Laporan Mikrobiologi Uji Daya Hambat

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Di dalam alam yang sewajar – wajarnya bakteri menemui zat – zat kimia yang menyebabkan dia sampai mati karenanya. Hanya manusia di dalam usahanya untuk membebaskan diri dari kegiatan bakteri meramu zat – zat yang dapat meracuni bakteri, akan tetapi tidak dapat meracuni diri sendiri atau meracuni zat makanan yang diperlukannya. Zat – zat yang menghambat pembiakan bakteri dengan tidak membunuhnya disebut zat antiseptic atau zat bacteria static. Zat yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri antara lain zat disenfektan dan zat antibiotic. Zat anti biotic adalah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme, yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain, bahkan dapat memusnahkannya. Zat disenfektan adalah suatu senyawa kimia yang dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan benda mati seperti meja,lantai,dan pisau bedah. Faktor yang mempengaruhi aktifitas antimikroba invitro antara lain adalah PH lingkungan, komponen – komponen medium, takaran inokolum, lamanya inkubasi dan aktifitas metabolism organism. Oleh karena itu dilakukannya percobaan uji daya hambat mikroba untuk membantu mengidentifikasi daerah hambat suatu zat anti microbial terhadap mikroorganisme. Dengan adanya zat antimicrobial, pertumbuhan mikroorganisme yang bersifat pathogen dapat dihambat dan dimatikan sehingga membantu manusia mengatasi penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme.

1.2

Tujuan Praktikum

1. Mengetahui factor yang mempengaruhi ukuran diameter zona hambatan. 2. Mengetahui daya hambat mikroba terhadap anti biotic yang digunakan.

3. Mengetahui factor – factor yang mempengaruhi hasil – hasil pengujian.

BAB II TINJAUN PUSTAKA

Mikroorganisme menyatakan suatu keadaan mikroorganisme yang meskipun masih hidup ( viable ) tetapi tidak mengadakan multiplikasi. Terjadinya keadaan mikrobiastis dapat disebabkan oleh pengaruh fisik seperti , pengeringan , immobilitasi air sel dengan larutan yang tekanan osmotisnya tinggi, atau dengan gabungan dari cara – cara tersebut. Mikrobiostatis kimia dapat disinfiksi adalah dua ungkapan yang perbedannya terletak pada apa yang diartikan dengan mematikan secara cepat ( yaitu disenfeksi ) dan apa yang diartikan dengan mematikan secara lambat ( yaitu mikrobiostatis ). Zat – zat kimia yang merupakan tipe umum dari mikrobiostatis kimia terdiri dari tiga macam yaitu zat warna aniline, sulfonamide, dan antibiotic ( Irianto, 2006 ). Zat – zat yang menghambat pembiakan secara bakteri dengan tiada membunuhnya disebut zat antiseptic atau zat bakteriostatik. Zat yang dapat membunuh bakteri disebut disenfektan, germisida atau bakterisida. Ada disenfektan yang membunuh bakteri dengan tidak merusaknya sama sekali, tetapi zat – zat kimia seperti basa dan asam organic menyebabkan hancurnya bakteri dan mungkin terjadi kehancuran ini akibat dari suatu hidrolisis. Kerusakan bakteri pada umumnya dibagi atas 3 golongan yaitu oksidasi, koagulasi atau penggumpalan protein, depresi dan ketegangan permukaan ( Dwidjoseputro,2005 ).

Pada umumnya bakteri yang muda kurang daya tahannya terhadap disenfektan dari pada bakteri yang tua. Faktor – factor yang mempengaruhi daya disenfektan antara lain pekat encernya kosentrasi, kenaikan temperature menambah daya disenfektan, medium juga dapat menawarkan disenfektan. Susu , plasma darah dan zat – zat lain yang serupa protein sering melindungi bakteri terhadap pengaruh disenfektan tertentu ( Dwidjoseputro,2005 ). Beberapa disenfektan dan antiseptic , zat – zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas gram – gram logam , fenol dan senyawa - senyawa lain yang sejenis, formal dehida , alkohol, yodium klor dan persenyawaan klor, zat warna , detergen , sulfona muda, dan antibiotic ( Dwidjoseputro,2005 ). Menurut Waksman, antibiotic adalah zat – zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme , dan zat – zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Antibiotik yang pertama dikenal adalah penisilin, suatu zat yang dihasilkan oleh jamur penicilium. Sp. Penisilin ditemukan oleh flerning pada tahun 1929, namun baru sejak tahun 1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai pembunuh bakteri. Antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri dikatakan mempunyai spectrum luas, sebaliknya

antibiotic yang hanya efektif untuk spesies tertentu mempunyai spectrum yang sempit. Sebelum suatu antibiotic digunakan untuk keperluan pengobatan, maka perlulah terlebih dahulu antibiotic diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. Sesuai dengan keperluan , maka suatu antibiotic dapat diberikan kepada seorang pasien dengan jalan penyuntikan dapat dilakukan dengan intra moskular ( Dwidjoseputro,2005 ). Kekuatan antibiotic yang diproduksi harus disesuaikan dengan “ Internasional Standard Sample “ dan satuan internasional. Pada umumnya contoh baku internasional dari suatu antibiotic mengandung sejumlah antibiotic yang telah dimurnikan secara teliti, baik terhadap kekuatannya maupun keaktifannya. Ada beberapa cara untuk menentukan preparat antibiotic. Penentuan kekuatan ini dapat dilakukan dengan tujuan sebagai berikut, menghitung daerah penghambatan dalam dalam lempeng agar dapat menentukan kosentrasi terkecil yang masih dapat menghambat pertumbuhan ( MIC ) dari suatu antibiotic terhadap organisme yang belum diketahui , dan untuk mengetahui konsentrasi antibiotic yang dapat tercapai dalam cairan tubuh atau jaringan ( Irianto, 2006 ). Berdasarkan luas aktifitasnya antibiotika dapat digolongkan atas zat – zat dengan aktifitas sempit dan zat – zat dengan aktifitas luas , adapun penggolongan antibiotika adalah sebagai berikut golongan penisilin , golongan sefalosparin, golongan aminoglikosida , golongan chlorampenicol, golongan tetrasidin, golongan makrosida, golongan quinolon ( Waluyo,2004 ). Pada mulanya diduga mekanisme aktifitasnya antimikroba adalah antagonisme kompetitif, tetapi nyatanya organisme kompetitif jarang terjadi. Kebanyakan zat antimikroba yang efektif kerjanya mengganggu sintesis penyusunan atau komponen – komponen makromolekul sel. ( Irianto, 2006 ). Beberapa Disinfektan dan Antiseptik a. Logam-logam Berat Logam berat berfungsi sebagai antimikroba oleh karena dapat mempresipitasikan enzim - enzim atau protein esensial dalam sel. Logam-logam berat yang umum dipakai adalah Hg, Ag, As, Zr dan Cu. Daya antimikroba dari logam berat, dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikroba dinamakan daya oligodinamik. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit, merusak alat - alat yang terbuat dari logam, dan harganya mahal (Dwidjoseputro, 2005). b. Fenol dan Senvawa-senyawa Sejenis

Menurut ketentuan. Konsentrasi di atas 90% atau dibawah 50% biasanya kurang efektif kecuali untuk isopropil alkohol yang masih tetap efektif sampai konsentrasi 99%. dan juga merupakan pelarut lemak. yaitu metanol. 2005). lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan lainnya (Dwidjoseputro.70% banyak dipergunakan sebagian disinfektan (Dwidjoseputro. Seringkali orang mencampurkan baubauan yang sedap. Ada 3 jenis alkohol yang dipergunakan sebagai disinfektan.4%). semakin tinggi berat molekulnya. dan enzim . sehingga disinfektan menjadi lebih menarik (Dwidjoseputro. Fenol merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas atau khasiat suatu disinfektan (Dwidjoseputro. diantara ketiga jenis alkohol tersebut isopropil alkohol adalah yang paling banyak digunakan. untuk mencegah timbulnya infeksi pasca bedah. daya bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif. Pada konsentrasi yang rendah (2 . Oleh karena itu. dan isopropanol. 2005). semakin meningkat pula daya disinfektannya. 2005). tetapi untuk spora tidak (Dwidjoseputro. Senyawa lain . etanol. d . c. Akan tetapi karena meninggalkan residu. Kresol (kreolin) lebih baik khasiatnya dari pada fenol. Etanol murni kurang daya bunuhnya terhadap mikroba Jika dicampur dengan air murni. maka alat-alat tersebut harus dibilas dulu sebelum dipakai. dan selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. membran sel sel akan rusak. Aldehid Cara bekerjanya aldehid ialah dengan cara membunuh sel mikroba dengan mendenaturasikan protein. Lisol adalah disinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol. Karbol adalah nama lain dari fenol.enzim akan dinonaktifkan oleh alkohol. 2005). efeknya menjadi lebih baik Alkohol 50 . Yang banyak dipergunakan dalam praktek adaiah larutan alkohol 70 – 80% dalam air. Alkohol Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan untuk sterilisasi dan disinfeksi. Waktu yang diperlukan untuk membunuh sel-sel vegetatif cukup 10 menit.Fenol (asam karbol) untuk pertama kalinya dipergunakan Lister di dalam ruang bedah sebagai germisida. Oleh karena itu. 2005). Larutan formaldehid (CH2O) 20% dalam 65-70% alkohol merupakan cairan pensteril yang sangat baik apabila aiat-alat direndam selama 18 jam. Alkohol mendenaturasikan protein dengan jalan dehidrasi.

e. Tabung reaksi 2.2 Alat dan Bahan 3. Rak tabung reaksi 3.1 Waktu danTempat Pratikum kali ini tentang uji daya hambat mikroba dilaksanakan pada hari kamis tanggal 28 April 2011 pukul 11. baik dalam air maupun dalam alkohol bersifat sangat antiseptik dan telah lama dipakai sejak lama sebagai antiseptik kulit sebelum proses pembedahan (Dwidjoseputro. BAB III METODE KERJA 3.00 WITA.dilanjutkan pengamatan pada hari jumat tanggal 29 April 2011 pukul 10. Jarum ose 5.1 Alat 1. Stafilokokus dan Iain-lain sel vegetatif akan dimatikan dalam waktu 5 menit. Pensil . Yodium Larutan yodium. Lidi dengan ujung kapas seteril 7. yakni glutaraldehid merupakan solusi seefektif formaldehid. sedangkan untuk membunuh spora diperlukan 3-12 jam. terutama bila pH-nya 7. Senyawa tersebut bersifat nontoksik dan tidak iritatif bagi manusia (Dwidjoseputro. Penggaris 9. Laminar Air Flow Cabinet 4. 3.00.00 – 12.30 – 15. Mycobacterium tuberculosis dan virus dalam waktu 10 menit. 2005).2. Spidol 8.aldehid.5 atau lebih. Bertempat dilaboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman Samarinda. 2005). Lampu bunsen 6.

9% NaCl 6.10. Detergen 5. Disiapkan susupensi bakteri yang sudah distandarisasi kekeruhnya Di celupkan lidi berujung kapas ke dalam biakan bakteri Staphylococcus aureus yang telah dicampur dengan 0. Neraca Analitik 13. Pinset 11. Detol 7. 2. Inkubator 14. Diseterilkan tangan dengan Alkohol 70% Disiapkan cawan petrids erisi LBA padat kemudian cawan di bagi empat kuadran Di tempelkan kertas label yang telah di tulis larutan wipol.0125 gr 4. Chlorampenichol 0. 3. korek 3.9% 12.1 Uji daya hambat mikroba menggunakan antikbakteri 1. Bayclin. Bayclin 9. Amoxillin 0. detol pada masing – masing titik kuadran di cawan petri 4.3. Alkohol 70% 13. Media LBA 10.0125 gr 3. listerin. 5.0125 gr 2. Ampicillin 0. Biakan bakteri Staphylococcus aureus 11.2. Aquades 3.3 Cara kerja 3. Larutan NaCl 0. Cawan petrids 12. Disuapkan secara vertikal dan horizontal pada permukaan LBA sampai tertutup seluruh permukaanya .2 Bahan – bahan 1. Listerin 8. Wipol 6.

7. 8.

Dipanaskan pinset diatas lampu bunsen, dan pinggiran cawan petri yang berisikertas cakram Diambil satu paper disc (kertas cakram), kemudian dicelupkan kedalam antisepik detol menggunakan pinset

9.

Dipanaskan pinggir cawan petri yang berisi media LBA, di letakkan peper disc pada cawan petri yang telah diberi kertas label

10. Diulangi langkah 7, 8, dan 9 untuk wipol, listerin, dan bayclin 11. Diinkubasi pada temperatur 370C selama 24 jam 12. Di amati dan diukur diameter hambatnya kemudian dihitung. 3.3.2 Uji daya hambat mikroba menggunakan Desinfektan 1. 2. Disiapkan cawan petrids berisi media LBA padat, kemudian cawan di bagi empat kuadran Di tempelkan kertas label yang telah di tulis larutan ampicillin, amoxillin, Deterjen, Chlorampenichol pada masing – masing titik kuadran pada cawan petri 3. 4. Disiapkan susupensi bakteri yang sudah distandarisasi kekeruhnya Di celupkan lidi berujung kapas ke dalam biakan bakteri Staphylococcus aureus yang telah dicampur dengan 0,9% NaCl 5. Disuapkan secara vertikal dan horizontal pada permukaan LBA sampai tertutup seluruh permukaanya 6. 7. Dipanaskan pinset diatas lampu bunsen, dan pinggiran cawan petri yang berisikertas cakram Diambil satu paper disc (kertas cakram), kemudian dicelupkan kedalam desinfektan ampicillin menggunakan pinset 8. Dipanaskan pinggir cawan petri yang berisi media LBA, di letakkan peper disc pada cawan petri yang telah diberi kertas label 9. Diulangi langkah 6, 7, dan 8 untuk amoxillin, detergen, dan Chlorampenichol 10. Diinkubasi pada temperatur 370C selama 24 jam 11. Di amati dan diukur diameter hambatnya kemudian dihitung.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil Pengamatan

4.1.1 Tabel hasil pengamatan uji daya hambat mikroba 4.1.1.1 Antibakteri Antibakteri Keterangan

a. Chloramphenicol b. Detergen c. Amphisillin d. Amoxillin

4.1.1.2 Desinfektan Desinfektan Keterangan

a. Wipol b. Detol c. Bayclin d. Listerin

4.2

Perhitungan

4.2.1 Antibakteri 4.2.1.1 Chloramphenichol Diameter zona bening N1 : 25 N2 : 23 N3 : 20 N4 : 22 90 N5 : 21 N6 : 22 N7 : 25 N8 : 27 95 : : 90 + 95 : 185 185 8 Indeks daya hambat : Diameter zona bening – Diameter cakram Diameter cakram : 23,125 - 6 6 : 4.2.1.2 Deterjen Diameter zona bening N1 : 26 N2 : 26 N3 : 28 N4 : 32 112 N5 : 32 N6 : 33 N7 : 31 N8 : 27 123 : 112 + 123 : 235 : 235 8 Indeks daya hambat : Diameter zona bening – Diameter cakram Diameter cakram : 29,375 - 6 6 : 29,375 2,8542 mm : 23,125

:

3,8958 mm

4.1.2.3 Amhisillin Diameter zona bening N1 : 21 N2 : 22 N3 : 22 N4 : 24 89 N5 : 25 N6 : 24 N7 : 24 N8 : 23 96 : 89 + 96 : 185

:

185 8

: 23,125

Indeks daya hambat

:

Diameter zona bening – Diameter cakram Diameter cakram

:

23,125 - 6 6

: 4.2.1.4 Amoxillin Diameter zona bening N1 : 0 N2 : 0 N3 : 0 N4 : 0 0 N5 : 0 N6 : 0 N7 : 0 N8 : 0 0

2,8542 mm

:0 + 0 : 0 8

: 0 : 0

Indeks daya hambat

:

Diameter zona bening – Diameter cakram Diameter cakram

:

0 - 6 6

:

0

6 6 : 4.2 Wipol Diameter zona bening N1 : 32 N2 : 35 N3 : 40 N4 : 42 149 N5 : 39 N6 : 37 N7 : 33 N8 : 32 141 : 149 + 141 : 290 : 20 8 Indeks daya hambat : Diameter zona bening – Diameter cakram Diameter cakram : 36.875 .4.2.875 .2 Disenfektan 4.25 .2.2.2.1 Detol Diameter zona bening N1 : 32 N2 : 32 N3 : 36 N4 : 38 138 N5 : 41 N6 : 35 N7 : 36 N8 : 37 19 : 138 + 149 : 287 : 287 8 Indeks daya hambat : Diameter zona bening – Diameter cakram Diameter cakram : 35.25 4.6 6 : 36.9792 mm : 35.2.

2.5 .5 .2.6 6 : 0 : 0 : 0 3.3 Bayclin Diameter zona bening N1 : 22 N2 : 24 N3 : 25 N4 : 26 97 N5 : 39 N6 : 37 N7 : 33 N8 : 23 99 : 97 + 99 : 196 8 Indeks daya hambat : Diameter zona bening – Diameter cakram Diameter cakram : 24.: 5.4 Listerin Diameter zona bening N1 : 0 N2 : 0 N3 : 0 N4 : 0 0 N5 : 0 N6 : 0 N7 : 0 N8 : 0 0 :0 + 0 : 0 8 Indeks daya hambat : Diameter zona bening – Diameter cakram Diameter cakram : 0 .6 6 : 4.6833 : 196 : 24.04167 mm 4.2.2.

yng mempunyaiefek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia dalam organisme khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri (Dwidjoseputro. mengeluarkan endotoxin. menghsmbst kerja enzim. baik alami maupun sintetik. hanya saja targetnya adalh bakteri. detergen. 2005). Cara kerja zat – zat kimia dalam mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Penggunaan antbiotik khususnya berkaian dengan pengobatan penyakit infeksi. 2004) Staphylococcus areus adalh bakteri berbentuk coccus. Baterisiada adalah suatu bahan yang mematikan bentuk – bentuk bakteri. farmasi staphylae. dan agar untuk membasmi kuman penyakit desinfektan tidak memiliki daya pentrasi sehingga tidak mampu memebunuh mikroorganisme yang terdapat didalam celah atau cemaran (Dwidjoseputro. hologen. tdak bergerak. 2005). alkohol. objek glass dan lain – lain. Desinfektan adalah zat kimia yang mematikan sel vegetativ belum tentu mematikan bentuk sepora mikroorganisme penyebab suatu penyakit kelompok utama desinfektan yaitu fenol. antibioika berbeda dengan disenfektan cara kerjanya (Dwidjoseputro. lantai. Desinfektan sangat penting bagi rumah sakit dan klinik. bakteriostatis adalah suatu keadaan yang menghambat pertumbuhan bakteri (waluyo. serta sebagai anti metabolit (Dwidjoseputro. mengubah permeabilitas sel. tidak mampu membentuk spoa. menhambat simiosis asam nukleat dan protein.4. 2005). meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetka juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap muatan atau transform. mengubah molekul protein dan asam amino yang memiliki mikroorganisme. Desinfektan fungsinya bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya enfeksi atau pencemaran oleh jasad renik. fakultatf anerob. sangat . gram negatif.3 Pembahasan Antibiotik adalah golongan senyawa. 2005) Desinfektan digunakan untuk menghambat ertumbuhan mikroorganisme pada benda – benda mati seperti meja. bebeda – beda antara lain dengan merusak dinding sel. Desinfektan akan memebantu mecegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan maupun dari hal medis yang ada dirumah sakit dan juga memebantu mencegah tertularnya tenaga medis oleh penyakit pasien. Antibiotik bekerja seperti peptida dengan menekan atau memutus suatu mata rantai metabolisme.

meruppakan flora normal pada kulit dan saluran pernapasan bagian atas (Waluyo. Molekulnya tidak stabit dan apabila dipanaskan akan teurai menjadi air dan oksigen (Dwidjoseputro. pinset dipanaskan terlalu panas dan tidak dianginkan terlebih dahulu sehingga dapat membunuh mikroba. h. 1 detejen dan empat disenfektan dan digunakan bakteri Staphylococcus areus. 2005). kemudian amphisillin dengan zona hambat 23. mati pada suhu 600C setelah 60 menit. misalnya derivat akridin dan zat warna rosan Akriflavin (campuran derivat akridin .12 mm dan indeksnya 2. f.9 mm. Klor dan Senyawa Klor Klorin bebas memiliki warna khas (hijau) dan bau yang tajam. kemudian detol dengan zona hambat 35.12 mm dan 2. Faktor kesalahan pada pratikum ini adalah menyulap media LBA tidak sampai rata pada permukaanya LBA. Sudah lama klorin dikenal sebagai deodoran dan disinfektan yang sangat baik. Klorin dijadikan standar pengolahan air minum di seluruh lingkungan. Pada percobaan ini yatu uji daya hambat mikroba digunakan 3 antibiotik. 2004). Diperoleh zat yang memiliki zona hambat terbesar adalah detergen 29. g.tahan terhadap pengeringan. Sayangnya kebanyakan senyawa klorin diinaktifkan bahanbahan organik dan beberapa katalisator logam (Dwidjoseputro. sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba.87 mm dan indeksnya 4. sedangkan listeri dan amoxillin tidak mempengaruhi dalam menghambat bakteri dengan tidak adnya zona hambat.89 mm. Peroksida Peroksida hidrogen (H202) merupakan antiseptik yang efektif nontoksik.85 mm kemudian chloramphenicol dangan hambat 23. Zat Warna Beberapa zat warna dapat menghambat pertumbuhan kur (bakteriostatik).375 mm dan indeks daya hambatnya 3.8 mm. 2005).

diantara antibiotik yang digunakan . Deterjen tidak hanya bersifat bakteriostatik. antara lain Streptococcus yang mengganggu tenggorokan. 2005). 2.1 Kesimpulan Dari hasil pratikum uji daya hambat mikroba dapat disimpulkan bahwa : 1. waktu pengeringan. dan telah lama dipergunakan untuk mengobati infeksi traktus urinar Mekanisme kerjanya disebabkan karena akridin mampu bereduksi dengan ADN mikrobe (Dwidjoseputro. akan menimbulkan gejala-gejala alergi dan berakibat kekebalan bagi mikrobe-mikrobe tertentu (Dwidjoseputro. tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. dan jarak antara disc obat.dengan senyawa I mempunyai spektrum aktivitas yang luas. Antibiotik yang digunakan mampu menghambat pertumbuhan mikroba yang dapat dibuktikan dengan adanya luas wilayah jernih pada zona hambat. Gonococcus. Terutama bakteri yang bersifat Gram positif (Dwidjoseputro. BAB V PENUTUP 5. Faktor – faktor yang mempengaruhi ukuran diameter zona hambatan adalah: kekeruhan susupensi bakteri. i. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion (deterjen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. dan Meningococcus.agar. waktu inkubasi tebalnya agar . Pneumococcus. Mikroba yang peka terhadap suifonamida. Penggunaan obat ini bila tidak dengan aturan. melainkan juga merupakan bakterisida. Suifonamida Sejak tahun 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan tidak memiliki sifat tidak merusak jaringan manusia. 2005). j. temperatur inkubasi. 2005). Deterjen Sabun biasa tidak banyak khasiatnya sebagai zat pembunuh bakteri (bakterisida).

misalnya pada zat antibiotik dapat digunakan entromisin (hanya bersifat pada bakteri gram positif). Laporan Angkatan Mikrobiologi Dasar Shift 2 dan 3 Uji Resistensi Antibiotik dan Uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration) . takaran inokolum. streptomisin dan gentamisin (hanya bersifat pada bakteri gram negatif). digunakan juga zat – zat yang aktifitasnya sempit. amoxillin. 3. komponen – komponen medium. lamanya inkubasi. ampicillin yang memilikidaya hambat terbaik adalah chlorampenichol. stabilitas obat. Faktor – faktor yang mempengaruhi hasil ujian diantaranya adalah pH lingkungan. dan aktivitas metabolisme mikroorganisme.chlorampenichol. 5.2 Saran Sebaiknya dalam pratikum kali ini. ketiga antibiotikini bersifat menghambat tidak mematikan karena digunakan dalam konsentrasi rendah.

Biologi Universitas Padjadjaran Angkatan 2010 11/17/2011 .

Bagaimana hubungan antara nilai MIC dengan Kualitas ekstrak sebagai antibiotik . Apa ekstrak yang paling baik untuk menjadi antibiotic 2. Mampu melakukan uji MIC untuk menentukan konsentrasi terendah dari zat antimikroba dalam menghambat pertumbuhan mikrooganisme.BAB I PENDAHULUAN 1. 2. Apa kandungan yang terdapat pada ekstrak yang terbaik sebagai antibiotic 3. Mampu mengukur daerah hambat yang terbentuk yang terbentuk di sekeliling kertas yang mengandung antibiotik sebagai tingkat kepekaan bakteri terhadap antibiotik 3. Bagaimana hasil pengujian kepekaan bakteri terhadap zat antibiotic 4. IDENTIFIKASI MASALAH 1. Mampu melakukan pengujian kepekaan bakteri terhadap berbagai zat antibiotic 2. TUJUAN 1.

5.2011). BAB II TINJAUAN PUSTAKA Uji resistensi merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kepekaan bakteri terhadap suatu antibiotik (Safitri. Florey (Oxford). apakah Bakteri resisten. Ekstrak apa yang memiliki nilai mic terendah 6. Alexander Flemming pada tahun 1928 (penisilin). Agak resisten atau peka. bakteri (Ganiswarna. Akan tetapi. Berdasarkan daerah hambat yang terbentuk oleh ekstrak yang memiliki nilai MIC terendah. Kegiatan antibiotik untuk pertama kalinya ditemukan oleh sarjana Inggris dr. Makin besar jumlah dan macammikroorganisme yang dipengaruhi makin baik. yang dapat mencegah pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lain.2003). Harus mempunyai kemampuan untuk merusak atau menghambat mikroorganisme patogen spesifik. Dan kemudian banyak zatzat lain dengan khasit antbiotik diisolir oleh penyelidik di seluruh dunia (Djie. 1995). . actinomycetes. karena antibiotik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Jawelz. Antibiotik dibuat sebagai obat derivat yang berasal dari makhluk hidup atau mikroorganisme. Penemuan ini baru di kembangkan dan di pergunakan dalam terapi di tahun 1941 olej dr. 1995 ) : 1. tidak semua makhluk hidup dapat dijadikan antibiotik. Antibiotik diperoleh dari hasil isolasi senyawa kimia tertentu yang berasal dari mikroorganisme seperti jamur.

penghancuran secara mekanik) (Dwidjoseputro. jumlah tersebut disebut disebut juga MIC (minimum inhibitory concentration).2. iritasi pada ginjal. Oleh karena itu diperlukan suatu uji kerentanan terhadap mikroorganisma terhadap antibiotik. suatu enzim yang menginaktifkan penisilin. resistensi terhadap penisilin pada suatu organisme dapat disebabkan oleh produksi penisilinase. Tiap spesies mikroorganisma memiliki tingkat kerentanan terhadap zat antibiotik yang berbeda-beda dan kerentanan tersebut dapat berubah selama masa pengobatan. 6. radiasi. Antibiotik umumnya terbuat dari kapang. Tidak mengakibatkan berkembangnya bentuk-bentuk resisten terhadap parasit 3. Sebagai contoh. Metode ini untuk menetapkan jumlah terkecil zat antibiotik yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan organisme in vitro. seperti penisilin yang berasal dari Penicillium notatum dan Penicillium chrysogenum. Resistensi tersebut dapat disebabkan oleh suatu faktor yang sudah ada pada mikroorganisme itu sebelumnya atau mungkin juga faktor itu diperoleh kemudian. Resistensi bakteri pada metode cawan piring kertas dilkukan dengan menumbuhkan bakteri pada lempeng agar nutrisi dan antibiotic yang berbentuk kertas di . Tidak melenyapkan flora mikroba normal pada inang 5. 4. memiliki taraf kelarutan yang tinggi dalam zat alir tubuh. Aktvitas mikroba atau bakteri dapat dikendalikan dengan mengatur faktor-faktor linkungan yang meliputi faktor biotik ( makhluk hidup ) dan abiotik (kelembaban. Penggunaan antibiotic secara berlebih menyebabkan bakteri tertentu tahan atau resisten. konsentrasi antibiotik di dalam jaringan atau darah harus dapat mencapai taraf cukup tinggi sehingga mampu menghambat atau mematikan penyebab infeksi. PH. Tidak menimbulkan efek samping yang tidak dikehendaki pada inang seperti reaksi alergis. 1994). Resistensi yang diperoleh ini pun disebabkan oleh galurgalur mikroorganisme yang secara genetis telah teradaptasi (Pelczar. temperatur.1986). Kerentanan suatu mikroorganisme terhadap antibiotik dapat ditentukan dengan teknik pengenceran tabung dan teknik cawan piring kertas. kerusakan pada saraf.

Uji MIC relatif mudah dan mudah untuk menyiapkan dan melaksanakan. 3. 4. Karena sedikit persiapan yang diperlukan untuk konsentrasi penghambatan minimum pengujian. Pada tabung yang sesuai dengan MIC. Ketahanan bakteri terhadap antibiotika dilihat berdasarkan diameter daerah hambatnya. 2. 2. seperti di spesies mikroba atau campuran surfaktan. Daerah hambat tersebut adalah (Safitri. Daerah hambat dengan diameter 20-30 mm menunjukan bahwa bakteri ini agak resisten terhadap antibiotika 3. Sedikit variasi dalam cara parameter uji MIC dapat memiliki dampak besar pada MIC jelas. dan konsentrasi inokulum lebih rendah akan membuat MIC tampaknya lebih rendah. mikroorganisme hanyalah dicegah dari berkembang dan .uji MIC ini penting dilaksanakan untuk mengetahui resistensi suatu mikroba terhadap anti mikroba (Muhammad. Daerah hambat dengan diameter lebih dari 30 mm menunjukkan bahwa bakteri tersebut peka terhadap antibiotika. tes turnaround times dapat tetap rendah. Hasil dari studi MIC harus dijaga dan dipertimbangkan dalam konteks yang tepat. kemudian media di eramkan selama 24 jam dengan suhu 37 derajat Celsius. yang tentu saja meningkatkan reproduktifitas 2. Daerah hambat dengan diameter kurang dari 20 mm menunjukkan bahwa bakteri tersebut resisten terhadap antibiotika Uji ini dilaksanakan terhadap suatu sediaan antimikroba (baik itu desinfektan) untuk diketahui konsentrasi terendah dari antimikroba) tersebut dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme.letakan pada lempeng agar tersebut. Tes MIC dapat dilakukan pada skala yang sangat kecil (microtiter MIC). Ketahanan bakteri terhadap antibiotic dapat dilihat dari diameter yang terbentuk di sekeliling kertas cakram yang sudah mengandung antibiotik. 2010) Kekuatan uji MIC : 1. Sebagai contoh. diperpanjangnya inkubasi akan membuat MIC tampak lebih tinggi. Tes MIC adalah cara mudah untuk menguji sifat antimikroba formulasi di antara berbagai parameter. Kelemahan uji MIC : 1.Selain itu.2011): 1.

BAB III ALAT.2010).000 sel-sel sehat dalam pembuluh pengenceran hanya menunggu untuk tumbuh seharusnya agen antimikroba menjadi dinetralisir (Muhammad.tidak selalu membunuh – ada masih dapat 500. DAN PROSEDUR 3. Bulb pipet . BAHAN.1 ALAT 1.

Suspense bakteri 8. Pipet volume 9. Ekstrak (daun jambu batu. sereh. Biakan murni bakteri ( Salmonella thypii ) 3. daun mangga. Cawan petri 3. Kertas saring 6. daun bawang. Pinset 8. sirih. Pembakar spiritus 3. dan bawang merah) 4. Zat antimikroba ( chloram fenicol) . daun salam. cabe rawit. Incubator 4.2. Nutrient Agar 5. Ose 7. ketumbar. daun alpukat. Nutrient broth 6. daun pandan. daun sirsak. Alcohol 2. daun papaya. merica bubuk. daun jeruk. Kertas cakram 5. saledri. Nacl fisiologis 7.2 BAHAN 1.

saledri.3. 40%. Prosedur ini digunakan untuk dua cawan petri sebagai wadah media pertumbuhan bakteri. Sebanyak 2. Bakteri ini diletakkan di dalam cawan petri steril yang kemudian di tambahkan agar cair (NB) dengan suhu 40°C. Perendaman kertas cakram tersebut dilakukan selama satu jam dihitung dari waktu memasukkan ekstrak. daun mangga. dan bawang merah) dengan pengenceran 50%. kertas inilah yang disebut kestar antibiotik. Aquadest bukan merupakan zat antibiotik. Bakteri dan NB tersebut dihomogenkan dengan cara memutar cawan petri agar bakteri dapat tumbuh merata di dalam NB. Demikian juga dengan aquadest steril dan Chloram fenikol. 10%. Ekstrak yang telah dilakukan pengenceran diletakkan didalam masing-masing tabung reaksi yang berbeda sebanyak 5 ml dan diberi label pada tabung tersebut. cabe rawit. sedangkan Chloram fenikol merupakan zat antibiotik. daun jeruk. sehingga nantinya didapatkan 8 bagian untuk meletakkan kertas cakram (kertas antibiotik).5 ml ekstrak dari tiap pengenceran. aquadest. ketumbar.1 ml. Penggunaaan dua medium ditujukan karena satu cawan petri akan dibagi menjadi 4 bagian. Bakteri dalam uji resistensi ini ( Salmonella thypi ) yang digunakan sebanyak 0. daun papaya.3 PROSEDUR 3. daun bawang. . daun sirsak. 30%. dan chloram fenikol . merica bubuk. sereh. 20%.3. daun salam. dan 5%.1 Uji Resistensi Antibiotik Uji resistensi ini dilakukan pada ekstrak (daun jambu batu. aquadest steril dan Chloram fenikol kemudian dimasukkan kedalam masing-masing tabung kecil yang berbeda yang didalamnya telah berisi cakram atau kertas saring kecil yang nantinya akan menyerap ekstrak. sirih. serta sebagai pembanding digunakan aquadest steril dan Chloram fenikol. aquadest. daun pandan. dan chloram fenikol. daun alpukat.

20%. 40%. . dan 5%. 15%. 30%.3. 20%. 10%. 10%.5 ml.2 Uji MIC (MINIMUM INHIBITORY CONCENTRATIONS) Uji MIC ini dilakukan dengan menggunakan ekstrak dengan pengenceran 50%. Kemudian cawan petri tersebut diinkubasi didalam inkubator dengan suhu 37°C selama 24 jam / 1 hari.Diagram Kertas cakram kemudian diletakkan diatas media NB yang sebelumnya telah dibiarkan beku. 3. Untuk mempermudah dipergunakan sisa dari uji resistensi antibiotik yang telah diletakkan kedalam masing-masing tabung reaksi sebanyak 2. Kedalam masing-masing tabung reaksi (kecuali yang berisi aquadest) dimasukkan agar cair ( NB ) sehingga konsentrasi pengenceran dari ekstrak menurun menjadi 25%. aquadest dan chloram fenikol. serta aquadest steril sebagai kontrol. Peletakkan kertas cakram tersebut disesuaikan dengan daerah di cawan petri yang sebelumnya telah dibagi 8 bagian sesuai dengan banyak pengenceran ekstrak.

5%.5%. . begitupun kedalam tabung reaksi berisi aquadest steril. bakteri ( Salmonella thypi ) dimasukan kedalamnya sebanyak satu ose. tabung-tabung reaksi tersebut kemudian diinkubasi di dalam inkubator pada suhu 37°C selama 24 jam/1 hari. dan 2. Setelah penanaman bakteri. Setelah NB dan ekstrak di dalam tabung reaksi dihomogenkan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Nama Ekstrak Tanaman Perubahan konsentrasi (setelah di tambah NB) 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.) 50 % 40 % Daun Jambu batu 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % Sirih 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % Saledri 30 % 20 % Keruh ( + ) + + + Tidak dapat ditentukan.5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % + + + + + + + Tidak dapat ditentukan.5% + Penampakan Nilai mic Jernih ( . Konsentrasi .5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2. (10%+5%) / 2 = 7.

5 % 0% Penampakan Nilai mic Jernih ( .) Keruh ( + ) + Tidak dapat ditentukan Konsentrasi 50 % 40 % Daun Jeruk 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) .5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.5 % 0% - + + + + + + Tidak dapat ditentukan 4.1 Uji MIC dengan Salmonella thypii Nama Ekstrak Tanaman Perubahan konsentrasi (setelah di tambah NB) 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.1 HASIL 5% 2.1.10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % Daun Papaya 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 4.

50 % 40 % Daun Alpukat 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % Daun Sirsak 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % Daun Mangga 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.5% + + + ++ .5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.5 % 0% 25 % 20 % - + + + + + Tidak dapat ditentukan + + + + + + + + + + Tidak dapat ditentukan (25%+20%)/2 = 22.

30 % Sereh 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 15 % 10 % 5% 2.5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % Penampakan Nilai mic Jernih ( . 5 % (15%+10%)/2 = 12.5 % Keruh ( + ) 50 % 40 % Daun Salam 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % Daun 30 % 20 % .) + + + + + + (20%+15%)/2 =17.5 % 0% ++ ++ ++ ++ ++ Tidak dapat ditentukan Nama Ekstrak Tanaman Konsentrasi Perubahan konsentrasi (setelah di tambah NB) 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.

bawang 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % 5% 2.5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.5 % + + + + ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + ++ ++ ++ ++ ++ ++ ++ + Tidak dapat ditentukan Tidak dapat ditentukan Tidak dapat ditentukan Merica bubuk 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % Cabe rawit 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % Daun pandan 30 % 20 % 10 % 5% .5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.

5 % 0% 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.) Keruh ( + ) 50 % 40 % Ketumbar 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) 50 % 40 % Bawang merah 30 % 20 % 10 % 5% 0% (kontrol) + + Tidak dapat ditentukan + + + + + Tidak dapat ditentukan + * (+) = bakteri tetap tumbuh.5 % 0% - Penampakan Nilai mic Jernih ( .2 Uji Cawan Piringan Kertas ( Paper Disk Plate ) dengan Salmonella Thypii .0% (kontrol) 0% - Nama Ekstrak Tanaman Konsentrasi Perubahan konsentrasi (setelah di tambah NB) 25 % 20 % 15 % 10 % 5% 2.1. (-) = bakteri mati 4.

R) 50 % 40 % ^ ^ 7 7 Resisten Resisten . Ar.Nama Ekstrak Tanaman Konsentrasi Zona Bening Terbentuk Tidak terbentuk Ukuran zona bening (mm ) Keterangan ( P. R) 50 % Daun Jambu Batu 40 % 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % 40 % Sirih 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol Nama Ekstrak Tanaman Konsentrasi ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ Zona Bening Terbentuk Tidak terbentuk 10 12 12 11 8 7 0 35 20 18 10 8 8 0 0 25 Ukuran zona bening (mm) (diameter) Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Peka Agak Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Agak Resisten Keterangan ( P. Ar.

5 6 15 0 0 0 10 0 0 Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Peka Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Peka Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten .30 % 20 % Saledri 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % 40 % Daun papaya 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % Daun Jeruk 40 % 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % 40 % 30 % ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ 7 7 9 7 0 40 8 11 9 9 10 10 9 22.5 9 7 6.

R) Resisten Resisten Peka Resisten Resisten Resisten Peka Peka Resisten Nama Ekstrak Tanaman Konsentrasi Zona Bening Terbentuk Tidak terbentuk Ukuran zona bening (mm) 12 13.Daun Alpukat 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ 0 25 10 Resisten Agak Resisten Resisten Resisten Peka Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Agak Resisten ^ 0 40 15 14 11 9 18 12 21 33 Daun Sirsak 40 % 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol Peka Keterangan ( P. Ar.5 30 15 10 19 32 40 7 50 % 40 % Daun mangga 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ .

40 % Sereh 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % 40 % Daun Salam 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % Daun bawang 40 % 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % 40 % ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ 6 0 8 0 0 0 42 10 11 13 9 14 13 0 51 0 12 0 0 0 0 0 29 0 0 Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Peka Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Peka Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Agak Resisten Resisten Resisten .

30 % Merica bubuk 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol Nama Ekstrak Tanaman Konsentrasi ^ ^ ^ ^ ^ ^ 0 0 0 0 0 35 Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Peka Keterangan ( P. R) Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Peka Zona Bening Terbentuk Tidak terbentuk Ukuran zona bening (mm) 4 3 2 1 0 0 0 0 50 % 40 % Cabe rawit 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % Daun pandan 40 % 30 % 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ 0 0 0 0 0 0 0 30 . Ar.

50 % 40 % 30 % Ketumbar 20 % 10 % 5% 0 % kontrol Chloramfenikol 50 % 40 % Bawang merah 30 % 20 % 10 % 5% 0 % control Chloramfenikol ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ ^ 0 0 0 0 0 0 0 15 12 11 20 10 Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Agak Resisten Resisten Resisten Resisten Resisten Peka ^ ^ ^ 0 0 0 30 *Peka= diameter > 30 mm. Resisten = diameter < 20 mm . Agak resisten = diameter 20-30 mm.

Hal ini disebabkan karena kekebalan tubuh mereka yang menurun.1 Salmonella thypii Bakteri yang digunakan pada praktikum ini adalah Salmonella thypii. Salmonella thypii adalah suatu genus bakteri enterobakteria gram-negatif berbentuk tongkat yang menyebabkan tifoid. karena invasi bakteri ke dalam pembuluh darah dan gastroenteritis. Ciri lainnya sensitifitas terhadap antibiotik lebih sensitif terhadap streptomisin. Infeksi Salmonella dapat berakibat fatal kepada bayi. kemudian. lapisan terluar yaitu lipoposakarida (lipid). memiliki bentuk sel biasanya batang nonspora kecuali Neiser. Spesies-spesies Salmonella thypii dapat bergerak bebas dan menghasilkan hydrogen sulfide (Anonim. Bakteri garam negatif memiliki 3 lapisan dinding sel. ibu hamil dan kandungannya serta orang lanjut usia.2 PEMBAHASAN 4. dan penyakit foodborne.2010). Kontaminasi Salmonella thypii dapat dicegah dengan mencuci tangan dan menjaga kebersihan makanan yang dikonsumsi. ketahanan keasamannya sensitif terhadap asam. paratifod. yang disebabkan oleh keracunan makanan atau intoksikasi. dan tidak ada inang lain. Bakteri ini termasuk bakteri gram negatif. Salmonella typhii menyebabkan penyakit demam tifus (Typhoid fever). mual-mual. balita. muntah dan kematian. Klasifikasi Kingdom Bakteria Phylum Proteobakteria Class Gamma Proteobakteria Ordo Enterobakteriales .4. Salmonella typhii memiliki keunikan hanya menyerang manusia. Gejala demam tifus meliputi demam.2.

hal ini menunjukkan bahwa bakteri peka terhadap kloramfenikol sebagai antibiotik. pada suhu 15-41ºC dan pH pertumbuhan 6-8. bakteri masih bersifat resisten karena zona bening yang terbentuk memiliki diameter 7 mm. Pada tabung pengenceran 50% sampai 30% larutan berwarna hijau berubah menjadi . Dalam air bisa tahan selam 4 minggu. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu yang menghambat bakteri enterik lainnya. bakteri bersifat resisten. tetapi hampir tidak pernah meragikan laktosa dan sukrosa. Untuk ekstrak daun jambu batu dengan konsentrasi 50% terbentuk zona bening dengan diameter 10mm. Zona bening yang terbentuk adalah suatu daerah yang menandakan bahwa bakteri terhambat pertumbuhannya.2. Kemudian pada konsentrasi 10% terdapat zona bening dengan diameter 8 mm. Bakteri mati pada suhu 56ºC juga pada keadaan kering. Untuk konsentrasi 40% -20% terbentuk zona bening dengan diameter 12 mm yang menandakan bahwa bakteri masih tetap resisten terhadap ekstark daun jambu batu. Untuk uji Minimum Inhibitory Concentration hasil yang didapat pada tiap tabung yaitu adanya perbedaan kekeruhan tiap-tiap konsentrasi yang diakibatkan karena adanya pertumbuhan bakteri. Begitu pula pada konsentrasi 5%. hal ini disebabkan karena control yang berupa akuades bukan merupakan suatu antibiotik.Famili Enterobakteriakceae Genus Salmonella Species Salmonella thypii (Lignieres 1900) (Maloy.1999) Bakteri ini tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob. hal ini menandakan bakteri resisten terhadap ekstrak daun jambu batu dengan konsentrasi 50%. sedangkan pada kloramfenikol. Untuk control tidak terbentuk zona bening. 4.2 Daun Jambu Batu Hasil yang didapat terdapat pada uji resistensi yaitu terbentuknya zona bening pada cawan petri di tiap-tiap wilayah. Bakteri ini mudah tumbuh pada pembenihan biasa. zona bening yang terbentuk pada cawan petri memiliki diameter sebesar 35 mm.

Pada sampel dengan konsentrasi ekstrak sirih 50%. namun pada tabung pengenceran 20-5% larutan tidak mengalami perubahan warna. Sedangkan pada sampel dengan konsentrasi 50-20%.3 Sirih Berdasarkan uji MIC yang telah di lakukan dengan sampel Salmonella thypii. Serta pada sampel kontrol.pertumbuhannya terhambat. Pada tabung control warna berubah menjadi keruh. Selain itu. hal ini ditandai dengan terbentuknya daerah hambat/zona bening pada ekstrak 50% dengan diameter 20 mm. didapatkan hasi bahwa bakteri dapat berkembang biak dari mulai konsentrasi ekstrak sirih 10% yang ditunjukkan dengan mulai meningkatnya kekeruhan dari media biakan bakteri setelah diinkubasi. dan 20% bakteri tidak tumbuh yang ditunjukkan dengan sampel yang bening. bakteri tidak dapat tumbuh (bening) karena kadar ekstrak sirih yang digunakan pada sampel tersebut cukup tinggi sehingga mampu menghambat pertumbuhan bakteri. serta pada klorom . serta pada sampel kontrol yang hanya diisi dengan media dengan air (tanpa ekstrak sirih). bakteri dapat tumbuh dengan baik yang ditandai dengan sampel yang keruh karena dalam tabung tersebut tidak diisi dengan ekstrak sirih yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. 40%. 4. Namun tetap ada batas sampai konsentrasi tertentu. 30%. sehingga tidak mampu untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri. didapatkan hasil bahwa bakteri agak resisten pada konsentrasi 50% serta pada klorom fenikol. Berdasarkan uji antibiotik yang kami lakukan.keruh. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak sirih yang kami gunakan dalam percobaan ini mengandung zat yang dapat mengambat pertumbuhan bakteri atau disebut juga dengan antibiotik. Bakteri tidak peka pada konsentrasi tinggi melainkan peka pada konsentrasi rendah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya disebabkan karena terjadi kontaminasi karena pada saat memasukan pipet kedalam tabung reaksi sehingga banyak bakteri lain dari udara yang masuk ke tabung reaksi. Sampel mulai keruh pada konsentrasi ekstrak 10% dan 5% karena kadar ekstrak sirih kecil. kekeruhan juga terjadi pada sampel dengan konsentrasi ekstrak sirih 5%. sedangkan tabung yang tidak berubah warna.2. Kekeruhan yang terjadi diakibatkan karena adanya pertumbuhan bakteri di dalam tabung.

Namun pada konsentrasi 40-5% bakteri resisten yang ditunjukkan dengan diameter daerah hambat pada konsentrasi 40% yaitu 18 mm. Karvakol bersifat sebagai desinfektan dan antijamur sehingga bisa digunakan sebagai antiseptik. 2011). Hasil uji farmakologi menunjukkan bahwa infusa daun sirih dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab pneumonia dan Gaseus gangrene. pada sampel kontrol pun bakteri resisten. terbentuk daerah hambat yang cukup besar yaitu dengan diameter 20 mm. Air rebusan daun sirih dapat digunakan untuk mengobati batuk maupun berfungsi sebagai bakteriosid terutama terhadap Haemophylus influenzae. Pada konsentrasi 50%. dan tannin. euganol dan methyl-euganol dapat digunakan untuk mengurangi sakit gigi. karena sampel tidak diberi ekstrak sirih atau antibiotik sehingga bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak. saponin. serta 8 mm pada 20% dan 10%. Daun sirih antara lain mengandung kavikol dan kavibetol yang merupakan turunan dari fenol yang mempunyai daya antibakteri lima kali lipat dari fenol biasa terhadap Staphylococcus aureus(Kharis. Begitu juga pada klorom fenikol. sehingga masih mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri. 2011). Flavanoid selain berfungsi sebagai bakteriostatik juga berfungsi sebagai anti inflamasi. mukosa dan melawan infeksi pada luka. Sedangkan pada konsentrasi 40-5%. Staphylococcus aureus dan Streptococcus haemoliticus (Kharis. daerah hambat yang dibentuk besar yaitu 25 mm dan menunjukkan bakteri agak resisten.fenikol 25 mm. 10 mm pada 30%. hal ini disebabkan karena klorom fenikol memang merupakan antibiotik sintetis yang sudah siap digunakan. . Begitu pula dengan sampel kontrol. Saponin dan tannin bersifat sebagai antiseptik pada luka permukaan. dimana tidak ada sama sekali zona bening yang terbentuk. daerah hambat/zona bening yang terbentuk tidak terlalu besar yang menunjukkan bahwa bakteri dapat resisten terhadap antibiotik atau ekstrak sirih tersebut. Selain itu. Selain itu didalam daun sirih juga terdapat flavanoid. bekerja sebagai bakteriostatik yang biasanya digunakan untuk infeksi pada kulit. hal ini disebabkan karena konsentrasi ekstrak yang digunakan besar. yang ditandai dengan sama sekali tidak terbentuknya zona bening/daerah hambat di sekeliling kertas antibiotik. Hal ini disebabkan karena konsentrasi ekstrak sirih yang digunakan pada sampel dikurangi sehingga kurang mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri.

tetes mata. Daun sirih dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit diantaranya obat sakit gigi dan mulut. sariawan. jantung berdebar dan trachoma. 2011). batuk dan serak. 2011) . 2011). gatal-gatal. Air rebusan daun sirih dapat digunakan untuk mengobati batuk maupun berfungsi sebagai bakteriosid terutama terhadap Haemophylus influenzae. abses rongga mulut. kepala pusing. Dengan terdenaturasinya protein sel. membuktikan bahwa daun sirih mempunyai dasar kuat digunakan sebagai bahan obat karena mengandung minyak atsiri dengan komponen fenol yang dapat memepengaruhi pertumbuhan bakteri(Kharis. Cara kerja fenol dalam membunuh mikroorganisme yaitu dengan cara mendenaturasi protein sel (Pelczar dan Chan. Staphylococcus aureus dan Streptococcus haemoliticus (Kharis. Hasil uji farmakologi menunjukkan bahwa infusa daun sirih dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab pneumonia dan Gaseus gangrene. Berdasarkan uraian diatas.Klasifikasi Kingdom Plantae Divisi Magnoliophyta Kelas Magnoliopsida Ordo Piperales Famili Piperaceae Genus Piper .Minyak asirinya pada daun sirih antara lain mengandung kavikol dan kavibetol yang merupakan turunan dari fenol yang mempunyai daya antibakteri lima kali lipat dari fenol biasa terhadap Streptococcus mutans. hidung berdarah. maka semua aktivitas metabolisme sel dikatalisis oleh enzim yang merupakan suatu protein(Kharis. luka bekas cabut gigi. wasir. gangguan lambung. Streptococcus Viridans dan Staphylococcus aureus(Kharis. keputihan. 2011). penghilang bau mulut. 1981).

.Spesies Piper betle L.

Ketidakhomogenan ini mempengaruhi konsentrasi dari tiap tiap tabung berbeda. Pengenceran dilakukan secara bertahap dengan menambahkan akuades dan nutrient broth kedalam larutan ekstrak yang berbeda beda konsentrasinya. Zona bening tersebut adalah daerah yang tidak ditumbuhi bakteri karena pertumbuhannya terhambat oleh zat yang terkandung dalam seledri yangberpotensi menjadi zat antibiotik. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan. Hasil yang diperoleh negatif sehingga kita tidak dapat mengetahui berapa nilai konsentrasi minimum yang dapat membunuh bakteri secara efektif.4. ketujuh tabung dikeluarkan dan dilihat hasilnya untuk diukur diameter daerah hambatnya. Ketika ekstrak dilarutkan dalam air. Menurut literatur yang kami peroleh. terdapat beberapa fase. pengenceran ekstrak dan kontaminan. Setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 34oC. Hal ini bisa saja terjadi karena kesalahan dalam teknik pengambilan larutan ekstrak. paa bagian bawah larutan terdapat bagian yang lebih pekat dibandingkan pada permukaan. Selain itu factor pengenceran juga mempengaruhi hasil yang diperoleh. Berdasarkan hasil dapat diamati bahwa hasil yang diperoleh tidak dapat menunjukkan nilai consentrasi minimum dari antibiotik. Disinilah ketidak telitian dapat terjadi. Idealnya semakin besar konsentrasi ekstrak berarti konsentrasi zat antibiotic yang terkandung semakin tinggi akibatnya pada konsentrasi ekstrak tinggi didapat lebih sedikit bakteri tumbuh dibandingkan dengan larutan dengan konsentrasi yang lebih rendah. Setelah di ukur diperolehlah hasil seperti yang tertera pada table hasil.4 Saledri Uji resistensi dan antibiotik dilakukan untuk mengetaui konsentrasi minimum yang mampu membunuh bakteri secara signifikan. Pada cawan yang diletakan cakram larutan seledri terbentuk zona bening dalam ukuran yang berbeda-beda. .2. Dalam praktikum ini digunakanlah medium NB 50% dari volume larutan seledri Setelah diinkubasiselama 24 jam dalam suhu 37oC didapatlah seperti yang tertera pada table hasil.

Bisa saja ekstrak yang diambil tidak representatif sehingga bakteri dapat tumbuh pada medium. 4. Pada konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 50%.kandungan dari seledri yang berpotensi menjadi atibiotik adalah karvakrol dan sinamil aldehida yang mampu menonaktifkan resisten antibiotik. Bagaimana respon bakteri terhadap zat antibiotic dalam seledri dan hubungan konsentrasi zat antibiotic dengan sifat resistensi bakteri dengan kloramfenikol sebagai pembanding. sedangkan pada konsentrasi 10% daerah hamat yang terentuk sebesar 9mm.5 mm. Dalam uji ini dibuktikanlah apakah zat yang terkandung dalam seledri dapat menghambat bahkan mematikan bakteri secara efektif. 40% . Selain itu teknik pengambilan sampel juga berpengaruh dalam hasil uji resistensi. dan tanpa perlakuan (control) menunjukkan daerah hambat sebesar 7mm. sebagai resistensi bakteri terhadap antibiotika. idealnya. Uji resistensi menyelidiki hubungan zat alami dengan bakteri. 30% . Pada uji resistensi antibiotic. Dapat disimpulkan bahwa . Keberadaan zat antibiotik dalam seledri terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri dengan adanya zona bening. Pada sampel daun pepaya didapatkan hasil bakteri resisiten terhadap pengenceran tersebut. semakin besar konsentrasi ekstrak seledri makin besar daerah hambatan yang terbentuk. Hal ini mungkin saja disebabkan karena konsentrasi dari zat antibiotic yang terkandung dalam seledri sebanyak 20 gram tidak mampu mengambat pertumbuan bakteri secara signifikan. akan tetapi bakteri peka terhadap antibiotik berupa cholaramfenikol dengan diameter terbentuk sebesar 22. 20%.5 Daun Pepaya Kingdom Plantae Divisio Spermatophyta Kelas Magnoliopsida Ordo Violales Famili Caricaceae Genus Carica Spesies Carica papaya L.2. didapatkan daerah hambat (zona bening) disekeliling tablet antibiotika.

meskipun konsentrasi 50% lebih banyak disbanding konsentrasi 5%. Hal ini menunjukan bahwa bakteri telah mati pada konsentrasi tersebut. 5% dan tabung kontrol larutan berwarna bening. 4. Hasil yang didapatkan berbeda dengan yang seharusnya. namun kandungan senyawa-senyawa antibiotic tetap lebih banyak pada konsentrasi 5% karena ekstrak yang terendap tersebut. estrak tidak mampu jadi anti metabolit.2.6 Daun Jeruk Ekstrak daun jeruk nipis adalah antimikroba alami yang digunakan dalam praktikum kali ini.antibiotik lebih optimal dibandingkan ekstrak . 20%. Sebaliknya. Hal ini dapat terjadi karena kemungkinan ekstrak yang paling baik terdapat pada konsentrasi terakhir dimana ekstrak dengan konsentrasi 5% memilki kemampuan yang lebih baik dibanding dengan konsentrasi yang 50% karena sebagian besar ekstrak terendap dibawah. . Sedangkan pada tabung reaksi dengan pengenceran 40%. yaitu apabila konsentrasi semakin tinggi maka akan semkain menghambat pertumbuhan mikroba. Dengan demikian. 10%. 30%. hasil yang didapat adalah semakin rendah konsentrasi yang digunakan maka semakin baik untuk menghambat pertumbuhan mikroba. Klasifikasinya adalah sebagai berikut : Kingdom Plantae Divisi Magnoliophyta Kelas Magnolipsida Ordo Apindales Family Rutaceae Genus Citrus Spesies Citrus aurantifolia Setelah dilakukan pengamatan terhadap ke 6 tabung reaksi tersebut maka didapat hasil bahwa ekstrak daun jeruk pada pengenceran 50% larutan berwarna keruh yang menandakan bakteri masih bisa bertahan hidup. hal ini bisa disebabkan karena kurangnya perendaman.

. maka bakteri bersifat agak resisten dan apabila diameter daerah hambatnya lebih dari 30mm. Dalam hal ini positif untuk yang keruh (+). Mkasud dari negatif ini tidak keruh di dalam tabung reaksi 5 % dan kontrol. Berdasarkan teori umumnya konsentrasi besar seharusnya jernih dan semakin kecil memberikan hasil positif (+) atau keruh itu tandanya bakteri tetap bertahan hidup. dan 10% tabung reaksi tidak begitu keruh .5% dan kontrol bersifat resisten .dan untuk yang 5% memiliki daerah hambat 10 mm. maksudnya bakteri dapat mati karena antibiotik tetapi juaga bertahan hidup walaupun di beri antibiotik ( bersifat setengah resisten ). itu artinya bakteri tidak tumbuh dalam artian bakteri di dalamnya mati. Sehingga untuk tabung engan konsentrasi ekstrak dari 50 % . untuk 40% daerah hambatnya 0 mm.4.7 Daun Alpukat Pada uji resistensi antibiotic dengan cawan petri hasil yang di dapat pada ekstrak 50 % memiliki diameter daerah hambat 10 mm. sedangkan apabila diameter hambat 20 – 30 mm. Kemudian untuk hasil MIC (minimum Inhibitory Concentration )5 % dan kontrol memberikan hasil negatif (-)..dan untuk tabung reaksi 30 %. Semakin kecil diameter daerah hambat makasi bakteri akan semakin resisten . bakteri akan tetap bertahan hidup wlaupun di beri antibiotik. Seharusnya untuk pengambilan ekstrak . lalu untuk 10 % memiliki diameter hambat 25 mm. itu memberikan hasil negatif (-). memiliki diameter hambat 40 mm. begitu pula untuk 20 % dan kontrol memiliki daerah hambat 0 mm. Maksud dari reisten ini. ini semua terjadi karena kesalahan dalam pengambilan ekstrak daun alpukat. tabung reaksi sangat keruh sehingga itu artinya bakteri tersebut hidup. dan negatif untuk yang tidak keruh (-). 20 %. sedangkan untuk kloromfenikol bakteri bersifat agak resisten . Diameter daerah hambat adalah suatu zona bening dengan suatu pengujian. dari konsentrasi yang paling tinggi ke konsentrasi yang paling rendah di ambil dari bagian paling bawah ke bagian paling atas. yang menunjukan resistensi bakteri terhadap antibiotik. untuk 30 % daerah hambatnya 0 mm. jadi bersifat tidak peka terhadap antibiotik. Sedangkan untuk kloromfenikol. Sedangkan untuk 50 % dan 40 %. yang artinya tidak ada perumbuhan bakteri di dalamnya. begitu pula de ngan kontrol demikian. Sedangkan untuk konsentrasi kecil.2. maka bakteri tersebuat bersifat peka.

jadi ekstrak yang di gunakan bisa di katakan kurang efektif untuk menjadi antibiotik. Sehingga dapat di simpulkan untuk uji antibiotik.8 Daun sirsak Pengamatan hasil dari uji resistensi antibiotik ini dilakukan dengan mengamati daerah atau wilayah bening yang terbentuk disekitar kertas cakram / kertas antibiotik diatas NB. Sedangkan aquadest steril sedikit resisten dan Chloram fenikol peka terhadap bakteri.Sehingga nantinya konsentrasi yang paling tinggi akan menjadi pekat karena di ambil dari bagian dasarnya sehinnga memungkinkan bakteri itu dapat mati di konsentrasi yang tinggi(-). Sedangkan untuk kloromfenikol bakteri bersifat agak resisten. Hasil uji yang dilakukan menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak dari semua pengenceran (50%5%) resisten terhadap bakteri Salmonella thypii. memungkinkan bekteri bersifat resisten terhadap antibiotik jadi tabung reaksi akan keruh (+). Adanya wilayah bening menunjukkan bahwa bakteri (Salmonella thypii) tidak dapat tumbuh atau mati. bakteri bersifat resisten. . pada praktiku kali ini konsentrasi 50 % . maka konsentrasi minimum yang dapat menghambat nilai MIC kecil ( nilai persentase ekstrak kecil ). Dan sebaliknya untuk konsentrasi yang kecil. Nilai MIC yang besar itu artinya konsentrasi minimum yang dapat menghambat perumbuhan bakteri itu besar ( nilai persentase ekstraknya tinggi / besar ) . nilai MIC ekstrak daun alpukat kecil. Golongan Kloramfenikol Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi yang berbahaya yang tidak efektif bila diobati dengan antibiotik yang kurang efektif. Pada praktikum MIC ini . 4. sehingga ekstrak yang di gunakan efektif untuk menjadi antibiotik.2. sedangkan apabila nilai MIC nya kecil . sehingga dapat di simpulkan bahwa ekstrak yang di gunakan efektif untuk menjadi antibiotik. Maksudnya di ambil dari bagian di atasnya.5 % dan juga kontrol . sebaliknya. sehingga berdasrkan teori konsentrasi yang kecil.

maka antibiotik peka terhadap bakteri. Sehingga sisa alkohol yang menempel pada pipet tercampur dengan aquadest. Kekeruhan memperlihatkan banyaknya bakteri yang hidup atau dapat tumbuh. . memperlihatkan bahwa pada ekstrak daun dengan pengenceran 25%-2. Meskipun aquadest bukan merupakan zat antibiotik dan tidak dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Pipet yang digunakan dalam pengambilan aquadest steril terlebih dahulu dicuci dengan menggunakan alkohol. Hasil dari pengujian MIC. pengenceran 30% terbentuk 11 mm. Jika diameter zona bening yang terbentuk lebih besar dari 30mm. Sehingga hasil uji resistensi ini memperlihatkan bahwa ekstrak daun sirsak tidak peka terhadap bakteri Salmonella thypii.5% (2. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil konsentrasi ekstrak daun sirsak. Zona bening yang dihasilkan oleh aquadest steril berukuran besar meskipun aquadest tidak mengandung zat apapun sebagai antibiotik yang dapan membunuh bakteri. Karena larutan alkohol merupakan salah satu zat antibiotik. Pengenceran 25% < 20% < 15% < 10% < 5% < 2. maka hasil pengujian menunjukkan aquadest memiliki sedikit kemampuan dalam membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri. jika diameternya diantara 20-30 antibiotik agak resisten. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada saat pengambilan sampel aquadest menggunakan pipet yang sebelumnya dicuci dengan alkohol. sehingga bakteri akan sulit tumbuh atau hidup di dalam aquadest tersebut. pengenceran 20% terbentuk 9 mm.5% sangat keruh).5% (pengencerak ekstrak + NB) di dalam tabung memiliki kekeruhan yang meningkat seiring dengan menurunnya konsentrasi pengenceran. pengenceran 40% terbentuk 14 mm. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kesalahan dalam pengambilan sampel dengan pipet. Pada aquadest terbentuk zona bening dengan ukuran 21 mm dan pada Chloram fenikol terbentuk 33 mm. dan jika diameternya lebih kecil dari 20 mm maka antibiotik tersebut resisten terhadap bakteri. Selain itu. dan pengenceran 5% terbentuk 12 mm. pengenceran 10% terbentuk 18 mm. Sedangkan pada aquadest steril tidak terlihat adanya pertumbuhan bakteri (larutan bening/tidak berwarna). Sehingga didalam pipet diprediksi ada sisa dari larutan alkohol yang menempel. maka akan semakin banyak bakteri yang dapat tumbuh sehingga larutan menjadi keruh. pada aquadest tidak ditambahkan NB sebagai media tumbuh bakteri. tetapi di dalam hasil pengujian terbukti sebaliknya. Pada ekstrak daun sirsak dengan pengenceran 50% ukuran zona bening yang terbentuk yaitu 15 mm.Resistensi dari pengujian tersebut didasari oleh ukuran diameter zona atau daerah bening yang terbentuk.

Untuk tabung pengenceran 30% . annomurine.Dari 20 gram daun mangga dan 20 ml air didapat ekstrak daun mangga sebanyak 50%. Hasil pengesktrakan daun mangga diambil sebnyak 5ml untuk dimasukan kedalam tabung pertama. higenamine. Hasil pengujian yang tidak sesuai dengan kandungan-kandungan zat yang terdapat di dalam daun sirsak yang dapat menghambat dan membunuh bakteri kemungkinan dikarenakan pada pengambilan sampel daun sirsak.Pengenceran 20% didapat . anti disentri.Dicuci bersih untuk menghilangkan kotoran yang menempel di permukaan daun. minyak esensial. diperoleh dari 4ml ekstrak dari tabung pertama dan air sebanyak 1 ml. 30%. coclaurine. analgetik. 4. 10%. sampel tersebut tidak steril dan pada saat pengenceran pertama kali air yang digunakan juga tidak steril. loreximine. Jika hasil uji MIC dibandingkan dengan hasil uji resistensi antibiotik. dan 0% sebagai kontrol.20%. jika pada konsentrasi sebenarnya (tanpa NB) konsentrasi terendah dimana bakteri masih dapat tumbuh yaitu konsentrasi 30%. 5%. antidiare. Daun sirsak bermanfaat menghambat sel kanker dengan menginduksi apoptosis.9 Daun Mangga Ekstrak daun buah mangga didapat dari daun mangga yang telah dibuang tulang daun utamanya. Lalu disaring sehingga didapat ekstrak daunnya. anti asma. Kenyataannya. daun sirsak mengandung senyawa acetogenin. Ditambah 20ml air dan diblender.Tabung kedua diisi dengan pengenceran 40% . menstimulasi pencernaan. Setelah didapat ekstrak sebanyak 50%.Hasil perhitungan dari uji MIC menunjukkan bahwa konsentrasi terendah dimana bakteri masih dapat tumbuh dan hidup adalah 15 % (konsentrasi pengenceran + NB). diambil 3ml dari tabung sebelumnya dan air 3ml. anthelmitic. 2008).2. mengurangi depresi (McLaughlin. dilatasi pembuluh darah. sehingga daun sirsak tersebut mengandung banyak bakteri (terkontaminasi). dilakukan pengenceran menjadi 40%. lalu ditimbang sebanyak 20 gram. diperoleh kesimpulan bahwa ekstrak daun sirsak tidak terlalu ampuh dalam menghambat pertumbuhan dan membunuh bakteri Salmonella thypi. reticuline.

menunjukkan bakteri peka terhadap . Lalu pada 0% kontrol (aquades) zona bening berdiameter 32.dari 2ml ekstrak dan 3ml air. 30%.Cawan petri digoyang agar homogen. Menunjukkan bahwa bakteri telah mati setelah penambahan NB adalah pada konsentrasi 5% sebelumnya masih terdapat bakteri. Sedangkan cawan petri kedua diberi tanda juga untuk 5%. Sedangkan jumlah bakteri yang diinokulasi sama pada setiap tabung. Sehingga di dapat hasil 2. untuk tabung kontrol diisi dengan 5 ml air. Hal ini menunjukkan ukuran zona bening terbesar pada Chloramfenikol dengan diameter 40 menandakan bakteri peka terhadap zat antibiotik itu. kontrol dan klorom fenikol. Berdasarkan teori. Untuk uji MIC cair. 40%.5 ml ekstrak dan 0. Hasil dari Uji MIC. Sisa ekstrak yang berada didalam tabung pengenceran ditambahkan 2. Didiamkan selam 1jam agar ekstrak menyerap ke dalam kertas. Oleh karena itu. pada konsentrasi besar akan menghasilkan larutan yang jernih.5ml air. Untuk uji resistensi antibiotic disediakan 2 cawan petri yang masing-masing diisi 1ml bakteri Salmonella thypii dan NB secukupnya hingga menutupi bakteri. sedangkan pada konsentrasi rendah akan menghasilkan larutan yang keruh.5ml NB dan 1 ose bakteri Salmonella thypii. Karena pada konsentrasi yang besar ekstrak akan bekerja lebih baik daripada konsentrasi yang rendah. tiap tabung pengenceran dimasukan ke dalam botol kecil berisi beberapa kertas cakram.5% dari 5% dimana bakteri telah terbunuh dikurang 0% masih terdapat bakteri lalu jumlah pengurangan di bagi 2. untuk masing-masing tabung.Lalu dieramkan selam 24 jam. Hasil uji antibakteri dan hasil pengukuran zona bening pengaruh ekstrak daun buah manga pada bakteri Salmonella thypii.20% dan 10%. Pengenceran 10% didapat dari 1ml ekstrak dan 4ml air sedangkan pengenceran 5% didapat dari 4. pada konsentrasi besar bakteri akan lebih cepat terbunuh. Setelah didapat pengenceran ekstrak. Setelah itu Cawan petri yang pertama dibagi menjadi 4 daerah dengan menggunakan spidol dan diberi tanda untuk masing-masing daerah 50%. Selanjutnya dieram selam 24 jam. Selebihnya masih terdapat bakteri pada setiap konsentrasi.Sehingga didapat juga 7 botol kecil berisi kertas cakram yang telah diisi 2.5ml pengenceran ekstrak dari masing-masing pengenceran.

hal ini tidak terjadi.4 % berat segar. terletak pada minyak atsiri yang terkandung di dalamnya. sere (Melayu). Nyatanya pada hasil pengamatan. maka dari itu dalam praktikum ini untuk membuat ekstrak yang dipakai adalah bagian batang. Bagian tanaman yang mengandung lebih banyak minyak atsiri adalah bagian batang. Berdasarkan hasil ini mungkin ekstrak daun mangga mengandung zat antibiotik. 4. sereh (Sunda).10 Sereh Pemanfaatan sereh sebagai obat pada umumnya dalam bentuk minyak atsiri.2. Jadi. Rendeman minyak atsiri serah berkisar antara 0. Sesungguhnya aquades bukanlah zat antibiotik. pengamatan kali ini tidak dapat menjadi patokan bahwa ekstrak daun mangga mengandung zat antibiotik karena hasil yang kurang tepat. sere (Jawa. Bakteri peka terhadap ekstrak daun mangga. yaitu bakteri lebih peka. Pada konsentrasi 30% yaitu ekstrak daun mangga. Hal ini terjadi mungkin karena ada kesalahan dalam menjalankan prosedur pengamatan. Penggunaan tanaman serai sebagai obat kemungkinan berkaitan dengan kandungan senyawa yang ada pada serai.aquades. Divisio Anthophyta Phylum Angiospermae Kelas Monocotyledonae Famili Graminae/Poaceae Genus Cymbopogon Species Cymbopogon nardus Nama Lokal dari sereh antara lain Sarae arun (Minangkabau). Seharusnya pada konsentrasi terbesar dari ekstrak daun mangga terbentuk zona bening yang lebih besar. Minyak atsiri yang terkandung dalam sereh berkhasiat antiradang dan . ginger grass (Inggris) Efek farmakologis dari sereh. lemon grass. Hal ini dikarenakan kurang teliti atau ketepatan dalam melakukan prosedur pengamatan. Tetapi hal ini belum dapat dipastikan karena pada konsentrasi yang lain bakteri resisten terhadap ekstrak daun mangga ini. Minyak serai berfungsi sebagai anti jamur dan bakteri. zona bening terbentuk dengan diameter 30. Madura). Diameter zona bening terbentuk lebih besar pada pertengahan konsentrasi yaitu 30%.2 – 0.

. jamur dan lain-lain pada jaringan hidup Bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan dimatikan. disamping itu terdapat pula geranil butirat. dan metileugenol. yakni geraniol dan sitronelol. juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Antibiotik ini terikat pada ribosom unit 50s dan menghambat enzim peptidil tranferase sehingga ikatan peptida tidak tebentuk pada proses sintesis protein kuman. sitral. Pada uji MIC (Minimun Inhibitor Concentration) dilakukan penanaman bakteri pada tabung reaksi yang telah didisi ekstrak sereh dan aquades. Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus. cara fisik (pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol kadang – kadang bersifat bakterisid terhadap bakteri tertentu. jarak tanam yang semakin lebar berpengaruh pada tinggi tanaman yang semakin tinggi. Kloramfenikol bersifat bakteriostatik. khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya. komponen utama (+) sitronelol. geranial (lebih kurang 35% dan 20%). Sitronelol hasil isolasi dari minyak atsiri sereh terdiri dari sepasang enansiomer (R)-sitronelal dan (S) sitronelal Kloramfenikol merupakan antibiotik sprektrum luas. Antibiotik ini kebanyakan efektif terhadap strain Salmonella thypii. antidemam. Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri. eugenol. Hal ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi terendah dari pengenceran ekstrak untuk menghambat pertumbuhan mikroba. Carak kerjanya dengan menghambat sintetis bakteri. Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia. limonen. Pada sereh terdapat beberapa kandungan. Sereh yang dibuat minyak bermanfaat untuk melancarkan sirkulasi darah.menghilangkan rasa sakit. Memiliki sifat antipiretik. dan anti muntah (anti-emetik). Semakin rapat jarak tanam dapat berefek pada peningkatan hasil minyak atsiri.

20% . Daerah hambat dengan diameter < 20 mm. Dari hasil Uji Resistensi Antibiotik pada konsentrasi ekstrak daun salam 50% . Daerah hambat dengan diameter > 30 mm. . bakteri agak resisten terhadap antibiotik. menggunakan ekstrak tumbuhan. 40% . maka bakteri tersebut peka terhadap antibiotik 2.11 Daun Salam Dalam percobaan uji MIC dan Uji Resistensi Antibiotik terhadap bakteri. 10% dan 5% menunjukkan bahwa bakteri yang digunakan. Dalam tabel terlihat daerah zona bening yang terbentuk dari konsentrasi ekstrak yang tinggi ke konsentrasi ekstrak yang rendah mmenunjukkan peningkatan daerah zona bening. Chloromfenikol merupakan jenis antibiotik yang digunakan secara umum dalam arti digunakan tidak untuk spesifik jenis bakteri. Karena luas daerah hambat yang terbentuk berpengaruh terhadap resistensi suatu bakteri. yakni bakteri Salmonella thypii resisten/tahan terhadap ekstrak karena dari data yang diperoleh diameter zona bening yang terbentuk kurang dari 20 mm. Chloromfenikol bukan antibiotik yang terbuat dari mikroorganisme melainkan dari bahan atau zat kimia. Ekstrak tumbuhan yang digunakan adalah ekstrak daun salam. (Safitri . Dimana Ketahanan bakteri terhadap antibiotika dilihat berdasarkan daerah hambat yang terbentuk di sekeliling kertas antibiotic tersebut 1. bakteri resisten terhadap antibiotik. 30% .2. 3.4.2011) Sedangkan menggunakan Chloromfenikol daerah zona bening yang terbentuk adalah 51 mm dengan demikian menunjukkan bahwa bakteri tersebut peka terhadap Chloromfenikol. Daerah hambat dengan diameter anara 20-30 mm. Hal tersebut terjadi karena Chloromfenikol merupakan jenis dari antibiotik yang cukup kuat untuk menghambat pertumbuhan bakteri.

     Organisme impermeabel terhadap antibiotik Organisme yang dikenai antibiotik ada dalam bentuk inaktif. Daun salam biasa dikenal sebagai bahan bumbu masak atau dapat pula digunakan sebagai bahan obat tradisional. diantaranya:  Organisme mempunyai struktur yang menghambat masuknya antibiotik. 20%.Hal tersebut berlawanan dengan literatur bahwa semakin rendah konsentrasi ekstrak maka seharusnya daerah zona bening yang terbentuk semakin kecil. contoh endospora. 20% . Dapat dilihat dari data hasil pengamatan.5% yang ditandai dengan perubahan suasana dalam tabung dimana larutan dalam tabung berubah menjadi keruh. contoh pada mycoplasma yang dinding selnya resisten terhadap penisilin. organisme menghambat antibiotik pada keturunannya Organisme mampu memompa keluar antibiotic yang sudah terlanjur masuk ke dalam sel (Dwidjoseputro. Suatu bakteri dapat tahan atau tresisten terhadap suatu jenis zat antimikrobial karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. bakteri tumbuh pada tabung dengan konsentrasi ekstrak 10% . Klasifikasi daun salam yaitu .1998) Dari hasil yang diperoleh dalam Uji MIC menunjukkan terjadi perbedaan pertumbuhan bakteri pada konsentrasi ekstrak yang berbeda-beda. Semakin rendah konsentrasi ekstrak maka semakin rendah konsentrasi zat penghambat pertumbuhan bakteri sehingga pertumbuhan bakteri dapat terus terjadi dan mengakibatkan zona bening yang terbentuk semakin kecil. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa dengan konsentrasi ekstrak yang besar (25 %. 2. Sedangkan pada tabung reaksi dengan konsentrasi ekstrak 25% . Dalam percobaan ini digunakan ekstrak daun salam. 5% . Organisme memodifikasi target antibiotik Dengan perubahan genetik. 15% terlihat tabung tidak keruh/tetap jernih seperti semula. 15%) dapat menghambat pertumbuhan bakteri sehingga larutan dalam tabung reaksi tetap dalam kondisi jernih. karena dalam ekstrak tumbuhan daun salam mengandung zat penghambat pertumbuhan bakteri (minyak atsiri).

dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Tanin terhidrolisis terdiri atas dua kelas. Tanin terkondensasi atau flavolan secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal (galokatekin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Van Steenis. 1998. inti molekul berupa senyawa dimer asam galat yaitu asam heksahidroksidifenat. alkaloid dan minyak atsiri. Pada senyawa ini. yang berikatan dengan glukosa. 2003) Salam mengandung tanin. Pada jenis yang kedua. elagitanin ini menghasilkan asam elagat . 1) Tanin Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh. Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin. flavonoid. triterpen. Bila dihidrolisis. Kebanyakan flavolan mempunyai 2-20 satuan flavon. inti yang berupa glukosa dikelilingi oleh lima atau lebih gugus ester galoil.Kerajaan Plantae Divisi Spermatophyta Sub Divisi Angiospermae Kelas Dicotyledoneae Sub Kelas Dialypetalae Bangsa Myrtales Marga Syzygium Jenis Syzygium polyanthum (Tjitrosoepomo. polifenol. Ikatan karbon-karbon menghubungkan satu flavon dengan satuan berikutnya melalui ikatan 4-6 atau 6-8. yang paling sederhana ialah depsida galoiglukosa. saponin. yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis.

Aglikon flavonoid mempunyai kerangka dasar struktur C6-C3-C6.2) Flavonoid Flavonoid sebagai suatu senyawa fenol dalam dunia tumbuhan dapat ditemukan dalam bentuk glikosida maupun aglikonnya. khalkon. Aglikon flavonoid terdapat dalam satu tumbuhan dalam beberapa bentuk kombinasi glikosida. Berdasarkan tingkat oksidasi serta subsituennya kerangka flavonoid dibedakan menjadi berbagai jenis seperti flavon. Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan. 6 flavonol. auron. setelah terjadi proses oksidasi dan pendamaran makin lama akan berubah menjadi gelap. antosianidin dan leukoantosianidin Flavonoid mengandung cincin aromatik yang terkonjugasi dan karena itu menunjukkan pita serapan yang kuat pada daerah spektrum UV (ultra violet) dan spektrum tampak. Minyak atsiri disebut juga minyak eteris yaitu minyak yang mudah menguap dan diperoleh dari tanaman dengan cara penyulingan. stimulan. hemolitik atau enzimatik. biji. biasanya tidak berwarna terutama bila masih dalam keadaan segar. sedativ. 3) Minyak Atsiri Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu dari daun. Minyak atsiri umumnya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur Karbon (C). untuk obat sakit perut. bunga. terikat pada gula seperti glikosida. santon. bahan analgesik. 4) Saponin . bahan pewangi kosmetik dan sabun. untuk menghindarinya harus disimpan dalam keadaan penuh dan tertutup rapat (Guenther. 1987). flavon. Hidrogen (H) dan Oksigen (O) serta berbagai persenyawaan kimia yang mengandung unsur Nitrogen (N) dan Belerang (S). Beberapa minyak atsiri dapat digunakan sebagai bahan antiseptik internal dan eksternal. batang atau kulit dan akar atau rhizoma.

Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air karena umumnya sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida. dan kuinon fenolik juga terdapat dalam jumlah yang besar.Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol yang telah terdeteksi dalam lebih dari 90 suku tumbuhan. terutama kepahitannya. 6) Alkaloid Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. yang mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua penyulih hidroksil. Kedua saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter. dan biasanya terdapat dalam vakuola sel. yaitu glikosida triterpenoid alkohol dan glikosida dengan struktur steroid. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun. dan tanin adalah senyawa polifenol. Pencarian saponin dalam tumbuhan telah dirangsang oleh kebutuhan akan sumber sapogenin yang mudah diperoleh. 5) Polifenol Senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan. biasanya dalam gabungan. Triterpen tertentu terkenal karena rasanya. melanin. jadi digunakan secara luas dalam . Beberapa ribu senyawa fenol telah diketahui strukturnya. Pada umumnya alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen. tetapi fenol monosiklik sederhana. serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuan membentuk busa dan menghemolisis sel darah. sebagai bagian dari sistem siklik alkaloid sering kali beracun pada manusia dan banyak yang mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol. Saponin dan glikosida sapogenin adalah salah satu tipe glikosida yang tersebar luas dalam tumbuhan Dikenal dua macam saponin. Beberapa golongan bahan polimer penting dalam tumbuhan seperti lignin. Flavonoid merupakan golongan terbesar. fenil propanoid.

Bawang daun mengandung unsur – unsur aktif yang memiliki daya bunuh terhadap bakteri (sebagai antibiotik) serta dapat merangsang pertumbuhan sel tubuh. memudahkan pencernaan makanan.menyembuhkan rematik.12 Daun Bawang Uji MIC merupakan uji untuk menentukan Minimum Inhibitory Concentration (MIC) satu sediaan uji terhadap bakteri Salmonella thypi. Apabila lebih dari 20 jam dikhawatirkan bakteri tersebut mengalami fasa kematian. dan bengkak – bengkak. Akar bawangdaun dapat dimanfaatkan untuk mengobati cancingan (cacing gelang) dan mual– mual (Cahyano. bersifat optis aktif dan sedikit yang berupa cairan pada suhu kamar. Setiap tabung yang berisi Salmonella thypii diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 24jam. sedangkan waktu 24 jam ini penting untuk menunggu bakteri untuk berkembang pada waktu yang diinginkan (Fasa log bakteri).2.bidang pengobatan. Pada prosedur. Tetapi sebaiknya hasil diamati setelah 20 jam karena tidak seperti pada NA. Chloramfenitol memiliki spectrum yang luas karena mampu membunuh bakteri gram negative maupun gram positif. (Utami. Bawang daun juga berguna menghilangkan lendir dalam kerongkongan. kurang darah sukar kencing. Bawang daun selain digunakan sebagai sayuran.2008) Dari penjabaran diatas dapat diketahui bahwa daun salam memiliki zat diantranya atsiri dan polifenol yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. nutrisi ada pada NB jauh lebih sedikit. 4. Sehingga pada uji MIC terdapat tabung dengan konsentrasi tinggi yang larutannya masih dalam kondisi jernih. Umumnya alkaloid tidak berwarna. Suhu 37ºC merupakan suhu yang efektif untuk pertumbuhan bakteri. Ekstrak yang digunakan adalah ekstrak dari daun bawang dan sebagai pembanding digunakan chloramfenitol. 2005). bawang daun juga baik untuk dikonsumsi sebagai bahan pengobatan (terapi) beberapa jenis penyakit. Segala . dimana merupakan waktu yang maksimal.

Dari hasil pengamatan didapatkan nilai MIC sebesar 17. 20%. Dari hasil pengamatan uji resistensi antibiotik didapatkan hasil pada pengenceran dengan konsentrasi 50%. 5%. dan kotrimoksazol. Hal ini menunjukan bahwa tidak adanya pertumbuhan bakteri. Sedangkan pada pengenceran dengan konsentrasi 40% dan pada chloramfenikol terbentuk zona bening masing-masing berdiameter 12mm dan 29mm. amoksilin. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri resisten terhadap antibiotik ekstrak daun bawang dan masih dapat tumbuh pada pengenceran tersebut.5%. Hasil yang didapat pada pengenceran dengan konsentrasi 25% dan 20% larutan ekstrak tampak bening. Dari kedua uji yakni uji MIC dan uji resistensi antibiotik terhadap bakteri Salmonella thypii . Diduga kandungan saponin dan tannin serta senyawa golongan flavonoid. 2.perlakuan harus dilakukan secara aseptis yaitu dekat dengan api agar bakteri lain yang berasal dari udara yang masuk ke dalam tabung reaksi akan menyebabkan terganggunya hasil pengamatan. 10% . dan juga control tampak keruh. steroid/triterpenoid dalam daun bawang tidak cukup membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypii. sedangkan larutan ekstrak pada pengenceran dengan konsentrasi 15% .5% . ampisilin. yang berarti bakteri tersebut dapat tumbuh dan ekstrak tersebut tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypii. dan control tidak terbentuk zona bening. Bakteri ini juga. 10%. hal ini menunjukkan bahwa bakteri Salmonella thypii resisten terhadap ekstrak daun bawang. hal ini menunjukan bahwa bakteri bersifat resisten pada pengenceran 40% dan agak resisten terhadap antibiotik chlorafenikol. menurut jurnal berjudul “Masalah Multi Drug Resistance pada Demam Tifoid Anak” (1999) merupakan bakteri yang resisten terhadap beberapa antibiotik seperti kloramfenikol. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun bawang tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri namun harus dengan konsentrasi yang lebih besar dari konsentrasi bernilai 50% . 5%. 30%.

Daerah hambat terbentuk pada kertas yang telah direndam oleh kloramfenikol dengan diameter sebesar 35 mm. Kertas antibiotic adalah disc paper yang sebelumnya telah direndam dengan ekstrak merica dengan berbagai konsentrasi. dan 5%. Selain digunakan dalam uji resistensi bakteri. Selain direndam dengan ekstrak merica. bakteri bersifat agak resisten daripada antibiotic ekstrak daun bawang. 4. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Salmonella typhi peka terhadap kloramfenikol namun tidak peka terhadap ekstrak merica. disc paper tersebut juga direndam dengan larutan kontrol dan zat kloramfenikol. Hasil dari uji MIC menunjukkan bahwa ekstrak merica tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri bahkan pada konsentrasi terbesar sekalipun. yaitu 50%. Hal ini dikarenakan tidak terbentuknya daerah hambat (zona bening) di sekitar kertas antibiotic pada media yang telah diinokulasikan dengan bakteri. 30%. 4.2.13 Merica bubuk Pada praktikum uji resistensi bakteri Salmonella typhi terhadap zat antibiotic kali ini digunakan ekstrak merica sebagai zat antimicrobial yang diujikan. 20%.14 Cabe Rawit . Jika dibandingkan dengan chloramfenikol. ekstrak merica juga digunakan dalam Minimum Inhibitory Concentration (MIC) Test. 10%. Hasil uji MIC ini mempertegas hasil dari uji resistensi bakteri yang dilakukan sebelumnya bahwa ekstrak merica tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhii.2. 40%.ekstrak daun bawang dapat menjadi antibiotic bagi bakteri ini dengan syarat memiliki konsentrasi lebih dari 50% apabila konsentrasi ekstrak daun bawang kurang dari 50% maka bakteri tersebut masih dapat tumbuh dan resisten terhadap antibiotic ekstrak daun bawang. Berdasarkan data hasil pengamatan dapat dilihat bahwa merica tidak memiliki aktivitas yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Uji MIC digunakan untuk mengetahui konsentrasi terkecil dari zat antimicrobial yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri.

Kapsisidin berkhasiat sebagai antibiotic (Suryadhie. ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Di Kerala. 2007). karotenoid. vitamin A dan C. solasodine. Di Malaysia dan Singapura ia dinamakan cili padi. Selain di Indonesia. alkaloid asiri. Hasil yang didapatkan untuk uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration) adalah semua tabung reaksi berwarna keruh (++). solamidine. terdapat masakan tradisional yang menggunakan cabai rawit dan dinamakan kanthari mulagu. Dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan nama Thai pepper atau bird's eye chili pepper (Anonim1. Warna keruh (++) menandakan bakteri masih tumbuh pada ekstrak. Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai. dan di Thailand phrik khi nu. Klasifikasi Cabe Rawit (Capsicum frutescens )(Anonim2. sementara bening (-) menandakan . adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. solasomine dan steroid saponin (kapsisidin). berkhasiat untuk melancarkan aliran darah serta pemati rasa kulit. di Filipina siling labuyo. akan tetapi pada konsentrasi 10% terlihat agak bening (+). Cabai rawit atau cabe rawit. minyak menguap. Biji mengandung solanine.Pada praktikum “Resistensi Antibiotik dan MIC (Minimum Inhibitory Concentration)” digunakan ekstrak cabe rawit sebagai zat antibiotic. Buahnya mengandung kapsaisin. resin. India. solamargine. 2011). 2011) : Kingdom Plantae Subkingdom Tracheobionta Super Divisi Spermatophyta Divisi Magnoliophyta Kelas Magnoliopsida Sub Kelas Asteridae Ordo Solanales Famili Solanaceae Genus Capsicum Spesies Capsicum frutescens L.

5%. pada konsentrasi 40% didapatkan diameter zona beningnya 3mm. namun pada hasil pengamatan bakteri tumbuh banyak disekitar kloramfenikol. Kloramfenikol termasuk ke dalam golongan antibiotik penghambat sintesis protein bakteri. 0% (control) dan kloramfenikol tidak terbentuk zona bening. Mungkin hal ini disebabkan oleh kesalahan prosedur yang dilakukan oleh praktikan. Kloramfenikol bersifat bakteriostatik dan bakteri dapat tumbuh kembali jika pengaruh obat dihilangkan.bakteri tidak tumbuh pada ekstrak. dapat diketahui bahwa bakteri resisten terhadap antibiotic yang terkandung dalam ekstrak cabe rawit dan kloramfenikol. 30%. pada konsentrasi 30% didapatkan diameter zona beningnya2mm. Dalam kata lain cabe rawit bukan antibiotic yang efektif untuk penyakit tipus yang disebabkan oleh Salmonella thypii. dan 20% terbentuk zona bening sedangkan cawan petri dengan konsentrasi 10%. Mungkin hal itu yang menyebabkan kloramfenikol tidak efektif pada bakteri Salmonella thypii. Tetapi menurut literatur tidak mungkin suatu antibiotic dapat lebih efektif pada pengenceran 10% sedangkan di pengenceran 50% saja bakteri tersebut resisten.15 Daun Pandan Kingdom Plantae Divisi Magnoliphyta . Seharusnya kloramfenikol dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella thypii. yaitu daerah hambat dengan diameter kurang dari 20 mm menunjukan bahwa bakteri resisten terhadap antibiotic. Karena pada umumnya konsentrasi besar itu warnanya jernih dan semakin kecil konsentrasinya berwarna keruh. Kloramfenikol merupakan antibiotic yang memiliki spectrum luas yaitu dapat membunuh bakteri berspora dan bakteri negative. Mikroorganisme resisten terhadap kloramfenikol menghasilkan enzim kloramfenikol asetiltransferase yang merusak aktivitas obat. 4. Dari hasil penghitungan zona bening yang didapat. Produksi enzim ini biasanya dibawah kontrol plasmid. Sementara hasil yang didapatkan untuk uji resistensi antibiotic adalah pada cawan petri dengan konsentrasi 50%. pada konsentrasi 20% didapatkan diameter zona beningnya 1mm.2. Karena berdasarkan literature. 40%. Dari hasil yang didapatkan yaitu semua tabung reaksi keruh maka dapat dilihat bahwa bakteri Salmonella thypii resisten terhadap ekstrak cabe rawit Capsicum frutescens. Pada cawan petri dengan konsentrasi 50% didapatkan diameter zona beningnya yaitu 4mm.

meskipun terbentuk daerah hambat yang berbeda. yang perlu diperhatikan adalah kekeruhan dari tiap tabung untuk melihat resistensi dari bakteri Salmonella thypi terhadap antibiotic yang digunakan yaitu ekstrak daun pandan. rematik dan pegal linu. didapatkan daerah hambat yang berbeda-beda. Senyawa-senyawa tersebut dapat mengobati beberapa penyakit yaitu sebagai obat panu. Hal ini menunjukan bahwa semakin besar konsentrasi maka zona bening yang didapat semakin besar pula. Pada antibiotic kloramfenikol. dan 15 mm. tidak terbentuk daerah hambat. safonin. Sedangkan pada ekstrak. Kemudian setelah pengamatan pada ke 6 tabung reaksi tersebut didapat hasil bahwa semua larutan yang berada di dalam tabung reaksi dari pengenceran 50%-5% berwarna keruh . penambah nafsu makan.5mm. Sedangkan pada ekstrak daun pandan menunjukan agak resisten.Kelas Liliopsida Ordo Pandanales Family Pandanaceae Genus Pandanus Spesies Pandanus ammarylifolios Berdasarkan pengamatan yang dilakukan setelah 24 jam kemudian. kloramfenikol merupakan antibiotic yang sering digunakan karena dapat membunuh bakteri gram positif dan bakteri gram negative. dan polifenol. didapatkan zona bening yang paling besar dan tidak terbentuk daerah hambat. Namun. 7mm. menghilangkan ketombe. darah tinggi.control dan kloramfenikol. tannin. 6 mm. mengobati rambut rontok dan untuk menghitamkan rambut. tingkat resistensi mikroba yang terbentuk tetap dalam ketegori resisten karena daerah hambat yang terbentuk dari masing-masing konsentrasi adalah dibawah 20mm. Untuk uji MIC. yakni 9 mm. zona bening yang paling besar adalah pada konsentrasi 50%. lemah saraf. Zona bening tersebut menunjukan bahwa bakteri yang digunakan resisten ataukah tidak terhadap suatu antibiotic. menghilangkan raasa gelisah. Sementara pada konsentrasi 5%. Aapun kandungan yang ada di dalam ekstrak daun pandan ini diantaranya adalah: Alkaloid. flavoida. Pada umumnya. 6.

Berdasarkan Hasil Uji MIC didapatkan kesimpulan bahwa ketumbar tidak memiliki kemampuan sebagai antibiotic. Bentuk yang tidak digerus mirip dengan lada. Pada data hasil pengamatan terlihat bahwa Pada Konsentrasi 50% bisa menghambat pertumbuhan dan pada konsentrasi 40% dan 30% tidak bisa menghambat. Buahnya yang kecil dikeringkan dan diperdagangkan. Tumbuhan ini berasal dari Eropa Selatan dan sekitar Laut Kaspia.semua. selanjutnya pada konsentrasi 20% seharusnya hasilnya pun sama dengan konsentrasi 40% dan 30%. Berdasarkan hasil Uji resistensi Antibiotik dapat disimpulkan bahwa Ketumbar tidak memiliki kemampuan Menghambat pertumbuhan Salmonella thyposa karena pada semua pengenceran bakteri terlihat resisten dan tidak ada zona bening yang terbentuk. aroma masakan akan lebih nyata. Nilai MIC pada hasil tidak dapat dihitung karena secara logis pun dapat diketahui bahwa jika Konsentrasi besar saja sudah tidak bias menghambat pertumbuhan bakteri apalagi konsentrasi yang lebih kecil. Hal ini membuktikan bahwa bakteri masih tetap tumbuh dalam ekstrak daun pandan yang telah dilakukan pengenceran tersebut.2. seharusnya kloramfenikol mampu menimbulkan daerah hambat yang besar tapi data hasil menunjukan bahwa kloramfenikol pun tidak mampu menghasilkan daerah hambat yang besar. . Lain halnya dengan Kloramfenikol.16 Ketumbar Ketumbar (Coriandrum sativum) adalah tumbuhan rempah-rempah yang populer. Uji MIC dilakukan untuk mengetahui konsentrasi minimum Antibiotik atau ekstrak dalam menghambat pertumbuhan bakteri. seperti biji kecil-kecil berdiameter 1-2 mm. Dalam perdagangan obat ia dinamakan fructus coriandri. Dengan tambahan bumbu tersebut. 4. Uji Resistensi antibiotic dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kepekaan bakteri berdasarkan daerah hambat yang terbentuk dari kertas yang mengandung antibiotic. Berbagai jenis masakan tradisional Indonesia kerap menggunakan bumbu berupa biji berbentuk butiran beraroma keras yang dinamakan ketumbar. Kesalahan ini bisa dikarenakan kontaminasi yang berlebih pada konsentrasi 40% dan 30% atau dapat juga dikarenakan Kesalahan saat menanamkan bakteri pada botol Konsentrasi 20%. baik digerus maupun tidak. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai coriander dan di Amerika dikenal sebagai cilantro.

yang merupakan langkah penting dalam pembentukan ikatan peptida. Proteus mirabilis. Karena pada umumnya antibiotik kloramfenikol merupakan antibiotik yang umum digunakan karena dapat digunakan untuk membunuh bakteri gram positif atau bakteri gram negatif. Beberapa jenis bakteri ada yang sudah resisten terhadap antibiotik. Sedangkan pada ekstrak. dan pada dosis tinggi bersifat bakterisid.Hal ini dikarenakan waktu perendaman kertas cakram yang kurang dari satu jam. Pseudomonas mallei.17 Bawang Merah Hasil uji resistensi antibiotic menunjukan.2. Francisella tularensis. yang termasuk ke dalam bakteri gram negatif. sehingga dari hasil yang terbentuk. Brucella dan Shigella. inilah salah satu penyebab yang cukup signifikan karena kandungan kloramfenikolnya otomatis kurang banyak sehingga kemampuan menghambat pertumbuhannya pun kecil. Yersinia pestis. Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Ps. dan beberapa bakteri aerob gram-negatif. Salmonella. 4. termasuk Haemophilus influenzae. zona bening yang paling besar didapat pada konsentrasi 50%. itu dapat dilihat dari diameter zona bening yang terbentuk yaitu termasuk dalam 30 mm. Kloramfenikol efektif terhadap bakteri aerob gram-positif. Yang dihambat adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman. Zona bening tersebut menunjukkan bahwa bakteri yang digunakan resisten atau tidak terhadap antibiotik. cepacia. termasuk Streptococcus pneumoniae. Pada bakteri yang digunakan pada praktikum yaitu Salmonella typhi. bakteri masih peka terhadap antibiotik kloramfenikol. Karena sifat dari antibiotik ini yaitu luas. Neisseria meningitidis. Pada kloramfenikol bakteri tersebut peka. Aktivitas antibakterinya dengan menghambat sintesa protein dengan jalan mengikat ribosom subunit 50S. Itu menunjukkan semakin besar konsentrasi maka zona bening yang terbentuk semakin besar pula. Kloramfenikol itu sendiri merupakan antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriostatik. Bakteri Salmonella typhi . Vibrio cholerae. Pada antibiotik chloramfenikol didapatkan zona bening yang paling besar yaitu 30 mm. hal itu terjadi bisa karena pemberian antibiotik yang terus menerus dan dosis yang digunakan terlalu banyak atau berlebihan.

bakteri tersebut hanya bersifat resisten dari konsentrasi tinggi sampai yang rendah. Flavonglikosida c. aggregatum L. Karena zona bening yang terbentuk yaitu kurang dari 30 mm. kloramfenikol merupakan obat pilihan untuk penyakit tifus. Sikloaliin e. Dengan klasifikasi bawang merah sebagai berikut : Kingdom Plantae Subkingdom Tracheobionta Super Divisi Spermatophyta Divisi Magnoliophyta Kelas Liliopsida Sub Kelas Liliidae Ordo Liliales Famili Liliaceae Genus Allium Spesies Allium cepa var. dengan diameter mencapai 20 mm. Beberapa kandungan zat yang terdapat dalam bakteri yaitu : a. Pada sampel selanjutnya yaitu bawang merah.merupakan bakteri penyebab penyakit tifus. Floroglusin . Hal ini menunjukkan bahwa dalam bawang merah terkandung suatu zat yang dapat membunuh bakteri. Kecuali pada konsentrasi 30% yang bersifat agak resisten. Saponin b. Bawang merah itu sendiri merupakan salah satu umbi yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. hanya saja zona bening yang terbentuk agak sedikit buram dan tidak terlihat bening. Menurut indikasi. Minyak atsiri d. Pada sampel ekstrak bawang.

Sama halnya dengan kontrol. Dimasukkan ke dalam inkubator dan diinkubasi selama 24 jam. dilakukan dalam tabung reaksi. bakteri bersifat resisten. tidak terbentuk zona bening disekitar kertas filial. Sedangkan pada konsentrasi 10%. ditambahkan agar Nutrient Broth (NB) sebanyak 2.5 ml untuk uji MIC. 15%. Sebenarnya bawang merah itu dapat membunuh mikroba karena mengandung flavonglikosida. Peptida h. zona bening yang terbentuk lebih besar. Sehingga didapat konsentrasi ekstrak dari setiap tabung menjadi 25%. Setiap tabung yang sudah berisi masing-masing pengenceran dan kontrol. Karena pada konsentrasi tertinggi. Dengan membuat ekstrak bawang merah yang sudah dibuat. karena kandungan ekstrak yang sedikit dan lebih banyak aquades. Itu terjadi jika konsentrasi ekstrak yang dimasukkan hanya 50%. Dihidroaliin g. Pada hasil prkatikum didapat zona bening pada konsentrasi tertinggi.5% menjadi keruh berarti bakteri hidup. Pada konsentrasi yang tinggi. Setelah 24 jam didapat hasil sebagai berikut : Dari hasil yang didapat pada konsentrasi yang tinggi didapat hasil bahwa pada konsentrasi 25%. terbentuk diameter 12 mm. Hanya saja pada praktikum digunakan konsentrasi tertinggi 50%. Vitamin dan mineral Kandungan bawang merah yang dapat membunuh mikroba yaitu Flavonglikosida. 20%.5 ml. amuba disentri dan sebagian besar mikroba staphylococci. 5% dan 2. Selain itu pula dapat membunuh mikroba diphtheria. 15% dan 2. 20%.f. karena kandungan ekstrak bawang merah yang lebih banyak dibaning dengan konsentrasi yang kecil. Sehingga pada konsentrasi terkecil. Pada uji MIC ini. ditambahkan 1 ose bakteri Salmonella typhi ke dalam masing-masing tabung. sedangkan pada konsentrasi rendah zona bening tidak terbentuk. Jika konsentrasi ekstrak diperbesar bisa saja bakteri menjadi lebih peka terhadap bawang merah. 5% cairan menjadi bening berarti bakteri mati. Berdasarkan teori. demikian juga mikroba streptococci yang dapat menyebabkan penyakit radang pada toraks dan kerongkongan. Hasil dari pengenceran ekstrak pada uji resistensi antibiotik digunakan 2. ekstrak masih dapat membentuk zona bening. Setelah itu. Berarti menunjukkan bahwa bakteri tersebut resisten terhadap bawang merah.5%. 10%. pada konsentrasi yang tinggi .

Hasil pengujian kepekaan bakteri terhadap zat antibiotic adalah bahwa bakteri peka terhadap chloramfenicol 4. 2011) 3. Berarti jika konsentrasi rendah. BAB V KESIMPULAN 1. Nilai mic terendah yang dimiliki oleh ekstrak daun sirih adalah 7. ekstrak sebagai pengganti antibiotik tidak mampu untuk membunuh bakteri sehingga bakteri menjadi hidup. pada konsentrasi didapat bakteri tersebut keruh. kavikol. Hal ini terjadi bisa saja terjadi karena adanya kesalahan pada proses praktikum. Tetapi dari hasil. bakteri menjadi keruh karena tidak terdapat ekstrak yang menjadi pengganti antibiotik. Sedangkan pada kontrol seharusnya. Karena memang seharusnya dengan konsentrasi yang tinggi bakteri tersebut akan mati.2% minyak atsiri yang sebagian besar terdiri dari betephenol yang merupakan isomer Euganol allypyrocatechine.bakteri tersebut akan mati sedangkan pada konsentrasi yang rendah bakteri tersebut akan hidup. terjadinya kontaminasi atau kurang teliti pada saat proses praktikum. Tetapi hasil yang didapat menjadi keruh. Ekstrak yang paling baik untuk menjadi antibiotic adalah ekstrak daun Sirih 2. Seperti kesalahan pada saat memasukkan ekstrak bawang merah. Dari hasil yang didapat. Kandungan yang terdapat pada ekstrak daun Sirih adalah 4. Cineol methil euganol. Caryophyllen (siskuiterpen). estragol dan terpinen (Kharis. Hubungan antara Nilai MIC dengan kualitas Ekstrak sebagai antibiotic adalah bahwa semakin kecil Nilai MIC maka ekstrak berpotensi sebagai antimikroba dan mampu membunuh atau menekan pertumbuhan bakteri 5. kavibekol. berbeda dengan penjelasan secara teori.5% .

30%. Pada ekstrak yang memliki nilai MIC terendah yaitu daun sirih didapatkan pada Konsentrasi 50% bakteri Agak resisten terhadap Ekstrak.6.20%10% dan 5% Bakteri Resisten terhadap Ekstrak. sedangkan pada konsentrasi 40%. .

Yogyakarta : Kanisius. Djambatan.wikipedia. 1995. 2005. . EGC. pukul 14. Ekstraksi Daun Sirih.org/wiki/Salmonella. Klasifikasi Cabai Rawit. Purdue University. Cabai Rawit. Universitas Indonesia. http://id. http://www. Mikrobiologi Kedokteran (Medical Microbiology) Edisi 20. School of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences.Department of Medicinal Chemistry and Molecular Pharmacology. Salmonella. Jakarta. Paw-paw and Cancer Annonaceous Acetogenin from Discovery to Comercial Products. [terhubung Berkala]. 2010. M.43) Anonim2. Kharis. Cahyano. Makassar.plantamor. 2003. http://mujamu. Dwidjoseputro.html (diakses tanggal 14 November 2011 Pukul 14:29 WIB) Mclaughlin.com. Jawelz.Salmonella. (diakses tanggal 14/11/2011. G. http://id. Jakarta.com/2011/07/ekstraksi-daunsirih. Maloy. 1995. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Ganiswarna. Teknik Budi Daya dan Analisis Usaha Tani.org/info. D. S. N. (diakses tanggal 14/11/2011.DAFTAR PUSTAKA Anonim1. Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Bagian Farmakologi-Fakultas Kedokteran. 2011. http://www.wikipedia. Jurusan Farmasi UNHAS.blogspot.55) Anonim3. Salmonella Information. Djide. A.html/ (diakses tanggal 14 November 2011). pukul 14. 1994. Diakses pada tanggal 14 November 2011 14:51 WIB.2008. 2011. 71(7):1311–1321.S. M. Mikrobiologi Farmasi.org/wiki/Cabai_rawit. Jakarta. 1999.2011.B.

com/2010/03/19/uji-micminimum-inhibitoryconcentration/ .pdf (diakses pada tanggal 13 November 2011.5%. Uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration). and bacterial colonies were observed on MSA. Efek Fraksi Air Ekstrak Etanol Daun Salam (Syzygium polyanthum) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Pada Mencit Putih (Mus muscullus) Jantan Galur BALBC yang diinduksi dengan Kalium Oksonat. Four concentrations of ironwood extract: 1%. 1. 14/11/2011. The results showed that bacterial growth was retarded by 1% and 1. The objective of the present study was to confirm the antibacterial property of the ironwood extract against Staphylococcus aureus. and 2. http://suryadhie. Nutrient broth and Ampicillin 1% were used as negative and positive controls.5%.go. http://isjd. Indonesia ABSTRACT Beside for house and heavy construction. Mirhanuddin Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat Jalan Brigjen H.html (diakses tanggal. and that no bacterial growth was observed in media containing 2% and 2. pukul 21.5% ironwood extract as well as in positive control. Ratu. Jatinangor: Biologi FMIPA Unpad Suryadhie.24) Utami.id/admin/jurnal/K100040082. 2007.blogspot. 2008.W. Thihana. The study confirmed antibacterial property .2010.5% extracts.com/2007/09/obat-herbalcabe-rawit.00 WIB) POTENSI EKSTRAK KAYU ULIN (Eusideroxylon zwageri T et B) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO Aulia Ajizah.diakses pada tanggal 16 November 2011 pukul 20:20 WIB Safitri. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Dasar.Muhammad. Obat Herbal Cabe Rawit.lipi. 2%. 2011.pukul 13. Hasan Basry Banjarmasin.I. http://muhammadcank. ironwood (Eusideroxylon zwageri) has been locally used as traditional medicine against toothache.wordpress. were applied to bacterial suspensions on nutrient broth.

karena industri penggergajian kayu ulin umumnya memang berada di tepi sungai. Akan tetapi. serta hiasan rumah. belum ada kegiatan yang secara signifikan dapat mencegah penimbunan limbah kayu ulin. Industri penggergajian kayu ulin menghasilkan limbah berupa serbuk gergaji. ada . Tingginya tingkat pemanfaatan kayu ulin selain mengancam kelestarian kayu ulin dapat pula menimbulkan pencemaran lingkungan. Walaupun sudah ada anggota masyarakat yang memanfaatkan limbah itu. tiang listrik. Kayu ulin terutama dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. daun pintu. masyarakat di kalimantan memanfaatkan pula kayu ulin sebagai komponen konstruksi rumah seperti kusen jendela dan pintu. Adanya tradisi menggunakan air rendaman kayu ulin untuk mengobati sakit gigi menimbulkan dugaan bahwa kayu ulin mengandung zat atau senyawa yang dapat membunuh kuman penyebab sakit gigi (antibiotik). Sejauh ini limbah tersebut dibuang begitu saja ke lingkungan. Sebagian masyarakat di kalimantan telah biasa mengunakan air rebusan kayu ulin untuk mengobati sakit gigi.of ironwood extract and concluded that the Minimal Inhibitor Concentration (MIC) of the extract was 2%. Di antara kemungkinan pemanfaatan limbah kayu ulin adalah sebagai obat tradisional. seperti konstruksi rumah/gedung. Di samping itu. dan mencemari lingkungan khususnya perairan sungai. Oleh sebab itu harus dicarI berbagai alternatif pemanfaatan limbah tersebut untuk mengimbangi laju pertambahan atau penumpukannya. PENDAHULUAN Kalimantan merupakan salah satu pulau di Indonesia yang paling kaya kayu ulin (Eusideroxylon zwageri T et B). jembatan. dan perkapalan.

Di antara kuman-kuman tadi. endokarditis. Staphylococcus aureus juga dapat menginfeksi jaringan atau alat tubuh lain dan menyebabkan timbulnya penyakit dengan tanda-tanda yang khas seperti peradangan. 1994). flavonoid.pula kemungkinan bahwa khasiat kayu ulin untuk mengatasi sakit gigi itu hanya karena kayu ulin mengandung zat atau senyawa yang dapat mengurangi rasa sakit (analgesik). 1995). pengujian daya antibakteri kayu ulin sebaiknya juga dilakukan terhadap bakteri yang biasanya terdapat di mulut dan bisa menyebabkan sakit gigi. Kuman yang biasanya terdapat di dalam mulut di antaranya adalah Streptococcus mutans. Jenis kuman ini juga dapat membuat enterotoksin yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Streptococcus viridans.. diduga kayu ulin memang mempunyai potensi untuk membunuh kuman atau mikroba. Karena masyarakat biasa mempergunakan untuk mengobati sakit gigi. Kuman ini juga dapat menyebabkan terjadinya septikemia. nekrosis. Staphylococcus epidermidis. Flavonoid. dan pembentukan abses. antara lain golongan alkaloid. Selain terdapat di dalam mulut. Staphylococcus aureus sering dipakai dalam pengujian daya antibakteri. meningitis. Dilihat dari kandungannya itu. tanin. Sementara itu senyawa alkaloid juga penting bagi industri farmasi karena Kebanyakan mempunyai efek fisiologis tertentu (Anwar et al. Staphylococcus pneumoniae. abses . Meskipun demikian perlu dilakukan pengujian secara ilmiah untuk memperoleh data empiris yang dapat dipergunakan untuk menarik generalisasi yang sahih mengenai potensi kayu ulin tersebut. Uji fitokimia pendahuluan mengindikasikan bahwa kayu ulin mengandung berbagai senyawa kimia. dan Staphylococcus aureus (Volk & Wheeler. triterpenoid dan saponin adalah senyawa kimia yang memiliki potensi sebagai antibakteri dan antivirus (Robinson. triterpenoid. dan saponin. 1990).

kemudian ekstrak kayu ulin dibuat berdasarkan prosedur sebagaimana diuraikan oleh Harborne (1987). daya antibakteri ekstrak kayu ulin dapat diuji terhadap Staphylococcus aureus. juga alternatif antibiotik.5 (Frankel et al. 2%.serebri. Uji Antibakteri Untuk pengujian daya antibakteri digunakan metode dilusi.5%. 1. Oleh karena itu.5%. Larutan uji disiapkan dengan konsentrasi ekstrak 1%. penemuan bahan yang dapat membantu mengatasi kuman ini akan memberikan sumbangan yang penting bagi upaya pemeliharaan kesehatan masyarakat. cawan disimpan pada . Serutan itu kemudian dikeringkan dan dijadikan serbuk. sepsis purpuralis. dan pneumonia. Dengan demikian. Penelitian ini selain mencari alternatif pemanfaatan limbah kayu ulin agar tidak mencemari lingkungan.1970). Kepada tiap tabung yang sudah berisi 2 cc larutan uji dan kontrol ditambahkan 1 cc suspensi biakan murni Staphylococcus aureus. 1 cc campuran suspensi kuman dan larutan uji atau kontrol dinokulasikan ke cawan petri yang kemudian dituangi 20 cc MSA (Manitol Salt Agar) cair. BAHAN DAN METODE Limbah kayu ulin berupa sisa serutan diambil dari salah satu usaha penggergajian kayu ulin di Banjarmasin. Setelah MSA memadat. Suspensi bakteri Staphylococcus aureus untuk pengujian disiapkan dalam larutan Nutrient Broth (NB) dan kekeruhannya disetarakan dengan kekeruhan larutan standar Mc Farland 0.dan 2. Sebagai kontrol digunakan larutan Ampicillin 1% (kontrol positif) dan Nutrient Broth (kontrol negatif). khususnya terhadap Staphylococcus aureus dan penyakit yang disebabkannya.

Perbedaan di antara kelompok perlakuan dideteksi dengan uji Dunnet T3. walaupun masih lebih tinggi dari kontrol positif. HASIL Pembandingan dengan kontrol positif dan kontrol negatif menunjukkan bahwa dengan larutan uji konsentrasi 1% dan 1. Analisis Data Data kuantitatif jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada masing-masing cawan petri dianalisis dengan uji nonparametrik Kruskal Wallis. Pada konsentrasi larutan uji 2% dan 2.000) terhadap pertumbuhan koloni bakteri. Data kuantitatif didapat dari penghitungan jumlah koloni bakteri pada cawan petri.5% terjadi penghambatan dengan tingkat yang setara dengan kontrol positif (Ampicillin 1%) Uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kayu ulin memberikan pengaruh yang sangat signifikan (p < 0. Konsentrasi ekstrak kayu ulin 1% sudah memperlihatkan jumlah koloni yang lebih rendah dari jumlah koloni pada kontrol negatif. .suhu 37 C selama 24 jam dengan posisi terbalik.5% 40bterjadi pertumbuhan bakteri yang lebih rendah dari kontrol negatif. walaupun masih lebih tinggi dari kontrol positif. Daya hambat larutan uji dievaluasi dengan cara membandingkan pertumbuhan koloni bakteri dengan kontrol positif dan kontrol negatif. Berdasarkan uji Dunnet T3 terlihat bahwa semakin besar konsetrasi ekstrak kayu ulin semakin kecil jumlah koloni yang berbentuk (Tabel 1). Semua perlakuan diulang sebanyak 5 kali.

. triterpenoid. Protein yang menggumpal tidak dapat berfungsi lagi. Senyawa fenol dapat bersifat koagulator protein (Dwidjoseputro. juga dapat mempengaruhi dinding sel. Selain itu.Pada konsentrasi 2% dan 2. dan saponin di dalam ekstrak kayu ulin. atau penghambatan terhadap sintesis asam nukleat. yang mungkin terjadi pada bakteri Staphylococcus aureus akibat pemberian ekstrak kayu ulin adalah penghambatan terhadap sintesis dinding sel. Di antara berbagai kerusakan yang dapat terjadi pada sel bakteri tersebut. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kayu ulin mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. daya antibakteri ekstrak kayu ulin diduga juga berkaitan dengan adanya senyawa alkaloid yang. flavonoid. tanin. Hal ini diduga karena adanya kandungan senyawa kimia seperti alkaloid. (2001) pertumbuhan bakteri yang terhambat atau kematian bakteri akibat suatu zat antibakteri dapat disebabkan oleh penghambatan terhadap sintesis dinding sel. sehingga akan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri.5% tidak terlihat adanya koloni sebagaimana pada kontrol positif. penghambatan terhadap fungsi membran sel. Ini didasarkan pada adany kandungan flavonoid yang merupakan senyawa fenol (Harborne. seperti halnya senyawa flavonoid. Menurut Jawetz et al. 1994). Senyawa-senyawa itulah yang berperan sebagai bahan aktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. penghambatan terhadap sintesis protein. 1987).

Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang memiliki tekanan osmotik dalam 3 – 5 kali lebih besar dari bakteri gram negatif. sehingga lebih mudah mengalami lisis (Jawetz dalam Katzung. 1989). Lisisnya sel bakteri tersebut dikarenakan tidak berfungsinya lagi dinding sel yang mempertahankan bentuk dan melindungi bakteri yang memiliki tekanan osmotik dalam yang tinggi.. diduga adanya gangguan atau penghambatan pada perakitan dinding sel utuh yang tepat serta lisisnya dinding sel dapat menerangkan efek menghambat/bakteriostatik dari ekstrak kayu ulin. Setiap senyawa yang menghalangi tahap apapun dalam sintesis peptidoglikan akan menyebabkan dinding sel bakteri diperlemah dan sel menjadi lisis (Jawetz et al.. bakteri tidak dapat bertahan terhadap pengaruh luar dan segera mati (Wattimena et al. 2001). Dinding sel bakteri gram positif terdiri atas peptidoglikan yang sangat tebal yang memberikan kekakuan untuk mempertahankan keutuhan sel. 1995). Proses perakitan dinding sel bakteri diawali dengan pembentukan rantai peptida yang akan membentuk jembatan silang peptida yang menggabungkan rantai glikan dari peptidoglikan pada rantai yang lain sehingga menyebabkan dinding sel terakit sempurna. Pada Staphylococcus aureus pemberian obat/antimikroba dapat menghambat perakitan dinding sel dan mengakibatkan penggabungan rantai glikan tidak terhubung silang ke dalam peptidoglikan dinding sel menuju suatu struktur yang lemah dan menyebabkan kematian bakteri (Morin dan Gorman. Tanpa dinding sel. 1991). . Oleh karena itu.Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif. Jika ada kerusakan pada dinding sel atau ada hambatan dalam pembentukannya dapat terjadi lisis pada sel bakteri sehingga bakteri segera kehilangan kemampuan membentuk koloni dan diikuti dengan kematian sel bakteri.

Semua ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentasi ekstrak kayu ulin maka pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus semakin dihambat karena semakin banyak bahan aktif dalam larutan uji. tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang tumbuh di kontrol negatif.5%. apalagi dengan konsentrasi 2% dan 2. Dengan demikian.5% terdapat koloni bakteri yang tumbuh. Pada kontrol negatif (Nutrient Broth) jumlah koloni berbeda nyata dengan semua konsentrasi perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini memberikan data empiris yang mengonfirmasi adanya daya antibakteri pada ekstrak kayu ulin. . dan jumlah koloni yang tumbuh di antara kedua konsentasi perlakuan memiliki rentang yang sangat jauh. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kepala dan staf Balai Laboratorium Kesehatan Banjarmasin yang telah memberikan kesempatan menggunakan fasilitas yang ada untuk pelaksanaan penelitian ini. Artinya.5% dan kontrol positif yang sama sekali tidak memperlihatkan pertumbuhan koloni bakteri. Pertumbuhan bakteri benar-benar dihambat pada konsentrasi ekstrak 2% dan 2. dapat dikatakan bahwa perlakuan yang berpotensi untuk menghambat total pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah mulai konsentrasi 2%. Pada konsentrasi ekstrak 1% dan 1.Penggunaan konsentrasi ekstrak kayu ulin yang berbeda memberikan tingkat pengaruh yang berbeda pula terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. konsentrasi terendah untuk menghambat total pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah 2%. khususnya terhadap Staphylococcus aureus.

Diposkan oleh random thing that Oka Ananda Akbar thinks ¬_¬ di 03.45 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful