P. 1
Indonesia Weak by Design

Indonesia Weak by Design

|Views: 370|Likes:
Published by hamsipramono

More info:

Published by: hamsipramono on Apr 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2010

pdf

text

original

Hamsi Pramono

INDONESIA
WEAK BY DESIGN

DIRANCANG UNTUK LEMAH

Peringatan Penulis: Jangan mengendarai Mobil (Apalagi Motor) ketika sedang membaca buku ini karena akan berakibat fatal pada kesehatan dan keutuhan fisik anda.

1

SEKAPUR SIRIH
Saya bukanlah seorang penulis profesional. Isi dari buku ini adalah pengembangan pemikiran pribadi saya yang berlatar belakang enterpreneurship di berbagai sektor swasta dan saya tuangkan dalam tulisan yang jauh dari keindahan dan ilmu sastra. Saya lebih menitik-beratkan penulisan ini pada esensi masalah-masalah yang saya pilih karena mudah dilihat dan allternatif solusi penyelesaian masalah yang mungkin terdengar bodoh atau terlalu sederhana tetapi menurut saya masih lebih baik daripada solusi yang kompleks dan super canggih tetapi pada kenyataannya tidak dapat dijalankan..

Saya memaparkan masalah dari kacamata naratif dengan tujuan memberikan alur yang lebih mudah dicerna oleh semua lapisan masyarakat tanpa membebani dengan angka dan grafik. Walaupun demikian semua pembahasan dalam tulisan saya dapat dikembangkan menjadi suatu langkah konkret yang dilengkapi dengan data kuantitatif maupun kualitatif untuk merancang strategi yang lengkap dengan parameter hingga dapat terukur. Bila diinginkan oleh para petinggi negeri ini pun, saya akan melakukannya dengan gratis!! (zero cost). Tentunya dengan syarat perjanjian bahwa para pengambil keputusan dalam manajemen negara ini sungguh-sungguh bertekad menjalankannya dan tentunya suatu komitmen kesungguhan harus dituangkan secara tertulis dalam perjanjian.

Saya berharap agar para pemimpin dan calon pemimpin bangsa kita tergugah dengan tulisan ini, karena saya yakin bahwa Indonesia yang dulu pernah disegani dan dipandang sebagai salah satu negara kuat memang memiliki kekuatan. Indonesia saat ini berada pada kondisi lemah, tetapi bukan karena secara natural lemah melainkan akibat salah rancang (weak by design not weak by nature).

Tanpa harus saling tuding siapa yang melemahkan dan siapa yang berjasa dalam membawa negara ini menjadi lebih baik dan lebih buruk, penulis berharap agar para pemimpin dan calon pemimpin bersedia duduk di lantai kemelaratan bersama rakyat dan bersama-sama memikirkan dan bertindak secara nyata mencari solusi-solusi cerdas demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

2

Jangan sampai status kemerdekaan penuh yang telah diraih oleh Indonesia berubah menjadi slogan dan kelak dikenal sebagai bangsa merdeka yang terjajah. Ibarat satu keluarga yang menempati sebuah rumah besar tetapi tidak bisa duduk di kursi sendiri tanpa ijin dari ketua RT/RW.

Saya yakin bahwa negara ini tidak kekurangan orang cerdas, pemikir, dan sosok-sosok idealis. Saya pun mengetahui bahwa hal-hal yang saya paparkan dalam tulisan ini bukanlah pemikiran baru, karena apa yang saya tuangkan ini didasari oleh pengalaman pribadi, hasil diskusi, pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa yang up to date, dan kesedihan mendalam atas perpecahan yang terjadi di berbagai pelosok negeri tanpa henti.

Apa yang memberi warna berbeda antara tulisan saya dengan keluh-kesah mungkin adanya dasar keyakinan saya bahwa permasalahan yang timbul di negara ini terletak pada rancangan sistem yang melemahkan manajemen negara. Selanjutnya, dalam setiap bagian tulisan saya menyampaikan beberapa perumpamaan dan juga alternatif pemecahan masalah (walaupun terkadang pemecahan yang saya utarakan adalah alternatif yang tidak lazim).

Bila ada pihak baik pribadi maupun institusi yang tersinggung atau tidak sependapat dengan tulisan ini, saya dengan rendah hati mohon maaf dan sebagaimana telah saya ungkapkan diatas, tulisan ini adalah pengembangan pemikiran pribadi saya dan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin oleh undang-undang.

Penulis,

Hamsi Pramono 25 Mei 2008

3

DAFTAR ISI 1. Fakta Indonesia di Masa Sekarang (1998 – 2008)…………………………………. 2. Fakta Indonesia di Masa Lalu ……………...……………………………………… 3. Kelemahan Manajemen……………………………………………………………. 4. Rancangan Sistem Multi Partai……………………………………………………. 5. Bendera Merah Putih Yang Terlupakan………………..………………………….. 6. Tidak Ada Sistem Indentitas Warga Negara Yang Terintegrasi…………………… 7. Target Subyek Pajak Yang Sangat Minim……………….………………………… 8. Gaji dan Insentif Wakil Rakyat Yang Tinggi………….………………...………… 9. Lemahnya Sistem Penerimaan Pegawai Negeri Sipil……………………………… 10. Pusat Pemerintahan dan Pusat Bisnis di Satu Kota………..………………………. 11. Kebijakan Hutang Luar Negeri………………………………..…………………… 12. Alokasi Anggaran Pembangunan Daerah Tanpa Kendali Distribusi……..………... 13. Subsidi Yang Salah Sasaran…………...…………………………………………… 14. Lemahnya Budaya Maintenance………………………………………..………….. 15. Menyerahnya Investor Asing………………………………….…………………… 16. Pelecehan Harga Diri Bangsa Dengan Ijin Pengiriman TKW……………………. 17. Ekonomi Biaya Tinggi Akibat Retribusi Liar……………………………………… 18. Persepsi Kemerdekaan Yang Salah Kaprah………………………...……………… 19. Kekuatan Era Orde Baru Dalam Menjaga Kestabilan……...……………………… 20. Hukum Warisan Penjajah………………………..………………………………… 21. Indonesia Bangkit, Antara Slogan dan Kenyataan………..……………………….. 22. Reinkarnasi Sumpah Pemuda……………………………………………………… 23. Peran Kesultanan Dalam Manajemen Negara………………………..……………. 24. Antara Kisah Kehancuran dan Bulan-Bulanan Bangsa Lain………….…………… 25. Bangkit Dengan Idealisme dan Kekuatan Sosial………………………..…………. 26. Perbaikan Bukanlah Tujuan……………………….….….………………………… 27. Memaklumi Ketidakmampuan…………………………...………………………… 28. Bertindak Reaktif Bukan Bertindak Preventif………….….………………………. 29. Eksekusi Kasus Korupsi Yang Tidak Tegas…………….….………………………

4 30. Belajar Dari Alam, Proses Regenerasi…………………………..…………………. 31. Peran Orang Tua sebagai Model Kepemimpinan ……….………………………… 32. Manajemen Perusahaan sebagai Pola Manajemen Negara………………………… 33. Merebut Hati Rakyat & Mengembalikan Kepercayaan Kepada Pemerintah……… 34. Idealisme Terpimpin………………………………………………………………..

5

1. Fakta Indonesia Masa Kini (1998 – 2008)
Saya ingat pada sebuah film barat, ada suatu konteks dimana nama Indonesia muncul. Indonesia dipadankan dengan kata “chaos” atau kacau. Ini mungkin tidak berarti apapun karena hanya sebuh film yang bersifat menghibur (entertaining). Tetapi bagi saya film tersebut sangat berkesan. Walaupun film itu telah berlalu selama kurang lebih 5 tahun, adegan tersebut terekam di kepala saya walaupun saya lupa judul film garapan Hollywood itu.

Saya sangat senang bila ada sebuah film barat yang melibatkan Indonesia dalam cerita atau hanya sekedar menyebut nama Indonesia atau terkadang hanya menyebut salah satu daerah di Indonesia seperti Jakarta, Borneo, Sumatera dan Bali. Mendengar atau melihat nama Indonesia di film Barat membuat saya merasa Indonesia telah menjadi bagian dari dunia global yang akrab di belahan dunia lain. Dibandingkan dengan negara-negara Asia lain seperti Jepang, Thailand, Malaysia dan Singapura, Indonesia adalah nama yang paling jarang disebut (setidaknya itulah yang kerap saya alami dalam dunia perfilman – sebagai penonton tentunya).

Sungguh membuat saya terhenyak ketika Indonesia dipadankan dengan kata chaos atau kekacauan. Film adalah suatu industri yang luar biasa dan jangkauannya sangat luas ke seluruh dunia. Sebuah film box office Hollywood dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan milyar rupiah dalam waktu 1 bulan. Sungguh suatu media propaganda yang efektif. Bayangkan bila sebuah film box office menyandingkan Indonesia dengan kata negatif. Hal tersebut dapat disimpulkan dengan 2 hal. Pertama, kata negatif tersebut memang sudah menjadi pendapat umum tentang Indonesia. Kedua, bagi yang belum mengenal Indonesia atau hanya sekedar pernah mendengar nama Indonesia, akan terafirmasi bahwa Indonesia memang identik dengan kekacauan. Sehingga negative publication ini akan menjadi konsumsi jutaan penonton di seluruh dunia.

Dalam suatu kesempatan berbincang-bincang dengan seorang wanita berkebangsaan Jerman yang bersuamikan orang Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa pandangan

6 masyarakat Jerman secara umum telah berubah tentang Indonesia. Dulu (sekitar 15 – 25 tahun yang lalu) kebanyakan masyarakat Jerman berpendapat bahwa Indonesia adalah suatu negara yang dikenal dengan keramahan penduduknya. Mereka sangat antusias untuk mencari informasi tentang Indonesia, bahkan saling bercerita dan berbagi pengalaman yang menyenangkan sehingga timbul suatu positif publication dari para turis Eropa, terutama yang berkebangsaan Jerman.

Di masa sekarang, sebagian besar dari masyarakat Jerman berpendapat bahwa Indonesia bukanlah negara yang berpenduduk ramah, bahkan cenderung tidak bersahabat. Situasi keamanan yang mencemaskan dan berbagai hal negatif lainnya telah melekat menjadi suatu name tag baru bagi Indonesia di mata masyarakat internasional.

Menurut saya, pendapat atau persepsi masyarakat sipil asing di luar negeri adalah persepsi paling jujur bila kita ingin membuat sebuah pooling tentang apa Indonesia di mata internasional. Lain halnya dengan pendapat pemerintah yang memang terbelenggu oleh koridor hubungan diplomatik, sehingga jarang sekali kritik secara eksplisit akan disampaikan terhadap negara lain.

Hal tersebut diatas adalah kesimpulan sederhana dari pengamatan saya. Bagaimana dengan pendapat anda?

Dalam hal kehidupan sehari-hari, saya merasakan bahwa hidup di masa 10 tahun terakhir ini sungguh berat. Berat dalam arti sulitnya mendapatkan peluang usaha sebagai seorang enterpreneur dan beratnya persaingan akibat sentralisasi pasar dan persaingan di Jakarta sebagai pusat ekonomi Indonesia. Begitu luar-biasanya kemajuan di Jakarta dibandingkan daerah lain di Indonesia sampai saya beberapa kali mendengar kawan berkelakar bahwa Jakarta ini bukan Indonesia.

Secara langsung maupun tidak langsung, saya merasakan memang kita (terutama yang hidup di Jakarta) sudah menjadi masyarakat yang apatis, pesimis, dan egois. Perasaan tidak aman di jalan-jalan di malam hari, atau frustrasi yang sudah menjadi rutinitas akibat

7 kemacetan lalu lintas, tekanan persaingan dan banyak hal lain telah mempengaruhi kharakter dasar kita yang tadinya dikenal sebagai bangsa yang ramah oleh bangsa lain menjadi individu-individu yang tidak bersahabat.

Perekonomian Indonesia pun mengalami degradasi luar biasa. Peningkatan inflasi jauh lebih kuat dibandingkan dengan peningkatan pendapatan masyarakat pada umumnya, sehingga daya beli otomatis menurun, daya saing (kemampuang melakukan up grade) semakin menurun. Kegiatan usaha yang tadinya mampu meningkatkan taraf hidup menjadi sesuatu yang sifatnya hanya untuk bertahan hidup (survival based).

Apa yang terjadi bila kelas ekonomi menengah yang mulai berkembang dan tersebar ke seluruh penjuru tanah air ini tidak mampu lagi bertahan dan turun ke kelas ekonomi bawah? Apa pentingnya mempertahankan kesuburan kelas ekonomi menengah (middle class economic society)?

Saya berpandangan bahwa salah satu indikator kestabilan ekonomi dan sosial adalah subur dan berkembangnya lapisan masyarakat kelas menengah. Kelas menengah inilah yang menjadi katalisator antara kelas bawah dan kelas atas. Penyeimbang antara kekuatan ekonomi masyarakat dan kelemahan ekonomi masyarakat.

Menurut saya, bila dominasi kekuatan sosial berada di lapisan ekonomi rendah maka kestabilan sistem pemerintahan berada di area siaga, dan biasanya kekuatan sosial ini diimbangi oleh dominasi kekuatan ekonomi di lapisan ekonomi atas, dan melemahnya kekuatan ekonomi dan sosial di kelas menengah. Dominasi kekuatan sosial kelas bawah ini paling mudah terdeteksi dari maraknya aksi demonstrasi yang mengusung topik penurunan harga kebutuhan pokok.

Sebaliknya, bila kekuatan sosial berada di kelas menengah, bisa diikuti oleh kekuatan ekonomi di kelas menengah atau di kelas atas tetapi dengan kendali yang stabil sehingga kekuatan sosial model inilah yang menurut saya paling ideal untuk dicita-citakan oleh sebuah pemerintahan.

8

Bagaimana dengan kekuatan kelompok ekonomi kelas atas? Walaupun memiliki kekuatan ekonomi, menurut saya kelompok ini tidak dapat diharapkan untuk dapat menghasilkan spread effect peningkatan ekonomi. Hal ini diakibatkan terutama oleh dua hal: Pertama adalah kondisi bahwa jumlah masyarakat yang berada di lingkaran ekonomi kelas atas hanya sedikit; dan kedua adalah fakta bahwa batasan konsumsi individu mengakibatkan sebagian besar kekayaan tersebut masuk dalam kategori investasi baik dalam bentuk saham, tabungan, properti atau barang konsumsi sekunder & tersier lainnya yang tidak memiliki efek maksimal terhadap ekonomi aktif yang dapat memacu pertumbuhan perekonomian dan mengurangi kemiskinan.

Bila manajemen negara mampu menciptakan iklim yang menyuburkan jumlah masyarakat di kelompok ekonomi menengah dengan penyebaran yang merata berarti secara global telah terjadi proses perbaikan ekonomi dan biasanya diikuti dengan penurunan tingkat kemiskinan, stabilitas sosial, dan tentunya ini merupakan kondisi ideal yang kondusif untuk dunia investasi dan perkembangan usaha.

Berbicara tentang dunia politik Indonesia di masa sekarang, mungkin saya perlu menulis di satu buku khusus tentang hal yang ini karena begitu banyak fakta yang dapat diulas dan begitu banyaknya input yang tidak dapat dimuat dalam 1 bagian tulisan ini.

Dalam suatu kesempatan, saya berdiskusi mengenai masalah politik Asia dan terutama Indonesia dengan seorang kolega bisnis dari Singapore. Beliau mengutarakan pendapat yang saya rasa cukup akurat dan sepaham dengan pendapat kebanyakan masyarakat kita pula, yaitu: “sungguh disayangkan, Indonesia sempat mempunyai momentum untuk melakukan reformasi besar-besaran di seluruh sektor kehidupan bernegara, tetapi momentum tersebut terlewatkan begitu saja karena kelengahan akibat suka cita berlebihan (ephoria) atas kebebasan yang tidak tersistem”.

Selain mengamati pendapat dari masyarakat kita, sayapun berusaha untuk mendapatkan masukan dari masyarakat international karena menurut saya kehidupan bernegara berarti

9 tidak lepas dari pandangan negara lain terhadap negara kita. Pendapat jujur tanpa embelembel kepentingan politik merupakan media bagi manajemen negara Kesatuan Republik Indonesia untuk bercermin dan melakukan introspeksi.

Penguasaan elit politik terhadap kendali politik dalam negeri tidak berarti apapun atau cenderung mengarah pada dominasi kekuatan tanpa kemampuan bila mengabaikan pentingnya kehandalan dalam dunia politik luar negeri.

Tetapi pendapat saya secara garis besar tentang politik di Indonesia adalah suatu hal yang sungguh melelahkan untuk dilihat dan dibahas. Melelahkan bukan karena kemalasan atau ketidakpedulian, tetapi lebih didasari oleh fakta bahwa banyak para pemikir yang telah menuliskan pandangan-pandangan luar biasa sebagai masukan untuk perbaikan bagi dunia politik di Indonesia tetapi pada akhirnya hanya menjadi bagian kecil dari sobekan koran bekas yang dijual kiloan atau bernasib menjadi bungkus gado-gado.

2. Indonesia in Memory
Kita begitu gemilang di masa lalu. Hampir di semua sektor kehidupan bernegara, Indonesia bisa sejajar dan disegani oleh dunia internasional. Mulai dari sektor politik internasional dengan paham gerakan non-blok, masuk dalam jajaran elit negara penghasil minyak, prestasi di bidang olah raga yang gemilang, dan masih banyak lagi rentetan prestasi hingga dijuluki sebagai macan asia di masa tersebut.

Saya pernah membaca di salah satu surat kabar nasional, begitu gemilangnya gaung nama Indonesia di masa tersebut, hingga di era 1990-an ada ekspedisi Indonesia ke daerah terpencil Tibet, disambut dengan pertanyaan, “Presiden negara anda adalah Soekarno?”. Apa artinya? Kehebatan Indonesia didengar gaungnya hingga remote area yang nun jauh di negara lain, yang memiliki akses informasi sangat terbatas dengan dunia luar pada masa itu.

10 Kekayaan alam Indonesia sungguh luar biasa, walaupun telah digerus dalam masa penjajahan yang panjang tetap saja belum habis hingga sekarang. Kekayaan hasil laut yang tidak terkelola baik dan masih menyimpan potensi devisa yang luar biasa, hutan yang dilindungi dari penebangan dan investasi yang bersifat destruktif, kekayaan tambang yang terjaga di bumi bagian timur, dan masih banyak lagi hingga Indonesia mendapat julukan sebagai mutiara kathulistiwa.

Keragaman budaya yang eksotik dipadukan dengan kharakter yang bersahabat membuat Indonesia tersohor sebagai negara tujuan wisata yang melegenda. Bahkan banyak mantan prajurit jaman penjajahan kembali ke Indonesia sebagai turis atau investor karena kecintaannya pada keindahan Indonesia.

Memang patut kita bersyukur atas kekayaan tersebut diatas. Kondisi Indonesia secara natural sudah sangat indah dan luar biasa, yang diperlukan (setidak-tidaknya) adalah menjaga keutuhan kekayaan ini.

Menjaga dalam arti mengambil kekayaan alam dalam proporsi yang tidak merusak, tidak terfokus pada satu sumber daya alam, dan melakukan regenerasi kekayaan alam yang dapat diperbaharui, Misalnya selektif dalam penangkapan ikan, tidak mengambil ikan yang masih dalam usia pertumbuhan (benih), menanam (reboisasi) pohon sebagai

komoditi kayu, tidak menebang pohon remaja yang belum cukup umur, dan seterusnya. Dalam hal kekayaan alam, yang perlu kita lakukan adalah menjaga, bukan membangun, apalagi merusak.

Agar tidak salah persepsi bahwa pernyataan tersebut mengesampingkan pentingnya pembangunan, perlu disampaikan bahwa pernyataan diatas dapat pula dibahasakan dengan kalimat yang berbeda, yaitu: “jangan bermimpi untuk membangun bila tidak bisa menjaga”.

Ibarat tubuh kita yang harus dijaga dari penyakit, berarti kita harus memilih makanan yang baik, menghindari atau beradaptasi dengan cuaca dan lain sebagainya agar kita

11 dapat membangun tubuh kita dengan olah raga. Kita tidak dapat berolah raga dalam keadaan sakit.

Mari kita bandingkan dengan beberapa negara Afrika yang secara geografis sudah tidak menguntungkan akibat kondisi tanah, cuaca, dan demografis sosial yang semakin tidak menguntungkan akibat kuatnya pertikaian kesukuan hingga mengakibatkan kerusakan masal. Negara-negara tersebut tidak pernah kuat dan inilah yang saya maksud dengan weak by nature. Berbeda dengan Indonesia yang pernah kuat dan dikenal sebagai negara yang disegani, bila sekarang kita lemah, inilah kondisi yang disebut weak by design.

Weak by nature dapat diatasi dengan rancangan pembangunan yang konsisten dan dukungan penuh pemerintahan dari sisi alokasi dana maupun kebijakan yang kondusif. Sebagai contoh adalah Dubai. Dubai adalah salah satu kota termaju di dunia saat ini. Dubai telah menjadi mutiara di tengah gersangnya padang pasir. Tetapi, seindah apapun rancangan manusia, suhu panas menyengat dan kenyataan bahwa Dubai adalah kota kering tidak dapat dipungkiri. Walaupun demikian, Dubai adalah suatu contoh keberhasilan tekad untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan.

Kemerdekaan Indonesia adalah suatu transformasi yang dibangun oleh mental dan pikiran rakyat terpilih, para pemimpin dan pejuang yang berkharisma. Walaupun memang banyak pihak yang membantu, tetapi tanpa kekuatan mental dan pikiran, idealisme yang kokoh dan berani bercita-cita, mustahil kita dapat merdeka.

Mari kita fokus pada mental (hati) dan akal (pikiran). Apa yang membuat pendahulu kita memiliki kekuatan yang mampu merubah kelemahan menjadi kekuatan? Suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri pula bahwa tokoh yang sangat menonjol di masanya menjadi sosok yang diagungkan, begitu besarnya kepercayaan dan kekaguman masyarakat kita terhadap para tokoh pemimpin kita di masa lalu hingga wibawa yang terpancar membuat banyak orang rela mengorbankan nyawa demi keselamatan beliau-beliau yang telah mendahului kita.

12 Apa yang membedakan tokoh-tokoh yang berperan dalam manajemen negara di masa lalu dan masa kini? Begitu pahit dan berbahayanya kondisi politik dan keamanan di masa lalu hingga menjerumuskan salah satu tokoh pemimpin kita pada suatu pernyataan yang mematikan mekanisme regenerasi, yaitu: pengangkatan diri menjadi presiden seumur hidup. Lalu apa yang membedakan presiden dengan raja?

Hal tersebut diatas dihentikan oleh suatu peristiwa sejarah yang dikenal dengan G30SPKI dan diakhiri dengan “Supersemar” yang konon dokumen bersejarah tersebut hingga kini tidak ditemukan alias hilang (luar biasa). Kemudian terjadilah masa pemerintahan baru yang sebenarnya tidak berbeda dengan penerapan sistem presiden seumur hidup dalam kemasan demokrasi ala orde baru.

Mari kita belajar dari masa lalu dan masa sekarang. Sebenarnya, menurut pendapat saya, semua masa yang telah kita lalui dari sejak jaman kemerdekaan hingga sekarang, kita melupakan 1 hal yang paling fundamental, yaitu rancangan manajemen negara. Rancangan ini berarti sistem, dan sistem berarti konsistensi yang memungkinkan perubahan untuk maju.

Betul! Rancangan manajemen negara belum pernah dibuat atau dilupakan. Mengapa demikian? Karena kita begitu terkesimanya dengan kompetensi individual, kekaguman pada sosok pemimpin yang serba bisa dan bersinar, menyelamatkan bangsa dari keterpurukan. Bukankah hal ini mirip dengan dongeng kepahlawanan? Menurut saya, itu adalah suatu kondisi yang menyederhanakan permasalahan karena kemalasan untuk berpikir.

Indonesia sebenarnya memiliki kharakter kerajaan, ini adalah suatu kharakteristik banyaknya rumpun dan daerah di Nusantara sebelum terbentuknya Indonesia akibat penjajahan yang meluas. Lalu apakah Indonesia mungkin terbentuk bila sistem kerajaan tetap dipertahankan? Jawabannya tentu tidak. Karena bila bisa, sudah dari dulu kerajaankerajaan kecil melebur menjadi satu kerajaan besar (bukan tunduk akibat penjajahan).

13 Saya memang bukan ahli sejarah, tetapi saya dapat menganalisa fakta. Penjajahan jaman kolonial Belanda sesungguhnya adalah blessing in disguise bila kita menyadarinya. Di satu sisi memang Belanda telah mengambil keuntungan hasil bumi, di lain sisi Belanda juga memberikan contoh sistem yang luar biasa efektif hingga dapat menguasai kerajaankerajaan kecil. Belanda mengajarkan strategi aliansi dan pengelompokan kelas. Belanda membawa panduan hukum kolonial (yang menguntungkan penguasa tentunya) dan hebatnya masih dipakai hingga sekarang oleh negara merdeka Republik Indonesia.

Coba kembali kita tengok sejarah, sebenarnya ada salah persepsi tentang penjajahan dalam pengajaran sejarah (setidaknya itu yang saya alami). Saya mendapat pengajaran dari guru-guru sejarah bahwa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 3 ½ abad. Luar biasa. Tapi lebih luar biasa lagi, setelah saya baca referensi sejarah dengan lebih teliti, ternyata kita dijajah VOC (sebuah Perusahaan Dagang yang berdomisili di Belanda). Contoh – mungkin dapat saya padankan dengan sebuah PD Pasar Jaya yang datang ke sebuah negara yang menyenangkan dan menjajahnya. PD Pasar Jaya bukan Indonesia. Itu hanya sebuah perusahaan. Hingga akhirnya cakupan wilayah yang luas membuat VOC memerlukan dukungan pemerintah Belanda atas pendudukannya di Indonesia. Sebuah perusahaan dagang dapat menguasai wilayah seluas Indonesia, itu adalah hal yang mustahil dilakukan tanpa strategi, sistem, rancangan dan cita-cita yang hebat.

Indonesia memang bukan tipikal negara agresor sebagaimana kebanyakan negara-negara Eropa, tetapi ini bukan berarti bahwa bangsa Indonesia harus bersifat permisif dan pasif terhadap apapun yang terjadi pada dirinya. Ini telah dibuktikan dengan kuatnya dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia melalui forum-forum internasional.Para negarawan Indonesia di masa itu adalah negosiator dan politikus handal berkaliber internasional.

Potensi itu tidak hilang dan tidak bisa hilang, yang ada adalah terbelenggunya potensipotensi mulia tersebut dalam sistem yang bobrok. Sistem yang terbentuk tanpa kesadaran tujuan dan kemudian menjadi sistem yang ala kadarnya dan tambal sulam. Seumpama cat yang ditumpahkan di atas kanvas dibandingkan dengan cat yang dikuaskan di atas kanvas secara sadar. Bila saya ingin menggambar seekor kucing dengan cara menumpahkan cat,

14 tentunya bukan gambar kucing yang tercipta. Mungkin cacing atau mungkin hanya sekedar tumpahan cat tanpa makna. Tetapi, sejelek-jeleknya saya menggambar kucing dengan kuas, jadilah gambar kucing, karena dengan sadar saya goreskan kuas sesuai rancangan saya.

3. Kelemahan Manajemen
Akar dan asal-muasal status weak by design adalah kelemahan manajemen. Manajemen negara yang begitu kompleks karena ukuran dan variable yang harus diurus sangat besar. Tetapi janganlah kita lupa bahwa sebesar atau serumit apapun, manajemen adalah suatu prinsip dasar yang harus benar dari awal atau sejak rancangan. Rancangan ini dimulai dari inti terkecil yang kemudian tumbuh secara simultan dan sistemik menjadi besar dengan kekuatan simpul hirarki dan kendali manajemen. Termasuk di dalam manajemen adalah fungsi plan, do, action, check (PDAC) untuk menuju pertumbuhan yang sustainable dan simultan.
Diagram 1.1 : Plan – Do – Check – Action Cycle

Saya mengibaratkan dengan seorang penembak jitu yang membidik sasaran sejauh 500 meter. Mungkinkah? Mungkin. Saya kenal dengan seorang mantan marinir

berkebangsaan Amerika Serikat yang pernah menembak rusa dari jarak sekitar 500 meter. Semakin jauh sasaran berarti semakin besar tingkat kesulitan. Kesulitan pertama adalah pemilihan jenis senapan, jenis peluru, jenis teropong. Kesulitan kedua adalah pengalaman

15 dalam memperhitungkan gaya gravitasi, hambatan angin, dan arah angin. Kesulitan ketiga adalah keahlian teknis, termasuk posisi menembak, posisi membidik, dan ketepatan dalam menentukan momentum tembak.

Perumpamaan tersebut diatas menggambarkan suatu tujuan harus dilengkapi dengan sistem, dan sistem tersebut meliputi perangkat, keahlian, momentum, pengendalian, kemampuan memilih sasaran, dan sebagainya. Dalam hal ini, kemampuan, keahlian, atau perangkat bukanlah tujuan, tetapi suatu kondisi tanpa syarat harus dipenuhi sebelum dapat dikatakan “sistem telah sempurna untuk mencapai tujuan”.

Manajemen negara memiliki dasar manajemen dengan perumpamaan diatas. Kondisi seperti kestabilan politik (termasuk kedewasaan individu dalam berpolitik) adalah suatu kondisi mutlak yang harus ada sebelum dapat mencapai tujuan. Kestablilan ekonomi, kestabilan sosial, dan sebagainya adalah faktor yang saling terkait dalam sistem manajemen negara dan saling mempengaruhi dengan intensif.

Kekuatan saling mempengaruhi antar faktor-faktor dalam manajemen inilah yang memerlukan urgent adjustment hingga tercapai keseimbangan atau kestabilan. Saya pun senang membayangkan manajemen negara sebagai sebuah pesawat dengan 2 mesin di sayapnya. Negara adalah pesawat, tetapi tidak dapat terbang tanpa kedua mesin ini berfungsi dengan baik. Satu mesin adalah ekonomi, dan mesin yang lain adalah politik. Kondisi ekonomi yang buruk akan menjatuhkan kestabilan politik, demikianpun sebaliknya. 1998 adalah salah satu contoh era dimana situasi politik begitu rapuh hingga dengan pemberitaan bahwa presiden batuk saja sudah cukup untuk menurunkan indeks bursa saham. Sedangkan situasi ekonomi yang membahayakan situasi politik pun sedang kita alami saat tulisan ini masih dalam masa penyelesaian.

Bila saya diminta untuk memilih mana yang harus diperbaiki dahulu, jawabannya adalah politik, karena perekonomian tidak dapat berjalan tanpa kebijakan, dan kebijakan adalah salah satu produk dari pemerintahan yang tidak bisa lepas dari permasalahan politik. Apalagi dengan banyaknya partai seperti saat ini.

16

Setelah manajemen ini dapat dilaksanakan dengan baik, kita pun belum bisa bersenang diri karena ini baru menyentuh 50% dari manajemen negara, yaitu manajemen internal. Manajemen eksternal adalah 50% sisanya yang harus ditempuh.

Tanpa menjaga keutuhan manajemen internal negara, jangan bermimpi untuk dapat membangun manajemen eksternal negara atau hubungan diplomatik yang win-win position. Saya ibaratkan seperti burung yang terbang, walaupun sama-sama terbang, beda drajat antara elang terbang dan bebek terbang, karena yang satu statusnya sebagai pemangsa, yang satunya sebagai mangsa.

Menurut pandangan pribadi saya, manajemen internal negara Indonesia berada dalam status siaga, karena begitu banyak sektor kunci yang belum atau bahkan tidak dipikirkan dengan serius untuk dirubah. Perubahan ini termasuk memeperbaiki yang masih bisa diperbaiki dan berani membuang fungsi manajemen yang bersifat destruktif atau tidak memberikan nilai tambah.

Melakukan perubahan pun harus dengan strategi dan sosialisasi hingga tidak menimbulkan masalah sosial. Apa yang terjadi ketika pengumuman pembubaran salah satu departemen di era pemerintahan masa lalu sudah cukup menjadi pengalaman pahit. Sehingga dalam hal mengatasi masalah ini diperlukan suatu keahlian conflict management.

Suatu tindakan anarkis sebagai refleksi kekecewaan banyak kelompok masyarakat pun sudah pada ambang batas yang tidak dapat ditoleransi. Hanya ada 2 solusi yang menurut saya efektif untuk dilakukan. Yang satu mengandalkan keahlian manajemen, yang lainnya adalah mengandalkan kekuasaan pemerintahan. Manapun yang mampu dilakukan oleh manajemen negara itulah yang harus dilakukan karena bila ketidak-mampuan atau

17 sikap acuh terhadap potensi kekerasan dibiarkan terus-menerus, kekerasan akan menjadi budaya dan sulit untuk dihapuskan.

Sebagai contoh lain, bila suatu tanah kosong yang kemudian ditempati oleh 1 atau 2 keluarga (bangunan liar) kemudian dibiarkan, maka tidak lama akan muncul pemukiman liar di tanah kosong tersebut. Apa yang terjadi bila ini dibiarkan berlarut-larut dan kemudian setelah ada rencana pembangunan baru dilakukan penggusuran? Masalah sosial akan timbul dari suatu hal yang semestinya tidak perlu ada bila penanganan langsung dilakukan sebelum kesalahan menjadi suatu kebiasaan, dan kebiasaan menjadi bias pembenaran.

Saya berpendapat bahwa sistem manajemen di sektor swasta saat ini jauh lebih maju dibandingkan sistem manajemen pemerintahan. Walaupun tidak dapat dibandingkan sepenuhnya apple to apple, kemampuan manajemen pemerintahan untuk mengakomodir pertumbuhan bisnis dan sektor swasta dapat dikategorikan lamban dan apatis.

Hal tersebut diatas pun hanya dapat diatasi oleh 2 cara. Sebelum saya lanjutkan, saya ingin me-refresh suatu pokok masalah bahwa untuk dapat mencapai tujuan, kondisi yang harus ada adalah kestabilan. Yaitu kestabilan antara politik dan ekonomi. Bukan kemajuan di salah satu bidang dengan meninggalkan bidang yang lainnya. Untuk memastikan tercapainya efek positif yang saling mempengaruhi antara politik dan ekonomi, segala barrier atau bottle neck harus dieliminir.

Kembali kepada 2 cara yang saya maksud diatas adalah melakukan perlambatan di bidang ekonomi (terutama dengan melakukan hambatan impor atas barang-barang konsumsi) sambil berusaha melakukan identifikasi terhadap barrier dan bottle neck antara hubungan politik dan ekonomi. Atau cara lainnya adalah melakukan reformasi sistem politik dengan berani dan terukur.

Berdasarkan prinsip manajemen perusahaan, yang terpenting dalam manajemen yang efisien dan efektif adalah manajemen yang ramping dan memiliki sistem yang baik.

18 Sistem manajemen yang baik adalah sistem yang terbuka terhadap perubahan tanpa mengorbankan hasil atau prestasi yang telah dicapai dan terukur (dalam suatu mekanisme parameter yang jelas) untuk dapat menjadi input langkah penyempurnaan sistem secara continuous. Kemudian, sistem inipun memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah dengan cepat (sense of crisis) dan memberikan solusi mengatasi masalah dengan cepat pula.

Hal tersebut diatas baru menyentuh sistem atau kerangka kerja, sedangkan pelaksanaannya tentunya membutuhkan keahlian dan konsistensi. Konsistensi ini sangat penting untuk ada dan dilindungi. Mengapa dilindungi? Karena kerap terjadi bahwa perubahan atau pergantian pimpinan atau pengambil keputusan dalam fungsi-fungsi manajemen negara akan merubah haluan upaya perbaikan yang telah dirintis di era sebelumnya.

Upaya melindungi suatu proyek perbaikan infrastruktur yang memakan waktu cukup lama misalnya, dapat dilindungi kelangsungannya dengan peraturan pemerintah. Hal ini untuk menghindari penghentian proyek perbaikan pada saat masa jabatan dalam instansiinstansi terkait diganti karena usainya masa jabatan.

Dengan demikian, di semua lapisan pemerintahan, mulai dari pemerintahan pusat sampai pemerintahan daerah perlu membuat rencana pembangunan jangka pendek dan rencana pembangunan jangka panjang. Alokasi anggaran pembangunan yang tersisa pun dapat dialokasikan untuk tahun depan sebagai penambah anggaran baru yang dipergunakan untuk operasional proyek jangka panjang.

Siapakah yang seharusnya duduk di titik-titik pengambilan keputusan dalam lingkaran manajemen negara? Tentunya orang yang memiliki kapasitas ilmu terkait, bukan menduduki jabatan karena suatu kesepakatan politik, dan bukan karena kekerabatan atau hutang budi, apalagi karena hutang uang.

19 Erat kaitannya dengan masalah hutang budi dan hutang uang adalah kebijakan beasiswa yang disponsori oleh negara asing.Memang harus saya akui bahwa dunia pendidikan di Indonesia ini dipandang tertinggal oleh banyak pihak. Tetapi berbicara soal cita-cita bangsa Indonesia untuk memajukan pendidikan di Indonesia, bagaimana mungkin citacita itu terlaksana dengan mencetak pemimpin-pemimpin negara yang made in Amerika, atau made in UK? Begitu parahkah nasionalisme kita hingga calon-calon pengambil keputusan pun harus diambil dari lulusan-lulusan luar negeri (terutama yang mendapatkan beasiswa dari negara lain).

Tidak percayakah kita bahwa kandidat-kandidat calon pemimpin akan dapat memimpin bangsa ini dengan modal pendidikan di dalam negeri? Apakah takut merasa terhina di dunia internasional? Atau tidak bisa berbahasa inggris hanya karena tidak sekolah di luar negeri? Sungguh kasihan negeri Indonesia tercinta bila terus menerus terbelunggu oleh rancangan sistem seleksi pemimpin yang tidak percaya pada kualitas lulusan lembaga pendidikan di dalam negeri.

Apakah saya antipati pada lulusan luar negeri? Tentu tidak, karena memang dalam beberapa hal, kita membutuhkan input dari institusi pendidikan luar negeri untuk melakukan upaya peningkatan kualitas pendidikan dalam negeri. Tetapi, tentunya saya berpendapat bahwa input yang terbaik adalah melalui jalur hubungan institusi pendidikan ke institusi pendidikan. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas pengajar, bukan mencetak politikus berpendidikan asing.

Di masa lalu memang kita membutuhkan politikus, teknokrat dan ekonom berpendidikan luar negeri karena belum terbentuknya institusi pendidikan di dalam negeri sampai jenjang tertinggi. Tetapi saat ini, sebagai contoh adalah Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, dan Universitas Gajah Mada (dan beberapa institusi lain yang tidak saya sebutkan satu-persatu) telah memiliki kualitas internasional. Yang dibutuhkan adalah kepercayaan dari masyarakat kita dan dari para perancang sistem manajemen negara untuk memanfaatkan secara optimal para lulusan-lulusan terbaik dalam negeri.

20

Percayalah pada produk negara Indonesia, dimulai dari produk kualitas sumber daya manusia hingga produk yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia. Pengalaman saya terkait dengan kecintaan suatu negara terhadap produk dalam negerinya pernah saya lihat di kedutaan besar Korea dan Jepang yang masing-masing menggunakan semaksimal mungkin produk-produk dari dalam negeri mereka sendiri hingga lulusan-lulusan universitas dalam negeri mereka.

Untuk dapat melakukan perbaikan, tentunya kita mesti memulai dengan percaya. Marilah kita percaya, bahwa kita telah memiliki kualitas pendidikan yang setara dengan kualitas pendidikan internasional. Berilah kesempata pada kandidat-kandidat terbaik produk bangsa sendiri untuk menduduki posisi-posisi strategis dalam sistem manajemen negara.

Selain kualitas yang sudah tidak perlu diragukan, kita akan lebih terjamin bebas dari politik hutang budi (dan mungkin hutang uang) dari propaganda beasiswa asing.

4. Rancangan Sistem Multi Partai
Saya sudah tidak tau lagi berapa jumlah partai di Indonesia sekarang. Mungkin bagus juga kalau saya mendirikan partai Warung Buncit Merdeka (salah satu nama daerah di Jakarta Selatan tempat saya dibesarkan), atau partai Masyarakat Mall Bersatu (karena dengan minimnya area publik saya seringkali terpaksa membawa anak saya ke mall Pondok Indah untuk bermain).

Hal tersebut diatas adalah satiran yang biasa saya sampaikan pada kawan-kawan bila sudah bicara soal partai politik. Menurut pendapat saya, maraknya partai politik di tanah air tercinta ini adalah suatu produk kebebasan yang kebablasan. Beda tipis antara bebas dan bablas, yang satu bermakna positif yang satu bermakna negatif.

21 Sungguh saya sayangkan bahwa rancangan sistem multi partai ini baik disadari atau tidak disadari telah memecah belah persatuan bangsa. Tidak berbeda dengan banyaknya suku yang mengibarkan bendera masing-masing pada jaman sebelum sumpah pemuda.

Banyak pemikiran para idealis yang hanya dapat disalurkan melalui jalur partai. Menurut pandangan saya, secerdas dan seidealis apapun seorang tokoh yang terbelenggu dalam sistem multi partai tidaklah dapat berperan banyak bagi negara ini terkait dalam koridor manajemen bernegara. Hal ini diakibatkan oleh tujuan dari keberadaan atau dibentuknnya partai tersebut.

Tujuan dari partai secara sederhana adalah meraih suara pemilih sebanyak mungkin. Secerdas apapun para tokoh partai, tidak lepas dari usaha bagi-bagi kaos gratis bergambar logo partai, usaha sms promosi partai untuk meraih simpatik, usaha sablon bendera partai, dan segala sesuatu yang berbau lambang-lambang partai. Saya yakin bahwa bila seluruh lambang partai dikumpulkan di seluruh Indonesia ini, jumlahnya lebih banyak daripada jumlah Bendera Merah Putih (tidak termasuk gambar bendera yang terdapat di buku tulis jaman saya duduk di bangku SD).

Bila kita berbicara mengenai kebebasan mengeluarkan pendapat dan berorganisasi, saya menyarankan siapapun untuk kembali melihat rumusan manajemen yang baik (menurut teori saya sendiri tentunya). Yaitu “Sistem yang terbuka terhadap perubahan tanpa mengorbankan hasil atau prestasi yang telah dicapai”. Hasil yang saya maksud disini khususnya adalah manajemen yang lebih ramping. Ramping berarti efisien, simple but effective.

Berbicara mengenai probabilita atau kemungkinan merestrukturisasi 2 atau 3 partai pun lebih mudah daripada merestrukturisasi banyak partai. Proses penjaringan kaderpun akan semakin sengit sehingga memunculkan kader-kader pejuang yang kenyang dengan pengalaman organisasi yang berbobot.

22 Mungkin ada diantara para pembaca yang dapat menyebutkan nama negara dengan puluhan partai dan dapat maju menjadi negara yang kuat dan bangsa yang dihormati? Selain negara Indonesia tentunya. Saya pribadi lebih setuju dengan manajemen negara dengan motor 2 partai. Satu partai berfungsi sebagai controller atau pengawas pemerintahan beserta seluruh kebijakannya, dan partai yang satunya sebagai pelaksana pemerintahan.

Penerapan 2 partai telah terbukti solid dan efektif dalam pengelolaan manajemen negara. Satu syarat yang harus diingat bahwa militer dan institusi negara lain harus netral berada di bawah kendali pemerintah. Para pemimpin, calon pemimpin dan para pembaca sekalianlah yang dapat menilai apakah ini suatu angan-angan kosong yang tidak mungkin, atau suatu cita-cita yang dapat dan harus segera dilaksanakan demi keutuhan bangsa.

Saya mempunyai usulan lain, yang mungkin akan dianggap ide nyeleneh lain yang bisa jadi merupakan mission impossible.

Bagaimana cara memberdayakan banyak partai untuk kepentingan bangsa Indonesia, demi kemajuan negara Indonesia, dan tidak menyia-nyiakan potensi tokoh-tokoh pemimpin partai yang kita hormati? Yaitu dengan cara merubah pola pemilihan suara.

Indonesia sekarang telah dapat memilih presiden secara langsung dan ini adalah suatu terobosan yang menyegarkan di tengah kemelut dunia politik Indonesia yang beginilah adanya.

Satu terobosan terkait dengan manajemen multi partai adalah melakukan grouping / pengelompokan berdasarkan konsep yang ditelurkan oleh partai – partai terkait. Apa maksudnya?

Sudah menjadi suatu kebiasaan bahwa partai – partai akan berusaha meraih suara pemilihan terbesar dengan cara mencari tokoh yang dipandang dapat meningkatkan

23 jumlah perolehan suara dan mengumbar program dan janji yang seringkali hanya berupa idealisme yang tidak terukur dan bahkan cenderung menyederhanakan masalah.

Hasil dari tindakan diatas oleh partai – partai politik adalah antara lain recruitment artis atau pemain sinetron, film, penyanyi yang cukup dikenal oleh masyarakat. Hal ini sungguh merupakan suatu kemunduran dan pembodohan dalam kehidupan bernegara. Bukan karena status mereka sebagai artis tetapi mereka tidak kompeten, tetapi justru karena penekanan atau konsentrasi seleksi adalah pada figur tokoh, bukan pada konsep pemikiran. Mungkin dapat saya bahasakan dengan cara yang kurang lebih seperti ini: Bila kita memilih sesuatu, tentunya harus mempertimbangkan fungsi dan kemasan. Kemasan tentunya dapat dengan mudah terefleksikan melalui populeritas individual. Bagaimana dengan fungsi? Fungsi dalam arti kualitas ilmu bernegara, berpolitik, berkomunikasi, dan sebagainya tidak dapat dilihat hanya dengan menampilkan tokoh yang tampan, cantik, bersuara merdu, murah senyum dan sebagainya. Fungsi hanya dapat dilihat dengan suatu dialog 2 arah antara para kandidat dan juga antara kandidat dan calon pemilih.

Sadarkah kita, apa yang terjadi bila fenomena sistem kaderisasi yang menonjolkan tokoh terus berlangsung? Pembodohan masyarakat terkait dengan pendewasaan kehidupan bernegara! Ya, pembodohan dengan membiaskan gambaran bahwa masalah negara yang begitu rumit dan luas dapat terselesaikan oleh partai – partai yang diwakili oleh artis – artis sinetron yang belum teruji kemampuannya melalui dialog berkonteks masalah – masalah manajemen negara.

Kembali kepada usulan mengenai manajemen multi partai, saya mengusulkan penggunaan parameter konsep / ide yang dituangkan dalam proposal manajemen negara dalam waktu 5 tahun, proposal itu ditulis dalam format yang baku dalam waktu tahunan, lengkap dengan rencana cadangan bila rencana atau konsep utama tidak dapat dilaksanakan oleh karena satu atau lain hal.

24 Kedua, mencantumkan parameter yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan konsep yang diajukan.

Ketiga, menandatanganan pakta kesepakatan atas konsekuensi dari tanggung jawab yang terkait dengan jabatan yang diperoleh bila konsep / ide tersebut yang memenangkan suara mayoritas.

Keempat, mengelompokkan konsep yang 80% komposisinya memiliki kesamaan dengan ide partai lain. Partai-partai ini dimasukkan ke dalam 2 atau 3 kubu gabungan (maksimal sekali 4 kelompok partai dengan konsep sejenis) . Kelima, mengatur porsi internal dari masing-masing kubu hingga muncul 1 orang kandidat yang dianggap terbaik mewakili kubu masing-masing untuk meraih posisi puncak. Sistem ini diterapkan juga untuk pemilihan kandidat-kandidat pimpinan pada setiap strata.

Tentunya ide diatas memerlukan pembahasan dan penjabaran mendetail, tetapi menurut saya pribadi ide tersebut bukanlah suatu angan-angan kosong. Bila perbedaan tidak dapat disatukan, maka pengelompokan bukan merupakan suatu pantangan.

Bila di 5 tahap tersebut diatas dapat dijalankan, yang intinya adalah penekanan pada penyusunan proposal pengelolaan negara dan peleburan (kolaborasi) partai-partai, maka Indonesia tercinta ini telah membuat sebuah terobosan baru yang mungkin pertama kali di dunia dalam sejarah manajemen negara. Inilah nyawa dari Sumpah Pemuda, persatuan, persatuan, dan persatuan untuk menjadi kuat.

Kolaborasi antar partai akan mengarahkan partai-partai untuk fokus pada persamaan dan tidak selalu melihat dan mengumbar perbedaan. Pasti, saya katakan sekali lagi pasti, akan terdapat benang merah persamaan visi yang justru akan menyatukan partai-partai.

25 Tanpa perlu menghilangkan identitas partai, akan muncul 2 kelompok besar yang merupakan kumpulan partai, dan sesungguhnya, telah terjadi 2 kekuatan fungsi partai yaitu: peraih suara terbanyak sebagai pihak yang menjalankan pemerintahan, dan pihak yang lebih sedikit suara pemilihnya sebagai controller (oposisi) yang bertugas mengawasi jalannya pemerintahan yang sesuai garis dasar rencana pembangunan yang telah diprogramkan oleh koalisi partai yang meraih suara terbanyak.

Dengan demikian, saya berpendapat bahwa: “bila identitas individu (partai) tidak dapat dihapuskan, maka sangat indah bila perbedaan tersebut dirangkum menjadi suatu karya yang bermanfaat”.

Disinilah diuji kedewasaan para pengambil keputusan, para pemimpin, dan individuindividu yang memiliki peran kunci dalam dunia politik. Bila memang ketulusan tujuan sebuah partai adalah untuk kebaikan negara kesatuan republik Indonesia, maka tidak ada alasan bagi partai-partai yang memiliki kesamaan visi untuk tidak bergabung. Mereka harus bergabung demi kebaikan bangsa, demi perjuangan bangsa, demi perbaikan sistem manajemen negara yang merupakan syarat mutlak untuk menaikkan derajat bangsa Indonesia.

Masalah selanjutnya yang timbul tentunya sistem pemilihan pengurus dari koalisi partai. Nah, saya ada ide aneh lainnya yang tentunya bukan hal mustahil untuk dilaksanakan. Ide ini dibagi menjadi 2 tahap.

Pertama, masing-masing partai memilih kandidat terbaiknya untuk dilakukan debat terbuka terkait dengan topik yang aktual terkait dengan pelaksanaan atau eksekusi proposal final manajemen pemerintahan (untuk koalisi partai peraih suara terbanyak, yang akan menjalankan pemerintahan). Di lain pihak, koalisi partai-partai yang menjadi pengawas pun melakukan hal yang sama terkait dengan topik pengawasan jalannya manajemen pemerintahan yang dipimpin oleh koalisi partai peraih suara mayoritas.

26 Kedua adalah, sistem eliminasi kandidat dengan sistem gugur pada ajang one on one open debate. Pemenangnya ditentukan dengan voting internal koalisi partai terkait. Hingga akhirnya ditentukan 1 pemenang yang akan memimpin koalisi partai, dan kepengurusan koalisi tentunya akan diisi oleh figur-figur terbaik dari masing-masing partai.

Bila tahap pelaksanaan sistem pemilihan diatas dapat dilaksanakan, saya sudah dapat membayangkan luar biasanya demokrasi yang sehat dan diisi oleh suatu dialog cerdas antar para pemimpin. Pemimpin yang tidak berani tampil di depan umum, atau pemimpin yang hanya mampu membacakan teks pidato tentunya akan mengalami rintangan yang berat. Inilah proses pembelajaran bahwa dunia internasional memerlukan pemikiran cerdas, spontan, dan lugas yang merupakan kemampuan dasar seorang pemimpin sebagai kunci manajemen negara yang handal dalam manajemen negara dan hubungan internasional.

Demikian pula untuk fungsi oposisi, seorang sosok pemimpin cerdas dan kritis akan muncul dari sistem debat terbuka. Dengan penerapan sistem ini, politik uang tidak akan dapat diterapkan dengan gamblang karena pengawasan jalannya proses pendewasaan kehidupan politik ini akan diawasi langsung oleh rakyat melalui liputan-liputan langsung debat terbuka. Kapasitas seorang pemimpin akan langsung terlihat, kejanggalan pun akan langsung terlihat oleh rakyat sehingga kewibawaan adalah taruhan yang harus diperjuangkan dan dipertanggung-jawabkan.

Perbedaan antara angan-angan dan cita-cita adalah sikap mental. Diperlukan pengorbanan ego yang besar dari para pemimpin dan calon pemimpin, karena dengan perampingan manajemen berarti banyak kursi yang harus dirumahkan sehingga banyak pejabat partai yang akan menjadi komentator atau sekadar menjadi moderator di acara kelurahan setempat.

5. Bendera Merah Putih yang Terlupakan

27 Salah satu hal yang menjadi pengamatan saya sejak lama, mungkin telah dimulai sejak sebelum munculnya banyak partai di negeri tercinta ini adalah, saya jarang melihat bendera Indonesia. Lebih ironisnya lagi, mendekati masa kampanye partai, seluruh jalanan penuh dengan bendera partai, tetapi bendera Merah Putih dapat dihitung dengan jari.

Tentu saja pernyataan saya diatas tersebut dapat mengundang suatu kritik yang mungkin bersifat argumentatif atau bahkan difensif. Saya membayangkan komentar-komentar seperti “jarang liat? Liatnya ke laut sih!” Atau hal-hal senada yang kerap kali dilontarkan sebagai reaksi yang disampaikan pihak-pihak yang tersinggung.

Tentunya hari peringatan nasional dan wilayah-wilayah kantor pemerintahan, departemen, gedung-gedung perkantoran adalah bukan area yang saya bicarakan disini. Saya membicarakan suatu awareness yang timbul atas stimulasi visual yang berkesinambungan. Sama halnya dengan sebaran iklan rokok di seluruh sudut kota dan daerah, sehingga membuat kita selalu teringat akan merk rokok tertentu. Saya ingin menekankan pentingnya awareness yang harus ditimbulkan terkait dengan eksistensi bendera Merah Putih diatas semua simbol-simbol kelompok.

Saya berharap para pembaca dengan semangat positive thinking bersama-sama dengan saya mencoba mengingat kembali. Pada saat kita berangkat kerja ke kantor, atau mungkin pergi berlibur ke daerah-daerah di Indonesia, berapa kali kita melihat bendera Indonesia berkibar? Bila kita mungkin melihat bendera partai tertancap dan berkibar sepanjang jalan, cobalah untuk menghitung dan membandingkan jumlah bendera partai dan jumlah bendera Indonesia pada kesempatan lain kita berpergian.

Sampai kapankah pembodohan masyarakat melalui cara-cara yang disebut sebagai pesta demokrasi terus berlanjut? Saya katakan sebagai pembodohan masyarakat karena agenda kampanye selalu diwarnai oleh obral kaos berwarna dan berlambang partai, disertai bendera partai. Apa hubungannya dengan demokrasi?

28 Bukankah semestinya demokrasi itu tidak meninggalkan identitas bangsa? Bila yang dikatakan sebagai pesta demokrasi adalah menggantikan kibaran bendera Merah Putih dengan dominasi kibaran bendera partai untuk beberapa hari, apalagi untuk jangka waktu bertahun-tahun, maka demokrasi telah disalah-artikan menjadi suatu promosi perpecahan yang sebenarnya justru mendegradasi arti demokrasi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saya mengibaratkan Negara Indonesia sebagai sebuah keluarga yang memiliki puluhan anak (dalam bentuk partai-partai). Memahami, mengerti, dan mengatur 1 atau 2 anak dalam keluarga dan puluhan anak tentu membutuhkan penanganan yang berbeda. Perbedaan pendapat tidak dapat dihindarkan, saling mempengaruhi akan terjadi, perasaan cocok dan ketidak cocokan pun bukan suatu hal yang baru. Tanpa rancangan sistem manajemen yang kuat, proses pengambilan keputusan yang melibatkan partisipasi aktif semua anak-anak ini tidak akan berjalan baik, apalagi mengharapkan kualitas keputusan yang diambil.

Untungnya, negara memiliki bendera sebagai simbol negara. Dimanapun kita berada selama di wilayah negara Indonesia, Merah Putih benderanya. Apapun suku dan rasnya, selama warga negara Indonesia, Merah Putih benderanya.

Saya ingin menonjolkan bahwa memanajemen persamaan-persamaan dalam perbedaan adalah suatu hal yang penting. Melakukan propaganda atas kesamaan simbol, tujuan, dan idealisme akan menimbulkan efek yang kondusif dan mengesampingkan perbedaan. Mengapa demikian? Karena itulah sifat dasar dari manusia yang sesungguhnya. Manusia akan berinteraksi dengan cara mencari persamaan-persamaan.

Contoh lain, bila saya baru mengenal anda, tentunya saya akan memulai pembicaraan dengan menanyakan tempat tinggal, pekerjaan, mungkin alamat kantor, status menikah, jumlah anak, dan sebagainya. Saya yakin hampir semua orang akan melakukannya karena ini adalah hukum alam bagi interaksi seseorang. Tujuan dari pertanyaanpertanyaan ini adalah mencari persamaan untuk dikembangkan sebagai suatu bahan

29 pembicaraan untuk mencari suatu “chemistry” persamaan. Ini sangat penting untuk ada dalam suatu hubungan.

Dalam konteks bahasan kita disini, yaitu bendera Merah Putih. Bendera Merah Putih adalah perjuangan panjang leluhur kita untuk menyatakan dan mempertegas persamaan kita dengan bangsa-bangsa merdeka lain di dunia. Adalah suatu kenyataan yang sangat aneh bila kita menyatakan bangga sebagai negara yang merdeka tetapi tidak menghargai bendera Merah Putih saat “pesta demokrasi” atau saat-saat acara partai berlangsung.

Begitu sulitkah untuk mengeluarkan peraturan bahwa setiap bendera organisasi baik partai atau institusi non partai berkibar di wilayah negara Indonesia, harus didampingi dengan bendera Merah Putih di posisi yang lebih tinggi. Bila ada 1 juta bendera partai berkibar maka jadilah 1 juta bendera Merah Putih berkibar diatas bendera partai.

Bila ada suatu kelompok atau partai berkeberatan atas peraturan tersebut diatas atas alasan apapun, apalagi bila beralasan bahwa akan membengkakkan anggara partai akibat penambahan bendera, lebih baik oknum tersebut melakukan introspeksi atas keikhlasannya dalam memperjuangkan kepentingan negara, atau melakukan introspeksi atas rasa kebangsaannya. Mengapa? Karena para pemimpin dan pengurus partai adalah calon-calon pemimpin dan pengurus negara yang harus memprioritaskan kepentingan Negara Indonesia secara keseluruhan, bukan kepentingan partai dan kelompoknya yang meraih suara sekian persen.

Apa pentingnya kebijakan ini? Ini adalah untuk menyadarkan para punggawa-punggawa partai bahwa kelompoknya adalah hanya sebagian kecil dan tidak terpisahkan dari wilayah Merah Putih, dan apapun tindakan yang diambil oleh partai-partai ini harus tunduk pada kepentingan Negara Indonesia.

Dengan kata lain, jangan remehkan kekuatan bendera Merah Putih. Kita telah belajar dari sejarah bahwa darah telah tertumpah dan nyawa para pejuang melayang demi menurunkan bendera asing dan mengibarkan bendera Merah Putih. Memang terdengar

30 seperti puisi klise, tetapi itulah kenyataannya. Bendera Merah Putih telah menjadi suatu afirmasi persamaan dalam perjuangan di seluruh daerah.

Nah…sekarang justru orang-orang yang merasa sebagai bangsa Indonesia dan telah merdeka justru dengan bangga mengibarkan bendera kelompoknya masing-masing dan lupa sama sekali dengan Merah Putih. Apa yang terjadi? Apakah para pengambil keputusan partai yang berjanji untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia lupa pada sejarah? Lupa pada betapa pahitnya perjuangan mengibarkan bendera Merah Putih tanpa kebebasan?

Bendera atau simbol adalah salah satu bentuk identitas yang tertua dalam sejarah perjuangan kelompok-kelompok untuk eksis. Lalu, bila kita telah mengibarkan 1 bendera kesatuan, mengapa mesti memunculkan bendera-bendera lain dengan meninggalkan bendera kesatuan. Ingatlah bahwa tujuan dari terbentuknya partai bukan kekuasaan. Memang benar bahwa kekuasaan adalah media menuju perjuangan (dan pendapatan) yang lebih besar. Tetapi bila perjuangan untuk menuju kekuasaan harus melalui proses menyakiti kelompok lain, melakukan fitnah, black campaign atau negative campaign, melakukan kekerasan, merusak mental dengan strategi serangan fajar, politik bagi-bagi uang. Maka kekuasaan telah disalah artikan sebagai suatu posisi yang nikmat untuk mengeruk keuntungan dari fasilitas sebagai penguasa.

Yang diperlukan bangsa Indonesia ini bukanlah penguasa. Yang diperlukan adalah pemimpin yang mengerti bahwa kuasa adalah amanah atau tanggung jawab. Menjadi pemimpin yang diberi kuasa oleh rakyat berarti membela keutuhan negara yang dipimpin bukan mementingkan kepentingan kelompok. Berani mendobrak sistem yang salah dan membuat rancangan sistem yang jelas yang dapat membedakan antara kepemimpinan untuk kepentingan bangsa dan kekuasaan demi kepentingan pribadi.

Bila hal tersebut diatas terlalu sulit untuk dibaca apalagi untuk dicerna, maka saya berharap kita bersama-sama; saya dan para pembaca, untuk mulai merenungkan dan

31 merencanakan bagaimana cara mensosialisasikan ide bahwa bendera Merah Putih harus mendominasi di wilayah Negara Indonesia.

Bendera Indonesia yang berkibar di seluruh penjuru negeri kita akan mengharukan dan membangkitkan kembali ingatan kita akan perjuangan para leluhur. Saya yakin seyakinyakinnya, bahwa biaya yang dikeluarkan untuk membuat dan mengibarkan jutaan bendera Merah Putih tidak akan lebih mahal dibandingkan biaya yang dikeluarkan partaipartai saat ini. Biaya tersebut tidak sebanding dengan kebangkitan mental persatuan bangsa yang kini telah carut-marut akibat rancangan sistem yang melemahkan bangsa Indonesia.

Saran saya pada para pendiri partai, belajarlah dari sejarah, sebelum memberikan janji. Seperti telah saya sampaikan diatas, “jangan bermimpi untuk membangun bila tidak bisa menjaga”. Apa yang perlu dijaga? Jagalah agar bendera Merah Putih tetap berada diatas bendera kelompok.

6. Sistem Identitas Warga yang terintegrasi
Sistem manajemen pendataan kependudukan kita adalah sistem kependudukan yang desentralisasi. Desentralisasi yang diterapkan ini adalah termasuk desentralisasi database dan bersifat data standar, yaitu; alamat, tanggal lahir, agama, status menikah.

Apa kelemahan penerapan sistem identitas tersebut diatas? Pada saat penyebaran penduduk dan aktifitas lintas daerah semakin intens maka terjadilah kendala-kendala administratif. Misalnya seorang penduduk ber-KTP Lampung pada saat tinggal di pindah domisili harus dilakukan administrasi ulang yang juga termasuk penggantian KTP karena KTP yang bersangkutan bukan KTP DKI Jakarta.

Atau kasus yang lebih ekstrim adalah suatu hal yang dialami oleh satu teman saya saat naik angkutan umum. Kendaraan umum yang ditumpangi dihadang oleh beberapa orang pemuda yang melakukan sweeping KTP, ternyata mereka mencari orang-orang dari

32 daerah tertentu untuk “digebuki” akibat salah satu rekan mereka bermasalah dengan orang dari daerah yang mereka cari. Mereka berniat untuk melampiaskan dendam pada siapapun yang di KTP tertera kelahiran atau domisili dari daerah yang mereka cari.

Bukankah hal tersebut diatas juga telah menjadi faktor yang mempertegas perbedaanperbedaan diantara sesama warga negara Indonesia? Apa kepentingannya untuk menuliskan segala hal yang bersifat pribadi seperti status kawin atau tidak kawin, agama, dan lain sebagainya? Seingat saya, sewaktu saya berpacaran sampai menikah tidak pernah mertua saya atau calon mertua meminta KTP saya untuk difoto-copy. KTP diperlukan pada saat pengurusan hal-hal yang bersifat administratif pemerintah atau perusahaan. Mulai dari melamar pekerjaan hingga mengurus kartu-kartu lain yang terkait dengan status sebagai warga negara.

Dengan fakta diatas, sebenarnya KTP Nasional adalah identitas yang seragam di semua daerah. Kedua, pembatasan informasi yang juga berfungsi untuk melindungi si pemilik identitas dari tindakan kekerasan atau pelanggaran hak asasi akibat perbedaan suku, agama, dan ras (SARA). Ketiga adalah perluasan fungsi KTP dari sekedar kartu yang menunjukkan sebagai warga negara menjadi kartu yang multi fungsi. Jadi, KTP dapat digunakan sebagai integrated national identity card.

Beberapa fungsi yang dapat disatukan dalam KTP ini adalah antara lain; fungsi identitas jaminan sosial (termasuk data status pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan), fungsi identitas pajak (Nomor Pokok Wajib Pajak), fungsi identifikasi perpindahan domisili, dan sebagainya. Satu hal yang penting adalah, kartu ini harus berskala nasional, dijamin kesetaraannya berlaku di manapun selama berada di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia.

Apa pentingnya sistem identitas warga yang terintegrasi? Mahal? Pasti! Suatu perbaikan yang signifikan perlu biaya, tetapi bukanlah biaya yang sia-sia seperti pembangunan tiang pancang monorail di Jakarta yang tidak ada keretanya sampai saat tulisan ini dibuat. Di saat menikmati kemacetan tidak jarang saya membayangkan alangkah indahnya bila tiang

33 pancang mono rail itu dijadikan sangkar burung perkutut, atau mungkin juga untuk memberikan efek jera pada penjahat kerah putih, kurung saja di tiang-tiang yang masih lengkap dengan besi-besi panjangnya (Hahaha…guyon lho).

Perlu diingat bahwa salah satu fungsi manajemen yang baik (lagi-lagi menurut saya pribadi) adalah fungsi “plan” sebelum masuk ke fungsi “do”. Jangan terburu-buru bertindak demi mengejar batas waktu tahun anggaran dan mengorbankan matangnya perencanaan.

Sistem identitas warga yang terintegrasi tidaklah jauh berbeda dengan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Bedanya adalah, KTP ini diintegrasikan dengan data base Pajak, Jaminan Sosial, Kepolisian, dan beberapa fungsi lain yang lebih tepat bila dibahas oleh para pakar dibidang pendataan kependudukan dan Information Technology.

Tujuan dari sistem ini adalah untuk menjamin hak sekaligus kewajiban semua warga negara Indonesia yang sudah cukup umur (17 tahun) atau dibawah umur tetapi sudah menikah. Sedangkan untuk penduduk di bawah umur tentunya belum memiliki KTP, kecuali bila sistem ini diintegrasikan pula dengan data base Imigrasi, sehingga siapapun yang telah memiliki passport mendapatkan pengecualian untuk memiliki KTP terintegrasi.

Dengan diterapkannya sistem terintegrasi tersebut, data survey akan selalu up to date (setidaknya cita-citanya demikian) dan bila diperlukan data demografis akan dapat diakses dengan cepat dengan sistem komputerisasi. Apakah hanya negara maju yang dapat menerapkan sistem ini? Tentu tidak. Yang diperlukan adalah para pengambil keputusan yang mau berpikir dan berpikiran maju demi kepentingan negara.

High cost dalam upaya survey dapat dikurangi secara signifikan, ditambah pula dengan kecepatan dan ketepatan data yang terkumpul, sehingga biaya yang dikeluarkan dengan perancanaan dan kontrol yang matang akan menghasilkan suatu sistem yang berfungsi dengan efektif dan efisien untuk memantau masalah-masalah yang terkait dengan

34 identitas penduduk, misalnya untuk menghindari kesimpang-siuran dalam penerapan sistem turunan. Contohnya seperti sistem distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sampai menelan korban jiwa.

Beberapa contoh National Identity Card yang saya lihat di beberapa negara, ternyata tidak mencantumkan informasi-informasi yang bersifat personal. Informasi seperti alamat, agama, status menikah. Satu hal lagi yang luar biasa, di era pemerintahan sebelum masa reformasi, telah terjadi praktek diskriminasi yang sistematis, yaitu penandaan dengan kode nomor yang berbeda untuk warga negara keturunan.

Dari beberapa pejabat yang berbaik hati untuk berbagi informasi kepada saya di masa lalu, dia menjelaskan bahwa spasi setelah titik di deretan nomor KTP menunjukkan bahwa si pemilik identitas itu adalah warga negara keturunan. Apa perlunya penandaan ini? Tentunya bukan hak saya untuk menjawab karena saya bukan bagian dari pengambil keputusan di manajemen negara, apalagi di masa pemerintahan yang lalu.

Berdasarkan fakta dan contoh diatas, saya menilai bahwa sistem KTP kita berasal dari suatu rancangan yang antara lain dimaksudkan untuk melakukan praktik diskriminasi. Tentunya, karena selain penandaan yang menunjukkan pemegang KTP tersebut memiliki keturunan ras yang ditargetkan untuk ditandai, ada pula informasi tentang agama yang juga merupakan obyek monitoring.

Sebagai catatan, sayapun tidak pernah diminta KTP bila masuk mesjid. Jadi fungsi pencantuman agama dalam KTP sudah tidak up to date lagi dengan cita-cita persatuan bangsa yang mengedepankan persamaan dalam satu wadah negara kesatuan republik Indonesia.

Apakah KTP ini merupakan suatu permasalahan yang remeh dan tidak penting? Suatu negara yang besar, maju, dan cerdas, tentunya memiliki sumber daya yang kuat. Tidak menunggu permasalahan menggunung untuk melakukan tindakan penyelesaian masalah.

35 Tetapi justru berusaha melakukan tindakan preventif agar permasalahan tidak timbul. Saya berpendapat bahwa KTP kita masih harus disempurnakan.

Sayapun telah melihat beberapa KTP dari daerah lain, dan tentunya mencantumkan lambang daerah (propinsi) masing-masing. Apa yang terjadi? Mengapa hal-hal seperti ini dianggap kecil dan tidak penting? Masalah persamaan hak tidak terjamin dengan adanya pembedaan kartu identitas penduduk, dan terlebih lagi, masalah integrasi data yang tidak pernah dirintis sehingga masalah-masalah yang berkaitan dengan data kependudukan selalu saja timbul, terutama di kota padat penduduk seperti Jakarta.

Lalu bagaimana identifikasi dapat dilakukan dengan sistem Identitas Penduduk Terintegrasi dapat dilakukan? Kode digital adalah jawabannya. Dengan penerapan kode ini, data demografis penduduk dapat diakses oleh seluruh pemerintahan daerah di Indonesia dengan kode yang tepat. Perancangan sistem data base yang aman pun diperlukan. Efektifitas sistem terintegrasi ini sangat ampuh untuk mengidentifikasi masalah, mulai dari pelacakan sidik jari dengan kecepatan yang luar biasa hingga pengecekan golongan darah dan catatan kriminal yang bersangkutan.

Sebagai contoh keberhasilan penerapan sistem identitas penduduk terintegrasi adalah di Amerika Serikat. Walaupun banyak pihak yang antipati terhadap negara adidaya ini, saya berpendapat bahwa kebaikan adalah suatu nilai yang universal. Bila suatu sistem administrasi ini terbukti fungsional, efektif, dan dapat diterapkan, mengapa tidak dicoba untuk diancang untuk keperluaan negara kita.

Kita harus belajar dan mulai berani bertekad, kalau negara lain bisa, negara kita juga pasti bisa! Kesepakatan-kesepakatan dan ikatan-ikatan yang terkait dengan hutang budi atau hutang uang kita kepada negara lain harus dapat kita kendalikan hingga tidak menghentikan kita untuk melakukan perbaikan sistem.

Saya yakin bahwa banyak negara yang ingin melihat Indonesia maju. Banyak negara yang ingin para pengambil keputusan dan simpul-simpul manajemen negara kita bersih

36 dan bebas dari politik uang sehingga akselerasi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan dapat berjalan lancar.

Menurut saya, ada batasan psikologis dimana sistem yang melemahkan negara tidak dapat ditoleransi lagi sehingga akan muncul suatu usaha-usaha untuk merubah arah grafik menjadi suatu pergerakan yang positif. Saya berkeyakinan bahwa negara Indonesia akan mampu dan akan memiliki sistem yang kuat, termasuk sistem administrasi kependudukan tentunya.

7. Target Subyek Pajak yang Sangat Minim
Pajak sebagai tulang punggung pendapatan negara di luar sektor BUMN dan devisa adalah suatu instrumen yang harus mendapatkan prioritas. Hukum perpajakan yang dapat memahami kebutuhan industri dan investasi akan menjadi suatu sumber pendapatan yang dapat diandalkan untuk usaha-usaha pembangunan di seluruh wilayah negara kesatuan republik Indonesia.

Target pembangunan yang merupakan tujuan dari distribusi pajak pendapatan pun memerlukan perombakan sistem sehingga tidak muncul lagi kisah pemborosan atau salah sasaran pembangunan. Misalnya kisah kemegahan kompleks perumahan pejabat daerah yang menggunakan alokasi dana pembangunan daerah. Apa yang dipikirkan oleh pejabat daerah tersebut ya? Luar biasa…

Bagaimana dengan reformasi hukum pajak? Sebenarnya negara Indonesia adalah negara dengan ribuan potensi wisata (walaupun tidak diolah secara profesional). Mungkin justru begitu banyaknya potensi wisata kita sehingga justru tidak mendapatkan porsi promosi yang baik. Hebatnya, walaupun tidak tersentuh oleh manajemen profesional, wilayah Indonesia secara natural sudah indah adanya dan sangat menarik. Kondisi cuaca Indonesia yang stabil sepanjang tahun dan hanya memiliki 2 musim, memungkinkan kita untuk tinggal di manapun di wilayah Indonesia. Kelemahan justru terjadi di infrastruktur yang semestinya telah disentuh oleh pembangunan dari hasil pajak. Tetapi sebelum

37 menyimpang lebih jauh, saya ingin memfokuskan kondisi demografis Indonesia dan kaitannya dengan potensi investasi.

Banyak orang asing yang ingin menikmati tinggal di Indonesia dalam jangka waktu yang cukup lama. Bahkan ada beberapa yang ingin menjadi warga negara Indonesia. Saya mengetahui hal ini terkait dengan pengalaman saya di bidang jasa hukum dan konsultan developer untuk properti investasi asing. Lalu apa hambatan terkait dengan pajak yang dialami oleh potensi devisa ini?

Hambatannya adalah, tidak sensitifnya hukum pajak negara Indonesia untuk mengakomodasi peluang ini. Tingkat pembebanan pajak yang tinggi di beberapa negara akibat kemajuan ekonomi yang pesat di negara bersangkutan telah menjadi sesuatu yang unfavorable bagi banyak warga asing. Mereka ingin tinggal di negara yang nyaman dan menikmati hasil kerja (uang) mereka. Tentunya, dengan kebijakan pajak yang dapat melihat peluang ini, kita dapat mengundang banyak investor baik itu dalam bentuk penanaman investasi usaha atau uang pribadi yang dibawa oleh orang-orang asing yang ingin tinggal di Indonesia dan menikmati hidup dengan nyaman (sebagaimana diterapkan oleh Singapore dan Malaysia).

Penetapan insentif pajak bagi orang asing yang ingin menetap di Indonesia baik sementara ataupun dalam jangka panjang akan menjadi instrumen yang menarik untuk dikembangkan. Pendapatan devisa akan meningkat bila kebijakan untuk mengakomodasi potensi asing ini didukung oleh reformasi pajak, dan diikuti oleh reformasi sistem imigrasi dan sistem kepemilikan properti (baik hak guna pakai atau hak milik) oleh investor.

Indonesia adalah negara yang menerapkan sistem pajak world wide income yang juga diadaptasi oleh Amerika Serikat. Luar biasa. Mengapa luar biasa? Amerika Serikat adalah negara adidaya dan merupakan magnet para imigran profesional yang tertarik dengan kemegahan fasilitas di negara tersebut. Sistem world wide income adalah cara

38 penghitungan pajak yang memperhitungkan penghasilan warga negara asing yang tinggal atau bekerja di Indonesia dalam suatu kurun waktu tertentu.

Terkait dengan ribuan daerah wisata di Indonesia yang menjadi magnet para turis asing bahkan warga negara asing yang ingin menetap dan ”membawa koper uangnya” ke Indonesia, penerapan sistem world wide income ini justru menjadi anti magnet. Saya berkesempatan berdiskusi dengan seorang konsultan pajak yang berusaha

memperjuangkan dan menjelaskan duduk persoalan dan imbas kebijakan pajak yang unfavorable ini kepada para anggota dewan terkait, dari raut ekspresi wajahnya saya sudah tidak tega untuk menanyakan detail perjuangannya yang tidak membuahkan hasil positif.

Selain masalah sistem world wide income diatas, dalam hal pendapatan negara melalui sektor pajak tentunya tidak ketinggalan masalah perluasan subyek pajak. Selain masalah kebocoran yang bukan wewenang, hak, dan kewajiban saya untuk merabanya, hal perluasan subyek pajak adalah faktor penting yang harus dilaksanakan. Mengapa? Karena konsentrasi subyek pajak yang berdasarkan pendekatan perusahaan, industri, perbankan, dan pekerja (karyawan) belum menyentuh banyak potensi subyek pajak.

Hal tersebut diatas akan sangat terbantu oleh penerapan sistem identitas warga yang terintegrasi. Peningkatan pendapatan pajak melalui kenaikan tarif bukanlah suatu strategi terbaik, walaupun itu merupakan strategi yang lebih mudah dibandingkan dengan perluasan cakupan subyek pajak. Mengapa hal ini menjadi penting? Usaha meningkatkan pendapatan pajak dapat dilakukan dengan 3 hal.

Pertama adalah dengan meningkatkan tarif pajak yang besarannya tergantung dari pertimbangan institusi terkait. Bila pemerintah melakukan strategi peningkatan pendapatan pajak dengan jalan ini, akibat terhadap industri dan usaha adalah negatif, karena akan timbul biaya tambahan yang tidak memiliki nilai ekonomis bagi sektor usaha. Tidak memiliki nilai ekonomis karena jumlah kenaikan hampir dapat dipastikan

39 tidak akan diimbangi dengan perbaikan fasilitas publik yang terkait langsung dengan usaha tersebut, sehingga terjadi defisiensi pengeluaran.

Saya teringat berita di akhir tahun lalu tentang rusaknya jalan yang merupakan akses satu-satunya menuju daerah industri di daerah Jakarta Utara. Setelah melakukan permohonan perbaikan yang tidak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya perusahaanperusahaan yang memiliki kepentingan atas jalan tersebut secara kolektif mengumpulkan dana perbaikan dan melaksanakan perbaikan atas fasilitas umum yang merupakan tanggung jawab pemerintah.

Apa yang terjadi adalah suatu gambaran bahwa pajak yang dipungut tidak didistribusikan untuk kegiatan perbaikan yang bersifat darurat (urgent). Lambannya reaksi manajemen negara terhadap upaya recovery infrastruktur atas permintaan si wajib pajak ternyata seperti seseorang yang berteriak ke arah lembah dan gaung terdengar kemana-mana tanpa mendatangkan jawaban apalagi upaya perbaikan.

Kedua adalah dengan cara menutup pos-pos kebocoran, baik dari sisi institusi pemungut pajak, maupun dari sisi subyek pajak yang melakukan manuver-manuver pengurangan pajak secara ilegal. Bila cara ini ditempuh oleh pemerintah, akibat terhadap dunia usaha adalah positif. Tidak ada biaya tambahan yang timbul tetapi penghasilan pajak pemerintah menjadi utuh (bukan bertambah) akibat perbaikan sistem pengendalian pajak, dan memang strategi ini harus dijalankan demi kemajuan negara Indonesia.

Kebocoran pos-pos perpajakan adalah suatu gambaran lemahnya rancangan manajemen negara yang terkait dengan sistem pemungutan pajak. Tetapi saya percaya bahwa upaya perbaikan terus diupayakan oleh para pengambil keputusan manajemen negara.

Ketiga adalah dengan cara perluasan subyek pajak. Strategi ini adalah strategi lanjutan yang dapat diterapkan setelah strategi kedua, yaitu penutupan pos-pos kebocoran telah dilakukan dengan baik. Kembali kepada quote saya diatas, “jangan bermimpi untuk membangun bila tidak bisa menjaga”. Apa yang dijaga? Uang rakyat yang disalurkan

40 untuk kemajuan negara melalui institusi pajak, melalui mekanisme dan kendali yang dilakukan oleh institusi dan aparat pajak.

Perluasan subyek pajak terkait erat dengan sistem pendataan penduduk terintegrasi. Dengan memanfaatkan sistem integrasi data penduduk dengan sistem pajak, manajemen negara akan mampu mendeteksi potensi subyek pajak dengan target yang spesifik. Bila hal ini dapat dilakukan, maka kesamaan kewajiban telah melangkah maju dan tentunya kewajiban manajemen negara yang berada dalam fungsi pemerintahan untuk menjamin kesamaan hak pembangunan terkait dengan kesetaraan kewajiban atas pajak.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah subsidi silang pajak yang memungkinkan percepatan pemerataan pembangunan daerah. Subsidi silang yang saya maksud disini bukan sistem subsidi silang biasa, melainkan menerapkan sistem penetapan pungutan pajak yang disesuaikan dengan bidang industri dan daerah. Misalnya: penetapan pajak tinggi di Jakarta, tetapi memberikan dispensasi pajak untuk industri sejenis di daerah. Penetapan rate ini dapat disesuaikan setiap akhir tahun pajak dengan jaminan pemberlakuan rate pajak yang tetap untuk jangka waktu tertentu, misalkan 5 tahun pajak bila pelaku usaha melakukan registrasi industri untuk daerah tertentu pada tahun pajak tersebut.

Dengan cara penetapan pungutan pajak berbeda, kita dapat “menggiring” investasi domestik maupun internasional ke target daerah yang ingin dikembangkan oleh negara.

Hanya bila amanah (kepercayaan) dapat dipegang oleh institusi terkait maka strategi ketiga patut dilaksanakan. Selanjutnya, hanya bila strategi kedua dan ketiga telah dilaksanakan, maka strategi pertama layak untuk dilakukan dengan alasan krisis yang hanya dapat diatasi dengan pendapatan pajak atau peningkatan dari status negara miskin menjadi menjadi status negara kaya bila rakyat telah mampu membayar pajak (makmur) keseluruhan.

8. Gaji dan Insentif Wakil Rakyat yang Tinggi

41

Dari mulai menjadi bahan pembicaraan hingga menjadi basi, topik gaji, insentif, dan fasilitas wakil rakyat yang begitu fantastis (terutama di pusat pemerintahan) tetap saja tinggi walau diterpa badai kritik pedas dan aksi demo dari berbagai lapisan masyarakat.

Seandainya kekuatan manajemen negara tercinta ini sekokoh kekuatan standar paket gaji dan insentif wakil rakyat untuk terus bertahan tentunya negara ini sudah keluar dari krisis ekonomi tidak lama setelah masa reformasi digulirkan.

Sekali lagi saya utarakan, bahwa hal tersebut terjadi karena rancangan sistem manajemen negara yang tidak kondusif. Siapapun yang duduk di kursi perwakilan akan menerima fasilitas dan penghasilan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Idealisme dari seorang individu wakil rakyat dihadapkan pada rancangan sistem yang tidak memungkinkan tegaknya idealisme. Saya sangat setuju dengan pernyataan seorang sahabat dari salah satu mantan anggota dewan perwakilan rakyat yang mundur akibat sudah tidak dapat menerima dengan akal sehat dan hati yang bersih atas kehancuran sistem dalam institusi tersebut. Beliau telah meninggal akibat kecelakaan dan sempat ramai diberitakan oleh media masa. Pernyataan seorang sahabat beliau melalui telewicara di salah satu stasiun televisi swasta mengatakan bahwa, “kesalahan beliau adalah menjadi orang jujur di tempat yang salah”.

Saya memaknai pendapat tersebut sebagai opini masyarakat atas kerusakan sistem di sebuah institusi terhormat.

Saya tidak ingin membahas siapa yang bertanggung jawab atas pemborosan akibat kenaikan penghasilan yang luar biasa bagi para wakil rakyat. Yang ingin saya pertanyakan adalah apa dasar penetapan gaji, insentif, dan fasilitas dengan nilai yang begitu fantastis. Belum pula ditambah dengan perangkat seperti laptop yang over spec bagi seorang wakil rakyat yang tidak bergerak di bidang animasi video atau design, atau apapun yang memerlukan laptop high end.

42

Saya pernah mendapatkan email mengenai komentar beberapa pejabat daerah atas keberadaan “email” yang membuat saya geli, dan itu menggambarkan betapa buruknya kualitas seorang pemimpin daerah, saya memberikan penekanan pada kata “pemimpin”. Salah satu komentar yang tidak bisa lepas dari kepala saya adalah: “saya dulu memang punya email, tetapi sudah saya jual karena rasanya kurang nasionalis”. Saya yakin ada diantara pembaca yang pernah mendapatkan email mengenai dialog ini.

Walaupun selingan diatas bukanlah sosok yang menggambarkan kualitas anggota dewan, tetapi bila saya diberi mandat untuk mewawancarai para anggota dewan yang mengajukan pembelian laptop dengan spesifikasi high end, mungkin pembaca akan tertawa seharian mendengar hasil wawancara saya.Bahkan untuk istilah high end pun belum tentu dapat dimengerti.

Apakah para pengambil keputusan telah sedemikian percayanya bahwa rakyat begitu bodoh sehingga tidak akan muak melihat strategy money politic dengan berbagai skema yang disahkan?

Saya percaya bahwa para tokoh pemikir dan para idealis masih ada di bumi pertiwi ini. Masih ada wakil rakyat yang mau duduk sama melarat dengan rakyat yang diwakilinya. Sayapun percaya bahwa tidak sulit mencari 1500–3000 orang idealis dan berkemampuan untuk melakukan pengawasan melalui kursi wakil rakyat, dan bersedia duduk di kursi perwakilan dengan standar gaji UMR (Upah Minimum Rata-rata) dan tanpa fasilitas, kecuali kursi, ruang rapat, ruang kantor, dan sekedar konsumsi waktu rapat. Kebahagian yang tulus terbayarkan dengan kemajuan dan kemakmuran rakyat yang diwakili. Kalau diperlukan dapat dibuat asrama yang berada di 1 kompleks dengan gedung perwakilan untuk menghemat ongkos, dan dana pembangunan dapat diperoleh dari menjual aset dan fasilitas rumah anggota dewan yang tersebar di Jakarta yang sebenarnya banyak pula tidak ditempati oleh anggota dewan yang bersangkutan, bahkan beberapa sudah beralih fungsi menjadi ”kos-kosan”.

43 Penurunan gaji dan insentif anggota dewan perwakilan ke titik terendah harus dilakukan untuk mengembalikan fungsi wakil rakyat yang berjuang untuk kepentingan rakyat dan menjalankan fungsi kontrol pemerintahan. Bila wakil rakyat ingin mendapatkan gaji lebih besar maka mereka harus memperjuangkan kenaikan UMR. Petetapan sanksi yang berat pun harus dilakukan untuk menjaga kualitas dan idealisme para wakil rakyat yang terhormat.

Uang adalah suatu alat yang sebenarnya dapat dipergunakan untuk kebaikan maupun keburukan. Akibat dari fungsi ini, uangpun dapat membawa dampak buruk maupun dampak baik. Itu semua adalah tergantung dari cara pengelolaannya. Saat ini, krisis kepercayaan terhadap institusi DPR/MPR sudah sedemikian mengkhawatirkan, salah satunya adalah masalah korupsi yang tentunya komoditasnya adalah uang. Apa yang terjadi bila uang menjadi “racun” yang mencemari kredibilitas institusi yang mulia ini? Obatnya adalah dengan cara mengurangi supply uang secara drastis. Hal ini sangat logis dan tidak mengada-ada. Contohnya, bila seorang pasien menderita sakit parah dan harus menjalani opname, maka akan diwajibkan untuk berpuasa sebelum dilakukan pemeriksaan (dalam rangka penyembuhan penyakit).

Bila fungsi uang sebagai imbalan telah melemahkan kekuatan sistem manajemen negara dalam fungsi kontrol atau pengendalian yang dalam hal ini lebih spesifik adalah fungsi anggota dewan perwakilan rakyat, maka saya ibaratkan sebagai sistem jalur pipa air yang dialiri oleh air panas. Bila pipa ini bukan pipa khusus yang dirancang dapat dialiri oleh air panas, maka pipa ini akan bocor hampir di semua simpul dan keberadaan sistem pipa ini tidak memberikan fungsi yang optimal.

Yang harus dilakukan dalam kasus perumpamaan diatas adalah menghentikan aliran air panas dan melakukan penggantian sistem pipa yang lebih kuat dan sesuai dengan fungsinya. Demikian pula dalam hal sistem manajemen negara yang khususnya adalah dewan perwakilan rakyat. Aliran uang harus dihentikan hingga ke titik minimal dan mulai lakukan restrukturisasi mulai dari sistem pengambilan keputusan hingga ke

44 penetapan sanksi pemecatan bagi anggota dewan perwakilan rakyat yang cenderung tidak mau memperbaiki diri dan memperbaiki sistem internal mereka.

Dengan melakukan penurunan gaji dan insentif, secara otomatis pun akan menjadi filter atas partai-partai yang tidak memiliki visi untuk berjuang demi rakyat. Karena esensi dari penurunan gaji dan insentif hingga titik terendah tidak mengurangi otorita seorang anggota dewan dalam melontarkan suara-suara kritis, tidak pula mengurangi fungsi anggota dewan dalam menjalankan tugasnya. Partai-partai yang saling cakar untuk menempatkan wakilnya di kursi anggota dewan mungkin akan berpikir berkali-kali untuk mengeluarkan dana yang fantastis karena institusi dewan perwakilan tidak lagi menjadi ladang mencari uang.

Lalu bagaimana keberhasilan anggota dewan dalam menjalankan tugasnya dapat memberikan reward bagi mereka? Anggota dewan sebagaimana fungsinya mewakili rakyat dan daerah adalah pemimpin dari sekelompok massa atau daerah yang memiliki potensi dan sumber daya. Bagaimana dapat menjadi anggota perwakilan bila ia tidak mengetahui apa potensi, kelemahan, dan siapa yang diwakili? Seorang anggota dewan harus membuka jalur komunikasi aktif dengan konstituennya. Tentunya diperlukan rancangan sistem yang memungkinkan lancarnya komunikasi ini dan juga

memungkinkan identifikasi konstituen dari seorang wakil rakyat.

Dengan sistem komunikasi aktif, anggota dewan adalah bagian dari potensi dan sumber daya konstituennya, dan dengan sistem reward tidak langsung, anggota dewan akan menerima reward hanya bila membawa hasil kemajuan bagi konstituennya. Dalam praktiknya akan timbul koalisi-koalisi untuk menyederhanakan pola pengambilan keputusan dan memperbesar peluang keberhasilan perjuangan. Hal ini akan menyatukan suara-suara di institusi tersebut dan menghasilkan argemen-argumen cerdas yang kondusif. Mengapa demikian? Karena satu-satunya jalur yang dihalalkan bagi anggota dewan untuk mendapatkan reward atau hasil dari keberadaannya sebagai anggota dewan adalah melalui suksesnya perjuangan untuk membawa kemajuan konstituennya (daerah yang diperjuangkan).

45

Saya pribadi berpendapat bahwa kursi wakil rakyat memang bukanlah posisi untuk mencari uang, sehingga siapapun yang duduk di kursi perwakilan memang telah mampu menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya tanpa mengandalkan uang rapat, gaji, dan insentif terkait dengan tugas dan fungsinya sebagai anggota dewan perwakilan rakyat.

Kondisi terburuk dalam suatu sistem adalah disaat fungsi pengendalian kehilangan fungsinya. Bayangkan apa yang terjadi bila kita mengendarai mobil atau motor tanpa rem. Segala sesuatu yang fatal dapat terjadi. Kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat dapat terjadi. Pemborosan anggaran dan salah sasaran adalah hal yang biasa dan tidak lagi mengundang pertanyaan karena siapapun yang bertanya dan publikasi kritik seolah berjalan sendiri tanpa ada kekuatan sosial untuk melakukan koreksi.

Bukti bahwa telah hilangnya fungsi pengendalian dalam tatanan sistem manajemen negara kita adalah dengan ketidak-pekaan institusi negara terhadap kritik dan kegeraman masyarakat yang termasukpula para konstituen para anggota dewan perwakilan rakyat.

Duduk di kursi dewan adalah amanah yang tidak dapat dibeli dengan uang dan gaji, tetapi perjuangan yang tulus dan iklas tanpa iming-iming gaji tinggi dan berbagai fasilitas. Bila posisi terhormat ini dapat diusik dengan kucuran uang, maka habislah tatanan manajemen negara ini, karena fungsi kontrol atau pengendalian yang diluar pemerintahan telah kehilangan fungsinya.

9.

Lemahnya Sistem Penerimaan Pegawai Negeri Sipil

Sungguh berharga pengalaman saya mengikuti proses seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CNPS), suatu status abdi negara yang dulu pernah menjadi suatu prestise di masa-masa awal kemerdekaan.

46 Saya terkesima dengan begitu besarnya jumlah pelamar dengan perbandingan kasar 1:100 (1 posisi 100 pelamar), dan saya mendengar dari beberapa teman bahwa di beberapa departemen rasionya lebih fantastis lagi.

Yang saya alami adalah pengalaman berada di dalam lingkaran pemborosan akibat tidak profesionalnya proses seleksi calon pegawai negeri sipil yang merupakan salah satu bagian penting dari manajemen negara yang baik. Seperti telah saya sampaikan diatas bahwa sistem manajemen yang baik menurut saya haruslah dilaksanakan dengan benar sejak awal.

Bagaimana mungkin pemerintah membenarkan tindakan untuk melakukan tes tertulis dengan rasio 1:100, bayangkan pemborosan yang terjadi akibat pelaksanaan tes tersebut. Akumulasi pengeluaran dari 99% pelamar yang tidak mendapatkan posisi, biaya siluman yang muncul dalam proses penerimaan (sekali lagi, yang bukan wewenang, hak, kewajiban, dan tanggung jawab saya untuk meraba).

Mungkin saya salah, tetapi menurut saya, tes tertulis dengan rasio 1:100 tidak mungkin dilakukan oleh manajemen swasta karena dari sudut pandang efisiensi dan efektifitas sangat jauh dari sasaran. Kecuali bila memang hal ini dimaksudkan untuk show of force atas kesetaraan kesempatan dan proses yang transparan.

Hal yang tidak membuat saya kalah kagum adalah materi soal ujian. Salah satu soal pilihan ganda yang masih terhujam di benak (akibat kekaguman saya) adalah “sebutkan nama planet terluar di tata surya kita”. Luar biasa, padahal saat itu saya melamar untuk posisi akuntan.

Kejadian tersebut diatas belum menutup kisah kekaguman saya. Kebetulan, saya berkenalan dengan seorang peserta tes tertulis yang pada saat tes duduk berjauhan dari saya dan lokasinya cukup ”strategis” karena jauh dari posisi pengawas. Seusai tes, dengan bahagia dia menyampaikan kepada saya bahwa soal tes telah dia kerjakan seluruhnya dengan sempurna karena ternyata soal tes sama persis dengan soal tahun lalu,

47 dan dia mendapatkan seluruh jawaban dari teman di sebelahnya yang kebetulan bawa soal dan jawaban tahun lalu. Luar biasa. Padahal, soal tersebut datang dalam amplop tertutup dibawah pengawalan polisi, lengkap dengan seremoni pembukaan amplop coklat bersegel diangkat setinggi-tingginya agar seluruh peserta tes dapat melihat hebatnya kerahasiaan soal tersebut.

Pikiran saya menerawang, apakah kualitas dari PNS yang dijaring dengan sistem yang luar biasa ini benar-benar unggulan? Mungkin iya. Tetapi mungkin pertanyaan yang lebih berkualitas adalah: apa korelasi praktis antara CPNS dengan planet Pluto?

Beberapa pengalaman saya diantara banyak pengalaman lain yang “mengagumkan” mungkin dapat memberikan sedikit gambaran mengenai kualitas yang terkait dengan pentingnya planet Pluto dalam penjaringan CPNS di negeri ini.

Pertama, pengalaman saya terkait dengan cita-cita saya untuk mengadakan pembangkit listrik skala kecil untuk lingkup desa, karena banyak daerah yang belum tersentuh oleh jaringan listrik walaupun negara Indonesia telah merdeka lebih dari setengah abad.

Dengan penuh semangat saya mencari informasi melalui internet dan mendapatkan apa yang saya inginkan. Sebuah rancangan turbin kecil yang mampu menghasilkan listrik untuk keperluan sederhana sebuah desa. Rancangan ini dilengkapi dengan gambar dan kontak personal bila tertarik untuk membeli mesin tersebut. Berhubung informasi ini saya dapat dari website resmi salah satu lembaga (atau lebih tepat satu-satunya lembaga) penelitian di Indonesia, maka saya hubungi nomor yang tercantum.

Setelah berkali-kali menghubungi dan akhirnya tersambung, di seberang saya disambut oleh suara seorang laki-laki yang saya curigai adalah petugas kebersihan, karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang saya bicarakan. Ditambah pula saya harus 3 kali menunggu lebih dari 5 menit saat dia mencari orang yang dapat merespon keinginan saya. Setelah penantian yang cukup aneh tersebut (bagi saya), dia kembali ke saluran telepon dan mengatakan “besok telpon lagi aja ya pak”. Luar biasa…

48

Hal tersebut terjadi pada saat jam kantor di hari kerja yang normal. Mungkin karena saat itu sedang hujan deras jadi ada sedikit gangguan teknis pada sumber daya manusia di instansi tersebut?!

Kedua, pengalaman yang sebenarnya dialami oleh istri saya. Kembali berawal dari situs resmi sebuah instansi yang melindungi hak asasi manusia di Indonesia. Setelah mendapatkan informasi terkait mengenai prosedur pengajuan aplikasi warga negara, dia memutuskan untuk menghubungi nomor yang tertera di situs resmi tersebut (lebih dari satu nomor).

Setelah perjuangan yang cukup alot untuk tersambung ke salah satu nomor diatas, direspon oleh seorang yang mengatakan bahwa ternyata nomor itu adalah nomor telepon toko besi. Istri saya berusaha meyakinkan lagi apakah nomor yang ditekan sudah benar dengan menyebutkan nomor yang tertera pada website kepada orang yang menjawab sambungan telepon tersebut, dan nomor tersebut memang benar. Itu adalah toko besi. Ada 2 kemungkinan atas kejadian diatas. Pertama, mungkin institusi tersebut telah salah memasukkan nomor telepon ke website yang dapat diakses dari seluruh dunia tersebut, atau, mungkin instansi tersebut memang melakukan perluasan pelayanan dengan menjual besi sebagai itikad mulia untuk dapat menjadi instansi yang mandiri?

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh istri saya tentunya menelepon nomor yang lain yang juga tercantum di situs tersebut, dan tersambung! Hebat sekali. Dijawab dengan suara ramah suara seorang ibu yang menyambut pertanyaan mengenai biaya dan jangka waktu prosedur resmi pengurusan kewarga-negaraan. Jawabannya adalah: “orangnya tidak di tempat bu…”, lalu dengan sikap persistance, istri saya terus berusaha mendapatkan jawaban yang diinginkan, lalu orang tersebut minta waktu beberapa saat dan terdengar suara dia berbicara dengan orang lain di dekatnya, lalu kembali berbicara di telepon, “wah, gak bisa tuh bu…orangnya gak di tempat…apa gak main aja ke sini bu biar lebih enak?” (benar-benar inilah jawaban yang diterima).

49 Dengan nada keras istri saya meminta keseriusan orang tersebut dan akhirnya orang yang pada awalnya terdengar berbicara dengan si penerima telpon pertama pun mengambil alih pembicaraan, diawali dengan, “ibu…gak main aja ke sini bu? (benar-benar orang inipun menggunakan istilah “gak main aja ke sini bu”). Setelah argumen yang cukup panjang, akhirnya orang tersebut memberikan jawaban yang diharapkan oleh istri saya yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 menit untuk dijawab.

Memang saya pernah mendengar istilah “kalau bisa diperlambat kenapa harus dipercepat” tetapi saya tidak menyangka bahwa motto tersebut memang sudah benarbenar mendarah-daging dalam benak individu-individu yang menjadi sendi manajemen negara di negeri ini.

Keengganan departemen untuk melakukan reformasi internal baik diakibatkan oleh kebijakan yang memang tidak memungkinkan adanya perbaikan ataupun akibat keengganan yang dipicu oleh kekhawatiran timbulnya gejolak seperti demonstrasi atau pengaduan ke komnas HAM, dan sebagainya kelak akan menjadi bumerang bagi eksistensi departemen terkait.

Pada kenyataannya memang telah terjadi kemerosotan profesionalisme dan kemerosotan mental yang hebat dan mengakibatkan perlambatan operasional pelayanan hampir di semua sendi manajemen negara.

Saya telah melihat, bagaimana kondisi kerja di departemen yang dipenuhi tumpukan dokumen di hampir semua meja dalam satu ruang dan orang-orang tidak ada yang berada di mejanya tetapi melakukan ritual merokok dan ngobrol di salah satu pojokan. Tumpukan dokumen saja sudah merupakan indikasi produktifitas yang terhambat dan sudah merupakan lampu kuning bila hal tersebut terjadi di manajemen perusahaan swasta, ditambah pula dengan ritual “arisan, ngobrol dan merokok”.

Kembali kepada planet Pluto, saya berpendapat bahwa manajemen instansi pemerintah yang terefleksikan pada kinerja departemen telah rusak dan perlu perbaikan yang cepat.

50 Disinilah diperlukan pemimpin yang memiliki sense of crisis atas kondisi ini. Sebagaimana telah saya sampaikan bahwa manajemen yang baik harus dilakukan dengan benar sejak awal.

Dalam hal ini, awal dari perbaikan manajemen departemen adalah dengan proses seleksi yang profesional dan serius. Apa gunanya soal seleksi CPNS dikawal oleh polisi bila soalnya sama dengan soal tahun lalu? Atau soalnya tidak memiliki korelasi dengan kompetensi yang ingin dimiliki oleh departemen terkait? Apa pula yang mendasari sistem ujian tertulis dengan rasio yang tidak masuk akal dan cenderung merupakan pemborosan?

10. Pusat

Pemerintahan dan Pusat Bisnis di Satu Kota

Siapa diantara pembaca yang belum pernah dipusingkan oleh arus lalu lintas yang macet total akibat demo? Bagi yang belum pernah dan ingin merasakan, saya sarankan untuk sering-sering lewat jalan Gatot Subroto, depan gedung MPR/DPR, atau lewat di jalan MH. Thamrin, Bundaran HI, atau lewat di dekat istana Negara, jalan Merdeka Barat.

Apa yang terjadi bila pusat pemerintahan dan pusat bisnis berada di satu kota? Ada saatnya kekacauan dan tentunya pemborosan akibat kemacetan tidak teratasi. Protes yang ditujukan kepada pemerintah dan dilakukan dengan aksi demonstrasi akan melumpuhkan moda transportasi dan tentunya mempengaruhi kinerja bisnis dan ekonomi. Jakarta adalah contoh kesalahan manajemen pemerintahan dalam hal pengaturan pusat bisnis dan pusat pemerintahan.

Sentralisasi kedua fungsi tersebut selain akan saling mempengaruhi dengan sangat intense, juga mengakibatkan semakin parahnya konsentrasi perputaran uang dan ekonomi yang terpusat pada ibukota.

High cost economy dari sektor transportasi tidak dapat dihindarkan akibat kemacetan yang terjadi setiap hari kerja, ditambah dengan buruknya infrastruktur dan pembangunan

51 yang tidak seimbang tanpa mempertimbangkan keseimbangan sehingga masalah banjir yang menjadi momok di ibukota seolah tidak menjadi prioritas dan dibiarkan berlalu seiring dengan berakhirnya musim hujan. Perlambatan demi perlambatan yang terakumulasi bertahun-tahun mengakibatkan kita mengalami ketertinggalan dibandingkan sebagian besar perekonomian tetangga kita.

Hal yang dapat dilakukan adalah pemekaran wilayah, tetapi sepengetahuan saya, hal ini pun akan menuai protes dari wilayah sekitar Jakarta. Salah satu langkah berani yang dapat dilakukan pemerintah adalah memberikan kemudahan bagi investor lokal atau asing untuk membuka usaha di daerah. Tentunya target list daerah perlu dirundingkan dengan matang, dan jangan lupa bahwa sebelum daerah tersebut dimasukkan dalam target list investasi, fungsi kontrol di daerah tersebut harus direstrukturisasi sehingga mampu mengakomodir kepentingan investasi dan melakukan distribusi hasil investasi dengan baik.

Kemudahan ini tidak cukup hanya dengan tax holiday (bebas pajak untuk masa tertentu) yang standar telah dilakukan dimanapun. Tetapi harus dilakukan dengan tindakan yang lebih agresif, misalkan dengan penyediaan lahan secara gratis. Gratis? Ya, seperti hal yang diceritakan oleh teman saya yang berkunjung ke Cina dengan investor asal Indonesia. Proses 1 hari untuk ijin, tanah gratis untuk hak pakai (bukan untuk dimiliki), dan mengharuskan pemberdayaan penduduk setempat sebagai pekerja. Berapa lama proses perijinan investasi asing di Indonesia? Maaf, saya malu untuk menjawab pertanyaan tersebut, mungkin lebih baik menghubungi instansi terkait.

Kembali ke ibukota kita tercinta, pemusatan bisnis dan pemerintahan di Indonesia telah menjadi magnet bagi banyak pendatang hingga masalah kepadatan penduduk menjadi topik serius yang tidak dapat diatasi oleh Jakarta. Pemukiman liar tidak dapat dihindari karena minimnya jumlah aparat dan ketidak tegasan manajemen kependudukan sejak awal. Tingginya tingkat kriminalitas dan potensi konflik tersebar di seluruh penjuru ibukota karena tidak terkendalinya kepadatan penduduk, yang otomatis meningkatkan tingkat stress dan sensitifitas penduduk.

52

Salah satu ide yang mungkin akan dianggap sebagai ide nyeleneh, adalah dengan pemaksaan percepatan pembangunan dengan cara melakukan relokasi pusat

pemerintahan secara berkala (misalkan per 25 tahun atau 5 kali periode pemilu). Mengapa ini mungkin dilakukan?

Hal tersebut diatas sangat mungkin dilakukan karena adanya kecanggihan sistem komunikasi yang saat ini sudah diterapkan di Indonesia, mulai dari teknologi komunikasi VSAT hingga mobile teknology, mulai dari teleconference hingga broad band dan high speed data transfer. Hingga saat ini tempat fisik bukanlah suatu kendala berarti bagi operasional pemerintahan. Berkaitan erat dengan hal ini tentunya kita tidak bisa tidak (harus) melirik kepada permasalahan penguasaan perusahaan telekomunikasi di Indonesia yang sebenarnya juga termasuk dalam kategori mempengaruhi hajat hidup orang banyak (warga negara Indonesia tentunya). Siapa ya sosok pemimpin yang mempunyai ide maha gemilang untuk menjual kepemilikan saham perusahaan telekomunikasi kepada pihak asing? Tidak lupa juga, siapa ya atau institusi apa ya yang meluluskan ide untuk menjual perusahaan telekomunikasi tersebut? Walaupun kepemilikan tidak berpindah secara keseluruhan tentunya, tetapi apakah kendali masih di tangan anak negeri ini?

Menurut pendapat saya, alternatif melakukan relokasi fisik pusat pemerintahan (ibu kota) perlu dilakukan demi percepatan pembangunan daerah. Hal ini dapat hampir dipastikan akan efektif untuk mempercepat memperbaiki ketertinggalan terkait dengan fasilitas protokol dan standar internasional yang harus diadakan untuk mengikuti domisili pemerintahan pusat demi kelancaran jalannya pusat pemerintahan.

Mengapa bukan pusat bisnis yang dipindahkan? Karena kekuatan ekonomi akan cenderung ingin untuk mendekati kekuasaan. Setidaknya itulah yang saya amati terjadi di negeri ini. Sehingga, bila yang dilakukan adalah relokasi pusat bisnis, sebenarnya tidak akan terjadi perbaikan apapun, karena spread effect pusat bisnis tidak akan sedahsyat spread effect relokasi pusat pemerintahan.

53 Lalu bagaimana mekanisme penentuan daerah tujuan relokasi pusat pemerintahan? Hal ini dapat dilakukan dengan sistem tender / lelang terbuka yang dapat diikuti oleh 5 pulau terbesar dengan harapan spread effect pembangunan yang lebih luas. Syarat lain demi keadilan adalah, pusat pemerintahan tidak boleh berada di 1 pulau yang sama untuk periode yang berikutnya. Dengan cara ini, walaupun mayoritas perputaran uang ada di Jakarta, Jakarta tidak dapat mendominasi pusat pemerintahan untuk periode selanjutnya.

Mungkinkah ide nyeleneh ini dilaksanakan? Mana yang lebih nyeleneh antara ide ini dibandingkan dengan ketertinggalan mayoritas wilayah negara Indonesia yang demikian luas dan berkonsentrasi hanya di Jakarta dan pulau Jawa pada umumnya? Ledakan pembangunan dan konsentrasi uang di pulau Jawa akan menjadi bumerang bagi negara Indonesia bila hal ini tidak segera diatasi. Bahkan mungkin, Indonesia telah masuk ke daftar negara-negara yang ter-aneh di dunia akibat begitu hebatnya konsentrasi pembangunan di satu titik (ibukota negara).

Masalah demonstrasi dan kadang kala promosi produk dari suatu merk dagang tertentu di Bundaran Hotel Indonesia, suatu ikon ibu kota yang seringkali diabadikan dan dipromosikan juga merupakan suatu fenomena yang mengherankan bagi saya. Mengapa seringkali demonstrasi terkonsentrasi di sana? Bukankah demonstrasi semestinya hanya terkonsentrasi di instansi terkait dengan konteks demonstrasi?

Mulai dari masalah korupsi, kenaikan harga BBM, masalah perburuhan, semua melakukan konsentrasi aksi demo di bundaran Hotel Indonesia. Apa yang terjadi bila hal tersebut selalu dibiarkan? Semakin tercemarnya kota Jakarta dari identitas kota bisnis. Apakah saya anti demonstrasi atau demokrasi? Semoga tidak. Mengapa saya katakan demikian? Karena saya yakin, bahwa banyak yang terusik dengan terhentinya aktifitas akibat kemacetan luar biasa akibat aksi demo, belum lagi bila berubah menjadi aksi anarkis seperti pembakaran mobil oleh kelompok orang yang merasa dirinya sebagai MAHA-siswa. Kalau memang demokrasi seperti ini yang diharapkan oleh masyarakat, dengan tegas saya mengatakan bahwa saya anti dengan demokrasi semacam itu.

54 Para demonstran telah membuktikan bahwa mereka tidak memiliki kepekaan sosial yang sebenarnya ini pula yang menjadi masalah di manajemen negara ini, yaitu para pengambil keputusan yang tidak peka dengan suara masyarakat. Lalu mengapa para demonstran melakukan aksi demo dengan tidak memperhatikan kepentingan umum yang berkepentingan untuk mencari nafkah? Kemacetan yang sudah cukup parah di ibu kota ditambah dengan aksi demo yang tidak pada tempatnya dan tidak memperhatikan kepentingan umum telah menjadikan aksi demo sebagai refleksi bahwa masyarakat secara sadar atau tidak sadar juga bertanggung jawab atas kemerosotan kualitas pemimpin yang menjadi bagian dari manajemen kekuasaan.

Memang secara teori suatu sumbatan aspirasi perlu didobrak dengan tekanan yang mungkin diekspresikan melalui bentuk demonstrasi yang tidak jarang diwarnai dengan atraksi emosional dan destruktif. Usaha provokasi terhadap pihak kepolisian yang menjadi barisan depan (pagar hidup) membendung aksi demonstrasi menjadi sasaran kekerasan yang dilakukan oleh para demonstran. Lupakah kita bahwa polisi sebagai alat negara dalam konteks menjaga ketertiban umum bukan musuh dari masyarakat. Mengutip sebuah pepatah modern yang pernah tenar, yaitu: Polisi juga manusia, punya hati dan juga bisa emosi.

Saya ingin mengajak para pembaca sekalian, dalam mengutarakan suatu pendapat, walaupun kita yakin sebenar-benarnya bahwa yang kita sampaikan itu adalah suara rakyat, janganlah bersikap berlebihan. Bagaimana caranya kita untuk tetap dapat bersikap wajar? Ingatlah bahwa polisi, mahasiswa, pemimpin, tentara atau siapapun juga, mereka adalah bagian dari masyarakat. Kita semua punya saudara, bapak, ibu, teman, sahabat yang berada di posisi-posisi tersebut. Sebelum melakukan tindakan apapun, tidak ada salahnya bila kita tempatkan posisi kita di posisi mereka. Sebagai mahasiswa, berpikirlah (berandai-andai) bila kita adalah polisi yang ditugaskan tanpa syarat dari pagi hingga petang menjadi pagar hidup, menghadapi pandangan marah para demonstran dan beresiko menjadi korban kekerasan atau bahkan terseret dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia. Pikirkanlah juga bila kita adalah anak atau kerabat dekat dari polisi yang bertugas, kerabat yang berdoa di rumah semoga tidak terjadi suatu hal yang buruk.

55 Demikian pula dengan polisi, bagaimana bila anak dari kalian yang mendapatkan perlakuan kasar berlebihan dari polisi? Tidak jarang saya melihat di televisi, liputan bagaimana seonggok demonstran yang sudah terkulai karena terkena satu kali pukulan mendapatkan tendangan dan bogem dari rekan-rekan polisi yang lain yang geram termakan emosi.

Ingat, ini adalah masalah sistem. Baik polisi, mahasiswa, partai, atau kelompok masyarakat manapun merupakan bagian dari kesalahan dan juga sekaligus korban dari kesalahan sistem manajemen negara. Jangan lupa, berdoa menurut kepercayaan masingmasing, terkadang kita lupa bahwa kita ini manusia yang terdiri dari jiwa dan raga. Kebutuhan jiwa kitapun seringkali terlupakan oleh kelelahan dan kebutuhan fisik. Kelelahan mental telah menjadikan kita lupa bahwa kita semua memiliki jiwa yang mencintai ketentraman, kedamaian, persahabatan. Jiwa kita mencintai hubungan harmonis antar sesama, melewati segala batasan dan bendera kelompok.

11. Kebijakan

Hutang Luar Negeri

Indonesia ini banyak hutangnya, belum lagi bila ditambah bunga dan perjanjian kesepakatan yang menempel pada hutang tersebut. Tapi kenapa ada institusi dan atau pengambil keputusan yang masih bersikap seperti negara kaya? Contohnya masalah gaji perwakilan rakyat yang melebihi angka standar gaji expatriate Indonesia di luar negeri untuk level manajer. Belum lagi ditambah jumlah pensiun yang harus dibayarkan.

Hal yang memperparah recovery hutang luar negeri ini adalah tingginya level konsumsi barang luar negeri kita yang sudah bukan lagi menjadi rahasia. Seolah kecintaan kita pada produk impor telah menjadi suatu kutukan bagi negeri ini. Mulai dari kendaraan bermotor, komputer, alat komunikasi hingga makanan.

Di jalan-jalan negeri ini, dominasi kendaraan bermotor dari Jepang sudah merupakan pemandangan yang lumrah, saya selalu membayangkan bahwa andaikan Indonesia adalah

56 satu-satunya pasar kendaraan bermotor dari Jepang, itupun sudah cukup membuat Jepang sebagai raksasa otomotif.

Saya ingat ada terobosan sebuah mobil hasil karya anak bangsa yang tidak bertahan lama. Mungkin karena bentuknya yang (maaf) tidak masuk akal untuk diserap pasar sehingga produk itu hanya diluncurkan untuk menjadi topik lelucon masyarakat sebelum akhirnya diputuskan untuk tidak dilanjutkan.

Angan-angan alih teknologi dari Korea atau Jepang pun hanya berawal dari janji dan akhirnya berujung pada pemakaian komponen lokal yang sebenarnya jauh dari harapan masyarakat kita untuk memiliki industri kendaraan bermotor yang solid dan berkualitas internasional. Lalu hingga kapan manajemen negara ini memiliki kepekaan dan keberanian yang cukup untuk melakukan tekanan dan kebijakan yang tidak kalah gertak dari sepak terjang janji-janji perusahaan asing? Tentunya, seperti kata pelawak senior kita yang agak sedikit saya plesetkan, ”masalahnya…kembali ke hutang!!”

Saya menyukai sebuah tema yang diangkat oleh salah seorang mantan petinggi di negeri ini yang saya duga bermaksud untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Beliau mengangkat tema untuk mencintai produk petani Indonesia, menyampaikan pesan segar untuk membeli produk petani Indonesia dan mengutarakan kenyataan bahwa produk pertanian Indonesia adalah salah satu yang terbaik di dunia.

Sebagai intermezo, tahukah para pembaca bahwa proses pembuatan tahu, kopi toraja, dan beberapa produk asli Indonesia sudah dipatenkan oleh negara lain? Belum lama berselang, saya juga berkesempatan mendapat informasi dari seorang pensiunan pejabat negara yang kebetulan satu kelompok pengajian di bulan Ramadhan tahun ini. Beliau mengungkapkan kegeramannya atas pendaftaran HAKI atas 800 desain kerajinan perak asal Bali. Tambahan lainnya, pendaftaran hak paten (temuan) di Indonesia per tahun tidak lebih dari 300 pendaftaran, sedangkan di Singapore, negara yang berpenduduk tidak lebih banyak dari jumlah penduduk Jakarta, sekitar 30.000 paten didaftarkan per tahun. Mengapa hal ini dapat terjadi? Tidak lain daripada lemahnya sistem manajemen negara.

57

Beliau (Bapak pensiunan pejabat diatas) juga menceritakan sedikit sejarah terkait dengan otoritanya menentukan arsitek dan kontraktor pembangunan suatu gedung di masa jabatannya, dimana beliau menetapkan bahwa arsitek dan kontraktor ditunjuk harus anak bangsa, lulusan universitas tanah air (saat itu di tahun 70an). Lucunya, justru beliau ditentang oleh atasannya dengan alasan bahwa kita (bangsa Indonesia belum mampu untuk membangun gedung diatas 8 tingkat). Beliau mempertahankan keputusannya dengan suatu pernyataan bahwa kitapun dulu tidak punya pengalaman merdeka tetapi toh kita bisa merdeka. Di akhir cerita, beliau menegur atasannya dengan pernyataan bahwa ”anda belum siap merdeka!”. Ya, suatu kalimat yang mungkin masih up to date untuk kita pertanyakan kembali kepada kita semua, apakah kita sudah siap merdeka? Siapakah orang yang siap merdeka? Orang yang siap merdeka adalah orang yang berani memperbaiki kesalahan, walaupun kesalahan tersebut sudah menjadi beban yang luar biasa berat, perjuangan tentunya tidak dilakukan secara individu. Saya yakin, kekuatan dan kecerdasan masyarakat yang terbelenggu saat ini sudah siap untuk melakukan perbaikan atas kesalahan – kesalahan dari orang – orang yang tidak siap merdeka.

Kembali kepada salah satu fungsi manajemen versi saya, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dengan cepat (sense of crisis), benar-benar banyak pihak yang tidak memandang hutang ini sebagai masalah serius.

Sebagai sebuah negara yang merdeka, hutang adalah kewajiban yang harus dibayar baik dengan uang maupun dengan kesepakatan. Apa yang terjadi bila negara tidak mempunyai cukup uang untuk menebus hutang tersebut? Negara melalui perwakilannya yang terhormat akan mengemis untuk minta pengahapusan, pemotongan, keringanan bunga, atau perpanjangan waktu. Bila ada istilah white colar crime (penjahat kerah putih), mungkin seharusnya ada juga istilah white colar beggar (pengemis kerah putih).

Apakah kita ingin dihormati atau dikasihani pada saat memohon kepada negara pemberi hutang? Mungkin para pemimpin negara kita tercinta ingin mendapatkan keduanya, tetapi kalau menurut pandangan saya pribadi, hormat dan kasihan memiliki deskripsi yang

58 berbeda, yang satu dapat dilakukan dengan pandangan mata lurus ke depan dan perasaan sederajad, yang lainnya dapat dilakukan dengan pandangan mata tertunduk ke lantai dan perasaan rendah diri (bila masih tau diri).

Saya berpendapat bahwa membiarkan negara Indonesia berada terus dalam keadaan berhutang adalah suatu kejahatan nasional tersirat yang luar biasa karena menjatuhkan martabat bangsa di mata dunia internasional dan mungkin dapat dikategorikan sebagai tindakan subversif karena terkait dengan pencemaran nama baik bangsa.

Dalam sepak terjang bisnis, kita mengenal istilah “tidak ada yang gratis di dunia” atau “kencing saja harus bayar” dan motto-motto sejenis yang intinya adalah jangan berharap keikhlasan walaupun judulnya hibah, bantuan, pinjaman lunak dan sebagainya.

Sence of crisis akan menggunungnya hutang negara harus ditimbulkan mulai dari lapisan masyarakat terkecil hingga puncak pimpinan negara. Mengapa? Karena ini adalah masalah nasional yang bersumber mulai dari pola konsumsi hingga kebocoran anggaran negara. Kesadaran nasional bahwa kita negara yang saat ini miskin tentunya akan mengingatkan kita pada pepatah “bagai ayam kelaparan di lumbung padi”. Kesadaran bahwa kita miskin secara nasional seharusnya akan mempengaruhi pola konsumsi dan sikap yang lebih kritis dalam mengantisipasi kebocoran anggaran.

Menjamurnya produk dan merek luar negeri seharusnya menjadi suatu pemandangan yang aneh karena secara nasional, daya beli masyarakat kita sungguh terbatas dan menyedihkan. Menjamurnya merek luar negeri dengan harga yang tinggi merupakan cermin terjadinya kesenjangan sosial yang sebenarnya gap dari kesenjangan sosial itu dapat diarahkan untuk memacu produktifitas dalam negeri dengan cara menerapkan kebijakan yang berpihak pada produk dan merek dalam negeri. Misalnya, penerapan pajak berlipat untuk setiap produk luar negeri atau bea masuk tinggi. Memang sudah agak terlambat, karena Indonesia sudah berada di era perdagangan bebas dan terikat pada perjanjian perdagangan bebas, sehingga pilihan-pilihan kita sebagai negara merdeka yang sebenarnya tidak merdeka dalam mengambil keputusan-pun semakin terbatas.

59

Nah, apakah para pemimpin, calon pemimpin, dan para pembaca sekalian masih percaya bahwa kita masih merdeka penuh? Andalah yang menilai. Sebagai contoh, apakah referendum atas propinsi Timor adalah keikhlasan para pemimpin Negara Indonesia atau merupakan suatu tekanan politik akibat belenggu hutang yang luar biasa?

Hanya sebagai selentingan buah pemikiran untuk kita semua. Lebih indah mana: menyewakan 1 pulau di Indonesia yang tidak terurus dalam jangka panjang, mungkin 25 atau 50 tahun dengan status hak pakai daratan untuk membayar hutang, atau melepaskan 1 propinsi menjadi negara merdeka untuk mendapatkan hutang tambahan dengan syarat mengikat jangka panjang?

Hong Kong adalah salah satu kisah sukses penyewaan pulau yang dilakukan negara Cina. Saat ini Hong Kong menjadi magnet pariwisata Asia dan merupakan pusat bisnis kawasan Asia. Apa yang ditakutkan oleh para pengambil keputusan negeri ini terkait dengan penyewaan pulau? Karena sesungguhnya bila kita khawatir pada integritas bangsa yang terusik, penyewaan pulau sama sekali berada di luar konteks terusiknya integritas bangsa. Integritas bangsa kita sudah hancur oleh issue korupsi yang menempatkan Indonesia di urutan negara teratas di Asia untuk urusan yang satu ini. Belum lagi masalah ketidak-stabilan politik yang tidak berujung dan masalah kebijakan investasi yang tidak jelas. Hutang negara pun sudah menjadi bagian dari pendiskreditan integritas bangsa. Jadi, sekali lagi saya menanyakan kepada para pakar dan para pembaca sekalian, apa yang ditakutkan sehingga suatu solusi strategis ini tidak dapat dilaksanakan?

Masih ada beberapa alternatif lain yang dapat ditempuh untuk mengurangi hutang luar negeri secara signifikan, tentunya dengan cara membayar. Bagaimana cara

membayarnya? Beberapa diantaranya adalah reformasi kebijakan investasi, imigrasi, pajak luar negeri, dan beberapa alternatif lain yang saya berharap (dan sesungguhnya bukan harapan yang berlebihan) untuk dapat dilaksanakan.

60 12. Anggaran

Pembangunan Daerah Tanpa Kendali Distribusi

Saya sudah banyak mengunjungi daerah-daerah di Indonesia, terutama di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Pemborosan alokasi pembangunan terlihat di sebagian besar daerah. Terutama terkait dengan fasilitas pejabat, mulai dari rumah dinas senilai milyaran (beberapa diantaranya pernah diliput di media elektronik), mobil dinas berkapasitas mesin besar, pembuatan Gapura dan pagar yang megah, dan lain sebagainnya. Dilain pihak, pembangunan yang sifatnya infrastruktur dilakukan secara asal-asalan dan tidak terencana. Umur yang pendek (kualitas buruk) dan fungsi yang tidak tepat adalah hasil langsung yang dapat terlihat.

Semua berorientasi pada pengadaan proyek dan melakukan mark-up untuk menghalalkan penghasilan bagi pelaksana proyek yang tidak lain adalah pribadi-pribadi yang mempunyai hubungan dekat atau komitmen dengan pengambil keputusan untuk melakukan bagi hasil.

Bila anggaran pembangunan daerah diserahkan secara utuh kepada daerah tanpa acuan proporsi atau diberi acuan proporsi tetapi tanpa kendali, ini sama saja dengan menyamaratakan kemampuan semua kemampuan pengambil keputusan di daerah setara dengan daerah maju di Indonesia.

Perlu diingat bahwa banyak daerah di Indonesia yang tergolong daerah tertinggal dan memiliki sumber daya tanpa pendidikan yang mencukupi. Apakah ini berarti daerah tersebut tidak dapat maju? Bila perlakuan yang pukul rata tersebut dilakukan tentunya daerah tersebut tidak akan maju. Mengapa demikian? Karena wawasan (visi) untuk melakukan pembangunan terencana yang membuat suatu daerah dapat menjadi daerah yang berkemampuan swadaya diperlukan pendidikan, pelatihan, dan diatas semuanya adalah jiwa kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan rakyat.

Pendidikan dan pelatihan tidak perlu diartikan sebagai studi banding ke berbagai daerah di Indonesia, atau ke luar negeri yang menghabiskan anggaran. Perlu ditekankan adalah jiwa kepemimpinan yang berpihak pada rakyat. Sulitnya, justru mereka yang memiliki

61 kualitas kepemimpinan yang memenuhi syarat untuk memimpin bangsa ini memilih untuk tidak terjun ke dalam sistem yang memang berantakan sehingga posisi-posisi strategis dalam manajemen negara ini tidak lepas dari komitmen untuk bagi-bagi porsi yang akhirnya menumpulkan idealisme para pemimpin.

Bila hal tersebut diatas terjadi, tidaklah lain akibat kesalahan manajemen pemerintahan yang tidak terintegrasi antara pusat dan daerah. Secara struktur organisasi memang merupakan suatu kesatuan, tetapi tidak menyentuh esensi permasalahan, yaitu pemerataan pembangunan bagi sebanyak-banyaknya kepentingan rakyat.

Perlu dipahami oleh seluruh penyelenggara manajemen negara di tingkat daerah bahwa kepemimpinan yang juga berarti kekuasaan adalah suatu tanggung jawab yang memiliki ukuran. Tanggung jawab untuk memajukan daerah yang dipimpinnya.

Tanggung jawab untuk memilih tim manajemen yang kuat dengan mekanisme yang benar dan jujur demi kepentingan yang seluas-luasnya untuk rakyat.

Satu hal lagi yang membuat saya kagum adalah kebijakan bahwa anggaran tahunan sebisa mungkin harus dihabiskan, karena bila tidak habis akan hangus. Ini adalah suatu proses yang tidak mendidik karena melepaskan anggaran ke daerah tanpa panduan pembangunan yang detail akan mengakibatkan pembangunan yang tidak tepat sasaran dan berkiblat pada pendekatan anggaran.

Mungkin saya terlalu naif bila berpendapat bahwa lebih baik kelebihan anggaran dari suatu daerah yang tidak terpakai dapat diakumulasikan ke anggaran daerah yang sama untuk tahun berikutnya sehingga dapat dilakukan kegiatan pembangunan yang lebih besar. Ini adalah prinsip sederhana dari menabung, yaitu menunda konsumsi untuk manfaat yang lebih besar di masa yang akan datang.

Peran manajemen pemerintah pusat adalah di fungsi kontrol dan pendampingan teknis perencanaan pembangunan, mulai dari usulan proyek, fisibility study, rancangan, pengawasan proses seleksi pelaksana pembangunan, hingga pelaksanaan suatu proyek..

62

13. Subsidi

yang Salah Sasaran

Alasan saya memasukkan topik subsidi dalam bahasan ini karena subsidi adalah salah satu jalan pintas yang sifatnya survival based (dilakukan untuk bertahan). Ibaratnya seorang anak yang belum berpenghasilan diberikan subsidi berupa uang jajan. Tetapi masuk akalkah bila uang jajan tersebut diberikan kepada anak yang sudah beranjak dewasa dan mampu mencari penghasilan sendiri? Atau sampai dewasa terus-menerus disubsidi hingga tidak merasa perlu untuk mencari penghasilan sendiri.

Saya berpendapat bahwa kebijakan subsidi yang diawali pada jaman sulitnya perekonomian Indonesia di era awal kemerdekaan ini semestinya sudah ditinggalkan sejak lama. Alasan pertama bahwa keterbatasan kemampuan manajemen negara untuk menanggung beban konsumsi rakyat. Alasan kedua adalah tidak menyelesaikan masalah jangka panjang karena adanya subsidi justru membiaskan masalah sesungguhnya, yaitu rendahnya daya beli masyarakat. Alasan ketiga, salah sasaran, subsidi yang berbasis pada obyek (komoditi atau barang) semestinya diubah menjadi subsidi yang berbasis pada subyek (individu yang membutuhkan). Dengan demikian, keadilan lebih dapat dilaksanakan, yaitu, subsidi hanya untuk rakyat yang tidak berdaya beli, bukan untuk rakyat yang memiliki daya beli.

Cara yang dapat dilakukan tentunya bukan dengan cara pendataan konvensional, walaupun apa boleh buat baru cara inilah yang dapat dilakukan. Tetapi, dikemudian hari cara yang menurut saya tepat adalah dengan Sistem Identitas Warga Negara yang Terintegrasi (Sistem Identitas Terintegrasi Indonesia) – ini hanya contoh nama yang saya buat supaya enak disingkat, “SITI” (mohon maaf bila ada kesamaan nama dengan individu-individu yang bernama Siti).

Dengan memiliki SITI, setiap warga bisa diidentifikasi kemampuan ekonominya dari input manual yang di-up date setiap perpanjangan SITI. Perpanjangan SITI pun tidak perlu dengan penggantian kartu setiap tahun, tapi cukup dengan sistem elektronik

63 sehingga bila habis masa waktunya, akan dikirim surat peringatan untuk segera memperpanjang SITI sebelum batas akhir konsekuensi SITI tidak dapat digunakan untuk mendapatkan fasilitas sebagai warga negara.

Dalam suatu kesempatan khotbah tarawih, saya mendengar penceramah menyampaikan suatu kalimat yang saya yakin sudah diketahui oleh kebanyakan orang tetapi jarang direnungkan lebih dalam. Yaitu: ”Suatu hasil yang baik dapat diraih dengan adanya suatu proses yang sejak awal dimulai dengan baik”. Lanjutannya adalah, ”Proses yang sudah dimulai dengan baik pun belum tentu dapat membuahkan hasil yang baik, apalagi proses yang dimulai dengan asal-asalan”.

Korelasi antara kutipan mengenai suatu proses dan hasil yang saya sampaikan diatas dengan bahasan kita adalah proses yang dimulai dari sistem alur informasi dan hasil dari tindakan yang dilakukan oleh pemerintah.

Bila kita melihat secara harafiah, bantuan langsung tunai (BLT) adalah suatu eksekusi pertolongan pertama dari pemerintah yang mungkin memang terbaik dilaksanakan. Tetapi pernahkan terpikirkan mengapa opsi-opsi untuk melakukan pemberian bantuan itu begitu sempit, dan bahkan pilihan yang dianggap terbaik oleh pemerintahpun tidaklah luput dari kekacauan administrasi yang tidak saja menimbulkan kasus di kalangan oknum pelaksana pemberian bantuan, tetapi juga menimbulkan korban jiwa akibat tidak terorganisirnya sistem pemberian bantuan.

Masih erat terkait dengan bahasan mengenai SITI (Sistem Identitas Terintegrasi Indonesia), perbaikan harus dilakukan dari hulu menuju hilir. Sistem alur informasi ke para pengambil keputusan dalam manajemen pemerintahan dan pengawas manajemen pemerintahan harus diperbaiki dengan segera sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih parah.

64

14. Lemahnya

Budaya Maintenance

Apa yang terjadi bila mesin yang kita beli dalam kondisi baru tetapi tidak pernah dirawat kondisinya. Hanya dipakai sampai rusak, atau dirawat dengan spare part imitasi atau rekondisi. Hancurlah mesin tersebut sebelum habis estimasi masa pakai.

Minimnya budaya maintenance jelas terlihat di beberapa gedung instansi pemerintah yang buruk tampilan luarnya, dan jorok di bagian dalamnya. Tidak semua memang, tapi banyak. Tidak percaya? Saya ajak saudara sekalian untuk berjalan-jalan melintas jalan Gatot Subroto, HR. Rasuna Said dan Sudirman, bila ada gedung yang tidak terawat mungkin seperti cat mengelupas, kaca buram, atau retak-retak, gedung-gedung milik siapakah itu?

Bagaimana potret bandara internasional kita sebagai salah satu cermin koridor negeri ini di mata internasional. Seperti kata pepatah, pandangan pertama tak terlupakan. Bagaimana dengan hirupan napas pertama di area parkir bandara yang semerbak dengan bau pesing?

Bila manajemen bandara merasa keberatan untuk membersihkan area parkir secara rutin apakah tidak berlebihan bila dibuatkan toilet umum di area parkir? Hal ini mungkin tidak penting bagi para pengambil keputusan manajemen, tetapi 100 atau mungkin 1000 masalah tidak penting yang terakumulasi telah menodai gambaran keindahan negara Indonesia.

Saya pernah mengalami beberapa kali dengan sangat terpaksa harus menggunakan toilet bandara di daerah, yang sebenarnya juga merupakan koridor-koridor masuknya pelancong atau para expatriate ke Indonesia. Luar biasa memalukannya. Toilet yang tidak ada kuncinya sehingga menyulitkan kita untuk buang air besar karena harus menahan pintu dengan tangan, tidak ada air, tidak ada keran air, tidak ada sabun, dan sebagainya.

65 Semasa saya sering berpergian ke daerah, saya selalu mengantongi rokok, bukan untuk merokok, tetapi untuk mencuci tangan saya bila keadaan mendesak. Setidaknya saya telah menemukan fungsi rokok yang tidak merusak kesehatan ya? Hehe..

Belum lama waktu berselang saat saya mulai menulis buku ini, seorang figur politik meninggal dan konon akibat motor besar yang dikendarainya terperosok di lubang jalanan. Sungguh melelahkan menunggu perbaikan infrastruktur dilakukan di negara ini, di ibukota pun sudah parah apalagi di daerah yang jauh dari ibukota ya?

Saya pernah mendapatkan kesempatan berbincang-bincang dengan seorang turis asal New Zealand sewaktu saya di Amerika. Luar biasa apa yang saya dengar. Jalanan yang sebegitu mulusnya bagi saya saat di Amerika dikomentari dengan kekecewaan dari si turis. Dia berkata bahwa kualitas kondisi jalan di negaranya masih jauh lebih baik. Apakah ini akan menjadi angan-angan atau akan menjadi cita-cita yang dapat diwujudkan, andalah yang dapat menjawabnya.

Bila anda berksempatan naik Bus way, cobalah perhatikan kondisi prasarana penunjang dan jalur bus way. Beberapa hal yang telah saya lihat dan rasakan adalah: pintu otomatis halte bus way rusak, sehingga membahayakan penumpang yang menunggu datangnya bus way di depan pintu terbuka. AC dan Televisi di halte yang dulu sempat ada sudah menghilang entah kemana. Plat bordes jalur penyeberangan banyak yang terangkat. Jalan lintas bus way rusak hingga kalau saja bus itu bisa menangis tentunya bus transjakarta tersebut sudah kehabisan air mata. Getaran yang luar biasa tersebut tentunya juga memperpendek usia bus itu sendiri. Jalur pemisah berupa blok beton yang terlepas dan dibiarkan menjuntai ke jalur mobil pribadi. Hampir saja saya pernah menabrak blok beton yang terlepas di malam hari karena tidak terlihat, harap maklum, ada blok beton yang dicat kuning tapi ada juga yang dibiarkan polos.

66 15. Menyerahnya

Investor Asing

Salah satu indikasi berhasilnya sistem manajemen negara adalah dengan harumnya aroma investasi asing di negara tersebut. Investasi asing dapat masuk bukan dengan paksaan, tetapi dengan bujukan dan komitmen. Bujukan dan komitmen yang bagaimanakah yang menggiurkan bagi pihak asing untuk menanamkan modal dan secara otomatis menciptakan lapangan kerja?

Bujukan berupa kemudahan proses melakukan investasi, rendahnya biaya tenaga kerja (buruh), rendahnya pajak investasi dan kompensasi waktu, efektifitas investasi dengan produktifitas yang tinggi, dan sebagainya.

Sedangkan untuk komitmen, tentunya adalah suatu konsistensi untuk menjaga bujukan yang awalnya diberikan menjadi janji yang dipenuhi, bukan iming-iming yang membuahkan penyesalan bagi investor.

Bagaimana dengan manajemen serikat pekerja di Indonesia? Apakah telah dikelola secara profesional, dan secara obyektif dapat mempertahankan keseimbangan antara kepentingan investor dan kepentingan buruh?

Konsistensi Serikat Buruh dalam menempuh jalur hukum bukan jalur kekerasan seperti tindakan anarkis dan pemaksaan kepada anggotanya untuk melakukan demonstrasi, tidak jarang kita lihat aksi kekerasan dan intimidasi dilakukan oleh sekelompok orang kepada kelompok lainnya yang tidak mau melakukan mogok kerja. Sungguh menyedihkan, karena perserikatan dan persekutuan yang sebenarnya merupakan benteng perjuangan buruh tidak dikelola secara profesional melainkan dikuasakan kepada para preman berseragam.

Kenapa saya katakan pemaksaan demonstrasi? Karena saya pernah merasakan bekerja di lingkungan pabrik dan mengalami beberapa kali peristiwa demonstrasi yang sebenarnya tidak dikehendaki oleh sebagian besar buruh. Pemaksaan dilakukan oleh oknum-oknum buruh yang pernah dikenakan sanksi oleh perusahaan investor karena performa yang

67 buruk atau kesalahan-kesalahan yang teridentifikasi dengan jelas. 500 orang buruh diintimidasi oleh sekitar 40 orang buruh yang bermasalah dengan perusahaan.

Dimana posisi manajemen negara terkait dengan usaha mempertahankan keseimbangan antara kepentingan investor dan kepentingan buruh? Apakah keluhan buruh yang melakukan tindakan merugikan investor dapat dibenarkan atas nama serikat dan undangundang perlindungan buruh? Sedalam apakah manajemen negara mampu

mengidentifikasi masalah internal perburuhan sebelum mengidentifikasi sumber masalah?

Apa peran manajemen negara dalam hal meningkatkan produktifitas buruh? Apakah menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada pihak investor? Atau secara berkala melakukan standarisasi dan perbaikan demi menjaga kualitas buruh sehingga memiliki daya saing dibandingkan buruh negara lain. Mungkin para pengambil keputusan dalam manajemen negara telah lupa atau tidak tahu bahwa sesungguhnya buruh lokal itu telah secara langsung bersaing secara global dengan buruh-buruh dari negara lain.

Kualitas buruh dan tenaga kerja di Indonesia harus ditata secara serius agar mempunyai nilai jual yang menarik bagi investor.

16. Pelecehan

Harga Diri Bangsa Dengan Ijin Pengiriman TKW

Sudah berapa kali kita dengar peristiwa yang mengenaskan, mulai dari penyiksaan, bunuh diri, pemerkosaan yang menimpa saudara-saudara kita kaum perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di luar negeri.

Saya tidak tau apa dasarnya para pengambil keputusan dalam manajemen negara ini tidak melakukan penghentian pengiriman tenaga kerja wanita ke negara asing, yang sudah bukan rahasia lagi bahwa seringkali mengalami pelecehan, penganiayaan, dan perbudakan!

68 Itu hanya kasus, memang betul. Tetapi anda akan berpendapat berbeda bila hal tersebut menimpa diri anda sendiri atau kerabat dekat anda. Yang ingin saya sampaikan adalah jangan hanya melihat kasus ini dari sudut pandang kuantitatif, rasio antara kasus dan tidak kasus. Tetapi harus ada suatu mekanisme penghukuman secara administrasi negara terhadap organisasi pengelola mulai dari hulu hingga hilir yang dapat berakibat pada pencabutan ijin.

Suatu mekanisme sanksi penting untuk diadakan dan saya ingin menekankan adalah bukan diada-adakan, tetapi benar-benar ada dan berjalan, tidak dapat dibayar dengan uang. Dengan mekanisme sanksi ini, organisasi pengirim pembantu yang diperhalus dengan kata-kata ”Tenaga Kerja Wanita” harus memiliki perwakilan di negara tujuan yang bertujuan untuk melakukan kunjungan berkala, wawancara, meminta masukan dari pekerja maupun yang memberi kerja, memberi kesempatan para pekerja untuk menghubungi keluarganya melalui sambungan telepon, dan sebagainya. Tujuannya adalah tindakan preventif atau pencegahan agar kejadian-kejadian buruk tidak terus menerus menimpa kaum pekerja yang dengan sangat terpaksa harus ke luar negeri mencari nafkah karena pemerintah kita sudah lepas tangan dan pikiran atas bagaimana mereka bisa mencari penghasilan di negeri Indonesia tercinta ini. Apakah anda berpikir mereka senang berada jauh dari sanak keluarga tercinta bila bukan karena himpitan ekonomi?

Apakah atas dasar uang lalu kita merasa benar dengan mengirimkan mereka dan memberikan julukan pahlawan devisa? Bukankah sudah hakikatnya bahwa perempuan harus dilindungi? Tidak dapatkah sistem manajemen negara ini menempatkan nyawa dan keselamatan para tenaga kerja wanita Indonesia sebagai alasan utama bahwa kebijakan pengiriman TKW ini sudah tidak layak lagi untuk dilanjutkan.

Hal kedua yang terkait dengan pengiriman TKW adalah semakin terpuruknya harga diri bangsa akibat melakukan supply atas permintaan tenaga kerja berpendidikan rendah, dengan harga rendah, dan bisa direndahkan dengan siksaan, kurungan, siraman air panas, setrikaan, dan bahkan perkosaan.

69

Indonesia dikenal sebagai negara miskin, dan ini dibuktikan benar oleh para pengambil keputusan negara dengan kebijakan supply perempuan Indonesia ke negara asing dengan bekal perlindungan hukum yang lemah.

Bercermin pada manajemen keluarga, apakah orang tua mengijinkan anak perempuannya bekerja di tempat yang asing dan berpotensi membuat celaka anak tersebut? Atau lebih baik orang tua banting tulang dari pagi hingga pagi lagi berpikir keras dan bertindak untuk memberikan penghidupan pada anak perempuannya sampai titik darah penghabisan. 17. Ekonomi

Biaya Tinggi akibat Retribusi Liar

Mengapa muncul retribusi liar? Menurut saya ini adalah bukan masalah oknum. Ini adalah masalah manajemen yang tidak menjaga keseimbangan dan transparansi dan dengan sengaja mengijinkan praktek pungutan liar.

Bagaimana dengan adanya pungutan liar (pungli) yang sudah begitu mendarah daging di seluruh kegiatan ekonomi negara ini? Mulai dari parkir hingga bandara. Hal ini diakui atau tidak diakui memang telah ada dan memberatkan bagi para pelaku usaha. Salah satu penyebab high cost ekonomi ini dilakukan baik oleh oknum dari manajemen negara maupun oleh sesama rakyat yang mendapatkan dukungan dari oknum-oknum.

Sudah sering kali diberitakan tentang mogoknya para supir angkot yang menuntut ditindaknya para pelaku pungutan liar. Mereka tidak sanggup menanggung biaya operasional dan mencapai target setoran kepada pemilik kendaraan dengan maraknya pungutan liar. Saya pun mendapatkan masukan tentang pungutan liar hampir di setiap pos pemeriksaan pelabuhan sehingga menyebabkan banyak biaya-biaya yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan kepada para pemilik usaha.

Mengapa hal-hal tersebut diatas tidak dapat diatasi? Hal ini tentunya terkait dengan sistem distribusi atau alokasi pendapatan usaha dari pos-pos manajemen negara. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun pelaku tindakan ini sebelum sistem manajemen terkait

70 dirancang ulang. Karena siapapun yang duduk di posisi terkait tidak bisa lepas dari praktik distribusi (pajak liar) yang sudah menjadi sistem karena kebiasaan.

Sebenarnya prinsip pemberantasan korupsi di negara ini yang mengacu pada oknum tanpa melakukan pembenahan sistem manajemen adalah suatu perjalanan tanpa ujung. Seperti bunyi slogan di salah satu televisi swasta yang kurang lebih berbunyi: “ingat…kejahatan juga terjadi akibat adanya kesempatan”.

Nah…”kesempatan” dalam konteks diatas adalah celah-celah kelemahan sistem manajemen. Ibaratnya bila kita menaruh makanan di teras rumah lalu di pagi hari kita menemukan kenyataan bahwa makanan tersebut hilang. Lalu setelah melakukan pelacakan kita menemukan fakta bahwa kucing yang suka duduk-duduk di seberang rumah adalah oknum yang bertanggung jawab atas hilangnya makanan tersebut. Lalu kita kurung kucing tersebut. Apakah ini suatu urutan pemecahan masalah yang benar? Apakah setelah kucing tersebut kita kurung lalu kita akan aman untuk menaruh makanan kita di teras rumah?

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa rancangan sistem manajemen negara ini rapuh di banyak sektor sehingga muncul bentuk-bentuk retribusi liar mulai dari kasta terendah, “pak ogah” di pengkolan dan putaran jalan hingga kasta tertinggi, pencurian uang

memanfaatkan sistem, misalnya sistem pembulatan perbankan (pembulatan angka sen mulai 3 digit dibelakang koma).

Lalu apa fungsi transparansi? Fungsi transparansi adalah erat kaitannya dengan fungsi kontrol. Semakin transparan alur uang, semakin mudah terdeteksi bila terjadi penyimpangan, sehingga kontrol sosial (laporan masyarakat) berdasarkan perhitungan yang dapat dipahami masyarakat dan kontrol manajemen dapat berfungsi dengan konstan. Apakah ini hanya sekadar teori kosong atau sesuatu yang dapat dilaksanakan? Saya berharap bahwa saya bukanlah satu-satunya orang yang berpendapat bahwa perbaikan ini sangat mungkin dilakukan.

71

18. Persepsi

Kemerdekaan Yang Salah Kaprah

Apakah arti kemerdekaan bagi anda? Memang secara status negara Indonesia tercinta telah merdeka. Lalu apakah dengan kemerdekaan maka hidup kita terjamin sejahtera? Tentu tidak. Kemerdekaan tanpa pembangunan adalah ibarat tempayan tanpa air. Kita hidup dari air bukan dari tempayan.

Menurut pendapat saya, kemerdekaan adalah wadah untuk dapat dilaksanakannya pembangunan. Seperti tempayan yang menjadi wadah air. Apakah relevan bila kita dengan bangga menyebarkan berita bahwa kita punya tempayan, padahal kita tidak mempunyai air?

Memang suatu perumpamaan yang hiperbolik diatas saya lontarkan sebagai pemicu kita untuk berdiskusi lebih dalam tentang arti kemerdekaan. Bagaimana bila pembangunan dilakukan secara tidak merata? Atau bagaimana bila hasil pembangunan dinikmati lebih banyak oleh negara asing? Ibaratnya kita punya tempayan, tetapi pada saat tempayan kita penuh air, air di dalamnya itu sudah menjadi hak orang lain, sehingga kita Cuma berstatus pemilik tempayan tanpa memiliki isinya, mungkin hak guna kemerdekaan (HGK) istilah kerennya, bukan status hak milik kemerdekaan (HMK).

Kenapa saya katakan sebagai HGK, karena sebagian besar hasil pembangunan (termasuk hasil kekayaan alam laut dan tambang) telah terikat dengan kontrak dengan negara asing atau terjarah tanpa dapat dideteksi. Terkait dengan kebijakan hutang luar negeri manajemen negara kita tercinta, bargaining power kita sungguh telah dilemahkan dengan status hutang.

Kemerdekaan adalah wadah bagi manajemen negara untuk melaksanakan pembangunan, yang tujuannya adalah kesejahteraan rakyat melalui peningkatan daya beli masyarakat. Daya beli yang terarah akan memperkuat berbagai sektor kehidupan secara simultan,

72 yaitu bila diarahkan pada konsumsi produk yang dihasilkan dari sumber daya dalam negeri.

Jadi bagi saya, kemerdekaan semestinya memiliki arti yang lebih dalam dari sekedar hiasan lampu berbentuk ondel-ondel, umbul-umbul atau melingkari pohon di jalan dengan lampu warna-warni terutama yang dimulai pada 17 Agustus.

19. Kekuatan

Era Orde Baru Dalam Menjaga Kestabilan

Era Orde Baru yang dimulai pada tahun 1966 sungguh merupakan era yang kontroversial menurut pandangan saya. Era ini pernah dicintai, dibanggakan, dibenci, sekaligus dicacimaki.

Dalam hal regenerasi, menurut saya, era orde baru tidak dapat dijadikan rujukan apalagi sebuah panutan. Tetapi dalam hal kemampuan menjaga kestabilan selama 32 tahun, sungguh merupakan hal yang luar biasa.

Berprinsip pada ilmu manajemen yang baik (versi saya lagi tentunya), rancangan sistem manajemen yang baik harus dimulai dengan benar sejak awal. Lalu mengapa masa manajemen pemerintahan orde baru dapat bertahan hingga 32 tahun dengan pemerintahan yang relatif stabil.

Ini adalah strategi sederhana sekaligus efektif, tetapi bila kebablasan yang terjadi adalah kehancuran, dan memang akhirnya terjadi kekacauan. Strategi itu saya namakan “Strategi Injak Kaki”.

Strategi Injak Kaki ini sangat efektif dalam menjaga kestabilan. Mulai dari kestabilan politik sampai kestabilan harga. Lalu apakah efek jangka panjangnya? Saya beranggapan bahwa salah satu akibat jangka panjangnya adalah tidak meratanya pembangunan. Mengapa demikian?

73 Pada prinsipnya, politik injak kaki ini mengandalkan pada individual control (individual power) sehingga salah satu kelemahan terbesar politik ini adalah tidak mampu menjangkau area yang luas. Area ini bisa berarti sektor ekonomi, politik, dan juga termasuk area luas daerah. Maka apa cara yang digunakan untuk tetap dapat menjalankan strategi ini dengan efektif? Tentunya pengendalian arus uang, dengan mengendalikan arus uang, semua kebijakan pembangunan dikendalikan dari pusat pemerintahan. Bila suatu daerah ingin maju tentunya harus menuruti semua kemauan pusat, termasuk memenangkan suara pemilu untuk kelompok partai tertentu.

Saya ingat pernah mengendarai mobil ke Jawa Tengah di tahun 1990-an, luar biasa, semua rumah, tembok, bahkan pohon dicat dengan warna kuning! Apa ya maksudnya? Ada lagi pengalaman saya, sewaktu saya berkunjung ke rumah teman di daerah pinggiran Jakarta, saya heran dengan kondisi jalan yang halus, tiba-tiba putus di tengah dan berlanjut dengan jalan kasar dan tidak diaspal. Teman saya tersebut menjelaskan alasannya. Di RT tetangga, suara pemilu dimenangkan oleh partai yang bukan diinginkan pemerintah. Sedangkan di wilayah RT tempat teman tinggal teman saya, partai politik yang suka melihat pohon berwarna kuning tersebut meraih suara menang mutlak.

Hal tersebut diatas adalah fenomena yang terlihat di perkotaan, dan tentunya pola yang sama diterapkan di seluruh pelosok tanah air. Era tersebut sungguh suatu jaman keemasan bagi pedagang cat dan kain berwarna kuning.

Contoh lain adalah sektor pertanian. Harga jual produk tani yang dipatok rendah mengakibatkan sektor pertanian meranggas hingga lama kelamaan para petani meninggalkan lahan pertanian dan beralih profesi menjadi buruh dan pedagang. Di era yang sudah memasuki tahap perdagangan bebas, sisa peninggalan strategi injak kaki telah mengakibatkan tertinggalnya hampir seluruh sektor kehidupan Indonesia dibandingkan dengan negara luar, jangankan dibandingkan dengan status negara maju, dengan negara tetangga yang dulu mulai sama rendah pun, sekarang mereka sudah berdiri dan kita mungkin masih dalam posisi duduk.

74 Mengapa negara tidak memberikan wewenang kepada asosiasi-asosiasi sesuai dengan sektornya masing-masing untuk menentukan standar harga nasional? Tentunya dengan catatan bahwa persaingan bebas telah terlaksana, sehingga produk barang dan jasa dari luar pun dapat bersaing dengan produk dan jasa lokal. Persaingan sempurna yang mengacu pada harga dan kualitas dapat terjadi. Bila persaingan bebas belum mungkin dilaksanakan maka pemerintah berfungsi sebagai pesaing dari berbagai industri swasta, yaitu dengan memajukan industri-industri milik pemerintah, termasuk BUMN yang berkualitas internasional. Tentunya bukan dengan cara menjual kepemilikan BUMN kepada pihak asing.

Siapa yang diuntungkan bila kita mempunyai sektor industri dan jasa yang kuat? Tentunya para produsen dan pemberi jasa lokal yang diuntungkan karena memiliki kelebihan dari sisi pengenalan market lokal dan biaya efisien karena domisili langsung berada di dalam negeri. Masyarakat dan konsumen pun diuntungkan dengan mendapatkan produk berkualitas dengan harga yang bersaing.

20. Hukum

Warisan Penjajah

Para pembaca sekalian, sudah berapa tahun berselang sejak Indonesia menyatakan sebagai bangsa yang merdeka? Sudah lebih dari ½ abad bukan? Tetapi kenapa Kitab Undang-Undang dan Peraturan Republik Indonesia masih menggunakan acuan hukum peninggalan Belanda? Engelbrecht adalah salah satu koleksi wajib kantor hukum di Indonesia. Dari namanya saja saya berani bertaruh bahwa banyak bahasa belanda di dalamnya, dan saya pasti menang karena istri saya punya 1 buku tersebut terbitan tahun 1960.

Mungkin terlalu sulit untuk para pemikir dan ahli hukum Indonesia untuk membuat rancangan hukum yang asli karya bangsa Indonesia. Atau mungkin juga diperlukan anggaran hingga trilyunan untuk membuatnya. Atau, bisa juga tetap digunakan karena undang-undang dan peraturan tersebut dirancang sedemikian rupa memang untuk

75 melemahkan bangsa, mengapa melemahkan bangsa? Karena porsi pengendalian dan pelaksanaan negara dipegang oleh kendali pemerintah dan partai, yang notabene, pemerintah adalah kumpulan partai. Jadi apa kesimpulannya? Hukum yang diterapkan adalah hukum yang menguntungkan pemerintah, karena pemerintah pun berperan sebagai penguasa.

Apa yang terjadi bila manajemen negara ini membuat suatu pengumuman di seluruh media cetak dan elektronik bahwa negara Indonesia akan membuat kitab undang-undang dan peraturan baru yang asli karya bangsa Indonesia, untuk rakyat Indonesia, dan untuk kemajuan negara Indonesia? Lalu diikuti dengan kebijakan untuk menerima semua masukan secara langsung dari rakyat melalui surat, dengan format yang diatur negara tentunya untuk memberikan input bagi proses rancangan kitab tersebut.

Kalau saya pribadi melihat dan mendengar pengumuman tersebut diatas, tentu akan menangis penuh haru bahwa akhirnya para pengambil keputusan dalam manajemen negara bersikap sebagai pemimpin bangsa yang merdeka. Berani mengambil resiko demi kemajuan dan kesetaraan negara Indonesia dalam hubungan internasional.

21. Indonesia

Bangkit – Antara Slogan dan Kenyataan

Sungguh lucu para pengambil keputusan dalam manajemen negara ini. Beberapa waktu lalu sebelum saya mulai menulis buku ini, mulai gencar slogan “Indonesia Bangkit!!” di media cetak dan elektronik, lengkap dengan deretan pemuda pemudi yang dianggap berprestasi sebagai bintang iklan, atau bintang slogan lebih tepatnya.

Saya justru berpendapat bahwa bila harus ada slogan yang dipromosikan oleh para pemimpin, mungkin lebih tepat bila slogan tersebut berbunyi “Indonesia tabah!” atau “Indonesia berdoalah!” Karena hanya dengan keajaiban dari Tuhan lah maka para pemimpin dan calon pemimpin, baik pemimpin partai, maupun pemimpin pemerintahan, serta pemimpin-pemimpin rakyat yang duduk di kursi wakil rakyat mau duduk di lantai kemelaratan bersama rakyat.

76

Satu analogi sederhana bahwa bila seseorang hendak menolong tentunya harus memiliki satu kepedulian. Bagaimana bisa menolong bila tidak peduli? Kepekaan adalah awal menuju kepedulian, apakah perlu kepekaan dan kepedulian tersebut dipamerkan? Tidak perlu. Saya sangat yakin bahwa rakyat kita, saudara-saudara kita di tanah air ini tidak bodoh. Kita rakyat dapat membedakaan antara kepalsuan dengan kepedulian. Kita dapat membedakan antara kepedulian pura-pura di masa menjelang pemilihan suara dengan kepedulian yang tulus.

Kepedulian yang tulus, hanya dengan cara inilah baru Indonesia bisa bangkit. Pada saat rakyat terharu karena pemimpinnya tidak bergelimangan harta, tetapi justru miskin semiskin miskinnya seperti rakyat yang terbengkalai. Ibaratnya manajemen rumah tangga, seorang ayah akan rela tidak makan asal anaknya bisa makan, demikianlah seharusnya para pemimpin dan pengambil keputusan dalam manajemen negara memperlakukan rakyat Indonesia yang tercinta.

Malukah para pengambil keputusan dalam manajemen negara bila bergaji rendah, tidak menggunakan mobil ber-CC besar dan mewah, atau tinggal di rumah dinas yang ala kadarnya layaknya rumah sederhana? Bila memang itu pengorbanan untuk

membangkitkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia, maka Indonesia, berdoalah! Semoga keajaiban dari Tuhan benar-benar ada dan menggetarkan hati para pemimpin dan calon pemimpin bangsa ini.

Saya membayangkan bila seorang pejabat setingkat menteri negara mau naik bus trans jakarta, antri bersama para pekerja dan berdesakan di dalam bus bersama para pengguna bus lainnya. Bukankah katanya, bus trans jakarta ini merupakan sarana transportasi yang nyaman, dan bebas macet tentunya karena ada jalur nya sendiri yang diambil sebagian besar dari jalur jalan yang sudah ada. Sungguh indah rasanya bisa pulang ke rumah dan bercerita kepada anak di rumah, ”nonk...tadi papa satu bis dengan pak / ibu menteri lho...!”

77

22. Reinkarnasi

Sumpah Pemuda

Masih ingat Sumpah Pemuda? Sadarkah para pemimpin, calon pemimpin, para pembaca sekalian bahwa itu adalah salah satu bentuk keajaiban dari Tuhan. Ya, keajaiban tidak perlu turun langsung dari langit, keajaiban dapat diciptakan dengan niat yang tulus dan tekad yang bulat.

Mengapa itu merupakan keajaiban? Karena puluhan (atau ratusan?) utusan dari berbagai daerah di seluruh Nusantara bersumpah bahwa mereka adalah satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air.

Apa yang menyatukan daerah-daerah di masa lalu adalah suatu perasaan haus akan sesuatu, yaitu haus akan kemerdekaan. Pada saat itu, kesadaran timbul bahwa hanya dengan meleburkan diri menjadi 1 maka seluruh daerah akan memiliki suatu rancangan manajemen yang solid untuk menentang manajemen penjajahan, yaitu manajemen yang lebih maju pada saat itu dan pada akhirnya justru menyebabkan bersatunya seluruh daerah-daerah yang tadinya terpecah dan menjadi Indonesia di masa kini.

Sebenarnya, saat sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan “reinkarnasi” sumpah pemuda. Mengapa? Karena Indonesia sekarang pun adalah pecahan dari banyak partai yang membawa bendera kelompoknya masing-masing. Saat ini manajemen penjajahan telah menjelma dalam sosok yang lebih ganas. Sosok musuh yang tidak dapat dilihat dengan mata, tetapi dapat dirasakan desakannya yang akan mengancam kehidupan bernegara. Musuh yang harus ditaklukkan itu adalah “Persaingan Global”.

Persaingan global tidak akan memuntahkan peluru timah panas untuk membunuh rakyat. Tetapi Persaingan Global akan memakan apapun yang tidak siap. Persaingan global tidak dapat ditentang karena merupakan dari sistem manajemen yang lebih maju dan telah dirancang untuk mengakses seluruh negara dan akan menguntungkan bagi negara yang maju dan siap.

78 Di sinilah semestinya alarm sense of crisis meraung dengan sekeras-kerasnya. Kebijakan untuk menaikkan harga bahan bakar minyak adalah suatu kebijakan yang sangat tidak populer, sangat dihindari, sangat ditakuti oleh pengambil keputusan di negeri ini, bahkan ditahan sekuat-kuatnya seperti yang dilakukan oleh pemerintahan masa lalu. Tetapi saat ini, pemerintah kurang beruntung. Cengkraman persaingan global tidak dapat dihindari terus menerus bahkan oleh pemerintah. Persaingan Global dirancang untuk menjadi semakin kuat secara organik. Suatu rancangan yang akan memenangkan negara industri dan negara-negara yang produktif, bukan hanya sekedar menjadi penjual bahan mentah dan bahan baku.

23. Peran

Kesultanan Dalam Manajemen Negara

Saya berpendapat bahwa Sejarah rakyat Indonesia sesungguhnya berakar pada peranperan kesultanan di masa lalu. Wibawa warisan kesultanan di masa lalu masih mengakar pada masyarakat setempat.

Di masa pemerintahan lalu, keberadaan Kesultanan cenderung disegani sekaligus dibatasi. Ada kekhawatiran akan kuatnya pengaruh kesultanan pada rakyat hingga membangkitkan perlawanan atas penyimpangan-penyimpangan. Bila ini memang saatnya slogan “Indonesia bangkit” dikumandangkan, tentunya tidak terkecuali pula dengan kebangkitan semua sendi masyarakat, termasuk memasukkan kesultanan-kesultanan yang ada di penjuru negara ini untuk kembali mengumandangkan persatuan.

Tidak berlebihan memang bila ada kekhawatiran bahwa semangat kedaerahan justru akan berujung pada perpecahan. Tetapi saya mengajak semua elemen masyarakat dan pembaca untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Saat ini negara Indonesia telah terpecah menjadi banyak kelompok partai yang tidak lagi mengenal garis batas demografis, demikian pula ancaman Persaingan Global yang tidak mengenal garis batas dalam pergerakannya. Justru mengembalikan ketahanan daerah sebagai bagian dari kekuatan manajemen negara akan menghambat gerak Persaingan Global, memberi waktu

79 hingga kita dapat terus-menerus melakukan penyempurnaan atas kemampuan bersaing negara Indonesia tercinta.

Sungguh ironis bahwa jajaran para pahlawan di masa perlawanan terhadap penjajah yang banyak diantaranya dipimpin oleh para bangsawan kesultanan, justru di masa kemerdekaan ini peran kesultanan dipandang sebelah mata dan hampir tidak memiliki peran dalam manajemen negara.

Apakah wibawa kesultanan yang telah berada di Nusantara sejak sebelum sejarah bangsa ini dimulai harus melebur dalam partai-partai untuk bisa masuk kedalam sistem manajemen negara? Sayang sekali bila itu yang terjadi. Sungguh suatu kesalah-pahaman yang semakin parah atas esensi manajemen negara.

Bagaimana bentuk peran kesultanan dalam manajemen negara tentunya perlu dirumuskan dengan seksama. Karena tujuan yang ingin dicapai adalah persatuan dan bukan perpecahan. Maksudnya adalah untuk memperkuat ketahanan dan kemampuan, bukan justru melemahkan dan membingungkan.

24. Antara

Kisah Kehancuran dan Bulan-Bulanan Bangsa Lain

Tahukah para pembaca bahwa jumlah devisa negara Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah uang milik salah satu (hanya satu) universitas swasta terkemuka di Amerika Serikat. Hal tersebut hanya untuk memberi gambaran seberapa besar (atau mungkin kecil?) kita di mata sebuah negara adidaya.

Kehancuran bangsa akan terus terjadi baik disadari maupun tidak, baik terlihat maupun tidak. Hal ini dimulai dari sikap mental yang salah. Salah karena menganggap bahwa kita tidak mempunyai teknologi dan keahlian untuk mengolah sumber daya sehingga membutuhkan, atau bahkan lebih dari membutuhkan tetapi sangat tergantung pada negara lain untuk dapat mengambil sumber daya alam tersebut.

80 Hal tersebut diatas diperparah dengan perjanjian yang cenderung merugikan negara entah disengaja atau tidak, tetapi komposisi pembagian dan keterlibatan manajemen lokal dalam pengelolaan sumber daya benar-benar tidak menguntungkan negara Indonesia.

Sikap mental yang tidak percaya diri tersebut berbuah pada afirmasi bahwa pendidikan di luar negeri adalah suatu prestise dan lebih baik dari kualitas pendidikan di dalam negeri. Hal tersebut memang tidak dapat dipungkiri ada benarnya. Benar bahwa kualitas pendidikan di luar negeri secara mayoritas lebih baik dari sebagian besar kualitas pendidikan di Indonesia.

Tetapi yang menjadi persoalan serius adalah cara menyikapi kondisi tersebut diatas. Ketimbang berusaha mati-matian memperbaiki kualitas pendidikan di dalam negeri, justru individu-individu yang memiliki potensi dan kualitas kepemimpinan dikirim ke luar negeri untuk belajar.

Lupakah kita bahwa manusia adalah mahluk yang paling adaptif di dunia. Dengan pendidikan di luar negeri, terjadi perubahan pandangan dan persepsi atas tata negara dan idealisme. Kembali ke negara Indonesia sebagai produk didikan asing dan berusaha menerapkan ilmu dan konsep idealisme asing ke dalam ranccangan manajemen negara di Indonesia.

Tanpa bermaksud untuk terdengar anti pendidikan luar negeri, saya berpendapat bahwa yang terbaik adalah mengembangkan konsep pendidikan dalam negeri.

Jadi intinya adalah, apa yang baik dari luar, kita bawa dan kembangkan di dalam negeri. Sikap mental untuk membangun institusi yang kuat sehingga mampu memberikan pelayanan yang berkualitas internasional untuk sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia. Sikap mental untuk membangun di dalam negeri ini bila dikembangkan ke sektor-sektor lain tentunya akan memacu pertumbuhan produktifitas melalui perkembangan sektor industri.

81 Memang kita pernah mempunyai industri pesawat terbang, yang konon pernah dibarter dengan ketan dengan Thailand. Itupun merupakan pengalaman berharga bagi manajemen negara ini, yaitu agar perencanaan selalu menapak pada kemampuan dan bergerak maju terkendali dan bukan pada menapak pada angan-angan dan kemampuan negara lain.

25. Bangkit

Dengan Idealisme dan Kekuatan Sosial

Menurut pendapat saya, bungkamnya idealisme individu baik disengaja atau tidak disengaja merupakan sebuah indikasi degradasi kebangsaan yang harus diatasi dengan segera dan serius.

Bagaimana dengan pengembangan komunikasi dua arah antara para pimpinan manajemen negara dengan masyarakat menggunakan media elektronik seperti televisi dan radio? Apakah cukup dengan SMS kepada presiden dan dibalas dengan pesan jawaban otomatis?

Idealisme masyarakat memang tersalurkan melalui media cetak dan elektronik, tetapi tanpa komunikasi 2 arah yang nyata, seolah pemikiran-pemikiran tersebut hilang ditelan waktu dan tidak mengubah apapun. Tidak ada komitmen perubahan yang dapat dipegang, bahkan tidak ada kepastian apakah ada diantara para pengambil keputusan dalam manajemen negara memperhatikan pemikiran-pemikiran ideal tersebut.

Dua hari yang lalu saya tidak sengaja mendengar salah satu sosok mantan presiden yang menyampaikan pidato dengan berapi-api mengutarakan hal-hal yang up to date, termasuk kenaikan harga BBM, dan sebagainya. Lalu saya teringat pada cerita teman saya, saat menyampaikan presentasi di suatu perusahaan multinasional, di akhir presentasi dia mendapatkan komentar singkat dari CEO perusahaan tersebut, “there’s a different between looks good and being good”. Teman sayapun menyadari bahwa dia terlalu fokus pada cara penyampaian dan sibuk dengan cara memenangkan perhatian audience, tetapi melupakan esensi kualitas presentasi yang disampaikan.

82

Idealisme memang bagus, tetapi bila dikemas dalam wacana yang salah tentunya idealisme akan menjadi satir dan bahkan menjadi konyol. Kapasitas seorang idealis tanpa kemampuan untuk memikirkan aplikasi dalam realitas adalah tidak lebih dari sekedar komentator. Apa beda komentator dan idealis? Komentator tidak mampu merubah apapun karena dia hanya melihat untuk menceritakan apa adanya.

Sedangkan seorang idealis adalah ibarat seorang pelatih profesional. Pada saat dia mengutarakan pendapat kepada tim yang dilatih, dia mengutarakan mendapat untuk memperbaiki performa dari anak didiknya.

Sudah saatnya bagi masyarakat untuk lebih selektif dan jeli dalam mengamati dan memilih pemimpinnya. Apakah pemimpinnya seorang komentator atau seorang idealis? Bila mendapat kesempatan untuk berdialog baik secara terbuka atau tertutup, tanyalah kepada beliau-beliau para pemimpin dan calon pemimpin. Tanyalah dengan kritis, bagaimana beliau yang terhormat akan merealisasikan janjinya?

Bila ada calon pemimpin yang berusaha menarik simpati masyarakat dengan janji-janji untuk menaikkan pendapatan rakyat, tanya bagaimana dia akan melakukannya? Bila jawabannya adalah nanti akan dikoordinasikan dengan instansi terkait, atau sekadar mengatakan bahwa dia punya tim yang kuat untuk merealisasikannya, lebih baik anda tinggal pulang saja. Pemimpin tanpa konsep yang riil adalah instrumen berbahaya yang akan menggerus produktifitas apapun yang dipimpinnya.

Dengan berpikir dan bertindak kritis, berarti kita telah sadar akan pentingnya kekuatan sosial. Kekuatan sosial hanya dapat terbentuk dengan adanya kesadaran untuk berpikir, berpikir, dan berpikir. Ibaratnya 3 kali berpikir untuk 1 tindakan yang berkualitas jauh lebih baik hasilnya daripada 10 tindakan yang dilakukan oleh seorang pengambilan keputusan bermental komentator.

83 26. Perbaikan

Bukanlah Tujuan

Saya memiliki sebuah mobil yang saya gunakan untuk melaksanakan kegiatan seharihari. Mobil tersebut memiliki misi untuk mengantar saya kemanapun saya inginkan. Sehingga, menurut saya tujuan sebuah mobil saya tersebut adalah untuk mengantarkan saya menuju destinasi yang saya inginkan.

Apa yang terjadi bila mobil saya tersebut kehabisan bensin, atau mobil tersebut rusak sehingga mogok? Saya perlu mengisi bensin atau memperbaiki mobil itu tentunya. Tetapi janganlah disalah artikan bahwa tujuan dari mobil tersebut adalah untuk mengisi bensin dan untuk diperbaiki. Karena tujuan dan fungsi mobil tersebut tidaklah berubah walaupun dalam keadaan rusak atau baik.

Yang ingin saya sampaikan adalah, bila perbaikan tidak kunjung selesai, atau selesai dalam waktu yang lama, berarti kita tidak akan pernah mencapai tujuan kita yang sebenarnya.

Performa yang optimal adalah suatu keharusan atau syarat mutlak untuk mencapai tujuan. Ini adalah penegasan terhadap pernyataan saya sebelumnya, “jangan bermimpi untuk membangun bila tidak bisa menjaga”.

Suatu manajemen negara harus memiliki dead line atau time target untuk penyelesaian setiap masalah. Selanjutnya, penyelesaian masalah ini harus dan tidak bisa tidak harus dicapai dengan cara apapun. Bagaimana cara mencapai target tersebut? Yaitu dengan memastikan bahwa hanya orang-orang terbaik, berkualitas dan kompeten untuk menempati posisi pengambilan keputusan dalam melakukan restrukturisasi manajemen.

Apa yang terjadi bila perbaikan mobil yang rusak diserahkan kepada tetangga sebelah rumah karena kita sering parkir di depan rumah dia, lalu dibantu oleh ipar kita karena dia ikut “nomboki” uang muka mobil itu, dan dibantu pula oleh anjing tetangga karena anjing ini lucu, bisa disuruh mengambil perkakas yang dibutuhkan dan bisa menjadi hiburan saat memperbaiki mobil itu?

84

Perumpamaan yang hiperbolik diatas adalah usaha saya untuk menggugah kesadaran para pembaca yang juga merupakan pemimpin dan calon-calon pemimpin. Yaitu kesadaran bahwa untuk melakukan perbaikan tidak bisa terlalu lama. Setiap tambahan waktu yang diperlukan untuk memperbaiki masalah akan menjadi beban tambahan bagi sumber daya yang ada, bila berlangsung terus akan menjadi kondisi yang kronis, membuat frustrasi dan melelahkan. Baik bagi jajaran manajemen negara, maupun bagi rakyat yang dipimpin.

27. Memaklumi

Ketidakmampuan

Sikap memaklumi ketidakmampuan adalah suatu kelemahan dalam sistem manajemen yang biasanya terjadi akibat tidak ada pembatasan antara hubungan pribadi dan hubungan profesional.

Begitu pentingnya hal ini hingga di banyak perusahaan ada peraturan bahwa tidak boleh ada hubungan darah atau pernikahan dalam suatu departemen yang sama atau bahkan dalam perusahaan yang sama. Peraturan ini bertujuan untuk tidak memberi tempat pada ketidakmampuan. Kesalahan dan ketidak becusan dalam melaksanakan tugas harus ada konsekuensi, karena begitu sakralnya tugas negara yang harus dijalankan, tidak ada kata tidak mampu dalam sistem. Inilah yang menyebabkan adanya budaya mundur dari jabatan sebelum waktunya di beberapa negara maju baik di Asia maupun di belahan benua lain.

Berlebihankah bila saya berpendapat bahwa sepatutnya seorang pemimpin departemen dalam manajemen negara yang telah dipandang gagal dalam melaksanakan tugasnya, sudah semestinya diberhentikan dan tidak diberi tempat dalam kabinet. Bukan justru diberi posisi lain, karena jabatan pimpinan bukanlah suatu peran yang membutuhkan kemampuan meng-iya-kan apapun kata atasan, atau suatu posisi yang tidak dapat digantikan karena kesepakatan politik. Para pengambil keputusan di dalam manajemen negara adalah orang-orang yang berkemampuan, idealis, sistematis, dan berani. Berani

85 untuk lurus dalam menjaga amanah sebagai pemimpin, berani mengakui kesalahan, berani mengakui ketidak-mampuan, berani mundur dari jabatan tanpa takut disebut sebagai orang yang gagal atau pengecut.

Disini pula terlihat kelemahan sistem banyak partai, karena pembagian porsi kabinet yang mengikuti komposisi hasil pemilihan suara terbanyak mengakibatkan terkungkungnya pilihan-pilihan. Terbatasnya kesempatan untuk secara leluasa memilih individu yang berkualitas, karena ada batasan bahwa individu yang dipilih mengikuti komposisi suara, walaupun mungkin kapasitas individu di partai tersebut tidak tepat dengan jabatan yang akan diembankan kepadanya, tetapi apa boleh buat, asal bisa senyum, membaca, dan sekadar mengikuti kesepakatan yang telah ditetapkan maka jadilah.

Dengan sikap mental yang memaklumi ketidakmampuan, secara sadar atau tidak sadar tujuan manajemen negara telah berubah. Manajemen negara bukan lagi ditujukan untuk kemajuan negara, tetapi ditujukan untuk membagi porsi kekuasaan dalam kurun waktu tertentu! Memberikan kesempatan bagi perwakilan partai-partai terpilih untuk merasakan nikmatnya fasilitas jabatan dalam manajemen negara.

28. Bertindak

Reaktif Bukan Bertindak Preventif

Salah satu ciri pengambilan keputusan yang didasari oleh kepanikan atau keterbatasan (bisa keterbatasan waktu, kemampuan, atau bentuk-bentuk keterbatasan lain) adalah bertindak reaktif, bukan bertindak preventif.

Hal tersebut diatas juga terkait dengan kharakter komentator sebagaimana telah saya bahas sebelumnya. Keputusan yang diambil sebagai reaksi terhadap suatu kejadian adalah keputusan yang cenderung tanpa perencanaan matang. Sifatnya adalah memadamkan masalah yang timbul dengan secepatnya atau dengan cara apapun yang biasanyapun akan menimbulkan ekses atau akibat lanjutan lain.

86 Tindakan preventif biasanya jauh lebih berkualitas, walau kadang kurang dihargai karenan membutuhkan rentang waktu untuk terbukti sebagai suatu keputusan yang benar. Hal lain yang juga penting adalah, untuk dapat mengambil tindakan preventif, dibutuhkan seorang pengambil keputusan yang sensitif dalam mengidentifikasi masalah, berani mengutarakannya, dan mampu mencetuskan solusi yang akurat. Tidak kalah pentingnya adalah kemampuan menegosiasikan atau meyakinkan tim pengambil keputusan hingga keputusan preventif dapat dilaksanakan.

Saya ibaratkan seperti orang yang mengendarai mobil atau motor, kita harus melihat ke depan, ke belakang (melalui kaca spion) dan kesamping. Dengan kata lain kita harus waspada mengamati semua arah. Ditambah pula kita harus memperhatikan kondisi permukaan jalan dan panel-panel di mobil atau motor untuk memastikan kendaraan dalam kondisi baik (tidak kekurangan bensin, tidak over heat, dan sebagainya). Lebih rumit lagi bila mengendarai mobil dalam konteks balapan jarak jauh atau cross country yang terkadang membutuhkan seorang navigator handal untuk memastikan jalur yang diambil adalah benar.

Pada prinsip dasar yang paling sederhana, orang yang mengemudikan mobil atau motor telah mampu mengambil tindakan preventif, karena dia bisa memutuskan untuk menambah atau mengurangi kecepatan, belok dan menikung melihat kondisi di jalanan. Untuk dapat melakukan itu semua, si pengemudi mesti memiliki kemampuan dasar dan kendaraan perlu memiliki indikator-indikator yang diperlukan.

Hal yang serupa dalam bentuk yang jauh lebih kompleks adalah manajemen negara. Kemampuan para pengambil keputusan dapat disandingkan dengan kemampuan dasar untuk dapat menggunakan dan mengartikan indikator-indikator dalam pemerintahan. Lalu indikatornyapun harus dilengkapi, bila rusak harus diperbaiki, bila indikator pengenalan masalah telah sempurna, baru masalah dapat diidentifikasi dengan tepat dan keputusan dapat diambil.

87 Sehingga langkah selanjutnya berdasarkan prioritas adalah: Penempatan individu yang tepat yang berkemampuan untuk mengidentifikasi indikator-indikator manajemen negara yang rapuh dan rusak, atau bahkan belum ada tapi ternyata sangat diperlukan. Kedua adalah menggunakan indikator-indikator manajemen negara yang telah disempurnakan untuk mengenali masalah manajemen negara. Yang ketiga adalah menjabarkan masalah dan menetapkan solusi pemecahan masalah dan pengaturan time frame atau target jangka waktu penyelesaian masalah. Keempat adalah mulai mengeksekusi solusi tersebut dalam pengendalian intensif sehingga bila ada masalah turunan yang timbul dapat diatasi dengan cepat. Kelima memastikan bahwa fungsi pengendalian berjalan efektif dan target waktu dapat terlaksana dengan jalan apapun tanpa kompromi.

29. Eksekusi

Kasus Yang Tidak Tegas

Salah satu indikasi rusaknya sistem manajemen negara adalah ketidak-tegasan eksekusi kasus. Ketidak-tegasan ini dapat terjadi baik akibat dari intervensi dari luar maupun intervensi dari dalam negeri. Yang lebih parahnya lagi adalah intervensi uang.

Saya berpendapat bahwa hampir semua materi di dunia ini memiliki 2 sisi, karena demikianlah adanya hukum alam. Mulai dari sudut pandang (yang sifatnya suatu pemikiran) sampai ke kekuasaan, uang, dan sebagainya. Itulah kenyataan bahwa segala sesuatu dapat digunakan untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Itulah yang saya maknai dengan free will (kebebasan memilih). Bahwa kebebasan itu akan menebarkan pilihan-pilihan untuk melakukan sesuatu yang baik atau sesuatu yang tidak baik.

Bila tatanan manajemen negara kita lemah, dan cenderung dimotori oleh pengambil keputusan yang lambat dalam menentukan pilihan (melihat situasi dulu) atau bahkan lemah dalam memilih, maka kekuatan-kekuatan di luar tatanan manajemen negara akan masuk dan mengambil alih pilihan tersebut sehingga mengambil alih esensi dalam pengambilan keputusan.

88 Misalnya: Penyelesaian kasus terorisme yang berlarut-larut ditambah pula dengan eksekusi yang berlarut-larut. Atau daftar panjang eksekusi hukuman mati yang tidak dilaksanakan, keengganan untuk memberikan shock therapy pada kasus-kasus korupsi, dan sebagainya. Bagaimana pula dengan kasus penangkapan seorang ustadz kondang yang sarat politik, atau penangkapan seorang tokoh masyarakat yang membela merahputih di bumi Timor-Timor.

Kita sungguh telah menjadi lemah akibat ketidak-tegasan dalam penyelesaian kasuskasus yang berlarut-larut. Masih ingatkah para pembaca bagaimana gemparnya masyarakat yang dihebohkan dengan jatuhnya hukuman 3 bulan kurungan untuk seorang buruh yang didakwa mencuri sendal? Bagaimana dengan jatuhnya putusan denda dan ganti uang kerugian atas korupsi yang nilainya jauh dibawah angka korupsi?

30. Belajar

Dari Alam, Proses Regenerasi

Bila kita lebih peka pada apa yang diajarkan oleh alam, semestinya tidak ada alasan atas kegagalan manajemen negara. Salah satu hal yang dapat kita amati dengan mudah adalah proses regenerasi yang melekat pada hukum alam.

Tidak perlu jauh-jauh, saya ingin mengajak pembaca mengamati pohon pepaya yang tumbuh dari hari ke hari. Tidak perlu menginap di dekat pohon pepaya sampai berbulanbulan (bisa menimbulkan salah sangka terhadap pembaca – dikira jin penunggu pohon pepaya). Kita cukup melihatnya secara berkala dari hari ke hari. Amatilah bahwa pohon pepaya bertambah tinggi, dan seiring dengan tumbuh tingginya pohon pepaya, daunnya akan gugur 1 dan akan muncul batang pohon baru yang lebih tinggi sebagai penggantinya. Apa yang terjadi bila seluruh batang daun dan daun pepaya utuh sejak awal tumbuh hingga menjadi tinggi? Mungkin pohon pepaya tersebut tidak akan pernah tumbuh tinggi dan mati akibat begitu banyaknya daun untuk diberi makan.

Berdasarkan perumpamaan di atas, adalah sesuatu yang tidak bijaksana untuk mengembangkan banyak partai dalam manajemen negara, ibaratnya daun yang memang

89 secara hakiki akan mencari jalan untuk tumbuh dan bekembang lebih besar, partai-partai akan berusaha mencari cara untuk memperoleh suara yang lebih besar dan bila tidak cukup ruang untuk tumbuh tidak ada cara lain kecuali dengan mengintervensi partai lain. Sehingga konflik berkesinambungan antar partai (bahkan dalam 1 partai yang sama) menjadi bagian yang mengisi kehidupan manajemen negara.

Demikian pula dengan usaha yang tidak serius untuk merampingkan manajemen negara, kita ibaratkan seperti pohon tumbuh yang perlu dipotong beberapa bagiannya untuk memberi ruang bagi tunas-tunas baru muncul, demikian pula halnya dengan proses regenerasi yang diperlukan dalam manajemen negara.

Kita seharusnya telah belajar dari pahitnya berada dalam kepemimpinan tokoh yang sedemikian kokoh menempati posisinya selama 32 tahun. Begitu kokohnya sehingga muncul mata uang bergambar beliau, bisnis yang menggurita ke mana-mana, dan pihakpihak yang diinjak kakinya demi menghentikan proses regenerasi dalam manajemen negara.

Kita seharusnya dapat belajar dari alam dan lebih bersikap bijaksana….

31. Peran

Orang Tua Sebagai Model Kepemimpinan

Saya ingin mengajak para pembaca, para pemimpin dan calon pemimpin, yang juga mungkin berperan sebagai orang tua dalam rumah tangga. Memimpin keluarga, berusaha keras memenuhi kebutuhan keluarga, bertugas mendidik anak dan banyak lagi tanggung jawab yang terkait dengan peran sebagai orang tua. Tetapi yang ingin saya garis bawahi adalah hubungan antara orang tua dengan anak dalam keluarga.

Salah satu ilustrasi; apa yang terjadi bila orang tua membiarkan anaknya menderita dan resah kelaparan sedangkan orang tua berkecukupan. Mempunyai perusahaan besar, dapat berpergian ke luar negeri berulang kali, dan memiliki rumah yang megah? Sungguh ironis. Perumpamaan ini adalah untuk menggambarkan para pengambil keputusan dalam

90 manajemen negara yang tidak peduli pada kondisi rakyat. Tidak memberdayakan kekayaan yang dimiliki negara untuk kepentingan rakyat dan hanya mementingkan ego dan kepuasan pribadi, walau terkadang orang tua tidak menyadari bahwa tindakannya sungguh menyakitkan si anak.

Peran orang tua dalam memberikan pendidikan, memberikan nafkah, hingga memberikan support hingga anak mampu berdiri dan mandiri adalah peran yang tidak ubahnya merupakan peran manajemen negara dalam konteks hubungan pemerintah dengan rakyat yang dipimpin.

Pertama adalah peran orang tua untuk sadar bahwa memimpin seorang anak dan mengawal hingga mandiri adalah tugas yang memerlukan perhatian serius baik secara fisik (termasuk materi) dan mental (termasuk kemampuan). Peran pemerintah pun adalah memimpin rakyat dan mengawal untuk menjadi mandiri dalam mendapatkan penghidupan yang layak, ini berarti penyediaan lapangan kerja, fasilitas pendidikan, dan sebagainya. Sebagaimana layaknya orang tua terhadap anak, setidak mampunya atau semiskin-miskinnya sebuah keluarga, tentunya orang tua akan berjuang keras agar anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak, dan orang tua tidak akan meminta bayaran dari anaknya (setidaknya inilah yang normal berlaku sepengetahuan saya).

Kedua adalah peran orang tua untuk bersikap adil terhadap anak-anaknya (bila lebih dari satu). Keadilan sungguh sulit diterapkan tanpa adanya sikap mengesampingkan subyektifitas dari orang tua. Adil dengan ilmu pun akan berbeda hasilnya dengan adil dengan hitungan matematis. Apakah bila 20 tahun lalu seorang anak diberi uang jajan Rp1000,- lalu di masa sekarang anak diberi uang dengan jumlah yang sama berarti keadilan telah ditegakkan? Itulah kebodohan berkedok keadilan. Sama halnya dengan mengetahui bahwa daya beli masyarakat tidak berubah sejak 10 tahun yang lalu tetapi harga kebutuhan pokok dinaikan dengan alasan penyesuaian seharusnya memang dilakukan sejak dulu dan memang seharusnya harga sama dengan standar internasional. Sungguh suatu kebodohan berkedok keadilan menurut pandangan saya.

91 Ketiga adalah peran orang tua untuk tegas dalam mendidik anak. Tegas dalam arti tidak menghabiskan waktu untuk memenuhi kemanjaan dan kemalasan si anak. Bila memang orang tua memandang jalan yang terbaik telah diambil, maka tidak ada kata kompromi. Tetapi yang harus dipikirkan dengan kritis adalah cara memberikan pengertian kepada anak sehingga anak tumbuh menjadi orang yang kritis dan mengambil keputusan dengan pertimbangan logika yang jelas, bukan dengan aksi menunjukkan status sebagai orang tua yang berkuasa penuh dan mengharuskan anak untuk menurut tanpa syarat. Hal ini sama kondisinya dengan cara penyampaian kebijakan yang tidak populer. Sosialisasi tidak dapat diabaikan untuk mempertahankan keutuhan dan kestabilan dalam negara.

Brdasarkan contoh-contoh diatas, setidaknya ada 3 peran orang tua yang memiliki korelasi kuat dengan pola manajemen negara, yaitu: Pentingnya kesiapan sumber daya dan keahlian dalam memimpin; pentingnya keadilan yang cerdas dalam memimpin; dan pentingnya ketegasan serta sosialisasi cerdas atas penerapan kebijakan.

Dapat dicoba dan berani bercita-cita untuk berhasil…atau abaikan demi mempertahankan prinsip “nasi sudah menjadi bubur”?

32. Manajemen

Perusahaan Sebagai Pola Manajemen Negara

Siapa bilang mengelola negara itu susah? Wong yang ndak sampai kuliah saja bisa jadi wakil rakyat dan presiden. Bahkan ijasah SMU pun dapat dibeli (guyon lho…) hehehe...

Saya berpendapat, sungguh berat manajemen negara. Apalagi negara Indonesia. Bayangkan, Indonesia terdiri dari kumpulan daerah yang dulunya adalah kerajaan terpisah, bahkan ada yang dulunya berperang. Peninggalan sejarah tersebut terlebur menjadi satu karena adanya satu musuh bersama, yaitu bangsa asing yang datang menjajah. Negara Indonesia adalah negara kepulauan, yang berarti biaya transportasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara yang non kepulauan. Masalah pemerataan pembangunan pun menjadi masalah karena pada kenyataannya memang hambatan masalah transportasi merupakan masalah serius dalam mencapai populasi yang tersebar.

92

Apa yang harus dilakukan? Tentunya bukan dengan menyerahkan pengambilan keputusan manajemen negara kepada individu yang tidak mempunyai kepekaan (apalagi keahlian) terhadap masalah dan kendala yang lekat dengan usaha memberikan kesejahteraan kepada rakyat.

Suatu masalah yang mungkin sejak jaman kemerdekaan tidak pernah terpecahkan tentunya memerlukan pendekatan yang berbeda. Memerlukan shock therapy dan kegilaan dalam interpretasi yang positif adalah ide yang mungkin dipandang mustahil dilakukan karena tidak pernah dilakukan sebelumnya, tetapi selama ide tersebut dapat terukur atau dapat disusun parameternya, mengapa tidak?

Manajemen Perusahaan yang kerap kali penuh dengan kejutan dan kontroversi terkadang menghasilkan inovasi manajemen yang mampu melejitkan perusahaan hingga mampu keluar dari keterpurukan. Sejarah perusahaan lokal dan internasional yang

direstrukturisasi dengan terobosan manajemen sudah bukan cerita baru dan dapat ditemukan referensinya di internet maupun di toko-toko buku. Mulai dari General Electric yang direstrukturisasi oleh Jack Welch hingga Bank Niaga dan Garuda Indonesia yang digarap oleh Robby Djohan.

Lalu mengapa tidak melakukan terobosan dalam manajemen negara? Sesuatu yang selama ini kerap dilakukan oleh banyak perusahaan. Pada saat pendekatan birokrasi dan politik tidak dapat mencapai hasil yang optimal dalam menghadapi masalah.

Bagaimana dengan terobosan yang sebenarnya bukan terobosan. Apa itu? Contohnya, slogan satu perusahaan BUMN yang tidak perlu saya sebutkan pasti pembaca bisa menebak...slogannya ”Pasti Pas”. Sungguh geli saya mendengarnya...pasti pas koq bangga? ”harus pas” itu suatu kewajiban, bila tidak pas ada hukumnya, penipuan atau penggelapan. Kalau ”Pasti Lebih” nah itu baru pas untuk dislogankan. Hehehe...

93 33. Merebut

Hati Rakyat dan Mengembalikan Kepercayaan Kepada Pemerintah

Berbicara kepercayaan berarti tidak bisa tidak kita berbicara tentang perasaan. Orang dapat saling bunuh karena perasaan tersinggung atau dendam, tetapi juga dapat saling melindungi karena perasaan cinta dan belas kasih.

Berbicara tentang perasaan berarti berbicara tentang hati. Karena hati tidak terukur dalamnya, kekuatan datang dari hati, yaitu kolaborasi antara pengalaman hidup dan kharakter yang matang. Sehingga keputusan yang baik atau burukpun dipengaruhi oleh baik atau buruknya hati.

Tanpa dukungan rakyat, pemerintahan tidak akan pernah menyentuh esensi manajemen negara, yaitu berjuang untuk kesejahteraan dan keadilan rakyat Indonesia, tanpa kecuali, dimanapun.

Perebutan tampuk pemerintahan tidak jelas arahnya dan membuat frustasi rakyat karena siapapun pemimpinnya, pil pahit kebijakkannya. Kenapa demikian? Banyak sebab. Diantaranya adalah high cost birocracy yang sungguh-sungguh telah meracuni pemerintahan dengan sangat parah.

Tingginya biaya operasional pemerintahan tidak menyentuh esensi biaya yang diperuntukkan bagi pembangunan, hal ini terbukti dengan rasio pembangunan dan biaya yang tidak seimbang.

Hal kedua adalah pemanfaatan hak rakyat untuk pembangunan fasilitas infrastruktur yang tidak gratis, misalnya pembangunan bus way yang mengambil porsi jalan yang sudah ada, bukan melakukan pembangunan jalur baru, atau hanya dilakukan kompensasi pelebaran jalan atau penghilangan batas jalur cepat dan jalur lambat. Hal ini diperparah pula dengan ketidak tegasan peraturan, sehingga keberadaan bus transjakarta tidak

94 diimbangi dengan penghapusan bus reguler secara berkala sehingga seluruh jalan didominasi oleh bus.

Sampai kapan pemerintah sebagai ujung tombak manajemen negara akan berputar-putar pada rancangan manajemen negara yang semakin melemahkan negara ini? Saya yakin bahwa baik pemerintah, institusi terkait, rakyat dan semua elemen bangsa Indonesia adalah korban. Sehingga ini bukanlah suatu materi untuk saling tuding tetapi untuk menyadari bahwa semua elemen negara Indonesia tercinta saat ini telah melemah dengan sangat cepat dan berada dalam kondisi kritis.

Tetapi, saya berpendapat bahwa justru di saat kritis inilah kemampuan untuk bangkit berada dalam kapasitas yang optimal. Dengan penanganan yang tepat, kita dapat mengulang sejarah dunia yang takjub melihat keberhasilan negara Cina mereformasi kekuatan ekonomi hingga diprediksi akan menjadi kekuatan adidaya baru.

Hanya dengan 1 cara kebangkitan ini dapat dilaksanakan, yaitu dengan merebut hati rakyat dan mengembalikan kepercayaan kepada pemerintah. Bagaimana caranya? Tentunya dengan penuh kearifan, lebih bijaksana bagi pemerintah sebagai ujung tombak manajemen negara dan yang memiliki kekuasaan dalam pengambilan keputusan, untuk bersama dengan rakyat duduk di lantai kemelaratan. Leburkan kebanggaan dalam keikhlasan untuk berjuang sebagai rakyat, bukan sebagai birokrat. Berani bercita-cita menjadi melarat bukan jadi konglomerat, demi merebut hati rakyat dan tidak dikenang sebagai penjahat.

Saya percaya bahwa setetes air mata keikhlasan dari pemimpin yang sedih karena memikirkan rakyat yang dipimpinnya akan membangkitkan seribu hati rakyat untuk berjuang bersama sang pemimpin.

95 34. Idealisme

Terpimpin

Satu hal yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi demokrasi di Indonesia saat ini, yaitu: kita belum siap. Tetapi apakah kondisi ini membuat kita menyerah? Rakyat Indonesia adalah seperti anak yang baru beranjak dewasa dan merupakan murid baru di dunia global. Cara pemberian pengertian, pengajaran, pembekalan kepada seluruh lapisan masyarakat memerlukan bukan hanya kecerdasan dan kepakaran pemimpin dalam manajemen negara, tetapi juga memerlukan kepekaan dan ketegaran dalam memimpin.

Menjadi pemimpin itu pahit. Kenapa pahit? Karena menjadi pemimpin negara sama dengan menjadi kepala rumah tangga. Pada saat anak kita lapar, tidak mungkin kita berfoya-foya dalam kelimpahan makanan. Demikian pula seharusnya para pemimpin dalam manajemen negara.

Sikap acuh pada aset negara (atau dalam bahasa saya adalah berfoya-foya) terbukti dengan lemahnya kontrol negara terhadap hukum yang merupakan payung kendali atas segala hal dalam aspek kehidupan manajemen negara. Ibaratnya sebuah keluarga yang memiliki uang berkelimpahan, terkadang takabur dan tidak mengontrol keuangan keluarga, demikian pula yang terjadi di negara kita, yang anehnya, justru ini terjadi di negara kita yang sebenarnya tidak memiliki banyak uang.

Sayapun ingin mengkoreksi beberapa pihak, terutama para guru akademis dan pemimpin kita yang saya hormati terkait dengan pernyataan dan penanaman bahwa Indonesia kaya raya. Hal ini membiaskan akar permasalahan yang mungkin akan terbawa hingga dewasa, mengapa? Karena belum semuanya disampaikan dengan benar.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Ibarat seorang anak kecil yang memiliki kecerdasan (IQ tinggi), tetapi pada kenyataannya IQ tinggi baru merupakan sebagian modal yang tidak ada artinya tanpa latihan dan pembelajaran. Indonesia Raya memang kaya raya, tetapi tanpa pengelolaan dan pengendalian yang kuat, sama saja

96 dengan memberi makan tikus dan membiarkan penjarahan yang sama saja artinya dengan menjadikan negara kita tercinta sebagai bulan-bulanan pencuri lokal dan internasional.

Indonesia adalah negara besar, ini sangat benar, tetapi berbeda antara besar secara demografis dengan besar sebagai suatu bangsa. Bagaimana mungkin kita merasa sebagai bangsa yang besar dengan status 10 besar negara terkorup, negara yang tidak stabil, tidak adanya penegakan hukum, dan masih banyak lagi rentetan afirmasi negatif yang telah melekat di benak masyarakat internasional.

Masih segar dalam ingatan saya kasus Ahmadiah yang ramai menjadi issue pro dan kontra di seluruh lapisan masyarakat kita dan berujung pada kerusuhan di Monumen Nasional dan SK 3 Menteri. Sungguh membuat saya heran, karena mungkin sistem SK 3 menteri untuk suatu issue nasional ini hanya ada satu-satunya di Indonesia. Apa isi dari SK tersebut merupakan suatu fenomena tersendiri karena menurut pandangan saya pribadi adalah suatu cermin ketakutan kalau bukan ketidak-mampuan para pengambil keputusan dalam manajemen negara untuk mengendalikan konflik dengan cepat, atau mungkin memang tidak pernah memahami manajemen konflik.

Rentetan kekecewaan saya diatas tidaklah lain daripada suatu keluh kesah yang juga dirasakan oleh banyak kalangan dalam masyarakat kita. Saya sungguh sedih dengan kenyataan diatas dan saya merindukan masa-masa Indonesia dikenal sebagai macan Asia di semua bidang kehidupan negara.

Dapatkah Indonesia kembali menjadi macan Asia? Sangat bisa. Dalam waktu yang mungkin sama cepatnya dengan negara Cina mereformasi perekonomian nasionalnya dan menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia saat ini. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan memperkenalkan, memahami, menjalankan “Idealisme yang terpimpin”. Benda apa lagi ini? Ini bukan suatu hal yang baru dalam sejarah bangsa Indonesia. Bila dahulu kita mengenal demokrasi terpimpin yang sebenarnya justru

97 menjadi belenggu bagi kebebasan bermasyarakat khususnya dalam kehidupan politik, Idealisme terpimpin adalah kendali dalam kebebasan menyampaikan pendapat.

Kendali dalam menyampaikan pendapat adalah salah satu cermin kepribadian dewasa dan kecerdasan suatu bangsa. Kendali ini tidak hanya diharapkan dari satu sisi, tetapi harus dijalankan oleh 2 sisi, yaitu pemerintah (manajemen negara) dan yang diperintah (rakyat – manajemen sosial).

Menelaah kembali pada bahasan saya diatas mengenai fungsi Kesultanan. Kesultanan dapat diberdayakan sebagai salah satu fungsi manajemen sosial yang dapat diterapkan dalam penyaluran idealisme. Apakah pemerintah harus takut pada kebangkitan kekuatan kesultanan? Ya, pemerintah harus takut! Karena distribusi kekuatan dalam arti mengimbangi manajemen negara dengan manajemen sosial akan menghasilkan suatu konsekuensi yaitu pemerintah harus lebih cerdas dalam menjalankan pemerintahan.

Saat tulisan ini berlangsung, heboh pemberitaan mengenai kemarahan mahasiswa yang diekspresikan dengan pembakaran mobil plat merah dan lagi-lagi perusakan pagar kompleks DPR. Tidak tahukah mahasiswa bahwa negara telah menghabiskan milyaran rupiah untuk memagari “rumah rakyat” agar rakyat tidak dapat lagi masuk ke dalam kompleks tersebut dan merubah kompleks DPR/MPR tersebut menjadi BPR “Benteng Perwakilan Rakyat”?

Di editorial pagi saya mendengar bahasan bahwa hal tersebut adalah ekspresi kemarahan mahasiswa akibat tersumbatnya kejujuran, keterbukaan, arus komunikasi antara pemerintah sebagai fungsi manajemen negara dan mahasiswa sebagai bagian dari manajemen sosial.

Memimpin suatu idealisme, berarti memerlukan sosok-sosok pemimpin yang cerdas, peka, dan berani. Tetapi tentunya tidak dapat hanya mengandalkan pimpinan tertinggi atau hanya mengandalkan para menteri. Kecerdasan dan kepekaan ini perlu dibangkitkan atau diseleksi mulai dari tingkat pengurus RT sampai dengan Presiden. Mulai dari

98 pemimpin partai yang jumlahnya puluhan sampai dengan para wakil rakyat yang jumlahnya ribuan.

Masih segar dalam ingatan saya, heboh ijasah SMA palsu yang terbongkar di kalangan pejabat dan wakil rakyat, atau gelar MM dari institusi abal-abal yang mungkin singkatan dari Mas Mas (MM)?! Hahaha…

Itulah cermin kecerdasan para pengambil keputusan dalam manajemen negara yang seharusnya mendapatkan hukuman berat, bukan hanya sekedar penataran, teguran atau pemberhentian. Kebohongan terencana terhadap sistem manajemen negara yang telah dirancang oleh para pelaku dalam manajemen negara itu sendiri adalah suatu keburukan yang tidak dapat ditolerir karena merupakan sendi-sendi kelemahan yang akan menghancurkan sistem dan juga fungsi kepemimpinan.

Akhir kata, saya ingin mengajak para pemimpin dan calon pemimpin untuk kembali ke rakyat. Kembali ke rakyat. Kembali ke rakyat. Menjadi pemimpin adalah suatu tanggung jawab yang dahsyat dan memiliki konsekuensi dunia dan akhirat, setidaknya itulah yang saya yakini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->