P. 1
“Budidaya Tanaman Pisang (Musa sp.) dan Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa L.) secara Kultur Jaringan In Vitro”

“Budidaya Tanaman Pisang (Musa sp.) dan Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa L.) secara Kultur Jaringan In Vitro”

|Views: 199|Likes:
Published by n u r m a
stifar-riau
stifar-riau

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: n u r m a on May 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2014

pdf

text

original

Dewasa ini penggunaan obat herbal cenderung terus meningkat, baik di negara
yang sedang berkembang maupun di negara-negara maju. Peningkatan penggunaan
obat herbal ini mempunyai dua dimensi korelatif yaitu aspek medik terkait dengan
penggunaannya yang sangat luas diseluruh dunia dan aspek ekonomi terkait dengan
nilai tambah yang mempunyai makna pada perekonomian masyarakat.
Banyak orang yang telah menyadari efek samping yang ditimbulkan obat-obat
sintetik, terutama bila digunakan dalam jangka waktu yang lama. Sehingga
masyarakat kembali dengan menggunakan obat tradisional yang merupakan warisan
nenek moyang. Jika dilihat prospek ke depan saat ini membudidayakan tanaman obat
hingga memproduksi berbagai olahan produk seperti jamu, bahan makanan hingga
kosmetika tradisional sangat baik dan cukup menjanjikan.
Kegiatan identifikasi tanaman perlu diperhatikan dengan seksama karena pada
kegiatan ini akan diketahui jenis atau spesies dari tanaman. Selain itu dalam hal
budidaya tanaman sangat berpengaruh terhadap khasiat atau kualitas dari produk
tanaman yang diperoleh dan kuantitas produk yang dihasilkan. Jika penanganan pada
saat panen dan pasca panen hingga pada pengolahannya tidak benar maka kualitas
produk yang dihasilkan kurang berkhasiat atau kemungkinan juga dapat menimbulkan
racun apabila dikonsumsi tidak sesuai dosis.
Negara Indonesia berada didaerah tropis yang banyak keanekaragaman tanaman
yang ada di Indonesia. Berbagai macam tanaman dapat dimanfaatkan sebagai bahan
pangan maupun bahan obat. Salah satu tanaman yang dapat dijadikan bahan obat dan
dihidangkan yaitu tanaman rosella merah yang dalam bahasa latin Hibiscus sabdariffa
L. dan Pisang (Musa sp.) merupakan salah satu jenis buah tropika yang mempunyai
potensi cukup tinggi untuk dikelola secara intensif dengan berorientasi agribisnis,
karena telah menjadi usaha dagang eksport dan import di pasar internasional
(Rukmana 1999).

Kultur Jaringan │2012

3

Namun demikian produksi pisang cenderung turun dari tahun ketahun,
penurunan produksi tersebut terutama disebabkanoleh serangan hama dan penyakit.
Salah satu penyebab turunnya produksi pisang adalah akibat penyakit layu darah yang
disebabkan oleh phytotype IV Ralstonia solanacearum (Fegan & Prior 2005).
Tanaman rosella merah memberikan banyak manfaat dibidang kesehatan. Produk
hasil olahan rosella merah ini juga beraneka ragam sehingga dapat memikat
masyarakat yang biasa mengkonsumsi produk herbal. Namun pada kenyataannya
pembudidayaan rosella merah di Indonesia masih terpusat di daerah-daerah tertentu
padahal pembudidayaannya mudah dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan pengenalan
atau sosialisasi pada pembudidayaan sekaligus manfaat senyawa metabolis sekunder
dari rosella merah sebagai bahan pangan baru dan apotik hidup.
Ketersediaan bibit pisang bermutu merupakan syarat utama agribisnis pisang,
disamping aspek budidaya maupun penanganan pra dan pasca panen yang baik
(Purnomo, 1996). Sampai saat ini pembibitan tanaman pisang yang diakui paling
mutakhir adalah perbanyakan in vitro atau kultur jaringan melalui kultur meristem,
dimana teknik ini telah dilakukan secara besar-besaran oleh produsen-produsen bibit
pisang di Indonesia (Sutanto, 1996).
Teknik kultur in vitro merupakan alternatif untuk menghasilkan bibit pisang
yang bermutu dalam jumlah banyak, seragam dan dalam waktu singkat (Meldia, dkk,
1996). Chadijah dan Rukmana (1997) telah melakukan perbanyakan terhadap
beberapa jenis tanaman pisang di Indonesia dan menggunakan meristem tunas sebagai
sumber eksplan. Jenis pisang yang berhasil menjadi planlet hanya jenis pisang kepok
dan pisang Cavendis, sedangkan pisang ambon kuning belum berhasil
dikembangkan. Perbanyakan tanaman dengan teknik kultur in vitro memiliki banyak
kelebihan, yaitu tanaman dapat diperbanyak setiap saat tanpa tergantung musim, daya
multiplikasi yang tinggi dan membutuhkan ruang yang relatif kecil untuk menyimpan
tanaman (Wiendi, dkk, 1995). Penelitian tanaman pisang dengan teknik ini yang telah
dilaporkan antara dari dengan kultur meristem sebagai eksplan untuk pembentukan
tunas adventif (Djoni dan Soepardi, 1998).

Kultur Jaringan │2012

4

Pada perbanyakan tanaman secara in vitro, hal yang penting untuk diperhatikan
adalah media tumbuh. Media tumbuh untuk masing-masing tanaman berbeda-beda
komposisinya, tetapi pada dasarnya terdiri dari media dasar anorganik (unsur hara
makro dan mikro), zat pengatur tumbuh, senyawa organik, gula dan bahan tambahan
beserta bahan pemadat (Purnomo, 1996).
Penelitian-penelitian kultur in vitro telah mengarah ke efesiensi biaya, dimana
telah dicoba untuk mengganti bahan penyusun media dengan bahan-bahan lain yang
lebih murah, yaitu mengganti bahan kimia penyusun medium Murashige dan Skoog
(MS), sukrosa dan bacto agar dengan pupuk majemuk seperti Hyponex, gula dan
agar-agar swallow (Sutanto, 1996). Gula dan agar merupakan komponen-komponen
penyusun dari medium sederhana yang digunakan untuk tumbuh suatu eksplan yang
sudah disterilisasi. Media sederhana ini harganya cukup murah dan terjangkau di
kalangan masyarakat (Purnomo, 1996). Komponen-komponen penyusun media
sederhana ini adalah gula putih, agar dan aquades (Supriadi, 2003).

Kultur Jaringan │2012

5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->