P. 1
BAB II Tinjauan Pustaka_2

BAB II Tinjauan Pustaka_2

|Views: 166|Likes:
Published by Suyanto Seishin

More info:

Published by: Suyanto Seishin on May 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2015

pdf

text

original

5  

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bagan Bagan merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil, dioperasikan pada malam hari dan menggunakan cahaya lampu sebagai atraktor untuk mengarahkan ikan pada jaring. Menurut Subani dan Barus (1989), berdasarkan cara pengoperasiannya maka bagan di kelompokkan sebagai jaring angkat (lift net). Namun, karena menggunakan lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut juga light fishing (Von Brandt, 1985). Bagan diperkenalkan ke seluruh wilayah perairan Indonesia oleh nelayan Sulawesi. Penggunaan bagan semakin berkembang dan terus mengalami perubahan, baik pada bentuk maupun jenisnya. Jenis bagan yang pertama dikenal adalah bagan tancap. Selanjutnya bagan perahu, bagan rakit, dan bagan apung atau hanyut . Bagan perahu dan apung dapat dioperasikan secara berpindahpindah pada tempat-tempat yang diperkirakan banyak ikannya (Subani dan Barus, 1988). Metode pengoperasian bagan apung dapat dijelaskan secara berurutan sebagai berikut (Ta’aliddin, 2000): 1) Penurunan jaring (setting) ke dalam air dengan melepaskan ikatan tali jaring pada roller. Jaring diturunkan sampai kedalaman tertentu di atas perairan. Jaring turun kedalam air dengan bantuan pemberat (batu) yang diikatkan pada setiap sudut jaring bagian bawah. 2) Menyalakan dan memasang lampu TL berjumlah 4 buah, digantung dengan menggunakan tangkai bambu dengan jarak 1 m di atas permukaan air laut. Untuk operasi penangkapan ini, yang menggunakan sumber cahaya lampu listrik, pemasangan sumber cahaya dilakukan bersamaan. 3) Jaring berada dalam air rata-rata selama 2 jam. Setelah 2 jam, lampu dipadamkan satu demi satu dan pada akhirnya hanya tinggal satu lampu listrik saja yang dipasang sungkup bambu di atas untuk menarik ikan agar terkonsentrasi di bawah lampu. Jaring kemudian diangkat (hauling) dengan menggunakan alat pemutar dari bambu (roller). Pada saat awal pengangkatan jaring dilakukan secara perlahan-lahan, dan semakin cepat ketika jaring sudah

Rumah bagan terbuat dari bambu. Pada Gambar 1 ditunjukkan bagan apung dan bagian-bagiannya. bagian bawah berukuran 10 × 10 m. Pada bagian atas rumah bagan terdapat penggulung (roller) yang berfungsi untuk menurunkan dan mengangkat jaring bagan pada waktu dilakukan operasi penangkapan (Subani dan Barus. Keempat sisi jaring diikatkan pada bingkai berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari bambu atau kayu. Bagan apung biasanya menggunakan drum plastik sebagai pengapung yang ditempatkan pada bagian dasar kiri dan kanan bagan. Pada bagan tancap. ikan-ikan yang tertangkap dikumpulkan pada salah satu sudut jaring dan diambil dengan menggunakan serok bertangkai panjang. Jaring bagan umumnya berukuran 9 × 9 m dengan ukuran mata 0. 4) Setelah jaring selesai diangkat.5 × 9.5 – 1 cm. Bahan jaring adalah nilon. serok dan lampu.5 m.6    akan mencapai permukaan air. rumah bagan (anjanganjang). dan 3) Penarikan jaring (hauling) (5 menit). Tujuannya adalah untuk menghindari agar ikan yang berkumpul diatas jaring tidak dapat melarikan diri. 2) Jaring dalam air (110 menit). sedangkan bagian atas 9. 2. hasil tangkapan dengan bagan apung menghasilkan tangkapan yang lebih baik dibandingkan bagan jenis lainnya.1 Konstruksi Komponen penting bagan terdiri atas jaring bagan. Jumlahnya 8 buah yang terbuat dari bahan plastik.1. 1988). Selanjutnya ikan-ikan tersebut dipisahkan berdasarkan jenisnya. Menurut nelayan. . disimpan dalam keranjang bambu. Secara keseluruhan data waktu operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bagan apung tradisional selama penelitian di Palabuhanratu adalah sebagai berikut: 1) Penurunan jaring (setting) selama 6 menit.

2 Lampu bagan Bagan tergolong dalam light fishing karena menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan (Fridman. Fungsi lampu adalah sebagai pemikat ikan yang bersifat fototaksis positif untuk datang ke bagan.7   Sumber : Tobing (2008) Gambar 1. Menurut Effendi (2005). Ilustrasi posisi lampu pada alat tangkap bagan dapat dilihat pada Gambar 2. Lampu yang digunakan biasanya berjumlah 4 buah dan diletakkan tepat di tengah – tengah bangunan bagan. keberhasilan penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya (light fishing) sangat ditentukan oleh teknik penangkapan. Adapun penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan sangat ditentukan oleh . Pengoperasian bagan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan. 1986). Penggunaan lampu tersebut berfungsi sebagai atraktor agar ikan berkumpul dalam catchable area. Posisi lampu harus berada tepat di atas jaring bagan untuk memudahkan operasi penangkapan. Hal ini karena pancaran sinar lampu akan maksimal pada waktu tersebut. Penangkapan ikan dengan bagan hanya dilakukan pada malam hari.1. kondisi perairan dan lingkungan serta kualitas cahaya yang digunakan untuk memikat ikan. terutama pada bulan gelap. Bagan apung dan bagian-bagiannya 2.

Ikan yang berada jauh dari sumber cahaya tidak dapat mendeteksi akan adanya cahaya. Sebagai akibatnya. ikan-ikan juga menyebar merata di seluruh permukaan air. seperti teri. Selain itu. Cahaya yang dipancarkan bulan menyebar merata di permukaan air pada suatu areal yang sangat luas. Untuk mengatasi masalah ini. arus dan gelombang mempengaruhi kedudukan lampu. jumlah partikel yang terkandung dalam air dan banyaknya cahaya yang dipantulkan oleh permukaan air. lampu dilengkapi dengan reflektor. sinar yang terang menjadi berkerlip dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). Semakin besar angin. 2) Angin. 5) Ikan atau binatang buas Ikan yang tertarik oleh cahaya lampu didominasi oleh jenis ikan berukuran kecil. Jenis ikan besar atau pemangsa umumnya berada di lapisan yang lebih dalam. karena perairannya tenang. Cahaya yang masuk ke dalam air akan habis terserap oleh zat-zat tersebut. seperti ular laut (sea snake) dan lumba- . arus dan gelombang Angin. faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu cahaya. 3) Sinar bulan Pada waktu bulan purnama sulit sekali untuk dilakukan penangkapan dengan menggunakan lampu (light fishing).8    sifat alamiah cahaya matahari atau bulan. konstruksi dudukan lampu harus disempurnakan. Kondisi perairan teluk sangat cocok diperuntukkan untuk pengoperasian bagan. angin dan arus yang kuat memberikan dampak positif pada operasi penangkapan ikan yang menggunakan alat bantu cahaya. Upaya lain adalah dengan menempatkan lampu di bawah permukaan air (under-water lamp). Posisi lampu yang bergerak akan merubah arah cahaya yang semula lurus menjadi bengkok. Adapun hewan air lain. 4) Lokasi Penangkapan (fishing ground) Perairan teluk terhindar dari pengaruh gelombang besar. Menurut Subani dan Barus (1988). yaitu: 1) Kecerahan Jika kecerahan rendah atau air keruh berarti banyak terdapat zat atau pertikel yang menyebar di dalam air. arus dan gelombang menyebabkan flickering light yang dihasilkan menjadi semakin besar.

Keberhasilan penangkapan ikan dengan bagan ternyata sangat ditentukan oleh ketinggian lampu dari permukaan perairan. beragam jenis lampu digunakan untuk membantu penangkapan. Pemanfaatan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan telah banyak di Indonesia. dan petromaks (kerosene pressure lamp) (Prasetyo. . Hewan-hewan tersebut sesekali menyerang ikan-ikan yang berkerumun di bawah lampu dan mencerai-beraikannya.9   lumba (dolphin) berada di tempat-tempat gelap mengintai keberadaan ikan-ikan kecil tersebut. 2009). lampu harus dilengkapi dengan reflektor yang berfungsi sebagai pengarah cahaya. Untuk itu. lampu digunakan untuk menangkap ikan umpan hidup (life bait fish) pada penangkapan ikan cakalang dengan alat tangkap huhate. Mayoritas nelayan di wilayah perikanan telah mengenal pentingnya penggunaan lampu dalam proses penangkapan. neon. Penelitian terbaru Prasetyo (2009) menjelaskan bahwa faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan bagan adalah pemusatan cahaya. Beberapa jenis lampu yang biasa digunakan pada perikanan bagan adalah lampu pijar. 2009) integritas cahaya yang tinggi akan meningkatkan hasil tangkapan. Menurut (Nurdin. Subani (1972) menyebutkan ketinggian petromaks dari permukaan air adalah 1 m dan jaring berada pada kedalaman 8 m. Arah pancaran cahaya harus terpusat pada areal dalam jaring bagan. Misalnya di wilayah Indonesia timur. Pada perikanan bagan.

Hal ini disebabkan oleh perbedaan indeks bias medium yang dilewatinya. Ilustrasi posisi lampu pada alat tangkap bagan 2.9 x 10 Hz – 4.3 x 10 Hz. Kedalaman penetrasi cahaya di dalam laut . Kecepatan rambat cahaya dipengaruhi oleh perubahan panjang gelombang. Cepat rambat cahaya pada medium air lebih rendah dari pada cepat rambat cahaya pada medium udara. cahaya terdiri atas partikel-partikel kecil yang keluar dari sumbernya dengan kecepatan tinggi (Gluck. Indeks bias tersebut dipengaruhi oleh kerapatan suatu medium. sedangkan frekuensi cahaya tidak terpengaruh (Cayles and Marsden. Perbedaan media rambat yang dilalui cahaya akan berpengaruh terhadap karakteristik-karakteristik cahaya. Selanjutnya dijelaskan bahwa panjang gelombang cahaya berkisar antara 3600 – 7800 Angstrom dengan frekuensi cahaya tampak bervariasi dari 7. sehingga cahaya mengalami pembiasan. 1964).10    m Sumber : Tobing (2008) Gambar 2.2 Cahaya Cahaya adalah berkas – berkas kecil dalam spektrum elektromagnetik yang merambat tanpa medium perantara. Menurut teori Newton. 1983).

. Pengukuran iluminasi cahaya dari suatu sumber dapat dilakukan dengan menggunakan rumus : E= Keterangan : E : Iluminasi cahaya (lux): C : Kuat smber cahaya (candela). Dengan demikian. 1981). Reaksi ikan terhadap rangsangan cahaya disebut phototaksis. panjang gelombang cahaya. Pengamatan sebaran intensitas di dalam air menunjukkan bahwa pada garis luar iso – lux dari 4 lampu petromaks pada bagan apung di Palabuhanratu bentuknya seperti oval. antara lain absorpsi cahaya oleh partikel-partikel terlarut dalam air. 1985).3 Reaksi ikan terhadap cahaya Reaksi atau respon ikan terhadap keadaan lingkungan luar atau rangsangan eksternal disebut taxis. 2008). serta musim dan lintang geografis (Nyabakken. kecerahan air. 1987).11   tergantung pada beberapa faktor. Iluminasi cahaya (E) didefinisikan sebagai jumlah cahaya yang masuk ke kolom air yang tergantung pada intensitas cahaya dan jarak dari permukaan (Ben Yami. 1988). Intensitas cahaya maksimum sebesar 340 lux di pusat cahaya lampu di permukaan air (Puspito. Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut phototaksis (Ayodhyoa. sedangkan ikan-ikan yang tidak tertarik oleh cahaya atau menjauhi cahaya biasa disebut fototaksis negatif (Gunarso. ikan yang tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaksis. 1988). yang umumnya adalah ikan-ikan pelagis dan sebagian kecil ikan demersal. Phototaksis positif adalah reaksi makhluk hidup yang mendekati sumber cahaya. dan R : Jarak dari sumber cahaya (m). Adapun phototaksis negatif adalah reaksi makhluk hidup yang menjauhi sumber cahaya yang terdeteksi olehnya (Ben Yami. 2. Ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak (pineal region pada otak). Bentuk sebaran intensitas cahaya lampu di bawah air tergantung dari tipe lampu yang digunakan sebagai sumber cahaya. pemantulan cahaya oleh permukaan laut. Phototaksis dikelompokkan menjadi phototaksis positif dan phototaksis negatif.

Keberadaan fitoplankton tersebut akan menarik ikan-ikan kecil (plankton feeder) yang diikuti oleh ikan predator sehingga terjadi jejaring makanan di area pengoperasian bagan. Penggunaan lampu pada pengoperasian bagan akan merangsang fitoplankton yang bersifat phototaksis positif berkumpul di bawah lampu.12    Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik oleh cahaya. Namun demikian. pengaruh intensitas cahaya terhadap agregasi ikan mempunyai pola yang tidak sama. 1985). Ambang cahaya yang mampu dideteksi oleh mata ikan jauh lebih rendah dari pada ambang cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia. Oleh karena itu. sehingga pada umumnya mata ikan mempunyai tingkat sensitifitas 100× mata manusia. 2009). Namun. pada beberapa jenis ikan yang hidup di perairan pantai dapat mengindera mangsanya dari kejauhan 100 m sejak pagi sampai sore hari (Woodhead. 1991). antara lain adalah penyesuaian intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk menerima cahaya. Pada ikan diketahui bahwa rangsangan cahaya antara 0. Ambang cahaya tertinggi untuk mata ikan belum banyak diteliti. Ikan mempunyai suatu kemampuan yang mengagumkan untuk dapat melihat pada waktu siang hari dengan kekuataan penerangan ratusan ribu lux dan dalam keadaan gelap sama sekali (Gunarso.01-0. maka mata ikan mampu menerimanya sebesar 75%. tetapi adapula ikan yang senang terhadap intensitas cahaya yang tinggi. 1966 dalam Gunarso. Ikan akan beradaptasi terhadap variasi iluminasi optimum sehingga selama proses pencahayaan terjadi migrasi. Dengan demikian. Kalau cahaya biru-hijau yang mampu diterima mata manusia hanya sebesar 30% saja. kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda. Menurut (Priatna. 1985).001 lux sudah memberikan reaksi (Laevastu and Hayes. sensitifitas mata ikan laut pada umumnya tinggi. . sedangkan retina mata dari beberapa jenis ikan laut dalam menerimanya sampai 90%. Ada ikan yang senang pada intensitas cahaya yang rendah. ada ikan yang mempunyai kemampuan untuk tertarik oleh cahaya mulai dari intensitas yang rendah sampai yang tinggi. walau banyak diketahui bahwa berbagai jenis ikan laut pada umumnya selalu berusaha untuk meningkatkan sensitifitasnya.

dan kembung (Rastreliger sp). yaitu teri (Stolephorus spp). hasil tangkapan bagan mencapai 225 ton/tahun. pepetek (Leiognathus sp). klasifikasi ikan teri adalah sebagai berikut : Filum : Chordata. dan Species : Stolephorus spp. bagan ditujukan untuk menangkap jenis ikan fototaksis positif. Ordo : Malacopterygii.org. Adapun hasil tangkapan sampingannya adalah tembang (Sardinella fimbriata). Subordo : Percoidei. (Gambar 3). 2. Subfilum : Vertebrata. Pada malam hari gerombolan ikan cenderung berenang ke permukaan dan akan berada pada permukaan sampai dengan matahari sudah akan terbit.4 Hasil tangkapan bagan Berdasarkan data perikanan PPN Palabuhanratu 2009. 2. Family : Clupeidae.1 Teri (Stolephorus spp) Menurut Saanin (1984).wikipedia. Sumber : www.13   Pergerakan ikan tembang secara vertikal terjadi karena perubahan siang dan malam. Genus : Stolephorus.4. Hasil tangkapan tersebut terdiri atas berbagai jenis ikan pelagis. Ikan teri . 1988). (2012) Gambar 3. Kelas : Pisces. Menurut Subani dan Barus (1988). Pada malam terang bulan gerombolan ikan itu akan berpencar atau tetap berada di bawah permukaan air (Gunarso. cumi-cumi (Loligo sp).

dan Spesies : S.2 Tembang (Sardinella fimbriata) Menurut Saanin (1984). periode penyinaran. dan ketersediaan pangan (Omori and Ikeda 1984). Ikan ini umumnya menghuni perairan dekat pantai dan hidup secara bergerombol. yaitu umumnya tidak berwarna. Hal ini berkaitan erat dengan cahaya. Teri menyebar pada wilayah Samudera Hindia bagian timur sampai Samudera Pasifik Tengah. Ordo : Malacopterygii . Subfilum : Vertebrata . Subordo : Clupeidai . Genus : Clupea . Subfamili : Clupeinae . faktor lingkungan yang berpengaruh adalah suhu. Fimbriata (Gambar 4) . Subkelas : Teleostei .14    Ikan teri umumnya berukuran kecil sekitar 6-9 cm. Dalam kondisi alamiah.4. klasifikasi ikan tembang adalah sebagai berikut. Laevastu dan Hayes (1981) mengemukakan bahwa teri selama siang hari membentuk gerombolan dasar perairan dan bermigrasi menuju permukaan pada malam hari dimana tebalnya gerombolan ini adalah 6-15 m. Filum : Chordata. derajat perawanan dan koefisien konsistensi air. Stelophorus spp. oksigen terlarut. Bentuk tubuh bulat memanjang (fusiform) dan pipih (compressed). teri menyukai intensitas cahaya tertentu dan kedalaman dari intensitas bervariasi sesuai dengan waktu. Kelas : Pisces . Famili : Clupeidae . Beberapa sifat fisika-kimia air merupakan salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan ikan teri. Penyebaran ke selatan sampai ke daerah Australia. Kedalaman renang dari gerombolan teri bervariasi selama siang hari dan bermigrasi ke daerah yang dangkal (permukaan) pada waktu pagi dan sore hari. mempunyai tanda-tanda khas seperti yang terlihat pada Gambar 3. 2. bagian samping tubuhnya (linear lateralis) terdapat garis putih keperakan seperti selempang yang memanjang dari belakang kepala hingga ekor.

dan Doryteuthis. Kelas : Cephalopoda .3 Cumi-cumi (Loligo sp) Menurut Roper.15   Sumber : www. Genus : Loligo. 1992). Warna tubuh biru kehijauan pada bagian atas. putih perak pada bagian bawah. Ordo : Teuthoidea . Panjangnya berkisar 15 – 25 cm.org. Plankton adalah organisme kecil yang menjadi makanannya. Ikan tembang Ikan tembang merupakan ikan pelagis yang banyak ditemukan di wilayah pantai. et al. pipih dengan duri dibagian bawah badan. baik ikan kecil maupun ikan dewasa. . Sepioteuthis. Sub ordo : Myopsida . Siripsiripnya pucat kehijauan serta tembus cahaya. Ikan ini hidup bergerombol (schooling) dan berpindah-pindah (Nybakken.4. (2012) Gambar 4. eol. 2. Berkembang biak satu kali dalam satu tahun pada bulan Juni-Juli di wilayah pantai ketika suhu udara dan kadar garam rendah. Ciri-ciri morfologi ikan tembang adalah memiliki bentuk badan fusiform. dan Spesies : Loligo sp (Gambar 5). (1984). cumi-cumi diklasifikasikan kedalam : Filum : Mollusca. Famili : Loliginidae .

Cumi-cumi Cumi – cumi merupakan binatang bertubuh lunak dengan bentuk tubuh memanjang silindris dan bagian belakang meruncing dengan sepasang sirip berbentuk triangular atau bundar.. Cumi-cumi mempunyai sepasang mata di samping kepala. Beberapa spesies cumi-cumi hidup sampai di perairan payau. Pada bagian kepala cumi-cumi terdapat lubang seperti corong yang dinamakan siphon. Cumi-cumi memiliki sejenis cangkang yang sudah termodifikasi menjadi cangkang tipis yang mengandung zat tanduk atau khitin. Pada bagian tengah kepalanya terdapat mulut yang dikelilingi tentakel dengan alat penghisap (sucker).16    Sumber : www. dan terletak di dalam mantel.4. 2. disebut “pen”. al.1984). Umumnya cumi-cumi tertarik pada cahaya (fototaksis positif) sehingga sering ditangkap dengan menggunakan bantuan cahaya (Ropper et. yaitu pada siang hari akan berkelompok dekat dasar perairan dan akan menyebar pada kolom perairan pada malam harinya. Melalui siphon ini juga cumi-cumi terkadang mengaluarkan tinta berwarna coklat hitam untuk menghindari predator (Buchsbaum et. wikipedia. 1987). org.. (2012) Gambar 5.4 Pepetek ( Leiognathus sp) Kalsifikasi ikan pepetek menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata . Cumi-cumi melakukan pergerakan diurnal. Seluruh tubuh bagian dalam dan sebagian dari kepalanya masuk kedalam rongga mantel tersebut. Cumi-cumi digolongkan sebagai organisme pelagik. al. Cumi-cumi hidup di daerah pantai dan paparan benua sampai kedalaman 400 m. Siphon ini berguna untuk mengeluarkan air dari rongga mantel yang menghasilkan daya dorong untuk pergerakan cumi-cumi.

2. org (2012) Gambar 6.17   Kelas : Pisces Subkelas : Teleostei Ordo : Percomorphi Subordo : Percoidea Famili : Leognathidae Genus : Leognathus Spesies : Leiognathus sp (Gambar 6) Sumber : www. Menurut Nontji (2005) produksi pepetek yang tertinggi biasanya terdapat di pesisir Jawa Timur biasanya sekitar bulan Desember-Maret. Ikan ini dapat digolongkan dalam 3 marga yaitu Leiognathus. .4. Menurut Cuvier (1817) klasifikasinya adalah : Filum : Chordata . sedangkan terendah pada bulan Juli-September.5 Kembung (Rastreliger sp) Ikan kembung atau dikenal dengan nama latin Rastrelliger sp termasuk jenis ikan pelagis kecil yang hidup bergerombol. Pepetek hidup di perairan dangkal dan biasanya dalam gerombolan yang besar. Gazza mempunyai gigi taring sedangkan yang lain hanya mempunyai gigi kecil dan mulutnya dapat dijulurkan ke depan dengan mengarah ke atas (secutor) ataupun ke bawah (Leiognathus) (Nontji. 2005). Perbedaan ketiga jenis ini terdapat pada gigi dan bentuk mulutnya. Kelas : Actinopterygii . fishbase. Subfilum : Vertebrata . Gazza dan Secutor. berukuran kecil dengan panjang < 15 cm. Ikan pepetek Ikan pepetek berbentuk pipih.

go (2012) Gambar 7. Tempat pemijahan terdapat di Utara Tanjung Satai (Kalimantan Barat). Menurut Kriswantoro dan Sunyoto (1986). Penyebaran ikan kembung di Indonesia sangat luas. branchsoma hanya terdapat di perairan Indonesia bagian Timur (Kepulauan Maluku). kahaku. Adapun menurut Widyaningsih (1995). Muna – Buton. Laut Cina Selatan. Spesies : Rastrelliger sp (Gambar 7) Sumber : www. musim pemijahan ikan kembung terjadi pada musim barat (Oktober – Februari) dan musim timur (Juni – September). Genus : Rastrelliger . Musim pemijahan utama ikan kembung terjadi antara bulan April dan Agustus dengan puncak musim diduga berlangsung bulan Agustus. Ikan kembung terdiri atas 2 species. Keberadaan ikan kembung di suatu wilayah membuktikan bahwa wilayah tersebut merupakan tempat yang dilalui oleh migrasi ikan cakalang. konsentrasi terbesar ikan kembung lelaki terdapat di Barat Sumatera. Laut Jawa. dan Laut Flores.18    Ordo : Perciformes . hampir meliputi seluruh perairan yang ada. Famili : Scombridae . Samudera Indonesia. Kalimantan Selatan. Menurut Widyaningsih (1995). Sulawesi Selatan. Pendugaan mengenai waktu dan tempat pemijahan ikan kembung telah dilakukan oleh beberapa ahli. Ikan kembung Ikan kembung dapat hidup di perairan pantai maupun lepas pantai. Selat Malaka. ikan kembung perempuan jenis R. dan perairan Arafura. yaitu ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan kembung perempuan (Rastrelliger neglectus) (Kriswantoro dan Sunyoto. . terutama di daerah yang berkadar garam tinggi. 1986).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->