SPONDILITIS TB PENDAHULUAN Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang

bersifat kronik destruktif yang disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosa. Spondilitis tuberkulosa dikenal juga sebagai penyakit Pott, paraplegi Pott. Nama Pott itu merupakan penghargaan bagi Pervical Pott seorang ahli bedah berkebangsaan Inggris yang pada tahun 1879 menulis dengan tepat tentang penyakit tersebut. Penyakit ini merupakan penyebab paraplegia terbanyak setelah trauma, dan banyak dijumpai di Negara berkembang. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebra T8-L3 dan paling jarang pada vertebra C12.(1,2,3,4) INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI Spondilitis tuberkulosa merupakan 50% dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi. Pada negara yang sedang berkembang, sekitar 60% kasus terjadi pada usia dibawah usia 20 tahun sedangkan pada negara maju, lebih sering mengenai pada usia yang lebih tua. Meskipun perbandingan antara pria dan wanita hampir sama, namun biasanya pria lebih sering terkena dibanding wanita yaitu 1,5:2,1. Di Ujung Pandang spondilitis tuberkulosa ditemukan sebanyak 70% dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi. Umumnya penyakit ini menyerang orang-orang yang berada dalam keadaan sosial ekonomi rendah.(1,3,4,5,6,7) ETIOLOGI Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 90-95% disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5-10% oleh mikobakterium tuberkulosa atipik. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman, tertidur lama selama beberapa tahun.(1,8) PATOFISIOLOGI Basil TB masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus respiratorius. Pada saat terjadi infeksi primer, karena keadaan umum yang buruk maka dapat terjadi basilemia. Penyebaran terjadi secara hematogen. Basil TB dapat tersangkut di paru, hati limpa, ginjal dan tulang. Enam hingga 8 minggu kemudian, respons imunologik timbul dan fokus tadi dapat mengalami reaksi selular yang kemudian menjadi tidak aktif atau mungkin sembuh sempurna. Vertebra merupakan tempat yang sering terjangkit tuberkulosis tulang. Penyakit ini paling sering menyerang korpus vertebra. Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih dari satu vertebra. Infeksi berawal dari bagian sentral, bagian depan, atau daerah epifisial korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan perlunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan pada korteks epifise, discus intervertebralis dan vertebra sekitarnya. Kerusakan pada bagian depan korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis yang dikenal sebagai gibbus. Berbeda dengan infeksi lain yang cenderung menetap pada vertebra yang bersangkutan, tuberkulosis akan terus menghancurkan vertebra di dekatnya.(1,2,3,4,9) Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, kaseosa, tulang yang fibrosis serta basil tuberkulosa) menyebar ke depan, di bawah ligamentum longitudinal anterior dan mendesak aliran darah vertebra di dekatnya. Eksudat ini dapat menembus ligamentum dan berekspansi ke berbagai arah di sepanjang garis ligament yang lemah.(1,2,3,5) Pada daerah servikal, eksudat terkumpul di belakang fasia paravertebralis dan menyebar ke lateral

Stadium gangguan neurologis Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi. tetapi terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Stadium destruksi awal Setelah stadium implantasi. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di sebelah depan (wedging anterior) akibat kerusakan korpus vertebra. 4. Abses pada vertebra torakalis biasanya tetap tinggal pada daerah toraks setempat menempati daerah paravertebral. Pada vertebra lumbalis 1. Eksudat dapat mengalami protrusi ke depan dan menonjol ke dalam faring yang dikenal sebagai abses faringeal.(1. yang tejadi 2-3 bulan setelah stadium destruksi awal. atau kavum pleura. Abses dapat berjalan ke mediastinum mengisi tempat trakea. Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk mengikuti muskulus psoas dan muncul di bawah ligamentum inguinal pada bagian medial paha. Eksudat juga dapat menyebar ke daerah krista iliaka dan mungkin dapat mengikuti pembuluh darah femoralis pada trigonum skarpei atau regio glutea. Abses pada daerah ini dapat menekan medulla spinalis sehingga timbul paraplegia. Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus intervertebralis. Trombosis arteri yang vital ini akan menyebabkan paraplegia. Stadium implantasi.5) Kerusakan medulla spinalis akibat penyakit Pott terjadi melalui kombinasi 4 faktor yaitu :(2) 1. kolaps vertebra dan terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin).2. selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra serta penyempitan yang ringan pada discus. Iskemia akibat penekanan pada arteri spinalis 3. 2. Faktor lain yang perlu diperhitungkan adalah diameter relatif antara medulla spinalis dengan kanalis vertebralisnya.2. sedang kanalis vertebralis di daerah tersebut relative kecil. 3. Hal ini mungkin dapat menjelaskan mengapa paraplegia lebih sering terjadi pada lesi setinggi vertebra torakal 10. Stadium destruksi lanjut Pada stadium ini terjadi destruksi yang massif. tetapi menurut Bedbrook (1981) paling sering pada vertebra torakalis 12 dan bila dipisahkan antara yang menderita paraplegia dan nonparaplegia maka paraplegia biasanya pada vertebra torakalis10 sedang yang non paraplegia pada vertebra lumbalis.3. Proses ini berlangsung selama 3-6 minggu.di belakang muskulus sternokleidomastoideus.(1. berbentuk massa yang menonjol dan fusiform. Terjadinya endarteritis tuberkulosa setinggi blokade spinalnya 4. bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama 6-8 minggu. kanalis vertebralisnya jelas lebih besar oleh karena itu lebih memberikan ruang gerak bila ada kompresi dari bagian anterior. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus dan pada anakanak umumnya pada daerah sentral vertebra. maka bila daya tahan tubuh penderita menurun. Setelah bakteri berada dalam tulang. Penekanan oleh abses dingin 2. esophagus.5) Menurut Gilroy dan Meyer (1979). Penyempitan kanalis spinalis akibat angulasi korpus vertebra yang rusak Kumar membagi perjalanan penyakit ini dalam 5 stadium yaitu :(1) 1. Gangguan ini ditemukan 10% dari . yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus. Penjelasan mengenai hal ini sebagai berikut : arteri induk yang mempengaruhi medulla spinalis segmen torakal paling sering terdapat pada vertebra torakal 8-lumbal 1 sisi kiri. Intumesensia lumbalis mulai melebar kira-kira setinggi vertebra torakalis 10. abses tuberkulosis biasanya terdapat pada daerah vertebra torakalis atas dan tengah.

hiper-refleksia dan refleks Babinski bilateral. Kifosis atau gibbus bersifat permanen oleh karena kerusakan vertebra yang massif di sebelah depan. Pada penyakit yang masih aktif. Paraplegia pada penyakit yang sudah tidak aktif/sembuh terjadi oleh karena tekanan pada jembatan tulang kanalis spinalis atau oleh pembentukan jaringan fibrosis yang progresif dari jaringan granulasi tuberkulosa. nafsu makan berkurang. Pada tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensoris. Stadium deformitas residual Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah timbulnya stadium implantasi. Bila terjadi gangguan neurologis. yaitu badan lemah/lesu. klonus.(2) DIAGNOSIS Klinis . Pada stadium awal ini belum ditemukan deformitas tulang vertebra.termasuk akibat penekanan medulla spinalis yang menyebabkan paraplegia. spastisitas.3. Derajat III : terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi gerak/aktivitas penderita serta hipoestesia/anesthesia. Nyeri spinal yang menetap. Tuberkulosis paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi secara dini atau lambat tergantung dari keadaan penyakitnya. Gangguan sensorik pada stadium awal jarang dijumpai kecuali bila bagian posterior tulang juga terlibat.10) Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang kepala.. Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 50% kasus.(1) Harus diingat pada mulanya penekanan mulai dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang muncul terutama gangguan motorik. Derajat II : terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita masih dapat melakukan pekerjaannya. berat badan menurun. 5. Tanda yang biasa ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus).seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa.5) Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut. maka perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia. Tuberkulosis paraplegia terjadi secara perlahan dan dapat terjadi destruksi tulang disertai angulasi dan gangguan vaskuler vertebra. terbatasnya pergerakan spinal. paraplegia terjadi oleh karena tekanan ekstradural dari abses paravertebral atau akibat kerusakan langsung sumsum tulang belakang oleh adanya granulasi jaringan. yaitu : Derajat I : kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan aktivitas atau setelah berjalan jauh. gangguan menelan dan gangguan pernapasan akibat adanya abses retrofaring.6.(1. Derajat IV : terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan defekasi dan miksi. GAMBARAN KLINIS Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada umumnya.7. paraparesis. ataupun nyeri radix saraf. dan komplikasi neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut. dan tanda-tanda defisit neurologis seperti yang sudah disebutkan di atas. suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung.(2. demikian pula belum terdapat nyeri ketok pada vertebra yang bersangkutan. Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari. Vertebra torakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini.kemudian diikuti dengan paraparesis yang lambat laun makin memberat. bengkak pada daerah paravertebra.

Mendeteksi lebih awal serta lebih efektif umtuk menegaskan bentuk dan kalsifikasi dari abses jaringan lunak.12) • Pemeriksaan foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru.3.Penyakit ini berkembang lambat. Tirah baring (bed rest) b. Memperbaiki keadaan umum penderita . Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft) Pengobatan terdiri atas :(1) 1.(1) Prinsip pengobatan paraplegia Pott sebagai berikut :(2) 1.2.Mengevaluasi infeksi diskus intervertebra dan osteomielitis tulang belakang.11. test Queckenstedt menunjukkan adanya blokade sehingga menimbulkan sindrom Froin yaitu kadar protein likuor serebrospinalis amat tinggi hingga likuor dapat secara spontan membeku. Dekompresi medulla spinalis 3. osteolitik dan destruksi korpus vertebra. terutama paraplegia Pemeriksaan Laboratorium:(1.. Menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi 4. kolaps diskus dan gangguan sirkumferensi tulang.2. Pemberian obat antituberkulosis 2. Akan didapati tekanan cairan serebrospinalis rendah.6. • Foto polos vertebra. . Terapi konservatif berupa: a.4.5. Pemeriksaan Radiologis:(1. Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra /membatasi gerak vertebra c. di daerah torakal berbentuk bulbus dan pada daerah lumbal abses terlihat berbentuk fusiform.7.CT scan dapat memberi gambaran tulang secara lebih detail dari lesi irreguler. harus dilakukan dengan hati-hati . ditemukan osteoporosis.5.4. . Terlihat destruksi litik pada vertebra (panah hitam) dengan abses soft-tissue (panah putih) • Pemeriksaan MRI . abses paravertebral di daerah servikal berbentuk sarang burung (bird’s net). Pada foto AP. Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat sehingga timbul kifosis. PENATALAKSANAAN Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah paraplegia.11) • Peningkatan LED dan mungkin disertai leukositosis • Uji Mantoux positif • Pada pewarnaan Tahan Asam dan pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan mikobakterium • Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional.karena jarum dapat menembus masuk abses dingin yang merambat ke daerah lumbal.2. disertai penyempitan discus intervertebralis yang berada di antara korpus tersebut dan mungkin dapat ditemukan adanya massa abses paravertebral.Menunjukkan adanya penekanan saraf. • Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel • Pungsi lumbal. tanda dan gejalanya dapat berupa :(1. skelerosis. • Pemeriksaan CT scan .4) • Nyeri punggung yang terlokalisir • Bengkak pada daerah paravertebral • Tanda dan gejala sistemik dari TB • Tanda defisit neurologis.

Tahap 1 : Rifampisin 450 mg. Operasi radikal e. • Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos. Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang Operasi kifosis .500 mg.Kategori 2 Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat selama sebulan. mielografi ataupun pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada medulla spinalis. paraplegia dan kifosis. gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang serta gambaran radiologik ditemukan adanya union pada vertebra. yaitu: a.d. Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita bertambah baik. Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. Kosto-transveresektomi c. namun tindakan operatif masih memegang peranan penting dalam beberapa hal. Pirazinamid 1500mg dan Etambutol 750 mg. Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata b.Kategori 1 Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA(-)/rontgen (+). Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan. Pengobatan antituberkulosa Standar pengobatan di indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah : . INH 300 mg dan Pirazinamid 1. . Abses Dingin (Cold Abses) Cold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh karena dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian tuberkulostatik. yaitu: a. diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 4 bulan (54 kali). 2. Laminektomi c. Ada tiga cara menghilangkan lesi tuberkulosa. diberikan dalam 2 tahap . Debrideman fokal b. INH 300 mg. Kosto-transveresektomi d. Obat ini diberikan setiap hari . setiap spondilitis tuberkulosa diberikan obat tuberkulostatik. Etambutol 750 mg. Paraplegia Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia. Rifampisin 450 mg dan Etambutol 1250 mg. yaitu bila terdapat cold abses (abses dingin). laju endap darah menurun dan menetap. INH 600 mg. Terapi operatif Indikasi operasi yaitu: • Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat. Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi dilakukan. • Tahap 2 diberikan INH 600 mg. Rifampisin 450 mg. • Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka dan sekaligus debrideman serta bone graft. Obat diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 5 bulan (66 kali). termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal yang diberikan dalam 2 tahap yaitu : • Tahap I diberikan Streptomisin 750 mg . Tahap 2: Rifampisin 450 mg. Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90 kali). Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi penderita tuberkulosis tulang belakang. lesi tuberkulosa. Obat ini diberikan setiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali).

Makassar: Bintang Lamumpatue. Anonim. Pott Disease. Pyogenic osteitis PROGNOSIS Diagnosis sedini mungkin.[3 screens]. 195-197 3. p.[2 screens].com 9. Available from: URL:http://www.[4 screens].[5 screens]. Available from: URL:http://www.nejm. Spinal tuberculosis: CT and MRI features. yang dapat menyebabkan terjadinya resistensi terhadap pengobatan.[5 screens]. Available from: URL:http://www. [Online]. V. Pott Disease. Penyakit dapat kambuh jika pengobatan tidak teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat. p.co. Introduction. [Online]. Spinal Tuberculosis. Harisinghani.edu.bsac.[17 screens].medassocthai. Tuberculosis from Head to Toe. Yanardag. [Online]. 2007 Sept 13 [cited 2008 Feb 27].(7) DAFTAR PUSTAKA 1.Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat. Available from: URL:http://www. Anonim.infeksi. [Online]. [Online].uk 5. Available from: URL:http://www. 2007 Feb 19 [cited 2008 Des 27].[4 screens].ispub.com 4. Penyakit paget pada tulang. Spondylitis Tuberkulosa.eMedicine. 2006 Oct [cited 2008 Des 27].blogspot. 2003. [Online].com/med/topic 6.com 10. Available from: URL:http://www. 2007 Sept 26 [cited 2008 Feb 27].II. Tamburaf.kfshrc. Anonim.org. Kifosis mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak-anak. 144-149 2.. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.sa 12. Available from: URL:http:// www.patient. prognosisnya baik meskipun tanpa tindakan operatif. II. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi radikal. Paget’s disease of bone. Available from: URL:http:www. Danchaivijitr. Anonim. Available from: URL:http://www. Available from: URL:http:// www.com 8. [Online]. [Online]. 1999 Feb 19 [cited 2008 Des 27]. 2005 Oct [cited 2008 Feb 27]. Sinan.medlinux. 1999 Feb 19 [cited 2008 Des 27].com 11. 2005 Aug 25 [cited 2008 Feb 27]. Ed.thamburaj.[4 screens]. Harsono. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding dari penyakit ini antara lain :(3) 1. N. Ed. Spondilitis Tuberkulosa dalam Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Rasjad C. [Online]. Diagnostic Accuracy of MR Imaging in Tuberculous Spondylitis. Fraktur kompresi traumatik 3. [Online]. H. T. MG. dan dengan pengobatan yang tepat. JA.org/journal .[5 screens].[3 screens]. 1999 Feb 19 [cited 2008 Des 27].uk/showdoc/40001278/ 7. Tumor medulla spinalis 2. Hidalgo. 2003. 2006 Oct [cited 2008 Feb 27]. Spondilitis Tuberkulosa dalam Kapita Selekta Neurologi.

siku 2 %. dan vertebra lumbal 25 %). telah terinfeksi kuman Micobacterium tuberculosis. penuh sesak. Angka infeksi tertinggi di Asia Tenggara. Afrika. pelvis pada 12 % pasien. Di Amerika Serikat. Sebaliknya. pergelangan kaki 2 %.9 milyar manusia. panggul dan paha pada 10 %. Tuberkulosis ekstrapulmoner lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa yaitu sekitar sepertiga dari anak-anak dengan tuberkulosis punya manifestasi ekstrapulmoner. seperlima dari kasus baru tuberkulosis dihubungkan dengan penyakit ekstrapulmoner. perwatan kesehatan yang tidak cukup. Pada orang dewasa. sepertiganya penduduk dunia ini. dua pertiga kasus terjadi pada orang laki-laki. penyakit ini melibatkan tulang vertebra pada 50 % pasien (vertebra torakal pada 50 %. Tuberkulosis telah dilaporkan terdapat pada seluruh tulang di tubuh. Tuberkulosis terutama menonjol di populasi yang mengalami stres. DEFINISI Spondilitis Tuberkulosa ialah suatu bentuk infeksi tuberkulosis ekstrapulmoner yang mengenai tulang belakang (vertebra). vertebra servikal 25 %.I. Infeksi mulai dari korpus vertebra. tulang iga 7 %. . nutrisi jelek. India. termasuk defisit neurologis yang permanen deformitas berat. Cina. II. Kisaran umur 5-14 tahun sering disebut “umur kesayangan” karena pada semua populasi manusia kelompok ini mempunyai frekuensi penyakit tuberkulosis yang terendah. dan perpindahan tempat. Spinal tuberkulosis dapat menyebabkan morbiditas yang serius. pada populasi kulit berwarna tuberkulosis paling sering pada orang dewasa muda dan anak-anak umur kurang dari lima tahun. dan tempat lain 3 %. Di Amerika. Pengobatan medis atau kombinasi medis dan pembedahan dapat mengontrol penyakit ini pada banyak pasien. tetapi ada sedikit dominasi tuberkulosis pada wanita di masa anak. PENDAHULUAN Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 1. Percival Pott mempresentasikan tentang spinal tuberkulosis pada tahun 1779. Spinal tuberkulosis telah dikenal sejak zaman kuno di Egyp & Peru dan penyakit ini merupakan salah satu penyakit tertua pada manusia yang pernah ditemukan. lutut dan tungkai bawah 10 %. Frekuensi tuberkulosis terjadi pada orang tua populasi kulit putih di Amerika Serikat. dan Amerika Latin. spinal tuberkulosis menjadi jarang dijumpai. menjalar ke diskus intervertebralis dan kemudian mencapai alat-alat dan jaringan di dekatnya. dan sejak adanya obat antituberkulosis dan meningkatnya derajat kesehatan masyarakat.

Sebagai proses kelanjutan dapat berkembang abses yang pada mulanya merupakan tempat hancurnya jaringan yang terkena proses tuberkulosa. Gibus yang runcing ini disebut gibus angularis. Bila yang mengalami kerusakan lebih dari satu vertebra. Bila yang rusak hanya sebuah korpus vertebra saja.L1) adalah sebesar 23 %. Kemudian dapat terjadi perluasan ke bawah atau menjebol ke posterior di sela subdural. Ia pun dapat menurun sampai ke pelvis dan menjebol di daerah gluteus dan menurun ke bagian lateral paha. Gibus tidak selamanya disertai penjebolan diskus intervertebralis. lalu berkembang di dalam sarung otot tersebut dan akhirnya tiba di bawah ligamentum Poupart. Dan di tingkat torakolumbal (T12. lengkungan yang terjadi runcing bentuknya. III. Dalam hal itu foto rontgen memperlihatkan tulang belakang yang normal. Pada tempat ini ia dapat salah didiagnosa sebagai hernia. PATOGENESIS Spondilitis tuberkulosa merupakan kelanjutan dari penyebaran kuman tuberkulosa yang sudah bermukim di tubuh. Lokalisasi di tingkat lumbal terdapat pada 31 % penderita. . sehingga tidak timbul kompresi medula spinalis. Bila ligamentum longitudenal posterior saja yang terkena maka proses itu dapat berkembang di bagian itu saja tanpa merusak tulang belakang. Gibus itu disebut gibus yang terkompensasi. Kuman tuberkulosa pertama bersarang di korpus vertebra.Walaupun Spondilitis Tuberkulosa dapat berkembang di tiap korpus vertebra. gibus yang terjadi berbentuk seperti busur dan dinamakan gibus arkuatus. Konsekuensinya ialah deformitas tulang belakang setempat sehingga timbul gibusdan timbulnya penekanan pada medula spinalis akibat proses tuberkulosa itu berada di salah satu korpus vertebra. Abses paravertebral itu bisa menurun dan tiba di tepat origo otot psoas. Penyebaran itu berlangsung melalui aliran darah arteri vertebralis. namun menurut statistik lokalisasi di vertebra torakal adalah paling umum (35 %). Sarang itu terletak dekat lapisan epifisial atas atau bawah. Semain hancur maka terjadilah abses yang pada permulaan menjebol ke anterior dan ke samping korpus vertebra. misalnya di paru atau kelenjar getah bening. tapi pasien bisa berada dalam keadaan paraplegi akibat penekanan terhadap medula spinalis. Erosi yang terjadi akibat perkembangan sarang tuberkulosa itu merusak korpus vertebra dan menjebolkan diskus intervertebralis ke dalam kanalis vertebralis. Di sini ia dapat salah didiagnosa sebagai lipoma. Penjebolan ke belakang di sela subdural inilah yang mengakibatkan paraplegi.

Jika terjadi abses. pembengkakan dengan fluktuasi yang ringan akan tampak pada sisi yang sama pada leher di belakang otot sternomastoid atau tonjolan pada bagian belakang mulut (faring). Dengan adanya penyakit pada regio ini. Mulai timbul setelah anak belajar berjalan dan melompat. Untuk mengurangi keadaan ini anak menarik punggungnya kuat-kuat. di mana juga berada di bawah serabut saraf spinal. Jika ini terjadi akan tampak sebagai pembengkakan lunak di atas atau di bawah ligamentum pada lipat paha atau di bawahnya tetap pada sisi dalam dari paha (abses psoas). yang tidak lama berikutnya akan jelas lokalisasinya karena nyerinya lebih mudah timbul dan lebih keras intensitasnya. Dia akan merasa nyeri pada leher atau pundaknya. · Keluhan yang paling dini berupa rasa pegal di punggung yang belum jelas lokalisasinya. Ø Pada punggung bawah sampai iga terakhir (regio toraks). Ø Saat tulang belakang yang terkena lebih rendah dari dada (regio lumbal). Kemudian terasa nyeri sejenak kalau badan digerakkan atau tergerak. Kemudian akan terdapat pembengkakan atau lekukan yang nyata pada tulang belakang (gibus) diperlihatkan dengan korpus vertebra yang terlipat. Pada tahap yang agak lanjut nyeri di punggung itu ditambah dengan nyeri interkostal yang bersifat radikular. Anak menghindari penekukan tubuh waktu mengambil sesuatu di lantai. · Tanda-tanda pada tingkatan yang berbeda : Ø Pada leher. Kemudian terjadi pada semua umur. penderita memiliki punggung yang besar. Jika menuju ke punggung dapat menekan serabut saraf spinal yang menyebabkan paralisis. Ø Jika abses ini menjalar menuju dada bagian kanan dan kiri serta akan muncul sebagai pembengkakan yang lunak pada dinding dada (abses dingin yang sama dapat menyebabkan tuberkulosis kelenjar getah bening interkosta). Rasa nyeri akan membaik bila dia beristirahat. Saat memungut sesuatu dari lantai dia menekuk lututnya sementara punggungnya tetap lurus.IV. Jika terpaksa dia hanya menekukkan lututnya untuk menjaga punggungnya tetap lurus. pus juga dapat menjalar pada otot sebagaimana pada tingkat yang lebih tinggi. jika mengenai vertebra servikal penderita tidak suka memutar kepalanya dan duduk dengan meletakkan dagu di tangannya. Pada keadaan yang jarang pus dapat berjalan menuju pelvis dan mencapai permukaan belakang sendi . Dalam gerakan memutar dia lebih sering menggerakkan kakinya daripada mengayunkan pinggulnya. MANIFESTASI KLINIS Tuberkulosis pada tulang belakang tidak tampak pada tahun pertama kehidupan. Nyeri itu terasa bertolak dari ruas tulang belakang dan menjalar sejajar dengan iga ke dada dan berhenti tepat di garis tengah dada.

v Paravertebral bengkak. terdapat gibus. Di beberapa negara Afrika juga didapati pembesaran kelenjar getah bening. pembesaran hati dan limpa. Pmeriksaan neurologis perlu dilakukan pada daerah diatas dan di bawah lesi. Pemeriksaan fisis Tujuan pemeriksaan fisis : .Untuk menemukan tanda-tanda spinal tuberkulosis . Pasien dengan spinal tuberkulosis berjalan dengan langkah-langkah pendek untuk menghindari sentakan pada tulang belakang. kehilangan berat badan dan kehilangan nafsu makan.) Ø Pada pasien-pasien dengan malnutrisi akan didapatkan demam (kadang-kadang demam tinggi). juga terdapat kelemahan dari anggota badan bawah dan paralisis (paraplegi) akibat tekanan pada serabut saraf spinal atau pembuluh darah. Pasien dengan tuberkulosis servikal memiliki leher yang kaku. dan refleks diperlukan untuk menilai fungsi kemih dan defekasi. Pemeriksaan penunjang v Pemeriksaan laboratorium : o Tuberkulin skin test menunjukkan hasil yang positif pada 84-95% pasien dengan HIV negatif. tingkat kompresi neurologi. dan tingkat keparahan kompresi neurologis. Tujuan pemeriksaan neurologis adalah untuk menemukan ada tidaknya kompresi neurologis. v Sikap tubuh dan deformitas.Untuk menemukan komplikasinya seperti abses dingin atau paraplegi * Pemeriksaan fisis yang sistematis pada kasus sangkaan spinal tuberkulosis : v Gaya berjalan. kemerahan dapat ditemukan pada abses dingin yang superfisial. tuberkel subkutan. PEMERIKSAAN A.panggul. juga pemeriksaan fungsi motorik. B. o Laju endap darah dapat meningkat lebih dari 100 mm/jam o Pemeriksaan mikrobiologi BTA. (Pada negara-negara dengan prevalensi tinggi 1 dari 4 penderita dengan tuberkulosis tulang belakang mempunyai abses yang dapat diraba.Untuk melokalisasi lesi yang ada . Ø Pada penyakit-penyakit yang lanjut mungkin tidak hanya terdapat gibus (angulasi dari tulang belakang). kultur dan test sensitivitas . sensorik. V. pasien dengan tuberkulosis spinal dorsalis.

· MRI merupakan kriteria standar untuk mengevaluasi infeksi pada rongga diskus dan osteomielitis dari spinal dan paling efektif untuk menunjukkan perluasan penyakit ini ke jaringan lunak dan penjalaran debris tuberkulosa ke ligamen longitudinal anterior dan posterior. sklerosis. kolaps diskus. VI. yang berupa refleks tendon yang meninggi dan refleks Babinski yang positif. Dapat mendeteksi lesi yang dini dan lebih efektif mendefenisikan bentuk dan kalsifikasi dari abses. dapat memberi gambaran jaringan lunak yang lebih baik. Diskus prolaps 4. Tumor spinal . sekalipun penderitanya belum mengeluh bahwa kedua tungkainya agak lemah (paraparese ringan) atau mengeluh bahwa gaya berjalannya kurang mantap. MRI paling efektif untuk melihat kompresi neural. DIAGNOSA BANDING 1. Traumatik 2. terutama daerah epidural dan paraspinl. VII.v Pemeriksaan radiologi : · Foto polos dapat menunjukkan gambaran khas tuberkulosis spinal : o Destruksi lisis dari bagian anterior vertebra o Penyempitan diskus intervertebralis bagian anterior o Korpus vertebra hancur o Tampak sklerosis pada proses lisis yang progresif o Osteoporosis pada lapisan bawah vertebra o Pembesaran bayangan psoas dengan atau tanpa kalsifikasi o Diskus interventrebral menyusup atau hancur · CT-scan dapat memberi gambaran lebih baik dari tulang dengan lesi lisis irreguler. v Biopsi jarum juga membantu kasus yang sulit tetapi memerlukan pengalaman dan ilmu jaringan yang baik. Myeloma 3. Ankylosing spondilitis 5. KOMPLIKASI Komplikasi timbul sebagai manifestasi dari kompresi medula spinalis.

PROGNOSA · Tingkat efektifitas terapi tinggi jika tidak terdapat komplikasi deformitas berat dan defisit neurologis. paraparese. Lamanya pengobatan masih kontroversial. digunakan regimen empat obat. · Jika terapi medis tidak berhasil. · Paraplegi dapat muncul dan menetap pada kerusakan medula spinalis yang permanen.VIII. Regimen tiga obat tersebut adalah INH.INDRA YACOB DI 14:27 . paraplegi) 2. British Medical Research Council menyatakan bahwa spondilitis tuberkulosa harus diterapi dengan regimen pengobatan kombinasi tiga obat anti tuberkulosa selama 6-9 bulan. Rifampicin dan Pirazinamide. Gabungan pengobatan dan pembedahan pada pasien sudah dikembangkan. · Paraplegi yang dihasilkan dari kompresi medula spinalis biasanya punya respons yang baik terhadap pengobatan antituberkulosa. Jadi lamanya pengobatan bersifat individual dan tergantung kepada penyembuhan dari gejala aktif dan stabilitas gejala klinis dari pasien. spondilitis tuberkulosis diterapi dengan immobilisasi pada tirah baring yang lama. Frekuensi mortalitasnya ± 20 %. Tidak respons dengan terapi medis IX. dan kekambuhan ± 30 %. Indikasi pembedahan pada spondilitis tuberkulosis adalah : 1. tetapi yang masih lazim dipakai sekarang adalah pengobatan selama 9-12 bulan. operasi dekompresi akan meningkatkan angka kesembuhan. Pada daerah dengan resisten INH. PENATALAKSANAAN Sebelum ditemukannya pengobatan antituberkulosa. Adanya defisit neurologis (kemunduran neurologis akut. Walaupun penelitian menganjurkan selama 6-9 bulan. Deformitas spinal yang tidak stabil 3. DIPOSKAN OLEH DR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful