P. 1
makalah

makalah

|Views: 52|Likes:
Published by Bayan PeSek
budaya carok di madura
budaya carok di madura

More info:

Published by: Bayan PeSek on May 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN Boleh jadi, ketika mendengar kata Madura, dalam benak sebagian orang akan terbayang alam yang

tandus, perilaku yang kasar dan arogan bahkan menakutkan. Citra negatif yang paling kentara adalah mengenai carok dan clurit. Carok, tradisi membela harga diri yang berbau kekerasan. Istilah carok sendiri saat ini sudah mulai akrab ditelinga kita, bahkan beberapa media cetak dan kaca telah mengadopsi kata-kata ini setara dengan bahasa Indonesia. Dibeberapa daerah yang rata-rata penduduknya mayoritas Madura pun menggunakan kata carok ini sebagai makna perkelahian biasa. Carok mulai ada pada zaman legenda Pak Sakera, yaitu mandor tebu dari Pasuruan yang hampir tak pernah meninggalkan celurit setiap pergi ke kebun untuk mengawasi para pekerja. Celurit bagi Sakera merupakan simbol perlawanan rakyat jelata. Lantas apa hubungannya dengan carok?Carok dalam bahasa Kawi kuno artinya perkelahian. Biasanya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar. Bahkan antar penduduk sebuah desa di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Pemicu dari carok ini berupa perebutan kedudukan di keraton, perselingkuhan, rebutan tanah, bisa juga dendam turun-temurun selama bertahuntahun. Munculnya budaya carok di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M. Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Saat itulah timbul keberanian melakukan perlawanan.Namun, pada masa itu mereka tidak menyadari, kalau dihasut oleh Belanda. Mereka diadu dengan golongan keluarga Blater (jagoan) yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda, yang juga sesama bangsa. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Pada saat carok mereka tidak menggunakan senjata pedang atau keris sebagaimana yang dilakukan masyarakat Madura zaman dahulu, akan tetapi menggunakan celurit sebagai senjata andalannya.Senjata celurit ini sengaja diberikan Belanda kepada kaum blater dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik sah senjata tersebut. Karena beliau adalah seorang pemberontak dari kalangan santri dan seorang muslim yang taat menjalankan agama Islam. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat. Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Alasannya adalah demi menjunjung harga diri. Istilahnya, daripada putih mata lebih baik putih tulang. Artinya, lebih baik mati berkalang tanah daripada menanggung malu. Tidak heran jika terjadi persoalan perselingkuhan dan perebutan tanah di Madura maupun pada keturunan orang Madura di Jawa dan Kalimantan selalu diselesaikan dengan jalan carok perorangan maupun secara massal. Senjata yang digunakan selalu celurit. Begitu 1

Namun akhirakhir ini pula kegiatan carok mulai berkembang kekalangan menengah bahkan kalangan pejabat pemerintahan. maupun Sumenep. 2 . Pamekasan. tidak menyadari bila hasil rekayasa penjajah Belanda. Dalam hal carok orang Madura tidak peduli dengan proses bagaimana carok itu harus dilaksanakan. tetapi yang penting salah satu harus dikalahkan.pula saat melakukan aksi kejahatan. sebab dengan bahasa ini mereka lebih leluasa mengutarakan keinginan. Memang dalam tradisi carok dikenal dua cara ngonggai dan nyilep. Cara kedua nyilep dilakukan bila sang musuh yang telah membuat rasa malu dianggap lebih jago. baik itu di Bangkalan. Dari beberapa sumber dan pengalaman. juga menggunakan celurit. Kondisi semacam itu akhirnya menjadi budaya carok yang masih tetap ada. sehingga carok harus dilakukan dengan mencari waktu lengahnya. Cara pertama biasa dilakukan orang yang merasa malu pergi mendatangi rumah lawan dan mengajak tarung sampai salah seorang cedera atau meninggal. Sampang. Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya. pada saat ini carok biasanya hanya terjadi di kalangan masyarakat bawah atau dalam bahasa maduranya oreng kecil yang dalam hidup kesehariannya biasa memakai bahasa mapas (kasar). termasuk melontarkan caci maki atau sumpah serapah sehingga dalam hubungannya itu bahasa mapas memiliki relasi cukup signifikan ikut melestarikan carok di Madura. Sejak kecil warga Madura di pedesaan sudah menggunakan bahasa mapas.

Mengapa celurit dan carok tidak bisa dipisahkan? 3. faktor apa yang menyebabkan carok terjadi? 6. Untuk apa tujuan carok? 5. apa saja syarat-syarat terjadinya carok? 7. bagaiman cara pelaksanannya? 3 . Apa yang dimaksud dengan budaya carok? 4.BAB II RUMUSAN MASALAH 1. Apakah itu celurit? 2.

yang kemudian didoakan di musholla. Yang menjadi tampak menarik. Setelah didoakan. Salah satu basis pengrajin celurit yang terkenal di Pulau Madura yaitu di Desa Paterongan. para pengrajin selalu melakukannya dengan penuh ketelitian.10 sentimeter. nasi dan air bunga. Cukup pas untuk pegangan tangan orang dewasa. para pengrajin melakukan ritual khusus. (Soedjatmoko dan Bambang Triono. Pembuatan celurit dilakukan oleh para pengrajin Madura secara tradisional dan melibatkan ritual-ritual khusus. Hal ini terkait karena para pengrajin celurit tidak mau karyanya disalah-gunakan oleh orang yang memakainya. tetapi harus mencirikan sebuah karya seni serta memiiki arti dan makna khusus bagi pemiliknya. 2005). 2005). sesuai dengan yang diajarkan oleh leluhur mereka secara turun-temurun. Badan celurit berbentuk melengkung mulai dari batas pegangan hingga ujung. kecuali celurit yang memang ditujukan sebagai hiasan. dan kepala. Senjata ini merupakan jenis celurit yang sangat diminati oleh banyak orang Madura. tidak diperjual belikan secara bebas di pasaran. Bahkan setiap tahun. biasanya para pegrajin berpuasa terlebih dahulu. Karena itulah tombuk ini 4 . Jenis celurit yang paling popular adalah are’ takabuwan. Celurit sangat efektif untuk membunuh mengingat bentuknya yang melengkung laksana tubuh manusia. Biasanya orang memiliki celurit jenis ini bukan untuk tujuan dipakai sebagai alat rumah tangga atau penyabit rumput. Ritual khusus ini disertai sesajen berupa ayam panggang. Di daerah ini sebagaian besar masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai pandai besi pembuat arit dan celurit. Kecamatan Galis. Pegangannya terbuat dari bahan kayu yang biasanya dicat warna hitam atau coklat tua yag panjangnya sekitar 7. Sebenarnya celurit memiliki bentuk yang bermacam-macam. tingkat ketajamannya bisa diandalkan karena bahannya terbuat dari baja berkualitas baik. Dalam mengerjakan sebuah celurit. CELURIT SEBAGAI SIMBOL CAROK 1. Celurit hasil buatan para pengrajin di Desa Paterongan terkenal akan kekuatan dan kehalusan pengerjaannya.5 . lengkunagn celurit ini sangat serasi dengan panjangnya yang hanya sekitar 35 . Celurit dengan kualitas khusus biasanya dibuat atas dasar pesanan. tepatnya pada bulan Maulid. Sebuah celurit tidak bisa dipandang hanya sebagai sepotong besi yang ditempa berkali-kali. air bunga disiramkan pada bantalan tempat menempa besi. Jika celurit diayunkan maka seluruh bagian permukaannya yang tajam bisa memperparah efek sabetan pada bagian tubuh yang rentan kematian seperti perut. (Soedjatmoko dan Bambang Triono.40 sentimeter. Celurit jenis ini selain bentuknya cukup bagus. Celurit Celurit merupakan senjata favorit dalam tindakan carok. Celurit yang kita kenal umumnya memiliki bentuk seperti arit yaitu seperti bulan sabit. melainkan sebagai sekep (senjata tajam yang selalu dibawa pergi untuk tujuan “menjaga segala kemungkinan” jika sewaktuwaktu terjadi carok). Nama takabuwan diambil dari desa tempat dibuatnya yaitu Desa Takabu. Karena itu dalam pembuatan celurit. leher. khususnya kawasan Madura Barat. sekitar 40 kilometer dari Kota Bangkalan.BAB III PEMBAHASAN A.

Hal ini menunjukkan bahwa celurit merupakan simbol dari proses sejarah peristiwa carok yang dialami leluhur mereka. 5 . Senjata tajam sudah dinggap sebagai pelengkap tubuh atau telah menjadi bagian dari tubuh laki-laki madura khususnya kaum blater. Pada segala kesempatan mereka tidak lupa untuk membawa senjata tajam terutama ketika sedang mempunyai musuh atau menghadiri acara remo. Ungkapan ini menunjukkan bahwa orang Madura merasa tidak cukup hanya berlindung kepada agama/Tuhan saja. maka akan dapat mendatangakan musibah bagi mereka. adanya dorongan. sehingga dibutuhkan senjata tajam sebagai sarana melindungi dan mempertahankan diri. Lumuran darah yang menempel pada celurit tetap dibiarkan sebagai bukti eksistensi dan kapasitas leluhur mereka sebagai orang jago (blater) ketika masih hidup. BUDAYA CAROK DALAM MASYARAKAT MADURA Di Indonesia. Satu sama lain tak bisa dipisahkan. Cara orang Madura nyekep celurit biasanya berbeda dengan jenis senjata tajam lainnya. 2. A. Bagi seorang muslim memang dianjurkan untuk selalu membaca sholawat pada setiap kesempatan tak terkecuali jika hendak bepergian. Nyekep merupakan kebiasaan yang sulit ditinggalkan oleh kebanyakan laki-laki Madura. Hanya di dalam etnis Bugis saja yang dianggap mempunyai pola perilaku yang hampir menyerupai carok. Celurit dan carok tidak bisa dipisahkan Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. yaitu tindakan atau upaya pembunuhan antar laki-laki.kemudian dianggap keramat yaitu pantang untuk dilangkahi oleh orang. Keberadaan celurit bagi kaum blater sangat penting artinya baik sebagai sekep maupun sebagai pengkukuhan dirinya sebagai oreng jago. pelecehan harga diri terutama berkaitan dengan kehormatan perempuan (istri). Begitu berharganya keberadaan senjata tajam ditunjukkan juga melalui ungkapan orang Madura ”Are’ kancana shalawat” (celurit merupakan teman sholawat). Celurit biasanya diselipkan di bagian belakang tubuh (punggung) dengan posisi pegangan berada di atas dengan maksud agar mudah dikeluarkan (digunakan). Simbol ini mengandung makna bukan hanya sekedar penyimpanan memori melainkan lebih sebagai media untuk mentransfer kebanggan kepada anak cucu karena menang carok dan kebanggan sebagai keturunan blater. yaitu fenomena yang disebut sebagai siri’ (Pelras 1996). Para pandai besi di paterongan meyakini apabila ritual ini tidak dilakukan (dilanggar). Celurit ini nantinya akan diwariskan secara turun-temurun kepada anak laki-laki tertua. Hal ini ditunjukkan dengan adanya anggapan dari kaum laki-laki Madura bahwa senjata tajam selalu dibawa kemana-mana untuk melengkapi tulang rusuk laki-laki bagian kiri yang kurang satu. Celurit yang telah digunakan dalam praktek carok biasanya disimpan oleh keluarganya sebagai benda kebanggaan keluarga. B. khususnya di pedesaan. carok telah dianggap sebagai ciri khas kelompok etnik Madura. Latief Wiyata menyatakan bahwa pengertian carok paling tidak harus mengandung lima unsur. perasaan malu (malo).

Senjata tajam dianggap sebagai kancana sholawat (teman shalawat).9%). masalah tanah/warisan (6.4%) berlatar belakang gangguan terhadap istri. Teror eceran berbentuk carok merajalela akibat alam gersang. dalam pergaulan. 2. Proteksi berlebihan terhadap kaum wanita. Carok refleksi monopoli kekuasaan laki-laki. Selain itu juga ada yang berlatar belakang masalah salah paham (16. Konsekuensinya senjata tajam jadi atribut ke mana kaum lelaki bepergian yang ditunjukkan dengan kebiasaan ”nyekep”. Pakaiannya yang berlumur darah disimpan di almari khusus agar pengalaman traumatik terus berkobar guna mewariskan balas dendam. tidak dikubur di pemakaman umum melainkan di halaman rumah. 1. Carok telah menjadi arena reproduksi kekerasan. Biasanya dendam ini berlanjut sampai tujuh turunan. dan ledakan demografis. Pelecehan atas salah satu anggota komunitas dimaknai sebagai perendahan 6 . ango’an poteya tolang etembang poteya mata (lebih baik berputih tulang [mati] daripada berputih mata [menanggung malu]. oreng lake’ mate acarok. dari data yang diperoleh. oreng bine’ mate arembi’ (laki-laki mati karena carok. dan masalah lain di luar itu. yang membuat lelaki Madura malo (malu) dan tada’ tajina (direndahkan martabatnya). terutama gangguan terhadap isteri. Tujuan Carok Carok senantiasa dilakukan sebagai ritus balas dendam terhadap orang yang melakukan pelecehan harga diri. kemiskinan. terbanyak (60.7%). tapi jika hati yang terluka tidak ada obatnya kecuali minum darah). perempuan mati karena melahirkan). • Persetujuan sosial melalui ungkapan – ungakpan. Ungkapan-ungkapan tersebut diantaranya : Mon lo’ bangal acarok ja’ ngako oreng Madura (Jika tidak berani melakukan carok jangan mengaku sebagai orang Madura). masalah utang piutang (9. Korban carok.2%).8%).dukungan. persetujuan sosial disertai perasaan puas. lokana daging bisa ejai’. Pelembagaan kekerasan carok terkait erat dengan mentalitas egolatri (pemujaan martabat secara berlebihan) sebagai akibat tidak langsung dari keterpurukan ekologis. Penyebab Eksistensi Carok • Alam yang gersang. seperti melanggar kesopanan di jalan. Lingkungan sosial mengondisikan lelaki Madura merasa tidak cukup hanya berlindung kepada Tuhan. Ungkapan-ungkapan Madura memberikan persetujuan sosial dan pembenaran kultur tradisi carok. Ini ditandai perlindungan secara berlebihan terhadap kaum perempuan sebagaimana tampak dalam pola pemukiman kampong meji dan taneyan lanjang. dan sebagainya (6. lokana ate tada’ tambana kajabana ngero’ dara (jika daging yang terluka masih bisa diobati atau dijahit. Pilihan sasaran jatuh pada orang yang dianggap kuat secara fisik maupun ekonomi agar keluarga musuh tidak mampu melakukan carok balasan. Kasus-kasus carok. dan perasaan bangga bagi pemenangnya. Solidaritas internal antar penghuni kampong meji sangat kuat sedangkan dalam lingkup sosial lebih luas solidaritas cenderung rendah. Sasaran utama carok balasan adalah pemenang carok sebelumnya atau kerabat dekat (taretan dalem) sebagai representasi musuh.

Kultur blater dekat dengan unsur-unsur religio-magis. Martabat istri perwujudan dari kehormatan kaum laki-laki karena istri dianggap sebagai bantalla pate (alas kematian). Prasyarat carok • Persiapan untuk melakukan carok. (Wiyata. Juga merupakan sarana untuk membangun jaringan sosial di kalangan bromocorah. Tradisi remo (arisan kaum blater) merupakan institusi budaya pendukung dan pelestari eksistensi carok. dan sangat menjunjung tinggi kehormatan harga diri. Tentu saja. memiliki peran sentral sebagai pemimpin informal di pedesaan. Figur blater sejajar posisinya dengan figur kyai (Madura : keyae) sebagai sosok pemimpin informal di Madura Bahkan banyak di antara mereka yang menjadi kepala desa. (Wiyata. Untuk maksud ini. mengingat asalusulnya yang kelam. 3. Prasyarat fisik dapat berupa penguasaan teknik bela diri. Prasyarat mental. pengertiannya lebih terkait dengan apakah orang tersebut punya nyali. • Lemahnya hukum. Remo bisa mengumpulkan uang dalam jumlah besar dalam tempo semalam. Mengganggu istri merupakan bentuk pelecehan paling menyakitkan bagi lelaki Madura. 2002). termasuk memenuhi 3 syarat utama. dan jaksa juga turut berperan melembagakan kekerasan di Madura. masyarakat cenderung takut. sebagai tempat transaksi ekonomi. tampeng sereng. ataupun juga jago. sekaligus penguatan status sosial. 2002) • Blater di Madura juga kerap dihubungkan dengan remo. yaitu kadigdajan. kepada kepala desa bekas blater itu. memberikan proteksi khusus terhadap anak perempuan dari segala bentuk pelecehan seksual. kekebalan. poligami. juga terdapatnya figur kyai yang mempunyai latar belakang blater atau sebaliknya.martabat seluruh warga kampong meji. • Upaya meraih status sosial. Remo berfungsi ganda. seperti membentengi diri sehingga kebal terhadap serangan musuh. dan banda. pelaku carok meminta bantuan seorang “kiai”. Tidak seperti figur kyai yang disegani dan dihormati karena kemampuannya dalam keagamaan. dunia hitam. angko (pemberani). Ini salah satu sebab memberantas carok ibarat menegakkan benang basah. yang akan melakukan “pengisian” mantra-mantra ke badan pelaku carok. Carok oleh sebagian pelakunya dipandang sebagai alat untuk meraih status sosial di dunia blater. • Taneyan lanjang (halaman memanjang). Kebiasaan para pemenang carok untuk nabang (memperoleh keringanan hukum melalui rekayasa peradilan) dengan menyuap polisi. Carok telah menjadi komoditas hukum bagi mafia peradilan guna mengutip rente ekonomi dengan memperdagangkan kriminalitas dan kekerasan. 7 . menyangkut kepemilikan kekuatan yang diperoleh secara non-fisik. Yang menarik di sini. Blater. bela diri. • Tampeng sereng. kekerasan. bukan menaruh hormat. hakim. • Kadigdajan (kapasitas diri) adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kesiapan diri secara fisik dan mental. Semua tamu laki-laki hanya diterima di surau yang terletak di ujung halaman bagian Barat.

juga untuk biaya hidup sanak keluarga (istri dan anak) yang kemungkinan ditinggal mati atau ditinggal masuk penjara. carok mempunyai dimensi ekonomi. Tata Cara Pelaksanaan Carok • Carok dapat dilakukan secara ngonggai (menantang duel satu lawan satu). 4. Untuk pelaku carok yang masih hidup. 100 hari. Selain itu. atau mengganti terdakwa carok dengan orang lain. dan membeli celurit dengan kualitas nomor satu. • Prasyarat ketiga adalah tersedianya dana (banda). dan juga diperlukan sebagai persiapan untuk menyelenggarakan kegiatan ritual keagamaan bagi pelaku carok yang kemungkinan terbunuh (selamatan 7 hari. atau nyelep (menikam musuh dari belakang). Dalam konteks ini.Aktifitas berkunjung ke seorang ”kiai” ini disebut nyabis. • Meskipun semua pelaku carok langsug menyerahkan diri kepada aparat kepolisian. 8 . Di zaman awal kemunculannya. Biaya diperlukan antara lain untuk melakukan persiapan mental dengan menebus mantra-mantra yang diperlukan. hingga 1000 hari sejak kematian). hal ini bukan berarti suatu tindakan jantan (berani bertanggungjawab atas tindakannya) melainkan suatu upaya untuk hal mendapatkan perlindungan dari aparat kepolisian terhadap serangan balasan keluarga musuhnya. Dengan adanya kebiasaan melakukan carok dengan cara nyelep maka etika yang bermakna kejantanan bergeser menjadi brutalisme dan egoisme. carok banyak dilakukan dengan cara ngonggai. Semenjak dekade 1970-an carok lebih banyak dilakukan dengan cara nyelep. maka dana dibutuhkan untuk nabang. karena carok membutuhkan banyak biaya. Dan itu kemudian tidak mencerminkan kejantanan sama sekali ketika proses rekayasa peradilan dilakukan melalui praktek nabang. yaitu merekayasa proses peradilan dengan menyerahkan sejumlah uang kepada oknum-oknum aparat peradilan agar hukuman menjadi ringan. 40 hari.

SARAN 1. carok terjadi karena warisan dendam dari leluhurnya. Revisi ungkapan – ungkapan yang dapat membuat carok terjadi 3. Carok terjadi akibat pelecehan terhadap kaum wanita.BAB IV PENUTUP KESIMPULAN Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagao berikut: 1. Carok terjadi karena harga diri mereka direndahkan. Agar tidak terjadi carok diharapkan agar jangan pernah menggangganggu ketenangan orang lain 2. 9 . 3. Perubahan Perilaku 4.Hentikan adanya dendam dari leluhur. 2.

Bagian Proyek Inventarisasi Dan Pembendaharaan Nilai-Nilai Budaya Daerah Lampung. F. Kumpulan Makalah-Makalah Seminar 1979 dalam rangka Kerjasama Indonesia-Belanda Untuk Pengembangan Studi Indonesia. Kerusuhan Sosial Di Madura. dalam www. 1989. 1996. Re-Evaluasi Dan Redefinisi Pendidikan Nilai Bagi Generasi Muda Bangsa”. A. dkk. Direktorat Jenderal Kebudayaan. dalam Madura III. dikunjungi : Maret 2007 • Nurhajarini. Surabaya : Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur • Fakhruddin. 2004. Oxford : Blackwell dalam Sukimi. Carok : Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Sejarah Sumenep. C. dalam www. Kementerian Kebudayan Dan Pariwisata. The Bugis. 1993. Latief. 2005. Gramedia • Dinas Pariwisata. 1979. Universiti Kebangsaan Malaysia. 2005.liputan6. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI. A. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep. 2003. 1991. • Pelras. Madura Pulau Pesona. 2002. • Soedjatmoko dan Bambang Triono. menjunjung leluhur. 1993. Jakarta : PT. Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional. Malang : Bayumedia.DAFTAR PUSTAKA • Anonim. Fisip Universitas Jember. Jawa Timur. Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA). dkk. 2004.id. Kasus Waduk Nipah Dan Ladang Garam. Latief. Suatu Studi Antropologi Ekonomi. M. • Wiyata. Jawa Timur Membangun. A. “Rekonstruksi Citra Budaya Madura”. Pekembangan Ekonomi dan Islam.. 24 Desember 2006 • Maman Rachman.com • Subaharianto. dkk.go. “Masalah Carok Di Madura”. • Kadarisman. Surabaya : Bappeda Provinsi Jawa Timur • Abdurachman.. “Clurit dan Memudarnya Makna Carok”. 2005. Senjata Tradisional Lampung. Madura Dalam Empat Zaman : Pedagang.depdiknas. Zulakrnain. Tantangan industrialisasi Madura : membentur kultur. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Jawa Pos. • Wiyata. 10 . “Reposisi. Dokumentasi Hasil Pelaksanaan Pembangunan Daerah Tingkat II se-Jawa Timur. Carok Sebagai Elemen Identiti Masyarakat Madura. LKis : Yogyakarta. 2001. • De Jonge. “Budaya Madura Kian Termarjinalkan”.

11 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->