P. 1
Pengertianhernia Hernia

Pengertianhernia Hernia

|Views: 31|Likes:
Published by Isti Yanuari
pengertian hernia
pengertian hernia

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Isti Yanuari on May 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/28/2013

pdf

text

original

A.

DEFINISI
1. hernia merupakan penonjolan isi rongga melalui defek atau bagian lemah dari dingding rongga bersangkutan ,berdasarkan terjadinya ,hernia di bagi atas hernia bawaan atau kongenital dan hernia dapatan atau akuisita, berdasarkan letaknya hernia di beri nama sesuai dengan lokasi anatominya.(medikal bedah) 2. pengertian hernia adalah prostrusi dari organ melalui lubang defektif yang didapat atau konginetal pada dinding rongga yang secara normal berisi organ. kebanyakan hernia terjadi di suatu tempat dari rongga abdomen dan melibatkan usus. lengkung usus didorong melalui lubang defektif sebagai akibat dari peningkatan tekanan intra abdomen (barbara engram, hal 212, tahun 1999). 3. pengertian hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti peritoneum, lemak, usus, atau kandung kemih) memasuki defek tersebut, sehingga timbul kantong berisikan materi abnormal (dr.jan tambayong, hal. 140, tahun 2000). 4. pengertian hernia seacra umum adalah benjolan melalui titik lemah atau celah pada permukaan suatu ruang tubuh.(keperawatan anak untuk siswa spk suryanah 1996) 5. pengertian hernia menurut kamus kedokteran dorland edisi 29 adalah penonjolan gelung atau ruas organ atau jaringan melalui lubang abnormal.

B. KLASIFIKASI HERNIA
1. HERNIA INGUINALIS

Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau didapat hernia dapat dijumpai pada segala usia dan lebih banyak pada laki – laki daripada peremuan. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembukaan pintu masuk hernia dilalui oleh kantung dan isi hernia. Selain itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang terbuka cukup lebar itu. Insidens hernia inguinalis pada bayi dan anak antara 1 – 2%. Kemungkinan terjadi hernia pada sisi kanan adalah 60%, sisi kiri 20-25% dan bilateral 15%. Kejadian hernia bilateral pada anak perempuan dibandingkan laki-laki kira-kira sama (10%) walaupun frekuensi prosesus vaginalis yang terbuka lebih tinggi pada perempuan. Anak yang pernah mengalami operasi hernia pada waktu bayi kemungkinan mempunyai 16% menderita hernia kontralateral pada usia dewasa. Insiden hernia inguinalis pada orang dewasa kira – kira 2%. Kemungkinan terjadinya hernia bilateral dari insiden

tersebut mendekati 10%Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya gumur mungkin disebabkan meningkatnya penyakit yang membuat tekanan intra abdomen meninggi dan berkurangnya kekuatan jaringan penunjang. Ketika otot perut berelaksasi, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur, pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis abdominalis berjalan lebih vertikal. Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi , kanalis inguinalis berjalan lebih mendatar dan anulus inguinalis tertutup sehinggga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan nervus iloinguinalis dan nervus iliofemoralis setelah apendektomi. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai krotum, hernia disebut herbia skrotalis. Diagnosis ditegakan atas dasar benjolan yang dapat direposisi atau tidak dapat direposisi, atas dasar tidak adanya pembatasan jelas di sebelah kranial dan hubungan ke kranial melalui anulus eksternus. Hernia ini harus dibedakan dari hidrokel atau elefantiasis skrotum. Testis yang teraba dapat dipakai sebagai pegangan untuk membedakannya. Hernia lanialis adalah hernia inguinalis lateralis yang mencapai labium mayus. Secara klinis tampak benjolan pada labium mayus yang jelas pada waktu berdiri dan mengedan dan hilang pada waku berbaring. Diagnosa banding hernia labialis adalah hernia femoralis dan kista di kanalis Nuck yang menonjol di kaudal ligmentum inguinae dan dilateral tuberkulum pubikum. Kista kanalis Nuck teraba sebai kista dengan batas jelas di sebelah kraniolateral, berlainan dengan hernia indireck dan tidak dapat direposisi. a. Hernia inguinalis medialis/ hernia direk Hernia inguinalis medialis atau hernia direk hampir selalu disebabkan oleh peninggian tekanan intrabdomen kronik dan kelemahan otot dinding trigonum hasselbach. Oleh sebab itu hernia ini umumnya terjadi bilateral, khusunya pada lelaki tua. Hernia ini jarang bahkan hampir tidak pernah, mengalami inkarserasi dan strangulasi. Mungkin terjadi hernia gelincir yang mengandung sebagian dinding kandung kemih atau kolon. Kadang ditemukan defak kecil di otot oblikus internus abdominis, pada segala usia dengan cincin yang kaku dan tajam sering menyebabkan strangulasi. Dorong apakah benjolan dapat direposisi. Setelah dapat direposisi dengan jari telunjuk atau jari kelingking pada anak cincin hernia berupa anulus inguinalis yang melebar kadang dapat diraba.

Pada hernia insipien, tonjolan hanya dapat dirasakan menyentuh ujung jari di dalam kanalis inguinalis dan tidak terlihat adanya benjolan sewaktu menangis, batuk atau mengedan. Dalam hal ini perlu dilakukan palpasi funikulus spermatikus , dengan membandingkan sisi kiri dan kanan. Kadang didapatkan tanda sarung tangan sutera. b. Hernia Inguinalis lateralis/ hernia indirek Hernia disebut lateralis karena menonjol dari perut di lateral pembulus epigastrika inferior, dan disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran yaitu anulus dan kanalis inguinalis berbeda dengan hernia medialis yang langsung enonjol melalui segitiga Hesselbach dan disebut sebagai hernia direk. Pada pemeriksaan hernia lateralis, akan tampak tonjolan berbentuk lonjong, sedangkan hernia medialis berbentuk tonjolan bulat. Pada bayi dan anak – anak, hernia lateralis disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosessus vaginalis peritoneum sebagai akibat proses turunnya testis ke skrotum. Hernia gelincir dapat terjadi di sebelah kanan atau kiri, hernia yang dikanan biasanya berisi sekum dan sebagaian kolon asenden sedangkan yang di kiri berisi sebagaian kolon desendens.

2. HERNIA FEMORALIS Hernia femoralis umumnya dijumpai pada perempuan tua. Insidensnya pada perempuan kira-kira 4 kali lelaki. Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha yang muncul terutama pada waktu melakukan kegiatan yang menaikan tekanan intraabdomen, seperti mengangkat barang atau batuk. Benjolan ini hilang pada waktu berbaring. Sering penderita datang ke dokter atau rumah sakit dengan hernia strangulata. Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan lunak di lipat paha, di bawah ligamentum pubikum. Tidak jarang yang lebih jelas

adalah tanda sumbatan usus, sedangkan benjolan di paha tidak ditemukan, karena kecilnya atau penderita gemuk.Pintu masuk hernia femoralis adalah anulus demoralis. Selanjutnya isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong sejajar dengan vena femoralis sepanjang kurang lebih 2 cm dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha.

3. HERNIA UMBILIKALIS Hernia umbilikalis merupakan hernia konginetal pada umbilikus yang hanya tertutup peritonuem dan kulit akibat penutupan yang inkomplet dan tidak adanya fasia umbilikalis. Hernia ini terdapat kira-kira 20% bayi dan angka lebih tinggi lagi pada bayi prematur. Tidka ada perbedaan antara angka kejadian antara bayi lelaki dan perempuan. a. Gejala Klinis Hernia umbilikalis merupakan penonjolan yang mengandung isi rongga perut yang masuk melalui cincin umbilikus, paling sering berisi omentum, bisa juga berisi usus halus dan usus besar, akibat peninggian tekanan intraabdomen, biasanya ketika bayi menangis. Hernia umumnya tidak menimbulkan nyeri dan sangat jarang terjadi inkeserasi.

C. ETIOLOGI HERNIA
a. Konginetal atau cacat bawaan b. Meningkatnya tekanan intra abdomen karena kehamilan, obesitas, mengangkat benda yang berat dan tekanan karena batuk c. Kelemahan dinding otot perut akibat pekerjaan angkat berat yang dilakukan dalam jangka lama d. Usia Pada manusia usia lanjut jaringan penyangga makin melemah Menurut Black,J dkk (2002).Medical Surgical Nursing, edisi 4. Pensylvania: W.B Saunders: e. etiologi hernia inguinalis Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau di dapat. Hernia dapat di jumpai pada segala usia,dan lebih banyak pada laki-laki dan perempuan. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia di anulus internus yang cukup lebarsehingga dapat di lalui oleh kantong dan isi hernia. Selain itu,di perlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar itu.

Pada orang sehat,ada 3 mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis yaitu: 1. Kanalis inguinalis yang berjalan miring 2. Struktur otot oblikus internus abdominalis yang menutup anulus inguinalis internus yang berkontraksi 3. Fasia tranversa kuat yang menutupi trigonum hesselblachyang umum nya tidak berotot. Gangguan mekanisme ini menyebabkan hernia. Faktor yang berperan adalah adanya prosesus vaginalis yang terbuka,peninggian tekanan di dalam rongga perut dan kelemahan otot dinding dinding karena usia. Testis turun mengikuti prosesusvaginalis. Pad aneonatus,kurang lebih 99% prosesus vaginalis tetap terbuka,sedangkan pada bayi umur satu tahun ,sekitar 30% prosesus vaginalis belum tertutup.tetapi pada usia satu tahun kurang dari 10% anak yang mengalami prosesus vaginalis paten mengidap hernia. Pada lebih populasi anak ,dapat di jumpai prosesus vaginalis paten kontralateral,tetapi insiden hernia tidak lebih dari 20%. Dapat di simpulkan prosesus vaginalis bukan merupakan penyebab tunggal hernia ,tetapi di perlukan faktor lain,seperti anulus inguinalis yang cukup besar. Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik ,seperti batuk kronik,hipertrofi prostat,konstipasi ,dan asites,sering di sertai hernia inguinalis.Ketika otot dinding perut berelaksasi ,bagian yang membatasi anulus internus internus turut kendur. Pada keadaan itu ,keadaan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan lebih vertyikal. Sebaliknya jika otot dinding perut berkontraksi ,kanalis inguinalis berjalan lebih mendatar dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terajadi akibat kerusakan nervus ilioinguinalis dan nervus iliofemoralis setelah apedektomi.

D. PATOFLOW

E. MANIFESTASI KLINIS
Umumnya pasien mengatakan turun berok, burut, atau kelingsir, atau mengatakan ada benjolan di selangkangan / kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang waktu tidur, dan bila menangis mengejan atau mengangkat benda berat atau bila pasien berdiri dapat timbul kembali. Bila telah terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri Keadaan umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak nampak, pasien dapat disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri. Bila ada hernia maka akan terdapat benjolan. Bila memang sudah tampak benjolan, harus diperiksakan apakah benjolan tersebut dapat dimasukan kembali. Pasien diminta berbaring bernafas dengan mulut untuk mengurangi tekanan intraabdominal, lalu skrotum diangkat perlahan-lahan. Diagnosis hernia pada umumnya sudah dapat ditegakan dengan pemeriksaan klinis yang teliti. Keadaan cincin hernia juga perlu diperiksa. Melalui sktorum jari telunjuk dimasukan aras lateral dari tuberkulum pubikum, ikuti fasikulus spermatikus samapai ke anulus inguinalis internus. Pada keadaan normal jari tangan tidak dapat masuk. Pasien diminta mengejan merasakan apakah ada masa yang menyentuh tangan. Bila masa terbut menyentuh ujung jari maka itu adalah hernia inguinalis lateralis. Sebagian besar hernia adalah asimtomatik, dan kebnyakan ditemukan pada pemreiksaan fisik rutin dengan palpasi benjolan pada anulus inguinalis duperfisialis atau suatu kantong setinggi anulus inguinalis profundu. Yang terakhir dibuat terasa lebih menonjol bila pasien batuk. Salah satu tanda pertama hernia adalah adanya masa dalam daerah inguinalis manapun atau bagian atas skrotum. Dengan berlalunya waktu, sejumlah hernia turum ke dalam skrotum sehingga skrotum membesar. Pasien hernia sering mengeluh tidak nyaman dan pegal pada daerah ini yang dapat dihilangkan dengan reposisi manual hernia kedalam kavitas pentonealis. Tetapi dengan berdiri atau terutama denngan gerak badan, maka biasanya hernia muncul lagi. Keluhan yang dirasakan dapat dari yang ringan hingga yang berat. Karena pada dasarnya hernia merupakan isi rongga perut yang keluar melalui suatu celah di dinding perut, keluhan berat yang timbul disebabkan karena terjepitnya isi perut tersebut pada celah yang dilaluinya (yang dikenla sebagai strangulasi). Jika masih ringan, penonjolan yang ada dapat hilang timbul. Benjolan yang ada tidak dirasakan nyeri atau hanya sedikit nyeri dan timbul

jika kita mengedan, batuk, atau mengangkat beban berat. Biasanya tonjolan dapat hilang jika kita beristirahat. Jika pada benjolan yang ada dirasakan nyeri hebat, maka perlu dipikirkan adanya penjepitan isi perut. Biasanya jenis hernia inguinalis yang lateralis yang lebih memberikan keluhan nyeri hebat dibandingkan jenis hernia inguinalis yang medialis. Terkadang, benjolan yang ada masih dapat dimasukkan kembali kedalam rongga perut dengan tangan kita sendiri, yang berarti menandakan bahwa penjepitan yang terjadi belum terlalu parah. Namun, jika penjepitan yang terjadi sudah parah, benjolan tidak dapat dimasukkan kembali, dan nyeri yang dirasakan sangatlah hebat. Nyeri dapat disertai mual dan muntah. Hal ini dapat terjadi jika sudah terjadi kematian jaringan isi perut yang terjepit tadi. Hernia strangulata merupakan suatu keadaan yang gawat, jadi perlu segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Sinar x dada: dapat memperlihatkan massa jaringan lunak pada mediastinum posterior, di belakang bayangan jantung. Dapat ditemukan batas udara/cairan pada hernia.  Penelanan barium: mampu memperlihatkan adanya herniasi. Pasien harus diperiksa pada posisi „kepala di bawah‟untuk mendemostrasikan herniasi yang kecil dengan atau tanpa disertai refluks gastroesofageal. (lecture notes radiologi pradip r. Patel ,2005,jakarta.  Tindakan bassini cukup sering digunakan untuk hernia indirek yang jelas dengan merapatkan conjoined tendon muskulus transversus abdominis dan oblikus internus ke ligamentum inguinalc (poupart)  Tindakan holsted juga cukup efektif. Tetapi untuk hernia indirek yang besar, bisa diindikasikan operasi McVay dengan penjahitan conjoined tendon ke ligamentum cooper. Untuk hernia inguinalis direk, khususnya yang besar dan hernia berulang pada lipat paha,maka operasi McVay umumnya lebih disukai. Beberapa ahli menganjurkan pendekatan praperitoneum; dalam tindakan ini daerah inguinalis dipaparkan antara fasia transversalis dan peritoneum; dalam tindakan ini daerah inguinalis dipaparkan antara fasia transversalis dan peritoneum oleh insisi rendah pada abdomen. Pendekatan ini tak sepopuler tindakan lain.

Tindakan perbaikan schouldice juga digunakan dalam tindakan ini, insisi dibuat pada lipatan paha dan opeerasi ditandai oleh dua komponen primer, yang pertama melibatkan teknik yang digunakan pada annulus inguinalis indirek. Yang kedua mempertimbangkan penggunaan dinding inguinalis posterior serta merupakan tujuan utama dalam pengobatan hernia inguinalis direk. Karena ini merupakan operasi tepadu, maka dapat diterapkan untuk pengobatan hernia inguinalis direk. Penutupan dicapai dengan jahitan monofilamen kontinyu menggunakan kawat baja tahan karat. Tidak digunakan materi prostesis.

G. KOMPLIKASI
Komplikasi hernia tergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia .isi hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada hernia hernia ireponibel. Hal inni dapat terjadi kalau isi hernia terlalu besar, misalnya terdiri atas omentum, organ organ ekstraperitoneal atau merupakan hernia akreta.Disini tidak timbul gejala klinis kecuali berupa benjolan.Isi hernia dapat pula tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia inkaserata yang menimbulkan gejala obstruksi usus yang sederhana. Sumbatan dapat terjadi total atau parsial seperti pada hernia richter. Bila cincin hernia sempit, kurang elastis, atau lebih kaku seperti pada hernia femoralis dan hernia obturatoria, lebih sering terjadi jepitan parsial. Jarang terjadi inkarserasi retrograd, yaitu dua segmen usus terperangkap didalam kantong kantong hernia dan satu degmen lainnya berada dalam rongga peritoneum seperti huruf W. Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaan, terjadi bendungan vena sehingga terjadi odem organ atau struktur didalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia.Timbulnya odem menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringan terganggu (strangulasi). Isi hernia menjadi nekrossis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdirri atas usus, dapat terjadi perforasi yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel, atau peritonitis jika terjadi hubungan dengan rongga perut. Gambaran klinis hernia inkaserata yang berisi usus dimulai dengan gambaran obstruksi usus disertai gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa. Bila telah terjadi strangulasi karena gangguan vaskularisasi, akan terjadi ganggren sehingga gambaran kliis menjadi toksik, suhu tubuh meningkat,dan terdapat leukositosis. Penderita mengeluh nyeri lebih hebat di tempat hernia. Nyeri akan menetap karena rangsangan peritoneal.

H. PENATALAKSANAAN a. Tes diagnostik Pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan darah lengkap (Haemoglobin, Haematokrit, Leukosit, Trombosit, Masa pendarahan, Masa pembekuan) b. Terapi Hernia dapat diatasi dengan cara Konservatif dan Tindakan Pembedahan atau Operatif. c. Tindakan Konservatif Dilakukan dengan cara klien dibaringkan dengan kaki lebih tinggi kemudian di daerah lipat paha diberi bantal pasir dengan tujuan untuk menekan agar hernia bisa masuk kembali. Pada saat dilakukan tindakan klien dalam keadaan bedrest. Cara lain yaitu dengan membaringkan klien dengan kaki diangkat atau berbaring dalam bak berisi air hangat dan mendorong massa hernia dengan lembut ke arah abdomen. d. Tindakan Operatif Pembedahan sering dilakukan untuk hernia yang besar atau resiko tinggi terjadinya incarcerated, obstruksi dan strangulated. Tindakan pembedahannya disebut Herniotomy. Herniotomy adalah operasi untuk menyembuhkan hernia dengan mengembalikan isi kantong hernia ke dalam posisinya yang normal dan mengangkat kantong hernia tersebut. Herniorrhaphy yaitu pembedahan dengan mengangkat suatu ligation dan pemindahan dari kantong hernia dan mereduksi atau mengurangi (memotong) ukuran dari cincin inguinal. Hernioplasthy bertujuan memberikan penguatan pada area/daerah yang lemah dengan fascia klien sendiri atau dengan bahan sintetis mesh. Ketika hernia yang telah menjepit (incarcerated) secara spontan telah berkurang, pembedahan dapat dilakukan termasuk menyelidiki abdomen untuk menentukan vitabilitas dari usus kecil. Ini dapat dilakukan dalam insisi yang sama atau dengan irisan vertikal yang terpisah. Terdapat bermacam-macam variasi dalam teknik pembedahan tergantung pada lokasi, ukuran dan jumlah jaringan lunak. Anastesi yang dipakai pada

umumnya anastesi lokal bila hernianya sangat besar atau terjadi hernia strangulated maka dipakai anastesi umum. Pemasangan NGT dapat digunakan untuk mencegah terjadinya muntah dandistensi abdomen pada post operasi hernia umbilicalis atau incisional. NGT dapat juga

mencegah terjadinya kembung post operasi sehingga berakibat peregangan pada luka jahitan. e. Perawatan Pre Operasi Prosedur pembedahan sistem pencernaan biasanya ada yang direncanakan (elektif) dan mendadak (cito). Apabila sudah direncanakan klien diberikan waktu untuk mempersiapkan keadaan jasmani dan psikososial. jasmani klien pembedahan Dukungan psikososial dan

sangat penting dalam ketentuan pre operatif. Sebelum dilakukan klien memiliki waktu untuk mengatasi periode nyeri dan

ketidaknyamanan. Persiapan mental dan fisik sehari sebelum operasi: 1). Persiapan Mental Klien yang akan dioperasi biasanya menjadi agak gelisah dan takut. Klien tidak mau berbicara dan tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, tapi berusaha mengalihkan perhatiannya pada objek lain. Atau sebaliknya dia bergerak terusmenerus dan tidak bisa tidur. Klien sebaiknya diberitahu bahwa selama dioperasi dia tidak akan merasa sakit karena ahli anastesi (bius) akan selalu menemaninya dan berusaha agar selama operasi berlangsung klien tidak akan merasakan sakit seperti yang dibayangkan. Beritahu pula bahwa sebelum operasi dimulai klien akan dianastesi umum, lumbal atau lokal. 2). Persiapan Fisik (a) Makanan: klien yang akan dioperasi diberi makanan yang berkadar lemak rendah, tetapi tinggi karbohidrat, protein, vitamin dan kalori. Untuk

mempertahankan masuknya makanan di dalam tubuh sampai saat operasi tiba dan segera setelah operasi, klien perlu diberi makanan secara parenteral atau disebut juga diinfus. Klien harus puasa 12-18 jam sebelum operasi dimulai. (b) Lavamen/Klisma dilakukan untuk mengosongkan usus agar tidak

mengeluarkan feces di meja operasi. (c) Kebersihan mulut: sebelum operasi mulut harus dibersihkan dan gigi disikat untuk mencegah terjadinya infeksi. (d) Mandi: sebelum operasi klien harus mandi, kuku disikat dan cat kuku dihapus agar ahli anastesi dapat melihat perubahan warna kuku dengan jelas. (e) Daerah yang akan dioperasi dicukur, tempat dan luasnya daerah yang dicukur sesuai dengan jenis operasi yang akan dilakukan.

(f) Istirahat dan tidur: malam sebelum operasi diusahakan agar klien dapat istirahat dan tidur nyenyak. (g) Menandatangani “inform consent”. (h) Konsul dokter anastesi untuk pemberian premedikasi. Perawatan sesaat sebelum masuk ruang operasi: Persiapan fisik pada hari operasi meliputi pemeriksaan tanda-tanda vital (Tekanan darah, Suhu, Nadi, Pernafasan). Bila suhu meningkat laporkan kepada dokter. Operasi yang bukan darurat bila demam, penyakit tenggorokan atau sedang haid, biasanya ditunda oleh ahli bedah atau ahli anastesi. Klien yang akan dioperasi diantar ke ruang operasi tepat pada waktunya. Pagi hari klien disuruh mandi, rambut diikat dan tidak boleh memakai jepitan rambut. Setelah rambut dirapikan, ditutup dengan kain bersih atau topi bedah. Baju klien diganti dengan baju khusus operasi. Barang-barang berharga yang dipakai, dilepaskan dan diserahkan kepada keluarganya. Sebelum dibawa ke kamar operasi, klien disuruh buang air kecil agar tidak membasahi meja operasi atau tersayat kandung kemihnya sewaktu membuka dinding perut. Bila klien tidak kencing karena takut maka perlu dipasang kateter. Intervensi dari pre operatif untuk mencegah kemungkinan infeksi post operatif. Persiapan pada pembedahan bervariasi dan persiapan para ahli bedah sebelum dilakukan operasi berada dalam kondisi aseptik. Bila operasi dilakukan secara mendadak (cito) persiapan dilakukan tidak sempurna. 1). Perawatan Post Operatif Pengkajian Observasi dilakukan saat klien tiba di ruangan, dilakukan secara

berkesinambungan oleh perawat pada 24-28 jam pertama setelah operasi. (a) Tanda-Tanda Vital Perhatian utama adalah kemungkinan shock berhubungan dengan hipovolemik dari darah dan cairan yang hilang atau penurunan dari resisten perifer total. Peningkatan sekresi kortisol dalam tubuh yang berhubungan dengan respon stress dapat membantu mempertahankan vasokontriksi dan kestabilan pembuluh darah. Tekanan darah dan tanda-tanda vital lainnya dipengaruhi oleh respon terhadap nyeri. Peningkatan suhu tubuh yang melebihi 37oC adalah normal pada hari I atau II setelah pembedahan. Setelah periode tersebut peningkatan suhu tubuh dapat mengindentifikasikan terjadinya infeksi pada saluran pernafasan dan

perdarahan pada luka. Pemeriksaan tanda-tanda vital dilakukan setiap 15-30 menit sekali bila kondisi klien belum sadar dan tanda-tanda vital belum stabil. (b) Luka Cek tanda dan gejala inflamasi seperti eritema, rasa panas pada area luka atau nyeri yang hebat Proses penyembuhan luka: 1) Respon inflamasi akut terhadap cedera: mencakup hemostasis, pelepasan histamin dan mediator lain dari sel-sel yang rusak dan migrasi sel darah putih (leukosit polimorfonuklear dan makrofag) ke tempat yang rusak tersebut. 2) Fase destruktif: pembersihan jaringan yang mati dan yang mengalami devitalisasi oleh leukosit polimorfonuklear dan makrofag. 3) Fase proliferatif: yaitu pada saat pembuluh darah baru yang diperkuat oleh jaringan ikat, menginfiltrasi luka. 4) Fase Maturasi: mencakup re-epitalisasi, kontraksi luka dan reorganisasi jaringan ikat. Faktor-faktor yang memperlambat penyembuhan luka: (a) Kurangnya suplai darah dan pengaruh hipoksia (b) Dehidrasi (c) Eksudat berlebihan (d) Turunnya temperatur (e) Jaringan nekrotik, krusta yang berlebihan dan benda asing (f) Hematoma (g) Trauma dapat berulang (h) Malnutrisi f. Intake dan Output Apabila kateter tidak digunakan, waktu dan jarak dari buang air kecil harus diukur dan dicatat. Tergantung pada jenis pembedahan dan kondisi klien, buang air kecil pertama yang terjadi pada 4-12 jam setelah operasi ini dapat mengindikasikan retensi urine. Pengeluaran urine yang sedikit dapat pula diartikan dehidrasi dan shock.

Pengeluaran yang lain harus pula diukur dan dicatat termasuk apa yang ada di dalam NGT. Intake diukur dan dicatat baik yang melalui intravena dan oral dalam beberapa hari setelah pembedahan. g. Kenyamanan

Pengkajian secara spesifik untuk menentukan apakah nyeri tersebut dari trauma pembedahan atau dari sumber kemungkinan lain yang penting. Pengkajian kebiasaan dan frekuensi pola tidur membantu dalam perencanaan kebutuhan istirahat yang sesuai. h. Pengkajian Pernafasan Pengkajian pernafasan setelah operasi membantu perawat dalam menentukan normal dan abnormalnya dari suatu pernafasan. Pengkajian sebelum dan sesudah klien batuk dan kedalaman pernafasan dapat juga membantu untuk menentukan apakah latihan tersebut efektif. i. Pengkajian Abdomen Abdomen harus dikaji sebelum operasi sama seperti pengkajian pernafasan begitu juga setelah operasi. Mendengarkan suara bising usus dapat membantu perawat

menentukan klien mulai boleh makan dan minum. j. Rehabilitasi Perawatan rehabilitasi pada klien hernia adalah bedrest. Saat timbulnya nyeri latihan teknik relaksasi yaitu dengan menarik nafas dalam. Posisi diatur senyaman mungkin untuk mengurangi nyeri. PENATALAKSANA INGUINALIS Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah di reposisi,reposisi tidak di lakukan pada hernia inguinalis strangulata,kecuali pada pasien anak.reposisi di lakukan dengan biamanual.tangan kiri memegang isi hernia sambil membentuk corang sedangkan tangan kanan mendorong ke arah cincin hernia dengan sedikit tekanan perlahan yang tetap sampai terjadi reposisi pada anak anak,inkarserasi lebih sering terjadi pada usia di bawah 2 tahun.reposisi spontan lebih sering terjadi dan sebaliknya ganguan vitalitas isi hernia jarnag terjadi di bandingkan dengan orang dewasa hal ini di sebabkan oleh cincin hernia anak kecil lebih elastis.reposisi di lakukan dengan menidurkan anak dengan menggunakan sedaktif dan kompres es di atas hernia bila reposisi berhasil anak di siapkan untuk oprasi pada hari berikutnya,jika reposisi hernia tidak berhasil oprasi harus segera di lakukan dengan waktu 6 jam.pemakaina bantal penyanggah hanya bertujuan menahan hernia yang telah di reposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus di pakai seumur hidup.namun ,cara yang sudah berumur,namun cara yang sudah berumur lebih dari 4000 tahun masih aja di pakai sampai sekarang sebaiknya cara ini tidak di ankur kana karena menimbulkan komplikasi anatara lain merusak kulit tonus atau dingding perut di daerah yang tertekan sedangkan starngulasi tetap

mengancam .pada anak ,cara ini dapat menimbulkan atrofi tektis karena pungkulus seperamtikus. Pengobatan operatif merupakan satu satunya obat hernia ingunalis yang

rasional.indikasi oprasi sudah ada begitu diagnosis di tegakan .perinsip dasar oprasi hernia atas heriotonomi dan hernioplastik. Pada herniotomi di lakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya kantong di buka dan isi hernia di bebaskan kalau ada pelekatan,kemudian di reposisi.kantong hernia di jahit-jahit setinggi mungkin lalu di potong. Pada hernioplasti,dilakukan tindakan memperkecil anulus ingunalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting dalam mencegah terjadinya resedif di bandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode

hernioplasti,seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan tertutup,menutup dan memperkuat fasia tranversa,dan menjahitkan pertemuan otot tranversus internus abdominalis dan otot ublikus internus abdominalis,yang di kenal dengan nama conjoint tendon, ke ligamentum inguinale pouparti menurut bassini, atau menjahitkan fasia tranversa,otot tranversus abdominalis ,dan otot umbilikus internus abdominalis ,dan otot internus abdominalis ke ligamentum cooper pada metode lotheissen-mc vay. PENATALAKSANAAN FEMORALI Setiap hernia femoralis memerlukan tindakan operasi kecuali kalau ada kelainan lokal atau umum yang memerlukan kontra indikasi operasi. Prinsip herniafemoralis adalah sebagai berikut : 1. Herniotomi dengan eksis komplit dari kantong hernia. 2. Menggunakan benang yang tidak diserap 3. Hernioplasti dengan reparasi defek fasia tranversalis dengan legamentum cooper atau mesh,dengan tujuan mempersempit anulus femoralis. Pendekatan hernia femoralis ada dari krural dan inguinal namun dapat juga di kombinasiakan keduanya. Pendekatan krural di lakukan pada wanita tanpa membuka kanalis inguinalis .pendekatan inguinaldi lakukan dengan membuka kanalis inguinalis sambil menginspeksi dinding posteriornya; tindakan ini biasanya di lakukan pada laki-laki karena hernia femoralis

pad alaki-laki lebih sering disertai hernia inguinalis medialis. Pendekatan kombinasi dapat di pilih pada hernia femoralis,hernia residif atau dengan hernia inguinalis. Pada pendekatan krural,hernioplasti dapat di lakukan dengan menjahit ligamentum inguinale ke ligamentum Cooper. Pad ateknik bassini melalui regio inguinalis ,ligamentum inguinalis di jahitkan ke ligamentum lakunare gimbernati. PENATALAKSANAAN HERNIA UMBILIKALIS Bila cincin hernia kurang dari dua 2cm diameternya ,umunya regresi sepontan akan terjadi sebelum bayi berumur enam bulan ,kadang cincin tertutup setelah 1 tahun ,usaha mempercepat penututupan dapat di kerjakaan dengan mendekatkan tepi kiri dan kanan kemudian memfikasinya dengan pita perekat(pelester) untuk 2- 3 minggu .dapat pula di gunakan unag logam yang di letakan dan di plester di atas umbilikus untuk mencegah penonjolan isi rongga perut,bila sampai usia satu setenga tahun hernia masih menonjol umunya di perlukan tindakan oprasi,pada cincin hernia yang lebih besar dari 2cm ,jarang terjadi regresi spotan dan sukar di peroleh penutupan dengan tindakan konservatif. Hernia umbilikalis pada dewasa sering terjadi akibat operasi (hernia insisional),lebih sering terjadi pada wanita di banding pria. Faktor prediposisi hernia umbilikalis antara lain multipara,asites,obesitas,dan tumor intraabdomen yang besar. Terapi pada orang dewasa hanya dengan pembedahan : defek di tutup dengan mesh,dapat melalui operasi terbuka maupun operasi laparoskopi yang memberikan nyeri minimal dan pemulihan yang cepat pascaoperasi di bandingkan dengan operasi terbuka.

I. PENCEGAHAN 1. bagi pekerja berat atau bekerja mengeluarkan tenaga untuk mengangkat beban-beban yang berat disarankan sewaktu mengangkat beban berat tersebut untuk menahan nafas . karena dengan menahan nafas usus menuju kekelenjar testis tidak turun. 2. bagi yang sudah pernah menderita penyakit ini jika tidak mau terulang atau kambuh lagi sebaiknya jangan melakukan kegiatan-kegiatan mengangkat beban-beban yang berat-berat. 3. jika mau bersin diusahakan sebelumnya menahan salah satu telapak tangan di bawah pusar baru bersin. 4. sebaiknya 1 minggu sekali usahakan untuk tidur dengan kaki diangkat, atau kaki dialas pakai bantal agar lebih tinggi dari kepala. jangan pernah makan sayur jantung pisang

karena ini pantangan bagi orang yang pernah mengalami hernia agar penyakit ini tidak kambuh. 5. usahakan untuk mempertahankan berat tubuh yang sehat dan ideal. hal ini dapat membantu mengurangi tekanan pada otot bagian perut. 6. konsumsi makanan yang memiliki kandungan serat tinggi. buah-buahan, sayuran, dan makanan yang terbuat dari gandum sangat disarankan untuk dikonsumsi. makanan tersebut mengandung banyak serat yang membantu mencegah konstipasi dan mengurangi tekanan pada bagian perut. 7. hindari mengangkat barang yang terlalu berat. jika memang harus mengangkat barang yang berat, lakukan dengan cara yang benar. tekuk lutut dan hindari membungkuk untuk mengurangi tekanan. 8. hindari rokok ataupun asapnya. rokok beserta asapnya bisa menimbulkan berbagai penyakit seperti batuk kronis yang dapat mencetuskan hernia. 9. memakai ikat pinggang khusus yang disebut truss (untuk menyokong hernia dan menjaganya dari menonjol). 10. menghindari aktivitas yang menyebabkan peregangan abdomen (abdominal strain). 11. menghindari makan-makanan yang dapat menimbulkan konstipasi / sulit bab, perbanyak meminum air putih, sayuran dan buah-buahan. 12. lakukan terapi dengan tehnik pemijatan yang baik, dengan metode akupressure dan kemudian lakukanlah pembekaman minimal 3 minggu sekali.

J. ASUHAN KEPERAWATAN MENURUT NANDA DX 1:Nyeri akut Domain 12 : Kenyamanan Kelas 1 Definisi : Kenyamanan fisik : pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dan muncul

akibat kerusakan jaringan actual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (Interntional association for the study of pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dadri intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung >6 bulan

Batasan Karakterisitik 

:

mengeskpresikan perilaku misalnya gelisah, merengek, menangis, waspada, iritabilitas

       

perilaku berjaga-jaga melindungi area nyeri fokus menyempit (mis. Gangguan persepsi nyeri, hembatan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungannya)

indiikasi nyeri yang dapat diamati perubahan posisi untuk menghindari nyeri sikap tubuh melindungi fokus pada diri sendiri gangguan tidur melaporkan nyeri secara verbal

Faktor yang berhubungan  Agens cedera (mis, biologis, zat kimia, fisik, psikologis)

DX 2: Kerusakan Integritas Kulit Domain 11 : Keamanan/ perlindungan Kelas 2 Definisi : Cedera fisik : Perubahan / gangguan epidermis dan atau dermis

Batasan karakteristik    Kerusakan lapisan kulit Gangguan permukaan kulit Invasi struktur tubuh

Faktor yang berhubungan      Eksternal

:   Hipotermia Faktor mekanik misalnya ( gaya gunting shearingforce), tekanan, pengekangan

Zat kimia Usia yang ekstrem Kelembapan

 Hipertermia 

Medikasi Lembab

DX 3: Gangguan Citra tubuh Domain 6 Kelas 3 Definisi : persepsi/kognisi : citra tubuh : konfusi dalam gambaran mental fisik diri individu

Batasan Karakterisitik                Perilaku mengenali individu Perilaku menghindari tubuh individu Perilaku memantau tubuh individu Respon nonverbal terhadap perubahan aktual pada tubuh mis, penampilan, struktur, fungsi Verbalisasi perasaan mencerminkan perubahan pandangan tentang tubuh individu mis, penampilan, struktur, fungsi

Secara sengaja menyembunyikan bagian tubuh Kehilangan bagian tubuh Tidak melihat bagian tubuh Trauma pada bagiian yang tidak berfungsi     

Faktor yang berhubungan Biofisik Kognitif Budaya Tahap perkembangan Penyakit Terapi penyakit Cedera Perseptual Psikososial Pembedahan Trauma

DX 4: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Domain 2 Kelas Definisi : Nutrisi : pencernaan : asupan nutrisi tidak cukup untuk memnuhi kebutuhan metabolik

Batasan karakterisitik       Kram abdomen Nyeri abdomen Menghindari makan Karapuhan kapiler Kurang makanan Kurang informasi     Kesalahan kosepsi Ketidakmampuan mencerna makanan Tonus otot menurun Mengeluh gangguan sensasi rasa

Faktor yang berhubungan      Faktor bologis Faktor ekonomi Ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrient Ketidakmampuan untuk mencerna makanan Faktor psikologis

DX5: Defisiensi pengetahuan Domain 5 Kelas 4 Defrinisi topik terttentu Batasan karakeristik   Perilaku hiperbola ketidakakuratan mengikuti perintah, ketidakakuratan performa uji Perilaku tidak tepat ( mis. Histeria, bermusuhan, agitasi apatis) pengungkapan masalah : persepsi/kognisi : kognisi : ketiadaan atau defisiensi infoeasi kognitif yang berkaitan dengan

Faktor yang berhubungan   Keterbatasan kognitif, salah interpretasiinformasi kurang pajanan, kurang minat dalam belajar Kurang dapat mengingat, tidak familiar dengan sumber informasi

DAFTAR PUSTAKA
Menurut Black,J dkk (2002).Medical Surgical Nursing, edisi 4. Pensylvania: W.B Saunders:
http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/74/hernia Asuhan Keperawatan NANDA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->