5  

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bagan Bagan merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil, dioperasikan pada malam hari dan menggunakan cahaya lampu sebagai atraktor untuk mengarahkan ikan pada jaring. Menurut Subani dan Barus (1989), berdasarkan cara pengoperasiannya maka bagan di kelompokkan sebagai jaring angkat (lift net). Namun, karena menggunakan lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut juga light fishing (Von Brandt, 1985). Bagan diperkenalkan ke seluruh wilayah perairan Indonesia oleh nelayan Sulawesi. Penggunaan bagan semakin berkembang dan terus mengalami perubahan, baik pada bentuk maupun jenisnya. Jenis bagan yang pertama dikenal adalah bagan tancap. Selanjutnya bagan perahu, bagan rakit, dan bagan apung atau hanyut . Bagan perahu dan apung dapat dioperasikan secara berpindahpindah pada tempat-tempat yang diperkirakan banyak ikannya (Subani dan Barus, 1988). Metode pengoperasian bagan apung dapat dijelaskan secara berurutan sebagai berikut (Ta’aliddin, 2000): 1) Penurunan jaring (setting) ke dalam air dengan melepaskan ikatan tali jaring pada roller. Jaring diturunkan sampai kedalaman tertentu di atas perairan. Jaring turun kedalam air dengan bantuan pemberat (batu) yang diikatkan pada setiap sudut jaring bagian bawah. 2) Menyalakan dan memasang lampu TL berjumlah 4 buah, digantung dengan menggunakan tangkai bambu dengan jarak 1 m di atas permukaan air laut. Untuk operasi penangkapan ini, yang menggunakan sumber cahaya lampu listrik, pemasangan sumber cahaya dilakukan bersamaan. 3) Jaring berada dalam air rata-rata selama 2 jam. Setelah 2 jam, lampu dipadamkan satu demi satu dan pada akhirnya hanya tinggal satu lampu listrik saja yang dipasang sungkup bambu di atas untuk menarik ikan agar terkonsentrasi di bawah lampu. Jaring kemudian diangkat (hauling) dengan menggunakan alat pemutar dari bambu (roller). Pada saat awal pengangkatan jaring dilakukan secara perlahan-lahan, dan semakin cepat ketika jaring sudah

disimpan dalam keranjang bambu. Selanjutnya ikan-ikan tersebut dipisahkan berdasarkan jenisnya. Secara keseluruhan data waktu operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bagan apung tradisional selama penelitian di Palabuhanratu adalah sebagai berikut: 1) Penurunan jaring (setting) selama 6 menit.6    akan mencapai permukaan air. Keempat sisi jaring diikatkan pada bingkai berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari bambu atau kayu. Tujuannya adalah untuk menghindari agar ikan yang berkumpul diatas jaring tidak dapat melarikan diri. Pada bagian atas rumah bagan terdapat penggulung (roller) yang berfungsi untuk menurunkan dan mengangkat jaring bagan pada waktu dilakukan operasi penangkapan (Subani dan Barus. rumah bagan (anjanganjang). serok dan lampu. Bahan jaring adalah nilon.1 Konstruksi Komponen penting bagan terdiri atas jaring bagan. Rumah bagan terbuat dari bambu.1.5 m.5 × 9.5 – 1 cm. sedangkan bagian atas 9. bagian bawah berukuran 10 × 10 m. . Menurut nelayan. hasil tangkapan dengan bagan apung menghasilkan tangkapan yang lebih baik dibandingkan bagan jenis lainnya. 1988). 2. Pada Gambar 1 ditunjukkan bagan apung dan bagian-bagiannya. Pada bagan tancap. Jumlahnya 8 buah yang terbuat dari bahan plastik. Jaring bagan umumnya berukuran 9 × 9 m dengan ukuran mata 0. Bagan apung biasanya menggunakan drum plastik sebagai pengapung yang ditempatkan pada bagian dasar kiri dan kanan bagan. 2) Jaring dalam air (110 menit). dan 3) Penarikan jaring (hauling) (5 menit). 4) Setelah jaring selesai diangkat. ikan-ikan yang tertangkap dikumpulkan pada salah satu sudut jaring dan diambil dengan menggunakan serok bertangkai panjang.

Penggunaan lampu tersebut berfungsi sebagai atraktor agar ikan berkumpul dalam catchable area. terutama pada bulan gelap. Posisi lampu harus berada tepat di atas jaring bagan untuk memudahkan operasi penangkapan. 1986). Menurut Effendi (2005). Ilustrasi posisi lampu pada alat tangkap bagan dapat dilihat pada Gambar 2. Bagan apung dan bagian-bagiannya 2. kondisi perairan dan lingkungan serta kualitas cahaya yang digunakan untuk memikat ikan. Adapun penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan sangat ditentukan oleh . Pengoperasian bagan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan. Lampu yang digunakan biasanya berjumlah 4 buah dan diletakkan tepat di tengah – tengah bangunan bagan. keberhasilan penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya (light fishing) sangat ditentukan oleh teknik penangkapan.2 Lampu bagan Bagan tergolong dalam light fishing karena menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan (Fridman.7   Sumber : Tobing (2008) Gambar 1. Fungsi lampu adalah sebagai pemikat ikan yang bersifat fototaksis positif untuk datang ke bagan. Hal ini karena pancaran sinar lampu akan maksimal pada waktu tersebut.1. Penangkapan ikan dengan bagan hanya dilakukan pada malam hari.

arus dan gelombang menyebabkan flickering light yang dihasilkan menjadi semakin besar. Kondisi perairan teluk sangat cocok diperuntukkan untuk pengoperasian bagan. yaitu: 1) Kecerahan Jika kecerahan rendah atau air keruh berarti banyak terdapat zat atau pertikel yang menyebar di dalam air. angin dan arus yang kuat memberikan dampak positif pada operasi penangkapan ikan yang menggunakan alat bantu cahaya. Posisi lampu yang bergerak akan merubah arah cahaya yang semula lurus menjadi bengkok. seperti ular laut (sea snake) dan lumba- . Adapun hewan air lain. ikan-ikan juga menyebar merata di seluruh permukaan air. seperti teri. 2) Angin. Menurut Subani dan Barus (1988). karena perairannya tenang. Cahaya yang dipancarkan bulan menyebar merata di permukaan air pada suatu areal yang sangat luas. Upaya lain adalah dengan menempatkan lampu di bawah permukaan air (under-water lamp). Sebagai akibatnya. Semakin besar angin. lampu dilengkapi dengan reflektor. arus dan gelombang mempengaruhi kedudukan lampu. arus dan gelombang Angin. sinar yang terang menjadi berkerlip dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). konstruksi dudukan lampu harus disempurnakan.8    sifat alamiah cahaya matahari atau bulan. Jenis ikan besar atau pemangsa umumnya berada di lapisan yang lebih dalam. 5) Ikan atau binatang buas Ikan yang tertarik oleh cahaya lampu didominasi oleh jenis ikan berukuran kecil. 3) Sinar bulan Pada waktu bulan purnama sulit sekali untuk dilakukan penangkapan dengan menggunakan lampu (light fishing). jumlah partikel yang terkandung dalam air dan banyaknya cahaya yang dipantulkan oleh permukaan air. Cahaya yang masuk ke dalam air akan habis terserap oleh zat-zat tersebut. Selain itu. faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu cahaya. Untuk mengatasi masalah ini. Ikan yang berada jauh dari sumber cahaya tidak dapat mendeteksi akan adanya cahaya. 4) Lokasi Penangkapan (fishing ground) Perairan teluk terhindar dari pengaruh gelombang besar.

Pada perikanan bagan. neon. Pemanfaatan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan telah banyak di Indonesia. Subani (1972) menyebutkan ketinggian petromaks dari permukaan air adalah 1 m dan jaring berada pada kedalaman 8 m.9   lumba (dolphin) berada di tempat-tempat gelap mengintai keberadaan ikan-ikan kecil tersebut. Untuk itu. 2009) integritas cahaya yang tinggi akan meningkatkan hasil tangkapan. 2009). Hewan-hewan tersebut sesekali menyerang ikan-ikan yang berkerumun di bawah lampu dan mencerai-beraikannya. Keberhasilan penangkapan ikan dengan bagan ternyata sangat ditentukan oleh ketinggian lampu dari permukaan perairan. Mayoritas nelayan di wilayah perikanan telah mengenal pentingnya penggunaan lampu dalam proses penangkapan. Misalnya di wilayah Indonesia timur. Penelitian terbaru Prasetyo (2009) menjelaskan bahwa faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan bagan adalah pemusatan cahaya. . lampu harus dilengkapi dengan reflektor yang berfungsi sebagai pengarah cahaya. beragam jenis lampu digunakan untuk membantu penangkapan. dan petromaks (kerosene pressure lamp) (Prasetyo. Menurut (Nurdin. Arah pancaran cahaya harus terpusat pada areal dalam jaring bagan. Beberapa jenis lampu yang biasa digunakan pada perikanan bagan adalah lampu pijar. lampu digunakan untuk menangkap ikan umpan hidup (life bait fish) pada penangkapan ikan cakalang dengan alat tangkap huhate.

sehingga cahaya mengalami pembiasan.3 x 10 Hz. Ilustrasi posisi lampu pada alat tangkap bagan 2. 1964). Kedalaman penetrasi cahaya di dalam laut . Indeks bias tersebut dipengaruhi oleh kerapatan suatu medium. 1983). sedangkan frekuensi cahaya tidak terpengaruh (Cayles and Marsden. Kecepatan rambat cahaya dipengaruhi oleh perubahan panjang gelombang. cahaya terdiri atas partikel-partikel kecil yang keluar dari sumbernya dengan kecepatan tinggi (Gluck. Selanjutnya dijelaskan bahwa panjang gelombang cahaya berkisar antara 3600 – 7800 Angstrom dengan frekuensi cahaya tampak bervariasi dari 7.9 x 10 Hz – 4. Cepat rambat cahaya pada medium air lebih rendah dari pada cepat rambat cahaya pada medium udara. Perbedaan media rambat yang dilalui cahaya akan berpengaruh terhadap karakteristik-karakteristik cahaya. Menurut teori Newton.2 Cahaya Cahaya adalah berkas – berkas kecil dalam spektrum elektromagnetik yang merambat tanpa medium perantara. Hal ini disebabkan oleh perbedaan indeks bias medium yang dilewatinya.10    m Sumber : Tobing (2008) Gambar 2.

Bentuk sebaran intensitas cahaya lampu di bawah air tergantung dari tipe lampu yang digunakan sebagai sumber cahaya.11   tergantung pada beberapa faktor. Phototaksis dikelompokkan menjadi phototaksis positif dan phototaksis negatif. kecerahan air. dan R : Jarak dari sumber cahaya (m). serta musim dan lintang geografis (Nyabakken. Adapun phototaksis negatif adalah reaksi makhluk hidup yang menjauhi sumber cahaya yang terdeteksi olehnya (Ben Yami. 2008). 1987). sedangkan ikan-ikan yang tidak tertarik oleh cahaya atau menjauhi cahaya biasa disebut fototaksis negatif (Gunarso. . yang umumnya adalah ikan-ikan pelagis dan sebagian kecil ikan demersal. 2. Reaksi ikan terhadap rangsangan cahaya disebut phototaksis. Pengamatan sebaran intensitas di dalam air menunjukkan bahwa pada garis luar iso – lux dari 4 lampu petromaks pada bagan apung di Palabuhanratu bentuknya seperti oval. 1988). Iluminasi cahaya (E) didefinisikan sebagai jumlah cahaya yang masuk ke kolom air yang tergantung pada intensitas cahaya dan jarak dari permukaan (Ben Yami. 1981). Pengukuran iluminasi cahaya dari suatu sumber dapat dilakukan dengan menggunakan rumus : E= Keterangan : E : Iluminasi cahaya (lux): C : Kuat smber cahaya (candela). Ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak (pineal region pada otak). Intensitas cahaya maksimum sebesar 340 lux di pusat cahaya lampu di permukaan air (Puspito. 1985). antara lain absorpsi cahaya oleh partikel-partikel terlarut dalam air. pemantulan cahaya oleh permukaan laut. ikan yang tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaksis. panjang gelombang cahaya.3 Reaksi ikan terhadap cahaya Reaksi atau respon ikan terhadap keadaan lingkungan luar atau rangsangan eksternal disebut taxis. Dengan demikian. Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut phototaksis (Ayodhyoa. Phototaksis positif adalah reaksi makhluk hidup yang mendekati sumber cahaya. 1988).

ada ikan yang mempunyai kemampuan untuk tertarik oleh cahaya mulai dari intensitas yang rendah sampai yang tinggi. Ada ikan yang senang pada intensitas cahaya yang rendah. maka mata ikan mampu menerimanya sebesar 75%.001 lux sudah memberikan reaksi (Laevastu and Hayes.01-0. sedangkan retina mata dari beberapa jenis ikan laut dalam menerimanya sampai 90%. Ambang cahaya tertinggi untuk mata ikan belum banyak diteliti. sensitifitas mata ikan laut pada umumnya tinggi. Dengan demikian. Namun. walau banyak diketahui bahwa berbagai jenis ikan laut pada umumnya selalu berusaha untuk meningkatkan sensitifitasnya. 1985). Oleh karena itu. sehingga pada umumnya mata ikan mempunyai tingkat sensitifitas 100× mata manusia. Ambang cahaya yang mampu dideteksi oleh mata ikan jauh lebih rendah dari pada ambang cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia. 1985). pengaruh intensitas cahaya terhadap agregasi ikan mempunyai pola yang tidak sama.12    Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik oleh cahaya. Keberadaan fitoplankton tersebut akan menarik ikan-ikan kecil (plankton feeder) yang diikuti oleh ikan predator sehingga terjadi jejaring makanan di area pengoperasian bagan. 1966 dalam Gunarso. Penggunaan lampu pada pengoperasian bagan akan merangsang fitoplankton yang bersifat phototaksis positif berkumpul di bawah lampu. 2009). . tetapi adapula ikan yang senang terhadap intensitas cahaya yang tinggi. Kalau cahaya biru-hijau yang mampu diterima mata manusia hanya sebesar 30% saja. Ikan akan beradaptasi terhadap variasi iluminasi optimum sehingga selama proses pencahayaan terjadi migrasi. 1991). Pada ikan diketahui bahwa rangsangan cahaya antara 0. Menurut (Priatna. kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda. antara lain adalah penyesuaian intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk menerima cahaya. pada beberapa jenis ikan yang hidup di perairan pantai dapat mengindera mangsanya dari kejauhan 100 m sejak pagi sampai sore hari (Woodhead. Ikan mempunyai suatu kemampuan yang mengagumkan untuk dapat melihat pada waktu siang hari dengan kekuataan penerangan ratusan ribu lux dan dalam keadaan gelap sama sekali (Gunarso. Namun demikian.

dan kembung (Rastreliger sp). Pada malam terang bulan gerombolan ikan itu akan berpencar atau tetap berada di bawah permukaan air (Gunarso. cumi-cumi (Loligo sp). (Gambar 3).4 Hasil tangkapan bagan Berdasarkan data perikanan PPN Palabuhanratu 2009. Pada malam hari gerombolan ikan cenderung berenang ke permukaan dan akan berada pada permukaan sampai dengan matahari sudah akan terbit.4. Sumber : www. 2. Ordo : Malacopterygii.1 Teri (Stolephorus spp) Menurut Saanin (1984). Subordo : Percoidei. pepetek (Leiognathus sp). klasifikasi ikan teri adalah sebagai berikut : Filum : Chordata.wikipedia. hasil tangkapan bagan mencapai 225 ton/tahun.13   Pergerakan ikan tembang secara vertikal terjadi karena perubahan siang dan malam. Ikan teri . Adapun hasil tangkapan sampingannya adalah tembang (Sardinella fimbriata). dan Species : Stolephorus spp. bagan ditujukan untuk menangkap jenis ikan fototaksis positif.org. Hasil tangkapan tersebut terdiri atas berbagai jenis ikan pelagis. 1988). Menurut Subani dan Barus (1988). 2. (2012) Gambar 3. Genus : Stolephorus. Subfilum : Vertebrata. yaitu teri (Stolephorus spp). Family : Clupeidae. Kelas : Pisces.

Penyebaran ke selatan sampai ke daerah Australia. bagian samping tubuhnya (linear lateralis) terdapat garis putih keperakan seperti selempang yang memanjang dari belakang kepala hingga ekor. Kedalaman renang dari gerombolan teri bervariasi selama siang hari dan bermigrasi ke daerah yang dangkal (permukaan) pada waktu pagi dan sore hari. Subordo : Clupeidai . Dalam kondisi alamiah. Fimbriata (Gambar 4) . Famili : Clupeidae . faktor lingkungan yang berpengaruh adalah suhu. dan ketersediaan pangan (Omori and Ikeda 1984). Beberapa sifat fisika-kimia air merupakan salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan ikan teri. oksigen terlarut. yaitu umumnya tidak berwarna.14    Ikan teri umumnya berukuran kecil sekitar 6-9 cm. Subfamili : Clupeinae . Subkelas : Teleostei . Ordo : Malacopterygii . Kelas : Pisces . Ikan ini umumnya menghuni perairan dekat pantai dan hidup secara bergerombol. Filum : Chordata. teri menyukai intensitas cahaya tertentu dan kedalaman dari intensitas bervariasi sesuai dengan waktu. Teri menyebar pada wilayah Samudera Hindia bagian timur sampai Samudera Pasifik Tengah. mempunyai tanda-tanda khas seperti yang terlihat pada Gambar 3. dan Spesies : S. Stelophorus spp. Genus : Clupea . 2.2 Tembang (Sardinella fimbriata) Menurut Saanin (1984). periode penyinaran. derajat perawanan dan koefisien konsistensi air. Bentuk tubuh bulat memanjang (fusiform) dan pipih (compressed). klasifikasi ikan tembang adalah sebagai berikut. Hal ini berkaitan erat dengan cahaya. Laevastu dan Hayes (1981) mengemukakan bahwa teri selama siang hari membentuk gerombolan dasar perairan dan bermigrasi menuju permukaan pada malam hari dimana tebalnya gerombolan ini adalah 6-15 m. Subfilum : Vertebrata .4.

4. 1992).15   Sumber : www. Berkembang biak satu kali dalam satu tahun pada bulan Juni-Juli di wilayah pantai ketika suhu udara dan kadar garam rendah. Kelas : Cephalopoda . 2. Sub ordo : Myopsida . Ordo : Teuthoidea . baik ikan kecil maupun ikan dewasa. (2012) Gambar 4. Ikan ini hidup bergerombol (schooling) dan berpindah-pindah (Nybakken.3 Cumi-cumi (Loligo sp) Menurut Roper. Sepioteuthis. putih perak pada bagian bawah. Plankton adalah organisme kecil yang menjadi makanannya. cumi-cumi diklasifikasikan kedalam : Filum : Mollusca. . Panjangnya berkisar 15 – 25 cm. Siripsiripnya pucat kehijauan serta tembus cahaya.org. pipih dengan duri dibagian bawah badan. et al. dan Doryteuthis. Genus : Loligo. (1984). Ikan tembang Ikan tembang merupakan ikan pelagis yang banyak ditemukan di wilayah pantai. Ciri-ciri morfologi ikan tembang adalah memiliki bentuk badan fusiform. Famili : Loliginidae . eol. Warna tubuh biru kehijauan pada bagian atas. dan Spesies : Loligo sp (Gambar 5).

4 Pepetek ( Leiognathus sp) Kalsifikasi ikan pepetek menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata . wikipedia. Cumi-cumi memiliki sejenis cangkang yang sudah termodifikasi menjadi cangkang tipis yang mengandung zat tanduk atau khitin. (2012) Gambar 5. Beberapa spesies cumi-cumi hidup sampai di perairan payau. disebut “pen”. Pada bagian kepala cumi-cumi terdapat lubang seperti corong yang dinamakan siphon. al.. al.4.. org.16    Sumber : www. Umumnya cumi-cumi tertarik pada cahaya (fototaksis positif) sehingga sering ditangkap dengan menggunakan bantuan cahaya (Ropper et. 2. 1987). Seluruh tubuh bagian dalam dan sebagian dari kepalanya masuk kedalam rongga mantel tersebut. Pada bagian tengah kepalanya terdapat mulut yang dikelilingi tentakel dengan alat penghisap (sucker). yaitu pada siang hari akan berkelompok dekat dasar perairan dan akan menyebar pada kolom perairan pada malam harinya. Cumi-cumi digolongkan sebagai organisme pelagik. Cumi-cumi Cumi – cumi merupakan binatang bertubuh lunak dengan bentuk tubuh memanjang silindris dan bagian belakang meruncing dengan sepasang sirip berbentuk triangular atau bundar. Siphon ini berguna untuk mengeluarkan air dari rongga mantel yang menghasilkan daya dorong untuk pergerakan cumi-cumi. Melalui siphon ini juga cumi-cumi terkadang mengaluarkan tinta berwarna coklat hitam untuk menghindari predator (Buchsbaum et. dan terletak di dalam mantel.1984). Cumi-cumi hidup di daerah pantai dan paparan benua sampai kedalaman 400 m. Cumi-cumi melakukan pergerakan diurnal. Cumi-cumi mempunyai sepasang mata di samping kepala.

Gazza dan Secutor. . berukuran kecil dengan panjang < 15 cm.5 Kembung (Rastreliger sp) Ikan kembung atau dikenal dengan nama latin Rastrelliger sp termasuk jenis ikan pelagis kecil yang hidup bergerombol.4. Gazza mempunyai gigi taring sedangkan yang lain hanya mempunyai gigi kecil dan mulutnya dapat dijulurkan ke depan dengan mengarah ke atas (secutor) ataupun ke bawah (Leiognathus) (Nontji. Pepetek hidup di perairan dangkal dan biasanya dalam gerombolan yang besar. Kelas : Actinopterygii . fishbase. Menurut Cuvier (1817) klasifikasinya adalah : Filum : Chordata . Perbedaan ketiga jenis ini terdapat pada gigi dan bentuk mulutnya. 2. sedangkan terendah pada bulan Juli-September. Ikan ini dapat digolongkan dalam 3 marga yaitu Leiognathus. Subfilum : Vertebrata . Ikan pepetek Ikan pepetek berbentuk pipih.17   Kelas : Pisces Subkelas : Teleostei Ordo : Percomorphi Subordo : Percoidea Famili : Leognathidae Genus : Leognathus Spesies : Leiognathus sp (Gambar 6) Sumber : www. Menurut Nontji (2005) produksi pepetek yang tertinggi biasanya terdapat di pesisir Jawa Timur biasanya sekitar bulan Desember-Maret. 2005). org (2012) Gambar 6.

Laut Jawa. yaitu ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan kembung perempuan (Rastrelliger neglectus) (Kriswantoro dan Sunyoto. Ikan kembung Ikan kembung dapat hidup di perairan pantai maupun lepas pantai. 1986). Menurut Kriswantoro dan Sunyoto (1986). dan Laut Flores. Genus : Rastrelliger . Selat Malaka. Muna – Buton.18    Ordo : Perciformes . musim pemijahan ikan kembung terjadi pada musim barat (Oktober – Februari) dan musim timur (Juni – September). terutama di daerah yang berkadar garam tinggi. Kalimantan Selatan. Famili : Scombridae . Spesies : Rastrelliger sp (Gambar 7) Sumber : www. branchsoma hanya terdapat di perairan Indonesia bagian Timur (Kepulauan Maluku). kahaku. Musim pemijahan utama ikan kembung terjadi antara bulan April dan Agustus dengan puncak musim diduga berlangsung bulan Agustus. Laut Cina Selatan. Menurut Widyaningsih (1995). Penyebaran ikan kembung di Indonesia sangat luas. Ikan kembung terdiri atas 2 species. konsentrasi terbesar ikan kembung lelaki terdapat di Barat Sumatera. go (2012) Gambar 7. hampir meliputi seluruh perairan yang ada. Adapun menurut Widyaningsih (1995). Sulawesi Selatan. Keberadaan ikan kembung di suatu wilayah membuktikan bahwa wilayah tersebut merupakan tempat yang dilalui oleh migrasi ikan cakalang. Samudera Indonesia. dan perairan Arafura. . Pendugaan mengenai waktu dan tempat pemijahan ikan kembung telah dilakukan oleh beberapa ahli. ikan kembung perempuan jenis R. Tempat pemijahan terdapat di Utara Tanjung Satai (Kalimantan Barat).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful