ANALISIS MORFOMETRI DAS WIDORO MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Adzicky Samaawa1), Mega Dharma Putra2), Sukma Impian

Riverningtyas3)
1)

Jurusan Geografi Lingkungan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada

Email : adzickysamaawa@mail.ugm.ac.id INTISARI
Karakter Daerah Aliran Sungai (DAS) terbentuk dari faktor alami (geologi, geomorfologi, tanah dll) dan faktor non alami seperti penutupan/penggunaan lahan yang membentuk suatu ekosistem sehingga perlu dilakukan suatu kegiatan monitoring dan evaluation (monev) pengelolaan DAS. Salah satu Karakter DAS yang terbentuk dari faktor alami adalah morfometri. Tujuan penelitian ini yaitu bertujuan untuk memahami karakteristik hidrologi DAS Widoro menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan parameter morfometri DAS yang dimiliki. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data vektor jaringan sungai dan peta Rupa Bumi Indonesia Jabung (Lembar 1408-313) dan Wonosari (Lembar 1408-311) skala 1:25.000 skala 1 : 25.000 terbitan Bakosurtanal. Metode yang digunakan adalah analisis morfometri DAS yang terdiri dari Bifurcation Ratio (Rb), Drainage density (Dd), Stream Frequency (Fs), Texture Ratio (T), Basin Relief (Bh), Relief Ratio (Rh), Ruggedness Number (Rn), Form Factor (Rf), Length of Overland Flow (Lof), dan Constant Channel Maintenance (C) menggunakan sistem informasi geografis (SIG). Melalui analisa hasil data perolehan berbagai parameter morfometri DAS Widoro menunjukkan bahwa kondisi alur Sungai Widoro yang ada memiliki kenaikan muka air dengan cepat, tanpa diikuti dengan kapasitas infiltrasi yang memadai sehingga memiliki kerentanan terhadap bencana banjir. Kondisi material bawah permukaan yang kedap air dengan permeabilitas yang rendah, kapasitas infiltrasi rendah , vegetasi yang jarang dan relief bergunung-gunung sehingga aliran permukaan yang dihasilkan tinggi. Kata Kunci : Karakteristik DAS, Morfometri, Sistem Informasi Geografis (SIG), bencana banjir.

Penggunaan teknologi tersebut sangat bermanfaat dalam menentukan beberapa parameter yang terdapat pada DAS Widoro. kerapatan aliran. Karakteristik dan variabel DAS meliputi beberapa variabel yang dapat diperoleh melalui pengukuran langsung. DAS dikelola secara terpadu (Integrated Watershed Management) adalah suatu proses formulasi dan implementasi suatu kegiatan yang menyangkut pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan manusia dalam suatu DAS dengan mempertimbangkan aspek sosial.1986.I. oleh karena itu dalam kegiatan monitoring dan evaluation (monev) pengelolaan DAS sebaiknya dilakukan secara terpadu dan menyeluruh. antar lain kelerengan. kerapatan drainase.000. PENDAHULUAN DAS merupakan suatu unit hidrologi yang dapat digunakan sebagai unit fisikbiologi dan sebagai unit sosial ekonomi dan sosial politik untuk perencanaan dan aktivitas pengelolaan sumber daya alam. bentuk DAS. tanah dll) dan faktor pengolahan manusia ( management) seperti penutupan/penggunaan lahan. data sekunder. Salah satu langkah awal di dalam pengelolaan DAS secara terpadu yaitu dengan melakukan identifikasi karakteristik DAS. panjang lereng. morfometri. Ketersediaan data keruangan yang cukup kompleks dapat diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). kelerengan ( slope). Beberapa parameter morfometri DAS antaralain luas. bentuk lereng. Salah satu Karakter DAS yang terbentuk dari faktor alami adalah morfometri. dan pola aliran. politik. geomorfologi. ekonomi dan institusi di dalam DAS dan di sekitar DAS untuk mencapai tujuan sosial tertentu (Dixon dan Easter. ketinggian. waktu . DAS diyakini merupakan satu kesatuan ekosistem.Morfometri DAS memiliki peranan terhadap proses pengatusan (drainase) air hujan yang jatuh di dalam wilayah DAS.). Kerja lapangan hanya untuk ground-check dan updating data pada beberapa titik lokasi yang representatif sehingga menghemat tenaga. beda tinggi. dan pola aliran adalah peta Rupa Bumi Indonesia Jabung (Lembar 1408313) dan Wonosari (Lembar 1408-311) skala 1:25. Sedangkan menurut Verstappen (1985) morfometri merupakan aspek kuantitatif dari suatu aspek bentuk lahan. peta. 2009). Morfometri DAS merupakan ukuran kuantitatif karakteristik DAS yang terkait dengan aspek geomorfologi (Widodo Harto R. bentuk lembah dan pola pengaliran. Karakteristik DAS terbentuk dari faktor alami (geologi. et al. dan dari data penginderaan jauh yang bersifat dinamik dan mutakhir.. Peta yang digunakan untuk analisis bentuk DAS.

Secara astronomis. Formasi ini berlokasi tipe di gunung Nglanggeran di pematang baturagung sebelah utara Wonosari. hasil analisa fosil dan bukti keadaan kontak satuan batuan di lapangan yang ditemukan yakni adalah selaras. Formasi ini tidak mengandung fosil sedangkan umurnya diperkirakan adalah Miosen awal-Miosen Tengah (Samosusastro.1956). terdapat juga terdapat juga tuff berlapis dan batupasir epiklastik yang hadir seempat sebagi sisipan. yaitu Satuan Breksi Nglanggaran dan Satuan Batupasir Sambipitu (Purbacaraka. termasuk tekstur batuan. Satuan Breksi termasuk dalam Formasi Nglanggran. diambil berdasarkan dari kemiripan karakteristik litologi.4” BT. Adapun hubungan stratigrafi antara satuan batuan yang satu dengan yang lain berdasarkan pada posisi stratigrafi. Kecamatan Patuk. Provinsi DI Yogyakarta. dan kandungan fosil.  Deskripsi umum fisiografi serta geologi dan geomorfologi regional Wilayah ini mencakup dua satuan batuan. II. 2011). Formasi ini terendapkan secara selaras di atas Satuan Batupasir Sambipitu dan hadir menjari di beberapa lokasi. DESKRIPSI DAERAH KAJIAN  Letak daerah kajian secara astronomis dan geografis. komposisi mineral. Koordinat wilayah ini berada di Zona 49M dengan koordinat X: 446500 – 453500 dan Y: 9126000 – 9129500. Desa Bunder. Berdasarkan ciri litologi yang dijumpai.dan biaya. struktur sedimen.Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memahami karakteristik hidrologi DAS menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan parameter morfometri DAS. . Satuan Breksi Nglanggeran ini menempati daerah utara dan melampar dari timur ke barat daerah telitian. Kabupaten Gunungkidul. Penamaan satuan batuan diatas. Lokasi wilayah kajian dalam penelitian ini terletak pada DAS (Daerah Aliran Sungai) Widoro. breksi tersebut merupakan breksi monomik yang terdiri dari satu macam fragmen (andesit) dengan ukuran 2-50cm. wilayah kajian ini terletak pada 08o 07’ 22” LS 111o 43’ 8.

000 yang diterbitkan oleh Bakosurtanal. seperti: slump. 1969). dan Batulempung yang sangat mencerminkan karakteristik turbidit dengan hadirnya struktur-struktur sedimen penciri. current ripple. semakin mengarah ke bagian muda (yaitu pada bagian tengah atas formasi). Satuan ini selaras di atas Formasi Nglanggeran. Pada Sungai Widoro. dan merupakan endapan lingkungan laut pada Miosen Awal bagian tengah – Miosen awal bagian akhir. dan laminasi. gradded bedding. serpih dan batulanau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis morfometri DAS menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Parameter yang digunakan dalam menganalisis morfometri DAS antara lain : . Hal ini mengindikasikan adanya proses pencampuran material karbonat dari laut dangkal pada saat formasi ini terendapkan. III. dengan sisipan Batu lanau. keterdapatan material vulkanik masih sering dijumpai pada bagian atas formasi. Di bagian atas dijumpai adanya struktur slump skala besar. convolute. material-material vulkanik ini mulai tergantikan oleh dominasi unsur-unsur karbonat. yang memperlihatkan ciri endapan turbidit. dimensi maupun bentuklahannya (Thornbury. Data yang digunakan yaitu data jaringan sungai dan data topografi yang diperoleh dari peta Rupa Bumi Indonesia Jabung (Lembar 1408-313) dan Wonosari (Lembar 1408-311) skala 1: 25. Terkadang dijumpai juga fragmen-fragmen koral dan foram besar. Pada Satuan Batupasir Sambipitu material vulkanik cukup mendominasi. Berbeda dari formasi sebelumnya dalam komposisi material vulkaniknya. Satuan batuan yang satu ini tersusun oleh perselingan antara batupasir tufaan.Formasi yang satu lagi adalah Satuan Batupasir Sambipitu. ripple. Satuan Batupasir Sambipitu terdiri dari endapan tebal batupasir. Secara umum. METODE PENELITIAN Morfometri merupakan ukuran dan analisis matematis konfigurasi permukaan bumi baik bentuk.

Bh= Basin relief.Tabel 1. Lb=Basin length Rn= Bh x Dd dimana. Lsm=rata-rata panjang sungai Lu=Jumlah panjang sungai orde. Nu=Jumlah segmen sungai orde u RL=Lu/Lu-1 dimana. Bh =Basin relief. Referensi Strahler(1964) Horton(1945) Strahler(1964) LINEAR Horton(1945) Schumn(1956) Schumn(1956) Schumn(1956) Schumn(1956) . Nu= Jumlah segmen sungai orde . Lu-1=Jumlah panjang sungai orde yang lebih rendah Rb=Nu/Nu+1 dimana. Metode untuk Menghitung Parameter Morfometri DAS Parameter Morfometri Orde Sungai Panjang Sungai (Lu) Rata-rata panjang sungai (Lsm) Stream length ratio (RL) Bifurcation ratio (Rb) RELIEF Basin relief (Bh) Relief ratio (Rh) Ruggedness Rumus Peringkat hierarki Panjang sungai Lsm= Lu/Nu dimana. Lu= Jumlah panjang sungai orde'u' . Nu+1= Jumlah segmen sungai orde yang lebih tinggi Jarak vertikal antara titik tertinggi dengan titik terendah DAS Rh=Bh/Lb dimana.

5/Lb A=Luas DAS Schumn(1956) Elongation ratio (Re) (km2). relief dan aerial (Tabel 1. Sungai orde 3 dibentuk dari pertemuan 2 alur sungai orde 2. Parameter yang digunakan dibagi menjadi 3 aspek yaitu linear. Horton(1932) Form factor (Rf) Lb= Panjang DAS Rc= A/Adp dimana. dan (3) menganalisis hasil perolehan parameter morfometri DAS Widoro dan keterkaitannya dengan kondisi geomorfologi maupun kondisi geologi di wilayah kajian. Lu= Jumlah panjang Horton(1932) semua sungai . dan Constant Channel Maintenance (C). Drainage Density (Dd). Cooke dan Circularity ratio AERIAL Adp= Luas lingkaran dengan keliling Pb Dornkamp (1974) (Rc) (km) Rc= 2*(A/π)0. Stream Frequency (Fs). Nu=Jumlah segmen Horton(1932) sungai orde u.Dd= Drainage Density Dd=Lu/A dimana. Basin Relief (Bh). Analisis morfometri DAS dilakukan menggunakan software ArcGIS 9. Form Factor (Rf). Morfometri DAS a) Morfometri (linier) DAS Hasil analisa data mengenai morfometri (linier) DAS Widoro seperti yang ditampilkan dalam tabel 2 dapat diketahui bahwa DAS terdiri dari 3 . A=Luas DAS (km2). 1. Relief Ratio (Rh). dan selanjutnya untuk orde sungai yang lebih tinggi. A=Luas DAS (km2) . Sungai orde satu adalah sungai yang terkecil dan tidak memiliki cabang lagi.) Parameter yang digunakan antara lain: Bifurcation Ratio (Rb). Dd= Drainage density Flow (Lof) constant channel Horton(1945) C = 1/Dd dimana. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data peta topografi dan data vektor jaringan sungai.3. (2) perhitungan parameter morfometri. (1) penentuan orde sungai dengan cara Horton. A=Luas DAS (km2) T = N1/P dimana . Texture Ratio (T). P= Keliling DAS Rf=A/(Lb)2 dimana. Dd= Drainage density maintenance (C). N1= Jumlah sungai orde Horton(1945) Texture ratio (T) 1. Ruggedness Number (Rn). Lb= Basin length Length of Overland Horton(1945) Lof = 1/2 Dd dimana. number (Rn) Drainage density (Dd) Stream frequency (Fs) Orde sungai dibuat menggunakan hukum Strahler (1964). V. Length of Overland Flow (Lof). A=Luas DAS (km2) Fs=Nu/A dimana. Sungai orde dua adalah sungai yang menjadi pertemuan dua alur sungai orde 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan yaitu.

70.20 -' 711. juga Dchumm (1956) yaitu perbandingan antara luas pengaliran sungai orde i+1 terhadap luas pengaliran sungai orde i (area ratio. Jumlah sungai terbanyak dalam ordo juga masih dimiliki oleh ordo 1 sebanyak 26 sungai.488. Tabel 2. Nilai Rb ordo 1 dan 2 (Rb < 3) dapat mewakili keadaan bahwa alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat.08 3.81 m dan terdiri dari 50 sungai.85 (orde 2). sedangkan penurunannya berjalan lambat (Rahayu.15 4651. 2009).36 (orde 1) dan 0.Li).99 m.81 18488.1.359.76 12219.90 JumlahOrde 50 26 11 13 Rata-rataPanjangSungai BifurcationRatio 707. . Indeks percabangan sungai yang diperoleh adalah 2. b) Morfometri (relief) DAS Hasil analisa data mengenai morfometri ( relief) DAS Widoro seperti yang ditampilkan dalam tabel 3 dapat diketahui bahwa Basin Relief (Bh) yang diperoleh melalui jarak vertikal antara titik tertinggi dengan titik terendah DAS adalah sebesar 550 m. Perhitungan Morfometri (linier) DAS Widoro Morfometri DAS SemuaOrde Orde 1 Orde 2 Orde 3 Sumber : Hasil Analisis Panjang(meter) 35359. Ordo yang memiliki total panjang sungai terpanjang adalah ordo 1 sebesar 18. S.Ai).99 -' Jumlah alur sungai pada masing-masing orde dapat ditetukan dari indeks percabangan sungai (Bifurcation Ratio) yang merupakan rasio antara nomor sungai orde ke i terhadap nomor sungai orde i+1 (Horton. et al. Namun rata-rata panjang sungai (Lsm) terbesar dimiliki oleh ordo 3 sebesar 939.orde sungai dengan panjang sungai seluruh ordo sebesar 35. Sedangkan Ruggedness number (Rn) yang diperoleh melalui besar Basin Relief (Bh) yang dikalikan dengan besar kerapatan drainase yang merupakan salah satu parameter morfometri ( areal) DAS adalah sebesar 0.Parameter ini kemudian dikembangkan oleh Strahler(1964) yaitu perbandingan panjang sungai orde ke i+1 terhadap panjang sungai orde i (length ratio. Sehingga dapat diketahui bahwa sungai-sungai yang berada di kedua orde tersebut memiliki kerentanan terhadap bencana banjir.89 0.38 939.15 m. 1945). Rasio relief (Rh) yang diperoleh melalui perbandingan antara Basin Relief (Bh) dengan Basin length atau panjang DAS (Lb) adalah sebesar 0.97 422.

c). kapasitas infiltrasi rendah dan bantuan yang kedap air pada masing-masing subDAS. Texture ratio (T) tinggi mengindikasikan potensi erosi dan aliran permukaan yang tinggi pula. Texture ratio (T) merupakan faktor penting dalam analisis morfometrik drainase yang tergantung pada litologi yang mendasarinya. Hal ini berarti akan menyebabkan aliran akan semakin cepat menuju saluran dan potensi banjir bandang akan tinggi. vegetasi yang jarang dan relief bergunung-gunung. Hal ini erat kaitannya dengan permeabilitas yang rendah. kapasitas infiltrasi dan aspek relief medan. Nilai Lof pada DAS sangat kecil. Drainage density atau kerapatan aliran merupakan ekspresi kedekatan antar saluran. Hal ini berarti bahwa berdasarkan faktor ini jumlah erosi dan aliran permukaan akan sedikit. . daerah bergunung dengan vegetasi yang jarang. Constant channel maintenance menunjukkan seberapa km2 dari luas DAS yang dibutuhkan untuk konservasi dan keberlanjutan sungai sepanjang 1 km. Nilai yang rendah pada constant channel maintenance (C) pada tiap subDAS mengindikasikan bahwa aliran permukaan (runoff) lebih besar dari permeabilitasnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai C di DAS rendah sehingga berdasarkan faktor ini air lebih banyak menjadi aliran permukaan. Length of overland flow (Lof) merupakan panjang air dipermukaan tanah sebelum terkonsentasi pada saluran. Nilai tekstur ratio di DAS Widoro rendah karena memiliki nilai kurang dari 1. Selain itu. Nilai Fs yang rendah akan menyebabkan aliran permukaan yang dihasilkan tinggi. Morfometri (areal) DAS Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai dari drainage density yang rendah dan stream frequency yang rendah (tabel 3). rendahnya nilai drainage density di DAS Widoro berkaitan dengan kondisi material bawah permukaan yang kedap air. Hal ini berarti air hujan yang jatuh ke permukaan cenderung menjadi aliran permukaan daripada meresap ke dalam tanah. nilai frekuensi sungai (Fs) di semua ordo sungai juga rendah. Nilai Dd yang rendah mengindikasikan daerah tersebut tersusun atas material bawah permukaan yang kedap (impermeabel).

. Th. An Integrated Framework with Studies from Asia and the Pacific.Hill Book Cooperation. Westview Press and London. Applied Geomorphological Survey and Natural Hazard Zoning. Easter. S. A. In K. New York : John Willey & Sons Thornbury. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data morfometri DAS Widoro yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa alur sungai mempunyai kenaikan muka air banjir dengan cepat. Principles of Geomorphology.10. Integrated Watershed Management: An Approach to Resource Management. Quantitative Geomorphology of Drainage Basins and Channel Networks. Easter. McGraw.D. H.N. vegetasi yang jarang dan relief bergunung-gunung sehingga aliran permukaan yang dihasilkan tinggi. 1932.A. Geological Society of America. W. pp. kapasitas infiltrasi rendah . New York.M.1 Schumm. .Dixon. Watershed Resources Management. Hufschmid. DAFTAR PUSTAKA Dixon. Horton. 350-36. 1985. J. DAS Widoro berkaitan dengan kondisi material bawah permukaan yang kedap air dengan permeabilitas yang rendah.VI. J. Vol . Studies in Water Policy and management. R. Tansactions of American Geophysical Association.E. 1964. No. John Wiley and Sons.W. 1986. 13. A. Drainage Basin Characteristics.. sedangkan penurunannya berjalan lambat sehingga memiliki kerentanan terhadap bencana banjir. Handbook of applied hydrology. and M.67. W. Strahler.1969. Enschede: ITC. Verstappen. New Jersey. New York Strahler (1987).A.Honolulu. Evolution of Drainage Systems and Slopes in Badlands at Perth Amboy. Modern Physical Geography. K. 1956.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful