P. 1
TUGAS GOVERNANCE_KELOMPOK 7_MAKSI GURU.pdf

TUGAS GOVERNANCE_KELOMPOK 7_MAKSI GURU.pdf

|Views: 1|Likes:
Published by hariyadi030267

More info:

Published by: hariyadi030267 on May 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2015

pdf

text

original

TUGAS KELOMPOK PRINSIP-PRINSIP GOVERNANCE DAN REKOMENDASI GOVERNANCE

(Principles of Governance and Recommendations on Governance)

MATA KULIAH :

GOVERNANCE DAN SISTEM PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
DOSEN PENGAMPU :

Drs. DJOKO SUHARDJANTO, M.Com (Hons), Ph.D, Ak.

KELOMPOK 7
HARIYADI (S431202007) WINDARTI (S431202015) RIRIN SISWI HANI’AH (S431202011)
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

FAKULTAS EKONOMI

MAGISTER AKUNTANSI
Jalan Ir. Sutami No. 36 A Surakarta

2013

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

PRINSIP-PRINSIP GOVERNANCE DAN REKOMENDASI GOVERNANCE
(Principles of Governance and Recommendations on Governance)
Oleh : KELOMPOK 7 Hariyadi, Windarti, dan Ririn Siswi Hani’ah

A. PENDAHULUAN Selama dekade terakhir atau lebih, "corporate governance" telah membawa banyak perdebatan dan perubahan di sektor swasta. "Secara garis besar tata kelola perusahaan (corporate governance) umumnya mengacu pada proses dimana organisasi diarahkan, dikendalikan, dan dimintai pertanggungjawaban", dan didukung oleh prinsip keterbukaan, integritas, dan akuntabilitas. Governance berkaitan dengan struktur dan proses untuk pengambilan keputusan, akuntabilitas, pengawasan dan perilaku organisasi puncak. Dalam beberapa negara "corporate" dapat ditafsirkan sebagai istilah sektor swasta. Untuk menghindari ketidakjelasan mengenai penerapan studi ini, istilah "governance" digunakan untuk

menggambarkan apa yang sering disebut di sektor swasta sebagai "corporate governance". Di negara lain "government governance" digunakan untuk

menggambarkan tata kelola (governance) di sektor publik. Para penulis pada makalah Bank Dunia 1999 menyimpulkan bahwa "bukti empiris baru penting bagi governance, dalam arti bahwa ada hubungan sebab akibat (kausal) yang kuat dari good governance akan menghasilkan pembangunan yang lebih baik seperti pendapatan per kapita tinggi, tingkat kematian bayi rendah dan kemampuan membaca tinggi ". Pendapat ini berfungsi untuk menekankan pentingnya good governance. Di hampir semua negara/wilayah hukum sektor publik memainkan peran utama dalam masyarakat, dan governance yang efektif di sektor publik dapat mendorong penggunaan sumber daya yang efisien, memperkuat akuntabilitas dalam mengelola sumber daya, meningkatkan manajemen dan pelayanan, dan dengan

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 1

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

demikian memberikan kontribusi untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Governance yang efektif juga penting untuk membangun kepercayaan dalam entitas sektor publik. Titik berat governance di sektor swasta pada dewan direksi. Dalam konteks sektor publik, dewan kadang-kadang sulit ditetapkan dan ditentukan, karena mereka bekerja dalam kerangka kerja hukum dan manajerial yang berbeda. Hal ini tidak mungkin untuk mengembangkan kerangka kerja dan perangkat rekomendasi dari governance yang berlaku untuk semua entitas sektor publik, tetapi prinsip-prinsip yang sama tetap berlaku terhadap badan pengawas yang dipilih atau ditunjuk. Secara khusus, entitas sektor publik harus memenuhi tujuan politik, ekonomi dan sosial. Mereka juga tunduk pada bentuk pertanggungjawaban kepada berbagai stakeholders, berbeda dengan perusahaan di sektor swasta yaitu pada pemegang saham, pelanggan dan lain-lain. Stakeholders di sektor publik termasuk Menteri, Pejabat Pemerintah lainnya, Parlemen, pelanggan dan klien, dan masyarakat umum, masing-masing dengan kepentingan yang sah dalam entitas sektor publik, tetapi tidak harus dengan "hak milik (ownership rights)". Di beberapa negara sektor publik mencakup sejumlah besar entitas yang secara terpisah telah ditetapkan oleh instansi pemerintah untuk melakukan kegiatan baru atau yang sebelumnya dilakukan oleh pemerintah. Salah satu alasan untuk pembentukan entitas yang terpisah adalah suatu harapan bahwa efisiensi yang lebih besar akan dicapai melalui struktur terpisah. Jadi, untuk sementara governing bodies entitas sektor publik tersebut membutuhkan kebebasan yang cukup untuk mengelola kegiatan operasinalnya secara kuat dan giat, mereka perlu menjalankan kebebasan itu dalam kerangka governance dan akuntabilitas yang efektif. Governing bodies pada entitas sektor publik merupakan bagian dari keseluruhan – pemerintah, yang juga harus mempertimbangkan dampak dari kegiatannya di entitas pemerintah lainnya serta menyelaraskan kegiatannya dengan tujuan pemerintah secara keseluruhan. Banyak pihak berperan dalam governance entitas sektor publik. Tujuan dari studi ini adalah untuk mempertimbangkan kerangka kerja yang tepat dari

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 2

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

perspektif governing bodies untuk membantu memastikan keseimbangan yang tepat antara kebebasan untuk mengelola, akuntabilitas dan adanya berbagai kepentingan dari setiap stakeholders. Studi ini mendefinisikan prinsip-prinsip umum dan rekomendasi mengenai governance entitas sektor publik dengan tujuan memberikan panduan untuk membantu governing bodies entitas sektor publik untuk mengembangkan atau mengkaji praktek governance mereka sedemikian rupa agar mereka menjalankan secara lebih efektif, efisien dan transparan. Studi ini menguraikan prinsip-prinsip governance dan aplikasinya untuk entitas sektor publik. Praktik governance perlu disesuaikan dengan keadaan entitas sektor publik secara individu di mana mereka menjalankan. Sebagai entitas yang berkembang dan berubah dari waktu ke waktu, maka diperlukan governing bodies, secara berkelanjutan untuk mengkaji dan memperbaiki praktik governance.

B. KERANGKA LINGKUP STUDI - SEKTOR PUBLIK

Prinsip-prinsip yang diuraikan dalam studi ini berlaku untuk semua entitas sektor publik, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah (misalnya, negara, provinsi, teritorial), pemerintah daerah (misalnya, kota besar, kota kecil), badan pemerintah terkait (misalnya, instansi, dewan, komisi) dan perusahaan bisnis pemerintah (government business enterprises/GBEs). Secara khusus, prinsipprinsip dalam studi ini berlaku untuk semua entitas sektor publik yang merupakan bagian dari suatu entitas ekonomi sebagaimana didefinisikan dalam International Public Sector Accounting Standard 6: Laporan Keuangan Konsolidasi dan Pengawasan Akuntansi Entitas (IPSAS 6). Di beberapa negara, pemerintah atau lembaga sektor publik lainnya mungkin terlibat dan membiayai entitas di sektor swasta dan ―tidak-untuk-profit‖ dalam melaksanakan kegiatan tertentu atau memberikan layanan tertentu. Sementara studi ini tidak secara khusus untuk mempertimbangkan pengaturan governance, melainkan prinsip-prinsip dan rekomendasi yang diuraikan dalam studi ini mungkin relevan dengan entitas tersebut.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 3

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

Sektor publik adalah kompleks, dan entitas sektor publik tidak dilakukan dalam kerangka kerja legislatif yang umum atau memiliki bentuk organisasi standar atau ukuran. Hal ini penting, karena itu, untuk mengakui keragaman sektor publik dan model yang berbeda dari governance yang berlaku di berbagai negara dan di berbagai sektor, masing-masing memiliki karakteristik yang memerlukan perhatian khusus dan perbedaan perangkat akuntabilitas. Dalam perusahaan swasta (yang berorientasi profit / profit-seeking) dewan merupakan penghubung antara pemegang saham dan manajer, dan merupakan instrumen kerja dimana manajer bertanggung jawab kepada pemegang saham dan kinerja mereka dinilai. Pada "Negara Kesatuan (Unitary)" bentuk dewan menggabungkan kedua fungsi tata kelola (yaitu monitoring dan pengawasan), yang diwakili oleh direktur non-eksekutif independen manajemen lini, dan fungsi manajemen, diwakili oleh direktur eksekutif yang dipekerjakan langsung oleh perusahaan, yang bertanggung jawab atas operasional manajemen sehari-hari. Di beberapa negara, Badan Usaha milik Pemerintah (entitas publik) diatur oleh dewan kesatuan dengan karakteristik yang mirip dengan dewan perusahaan di sektor swasta. Di bagian lain sektor publik, fungsi tata kelola dan manajemen dapat dipisahkan, dengan dewan pengawas non-eksekutif dan dewan pengawas manajemen eksekutif, yang dapat digambarkan sebagai struktur dewan "dua tingkat (two-tier)". Di beberapa pemerintah daerah pengaturan pemerintahan juga ditandai dengan struktur dua tingkat (two-tier). Namun, model yang sederhana sangat rumit kenyataannya bahwa bagian tingkat atas (pengawas) terdiri dari anggota dewan yang terpilih secara demokratis, dan berperan, sementara secara umum dapat disamakan dengan badan non-eksekutif, dalam hal ini sangat berbeda sekali karena pada dasarnya untuk memenuhi pembelaan politik dan fungsi perwakilan (representasional). Secara umum, landasan konstitusional departemen pemerintah pusat/badan dan lembaga eksekutif berbeda. Secara khusus, pemisahan kekuasaan antara Legislatif non-eksekutif (DPR) dan Eksekutif (Menteri dan pelayan publik) tercermin dalam pengaturan tertentu untuk pemerintahan di sektor tersebut. Ini

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 4

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

dapat mencakup pengawasan oleh komite parlemen, tanggung jawab operasional khusus Kepala Eksekutif (kepala dinas, badan atau entitas), dan akuntabilitas politik Menteri kepada Parlemen. Dokumen ini mengacu pada tata kelola (governing) ini atau kelompok "manajemen puncak (top management)" sebagai "governing body". Dalam melakukannya diakui bahwa istilah ini merupakan hal yang asing bagi konstitusi dan budaya berbagai bagian sektor publik di beberapa negara. Karena sulit untuk menerapkan konsep "governing body" di setiap organisasi sektor publik, organisasi disarankan langsung menerapkan sebagai berikut: Semua kesepakatan di mana pemerintah (baik pusat, regional atau lokal) memberikan layanan atau kegiatan melalui badan yang dikendalikan (anak perusahaan), apakah entitas anak perusahaan atau yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah atau memiliki identitas hukum yang terpisah. Menteri memiliki tanggung jawab langsung untuk pelaksanaan layanan atau kegiatan, demi kepentingan good governance. Menteri perlu memastikan bahwa rekomendasi dari pemerintah dalam studi ini diterapkan dalam pengaturan manajemen untuk didelegasikan sebagai aktivitas tersebut. Dalam keadaan dimana saran ini tidak langsung diterapkan, maka dianggap penting mengenai prinsip-prinsip dasar governance keterbukaan, integritas dan akuntabilitas, harus diikuti. Hal ini diakui bahwa, prinsip-prinsip good governance, seperti yang dijelaskan di atas, berlaku untuk semua entitas sektor publik, tidak semua rekomendasi tertentu akan berlaku di semua sektor. Dalam beberapa kasus, rekomendasi tertentu mungkin relevan, namun hal itu mungkin tidak tepat atau praktis untuk menerapkannya. Selain itu, biaya pelaksanaan rekomendasi dari pemerintahan mungkin lebih besar daripada manfaat yang akan diperoleh. Entitas secara individu di bagian tertentu dari sektor publik dan badanbadan perwakilannya, perlu menentukan identitas "governing body" dan peran – pelaku lain dalam konteks mereka sendiri, dan sejauh mana dan bagaimana rekomendasi yang dalam studi ini mungkin yang terbaik diterapkan dan jika perlu disesuaikan untuk memenuhi keadaan khusus mereka sendiri. Dengan cara bahwa

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 5

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

kerangka dapat digunakan untuk mengembangkan kode - sektor tertentu dalam praktek yang benar akan mencerminkan budaya dan terminologi, lingkungan hukum, konstitusional dan operasional spesifik negara dan sektor-sektor tertentu.

C. SEBUAH

TINJAUAN

DARI

PENGATURAN

AKUNTABILITAS

DALAM SEKTOR PUBLIK

Sebagaimana telah dibahas di atas, pengaturan kelembagaan atau organisasi sektor publik berbeda di setiap negara. Namun, prinsip-prinsip governance dianggap berlaku untuk semua bagian dari pengaturan administratif. Di beberapa negara terdapat perbedaan peranan atau fungsi dalam membangun dan mempertahankan kerangka kerja tata kelola (governance framework) yang efektif secara keseluruhan. Tujuan pembahasan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang fungsi utama dari peran pelaku dalam kaitannya dengan pemerintahan secara keseluruhan di sektor publik. Selanjutnya studi ini fokus utamanya pada tanggung jawab governance governing body entitas di bawah kendali pemerintah.

1. Tanggung Jawab Keseluruhan Untuk Menentukan Kerangka Kerja Governance. Norma dan nilai-nilai budaya nasional, aturan dan peraturan biasanya menentukan struktur kerangka peraturan dan badan-badan konstituen utamanya, yang selanjutnya, mencerminkan sifat dan tingkat akuntabilitas keuangan untuk masyarakat. Di beberapa negara tanggung jawab untuk menentukan kerangka kerja tata kelola (governance framework) secara keseluruhan biasanya menjadi tanggung jawab Legislatif dan/atau Eksekutif sebagai tangan pemerintah atas nama masyarakat. Peran dari masing-masing pihak dalam kaitannya dengan kerangka tata kelola (governance framework) secara keseluruhan sering tumpang tindih. Sebagai contoh, Legislatif dapat memulai atau memberikan wewenang untuk pembentukan badan pengawas atau pengawasan dan dapat menyetujui/

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 6

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

mengomentari kebijakan pemerintahan yang telah dirumuskan oleh Eksekutif (Menteri sebagai pimpinan politik). Parlemen memungkinkan untuk secara efektif meminta pertanggungjawaban pemerintah atas kinerjanya dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan aset, kejelasan tentang batas-batas entitas pelaporan pemerintah sangat penting. Akuntabilitas tidak bisa efektif tanpa adanya informasi yang lengkap dan tepat. Hal ini biasanya menjadi tanggung jawab eksekutif yang mengawasi badan atau lembaga lainnya, untuk memastikan bahwa pengaturan governance yang tepat diterapkan di setiap entitas yang dikendalikan tersebut. Tidak cukup hanya menunjuk governing body dari entitas yang dikendalikan, tanpa memastikan adanya mekanisme untuk menjamin kepatuhan terhadap rekomendasi governance. Demikian pula, governing bodies entitas tersebut juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan governance dari entitas yang dikendalikannya, sementara pemerintah adalah badan pengendali utama. Darimana dukungan finansial diberikan kepada entitas, entitas ini tidak selalu menjadi bagian dari entitas yang dikendalikan oleh pemerintah, karena merupakan prasyarat bahwa definisi pengendalian harus dipenuhi untuk dimasukkan dalam entitas pelaporan konsolidasi. Namun, Eksekutif yang memberikan bantuan keuangan harus bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pemerintah menerima pertanggungjawaban bantuan keuangan yang diberikan. Entitas menerima bantuan keuangan biasanya diwajibkan untuk melaporkan informasi yang memadai dan sesuai dengan keinginan Eksekutif.

2. Fungsi

Pengawsan

Legislatif

Berbeda

dengan

Fungsi

Eksekutif

Pemerintah Di sebagian besar pemerintahan, terdapat pemisahan fungsi eksekutif dan legislatif. Lembaga legislatif (DPR) memberikan kewenangan untuk akuisisi dan penggunaan sumber daya keuangan dan bertanggung jawab untuk mengawasi administrasi. Pengelolaan keuangan dan sumber daya biasanya merupakan

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 7

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

tanggung jawab Eksekutif (Menteri / Kabinet / Usaha Bisnis Pemerintah / Badan Pelaksana atau Entitas). Salah satu contoh dari proses akuntabilitas keseluruhan di sektor publik secara skematis dapat ditetapkan sebagai berikut:

Gambar 1 CONTOH KESELURUHAN PROSES AKUNTABILITAS DI SEKTOR PUBLIK Legislatif
Independen, Informasi objektif Transparansi

Audit

Pengawas Legislatif
Pengakuan Responsibilitas

Eksekutif

Legislatif bertanggung jawab untuk pemberian sanksi atas rencana atau anggaran keuangan sektor publik secara keseluruhan dan mengesahkan untuk pengeluaran eksekutif (untuk keseluruhan tingkat pengeluaran), investasi, pinjaman dan pengelolaan program-program sesuai dengan peraturan yang berlaku. Eksekutif bertanggung jawab untuk menyetujui anggaran atau rencana keuangan, persetujuan keseluruhan pengeluaran, untuk memberikan otorisasi akuisisi dan penggunaan sumber daya keuangan, untuk mengawasi dan memantau pelaksanaan anggaran yang disetujui dalam rencana keuangan. Eksekutif biasanya bertanggung jawab untuk merencanakan, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan sehari-hari serta mempersiapkan laporan yang menyediakan akun administrasinya. Tanggung jawab eksekutif meliputi mengarahkan kegiatan dengan memperhatikan unsur ekonomi dan efisiensi,

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 8

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

mempertahankan sistem pengawasan internal yang memadai, memastikan kepatuhan terhadap otoritas yang berlaku, memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi yang tepat, menjaga aset, mengukur efektivitas program dan pelaporan kinerjanya. Karena memberikan otoritas keuangan dan kekuasaan, Legislatif memiliki hak dan tanggung jawab untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah dan entitas atas pengelolaan keuangan, penggunaan sumber daya, dan hasil yang dicapai. Pada dasarnya, akuntabilitas adalah kewajiban untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah diberikan. Ia menganggap eksistensi kedua pihak setidaknya: orang yang bertanggung jawab untuk mengalokasikan dana dan orang yang menerima dengan menjalankan tanggung jawabnya untuk melaporkannya. Oleh karena itu, Legislatif memainkan peran penting dalam keseluruhan kerangka kerja governance di sektor publik. Legislatif melakukan pengawasan terhadap pengeluaran uang publik yang tersedia pada anggaran eksekutif. Biasanya dilihat dari laporan tahunan entitas sektor publik, mengevaluasi standar pekerjaannya dan membuat rekomendasi, berdasarkan fakta-fakta yang terkandung dalam laporan audit oleh auditor legislatif dan Eksekutif yang bersangkutan. Dalam kepentingan transparansi, pemeriksaan tersebut harus dilakukan dengan dengar pendapat publik. Siklus akuntabilitas internal biasanya melibatkan empat langkah: (1) audit dan pelaporan oleh auditor legislatif, (2) dengar pendapat oleh Legislatif, (3) rekomendasi Badan Legislatif ke Eksekutif, dan (4) respon Eksekutif. Tingkat efisiensi siklus tergantung pada ketepatan waktu dari ke-empat langkah tersebut dapat terselesaikan. Legislatif juga perlu mengkaji laporan audit kinerja auditor legislatif. Sejauh mana Legislatif memanfaatkan laporan audit kinerja antara lain tergantung pada efisiensi dari siklus akuntabilitas. Auditor legislatif perlu melakukan tindak lanjut dari audit kinerja untuk mengkaji sikap sebelumnya dan pelaksanaan rekomendasi Legislatif. Di beberapa negara penganut "Anglo Saxon", Komite Akuntan Publik (Public Accounts Commitee) bertanggung jawab mengkaji laporan audit dari

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 9

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

auditor legislatif. Di negara yang menggunakan struktur lain hanya bertanggung jawab atas pengawasan, misalnya, di Perancis Komite Keuangan (The Commission des Finances) parlemen (DPR) dan Senat bertugas mengawasi

entitas sektor publik. Sistem Komite di sebagian besar Legislatif cocok untuk memegang pertanggungjawaban dari mereka yang menjalankan kekuasaan publik dalam masyarakat. Berbagai komite di Legislatif biasanya memiliki berbagai bidang keahlian untuk menjalankan akuntabilitas yang efektif. Namun, sistem tradisional akuntabilitas melalui orang yang dipilih (Eksekutif / DPR), yang pada saatnya dimintai pertanggungjawaban oleh masyarakat dalam pemilihan yang demokratis, mungkin juga lemah dan tidak efektif. Misalnya, di beberapa negara, Legislatif telah membatasi pengaruh kekuasaan terhadap badan usaha milik pemerintah. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa pusat pengendalian dan pendanaan entitas mampu merespon dan mempedulikan kebutuhan lokal, dan pengaturan good governance.

3. Fungsi Penjaminan Independen dari Auditor Eksternal Di beberapa negara, audit legislatif memiliki identitas tetap, biasanya dalam bentuk Badan Pemeriksa Keuangan (General Auditor, Pengawas Keuangan Umum, Komisi Audit, atau Pengadilan Account / Court of Accounts), tetapi ada juga auditor sektor swasta melakukan audit entitas sektor publik. Kebanyakan auditor legislatif anggotanya dari International Organization of Supreme Audit Institutions (INTOSAI). Laporan keuangan yang relevan, handal dan diaudit adalah aspek kunci dari good governance dan akuntabilitas entitas sektor publik harus

mempersiapkan laporan keuangannya sendiri. Auditor legislatif atau auditor eksternal lainnya, sebagai auditor independen objektif, memberikan jaminan kepada pengguna melalui ―pendapat (opini)‖ pada kewajaran penyajian laporan keuangan tersebut (audit keuangan / Audit atestasi). Auditor eksternal harus mengikuti standar auditing yang diakui pada saat melakukan audit eksternal.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 10

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

The Internatinoal Auditing Practices Committee dari persoalan IFAC Standar Internasional tentang Audit (International Standart on Auditing / ISAs), yang berisi " Perspektif Sektor Publik (Public Sector Perspective / PSP)". ISAs mengatur prinsip-prinsip dasar dan praktek yang terkait dengan prosedur yang berlaku untuk audit atas laporan keuangan. Penerapan ISAs tertentu harus diperjelas atau ditambah untuk mengakomodasi keadaan sektor publik, khususnya yang berkaitan dengan audit entitas sektor publik, dan ini dilakukan dengan dimasukkannya Public Sector Perspective (PSP). Dimana dalam PSP disertakan prinsip-prinsip dasar dan praktek terkait yang dapat diterapkan dalam di sektor publik tanpa penjelasan lebih lanjut atau adanya suplemen. Selain itu, Komite Standar Auditing (Auditing Standards Committee) dari INTOSAI telah mengembangkan Standar Audit INTOSAI. Meskipun standar ini tidak memiliki aplikasi wajib, mereka mencerminkan "praktek terbaik" yang merupakan konsensus dengan Lembaga Pemeriksa Keuangan (Supreme Audit Institutions / SAIs). Laporan keuangan entitas sektor publik dapat mencakup informasi yang berbeda, di samping yang terkandung dalam laporan keuangan sektor swasta, misalnya, perbandingan belanja pada periode dengan batas yang ditetapkan oleh undang-undang. Dalam keadaan yang demikian, modifikasi yang sesuai mungkin diperlukan untuk sifat, waktu, dan luas prosedur audit, serta laporan auditor. Meskipun ISAs dimaksudkan berlaku untuk semua aspek audit atas laporan keuangan, mereka tidak berlaku dalam hal kepatuhan dan audit kinerja, atau dalam aspek lain seperti pelaporan pengendalian internal atau hal-hal lain yang mungkin dalam kepentingan umum. SAIs juga dapat diperlukan untuk melaporkan apakah ya atau tidak mengenai:  pengeluaran telah digunakan untuk tujuan yang telah ditetapkan dan sesuai dengan kewenangan yang mengatur itu (keteraturan audit / kepatuhan audit), dan  memperhatikan pembayaran telah menjamin tingkat ekonomi, efisiensi dan efektivitas (audit kinerja / audit nilai uang).

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 11

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

4. Penetapan Standar Akuntansi dan Monitoring Kepatuhan Suatu bagian penting untuk menunjukkan akuntabilitas dapat terpenuhi dengan memberikan informasi mengenai kegiatan suatu entitas ke badan pengawas (seperti Parlemen, komite parlemen, pemerintah daerah dan komite) atau pihak eksternal lainnya, sehingga kegiatan dapat diteliti. Misalnya, upaya eksekutif untuk menunjukkan akuntabilitas biasanya mulai dengan pelaporan keuangan yang tepat. Ketika standar akuntansi diperbaiki untuk diadopsi, dan selanjutnya informasi dilakukan audit independen, peningkatan kualitas informasi akan dilaporkan. Oleh karena itu, sesuai dengan standar akuntansi peningkatan akuntabilitas keuangan akan memberikan kontribusi terhadap keandalan, konsistensi dan transparansi informasi keuangan. Standar Akuntansi adalah pernyataan otoritas tentang bagaimana jenis transaksi tertentu dan kejadian lain harus tercermin dalam laporan keuangan. Dengan demikian, kepatuhan otoritas dan diakui dalam ketetapan standar akuntansi biasanya akan diperlukan laporan keuangan untuk memberikan penyajian yang wajar. IFAC Public Sector Committee (PSC) menetapkan standar akuntansi yang direkomendasikan untuk entitas sektor publik, disebut International Public Sector Accounting Standards (IPSASs) berlaku untuk akuntansi berbasis akrual. Entitas sektor publik didorong untuk menyesuaikan dengan IPSASs ini. Selain itu, PSC juga menetapkan persyaratan pelaporan untuk entitas dengan menggunakan akuntansi dasar kas. IPSASs sektor publik adalah setara dengan Standar Akuntansi

Internasional (International Accounting Standart / IASs) yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards Board / IASB) (dahulu International Accounting Standards Committee (IASC)), dan tergambarkan pada standar tersebut. Salinan IPSASs tersedia di situs web IFAC - www.ifac.org.
Standar - Pengaturan Kesepakatan

Standar - pengaturan kesepakatan di setiap negara berbeda, peraturan tersebut mengatur masalah laporan keuangan entitas sektor publik secara umum.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 12

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

Peraturan ini dalam bentuk persyaratan hukum, petunjuk dan instruksi pelaporan keuangan, dan/atau standar akuntansi yang dikeluarkan oleh pemerintah, badan pengawas dan/atau profesi akuntansi. Ketika peraturan yang mengatur pelaporan keuangan mengharuskan laporan keuangan disajikan secara fair dan disusun sesuai dengan praktik akuntansi yang berlaku umum, tanpa identifikasi yang jelas dari elemen material standar praktik akuntansi yang berlaku umum, akan terjadi fleksibilitas dalam menginterpretasikannya. Praktek akuntansi yang sehat harus mengacu "praktik akuntansi berlaku umum" yang sepenuhnya diterapkan oleh beberapa entitas. Praktek akuntansi yang tidak mengacu pada praktik akuntansi berlaku umum dapat merugikan pengguna laporan keuangan, karena tidak mencerminkan gambaran objektif atau cukup dalam menyajikan kinerja keuangan dan posisi dari suatu entitas kepada pengguna. Dengan memberikan dukungan hukum kepada standar akuntansi, legislator mengharuskan kepatuhan dengan serangkaian standar yang teridentifikasi dalam undang-undang yang dapat mengatasi masalah ini. Standar akan dianggap lebih kredibel bila proses penetapan standar yang independen dari setiap badan tertentu (dibandingkan dengan ketika pemerintah sebagai preparer atau badan pengendalian menetapkan standar). Monitoring kepatuhan standar tersebut juga dapat meningkatkan integritas dan transparansi dari proses pelaporan keuangan. Tujuan utama adalah peningkatan penyajian wajar yang dicapai dalam laporan keuangan melalui kepatuhan terhadap standar. Governing body atau Chief Executive dari entitas sektor publik terutama bertanggung jawab atas laporan keuangan, dan bertanggung jawab atas pelayanan mereka kepada para stakeholders. Tidak semua entitas sektor publik memiliki rapat umum pemegang saham tahunan di mana governing body atau Chief Executive dapat dimintai keterangan tentang kepatuhan entitas dengan standar akuntansi. Selain itu, ada kebutuhan untuk mekanisme yang akan diberikan dalam keadaan tertentu kepada para pemegang saham dan stakeholder. Di beberapa negara di sektor swasta Dewan Pengkaji (Review Panel) atau badan serupa melakukan fungsi pengawasan. Pengaturan serupa dapat dilembagakan dalam sektor publik dengan pengaruh yang baik.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 13

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

D. PRINSIP GOVERNANCE The Report of the Committee on the Financial Aspects of Corporate Governance (laporan Cadbury) mendefinisikan corporate governance sebagai "sistem dimana organisasi diarahkan dan dikendalikan". Ini mengidentifikasi tiga prinsip dasar corporate governance sebagai:  keterbukaan (openness);  integritas (integrity), dan  akuntabilitas (accountability). Prinsip-prinsip yang relevan dengan entitas sektor publik relevan juga untuk sektor swasta. Prinsip-prinsip ini berlaku untuk semua entitas sektor publik, terlepas dari apakah badan pemerintah yang dipilih atau ditunjuk, ataukah mereka terdiri dari sekelompok orang atau individu. Laporan Cadbury mendefinisikan tiga prinsip dalam konteks sektor swasta dan khususnya perusahaan publik. Namun, dalam konteks sektor publik, definisi prinsip-prinsip ini perlu disesuaikan untuk mencerminkan karakteristik pokok dari entitas sektor publik, yang membedakannya dengan sektor swasta. Secara khusus, entitas sektor publik harus memenuhi berbagai kompleks tujuan politik, ekonomi dan sosial, dimana subjek mereka berbeda dengan kendala eksternal dan pengaruhnya, dan tergantung pada bentuk pertanggungjawaban kepada berbagai stakeholders yang berbeda dengan sebuah perusahaan di sektor swasta yang berkewajiban kepada pemegang saham. Aspek governance di sektor publik telah ditangani oleh Committee on Standards in Public Life (the Nolan Committee (U.K.)), laporan pertama diterbitkan pada Mei 1995. Laporan (Laporan Nolan) mengidentifikasi dan mendefinisikan tujuh prinsip umum perilaku yang harus mendukung kehidupan publik, dan merekomendasikan bahwa semua entitas sektor publik harus menyusun kode etik untuk menggabungkan prinsip-prinsip ini. "Prinsip-prinsip kehidupan publik (principles of public life)" adalah:  tidak mementingkan diri sendiri (selflessness);  integritas (integrity);

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 14

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

 objektivitas (objektivity);  akuntabilitas (accountability);  keterbukaan (openness);  kejujuran (honesty), dan  kepemimpinan (leadership). Masing-masing prinsip didefinisikan dalam hal tanggung jawab

"pemegang jabatan publik (holders of public office)".

Wakil Presiden RI Prof. Dr. Budiono menuturkan dalam Pembukaan Konvensi Nasional Akuntansi (KNA) VII Yogyakarta, 2012, semua prinsip-prinsip itu ideal berlaku untuk semua aspek kehidupan publik. Prinsip-prinsip itu harus dicanangkan bila ingin membangun budaya yang serupa di Indonesia. Ketujuh prinsip itu adalah: 1. Prinsip tak memiliki kepentingan, dimana pejabat publik harus berbuat hanya atas nama kepentingan publik. Mereka tak boleh melakukan apa pun demi memperoleh keuntungan ekonomi atau hal lain yang bisa memberi keuntungan bagi diri mereka, sendiri keluarga, atau teman-temannya. (Selflessness, holders of public office should act solely in terms of the public interest. They should not do so in order to gain financial or other benefits for themselves, their family or their friends). 2. Integritas, atau yang menjadi nyawa dari sumpah jabatan, dimana pejabat publik tak boleh meletakkan dirinya di bawah kepentingan ekonomi atau apapun juga yang membuat mereka memiliki kewajiban kepada orang atau organisasi lain yang bisa mempengaruhi keputusan mereka dalam melakukan tugasnya (Integrity, holders of public office should not place themselves under any financial or other obligation to outside individuals or organisations that might seek to influence them in the performance of their official duties). 3. Obyektivitas, dalam menangani urusan-urusan publik, termasuk melakukan penunjukan, pemberian kontrak atau merekomendasi individu atau pihak lain demi mendapatkan keuntungan, pejabat publik harus membuat keputusan berdasarkan kinerja/prestasi (Objectivity, in carrying out public business,

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 15

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

including making public appointments, awarding contracts, or recommending individuals for rewards and benefits, holders of public office should make choices on merit). 4. Akuntabilitas, dimana pejabat publik harus bisa mempertanggungjawabkan semua keputusan dan tindakannya kepada publik dan harus menyerahkan diri pada setiap bentuk pemeriksaan yang dilakukan terhadap jabatannya (Accountability, holders of public office are accountable for their decisions and actions to the public and must submit themselves to whatever scrutiny is appropriate to their office). 5. Keterbukaan, dimana pejabat publik harus bersikap seterbuka mungkin dalam pengambilan keputusan dan tindakan yang diambil. Mereka harus mempunyai alasan yang cukup untuk keputusan mereka dan hanya membatasi informasi bila kepentingan publik yang lebih besar yang dipertaruhkan (Openness, holders of public office should be as open as possible about all the decisions and actions they take. They should give reasons for their decisions and restrict information only when the wider public interest clearly demands). 6. Kejujuran, dimana pejabat publik harus mengumumkan setiap kepentingan pribadi yang mungkin berhubungan dengan jabatan mereka dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi setiap konflik yang bisa terjadi dengan mendahulukan kepentingan publik (Honesty, holders of public office have a duty to declare any private interests relating to their public duties and to take steps to resolve any conflicts arising in a way that protects the public interest). 7. Kepemimpinan, dimana pejabat publik harus mempromosikan dan pendukung prinsip-prinsip ini dengan menjadi pemimpin prinsip-prinsip tersebut dan memberi contoh (Leadership, holders of public office should promote and support these principles by leadership and example).

Tujuan kerangka kerja ini berkaitan dengan pemerintahan dan dengan demikian tanggung jawab kolektif maupun individu anggota governing bodies entitas sektor publik, tiga prinsip yang diidentifikasi dalam laporan Cadbury

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 16

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

adalah: keterbukaan, integritas dan akuntabilitas - telah dijelaskan di atas dan didefinisikan kembali untuk mencerminkan konteks sektor publik, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Untuk mendefinisikannya, diambil dari tujuh prinsip laporan Nolan.

Gambar 2 KERANGKA PRINSIP GOVERNANCE DALAM SEKTOR PUBLIK Keterbukaan Keterbukaan diperlukan untuk memastikan bahwa stakeholders dapat memiliki keyakinan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan entitas sektor publik, dalam pengelolaan kegiatannya dan individu-individu di dalamnya. Menjadi terbuka apabila melalui konsultasi yang berarti bagi stakeholder dan komunikasi informasi yang lengkap, akurat dan jelas yang mengarah ke tindakan yang efektif dan tepat waktu dan untuk pengawasan yang diperlukan. Integritas Integritas terdiri dari hubungan langsung dan kelengkapannya. Hal ini didasarkan pada kejujuran dan objektivitas, standar kepatutan yang tinggi dan kejujuran dalam pengelolaan dana masyarakat dan sumber daya, serta urusan manajemen entitas. Hal ini juga tergantung pada efektivitas kerangka pengawasan dan pada standar personal dan profesionalisme individu dalam entitas. Tercermin baik dalam prosedur pengambilan keputusan entitas dan kualitas pelaporan keuangan dan kinerjanya

Akuntabilitas Akuntabilitas adalah proses dimana entitas sektor publik, dan individu di dalamnya, bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya, termasuk pengelolaan dana publik dan semua aspek kinerja, serta menyerahkan diri untuk pengawasan eksternal yang sesuai. Hal ini dicapai oleh semua pihak yang memiliki pemahaman yang jelas tentang tanggung jawabnya, dan memiliki peranan melalui struktur yang kuat. Pada dasarnya, akuntabilitas adalah kewajiban untuk menjawab pertanggung jawaban yang diberikannya.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 17

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

Prinsip-prinsip dasar yang tercermin dalam setiap "dimensi" dari governance entitas sektor publik:  standar perilaku - bagaimana manajemen organisasi melaksanakan

kepemimpinan dalam menentukan nilai dan standar dari organisasi, yang menentukan budaya organisasi dan perilaku orang di dalamnya;  struktur organisasi dan proses - bagaimana manajemen puncak dalam organisasi yang ditunjuk dan terorganisir, bagaimana tanggung jawab yang ditetapkan, dan bagaimana pertanggungjawabannya;  Pengawasan - jaringan berbagai alat pengendali yang ditetapkan oleh manajemen puncak organisasi untuk mendukung dalam mencapai tujuan entitas, efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan pelaporan internal dan eksternal, dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku dan kebijakan internal , dan  pelaporan eksternal - bagaimana manajemen puncak organisasi menetapkan akuntabilitas keuangan untuk pengelolaan uang publik dan kinerjanya dalam penggunaan sumber daya. Dari prinsip-prinsip dasar diharapkan memperoleh seperangkat

rekomendasi tentang governance. Rekomendasi ini diilustrasikan pada Gambar 3. Fokusnya adalah pada tanggung jawab governing body atau yang setara dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi pemerintahan yang efektif dalam entitas.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 18

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

Gambar 3 REKOMENDASI TENTANG GOVERNANCE DI SEKTOR PUBLIK Standar Perilaku
  Kepemimpinan Kode Etik  Ketulusan dan Kesopanan  Objektivitas, Integritas dan Kejujuran  Hubungan Struktur Organisasi dan Proses  Akuntabilitas Hukum  Akuntabilitas untuk Uang Publik  Komunikasi dengan Stakeholders  Peran dan Tanggung jawab  Keseimbangan kekuasaan dan Kewenangan  Governing Body  Ketua  Anggota Governing Body Non-eksutif  Manajemen Eksekutif  Kebijakan Remunerasi Pengawasan  Manajemen Risiko  Internal Audit  Komite Audit  Pengendalian Internal  Penganggaran  Manajemen Keuangan  Pelatihan staf Pelaporan eksternal  Pelaporan tahunan  Penggunaan Standar Akuntansi yang tepat  Pengukuran Kinerja  Audit Eksternal

E. REKOMENDASI TENTANG GOVERNANCE

Bagian ini akan menguraikan rekomendasi dalam Gambar 3 di atas. Fokusnya adalah pada tanggung jawab " governing body" atau yang setara dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi entitas

pemerintahan yang efektif.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 19

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

1. Standar Perilaku (Standart of Behavior)

a. Kepemimpinan (Leadership) Anggota governing bodies entitas sektor publik perlu melaksanakan kepemimpinannya sesuai dengan standar perilaku, sebagai panutan bagi orang lain dalam entitas.

b. Kode Etik (Codes of Conduct ) Governing bodies entitas sektor publik harus menerapkan kode etik secara formal sesuai standar perilaku, termasuk anggotanya dan seluruh karyawan entitas diharuskan untuk melaksanakan.

c. Objektivitas, Integritas, dan Kejujuran (Objectivity, Integrity and Honesty) Governing bodies entitas sektor publik perlu membentuk mekanisme yang tepat untuk menjamin bahwa anggota governing body dan karyawan entitas sektor publik tidak dipengaruhi oleh prasangka, bias atau konflik kepentingan.

2. Struktur Organisasi dan Proses (Organizational Structure and Processes)

a. Akuntabilitas Hukum (Statutory Accountability) Governing bodies entitas sektor publik perlu menetapkan pengaturan yang efektif untuk memastikan kepatuhan terhadap semua undang-undang dan peraturan yang berlaku, dan pernyataan lain yang relevan praktek terbaik . b. Akuntabilitas Uang Publik (Accountability for Public Money) Governing bodies entitas sektor publik perlu menetapkan pengaturan yang memadai untuk memastikan bahwa dana masyarakat dan sumber daya benarbenar dijaga dan digunakan secara ekonomis, efisien, efektif, dengan segala kesederhanaan dan sesuai dengan otoritas hukum atau lainnya yang mengatur penggunaannya.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 20

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

c. Komunikasi dengan Stakeholders (Communication with Stakeholders) Governing bodies entitas sektor publik perlu menetapkan:  saluran komunikasi yang jelas dengan para stakeholders–nya dalam misi entitas, peranan, tujuan dan kinerja, dan  prosedur yang tepat untuk memastikan bahwa saluran tersebut dalam praktek berjalan secara efektif. Governoing bodies entitas sektor publik perlu membuat komitmen eksplisit untuk keterbukaan dan transparansi dalam semua kegiatan entitas, hanya tunduk pada kebutuhan untuk menjaga kerahasiaannya dalam keadaan tertentu secara tepat dan layak untuk dilakukan. Governing bodies entitas sektor publik harus melaporkan secara terbuka proses untuk pembuatan kesepakatan, dan mengumumkan nama-nama anggota governang bodies bersama-sama dengan kepentingan lain yang relevan.

d. Peran dan Tanggungjawab (Roles and Responsibilities) Peran dan tanggung jawab governing bodies, adalah: 1) Keseimbangan Kekuasaan dan Kewenangan (Balance of Power and Authority) Perlu ada pembagian tanggung jawab yang jelas di kepala bagian entitas sektor publik untuk memastikan keseimbangan kekuasaan dan wewenang. 2) Badan Pengelola Entitas Sektor Publik (The Governing Body of a Public Sector Entity) Setiap entitas sektor publik dipimpin oleh seorang governing body yang secara efektif untuk memimpin dan mengendalikan entitas, dan memonitor manajemen eksekutif. Anggota governing body harus mendapatkan pelatihan induksi yang tepat pada kesempatan awal kesepakatan governing body, dan untuk selanjutnya jika diperlukan. Governing bodies entitas sektor publik perlu menetapkan pengaturan yang tepat untuk memastikan bahwa mereka memiliki akses ke semua, seperti

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 21

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

informasi yang relevan, saran dan sumber daya yang diperlukan agar mereka dapat menjalankan peranannya secara efektif. Untuk memastikan bahwa pengarahan dan pengawasan dari entitas secara tegas di tangan mereka, governing bodies entitas sektor publik harus menetapkan dan mempertahankan kerangka kekuasaan yang up-to-date yang didelegasikan atau disediakan yang meliputi jadwal resmi tentang hal-hal khusus yang disediakan untuk pengambilan keputusan kolektif bagi governing body. Untuk mendukung dalam menjalankan tugasnya, governing bodies entitas sektor publik perlu untuk menetapkan proses manajemen secara jelas terdokumentasikan dan dipahami untuk pengembangan kebijakan, implementasi dan review, pengambilan keputusan, monitoring,

pengendalian dan pelaporan, serta peraturan prosedural dan keuangan formal untuk mengatur pelaksanaannya itu. 3) Ketua Badan Pemerintahan (The Chairperson of the Governing Body) Peran ketua harus ditetapkan secara tertulis, untuk memasukkan tanggung jawab kepemimpinan strategis yang efektif bagi governing body dan memastikan kedudukannya berhasil dalam melaksanakan tanggung jawab secara keseluruhan dalam kegiatan entitas. 4) Anggota Non-ekskutif Badan Pemerintahan (Non-Executive Members of the Governing Body) Anggota Non-eksekutif governing bodies sektor publik harus memberikan penilaian independen tentang isu-isu strategi, kinerja, sumber daya dan standar perilaku, selain itu mereka akan menerima fee untuk direksi. Tugas mereka, masa jabatan, remunerasi dan review-nya harus ditetapkan secara jelas. 5) Manajemen Eksekutif (Executive Management) Pimpinan Eksekutif harus memiliki garis tanggung jawab untuk semua aspek dari manajemen eksekutif, baik sebagai anggota dari governing body atau tidak. Manajemen eksekutif (eksekutif senior) bertanggung jawab:

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 22

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

 

untuk kinerja utamanya dari entitas dan pelaksanaan kebijakannya itu. untuk memastikan bahwa saran telah diberikan terhadap semua masalah keuangan, menyimpan catatan keuangan dan laporan yang tepat, dan juga untuk menjaga sistem yang efektif dalam pengendalian keuangan internal.

untuk memastikan bahwa prosedur governing body telah diikuti, dan semua undang-undang dan peraturan yang berlaku serta pernyataan terkait lainnya telah dilaksanakan dengan baik dan sesuai.

6) Kebijakan Remunerasi (Remuneration Policy) Tingkat remunerasi anggota governing body harus memadai untuk menarik dan mempertahankan mereka agar menjalankan entitas dengan sukses. Entitas sektor publik harus menetapkan prosedur formal dan transparan untuk mengembangkan kebijakan remunerasi eksekutif dan untuk menetapkan jumah remunerasi untuk masing-msing individual dari governing body. Laporan tahunan entitas sektor publik harus berisi pernyataan tentang kebijakan remunerasi dan rincian dari remunerasi anggota governing body. Pengungkapan tersebut mendukung prinsip-prinsip governance keterbukaan dan integritas, terutama di mana anggota-anggota governing body memiliki kemampuan untuk mengatur remunerasi mereka sendiri.

3. Pengawasan (Control)

a. Manajemen Risiko (Risk Management) Governing bodies entitas sektor publik harus memastikan bahwa sistem yang efektif dari manajemen risiko ditetapkan sebagai bagian dari kerangka pengawasan.

b. Audit Internal (Internal Audit) Governing bodies entitas sektor publik harus memastikan bahwa fungsi audit internal yang efektif ditetapkan sebagai bagian dari kerangka pengawasan.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 23

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

c. Komite Audit (Audit Committees) Governing bodies entitas sektor publik harus membentuk komite audit, yang terdiri dari anggota non-eksekutif, dan bertanggung jawab untuk mengkaji independensi kerangka pengawasan dan proses audit eksternal.

d. Pengendalian Internal (Internal Control) Governing bodies entitas sektor publik harus memastikan ditetapkan kerangka pengawasan internal, dijalankan dalam praktek, dan pernyataan efektifitasnya disertakan dalam laporan tahunan entitas.

e. Penganggaran, Manajemen Keuangan dan Pelatihan Staf (Budgeting, Financial Management and Staff Training) Governing bodies entitas sektor publik harus mengawasi, dan memastikan bahwa prosedur yang ditetapkan akan berdampak pada efektif dan efisiennya anggaran dan manajemen keuangan. Governing bodies entitas sektor publik harus memastikan programprogram pelatihan, sehingga staf lebih kompeten dalam melakukan tugasnya.

4. Pelaporan Eksternal (External Reporting)

a. Pelaporan Tahunan (Annual Reporting) Governing bodies entitas sektor publik harus menerbitkan dengan tepat waktu laporan tahunan (termasuk laporan keuangan), menyajikan laporan secara obyektif, berimbang dan mudah dipahami dan penilaian kinerja dari kegiatan entitas dan capaian, laporan posisi keuangan dan kinerjanya serta prospek kinerja . Governing bodies entitas sektor publik harus menyertakan dalam laporan tahunannya pernyataan yang menjelaskan (minimal) bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk:  menyetujui anggaran atau rencana keuangan dalam memberikan otorisasi untuk akuisisi dan penggunaan sumber daya keuangan;

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 24

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

 laporan keuangan yang wajar dalam menyajikan keadaan dari entitas pada akhir tahun keuangan dan hasil operasi tahun tersebut;  mempertahankan kerangka kerja yang efektif untuk pengawasan;  memastikan penggunaan yang konsisten dari kebijakan akuntansi yang tepat, didukung dengan penilaian yang wajar dan kebijaksanaan dan estimasi, dan  memastikan kepatuhan terhadap standar akuntansi yang berlaku. Governing bodies entitas sektor publik harus menyertakan dalam laporan tahunan mereka pernyataan apakah ya atau tidak mereka telah menerapkan standar atau pedoman governance. Pernyataan ini harus mengidentifikasi standar atau kode yang diterapkan, serta mengkonfirmasi kepatuhannya, atau jika tidak harus memberi alasan mengapa belum ada kepatuhan.

b. Penggunaan Standar Akuntansi yang Tepat (Use of Appropriate Accounting Standards) Governing bodies entitas sektor publik harus memastikan bahwa laporan keuangan yang terdapat dalam laporan tahunan yang disusun sesuai dengan IPSASs, atau otoritas lain dan diakui dalam standar akuntansi, dan perundangundangan yang berlaku.

c. Tindakan Performance (Performance Measures) Governing bodies entitas sektor publik harus menetapkan dan melaporkan langkah-langkah kinerja yang relevan untuk memastikan dan menunjukkan bahwa semua sumber daya telah diperoleh secara ekonomis dan digunakan secara efisien dan efektif.

d. Audit Eksternal (External Audit) Governing bodies entitas sektor publik harus memastikan bahwa hubungan obyektif dan profesional dipertahankan dengan auditor eksternal.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 25

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

F. STANDAR PELAKU

Jelaslah bahwa keterbukaan, integritas dan akuntabilitas individu dalam suatu entitas sektor publik merupakan hal terpenting dalam penerapan governance yang efektif. Reputasi entitas tergantung pada standar perilaku setiap orang di dalamnya, apakah sebagai anggota governing body, karyawan atau agen yang dikontrak untuk itu. Oleh sebab itu, prosedur yang efektif dan perlindungan harus diterapkan untuk memastikan bahwa semua staf:  berkomitmen untuk standar perilaku seseorang, dan  mempertahankan hubungan yang terbuka dan jujur dengan publik, dengan orang-orang dari organisasi lain, dan dengan karyawan lain serta anggota governing body. IFAC Financial Management and Accounting Committee menerbitkan Studi 8 Menyusun Power dan Pengendalian: Kode Etika dalam Aksi pada Mei 1999 (Codifying Power and Control: Ethical Codes in Action in May 1999). Studi ini dititik beratkan pada kode etik sebagai salah satu cara di mana perusahaan membuat nilai-nilai yang tegas (ekplisit), panduan dan pengambilan keputusan langsung, dan menentukan aturan-aturan dasar perilaku. Tiga bentuk kode etik ditetapkan: (1) kode etik (codes of ethics), yaitu pernyataan dari nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mendefinisikan tujuan organisasi; (2) kode praktek (codes of practice), yang membimbing dan mengarahkan dalam pengambilan keputusan, dan (3) kode etik perilaku (codes of conduct or behavior), yang menetapkan atau melarang perilaku tertentu. Dalam prakteknya, kode ini memiliki berbagai istilah, dan mungkin memiliki komponen lebih dari satu bentuk.

1. Kepeminpinan (Leadership) Anggota governing bodies entitas sektor publik perlu melaksanakan latihan kepemimpinan sesuai dengan standar perilaku, sebagai panutan bagi orang lain dalam entitas.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 26

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

Governing bodies entitas sektor publik biasanya bertanggung jawab untuk menentukan nilai-nilai dan standar yang akan digunakan untuk menentukan budaya entitas dan mengatur perilaku setiap orang yang ada di dalamnya. Standar perilaku harus diberlakukan untuk semua pelayan publik. Anggota governing body memiliki tanggung jawab khusus untuk memberikan contoh standar yang mereka harapkan kepada orang lain dalam organisasi. Ini memperkuat perlunya kebijakan yang tepat bagi sumber daya manusia, termasuk prosedur perekrutan, diikuti dengan induksi dan pelatihan kesadaran yang berkelanjutan untuk memastikan anggota governing body memiliki pemahaman yang tepat dari tanggung jawab mereka dan standar perilaku yang diharapkan dari mereka.

2. Kode Etik (Codes of Conduct) Governing bodies entitas sektor publik harus menerapkan kode etik secara formal dalam menetapkan standar perilaku yang mengatur anggota governing body secara individu dan seluruh karyawan dari entitas untuk melaksanakannya. Pemerintahan secara luas kode perilaku harus ada, untuk mengatur governing bodies dan memilih untuk menerapkannya, atau dapat digunakan sebagai dasar untuk merancang kode etik entitas sektor publik. Kode etik perlu:  entitas sampai dengan level tertinggi berkomitmen terhadap standar perilaku;  mengembangkan secara konsultatif dan melibatkan semua stakeholders untuk menanamkan budaya entitas;  menerima komitmen secara total dari governing body dan Pimpinan Eksekutif (Chief Executive) entitas - mereka harus memberi contoh bagi karyawan lain untuk mengikutinya, dan  secara terperinci, sehingga memberikan panduan yang jelas untuk perilaku yang diharapkan dari semua karyawan. Setelah melaksanakan kesepakatan semua anggota governing body dan staf harus berusaha untuk menegakkan dan mematuhi kode yang relevan.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 27

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

Kepatuhan dimaksudkan bisa menjadi kondisi penetapan, dan kepatuhan secara berkelanjutan di setiap bagian. Kode perilaku entitas harus mencerminkan tiga prinsip dasar keterbukaan, integritas dan akuntabilitas, dan sebagai pertanda:  ketulusan dan kepatutan;  objektivitas, integritas dan kejujuran, dan  hubungan. Dalam kontek ini, perilaku yang baik dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab seseorang untuk bertindak adil dan dengan beritikad baik, dan sedemikian rupa untuk memenuhi tujuan tertentu dari entitas yang ia telah tetapkan atau dipilih.

a. Ketulusan dan Kepatuhan (Probity and Propriety) Semua pelayan publik harus berperilaku sesuai dengan standar perilaku yang dapat mencerminkan pada mereka atau reputasi entitasnya. Secara khusus, pelayanan publik harus dapat dipercaya dalam penanganan dana publik. Mereka harus menunjukkan:  kejujuran dalam menangani aset dan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka;  perawatan dalam menjaga kekayaan, aset dan informasi rahasia yang memastikannya untuk tidak dicuri, disalahgunakan atau rusak;  ketaatan terhadap peraturan dan prosedur entitas, terutama akuntansi keuangan;  ekonomi untuk menghindari pemborosan dan kemewahan, dan  kejujuran personal dalam mengklaim pengeluaran dan memastikan bahwa aset dan sumber daya resmi tidak digunakan untuk keuntungan pribadi.

b. Objektivitas, Integritas, dan Kejujuran (Objectivity, Integrity and Honesty) Governing bodies entitas sektor publik perlu membentuk mekanisme yang tepat untuk menjamin bahwa anggota governing body dan karyawan dari entitas

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 28

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

sektor publik tidak dipengaruhi oleh prasangka, penyimpangan atau konflik kepentingan. Anggota governing bodies dan karyawan entitas sektor publik yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan perlu dan harus dipandang secara obyektif dan menempatkan kepentingan entitas di atas kepentingan lainnya. Hal ini dapat menyebabkan untuk bersikap adil, jujur dan bebas dari konflik kepentingan.

c. Konflik Kepentingan (Conflicts of Interest) Anggota governing body dan karyawan dari entitas sektor publik dituntut untuk mematuhi bukan hanya hukum undang-undang, tetapi juga aturan lain yang relevan pada pengungkapan kepentingan, dalam perlakuan pengungkapan kepentingan, keterbukaan harus dicermati. Munculnya konflik kepentingan bisa mengakibatkan kerusakan dari adanya konflik yang nyata, dan pemegang jabatan publik harus melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa semua kegiatan dijalankan, baik sebagai profesional dan pribadi, sehingga konflik kepentingan tidak terjadi. Dalam konteks ini, menghindari konflik kepentingan berarti bahwa anggota governing body dan karyawan entitas sektor publik tidak menggunakan posisi mereka di entitas sektor publik untuk mencari keuntungan pribadi dalam hubungan sosial atau bisnis di luar entitas publik. Anggota governing bodies dapat diangkat baik secara full-time atau paruh waktu. Beberapa anggota dari governing body mungkin memiliki bisnis konsultasi sendiri atau dapat bertindak sebagai anggota di dewan entitas lain. Selanjutnya, governing body mungkin ingin melibatkan anggota noneksekutif dari governing body untuk memberikan remunirasi jasa konsultasi kepada governing body. Hal ini dapat dibenarkan, asalkan pedoman dan aturan telah terpenuhi (ini mungkin diperlukan, misalnya, mengamati proses tender yang transparan dan pengungkapan lengkap). Aturan-aturan ini dapat didukung oleh "daftar kepentingan (register of interests)" untuk mencatat semua kepentingan pribadi yang relevan dengan kepentingan bisnis, bagi anggota governing body dan manajer puncak, dan

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 29

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

disampaikan kepada umum. Ketika konflik ditetapkan, orang tersebut harus tidak terlibat dalam keputusan, diskusi yang relevan atau dalam tindakan.

d. Kepentingan Politik (Political Interests) Dalam konteks ini, kepentingan yang relevan akan mencakup kegiatan politik yang signifikan, termasuk penyelenggara kantor, jabatan terpilih, penampilan publik dan pencalonan untuk pemilihan, yang dilakukan dalam lima tahun terakhir. Setiap kegiatan tersebut disampaikan dalam daftar kepentingan dan yang berpotensi konflik atau bertentangan dengan jabatan publik, dan orang tersebut tidak mengambil bagian dalam keputusan, diskusi yang relevan atau tindakan.

e. Hadiah, Kebaikan hati, dan Jamuan (Gifts, Hospitality and Entertainment) Pelayan publik tidak boleh memberi atau menerima suap, bantuan atau perangsang yang dapat mempengaruhi (atau tampaknya mempengaruhi) tindakan jabatan. Hadiah, kebaikan hati dan jamuan hanya boleh diberikan atau diterima jika ada kebutuhan yang tulus untuk memberikan informasi atau mewakili entitas. Untuk mengatasi keraguan tentang kelayakan memberikan atau menerima hadiah atau kebaikan hati, apakah dimaksudkan (atau mungkin dianggap ditujukan) untuk mempengaruhi tindakan seorang pelayan publik orang tersebut:  mempertimbangkan apakah pemberian atau penerimaan dari setiap hadiah atau kebaikan hati bisa dianggap normal dan wajar. "Normal dan wajar" didefinisikan untuk tujuan ini tidak berlebihan yang dipersiapkan entitas untuk menawarkan dalam keadaan yang sama. Entitas harus memberikan petunjuk mengenai apa yang mungkin dianggap tepat oleh pejabat dan anggotanya tidak boleh melebihi pedoman tersebut tanpa otoritas khusus dan tertulis dari entitas. Dimana tidak ada petunjuk, orang perlu memastikan bahwa setiap kebaikan hati atau hadiah bukan dari tingkat atau jumlah yang akan menyebabkan setiap orang untuk percaya bahwa orang tersebut dapat dipengaruhi;

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 30

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

 memastikan bahwa catatan yang disimpan lengkap dari semua perhotelaan atau hadiah yang ditawarkan, diberikan atau diterima di atas batas minimum, dan  jika ada keraguan mengenai kepatutan membuat atau menerima tawaran menurun.

f. Hubungan (Relationships)

Masyarakat dan Orang-orang dari Organisasi Lain (The Public and People from Other Organization) Pelayan publik perlu menegakkan reputasi entitas dengan memperlakukan masyarakat umum dan orang-orang dari organisasi lain:  dengan cara membantu dan sopan;  secara tepat waktu, dapat diandalkan dan tepat, rahasia, dan  dengan cara yang terbuka, adil dan efisien.

Karyawan (Employees) Semua pelayan publik harus memiliki memperlakukan rekan dengan hormat, yaitu:  terbuka, jujur dan sopan;  memiliki pertimbangan bagi kesehatan orang lain, keamanan dan kewajiban umum untuk

kesejahteraannya, dan  menghindari pelecehan, diskriminasi atau kekerasan dalam bentuk apapun. Untuk pihaknya, anggota-anggota governing body memiliki tanggung jawab terhadap stafnya. Governing body harus berusaha untuk membangun iklim yang terbuka dan budaya di mana staf dapat memiliki keyakinan dalam keadilan dan ketidakberpihakan prosedur untuk pendaftaran dan penagangan dengan kepentingan dan permasalahannya. Demikian pula, tanggung jawab anggota governing body dan manajemen eksekutif senior untuk menjamin keseimbangan kesempatan dan untuk membuat prosedur yang terbuka dan adil dalam pembuatan kesepakatan dan untuk menentukan persyaratan dan kondisi pelayanan.

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 31

KELOMPOK 7 : HARIYADI, WINDARTI, RIRIN SISWI HANI’AH

Pemasok (Suppliers) Semua pelayan publik harus berhati-hati untuk menjaga reputasi entitas, menghargai kesepakatan dan perjanjian lainnya. Ini berarti membangun kepercayaan yang wajar, terbuka dan konsisten. Anggota governing body dan karyawan yang terlibat dengan pemasok diharapkan untuk menampilkan standar kompetensi dan integritas. Secara individu harus menyadari akan risiko yang muncul dalam hubungan kontrak dan pembelian. Pemasok harus dipilih berdasarkan kualitas, kesesuaian dan nilai uang. Anggota dan karyawan perlu bersikap adil, langsung dan jujur dalam hubungan mereka dengan pemasok. Mereka harus berhati-hati setiap saat untuk menghindari kejadian yang manjadikan wajib bagi pemasok secara individu, misalnya, dengan menerima hadiah, kebaikan, jamuan atau bujukan lain.

Ketika berhadapan dengan pemasok, pelayan publik harus:  mematuhi hukum dan aturan internal entitas dan prosedur, misalnya, undangundang tentang pengadaan barang publik, peraturan tentang tender dan standar teknis pengadaan;  memastikan standar kualitas terpenuhi dan prosedur diikuti, dan selalu memastikan bahwa pemasok sesuai dengan standar yang ditentukan, dan  Pembayaran dalam waktu yang disepakati.

REFERENSI :  IFAC Public Sector Commette, Governance in The Public Sector : A Governing Body Prespective, International Public Sector Study, Study 13, Agust 2001.  http://wapresri.go.id/index/preview/berita/2139 (Rabu, 27 Juni 2012)

---ooOoo—

Principles of Governance and Recommendations on Governance

Hal : 32

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->