P. 1
PROSES PERUBAHAN SOSIAL

PROSES PERUBAHAN SOSIAL

|Views: 16|Likes:
Published by Sulistyo Hadi

More info:

Published by: Sulistyo Hadi on May 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2013

pdf

text

original

PROSES PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

Posted on Maret 5, 2007 by Admin

Oleh : Prof. Dr. Awan Mutakin, M.Pd

a. Pendahuluan Dalam suatu proses modernisasi, suatu proses perubahan yang direncanakan, melibatkan semua kondisi atau nilai-nilai sosial dan kebudayaan secara integratif. Atas dasar ini, semua fihak, apakah tokoh ? Tokoh masyarakat, formal atau non-formal, anggota masyarakat lainnya, apakah dalam skala individual atau pun dalam skala kelompok, seyogianya memahami dan menyadari, bahwa, manakala salah satu aspek atau unsur sosial atau kebudayaan mengalami perubahan, maka unsur-unsur lainnya mesti menghadapi dan mengharmonisikan kondisinya dengan unsur-unsur lain yang telah berubah terlebih dulu. Oleh karena itu mesti memahami dan menyadari bahwa sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan ada yang berkualifikasi norma (norm) dan nilai (value). Di mana norma skala keberlakuannya tergantung pada aspekwaktu, ruang (tempat, dan kelompok sosial yang bersangkutan; sedangkan nilai (value) skala keberlakuannya lebih universal. Dalam tatanan masyarakat yang maju atau modern, maka nilai-nilai sosial dan kultural yang bersifat universal mendominasi dan mengisi semua mosaik kehidupan masyarakat yang bersangkutan. b. Orientasi Perubahan Yang dimaksudkan orientasi atau arah perubahan di sini meliputi beberapa orientasi, antara lain (1) perubahan dengan orientasi pada upaya meninggalkan faktor-faktor atau unsurunsur kehidupan sosial yang mesti ditinggalkan atau diubah, (2) perubahan dengan orientasi pada suatu bentuk atau unsur yang memang bentuk atau unsur baru, (3) suatu perubahan yang berorientasi pada bentuk, unsur, atau nilai yang telah eksis atau ada pada masa lampau. Tidaklah jarang suatu masyarakat atau bangsa yang selain berupaya mengadakan proses modernisasi pada berbagai bidang kehidupan, apakah aspek ekonomis, birokrasi, pertahanan keamanan, dan bidang iptek; namun demikian, tidaklah luput perhatian masyarakat atau bangsa yang bersangkutan untuk berupaya menyelusuri, mengeksplorasi, dan menggali serta menemukan unsur-unsur atau nilai-nilai kepribadian atau jatidiri sebagai bangsayang bermartabat. Tidaklah jarang, bahwa tokoh-tokoh dan ungkapan-ungkapan yang bernuansa seni sastra pada masa lampau, baik suatu fenomena yang bernuansa imajinasi, yang ditampilkan oleh berbagai bentuk ceritera rakyat atau folklore. Semuanya lazim menyadarkan atau menampilkan nilai-nilai keteladanan, baik dalam aspek gagasan, aspek pengorganisasian dan kegiatan sosial, maupun dalam aspek-aspek kebendaan. Aspek-aspek ini senantiasa dimuati oleh nilai-nilai kearifan dan kebijakan yang memberikan acuan bagaimana orang mesti berfikir, berasa, berkarsa dan berkarya dalam upaya bertanggung jawab pada dirinya, padasesamanya, dan pada lingkungannya, serta pada Sang Khalik Yang Maha Murbeng Alam ini. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi nuansa-nuansa dalam membagun kepribadian atau jatidiri sebagian besar masyarakat atau suatu kelompok bangsa dimanapun mereka berada. Dalam memantapkan orientasi suatu proses perubahan, ada beberapa faktor yang memberikan kekuatan pada gerak perubahan tersebut, yang antara lain adalah sebagai berikut, (1) suatu sikap, baik skala individu maupun skala kelompok, yang mampu menghargai karya pihak lain, tanpa dilihat dari skala besar atau kecilnya produktivitas kerja itu sendiri, (2) adanya kemampuan untuk mentolerir adanya sejumlah penyimpangan dari bentuk-bentuk atau unsurunsur rutinitas, sebab pada hakekatnya salah satu pendorong perubahan adanya individu-individu

baik dalam bidang sosial. dan kelompok sosialnya lebih luas atau universal. tidak hanya suatu arah atau orientasi perubahan secara linier. (1) ada norma-norma yang bersumber dari tradisi itu. tidak bersifat universal seperti yang berlaku bagi nilai-nilai atau values.yang menyimpang dari hal-hal yang rutin. Spesifikasi norma-norma dan tradisi bila dilihat atas dasar proses modernisasi adalah sebagai berikut. waktu. dan dari kelompok ke kelompok akan lebih cenderung beraneka ragam. Modernisasi Sebagai Kasus Perubahan Sosial dan Kebudayaan Modernisasi. makhluk yang suka menyimpang dari unsur-unsur rutinitas. dan kelompok (masyarakat) tertentu. seyogianya manusia mengenakkan pakaian. atau dimodifikasi sehingga kondusif dalam menghadapi proses modernisasi. boleh dikatakan sebagai penghambat kemajuan atau proses modernisasi. yang disenangi. dari iptek yang bersahaja ke iptek yang modern (maju). dan terbuka bagi semua fihak yang membutuhkannya. rasional. (4) adanya atau tersedianya fasilitas dan pelayanan pendidikan dan pelatihan yang memiliki spesifikasi dan kualifikasi progresif. modernity (modernitas). yang sering disebut sebagai culture-shock atau kejutan-kejutan budaya yang terjadi pada tatanan kehidupan suatu masyarakat yang tengah menghadapi berbagai perubahan. c. ini merupakan atau termasuk kualifikasi nilai (value). Lazimnya suka dipertentangkan dengan nilai-nilai tradisi. Sebagai contoh atau kasus. (3) ada pula yang betul-betul memiliki konsistensi dan relevansi dengan nilai-nilai baru. Precedent dari suatu proses perubahan sosial tidak mesti diorientasikan pada isu kemajuan atau progress semata. Memang salah satu ciri yang hakiki dari makhluk yang disebut manusia itu adalah sebagai makhluk yang disebut homo deviant. yang diartikan sebagai nilai-nilai yang keberlakuan dalam aspek ruang. Suatu proses regresi atau kemunduran dan degradasi (luntur atau berkurangnya suatu derajat atau kualifikasi bentuk-bentuk atau niali-nilai dalam masyarakat). itulah yang menjadi urusan norma-norma yang dari tempat ke tempat. yang biasa dikenakan. maka ditampilkan spesifikasi atau kualifikasi . sebab tidaklah mustahil bahwa proses perubahan sosial itu justru mengarah ke isu kemunduran atau kearah suatu regress. dilakukan pencerahan. dan iptek. yang berarti barang sesuatu yang diperoleh seseorang atau kelompok melalui proses pewarisan secara turun temurun dari generasi ke generasi. dan fungsional. Modernisasi berasal dari kata modern (maju). Sedangkan yang lazim dipertentangkan dengan konsep modern adalahtradisi. Dalam kaitannya dengan modernisasi masyarakat dengan nilai-nilai tradisi ini. atau mungkin mengarah pada suatu degradasi pada sejumlah aspek atau nilai kehidupan dalam masyarakat yang bersangkutan. Sebagai contoh perubahan aspek iptek. ekonomi. dari waktu ke waktu. tetapi tidak jarang terjadi karena justru sebagai dampak sampingan dari keberhasilan suatu proses perubahan. Artinya keberlakuannya terbatas. mungkin menimbulkan kegoncangankegoncangan pada unsur-unsur atau nilai-nilai yang tengah berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. itulah spesifikasi nilai atauvalues. pakaian model apa yang harus dikenakan itu? Perkara model pakaian yang disukai. Umumnya tradisimeliputi sejumlah norma (norms) yang keberlakuannya tergantung pada (depend on) ruang (tempat). demokratis. kelompok) yang berprestasi dalam berinovasi. waktu. (2) ada pula sejumlah norma atau tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan. material dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi universal. disempurnakan. Semua fihak cenderung mengakui dan menganut nilai atau value ini. (3) mengokohkan suatu kebiasaan atau sikap mental yang mampu memberikan penghargaan (reward) kepada pihak lain (individual. Namun. menunjukkan suatu proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik.

Obsesi semacam ini menjadi pendorong kuat bagi penduduk pedesaan untuk beramai-ramai membanjiri dan memadati setiap . namun unsur-unsur iptek Barat tidak ada salahnya untuk ditiru. suatu bentuk perubahan yang berkelanjutan pada aspek-aspek kehidupan ekonomi. sedangkan penilai obyektif hanya bisa didasarkan pada konsep seperti apa yang dikemukakan olehD. yang diadopsi dan diadaptasi oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara ini. dan terbuka bagi pengembangan inovasi bidang iptek. tradisi dan kepercayaan dari suatu masyarakat. seperti halnya di Indonesia. sesamanya. Khusus untuk masyarakat di Indonesia. namun dalam penerapannya memerlukan proses adaptasi yang sering lebih rumit daripada mengembangkan iptek baru. Kota-kota di negara-negara sedang berkembang menjadi pusat-pusat modernisasi yang diaktualisasikan oleh berbagai bentuk kegiatan pembangunan. sosio-kultural. menampilkan suatu pengertian yang berkenaan dengan bentuk upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sadar dan kondusif terhadap tuntutan dari tatanan kehidupan yang semakin meng-global pada saat kini dan mendatang. manakala dihadapkan pada arus globalisasi tatanan kehidupan manusia. maupun aspek mental-spiritual. seperti Sriwijaya dan Majapahit. Diharapkan dari proses menduniakan seseorang atau masyarakat yang bersangkutan. Proses modernisasi sampai saat ini masih tampak dimonopoli oleh masyarakat perkotaan (urban community). sejarah masa lampau mengajarkan bahwa sistemekonomi. yaitu bahwa masyarakat atau orang yang tergolong modern (maju) adalah mereka yang terbebas dari kepercayaan terhadap tahyul. melibatkan diri dan memanfaatkannya secara signifikan bagi eksistensi bagi dirinya. (2) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berhasrat mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi-potensi sumber daya alam. Manakala persyaratan ini telah dipenuhi dan keempat nilai budaya atau sikap mental yang telah ditampilkan telah dimiliki oleh suatu masyarakat tersebut. Mc Clelland (Koentjaraningrat. politik. dalam pengadopsian dan pengadaptasian nilai-nilai kebudayaan tadi sekaligus menjadi orang India atau Cina. (1) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berorientasi ke masa depan dan dengan cermat mencoba merencanakan masa depannya. atau satuan sosial tertentu. baik aspek fisik-material. Kecenderungan-kecenderungan seperti ini. dan tanpa harus bergaya hidup seperti orang Barat. terutama bagi generasi mudanya. Modernisasi suatu kelompok satuan sosial atau masyarakat. memang iptek bisa dibeli. yaitu achievement-oriented. Adapun spesifikasi sikap mental seseorang atau kelompok yang kondusif untuk mengadopsi dan mengadaptasi proses modernisasi adalah.C. dipinjam. 1985). menjadikan daerah perkotaan sebagai daerah yang banyak menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi penduduk pedesaan. diadopsi. politik. pendidikan. bahkan dibeli. dipinjam dan diambil alih dari iptek produk asing. terutama di kota-kota Negara Sedang Berkembang. (4) nilai budaya atau sikap mental yang bersedia menilai tinggi usaha fihak lain yang mampu meraih prestasi atas kerja kerasnya sendiri. Modernisasi menunjukkan suatu perkembangan dari struktur sistem sosial. dan kebudayaan dari kerajaan-kerajaan besar di Asia seperti India dan Cina. (3) nilai budaya atau sikap mental yang siap menilai tinggi suatu prestasidan tidak menilai tinggi status sosial. karena status ini seringkali dijadikan suatu predikat yang bernuansa gengsi pribadi yang sifat normatif. namun fakta sejarah tidak membuktikan bahwa orang-orang Sriwijaya dan Majapahit. dan lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini.masyarakat modern. Tanpa harus suatu masyarakat berubah seperti orang Barat. diadaptasi. Konsep modernisasi digunakan untuk menamakan serangkaian perubahan yang terjadipada seluruh aspek kehidupan masyarakat tradisional sebagai suatu upaya mewujudkan masyarakat yang bersangkutan menjadi suatu masyarakat industrial. diambil alih. suatu masyarakat tertentu (misalnya masyarakat Indonesia) tidaklah sekedar memperlihatkan suatu fenomena kebengongan semata. tetapi diharapkan mampu merespons.

Fenomena demografis seperti ini. dalam suatu proses sosial yang disebut urbanisasi.sudut daerah perkotaan. . selanjutnya menjadi salah satu sumber permasalahan bagi kebijakankebijakan dalam upaya penataan ruang dan kehidupan masyarakat perkotaan. Sampai dengan saat sekarang ini masalah perkotaan ini masih menunjukkan gelagat yang semakin ruwet dan kompleks.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->