Nama NPM Kelas

: Kiki Rahayu : 1241173300139 : Sore B

Tugas Artikel PHI

PENGARUH NORMA KESUSILAAN DALAM KESADARAN HUKUM MASYARAKAT 

Artikel 1 ( sumber : http://ateisindonesia.wikidot.com/norma-kesusilaan )
Pengertian Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan adalah norma yang bersumber dari hati nurani (batin) manusia agar manusia selalu berbuat kebaikan dan tidak melakukan perbuatan yang tercela. Pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani yang sama dan selalu mengajak pada kebaikan dan kebenaran. Karenanya, ketika melakukan pelanggaran terhadap teguran hati nurani, akan timbul penyesalan dan rasa kecewa yang mendalam. Inilah sanksi yang diterima saat melanggar norma kesusilaan. Contoh norma kesusilaan antara lain berkata dan berbuat jujur, berbuat baik pada sesama manusia, menghindari rasa iri dan dengki serta tidak menyombongkan diri

Artikel 2 ( Sumber : http://dessyptw.blogspot.com/2011/01/pengertian-contoh-normakesusilaan.html )

Pengertian & contoh Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan adalah norma yang mengatur hidup manusia yang berlaku secara umum dan bersumber dari hati nurani manusia. Tujuan norma kesusilaan, yaitu mewujudkan keharmonisan hubungan antarmanusia. Sanksi bagi pelanggarnya, yaitu rasa bersalah dan penyesalan mendalam bagi pelanggarnya. Contoh norma kesusilaan, antara lain: 1) jujur dalam perkataan dan perbuatan; 2) menghormati sesama manusia; 3) membantu orang lain yang membutuhkan; 4) tidak mengganggu orang lain; 5) mengembalikan hutang.

Artikel 3

( Sumber : http://www.scribd.com/doc/94948270/Etika-Versus-Norma )

PROSTITUSI SEBAGAI BAGIAN KEHIDUPAN KOTA
Prostitusi (pelacuran) berasal dari bahasa latin pro-stituere atau prostauree, yang berarti membiarkan diri berbuat zinah, malakukan persundalan, pergundikan. Sedang prostitue adalah pelacur, dikenal pula dengan istilah WTS atau Wanita Tuna Susila. Tuna susila atau tidak susila itu diartikan sebagai kurang beradab karena keroyalan relasi seksualnya, dalam bentuk penyerahan diri pada banyak laik-laki untuk pemuasan seksual, dan mendapatkan imbalan jasa atau uang bagi pelayanannya. Tuna susila itu juga dapat diartikan sebagai salah tingkah, tidak susila, atau gagal menyesuaikan diri dengan norma- norma susila. Menurut Prof. W. A. Bonger dalam tulisannya “Maarschappelijke oorzaken der Proostituie” menyatakan:

Dalam hal ini ada pola prostitusi. Gadis-Gadis Panggilan. disertai eksploitasi dan komersialisasi seks uang impersonal tanpa afeksi sifatnya. dan sekaligus memberikan pelayanan seks kepada pengunjung. untuk mempertahankan hidup di tengahtengan hiruk pilkuk alam pembangunan. 3. Hostess atau pramuria. Menurut Kartini Kartono. gadis-gadis sekolah lanjutan. konflik-konflik eksternal dan internal. di lantai-lantai dansa mereka membiarkan diri dipeluki. tnpa perasaan cinta kasih atau afeksi.J. . juga disorganisasi dalam masyarakat dan dalam diri pribadi. kehormatan. Sedang pada hakikatnya hostess adalah predikat baru dari pelacuran. Pelacuran adalah perbuatan perempuan atau laki-laki yang menyerahkan badannya untuk berbuat cabul secara seksual untuk mendapatkan upah. mengakibatkan ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri. May menekankan masalah barter atau perdagangan secara tukar menukar yaitu menukarkan pelayanan seks dengan bayaran uang. Kepribadian menurut organisasi rohani tertentu yang bertalian denagn aneka struktur dab sistem jiwani serta manifestasi mental. Menurut G. Dengan demikian langganan dapat menikmati keriaan atau kesenangan suasana di tempat-tampat hiburan tersebut. sedang pihak laki-laki mengutamakan pemuasan nafsu-nafsu seksual. yaitu gadis-gadis yang berkerja sebagai pelayan bar. Kecenderungan ini tercipta karena bentukan kepribadian kota yang bercorak social daripad strukturnya yang azasi pada individu. Prostitusi kini dipandang sebagai hal yang sangat biasa di perkotaan terutama di kota-kota besar yang kini cenderung mengalami dekadensi moral sebagai akibat kedinamisan manusia seiring denga perkembangan zaman. de Bruine Van Amsel menyatakan: Prostitusi adalah penyerahan diri wanita kepad banyak lakilaki dengan pembayaran. Kepribadian sebagai gejala sosial nampak pada perilau sosial. pegawa-pegawai. yaitu yang menyemarakkan kehidupan malam dalam nightclub. Dimasukkan dalam kategori pelacuran antara lain: 1. promiscuity. 3. diciumi dan diraba-raba. melainkan hubungan seks tanpa emosi. yaitu pemeliharaan istri tidak resmi. dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan pembayaran. menyatakan: Prostituion defined as sexual intercourse characterized by barter. Mereka hidup sebagai suami istri namun tanpa ikatan perkawinan.. yaitu wanita yang sudah kawin namun tetap melakukan hubungan erotik dan seks dengan laki-laki lain. dan lain-lain. 4. 2. Peristiwa-peristiwa terebut diatas memudahkan pola-pola responsi/reaksi yang menyimpang dari pola-pola umum yang berlaku. dengan pola-pola organisasi impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak teerintegrasi. hadiah. khususnya Indonesia. 2. dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa kendali dengan banyak orang (promiskuitas). yaitu gadis-gadis n wanita biasa yang menyediakan diri untuk dipanggil dan diperkerjakan sebagai prostitue. Pihak pelacur mengutamakan motif-motif komersiil atau alasanalasan keuntungan materiil. 5. bersenang-senang. and emotional infference. istri gelap atau perempuan peliharaan. pelayan-pelayan toko. Pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjualbelikan badan. Ia juga mengemukakan promiskuitas yaitu hubungan seks bebas. dan ketidakacuhan emosional. Tante Girang atau loose Married Woman. mengemukakan bahwa: 1. May dalam bukunya “Encyclopedia of Social Science”. Sebab. baik secara iseng untuk mengisi waktu kosong. dan mendapatkan pengalaman-pengalaman seks lain maupun secara intensional untuk mendapatkan penghasilan. mengakibatkan timbulnya disharmoni. Berlangsungnya perubahanperubahan sosial yang serba cepat dan perkembangan yang tidak sama dalam kebudayaan. Prostitusi adalah benrtuk penyimpangan seksual.Prostitusi ialah gejala kemasyarkatan dimana wanita menjual diri melakukan perbuatan-perbuatan seksual sebagai mata pencaharian. Pergundikan.atau barang berharga lainnya. Mereka ini terdiri dari ibu-ibu rumah tangga. Pada intinya profesi hostess merupakan bentuk pelacuran halus. Gadis-Gadis Bar atau B-Girls. Menurut P. malaui saluran-saluran tertentu. gagasan dan norma yang berlaku umum.

atau perbuatan lain yang keji. istri sedang berhalangan (haid. Terjadilah disorganisasi sosial. Kemudahan untuk melakukan prostitusi dengan imbalan yang dirasakan “besar” menjadi alasan remaja melakukan praktek ini.hukumonline. hamil) dan rasa tidak perlu bertanggung jawab atas akibat relasi seks yang dilakukan dengan WTS. Prostitusi sebagai bagian dari kehdiupan kota semakin menjadijadi. Promiskuitas yang dimulai dari seks bebas terutama di kalangan remaja kian mengkhawatirkan. sehingga mengakibatkan breakdown (kepatahan pada kontrol sosial). adalah seorang murid Socrates. sehingga timbul suatu masyarakat yang tidak bisa diintegrasiikan. hyperseks. Misalnya cium-ciuman. dan kapan saja. Dengan melihat tampilan atau tayangan seks di media para remaja itu beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang bebas dilakukan oleh siapa saja. KUHP. televisi.majalah. Aristippos (433-355 SM) yang mencetuskan paham ini. keberanian. Individu-individu perkotaan mulai menjalani suatu kehidupan yang penuh hedonisme. sehingga tidak pernah merasakan kepuasan relasi seks dengan satu pasangannya akan memilih cara melacurkan diri. filsuf besar dari Yunani. Ratna menyatakan bahwa istilah perbuatan cabul dijelaskan sebagai perbuatan yang melanggar rasa kesusilaan. Manusia (pria dan wanita) yang memiliki nafsu-nafsu seks yang abnormal. Remaja yang cenderung memiliki jiwa dan rasa keingintahuan yang besar kadang tidak luput terjerumus kepada paraktek prostitusi. tanpa perlu keterampilan khusus. meraba-raba buah dada dan sebagainya. mereka “membenarkan” perbuatan mereka untuk menikamati para wanita-wanita yang melacur (WTS). dan film-film ternyata mendorong para remaja untuk melakukan aktivitas seks secara sembarangan di usia muda. meraba-raba anggota kemaluan. dan keroyalan seks. Terjadi banyak konflik dan kurang aadnya konsensus mengenai norma-norma kesusilaan diantara para anggota masyarakat. . factor kemiskinan.Dekadensi moral atau merosotnya nilai-nilai moral yang dipegang masyarakat kota turut memicu berkembangnya prostitusi. Dengan bermacam-macam alasan. dan secara elementer bertingkah laku semau sendiri memenuhi kebutuhan seks dan kebutuhan hidupnya dengan jalan melacurkan diri. yakni diatur dalamPasal 289 sampai dengan Pasal 296 KUHP. Bertemunya macam-macam kebudayaan asing dan kebudayaan setempat di daerah perkotaan meyebabkan perubahan sosial yang cepat dan radikal sehingga masyarakatnya menjadi cenderung instabil (tidak stabil). Hal ini ditambah lagi dengan anggapan bahwa pekerjaan melacurkan diri dapat memperoleh penghasilan dan hasil pendapatan yang besar dan status social yang diinginkan tanpa perlu kerja berat. misalnya tidak perlu membina rumah tangga dan menjamin kehidupan istri dan keturunan. asalkan orang yang bersangkutan memiliki kecantikan. dan semuanya dalam lingkungan nafsu berahi kelamin. hanya mengenal istilah perbuatan cabul. diisyaratkan sebagai lampu hijau melakukan praktek prostitusi. Soesilo. Dengan alasan tekanan ekonomi. Pria kota pun tidak lepas perannya dari praktek prostitusi. Bahkan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin ketika hubungan seks yang diawali dengan coba-coba kemudian menjadi suatu kebutuhan. Aristippos mengatakan bahwa manusia harus membatasi diri dengan kesenangan yang dapat diperoleh dengan mudah dan tidak perlu mengupayakan atau mengusahakan mendapatkan kesenangan dengan cara susah payah dan penuh kerja keras. Kondisi sosial jadi terpecah-pecah sedemikian rupa. tanpa harus melewati lembaga pernikahan yang syah. menurutnya. pertimabangn ekonomis untuk dapat survive mempertahankan kelangsungan hidupnya menjadi alasan-alasan lama yang duipergunakan pria atau wanita yang melakukan pelacuran. Tradisi dan normanorma dilanggar. dimana saja. Eksploitasi seksual dalam video klip. menjadi alasan “jahat” pria un tuk memilih melakukan prostitusi dengan WTS. maka tidak sedikit wanita-wanita muda yang mengalami disorganisasi pribadi. sehingga dirasalan lebih ekonomis namun sangat nikmat. Pandangan semacam ini dapat menjadi inspirator bagi orang-orang yang memandang bahwa kesenangan duniawi adalah segalanya dalam hidup ini.com/klinik/detail/cl3746/jerat-hukumdan-pembuktian-pelecehan-seksual ) Jerat Hukum dan Pembuktian Pelecehan Seksual Ratna Batara Munti dalam artikel berjudul “Kekerasan Seksual: Mitos dan Realitas” menyatakan antara lain di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) tidak dikenal istilah pelecehan seksual. tidak terintegrasi dalam kehidupan. Rasa iseng untuk mendapatkan variasi seks yang berbeda dari pasangannya (istri).  Artikel 4 ( Sumber : http://www. Mengutip buku “KUHP Serta Komentar-komentarnya” karya R. yaitu suatu paham yangmenguitamakan kesenangan dalam menjalani hidup. mudah dikerjakan. tanpa memerlukan intelegensia tinggi.

ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.Menurut Ratna.” . yaitu: keterangan saksi keterangan ahli surat petunjuk keterangan terdakwa. dapat dimasukkan sebagai perbuatan cabul. visum et repertum adalah surat keterangan/laporan dari seorang ahli mengenai hasil pemeriksaannya terhadap sesuatu. sebagaimana diatur dalam Pasal 187 huruf c KUHAP: “Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya. unsur penting dari pelecehan seksual adalah adanya ketidakinginan atau penolakan pada apapun bentuk-bentuk perhatian yang bersifat seksual. komentar yang menurut budaya atau sopan santun (rasa susila) setempat adalah wajar. 2. dalam pengertian itu berarti. Dalam hal terdapat bukti-bukti yang dirasa cukup. menggunakanlima macam alat bukti. pelecehan seksual dapat dijerat dengan pasal percabulan (Pasal 289 s. Jadi. istilah pelecehan seksual mengacu padasexual harrasment yang diartikan sebagai unwelcome attention (Martin Eskenazi and David gallen. misalnya terhadap mayat dan lain-lain dan ini dipergunakan untuk pembuktian di pengadilan. kata-kata. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (“KUHAP”). Rudy T Erwin dan JT Prasetyo . Sementara itu. bukti-bukti tersebut di atas dapat digunakan sebagai alat bukti. 1992) atau secara hukum didefinisikan sebagai "imposition of unwelcome sexual demands or creation of sexually offensive environments". Sehingga. Dengan demikian. segala perbuatan apabila itu telah dianggap melanggar kesopanan/kesusilaan. Meninjau pada definisi di atas. dalam hal terjadi pelecehan seksual. keracunan ataupun mati yang diduga karena perstiwa yang merupakan tindak pidana. biasanya menggunakan salah satu alat buktinya berupa Visum et repertum. Namun. Sehingga bisa jadi perbuatan seperti siulan. Untuk kasus terkait percabulan atau perkosaan. Jaksa Penuntut Umum yang akan mengajukan dakwaannya terhadap pelaku pelecehan seksual di hadapan pengadilan. 1) 2) 3) 4) 5) Pembuktian dalam hukum pidana adalah berdasarkan Pasal 184 UU No. maka visum et repertum dapat digunakan sebagai alat bukti surat. Pasal 296 KUHP).” Penggunaan Visum et repertum sebagai alat bukti.d. Menurut “Kamus Hukum” oleh JCT Simorangkir. diatur juga dalam Pasal 133 ayat (1) KUHAP: “Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka. bila itu tidak dikehendaki oleh si penerima perbuatan tersebut maka perbuatan itu bisa dikategorikan sebagai pelecehan seksual.

8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht. 2. Demikian jawaban dari kami. Pada akhirnya. semoga bermanfaat. Staatsblad 1915 No 73) . Undang-Undang No. Dasar hukum: 1.Apabila visum memang tidak menunjukkan adanya tanda kekerasan. Hakim yang akan memutus apakah terdakwa bersalah atau tidak berdasarkan pembuktian di pengadilan. maka sebaiknya dicari alat bukti lain yang bisa membuktikan tindak pidana tersebut.