SPONDILITIS TB PENDAHULUAN Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang

bersifat kronik destruktif yang disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosa. Spondilitis tuberkulosa dikenal juga sebagai penyakit Pott, paraplegi Pott. Nama Pott itu merupakan penghargaan bagi Pervical Pott seorang ahli bedah berkebangsaan Inggris yang pada tahun 1879 menulis dengan tepat tentang penyakit tersebut. Penyakit ini merupakan penyebab paraplegia terbanyak setelah trauma, dan banyak dijumpai di Negara berkembang. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebra T8-L3 dan paling jarang pada vertebra C12.(1,2,3,4) INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI Spondilitis tuberkulosa merupakan 50% dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi. Pada negara yang sedang berkembang, sekitar 60% kasus terjadi pada usia dibawah usia 20 tahun sedangkan pada negara maju, lebih sering mengenai pada usia yang lebih tua. Meskipun perbandingan antara pria dan wanita hampir sama, namun biasanya pria lebih sering terkena dibanding wanita yaitu 1,5:2,1. Di Ujung Pandang spondilitis tuberkulosa ditemukan sebanyak 70% dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi. Umumnya penyakit ini menyerang orang-orang yang berada dalam keadaan sosial ekonomi rendah.(1,3,4,5,6,7) ETIOLOGI Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 90-95% disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5-10% oleh mikobakterium tuberkulosa atipik. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman, tertidur lama selama beberapa tahun.(1,8) PATOFISIOLOGI Basil TB masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus respiratorius. Pada saat terjadi infeksi primer, karena keadaan umum yang buruk maka dapat terjadi basilemia. Penyebaran terjadi secara hematogen. Basil TB dapat tersangkut di paru, hati limpa, ginjal dan tulang. Enam hingga 8 minggu kemudian, respons imunologik timbul dan fokus tadi dapat mengalami reaksi selular yang kemudian menjadi tidak aktif atau mungkin sembuh sempurna. Vertebra merupakan tempat yang sering terjangkit tuberkulosis tulang. Penyakit ini paling sering menyerang korpus vertebra. Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih dari satu vertebra. Infeksi berawal dari bagian sentral, bagian depan, atau daerah epifisial korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan perlunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan pada korteks epifise, discus intervertebralis dan vertebra sekitarnya. Kerusakan pada bagian depan korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis yang dikenal sebagai gibbus. Berbeda dengan infeksi lain yang cenderung menetap pada vertebra yang bersangkutan, tuberkulosis akan terus menghancurkan vertebra di dekatnya.(1,2,3,4,9) Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, kaseosa, tulang yang fibrosis serta basil tuberkulosa) menyebar ke depan, di bawah ligamentum longitudinal anterior dan mendesak aliran darah vertebra di dekatnya. Eksudat ini dapat menembus ligamentum dan berekspansi ke berbagai arah di sepanjang garis ligament yang lemah.(1,2,3,5) Pada daerah servikal, eksudat terkumpul di belakang fasia paravertebralis dan menyebar ke lateral

Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus dan pada anakanak umumnya pada daerah sentral vertebra. Stadium gangguan neurologis Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi. 3.2. Faktor lain yang perlu diperhitungkan adalah diameter relatif antara medulla spinalis dengan kanalis vertebralisnya. Stadium destruksi lanjut Pada stadium ini terjadi destruksi yang massif. Penjelasan mengenai hal ini sebagai berikut : arteri induk yang mempengaruhi medulla spinalis segmen torakal paling sering terdapat pada vertebra torakal 8-lumbal 1 sisi kiri. Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk mengikuti muskulus psoas dan muncul di bawah ligamentum inguinal pada bagian medial paha. Eksudat juga dapat menyebar ke daerah krista iliaka dan mungkin dapat mengikuti pembuluh darah femoralis pada trigonum skarpei atau regio glutea. sedang kanalis vertebralis di daerah tersebut relative kecil. Proses ini berlangsung selama 3-6 minggu. bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama 6-8 minggu. 4. Abses pada vertebra torakalis biasanya tetap tinggal pada daerah toraks setempat menempati daerah paravertebral. Penyempitan kanalis spinalis akibat angulasi korpus vertebra yang rusak Kumar membagi perjalanan penyakit ini dalam 5 stadium yaitu :(1) 1. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di sebelah depan (wedging anterior) akibat kerusakan korpus vertebra. kanalis vertebralisnya jelas lebih besar oleh karena itu lebih memberikan ruang gerak bila ada kompresi dari bagian anterior. Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus intervertebralis.5) Kerusakan medulla spinalis akibat penyakit Pott terjadi melalui kombinasi 4 faktor yaitu :(2) 1. Pada vertebra lumbalis 1. Penekanan oleh abses dingin 2. abses tuberkulosis biasanya terdapat pada daerah vertebra torakalis atas dan tengah. selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra serta penyempitan yang ringan pada discus. kolaps vertebra dan terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin). atau kavum pleura.2. tetapi menurut Bedbrook (1981) paling sering pada vertebra torakalis 12 dan bila dipisahkan antara yang menderita paraplegia dan nonparaplegia maka paraplegia biasanya pada vertebra torakalis10 sedang yang non paraplegia pada vertebra lumbalis. esophagus. Hal ini mungkin dapat menjelaskan mengapa paraplegia lebih sering terjadi pada lesi setinggi vertebra torakal 10. Iskemia akibat penekanan pada arteri spinalis 3. Eksudat dapat mengalami protrusi ke depan dan menonjol ke dalam faring yang dikenal sebagai abses faringeal.di belakang muskulus sternokleidomastoideus. Setelah bakteri berada dalam tulang. Stadium implantasi.(1. tetapi terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis.3.(1. yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus. Intumesensia lumbalis mulai melebar kira-kira setinggi vertebra torakalis 10. Gangguan ini ditemukan 10% dari . Abses dapat berjalan ke mediastinum mengisi tempat trakea. yang tejadi 2-3 bulan setelah stadium destruksi awal. berbentuk massa yang menonjol dan fusiform. Stadium destruksi awal Setelah stadium implantasi. 2. maka bila daya tahan tubuh penderita menurun. Trombosis arteri yang vital ini akan menyebabkan paraplegia. Abses pada daerah ini dapat menekan medulla spinalis sehingga timbul paraplegia. Terjadinya endarteritis tuberkulosa setinggi blokade spinalnya 4.5) Menurut Gilroy dan Meyer (1979).

paraparesis. gangguan menelan dan gangguan pernapasan akibat adanya abses retrofaring. Tuberkulosis paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi secara dini atau lambat tergantung dari keadaan penyakitnya. paraplegia terjadi oleh karena tekanan ekstradural dari abses paravertebral atau akibat kerusakan langsung sumsum tulang belakang oleh adanya granulasi jaringan. Stadium deformitas residual Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah timbulnya stadium implantasi.(2.seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa. Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 50% kasus. dan tanda-tanda defisit neurologis seperti yang sudah disebutkan di atas.6. Bila terjadi gangguan neurologis. Derajat III : terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi gerak/aktivitas penderita serta hipoestesia/anesthesia.7. Tanda yang biasa ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus). Gangguan sensorik pada stadium awal jarang dijumpai kecuali bila bagian posterior tulang juga terlibat. dan komplikasi neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut.(2) DIAGNOSIS Klinis . bengkak pada daerah paravertebra. berat badan menurun. spastisitas. hiper-refleksia dan refleks Babinski bilateral. Tuberkulosis paraplegia terjadi secara perlahan dan dapat terjadi destruksi tulang disertai angulasi dan gangguan vaskuler vertebra. Derajat II : terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita masih dapat melakukan pekerjaannya. Pada stadium awal ini belum ditemukan deformitas tulang vertebra. Pada tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensoris.(1. GAMBARAN KLINIS Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada umumnya. Paraplegia pada penyakit yang sudah tidak aktif/sembuh terjadi oleh karena tekanan pada jembatan tulang kanalis spinalis atau oleh pembentukan jaringan fibrosis yang progresif dari jaringan granulasi tuberkulosa. demikian pula belum terdapat nyeri ketok pada vertebra yang bersangkutan. ataupun nyeri radix saraf. Kifosis atau gibbus bersifat permanen oleh karena kerusakan vertebra yang massif di sebelah depan. klonus. Derajat IV : terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan defekasi dan miksi.3.. Pada penyakit yang masih aktif.kemudian diikuti dengan paraparesis yang lambat laun makin memberat. terbatasnya pergerakan spinal. Nyeri spinal yang menetap. maka perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia.termasuk akibat penekanan medulla spinalis yang menyebabkan paraplegia.(1) Harus diingat pada mulanya penekanan mulai dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang muncul terutama gangguan motorik. suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari. yaitu badan lemah/lesu.5) Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut. nafsu makan berkurang. yaitu : Derajat I : kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan aktivitas atau setelah berjalan jauh. Vertebra torakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini. 5.10) Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang kepala.

Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat sehingga timbul kifosis. test Queckenstedt menunjukkan adanya blokade sehingga menimbulkan sindrom Froin yaitu kadar protein likuor serebrospinalis amat tinggi hingga likuor dapat secara spontan membeku.12) • Pemeriksaan foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru.4.5. • Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel • Pungsi lumbal. Akan didapati tekanan cairan serebrospinalis rendah.CT scan dapat memberi gambaran tulang secara lebih detail dari lesi irreguler.2. terutama paraplegia Pemeriksaan Laboratorium:(1. abses paravertebral di daerah servikal berbentuk sarang burung (bird’s net). Menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi 4.2.Mendeteksi lebih awal serta lebih efektif umtuk menegaskan bentuk dan kalsifikasi dari abses jaringan lunak. . Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra /membatasi gerak vertebra c. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft) Pengobatan terdiri atas :(1) 1. di daerah torakal berbentuk bulbus dan pada daerah lumbal abses terlihat berbentuk fusiform. . • Foto polos vertebra. Dekompresi medulla spinalis 3. Pada foto AP.karena jarum dapat menembus masuk abses dingin yang merambat ke daerah lumbal. kolaps diskus dan gangguan sirkumferensi tulang. skelerosis. Pemberian obat antituberkulosis 2.5.(1) Prinsip pengobatan paraplegia Pott sebagai berikut :(2) 1.4. osteolitik dan destruksi korpus vertebra.Penyakit ini berkembang lambat. disertai penyempitan discus intervertebralis yang berada di antara korpus tersebut dan mungkin dapat ditemukan adanya massa abses paravertebral.11) • Peningkatan LED dan mungkin disertai leukositosis • Uji Mantoux positif • Pada pewarnaan Tahan Asam dan pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan mikobakterium • Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional. Terapi konservatif berupa: a.6.2. Pemeriksaan Radiologis:(1.7.3.Mengevaluasi infeksi diskus intervertebra dan osteomielitis tulang belakang. PENATALAKSANAAN Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah paraplegia. Terlihat destruksi litik pada vertebra (panah hitam) dengan abses soft-tissue (panah putih) • Pemeriksaan MRI . tanda dan gejalanya dapat berupa :(1. harus dilakukan dengan hati-hati . Tirah baring (bed rest) b.. • Pemeriksaan CT scan . ditemukan osteoporosis.4) • Nyeri punggung yang terlokalisir • Bengkak pada daerah paravertebral • Tanda dan gejala sistemik dari TB • Tanda defisit neurologis.11.Menunjukkan adanya penekanan saraf. Memperbaiki keadaan umum penderita .

Kosto-transveresektomi c. • Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka dan sekaligus debrideman serta bone graft. Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang Operasi kifosis . yaitu bila terdapat cold abses (abses dingin). Rifampisin 450 mg dan Etambutol 1250 mg. Obat ini diberikan setiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali).500 mg. . Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi dilakukan. • Tahap 2 diberikan INH 600 mg. Rifampisin 450 mg. Ada tiga cara menghilangkan lesi tuberkulosa. setiap spondilitis tuberkulosa diberikan obat tuberkulostatik. mielografi ataupun pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada medulla spinalis. Laminektomi c. Kosto-transveresektomi d. diberikan dalam 2 tahap . Debrideman fokal b. 2. Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. yaitu: a. termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal yang diberikan dalam 2 tahap yaitu : • Tahap I diberikan Streptomisin 750 mg . paraplegia dan kifosis. Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90 kali).Kategori 2 Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat selama sebulan. INH 300 mg dan Pirazinamid 1. Abses Dingin (Cold Abses) Cold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh karena dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian tuberkulostatik. Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi penderita tuberkulosis tulang belakang. Pengobatan antituberkulosa Standar pengobatan di indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah : . Operasi radikal e. INH 600 mg. Tahap 2: Rifampisin 450 mg. lesi tuberkulosa. diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 4 bulan (54 kali). Etambutol 750 mg. Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita bertambah baik. Obat ini diberikan setiap hari .d. yaitu: a.Kategori 1 Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA(-)/rontgen (+). Pirazinamid 1500mg dan Etambutol 750 mg. INH 300 mg. namun tindakan operatif masih memegang peranan penting dalam beberapa hal. Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata b. Terapi operatif Indikasi operasi yaitu: • Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat. • Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos. gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang serta gambaran radiologik ditemukan adanya union pada vertebra. laju endap darah menurun dan menetap. Obat diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 5 bulan (66 kali). Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan. Paraplegia Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia. Tahap 1 : Rifampisin 450 mg.

Rasjad C. [Online]. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Pott Disease. N. [Online]. T. 2007 Sept 13 [cited 2008 Feb 27]. p.patient. 2007 Sept 26 [cited 2008 Feb 27].ispub. [Online]. Spinal Tuberculosis. Available from: URL:http:www. Kifosis mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak-anak. [Online]. Spondilitis Tuberkulosa dalam Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. [Online]. JA. 2006 Oct [cited 2008 Feb 27]. Danchaivijitr.kfshrc. 1999 Feb 19 [cited 2008 Des 27]. Anonim. Penyakit paget pada tulang.blogspot.[5 screens]. 2005 Oct [cited 2008 Feb 27].II.[5 screens].[4 screens].[3 screens].com 4.uk 5. Ed.com 11.nejm. Sinan.[2 screens]. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi radikal.uk/showdoc/40001278/ 7. Spondylitis Tuberkulosa. Pott Disease. Available from: URL:http://www.Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat.eMedicine. Anonim. Available from: URL:http:// www. MG.co. Tuberculosis from Head to Toe. [Online]. Available from: URL:http://www. Paget’s disease of bone.[4 screens]. Available from: URL:http://www.infeksi. 1999 Feb 19 [cited 2008 Des 27]. Available from: URL:http://www. Diagnostic Accuracy of MR Imaging in Tuberculous Spondylitis. [Online]. Fraktur kompresi traumatik 3. Available from: URL:http://www. 1999 Feb 19 [cited 2008 Des 27].com 9. Anonim. yang dapat menyebabkan terjadinya resistensi terhadap pengobatan.com 10. 2005 Aug 25 [cited 2008 Feb 27]. V. 2006 Oct [cited 2008 Des 27].[4 screens].(7) DAFTAR PUSTAKA 1.com 8. Available from: URL:http:// www. [Online]. 2003.bsac.sa 12. 2007 Feb 19 [cited 2008 Des 27]. [Online]. Makassar: Bintang Lamumpatue. [Online].medlinux. Ed. Tamburaf. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding dari penyakit ini antara lain :(3) 1. Penyakit dapat kambuh jika pengobatan tidak teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat.[3 screens]. Hidalgo.[5 screens]. 195-197 3.org. Introduction.medassocthai.thamburaj. Yanardag. Tumor medulla spinalis 2. p. Spinal tuberculosis: CT and MRI features. Available from: URL:http://www.com/med/topic 6. Available from: URL:http://www. Anonim.. Spondilitis Tuberkulosa dalam Kapita Selekta Neurologi.[17 screens]. 144-149 2.org/journal . dan dengan pengobatan yang tepat. II. Harsono.edu. Harisinghani. Pyogenic osteitis PROGNOSIS Diagnosis sedini mungkin. H. 2003. prognosisnya baik meskipun tanpa tindakan operatif.

tulang iga 7 %. pelvis pada 12 % pasien. seperlima dari kasus baru tuberkulosis dihubungkan dengan penyakit ekstrapulmoner. Sebaliknya. Kisaran umur 5-14 tahun sering disebut “umur kesayangan” karena pada semua populasi manusia kelompok ini mempunyai frekuensi penyakit tuberkulosis yang terendah. dan tempat lain 3 %. Infeksi mulai dari korpus vertebra. Tuberkulosis terutama menonjol di populasi yang mengalami stres. dan Amerika Latin. Tuberkulosis ekstrapulmoner lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa yaitu sekitar sepertiga dari anak-anak dengan tuberkulosis punya manifestasi ekstrapulmoner.I. dan sejak adanya obat antituberkulosis dan meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. siku 2 %. DEFINISI Spondilitis Tuberkulosa ialah suatu bentuk infeksi tuberkulosis ekstrapulmoner yang mengenai tulang belakang (vertebra). Afrika. dan vertebra lumbal 25 %). Spinal tuberkulosis dapat menyebabkan morbiditas yang serius. II. dan perpindahan tempat. Di Amerika. perwatan kesehatan yang tidak cukup. pada populasi kulit berwarna tuberkulosis paling sering pada orang dewasa muda dan anak-anak umur kurang dari lima tahun. spinal tuberkulosis menjadi jarang dijumpai. India. Spinal tuberkulosis telah dikenal sejak zaman kuno di Egyp & Peru dan penyakit ini merupakan salah satu penyakit tertua pada manusia yang pernah ditemukan. vertebra servikal 25 %. termasuk defisit neurologis yang permanen deformitas berat.9 milyar manusia. Frekuensi tuberkulosis terjadi pada orang tua populasi kulit putih di Amerika Serikat. Pada orang dewasa. pergelangan kaki 2 %. PENDAHULUAN Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 1. tetapi ada sedikit dominasi tuberkulosis pada wanita di masa anak. Tuberkulosis telah dilaporkan terdapat pada seluruh tulang di tubuh. Pengobatan medis atau kombinasi medis dan pembedahan dapat mengontrol penyakit ini pada banyak pasien. lutut dan tungkai bawah 10 %. Angka infeksi tertinggi di Asia Tenggara. telah terinfeksi kuman Micobacterium tuberculosis. panggul dan paha pada 10 %. penyakit ini melibatkan tulang vertebra pada 50 % pasien (vertebra torakal pada 50 %. . dua pertiga kasus terjadi pada orang laki-laki. nutrisi jelek. Cina. penuh sesak. Percival Pott mempresentasikan tentang spinal tuberkulosis pada tahun 1779. Di Amerika Serikat. sepertiganya penduduk dunia ini. menjalar ke diskus intervertebralis dan kemudian mencapai alat-alat dan jaringan di dekatnya.

Lokalisasi di tingkat lumbal terdapat pada 31 % penderita. Sarang itu terletak dekat lapisan epifisial atas atau bawah. . Gibus itu disebut gibus yang terkompensasi. lalu berkembang di dalam sarung otot tersebut dan akhirnya tiba di bawah ligamentum Poupart. PATOGENESIS Spondilitis tuberkulosa merupakan kelanjutan dari penyebaran kuman tuberkulosa yang sudah bermukim di tubuh. III. Sebagai proses kelanjutan dapat berkembang abses yang pada mulanya merupakan tempat hancurnya jaringan yang terkena proses tuberkulosa. gibus yang terjadi berbentuk seperti busur dan dinamakan gibus arkuatus. Ia pun dapat menurun sampai ke pelvis dan menjebol di daerah gluteus dan menurun ke bagian lateral paha. namun menurut statistik lokalisasi di vertebra torakal adalah paling umum (35 %). Di sini ia dapat salah didiagnosa sebagai lipoma. Penjebolan ke belakang di sela subdural inilah yang mengakibatkan paraplegi. Penyebaran itu berlangsung melalui aliran darah arteri vertebralis. Kuman tuberkulosa pertama bersarang di korpus vertebra. sehingga tidak timbul kompresi medula spinalis.Walaupun Spondilitis Tuberkulosa dapat berkembang di tiap korpus vertebra. lengkungan yang terjadi runcing bentuknya. Abses paravertebral itu bisa menurun dan tiba di tepat origo otot psoas. Pada tempat ini ia dapat salah didiagnosa sebagai hernia. misalnya di paru atau kelenjar getah bening. Dalam hal itu foto rontgen memperlihatkan tulang belakang yang normal. Gibus yang runcing ini disebut gibus angularis. tapi pasien bisa berada dalam keadaan paraplegi akibat penekanan terhadap medula spinalis. Semain hancur maka terjadilah abses yang pada permulaan menjebol ke anterior dan ke samping korpus vertebra. Kemudian dapat terjadi perluasan ke bawah atau menjebol ke posterior di sela subdural. Erosi yang terjadi akibat perkembangan sarang tuberkulosa itu merusak korpus vertebra dan menjebolkan diskus intervertebralis ke dalam kanalis vertebralis. Bila yang mengalami kerusakan lebih dari satu vertebra.L1) adalah sebesar 23 %. Dan di tingkat torakolumbal (T12. Bila yang rusak hanya sebuah korpus vertebra saja. Bila ligamentum longitudenal posterior saja yang terkena maka proses itu dapat berkembang di bagian itu saja tanpa merusak tulang belakang. Konsekuensinya ialah deformitas tulang belakang setempat sehingga timbul gibusdan timbulnya penekanan pada medula spinalis akibat proses tuberkulosa itu berada di salah satu korpus vertebra. Gibus tidak selamanya disertai penjebolan diskus intervertebralis.

Kemudian terjadi pada semua umur. jika mengenai vertebra servikal penderita tidak suka memutar kepalanya dan duduk dengan meletakkan dagu di tangannya. Saat memungut sesuatu dari lantai dia menekuk lututnya sementara punggungnya tetap lurus. Pada keadaan yang jarang pus dapat berjalan menuju pelvis dan mencapai permukaan belakang sendi . yang tidak lama berikutnya akan jelas lokalisasinya karena nyerinya lebih mudah timbul dan lebih keras intensitasnya. Mulai timbul setelah anak belajar berjalan dan melompat. penderita memiliki punggung yang besar. Ø Pada punggung bawah sampai iga terakhir (regio toraks). Dia akan merasa nyeri pada leher atau pundaknya. Jika terjadi abses. pembengkakan dengan fluktuasi yang ringan akan tampak pada sisi yang sama pada leher di belakang otot sternomastoid atau tonjolan pada bagian belakang mulut (faring). pus juga dapat menjalar pada otot sebagaimana pada tingkat yang lebih tinggi. · Tanda-tanda pada tingkatan yang berbeda : Ø Pada leher. Dalam gerakan memutar dia lebih sering menggerakkan kakinya daripada mengayunkan pinggulnya. Jika terpaksa dia hanya menekukkan lututnya untuk menjaga punggungnya tetap lurus. Kemudian terasa nyeri sejenak kalau badan digerakkan atau tergerak. di mana juga berada di bawah serabut saraf spinal. Untuk mengurangi keadaan ini anak menarik punggungnya kuat-kuat. Ø Jika abses ini menjalar menuju dada bagian kanan dan kiri serta akan muncul sebagai pembengkakan yang lunak pada dinding dada (abses dingin yang sama dapat menyebabkan tuberkulosis kelenjar getah bening interkosta). Ø Saat tulang belakang yang terkena lebih rendah dari dada (regio lumbal).IV. · Keluhan yang paling dini berupa rasa pegal di punggung yang belum jelas lokalisasinya. Jika ini terjadi akan tampak sebagai pembengkakan lunak di atas atau di bawah ligamentum pada lipat paha atau di bawahnya tetap pada sisi dalam dari paha (abses psoas). Rasa nyeri akan membaik bila dia beristirahat. Jika menuju ke punggung dapat menekan serabut saraf spinal yang menyebabkan paralisis. Nyeri itu terasa bertolak dari ruas tulang belakang dan menjalar sejajar dengan iga ke dada dan berhenti tepat di garis tengah dada. Kemudian akan terdapat pembengkakan atau lekukan yang nyata pada tulang belakang (gibus) diperlihatkan dengan korpus vertebra yang terlipat. MANIFESTASI KLINIS Tuberkulosis pada tulang belakang tidak tampak pada tahun pertama kehidupan. Pada tahap yang agak lanjut nyeri di punggung itu ditambah dengan nyeri interkostal yang bersifat radikular. Dengan adanya penyakit pada regio ini. Anak menghindari penekukan tubuh waktu mengambil sesuatu di lantai.

V.Untuk menemukan tanda-tanda spinal tuberkulosis . Pemeriksaan penunjang v Pemeriksaan laboratorium : o Tuberkulin skin test menunjukkan hasil yang positif pada 84-95% pasien dengan HIV negatif.panggul. dan tingkat keparahan kompresi neurologis. B.) Ø Pada pasien-pasien dengan malnutrisi akan didapatkan demam (kadang-kadang demam tinggi). Ø Pada penyakit-penyakit yang lanjut mungkin tidak hanya terdapat gibus (angulasi dari tulang belakang). Di beberapa negara Afrika juga didapati pembesaran kelenjar getah bening. Pasien dengan tuberkulosis servikal memiliki leher yang kaku. pasien dengan tuberkulosis spinal dorsalis. Pasien dengan spinal tuberkulosis berjalan dengan langkah-langkah pendek untuk menghindari sentakan pada tulang belakang. kemerahan dapat ditemukan pada abses dingin yang superfisial. sensorik. o Laju endap darah dapat meningkat lebih dari 100 mm/jam o Pemeriksaan mikrobiologi BTA. terdapat gibus. tuberkel subkutan. kehilangan berat badan dan kehilangan nafsu makan. PEMERIKSAAN A. tingkat kompresi neurologi.Untuk melokalisasi lesi yang ada . Pemeriksaan fisis Tujuan pemeriksaan fisis : . dan refleks diperlukan untuk menilai fungsi kemih dan defekasi. v Paravertebral bengkak. juga terdapat kelemahan dari anggota badan bawah dan paralisis (paraplegi) akibat tekanan pada serabut saraf spinal atau pembuluh darah. v Sikap tubuh dan deformitas. Tujuan pemeriksaan neurologis adalah untuk menemukan ada tidaknya kompresi neurologis. Pmeriksaan neurologis perlu dilakukan pada daerah diatas dan di bawah lesi.Untuk menemukan komplikasinya seperti abses dingin atau paraplegi * Pemeriksaan fisis yang sistematis pada kasus sangkaan spinal tuberkulosis : v Gaya berjalan. kultur dan test sensitivitas . (Pada negara-negara dengan prevalensi tinggi 1 dari 4 penderita dengan tuberkulosis tulang belakang mempunyai abses yang dapat diraba. pembesaran hati dan limpa. juga pemeriksaan fungsi motorik.

v Biopsi jarum juga membantu kasus yang sulit tetapi memerlukan pengalaman dan ilmu jaringan yang baik. VI.v Pemeriksaan radiologi : · Foto polos dapat menunjukkan gambaran khas tuberkulosis spinal : o Destruksi lisis dari bagian anterior vertebra o Penyempitan diskus intervertebralis bagian anterior o Korpus vertebra hancur o Tampak sklerosis pada proses lisis yang progresif o Osteoporosis pada lapisan bawah vertebra o Pembesaran bayangan psoas dengan atau tanpa kalsifikasi o Diskus interventrebral menyusup atau hancur · CT-scan dapat memberi gambaran lebih baik dari tulang dengan lesi lisis irreguler. MRI paling efektif untuk melihat kompresi neural. terutama daerah epidural dan paraspinl. sklerosis. · MRI merupakan kriteria standar untuk mengevaluasi infeksi pada rongga diskus dan osteomielitis dari spinal dan paling efektif untuk menunjukkan perluasan penyakit ini ke jaringan lunak dan penjalaran debris tuberkulosa ke ligamen longitudinal anterior dan posterior. yang berupa refleks tendon yang meninggi dan refleks Babinski yang positif. Myeloma 3. Diskus prolaps 4. sekalipun penderitanya belum mengeluh bahwa kedua tungkainya agak lemah (paraparese ringan) atau mengeluh bahwa gaya berjalannya kurang mantap. KOMPLIKASI Komplikasi timbul sebagai manifestasi dari kompresi medula spinalis. Traumatik 2. Tumor spinal . VII. kolaps diskus. dapat memberi gambaran jaringan lunak yang lebih baik. Ankylosing spondilitis 5. DIAGNOSA BANDING 1. Dapat mendeteksi lesi yang dini dan lebih efektif mendefenisikan bentuk dan kalsifikasi dari abses.

paraparese. Regimen tiga obat tersebut adalah INH. · Jika terapi medis tidak berhasil. · Paraplegi yang dihasilkan dari kompresi medula spinalis biasanya punya respons yang baik terhadap pengobatan antituberkulosa. Walaupun penelitian menganjurkan selama 6-9 bulan. paraplegi) 2. Adanya defisit neurologis (kemunduran neurologis akut. Gabungan pengobatan dan pembedahan pada pasien sudah dikembangkan. British Medical Research Council menyatakan bahwa spondilitis tuberkulosa harus diterapi dengan regimen pengobatan kombinasi tiga obat anti tuberkulosa selama 6-9 bulan. digunakan regimen empat obat. dan kekambuhan ± 30 %. Lamanya pengobatan masih kontroversial. PROGNOSA · Tingkat efektifitas terapi tinggi jika tidak terdapat komplikasi deformitas berat dan defisit neurologis. Rifampicin dan Pirazinamide. Indikasi pembedahan pada spondilitis tuberkulosis adalah : 1.INDRA YACOB DI 14:27 . PENATALAKSANAAN Sebelum ditemukannya pengobatan antituberkulosa. Jadi lamanya pengobatan bersifat individual dan tergantung kepada penyembuhan dari gejala aktif dan stabilitas gejala klinis dari pasien. Frekuensi mortalitasnya ± 20 %. Tidak respons dengan terapi medis IX. DIPOSKAN OLEH DR. tetapi yang masih lazim dipakai sekarang adalah pengobatan selama 9-12 bulan. spondilitis tuberkulosis diterapi dengan immobilisasi pada tirah baring yang lama. operasi dekompresi akan meningkatkan angka kesembuhan. · Paraplegi dapat muncul dan menetap pada kerusakan medula spinalis yang permanen. Pada daerah dengan resisten INH.VIII. Deformitas spinal yang tidak stabil 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful