JENIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA DAN LEMBAGA PEMBENTUKNYA

A. JENIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Dalam kerangka berfikir mengenai jenis dan hierarki peraturan perundangundangan, pasti tidak terlepas dalam benak kita menganai Teori Stuffen Bow karya Hans Kelsen (selanjutnya disebut sebagai ”Teori Aquo”). Hans Kelsen dalam Teori Aquo mambahas mengenai jenjang norma hukum, dimana ia berpendapat bahwa norma-norma hukum itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam suatu hierarki tata susunan. Namun sekarang Teori Aquo semakin diperjelas dalam hukum positif di Indonesia dalam bentuk undang-undang tentang pembentukan peraturan perundang-undangan. Undang-undang menganai pembentukan peraturan

perundang-undangan pertama kali dipositifkan dalam Undang-Undang Undangundang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan (selanjutnya disebut sebagai ”UU Pembentukan Peraturan Perundangundangan 2004”). UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 2004 setidaktidaknya mengatur mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan dengan cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membentuk peraturan perundangundangan. Namun sayangnya, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan masih terdapat kekurangan dan

2. 3. penguraian materi sesuai dengan yang diatur dalam tiap bab sesuai dengan sistematika. terdapat materi baru yang perlu diatur sesuai dengan perkembangan atau kebutuhan hukum dalam Pembentukan Peraturan Perundangundangan. teknik penulisan rumusan banyak yang tidak konsisten. dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus berdasarkan atas hukum yang sesuai dengan sistem hukum nasional. Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan didasarkan pada pemikiran bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Sebagai negara hukum. berbangsa. materi dari Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 banyak yang menimbulkan kerancuan atau multitafsir sehingga tidak memberikan suatu kepastian hukum. kebangsaan. dan 4. segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan.belum dapat menampung perkembangan kebutuhan masyarakat mengenai aturan pembentukan peraturan perundangundangan yang baik sehingga perlu diganti. dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sistem hukum nasional merupakan hukum yang berlaku di Indonesia dengan semua elemennya yang saling menunjang satu dengan yang lain dalam rangka mengantisipasi dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam kehidupan bermasyarakat. . Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan merupakan penyempurnaan terhadap kelemahan-kelemahan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004. yaitu antara lain: 1.

jenis. dan Peraturan Perundangundangan lainnya.Undang-Undang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan 2011 secara umum Secara umum memuat materi-materi pokok yang disusun secara sistematis sebagai berikut: asas pembentukan Peraturan Perundang-undangan. perencanaan Peraturan Perundangundangan. teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. pengaturan Naskah Akademik sebagai suatu persyaratan dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang atau Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang. Peraturan Perundang-undangan. UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 2011 memuat materi muatan baru yang ditambahkan. Sebagai penyempurnaan terhadap UU Pembentukan Peraturan Perundangundangan 2004. Peraturan Presiden. perluasan cakupan perencanaan Peraturan Perundang-undangan yang tidak hanya untuk Prolegnas dan Prolegda melainkan juga perencanaan Peraturan Pemerintah. penambahan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai salah satu jenis Peraturan Perundang-undangan dan hierarkinya ditempatkan setelah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. b. pembahasan dan penetapan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah. c. d. yaitu antara lain: a. penyusunan Peraturan Perundang-undangan. pengaturan mekanisme pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. . hierarki. dan materi muatan.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.e. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peraturan Daerah Sedangkan Pasal 7 UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 2011 mengatur Teori Aquo pada bagian jenis dan hierarki peraturan perundangundangan sebagai berikut : Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: a. dalam Pasal 7 UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 2004 mengatur Teori Aquo pada bagian jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan sebagai berikut: Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: a. d. peneliti. dan tenaga ahli dalam tahapan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. maupun UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 2011. pengaturan mengenai keikutsertaan Perancang Peraturan Perundangundangan. Adapun sebelumnya. b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. c. e. Peraturan Presiden. dan f. Sedangkan baik UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 2004. sama-sama mengatur mengenai Teori Aquo. . penambahan teknik penyusunan Naskah Akademik dalam Lampiran I Undang-Undang ini. b. Peraturan Pemerintah.

d. ” Definisi ”Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang” diatur dalam Pasal 1 angka 4 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan: ”Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Peraturan Presiden. f.” . Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1994 sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat 1 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan meyebutkan : ”Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan Daerah Provinsi.c. e.” Definisi ”Undang-Undang” sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 3 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan: ”Undang-Undang adalah Peraturan Perundangundangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. Peraturan Pemerintah. dan g.

” Definisi ”Peraturan Daerah Provinsi” diatur dalam Pasal 1 angka 7 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan: ” Peraturan Daerah Provinsi adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur.” Definisi ”Peraturan Presiden” diatur dalam Pasal 1 angka 6 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan: ”Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundangundangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi atau dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan.Definisi ”Peraturan Pemerintah” diatur dalam Pasal 1 angka 5 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan: ”Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundangundangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya.” Definisi ”Peraturan Daerah Kabupaten/Kota” diatur dalam Pasal 1 angka 8 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan: .

Kemudian yang pasti menjadi menarik adalah mengenai Ketetapan Majelis Pemusyawaratan Rakyat yang kembali dikenal sebagai peraturan perundangundangan setelah dihilangkan selama 7 tahun (2004-2011) dalam urutan peraturan perundang-undangan. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (sebelumnya Peraturan Daerah) menjadi norma yang mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi. Ketetapan Majelis Pemusyawaratan Rakyat ini ternyata diatur dalam bagaian Penjelasan UU Pembentukan Peraturan Perundangundangan 2011 yaitu : .”Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundangundangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota.” Dengan demikian. 2. secara sederhana terdapat tambahan yang serta perubahan dari UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 2004 kepada UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan 2011 yaitu : 1. 3. Ketetapan Majelis Pemusyawaratan Rakyat menjadi norma yang mengacu dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan sekaligus menjadi acuan dari Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. dan sekaligus menjadi acuan dari Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan Daerah Provinsi (sebelumnya Peraturan Daerah) menjadi norma yang mengacu pada Peraturan Presiden.

Sebagai contoh dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin pada bagian ”MENGINGAT” yang masih mendasarkan hanya pada (tidak memuat mengenai Ketetapan Majelis Pemusyawaratan rakyat) : 1. Pasal 27 ayat (2). dan Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Pasal 28H ayat (1) dan ayat (2). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 12. walaupun adanya Ketetapan Majelis Pemusyawaratan Rakyat ditetapkan sebagai norma lebih tinggi dari undang-undang/peraturan perundang-undangan (PERPU). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4967). ketetapan Majelis Pemusyawaratan Rakyat belum diaplikasikan dalam undang-undang selanjutnya sebagai dasar acuan pembuatan undang-undang/PERPU.”Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat” adalah Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang masih berlaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 4 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor: I/MPR/2003 tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Tahun 1960 sampai dengan Tahun 2002. Pasal 21. tanggal 7 Agustus 2003. .” Namun patut disayangkan hingga sekarang. Pasal 33 ayat (3) dan ayat (4). Pasal 20.

ayat (2) dan ayat (5).Dan juga. . contoh ketiadaan nyata. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66. 4. Pasal 5 ayat (1). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286). 2. Pasal 20 ayat (1). Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47. 3. Pasal 23 ayat (1) dan Pasal 23E Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 5. dari Ketetapan Majelis Pemusyawaratan Rakyat sebagai dasar dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2010 pada bagian ”MENGINGAT” mengatur pada ketentuan sebagai berikut: 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400).

Penyempurnaan terhadap teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan dimaksudkan untuk semakin memperjelas dan memberikan pedoman yang lebih jelas dan pasti yang disertai dengan contoh bagi penyusunan Peraturan Perundangundangan. Rancangan Peraturan Presiden. penyusunan. pembahasan. pengesahan dan penetapan.Tahapan perencanaan. atau pembahasan Rancangan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). termasuk Peraturan Perundang-undangan di daerah. Namun. serta pengundangan merupakan langkah-langkah yang pada dasarnya harus ditempuh dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. tahapan tersebut tentu dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan atau kondisi serta jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan tertentu yang pembentukannya tidak diatur dengan Undang-Undang ini. juga diadakan penyempurnaan teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan beserta contohnya yang ditempatkan dalam Lampiran II. seperti pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah. Selain materi baru tersebut. .

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selaku Lembaga Pembentuk Perda. 4. Badan Pemeriksa Keuangan. Berikut penjelasan lembaga-lembaga pembentuk peraturan perundang-undangan diatas yaitu : a. Mahkamah Agung. Bupati. Mahkamah Konstitusi.B. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden. Lembaga Pembentuk Peraturan Perundang-undangan terdiri dari: 1. Lembaga pembentuk undang-undang Kekuasaan lembaga pembentuk UU diatur dalam UUD RI 45 dan UU No. Gubernur Bank Indonesia. 2. Kepala Badan. Kepala Desa atau yang setingkat. Kepala Daerah selaku lembaga pembentuk Peraturan Gubernur. Sesuai dengan jenis Peraturan Perundang-undangan. Dewan Perwakilan Daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Dewan Perwakilan Rakyat. Peraturan Bupati dan Peraturan Walikota. Lembaga dan Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang. LEMBAGA PEMBENTUK UNDANG-UNDANG Lembaga Pembentuk Peraturan Perundang-undangan adalah lembaga yang diberi kekuasaan atau kewenangan untuk membentuk Peraturan Perundangundangan. Gubernur. Walikota. Dewan Perwakilan Rakyat selaku Lembaga Pembentuk undang-undang. Presiden selaku Lembaga Pembentuk Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Sebelum amandemen UUD 45 kekuasaan membentuk UU dirumuskan dalam pasal 5 ayat 1 dan pasal 20 ayat 1 serta pasal 21 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi sebagai berikut : Pasal 5 ayat 1 “Presiden memegang kekuasaan membentuk UU dgn persetujuan DPR” . 10 tahun 2004 pasal 1 ayat 3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Majelis Perwakilan Rakyat. 3. Menteri. 5.

Dewasa ini belum ada kriteria atau ukuran baku untuk menetapkan kegentingan memaksa seperti keadaan perang. Jika tidak mendapat persetujuan maka Perpu itu harus dicabut (ayat 3) Batas waktu pemberlakuan Perpu singkat dan harus diajukan kepada DPR dalam bentuk RUU untuk dibahas ssuai dengan mekanisme pembahasan RUU. Karena kebutuhan yang sangat mendesak. Kalau kita menganut prinsip negara hukum yaitu Trias Politica nampaklah jelas bahwa kekuasaan membuat UU ada ditangan legislatif (DPR) bukan ditangan eksekutif (Presiden). Perpu itu harus mendapat persetujuan DPR dalam persidangan yang berikut (ayat 2). . b. Sebagaimana diketahui bahwa syarat adanya Perpu adalah adanya situasi kegentingan memaksa.Pasal 20 ayat 1 “Tiap-tiap UU menghendaki persetujuan DPR” Pasal 21 ayat 1 “Anggota-anggota DPR berhak memajukan rancangan UU” Berdasarkan hal diatas presiden mempunyai kekuasaan membuat UU asal DPR menyetujuinya. Lembaga pembentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) Disini berkaitan dengan lembaga atau pejabat yg diberi kekuasaan atau kewenangan menetapkan atau mengeluarkan peraturan sesuai dengan hirarki peraturan perundang-undangan Kekuasaan dan kewenangan dalam membentuk Perpu diatur pada pasal 22 ayat 1 UUD RI 1945 Bunyi pasal tersebut sebagai berikuti “dalam hal ihwal kepentingan yang memaksa. proses pembahasan di DPR dilakukan sangat cepat. Sedangkan anggota DPR dapat memajukan RUU. Dengan demikian jelas UUD 45 pra amandemen yg memberi wewenang membentuk UU kepada Presiden tidak tepat dan menurut saya justru bertentangan dgn prinsip negara hukum dalam rangka menghindari terjadi penyalahgunaan kekuasaan. dalam hal ini DPR hanya menolak dan menerima. bencana alam nasional terorisme dan pemberontakan yang berakibat luas dan mengganggu kehidupan . Presiden berhak menetapkan Perpu (ayat 1).

Peraturan Pemerintah dimungkinkan dapat memberikan perintah atau mendelegasikan materi muatan tertentu yang bersifat teknis pelaksanaan untuk diatur dan ditetapkan dengan :   Peraturan Presiden atau Peraturan Perundang-undangan lain. untuk diatur dengan Peraturan Daerah atau Peraturan Kepala Daerah. Mengingat jangkauan muatan materi Peraturan Pemerintah tidak mungkin mengatur hal-hal teknis pelaksanaan yang harus dilaksanakan oleh Presiden di dalam menyelenggarakan pemerintahan. Pengertian kegentingan memaksa sekarang ini tidak jelas dan ditafsirkan sangat luas dan penetapannya dilakukan oleh presiden. Peraturan Pemerintah  Juga dapat memberikan perintah atau mendelegasikan muatan materi tertentu kepada Pemerintahan Daerah. Dalam kewenangan membentuk PP atas perintah UU presiden tidak memiliki diskresi untuk mengatur muatan materi pelaksanaan diluar yg diperintahkan atau mengatur hal-hal yang baru. Contoh Perpu menjadi UU yaitu Perpu No. d. 19 tahun 2004 c. Lembaga Pembentuk Peraturan Presiden . 1 tahun 2004 (Perpu pertambangan di hutan lindung) kemudian disahkan menjadi UU No. maka sepanjang tidak bertentangan atau tidak mengatur hal-hal baru diluar yang telah ditentukan Undang-Undang.rakyat dan keutuhan NKRI. Yang dimaksud dgn sebagaimana mestinya adalah muatan materi yg diatur dlm PP tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam UU yg bersangkutan. dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Kepada Menteri/ Pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang. Lembaga Pembentuk Peraturan Pemerintah Pasal 5 ayat (2) UUD RI 1945 memberikan kewenangan kepada presiden menetapkan PP untuk menjalankan UU sebagaimana mestinya.

karena secara umum pengertian pemerintahan daerah adalah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan.Pasal 1 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. perumus UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 memberikan pengertian pemerintahan daerah sama dengan pengertian pemerintahan daerah menurut Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. e. menegaskan bahwa Peraturan Presiden 11 adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat dan ditetapkan oleh Presiden untuk melaksanakan muatan materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau melaksanakan Peraturan Pemerintah. Peraturan Presiden juga dapat memerintahkan atau mendelegasikan muatan materi tertentu yang bersifat teknis operasional kepada Menteri atau pejabat yang diberi wewenang dan/atau kepada Pemerintahan Daerah. Hal ini datur dalam Pasal 18 ayat 6 UUD RI 1945 Bunyi Pasal tersebut sebagai berikut “pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain untuk melaksanakan otonomi daerah dan tugas pembantuan” Rumusan Pemerintahan Daerah menurut pasal ini membingungkan. Lembaga Pembentuk Peraturan Daerah Perda dibentuk oleh pemerintahan daerah dalam rangka melaksanakan otonomi daerahnya. menindaklanjuti atau melaksanakan perintah langsung pasal 16 ayat (4) UndangUndang Nomor 10 Tahun 2004. Nampaknya. yaitu Pemerintahan Daerah adalah Dewan Pewakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah. Contoh: Peraturan Presiden Nomor 61 tahun 2005 tentang Tata Cara Penyusunan dan Pengelolaan Program Legislasi Nasional. pengertian pemerintahan daerah ditegaskan dalam pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang . maka solusi untuk mengurangi ganjalan dimaksud. Walapun pengertian pemerintahan daerah menjadi ganjalan. bukan lembaga. Peraturan Presiden berisi muatan materi yang mengatur pelaksanaan dan/atau mengatur hal-hal teknis sebagai penjabaran dari Peraturan Perundangundangan yang memerintahkan.

menjelaskan bahwa terdapat jenis Peraturan Perundang-undangan lain diluar hirarki Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dengan adanya kalimat dengan persetujuan bersama Kepala Daerah secara implisit mengandung makna bahwa lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dapat diartikan memiliki fungsi legislasi yang sebangun dengan fungsi legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. bahwa pengertian sebangun disini harus dipahami tidak mengandung makna bahwa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah kepanjangan tangan atau memiliki hirarki dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. dan diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi Peraturan peraturan perundang-undnagan yang dimaksud sebagai berikut : 1) Peraturan Majelis Permusyawaratan Rakyat . Lembaga Pembentuk Peraturan Peraturan perundang-undangan Diluar Hirarki Pasal 7 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 tahun 2004. tahapan proses dan prosedurnya dapat dilakukan dengan mempedomani ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang mengatur tahapan proses dan prosedur pembentukan Undang-Undang a. Dengan demikian dalam proses pembentukan Peraturan Daerah. Selanjutnya dalam Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.Pemerintahan Daerah bahwa ”Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah…”. Secara eksplisit pasal 1 angka 7 ini menegaskan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah lembaga yang memiliki kekuasaan untuk membentuk Perda. menjelaskan bahwa Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan persetujuan bersama Kepala Daerah. Yang harus dipahami bersama.

. 16) Peraturan Kepala Desa atau yang setingkat. 11) Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi 12) Peraturan Gubernur 13) Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. 14) Peraturan Bupati 15) Peraturan Walikota. Peraturan Mahkamah Konstitusi Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Peraturan Gubernur Bank Indonesia.2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Peraturan Dewan Perwakilan Daerah Peraturan Mahkamah Agung. Peraturan Menteri Peraturan Kepala Badan 10) Peraturan Lembaga atau Komisi yang setingkat yang dibentuk oleh UndangUndang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful