Konsep Materialitas, Resiko, dan Pengujian dalam Auditing Uraian berikut ini memberikan panduan bagi auditor dalam

mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan dan pelaksanaan audit atas laporan keuangan berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Risiko audit dan materialitas mempengaruhi penerapan standar auditing, khususnya standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan, serta tercermin dalam laporan auditor bentuk baku. Risiko audit dan materialitas, bersama dengan hal-hal lain, perlu dipertimbangkan dalam menentukan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit serta dalam mengevaluasi hasil prosedur tersebut. Adanya risiko audit diakui dengan pernyataan dalam penjelasan tentang tanggung jawab dan fungsi auditor independen yang berbunyi sebagai berikut: "Karena sifat bukti audit dan karakteristik kecurangan, auditor dapat memperoleh keyakinan memadai, bukan mutlak, bahwa salah saji material terdeteksi. 1 Risiko audit2 adalah risiko yang timbul karena auditor tanpa disadari tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. 3 Konsep materialitas mengakui bahwa beberapa hal, baik secara individual atau keseluruhan, adalah penting bagi kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, sedangkan beberapa hal lainnya adalah tidak penting. Frasa "menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia ,4 menunjukkan keyakinan auditor bahwa laporan keuangan secara keseluruhan tidak mengandung salah saji material. Laporan keuangan mengandung salah saji material apabila laporan keuangan tersebut mengandung salah saji yang dampaknya, secara individual atau keseluruhan, cukup signifikan sehingga dapat mengakibatkan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Salah saji dapat terjadi sebagai akibat dari kekeliruan atau kecurangan. Dalam perencanaan audit, auditor berkepentingan dengan masalah-masalah yang mungkin material terhadap laporan keuangan, Auditor tidak bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa salah saji, yang disebabkan karena kekeliruan atau kecurangan, tidak material terhadap laporan keuangan.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Elon Manurung

AUDITING I

1

Langkah-langkah ini biasanya akan mengarahkan auditor ke kesimpulan yang benar. kepentingan auditor secara khusus berkaitan dengan tindakan curang yang menyebabkan salah saji material dalam laporan keuangan. Kekeliruan mencakup: a. 32 dan PSA No. atau pengungkapan. Dua tipe salah saji ini dijelaskan lebih lanjut dalam SA Seksi 316 [PSA No. seperti pengambilan keputusan yang tidak semestinya mengenai bentuk laporan auditor karena adanya ketidakpastian atau batasan atas lingkup audit.Istilah kekeliruan berarti salah saji atau penghilangan yang tidak disengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan keuangan. seperti penyelenggaraan catatan akuntansi dengan basis kas atau basis pajak dan secara periodik dilakukan penyesuaian terhadap catatan tersebut untuk membuat laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. klasifikasi. Kekeliruan dalam penerapan prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah. Konsep risiko audit dan materialitas juga berlaku terhadap laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Kesalahan dalam pengumpulan atau pengolahan data yang menjadi sumber penyusunan laporan keuangan. cara penyajian. 70] Pertimbangan atas PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 2 . Meskipun kecurangan merupakan pengertian yang luas dari segi hukum. 5 kembali kewajaran laporan keuangannya. c. b. Definisi risiko audit ini juga tidak mencakup risiko yang timbul sebagai akibat pengambilan keputusan pelaporan yang tidak semestinya. Dua tipe salah saji yang relevan dengan pertimbangan auditor dalam audit laporan keuangan-salah saji yang timbul dari kecurangan dalam pelaporan keuangan dan salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva. Kekeliruan tidak mencakup dampak proses akuntansi yang dipakai untuk kenyamanan. Estimasi akuntansi yang tidak masuk akal yang timbul dari kecerobohan atau salah tafsir fakta. pengacuan dalam Seksi ini ke laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia juga mencakup penyajian sesuai dengan basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia tersebut. yang tidak berkaitan dengan deteksi dan evaluasi salah saji dalam laporan keuangan.

Sebagai akibat interaksi antara pertimbangan kuantitatif dan kualitatif dalam mempertimbangkan materialitas. auditor harus mempertimbangkan implikasi integritas manajemen atau karyawan dan kemungkinan dampaknya terhadap aspek audit. Sebagai contoh. dalam hal tanggapan auditor terhadap salah saji yang terdeteksi. tidak ada perbedaan penting antara kekeliruan dengan kecurangan. Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji. Sebaliknya. secara individual atau secara gabungan. material.Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan. Faktor utama yang membedakan kecurangan dengan kekeliruan adalah apakah tindakan yang mendasarinya yang berakibat pada salah saji dalam laporan keuangan merupakan tindakan yang disengaja atau tidak disengaja. Namun. Pertimbangan mengenai materialitas yang digunakan oleh auditor dihubungkan dengan keadaan sekitarnya dan mencakup pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif. suatu jumlah yang material bagi laporan keuangan di suatu entitas mungkin tidak material bagi laporan keuangan entitas lain dengan ukuran atau sifat yang berbeda. bila kecurangan dideteksi. tidak material dalam pengolahan data akuntansi atau penerapan prinsip akuntansi tidak signifikan terhadap audit. auditor biasanya harus mempertimbangkan sifat dan jumlah dalam kaitannya dengan sifat dan jumlah pos dalam laporan keuangan yang diaudit. Pertimbangan auditor mengenai materialitas merupakan pertimbangan profesional dan dipengaruhi oleh persepsi auditor atas kebutuhan orang yang memiliki pengetahuan memadai dan yang akan meletakkan kepercayaan terhadap laporan keuangan. dilihat dari keadaan yang melingkupinya. Pada waktu mempertimbangkan tanggung jawab auditor untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas salah saji material. salah saji yang jumlahnya relatif kecil yang ditemukan PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 3 . apa yang material bagi laporan keuangan entitas tertentu kemungkinan berubah dari satu periode ke periode yang lain. Definisi tersebut mengakui pertimbangan materialitas dilakukan dengan memperhitungkan keadaan yang melingkupi dan perlu melibatkan baik pertimbangan kuantitatif maupun kualitatif. Pada waktu menyimpulkan apakah dampak salah saji. mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut. terdapat perbedaan. Umumnya kekeliruan yang terisolasi. Begitu juga.

05] tersebut. sifat. Risiko audit dapat ditentukan dalam ukuran kuantitatif atau kualitatif. Oleh karena itu. pertimbangan risiko audit dan materialitas juga bervariasi dengan faktor-faktor tersebut. Pertimbangan pada Tingkat Laporan Keuangan Auditor harus merencanakan auditnya sedemikian rupa. memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Menurut SA Seksi 311 [PSA No. dalam semua hal yang material. saat. PERENCANAAN AUDIT Auditor harus mempertimbangkan risiko audit dan materialitas baik dalam: (a) (b) Merencanakan audit dan merancang prosedur audit.oleh auditor dapat berdampak material terhadap laporan keuangan. dan lingkup perencanaan bervariasi sesuai dengan faktor-faktor: ukuran dan kerumitan entitas. SA Seksi 311 [PSA No. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 4 . pengalaman auditor mengenai entitas. sehingga risiko audit dapat dibatasi pada tingkat yang rendah. jika kemungkinan besar hal tersebut dapat menimbulkan kewajiban bersyarat yang material atau hilangnya pendapatan yang material. pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit. Pertimbangan tersebut mungkin dikuantitatifkan atau mungkin tidak. Auditor harus mempertimbangkan risiko audit dan materialitas untuk hal yang disebutkan pada butir (a) untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup dan sebagai dasar memadai untuk mengevaluasi laporan keuangan untuk butir (b). 05] Perencanaan dan Supervisi mengharuskan auditor dalam perencanaan auditnya untuk memperhitungkan antara lain. yang menurut pertimbangan profesionalnya. Sebagai contoh. Faktor tertentu yang berkaitan dengan entitas juga mempengaruhi sifat. sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. saat dan lingkup prosedur audit untuk saldo akun tertentu atau golongan transaksi serta asersi yang bersangkutan (lihat paragraf 24 sampai dengan paragraf 33). dan Mengevaluasi apakah laporan keuangan secara keseluruhan disajikan secara wajar. suatu pembayaran yang melanggar hukum yang jumlahnya tidak material dapat menjadi material. dan pengetahuannya tentang bisnis entitas yang bersangkutan.

risiko yang tinggi memerlukan personel yang lebih berpengalaman atau supervisi yang lebih luas dari auditor yang bertanggung jawab akhir atas perikatan yang bersangkutan. auditor harus mempertimbangkan luasnya prosedur audit yang harus dilaksanakan di lokasi atau komponen pilihan. atau memodifikasi sifat prosedur untuk memperoleh bukti yang lebih bersifat persuasif. Faktor yang harus dipertimbangkan oleh auditor berkaitan dengan pemilihan lokasi atau komponen tertentu mencakup (a) sifat dan jumlah aktiva dan transaksi yang dilaksanakan di lokasi atau komponen tersebut. auditor harus menggunakan pertimbangannya dalam menentukan tingkat risiko audit yang cukup rendah dan pertimbangan awal mengenai PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 5 . atau luasnya prosedur. auditor harus mempertimbangkan kesimpulannya ini dalam menentukan sifat.Penaksiran risiko salah saji material (yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan) harus dilakukan dalam perencanaan. (d) frekuensi. Biasanya. Dalam audit suatu entitas dengan operasi di berbagai lokasi atau dengan berbagai komponen. dan (e) pertimbangan tentang materialitas lokasi atau komponen tersebut. Pengetahuan. penugasan staf. dan lingkup pemantauan aktivitas oleh entitas atau orang lain di lokasi atau komponen. Pemahaman auditor tentang pengendalian intern mungkin meningkatkan atau menurunkan kepedulian auditor tentang risiko salah saji material. terutama yang berkaitan dengan pengendalian langsung manajemen atas penggunaan wewenang yang didelegasikan kepada orang lain dan kemampuan manajemen untuk secara efektif melakukan supervisi aktivitas di lokasi atau komponen.8 Auditor harus mempertimbangkan dampak penaksiran tersebut atas strategi audit menyeluruh dan pelaksanaan dan lingkup audit yang diharapkan. (c) efektivitas lingkungan pengendalian. saat. keterampilan. dan kemampuan personel yang dibebani tanggung jawab perikatan signifikan harus sesuai dengan penaksiran auditor terhadap tingkat risiko untuk perikatan tersebut. (b) tingkat sentralisasi catatan atau pengolahan informasi. saat. atau perlunya tingkat supervisi yang semestinya. Dalam merencanakan audit. 7 Dalam mempertimbangkan risiko audit. Risiko tinggi dapat menyebabkan auditor memperluas prosedur yang diterapkan. auditor harus secara khusus menaksir risiko salah saji material dalam laporan keuangan sebagai akibat dari kecurangan. Bilamana auditor menyimpulkan bahwa terdapat risiko signifikan salah saji material dalam laporan keuangan.

Auditor merencanakan audit untuk mencapai keyakinan memadai guna mendeteteksi salah saji yang diyakini jumlahnya cukup besar. " Dalam situasi tertentu. karena laporan keuangan saling berhubungan. Walaupun auditor harus waspada terhadap salah saji yang mungkin material secara kualitatif. perencanaannya baru dilakukan setelah laporan keuangan yang diaudit selesai disusun.000. yang secara kuantitatif berdampak material terhadap laporan keuangan. namun. pada umumnya adalah tidak praktis untuk merancang prosedur pendeteksiannya. agar mempunyai manfaat ekonomis. dapat memberikan bukti audit yang cukup untuk mencapai keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. 07] Bukti Audit paragraf 20 menyatakan bahwa `auditor pada hakikatnya bekerja dalam batas-batas ekonomis.000. untuk perencanaan audit. dalam keterbatasan bawaan dalam proses audit. Sebagai contoh. adalah tidak memadai baginya untuk merancang suatu prosedur audit yang diharapkan dapat untuk mendeteksi salah saji yang berjumlah Rp200.000.tingkat materialitas dengan suatu cara yang diharapkan.000. Tingkat materialitas mencakup tingkat yang menyeluruh untuk masing-masing laporan keuangan pokok. Dalam kedua keadaan tersebut. secara individual atau keseluruhan. SA Seksi 326 [PSA No.000 saja.000 akan memberi pengaruh material terhadap pos pendapatan. Dalam situasi lain. namun ia mungkin menyadari bahwa laporan tersebut masih memerlukan modifikasi signifikan. asalkan ia memperhatikan pengaruh perubahan besar dalam entitas PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 6 . auditor biasanya mempertimbangkan materialitas pada tingkat kumpulan salah saji terkecil yang dapat dianggap material untuk salah satu laporan keuangan pokok. agar efisien. dan sebagian besar prosedur audit berhubungan dengan lebih dari satu jenis laporan keuangan. pendapat auditor harus dirumuskan dalam jangka waktu dan biaya yang wajar. jika auditor berkeyakinan bahwa salah saji secara keseluruhan yang berj umlah kurang lebih Rp 100. namun baru akan mempengaruhi neraca secara material apabila mencapai angka Rp200. untuk tujuan perencanaan. auditor mempertimbangkan materialitas sebelum laporan keuangan yang akan diauditnya selesai disusun. pertimbangan awal auditor tentang materialitas mungkin didasarkan atas laporan keuangan interim entitas tersebut yang disetahunkan atau laporan keuangan tahunan satu periode atau lebih sebelumnya.

Dalam merencanakan prosedur audit. biasanya tidak mungkin bagi auditor untuk mengantisipasi semua keadaan yang mungkin. auditor harus mengevaluasi kembali kecukupan prosedur audit yang telah dilaksanakan. pada saat merencanakan audit. Dengan demikian. dan perubahan lain yang relevan dalam perekonomian secara keseluruhan atau industri yang merupakan tempat entitas tersebut berusaha.tersebut (contoh: merger). Jika tingkat materialitas diturunkan ke tingkat semestinya yang lebih rendah dalam mengevaluasi temuan audit (dengan demikian risiko audit yang dihadapi oleh auditor meningkat). auditor harus juga mempertimbangkan sifat. Sebagai contoh. maka materialitas untuk tujuan perencanaan dan evaluasi akan sama. sebab (jika diketahui). Pertimbangan pada Tingkat Saldo Akun Individual atau Golongan Transaksi Auditor menyadari bahwa risiko audit dan pertimbangan materialitas audit mempunyai hubungan terbalik. namun risiko bahwa saldo akun atau golongan transaksi disajikan Salah dalam jumlah yang sangat kecil mungkin sangat tinggi. jika auditor ingin menurunkan tingkat risiko audit yang menurut pertimbangannya telah memadai untuk suatu saldo akun atau golongan transaksi atau jika is menginginkan penurunan jumlah salah saji dalam suatu saldo akun atau golongan transaksi yang dianggap material. risiko suatu saldo akun atau golongan transaksi serta asersi yang bersangkutan disajikan salah dalam jumlah yang sangat besar mungkin sangat rendah. Jika secara teoritis diasumsikan bahwa pertimbangan auditor tentang materialitas pada tahap perencanaan didasarkan atas informasi yang sama dengan informasi yang tersedia pada tahap evaluasi. karena (1) keadaankeadaan yang melingkupi mungkin berubah dan (2) tambahan informasi mengenai masalah akan selalu ada selama periode audit. maka auditor harus melaksanakan salah satu atau lebih langkah berikut: PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 7 . Namun. yang akhirnya akan mempengaruhi pertimbangannya tentang materialitas dalam mengevaluasi temuan audit pada tahap penyelesaian audit. Dengan menganggap pertimbangan perencanaan lain tetap sama. pertimbangan awal tentang materialitas akan berbeda dengan pertimbangan yang digunakan dalam mengevaluasi temuan audit. dan jumlah salah saji yang diketahui dari audit atas laporan keuangan periode sebelumnya.

untuk tujuan perencanaan. karena pertimbangan yang demikian secara langsung membantunya dalam menentukan lingkup prosedur audit untuk saldo akun atau golongan transaksi tersebut. saat. sehingga memungkinkannya. tidak menyebabkan laporan keuangan auditan mengandung salah saji material. Auditor menggunakan berbagai metode untuk merancang prosedur guna menemukan salah saji yang demikian. auditor menghubungkan pertimbangan awalnya tentang materialitas dengan saldo akun atau golongan transaksi tertentu. auditor harus merancang suatu prosedur yang dapat memberinya keyakinan memadai untuk dapat mendeteksi salah saji yang menurut keyakinannya. Pada tingkat saldo akun atau golongan transaksi. Dalam menentukan sifat. Auditor perlu mempertimbangkan risiko audit pada tingkat akun atau golongan transaksi secara individual. Dalam hal lain. berdasarkan pertimbangan awal tentang materialitas. Auditor harus berusaha membatasi risiko audit pada tingkat saldo atau golongan transaksi individual sedemikian rupa. untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan dengan tingkat risiko audit yang cukup rendah. Auditor menggunakan berbagai pendekatan untuk mencapai tujuan tersebut. auditor secara tegas memperkirakan.(a) (b) (c) Memilih prosedur audit yang lebih efektif. risiko audit terdiri dari (a) risiko [yang meliputi risiko bawaan (inherent risk) dan risiko pengendalian (control risk)] bahwa saldo akun atau golongan transaksi mengandung salah saji (disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan) yang dapat menjadi material terhadap laporan keuangan apabila digabungkan dengan salah saji pada saldo akun atau golongan transaksi lainnya. Melaksanakan prosedur audit lebih dekat ke tanggal neraca. jumlah maksimum salah saji dalam suatu saldo akun atau golongan transaksi yang apabila digabungkan dengan salah saji yang terdapat dalam saldo atau golongan yang lain. dan (b) risiko [risiko deteksi (detection risk )] bahwa auditor tidak akan mendeteksi salah saji tersebut. Pembahasan berikut menjelaskan risiko audit dalam PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 8 . tanpa memperkirakan salah saji secara tegas. mungkin material terhadap laporan keuangan secara keseluruhan. Dalam hal tertentu. pada saat penyelesaian audit. jika digabungkan dengan salah saji yang terdapat dalam saldo akun atau golongan transaksi yang lain. atau Memperluas prosedur audit tertentu. dan lingkup prosedur audit yang akan diterapkan terhadap saldo akun atau golongan transaksi tertentu.

paragraf 10. Faktor yang terakhir ini mencakup. dengan asumsi bahwa tidak terdapat pengendalian yang terkait. 70] Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan. terhadap faktor-faktor tersebut yang khusus menyangkut saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Risiko Pengendalian komponen tersebut dan kombinasinya melibatkan pertimbangan profesional auditor dan tergantung pada pendekatan audit yang Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. perkembangan teknologi mungkin menyebabkan produk tertentu menjadi usang. Risiko salah saji demikian adalah lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu dibandingkan dengan yang lain. Sebagai contoh. Cara yang digunakan oleh auditor untuk mempertimbangkan dilakukannya. Beberapa risiko pengendalian akan selalu ada karena keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern. 32 dan PSA No. perhitungan yang rumit lebih mungkin disajikan salah jika dibandingkan dengan perhitungan yang sederhana. Uang tunai lebih mudah dicuri daripada sediaan batu bara. b. Akun yang terdiri dart jumlah yang berasal dart estimasi akuntansi cenderung mengandung risiko lebih besar dibandingkan dengan akun yang sifatnya relatif rutin dan berisi data berupa fakta.konteks tiga komponen risiko di atas. a. Sebagai contoh.Risiko Bawaan Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material. Faktor ekstern juga mempengaruhi risiko bawaan. Di samping itu. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 9 . Lihat SA Seksi 316 [PSA No. faktor-faktor yang berhubungan dengan beberapa atau seluruh saldo akun atau golongan transaksi mungkin mempengaruhi risiko bawaan yang berhubungan dengan saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Risiko ini merupakan fungsi efektivitas desain dan operasi pengendalian intern untuk mencapai tujuan entitas yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan entitas. sehingga mengakibatkan sediaan cenderung dilaporkan lebih besar. misalnya kekurangan modal kerja untuk melanjutkan usaha atau penurunan aktivitas industri yang ditandai oleh banyaknya kegagalan usaha.

Sebaliknya. atau menafsirkan secara keliru hasil audit. Apabila auditor berkesimpulan bahwa usaha yang dibutuhkan untuk mengevaluasi risiko bawaan suatu asersi akan melebihi pengurangan potensial dalam luasnya prosedur audit PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 10 . semakin besar risiko deteksi yang dapat diterima. terlepas dari dilakukan atau tidaknya audit atas laporan keuangan. misalnya. semakin besar adanya risiko bawaan dan risiko pengendalian yang diyakini auditor. auditor tidak hanya mempertimbangkan faktor yang secara khusus berhubungan dengan saldo akun atau golongan transaksi tersebut. Ketidakpastian lain semacam itu timbul karena auditor mungkin memilih suatu prosedur audit yang tidak sesuai. menerapkan secara keliru prosedur yang semestinya. dari minimum sampai dengan maksimum. Risiko ini timbul sebagian karena ketidakpastian yang ada pada waktu auditor tidak memeriksa 100% saldo akun atau golongan transaksi. Kedua risiko yang disebut terdahulu ada. sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audit dan dapat diubah oleh keputusan auditor itu sendiri. Komponen risiko audit ini dapat ditentukan secara kuantitatif. yang dapat mempengaruhi risiko bawaan yang berhubungan dengan saldo akun atau golongan transaksi itu. Risiko bawaan dan risiko pengendalian berbeda dengan risiko deteksi. Pada saat auditor menetapkan risiko bawaan untuk suatu asersi yang berkaitan dengan saldo akun atau golongan transaksi. Risiko Deteksi Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. seperti dalam bentuk persentase atau secara nonkuantitatif yang berkisar. Dalam melakukan hal tersebut. ia mengevaluasi berbagai faktor yang memerlukan pertimbangan profesional. tetapi juga faktor-faktor lain yang terdapat dalam laporan keuangan secara keseluruhan. Risiko deteksi mempunyai hubungan yang terbalik dengan risiko bawaan dan risiko pengendalian. Ketidakpastian lain ini dapat dikurangi sampai pada tingkat yang dapat diabaikan melalui perencanaan dan supervisi memadai dan pelaksanaan praktik audit yang sesuai dengan standar pengendalian mutu. semakin kecil tingkat risiko deteksi yang dapat diterima. dan sebagian lagi karena ketidakpastian lain yang ada. Risiko deteksi merupakan fungsi efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor.c. walaupun saldo akun atau golongan transaksi tersebut diperiksa 100%. Semakin kecil risiko bawaan dan risiko pengendalian yang diyakini oleh auditor.

auditor audit. diperlukan pertimbangan profesional untuk menafsirkan. adalah kurang dari maksimum. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 11 . auditor harus memahami pengendalian intern dan melaksanakan pengujian pengendalian yang sesuai. Apabila auditor menganggap risiko bawaan dan risiko pengendalian. instruksi. risiko deteksi yang dapat diterimanya akan meningkat. ia akan menentukan risiko pengendalian untuk asersi tersebut pada tingkat yang maksimum. auditor tidak boleh sepenuhnya mengandalkan risiko bawaan dan risiko pengendalian. atau jika ia yakin bahwa evaluasi terhadap efektivitas pengendalian intern tidak efisien. misalnya melalui kuesioner. dengan tidak melakukan pengujian substantif terhadap saldo akun atau golongan transaksi. yang di dalamnya mungkin terkandung salah saji yang mungkin material jika digabungkan dengan salah saji yang ada pada saldo akun atau golongan transaksi yang lain. checklist. Namun. baik secara terpisah maupun secara gabungan. Apabila auditor yakin bahwa pengendalian intern tidak ada kaitannya dengan asersi tersebut atau tidak efektif. harus menetapkan risiko bawaan pada tingkat yang maksimum pada saat merancang prosedur Auditor juga menggunakan pertimbangan profesional dalam menetapkan risiko pengendalian untuk suatu asersi yang berhubungan dengan suatu saldo akun atau golongan transaksi. Khusus mengenai risiko pengendalian. Dasar ini dapat diperoleh. menerapkan.sebagai akibat pengandalan terhadap hasil penetapan tersebut. Risiko deteksi yang dapat diterima oleh auditor dalam merancang prosedur audit tergantung pada tingkat yang diinginkan untuk membatasi risiko audit suatu saldo akun atau golongan transaksi dan tergantung atas penetapan auditor terhadap risiko bawaan dan risiko engendalian. ia harus mempunyai dasar yang cukup. Apabila penetapan auditor terhadap risiko bawaan dan risiko pengendalian menurun. atau alat serupa yang berlaku umum lainnya. atau memperluas alat serupa yang berlaku umum tersebut agar sesuai dengan keadaan. Penetapan risiko pengendalian didasarkan atas cukup atau tidaknya bukti audit yang mendukung efektivitas pengendalian dalam mencegah dan mendeteksi salah saji asersi dalam laporan keuangan. Auditor dapat melakukan penetapan risiko bawaan dan risiko pengendalian secara terpisah atau secara gabungan. Namun.

dan lingkup prosedur lain yang telah direncanakan tersebut. Pertimbangan yang bersifat kualitatif juga mempengaruhi kesimpulan yang diambil oleh auditor dalam menentukan materialitas salah saji. sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.Audit terhadap laporan keuangan adalah suatu proses kumulatif. Dalam hal demikian. auditor mungkin memperoleh informasi yang jauh berbeda dengan informasi yang semula digunakan sebagai dasar untuk menyusun rencana audit. Pada saat auditor menguji saldo akun atau golongan transaksi dan asersi yang terkait dengan menggunakan prosedur analitik. Sebagai contoh. namun ia hanya akan memperoleh suatu petunjuk tentang adanya kemungkinan salah saji PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 12 . sewaktu auditor melaksanakan prosedur audit yang direncanakan. informasi lain yang diperoleh yang berkaitan dengan laporan keuangan mungkin mengubah pertimbangan awal auditor mengenai materialitas. auditor mungkin perlu mengevaluasi kembali prosedur audit yang direncanakan. Dari pelaksanaan prosedur audit atau dari sumber lain selama audit berlangsung. auditor harus menggabungkan semua salah saji yang tidak dikoreksi oleh entitas tersebut sedemikian rupa. auditor biasanya tidak akan dapat secara khusus mengidentifikasi adanya salah saji. saat. subtotal. berdasarkan atas pertimbangan yang telah diperbaiki tentang risiko audit dan materialitas untuk seluruh atau sebagian saldo akun atau golongan transaksi dan asersi yang terkait. atau jumlah keseluruhan dalam laporan keuangan. besarnya salah saji yang ditemukan mungkin mengubah pertimbangan auditor tentang tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian. Penggabungan salah saji yang diuraikan di atas harus mencakup estimasi terbaik auditor mengenai jumlah seluruh salah saji dalam saldo akun atau golongan transaksi yang telah diperiksa. Di samping itu. EVALUASI TEMUAN AUDIT Dalam mengevaluasi apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar. dan tidak terbatas hanya pada jumlah salah saji yang telah diidentifikasi secara khusus. sehingga memungkinkannya untuk mempertimbangkan apakah laporan keuangan secara keseluruhan telah disajikan salah secara material dalam hubungannya dengan jumlah individual. bukti yang diperoleh auditor mungkin menyebabkan ia memodifikasikan sifat. dalam semua hal yang material.

dalam saldo akun atau golongan transaksi dan juga kemungkinan salah dalam taksiran besarnya. dibandingkan dengan jika saldo akun dan golongan transaksi berisi data yang bersifat faktual. Auditor juga harus mempertimbangkan apakah perbedaan antara estimasi yang didukung bukti audit dan estimasi yang dicantumkan dalam laporan keuangan memberikan petunjuk adanya kecenderungan manajemen entitas untuk menyajikan laporan keuangan menurut keinginannya. atau karena salah penggunaan data yang semestinya. namun juga tergantung pada salah saji yang mungkin timbul karena penggunaan data yang tidak cukup atau tidak semestinya. Namun. Misalnya estimasi mengenai: keusangan sediaan. namun jumlahnya tidak dapat diperkirakan. ia harus memperlakukan perbedaan antara estimasi tersebut dengan estimasi yang pantas sebagai kemungkinan adanya salah saji dan menggabungkannya dengan kemungkinan salah saji lainnya. Hal ini karena adanya subjektivitas bawaan yang terkandung dalam estimasi peristiwa yang akan datang yang terdapat dalam setiap estimasi akuntansi. Risiko terjadinya salah saji material dalam laporan keuangan umumnya lebih besar jika saldo akun dan golongan transaksi berisi estimasi akuntansi. dan kewajiban garansi. Apabila auditor menggunakan sampling audit untuk menguji asersi suatu saldo akun atau golongan transaksi. auditor harus menyadari bahwa adanya perbedaan antara estimasi yang didukung penuh oleh bukti audit dengan estimasi yang dicantumkan dalam laporan keuangan merupakan suatu hal yang wajar. ia memproyeksikan jumlah salah saji yang diketahuinya berdasarkan sampel tersebut ke asersi yang diperiksa dalam saldo akun atau golongan transaksi yang bersangkutan. mendukung penentuan auditor mengenai kemungkinan salah saji dalam saldo akun dan golongan transaksi tersebut. tidak tertagihnya piutang. meskipun kedua estimasi tersebut secara individual dianggap wajar. Berhubung tidak ada satu pun estimasi akuntansi yang dapat dijamin ketepatannya. Proyeksi salah saji tersebut. oleh karena itu perbedaan tersebut tidak dapat dianggap sebagai kemungkinan salah saji. adalah tergantung tidak hanya pada peristiwa yang terjadi di masa depan yang tidak dapat diperkirakan. Jika prosedur analitik memberikan petunjuk bahwa mungkin terdapat salah saji. bersama dengan hasil pengujian substantif lainnya. auditor umumnya harus menerapkan prosedur lain yang memungkinkannya memproyeksikan salah saji dalam saldo akun atau golongan transaksi tersebut. apabila auditor berkesimpulan bahwa jumlah yang diestimasi dalam laporan keuangan tersebut tidak masuk akal. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 13 .

tetapi jika perbedaan antara masing masing estimasi tersebut dengan estimasi yang didukung oleh bukti audit cenderung untuk meningkatkan laba. penerapan prinsip akuntansi yang sesuai.Sebagai contoh. dan jika salah saji periode sebelumnya yang berdampak terhadap laporan keuangan periode sekarang dipertimbangkan bersama-sama dengan kemungkinan salah saji periode sekarang. Auditor pada PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 14 . auditor harus mempertimbangkan kembali estimasi tersebut secara keseluruhan. jika setiap estimasi akuntansi yang dicantumkan dalam laporan keuangan merupakan estimasi yang dianggap wajar secara individual. ia harus menyadari bahwa laporan keuangan masih dapat mengandung salah saji material karena adanya salah saji lainnya yang tidak dapat ditemukan. bahwa penggabungan kemungkinan salah saji akan menyebabkan salah saji material dalam laporan keuangan. auditor harus memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar atas laporan keuangan. Kemungkinan salah saji dalam periode sebelumnya belum dikoreksi oleh entitas. berdasarkan bukti audit memadai yang dikumpulkannya. Apabila gabungan salah saji meningkat. karena hal tersebut tidak menyebabkan salah saji material dalam laporan keuangan periode yang bersangkutan. Jika salah saji material tersebut tidak dihilangkan. penyesuaian lain yang bersifat kuantitatif. Jika auditor yakin bahwa terdapat risiko yang sangat tinggi bahwa laporan keuangan periode sekarang kemungkinan berisi salah saji material. ia harus meminta kepada manajemen untuk menghilangkan salah saji material tersebut. Walaupun pengaruh keseluruhan kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan tidak material. Jika auditor berkesimpulan bahwa penggabungan salah saji tidak akan mengakibatkan salah saji material dalam laporan keuangan. Salah saji tersebut mungkin juga mempengaruhi laporan keuangan periode sekarang. Salah saji material dapat dihilangkan dengan cara. risiko bahwa laporan keuangan mengandung salah saji material juga meningkat. atau penambahan pengungkapan yang semestinya. auditor harus menyadari bahwa gabungan salah saji tidak material dalam neraca dapat mengakibatkan salah saji material pada laporan keuangan masa yang akan datang. misalnya. ia harus memasukkan dampak kemungkinan salah saji secara gabungan tersebut terhadap laporan keuangan periode sekarang Jika auditor berkesimpulan.

Konsep risiko audit berkaitan dengan risiko kegagalan auditor dalam mengubah pendapatnya atas laporan keuangan yang sebenarnya berisi salah saji material. tidak akan material terhadap laporan keuangan. setelah kemungkinan salah saji yang tidak terdeteksi lebih lanjut dipertimbangkan. secara individual atau gabungan dengan salah saji lain. Jika auditor berpendapat bahwa risiko tersebut sedemikian tinggi. Risiko audit juga digolongkan menjadi dua. Berdasarkan pertimbangan biaya-manfaat.umumnya mengurangi risiko salah saji material dalam perencanaan audit dengan membatasi risiko deteksi ke tingkat yang dapat diterima untuk suatu saldo akun atau golongan transaksi secara individual. Dalam menggabungkan salah saji yang diketahui dan yang mungkin terjadi yang tidak dikoreksi oleh entitas. yang jika salah saji di bawah jumlah tersebut tidak perlu diakumulasikan. dan lingkup prosedur audit yang direncanakan selama pelaksanaan audit berlangsung (lihat paragraf 33). sesuai dengan paragraf 34 dan 35. auditor tidak mungkin melakukan emeriksaan atas semua transaksi yang dicerminkan dalam laporan keuangan. Penggunaan Materialitas dalam Mengevaluasi Bukti Audit PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 15 . Auditor harus menggunakan konsep materialitas dan konsep risiko audit dalam menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan. Konsep materialitas berkaitan dengan seberapa besar salah saji yang terdapat dalam asersi dapat diterima oleh auditor agar pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh besarnya salah saji tersebut. auditor dapat menentukan suatu jumlah. Jumlah ini harus ditetapkan sedemikian rupa sehingga salah saji apa pun. Materialitas dibagi menjadi dua golongan. Auditor dapat juga mengurangi risiko salah saji material dengan mengadakan modifikasi secara berkelanjutan terhadap sifat. yaitu materialitas pada tingkat laporan keuangan dan materialitas pada tingkat saldo akun. yaitu risiko audit keseluruhan dan risiko audit individual. saat. ia harus melaksanakan prosedur audit tambahan atau meyakinkan dirinya bahwa entitas yang bersangkutan telah menyesuaikan laporan keuangannya untuk mengurangi risiko salah saji ke tingkat yang dapat diterima.

yaitu risiko bawaan. Sebaliknya jika risiko pengendalian ditaksir terlalu tinggi. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 16 . auditor dapat melakukan pengujian substantif melebihi dari jumlah yang diperlukan sehingga auditor melakukan audit yang tidak efisien. saat. Strategi audit awal dibagi menjadi dua macam pendekatan. Berbagai pengujian pengendalian dapat dipilih oleh auditor dalam pelaksanaan auditnya. Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material. dan risiko deteksi. Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas. yaitu sebagai berikut. risiko pengendalian. Pengujian pengendalian adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan efektivitas desain dan/atau operasi kebijakan dan prosedur pengendalian intern. dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang terkait. dan bukti audit.Risiko audit terdiri dari tiga unsur. yaitu pendekatan substantif (primarily substantive approach) dan pendekatan tingkat risiko pengendalian taksiran rendah (lower assessed level of control risk approach). risiko audit. auditor dapat memilih strategi audit awal dalam perencanaan audit atas asersi individual atau sekelompok asersi. Karena adanya hubungan antara tingkat materialitas. Risiko deteksi ditaksir oleh auditor pada tahap perencanaan audit sebagai salah satu dasar penentuan ukuran sampel yang akan diperiksa. yang pada gilirannya akan berdampak terhadap tingkat pengujian substantif yang direncanakan (yang mencakup sifat. risiko deteksi dapat terlalu tinggi ditetapkan dan auditor dapat melaksanakan pengujian substantif yang tidak memadai sehingga auditnya tidak efektif. Penaksiran Risiko Pengendalian dan Pendesainan Pengujian Pengendalian Penaksiran risiko pengendalian untuk suatu asersi merupakan faktor penentu tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk suatu asersi. Jika risiko pengendalian ditaksir terlalu rendah. dan lingkup pengujian substantif) yang harus dilakukan untuk menyelesaikan audit.

yang merupakan pengujian yang dilaksanakan untuk menentukan taksiran awal risiko pengendalian moderat atau rendah sesuai dengan tingkat pengujian substantif yang direncanakan. (3) tentukan pengujian terhadap transaksi terperinci. yang merupakan pengujian yang desain sedemikian rupa sehingga auditor dapat mengumpulkan bukti tentang efektivitas pengendalian intern sekaligus dapat mengumpulkan bukti tentang kekeliruan moneter dalam akun. (4) tentukan pengujian terhadap akun terperinci.1. dan pengujian terhadap saldo terperinci. yang terdiri dari prosedur untuk memperoleh pemahaman dan sekaligus untuk mendapatkan bukti tentang efektivitas pengendalian intern. saat. Materialitas didefinikan sebagai suatu informasi akuntansi yang apabila dihilangkan atau disajkan secara keliru akan menyebabkan keputusan yang akan diambil oleh seseorang yang berpikiran logis. Pengujian dengan tujuan ganda (dual-purpose tests). yang merupakan pengujian yang biasanya dilaksanakan oleh auditor jika. dan lingkup pengujian yang diperlukan untuk memenuhi tingkat risiko deteksi setiap asersi. Rerangka umum pengembangan program audit untuk pengujian substantif adalah sebagai berikut. 2. menjadi PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 17 . Pengujian pengendalian bersamaan (concurrent tests of controls). Pengujian substantif dapat dilaksanakan sebelum tanggal neraca dan pada atau mendekati tanggal neraca. 4. Penaksiran Risiko Deteksi dan Pendesainan Pengujian Substantif Desain pengujian substantif sangat ditentukan oleh risiko deteksi yang ditetapkan oleh auditor. Pengujian pengendalian tambahan. pengujian terhadap transaksi terperinci. yaitu prosedur analitik. Auditor dapat menggunakan jenis pengujian substantif berikut. Pengujian pengendalian yang direncanakan. (2) tentukan prosedur analitik yang perlu dilaksanakan. auditor kemudian mengubah strategi auditnya dari pendekatan terutama substantif ke pendekatan risiko pengendalian rendah. Desain pengujian substantif mencakup penentuan sifat. 3. tergantung risiko deteksi yang ditetapkan oleh auditor. yang mendasarkan keputusan pada informasi tersebut. berdasarkan hasil pengujian pengendalian bersamaan yang memperlihatkan pengendalian intern yang efektif. (1) tentukan prosedur awal audit.

Semakin besar keinginan auditor untuk dapat memberikan pendapat yang tepat. Apakah manfaat materialitas dalam mengevaluasi bukti audit? PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Elon Manurung AUDITING I 18 . semakin rendah risiko audit yang akan dia terima.berbeda atau terpengaruh oleh penghilangan atau penyajian yang keliru dari informasi tersebut Risiko audit adalah risiko kemungkinan auditor gagal dalam memodifikasi pendapatnya terhadap laporan keuangan yang dilaporkan secara keliru. apakah pengaruhnya terhadap risiko bawaan. Apakah hubungan materialitas dengan bukti audit? 3. Strategi audit awal menggambarkan judgement awal auditor tentang pendekatan audit untuk memperoleh bukti tentang asersi-asersi (bukan merupakan rincian spesifikasi prosedur-prosedur audit). Jika terdapat salah saji. Mengapa pertimbangan awal materialitas penting? 5. Mengapa auditor tidak dapat memberikan jaminan atas keakuratan asersi yang disajikan oleh klien? 4. Bagaimana tanggung jawab auditor dalam menilai risiko salah saji akibat kecurangan 2. Daftar Pertanyaan: 1. Strategi audit awal ini didasarkan pada asumsi tertentu tentang pelaksanaan audit yang mempengaruhi spesifikasi keempat komponen strategi audit. berapa jumlah barang bukti yang sebaiknya direncanakan? 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful