KONDISI GEOGRAFIS KOTA YOGYAKARTA I BATAS WILAYAH Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai ibukota Propinsi DIY dan merupakan

satusatunya daerah tingkat II yang berstatus Kota di samping 4 daerah tingkat II lainnya yang berstatus Kabupaten Kota Yogyakarta terletak ditengah-tengah Propinsi DIY, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut Sebelah utara : Kabupaten Sleman Sebelah timur : Kabupaten Bantul & Sleman Sebelah selatan : Kabupaten Bantul Sebelah barat : Kabupaten Bantul & Sleman Wilayah Kota Yogyakarta terbentang antara 110o 24I 19II sampai 110o 28I 53II Bujur Timur dan 7o 15I 24II sampai 7o 49I 26II Lintang Selatan dengan ketinggian rata-rata 114 m diatas permukaan laut II KEADAAN ALAM Secara garis besar Kota Yogyakarta merupakan dataran rendah dimana dari barat ke timur relatif datar dan dari utara ke selatan memiliki kemiringan ± 1 derajat, serta terdapat 3 (tiga) sungai yang melintas Kota Yogyakarta, yaitu : Sebelah timur adalah Sungai Gajah Wong Bagian tengah adalah Sungai Code Sebelah barat adalah Sungai Winongo III LUAS WILAYAH Kota Yogyakarta memiliki luas wilayah tersempit dibandingkan dengan daerah tingkat II lainnya, yaitu 32,5 Km² yang berarti 1,025% dari luas wilayah Propinsi DIY Dengan luas 3.250 hektar tersebut terbagi menjadi 14 Kecamatan, 45 Kelurahan, 617 RW, dan 2.531 RT, serta dihuni oleh 489.000 jiwa (data per Desember 1999) dengan kepadatan rata-rata 15.000 jiwa/Km² IV TIPE TANAH Kondisi tanah Kota Yogyakarta cukup subur dan memungkinkan ditanami berbagai tanaman pertanian maupun perdagangan, disebabkan oleh letaknya yang berada didataran lereng gunung Merapi (fluvia vulcanic foot plain) yang garis besarnya mengandung tanah regosol atau tanah vulkanis muda Sejalan dengan perkembangan Perkotaan dan Pemukiman yang pesat, lahan pertanian Kota setiap tahun mengalami penyusutan. Data tahun 1999 menunjukkan penyusutan 7,8% dari luas area Kota Yogyakarta (3.249,75) karena beralih fungsi, (lahan pekarangan) V IKLIM Tipe iklim "AM dan AW", curah hujan rata-rata 2.012 mm/thn dengan 119 hari hujan, suhu rata-rata 27,2°C dan kelembaban rata-rata 24,7%. Angin pada umumnya bertiup angin muson dan pada musim hujan bertiup angin barat daya dengan arah 220° bersifat basah dan mendatangkan hujan, pada musim kemarau bertiup angin muson tenggara yang agak kering dengan arah ± 90° - 140° dengan rata-rata kecepatan 5-16 knot/jam

pada akhir tahun 1999 jumlah penduduk Kota 490. Desa Krinjing. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400. dan sampai 10. Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun. Instrumen seismograf 1 komponen. Posisi geografi 7o29. Instrumen seismograf 1 komponen. Magelang. Diperkirakan. pos pengamatan Pos Pengamatan Kaliurang (sisi selatan.25 tahun dan perempuan usia 76. Kab. Desa Jrakah. . Kabupaten Magelang. EDM.433 jiwa dan sampai pada akhir Juni 2000 tercatat penduduk Kota Yogyakarta sebanyak 493. 1335 m dpl). letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Pengamat Gunungapi 3 (tiga) orang. 864 m dpl) Jarak dari puncak 6. laki-laki usia 72.000 tahun lalu. Boyolali. Jawa Tengah Posisi geografi 7o31. 1822. dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.VI DEMOGRAFI Pertambahan penduduk Kota dari tahun ke tahun cukup tinggi. Pengamat Gunungapi 3 (tiga) orang Pos Pengamatan Babadan. Jawa Tengah Pos ini cadangan apabila Pos PGA Babadan terancam bahaya. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang. Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. tidak ada Pengamat Gunungapi. Setelah itu.83’ LS & 110o27. Pengamat Gunungapi 3 (tiga) orang Pos Pengamatan Krinjing (sisi baratdaya). Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus.31 tahun.48’ BT. Kab. 1786.0 km Posisi geografi 7o36.05’ LS & 110o 25. Gunung ini terletak di zona subduksi. 1872.63’ BT. letusannya menjadi eksplosif.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif.197/km². Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006. jarak dari puncak 6 km. Infrasonic. dan 1930.29’ BT. Instrumen seismograf 1 komponen. Angka harapan hidup penduduk Kota Yogyakarta menurut jenis kelamin. dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Pos Pengamatan Jrakah (sisi baratlaut. Sejarah Geologis Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa. dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. tidak ada instrumen.903 jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata 15. Letusan pada November 1994 menyebabkan hembusan awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban puluhan jiwa manusia.57’ LS & 110o 24.

Kabupaten Boyolali. Jalur ini untuk sementara sangat tidak disarankan karena aktifitas vulkanik Gunung Merapi dalam dua dekade ini mengambil tempat di lereng barat. Oleh sebab itu.Pos Pengamatan Selo (sisi utara. yaitu Jalur Kinahrejo/Kaliadem dari sisi selatan.. jalur ini yang direkomendasikan.43’ BT. Sekarang jalur ini tergolong paling aman dan nyaman untuk mencapai puncak dan menjadi jalur tradisional bagi banyak pendaki. Instrumen seismograf 1 komponen. Jalur Selo atau Plalangan melalui sisi utara. waktu yang baik untuk melakukan pendakian antara bulan Juni – Agustus. Jawa Tengah Posisi geografi 7o29. Mbah Marijan. satu orang meninggal dunia dan seorang lagi luka parah. mendaki melalui jalur tersebut berarti datang dari depan. Selang waktu tersebut sudah memasuki musim kemarau dan angin tidak terlalu kencang. Tanpa melihat tingkat kegiatan vulkanik Gunung Merapi. Oleh karena itu. Jalur ini relatif berat karena pendaki langsung berhadapan dengan medan yang terjal dengan sudut lereng antara 30o – 45o.94’ LS & 110o27. karena nekad mendaki dari sisi barat dan diterjang guguran lava yang masih panas. Kejadian yang menimpa 2 (dua) orang pelancong dari Belanda yang menjadi korban pada Juli 2001. Desa Selo. Jalur Babadan melalui lereng barat. Jalur Kinehrejo/Kaliadem menjadi terkenal karena jalur ini dimulai dari rumah Juru Kunci Merapi. Ketiga jalur tersebut memerlukan stamina atau ketahanan fisik dan mental yang prima dan ketiganya mengandung resiko bahaya bila tidak berhati-hati. tidak ada variasi suasana atau pemandangan yang akan mengalihkan perhatian dari kepenatan. . Boleh jadi ketika dalam perjalanan akan dihadang oleh guguran lava atau hujan abu. Cara Pencapaian Ada tiga jalur yang terkenal saat ini untuk mencapai puncak Gunung Merapi. Bagi pemula jalur ini tidak disarankan. Tembak langsung artinya sejak mulai melangkah arahnya langsung ke puncak dan terjal. 1760 m dpl). dan Jalur Selo/Plalangan dari sebelah utara puncak Merapi. Banyak penduduk yang meyakini bahwa sisi depan Merapi sesungguhnya adalah menghadap ke Kinahrejo oleh karena itu. Jalur Babadan adalah jalur “tembak langsung” yang ditempuh dari sisi barat.

Tetapi bila dicermati dengan benar. Tiba di puncak Merapi berarti tiba di puncak kebahagiaan. ketika itu tercatat sebagai letusannya yang pertama (Data Dasar Guungapi Indonesia. bagi orang yang bening hatinya akan mendengarkan hirukpikuk suara bagaikan suatu hari pasaran yang sedang bubar. tetapi mungkin karena undakan ini adalah punggungan yang menukik tajam dan berakhir di Pasarbubar. Lokasi ini adalah puncak kelelahan dan selalu dijadikan tempat istirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Anyar dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Peta rute perjalanan ke puncak Gunung Merapi melalui Jalur Selo Dalam waktu kurang dari 30 menit pendaki sudah mencapai undakan ketiga yang bernama Bukit Gajahmungkur (+ 2650 m). yang juga dikenal dengan Gunung Anyar. Pasarbubar sendiri adalah puncak dari rangkaian punggungan Gajahmungkur dan Pusunglondon sebelum mencapai puncak sesungguhnya. Pasarbubar adalah lokasi pertemuan angin dari dua arah yang berbeda. Alkisah menurut sahibul hikayat. Secara rata-rata Merapi . Tidak jelas hubungannya dengan gajah. 1979). Dalam peta jaraknya hanya 700 m tetapi harus ditempuh antara 45 – 60 menit karena perjalanan akan meniti bebatuan yang runcing dan mudah menggelinding. sudah tercatat meletus sebanyak 82 kejadian. Sampai Letusan Februari 2001. SEJARAH LETUSAN Berdasarkan sejarah. Gunung Merapi mulai tampil sebagai gunungapi sejak tahun 1006.Bagi pendaki yang berusia muda. Oleh karena itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati. saat itu pendaki telah menginjakkan kakinya di posisi tertinggi dari lantai Yogyakarta. Betapa tidak. usia <40 align="center"> Gambar 1. Sebenarnya Gunung Anyar pada awalnya merupakan kubah lava yang terbentuk antara tahun 1902 – 1911 yang ketika itu dikenal dengan Kubah Timur. masing-masing dari celah lereng timur dan lereng tenggara yang kemudian menimbulkan desisan yang terkadang panjang terdengar hiruk-pikuk.

Secara bertahap. Kronologi 2 ini berakhir dengan tumbuhnya kubah yang baru. Siklus terpanjang pernah tercatat setelah mengalami istirahat selama >30 tahun. atau penduduk sekitar Merapi mengenalnya dengan sebutan wedhus gembel.meletus dalam siklus pendek yang terjadi setiap antara 2 – 5 tahun. Fase utama berupa pembentukan kubahlava hingga mencapai volume besar kemudian berhenti. Memasuki abad 16 catatan kegiatan Merapi mulai kontinyu dan terlihat bahwa. awanpanas yang secara definisi. sedangkan siklus menengah setiap 5 – 7 tahun. Puncak letusan umumnya berupa penghancuran kubah yang didahului dengan letusan eksplosif disertai awanpanas guguran akibat hancurnya kubah. guguran lava pijar. sesungguhnya awal dari erupsi tipe efusif. berupa campuran material berukuran debu hingga blok bersuhu tinggi (>700oC) dalam terjangan turbulensi meluncur dengan kecepatan tinggi (100 km/jam) ke dalam lembah. Kronologi 3. . Di bawah ini ditampilkan tabel yang memuat waktu letusan dan lamanya letusan tersebut yang dihitung sejak masa awal proses erupsi hingga letusan puncak secara menyeluruh. Kubah yang baru tersebut menerobos tempat lain di puncak atau sekitar puncak atau tumbuh pada bekas kubah yang dilongsorkan sebelumnya. siklus terpanjang pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587 dan kegiatan 1658. Kubahlava sudah sudah terbentuk sebelumnya di puncak. Siklus ini berakhir dengan proses guguran lava pijar yang berasal dari kubah yang terkadang disertai dengan awanpanas kecil yang berlangsung hingga bulanan. Hartman (1935) membuat simpulan tentang siklus letusan Gunung Merapi dalam 4 kronologi yaitu: Kronologi 1. Dalam volume besar akan berubah menjadi awanpanas guguran (rock avalance). Karakter dan Gejala Letusan Sejak awal sejarah letusan Gunung Merapi sudah tercatat bahwa tipe letusannya adalah pertumbuhan kubah lava kemudian gugur dan menghasilkan awanpanas guguran yang dikenal dengan Tipe Merapi (Merapi Type). Kejadiannya adalah kubahlava yang tumbuh di puncak dalam suatu waktu karena posisinya tidak stabil atau terdesak oleh magma dari dalam dan runtuh yang diikuti oleh guguran lava pijar. Letusan Gunung Merapi selalu dilalui dengan proses yang panjang yang dimulai dengan pembentukan kubah. Fase utama berupa letusan bertipe vulkanian dan menghancurkan kubah yang ada dan menghasilkan awanpanas. akan terbentuk kubahlava yang baru. Kronologi 2. Diawali dengan satu letusan kecil sebagai ektrusi lava. terutama pada masa awal keberadaannya sebagai gunungapi.

Kronologi 4. Akibatnya fase utama terjadi dengan letusan vulkanian disertai dengan awanpanas besar (tipe St. termasuk di Gunung Merapi. Sebagai contoh kasus. . tetapi kawah tersumbat. tubuh Merapi mulai terdesak dan mengembang yang dimonitor dengan pengamatan deformasi.Mirip dengan kronologi 2. Dan sejak saat itu gejala awal letusan lebih akurat karena semua sensor dapat ditempatkan sedekat mungkin dengan pusat kegiatan tergantung kekuatan pemancar yang dipergunakan. batasan setiap kronologi tersebut sering tidak jelas bahkan bisa jadi dalam satu siklus letusan berlangsung dua kronologi secara bersamaan. seperti pada Letusan 1984. berikut ini ditampilkan secara lengkap hasil rekaman seismograf dan tiltmeter yang memonitor kegiatan vulkanik Gunung Merapi pada Kegiatan 2000-2001. gempa fase banyak (MP) mulai terekam diikuti dengan makin besarnya jumlah gempa guguran akibat meningkatnya guguran lava. sejak 1984 ketika sinyal data dapat dikirim melalui pemancar radio (radio telemetry) sistem tersebut mulai dipergunakan dalam mengamati aktivitas gunungapi di Indonesia. Sebagai fase akhir akan terbentu kubah yang baru. secara normal dapat menjangkau hingga jarak antara 25 – 40 km. Ketika kubah mulai terbentuk. Pada kenyataannya. Secara umum peningkatan kegiatan lazimnya diawali dengan terekamnya gempabumi vulkanik-dalam (tipe A) disusul kemudian munculnya gempa vulkanik-dangkal (tipe B) sebagai realisasi migrasinya fluida ke arah permukaan. Seiring dengan perkembangan teknologi. Vincent ?). selalu diawali dengan gejala yang jelas. terutama sejak diamati dengan seksama yang dimulai tahun 80-an. terutama sejak dilakukan pemantauan yang teliti yang dimulai dalam tahun 1984. yang membedakan adalah tidak terdapat kubah di puncak. Diawali dengan letusan kecil dan berlanjut dengan terbentuknya sumbatlava sebagai fase utama yang diikuti dengan letusan vertikal yang besar disertai awanpanas dan asap letusan yang tinggi yang merupakan fase yang terakhir. Dalam kondisi demikian. Hampir setiap letusan Gunung Merapi.

Merbabu.Gambar Grafik jumlah gempabumi yang terekam di Gunung Merapi dalam kegiatan 2000 . gunungapi di Jawa Tengah akan dijumpai jajaran Gunung Ungaran. Merapi 2000-2001 GEOLOGI Apabila dirunut dari utara ke selatan. Telomoyo.2001 Gambar Grafik Tiltmeter dari Stasiun Puncak selama kegiatan G. dan terakhir .

Awanpanas Letusan (Suryo.700 – 2.200 tahun yang lalu. dkk (2000) membagi endapan letusan Merapi menjadi 3 jenis.000 tahun yang lalu). Endapan Proto Merapi diperkirakan berumur Pleistosen dan ditemukan di Bukit Turgo dan Plawangan (sisi selatan Merapi). Sedangkan batuan Merapi Tua terdiri dari Endapan aliran piroklastika tua Merapi. Merapi Tua berumur antara 400. Secara garis besar pergeseran titik letusan tersebut dimulai dari sisi baratlaut pindah ke timur kemudian ke selatan dan kini kembali . Untuk pertama kalinya menurut cacatan sejarah. A.000 sampai 6. Batuan Gunung Merapi Muda terdiri dari Aliran lava andesit piroksen (3&4. Cepogo. Merapi Muda 2. Merapi yang kemudian dikenal dengan Tipe Merapi. hal ini berkaitan dengan besarnya volume kubah aktif. dan Aliran lava andesit piroksen (1&2). yaitu Endapan Proto Merapi. kemudian tahap ketiga adalah Merapi Menengah antara 6. Vincent type pyroclastics flows (Escher. Sedangkan awanpanas guguran atau dome collapse pyroclastics flows sebagai akibat hancurnya kubah karena gravitasi. Berthommier. 1972) sebagai akibat langsung dari penghancuran batuan penutup/kubah karena letusan. Berdasarkan karakterisasi dari endapan vulkanik tersebut. dan Endapan lahar muda. 1978) serupa dengan St. letusan Gunung Merapi terjadi dalam tahun 1006 demikian dahsyat menyebabkan Kerajaan Mataram pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Tmiur. dan Endapan Merapi Muda. Tipe Merapi atau awanpanas tersebut dibedakan atas 2 macam. Endapan aliran piroklastika muda dan guguran Merapi. Endapan jatuhan piroklastika Merapi. Awanpanas atau dikenal juga denga aliran piroklastik tidak dapat dipisahkan dari setiap letusan G. maka urutan pola pergeseran pusat letusan di kawasan puncak Merapi dapat dikelompokan dalam tiga periode letusan berdasarkan pola pergeseran pusat letusan.D Wirakusumah. Newhall. Merapi Muda berlangsung sejak 1883 sampai sekarang. hanya Gunung Merapi yang masih bertahan sebagai gunungapi sampai saat ini. Endapan lahar tua Merapi. periode 1832 – 1872. dan periode 1883 – 2001. masing-masing awanpanas letusan dan awanpanas guguran. Proses pembentukan Merapi Tua berakhir dengan pelengserang endapan debris vulkanik dalam tahun 0 Masehi. 1933 dan Macdonald. Secara terminologi. 1990 bahkan membagi pembentukan Merapi dalam 5 tahap. masingmasing periode 1786-1823. Endapan Merapi Tua. dkk. Dari keempat gunung tersebut. yaitu Pra Merapi (>400. yaitu batuan Gunung Merapi Muda dan Merapi Tua. meskipun hal tersebut masih diperselisihkan kebenarannya. 1984) berselingan dengan endapan piroklastik yang berumur 9630 ± 60 BP. dapat dijumpai di Srumbung. Apabila merekontruksi kejadian letusan dan kelurusan pusat-pusat letusan selama kurun waktu 1786 – 2001. yang melakukan pemetaan geologi Gunung Merapi dalam tahun 1989 menyebutkan hanya dua waktu.700 tahun yang lalu. Endapan Merapi Tua teridiri dari lava yang dikenal dengan Lava Batulawang (Bahar.Gunung Merapi.200 – 600 tahun yang lalu dan Merapi Sekarang sejak 600 tahun lalu.

Dalam tahun 1883 terdapat kawah sedalam 100 m dan secara bertahap terisi lava dan kemudian membentu kubah dan dikenal dengan Gunung Anyar atau Kubah Timur yang menjadi puncak Gunung Merapi sekarang. Yang disebut-sebut sebagai Kawah Woro dan Kawah Gendol sesungguhnya adalah lapangan solfatara yang sangat aktif bersuhu antara 500oC di Lapangan Woro dan 700o C di Lapangan Gendol. Pada umumnya kubah baru yang terbentuk akan tumbuh disamping atau tidak jauh atau tepat pada posisi kubah sebelumnya (Kubah 2001 tumbuh tepat di puncak Kubah 1998). Merapi adalah kesetimbangan antara pembentukan dan penghancuran kubah. Pada prinsipnya kubah lava yang tidak dihancurkan adalah bagian dari puncak dan kubah lava yang dihancurkan adalah bagian dari kawah. Peta topografi puncak Gunung Merapi (Pemetaan 1986) Sesungguhnya tidak didapati kawah di puncak Merapi saat ini. . Akibat rajinnya meletus dan pusatnya selalu berpindah-pindah tempat serta setiap akhir dari satu siklus letusan hampir selalu menghasilkan kubah. maka topografi puncak Gunung Merapi selalu berubah wajah. Puncak G.menempati sisi barat – baradaya.

maka belum pernah terjadi kubah baru tumbuh di sisi timur. 1931 disempurnakan) Belum pernah terjadi lava menerobos dari arah yang berbalikan dari sebelumnya. puncak Gunung Merapi saat ini. misalnya kubah aktif tumbuh di sisi barat. Informasi tersebut sangat penting dalam mitigasi dan prediksi aktivitas Gunung Merapi berikutnya.Perkembangan Kawah 1883 yang terisi lava yang menjadi cikal-bakal dari Gunung Anyar. (Sket Neuman van Padang. .

Peralatan-peralatan yang dipergunakan untuk memantau kegiatan . Selain di kantor Balai Penyelidikan dan Pengamatan Teknologi Kegunungapin (BPPTK) Yogyakarta sebagai Main Office. Merapi yang dikhususkan mengamati gerak gerik G. a) Keadaan Kubah 98 pada 30 Maret 2000. c). Kubah 2001 semakin besar. 10 Januari 2001.d 2001 (BPPTK) Perkembangan kubah aktif (Kubah 98) menjelang terbentuknya Kubah 2001. Yogyakarta. 3 Februari 2001. Merapi dari waktu ke waktu secara visual serta dilengkapi beberapa peralatan standard antara lain seperangkat seismograf sebagai pelengkap atau peralatan khusus yang mengharuskan dilakukan pengukuran secara langsung terhadap gunungapi. 2001 Mitigasi Bencana Gunungapi Sistem Pemantauan Kegiatan vulkanik Gunung Merapi sudah diamati sejak tahun 1953. puncak Kubah 98 mulai pecak ditandai dengan munculnya tonjolan(merekah). Sket oleh Tim Geologi BPPTK. keadaan kubah/puncak purna Letusan 10 Februari 2001. b). Peralatan lainnya diinstal di Kantor BPPTK. d). ada 5 (lima) Pos Pengamatan Gunungapi (Pos PGA) yang mengelilingi G. Kubah Lava 2001 mulai terbentuk di bagian puncak Kubah 98.Peta Endapat Awanpanas Gunung Merapi sejak tahun 1992 s. misalnya Deformasi dan COSPEC. e). 20 Januari 2001.

infrasonic. dan GPS. awanpanas. Tingkat bahaya dari suatu gunungapi sangat tergantung dari kerapatan dari suatu letusan dan kepadatan penduduk yang bermukim di sekitar gunungapi tersebut. Untuk menekan jatuhnya korban jiwa manusia. Misalnya.Bahaya Primer adalah bahaya yang langsung menimpa penduduk ketika letusan berlangsung. dan lontaran material berukuran blok (bom) hingga kerikil.vulkanik Gunung Merapi adalah seismograf. EDM. Seismograf direkam dengan sistem analog dan numerik sebanyak 6 stasiun. yaitu gunungapi. Deformasi terdiri dari tiltmeter. Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi . udara panas (surger) sebagai akibat samping awanpanas. kerusakan lahan pertanian/perkebunan atau rumah. EDM dan GPS diukur secara temporer. Pengukuran COSPEC dilakukan secara manual setiap hari dari Pos Pengamatan Jrakah. Mitigasi Bencana Bahaya letusan gunungapi terdiri atas bahaya primer dan bahaya sekunder. misalnya lahar. Sedangkan bahaya sekunder terjadi secara tidak langsung dan umumnya berlangsung pada purna letusan. Yang terakhir sangat terkait dengan aktifitas penduduk tersebut berinteraksi dengan lingkungnannya. Khusus tiltmeter terukur secara menerus dari puncak dengan radio telemetry. COSPEC. magnetometer. sedangkan magnetometer dan infrasonic masih dalam ujicoba dan ditempatkan di Pos Pengamatan Babadan. deformasi.

adalah daerah yang sangat berpotensi terkena letusan langsung (bahaya primer). dan yang terakhir adalah Daerah Bahaya Dua adalah daerah yang sangat berpotensi terlanda lahar. Merapi. daerah penelitian mempunyai struktur lapisan batuan yang terbentuk dari batuan gamping (2. batuan breksi (2.7 g/cm3). Untuk kawasan G.Bencana Geologi menerbitkan Peta Daerah Bahaya. masingmasing Daerah Terlarang. dan lapisan penutup berupa sedimen vulkanik dan pasir kerikil atau sandstone endapan Opak. .63 g/cm3). Peta Daerah Bahaya tersebut dibagi atas tiga daerah. bila letusan besar dapat terlanda lontaran material pijar berukuran bom atau kerikil. Secara garis besar sayatan (profil dan penampang model ditunjukkan pada gambar 6a dan 6b. Di daerah penelitian juga diperkirakan ada sesar normal dengan selisih kedalaman pergeseran blok sesar antara hanging walldan foot wall rata-rata sejauh 20 meter. Daerah Bahaya Satu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful