P. 1
Kepemimpinan Transaksional Dan Transformasional

Kepemimpinan Transaksional Dan Transformasional

|Views: 13|Likes:
Published by Ramesh Rajanthiran
menjelaskan secara panjang lebar tentang pebezaan ant kepimpinan transaksional,dan tranformasi.ianya juga memberi penjelasan tentang jela mengenai makud kepimpinan dan ebagainya.esiapa yang memerlukan peneranagn yang mendalama tentang kedua jenis kepimpinan ini boleh merujuk artikal ini.artikal ini akan membantu memahami secara detail lagi mengenai kedua jenis kepimpinan
menjelaskan secara panjang lebar tentang pebezaan ant kepimpinan transaksional,dan tranformasi.ianya juga memberi penjelasan tentang jela mengenai makud kepimpinan dan ebagainya.esiapa yang memerlukan peneranagn yang mendalama tentang kedua jenis kepimpinan ini boleh merujuk artikal ini.artikal ini akan membantu memahami secara detail lagi mengenai kedua jenis kepimpinan

More info:

Published by: Ramesh Rajanthiran on May 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2014

pdf

text

original

Kepemimpinan Transaksional dan Kepemimpinan Transformasional

Oleh : Dwi Ari Wibawa, SIP, M.M *) I. Kepemimpinan Teh Botol Sosro harus bersaing dengan Coca Cola yang berskala global. Ayam goreng Ny. Suharti, Mbok Berek, Ayam Bakar Wong Solo, harus bersaing dengan McDonald dan Kentucky Fried Chicken. Tukang parkir pinggir jalan harus ‘bersaing’ dengan Secure Parking. Tukang cuci mobil dan tukang sayur pun juga harus bersaing dengan merek global. Intinya persaingan global telah ada di hadapan kita, yang tidak terbayangkan sebelumnya. Situasi global yang kompetitif ini, mengharuskan perusahaan mempunyai kemampuan bertahan dan menang. Namun, strategi yang bagus saja tidaklah memadai. Seorang pemimpin yang handal dibutuhkan oleh perusahaan. Karena seorang pemimpin yang handal bukan saja harus piawai dalam menyusun strategi, tetapi juga dapat menjalankan strategi dengan efektif. Karena pemimpinlah yang akan melahirkan strategi dan sekaligus berupaya keras agar dapat mewujudkan strategi itu. Dalam pandangan (Anthony & Govindarajan, 2003) setiap organisasi terdiri dari elemen-elemen atau bagian yang telah ditentukan fungsi-fungsinya, untuk saling bekerjasama dan saling mempengaruhi, dan tidak ada yang lebih dominan atau lebih utama dari sebagian yang lain, kecuali harus terkoordinasi dalam tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Untuk bekerjanya sebagai sebuah sistem, organisasi dipimpin oleh hierarki manajer, dengan Chief Executive Officer (CEO) pada posisi puncak, dan para manajer unit bisnis, departemen, bagian (section) dan subunit lainnya yang peringkatnya berada dibawahnya dalam suatu diagram organisasi. Kepemimpinan oleh Kenneth H. Blanchard (Wahjosumidjo, 1985) adalah proses dalam mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Tanpa kepemimpinan organisasi hanya merupakan kelompok manusia yang kacau tidak teratur dan tidak akan melahirkan perilaku bertujuan (Keith Davis dalam Sudarwan, 2004 : 18)

1

Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. reputasinya atau karismanya.  Coercive power. kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari:  Reward power. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosok pemimpin. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin adalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. Warren Bennis dalam bukunya “Leader. kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain. yaitu para karyawan atau bawahan (followers). yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya  Legitimate power. mengembangkan pendangan baru. kemudian memobilisasi perubahan organisasi menuju pandangan baru.  Referent power. Pertama. kepemimpinan tidak akan ada juga. Tambunan kepemimpinan merupakan kegiatan mempengaruhi orang lain supaya mereka dapat bekerjasama mencapai tujuan yang diinginkan. Kedua. 2 . seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or her power) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Kepemimpinan adalah kesanggupan yang dipunyai oleh seseorang untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang lain menurut kepemimpinannya. Walaupun demikian. Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. The Strategies for Taking Change”. tanpa adanya karyawan atau bawahan. menyatakan kepemimpinan perlu untuk menolong organisasi. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya.Menurut Emil H. Berdasarkan definisi-definisi di atas. Hal ini berarti bahwa seseorang yang sanggup mengarahkan atau mempengaruhi orang lain pada satu posisi yang berfungsi sebagai seorang pemimpin. bagaimana supaya mereka dapat maju. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai hak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. Menurut French dan Raven (1968). kepemimpinan memiliki beberapa implikasi.  Expert power.

Analisis awal tentang kepemimpinan. variabel-variabel situasi dan keefektifan pemimpin. aktualisasi diri. Untuk memahami faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkah laku para pemimpin yang efektif. Studi-studi kepemimpinan selanjutnya berfokus pada tingkah laku yang diperagakan oleh para pemimpin yang efektif. Kepemimpinan transaksional dan transformasional dikembangkan oleh Bass (1985) bertolak dari pendapat Maslow tentang tingkatan kebutuhan manusia. II. Namun. memfokuskan perhatian pada perbedaan karakteristik antara pemimpin (leaders) dan pengikut/karyawan (followers). Dengan model kontingensi tersebut para peneliti menguji keterkaitan antara watak pribadi. keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment). namun kedua hal tersebut disadari sebagai komponen organisasi yang sangat komplek. Banyak studi mengenai kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang dibahas dari berbagai perspektif yang telah dilakukan oleh para peneliti. Karenanya hasil penelitian pada saat periode tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat satu pun sifat atau watak (trait) atau kombinasi sifat atau watak yang dapat menerangkan sepenuhnya tentang kemampuan para pemimpin. 3 . kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi. Studi-studi tentang kepemimpinan pada tahun 1970-an dan 1980-an. sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion). Menurut teori hierarki kebutuhan tersebut. kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity). maka perhatian para peneliti bergeser pada masalah pengaruh situasi terhadap kemampuan dan tingkah laku para pemimpin. rasa aman dan pengharapan dapat terpenuhi dengan baik melalui penerapan kepemimpinan transaksional. dari tahun 1900-an hingga tahun 1950-an. sekali lagi memfokuskan perhatiannya kepada karakteristik individual para pemimpin yang mempengaruhi keefektifan mereka dan keberhasilan organisasi yang mereka pimpin. pengetahuan (cognizance). para peneliti menggunakan model kontingensi (contingency model). menurut hanya dimungkinkan terpenuhi melalui penerapan kepemimpinan transformasional.Ketiga. Kepemimpinan transformasinal dan Transaksional. Hasil-hasil penelitian pada periode tahun 1970-an dan 1980-an mengarah kepada kesimpulan bahwa pemimpin dan kepemimpinan adalah persoalan yang sangat penting untuk dipelajari (crucial). kebutuhan bawahan lebih rendah seperti kebutuhan fisik.

or going beyond the self-interest exchange of rewards for compliance". Pemimpin transformasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya. Konsep kepemimpinan transformasional mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan watak. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang model kepemimpinan transformasional. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan kepemimpinan transformasional. Menurut Yammarino dan Bass (1990). Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. Kepemimpinan transaksional legitimasi di dalam organisasi. pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. gaya dan kontingensi. Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa "the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. Dengan demikian. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Sebaliknya. joining in a shared vision of the future. dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. Disamping itu. Kepemimpinan Transformasional ( Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Model ini dianggap sebagai model yang terbaik dalam menjelaskan karakteristik pemimpin. menstimulasi bawahan 4 .a. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. Menurutnya. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka. Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. didasarkan pada Pemimpin otoritas birokrasi dan transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi.

pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru. Dalam dimensi ini. Dalam dimensi ini. dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatan-pendekatan yang baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ideide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait). mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi. memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan. Dengan demikian. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi intelektual). dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme. gaya (style) dan kontingensi. menghormati dan sekaligus mempercayainya. Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi. Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Dalam buku mereka yang berjudul "Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership". Walaupun penelitian mengenai model transformasional ini termasuk relatif baru. dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli 5 . pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukanmasukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai "the Four I's". Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya.dengan cara yang intelektual. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996).

produktifitas. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac. meninjau kembali struktur. sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership). Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. Metanoia berasal dari kata Yunani meta yang berarti perubahan. Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory). 6 . proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan. Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi. dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing. dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat. dan nous/noos yang berarti pikiran. inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership). perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan praktekpraktek organisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. Meskipun terminologi yang digunakan berbeda. Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsep-konsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik.sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata. kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi. namun fenomena fenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. memulai proses penciptaan inovasi. Oleh karena itu.

kesetiaan dan hormat terhadap pemimpin tersebut dan mereka termotivasi untuk melakukan hal-hal yang lebih dari pada yang awalnya diharapkan pemimpin. Sebelum Bass mengindikasikan ada tiga ciri kepemimpinan transformasional yaitu karismatik. dan 3) mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi. Bawahan seorang pemimpin transformasional merasa adanya kepercayaan. nilai dan tujuan yang dianggapnya benar. 7 . Avolio & Bass (1987) mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional dalam dua hal. Motivasi yang meningkat dapat dicapai dengan menaikkan harapan akan kebutuhan dan kinerjanya. kekaguman. Pemimpin transformasional yang efektif berusaha menaikkan kebutuhan bawahan. meskipun pemimpin transformasional yang efektif juga mengenali kebutuhan bawahan. stimulasi intelektual dan perhatian secara individual. Pemimpin tersebut memotivasi para bawahan dengan : 1) membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil suatu pekerjaan.Sejauh mana seorang pemimpin disebut transformasional dapat diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para bawahan. bawahan di dorong mengambil tanggungjawab lebih besar dan memiliki otonomi dalam bekerja. pemimpin transformasional berusaha mengembangkan bawahan agar mereka juga menjadi pemimpin. mereka berbeda dari pemimpin transaksional aktif. Kedua. Selanjutnya dikatakan kepemimpinan karismatik dapat memotivasi bawahan untuk mengeluarkan upaya kerja ekstra karena mereka menyukai pemimpinnya. stimulasi intelektual dan perhatian secara individual mengindikasikan inspirasional termasuk ciri-ciri kepemimpinan transformasional.  Karismatik. Dengan demikian ciri-ciri kepemimpinan transformasional terdiri dari karismatik. Oleh sebab itu pemimpin yang mempunyai karisma lebih besar dapat lebih mudah mempengaruhi dan mengarahkan bawahan agar bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemimpin. Karismatik menurut Yukl (1998) merupakan kekuatan pemimpin yang besar untuk memotivasi bawahan dalam melaksanakan tugas. 2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi dari pada diri sendiri. Bawahan mempercayai pemimpin karena pemimpin dianggap mempunyai pandangan. Pertama. inspirasional. Misalnya.

kepercayaan. Zalesnik (1977. dalam Bass. 1985) mengatakan. Bycio. Kontribusi intelektual dari seorang pemimpin pada bawahan harus didasari sebagai suatu upaya untuk memunculkan kemampuan bawahan. sedangkan oleh Seltzer dan Bass (1990) dijelaskan bahwa melalui stimulasi intelektual. Menurut Yukl (1998. 1985) dapat merangsang antusiame bawahan terhadap tugas-tugas kelompok dan dapat mengatakan hal-hal yang dapat menumbuhkan kepercayaan bawahan terhadap kemampuan untuk menyelesaikan tugas dan mencapai tujuan kelompok. 1995) stimulasi intelektual merupakan upaya bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi bawahan untuk melihat persoalan-persoalan tersebut melalui perspektif baru. harapan dan didorong melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri serta disorong untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang menantang. Perilaku pemimpin inspirational menurut Yukl & Fleet (dalam Bass. Inspirasional. Jadi.  Stimulasi Intelektual.pendekatan baru terhadap masalah-masalah lama. melalui stimulasi intelektual. Deluga. dkk. bahwa pengaruh personal dan hubungan satu persatu antara atasan-bawahan merupakan hal terpenting yang utama. pemimpin yang dapat memberikan kontribusi intelektual senantiasa mendorong staf supaya mapu mencurahkan upaya untuk perencanaan dan pemecahan masalah. bawahan didorong untuk berpikir mengenai relevansi cara. 1998. system nilai. Sedangkan monitoring merupakan bentuk perhatian individual yang ditunjukkan melalui 8 . Perhatian secara individual tersebut dapat sebagai indentifikasi awal terhadap para bawahan terutama bawahan yang mempunyai potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Maksudnya.  Perhatian secara Individual Perhatian atau pertimbangan terhadap perbedaan individual implikasinya adalah memelihara kontak langsung face to face dan komunikasi terbuka dengan para pegawai. Hal itu dibuktikan dalam penelitian Seltzer dan bass (1990) bahwa aspek stimulasi intelektual berkorlasi positif dengan extra effort. pemimpin merangsang kreativitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan .

Selain itu. Hal ini dimaksudkan untuk memberi penghargaan maupun pujian untuk bawahan terhadap upaya-upayanya. dengan memfokuskan pada aspek kesalahan yang dilakukan bawahan. hubungan antara pemimpin dengan bawahan didasarkan pada serangkaian aktivitas tawar menawar antar keduanya. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Keller (1992) bahwa mereka yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi mempunyai minat mendalam dalam menghadapi tantangan kerja dan bawahan yang mempunyai pendidikan tinggi dapat mendukung memberi respon terhadap kepemimpinan transformasional. nasehat dan tuntutan yang diberikan oleh senior kepada yunior yang belum berpengalaman bila dibandingkan dengan seniornya. diharapkan dengan pendidikan tinggi dapat menjadi orang yang kreatif. Sedangkan bass (1985) mengatakan. b. berupa bonus atau bertambahnya penghasilan atau fasilitas. Pimpinan hanya melihat dan mengevaluasi apakah terjadi kesalahan untuk diadakan koreksi. Praktik management by-exception. Kepemimpinan Transaksional Menurut Burns (1978) pada kepemimpinan transaksional. pemimpin betransaksi dengan bawahan. kepemimpinan transformasional lebih memungkinkan muncul dalam organisasi yang memiliki kehangatandan kepercayaan yang tinggi juga berpendidikan tinggi. Heater dan Bass (1998) mengatakan bahwa kepemimpinan transformasional lebih menarik bagi karyawan yang berpendidikan tinggi karena karyawan yang berpendidikan tinggi mendambakan tantangan kerja yang dapat menambah profesionalis dan pengembangan diri. Respon positif tersebut dapat mempengaruhi tingkat motivasi bawahan sehingga bawahan juga akan meningkatkan upayanya atau melakukan extra effort untuk mendapatkan hasil kerja lebih tinggi dari yang diharapkan. Karakteristik kepemimpinan transaksional adalah contingent reward dan management by-exception. pimpinan memberikan intervensi pada bawahan apabila standar tidak dipenuhi oleh bawahan. Pada contingent reward dapat berupa penghargaan dari pimpinan karena tugas telah dilaksanakan.tindakan konsultasi. Management by-exception menekankan fungsi managemen sebagai kontrol. menunda keputusan atau menghindari hal-hal yang kemungkinan mempengaruhi terjadinya kesalahan. pimpinan 9 .

standar kerja. IV. Jadi ia membawa bawahan keluar dari kondisi keterpurukannya menuju kondisi yang lebih baik. Kedua. penugasan kerja.. Karena itulah ia harus diangkat dan dihargai secara total. melainkan pendamping dan partner bagi bawahannya 10 . Ketiga. pemimpin transformatif berupaya untuk memberikan perhatian pada nilainilai etis. pemimpin transformasional menyuarakan cita-cita dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan. Menurut Bycio dkk. Di sini Yulk memperlihatkan bahwa seorang pemimpin bukan sebagai penentu segalanya. dan penghargaan.mendelegasikan tanggungjawab kepada bawahan dan menindaklanjuti dengan memberikan apakah bawahan dapat berupa pujian untuk membesarkan hati bawahan dan juga dengan hadiah apabila laporan yang dibuat bawahan memenuhi standar. Dengan kata lain. melainkan mengaktifkan para pengikut untuk melakukan inovasi-inovasi untuk bangkit dari keterpurukannya. Di sini animo utama dari pemimpin adalah perbaikan kondisi bawahan. perhatian pemimpin transformatif juga terkait dengan perbaikan kualitas moralitas dan motivasi dari bawahan yang dipimpinnya. pemimpin transformatif tidak menggurui. Landasannya ialah bahwa setiap orang berharga baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. tanggung jawab sosial lewat empati. Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klasifikasi sasaran. pemimpin membangkitkan kesadaran dari pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi. Jadi. keadilan. Artinya. Urgensi Kepemimpinan Transformasional Gary Yulk dalam Leadership in Organization (1989). (1995) kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpin menfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran. fokus kepemimpinan transformatif pertama-tama terarah pada kepentingan bawahannya. Upaya itu diwujudkan dengan kebijakan-kebijakan yang memungkinkan perbaikan itu. Pertama. amat gamblang memperlihatkan karakter dari kepemimpinan transformatif itu.

Dialog ini mengandaikan adanya keterbukaan dan visi yang jelas dari seorang pemimpin. ada semacam konsistensi. produktifitas kelompok akan meningkat. melainkan mempunyai kemantapan. kepemimpinan transformatif mengandung muatan stimulasi intelektual. Tanpa kredibilitas ini. sebaiknya pemimpin adalah orang yang mampu membuat rencana. dan sejumlah predikat lainnya. Pemimpin harus mampu menciptakan kesesuaian antara kata dan perbuatan. Para peneliti menarik kesimpulan bahwa ada tiga dimensi perilaku kepemimpinan yang mempunyai kaitan sangat erat dengan keberhasilan kelompok kerja. Bagaimana mungkin seorang pimpinan bisa 11 . dewasa. Begitu penting kredibilitas ini bagi seorang pemimpin. Jadi. Bila seorang pemimpin hanya memerankan diri sebagai anggota. seorang pemimpin dituntut untuk menunjukkan kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin. Dalam sistem seperti ini intensi penguasa adalah meningkatkan kesadaran pengikutnya akan masalah-masalah konkret dan memandang masalah itu dari perspektif yang baru. V. berpandangan jauh ke depan. yaitu asumsi bila seorang pemimpin aktif memberikan contoh. kredibilitas adalah modal terpenting dalam kepemimpinan. Kepemimpinan Transformasional dan Kinerja Sudarwan (2004 : 137 – 138) menyebutkan secara luas adanya penelitian tentang perilaku kepemimpinan dihubungkan dengan kepuasan dan produktifitas pada usaha industri pada Pusat penelitian Universitas Michigan. kepemimpinan transformatif menghidupkan dialog dalam strata sosial lewat komunikasi politik yang sehat.Keempat. Kelima. Dalam konsep kepemimpinan transformasional. pimpinan hanyalah bekerja berdasarkan kekuasaan sehingga tidak akan mampu menjalankan secara efektif. Pemimpin yang baik tidak bersifat kekanak-kanakan. dan mengadakan kontrol secara serial (berkala). dan memberi contoh yang lebih bermakna daripada hanya sekedar menyampaikan kata-kata atau verbalisme. melaksanakan. produktifitas akan menurun. sehingga seorang pemimpin dipercaya oleh bawahannya. Jika bawahan tidak percaya pada pembawa berita apalagi mempercayai isi beritanya. Oleh sebab itu. Asumsi tentang peranan pimpinan. yaitu : 1.

Judge dan Locke (1993) menegaskan pula bahwa gaya kepemimpinan merupakan salah satu faktor penentu kepuasan kerja. Pendapat ini didukung oleh Nanus (1992) yang mengemukakan bahwa alasan utama karyawan meninggalkan organisasi disebabkan karena pemimpin gagal memahami karyawan dan pemimpin tidak memperhatikan kebutuhan-kebutuhan karyawan. pendiri rangkaian hotel bertaraf internasional. tidak ada keterlibatan karyawan dalam pembuatan keputusan. Mereka dengan sendirinya akan melakukan yang terbaik dalam melayani pelanggan juga dengan kualitas layanan nomor satu. Ketelitian pengawasan. memperhatikan. ia akan menjadikan bawahan untuk menjadi seorang pemimpin juga tanpa merasa tersaingi. apapun bentuk dan jenis pekerjaan yang ada di organisasi itu. 2. jika pimpinan tersebut tidak dipercaya bawahannya. menstimulasi Pemimpin intelektual bawahannya. Pemimpin transformasional akan menginspirasi bawahannya untuk maju. menghargai dan membina hubungan baik dengan karyawan. 12 . adalah salah satu penentu produktifitas kelompok kerja di dalam organisasi. Dalam transformasional konsep adalah kepemimpinan pemimpin yang transaksional. Dalam hubungannya dengan pengawasan. didengarkan dan dihargai akan merasa hasil kerja mereka tidak sia-sia. hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia organisasi akan lebih produktif bila kepadanya diberikan sejumlah otonomi atau kesempatan berdiri sendiri dalam melaksanakan tugasnya dan hal ini berhubungan dengan kepuasan kelompok baik dari diri pengawas maupun anggota yang diawasi. Jenkins menambahkan bahwa keluarnya karyawan lebih banyak disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap kondisi kerja karena karyawan merasa pimpinan tidak memberi kepercayaan kepada karyawan. pemimpin berlaku tidak objektif dan tidak jujur pada karyawan. Semua ini akhirnya akan memberi kontribusi positif bagi perusahaan. memahami pentingnya mendengarkan masukan dari karyawan.mengarahkan pegawai ke arah tujuan. Disinilah peranan pemimpin transformasional dalam melibatkan secara aktif bawahannya dalam proses kinerja manjadi sangat penting. Bill Marriot. Bill Marriot percaya bahwa karyawan yang merasa diperhatikan. Hotel Marriot.

Karyawan pada semua level diberikan wewenang/kuasa untuk memperbaiki output melalui kerjasama dalam struktur kerja yang fleksibel untuk memecahkan persoalan. sehingga akan tetap tinggal dalam jangka waktu yang lama . Perhatian secara individual tersebut dapat sebagai indentifikasi awal terhadap para bawahan terutama bawahan yang mempunyai potensi untuk menjadi seorang pemimpin. mengurangi hukuman atas kesalahan dan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan anggotanya. Adanya perbaikan terus menerus terhadap kualitas perusahaan. yaitu perhatian dari atasannya untuk dapat meningkatkan produktifitas kerja. Perhatian atau pertimbangan terhadap perbedaan individual implikasinya adalah memelihara kontak langsung face to face dan komunikasi terbuka dengan para pegawai. 1985) mengatakan. Perusahaan juga akan memperoleh keuntungan dengan melibatkan karyawan dalam memperbaiki proses perusahaan. pemimpin transaksional menuntut adanya perhatian secara Individual seorang pimpinan terhadap bawahan. Sedangkan monitoring merupakan bentuk perhatian individual 13 . Zalesnik (1977. Hal ini dapat ditempuh dengan jalan memberikan perhatian khusus pada masalah kesehatan. Dalam kaitan dengan Kepemimpinan transaksional. 3. antara lain : a. dalam Bass. bahwa pengaruh personal dan hubungan satu persatu antara atasan-bawahan merupakan hal terpenting yang utama. Kebalikan dari orientasi kepada bawahan adalah orientasi terhadap tugas. Pendekatan ini dimulai dengan kepemimpinan manajemen senior yang aktif dan mencakup usaha yang memanfaatkan bakat semua karyawan dalam suatu organisasi untuk mencapai suatu keunggulan kompetitif (Competitive Advantage) di pasar yang dimasuki. akan mendapatkan kepuasan dalam bekerja. Karyawan akan menikmati lingkungan pekerjaan. sehingga akan memberikan hasil pekerjaan yang terbaik sehingga hal ini akan berimbas pada performace perusahaan. c. Orientasi terhadap bawahan. memperbaiki proses dan memuaskan pelanggan. diantara 3 prinsip mutu yang merupakan konsep dasar dari total quality adalah keterlibatan total. yaitu pemimpin tidak melihat apapun dari bawahan kecuali pelaksanaan pekerjaan dan penilaian kinerja hanya ditentukanm atas keberhasilan seseorang melaksanakan pekerjaanya.Dalam konsep Total Quality Manajemen. sehingga organisasi akan menghemat biaya yang berkaitan dengan turnover karyawan b. Karyawan yang diperhatikan.

yang ditunjukkan melalui tindakan konsultasi. Secara ideal manajer harus bertemu secara pribadi dengan karyawan untuk menyampaikan informasi. tujuan dan kebutuhan bawahan dan perubahan-perubahan tersebut berdampak pada upaya bawahan karena dengan terpenuhinya kebutuhan yang lebih tinggi membuat bawahan mempertinggi motivasi dalam mencapai hasil kerja yang lebih optimal dan membuat bawahan berupaya lebih keras dengan bekerja lebih baik. 14 . Dan diantara elemen pendukung dalam keberhasilan TQM juga ditekankan adanya komunikasi. Hal tersebut karena praktik gaya kepemimpinan transformasional mampu membawa perubahan-perubahan yang lebih mendasar seperti perluasan nilainilai. nasehat dan tuntutan yang diberikan oleh senior kepada yunior yang belum berpengalaman bila dibandingkan dengan seniornya. memberi pengarahan dan menjawab pertanyaan dari setiap karyawan. dimana komunikasi kepada seluruh karyawan mengenai suatu komitmen yang sungguh-sungguh untuk melakukan perubahan dalam usaha peningkatan mutu. Uraian diatas menunjukkan kaitan erat antara pemimpin transformasional dengan kinerja suatu organisasi VI. Kesimpulan Jika seorang pemimpin menerapkan gaya Kepemimpinan transformasional akan menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kepemimpinan transaksional.

Endah & Sutrisno Hadi. “Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi”. Dawam & Herman Matondang. Jakarta Daryanto. Mujiasih. Daniel dkk (2005).id http://www. Edisi Ketiga.pemimpinunggul. “Urgensi Pemimpin Transformatif”. Gramedia. Jakarta Sudarto. Jakarta Robert N Anthony & Vijay Govindarajan (2000) “ Sistem Pengendalian Manajemen”. (1999) “Kepemimpinan dan Motivasi”.com *)Penulis adalah pegawai Seksi Pencairan Dana KPPN Rantauprapat 15 . Materi Pokok Pengelolaan Keuangan Negara. Asdi Mahasatya.com http://www. (2005).Sumber Acuan Danim.go.depdiknas. Arif. Graha Indonesia. “Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok”. Jakarta Sihotang. “Model Kepemimpinan dan Kepemimpinan Agribisnis Masa Depan”.pshycology. Jakarta http://www. “Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformasional ” Goleman. Kasdin (2003). Sudarman (2004). (2002). BPLK. Suara Pembaharuan Daily Wahyusumidsjo. Salemba Empat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->