meragukan kualitas produk teknologi hasil penelitian dan pengembangan. cenderung mengerjakan terlalu banyak kegiatan. Transfer teknologi dari lembaga penelitian dan pengembangan kepada industri dan masyarakat melalui bentuk kemitraan. Alasan yang melatarbelakangi kondisi tersebut sebenarnya adalah suatu hal yang cukup logis. program yang direncanakan dan dilaksanakan masih kurang fokus. Teknologi menjadi komoditas yang sangat mahal dan seringkali memberatkan beban keuangan negara secara keseluruhan. Kementerian Riset dan Teknologi.3. adanya gap antara teknologi hasil penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan pasar yang ada. pemanfaatan produk. 2. seringkali dibarengi kesulitan dalam pemeliharaannya. meningkatkan sinkronisasi dan sinergi dalam pengembangan sistem inovasi. sektor usaha masih merasakan hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri belum dapat diterapkan dalam kegiatan industri. yang ada adalah jual beli teknologi. Kesulitan dalam proses transfer teknologi tersebut tidak hanya terjadi pada industri besar saja tapi terjadi juga pada industri kecil dan menengah. termasuk juga keberlanjutannya (sustainability).2. seringkali masih menghadapi persoalan yang cukup serius. Kondisi ini memperlihatkan.Pembangunan Nasional. Hasil-hasil penelitian dan pengembangan umumnya masuk dalam publikasi ilmiah 41 Naskah Akademik Perubahan UU No. Jumlah dan kualitas sumberdaya manusia di Indonesia yang cukup memadai. maupun peraturan perundang-undangan lainnya diharapkan menjadi landasan legislasi untuk mengintegrasikan. Kerjasama-kerjasama yang dilakukan mengenai transfer teknologi cenderung mengarah pada kerjasama perdagangan. Alasan lainnya. meskipun peralatan yang dimiliki sebenarnya sudah cukup memadai. ‘Pengembangan Peraturan untuk Mendukung Unit Komersialisasi Kelembagaan Iptek’. Hal ini menyebabkan industri kecil dan menengah cenderung menggunakan tenaga konvensional yang dimiliki atau membeli dari luar negeri untuk perbaikan (improvement) dalam kegiatan proses produksinya. Hal ini masih ditambah kurangnya perhitungan pencapaian optimal dalam penggunaan sumberdaya keuangan dan sumberdaya manusia. Dalam beberapa kasus.

dan penetapan prosedur pengelolaan dan alih tekologi kekayaan intektual serta hasil kegiatan litbang diatur oleh lembaga yang bersangkutan. Kewajiban ini dimaksudkan agar hasil litbang dapat dimanfaatkan seluas mungkin oleh masyarakat. pemerintah. sehingga lembaga memperoleh pendapatan yang dapat digunakan untuk investasi berbagai kegiatan litbang lainnya. seperti Unit Komersialisasi Hasil Litbang. 20 Tahun 2005 masih mengalami hambatan. sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. misal Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) untuk mengurangi pembentukan lembaga baru. Investasi pemerintah dalam bentuk hasil litbang ini diharapkan dapat menghasilkan public return sebesar mungkin. Sesuai pasal 16 UU No. atau masyarakat. Adanya perubahan struktur organisasi lembaga. sebagai pelaksanaan kebijakan pemerintah. Dalam pelaksanaannya pembentukan unit kerja seperti yang disyaratkan pada PP No. Kebijakan ini akan membatasi pembentukan lembaga baru. Hal ini juga menunjukkan. Pengalihan ini dilakukan pada badan usaha. yang mungkin ditujukan untuk pengembangan teknologi tepat guna maupun sebagai upaya mendukung perbaikan pendapatan peneliti.tingkat nasional. sebagai penambahan unit-unit kerja yang ada. Ketentuan ini ditujukan bagi kegiatan litbang yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah atau pemerintah daerah. juga belum memadai untuk mendapatkan pengakuan secara ekonomis. dan tampaknya akan menjadi salah satu hambatan dalam merealisasikan komersialisasi hasil litbang. 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual dan Hasil Penelitian Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan. atau dengan memanfaatkan unit yang ada. 18 Tahun 2002 . seperti penambahan tugas dan fungsi lembaga Sentra HKI di perguruan tinggi dan lembaga litbang. Sedangkan pengaturan mengenai pembentukan. 18 Tahun 2002. hanya sedikit yang menghasilkan hak paten dan masuk dalam publikasi internasional. Dalam Pasal 16 peraturan pemerintah tersebut menyatakan. Semua hasil penjualan hasil litbang dapat dikelola secara langsung oleh lembaga melalui unit komersialisasi hasil litbang ini. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib membentuk unit kerja yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbang di lingkungannya. hasil-hasil kajian dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian masih belum sesuai dengan kebutuhan pasar. menghasilkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan litbangnya. Pembentukan unit kerja yang mendorong peningkatan komersialisasi hasil litbang ini. tata kerja unit kerja. rincian tugas. Oleh karena itu. Permasalahan krusial lainnya adalah pembentukan unit kerja dalam upaya komersialisasi hasil litbang. kajian pengembangan kebijakan yang mendukung komersialisasi hasil litbang masih perlu 42 Naskah Akademik Perubahan UU No. Unit kerja ini dapat merupakan lembaga baru. Di satu sisi perguruan tinggi maupun lembaga litbang memerlukan adanya unit kerja yang mandiri untuk melakukan pengelolaan administrasi hasil penjualan produk litbang secara lebih optimal. susunan organisasi. sesuai dengan PP No.

dilakukan dengan bersinergi lebih erat dengan para pengambil keputusan di bidang aparatur negara. seperti misalnya birokrasi yang panjang dalam mekanisme pengelolaan dana penelitian. Pihak pengguna beranggapan hasil litbang perguruan tinggi maupun lembaga litbang Pemerintah masih bersifat teoritis dan belum dapat diaplikasikan. Hasil dari riset ini juga seringkali tidak memperhatikan struktur biaya. murah. Tingginya biaya litbang antara lain disebabkan biaya administrasi yang tinggi. penelitian dan pengembangan di bidang iptek. lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu memperhatikan struktur biaya litbangnya agar menarik untuk dikomersialkan kepada para pelaku usaha dan masyarakat. Hal ini menuntut perguruan tinggi untuk menggali sumber dana lainnya selain dari Pemerintah. daripada membeli hasil litbang perguruan tinggi yang masih belum teruji dalam 43 Naskah Akademik Perubahan UU No. sehingga hasilnya belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal. sehingga ketika diterapkan tidak mampu bersaing dengan produk-produk yang dihasilkan oleh pihak lain. Untuk menghasilkan produk yang lebih kompetitif. tesis. melalui berbagai kegiatan penelitian yang bersifat aplikatif. maupun desertasi tersimpan di perpustakaan. suatu kegiatan komersialisasi hasil riset. Dalam bentuk ini. Berdasarkan fakta di lapangan. Kalangan dunia usaha lebih menyukai teknologi yang sudah siap pakai. 18 Tahun 2002 . Para dosen dan mahasiswa harus memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah aktual yang ada di masyarakat. Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan penelitian dan pengabdian sebenarnya tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi tugas dan kewajiban dari perguruan tinggi untuk merealisasikannya. Struktur biaya penelitian yang tinggi menyebabkan hasil penelitian perguruan tinggi menjadi terlalu mahal untuk pengguna. serta aplikasi hasil litbang tersebut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. dan memberikan sentuhan komersialisasi terhadap produk yang dihasilkan. swasta atau perusahaan. umumnya pihak industri menghendaki hasil litbang yang dapat menghasilkan produk akhir secara cepat. padahal banyak diantaranya yang memiliki potensi untuk dikomersialisasikan. Upaya komersialisasi ini belum berjalan maksimal. mudah. melalui penjualan jasa konsultasi dan jasa teknis litbang. dan produk penelitian masih banyak yang bersifat teoritis dan belum dapat diterapkan di masyarakat. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi sebagai bagian integral dari pendidikan di Indonesia diarahkan seoptimal mungkin melakukan proses transformasi pendidikan dan pengajaran. perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan kompetitif untuk dapat diterima pengusaha sebagai pengguna hasil penelitian. maka perguruan tinggi didorong menuju terwujudnya universitas penelitian (research university). meskipun secara akademik dapat dipertanggungjawabkan. Banyak karya ilmiah yang tidak aplikatif. Dilihat dari proses penelitian dan pengembangan. Hasil riset di bidang teknologi industri yang dihasilkan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat maupun para peneliti di perguruan tinggi sebenarnya cukup banyak. Banyak skripsi. namun kurang sosialisasi. disamping kegiatan pengajaran dan pengabdian masyarakat. kegiatan penelitian menjadi kegiatan utama. Oleh karena itu. Permasalahan lainnya adalah kurangnya sosialisasi hasil litbang. dan perpajakan.

Penyediaan dana penelitian kepada para peneliti sering kali belum dapat memberikan solusi yang tepat untuk memecahkan permasalahan yang ada di lapangan. Hal ini memberikan kemungkinan bagi perguruan tinggi mendirikan unit usaha sebagai salah satu sumber pembiayaan dari masyarakat. upaya untuk memperkenalkan berbagai produk litbang kepada masyarakat. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). baik berupa kekayaan intelektual maupun hasil-hasil litbang lainnya. dan f. Unit usaha ini dapat pula berbentuk unit usaha komersial. Hasil yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan pengalihan teknologi dapat berupa pengalihan codified knowledge maupun tacit knowledge transfer. Inovasi yang memiliki nilai komersial yang harus dilindungi oleh hak atas kekayaan intelektual. baik di masyarakat maupun di dunia usaha. suatu unit yang mampu menunjang penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengelolaan hasil litbang yang lebih profesional. (4) Penerimaan dan penggunaan dana yang diperoleh dari pihak luar negeri diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Unit Profit Pelayanan Jasa Teknis dan Jasa Konsultasi di Lembaga Litbang Pembentukan unit pelayanan jasa teknis dan jasa konsultasi di lembaga litbang lebih diarahkan untuk mengkomersialkan kekayaan intelektual dan hasil-hasil litbang. (5) Usaha untuk meningkatkan penerimaan dana dari masyarakat didasarkan atas pola prinsip tidak mencari keuntungan. 18 Tahun 2002 . b. Kegiatan ini memerlukan pendekatan tersendiri. d. Dalam ketentuan di atas. e. 60 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi. masyarakat dan pihak luar negeri. Agar inovasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat diperlukan sosialisasi. Hasil kontrak kerja yang sesuai dengan peran dan fungsi perguruan tinggi. perguruan tinggi dapat menggali penerimaan dari masyarakat. (3) Dana yang diperoleh dari masyarakat adalah perolehan dana Perguruan Tinggi yang berasal dari sumber-sumber sebagai berikut : a. Biaya seleksi ujian masuk perguruan tinggi. Kegiatan terebut merupakan upaya pemanfaatan hasil litbang dan pengalihan kemampuan penguasaan iptek oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. dan seringkali tidak sama dengan pengelolaan kelembagaan lain. Sumbangan dan hibah dari perorangan. atau penerimaan hasil 44 Naskah Akademik Perubahan UU No. c. Dalam Pasal 114 antara lain diatur sebagai berikut : Pasal 114 (1) Pembiayaan Perguruan Tinggi dapat diperoleh dari sumber pemerintah. (2) Penggunaan dana yang berasal dari Pemerintah baik dalam bentuk anggaran rutin maupun anggaran pembangunan serta subsidi diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.pemanfaatannya. Penerimaan dari masyarakat lainnya. termasuk biaya litbang mengacu pada PP No. lembaga Pemerintah atau lembaga nonPemerintah. seperti pengelolaan perizinan. Penerimaan masyarakat ini akan mendorong terjadinya alih teknologi. Hasil penjualan produk yang diperoleh dari penyelenggaraan pendidikan tinggi. Pembiayaan kegiatan perguruan tinggi.

Faktor yang mempunyai peran penting adalah faktor finansial.selisih harga ataupun penerimaan keuntungan dari BUMN. 6) memperluas jaringan kerja dengan lembaga-lembaga lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya. 5) meningkatkan kualitas dan memperluas jangkauan alih teknologi dan jasa iptek. baik dalam rangka pemecahan masalah di bidang teknis. perlindungan. . 4) melakukan investasi untuk memperkuat sumber daya iptek yang dimiliki. Hal ini menyebabkan implementasi hasil litbang masih rendah. yang secara kondusif dapat mendukung upaya komersialisasi hasil litbang secara lebih proporsional dan berpihak kepada lembaga dan jajaran penelitiannya. Oleh karena itu. Perencanaan harus memperhatikan faktor-faktor lain. baik yang berbentuk keahlian sumber daya manusia dan pengorganisasiannya. pengembangan dan pengkajian dalam rangka mencapai suatu keunggulan iptek dalam rangka pemecahan masalah-masalah pembangunan di berbagai bidang. dengan melibatkan calon pengguna. pola kerjasama yang berlaku dalam komersialisasi hasil litbang. 3) memperkuat kemampuan pengelolaan kekayaan intelektual. Keuntungan yang diperoleh dari pengalihan teknologi juga dapat mengurangi ketergantungan pendanaan kegiatan litbang di Perguruan Tinggi maupun Lembaga Litbang pada anggaran Pemerintah. Hasil litbang masih belum dapat dimanfaatkan. 18 Tahun 2002 Lembaga litbang pemerintah umumnya ditujukan untuk melaksanakan penelitian. Meskipun hampir semua perencanaan program lembaga litbang pemerintah ditujukan untuk tujuan penerapan iptek. serta sarana prasarana iptek. baik di dalam negeri maupun luar negeri. adanya keleluasaan dalam pengelolaan penggunaan pendapatan alih teknologi mempunyai peran penting dalam mendorong kemandirian lembaga penelitian. dan alih teknologi. aset informasi dan iptek. termasuk pemeliharaan. membantu dunia usaha dalam kegiatan proses produksi maupun kegiatan manajemen lainnya. upaya peningkatan komersialisasi hasil litbang memerlukan suatu perencanaan program yang lebih holistik. Oleh karena itu. 2) memberikan insentif yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan invensi di lingkungan litbang. Pendapatan dari alih teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai kegiatan antara lain: 1) memperbesar pendanaan litbang yang diperlukan untuk menguasai kemajuan iptek dan mengembangkan invensi serta menggali dayagunanya. 45 Naskah Akademik Perubahan UU No. Hasil kajian yang dihasilkan masih kurang diminati dunia usaha karena adanya ketidaksesuaian antara hasil litbang dengan kebutuhan yang didasarkan pada tuntutan konsumen. namun dalam praktik belum banyak hasil-hasil litbang yang langsung dapat diterapkan. Penyusunan rencana juga harus memperhatikan standar-standar teknologi yang berlaku di dunia usaha.

infrastruktur sosial. Peraturan ini terutama terkait dengan peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi. tradisi. Kinerja dan perkembangan inovasi nasional sangat dipengaruhi oleh peraturan perundangundangan maupun kebijakan di berbagai sektor yang terkait. Olahraga. ilmu pengetahuan dan teknologi. inovasi. Culture. ketenagakerjaan. dan karakter bangsa. Olehkarena itu diperlukan evaluasi dan analisis kebijakan penguatan inovasi dalam peraturan perundang-undangan terkait. pendidikan. secara umum penguatan inovasi antar elemen-elemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang. Padahal lembaga penelitian. 46 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta peraturan perundang-undangan lainnya berkaitan dengan infrastruktur sosial. Kebijakan-kebijakan ini berperan menunjang kemantapan ‘panggung’ (platform) basis pengetahuan untuk interaksi atau kerjasama antara pengembang dengan pengguna teknologi. Science and Technology.Bab 3 Evaluasi dan Analisis Kebijakan Penguatan Inovasi dalam Peraturan Perundang-undangan Penguatan inovasi secara garis besar ditandai adanya elemen-elemen/aktor yang melakukan jejaring untuk saling berinteraksi menghasilkan inovasi. Mengacu pada strategi penguatan inovasi dari Kementerian Pendidikan. bidang pendidikan. serta pajak dan keuangan. budaya. Budaya. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Ministry of Education. fondasi yang paling mendasar dalam penguatan inovasi adalah lingkungan. secara resmi disingkat MEXT) Jepang yang telah dikemukakan di bab sebelumnya. Sport. 18 Tahun 2002 . perdagangan dan industri. maka secara konseptual dapat diperlihatkan posisi lembaga pendukung atau penunjang. Lembaga-lembaga ini merupakan lembaga-lembaga yang berwenang untuk membuat kebijakan tentang perekonomian. dan difusi teknologi yang berujung pada produk/barang dan/atau jasa yang sesuai dengan permintaan pasar. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga yang tercakup dalam penguatan inovasi akan menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. bidang ketenagakerjaan. Kurangnya komunikasi dan interaksi menyebabkan penerapan inovasi yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil inovasi tersebut belum dapat didayagunakan sepenuhnya. Tahap berikutnya adalah dukungan kegiatan perekayasaan. Menurut konsepsi ini. Di Indonesia. Pada ketiga tahapan posisi dan peran lembaga intermediasi sangat diperlukan dalam mewujudkan suatu sistem inovasi. bidang pendidikan. perguruan tinggi. Selanjutnya perlu adanya kemantapan ‘panggung’ untuk para aktor utama inovasi dalam berkiprah ak an tergantung pada dukungan kebijakan dan regulasi yang relevan.

setelah Cina. Brazil. Dengan demikian perekonomian tidak dapat tumbuh secara ber-kesinambungan jika kondisi makro ekonomi tidak stabil. Rusia. produktivitas suatu negara tidak hanya ditentukan oleh stabilitas makro ekonominya. Jerman. 2010). Perusahaan tidak dapat berbisnis secara efisien dan bergairah jika inflasi tidak dapat diprediksi. Untuk periode 20082010. karena daya tarik utama bagi para investor untuk menanamkam modalnya adalah ukuran pasar domestik dan laju pertumbuhan pasar domestik dari negara tujuan invenstasi tersebut. sehingga akan sangat menentukan tingkat daya saing (competitiveness) suatu negara. ketersediaan dan kemurahan upah tenaga kerja. Survei yang dilakukan oleh UNCTAD (2009) tentang prospek investasi dunia ( World Investment Prospects Survey) menyimpulkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 9 dunia. Tumbuh kembang kegiatan bisnis akan membuka peluang untuk peningkatan daya beli masyarakat dan memperbesar kapasitas pasar domestik (market size). Walaupun tentu saja. Peningkatan kapasitas pasar bermakna peningkatan permintaan masyarakat akan barang dan jasa. Peningkatan permintaan barang dan jasa yang lebih banyak dan/atau lebih bermutu akan meningkatkan kebutuhan industri akan teknologi yang lebih sesuai. Namun demikian. Dinamika ini membuka peluang dan tantangan bagi lembaga pengembang teknologi untuk melakukan riset yang relevan dengan kebutuhan industri. 18 Tahun 2002 . skor untuk stabilitas makro ekonomi Indonesia pada tahun 2010 mencapai 5. maka akan semakin menarik bagi kalangan bisnis untuk berinvestasi dan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia. akses untuk pengelolaan sumberdaya alam. Dua faktor ini lebih dominan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi dibandingkan dengan program insentif yang ditawarkan. Amerika Serikat. Makro ekonomi yang terpelihara stabilitasnya dan kapasitas pasar domestik yang terus membesar merupakan ekosistem yang positif untuk tumbuh-kembang SINas. Jika persepsi masyarakat dunia terhadap stabilitas makro ekonomi ini dapat terus dipelihara dan jika mungkin terus ditingkatkan.1.2 dan menduduki peringkat 35 dari 139 negara yang disurvei. 47 Naskah Akademik Perubahan UU No. berdasarkan survei WEF peringkat ukuran pasar domestik Indonesia juga terus meningkat. dan efektivitas peran pemerintah. baik secara kuantitas maupun kualitasnya. dan Australia (Gambar 3). menjadi 16 (2009) dan 15 (2010). jika selalu terbelit hutang dan keharusan membayarnya dengan suku bunga tinggi atau dalam kondisi cenkeraman persoalan makro ekonomi yang tidak mampu dituntaskan. Inggeris. Indonesia dengan penduduknya yang lebih dari 237 juta jiwa dengan daya beli yang relatif baik merupakan pasar domestik yang sangat potensial bagi investor asing. Kondisi makro ekonomi Indonesia untuk periode 2008-2010 tergolong stabil. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF. Pasar domestik Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi investor asing jika Indonesia tidak mampu membangun SINas yang kuat untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. Bidang Perindustrian dan Perdagangan Stabilitas makro ekonomi sangat penting bagi dunia bisnis. peringkat ini perlu dilihat secara cermat. Pemerintah tidak akan dapat melakukan pelayanan publik dengan baik. berturut-turut dari peringkat 17 (2008). India.

survei WEF juga memperlihatkan terjadinya peningkatan peringkat Indonesia dari 47 menjadi 36. 18 Tahun 2002 . Pada kurun waktu yang sama (2008-2010). diutamakan sudah merupakan produk-produk jadi yang dibutuhkan oleh konsumen akhir (consumer products). Apalagi pengembangan sumberdaya manusia dan iptek telah dipilih sebagai salah satu dari tiga strategi utamanya. Gambar 3. termasuk perdagangan dan industri. Kinerja dan perkembangan SINas akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan di berbagai sektor yang terkait. tetapi juga handal dan sesuai kapasitas adopsi pelaku bisnis.Jika peningkatan kebutuhan teknologi yang relevan ini dikomunikasikan oleh industri ke pihak pengembang teknologi dan pihak pengembang teknologi mampu menyediakan paket teknologi yang tidak hanya relevan. Peringkat daya tarik Indonesia bagi investor asing Kebijakan pembangunan perekonomian Indonesia yang baru diluncurkan yang dikemas dalam Keppres No. 32 Tahu 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah menetapkan enam koridor pembangunan ekonomi sesuai dengan potensi sumberdaya setempat perlu dibarengi dengan upaya membangun penguatan inovasi yang berkesesuaian. Harus ada dorongan agar produk barang dan jasa yang diperdagangkan. Kebijakan yang berorientasi untuk mendorong ekspor agar lebih diprioritaskan pada produk jadi. 48 Naskah Akademik Perubahan UU No. terutama untuk ekspor. maka SINas akan lebih dirasakan geliatnya.

Persentase ekspor produk Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi. bahwa seharusnya Indonesia tidak mengekspor bahan baku dan keringat. kemudian secara berangsur naik dan mencapai puncaknya pada awal tahun 2000-an yang mencapai kisaran antara 14-16 persen. Menteri Negara Riset dan Teknologi. tetapi perlu didorong untuk mengekspor barang jadi yang diproduksi di dalam negeri dengan memanfaatkan tenaga kerja dan teknologi nasional. dan meningkatkan nilai tambah produk yang diekspor. diunduh dari tradingeconomics. dan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. yakni hanya sekitar 1 persen. 49 Naskah Akademik Perubahan UU No. periode 1989-2008 22 Disampaikan oleh Suharna Surapranata.merupakan bentuk kebijakan yang secara nyata akan mendorong adopsi teknologi pada industri-industri di dalam negeri. tetapi masih sangat rendah. sekaligus membuka lapangan kerja.com (18 Januari 2011) Gambar 4. pada Rapim Lengkap Kementerian Riset dan Teknologi. disingkat CPO). hari selasa 18 Januari 2011. karena cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan. tetapi dirasakan masih belum optimal. Ungkapan yang dikemukakan Surapranata (2011) patut direnungkan. Bermakna bahwa sebaiknya tidak mengekspor bahan mentah dan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. misalnya produk sawit yang diekspor masih sangat dominan berbentuk minyak sawit kasar (crude palm oil. tetapi lebih didorong untuk mengekspor produk yang dihasilkan dengan keringat anak bangsa di dalam negeri. Ekspor dalam bentuk produk dengan muatan teknologi tinggi sudah ada namun masih relatif rendah porsinya (Gambar 4). Sejak akhir tahun 1980-an sudah mulai ada produk dengan muatan teknologi tinggi. 22 Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas atau produk ekspor sudah dilakukan. 18 Tahun 2002 . Indonesia saat ini masih dominan mengekspor komoditas atau bahan mentah (raw materials) atau produk-produk setengah-jadi (intermediate products) yang secara ekonomi merugikan dan secara ekologi kurang bersahabat. tetapi pada akhir tahun 2000-an kembali menurun menjadi sekitar 10 persen. Sumber: The World Bank.

50 Naskah Akademik Perubahan UU No. bahwa untuk mendapatkan fasilitas sekurang-kurangnya kegiatan penanaman modal memenuhi salah satu kriteria berikut ini: a. nilai ekspor produk-produk bermuatan teknologi tinggi tersebut sejak tahun 2000 tidak mengalami kemajuan yang berarti dan relatif stagnan.1. termasuk skala prioritas tinggi. antara lain untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. baik di sektor pertanian (terutama perkebunan) maupun di sektor pertambangan. Pasal 10 Ayat (4) menyebutkan bahwa perusahaan penanaman modal yang mempekerjakan tenaga kerja asing diwajibkan menyelenggarakan pelatihan dan melakukan alih teknologi kepada tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. komputer. Sebagai upaya mendorong kemampuan teknologi nasional. 1. yakni hanya berfluktuasi sekitar 4. mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan. Indonesia tak akan mampu membangun kemandirian perekonomiannya jika tidak mampu mengatasi dua tantangan utama ini. 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Menurut UU No. yakni: [1] keterbatasan kapasitas investasi nasional di sektor industri hilir untuk mengolah bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi produk jadi. meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan.5 milyar dolar Amerika (Tabel 2). instrumen riset (scientific instruments). farmasi (pharmaceuticals). dan [2] belum siapnya teknologi nasional untuk menyokong tumbuh kembang industri hilir tersebut. sedangkan investor asing lebih banyak tertarik pada bidang usaha yang terkait dengan eksploitasi sumberdaya alam. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Perdagangan dan Industri. penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional. handal.1.1. Kontribusi produk teknologi tinggi ini masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai total ekspor Indonesia pada periode tersebut. menyerap banyak tenaga kerja. dan secara ekonomi kompetitif dibanding produk teknologi serupa yang tersedia di pasar dunia. Indonesia memang juga telah mengekspor produk teknologi tinggi. Namun demikian. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Produk dengan muatan teknologi tinggi mencakup produk-produk yang membutuhkan intensitas R&D tinggi. 18 Tahun 2002 .Saat ini Indonesia masih dihadapkan pada dua kendala yang menjadi tantangan utama. seperti produk kedirgantaraan (aerospace). b. yakni kapasitas untuk mengembangkan teknologi yang relevan. serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang berdaya saing. Pasal 18 Ayat (3) menyebutkan. dan electrical machinery. kegiatan penanaman modal di Indonesia dapat memperoleh fasilitas. menciptakan lapangan kerja. Selain itu terkait dengan riset.4 sampai 6. Tujuan penyelenggaraan penanaman modal.

b. daerah tertinggal. bermitra dengan usaha mikro. 18 Tahun 2002 Peraturan perundang-undangan ini antara lain menyebutkan. melakukan industri pionir. perbatasan. alih teknologi maupun inovasi merupakan salah satu strategi yang perlu dikembangkan. mempunyai nilai tambah dan eksternalitas yang tinggi. atau daerah lain yang dianggap perlu. Selanjutnya terkait dengan pengembangan dalam bidang desain dan teknologi. termasuk pembangunan infrastruktur. (c) sumber daya manusia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. d. Guna mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. memberikan insentif kepada Usaha Mikro. atau k. permodalan.1. memperkuat. Kecil. Kecil. terutama bagi penanaman modal baru bagi industry pionir. mempercayai. mendukung. Menurut ketentuan di atas. j. pemerintah daerah. 1. Kemitraan antar UMKM dengan Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi dan pengolahan. dan Menengah untuk memperoleh sertifikat hak atas kekayaan intelektual. dan inovasi. daerah g. melaksanakan kegiatan penelitian. dan Menengah yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup. dan masyarakat dapat memfasilitasi. Kecil. pemasaran.c. f. d. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang (a) produksi dan pengolahan. pemerintah. dan menguntungkan. mendorong Usaha Mikro. e. Industri pionir adalah industri yang memiliki keterkaitan luas. Selanjutnya dalam pasal ini disebutkan mengenai kemungkinan pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan dalam jumlah dan waktu tertentu. memperkenalkan teknologi baru. kecil. pengembangan. dan (d) desain dan teknologi. menengah atau koperasi. inovasi termasuk kriteria yang dapat diajukan untuk memperoleh fasilitas penanaman modal. melakukan alih teknologi. dunia usaha. sumber 51 Naskah Akademik Perubahan UU No. menjaga kelestarian lingkungan hidup. Selain itu UMKM dapat melakukan: .2. dan e. industri yang menggunakan barang modal atau mesin atau peralatan yang diproduksi di dalam negeri. meningkatkan kemampuan Usaha Kecil dan Menengah di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru. (b) pemasaran. i. dan menstimulasi kegiatan kemitraan yang saling membutuhkan. serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. c. h. meningkatkan kerjasama dan alih teknologi. meningkatkan kemampuan di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu. berada di daerah terpencil. dan Menengah a.

Kecil. pengembangan teknologi. bisnis. 18 Tahun 2002 . KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri. dan Ayat (2) menyebutkan. Pengusaha mendapat fasilitas dan kemudahan dalam KEK. Inkubator yang dikembangkan meliputi: inkubator teknologi. serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. dan Menengah. penyerapan tenaga kerja. antara lain: a. UMKM yang melakukan kemitraan dimungkinkan untuk mendapatkan insentif. lembaga layanan pengembangan usaha. Kecil. Sementara dukungan kelembagaan ditujukan untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator. Pasal 32 ayat (1). KEK terdiri atas satu atau beberapa zona. penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan. Menteri dan Menteri Teknis mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan UMKM melalui inovasi dan pengembangan produk berorientasi ekspor. 20 Tahun 2008. dan teknologi.1. Adapun yang dimaksud dengan “lembaga layanan pengembangan usaha” (bussines development services-providers) adalah lembaga yang memberikan jasa konsultasi dan pendampingan untuk mengembangkan Usaha Mikro. dan inkubator lainnya sesuai dengan potensi dan sumber daya ekonomi lokal. antara lain zona pengolahan ekspor. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum RI yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. selain fasilitas PPh dapat diberikan tambahan fasilitas PPh sesuai dengan karakteristik zona. sebagai upaya pengembangan teknologi tertentu untuk meningkatkan daya saing produk barang dan jasa. pariwisata. Menurut Pasal 25. konsultan keuangan mitra bank. dan energi yang kegiatannya dapat ditujukan untuk ekspor dan untuk dalam negeri. pembebasan cukai. Menurut UU No. penangguhan bea masuk. dan lembaga profesi sejenis lainnya sebagai lembaga pendukung pengembangan Usaha Mikro. impor.3. Upaya-upaya penguatan inovasi dapat masuk KEK. tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk barang kena pajak. ekspor.daya manusia. dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. dan Menengah sebagai mitra usahanya. sepanjang barang tersebut merupakan bahan baku atau bahan penolong produksi. dan 52 Naskah Akademik Perubahan UU No. logistik. Yang dimaksud dengan “inkubator” adalah lembaga yang menyediakan layanan penumbuhan wirausaha baru dan perkuatan akses sumber daya kemajuan usaha kepada Usaha Mikro. Selain itu. dan Menengah. Pasal 30 menyebutkan bahwa (1) setiap wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha di KEK diberikan fasilitas Pajak Penghasilan (PPh). menyebutkan bahwa impor barang ke KEK dapat diberikan fasilitas berupa. Kecil. b. c. 1. industri.

Peraturan Perundangan-undangan Bidang Keuangan dan Perpajakan. produk melalui teknologi tepat guna. pengembangan sumberdaya manusia sektor industri secara intensif melalui akselerasi transformasi teknologi. dan kemudahan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. g. f.1.1. peningkatan kapasitas (pendalaman) teknologi pada sistem produksi. insentif non-fiskal. d.1. 2. b.d. Ada pula penghasilan wajib pajak yang dapat dijadikan faktor pengurang pajak 53 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . peningkatan kapasitas difusi teknologi pada sistem produksi. tidak dipungut PPh impor. 2. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional Terkait dengan penguatan inovasi. Meskipun insentif fiskal diberikan oleh Kementerian Keuangan. peningkatan jumlah penemuan baru hasil litbang nasional yang dapat dimanfaatkan oleh sistem produksi.1. Sebagai upaya mendorong penguatan inovasi nasional. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Dalam UU No. e. 28 Tahun 2008 memungkinkan pengembangan kebijakan dalam upaya peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka penghematan. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional antara lain menyebutkan. peningkatan intermediasi dan pola insentif yang mendorong kemitraan dan kegiatan litbang di dunia usaha. Selain itu. namun demikian bentuk insentif non fiskal maupun kemudahan lainnya merupakan peluang untuk mendorong kebijakan-kebijakan yang diperlukan. mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri dan pembentukan lembaga R&D dalam rangka inovasi teknologi dan pengembangan bahan baku alternatif. meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan iptek untuk menciptakan dan menyerap teknologi dan invoasi yang berorientasi pasar.4. c. pengembangan dan inovasi. Perpres No. Bidang Keuangan dan Perpajakan 2. antara lain kepada kepada: industri yang melakukan penelitian. peningkatan kapasitas kelembagaan teknologi dalam mendukung sistem produksi. 1. Pemerintah dapat memberikan fasilitas. Fasilitas tersebut berupa insentif fiskal. dan industri yang melakukan alih teknologi. disamping manajemen dan kewiraswastaan. 36 Tahun 2008 disebutkan tidak semua penghasilan menjadi obyek pengenaan pajak. Permohonan pemberian fasilitas diajukan kepada Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi. Perpres No. 28 Tahun 2008 juga menekankan perlunya pengembangan teknologi industri melalui: a.

dan 54 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau tarif yang lebih rendah menurut Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku. Selanjutnya dalam peraturan pelaksanaannya. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu Sejalan dengan upaya penguatan inovasi maupun investasi di bidang riset swasta di Indonesia. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Menurut UU No.1. dibebankan selama 6 (enam) tahun masing-masing sebesar 5 % (lima persen) per tahun. 1 Tahun 2007. Wajib pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerahdaerah tertentu dapat diberikan insentif dan fasilitas pajak penghasilan. 36 Tahun 2008 menyebutkan. yaitu “biaya penelitian perusahaan dan/atau sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan di Indonesia”. Ketentuan UU No.penghasilan bruto. inovasi dan investasi riset dan pengembangan badan usaha/industri di Indonesia. Insentif ini berupa pembebasan bea masuk atas impor buku ilmu pengetahuan dan barang atau peralatan untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan (Pasal 25). menurut PP No. yang menjadi faktor pengurang (tax deduction) penghasilan bruto. bukan menjadi obyek pajak adalah “sisa lebih yang diterima atau diperoleh lembaga atau badan nirlaba di bidang pendidikan formal dan/atau penelitian dan pengembangan yang ditanamkan kembali dalam jangka waktu 4 tahun”. Adanya ketentuan pengecualian sebagai obyek pajak atau pengurangan penghasilan bruto merupakan fasilitas atau insentif di bidang perpajakan yang diberikan untuk mendorong kemampuan riset.1. pemerintah dapat memberikan fasilitas insentif pajak. antara lain yang berkaitan dengan penelitian dan pengembangan. Pasal 2 menyebutkan bahwa wajib pajak badan dalam negeri berbentuk perseroan terbatas dan koperasi dapat diberikan fasilitas pajak penghasilan berupa: (a) pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tiga puluh persen) dari jumlah penanaman modal. Pembebasan bea masuk diberikan berdasarkan rekomendasi dari kementerian terkait. (c) pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen yang dibayarkan kepada Subjek Pajak Luar Negeri sebesar 10% (sepuluh persen). 17 Tahun 2006 ini dimungkinkan pemberian insentif dan fasilitas untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. Yang dimaksud dengan barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yaitu barang atau peralatan yang digunakan untuk melakukan penelitian/riset atau percobaan guna peningkatan atau pengembangan suatu penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. 2. 18 Tahun 2002 .2.3. (b) penyusutan dan amortisasi yang dipercepat.

pemasukan Barang Kena Pajak dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya.1. c. Peraturan Pemerintah Nomor 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perlakuan Perpajakan Di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Peraturan ini memuat ketentuan berkaitan dengan perlakuan perpajakan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). impor barang dan/atau bahan untuk diolah di PDKB. c. diharapkan dapat meningkatkan pendanaan riset dari pihak swasta. penyusutan dan atau amortisasi yang dipercepat.1. dan/atau. dan Biaya Pembangunan Infrastuktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto PP No. Melalui peraturan ini. dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas : a. 93 Tahun 2010 merupakan aturan pelaksanaan UU No.4. Setiap Pengusaha Di Kawasan Berikat (PDKB) di dalam wilayah KAPET juga dapat diberikan fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu adalah wilayah geografis dengan batas-batas tertentu yang memenuhi persyaratan: a) memiliki potensi untuk cepat tumbuh. mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai paling lama 10 (sepuluh) tahun. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. ke PDKB untuk diolah lebih lanjut. menurut Keppres No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (yang telah diubah dengan UU No. b. impor barang modal atau peralatan lain oleh PDKB yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi. Pasal 1 menyebutkan bahwa sumbangan dan/atau biaya terkait penelitian dan pengembangan dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam satu tahun. 2. Sedangkan yang dimaksudkan KAPET. 36 Tahun 2008). b. pajak penghasilan menurut Pasal 26 atas dividen sebesar 10%.(d) kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun. Sumbangan dari pihak swasta ini akan mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. dan/ atau c) memiliki potensi pengembalian investasi yang besar. 18 Tahun 2002 . b) mempunyai sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitarnya. 55 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. untuk selanjutnya disebut DPIL. kompensasi kerugian fiskal. Bagi wajib pajak swasta yang menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan iptek dapat memperoleh fasilitas pajak/keringanan pajak. 2.5. Pengusaha yang melakukan kegiatan usaha di dalam KAPET. diberikan perlakuan di bidang Pajak Penghasilan (fasilitas perpajakan) sebagai berikut: a. Sumbangan Pembinaan Olahraga.

d. 4) mengikat semua pihak. perguruan tinggi. dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. melengkapi. karena: 1) memberikan landasan hukum. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut. e. maupun jangka panjang. menengah. dan penerapan iptek (sisnas litbangrap iptek). peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal.1. memperkuat.18 Tahun 2002 memberikan manfaat besar bagi pengembangan Iptek di Indonesia. 3. Dalam rangka memadukan sinergisme kerja berbagai unsur kelembagaan Iptek.1. Untuk mengembangkan jaringan tersebut seluruh elemen Sisnas Iptek wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. dan masyarakat untuk berperan serta secara aktif. dan . Jaringan tersebut berfungsi untuk membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur unsur kelembagaan iptek (lembaga litbang. 56 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 3) menggalakkan pembentukan jaringan. Kunci penting untuk terlaksananya sinergisme kerja antar unsur Sisnas Iptek adalah terbangunnya suatu sistem perencanaan pembangunan nasional Iptek dalam jangka pendek. pemerintah daerah.1. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 3. pemerintah. prioritas utama. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang Iptek” yang dituangkan sebagai “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek”. penyerahan kembali Barang Kena Pajak hasil pekerjaan subkontrak oleh Pengusaha Kena Pajak di DPIL atau PDKB lainnya kepada Pengusaha Kena Pajak PDKB asal. 2) mendorong pertumbuhan dan pendayagunaan sumber daya Iptek secara lebih efektif. g. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Diundangkannnya UU No. 18 Tahun 2002 menyatakan bahwa “Pemerintah wajib merumuskan arah. 3. pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dalam rangka subkontrak. pengembangan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. f. Pasal 18 dan 19 UU No. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai perlunya penguatan jaringan sistem nasional penelitian. badan usaha dan lembaga penunjang lainnya) untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih besar dibandingkan apabila masing-masing unsur kelembagaan berjalan secara sendiri-sendiri. UU No.

bangsa. antara lain: a. Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri (Pasal 16 ayat (3)). 3) penguatan kemampuan audit teknologi yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebagai Undang-Undang yang mengatur sistem iptek nasional. Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian. pengembangan. 4) Mengembangkan instrumen kebijakan yang diperlukan. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. dan badan usaha yang melaksanakannya (Pasal 13 ayat (4)). dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. perekayasaan. 2) penguatan pertumbuhan industri berbasis hasil litbang. dengan memperhatikan kepentingan masyarakat. b. 18 Tahun 2002 menjelaskan mengenai kewajiban Pemerintah Daerah untuk merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan pembangunan daerah Iptek yang dituangkan dalam “kebijakan strategis pembangunan Iptek di daerah”. 18 Tahun 2002 dapat menjadi acuan. pengembangan. Pemerintah Daerah juga dalam merumuskan kebijakan strategisnya harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. inovasi. Dalam upaya penguatan inovasi. lembaga riset. 18 Tahun 2002 adalah mengkoordinasikan perumusan “kebijakan strategis pembangunan nasional Iptek” dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan Iptek. peraturan perundang-undangan ini sangat menekankan pentingnya pembentukan jaringan yang menjalin hubungan interaktif semua unsur kelembagaan iptek sehingga kapasitas dan kemampuannya dapat bersinergi secara optimal. beberapa ketentuan dalam UU No. Dengan demikian. Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian. 18 Tahun 2002 merupakan pedoman dan landasan hukum utama dalam pelaksanaan pembangunan iptek nasional. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. c. dan difusi 57 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 20 UU No.Salah satu kewajiban Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam UU No. Menteri antara lain wajib memperhatikan pentingnya upaya penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek dibentuk Dewan Riset Nasional dan Dewan Riset Daerah. 18 Tahun 2002 . Dalam skala yang lebih kecil. Menteri wajib memperhatikan: 1) penguatan ilmu dasar dan kapasitas litbang. dapat dikatakan UU No. Seperti halnya di tingkat nasional. Dalam perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan Iptek.

18 Tahun 2002 Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan . e. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. Inovasi dan Difusi Teknologi Peraturan ini merupakan peraturan pelaksanan UU No.1. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain (Pasal 28 ayat (2)). Dalam Pasal 2 disebutkan. 31 Tahun 2009 secara tegas menekankan perlunya penguatan inovasi dan alih teknologi dalam pengembangan industri meteorologi.1. dan Geofisika UU No. Menurut PP No. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi. 3. dimana disebutkan kegiatan litbang asing dilakukan atas dasar izin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang penelitian bagi orang asing. klimatologi. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. PP ini merupakan peraturan pelaksanaan ketentuan Pasal 69 UU No. pemanfaatan. Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. 39 Tahun 1995 litbang kesehatan dapat diselenggarakan oleh lembaga asing.2. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pasal 78 UU No. Peraturan ini memberi kewenangan kepada Menteri yang membidangi riset dan teknologi untuk memberikan rekomendasi insentif – di bidang perpajakan maupun bantuan teknis (technical assistance) – 58 Naskah Akademik Perubahan UU No. 3.teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan (Pasal 19 ayat (3) huruf b.4. dan geofisika.). inovasi. 39 Tahun 1995 mempunyai keterkaitan dengan PP No. 3. klimatologi. d. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah (Pasal 26). Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan.3. f. atau melibatkan peneliti asing. Klimatologi. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan (Pasal 28 ayat (1)). dan geofisika yang mencakup inovasi dan alih teknologi harus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya nasional. atau kerja sama dengan lembaga asing yang memenuhi persyaratan.1. 31 Tahun 2009 menyebutkan pengembangan industri meteorologi. 18 Tahun 2002. Pengaturan kegiatan litbang asing dalam PP No. litbang kesehatan bertujuan untuk memberikan masukan iptek serta pengetahuan lain yang diperlukan untuk menunjang pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

perekayasan dan dosen atau pemanfaatan laboratorium-laboratorium milik pemerintah. Dari sisi regulasi. Sementara itu. badan usaha dapat mengajukan permohonan rekomendasi insentif litbang kepada Menteri. Namun dalam hal ini. inovasi.1. Ketentuan dan pelaksanaan insentif atau fasilitas perpajakan yang dimaksud dalam PP No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan merupakan beberapa peraturan perundang-undangan yang menyediakan insentif riset. 3. Selain itu. 18 Tahun 2002. PP No. Pelaksanaan insentif bantuan teknis terkait dengan ketentuan UU Kepegawaian. insentif bantuan teknis (insentif non fiskal) berhubungan dengan penempatan tenaga ahli peneliti. Sehingga persoalannya bukan pada kekosongan peraturan. kewenangan Menteri hanya sebatas memberikan rekomendasi scientific opinion kepada instansi yang berwenang dibidang perpajakan maupun lembaga pemberi bantuan teknis. 36/2008 tentang Pajak Penghasilan. 12 Tahun 2002 jo.dalam rangka mendorong kemampuan peningkatan perekayasaan. atau bagaimana urgensi dan pengaruh pemberian fasilitas/insentif terkait dengan usaha peningkatan kemampuan inovasi nasional. Berdasarkan peraturan ini. 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU No. 1/2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. PP No. Pertanyaan menyangkut UU No. antara lain berkaitan dengan bagaimana kriteria yang menentukan badan usaha mendapatkan tax deduction. sebenarnya pemerintah sudah berupaya mengakelarasi kegiatan riset dan inovasi dunia usaha atau untuk mendorong inovasi dan investasi R&D swasta. dan difusi teknologi di badan usaha. seperti Pasal 26 huruf a 59 Naskah Akademik Perubahan UU No. 20 Tahun 2005 menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset/riset dengan badan usaha.5. namun bagaimana penyusunan kebijakan pelaksanaannya dapat bersinergi dengan baik. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan misalnya. 93 Tahun 2010 dan UU No. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Peraturan Pemerintah ini merupakan penjabaran Pasal 16 ayat (3) UU No. PP No. PP No. yang menekankan pentingnya alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan-kegiatan litbang agar memberikan nilai tambah ekonomi dan dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidup. 35 Tahun 2007 berkaitan erat dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan (insentif fiskal). Upaya ini mutlak dilakukan. mengingat regulasi masih menyisakan sejumlah pertanyaan selain sifatnya cenderung sektoral sehingga tidak mudah implementasinya. UU No. Keputusan persetujuan dan penolakan pemberian insentif tetap berada dalam kewenangan masing-masing instansi yang berwenang dimaksud. 18 Tahun 2002 . 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS maupun ketentuan-ketentuan yang terkait dengan aturan tentang lembaga Kementerian LPNK dan LPK. beberapa ketentuan dalam PP No.

b. 18 Tahun 2002 . badan usaha. menyatakan bahwa sinergi perguruan tinggi dan lembaga litbang dengan lembaga riset lainnya dapat dilakukan antara lain dengan mekanisme perjanjian kerjasama maupun perjanjian lisensi. berdaya saing tinggi. pelaku usaha perikanan. lembaga litbang kabupaten/kota. dan ramah lingkungan serta menghargai kearifan tradisi/budaya lokal. perguruan tinggi. penyediaan dana dan sarana litbang. ekonomis. hasil kegiatan penelitian dan pengembangan milik pemerintah dan/atau pemerintah daerah. 30 Tahun 2008 penyelenggaraan litbang perikanan bertujuan untuk: a.6. 12 Tahun 2010 kegiatan litbang kehutanan meliputi kegiatan: (a) penelitian dasar. pendidikan dan pelatihan serta kegiatan lain yang dapat mempercepat pembangunan perikanan. menyiapkan dan menyediakan basis ilmiah yang kuat dan teknologi tepat guna sebagai kunci dalam menyusun kebijakan pengelolaan dan pengembangan usaha perikanan agar lebih efektif.1.1. Serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Menurut PP No. efisien. Dalam rangka pengembangan kerjasama litbang perikanan. (b) penelitian terapan. meningkatkan kemandirian dalam penguasaan iptek di bidang perikanan. asistensi teknis litbang. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan Perikanan Menurut PP No. Di dalam peraturan menteri ini.7. Sedang Pasal 20. kegiatan litbang kehutanan diselenggarakan oleh Pemerintah. dan/atau lembaga litbang milik asing. 3. PP ini juga menyebutkan. asosiasi perikanan. mengungkapkan dan memahami potensi dan permasalahan sumber daya ikan dan lingkungannya serta mengembangkan teknologi pengelolaan perikanan dan konservasi sumber daya ikan. perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan harus melaporkan hak kekayaan intelektual yang telah diperoleh dan/atau yang sedang dalam proses pendaftaran. dan dapat bekerja sama dengan lembaga litbang pemerintah provinsi. Hasil Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Dan Hasil Pengelolaannya.yang menyatakan bahwa sinergi berprinsip mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber daya tertentu untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat tertentu. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penelitian dan Pengembangan. dan masyarakat. Pasal 15 menyebutkan penyelenggaraan litbang perikanan dapat bekerja sama dengan pelaksana litbang. antara lain Peraturan Menteri Negara Riset Dan Teknologi No. Upaya ini diharapkan juga mendorong inovasi di sektor usaha. Kerjasama ini meliputi penyediaan tenaga ahli. serta pengelolaannya kepada Menteri. Sebagai peraturan pelaksanaannya. (c) penelitian kebijakan. 04/M/PER/III/2007 tentang Tata Cara Pelaporan Kekayaan Intelektual. Tujuan pelaporan adalah untuk mendayagunakan hasil kegiatan penelitian dan pengembangan yang dibiayai oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan hidupnya. dan c. dan/atau (d) pengembangan eksperimental. 60 Naskah Akademik Perubahan UU No.

61 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). 23 Tahun 2010. ilmu pengetahuan dan teknologi. atau badan usaha asing dalam menyelenggarakan litbang kehutanan harus bekerja sama dengan Badan Litbang Kehutanan Kementerian.8. PP No. bioteknologi. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghasilkan produk produk inovatif. atau badan usaha asing dapat menyelenggarakan litbang kehutanan setelah mendapatkan izin dari instansi Pemerintah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam rangka penguatan SINas ini dibentuk Komite Inovasi Nasional (KIN). 3. manajemen bencana alam. peneliti asing.Penyelenggaraan litbang. ketahanan energi. perguruan tinggi asing. Selanjutnya di ayat (2)-nya disebutkan lembaga litbang asing. serta diklat kehutanan dilaksanakan dengan memperhatikan: a. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. serta kondisi social budaya masyarakat. b. peneliti asing. industri manufaktur. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam.1. terpadu. Menurut Perpres No. 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. (b) memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. Badan Usaha Asing dan Orang Asing. dan (c) melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program penguatan SINas. penguatan SINas diutamakan mencakup inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. potensi dan karakteristik biofisik setempat guna menjamin terjaganya kekayaan plasma nutfah khas Indonesia dari pencurian atau gangguan lainnya yang mengancam punahnya plasma nutfah tersebut. kearifan tradisional. mendayagunakan. 12 Tahun 2010 juga mempunyai keterkaitan dengan PP No. terintegrasi.” KIN mempunyai tugas untuk: (a) membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional Kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana. Pasal 22 menyebutkan. 18 Tahun 2002 . mendukung. Berkaitan dengan kerjasama penelitian internasional. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Asing. sebagaimana PP No. Dalam Perpres ini yang dimaksud dengan SINas adalah “suatu jaringan rantai antara institusi publik. lembaga riset dan teknologi. 39 Tahun 1995 tentang Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. industriinfrastruktur. transportasi dan industri pertahanan. lembaga litbang asing. perguruan tinggi asing. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan Sistem Inovasi Nasional (SINas) guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa.

jenjang pendidikan yang paling relevan adalah pada strata 2 dan 3 untuk dukungan kemampuan individual dan kapasitas pengembangan teknologi nasional. Bidang Pendidikan.9.672 5. 16 Tahun 2005. atau usaha mandiri skala kecil dan menengah. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijaksanaan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Instruksi Presiden dalam memberi arahan perumusan dan pelaksanaan kebijaksanaan strategis pembangunan nasional iptek (Jakstranas Iptek). membantu Menteri dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. DRN memperhatikan pemikiran dan pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.403 5. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. pengembangan. pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. 62 Naskah Akademik Perubahan UU No.698 4. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2005 tentang Dewan Riset Nasional (DRN) Peraturan Presiden tentang DRN mengatur tentang pelaksanaan tugas DRN dalam membantu Menteri dalam merumuskan arah.580 Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perumusan Jakstranas Iptek dilakukan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi secara terkoordinasi dengan instansi-instansi terkait. 18 Tahun 2002 .10.070 4. Lebih spesifik berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang pendidikan menengah. prioritas utama dan kerangka kebijakan pemerintah dalam pembangunan iptek secara nasional. b. tugas utama DRN adalah : a. sedangkan pendidikan menengah kejuruan23. yakni sebagai tenaga kerja terampil untuk aplikasi teknologi di perusahaan industri. Sesuai Perpres No. Dalam melaksanakan tugasnya itu.3. dan strata 1 lebih dilihat relevansinya sebagai elemen pendukung penguatan kapasitas adopsi dari sisi pengguna teknologi. menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu. 3. 4. Koordinasi dilakukan terutama untuk menentukan dan melaksanakan arah kebijakan. prioritas utama maupun kerangka kebijakan di bidang penelitian.1.1. Dalam konteks penguatan inovasi. memberikan berbagai pertimbangan kepada Menristek dalam penyusunan kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. Tahun 1989 1990 1991 1992 1993 23 Nilai Ekspor (juta USD) 79 112 197 465 850 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 Nilai Ekspor (juta USD) 2. program diploma.

571 5. atau [2] meningkatkan kemampuannya sebagai pengembang teknologi. PP No. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Idealnya. Lulusan strata 1 kemudian dapat memilih alur karirnya untuk berkiprah: [1] memperkuat kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna.225 5.900 5. Persentase ekspor Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi untuk periode 1989-2008 Sumber : The World Bank. Konsepsi sistem inovasi nasional yang sangat baik sekalipun hanya akan bisa diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. kegiatan tugas akhir yang hanya berorientasi akademik hanya diimplementasikan sampai pada jenjang strata 1 atau program diploma. belum didorong oleh kesadaran agar hasil riset tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.340 1.250 2. ataupun kebutuhan pemerintah.561 2. riset tugas akhir program strata 2 dan 3 (thesis dan disertasi) masih dominan diposisikan hanya sebagai indikator penguasaan bidang ilmu yang sesuai dengan program studi yang diikuti. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. industri. Pendidikan program diploma dan sekolah menengah kejuruan sejak awal dirancang untuk menyiapkan tenaga terdidik dan terampil yang siap bekerja. 24 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. Sebagai contoh. karena lulusan pada jenjang ini memang masih lebih diposisikan sebagai langkah penyiapan tenaga berpengetahuan dasar yang cukup dan/atau mempunyai ketrampilan di bidangnya masing-masing. sedangkan upaya untuk meningkatkan relevansinya dengan realita di bidang ilmu yang bersangkutan masih dirasakan minimal.com (18 Januari 2011) Secara umum program pendidikan Indonesia belum dirancang agar dapat optimal mendukung tumbuh kembang inovasi.808 6. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap24 dan cukup banyak pula yang berkerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya. disamping mutu pendidikan. Namun dalam prakteknya. 63 Naskah Akademik Perubahan UU No.188 2004 2005 2006 2007 2008 5. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi sistem inovasi nasional. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. 18 Tahun 2002 .658 2. diunduh dari tradingeconomics. tetapi arus utamanya harus diakui masih murni berorientasi akademik.625 Tabel 2. topik riset masih ditentukan oleh keinginan mahasiswa dan arahan pembimbing/promotornya. Beberapa pengecualian tentu ada.1994 1995 1996 1997 1998 1. Dengan kata lain.

20 Tahun 2003 yang antara lain menyebutkan: (1) bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan. dan pengabdian kepada masyarakat. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Pendidikan. dan seni. 64 Naskah Akademik Perubahan UU No. dinamika perkembangan global. keragaman potensi daerah dan lingkungan. Namun dalam prakteknya.1. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. dan minat peserta didik. h. Kewajiban yang pertama dikenal sebagai ‘Tri Dharma Perguruan Tinggi’. 4. teknologi. i. 20 Tahun 2003.1.1. Menurut Pasal 36 UU No. f. peningkatan akhlak mulia.2.1. dan (2) Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi. e. b. Olehkarena itu perkembangan iptek juga merupakan salah satu materi kurikulum. c.4. tuntutan pembangunan daerah dan nasional. UU No. Pelaksanaan penelitian terutama dilaksanakan untuk memenuhi tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan dan proses belajar mengajar. penelitian. UU No. unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. 18 Tahun 2002 . Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap25 dan cukup banyak pula yang bekerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya. Peraturan Pemerintah Nomor Penyelenggaraan Pendidikan 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. 25 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur. dan j. penelitian ilmiah. agama. perkembangan ilmu pengetahuan. tuntutan dunia kerja. d. kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dengan memperhatikan: a. peningkatan iman dan takwa. di samping mutu pendidikan. g. peningkatan potensi. 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Terkait dengan kegiatan penelitian. 4. dan pengabdian kepada masyarakat. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi. kecerdasan.

dan [d] meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. budaya. Lebih lanjut dinyatakan pada Pasal 4 UU No. bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan: [a] memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi. penelitian. Nuansa ini sangat sejalan dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. . Kesempatan untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat mencakup kesempatan untuk memperoleh dan/atau memanfaatkan sumber daya pendidikan yang dimiliki oleh Pemerintah. [b] mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. dan masyarakat. [c] memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. dan seni melalui pendidikan. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi penguatan inovasi nasional. 4. Pasal 32. 37 Tahun 2009. dosen memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi. teknologi. yakni untuk mewujudkan sistem pengelolaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih efektif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan/atau jasa sesuai kebutuhan pengguna (masyarakat. Butir b Pasal 4 di atas memberikan penegasan bahwa salah satu tujuan pembangunan ketenagakerjaan adalah untuk penyediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. penyelenggara pendidikan tinggi atau satuan pendidikan tinggi. Pembangunan ketenagakerjaan sesuai dengan sifatnya akan lebih berada pada posisi sebagai pemasok kebutuhan tenaga kerja. hubungan yang sinergis dan serasi harus 65 Naskah Akademik Perubahan UU No. Oleh sebab itu. 13 Tahun 2003. industri. Bidang Ketenagakerjaan. seni. Apabila dikaitkan dengan tujuan pembangunan SINas sendiri. dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan. maka terlihat jelas benang merah keterkaitan antara kebijakan ketenagakerjaan dengan upaya penguatan inovasi nasional.3. dan/atau olahraga. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan pengertian tentang tenaga kerja.Konsepsi sistem inovasi yang sangat baik sekalipun hanya akan berhasil apabila dapat diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. menyebutkan bahwa dosen dapat memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan. 5. atau pemerintah). mengembangkan. dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan. dan pengabdian kepada masyarakat. pemerintah daerah. Berdasarkan Pasal 26. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen Menurut PP No. dimana kebutuhan (demand) yang menentukan orientasi pembangunan dan pengembangannya. studi serta kesempatan melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. yakni mencakup setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat (Pasal 1 butir 2). teknologi.1. 18 Tahun 2002 UU No.

Skenario untuk membangun keterpaduan antara pembangunan SINas dengan penyiapan tenaga kerja pendukungnya saat ini belum diformulasikan. SINas. sebaliknya jika lebih banyak perannya hanya sebagai objek pembangunan. sangat jelas bahwa upaya mewujudkan SINas yang produktif dan efektif dalam memajukan perekonomian nasional membutuhkan keterpaduan dengan kebijakan ketenagakerjaan dan sekaligus juga dengan kebijakan pendidikan nasional (Gambar 5). dan perekonomian nasional Tenaga kerja berperan sekaligus sebagai subjek dan objek pembangunan. 66 Naskah Akademik Perubahan UU No. Jika lebih besar perannya sebagai subjek pembangunan yang secara aktif berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Dengan demikian maka keberhasilan pembangunan pendidikan harusnya tidak hanya dievaluasi berdasarkan jumlah atau persentase penduduk yang berpartisipasi pada setiap jenjang pendidikan atau persentase populasi yang menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Sistem Pendidikan Nasional Kebijakan ketenagakerjaan Produktivitas Inovasi Nasional Kinerja Perekonomian Nasional Gambar 5. Selanjutnya. penyiapan tenaga kerja juga tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. pengguna & intermediasi Kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional Kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa . ketenagakerjaan. maka akan sangat berat beban yang diemban untuk memajukan bangsa dan negara tersebut. Penyerasian Sistem Pendidikan. Kemajuan suatu bangsa dan negara sangat tergantung dari peran mana yang lebih besar porsinya yang diperankan oleh tenaga kerja secara kolektif. maka bangsa dan negara tersebut akan berpeluang lebih besar untuk lebih maju. tetapi perlu juga didasarkan atas persentase jumlah lulusan yang berperan sebagai subjek pembangunan atau sebagai tenaga kerja produktif yang berkontribusi terhadap keberhasilan pembangunan nasional di segala sektor. Inovasi yang dibangun berbasis pada potensi dan kebutuhan nasional bermakna telah mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. 18 Tahun 2002 Lulusan bermutu dan relevan kebutuhan lapangan kerja SDM pengembang. Kinerja sektor pendidikan tentu akan menjadi tumpuan utama dalam memperbesar porsi tenaga kerja yang menjadi subjek pembangunan. secara bertahap dilakukan upaya meningkatkan produktivitas penguatan inovasi yang dalam prosesnya tentu mengharuskan adanya peningkatan mutu dan relevansi keahlian tenaga kerja. dengan tujuan dan kebutuhan yang jelas. Dengan demikian. Lebih jauh.dimulai dengan mewujudkan penguatan inovasi yang lebih mantab. sehingga dengan sendirinya diawali dengan kesenjangan (gap) yang minimal antara kebutuhan penguatan inovasi nasional dengan ketersediaan tenaga kerja domestik.

dan d. belum banyak kontribusi industri hilir terhadap perekonomian nasional. memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi.2.1. 12 Tahun 2002 tentang Kenaikan Pangkat PNS.1. tetapi juga karena industri dengan muatan teknologi tinggi masih belum berkembang di Indonesia. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. 12/ Tahun 2002 jo. 99 Tahun 2000 menyebutkan “PNS yg dipekerjakan atau diperbantukan 67 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan intermediasi. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 4 UU No. b. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Ketenagakerjaan. pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS Tenaga ahli terdiri dari peneliti. PP No. karena masih lebih banyak yang berperan dalam proses produksi barang atau jasa. UU No.Selanjutnya. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS. pengguna teknologi dalam sistem produksi. 5. bukan hanya sebagai konsumen barang dan/atau jasa yang dihasilkan dari hasil aplikasi teknologi semata. . dan Keputusan Kepala BKN No. yang berkaitan dengan ketentuan PNS dipekerjakan atau diperbantukankan. mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah. c. 12 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. Tenaga ahli sebagai PNS tunduk kepada UU No. PP No. tetapi untuk kegiatan-kegiatan ekonomi dengan muatan teknologi yang minimal. meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Kegiatan ekonomi masih dominan pada fase eksploitasi sumberdaya alam atau produksi bahan mentah. Kenyataan ini sebetulnya bukan hanya menjadi cerminan dari kualitas tenaga kerja yang masih rendah. 5. 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan : a. 5. 13 Tahun 2003 antara lain mengatur mengenai peranan dan kedudukan tenaga kerja. maka keberhasilan pembangunan sektor ketenagakerjaan perlu dievaluasi berdasarkan peran aktif dan produktifnya sebagai pengembang teknologi. Dalam Pasal 3 disebutkan pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002 jo. perekayasa dan dosen pemerintah adalah PNS.1. dalam kerangka penguatan inovasi. Posisi tenaga kerja Indonesia saat ini masih belum terlalu membanggakan. dan hak mendapatkan tunjangan. 18 Tahun 2002 UU No. Kualitas tenaga kerja ini tidak terlepas dari peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.1. memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan. Pasal 6 hruf c PP No.

11 dan 12 tunjangan khusus diberikan bagi guru dan dosen PNS yang ditugaskan oleh pemerintah atau pemerintah daerah di daerah khusus. pola pikir dan tindakan dalam melaksanakan pembinaan perekayasa. perekayasa dan dosen tidak diperkenankan bekerja dan diperbantukan di badan-badan usaha. masa kerja. 5. . 18 Tahun 2002 Sedangkan tunjangan kehormatan. pemberhentian dalam dan dari jabatan. pembebasan sementara. 22 Tahun 2008 diatur hal-hal yang berkaitan dengan usulan penilaian dan penetapan angka kredit. dan kualifikasi akademik yang berlaku bagi profesor PNS. kenaikan jabatan/pangkat. ketentuan mengenai ‘badan usaha yang ditentukan’ ini hanya ditujukan bagi keperluan perbantuan guru-guru pemerintah yang mengajar ke sekolah-sekolah swasta. 12 Tahun 2002 jo. 5. Peraturan Pemerintah No. dan badan usaha yang ditentukan”. BPPT ditunjuk sebagai instansi pembina jabatan perekayasa. Tunjangan kehormatan bagi profesor bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. Menurut pihak BKN dan Menpan. Menurut Peraturan Bersama Menristek dan Kepala BKN No. 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan Dosen. Peraturan Pemerintah No. dan kualifikasi akademik bagi guru dan dosen PNS.3. PP No. Sedangkan tunjangan khusus bagi guru dan dosen bukan PNS diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat. sebagaimana Pasal 15 dan 16 diberikan kepada dosen yang memiliki jabatan akademik profesor dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan sebesar 2 (dua) kali gaji PNS yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 13/M/PB/VIII/2008 dan No. pengangkatan.1. Peraturan Pemerintah No.4. yang besarnya 1 (satu) kali gaji pokok pegawai negeri sipil yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Namun ketentuan PP No. 99 Tahun 2000 tidak berlaku bagi keperluan technical assistance peneliti dan perekayasa pemerintah ke badan-badan usaha swasta. antara lain melakukan : a. organisasi profesi. Peneliti.berdasarkan ketentuan Pasal ini adalah PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh pada proyek pemerintah. BPPT selaku pembina jabatan perekayasa. penyesuaian/inpassing dalam jabatan dan angka kredit.1. Untuk menjamin adanya persamaan persepsi. 68 Naskah Akademik Perubahan UU No. 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat PNS ini sangat tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inovasi dan investasi R&D swasta nasional. tim penilai. menetapkan 11 standar kompetensi jabatan fungsional perekayasa. 31 Tahun 2007 tentang Tunjangan Jabatan Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan PNS yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam Jabatan Fungsional Perekayasa dan Teknisi Penelitian dan Perekayasaan diberikan tunjangan jabatan fungsional sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab pekerjaannya. masa kerja. Tunjangan Khusus Guru dan Dosen Serta Tunjangan Kehormatan Profesor Berdasarkan Pasal 10 . negara sahabat atau badan internasional.

b. menetapkan pedoman formasi jabatan fungsional perekayasa; c. menyusun kurikulum pendidikan dan pelatihan jabatan fungsional perekayasa; d. melakukan pengkajian dan pengusulan tunjangan jabatan fungsional perekayasa; e. mensosialisasikan jabatan fungsional perekayasa serta petunjuk pelaksanaannya; f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional perekayasa; g. mengembangkan sistem informasi jabatan fungsional perekayasa; h. memfasilitasi pelaksanaan jabatan fungsional perekayasa; i. memfasilitasi pembentukan organisasi profesi perekayasa; j. memfasilitasi penyusunan dan penetapan etika profesi dan kode etik perekayasa; k. melakukan monitoring dan evaluasi Jabatan Fungsional Perekayasaan

6. Bidang Infrastruktur Sosial. Infrastruktur sosial pada prinsipnya mencakup semua fasilitas yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai infrastruktur komunitas (community infrastructure). Dengan demikian maka infrastruktur sosial tidak hanya mencakup ‘soft infrastructure’ (seperti dukungan untuk pengembangan komunitas, keluarga, dan individu; layanan informasi; pelatihan ketrampilan; perlindungan hukum; keamanan publik; dan layanan darurat); tetapi juga mencakup ‘hard infrastructure’ (seperti fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas untuk kegiatan seni dan budaya, fasilitas olahraga dan rekreasi, perumahan sehat, fasilitas lingkungan, fasilitas ibadah, dan tranportasi publik). Akibat buruk dari kurangnya perhatian dalam pembangunan infrastruktur sosial telah semakin dirasakan oleh negara-negara maju, misalnya berupa gangguan keamanan lingkungan atau mutu sumberdaya manusia yang rendah yang kemudian menjadi beban pembangunan. Kesenjangan sosial yang terjadi ternyata sangat mahal biaya remediasinya. Menyadari akan hal ini maka beberapa negara maju mulai secara sungguh-sungguh berupaya memperbaikinya. Misalnya Inggris menganggarkan hampir 3 milyar pound untuk pembenahan infrastruktur sosialnya. Pemerintah Australia juga mengambil inisiatif untuk membenahi infrastruktur sosial ini (Casey, 2005). Indonesia sebagai negara berkembang kelihatannya belum menunjukkan perhatian yang baik terhadap infrastruktur sosial ini pada sebagian besar wilayah perdesaan dan lingkungan kumuh perkotaan. Akibatnya kesenjangan sosial-ekonomi antara perdesaan dan perkotaan semakin melebar. Kenyataan ini telah secara nyata menyebabkan laju urbanisasi yang semakin sulit dibendung. Kesenjangan antara komunitas kaya dan miskin di perkotaan juga terasa semakin melebar. Kondisi ini menyebabkan antara lain semakin meningkatnya frekuensi kerusuhan di

69

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

perkotaan. Walaupun banyak yang mengkaitkan fenomena kerusuhan ini sebagai dampak dari demokratisasi di Indonesia. Kesenjangan sosial-ekonomi jelas tidak ‘compatible’ dengan upaya membangun inovasi nasional yang produktif dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, dalam skenario besar pengembangan sistem inovasi nasional Indonesia perlu disediakan ruang untuk pembangunan infrastruktur sosial. Beberapa peraturan perundang-uindangan terkait dengan pengembangan infrastruktur sosial sebagaimana di bawah ini.

6.1. Peraturan Perundangan-undangan Bidang Infrastruktur Sosial. 6.1.1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Kereta Api

Menurut UU No. 23 Tahun 2007, pemerintah mendorong kemampuan di dalam negeri rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian nasional. Kegiatan ini antara lain mengedepankan lembaga penelitian dan perguruan tinggi yang dikenal sebagai penghasil teknologi. Hal tersebut di ataur dalam Pasal 118 ayat (1) dan (2).
Pasal 118 (1) Untuk pengembangan perkeretaapian dilakukan rancang bangun dan rekayasa perkereta apian. (2) Rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh: a. pemerintah; b. pemerintah daerah: c. badan usaha; d. lembaga penelitian; atau e. perguruan tinggi.

6.1.2.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

Sebagaimana dengan UU No. 23 Tahun 2007, melalui UU No. 5 Tahun 1984 pemerintah juga berupaya mendorong pengembangan rancang bangun dan perekayasaan industri. Upaya ini memberikan kesempatan bagi peneliti dan perekayasa di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan maupun perguruan tinggi dalam peningkatan kemampuan industri nasional. UU No. 5 Tahun 1984 menyebutkan pembedaan teknologi industri dan teknologi tepat guna. Teknologi industri adalah cara pada proses pengolahan yang diterapkan dalam industri. Teknologi yang tepat guna adalah teknologi yang tepat dan berguna bagi suatu proses untuk menghasilkan nilai tambah. Sedangkan barang jadi adalah barang hasil industri yang sudah siap pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi. Pasal 9 UU No. 5 Tahun 1984 menyatakan bahwa pengaturan dan pembinaan bidang usaha industri dilakukan dengan memperhatikan “penyebaran dan pemerataan pembangunan industri dengan memanfaatkan sumber daya alam dan manusia dengan mempergunakan proses industri dan teknologi yang tepat guna untuk dapat tumbuh dan berkembang atas kemampuan dan kekuatan sendiri”.

70

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Keterkaitan dengan teknologi, di Pasal 16, Bagian VI UU No. 5 Tahun 1984, ayat (1) disebutkan “Dalam menjalankan dan/atau mengembangkan bidang usaha industri, perusahaan industri menggunakan dan menciptakan teknologi industri yang tepat guna dengan memanfaatkan perangkat yang tersedia dan telah dikembangkan di dalam negeri. Pada ayat (2) Apabila perangkat teknologi industri yang diperlukan tidak tersedia atau tidak cukup tersedia di dalam negeri, Pemerintah membantu pemilihan perangkat teknologi industri dari luar negeri yang diperlukan dan mengatur pengalihannya ke dalam negeri.Dan pada ayat (3) Pemilihan dan pengalihan teknologi industri dari luar negeri yang bersifat strategis dan diperlukan bagi pengembangan industri di dalam negeri, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

71

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Logemann berpendapat. maka ada kemungkinan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan hanya merupakan kumpulan kaidah yang mati. 72 Naskah Akademik Perubahan UU No. menurut Hans Kelsen. yaitu konsepsi abstrak di dalam diri manusia tentang keserasian antara ketertiban dan ketenteraman atau kondisi yang sepantasnya diinginkan. maka penyusunan suatu peraturan perundangundangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. maka peraturan tersebut hanya merupakan cita-cita saja.Bab 4 Landasan Filosofis. merupakan kebijakan pemerintah mengenai arah mana hukum tersebut diarahkan. Menurut teori kekuasaan. lebih menekankan teori kekuasaan. terlepas apakah masyarakat menerima atau menolaknya. apabila kaidah hukum terbentuk menurut cara yang telah ditetapkan. hukum berlaku secara sosiologis karena adanya pemaksaaan berlakunya oleh penguasa. dan filosofis. misal cita-cita hukum bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Apabila peraturan tersebut hanya berlaku secara filosofis. Hal itu diperkuat dengan teori pengakuan yang menyatakan bahwa berlakunya hukum ataupun peraturan perundangundangan didasarkan atas penerimaan atau pengakuan atas peraturan tersebut. hukum berlaku secara yuridis. Menurut Kelsen. Apabila peraturan perundang-undangan hanya menekankan pada pemenuhan persyaratan yuridisnya saja. Menurut UU No. yaitu pertama adanya politik hukum yang jelas. Secara garis besar dalam penyusunan peraturan perundang-undangan memperhatikan dua hal. yang menekankan pada efektivitas hukum yang akan dibuat. Hukum yang baik adalah apabila terdapat keserasian antara politik hukum yang dibuat oleh pemerintah dengan kesadaran hukum masyarakat. atau sesuai dengan nilai positif yang tertinggi. sosiologis. adanya kesadaran hukum masyarakat. Sosiologis. kaidah hukum mengikat. apabila pembentukannya berdasarkan pada kaidah atau peraturan yang lebih tinggi (teori “Stufenbau”nya dari Kelsen). 18 Tahun 2002 . efektivitas dari peraturan perundang-undangan harus dibedakan dengan berlakunya suatu peraturan perundangundangan. Syarat kedua adalah syarat sosiologis. penyusunan peraturan perundang-undangan setidaknya harus memenuhi tiga syarat. Kajian mengenai persyaratan berlakunya suatu peraturan perundang-undangan yang baik selalu berkembang agar penerapan peraturan perundang-undangan sesuai dengan tujuannya. maka peraturan perundang-undangan yang dibuat cenderung menjadi sekumpulan aturan-aturan pemaksa. Sedangkan Zevenbergen menyatakan. Syarat filosofis apabila peraturan perundang-undangan yang diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. Syarat yuridis. yaitu syarat yuridis. Dengan demikian apabila pembentukan peraturan perundang-undangan diartikan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat atau pencapaian tujuan-tujuan tertentu. apabila menunjukan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akibatnya. Kedua. Demikian halnya apabila peraturan perundangundangan hanya menekankan pada aspek sosiologis-nya saja. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. karena efektivitas hukum merupakan fakta. Pembentukan peraturan perundang-undangan harus memenuhi ketiga syarat tersebut. dan Yuridis Pembentukan peraturan perundang-undangan umumnya telah memperhatikan proses pemberlakuannya.

Kemajuan kebudayaan ini sering dikatakan sebagai peradaban. 18 Tahun 2002 . yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Lingkup waktu berhubungan dengan jangka waktu tertentu yang diatur oleh suatu peraturan perundang-undangan. kemajuan iptek secara tegas ditetapkan. Dapat dikatakan manusia dan peradaban adalah hal yang tidak dapat dipisahkan karena manusia itu memiliki cipta. waktu. dan 73 Naskah Akademik Perubahan UU No. Lingkup wilayah menyangkut ruang atau wilayah yang akan dibatasi melalui pembentukan peraturan perundang-undangan.1. 2 hal yg menyangkut sopan santun. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang disahkan pada tanggal 29 Juli 2002. Perkembangan cipta. Pengembangan. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Logemann berpendapat. rasa dan karsa ini menimbulkan perkembangan pengetahuan. 4. yaitu wilayah. rasa dan karsa. Amandemen keempat UUD 1945. secara jelas telah mengamanahkan pemajuan iptek. Pendidikan dan Kebudayaan. (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya. Amandemen ini belum menjadi pertimbangan yuridis saat penetapan UU No. Hal itu dapat ditemui di dalam Bab XIII. budi bahasa. Secara jelas ketentuan ini tercantum dalam Pasal 31. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI Daring. 2008) diartikan sebagai 1 kemajuan (kecerdasan. yang selengkapnya berbunyi: Pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. dan kebudayaan suatu bangsa. Lingkup pribadi menunjukan siapa atau apa yang akan diatur peranannya melalui peraturan perundangundangan. yaitu agar diarahkan untuk mendorong kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. aplikasi pupuk. Lingkup ini dibedakan menjadi empat. tetapi saat ini dengan adanya perkembangan pengetahuan. Aspek Yuridis Amandemen keempat UUD 1945 yang ditetapkan oleh MPR pada tanggal 10 Agustus 2002 merupakan landasan yuridis bagi pembentukan peraturan perundang-undangan yang ada. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.Di samping syarat–syarat tersebut. Terakhir adalah lingkup masalah yang bersangkutan dengan permasalahan apa saja yang akan menjadi obyek suatu peraturan perundang-undangan. Sebagai contoh : dahulu manusia menanam karet dan menunggu hasil sesuai kemampuan alam untuk memproduksi. dan masalah tertentu. pribadi. Menurut Amandemen keempat UUD 1945 ini. lingkup berlakunya suatu peraturan perundangan-undangan agar ditentukan pula.

 Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembangkan dan digunakan. atau bahkan menurun. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. Menurut UU No. 18 Tahun 2002 berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. baik yang bersifat kuantitatif. misalnya. 74 Naskah Akademik Perubahan UU No. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. Dengan demikian dapat dikatakan dalam perkembangan peradaban manusia. apabila iptek terus berkembang. maupun penciptaan (invention). dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah.teknik pemeliharaan menjadikan pohon karet menghasilkan lebih banyak. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. teknologi informasi dan mikroelektronika. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. pelestarian fungsi lingkungan hidup. Sedangkan kegunaan iptek bagi manusia juga ditentukan oleh nilai. iptek mempunyai peran sentral. moral. Berbagai penemuan di bidang kesehatan.  Produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja. disusun. kualitatif. 18 Tahun 2002 Dapat dikatakan teknologi merupakan aplikasi dari pengetahuan sebagai respons atas tuntutan manusia akan kehidupan yang lebih baik. . Demikian halnya dengan penggunaan perangkat otomatis. merupakan hasil dari penguasaan dan pemanfaatan iptek sehingga berbagai penyakit telah dapat disembuhkan. Berbagai inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv). kemajuan bangsa. teknologi adalah ”keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. kesejahteraan umat manusia juga meningkat. ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. norma dan hukum atau peraturan perundang-undangan yang mendasarinya. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. Menurut UU No. Sedangkan teknologi dalam UU No. yang selanjutnya melahirkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. Adanya kemajuan penguasaan dan pemanfaatan iptek akan berimbas pada peningkatan daya saing dan akan mendorong kemajuan bangsa. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara umum adalah karya manusia. 18 Tahun 2002 diartikan sebagai cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. dan tanpa adanya manusia kedua karya tersebut tidak akan ada. maupun pengembangan ilmu pengetahuan. maka dapat dikatakan penguasaan dan pemanfaatan iptek tidak berfungsi dengan baik.” Pengertian teknologi secara umum menurut Ellul (1967) adalah:  Proses yang meningkatkan nilai tambah. Dengan kata lain. kelangsungan. Apabila iptek berkembang tetapi kesejahteraan umat manusia tidak berkembang. Secara umum iptek berkembang melalui kreativitas berbagai penemuan (discovery). memberi kemudahan dalam kehidupan manusia. 18 Tahun 2002. telah membantu manusia dalam berbagai kegiatannya.

sistematis.000. . dan potensi sumberdaya alam Indonesia yang sangat majemuk. Untuk dapat efektif. Sejalan dengan semangat ini. budaya. Saat ini. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. penggunaan sanksi dalam UU No. namun perbedaan yang menonjol adalah inovasi lebih melihat dari perspektif kemanfaatan (ekonomi) dari proses dan produk baru yang dihasilkan tersebut. serta pada tingkat kewilayahan mana sistem inovasi tersebut tepat untuk diimplementasikan. Pengertian inovasi versi UU No. dan detil. 18 Tahun 2002 dimungkinkan penggunaan sanksi pidana berupa denda paling banyak Rp. Bahkan secara tegas World Bank (2010). namun sampai saat ini masih belum berhasil dirumuskan kebijakan dan peraturan perundang-undangan sistem inovasi yang pas untuk kondisi Indonesia. Berbagai jenis instrumen kebijakan yang pas untuk digunakan. asas kebebasan akademis. 18 Tahun 2002 Ketiga persyaratan di atas dirumuskan dan tercakup dalam penyusunan peraturan perundangan-undangan. Penekanan pada kreatifitas. 50. pengembangan. atau dengan kata lain inovasi harus bermanfaat (terbukti karena dipakai oleh pengguna). 18/2002 pada Pasal 1 butir 9 yang saat ini masih berlaku: “Inovasi adalah kegiatan penelitian. Umumnya hanya menghasilkan atau merekomendasikan prinsip dasar dan/atau taksonomi kebijakan sebagai bentuk intervensi yang dibutuhkan dari pihak pemerintah. maka kebijakan harus mengandung muatan pengaturan dan tidak hanya memberikan pemahaman umum. ekonomi.26 Secara sosiologis penekanan ketentuan atau aturan-aturan yang memaksa (coercion) dalam pengembangan iptek kurang tepat. indikator perkembangan iptek antara lain adalah peningkatan berbagai penemuan (discovery). mengingat kondisi sosial. atau pemerintah..2. asas kebebasan berpikir. Walaupun dirasakan telah terjadi kemajuan dalam pemahaman tentang konsepsi dasar sistem inovasi dan telah terjadi perkembangan metodologis untuk analisis sistem inovasi. menekankan inovasi harus didiseminasikan (oleh penghasil) dan dipakai (oleh pengguna). hanya terlihat pada kegiatan litbangrap iptek yang berisiko tinggi dan berbahaya. Menurut UU No. 75 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta tanggung jawab akademis. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi”. telaah tentang sistem inovasi sangat jarang berujung pada preskripsi kebijakan sistem inovasi yang konkrit.4. kebebasan berpikir menjadikan penggunaan pemaksaan tidak relevan.(lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. 18 Tahun 2002. Aspek Sosiologis Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. 18/2002 ini dirasakan sudah tidak pas lagi dengan konteks saat ini. Pengguna dalam konteks ini adalah industri/dunia usaha. yang selanjutnya menumbuhkan berbagai bentuk inovasi dan rekayasa. Meskipun inovasi sering dicampuraduk pengertiannya dengan invensi.000. Dalam UU No. masyarakat awam. 26 Bandingkan dengan pengertian inovasi yang digunakan pada UU No. Demikian halnya dengan upaya penguatan inovasi nasional melalui peraturan perundang-undangan. 18 Tahun 2002 penggunaan aturan pemaksa harus disesuaikan dengan asas undang-undang ini yang menekankan pada asas kebenaran ilmiah. p e n c i p t a a n ( invention).

dirancang untuk mendukung kegiatan ekonomi di lahan sub-optimal basah (lebak dan pasang surut). atau wilayah laut dengan karakteristik marine ecology yang khas. desa). kecamatan. Pengembangan sistem inovasi tentu perlu diserasikan dengan realita strategi pembangunan bidang perekonomian tersebut. kota. serta kemampuan pembiayaan dan infrastruktur pembangunan lainya yang telah dimiliki atau yang secara rasional akan dapat dikelola. Namun demikian. Pendekatan ini dapat dilakukan pula untuk komoditas perkebunan dengan volume dan nilai produksi yang lebih besar sehingga memberikan kontribusi yang significant bagi perekonomian nasional (misalnya sawit dan karet). Pengembangan inovasi daerah yang berbasis agroekosistem lahan misalnya. Luasnya wilayah nusantara dan keragaman potensi sumberdaya merupakan alasan yang rasional untuk membangun sistem inovasi yang lebih operasional pada wilayah cakupan yang lebih kecil (sekarang digunakan terminologi Sistem Inovasi Daerah. Kebijakan yang tak kentara warna Indonesianya.Teori sistem inovasi yang berkembang di Indonesia banyak yang diadopsi secara langsung dari sistem inovasi yang dianut oleh negara-negara maju. MP3EI juga menganut pembangunan ekonomi berbasis wilayah yang membagi NKRI menjadi enam koridor dan sekaligus juga mengangkat komoditas tertentu sebagai fokus pembangunan pada masing-masing dari enam koridor ekonomi tersebut. [2] skenario interaksi yang intensif dan produktif antara lembaga/aktor inovasi. Selain itu pendekatan sosial- 76 Naskah Akademik Perubahan UU No. termasuk: [1] orientasi arah dan prioritas teknologi yang dikembangkan. misalnya pada hamparan lahan dengan karateristik agroekosistem tertentu yang menopang pembangunan ekonomi berbasis pertanian. baik itu terfokus pada komoditas tertentu yang bernilai ekonomi tinggi ataupun pada potensi sumberdaya lahan atau laut dengan karakteristek yang khas. [3] relevansi dan produktivitas lembaga pengembang teknologi. cakupan wilayah dari suatu sistem inovasi sebaiknya tidak berbasis pada satuan wilayah administrasi pemerintahan (provinsi. tetapi sebaiknya lebih berbasis pada satuan kawasan pembangunan perekonomian. kabupaten. Reorientasi Arah dan Prioritas Riset Inovasi nasional di Indonesia wajib berbasis pada potensi sumberdaya nasional. Karakteristik inovasi yang khas Indonesia perlu diformulasikan dengan tepat. [4] kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. walaupun didukung dengan regulasi yang kuat. 4.2. tetap saja sering tidak efektif dalam implementasinya. 18 Tahun 2002 . Teori inovasi yang tidak mengakar pada realita Indonesia akan sangat berisiko jika dijadikan pijakan dalam merumuskan kebijakan sistem inovasi Indonesia. yang kondisinya dalam berbagai dimensi sangat berbeda dengan Indonesia.1. atau dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan di wilayah Indonesia bagian timur. atau disingkat SIDa) atau sistem inovasi yang secara spesifik fokus pada potensi ekonomi tertentu. dan [5] kontribusinya terhadap pembangunan nasional. baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia. atau dapat juga untuk satuan kawasan dengan karakteristik sosio-ekonomi-kultural masyarakatnya yang spesifik.

Keragaman istilah atau terminologi yang digunakan ini menunjukkan perlunya reorientasi dalam pengembangan teknologi untuk menopang sistem inovasi dalam upaya meningkatkan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian. penguatan daya saing ini menjadi semakin relevan apabila dikaitkan dengan kecenderungan sebagai berikut: a. Selain berbasis pada potensi sumberdaya nasional atau lokal. yakni terutama untuk menyejahterakan rakyat sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi. issue-driven (Jepang). masyarakat. dan evidence-based (mulai digunakan oleh komunitas ilmu sosial atau pihak yang melihat teknologi dari perspektif ilmu sosial). antara lain demand-driven. Indonesia tentunya harus berada dalam mainstream ini jika secara sungguh-sungguh ingin mewujudkan sistem inovasi nasional ataupun daerah yang berkontribusi nyata terhadap pembangunan ekonomi dengan harapan dapat pula meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selanjutnya Tatang Taufik menyebutkan. 2005). Kedua keadaan tersebut juga mengakibatkan persaingan pasar yang semakin cepat dan kompleks. Pengembangan inovasi daerah dapat difokuskan pada pengembangan sistem inovasi yang lebih teknis dan operasional sesuai kebutuhan ataupun unggulan yang akan dikembangkan di daerah. baik industri. Tekanan persaingan global yang semakin meningkat. mission-driven (Swedia).ekonomi-budaya dilakukan untuk masyarakat pengrajin dan industri ukiran kayu di Jepara atau masyarakat dengan budaya yang khas seperti di Bali. 18 Tahun 2002 . Istilah yang muncul untuk menggambarkan orientasi riset dan pengembangan teknologi sesuai kebutuhan pengguna ini cukup beragam. Kemampuan inovasi juga merupakan faktor penguatan daya saing yang sangat penting (Taufik. sehingga tujuan pembangunan nasional yang sifatnya universal dapat dikawal. sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. ataupun pemerintah. Kecenderungan global saat ini cenderung menggiring pengembangan teknologi lebih ke arah pemenuhan kebutuhan atau menyediakan solusi bagi permasalahan nyata yang ada di masyarakat. Dikotomi pilihan pengembangan sistem inovasi pada tingkat nasional dengan tingkat daerah/lokal seharusnya tidak perlu terjadi. Pengembangan inovasi nasional memberikan ‘template’ sebagai acuan untuk pengembangan inovasi daerah. Keragaman istilah ini disebabkan adanya perbedaan aspek atau dimensi yang ingin ditekankan. marketdriven (mulai jarang digunakan karena terkesan terlalu mengarah pada komersialisasi). 77 Naskah Akademik Perubahan UU No. untuk dapat dikelola dan dievaluasi kinerjanya secara lebih baik. needdriven. pengembangan sistem inovasi di Indonesia perlu didukung pengembangan teknologi yang lebih terarah. Produk yang semakin kompleks dan memilki siklus hidup yang semakin pendek karena cepatnya kemajuan teknologi dan perubahan tuntutan konsumen. b. Fokus dukungan dapat dilakukan pada aktivitas ekonomi tertentu yang diunggulkan. meskipun esensinya sama yakni mendorong agar pengembangan teknologi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh para pengguna teknologi. c.

18 Tahun 2002 . Pangsa pasar yang cenderung menurun dan semakin jenuh akan lebih mengandalkan persaingan harga dengan nilai tambah yang relatif rendah. Walaupun angka ini mungkin mengindikasikan kemampuan negara tersebut untuk mengembangkan teknologi. Persentase jumlah peneliti atau perekayasa terhadap total populasi suatu negara sering dipakai sebagai indikator kemajuan inovasi nasional negara yang bersangkutan. Pendidikan perlu diupayakan tidak hanya peningkatan mutunya tetapi juga dibarengi dengan upaya peningkatan relevansinya terhadap kebutuhan nyata. Peter Drucker menekankan bahwa setiap organisasi harus mempunyai suatu kompetensi. malah dapat menyesatkan. Lembaga penyelenggara pendidikan tinggi akan menjadi lembaga penunjang yang menentukan dalam konteks ini. yaitu inovasi. tetapi merupakan hasil kerja kelompok ‘kecil’ peneliti pada satu laboratorium atau kolaborasi peneliti antar-laboratorium. [2] jumlah peneliti yang banyak tidak otomatis berarti akan banyak teknologi bermanfaat yang dihasilkan. Pengguna teknologi ini antara lain. adalah tenaga teknis yang berperan mengaplikasikan teknologi dalam proses produksi barang atau jasa. Menurut EISDISR (2001).2. dimana tekanan atas biaya cenderung meningkat. Tidak semua disiapkan menjadi pengembang teknologi yang handal. Kecenderungan industri saat ini. Hal ini bisa dicermati dari beberapa perspektif: [1] teknologi yang berdampak signifikan dan mampu mengubah ‘wajah’ dunia dalam berbagai bidang bukan merupakan hasil kerja kolektif seluruh populasi peneliti suatu negara. dan siklus produk atau time-to-market yang semakin pendek. serta penguatan kelembagaan yang bertanggung jawab dalam pengembangan teknologi. optimalisasi fungsi kelembagaan pengelola pendidikan. tantangan utama bagi perusahaan di lingkungan bisnis yang kompleks dan persaingan global yang semakin ketat adalah mengembangkan dan mempertahankan keunggulan daya saing. pasar dan teknologi berubah sangat cepat.Kemampuan inovasi yang rendah akan menempatkan badan usaha ataupun industri bersaing pada segmen pasar yang umumnya konvensional. dan sensitif terhadap dinamika persoalan dan kebutuhan masyarakat. karena selain tergantung pada produktivitas peneliti. tuntutan konsumen yang semakin tinggi. pendidikan juga diarahkan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa.2. populasi pengguna teknologi yang terampil jauh lebih banyak dibandingkan dengan populasi pengembang teknologi. Idealnya. 4. Interaksi yang Intensif Antar-aktor Inovasi Strategi ini mempunyai rentang cakupan yang lebar. 78 Naskah Akademik Perubahan UU No. Rasio yang pas antara pengembang-pengguna teknologi tentu tergantung pada jenis teknologi yang diimplementasikan. Dalam situasi demikian. dari upaya sinkronisasi program penyiapan sumberdaya manusia yang relevan dan kompeten. Implementasi inovasi nasional juga memerlukan adanya pengguna teknologi yang terampil. juga ditentukan oleh relevansi substansi yang diteliti. tetapi sesungguhnya basis argumennya sangat dangkal. dengan derajat penalaran akademik yang tinggi. Selain untuk meningkatkan kecerdasan akademik.

akibatnya hasil riset yang diperoleh masih sulit untuk diadopsi oleh industri. inovasi tidak berkembang tanpa adanya kerjasama (co-operation). Penyebab utamanya adalah ketidakpaduan antara teknologi yang dikembangkan atau yang dihasilkan dengan kebutuhan industri. Inovasi tidak hanya bergantung pada bagaimana perusahaan. inovasi juga merupakan proses yang kompleks dan dinamis yang sering menunjukkan paradoks. Kesiapan sumberdaya manusia wajib dibarengi dengan langkah reorientasi pengembangan teknologi dari supply-push ke demand-driven.dan [3] sebagian besar peneliti bekerja di perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah yang mayoritas pada saat ini lebih fokus pada riset akademik yang tak terkait langsung dengan persoalan nyata. bahkan adakalanya antara perusahaan yang saling bersaing. Meski inovasi didorong oleh kompetisi atau persaingan. Aliran teknologi banyak yang tersumbat. 18 Tahun 2002 . Selanjutnya Tatang menggaris bawahi. tetapi lebih pada aspek kualitasnya. Strategi untuk memperlancar aliran teknologi dalam inovasi nasional dan untuk meningkatkan intensitas kolaborasi antara pengembang dan pengguna teknologi adalah melakukan reorientasi. baru kemudian ‘ditawarkan’ kepada industri untuk menggunakannya. Jika selama ini aktor penentu arah inovasi nasional diperankan secara ‘terlalu’ dominan oleh para pengembang teknologi. yang perlu adalah Indonesia mampu dan produktif dalam menghasilkan solusi teknologi bagi permasalahan bangsa. kuantitas menjadi tidak penting. yakni melakukan pengembangan teknologi dahulu. perguruan tinggi dan para pembuat kebijakan bekerja. yakni jika sebelumnya pihak pengembang teknologi menjadi penentu arah dan prioritas pilihan teknologi. sehingga pendekatan yang diterapkan adalah supply-push. Kualitas dimaksud mencakup basis mutu akademik dan relevansi keahliannya terhadap kebutuhan nyata. namun juga bagaimana mereka bekerjasama (Tatang. tetapi lebih perlu menyiapkan tenaga-tenaga pengembang teknologi yang punya basis kapasitas akademik yang hebat dan juga sensitif terhadap dinamika permasalahan dan kebutuhan bangsa. proses reorientasi dalam pengembangan kerjasama ini tentunya belum akan berjalan mulus. Argumentasi di atas mencoba mengingatkan bahwa aspek yang paling penting untuk mendapat perhatian dalam proses penyiapan sumberdaya manusia yang diproyeksikan untuk menjadi pelaku utama pengembangan teknologi bukan terletak pada aspek kuantitasnya. inovasi seringkali bukan hanya menekankan technology push (driven) atau demand pull (driven) secara “hitam-putih” yang tegas. Pendekatan yang dipilih tentunya juga berubah arah. Pendekatan ini ternyata tidak efektif untuk meningkatkan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Untuk konteks ini. maka peran ini di masa yang akan datang perlu dipercayakan pihak pengguna teknologi. 2005). Indonesia tidak perlu ‘kelihatan’ baik secara statistik. Namun demikian perlu diperhatikan pula. Implikasi operasionalnya adalah Indonesia tidak perlu terlalu berambisi untuk meningkatkan angka persentase jumlah peneliti per sejuta penduduk (atau indikator lain yang serupa). dari supply-push menjadi demand-driven. Hal ini terlihat dari Indikator Ekonomi Berbasis Pengetahuan Indonesia tahun 79 Naskah Akademik Perubahan UU No. 2005). Pada tahap awal. tetapi lebih merupakan proses di antaranya atau kombinasi keduanya (Tatang. Kalaupun jenis teknologinya sesuai tetapi seringkali tidak kompetitif secara ekonomi untuk diaplikasikan.

dan penguatan kapasitas iptek sistem produksi. yakni program riset dasar. Pergeseran mindset selalu membutuhkan waktu relatif panjang. Pengalaman Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) melalui program insentifnya menjadi bukti empiris tentang sulitnya menggeser kegiatan para akademisi dan periset keluar dari zona nyamannya (comfortable zone). Pada tahun 2008. difusi iptek. Dua program yang pertama merupakan pengembangan iptek. 7 6 5 4 3 2 1 0 Singapura Malaysia Philipina Vietnam Resistensi internal sangat mungkin untuk muncul di kalangan akademisi dan periset dalam proses pergeseran prioritas riset dari curiousity-driven research menjadi goal-oriented research. tetapi juga tidak selalu ‘sarat dengan litbang’ (R&D intensive). karenanya proses ini akan berlangsung secara bertahap (gradual). riset terapan. dari riset yang dilakukan untuk pemuasan rasa keingin tahuan akademik menjadi riset untuk menjawab permasalah nyata yang dihadapi masyarakat dan negara. sedangkan proposal untuk difusi dan aplikasi iptek hanya 10.16 persen. 18 Tahun 2002 .2007. Akademisi dan periset masih nyaman di wilayah riset akademik (dasar dan terapan). proposal untuk riset pengembangan iptek mencapai 89. sedangkan dua program terakhir merupakan upaya mentransfer dan aplikasi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengguna teknologi. bahwa inovasi memerlukan lebih hanya sekedar litbang. menjadi lebih fokus untuk menjawab permasalahan nyata atau memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat pengguna. Produk barang dan jasa semakin ‘sarat dengan pengetahuan’ ( knowledge intensive). Ekspektasi pada tahap awal adalah mulai tumbuhnya kesepakatan bahwa pengembangan teknologi perlu berubah arah. 2010).8. Hal ini sesuai pula dengan kecenderungan yang diungkapkan OECD (1999). sama dengan Vietnam (World Bank. Akan ada resistensi (penolakan) dari pihak pengembang teknologi dan adanya keengganan di pihak pengguna teknologi.84 persen. Hal ini antara lain terlihat. Dengan upaya yang 80 Naskah Akademik Perubahan UU No. sedangkan kegiatan yang lebih bersifat hilir (difusi teknologi dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi) untuk mendorong agar hasil risetnya diadopsi oleh pengguna masih sangat kurang diminati. saat Kementerian Riset dan Teknologi secara terbuka dan kompetitif menawarkan empat program insentif kepada komunitas akademik di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga riset pemerintah. pada skala 2.

ternyata akademisi dan peneliti Indonesia masih belum tergolong produktif dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Apalagi jika untuk mengimpor teknologi asing tersebut (yang sebetulnya dalam tataran teknologi tergolong sederhana). Sudah saatnya. dimana setiap rupiah yang dibelanjakan negara harus berpotensi menggerakkan perekonomian domestik. sulit bagi pengembang teknologi di 81 Naskah Akademik Perubahan UU No. tetapi juga sekaligus sebagai investasi untuk menumbuhkan kemandirian bangsa dalam menyediakan solusi teknologi bagi masalah-masalah mendasar yang menyangkut hajat hidup asasi masyarakat. Kecenderungan lainnya adalah memilih topik-topik yang terkesan maju secara teknologi tetapi tidak terkait langsung dengan kebutuhan atau persoalan nyata. Meski demikian secara akademik.lebih intensif untuk menumbuhkan minat komunitas akademisi dan peneliti untuk berperan dalam kegiatan difusi dan aplikasi iptek. tetapi lebih disebabkan karena riset ini telah diseleweng-kan pemaknaannya oleh kepentingan-kepentingan lain yang bersifat non-scientific. Sejatinya. Angka ini tidak jauh berbeda dengan Filipina. Memperhatikan upaya yang telah dilakukan. Indonesia masih tergantung pada pasokan teknologi asing. pembiayaan kegiatan riset diposisikan tidak hanya untuk mendukung upaya pencerdasan bangsa. Salah satu persoalan yang serius saat ini adalah rendahnya sensitivitas atau kepedulian pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi. jarang melakukan observasi secara cermat persoalan ataupun kebutuhan pihak pengguna. atau pemerintah. Riset yang direncanakan lebih terkait dengan latar belakang akademik peneliti atau akademisi yang bersangkutan dan mengarah pada topik yang sedang populer di kalangan akademisi. Pengembang teknologi. terlebih lagi pada saat negara sedang mengalami krisis ekonomi. tetapi juga sekaligus dapat secara nyata menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat. negara harus mengeluarkan devisa yang signifikan karena kuatitas kebutuhannya yang masif. masyarakat.95 persen. para peneliti Indonesia menghasilkan 178 tulisan. Merupakan langkah yang tepat jika Pemerintah lebih mengarahkan bantuan pembiayaan risetnya pada kelompok goal-oriented research. pada tahun 2009 proposal untuk kegiatan ini meningkat menjadi 24. strategi yang perlu dilakukan dalam rangka memicu dan memacu pergeseran preferensi atau prioritas riset ini antara lain adalah: [1] meluruskan pemahaman tentang status ilmiah goal-oriented research dan [2] memberikan insentif yang lebih baik bagi pelaksanaan riset untuk solusi permasalahan nyata ini. Sangat ironis jika untuk memenuhi kebutuhan solusi teknologi untuk masalah-masalah sederhana (misalnya di sektor pertanian). namun jauh di bawah Malaysia dan Thailand. Kekeliruan pemahaman tentang ‘riset pesanan’ disebabkan bukan oleh makna hakiki dari goal-oriented research tersebut. Kenyataan ini tentu harus dibenahi. goal-oriented research harus dimaknai sebagai riset akademik yang tidak hanya potensial untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Capaian akademik seringkali lebih menarik dibandingkan dengan kontribusi dalam memenuhi kebutuhan atau menyediakan solusi untuk persoalan yang dihadapi industri. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah artikel pada jurnal sains dan teknik tahun 2003. 18 Tahun 2002 . baik di akademisi maupun peneliti.

Kekeliruan pemahaman yang sering terjadi adalah bahwa teknologi yang dihasilkan dari riset yang berbasis kebutuhan nyata statusnya akan kurang canggih. Sesungguhnya rentang spektrum teknologi yang berbasis kebutuhan atau teknologi tepat guna dapat bervariasi dari teknologi yang sangat sederhana sampai dengan teknologi super canggih. karena faktanya realita persoalan dan kebutuhan teknologi juga sangat variatif. 18 Tahun 2002 Perlu diyakini bahwa perhatian berbagai pihak. sebaliknya petani membutuhkan teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsinya untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan pendapatannya. dan dapat menghasilkan paten yang diminati pengguna (karena relevan dengan kebutuhan sehingga berpeluang untuk diaplikasikan dalam proses produksi). 82 Naskah Akademik Perubahan UU No. untuk memberikan dukungan pembiayaan yang lebih besar akan lebih mungkin terwujud jika pengembang teknologi juga mampu membuktikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. sebagaimana juga kekeliruan dalam memahami definisi teknologi tepat guna (appropriate technology) yang sering dianggap identik dengan teknologi sederhana. terutama pembangunan perekonomian. yang belum termotivasi untuk melaksanakan riset yang berkualitas dan masih cenderung menganggap riset hanya sebagai ritual akademik. . Namun sesungguhnya.Indonesia untuk berada posisi terdepan secara akademik. pemerintah membutuhkan teknologi canggih untuk mewujudkan kemandirian dalam sektor pertahanan dan keamanan negara. sehingga terbuka peluang untuk mendapatkan royalti. termasuk pemerintah. Berbagai kendala antara lain kurangnya alokasi anggaran untuk pembiayaan riset dan kurang memadainya peralatan dan fasilitas riset. 600 400 200 0 Negara Singapura Malaysia Filipina Vietnam Laos Riset yang dirancang sesuai kebutuhan nyata dapat menjadi riset yang berkualitas ilmiah tinggi apabila dilaksanakan dengan metodologi yang tepat dan dengan menjunjung tinggi etika akademik. Sebagai contoh. kendala yang lebih serius terletak pada mindset para pengembang teknologi tersebut. Hasil riset dengan reputasi dan pilihan topik seperti ini jelas akan berpeluang untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah.

3.Di antara banyak perubahan yang perlu dilakukan dalam rangka penguatan inovasi. Oleh sebab itu. masyarakat. finansial. salah satu yang urgensinya paling tinggi adalah meningkatkan sensitivitas dan kepedulian para pengembang teknologi terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi industri. Dukungan pembiayaan aktivitas riset akan semakin tumbuh. yakni kemampuan atau kapasitas adopsi dari pengguna terhadap teknologi potensial yang dihasilkan. nelayan. Jika semakin banyak aktor pengembang teknologi yang mengikuti alur ini. karena kepercayaan pihak pengguna teknologi akan semakin meningkat. termasuk komunitas petani. Persoalan rendahnya kapasitas adopsi teknologi. Peningkatan Produktivitas dan Relevansi Teknologi Domestik Sensitivitas dan kepedulian pengembang teknologi yang diikuti dengan perencanaan dan pelaksanaan riset yang tepat akan membuahkan teknologi yang relevan. Upaya peningkatan relevansi teknologi dengan kebutuhan nyata belum sepenuhnya menjamin bahwa teknologi akan diadopsi pengguna. efek bola salju akan terjadi. peternak. maka Indonesia akan memulai era baru dalam mengembangkan inovasi nasional. misalnya melalui pelatihan atau pendidikan formal bagi para aktor pengguna. Satu faktor yang menentukan. dan pengrajin atau berbagai pelaku usaha skala kecil lainnya. untuk memperbesar peluang pemanfaatan teknologi perlu dilakukan perbaikan di kedua sisi. baik dari pemerintah maupun dari dunia usaha. pembudidaya ikan. termasuk bidang perekonomian. secara umum dapat dijumpai pada masyarakat pengguna teknologi di Indonesia. Kondisi yang diharapkan sebagai modal untuk memperkuat inovasi nasional adalah pendekatan demand-driven dapat menjadi mainstream pengembangan teknologi domestik. 18 Tahun 2002 . Peningkatan kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi akan memberikan umpanbalik (feedback) yang positif.2. Harapan akhirnya adalah teknologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dan memajukan peradaban bangsa sebagaimana yang diamanahkan oleh Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945. termasuk dimensi teknis. 4. sehingga persentase teknologi yang relevan kebutuhan semakin meningkat dan kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional semakin dirasakan publik. sosiokultural. Peningkatan kapasitas adopsi untuk dimensi teknis relatif mudah dilakukan. Relevansi dan produktivitas riset akan menjadi mesin produksi teknologi yang secara nyata akan meningkatkan kontribusi terhadap berbagai sektor pembangunan nasional. Kapasitas adopsi dari dimensi ekonomi/finansial akan lebih sulit ditingkatkan. yakni meningkatkan relevansi teknologi yang dibarengi dengan upaya meningkatkan kapasitas adopsi pengguna. Kapasitas adopsi pengguna teknologi bersifat multi dimensi. Rendahnya 83 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan kemungkinan juga politik. dan pemerintah. Pengguna teknologi ikut menikmati kontribusi teknologi terhadap pemenuhan kebutuhan dan menjadi alternatif solusi persoalan yang dihadapi para pengguna teknologi tersebut. namun kebijakan pemerintah terkait penyediaan kredit modal usaha dapat menjadi cara efektif untuk membantu pengguna teknologi dalam meningkatkan kapasitas adopsinya dari dimensi finansial.

dengan aktivitas utama perdagangan. Pasar domestik Indonesia yang besar merupakan potensi untuk menjadi ‘penyerap’ bagi semua produk barang dan jasa yang dihasilkan industri dalam negeri. pada fase awal diperlukan dukungan insentif tambahan agar perdagangan bertransformasi ke arah industri atau produsen barang dan jasa. Kelembagaan intermediasi ini belum berfungsi secara efektif. hampir semua lembaga intermediasi terbentuk atas inisiatif pemerintah dan sebagian juga diawaki oleh aparatur pemerintah. bukan industri manufaktur. [2] akses untuk mendapatkan modal. Persepsi ini sesungguhnya dapat dipahami. jika prasyarat dasarnya belum terpenuhi. Kondisi ini menjadikan upaya riset dan pengembangan teknologi yang sudah diarahkan sesuai dengan kebutuhan nasional. diperlukan transformasi dari pedagang menjadi produsen. Secara umum. Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan kebutuhan pasar domestik perlu lebih diintensifkan. bisnis di Indonesia memerlukan transformasi. Pada saat ini. Belum adanya lembaga intermediasi yang diinisiasi oleh pihak bisnis maupun masyarakat dapat menjadi indikasi bahwa kegiatan ini masih dianggap belum menarik. sesuai dengan spesifikasi teknis.adopsi teknologi. serta cukup tersedia sesuai siklus produksi. Kondisi lain 84 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan berorientasi pasar domestik menjadi tidak effektif. atau masih diyakini belum akan membuahkan hasil. karena berbagai kondisi yang terjadi saat ini masih belum ‘favorable’ untuk berfungsinya kelembagaan intermediasi. yakni: [1] akses untuk mendapatkan bahan baku yang cukup. Kelompok industri ini yang paling berpotensi untuk mengadopsi teknologi domestik yang telah dikembangkan. berbasis sumberdaya dalam negeri. selain disebabkan teknologi yang tidak relevan. dari kecenderungan dominan perdagangan menjadi dominan industri produsen barang dan jasa. yakni adanya relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan industri yang merefleksikan preferensi dan daya beli konsumen. Namun demikian. dan teknologi yang sesuai secara teknis serta kompetitif secara ekonomi. Oleh karena itu. Penguatan inovasi tidak dapat berfungsi optimal apabila kegiatan bisnis yang dominan masih berupa perdagangan. Peningkatan investasi dan akses permodalan untuk pengembangan dan/atau penumbuhan industri baru berbasis teknologi nasional perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dan difasilitasi perkembangannya. dan [3] akses pasar yang terjamin. Oleh sebab itu. Percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh pengguna di dalam negeri dan upaya mendorong arus informasi kebutuhan teknologi untuk pihak pengembang memerlukan peran aktif dari lembaga intermediasi. Aksesibilitas untuk tiga kunci sukses industri produsen perlu dijamin. penguatan industri dalam negeri merupakan salah satu pilar utama pendukung strategi penguatan inovasi nasional. harga yang pantas (dan relatif stabil). 18 Tahun 2002 . untuk meningkatkan adopsi teknologi. juga dikarenakan rendahnya kebutuhan teknologi. Lembaga intermediasi berperan sebagai penghubung antara lembaga pengembang teknologi dengan pengguna teknologi. tidak hanya persoalan rendahnya kapasitas adopsi. sumberdaya manusia. Hal ini juga dapat dijumpai pada pelaku bisnis Indonesia. Ketersediaan teknologi domestik yang secara teknis sesuai dengan kebutuhan dan secara ekonomi menguntungkan akan dibutuhkan industri produsen barang dan jasa.

Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan. Dalam 85 Naskah Akademik Perubahan UU No. terutama pada jenjang pendidikan tinggi dan menengah kejuruan. Bentuk fasilitasi dari pemerintah yang lain adalah dukungan untuk kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. 4. Ekosistem Inovasi yang Kondusif Selama proses transisi pergeseran orientasi arah dan prioritas riset. Lembaga intermediasi perlu diawaki oleh personel yang memahami tentang teknologi dan sekaligus punya kemampuan persuatif yang tinggi dan terampil dalam menjual.4. dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi. maka lebih cenderung memilih memproduksi barang di bawah lisensi asing. dan dilatih ketrampilan pemasaran-nya.2. sehingga berpotensi menjadi masalah jika dikomersialisasikan. [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya. dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam implementasi penguatan inovasi nasional. dibutuhkan pula regulasi dan fasilitasi pemerintah dalam menyiapkan sumberdaya manusia sesuai kebutuhan untuk pengembangan teknologi dan kebutuhan tenaga terampil untuk aplikasi teknologi. sehingga lebih cenderung membeli teknologi asing. karena merubah karakter manusia (terkait marketing skills) lebih membutuhkan waktu dibandingkan dengan menambah pengetahuan tentang teknologi tertentu. atau merekrut tenaga pemasaran dan diperkaya wawasan teknologinya. bukan atas usulan pihak industri. dan [3] pelaku industri dalam negeri belum percaya atas kehandalan teknologi domestik hasil karya anak bangsa. kalaupun masuk ke wilayah industri produsen barang/jasa. Upaya ini dapat dilakukan dengan merekrut peneliti/akademisi. melalui program pendidikan yang berkesesuaian. [2] preferensi komunitas bisnis Indonesia masih cenderung sebagai pedagang daripada sebagai produsen. Peran regulasi pemerintah ditujukan untuk mengawal agar implementasi penguatan inovasi secara konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. yakni dalam bentuk: [1] regulasi yang mendukung dan [2] fasilitasi percepatan laju proses reorientasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya ‘gesekan’ yang tidak perlu antar pihak terkait. tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Opsi kedua kelihatannya lebih baik. 18 Tahun 2002 .yang kurang kondusif bagi lembaga intermediasi adalah: [1] sistem perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual masih belum membudaya di kalangan pengembang teknologi di Indonesia. Berkaitan dengan upaya membangun inovasi nasional secara utuh. proporsional kontribusinya. peran pemerintahan sangat dibutuhkan.

keefektifan dan relevan (effectiveness dan relevance). Regulasi pemerintah dapat pula berupa insentif bagi kedua belah pihak untuk berkolaborasi. bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. dimana insentif tersebut dapat berbentuk insentif perpajakan. Jika lintasan (pathway) ini ditempuh dengan baik. akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat. Upaya ke arah ini sesungguhnya sudah dilakukan pemerintah. pihak industri hanya diposisikan untuk memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. Strategi ini mencakup: (1) Sinkronisasi antara teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi industri. Bentuk regulasi lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi seluruh produk barang/jasa di Indonesia. Agar diperhatikan apapun bentuk atau format riset kolaborasi. inovasi. 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. SNI telah memenuhi WTO Code of Good Practices. koheren (coherence). 18 Tahun 2002 . Dengan demikian. Dalam PP No. dan berdimensi pembangunan (development dimension). yakni dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. transparansi (transparency). yakni dirumuskan berdasarkan asas keterbukaan (openess).beberapa kasus. dan pemerintah. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak dalam bentuk pembiayaan bersama. maka ada beberapa komponen kebijakan yang dibutuhkan untuk mewujudkan adanya sistem inovasi nasional (SINas) yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional. Adanya rasa bangga dan percaya diri warga negara sebagai sumberdaya manusia penggerak pembangunan yang diimbangi dengan terciptanya lingkungan yang kondusif untuk berusaha. 35 Tahun 2007 dinyatakan badan usaha yang mengalokasikan pendapatannya untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. misalnya dukungan pembiayaan dari pihak industri untuk kegiatan riset dapat dianggap sebagai bagian dari pembayaran pajak yang menjadi kewajibannya (tax deductible). dan Difusi Teknologi. 86 Naskah Akademik Perubahan UU No. (2) Rangsangan untuk tumbuh-kembang industri produsen barang dan/atau jasa yang berbasis teknologi nasional dan sesuai dengan permintaan pasar domestik. merupakan modal kuat dalam menuju Indonesia yang lebih sejahtera di masa yang akan datang. Inovasi. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. konsensus dan tidak memihak (consensus and impartiality). masyarakat. maka tak akan ada lagi keraguan bahwa teknologi domestik akan mampu berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan nasional dan standarisasi akan menyempurnakan upaya penguatan inovasi di Indonesia. penerapan SNI diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi kepentingan domestik tetapi juga untuk kepentingan perdagangan global. Berdasarkan telaah yang telah diuraikan di atas. kepabeanan. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak.

Teknologi dengan warna Indonesia yang kental ini diyakini akan lebih berpeluang untuk mengalir lancar dari pihak atau lembaga pengembang teknologi ke pihak pengguna teknologi. yang penting dilakukan adalah merancang inovasi nasional yang tepat. tetapi terletak pada bagaimana cara agar teknologi yang dikembangkan dapat efektif dan efisien dalam mendukung pembangunan nasional di semua sektor. menstimulasi. Perjalanan panjang tersebut perlu diawali dengan keberhasilan mengembangkan dan memperkuat inovasi nasional di Indonesia yang mampu mendorong peradaban dan menyejahterakan rakyat.5. Oleh sebab itu.(3) Vitalisasi lembaga intermediasi untuk percepatan proses adopsi teknologi nasional oleh industri dalam negeri dan sebaliknya juga arus informasi kebutuhan teknologi kepada pihak pengembang teknologi. dan (4) Dukungan peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk memfasilitasi. Kontribusi terhadap Pembangunan Nasional Terlepas dari intensitas dan besaran (magnitude) kontribusinya. Dengan demikian isu utamanya bukan terletak pada ada atau tidak adanya peranan teknologi dalam pembangunan nasional. memanfaatkan sumberdaya alam nasional sebagai bahan baku atau tapak operasionalnya (operational site). tetapi membangun masyarakat berbasis pengetahuan kelihatannya masih akan menempuh perjalanan panjang. yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan upaya memberikan solusi atas permasalahan nyata yang dihadapi rakyat. Kemampuan dan kemandirian pengembangan teknologi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata menjadi modal dasar implementasi penguatan inovasi di Indonesia. Inovasi nasional yang didasarkan atas kebutuhan dan permasalahan nyata perlu didampingkan secara paralel dengan program pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan sumberdaya manusia berkualitas dan sensitif terhadap permasalahan nyata yang dihadapi bangsa dan kebutuhan 87 Naskah Akademik Perubahan UU No. Keempat strategi ini mempunyai keterkaitan satu sama lain. Keberhasilan membangun inovasi nasional hanya dapat dicapai jika semua strategi ini dapat dieksekusi dengan baik.2. Oleh sebab itu. Pengembangan teknologi nasional perlu mengutamakan pemberdayaan dan pendayagunaan sumberdaya manusia Indonesia sebagai tenaga penggeraknya. 18 Tahun 2002 . Walaupun sudah cukup lama diwacanakan. Pengembangan teknologi nasional juga perlu mempertimbangkan secara cermat kapasitas adopsi pengguna teknologi dalam negeri. dan mengakselerasi interaksi antar-aktor utama dalam penguatan inovasi nasional. Keberhasilan penguatan inovasi nasional akan ditakar dari kelancaran aliran teknologi (fluidity of technology flow). 4. seluruh strategi harus dilaksanakan secara interaktif dan sinambung. yakni menganggap bahwa semakin maju teknologi yang dikuasai maka semakin baik penguasaan inovasi suatu negara. bukan berdasarkan kecanggihan teknologi yang mampu dikembangkan. Kekeliruan persepsi sangat sering dan umum terjadi dalam konteks penilaian kinerja dan kontribusi inovasi. iptek akan selalu dibutuhkan dalam pembangunan semua sektor. serta mendekatkan hubungan dengan kelembagaan pendukung lainnya.

yakni kondisi aman. dan persentase penerimaan univesitas yang berasal dari sumber non-pemerintah yang terkait dengan aktivitas dan hasil riset. misalnya dalam bentuk demonstrasi anarkis. Meskipun ukuran kesejahteraan rakyat dan keamanan nasional bersifat relatif. besarnya penerimaan universitas atau lembaga riset yang berasal dari royalti. Keamanan mempunyai dua dimensi yang berbeda. 18 Tahun 2002 . semua indikator-antara hanya dapat dilihat sebagai titik-titik yang tercerai berai dan ‘diasumsikan’ terhubung satu sama lain oleh garis-garis imajiner yang diyakini sebagai bagian dari sistem tersebut. jumlah patent yang didaftarkan atau diperoleh (granted). Ilmu statistik merupakan alat yang ‘handy’ untuk pekerjaan ini. yakni: [1] rasa aman yang lebih bersifat internal. Indikator keberhasilan dalam menciptakan kondisi aman antara lain: tidak terjadinya gerakan separatisme di wilayah NKRI. personal. dan dapat dideteksi berdasarkan persepsi indera penglihatan dan pendengaran ( audiovisual perception). Asumsi-asumsi tersebut umumnya diuji berdasarkan korelasi masingmasing indikator-antara yang dianggap berhubungan. dengan ekstensi pada kapabilitas lembaga pengembang teknologi tersebut untuk merangkul mitra potensialnya. Hasil akhir yang diharapkan dari segala bentuk upaya dalam pengembangan dan penguatan inovasi adalah peningkatan kesejahteraan rakyat. jumlah publikasi yang ditulis bersama oleh akademisi dan pelaku industri (co-authored publication). Beberapa indikator-antara yang sering digunakan dalam mengevaluasi kehandalan penguatan inovasi antara lain: jumlah publikasi ilmiah per juta penduduk. Nilai-nilai positif atau kecenderungan peningkatan yang ditunjukkan oleh semua indikator-antara belum dapat secara otomatis diekstrapolasikan untuk sampai pada kesimpulan bahwa upaya pengembangan dan penguatan inovasi telah berjalan baik. minimalisasi dampak negatif dari gejolak masyarakat. Selain itu. kolektif. terkendalinya dinamika politik. mobilitas sumberdaya manusia antara kelembagaan riset atau universitas dengan industri. Jika kedua hal ini dilakukan secara serasi dan saling mendukung maka cita-cita untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan diyakini dapat terwujud. Indikator-antara lainnya dilihat dari sisi pengguna teknologi. dan sulit dideteksi.pembangunan nasional. terjaminnya keberlangsungan proses demokratisasi. Indikator-antara tersebut sesungguhnya baru melingkupi sisi pengembang teknologi. indikator lainnya dalam pengembangan dan penguatan inovasi nasional adalah terjaminnya keamanan nasional. dan terjaminnya kondisi yang kondusif untuk berinvestasi. sebaliknya ukuran baku tentang tingkat keamanan nasional masih belum banyak dibahas. subyek survei atau risetnya adalah industri-industri yang bergerak dalam berbagai sektor. jumlah kerjasama penelitian antara universitas dan industri. Indikator di kelompok ini antara lain: alokasi dana oleh industri untuk kegiatan riset internal perusahaan atau untuk mendukung 88 Naskah Akademik Perubahan UU No. yang dapat mengganggu kegiatan produktif. dan [2] kondisi aman yang lebih bersifat eksternal. Akan lebih realistis jika indikator keberhasilan implementasi inovasi nasional hanya didasarkan atas keamanan dimensi kedua. tetapi upaya kuantifikasi tingkat kesejahteraan rakyat lebih berkembang dan diterima secara luas. Dalam mengevaluasi suatu sistem yang utuh. efektif dan produktif.

sisanya (residu) merupakan kontribusi faktor bukan modal maupun tenaga kerja yang disimpulkan sebagai kontribusi dari faktor teknologi. Indikator lainnya yang dapat ditambahkan adalah tingkat kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan teknologi untuk pembangunan perekonomian dan pembangunan hankam. dan konsumsi atau penggunaan produk akhir oleh konsumen. yakni modal dan tenaga kerja. indikator utama keberhasilan pengembangan dan implementasi inovasi hanya dua. preferensi industri untuk mengembangkan teknologi sendiri atau membeli teknologi yang sudah mapan (established). walaupun secara teknis inovasi nasional dapat dibongkar menjadi empat komponen. sehingga perlu dilengkapi pula dengan pola distribusi pendapatan.3. bukan pertumbuhan ekonomi semata. Dengan demikian untuk Indonesia. yakni peningkatan kesejahteraan rakyat dan terciptanya kondisi keamanan nasional. Dasarnya adalah pertumbuhan ekonomi terjadi atas kontribusi dari dua faktor utama. tetapi hasilnya seringkali tidak atau kurang memuaskan. Pendekatan parsial biasanya hanya mengarah untuk menghasilkan justifikasi bahwa suatu negara sebetulnya sudah melakukan upaya (dan telah ada tanda-tanda perbaikan) walaupun hasilnya belum memuaskan. yakni: pengembangan teknologi. Kemampuan dan tumbuhnya budaya masyarakat untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge-based society) dapat pula digunakan sebagai indikator tambahan untuk mengevaluasi performa penguatan inovasi di Indonesia.kegiatan riset di universitas dan lembaga riset eksternal. perlu diingat kembali bahwa ukuran kinerja inovasi adalah kesejahteraan rakyat. identifikasi sumber informasi yang dianggap penting oleh industri dalam mengembangkan produk komersial. 18 Tahun 2002 . adopsi teknologi untuk proses produksi barang dan jasa. difusi teknologi dari pengembang ke pengguna. Total Factor Productivity (TFP) telah digunakan beberapa ekonom sebagai proxy untuk menaksir kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi. indikator keberhasilan pengembangan inovasi nasional menjadi kurang bermakna jika difragmentasi menjadi indikator-indikator antara atau indikator yang bersifat parsial. Banyak indikator keberhasilan yang dapat digunakan dalam mengevaluasi kinerja pada masingmasing komponen atau tahapan penguatan inovasi nasional. Indikator-antara yang digunakan baik dari sisi pengembang maupun pengguna teknologi memang telah mengarah pada upaya menakar ‘potensi’ kedua b elah pihak untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. 4. Aspek Filosofis 89 Naskah Akademik Perubahan UU No. Namun demikian. interpretasi atas indikator-antara ini harus dilakukan dengan hati-hati. Banyak juga kajian mengenai inovasi yang telah dilakukan menggunakan indikator parsial ini. karena hanya mampu menjelaskan secara ‘segmented’. Sebagai suatu sistem. Walaupun tentunya.

atau sesuai dengan nilai-nilai positif yang tertinggi. Di Indonesia data seperti ini tidak mudah untuk didapatkan. yakni 12. Selandia Baru. dan [4] timbangan industri terhadap universitas dan lembaga riset sebagai sumber informasi/pengetahuan untuk pengembangan produk inovatif. Dinamika Lingkungan Global Negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah lama memposisikan Sistem Inovasi Nasional (SINas) sebagai strategi penting dalam memajukan perekonomian melalui pemanfaatkan keunggulan teknologi negara masing-masing. seperti Amerika Serikat. Pengembangan inovasi nasional pada negara-negara OECD dan kajian akademik yang dilakukan oleh kelembagaan OECD telah menjadi referensi penting bagi dunia dalam memperlajari tentang upaya penguatan inovasi nasional dan kontribusinya bagi pembangunan perekonomian. Korea. karena banyak kegiatan riset yang dilakukan industri bersama akademisi secara individual. Inisiatif pendirian OECD dilakukan oleh beberapa negara Eropa Barat plus Turki dan Amerika Serikat. Di Inggris. karena ternyata bukan hanya perguruan tinggi dan lembaga riset di negara yang belum maju teknologinya saja yang ‘malas’ mendaftarkan paten. Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya.1. yakni hanya 90 Naskah Akademik Perubahan UU No. atau lembaga intra-universitas yang tidak dicatat sebagai penerimaan resmi universitas. terutama antara universitas atau lembaga riset dengan pelaku industri. dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Publikasi yang ditulis bersama ini diasumsikan berakar pada hasil kolaborasi riset antara kedua pihak tersebut. dan Meksiko. 1995).2 persen pada tahun 1989 meningkat menjadi 17.3. Hasil kajian Rosenberg dan Nelson (1994) terkait dengan jumlah paten universitas patut untuk disimak. publikasi ilmiah yang ditulis bersama (co-authored) oleh peneliti universitas atau lembaga riset pemerintah dengan personel yang mewakili institusi bisnis terlihat secara konsisten meningkat antara tahun 1981 sampai 1994 (Hicks and Katz. 18 Tahun 2002 . peranan inovasi nasional dalam pembangunan perekonomian sangat ditentukan oleh intensitas dan kualitas interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. [3] jumlah paten universitas atau lembaga riset yang dikomersialisasikan oleh industri. kelompok. Jepang. tetapi juga terjadi pada universitas di negara yang maju. keanggotaan OECD telah bertambah dengan beberapa negara Eropa Timur. antara lain dengan mengevaluasi: [1] porsi pendapatan universitas atau lembaga riset yang berasal dari kerjasama dengan industri dalam melakukan riset. Persentase paten universitas di Amerika Serikat secara relatif juga rendah. 1996).Secara umum syarat filosofis dalam penyusunan peraturan perundang-undangan adalah apabila peraturan perundang-undangan dapat diterapkan sesuai dengan cita-cita hukum. Australia. Untuk menaksir intensitas interaksi tersebut. Namun saat ini. 4. Nilai-nilai ini menjadi cita-cita hukum dan tujuan negara bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Hasil survei yang dilakukan di Belanda selama periode 1989-1992 menunjukkan bahwa pendapatan universitas yang berasal dari kerjasama riset dengan pihak industri secara konsisten meningkat.4 persen pada tahun 1992 (Hertog. walaupun persentasenya masih relatif rendah. [2] jumlah paten dan publikasi bersama antara akademisi dan pelaku industri.

perminyakan. tapi jumlah aktualnya tentu tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah paten universitas dan lembaga riset di Indonesia. pemasok bahan baku atau komponen. dimana produk baru yang dihasilkan dari kolaborasi mampu meningkatkan penjualan. sedangkan informasi yang dianggap tidak penting adalah berasal dari lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. termasuk logam olahan (fabricated metals). dan konsultan. komputer. plastik.7 persen untuk bidang komunikasi sampai 18. [2] bersumber dari pasar. MERIT telah mengembangkan database kesepakatan kerjasama dan indikator teknologi (Co-operative Agreements and Technology Indicators. Porsi paten yang lebih besar berasal dari industri atau pihak non-universitas lainnya. Sumber informasi tersebut dikelompokkan menjadi 4 kelompok. tetapi di Jepang dan Eropa kerjasama serupa tidak menunjukkan perubahan yang berarti (Haagedoorn. Malerba (1996) menganalisis 13 sumber informasi yang dianggap relevan untuk upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. Walaupun persentasenya rendah. elektronik. Kelembagaan riset pemerintah (termasuk universitas) dianggap penting oleh mayoritas (>50%) pelaku industri untuk bidang fasilitas layanan publik (utilities) dan pharmaseutikal. teknologi informasi dan komunikasi. 1997). pameran. 91 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kolaborasi antar-lembaga bisnis memberikan sumbangan terhadap kinerja inovatif perusahaan di Norwegia dan Finlandia. pangan. yakni: [1] sumber informasi dari dalam kelembagaan bisnis sendiri. otomotif. informasi paten. Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber informasi yang paling penting ternyata berasal dari pelanggan/konsumen dan sumber internal perusahaan.000 perusahaan (OECD. tetapi sebaliknya mayoritas pelaku industri menganggap peranannya kurang penting untuk bidang-bidang lainnya. dan [4] sumber informasi umum seperti konferensi. disingkat CATI) yang mencakup hampir 13. Data yang digunakan oleh Malerba (1996) berasal dari hasil Community Innovation Survey (CIS) antara 1991 sampai 1993 yang dilaksanakan atas inisiatif bersama Komisi Eropa dan Eurostat terhadap 40.1 persen untuk bidang rekayasa genetika. Di Jepang ternyata kerjasama informal antar-kelembagaan bisnis berperan penting dalam keberhasilan pengembangan teknologi. dan kedirgantaraan (aerospace). [3] lembaga riset pemerintah dan universitas.berkisar antara 0. bahan kimia. permesinan. 1997). Hasil survei yang dilakukan oleh The Maastricht Economic Research Institute on Innovation and Technology (MERIT) memberikan gambaran tentang bagaimana pihak industri di negara-negara Eropa menilai peran universitas atau kelembagaan riset pemerintah.000 industri manufaktur di Eropah. telekomunikasi. termasuk konsumen. dan teknologi material baru) meningkat di Amerika Serikat. juga menunjukkan bahwa kolaborasi antar-perusahaan mampu meningkatkan penjualan untuk hampir semua produk yang dihasil melalui kolaborasi tersebut. 1996). Kerjasama terbukti mampu meningkatkan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengadopsi teknologi yang bermanfaat (OECD. Data yang terkumpul selama periode 1980-1994 dalam studi ini menunjukkan bahwa kerjasama teknis untuk bidang-bidang tertentu (bioteknologi. Kajian yang sama di Jerman. pertemuan bisnis. logam dasar. 18 Tahun 2002 .000 kesepakatan kerjasama yang melibatkan lebih dari 6. instrumen.

7 28 Singapura 7 92 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kehadiran MNC dapat menjadi ancaman bagi upaya pengembangan teknologi nasional jika tidak dibangun hubungan yang sinergis mutualistik dengan MNC tersebut. Posisi Indonesia tersebut didasarkan atas beberapa indikator hasil analisis yang dilakukan oleh berbagai lembaga internasional (Tabel 6). dan untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Tantangan dan ancaman ini perlu dijawab dan/atau ditangkal dengan mewujudkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan di Indonesia yang handal. dan Singapura Indikator Peringkat HDI.Hasil ini bertentangan dengan anggapan yang umumnya dianut banyak pihak di Indonesia bahwa perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai motor penggerak utama untuk tumbuh dan berkembangnya inovasi nasional. 4. berdasarkan kedekatan posisi geografis dan intensitas hubungan sosial. digerakkan dengan motor teknologi domestik. Thailand. komunitas akademik dan peneliti Indonesia tidak dapat lagi mengabaikan ancaman penjajahan teknologi asing dalam bentuk banjir produk barang dan jasa impor yang melanda pasar domestik dan invasi Multi National Company (MNC). baik secara langsung maupun dalam bentuk produknya. Dalam konteks kemajuan inovasi saat ini. 2007 Indonesia 107 17. Pergeseran yang wajib dilakukan adalah menambah porsi goal-oriented atau demand-driven research dalam grand scenario pengembangan riset dan teknologi. Filipina. Namun demikian.3 54 Malaysia 63 32. 18 Tahun 2002 . dan negara-negara ASEAN lainnya berada pada lapisan bawah. ekonomi. Vietnam. 2007 Peringkat Daya Saing. 2007/08 Angka Partisipasi Kasar.2.3. paling tidak untuk referensi. budaya dan politik.5 21 Thailand 78 42. maka dinamika lingkungan strategis pada tingkat regional Asia Tenggara (ASEAN) perlu mendapat perhatian yang lebih intensif. Fakta ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi komunitas akademik dan peneliti Indonesia untuk melakukan reorientasi prioritas risetnya agar tidak semakin terkucil dari skenario global pengembangan inovasi. Tabel 6. Dinamika Lingkungan Regional Dinamika lingkungan strategis pada tingkat dunia akan berpengaruh bagi perkembangan inovasi nasional di Indonesia. sebaliknya bisa menjadi sumber spillover teknologi. Kondisi lingkungan strategis perlu mendapat perhatian. Selain itu. berbasis sumberdaya nasional. negara-negara ASEAN dapat dibagi dari tiga lapisan: Singapura berada pada lapisan atas. sedangkan Indonesia. Malaysia dan Thailand pada lapisan tengah. Kemandirian teknologi merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan dan ancaman tersebut. Potensi pengembangan inovasi nasional Indonesia berdasarkan beberapa indikator akademik dibandingkan dengan Malaysia.

Disamping itu. Negara ASEAN umumnya masih mengandalkan sektor pertanian komoditas hasil eksploitasi kekayaan alamnya.Indeks Daya Serap Teknologi.3. merupakan mitra komplementer untuk pembangunan perekonomian nasional.3. Pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) dapat dikatakan belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.8 4. Paten USPTO. Aspek yang akan ditelaah lebih mendalam adalah interaksinya dengan dinamika lingkungan strategis yang sedang berkembang saat ini dan kecenderungan perubahan lingkungan strategis tersebut di masa yang akan datang. maka Indonesia dapat menjadi pemasok barang dan jasa.0 409.5 2. kecuali Singapura. Paten Terdaftar. 2003 Paten USPTO. serta kendala non-teknologi lainnya juga memerlukan perhatian.9 74. antara lain Indeks Pembangunan Manusia (HDI). Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dari Depdiknas (Lakitan. Secara menyeluruh gambaran postur perkembangan inovasi di Indonesia masih jauh dari memuaskan. Indeks Kerjasama Riset.8 16. 2009). 4. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih serius agar ketergantungan pada negara tetangga ini dapat dikurangi agar posisi Indonesia lebih kompetitif. Kemajuan inovasi suatu negara dapat ditaksir berdasarkan beberapa indikator. 2009). Untuk kondisi saat ini. Indeks Daya Saing Global. serta sekaligus memanfaatkan bahan baku yang dihasilkan negara-negara di kawasan ASEAN. Untuk kawasan ASEAN pun masih perlu perjuangan keras agar dapat menjadi yang terdepan. Indeks Kerjasama Riset (Warsono.6 1072 6.3 4. 2001/05 Publikasi Ilmiah. Negara-negara ASEAN lainnya dapat menjadi kompetitor dan sekaligus mitra strategis yang potensial. aliran teknologi antara pengembang dan pengguna yang masih tersendat.4 520 5. Dinamika Lingkungan Nasional Saat ini kontribusi teknologi pada tingkat nasional masih belum optimal. Hal ini disebabkan belum terjadinya aliran teknologi yang signifikan dari pihak pengembangan teknologi ke pihak pengguna teknologi. Singapura yang lebih maju di sektor perdagangan. Perubahan lingkungan strategis di 93 Naskah Akademik Perubahan UU No.6 178 5. 18 Tahun 2002 Struktur perekonomian negara-negara ASEAN secara umum relatif sama.2 41. Jika Indonesia mampu mengembangkan industri barang dan jasa berbasis teknologi nasional yang kompetitif.4 3122 Sumber: Peringkat Human Development Index (HDI) dari Laporan UNDP (Hasta. dan Jumlah Publikasi Ilmiah (Tabel 6). Berbagai alasan dan argumen yang menyertainya telah dijabarkan sebelumnya. 2008d). Peringkat Daya Saing dari Laporan World Economic Forum (Suhardi. dan publikasi ilmiah dari Laporan World Bank (Suhardi. 2009). Angka Partisipasi Kasar (APK) pada jenjang pendidikan tinggi. Indeks Daya Serap Teknologi. 2003 4. Hal ini tergantung kemampuan Indonesia dalam mewujudkan inovasi nasional. . 2003 Indeks Kerjasama Riset. dan industri jasa keuangan. industri pengolahan. Indeks Daya Serap Teknologi. kualitas sumberdaya manusia yang secara umum masih belum kompetitif. 2009). mungkin dapat dikatakan masih berada pada posisi yang sangat minimal.

yakni modal dan tenaga kerja (Firdausy. yakni skenario ‘business-as-usual’. bahkan mungkin semakin terpuruk. 2009). Jika kecenderungan yang telah berlangsung sekitar setengah abad ini tidak diimbangi dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk melakukan reorientasi kebijakan pengembangan teknologi dan industri. Skenario business-as-usual jelas tidak akan mampu mendukung pengembangan inovasi nasional. maka upaya menumbuhkan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) tidak akan pernah terwujud. legislatif. Selanjutnya Firdausy (2009b) menyebutkan bahwa kontribusi teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia paling tinggi terjadi pada periode 1991-1995. dan yudikatif. Artinya sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini masih didominasi faktor di luar teknologi. tetapi 94 Naskah Akademik Perubahan UU No. dengan TFP sebesar 4 persen. dan skenario dengan upaya percepatan perubahan ke arah yang lebih kondusif untuk berkembangnya inovasi nasional. penguatan inovasi diharapkan akan terjadi dan kontribusi teknologi terhadap pembangunan perekonomian dapat ditingkatkan. maka pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak akan pernah membaik. Kadiman. Agaknya tidak berlebihan atau terkesan pesimistik jika disimpulkan bahwa inovasi tidak akan tumbuh berkembang jika tidak terjadi perubahan lingkungan strategis yang mengarah kepada terwujudnya ekosistem yang lebih kondusif untuk tumbuh-kembang sistem inovasi nasional (SINas). Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian 2006. Pengetahuan hanya bisa ditranslasi menjadi pertumbuhan ekonomi jika terlebih dahulu mampu menghasilkan teknologi yang dibutuhkan pengguna teknologi untuk menghasilkan barang dan/atau jasa yang dibutuhkan. Hal ini kemudian dituangkan dalam bentuk regulasi yang mengikat semua pihak untuk mematuhi dan berperan aktif dalam implementasinya. melanjutkan kecederungan yang sedang terjadi saat ini dengan tanpa upaya mendorong perubahan ke arah yang diinginkan. menghitung kontribusi iptek terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan proxy indikator Total Factor Productivity (TFP) dan mendapatkan bahwa TFP Indonesia hanya sebesar 1. Salah satu modal utama pembangunan Indonesia sampai saat ini berasal dari kekayaan sumberdaya alam yang bersifat tak-terbarukan (non-renewable resources). yang suatu saat akan habis. Hanya dengan melakukan perubahan secara agresif-dan-terarah (agressive and welldirected) terhadap lingkungan strategis.masa depan akan direka berdasarkan dua ekstrim skenario.38 persen. Perubahan lingkungan strategis tersebut. 2009a. Perubahan lingkungan strategis ke arah yang lebih kondusif ini perlu dimulai dari setiap komponen bangsa di lembaga eksekutif. termasuk: (1) Mengubah orientasi pendidikan nasional yang diterapkan melalui kurikulum pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik. 18 Tahun 2002 . Tanpa melakukan upaya mendorong agar teknologi domestik lebih sesuai untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan pembangunan ekonomi nasional dan tanpa upaya mendorong industri untuk lebih memprioritaskan penggunaan teknologi domestik dan memproduksi barang dan jasa sesuai kebutuhan pasar domestik.

serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya. Keteladanan tokoh pemerintahan dan masyarakat dalam mendorong kecintaan dan kebanggaan atas produk nasional merupakan salah satu cara yang diyakini efektif. Untuk melaksanakan MP3EI yang didasarkan pada Perpres No. dalam upaya penguasaan dan pemanfaatan iptek. mendorong investasi. yakni: [1] Pokja Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi. [2] memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi untuk revitalisasi kinerja sektor riil. (3) Mengubah citra produk nasional di mata konsumen dalam negeri. Pada tahun 2011 ini terjadi perkembangan yang positif. mengintegrasikan sektor dan regional. dan [3] Pokja SDM dan Iptek. swasta nasional. Untuk itu. lembaga penelitian dan pengembangan. dan [3] MP3EI mengakomodir masukan dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan. Dalam struktur KP3EI ini terdapat tiga Kelompok Kerja. maupun di lembaga lainnya di badan usaha. yang didorong melalui pengembangan SDM dan iptek yang sesuai untuk peningkatan daya saing. dan [3] pengembangan center of excellence di setiap koridor ekonomi. Semangat perubahan pendekatan pembangunan perekonomian tersebut tercermin dari: [1] MP3EI mengedepankan terobosan kebijakan dan strategi. pembangunan perekonomian tidak lagi dilakukan dengan pendekatan yang bersifat ‘Business as Not Usual’. 18 Tahun 2002 . bukan pada masalah yang dihadapi. (2) Perlu menggeser paradigma ‘eksploitasi’ kekayaan sumberdaya alam sebagai cara cepatdan-mudah untuk meningkatkan pendapatan negara (orientasi jangka pendek).juga memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap permasalahan dan kebutuhan pembangunan nasional. [2] Pokja Percepatan Pembangunan Infrastruktur. dibentuk pula Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI). Dengan diluncurkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). menjadi ‘pengelolaan’ sumberdaya alam yang lebih efisien dan akrab lingkungan. Relevansi dan mutu pendidikan harus menjadi tujuan utama penyelenggaraan pendidikan pada semua strata. dan unsur kelembagaan iptek di perguruan tinggi. [2] MP3EI menitikberatkan pada percepatan transformasi ekonomi melalui peningkatan nilai tambah (value added). yaitu: [1] pengembangan potensi ekonomi pada enam koridor pembangunan. tiga strategi utama dikembangkan dalam pelaksanaan MP3EI. dengan cara meningkatkan kualitas barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri ( Made in Indonesia) yang dibarengi dengan harga yang lebih kompetitif. termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah. 32 Tahun 2011. sehingga dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan ekonomi dan ekologi yang lebih maksimal (orientasi jangka panjang). dimana titik berat pendekatan terletak pada solusi. dan (4) Menerbitkan regulasi yang lebih ‘favorable’ untuk pengembangan teknologi nasional dan untuk mendukung peningkatan market share produk nasional di pasar domestik. dengan cara mendorong investasi BUMN. dan lembaga penunjang lainnya untuk secara 95 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Foreign Direct Investment (FDI) pada 22 kegiatan ekonomi utama. masyarakat. Keberadaan Pokja SDM dan Iptek ini membuka peluang bagi Kementerian Riset dan Teknologi.

96 Naskah Akademik Perubahan UU No. ini berarti upaya penguatan inovasi nasional di Indonesia mendapat pijakan yang lebih mantap.lebih signifikan dapat berkontribusi terhadap pembangunan perekonomian Indonesia. 18 Tahun 2002 . Secara teknis operasional.

kehandalan SINas sesungguhnya ditentukan oleh kelancaran aliran 97 Naskah Akademik Perubahan UU No. kebijakan inovasi nasional umumnya telah dipublikasikan secara luas. . serta ruang lingkup materi muatan rancangan undang-undang tentang perubahan UU No.1.Bab 5 Jangkauan. baik yang berperan sebagai pengembang maupun pengguna teknologi yang dimiliki suatu negara. Arah dan Jangkauan Pengaturan Penguatan Inovasi Nasional Pejabat negara dan kadang juga akademisi yang (dianggap) pakar di bidang penguatan inovasi juga ikut melakukan upaya adopsi langsung ini tanpa melakukan analisis yang mendalam mengapa pengembangan konsepsi inovasi tertentu berhasil memajukan perekonomian di negara asalnya. 18 Tahun 2002. dukungan dari berbagai aktor pendukungnya. Kehandalan SINas sebagai sebuah sistem lebih ditentukan oleh intensitas dan efektivitas interaksi antara aktor-aktor utamanya. 18 Tahun 2002 Di negara-negara maju yang tergabung dalam OECD. dan Ruang Lingkup Materi Muatan RUU Perubahan UU Nomor 18 Tahun 2002 Sangat mudah untuk menyatakan bahwa pengembangan sistem inovasi nasional (SINas) merupakan upaya mendorong peningkatan inovasi secara nasional agar secara nyata memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan rakyat. sering menjadi reference utama dalam pengembangan kebijakan inovasi. maka seringkali pengembangan inovasi dianalisis secara terisolir. mengabaikan fakta adanya perbedaan yang tajam antara negara yang dicontoh dengan realita di Indonesia. dan kondusivitas ekosistem tempat tumbuhkembangnya. Secara praktis. Namun persoalannya adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya di Indonesia. belum menjamin bahwa negara yang bersangkutan akan secara otomatis memiliki SINas yang produktif dan berkelanjutan. Arah Pengaturan. Sekumpulan aktor SINas yang hebat. tercerabut dari ekosistem dimana sistem inovasi nasional (SINas) mampu unjuk kinerja dengan sangat baik. Namun demikian upaya untuk mengadopsi secara langsung konsepsi inovasi nasional di negara yang secara ekonomi lebih berhasil untuk diterapkan di negara lainnya seringkali mengalami kegagalan. Untuk itu akan diuraikan dalam bab ini mengenai arah dan jangkauan kebijakan penguatan inovasi nasional. Kalaupun dilakukan analisis. Demikian halnya. Pengembangan SINas tidak hanya merupakan sekumpulan aktor. Strategi keberhasilan negara-negara tertentu. 5.

informasi kebutuhan (demand) dari para aktor pengguna ke pengembang teknologi, yang diimbangi dengan kelancaran pasokan teknologi yang relevan dari aktor pengembang ke pengguna teknologi. Secara komprehensif, SINas merupakan sistem yang kompleks. Walaupun untuk simplifikasi dalam analisisnya unsur-unsur SINas dapat diurai lepas satu per satu, namun analisis hanya akan sahih jika masing-masing unsurnya tersebut selalu dilihat dari perpektif keterkaitannya dengan unsur SINas lainnya. Alur keterkaitan SINas dengan komponen pembentuk ekosistemnya dapat dilihat pada Gambar 6.

POTENSI SUMBERDAYA EKONOMI [Tangible Factors]  Sumberdaya Alam  Sumberdaya Manusia  Infrastruktur

POTENSI SOSIO-KULTURAL

[Intangible Factors]  Ideologi  Politik  Tata Kepemerintahan  Budaya Kerja

PERAN POKOK PEMERINTAH Memformulasikan kebijakan pendukung SINas berbasis pada Potensi Sumber daya Ekonomi dan Potensi SosioKultural dalam rangka penyiapan “Panggung SINas”, terutama kebijakan:  Perekonomian makro, keuangan, dan perpajakan  Perindustrian dan Perdagangan  Riset dan Pengembangan Teknologi  Ketenagakerjaan  Pendidikan Nasional  Infrastruktur Sosial  Tata Kepemerintahan

PENGEMBANG TEKNOLOGI  Perguruan Tinggi  Lembaga R&D Pemerintah  Lembaga R&D Swasta

PENGGUNA PASAR TEKNOLOGI  Domestik  Industri /  Global Bisnis  Masyarakat  Pemerintah Barang/Jasa Permintaan

LEMBAGA INTERMEDIASI

PANGGUNG SINAS  Fasiltas Komunikasi & Interaksi  Regulasi yang Kondusif  Dukungan & Insentif Finansial

Gambar 6. Peran Pemerintah dalam menyiapkan ‘panggung’ Sistem Inovasi Indonesia

Upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif dalam mendukung pembangunan perekonomian membutuhkan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas tersebut. Tugas utama pemerintah adalah menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. Panggung SINas sebagai konsepsi dapat diaktualisasikan dalam bentuk: [1] fasilitas untuk para aktor berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif, [2] regulasi yang memungkinkan para aktor untuk memformulasikan dan mengimplementasikan upaya bersama dalam meningkatkan produktivitas, dan [3] dukungan dan/atau insentif finansial yang menjadi perangsang bagi para aktor untuk bersama-sama membangun dan memperkuat inovasi nasional. Panggung SINas yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. Kebijakan yang terkait secara langsung dan diyakini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SINas adalah kebijakan ekonomi makro, keuangan, dan perpajakan; kebijakan perindustrian dan perdagangan; kebijakan riset dan pengembangan teknologi; kebijakan ketenagakerjaan; kebijakan pendidikan nasional; kebijakan penyediaan infrastruktur sosial; dan kebijakan dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (good governance). Kebijakan tersebut selain harus selaras dengan upaya mewujudkan SINas, juga harus berbasis pada potensi sumberdaya ekonomi dan potensi sosial budaya yang dimiliki Indonesia.

98

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Kebijakan yang tidak mengakar pada potensi dan kondisi sendiri akan lebih susah untuk secara efektif diimplementasikan. Dengan demikian tugas pokok pemerintah yang paling krusial adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung SINas yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. Kinerja aktor-aktor SINas pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik), baik berupa barang maupun jasa. Oleh sebab itu, peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ SINas, tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik.27

5.1.1. Membangun Inovasi sebagai Sistem Sebagai sebuah sistem, pengembangan inovasi nasional tidak dapat dipandang hanya sebagai kumpulan dari lembaga, tetapi yang lebih penting adalah terjadinya aliran informasi dan produk iptek yang lancar antar-lembaga. Keberadaan aktor atau kelembagaan pengembang dan pengguna teknologi, serta upaya fasilitasi, intermediasi, dan regulasi pemerintah belum menjamin bahwa sistem inovasi sudah terbangun atau pasti akan berjalan. Pada saat ini sesungguhnya para aktor dan lembaga-lembaga tersebut sudah ada, tetapi interaksi dan komunikasinya belum intensif dan produktif. Ini yang menjadi persoalan pokok saat ini. Pengembang teknologi (termasuk perguruan tinggi) melakukan kegiatan riset tanpa mempertimbangkan relevansinya dengan kebutuhan pengguna; sebaliknya pengguna teknologi belum mau mengadopsi teknologi dalam negeri karena berbagai alasan, antara lain karena tidak relevan dengan kebutuhan, belum cukup handal secara teknis, tidak sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna, dan/atau belum kompetitif secara ekonomi. Untuk memperbesar peluang terwujudnya sistem inovasi, maka para pengguna teknologi harus terbuka untuk berbagi informasi tentang kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi; sebaliknya juga pihak pengembang teknologi harus peka terhadap kebutuhan dan persoalan nyata yang berkembang dan umumnya bersifat dinamis. Teknologi yang dikembangkan selain harus relevan dengan kebutuhan pengguna, juga harus sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya, baik kapasitas adopsinya secara teknis, ekonomi, dan sosiokultural (Gambar 7).

27

Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada beberapa kesempatan. Berbagai negara, juga melihat populasi Indonesia yang besar, lebih dari 237 juta jiwa (BPS, 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial.

99

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Gambar 7. Konsepsi Dasar Sistem Inovasi Nasional (Lakitan, 2010)

Lembaga litbang sebagai pengembang iptek perlu: [1] mengevaluasi kembali tentang kesesuaian orientasi pengembangan iptek dengan kebutuhan rakyat dan negara (isu relevansi riset); dan [2] meningkatkan pemaham tentang kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi rakyat dan negara (isu sensitivitas pelaku pengembang iptek); sebaliknya lembaga pengguna teknologi perlu meningkatkan kapasitas adopsinya dan kesediaannya dalam berbagi informasi kebutuhan dan persoalan terkait dengan teknologi. Perlu selalu diyakini bahwa iptek hanya akan berkontribusi terhadap pembangunan nasional, apabila iptek digunakan dan nyata bermanfaat, baik manfaat ekonomi maupun non-ekonomi. Prasyarat agar aliran teknologi ini terjadi adalah: [1] teknologi yang dikembangkan dan ditawarkan oleh lembaga litbang relevan dengan kebutuhan pengguna; [2] teknologi yang ditawarkan sepadan dengan

100

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Dalam konteks pengembangan SINas, maka mutlak perlu terjadi aliran informasi kebutuhan iptek dan persoalan nyata yang membutuhkan solusi iptek dari pihak pengguna ke pihak pengembang iptek. Prasyarat agar aliran ini terjadi adalah [1] keterbukaan atau keinginan dari pihak pengguna untuk berbagi informasi dan [2] sensitivitas pihak pengembang iptek dalam menangkap sinyal kebutuhan teknologi dan persoalan nyata yang dihadapi pihak pengguna iptek. Keyakinan pihak pengguna atas kapasitas lembaga pengembang iptek dalam menghasilkan pengetahuan dan teknologi yang sesuai kebutuhan, handal secara teknis, dan kompetitif secara ekonomi akan menjadi pemicu terjadinya aliran informasi dimaksud. Jika saat ini aliran tersebut masih tersendat, maka adalah bijak jika kedua belah pihak melakukan swa-evaluasi (self assessment), mencermati tentang apa yang perlu dibenahi di wilayah peran masing-masing. Lembaga litbang dan lembaga pengguna teknologi perlu melakukan pembenahan.

Revitalisasi Lembaga Pengembang Teknologi Pada saat ini. Pada fase awal (seperti kondisi saat ini). terbukti dengan adanya aliran informasi kebutuhan teknologi dan informasi tentang persoalan nyata yang dihadapi oleh pihak pengguna dalam melakukan proses produksi barang dan/atau jasa sesuai dengan permintaan konsumen. Contoh indikator kinerja lembaga litbang berbasis pada tiga kapasitas pokoknya. disajikan pada Tabel 7. 5. tidak terjadi tumpang tindih riset yang dilakukan dengan riset yang (telah) dilakukan di tempat lain. [2] kapasitas untuk melakukan riset dan pengembangan iptek (R&D capacity). dan regulator agar suasana yang kondusif dapat diwujudkan. 18 Tahun 2002 . kuantitas dan kualitas iptek yang diadopsi oleh pihak pengguna. Kapasitas ‘outsourcing’ lembaga pengembang teknologi terindikasi antara lain dari aksesibilitas ke berbagai sumber informasi iptek. menggerakkan aliran dua-arah ini akan membutuhkan daya yang besar dan upaya yang intensif. maupun kawasan ekonomi tertentu. agar pengguna dan pengembang iptek terangsang untuk mengintensifkan komunikasi dan interaksinya. dan [3] kapasitas untuk mendiseminasikan pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan (disseminating capacity)(Gambar 8). Oleh sebab itu. dan [3] penggunaan iptek tersebut mempunyai prospek keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan iptek serupa yang sudah tersedia. yakni: [1] kapasitas untuk menyerap iptek yang berasal dari luar (sourcing capacity). serta sebaliknya juga terjadi adopsi teknologi yang dihasilkan oleh pihak pengembang oleh pihak pengguna. daerah. relevansi teknologi yang dihasilkan dengan kebutuhan nyata para pengguna. Kesinambungan aliran dua arah ini yang menjadi indikator eksistensi sistem inovasi. Kapasitas riset dan pengembangan tercermin dari kualitas riset dan iptek yang dihasilkan.2. Pemerintah diharapkan dapat memainkan peran sebagai fasilitator. intermediator.1. ada tiga kapasitas yang sangat mendasar yang perlu dimiliki oleh setiap lembaga pengembang teknologi. 101 Naskah Akademik Perubahan UU No.kapasitas adopsi (calon) pengguna potensialnya. dan royalti yang diterima oleh lembaga atas produk teknologinya yang berhasil dikomersialisasikan. pada jenjang nasional. sistem inovasi hanya akan terwujud jika terjadi komunikasi dan interaksi antara aktor atau lembaga pengembang dengan pengguna teknologi. Sedangkan kapasitas diseminasi terlihat dari intensitas dan jangkauan publikasi kegiatan riset yang dilakukan dan iptek yang dihasilkan baik melalui media cetak maupun elektronik. butuh peran dan komitmen yang sungguh-sungguh dari Pemerintah. dan produktivitas lembaga dalam menghasilkan teknologi per satuan sumberdaya dan/atau biaya yang dikelola. Secara hakiki. dan efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan iptek yang bermanfaat.

Tiga kapasitas yang harus dimilik lembaga litbang (Lakitan. Strategi revitalisasi lembaga pengembang teknologi dikemas secara komprehensif dan integratif. tidak secara partial maupun tersegmentasi. Tiga kapasitas lembaga litbang dan contoh indikator kinerjanya Kapasitas Pokok Kapasitas Outsourcing Kapasitas Litbang Kapasitas Diseminasi Contoh Indikator Kinerja  Akses ke sumber informasi iptek  Tidak terjadi tumpang tindih dan replikasi riset  Efisiensi pemanfaatan sumberdaya  Jaringan kemitraan  Kualitas hasil litbang  Relevansi dengan kebutuhan/persoalan nyata  Produktivitas kelembagaan  Situs dan frekuensi pemutakhiran informasi  Publikasi ilmiah  Hasil riset yang dimanfaatkan pengguna  Royalti yang diterima Pada era inovasi yang terbuka ini. 2011a) Tabel 7. ketiga jenis kapasitas ini secara paralel dikembangkan dalam sebuah sistem yang terintegrasi. 18 Tahun 2002 .Gambar 8. Ukuran keberhasilan dan pilihan indikator yang digunakan dalam melakukan evaluasi kinerja lembaga 102 Naskah Akademik Perubahan UU No.

Boardman (2009) mengirimkan sinyal tentang tantangan yang sulit ini: [There is] a fundamental management task of aligning individual behaviors with [research] center goals and objectives. Indikator kinerja yang dikembangkan dan telah digunakan oleh lembaga internasional dengan reputasi baik serta telah diadopsi oleh berbagai negara. 2009). Peringatan dan nasehat seperti ini perlu secara serius diperhatikan oleh para pengelola lembaga pengembang teknologi di Indonesia. Keberhasilan pada dua langkah pertama akan sia-sia jika langkah ketiga ini tidak berhasil dilaksanakan. (2009) perlu mendapat perhatian: “Although useful in benchmarking of country performances. S&T indicators. karena tidak secara otomatis menjamin indikator tersebut merupakan indikator yang paling pas untuk kondisi dan kepentingan Indonesia saat ini. Cara yang bijak adalah pahami secara komprehensif dan mendalam tentang lembaga pengembang teknologi Indonesia saat ini dan ekspektasi peran lembaga ini yang ideal di masa yang akan datang. perlu 103 Naskah Akademik Perubahan UU No. teknologi. Lembaga pengembang teknologi di Indonesia juga perlu melakukan reformasi. Peringatan dari Loikkanen et al. agar transfer/difusi iptek dapat berjalan lebih lancar. dan inovasi (STI) berikut ini: “On the basis of 40 years of indicators work. yakni: [1] merumuskan kembali tujuan dan menetapkan sasaran yang ingin dicapai. we argue that frontiers and characteristics of STI indicators that were important last century may no longer be so relevant today and indeed may even be positively misleading” (Freeman and Soete. can convey misleading policy messages”. atau yang hanya bersifat sebagai academic exercise. maka langkah ketiga. sangat bijaksana nasehat yang dikemukakan oleh seorang tokoh inovasi dunia yang berkerja puluhan tahun untuk lembaga internasional ternama dalam mengembangkan indikator ilmu pengetahuan. Lembaga pengembang teknologi saat ini merupakan bagian integral dari sistem yang lebih besar. dan [3] mengubah mindset dan budaya kerja komunitas pengembang teknologi. yakni SINas. Apalagi individu-individu dalam komunitas pengembang teknologi selama ini terbiasa dan lebih nyaman berkerja secara individual dibandingkan sebagai bagian dari kelompok atau komunitas yang lebih besar. visi dan misi. Dalam penggunaan indikator ini. [2] melakukan reformasi struktural agar organisasi lembaga dapat menjadi kendaraan yang efektif untuk mencapai tujuan. Oleh sebab itu. Rencana strategis dan rencana aksi lembaga perlu ditinjau ulang. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi diyakini akan menempuh tiga langkah penting. Namun demikian tetap perlu dicermati.pengembang teknologi perlu dikonstruksi secara cermat. dapat dijadikan sebagai referensi. baru kemudian memilih indikator yang pas untuk mengevaluasi kemajuan yang dicapai secara berkala dengan interval waktu yang rasional. karena kasus ‘abuse’ indikator STI (dan data statistik lainnya) bukan merupakan kejadian langka di Indonesia. serta tujuan dan sasarannya perlu disesuaikan. Kegiatan riset yang cenderung untuk prestasi akademik semata. yakni mengubah mindset dan budaya kerja individu peneliti dan komunitas pengembang litbang. if poorly constructed. sepanjang kurun waktu yang dibutuhkan untuk proses transformasi dari kondisi saat ini menjadi lembaga ideal yang diharapkan. Langkah pertama dan kedua relatif tidak sulit untuk dilakukan. 18 Tahun 2002 . akan menjadi tantangan dan ujian yang paling sulit tetapi mutlak harus dilakukan.

sejak awal kegiatan pengembangan teknologi harus mempunyai orientasi yang jelas. yakni untuk menghasilkan iptek yang bermanfaat bagi umat maupun negara. 18 Tahun 2002 . dan bentuk keuntungan sosial dan spiritual lainnya. walaupun banyak ragam istilah yang digunakan. yang disebabkan oleh mutu potensi internal yang rendah dan motivasi yang kurang. turunnya tingkat kriminalitas atau tumbuhnya rasa aman. 5. need-driven. akibatnya motivasi untuk melakukan upaya peningkatan tersebut juga tidak tumbuh. terutama karena regulasi yang kurang 104 Naskah Akademik Perubahan UU No. Ragam istilah pendekatan pengembangan teknologi ini pada esensinya adalah kurang-lebih sama. Pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi sudah saatnya diperlakukan sebagai bagian dari investasi. dan [2] peningkatan kapasitas adopsi teknologi terkendala oleh ekosistem yang kurang kondusif. Jika konsepsi hanya menyentuh persoalan simptomatis. Namun demikian.1. goal-oriented research. mission-driven. Peningkatan Kapasitas Adopsi Lembaga Pengguna Teknologi Konsepsi peningkatan kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna berpeluang untuk diterapkan jika dibangun berdasarkan realita posisi saat ini. misalnya penyelenggaraan pemerintahan yang lebih bersih. misalnya market-driven. maka konsepsi yang dikembangkan mungkin kelihatannya bagus tetapi sangat mungkin akan mengecewakan karena ternyata tidak mampu memberikan solusi sebagaimana yang diharapkan. dan [2] unsur-unsur ekosistem eksternal yang kurang kondusif. terutama dari regulasi dan insentif yang belum optimal. kerukunan umat beragama. Keuntungan yang dimaksud tidak selalu dalam bentuk keuntungan ekonomi. Upaya penguatan kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu memperhatikan: [1] potensi internal (sumberdaya manusia. Kecenderungan global saat ini sangat kentara mengarah pada pengembangan teknologi berbasis kebutuhan. Untuk itu perlu kejelian dalam mengidentifikasi akar persoalan (fundamental problems). Perspektif ini yang menjadi ruh pengembangan teknologi berbasis realita kebutuhan (demand-driven). evidence-based. selain itu juga kebijakan internal lembaga masih belum memberikan prioritas untuk peningkatan kapasitas adopsi. tetapi dapat dalam bentuk non-ekonomi. Jika hanya gejala simptomatis yang mampu dikenali.3. Hipotesis untuk kondisi saat ini adalah: [1] kapasitas adopsi lembaga-lembaga pengguna teknologi di Indonesia saat ini masih sangat rendah. Kegiatan pengembangan teknologi dalam jangka panjang harus memberikan keuntungan yang sebanding dengan pembiayaannya. kemampuan pembiayaan. issue-driven. meningkatnya rasa bangga sebagai warga negara. atau challenge-driven.digeser prioritasnya untuk mendahulukan kegiatan riset untuk menghasilkan iptek yang sesuai dengan kebutuhan nyata. maka konsepsi tersebut tidak akan mampu menjadi solusi mendasar bagi upaya meningkatkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi sebagaimana yang diniatkan. Pemahaman yang tepat tentang akar persoalan yang menyebabkan lembaga pengguna teknologi Indonesia berada pada posisi saat ini akan sangat membantu. sarana dan prasarana pendukung) lembaga-lembaga pengguna teknologi sangat minimal. agar tidak terkecoh oleh gejala simptomatis (symptomatical problems) yang mungkin tertangkap pada kesan pertama.

misalnya dalam konteks teknologi pertahanan dan keamanan. serta program-program insentif yang ada masih kurang efektif dan/atau kurang menarik bagi lembaga pengguna (Gambar 9). Realita saat ini menumbuhkan keyakinan bahwa untuk mengoptimalkan kemampuan lembaga pengguna dalam mengadopsi teknologi yang paling krusial adalah melakukan pembenahan internal lembaga. dan dana) untuk mendukung aktivitas litbang pada lembaga pengguna. tetapi juga mampu untuk melakukan asimilasi dan reformulasi teknologi agar lebih sesuai dengan kebutuhan spesifiknya dan/atau untuk meningkatkan kehandalan produk teknologi tersebut. Gambar 9. Sebagaimana industri.mendukung atau sebagian sudah mendukung namun implementasinya masih terkendala. Minimal mampu melakukan pemeliharaan (maintenance). sehingga mengurangi 105 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . Pembenahan ini mencakup. lembaga pemerintah mengadopsi teknologi untuk digunakan dalam menjalankan tugas negara/pemerintahan. sarana. atau dengan ungkapan yang lebih sederhana adalah dengan melakukan penguatan kapasitas litbang internal lembaga pengguna. lembaga pemerintah yang berperan sebagai lembaga pengguna teknologi juga harus diperkuat kapasitas litbangnya. Kerangka dasar konsepsi peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Berbeda dengan industri yang mengadopsi teknologi untuk diaplikasikan dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan konsumen. prasarana. Lembaga ini tidak hanya mampu menggunakan produk teknologi yang dibeli atau diakuisisi. selain juga fasilitasi dan intermediasi yang masih belum optimal. terutama penguatan sumberdaya (manusia. Posisi ini cenderung sebagai konsumen akhir dari teknologi atau produk teknologi yang diakuisisi.

[3] menyepakati dan menjalankan secara konsisten kebijakan internal lembaga pengguna untuk memprioritaskan adopsi dan pengembangan teknologi. Dengan kata lain. yakni untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi. termasuk juga melalui spillover investasi asing. agar upaya meningkatkan kapasitas adopsi individu masyarakat ini dapat dilakukan secara lebih praktis. individu-individu masyarakat lebih pas jika diperlakukan secara independen. dan efisien. Ada empat faktor eksternal yang secara langsung mempengaruhi kapasitas adopsi teknologi. Dalam rangka memaksimalkan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. dan relevan dengan kebutuhan lembaganya. peternak. Mungkin saja organisasi atau asosiasi masyarakat yang memayungi individuindividu pengguna teknologi. dan kualitas personal lainnya. nelayan. maka opsi utamanya adalah meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian sumberdaya manusia yang bekerja pada masing-masing lembaga pengguna tersebut. Memahami karateristik masing-masing pengguna teknologi yang berbeda (antara industri. baik yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri. dibutuhkan pendekatan dan strategi yang berbeda untuk masing-masing kelompok pengguna tersebut. misalnya insentif yang pantas untuk kontribusi atau prestasi yang dicapai. Namun perlu pula ditegaskan bahwa industri mikro atau kecil tradisional tetap harus dikategorikan sebagai satu entitas industri. [2] memberikan dukungan fasilitas dan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan adopsi dan pengembangan teknologi. lembaga pengguna juga diharapkan tidak hanya mampu mengaplikasikan teknologi. 18 Tahun 2002 . Upaya penguatan kapasitas adopsi masyarakat sebagai pengguna teknologi perlu pendekatan yang berbeda. rasional. dan lain-lain. misalnya petani. Dua faktor bersifat mendorong (pushing factors) lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. terutama untuk yang secara langsung melaksanakan tugasnya terkait adopsi dan pengembangan teknologi. dan [4] melakukan upaya institusional yang dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi karyawan dalam meningkatkan peran aktifnya dalam proses adopsi dan pengembangan teknologi. Kapasitas adopsi individu masyarakat dengan demikian akan tergantung pada kapasitas intelektual. bidang usaha. Namun demikian. dan individu masyarakat).ketergantungan kepada pihak produsennya sebagai langkah antisipatif jika ada kendala purnajualnya. tetapi juga mampu secara proaktif mengenali jenis dan mengidentifikasi sumber teknologi yang maju. yakni regulasi dan 106 Naskah Akademik Perubahan UU No. seniman. maka perlu upaya sungguh-sungguh untuk: [1] meningkatkan kualitas dan relevansi keahlian dan/atau ketrampilan sumberdaya manusia. lembaga pemerintah. kemampuan manajerial. diikuti dengan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan dukungan anggaran yang mencukupi. dan skala usaha yang setara. Untuk dapat melaksanakan peran ini. walaupun tujuannya adalah sama. motivasi. Di era informasi terbuka ini. terlepas dari jumlah karyawannya yang mungkin sangat sedikit. naluri bisnis. handal. pelaksanaannya dapat saja dilakukan secara kolektif pada komunitas pengguna dengan kebutuhan jenis teknologi. namun lembaga masyarakat tersebut tidak bersifat ‘struktural’ sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai entitas yang setara dengan lembaga pengguna sebagaimana pada industri dan pemerintahan. serta siap secara seutuhnya untuk mengadopsi teknologi tersebut.

Faktor eksternal yang mempengaruhi kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi Regulasi yang tepat akan mendorong lembaga pengguna untuk meningkatkan kemampuan internalnya yang berkaitan langsung dengan kapasitas adopsi teknologi. misalnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia. potret kapasitas 107 Naskah Akademik Perubahan UU No. sedangkan dua faktor lagi bersifat menarik (pulling factors). tenaga kerja. Secara ringkas. yakni adanya permintaan pasar dan ketersediaan sumberdaya yang dibutuhkan (Gambar 10). sedangkan adanya kompetitor tentu akan menjadi faktor pendorong lainnya bagi lembaga pengguna untuk antara lain meningkatkan aktivitas serta fasilitas riset in-house. semua pihak bisa mendapatkan informasi tentang ketersediaan teknologi dan berpeluang untuk mengadopsinya.adanya kompetisi antara lembaga pengguna. serta mampu mengadaptasi teknologi tersebut agar lebih sesuai dengan kebutuhannya dan mampu memaksimalkan keuntungan yang diperoleh dari adopsi teknologi tersebut. Adanya permintaan pasar yang nyata dan signifikan. Gambar 10. 18 Tahun 2002 . serta ketersediaan sumberdaya (bahan baku. kepakaran. Prinsip dasarnya dalam era informasi terbuka ini. tetapi hanya lembaga pengguna yang siap yang mampu melakukan proses adopsi tersebut secara efektif dan efisien. fasilitas dan infrastruktur pendukung) akan menumbuhkan motivasi dan menjadi pemicu untuk meningkatkan kapasitas adopsi teknologi yang dibutuhkan lembaga pengguna untuk mengelola sumberdaya tersebut.

tetapi juga sekaligus [2] menjadikan lembaga intermediasi yang sudah ada sulit untuk menjalankan perannya. [4] Perlu regulasi dan kebijakan yang kondusif untuk membuka peluang mobilisasi sumberdaya manusia antar-lembaga inovasi. atau sesuai dengan core business-nya. 18 Tahun 2002 . sehingga dapat memperbesar peluang untuk terjadinya aliran atau limpasan (spillover) teknologi yang diserap oleh lembaga pengguna. dan [6] Kapasitas adopsi lembaga pengguna perlu secara paralel dibangun bersama dengan kemampuan lembaga pengembang untuk menghasilkan teknologi yang relevan dalam rangka mewujudkan sistem inovasi. baik pada tingkat nasional maupun pada jenjang yang lebih terbatas wilayah cakupannya. dan pengembangan teknologi. karena akan secara nyata berdampak positif pada kapasitas adopsi. 5. sedangkan permintaan pasar dan potensi sumberdaya dapat menjadi faktor penarik (pulling factors) yang atraktif bagi lembaga pengguna untuk meningkatkan kapasitas adopsinya. [2] Perlu dukungan yang optimal untuk aktivitas dan penyediaan fasilitas riset in-house. [3] Regulasi dan kompetisi menjadi faktor pendorong (pushing factors) yang efektif. yakni: [1] Kapasitas internal lembaga sangat krusial untuk dibangun. [5] Keberadaan lembaga pengguna dalam suatu klaster inovasi tidak menjamin akan efektif dalam mengadopsi teknologi yang tersedia. oleh sebab itu perlu melakukan peningkatan kualitas sumberdaya manusia.adopsi yang ideal untuk lembaga pengguna teknologi adalah jika memiliki kemampuan untuk mengenali teknologi sesuai dengan kebutuhannya. serta mengaplikasikannya dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi yang diembannya. adaptasi.4.1. menyerap dan mengasimilasikan teknologi tersebut. adaptasi. dan pengembangan teknologi. namun jika kapasitas adopsinya sudah berada pada jenjang yang ideal maka keberadaannya dalam klaster inovasi akan memperbesar peluangnya untuk mengadopsi teknologi tersedia yang sesuai dengan kebutuhannya. terutama – tetapi tidak terbatas pada sumberdaya manusia yang ditugaskan pada atau terkait langsung dengan unit yang menangani adopsi. Ada beberapa catatan penting terkait dengan kapasitas adopsi yang ideal bagi lembaga pengguna teknologi. 108 Naskah Akademik Perubahan UU No. Peningkatan Peran Lembaga Intermediasi Ketidakpaduan antara teknologi yang dihasilkan lembaga pengembang dengan kebutuhan pengguna dan rendahnya kebutuhan serta kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna merupakan kenyataan yang menjadi justifikasi: [1] kebutuhan akan lembaga intermediasi. memformulasikan teknologi yang aplikatif sesuai kemampuan dan kebutuhannya.

18 Tahun 2002 . peran lembaga intermediasi perlu didorong agar dapat berperan ganda tersebut. Menurut UU No. Sentra HKI adalah unit kerja yang berfungsi mengelola dan mendayagunakan kekayaan intelektual. Peran Ganda Lembaga Intermediasi Peran intermediasi ini dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga nonpemerintah. memasarkan teknologi yang dihasilkan pengembang dan sekaligus menjadi perpanjangan tangan pengembang untuk memahami kebutuhan dan persoalan teknologi yang dihadapi pengguna (Gambar 11). Gambar 11. 109 Naskah Akademik Perubahan UU No. Namun sebagian besar menghadapi permasalahan lemahnya kemampuan di bidang manajemen HKI.Lembaga intermediasi yang ada saat ini masih terlalu fokus pada upaya ‘memasarkan’ teknologi yang dihasilkan oleh lembaga pengembang. 18 Tahun 2002. Minat pihak swasta untuk berperan sebagai intermediator masih rendah dan belum akan tumbuh jika teknologi yang dihasilkan pengembang belum mempunyai nilai jual yang baik atau jika relevansi antara teknologi yang dikembangkan masih senjang dengan kebutuhan pengguna. belum banyak berperan dalam membantu mengidentifikasi kebutuhan atau persoalan yang dihadapi pengguna dan mengalirkan informasi tersebut kepada lembaga pengembang teknologi. Jumlah Sentra HKI saat ini mencapai 79 buah. sekaligus sebagai pusat informasi dan pelayanan HKI. sejak digagas Kementerian Riset dan Teknologi pada 1999. Oleh sebab itu. Pada saat ini. termasuk kemampuan menyelenggarakan kegiatan komersialisasi secara profesional yang didukung aspek legal. lembaga intermediasi yang ada pada dasarnya diinisiasi oleh pemerintah tetapi kemudian dikelola oleh lembaga pemerintah itu sendiri atau personel yang bukan pegawai pemerintah. Dengan adanya Sentra HKI diharapkan perguruan tinggi dan lembaga litbang dapat mengembangkan unit organisasi dan prosedur untuk mengelola semua kekayaan intelektual dan informasi iptek yang dimilikinya. Sebagai contoh lembaga mediasi adalah Sentra HKI dan Business Innovation Center (BIC).

Sedangkan layanan untuk akademisi/teknisi adalah membantu mengembangkan produk inovasi yang sudah ada untuk di komersialkan. Penyiapan Science and Technology Park Kedekatan fisik atau lokasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi masih dianggap penting dalam upaya menumbuhkan interaksi yang lebih intensif dan produktif. mengadakan gathering dan seminar dalam hal menjembatani ABG. akademisi dan pemerintah yang sesuai dengan fungsi dan tujuan BIC. untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dan bisnis dan daya saing nasional Indonesia. swasta.5. Business Innovation Center atau yang disingkat BIC didirikan dengan tujuan mengoptimalkan pemberdayaan Inovasi di Indonesia dengan tujuan meningkatkan pembangunan nasional. melalui kegiatan intermediasi antara inovator pengembangan teknologi dengan dunia bisnis. membantu dalam hal finansial yang akan dibantu oleh pihak swasta/pelaku bisnis. BIC memberikan beberapa jenis layanan yaitu layanan umum. memajukan pengembangan teknologi inovasi dalam skala nasional. memberikan pendampingan pada perusahaan-perusahaan yang inovatif. membantu mencarikan mitra kerjasama yang tepat dari kalangan iptek. dan memfasilitasi program incentif yang dibuat oleh pemerintah. menghubungkan para pelaku bisnis dalm hal mendapatkan insentif yang diberikan oleh pemerintah.1. dan. mempermudah pengembangan bisnis dengan penerapan inovasi. mengatur pertemuan para pakar untuk dapat menjalin kerjasama. perusahaan. memberikan dukungan terhadap program-program pemerintah dalam hal inovasi. memberikan secara terusmenerus informasi tentang perkembangan teknologi baru dan proses produksi. memfasilitasi pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. Layanan untuk swasta/bisnis yang dilakukan BIC mencakup mempermudah proses pencarian informasi mengenai inovasi. walaupun saat ini teknologi informasi dan komunikasi sudah sangat berkembang dan juga 110 Naskah Akademik Perubahan UU No. memperluas hubungan dengan pemerintah dan akademisi. dan. BIC diharapkan menjadi lembaga intermediasi proses inovasi bisnis. memberikan pengetahuan mengenai pasar dan trend yang ada di pasar. pemasok. 18 Tahun 2002 . Layanan umum mencakup kunjungan ke perusahaan-perusahaan. membantu menghubungkan kepada pihak dunia usaha dalam hal kerjasama. mengidentifikasikan risiko dan mengenali potensinya. menganalisa dan mengoptimalkan rangkaian nilai proses kerja. memberikan jaringan/network pelaku bisnis dalam hal kerjasama terhadap pihak akademisi. mengatur pertukaran para pakar yang dibutuhkan dengan keahlian tertentu.Padahal Sentra HKI harus mampu menjadi marketer atau sebagai intermediator antara pemilik dan pengguna HKI. dan membantu melakukan analisi terhadap pihak dunia usaha yang memiliki interest untuk berinvestasi terhadap riset yang dilakukan. Layanan untuk pemerintah mencakup upaya mempererat hubungan pemerintah dengan pihak swasta/bisnis dan akademisi/teknisi. Misi lembaga ini adalah mendorong inovasi business di Indonesia. membuat database yang menampung informasi mengenai proses-proses inovasi. menyusun agenda dan pengaturan pertemuan dengan pusat-pusat kajian teknologi. 5. memberikan informasi mengenai kajian-kajian teknologi yang sedang berlangsung.

Wahana I-STP diproyeksikan akan menjadi model SINas dalam rangka membangun ekonomi Indonesia yang berbasis ilmu pengetahuan atau knowledge based economy (KBE). 18 Tahun 2002 . Upaya ini diharapkan akan meningkatkan relevansi teknologi yang dikembangkan (karena semakin memahami kebutuhan pengguna) dan sekaligus meningkatkan kapasitas adopsi pengguna (karena peningkatan kapasitas SDM-nya dalam mengenali dan mengaplikasikan teknologi). Kapasitas lembaga pengembang teknologi Indonesia sesungguhnya cukup baik. Oleh sebab itu. Upaya membangun I-STP ini sudah mulai digarap. Persoalan utama yang dihadapi Indonesia saat ini adalah rendahnya hasil riset dan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri yang diadopsi oleh industri atau pengguna teknologi lainnya. Peran lembaga intermediasi diharapkan dapat mengakselerasi proses adopsi teknologi tersebut. upaya-upaya ini diharapkan dapat mendongkrak status kesiapan teknologi Indonesia. Pembangunan I-STP (melalui revitalisasi Puspiptek Serpong) merupakan salah satu upaya untuk menyediakan wahana untuk meningkatan frekuensi dan intensitas interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi.menjadi lebih murah untuk sarana berkomunikasi antara personel maupun lembaga. Aset pengetahuan (stock of knowledge) yang secara kolektif telah terakumulasi pada komunitas pengembang teknologi di kawasan Puspiptek Serpong perlu dikelola dan ‘dipasarkan’. Lembaga intermediasi diharapkan menjadi gerbang untuk partisipasi lembaga pengguna teknologi. Dengan demikian. yakni pada peringkat ke 91. Kementerian Riset dan Teknologi perlu merevitalisasi lembaga-lembaga intermedia yang sudah terbentuk. dilaporkan bahwa kapasitas pengembangan teknologi ini ternyata belum diimbangi dengan kesiapan pengguna teknologi untuk mengadopsinya. Berdasarkan survei WEF tersebut. terutama pendidikan tinggi dan kejuruan. Secara kolektif. yang disingkat sebagai I-STP. I-STP menjadi saluran efektif bagi teknologi untuk memberikan kontribusi 111 Naskah Akademik Perubahan UU No. terbukti dengan peringkat kesiapan teknologi (technological readiness) yang masih relatif rendah. termasuk lembaga keuangan dan lembaga pendidikan. tetapi juga merupakan akibat dari teknologi yang dikembangkan tidak relevan dengan kebutuhan lembaga pengguna tersebut. banyak negara membangun Science and Technology Park (STP) sebagai wahana untuk mendekatkan secara fisik antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi. Kemampuan inovasi Indonesia ini sudah setara dengan negara-negara yang perekonomiannya sudah berbasis inovasi. terutama industri-industri berbasis teknologi (Gambar 12). terbukti dengan posisi indeks inovasi Indonesia dalam peringkat World Economic Forum (WEF) tahun 2010 yang berada pada posisi ke 36. Dinamika interaksi pengembang-intermediator-pengguna teknologi yang intensif dan produktif akan dengan sendirinya ‘mengundang’ partisipasi lembaga-lembaga penunjang lainnya. Untuk tujuan ini. Ketidak-siapan lembaga pengguna Indonesia untuk mengadopsi teknologi ini tidak sepenuhnya merupakan resultan dari rendahnya kapasitas adopsi teknologinya. yakni dengan merevitalisasi kawasan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong. Indonesia merencanakan untuk membangun Indonesian STP. yakni Business Technology Center (BTC) dan Business Innovation Center (BIC).

politeknik. akan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan inovasi mandiri yang dapat menjadi model SINas Indonesia yang membanggakan. Membangun Pusat Unggulan Inovasi Pusat Unggulan merupakan padanan kata untuk Center of Excellence yang sudah sangat dikenal dan digunakan tidak hanya dalam bidang iptek. Gambar 12. Metamorfosis Puspiptek Menjadi I-STP Menurut UU No. kawasan Puspiptek Serpong. tetapi juga digunakan di dunia bisnis maupun bidang-bidang lainnya. Kawasan ini diharapkan dapat memfasilitasi sinergi.6. 18 Tahun 2002 . seperti kawasan iptek. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. maupun badan usaha. Menghadirkan lembaga pendidikan tinggi.1. Definisi umum tentang Pusat Unggulan adalah: ‘an organization which is 112 Naskah Akademik Perubahan UU No. 5. dan sekolah menengah kejuruan di kawasan ‘InnoPark’ ini. serta pusat peragaan iptek untuk dapat menumbuhkan budaya iptek. lembaga litbang. Untuk kondisi Indonesia. sebagai kawasan iptek sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP.nyata terhadap peningkatan ekonomi nasional. maka akan diyakini mampu menyejahterakan rakyat sebagaimana yang amanahkan oleh konstitusi. pertumbuhan. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. pemerintah maupun swasta dapat mengembangkan sarana dan prasarana iptek. dan interaksi antara perguruan tinggi. yang jika dibangun bersama rakyat. dilengkapi dengan lembaga dan fasilitas pendukungnya yang sepadan. 18 Tahun 2002. Gabungan dua kawasan ini akan membentuk Innovation Park (STP+IP = InnoPark).

atau dengan membentuk konsorsium yang terdiri dari paling tidak lembaga pengembang dan pengguna teknologi (Gambar 14). Pusat unggulan yang akan didorong untuk tumbuh dan berkembang adalah lembaga atau konsorsium yang konsisten dengan amanah konstitusi. Tersirat dalam definisi ini adalah: [1] keberhasilan dan reputasi tersebut bersifat relatif (dibandingkan dengan lembaga-lembaga serupa di bidang tertentu). Dengan demikian. dimana [3] bidang keunggulan tersebut bersifat terbuka untuk kompetensi atau spesifikasi fungsi tertentu. maka sangat tepat jika Pusat Unggulan yang difasilitasi perkembangannya oleh Kementerian Riset dan Teknologi adalah keunggulan dalam membangun sistem inovasi. Pusat Unggulan harus dikenal oleh komunitasnya. tepat jika disebut sebagai Pusat Unggulan Inovasi atau Center of Excellence on Innovation. Gambar 13. dianggap berhasil dan mempunyai reputasi yang sangat baik di bidangnya. sebuat pusat unggulan harus menetapkan standar kinerja yang sangat tinggi. dan [2] keunggulan tersebut khusus pada bidangnya. dan program Kementerian Riset dan Teknologi (Gambar 13). Oleh sebab itu. Pengembangan Pusat Unggulan Inovasi yang Konsisten dengan Amanah Konstitusi 113 Naskah Akademik Perubahan UU No. Maknanya. kebijakan nasional. sesuai dengan kondisi awal dan sasaran yang ingin dicapai.recognized as being successful and having an excellent reputation in its field’ . maka ada dua opsi dalam membangun pusat unggulan inovasi. Penciri lain yang digunakan untuk mendeskripsikan pusat unggulan adalah: ‘a place where there are very high standards of work’. kebijakan sektoral. yakni dengan format pengembangan lembaga tunggal tapi dengan memperkaya tugas dan fungsinya. sehingga dapat secara nyata mampu mewujudkan sistem inovasi. Dalam konteks pilihan ini. dalam melaksanakan fungsinya. Untuk mencapai standar ini. 18 Tahun 2002 .

dan benefits yang diharapkan dapat diperoleh dengan bergabung dalam konsorsium tersebut. karena ini merupakan dasar komitmen bersama yang penting 114 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni: [1] mempunyai kepentingan atau tujuan bersama (shared goal atau core issue) yang jelas dan disepakati oleh semua anggota. Tentu dengan memperhatikan tugas dan fungsi lembaganya masing-masing. Secara umum terdapat tiga asas penting dalam membangun konsorsium. dan [3] semua anggota sepakat untuk sharing sumberdaya sepadan dengan fungsi dan kapasitasnya masing-masing.Gambar 14. karena ini yang menjadi komitmen awal dan mendasar bagi setiap lembaga untuk memutuskan apakah akan ikut bergabung dalam konsorsium tersebut atau tidak. Pilihan Alternatif Organisasi Pusat Unggulan Inovasi 5. Pemerintah sesuai dengan fungsi dan kewenangannya diharapkan berperan aktif dalam membentuk konsorsium ini. Setiap konsorsium yang dibentuk mempunyai tujuan bersama yang jelas. intermediator. Mendorong Pembentukan Konsorsium Inovasi Interaksi dan komunikasi antara pengembang dan pengguna teknologi menjadi lebih baik apabila ada wahana untuk berinteraksi. 18 Tahun 2002 . Peran pemerintah sebagai fasilitator. kapasitas lembaga sebagai bentuk share yang dapat dikontribusikan. Tujuan bersama dimaksud perlu disepakati dari awal pembentukan konsorsium. antara lain berupa konsorsium. terutama pada fase inisiasinya. [2] hubungan yang dibangun harus bersifat mutualistik sebagai modal dasar untuk memotivasi semua anggota untuk memperjuangkan kepentingan bersama.7. dan regulator sewajarnya akan semakin berkurang jika komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi dalam wadah konsorsium ini telah berlangsung secara intensif dan produktif.1.

efisien. sama kedudukan. atau malah berpotensi kontra-produktif dan dapat saja ada free rider yang kontribusinya tidak signifikan terhadap kinerja konsorsium. dan taat hukum. namun konsorsium pada hakikinya bersifat tidak-permanen. Kesepakatan ini sangat penting karena tujuan bersama tersebut mungkin baru akan dicapai dalam jangka menengah atau panjang. terutama harus transparan. akuntabel. efektif. setiap konsorsium harus ada anggota yang disepakati sebagai koordinator. anggota konsorsium minimal dua lembaga. Konsorsium lebih berorientasi fungsional dan terfokus pada upaya mencapai tujuan bersama yang disepakati sejak awal pembentukannya. yakni saling menguntungkan. semua lembaga yang relevan dapat bergabung dalam konsorsium atas persetujuan inisiator dan semua anggota yang telah bergabung (existing members). maka konsorsium harus dikelola secara profesional berlandaskan asas-asas good governance. yakni: [1] dilakukan secara terbuka dan dinamis. dimana anggota disepakati dari awal dan tidak berubah sampai tujuan bersama dicapai. walaupun mungkin butuh waktu yang relatif lama untuk mencapai tujuan bersama. Lebih bagus jika ditambah satu lembaga lagi yang menjadi representasi unsur pemerintah. sebaliknya jumlah anggota yang terlalu banyak juga dapat menyebabkan ketidak-efisienan dalam pelaksanaan pekerjaan. Dalam konteks ini. atau [2] dilakukan secara tertutup dan bersifat statis. Sedangkan jumlah anggota yang terlalu sedikit mengandung risiko akan kekurangan kapasitas dan kompetensi untuk mencapai tujuan. Oleh sebab itu. Salah satu alasan pembentukan konsorsium adalah agar penggunaan sumberdaya (manusia. semua anggota diposisikan secara sejajar. Sinergi fungsional merupakan asas yang menjiwai tata kerja organisasi konsorsium. sarana dan prasarana. budaya sharing perlu dibangun.untuk kelangsungan eksistensi konsorsium. Secara formal. Keterjaminan sifat mutualistik tersebut akan memotivasi semua anggota untuk memberikan kemampuannya yang terbaik dan ikut berusaha keras untuk mencapai tujuan bersama. Disamping itu. Kapasitas dan jenis kompetensi lembaga yang dibutuhkan. 18 Tahun 2002 . karena ia menjadi jiwa dari sebuah konsorsium. serta kewajibannya (Gambar 15). Oleh sebab itu. hak. dimana. maka paling tidak satu lembaga mewakili pengembang teknologi dan lembaga lainnya mewakili pengguna teknologi. 115 Naskah Akademik Perubahan UU No. agar sifat mutualistik ini selalu terpelihara. pola hubungan antar-anggota yang bersifat horizontal akan lebih dominan. Konsorsium merupakan sarana bersama dan bukan tujuan akhir bagi para pihak yang terlibat sebagai anggotanya. Dalam konteks sistem inovasi. Namun jumlah anggota yang pas tentu tergantung dengan tujuan bersama yang ingin dicapai. serta juga dipengaruhi oleh beban kegiatan dan target waktu untuk pencapaian tujuan dimaksud. dan pembiayaan) dapat dilakukan secara lebih efisien dan juga untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Oleh sebab itu. Hubungan antar-anggota konsorsium harus bersifat mutualistik. Setiap konsorsium tentu memiliki beberapa anggota. Ada dua opsi dalam menghimpun anggota konsorsium. juga perlu masuk dalam formula untuk penetapan jumlah anggota yang ideal.

2011b) 116 Naskah Akademik Perubahan UU No. terutama pada fase awal.Gambar 15. 18 Tahun 2002 Keberhasilan suatu konsorsium ditentukan beberapa faktor. yaitu: [1] mempunyai tujuan/sasaran bersama yang jelas dan disepakati semua anggota (clear shared goal) serta sesuai dengan realita kebutuhan atau persoalan publik (demand-driven). . [3] mempunyai strategi pelaksanaan yang tepat dan implementatif (implementable strategy). dan [5] secara konsisten dikelola berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance)(Gambar 16). Model Konsorsium Inovasi (Lakitan. [2] sinergi anggota mampu membangun kapasitas kolektif yang cukup (adequate collective capacity) untuk mencapai tujuan/sasaran bersama. [4] dikoordinir oleh figur kepemimpinan yang kuat (strong leadership) .

maka sangat mungkin terjadi ‘sibling rivalry’ antar-anggota tersebut. akan mudah terancam bubar. Kunci Sukses Konsorsium (Lakitan. . pola 117 Naskah Akademik Perubahan UU No. sehingga dapat diimplementasikan secara efektif dan efisien. Konsorsium. Jika ada dua atau lebih anggota konsorsium dengan jenis kompetensi yang sama. tetapi semua sub-target tersebut harus berada dalam lingkup payung target utamanya atau berada dalam satu klaster. perlu menyusun strategi operasional yang terencana dengan baik. tetapi secara kolektif sebuah konsorsium harus punya kemandirian untuk mencapai tujuan bersama. dengan pentahapan yang logis. sistematis. serta berbasis pada kapasitas kolektif yang dimiliki. 18 Tahun 2002 Tujuan dan target/sasaran bersama merupakan perekat utama antar-anggota dari sebuah konsorsium. Sebaiknya suatu konsorsium terbangun dari anggota dengan ‘core business’ yang berbeda atau mempunyai jenis kompetensi yang berbeda.Gambar 16. Target ini dapat saja terdiri dari beberapa sub-target. Keberlanjutan integrasi dan viabilitas dari sebuah konsorsium selain bertumpu pada tujuan bersama yang jelas. Konsorsium dengan multi-sasaran. tetapi bersifat komplementatif satu dengan yang lainnya. sehingga dapat membangun sinergi yang secara kolektif akan menghasilkan konsorsium dengan kapasitas lebih besar dan dengan ragam kompetensi yang lebih banyak. jika anggotanya mempunyai kompetensi inti yang beragam. 2011b) Sejalan dengan ini. Konsorsium memang bertumpu pada inter-dependensi antar-anggota. sehingga mampu menjalankan misinya dengan lebih baik dan komprehensif. pendekatan konsorsium juga direkomendasikan oleh Malherbe dan Stanway (2010) sebagai bentuk kolaborasi yang tepat. seperti berbagai bentuk kolaborasi yang lainnya. Akan tetapi anggota suatu konsorsium dapat saja juga menjadi anggota konsorsium lain dengan tujuan/sasaran yang berbeda. apalagi multi-tujuan.

peran figur yang kuat akan sangat krusial dalam rangka membangun ‘chemistry’ yang harmonis antar-anggota dengan keragaman latar belakang kompetensi dan budaya kerja. jika terdapat anggotanya yang mewakili komunitas pengembang teknologi dan juga ada yang mewakili komunitas pengguna teknologi. Kompetensi lembaga yang beragam sebagai anggota konsorsium juga membuka peluang untuk membangun kapasitas kolektif yang lebih besar dan komprehensif. Efisiensi pemanfaatan sumberdaya akan lebih maksimal jika konsorsium terdiri dari anggotaanggota dengan kompetensi yang beragam dan bersifat komplementer. Konsorsium sebagai wadah komunikasi dan interaksi antar-lembaga yang menjadi anggotanya. atau lebih tepatnya koordinator konsorsium. yang sangat mungkin akan berbeda satu sama lain. [3] meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara aktor inovasi yang menjadi modal dasar untuk mewujudkan/memperkuat sistem inovasi. Selayaknya. serta biaya dalam upaya mencapai tujuan. Dengan demikian. Sebagai langkah antisipasi maka perlu disiapkan stabilisator yang ampuh. setiap pemimpin memiliki style of leadership masing-masing. Pergantian ini seharusnya tidak mempengaruhi kinerja konsorsium secara drastis. tidak cukup kuat faktor pendorong bagi anggota untuk berinteraksi secara lebih intensif. pada dasarnya merupakan bentuk ‘miniatur’ dari sistem inovasi. maka yang terjadi bukan sinergi fungsional yang mutualistik. Namun demikian. karena tidak ada rasa saling membutuhkan yang kuat apabila kompetensi anggota konsorsiumnya sama. 18 Tahun 2002 . akan lebih mampu untuk mengeksekusi aktivitas dengan lingkup yang lebih luas dan/atau tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Apabila kompetensi anggotanya sama. Selain itu. sarana dan prasarana. maka secara langsung juga akan penting kontribusinya dalam mengakselerasi upaya membangun 118 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam konteks ini.hubungan antar-anggota yang bersifat mutualistik. [2] membuka peluang untuk mendapatkan capaian yang lebih besar/signifikan. konsorsium memang dirancang untuk menjawab tantangan yang lebih berat. yang tidak mungkin dicapai masing-masing anggota secara individual. Pada fase awal terbentuknya konsorsium. dan mungkin hanya dapat diselesaikan melalui paket solusi multi-dimensi yang komprehensif. tentu akan perlu dilakukan pergantian pemimpin. Konsorsium dapat memberikan manfaat antara lain: [1] meningkatkan efisiensi dalam pemanfaatan sumberdaya manusia. juga sangat membutuhkan figur pemimpin yang kuat dan secara de facto mampu mengelola konsorsium secara bijak. Dalam jangka panjang. konsorsium dapat dipandang sebagai mikro-ekosistem yang kondusif untuk mengalirkan informasi kebutuhan dari pengguna ke pengembang teknologi dan sebaliknya aliran paket teknologi dari pengembang ke pengguna teknologi. sebaliknya akan sedikit dampaknya jika kompetensi anggota relatif homogen. tetapi hanya akan merupakan proses scale-up (memperbesar volume output) saja. yakni berupa peraturan internal tentang tata kelola yang disepakati semua anggota. Tata kelola yang baik tentu harus dibangun berbasis pada prinsipprinsip good governance. yang butuh kontribusi dari berbagai kompetensi. Apabila proses komunikasi dan interaksi antar aktor inovasi yang bernaung dalam suatu konsorsium berfungsi sebagai ekosistem kondusif ini dapat dipertahankan selama kurun waktu yang lama.

Revitalisasi Dewan Riset Nasional Dewan Riset Nasional (DRN) merupakan lembaga non-struktural yang berfungsi memberikan masukan kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi terutama dalam menetapkan Agenda Riset Nasional (ARN). maupun lembaga pemerintah non-kementerian yang melaksanakan kegiatan riset. ARN diharapkan menjadi petunjuk pelaksanaan arah dan prioritas kegiatan riset secara nasional. masing-masing komisi teknis juga perlu memperhatikan cross-cutting issues. Sedangkan penyesuaian komposisi anggota selain untuk menyeimbangkan antara perwakilan dari komunitas pengembang dengan pengguna teknologi. Revitalisasi dilakukan berbasis pada peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku dengan tanpa memerlukan revisi produk legislasi yang ada. revitalisasi DRN perlu dilakukan dalam dua fase. Budaya inovasi nasional tidak dapat dibangun secara instan.1. maka perlu dilakukan revitalisasi lembaga DRN. teknologi berwawasan ekologis (green technology). ARN pada saat ini belum secara penuh diacu oleh lembaga-lembaga riset. serta dengan terus mendukung pengembangan sains dasar dan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. termasuk upaya meningkatkan kapasitas teknologi untuk pengelolaan sumberdaya kemaritiman. Fase Kedua diawali dengan penyesuaian produk regulasi untuk landasan bagi pembentukan DRN dengan tugas pokok dan fungsi yang lebih vital (revitalized DRN). dan mengurangi kemiskinan (pro-poor technology). Untuk meningkatkan peran dan kontribusi DRN tersebut. yakni pada lingkup sebuah konsorsium. Proses panjang ini harus diawali dengan membangun budaya inovasi pada jenjang yang paling mikro. tetapi akan melalui proses panjang. namun demikian pada masing-masing komisi teknis tersebut perlu didukung oleh anggota-anggota yang akan mendalami tentang lima unsur strategis untuk penguatan inovasi nasional. restrukturisasi lebih terarah pada upaya penyesuaian pembagian Komisi Teknis agar dapat mengakomodir perkembangan dan prioritas bidang teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. juga diarahkan agar aktor-aktor utama dari sektor pembangunan (yang sesuai dengan pembagian komisi teknis DRN) dapat lebih efektif berperan. Secara realistis.budaya inovasi. Pada Fase Pertama. Saat ini DRN memiliki kewenangan yang terbatas dan dukungan sumberdaya yang juga belum memadai. Matrik bidang dan kompetensi anggota DRN yang diusulkan disajikan pada Tabel 8.8. baik perguruan tinggi maupun lembaga litbang kementerian. yang memerlukan revisi peraturan perundang-undangan. 5. difokuskan pada upaya membentuk DRN dengan peran yang lebih signifikan dan proyeksi kontribusi yang lebih nyata terhadap pembangunan iptek. 18 Tahun 2002 . yakni Fase Pertama dilakukan segera selama periode 2009-2011 untuk diimplementasikan pada periode tugas selanjutnya (2012-2014). terutama yang terkait langsung dengan tujuh bidang fokus pembangunan. Komisi Teknis DRN mengikuti tujuh bidang fokus prioritas pembangunan iptek sesuai dengan RPJPN 2005-2025. dan difokuskan pada upaya restrukturisasi dan penyesuaian komposisi keanggotaan. Namun demikian. termasuk kemungkinan reposisi organisasi DRN untuk langsung bertanggung jawab kepada Presiden. pengembangan industri. sehingga peran dan kontribusi DRN secara nyata dalam pembangunan iptek masih belum optimal. Selain itu. 119 Naskah Akademik Perubahan UU No.

 Anggota yang mewakili unsur regulator dan pembuat kebijakan publik dapat ditunjuk dari para Kepala Badan Litbang Kementerian Teknis terkait sesuai dengan bidang fokus masing-masing. dan pengguna langsung teknologi hankam (TNI dan Polri).Anggota DRN yang diangkat berjumlah 50 orang. yang sekaligus dapat ditetapkan sebagai Ketua Komisi Teknis. lembaga riset swasta/industri. industri besar.  Anggota yang mewakili pihak yang memahami kebutuhan riset dan teknologi sesuai skenario penguatan inovasi nasional yang berorientasi demand-driven. asosiasi industri. serta pengguna teknologi untuk tujuan nonkomersial lainnya. yakni dari lembaga riset pemerintah. KOMISI TEKNIS PENGUATAN SINAS 120 Naskah Akademik Perubahan UU No. industri kreatif. yakni para pelaku produksi barang/jasa baik dari unsur masyarakat. dan lembaga pemerintah pengguna teknologi.  Anggota yang diyakini akan memahami kapasitas adopsi pengguna teknologi adalah para pengguna teknologi itu sendiri. 18 Tahun 2002  Anggota yang harus mengawal relevansi teknologi sudah sepatutnya berasal dari komunitas pengembang teknologi. sehingga ketua ini dapat dipilih dari ‘prominent figure’ yang dengan ketokohannya dapat meningkatkan kewibawaan lembaga DRN dan sekaligus dapat memimpin anggota DRN secara efektif agar dapat berkinerja dengan baik. Misalnya dari wakil asosiasi petani untuk komisi teknis pangan. Tabel 8. dengan formula sebagai berikut: Jumlah anggota DRN = 1 Ketua + 7 Komtek [ 5 Isu SINas + 2 Unsur Penguat ] Formula keanggotaan DRN ini dapat dirinci sebagai berikut:  Satu orang ketua yang lebih fokus sebagai pimpinan puncak yang tidak perlu terlibat langsung dalam kegiatan teknis pada tingkat komisi. . dan kementerian hankam untuk komisi teknis pertahanan dan keamanan. asosiasi industri untuk komisi teknis transportasi. industri kecil dan menengah. Pembagian komisi teknis DRN dan kompetensi anggotanya terkait upaya penguatan SINas. dan perguruan tinggi. sepatutnya dipilih dari unsur komunitas masyarakat.

Pada Fase Kedua. misalnya komisi teknis pangan dapat menambah satu anggota dari pakar kemaritiman untuk mendukung isu strategis pembangunan ketahanan pangan dan satu anggota dari pakar ilmu sosial karena berdasarkan realita. tetapi sangat perlu terlibat secara langsung dalam pembahasan pada tingkat pleno sebagai penyampai aspirasi daerah yang diwakilinya. dan kultural dalam pengembangan teknologi tersebut. pendidikan nasional. banyak teknologi pangan yang tidak diadopsi petani. [b] membangun kemampuan/kapasitas dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan teknologi di dalam negeri dan sekaligus juga menyediakan sistem 121 Naskah Akademik Perubahan UU No. yakni kementerian keuangan. 18 Tahun 2002 .Relevansi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kapasitas Adopsi Pengguna Teknologi Intermediasi & Penunjang Sistem Inovasi Regulasi dan Kebijakan Publik Kebutuhan Riset dan Teknologi Teknologi Pangan Teknologi Energi Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Transportasi Teknologi Pertahanan dan Keamanan Teknologi Kesehatan Teknologi Material Maju  Anggota yang mewakili lembaga intermediasi dan lembaga penunjang lainnya juga diyakini sangat krusial perannya untuk peningkatan kinerja DRN. perencanaan pembangunan nasional/Bappenas. perindustrian. ekonomi. serta jejaring lembaga iptek yang mantap dalam rangka menjamin pemutakhiran data iptek yang berkesinambungan. dan lembaga intermediasi non-pemerintah. revitalisasi diharapkan mampu memposisikan DRN untuk melaksanakan tugas pokok yang mencakup: [a] membangun basis data iptek yang akurat dan komprehensif. sehingga sangat penting keterwakilannya dalam lembaga DRN. nelayan.  Dua anggota untuk penguat ditentukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing komisi teknis. peternak. termasuk perwakilan dari kementerian terkait. sedangkan  Anggota DRN yang mewakili DRD Provinsi (ex officio) tidak harus dimasukkan secara tetap dalam komisi teknis. dan pembudidaya ikan karena belum mengintegrasikan pemahaman dimensi sosial.

khususnya Pasal 28 ayat (3). Pengembangan. agar semua regulasi yang diharapkan dapat diimplementasikan secara utuh. Produk perundang-undangan yang menjadi basis legal untuk pengembangan SINas di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 (UU No. 35/2007 ini adalah memberikan kesempatan bagi badan usaha untuk mengalokasikan dana dalam rangka mendukung kegiatan inovasi nasional. Substansi pokok dari PP No. oleh sebab itu secara umum UU No. 5.informasi perkembangan dan ketersediaan teknologi nasional. kecenderungan global saat ini juga secara kentara telah menggeser orientasi pengembangan teknologi dari yang bersifat supply-push menjadi demand-driven. agar secara konsisten fokus pada prioritas yang telah ditetapkan. Selanjutnya. Oleh sebab itu. [c] membangun kapasitas dan kewenangan untuk menetapkan prioritas riset nasional sesuai dengan kebutuhan ( demanddriven) dan berbasis potensi sumberdaya nasional.9.1. badan usaha tersebut 122 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sebagai kompensasinya. yakni pengembangan teknologi harus lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang tengah dihadapi. 18/2002 ini masih belum sepenuhnya selaras dengan orientasi pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. untuk melaksanakan ketentuan UU No. maka diperlukan upaya revisi atau melakukan amandemen terhadap undang-undang ini agar lebih selaras dengan upaya penguatan inovasi nasional yang lebih bersifat demand-driven. Beberapa pemahaman dasar terkait upaya penguatan inovasi dirasakan masih perlu disinkronisasikan ulang. sangat diperlukan upaya untuk menerbitkan regulasi baru atau sinkronisasi produk perundang-undangan yang telah ada dengan langkah aksi penguatan inovasi nasional yang akan ditempuh. 18/2002) tentang Sistem Nasional Penelitian. Selain itu. telah ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 (PP No. Apabila UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lampiran 1). 18/2002 ini disusun dalam nuansa pengembangan iptek yang masih sangat dominan bersifat supply-push. Peraturan perundang-undangan yang dilengkapi dengan pedoman teknis pelaksanaannya. 18/2002 akan digunakan sebagai landasan legal utama untuk membangun inovasi nasional. 35/2007) tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan Difusi Teknologi (Lampiran 2). 18/2002. Inovasi. UU No. Sinkronisasi dan Perbaikan Regulasi Semua aksi yang akan dilakukan dalam rangka mewujudkan penguatan inovasi nasional memerlukan dukungan regulasi dan/atau kebijakan yang tepat dan menyeluruh. Secara operasional. sangat mungkin upaya untuk melengkapi undang-undang terkait dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang lebih sesuai. diperlukan penyesuaian kembali produk-produk regulasi agar ekosistem yang kondisif bisa terbangun dan reposisi organisasi DRN dalam tata organisasi pemerintah. dan [d] membantu mengawal investasi pemerintah untuk pembangunan iptek. atau dapat juga dilakukan amandemen/revisi terhadap produk hukum yang ada agar lebih sesuai dan/atau lengkap. Walaupun banyak ragam terminologi yang digunakan. Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas ini. 18 Tahun 2002 . namun esensinya sama.

dan difusi teknologi. 35/2007 ini. Pasal 6 ayat (3) PP No. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. dinyatakan bahwa badan usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. 35/2007 ini dapat diimplementasikan adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur pedoman teknis untuk pemberian insentif tersebut. Oleh karena itu. terutama antara PP No. mengingat jika penguatan inovasi nasional dapat berlangsung secara produktif. 123 Naskah Akademik Perubahan UU No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan. 35/2007 dengan peraturan di bidang perpajakan dan kepabeanan. inovasi. 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). inovasi. Secara jelas pada Pasal 6 ayat (1) PP No. Secara garis besar PP No. Kekhawatiran yang berlebihan tentang kemungkinan penurunan penerimaan pendapatan pemerintah dari pajak dan kepabeanan akibat pemberlakuan kebijakan ini perlu dihilangkan. Selanjutnya pada ayat (2). Arah yang akan ditempuh agar PP No. menuju innovation-driven economy. sesuai Pasal 7 ayat (1) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. yakni belum adanya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan yang mengakomodisasi pemberian insentif sebagaimana diamanahkan dalam Pasal 6 ayat (2) PP No. Dengan dikeluarkannya peraturan ini. 35/2007 tersebut. Hal ini disebabkan adanya ganjalan untuk implementasinya. kepabeanan. Upaya percepatan dan perluasan pembangunan dilakukan melalui penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi. Kementerian Riset dan Teknologi telah mengeluarkan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No.mendapatkan insentif untuk mendukung kegiatan bisnisnya. 18 Tahun 2002 . maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. Bantuan teknis ini. keberhasilan implementasi MP3EI antara lain ditentukan adanya penguatan inovasi di sektor usaha. 35/2007 ini sangat ‘favorable’ bagi upaya pengembangan dan penguatan inovasi nasional. 35 Tahun 2007 sejalan dengan Perpres No. sekaligus peningkatan kemampuan perekayasaan. diharapkan akan mendorong kolaborasi riset. termasuk diantaranya implementasi PP No. Sebagai pelaksanaan dari pasal ini. Walaupun PP No. dampaknya kegiatan produksi barang dan jasa juga akan meningkat dan penerimaan pajak juga akan ikut meningkat. perlu dilakukan sinkronisasi dari sisi legal formal pendukungnya. namun pelaksanaan peraturan ini sampai sekarang belum optimal. dinyatakan bahwa insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan. Agar insentif bagi pelaku bisnis/industri untuk lebih terlibat dalam pembiayaan kegiatan riset dapat terlaksana. 35/2007 menyatakan bahwa besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. 35/2007. Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) telah mengagendakan untuk meninjau ulang peraturan perundang-undangan yang menjadi bottleneck pembangunan perekonomian Indonesia. proses.

93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 93/2010 merupakan turunan langsung dari UU No. Sumbangan Pembinaan Olahraga.Namun demikian dalam pelaksanaannya. 124 Naskah Akademik Perubahan UU No. Besarnya nilai sumbangan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya (Pasal 3). 35/2007 yang merupakan turunan UU No. diperlukan dukungan terutama dari lembaga litbang yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian untuk implementasi insentif bantuan teknis litbang. dengan lembaga pengembang teknologi yang mendukung kebutuhan teknologi untuk industri. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. karena PP No. Sumbangan Pembinaan Olahraga. 93/2010. Adanya PP No. Interaksi yang lebih intensif diyakini akan berpengaruh langsung dan positif terhadap proses adopsi teknologi. Sumbangan dapat diberikan dalam bentuk uang dan/atau barang (Pasal 5 ayat 1). Saat ini telah dikeluarkan Peraturan Menteri Riset dan Teknologi No. berbeda dengan PP No. Meskipun sumbangan ini ditujukan untuk kegiatan litbang. yakni Peraturan Pemerintah No. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan (Pasal 1 butir b). 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan sebagai pelaksanaan Pasal 7 ayat (3) PP No. diperlukan dukungan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur kriteria teknis dan tata kelola dalam pemberian insentif riset di badan usaha. 18 Tahun 2002 PP No. inovasi dan difusi teknologi. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Selain itu untuk memperkuat insentif non fiskal. 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. 35 Tahun 2007. termasuk sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. 93/2010 lebih berpeluang untuk diimplementasikan dibandingkan dengan PP No. Pengembangan. Upaya pemberian insentif kepada pihak pengguna teknologi (terutama industri) sekarang mempunyai landasan hukum lain yang baru. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. Secara teknis dan psikologis. terutama industri. Lampiran 3). dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto (selanjutnya disingkat PP No. 93/2010 ini mengatur bahwa sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak. namun setidaknya akan mencakup juga upaya untuk peningkatan kapasitas perekayasaan. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Sumbangan Penelitian Dan Pengembangan. Dukungan regulasi ini diharapkan akan mengintensifkan interaksi dan komunikasi antara lembaga pengguna. baik karena teknologi yang dihasilkan oleh pengembang menjadi lebih relevan (karena pengembang menjadi lebih . sebagaimana kebijakan pemberian fasilitas insentif kepada badan usaha tentunya dapat lebih mendorong kegiatan litbang di badan usaha. PP No. Sumbangan Fasilitas Pendidikan. 35/2007.

memahami kebutuhan), juga karena peningkatan kapasitas adopsi dari pihak pengguna (karena meningkatkan pemahaman pengguna atas teknologi yang ditawarkan). Insentif non-finansial untuk mendorong kegiatan riset dalam negeri juga telah dilakukan, antara lain melalui Peraturan Menteri Perindustrian No. 11/M-IND/PER/3/2006 tentang kebijakan penetapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan (BMP). Selain itu, dengan Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi No. 1 Tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan, badan usaha dimungkinkan mendapatkan akses kapasitas litbang melalui penempatan tenaga ahli atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga litbang pemerintah. Regulasi dan kebijakan pemerintah diperlukan untuk mengawal implementasi penguatan inovasi dapat berjalan konsisten mengarah pada upaya: [1] menyediakan solusi teknologi bagi permasalahan nyata yang dihadapi rakyat; [2] menyeimbangkan posisi psikologis dan peran aktif antara pihak pengembang teknologi dengan pihak pengguna teknologi sehingga interaksi antara keduanya terjadi dalam kerangka kemitraan yang setara harkatnya, proporsional kontribusinya, dan saling ‘complementary’ ruang kiprahnya; dan [3] memberdayakan sumberdaya manusia Indonesia sesuai dengan kapasitasnya masing-masing agar dapat secara langsung berperan aktif dalam pengembangan dan implementasi SINas. Bentuk kebijakan pemerintah yang lain adalah untuk mendukung kolaborasi riset dengan pembiayaan bersama (sharing funding) oleh pemerintah dan pihak industri. Porsi pemerintah disalurkan melalui lembaga riset pemerintah dan perguruan tinggi. Kegiatan riset kolaborasi dalam format ini sudah mulai dilaksanakan, tetapi belum optimal menunjukkan kemanfaatan hasilnya. Hal ini terutama karena substansi riset masih dominan ditentukan oleh pihak pengembang teknologi, bukan atas usulan pihak pengguna. Dalam beberapa kasus, industri hanya pada posisi memenuhi kelengkapan administratif agar dana pemerintah bisa dialirkan ke lembaga riset atau perguruan tinggi. Bentuk riset kolaborasi yang lain tidak harus dalam bentuk pembiayaan bersama, tetapi dalam bentuk riset yang diawaki oleh personel dari pihak pengembang dan pengguna teknologi serta memanfaatkan fasilitas dan sarana riset yang dimiliki oleh kedua belah pihak. Akan tetapi yang selalu perlu diperhatikan adalah apapun bentuk atau format riset kolaborasi tersebut, ia akan memberikan kemanfaatan pada publik jika substansi masalah yang diteliti memang merupakan masalah aktual yang dihadapi masyarakat, bukan masalah hipotetik yang diilhami oleh berbagai referensi asing. Memahami bahwa keberhasilan perkuatan inovasi tidak hanya tergantung pada kinerja masingmasing aktor inovasi (lembaga pengembang dan pengguna teknologi, serta lembaga intermediasi), tetapi juga sangat tergantung pada berbagai pihak yang ikut mewujudkan ekosistem inovasi yang lebih kondusif, maka pengembangan legislasi sebagai bagian penting dari ekosistem SINas perlu mendapat perhatian serius. Perlu dilakukan telaah secara cermat terhadap semua produk hukum yang terkait dengan upaya penguatan inovasi, baik langsung maupun tidak langsung. Identifikasi untuk hal-hal yang perlu disinkronisasi, direvisi, atau bahkan perlu dicabut, serta untuk hal-hal yang masih perlu pengaturan secara legal formal.

125

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

5.1.10. Berbasis Sumberdaya dan Memenuhi Kebutuhan Nasional Untuk mewujudkan SINas Indonesia yang ‘workable’, harus secara seksama mempertimbangkan potensi sumberdaya nasional, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, ketersediaan infrastruktur ekonomi dan sosial, kemampuan permodalan domestik (plus modal asing secara selektif), dan kapasitas pengembangan teknologi saat ini. Selain itu juga perlu diselaraskan dengan peraturan perudang-undangan yang berlaku, kebijakan publik, budaya kerja, keragaman sosio kultural dan tradisi, serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia lainnya.28 Pilihan landasan sumberdaya dan budaya sendiri dalam membangun inovasi nasional akan membuka peluang yang lebih luas bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berpartisipasi aktif. Perlu dipahami bahwa upaya memajukan bangsa tidak dapat dilakukan dengan memilih jalan pintas, dengan mengabaikan pentingnya fondasi yang kokoh agar pengembangan dan keberlanjutan inovasi lebih terjamin. Pembangunan nasional tidak hanya dilakukan untuk rakyat tetapi juga harus dilakukan bersama rakyat. Indonesia sering dikategorikan sebagai negara yang sangat kaya akan sumberdaya alamnya. Provokasi ini menyebabkan Indonesia terlalu mengandalkan kekayaan sumberdaya alam tersebut sebagai modal utama pembangunan nasional, seolah sumberdaya alam tersebut akan selalu tersedia selamanya. Eksploitasi sumberdaya alam yang tidak terkelola secara bijak dibarengi dengan pembangunan yang tidak terprogram dengan baik, telah membawa Indonesia pada kondisi saat ini: tetap menjadi negara berkembang dengan penguasaan dan penerapan teknologi yang terbatas. Indonesia terkena fenomena ‘resource curse’29 dimana kemajuan pembangunannya tak sebanding dengan nilai eksploitasi sumberdaya alamnya. Pengelolaan sumberdaya alam yang bijak bukan hanya terbatas pada penggunaan dana hasil eksploitasi yang diarahkan untuk peningkatan kualitas layanan publik dan investasi untuk infrastruktur sosial, tetapi juga perlu diarahkan untuk mendukung pengembangan teknologi yang dibutuhkan dalam rangka meningkatkan produktivitas industri barang dan/atau jasa, sehingga memberikan nilai tambah bagi setiap produk nasional. Produk ekspor Indonesia tidak boleh selamanya dibiarkan hanya dalam bentuk komoditas bahan baku industri atau hanya sampai produk setengah-jadi (intermediate products). Produk ekspor Indonesia harus secara maksimal diupayakan sudah dalam bentuk akhir yang dibutuhkan konsumen (consumer goods). Indonesia adalah negara maritim, tak ada yang bisa memungkiri kenyataan ini. Telah sering didengungkan bahwa Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas. Berdasarkan Deklarasi Juanda 1957, wilayah laut NKRI adalah sekitar 3 juta kilometer persegi. Setelah diterimanya
28

29

Sebagai bandingan, negara maju seperti Jepang juga membangun SINas-nya di atas landasan ‘environment, culture, tradition, and national character’ bangsanya sendiri. Hasil kajian Komarulzaman dan Alisjahbana (2008) untuk kasus Indonesia menunjukkan bahwa “There appears to be resource curse when we estimate the resource rent in its three components. Forest, oil and gas sector rent have positive effect on regional economic growth. But the resource curse may occur if these resources revenues are not invested properly in public sector, either for the provision of public services or in public investment. Meanwhile, mining sector has persistently negative effect on regional economic growth. The existence of this curse will be lessened if the mining sector rent revenues are reinvested in public sector investment.”

126

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, wilayah laut NKRI bertambah luasnya dua kali lipat, menjadi sekitar 6 juta kilometer persegi. Hal yang perlu digarisbawahi, berdasarkan UNCLOS 1982, Indonesia mendapatkan hak-hak berdaulat atas kekayaan alam di Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) sejauh 200 mil dari garis pangkal lurus Nusantara atau sampai ke batas ‘continental margin’ jika masih ada kelanjutan alamiah pulau-pulau Indonesia di dasar samudera. Masalah pokoknya, apakah setelah berhasil mengklaim teritori wilayah laut ini kita telah melakukan langkah-langkah konkret untuk mengelolanya, sebagaimana amanah konstitusi -UUD 1945 pasal 33 ayat (3)- bahwa kekayaan sumberdaya alam harus dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kekayaan alam yang terkandung dalam wilayah laut Indonesia juga belum diinventarisasi secara baik. Banyak potensi sumberdaya kelautan yang kita miliki, tetapi sesungguhnya belum mampu kita pahami nilai kemanfaatan ekonomi dan ekologinya. Lebih parah lagi, justru sebagian mungkin belum kita ketahui eksistensi keberadaannya di wilayah laut Nusantara. Ketidakmampuan tersebut terkait langsung dengan tingkat penguasaan teknologi kelautan yang belum berkembang di Indonesia. Ironis memang, sebuah negara maritim seperti Indonesia tidak memprioritaskan pengembangan teknologi kelautan. Ketertinggalan dalam penguasaan teknologi kelautan tak boleh dibiarkan berlarut-larut. Indonesia perlu segera meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi kelautan yang menjadi modal nasional untuk mampu mengelola sumberdaya dan wilayah laut Nusantara. Pengelolaan kelautan yang dimaksud adalah memanfaatkan kekayaan sumberdaya yang dimiliki untuk menyejahterakan rakyat yang diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutannya dengan mematuhi kaidahkaidah ekologis. Teknologi yang dikembangkan perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dengan kearifan ekologi. Ragam teknologi berasas keseimbangan ekonomi-ekologi yang perlu dikuasai mencakup: pertama, teknologi penangkapan ikan, budidaya ikan dan biota laut, serta teknologi pengolahannya; kedua, (bio)teknologi untuk memanfaatkan biodiversitas sebagai sumber bahan baku industri dan sumber tetua untuk program pemuliaan tanaman dan ikan atau biota laut lainnya; ketiga, teknologi eksplorasi dan eksploitasi migas, bahan tambang lainnya dan sumberdaya energi terbarukan; dan keempat, teknologi konservasi sumberdaya kelautan, yang dapat juga dilebarkan cakupannya pada potensi pengelolaannya untuk pariwisata bahari. Keunikan geografis dan kekayaan biodiversitas ekosistem laut Indonesia merupakan modal untuk memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak asing. Modal alamiah ini perlu dilengkapi dengan modal kecerdasan intelektual, yakni penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi kelautan oleh pakar dalam negeri sangat krusial. Tanpa penguasaan teknologi ini, maka kita tidak akan pernah mengetahui secara tepat dan komprehensif tentang ‘apa’ dan ‘berapa banyak’ sumberdaya yang dimilikinya di wilayah laut. Ketidakpahaman ini jelas akan menempatkan Indonesia pada posisi yang lemah dalam setiap ‘dispute’ internasional di wilayah laut. Argumen yang baik tidak akan mampu dibangun di atas fondasi iptek yang rapuh. Diplomasi untuk memperjuangkan harkat martabat bangsa juga tak akan dapat dimenangkan jika tanpa amunisi pemahaman tentang potensi sumberdaya

127

Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002

Perlu digarisbawahi bahwa untuk penguasaan ketrampilan teknis tetap saja selalu membutuhkan pengetahuan dasar yang relevan. Jakarta. Sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini dan perediksi kebutuhan di masa yang akan datang. antara lain pada pidato berjudul ‘Pertumbuhan Harus Berkeadilan’ pada Pembukaan Pe rdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia. Sebaliknya dapat menjadi beban yang maha berat jika harus dipikul oleh sebagian kecil dari populasi tersebut. Beberapa penyesuaian perlu segera dilakukan. 30 31 Jika mengacu pada ‘Barcelona Target’. dan pro-environment31 sudah sangat tepat. 128 Naskah Akademik Perubahan UU No. Namun demikian. dan secara nyata memperbaiki tingkat kesejahteraan rakyat. maka proporsi kapasitas tampung jenjang pendidikan tinggi perlu digeser dari dominan jenis pendidikan akademik (lebih mengutamakan pengkayaan pengetahuan) yang terjadi saat ini menjadi dominan pendidikan profesional (lebih mengutamakan ketrampilan teknis untuk menghadapi permasalahan nyata). Pendidikan menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi sumberdaya manusia.seluruh wilayah Indonesia dan potensi manusianya. 2010) merupakan kekuatan besar untuk membangun bangsa ini. Tentu saja potensi sumberdaya alam Indonesia tidak hanya di laut. Potensi sumberdaya lahan untuk mendukung produksi pertanian dan beragam bahan tambang (termasuk minyak dan gas walaupun mulai menipis) yang terkandung di dalamnya juga cukup penting untuk dikelola sebagai modal pembangunan perekonomian nasional. pro-job. [2] muatan kurikulum dan program studi yang ditawarkan. jika semua (atau paling tidak mayoritas) secara aktif ikut berpartisipasi. maka idealnya tiga persen dari Produk Domestik Bruto dialokasikan untuk pengembangan teknologi. Penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa (BPS. ‘Four Track Strategy’ yang sering disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ekonomi. Kebijakan pro-growth. terutama pada jenjang pendidikan tinggi. selama awalan ‘pro’ tersebut tidak sekedar bermakna keberpihakan dalam konteks pembangunan untuk rakyat. dan/atau sosial) tertentu saja. Penyesuaian yang dirasakan perlu dilakukan adalah: [1] proporsi antara pendidikan akademik dengan pendidikan profesional. Indonesia sebagai negara maritim segera mulai secara sungguh-sungguh berupaya untuk meningkatkan penguasaan tekno-ekologinomi laut. yakni menyediakan dukungan pembiayaan yang memadai untuk pengembangan teknologi nasional30 dan juga mengawal pengembangan teknologi agar fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nyata. Oleh sebab itu. dan [3] tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu meningkatkan intensitas upayanya dalam meningkatkan relevansi pendidikan agar permasalahan pengangguran terdidik yang mulai meningkat signifikan selama dasawarsa 2000an ini tidak menjadi lebih buruk. tetapi lebih dimaknai sebagai keberpihakan yang memberi peluang bagi seluruh rakyat untuk ikut berperan aktif membangun bangsa dan negara ini. misalnya hanya dibebankan pada sekelompok elit (politik. Teknologi dibutuhkan untuk mengolah sumberdaya alam menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. perlu dilakukan pencermatan dua arah. diiringi dengan kebijakan ekonomi yang tepat. pro-poor. teknologi yang dimaksud adalah teknologi yang relevan dan sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna potensialnya. 18 Tahun 2002 . 3 Januari 2011. memacu pertumbuhan ekonomi.

Faktor penyebabnya bisa dipilah menjadi: [1] penyelenggara pendidikan yang menawarkan program studi tersebut lebih besar kapasitasnya dibandingkan dengan kebutuhan dunia kerja. dan ikan). Pencerdasan hanya dapat dicapai dengan pendidikan yang bermutu. Pangan yang dimaksud adalah pangan dalam arti luas. Pengembangan teknologi sederhana tetapi bermanfaat akan jauh lebih baik dari pada mengembangkan teknologi super-canggih yang hanya berakhir di ruang pajang. Kontribusi nyata tenaga terdidik terhadap pembangunan nasional hanya mungkin terjadi jika keahlian dan ketrampilan yang diasah adalah relevan dengan kebutuhan dunia kerja. adalah jauh lebih baik menyediakan teknologi sederhana yang sesuai.Penyesuaian muatan kurikulum dan program studi tidak perlu diartikan sebagai perubahan mendasar dari kurikulum dan program studi yang ada. karena sering mengakibatkan kelembagaan pendidikan pengorbankan kualitas untuk mengejar kuantitas. Penyesuaian tersebut lebih ditekankan pada upaya meningkatkan relevansi substansi materinya sehingga lebih padu dengan permasalah aktual. misalnya pekerjaan di sektor pertanian. [2] keahlian yang dihasilkan dari program studi tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan dunia kerja. Selanjutnya. Tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang terlalu berkiblat pada produktivitas selayaknya ditinjau kembali. 18 Tahun 2002 . Jika surplus tidak akan menjadi persoalan karena dengan mudah bisa diekspor karena permintaan pasar global semakin tinggi dengan pertambahan penduduk dunia. ternak. Inovasi adalah tentang mengkonversi ide menjadi uang. Dengan demikian. atau [3] masih ada kebutuhan aktual dari dunia kerja tetapi imbalan (finansial) yang didapatkan dari jenis pekerjaan ini tidak kompetitif dibandingkan dengan jenis pekerjaan lain. jika diniatkan pengembangan inovasi adalah untuk melibatkan mayoritas rakyat Indonesia sebagai pelaku pembangunan. Faktor penyebab [2] terkait dengan bidang keilmuan yang relatif statis perkembangannya dan kebutuhan keahliannya juga terbatas. Pembiayaan untuk pengembangan teknologi harus diposisikan sebagai investasi bukan sebagai belanja rutin. sehingga pasar dunia kerjanya cepat menjadi jenuh. Pendidikan adalah untuk mencerdaskan bangsa. Pendidikan formal rakyat Indonesia saat ini mayoritas masih relatif rendah. Teknologi yang dibutuhkan mungkin saja hanya merupakan teknologi sederhana. Akan tetapi. Faktor penyebab [1] terkait dengan kemudahan sarana dan prasarana penyelenggaraan pendidikan (juga berarti biaya operasional penyelenggaraan pendidikannya lebih mudah) sehingga banyak instutusi pendidikan (terutama swasta) yang ikut menyelenggarakannya. Faktor penyebab [3] karena bidang pekerjaan tersebut tidak menjanjikan secara ekonomi. yang dapat dikembangkan dan digunakan oleh masyarakat dan/atau IKM dalam proses produksi pangan untuk pemenuhan konsumsi 237 juta penduduk Indonesia. dan hasil hutan. maka teknologi yang sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas pangan sudah sepatutnya diprioritaskan. ikan. ternak. mayoritas rakyat bekerja disektor produksi pangan (tanaman. Dengan demikian. mencakup pangan asal tanaman. Akibatnya kelembagaan pendidikan lebih berfungsi sebagai mesin produksi untuk menghasilkan penyandang gelar semata dan tidak menjadi pengemban amanah konstitusi untuk mencerdaskan bangsa. Program-program studi yang sudah kurang diminati perlu dievaluasi faktor penyebabnya. Oleh 129 Naskah Akademik Perubahan UU No. jelas bahwa nelayan juga perlu mendapat perhatian.

walaupun unsur-unsur ini bersifat tak-berwujud dan sulit diukur secara objektif. Selain pemagangan peserta didik di lingkungan kerja. Idealnya kegiatan ini dilandasi oleh asas saling membutuhkan dan saling menguntungkan atau bersifat mutualistik. Upaya mewujudkan inovasi nasional yang lebih produktif dan efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian dengan kecermatan akademis. pelaku bisnis/industri umumnya hanya diundang sesekali ke lingkungan akademis dalam rangka kegiatan spesifik tertentu. Penyesuaian terhadap tradisi. tetapi sangat potensial diacu untuk membangun Sistem Inovasi Daerah (SIDa). jika pelaku bisnis/industri tersebut menjadi ‘mitra penuh’ dari tenaga pengajar di perguruan tinggi. Karena sifatnya sering sangat spesifik dan lokal. Teknologi yang sesuai dengan potensi sumberdaya alam lokal/nasional akan lebih terjamin keberlanjutannya dan sekaligus dapat mewujudkan kemandirian bangsa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Perindustrian perlu meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksinya dengan pihak industri. 18 Tahun 2002 . etika. Akan lebih intensif. dan nilai-nilai karakter bangsa lainnya merupakan faktor yang akan ikut mempengaruhi tingkat keberhasilan inovasi nasional. perlu mempertimbangkan potensi sosial masyarakat. Saat ini. Walaupun kadang sulit dijelaskan secara ilmiah. budaya. Ukuran keberhasilan program pemagangan tergantung pada kualitas pembelajaran yang berlangsung selama peserta didik ditempatkan di lingkungan dunia kerja. norma. terutama untuk mata kuliah tertentu yang kental kaitannya dengan kebutuhan implementasinya di dunia kerja. Kearifan tradisional merupakan akumulasi pengetahuan selama periode yang panjang. Padu silang pendidikan-bisnis ini perlu dilakukan secara dua arah. Hanya saja kualitas dan intensitasnya terus perlu ditingkatkan. Potensi sosial budaya dapat dikategorikan sebagai potensi non-ekonomi ini umumnya bersifat ‘intangible’. serta memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan sekaligus pemerataan kesejahteraan. banyak pula kearifan lokal yang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan sistematis dan logis. sehingga dapat dilakukan pengembangan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensinya. Sulit diukur secara kuantitatif dan divisualisasikan. memperbesar porsi sumberdaya manusia yang menjadi penggerak pembangunan dan sekaligus mengurangi porsi yang hanya menjadi beban pembanguan. namun probabilitas kebenarannya relatif tinggi dan sudah teruji. Teknologi yang sesuai dengan kapasitas adopsi mayoritas penduduk akan membuka peluang untuk berdampak lebih massal. relevansi menjadi isu pokok. tetapi jelas dampaknya dapat dirasakan. juga perlu dibarengi dengan mengundang pelaku bisnis dan industri untuk menularkan pengetahuan dan/atau ketrampilan di lingkungan akademis. Hal itu berbeda dengan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang jelas wujudnya dan dapat dikuantifikasi besaran potensinya. maka mungkin tidak dapat menjadi acuan dalam pengembangan SINas. Kearifan tradisional (tradisional wisdom) dapat menjadi inspirasi dalam pengembangan sistem inovasi. Ide hibridisasi kegiatan pendidikan dengan aktivitas bisnis/industri memang bukan merupakan sesuatu yang baru. Kegiatan pemagangan (internship) telah dilakukan sejak lama di Indonesia. Di 130 Naskah Akademik Perubahan UU No. selain potensi sumberdaya alam dan manusia sebagaimana telah diuraikan di atas.sebab itu.

2. dan penerapan iptek menjadi undang-undang. 4. Menunjukan perlunya keterkaitan antara pengembangan iptek dengan upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia secara langsung dalam rangka memperoleh kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera. 18 Tahun 2002 ini sesuai dengan pemandangan umum fraksi-fraksi DPR terhadap urgensi sistem nasional penelitian. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Urgensi Penguatan Inovasi UU No. dan Penerapan Iptek adalah: 1. pengembangan. 5. Menunjukan adanya komitmen yang lebih tegas dari pemerintah untuk menetapkan kebijakan yang lebih komprehensif dalam membangun dan mengembangkan iptek. Menjadi landasan hukum yang kokoh dalam memberikan peluang dan kesempatan yang lebih luas pada masyarakat. lembaga usaha. 3. maka penting dibuat Undang-Undang tentang iptek guna 131 Naskah Akademik Perubahan UU No. lembaga pendidikan dan pemerintah untuk mengembangkan iptek secara optimal. 18 Tahun 2002 5. tanggal 11 September 2001 terhadap RUU Sistem Nasional Penelitian. Keharusan untuk mengembangkan iptek yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan melibatkan publik (adanya audit iptek).2. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Pengembangan. 5. Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi DPR dalam Rapat Paripurna DPR-RI. Pengembangan. Tujuan diundangkannya UU No. maupun masyarakat merupakan modal keberhasilan pengembangan suatu SINas. Oleh sebab itu.era modern ini. bisnis. Ruang Lingkup Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No.1. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan untuk memperkuat daya dukung iptek untuk mempercepat pencapaian tujuan negara. Negara Indonesia perlu segera memiliki suatu peraturan perundang-undangan yang komprehensif di bidang iptek. Pengembangan. perlu juga secara sungguh-sungguh diintegrasikan ke dalam suatu formula kebijakan sebagai upaya membangun SINas. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sistem Nasional Penelitian. lembaga riset dan teknologi. 18 Tahun 2002 . kualitas sosial budaya yang selaras dengan prinsip-prinsip good governance dalam penyelenggaraan atau pengelolaan lembaga pemerintah. 2. Beberapa contoh di atas cukup untuk justifikasi tentang pentingnya dimensi sosial dalam mewujudkan inovasi nasional yang lebih komprehensif.

yaitu penelitian. Di Indonesia. Hal ini tidak mudah karena Indonesia menghadapi berbagai kendala dan penghambat dari sisi kelembagaan. produktivitas. RPJM 2010-2014 menekankan adanya skema pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat inovasi nasional. Selain itu lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu meningkatkan produktivitas penelitian dan pengembangan melalui pengembangan dan pemanfaatan kelembagaan iptek. Sebagai upaya mencapai tujuan sebagaimana disebutkan dalam Bab IV Buku II RPJM 20102014. dan jaringan iptek secara lebih effektif. Padahal dalam pengembangan ekonomi yang berbasis pengetahuan. Selain itu untuk mendukung penguatan inovasi nasional diperlukan efektifitas dan efisiensi regulasi dan sistem insentif yang mendukung inovasi nasional. adanya tagline negara sebagai dasar penguatan SINas. program. Sedangkan di sisi industri. dan kesejahteraan peneliti. Upaya-upaya tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kuantitas. pengembangan dan penerapan iptek. Dalam Bab IV Buku II RPJM 2010-2014. kualitas. perguruan tinggi. Menurut UU No. sumber daya. industri dan pihak terkait lainnya sebagai aktor/lembaga idealnya menjadi kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi nasional. Termasuk perlunya mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat. Selain itu. 18 Tahun 2002 .memberi landasan hukum bagi unsur-unsur pembentuk kemampuan Iptek serta sebagai koridor dan frame pengembangan Iptek di Tanah air kita. menyebutkan untuk mencapainya diperlukan adanya insitusi yg kuat dari sisi legalitas dan otoritas. pengembangan iptek seharusnya tidak terpisahkan dalam input dan output ekonomi nasional. selain mengurangi ketergantungan teknologi asing. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 menekankan perlunya penguatan kelembagaan dari sisi penghasil iptek dan pengguna iptek. komunikasi dan interaksi yang intens antara lembaga penelitian. interaksi antara penghasil dan pengguna iptek. Kurangnya komunikasi dan interaksi antar elemen penghasil dan pengguna teknologi memberikan dampak terhadap penerapan berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh aktor/lembaga penghasil penghasil teknologi. beberapa kebijakan pemerintah juga menekankan perlunya penguatan inovasi dalam menunjang pertumbuhan ekonomi nasional. serta adanya sistem aliran pengetahuan dan mobilitas human capital antara perguruan tinggi dan lembaga riset dengan perguruan tinggi. serta perlunya konsensus nasional tentang SINas. 18 Tahun 2002 diharapkan menjadi wadah untuk menampung dan menjadi alat pemecah kesulitan segala hal yang terkait dengan inovasi. UU No. 132 Naskah Akademik Perubahan UU No. Hal ini menjadikan hasil penelitian dan pengembangan belum didayagunakan sepenuhnya menjadi berbagai inovasi. dan meningkatkan kontribusi iptek dalam aktivitas perekonomian dengan meningkatkan Total Factor Productivity (TFP). perekayasa. teknisi maupun SDM yang terlibat di dalam kegiatan litbang. 18 Tahun 2002 pembangunan sistem inovasi nasional dilakukan melalui penelitian. dan sebagainya. Oleh karena itu. peningkatan pemanfaatan teknologi dalam negeri masih diperlukan. Untuk itu. sumberdaya. kenyataannya upaya penguatan inovasi nasional yang dicirikan dengan interaksi elemenelemen atau aktor penghasil teknologi masih kurang baik. pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

18 Tahun 2002. Perpres No. 18 Tahun 2002 Muatan rancangan undang-undang perubahan UU No. dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. 5. produk yang dihasilkan adalah teknologi ‘baru’ yang mempunyai nilai ekonomi. Peraturan perundang-undangan yang ada bahkan secara jelas menyebutkan pengertian dari SINas. dan d. mendukung. komunitas ilmuwan dan swasta. dan meningkatkan kolaborasi dengan dunia internasional. dan sesuai kebutuhan dan kondisi. SINas adalah: “suatu jaringan rantai antara institusi publik. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. Presiden menekankan agar penguatan inovasi nasional disesuaikan dengan corak yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. pengertian dasar berkaitan dengan SINas mencakup: . 18 Tahun 2002 Sejalan dengan pengertian SINas dalam Perpres No. Upaya ini mencakup pengaturan kelembagaan secara lebih sistemik. setidaknya memuat materi kebijakan penguatan inovasi yang telah dirumuskan dalam Perpres No. dengan memperhatikan capaian jangka panjang untuk mendorong. mendayagunakan. Untuk itu. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. 246 /M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. 32 Tahun 2010. 246/M/Kp/IX/2011. penguatan SINas agar didasarkan pada kemitraan pemerintah. Tujuh langkah perbaikan ekosistem inovasi ini mencakup: 1) Sistem insentif dan regulasi yang mendukung inovasi dan budaya penggunaan produk dalam negeri. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional.Presiden Dr. 32 Tahun 2011. kegiatan yang dicakup adalah pengembangan. difusi. lembaga riset dan teknologi. pelakunya terdiri dari beberapa kelembagaan – baik pemerintah maupun swasta – yang berinteraksi satu sama lain secara sinergis. Materi Muatan Rancangan Undang-Undang Perubahan UU No. di Serpong pada tanggal 20 Januari 2010 juga menekankan perlunya upaya-upaya untuk penguatan inovasi nasional. 32 Tahun 2011 dan Kepmenristek No.2. b. 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. Hal yang perlu dicatat dalam usulan ini adalah penguatan inovasi dapat dilakukan melalui tujuh langkah perbaikan ekosistemnya (Gambar 17). 133 Naskah Akademik Perubahan UU No. ruang lingkup dalam melaksanakan kegiatan inovasi ini adalah negara. merekayasa inovasiinovasi di berbagai sektor. dan pemanfaatan teknologi. mendukung menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. c. Menurut Perpres No. Kementerian Riset dan Teknologi mengeluarkan Keputusan Menristek No.” a.2. menyebut strategi penguatan inovasi nasional dengan usulan inisiatif inovasi 1-747. Menurut Keputusan Menristek No. Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah.

2) Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia. 5) Sistem remunerasi peneliti. Untuk itu pemerintah perlu menyiapkan ‘panggung’ untuk pengembangan SINas agar para aktor inovasi secara nyaman dapat memainkan peranannya masing-masing. 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa dalam upaya mewujudkan SINas yang efektif dan produktif memerlukan peranan pemerintah dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembang SINas. 3) Pembangunan pusat-pusat inovasi untuk mendukung IKM. Tugas pemerintah yang paling krusial di sini adalah mensinkronisasikan antara potensi ekonomi dan non-ekonomi yang dimiliki Indonesia dalam rangka menyiapkan panggung inovasi nasional yang ‘nyaman’ bagi para aktor untuk unjuk kinerja melalui kebijakan dan regulasi yang kondusif. 4) Pembangunan klaster inovasi daerah. Gambar 17. 32/2011 ttg MP3EI) Kepmenristek No. 18 Tahun 2002 . Usulan Inisiatif Inovasi 1-747 (Perpres No. 7) Sistem dan manajemen pendanaan riset yang mendukung inovasi. Panggung yang ideal tidak mungkin dapat disiapkan oleh pemerintah tanpa didahului dengan formulasi kebijakan di berbagai sektor pendukung inovasi nasional yang tepat. 6) Revitalisasi infrastruktur R&D. Kinerja aktor-aktor 134 Naskah Akademik Perubahan UU No.

Susilo Bambang Yudhoyono. ketenagakerjaan. 18 Tahun 2002. 5) Regulasi dan kebijakan yang kondusif. 35 Tahun 2007 secara efektif dan utuh. 4) Optimalisasi peran lembaga intermediasi. agar diubah agar selaras dengan orientasi 32 Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia. Nuansa pengembangan iptek yang masih bersifat supply-push.32 Oleh karena itu upaya strategi pengembangan dan penguatan inovasi agar ditekankan pada: 1) Pengembangan teknologi yang difokuskan untuk pemenuhan realita kebutuhan atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna teknologi. 11) Pengembangan SINas harus berbasis sumberdaya nasional dan unt pemenuhan kebutuhan domestik. pendidikan. 135 Naskah Akademik Perubahan UU No. Berbagai negara. tetapi juga penting perannya dalam mengawal agar pengembangan teknologi dan aplikasinya oleh industri (sebagai pihak penggunanya) lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik. pada beberapa kesempatan. 18 Tahun 2002 . keuangan. terutama di sektor ristek. 7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) untuk mendukung implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. perlu dilakukan perubahan terhadap UU No. 2010) juga merupakan pasar yang sangat potensial. Peran pemerintah tidak hanya penting dalam rangka menyiapkan ‘panggung’ inovasi. baik berupa barang maupun jasa. dan perdagangan agar para aktor inovasi dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. Implementasi PP No. 8) Pembentukan konsorsium inovasi . juga melihat populasi Indonesia yang besar. perindustrian. 3) Peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi . 6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang-intermediasi-pengguna teknologi. Kebijakan strategi penguatan inovasi melalui usulan inisiatif inovasi 1-747 maupun penentuan arah penguatan SINas untuk peningkatan kontribusi Iptek terhadap pembangunan nasional seharusnya telah dapat menjadi acuan untuk mendorong inovasi nasional. 10) Sinkronisasi dan optimalisasi UU No 18 Tahun 2002 serta peraturan pelaksanaannya. 9) Revitalisasi peran Dewan Riset Nasional (DRN).pelaku inovasi pada akhirnya akan terindikasi dari kemampuan nasional dalam memenuhi permintaan pasar (utamanya pasar domestik). lebih dari 237 juta jiwa (BPS. Namun demikian. 2) Revitalisasi kapasitas lembaga pengembang teknologi . Kedua peraturan tersebut dapat dikatakan merupakan dasar kebijakan bagi upaya-upaya penguatan inovasi nasional. sebagaimana telah diuraikan dalam kebijakan arah penguatan SINas. tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi pengguna teknologi.

• Pengembangan pusat inovasi untuk mendorong industri kecil dan menengah • Pengembangan klaster inovasi daerah • Revitalisasi infrastruktur R&D • Sistem dan manajemen pendanaan riset • Sistem remunerasi peneliti • Peningkatan kualitas dan fleksibilitas perpindahan sumberdaya manusia • Sistem insentif dan regulasi yang mendukung. maupun penentuan arah penguatan SINas merupakan upaya untuk mendorong kegiatan penelitian. Komite Inovasi Nasional (KIN) • Mendorong inovasi-inovasi di berbagai sektor dalam skala nasional. serta arahan Presiden RI. secara garis besar menekankan pada empat hal. dan Kebijakan Strategis Nasional Iptek 2010-2014. Dokumen tersebut menekankan beberapa hal terkait dengan upaya penguatan inovasi nasional (Tabel 9.pengembangan teknologi yang bersifat demand-driven. Tabel 9. 20 Januari 2010. Kebijakan inisiatif inovasi 1-747. dlm Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masy Ilmiah. Bab IV Materi Pengaturan • Penguatan insitusi • Jakstranas sebagai konsensus nasional dalam upaya penguatan SINas. Jakstranas Iptek 2010 – 2014 • Penguatan interaksi penghasil dan pengguna iptek • Peningkatan pemanfaatan teknologi dalam sektor industri • Mendorong investasi industri untuk litbang Iptek masih sangat terbatas • Mendorong produktivitas litbang • Meningkatkan kualitas. 18 Tahun 2002 • Mengurangi ketergantungan teknologi asing . yaitu: 136 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan penerapan teknologi yang lebih bersifat demand-driven. Selain dua kebijakan tersebut di atas. produktivitas. • Penguatan aliran pengetahuan dan mobilitas human capital. • Pengembangan SINas sesuai kebutuhan dan kondisi. Kecenderungan global saat ini juga lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan atau persoalan nyata yang relevan dihadapi masyarakat. kebijakan-kebijakan lain yang terkait adalah dokumen RPJM 2010-2014. Serpong. • Pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat SINas. pengembangan. Kebijakan Penguatan Inovasi Fokus Buku II RPJM 20102014. • Pengembangan kemitraan dan kolaborasi dengan dunia internasional. • Identifikasi dan penetapan sistem insentif yang mendukung SINas. Dua kebijakan tersebut. dan kesejahteraan SDM • Mengembangkan budaya kreatif inovatif di masyarakat Sambutan Presiden SBY.).

7. rekayasa inovasi . pemanfaatan dan pemajuan iptek • Pasal 9 ayat (1) – fungsi badan usaha dalam perekayasaan. Fokus Perubahan dalam UU No. Tabel 9. difusi. dan swasta. dan pemanfaatan teknologi.5. peningkatan hasil. dan swasta. universitas. penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. 18 Tahun 2002. peningkatan penerapan dan diseminasi hasil penelitian. pengembangan. dan 8. lembaga litbang. lembaga ristek.). Perubahan ketentuan UU No. 18 Tahun 2002 Fokus UU No. penguatan jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek. lembaga ristek. inovasi.pengembangan. universitas. pemanfaatan.). dan difusi teknologi • Pasal 16 ayat (1) – alih teknologi kekayaan intelektual dan hasil litbang • Pasal 27 ayat (3) – dukungan dana bagi penguasaan. pemanfaatan kekayaan intelektual dan 137 Naskah Akademik Perubahan UU No. Keempat hal tersebut di atas telah diatur dalam UU No. dan penerapan iptek (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yang mempunyai nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. tentunya agar diarahkan untuk mengakomodir upaya penguatan inovasi. penguatan inovasi nasional agar diprioritaskan untuk dilakukan di wilayah NKRI. pendayagunaan. dan penguatan audit teknologi (Tabel 9. 18 Tahun 2002 di atas. rekayasa inovasi pengembangan. pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang. 18 Tahun 2002. Perubahan ini juga diarahkan untuk memperkuat usulan inisiatif inovasi 1-747. difusi. 18 Tahun 2002 . serta penentuan arah penguatan SINas (Tabel 10. penguatan daya dukung iptek. 6. • Pasal 4 – penguatan daya dukung iptek • Pasal 6 ayat (2) – fungsi kelembagaan dalam penguasaan. • Pasal 5 ayat (1) – keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu • Pasal 10 ayat (2) – peran lembaga penunjang dalam mendorong sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. dan badan usaha • Pasal 13 – jaringan informasi iptek • Pasal 15 ayat (1) – jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur kelembagaan iptek • Pasal 17 ayat (1) – kerjasama internasional • Pasal 28 ayat (2) – jalinan kemitraan unsur kelembagaan iptek Peningkatan hasil. Pengaturan tersebut mencakup antara lain perlunya adanya keterkaitan unsur iptek dalam pola hubungan tertentu.invensi di bidang iptek • Pasal 9 ayat (2) – pendayagunaan manfaat keluaran perguruan tinggi dan lembaga litbang • Pasal 13 ayat (4) – pengelolaan. Penguatan jaringan rantai (interaksi sinergis) institusi publik. dan pemajuan iptek Peningkatan penerapan dan diseminasi hasil litbangrap (temuan/teknologi baru dan produk inovatif yg mempunyai • Pasal 8 ayat (2) . pendayagunaan. dan pemanfaatan teknologi.

Pasal 15 Pasal 17 Pasal 18 Penambahan pada ketentuan yang ada dg penekanan pada kemitraan. Ruang lingkup kegiatan inovasi adalah NKRI. mengenai perlunya menentukan standar. • Pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah Pasal 12 • Ditambahkan 2 ayat. dan difusi teknologi. serta peningkatan pengelolaan kekayaan intelektual dan hasil litbang. perekayasaan. UU No. Setelah Pasal 19 ditambahkan satu pasal. • Penambahan ayat unt penyebaran informasi hasil litbang dan kekayaan intelektual. serta kode etik.Fokus nilai ekonomi) agar dapat dirasakan masyarakat. Setelah Pasal 17 ditambahkan mengenai pengaturan MTA Setelah Pasal 18 ditambahkan penekanan pada Jakstranas Iptek sebagai acuan pengembangan iptek. inovasi. dan audit teknologi dan SNI Tabel 10. • Ketentuan ini diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Usulan Perubahan dalam UU No. 18 Tahun 2002 hasil litbang Pasal 19 ayat (3) – penguatan tarikan pasar bagi hasil litbang. dan sertifikasi keahlian. 18 Tahun 2002. 18 Tahun 2002 . pemerintah/pemerintah daerah dimungkinkan memberikan stimulan dan fasilitas untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. Pasal Pasal 3 Usulan Perubahan Ditambahkan 2 ayat unt mengakomodir amandemen keempat UUD 1945 Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 6. yang menekankan penyusunan Jakstranas Iptek ditetapkan dengan peraturan pemerintah. persyaratan. Pasal 13 • Ditambahkan ayat baru. dan inovasi dalam negeri • Ditambahkan satu pasal setelah Pasal 9. untuk pemenfaatan hasil litbang. Pasal 6 Pasal 9 Pasal 19 138 Naskah Akademik Perubahan UU No.

Rangkuman Kepentingan nasional dan kecenderungan global membutuhkan perubahan yang mendasar tentang arah pembangunan iptek. Eksistensi inovasi tidak secara langsung dapat dijamin oleh keberadaan lembaga pengembang teknologi yang maju dan lembaga pengguna teknologi dengan kapasitas produksi yang besar. baik industri. Kecenderungan global saat ini dan kepentingan nasional dalam rangka menunaikan amanah konstitusi sebetulnya berjalan paralel dan menuju satu muara. 18 Tahun 2002 . Dalam konteks ini. Arah pembangunan iptek perlu diupayakan menuju peningkatan kontribusi teknologi terhadap pembangunan berbagai sektor. karena yang akan menentukan adalah kualitas interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut yang dibuktikan dengan terjadinya: [1] aliran informasi kebutuhan dan/atau persoalan teknologis yang dihadapi oleh para pengguna yang sampai ke pengembang teknologi. Dengan demikian. yakni mewujudkan inovasi nasional yang lebih efektif dan produktif. terutama pasar domestik.Bab 6 Rangkuman dan Rekomendasi 6. 139 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan [2] aliran teknologi yang relevan dan sesuai kapasitas adopsi pengguna. konstitusi Indonesia juga secara jelas dan tegas mengamanahkan bahwa pembangunan iptek ditujukan untuk meningkatkan peradaban dan kesejahteraan umat manusia.1. masyarakat. aktivitas riset di masa yang akan datang perlu lebih diarahkan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menyediakan solusi bagi persoalan nyata yang dihadapi para pengguna teknologi. Dari sisi lain. yang dihasilkan oleh pengembang dan diimplementasikan oleh pengguna dalam proses produksi barang/jasa sesuai kebutuhan konsumen atau permintaan pasar. ataupun pemerintah. tentu dimaksudkan bahwa pengembangan teknologi harus diarahkan untuk menyejahterakan rakyat dan peningkatan peradaban bangsa Indonesia. terutama sektorsektor perekonomian.

dan sumber pembiayaan eksternal (sourcing capacity) serta kapasitasnya dalam mendifusikan hasil riset dan teknologi kepada pengguna potensialnya (disseminating capacity). Untuk kondisi Indonesia. Pengembang dan pengguna teknologi sebagai aktor utama dalam penguatan inovasi nasional sering masih membutuhkan dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan kebijakan yang memotivasi dan berkesesuaian. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi perlu diimbangi dengan upaya peningkatan kapasitas adopsi teknologi pada lembaga pengguna. serta juga peran intermediasi dan fasilitasi agar interaksi dan komunikasi antar-aktor inovasi tersebut dapat lebih diintensifkan. dengan memanfaatkan lembaga dan fasilitas pengembangan teknologi yang sudah ada sebagai modal dasarnya. disarankan dinamakan sebagai ‘Indonesian InnoPark’. Fasilitasi pemerintah untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi dapat juga dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada aktor-aktor inovasi tersebut untuk berinteraksi dalam satu kawasan. termasuk regulasi dan kebijakan riset dan teknologi. dan perdagangan. Transformasi tersebut dapat dilakukan dengan menghadirkan lembaga intermediasi ke dalam kawasan dan menghadirkan industri ke dalam dan/atau membangun kawasan Industrial Park (IP) yang posisinya berdampingan dengan lahan Puspiptek. mitra kerja potensial. pendidikan. Pembentukan unit kerja dalam struktur organisasi lembaga pengguna dan/atau peningkatan aktivitas in-house research pada lembaga pengguna terbukti dapat mendorong peningkatan kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi. tetapi juga dapat ditingkatkan kapasitasnya untuk mengakses infromasi. keuangan. Interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi membutuhkan ‘panggung’ yang yang mantab dan nyaman. diperlukan upaya pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) pada seluruh koridor pembangunan perekonomian nasional. Ide ini diimplementasikan dengan membangun Science and Technology Park (STP). Nyaman dalam pengertian kebijakan-kebijakan sektoral tersebut bermuara pada kondisi ekosistem yang kondusif untuk tumbuh-kembang inovasi. Revitalisasi lembaga pengembang teknologi ini diarahkan agar lembaga ini tidak hanya handal dalam mendukung aktivitas riset dan pengembangan (R&D capacity) semata. yang masing-masing fokus pada isu-isu ekonomi strategis sesuai dengan potensi 140 Naskah Akademik Perubahan UU No. Gabungan antara STP dan IP ini akan dapat menjadi model SINas Indonesia yang handal. 18 Tahun 2002 . Sejalan dengan pengembangan MP3EI. maka perlu dilakukan refocusing agar kapasitas tersebut dapat diarahkan sesuai dengan prioritas untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna.Dalam rangka mendayagunakan secara optimal kapasitas lembaga pengembang teknologi yang sudah baik. kawasan Puspiptek Serpong sangat mungkin untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. perindustrian. Untuk peran intermediasi dapat juga dimainkan oleh lembaga non-pemerintah. Mantab dalam makna mendapat dukungan dari berbagai regulasi dan kebijakan dari sektor-sektor yang terkait langsung dan berpengaruh nyata terhadap proses mewujudkan dan perkuatan inovasi nasional. Upaya ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kompetensi sumberdaya manusia pada lembaga pengguna (industri dan pemerintah) atau pengguna individual dalam masyarakat. ketenagakerjaan.

Untuk revitalisasi peran DRN ini. diperbaiki. Alternatif lain yang dapat didorong adalah membangun konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dari anggota konsorsium. terutama dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan iptek. manusia.ekonomi masing-masing wilayah koridor. dan martabat bangsa Indonesia. harkat. dan pemerintah sebagai pengguna teknologi. 6. merekomendasikan arah dan prioritas riset nasional. termasuk permintaan pasar domestik. Dalam konteks penguatan inovasi nasional. industri. 35 Tahun 2007. maka keanggotaan DRN perlu disesuaikan agar secara seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. 18 Tahun 2002 . Selanjutnya langkah ini juga harus fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan nasional. serta dari unsur pemerintah. anggota konsorsium merupakan representasi dari pengembang teknologi. maka beberapa butir rekomendasi yang dapat disampaikan adalah: (1) Pengembangan teknologi Indonesia perlu difokuskan untuk memenuhi realita kebutuhan dan/atau menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna 141 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan untuk menyediakan solusi teknologi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat. Rekomendasi Berdasarkan telaah yang telah dilakukan secara komprehensif ini. pengguna teknologi. yang terkait langsung dengan upaya mencapai sasaran bersama yang telah disepakati. Dewan Riset Nasional (DRN) sebagai lembaga non-struktural yang terkait langsung dengan upaya membangun inovasi nasional perlu lebih dioptimalkan perannya. termasuk sumberdaya alam.2. Kemungkinan untuk reposisi DRN juga perlu mendapat pertimbangan agar peran koordinasi lebih efektif dapat dilaksanakan. Orientasi pengembangan inovasi nasional yang berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. atau bahkan dilengkapi sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. Semua langkah-langkah yang akan ditempuh dalam rangka mewujudkan atau perkuatan inovasi nasional yang telah diuraikan di atas tetap secara konsisten berbasis pada potensi sumberdaya nasional. serta koordinasi antara lembaga pengembang teknologi. 18 Tahun 2002 dan PP No. dan dapat juga jika dianggap strategis melibatkan lembaga penunjang tertentu. maka sangat mungkin pada masing-masing koridor dikembangkan beberapa pusat unggulan sesuai dengan realita kebutuhannya. termasuk pelaksanaan UU No. Regulasi dan kebijakan yang ada saat ini dirasakan masih perlu disinkronisasikan. Kemungkinan penerbitan Undang-Undang Sistem Inovasi Nasional juga merupakan salah satu alternatif yang perlu diekplorasi lebih lanjut. Memahami bahwa satu koridor ekonomi masih dapat dijumpai keragaman potensi ekonominya. dan konsisi sosio-kultural serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. lembaga intermediasi.

dimana kawasan Puspiptek Serpong dapat diprioritaskan untuk ditransformasi secara fisik dan fungsional menjadi STP. termasuk masyarakat. ketenagakerjaan. Peran lembaga intermediasi perlu diperluas sehingga tidak hanya memasarkan teknologi tetapi juga membantu mengidentifikasi kebutuhan dan permasalah yang dihadapi para pengguna teknologi. (8) Pembentukan konsorsium inovasi berdasarkan isu spesifik yang menjadi sasaran bersama (common goal) dan memiliki nilai strategis nasional perlu didorong karena akan menjadi vehicle yang efektif sebagai model implementasi SINas. perindustrian. (3) Kapasitas adopsi lembaga pengguna teknologi perlu ditingkatkan agar proses difusi teknologi dalam rangka mewujudkan inovasi nasional dapat lebih berpeluang untuk terlaksana. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. (6) Pembangunan Science and Technology Park (STP) perlu disegerakan agar tersedia wahana untuk mendorong interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembangintermediasi-pengguna teknologi. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta turunannya PP No. melalui pemberlakukan regulasi dan kebijakan yang kondusif.teknologi. (4) Peran lembaga intermediasi perlu lebih dioptimalkan sehingga interaksi dan komunikasi antara lembaga pengembang dan pengguna teknologi dapat lebih intensif dan produktif. keuangan. 18 Tahun 2002 . industri. yakni meningkatkan kontribusi teknologi terhadap percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. 35 Tahun 2007 142 Naskah Akademik Perubahan UU No. dengan demikian maka upaya penguatan inovasi dapat mengalami akselerasi. (10) UU No. antara lain melalui perbaikan komposisi keanggotaannya agar secara lebih seimbang mewakili komunitas pengembang dan pengguna teknologi. (9) Peran Dewan Riset Nasional (DRN) perlu direvitalisasi. Kemungkinan reposisi DRN juga perlu dipertimbangkan agar peran koordinasi DRN menjadi lebih efektif. terutama di sektor riset dan teknologi. (7) Pengembangan pusat unggulan inovasi (center of excellence on innovation) perlu segera diinisiasi dalam rangka memberikan dukungan terhadap implementasi strategi pokok ketiga MP3EI. dan kapasitas difusinya. Partisipasi pihak non-pemerintah perlu dirangsang untuk berperan dalam intermediasi ini. (5) Pemerintah menyiapkan ‘panggung’ bagi para aktor inovasi agar dapat berinteraksi secara intensif dan produktif. (2) Kapasitas lembaga pengembang teknologi perlu direvitalisasi agar mempunyai tiga kapasitas yang dibutuhkan dalam menopang penguatan inovasi nasional. yakni kapasitas riset dan pengembangan. dan lembaga pemerintah sesuai dengan konsepsi penguatan SINas. serta dari unsur pemerintah. sehingga teknologi dapat secara nyata berkontribusi terhadap pembangunan nasional. pendidikan. dan perdagangan. kapasitas sourcing.

dan martabat bangsa Indonesia. atau bahkan dilengkapi dengan produk turunannya sehingga bisa diimplementasikan secara efektif dan utuh. dan Difusi Teknologi perlu disinkronisasikan. (11) Orientasi pengembangan inovasi nasional harus berbasis sumberdaya nasional dan lebih diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan domestik sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan kemandirian. Inovasi. diperbaiki. 143 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 .tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. harkat.

institutions. Jakarta. Freeman. J. Nelson. R. Freeman.T. Jakarta. Wolf (eds). C. and M. University Of Queensland. and L. C. Ipswich. Knowledge bases and regional innovation systems: comparing Nordic clusters. In: W.C. 1987. 2008. Technology and Economic Performance: lessons from Japan. P. Membangun Iptek yang Memihak Rakyat. and E. Jakarta.N. Assessing the Distributional Power of National Innovation System: pilot study of the Netherland. Pinter. Jadikan Iptek sebagai HAM. Oxford (UK). Research Policy 37:1417-1435 Firdausy. Foresight. Developing science. London. 2009. 2009b. Economic Backwardness in Historical Perspective. Coenen. Srholec. E. Government centrality to university–industry interactions: University research centers and the industry involvement of academic researchers. 2005. Research Policy 38:1505–1516 BPS. 2009.Referensi Abramovitz. S. Jakarta Casey. Netherland. 1995. Gramedia Pustaka Utama. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. B. technology and innovation indicators: What we can learn from the past. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 2008. Hasta. C. 1994. Cambridge (USA). Progress in Human geography 27(6):763778 Boardman. and social systems. Firdausy. Review of Industrial Organization 11:601-616 Haryoto. 2009. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Jakarta. 1996. Statistik Indonesia. Asheim. 2010. Regulasi/Deregulasi. Research Policy 34(8):1173-1190 Bathelt. 2005. Catch-up and convergence in the postwar growth boom and after.R. Haagedoorn. A. Iptek sebagai Keharusan untuk Pertumbuhan Ekonomi. 18 Tahun 2002 .M. And L. Baumol.J. Badan Pusat Statistik. Fagerberg. Soete. Research Policy 38:583–589 Gerschenkron. The Belknap Press. P. J. M. Hertog. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Oxford University Press. Dalam: Kadiman. H. Center for Technology and Policy Studies. Gramedia Pustaka Utama. 2003. C. Apeldoorn. National Innovation Systems. L. 144 Naskah Akademik Perubahan UU No. Establishing Standards for Social Infrastructure.M. Geographies of Production: growth regimes in spatial perspective – innovation. Capabilities and Economic Development. 1962. 2009a. Trends and Patterns in Strategic Technology Partnering since the Early Seventies. Gramedia Pustaka Utama. Convergence of Productivity: Crossnational studies and historical evidence.

Carlaw. Universitas Sahid. 2009. 2004. Dalam: Kadiman. Kadiman. 200602.A. 19-21 June. and K.D. London. Paris. Keynote speech pada Seminar Revitalisasi Kelembagaan Litbang. K. 2006. Alisjahbana. T. A. peluang. Testing the Natural Resource Curse Hypothesis in Indonesia: Evidence at the Regional Level. X. Indikator Kinerja Lembaga Litbang di Era Informasi Terbuka. B. 2008. Lakitan. Triple Helix indicators of knowledge-based innovation systems: Introduction to the special issue. Banjarbaru. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Katz. technology and innovation: Translating rationales into regional policies in a multi-level setting. Seminar Nasional Revitalisasi Lembaga Litbang. 23 November 2010. Makalah pengarahan pada Temu Peneliti Badan Litbang dan Diklat VIII Kementerian Agama. Gramedia Pustaka Utama. Canadian Journal of Economics 37(4):1118-1150 Liu. 2009. White. Research Policy 35:1441–1449 Lipsey. Perencanaan Lintas-Sektor. Foresight. Komarulzaman. B. Ibrahim. 18 Tahun 2002 . dan potensi. D. And S. Jakarta.G. 23 Juni 2011. serta kendala. Ahlqvist and. 2010. 2010. 2008. Lakitan. E. B. Keynote speech pada Seminar dan Lokakarya Nasional Pengembangan Agroindustri Kalimantan Selatan: prospek. Research Policy 30(7):1091-1114 Loikkanen. Jakarta. Paper presented at the OECD Workshop on New Indicators for the Knowledge-based Economy. dan M. M.I. Revitalisasi Kelembagaan Riset dan Pengembangan untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. and S. Working Paper in Economics and Development Studies No. Universitas Padjadjaran. 1996.. H. Policies for science. The role of the technology barometer in assessing the performance of the national innovation system. National System Innovation: towards a theory of innovation and interactive learning. 2008. Research Policy 37:823-835 Leydesdorff. Comparing innovation system: a framework and applications to China’s transitional context. Uyarra. Technological Forecasting & Social Change 76:1177–1186 Lundvall. and K. 2006. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 2011a. Systemic Bibliometric Indicators for the Knowledge-based Economy. D. and Armida S.. T. Meyer. 2011b. Laranja. Flanagan. Hidayat. Makassar. Jakarta. Universitas Sahid Jakarta. P. 2001.Hicks. 145 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. 23 November 2010. Membangun Relasi Akademisi-Bisnis-Pemerintah. Kadiman. Membangun Agroindustri dan Mewujudkan Sistem Inovasi: agar teknologi berkontribusi pada kesejahteraan rakyat. R. Universitas Lambung Mangkurat. Foresight. Bandung. 1992. K. Revitalisasi (Reformasi) Lembaga Litbang untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional. 12-15 April 2011. L. B. Jakarta. Total Factor Productivity and the Measurement of Technological Change. Pinter. Lakitan. Pellinen.

Sport. Industri. Simfoni Inovasi: cita dan realita. 1997. OECD. and Innovation Policy. M. National Innovation Systems. Dalam: Kadiman. New York. Ministry of Education. 1995. Culture. France. 2010. R. 2009. Frascati Manual: The Proposed Standard Practice for Surveys of Research and Experimental Development. Organisation for Economic Cooperation and Development. Organisation for Economic Co-Operation and Development. 2008b. Konsistensi Regulasi. Organisation for Economic Oey-Gardiner. and K. Industry Studies of Innovation Using CIS Data: computer and office machinery. 2008a. Science and Technology.. OECD. Foresight. 2002. Malherbe G. The Nature and Economic Importance of National Innovation Systems. Foresight. Paper presented at the Eurostat Conference on Innovation Measurement and Policies. Dalam: Kadiman. Strategic Priorities for Science. The Economic Foundations of Technology Policy: equilibrium and evolutionary perspective. LIPI Press: Jakarta Nelson. And L. dan Prakoso Bhairawa Putera. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Bingkai Ekonomi Berlandaskan Iptek (Knowledge Based Economy). Foresight. Dalam: Kadiman. Organisation for Economic Co-Operation and Development. Blackwell Publishers. Prihandana. Oslo Manual: guidelines for collecting and interpreting innovation data. and G. J. Sri. Jakarta. bukan Pabrik. 2002. France. Paris OECD. Teknologi dan Tanggung Jawab Sosial. F. Technology. Stanway. Metcalfe. European Journal of Operational Research 207:1147–1161 Mulatsih. A review of the recent contribution of systems thinking to operational research and management science. Simfoni Inovasi: cita dan realita. In: P. France. Stoneman (ed).14. Virtual Consulting International Ltd. National Innovation System: a comparative analysis. R.Malerba. Organisation for Economic Cooperation and Development. 18 Tahun 2002 . 2008. Organisation for Economic Cooperation and Development. H. Third edition. Jakarta. Cooperation and Development. Patel. 1996. Corporate Innovation at Work: Defining the innovation consortium. Handbook of the Economic of Innovation and Technological Change. Paris. Annual Report on the Promotion of Science and Technology. Panigoro. Paris. Paris. 2008. 146 Naskah Akademik Perubahan UU No. S. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. MEXT. OECD. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Paris OECD. Pavitt. 2010. P.. Science Technology and Innovation Review No. 2008. Sixth edition. 1993. 1994. 2005. Paris. OECD. Mingers. The Knowledge-Based Economy. OECD. 1996. White. Paris. Oxford University Press. Analisis Undang-undang No. France. Oxford. Oxford. Tokyo. Jakarta. Innovation Strategies: scoping document.

T. Research Policy 23(3):323-348 Santoso. Gramedia Pustaka Utama. Gramedia Pustaka Utama. Foresight. 1994. 2009. Inovasi untuk Pemberdayaan Industri. Sharif. 2007. Harvard University Press. Dalam: Kadiman. Dalam: Kadiman.Y. dan S. 2008. Jakarta. The Theory of Economic Development. Jakarta. S. B. Washington DC 147 Naskah Akademik Perubahan UU No. S. Thee Kian Wie. Jakarta. 2010. 2010. Kesinambungan Milestone. Governance of Innovation Systems in the Current Global Setting. Nelson. The World Bank. 18 Tahun 2002 Warsono. The Global Competitiveness Report 2010-2011. Setiawan. J. Jakarta. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Peran Badan Intermediasi. B. Simfoni Inovasi: cita dan realita. Schumpeter. Cambridge. Technovation 27:471–488 WEF. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Chien. I. Bahan Ceramah di LIPI. and R. 2009. Foresight.Y. Jakarta. Nalar Ekonomi versus Nalar Teknologi. Geneva World Bank. UNCTAD. The influences of technology development on economic performance—The example of ASEAN countries. New York Wang. 2008. . Innovation Policy: a guide for developing countries. Embargo sebagai Pemicu. Simfoni Inovasi: cita dan realita. N. Jakarta Suhardi. Foresight. 1934. Dalam: Sains dan Teknologi: berbagai ide untuk menjawab tantangan dan kebutuhan. Peran Intermediasi dalam Membangun Kolaborasi Lembaga Litbang dan Industri. 2008. United Nations Conference on Trade and Development. Foresight. American Universities and Technical Advance in Industry. 2008. Simfoni Inovasi: cita dan realita.Rosenberg.R. 2009. Dalam: Kadiman. World Investment Prospects Survey 2008-2011. Dalam: Kadiman. Jakarta. World Economic Forum. 2010.C. Setiawan.

Sambutan Presiden Dr. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional (KIN). Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 246/M/Kp/IX/2011 tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional Untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terhadap Pembangunan Nasional 9. 20 Januari 2010. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. 148 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan Penerapan Ilmu Pengetahun dan Teknologi.Lampiran Peraturan Perundang-undangan dan Kebijakan Nasional 1. 18 Tahun 2002 7. 4. 5. 3. . 6. Pengembangan. Serpong. Inovasi. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 8. Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Soesilo Bambang Yudhoyono. 2. dan Difusi Teknologi. dalam Acara Silaturrahim dengan AIPI dan Masyarakat Ilmiah. Sumbangan Pembinaan Olahraga. Keputusan Menteri Riset dan Teknologi Nomor 193/M/Kp/IV/2010 tentang Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek 2010.2014.

pemanfaatan. berbangsa. b. dan bernegara di Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pencapaian tujuan negara sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. b. 149 Naskah Akademik Perubahan UU No. Undang.Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. e. ayat (2). memajukan kesejahteraan umum. sumber daya. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dengan persetujuan : DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. pemanfaatan. serta mencerdaskan kehidupan bangsa. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab. Mengingat : Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan menyerasikan tata kehidupan manusia beserta kelestarian fungsi lingkungan hidupnya berdasarkan Pancasila. serta jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh di lingkungan Negara Republik Indonesia. ayat (4). PENGEMBANGAN. diperlukan sistem nasional penelitian. pengembangan. bahwa penumbuhkembangan sistem nasional penelitian. Pengembangan. bahwa untuk menumbuhkembangkan penguasaan.Lampiran 1. d. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan bermasyarakat. PENGEMBANGAN. pemanfaatan. yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. bahwa penguasaan. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada butir a. c. c. DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI. bahwa alam semesta dan segala isinya diciptakan Tuhan Yang Maha Esa untuk kepentingan umat manusia yang dalam pengelolaan dan pendayagunaannya diperlukan penguasaan. dan d perlu dibentuk Undang-Undang tentang Sistem Nasional Penelitian. terakhir dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengandung dan membentuk keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling memperkuat antara unsur-unsur kelembagaan. pengembangan. 18 Tahun 2002 . dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah tugas dan tanggung jawab negara.

6. serta peningkatan kehidupan kemanusiaan. 7. atau orang. pelestarian nilai luhur budaya bangsa. 8. Penerapan adalah pemanfaatan hasil penelitian. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. 11. atau menghasilkan teknologi baru. dan peningkatan mutu kehidupan manusia. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. fungsional. . Inovasi adalah kegiatan penelitian. baik yang bersifat kuantitatif. keamanan dan ketahanan bagi perlindungan negara. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis adalah berbagai cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki keterkaitan yang luas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara menyeluruh. kemajuan bangsa. Alih teknologi adalah pengalihan kemampuan memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi antar lembaga. Teknologi adalah cara atau metode serta proses atau produk yang dihasilkan dari penerapan dan pemanfaatan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang menghasilkan nilai bagi pemenuhan kebutuhan. 2. baik yang berada di lingkungan dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya. dan estetika. serta difusi teknologi. pengembangan. kualitatif. dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah. 3. badan. 9. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala alam dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. 18 Tahun 2002 5. 4. produk. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. Ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk desain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. pelestarian fungsi lingkungan hidup. disusun. atau berpotensi memberikan dukungan yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. pengembangan.BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. kelangsungan. inovasi. Invensi adalah suatu ciptaan atau perancangan baru yang belum ada sebelumnya yang memperkaya khazanah serta dapat dipergunakan untuk menyempurnakan atau memperbarui ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. sosial budaya. manfaat. atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. dan/atau ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam kegiatan perekayasaan. 10. data. bisnis. Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. 150 Naskah Akademik Perubahan UU No.

pengembangan. asas tanggung jawab negara. dan tanggung jawab akademis. kebebasan akademis. 18. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dikembangkan berdasarkan asas iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk pola hubungan yang saling memperkuat antara unsur penguasaan. SUMBER DAYA. Pemerintah pusat. DAN JARINGAN Bagian Pertama Fungsi Pasal 5 (1) Sistem Nasional Penelitian. KELEMBAGAAN. Lembaga penelitian dan pengembangan yang selanjutnya disebut lembaga litbang adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan penelitian dan/atau pengembangan. Hak kekayaan intelektual yang selanjutnya disebut HKI adalah hak memperoleh perlindungan secara hukum atas kekayaan intelektual sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemanfaatan. 151 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. Menteri adalah menteri yang membidangi penelitian. 16. 14. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. 17. Pasal 3 Sistem Nasional Penelitian.12. Badan usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas kebebasan berpikir. Pasal 4 Sistem Nasional Penelitian. atau suatu bidang kegiatan profesi. Pengembangan. yang dijamin oleh negara untuk mengembangkan profesionalisme dan etika profesi dalam masyarakat. asas kebenaran ilmiah. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan memperkuat daya dukung ilmu pengetahuan dan teknologi bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara. selanjutnya disebut Pemerintah. sesuai dengan peraturan perundang-undangan. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. Pasal 2 Pengertian peristilahan dalam Pasal 1 yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berpikir. serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. serta asas tanggung jawab akademis. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. 13. asas kesisteman dan percepatan. Pengembangan. 15. Pengembangan. BAB III FUNGSI. 18 Tahun 2002 BAB II ASAS DAN TUJUAN . Organisasi profesi adalah wadah masyarakat ilmiah dalam suatu cabang atau lintas disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. asas kebebasan akademis.

pemanfaatan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi memberikan dukungan dan membentuk iklim yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan penguasaan. 18 Tahun 2002 (1) Lembaga litbang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. Pasal 10 (1) Lembaga penunjang sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. Pasal 9 (1) Badan usaha sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. dan difusi teknologi untuk menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai ekonomis. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi.(2) Unsur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas unsur kelembagaan. Pengembangan. inovasi. Pengembangan. penelitian dan pengembangan. b. Pasal 8 (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). unsur sumber daya. badan usaha. pemerintah daerah. perguruan tinggi bertanggung jawab meningkatkan kemampuan pendidikan dan pengajaran. inovasi. dan organisasi masyarakat. mengorganisasikan pembentukan sumber perekayasaan. perguruan tinggi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. penelitian. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). . dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan. (2) Kelembagaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berfungsi : a. Bagian Kedua Kelembagaan Pasal 6 (1) Kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas unsur perguruan tinggi. dan lembaga penunjang. lembaga penunjang. dan unsur jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi. atau bagian dari organisasi pemerintah. serta pengabdian pada masyarakat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi menumbuhkan kemampuan perekayasaan. (3) Lembaga litbang dapat berupa organisasi yang berdiri sendiri. daya manusia. lembaga litbang. (2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). badan usaha. membentuk iklim dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi penyelenggaraan penguasaan. dan difusi teknologi. 152 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 7 (1) Perguruan tinggi sebagai salah satu unsur kelembagaan dalam Sistem Nasional Penelitian. pemanfaatan. badan usaha bertanggung jawab mengusahakan pendayagunaan manfaat keluaran yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang. lembaga litbang bertanggung jawab mencari berbagai invensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menggali potensi pendayagunaannya. pengembangan.

18 Tahun 2002 (1) Pemerintah mendorong kerja sama antara semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan jaringan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. dan badan usaha yang melaksanakannya. Pasal 14 Pemerintah. lembaga litbang. serta menerapkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil di lingkungannya sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan sertifikasi keahlian. Pasal 13 (2) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan penyebaran informasi hasil-hasil kegiatan penelitian dan pengembangan serta kekayaan yang dimiliki selama tidak mengurangi kepentingan perlindungan kekayaan intelektual. persyaratan. kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. Pengembangan. setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab mengembangkan struktur dan strata keahlian. pengembangan. kepakaran. dan badan usaha. serta kode etik profesi. dan/atau badan usaha dapat membangun kawasan. perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan pembentukan sentra HKI sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. (2) Setiap unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab meningkatkan secara terus menerus daya guna dan nilai guna sumber daya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pemerintah daerah. Pasal 12 (1) Dalam meningkatkan keahlian. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi. serta kompetensi manusia dan pengorganisasiannya. kekayaan intelektual dan informasi. jenjang karier sumber daya manusia. (4) Setiap kekayaan intelektual dan hasil kegiatan penelitian.(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Bagian Keempat Jaringan Pasal 15 (1) Jaringan Sistem Nasional Penelitian. perekayasaan. organisasi profesi wajib menentukan standar. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berfungsi membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan unsur-unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan kinerja dan manfaat yang lebih 153 Naskah Akademik Perubahan UU No. serta sarana dan prasarana ilmu pengetahuan dan teknologi lain untuk memfasilitasi sinergi dan pertumbuhan unsur-unsur kelembagaan dan menumbuhkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan masyarakat. dan inovasi yang dibiayai pemerintah dan/atau pemerintah daerah wajib dikelola dan dimanfaatkan dengan baik oleh perguruan tinggi. (3) Dalam meningkatkan pengelolaan kekayaan intelektual. lembaga penunjang bertanggung jawab mengatasi permasalahan atau kesenjangan yang menghambat sinergi dan pertumbuhan perguruan tinggi. (2) Untuk menjamin tanggung jawab dan akuntabilitas profesionalisme. . lembaga litbang. kepakaran. Bagian Ketiga Sumber Daya Pasal 11 (1) Sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi terdiri atas keahlian. pusat peragaan.

(3) Pemerintah bertanggung jawab memberikan dukungan bagi perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam rangka kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. (2) Untuk mengembangkan jaringan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan menghindarkan terjadinya tumpang tindih yang merupakan pemborosan. (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia. sejauh tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan peraturan perundang-undangan. lembaga litbang asing. yang dibiayai sepenuhnya atau sebagian oleh pemerintah dan/atau pemerintah daerah kepada badan usaha. badan usaha asing. (4) Perguruan tinggi asing. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. (5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. memperkuat. BAB IV FUNGSI DAN PERAN PEMERINTAH Bagian Pertama Fungsi Pemerintah Pasal 18 (1) Pemerintah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. Pasal 16 (1) Perguruan tinggi dan lembaga litbang wajib mengusahakan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. dan lembaga penunjang. 154 Naskah Akademik Perubahan UU No. pemerintah. badan usaha. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). perguruan tinggi. Pasal 17 (1) Kerja sama internasional dapat diusahakan oleh semua unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan alih teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat ilmiah internasional. Pengembangan. pengalihan teknologi dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang telah diatur sebelumnya dengan pihak lain tersebut. atau masyarakat. (2) Kerja sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilaksanakan atas dasar persamaan kedudukan yang saling menguntungkan dengan tidak merugikan kepentingan nasional. (2) Apabila sebagian biaya kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibiayai oleh pihak lain. lembaga litbang. ayat (2). dan orang asing yang tidak berdomisili di Indonesia yang akan melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia harus mendapatkan izin tertulis dari instansi pemerintah yang berwenang. selain pemerintah dan/atau pemerintah daerah. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan Sistem Nasional Penelitian. prioritas utama.besar dari keseluruhan yang dapat dihasilkan oleh masing-masing unsur kelembagaan secara sendirisendiri. memberikan stimulasi dan fasilitas. pemerintah wajib merumuskan arah. melengkapi. 18 Tahun 2002 . serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. wajib mengusahakan kemitraan dalam hubungan yang saling mengisi. (3) Perguruan tinggi dan lembaga litbang pemerintah berhak menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih teknologi dan/atau pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengembangkan diri.

inovasi. pemerintah daerah membentuk Dewan Riset Daerah yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. 18 Tahun 2002 (1) Pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi. (3) Dalam merumuskan kebijakan strategis yang dimaksud dalam ayat (2). memberikan stimulasi dan fasilitas. sumber daya. (2) Untuk mendukung Menteri dalam merumuskan arah. dan jaringan ilmu pengetahuan dan teknologi di wilayah pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Nasional Penelitian. pemerintah daerah harus mempertimbangkan masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemerintah daerah wajib merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dituangkan sebagai kebijakan strategis pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerahnya. penguatan kemampuan audit teknologi impor yang dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional Indonesia untuk melindungi konsumen dan memfasilitasi pertumbuhan industri dalam negeri. dan peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan yang merupakan tulang punggung perkembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. b. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. penguatan penguasaan ilmu-ilmu dasar. Pengembangan. penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. . Pasal 20 (2) Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). prioritas utama. pengembangan. (4) Untuk mendukung perumusan prioritas dan berbagai aspek kebijakan penelitian. pengembangan. serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan. dan difusi teknologi serta memperkuat tarikan pasar bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. serta penguatan penguasaan ilmu-ilmu sosial dan budaya yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 155 Naskah Akademik Perubahan UU No. Menteri wajib memperhatikan pentingnya upaya : a. pengembangan. Bagian Kedua Peran Pemerintah Pasal 21 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah berperan mengembangkan instrumen kebijakan untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). c. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. ilmu pengetahuan dan teknologi yang strategis. pemerintah membentuk Dewan Riset Nasional yang beranggotakan masyarakat dari unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi.Pasal 19 (1) Menteri wajib mengoordinasikan perumusan kebijakan strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian. (3) Dalam menetapkan prioritas utama dan mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian.

transparan. (4) Lembaga yang dimaksud dalam ayat (3) dapat meliputi lembaga litbang dan lembaga penunjang. Pasal 23 (1) Pemerintah menjamin perlindungan bagi HKI yang dimiliki oleh perseorangan atau lembaga sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pengembangan. nilai budaya asli masyarakat. terhadap penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemerintah mengatur perizinan bagi pelaksanaan kegiatan penelitian. dan pembentukan lembaga. (2) Pemerintah menjamin perlindungan bagi pengetahuan dan kearifan lokal. (2) Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). baik yang berdiri sendiri sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen maupun sebagai unit kerja departemen atau pemerintah daerah tertentu. dan akuntabel. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. pemerintah daerah. (3) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dapat berbentuk dukungan sumber daya. Pengembangan. pemanfaatan. (5) Pelaksanaan instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diselenggarakan secara adil. (3) Pemerintah menjamin perlindungan bagi masyarakat sebagai konsumen. Pasal 22 (1) Pemerintah menjamin kepentingan masyarakat. dukungan dana. (4) Setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh informasi secara mudah dengan biaya murah tentang HKI yang sedang didaftarkan dan telah dipublikasikan secara resmi oleh pihak yang berwenang atau yang telah memperoleh perlindungan hukum di Indonesia. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berisiko tinggi dan berbahaya dengan memperhatikan standar nasional dan ketentuan yang berlaku secara internasional. (2) Setiap warga negara yang melakukan penelitian. 18 Tahun 2002 . bangsa. serta kekayaan hayati dan non hayati di Indonesia. Pasal 25 156 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan negara serta keseimbangan tata kehidupan manusia dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai hak memperoleh penghargaan yang layak dari pemerintah. pengembangan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Setiap orang mempunyai hak untuk menggunakan dan mengendalikan kekayaan intelektual yang dimiliki sesuai dengan peraturan perundang-undangan.(2) Instrumen kebijakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan sebagai bentuk kemudahan dan dukungan yang dapat mendorong pertumbuhan dan sinergi semua unsur Sistem Nasional Penelitian. pemberian insentif. BAB V PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 24 (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk berperan serta dalam melaksanakan kegiatan penguasaan. demokratis. dan/atau masyarakat sesuai dengan kinerja yang dihasilkan. penyelenggaraan program ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

sampai dengan pembatalan atau pencabutan izin oleh instansi pemberi izin. (3) Setiap organisasi profesi wajib membentuk dewan kehormatan kode etik sesuai dengan ketentuan Pasal 12 ayat (2). 18 Tahun 2002 (3) Perguruan tinggi. (2) Masyarakat ilmu pengetahuan dan teknologi bertanggung jawab untuk berperan serta mengembangkan profesionalisme dan etika profesi melalui organisasi profesi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 27 (1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran sebesar jumlah tertentu yang cukup memadai untuk memacu akselerasi penguasaan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. pemanfaatan. dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan. pemanfaatan. Pasal 20 ayat (1). dan Pasal 21 ayat (1). lembaga litbang. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. lembaga penunjang. . Pasal 28 (1) Badan usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. BAB VII KETENTUAN SANKSI Bagian Pertama Sanksi Administratif Pasal 29 Pelanggaran ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dijatuhi sanksi administratif mulai dari teguran. (2) Anggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat digunakan dalam lingkungan sendiri dan dapat pula digunakan untuk membentuk jalinan kemitraan dengan unsur kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. (2) Anggaran yang dimaksud dalam ayat (1) digunakan untuk membiayai pelaksanaan fungsi dan peran pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1). 157 Naskah Akademik Perubahan UU No.(1) Masyarakat wajib memberikan dukungan serta turut membentuk iklim yang dapat mendorong perkembangan Sistem Nasional Penelitian. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 26 Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan penguasaan. pemberhentian sementara kegiatan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah. badan usaha. peringatan. dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengembangan. inovasi. pemanfaatan. organisasi masyarakat dan inventor mandiri berhak atas dukungan dana dari anggaran pemerintah dan pemerintah daerah untuk meningkatkan penguasaan.

00 (lima puluh juta rupiah) dan/atau penjara paling lama 6 (enam) bulan. dijatuhi sanksi pidana penjara dan/atau denda sesuai dengan peraturan perundang-undangan. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Bagian Kedua Sanksi Pidana Pasal 30 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin diancam pidana denda paling banyak Rp 50. ttd.000. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 84 158 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan merugikan negara. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 31 Pada saat berlakunya undang-undang ini.000. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. kelestarian fungsi lingkungan hidup. Disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. (2) Setiap orang yang melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) yang mengakibatkan bahaya bagi keselamatan manusia. kerukunan bermasyarakat. keselamatan bangsa. kesehatan masyarakat. semua peraturan perundang-undangan lain yang berhubungan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak sesuai dengan undangundang ini dinyatakan tidak berlaku. ttd. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. 18 Tahun 2002 .

INOVASI. DAN DIFUSI TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat (3) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Inovasi.Lampiran 2. 2. MEMUTUSKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksudkan dengan : 1. 18 Tahun 2002 Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. 2. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. atau menghasilkan teknologi baru. INOVASI. dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru. dan estetika. manfaat. dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). Inovasi adalah kegiatan penelitian. Perekayasaan adalah kegiatan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk disain dan rancang bangun untuk menghasilkan nilai. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha Untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan. Pengembangan. dan Difusi Teknologi. sosial budaya. produk. DAN DIFUSI TEKNOLOGI. Mengingat : 1. fungsional. 4. pengembangan. Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi. atau cara baru 159 Naskah Akademik Perubahan UU No. bisnis. . Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk memperoleh informasi. 3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. Pengembangan. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2007 TENTANG PENGALOKASIAN SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA UNTUK PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. dan/atau proses produksi dengan mempertimbangkan keterpaduan sudut pandang dan/atau konteks teknikal. dan keterangan yang berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan/atau hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. data.

18 Tahun 2002 Pasal 3 . dan difusi teknologi dalam meningkatkan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa yang dihasilkan. pengembangan dan/atau penerapan teknologi. Badan Usaha Milik Daerah. BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN PENINGKATAN KEMAMPUAN PEREKAYASAAN. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penelitian. Badan Usaha adalah badan atau lembaga berbadan hukum yang melakukan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. dan difusi teknologi. Badan Usaha Milik Negara. kerjasama. dan badan usaha lain. Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang dan jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama badan usaha. (2) Badan Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi badan usaha swasta berbentuk perseroan terbatas. 5. 8.untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi. inovasi. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dapat melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi. DAN DIFUSI TEKNOLOGI Pasal 4 Peningkatan kemampuan perekayasaan. inovasi. 7. inovasi. Pasal 5 (1) Dalam melakukan kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. INOVASI. pengembangan. dan difusi teknologi dilakukan melalui kegiatan: a. lembaga penelitian dan pengembangan. Insentif adalah pemberian kemudahan/keringanan yang diberikan kepada Badan Usaha dalam rangka upaya peningkatan kemampuan perekayasaan. dan difusi teknologi. (2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk lisensi. 6. dan pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi. 9. dan Koperasi. penelitian. dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. BAB IV 160 Naskah Akademik Perubahan UU No. Difusi teknologi adalah kegiatan adopsi dan penerapan hasil inovasi secara lebih ekstensif oleh penemunya dan/atau pihak-pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan daya guna potensinya. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan perguruan tinggi dan/atau lembaga penelitian dan pengembangan. BAB II ALOKASI SEBAGIAN PENDAPATAN BADAN USAHA Pasal 2 (1) Badan Usaha mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan perekayasaan. Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengalokasikan sebagian pendapatan sesuai dengan kemampuannya. inovasi. dan/atau b.

18 Tahun 2002 c. (2) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan untuk kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. dan f. Pasal 7 (1) Bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat berupa penempatan tenaga ahli dan/atau pemanfaatan fasilitas laboratorium di lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah. kepabeanan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bantuan teknis penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri. b. Bagian Kedua Tata Cara Permohonan. e. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Penghentian. inovasi. riset pasar dan/atau promosi penjualan. . bahan. dan/atau bantuan teknis penelitian dan pengembangan. d. Pasal 9 (1) Menteri membentuk Tim Pengkajian dan Penilaian. dan difusi teknologi dapat diberikan insentif. kegiatan yang dilakukan di luar negeri. produk dan/atau proses. dan Perpanjangan Insentif Pasal 8 (1) Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) mengajukan permohonan untuk mendapatkan rekomendasi insentif secara tertulis kepada Menteri. pengumpulan data. guna melakukan pengkajian dan penilaian terhadap permohonan insentif. (2) Hasil pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri dalam bentuk saran dan pertimbangan. pembelian dan/atau pembayaran royalti teknologi dari entitas lain di luar negeri. 161 Naskah Akademik Perubahan UU No.INSENTIF Bagian Kesatu Umum Pasal 6 (1) Badan Usaha yang mengalokasikan sebagian pendapatan untuk peningkatan kemampuan perekayasaan. (2) Pengajuan permohonan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan proposal kegiatan dan bentuk insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). kegiatan pengawasan dan/atau pengujian rutin terhadap kualitas produk. peralatan. (3) Besar dan jenis insentif perpajakan dan kepabeanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan sepanjang diatur dalam ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. survei efisiensi atau studi manajemen. (2) Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk insentif perpajakan.

kegiatan peningkatan kemampuan perekayasaan. 162 Naskah Akademik Perubahan UU No. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan keanggotaan dan tata kerja Tim Pengkajian dan Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. (3) Tata cara pengajuan permohonan insentif perpajakan dan kepabeanan dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan di bidang perpajakan dan kepabeanan. c. (4) Penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan keputusan pimpinan instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. potensi peningkatan kinerja produksi dan/atau daya saing barang dan/atau jasa. Pasal 13 (1) Dalam hal pemberian insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) berupa bantuan teknis penelitian dan pengembangan. dan difusi teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. pemberitahuan disampaikan kepada Badan Usaha disertai dengan alasannya. pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan di dalam negeri. (2) Menteri menyampaikan pemberitahuan persetujuan atau penolakan pemberian rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak penerimaan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. (2) Penetapan penghentian atau perpanjangan pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi pemerintah yang berwenang setelah meminta saran dan pertimbangan Menteri. 18 Tahun 2002 (1) Dalam hal Menteri memberikan rekomendasi insentif. rekomendasi disampaikan kepada Badan Usaha dengan tembusan kepada instansi pemerintah yang berwenang dalam pemberian insentif. Pasal 11 (2) Badan Usaha mengajukan permohonan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang disertai dengan rekomendasi insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan d. instansi pemerintah yang berwenang dapat menghentikan atau memperpanjang pemberian insentif. . (3) Menteri menyampaikan saran dan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada instansi pemerintah yang berwenang dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. (5) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan insentif diterima secara lengkap. Pasal 12 Dalam hal Menteri tidak memberikan rekomendasi insentif.(3) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: a. (4) Pengkajian dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. b. Pasal 10 (1) Menteri dapat memberikan atau tidak memberikan rekomendasi insentif dengan memperhatikan saran dan pertimbangan Tim Pengkajian dan Penilaian. inovasi. penggunaan sumber daya dalam negeri.

Bagian Ketiga Pelaporan Pasal 14 (1) Pada setiap akhir tahun dan akhir kegiatan. Badan Usaha yang mendapat insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) wajib menyerahkan laporan kegiatan peningkatan kemampuan. ttd ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2007 NOMOR 78 163 Naskah Akademik Perubahan UU No. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2007 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. 18 Tahun 2002 Ditetapkan di Jakarta . pada tanggal 22 Juni 2007 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 15 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. ttd DR. Agar setiap orang mengetahuinya. (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pencapaian kegiatan yang telah dilakukan dan kriteria sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3). perekayasaan. inovasi. (3) Menteri dapat melakukan verifikasi laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) guna memberikan saran dan pertimbangan penghentian atau perpanjangan insentif kepada instansi pemerintah yang berwenang. dan difusi teknologi kepada Menteri. (4) Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh. H.

dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. SUMBANGAN PEMBINAAN OLAHRAGA. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. Pasal 1 Sumbangan dan/atau biaya yang dapat dikurangkan sampai jumlah tertentu dari penghasilan bruto dalam rangka penghitungan penghasilan kena pajak bagi wajib pajak terdiri atas: a. Mengingat : 1. Sumbangan Pembinaan Olahraga. SUMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 18 Tahun 2002 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 133. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 93 TAHUN 2010 TENTANG SUMBANGAN PENANGGULANGAN BENCANA NASIONAL. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 50. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4893). dan huruf m Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional. yang merupakan sumbangan untuk korban bencana nasional yang disampaikan secara langsung melalui badan penanggulangan bencana atau disampaikan secara tidak langsung melalui lembaga atau pihak yang telah mendapat izin dari instansi/lembaga yang berwenang untuk pengumpulan dana penanggulangan bencana. Sumbangan Penelitian dan Pengembangan. huruf l. huruf k. Sumbangan Fasilitas Pendidikan.Lampiran 3. . 164 Naskah Akademik Perubahan UU No. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf i. huruf j. SUMBANGAN FASILITAS PENDIDIKAN. DAN BIAYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR SOSIAL YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO.

Besarnya nilai sumbangan dan/atau biaya pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 untuk 1 (satu) tahun dibatasi tidak melebihi 5% (lima persen) dari penghasilan neto fiskal Tahun Pajak sebelumnya. yang merupakan sumbangan untuk penelitian dan pengembangan yang dilakukan di wilayah Republik Indonesia yang disampaikan melalui lembaga penelitian dan pengembangan. harga pokok penjualan. atau c. c. apabila barang yang disumbangkan belum disusutkan. nilai buku fiskal. kecuali badan yang dikecualikan sebagai subjek pajak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. lembaga yang menerima sumbangan dan/atau biaya memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. b. (2) Biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf e diberikan hanya dalam bentuk sarana dan/atau prasarana. Pasal 4 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto bagi pihak pemberi apabila sumbangan dan/atau biaya diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagaimana dimaksud Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan. nilai perolehan. Pasal 5 (1) Sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a. dan d. mengembangkan dan mengoordinasikan suatu atau gabungan organisasi cabang/jenis olahraga prestasi yang disampaikan melalui lembaga pembinaan olah raga. Biaya pembangunan infrastruktur sosial merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan membangun sarana dan prasarana untuk kepentingan umum dan bersifat nirlaba. huruf c. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga.b. d. 165 Naskah Akademik Perubahan UU No. dan e. apabila barang yang disumbangkan sudah disusutkan. yang merupakan sumbangan untuk membina. b. 18 Tahun 2002 Pasal 3 . c. didukung oleh bukti yang sah. huruf b. Pasal 6 (1) Nilai sumbangan dalam bentuk barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) ditentukan berdasarkan: a. Sumbangan fasilitas pendidikan. apabila barang yang disumbangkan merupakan barang produksi sendiri. pemberian sumbangan dan/atau biaya tidak menyebabkan rugi pada Tahun Pajak sumbangan diberikan. Pasal 2 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dengan syarat: a. yang merupakan sumbangan berupa fasilitas pendidikan yang disampaikan melalui lembaga pendidikan. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan. dan huruf d dapat diberikan dalambentuk uang dan/atau barang. Wajib Pajak mempunyai penghasilan neto fiskal berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak sebelumnya.

memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA. Agar setiap orang mengetahuinya. dan huruf e wajib menyampaikan laporan penerimaan sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak paling lambat pada akhir Tahun Pajak diterimanya sumbangan dan/atau biaya. (2) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf b. ttd. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 30 Desember 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.(2) Nilai biaya pembangunan infrastruktur sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) ditentukan berdasarkan jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan untuk membangun sarana dan/atau prasarana. ttd. Pasal 9 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pencatatan dan pelaporan sumbangan dan/atau biaya diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. huruf c. PATRIALIS AKBAR LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 160 166 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 . H. Pasal 7 Sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 wajib dicatat sesuai dengan peruntukannya oleh pemberi sumbangan. DR. Pasal 8 (1) Badan penanggulangan bencana dan lembaga atau pihak yang menerima sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf a harus menyampaikan laporan penerimaan dan penyaluran sumbangan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk setiap triwulan. (3) Lembaga penerima sumbangan dan/atau biaya yang mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak melaporkan sumbangan dan/atau biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai lampiran laporan keuangan pada Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak diterimanya sumbangan. huruf d. Pasal 10 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku sejak Tahun Pajak 2010.

dan menyinergikan kegiatan untuk menghasilkan. dan menerapkan serta mendiseminasikan hasilnya dalam skala nasional agar manfaat nyata temuan dan produk inovatif dapat dirasakan masyarakat. b. bahwa dalam rangka implementasi pelaksanaan sitem inovasi nasional secara efektif dan efisien. 18 Tahun 2002 . MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL Pasal 1 Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan Sistem Inovasi Nasional adalah suatu jaringan rantai antara institusi publik. Pengembangan. dibentuk Komite Inovasi Nasional yang selanjutnya disebut KIN. mendayagunakan. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). 167 Naskah Akademik Perubahan UU No. Pasal 2 Dalam rangka penguatan sistem Inovasi Nasional. perlu membentuk Komite Inovasi Nasional dengan Peraturan Presiden. c. lembaga riset dan teknologi. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sitem Nasional Penelitian. Pasal 3 (1) KIN bertugas untuk: a. mendukung. terpadu. universitas serta sektor swasta dalam suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka panjang dapat mendorong. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b serta dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian sistem inovasi nasional. bahwa kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana.Lampiran 4. membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. terintegrasi. 2. perlu dilakukan melalui institusi yang efektif dan berhasil-guna baik dari sisi legalitas dan otoritas. merekayasa inovasi-inovasi di berbagai sektor. dan terkoordinasi dalam satu kesatuan sistem inovasi nasional guna meningkatkan produktifitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG KOMITE INOVASI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Mengingat : 1.

Zuhal. Dr. industri manufaktur. Dr. dan kerja sama dengan lembaga pemerintahan dan non pemerintahan. Iskandar. D. 16.M. bioteknologi.D. manajemen bencana alam. melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program pengutan sistem inovasi nasional. Dr. Arief Rahman. M.H. Freddy Permana Zen. pakar teknologi dan inovator dalam rangka keterpaduan penguatan sistem inovasi nasional. . Prof. IR.Sc : 1.. 13. 168 Naskah Akademik Perubahan UU No. Dr. Dr.D. Marzan A. M.Sc.. Ph.. Habibie. Dr. 9. Tri Mumpuni Wiyanto.LL. M. S. Bambang Kesowo. Dr. Betti Setiastuti Alisjahbana. c. M. transportasi dan industri pertahanan.Sc.E. M. Prof. Dr. serta komunitas ilmiah dan universitas. Drs. Bustanul Arifin.. Anton Apriantono. 6.D. Umar A. M. 4. 17. Prof. Ir. Idwan Suhardi 7.. Rachmat Gobel. Dr. Rektor Universitas Indonesia.Sc. termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghsilkan produkproduk inovatif. Ing. Ir. Ph. 11. Ph. 15. 2.Sc. (3) Dalam rangka melaksanakan tugasnya. Jusman Syafii Djamal. Sc. 14. Jenie.S. KIN melakukan konsultasi. 20. Dr. Ir. ketahanan energi. Pasal 4 Keanggotaan KIN terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Prof. Industri infrastruktur. M.. memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi. Apt. 8.S. Tien Muchtadi. Ir. Amir Sambodo. Prof. Sangkot Marzuki. MBA. MS.. Dr. M. Drs. Prof. : Rektor Institut Pertanian Bogor : Prof.E. D. 12. periset. 19.Pd. serta inovasi lainnya yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge). Ninok Leksono. Ir. teknologi pemrosesan pertanian dan pemrosesan ikan laut dalam.. koordinasi. 18. 5. 10. Prof. Ilham A. Lukman Hakim. (2) Penguatan sistem inovasi nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan meliputi inovasi-inovasi di bidang ketahanan pangan. MA.b. Sahari Besari.Sc. Rektor Institut Teknologi Bandung. wakil-wakil kelompok masyarakat. Ir. M. 18 Tahun 2002 3.S. Dr.

24. 6. Rektor Institut Teknologi Surabaya. 2. 18 Tahun 2002 Pasal 6 . Pasal 9 Mekanisme dan tata kerja Komite Inovasi Nasional diatur lebih lanjut oleh Ketua Komite Inovasi Nasional. 5. dan Keamanan.21. Pasal 10 Ketua KIN melaporkan kepada presiden setiap perkembangan dan permasalahan yang ada dalam penyelenggaraan sistem inovasi nasional agar segera dapat diambil keputusan untuk penyelesaian masalahnya. Menteri Keuangan. (3) KIN dapat mengundang pimpinan instansi terkait dan pihak lain yang dipandang perlu pada rapat koordinasi KIN. Pasal 5 (1) Dalam melaksanakan tugasnya. 26. Rektor Universitas Gajah Mada. Menteri Riset dan Teknologi. Rektor Universitas Hasanudin. Hukum. 4. Pasal 8 Hasil rapat koordinasi KIN oleh masing-masing anggota KIN dilaksanakan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing secara terkoordinasi dan terintegrasi dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. Rektor Universitas Cenderawasih. Rektor Universitas Syiah Kuala. Pasal 7 (1) KIN melaksanakan tugasnya sejak berkoordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi. Menteri Koordinator Bidang Politik. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 25. (2) Pengarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: Ketua Anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian : 1. 27. 169 Naskah Akademik Perubahan UU No. Sekretaris Kabinet KIN melaksanakan tugasnya sejak ditetapkan Peraturan Presiden ini sampai berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II. Menteri Sekretaris Negara. 22. KIN memeperhatikan arahan dari pengarah. (2) KIN melakukan rapat koordinasi secara berkala sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan. 3. 23. Rektor Universitas Udayana. Rektor Universitas Pattimura.

Pasal 13 Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 18 Tahun 2002 . dan Permasalahan Hukum Bistok Simbolon. 170 Naskah Akademik Perubahan UU No. H. ttd.Pasal 11 KIN dalam pelaksanaan tugasnya dibantu sebuah Sekretariat yang secara fungsional dilakukan oleh salah satu unit kerja di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2010 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.q. Pertanahan. Ratifikasi. anggaran Kementerian Riset dan Teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 12 Segala biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas dan fungsi KIN dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara c. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Politik. DR. Keamanan.

171 Naskah Akademik Perubahan UU No. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. Pendahuluan. Prasyarat dan Strategi MP3EI. Menimbang : a. perlu menetapkan Peraturan Pr es iden tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. strategi yang tepat. b. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. Koridor Ekonomi Indonesia. 2. Pelaksanaan. b. Pasal 1 (1) Menetapkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 -2025. (2) MP3EI merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan melengkapi dokumen perencanaan. diperlukan adanya suatu masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia yang memiliki arah yang jelas. c. Pemantauan dan Evaluasi MP3EI. dan d.Lampiran 5. (4) MP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini. Mengingat : 1. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 201 1-2025. 18 Tahun 2002 . meliputi: a. yang selanjutnya disebut MP3EI. fokus dan terukur. bahwa dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 dan untuk melengkapi dokumen perencanaan guna meningkatkan daya saing perekonomian nasional yang lebih solid. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (3) MP3EI terdiri atas 4 (empat) bagian.

Pasal 3 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. Menteri Pekerjaan Umum. yang dituangkan dalam dokumen rencana strategis masing-masing kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian sebagai bagian dari dokumen perencanaan pembangunan. dan b. : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Menteri Keuangan. 3. 6. Anggota : 1. Menteri Pertahanan. Pasal 5 (1) KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 terdiri dari: Ketua Wakil Ketua Ketua Harian : Presiden Republik Indonesia. melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MP3EI. dan c. 9. : Wakil Presiden Republik Indonesia. 7. 172 Naskah Akademik Perubahan UU No. acuan bagi menteri dan pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka pelaksanaan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di bidang tugas masing-masing. dapat menjadi acuan bagi badan usaha dalam menanamkan modal di Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menteri Dalam Negeri. acuan untuk penyusunan kebijakan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota terkait. 18 Tahun 2002 . Menteri Perdagangan. menetapkan langkah-langkah dan kebijakan dalam rangka penyelesaian permasalahan dan hambatan pelaksanaan MP3EI. 2. Wakil Ketua Harian II : Ketua Komite Ekonomi Nasional. 10.Pasal 2 MP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Menteri Perindustrian. berfungsi sebagai: a. Menteri Sekretaris Negara. Pasal 4 (1) Koordinasi pelaksanaan MP3EI dilakukan oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025. 5. Menteri Pertanian. Menteri Perhubungan. melakukan koordinasi perencanaan dan pelaksanaan MP3EI. (2) KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: a. 4. 8. b. yang selanjutnya disebut KP3EI. Wakil Ketua Harian I : Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

dapat berasal dari unsur Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan non-PNS. yang secara administrasi berkedudukan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Menteri Pendidikan Nasional. 24. (2) Tenaga profesional pada Sekretar iat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 11 (1) PNS yang ditempatkan pada Sekretariat KP3EI berstatus dipekerjakan. Menteri Badan Usaha Milik Negara. Pasal 6 Pasal 7 Mekanisme dan tata kerja KP3EI. 26. Sekretaris KP3EI mengangkat tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI. Kepala Badan Pertanahan Nasional. (2) Sekretariat KP3EI sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 8 (1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya.11. KP3EI didukung oleh Sekretariat KP3EI. Pasal 9 Sekretaris KP3EI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2). Pasal 10 (1) Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas Sekretariat KP3EI. 12. 25. Ketua Komite Inovasi Nasional. 20. 22. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia. diangkat dan diberhent ikan oleh Menter i Koordinator Bidang Perekonomian. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 13. 21. Menteri Komunikasi dan Informatika. 19. (2) Pelaksanaan tugas KP3EI sehari-hari dipimpin oleh Ketua Harian. Menteri Kehutanan. 15. (3) Susunan organisasi dan tata kerja Sekretariat KP3EI ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. 18. dipimpin oleh Sekretaris KP3EI. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. 173 Naskah Akademik Perubahan UU No. 18 Tahun 2002 Untuk membantu pelaksanaan tugas KP3EI. 17. . 23. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Harian KP3EI. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal. dibentuk Tim Kerja. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Sekretaris Kabinet. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. 14. 16. Menteri Riset dan Teknologi. susunan organisasi. keanggotaan serta tata kerja Tim Kerja. Menteri Lingkungan Hidup. Menteri Kelautan dan Perikanan.

kembali kepada instansi induknya apabila belum mencapai usia pensiun. (3) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dari jabatan organik di instansi induk yang bersangkutan. Pasal 12 Hak keuangan dan fasilitas lainnya bagi Sekretaris KP3EI dan tenaga profesional pada Sekretariat KP3EI.(2) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikkan pangkatnya setiap kali setingkat lebih tinggi tanpa terikat jenjang pangkat. 18 Tahun 2002 . Pasal 14 Peraturan Presiden ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO 174 Naskah Akademik Perubahan UU No. ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian setelah mendapat pertimbangan dar i menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang keuangan dan menteri yang menangani urusan pemerintah di bidang aparatur negara. (5) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberhentikan dengan hormat sebagai PNS apabila telah mencapai batas usia pensiun dan diberi hak-hak kepegawaian. dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2011 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. yang berhenti atau telah berakhir masa baktinya. sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 13 Segala biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas KP3EI. (4) PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ttd DR. H.

perlu dilakukan perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 20102014. 7. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2004 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). 175 Naskah Akademik Perubahan UU No. Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/PER/VI/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Riset dan Teknologi. dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. 9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4402). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Pengembangan. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 20102014.Lampiran 6. 18 Tahun 2002 3. Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. Menimbang : bahwa dalam rangka revitalisasi serta penajaman program dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi yang mendukung penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). 2. . Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia Tahun 2011-2025. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4219). 8. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 243b /M/Kp/IX/2011 TENTANG PERUBAHAN RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 2010-2014 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Bersatu II. 6. 5.

18 Tahun 2002 . dan kegiatan Kementerian Riset dan Teknologi. SUHARNA SURAPRANATA KEDUA KETIGA KEEMPAT 176 Naskah Akademik Perubahan UU No. : Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 merupakan panduan dalam melaksanakan penyusunan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan. : Dengan berlakunya Keputusan ini. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. program. yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014 sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. maka Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi Nomor 03/M/Kp/I/2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014. TTD.PERTAMA : Menetapkan Perubahan Rencana Strategis Kementerian Riset dan Teknologi Tahun 2010-2014.

huruf b. 5. Menimbang : a. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 84. maka perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Riset dan Teknologi tentang Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a. . Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. bahwa strategi pembangunan iptek dilaksanakan melalui dua prioritas pembangunan. 4. peningkatan penelitian. dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengkoordinasian Perumusan dan Pelaksanaan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2010-2014. dan penerapan iptek. Mengingat : 1. KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246 /M/Kp/IX/2011 TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. bahwa arah penguatan SINas diperlukan sebagai pedoman untuk refocusing dan sinergi dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara efektif dan efisien. dan huruf c. PERTAMA : Menetapkan Arah Penguatan Sistem Inovasi Nasional untuk Meningkatkan Kontribusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terhadap Pembangunan Nasional. percepatan koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi. 2. 18 Tahun 2002 d. bahwa penguatan SINas diarahkan untuk penciptaan ruang bagi interaksi dan kolaborasi pelaku inovasi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4219). serta mendorong pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan. c. yang selanjutnya 177 Naskah Akademik Perubahan UU No.Lampiran 8. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI TENTANG ARAH PENGUATAN SISTEM INOVASI NASIONAL UNTUK MENINGKATKAN KONTRIBUSI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP PEMBANGUNAN NASIONAL. pengembangan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II. 3. yaitu penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas). Pasal 31 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. b.

TTD. 18 Tahun 2002 . : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum KEDUA merupakan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kegiatan riset dan teknologi secara lebih efektif dan efisien dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional.disebut Arah Penguatan SINas sebagaimana terdapat dalam Lampiran Keputusan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Keputusan ini. KEDUA : Arah Penguatan SINas sebagaimana dimaksud pada diktum PERTAMA adalah dokumen kebijakan untuk refocusing dan sinergi dalam upaya meningkatkan kontribusi iptek terhadap pembangunan nasional. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 30 September 2011 MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA. SUHARNA SURAPRANATA KETIGA KEEMPAT 178 Naskah Akademik Perubahan UU No. : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

pendidikan. energi dan perubahan iklim patut kita sambut dengan baik. kerja sama di bidang pendidikan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemitraan strategis kedua negara. Kemitraan Komprehensif ini dapat diresmikan dalam kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia yang direncanakan tahun ini. Allah SWT. Kita sungguh berharap. Bruce Alberts. Yang Mulia Ambassador Cameron Hume. di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para ilmuwan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Mr. dan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam kaitan ini. Assalamu’alaikum Wr Wb Salam sejahtera untuk kita semua. 179 Naskah Akademik Perubahan UU No. yang di antaranya mencakup kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Para Ilmuwan yang tergabung dalam AIPI. Dr. Pandangan yang konstruktif dan ajakan positif Presiden Obama untuk meningkatkan kerjasama bilateral di bidang Iptek. pertemuan ini dapat merintis jalan ke arah peningkatan kerja sama antara Indonesia-Amerika Serikat. Baharudin Jusuf Habibie. yang mencakup kerja sama dalam berbagai sektor penting bagi kedua negara. kita tetap diberi kekuatan. dan asosiasi-asosiasi ilmu pengetahuan di Indonesia. 18 Tahun 2002 . Presiden Republik Indonesia ketiga. yang semula akan hadir di sini mengalami musibah kecelakaan. dan insya Allah kesehatan. 20 Januari 2010 Bismillah Hirrahmanirrahim. Mari kita doakan. SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA SILATURRAHIM DENGAN AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI) DAN MASYARAKAT ILMIAH Serpong. dan negara. Bapak Prof. kajian. Yang saya hormati Menteri Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II. Hadirin sekalian yang saya muliakan. Bruce Alberts dapat lekas pulih kembali seperti sediakala. agar Mr. Yang saya hormati. Melalui kesempatan ini pula. Saya juga menyambut baik pernyataan Presiden Obama di Kairo bulan Juni tahun lalu. tentu tidak terlepas dari kontribusi saudara semua. Indonesia dan Amerika Serikat kini sedang aktif menggarap suatu Kemitraan Strategis baru: yaitu suatu kemitraan komprehensif. sehingga kita dapat bertatap muka dalam kesempatan yang membahagiakan ini. bangsa. yang baru saja dibacakan oleh Duta Besar Cameron Hume. Marilah kita bersama-sama.Lampiran 9. bahwa Amerika Serikat kini berkomitmen untuk membangun kemitraan baru—“a new beginning”—dengan dunia Islam. LIPI. Saudara-saudara. memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun kita semua juga merasa prihatin bahwa US Science and Technology Special Envoy. Yang saya hormati Gubernur Banten. atas pemikiran. Saya juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pernyataan Presiden Barack Obama. karena atas rahmat dan karunia-Nya. Insya Allah. Kemajuan yang kita capai hingga hari ini.

4 milyar orang telah mempunyai e-mail. perubahan yang kita alami di Abad ke-21 akan bergerak sangat pesat. Penemuan vaksin di abad ke-18 mengubah ilmu kodokteran dan menyelamatkan jutaan umat manusia. ke kecepatan suara. email. dan juga dalam artikel The Economists yang saya tulis. memang. Hadirin yang saya hormati. optik. Meskipun terdapat kemajuan di beberapa komunitas Islam. tanpa memahami bahwa peluang untuk maju dan berkarya di depan mata justru jauh lebih besar. internet dan telepon selular. Pesan dan pelajaran sejarah ini masih tetap relevan–bahkan semakin relevan–sekarang: “siapa yang mau maju. dan dapat saling memperkaya dan melengkapi. navigasi. di seluruh dunia. 1. Berbeda dari abad-abad sebelumnya. rumah sakit pertama. Misalnya: dalam kurun waktu hanya sekitar 100 tahun. 20 tahun kemudian. karena umat Islam membuka diri dan mengejar ilmu pengetahuan di manapun. internet dan handphone. dan Human Development Index. tidak akan pernah ada the second Islamic renaissance di Abad ke-21. manusia dapat bergerak dari kecepatan kuda. Kini. Proses ini akan terus berkembang. ke kecepatan mobil. kimia. kita sedang berada dalam arus perubahan sejarah yang sangat dahsyat. Mari kita memulai dengan suatu preposisi: “Abad ke-21 akan menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia”. astrologi. Penemuan mesin uap memulai revolusi industri dan mengubah sejarah Eropa. anestesi. Kita yakini bahwa hal ini bukan sebuah utopia. harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan. Disadari atau tidak. sebagian besar umat Islam saat ini masih tertinggal dalam pencapaian Millenium Development Goals. Di awal tahun 1990an. irigasi. Semua pihak harus berperan aktif menyebarkan soft power. aljabar. di mana seluruh peradaban dunia–apakah Barat.Hal ini penting karena beberapa hal : PERTAMA. tetapi suatu visi yang realistis–an achieveable vision. puncak kejayaan Islam sebagai peradaban dunia yang paling maju di Abad ke-13 justru terjadi. akan lebih deras daripada perubahan dalam 100 tahun terakhir. Peradaban manusia juga sering berubah karena ide-ide dan penemuan-penemuan baru. dan kapal-kapal perdagangan. Dengan pusat peradaban di Baghdad. yang akan memperkokoh landasan bagi perdamaian dunia. Abad ke-21 justru dapat kita wujudkan menjadi suatu “confluence of civilizations”. Ada yang menyatakan bahwa arus perubahan dalam 10 tahun mendatang. ada 1 miliar komputer. Kita lihat saja komputer. Timur–dapat hidup berdampingan secara damai. kalau kita ingin membangun suatu peradaban dunia (global civilization). kita perlu terus membangun jembatan antar-peradaban. saya menekankan bahwa Abad ke-21 tidak harus mengikuti skenario “clash of civilizations”.3 miliar pengguna handphone–sekitar separuh dari jumlah penduduk dunia. komputer dan handphone hanya dinikmati oleh segelintir orang. Sewaktu saya berpidato di Harvard University akhir tahun lalu. tanpa penguasaan umat Islam di bidang iptek. ke kecepatan jet. sebagian besar umat manusia akan terjamah oleh komputer. 18 Tahun 2002 . Islam. teknik sipil. Dan KETIGA. Penemuan reaksi fisi nuklir menghasilkan bom atom dan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia. KEDUA. 180 Naskah Akademik Perubahan UU No. terutama di antara dunia Barat dan dunia Islam. masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kita meyakini bahwa di paruh kedua Abad-21. umat Islam mencatat berbagai kemajuan dan penemuan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai sekarang kita rasakan manfaatnya: kompas. serta masih termarginalisasi dalam era globalisasi. Penemuan bubuk mesiu menimbulkan transformasi militer dengan segala implikasi politiknya. dan 3. Islam tidak pernah bertolak belakang atau memusuhi ilmu pengetahuan–bahkan Islam selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. Masih banyak umat Islam yang terlalu bernostalgia terhadap kejayaan di masa lalu. dan bahkan sudah mendarat di bulan.

Salah satu penyebab bangsa kita terbelakang selama ratusan tahun adalah. Dewasa ini. Jepang mengalami Restorasi Meiji. saya yakin sekali bahwa dalam Abad ke-21 yang akan menjadi the most powerful driver of change adalah teknologi.6 derajat celcius. Kalau kita gagal. Abad ke-21 adalah abad keunggulan. Amerika Utara tumbuh pesat. Di Abad ke-21. untuk memacu pertumbuhan dan produktivitas. itu terjadi karena kerja keras dan kemampuan kita dalam beradaptasi. Makin nyata. Amerika Latin menikmati masa kemakmuran. jasa. pertumbuhan ekonomi dan daya saing sebuah bangsa sangat disumbang oleh penguasaan teknologi. kita tidak bisa lagi hanya mengutuk masa lalu atau menyalahkan orang lain. Kalau kita kelak tampil unggul di depan yang lain. atau “knowledge capital”. dan lapisan ozon semakin menipis. untuk mempertahankan kemerdekaan. karena ulah manusia. keuangan. Politik bebas aktif Indonesia kini diabdikan untuk mewujudkan “a million friends. dan untuk menjadi bangsa yang terhormat. karena proses pengembangan teknologi tidak akan pernah berhenti. untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. khususnya perubahan iklim. Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan. Kita juga melihat perubahan pesat ini di bidang lingkungan. untuk membangun perekonomian. apakah itu untuk pertanian. dan tidak ada negara lain yang memusuhi Indonesia. suhu dunia telah naik sekitar 0. Kita mutlak membutuhkan persatuan untuk melawan penjajah. dan lain-lain. pada saat Eropa mendominasi dunia. Sebelum kebangkitan nasional tahun 1908. Dalam abad yang sangat progresif ini. untuk mengentaskan kemiskinan. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa adalah hasil dari suatu kerja besar yang terencana dan berkesinam-bungan. dan rakyat kita tenggelam dalam kebodohan dan kemiskinan. Sesungguhnya pula merupakan bagian integral yang dinamis dari sebuah peradaban (civilization). dan Kerajaan Islam Otoman berjaya. industri. dan kunci sukses untuk mencapai itu adalah inovasi. Karena itulah. the biggest driver for change adalah teknologi. Dalam menghadapi arus sejarah yang dahsyat ini. perdagangan. . pertahanan. pendidikan. atau individu. terutama di negara-negara industri maju. Kecenderungan ini akan terus menguat. perusahaan. karena kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. kini telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. kita semua telah melihat dan merasakan: porsi teknologi dalam PDB kita semakin besar. kesehatan. Inilah yang sering disebut sebagai “intangible intellectual resources”. Abad ke-20 adalah abad kebangkitan nasional. Indonesia tidak punya musuh. Semenjak revolusi industri di Eropa 200 tahun lalu.Sejumlah negara–baik besar maupun kecil—yang dulu dikenal sebagai “negara miskin” kini telah melejit menjadi ekonomi yang unggul. Porsi Teknologi dan know-how semakin menonjol. Indonesia sendiri. Kunci sukses kita untuk mencapai itu tiada lain adalah persatuan. Teknologi tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu saja—bukan 181 Naskah Akademik Perubahan UU No. maju dan kompetitif. 18 Tahun 2002 Saudara-saudara. untuk menjaga keutuhan wilayah. suhu dunia bisa naik 4 derajat Celsius dan membawa malapetaka bagi umat manusia dan bagi planet bumi—rumah kita satu-satunya. situasinya telah berbeda: Hakikatnya. itu adalah kesalahan kita sendiri. Saudara-saudara. yang dulu pernah menjadi salah satu bangsa paling miskin di Asia. dan untuk mengembangkan jati diri bangsa. kunci dari keunggulan Indonesia di Abad ke-21 adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. zero enemy”. Apakah itu bangsa. untuk menangkal separatisme. karena nenek moyang kita tidak mendapatkan akses terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari belahan dunia lain. Kalau kita tidak cepat meng-atasinya. bangsa Indonesia masih terisolasi dalam penindasan kolonialisme. abad kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. komunitas. Itulah perjuangan kita di Abad ke-20. Konsentrasi karbondioksida meningkat 36%.

Ini semua akan terwujud jika masyarakat kita. dan suatu etos. Renaissance di Eropa. Restorasi Meiji di Jepang. Pendanaan dari kerjasama internasional juga merupakan alternatif yang makin terbuka. Karena itulah. namun juga menyumbang ilmu untuk dunia. namun dalam kemampuan untuk menyerap ilmu dan teknologi dari manapun untuk kepentingan rakyat Indonesia. dan juga knowledge society. 182 Naskah Akademik Perubahan UU No. Untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek. Semua fenomena sejarah—apakah itu peradaban Islam. bukan sikap yang kaku dan dogmatis. Kita semua tahu bahwa enterpreneurship identik dengan inovasi. Inovasi itu adalah suatu semangat. . Untuk mencapai kondisi seperti itu ada sejumlah hal penting yang harus kita bangun dan lakukan. Pada awal saya mengemban amanah rakyat. Inovasi juga menuntut sikap open-mind dan risk-taking. kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. Sistem dan lingkungan nasional kita harus bisa melahirkan inovator-inovator yang kreatif. adalah mengubah mindset. saya menyadari bahwa alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D-research and development) di Indonesia pada tahun 2005 masih rendah – yaitu sekitar Rp 1 trilyun. ilmuwan. 18 Tahun 2002 Karena itulah. dan syukur alhamdullilah pada tahun 2010 dapat kita tingkatkan menjadi Rp 1. Pertama. “the rise of” Cina dan India—semuanya dimulai dengan suatu semangat. maupun di sektor swasta. Komunitas iptek Indonesia harus berwawasan jauh lebih terbuka dan lebih progresif dari masanya. tanpa apresiasi. Saudara-saudara faktor kedua adalah. peneliti dan inovator harus berada di garis terdepan perubahan nasib bangsa. pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan porsi itu menjadi lebih memadai. dan tidak sejahtera. Mungkin satu dua teknologi bisa dibeli seperti itu—namun tidak untuk mencapai technological society. di universitas. suatu energi. dan terbangunnya mindset baru. Cina. selain didukung mindset yang tepat. Karena itulah. perusahaan. Sementara itu saya berpandangan. kita melihat bahwa inovasi tumbuh pesat sejalan dengan merebaknya enterpreneurship. India. dan menjadi pendekar keunggulan. dan inventor. Itulah mindset yang akan mengantarkan kita menjadi Innovation Nation. peluang. Ilmuwan. benar-benar menghargai kerja keras kaum peneliti. dan bukan menjadi catatan pinggir. apalagi hidup tanpa penghormatan. yang kemudian menghasilkan berbagai inovasi baru. universitas. harus ada sumberdaya dan dana yang cukup.9 triliun. perlu diingat. untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. dan dinamisme. Korea. dan dari masyarakat. dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. tampilnya Amerika sebagai superpower. Namun. Mereka harus bisa menjadi ikon masyarakat. Inovasi tidak datang dari langit. namun memerlukan inkubator-inkubator—di lingkungan pemerintah. Jepang. dan Singapura. kita di Indonesia harus bisa mengembangkan budaya unggul—a culture of excellence— baik di birokrasi. Mau tidak mau. Kita harus bisa menjadi Innovation Nation —bangsa inovasi! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif. serta program yang berkesinambungan. Tentu saja jumlah inipun masih harus terus kita tingkatkan. Nasionalisme kita dicerminkan bukan dalam tindakan melawan atau menutup diri dari dunia. Kita berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia mengadakan riset. kita bercita-cita agar Indonesia menjadi bagian integral dari komunitas ilmuwan dunia. Dalam era globalisasi dewasa ini. risk-taking. dan lain-lain. Ingatlah.seperti membeli barang di supermarket. sumberdaya dan dana penelitian dan pengembangan tidak hanya berasal dari APBN. inovasi juga memerlukan Investasi dan Insentif. Kita harus aktif bukan saja menyerap ilmu dari dunia. bahwa cara penting untuk membangun inovasi adalah melalui pengembangan enterpreneurship. baik di Indonesia maupun di luar negeri. innovation is a state of mind. kita semua. dan yang akhirnya mengakibatkan transformasi besarbesaran. Di Amerika. tetapi juga mesti dianggarkan oleh dunia usaha yang juga memerlukan inovasi di perusahaannya masing-masing. Saya ingin ilmuwan Indonesia bahu membahu dengan ilmuwan internasional.

antar-ilmuwan. Hadirin sekalian yang saya hormati. antar-perusahaan. teknologi untuk mengentaskan kemiskinan–pro-poor technology. antar-universitas. hampir semua inovasi teknologi merupakan hasil dari suatu kolaborasi. Karena itulah. Hal ini penting karena pada saat ini dan ke depan. Kita harus mencari teknologi terkini untuk memerangi penyakit-penyakit menular : apakah itu H5N1. Pertama. meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan seperti geothermal. Faktor ketiga adalah. Bahkan. lebih produktif dan lebih mempunyai nilai tambah. dan bahkan bisa bersaing dalam aspek desain yang selama ini cenderung didominasi industri negara-negara maju. apakah itu kolaborasi antarpemerintah. serta meningkatkan teknologi pengawasan hutan.Yang juga penting diingat: kita tidak harus selalu menjadi inventor teknologi baru. Kita juga harus mulai mencapai high-end products. Misalnya: telekomunikasi murah untuk desa terpencil. Untuk itu. Keempat. dan telah mendapatkan pengakuan internasional. atau kombinasi dari semuanya. meningkatkan hasil panen. Salah satu ciri Era Globalisasi dewasa ini adalah keniscayaan untuk sebuah knowledge-sharing antar bangsa. yang dapat menjawab tantangan-tantangan pokok itu. peningkatan industri. Inovasi segar seperti ini harus terus dikembangkan dan disebarkan. Kedua. bangsa Indonesia harus makin menguasai teknologi. yang pasti akan terus bermutasi 183 Naskah Akademik Perubahan UU No. Kita memerlukan teknologi pertanian baru untuk mencari bibit unggul. networking antara inkubator menjadi sangat penting. Namun kita harus cerdik mencari. misalnya melalui satelit. yang sangat penting bagi kesejahteraan rakyat kita (food security). Karena itulah. Produk-produk industri Indonesia harus bisa menunjang pencapaian 2 aspek penting. bahkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. hidroenergi dan Rumah Sederhana Tahan Gempa. karena ini adalah kunci sukses bagi masa depan kita. Saya ingin. menyerap dan mengembangkan teknologi baru untuk pembangunan Indonesia. Teknologi sering disalahpersepsikan seolah hanya untuk kepentingan industri besar yang canggih saja. teknologi industri. Padahal untuk negeri kita juga diperlukan teknologi yang dapat memberdayakan rakyat miskin. teknologi yang kita cari dan pilih haruslah tetap relevan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan. teknologi kesehatan. serta penguasaan teknologi yang menjemput masa depan. menciptakan branding yang dikenal dunia internasional. Saya juga bangga bahwa seorang inovator energi kita. bibit unggul. 18 Tahun 2002 . Kelima. sering terjadi. ketahanan pangan dan energi. dan surya. dan target ini bisa ditingkatkan menjadi 41% apabila ada bantuan internasional yang memadai. kita harus menerapkan pembangunan yang hemat energi (low carbon footprint). untuk mendeteksi hotspot kebakaran hutan. Ketiga. Kalau kita lihat dari bukti-bukti empiris. ketangguhan pertahanan dan keamanan negara. Saudari Tri Mumpuni. pemeliharaan lingkungan hidup. pihak yang lebih cerdik mendayagunakan teknologi bisa lebih maju dari pihak yang menemukan teknologi itu sendiri. dan melipat-gandakan produktifitas pangan guna mencapai kondisi swasembada. Kita sudah menetapkan target penurunan emisi 26% untuk tahun 2020 dari “business as usual”. Tantangan itu antara lain adalah : pengentasan kemiskinan. teknologi pangan. telah merintis pembangunan energi mikro-hidro di desa-desa. Namun perlu diingat. Kita harus bisa membuat industri kita lebih efisien. industri akan tetap menjadi tulang panggung ekonomi Indonesia. kebijakan pemerintah dan kolaborasi. pada saatnya nanti Indonesia menjadi “major food producer” di dunia internasional. Dunia kini boleh dikatakan sedang panen teknologi. Saya mendorong ilmuwan Indonesia untuk menjalin networking dan kolaborasi yang seluas-luasnya dengan lembaga penelitian. teknologi air bersih. ke depan. teknologi hijau – green technology. angin. H1N1 dan virus-virus berbahaya lainnya. yaitu padat teknologi dan padat karya. lembaga kajian dan universitas manapun di dunia.

18 Tahun 2002 . Dan. Oleh karena itu. yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. Indonesia tidak boleh tertinggal. dan dengan berkolaborasi dengan dunia internasional. Keenam. Saya senang sekali bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH) sudah mulai membangun pusat riset untuk nano-technology. negara-negara berkembang. sama seperti bencana alam. Saat ini. kedelapan adalah. Ketujuh. teknologi pertahanan. Kita memiliki sumberdaya manusia yang tangguh. serta bentuk kerjasama yang lain. dan lain-lain—yang semuanya dapat menjadi mitra pembangunan Indonesia. dibutuhkan suatu Sistim Inovasi Nasional. komunitas ilmuwan dan swasta. Hadirin sekalian yang saya hormati. Banyak emerging economies --seperti Cina. Kita juga harus mendapatkan teknologi canggih untuk bisa mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. misalnya. Sebagai negara Nusantara. Karena itulah. Kita mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. dunia Islam. kita harus bekerja-sama dua arah : kita berbagi ilmu dan penemuan dengan dunia kesehatan internasional. yang terbentang dari Sabang ke Marauke. serta kemampuan peace-keeping operation di wilayah-wilayah konflik di dunia. dan Brazil . TNI harus terus meningkatkan postur dan kapabilitasnya. yang terus dapat ditingkatkan keunggulan dan daya saingnya. Kita harus bisa meningkatkan kualitas dan tingkat teknologi industri pertahanan kita– termasuk melalui joint production dengan industri militer negara-negara lain. Setiap negara mempunyai Sistim Inovasi Nasional dengan corak yang berbeda dan khas. Teknologi-teknologi revolusioner ini tentu tidak sepatutnya hanya didominasi dan dimonopoli negara-negara maju saja. Dan kita mempunyai hubungan yang baik dengan semua pihak—baik dunia Barat. teknologi maritim. robotics. baik perikanan. mendukung. meskipun sudah mulai diterapkan di beberapa negara yang mengalami transformasi. dan dalam skala nasional. TNI juga harus mempunyai kemampuan untuk melakukan surveillance dan menjaga pulau-pulau terpencil. bio-engineering. Untuk mengembangkan semua ini. Virus berbahaya. TNI harus meningkatkan kapasitas untuk melakukan military operations other than war (MOOTW). untuk ikut memastikan bahwa Sistem Inovasi Nasional dapat berkembang dan berjalan dengan baik. yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden. dari Miangas ke Pulau Rote. Polri dan aparat intelijen juga harus terus meningkatkan kemampuan operasionalnya untuk melawan kejahatan trans-nasional. apalagi kalau menyangkut virus yang datang dari luar yang kita tidak mempunyai vaksinnya. Indonesia secara fisik adalah negara Kepulauan terbesar di dunia. dalam waktu dekat saya akan membentuk Komite Inovasi Nasional. Disini. wilayah perbatasan dan lautan Nusantara yang terbentang luas.mengancam keluarga kita dan bahkan umat manusia. kita harus membangun teknologi kelautan. termasuk penguasaan “revolution in military affairs” (RMA). Indonesia tidak bisa menangani ancaman ini sendiri. kita juga harus mengembangkan Sistem Inovasi Nasional. sebagaimana kita terus mengharapkan dunia luar berbagi dengan kita. teknologi masa depan: yaitu nano technology. menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor. berkaitan dengan pandangan ini. misalnya untuk konversi air minum atau teknologi perkapalan. India. Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi knowledge society. di Indonesia. dan lain-lain. Kita dikaruniai wilayah yang sangat luas. akan menjadi salah satu ancaman paling riil bagi bangsa kita di abad ke-21. Konsep seperti ini relatif baru. Seperti yang kita alami dalam kasus epidemi H1N1 (Swine Flu). Saya berpendapat. yaitu suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka-panjang dapat mendorong. yang didasarkan pada suatu kemitraan antara pemerintah. emerging economies. Sementara itu. 184 Naskah Akademik Perubahan UU No.yang kini mulai merintis teknologi-teknologi baru ini. genomics. tapi kita belum menjadi negara maritim yang kuat. hydrocarbon dan mineral. termasuk kelompok teroris yang juga memanfaatkan teknologi yang canggih. kita belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melakukan offshore drilling apalagi deep sea drilling.

Karenanya. bangsa kita akan mengalami transformasi yang fundamental. ke depan. serta dengan persatuan. developed country. iptek dan budaya. dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau visi ini kelak tercapai. Indonesia mempunyai peluang emas untuk memajukan kehidupan bangsa kita. adalah dengan memadukan pendekatan sumberdaya alam. Terima kasih. masa gemilang itu akan datang. 185 Naskah Akademik Perubahan UU No. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 18 Tahun 2002 . Strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju. dengan semua ini. Mari kita songsong era itu dengan kepercayaan sebagai sebuah bangsa yang penuh inovasi. atau knowledge-based. resource-based and culture-based development. menjadi bangsa yang maju dan jaya di Abad ke-21. Insya Allah. kebersamaan dan kerja keras kita.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->