5  

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bagan Bagan merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil, dioperasikan pada malam hari dan menggunakan cahaya lampu sebagai atraktor untuk mengarahkan ikan pada jaring. Menurut Subani dan Barus (1989), berdasarkan cara pengoperasiannya maka bagan di kelompokkan sebagai jaring angkat (lift net). Namun, karena menggunakan lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut juga light fishing (Von Brandt, 1985). Bagan diperkenalkan ke seluruh wilayah perairan Indonesia oleh nelayan Sulawesi. Penggunaan bagan semakin berkembang dan terus mengalami perubahan, baik pada bentuk maupun jenisnya. Jenis bagan yang pertama dikenal adalah bagan tancap. Selanjutnya bagan perahu, bagan rakit, dan bagan apung atau hanyut . Bagan perahu dan apung dapat dioperasikan secara berpindahpindah pada tempat-tempat yang diperkirakan banyak ikannya (Subani dan Barus, 1988). Metode pengoperasian bagan apung dapat dijelaskan secara berurutan sebagai berikut (Ta’aliddin, 2000): 1) Penurunan jaring (setting) ke dalam air dengan melepaskan ikatan tali jaring pada roller. Jaring diturunkan sampai kedalaman tertentu di atas perairan. Jaring turun kedalam air dengan bantuan pemberat (batu) yang diikatkan pada setiap sudut jaring bagian bawah. 2) Menyalakan dan memasang lampu TL berjumlah 4 buah, digantung dengan menggunakan tangkai bambu dengan jarak 1 m di atas permukaan air laut. Untuk operasi penangkapan ini, yang menggunakan sumber cahaya lampu listrik, pemasangan sumber cahaya dilakukan bersamaan. 3) Jaring berada dalam air rata-rata selama 2 jam. Setelah 2 jam, lampu dipadamkan satu demi satu dan pada akhirnya hanya tinggal satu lampu listrik saja yang dipasang sungkup bambu di atas untuk menarik ikan agar terkonsentrasi di bawah lampu. Jaring kemudian diangkat (hauling) dengan menggunakan alat pemutar dari bambu (roller). Pada saat awal pengangkatan jaring dilakukan secara perlahan-lahan, dan semakin cepat ketika jaring sudah

Pada bagian atas rumah bagan terdapat penggulung (roller) yang berfungsi untuk menurunkan dan mengangkat jaring bagan pada waktu dilakukan operasi penangkapan (Subani dan Barus. hasil tangkapan dengan bagan apung menghasilkan tangkapan yang lebih baik dibandingkan bagan jenis lainnya. Bagan apung biasanya menggunakan drum plastik sebagai pengapung yang ditempatkan pada bagian dasar kiri dan kanan bagan. rumah bagan (anjanganjang). ikan-ikan yang tertangkap dikumpulkan pada salah satu sudut jaring dan diambil dengan menggunakan serok bertangkai panjang. 1988).6    akan mencapai permukaan air. 2) Jaring dalam air (110 menit). Bahan jaring adalah nilon.1 Konstruksi Komponen penting bagan terdiri atas jaring bagan. Pada bagan tancap. Jumlahnya 8 buah yang terbuat dari bahan plastik. Rumah bagan terbuat dari bambu. 4) Setelah jaring selesai diangkat. Pada Gambar 1 ditunjukkan bagan apung dan bagian-bagiannya. Secara keseluruhan data waktu operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bagan apung tradisional selama penelitian di Palabuhanratu adalah sebagai berikut: 1) Penurunan jaring (setting) selama 6 menit. disimpan dalam keranjang bambu. Menurut nelayan. Jaring bagan umumnya berukuran 9 × 9 m dengan ukuran mata 0. sedangkan bagian atas 9.5 m. .1. Keempat sisi jaring diikatkan pada bingkai berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari bambu atau kayu. serok dan lampu. 2. dan 3) Penarikan jaring (hauling) (5 menit). Tujuannya adalah untuk menghindari agar ikan yang berkumpul diatas jaring tidak dapat melarikan diri. bagian bawah berukuran 10 × 10 m.5 × 9. Selanjutnya ikan-ikan tersebut dipisahkan berdasarkan jenisnya.5 – 1 cm.

Posisi lampu harus berada tepat di atas jaring bagan untuk memudahkan operasi penangkapan. terutama pada bulan gelap. keberhasilan penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya (light fishing) sangat ditentukan oleh teknik penangkapan. Adapun penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan sangat ditentukan oleh . 1986). Ilustrasi posisi lampu pada alat tangkap bagan dapat dilihat pada Gambar 2.1. Menurut Effendi (2005). Penangkapan ikan dengan bagan hanya dilakukan pada malam hari. Fungsi lampu adalah sebagai pemikat ikan yang bersifat fototaksis positif untuk datang ke bagan. Lampu yang digunakan biasanya berjumlah 4 buah dan diletakkan tepat di tengah – tengah bangunan bagan.7   Sumber : Tobing (2008) Gambar 1.2 Lampu bagan Bagan tergolong dalam light fishing karena menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan (Fridman. Hal ini karena pancaran sinar lampu akan maksimal pada waktu tersebut. Bagan apung dan bagian-bagiannya 2. Penggunaan lampu tersebut berfungsi sebagai atraktor agar ikan berkumpul dalam catchable area. Pengoperasian bagan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan. kondisi perairan dan lingkungan serta kualitas cahaya yang digunakan untuk memikat ikan.

4) Lokasi Penangkapan (fishing ground) Perairan teluk terhindar dari pengaruh gelombang besar. angin dan arus yang kuat memberikan dampak positif pada operasi penangkapan ikan yang menggunakan alat bantu cahaya. Untuk mengatasi masalah ini. Semakin besar angin. Upaya lain adalah dengan menempatkan lampu di bawah permukaan air (under-water lamp). 5) Ikan atau binatang buas Ikan yang tertarik oleh cahaya lampu didominasi oleh jenis ikan berukuran kecil.8    sifat alamiah cahaya matahari atau bulan. jumlah partikel yang terkandung dalam air dan banyaknya cahaya yang dipantulkan oleh permukaan air. 3) Sinar bulan Pada waktu bulan purnama sulit sekali untuk dilakukan penangkapan dengan menggunakan lampu (light fishing). seperti ular laut (sea snake) dan lumba- . Cahaya yang dipancarkan bulan menyebar merata di permukaan air pada suatu areal yang sangat luas. arus dan gelombang menyebabkan flickering light yang dihasilkan menjadi semakin besar. Jenis ikan besar atau pemangsa umumnya berada di lapisan yang lebih dalam. arus dan gelombang Angin. Adapun hewan air lain. 2) Angin. Ikan yang berada jauh dari sumber cahaya tidak dapat mendeteksi akan adanya cahaya. Selain itu. ikan-ikan juga menyebar merata di seluruh permukaan air. konstruksi dudukan lampu harus disempurnakan. seperti teri. faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu cahaya. lampu dilengkapi dengan reflektor. arus dan gelombang mempengaruhi kedudukan lampu. karena perairannya tenang. yaitu: 1) Kecerahan Jika kecerahan rendah atau air keruh berarti banyak terdapat zat atau pertikel yang menyebar di dalam air. sinar yang terang menjadi berkerlip dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). Kondisi perairan teluk sangat cocok diperuntukkan untuk pengoperasian bagan. Sebagai akibatnya. Posisi lampu yang bergerak akan merubah arah cahaya yang semula lurus menjadi bengkok. Menurut Subani dan Barus (1988). Cahaya yang masuk ke dalam air akan habis terserap oleh zat-zat tersebut.

Keberhasilan penangkapan ikan dengan bagan ternyata sangat ditentukan oleh ketinggian lampu dari permukaan perairan. Pada perikanan bagan. lampu harus dilengkapi dengan reflektor yang berfungsi sebagai pengarah cahaya. 2009) integritas cahaya yang tinggi akan meningkatkan hasil tangkapan. Hewan-hewan tersebut sesekali menyerang ikan-ikan yang berkerumun di bawah lampu dan mencerai-beraikannya. Pemanfaatan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan telah banyak di Indonesia. Mayoritas nelayan di wilayah perikanan telah mengenal pentingnya penggunaan lampu dalam proses penangkapan. . Arah pancaran cahaya harus terpusat pada areal dalam jaring bagan. Untuk itu. lampu digunakan untuk menangkap ikan umpan hidup (life bait fish) pada penangkapan ikan cakalang dengan alat tangkap huhate. neon. Menurut (Nurdin. beragam jenis lampu digunakan untuk membantu penangkapan. Subani (1972) menyebutkan ketinggian petromaks dari permukaan air adalah 1 m dan jaring berada pada kedalaman 8 m.9   lumba (dolphin) berada di tempat-tempat gelap mengintai keberadaan ikan-ikan kecil tersebut. Beberapa jenis lampu yang biasa digunakan pada perikanan bagan adalah lampu pijar. Penelitian terbaru Prasetyo (2009) menjelaskan bahwa faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan bagan adalah pemusatan cahaya. Misalnya di wilayah Indonesia timur. dan petromaks (kerosene pressure lamp) (Prasetyo. 2009).

cahaya terdiri atas partikel-partikel kecil yang keluar dari sumbernya dengan kecepatan tinggi (Gluck. Kecepatan rambat cahaya dipengaruhi oleh perubahan panjang gelombang. sehingga cahaya mengalami pembiasan. Perbedaan media rambat yang dilalui cahaya akan berpengaruh terhadap karakteristik-karakteristik cahaya.2 Cahaya Cahaya adalah berkas – berkas kecil dalam spektrum elektromagnetik yang merambat tanpa medium perantara.3 x 10 Hz. Cepat rambat cahaya pada medium air lebih rendah dari pada cepat rambat cahaya pada medium udara.9 x 10 Hz – 4. Ilustrasi posisi lampu pada alat tangkap bagan 2. Kedalaman penetrasi cahaya di dalam laut . sedangkan frekuensi cahaya tidak terpengaruh (Cayles and Marsden. Hal ini disebabkan oleh perbedaan indeks bias medium yang dilewatinya. 1964). Menurut teori Newton. Indeks bias tersebut dipengaruhi oleh kerapatan suatu medium.10    m Sumber : Tobing (2008) Gambar 2. 1983). Selanjutnya dijelaskan bahwa panjang gelombang cahaya berkisar antara 3600 – 7800 Angstrom dengan frekuensi cahaya tampak bervariasi dari 7.

sedangkan ikan-ikan yang tidak tertarik oleh cahaya atau menjauhi cahaya biasa disebut fototaksis negatif (Gunarso. Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut phototaksis (Ayodhyoa. dan R : Jarak dari sumber cahaya (m). Reaksi ikan terhadap rangsangan cahaya disebut phototaksis. pemantulan cahaya oleh permukaan laut. Adapun phototaksis negatif adalah reaksi makhluk hidup yang menjauhi sumber cahaya yang terdeteksi olehnya (Ben Yami. . 1981). Phototaksis dikelompokkan menjadi phototaksis positif dan phototaksis negatif. kecerahan air. Pengukuran iluminasi cahaya dari suatu sumber dapat dilakukan dengan menggunakan rumus : E= Keterangan : E : Iluminasi cahaya (lux): C : Kuat smber cahaya (candela). 1988). Phototaksis positif adalah reaksi makhluk hidup yang mendekati sumber cahaya. 2008). Intensitas cahaya maksimum sebesar 340 lux di pusat cahaya lampu di permukaan air (Puspito. ikan yang tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaksis. Ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak (pineal region pada otak). panjang gelombang cahaya. 1987). yang umumnya adalah ikan-ikan pelagis dan sebagian kecil ikan demersal.11   tergantung pada beberapa faktor. 2. serta musim dan lintang geografis (Nyabakken. Dengan demikian.3 Reaksi ikan terhadap cahaya Reaksi atau respon ikan terhadap keadaan lingkungan luar atau rangsangan eksternal disebut taxis. Iluminasi cahaya (E) didefinisikan sebagai jumlah cahaya yang masuk ke kolom air yang tergantung pada intensitas cahaya dan jarak dari permukaan (Ben Yami. antara lain absorpsi cahaya oleh partikel-partikel terlarut dalam air. 1985). Bentuk sebaran intensitas cahaya lampu di bawah air tergantung dari tipe lampu yang digunakan sebagai sumber cahaya. Pengamatan sebaran intensitas di dalam air menunjukkan bahwa pada garis luar iso – lux dari 4 lampu petromaks pada bagan apung di Palabuhanratu bentuknya seperti oval. 1988).

Kalau cahaya biru-hijau yang mampu diterima mata manusia hanya sebesar 30% saja. 1985). walau banyak diketahui bahwa berbagai jenis ikan laut pada umumnya selalu berusaha untuk meningkatkan sensitifitasnya. tetapi adapula ikan yang senang terhadap intensitas cahaya yang tinggi. Pada ikan diketahui bahwa rangsangan cahaya antara 0. ada ikan yang mempunyai kemampuan untuk tertarik oleh cahaya mulai dari intensitas yang rendah sampai yang tinggi. pada beberapa jenis ikan yang hidup di perairan pantai dapat mengindera mangsanya dari kejauhan 100 m sejak pagi sampai sore hari (Woodhead. . Penggunaan lampu pada pengoperasian bagan akan merangsang fitoplankton yang bersifat phototaksis positif berkumpul di bawah lampu.12    Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik oleh cahaya. Ambang cahaya yang mampu dideteksi oleh mata ikan jauh lebih rendah dari pada ambang cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia.01-0. Dengan demikian. Menurut (Priatna. Oleh karena itu. antara lain adalah penyesuaian intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk menerima cahaya. 1966 dalam Gunarso. sedangkan retina mata dari beberapa jenis ikan laut dalam menerimanya sampai 90%. 1991). Ikan mempunyai suatu kemampuan yang mengagumkan untuk dapat melihat pada waktu siang hari dengan kekuataan penerangan ratusan ribu lux dan dalam keadaan gelap sama sekali (Gunarso.001 lux sudah memberikan reaksi (Laevastu and Hayes. kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda. pengaruh intensitas cahaya terhadap agregasi ikan mempunyai pola yang tidak sama. 2009). Namun. sehingga pada umumnya mata ikan mempunyai tingkat sensitifitas 100× mata manusia. maka mata ikan mampu menerimanya sebesar 75%. Ambang cahaya tertinggi untuk mata ikan belum banyak diteliti. Ada ikan yang senang pada intensitas cahaya yang rendah. 1985). Ikan akan beradaptasi terhadap variasi iluminasi optimum sehingga selama proses pencahayaan terjadi migrasi. Keberadaan fitoplankton tersebut akan menarik ikan-ikan kecil (plankton feeder) yang diikuti oleh ikan predator sehingga terjadi jejaring makanan di area pengoperasian bagan. sensitifitas mata ikan laut pada umumnya tinggi. Namun demikian.

dan Species : Stolephorus spp. Family : Clupeidae. Pada malam hari gerombolan ikan cenderung berenang ke permukaan dan akan berada pada permukaan sampai dengan matahari sudah akan terbit. Pada malam terang bulan gerombolan ikan itu akan berpencar atau tetap berada di bawah permukaan air (Gunarso.1 Teri (Stolephorus spp) Menurut Saanin (1984). bagan ditujukan untuk menangkap jenis ikan fototaksis positif. (Gambar 3).wikipedia. Kelas : Pisces. Genus : Stolephorus. (2012) Gambar 3. Subordo : Percoidei. Sumber : www. Adapun hasil tangkapan sampingannya adalah tembang (Sardinella fimbriata). Ordo : Malacopterygii. Menurut Subani dan Barus (1988). cumi-cumi (Loligo sp). 2.13   Pergerakan ikan tembang secara vertikal terjadi karena perubahan siang dan malam.org.4 Hasil tangkapan bagan Berdasarkan data perikanan PPN Palabuhanratu 2009. Ikan teri .4. Subfilum : Vertebrata. 1988). yaitu teri (Stolephorus spp). dan kembung (Rastreliger sp). klasifikasi ikan teri adalah sebagai berikut : Filum : Chordata. hasil tangkapan bagan mencapai 225 ton/tahun. Hasil tangkapan tersebut terdiri atas berbagai jenis ikan pelagis. 2. pepetek (Leiognathus sp).

Hal ini berkaitan erat dengan cahaya. Teri menyebar pada wilayah Samudera Hindia bagian timur sampai Samudera Pasifik Tengah. Genus : Clupea . teri menyukai intensitas cahaya tertentu dan kedalaman dari intensitas bervariasi sesuai dengan waktu.14    Ikan teri umumnya berukuran kecil sekitar 6-9 cm. periode penyinaran. Filum : Chordata. Subfamili : Clupeinae . klasifikasi ikan tembang adalah sebagai berikut. Bentuk tubuh bulat memanjang (fusiform) dan pipih (compressed).4. Subfilum : Vertebrata . Subordo : Clupeidai . Dalam kondisi alamiah. Stelophorus spp. Subkelas : Teleostei . dan ketersediaan pangan (Omori and Ikeda 1984). bagian samping tubuhnya (linear lateralis) terdapat garis putih keperakan seperti selempang yang memanjang dari belakang kepala hingga ekor. faktor lingkungan yang berpengaruh adalah suhu. Penyebaran ke selatan sampai ke daerah Australia. Kedalaman renang dari gerombolan teri bervariasi selama siang hari dan bermigrasi ke daerah yang dangkal (permukaan) pada waktu pagi dan sore hari. Beberapa sifat fisika-kimia air merupakan salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan ikan teri. yaitu umumnya tidak berwarna. derajat perawanan dan koefisien konsistensi air. Famili : Clupeidae . Ordo : Malacopterygii . dan Spesies : S.2 Tembang (Sardinella fimbriata) Menurut Saanin (1984). Kelas : Pisces . oksigen terlarut. Laevastu dan Hayes (1981) mengemukakan bahwa teri selama siang hari membentuk gerombolan dasar perairan dan bermigrasi menuju permukaan pada malam hari dimana tebalnya gerombolan ini adalah 6-15 m. 2. Ikan ini umumnya menghuni perairan dekat pantai dan hidup secara bergerombol. mempunyai tanda-tanda khas seperti yang terlihat pada Gambar 3. Fimbriata (Gambar 4) .

Kelas : Cephalopoda . pipih dengan duri dibagian bawah badan.15   Sumber : www. (1984).4. (2012) Gambar 4. baik ikan kecil maupun ikan dewasa. Ikan tembang Ikan tembang merupakan ikan pelagis yang banyak ditemukan di wilayah pantai. Siripsiripnya pucat kehijauan serta tembus cahaya. Famili : Loliginidae . et al. Ordo : Teuthoidea . Ciri-ciri morfologi ikan tembang adalah memiliki bentuk badan fusiform. putih perak pada bagian bawah. Panjangnya berkisar 15 – 25 cm. cumi-cumi diklasifikasikan kedalam : Filum : Mollusca.org.3 Cumi-cumi (Loligo sp) Menurut Roper. . Berkembang biak satu kali dalam satu tahun pada bulan Juni-Juli di wilayah pantai ketika suhu udara dan kadar garam rendah. 1992). Warna tubuh biru kehijauan pada bagian atas. Sub ordo : Myopsida . Sepioteuthis. Plankton adalah organisme kecil yang menjadi makanannya. dan Spesies : Loligo sp (Gambar 5). dan Doryteuthis. eol. 2. Ikan ini hidup bergerombol (schooling) dan berpindah-pindah (Nybakken. Genus : Loligo.

2. (2012) Gambar 5. Siphon ini berguna untuk mengeluarkan air dari rongga mantel yang menghasilkan daya dorong untuk pergerakan cumi-cumi. org. 1987). yaitu pada siang hari akan berkelompok dekat dasar perairan dan akan menyebar pada kolom perairan pada malam harinya.. Pada bagian kepala cumi-cumi terdapat lubang seperti corong yang dinamakan siphon. Cumi-cumi Cumi – cumi merupakan binatang bertubuh lunak dengan bentuk tubuh memanjang silindris dan bagian belakang meruncing dengan sepasang sirip berbentuk triangular atau bundar. Cumi-cumi memiliki sejenis cangkang yang sudah termodifikasi menjadi cangkang tipis yang mengandung zat tanduk atau khitin..4. dan terletak di dalam mantel. disebut “pen”. wikipedia. Cumi-cumi melakukan pergerakan diurnal. Melalui siphon ini juga cumi-cumi terkadang mengaluarkan tinta berwarna coklat hitam untuk menghindari predator (Buchsbaum et.16    Sumber : www. Pada bagian tengah kepalanya terdapat mulut yang dikelilingi tentakel dengan alat penghisap (sucker). al. Cumi-cumi mempunyai sepasang mata di samping kepala. Beberapa spesies cumi-cumi hidup sampai di perairan payau. al.1984). Cumi-cumi digolongkan sebagai organisme pelagik. Umumnya cumi-cumi tertarik pada cahaya (fototaksis positif) sehingga sering ditangkap dengan menggunakan bantuan cahaya (Ropper et. Cumi-cumi hidup di daerah pantai dan paparan benua sampai kedalaman 400 m. Seluruh tubuh bagian dalam dan sebagian dari kepalanya masuk kedalam rongga mantel tersebut.4 Pepetek ( Leiognathus sp) Kalsifikasi ikan pepetek menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata .

Pepetek hidup di perairan dangkal dan biasanya dalam gerombolan yang besar. 2005). Subfilum : Vertebrata . Gazza dan Secutor. berukuran kecil dengan panjang < 15 cm.4. 2.17   Kelas : Pisces Subkelas : Teleostei Ordo : Percomorphi Subordo : Percoidea Famili : Leognathidae Genus : Leognathus Spesies : Leiognathus sp (Gambar 6) Sumber : www. Gazza mempunyai gigi taring sedangkan yang lain hanya mempunyai gigi kecil dan mulutnya dapat dijulurkan ke depan dengan mengarah ke atas (secutor) ataupun ke bawah (Leiognathus) (Nontji. Ikan ini dapat digolongkan dalam 3 marga yaitu Leiognathus. Perbedaan ketiga jenis ini terdapat pada gigi dan bentuk mulutnya. . Menurut Nontji (2005) produksi pepetek yang tertinggi biasanya terdapat di pesisir Jawa Timur biasanya sekitar bulan Desember-Maret. sedangkan terendah pada bulan Juli-September. org (2012) Gambar 6. Ikan pepetek Ikan pepetek berbentuk pipih. Kelas : Actinopterygii .5 Kembung (Rastreliger sp) Ikan kembung atau dikenal dengan nama latin Rastrelliger sp termasuk jenis ikan pelagis kecil yang hidup bergerombol. fishbase. Menurut Cuvier (1817) klasifikasinya adalah : Filum : Chordata .

branchsoma hanya terdapat di perairan Indonesia bagian Timur (Kepulauan Maluku). Laut Jawa. konsentrasi terbesar ikan kembung lelaki terdapat di Barat Sumatera. Adapun menurut Widyaningsih (1995). musim pemijahan ikan kembung terjadi pada musim barat (Oktober – Februari) dan musim timur (Juni – September).18    Ordo : Perciformes . Muna – Buton. Menurut Kriswantoro dan Sunyoto (1986). Menurut Widyaningsih (1995). dan perairan Arafura. Kalimantan Selatan. Laut Cina Selatan. kahaku. hampir meliputi seluruh perairan yang ada. Tempat pemijahan terdapat di Utara Tanjung Satai (Kalimantan Barat). Samudera Indonesia. Spesies : Rastrelliger sp (Gambar 7) Sumber : www. dan Laut Flores. 1986). Ikan kembung terdiri atas 2 species. yaitu ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan kembung perempuan (Rastrelliger neglectus) (Kriswantoro dan Sunyoto. Genus : Rastrelliger . Keberadaan ikan kembung di suatu wilayah membuktikan bahwa wilayah tersebut merupakan tempat yang dilalui oleh migrasi ikan cakalang. Selat Malaka. terutama di daerah yang berkadar garam tinggi. go (2012) Gambar 7. Penyebaran ikan kembung di Indonesia sangat luas. Famili : Scombridae . Ikan kembung Ikan kembung dapat hidup di perairan pantai maupun lepas pantai. Sulawesi Selatan. Pendugaan mengenai waktu dan tempat pemijahan ikan kembung telah dilakukan oleh beberapa ahli. Musim pemijahan utama ikan kembung terjadi antara bulan April dan Agustus dengan puncak musim diduga berlangsung bulan Agustus. . ikan kembung perempuan jenis R.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful