P. 1
Teknologi Pengolahan Sampah

Teknologi Pengolahan Sampah

|Views: 9|Likes:
Published by auliyahoke

More info:

Published by: auliyahoke on May 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/27/2014

pdf

text

original

Teknologi Pengolahan Sampah

by Michael Hutagalung on 30/12/07 at 11:59 pm | 57 Comments | Print article | Email article

Pernah mendengan PLTSa? Pembangkit Listrik Tenaga Sampah? Suatu isu yang sedang hangat dibicarakan di Kota Bandung, sebuah kota besar di Indonesa yang beberapa waktu yang lalu pernah heboh karena keberadaan sampah yang merayap bahkan hingga badan jalan-jalan utamanya. Jangankan jalan utama, saat Anda memasuki Bandung menuju flyover Pasupati, Anda pasti akan disambut dengan segunduk besar sampah yang hampir menutupi setengah badan jalan. Itu dulu. Sekarang, Kota Bandung sudah kembali menjadi sedia kala dan solusi PLTSa-lah yang sedang diperdebatkan. Tujuan akhir dari sebuah PLTSa ialah untuk mengkonversi sampah menjadi energi. Pada dasarnya ada dua alternatif proses pengolahan sampah menjadi energi, yaitu proses biologis yang menghasilkan gas-bio dan proses thermal yang menghasilkan panas. PLTSa yang sedang diperdebatkan untuk dibangun di Bandung menggunakan proses thermal sebagai proses konversinya. Pada kedua proses tersebut, hasil proses dapat langsung dimanfaatkan untuk menggerakkan generator listrik. Perbedaan mendasar di antara keduanya ialah proses biologis menghasilkan gas-bio yang kemudian dibarak untuk menghasilkan tenaga yang akan menggerakkan motor yang dihubungkan dengan generator listrik sedangkan proses thermal menghasilkan panas yang dapat digunakan untuk membangkitkan steam yang kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang dihubungkan dengan generator listrik.

Proses Konversi Thermal
Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi, pirolisa, dan gasifikasi. Insinerasi pada dasarnya ialah proses oksidasi bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat antara bahan organik dengan oksigen. Apabila berlangsung secara sempurna, kandungan bahan organik (H dan C) dalam sampah akan dikonversi menjadi gas karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Unsur-unsur penyusun sampah lainnya seperti belerang (S) dan nitrogen (N) akan dioksidasi menjadi oksida-oksida dalam fasa gas (SOx, NOx) yang terbawa di

padatan char. starved air unit. Gasifikasi merupakan proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas. open pit. proses gasifikasi menghasilkan gas yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 4000 kJ/Nm3. Seperti halnya pirolisa. Beberapa contoh insinerator ialah open burning. multiple chamber. Dengan adanya proses pemanasan dengan temperatur tinggi. Hasil pirolisa dapat berupa tar. rotary kiln. Pirolisa merupakan proses konversi bahan organik padat melalui pemanasan tanpa kehadiran oksigen. Incinerator. Sebuah ilustrasi bagian-bagian dalam sebuah incinerator. single chamber. dan produk gas. dan fluidized bed incinerator. molekulmolekul organik yang berukuran besar akan terurai menjadi molekul organik yang kecil dan lebih sederhana. .gas produk. methanol. Gasifikasi melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada temperatur yang relatif tinggi (sekitar 900-1100 C). larutan asam asetat.

limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam tanah menjadi senyawa-senyawa gas dan cair. leachate akan mencemari tanah dan masuk ke dalam badan-badan air di dalam tanah. Senyawa-senyawa ini berinteraksi dengan air yang dikandung oleh limbah dan air hujan yang masuk ke dalam tanah dan membentuk bahan cair yang disebut lindi (leachate). Gas methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai kompos. Sistem pengambilan gas hasil biasanya terdiri dari sejumlah sumur-sumur dalam pipa-pipa yang dipasang lateral dan dihubungkan dengan pompa vakum sentral. Selain itu terdapat juga sistem pengambilan gas dengan pompa desentralisasi.proses aerobik) dan menghasilkan gas methane (pada proses anaerobiknya).Proses Konversi Biologis Proses konversi biologis dapat dicapai dengan cara digestion secara anaerobik (biogas) atau tanah urug (landfill). Karena itu. tanah di landfill harus mempunya permeabilitas yang rendah. Jika landfill tidak didesain dengan baik. Modern Landfill. Produk dari digester tersebut berupa gas methane yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3. Proses biogas menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry. Biogas adalah teknologi konversi biomassa (sampah) menjadi gas dengan bantuan mikroba anaerob. Di dalam lahan landfill. Aktifias mikroba dalam landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2 (pada tahap awal . Gas landfill tersebut mempunyai nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. Landfill ialah pengelolaan sampah dengan cara menimbunnya di dalam tanah. . Konsep landfill seperti di atas ialah sebuah konsep landfill modern yang di dalamnya terdapat suatu sistem pengolahan produk buangan yang baik.

Jartest ini juga dapat digunakan untuk mengetahui kinerja kogulasi dan flokulasi secara simulasi di laboratorium asalkan air yang dilakukan simulasi dengan jartest ini adalah air yang benarbenar akan dilakukan pengolahan dilapangan. dan persyaratan yang digunakan untuk memperoleh hasil yang optimum. karakter pasar dari produk pengolahan. 2007 · 19 Comments Download The Environmentalist. termasuk : • • • Bahan kimia pembantu pH Temperatur . persyaratan lingkungan. Kira-kira teknologi mana yang tepat sebagai solusi pengolahan sampah menjadi bahan berguna? Apakah PLTSa sudah merupakan teknologi yang tepat?? Simulasi Koagulasi-Flokulasi Dengan Jartest April 12. Standar ini menetapkan suatu metode pengujian koagulasi flokulasi dengan cara jartest. termasuk prosedur umum untuk mengevaluasi pengolahan dalam rangka mengurangi bahan-bahan terlarut. dan yang tidak dapat mengendap dalam air dengan menggunakan bahan kimia dalam proses koagulasi-flokulasi. Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia (koagulan) ke dalam air yang akan dioIah. implikasi lingkungan dan sistem. koloid. kolois. maka kita bisa menggunakan alat laboratorium yang bernama Jartest. Untuk mengentahui tingkat kekeruhan suatu sample air. dan yang tidak dapat mengendap dalam air. Untuk melakukan pemilihan alur konversi sampah diperlukan adanya informasi tentang karakter sampah. Flokulasi adalah proses penggumpalan bahan terlarut. dan yang pasti: keekonomian. Variabel-variabel utama yang dikaji sesuai dengan yang disarankan. Uji koagulasi-flokulasi dilaksanakan untuk menentukan dosis bahan-bahan kimia. karakter teknis teknologi konversi yang ada.Pemilihan Teknologi Tujuan suatu sitem pemanfaatan sampah ialah dengan mengkonversi sampah tersebut menjadi bahan yang berguna secara efisien dan ekonomis dengan dampak lingkungan yang minimal. Kembali ke Bandung. yang dilanjutkan dengan pengendapan secara gravitasi.

2. Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. 4. Kurangi kecepatan sampai pada kecepatan minimal. Rak Pereaksi Bahan kimia dan bahan pembantu. kecuali koagulan pernbantu dapat dipersiapkan setiap akan digunakan dengan membuat larutan sampai mencapai konsentrasi 10 gr/L. teknologi pengolahan limbah cair yang dihasilkannya mungkin sudah memadai. dalam perdagangan tersedia berbagai macam koagulan pembantu atau polielektrolit. Namun demikian. Ulangi langkah 1 sampai 6 di atas sampai semua variabel penentu terevaluasi. Koagulan pembantu. Peralatan yang diperlukan terdiri dari: Pengaduk. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat . untuk menjaga keseragaman partikel flok yang terlarut melalui pengadukan lambat selama 20 menit. penting bagi sektor industri kehutanan untuk memahami dasar-dasar teknologi pengolahan limbah cair. catat bentuk flok pada dasar gelas dan catat temperatur contoh uji. Setelah pengadukan lambat selesai. Pengaruh konsentrasi koagulan dan koagulan pembantu dapat juga dievaluasi dengan metode ini.4 mm dari dinding gelas. Operasikan pengaduk muIti posisi pada pengadukan cepat dengan kecepatan kirakira 120 Rpm. 5. Untuk mendapatkan hasil yang lebih teliti prosedur berpasangan 3 dan 3 jartest dianjurkan. 3. Setelah 15 menit pengendapan. 6. angkat baling-baling dan lihat pengendapan partikel flok. PENGOLAHAN LIMBAH CAIR Industri primer pengolahan hasil hutan merupakan salah satu penyumbang limbah cair yang berbahaya bagi lingkungan. Catat temperatur contoh uji pada saat pengujian dimulai. 7. Masukkan volume contoh uji yang sama (1000 mL) kedalam masing-masing gelas kimia. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Tempatkan gelas hingga baling-baling pengaduk berada 6. keluarkan sejumlah cairan supernatan yang sesuai sebagai contoh uji untuk penentuan warna. Dengan menggunakan pipet atau siphon. mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan limbah cair bagi lingkungan. Bagi industri-industri besar.• Persyaratan tambahan dan kondisi campuran. seperti industri pulp dan kertas. pH dan analisis lainnya. kekeruhan. Tambahkan larutan atau suspensi pada setiap penentuan dosis yang telah ditentukan sebelumnya. Gelas Kimia. digunakan untuk larutan dan suspensi pengujian. namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Letakkan bahan (kimia) uji pada pereaksi. Prosedur pengujian : 1. Metode uji ini digunakan untuk mengevaluasi berbagai jenis koagulan dan koagulan pembantu pada proses pengolahan air bersih dan air Iimbah.

pengolahan secara fisika 2.5 . Bahan tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut. pengolahan secara biologi Untuk suatu jenis air buangan tertentu. Pengolahan Secara Kimia Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikelpartikel yang tidak mudah mengendap (koloid). dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi.yang bersangkutan. akan dilaksanakan untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam proses osmosa. Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan. pengolahan secara kimia 3. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut. ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi. dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut lainnya. sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan. yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi).Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil. Pengolahan Secara Fisika Pada umumnya. dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahanbahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan: 1. biasanya dengan karbon aktif. Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap. Proses adsorbsi. terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. senyawa fosfor. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation). Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal. Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut. biasanya dilakukan untuk mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya. dan zat organik beracun. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. logam-logam berat. sehingga akhirnya dapat diendapkan.

dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9. yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain. Khusus untuk krom heksavalen. Pengolahan secara biologi Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. aerasi. terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4. reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis. Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi. Proses aerob. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Sebagai pengolahan sekunder. yang berlangsung dengan hadirnya oksigen. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini. baik yang diaerasi maupun yang tidak. Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi. yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit. 2. antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi.Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan pengolahan secara kimia. filter terendam 4. yaitu: 1. juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. ozon hidrogen peroksida. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor). cakram biologi 3. trickling filter 2. proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis: 1. waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi.5. SO2. akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan kimia. 2. Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2). Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l. proses aerob masih dapat dianggap . atau Na2S2O5). kalsium permanganat. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor). sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3]. cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan. reaktor fludisasi Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%). oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan. antara lain: 1. yang berlangsung tanpa adanya oksigen. Kolam oksidasi dan lagoon. mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi.Di dalam reaktor pertumbuhan lekat.Pada dasarnya. pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan efisien. Untuk iklim tropis seperti Indonesia. mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Proses anaerob. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional. Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja. Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.

volatile hydrocarbon. timbal. oil sludge Ditulis oleh Anto Tri Sugiarto pada 29-09-2004 Berbagai kasus pencemaran limbah beracun berbahaya (B3) dari penambangan minyak di Indonesia. Teknologi plasma banyak diterapkan sebagai salah satu teknik pengolahan limbah. Dewasa ini. xylenes. dan SOx dapat mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat disekitarnya. air. sulphide. pasir. ethylbenzene. Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l. bahan-bahan kimia seperti. Limbah padat yang dihasilkan disebut oil sludge. abu. minyak (hydrocarbon). Plasma umumnya dipergunakan pada pengolahan limbah padat. CO. Oksidasi proses yang terjadi akibat kontak antara minyak. dan bahan kimia lainnya. Begitupula dengan limbah cair dari sisa proses penyulingan umumnya memiliki kandungan minyak. phenol. udara dan air menimbulkan adanya sedimentasi pada dasar tangki penyimpanan. Kandungan dari hydrocarbon antara lain benzene. 18 tahun 1999. dimana . Plasma tidak hanya dapat mengolah oil sludge. tapi sekaligus dapat mendaur ulang limbah yang umumnya mengandung sekitar 40% minyak. Dengan mengolah oil sludge akan menghasilkan light oil seperti minyak diesel yang siap pakai. teknologi plasma juga dapat diterapkan dalam mengolah limbah oil sludge. dan chloride yang merupakan limbah beracun berbahaya. dan terakhir kasus pencemaran di Indramayu sudah seharusnya menjadi catatan penting bagi para pengelola penambangan minyak akan pentingnya pengolahan limbah oil sludge di tanah air. Oil sludge terdiri dari. Riau. hingga saat ini belum pernah ditangani dengan serius.lebih ekonomis dari anaerob. Sorong (Papua). Kandungan limbah gas buangan seperti. dan logam berat seperti timbal (Pb) pada oil sludge merupakan limbah B3 yang dalam pengelolaannya harus mengacu pada peraturan pemerintah no. cair dan padat. toluene. dan residu dari proses pengolahan siap dan aman untuk dibuang (landfill). limbah beracun berbahaya. endapan ini adalah oil sludge. Limbah yang dihasilkan dapat diklasifikasikan sebagai limbah gas. Dimana minyak hasil penyulingan (refines) dari minyak mentah biasanya disimpan dalam tangki penyimpanan. seperti di Tarakan (Kalimantan Timur). karat tangki. Di negara maju seperti Jepang plasma dipergunakan untuk mengolah logam atau limbah domestik pada insinerator sekaligus dapat mendaur ulang limbah logam berat seperti timbal (Pb) dan seng (Zn) yang terkandung limbah tersebut. Oil sludge Limbah dari proses penyulingan minyak mentah (crude oil) dalam industri perminyakan sangatlah komplek. NOx. proses anaerob menjadi lebih ekonomis. Aplikasi Plasma Teknologi untuk Daur Ulang Limbah Oil Sludge Kata Kunci: Daur ulang limbah. Kasus pencemaran akibat oil sludge atau endapan pada tangki penyimpanan minyak industri perminyakan.

Senyawa organik yang menguap dapat dibentuk kembali dalam bentuk minyak. dengan suhu tinggi diatas 10. Prose sistem pengolahan limbah oil sludge dengan plasma dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil dari proses ini adalah panas dan gas terionisasi yang akan memproduksi thermal plasma jet dengan temperature yang sangat tinggi. hal ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada proses yang menggunakan . suhu terbaik yang dibutuhkan untuk menguapkan kandungan hydrocarbon dalam oil sludge.000 ・. Setelah melalui pendinginan dalam kondensor cairan yang terbentuk dari gas organik tadi adalah light oil yang 100% dapat dipergunkan kembali. kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih jauh dari yang diharapkan. Energi yang diperlukan dalam proses dibentuk dalam plasma torch. dan dapat dimanfaatkan. Plasma ini dapat dipergunakan untuk menguapkan senyawa organik (hydrocarbon) yang terkandung dalam oil sludge. Gas argon atau nitrogen sendiri dapat dipergunakan kembali dalam reaktor proses.limbah B3 harus diproses untuk mengubah karakteristik dan komposisi limbah B3 menjadi tidak beracun dan berbahaya. centrifuges (pemisahan). steam dan lain sebagainya kedalam plasma torch.000 ・. Thermal plasma dapat dibuat dengan electric arc. Normal operasi temperatur yang dipergunakan dalam proses ini adalah sekitar 800 hingga 1200 derajat celcius. udara. atom atau molekul gas akan bertumbukan dengan elektron yang terbentuk dalam electric arc. dan bioremediation (microbiologi). Thermal plasma adalah gas yang terionisasi (ionized gas). Gas yang dipergunakan dalam torch adalah argon atau nitrogen (dalam hal ini tidak ada oksigen). Kondisi dalam reaktor proses dikondisikan sedemikian rupa agar tidak terjadi proses oksidasi pada material hydrocarbon dan dapat mendukung proses pembentukan minyak pada condensator. dan siap untuk dibuang ke TPA dengan aman. Dengan memasukkan gas seperti. argon. incineration (pembakaran). untuk mengubah uap gas tadi menjadi cairan. Plasma yang dihasilkan oleh plasma torch dapat dioperasikan pada suhu 15. Gas organik yang yang terbentuk dalam reaktor bersamaan dengan gas argon atau nitrogen kemudian dimasukkan kedalam kondensor. dalam sebuah alat yang disebut plasma torch. yang terbentuk diantara dua elektroda. steam extraction (ekstraksi). Residu yang dihasilkan dari proses ini akan bebas dari kandungan hydrocarbon. Beberapa kelebihan dari pemanfaatan proses ini adalah energi efisiensinya dapat mencapai 80%. nitrogen. Sebenarnya banyak teknik pengolahan limbah oil sludge yang dapat diaplikasikan seperti. Namun. Plasma yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk mengolah dan mendaur ulang limbah oil sludge. Daur ulang limbah oil sludge Dewasa ini pemanfaatan plasma dengan suhu tinggi (thermal plasma) dalam berbagai proses industri meningkat. Apabila pada oil sludge terkandung logam berat seperti timbal proses lanjutan dengan plasma dapat dilakukan untuk mendaur ulang logam tersebut. ditambah lagi dengan biaya operasional yang masih sangat mahal.

gas atau bahan bakar minyak lain yang hanya dapat mencapai 20%. Dengan menerapkan plasma proses pada limbah oil sludge diharapkan pencemaran lingkungan dan dampaknya bagi kesehatan masyarakat dapat dihindari. Lebih dari pada itu oil sludge dapat didaur ulang sehingga dapat menjadikan nilai tambah bagi industri perminyakan nasional.01% dari total hydrocarbon. Juga plasma proses akan lebih efektif jika diaplikasikan pada limbah oil sludge yang memiliki kandungan hydrocarbon di atas 10%. Selanjutnya. . kandungan hydrocarbon pada residu yang dihasilkan berkisar dibawah 0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->