PENDEKATAN RASIONAL EMOTIF “RATIONAL EMOTIVE THERAPY” Dosen Pengampu : Adyatman Prabowo, S.Psi, M.

Psi

Oleh : Intan Nurmawaddah Zakqi Amsar Sudiyanto Dinda Dewi Mercyani Abdul Hafidz Ahmad 201110230311074 201110230311155 201110230311351 201110230311355

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2013

melatih klien untuk bisa berpikir dan berbuat yang lebih realistis dan rasional. yaitu: a. d. Manusia adalah makhluk yang manusiawi.A. ia mulai membuka praktik dalam bidang konseling keluarga. dan berperilaku sedemikian rupa. sehingga kebahagian hidup dapat dicapai secara efisien dan efektif. yang sebagian bersifat filsafat dan sebagian lagi bersifat psikologis. Konselor atau terapis berusaha agar klien makin menyadari pikiran dan kata-katanya sendiri. c. Tujuan dari RET Albert Ellis pada intinya ialah untuk mengatasi pikiran yang tidak logis tentang diri sendiri dan lingkungannya. dan selanjutnya populer dengan singkatan RET. . berperassan. tetapi setelah berlangsung beberapa lama Albert Ellis banyak menemukan ketidakpuasan dalam praktiknya yang menggunakan prosedur psikoanalisis dari freud. Sekitar tahun 1943. f. Pikiran-pikiran manusia biasanya menggunakan berbagai lambang verbal dan dituangkan dalam bentuk bahasa. Hidup secara rasional berarti berpikir. Manusia memiliki kecendrungan yang kuat untuk secara rasional dan sekaligus untuk hidup secara tidak rasional. maka akhirnya Albert Ellis mencoba untuk mengembangkan suatu teori yang disebut “rational emotive therapy”. tetapi sekaligus juga tergantung dari pilihan-pilihan yang dibuat sendiri. Pada praktiknya ini Albert Ellis banyak mempergunakan prosedur psikoanalisis dari freud. HISTORI PENDEKATAN Teori konseling rasional emotif dengan istilah lain dikenal dengan “rational emotive therapy” yang dikembangkan oleh Albert Ellis seorang ahli Clinical psychology (psikologi klinis). artinya dia bukan superman dan juga bukan makhluk yang kurang dari seorang manusia. perkawinan. Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh bekal keturunan atau pembawaan. serta mengadakan pendekatan yang tegas. dan seks. b. yang ditanamkan sejak kecil dalam lingkungan kebudayaan atau diciptakan sendiri. Corak konseling RET berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia dan tentang proses manusia dapat mengubah diri. Atas dasar pengalaman selama praktiknya dan kemudian dihubungkan dengan teori tingkah laku belajar. Orang kerap berpegang pada setumpuk keyakinan yang sebenarnya kurang masuk akal atau irasional (irrational beliefs). e.

j. RET memfokuskan perhatiaanya pada perubahan pikiran irasional menjadi rasional. l. h. dapat dijelaskan bahwa apabila sesorang telah berpikir rasional atau logis yang dapat diterima dengan akal sehat. yang mewarnai teori Rational Emotive Therapy ialah sebagai berikut: a. rasarasa itu bukan berpangkal pada tentetan kejadian dan pengalaman kemalangan yang telah berlangsung (activating event. ditambah dengan perasaan cemas tentang ketidakmampuannya mengubah tingkah lakunya dan akan kehilangan berbagai keuntungan yang diperoleh dari perilakunya.g. k. melainkan pada tanggapannya yang tidak rasional terhadap kejadian dan pengalaman itu (irrational beliefs). karena orang memiliki kecendrungan untuk mempertahankan keyakinan-keyakinan yang sebenarnya tidak masuk akal. Bilamana seseorang merasa tidak bahagia dan mengalami berbagai gejolak perasaan yang tidak menyenangkan serta membunuh semangat hidup. Konselor RET harus berusaha membantu orang menaruh perhatian wajar pada kebahagiaan batinnya sendiri. Pola berpikir . Dengan kata lain. disamping itu juga ia memiliki kecendrungan untuk berpikir tidak rasional atau tidak logis. Konselor harus bisa membantu konseli mengubah pikirannya yang irasional dengan diskusikannya secara terbuka dan terus terang (dispute). i. activating experience). Mengubah diri dalam berpikir irasional bukan perkara yang mudah. DINAMIKA KEPRIBADIAN Beberapa pandangan tentang hakikat manusia yang diajukan oleh Albert Ellis. B. Diskusi itu akan menghasilkan efek-efek. Tetapi sebaliknya apabila seseorang itu berpikir yang tidak rasional atau tidak bisa diterima akal sehat maka ia menunjukkan tingkah laku yang tidak rasional. maka orang itu akan bertingkah laku rasional dan logis pula. Pada hakikatnya manusia itu memiliki kecendrungan untuk berpikir yang rasional atau logis. Untuk membantu orang mencapai taraf kebahagian hidup yang lebih baik dengan hidup secara secara lebih rasional. Kedua kecendrungan yang dimiliki oleh manusia ini akan tampak jelas dan tergambar dalam bentuk tingkah lakunya yang nyata. Manusia dipandang sebagai makhluk yang rasional dan juga tidak rasional.

ia memiliki berbagai kelebihan dan kekurangannya serta keterbatasannya yang bersifat unik. Ide dasar di sini adalah menolong klien dalam hal menghindari sifat mengutuk diri sendiri. dengan asumsi bahwa hubungan yang . RET memandang bahwa manusia itu tidak akan bisa lepas dari perasaan dan perbuatannya. dan tindakan manusia adalah merupakan suatu proses yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. C. serta potensi mengubah pandangan dasar dan nilai-nilai yang diterimanya secara tidak kritis. Individu itu dilahirkan dengan membawa potensi-potensi tertentu. perasaan. b. Tidak seperti terapis yang berorientasi pada hubungan. di sela-sela kelebihan dan keterbatasan itu individu harus memiliki potensi untuk berpandangan yang rasional dan realistik. Meskipun klien mungkin mengevaluasi perilaku mereka sasarannya adalah agar mereka menolak untuk menilai diri mereka sebagai pribadi. Individu bersifat unik dan memiliki potensi untuk memahami keterbatasannya. c. Terapis menunjukkan sikap penerimaan mereka secara penuh dengan jalan menolak untuk mengevaluasi kliennya sebagai pribadi sementara pada saat yang bersamaan menunjukkan kesediaannya untuk tiada hentinya berkonfrontasi dengan pemikiran kliennya yang tidak masuk akal serta perilaku yang bersifat merusak diri sendiri.semacam inilah oleh Ellis yang disebut sebagai penyebab bahwa seseorang itu mengalami gangguan emosional. agar individu itu mampu melakukan adaptasi diri dengan baik. PERAN DAN FUNGSI KONSELOR Isu hubungan pribadi antara terapis dan klien dalam TRE memiliki makna yang berbeda dengan yang ada dalam sebagian besar bentuk terapi yang yang lain. Pikiran. Namun. TRE tidak memberikan arti utama pada kehangatan hubungan pribadi dan pengertian empatik. Perasaan seseorang senantiasa melibatkan pikiran dan tindakannya. betapa pun tidak efektifnya beberapa dari perilakunya. Kesesuaian dengan konsep terpusat pada pribadi dari pandangan positif tanpa syarat merupakan konsep TRE pada penerimaan sepenuhnya atau toleransi. RET memandang bahwa individu itu memiliki potensi untuk memahami kelebihan-kelebihan dan keterbatasanketerbatasannya itu. Tindakan selalu melibatkan pikiran dan perasaan seseorang.

yaitu bahwa terapis adalah manusia yang pribadinya “utuh”. Terapis rasional emotif seringkali terbuka dan langsung dalam mengungkapkan keyakinan dan nilai mereka sendiri.terlalu hangat dan pengertian yang terlalu empatik bisa menjadi kontra produktif karena bisa memupuk rasa ketergantungan akan persetujuan dari pihak terapis. mereka menekankan bahwa menjadi aktif dan direktif bukanlah tidak sesuai dengan pengembangan hubungan profesional berdasarkan kompetensi. beberapa praktisi TRE memberikan penekanan pada pentingnya membangun hubungan saling mengerti dan hubungan kerjasama yang kadarnya lebih kuat daripada yang diberikan Ellis. . biblioterapi. empati. yaitu bahwa klien haruslah disenangi dan dicintai oleh terapis (atau sosok orang tua) (Ellis dalam Gerald Corey. dan Wessler dalam Geral Corey (1995:475-476) sebagai ramuan kunci dalam hal memaksimalkan keuntungan terapeutik. Wesler dan Wesler dalam Geral Corey (1995:475) sepakat bahwa kondisi terapeutik Rogers (pertimbangan positif tanpa syarat. melainkan berbagai teknik non personal bisa digunakan. Meskipun demikian. kalau semuanya itu tidak dilakukan. DiGiuseppe. 1995) tetapi selalu memberi contoh serta juga mengajarkan penerimaan secara penuh tanpa syarat. transferensi tidaklah dianjurkan. Seperti halnya Wesler dan Wesler. teknik apapun yang ada di dunia nampaknya tidak akan mampu menghasilkan sesuatu”. dan komitmen untuk menolong klien agar bisa berubah. serta modifikasi perilaku (Ellis dalam Gerald Corey. dan keaslian terapis) memang bisa menjadi fasilitator pada perubahan. tetapi kesemuanya itu dapat dilakukan dalam situasi yang direktif maupun tidak direktif. Namun. Terapis ingin menunjukkan bahwa hubungan transferensi itu didasarkan pada keyakinan yang irasional. Berkembangnya hubungan saling mengerti yang baik antara klien dan terapis dipandang Walen. terapis TRE bisa menerima kliennya sebagai orang yang tidak sempurna tanpa harus menunjukkan kehangatan hubungan antar pribadi. dan kalaupun itu sampai terjadi maka terapis mungkin akan menyerangnya. saling menghormati. Dalam hal ini. namun mereka menambahkan: “Kita juga percaya bahwa kondisi untuk bisa berubah ini adalah penting. Sebenarnya. Ada beberapa orang yang sedia untuk berbagi ketidaksempurnaan dirinya dengan klien sebagai cara untuk mempertanyakan pendapat klien yang tidak realistik. 1995). kredibilitas. seperti mengajar.

falsafah hidup yang toleran. 2. fleksibel. Pemahaman yang dicapai pada saat konselor membantu konseli untuk mencapai pemahaman ketiga. TUJUAN KONSELING Berangkat dari pandangannya tentang hakikat manusia tujuan konseling menurut Ellis pada dasarnya membentuk pribadi yang rasional. Ada tiga tingkatan insight yang perlu dicapai dalam RET. menghargai diri. cara berpikir irrasional itulah yang menjadi individu mengalami gangguan emosional dan karena itu cara-cara berpikirnya harus diubah menjadi yang lebih tepat yaitu cara berpikir yang rasional. Pemahaman terjadi ketika konselor/terapis membantu konseli untuk memahami bahwa apa yang mengganggu konseli pada saat ini adalah karena keyakinan yang irrasional terus dipelajari dan yang diperoleh sebelumnya. yaitu: 1. termasuk di dalamnya dapat mencapai keadaan yang dapat mengarahkan diri. dan menerima diri. TAHAPAN KONSELING Tahapan konseling di ambil dari beberapa literatur kemudian di gabungkan dan disimpulkan . Pemahaman (insight) dicapai ketika konseli memahami tentang perilaku penolakan diri yang dihubungkan pada penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwaperistiwa yang diterima yang lalu dan saat ini. dengan jalan mengganti cara-cara berpikir irrasional. Untuk mencapai tujuan-tujuan konseling itu maka perlu pemahaman konseli tentang sistem keyakinan atau cara berpikir sendiri. Ellis mengemukakan secara tegas pengertian tersebut mencakup minimal pandangan yang mengalahkan diri (self-defeating) dan mencapai kehidupan yang lebih realistik. Dalam pandangan Ellis. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hambatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan “melawan” keyakinan yang irrasional. berpikir ilmiah. 3. E.D.

bermain peran rasionalemotif. Meskipun perilaku mereka mungkin susah untuk bisa diterima. Berikut ini adalah beberapa dari teknik terapeutik yang emotif dan evokatif: 1. Meskipun TRE menggunakan beraneka ragam strategi terapeutik yang kuat dan emotif. Perlu dicatat bahwa biarpun ada pengajuan masalah oleh klien TRE terapis tidak perlu harus memfokuskan pada detail-detailnya. imajinasi rasional-emotif. 1955). pun juga mereka tidak lalu berusaha untuk menyuruh klien secara ekstensif mengungkapkan perasaan di sekitar masalahnya. Salah satu dari teknik utama yang digunakan terapis untuk menolong klien cara menerima dirinya sendiri adalah lewat model. Tujuan teknik semacam itu tidak hanya sekedar menyediakan pengalaman katartik tetapi juga menolong klien mengubah beberapa dari jalan pikiran. permodelan. mereka menghindar untuk mendapatkan persetujuan dari kliennya. tidak mau hidup dengan dasar “seharusnya” dan “harus”. Mereka tidak mendorong diutarakannya “cerita berkepanjangan tentang nestapa. Terapis mampu untuk menjadi dirinya sendiri dalam sesi yang sedang diselenggarakannya. dan bersedia untuk mengorbankan dirinya pada waktu ia terus menantang klien mereka. merasakan.F. termasuk didalamnya penerimaan tanpa syarat. dan latihan menyerang masa malu. Klien diajar tentang nilai dari penerimaan tanpa syarat. Imaginasi Rasional Emotif Teknik ini merupakan bentuk praktek mental yang intens yang didesain untuk menciptakan pola emosi baru. emosi dan perilaku mereka (Ellis & Yeager dalam Gerald Corey. 1995:479). TEKNIK KONSELING Secara emotif para praktisi TRE menggunakan berbagai prosedur. dan berperilaku tepat seperti yang akan mereka lakukan dalam . yang secara simpatik tetap mengikuti perasaan yang cengeng atau yang secara cermat dan efektif bisa terlihat emosi yang dibesar-besarkan” (Ellis dalam Gerald Corey. Mereka juga memberi contoh atau menunjukkan penerimaan sepenuhnya pada klien yang sulit. Strategi ini digunakan baik selama sesi terapi maupun dalam pekerjaan rumah dalam kehidupan sehari-hari. Klien membayangkan mereka sedang berpikir. mereka bisa memutuskan untuk melihat diri mereka sebagai orang yang berguna. Mereka diajar untuk melihat kenyataan betapa merusaknya tindakan untuk “memperkecil arti dirinya” karena kekurangan-kekurangan yang dianggap ada. dalam hal penggunaannya itu tidak dilakukan secara selektif dan diskriminatif.

Dia bermain peran dalam suatu wawancara dengan dekan mahasiswa pasca sarjana. dan berperilaku dalam kehidupan nyata (Maultsby dalam Gerald Corey. Klien bisa mengadakan gladi melaksanakan perilaku tertentu untuk mengeluarkan apa yang mereka rasakan dalam situasi tertentu. bagaimana menghayati perasaannya secara intens. Sebagai contoh seorang wanita mungkin menunda keinginannya untuk masuk fakultas pasca sarjana karena takut tidak akan diterima. Fokusnya adalah pada menggarap keyakinan irasional yang mendasarinya yang ada kaitannya dengan rasa tidak nyaman. 1995). merasakan. kita akan sampai pada suatu titik dimana kita tidak lagi merasa marah terhadap peristiwa seperti itu.imajinasi mereka dalam hal berpikir. dan menantang gagasan irasionalnya yang mengatakan bahwa ia harus bisa diterima dan bahwa dengan tidak diterimanya itu bararti bahwa ia adalah orang yang dungu dan tidak berkompetensi. 2. Terapis sering menginterupsi untuk menunjukkan kepada klien apa yang mereka katakan tentang diri mereka sendiri yang menciptakan gangguan mereka dan apa yang bisa mereka perbuat untuk mengubah perasaan mereka yang tidak pada tempatnya menjadi yang sesuai dengan keadaannya. Demikian mereka mampu mengubah perasaan mereka menjadi yang pada tempatnya. . Teknik seperti itu bisa diaplikasikan dengan baik pada situasi interpersonal dan situasi lain yang bermasalah untuk diri si individu. Ellis (1988) berpendapat bahwa apabila kita terus mempraktekkan imajinasi rasional emotif beberapa kali dalam seminggu selama beberapa minggu. bagaimana rasanya kalau tidak pada tempatnya menjadi marah terhadap suatu situasi. Kepada mereka bisa juga ditunjukkan bagaimana caranya membayangkan salah satu dari hal yang paling buruk yang menimpa dirinya. mencatat kecemasannya dan keyakinan tidak rasional yang mengarah ke kecemasan itu. maka mereka pun ada dalam posisi yang lebih baik untuk mengubah perilakunya dalam situasi itu. Pikiran itu tidak bisa diterima di sekolah pilihannya itulah yang mengeluarkan perasaannya bahwa dia adalah “bodoh”. 1995). Bermain peran Dalam bermain peran terdapat komponen emosional dan juga behavioral. dan kemudian bagaimana caranya mengubah pengalaman itu menjadi perasaan yang pada tempatnya (Ellis & Yeager dalam Gerald Corey.

mengajukan pertanyaan aneh-aneh pada kegiatan kuliah. Klien bisa diberi pekerjaan rumah untuk mengambil resiko melakukan sesuatu yang biasanya mereka takut melakukannya karena apa yang mungkin orang kira tentangnya. Mereka menggarap dirinya sendiri sehingga tidak akan merasa malu atau terhina. Kepada klien juga ditunjukkan bagaimana caranya menggunakan dialog yang keras dengan diri sendiri di mana mereka mengungkapkan keyakinan irasional mereka dan selanjutnya mempertanyakannya. Penggunaan Kekuatan dan Ketegaran Ellis telah menyarankan dipakainya kekuatan dan energi sebagai cara untuk menolong klien beranjak dari pemahaman intelektual ke emosional. Pelanggaran kecil terhadap norma sosial sering kali bertindak sebagai katalis yang berguna. atau tidak mau memberi tip pada pelayan yang memberikan pelayanan buruk. Prosedur ini biasanya melibatkan baik komponen emotif maupun behavioral. Dengan melakukan tugas-tugas seperti itu. Mereka terus mempraktekkan latihanlatihan ini sampai menyadari bahwa rasa malu mereka adalah ciptaan mereka sendiri dan samapai mereka mampu untuk berperilaku dengan cara yang kurang terkekang. minta obeng untuk orang kidal di toko P & D. Latihan Menyerang Masa Lalu Ellis dalam Gerald Corey (1995:480-481) menjelaskan bahwa telah dikembangkan latihan untuk menolong orang menghilangkan rasa malu yang tidak rasional akan perilakunya tertentu.3. Maksud utama dari latihan ini adalah bahwa klien berusaha untuk tidak merasa malu meskipun orang lain jelas-jelas tidak menyetujuinya. kemungkinannya klien akan mendapatkan bahwa orang sebenarnya tidak tertarik pada perilakunya itu. Dia kira bahwa kita bisa bersikeras untuk menolak rasa malu dengan mengatakan kepada diri kita masingmasing bahwa bukanlah suatu mala petaka kalau orang mengira bahwa kita itu dungu. Klien tidak didorong untuk melakukan latihanlatihan yang bisa menimbulkan bahaya bagi dirinya dan orang lain. Kadang-kadang terapis akan melakukan peran sebaliknya dengan jalan bergantung kuat-kuat pada . berakaian “seronok” untuk menarik perhatian. Klien akhirnya menemukan bahwa mereka sering tidak punya alasan untuk membiarkan reaksi orang lain atau kemungkinan tidak persetujuan orang lain menghentikan perbuatan yang ingin mereka lakukan. Misalnya. klien mungkin berteriak untuk menghentikan bus atau kereta api. bernyanyi dengan suara amat keras. 4.

Rasional emotif tidak menekankan kepada masa lalu sehingga dalam proses terapeutik ada hal-hal yang tidak diperhatikan. 4. 4. Kekurangan dari pendekatan ini adalah sebagai berikut: 1. G. Rasional emotif menekankan pada praktek terapeutik yang komprehensif dan eklektik. KESIMPULAN Pendekatan rasional emotif yang dikembangkan oleh Albert Ellis mempunyai kelebihan sebagai berikut: 1. Rasional Emotif memberikan penekanan untuk mengaktifkan pemahaman yang di dapat oleh klien sehingga klien akan langsung mampu mempraktekkan perilaku baru mereka. Kurang memperhatikan faktor ketidaksadaran dan pertahanan ego. 3. 3. Rasional Emotif menawarkan dimensi kognitif dan menantang klien untuk meneliti rasionalitas dari keputusan yang telah diambil serta nilai yang klien anut. klien diminta untuk berdebat dengan terapis dalam usaha untuk membujuknya untuk mau menghentikan gagasan-gagasan yang berfungsi keliru itu. Klien dengan mudahnya terbius dengan oleh kekuatan dan wewenang terapis dengan menerima pandangan terapis tanpa benar-benar menantangnya atau menginternalisasi ide-ide baru. 2. Kekuatan dan energi merupakan bagian mendasar dari latihan menyerang rasa malu. 2. Rasional emotif kurang melakukan pembangunan hubungan antara klien dan terapis sehingga klien mudah diintimidasi oleh konfrontasi cepat terapis.falsafah mengalahkan diri yang dianut klien. . Rasional emotif mengajarkan klien cara-cara mereka bisa melakukan terapi sendiri tanpa intervensi langsung dari terapis. HASIL PENELITIAN TENTANG PENDEKATAN Berisi resume hasil penelitian dari jurnal internasional sesuai dengan pendekatan yang diambil H.

2008. G. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press. Teori dan Praktik Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Media Abadi lewat email: kumpul_tugas_adhyatman@yahoo. Winkel. Bandung: Refika Aditama. Psikologi Konseling. 2007. Latipun.DAFTAR PUSTAKA Corey. Bimbingan dan Konseling di Instituti Pendidikan. 2007.com .