P. 1
ASKEP KOLELITIASIS

ASKEP KOLELITIASIS

|Views: 168|Likes:
Published by Lean Ws
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KOLELITIASIS

TINJAUAN KASUS
1) Pengertian
Kolelitiasis (batu empedu) adalah adanya batu yang terdapat pada kandung empedu. Yang biasanya terbentuk dalam empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu. (Studdart & Brunner, 2002)



2) Etiologi
Kolelitiasis (kalkulus/kalikuli, batu empedu) biasanya terbentuk dalam kandung empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmen empedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein.
Ada 2 tipe utama batu empedu:
• Batu empedu kolesterol
Terjadi karena kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan produksi empedu. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati. Keadaan ini menyebabkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu. Jumlah wanita yang menderita batu kolesterol dan penyakit kandung empedu adalah 4 kali lebih banyak dari pada laki-laki. Biasanya wanita tersebut berusia lebih dari 40 tahun, mulipara dan obesitas. Insiden pembentukan batu empedu meningkat pada para pengguna pil kontrasepsi, esterogen dan klofibrat yang diketahui meningkatkan saturasi kolesterol bilier. Insiden pembentukan batu meningkat bersamaan dengan pertambahan umur. Peningkatan insiden ini terjadi akibat bertambahnya sekresi kolesterol oleh hati dan menurunnya sistesis asam empedu. Disamping itu, risiko terbentuknya batu empedu juga meningkat akibat malabsorpsi garam-garam empedu pada pasien dengan penyakit gastrointestinal dan penyandang penyakit diabetes.
• Batu pigmen empedu
Kemungkinan akan terbentuk bila pigmen yang tak-terkonjugasi dalam empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu. Risiko terbentuknya batu semacam ini semakin besar pada pasien sirosis, hemolisis dan enfeksi percabangan bilier. Batu ini tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan operasi.
2 macam batu pigmen empedu:
1. Batu pigmen hitam: terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi. Banyak ditemukan pada penderita dengan hemolisi kronik atau sirosis hati. Terdiri dari bilirubin terpolimerisasi. Terbentuk dalam kandung empedu dengan empedu yang steril. Patogenesanya belum jelas betul.
2. Batu kalsium bilirubinat/Batu pigmen coklat:
Batu pigmen coklat, terbentu akibat faktor stasis dan infeksi saluran empedu.
Infeksi saluran empedu àE. coli àenzim beta glukoronidase dari bakteri à bilirubin bebas & asam glukoronat. Kalsium + bilirubinà kalsium bilirubinat yang tidak larut
Batu pigmen coklat terbentuk disaluran empedu yang terinfeksi

3) Patofisiologi
Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang paling penting pada pembentukan batu empedu. Kolesterol yang berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu. Statis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu dapat menyebabkan stasis. Faktor hormonal khususnya selama kehamilan dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan merupakan insiden yang tinggi pada kelompok ini.

4) Manifestasi Klinis
Batu empedu bisa terjadi secara tersembunyi karena tidak menimbulkan rasa nyeri dan hanya menyebabkan gejala gastrointestinal yang ringan. Batu tersebut mungkin ditemukan secara kebetulan pada saat dilakukan pembedahan atau evaluasi untuk gangguan yang tidak berhubungan sama sekali.
Penderita penyakit kan
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KOLELITIASIS

TINJAUAN KASUS
1) Pengertian
Kolelitiasis (batu empedu) adalah adanya batu yang terdapat pada kandung empedu. Yang biasanya terbentuk dalam empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu. (Studdart & Brunner, 2002)



2) Etiologi
Kolelitiasis (kalkulus/kalikuli, batu empedu) biasanya terbentuk dalam kandung empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmen empedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein.
Ada 2 tipe utama batu empedu:
• Batu empedu kolesterol
Terjadi karena kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan produksi empedu. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati. Keadaan ini menyebabkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu. Jumlah wanita yang menderita batu kolesterol dan penyakit kandung empedu adalah 4 kali lebih banyak dari pada laki-laki. Biasanya wanita tersebut berusia lebih dari 40 tahun, mulipara dan obesitas. Insiden pembentukan batu empedu meningkat pada para pengguna pil kontrasepsi, esterogen dan klofibrat yang diketahui meningkatkan saturasi kolesterol bilier. Insiden pembentukan batu meningkat bersamaan dengan pertambahan umur. Peningkatan insiden ini terjadi akibat bertambahnya sekresi kolesterol oleh hati dan menurunnya sistesis asam empedu. Disamping itu, risiko terbentuknya batu empedu juga meningkat akibat malabsorpsi garam-garam empedu pada pasien dengan penyakit gastrointestinal dan penyandang penyakit diabetes.
• Batu pigmen empedu
Kemungkinan akan terbentuk bila pigmen yang tak-terkonjugasi dalam empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu. Risiko terbentuknya batu semacam ini semakin besar pada pasien sirosis, hemolisis dan enfeksi percabangan bilier. Batu ini tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan operasi.
2 macam batu pigmen empedu:
1. Batu pigmen hitam: terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi. Banyak ditemukan pada penderita dengan hemolisi kronik atau sirosis hati. Terdiri dari bilirubin terpolimerisasi. Terbentuk dalam kandung empedu dengan empedu yang steril. Patogenesanya belum jelas betul.
2. Batu kalsium bilirubinat/Batu pigmen coklat:
Batu pigmen coklat, terbentu akibat faktor stasis dan infeksi saluran empedu.
Infeksi saluran empedu àE. coli àenzim beta glukoronidase dari bakteri à bilirubin bebas & asam glukoronat. Kalsium + bilirubinà kalsium bilirubinat yang tidak larut
Batu pigmen coklat terbentuk disaluran empedu yang terinfeksi

3) Patofisiologi
Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang paling penting pada pembentukan batu empedu. Kolesterol yang berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu. Statis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu dapat menyebabkan stasis. Faktor hormonal khususnya selama kehamilan dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan merupakan insiden yang tinggi pada kelompok ini.

4) Manifestasi Klinis
Batu empedu bisa terjadi secara tersembunyi karena tidak menimbulkan rasa nyeri dan hanya menyebabkan gejala gastrointestinal yang ringan. Batu tersebut mungkin ditemukan secara kebetulan pada saat dilakukan pembedahan atau evaluasi untuk gangguan yang tidak berhubungan sama sekali.
Penderita penyakit kan

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Lean Ws on May 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2015

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KOLELITIASIS TINJAUAN KASUS 1) Pengertian Kolelitiasis (batu empedu) adalah adanya batu

yang terdapat pada kandung empedu. Yang biasanya terbentuk dalam empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu. (Studdart & Brunner, 2002)

2)

Etiologi Kolelitiasis (kalkulus/kalikuli, batu empedu) biasanya terbentuk dalam kandung empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmen empedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein. Ada 2 tipe utama batu empedu: • Batu empedu kolesterol Terjadi karena kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan produksi empedu. Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati. Keadaan ini menyebabkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah

Terdiri dari bilirubin terpolimerisasi. Risiko terbentuknya batu semacam ini semakin besar pada pasien sirosis. 2 macam batu pigmen empedu: 1. Banyak ditemukan pada penderita dengan hemolisi kronik atau sirosis hati. Jumlah wanita yang menderita batu kolesterol dan penyakit kandung empedu adalah 4 kali lebih banyak dari pada laki-laki. Disamping itu. Kalsium + bilirubin à kalsium bilirubinat yang tidak larut Batu pigmen coklat terbentuk disaluran empedu yang terinfeksi 3) Patofisiologi Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang paling penting pada pembentukan batu empedu. mulipara dan obesitas. risiko terbentuknya batu empedu juga meningkat akibat malabsorpsi garam-garam empedu pada pasien dengan penyakit gastrointestinal dan penyandang penyakit diabetes. Peningkatan insiden ini terjadi akibat bertambahnya sekresi kolesterol oleh hati dan menurunnya sistesis asam empedu. Batu kalsium bilirubinat/Batu pigmen coklat: Batu pigmen coklat. Kolesterol yang berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu. terbentu akibat faktor stasis dan infeksi saluran empedu. perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut. Batu ini tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan operasi. esterogen dan klofibrat yang diketahui meningkatkan saturasi kolesterol bilier. • Batu pigmen empedu Kemungkinan akan terbentuk bila pigmen yang tak-terkonjugasi dalam empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu. Batu pigmen hitam: terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi. Statis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif. hemolisis dan enfeksi percabangan bilier. Faktor hormonal . Infeksi saluran empedu àE. Gangguan kontraksi kandung empedu dapat menyebabkan stasis. Insiden pembentukan batu meningkat bersamaan dengan pertambahan umur. Patogenesanya belum jelas betul. 2. Insiden pembentukan batu empedu meningkat pada para pengguna pil kontrasepsi.empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu. Biasanya wanita tersebut berusia lebih dari 40 tahun. coli àenzim beta glukoronidase dari bakteri à bilirubin bebas & asam glukoronat. Terbentuk dalam kandung empedu dengan empedu yang steril.

khususnya selama kehamilan dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan merupakan insiden yang tinggi pada kelompok ini. Gangguan epigastrium. Rasa nyeri dan kolik bilier. Dalam keadaan distensi. dan menghambat pengembangan rongga dada. yaitu: getah empedu oleh darah yang tidak lagi di bawa ke dalam doudenum akan diserap oleh darah dan penyerapan empedu ini membuat kulit dan membran mukosa menjadi kuning. rasa nyeri bukan bersifat kolik melainkan persisten. Keadaan ini sering disertai dengan gejala-gatal-gatal yang mencolok pada kulit. Pasien dapat mengalami kolik bilier disertai nyeri hebat pada abdomen kuadran kanan atas yang menjalar ke punggung atau bahu kanan. kandung empedu akan mengalami distensi dan akhirnya infeksi. Gejalanya bisa bersifat akut atau kronis. distensi abdomen dan nyeri yang samar pada kuadran kanan atas abdomen dapat terjadi. Batu tersebut mungkin ditemukan secara kebetulan pada saat dilakukan pembedahan atau evaluasi untuk gangguan yang tidak berhubungan sama sekali. Pasien akan membolak balik tubuhnya dengan gelisah karena tidak mampu menemukan posisi yang nyaman baginya. bagian fundus kandung empedu akan menyentuh dinding abdomen pada daerah kartolago kosta sembilan dan sepuluh kanan. Pada sebagian pasien. Pasien akan menderita panas dan mungkin teraba massa padat pada abdomen. Obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam doedenum akan menimbulkan gejala yang khas. Jika duktus sistikus tersumbat oleh batu empedu. Sentuhan ini menimbulkan nyeri tekan yang mencolok pada kuadran kanan atas ketika pasien melakukan inspirasi dalam. 4) Manifestasi Klinis Batu empedu bisa terjadi secara tersembunyi karena tidak menimbulkan rasa nyeri dan hanya menyebabkan gejala gastrointestinal yang ringan. . Ikterus dapat dapat dijumpai di antara penderita penyakit kandung empedu dengan prosentase yang kecil dan biasanya terjadi pada obstruksi duktus koledokus. seperti rasa penuh. Penderita penyakit kandung empedu akbat batu empedu dapat mengalami dua jenis gejala: gejala yang disebabkan oleh penyakit pada kandung empedu itu sendiri dan gejala yang terjadi akibat obstruksi lintasan empedu oleh batu empedu. rasa nyeri ini biasanya disertai dengan mual muntah dan bertambah hebat dalam waktu beberapa jam sesudah makan makanan dalam porsi besar. Serangan kolik bilier semacam ini disebabkan oleh kontraksi kandung empedu yang tidak dapat mengalirkan empedu keluar akibat tersumbatnya saluran oleh batu.

5) Tes Diagnostik Beberapa prosedur diagnostik untuk pemeriksaan kolelitiasis adalah sebagai berikut :  Pemeriksaan sinar X abdomen : hanya 15-20 % batu empedu yang mengalami cukup kalsifikasi untk dapat tampak pada pemeriksaan ini  USG : Lebih cepat dan akurat (akurasi 95 %).  breath test dilakukan untuk mengukur kemampuan hati dalam memetabolisir sejumlah (ditelan) banyaknya maupun intravena dalam obat. Ekskresi pigmen empedu oleh ginjal akan membuat urine berwarna sangat gelap. (melalui pernafasan pembuluh penderita darah). dan penuntun pada saat memasukkan jarum untuk mendapatkan contoh jaringan biopsi. D. Jika batu empedu terus menyumbat saluran tersebut. menunjukkan obat-obat tersebut ditandai dengan perunut radioaktif. dan biasanya pekat yang disebut ”clay-colored”. Defisiensi vitamin K dapat mengganggu pembekuan darah yang normal. paling aman dan paling peka untuk memberikan gambaran dari kandung empedu dan saluran empedu. pasien juga akan menunjukkan gejala defisiensi vitamin-vitamin ini jika obstruksi bilier berjalan lama. E dan K yang larut dalam lemak. Bilamana empedu terlepas dan tidak lagi menyumbat. Difisiensi vitamin. Obstruksi aliran empedu juga mengganggu absorpsi vitaminA.usg doppler bisa digunakan untuk menunjukkan aliran darah dalam pembuluh darah di hati. terbatas pada kasus yang belum bisa didiagnosis dengan USG.selain itu menghindari pasien terpajan radiasi ionisasi. Koleskintografi : prosedur ini kurang dianjurkan. nekrosis dan perforasi disertai peritonitis generalisata. usg dengan mudah membedakan sakit kuning (jaundice) yang disebabkan oleh penyumbatan saluran empedu dari sakit kuning yang disebabkan oleh kelainan fungsi sel hati. dapat digunakan pada penderita disfungsi hati dan dan ikterus.Perubahan warna urine dan feses. dilakukan dengan menyuntikkan preparat radioaktif melalui IV. . Karena itu. penyumbatan ini dapat mengakibatkan abses.  Kolesistografi : digunakan jika Usg tidak ada atau hasilnya meragukan. diberikan per-oral radioaktivitas banyaknya obat yang dimetabolisir oleh hati. usg merupakan pemeriksaan paling murah. kandung empedu akan mengalirkan isinya keluar dan proses inflamasi segera mereda dalam waktu yang relatif singkat. Feses yang tidak lagi diwarnai oleh pigmen empedu akan tampak kelabu.

yang diikat oleh sel-sel hati. radioaktivitas dilihat dengan kamera sinar gamma yang dipasangkan pada sebuah komputer. kolangiografi transhepatik perkutaneus menggunakan jarum panjang bisa yang dimasukkan melalui kulit ke dalam hati. digunakan rontgen secara jelas menunjukkan saluran empedu.  ERCF ( Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography) : memungkinkan visualisasi struktur secara langsung retrograd terbagi menjadi : suatu kolangiopankreatografi endoskopik merupakan pemeriksaan dimana suatu endoskopi dimasukkan ke dalam mulut. menyebabkan beberapa penderita mengalami klaustrofobia (takut akan tempat sempit). zat tersebut disuntikkan secara langsung foto rontgen akan menunjukkan gambaran yang jelas dari saluran empedu. melewati lambung dan usus dua belas jari. terutama penyumbatan di dalam hati. selama suatu pembedahan. tetapi karena menggunakan sinar x dan biayanya mahal. saluran empedu. pemeriksaan ini lebih mahal dari ct scan. yang disuntikkan ke dalam tubuh dan diikat oleh organ tertentu. empedu. mirip dengan ct scan. seperti perlemakan hati (fatty liver) dan jaringan hati yang menebal secara abnormal (hemokromatosis).  MRI memberikan gambaran yang sempurna.  skening hati merupakan penggambaran radionuklida yang menggunakan substansi radioaktif.  ct scan bisa memberikan gambaran hati yang sempurna dan terutama digunakan untuk mencari tumor. membutuhkan waktu lebih lama dan penderita harus berbaring dalam ruangan yang sempit. disuntikkan zat radiopak ke dalam salah satu dari saluran empedu. pemeriksaan ini bisa menemukan kelainan yang difus (tersebar). diambil foto rontgen dari menuju ke saluran empedu. suatu zat radiopak kemudian disuntikkan ke dalam saluran empedu dan pemeriksaan ini menyebabkan peradangan pada pankreas (pankreatitis) pada 3-5% penderita. . kemudian usg untuk menuntun masuknya jarum. imaging radionuklida (radioisotop) menggunakan bahan yang mengandung perunut radioaktif. pemeriksaan ini tidak banyak digunakan. kolangiografi operatif menggunakan zat radiopak yang bisa dilihat kedalam pada saluran rontgen.

Suplemen bubuk tinggi protein dan karbohidrat dapat diaduk ke dalam susu skim. melalui selang atau drain yang . 3. kecuali jika kondisi pasien memburuk. roti. kopi atau teh. Kepada pasien perlu diingatkan bahwa makanan yang berlemak dapat menimbulkan serangan baru. sayuran yang tidak membentuk gas. analgesik dan antibiotik. Pengangkatan batu empedu tanpa pembedahan Pelarutan batu empedu Beberapa metode telah digunakan untuk melarutkan batu empedu dengan menginfuskan suatu bahan pelarut (monooktanoin atau metil tertier butil eter (MTBE)) ke dalam kandung empedu. 2. pengisapan nasogastrik. daging tanpa lemak. Farmakoterapi o o Litolisis lokal : dengan memasukkan Methyl terbuthyl ether melalui kateter ke kandung empedu dengan bimbingan USG Litolisis sistemik: asam cenodeoksikolik dan asam penyebab melalui farmakoterapi. batu tidak besar. prosedur endoskopis serta ursodeoksicholik. Pelarut tersebut dapat diinfuskan melalui jalur berikut ini: melalui selang atau kateter yang dipasang perkutan langsung ke dalam kandung empedu. foto rontgen sederhana sering bisa menunjukkan suatu batu empedu yang berkapur. nasi atau ketela. 1. cairan infus. Makanan berikut ini ditambahkan ditambahkan dapat menerimanya: buah yang dimasak. Penatalaksanaan pendukung dan diet Kurang lebih 80% dari pasien-pasien inflamasi akit kandung empedu sembuh dengan istirahat. Penatalaksanaan diet merupakan bentuk utama pada pasien yang hanya mengalami intoleransi terhadap makanan berlemak dan mengeluhkan gejala gastrointerstinal. Mekanisme à mengurangi penyerapan kolesterol intestinal dan mengurangi sintesis kolesterol hepatik. kentang yang dilumatkan. Syarat: batu tipe kolesterol. Intervensi bedah harus ditunda sampai gejala akut mereda dan evaluasi yang lengkap dapat dilaksanakan. empedu berfungsi baik pada kolesistografi oral. Diet yang diterapkan segera setelah suatu serangan akut biasanay dibatasi pada makanan cair rendah lemak. 6) • Penatalaksanaan Penatalaksanaan Nonbedah Tujuan utama terapi adalah medis untuk mengurangi insiden episode nyeri akut kandung empedu melalui penatalaksanaan pendukung serta diet dan unutk menghilangkan intervensi bedah.

Pengangkatan non bedah Beberapa metode nonbedah digunakan untuk mengeluarkan batu yang belum terangkat pada saat kolesistektomi atau yang terjepit dalam duktus koledokus. jika pasien pasien tidak dapat makan dengan baik. Disamping pemeriksaan sinar-X pada kandung empedu. untuk mengeilangkan penyebab kolik bilier dan untuk mengatasi kolesistitis akut. Sesudah endoskop terpasang. pelebaran ini memungkinkan batu yang terjepit dalam duktus koledokus untuk bergerak spontan ke dalam doudenum. jaring digunakan untuk memegang dan menarik keluar batu yang terjepit dalam duktus koledokus.dimasukkan melalui saluran T-tube untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada saat pembedahan. atau kateter bilier transnasal. Tetapi komponen darah dapat dikerjakan sebelum pembedahan. pemberian larutan glukosa secara intravena bersama suplemen . Alat ini digunakan untuk memotong serabut-serabut mukosa atau papila dari sfringter Oddi sehingga mulut sfingter tersebut dapat diperlebar. Kebutuhan nutrisi perlu dipertimbangkan. Vitamin K diberikan jika kadar protrombin pasien rendah. pembuatan foto toraks. alat pemotong dimasukkan leawat endoskop tersebut ke dalam ampula Vater dari duktus koledokus. Alat lain yang dilengkapi dengan jaring atau balon kecil pada ujungnya dapat dimasukkan melalui endoskop untuk mengeluarkan batu empedu. Sebuah kateter dan alat disertai jaring yang terpasang padanya disisipkan lewat saluran T-tube atau lewat fistula yang terbentuk pada saat insersi T-tube. • Penatalaksanaan Bedah Kolesistektomi à operatif atau laparoskopik Penanganan bedah pada penyakit kandung empedu dan batu empedu dilaksanakan untuk mengurangi gejala yang sudah berlangsung lama. melalui endoskop ERCP. Pembedahan dapat efektif kalau gejala yang dirasakan pasien sudah mereda atau bisa dikerjakan sebagai suatu prosedur darurat bilamana kondisi pasien mengharuskan. Penatalaksanaan Praoperatif. Prosedur litotripsi ini telah berhasil memecah batu empedu tanpa pembedahan. ESWL (extra corporeal shock wave lithotripsi) à pemecahan dengan gelombang kejutan elektrohidrolik dan elektromagnetik. Prosedur kedua adalah penggunaan endoskop ERCP. elektrokardiogram dan pemeriksaan faal hati dapat dilakukan.

dan kateter untuk drinage untuk mencegah kebocoran getah empedu ke dalam rongga peritoneal. Kolesistektomi. batu serta getah empedu atau cairan dariange yang purulen duikeluarkan. pasien sering enggan untuk bergerak dan membalikkan tubuhnya. pasien dapat kembali lagi untuk menjalani umunya koledokostomi dilakukan bersama-sama . Kolesitektomi perkutan. Pasien biasanya ditempatkan pada meja operasi dengan abdomen bagian atas ditinggikan menggunakan bantal udara atau kantong pasir agar daerah mudah diakses. Caranya. Bedah kolesistostomi. dan getah empedu sampaiedema merata. Instruksi dan penjelaskan tentang mobilisasi tubuh dan nafas dalam harus disampaikan sebelum pembedahan dilakukan. Kandung empedu biasanya juga mengandung kolesistektomi. Persiapan sebelum operasi kandung empedu serupa dengan persiapan bagi setiap tindakan laparatomi abdominal bagian atas. Telah membawa telah membawa perubahan yang dramatis pada cara pendekatan dalam penatalaksanaan kolesistitis. Setelah batu dikeluarkan. Kandung empedu dibuka melalui pembedahan. Setelah sembuh dari serangan kolesistektomi. biasanya dipasang sebuah kateter ke dalam dukus tersebut untuk drainage batu. Kolesistektomi Laparoskopik atau endoskopik. di bawah pengaruh anestesi. Dikerjakan bila kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi yang lebih luas atau bila reaksi inflamasi yang akut membuat sistem bilier tidak jelas. Minikolesistektomi. Intervensi Bedah dan sistem drainage. Kepada pasien harus diberitahukan bahwa segera setelah setelah tindakan pembedahan biasanya dibutuhkan pemasangan selang untuk drainage dan tindakan pengisapan. Kateter ini dihubungakn dengan selang drainage gravitas. Koledokostomi. Kolesistektomi perkutan telah dilakukan dalam penanganan dan penegakan diagnosis kolesistitis akut pada pasien-pasien yang berisiko jika harus menjalani tindakan pembedahan atau anestesi umum.hidrosilat protein mungkin diperlukan untuk membantu kesembuhan luka dan mencegah kerusakan hati. Merupakan salah satu prosedur bedah yang paling sering dilakukan. Karena insisi abdomen dilakukan pada lokasi yang lebih tinggi. Merupakan prosedur bedah untuk mengeluarkan batu kandung empedu lewat luka insisi selebar 4 cm. sebilah jarum yang halus ditusukkan lewat dinding abdomen dan tepi hati ke dalam kandung empedu untuk dekompresi saluran akut. insisi dilakukan pada duktus koledokus untuk mengeluarkan batu.

Meskipun sakit yang kronis banyak diderita pasien lansia. selama dan sesudah pelaksanaan tindakan.1 Aktivitas dan istirahat Gejala Tanda 2.2 2.1. hipotensi. Walaupun insiden batu empedu meningkat bersamaan dengan pertambahan usia. PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN 2. Meskipun pembedahan pada lansia berisiko akibat penyakit yang telah ada sebelumnya. Pertimbangan gerontologi.1. Teraba massa pada kuadran kanan atas Urine gelap. koesistektomi efektif biasanya lebih dapat ditolerir dan dapat dilaksanakan dengan risiko rendah jika pengkajian dan perawatan yang cermat diberikan sebelum. berkeringat. nyeri. perubahan mental.1.1. takikardia dan takipnea. menggigil dan ikterus.4 Makan/minum (cairan) Gejala : Anoreksia. dispepsia : Takikardi. steatorea 2.3 Sirkulasi Tanda Eliminasi Gejala Tanda : Perubahan warna urine dan feses : Distensi abdomen. 2.empedu. Dengan prosedur ini hampir selalu dilaporkan bahwa rasa nyeri dan gejala serta tanda-tanda dari sepsis dan kolelitiasis berkurang atau menghilang dengan segera. flatus. mual/muntah Tidak toleran terhadap lemak dan makanan pembentuk gas. diaporesis : Kelemahan : Gelisah. nyeri epigastrium. Antibiotik diberikan sebelum. gejala yang dialami pasien lansia mungkin bukan gambaran khas yang mebcakup demam. tidak dapat makan. kelelahan . Risiko mortalitas dan morbiditas akan meningkat pada pasien lansia yang menjalani pembedahan darurat penyakit saluran bilier dan dapat membawa kematian. selama dan sesudah tindakan bedah tersebut. namun angka mortalitas akibat komplikasi sesrius dari penyakit saluran bilier sendiri juga tinggi. regurgitasi berulang. Penyakit saluran bilier pada lansia dapat disertai atau didahului oleh gejala shock septik: oliguria. Intervensi bedah untuk penyakit pada saluran bilier merupakan prosedur yang umu dikerjakan pada lansia. pekat Feses warna tanah liat.

1. gangguan pencernaan lemak sehubungan dengan obstruksi aliran empedu. diaporesis.. . prognosis dan kebutuhan pengobatan 2. peyakit inflamasi usus.2. 2.2 2. K) 2. pembatasan berat badan sesuai aturan.1 2. distensi.1 2.7 Keamanan Tanda : Nyeri lepas. gangguan proses pembekuan Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d mual/muntah.2 2.2. nyeri.3 Nyeri (akut) b/d obstruksi/spasme duktus Risiko terhadap kekurangan volume cairan b/d muntah.5 Gejala : Kegemukan.4 Menghilangkan nyeri dan meningkatkan istirahat Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit Mencegah komplikasi Memberikan informasi tentang proses penyakit. dengan kulit berkeringat dan gatal Kecenderungan perdarahan (defisiensi vit.1.2.3. menggigil Ikterik.3 Diagnosa Keperawatan 2.Tanda 2. tanda Murphy + : Peningkatan frekuensi pernafasan Pernafasan tertekan ditandai oleh nafas pendek dan dangkal : Demam. adanya penurunan berat badan : Nyeri abdomen atas berat.2 Prioritas Keperawatan 2.2.3 2. riwayat DM. dispepsia. Nyeri/kenyamanan Tanda 2. gangguan nutrien.3. otot tegang atau kaku bila kuadran kanan atas ditekan.8 Penyuluhan/pembelajaran Gejala : Kecenderungan keluarga untuk terjadi batu empedu Adanya kehamilan/melahirkan.6 Respirasi Tanda 2.1.3.1. dapat menyebar ke punggung atau bahu kanan Kolik epigastrim tengah sehubungan dengan makan Nyeri mulai tiba-tiba dan biasanya memuncak dalam 30 menit. diskrasias darah Pertimbangan rencana Pemulangan Memerlukan dukungan dalam perubahan diet/penurunan berat badan.

Nyeri (akut) b/d obstruksi/spasme duktus laporan nyeri. Dingin pada sekitar ruangan membantu meminimalkan ketidaknyamanan kulit 5.3.4 2. Catat respon terhadap obat.3. Kolaborasi untuk pemberian obat dan prosedur R/. kolik) R/. diaporesis. tidak mengenal sumber informasi.5 2. kerusakan otot. Tingkatkan tirah baring. gangguan proses pembekuan : Nyeri hilang/terkontrol Klien dapat relaksasi Ditandai dengan: . 1. namun pasien akan melakukan posisi nyaman secara alamiah 4.6 Gangguan integritas kulit/jaringan b/d pemasangan drainase T-tube.4 Intervensi Keperawatan Dx. 2. Meningkatkan istirahat.3.me. Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan/perbaikan penyakit. Nyeri berat yang tidak hilang dengan tindakan rutin dapat menunjukkan terjadinya komplikasi/kebutuhan terhadap intervensi lebih lanjut. dan laporkan bila nyeri hilang R/. 2. Observasi dan catat lokasi. memusatkan kembali perhatian. Kontrol suhu lingkungan R/. nadi) Fokus menyempit Kriteria Hasil Perencanaan: 1. terjadinya komplikasi dan keefektifan intervensi 2. salah informasi. Tirah baring pada posisi fowler rendah dapat menurunkan tekanan intraabdomen. perubahan metabolisme. Dorong menggunakan teknik relaksasi R/. Pola nafas tidak efektif b/d nyeri. pengaruh bahan kimia. 3. biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman R/. hilang timbul. distensi. Risiko terhadap kekurangan volume cairan b/d muntah. penurunan energi/kelemahan. dapat meningkatkan koping 6. Menurunkan nyeri hebat dan menghancurkan batu empedu Dx. beratnya (skala 0-10) dan karakter nyeri (menetap.2. pengaruh bahan kimia Kurang pengetahuan tentang prognosa dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pengetahuan/mengingat. perilaku berhati-hati Respon otonomik (perubahan TD. kolik bilier (gelombang nyeri) Wajah menahan nyeri.

kecepatan jantung tidak teratur. perhatikan haluaran kurang dari masukan. Menurunkan rangsangan pada pusat muntah 4. menurunkan risiko perdarahan oral 5. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d mual/muntah. Muntah berkepanjangan. turgor kulit dan pengisian kapiler baik Perencanaan: 1. Menurunkan sekresi dan motilitas gaster. gangguan pencernaan lemak sehubungan dengan obstruksi aliran empedu. 3. Menurunkan kekeringan membran mukosa. Protombin darah menurun dan waktu koagulasi memanjang bila aliran empedu terhambat. R/. Kriteria Hasil : Mual/muntah hilang Menunjukkan kemampuan peningkatan berat badan atau berat badan tepat. kalium. dan klorida. nyeri. aspirasi gaster dan pembatasan pemasukan oral dapat menimbulkan defisit natrium. Kaji membran mukosa kulit. dispepsia. gangguan koagulasi. Kaji distensi abdomen.. hipoaktif atau tidak adanya bising usus. Hindarkan dari lingkungan yang berbau R/. tidak ada muntah Perencanaan: 1. mengevaluasi/mempertahankan ketidakseimbangan Dx. kejang. Kaji perdarahan yang tidak biasanya R/. Awasi tanda/gejala peningkatan/berlanjutnya mual/muntah. menolak bergerak volume sirkulasi dan memperbaiki . kram abdomen. membran mukosa lembab. berhati-hati. membran mukosa lembab.Kriteria Hasil : Menunjukkan keseimbangan cairan adekuat dibuktikan dengan TD stabil. lab. kelemahan. 3. depresi pernafasan R/. turgor kulit baik. pengisian kapiler baik. penurunan protombin. pembatasan berat badan sesuai aturan. Tanda vital stabil. dan cairan R/. nadi perifer dan pengisian kapiler. Memberikan informasi tentang status cairan/volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian. haluaran urine cukup. meningkatkan risiko perdarahan 6. 2. peningkatan berat jenis urine. Lakukan bersihan oral dengan pencuci mulut. menurunkan mual dan muntah. gangguan nutrien. pemberian antiemetik. Pertahankan masukan dan haluran adekuat. Kolaborasi untuk pasien puasa. berikan minyak R/.

Tanda non-verbal ketidaknyamanan berhubungan dengan gangguan percernaan. 5. R/. Awasi tanda vital. Membantu mengelaurkan flatus. menurunkan distensi abdomen. Kolaborasi untuk pemberian nutrisi sesuai indikasi R/. petekie. Observasi tanda perdarahan (hematemesis. 4. Berguna dalam membuat kebutuhan nutrisi individual melalui rute yang paling tepat. yang keseimbangan dan memnerikan penggantian faktor diperlukan untuk proses pembekuan. Untuk meningkatkan nafsu makan/menurunkan mual. Timbang sesuai indikasi. 2. 9. peningkatan risiko hemoragi 10. Indikator keadekuatan volume sirkulasi/perfusi. Berikan suasana menyenangkan pada saat makan. 3. hilangkan rangsangan berbau R/. pengaruh bahan kimia Ditandai dengan: Kriteria Hasil : Gangguan kulit/jaringan subkutan Menunjukkan perilaku untuk meningkatkan penyembuhan/mencegah kerusakan kulit . mempertahankan volume sirkulasi. Memberikan informasi tentang volume sirkulasi. keseimbangan elektrolit dan keadekuatan memperbaiki faktor pembekuan. R/. 7. 4. turgor kulit. nadi perifer dan pengisian kapiler.. ekimosis). R/. 6. R/.R/. dan pemberian cairan per IV atau produk darah yang sesuai. Protombin menurun dan waktu koagulasi memanjang bila aliran empedu terhambat. kaji membran mukosa. Berikan kebersihan oral sebelum makan. nyeri gas. elektrolit dan vitamin K. perubahan metabolisme. Perkirakan/hitung pemasukan kalori R/. Berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan. Mengawasi keefektifan rencana diet. Kolaborasi untuk pemeriksaan lab. Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan. R/. Ambulasi dan tingkatkan aktivitas sesuai toleransi R/. Mempengaruhi penyembuhan dan rasa sehat 8. melena. Gangguan integritas kulit/jaringan b/d pemasangan drainase T-tube. Dx. Mengidentifikasi kekurangan/kebutuhan nutrisi.

pernyataan salah konsepsi Permintaan informasi Tidak akurat mengikuti instruksi Kriteria Hasil : Menyatakan pengobatan Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan Perencanaan: 1. 3. Tanda dugaan adanya abses atau pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik Dx. 2. Observasi adanya cegukan. tidak mengenal sumber informasi. Terjadinya ikterik mengindikasikan adanya obstruksi aliran empedu. distensi abdomen atau tanda peritonitis. urine terhadap perubahan warna R/. Pemasangan T-tube dapat selama 7-10 hari untuk membuang batu yang tertahan. Menurunkan risiko kontaminasi. pankreatitis R/. Observasi kulit. Pertahahankan selang T pada sistem penampungan tertutup R/. Catat warna dan konsistensi feses R/. Selidiki laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri pada kaudran kanan atas. terjadinya demam. Kaji ulang proses penyakit. Mengetahui perubahan secara normal 4. kebocoran drainase empedu sekitar selang dari luka. sklera. Pertanyaan. 7. Periksa selang-T dan drein insisi. Kurang pengetahuan tentang prognosa dan kebutuhan pengobatan b/d kurang Ditandai dengan: pengetahuan/mengingat. yakinkan aliran bebas R/. salah informasi. Drein sisi insisi digunakan untuk membuang cairan yang terkumpul. 5.Perencanaan: 1. Mencegah iritasi kulit dan memudahkan pengukuran haluaran. takikardia. R/. 5. Feses warna tanah liat terjadi bila empedu tidak ada dalam usus. Observasi warna dan karakter drainase R/. prosedur bedah/prognosis pemahaman proses penyakit/prognosis dan . Mengetahui perubahan posisi selang yang mengiritasi diafragma atau komplikasi lebih serius. 6.

Area yang menurun/tidak ada bunyi nafas diduga atelektasis. Kolaborasi untuk pemberian obat dan prosedur R/. Tunjukkan pada pasien cara menekan insisi. Meminimalkan risiko kerusakan pankreas 5. 6. Meningkatkan kemandirian dalam perawatan dan menunjukkan risiko komplikasi (contoh infeksi. Menurunkan nyeri hebat dan menghancurkan batu empedu. Nafas dangkal. tidak ada tanda gangguan/komplikasi pernafasan. Observasi frekuensi/kedalaman pernafasan. 6. R/. Pola Kriteria Hasil Perencanaan: 1. minuman yang mengandung lemak secara bertahap lebih adri 4-6 bulan. feses banyak. Membuat pola nafas efektif. 2.R/. Hindari minuman beralkohol R/. 3. obstruksi bilier). contoh urine gelap. Tinggikan kepala tempat tidur. R/. Tunjukkan perawatan insisi/balutan dan drein R/. distress pernafasan. Identifikasi tanda/gejala yang memerlukan pelaporan ke dokter. pertahankan posisi semi fowler rendah. Indikator obstruksi aliran empedu/gangguan pencernaan. Meningkatkan ventilasi semua segmen paru. Dx. melakukan teknik batuk nafas : tidak efektif b/d nyeri.mempengaruhi bahan kimia. kerusakan otot. makan sedikit dan sering. Dukung abdomen saat batuk dan ambulasi. Bantu pasien untuk membalik. . penurunan energi/kelemahan. atau sakit ulu hati berulang. batuk dan bernafas dalam secara periodik. warna tanah liat. Auskultasi bunyi nafas. R/. 3. menahan nafas dapat mengakibatkan hipoventilasi/etelektasis. pengenalan makanan. memerlukan evaluasi lanjut dan intervensi. Membatasi kebutuhan terhadap empedu dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan tidak adekuatnya pencernaan lemak. R/. Anjurkan efektif. Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi 2. 4. R/. 4. Tekankan pentingnya mempertahankan diet rendah lemak.

Elizabeth. 1999.R/. R/. Jakarta: EGC Doenges. Ilmu Penyakit Dalam. Memudahkan bernafas dan batuk lebih efektif. Jakarta Soeparman. R/. DAFTAR PUSTAKA Corwin. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Barbara. Memaksimalkan ekspansi paru. 5. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Ed. Jakrta: EGC Engram. 6. 8. Buku Saku Patofisiologi. Marylinn E. 1999. 2000. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Studdart & Brunner. 3. 1999. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Ed. Berikan analgesik sebelum pengobatan pernafasan/aktivitas terapi. Jakarta: EGC . 2002. Bantu pengobatan pernafasan (spirometri intensif). Jilid II. Memudahkan ekspansi paru.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->