ASKEP ORCHITIS

KASUS 4 Tn B 25 th datang ke RS dengan keluhan demam, dari penis keluar nanah, nyeri ketika berkemih (disuria). Dari hasil pengkajian fisik didapatkan, pembengkakan kelenjar getah bening di selangkangan, skrotum, dan testis. Testis juga teraba lunak. Klien mengatakan pernah menderita gondongan (mumps) 5 tahun yang lalu. Diagnosa Medis  ORCHITIS

PEMBAHASAN KASUS DEFINISI Orkhitis merupakan suatu inflamasi testis (kongesti testikular), yang biasanya dapat disebabkan oleh factor-faktor pyogenik, virus, spiroseta, parasit, traumatis, kimia, atau factor yang tidak dapat diketahui. Orchitis merupakan reaksi inflamasi akut dari testis terhadap infeksi. Sebagian besar kasus berhubungan dengan infeksi virus gondong, namun virus lain dan bakteri juga dapat menyebabkan orchitis. ETIOLOGI Virus : orchitis gondong (mumps) paling umum. Infeksi coksakievirus tipe A, varicella, dan echoviral jarang terjadi. Infeksi bakteri dan pyogenik E. coli, Klebsiella, pseudomonas, Stafilokokkus, dan Sterptokokkus. Granulomatous : T. pallidum, Mycobakterium tuberculosis, Mycobakterium leprae, Actinomycetes Trauma sekitar testis Virus lain, meliputi coksakievirus tipe A, varicella, dan echoviral Beberapa kasus telah dijelaskan imunisasi gondong, campak, dan rubella (MMR) dapat menyebabkan orchitis Bakteri penyebab biasanya menyebar dari epididimitis terkait dalam seksual pria aktif atau lakilaki dengan BPH; bakteri termasuk Neisseria gonorhoeae, Clamidya trachomatis, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa, Stafilococccus, Streptococcus

-

Idiopatik EPIDEMIOLOGI
 

Kejadian diperkirakan 1 diantara 1.000 laki-laki Dalam orchitis gondong, 4 dari 5 kasus terjadi pada laki-laki prepubertal (lebih muda dari 10 tahun).

Dalam orchitis bakteri, sebagian besar kasus berhubungan dengan epididimitis (epididymo-orchitis), dan mereka terjadi pada laki-laki yang aktif secara seksual lebih tua dari 15 tahun atau pada pria lebih tua dari 50 tahun dengan hipertrofi prostat jinak (BPH).

Di Amerika Serikat sekitar 20% dari pasien prepubertal dengan gondong berkembang orchitis. Kondisi ini jarang terjadi pada laki-laki postpubertal dengan gondong.

FAKTOR RESIKO Instrumentasi dan pemasangan kateter merupakan factor resiko yang umum untuk epididimis akut. Uretritis atau prostatitis juga bisa menjadi factor resiko Refluks urin terinfeksi dari uretra prostatic ke epididimis melalui saluran sperma dan vas deferens bisa dipicu melalui valsava atau pendesakan kuat Factor resiko untuk orchitis yang tidak berhubungan dengan penyakit menular seksual adalah : Imunisasi gondongan yang tidak adekuat Usia lanjut (lebih dari 45 tahun) Infeksi saluran berkemih berulang Kelainan saluran kemih Factor resiko untuk orkitis yang berhubungan dengan penyakit menular seksual adalah: Berganti-ganti pasangan Riwayat penyakit menular seksual pada pasangan Riwayat gonore atau penyakit menular seksual lainnya MANIFESTASI KLINIS
  

Orchitis ditandai dengan nyeri testis dan pembengkakan. Nyeri berkisar dari ketidaknyamanan ringan sampai nyeri yang hebat. Kelelahan / mialgia

Gangguan kesuburan dilaporkan 7-13%. Pembengkakan KGB inguinal Pembesaran epididimis yang terkait dengan epididymo-orchitis KOMPLIKASI     Sampai dengan 60% dari testis yang terkena menunjukkan beberapa derajat atrofi testis.      Abscess scrotalis Infark testis Rekurensi Epididymitis kronis Impotensi tidak umum setelah epididymitis akut. walaupun kejadian sebenarnya yang didokumentsikan tidak diketahui. yang disebabkan oleh gangguan saluran epididymal yang diamati pada laki-laki penderita epididymitis yang tidak diobati dan yang diobati tidak tepat.        Kadang-kadang pasien sebelumnya mengeluh gondongan Demam dan menggigil Mual Sakit kepala Pembesaran testis dan skrotum Erythematous kulit skrotum dan lebih hangat. Gangguan dalam kualitas sperma biasanya hanya sementara. Kemandulan jarang dalam kasus-kasus orchitis unilateral. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG . Hidrokel communican atau pyocele mungkin memerlukan drainase bedah untuk mengurangi tekanan dari tunika.  Yang lebih penting adalah azoospermia yang jauh lebih tidak umum. Kejadian kondisi ini masih belum diketahui.

Jika memungkinkan. Pemeriksaan tersebut berfungsi untuk membedakan torsio testis dengan keadaan skrotum yang lain dengan menilai adanya aliran darah ke testis.Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis yang menunjukkan gejala dan tanda-tanda epididimo orkitis. teraba epididimis yang edema dari ekor hingga kepala epididimis. Pemeriksaan ini dilakukan meskipun gejala uretritis tidak ada. Apabila pemeriksaan mikroskopik apusan uretra dari seorang pria memperlihatkan diplokokus intraseluler gram negative. terjadi peningkatan aliran darah ke testis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri tekan pada sisi yang sakit. pasien menderita uretritis gonokokus. Pemeriksaan mikroskopis dan kultur mid-stream urin. Meskipun demikian secret harus diperiksa untuk kultur gonore dan klamidia. Pada torsio testis tidak didapatkan adanya aliran darah ketestis sedangkan pada keradangan akut testis. Salah satu pemeriksaan yang penting adalah Prehn Sign untuk menyingkirkan diagnosis banding torsio testis. Color Doppler ultrasound scanning memiliki kegunaan besar dalam membedakan antara diagnosa di atas dengan pengesampingan torsio testis. pemeriksaan ini dapat membantu untuk menetapkan dilakukan eksplorasi testis dengan segera atau tidak. sedangkan aliran darah yang meningkat dicatat dalam epididymitis/orchitis. maka terdapat bukti presumtif yang kuat akan adanya uretritis non gonokokus (NGU). . yaitu nyeri hebat dan pembengkakan di daerah belakang testis hingga testis disertai skrotum yang bengkak dan berwarna merah. c. Urin tengah merupakan cara pengambilan spesiman untuk pemeriksaan kultur urin yaitu untuk mengetahui mikroorganisme yang menyebabkan infeksi saluran kemih karena adanya bakteri. namun dalam praktek klinik dimana tidak terdapat alat Doppler. b. Tidak adanya aliran darah ke testikel yang terpengaruh dicatat dalam torsio testis. Jika organisme ini tidak terlihat. sering disebabkan oleh klamidia. ada beberapa lamgkah yang dilakukan untuk diagnosis: a. colour Doppler ultrasound dapat digunakan untuk memeriksa aliran darah arteri (edema akut). Pemeriksaan ini berguna untuk membedakan antara epididimo-orkitis dan torsio spermatic cord. Meskipun Prehn Sign bukan patokan pasti untuk diagnosis torsio testis. Apusan Gram dari uretra. Menurut 2010 United Kingdom national guideline for the management of epididymo-orchitis. Pemeriksaan mikroskopis untuk diagnosis uretritis (> 5 PMNLs perlapang pandang besar x 1000) dan diagnosis untuk gonorrhea (Gram negative intracellular diplococci).

dimana penderita aktif secara seksual. Yang paling penting adalah membedakan orchitis dengan torsio testis karena gejala klinisnya hampir mirip. Digunakan dalam kombinasi dengan ceftriaxone untuk pengobatan gonore. Lebih umum pada pria di bawah 20 tahun (tetapi bisa terjadi pada usia berapapun). aktivitas gram-negatif. dapat diberikan antibiotik untuk menular seksual (terutama gonore dan klamidia) dengan ceftriaxone. Pada pasien dengan kecurigaan bakteri.DIAGNOSIS DIFFERENSIAL    Epididimitis Hernia scrotalis Torsio testis: kemungkinan besar jika nyeri memiliki onset tiba-tiba dan parah. Anak: 2-5 mg / kg / hari PO dalam 1-2 dosis terbagi. Antibiotik golongan Fluoroquinolon tidak lagi direkomendasikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) untuk pengobatan gonorrhea karena sudah resisten. Dewasa: IM 125-250 mg sekali.Ceftriaxone Sefalosporin generasi ketiga dengan spektrum luas. Contoh antibiotik: 1. efikasi lebih rendah terhadap organisme gram-positif. tidak melebihi 200 mg / hari . tidak melebihi 125 mg / d 2. analgetik. Menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara mengikat satu atau lebih penicillin-binding proteins. elevasi skrotum. doksisiklin.   Tumor testis Hydrocele PENATALAKSANAAN MEDIS Pengobatan suportif: Bed rest. anak: 25-50 mg / kg / hari IV. atau azitromisin. Dewasa cap 100 mg selama 7 hari. Tidak ada obat yang diindikasikan untuk pengobatan orchitis karena virus. Membedakan torsi testikular ini dalam diagnosis sangat penting dari segi bedah. Doxycycline Menghambat sintesis protein dan pertumbuhan bakteri dengan cara mengikat 30S dan kemungkinan 50S subunit ribosom bakteri.

2 g sekali untuk infeksi klamidia dan gonokokus. Dewasa 1 g sekali untuk infeksi klamidia. Skrotum. Dewasa 960 mg q12h untuk 14 hari. dan testis Testis teraba lunak Wajah klien tampak meringis Suhu : 38 C RR : 20x/menit TD : 120/80 mmHg . streptococci. S epidermidis. B (25 th) Klien mengatakan demam Klien mengatakan dari penis keluar nanah Klien mengatakan nyeri saat BAK Klien mengatakan pernah menderita gondongan 5 tahun lalu Nyeri skala 7 Belum menikah tetapi aktif melakukan hubungan seksual DO Tampak keluar nanah dari penis Teraba pembengkakan kelenjar getah bening di selangkangan. Dewasa tab 500 mg PO selama 14 hari. namun tidak ada aktivitas terhadap anaerob. Diindikasikan untuk klamidia dan infeksi gonorrheal pada saluran kelamin. PROSES KEPERAWATAN Pengkajian DS Tn. berdasarkan TMP. Umumnya digunakan pada pasien > 35 tahun dengan orchitis. Dengan pemberian antibiotik yang sesuai. MRSA. Anak tidak dianjurkan PROGNOSIS   Sebagian besar kasus orchitis karena mumps menghilang secara spontan dalam 3-10 hari..Ciprofloxacin Fluorokuinolon dengan aktivitas terhadap pseudomonas. PO tid / qid selama 14 hari 5. dan gram negatif sebagian besar organisme. sebagian besar kasus orchitis bakteri dapat sembuh tanpa komplikasi. tidak melebihi 250 mg / hari 4.3.Trimetoprim-sulfametoksazol Menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat sintesis asam dihydrofolic. Anak: 10 mg / kg PO sekali. Menghambat sintesis DNA bakteri dan akibatnya pertumbuhan bakteri terhambat. Anak 15-20 mg / kg / hari.Azitromisin Mengobati infeksi ringan sampai sedang yang disebabkan oleh strain rentan mikroorganisme.

d gangguan pada sistem urinaria   Nyeri tekan pada area testis S : 38°c DS: Klien mengatakan Disuria DO: Inflamasi kel. skrotum & testis  Resiko tinggi disfungsi seksual  Volume urine 125 ml/hari b. skrotum & testis   Perubahan pola eliminasi urine b.d perubahan status kesehatan DS: Klien mengatakan dari penis . Getah bening di selangkangan.- Nyeri tekan pada area yang bengkak Volume urine 250 ml/hari Analisa data Problem Nyeri Etiologi b.d infeksi urinaria      DS: Klien mengatakan Demam Klien mengatakan Dari penis keluar nanah Klien mengatakan Nyeri ketika berkemih (disuria) Nyeri skala 7 Wajah klien tampak meringis Symtop DO:  Inflamasi kel. Getah bening di selangkangan.

Getah bening di selangkangan. skrotum & testis Resiko Gangguan harga diri b.d perubahan maskulinitas   Ds: Klien mengatakan takut istrinya kecewa Klien bertanya apakah bisa sembuh total dan tidak mengganggu fungsi seksual Do:  Klien tampak sedih Ansietas b.keluar nanah DO:   Tampak keluar nanah dari penis Inflamasi kel.d kurangnya pengetahuan tentang prognosis dan simptom suatu penyakit   Ds: Klien mengatakan takut kalau dia terkena PMS Klien mengatakan BAK bernanah Do:    Klien tampak sedih Klien tampak gelisah Klien tampak bingung Diagnosa keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan infeksi urinaria .

ansietas berat. Rasional . merintih. Membantu mengevaluasi tempat dan kemajuan gerakan kalkulus. contoh peninggian TD dan nadi. Nyeri berhubungan dengan infeksi urinaria KH: Klien tampak rileks Klien dapat beristirahat Skala nyeri 4 Tujuan dan KH Tujuan : setelah dilakukan askep 1x24 jam Nyeri berkurang dan terkontrol Intervensi Mandiri : Catat lokasi . Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan status kesehatan 4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan terhadap prognosis dan simptom suatu penyakit. lamanya intensitas (skala 0-10) dan penyebaran.2. genitelia. Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke perawat terhadap perubahan kejadian/ karakteristik nyeri. Kep. lipat paha. sehubungan dengan proksimitas saraf pleksus dan pembuluh darah yang mencetuskan ketakutan. Memberikan kesempatan untuk pemberian analgesic sesuai waktu (membantu dalam peningkatan kemampuan koping pasien dan dapat menurunkan ansietas) dan mewaspadakan perawat akan kemungkinan terjadi komplikasi. Perubahan pola eliminasi urine: volume & karakteristik berhubungan dengan gangguan pada sistem urinaria 3. Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan maskulinitas 5. Nyeri panggul sering menyebar ke punggung . gelisah. menggelepar. Perhatikan tanda non verbal. gelisah. Intervensi Keperawatan Diag.

Mencegah stasis/retensi urine. Berikan tindakan nyaman Mengarahkan kembali perhatian dan membantu dalam relaksasi otot. Ini membutuhkan kedaruratan bedah akut. dan meningkatkan koping. - Berikan obat sesuai indikasi: asam mefenamat 2x500mg - Pertahankan patensi kateter bila digunakan.- Meningkatkan relaksasi. - Perhatikan keluhan peningkatan/menetapnya nyeri abdomen. dalam area perineal. Biasanya diberikan selama episode akut untuk menrunkan kolik uretral dan meningkatkan relaksasi otot/mental. - Obstruksi lengkap ureter dapat menyebabkan perforasi dan ekstravasasi urine ke - Bantu atau dorong penggunaan distraksi dan aktivitas terapeutik. menurunkan risiko peningkatan tekanan ginjal Kolaborasi dan infeksi. . menurunkan tegangan otot.

dan debris - Ambil urine untuk kultur urine dan sensitivitas.Perubahan pola eliminasi urine: volume dan karakteristik berhubungan dengan gangguan pada sistem urinaria. Kolaborasi - Peningkatan hidrasi membilas bakteri. keluhan tentang dorongan untuk berkemih dan ketidak nyamanan Lakukan kateterisasi pada pasien untuk menunjukan jumlah urine residu Awasi pemasukan. Menentukan adanya ISK. pengeluaran dan karakteristik urine. - Menetapkan jumlah urine yang tersisa Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi. Perdarahan dapat mengindikasikan peningkatan obstruksi / iritasi ureter. . darah. distensi supra pubis. - Dorong meningkatkan pemasukan cairan. contoh infeksi dan perdarahan. Tujuan : setelah dilakukan askep 1x24jam masalah teratasi sebagian - Mandiri Kaji kebiasaan pola eliminasi urine klien Merupakan nilai dasar untuk perbandingan dan menetapkan tujuan lebih lanjut KH: Berkemih dengan jumlah normal dan pola biasanya Kaji terhadap tanda dan - Berkemih 20-30cc dengan teratur dan haluaran kurang dari masukan adalah tanda retensi urine gejala retensi urine: jumlah dan frekuensi urine.

masalah seksual. Risiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan status kesehatan KH : Kaji riwayat seksual mengenai pola seksual. Identifikasi masalah penghambat untuk memuaskan seksual. mengekspresikan peningkatan kepuasan dengan pola seksual. Tujuan: Kemampuan seksual pasien teratasi Mandiri dengarkan pernyataan klien atau orang terdekat klien (istri) Menceritakan masalah mengenai fungsi seksual. masalah seksual sering tersembunyi sebagai pernyataan humor dan atau pernyataan yang sebenarnya untuk mengetahui tingkat perubahan pola seksual dari sebelumnya DAFTAR PUSTAKA . kepuasan.dari gejala komplikasi. pengetahuan seksual. Solusi pemecahan masalah seperti cara alternatif seksual lain menggunakan alat bantu seksual Kolaborasi: Rujuk kekonselor / ahli seksologi sesuai kebutuhan Mungkin dibutuhkan bantuan tambahan untuk meningkatkan kepuasan hasil. Bantu pasien untuk menyadari/menerima tahap berduka terkadang disfungsi seksual terjadi sebagai akibat stres yang sangat tinggi mengakui proses normal kehilangan secara nyata/ menerima perubahan dapat meningkatkan koping dan memudahkan resolusi membantu pasien kembali pada hasrat atau kepuasan seksual.

Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta:EGC Carpenito. 2007. William F. 5th edition. Smeltzer. Sue. Doenges. Lorraine. Hinchliff. Kamus Keperawatan Edisi 17. Erupsi Obat Alergik.Moyet. Jakarta: EGC. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Anderson Sivia. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: EGC . Hamzah M. p:154-158. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. M. 1994.2005. In: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 1999. 2002. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 6. Keperawatan Medikal-Bedah Volume 2. 2007. Jakarta. Santosa. 2001. Jakarta: EGC. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Budi. Jakarta : EGC. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 20. Lynda Juall. Jakarta: EGC. Suzanne C. Marilynn E. 2000. Jakarta: Prima Medika. Ganong.

sehingga pada akhirnya menyebabkan kematian testis dan jaringan disekitarnya.4 Torsio testis harus selalu dipertimbangkan pada pasien-pasien dengan akut scrotum hingga terbukti tidak.5 Adapun penyebab tersering hilangnya testis setelah torsio adalah keterlambatan dalam mencari pengobatan (58%).4 Penatalaksanaan torsio menjadi tindakan darurat yang harus segera dilakukan karena angka keberhasilan serta kemungkinan testis tertolong akan menurun seiring dengan bertambahnya lama waktu terjadinya torsio.3 Senin.3 Torsio testis juga merupakan kegawat daruratan urologi yang paling sering terjadi pada laki-laki dewasa muda. pemeriksaan fisik yang menyeluruh serta pemeriksaan diagnostik yang tepat.1 Torsio testis merupakan suatu kegawat daruratan vaskuler yang murni dan memerlukan tindakan bedah yang segera. 1. PENDAHULUAN Torsio testis adalah suatu keadaan dimana spermatic cord yang terpeluntir yang mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari vaskularisasi vena atau arteri ke testis dan epididymis. dengan angka kejadian 1 diantara 400 orang dibawah usia 25 tahun. anamnesis dan pemeriksaan fisik cukup untuk menegakkan diagnosis yang tepat. namun kondisi tersebut juga harus dibedakan dari keluhan nyeri testis lainnya. Jika kondisi ini tidak ditangani dalam waktu singkat (dalam 4 hingga 6 jam setelah onset nyeri) dapat menyebabkan infark dari testis.3. yang selanjutnya akan diikuti oleh atrofi testis.2. Hal ini disebabkan karena torsio testis lebih sering terjadi pada musim dingin.5 Penyebab dari akut scrotum biasanya dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit.6 Keterlambatan dan kegagalam dalam dignosis dan terapi akan menyebabkan proses torsio yang berlangsung lama.2 Torsio testis juga kadang-kadang disebut sebagai ‘sindrom musim dingin’. dan keterlambatan terapi (13%).5 Sekitar dua per tiga pasien.7 . kesalahan dalam diagnosis awal (29%). 15 Oktober 2012 Askep TORSIO TESTIS (Lengkap) TORSIO TESTIS I. 2.

5cm dan berat kurang lebih 20g.8 Terdapat kecenderungan penurunan insiden sesuai dengan peningkatan usia. Faktor endokrine dan axis hypothalamus-pituitary-testis juga berperan dalam proses desensus testis. Peningkatan insiden selama usia dewasa muda mungkin disebabkan karena testis yang membesar sekitar 5-6 kali selama pubertas.1. Lee dkk menemukan 26% pasien dengan torsio testis di atas usia 21 tahun. Sedangkan epididymis merupakan organ yang berbentuk kurva yang terletak disekeliling bagian dorsal dari testis. Antara minggu ke12 dan 17 kehamilan. Pada perkembangannya. ANATOMI Testis merupakan sepasang struktur organ yang berbentuk oval dengan ukuran 4x2. tetapi paling sering terjadi pada usia dewasa muda (usia 10-30 tahun) dan lebih jarang terjadi pada neonatus. testis mengalami migrasi transabdominal menuju lokasi didekat cincin inguinal interna.5x2. hal ini mungkin disebabkan oleh karena secara normal spermatic cord kiri lebih panjang. Testis diliputi oleh tunika albuginea pada 2/3 anterior kecuali pada sisi dorsal dimana terdapat epididymis dan pedikel vaskuler.9 Testis kiri lebih sering terjadi disbanding testis kanan. testis mengalami desensus dari posisi asalnya di dekat ginjal menuju scrotum. Suplai darah arteri pada testis dan epididymis berasal dari arteri renalis. III. Puncak insiden terjadi pada usia 13-15 tahun.II. Terdapat beberapa mekanisme yang menjelaskan mengenai proses ini antara lain adanya tarikan gubernakulum dan tekanan intraabdominal. INSIDEN Torsio testis bisa terjadi pada semua usia. . Terletak didalam scrotum dengan axis panjang pada sumbu vertikal dan biasanya testis kiri terletak lebih rendah dibanding kanan.

ETIOLOGI Penyebab dari torsio testis masih belum diketahui dengan pasti. tumor testis. sehingga torsio harus dipertimbangkan pada pasien dengan keluhan nyeri setelah trauma bahkan pada trauma yang tampak kurang signifikan sekalipun. 70% terjadi pada fase prenatal dan 30% terjadi postnatal. Torsio intravagina terjadi di dalam tunika vaginalis dan disebabkan oleh karena abnormalitas dari tunika pada spermatic cord di dalam scrotum. Trauma terhadap scrotum bias merupakan factor pencetus.2 IV. Torsio ini lebih sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda.Pada kasus torsio testis yang terjadi pada periode neonatus. Dalam salah satu literature disebutkan bahwa torsio testis lebih sering terjadi pada musim dingin. V. Dikatakan pula bahwa spasme dan kontraksi dari otot kremaster dan tunica dartos bias pula menjadi factor pencetus. Secara normal. dan keadaan ini menyebabkan testis mengalami rotasi pada cord sehingga potensial terjadi torsio. Selain karena trauma. 50% kasus torsio testis terjadi pada saat tidur. riwayat kriptorkismus. Faktor predisposis lain terjadinya torsio meliputi peningkatan volume testis (sering dihubungkan dengan pubertas). PATOFISIOLOGI Terdapat 2 jenis torsio testis berdasarkan patofisiologinya yaitu intravagina dan ekstravagina torsio. fiksasi posterior dari epididymis dan investment yang tidak komplet dari epididymis dan testis posterior oleh tunika vaginalis memfiksasi testis pada sisi posterior dari scrotum.1 Hanya 4-8% kasus torsio testis disebabkan oleh karena trauma. Kegagalan fiksasi yang tepat dari tunika ini menimbulkan gambaran bentuk ‘bell-clapper’ deformitas. terutama pada temperature di bawah 2C. dan pada keadaan dimana spermatic cord intrascrotal yang panjang.7 Longo dkk mengungkapkan hubungan antara torsio testis dengan peningkatan kadar testosterone dan elevasi serta rotasi testis selama siklus respon seksual. . testis yang terletak horisontal.

GEJALA KLINIS Gejala pertama dari torsio testis adalah hampir selalu nyeri. Gejala ini bisa timbul mendadak atau berangsur-angsur. DIAGNOSIS VII. Testis yang mengalami torsio juga akan terasa nyeri pada palpasi. VI. Eritema dan edema dapat meluas hingga scrotum sisi kontralateral.2. Pembengkakan dan eritema pada scrotum berangsur-angsur muncul. dan hal ini yang membedakan dengan orchio-epididymitis. PEMERIKSAAN FISIS Pemeriksaan fisis dapat membantu membedakan torsio testis dengan penyebab akut scrotum lainnya.7 Testis yang mengalami torsio pada scrotum akan tampak bengkak dan hiperemis. Riwayat trauma didapatkan pada 20% pasien. Testis juga tampak lebih tinggi di dalam scotum disebabkan karena . dan lebih dari sepertiga pasien mengalami episode nyeri testis yang berulang sebelumnya. Seluruh testis akan bengkak dan nyeri serta tampak lebih besar bila dibandingkan dengan testis kontralateral. Dapat pula timbul nausea dan vomiting. Jika pasien datang pada keadaan dini. oleh karena adanya kongesti vena. dapat dilihat adanya testis yang terletak transversal atau horisontal. tetapi biasanya meningkat menurut derajat kelainan.10 Adapun gejala lain yang berhubungan dengan keadaan ini antara lain :    Nyeri perut bawah Pembengkakan testis Darah pada semen VII.1.10 Derajat nyeri testis umumnya bervariasi dan tidak berhubungan dengan luasnya serta lamanya kejadian.Ekstravagina torsio terjadi bila seluruh testis dan tunika terpuntir pada axis vertical sebagai akibat dari fiksasi yang tidak komplet atau non fiksasi dari gubernakulum terhadap dinding scrotum. Kelainan ini sering terjadi pada neonatus dan pada kondisi undesensus testis. sehingga menyebabkan rotasi yang bebas di dalam scrotum. kadang-kadang disertai demam ringan. Gejala yang jarang ditemukan pada torsio testis ialah rasa panas dan terbakar saat berkermih.

Pemeriksaan fisik yang paling sensitif pada torsio testis ialah hilangnya refleks cremaster. antara lain :     Epididymio-orchitis Hydrocele Varicocele Hernia incarserata . 2 Modalitas diagnostik yang paling sering digunakan ialah Doppler ultrasonografi (USG Doppler) dan radionuclide scanning dengan menggunakan technetum 99m (99mTc) pertechnetate dengan akurasi diagnostik 90%.2. Urinalisis biasanya dilakukan untuk menyingkirkan adanya infeksi pada traktus urinarius. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pada umumnya pemeriksaan penunjang hanya diperlukan bila diagnosis torsio testis masih meragukan atau bila pasien tidak menunjukkan bukti klinis yang nyata. DIANOSIS BANDING Torsio testis harus selalu dibedakan dengan kondisi-kondisi lain sebagai penyebab dari akut scrotum. Adanya peningkatan acute-fase protein (dikenal sebagai CRP) dapat membedakan proses inflamasi sebagai penyebab akut scrotum. Kedua metode tersebut digunakan untuk menilai aliran darah ke testis dan membedakan torsio dengan kondisi lainnya. Namun pemeriksaan ini tidak membantu dan sebaiknya tidak rutin dilakukan. Pemeriksaan darah lengkap dapat menunjukkan hasil yang normal atau peningkatan leukosit pada 60% pasien. VIII. Hal tersebut merupakan pemeriksaan yang spesifik dalam menegakkan dianosis.pemendekan dari spermatic cord. Biasanya nyeri juga tidak berkurang bila dilakukan elevasi testis (Prehn sign).9 Dalam hal ini diperlukan guna menentukan diagnosa banding pada keadaan akut scrotum lainnya.7 VII. Dalam satu literatur disebutkan bahwa pemeriksaan ini memiliki sensitivitas 99% pada torsio testis.6.

atau bila detorsi manual tidak berhasil dilakukan maka tindakan eksplorasi pembedahan harus segera dilakukan. Selain itu. Biasanya keadaan ini memerlukan eksplorasi pembedahan. PENATALAKSANAAN IX. PEMBEDAHAN Dalam hal detorsi manual tidak dapat dilakukan. Jika pasien datang dalam 4 jam timbulnya onset nyeri. Prosedur ini merupakan terapi non invasif yang dilakukan dengan sedasi intravena menggunakan anestesi lokal (5 ml Lidocain atau Xylocaine 2%). Sedangkan penelitian lain menyebutkan angka keberhasilan pada 30-70% pasien. REDUKSI MANUAL Sekali diagnosis torsio testis ditegakkan. IX. Dalam literatur disebutkan bahwa tindakan detorsi manual hanya memberikan angka keberhasilan 26. Namun. maka diperlukan tindakan pemulihan aliran darah ke testis secepatnya. biasanya tindakan ini sulit dilakukan oleh karena sering menimbulkan nyeri akut selama manipulasi.5%.   Tumor testis Torsio appendix testis/epididymis Edema scrotum idiopatik IX.2. Pada waktu yang sama ada kemungkinan untuk melakukan reposisi testis secara manual sehingga dapat dilakukan operasi elektif selanjutnya. Sebagian besar torsio testis terjadi ke dalam dan ke arah midline. maka selanjutnya tetap dilakukan orchidopexy elektif dalam waktu 48 jam. biasanya torsio terjadi lebih dari 360o. Jika detorsi manual berhasil.1. Pada umumnya terapi dari torsio testis tergantung pada interval dari onset timbulnya nyeri hingga pasien datang. Tindakan non operatif ini tidak menggantikan explorasi pembedahan. sehingga diperlukan lebih dari satu rotasi untuk melakukan detorsi penuh terhadap testis yang mengalami torsio. maka dapat diupayakan tindakan detorsi manual dengan anestesi lokal. Pada pasien-pasien dengan riwayat serangan nyeri testis yang berulang serta dengan pemeriksaan klinis yang . sehingga detorsi dilakukan keluar dan ke arah lateral.

Insiden terjadinya atrofi testis meningkat bila torsio telah terjadi 8 jam atau lebih. Selanjutnya testis direposisi dan dievaluasi viabilitasnya. Hasil yang baik diperoleh bila operasi dilakukan dalam 4 jam setelah timbulnya onset nyeri. Atrofi dapat terjadi beberapa hari hingga beberapa bulan setelah torsio dikoreksi. Komplikasi lain yang sering timbul dari torsio testis meliputi :      Infark testis Hilangnya testis Infeksi Infertilitas sekunder Deformitas kosmetik XI. Oleh karena abnormalitas anatomi biasanya terjadi bilateral. Eksplorasi pembedahan dilakukan melalui insisi scrotal midline untuk melihat testis secara langsung dan guna menghindari trauma yang mungkin ditimbulkan bila dilakukan insisi inguinal.mengarah ke torsio sebaiknya segera dilakukan tindakan pembedahan. KOMPLIKASI Torsio dari testis dan spermatic cord akan berlanjut sebagai salah satu kegawat daruratan dalam bidang urologi. maka orchidopexy pada testis kontralateral sebaiknya juga dilakukan untuk mencegah terjadinya torsio di kemudian hari. Jika testis masih viabel dilakukan fiksasi orchidopexy. PROGNOSIS . X. Putusnya suplai darah ke testis dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan atrofi testis. Keterlambatan lebih dari 6-8 jam antara onset gejala yang timbul dan waktu pembedahan atau detorsi manual akan menurunkan angka pertolongan terhadap testis hingga 55-85%. Setelah 4 hingga 6 jam biasanya nekrosis menjadi jelas pada testis yang mengalami torsio. namun jika testis tidak viabel maka dilakukan orchidectomy guna mencegah timbulnya komplikasi infeksi serta potensial autoimmune injury pada testis kontralateral. Tunika vaginalis dibuka hingga tampak testis yang mengalami torsio.

. dimana hal tesebut berhubungan secara langsung dengan durasi dan derajat dari torsio testis.Jika torsio dapat didiagnosa secara dini dan dilakukan koreksi segera dalam 5-6 jam. Keterlambatan intervensi pembedahan akan memperburuk prognosis serta meningkatkan angka kejadian atrofi testis. Orchidopexy tidak memberikan jaminan untuk tidak timbul torsio di kemudian hari. Setelah 18-24 jam biasanya sudah terjadi nekrosis dan indikasi untuk dilakukan orchidectomy. maka akan memberikan prognosis yang baik dengan angka pertolongan terhadap testis hampir 100%. meskipun tindakan ini dapat menurunkan kemungkinan timbulnya hal tersebut. torsio sudah dapat menimbulkan kehilangan fungsi dari testis. Keberhasilan dalam penanganan torsio ditentukan oleh penyelamatan testis yang segera serta insiden terjadinya atrofi testis. maka kemungkinan untuk dilakukan tindakan pembedahan juga meningkat. Namun. meskipun terjadi kurang dari 6 jam. Setelah 6 jam terjadi torsio dan gangguan aliran darah.

keadaan umum lemah. mata.Dada : Abdomen: biasanya terjadi pembesaran limfa Genetalia : Tidak ada perubahan . Biodata Nama.Inspeksi : .KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN I. Bio-Psiko-Sosial-Spiritual .Biologis Pola makan dan minum Klien mengalami anorexia ditandai dengan porsi makan tidak dihabiskan.Kepala : Keadaan rambut. agama.Tanda vital : Biasanya stabil . BAK menurun frekwensi smpai dengan menurunnya indeksi Pola istrahat tidur : Klien sulit tidur karena adanya sakit kepala Aktivitas : Tidak ada perubahan yang lelah dengan interaksi pasien . telinga dan leher .Perkusi d. Pemeriksaan fisik .Palpasi abdomen : Terasa pembesaran limfa dan infeksi kronik juga akan membesar . Kaji frekwensi pola jenis diit dan gangguan pola eliminasi dihabiskan Pola eliminasi : BAB tidak ada perubahan.. Riwayat kesehatan . hidung. mulut.Psikologi Perubahan status emosional . sakit kepala.Keluhan waktu di data : Terdapat pasien muntah-muntah. PENGKAJIAN a.Keluhan utama : Masuk PKM muntah-muntah .Riwayat kesehatan yang lalu : Pernah menderita moviting atau tidak . alamat. pendidikan b. ma-mia ө.Auskultasi . umur. turgor kulit . nyeri ulu hati.Riwayat kesehatan keluarga : Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit seperti pasien c. muka.

PENGUMPULAN DATA a.Hb dan leukosit Radiologi II. Pemenuhan kebutuhan nutrisi terpenuhi ditandai dengan pasien tidak mual muntah lagi 4.Spiritual Pasien dan keluarga mempunyai keyakinan dan berdo’a untuk kesembuhan. etiologi IV. .. Kekurangan cairan (dehidrasi) berhubungan dengan mual muntah 2. Gangguan kebutuhan istiharahat tidur berhubungan dengan sakit kepala 3. ANALISA DATA Problem. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Data Subyektif III. Pasien dapat melakukan aktivitas sendiri tanpa bantuan keluarga .Sosial Berhubungan dengan pola interaksi . Personal Hygiene kurang berhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri VI. RENCANA KEPERAWATAN 1. Pemenuhan kebutuhan istirahat tidur dapat terpenuhi 3.Pemeriksan diagnostik Laboratorium . PERIORITAS MASALAH - V. symptom. Data Obyektif b. Dehidrasi dapat terpenuhi 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik 5. Gangguan pmenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan anorexia 4.

Anjurkan untuk banyak minum .Bantu pasien dalam mengenali jenis-jeni makanan rendah natrium .Kaji asupan diet dan status nutrisi lewat riwayat diet dan food diary. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan sakit kepala .5.Kolaborasi dengan dokter 4.Mengatur suhu kamar pasien .Kaji kebiasaan tidur pasien.Pelihara hygiene oral sebelum makan dan berikan suasana yang aman dan nyaman pada waktu makan 3.Kaji tingkat toleransi aktivtas dan derajat kelelahan fisik .Anjurkan untuk sitirahat bila pasien merasa lelah / bila adanya nyeri . Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual muntah . Personal hygiene dapat terpenuhi VII. .Memberikan masukan cairan intravena .Berikan diet tinggi karbohidrat dengan asupan protein yang konsisten dengan fungsi hati. . Personal hygiene kurang berhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri . pemeriksaan lab.Bantu pasien untuk merawat dirinya .Berikan Health education tentang pentingnya istirahat tidur bagi kesehatan .Bantu pasien dalam merawat diri dan pelaksanaan aktivitas bila pasien merasa lelah .Bantu memilih latihan dan aktivitas yang diinginkan 5. Pengukuran BB setiap hari. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. dan antropometri .Mengobservasi vital sign pasien 2. Intoleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik .Beri dorongan pada pasien untuk merawat dirinya . Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan aneroxia .Memberikan Health education kepada pasien dan keluarga pasien .Menganjurkan pada pasien untuk tidak mengkonsumsi makanan yang merangsang mual muntah .Tinggikan bagian kepala tempat tidur selama pasien makan .

Beri HE kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan diri ..Kaji kemampuuan pasien untuk memenuhi personal hygiene .Bantu kemampuan pasien untuk merawat dirinya .

M. Philadelpihia 2004: 36972.M.J : Diagnosis and Treatment of the Acute Scrotum.G : A Retrospective Review of Pediatric Patient With Epididymitis. Glenn’s Urologic Surgery.L : Testicular Torsion. Muttarak. Galejs.J. W. Anonym : Testicular torsion.S. 2006 3.org/wik/ Testicular_torsion. Wani. In : Ashcraft.T. Department of Surgery.E. In: Graham.D : Torsion of the testis. Lippincot-Raven. Thomas Jefferson University.emedicine.com/ med/topic2780htm. available in http://en. available in http://www.urologychannel. Feb 9.E. Brewster. 2. Minevich.P. Brown. Pediatric Urology.A.R.R.J. Reynard. and Torsion of Testicular Appendages. available in http://www. Ind J of Surg 2006 . Brit Med J 1966 . 6. 1: 1396-7.DAFTAR PUSTAKA 1.H. 3rd ed.htm. Biers.V :Torsion of the Testicle.shtml. Leape. Babayan. Department of Emergency Medicine. New York 2006: 452 9.B. 14.W (ed).R.B : Torsion of the testis. Ringdahl. Lippincot William&Wilkins. Nisar C. Grechi. In: Reynard. Oxford Handbook of Urology. available in http://www. Cuckow.R. Kass. Kadish. Dec 13. Am Fam Physician J 1999. J of Am Acad of Ped 1998 . Saunders Company.M : Clinics in Diagnostic Imaging.J : Torsion of the testis and testicular appendages.J : testicular Torsion.D. 15. Singapore Med J 1999 . 13.W. Division of Pediatric urology.B.com/ emergencies/torsion.K (eds). May 07.E.com/med/topic2560.L.M.E : Testicular Torsion.wikipedia. Bolte. Teague. Anonym : Urologic Emergencies. 68 (02): 106-7. Handbook of urology: diagnosis and Therapy. 8.L. Allan. Am Fam Physician J 2006 . Philadelphia 1998 : 535-8 10. Parray.D (ed).SN. Fifth ed. 59 (4): 231-3.R. BJU International 2000.S. 2007 4. Li Marzi. Ahmad. Oxford University Press. . Frank. 74 (10): 214-9. 12.L : Testicular Torsion. Testicular Torsion.B : Torsion of the Testis. 2007 7. Oates.S (eds). Rupp. In : Siroky.RA : Torsion of undescended testis.K.FQ.emedicine. Siroky. 40 (01): 43-5. 102 (1): 73-6. G. Philadelphia 1990: 429-36 11. 86 (3) : 349 5.

Anonym : Testicular torsion Health Article. ButterworthHeinemann. Kaplan.Saunders Company. P : On the Testicle.A : The risk of metachronus (asynchronous) contralateral torsion following perinatal torsion.N (ed).W. Madden. NZM J 2005 . Oct 20. Churchill Livingstone. In Clark. Clark.R (ed).I : Neonatal Torsion-To Pex or Not?. 118 (1218) 17. available in http://www.B. A.L. London 1993: 741-3 20. Operation in Urology.H. Silber.P (ed).16. In King. Boddy.W. Vol 2.healthline. New York 1985 : 123-34 18. In Whitfield. 2005 .S. Urologic Surgery in Neonatus & Young Infants.C.N. McBride.M. Churchill Fifth ed.com/adamcontent/ testicular_torsion. W.P : Testicular Torsion. Philadelphia 1988 : 386-95 19. Rob&Smith Operative Surgery: Genitourinary Surgery. Beasley. G. Operation in Urology.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful