TUGAS MAKALAH

REFORMASI BIROKRASI PEMERINTAHAN DAERAH DALAM UPAYA MENCIPTAKAN PEMERINTAHAN YANG BERSIH DARI KKN DAN PELAYANAN PUBLIK YANG BERKUALITAS, KAPASITAS DAN AKUNTABILITAS

BIDANG STUDI PENGANTAR ILMU ADMINISTRASI NEGARA

DENI WARDIAN 010233505

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS TERBUKA
1

Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat kami selesaikan. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas materi kuliah pengantar ilmu administrasi negara. yang bertujuan untuk menambah wawasan dan pembelajaran bagi penulis tentang materi Birokrasi dihadapkan dengan kondisi saat ini. Penulis mohon untuk saran dan kritiknya. Karena tanpa perkenan dan ridho-Nya tidak mungkin makalah ini dapat diselesaikan. kalimat dan bahasa maupun dalam penyajiannya masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana layaknya. yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dan kajian dari berbagai sumber.KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah membibing hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Bandung. Terima kasih. Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi bagi penulis supaya lebih memahami materi pengantar ilmu administrasi negara. April 2012 Penulis DENI WARDIAN 010233505 2 . Makalah ini penulis susun dengan segala keterbatasan. Walaupun makalah ini jauh dari kesempurnaan. baik itu dalam penyusunan kata.

.......... Reformasi sumberdaya Pemerintahan daerah................ B........................................................................................................................ D.... 4 4 5 5 5 BAB II LANDASAN TIORI............................................ Reformasi kepemimpinan Pemerintahan daerah...................................................................... Reformasi organisasi birokrasi Pemerintahan daerah.....................................................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................................... 13 C........................................ 15 BAB IV PENUTUP................... 17 3 ................................................................................................................................................................................................................................ Identifikasi masalah ............... Metode penulisan.......................... Latar belakang ............................. 5 5 8 BAB III PEMBAHASAN ............ C....... A........................................ 14 D.................................... Birokrasi .......................... Kesimpulan........................................................................................... 11 A....... DAFTAR ISI............... Reformasi Birokrasi Pemerintahan daerah...................................................................................................................... Tujuan penulisan........ Reformasi........... 15 15 DAFTAR PUSTAKA...................................................................... B............................................................ 11 B.................................................................. A.......................... 2 3 BAB I PENDAHULUAN ..............

Bertitiktolak dari uraian tersebut diatas. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. keadilan. reformasi birokrasi juga merupakan bagian tak terpisahkan dalam upaya konsolidasi demokrasi kita saat ini. pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. strategi pembangunan ekonomi dan pembangunan politik yang sating terkait dan mempengaruhi. mencakup didalamnya penguatan masyarakat sipil (civil society). Dengan demikian. Disamping itu melalui otonomi luas. keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Reformasi itu sesungguhnya harus dilihat dalam kerangka teoritik dan empirik yang luas. 4 . Dalam penjelasan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dijelaskan bahwa Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal ini karena fungsi aparatur daerah sebagai subyek dalam melaksanakan kewenangan tersebut cenderung berfungsi sebagai buruh pabrik. Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini. pemerataan. supremasi hukum. pemerataan dan keadilan bagi masyarakat. mengejar setoran dari hasil produksi tanpa memperdulikan kondisi dan tatanan yang ada untuk kepentingan masyarakat. sebagai upaya untuk mengembalikan kondisi birokrasi pemerintahan daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. prakarsa. peningkatan peranserta. dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Latarbelakang. Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan.BAB I PENDAHULUAN A. Namun dalam pelaksanaannya birokrasi pemerintah daerah sampai saat ini masih jauh dari prinsip demokrasi. perlu melakukan reformasi secara menyeluruh. daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi. pemberdayaan dan peran serta masyarakat.

baik dalam bentuk buku maupun artikel internet. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengkaji kembali bagaimana sebenarnya pelaksanaan reformasi birokrasi pemerintah daerah berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pengertian Birokrasi. rumit. Apakah yang dimaksud dengan reformasi birokrasi? Bagaimana pelaksanaan reformasi birokrasi pemerintah daerah ? Apa yang perlu di reformasi dari birokrasi pemerintah daerah ? C. Pengertian birokrasi dikalangan masyarakat sering dihubungan dengan ketidakpuasan.B. Birokrasi. birokrasi terdiri dari dua kata yaitu biro yang artinya meja dan krasi yang artinya kekuasaan. Jika dilihat dari segi bahasa. 1. yaitu peraturan atau norma formal dan 5 . D. Tujuan Penulisan. 2. 3. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam menyusun makalah ini adalah tinjauan pustaka. pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam bidang materi Birokrasi. BAB II LANDASAN TEORI A. sehingga diharapkan dalam pembuatan makalah ini sumber-sumber yang dipergunakan dapat menjadi bahan rujukan yang akurat agar nantinya informasi yang disampaikan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Identifikasi Masalah. 1. Birokrasi memiliki dua elemen utama yang dapat membentuk pengertian. Selain itu. bertele-tele dan banyak lagi perkataan-perkataan yang dilotarkan oleh sebagai masyarakat yang merasa kecewa atas pelayanan suatu birokrasi yang mereka alami. Sumber yang kami gunakan dalam menyusun makalah ini adalah beberapa literatur terkait.

c. d. Pemerintah daerah tidak mungkin berhasil mencapai tujuan untuk mensejahterakan masyarakat tanpa menggunakan organisasi birokratik. 6 dalam kerangka usaha mencapai efisiensi .hirarki. Hierarki otorita. Pembagian tugas. perilaku positif lekat dengan pencapaian tujuan organisasi birokratik. b. Menurut H. c. Pendekatan Perilaku(Behavioral). 2002). Menurut pendekatan ini ada 3 (tiga) pendekatan dalam merumuskan menekankan arti pentingnya objektivitas. Peraturan dan ketentuan yang terperinci. Menurut pendekatan ini birokrasi sebagai suatu organisasi yang memaksimalkan efisiensi dalam administrasi atau satu metode pelembagaan perilaku sosial yang terorganisasi administrasi. Pendekatan Pencapaian Tujuan. ketepatan dan konsistensi yang dikaitkan dengan ukuran fungsional dari pejabat administrasi. dapat dikatakan pengertian birokrasi adalah kekuasaan yang bersifat formal yang didasarkan pada peraturan atau undang-undang dan prinsip-prinsip ideal bekerjanya suatu organisasi. Ciri organisasi Birokrasi. Dengan kata lain. Menurut pendekatan ini birokrasi sebagai suatu susunan yang terdiri dari hierarki otorita dan pembagian kerja yang amat terperinci (Victor Thonson). Pendekatan struktural. Menurut Ferrel Heady birokrasi yaitu : a. Secara etimologi birokrasi berasal dari istilah “buralist” yang dikembangkan oleh Reineer von Stein pada 1821. b. impersonal dan leglistik (Thoha. Hubungan impersonal di antara anggota organisasi. kemudian menjadi “bureaucracy” yang akhir-akhir ini ditandai dengan cara-cara kerja yang rasional. 2. Jadi. Wrong setiap organisasi birokratik mempunyai ciri struktural utama sebagai berikut : a. 1995 dalam Hariyoso. pemisahan.

Aktivitas organisasi menurut kapasitas anggota secara penuh. Pemrakarsa kebijaksanaan (bureaucracy’s role in initiating policy). c. c. Manajemen didasarkan atas dokumen-dokumen yang dipelihara dalam bentuk aslinya. Bahwa proses kebijaksanaan pemerintah terdiri dari formulasi. keamanan dan kepatuhan (bureaucracy’s internal drive for power security. Hasrat Intenal birokrasi untuk memperoleh kekuasaan. yang kesemuanya itu merupakan proses dari suatu birokrasi. implementasi. Terdapat prinsip yang pasti dan wilayah yurisdiksi yang resmi. Terdapat prinsip hierarki dan tingkat otorita yang mengatur sistem. Robert Presthus memperlihatkan peranan birokrasi dalam pebuatan keputusan dalam hal-hal sebagai : a. evaluasi dan terminasi. Pentingnya Birokrasi. sehingga birokrasi mempunyai andil dan keterlibatan yang besar dalam pembuatan keputusan. f. 7 . yang pada umumnya diatur dengan hukum atau peraturan-perataran administrasi. and loyalty). Berlakunya aturan-aturan main mengenai manajemen. b. b. 3. Pembuatan peraturan dibawah peraturan perundang-undangan (delegated legislation). e. Terdapat spesialisasi dan pengembangan pekerja melalui latihan keahlian. d.Sedangkan Max Weber memberikan 6 (enam) ciri dari organisasi birokrasi yaitu : a.

Namun secara umum reformasi dapat diartikan sebagai pembaruan dengan melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik karena terjadinya penyimpangan-penyimpangan dalam sistem yang ada. Namun apabila penyimpangan yang terjadi dipandang masih ringan maka tidak diperlukan reformasi yang radikal. Hal ini tergantung dari objek yang akan direformasi. Ruang lingkup reformasi birokrasi tidak hanya terbatas pada proses dan prosedur. Reformasi dapat berupa perubahan total yang radikal tau bisa diidentikkan dengan revolusi ataupun dapat berupa perubahan yang secara bertahap. Hal ini berhubungan dengan permasalahan yang bersinggungan dengan wewenang dan kekuasaan.B. tetapi juga mengaitkan perubahan pada tingkat struktur dan sikap serta tingkah laku. Sebuah negara. 8 . Sejalan dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh negara. Reformasi. Pemerintah pada hakikatnya adalah pemberi pelayanan kepada masyarakat dengan sebaikbaiknya. Reformasi memiliki interpretasi yang berbeda-beda tergantung pada konteks dari reformasi tersebut. Apabila kerusakan dan penyimpangan yang terjadi sudah sangat kronis maka reformasi harus dilakukan secara radikal. tingkah laku. Reformasi birokrasi adalah salah satu cara untuk membangun kepercayaan rakyat. maka telah terjadi pula perkembangan penyelenggaraan pemerintahan. Karena itu. Reformasi Birokrasi. dan keberadaan atau kebiasaan yang sudah lama. dalam mencapai tujuannya. pastilah memerlukan perangkat negara yang disebut pemerintah dan pemerintahannya. Pengertian dari reformasi birokrasi itu sendiri adalah suatu usaha perubahan pokok dalam suatu sistem yang tujuannya mengubah struktur. diperlukan adanya rangka pemerintahan yang kuat untuk menghadapi dinamika perkembangan masyarakat. 1.

kepemimpinan biasanya dipegang para pejabat eselon. menentukan kepemimpinan. atau organisasi dalam rangka menyesuaikan diri dan mengantisipasi perubahan lingkungannya agar tetap tumbuh. perlu dilakukan langkah-langkah manajemen perubahan. kepemimpinan harus ada pada semua level agar dapat mengontrol perubahan. memobilisasi energi dan komitmen para anggota organisasi melalui penentuan cita-cita. Langkah pertama. Di dalam instansi pemerintahan. Agar reformasi birokrasi dapat berjalan baik. setiap lini dalam instansi pemerintah harus tahu apa yang dicita-citakan instansi. berkembang. tantangan. bagaimana mengatur dan mengorganisasi diri maupun organisasi agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan. 9 . Agar mereka tergerak untuk menjalankan solusi bersama. dan menghasilkan keuntungan. Tahap Tahap Reformasi Birokrasi yang ideal. dan cara menghadapi atau menyelesaikan masalah itu secara bersama-sama. c. Langkah keempat. fokus pada hasil kerja. Padahal. menginisialisasi. mengimplementasi. Ada tujuh langkah manajemen perubahan yang dikutip dari Harvard Business Essentials tahun 2005 yaitu : a. b. Langkah itu dilakukan dengan membuat mekanisme asessment yang dapat mengukur hasil kerja tiap pegawai atau tiap tim yang diberi tugas tertentu. kelompok. mengembangkan visi bersama. apa yang mereka hadapi. Langkah ketiga. dan solusinya oleh semua anggota organisasi.Manajemen perubahan adalah proses mendiagnosis. Mengutip definisi yang diajukan Fauziah Rasad dari Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI). Pada tahap ini. reformasi birokrasi adalah perubahan radikal dalam bidang sistem pemerintahan. mereka perlu dilibatkan dalam diskusi dan pengambilan keputusan. dan mengintegrasi perubahan individu. Pemimpin tertinggi harus memastikan orang-orang yang kompeten dan jujurlah yang berperan sebagai pemimpin pada level-level di bawahnya. d. Langkah kedua.2.

partisipasi. Instansi Pemerintah secara periodik melakukan pengukuran kepuasan pelanggan dan melakukan perbaikan. Pada level operasional. penciptaan Standar Kinerja Individu. harus diciptakan berbagai kebijakan yang mendorong Birokrasi yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak sipil warga (kepastian hukum. f. sistem. Pada level organisational. b. mulai mengubah unit-unit kecil di instansi kemudian dorong agar perubahan itu menyebar ke unit-unit lain di seluruh instansi. responsiveness. Langkah keenam. assurance dan emphaty. 10 . gugatan). c. prosedur.e. Pada level kebijakan. reliability. 3. dilakukan melalui perbaikan proses rekrutmen berbasis kompetensi. membuat peraturan formal. mengawasi dan menyesuaikan strategi untuk merespons permasalahan yang timbul selama proses perubahan berlangsung. a. termasuk cara untuk mengukur perubahan yang terjadi. pendidikan dan latihan yang sensitif terhadap kepentingan masyarakat. batas waktu. Strategi reformasi birokrasi. d. dilakukan perbaikan melalui peningkatan service quality meliputi dimensi tangibles. Standar Kinerja Tim dan Standar Kinerja Instansi Pemerintah. Langkah kelima. g. maupun struktur untuk mengukuhkan perubahan. pengaduan. Langkah ketujuh.

sektor pemerintah masih berkutat pada manajemen generasi kedua yakni management by direction . Savage (1990) menyebutkan bahwa prinsip human networking adalah “self-empowering”. Dengan perkataan lain. Manajemen pemerintahan pada semua dimensi umumnya sudah sangat usang. Berbagai ahli seperti Drucker ( 1992 ).dengan dominasi peran pemimpin. yakni pemberdayaan diri sendiri pada setiap ora ng sehingga mampu mandiri. Ingraham dan Romzek (1994) menawarkan pengelolaan pemerintahan baru yang disebutnya paradigma ”Hollow State”. belum berorientasi pada sistem (system orientation). organisasi pemerintah malahan lebih banyak menjadi beban. Pimpinan diperlukan untuk mengkoordinasikan kegiatan perorangan agar mengarah pada pencapaian tujuan. Pada sisi lain. maju mundurnya organisasi pemerintah sangat tergantung pada sang pemimpin. Hal tersebut nampak dari penggunaan sebagian besar dana publik untuk kepentingan mereka sendiri. 11 . tetapi tidak bersifat mengatur. Sektor privat pada umumnya sudah masuk pada manajemen generasi kelima yakni management by human networking . Dengan demikian. Mc Leod (1998) secara implisit menyebutkan bahwa causa prima atau penyebab utama kegagalan negara membawa kesejahteraan rakyatnya adalah karena kelemahan manajemennya. Osborne & Gaebler (1992). Oleh karena itu. termasuk di dalam mengambil keputusan. dengan ciri pekerjaan pemerintah yang tidak bersifat stratejik (non -strategic function) dikontrakkan kepada pihak ketiga (contracting-out). Reformasi Birokrasi Pemerintahan Daerah. organisasi sektor pemerintah masih memiliki karakteristik berorientasi pada pemimpin (leader orientation). tertinggal oleh kemajuan jaman. Pada tahap kemandirian. sehingga alih-alih melayani masyarakat. sedangkan pengikut lebih banyak bertindak sebagai pelaksana.dengan dominasi penggunaan teknologi komunikasi dan informasi. Sang pemimpin menjadi sumber ide dan gagasan.BAB II PEMBAHASAN A. tidaklah berlebihan apabila Ingraham dan Romzek ( 1994 ) menyebutkan bahwa sektor pemerintah harus belajar dari sektor privat yang sukses. setiap individu telah memiliki kesadaran dan tanggung jawab tanpa terlampau banyak diawasi atau dikendalikan. Barzelay (1992).

Seorang sekretaris jenderal yang merupakan jabatan tertinggi dalam jajaran birokrasi di Indonesia (golongan IVe) ternyata tidak memiliki keberanian untuk menolak perintah menteri. Gaji dan tunjangan resmi eselon I relatif kecil dibandingkan dengan jenjang jabatan yang setara pada sektor privat. yang semuanya dibiayai oleh negara dihitung sebagai pendapatan maka jumlahnya menjadi sangat besar. 12 . Karena pada jabatan tersebut melekat kehormatan serta fasilitas baik yang resmi dan terutama yang tidak resmi. rumah dinas. Pada hakehatnya tata kepemerintahan yang baik adalah upaya memperbaiki manajemen dalam berbagai aspkenya dengan memasukkan nilai-nilai baru yang lebih transparan. Sehingga pendapatan yang dibawa pulang (take home pay) setiap bulannya tidak jauh berbeda dengan sektor swasta. Apabila pejabat eselon I yang sudah ikut segala macam pendidikan dan pelatihan di dalam maupun di luar negeri saja tidak memiliki karakter yang jelas. karena bagi mereka jabatan adalah segalagalanya. meskipun mereka tahu bahwa perintah tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dapat dibayangkan bagaimana karakter birokrasi pada tingkat yang lebih rendah. Reformasi manajemen birokrasi diberbagai negara. Indikasinya nampak dari berbagai persidangan korupsi pada Departemen Agama maupun Departemen Kelautan dan Perikanan. diperkuat dengan hadirnya paradigma good governance yang dikembangkan oleh Bank Dunia maupun UNDP. Belum lagi gratifikasi dari pihak ketiga yang diterima karena jabatannya. Birokrasi di Indonesia adalah birokrasi tanpa karakter.Anggota organisasi lebih merupakan bawahan yang lebih banyak menjalankan perintah atasan. sopir dinas dan lain sebagainya. dan mungkin nantinya juga pada departemen-departemen lainnya. akuntabel. Tetapi apabila fasilitas penunjang yang diterima dari negara seperti mobil dinas. daripada insan-insan yang memiliki kreativitas dan inovasi. Hal-hal ideal yang diterima selama mengikuti pendidikan dan pelatihan hanya sekedar wacana. karena kurang diikuti dengan komitmen untuk perubahan ke arah kemajuan dan konsisten menjaga komitmen. bukan karena kreativitas dan inovasinya. Good governance sendiri adalah cara atau implementasi untuk mengubah keadaan dari pemerintahan yang jelek (bad government) menuju pada pemerintahan yang baik (good government). PNS dihargai karena kepatuhan dan loyalitasnya. Mereka takut kehilangan jabatan. termasuk Indonesia. wacana dan wacana. demokratis serta berbasis pada 6 penegakan hukum.

organisasi. B. Reformasi Organisasi Birokrasi Pemerintah Daerah. akan menjadi usang. Organisasi yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan. manajemen sektor pemerintah di Indonesia. karena membatasi jumlah maksimal dinas dan lembaga teknis daerah pada Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/Kota. khususnya pemerintah daerah perlu dibenahi secara menyeluruh dan berkelanjutan. pelaksanaan. pengawasan sampai pengelolaan konflik dan kolaborasi. dan kemudian mati.Untuk mengejar ketertinggalan dibanding sektor pemerintah di negara lain maupun sektor swasta. Telah dipahami bersama bahwa organisasi adalah sebuah wadah dan sekaligus sistem kerjasama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. dalam arti memiliki mekanisme untuk secara terus menerus memperbaiki dirinya sendiri sesuai perkembangan lingkungan internal dan eksternalnya. sebaliknya organisasi tanpa manajemen hanyalah sebuah kerumunan atau gerombolan. Momentum untuk mengubah organisasi pemerintah daerah menjadi lebih profesional menuju organisasi generasi keempat sebenarnya terbuka pada saat PP tersebut akan direvisi. karena keduanya merupakan dua sisi dari sebuah mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Manajemen hanya ada dalam sebuah organisasi. Pembenahannya mencakup semua fungsi dan aspek manajemen meliputi perencanaan. Sebagai sebuah sistem. organisasi harus bersifat ”self-renewing system”. Perkembangan teori organisasi berjalan seiring dengan perkembangan manajemennya. karena PP tersebut mendorong terjadinya proliferasi birokrasi dengan memberi peluang penambahan jumlah jabatan struktural. Jabatan struktural diisi oleh kepala daerah yang memenangkan pemilihan tanpa mengindahkan kompetensi 13 . Padahal melalui sistem pemilihan kepala daerah secara langsung seperti saat ini telah terjadi politisasi birokrasi. PP penggantinya yakni PP Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Pemerintah Daerah ternyata mengalami kemunduran dari segi konsep. bukan lagi pada kekuasaan. dengan mengutamakan kewenangan serta menonjolkan jabatan struktural. Para ahli organisasi sudah mengingatkan bahwa pada abad ke-21 perlu dilakukan pembaruan dengan lebih menekankan pada keahlian. Tetapi PP ini masih sejalan dengan kecenderungan perubahan global yakni dari downsizing menuju rightsizing. Pola organisasi pemerintah daerah yang digunakan pada saat diatur berdasarkan PP Nomor 8 Tahun 2003 masih memakai model generasi ketiga.

kepala kantor arsip dan perpustakaan daerah diisi oleh sarjana teknik. Tahap pertama. Tahap Keempat PNS sebagai Pelayanan Yang Dilindungi. Sebagai contoh kasus di beberapa daerah terdapat kepala dinas perhutanan dan konservasi tanah diisi oleh sarjana sosial politik. karena PNS tidak pernah dapat merancang kariernya sendiri. Sumberdaya manusia dalam birokrasi pemerintah daerah yang biasa disebut sebagai pegawai negeri sipil adalah abdi negara dan masyarakat. Apabila daerah mengembangkan organisasi fungsional. tetapi jumlahnya tidak sebanyak jabatan karier spesialis. Untuk masuk ke tahap kelima perlu dibangun organisasi fungsional yang didukung oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan profesional dalam bidang tugasnya masing-masing. ada lima tahap perkembangan peran PNS yaitu: 1. melainkan menukik ke dalam menjadi spesialis dalam bidangnya. 2. Asas yang dipakai adalah ” siapapun dapat jadi apapun. Menurut Bekke. sumber daya manusia memegang peranan kunci. asalkan kepala daerah menghendaki”. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Reformasi Sumberdaya Birokrasi Pemerintah Daerah. C. Karier PNS sangat tergantung pada pendekatan politik dan ”garis tangan”. Padahal melalui PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.jabatannya. Tahap Kelima PNS sebagai Pelayanan Profesional. 3. Di dalam organisasi. Arah pengembangan kariernya bukan melebar menjadi generalis. 5. begitu pula di dalam birokrasi pemerintah daerah. PNS sebagai pelayanan perorangan. Pola pengembangan karier PNS seperti itu tidak akan pernah membangun birokrasi yang profesional dalam bidang tertentu. 4. Pemerintahan Daerah Provinsi. PNS sebagai pelayanan negara atau pemerintah. dan hal tersebut hanya dapat diperoleh melalui pengembangan karier melalui jabatan fungsional dalam suatu organisasi fungsional. Jabatan karier yang bersifat generalis tetap diperlukan. jabatan sekretaris DPRD diisi oleh sarjana perikanan. Perry & Toonen (1996). berarti daerah telah masuk pada organisasi generasi keempat. Tahap ketiga. Praktek semacam itu terjadi juga diberbagai daerah lainnya di Indonesia. 14 . PNS sebagai pelayan masyarakat. luas dan bersifat teknis. Tahap kedua. Untuk menjalankannya diperlukan birokrasi yang profesional dalam bidangnya secara spesifik. daerah otonom khususnya kabupaten/kota diberi urusan pemerintahan yang banyak.

Reformasi Kepemimpinan Pemerintah Daerah. yang meliputi reformasi organisasi. Namun dalam pelaksanaannya diperlukan monitoring yang solid dan kredibel serta mencerminkan suatu sistem pengukuran yang objektif. Menpan-RB menilai produkticitas birokrasi masih tergolong rendah. (ii) membangun komitmen dan partisipasi. berkemampuan iptek dan seni yang dilandasi nilai-nilai ideologi bangsa. BAB IV KESIMPULAN Reformasi birokrasi pemerintahan daerah merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh pemerintahan daerah di Indonesia dengan berpedoman kepada Grand Design dan Road Map Reformasi Birokrasi. dan pengguna dapat menerima dan menindaklanjuti hasil dari sistem tersebut. dan reformasi kepemimpinan daerah dalam rangka tercapainya tujuan dalam rangka mensejahterakan masyarakat. Konsepsi membutuhkan sumberdaya manusia berkualitas. Dia 15 . Kepemimpinan nasional harus dapat berfungsi mengawal proses pembangunan dan hasil-hasilnya dapat dirasakan oleh warga bangsa di seluruh wilayah nusantara. serta dapat berinteraksi dengan komponen bangsa lainnya dalam hidup bersama. Azwar Abu Bakar kemaren membuka Rapat Kerja Reformasi Birokrasi Pemerintah Daerah di Hotel Labersa. Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan reformasi Birokrasi (Menpan-RB) RI. serta bersih dari kolusi. Dengan kondisi ini. 2008) yakni (i) membangun kepercayaan masyarakat. Sismennas sesungguhnya menjadi alat bantu yang efektif untuk menjalankan mekanisme business process kepemimpinan. Hal ini bisa dilihat dari sisi lain. sumber daya. tetapi membutuhkan kemampuan kepemimpinan extraordinary untuk menjalankannya pada tatanan Sismennas. (iii) mengubah pola pikir. Strategi implementasi reformasi birokrasi bukan hal teknis semata. Kampar. Kepemimpinan nasional harus dapat mengawal strategi implementasi reformasi birokrasi (PURB. reformasi birokrasi menjadi salah satu solusi dalam menghasilkan aparatur pemerintah yang memahami tugas dan tanggungjawab.d. budaya dan nilai-nilai kerja dan (iv) memastikan keberlangsungan berjalannya sistem dan mengantisipasi terjadinya perubahan. Lebih penting dari itu. kepemimpinan juga harus mampu mengawal seluruh SDM senantiasa dalam steady state mengantisipasi perubahan. Dalam kata sambutannya. korupsi dan nepotisme (KKN).

Keenam. mudah diterapkan dan menyesuaikan dengan dinamika perubahan. sederhana. Pedoman PMPRB tersebut merupakan acuan bagi instansi pemerintah untuk melakukan penilaian upaya pencapaian program reformasi birokrasi sejalan dengan pencapaian sasaran. Untuk itu Menteri PAN dan RB Azwar Abubakar telah disusun model Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB) yang merupakan hasil adopsi dari model Common Assesment Framework (CAF). Kelima. memberikan system penilaian mandiri dan baku yang objektif dan dapat memberikan informasi perkembangan pelaksanaan reformasi birokrasi di instansi secara Online dan upaya perbaikan yang diperlukan secara efektif dan berkelanjutan. Penerapan model PMPRB. Ketiga. dan ketujuh. memudahkan peningkatan capacity building secara internasional bersama dengan European Institute of Public Administrasion (EIPA) CAF Resource Center uyang berkedudukan di Belanda. mendorong terjadinya kompetensi yang positif di antara instansi emerintah sehingga mendorong kinerja pemerintah secara keseluruhan. Model ini. Kedua. Keempat. seluruh aparatur pemerintah daerah harus berubah dan mengikuti birokrasi reformasi. mengandalkan penilaian mandiri dalam penilaian kinerja instansi pemerintah. mendorong kerjasama internasional dalam komunitas bersar pengguna model CAF dengan berbagai pengalaman dengan berbagai institusi di Negara lain melalui suatu forum ataupun secara bilateral. menurut Menpan RB Azwar Abubakar akan segera ditetapkan sebagai pedoman. Ini ditekankan karena permasalahan birokrasi termasuk tiga permasalahan besar di Indonesia. memudahkan pengintegrasian data dan informasi untuk menggambarkan profil pencapaian reformasi birokrasi nasional secara Online. PMPRB mengkaitkan penilaian atas output dan outcame pelaksanaan program reformasi birokrasi di instansi pemerintah serta pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) masingmasing instansi pemerintah dengan Indikator bekerhasilan reformasi birokrasi secara nasional. Sistem PMPRB akan dapat berperan dalam kita mengetahui dan menilai serta mengawal pencapaian reformasi birokrasi sebagaimana diharapkan. hal ini karena memiliki berbagai keuntungan dan manfaat karena model ini. pertama. manfaat dan pengolah lebih lanjut berbagai data/informasi. dan mengembangkan rencana perbaikan kinerja dengan menggunakan prinsip-prinsip Total Quality Manajemen (TQM) dengan perbaikan secara berkelanjutan. indicator dan target nasional. selain korupsi dan infrastruktur. materi serta dokumen yang sebagian besar sudah dikembangkan dan tersedia. Hal tersebut harus ditunjukkan dengan hasil signifikan dalam perbaikan tata kelola 16 .menyebutkan.

1 . Etzioni. Miftah. 2011. Dr. M. Pengantar Ilmu Administrasi Negara. H.Si. 2005. Dimensi-Dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara.pemerintahan dan sasaran reformasi birokrasi nasional yaitu terwujudnya Pemerintahan yang bersih dari KKN dan pelayanan publik yang berkualitas dan kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi DAFTAR PUSTAKA Prof.Jakarta : Universitas Terbuka. Eva dan Halevy. Jakarta: Raja Grafindo Persada. eko prasojo dalam slide berjudul “Reformasi Administrasi dan Good Governance di Indonesia” Thoha. 22 Februari 2012 17 . Reformasi Birokrasi Pemerintahan dalam Meningkatkan Pelayanan Publik . Bureaucracy and Democracy. Edi Siswadi. Rotledge and Kegan. Cet. Edisi 2 . 1983 Ali Mufiz.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful