P. 1
adadadadPerkembangan Peserta Didik Pada Anak Sd

adadadadPerkembangan Peserta Didik Pada Anak Sd

|Views: 178|Likes:
Published by bekerzBDBAX
dadadddddddddddddddddddddddddd
dadadddddddddddddddddddddddddd

More info:

Published by: bekerzBDBAX on May 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2015

pdf

text

original

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PADA ANAK SD A.

PERKEMBANGAN FISIK- MOTORIK Seiring dengan pertumbuhan fisiknya yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. di menggerakan anggota badanya dengan tujuan yang jelas seperti : 1. Menggerakan tanggan untuk menulis, menggambar, mengambil makanan, melempar bola, dan sebagainnya. 2. Menggerakkan kaki untuk menendang bola, lari mengejar teman pada saat main kucing-kucingan. Fase untuk sekolah dasar 7-12 tahun ditandai dengan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. oleh karena itu usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik, baik halus maupun kasar, dapat dijelaskan sebagai berikut : No. Motorik HAlus No. Motorik Kasar 1 Menulis 1 Baris Bebaris 2 Menggambar atau Melukis 2 Seni bela diri 3 Mengetik (computer) 3 Senam 4 Membuat kerajinan dari tanah liat 4 Berenang 5 Menjahit 5 Atletik 6 Membuat kerajinan dari kertas 6 Main sepak bola Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu factor penentu kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan maupun keterampilan. oleh karena itu perkembangan motorik sangant menunjang keberhasilan belajar peserta didik. upaya –upaya sekolah untuk memfasilitasi perkembangan motorik secara fungsional tersebut diantaranya adalah : 1. Sekolah merancang pelajaran keterampilan yang bermanfaat bagi perkembangan atau kehidupan anak, seperiti mengetik, menjahit, atau kerajinan tangan lainnya. 2. Sekolah memberikan pelajaran senam atau olahraga kepada para siswqaa, yang jelas disesuaikan dengan usia siswa. 3. Sekolah perlu merekrut ( Mengabngkat) guru-guru yang yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut. 4. Sekolah menyediakan sarana untuk keberlangsungan penyelenggaraan tersebut. seperti alat-alat yang diperlukan, dan tempat atau lapangan olahraga. B. PERKEMBANGAN INTELEKTUAL Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugastugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif seperti membaca, menulis dan menghitung atau CALISTING. Sebelum masa ini, yaitu masa persekolah( usia taman kanak-kanak atau Raudatul Athfal), daya fikir anak masi bersifat berangan-angan atau berhayal, sedangkan pada usia SD/MI daya piker sudah berkembangnke arah berfikir konkret dan rasional. Dilihat dari aspek kognitif, menurut piaget masa ini berada pada tahap oprasional konkret, yang ditanda dengan : 1. Mengklasifikasi/ menggelompokan benda-benda berdasarkan cirri yang sma.

2. Menyusun mengasosiasikan / Menghubungkan atau menghitung angka-angka atau bilangan. 3. Memecahkan masalah (problem solving) yang sederhana Kemampuan intelektual pada dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya. disamping itu kepada anak sudah dapat diberikan dasar-dasar keilmuan seperi membaca, menulis dan berhitung.untuk mengembangkan daya nalarnya daya cipta atau kreatifitas anak maka kepada anak perlu diberikan peluang-peluang untuk bertanya, berpendapat, dan melihat (memberikan kritik) tentang berbagai hal dengan pelajaran atau peristiwa yang terjadi di lingkunagn. C. PERKEMBANGAN BAHASA Bahasa dalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. dalam pengertian ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, atau lukisan. Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Pada awal ini anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata, dan pada masa akhir kira-kira usia 11-12 tahun anak telah dapat menguqasai sekitar 5.000 kata (Abin Syamsuddin M, 2001; dan Nana Syaodih S, 1990). Dengan dikuasainya keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan cerita yang bersifat kritis ( tentang perjalan, petualangan atau riwayat kehidupan para pahlawan). Pada masa ini tingkat berpikir anak sudah lebih maju, dia banyak menanyakan waktu dan soal-akibat. oleh karena itu, kata tanya yang digunakannya pun yang semula hanya “apa” , sekarang sudah diikuti dengan pertanyaan “di mana”, “dari mana”, “bagaimana”, “kemana” dan “mengapa”. Disekolah, perkembangan bahasa anak ini diperkuat dengan diberikannya mata pelajaran bahasa ibu dan bahasa Indonesia / bahkan disekolah-sekolah lain diberikan bahasa inggris. Dengan diberikannya pelajaran bahasa di sekolah para siswa diharapkan dapat menguasai dan menggunakannya sebagai alat : 1. Berkomunikasi secara baik dengan orang lain 2. Mengekspresikan pikiran, perasaan, sikap atau pendapatnya 3. Memahami isi dari setiap bahan bacaan (buku, majalah, Koran, atau referensi lain) yang dibacanya. Untuk mengembangkan kemampuan berbahasa atau keterampilan berkomunikasi anak melalui tulisan, sebagai cara untuk mengspresikan perasaan, gagasan atau pikirannya, maka sebaiknya kepada anak dilatihkan untuk untuk membuat karangan atau tulisan tentang berbagai hal yang terkait dengan pengalaman hidupnya sendiri atau kehidupan pada umunya. D. PERKEMBANGAN EMOSI Pada usia sekolah khususnya dikelas-kelas 4, 5, 6, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima atau tida disenangioleh orang lain. oleh karena itu dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua atau guru dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. apabila anaka dikembangkan di lingkungan keluarga yang suasana emosinya stabil maka perkembangan emosi anak cenderung stabil atau sehat. Akan tetapi apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya kurang stabil atau kurang control seperti marah-marah, mudah mengeluh, kecewa dan pesimis dalam menghadapi masalah, maka perkembangan emosi anak cenderung kurang stabil atau tidak sehat.

Tabel Karakteristik Emosi Anak NO Karakteristik Emosi yang Stabil Sehat NO Karakteristik Emosi yang tidak stabil (tidak sehat) 1 Menunjukkan wajah yang cerah 1 Menunjukkan wajah yang murung 2 Mau bergaul dengan teman secara baik 2 Mudah tersinggung 3 Bergairah dalam belajar 3 Tidak mau bergaul dengan orang lain 4 Dapat berkonsentrasi dalam belajar 4 Suka marah-marah 5 Bersikap respek (menghargai) terhadap diri sendiri dan orang lain 5 Suka mengganggu teman 6 6 Tidak percaya diri

Emosi merupakan factor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. emosi positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu yang tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif berdiskusi, mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah, dan disiplin dalam belajar. Sebaliknya apabila yang menyertai proses belajar itu emosi yang negative, seperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, maka peruses belajar tersebut akan mengalami hambatan, dalam artiindividu tidak memusatkan perhatian untuk belajar,sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagaln dalam belajarnya. Mengingat hal tersebut, maka guru seyogianya mempunyai kepedulian untuk menciptakan suasana proses belajar mengajar yang menyenangkan atau kondusif bagi terciptanya proses belajar siswa secara efektif. upaya dapat ditempuh guru dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang kondusif itu adalah sebagai berikut. 1. Mengembangkan iklim (suasana) kelas yang bebas dari ketegangan, seperti guru bersikap ramah, tidak judes atau galak. 2. Memperlakukan siswa sbagai individual yang mempunyai harga diri (sef esteem),seperti guru menghargai pribadi, pendapat dan hasil karya wisata, serta tidak menganakemaskan atau menganakkritikan siswa. 3. Memberikan nilai secara adil dan objektif 4. Menciptakan kondisi kelas yang tertib, bersih, dan sehat (ventilasi udara, dan pencahayaannya baik. http://dodiiwandra.blogspot.com/2012/01/perkembangan-peserta-didik-pada-anak-sd.html Berbagai Macam Emosi Anak Sekolah Dasar Oleh NENENG MUTIARA MAULIDA (Mahasiswa Prodi PKK 2011 FPTK UPI) MASA sekolah merupakan periode memuncaknya emosi, yang ditandai dengan munculnya rasa takut yang kuat, dan meledaknya cemburu yang tidak beralasan. Pada masa ini telah terlihat perbedaan – perbedaan dalam emosi dan pola ekspresinya dapat ditafsirnya dengan segera. Ketegangan emosi pada anak – anak ini sebagian disebabkan oleh kelelahan karena terlalu lama bermain, kurang tidur, dan terlalu sedikit makan sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan jasmaniah. Kebanyakan anak – anak merasa bahwa mereka sanggup melakukan lebih banyak lagi daripada apa yang diperbolehkan orang tua

dan mereka membangkang terhadap pembatasan – pembatasan yang diberlakukan terhadap dirinya. Emosi yang umum dialami pada tahap perkembangan ini adalah marah, takut, cemburu, kasih sayang, rasa ingin tahu, cemas dan kegembiraan. Masing – masing emosi tersebut mempunyai pola ekspresi yang telah berkembang baik pada masa prasekolah dan masing – masing emosi itu ditimbulkan oleh perangsang yang umum dialami oleh kebanyakan anak – anak. Menginjak masa sekolah, anak segera menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Dengan demikian ia mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar mengendalikan dan mengungkapkan emosinya. Emosi – emosi yang terdapat pada masa prasekolah, terdapat juga pada masa sekolah. Perbedaannya terletak dalam dua hal, pertama adalah situasi yang menimbulkan emosi, dan kedua adalah dalam bentuk pernyataan atau ekspresinya. Perbedaan ini ialah hasil dari bertambah luasnya pengalaman dan pengetahuan anak. Emosi yang telah disebutkan di atas tidaklah merupakan emosi yang siap sedia atau siap pakai sejak lahir. Emosi itu harus berkembang dan dikembangkan. Perkembangan emosional dipengaruhi oleh dua fakta yakni kematangan dan belajar. Jadi oleh kedua – duanya, bukan hanya oleh salah satu dari padanya. Kenyataan bahwa reaksi emosional tertentu tidak muncul sejak awal kehidupan tidak berarti bahwa itu tidak dibawa sejak lahir. Mungkin emosi itu akan berkembang lebih lama sesuai dengan kematangan intelegensi si anak atau bersamaan dengan perkembangan sistem indokrin. Melalui belajar, objek dan situasi yang pada mulanya tidak menimbulkan respon emosional, dikemudian hari mungkin menimbulkan respon emosional. Pertumbuhan dan perkembangan membuat anak bersifat berbeda terhadap situasai – situasi yang khas. Apa yang menakutkan baginya pada usia tertentu mungkin akan menimbulkan reaksi emosional yang sama. Demikian pula rangsangan atau stimuli yang dulunya tidak menimbulkan emosi dengan berbagai tingkat intensitas. Belajar dan kematangan terjalin sangat erat satu sama lain sehingga sukar untuk menetapkan pengaruh mana yang relatif lebih kuat. Berikut penjelasan mengenai jenis – jenis emosi yang ada pada masa anak – anak menurut Paimun (1997: 189) yaitu: 1.Takut Adanya rasa takut pada anak – anak adalah hal yang wajar selama rasa takut itu tidak terlalu kuat dan hanya merupakan peringatan terhadap bahaya. Sayangnya, kebanyakan anak – anak belajar takut terhadap hal – hal yang tidak berbahaya, dan rasa takut ini menjadi penghambat terhadap tindakan yang mungkin sekali sangat berguna ataupun menyenangkan. Lebih bahaya lagi, banyak anak yang mengalami berbagai macam rasa takut yang kuat dalam dirinya, sehingga kesehatan fisik dan mentalnya terganggu. Bila tidak ada penyaluran yang memuaskan bagi ketegangan – ketegangan emosional ini, maka kesehatan anak akan terganggu, pandangan hidupnya akan tercemar, dan penyesuaiannya terhadap sesama manusia tidak menguntungkan. Dengan demikian menurut Qomaruzzaman Awwab (2008 : 18) bahwa “rasa takut menjadi penghalang bagi anak, padahal seharusnya rasa takut tersebut merupakan peringatan terhadap kemungkinan bahaya”. 2.Cemas Cemas ialah suatu bentuk rasa takut yang bersifat khayalan. Jadi bukan rasa takut yang disebabkan stimulus dari lingkungan si anak. Kecemasan ini mungkin datangnya dari situasi – situasi yang dikhayalkan atau diimajinasikan akan terjadi. Tapi dapat pula alasannya dari buku – buku, film, komik, radio, ataupun cara – cara rekreasi populer lain. Karena rasa cemas ini disebabkan oleh imajinasi atau

khayalandan bukan oleh stimulus nyata, maka ia tidak terdapat pada anak – anak di usia yang sangat muda. Kecemasan dapat terjadi bila anak telah mencapai tingkat perkembangan intelektual yang mana ia bisa berimajinasi tentang hal – hal yang secara langsung tidak ada di hadapannya. Jadi, jelaslah bahwa rasa cemas biasanya hanya sesuatu yang tidak masuk akal dan ynag dibesar – besarkan. Akan tetapi hai ini mungkin merupakan hal yang wajar dalam perkembangan anak. 3.Marah Marah merupakan reaksi emosional yang lebih sering terjadi pada masa anak – anak dikarenakan lebih banyak stimulus yang menimbulkan kemarahan dalam kahidupan anak daripada stimulus yang menimbulkan rasa takut, dan banyak anak yang pada usia muda telah menemukan bahwa marah merupakan cara yang baik untuk mendapat perhatian atau memuaskan keinginannya. Anak yang lebih tua lebih banyak mengalami ketegangan emosional sebagai akibat frustasi bila dibandingkan dengan anak usia muda. Frustasi ialah perasaan ketidakberdayaan, kekecewaan, ketidakmampuan, atau kecemasan yang kuat yng terjadi jika suatu keinginan terhambat. 4.Cemburu Cemburu merupakan respon yang normal terhadap kehilangan nyata ataupun ancaman terhadap kehilangan kasih sayang. Cemburu adalah kelanjutan dari marah yang menimbulkan sikap benci atau dendam yang ditujukan terhadap orang, sedangkan marah dapat ditujukan tidak hanya terhadap orang tetapi terhadap diri sendiri, dan benda – benda. Dalam cemburu sering terdapat kombinasi antara marah dan takut. Orang yang cemburu merasa tidak yakin atau tidak aman dalam hubungannya dengan orang yang dicintainya. Apa yang menyebabkan orang cemburu dan bagaimana bentuk kecemburuannya banyak dipengaruhi oleh pendidikannya dan perlakuan yang diterimanya dari orang lain. Sifat cemburu pada masa anak – anak dapat memengaruhi sikap individu terhadap orang lain, tidak hanya pada masa anak – anak tapi sepanjang hidupnya. Puncak kecemburuan datang pada umur 3 dan 4 tahun, sedangkan puncak kecemburuan berikutnya muncul pada masa adolesen. 5.Kegembiraan, Kesenangan atau Kenikmatan Kegembiraan dalam bentuknya yang lebih lunak dikenal sebagai ketenangan atau kebahagiaan, yang merupakan emosi yang positif karena individu yang mengalaminya tidak melakukan usaha untuk menghilangkan situasi yang menimbulkannya. Ia menerima situasi tersebut atau berusaha untuk mempertahankannya karena hasil yang menyenangkan yang diperolehnya. Situasi – gembira ini akan berbeda pada setiap perkembangan usianya. 6.Kasih sayang Kasih sayang atau cinta adalah reaksi emosional yang ditujukan terhadap seseorang atau suatu benda. Kasih sayang anak terhadap orang lain yang terjadi secara spontan dapat ditimbulkan oleh suatu stimulasi sosial yang minim sekalipun. Namun, belajar memainkan peranan yang penting dalam menentukkan orang – orang tertentu atau objek – objek tertentu terhadap siapa anak menaruh kasih sayang atau cintanya. Kasih sayang atau cinta itu diperoleh melalui belajar, bukan dibawa dari lahir, maka cintanya maka cintanya terhadap anggota keluarga atau terhadap orang lain yang tidak mempunyai tali persaudaraan dengannya tergantung pada bagaimana mereka memperlakukan dan apakah hubungannya merupakan pengalaman yang menyenangkan. 7.Ingin Tahu Minat terhadap lingkungannya sangat terbatas selama usia 2 atau 3 bulan pertama dari kehidupan terkecuali bila stimulus yang kuat ditujukan terhadap si bayi. Setelah usia itu, apa saja yang baru atau

aneh baginya, pasti akan menimbulkan rasa ingin tahunya. Hal ini mendorongnya untuk melakukan eksplorasi sampai rasa ingin tahunya terpuaskan. Minatnya tidak hanya terbatas pada objek – objek materi dalam lingkungannya. Tekanan sosial, dalam bentuk teguran dan hukuman mencegahnya untuk memuaskan rasa ingin tahunya melalui eksplorasi lansung. Oleh karena itu, segera setelah ia dapat berbicara, ia mulai mengajukan pertanyaan – pertanyaan mengenai rasa ingin tahunya. “Masa bertanya” dimulai pada usia 3 tahun dan mencapai puncaknya kurang lebih pada usia 6 tahun, ketika anak mulai masuk sekolah dan menerima pendidikan formal. Bila ia telah cukup lancar membaca, maka ia akan menemukan rasa ingin tahunya melalui proses eksplorasi membaca secara langsung. http://opini.berita.upi.edu/2013/01/20/berbagai-macam-emosi-anak-sekolah-dasar/ A. PENGERTIAN EMOSI Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995). Dalam kehidupan sehari-hari, emosi sering diistilahkan juga dengan perasaan. Misalnya, seorang siswa hari ini ia merasa senang karena dapat mengerjakan semua pekerjaan rumah (PR) dengan baik. Siswa lain mengatakan bahwa ia takut menghadapi ujian. Senang dan takut berkenaan dengan perasaan, kendati dengan makna yang berbeda. Senang termasuk perasaan, sedangkan takut termasuk emosi. Perasaan menunjukkan suasana batin yang lebih tenang dan tertutup karena tidak banyak melibatkan aspek fisik, sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang dinamis dan terbuka karena melibatkan ekspresi fisik. Perasaan (feeling) seperti halnya emosi merupakan suasana batin atau suasana hati yang membentuk suatu kontinum atau garis yang merentang dari perasaan sangat senang/sangat suka sampai tidak senang/tidak suka. Perasaan timbul karena adanya rangsangan dari luar, bersifat subjektif dan temporer. Misalnya, sesuatu yang dirasakan indah oleh seseorang pada waktu melihat suatu lukisan, mungkin tidak indah baginya beberapa tahun yang lalu, dan tidak indah bagi orang lain. Ada juga perasaan bersifat menetap menjadi suatu kebiasaan dan membentuk adatistiadat. Misalnya, orang Padang senang makan pedas, orang Sunda senang makan sayur/lalap sambal. Simpati dan empati merupakan bentuk perasaan yang cukup penting dalam kehidupan bersosialisai dengan orang lain. Simpati adalah suatu kecenderungan untuk senang atau tertarik kepada orang lain. Empati adalah suatu kondisi perasaan jika seseorang berada dalam situasi orang lain. Biasanya kita rasakan saat melihat film atau sinetron dramatis. Emosi merupakan perpaduan dari beberapa perasaan yang mempunyai intensitas relatif tinggi dan menimbulkan suatu gejolak suasana batin. Seperti halnya perasaan, emosi juga membentuk suatu kontinum atau garis yang bergerak dari emosi positif sampai negatif. Minimal ada empat ciri emosi, yaitu :

1. Pengalaman emosional bersifat pribadi/subjektif, ada perbedaan pengalaman antara individu yang satu dengan lainnya; 2. Ada perubahan secara fisik (kalau marah jantung berdetak lebih cepat); 3. Diekspresikan dalam perilaku seperti takut, marah, sedih, dan bahagia; 4. Sebagai motif, yaitu tenaga yang mendorong seseorang melakukan kegiatan, misalnya orang yang sedang marah mempunyai tenaga dan dorongan untuk memukul atau merusak barang. (Kurnia, 2008 : 2.23) Emosi adalah sebagai sesuatu suasana yang kompleks (a complex feeling state) dan getaran jiwa (a strid up state) yang menyertai atau munculnya sebelum dan sesudah terjadinya perilaku. (Syamsudin, 2005:114). Sedangkan menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual, and that shows it self in his overt behavior.” Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Menurut James & Lange, bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi. B. PERKEMBANGAN EMOSI ANAK Tahun-tahun awal kehidupan seorang anak ditandai dengan peristiwa-peristiwa yang bersifat fisik, misalnya kehausan dan kelaparan serta peristiwa-peristiwa yang bersifat interpersonal, seperti ditinggalkan di rumah dengan pengasuh atau babysitter, yang dapat menyebabkan timbulnya emosi negatif. Kemampuan dalam mengelola emosi negatif ini sangat penting bagi pencapaian tugas-tugas perkembangan dan berkaitan dengan kemampuan kognitif dan kompetensi sosial (Garner dan Landry, 1994; Lewis, Alessandri dan Sullivan, 1994 dalam Pamela W., 1995:417). Perilaku awal emosi dapat digunakan untuk memprediksi perkembangan kemampuan afektif (Cicchetti, Ganiban dan Barnet, 1991 dalam Pamela W., 1995:417). Keluarga dengan orang tua yang memiliki emosi positif cenderung memiliki anak dengan perkembangan emosi yang juga positif, demikian pula sebaliknya (Pamela W., 1995:422). Emosi memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak, baik pada usia prasekolah maupun pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya, karena memiliki pengaruh terhadap perilaku anak. Woolfson, 2005:8 menyebutkan bahwa anak memiliki kebutuhan emosional, yaitu : 1. Dicintai, 2. Dihargai, 3. Merasa aman, 4. Merasa kompeten, 5. Mengoptimalkan kompetensi Apabila kebutuhan emosi ini dapat dipenuhi akan meningkatkan kemampuan anak dalam mengelola

emosi, terutama yang bersifat negatif. Hurlock, 1978:211 menyebutkan bahwa emosi mempengaruhi penyesuaian pribadi sosial dan anak. Pengaruh tersebut antara lain tampak dari peranan emosi sebagai berikut. 1. Emosi menambah rasa nikmat bagi pengalaman sehari-hari. Salah satu bentuk emosi adalah luapan perasaan, misalnya kegembiraan, ketakutan ataupun kecemasan. Luapan ini menimbulkan kenikmatan tersendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan memberikan pengalaman tersendiri bagi anak yang cukup bervariasi untuk memperluas wawasannya. 2. Emosi menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan. Emosi dapat mempengaruhi keseimbangan dalam tubuh, terutama emosi yang muncul sangat kuat, sebagai contoh kemarahan yang cukup besar. Hal ini memunculkan aktivitas persiapan bagi tubuh untuk bertindak, yaitu hal-hal yang akan dilakukan ketika tibul amarah. Apabila persiapan ini ternyata tidak berguna, akan dapat menyebabkan timbulnya rasa gelisah, tidak nyaman, atau amarah yang justru terpendam dalam diri anak. 3. Ketegangan emosi mengganggu keterampilan motorik. Emosi yang memuncak mengganggu kemampuan motorik anak. Anak yang terlalu tegang akan memiliki gerakan yang kurang terarah, dan apabila ini berlangsung lama dapat mengganggu keterampilan motorik anak. 4. Emosi merupakan bentuk komunikasi. Perubahan mimik wajah, bahasa tubuh, suara, dan sebagainya merupakan alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyatakan perasaan dan pikiran (komunikasi non verbal). 5. Emosi mengganggu aktivitas mental. Kegiatan mental, seperti berpikir, berkonsentrasi, belajar, sangat dipengaruhi oleh kestabilan emosi. Oleh karena itu, pada anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan emosi dapat mengganggu aktivitas mentalnya. 6. Emosi merupakan sumber penilaian diri dan sosial. Pengelolaan emosi oleh anak sangat mempengaruhi perlakuan orang dewasa terhadap anak, dan ini menjadi dasar bagi anak dalam menilai dirinya sendiri. 7. Emosi mewarnai pandangan anak terhadap kehidupan. Peran-peran anak dalam aktivitas sosial, seperti keluarga, sekolah, masyarakat, sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi mereka, seperti rasa percaya diri, rasa aman, atau rasa takut. 8. Emosi mempengaruhi interaksi sosial. Kematangan emosi anak mempengaruhi cara anak berinteraksi dengan lingkungannya. Di lain pihak, emosi juga mengajarkan kepada anak cara berperilaku sehingga sesuai dengan ukuran dan tuntutan lingkungan sosial. 9. Emosi memperlihatkan kesannya pada ekspresi wajah. Perubahan emosi anak biasanya ditampilkan pada ekspresi wajahnya, misalnya tersenyum, murung atau cemberut. Ekspresi wajah ini akan mempengaruhi penerimaan sosial terhadap anak. 10. Emosi mempengaruhi suasana psikologis. Emosi mempengaruhi perilaku anak yang ditunjukkan kepada lingkungan (covert behavior). Perilaku ini mendorong lingkungan untuk memberikan umpan balik. Apabila anak menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan, dia akan menerima respon yang kurang menyenangkan pula, sehingga anak akan merasa tidak dicintai atau diabaikan. 11. Reaksi emosional apabila diulang-ulang akan berkembang menjadi kebiasaan. Setiap ekspresi emosi yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan pada suatu titik tertentu akan sangat sulit diubah. Dengan demikian, anak perlu dibiasakan dengan mengulang-ulang perilaku yang bersifat positif, sehingga akan menjadi kebiasaan yang positif pula. Anak mengkomunikasikan emosi melalui verbal, gerakan dan bahasa tubuh. Bahasa tubuh ini perlu kita

cermati karena bersifat spontan dan seringkali dilakukan tanpa sadar. Dengan memahami bahasa tubuh inilah kita dapat memahami pikiran, ide, tingkah laku serta perasaan anak. Bahasa tubuh yang dapat diamati antara lain : ekspresi wajah, napas, ruang gerak, dan pergerakan tangan dan lengan. Pada usia prasekolah anak-anak belajar menguasai dan mengekspresikan emosi (Saarni, Mumme, dan Campos, 1998 dalam De Hart, 1992:348). Pada usia 6 tahun anak-anak memahami konsep emosi yang lebih kompleks, seperti kecemburuan, kebanggaan, kesedihan dan kehilangan (De Hart, 1992:348), tetapi anak-anak masih memiliki kesulitan di dalam menafsirkan emosi orang lain (Friend and Davis, 1993). Pada tahapan ini anak memerlukan pengalaman pengaturan emosi, yang mencakup : 1. Kapasitas untuk mengontrol dan mengarahkan ekspresi emosional. 2. Menjaga perilaku yang terorganisir ketika munculnya emosi-emosi yang kuat dan untuk dibimbing oleh pengalaman emosional. Perkembangan emosi pada anak melalui beberapa fase yaitu : 1. Pada bayi hingga 18 bulan a. Pada fase ini, bayi butuh belajar dan mengetahui bahwa lingkungan di sekitarnya aman dan familier. Perlakuan yang diterima pada fase ini berperan dalam membentuk rasa percaya diri, cara pandangnya terhadap orang lain serta interaksi dengan orang lain. Contoh ibu yang memberikan ASI secara teratur memberikan rasa aman pada bayi. b. Pada minggu ketiga atau keempat bayi mulai tersenyum jika ia merasa nyaman dan tenang. Minggu ke delapan ia mulai tersenyum jika melihat wajah dan suara orang di sekitarnya. c. Pada bulan keempat sampai kedelapan bayi mulai belajar mengekspresikan emosi seperti gembira, terkejut, marah dan takut. d. Pada bulan ke-12 sampai 15, ketergantungan bayi pada orang yang merawatnya akan semakin besar. Ia akan gelisah jika ia dihampiri orang asing yang belum dikenalnya. Pada umur 18 bulan bayi mulai mengamati dan meniru reaksi emosi yang di tunjukan orangorang yang berada di sekitar dalam merespon kejadian tertentu. 2. Usia 18 bulan sampai 3 tahun a. Pada fase ini, anak mulai mencari-cari aturan dan batasan yang berlaku di lingkungannya. Ia mulai melihat akibat perilaku dan perbuatannya yang akan banyak mempengaruhi perasaan dalam menyikapi posisinya di lingkungan. Fase ini anak belajar membedakan cara benar dan salah dalam mewujudkan keinginannya. b. Pada anak usia dua tahun belum mampu menggunakan banyak kata untuk mengekspresikan emosinya. Namun ia akan memahami keterkaitan ekspresi wajah dengan emosi dan perasaan. Pada fase ini orang tua dapat membantu anak mengekspresikan emosi dengan bahasa verbal. Caranya orang tua menerjemahkan mimik dan ekspresi wajah dengan bahasa verbal. c. Pada usia antara 2 sampai 3 tahun anak mulai mampu mengekspresikan emosinya dengan bahasa verbal. Anak mulai beradaptasi dengan kegagalan, anak mulai mengendalikan prilaku dan menguasai diri. 3. Usia antara 3 sampai 5 tahun a. Pada fase ini anak mulai mempelajari kemampuan untuk mengambil inisiatif sendiri. Anak mulai belajar dan menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan anak lain, bergurau dan melucu serta mulai mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. b. Pada fase ini untuk pertama kali anak mampu memahami bahwa satu peristiwa bisa menimbulkan

reaksi emosional yang berbeda pada beberapa orang. Misalnya suatu pertandingan akan membuat pemenang merasa senang, sementara yang kalah akan sedih. 4. Usia antara 5 sampai 12 tahun a. Pada usia 5-6 anak mulai mempelajari kaidah dan aturan yang berlaku. Anak mempelajari konsep keadilan dan rahasia. Anak mulai mampu menjaga rahasia. Ini adalah keterampilan yang menuntut kemampuan untuk menyembunyikan informasiinformasi secara. b. Anak usia 7-8 tahun perkembangan emosi pada masa ini anak telah menginternalisasikan rasa malu dan bangga. Anak dapat menverbalsasikan konflik emosi yang dialaminya. Semakin bertambah usia anak, anak semakin menyadari perasaan diri dan orang lain. c. Anak usia 9-10 tahun anak dapat mengatur ekspresi emosi dalam situasi sosial dan dapat berespon terhadap distress emosional yang terjadi pada orang lain. Selain itu dapat mengontrol emosi negatif seperti takut dan sedih. Anak belajar apa yang membuat dirinya sedih, marah atau takut sehingga belajar beradaptasi agar emosi tersebut dapat dikontrol (Suriadi & Yuliani, 2006). d. Pada masa usia 11-12 tahun, pengertian anak tentang baik-buruk, tentang norma-norma aturan serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya menjadi bertambah dan juga lebih fleksibel, tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Mereka mulai memahami bahwa penilaian baik-buruk atau aturan-aturan dapat diubah tergantung dari keadaan atau situasi munculnya perilaku tersebut. Nuansa emosi mereka juga makin beragam. Fungsi dan peranan emosi pada perkembangan anak yang dimaksud adalah : a. Merupakan bentuk komunikasi. b. Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya. c. Emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan. d. Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan. e. Ketegangan emosi yang di miliki anak dapat menghambat aktivitas motorik dan mental anak (Resa, 2010). C. MACAM EKSPRESI EMOSI ANAK Emosi dan perasaan yang umum pada peserta didik usia SD/MI adalah rasa takut, khawatir/cemas, marah, cemburu, merasa bersalah dan sedih, ingin tahu, gembira/senang, cinta dan kasih sayang. Pola Emosi pada Anak menurut Syamsu (2008) 1. Rasa takut Takut yaitu perasaan terancam oleh suatu objek yang membahayakan. Rasa takut terhadap sesuatu berlangsung melalui tahapan. a. Mula-mula tidak takut, karena anak belum sanggup melihat kemungkinan yang terdapat pada objek. b. Timbulnya rasa takut setelah mengenal bahaya. c. Rasa takut bias hilang kembali setelah mengetahui cara-cara menghindari bahaya. 2. Rasa malu Rasa malu merupakan bentuk ketakutan yang ditandai oleh penarikan diri dari hubungan dengan orang lain yang tidak dikenal atau tidak sering berjumpa.

3. Rasa canggung Seperti halnya rasa malu, rasa canggung adalah reaksi takut terhadap manusia, bukan ada obyek atau situasi. Rasa canggung berbeda dengan rasa malu daam hal bahwa kecanggungan tidak disebabkan oleh adanya orang yang tidak dikenal atau orang yang sudah dikenal yang memakaai pakaian tidak seperti biasanya, tetapi lebih disebabkan oleh keraguan-raguan tentang penilaian orang lain terhadap prilaku atau diri seseorang. Oleh karena itu, rasa canggung merupakan keadaan khawatir yang menyangkut kesadaran-diri (selfconscious distress). 4. Rasa khawatir Rasa khawatir biasanya dijelaskan sebagai khayalan ketakutan atau gelisah tanpa alasan. Tidak seperti ketakutan yang nyata, rasa khawatir tidak langsung ditimbulkan oleh rangsangan dalam lingkungan tetapi merupakan produk pikiran anak itu sendiri. Rasa khawatir timbul karena karena membayangkan situasi berbahaya yang mungkin akan meningkat. Kekhawatiran adalah normal pada masa kanak-kanak, bahkan pada anak-anak yang penyesuaiannya paling baik sekalipun. 5. Rasa cemas Rasa cemas ialah keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang dibayangkan. Rasa cemas ditandai oleh kekhwatiran, ketidakenakan, dan merasa yang tidak baik yang tidak dapat dihindari oleh seseorang; disertai dengan perasaan tidak berdaya karena merasa menemui jalan buntu; dan di sertai pula dengan ketidakmampuan menemukan pemecahan masalah yang dicapai. 6. Rasa marah Rasa marah adalah ekspresi yang lebih sering diungkapkan pada masa kanak-kanak jika dibandingkan dengan rasa takut. Alasannya ialah karena rangsangan yang menimbulkan rasa marah lebih banyak, dan pada usia yang dini anak-anak mengetahui bahwa kemarahan merupakan cara yang efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi keinginan mereka. 7. Rasa cemburu Rasa cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan, atau ancaman kehilangan kasih sayang. 8. Duka cita Duka cita adalah trauma psikis, suatu kesengsaraan emosional yang disebabkan oleh hilangnya sesuatu yang dicintai. 9. Keingintahuan Rangsangan yang menimbulkan keingintahuan anak-anak sangat banyak. Anak-anak menaruh minat terhadap segala sesuatu di lingkungan mereka, termasuk diri sendiri. 10. Kegembiraan Kegembiraan adalah emosi yang menyenangkan yang juga dikenal dengan keriangan, kesenangan, atau kebahagian. Setiap anak berbeda-beda intensitas kegembiraan dan jumlah kegembiraannya serta cara mengepresikannya sampai batas-batas tertentu dapat diramalkan. Sebagai contoh ada kecenderungan umur yang dapat diramalkan, yaitu anak-anak yang lebih muda merasa gembira dalam bentuk yang lebih menyolok dari pada anak-anak yang lebih tua. Takut, khawatir atau cemas berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu. Rasa takut muncul karena adanya ancaman oleh sesuatu yang jelas penyebabnya, sedangkan khawatir atau cemas karena adanya ancaman oleh sesuatu yang tidak terlalu jelas penyebabnya. Ketakutan, kekhawatiran atau kecemasan memiliki nilai positif asalkan intensitasnya tidak begitu kuat karena mengakibatkan

seseorang tetap waspada dan berharap agar situasi menjadi lebih baik. Biasanya anak takut akan kegelapan, ditinggal sendirian, terhadap binatang tertentu, serta tidak disayang dan diterima oleh keluarga dan teman sebaya. Terjadi variasi rasa takut pada anak yang dipengaruhi oleh tingkat intelegensi, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kondisi fisik, hubungan sosial, urutan kelahiran, dan kepribadian anak (introvert atau ekstrovert). Rasa takut pada anak biasanya berkaitan dengan rasa malu yang merupakan bentuk penarikan diri anak dari hubungan dengan orang lain, juga dengan rasa canggung dan ragu apabila ada orang yang tidak dikenal atau orang yang dikenal dengan penampilan tidak seperti biasanya. Rasa khawatir dan cemas biasanya timbul tanpa alasan yang jelas, tetapi lebih disebabkan karena membayangkan situasi bahaya atau kesakitan yang mungkin terjadi. Biasanya terekspresikan dalam bentuk perilaku yang murung, gugup, mudah tersinggung, tidur tidak nyenyak, dan cepat marah. Dapat juga sebaliknya. Anak menyelubungi rasa takut, khawatir, dan cemas dengan berperilaku tidak sebagaimana biasanya, seperti makan berlebihan, menonton televisi berlebihan, dan menyalahkan orang lain. Tingkat kekhawatiran dan kecemasan tergantung pada kemampuan anak dalam mengelola ancaman yang dibayangkan akan terjadi. Rasa marah merupakan suatu perasaan yang yang dihayati oleh anak yang cenderung bersifat menyerang. Cukup banyak diekspresikan oleh anak karena rangsangan yang menimbulkan rasa marah lebih banyak dibandingkan dengan rangsangan yang menimbulkan rasa takut. Sebagaimana halnya variasi rasa takut, rasa marah pada setiap anak juga berbeda-beda. Ada anak yang dapat menghadapi dan mengatasi rasa marah lebi baik dibandingkan anak lainnya. Rangsangan yang biasa menimbulkan kemarahan anak adalah rintangan (dari orang lain ataupun ketidakmampuan dirinya) terhadap gerak yang diinginkan anak, juga rintangan terhadap keinginan, rencana, dan niat yang ingin dilakukan anak, serta sejumlah kejengkelan yang bertumpuk. Reaksi anak terhadap kemarahan dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu : 1. Reaksi impulsif biasa disebut juga agresi, berupa rekasi fisik maupun kata-kata yang ditujukan kepada orang lain, binatang, maupun benda. Ledakan kemarahan pada anak kecil disebut “temper tantrum” dengan cara memukul, menggigit, meludah, dan menyepak; 2. Kemarahan yang ditekan dengan cara menyalahkan diri sendiri, mengasihani diri, atau mengancam untuk melarikan diri, juga bersikap apatis/masa bodoh. Rasa bersalah dan sedih berkenaan dengan kegagalan atau kesalahan dalam melakukan sesuatu perbuatan yang bertentangan dengan norma yang berlaku. Rasa sedih juga dapat diisebabkan oleh hilangnya sesuatu yang sangat dicintai atau disayang atau kehilangan seseorang, dan binatang atau benda permainan kesayangan. Perasaan ini merupakan salah satu emosi yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, orang dewasa berusaha agar anak-anak terhindar atau sedikit mungkin mengalami kesedihan karena dianggap dapat merusak kebahagiaan anak. Anak, terutama apabila masih kecil, mempunyai ingatan yang tidak bertahan lama dan mudah dialihkan rasa sedihnya kepada mainan atau orang yang disayangi. Ekspresi rasa sedih pada anak umumnya tampak dengan menangis. Tangisan anak ada yang memilukan dan berlarut-larut bahkan sampai ada yang mendekati histeris. Akan tetapi, ada juga anak yang menekan rasa sedih, ditandai oleh hilangnya minat terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya, hilang selera makan, sukar tidur, mimpi menakutkan, dan menolak untuk bermain. Rasa sedih yang berlarut-larut dapat mengakibatkan perasaan tidak menyenangkan dan meng-ganggu kebahagiaan anak.

Kegembiraan, keriangan, dan kesenangan merupakan emosi yang menyenangkan. Setiap anak berbeda variasi kegembiraannya. Hal itu dipengaruhi oleh perbedaan usia anak. Pada peserta didik usia SD/MI, kegembiraan antara lain disebabkan oleh kondsi fisik yang sehat sehingga dapat melakukan berbagai aktivitas dan permaainan, keberhasilan mengatasi rintangan sehingga mencapai tujuan seperti yang telah mereka tetapkan, dan dapat memenuhi harapan dari orang-orang yang dikasihinya. Reaksi kegembiraan anak diekspresikan dari sekedar senyum sampai tertawa gembira sambil menggerakkan tubuh, dan bertepuk tangan. Tuntutan sosial memaksa anak yang semakin besar untuk semakin dapat mengendalikan ekspresi kegembiraannya. Cemburu dan kasih sayang merupakan bentuk emosi yang umum terjadi pada peserta didik usia SD/MI. Cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyaata dan adanya ancaman kehilangan kasih sayang. Cemburu sering berasal dari rasa takut yang dikombinasikan dengan kejengkelan ataupun kemarahan karena orang tua atau guru bersikap pilih kasih, dan anak merasa ditelantarkan terhadap kepemilikan barang permainan. Rasa cemburu biasanya hilang apabila anak dapat menyesuaikan diri dengan baik di sekolah, dan dapat muncul kembali apabila guru membandingkannya dengan anak atau teman lain. Reaksi langsung rasa cemburu diekspresikan dengan perilaku perlawanan agresif seperti memukul, mendorong, dan berusaha mencelakaiorang yang dianggap saingannya. Reaksi tidak langsung terhadap cemburu ditunjukkan dengan bersikap kekanakan atau infantil, seperti mengisap jempol, ngompol, dan ngambek, untuk mendapat perhatian dari orang tua atau guru. Perasaan dikasihi atau disayangi sangat penting bagi anak. Adanya rasa dikasihi menyebabkan anak merasa aman dan nyaman. Kasih sayang melibatkan empati dan berusaha membuat orang yang dikasihi menjadi bahagia atau senang. Rasa ingin tahu merupakan reaksi emosi terhadap hal-hal yang baru, aneh, dan misterius yang terjadi di lingkungannya. Anak usia SD/MI akan bergerak ke sumbernya dan mempunyai minat terhadap segala sesuatu di lingkungannya, termasuk dirinya sendiri. Semakin luas lingkungan gerak atau area penjelajahan anak, semakin besar dan luas pula rasa ingin tahunya. Anak bertanya atau menanyakan segala macam yang mereka amati di sekitarnya. Semakin anak besar, aktivitas bertanyanya digantikan dengan membaca, dan melakukan eksperimen untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Peringatan dan hukuman dapat mengendalikan anak melakukan penjelajahan untuk memuaskan rasa ingin tahunya. D. CIRI KHAS EMOSI ANAK Ciri khas emosi pada anak antara lain : 1. Emosi yang kuat Anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang serius. Anak pra remaja bahkan bereaksi dengan emosi yang kuat terhadap hal-hal yang tampaknya bagi orang dewasa merupakan soal sepele. 2. Emosi seringkali tampak Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi yang meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional seringkali mengakibatkan hukuman, sehingga mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi. Kemudian mereka akan berusaha mengekang ledakan emosi mereka atau bereaksi dengan cara yang lebih dapat diterima. 3. Emosi bersifat sementara Peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis, atau dari marah ke

tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang merupakan akibat dari 3 faktor, yaitu : a. Membersihkan sistem emosi yang terpendam dengan ekspresi terus terang. b. Kekurangsempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidakmatangan intelektual dan pengalaman yang terbatas. c. Rentang perhatian yang pendek sehingga perhatian itu mudah dialihkan. Dengan meningkatnya usia anak, maka emosi mereka menjadi lebih menetap. 4. Reaksi mencerminkan individualitas Semua bayi yang baru lahir mempunyai pola reaksi yang sama. Secara bertahap dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai macam emosi semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis dan anak lainnya lagi mungkin akan bersembunyi di belakang kursi atau di balik punggung seseorang. 5. Emosi berubah kekuatannya Dengan meningkatnya usia anak, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatannya, sedangkan emosi lainnya yang tadinya lemah berubah menjadi kuat. Variasi ini sebagian disebabkan oleh perubahan dorongan, sebagian oleh perkembangan intelektual, dan sebagian lagi oleh perubahan minat dan nilai. 6. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku Anak-anak mungkin tidak memperlihatkan reaksi emosional mereka secara langsung, tetapi mereka memperlihatkannya secara tidak langsung melalui kegelisahan, melamun, menangis, kesukaran berbicara, dan tingkah yang gugup, seperti menggigit kuku dan mengisap jempol.

E. TINGKAT PERKEMBANGAN EMOSI Tiga reaksi emosi yang paling kuat adalah rasa marah, kaku, dan takut, yang terjadi akibat dari peristiwa – peristiwa eksternal maupun proses tak langsung. Reaksi tersebut dapat tercermin dalam individu yang meningkatkan aktivitas kelenjar tertentu dan mengubah temperature tubuh. Reaksi umumnya berkurang sesuai proporsi kematangan individu. Hal ini disebabkan oleh pebedaan jenis reaksi emosi, misalnya dengan penyebab ketakutan pada diri seseorang anak mungkin disebabkan oleh jenis emosi yang berbeda sesuai dengan tingkat perkembangannya. Tingkat perkembangan emosi tidak terlepas dari tingkat kestabilan emosi seseorang yang meliputi : 1. Emosi stabil Pada seseorang yang mempunyai emosi stabil mempunyai kecenderungan percaya diri, cermat, kukuh. Mereka selaulu menjaga pikiran walaupun dalam keadaan kritis, sedangkan orang-orang di sekitarnya kehilangan kendali. 2. Emosi stabil rata-rata Seseorang yang mempunyai derajat rata-rata tingkat emosional mempunyai kecenderungan emosi keseimbangan yang baik, sabar, tak memihak, berkepala dingin. Mereka tidak kebal atas rasa khawatir dan terkadang menunjukkan emosi yang aneh, namun ini adalah pengecualian daripada kebiasaan. 3. Emosi labil

Seseorang yang mempunyai emosi yang labil, tergesa-gesa, bernafsu, sentimental, mudah tergugah, khawatir dan bimbang. Mereka mungkin agaknya tertekan oleh kehidupan, hal ini membuat mereka mudah terkena hal-hal negatif dan positif, sekaligus kerap dipengaruhi oleh tragedi dan kesenangan serta tiak ada upaya untuk bereaksi mengatasi peristiwa-peristiwa tersebut dalam hidup (Wijaya, 2004).

F. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERKEMBANGAN EMOSI Berberapa faktor yang dapat memengaruhi perkembangan emosi anak adlah sebagai berikut. 1. Keadaan anak Keadaan individu pada anak, misalnya cacat tubuh ataupun kekurangan pada diri anak akan sangat mempengaruhi perkembangan emosional, bahkan akan berdampak lebih jauh pada kepribadian anak. Misalnya: rendah diri, mudah tersinggung, atau menarik diri dari lingkunganya. 2. Faktor belajar Pengalaman belajar anak akan menentukan reaksi potensial mana yang mereka gunakan untuk marah. Pengalaman belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain: a. Belajar dengan coba-coba Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam bentuk perilaku yang memberi pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberi kepuasan. b. Belajar dengan meniru Dengan cara meniru dan mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak bereaksi dengan emosi dan metode yang sama dengan orang-orang yang diamati. c. Belajar dengan mempersamakan diri Anak meniru reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Disini anak hanya meniru orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. d. Belajar melalui pengondisian Dengan metode ini objek, situasi yang mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian berhasil dengan cara asosiasi. Pengondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada awal kehidupan karena anak kecil kurang menalar, mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. e. Belajar dengan bimbingan dan pengawasan Anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika suatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anakanak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan (Fatimah, 2006). 3. Konflik – konflik dalam proses perkembangan Setiap anak melalui berbagai konflik dalam menjalani fase-fase perkembangan yang pada umumnya dapat dilalui dengan sukses. Namun jika anak tidak dapat mengamati konflik-konflik tersebut, biasanya mengalami gangguan-gangguan emosi.

4. Lingkungan keluarga Salah satu fungsi keluarga adalah sosialisasi nilai keluarga mengenai bagaimana anak bersikap dan berperilaku. Keluarga adalah lembaga yang pertama kali mengajarkan individu (melalui contoh yang diberikan orang tua) bagaimana individu mengeksplorasi emosinya. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak. Keluarga sangat berfungsi dalam menanamkan dasardasar pengalaman emosi, karena disanalah pengalaman pertama didapatkan oleh anak. Keluarga merupakan lembaga pertumbuhan dan belajar awal (learning and growing) yang dapat mengantarkan anak menuju pertumbuhan dan belajar selanjutnya. Gaya pengasuhan keluarga akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang emosinya positif, maka perkembangan emosi anak akan menjadi positif. Akan tetapi, apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya negatif seperti, melampiaskan kemarahan dengan sikap agresif, mudah marah, kecewa dan pesimis dalam menghadapi masalah, maka perkembangan emosi anak akan menjadi negatif (Syamsu, 2008).

G. KEKERASAN ORANG TUA PADA ANAK 1. Pengertian Kekerasan pada Anak Anita lie dalam Suyanto (2002) menyatakan bahwa kekerasan adalah suatu perilaku yang disengaja oleh seorang individu pada individu lain dan memungkinkan menyebabkan kerugian fisik dan psikologi. Pengertian kekerasan terhadap anak-anak atau child abuse pada mulanya berasal dari dunia kedokteran sekitar tahun 1946. Sekarang istilah tersebut lebih dikenal dengan Child Abuse (kekerasan anak) The National Commiaaion Of Inquiry (Andri, 2006), kekerasan pada anak adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh individu, institusi atau suatu proses yang secara langsung depan keselamatan dan kesehatan mereka kearah perkembangan kedewasaan. Yetty Zem (2005) mendefinisikan kekerasan oleh orang tua sebagai setiap tindakan yang bersifat menyakiti fisik maupun fisik dan psikis yang bersifat traumatik yang dilakukan orang tua terhadap anaknya baik yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau dilihat dari akibat bagi kesejahteraan fisik maupun mental anak. Menurut teori PAR, kekerasan terhadap anak merupakan segala tindakan agresif orang tua, baik verbal maupun fisik yang dapat menimbulkan penderitaan bagi anak fisik maupun psikis. Berdasarkan pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa kekerasan orang tua terhadap anak adalah peristiwa perlukaan fisik, mental, dan seksual yang sengaja yang dilakukan oleh orang tua yang mempunyai tanggung jawab terhadap kesejateraan anak dan memungkinkan menyebabkan kerusakan fisik dan psikologis yang mana itu semua diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anaknya. 2. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan pada Anak Faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan pada anak yaitu: a. Kondisi anak Anak yang mengalami cacat baik mental maupun fisik anak yang sulit diatur sikapnya, anak yang meminta permintaan khusus, ataupun berposisi sebagai anak tiri, anak angkat. b. Sosial kultural

Nilai / norma yang ada dimasyarakat yang kurang menguntungkan terhadap anak, misalnya dalam praktek pengasuhan anak, pembiasaan bekerja sejak kecil kepada anak yang berlindung atas nama adat budaya, misalnya dalam pola pengasuhan anak yang menekankan dan menjunjung tinggi nilai kepatuhan yang acap kali masyarakat membiarkan dan mentolerir hukum fisik (cambuk, pukul, tending dan tempeleng), verbal (berkata-kata kotor, mengumpat, damprat atau cemooh) maupun kekerasan dalam pengisolasian social. c. Persepsi masyarakat Masyarakat menilai bahwa persoalan kekerasan terhadap anak yang dilakukan keluarganya sendiri (orang tua) adalah urusan intern mereka sendiri. Mereka melakukan itu dalam rangka mendidik anakanaknya yang bandel dan membangkang orang tua dan adanya anggapan bahwa anak adalah milik orang tuanya sendiri. d. Kondisi orang tua Orang tua yang mengunakan alkohol, orang tua yang mengalami depresi atau gangguan mental, dan orang tua yang dulu dibesarkan dengan kekerasan cenderung meneruskan pendidikan tersebut kepada anaknya. e. Faktor keluarga Keluarga yang cenderung berada dalam keadaan yang kacau secara ekonomi dan lingkungan seperti, perceraian, pengangguran dankeadaan ekonomi kacau. Karena adanya tekanan ekonomi bagi orang tua yang tidak kuat untuk menghadapi akan menjadikannya semakin sensitif sehingga menjadi mudah marah, anak sebagai pihak yang terlemah dalam keluarga menjadi sasaran kemarahan. f. Persepsi orang tua Munculnya anggapan yang salah terhadap anak (wrong perception). Orang tua menganggap kehadiran anak sebagai hak paten yang dapat digunakan sesukanya sehingga pada akhirnya orang tua akan merasa bebas dalam memperlakukan anaknya sesuai dengan keinginannya, apapun yang dilakukan orang tua terhadap anak adalah hak orang tua.

3. Bentuk Kekerasan terhadap Anak Menurut Terry E, Lawson (2006), Psikiater Internasional kekerasan pada anak di bagi menjadi 4 yaitu: a. Kekerasan emosional (Emotional Abuse) Terjadi bila seseorang pengasuh atau orang tua mengabaikan anak, permintaan perhatian orang tuanya. Hal ini bila terjadi terus menerus akan berakibat anak akan melakukan hal yang sama kelak di masa depannya. b. Kekerasan verbal Terjadi saat seseorang anak yang meminta perhatian orang tuanya, orang tua malah menyuruhnya diam, meliputi: membentak, menghardik. c. Kekerasan fisik (Phisik Abuse) Terjadi saat orang tua melakukan pemukulan fisik, misalnya: memukul anak dengan menggunakan rotan, menghukum anak dengan menggunakan setrika agar anak jera. d. Kekerasan seksual (Sexual Abuse) Terjadi saat orang tua atau orang yang dikenal anak melakukan rabaan atau sentuhan dengan tujuan meliputi: perkosaan oleh saudara kandung, sodomi pada anak laki – laki.

4. Dampak Kekerasan terhadap Anak a. Akibat pada fisik anak 1). Lecet, hematum, luka bekas gigitan, patah tulang, dan adanya kerusakan organ dalam. 2). Sekuelec / cacat sebagai akibat trauma misalnya: jaringan paruh, gangguan pendengaran , kerusakan mata, dan cacat lainya. 3) Kematian b. Akibat pada tumbuh kembang anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami perlakuan salah pada umumnya lambat dari anak yang normal. Yaitu: 1). Pertumbuhan fisik lebih lebih lambat dari anak normal yang sebayanya. 2). Perkembangan kejiwaan yang mengalami gangguan yaitu: emosi, konsep diri, agresif, hubungan sosial. H. KECERDASAN EMOSIONAL Menurut Harmoko (2005), kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Jelas bila seorang individu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik. Faktor kematangan dan pengalaman belajar, juga kondisi lainnya mempengaruhi perkembangan emosi seseorang. Pada perkembangan emosi peserta didik, pengaruh faktor belajar lebih penting karena belajar merupakan faktor yang lebih dapat dikendalikan. Terdapat berbagai cara untuk mengendalikan lingkungan dan pengalaman belajar emosi, baik untuk memperkuat pola reaksi emosi yang diinginkan, atau menghilangkan pola reaksi yang tidak diinginkan. Perkembangan emosi dapat dipelajari antara lain dengan cara atau metode berikut. (Kurnia, 2008 : 2.29) 1. Belajar emosi dengan cara coba dan ralat (trial and error), terutama melibatkan aspek reaksi. Anak mencoba-coba dalam mengekspresikan emosinya dalam bentuk perilaku yang dapat diterima. 2. Belajar dengan cara meniru (imitasi) dilakukan melalui pengamatan yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain. Anak belajar bereaksi dengan cara yang sama dengan ekspresi dari orang yang diamati dan ditiru perilakunya. 3. Belajar dengan cara mempersamakan diri (identifikasi) dengan orang lain yang dikagumi atau mempunyai ikatan emosional dengan anak lebih kuat dibandingkan dengan motivasi untuk meniru sembarang orang. 4. Belajar melalui pengkondisian berarti belajar perkembangan emosi dengan cara asoiasi atau menghubungkan antara stimulus (rangsangan) dengan respon (reaksi). Pengkondisian lebih cepat terjadi pada anak kecilyang mempelajari perkembangan perilaku karrena anak kurang mampu menalar, dan kurang pengalaman. 5. Belajar melalui pelatihan (training) dibawah bimbingan dan pengawasan guru atau orang tua. Dengan pelatihan, anak dirangsang untuk bereaksi terhadap hal-hal tertentu dan belajar mengendalikan lingkungan atau emosi dirinya. Pada diri setiap individu, termasuk peserta didik usia SD/MI, ada emosi dominan yaitu satu atau beberapa emosi yang menimbulkan pengaruh terkuat terhadap perilaku seseorang dan mempengaruhi

kepribadian anak, khususnya dalam penyesuaian pribadi dan sosial. Emosi dominan ini biasanya terbentuk dan bergantung pada lingkungan tempat anak hidupa dan menjalin hubungan dengan orangorang yang berarti atau berpengaruh dalam kehidupannya, seperti kondisi kesehatan, suasana rumah, hubungan dengan anggota keluarga, hubungan dengan teman sebaya, perlindungan aspirasi orang tua, serta cara mendidik dan bimbingan orang tua. Emosi dominan ini akan mewarnai temperamen anak dan bersifat menetap. Anak yang bertemperamen periang akan memandang ringan rintangan yang menghalangi langkahnya. Demikian juga, besarnya pengaruh emosi yang menyenangkan seperti kasih sayang dan kebahagiaan menyebabkan timbulnya perasaan aman yang akan membantu anak dalam menghadapi masalah dengan penuh ketenangan, kepercayaan dan keyakinan dapat mengatasinya, bereaksi terhadap rintangan denga ketegangan emosi yang minimal, dan dapat mempertahankan keseimbangan emosi. Kesimbangan emosi dapat diperoleh melalui cara : (1) pengendalian lingkungan dengan tujuan agar emosi yang tidak/kurang menyenangkan dapat cepat diimbangi dengan emosi yang menyenangkan; dan (2) mengembangkan toleransi terhadap emosi yaitu kemampuan untuk menghambat pengaruh emosi yang tidak menyenangkan (marah, kecemasan, dan frustrasi) dan belajar menerima kegembiraan dan kasih sayang. Terjadinya ketidakseimbangan antara emosi yang menyenangkan dan tidak menyenagkan akan membuat anak menjadi murung, cepat marah, dan watak negatif lainnya. Untuk itu diperlukan “katarsis emosi” yaitu keluarnya energi emosional yang dapat mengakngkat sebab terpendam, dan sekaligus membersihkan tubuh dan jiwa dari gangguan emosional. Kondisi emosi yang meninggi antara lain disebabkan oleh kondisi fisik (kesehatan buruk, gangguan kronis, perubahan dalam tubuh), kondisi psikologis (kecerdasan rendah, kecemasan, kegagalan mencapai aspirasi), dan kondisi lingkungan (ketegangan karena pertengkaran, sikap orang tua/guru yang otoriter, dll). Memasuki abad ke-21, para ahli psikologi mulai melakukan pelattihan-pelatihan untuk mengembangkan emosi, yang dikenal dengan kecerdasan emosional. Menurut Goleman (Kurnia, 2008 : 2.30), orang yang memiliki keceradasan emosional yang tinggi adalah orang yang mampu mengendalikan diri dan gejolak emosi, memelihara dan memacu motivasi untuk terus berupaya dan tidak mudah menyerah atau putus asa, mampu mengendalikan dan mengatasi stres, mampu menerima kenyataan, dan dapat merasakan kesenangan meskipun dalam keadaan sulit. Pelatihan kecerdasan emosional dimulai dengan cara mengenali diri (kekuatan,kelemahan, cita-cita, dan harapan) serta perasaan-perasaan yang ada pada diri seseorang, termasuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan emosi dengan perilaku yang dapat diterima. Belajar mengendalikan perasaan atau emosi berarti mengarahkan energi emosi ke saluran emosi yang bermanfaat dan dapat diterima secara sosial. Untuk mencapai pengendalian emosi, seseorang perlu memberikan perhatian pada aspek mental emosi sebanyak perhatiannya pada aspek fisik. Jadi, selain belajar cara menangani rangsangan yang membangkitkan emosi, anak juga harus belajar cara mengatasi reaksi yang biasa menyertai emosi tersebut. Anak harus mampu menilai rangsangan dan menentukan reaksi emosinya secara benar. Tercapainya pengendalian emosi penting bagi perkembangan anak secara keseluruhan. Semua kelompok sosial mengharap bahwa semua anak belajar mengendalikan emosinya. Semakin dini anak belajar mengendalikan emosinya, semakin lebih mudah pula mengendalikan dirinya. http://atikasusanti.blogspot.com/2012/06/perkembangan-emosi-anak.html Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006). Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya

adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. PRINSIP DASAR TEORI PIAGET • • Jean Piaget (seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980) dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis. • • Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. contoh: manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian & kendaraan untuk transportasi. 3 Aspek Inteligensi Menurut Piaget, inteligensi dapat dilihat dari 3 perspektif berbeda: 1. Struktur Disebut juga scheme (skemata/Schemas). Struktur & organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia dengan dunia luar, mencocokkan dunia ke dalam “mental framework”-nya sendiri. Struktur kognitif merupakan mental framework yg dibangun seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan & menginterpretasikannya, mereorganisasikannya serta mentransformasikannya (Flavell, Miller & Miller, 1993). 2 hal penting yg harus diingat tentang membangun struktur kognitif: 1) seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses. 2) lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk perkembangan struktural. Piaget tidak melihat struktur kognitif sebagai mekanisme biologis lahiriah. Dia tidak percaya bahwa anak-anak memasuki dunia dengan “piranti dasar” untuk memahami realita. Anak-anak secara perlahan

& bertahap membangun cara pandang mereka sendiri terhadap realita. Pembentukan struktur kognitif mulai pada awal kehidupan segera setelah bayi mulai memiliki pengalaman dengan lingkungan. Tapi bukankah seorang bayi yg baru lahir belum memiliki pengalaman apapun terhadap lingkungan? Piaget percaya bahwa seorang bayi yg tidak berpengalaman penuh memiliki struktur yg sudah terbentuk yg memprogramkan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan, ini yg disebut struktur fisik, seperti sistem syaraf & otak manusia serta organ2 sensorik spesifik. Dan refleks-refleks yg disebut sebagai “automatic behavioral reactions”. Bayi melatih struktur-struktur ini dalam interaksi dengan lingkungan & memulainya dengan segera untuk mengembangkan struktur kognitif. 2. Isi Disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena Piaget kurang tertarik pada apa yg anak-anak ketahui, tapi lebih tertarik dengan apa yang mendasari proses berpikir. Piaget melihat “isi” kurang penting dibanding dengan struktur & fungsinya, Bila isi adalah “apa” dari inteligensi, sedangkan “bagaimana” & “mengapa” ditentukan oleh kognitif atau intelektual. 3. Fungsi Disebut fungtion, yaitu suatu proses dimana struktur kognitif dibangun. Semua organisme hidup yg berinteraksi dengan lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi & adaptasi. Organisasi: cenderung uuntuk mengintegrasi diri & dunia ke dalam suatu bentuk dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yg penuh arti, sebagai suatu cara untuk mengurangi kompleksitas. Adaptasi terhadap lingkungan terjadi dalam 2 cara: a. organisme memanipulasi dunia luar dengan cara membuatnya menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan asimilasi. Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar & mencocokkannya ke dalam struktur yg sudah ada. contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya ke dalam komponen nutrisi, makanan yg mereka makan menjadi bagian dari diri mereka. b. organisme memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebutakomodasi. Ketika seseorang mengakomodasi sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan eksternal. contoh: tubuh tidak hanya mengasimilasi makanan tapi juga mengakomodasikannya dengan mensekresi cairan lambung untuk menghancurkannya & kontraksi lambung mencernanya secara involunter. Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas. Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia: 1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun) 2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun) 3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun) 4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa) 1. Periode sensorimotor Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotoradalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan: a. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks. b. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan. c. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan. d. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek). e. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan. f. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas. 2. Tahapan praoperasional Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih

menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan. 3. Tahapan operasional konkrit Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah: Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil. Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan) Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi. Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya. Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain. Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang. 4. Tahapan operasional formal Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini

mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit. Informasi umum mengenai tahapan-tahapan Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur. • Universal (tidak terkait budaya) • Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan • Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis • Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi) • Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif KRITIK TERHADAP TEORI PIAGET Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anakanak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik. 1. Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget. 2. Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) ; 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua. 3. Dan belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan Piaget bahwa mayoritas anak mencapai

formal pada akhir masa kanak-kanak. http://sdn2sukamerang.blogspot.com/2012/08/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget.html PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK SEKOLAH DASAR A. Pengertian Perkembangan Sosial Menurut Yusuf (2008:180) Perkembangan Sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral (agama). Perkembangan sosial pada anak sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya (peer group) atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas. Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya. Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirsakan sejak usia enam bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang. Menurut Sunarto dan Hartono (2006:128) Hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks. 4 Menurut Piaget yang dikutip Sunarto dan Hartono (2006:127) mengungkapkan bahwa interaksi sosial anak pada tahun pertama sangat terbatas, terutama hanya dengan ibunya. Perilaku sosial anak tersebut berpusat pada akunya atau egocentric dan hamper keseluruhan perilakunya berpusat pada dirinya. 5 Kebutuhan bergaul dan berhubungan dengan orang lain ini telah dirasakan sejak anak berumur enam bulan, di saat anak itu telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Semakin dewasa atau sekitar usia sekolah dasar, anak berinteraksi dengan sebayanya, anak akan belajar tentang bagaimana bergabung dengan kelompok, menjalin pertemanan baru, menangani konflik, dan belajar bekerja sama. Jadi, ada semacam lingkaran setan bagi sebagian anak, dalam arti bahwa keterampilan sosial yang kurang menyulitkan mereka untuk bergabung dengan kelompok sebayanya, yang pada gilirannya menghambat perkembangan keterampilan sosialnya. Dari beberapa pengertian diatas dapat dimengerti bahwa semakin bertambah usia anak maka semakin kompleks perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia.

B. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Faktor yang dapat mengganggu proses sosialisasi anak, menurut Soetarno dalam Shinta (16: http://www.slideshare.net/shinta1304/perkembangan-sosial-anak-usia-sd) berpendapat bahwa ada dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan sosial anak, yaitu faktor lingkungan keluarga dan faktor dari luar rumah atau luar keluarga. Penjelasan dari dua faktor tersebut adalah: 1. Faktor Keluarga Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan sosial anak. Diantara faktor yang terkait dengan keluarga dan yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak adalah hal-hal yang berkaitan dengan: (a) Status sosial ekonomi keluarga, (b) Keutuhan keluarga, dan (c) Sikap dan kebiasaan orang tua.

6 2. Faktor Lingkungan Luar Keluarga Pengalaman sosial awal diluar rumah melengkapi pengalaman didalam rumah dan merupakan penentu yang penting bagi sikap sosial dan pola perilaku anak. Sedangkan menurut Hurlock (1978:44) menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial anak, yaitu faktor pengalaman awal yang diterima anak. Pengalaman sosial awal sangat menentukan perilaku kepribadian selanjutnya. a. Faktor teman sebaya Makin bertambah umur, si anak makin memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengadakan hubungan-hubungan dengan teman-teman sebayanya, sekalipun dalam kenyataannya perbedaanperbedaan umur yang relatif besar tidak menjadi sebab tidak adanya kemungkinan melakukan hubungan-hubungan dalam suasana bermain. b. Keragaman budaya Bagi perkembangan anak didik keragaman budaya sangat besar pengaruhnya bagi mental dan moral mereka. Ini terbukti dengan sikap dan prilaku anak didik selalu dipengaruhi oleh budaya-budaya yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka. Pada masa-masa perkembangan, seorang anak didik sangat mudah dipengaruhi oleh budaya-budaya yang berkembanga di masyarakat, baik budaya yang membawa ke arah prilaku yang positif maupun budaya yang akan membawa ke arah prilaku yang negatif. c. Media Massa Media massa adalah faktor lingkungan yang dapat merubah atau mempengaruhi prilaku masyarakat melalui proses-proses. Media massa juga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan seseorang, dengan adanya media massa, seorang anak dapat mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan dengan pesat. Media massa dapat merubah prilaku seseorang ke arah positif dan negatif. 7 Sekolah juga mempunyai pengaruh yang sangat penting bagi perkembangan sikap sosial anak, karena selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. Anak-anak menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah sebagai anggota suatu masyarakat kecil yang harus mengerjakan sejumlah tugas dan mengikuti sejumlah aturan yang menegaskan dan membatasi perilaku, perasaan dan sikap mereka (Santrock dalam

Sinolungan) Faktor Pendukung perkembangan anak, antara lain : (1) Terpenuhi kebutuhan gizi pada anak tersebut, (2) Peran aktif orang tua, (3) Lingkungan yang merangsang semua aspek perkembangan anak, (4) Peran aktif anak, (5) Pendidikan orang tua. Di sekolah, guru membimbing perkembangan kemampuan sikap, dan hubungan sosial yang wajar pada peserta didiknya. Hubungan sosial yang sehat dalam sekolah dan kelas seyogyanya diprogram, dikreasikan, dan dipelihara bersama-sama dalam belajar, bermain dan berkompetisi sehat. Sekolah mengupayakan layanan bimbingan kepada peserta didik. Bimbingan selain untuk belajar adalah untuk penyesuaian diri ke dalam lingkungan atau juga penyerasian terhadap lingkungannya. Kepada siswa diajarkan tentang disiplin dan aturan melalui keteraturan atau conformity yang disiratkan dalam tiap pelajaran (Sinolungan, 2001:72). C. Karakteristik Perkembangan Sosial Anak SD Berikut adalah karakteristik perkembangan sosial anak pada usia sekolah dasar yaitu minat terhadap kelompok makin besar, mulai mengurangi keikutsertaannya pada aktivitas keluarga. Pengaruh yang timbul pada keterampilan sosialisasi anak diantaranya berikut ini: 1. Membantu anak untuk belajar bersama dengan orang lain dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok, 2. Membantu anak mengembangkan nilai-nilai sosial lain diluar nilainya, dan 3. Membantu mengembangkan kepribadian yang mandiri dengan mendapatkan kepuasan emosional dari rasa berkawan. 8 Menurut Hurlock (1978:44) mengemukakan ada beberapa pola perilaku dalam situasi sosial pada awal masa anak-anak yaitu sebagai berikut: kerja sama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empati, ketergantungan, sikap ramah, meniru, perilaku kedekatan. Perkembangan sosial yang di alami anak adalah proses penerimaan social. Berkenan dengan penerimaan sosial Hurlock (1978:46) mengemukakan beberapa tahapan (stage) dalam penerimaan kelompok teman sebaya adalah sebagai berikut: 1. Reward Cost Stage Pada stage ini ditandai adanya harapan yang sama, aktivitas yang sama dan kedekatan. 2. Normative Stage Pada stage ini ditandai oleh dimilik nilai yang sama, sikap terhadap aturan, dan sanksi yang diberikan biasanya terjadi pada anak kelas 4 dan 5. 3. An Emphatic Stage Pada Stage ini di miliknya pengertian, pembagian minat, self disclosure adanya kedekatan yang mulai mendalam di kelas 6. Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermainnya, anak Usia Sekolah Dasar mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial, diantaranya: 1. Pembangkangan (Negativisme) Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau

tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Sikap orang tua terhadap anak seyogyanya tidak memandang pertanda mereka anak yang nakal, keras kepala, tolol atau sebutan negatif lainnya, sebaiknya orang tua mau memahami sebagai proses perkembangan anak dari sikap dependent menuju kearah independent. 2. Agresi (Agression) Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubit, menggigit, menendang dan lain sebagainya. Sebaiknya orang tua berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan perhatian atau keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka egretifitas anak akan semakin memingkat. 3. 9 Berselisih (Bertengkar) Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain. 4. Menggoda (Teasing) Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya. 5. Persaingan (Rivaly) Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. yaitu persaingan prestice (merasa ingin menjadi lebih dari orang lain). 6. Kerja sama (Cooperation) Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain. 7. Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior) Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya. 8. Mementingkan diri sendiri (selffishness) Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya. 9. Simpati (Sympathy) Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya.

D. 10 Tujuan Mempelajari Perkembangan Sosial Anak SD Seorang guru harus mengetahui tentang perkembangan sosial anak karena sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seorang anak. Manfaat mempelajari psikologi perkembangan yang di dalamnya

terdapat meteri perkembangan social anak sekolah dasar bagi guru atau calon guru, yaitu sebagai berikut : 1. Guru/calon guru dapat menghadapi anak didiknya secara tepat sesuai dengan sifat-sifat khas yang ditampilkan anak didiknya itu. Sebagi contoh : anak berumur 6-12 tahun yang perkembangannya normal menunjukkan tingkah laku produktif tinggi. Pada periode ini anak ingin berbuat sesuatu yang menunjukkan hasil, memiliki ide yang banyak, yang ingin ditampilkannya. Oleh karena itu guru hendaknya memberi kesempatan dan rangsangan agar anak dapat mengembangkan berbagai keterampilan. Guru/calon guru dapat Guru/calon guru dapat menghadapi anak didiknya secara tepat sesuai dengan sifat-sifat khas yang ditampilkan anak didiknya itu. Guru/calon guru dapat 2. memilih dan menentukan tujuan materi dan strategi belajar yang sesuai dengan tingkat kemampuan intelektual anak didik. Siswa sekolah dasar khususnya kelas rendah, sedang dalam tahap berfikir konkrit permulaan. Oleh karena itu tujuan belajar hendaknya yang sederhana dan dalam bentuk tingkah laku yang jelas. Demikian pula materi belajar hendaknya terkait dengan pengalaman anak yang ada disekitarnya. Contoh : Anak dalam belajar membaca, maka materi belajar hendaknya terdiri dari katakata yang pernah dialami atau dipahami anak melalui pengalaman lingkungannya. 3. Guru/calon guru dapat menghadapi anak dengan benar dalam bentuk tingkah laku yang benar. Guru yang mempelajari psikologi perkembangan menyadari bahwa anak yang dihadapinya adalah sedang dalam proses perkembangan. Contoh : Wajarlah anak melakukan kesalahan dalam tingkah laku, karena kekurang tahuan dan kekurang mampuannya. 4. Guru/calon guru dapat terhindar dari pemahaman yang salah tentang anak, khususnya mengenai keragaman proses perkembangan anak mempengaruhi kemampuannya dalam belajar. Ada anak yang cepat dan ada anak yang lambat perkembangan kemampuannya. Sebagai contoh : memperlakukan anak di dalam kelas tidaklah sama, karena pada prinsipnya akan kita jumpai paling tidak tiga kelompok anak taraf kemampuan yang berbeda yaitu anak yang berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. http://eckaneumandiani.blogspot.com/2013/03/perkembangan-sosial-anak-sekolah-dasar.html Manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat dipisahkan dari kegiatan saling berkomunikasi dan bentuk komunikasi manusia merupakan yang paling sempurna daripada binatang, karena manusia dapat melakukannya melalui berbagai sarana dan prasarana yang ada. Untuk berkomunikasi manusia memerlukan sautu media, terutama yaitu bahsa. Oleh karenanya setiap masyarakat mempunyai suatu media untuk berinteraksi dengan yang lainnya. Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dengan orang lain, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambing atau symbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan dan mimik muka. Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa merupakan anugerah dari Allah SWT, yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya, sesama manusia, alam dan penciptanya serta mampu memposisikan dirinya sebagai mahluk berbudaya dan mengembangkan budayanya. Tiap individu dituntut untuk memiliki kemampuan menyatakan atau mengekspresikan pikirannya dan

menangkap pemikiran orang lain melalui bahasa, sehingga komunikasi menjadi efektif. Anak-anak lebih dapat mengerti apa yang dikatakan orang lain daripada mengutarakan pikiran dan perasaan mereka dengan kata-kata. Semakin matang organ-organ yang berkaitan dengan proses berbicara seperti alat bicara dan pertumbuhan atau perkembangan otak, anak semakin jelas dalam mengutarakan kemauan, pikiran maupun perasaannya melalui ucapan atau bahasa. Hal itu tidak lepas ari pengaruh lingkungan, terutama orang tua atau keluarga. Anak yang selalu mendapat motivasi positif akan terpacu untuk mengembangkan potensi bicaranya. Unsur Dasar Bahasa Sebagai suatu alat komunikasi, bahasa memiliki seperangkat sistem yang satu sama lain saling mempengaruhi yaitu: a. Fonologi, merupakan salah satu bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya. Fonologi mempelajari fungsi dari sistem pembeda bunyi dalam suatu bahasa, mancoba menetapkan aturan-aturan untuk menentukan dan membedakan fonem satu dengan yang lain dan begaimana ia dapat berfunngsi didalam sistematika bahasa, sehingga komunikasi dapat menjadi lebih efektif. Fonem yaitu unsur terkecil dari bunyi ucapan yang bisa digunakan untuk membedakan arti dari satu kata. Contohnya kata ular dan ulas memiliki arti yang berbeda karena perbedaan pada fonem /er/ dan /es/. Setiap bahasa memiliki jumlah dan jenis fonem yang berbeda-beda. Misalnya bahasa Jepang tidak mengenal fonem /la/ sehingga perkataan yang menggunakan fonem /la/ diganti dengan fonem /ra/. b. Morfologi ialah ilmu yang membicarakan morfem serta bagaimana morfem itu dibentuk menjadi kata. Morfem yaitu unsur terkecil dari pembentukan kata dan disesuaikan dengan aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem dapat berbentuk imbuhan. Misalnya kata praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/ dan /duga/. Kata duga merupakan kata dasar penambahan morfem /pra/ menyebabkan perubahan arti pada kata duga. c. Sintaksis yaitu penggabungan kata menjadi kalimat berdasarkan aturan sistematis yang berlaku pada bahasa tertentu. Dalam bahasa Indonesia terdapat aturan SPO atau subjek-predikat-objek. Aturan ini berbeda pada bahasa yang berbeda, misalnya pada bahasa Belanda dan Jerman aturan pembuatan kalimat adalah kata kerja selalu menjadi kata kedua dalam setiap kalimat. Hal ini berbeda dengan bahasa Inggris yang memperbolehkan kata kerja diletakan bukan pada urutan kedua dalam suatu kalimat. d. Semantik ialah studi yang mempelajari arti dan makna dari suatu bahasa yang dibentuk dalam suatu kalimat. e. Diskurs mengkaji bahasa pada tahap percakapan, paragraf, bab, cerita atau literatur. Bahasa telah berkembang sejak anak berusia 4 – 5 bulan. Orang tua yang bijak selalu membimbing anaknya untuk belajar berbicara mulai dari yang sederhana sampai anak memiliki keterampilan berkomunikasi dengan mempergunakan bahasa. Oleh karena itu bahasa berkembang setahap demi setahap sesuai dengan pertumbuhan organ pada anak dan kesediaan orang tua membimbing anaknya. Fungsi bahasa manusia antara lain untuk mengekspresikan perasaan, merupakan kalimat spontan yang terucap tanpa ada tujuan apapun dan kepada siapapun, untuk mempengaruhi orang lain, merupakan

kalimat batau isyarat yang dapat menyebabkan orang lain terpengaruh, dan untuk menyampaikan informasi, merupakan kalimat untuk menyampaikan informasi atau pemberitahuan kepada orang lain. Sebelum dapat berbicara lancar, ada tahapan yang biasa dilalui seseorang, antara lain : 1. Menangis, merupakan cara yang biasa dilakukan oleh bayi untuk berkomunikasi dan melakukan hubungan sosial dengan lingkungannya. 2. Berceloteh, dilakukan oleh anak sebelum usia 2 tahun. 3. Holofrase, dilakukan oleh anak setelah usia 2 tahun sampai menjelang sekolah. 4. Mengobrol, disebut juga social speech merupakan bentuk berbicara yang mempunyai makna social, bertujuan agar pembicaraannya didengar dan dimengerti oleh orang lain. Potensi anak berbicara didukung oleh beberapa hal. Yaitu: (a) kematangan alat berbicara, (b) kesiapan mental, (c) adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak, (d) kesempatan berlatih, (e) motivasi untuk belajar dan berlatih dan (f) bimbingan dari orang tua. Di samping adanya berbagai dukungan tersebut juga terdapat gangguan perkembangan berbicara bagi anak, yaitu: (a) anak cengeng, (b) anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain. Sedangkan Faktorfaktor yang Memeacu Anak Cepat Berbicara ialah Keluarga yang paling utama, Media Elektronik dan Sekolah 2.1 Bahasa Lisan Ada dua ragam komunikasi yang digunakan manusia melalui bahasa, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam tulisan. Sebagaimana diungkapkan oleh Moeliono (Ed.), bahwa ragam bahasa menurut sarananya lazim dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan (1988: 6). Dalam penggunaannya, kedua ragam ini pada umumnya berbeda. Penggunaan ragam bahasa lisan mempunyai keuntungan, yaitu karena bahasa ragam lisan digunakan dengan hadirnya peserta bicara, maka apa yang mungkin tidak jelas dalam pembicaraan dapat dibantu dengan keadaan atau dapat langsung ditanyakan kepada pembicara. Hal ini menunjukan bahwa peranan penggunaan bahasa ragam lisan itu penting. Berkaitan dengan ini, Pateda (1987: 63) menyebutkan bahwa ada empat alasan mengapa bahasa lisan itu penting dalam komunikasi, yaitu: 1. faktor kejelasan, karena pembicara menambahkan unsur lain berupa tekan dan gerak anggota badan agar pendengar mengerti apa yang dikatakannya 2. faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakan 3. dapat disesuaikan dengan situasi, artinya meskipun gelap orang masih bisa berkomunikasi, dan 4. faktor efisiensi, karena dengan bahasa lisan banyak yang dapat diungkapkan dalam waktu yang relatif singkat dan tenaga yang sedikit. Sebaliknya, berbeda halnya dengan penggunaan ragam bahasa tulisan. Apa yang tidak jelas dalam bahasa tulisan tidak dapat ditolong oleh situasi seperti bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, apabila terjadi kesalahan, pada saat itu pula dapat dikoreksi, sedangkan dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar. Badudu (1985: 6) menjelaskan pula perbedaan bahasa lisan dan tulisan. Menurutnya, bahasa lisan lebih bebas bentuknya daripada bahasa tulisan karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur, sedangkan dalam bahasa tulisan, situasi harus dinyatakan dengan kalimat-kaliamt. Di samping itu, bahasa lisan yang digunakan dalam tuturan dibantu pengertiannya, jika bahasa tutur itu kurang jelas oleh situasi, oleh gerak-gerak pembicara, dan oleh mimiknya. Dalam

bahasa tulisan, alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada. Itulah sebabnya, bahasa tulis harus disusun lebih sempurna. 2.2 Penggunaan Bahasa Ragam Lisan Berbicara tentang penggunaan bahasa, tentunya tidak terlepas dari penutur-penutur bahasa itu atau orang yang menggunakan bahasa dalam kehidupan bermasyarakat. Penutur-penutur bahasa itu, dalam proses sosialisasinya dapat berfungsi sebagai pembicara, penulis, pembaca dan pendengar atau penyimak. Penyimak dan pembaca dalam hal proses berbahasa ini berfungsi sebagai penerima, sedangkan pembicara dan penulis berfungsi sebagai orang yang memproduksikan (menghasilkan) bahasa. Komunikasi di antara pembicara dan pendengar atau penulis dengan pembaca dapat berjalan lancar, apabila di antara kedua belah pihak terdapat dalam masyarakat bahasa yang sama. Dengan demikian, setiap bahasa memiliki seperangkat sistem, yaitu sistem bunyi bahasa, sistem gramatikal (tata bentuk kata, tata bentuk kalimat), tata makna, dan kosa kata. Perangkat sistem ini ada dalam benak penutur. Saussure memberinya istilah dengan langue, yaitu totalitas dari sekumpulan fakta satu bahasa. Ini sebagai satu gudang segala fakta kebahasaan yang ada pada setiap orang. Istilah competence (kompetensi) diartikan sebagai “… the speaker hearers knowledge of his language …” (Aiwasilah, 1985: 4). Langue adalah sesuatu yang ada pada setiap individu, sama bagi semuanya dan berbeda di luar kemauan penyampainya. Langue adalah suatu sistem yang memiliki susunan sendiri. Langue merupakan norma dari segala pengungkapan bahasa. Berbeda halnya dengan penggunaan bahasa, karena penggunaan bahasa bersifat heterogen. Konsep penggunaan bahasa itu didasari teori Sassure, yaitu diistilahkan dengan parole. Parole adalah bahasa sebagaimana ia dipakai karena itu sangat bergantung pada faktor-faktor linguistik ekstern (Sassure dan Rahayu, 1988: 88). Kaitannya dengan penelitian ini penggunaan bahasa yang dimaksud adalah parole. Setiap penutur dapat dikatakan terampil berbahasa apabila ia memiliki kompetensi atau langue dari bahasa yang dikuasainya. Keterampilan bahasa yang terdiri dari berbicara, mendengar, menulis, membaca ini pun pada umumnya jarang dikuasainya penutur yang sama baiknya. Ada penutur yang terampil berbicara, tetapi kurang terampil menulis dan begitu pula halnya dengan keterampilan yang lainnya. Namun, dengan pemakaiannya keterampilan penutur dalam menggunakan bahasa sesuai dengan sistem-sistem di atas, belumlah dapat dikatakan mampu berbahasa dengan baik. Dalam hal ini Rusyana (1984: 104) menjelaskan bahwa berbahasa dengan baik berarti bukan saja dapat menguasai struktur bahasa dengan baik, tetapi juga dapat memakainya secara serasi, sesuai pokok permasalahan, tokoh bicara, dan suasana pembicaraan. Dengan demikian, seorang penutur harus lebih cermat dalam menggunakan bahasanya, supaya apa yang ingin diungkapkan dapat diterima oleh lawan tuturnya. Untuk itu, setiap penutur harus menggunakan bahasa tersebut sesuai dengan situasi dan fungsinya. Berkaitan dengan ini Anton Moeliono (Ed.) menguraikan bahwa orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya, apa pun jenisnya itu disebut berbahasa dengan efektif. Bahasanya memberikan efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya. Orang yang berhadapan dengan sejumlah lingkungan hidup memilih salah satu ragam yang cocok dengan situasi itu. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik dan tepat (1988: 19).

Kenyataan yang terjadi di masyarakat adalah bahwa bahasa itu terdiri dari berbagai ragam. Ragam itu ada yang berhubungan dengan pemakaian bahasa dan ada pula yang berhubungan dengan pemakaiannya. Dalam hal ini Fishman (1972: 149) membedakan variasi bahasa tersebut menurut penuturnya (user), yang disebut dengan dialek, dan variasi bahasa menurut penggunaannya (use) disebut dengan istilah register. Penggunaan bahasa mengenal berbagai variasi. Bahasa yang digunakan oleh seseorang akan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang lain. Kevariasian bahasa itu dipengaruhi oleh siapa yang berbicara, lawan bicara, situasi, topik pembicaraan, dan sebagainya. Del Hymas merinci faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa menjadi delapan faktor, yaitu : 1. setting and scence, yang mengacu pada tempat dan waktu terjadinya komunikasi, 2. participant, yang mengacu kepada peserta komunikasi yang terdiri atas pembicara/pengirim, pendengar/penerima, 3. ends (pupose and goals), yang mengacu kepada tujuan dan hasil atau harapan mengadakan komunikasi, 4. actsequence, yang mengacu kepada bentuk dan isi pesan komunikasi, 5. key, yang mengacu kepada gaya, ragam bahasa yang digunakan dalam komunikasi, 6. instrumentalities, yang mengacu kepada sarana atau perantara yang digunakan dalam komunikasi dan bentuk tuturan, bahasa, dialek, 7. norms, yang mengacu kepada norma perilaku dalam berinteraksi, interpretasi komunikasi, dan 8. genres, yang mengacu kepada bentuk dan jenis bahasa yang digunakan dalam komunikasi, misalnya cerita, prosa puisi (Hymes dalam Bell, 1976: 81). Untuk mengetahui ragam bahasa apa yang dipakai oleh seseorang kita dapat mengenalnya melalui 1. pilihan kata atau leksis, 2. fonologi, 3. morfologi, 4. sintaksis, dan 5. intonasi (Badudu, 1991: 85). Sejalan dengan pendapat tersebut, Nebaban (1984: 22) menjelaskan bahwa setiap bahasa mempunyai banyak ragam, yang dipakai dalam keadaan atau keperluan/tujuan yang berbeda-beda. Ragam-ragam itu menunjukan perbedaan struktural dalam unsur-unsurnya. Perbedaan struktural ini berbentuk ucapan, intonasi, morfologi, identitas kata-kata, dan sintaksis. Berkaitan dengan pendapat di atas, dalam penelitian ini akan memfokuskan pada pemakaian bahasa, yang dilihat dari segi fonologi (pelafalan/pengucapan), morfologi (bentuk kata), leksis (pilihan kata), kosakata dan sintaksis (kalimat). 2.3 Pelafalan (Pengucapan) Masyarakat Indonesia terdiri dari beratus-ratus suku, dan masing-masing suku memiliki bahasa daerah. Bahasa daerah tersebut dipergunakan oleh bangsa (masyarakat) Indonesia sebagai sarana komunikasi antar suku, dan juga dipergunakan di lingkunagn keluarga. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau bahasa daerah tersebut sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Keadaan seperti ini akan berpengaruh terhadap pemakaian bahasa Indonesia. Pengaruh tersebut beragam. Ada pengaruh lafal, ada pengaruh bentuk kata, ada pengaruh makna kata, ada juga pengaruh struktur kalimat. Lagi pula agaknya pengaruh-pengaruh tersebut sulit untuk dihindari dengan sepenuhnya.

Seperti dikatakan oleh Badudu (1985: 12) bahwa tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari pengaruh itu seratus persen. Lebih lanjut dikatakannya, yang mungkin adalah bahwa pengaruh ini sangat sedikit, sehingga sukar kita menerka dari suku manakah orang yang bertutur itu berasal. Dari beberapa pengaruh tersebut, tampaknya pengaruh lafal bahasa daerah sering kita dengar. Badudu (1985: 12) menjelaskan bahwa yang sering sukar dihindari adalah pengaruh lafal bahasa daerah, karena lidah penutur yang sudah “terbentuk” sejak kecil oleh lafal bahasa daerahnya. Bila kita perhatikan lafal orang Tapanuli misalnya, kata-kata yang befonem /e/ akan dilafalkan dengan /E/. Kata-kata seperti mengapa, karena, kemana, diucapkan dengan menggunakan /e/ benar. Atau orang yang berasal dari Jawa, akhirankan akan diucapkan dengan /ken/. Demikian pula dengan suku-suku lain misalnya Sunda, Bali, Aceh, bila berbicara akan diwarnai oleh pengaruh bahasa daerahnya. Bila seseorang dalam berbahasa Indonesia (lisan) terdengar bahasa daerahnya, maka lafalnya tergolong lafal nonbaku. Akan tetapi, bila seseorang dalam berbahasa Indonesia tidak terdengar lafal bahasa daerahnya, maka lafalnya dapat digolongkan kepada bahasa baku (standar). Mengenai pengertian lafal baku tersebut, Badudu (1980: 115) menjelaskan bahwa lafal bahasa Indonesia baku adalah lafal yang tidak memperdengarkan “warna” lafal bahasa daerah atau dialek, juga tidak memperdengarkan “warna” lafal bahasa asing seperti bahasa Belanda, Inggris atau Arab. Kemudian, Soemantri (1987: 11) mengemukakan bahwa lafal bahasa Indonesia yang standar adalah tuturan bahasa Indonesia yang tidak terlalu menonjol ciri lafal daerah penuturnya. 2.4 Struktur Bahasa Ragam Lisan Anak-anak Dwibahasawan di SD Dalam wujudnya, bahasa yang kita gunakan terdiri dari unsur bunyi, bentuk morfologis, sintaksis dan semantik. Unsur-unsur bahasa itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terpisah-pisah. Dalam bahasa lisan, unsur-unsur tersebut terangkai dalam wujud kalimat yang saling berkaitan. Kalimat yang pertama pada dasarnya digunakan sebagai acuan munculnya kalimat yang kedua, kalimat kedua dapat memunculkan kalimat ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, memahami bahasa lisan seseorang dapat dilakukan, antara lain dengan cara menganalisis unsur-unsur bahasa dan aturan yang berlaku dalam bahasa itu. Uraian di atas memberikan gambaran bahwa struktur bahasa ragam lisan anak-anak pun dapat dianalisis melalui unsur-unsur bahasa yang dugunakannya. Di samping itu, aturan-aturan yang berlaku juga dapat digunakan sebagai tolak ukur baku atau tidaknya penggunaan bahasa secara keseluruhan. Dari deskrifsi dan hasil analisis data, struktur bahasa ragam lisan anak-anak dwibahasawan masih dipengaruhi oleh bahasa ibu dan bahasa percakapan. Hal ini disebabkan oleh lingkungan terjadinya peristiwa bahasa, seperti frekuensi penggunaan bahasa ibu yang dominan. Anak-anak cenderung atau lebih sering menggunakan bahasa ibu daripada bahasa Indonesia ketika di rumah. Peristiwa itu terjadi karena faktor lingkungan (keluarga dan masyarakat) mendominasi terjadinya penggunaan bahasa daerah setempat. Efek dari peristiwa itu, maka penggunaan bahasa Indonesia di kelas pun diwarnai bahasa daerah. Dalam hal ini, ada beberapa hal, yang dapat dikemukakan berkenaan dengan peristiwa tersebut. 1. Upaya yang dilakukan guru pada saat proses belajar berlangsung adalah digunakan bahasa Indonesia yang baik oleh guru ketika mengajar di kelas. Pada saat proses belajar berlangsung terjadi berbagai ungkapan pikiran dan perasaan melalui bahasa lisan. Dalam peristiwa itu pun terjadi penggunaan

struktur bahasa lisan pada anak-anak. Karena pada umumnya para murid tergolong dwibahasawan, maka dalam peristiwa itu pun ragam bahasa lisan (baku dan tidak baku) tidak bisa dielakkan. Meskipun demikian, secara umum anak-anak telah mampu menggunakan seperangkat penanda linguistik yang diperlukan dalam berbahasa lisan sehingga mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan orang lain. Keseluruhan sistem bahasa itu meliputi bidang fonologi, morfologi, leksikal, semantik dan sintaksis. 2. Digunakannya ragam baku dan tidak baku dalam peristiwa komunikasi pada prinsipnya tidak mengganggu proses belajar mengajar di kelas. Hal ini disebabkab oleh penggunaan ragam baku yang lebih sering digunakan dari pada ragam tidak baku. Ragam tidak baku pada dasarnya digunakan anakanak atas dasar pertimbangan situasi dan sosial. Situasi atau konteks peristiwa yang terjadi itu memang mengharapkan penggunaan ragam tidak baku oleh anak-anak. Misalnya, ketika meminjam buku, menyuruh, bertanya, dan marah dengan temannya yang sebahasa (bahasa ibu). Pada dasarnya anak-anak usia sekolah dasar telah menguasai struktur bahasa secara sempurna. Pada usia ini anak-anak di samping udah matang organ-organ bicaranya, mereka juga mampu merespon pembicaraan orang lain. Kematangan anak-anak dapat diwujudkan secara verbal, seperti penggunaan bentuk-bentuk morfologi dalam kalimat-kalimat komplek. Data yang diperoleh dalam penelitian ini pun menunjukan bahwa penggunaan bentuk-bentuk morfologi dalam kalimat anak-anak dwibahasawan secara struktur sudah baik. Hal ini terlihat pada kemapuan dalam penggunaan afiksasi, pemajemukan, dan pengulangan. Hanya terjadi beberapa kesalahan penggunaan afiksasi karena pengaruh bahasa daerah atau bahasa percakapan sehari-hari. Hal ini, antara lain dapat terlihat pada penghilangan awalan me- dalam kata manjat, metik, nembak, dan mbeli (tidak baku), yang seharusnya memanjat, memetik, menembak, dan membeli (baku). Kesalahan juga terjadi pada kata ngambilin dan nunggu (tidak baku), seharusnya mengambil dan menunggu. Di samping itu, terjadi juga beberapa kesalahan penggunaan pada kata ulang. Yang dimaksud adalah bintangnya-bintang dan mutar-mutar (tidak baku), seharusnya bintangbintang dan berputar-putar. Salah satu hal yang paling sempurna adalah penggunaan pemajemukan. Artinya, tidak ditemukan kesalahan dalam penggunaan kata majemuk pada bahasa lisan anak-anak dwibahasawan. Pilihan kata, kosakata atau istilah, dan penggunaannya dalam ujaran sangat mempengaruhi isi pembicaraan. Pilihan kata atau istilah yang tepat dan penggunaan kata yang baku dalam konteks pembicaraan akan mencerminkan kemampuan berbahasa. Artinya, makna atau isi pembicaraan akan terwakili secara jelas berdasarkan ketepatan dalam penggunaannya. Dalam hal ini, pilihan kata atau istilah-istilah yang digunakan anak-anak dwibahasawan secara umum dapat dikatakan baik (baku) bila diukur dengan konteks pembicaraan. Berbagai pilihan dan penggunaan kata terkait langsung dengan topik pembicaraan, terarah, kontekstual, dan situasional. Di dalam konteks komunikasi formal, topik prmbicaraan yang telah ditentukan dapat dibahas bersama sesuai dengan pengalaman hidup seharihari. Keterkaitan itu terbukti oleh adanya saling dimengerti topik pembicaraan yang yang dibicarakan melalui berbagai pilihan atau penggunaan kata atau istilah. Hanya ada beberapa pilihan kata yang menyimpang akibat pengaruh bahasa ibu dan bahasa pergaulan sehari-hari. Pilihan dan penggunaan kata daerah digunakan anak-anak dwibahasawan karena kesulitan mencari padanannya. Hal ini terdapat pada kata daerah (Jawa), seperti pangnya, nyucuk, dan membandil (Indonesia=cabang pohon, mematuk makanan melalui paruh burung, dan melempar batu dengan ketapel). Selain itu, ada beberapa pilihan dan

penggunaan kata yang disebabkan oleh bahasa pergaulan. Kata-kata itu, antara lain cuma, aja, nggak, dan duren (tidak baku), seharusnya hanya, saja, tidak dan durian (baku). Penggunaan bahasa lisan banyak kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan. Akan tetapi, bukan berarti penggunaan dapat dilakukan seenaknya. Dalam menggunakan bahasa lisan perlu diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi, lawan bicara dan masalah yang dikemukakan. Kaitan dengan penilaian ini, struktur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan berupa (1) topik komentar, (2) kalimat deklaratif aktif lebih banyak daripada konstruksi pasif, dan (3) lepasnya unsur subjek, predikat, dan objek. Sesuai dengan sifat dan penggunaannya, maka penggunaan bahasa lisan anak-anak lebih banyak berisi komentar. Hal ini terjadi karena topik yang harus disampaikan dalam proses komunikasi memerlukan penjelasan. Misalnya, anak-anak harus menjelaskan ‘pentingnya memelihara lingkungan’, ’menceritakan pengalaman pribadi’, dan ‘bagaimana cara belajar yang baik’. Rangkaian penjelasan itu secara kongkrit diungkapkan melalui kalimat-kalimat yang sesuai dan saling terkait. Dalam wujudnya, kalimat-kalimat yang digunakan anak-anak dwibahasawan terdiri dari beberapa kalimat deklaratif aktif, dalam hal ini konstruksi pasif jarang terjadi. Selanjutnya, struktur kalimat yang terjadi pada anak-anak dwibahasawan adalah lesapnya unsur subjek, predikat dan objek. Meskipun demikian, lesapnya unsur-unsur kalimat tersebut masih dapat dianggap wajar karena hal itu terjadi dalam konteks bahasa lisan atau hadirnya antara pembicara (komunikator) dan pendengar (komunikan). Kenyataan seperti ini juga dijelaskan oleh Rusyana (1984: 130), bahwa dalam penuturan lisan, pembicara dan pendengar ada dalam ruang dan waktu yang memberikan kemungkinan untuk berkontak secara lanfsung. Situasinya juga diketahui oleh kedua belah pihak. Andaikan ada yang tidak dipahami, dapat ditanyakan dan kemudian dijelaskan. Karena itu, walaupun ada yang jika dipandang dari kalimat-kalimat yang digunakan, tidak begitu jelas, ketidak jelasan itu mungkin sudah teratasi oleh pemahaman terhadap hubungan dalam peristiwa pembicaraan atau langsung dijelaskan oleh pembicara. Dengan demiklian, penyimpangan-penyimpangan struktur kalimat dan lesapnya unsur-unsur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan disebabkan oleh sifat bahasa lisan itu sendiri. Dengan kata lain, penyimpangan-penyimpangan struktur bahasa lisan yang digunakan anak-anak dwibahasawan SD masih dalam batas kewajaran. Berbagai uraian di atas pada dasarnya terjadi karena beberapa faktor. Faktor yang paling dominan karena pada umumnya masyarakat Indonesia, termasuk juga anak-anak sekolah dasar tergolong masyarakat dwibahasawan. Sebagai masyarakat dwibahasawan tentunya mereka mampu menggunakan lebih dari satu bahasa. Keadaan seperti ini tentu akan mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia mereka dalam komunikasi sehari-hari, baik dalam tataran formal ataupun nonformal. Kedwibahasaan seseorang di dalam masyarakat pada dasarnya dapat dilihat dari kemampuannya menggunakan dua bahasa atau lebih. Sebelum seseorang menguasai dua bahasa atau lebih, yang pertama kali mempengaruhi mendasari bahasa seseorang umumnya adalah bahasa ibu. Bahasa ibu, yang merupakan bahasa pertama biasanya diperoleh dalam lingkungan keluarga atau masyarakat. Kecenderungan pemakaian bahasa ibu atau bahasa pertama sangat tergantung pada bahasa yang paling dominan dipergunakan di tengah-tengah masyarakat. Terutama di daerah-daerah pedesaan, biasanya yang dominan adalah bahasa ibu daerah. Dalam rentang waktu selanjutnya, sesuai dengan usianya kemudian seseorang akan mempelajari bahasa kedua. Bagi anak-anak, hal ini akan dialami apabila anakanak mulai masuk sekolah.Dari perjalanan waktu dan usia sekolah itulah, maka akan diperoleh dan

dikuasai bahasa kedua, sehingga mereka dapat menguasai lebih dari satu bahasa. Sebagian besar masyarakat, termasuk anak-anak sekolah dasar kebanyakan berbahasa ibu bahasa daerah. Meskipun anak-anak telah memasuki sekolah, karena sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa daerah, maka pemakaian bahasa daerahlah yang cenderung dominan dalam berkomunikasi. Hal ini terbukti karena bahasa daerah lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan bahasa yang lain, misalnya bahasa Indonesia. Dengan demikian, kita tidak heran bila kalau bahasa daerah atau bahasa percakapan akan mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia penuturnya. 2.5 Ragam Bahasa Lisan yang Digunakan Anak-anak Dwibahasawan di SD Penggunaan bahasa Indonesia lisan dalam situasi formal atau resmi hendaknya digunakan ragam bahasa baku. Demikian juga, dalam proses belajar mengajar di kelas, karena dituntut penggunaan bahasa yang cermat terutama terkait dengan keperluan keilmuan, maka hendaknya menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Namun, tidak dapat disangkal bahwa seseorang (dwibahasawan) akan mengalihkan atau mencampurkan bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan pada saat komunikasi sedang berlangsung. Hal ini dapat terjadi karena berbagai alasan. Alasan-alasan itu, antara lain agar pembicaraan dapat berlangsung komunikatif, untuk menunjukan status sosialnya, dan kesulitan mencari padanan kata. Senada dengan hal ini, Grosjean (1982: 149) menjelaskan, bahwa kegiatan beralih bahasa (kode) terjadi manakala dwibahasawan kekurangan fasilitas pada suatu bahasa pada saat dwibahasawan itu mengemukakan suatu topik. Alih kode juga terjadi sewaktu dwibahasawan menemukan kata yang sulit diungkapkannya tidak ada padanan yang tepat. Selanjutnya alih kode sering terjadi ketika dwibahasawan sedang dalam keadaan lelah, atau sedang marah. Berdasarkan deskripsi dan hasil analisis data ditemukan pergantian bahasa dalam ujian lisan anak-anak dwibahasawan ketika berinteraksi atau mengikuti pelajaran di kelas, yaitu pergantian penggunaan ragam baku keragam tidak baku atau sebaliknya. Pergantian ragam baku ke ragam tidak baku terjadi apabila interaksi terjadi antar anak-anak atau antara anak dan guru yang sebahasa ibu. Adapun faktor lain yang menyebabkan timbulnya peralihan bahasa (kode) tersebut disebabkan oleh kesulitan mencari padanan kata dan faktor situasi yang melingkupinya. Faktor-faktor situasional ini terjadi pada anak-anak dwibahasawan, khususnya ketika proses belajarmengajar berlangsung, sementara mereka mengalami berbagai kendala. Wujud kendala itu adalah berupa kesulitan-kesulitan tertentu, seperti pada saat merespon atau memahami materi pelajaran. Di samping itu, situasi kelas yang ramai, ribut, penat dan panas (jam pelajaran terakhir), maka mereka beralih bahasa (kode) ketika menyampaikan ujarannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Suwito (1983: 149), bahwa ada kalanya terjadi kesenjangan penutur dengan situasinya. Pemakaian bahasa yang demikian biasanya tidak disadari dimaksudkan untuk mengubah situasi tertentu menjadi yang lain. Oleh karena itu, wajarlah apabila dalam ujaran anak-anak dwibahasawan SD terdapat ragam tidak baku ketika mengungkapkan kembali isi/materi pelajaran di kelas.

2.6 Fungsi Bahasa yang Digunakan Anak-anak Dwibahasawan SD Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai alat komunikasi. Dalam hal ini berbagai penjelasan mengenai fungsi bahasa telah dapat dikemukakan para ahli bahasa. Bebereapa pakar memberikan

penjelasan mengenai fungsi bahasa dilihat dari cara pandang masing-masing. Akan tetapi, penjelasan mengenai fungsi bahasa tersebut secara keseluruhan memiliki banyak persamaan. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini, secara konstekstual bahasa yang digunakan anakanak dwibahasawan berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi atau interaksiona, merupakan alat untuk diri atau personal, alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau heuristik, dan untuk menyatakan imajinasi dan khayal. Selanjutnya, dilihat dari struktur kalimatnya penggunaan bahasa lisan anak-anak dwibahasawan berfungsi untuk menyatakan perasaan atau ekspresi, bertanya, meminta suatu pendapat, tanggapan atau jawaban, untuk menjelaskan informasi atau materi pelajaran, dan memberi atau membuat contoh. Fungsi untuk menyatakan perasaan atau ekspresi dalam ujaran anak-anak dwibahasawan, antara lain ditandai oleh adanya rasa gembira, senang, kagum, atau kecewa. Ungkapan ini dapat tergambar pada kalimat (a) Aku sangat senang pergi bersama-sama keluarga, (b) Aduh, senagnya pengalaman waktu libur, dan (c) Pada saat aku mengamati gambar tugu monas aku heran melihat bangunan yang amat tinggi. Fungsi untuk menjelaskan informasi atau materi pelajaran ini terkait secara kontekstual. Ungkapanungkapan tersebut dapat tergambar pada kalimat (a) Paman Mus pergi bertransmigrasi karena Gunung Galunggung meletus. Sekarang masa depan Paman dan keluarganya terjamin, (b) Rumah Wangi terbakar karena ledakan kompor tetangganya, dan (c) Keamanan di Desa Pak Thomas sangat terganggu. Ayam di kandang hilang tanpa suara. Begitu pila kambing dan ternak lainnya. Akhir-akhir ini malingnya berani mencongkel jendela rumah Pak Lurah. Untung cepat diketahui, tapi maling itu melarikan diri. Berkaitan dengan fungsi ‘untuk menjelaskan informasi atau materi pelajaran’, fungsi ‘memberi atau membuat contoh’ pun berkaitan dengan topik dan situasi pembicaraan. Fungsi tersebut dapat digambarkan melalui kalimat (a) Ada anjungan dari berbagai daerah di Indonesia, Pak, (b) Kita mengadakan upacara di sekolah, di desa, di kecamatan, (c) Saya Pak, ada Burung Pipit, Kutilang, Bangau, dan (d) Saya Pak, perlombaan panjat pinang, lari karung, tarik tambang, baca puisi. Fungsi ‘bertanya, meminta suatu pendapat, tanggapan, atau jawaban’ juga terjadi karena terikat oleh konteks pembicaraan. Pembicaraan tersebut berlangsung di kelas, ketika proses belajar-mengajar berlangsung antara murid dan guru. Hal ini dapat dilihat pada contoh-contoh kalimat (1) Judulnya liburan, Pak?, (2) Judulnya apa, Pak?, (3) Pahlawan juga, ya, Pak?, (4) Judulnya Ronda Malam, ya Bu?, (5) Di buku halaman berapa, Pak?, dan (6) Yang mana, Bu?… Melihat kontek ujaran anak-anak dwibahasawan di atas, pada dasarnya masih terkait dengan fungsifungsi yang lain. Hal ini disebabkan oleh faktor materi pelajaran yang disampaikan di sekolah. Materi pelajaran bahasa Indonesia yang disajikan kepada murid pada umumnya berhubungan dengan masalah sosial, kebudayaan, ekonomi, pertanian, dan alam sekitar. Untuk itu, fungsi lain yang berkaitan, antara lain bahwa bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat. Bahasa dan kebudayaan ini mengemban fungsi kebudayaan. Fungsi kebudayaan itu mencakup fungsi bahasa sebagai (1) sarana pengembangan kebudayaan, (2) jalur penerus kebudayaan, dan (3) inventaris ciri-ciri kebudayaan. Dalam konteks itu, bahasa merupakan unsur kebudayaan yang memungkinkan pengembangan dan perkembangan kebudayaan. Apabila dikaitkan dengan pengajaran bahasa Indonesia, tampak jelas bahwa pengajaran bahasa Indonesia itu dimaksudkan untuk membuat anak didik mampu mengintegrasikan diri dalam masyarakat

Indonesia. Dengan berbahasa Indonesia diharapkan anak didik menjadi bagian utuh dari bangsa Indonesia. Sekaitan dengan itu, bahasa Indonesia adalah bahasa yang membuka jalan bagi kita menjadi anggota yang seutuhnya dari bangsa Indonesia. Oleh karena itu sangat penting bagi lembaga pendidikan di sekolah dasar untuk memasyarakatkan bahasa Indonesia kepada anak-anak.

Setidaknya terdapat tiga teori utama yang menjelaskan tentang perolehan dan perkembangan bahasa pada anak-anak, yaitu: 1. Model Behaviors Inti pandangan model ini ialah Language is a function of reinfoercement. Orang tua dan guru mengajar anak berbicara dengan memberikan penguatan sebagai prinsip pendekatan behaviorist terhadap tingkah laku verbal, dengan pemberian penguatan ini anak belajar memberi nama pada benda-benda secara tepat sehingga anak mengetahui arti kata-kata itu. Hal ini dapat terjadi karena setiap kali anak berbuat suatu kesalahan akan segera dikoreksi oleh guru dan juga orang tuanya atau masyarakat verbal lainnya melalui penguatan yang selektif. Penguasaan gramatika juga terjadi dengan cara yang sama, tetapi bagaimana anak dapat tahu arti katakata? Menurut teori ini anak-anak mula-mula merupakan tabula rasa. Kata-kata yang didengarnya disimpan di dalam ingatan melalui asosiasi. Kemudian dalam observasinya sehari-hari terhadap lingkungan, ia melihat adanya suatu hubungan antara entry (kombinasi antara objek dengan person) dengan suatu aksi tertentu. Lama-lama terjadi asosiasi yang kuat antara keduanya dan asosiasi tersebut disimpannya dalam ingatan (memory). Makin banyak asosiasi yang terjadi dan disimpan dalam ingatannya. 2. Model Linguistik Menurut Chomsky, anak-anak dilahirkan dengan dilengkapi dengan kemampuan untuk berbahasa. Melalui kontak dengan lingkungan sosial, kemampuan bahasa tersebut akan tampak dalam perilaku berbahasa. Dari sudut pandang ini bahasa adalah suatu kemampuan yang khas yang dimiliki manusia. Selain itu Chomsky dan kawan-kawan menganggap bahwa perolehan bahasa tidak dengan cara induksi seperti yang dijelaskan oleh mazhab empiris, melainkan karena manusia secara biologis memang sudah diprogramkan (pre-programmed) untuk memperoleh bahasa. Hampir semua anak memformulasikan data-data bahasa yang diperoleh melalui hipotesis testing dan lambat laun anak menguasai teori tentang gramatik. Menurut Chomsky seorang anak bukanlah suatu tabula rasa, melainkan telah mempunyai faculty of language (faculty ialah kemampuan untuk berkembang atau untuk belajar). Faculty ini adalah khas manusia sedangkan binatang tidak memiliki faculty tersebut. Faculty ini berdiri sendiri tidak bergantung pada faculty lain, seperti berfikir, pengamatan dan sebagainya namun semata-mata berupa faktor linguistic dan berbeda dengan bentuk-bentuk berpikir yang primitive seperti hewan. Apabila seorang anak memiliki faculty og language, maka semua anak di dunia ini akan mengembangkan tipe-tipe bahasa yang sama, yang berarti ada suatu cirri universal dalam segala macam bahasa. Faculty of language ini telah mengandung berbagai aturan tata bahasa, sehingga anak tidak mengalami kesukaran dalam belajar bahasa. Faktor linguistic bawaan ini oleh Chomsy disebut innate mechanism.

Bahwa anak-anak mempunyai innate mechanisme, dibuktikan dari cara mereka menyusun kalimatkalimat dengan aturan-aturan sendiri, yang mustahil didapatnya dari luar (orang tua, guru dan masyarakat) karena kalimat-kalimat yang didengarnya tidak demikian bentuknya. Lagi pula input bahasa yang didapatnya relative masih sedikit untuk diindksikan dari atura gramatika. Dalam kenyataan seharihari tata bahsa itu hanya terlihat struktur lauarnya saja, sedangkan struktur dalam masih merupakan tanda Tanya, dan struktur inilah yang dicoba oleh Chomsky untuk diuraikan. 3. Model Kognitif. Kelompok ini diwakili oleh Piaget, Bruner, dan Vigotsky (Mar’at, 2001:86). Model ke tiga ini adalah pandangan terbaru mengenai perolehan bahasa pada anak. Pandangannya disebut dengan model proses atau analisis strategi. Inti dari pendekatan baru ini adalah suatu model kognitif untuk bahasa yang mencoba menjelaskan bagaimana bahasa itu diproses secara kognitif dan bagaimana manifestasinya dalam tingkah laku. Model ini berusaha menghubungkan segi performance dengan segi competence, hal mana belum diungkapkan hubungannya oleh kedua pendekatan tersebut.

Para ahli dan praktisi di dunia pendidikan khususnya dewasa ini lebih menyukai model ketiga ini, yaitu yang memandang bahasa dari sudut prosesnya. Hubungan antara bahasa dan perkembangan kognitif ditinjau dari pespektif psikolugistik dewasa ini diterangkan sebagai berikut: Bahwa anak-anak dapat belajar bahasa memang berkat adanya hal-hal yang innate, akan tetapi hal-hal yang innate ini bukanlah a set f idea seperti yang diungkapkan oleh aliran rasional (Chomskysm), melainkan berupa kapasitas kognitif dan kapasitas untuk belajar. Kedua kapasitas itu lebih general dan predetermining sifatnya, tidak sederhana seperti yang diungkapkan oleh aliran empiris (Skinnerism). Kemampuan umum berarti bahwa anak-anak menemukan pola-pola linguistic seperti hanya mereka menemukan pola-pola persepsi dalam dunia penginderaan. Kedua proses ini merupakan bagian dari perkembangan kognitif umum. Jadi, dikatakan bahwa seorang individu itu berkembang, baik linguistic maupun perceptual adalah hasil dari prosedur dan kesimpulan kognitif yang bersifat innate. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa apa yang disebut Chomsky sebagai suatu universalitas bahasa tidak lain dari hasil proses-proses kognitif yang diasumsikan universal sifatnya. Dengan demikian tranformasi yang dibicarakan oleh Transformational Generative Grammar (TGG) dari Chomsky sebenarnya adalah suatu operasi kognitif yang bukan hanya direfleksikan dalam bahasa, akan tetapi juga dalam persepsi visual. Contohnya: bahwa orang dapat membedakan antara kata benda dengan kata kerja dalam suatu bahasa merupakan hasil dari strategi kognitif dalam membedakan antara objek dan hubungan antara objek. 2.7 Aspek-aspek Berbahasa Anak Setidaknya terdapat empat aspek dalam berbahasa (Marat, 2010), keempat aspek tersebut dipaparkan sebagai berikut: 1. Kemampuan menggunakan bahasa untuk meyakinkan orang lain agar mau melakukan sesuatu . aspek ini seperti yang dimiliki oleh para pemimpin dan politikus. 2. Potensi yang membantu mengingat atau menghafal, yaitu adanya kapasitas untuk menggunakan alat bantu mengingat informasi, member jarak dan suatu urutan menjadi aturan permainan atau dari suatu perintah menjadi prosedur meggerakkan sesuatu, misalnya mesin. 3. Penjelasan, yaitu menjelaskan secara oral, membuat syair, mengumpulkan pepatah atau peribahasa

dan penjelasan singkat kemudian meningkat sampai pada menggunakan kata-kata untuk menyusun sebuah tulisan. 4. Berbahasa untuk menjelaskan bahasa itu sendiri, kemampuan menggunakan bahasa untuk merefleksikan bahasa itu sendiri dan menggunakan analisa metalinguistik. Ini tampak pada anak saat bertanya, “maksudmu yang mana, yang merah atau yang abu-abu?”, ini dikatakan oleh anak dalam rangka mengarahkan anak lain untuk kembali merefleksikan apa yang sudah dikatakan. Aspek bahasa lainnya adalah semantic (arti kata) dan pragmatis (memandang sesuai keinginannya), yaitu dapat memanfaatkan dengan baik mekanisme pemrosesan informasi secara lebih luas, dikaitkan dengan organ bicara. Maraat (2001) menjelaskan beberapa pendekatan yang dipandang bermanfaat bagi perkembangan bahasa anak, pendekatan tersebut adalah: 1. Menggunakan pendekatan informal 2. Memfokuskan diri pada maksud pembicara 3. Harapan dan keberhasilan 4. Bercirikan kreativitas 5. Menghargai keberhasilan 2.8 Implikasi bagi Kegiatan Pembelajaran Setelah mempelajari berbagai aspek terkait dengan perkembangan bahasa ada anak, khususnya anak sekolah dasar, maka berikut disampaikan sejumlah implikasi terhadap kegiatan pembelajaran anak sebagai berikut: 1. Apabila kegiatan pembelajatan yang diciptakan bersfat efektif, maka perkembangan bahasa anak akan dapat berjalan secara optimal. Sebaliknya apabila kegiatan pembelajaran berjalan kurang efektif, maka dapat diprediksi bahwa perkembangan bahasa anak akan mengalami berbagai hambatan. 2. Bahasa adalah alat komunikasi yang paling efektif dalam pergaulan sosial, sehingga sekiranya kita ingin menghasilkan pembelajaran yang efektif untuk mendapatkan hasil pendidikan yang optimal, maka sangat diperlukan bahasa yang komunikatif dan memungkinkan semua pihak yang terlibat dalam interaksi pembelajaran dapat berperan secara aktif dan poduktif. Dengan demikian guru Sd diharapkan sekali banyak menggunakan bahasa anak daripada bahasa orang dewasa. 3. Kendatipun setiap anak SD terutama yang ada di kota, memiliki kemampuan potensial yang berbedabeda namun pemberian lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa sejak dini sangatlah diperlukan. Lingkungan yang kondusif dapat tercipta sesuai dengan kebutuhan anak untuk perkembangan bahasa pada saatnya, akan berdampak sangat positif terhadap perkembangan bahasa anak, tidak hanya sebagai pengguna bahasa yang pasif melainkan juga dapat menjadi pengguna ahasa aktif. 2.9 Pengaruh Bahasa Inggris terhadap Bahasa Indonesia Pada zaman globalisasi saat ini menuntut sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa asing terutama Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Keahlian berbahasa asing ini diperlukan untuk menguasai ilmu pengetahuan, memiliki pergaulan luas dan karir yang baik. Hal ini membuat semua orang dari berbagai kalangan termotivasi untuk mengusai Bahasa Inggris.

Kecenderungan masyarakat akan penguasaan bahasa asing tersebut, membuat berbagai lembaga pendidikan saling berlomba membuat program yang memasukan Bahasa Inggris sebagai salah satu keahlian yang dikembangkan. Termasuk lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) . Hal ini berdasarkan asumsi bahwa anak lebih cepat belajar bahasa asing dari pada orang dewasa. Sebuah penelitian yang dilakukan Johnson dan Newport, menunjukan bahwa imigran asal Cina dan Korea yang mulai tinggal di Amerika pada usia 3 sampai 7 tahun kemampuan Bahasa Inggrisnya lebih baik dari pada anak yang lebih tua atau orang dewasa. Penelitian lain yang menyatakan kebermanfaatan menguasai bahasa asing lebih dini, dinyatakan Mustafa, bahwa anak yang menguasai bahasa asing memiliki kelebihan dalam hal intdlektual yang fleksibel, keterampilan akademik, berbahasa dan sosial. Selain itu, anak akan memiliki kesiapan memasuki suatu konteks pergaulan dengan berbagai bahasa dan budaya. Sehingga ketika dewasa anak akan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan bisa berprestasi . Mustafa menambahkan bahwa pemahaman dan apresiasi anak terhadap bahasa dan budayanya sendiri juga akan berkembang jika anak mempelajari bahasa asing sejak dini. Alasannya karena mereka akan memiliki akses yang lebih besar terhadap bahasa dan budaya asing. Pada saat ini Pendidikan Anak Usai Dini sudah banyak di belajarkan tentang Bahasa Inggris. Baik di playgroup,TK maupun SD. Oleh karena itu banyak orang tua yang ingin memasukan anaknya ke TK ataupun SD yang tingkat pembelanjaran bahasa inggrisnya lebih tinggi dan lebih kuat agar anaknya dapat mempelajari bahasa inggris dengan baik dan benar. Mungkin pada tingkat SD pelajaran Bahasa Inggris sudah diharuskan karena untuk melatih anak-anak untuk dapat mengetahui dasar-dasarnya. Untuk sebagian besar murid di sekolah dasar, mata pelajaran bahasa Inggris merupakan mata pelajaran baru dan sulit bagi mereka. Walaupun ada juga sebagian dari murid tersebut sudah mempelajarinya. Di kota-kota besar di Indonesia telah berkembang play group atau di taman kanak-kanak (TK) yang memberikan bahasa Inggris pada usia dini. Mereka yang terlibat didalamnya juga perlu memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak. Melihat dari fakta konsep untuk menerima dan memahami bahasa terutama bahasa Inggris untuk tiap anak berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh fase perkembangan anak dan kemampuan untuk menerima pelajaran. Terdapat empat fase perkembangan anak, yaitu : (1) sensorymotor stage, dari lahir sampai usia 2 tahun ; (2) preoperational stage, usia 2- 8 tahun ; (3) concrete operational stage, usia 8-11 tahun ; (4) formal stage, usia 11-15 tahun atau lebih. Fase ini tentunya tidaklah selalu sama bagi setiap anak, baik secara perorangan dan kelompok. Fase-fase perkembangan dapat terjadi bersamaan waktunya, tetapi perkembangan untuk setiap tingkat dapat tercapai dalam waktu yang tidak bersamaan, apalagi untuk setiap jenis pengetahuan juga berbeda. Konsep ZPD (zone of proximal development) oleh Vygotsky, pebelajar memiliki dua fase perkembangan, yaitu fase perkembangan yang sebenarnya (actual development) dan fase perkembangan potensial (potential development). Fase perkembangan yang sebenarnya adalah fase ketika kemampuan berfikir dan belajar sesuatu berhasil atas upaya sendiri. Namun, dalam kenyataannya setiap anak dapat mencapai tingkat perkembangan tersebut dengan bantuan orang lain (guru). Karena bahasa Inggris merupakan bahasa asing bagi anak, banyak kata bahkan hampir semua kata yang berbahasa Inggris mereka tidak memahami, terkadang pada saat proses belajar dikelas banyak anak

yang bertanya arti dari sebuah kata berbahasa Inggris. Contonya : “Miss, apakah arti look?” , “Miss, read apa artinya?” dan masih banyak lagi pertanyaan dari murid yang tidak tahu artinya. Nah, dari sini coba kita bayangkan kalaulah semuanya bertanya atas ketidaktahuan mereka tentunya akan sulit untuk melaksanakan proses belajar. Maka ada satu cara agar mereka mudah untuk mengartikan kata-kata tersebut dan memahaminya dengan cara membuka kamus. Dari hal ini, maka dianggap penting perlunya alat/media yang dapat membantu murid untuk mentranslatenya kedalam bahasa Indonesia atau sebaliknya dari bahasa Indonesia kedalam bahasa Inggris, yaitu kamus/dictionary. Apakah penting itu “dictionary”?, yes of course, way not. Kamus adalah kumpulan kata-kata yang memiliki arti khusus. Kamus bahasa Inggris sendiri terdiri dari banyak ragam yang terdapat dipasaran. Kamus yang standar dapat digunakan anak sekolah dasar dalam belajar. Anak-anak disekolah dasar sebaiknya memiliki kamus sejak kelas IV, karena tahap ini perkembangan anak telah bertambah denga penguasaan ilmu pengetahuan yang lainnya. Sedangkan untuk kelas I – III dan menggunakan kamus bergambar karena medianya lebih fan dan mudah untuk memahaminya. Disinilah peranan guru untuk memberikan penjelasan lebih lanjut agr anak-anak mengerti dan paham. Melibatkan murid secara aktif sejak awal proses belajar dan sangat penting pada waktu pembelajaran terjadi, karena jawaban ditemukan sendiri oleh anak tersebut. Anak atau murid yang rajin membawa kamus dan menggunakannya selama proses belajar bahasa Inggris akan memiliki new knowledge (pengetahuan baru) yang lebih banyak dari pada anak yang jarang atau tidak menggunakan kamus. Tidak semua anak mau dan rajin untuk membawa kamus kesekolah, ini dikarenakan bentuknya yang tebal dan berat ataupun mereka belum memilikinya. Tidak memiliki kamus sama dengan tidak dapat mengerjakan tugas, dan tidak tahu akan palajaran. Hal ini dapat menimbulkan rasa malas karena ketidaktahuan mereka atas apa yang akan mereka kerjakan pada saat latihan. Karena untuk menambah pengetahuan awal (prior knowledge) murid harus melewati suatu pengalaman. Dikarenakan adanya kebiasaan tersebut lama kelamaan anak akan terbiasa dan ingat sedikit demi sedikit arti dari kata-kata bahasa Inggris, tentunya hal ini tidak dengan mudah/cepatnya untuk bisa dapat/menguasai, tapi yakinlah dengan kebiasaan akan menjadi terbiasa. Memahami murid sebagai pelajar aktif, juga harus dipahami oleh guru yang mengajar bahasa Inggris disekolah dasar. Menggunakan metoda yang mudah untuk dipelajari (easy to study) dan mempermudah materi pelajaran yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari dan disekitarnya. Pendekatan personal juga dapat diberikan oleh guru untuk menuntun murid dalam proses belajar. Pada waktu memperkenalkan bahasa Inggris kepada anak-anak sebaiknya diawali dengan hal-hal konkret sebelum menuju ke hal-hal yang bersifat abstrak, selain itu, jangan hanya menghandalkan bahasa lisan karena bahasa saja tidak cukup. Kegiatan untuk anak-anak juga harus melibatkan aspek pikiran (kognitif) dan gerakan tubuh. Jangan sekali-kali kita menganggap semua anak akan mengerti apa yang kita perbincangakan (dalam bahasa Inggris), karena anak-anak tidak selalu mau bertanya. Mereka mengerti, tetapi menurut pemahaman mereka sendiri. Apabila ini yang terjadi maka akan terjadi misunderstanding. Jadi, menggunakan kamus/dictionary dalam balajar bahasa Inggris sangat memberikan pengaruh yang besar terhadap tingkat penguasaan bahasa Inggris bagi murid sekolah dasar. Dan masih banyak cara lain yang dapat ditempuh untuk mempermudah anak untuk mengerti berbahasa Inggris. Keterkaitan antara bahasa dengan budaya memang seperti dua sisi mata uang. Ketika mempelajari

suatu bahasa maka otomatis kita akan mempelajari kebudayaan, nilai-nilai sosial, moral dan kemasyarakatan si penutur bahasa dan setting dimana bahasa tersebut digunakan. Pengaksesan bahasa asing sejak dini akan membuat anak secara otomatis mempelajari budaya masyarakat penutur asli bahasa tersebut. Kedudukan Bahasa Inggris di Indonesia merupakan bahasa asing pertama. Kedudukan tersebut berbeda dengan bahasa kedua. Mustafa dalam hal ini menyatakan bahwa bahasa kedua adalah bahasa yang dipelajari anak setelah bahasa ibunya dengan ciri bahasa tersebut digunakan dalam lingkungan masyarakat sekitar. Sedangkan bahasa asing adalah bahasa negara lain yang tidak digunakan secara umum dalam interaksi sosial. Kedudukan Bahasa Inggris di Indonesia tersebut mengakibatkan jarang digunakannya Bahasa Inggris dalam interaksi sosial di lingkungan anak. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris karena pemerolehan bahasa asing bagi anak berbanding lurus dengan volume, frekuensi dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan program pembelajaran dengan pengantar Bahasa Inggris tersebut mendapat berbagai kendala mengingat kedudukan Bahasa Inggris di Indonesia sebagai first foreign languange (bahasa asing pertama). Artinya, Bahasa Inggris hanya menjadi bahasa pada kalangan tertentu, tidak digunakan oleh masyarakat umum seperti jika kedudukannya sebagai bahasa kedua. Hal ini menyebabkan kurangnnya interaksi anak terhadap Bahasa Inggris. Selain itu terdapat juga berbagai pendapat mengenai pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing yang bisa mempengaruhi perkembangan bahasa ibu.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Kemampuan berbahasa Indonesia adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi masyarakat Indonesia, tidak terkecuali murid sekolah dasar. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar, bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok. Pelajaran bahasa Indonesia diajarkan kepada murid berdasarkan kurikulum yang berlaku, yang di dalamnya (kurikulum pendidikan dasar) tercantum beberapa tujuan pembelajaran. Sebagai suatu alat komunikasi, bahasa memiliki seperangkat sistem yang satu sama lain saling mempengaruhi yaitu fonem, morfem, sintaksis, semantic dan pragmantik. Ada dua ragam komunikasi yang digunakan manusia melalui bahasa, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam tulisan. Setiap bahasa memiliki seperangkat sistem, yaitu sistem bunyi bahasa, sistem gramatikal (tata bentuk kata, tata bentuk kalimat), tata makna, dan kosa kata. Perangkat sistem ini ada dalam benak penutur. struktur bahasa ragam lisan anak-anak pun dapat dianalisis melalui unsur-unsur bahasa yang dugunakannya. Di samping itu, aturan-aturan yang berlaku juga dapat digunakan sebagai tolak ukur baku atau tidaknya penggunaan bahasa secara keseluruhan. Sebaiknya penggunaan bahasa Indonesia lisan dalam situasi formal atau resmi hendaknya digunakan ragam bahasa baku. Demikian juga, dalam proses belajar mengajar di kelas, karena dituntut penggunaan bahasa yang cermat terutama terkait dengan keperluan keilmuan, maka hendaknya menggunakan

bahasa Indonesia ragam baku. Namun, tidak dapat disangkal bahwa seseorang (dwibahasawan) akan mengalihkan atau mencampurkan bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan pada saat komunikasi sedang berlangsung. 3.2 Saran Bahasa telah berkembang sejak anak berusia 4 – 5 bulan. Orang tua yang bijak selalu membimbing anaknya untuk belajar berbicara mulai dari yang sederhana sampai anak memiliki keterampilan berkomunikasi dengan mempergunakan bahasa. Oleh karena itu bahasa berkembang setahap demi setahap sesuai dengan pertumbuhan organ pada anak dan kesediaan orang tua membimbing anaknya, karena itu terimalah keunikan mereka dengan kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki. Bantu dan beri dukungan anak untuk mengenali kelebihan dan menerima kekurangan mereka. Bantu membuat strategi belajar untuk mengatasi kekurangan mereka, berikan alat-alat bantu dan peraga sehingga anak mampu menyentuh, melihat dan mendengarnya serta menghubungkan dengan konsep yang dipelajari, menciptakan suasana belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Bagi para orang tua dampingi anak ketika belajar dan mengerjakan PR. Dengan pemahaman akan kekurangan mereka dan mengingat kelebihan yang mereka miliki akan meningkatkan kadar kesabaran para orangtua, demikian pula guru. Bekerja samalah dengan guru, sehingga ada kesinambungan dalam pengamatan perkembangan anak serta dukungan moral dan emosional buat anak terutama saat di sekolah dan berilah pujian ketika anak berhasil melakukan tugasnya, bantu dan dukung untuk mengembankan kepercayaan diri dan kemandirian dalam belajar. http://kabarkito.blogspot.com/2012/11/karakteristik-perkembangan-bahasa-anak.html Anak didik merupakan “bahan baku” pendidikan. Dialah yang menjadi bahan mentah untuk dikembangkan kompetensi emosional, intelektual dan keahliannya. Menjadikan mereka anak-anak yang sukses dalam belajar dan kehidupan merupakan tugas mulia guru. Agar usaha mencapai hasil optimal, setiap guru perlu memahami potensi yang dimiliki oleh anak didik. Sebagai manusia, setiap anak memiliki potensi belajar beragam. Ada yang mudah dan ada pula yang perlu usaha ekstra. Oleh karena itu, tipe-tipe anak didik berdasarkan potensinya perlu dikenali dengan baik. Secara sederhana, potensi anak didik dapat dicermati berdasarkan dua aspek. Aspek tersebut adalah kesiapan mental dan kecerdasannya. Kesiapan mental biasanya tampak pada kemandirian anak. Sementara kecerdasan umumnya tampak pada daya serap anak terhadap suatu kompetensi. Atas dasar itu, tipe-tipe anak didik dapat dipetakan sebagaimana bagan berikut. 1. Tipe Cerdas Ini adalah tipe siswa yang paling mudah diajar. Mereka memiliki tingkat kemandirian dan sekaligus daya serap tinggi. Mendidik anak tipe ini sangat mudah bagi guru. Kemandirian dan kecerdasannya bahkan menjadikan guru tidak perlu mengajar, karena anak memiliki minat dan kemampuan belajar secara mandiri. Tipe seperti ini kadang ada karena faktor bawaan, tetapi tidak jarang sebagai hasil bentukan lingkungan baik karena pola asuh orang tua maupun pembelajaran kepribadian di sekolah. 2. Tipe Pintar Ini adalah tipe anak didik pada umumnya. Meski bukan anak cerdas secara kognitif, tetapi dia memiliki kesiapan mental, berupa kemandirian, dan minat belajar tinggi.

Tipe ini umumnya menjadi siswa yang berhasil dalam belajar maupun dalam hidupnya. Modalitas mental dan kemandirian yang memadai menjadikan anak mampu mengatasi berbagai masalah belajar. Pada anak seperti ini, tugas guru adalah membelajarkan mengenai cara belajar efektif dan berbagai trik pembelajaran. Meski tidak secepat anak cerdas, anak pintar sering kali dapat sesukses anak cerdas. 3. Tipe Aktif Ini adalah tipe anak didik yang relatif membutuhkan keahlian dan tenaga ekstra dari guru. Anak seperti ini pada dasarnya cerdas, tetapi kurang memiliki kesiapan mental (kecerdasan emosi). Anak tipe ini biasanya banyak ulah, banyak kemauan, dan agak egois. Ini terjadi karena ketidakseimbangan kecerdasan pikir dan emosinya, sehingga tersublimasikan ke dalam sikap dan perilaku aktif, atraktif dan semau gue. Banyak guru dan orang tua salah mempersepsikan mereka sebagai anak nakal. Padahal sangat boleh jadi sebenarnya mereka anak yang terlalu cerdas daya pikirnya. Bahkan tokoh-tokoh besar yang terlahir dengan kondisi seperti mereka. Anak seperti ini membutuhkan guru yang memiliki kecerdasan emosi tinggi dan memiliki keahlian bidang pembinaan kecerdasan emosi. Keberhasilan membentuk kembali emosi anak merupakan kunci keberhasilan belajar. 4. Tipe Sulit Ini adalah tipe anak didik yang membutuhkan guru berkeahlian ganda. Ini dikarenakan problem belajar anak terletak pada dua aspek fundamental, yakni kesiapan mental dan kecerdasan sekaligus. Untungnya, anak tipe ini semakin jarang ditemukan saat ini. Kualitas gizi yang dikonsumsi orang tua saat hamil dan anak semasa kecil makin baik, hingga jumlah anak seperti ini semakin sedikit. Guru berkeahlian khusus diperlukan agar minat anak terbangun seperti anak tipe pintar. Bila hasil pembelajaran kognitifnya tidak sebaik anak yang lain, maka peluang untuk membuatnya sukses harus digali dari potensi-potensinya yang lain. Setiap anak memiliki potensi kecerdasannya sendiri. Anak pasti memiliki kelebihan (kecerdasan) di bidang tertentu. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara guru dan wali murid agar potensi anak dapat digali dan dikembangkan lebih optimal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->