5  

2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bagan Bagan merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil, dioperasikan pada malam hari dan menggunakan cahaya lampu sebagai atraktor untuk mengarahkan ikan pada jaring. Menurut Subani dan Barus (1989), berdasarkan cara pengoperasiannya maka bagan di kelompokkan sebagai jaring angkat (lift net). Namun, karena menggunakan lampu untuk mengumpulkan ikan maka disebut juga light fishing (Von Brandt, 1985). Bagan diperkenalkan ke seluruh wilayah perairan Indonesia oleh nelayan Sulawesi. Penggunaan bagan semakin berkembang dan terus mengalami perubahan, baik pada bentuk maupun jenisnya. Jenis bagan yang pertama dikenal adalah bagan tancap. Selanjutnya bagan perahu, bagan rakit, dan bagan apung atau hanyut . Bagan perahu dan apung dapat dioperasikan secara berpindahpindah pada tempat-tempat yang diperkirakan banyak ikannya (Subani dan Barus, 1988). Metode pengoperasian bagan apung dapat dijelaskan secara berurutan sebagai berikut (Ta’aliddin, 2000): 1) Penurunan jaring (setting) ke dalam air dengan melepaskan ikatan tali jaring pada roller. Jaring diturunkan sampai kedalaman tertentu di atas perairan. Jaring turun kedalam air dengan bantuan pemberat (batu) yang diikatkan pada setiap sudut jaring bagian bawah. 2) Menyalakan dan memasang lampu TL berjumlah 4 buah, digantung dengan menggunakan tangkai bambu dengan jarak 1 m di atas permukaan air laut. Untuk operasi penangkapan ini, yang menggunakan sumber cahaya lampu listrik, pemasangan sumber cahaya dilakukan bersamaan. 3) Jaring berada dalam air rata-rata selama 2 jam. Setelah 2 jam, lampu dipadamkan satu demi satu dan pada akhirnya hanya tinggal satu lampu listrik saja yang dipasang sungkup bambu di atas untuk menarik ikan agar terkonsentrasi di bawah lampu. Jaring kemudian diangkat (hauling) dengan menggunakan alat pemutar dari bambu (roller). Pada saat awal pengangkatan jaring dilakukan secara perlahan-lahan, dan semakin cepat ketika jaring sudah

ikan-ikan yang tertangkap dikumpulkan pada salah satu sudut jaring dan diambil dengan menggunakan serok bertangkai panjang. Bagan apung biasanya menggunakan drum plastik sebagai pengapung yang ditempatkan pada bagian dasar kiri dan kanan bagan. bagian bawah berukuran 10 × 10 m. Secara keseluruhan data waktu operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bagan apung tradisional selama penelitian di Palabuhanratu adalah sebagai berikut: 1) Penurunan jaring (setting) selama 6 menit.5 – 1 cm.5 × 9. disimpan dalam keranjang bambu. Tujuannya adalah untuk menghindari agar ikan yang berkumpul diatas jaring tidak dapat melarikan diri. serok dan lampu. Pada bagian atas rumah bagan terdapat penggulung (roller) yang berfungsi untuk menurunkan dan mengangkat jaring bagan pada waktu dilakukan operasi penangkapan (Subani dan Barus. 1988). Rumah bagan terbuat dari bambu. 2) Jaring dalam air (110 menit). Selanjutnya ikan-ikan tersebut dipisahkan berdasarkan jenisnya. hasil tangkapan dengan bagan apung menghasilkan tangkapan yang lebih baik dibandingkan bagan jenis lainnya. 4) Setelah jaring selesai diangkat. Menurut nelayan. sedangkan bagian atas 9. Jaring bagan umumnya berukuran 9 × 9 m dengan ukuran mata 0. 2. . Pada bagan tancap.1. Bahan jaring adalah nilon.5 m. Keempat sisi jaring diikatkan pada bingkai berbentuk bujur sangkar yang terbuat dari bambu atau kayu. dan 3) Penarikan jaring (hauling) (5 menit).1 Konstruksi Komponen penting bagan terdiri atas jaring bagan. Pada Gambar 1 ditunjukkan bagan apung dan bagian-bagiannya. Jumlahnya 8 buah yang terbuat dari bahan plastik. rumah bagan (anjanganjang).6    akan mencapai permukaan air.

Lampu yang digunakan biasanya berjumlah 4 buah dan diletakkan tepat di tengah – tengah bangunan bagan. Adapun penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan sangat ditentukan oleh . Ilustrasi posisi lampu pada alat tangkap bagan dapat dilihat pada Gambar 2. Penangkapan ikan dengan bagan hanya dilakukan pada malam hari. Posisi lampu harus berada tepat di atas jaring bagan untuk memudahkan operasi penangkapan. Penggunaan lampu tersebut berfungsi sebagai atraktor agar ikan berkumpul dalam catchable area.2 Lampu bagan Bagan tergolong dalam light fishing karena menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan (Fridman.1. Bagan apung dan bagian-bagiannya 2. keberhasilan penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya (light fishing) sangat ditentukan oleh teknik penangkapan. Fungsi lampu adalah sebagai pemikat ikan yang bersifat fototaksis positif untuk datang ke bagan. kondisi perairan dan lingkungan serta kualitas cahaya yang digunakan untuk memikat ikan. Pengoperasian bagan menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan. terutama pada bulan gelap.7   Sumber : Tobing (2008) Gambar 1. Hal ini karena pancaran sinar lampu akan maksimal pada waktu tersebut. Menurut Effendi (2005). 1986).

Cahaya yang dipancarkan bulan menyebar merata di permukaan air pada suatu areal yang sangat luas. Semakin besar angin. Untuk mengatasi masalah ini. 5) Ikan atau binatang buas Ikan yang tertarik oleh cahaya lampu didominasi oleh jenis ikan berukuran kecil. karena perairannya tenang. Sebagai akibatnya. Kondisi perairan teluk sangat cocok diperuntukkan untuk pengoperasian bagan. ikan-ikan juga menyebar merata di seluruh permukaan air. sinar yang terang menjadi berkerlip dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). 4) Lokasi Penangkapan (fishing ground) Perairan teluk terhindar dari pengaruh gelombang besar. jumlah partikel yang terkandung dalam air dan banyaknya cahaya yang dipantulkan oleh permukaan air. yaitu: 1) Kecerahan Jika kecerahan rendah atau air keruh berarti banyak terdapat zat atau pertikel yang menyebar di dalam air. Cahaya yang masuk ke dalam air akan habis terserap oleh zat-zat tersebut. Menurut Subani dan Barus (1988). seperti teri. konstruksi dudukan lampu harus disempurnakan. Selain itu. 2) Angin. Ikan yang berada jauh dari sumber cahaya tidak dapat mendeteksi akan adanya cahaya. Jenis ikan besar atau pemangsa umumnya berada di lapisan yang lebih dalam. Adapun hewan air lain. arus dan gelombang Angin. lampu dilengkapi dengan reflektor. 3) Sinar bulan Pada waktu bulan purnama sulit sekali untuk dilakukan penangkapan dengan menggunakan lampu (light fishing). arus dan gelombang mempengaruhi kedudukan lampu. Upaya lain adalah dengan menempatkan lampu di bawah permukaan air (under-water lamp). arus dan gelombang menyebabkan flickering light yang dihasilkan menjadi semakin besar. Posisi lampu yang bergerak akan merubah arah cahaya yang semula lurus menjadi bengkok. angin dan arus yang kuat memberikan dampak positif pada operasi penangkapan ikan yang menggunakan alat bantu cahaya.8    sifat alamiah cahaya matahari atau bulan. seperti ular laut (sea snake) dan lumba- . faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu cahaya.

Beberapa jenis lampu yang biasa digunakan pada perikanan bagan adalah lampu pijar. neon. Mayoritas nelayan di wilayah perikanan telah mengenal pentingnya penggunaan lampu dalam proses penangkapan. lampu harus dilengkapi dengan reflektor yang berfungsi sebagai pengarah cahaya. Penelitian terbaru Prasetyo (2009) menjelaskan bahwa faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan bagan adalah pemusatan cahaya. 2009) integritas cahaya yang tinggi akan meningkatkan hasil tangkapan. Untuk itu. Misalnya di wilayah Indonesia timur. Arah pancaran cahaya harus terpusat pada areal dalam jaring bagan.9   lumba (dolphin) berada di tempat-tempat gelap mengintai keberadaan ikan-ikan kecil tersebut. Keberhasilan penangkapan ikan dengan bagan ternyata sangat ditentukan oleh ketinggian lampu dari permukaan perairan. 2009). dan petromaks (kerosene pressure lamp) (Prasetyo. Hewan-hewan tersebut sesekali menyerang ikan-ikan yang berkerumun di bawah lampu dan mencerai-beraikannya. Pemanfaatan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan telah banyak di Indonesia. Pada perikanan bagan. . Subani (1972) menyebutkan ketinggian petromaks dari permukaan air adalah 1 m dan jaring berada pada kedalaman 8 m. beragam jenis lampu digunakan untuk membantu penangkapan. Menurut (Nurdin. lampu digunakan untuk menangkap ikan umpan hidup (life bait fish) pada penangkapan ikan cakalang dengan alat tangkap huhate.

cahaya terdiri atas partikel-partikel kecil yang keluar dari sumbernya dengan kecepatan tinggi (Gluck. sehingga cahaya mengalami pembiasan.3 x 10 Hz. Menurut teori Newton. Perbedaan media rambat yang dilalui cahaya akan berpengaruh terhadap karakteristik-karakteristik cahaya. Selanjutnya dijelaskan bahwa panjang gelombang cahaya berkisar antara 3600 – 7800 Angstrom dengan frekuensi cahaya tampak bervariasi dari 7.10    m Sumber : Tobing (2008) Gambar 2. Hal ini disebabkan oleh perbedaan indeks bias medium yang dilewatinya. Kedalaman penetrasi cahaya di dalam laut .2 Cahaya Cahaya adalah berkas – berkas kecil dalam spektrum elektromagnetik yang merambat tanpa medium perantara. Ilustrasi posisi lampu pada alat tangkap bagan 2. Kecepatan rambat cahaya dipengaruhi oleh perubahan panjang gelombang. Cepat rambat cahaya pada medium air lebih rendah dari pada cepat rambat cahaya pada medium udara. 1964). 1983).9 x 10 Hz – 4. Indeks bias tersebut dipengaruhi oleh kerapatan suatu medium. sedangkan frekuensi cahaya tidak terpengaruh (Cayles and Marsden.

serta musim dan lintang geografis (Nyabakken. kecerahan air. pemantulan cahaya oleh permukaan laut. Phototaksis dikelompokkan menjadi phototaksis positif dan phototaksis negatif. 1988). Bentuk sebaran intensitas cahaya lampu di bawah air tergantung dari tipe lampu yang digunakan sebagai sumber cahaya. Reaksi ikan terhadap rangsangan cahaya disebut phototaksis. 1981).3 Reaksi ikan terhadap cahaya Reaksi atau respon ikan terhadap keadaan lingkungan luar atau rangsangan eksternal disebut taxis. Ikan tertarik pada cahaya melalui penglihatan (mata) dan rangsangan melalui otak (pineal region pada otak). panjang gelombang cahaya. Pengamatan sebaran intensitas di dalam air menunjukkan bahwa pada garis luar iso – lux dari 4 lampu petromaks pada bagan apung di Palabuhanratu bentuknya seperti oval. 1988). Dengan demikian. 1985). dan R : Jarak dari sumber cahaya (m). ikan yang tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaksis. Iluminasi cahaya (E) didefinisikan sebagai jumlah cahaya yang masuk ke kolom air yang tergantung pada intensitas cahaya dan jarak dari permukaan (Ben Yami. yang umumnya adalah ikan-ikan pelagis dan sebagian kecil ikan demersal. sedangkan ikan-ikan yang tidak tertarik oleh cahaya atau menjauhi cahaya biasa disebut fototaksis negatif (Gunarso. antara lain absorpsi cahaya oleh partikel-partikel terlarut dalam air. 2.11   tergantung pada beberapa faktor. 2008). . Phototaksis positif adalah reaksi makhluk hidup yang mendekati sumber cahaya. Pengukuran iluminasi cahaya dari suatu sumber dapat dilakukan dengan menggunakan rumus : E= Keterangan : E : Iluminasi cahaya (lux): C : Kuat smber cahaya (candela). 1987). Adapun phototaksis negatif adalah reaksi makhluk hidup yang menjauhi sumber cahaya yang terdeteksi olehnya (Ben Yami. Intensitas cahaya maksimum sebesar 340 lux di pusat cahaya lampu di permukaan air (Puspito. Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut phototaksis (Ayodhyoa.

pengaruh intensitas cahaya terhadap agregasi ikan mempunyai pola yang tidak sama. Namun demikian. walau banyak diketahui bahwa berbagai jenis ikan laut pada umumnya selalu berusaha untuk meningkatkan sensitifitasnya. Ikan akan beradaptasi terhadap variasi iluminasi optimum sehingga selama proses pencahayaan terjadi migrasi. 1985).01-0. Ambang cahaya yang mampu dideteksi oleh mata ikan jauh lebih rendah dari pada ambang cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia. Oleh karena itu. sedangkan retina mata dari beberapa jenis ikan laut dalam menerimanya sampai 90%. Pada ikan diketahui bahwa rangsangan cahaya antara 0. kemampuan ikan untuk tertarik pada suatu sumber cahaya sangat berbeda-beda.001 lux sudah memberikan reaksi (Laevastu and Hayes. antara lain adalah penyesuaian intensitas cahaya dengan kemampuan mata ikan untuk menerima cahaya. Keberadaan fitoplankton tersebut akan menarik ikan-ikan kecil (plankton feeder) yang diikuti oleh ikan predator sehingga terjadi jejaring makanan di area pengoperasian bagan. . pada beberapa jenis ikan yang hidup di perairan pantai dapat mengindera mangsanya dari kejauhan 100 m sejak pagi sampai sore hari (Woodhead. tetapi adapula ikan yang senang terhadap intensitas cahaya yang tinggi. maka mata ikan mampu menerimanya sebesar 75%. sehingga pada umumnya mata ikan mempunyai tingkat sensitifitas 100× mata manusia. Ambang cahaya tertinggi untuk mata ikan belum banyak diteliti. 2009). 1991). Menurut (Priatna. Kalau cahaya biru-hijau yang mampu diterima mata manusia hanya sebesar 30% saja. ada ikan yang mempunyai kemampuan untuk tertarik oleh cahaya mulai dari intensitas yang rendah sampai yang tinggi. Penggunaan lampu pada pengoperasian bagan akan merangsang fitoplankton yang bersifat phototaksis positif berkumpul di bawah lampu. Dengan demikian. 1966 dalam Gunarso. Namun.12    Ada beberapa alasan mengapa ikan tertarik oleh cahaya. 1985). sensitifitas mata ikan laut pada umumnya tinggi. Ada ikan yang senang pada intensitas cahaya yang rendah. Ikan mempunyai suatu kemampuan yang mengagumkan untuk dapat melihat pada waktu siang hari dengan kekuataan penerangan ratusan ribu lux dan dalam keadaan gelap sama sekali (Gunarso.

bagan ditujukan untuk menangkap jenis ikan fototaksis positif.org.1 Teri (Stolephorus spp) Menurut Saanin (1984). Ordo : Malacopterygii. Sumber : www. klasifikasi ikan teri adalah sebagai berikut : Filum : Chordata. pepetek (Leiognathus sp). 2.13   Pergerakan ikan tembang secara vertikal terjadi karena perubahan siang dan malam. dan Species : Stolephorus spp. Menurut Subani dan Barus (1988). Family : Clupeidae. Pada malam hari gerombolan ikan cenderung berenang ke permukaan dan akan berada pada permukaan sampai dengan matahari sudah akan terbit. 2. Subordo : Percoidei. Kelas : Pisces. Subfilum : Vertebrata. Genus : Stolephorus. dan kembung (Rastreliger sp).4 Hasil tangkapan bagan Berdasarkan data perikanan PPN Palabuhanratu 2009. yaitu teri (Stolephorus spp). (2012) Gambar 3. cumi-cumi (Loligo sp). 1988). Ikan teri .wikipedia. Adapun hasil tangkapan sampingannya adalah tembang (Sardinella fimbriata).4. (Gambar 3). Hasil tangkapan tersebut terdiri atas berbagai jenis ikan pelagis. Pada malam terang bulan gerombolan ikan itu akan berpencar atau tetap berada di bawah permukaan air (Gunarso. hasil tangkapan bagan mencapai 225 ton/tahun.

Kelas : Pisces . mempunyai tanda-tanda khas seperti yang terlihat pada Gambar 3.4. bagian samping tubuhnya (linear lateralis) terdapat garis putih keperakan seperti selempang yang memanjang dari belakang kepala hingga ekor. Beberapa sifat fisika-kimia air merupakan salah satu faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan ikan teri. Bentuk tubuh bulat memanjang (fusiform) dan pipih (compressed). Dalam kondisi alamiah. derajat perawanan dan koefisien konsistensi air. Hal ini berkaitan erat dengan cahaya. Subkelas : Teleostei . Ikan ini umumnya menghuni perairan dekat pantai dan hidup secara bergerombol. teri menyukai intensitas cahaya tertentu dan kedalaman dari intensitas bervariasi sesuai dengan waktu.14    Ikan teri umumnya berukuran kecil sekitar 6-9 cm. Subfilum : Vertebrata .2 Tembang (Sardinella fimbriata) Menurut Saanin (1984). faktor lingkungan yang berpengaruh adalah suhu. Ordo : Malacopterygii . Laevastu dan Hayes (1981) mengemukakan bahwa teri selama siang hari membentuk gerombolan dasar perairan dan bermigrasi menuju permukaan pada malam hari dimana tebalnya gerombolan ini adalah 6-15 m. oksigen terlarut. Subordo : Clupeidai . Penyebaran ke selatan sampai ke daerah Australia. dan Spesies : S. yaitu umumnya tidak berwarna. Genus : Clupea . periode penyinaran. Stelophorus spp. Fimbriata (Gambar 4) . Teri menyebar pada wilayah Samudera Hindia bagian timur sampai Samudera Pasifik Tengah. klasifikasi ikan tembang adalah sebagai berikut. Subfamili : Clupeinae . 2. Filum : Chordata. dan ketersediaan pangan (Omori and Ikeda 1984). Kedalaman renang dari gerombolan teri bervariasi selama siang hari dan bermigrasi ke daerah yang dangkal (permukaan) pada waktu pagi dan sore hari. Famili : Clupeidae .

dan Doryteuthis. Famili : Loliginidae . Warna tubuh biru kehijauan pada bagian atas. Sub ordo : Myopsida . Panjangnya berkisar 15 – 25 cm. Siripsiripnya pucat kehijauan serta tembus cahaya. Kelas : Cephalopoda . Plankton adalah organisme kecil yang menjadi makanannya. Sepioteuthis.org.3 Cumi-cumi (Loligo sp) Menurut Roper. 2. Ikan tembang Ikan tembang merupakan ikan pelagis yang banyak ditemukan di wilayah pantai. 1992). Ordo : Teuthoidea . pipih dengan duri dibagian bawah badan. (2012) Gambar 4. Genus : Loligo. dan Spesies : Loligo sp (Gambar 5). . Ciri-ciri morfologi ikan tembang adalah memiliki bentuk badan fusiform. Ikan ini hidup bergerombol (schooling) dan berpindah-pindah (Nybakken. et al. putih perak pada bagian bawah. Berkembang biak satu kali dalam satu tahun pada bulan Juni-Juli di wilayah pantai ketika suhu udara dan kadar garam rendah. eol. (1984). cumi-cumi diklasifikasikan kedalam : Filum : Mollusca.4. baik ikan kecil maupun ikan dewasa.15   Sumber : www.

1984). Pada bagian kepala cumi-cumi terdapat lubang seperti corong yang dinamakan siphon. Cumi-cumi digolongkan sebagai organisme pelagik. Umumnya cumi-cumi tertarik pada cahaya (fototaksis positif) sehingga sering ditangkap dengan menggunakan bantuan cahaya (Ropper et. org. (2012) Gambar 5. Siphon ini berguna untuk mengeluarkan air dari rongga mantel yang menghasilkan daya dorong untuk pergerakan cumi-cumi.. dan terletak di dalam mantel. disebut “pen”.16    Sumber : www. Cumi-cumi mempunyai sepasang mata di samping kepala. Cumi-cumi memiliki sejenis cangkang yang sudah termodifikasi menjadi cangkang tipis yang mengandung zat tanduk atau khitin. al. Beberapa spesies cumi-cumi hidup sampai di perairan payau.. 2. Cumi-cumi hidup di daerah pantai dan paparan benua sampai kedalaman 400 m. yaitu pada siang hari akan berkelompok dekat dasar perairan dan akan menyebar pada kolom perairan pada malam harinya.4 Pepetek ( Leiognathus sp) Kalsifikasi ikan pepetek menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata . wikipedia. 1987). Cumi-cumi melakukan pergerakan diurnal.4. Melalui siphon ini juga cumi-cumi terkadang mengaluarkan tinta berwarna coklat hitam untuk menghindari predator (Buchsbaum et. Seluruh tubuh bagian dalam dan sebagian dari kepalanya masuk kedalam rongga mantel tersebut. al. Cumi-cumi Cumi – cumi merupakan binatang bertubuh lunak dengan bentuk tubuh memanjang silindris dan bagian belakang meruncing dengan sepasang sirip berbentuk triangular atau bundar. Pada bagian tengah kepalanya terdapat mulut yang dikelilingi tentakel dengan alat penghisap (sucker).

fishbase. org (2012) Gambar 6. Subfilum : Vertebrata . Pepetek hidup di perairan dangkal dan biasanya dalam gerombolan yang besar. Menurut Cuvier (1817) klasifikasinya adalah : Filum : Chordata .17   Kelas : Pisces Subkelas : Teleostei Ordo : Percomorphi Subordo : Percoidea Famili : Leognathidae Genus : Leognathus Spesies : Leiognathus sp (Gambar 6) Sumber : www. Ikan pepetek Ikan pepetek berbentuk pipih. sedangkan terendah pada bulan Juli-September. 2005). Ikan ini dapat digolongkan dalam 3 marga yaitu Leiognathus. berukuran kecil dengan panjang < 15 cm. Gazza mempunyai gigi taring sedangkan yang lain hanya mempunyai gigi kecil dan mulutnya dapat dijulurkan ke depan dengan mengarah ke atas (secutor) ataupun ke bawah (Leiognathus) (Nontji. Kelas : Actinopterygii . Menurut Nontji (2005) produksi pepetek yang tertinggi biasanya terdapat di pesisir Jawa Timur biasanya sekitar bulan Desember-Maret.4. .5 Kembung (Rastreliger sp) Ikan kembung atau dikenal dengan nama latin Rastrelliger sp termasuk jenis ikan pelagis kecil yang hidup bergerombol. Gazza dan Secutor. 2. Perbedaan ketiga jenis ini terdapat pada gigi dan bentuk mulutnya.

Menurut Widyaningsih (1995). ikan kembung perempuan jenis R. branchsoma hanya terdapat di perairan Indonesia bagian Timur (Kepulauan Maluku). 1986). hampir meliputi seluruh perairan yang ada. terutama di daerah yang berkadar garam tinggi. Sulawesi Selatan. musim pemijahan ikan kembung terjadi pada musim barat (Oktober – Februari) dan musim timur (Juni – September).18    Ordo : Perciformes . Kalimantan Selatan. Spesies : Rastrelliger sp (Gambar 7) Sumber : www. Ikan kembung terdiri atas 2 species. Samudera Indonesia. dan Laut Flores. yaitu ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) dan kembung perempuan (Rastrelliger neglectus) (Kriswantoro dan Sunyoto. Muna – Buton. kahaku. Penyebaran ikan kembung di Indonesia sangat luas. Tempat pemijahan terdapat di Utara Tanjung Satai (Kalimantan Barat). Menurut Kriswantoro dan Sunyoto (1986). Adapun menurut Widyaningsih (1995). go (2012) Gambar 7. Pendugaan mengenai waktu dan tempat pemijahan ikan kembung telah dilakukan oleh beberapa ahli. . Selat Malaka. Laut Jawa. Keberadaan ikan kembung di suatu wilayah membuktikan bahwa wilayah tersebut merupakan tempat yang dilalui oleh migrasi ikan cakalang. konsentrasi terbesar ikan kembung lelaki terdapat di Barat Sumatera. Famili : Scombridae . dan perairan Arafura. Musim pemijahan utama ikan kembung terjadi antara bulan April dan Agustus dengan puncak musim diduga berlangsung bulan Agustus. Laut Cina Selatan. Ikan kembung Ikan kembung dapat hidup di perairan pantai maupun lepas pantai. Genus : Rastrelliger .