ETIOLOGI Berdasarkan jenis cairan yang terbnetuk. PENGERTIAN Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan atau cairan eksudat (www. atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane. preumonia dan sebagainya. infark paru. Pleura adalah membrane tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura viseralis dan pleura parietalis. (Price. 3. 2000). lupus eritematosus systemic. Efusi dapat berupa cairan jernih. Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk.(Sudoyo. penyakit kolagen. TB. sindroma meig. tuberkulosis. proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. asites (oleh karena sirosis kepatis). 2005) Efusi pleura adalah adanya cairan yang berlebih dalam rongga pleura baik transudat maupun eksudat. tumor. radiasi. eksudat. 2005). Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural. eksudat dan hemoragis 1. trauma. . tumor.com). 2. dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat sindroma nefrotik. sindroma nefrotik. infark paru. yang mungkin merupakan transudat. 4. effusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Eksudat disebabkan oleh infeksi. Effusi hemoragis dapat disebabkan oleh adanya tumor. tumor dan tuberkolosis. Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri). Aru W.(Davey. infark paru. 2006) Efusi pleura adalah istilah yang di gunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. syndroma vena cava superior. asites. Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya akan tetapi effusi yang bilateral ditemukan pada penyakit-penyakit dibawah ini :Kegagalan jantung kongestif. cairan pleura dibagi menjadi transudat. B.EFUSI PLEURA A.google.

PATOFISIOLOGI Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan di dalam rongga pleura.C. karena adanya tekanan hidrostatis pleura parietalis sebesar 9 cm H2O. Egc. Effusi pleura berarti terjadi pengumpulan sejumlah besar cairan bebas dalam kavum pleura. 145). jadi juga memungkinkan transudasi cairan yang berlebihan (4) infeksi atau setiap penyebab peradangan apapun pada permukaan pleura dari rongga pleura. . (2) gagal jantung yang menyebabkan tekanan kapiler paru dan tekanan perifer menjadi sangat tinggi sehingga menimbulkan transudasi cairan yang berlebihan ke dalam rongga pleura (3) sangat menurunnya tekanan osmotik kolora plasma. 623-624). Jumlah cairan di rongga pleura tetap. Kemungkinan penyebab efusi antara lain (1) penghambatan drainase limfatik dari rongga pleura. yang memecahkan membran kapiler dan memungkinkan pengaliran protein plasma dan cairan ke dalam rongga secara cepat (Guyton dan Hall . 1995. bertambahnya tekanan hidrostatis akibat kegagalan jantung dan tekanan negatif intra pleura apabila terjadi atelektasis paru (Alsagaf H. Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila tekanan osmotik koloid menurun misalnya pada penderita hipoalbuminemia dan bertambahnya permeabilitas kapiler akibat ada proses keradangan atau neoplasma. 1997. Mukti A.

2002 dan Tucker. untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior. pewarnaan gram. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co. pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik.  Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan. hitung sel darah merah dan putih. dan pH. biakan tampilan. 4. protein). analisis sitologi untuk sel-sel malignan. berdarah (hemotoraks). 6.  Biopsi pleura mungkin juga dilakukan F. gagal jantung kongestif. 5. berat jenis. 2. sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan. untuk mencegah penumpukan kembali cairan. Sesak nafas Nyeri dada Kesulitan bernafas Peningkatan suhu tubuh jika ada infeksi Keletihan Batuk E.  Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan. sirosis). 1998) ) adalah 1. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum.  Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak). pemeriksaan kimiawi (glukosa. dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. PEMERIKSAAN PENUNJANG  Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada). pada sela iga ke-8. amylase. sitologi. basil tahan asam (untuk TBC). warna. PENATALAKSANAAN  Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar. Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang). pneumonia. 3. laktat dehidrogenase (LDH). MANIFESTASI KLINIS Manifestasi kinik yang muncul (Tierney. Bila cairan lebih 300ml.  Ultrasonografi: USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit. .D. akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks).

ASUHAN KEPERAWATAN 1. efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu. dan kadang pneumothoraks.  Agen yang secara kimiawi mengiritasi. pergerakan pernafasan menurun. Bila penyebab dasar malignansi. Pendorongan mediastinum ke arah hemithorax kontra lateral yang diketahui dari posisi trakhea dan ictus kordis. Mukty Abdol. torasentesis berulang mengakibatkan nyeri. Suara perkusi redup sampai peka tegantung jumlah cairannya. kurang jelas di punggung. Bila cairannya tidak mengisi penuh rongga pleura. mungkin saja akan ditemukan tanda-tanda auskultasi dari atelektasis kompresi di sekitar batas atas cairan. Auskultasi Suara nafas menurun sampai menghilang. bedah plerektomi. G. 1994. Ditambah lagi dengan tanda i – e artinya bila penderita diminta mengucapkan kata-kata i maka akan terdengar suara e sengau. Ida Bagus. ruang antar iga melebar. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru. Disamping itu pada palpasi juga ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut. Widjaya Adjis.  Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada. Pengkajian . Fremitus tokal menurun terutama untuk effusi pleura yang jumlah cairannya > 250 cc. dan terapi diuretic. Pada posisi duduk cairan makin ke atas makin tipis. Garis ini paling jelas di bagian depan dada. penipisan protein dan elektrolit. a) Sistem Respirasi Inspeksi pada pasien effusi pleura bentuk hemithorax yang sakit mencembung. maka akan terdapat batas atas cairan berupa garis lengkung dengan ujung lateral atas ke medical penderita dalam posisi duduk.79) . iga mendatar. Garis ini disebut garis Ellis-Damoisseaux. RR cenderung meningkat dan Px biasanya dyspneu. yang disebut egofoni (Alsagaf H. dan dibaliknya ada kompresi atelektasis dari parenkian paru.

6 > 1.b) Sistem Integumen Inspeksi mengenai keadaan umum kulit higiene. 1990. diafragma kelihatan meninggi. meski cairan pleura lebih dari 300 cc.016 Positif . Biopsi ini digunakan untuk mengetahui adanya sel-sel ganas atau kuman-kuman penyakit (biasanya kasus pleurisy tuberculosa dan tumor pleura) (Soeparman. pada Px dengan effusi biasanya akan tampak cyanosis akibat adanya kegagalan sistem transport O2.6 < 1. 786-787). Pada effusi pleura sub pulmonal. warna ada tidaknya lesi pada kulit.5 < 200 < 0. 1990.5 > 200 > 0. Mungkin kelainan yang tampak hanya berupa penumpukkan kostofrenikus. c) Pemeriksaan Penunjang Hasil pemeriksaan medis dan laboratorium  Pemeriksaan Radiologi Pada fluoroskopi maupun foto thorax PA cairan yang kurang dari 300 cc tidak bisa terlihat. frenicocostalis tampak tumpul.  Biopsi Pleura Biopsi ini berguna untuk mengambil specimen jaringan pleura dengan melalui biopsi jalur percutaneus.  Pemeriksaan Laboratorium Dalam pemeriksaan cairan pleura terdapat beberapa pemeriksaan antara lain : 1) Pemeriksaan Biokimia Secara biokimia effusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel berikut : Transudat Kadar protein dalam effusi 9/dl Kadar protein dalam effusi Kadar LDH dalam effusi (1-U) Kadar LDH dalam effusi Berat jenis cairan effusi Rivalta <3 < 0. Untuk memastikan dilakukan dengan foto thorax lateral dari sisi yang sakit (lateral dekubitus) ini akan memberikan hasil yang memuaskan bila cairan pleura sedikit (Hood Alsagaff. 788).016 Negatif Eksudat >3 > 0.

enterobacter. infark paru.  Sitologi : Hanya 50 .  Misotel banyak : Jika terdapat mesotel kecurigaan TB bisa disingkirkan. trauma dada dan keganasan. kekuningan : kuning. Bila erytrosit > 100000 (mm3 menunjukkan infark paru. 1995 : 147. Sisanya kurang lebih terdeteksi karena akumulasi cairan pleura lewat mekanisme obstruksi. secara biokimia diperiksakan juga cairan pleura : Kadar pH dan glukosa. pankreatilis.  Eosinofil meningkat : emboli paru.148) 4) Bakteriologis Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah pneamo cocclis. klebsiecla. Biasanya merendah pada penyakit-penyakit infeksi. 787). keganasan. poliatritis nodosa. pseudomonas. 1990. sering dijumpai pada pankreatitis atau pneumoni.kasus keganasan dapat ditemukan sel ganas. 1998: 788). TB paru  Banyak Limfosit : tuberculosis. E-coli. Pada pleuritis TB kultur cairan terhadap kuman tahan asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20 % (Soeparman.60 % kasus.Disamping pemeriksaan tersebut diatas. limfoma. arthritis reumatoid dan neoplasma Kadar amilase. kuning-kehijauan : putih seperti susu : kental dan keruh : berbau busuk : sangat kental dan berdarah 3) Perhitungan sel dan sitologi  Leukosit 25. . preamonitas atau atelektasis (Alsagaff Hood. Biasanya meningkat pada paulercatilis dan metastasis adenocarcinona (Soeparman. parasit dan jamur  Eritrosit : mengalami peningkatan 1000-10000/ mm3 cairan tampak kemorogis.000 (mm3) : empiema  Banyak Netrofil : pneumonia. 2) Analisa cairan pleura Transudat Eksudat Hilothorax Empiema Empiema anaerob Mesotelioma : jernih.

Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura (Susan Martin Tucleer. . Sehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh. bunyi nafas terdengar jelas. f. Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan Barbara Engram). Rasional : Dengan mengkaji kualitas. 1993) Perencanaan Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura. kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien. pencernaan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen (Barbara Engram. Cemas sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). frekuensi dan kedalaman pernafasan. b. laporkan setiap perubahan yang terjadi. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. dkk. 1993). frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal. 2) Kaji kualitas. Rencana tindakan : 1) Identifikasi faktor penyebab. frekuensi dan kedalaman pernafasan. dkk. a.2. Rasional : Dengan mengidentifikasikan penyebab. Diagnosa Keperawatan Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan effusi pleura antara lain : a. 1998). pada pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan. e. 1998). kita dapat menentukan jenis effusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. d. 3. c. aturan pengobatan sehubungan dengan kurang terpajang informasi (Barbara Engram. Kurang pengetahuan mengenai kondisi. Tujuan : Pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal Kriteria hasil : Irama. Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari sehubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah) (Susan Martin Tucleer.

kebiasaannya.3) Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman. : Kebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya. Rasional : Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya gangguan pada fungsi pencernaan. 3) Lakukan oral hygiene setiap hari. 4) Observasi tanda-tanda vital (suhu. ekonomi dan pengetahuannya tentang pentingnya nutrisi bagi . Rasional : Bau mulut yang kurang sedap dapat mengurangi nafsu makan. Dengan foto thorax dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru. nadi. berat badan normal dan hasil laboratorium dalam batas normal. Rencana tindakan : 1) Beri motivasi tentang pentingnya nutrisi. tekanan darah. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh. Penekanan otot-otot dada serta abdomen membuat batuk lebih efektif. Rasional tubuh. dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat. Rasional : Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal. dalam posisi duduk. Rasional : Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru-paru. agama. 5) Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam. Rasional : Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hiponia. b. Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : Konsumsi lebih 40 % jumlah makanan. RR dan respon pasien). Rasional : Peningkatan RR dan tachcardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru. 2) Auskultasi suara bising usus. penurunan nafsu makan akibat sesak nafas. 7) Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O 2 dan obat-obatan serta foto thorax. Rasional : Menekan daerah yang nyeri ketika batuk atau nafas dalam. 6) Bantu dan ajarkan pasien untuk batuk dan nafas dalam yang efektif.

. nadi 80-90 kali permenit. nafas teratur dengan frekuensi 16-24 kali permenit. 5) Beri makanan dalam porsi kecil tapi sering. ensure. vitamin dan mineral dapat menambah asam lemak dalam tubuh. Jelaskan mengenai penyakit dan diagnosanya. 7) Kolaborasi dengan dokter atau konsultasi untuk melakukan pemeriksaan laboratorium alabumin dan pemberian vitamin dan suplemen nutrisi lainnya (zevity. Cemas atau ketakutan sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). Kriteria hasil :Pasien mampu bernafas secara normal. socal. c. Rasional : Penyajian makanan yang menarik dapat meningkatkan nafsu makan. 4) Pertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien. 6) Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian di’it TKTP Rasional : Di’it TKTP sangat baik untuk kebutuhan metabolisme dan pembentukan antibody karena diet TKTP menyediakan kalori dan semua asam amino esensial. 2) Ajarkan teknik relaksasi Rasional : Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan 3) Bantu dalam menggala sumber koping yang ada. pasien mampu beradaptasi dengan keadaannya. Rasional : Makanan dalam porsi kecil tidak membutuhkan energi. Rasional : Peningkatan intake protein. Biasanya dengan semi fowler. Rasional : Hubungan saling percaya membantu proses terapeutik 5) Kaji faktor yang menyebabkan timbulnya rasa cemas. Rencana tindakan : 1) Berikan posisi yang menyenangkan bagi pasien. Rasional : pasien mampu menerima keadaan dan mengerti sehingga dapat diajak kerjasama dalam perawatan. Respon non verbal klien tampak lebih rileks dan santai. Rasional : Pemanfaatan sumber koping yang ada secara konstruktif sangat bermanfaat dalam mengatasi stress. Tujuan:Pasien mampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan. putmocare) jika intake diet terus menurun lebih 30 % dari kebutuhan. banyak selingan memudahkan reflek.4) Sajikan makanan semenarik mungkin.

6) Bantu pasien mengenali dan mengakui rasa cemasnya. 3) Anjurkan pasien untuk latihan relaksasi sebelum tidur. pasien dapat tidur dengan nyaman tanpa mengalami gangguan. Rasional : Mengubah pola yang sudah menjadi kebiasaan sebelum tidur akan mengganggu proses tidur. Rasional : Relaksasi dapat membantu mengatasi gangguan tidur. Tujuan :Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi. Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan nyeri pleuritik. 4) Observasi gejala kardinal dan keadaan umum pasien. d.Rasional : Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan. Rasonal : Posisi semi fowler atau posisi yang menyenangkan akan memperlancar peredaran O2 dan CO2. pasien dapat tertidur dengan mudah dalam waktu 30-40 menit dan pasien beristirahat atau tidur dalam waktu 3-8 jam per hari. perasaan yang mengganggu dapat diketahui. 2) Tentukan kebiasaan motivasi sebelum tidur malam sesuai dengan kebiasaan pasien sebelum dirawat. Rasional : Observasi gejala kardinal guna mengetahui perubahan terhadap kondisi pasien. . Rencana tindakan : 1) Beri posisi senyaman mungkin bagi pasien. Kriteria hasil: Pasien tidak sesak nafas. Rasional : Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik.

. Brunner and Suddarth’s. Jakarta. Edisi Revisi. Jakarta.Carolyn M. 1998. Vol. EGC. EGC. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. EGC. EGC. Ed2. Syamsuhidayat. Price.1982. Jakarta. diagnosis. Jakarta. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah. Kapita Selekta Kedokteran. 1995. Buku Ajar Ilmu Bedah. dkk.1. FKUI. 2000. Vol.1. Jakrta. 2002. Ed8.DAFTAR PUSTAKA Baughman C Diane.EGC. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. 1997 Purnawan J. Doenges E Mailyn. Ed5. Wim de Jong. Jakarta. EGC. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. Ed4. Jakarta EGC. Smeltzer c Suzanne. Sylvia A. dan evaluasi. Keperawatan medical bedah. Media Aesculapius. Ed3. 1999 Hudak. Susan Martin Tucker. 1997. Keperawatan kritis : pendekatan holistic.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful