A.

P

e e n

ng rtia

Glaukoma adalah kerusakan penglihatan yang biasanya disebabkan oleh meningkatnya tekanan bolamata. Meningkatnya tekanan di dalam bola mata ini disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi dan pembuangan cairan dalam bola mata, sehingga merusak jaringan-jaringan syaraf halus yang ada di retina dan dibelakang bola mata. Peningkatan abnormal TIO (> 20 mmHg). Tekanan sangat tinggi, kadang-kadang mencapai 60-70 mmHg.
B. Klasifikasi

Klasifikasi

glaucoma

menurut

Fondation

American

Academy

of

the

Ophtalmology:
1. Open-angle glaucoma    

Primary open-angle glaucoma(POAG) Normal-tension glaucoma(NTG) Juvenile open-angle glaucoma Glaucoma suspect

2. Secondary open-angle glaucoma      

Angle-closure glaucoma Primary angle-closure glaucoma with relative papillary block Acute angle-closure Subacute angle closure (intermitten angle-closure) Chronic angle-closure Secondary angle-closure glaucoma with pupillary block

      Secondary angle-closure glaucoma without pupillary block Plateau iris syndrome Childhood glaucoma Primary congenital/infantile glaucoma Glaucoma associate with congenital anomalies Secondary glaucoma in infant and children Klasifikasi Vaughen untuk glaukoma adalah sebagai berikut: 1. pengelompokan ini berguna untuk pelaksanaan dan penelitian. Glaukoma simpleks ini diagnosisnya dibuat bila ditemukan glaukoma pada kedua mata pada pemeriksaan pertama. Diduga . 2. Glaukoma ini ditemukan pada orang yang telah memiliki bakat bawaan glaukoma seperti: bakat dapat berupa gangguan fasilitas pengeluaran cairan mata atau susunan anatomis bilik mata yang menyempit. yang tidak selalu simetris dengan sudut bilik mata terbuka ataupun tertutup. Pada umumnya glaukoma simplek ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun. Glaukoma bersifat bilateral. Merupakan suatu glaukoma primer yang ditandai dengan sudut bilik mata terbuka. irisdisgenesis dan korneodisgenesis dan yang paling sering berupa trabekulodisgenesis dan goniodisgenesis. Mungkin disebabkan kelainan pertumbuhan pada sudut bilik mata depan(goniodisgenesis). berupa trabekulodisgenesis. walaupun penyakit ini kadang-kadang ditemukan pada usia muda. tanpa ditemukan kelainan yang dapat merupakan penyebab. Glaukoma simpleks Glaukoma simpleks adalah glaukoma yang penyebabnya tidak diketahui. Glaukoma primer Glaukoma dengan etiologi tidak pasti. dimana tidak didapatkan kelainan yang merupakan penyebab glaukoma.

hifema dan inkarserasi iris. Pascabedah. Kelainan uvea. uveitis anterior. yang dapat disebabkan:     Kelainan lensa. Trauma. secara genetik penderitanya adalah homozigot. blokade pupil. kornea terlihat keruh. 3.glaukoma simplek diturunkan secara dominan atau resesif pada kira-kira 50% penderita. Glaukoma sekunder Glaukoma sekunder merupakan glaukoma yang diketahui penyebab yang menimbulkannya. 5. goniosinekia. Glaukoma timbul akibat kelainan di dalam bola mata. papil . adalah glaukoma akibat penyumbatan pengaliran keluar cairan mata oleh jaringan sudut bilik mata yang terjadi oleh adanya kelainan kongenital. Glaukoma congenital Glaukoma kongenital. Glaukoma Absolut Glaukoma absolut merupakan stadium akhir glaucoma. 4. kelainan pembentukan kanal schlemm dan saluran keluar cairan mata yang tidak sempurna terbentuk. Kelainan mata lain dapat menimbulkan meningkatnya tekanan bola mata. katarak imatur. hipermatur dan dislokasi lensa. Kelainan ini akibat terdapatnya membran kongenital yang menutupi sudut bilik mata pada saat perkembangan bola mata. Pada glaukoma absolut. khususnya sebagai glaucoma infantil(buftalmos). dimana sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut. bilik mata dangkal.

Untuk glaukoma jenis tertentu. Untuk mengukur tekanan bola mata dapat dilakukan dirumah sakit mata atau pada dokter spesialis mata. Berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau dicelah pupil. 4. tekanan bola mata yang lebih rendah sudah dapat merusak saraf optik. Angka ini akan bertambah dengan bertambahnya usia. Umur Resiko glaukoma bertambah tinggi dengan bertambahnya usia. dan pemakai obat secara rutin lainnya. Pemakai steroid secara rutin misalnya pemakai obat tetes mata yang mengandung steroid yang tidak dikontrol oleh dokter. Tekanan bola mata diatas 21 mmHg beresiko tinggi terkena glaukoma. Sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskularisasi pada iris. obat steroid untuk radang sendi. keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaukoma hemoragik. Resiko terbesar adalah kakak adik kemudian hubungan orang tua dan anak-anak.atrofi dengan eksvakasi glaukomatosa. Terdapat 2% dari populasi usia 40 tahun yang terkena glaukoma. Faktor-faktor resiko glaucoma: 1. 2. Obat-obatan. anggota keluarga penderita glaukoma mempunyai resiko 6 kali lebihbesar untuk terkena glaukoma. 3. Bertambahnya produksi cairan mata oleh badan cilliary. mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit. C. . Meskipun untuk sebagian individu. obat inhaler untuk penderita asthma. Tekanan bola mata. Etiologi Penyebab terjadinya glaucoma: 1. Riwayat anggota keluarga yang terkena glaucoma. 2.

2. hingga kebutaan permanen. 4. lebih kabur. 3. Pupil lebar dengan reaksi terhadap sinar yang lambat. 11. 3. 8.D. Penyakit berkembang secara lambat namun pasti. 10. Edema kornea berat sehingga kornea terlihat keruh. 7. 5. lapang pandang sempit. 2. Bilik mata depan sangat dangkal dengan efek tyndal yang positif. . 6. Manifestasi klinis glaukoma kronisa: 1. Mata terasa sangat sakit. akibat timbulnya reaksi radang uvea. Rasa sakit ini mengenai sekitar mata dan daerah belakang kepala. Konjungtiva bulbi kemotik atau edema dengan injeksi siliar. Tekanan bola mata sangat tinggi. Gejala-gejala terjadi akibat peningkatan tekanan bola mata. Manifestasi klinis Manifestasi klinis glaukoma akuta: 1. Tekanan bola mata antara dua serangan dapat sangat normal. Tajam penglihatan sangat menurun. 9. kadang-kadang dapat mengaburkan gejala glaukoma akut. Terdapat halo atau pelangi di sekitar lampu yang dilihat. Pemeriksaan funduskopi sukar dilakukan karena terdapat kekeruhan media penglihatan. Penampilan bola mata seperti normal dan sebagian tidak mempunyai keluhan pada stadium dini. Pada stadium lanjut keluhannya berupa pasien sering menabrak karena pandangan gelap. Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah.

pupil. Patofisiologi Aqueus humor secara kontinue diproduksi oleh badan silier(sel epitel prosesus ciliary bilik mata belakang untuk memberikan nutrien pada lensa. Tekanan intra okuler(TIO) dipertahankan dalam batas 10-21 mmHg tergantung keseimbangan antara produksi dan pengeluaran(aliran) AqH di bilik mata depan. bilik mata depan. Aqueua humor mengalir melalui jaring-jaring trabekuler. Hal ini menyebabkan penurunan lapang pandang yang dimulai dari derah nasal atas dan sisa terakhir pada temporal Produksi homur aqueus Corpus Ciliaris Bilik Mata Belakang Pupil Bilik Mata Depan Sudut BMD Trab. trabekuler mesh work dan kanal schlem. Peningkatan TIO akan menekan aliran darah ke syaraf optik dan retina sehingga dapat merusak serabut syaraf optik menjadi iskemik dan mati. Selanjutnya menyebabkan kesrusakan jaringan yang dimula dari perifir menuju ke fovea sentralis. Schlem Sistem Vena Sklera DM kortikosteroid jangka panjang myopia trauma mata Pathway: .E.

Pemeriksaan Diagnostik .Obstruksi jaringan trabekuler Peningkatan tekanan vitrcus Hambatan pengaliran cairan humor aqueous Pergerakan iris kedepan TIO meningkat Glaukoma TIO meningkat Nyeri Gangguan saraf optic tindakan operasi Ansietas Perubahan penglihatan perifer Gangguan persepsi sensori penglihatan Kurang pengetahuan kebutaan F.

7. 4. Kartu mata Snellen atau mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan): mungkin terganggu dengan kerusakan kornea. Pemeriksaan refleksi 7. Respon reflek pupil 6. Pemeriksaan oftalmoskopi: Mengkaji struktur internal okuler. aquous atau vitreus humor. Pemeriksaan retina 4. 8. karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma. Pengukuran gonioskopi: Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma. papil edema. Pengukuran tonografi: Mengkaji intraokuler (TIO). Pemeriksaan slit lamp 2. Pemeriksaan ketajaman penglihatan 5. 2. LED: Menunjukkan anemia sistemik atau infeksi. 5. kolesterol serum. Pemeriksaan lapang pandang 3. Pengukuran tekanan intraokulerdengan menggunakan topometri  Glaukoma akut . kesalahan refraksi. Pemeriksaan Penunjang 1. PAK. Darah lengkap. Tes Toleransi Glukosa: menentukan adanya DM. 3. massa tumor pada hipofisis atau otak. EKG. 6.1. dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosisi.perdarahan retina dan mikroaneurisma. atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik. Lapang penglihatan: Penurunan mungkin disebabkan CSV. lensa. mencatat atrofi lempeng optik.

 Glaukoma kronik Uji provokasi minum air. Trabekulektomi (prosedur filtrasi) dilakukan untuk menciptakan saluran balu melalui sclera. Makanan atau Cairan: Mual. 3. Perimetri. Penembakan laser untuk memperbaiki aliran humor aqueus dan menurunkan TIO. Dari kornea posterior ke anterior. Penatalaksanaan Medis 1. dan uji provokasi steroid. Aseta Zolamit (diamox. G. sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer. uji variasi diurnal. 2. gonioskopi dan tonografi dilakukan setelah edema kornea menghilang. kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat atau merasa di ruang gelap (katarak). glaupakx) 500 mg oral. dilakukan pada kasus-kasus yang meragukan. Aktivitas atau Istirahat: Perubahan aktivitas biasanya atau hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan. . Pilokarpin Hcl 2-6 % 1 tts/jam.Pengukuran dengan tonometri Schiotz menunjukkan peningkatan tekanan. 2. H. 4. muntah (glaukoma akut) 3. Terapi obat. Bedah laser. Pengkajian Keperawatan 1. Bedah konfensional. Neurosensori: Gangguan penglihatan (kabur atau tidak jelas). Iredektomi perifer atau lateral dilakukan untuk mengangkat sebagian iris untuk memungkinkan aliran humor aqueus.

4. DM. I. Diagnosa Keperawatan 1. Terpajan pada radiasi. Ketidakmampuan dalam perawatan diri berhubungan dengan penurunan pengelihatan. Penyuluhan atau Pembelajaran. 3. 5. 6. fotofobia(glaukoma akut). 5. tampak lingkaran cahaya atau pelangi sekitar sinar. status klinik saat ini berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit glaukoma. sakit kepala(glaukoma akut). Cemas berhubungan dengan penurunan penglihatan aktual. steroid atau toksisitas fenotiazin. Nyeri atau Ketidaknyamanan ringan atau mata berair(glaukoma kronis). J. 2. Kurang pengetahuan: tentang proses penyakit. 4. Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIO. Riwayat stres.Penglihatan berawan atau kabur. alergi. Perubahan kacamata atau pengobatan tidak memperbaiki penglihatan. Rencana Keperawatan . Potensial injuri berhubungan dengan penurunan lapang pandang. Penurunan sensori persepsi visual berhubungan dengan kerusakan serabut syaraf oleh karena peningkatan TIO. gangguan sistem vaskuler. kehilangan penglihatan perifer. Nyeri tiba-tiba atau berat menetap atau tekanan padadan sekitar mata. Riwayat keluarga glaukoma. gangguan vasomotor(contoh: peningkatan tekanan vena). Peningkatan air mata. ketidakseimbangan endokrin. Tanda: Papil menyempit dan merah atau mata keras dengan kornea berawan.

-Hindari menyilaukan. Penurunan sensori persepsi visual berhubungan dengan kerusakan serabut syaraf karena peningkatan TIO Kriteria Evaluasi:    Klien dapat meneteskan obat dengan benar Kooperatif dalam tindakan Menyadari hilangnya pengelihatan secara permanen Tidak terjadi penurunan visus lebih RASIONAL lanjutINTERVENSI 1. -Letakan alat-alat yang sering dipakai dalam jangkuan pengelihatan klien.Memberikan keakuratan thd pengelihatan 2. -Letakan alat-alat ditemapat yang tetap. -Berikan bahan-bahan bacaan dengan tulisan yang besar. kemampuan pengelihatan: -Orientasikan thd lingkungan. Meningkatkan rangsangan pada waktu kemampuan pengelihatan pencahayaan yang . dapat dilihat/tidak.Sesuaikan lingkungan 3.Menetukan kemampuan visual 2.Meningkatkan self care dan dengan mengurangi ketergantungan. 4.1. -Gunakan jam yang ada bunyinya.Kaji dan catat ketajaman 1. -Berikan pencahayaan yang cukup.Kaji deskripsi fungsional apa yang pengelihatan dan perawatan. 3.

Anjurkan pada alternatif bentuk rangsangan seperti radio. kurangnya pengetahuan.4. klien 2. 3. Kriteria evaluasi:    Berkurangnya perasaan gugup Mengungkapkan pemahaman tentang rencana tindakan Posisi tubuh rileks. 4.Siapakn bel di tempat tidur dan bila mohon bantuan.Kaji jumlah dan tipe rangsangan menurun. mengekspresikan tentang kondisinya. Cemas berhubungan dengan penurunan pengelihatan. 4.Jelaskan tujuan setiap tindakan 5. pertahankan kontrol nyeri yang 6.Dengan memberikan perhatian akan menambah kepercayaan klien.Berikan kesemapatan menambah kecemasan.Nyeri adalah sumber stress efektif .Dengan penjelasan akan memberikan informasi yang jelas.Hati-hati menyampaikan hilangnya 1.Kalau pengelihatan secara permanen 2. akan INTERVENSI 1. 2. 3.Pengekspresikan perasaan membantu klien mengidentifikasi sumber cemas. 6. yang dapat diterima klien. RASIONAL klien belum siap. TV.Rileks dapat menurunkan cemas. 5. intruksikan klien memberikan tanda 5.Pertahankan kondisi yang rileks.

Balai Penerbit FKUI : 2000. Perawatan Mata.Corwin.DAFTAR PUSTAKA Brunner&suddhart. EGC: Jakarta Ilyas. Jakarta Smeltzer. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol.3. Bahtiar. A. Buku Saku Patofisiologi ed. 2001. . Suzanne C. 3. Philadelphia. Sidharta. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.dkk. USA Mansjoer. 2009. 2004. Askep Glaukoma. Nursing Diagnosis: Definitions and classification. EGC : Jakarta Ilmu Latif. 2009-20011. Media aesculapius : Jakarta NANDA. Kapita selekta kedokteran. Elizabeth J. 2009. EGC: Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful