ASPEK LEGAL DAN BERBAGAI TUNTUTAN ALIH FUNGSI KAWASAN HUTAN Oleh : Sylviani1

ABSTRAK
Kebijakan perubahan fungsi kawasan hutan dimaksudkan untuk mewujudkan optimalisasi manfaat dan fungsi kawasan hutan secara lestari dan berkesinam-bungan. Maraknya berbagai tuntutan perubahan fungsi harus dikaji secara cermat dan dilihat secara komprehensif dari sisi manfaat dan dampak yang mungkin akan timbul. Meskipun secara legal alih fungsi bisa dilaksanakan namun harus tetap mengedepankan kelestarian ekosistem Sosialisasi kebijakan perubahan fungsi kawasan hutan harus dilakukan sebelum menjadi keputusan menteri kepada berbagai pihak terkait, terutama kepada masyarakat yang berada disekitar atau didalam kawasan yang merasakan dampak secara langsung dari perubahan fungsi tersebut. untuk mengurangi terjadinya konflik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, antara pemerintah daerah dan masyarakat maupun diantara masyarakat. Sosialisasi dlakukan secara bertahap sehingga dapat menghimpun aspirasi dan harapan pihak-pihak terkait. Keywords : kebijakan, alih fungsi, optimalisasi, sosialisasi, masyarakat dan kelestarian

I. PENDAHULUAN Perubahan kawasan hutan atau sering disebut sebagi alih fungsi, adalah suatu proses perubahan terhadap suatu kawasan hutan tertentu menjadi bukan kawasan hutan atau menjadi kawasan hutan dengan fungsi hutan lainnya. Melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 70/KPTSII/2001 tentang penetapan kawasan hutan, perubahan status dan fungsi kawasan hutan dimaksudkan untuk memberikan arahan dalam pelaksanaan penetapan kawasan hutan, perubahan status kawasan hutan dan perubahan fungsi kawasan hutan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

1

Peneliti pada Puslit Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan Bogor2

51

mencegah intrusi air laut. dan memelihara kesuburan tanah. memiliki konsekuensi yang berbeda-beda.dan ekosistemnya. tuntutan terhadap perubahan fungsi makin marak dibutuhkan. SEKILAS PENGELOLAAN KAWASAN HUTAN DI INDONESIA 1.karena kegiatan eksploitasi yang besar-besar dilakukan oleh pemerintahan Hindia Belanda. Di samping pertimbangan biofisik dan lingkungan perubahan fungsi tersebut harus melalui penilaian matang untuk menghindari timbulnya kerugian dan potensi konflik ke depannya. pemerintah dan pihak-pihak lain yang berhak. Namun demikian perubahan fungsi tersebut harus tetap memperhatikan nilai-nilai strategis kawasan hutan dan berbagai fungsi kawasan hutan sebagi fungsi konservasi. Kawasan hutan juga memiliki nilai politis terkait dengan penguasaan dan atau pemilikan kawasan. hutan berpengaruh terhadap pengawetan keanekaragaman flora-fauna. Pengelolaan Hutan pada masa kolonial Belanda Pengelolaan sumber daya hutan diawali dengan pengelolaan hutan jati di Jawa dan Madura yang mengalami degradasi sampai akhir abad ke 18. fungsi lindung dan fungsi produksi. Hingga Januari 2007 telah terjadi perubahan fungsi hutan produksi menjadi kawasan hutan dengan fungsi lain seluas 884. baik itu untuk fungsi konservasi. mengendalikan erosi.36 hektar di seluruh Indonesia (Baplan). II. mencegah banjir. keterlibatan manusia di dalamnya jauh lebih intensif dibandingkan dengan kawasan hutan dengan fungsi lindung dan konservasi. Dengan fungsi lindung hutan berperan dalam perlindungan penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. Penetapan suatu kawasan hutan dalam fungsinya yang spesifik. lindung maupun produksi.860. Khusus di kawasan hutan dengan fungsi produksi. Untuk mengatasi kondisi itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda membentuk Jawatan Kehutanan yang bertugas melakukan rehabilitasi kawasan hutan yang rusak dengan reforestasi dan membatasi pemberian ijin penebangan kayu jati yang diatur melalui Boschordonantie voor Java en Madoera 1865 (Undang-Undang Kehutanan 52 . Sebagai fungsi produksi hutan merupakan penyedia hasil hutan yang dapat dimanfaatkan baik oleh masyarakat sekitar maupun kalangan tertentu. Perubahan fungsi kawasan hutan dari yang sebelumnya memiliki fungsi produksi menjadi kawasan hutan dengan fungsi lain akan berimplikasi pada sosial ekonomi masyarakat yang sebelumnya telah beraktivitas di dalamnya terutama dalam hal pemanfaatan.Prosiding Fungsi Kawasan Hutan Seiring dengan perkembangan pembangunan. Fungsi konservasi.

.. Pada tahun 1874 diundangkan reglemen (instrumen hukum kehutanan) tentang Pemangkuan dan Eksploitasi hutan di Jawa Dan Madura yang mengatur antara lain tentang (1) pemisahan pengelolaan hutan jati dengan hutan rimba non jati. (2) Hutan jati dikelola secara teratur dan ditata dengan pengukuran..hanya untuk pengelolaan kawasan hutan diluar Jawa dan Madura ditangani oleh pemerintah pusat. kebun kopi dan gua-gua untuk perlindungan dan menyimpan amunisi mesin perang Jepang. dan pemancangan palpal batas. Untuk mendukung pelaksanaan reforestasi pada tahun 1873 Jawatan Kehutanan membentuk organisasi teritorial kehutanan melalui Staatsblad No. 3.. tanaman jarak.000 hektar untuk daerah hutan di kawasan hutan non jati. Langkah awal yang dilakukan 53 . 215 dimana kawasan hutan di Jawa dibagi menjadi 13 Daerah Hutan yang masing-masing mempunyai luas 70. pemetaan. 2. Pengelolaan Hutan pada masa Pemerintahan Jepang Tidak banyak perubahan terhadap aturan dalam pengelolaan hutan pada masa ini. dan lebih luas dari 80. Pada masing-masing daerah hutan dibentuk unit pengelolaan hutan dengan penataan kawasan dan pemancangan pal-pal batas kawasan hutan. Pengelolaan Kawasan Hutan Paska Kemerdekaan Setelah merdeka. Pemerintahan Jepang melakukan eksploitasi besar-besaran untuk kepentingan membangun industri kapal kayu. (Sylviani) untuk Jawa dan Madura 1865).pemerintah mulai menata perangkat hukum pengelolaan hutan berdasarkan UUD 1945 dengan meninjau kembali produk-produk hukum yang diterbitkan pada masa sebelumnya dengan penyesuaian-penyesuaian kondisi negara. dan kemudian disusul dengan peraturan agraria disebut Domeinverklaring 1870 yang mengklaim bahwa setiap tanah (hutan) yang tidak dapat dibuktikan adanya hak di atasnya maka menjadi domain pemerintah.banyak kawasan hutan dibuka dan dikonversi menjadi perkebunan kopi untuk meningkatkan kommoditi ekspor Indonesia.. (3) Eksploitasi hutan jati diserahkan pengusahaannya kepada pihak swasta.... serta dibagi dalam wilayah distrik-distrik hutan. juga kawasan hutan dibuka untuk ladang-ladang palawija.000 sampai 80. Karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengelolaan hutan.000 hektar untuk daerah hutan di kawasan hutan jati.Aspek Legal dan . Setelah lebih dari tiga kali pelita aturan-aturan hukum tentang kehutanan mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan perkembangan penduduk dan ilmu pengetahuan sehingga pada akhir masa pemerintah Belanda produk hukum yang digunakan Staatsblad No 446 tahun 1937..

Peraturan Menhut No 1/1964 menjabarkan tugas Dephut adalah merencanakan. 2008).CA. Hal ini disebabkan karena data mengenai lokasi. menghasilkan kayu dan non kayu. dimana pembangunan disemua sektor hanya berbasis lahan bergerak dan tidak memperhatikan keterkaitan antar penggunaan lahan. Hingga menjelang akhir 1980 belum ada suatu Rencana Tata Guna Tanah (Rencana Tata Ruang) yang mengatur tentang alokasi kawasan untuk budidaya maupun perlindungan alam. Mulai saat itu kegiatan eksploitasi sumber daya hutan dilakukan secara besar-besaran terutama di luar Jawa. Tahun 1957 dikeluarkan PP No 64 mengenai penyerahan sebagian urusan pemerintah pusat di bidang perikanan laut. Karena kondisi negara yang sangat genting pada saat itu dengan penggantian kepemimpinan negara. Pada tahun 1967 pengaturan pengelolaan hutan dituangkan dalam UU No 5 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Untuk memperkuat kelembagaan dibidang pengelolaan hutan melalui Peraturan Menteri Pertanian No 1 tahun 1951 ditetapkan tugas pokok dan fungsi dan kewajiban Jawatan Kehutanan antara lain memelihara tanah untuk mempertahankan persediaan air. sosialisasi kepada masyarakat tentang fungsi dan manfaat hutan bagi perlindungan alam dan pemenuhan kebutuhan ekonomi rakyat. maka dalam waktu yang sangat singkat hanya 14 bulan Departemen Kehutanan dibubarkan sehingga urusan kehutanan dikembalikan ke Deptan dengan struktur Dirjen Kehutanan. Melalui SK Menteri Pertanian No 680/Kpts/Um/8/1981 diterbitkan Pedoman Penatagunaan Hutan Kesepakatan yang berisi permintaan kepada seluruh propinsi untuk mengalokasikan kawasan hutan sesuai dengan fungsinya (HL. Dalam rangka penyempurnaan kelembagaan pengelolaan kehutanan. sedangkan untuk wilayah Jawa masih menggunakan aturan lama dengan beberapa penyesuaian.Prosiding Fungsi Kawasan Hutan adalah membentuk pedoman kerja jawatan kehutanan yang dibagi menurut wilayah kerja terutama untuk kawasan hutan luar Jawa berdasarkan Surat Keputusan Wakil Presiden RI No 1/WKP/SUM/47. 54 . kondisi dan sifat tanah. Guna mendukung peningkatan PMDN dan PMA di bidang pengusahaan sumber daya hutan dikeluarkan PP No 21/1970 junto PP No 18/1975 tentang HPH dan HPHH. membimbing. mengawasi dan melaksanakan usaha pemanfaatan hutan dan kehutanan terutama produksi.HW. kehutanan dan karet rakyat kepada daerah tingkat1. serta lingkungan sosial budaya sangat terbatas.HP dan HPK) dalam suatu Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Hutan (RPPH) /TGHK dan harus dilakukan melalui kesepakatan seluruh instansi terkait (Santoso. pemerintah mensyahkan Departemen Kehutanan sebagai institusi negara yang bertugas untuk mengelola dan mengusahakan hutan di seluruh wilayah Indonesia.SM.

. III. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dapat ditemukan dalam pasal 19 dan pasal 38. ASPEK LEGAL ALIH FUNGSI KAWASAN HUTAN Keberadaan kawasan hutan disesuaikan dengan perubahanperubahan yang terjadi termasuk perubahan status dan fungsi hutan..Segala peraturan (tertulis) yang mengandung pengaturan mengenai perubahan fungsi dan kawasan hutan merupakan sumber hukum yang dapat dijadikan pegangan dalam pegaturan perubahan fungsi dan kawasan hutan.Aspek Legal dan . (Sylviani) Untuk sinkronisasi antara penataan kawasan dan penataan ruang dalam suatu wilayah administrasi.. Sumber hukum diartikan sebagai tempat dimana hukum digali dan ditemukan (Mertokusumo... Pasal 19 secara umum memiliki kandungan 55 .. 2005). 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan beberapa aturan teknis turunannya baik dalam bentuk Keputusan maupun Peraturan Menteri Kehutanan.. Landasan legal sebagai sumber hukumnya terdapat dalam Undang-Undang No. Landasan legal perubahan fungsi dan status Kawasan Hutan Undang-Undang No. Adopsi dari konsepsi-teoritis di atas dalam suatu bentuk pengaturan oleh negara menjadi landasan legal sekaligus menjadi sumber hukum bagi perubahan fungsi dan status kawasan hutan. Sebagai acuan pengeloaan hutan diterbitkan UU No. Perubahan status dan fungsi kawasan hutan adalah hasil suatu kontruksi teoritis... yang kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang No 26/2007 tentang Penataan Ruang yang mengatur masalah perlindungan dan keamanan lingkungan. yang didasarkan pada suatu konsepsi tertentu. 41 tahun 1999 yang masih berlaku sampai dengan sekarang. yang diperkuat dengan suatu pendekatan yang bersifat legalistik. Regulasi tersebut mengatur mengenai konsepsi dasar perubahan fungsi kawasan hutan maupun aturan teknis terkait prosedur dan mekanismenya. maka dikeluarkanlah Undang-Undang No 24/1992 tentang Penataan Ruang yang mengatur tentang pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya walaupun secara eksplisit tidak dijabarkan dalam pasal-pasal. Maksud dari pernyataan di atas adalah bahwa perubahan status dan fungsi kawasan hutan adalah hasil dari konstruksi konseptual yang didasarkan pada adanya kebutuhan riil akan lahan akibat desakan pembangunan dalam lingkup kehutanan maupun diluar sektor kehutanan Sedangkan penguatan secara legalistik adalah bahwa konstruksi tersebut kemudian diadopsi dalam suatu peraturan (regulasi) yang menjadi sumber hukum dari perubahan fungsi dan status kawasan hutan sehingga diperoleh kepastian hukum dari berubahnya status dan fungsi suatu kawasan hutan.

418/Kpts-II/1993 tentang Penetapan Tambahan Persyaratan Pelepasan Kawasan hutan Untuk Pengembangan Usaha Pertanian 3. Regulasi tersebut mengatur secara lebih teknis perubahan fungsi kawasan hutan dalam beberapa betuk mekanisme atau prosedurnya yaitu pinjam pakai kawasan hutan.14/MenhutII/2006 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan 56 .050/7/1990:23-VIII-1990 tentang Ketentuan Pelepasan Kawasan Hutan dan Pemberian Hak Guna Usaha untuk Pengembangan Kawasan Pertanian 2. Keputusan Bersama Menteri Kehutanan. Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pertanahan Nasional No : 364/Kpts-II/1990: 519/Kpta/HK. Peraturan Menteri Kehutanan No : P. Pasal 38 mengatur suatu akomodasi terhadap pembangunan di luar sektor kehutanan yang dapat dilakukan di suatu kawasan hutan dengan fungsi tertentu (hutan produksi) tanpa mengubah fungsi pokoknya. tukar menukar kawasan hutan dan pelepasan kawasan hutan. Selain itu pasal 38 juga mengatur secara khusus kegiatan pertambangan dan mekanisme implementasinya (melalui pinjam pakai kawasan hutan). P.64/Menhut-II/2006 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kehutanan No : P. Keputusan Menteri Kehutanan No. 44 tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan yang mengandung pengaturan mengenai perubahan fungsi kawasan hutan. Perubahan Status dan Fungsi Kawasan Hutan 4. Adapun regulasi terkait perubahan status dan fungsi kawasan hutan meliputi : 1.Prosiding Fungsi Kawasan Hutan isi (materi) mengenai dimungkinkannya suatu perubahan status dan fungsi kawasan hutan karena adanya kebutuhan pembangunan. 44 tahun 2004 mengenai Perencanaan Kawasan Hutan mengatur mengenai perubahan fungsi (peruntukan) kawasan hutan sebagai akibat adanya RTRWP terhadap kawasan hutan yang telah diubah peruntukannya menjadi Kawasan Budi Daya Non Kehutanan (KNBK) atau Areal Penggunaan Lain (APL). Dalam Pasal 47 PP No. 31/Menhut-II/2005 Tentang Pelepasan Kawasan Hutan/Ex Kawasan Hutan Untuk Pengembangan Usaha Budidaya Perkebunan 5. Keputusan Menteri kehutanan No. 41 tahun 1999 dasar hukum perubahan fungsi kawasan hutan juga dapat ditemukan dalam Peraturan Pemerintah No. 48/Menhut-II/2004 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan No. 70/KptsII/2001 tentang Penetapan Kawasan Lindung. Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. Di luar UU No. 250/Kpts-II/1996 tentang Perubahan No. Peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur mengenai perubahan fungsi dan status kawasan hutan ditemukan dalam bentuk Keputusan Menteri Kehutanan dan Peraturan Menteri Kehutanan.

cakupan luas dan pihak-pihak yang melaksanakan penelitian... Saat ini terdapat satu Peraturan Pemerintah yang mengandung pengaturan mengenai perubahan fungsi kawasan hutan yaitu Peraturan Pemerintah No. Beberapa peraturan dan keputusan menteri kehutanan terkait perubahan fungsi kawasan hutan disusun tidak dilandasi oleh suatu visi ke depan yang mengatisipasi kecenderungan perubahan dan tuntutan dinamika yang mungkin terjadi di masa depan. pertambangan. budaya dan lingkungan bagi negara dan masyarakat khususnya. tampaknya perlu dilakukan upaya untuk mewujudkan suatu Peraturan Pemerintah yang memiliki derajat keabsahan yang lebih tinggi dibandingkan peraturan menteri yang mengatur secara khusus perubahan fungsi kawasan hutan. namun PP No.. Untuk mengatasi pemasalahan di atas. Keputusan Menteri Kehutanan No. BERBAGAI TUNTUTAN PERUBAHAN FUNGSI Hutan di Indonesia memiliki nilai ekonomi. 26/Menhut-II/2007 tentang Perubahan Kedua Keputusan Menteri Kehutanan No. Hal ini 57 . Indonesia yang memiliki kawasan hutan tropis basah selama empat dekade ini telah mengalami degradasi yang sangat pesat.Aspek Legal dan . dan tata cara perubahan. Selain itu dasar hukum teknis terakit perubahan fungsi kawasan hutan hanya bersandar pada keputusan menteri dan peraturan menteri kehutanan sehingga secara vertikal materi pengaturan terkait mekanisme dan prosedur perubahan fungsi kawasan hutan belum memiliki landasan yang kuat. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. 44 tahun 2004 tentan Perencanaan Kehutanan. 44 tahun 2004 ditujukan untuk perencanaan kehutanan dan tidak secara spesifik mengatur mengenai rule of game mengenai perubahan fungsi kawasan hutan sebagaimana peratura pemerintah yang dimandatkan dalam Undang-Undang No..... Dimana dalam UU No 41/1999 pasal 19 ayat 3 dikatakan bahwa peraturan pemerintah terkait dengan perubahan fungsi kawasan hutan mengatur mengenai kriteria dan fungsi hutan.. (Sylviani) 6. industri dll) yang terlibat dalam aktivitas perubahan fungsi kawasan hutan. dimana dibutuhkan suatu pengaturan yang komprehensif dan visioner (berjangkauan ke depan) yang mampu mengikat semua aktor pembangunan dari semua sektor (pertanian.. 292/KptsII/1995 tentang Tukar Menukar Kawasan Hutan Permasalahan legal terkait perubahan fungsi dan status kawasan hutan adalah penegakan aturan. sosial. IV. Jika tidak ada keseimbangan dalam nilai-nilai tersebut maka keberlanjutan hutan akan terancam.

20 ha dan terus mengalami peningkatan yang sangat cepat pada Pelita VI sehingga mencapai 8. Namun di sisi lain pemberian konsesi yang tak terkendali dan tak terawasi menimbulkan masalah nasional dan kerugian ekologi yang cukup besar. tahun 1993/1994 (Pelita V) mencapai 3. (d) program transmigrasi. Pemanfaatan sumber daya hutan terus meningkat seiring dengan perkembangan penduduk yang berada di dalam dan di sekitar hutan yang sumber penghidupannya sangat tergantung pada lahan sekitarnya. Perubahan kawasan hutan karena pemekaran kota 1.204. Dari sektor pembangunan ekonomi eksploitasi sumber daya hutan yang dilakukan pemerintah melalui pemberian kebijakan konsesi memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sebagai sumber pendapatan dan devisa negara. Perubahan kawasan hutan produksi menjadi perkebunan 2.20 ha. (e) pencemaran industri dan pertanian pada hutan lahan basah. ketersediaan sumber daya air dan erosi tanah.113. berkurangnya keanekaragaman hayati. Faktor-faktor yang menekan kerusakan hutan Indonesia antara lain: a) pertumbuhan penduduk dan penyebarannya yang tidak merata. (c) pengabaian atau ketidaktahuan mengenai pemilikan lahan secara tradisional (adat) dan peranan hak adat dalam memanfaatkan sumber daya alam. 2007).94 ha.Prosiding Fungsi Kawasan Hutan ditandai dengan pesatnya laju pembangunan yang membutuhkan dukungan penyediaan lahan. 58 .805. dan (h) introduksi spesies eksotik (Basyar. Perubahan kawasan hutan produksi menjadi kawasan konservasi (TN) 3.652. Perubahan fungsi kawasan hutan produksi menjadi perkebunan Pengembangan sektor perkebunan melalui konversi hutan merupakan faktor-faktor yang menekan kerusakan hutan karena pada saat itu mekanisme cara mendapatkannya relatif mudah Realisasi penyediaan lahan untuk perkebunan besar pada tahap persetujuan prinsip pelepasan sampai dengan tahun 1988/1989 (Pelita IV) luasnya mencapai 1.301. (f) degradasi hutan bakau yang disebabkan oleh konversi menjadi tambak. penggusuran hak-hak masyarakat serta munculnya konflik-konflik daerah. Tingkat kerusakan hutan yang tinggi mengakibatkan menurunnya daya kemampuan hutan untuk menjalankan fungsi ekologisnya sehingga dapat menimbulkan dampak pada lingkungan yang serius seperti perubahan iklim. Perubahan kawasan hutan menjadi pemukiman /transmigrasi 4.524. (b) konversi hutan untuk pengembangan perkebunan dan pertambangan. (g) pemungutan spesies hutan secara berlebihan. kerusakan sosial budaya. Beberapa perubahan fungsi kawasan hutan yang telah dilakukan menjadi salah satu penyebab kerusakan hutan antara lain : 1.

Landasan dasarnya adalah Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. dimana SK Menhut No 76/Kpts-II/1997 tidak dapat dilaksanakan secara efektif terbukti dari masih banyaknya lahan yang terlantar.. Usaha perkebunan merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berperan dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. hutan lindung maupun hutan konservasi mempunyai 59 . 107/Kpts-II/1999). merupakan nilai-nilai mendasar yang melandasi perumusan kebijakan dan penerapannya.. merata dan berkeadilan guna sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan memberikan peluang lebih besar kepada koperasi. yakni kepentingan ekonomi nasional. kondisi internal yang ada pada wilayah yang areal hutannya dikonversi untuk pengembangan perkebunan besar terdapat masyarakat yang telah mengelola potensi sumber daya alam dengan kekuatan kearifan tradisional secara turun temurun... 70/ KPTS-II/2001 tentang penetapan kawasan hutan. penyerapan tenaga kerja.. Perubahan fungsi kawasan hutan produksi menjadi kawasan konservasi Perubahan fungsi kawasan hutan produksi menjadi kawasan hutan konservasi atau hutan lindung dilakukan untuk menghentikan kegiatan eksploitasi pemanfaatan hasil hutan kayu dalam upaya menjaga kelestarian keaneka ragaman hayati. Hal ini disebabkan karena hubungan dekat dan birokrasi pemerintahan merupakan modal untuk mendapatkan lahan yang lebih luas.. usaha kecil dan menengah serta menciptakan iklim usaha perkebunan yang kondusif (SK Menhutbun No. Perubahan fungsi suatu kawasan hutan baik hutan produksi. Namun nilai-nilai kebijakan tersebut masih belum mampu membuat kebijakan dilaksanakan dengan baik karena ternyata kepentingan para pengusaha lebih dominan dan menguasai pengembangan usaha perkebunan besar kelapa sawit. Pengembangan perkebunan diarahkan untuk mewujudkan usaha perkebunan yang efisien.. perlindungan plasma nutfah dan mempertahankan aset lainnya yang ada di kawasan hutan produksi. 2. Di sisi lain. perubahan status dan fungsi kawasan hutan. peningkatan devisa dan pelestarian lingkungan hidup serta sebagai instrumen pemerataan dan pengembangan ekonomi rakyat. Disamping itu kebijakan yang mengatur tentang luas maksimum pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan (20 000 ha/unit usaha atau 100 000 ha/propinsi) melalui SK Menhut No 728/Kpts-II/1998 belum cukup mendapatkan manfaat yang adil dan merata bagi para pihak yang berkepentingan. kepentingan kesejahteraan rakyat dan kepentingan pelestarian lingkungan.. (Sylviani) Penyimpangan dalam penerapan kebijakan yang terjadi mengakibatkan tekanan pada hutan semakin tinggi. Tiga hal tersebut..Aspek Legal dan .

Melindungi. Kawasan hutan Bukit Duabelas sudah ribuan tahun ditempati oleh Komunitas Adat Orang Rimba yang pada umumnya masih eksis. sumber tanaman obat-obatan dan ekosistem yang tinggi dan terancam punah. Ketentuan tentang partisipasi masyarakat juga diatur dalam Konvensi Bangsa Pribumi dan Masyarakat 60 . Salah satu syarat kawasan hutan ditetapkan menjadi taman nasional adalah bahwa kawasan hutan tersebut memiliki ekosistem yang masih utuh atau masih memiliki keadaan alam yang asli dan alami. Hal ini sangat kontras bertentangan dengan alasan penunjukkan Taman Nasional Bukit Duabelas di Jambi. Artinya hutan taman nasional belum pernah dimanfaatkan oleh siapapun. Hampir semua Kawasan Hutan Bukit Duabelas sudah pernah dimanfaatkan oleh Komunitas Adat Orang Rimba untuk memenuhi kehidupan mereka mulai dari berladang. Penetapan menjadi kawasan konservasi (Taman Nasional) pada dasarnya adalah untuk : a. c. berburu dan meramu. Menjaga kelestarian sumberdaya air untuk kelangsungan sektor pertanian dan sumber air bagi kehidupan masyarakat sekitar. sedangkan hutan lindung dan hutan konservasi lebih bersifat perlindungan. Hal ini dibuktikan dengan bertebarannya bekas ladang-ladang dan perkebunan karet tradisional milik Komunitas Adat Orang Rimba yang terdapat hampir di seluruh kawasan hutan Bukit Duabelas. memelihara. Salah satu aturan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 adalah partisipasi masyarakat sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 53 yang menyatakan : “Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah”. Pembuatan peraturan perundang-undangan salah satu asasnya adalah asas patisipasi masyarakat. berkebun. b. Kawasan Hutan Bukit Duabelas ekosistem hutannya tidak lagi asli dan alami.Prosiding Fungsi Kawasan Hutan konsekuensi yang berbeda-beda. memperbaiki dan melestarikan kawasan hutan yang memiliki keanekaragaman flora fauna. Mengurangi dan mencegah kerusakan hutan akibat kegiatan eksplotasi terhadap penebangan kayu dan eksplorasi penambangan serta penebangan liar yang akan mengancam terhadap kerusakan hutan. penunjukkan Kawasan Hutan Bukit Duabelas menjadi taman nasional cacat hukum. Hal ini dipertegas UU No. Dimana suatu kawasan hutan produksi banyak melibatkan manusia dalam pengelolaannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa. 5 tahun 1990 Pasal 1 huruf 14 disebutkan bahwa Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli.

. 3. Hingga saat ini luas lahan yang penyelesaiannya memasuki tahap izin prinsip mencapai 605. Kehutanan selaku departemen teknis yang mengelola lahan negara melakukan koordinasi dengan deptrans untuk melakukan pelepasan sebagian lahan yang memungkinkan untuk dilakukan perubahan fungsi kawasan hutan guna menunjang kepentingan program transmigrasi. Seiring berjalannya waktu pertambahan penduduk semakin meningkat.561.. Artinya.. Rencana pengelolaan TN masih menjadikan UU No. manakala langkah-langkah legislatif atau administratif yang dapat memberi dampak kepada mereka sedang dalam pertimbangan untuk ditetapkan dan menetapkan bahwa negara harus menetapkan kelengkapan yang diperlukan kepada mereka untuk dapat mengembangkan institusinya sendiri”. Pemanfaatan kawasan hutan untuk kepentingan transmigrasi telah disepakati pada kawasan Hutan Produksi Konversi (HPK). Permasalahan yang terjadi dan berkembang hingga saat ini adalah para 61 . Hal ini mendesak pemerintah untuk melakukan pemerataan penduduk melalui program transmigrasi baik lokal maupun antar pulau. hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan akan lahan baik untuk pemukiman maupun untuk lahan usaha terutama sektor pertanian. sehingga mengakibatkan terjadi penolakkan dari Komunitas Adat Orang Rimba terhadap rencana pengelolaan karena adanya pertentangan antara aturan-aturan rencana pengelolaan dengan aturan adat Orang Rimba. Pelepasan kawasan hutan yang sudah dilakukan oleh Dephut untuk transmigrasi mencapai 1.. Komunitas Adat Orang Rimba baru mengetahui adanya Rencana Pengelolaan TNBD pada bulan Agustus 2005.672 hektar.203 hektar... (Sylviani) Adat (Indigenous and Tribal Peoples Convention) Pasal 6 yang menyatakan : “Mengharuskan agar negara melakukan konsultasi dengan bangsa pribumi dan masyarakat adat melalui prosedur yang layak.975 hektar.. terutama melalui kelembagaan mereka miliki. Perubahan kawasan hutan menjadi pemukiman/transmigrasi Program pemerintah tentang pengembangan transmigrasi dilakukan karena sebagian besar penduduk Indonesia berdomisili di Pulau Jawa.. dalam penyusunan dan pembuatan rencana tersebut tidak melibatkan Komunitas Adat Orang Rimba sebagai pihak yang secara langsung diatur dalam pengelolaan. Menurut Departemen Kehutanan kesepakatan ini merupakan salah satu langkah dalam mengembangkan program HTR. dimana pemanfaatannya bukan berstatus kepemilikan tapi pemanfaatan kawasan selama 100 tahun. sedangkan yang memasuki tahap SK Pelepasan mencapai 956.. Akan tetapi. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 5 tahun 1974 tentang Pemerintahan Daerah sebagai landasan hukum yang sudah tidak berlaku lagi dengan keluarnya UU No.Aspek Legal dan .

Prosiding Fungsi Kawasan Hutan transmigran ingin memiliki lahan tersebut dan mendapatkan sertifikat hak milik. Dalam menerapkan undang-undang yang terkait dengan alih fungsi kawasan hutan hendaknya pihak pemerintah dalam hal ini departemen kehutanan melaporkan dan menjelaskan tentang keadaan dan status fisik lahan tidak status administratif. Jadi pemanfaatan lahan difokuskan kepada peningkatan produktivitas dan kualitas transmigrasi (Kapan lagi 2007). Selanjutnya zona kawasan tersebut secara administratif dapat dijadikan daerah/desa difinitif. Dengan beralihnya fungsi kawasan menjadi peruntukan lain. sekaligus sebagai pengamanan oleh masyarakat di kawasan hutan. Disisi lain dengan program transmigrasi ini dapat memberikan kontribusi dalam hal penanggulangan pengangguran dan kemiskinan dengan pemanfaatan lahan dan sekaligus ada sentuhan tekhnologi. Hal ini terjadi di wilayah Kabupaten Pangkep Propinsi Sulawesi Selatan dimana terdapat satu desa yang berada di dalam kawasan hutan lindung yang sudah cukup berkembang dengan sarana dan prasarananya. tentu saja akan berpengaruh terhadap pengelolaannya. Alih fungsi lahan yang terjadi di Indonesia kerap kali diakibatkan kebijakan pemerintah seperti dalam pemekaran wilayah. Luas hutan lindung di Indonesia semakin berkurang dengan adanya alih fungsi lahan. 4. Apabila suatu kawasan ditetapkan sebagai hutan lindung maka harus ada hutan yang dilindungi. Perubahan kawasan hutan karena Pemekaran Kota Keberadaan hutan lindung di wilayah Indonesia dari hari ke hari semakin terancam keberadaannya. Disamping itu pengalihan fungsi hutan masih dapat direalisasikan apabila di dalam kawasan tersebut ada pemukiman penduduk yang sudah cukup lama sehingga dapat dilakukan enclave terhadap kawasan tersebut. Hal inilah yang mendorong departemen kehutanan untuk lebih meningkatkan dalam hal sosialisasi kepada para peserta transmigran. Perubahan fungsi hutan dapat dilakukan dengan cermat dan melihat berbagai aspek yang telah diatur dalam peraturan perundangan. mengembalikan keseimbangan ekosistem. Sehingga diharapkan dengan kerjasama ini. sehingga tidak terjadi hutan yang sudah gundul dan sudah menjadi pemukiman masih ditetapkan sebagai hutan lindung. dua departemen teknis mempunyai nilai tambah yakni menghijaukan kembali hutan-hutan yang gundul. Sehingga desa ini disarankan untuk dilakukan enclave. Hal tersebut secara tidak langsung akan memberikan implikasi terhadap akses masyarakat 62 . Hutan lindung yang seharusnya tidak boleh berubah fungsi kerap kali terancam akibat pemekaran wilayah (BS). baik pemekaran Propinsi ataupun Kabupaten/Kota.

b. Kebijakan perubahan fungsi kawasan hutan dimaksudkan untuk mewujudkan optimalisasi manfaat dan fungsi kawasan hutan secara lestari dan berkesinambungan.. Alih fungsi kawasan hutan menjadi hutan produksi memungkinkan pemanfaataan menjadi lebih luas. Masyarakat yang bermukim bukan merupakan penduduk lama dan tidak punya hubungan emosional dengan tanah yang ditempati. KESIMPULAN 1. HPT pemanfaatan akan menjadi terbatas pada zona-zona yang diperbolehkan. b. c. (Sylviani) yang ada di dalam dan sekitar kawasan hutan dalam pemanfaatan hutan. 2. 2008).Aspek Legal dan . c. c. Akses untuk memanfaatkan kawasan hutan dan sumber daya hutan berpedoman pada peraturan pemerintah. Masyarakat dimaksud dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu : masyarakat adat. 1. alih fungsi menjadi hutan lindung. Sudah lama bermukim di dalam kawasan hutan dan masyarakatnya mempunyai hubungan emosional dengan tanah yang mereka tempati.. b... 63 .. Masyarakat Pendatang a.. Tidak punya hak dan akses untuk memanfaatkan kawasan. KPA. Sudah lama berada di dalam kawasan hutan dan punya hubungan emosional dengan tanah yang mereka tempati. Pengelolaan kawasan hutan dan sumber daya hutan menggunakan pengetahuan tradisional dan dijamin dalam UU 41/1999. Aturan hukum dalam pengelolaannya menggunakan hukum negara. 3.. masyarakat lokal dan masyarakat pendatang dengan ciri-ciri dan metode pengelolaan lahan yang berbeda (Santoso.. Sebaliknya. V. Masyarakat Lokal a. Aturan hukum dalam pengelolaannya menggunakan hukum negara. Norma dan aturan hukum adat yang berlaku sudah lama dan turun menurun dan digunakan untuk kepentingan hubungan sosial.. Masyarakat Adat a.

id sumber load 10/5/2007 jam 11. (www. I.dpr. I. Www. Nyoman Nurjaya. Evaluasi Penerapan Kebijakan Konversi Hutan untuk Perkebunan Besar Kelapa Sawit. Maraknya berbagai tuntutan perubahan fungsi harus dikaji secara cermat dan dilihat secara komprehensif dari sisi manfaat dan dampak yang mungkin akan timbul. Baplan. Rencana Pengukuhan Dan Penatagunaan Hutan (RPPH) Dan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Sebagai Arahan Pembangunan Kehutanan Dan Rujukan Bagi Pembangunan Berbasis lahan. Sejarah Hukum Pengelolaan Hutan Di Indonesia. 2007.A. Alih Fungsi Lahan Harus Dikaji Dengan Cermat. antara pemerintah daerah dan masyarakat maupun diantara masyarakat. Mengenal Hukum Liberty. Belum diterbitkan. Sosialisasi kebijakan perubahan fungsi kawasan hutan harus dilakukan sebelum menjadi keputusan menteri kepada berbagai pihak terkait. Fakultas Hukum dan Program Studi Ilmu Hukum Paskasarjana Universitas Brawijaya Malang. Meskipun secara legal alih fungsi bisa dilaksanakan namun harus tetap mengedepankan kelestarian ekosistem. Dampak perubahan fungsi kawasan hutan produksi menjadi fungsi hutan lainnya terhadap sosial ekonomi masyarakat. terutama kepada masyarakat yang berada disekitar atau didalam kawasan yang merasakan dampak secara langsung dari perubahan fungsi tersebut.Prosiding Fungsi Kawasan Hutan 2.co.go. 64 . Depnakertrans Sepakati Aturan Pelepasan Hutan Transmigrasi.14 am. Perkembangan Perubahan Kawasan Hutan Produksi di Indonesia. Santoso. 2007. Di down load dari kapan lagi. 2008. 2005. Sumber download 18/7/2008 11./majalah parlementaria Index.id. Mertokusumo. Anonim.id tanggal 2 Agustus 2008.go. DAFTAR PUSTAKA Basyar H. Anonim.57 am. Sosialisasi dilakukan secara bertahap sehingga dapat menghimpun aspirasi dan harapan pihak-pihak terkait. Parlementaria Majalah DPRRI. Yogyakarta. Sylviani 2007.bappenas. untuk mengurangi terjadinya konflik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful