STRATEGI PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA APARATUR MELALUI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN Oleh: A.

Aziz Sanapiah Abstrak
Masih tingginya tingkat keluhan yang disampaikan oleh masyarakat pengguna jasa terhadap birokrasi menunjukkan bahwa pada satu sisi kualitas produk layanan birokrasi masih dirasakan tidak dapat memenuhi harapan masyarakat pengguna jasa. Pada sisi lain, telah semakin tumbuh kesadaran masyarakat pengguna jasa untuk menuntut hak-haknya sebagai konsumen untuk memperoleh pelayanan dengan kualitas terbaik " (Dwiyanto, 2002) Dua tahun kemudian..... " Mutu penyelenggaraan pelayanan publik masih lemah, banyak terjadi praktek pungli, tidak ada kepastian, dan prosedur berbelit-belit. Dampaknya pada bidang usaha ekonomi mengakibatkan ekonomi biaya tinggi, menghambat investasi, memperlambat arus barang ekspor-impor, kesan bagi masyarakat kurang memuaskan dan citranya buruk " (Kantor Menpan, 2004)

A. PENDAHULUAN Dunia yang mengelilingi Indonesia telah dan akan terus berubah. Sebagai aparatur pemerintah, kita harus mengikuti arus perubahan itu, apabila Indonesia ingin memanfaatkan kesempatan yang diciptakan oleh perubahan itu, dan bukan hanya menjadi sekedar penonton yang pasif. Dengan meningkatkan kualitas profesionalisme aparatur pemerintah, kemajuan Indonesia dapat dicapai, termasuk di dalamnya pemberian pelayanan publik yang prima kepada masyarakatnya. Sebagaimana halnya di negara-negara sedang berkembang, tantangan untuk menggapai kondisi ideal tersebut selalu ada. Secara sepintas saja, kondisi geografis Indonesia yang archipelago state dengan 17.864 pulau, sudah menghadirkan permasalahan tersendiri terutama dalam memberikan pelayanan kepada mereka. Kondisi sulit ini kemudian ditambah dengan besamya populasi sekitar 238 juta (BPS, 2005). Di samping persoalan di atas, secara kuantitas jumlah sumber daya manusia aparatur (Pegawai Negara Sipil) yang memberikan pelayanan juga dirasakan sangat minim dengan rasio 1,9 % dari jumlah penduduk. Jika dibandingkan dengan Negara-negara maju yang dalam setiap 1000 penduduk terdapat 77 PNS, di Indonesia hanya sebanyak 21 PNS saja. Di daerah, rationya bahkan lebih kecil, yakni 4 : 1000. Kondisi negatif ini kemudian diperparah dengan kualitas pendidikan mereka yang masih rendah. Ketidakseimbangan antara jumlah PNS dengan jumlah penduduk yang dilayani menyebabkan pemerintah melakukan pembenahan. Salah satu cara untuk membenahi hal tersebut adalah dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia aparatur dan terus melakukan upaya melalui berbagai kebijakan dalam rangka peningkatan kompetensi PNS demi terwujudnya pelayanan publik yang lebih baik. Untuk peningkatan kompetensi, dua kebijakan telah dikeluarkan yaitu Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dan PP 101/ 2000 Tentang Diklat Jabatan PNS. Sedangkan untuk peningkatan kualitas pelayanan publik, Menpan menerbitkan Surat Keputusan No. 81/ 1993 yang merumuskan suatu pedoman umum dalam pelaksanaan pelayanan umum. Selanjutnya, Tahun 1995, Surat Keputusan ini diperkuat oleh Instruksi Presiden Nomor 1/ 1995 yang berisi penugasan kepada Menpan untuk memimpin pelaksanaan kegiatan yang dianggap perlu agar dapat segera

Surat Edaran ini kemudian dilanjutkan dengan Surat Edaran Menko Wasbang Nomor 145/ 1999 yang berisi rincian jenis-jenis pelayanan masyarakat yang harus segera menerapkan pelayanan prima di lingkungan Pemerintah Daerah. dan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/ 26/ M. Dalam prakteknya. Gambaran tersebut memberikan dorongan bagi kita untuk melakukan perubahan pada SDM aparatur Indonesia (kita sebut dengan istilah Reformasi Birokrasi). khususnya kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Melalui dua undang-undang ini Bangsa Indonesia telah mengambil langkah untuk meninggalkan paradigma pembangunan sebagai pijakan pemerintah untuk beralih kepada paradigma pelayanan dan pemberdayaan .PAN/ 7/ 2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Keluhan masyarakat akan kualitas pelayanan publik masih merupakan fenomena umum. Rakyat masih mengeluh sebagaimana yang diungkapkan oleh Dwiyanto (2002) dan Kantor Menpan (2004) pada prolog di atas. kinerja kebijakan tersebut belumlah seperti yang diharapkan. Tahun 1998. Kantor Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara menerbitkan lagi Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/ KEP/ M. Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/ 25/ M. Baru-baru ini. B. Reformasi telah melahirkan berbagai perubahan dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan.PAN/ 2/ 2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Menteri Koordinator Pengawasan Pembangunan (Menko Wasbang) menerbitkan Surat Edaran Nomor 56/ 1998 bagi seluruh kementerian agar mulai menerapkan pelayanan prima di lingkungannya masing-masing. tingkat gaji yang tidak memadai. hidup dalam pola patronk lien. bekerja berdasarkan juklak dan juknis serta mungkin masih banyak potret negatif lainnya yang intinya menunjukkan bahwa aparatur di Indonesia masih lemah. 25 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. KONDISI SDM APARATUR Kondisi saat ini menunjukkan bahwa SDM aparatur yang ada sangat jauh dari apa yang diharapkan. kurang kreatif dan inovatif. pelayanan kepada masyarakat yang berbelit-belit. Keseluruhan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara ini mencoba menerobos sisi lain dari pelayanan guna mempercepat perwujudan pelayanan publik yang prima dengan membenahi kualitas kinerja aparatur pemerintah melalui pelaksanaan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pelayanan publik. dengan berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam kerangka Negara Kesatuan RI. Potret SDM aparatur saat ini yang menunjukkan profesionalisme rendah. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah. Perubahan mendasar pada kedua undang-undang ini terletak pada paradigma yang digunakan. yaitu dengan memberikan kekuasaan otonomi melalui kewenangan-kewenangan untuk menyelenggarakan urusan rumah tangga daerahnya.PAN/ 1/ 2004 tentang Pencanangan Tahun Peningkatan Pelayanan Publik dan Petunjuk Pelaksanaannya. salah satunya adalah perubahan sistem pemerintahan daerah sejak diberlakukannya UU No.meningkatkan mutu pelayanan bagi masyarakat.PAN/ 2/ 2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 11/ M. banyaknya praktek KKN yang melibatkan aparatur. 22 Tahun 1999 dan UU No.

Terjadinya perubahan sistem pemerintahan daerah tersebut berimplikasi pada perubahan UU Nomor 8 Tahun 1974 menjadi UU No. dan pengendalian saja. BUMN. SDM aparatur dituntut memiliki profesionalisme. Ini berarti bahwa SDM aparatur merupakan sebagian dari keseluruhan elemen sistem pelayanan publik yang begitu luas dan kompleks. dan mampu berperan sebagai unsur perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia. memiliki wawasan global. serta menerapkan sistem kompetisi dan pencapaian target yang didasarkan pada visi. di dalam diri setiap aparatur pemerintah melekat peran. kode etik. Manajemen pelayanan pada sektor publik sebagai suatu keseluruhan kegiatan pengelolaan pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah dituntut memiliki karakteristik. memiliki dasar hukum yang jelas dalam penyelenggaraannya. fungsi SDM aparatur menjadi lebih kompleks tidak sekedar fungsi pengaturan. keterbukaan (democratic). dan tanggung jawab yang dilandasi oleh nilai. paradigma pelayanan publik berkembang dengan fokus pengelolaan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer-driven government) yang dicirikan dengan lebih memfokuskan diri pada fungsi pengaturan. tetapi lebih pada meletakkan pembangunan pada landasan nilai pelayanan dan pemberdayaan. keluar dari pengaruh semua golongan dan partai politik dan tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. pembuatan dan pelaksanaan kebijakan dalam upaya pelayanan publik. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah tersebut telah menggeser paradigma pelayanan. pengelolaan. Dewasa ini. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian tersebut membawa perubahan mendasar guna mewujudkan SDM aparatur yang profesional yaitu dengan pembinaan karir Pegawai Negeri Sipil yang dilaksanakan atas dasar perpaduan antara sistem prestasi kerja dan karir yang dititikberatkan pada sistem prestasi kerja yang pada hakekatnya dalam rangka peningkatan pelayanan publik. 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Pada prinsipnya. pemerintahan dan pembangunan. memiliki tujuan sosial serta akuntabel pada publik. dan sasaran. dan BUMD dalam bentuk barang maupun jasa dalam rangka pemenuhan kebutuhan (kepuasan) masyarakat sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku. pemberdayaan masyarakat. Perubahannya yang paling mendasar adalah tentang manajemen kepegawaian yang lebih berorientasi kepada profesionalisme SDM aparatur (PNS). karena tugas dan fungsi SDM aparatur yang begitu penting dan strategis. tujuan.masyarakat. tidak partisan dan netral. dan dalam upaya mewujudkan pelayanan prima dan berkualitas. misi. Untuk melaksanakan tugas pelayanan masyarakat dengan persyaratan yang demikian. 43 Tahun 1999 sebagai penganti UU No. akan tetapi lebih berorientasi pada fungsi pemberdayaan (empowering). memiliki kelompok kepentingan yang luas termasuk kelompok sasaran yang ingin dilayani (wide stakeholders). dan kemitraan (partnership) dalam pengambilan keputusan. yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat secara jujur. Pelayanan publik adalah suatu bentuk kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah baik di pusat. di daerah. dari yang bersifat sentralistis ke desentralistis dan mendekatkan pelayanan secara langsung kepada masyarakat. Dengan berlakunya UU No. dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara. Lahirnya Undang-Undang No. Tugas pokok dan . Seiring dengan berlakunya otonomi daerah. Sejalan dengan perkembangan manajemen penyelenggaraan negara. dan moral. adil. maka tingkat pelayanan di tingkat lokal akan sangat benarbenar bisa dirasakan oleh masyarakat di dalam peningkatan kualitas pelayanan publik. tugas. kesempatan (enabling). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. Perubahan paradigma ini tidak berarti bahwa Pemerintah sudah tidak lagi memiliki komitmen untuk membangun.

Adanya peraturan yang jelas serta didukung dengan sumber daya manusia yang profesional dan handal merupakan faktor pendukung yang tidak boleh ditinggalkan. Sarana dan prasarana yang memadai. pelayanan diberikan secara transparan. menciptakan hubungan antar personal yang harmonis dan lain sebagainya. berkaitan dengan strategi peningkatan kualitas dan kompetensinya. Agar tugas pokok dan fungsi serta kewajiban tersebut dapat terlaksana dengan baik. yaitu diawali dengan melakukan pola rekrutmen yang benar sesuai dengan peraturan dan berdasarkan kompetensi. Perubahan melalui diklat dapat dilakukan dengan melakukan berbagai kursus. fair. tidak membeda-bedakan dan dilaksanakan secara akuntabel serta penuh keikhlasan dan ketulusan. dan pemberdayaan masyarakat yang dilandasi dengan keikhlasan dan ketulusan. efektif dan efisien dan menjadi inisiator yaitu selalu bersemangat mengabdi dengan berorientasi pada fungsi pelayanan. Eksistensi SDM aparatur perlu mendapat perhatian khusus. Sementara peningkatan kemampuan atau kompetensi melalui non diklat dapat dilakukan dengan menciptakan situasi dan kondisi kerja yang kondusif untuk terjadinya peningkatan kemampuan. yaitu mendapatkan kehidupan yang sejahtera baik dari aspek material maupun spiritual. Secara garis besar kewajiban yang harus dilaksanakan oleh aparatur di Indonesia adalah memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat (excellent service for people). tentu saja perlu diperhatikan hak dari aparatur itu sendiri. menjadi stabilisator yaitu sebagai penyangga persatuan dan kesatuan bangsa. Peningkatan kompetensi SDM aparatur dalam mengemban tugas atau jabatan birokrasi melalui diklat adalah berorientasi pada standar kompetensi jabatan sesuai tantangan reformasi dan globalisasi yang tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan stakeholder-nya. Di samping hal-hal tersebut. menjadi innovator dan kreator yaitu menghasilkan inovasi-inovasi baru dalam pelayanan masyarakat agar menghasilkan pelayanan yang baru. moral dan perilaku SDM aparatur melalui diklat memang tidak mudah. pemberhentian dan sebagainya. akan tetapi tetap perlu dilakukan. pola karir. promosi. melakukan mutasi secara berkala. Kualitas aparatur tidak mungkin meningkat tanpa adanya usaha-usaha yang konkrit untuk meningkatkannya. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya tersebut. masyarakat diberi akses untuk dapat mengontrol dan mengawasi kualitas dan prosedur pelayanan yang diberikan. pendidikan formal maupun non formal atau pendidikan lainnya yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan atau kompetensi teknis maupun perubahan pola pikir. Penilaian Prestasi Kerja (PPK). Demikian pula dalam pengembangan pegawai. Semua perubahan itu perlu dilakukan dengan komitmen dan konsistensi yang tinggi. maka harus didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. penggajian. peraturan yang jelas dalam pemberian pelayanan masyarakat akan memberikan pedoman bagi aparatur dalam memberikan pelayanan. moral. dan perilaku SDM aparatur. Perubahan yang segera dapat dilakukan adalah peningkatan kemampuan atau kompetensi yang dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) maupun non diklat. menjadi motivator yaitu memberdayakan masyarakat agar terlibat secara aktif dalam pembangunan.fungsi dari SDM aparatur pada intinya adalah menjadi pelayan masyarakat yaitu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Untuk membentuk sosok SDM aparatur seperti tersebut memang memerlukan waktu dan proses yang lama serta upaya yang tidak boleh berhenti. Manajemen kepegawaian perlu dibenahi. adanya dukungan SDM aparatur dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi serta kewajibannya mempunyai kemampuan atau kompetensi yang baik. Meskipun merubah pola pikir. lengkap dan canggih akan mempercepat proses pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Oleh karena itu diklat perlu terus . Selain itu. pengayoman.

6. Berangkat dari gambaran di atas.ditingkatkan agar SDM aparatur benar-benar memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugasnya secara profesional. dan perilaku. keterampilan. Sejalan dengan gambaran kondisi SDM aparatur di atas. maka kondisi SDM aparatur dapat digambarkan sebagai berikut : 1. efisien. Pengembangan pegawai belum berdasarkan pola pembinaan karier. 8. Untuk itu. Dengan menggunakan sudut pandang tersebut. Penetapan peraturan disiplin pegawai belum dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. dan perilaku (attitude) untuk menciptakan aparatur yang memiliki semangat pengabdian yang tinggi dalam melayani masyarakat yang selalu bertindak hemat. terlebih dahulu kita perlu memotret kondisi faktual SDM aparatur dewasa ini secara komprehensif dengan melihatnya dari sudut pandang manajemen sumber daya manusia. STRATEGI PENINGKATAN KOMPETENSI SUMBER DAYA APARATUR Sebelum menetapkan strategi peningkatan kualitas SDM aparatur. Kenaikan pangkat dan jabatan belum berdasarkan prestasi kerja dan kompetensi. Kompetensi jabatan SDM aparatur (PNS). 7. Sistem renumerasi belum didasarkan pada tingkat kelayakan hidup. diperlukan strategi peningkatan kompetensi SDM aparatur. Pengadaan PNS belum berdasar pada kebutuhan riil. Sistem penilai kinerja belum obyeklif. maka pembahasan dalam tulisan ini akan difokuskan pada peningkatan kompetensi SDM aparatur melalui diklat. . 9. maka strategi peningkatan kompetensi aparatur seyogyanya tidak dilihat secara parsial tetapi holistik. secara umum berarti kemampuan dan karakteristik yang dimiliki seorang PNS berupa pengetahuan. Prinsip netralitas PNS belum sepenuhnya dijunjung tinggi. sikap. 2. Belum tersusunnya perencanaan PNS yang komprehensif. Diklat PNS belum optimal dalam meningkatkan kompetensi. 4. Disinilah kompetensi menjadi satu karakteristik yang mendasari individu atau seseorang mencapai kinerja tinggi dalam pekerjaannya. yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya (Mustopadidjaja. Keseluruhan unsur ini pertu dimanage melalui pembuatan sistemnya. 5. Penempatan PNS belum berdasar pada kompetensi jabatan. 3. pelayanan publik merupakan pemberdayaan masyarakat yang pada gilirannya dapat menggerakkan roda perekonomian menuju Kesejahteraan. Jadi. C. 11. integrated dan berbasis kinerja. guna menghasilkan SDM aparatur yang profesional. 2002). 10. penerapan sistem tersebut secara konsisten. dimana kompetensi yang memadai merupakan sesuatu yang sangat mutlak yang perlu dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran aparatur pemerintah baik di pusat maupun di daerah. 12. keterampilan (skill). dan penyempurnaan yang terus-menerus terhadap sistem yang ada. transparan. Sistem terminasi PNS belum tertata secara komprehensif. rasional. Karakteristik itu muncul dalam bentuk pengetahuan (knowledge). Sistem kompensasi belum berdasarkan pada prestasi kerja. baik secara nasional maupun institusional. dan akuntabel.

Untuk menghindari fenomena asal ikut diklat . II (dulu SPAMEN) ke Lembaga Diklat Pemerintah lainnya. terdapat dua domain yang harus ditata secara sistemik agar kinerjanya dapat lebih optimal. diklat yang diperuntukkan bagi PNS bukan diklat yang sekedar membentuk kompetensi. Sentralisasi tersebut hanya mampu mengkompetenkan segelintir aparatur saja.Dalam kaitan ini. Kepemimpinan (kecuali Diklatpim Tk. desentralisasi penyelenggaraan Diklatpim Tingkat III dan IV misalnya. melainkan didesentralisasikan di daerah. Kompetensi yang diperoleh melalui diklatlah yang ditindaklanjuti dalam bentuk program diklat. maka dalam penyelenggaraan diklat untuk PNS diberlakukan kebijakan diklat berbasis kompetensi. Artinya. fungsional tertentu. . Dalam prakteknya. kompetensi itu secara langsung dapat membantu di dalam melaksanakan tugas dan jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 Tentang Diklat Jabatan mengamanahkan kebijakan desentralisasi dalam penyelenggaraan diklat. baik jabatan struktural. perguruan tinggi. tetapi kompetensi tersebut harus relevan dengan tugas dan jabatannya. penekanan aspek desentralisasi itu semakin ditingkatkan dengan mendesentralisasikan pelaksanaan Diklatpim TK. Karena setiap PNS adalah pelayan publik. tidak semua kompetensi tersebut diperoleh melalui diklat melainkan diperoleh melalui belajar mandiri. bimbingan di tempat kerja. mengingat jauhnya jarak antara masyarakat di level bawah dengan birokrasi kediklatan di level pusat atau atas. I). Dengan demikian. Diklat Berbasis Kompetensi Maraknya jenis dan penyelenggara diklat mengakibatkan bervariasinya jenis-jenis diklat yang tersedia baik yang diselenggarakan oleh lembaga diklat pemerintah. Oleh karena itu. maka sesuai dengan tugas pokoknya sudah barang tentu kompetensi merupakan keharusan pada setiap standar jabatan. Diklat Fungsional dan Diklat Teknis tidak lagi dimonopoli dan dipusatkan di lembaga-lembaga diklat pemerintah pusat. Dengan kata lain. Penerapan kebijakan ini memang berimplikasi langsung pada keharusan adanya standar kompetensi untuk setiap jabatan. Penyelenggaraan Diklal mulai dari Diklat Prajabatan. Dengan PP 101/ 2000. maupun fungsional umum. Di samping itu. kompetensi yang terbentuk belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. kebijakan diklat berbasis kompetensi ini diharapkan dapat menjadi pendorong (trigerting) dalam memberikan pelayanan yang baik. Pertama mencakup strategi pembinaan diklat yang diperankan oleh Lembaga Administrasi Negara. dan lembaga diklat swasta. Desentralisasi Penyelenggaraan Diklat Disadari bahwa sentralisasi penyelenggaraan Diklat jelas tidak akan mempercepat proses peningkatan kompetensi sumber daya manusia aparatur. Strategi Pembinaan Diklat a. Bahkan. dan sebagainya. Sebelum ini pun penyelenggaran Diklat Spama dan Adum sudah didesentralisasikan ke daerah. sebenarnya sudah lama dilakukan. sedangkan yang kedua adalah strategi pelaksanaan diklat yang diperankan lembaga diklat terakreditasi. 1. b.

Ini adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan yang spesifik.Di samping Diklat Kepemimpinan. Idealnya. yang sebagian atau keseluruhannya mendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pelayanan prima. mekanisme itu mutlak dikelola dan dikontrol oleh lebih dari satu pihak. proses desentralisasinya malah lebih jauh dengan menggeser pembinaannya kepada Instansi Pembina Jabatan Fungsional dan Instansi Pembina Diklat Teknis. Badan Diklat Provinsi Maluku telah mendesain sebuah diklat teknis yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. terutama oleh pihak-pihak yang terkait secara langsung. Agar kompetensi yang akan dibentuk dapat menampung semua kepentingan. apalagi kalau pihak yang satu-satunya itu menerapkan pendekatan sentralistikotoriter. Sebagai contoh. nuansa desentralisasi juga mewarnai penyelenggaraan Diklat Prajabatan mulai dari Golongan I. Bahkan untuk diklat teknis dan fungsional. Dengan pergeseran ini. pihak-pihak yang memiliki kewenangan adalah sebagai berikut : 1) Instansi Pembina Diklat. Kontrol Bersama (Collective Control) Terhadap Kompetensi Ketika pelayanan publik menjadi concern atau perhatian semua pihak. dimana mulai pada Tahun 2005 ini. . Terakhir. maka keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan mutlak dibutuhkan. dan III. Untuk diklat fungsional dan diklat teknis. maka otomatis terbangun suatu sistem yang built-in menggerakkan proses ke arah penyempurnaan yang terus menerus mengakomodasi kepentingan semua pihak. bermunculan benih-benih inovasi dan kreativitas dalam penyelenggaraan diklat. mendorong badanbadan diklat provinsi untuk merancang sebuah diklat teknis yang bertumpu pada kondisi faktual daerah. melainkan sudah diajukan masing-masing instansi. dalam pembentukan kompetensi PNS. Dengan kontrol bersama (collective control) ini. II. di daerah pun energi desentralistis itu juga bekerja. bimbingan dalam penyelenggaraan Diklat. Kreativitas ini tidak hanya terjadi di lembaga-lembaga diklat instansi pemerintah pusat. Lembaga diklat swasta pun dapat menjadi service provider di bidang ini. walaupun tetap dalam kerangka pembinaan nasional oleh Instansi Pembina Diklat. pengajuan anggaran penyelenggaraan Diklat Prajabatan Golongan III sudah tidak disentralisasikan lagi di Instansi Pembina Diklat. Pembinaan Diklat tersebut dilakukan melalui penyusunan kurikulum Diklat. Bermunculan diklat-diklat yang substansinya sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat. Prinsip yang sama juga berlaku pada mekanisme pembentukan kompetensi sumber daya manusia aparatur. penyelenggaraannya sudah tidak dimonopoli oleh lembaga diklat pemerintah saja. maka mekanisme penyediaan pelayanan tidak boleh dimonopoli oleh satu pihak saja. khususnya pada proses budgetting system-nya atau Sistem Pengajuan Anggaran. tuntutan desentralisasi itu menyentuh pula penyelenggaraan Diklat Prajabatan Golongan III. c. LAN sebagai instansi pembina DikIaL bertanggungjawab atas pembinaan Diklat secara keseluruhan. Oleh karena itu.

termasuk bidang pelayanan publik. kerjasama dalam pengembangan. dan pemberian bantuan teknis melalui konsultansi. 4) Instansi Penyelenggara Instansi yang membawahi Lembaga Diklat terakreditasi yang secara langsung menyelenggarakan Diklat dengan berkoordinasi dengan Instansi Pembina. pengawasan terhadap program dan penyelenggaraan diklat & widyaiswara. pengembangan sistem informasi diklat. maka kualitas penyelenggaraan diklat dapat terjamin. 2) Instansi Pengendali Diklat Badan Kepegawaian Negara (BKN) sebagai instansi pengendali Diklat bertugas melakukan pengembangan dan penetapan standar kompetensi jabatan. Jika kedua unsur ini bekerja dengan baik. pengembangan sistem informasi Diklat. dan pelaksanaan control kualitas (quality control). Jika kedelapan strategi ini diterapkan. maka peserta yang mengikuti diklat adalah mereka yang belurn kompeten untuk bidang teitentu.standarisasi dan akreditasi Diklat. Di samping itu. 1) Standar kualitas . Penerapan Total Quality Management. 5) Baperjakat dan Tim Seieksi Peserta Diklat Instansi (TSPDI) Bertugas memberikan pertimbangan kepada pejabat pembina kepegawaian dalam penentuan calon peserta Diklat. bimbingan di tempat kerja. 3) Pejabat Pembina Kepegawaian Pejabat Pembina Kepegawaian bertugas melakukan pemantauan dan penilaian secara periodik tentang kesesuaian antara penempatan lulusan dengan jenis Diklat yang telah diikuti serta melaporkan hasilnya kepada instansi pengendali. termasuk standar kornpetensi jabatan di bidang pelayanan publik. bimbingan dalam pengembangan program diklat. Jika dikristalisasi. Pasal 26 PP 101/2000 menggariskan paling tidak 8 (delapan) strategi pembinaan yang harus dilaksanakan oleh Lembaga Administrasi Negara sebagai Pembina Diklat antara lain melalui penyusunan pedoman diklat. bimbingan di tempat kerja. kerjasama pengembangan dan evaluasi diklat. kedelapan strategi tersebut mencerminkan penerapan prinsipprinsip Total Quality Management yang berisi tiga komponen utama. pengawasan terhadap program dan penyelenggaraan Diklat. yakni penetapan standar kualitas (quality standard). pemberian bantuan teknis melalui konsultasi. standarisasi dan akreditasi. Selesai mengikuti diklat. pelaksanaan jaminan qualitas (quality assurance). penyelenggaraan dan evaluasi Diklat. BKN juga mengendalikan pemanfaatan lulusan Diklat. bimbingan dalam penyelenggaraan diklat. kompetensi tersebut akan diperolehnya untuk kemudian dipergunakannya secara langsung di tempat kerjanya. d.

sudah merupakan kewajiban setiap lembaga diklat yang menyelenggarakan diklat untuk melaporkan rencana penyelenggaraan diklat sebelum dan sesudah diklat dilaksanakan kepada instansi pembina. LAN sedang mengembangkan Sistem Informasi Diklat Aparatur (SIDA) yang dapat diakses oleh siapa saja. 3) Kontrol kualitas Dalam melaksanakan pengawasan kualitas diklat PNS. maka berdasarkan pedoman penyelenggaraan masing-masing diklat. LAN mengkompetensikan lembaga-lembaga penyelenggara diklat melalui kegiatan akreditasi dan sertifikasi lembaga diklat untuk menyelenggarakan diklat tertentu Di samping kegiatan tersebut.Sebagai Instansi Pembina Diklat.Data dan informasi yang terdapat dalam SIDA tersebut dapat membantu manajemen penyelenggaraan diklat PNS dalam pengambilan keputusan. telepon.idlj.lan. Untuk mendukung seluruh kegiatan pembinaan diklat dalam memperoleh jaminan kualitas diklat. 2) Jaminan kualitas Untuk menjamin agar standar-standar kualitas diterapkan secara konsisten. setiap lembaga Diklat memiliki kompetensi lembaga . secara rutin LAN juga melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan diklat PNS.go.sida. Strategi Penyelenggaraan Diklat Setiap lenibaga penyelenggara Diklat harus memiliki kompetensi diklat dalam arti berkemampuan menempa sumber daya manusia aparatur (PNS) untuk memiliki kompetensi jabatan F'NS tertentu termasuk di bidang pelayanan publik. dan internet. 2. melalui situs internet dengan alamat html:www. sehingga kesenjangan kualitas dapat lebih dikurangi. Melalui strategi-strategi pembinaan yang diuraikan di atas terutama melalui strategi quality assurance atau jaminan kualitas. sehingga peningkatan kualitas penyelenggaraan dapat lebih terfasilitasi. bahan ajar atau materi. Pembimbingan dan konsultansi kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan baik secara langsung melalui kunjungan ke tempat kerja mereka atau sebaliknya maupun secara tidak langsung melalui komunikasi surat. menyusun sequence mata diklat dalam suatu program diklat sampai pada kegiatan lainnya yang bersifat sangat teknis seperti tata cara penulisan STTPL. Di samping itu. LAN telah menetapkan standar-standar kualitas melalui penyusunan pedoman-pedoman diklat yang menjadi acuan bagi lembagalembaga diklat dalam penyelenggaraan diklat. serta LAN juga akan menerbitkan Buku Panduan Fasilitator yang akan membantu para Fasilitator Diklat dalam melakukan pengajaran sehingga kualitas pengajaran pendidikan dan pelatihan baik di dalam maupun di luar kelas dapat lebih standar. baik bagi lembaga diklat sudah terakreditasi maupun bagi lembaga diklat yang masih bermitra dengan LAN sebagai instansi pembina. khususnya stakeholders. Kegiatan lainnya adalah pengembangan modul. secara rutin LAN melaksanakan pembimbingan dan konsultansi kediklatan dalam berbagai bentuk mulai dari membimbing para penyelenggara diklat untuk aspek-apsek kediklatan yang bersifat prinsip seperti pengembangan kurikulum diklat.

seleksi peserta dapat dilakukan dengan cara pemberian tes yang terkait dengan kompetensi jabatan yang harus dimiliki. tidak akan berarti banyak apabila unsur-unsur yang memprosesnya kurang maksimal. Oleh karena itu. Masukan Diklat Masukan diklat adalah peserta diklat yang karena jabatannya (struktural. maka diperlukan akreditasi dan sertifikasi. tanggung jawab berada pada Pembina Kepegawaian atau Baperjakat instansi masing-masing. Lembaga Administrasi Negara sebagai instansi pembina diklat telah menerbitkan Pedoman Akreditasi dan Sertifikasi Lembaga Diklat sebagaimana yang diatur dalam keputusan kepala LAN Nomor 194/XIII/ 10/6/2001. yakni: kelembagaan diklat. SDM penyelenggara diklat. Lembaga diklat masih harus memantau kinerja lulusannya dalam bentuk . Untuk Seleksi peserta diklat kepemimpinan. proses diklat sebenarnya belum berakhir. dan keluaran diklat yang diuraikan berikut ini : a. pada akhirnya akan dihasilkan keluaran diklat yang memiliki kompetensi sesuai persyaratan jabatannya.Diklat yang diwujudkan melalui penerapan sistem penyelenggaraan diklat yang memperhatikan kualitas tiga unsur utama yakni masukan. b. Peserta diklat sebagai masukan diklat memainkan peranan yang menentukan dalam peningkatan mutu pelaksanaan diklat. Untuk keikutsertaan peserta dalam diklat lainnya. program diklat. Terkait dengan pelaksanaan akreditasi itu. Unsur-unsur yang memproses masukan diklat itu meliputi empat bagian besar. fungsional dan fungsional umum) dipersyaratkan mengikuti diklat untuk memenuhi standar kompetensi jabatannya. setiap penyelengara diklat perlu memperhatikan kualitas unsur-unsur yang memproses masukan diklat tersebut. kemudian mengikuti proses diklat pada lembaga diklat yang keempat unsur-unsurnya telah terakreditasi. c. Kedua cara ini akan membagi peserta ke dalam dua bagian. Proses Diklat Masukan diklat yang tepat. Setelah selesainya penyelenggaraan suatu diklat. Untuk memastikan bahwa keempat unsur tersebut berada pada kondisi maksimal dalam memproses masukan diklat. Dalam operasionalnya. atau melalui suatu proses analisa kebutuhan diklat. yakni perlu mengikuti diklat dan tidak perlu mengikuti diklat. Kelompok pertama inilah yang perlu mengikuti diklat. proses. LAN telah mengeluarkan Surat Keputusan Kepala LAN Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tim Seleksi Peserta Diklat Instansi Untuk Diklat Kepemimpinan. Keluaran Diklat Setelah melalui Seleksi Calon Peserta Diklat di instansi masing-masing sesuai yang dipersyaratkan. Pengaturan tentang keikutsertaan peserta ini dimaksudkan untuk menghindari kesan bahwa peserta yang diikutkan dalam suatu diklat adalah mereka yang "dibuang" sementara dari instansinya atau yang belum memiliki pekerjaan yang "permanen". dan widyaiswara. yang tujuannya mengatur keikutsertaan peserta dalam Diklatpim agar yang terjaring sudah sesuai dengan kebutuhan instansi. ditugaskan oleh pejabat yang berwenang setelah lebih dahulu mendapat pertimbangan Baperjakat.

penempatan. pengadaan. peningkatan kompetensi yang diperoleh melalui dua strategis di atas tidaklah otomatis berarti terjadi peningkatan kinerja. PT Elex Media Komputindo. kebutuhan tersebut dilakukan secara komprehensif mulai dari perencanaan. penerapan total quality management. dan kesejahteraan. W. karena selain kompetensi tidak identik dengan kinerja. Untuk penyelenggaraan. bakat. Namun. juga unsur manajemen lainnya memang belum tersentuh. alat kerja. promosi. nanus (1985). Di samping itu. Taufik (2003). maka PNS yang bersangkutan perlu di-retraining atau dilatih ulang. . Generasi Kelima Manusia. PENUTUP Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan publik yang berkualitas yang kian hari kian kompleks. terminasi dan penerapan peraturan disiplin pegawai. pengembangan pegawai. pendidikan dan pelatihan. kompensasi. sehingga PNS bersangkutan wajib mengikuti diklat yang tujuan pembelajarannya membangun kompetensi tersebut. 454 Lembaga Diklat Pemerintah Kabupaten dan 99 Lembaga Diklat Pemerintah Kota. penyelenggaraan diklat diarahkan untuk mengisi kompetensi peserta sesuai yang dipersyaratkan oleh jabatannya. Bennis. untuk mengubah kompetensi menjadi kinerja diperlukan media lain seperti budaya kerja. bentuk pembinaan lainnya juga diterapkan secara simultan. New York: Happer and Row. Jika kompetensi ini dimiliki oleh 33 Lembaga Diklat Provinsi. Khusus mengenai strategi yang ditempuh melalui pendidikan dan pelatihan. Brainware Management-. optimalisasi kontrol bersama terhadap kompetensi. melalui strategi tersebut akan terbangun kompetensi lembaga diklat yang menggunakan pendekatan input-proses-output sebagai basis utama sistem tersebut.evaluasi pasca diklat yang tujuannya untuk mengetahui sejauh mana efektifitas kompetensi yang telah dimiliki oleh peserta tadi. maka kompetensi aparatur dapat terbangun secara meluas dan merata di seluruh jajaran PNS baik pusat maupun daerah. Sementara itu. penilaian kinerja. seperti desentralisasi penyelenggaraan diklat. dapat dimanfaatkan dalam tempat kerjanya. and B. Tetapi jika ternyata tugastugas belum dapat dilaksanakan dengan baik yang disebabkan karena kekurangkompetensiannya. D. L eaders: The Strategis for Tak ing Change. REFERENSI Bahaudin. maka barulah diklat dapat dikatakan berhasil. diharapkan kinerja pelayanan dapat lebih menjadi optimal. 176 Lembaga Diklat Pemerintah Pusat. Jika terbukli bahwa yang bersangkutan sudah kompeten melakukan tugastugasnya. Cetakan Keempat. Jakarta. Untuk pembinaan. Dengan bekal kompetensi tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Diklat Jabatan PNS mengamanahkan LAN sebagai instansi pembina diklat untuk menerapkan diklat berbasis kompetensi. yakni pembinaan dan penyelenggaraan. negara membutuhkan sumber daya manusia aparatur yang profesional. terdapat dua strategi yang perlu ditata secara sinergis. G. motivasi. Artinya. Idealnya. renumerasi.

.. P. Manajemen Sumber Daya A paratur Pemerintah Daerah (Pusat Kajian Pemerintahan STPDN)...... Makasar... (2003).. K.. JF. surabaya.... 2002... Jurnal Ilmu Administrasi Fj> IP Unhas.. AE.... Crawfprd. Dimensi-Dimensi Pok ok Sistem A dministrasi N egara Kesatuan Republik Indonesia.. CV Papyrus.. . Implementasi dan E valuasi Kinerja.sis Kebijak an Publik . (1995).A. Oxford A dvanced L earner's Dictionary Pamudji S. (1996)... CV... Soenarko.. Transforming Corporate L eadership.. Mandar Maju.. M.. Bina Aksara. Amin. Management. Prentce Hall International Inc. Jakarta. (1997).... (1992). Badan Diklat Depdagri. . Struk tur. ... Pitma Publishing. Kotter... PT..1.. PT Erlangga. Stoner. Vol. Manajemen Proses Kebijak an Publik ... Kydd.. .. Sixth tlition. Professional Development for E ducational Management (Compilialion. JL.. Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia. 2004. 2 No. P. Good Governance. Formulasi. (2002).. JL. Proses.... Cetakan Kelima. Jakarta... PT Grasindo... JH.. Maarif.ter Company. Ivancevich.. . dan DonneBly. and Spacie.. (2000).l. Manajemen... Haryanto... A Force for change. H. (2003). Gibson. Fungsi-Fungsi Pemerintahan.... London. Cetakan Kesembilan. Jakarta. The E ssence of L eadership.. Lembaga Administrasi Negara. .. 1995. V isi A dministrasi. Locke. Edwin A... (1990). Jakarta. (1997).. Mileham. Mustopadidjaja. . BPFE.. Jakarta.Dunn. D. . Yogyakarta.. (2004).. and Association. Syamsul (2003).... (1952). Vol. Pok ok -Pok ok A nali. Bandung. (1998). Free Press... The Four Keys to Leading.... A dministrasi Birok rasi dan Pelayanan Publik .. William N.. L. Organisasi: Perilak u.. Cetakan Pertama.. Paradigma-Paradigma Pembangunan.(2003).... Tim Studi Pengembangan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (2000).. HT. Cetakan Kesatu. Editor Material). Jurnal Program Magister STIA-LAN........... dkk.SD. Tjahya. (1996).... Fokus Media kerjasama dengan Pusat kajian Pemerintahan STPDN. Yogyakarta. Public Policy: Pengertian Pok ok Untuk Memahami dan A nalisa Kebijak an Pemerintah... 1 No. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. Freeman.... Manajemen Pemerintahan Baru.... C.. J. Bandung....... dan Gilbert....... A Simon & Schur......(2001).. . Handoko.. Supriatna.... LAN RI. Ibrahim. Public Policy A nalysis: A n Introduction (Indonesian Edition).. Nimas Multima... Gadjah Mada University Press. New Jersy)... Jakarta. Strategi Peningk atan Kompetensi A paratur Guna Mengantisipasi Kebutuhan Sek tor Pelayanan Publik (Orasi Ilmiah Wisuda XXII/ 2003 STIA LAN).. Jakarta. dan Riches.. Bandung.. New York....

. DRS......(2005)... M..... Statistik Indonesia. M.. YAZID ISMAIL... akar-}a.. BELANTI BARAT V NO....... 0751-7052463 PADANG.Sc JL. 25136 SUMATERA BARAT . 14 TELP.. Badan Pusat Statistik... KEPADA YTH.

This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie. . The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.com.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful