Arief Rahman, S.Ked (0718011046) Sutan Malik Maulana Syah, S.

ked (0818011097)

INSTALASI PATOLOGI KLINIK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG 2012

Urinalisis atau disebut pemeriksaan urin rutin merupakan beberapa pemeriksaan yang dianggap sebagai dasar bagi pemeriksaan selanjutnya. Urinalisis adalah analisa fisik, kimia, dan mikroskopik terhadap urine. Urinalisis berguna untuk mendiagnosa penyakit ginjal atau infeksi saluran kemih, dan untuk mendeteksi adanya penyakit metabolik yang tidak berhubungan dengan ginjal.

pankreas. epitel. glukosa dan bilirubin diperiksa secara strip reagen.   . serta pH. protein. Berat jenis diukur dengan urinometer. dan bau urine diperiksa. leukosit. Berbagai uji urinalisis rutin dilakukan seperti warna. tampilan. dan pemeriksaan mikroskopik urine sedimen urine dilakukan untuk mendeteksi eritrosit. kristal dan bakteri. dll. keton. Pemeriksaan urin rutin tidak hanya dapat memberikan fakta-fakta tentang ginjal dan saluran urin. tetapi juga mengenai faal berbagai organ dalam tubuh seperti hati. korteks adrenal.

. Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan kapan saja saat diperlukan pemeriksaan kuantitatif zat tertentu di dalam urine misalnya protein.    Jenis dan Bahan Pemeriksaan Urine : Pada umumnya yang paling sering digunakan adalah urine sewaktu. mungkin diperlukan pengumpulan urine 24 jam. Pada keadaan lain.

Contoh urine ini bila ditampung adalah wadah steril. sedimen urine dan nitrit. Freshly voided urine specimen Urine segar yang baru dikeluarkan. Biasanya spesimen ini digunakan untuk pemeriksaan tes kehamilan.  . specimen ini merupakan bahan terbaik untuk diperiksa karena pekat. Urine pagi Merupakan urine pagi yang pertama kali dikeluarkan. Penderita diminta untuk berkemih dan diambil urine pancaran tengah. Bagi penderita yang masih dirawat di rumah sakit.  Clean voided specimen Specimen ini dimaksud untuk mencegah kontaminasi dengan darah haid atau secret vagina. dapat digunakan untuk pemeriksaan biakan urine. pemeriksaan protein. Penderita diminta untuk berkemih langsung di wadah atau container yang bersih dan kering.

urine yang dikeluarkan tidak ditampung. setiap kali berkemih urine harus ditampung dalam satu wadah dan dikocok/digoyang agar tercampur rata. natrium. Urine 24 jam Digunakan untuk pemeriksaan zat tertentu secara kuantitatif. Untuk menampung urine 24 jam harus disediakan wadah yang dapat memuat 2-3 urine dan diberi pengawet toluene 1 ml/liter urine. Penderita harus dijelaskan jam pertama saat pemeriksaan dimulai. Urine sewaktu Urine yang dikeluarkan kapan saja saat akan diperiksa tanpa memperhatikan waktu atau interval waktu tertentu.   . Biasanya specimen ini digunakan untuk urinalisis rutin terutama bagi penderita yang berobat jalan atau melakukan pemeriksaan penyaring. Urine 2 jam postprandial Digunakan untuk pemeriksaan glukosa urine pada penderita diabetes mellitus. kreatinin. seperti protein. kalium dan klorida. Berikutnya. Pada umumnya penderita diminta untuk beerkemih sesaat sebelum makan dan 2 jam setelah makan. fosfor. kalsium. Hasil pemeriksaan ini pada umumnya digunakan untuk pemantauan terapi diabetes mellitus.

akan menyebabkan beberapa perubahan. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah identitas penderita yaitu nama. sebelum pemeriksaan dilakukan urine harus dibiarkan dahulu mencapai suhu kamar dan dicampur/dikocok. kurang dari 1 jam setelah dikeluarkan. . tanggal dan jam pengambilan bahan. Apabila terpaksa menunda pemeriksaan.     Urine yang telah disimpan dalam lemari es akan menyebabkan presipitasi fosfat dan urat amorf serta memiliki berat jenis lebih tinggi bila diukur dengan urinometer. Oleh sebab itu. nomor rekam medis. Urine yang dibiarkan dalam waktu lama pada suhu kamar. urine harus disimpan dalam lemari es suhu 2-80C. penyimpanan dalam lemari es mencegah dekomposisi urine oleh bakteri. Bahan pemeriksaan urine rutin yang terbaik adalah urine segar.

Volume urine normal : 1200-1500 ml/24 jam. makin muda warna urine itu. Biasanya warna urine normal berkisar antara kuning muda dan kuning tua. pemakaian cairan. Volume urine Banyaknya urine yang dikeluarkan oleh ginjal dalam 24 jam. Jika urine mudah berbuih. Volume urine masing-masing orang bervariasi tergantung pada luas permukaan tubuh. Warna urine Warna urine ditentukan oleh besarnya diuresis. tidak keras. terutama urochrom dan urobilin. Warna itu disebabkan oleh beberapa macam zat warna. Buih Buih pada urine normal berwarna putih. Sedangkan jika urine memiliki buih yang berwarna kuning.    . Makin besar diuresis. Bau Bau urine yang normal. menunjukkan bahwa urine tersebut mengandung protein. Bau urine yang normal disebabkan dari sebagian oleh asam-asam organik yang mudah menguap. Dihitung dalam gelas ukur. hal tersebut disebabkan oleh adanya pigmen empedu (bilirubin) dalam urine. dan kelembapan udara / penguapan.

pH pH tidak banyak berarti dalam pemeriksaan penyaring. Akan tetapi pada gangguan keseimbangan asam-basa penetapan itu memberi kesan tentang keadaan dalam tubuh. Benda-benda koloid. coli biasanya menghasilkan urine asam. agak keruh. lemak. Sebab – sebab urine menjadi keruh : Fosfat amorf dan karbonat dalam jumlah besar Bakteri. seperti eritrosit. Infeksi oleh E. Tidak semua macam kekeruhan bersifat abnormal. Kejernihan Cara menguji kejernihan sama seperti menguji warna yaitu jernih. leukosit dan sel epitel. Urine normal pun akan menjadi keruh jika dibiarkan atau didinginkan. Unsur sedimen dalam jumlah besar. sedangkan infeksi oleh Proteus yang merombak ureum menjadi amoniak menyebabkan urine menjadi basa. keruh atau sangat keruh. Selain pada keadaan tadi pemeriksaan pH urine segar dapat memberi petunjuk ke arah infeksi saluran kemih.    .

Tujuan pemeriksaan kimia urine Bertujuan untuk menunjang diagnosis kelainan di luar ginjal seperti kelainan metabolisme karbohidrat. bersifat sekali pakai. murah. serta tidak memerlukan persiapan reagen. Cara carik celup ini selain praktis karena reagen telah tersedia dalam bentuk pita siap pakai. dan saluran kemih seperti infeksi traktus urinarius   . volume urine yang dibutuhkan sedikit. Pemeriksaan kimia urine berdasarkan reaksi biokimia yang juga disebut cara kimia kering atau tes carik celup banyak digunakan di laboratorium klinik. gangguan keseimbangan asam basa. reagen relative stabil. kelainan ginjal. fungsi hati.

 Macam pemeriksaan kimia urine dengan carik celup : pH berat jenis glukosa bilirubin urobilinogen keton protein darah leukosit esterase nitrit .

biru kehijauan. pemeriksaan glukosa urine dapat menggunakan: Metode Fehling Prinsip : Dengan pemanasan urine dalam suasana alkali. Pengendapan cupri hidroksida dicegah dengan penambahan kalium natrium tartrate.5 % glukosa) (+3) : jingga atau warna lumpur keruh (2 – 3.5 – 1 % glukosa) (+2) : kuning keruh (1 – 1. Metode Benedict Prinsip : Glukosa dalam urine akan mereduksi garam-garam kompleks yang terdapat pada pereaksi benedict (ion cupri direduksi menjadi cupro) dan mengendap dalam bentuk CuO dan Cu2O. Interpretasi hasil pada metode Fehling dan Benedict: (-) : tetap biru. (+1) : hijau kekuning-kuningan dan keruh (sesuai dengan 0. glukosa akan mereduksi cupri sulfat menjadi cupro oksida.5 % glukosa) (+4) : merah bata (lebih dari 3.5 % glukosa)    . Selain menggunakan carik celup.

. tempat bilirubin berkonjugasi atau tak langsung bersifat larut dalam lemak. serta tidak dapat diekskresikan ke dalam urine. Pemeriksaan Bilirubin Urine Bilirubin secara normal tidak terdapat dalam urine. namun dalam jumlah yang sangat sedikit dapat berada dalam urine.   Bilirubinuria mengindikasikan kerusakan hati atau obstruksi empedu dan kadarnya yang besar ditandai dengan warna kuning. Bilirubin terbentuk dari penguraian hemoglobin dan ditranspor menuju hati. tanpa terdeteksi melalui pemeriksaan rutin.

4 mg/dl.  Pemeriksaan bilirubin urine berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam kuat yang menimbulkan kompleks yang berwarna coklat muda hingga merah coklat dalam waktu 30 detik.2 – 0. +1 (0. . Hasilnya dilaporkan sebagai negative.5 mg/dl). Sensitivitas pemeriksaan ini adalah 0. +2 (1 mg/dl) atau +3 (3 mg/dl).

Kemudian urobilinogen diproses ulang menjadi empedu kira-kira sejumlah 1% diekskresi oleh ginjal di dalam urine. Spesimen urine harus segera diperiksa dalam setengah jam karena urobilinogen urine dapat teroksidasi menjadi urobilin. tempat bakteri dalam usus mengubah bilirubin menjadi urobilinogen. .    Pemeriksaan Urobilinogen Urine Empedu yang sebagian besar dibentuk dari bilirubin yang terkonjugasi mencapai area duodenum. Sebagian besar urobilinogen berkurang dalam feses dan sejumlah besar kembali ke hati melalui aliran darah.

dibaca dalam waktu 60 detik. warna yang timbul sesuai dengan peningkatan kadar urobilinogen dalam urine .  Pemeriksaan urobilinogen dalam urine berdasarkan reaksi antara urobilinogen dengan reagen Ehrlich (paradimethylaminobenzaldehyde. serta buffer asam). Intensitas warna yang terjadi dari jingga hingga merah tua.

dan ungu untuk hasil yang positif. +3 (80 mg/dl) atau +4 (160 mg/dl). Warna yang dihasilkan adalah coklat muda bila tidak terjadi reaksi. +1 (15 mg/dl). Ketika terjadi kelebihan badan keton. Hasilnya dilaporkan sebagai negative. Ketonuria (badan keton dalam urine) terjadi sebagai akibat ketosis. Pemeriksaan Keton dalam Urine Badan keton diproduksi untuk menghasilkan energy saat karbohidrat tidak dapat digunakan seperti pada keadaan asidosis diabetik serta kelaparan / malnutrisi. trace (5 mg/dl). +2 (40 mg/dl). . akan menimbulkan keadaan ketosis dalam darah sehingga menghabiskan cadangan basa (misal:bikarbonat) dan menyebabkan status asidotik.   Berdasarkan reaksi antar asam asetoasetat dengan senyawa nitroprusida.

urine yang mengandung albumin akan bereaksi dengan indikator menyebabkan perubahan warna hijau muda sampai hijau. Perubahan warna yang terjadi dalam waktu 60 detik. +3 (300 mg/dl) atau +4 (2000 mg/dl). . Hasilnya dilaporkan sebagai negative. Akibat kesalahan penetapan pH oleh adanya protein. Sebagai indikator digunakan tertrabromphenol blue yang dalam suatu sistem buffer akan menyebabkan pH tetap konstan. +1 (30 mg/dl). Pemeriksaan protein dalam urine berdasarkan pada prinsip kesalahan penetapan pH oleh adanya protein. Indikator tersebut sangat spesifik dan sensitive terhadap albumin. Pemeriksaan Protein Urine Proteinuria biasanya disebabkan oleh penyakit ginjal akibat kerusakan glomerulus dan atau gangguan reabsorpsi tubulus ginjal. +2 (100 mg/dl).

01 – 0. (+1) : ada kekeruhan ringan tanpa butir-butir (0.5 g/dl) Metode Heller Prinsip : Adanya protein dalam urine akan bereaksi dengan HNO3 pekat membentuk cincin putih. pemeriksaan protein urine dapat juga menggunakan: Metode Rebus Prinsip : Untuk menyatakan adanya urine yang ditunjukkan dengan adanya kekeruhan dengan cara penambahan asam akan lebih mendekatkan ke titik isoelektris dari protein. Selain mengunakan carik celup.05 g/dl) (+2) : kekeruhan mudah dilihat dan tampak butir-butir (0.5 g/dl) (+4) : urine sangat keruh dan bergumpal (lebih dari 0.2 – 0.05 – 0. Metode Sulfosalisilat Prinsip dari metode sulfosalisilat sama dengan metode Rebus. Pemanasan selanjutnya mengadakan denaturasi sehingga terjadi presipitasi yang dinilai secara semi kuantitatif.2 g/dl) (+3) : urine jelas keruh dan kekeruhan itu jelas berkeping-keping (0.    . Interpretasi hasil metode Rebus dan Sulfosalisilat: (-) : tetap jernih.

Pemeriksaan Mikroskop urine  Pemeriksaan mikroskopis urine meliputi pemeriksaan sedimen urine.  .  Tujuan dari pemeriksaan sedimen urine adalah untuk mengidentifikasi jenis sedimen yang dipakai untuk mendeteksi kelainan ginjal dan saluran kemih. Untuk mendapat sedimen yang baik diperlukan urine pekat yaitu urine yang diperoleh pagi hari dengan berat jenis > 1.023 atau osmolalitas > 300 m osm/kg dengan pH yang asam. Untuk pemeriksaan sedimen urine diperlukan urine segar yaitu urine yang ditampung 1 jam setelah berkemih.

ditutup dengan cover glass.   .  Cara pemeriksaan Sebanyak 5-10 ml urine dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge kemudian ditutup dengan paraffin dan dipekatkan dengan cara sentrifugasi pada kecepatan 1500 rpm selama 15 menit. Kemudian teteskan 1 tetes sedimen urine di atas objek glass. Selanjutnya preparat diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran lensa objektif 10x untuk melihat lapang pandang kemudian perbesaran lensa objektif 40x untuk identifikasi. Setelah sentrifugasi dilakukan lapisan supernatant/lapisan atas urine dibuang sehingga didapatkan sedimen urine.

Kristal yang abnormal seperti sistin. kalsium sulfat. leucin. Kristal obat seperti kristal sulfida. kolesterol.  . Pada pH alkalis atau netral : ammonium-magnesium fosfat (triple fosfat) dan dikalsium fosfat. tirosin. Pada pH alkalis : kalsium karbonat. Pada pH asam atau netral atau alkalis : kalsium oksalat. dan bilirubin.Macam – macam Sedimen Urine  Unsur Organik: Epitel Leukosit Eritrosit Silinder (torak) Spermatozoa Parasit Bakteri  Unsur Anorganik Zat amorf Kristal dalam urine normal : Pada pH asam : asam urat. dan kalsium fosfat. natrium urat. ammonium biurat.

dan pemeriksaan mikroskopik urine sedimen urine dilakukan untuk mendeteksi eritrosit. dan bau urine diperiksa. urine diperiksa secara manual terhadap berbagai kandungannya. Sampai saat ini. Berat jenis diukur dengan urinometer.BAB III PENUTUP  Urinalisis adalah analisa fisik. serta pH. dan untuk mendeteksi adanya penyakit metabolik yang tidak berhubungan dengan ginjal. protein. kimia. glukosa dan bilirubin diperiksa secara strip reagen. Berbagai uji urinalisis rutin dilakukan seperti warna. dan mikroskopik terhadap urine.   . tetapi saat ini digunakan berbagai strip reagen untuk melakukan skrining kimia dengan cepat. keton. Urinalisis berguna untuk mendiagnosa penyakit ginjal atau infeksi saluran kemih. epitel. leukosit. kristal dan bakteri. tampilan.

R. 2007. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA  Gandasoebrata. Penuntun Laboratorium Klinik. TERIMA KASIH . Dian Rakyat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful