INSTRUMENTASI & METERING

I.

Alat-Alat Ukur Listrik

Alat-alat ukur listrik adalah peralatan yang digunakan untuk mengukur besaranbesaran listrik, misalnya arus, tegangan, daya, dan lain-lain. Berdasarkan prinsip kerjanya alat ukur listrik dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu : − Alat ukur penunjuk (Indicating Instruments) − Alat ukur pencatat (Recording Instruments) − Alat ukur penjumlah (Integrating Instruments)

Alat Ukur Penunjuk Alat ukur penunjuk adalah alat ukur yang langsung menunjukkan besaran yang diukur, biasanya menggunakan jarum penunjuk. Tetapi sekarang ada pula yang tidak menggunakan jarum penunjuk yaitu alat ukur digital. Banyak alat ukur yang termasuk kategori ini, misalnya Voltmeter, Amperemeter, Wattmeter.

Alat Ukur Pencatat Alat Ukur Pencatat adalah alat ukur yang mencatat secara terus menerus besaran yang diukur selama periode waktu yang ditentukan. Pada alat ini terdapat pena dan gulungan kertas yang berputar. Pena tersebut akan bergerak sebanding dengan besaran listrik yang diukur sehingga perubahannya tercatat secara kontinyu. Sebagai contoh adalah recording voltmeter yang terdapat pada gardu induk yang mencatat fluktuasi tegangan yang terjadi.

Alat Ukur Penjumlah

1

Alat ukur penjumlah adalah alat ukur yang mengukur jumlah total energi listrik yang dikonsumsi oleh suatu rangkaian dalam periode waktu tertentu. Energi yang diukur ini sebenarnya merupakan perkalian antara daya aktif dengan waktu. Kilo Watt Hour meter (kWH meter) merupakan contoh dari alat ukur jenis ini.

1.1. Prinsip Kerja Alat Ukur Pada dasarnya alat ukur listrik menggunakan efek-efek di bawah ini sebagai prinsip kerjanya : − efek magnetik − efek panas − efek kimia − efek elektrostatik − efek induksi

Efek magnetik Pada Gambar 1.1 (a) terdapat sebuah konduktor yang dialiri arus listrik dengan arah mundur. Sebagai akibatnya di sekitar konduktor ini akan terdapat medan magnet dengan arah berlawanan dengan arah jarum jam. Gambar 1.1 (b) merupakan gambar medan magnet uniform. Bila konduktor pada Gambar 1.1 (a) diletakkan pada medan magnet uniform ini maka hasil kombinasi ke dua medan magnet ini seperti terlihat pada Gambar 1.1 (c). Medan magnet di sebelah kiri konduktor akan menjadi lebih rapat jika dibandingkan dengan sebelah kanan.

2

(a)

(b)

(c)

Gambar 1.1. Konduktor berarus di medan magnet uniform Hal ini akan mengakibatkan konduktor bergerak ke kanan atau konduktor mendapat gaya ke arah kanan. Kalau salah satu arah medan magnet dibalik arahnya, maka gaya yang terjadi pada konduktor tersebut arahnya akan ke kiri. Pada alat ukur yang menggunakan prinsip ini, gaya tersebut digunakan sebagai momen penggerak jarum penunjuk. Bentuk lain dari efek magnit ini dapat diperoleh dari gaya antara kumparan yang dialiri listrik (elektromagnet) dengan sebuah magnet tetap, lihat gambar 1.2. Alat ukur kumparan putar (moving coil) adalah contoh alat ukur yang menggunakan prinsip ini.

3

Gambar 1.2 Gaya antara elektromagnet dengan magnet tetap

Bila magnet tetap diganti dengan elektromagnet maka akan diperoleh gaya tarik atau tolak sesuai dengan polaritas elektromagnet tersebut, Gambar 1.3.

Gambar 1.3 Gaya antara 2 buah elektromagnet

Alat ukur yang menggunakan prinsip ini adalah alat ukur tipe elektrodinamis. Efek Termal Arus listrik yang melewati konduktor menyebabkan panas akibat adanya tahanan pada konduktor tersebut. Panas ini sebanding dengan besarnya tahanan dan kuadrat arus. Panas ini akan menyebabkan perubahan panjang konduktor, dan ini dapat digunakan untuk menggerakkan mekanisme jarum penunjuk alat ukur. Alat ukur kawat panas (hot wire instruments) menggunakan cara ini. Ada pula bentuk lain efek termal yaitu jika ada persambungan (junction) dua buah metal yang berbeda mengalami kenaikan temperatur maka akan terjadi beda potensial diantara kedua metal tersebut. prinsip ini dapat digunakan unutk mengukur arus dan temperatur.

Efek Kimia
4

Interaksi antara arus pusar ini dengan medan magnet bolak balik akan menghasilkan gaya yang menyebabkan piringan berputar. gaya ini dapat digunakan untuk menggerakkan salah satu pelat yang dihubungkan dengan mekanisme jarum penunjuk. ----------------------------------------------------------------------------------------------------Efek Alat ukur ----------------------------------------------------------------------------------------------------5 . Alat ukur yang menggunakan prinsip ini disebut alat ukur elektrostatis dan pada umumnya berupa sebuah voltmeter. akan terjadi reaksi kimia yang menghasilkan gas atau endapan pada salah satu elektrodenya. Jumlah endapan atau gas ini sebanding dengan perkalian antara arus dengan waktu. Efek Induksi Jika sebuah prinsip logam diletakkan pada medan magnet yang berubah-ubah atau yang dihasilkan oleh arus bolak-balik. sehingga pada piringan tersebut akan timbul arus putar. Prinsip induksi ini terutama digunakan pada alat pengukur energi listrik. Piringan logam ini dapat dianggap sebuah rangkaian tertutup. sehingga prinsip ini dapat digunakan untuk mengukur besaran listrik Efek Elektrostatik Jika dua buah pelat logam diberi muatan listrik maka akan terjadi gaya di antara kedua pelat tersebut. akan timbul tegangan induksi pada piringan.Kalau arus listrik melewati suatu elektrolit. Tabel di bawah ini menunjukan penggunaan efek-efek di atas pada alat ukur.

Efek panas . Ketiga gaya ini mempunyai fungsi yang berbedabeda. Alat Ukur Penjumlah .1 Gaya Gerak Fungsi dari momen gerak ini adalah untuk menggerakkan jarum penunjuk dari posisi nol. Alat ukur Penjumlah ----------------------------------------------------------------------------------------------------- 1. gaya lawan.1. Voltmeter. Voltmeter DC ampere hour meters Voltmeter Amperemeter.2. dan gaya redaman.Efek induksi Amperemeter. Wattmeter.1 Gaya pada Alat Ukur Pada alat ukur penunjuk ada tiga buah gaya atau momen yang bekerja yaitu gerak. 6 .2 Alat Ukur Penunjuk Dalam sub bab ini akan dibahas mengenai gaya atau momen yang diperlukan dan dikonstruksi dari alat ukur ini.. Voltmeter.1.2.Efek elektrostatik . demikian pula cara mendapatkannya. 1. Wattmeter. cara memperoleh gaya gerak ini telah dibahas pada sub bab 1.Efek kimia .Efek magnetik Amperemeter. 1.

Gambar 1.2. Cara Gravitasi Cara ini hanya dapat digunakan pada alat ukur yang digunakan secara vertikal. Cara Menghasilkan Gaya Lawan a. 7 .1.1.2 Gaya Lawan Gaya lawan ini diperlukan untuk melawan gaya gerak sehingga arus yang menghasilkan gaya gerak atau simpangan jarum penunjuk sebanding dengan penunjukkan jarum penunjuk. Tanpa adanya gaya lawan jarum penunjuk akan bergerak terus.4. Fungsi yang lian adalah untuk mengembalikan jarum penunjuk ke posisi semula. Sebuah pemberat dilatakkan pada lengan bagian yang bergerak.

4 Momen Lawan tipe gravitasi Gaya/Momen lawan yang dihasilkan : M l = W sinθ x l = Wl sinθ W dan l merupakan hrga konstan.bila dilewati atau untuk jalan arus.5 memperlihatkan salah satu contoh pegas yang digunakan pada alat ukur. harus mempunyai tahanan yang kecil. sehingga : M l = K sinθ K = konstanta Kesimpulannya momen/gaya lawan sebanding dengan sinus sudut simpangannya. Cara pegas/per Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pegas : .non magnetik . b. 8 . Gambar 1.Gambar 1.mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi .

1.Gambar 1.l konstan. sehingga diperoleh : Ml = S θ S = konstanta pegas.t.m E = Modulus Young material pegas (kg/m2) b = lebar pegas (m) t = tebal pegas (m) = sudut simpangan/deflesi (rad) l = panjang pegas (m) Untuk suatu pegas tertentu E.b.5 Pegas Momen lawan yang dihasilkan : E b t3 θ 12 l Ml = kg .2.1.3 Gaya Redaman 9 .

Kondisi ini disebut redaman kurang (under damping). kurva b menunjukkan jika redamannya terlalu besar (over damping). bagian yang bergerak (moving system) dari suatu alat ukur mempunyai massa sehingga tidak bisa langsung berhenti tapi berosilasi disekitar posisi akhir. Gaya redaman diperlukan agar jarum penunjuk cepat berhenti pada posisi akhir. 10 .6. Gesekan udara.7. konstruksinya dapat dilihat pada gambar 1. sedangkan kondisi redaman diantara keduanya disebut redaman kritis. Cara Mendapatkan Gaya Redaman a.Jarum penunjuk akan berhenti apabila gaya gerak sama dengan gaya lawan.6 Respons jarum penunjuk pada alat ukur Apabila gaya redamannya terlalu kecil unjuk kerja alat ukur dapat dilihat pada kurva a. Pengaruh besarnya gaya redaman terhadap unjuk kerja suatu alat ukur dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1.

Gambar 1. Gambar 1. konstruksinya bisa seperti pada Gambar 1.7 hanya udara diganti dengan fluida lain.7 Gaya redaman tipe gesekan udara b. misalnya minyak.8 Gaya lawan tipe gesekan fluida 11 .8 memperlihatkan bentuk konstruksi yang lain. Gesekan fluida.Gambar 1.

Gambar 1.9 Suspensi Gantung b. Alat ukur yang menggunakan bantalan seperti ini penggunaannya harus hati-hati karena bagian yang bergerak harus benar-benar tergantung secara vertikal. Suspensi Gantung Bagian yang bergerak digantung dengan pita metal tipis (Gambar 1. Suspensi Tarik 12 .2 Konstruksi Alat Ukur Persyaratan bagian yang bergerak : − ringan − gaya gesekan kecil Macam-macam bantalan : a.2.1.9).

10 Suspensi Tarik c. Pasak dengan bantalan batu permata Pasak terbuat dari tembaga sedangkan batu permata yang umum digunakan adalah intan karena keras sehingga tidak mudah aus.11 Pasak dengan bantalan batu permata 13 . Konstruksi sistem ini dapat dilihat pada Gambar 1. hanya gantungan atas yang terbuat dari logam tipis diganti dengan pegas yang halus. Gambar 1. Kontruksi ini mengakibatkan penggunaan alat ukur harus vertikal.Konstruksinya sama seperti pada gambar 1. Gambar 1.9.11.

1. tabel di bawah ini merupakan contoh tanda-tanda alat ukur. 14 . ketelitian dari alat tersebut. Tanda-Tanda Alat Ukur Pada umumnya alat ukur pada bagian depan atau di buku petunjuknya terdapat tandatanda yang menunjukkan cara menggunakan. konstruksi.2.Bantalan seperti ini banyak digunakan karena tidak memerlukan perawatan yang intensif dan tidak memerlukan penyetelan yang rumit.

Kelas alat ukur = kesalahan maksimum/skala penuh x 100 % 15 .

1. banyak digunakan sebagai Voltmeter. sedangkan gaya redaman didapat dengan ‘Eddy Current Damping’.3 Alat Ukur Kumparan Putar (Moving coil) Alat ukur jenis ini paling akurat untuk mengukur arus atau tegangan searah.1 Prinsip Kerja Gaya/momen gerak diperoleh dengan menggunakan efek magnetik yaitu interaksi anatara medan magnet/fluks magnet dari sebuah magnet tetap dengan arus yang melewati kumparan putar.12 Konstruksi alat ukur kumparan putar Medan magnet (fluks magnet) dihasilkan oleh magnet tetap.2 Konstruksi Konstruksi alat ukur kumparan putar dapat dilihat pada Gambar 1. Amperemeter. dan Ohmmeter. 16 .3.12. Jika ada arus yang mengalir melalui kumparan putar maka pada kumparan putar tersebut akan timbul gaya karena adanya fluks magnet. 1. Gaya lawan pada umumnya diperoleh dengan menggunakan pegas. Adanya gaya ini menyebabkan kumparan berputar yang berarti juga menggerakkan jarum skala karena jarum ini dihubungkan dengan poros kumparan.1. Kumparan putar ditopang oleh bantalan pasak dan batu permata.3. Gambar 1.

Sθ=ki θ = k1 i 17 .3 Persamaan Gaya/Momen l = panjang kumparan (m) d = lebar kumparan putar (m) N = jumlah lilitan kumparan putar i = arus (A) S = konstanta pegas (Nm/rad) θ = sudut simpangan (rad) Gaya tiap konduktor pada kumparan = B i l sin θ B = rapat fluks (Wb/m2) θ = sudut antara arus dengan fluks magnet (90°) Sehingga gaya tiap konduktor pada kumparan menjadi = B i l Gaya total pada kumparan Momen gerak :F=NBil : Mg = F x d =NBild =ki Momen lawan : Ml = S θ (k = konstanta) Newton Posisi akhir terjadi apabila momen gerak sama dengan momen lawan.3.1.

1 Prinsip Kerja Gaya gerak diperoleh dengan efezk magnetik yang diperoleh dengan cara elektromagnet.4.3. 1. Untuk memperluas daerah ukur digunakan tahanan depan (Voltmeter) dan tahanan shunt (Amperemeter). Tipe tolak digunakan untuk alat ukur sudut sempit. sedangkan tipe kombinasi tolak dengan tarik digunakan untuk alat ukur sudut lebar. lihat Gambar 1.Berdasarkan persamaan di atas dapat dilihat bahwa skala alat ukur kumparan putar linier.4. Alat ukur ini banyak digunakan sebagai Amperemeter dan Voltmeter. 1. Jika digunakan unutk arus bolak-balik harus diberi penyearah. 1.13.4 Alat Ukur Besi Putar (Moving Iron) Alat ukur besi putar banyak digunakan sebagai Amperemeter dan Voltmeter di laboratorium dan panel-panel daya. gaya lawan diperoleh dengan menggunakan pegas. gaya redaman diperoleh dengan cara gesekan udara atau cara yang lain.2 Konstruksi Ada jenis atau tipe yaitu tipe tolak dan tipê kombinsi tolak dengan tarik. 1. 18 . gaya yang didapat merupakan gaya tarik atau tolak dari kutub-kutub elektromagnet. Alat ukur jenis ini merupakan alat ukur yang paling murah jika dibandingkan dengan alat ukur jenis lain.4 Penggunaan Alat ukur ini menggunakan fluks yang konstan sehingga hanya bisa digunakan untuk arus searah.

4. Pada waktu arus I mengalir pada kumparan maka besi putar akan bergerak dengan gaya yang dominan adalah gaya tolak.Tipe tolak Tipe Tarik + Tolak Gambar 1. Ini adalah prinsip unutk alat sudut sempit Untuk alat ukur tipe sudut lebar terdapat susunan besi diam dan sebuah besi putar. Dengan demikian akan terjadi gaya tolak menolak yang menyebabkan besi putar bergerak yang berarti menggerakkan juga jarum penunjuk. Setelah mencapai pertengahan pergerakannya. dengan demikian sudut gerakannya menjadi lebar. gaya tarik menarik menjadi dominan.13 Konstruksi alat ukur besi putar Bila kumparan (coil) dialiri arus I maka besi akan diam dan besi putar akan bersifat menjadi magnet.3 Persamaan Gaya/Momen Misalkan : arus mula-mula = I 19 . 1. Kedua besi ini terletak dalam lingkup medan magnet yang sama maka kutub-kutub yang terjadi akan mempunyai polaritas yang sama.

Dengan adanya kenaikan arus maka akan terjadi perubahan tegangan sebesar : e= d dL dI (LI) = I + L dt dt dt Energi listrik yang diberikan : e I dt = I 2 dL + ILdI Energi yang disimpan dalam sistem berubah dari ½ I2L menjadi ½ (I+dI)2(L+dL) Perubahan energi yang disimpan : I L dI + ½ I dL Energi listrik yang diberikan = perubahan energi yang disimpan + kerja mekanis I2dL + ILdI = ILdI + ½ I2dL + Mgdθ Mg = ½ I2 dL/dθ Momen lawan : Mi = S θ (diperoleh dari pegas) Posisi akhir terjadi apabila momen gerak = momen lawan. 20 . Alat ini banyak digunakan sebagai amperemeter dengan daerah ukur antara 0 sampai 10 Ampere dan sebagai Voltmeter.4 Penggunaan Alat ukur besi putar dapat digunakan untuk arus searah maupun arus bolak-balik.4.induktansi alat ukur = L sudut simpangan = θ Jika arus berubah sebesar dI maka sudut simpangan berubah sebesar dθ dan induktansi berubah sebesar dL. diperoleh : θ = ½ I2/S dL/dθ Berdasarkan persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa skala alat ukur besi putar berbanding lurus dengan kuadrat arusnya atau dengan kata lain skalanya kuadratis. 1.

Cos ϕ meter. Gambar 1. Konstruksi Konstruksi dari alat ukur elektrodinamis disesuaikan dengan maksud penggunaannya. Alat ukur ini dapat digunakan sebagai Amperemeter.5.14 Konstruksi alat ukur elektrodinamis 1. 1. VAR-meter. Jika digunakan sebagai Voltmeter atau Amperemeter konstruksinya seperti pada Gambar 1.3.1. Wattmeter.1. Penggunaan Alat ukur ini dapat digunakan untuk arus searah maupun bolak-balik.5.5. 1. Prinsip Kerja Gaya gerak dihasilkan oleh efek magnetik dari sepasang kumparan elektromagnet (kumparan diam) terhadap arus.14. frekuensimeter.5. 21 . Alat Ukur Elektrodinamis Alat ukur elektrodinamis pada dasarnya sama dengan alat ukur kumparan putar hanya magnet tetap diganti dengan elektromagnet.2. Voltmeter.

Kumparan tegangan berfungsi untuk mengukur tegangan. Gaya gerak = k i1 i2 = k i1 v/R = k1 i1 v = k1 i1 v cos ϕ Gaya lawan = k2 θ (perkalian vektor) (perkalian skalar) Posisi akhir : θ = K v i cos ϕ Jika ingin memperluas daerah ukur dapat digunakan trafo arus dan trafo tegangan. Kumparan arus digunakan untuk mengukur arus.5.1. belitannya sedikit dan penampang konduktornya besar.1 Wattmeter Konstruksi Wattmeter satu fasa dapat dilihat pada Gambar 1.2 VAR-meter 22 . 1. Gambar 1.3. Tahanan R untuk menghasilkan persamaan skala untuk daya aktif.3.14. belitannya cukup banyak dan penampang konduktornya kecil.5.15 Konstruksi Wattmeter 1 fasa tipe elektrodinamis Ada dua buah kumparan yaitu kumparan arus (kumparan diam) dan kumparan tegangan (kumpartan putar).

1. Konstruksi alat ini dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1.3 Cos ϕ meter Alat ini digunakan untuk mengukur faktor daya atau cos ϕ . perbedaannya hanya dalam cara merangkainya ke rangkaian yang diukur daya reaktifnya.16.ϕ) sin(90 o +θ ) = K V I M maks sin ϕ cos θ 23 .16 Konstruksi Cos ϕ meter Momen gerak pada kumparan A : M A = K V I M maks cos ϕ sin θ Mmaks = iduktansi bersama maksimum Momen gerak pada kumparan B : M A = K V I M maks cos(90 o .Alat ukur ini mempunyai dua buah kumparan tetap dan tidak menggunakan pegas.3. Pada dasarnya alat ini merupakan alat ukur elektrodinamis dengan kumparan pembanding.5. yaitu kumparean putar terdiri atas dua kumparan yang berbeda sudut 90°.Konstruksi VAR-meter sebetulnya sama persis dengan Wattmeter.

6.6.6. Gaya gerak diperoleh dengan efek induksi yang akan mengakibatkan piringan berputar. Dengan mengkalibrasikan jumlah putaran/waktu akan diperoleh besaran energi.2 Konstruksi Konstruksi KWH meter dapat dilihat pada Gambar 1. sehingga diperoleh : K V I M maks cos ϕ sin θ = K V I M maks cos(90 m aka : o .17. KWH meter KWH meter yang akan dibahas ini termasuk jenis alat ukur induksi. 24 .1 Prinsip Kerja Alat ukur ini bekerja berdasarkan prinsip induksi. KWH meter merupakan alat untuk mengukur konsumsi energi listrik dan banyak sekali penggunaannya.ϕ) sin(90 o +θ) θ =ϕ Atau dengan kata lain sudut simpangan jarum penunjuk sama dengan sudut faktor daya beban yang diukur.MA dan MB berlawanan arah sehingga posisi akhir terjadi apabila MA sama dengan MB. 1. 1. 1.

φi merupakan fluks dari kumparan arus.18 Gaya pada piringan KWH meter α ϕ iv ϕ α ϕ 25 φv ii ei ev .17 Konstruksi KWH meter Kumparan tegangan jumlah lilitannya banyak sehingga dapat dianggap suatu induktor murni yang akan memberikan φv.19.18. Medan magnet dan arus Eddy pada piringan dapat dilihat pada Gambar 1. V I φi ϕ Gambar 1.Gambar 1. Magnet permanen untuk memberikan gaya lawan serta pengereman magnetis. sedangkan diagram fasornya pada Gambar 1. yang menembus piringan.

ϕ) i = e/Z Z = impedansi arus pusar (Eddy Current) Persamaan gaya : F = K ( φv ii cos(ϕ +α ) + φi iv cos(ϕ-α )) φv = K E m = KV i v = KV/Z = KV φii = K I m = KI i = KI/Z = KI F = K V I (cos( ϕ+α ) + cos( ϕ-α )) = K V I cos ϕ cos α Karena Z konstan maka juga konstan.ϕ) φi = K I m sin( ωt .3 Persamaan Daya Misal : Maka : φv = K E m cos ωt e v = K E m sin ωt i = e/Z V = Em sin ωt I = Im sin(ωt .Gambar 1.6.ϕ) ei = K I m cos( ωt .19 Diagram fasor KWH meter 1. sehingga : F = K V I cos ϕ φm Pada magnet permanen : (persamaan daya) 26 90° α em im .

4 Persamaan Energi K V I cos ϕ = K n φm2 n = K V I cos ϕ / K φm2 = K V I cos ϕ Jadi jumlah putaran = K V I cos ϕ x satuan waktu = energi 1.6.Fm = K φm im cos(90+α) = K φm im sin α im = n φm2 n = putaran/satuan waktu sehingga : Fm = K n φm2 1.7 Alat Ukur Elektrostatis (Elektrometer) 27 .5 Kesalahan-kessalahan KWH meter Pada KWH meter terdapat kesalahan-kesalahan pengukuran sebagai akibat : kesalahan fasa penyesuaian pada beban-beban besar penyesuaian beban ringan putaran pada beban kosong 1.6.

28 .Dapat digunakan untuk tegangan searah maupun bolak-balik .1. Pengukuran Listrik (Metering) 2.20 Konstruksi alat ukur elektrostatis Keuntungan dari alat ukur ini adalah : . Gaya lawan diperoleh dari gaya pegas. Elektroda yang bergerak akan tertarik ke elektroda tetap. Gambar 1. Alat ukur jenis ini banyak digunakan sebagai Voltmeter tegangan tinggi. yaitu : . Pengukuran daya bolak balik sendiri dapat dibedakan menjadi pengukuran daya satu fasa dan tiga fasa.Kombinasi gaya tarik dan gaya tolak yang akan menghasilkan gerak berputar. Ada dua cara untuk mendapatkan momen gerak. satu diam (tetap) yang lain dapat bergerak.Tidak terpengaruh oleh bentuk gelombang maupun medan magnet.Dua buah elektroda diberi muatan berlawanan. . Sedangkan kekurangannya adalah skalanya tidak uniform dan gaya geraknya sangat kecil.Pada alat ukur ini momen gerak dihasilkan oleh kerja medan listrik pada konduktor bermuatan (efek elektrostatik). 2. Pengukuran Daya Pengukuran daya dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengukuran daya searah dan pengukuran daya bolak balik.

1. Gambar 2.1.1. dapat diukur langsung dengan Wattmeter atau dengan menggunakan Voltmeter dan Amperemeter.2. Daya pada rangkaian A : PL = (V x I) – I2Ra Daya pada rangkaian B : PL = (V x I) – V2/Rv 2.2.2. Gambar 2.1 Rangkaian pengukuran daya searah dengan Watttmeter Sedangkan jika digunakan Voltmeter dan Amperemeter rangkaiannya dapat dilihat pada Gambar 2.1 Pengukuran Daya Searah Pengukuran daya searah sangat mudah pelaksanaannya. Rangkaian pengukuran dengan Wattmeter dapat dilihat pada Gambar 2.2 Rangkaian pengukuran daya searah dengan Voltmeter dan Amperemeter Ada dua rangkaian yang dapat digunakan yaitu rangkaian A dan rangkaian B.1 Pengukuran Daya Bolak Balik Satu Fasa 29 .2.2 Pengukuran Daya Bolak Balik 2.

Pada metode ini dibutuhkan suatu tahanan murni R. dan Wattmeter Dapat juga digunakan metode tiga Amperemeter dan metode tiga Voltmeter.1 hanya diberi tambahan cos ϕ meter untuk mengetahui faktor dayanya.4 Metode 3 Amperemeter Persamaan : 30 .3 memperlihatkan rangkaian pengukuran daya 1 fasa menggunakan Wattmeter dengan trafo arus dan trafo tegangan. trafo tegangan. apabila daya yang diukur cukup besar. Gambar 2.Pengukuran daya bolak balik satu fasa dapat dilakukan dengan Wattmeter satu fasa atau menggunakan rangkaian pada Gambar 2. Gambar 2.4.3 Rangkaian Pengukuran daya 1 fasa dengan trafo arus. Gambar 2. Rangkaian pengukuran untuk metode 3 Amperemeter dan diagram fasornya dapat dilihat pada gambar 2.

5 Metode 3 Voltmeter Persamaan : 2 V32 = V12 + V2 + 2V1 V2 cos ϕ 2 V32 . Gambar 2.5.V12 .V2 ) 2R I = V1 /R 31 . Pada metode ini juga dibutuhkan tahanan murni R.V2 ) 2 RV 1 V2 2 (V 32 .V2 cos ϕ = 2V1 V2 P = V2 I cos ϕ = = 2 2 V2 I (V3 .I2 2 2I 1 I 2 P = VI 2 cos ϕ = = 2 2 I 1 R I 2 (I 3 .2 2 I3 = I1 +I2 2 + 2I 1 I 2 cos ϕ cos ϕ = 2 2 I3 .I2 2) R 2 V = I1 R Sedangkan rangkaian pengukuran untuk metode 3 Voltmeter dan diagram fasornya dapat dilihat pada gambar 2.I1 .I1 .I1 .V12 .I2 2) 2I 1 I 2 2 2 (I 3 .V12 .

Pengukuran dengan 3 Wattmeter satu fasa.6.2. b. Sistem pengukuran ini dapat dilakukan untuk sistem tiga fasa 3 kawat maupun 4 kawat. Gambar 2. Amperemeter dan cos ϕ meter.2 Pengukuran Daya Bolak Balik Tiga Fasa Pengukuran daya bolak balik 3 fasa dapat dilakukan dengan : a.2. Pengukuran dengan 1 Wattmeter 3 fasa Pada sistem pengukuran dengan metode ini daya 3 fasa langsung dibaca pada Wattmeternya.6. Pengukuran daya 3 fasa dengan 3 Wattmeter 1 fasa dan titik netral buatan 32 . Pengukuran dengan metode ini hanya dapat dilakukan pada kondisi beban seimbang.1. Pengukuran dengan Voltmeter. Pada sistem tiga fasa 3 kawat dapat digunakan bantuan titik netral buatan dan rangkaian pengukurannya dapat dilihat pada Gambar 2. c.

adalah : P3fasa = P1 + P2 + P3 Rangkaian pengukuran daya tiga fasa baik hubungan bintang ataupun delta dengan menggunakan 2 buah Wattmeter satu fasa dapat dilihat pada Gambar 2. Cara ini disebut metode Aron.7.7. dan 2. Gambar 2. Pengukuran daya 3 fasa 4 kawat dengan 3 Wattmeter 1 fasa Daya 3 fasa pada rangkaian pengukuran Gambar 2. (a) (b) Gambar 2.6.7.Sedangkan untuk sistem 3 fasa 4 kawat rangkaian pengukurannya dapat dilihat pada Gambar 2.8. Pengukuran daya 3 fasa dengan 2 Wattmeter 1 fasa 33 .8.

b) daya yang diukur oleh masingmasing Wattmeter adalah : P1 = .2 Pengukuran Tahanan Tahanan dapat digolongkan menjadi tiga. yaitu : 34 .a (hubungan bintang) dapat dilihat daya yang diukur oleh masingmasing Wattmeter adalah : P1 = i1 (v1 – v3) P2 = i2 (v2 – v3) P1 + P2 = v1i1 + v2i2 – v3(i1+i2) Hukum Kirchoff untuk arus : i1 + i2 + i3 = 0 atau : i3 = -(i1+i2) Sehingga diperoleh : P1 + P2 = v1i1 + v2i2 + v3i3 (Daya 3 fasa) Sedangkan untuk hubungan delta (Gambar 2.Dari Gambar 2.v3 (i1 – i3) + v2 (i2 – i1) = v3i3 + v2i2 – i1(v2 + v3) Hukum Kirchoff untuk tegangan : v1 + v2 + v3 = 0 atau : v1 = -(v2 + v3) Sehingga diperoleh : P 1 + P 2 = v3 i 3 + v 2 i 2 + v 1 i 1 (Daya tiga fasa) 2.8.8.v3 (i1 – i3) P2 = v2 (i2 – i1) P1 + P2 = .

tahanan sedang. Gambar 2.1 Pengukuran tahanan kecil Pengukuran tahanan kecil memerlukan ketelitian karena tahanan penghatar penyambung dan tahanan kontak dapat mempengaruhi hasil pengukuran. besarnya antara 1 sampai dengan 100.000 Ohm 2.tahanan besar. Sehingga diperoleh : 35 .2.9 menunjukkan rangkaian pengukuran dengan menggunakan metode Voltmeter – Amperemeter.. lebih kecil dari 1 Ohm .8 Metode Voltmeter .1.000 Ohm . Amperemeter mengukur juga arus Iv = Vv/Rv yang mengalir melalui Voltmeter. Metode yang digunakan untuk pengukuran tahanan kecil adalah : Metode Voltmeter – Amperemeter Metode jembatan ganda Kelvin 2.2.1 Metode Voltmeter-Amperemeter Gambar 2.Amperemeter Tahanan dalam Voltmeter (Rv) dalam keadaan paralel dengan tahanan yang diukur Rx.tahanan kecil (rendah). lebih besar dari 100.

Rx = = Vx Ix V V IA . Rangkaian jembatan ini dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Untuk memperhalus keseimbangan tegangan digunakan jembatan ganda.2 Metode Jembatan Ganda Kelvin (Kelvin Double Bridge) Prinsip jembatan ganda Kelvin ini mirip dengan jembatan Wheatstone.1.R v Jika Rv jauh lebih besar daripada Rx maka faktor V/Rv dapat diabaikan.2. 2.9.9 Jembatan Ganda Kelvin Pada keadaan seimbang diperoleh : R1 R3 R = = 5 R2 R4 R6 36 .

R1 = tahanan yang diukur R2 = tahanan standard lainnya tahanan variabel 2.1 Metode Voltmeter-Amperemeter Rangkaian pengukuran dengan metode ini dapat dilihat pada Gambar 2.10 Metode Voltmeter Amperemeter Tahanan yang diukur Rx dapat dihitung dengan persamaan di bawah ini : Vx Ix V .2.RA IR Rx = = Jika tahanan dalam Amperemeter RA sagat kecil dibandingkan dengan tahanan yang diukur maka tahanan dalam ini dapat diabaikan.2 Pengukuran tahanan sedang Pada pengukuran tahanan sedang ini metode yang dapat digunakan adalah : Metode Voltmeter amperemeter Metode Perbandingan Arus Metode Perbandingan Tegangan Jembatan Wheatstone Meode Langsung dengan Ohmmeter 2.2.2.10. 37 . Gambar 2.

Rangkaiannya dapat dilihat pada Gambar 2.11 Metode Perbandingan Arus Jika tegangan Vo konstan selama percobaan didapatkan : Vo = (Rx + RA) Ix = (R + RA) I Rx = (R + RA) I /Ix – RA Jika RA sangat kecil dibandingkan dengan Rx dan R.11.2 Metode Perbandingan Arus Pada metode ini menggunakan sebuah amperemeter.12.2. dan saklar.2.2. Sehinggga didapat : I Ix Rx = R R = tahanan standard 2. maka I ≈ Ix .3 Metode Perbandingan Tegangan Tahanan Rx yang diukur dihubungkan seperti pada rangkaian di Gambar 2.2. tahanan standard. 38 .2. Gambar 2.

2.12 Metode Perbandingan Tegangan Jika tahanan dalam Voltmeter Rv jauh lebih besar dari pada Rx dan R maka didapatkan : I ≈ Vx/Rx ≈ V/R Vx V R = tahanan standard Rx = R 2. Gambar 2.13 Jembatan Wheatstone Pada keadaan seimbang diperoleh : R3 R4 R1 = R 2 R1 = tahanan yang diukur 39 . Galvanometer untuk detektor keseimbangan dan sebuah sumber tegangan searah.Gambar 2.13.2.4 Jembatan Wheatstone Rangkaian Jembatan Wheatstone dapat dilihat pada Gambar 2. Rangkaian menggunakan 4 buah tahanan salah satunya adalalah tahanan yang diukur.

sedangkan Vx adalah tegangan pada tahanan Rx.2.3 Pengukuran tahanan besar Pengukuran tahanan besar pada umumnya untuk mengukur tahanan isolasi suatu isolator atau kabel.14. Gambar 2. Sedangkan arus yang mengalir biasanya kecil sehingga diperlukan amperemeter yang cukup sensitif. Metode yang dapat digunakan adalah : Metode perbandingan tegangan Metode transient (pelepasan muatan) 2. Rangkaian pengukurannya dapat dilihat pada Gambar 2.2.Vx Rx = Rn 40 .1 Metode Perbandingan Tegangan Pengukuran tahanan besar dengan metode dilakukan dengan menggunakan sebuah tahanan standard dan sebuah Voltmeter elektrostatis. Tegangan Vo adalah tegangan pada saat saklar pada posisi 0.3. Diperoleh : Vx V0 . Pengukuran tegangan dilakukan dengan Voltmeter elektrostatis karena tegangan yang dipasang cukup tinggi.2.14 Metode Perbandingan Tegangan Tegangan yang digunakan sekitar 1 kV searah (DC).

Cv = konduktansi dan kapasitansi Voltmeter elektrostatis Gx.2.15.2 Metode Transient (Pelepasan Muatan) Metode ini menggunakan kapasitor yang dipasang paralel dengan tahanan yang diukur.Rn = tahanan yang diketahui besarnya 2.15. Gambar 2. Rangkaian pengukurannya dapat dilihat pada Gambar 2. Cx = konduktansi dan kapasitansi tahanan yang diukur Semua kapasitansi (C) dan G terhubung paralel sehingga didapat : C = Co + Cv + Cx G = Gc + Gv + Gx 41 . Metode Transient Vo Gc Co = tegangan pengisian kapasitor = konduktansi kapasitor = kapasitansi kapasitor Gv. Voltmeter yang digunakan adalah Voltmeter elektrostatis.3.

S. 1975. 4.t1 ln v 1 /v 2 C C ln v 1 /v 2 = τ t 2 .t1 τ= G= Tahanan yang diukur : Rx = 1/Gx Daftar Pustaka 1. Electrical Measurement & Measuring Instrumentation. 1982. Winterling KH. Golding & Widdis. Wheeler Publishing. 42 . Delhi. A Course in Electrical and Electronic Measurement and Instrumentation. Jakarta. Pradnya Paramita. 5. 3. Sappie. Second Indian Reprint. 2. WD. Printice – Hall of India. Pengukuran dan Alat-Alat Ukur Listrik. Cooper. 1988.Konstanta waktu rangkaian adalah τ = C/G. Electronic Instrumentation & Measurement Technique. AK Sawhney. New Delhi.1976. Stockl M. Selama terjadi pelepasan muatan tegangan pada Voltmeter turun secara eksponensial mengikuti persamaan di bawah ini : v = Vo e –t/τ Jika v1 dan v2 adalah tegangan Voltmeter pada saat t1 dan t2 maka diperoleh : t 2 . Dhanpat Ray and Sons. Electro Technical Measurement. 1978. Berlin-New York.

Dengan jembatan impedansi ini dapat dilakukan pengukuran induktansi. induktansi bersama. Rangkaian jembatan impedansi dapat dilihat pada gambar dibawah ini : 43 . induktansi sendiri.Jembatan Impedansi Jembatan impedansi ini pada dasarnya mirip dengan jembatan Wheatstone hanya tahanan diganti dengan impedansi. kapasitansi. dll.

Pada keadaan seimbang : Z1Z4 = Z2 Z 3 atau Z1 Z = 3 Z2 Z4 44 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful