Pendahuluan Gerakan-gerakan Islam yang muncul pada abad ke-20 dalam banyak hal mengikuti pola-pola gerakan

yang pernah muncul pada sekitar abad ke-18 dan 19. Dari pola tersebut terdapat kesinambungan dan kecenderungan diantara kalangan fundamentalis, kalangan yang terbaratkan (westernis), dan kaum modernis Islam di dunia Islam. Hanya tampaknya seiring berjalannya hari, kalangan westernis semakin kehilangan pengaruhnya diantara umat Islam. Hal tersebut disebabkan oleh makin lemahnya paradigma yang berlaku di Barat itu sendiri dan munculnya oposisi yang kian mengental dalam kalangan Muslim sendiri. Dengan begitu, di dunia Islam terjadi pelemahan pengaruh pola pemikir Muslim yang berorientasi ke Barat. Di anak benua India, gerakan pembaruan yang sebelumnya berkiblat ke Barat, seperti yang dimotori oleh Sayyid Ahmad Khan yang berubah haluan menjadi gerakan modernis yang lebih berorientasi kepada Islam.1 Pembaruan tersebut lambat laun berubah menjadi fundamental, terutama oleh al-Maudûdî yang merupakan seorang pemikir paling menarik di anak benua India. Menurut W. C. Smith yang dikutip oleh Azyumardi Azra, ia menyebutnya sebagai pemikir yang sistematis dalam dunia Islam modern. Ia memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang aspek-aspek normatif dan teoritis Islam, khususnya dalam konteks anak benua India. Karya-karyanya menjadi faktor utama dalam pembentukan perkembangan modern Islam di anak benua India dan di masa presiden Ziaul Haq, yang pada masa itu merupakan kekuatan ideologis dominan di Pakistan. Pada awalnya, al-Maudûdî dekat dengan pemikiran tradisional, meskipun pada akhirnya ia menjadi lebih fundamentalis didalam pemikiran dan tindakannya. Hal tersebut dikarenakan ia berada dalam masyarakat yang mayoritas beragama Hindu, kepedulian utamanya adalah pembelaan yang bersifat lebih fundamentalis terhadap ortodoksi tradisional dari sikap polemik dan serangan Hindu, sekaligus jawaban kepada reinterpretasi Islam yang cenderung bersifat apologetik.2 Makalah ini akan membahas biografi, latar belakang sosialpolitik dan pemikiran politiknya. Karena perjalanan kehidupan dan keadaan sosial-politik pada saat itu sangat mempengaruhi pemikirannya, terlebih lagi para tokoh-tokoh sebelumnya tidak berhasil dalam melakukan gerakan pembaruan di anak benua India tersebut. Bukan

1

Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Post-Modernisme, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm. 153. 2 Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah, (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm. 240.

1

Nama Abu al-A’lâ pernah menimbulkan masalah. yaitu Khawajah Qudbuddin Maudud (wafat 527 H). tiga tahun sebelum al-Maudûdî lahir.hanya itu saja. Orang yang pertama tiba di anak benua India itu adalah orang yang namanya sama dengan Abu al-A’la. karena Abu al-A’lâ artinya ayah (dari) Yang Maha Tinggi. Islam dan Tata Negara: Ajaran. al-Maudûdî mengutip dua ayat Al-Qur’an dimana atribut al-A’la dan al-A’launa merupakan kata jamak dari al-A’la yang diberikan kepada manusia. India Tengah. 157-158. Salah seorang dari syaikh-syaikh yang terkenal itu adalah syaikh yang dari namanya itu Abu al-A’lâ mengambil nama keluarga. Ahmad Hasan sangat bergembira mendengar ramalan tersebut. (Jakarta: Universitas Indonesia Press. seorang syaikh yang terkenal dari tarekat Christi. Biografi & Latar Belakang Sosial-Politik Sayyid Abu Al-A’lâ al-Maudûdî Al-Maudûdî dilahirkan pada tanggal 25 September 1903 di Aurangabad. Sedangkan Yang Maha Tinggi merupakan atribut Tuhan yang terdapat dalam sejumlah ayat Al-Qur’an.3 Al-Maudûdî dilahirkan dari keluarga terhormat dan nenek moyangnya dari ayah keturunan Nabi Muhammad. ia berkunjung ke salah seorang tokoh sufi yang memberitahukan bahwa Allah akan menganugerahinya seorang anak laki-laki yang akan dihormati rakyat. Keluarganya mempunyai tradisi yang lama sebagai pemimpin agama. pengaruh pemikirannya masih sangat terasa sampai saat ini dan masih dipakai oleh kalangan fundamentalis Islam. Tokoh sufi itu berpesan agar anak itu diberi nama Abu al-A’lâ. yaitu Abu al-A’la al-Maududi (wafat 935 H). 2003). karena banyak dari nenek moyang al-Maudûdî adalah syaikh-syaikh tarekat sufi yang terkenal. Makalah ini akan diakhiri dengan penutup. 3 Munawir Sjadzali. Inilah sebabnya ia memakai nama “Sayyid”. Nenek moyangnya pindah ke anak benua India dari Chisht pada akhir abad ke-15. Tetapi dalam pembelaannya. Nama lengkapnya adalah Abu al-A’lâ al-Maudûdî. Sejarah dan Pemikiran. kepala atau pemimpin pertama keluarga besarnya yang menetap di India dahulu atau salah seorang pendahulu al-Maududi juga bernama Abu alA’lâ. dan berjanji jika hal itu menjadi kenyataan maka anak yang lahir nanti akan diberi nama sebagaimana yang dipesankan oleh sufi itu. akan menduduki jabatan dan kedudukan tinggi. hlm. Selain itu. Menurut cerita ayah al-Maudûdî. yaitu kepada Nabi Musa dan orang-orang beriman. Ahmad Hasan. 2 . Edisi ke-5.

3 . dan menganjurkan kepada umat Muslim di India untuk hijrah secara masal ke Afganistan. Keadaan tersebut mendorongnya untuk menempuh jalan autodidak. Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan. kemudian Al-Jam’iyat (1925-1928). al-Maudûdî juga menerjemahkan empat buku. karena ditopang oleh kemampuannya berbahasa Arab. 238. Al-Jam’iyat menjadi surat kabar terkemuka umat Muslim di India. Pada akhir tahun 1920. hlm.Ayah al-Maudûdî. satu dari bahasa Arab dan yang ketiganya dari bahasa Inggris. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya dengan sukses. Masih di tahun 1920-an.5 Kemudian ia menulis artikel-artikel untuk surat kabar Urdu yang terkemuka. Akan tetapi pendidikannya terganggu karena ayahnya sakit. Ahmad Hasan. Selain itu. hal itu dikarenakan ia menekankan bahwa tujuan dan strategi dari gerakan itu seharusnya realistis dan terencana. India. Akan tetapi ia segera meninggalkan organisasi tersebut karena tidak setuju dengan idenya. kemudian ia masuk ke sekolah menengah Madrasah Fawqaniyah. ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di Darul Ulum. dilahirkan pada tahun 1885. ia 4 5 A. Namun demikian ia berbeda pendapat lagi dengan pimpinan gerakan itu. suatu kota di provinsi yang sekarang dinamakan Madhya Pradesh. Ia merupakan ahli fiqih dan orang yang sangat saleh. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. suatu organisasi ulama-ulama Muslim. Setelah berhenti dari pendidikannya di Darul Ulum. Karena ayahnya meninggal. (Bandung: Mizan. dan kemudian meninggal dunia4 pada tahun 1919. 1998). ketika ia berusia 17 tahun ia telah diangkat menjadi editor surat kabar Taj yang diterbitkan di Jabalpore. Inggris dan Persia untuk memperdalam pengetahuannya. Selain menerjemahkan buku. Selama tahun 1920 sampai 1928. suatu organisasi oposisi terhadap pemerintahan Inggris atas India. 172. Keadaan tersebut semakin membuatnya memusatkan dirinya pada kegiatan-kegiatan akademik dan jurnalistik. Muhammad Iqbal & Amin Husein Nasution. kemudian ia memasuki perguruan tinggi Darul Ulum di Hyderabad. serta dua surat kabar yang diterbitkan oleh Jam’iyat-i Ulama-i Hind. Mukti Ali. al-Maudûdî kemudian berkarir ke dunia jurnalisme pada usia 15 tahun. al-Maudûdî juga mulai mengambil perhatian dalam kegiatan politik. Ia mengambil bagian dalam gerakan Khilafah dan terlibat dalam suatu gerakan rahasia. Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer. 2010). ia juga bergabung dengan gerakan Tahrikh-i-Hijrat. Pada tahun 1920. Dibawah pimpinannya. suatu madrasah yang menggabungkan pendidikan Barat modern dengan pendidikan Islam tradisonal. hlm. ia datang ke New Delhi dan pertama-tama menjabat pimpinan surat kabar Muslim (1921-1923). Setelah memperoleh pendidikan di rumahnya. Al-Maudûdî adalah anak yang paling kecil dari tiga saudaranya.

hlm. Lihat Munawir Sjadzali. Mukti Ali. 7 Azyumardi Azra. Ali merupakan salah seorang tokoh Liga Muslim. Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan. sejumlah bangunan untuk kantor dan tempat tinggal. Ali8 agar pindah ke Utara wilayah Punjab yang jumlah umat Islam lebih banyak dan semangat keagamaannya lebih kuat. 8 Chaudry T. seorang tokoh Islam di Haiderabad yang bernama Maulana Abu Mohammad Muslih menerbitkan majalah bulanan Tarjuman Al-Qur’an.7 Pada tahun 1930. 162. Pada tahun 1937. Karena perkembangan dakwahnya tidak mendapat respon yang berarti. majalah tersebut diambil alih oleh al-Maududi yang kemudian dipergunakan olehnya sebagai media komunikasi untuk memperkenalkan gagasan-gagasan kepada masyarakat Islam. maka ia menerima baik tawaran dari Chaudry T. agar hilang anggapan orang bahwa pola hidup Islami tidak lengkap dan tidak dapat dilaksanakan. Dengan desakan Muhammad Iqbal. pada tahun 6 Jihad fil-Islam merupakan tulisan yang baik mengenai hukum Islam tentang perang dan damai. dan kesediaan berkorban untuk kepentingan bersama. keadilan. Pada tahun 1932. Dalam pertukaran pikiran tersebut terjadi kesepakatan mengenai dua hal. hlm. Dalam pertemuan itu.juga menulis buku penting Jihad fil-Islam. pertama.6 Ketika menulis buku itu ia masih berusia sekitar 20-an yang menjadi pewaris pengajaran tradisional dan pendidikan modern swasta. Islam dan Tata Negara: Ajaran. perpustakaan. Akan tetapi gagasan-gagasannya itu tidak mendapat respon yang berarti. kejujuran. Sejarah dan Pemikiran. Kedua. tentang perlunya disiapkan orang-orang yang mau bekerja keras untuk memimpin umat Islam. Menurutnya. tentang perlunya segera dimulai usaha-usaha ilmiah untuk mengisi bagian-bagian dari pola kehidupan Islami. hlm. Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme. kegagalan tersebut disebabkan karena tidak adanya contoh hidup masyarakat Islami yang dapat disaksikan dengan mata. Buku tersebut mendapat pujian dari Muhammad Iqbal (1876-1938) dan Maulana Muhammad Ali Jauhar (18781931) pemimpin yang masyhur dari gerakan Khilafah dan gerakan kemerdekaan. dan di tempat tersebut sudah terdapat sebuah Masjid. Ali. Modernisme Hingga Post-Modernisme. Ia menawarkan Al-Maududi tanah seluas kurang lebih 28 Hektar yang telah diwakafkan. dan ia percaya bahwa jika saja umat Islam dapat menyaksikan suatu masyarakat yang mengikuti pola hidup para sahabat Nabi dengan melakukan semangat cintakasih. Ia juga masih dekat kepada “pemahaman agama tradisional yang diwariskan secara turun -temurun” yang saat itu sedang mulai ia tinggalkan berkat didikan simultan yang membuatnya semakin modern sekaligus semakin fundamentalis. Pada pertemuan tersebut Iqbal juga mendesaknya agar ia menerima baik tawaran dari Chaudry T. 4 . mereka bertukar pikiran tentang kondisi umat Islam dan langkahlangkah yang harus diambil untuk memberikan masa depan yang lebih baik untuk umat Islam. al-Maudûdî pergi ke Lahore dan bertemu dengan Muhammad Iqbal. Lihat A. 162. Isi buku tersebut ditulis bersambung dalam Al-Jam’iyat pada tahun 1927. 239. dan secara resmi diterbitkan pada tahun 1930.

Ali mengatakan kepada alMaudûdî bahwa ia boleh berbuat apa saja di tanah wakaf itu. dan Chaudry T. hlm. (Jakarta: Paramadina. faktor demikian merupakan sumber kerusakan dan bencana di dunia ini.12 Pada tahun 1947. Ia menjelaskan tujuannya tersebut perlu dicapai. Ali. Islam merupakan alternatif tunggal untuk mencegah umat manusia dari kehancuran. 162-163. Pada suatu hari Chaudry T. Selama tinggal di tanah wakaf. ia mendapat penghasilan dari tanah pertanian setiap tahun lebih dari cukup untuk membiayai kegiatan-kegiatan awal dari gerakan dakwahnya. akan tetapi upaya tersebut tidak berlangsung lama karena perbedaan paham diantara al-Maudûdî dan Chaudry T.1938 al-Maudûdî memutuskan untuk pindah ke Punjab dan tinggal di tanah wakaf Chaudry T. 1999). hlm. manusia telah menjadikan manusia sebagai pihak yang berdaulat di dunia ini dan bukannya Tuhan seperti yang dikehendaki oleh ajaran Islam.10 Tujuan didirikannya untuk menegakkan kedaulatan Tuhan di muka bumi dan menjadikan Islam sebagai sistem dan jalan hidup diatas dunia. pada tanggal 21 Agustus 1941 Al-Maudûdî membentuk Jamâ’at-i-Islâmî dan menjadi ketuanya. Disana ia segera memulai rencananya membangun suatu perkampungan yang benar-benar Islami dalam segala aspeknya.. Menurutnya. karena di masa modern. 11 Ibid. Jamâ’at-i-Islâmî juga terbagi 9 Ibid. 86.11 Kriteria penerimaan anggotanya hanya untuk orang-orang yang sepenuhnya menerima ideologi Islam sebagai pandangan hidupnya dan berakhlak mulia. Ketika itu al-Maudûdî menyerang kebijaksanaan dan pimpinan Liga Muslim. yang seluruhnya bersifat Jahiliyah. Ali. Hingga akhirnya pada awal tahun 1939 ia meninggalkan Dar al-Islam dan pindah ke kota Lahore. hlm. hal tersebut terbukti gagal dan tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi umat Islam. Berbagai sistem buatan manusia. Akan tetapi hal tersebut tidak dapat diterima oleh al-Maudûdî. Menurutnya. 173. ketika dua negara anak benua India didirikan yaitu India dan Pakistan. hlm. 12 Muhammad Iqbal & Amin Husein Nasution. Modernisme dan Fundamentalisme Dalam Politik Islam: Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jamâ’at-i-Islâmî (Pakistan). 10 5 . 97. Nama dari gerakan pusat dakwahnya yaitu Dar al-Islam. tetapi jangan memasuki bidang politik dan jangan mengecam Liga Muslim. termasuk agama-agama bukan Islam. Ali mendengarnya. Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer. Yusril Ihza Mahendra..9 Dalam suasana ketegangan perjuangan kemerdekaan anak benua India dari penjajahan Inggris. Dalam upaya membangun perkampungan yang benar-benar Islami.

ia banyak menulis untuk menerangkan aspek-aspek yang berbeda dari jalan hidup Islam. Kemudian ia mengatakan kepada anaknya dan kolega-koleganya: “Apabila saatku akan mati 13 Karena mengkritik dan melawan pemerintahan Pakistan. hlm.15 ia menolak kesempatan untuk memohon grasi. Ia dengan gembira memilih pilihannya untuk mati daripada memohon ampun dari orang-orang yang secara tidak adil akan menggantungnya. Syariat Islam merupakan hukum dasar bagi Pakistan. 14 Munawir Sjadzali. ia mendapat putusan hukuman mati oleh undang-undang darurat karena dituduh menulis pamflet yang menghasut tentang masalah Qadiyani. 4. al-Maudûdî dan anggota-anggota Jamâ’at-i-Islâmî menyelenggarakan pertemuan akbar di Karachi untuk merumuskan atau mengesahkan rumusan konsepsi kenegaraan untuk diperjuangkan pada Majelis Konstituante Pakistan yang kemudian terkenal dengan Tuntutan empat Butir. 241. hlm. 3. Islam dan Tata Negara: Ajaran. 15 Qadiyani ialah paham keagamaan yang diajarkan oleh Mirza Ghulam Ahmad dari aliran Qadian (Anjuman Ahmadiyah Qadian). Setelah itu al-Maudûdî memutuskan untuk hijrah ke Pakistan dan memusatkan perhatiannya untuk mendirikan suatu negara Islam dan masyarakat Islam yang sebenarnya. Dengan keyakinan yang tidak dapat digoyahkan. Modernisme dan Fundamentalisme Dalam Politik Islam: Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jamâ’at-i-Islâmî (Pakistan). dan oleh karenanya Pemerintah (Pakistan) sebagai pelaksana kedaulatan itu tidak boleh melampaui batas yang ditentukan oleh pemilik kedaulatan (Allah). Lihat A. dan kemudian menangguhkan semua undang-undang yang tidak sesuai dengan syariat Islam. ia seringkali ditahan dan bahkan masuk rumah tahanan.163-164. 13 Pada bulan Maret 1948. Lihat Yusril Ihza Mahendra. hlm. 2. Sesungguhnya kedaulatan di Pakistan adalah di (tangan) Allah. dan mengingat pula bahwa tujuan semua perjuangan dan pengorbanan mereka dalam mendirikan (negara) Pakistan ialah agar mereka dapat menghayati pola hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka yakini. Pembatalan semua undang-undang yang ada dan bertentangan dengan syariat Islam. 340. Untuk mewujudkan keinginannya itu. Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan. bahwa hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Selain menulis. 6 . Mukti Ali.menjadi Jamâ’at-i-Islâmî di India dan Jamâ’at-i-Islâmî di Pakistan. yaitu: “Mengingat bahwa mayoritas dari rakyat Pakistan percaya kepada prinsip-prinsip Islam. terutama aspek-aspek sosial-politik. Sejarah dan Pemikiran. ia juga mengkritik dan melawan kebijaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah Pakistan secara silih berganti serta menuduh orang-orang yang berkuasa telah gagal untuk mengubah pakistan menjadi negara Islam. maka tiap Muslim di Pakistan menuntut kepada Majelis Konstituante agar mendasarkan undang-undang (Pakistan) atas prinsip-prinsip berikut: 1. Pemerintah Pakistan (harus) mempergunakan kekuasaannya sesuai dengan syariat Islam.”14 Pada tahun 1953.

Ibid. ia mendapat kesempatan untuk mengetahui fakta kehidupan. Mekah. Keluarganya juga tidak mau meminta grasi. Damaskus. Dari penjelasan seperti diatas. al-Maudûdî meninggal di salah satu rumah sakit yang ada di New York. Oleh karena itu. Sedangkan manusia hanyalah makhluk (ciptaan Tuhan) yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Jerusalem. dapat dipahami jika al-Maudûdî menentang konsep kedaulatan rakyat yang menjadi dasar ide demokrasi. didalam Islam. hlm. Rabat. al-Maudûdî berpergian ke pelbagai negeri. Amerika Serikat. Dengan demikian. Selain itu. maka tidak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan aku.. Hal tersebut memungkinkan banyak umat Muslim di pelbagai negeri berkenalan dengannnya secara pribadi. Sejarah. pemilik. hlm. Kekukuhan pendiriannya mengherankan pemerintah yang terpaksa dibawah tekanan umum yang kuat baik dari dalam negeri maupun luar negeri. kedaulatan berada di tangan Tuhan dan bukan berada di tangan rakyat. Madinah. akhirnya hukuman mati dibatalkan dan diubah menjadi hukuman selama hidup. 243. Aman. Selama berpergiannya ia pernah memberikan ceramah di Kairo. dan apabila saat itu tidak tiba. Konsep kedaulatan rakyat menurut alMaudûdî ialah rakyat yang menjadi sumber kekuasaan tertinggi dalam negara. Istambul. manusia sebagai khalifah akan bertanggung jawab di hadapan tuhan di akhirat nanti. Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan. Ia juga melakukan studi tour di Arab Saudi. Kuwait. Tuhan adalah pencipta. Dalam berpergiannya tersebut. London. pengatur dan penguasa seluruh alam semesta. Maka. hlm.16 Pada tahun 1956 sampai 1974.telah tiba. New York. Siria. Karena berpergiannya tersebut. Jeddah. dan Mesir untuk mempelajari aspek-aspek geografis dari tempat-tempat yang diterangkan oleh Al-Quran. Toronto dan pusat-pusat internasional lainnya. ia juga mengambil bagian dalam banyak konferensi-konferensi internasional. maka mereka tidak bisa membawa aku ke tiang gantungan. Ia juga diminta untuk menjadi Komite Penasihat yang menyiapkan berdirinya Universitas Islam Madinah. dan menjadi dewan Akademis pada tahun 1962. 7 . demokrasi yang bersumber pada kedaulatan rakyat merupakan kehendak mayoritas 16 17 A. 158. 18 Munawir Sjadzali. Mukti Ali.17 Pada tanggal 23 September 1979. dan Pemikiran. Didalam Islam. Yordan. itu juga merupakan pendidikan baginya. 241. tugas utama manusia adalah menjalankan kehidupan menurut peraturan-peraturan yang telah diciptakan oleh Tuhan. sekalipun mereka sendiri menggantung diri sendiri dengan jungkir-balik untuk berusaha menggantung aku”. Islam dan Tata Negara: Ajaran.18 Negara Islam Menurut al-Maudûdî.

Menurut al-Maudûdî. Kedaulatan Tuhan bukan berarti Tuhan secara langsung mengambil keputusan-keputusan politik dalam negara. 247.rakyat adalah keputusan tertinggi dalam negara. Islam tidak mengajarkan teokrasi. yaitu warga negara Muslim dan bukan Muslim (Ahl alDzimmah). 246. meskipun semua manusia di dunia ini adalah “khalifah Allah”. al-Maudûdî menolak jika konsep kedaulatan Tuhan yang dikemukakannya adalah sama dengan konsep teokrasi20 di Eropa pada abad pertengahan.22 Penutup 19 Yusril Ihza Mahendra. Oleh karena itu. yang melaksanakan kekuasaannyasesuai dengan Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya. bahkan cenderung ilhâd (meniadakan Tuhan sama sekali). sehingga teokrasi seperti itu lebih pantas disebut sebagai kekuasaan setan. bukan kekuasaan Tuhan. sebab hal tersebut dianggap termasuk kedalam salah satu ciri utama negara Islam. Kekuasaan pemerintahan Islam dilaksanakan oleh seluruh komunitas Muslim dalam negara. melainkan Tuhan memberikan keputusan-keputusan dalam syariah yang harus dijalankan oleh pemerintah sebagai khalifah Tuhan di negara tersebut. Ibid. dalam arti suatu negara yang kekuasaan pemerintahnya dilaksanakan oleh elit keagamaan seperti para pastur ataupun kaum ulama. Jadi. ia membedakan warga negara kedalam dua jenis warga negara. 245. Jadi. Bahkan.. keputusan mayoritas itu dapat mengenyampingkan kehendak Tuhan. Menurutnya pembagian warga negara tersebut tetap dipertahankan. hlm. 22 Ibid. 21 Ibid. tetapi secara politik. yang terjadi pastur-pastur itulah yang sebenarnya memper-Tuhan-kan diri mereka sendiri.hlm. Oleh sebab itu. Mereka menginginkan kekuasaan politik dan melaksanakan kekuasaan atas nama Tuhan. Warga negara non-Muslim bukanlah khalifah dalam arti demekian. mereka yang benar benar menjadi khalifah dalam suatu negara Islam adalah terbatas pada warga negara Muslim saja. karena non-Muslim tidak mempercayai Islam sebagai ideologi negara. 8 . demokrasi secara fundamental bertentangan dengan Islam.. Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam: Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jamâ’at-i-Islâmî (Pakistan). Tetapi. al-Maudûdî mengecam konsep kedaulatan rakyat dan demokrasi sebagai syirik (menyekutukan Tuhan).19 Untuk mengganti konsep kedaulatan rakyat. hlm. al-Maudûdî mengajukan konsep hukûmât-i-ilâhîyât (kedaulatan Tuhan) dan khilâfat-i-insânîyât (kekhalifahan rakyat). 20 Teokrasi di Eropa menurut al-Maudûdî hanyalah ciptaan pastur-pastur Katolik belaka.21 Dalam konsep khilâfat-i-insânîyât (kekhalifahan rakyat).

Azra. Modernisme hingga PostModernisme. Bandung: Mizan. Amin Husein. 1999. --------. A. 1996. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Muhammad & Nasution. Aktualitas. Alam Pikiran Islam di India dan Pakistan.Daftar Pustaka Ali. Munawir. 2010. 2003. Sejarah. Pergolakan Politik Islam: dari Fundamentalisme. Islam dan Tata Negara: Ajaran. Mukti. 9 . Jakarta: Paramadina. Jakarta: Paramadina. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. dan Aktor Sejarah. Mahendra. 1998. Azyumardi. Edisi ke5. Iqbal. dan Pemikiran. Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam: Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Partai Jamâ’at-i-Islâmî (Pakistan). Yusril Ihza. Sjadzali. 2002. Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer. Jakarta: Gramedia. Historiografi Islam Kontemporer: Wacana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful