P. 1
warisan

warisan

|Views: 56|Likes:
Published by Apiss Msv
makalah fiqh
makalah fiqh

More info:

Published by: Apiss Msv on May 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2013

pdf

text

original

1

Makalah fiqih
Nama : fatkhiati
NIM : 121209378
Unit : 5/SMI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem waris merupakan salah satu sebab atau alasan adanya pemindahan kepemilikan,
yaitu berpindahnya harta benda dan hak-hak material dari pihak yang mewarisakan, setelah
yang bersangkutan wafat kepada penerima warisan dengan jalan pergantian yang didasarkan
pada hukum syara’.
Aturan tentang warisan tersebut ditetapkan Allah melalui firman-Nya yang terdapat dalam
Al-quran. Pada dasarnya ketentuan Allah berkenaan dengan kewarisan jelas maksud dan
arahnya. Berbagai hal yang masih memerlukan penjelasan, baik yang bersifat menegaskan
ataupun yang bersifat merinci,disampaikan Rasulullah SAW.melalui haditsnya. Walaupun
demikian, penerapannya masih menimbulkan wacana pemikiran dan pembahasan di kalangan
para pakar hukum Islam yang kemudian dirumuskan dalam bentuk ajaran yang bersifat
normatif. Aturan tersebut yang kemudian ditulisdan diabadikan dalam lembaran kitab fikih
serta menjadi pedoman bagi umat muslim dalam menyelesaikan permasalahan yang
berkenaan dengan warisan.
Didalam aturan kewarisan, ahli waris sepertalian darah dibagi menjadi tiga golongan,
yaitu: dzawil furudh, ashobah dan dzawil arham. Disini kami akan membahas tentang dzawil
furudh, dan ashobah. Untuk memberikan warisan kepada ahli waris.


B. Rumusan Masalah
1. Siapa-siapa saja ahli waris yang tergolong dalam zawil furudh?
2. Adakah ketentuan-ketentuan dalam pembagian harta warisan?
3. Siapa-siapa saja ahli waris yang termasuk dalam ‘ashabah?












2



BAB II
PEMBAHASAN
DZAWIL FURUDH DAN ASHABAH
A. Dzawil Furud (Ashabul Furud)
1. Pengertian Dzawil Furudh
Furudlu menurut istilah fiqih mawarits, ialah saham yang sudah ditentukan jumlahnya
untuk warits pada harta peninggalan, baik dengan nash maupun dengan ijma’. Mereka
menerima harta warisan dalam urutan pertama. Bagian-bagian tertentu dalam al-Quran
adalah: 1/2; 1/4; 1/8; 2/3 dan 1/6.
1
Golongan dzawil furudh adalah golongan keluarga tertentu
yang ditetapkan menerima bagian tertentu dalam keadaan tertentu.
2
Ahli waris yang
mendapat menurut angka-angka tersebut dinamai ahli waris dzawil furudh. Ahli waris (yang
secara hukum syara’ berhak menerima warisan karena tidak ada yang menutupnya) dengan
bagiannya masing-masing. Firman Allah SWT.dalam surat An-Nisa ayat 11, 12, 176:
O¦7¯1gONC +.- EO)× ¯ª¬±g³·¯uÒÒ¡ W
@OE-~-g¯ NuVg` ´]^EO ÷×u-4O·V^1·- _ p)¯··
O}7 w7.=O)e ·-¯O·· ÷×u-4-4[^¦- O}÷_ÞU··
·V¬U¬¦ 4` E´4O·> W p)³4Ò ;e4^~E LEE³gO4Ò
E_ÞU·· ÷-¯g)L¯- _ gOuC4O4®·4Ò ÷]7¯g¯
l³gÞ4Ò E©×gu+g)` +E÷³OO¯- O©g` E´4O·>
p)³ 4p~E +O·¯ /·.4Ò _ p)¯·· ¯¦-¯ }7¯4C
N¡-. /·.4Ò ¼+OÒ¦jO4Ò4Ò +Þ-4O4Ò¡
gOg)`+=·· ÷+¬U<1¯- _ p)¯·· 4p~E ¼N¡·.
¬E4Ou=)³ gOg)`+=·· +E÷³OO¯- _ }g` g³u¬4
lO·Og4Ò /´ONC .Ogj± uÒÒ¡ ·×^¯E1 ¯
¯ª774.4-47 ¯ª774.E4¯Ò¡4Ò ºº 4pÒ+O;³·>
¯ª÷_GCÒ¡ C·4O^~Ò¡ ¯7¯·¯ 4¬^¼4^ _ LOº_C@O··
¬;g)` *.- ¯ Ep)³ -.- 4p~E ©1)U4N
V©1´¯EO ^¯¯÷ ¯ ¯ª¬:·¯4Ò ÷-¯g^ 4` E´4O·>
¯ª¬:N_4Ò^eÒ¡ p)³ ¯¦-¯ }7¯4C O}÷_-¯ /·.4Ò _
p)¯·· 4pº± ·;÷_·¯ /·.4Ò Nª¬:ÞU·· ÷7+OO¯-
O©g` =}-±4O·> _ }g` g³u¬4 lO·Og4Ò ¬--gONC
.E_) uÒÒ¡ ¡-^¯E1 _ ·;÷_·¯4Ò ÷7+OO¯-
O©g` ¯¦+^4O·> p)³ ¯ª-¯ }¬:4C ¯ª7¯-¯ /³·¯4Ò _
p)¯·· 4pº± ¯ª¬:·¯ /·.4Ò O}÷_ÞU·· ÷}÷©<V¯-
O©g` ®7+-±4O·> _ }g)` g³u¬4 lO·Og4Ò
¬]O÷O¬> .E_) uÒÒ¡ ¡×^¯E1 ¯ p)³4Ò ¬]~E
______________
1
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah Jilid 14, (PT Alma’arif, Jakarta: 1987), hal. 263
2
Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, (CV. Pustaka Setia, Bandung: 2009), hal. 135
3

¬N_4O ÷[4OONC ·-ÞUº± jÒÒ¡ ¬EÒ¡4O^`-
¼N¡·.4Ò N®Ò¡ uÒÒ¡ ¬eu=q¡ ÷]7¯)U·· l³gÞ4Ò
E©÷_u4g)` +E÷³OO¯- _ p)¯·· W-EO+^~º±
4O·4-±Ò¡ }g` Elg¯·O ;e÷_·· +7.~º±4O¬= O)×
g+¬U<1¯- _ }g` g³u¬4 lO·Og4Ò _/=ONC
.Ogj± uÒÒ¡ ·×^¯E1 4O¯OEN ¯´O.º_N` _
LO·Og4Ò =}g)` *.- ¯ +.-4Ò v¦1)U4× _¦1)UEO
^¯g÷
El4^O+^¼4-¯OEC ÷¬~ +.- ¯ª¬:Og^¼NC O)×
g·-ÞU·¯^¯- _ ÷p)³ W-N4+O¯·- ElÞUE- "·^1·¯
+O·¯ /·.4Ò ¼N¡·.4Ò ¬eu=q¡ E_ÞU·· ÷-¯g^
4` E´4O·> _ 4O¬-4Ò .E_¬¦@O4C p)³ ¯ª-¯ }7¯4C
E¤=± /·.4Ò _ p)¯·· 44^~E ÷×u-44L^¦-
E©÷_ÞU·· ÷p·V¬U<V¯- 4¼¯¯ E´4O·> _ p)³4Ò
W-EO+^~E LE4Ou=)³ Lº~E}j´O w7.=O)e4Ò
@OE-~-)U·· Nu1g` ´]^EO ÷×u-4O·w^1·- ¯
÷×))-4:NC +.- ¯ª¬:·¯ pÒ¡ W-OwU´_·> ¯ +.-4Ò
÷]7¯) ·7¯/E* l¦1)U4× ^¯_g÷
11. Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu :
bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan dan jika anak
itu semuanya perempuan lebih dari dua Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang
ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan
untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan,
jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak
dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang
meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam.
(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan)
sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak
mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah
ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
12. dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu,
jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu
mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka
buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang
kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka Para
isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat
yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-
laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi
mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu
saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika
4

saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga
itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan
tidak memberi mudharat (kepada ahli waris. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai)
syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.
176. mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah) Katakanlah: "Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai
anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu
seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai
(seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara
perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh
yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan
perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara
perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah
Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. An- Nisa: 11, 12, 176)
Pencarian terhadap sumber-sumber hukum waris di atas, dalam konteks hukum positif
Indonesia termuat di dalam INPRES No.1 tahun 1991 tentang Komplikasi Hukum Islam,Buku
II tentang Hukum Kewarisan.
3

Pembagian waris yang telah ditetapkan Al-Quran adalah furudh al-muqaddarah.
Mengenai bagian-bagian yang telah dipastikan, yang pertama berkaitan dengan kelompok
‘ashhab al-furudh, yaitu kelompok pertama diberi bagian harta warisan. Mereka orang-orang
yang telah ditentukan bagiannya dalam Al-Quran, sunnah, dan ijma’.
Kedua,’ashabah al-nasabiyah,yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yang menerima
sisa harta warisan yang telah dibagikan. Jika tidak ada ahli waris lainnya, ia berhak
mengambil seluruh harta peninggalan. Misalnya, anak laki-laki pewaris, cucu dari anak laki-
laki pewaris, paman kandung, dan seterusnya. Penambahan bagi ashabul furudh sesuai
bagian (kecuali suami-istri). Apabila harta warisan yang telah dibagikan kepada semua ahli
warisnya masih juga tersisa, hendaknya diberikan kepada ‘ashabul furudh masing-masing
sesuai dengan bagian yang telah ditentukan. Adapun suami atau istri tidak berhak menerima
tambahan bagian dari sisa harta yang ada. Sebab, hak waris bagi suami atau istri disebabkan
adanya ikatan pernikahan, sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendapatkan
tambahan dibandingkan lainnya. Yang dimaksud kerabat adalah kerabat pewaris yang masih
memiliki kaitan rahim dan tidak termasuk ‘ashabul furudh dan juga ‘ashabah. Misalnya,
paman (saudara seibu), bibi (saudara ibu), bibi (saudara ayah), cucu laki-laki dari anak
perempuan, dan cucu permpuan dari anak perempuan. Bila pewaris tidak mempunyai kerabat
sebagai ‘ashabul furudh, tidak pula ‘ashabah, para kerabat yang masih mempunyai ikatan
rahim dengannya berhak untuk mendapatkan warisan.
4

______________
3
Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, (CV. Pustaka Setia, Bandung: 2009), hal. 135
4
Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, (CV. Pustaka Setia, Bandung: 2009), hal. 136

5

Tambahan hak waris bagi suami atau istri. Bila pewaris tidak mempunyai ahli waris
yang termasuk ashabul furudh dan ‘ashabah, juga tidak ada kerabat yang memiliki ikatan
rahim, harta warisan seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Misalnya, seorang suami
meninggal tanpa memiliki kerabat yang berhak untuk mewarisinya , maka istri mendapatkan
bagian seperempat dari harta warisan yang ditinggalkannya, sedangkan sisanya merupakan
tambahan hak warisnya. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yang
meninggal.
Orang yang diberi wasiat lebih dari sepertiga harta pewaris. Yang dimaksud di sini
adalah orang lain, artinya bukan salah seorang dari ahli waris. Misalnya, seseorang
meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Sebelum meninggal, ia terlebih dahulu memberi
wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada
seseorang yang bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Mazhab Hanafi dan Hambali
berpendapat boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian.
Apabila seseorang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris ataupun kerabat,
seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitul mal untuk kemaslahatan umum
.5
2. Jalan yang Ditempuh untuk Mengetahui Ashabul Furudh
Untuk mengetahui bagian ashabu al-furudh, dapat ditempuh dengan memakai dua
jalan:
1. Jalan tadally, yaitu mengetahui bagian furudh (bagian waris yang ditentukan) dengan
menghitung seperdua dari seperdua, yaitu seperempat, dan seperdua dari seperempat, yaitu
seperdelapan. Seperdua dari dua per tiga yaitu sepertiga dan seperdua dari sepertiga yaitu
seperenam.
2. Jalan taraqy, yaitu mengetahui bagian furudh dengan menghitung kelipatan. Kelipatan
dari seperdelapan adalah seperempat dan kelipatan dari seperempat adalah setengah.
Kelipatan dari seperenam adalah sepertiga dan kelipatan dari sepertiga adalah dua per tiga.

3. Golongan Kerabat dalam Hukum Waris Islam
Kerabat dalam hukum waris Islam dibagi menjadi tujuh kelompok, yaitu:
1. Leluhur perempuan adalah perempuan dari pihak ibu dalam satu garis lurus ke atas.
2. Leluhur laki-laki adalah leluhur laki-laki dari pihak bapak ke atas.
3. Keturunan perempuan adalah anak perempuan pewaris dan anak perempuan dari
keturunan laki-laki. Itu adalah anak perempuan dan cucu perempuan pancar laki-laki.
4. Keturunan laki-laki adalah keturunan laki-laki dari anak laki-laki dalam satu garis lurus ke
bawah (tidak terhalang oleh pihak perempuan, seberapa pun rendahnya). Itu adalah anak
laki-laki dan cucu laki-laki pancar laki-laki.
5. Saudara seibu adalah saudara perempuan dan saudara laki-laki yang hanya satu ibu dengan
pewaris. Itu adalah saudara perempuan seibu dan saudara laki-laki seibu.
______________
5
Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, (CV. Pustaka Setia, Bandung: 2009), hal.137
6

6. Saudara sekandung/sebapak adalah keturunan laki-laki dari leluhur laki-laki dalam satu
garis lurus ke bawah (tidak terhalang oleh pihak perempuan). Itu adalah saudara laki-laki
sekandung/sebapak dan saudara perempuan sekandung/sebapak.
7. Kerabat lainnya, yaitu kerabat lain yang tidak termasuk ke dalam keenam kelompok di
atas.
6


4. Sebab-sebab Ahli Waris
Ahli waris dalam hukum waris Islam didasarkan kepada tiga sebab, yaitu sebab
keturunan, perkawinan, dan memerdekakan budak. Sebagaimana telah dijelskan sebelumnya,
bahwa ahli waris tersebut ada Sembilan, yaitu (1) janda; (2) leluhur perempuan; (3) leluhur
laki-laki; (4) keturunan perempuan; (5) keturunan laki-laki; (6) saudara seibu; (7) saudara
sekandung atau sebapak; (8) kerabat lainnya; (9) wala’.
Bagian-bagian hak warisnya masing-masing adalah:
1. Ahli waris yang menghabiskan semua harta atau semua sisa. Orang yang berhak
menghabiskan harta atau semua sisa itu diatur menurut susunan sebagai berikut:
 Anak laki-laki
 Anak laki-laki dari anak laki-laki
 Bapak
 Bapak dari bapak
 Saudara laki-laki seibu sebapak
 Saudara laki-laki yang sebapak
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki yang seibu sebapak
 Anak laki-laki dari saudara laki-laki yang sebapak
 Paman dari pihak bapak (saudara bapak) yang seibu sebapak kemudian yang
sebapak
 Anak laki-laki dari paman pihak bapak
 Orang yang memerdekakan mayat
2. Laki-laki yang dapat menghabiskan harta atau sisa harta waris, jika anak laki-laki
bersama-sama dengan anak perempuan, keduanya bersama-sama mengambil semua harta
atau semua sisa dari ketentuan yang ada.
3. Perempuan yang dapat menghabiskan semua harta atau sisa harta jika bersama-sama
dengan saudaranya yang laki-laki.

5. Macam-macam Ashabul Furudh
Menurut Otje Salman dan Mustafa Haffas (2006: 52), Ashabul furud ada dua macam:
1. Ashabul furudh sababiyyah
Yaitu ahli waris yang disebabkan oleh ikatan perkawinan. Yakni:
- Suami
______________
6
Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, (CV. Pustaka Setia, Bandung: 2009), hal.137-138

7

- Isteri
2. Ashabul furudh nasabiyyah
Yaitu ahli waris yang telah ditetapkan atas dasar nasab. Yakni:
- Ayah
- Ibu
- Anak perempuan
- Cucu perempuan dari garis laki-laki
- Saudara perempuan sekandung
- Saudara perempuan seayah
- Saudara laki-laki seibu
- Saudara perempuan seibu
- Kakek shahih
- Nenek shahih.
7


6. Ketentuan-ketentuan Ashabul Furudh
Adapun pembagiannya adalah sebagai berikut:
a) Yang mendapat dua pertiga (2/3)
1. Dua orang perempuan atau lebih, bila tidak ada anak laki-laki. Berarti, bila anak
perempuan lebih dari satu, sedangkan anak laki-laki tidak ada, mereka mendapat bagian
2/3 dari harta yang ditinggalkan bapaknya.
2. Dua anak perempuan atau lebih dari anak laki-laki, bila anak perempuan tidak ada.
Berarti anak perempuan dari anak laki-laki yang berbilang itu, mendapat pusaka dari
kakek mereka sebanyak 2/3 dari harta.
3. Saudara perempuan sebapak, dua orang atau lebih.
b) Yang mendapat setengah (1/2)
1. Anak perempuan kalau dia sendiri. Seorang anak perempuan mendapat bagian setengah
dengan dua syarat, yaitu tidak mewarisi bersama dengan saudaranya yang mendapatkan
‘ashabah, yaitu anak laki-laki dan anak perempuan itu harus anak tunggal.
2. Cucu perempuan dari anak laki-laki, dengan syarat (a) cucu perempuan itu tidak
bersama dengan saudaranya yang mendapatkan ‘ashabah, yaitu cucu laki-laki dari anak
laki-laki, (b) cucu perempuan itu hanya seorang diri, (c) harus tidak ada anak
perempuan atau anak laki-laki sekandung.
3. Saudara perempuan seibu sebapak atau sebapak saja, kalau saudara perempuan sebapak
seibu tidak ada, dan dia seorang saja. Dengan syarat (a) tidak mewarisi dengan saudara
yang mendapatkan ‘ashabah, yaitu saudara laki-laki seayah, (b) seorang diri, (c)
______________
7
Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, (CV. Pustaka Setia, Bandung: 2009), hal.151

8

pewaris tidak mempunyai orang tua dan anak keturunan, (d) pewaris tidak mempunyai
saudara perempuan sekandung.
4. Suami bila isteri tidak punya anak.
c) Yang mendapat sepertiga (1/3)
1. Ibu, bila pewaris tidak ada anak atau cucu laki-laki (anak dari anak laki-laki), dan tidak
ada pula dua orang saudara (laki-laki maupun perempuan), baik saudara itu sekandung
atau seayah atau seibu.
2. Dua orang saudara atau lebih dari saudara yang seibu, baik laki-laki maupun
perempuan.
d) Yang mendapat seperempat (1/4)
1. Suami, bila istri ada anak atau cucu
2. Isteri, bila suami tidak ada anak dan tidak ada cucu. Kalau isteri lebih dari satu maka
dibagi rata.
e) Yang mendapat seperenam (1/6)
1. Ibu, bila pewaris mempunyai anak laki-laki atau perempuan atau cucu laki-laki
keturunan anak laki-laki, dan pewaris mempunyai dua orang saudara atau lebih, baik
saudara laki-laki ataupun perempuan, baik sekandung, seayah, ataupun seibu.
2. Bapak, bila jenazah mempunyai anak atau anak dari laki-laki.
3. Nenek yang shahih atau ibunya ibu/ibunya ayah, ketika pewaris tidak lagi mempunyai
ibu.
4. Cucu perempuan dari anak laki-laki (seorang atau lebih) bila yang meninggal
mempunyai seorang anak perempuan. Bila anak perempuan lebih dari satu maka cucu
perempuan tidak mendapat harta warisan. Cucu perempuan dari anak laki-laki
mendapat bagian seperenam dengan syarat tidak ada anak laki-laki. Jika ada, anak laki-
laki menghijab hak sang cucu perempuan dari anak laki-laki.
5. Kakek, bila pewaris mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki dengan syarat tidak
ada ayah(dari orang yang meninggal). Dengan demikian, status kakek dapat menempati
kedudukan ayah, apabila ayah telah tiada, kecuali dalam tiga masalah: (1) saudara-
saudara sekandung atau saudara-saudara seayah tidak dapat menerima waris bersama
dengan ayah (termasuk ijma). Namun apabila dengan kakek, (menurut Imam Syafi’I,
Imam Ahmad, dan Imam Malik), mereka mendapat waris. Menurut Abu Hanifah,
mereka (saudara-saudara) tetap tidak boleh mendapat waris walaupun bersama kakek,
sebagaimana saudara-saudara bersama ayah, karena dalam bidang ‘ashabah, jihat
ubuwah (arah bapak atau kebapakan atau turunan ke atas) didahulukan daripada jihat
ukhuwah (arah saudara atau persaudaraan atau hubungan ke samping). (2) dalam
masalah gharawain, yaitu jika seorang perempuan mati meninggalkan suami, ayah, dan
ibu, ibu mendapat bagian sepertiga dari sisa. Namun, apabila kedudukan ayah ditempati
oleh kakek (karena ayah telah terlebih dahulu mati), ibu tetap mendapat bagian
9

sepertiga dari seluruh harta, menurut ijma. (3) dalam masalah gharawain, yakni
seorang suami meninggal dunia dengan meninggalkan istri, ayah, dan ibu maka ibu
mendapat bagian sepertiga dari sisa. Namun, apabila kedudukan ayah diganti oleh
kakek (ayah terlebih dahulu mati), ibu tetap mendapat bagian sepertiga dari seluruh
harta, menurut ijma.
6. Saudara perempuan sebapak (seorang atau lebih), bila pewaris mempunyai seorang
saudara kandung perempuan. Bila saudara seibu sebapak lebih dari satu, maka saudara
perempuan sebapak tidak mendapat warisan.



f) Yang mendapat seperdelapan (1/8)
1. Isteri (satu atau lebih), bila ada anak atau lebih.
8


B. Dzawil Ashabah
1. Pengertian Ashabah
Kata ‘ashabah dalam bahasa Arab berarti keluarga laki-laki dari pihak ayah. Disebut
‘ashabah karena mereka merupakan suatu golongan yang saling membantu dan saling
melindungi di antara mereka.
9

Asabah adalah bagian sisa setelah diambil oleh ahli waris ashab al-furud. Sebagai
penerima bagian sisa, ahli waris ashabah terkadang menerima bagian banyak (seluruh harta
warisan), terkadang menerima sedikit, tetapi terkadang tidak menerima bagian sama sekali,
karena habis diambil ahli waris ashab al-furud.
Di dalam pembagian sisa harta warisan, ahli waris yang terdekatlah yang lebih dahulu
menerimanya. Konsekuensi cara pembagian ini, maka ahli waris ashabah yang peringkat
kekerabatannya berada dibawahnya tidak mendapatkan bagian. Dasar pembagian ini adalah
perintah Rasulullah SAW:
ازفلااوقحلا ﺋ ض ﺄﺑ ه ﺎﻬﻠ ولفيقﺑﺎمف ﱃ ﴾هيﻠعقفتم﴿زكذﻠجر
‘’berikanlah bagian-bagian tertentu kepada ahli waris yang berhak, kemudian sisanya untuk
ahli waris laki-lakiyang utama’’. (Muttafaq ‘alaih)
______________
8
Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Kencana Predana Media Group, Jakarta: 2008), hal.44-45
9
Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, (CV. Pustaka Setia, Bandung: 2009), hal.155

10

Didalam kitab ar-Rahbiyyah, ashobah adalah setiap orang yang mendapatkan semua
harta waris, yang terdiri dari kerabat daan orang yang memerdekakan budak, atau yang
mendapatkan sisa setelah pembagian bagian tetap.
2. Macam-macam Ashabah
Para fuqoha telah menyebutkan tiga macam kedudukan ashobah, yaitu:
1. Ashobah binafsihi
Ialah orang yang menjadi asabah karena dirinya sendiri. Mereka semua adalah laki-
laki. Yang berhak menjadi ahli waris ‘ashabah bi nafsih hanyalah satu tingkat menurut urutan
sebagai berikut:
 Anak
 Cucu
 Ayah
 Kakek
 Saudara kandung
 Saudara seayah
 Anak saudara kandung
 Anak saudara seayah
 Paman kandung
 Paman seayah
 Anak paman kandung
 Anak paman seayah
Bila ahli waris hanya seorang dalam kedudukan sebagai ‘ashabah ia mengambil
semua harta dan bila lebih dari seorang dalam tingkat yang sama mereka berbagi sama
banyak. Bila bersamanya ada ahli waris lain sebagai zaul furudh lebih dahulu diberikan hak
zaul furudh dan sisanya untuk ‘ashabah. Umpamanya ahli waris adalah dua anak laki-laki,
ayah, ibu, dan istri. Bagian masing-masing adalah:
Untuk ayah 1/6 = 4/24
Untuk ibu 1/6 = 4/24
Untuk istri 1/8 = 3/24
Jumlah = 11/24
Sisanya yaitu 24/24 – 19/24 = 5/24 adalah untuk 2 anak laki-laki.
Untuk seorang anak laki-laki ½ x 5/24 = 5/48
2. Ashobah bighairihi
Ialah ahli waris yang mulanya bukan ahli waris ‘ashabah karena dia perempuan;
namun karena didamingi oleh saudaranya yang laki-laki maka dia menjadi ‘ashabah. Mereka
adalah; Satu anak perempuan atau lebih, yang ada bersama anak laki-laki.
 Anak perempuan sewaktu didampingi anak laki-laki.
11

 Cucu perempuan sewaktu didampingi cucu laki-laki.
 Saudara perempuan kandung sewaktu didampingi saudara laki-laki kandung.
 Saudara perempuan seayah sewaktu di dampingi saudara laki-laki seayah.

Hak keduanya sebagai ‘ashabah dibagi antara keduanya dengan bandingan seorang laki-
laki sama dengan bagian dua orang perempuan.
Contohnya: ahli waris adalah anak perempuan, anak laki-laki, ibu dan suami. Bagian
masing-masing adalah:
Untuk ibu 1/6 = 2/12
Untuk suami 1/4 = 3/12
Jumlah = 5/12
Sisa harta, 12/12 – 5/12 = 7/12, adalah untuk anak-anak
Untuk anak laki-laki 2/3 x 7/12 = 14/36
Untuk anak perempuan 1/3 x 7/12 = 7/36


3. Ashobah ma’a ghairi
Ialah saudara perempuan kandung atau sebapak yang menjadi asabah karena
didampingi oleh keturunan perempuan. Ahli waris yang semula bukan ‘ashabah; namun
karena ada ahli waris tertentu bersamanya yang bukan ‘ashabah, maka dia menjadi ‘ashabah,
sedangkan ahli waris lain tersebut tidak ikut menjadi ‘ashabah. Mereka adalah:
 Seorang saudara perempuan kandung atau lebih, yang ada bersama anak perempuan atau
cucu perempuan dari anak laki-laki.
 Seorang saudara perempuan sebapak atau lebih, yang ada bersama anak perempuan atau
cucu perempuan dari anak laki-laki.
10


Dalam contoh ahli waris adalah anak perempuan, ibu, istri dan saudara perempuan, hak
masing-masing adalah:

Untuk anak perempuan 1/2 = 12/24
Untuk ibu 1/6 = 4/24
Untuk istri 1/8 = 3/24
Jumlah = 19/24

Untuk saudara perempuan adalah sisanya yaitu
24/24 – 19/24 = 5/24
Contoh soal:
Bakar meninggal dunia, sedangkan ahli waris yang ada:
______________
10
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah Jilid 14, (PT Alma’arif, Jakarta: 1987), hal.280-285

12

a. Anak laki-laki
b. Ibu
c. Istri
Harta yang ditinggalkan senilai Rp. 504
Keterangan:
1. Anak laki-laki mempunyai hak tidak menentu, karena dia berstatus pula sebagai waris
ashabah
2. Ibu mempunyai hak bagian 1/6
3. Istri mempunyai hak bagian 1/8

Pembagiannya:
Asal masalahnya : 24
Ibu : 1/6 x 24 = 504/24 x 4 = Rp. 84
Istri : 1/8 x 24 = 504/24 x 3 = Rp. 63
Anak : 24 - 7 = 504/24 x 17= Rp. 357

Jumlah = Rp. 504
11



C. Hikmah Mempelajari Zawil Furudh dan ‘Ashabah
Ditetapkannya hukum waris dalam Islam memiliki banyak hikmah manfaat, diantaranya
adalah:
1) Mencegah pertumpahan darah akibat pembagian harta warisan;
2) Memberikan rasa keadilan kepada para penerima harta warisa;
3) Mencegah terputusnya tali persaudaraan antar sesama;
4) Menjauhkan diri dari ancaman api neraka;














______________
11
Imran Abu Amar, Fat-Hul Qarib Jlid 2, (Menara Kudus, 1983), hal: 16
13

















BAB III
KESIMPULAN

1) Furudlu menurut istilah fiqih mawarits, ialah saham yang sudah ditentukan jumlahnya
untuk warits pada harta peninggalan, baik dengan nash maupun dengan ijma’.Ashabul
furud ada dua macam:
 Ashabul furudh sababiyyah: Yaitu ahli waris yang disebabkan oleh ikatan
perkawinan, yakni Suami dan Isteri.
 Ashabul furudh nasabiyyah: Yaitu ahli waris yang telah ditetapkan atas dasar
nasab, yakni Ayah, Ibu, Anak perempuan, Cucu perempuan dari garis laki-
laki, Saudara perempuan sekandung, Saudara perempuan seayah, Saudara
laki-laki seibu, Saudara perempuan seibu, Kakek shahih, Nenek shahih.


2) Asabah adalah bagian sisa setelah diambil oleh ahli waris ashab al-furud. Sebagai
penerima bagian sisa, ahli waris ashabah terkadang menerima bagian banyak (seluruh
harta warisan), terkadang menerima sedikit, tetapi terkadang tidak menerima bagian
sama sekali, karena habis diambil ahli waris ashab al-furud. Para fuqoha telah
menyebutkan tiga macam kedudukan ashobah, yaitu:
 Ashobah binafsihi
 Ashobah bighairihi
 Ashobah ma’a ghairi

3) Ditetapkannya hukum waris dalam Islam memiliki banyak hikmah manfaat,
diantaranya adalah:
 Mencegah pertumpahan darah akibat pembagian harta warisan;
14

 Memberikan rasa keadilan kepada para penerima harta warisan;
 Terhindar dari terputusnya tali persaudaraan antar sesama;
 Menjauhkan diri dari ancaman api neraka;










DAFTAR PUSTAKA

Syarifuddin, Amir. Garis-Garis Besar Fiqih. 2010. Jakarta: Kencana
Syarifuddin, Amir. Hukum Kewarisan Islam. 2008. Jakarta: Kencana
Rahman, Ali. Kewarisan dalam Al-Quran. 1995. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Sabiq, Sayyid. Fikih Sunnah. 1987. Bandung: PT Alma’arif
Abu Amar, Imran. Fat-Hul Qarib Jilid 2. 1983: Menara Kudus
Saebani, Beni Ahmad. Fiqh Mawaris. 2009. Bandung: CV. Pustaka Setia

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->