P. 1
Etika Berbahasa Cerminan Keramahan Budaya Indonesia

Etika Berbahasa Cerminan Keramahan Budaya Indonesia

|Views: 26|Likes:
Sosiolinguistik
Sosiolinguistik

More info:

Published by: Ingeu Widyatari Heriana on May 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2013

pdf

text

original

Etika Berbahasa Cerminan “Keramahan” Budaya Indonesia

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiolinguistik Dosen Pembina Hardiati, M.Hum Oleh Ingeu Widyatari Heriana 180110110055

Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

2013

Etika Berbahasa Cerminan “Keramahan” Budaya Indonesia
Siapa takhidup dengan bahasa? Maka siapa takhidup dengan budaya? Kedua pertanyaan tersebut merupakan kausalitas. Bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling memengaruhi. Bagaimana bisa bahasa dan budaya dikatakan saling memengaruhi? Bahasa dan budaya memiliki hakikat yang bersifat saling ketergantungan antarkeduanya. Keduanya termasuk ke dalam kategori kata benda yang tercakup pada nominal pula, Kebudayaan. Kebudayaan memiliki isi terdiri dari tujuh unsur kebudayaan universal, artinya ketujuh unsur tersebut terdapat dalam kehidupan masyarakat di belahan dunia mana pun. Ketujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal itu antara lain, bahasa, sistem teknologi, system mata pencaharian, organisasi sosial, system pengetahuan, religi, dan kesenian. Bahasa telah disebutkan pertama. Maka, bahasalah yang memengaruhi keenam unsur lainnya. Berarti sebagian besar budaya dipengaruhi oleh bahasa. Namun, Kebudayaan merupakan wadah dari segala perilaku, sikap, dan tindak yang kemudian menjadi kebiasaan dan tradisi masyarakat. Untuk terjadi hal-hal yang demikian, masyarakat sebagai penggerak kebudayaan dalam zaman membutuhkan alat komunikasi. Masyarakat menetapkan sebuah konsep baik berupa verbal mau pun nonverbal menggunakan bahasa. Maka, jelas benar juga bahwa budaya memengaruhi budaya karena bahasa sendiri lahir dari budaya. Budaya yang di dalamnya terdapat kebiasaan dan tradisi berperilaku, bersikap, dan bertindak membawa bahasa terikat pada aturan-aturan akibat kebiasaan dan tradisi tadi. Ada

sistem tindak laku berbahasa menurut norma-norma yang ada dalam budaya yang disebut etika berbahasa atau tata cara berbahasa (Inggris: linguistics etiquette, Geertz, 1967). Etika berbahasa berkaitan erat dengan pemilihan kode bahasa, norma-norma sosial, dan sistem budaya yang berlaku dalam suatu masyarakat (Chaer dan Agustina, 2010: 172). Menurut Abdul Chaer dan Leoni Agustina, etika berbahasa akan mengatur berlangsungnya interaksi (Sosiolinguistik, 2010: 172), antara lain pertama, apa yang harus dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu kepada seorang partisipan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat. Kedua, Ragam bahasa apa yang paling wajar digunakan dalam situasi sosiolinguistik dan budaya tertentu. Ketiga, Kapan dan bagaimana menggunakan giliran bicara dan menyela pembicaraan orang lain. Keempat, kapan kita harus diam. Kelima, bagaimana kualitas suara dan sikap fisik kita dalam berbicara. Keteraturan Dari kelima keteraturan tersebut dibahas tiga karena paling dominan dalam kehidupan sehari-hari kini. Pertama, apa yang harus dikatakan pada waktu dan keadaan tertentu kepada seorang partisipan tertentu berkenaan dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat. Kasusnya dalam kebudayaan berbahasa Indonesia terjadi penggunaan ragam bahasa daerah atau bahasa ibu (bahasa pertama, B1). Contohnya, dalam bahasa Sunda dan Jawa mengenal undak usuk. Bahasa sunda memiliki undak usuk berdasarkan umur, yakni halus ( basa loma), biasa (basa lemes keur ka diri sorangan), dan kasar (keur ka batur). Kata tuang, kulem, mastaka, dan parantos digunakan untuk berbicara dengan orang tua atau orang yang umurnya lebih tua. Kata neda, mondok, sirah, dan rengsé digunakan untuk berbicara dengan teman, rekan, kerabat yang umurnya lebih muda. Kata dahar, saré, hulu, dan anggeus (eunggeus, geus) digunakan untuk berbicara dengan orang seumuruan, teman, rekan, dan kerabat sebaya sebagai tanda keakraban dan kedekatan. Tiap-tiap kata tersebut memiliki arti makan, tidur, kepala, dan sudah.

Berhubungan dengan undak usuk, Uhlenbeck (1970) membagi bahasa Jawa ke dalam tiga variasi bahasa Jawa, yaitu Krama, madya, dan ngoko. Kemudian bahasa-bahasa demikian dibagi lagi menjadi muda krama, kramantara, dan wreda krama madyangoko, madyantara, dan madya krama; ngoko sopan dan ngoko andhap. Clifford Geertz (1976:168) membagi ke dalam dua variasi, yaitu krama dan ngoko. Krama dibagi lagi menjadi krama inggil, krama biasa, dan krama madya. Ngoko dibagi lagi menjadi ngoko madya, ngoko biasa, dan ngoko sae. Dari ragam bahasa di atas ditemukan batasan bahwa Dalam bahasa Jawa Kuntjaraningrat (1967:245) membagi masyarakat Jawa empat tingkat berdasarkan tingkat sosial masyarakat dalam ranah kebangsawanan, yakni wong cilik, wong saudagar, priyai, dan ndara. Clifford Geertz (dalam Pride dan Holmes (ed.) 1976) membagi tiga tingkat, priyai, bukan priyai tetapi berpendidikan dan tinggal di kota, dan petani dan orang kota yang tidak berpendidikan. Dari ragam bahasa di atas dapat ditemukan batasan-batasan berbahasa dalam masyarakat. Sesama orang yang umurnya lebih tua menggunakan ragam bahasa yang sama, namun orang yang umurnya lebih tua dengan yang umurnya lebih muda atau sebaliknya berbeda. Bahasa yang digunakan priyayi tidak digunakan oleh golongan petani dan orang yang berpendidikan. Bahasa yang digunakan golongan bangsawan berbeda atau bahkan tidak digunakan oleh rakyat kecil. Hal tersebut menunjuukkan bahwa masyarakat Indonesia menghormati orang yang umurnya lebih tua atau yang lebih tinggi derajatnya dan menghargai orang yang umurnya lebih muda atau derajatnya lebih rendah. Masyarakat Indonesai demikian mencerminkan keramahan dalam

mengakui kedirian seseorang. Situasi formal atau tidak formal, akrab atau tidak akrab, gender, atau pun kenal atau tidak. Kedua, ragam bahasa yang paling wajar digunakan dalam situasi sosiolinguistik dan budaya tertentu. Kasusnya dalam tindak tutur dan budaya yang tidak sama dengan budaya luar melahirkan pola tindak tutur yang tidak sama. Contohnya, saat ada orang memuji “Wah, hari ini kau cantik sekali dengan baju itu!” Orang Indonesia terbiasa menjawab “Oh, jadi hari ini saja aku cantiknya dan karena baju yang kukenakan?” Ada lagi contoh seseorang berkunjung ke rumah kerabatnya sambil memuji “Rumahmu besar sekali dan megah ya” lawan biacara akan menjawab “Ah, tidak ini hanya rumah biasa bangunan kampung sederhana, kok.” Berbeda dengan budaya luar, Inggris, misalnya seseorang memuji “Wah, hari ini kamu cantik sekali dengan gaun itu” atau “Rumahmu besar dan indah, ya” lawan bicara akan mengucapkan “Terima kasih”. Hal tersebut menunjukkan budaya kita yang bersikap merendah. Masyarakat merasa ada hal-hal yang lebih baik dan jauh memiliki nilai di atas. Perasaan merendah muncul karena mengetahui seseorang yang diajak bicara mengenai status sosialnya, lingkungan sekeliling saat terjadi interaksi, dan hubungan kekerabatan. Sikap-sikap demikian mencerminkan keramahan budaya Indonesia dalam menerima pujian. Budaya kita dalam menanggapi pernyataan cenderung menggunakan bahasa kias. Informasi disampaikan secara tidak langsung atau neka-neka. Ketiga, kualitas suara dan sikap fisik saat berbicara. Dalam hal ini ada dua gerak-gerik fisik dalam etika berbahasa, yaitu Kinesik dan proksimik. Kinesik adalah berupa gerakan mata, tangan bahu, kepala, perubahan ekspresi wajah, posisi kaki, dan sebagainya. Contohnya, budaya Indonesia memandang mata lama-lama, sering, dan terlalu fokus dianggap tidak sopan,

mengancam, dan tidak berbudaya. Di Amerika justru memandang mata dan bibir lawan bicara berarti memperhatikan saksama ujaran. Bagi orang Indonesia gerakan kepala ke bawah berate “Ya” dan ke kanan-kiri atau menggelang berarti “tidak”. Orang Yunani gerakan ke bawah “Ya” ke atas “tidak”. Keadaan gerakan ke atas justru bagi budaya Indonesia mencerminkan kesombongan, sikap angkuh, dan tidak sopan. Hal tersebut menunjukkan kerendahan, kesopanan, dan kelemahlembutan yang mencerminkan keramahan menanggapi lawan bicara. Mengenai suara berkaitan dengan paralinguistik, budaya Indonesia tidak mengenal segmental atau prosodi. Bahasa Indonesia tidak menggunakan tekanan, yaitu keras atau nyaringnya bunyi dan nada, yaitu tinggi dan rendahnya bunyi. Hanya ada kuantitas, yaitu panjang pendek bunyi dan jeda, yaitu, pengurutan, pemberhentian, atau pemotongan agar mudah dipahami. Orang Cina memiliki ujaran berbeda bahwa pelafalan sama Si atau Shi, namun dengan intonasi nada berbeda. /si/ datar berarti hutang, /shi/ meninggi sepuluh, /si/ merendah lalu meninggi sejarah, dan /si/ merendah pasar. Bahasa Filiphina pelafalan sama, namun dengan intonasi tekanan berbeda pada dāga berarti keris dengan dagā tanah. Letak kekerasan
dan kenyaringan pelafalan fonem ada.

Hal tersebut menunjukkan statisnya intonasi dalam berujar. Tidak terjadi kesalahpahaman dalam berujar biasa dan dengan berekspresi. Budaya Indonesia mencerminkan keramahan
menghindari nada dan tekanan agar tidak menyinggung lawan bicara. Lain halnya dengan budaya Batak yang berbicara dengan volume suara yang lebih besar dengan budaya daerah lain karena lingkungan tempat mereka luas sehingga untuk berbicara satu sama lain terpisahkan jarak cukup jauh.

Proksimik adalah jarak tubuh dalam berkomunikasi atau bercakap-cakap. Budaya Indonesia berbicara dengan orang cenderung tidak mengukur jarak. Dengan kerabat berbicara

bersebelahan, berhadapan atau sambil berjalan terasa dekat dan santai. Walaupun dengan orang yang belum dikenal tidak menggunakan tolak ukur kaki. Orang Amerika Utara antar orang yang belum saling mengenal berjarak empat kaki, Bila yang satu mendekat, yang satu lagi akan mnejauh. Orang Amerika Latin berjarak tiga kaki. Bila Utara dan Latin berbicara keduanya merasa canggung, maka solusinya menghadirkan meja atau bangku sebagai penghalang. Orang Amerika utara membuat aturan jarak, jarak satu kaki atau kurang berarti membicarakan rahasia, dua atau tiga kaki berarti persoalan pribadi, empat sampai lima kaki persoalan impersonal, bahkan sepuluh sampai dua puluh lebih hanya ucapan selamat. Orang Indonesia menghindari aturan jarak tersebut untuk menyapa, menerima, dan menanggapi ramah orang lawan bicara. Budaya Indonesia menghindari kesalahpahaman agar tidak menyinggung dan memberikan rasa nyaman terhadap lawan bicara. Sekalipun dengan orang yang belum dikenal tidak sampai lebih dari lima atau bahkan berpuluh-puluh kaki jaraknya. Apabila berada pada jarak jauh akan meningkatkan volume suara atau mendekatkan jarak agar lawan bicara mudah menerima informasi. Budaya Indonesia yang ramah mencerminkan kesederhanaan. Gramatikal bahasa Indonesia tidak mengenal sistem kala (tenses). Tidak seperti bahasa Inggris, Perancis, dan Belanda terdapat enam belas hingga delapan belas tenses. Jumlah system kala demikian menggambarkan budaya masyarakatnya yang terikat dengan waktu. Bisa dikatakan tidak ada toleransi untuk satu waktu terhadap waktu yang lain sudah memiliki aturan dan jatah masing-masing. Berbeda dengan budaya Indonesia yang mentolelir waktu. Maka, dalam lelucon kasus bahasa dan budaya ini muncul istilah “jam karet” di Indonesia.

Budaya Indonesia yang bersifat toleransi demikian mencerminkan keramahan terhadap kesempatan yang dapat dimiliki masyarakat. Waktu mengalir begitu saja tidak rigid diperhatikan dan dipatok. Sikap keramahan ini terwujud dalam masyarakat yang berbahasa mengalir begitu saja tanpa ada sekat kala seperti waktu yang maju begitu saja. Budaya Indonesia mempersilakan waktu berjalan karena berkomunikasi pun tidak mengambinghitamkan waktu. Berkegiatan yang disertai dengan komunikasi memudahkan terjadinya dua kasus sekaligus tanpa terbebani konsep waktu. Maka, penggunaan konsep waktu pun minim kesalahan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->