PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 28 TAHUN 2006 TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PENGGABUNGAN DESA DAN PERUBAHAN STATUS

DESA MENJADI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pembentukan, Penghapusan, Penggabungan Desa dan Perubahan Status Desa menjadi Kelurahan; : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Menjadi UndangUndang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503); MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEMBENTUKAN, PENGHAPUSAN, PENGGABUNGAN DESA DAN PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN.

Mengingat

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. 2. Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. 3. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan

Bagian Kedua Syarat-syarat Pembentukan Pasal 3 Pembentukan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. atau bagian desa yang bersandingan. atau pembentukan desa di luar desa yang telah ada. 2) wilayah Sumatera dan Sulawesi paling sedikit 1000 jiwa atau 200 KK. Bagian Ketiga . sosial budaya yang dapat menciptakan kerukunan antar umat beragama dan kehidupan bermasyarakat sesuai dengan adat istiadat setempat. b. Papua paling sedikit 750 jiwa atau 75 KK. Pembentukan Desa adalah penggabungan beberapa desa. c. atau pemekaran dari satu desa menjadi dua desa atau lebih. f. Badan Permusyawaratan Desa yang selanjutnya disebut BPD adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. harus memenuhi syarat : a. Desa atau yang disebut dengan nama lain. e. 6. sarana dan prasarana yaitu tersedianya potensi infrastruktur pemerintahan desa dan perhubungan. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. d.dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan 3) wilayah Kalimantan. selanjutnya disebut Desa. NTT. dan g. wilayah kerja memiliki jaringan perhubungan atau komunikasi antar dusun. yaitu: 1) wilayah Jawa dan Bali paling sedikit 1500 jiwa atau 300 KK. luas wilayah dapat dijangkau dalam meningkatkan pelayanan dan pembinaan masyarakat. 5. Maluku. NTB. 9. Penghapusan Desa adalah tindakan meniadakan desa yang ada sebagai akibat tidak lagi memenuhi persyaratan. BAB II PEMBENTUKAN DESA Bagian Pertama Tujuan Pembentukan Pasal 2 Pembentukan desa bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. batas desa yang dinyatakan dalam bentuk peta desa yang ditetapkan dengan peraturan daerah. 4. Penggabungan Desa adalah penyatuan dua Desa atau lebih menjadi Desa baru. 7. 8. potensi desa yang meliputi sumber daya alam dan sumber daya manusia. jumlah penduduk. Kelurahan adalah wilayah kerja lurah sebagai perangkat kabupaten/kota dalam wilayah kerja Kecamatan.

Peryampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa sebagaimana dimaksud pada huruf j. Penyiapan Rancangan Peraturan Daerah tentang pembentukan desa sebagaimana dimaksud pada huruf f. dan unsur masyarakat desa. k. diusulkan oleh Kepala Desa kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Adanya prakarsa dan kesepakatan masyarakat antuk membentuk desa. dan m. Bila rekomendasi Tim Observasi menyatakan layak dibentuk desa baru. dan bila diperlukan dapat mengikutsertakan Pemerintah Desa. c. Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa sebagai:ana dimaksud pada huruf k. Dengan memperhatikan dokumen usulan Kepala Desa. g. Sekretaris Daerah mengundangkan Peraturan Daerah tersebut di dalam Lembaran Daerah. agar dapat ditetapkan secara tepat batas-batas wilayah desa yang akan dibentuk. dan unsur masyarakat desa kepada DPRD dalam forum rapat Paripurna DPRD. adat istiadat dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. i. ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak rancangan tersebut disetujui bersama. BPD mengadakan rapat bersama Kepala Desa untuk membahas usul masyarakat tentang pembentukan desa. Bupati/ Walikota menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa. harus melibatkan pemerintah desa. Dalam hal sahnya Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa yang telah ditetapkan oleh Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada huruf 1. dan kesepakatan rapat dituangkan dalam Berita Acara Hasil Rapat BPD tentang Pembentukan Desa. disertai Berita Acara Hasil Rapat BPD dan rencana wilayah administrasi desa yang akan dibentuk. disampaikan oleh Pimpinan DPRD paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. Kepala Desa mengajukan usul pembentukan Desa kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Pasal 5 Tatacara Pembentukan Desa adalah sebagai berikut: a. Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Bupati/Walikota disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Bupati/Walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. dan unsur masyarakat desa. Pembentukan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan setelah mencapai usia penyelenggaraan pemerintahan desa paling sedikit 5 (lima) tahun.Tatacara Pembentukan Desa Pasal 4 Desa dibentuk atas prakarsa masyarakat dengan memperhatikan asal usul desa. b. yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Bupati/Walikota. j. 1. BPD. Pasal 6 Pembentukan Desa di luar desa yang telah ada. dengan tata cara pembentukan sebagaimana diatur dalam Pasal 5. e. DPRD bersama Bupati/Walikota melakukan pembahasan atas Rancangan Peraturan Daerah tentang pembentukan desa. BPD. h. BAB III PENGGABUNGAN DAN PENGHAPUSAN DE3A . f. Masyarakat mengajukan usul pembentukan desa kepada BPD dan Kepala Desa. BPD. Bupati/Walikota mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa hasil pembahasan pemerintah desa. d. Bupati/Walikota menugaskan Tim Kabupaten/Kota bersama Tim Kecamatan untuk melakukan observasi ke Desa yang akan dibentuk.

Lurah dan Perangkatnya diisi dari Pegawai dimaksud . h. pengaturan sarana dan prasarana. f. mekanisme. jumlah usaha jasa dan produksi serta keanekaragaman mata pencaharian. ditetapkan dalam Keputusan Bersama Kepala Desa yang bersangkutan. b. syarat. dapat digabung dengan Desa lain atau dihapus. jumlah penduduk paling sedikit 4500 jiwa atau 900 KK untuk wilayah Jawa dan Bali serta paling sedikit 2000 jiwa atau 400 KK untuk diluar wilayah Jawa dan Bali. Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat antara lain: a. Penggabungan clan/atat. terlebih dahulu dimusyawarahkan oleh Pemerintah Desa dan BPD dengan masyarakat desa masing-masing. kondisi sosial budaya masyarakat berupa keanekaragaman status penduduk dan perubahan nilai agraris ke jasa dan industri. (2) Penggabungan atau penghapusan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).0 Penghapusan Desa diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 8 Ketentuan lebih lanjut mengenai Pembentukan.Pasal 7 (1) Desa yang karena perkembangan tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. pengaturan batas wilayah Desa yang dilengkapi dengan peta Desa. d. BAB IV PERUBAHAN STATUS DESA MENJADI KELURAHAN Pasal 9 (1) Desa dapat diubah atau disesuaikan statusnya menjadi Kelurahan berdasarkan prakarsa Pemerintah Desa bersama BPD dengan memperhatikan aspirasi masyarakat setempat. dan j. b. pengaturan pemerintahan desa. nama Desa yang baru dibentuk. d. (2) Aspirasi masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disetujui paling sedikit 2/3 (dua per tiga) penduduk Desa yang mempunyai hak pilih. c. pengaturan lembaga kemasyarakatan. tujuan. e. g. (3) Perubahan status Desa menjadi Kelurahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat: a. penghapusan nama Desa yang digabung. dan f. potensi ekonomi berupa jenis. (4) Keputusan Ber'sama Kepala Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan oleh salah satu Kepala Desa kepada Bupati/Walikota melalui Camat. (5) Hasil penggabungan atau penghapusan desa sebagaimana pada ayat (2). luas wilayah tidak berubah. i. prasarana dan sarana pemerintahan yang memadai bagi terselenggaranya pemerintahan Kelurahan. c. pengaturan kekayaan Desa. meningkatnya volume pelayanan. e. (3) Hasil musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 10 (1) Desa yang berubah status menjadi Kelurahan.

dan bila diperlukan dapat mengikutsertakan Pemerintah Desa. h. disertai Berita Acara Hasil Rapat BPD. (2) Kepala Desa dan Perangkat Desa serta anggota BPD dari Desa yang diubah statusnya menjadi Kelurahan. BPD. . Dengan memperhatikan dokumen usulan Kepala Desa. Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan sebagaimana dimaksud pada huruf j. ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak rancangan tersebut disetujui bersama. DPRD bersama Bupati/Walikota melakukan pembahasan atas Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan. Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan sebagaimana dimaksud pada huruf i. disampaikan oleh Pimpinan DPRD paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. b. BPD mengadakan rapat bersama Kepala Desa untuk membahas usul masyarakat tentang perubahan status Desa menjadi Kelurahan. Bupati/Walikota menugaskan Tim Kabupaten/Kota bersama Tim Kecamatan untuk melakukan observasi ke Desa yang akan diubah statusnya menjadi Kelurahan. Pasal 13 (1) Perubahan status Desa menjadi Kelurahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat . Kepala Desa mengajukan usul perubahan status Desa menjadi Kelurahan kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Sekretaris Daerah mengundangkan Peraturan Daerah tersebut di dalam Lembaran Daerah. Adanya prakarsa dan kesepakatan masyarakat untuk merubah status Desa menjadi Kelurahan. Bupati/Walikota mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan kepada DPRD dalam forum rapat Paripurna DPRD. Pasal 11 Tatacara pengajuan dan penetapan perubahan status Desa menjadi Kelurahan adalah sebagai berikut: a. Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Bupati/Walikota disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Bupati/Walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. d. e. j. Pasal 12 (1) Berubalinya status Desa menjadi Kelurahan. Bupati/Walikota menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan. c. k. Bila rekomendasi Tim Observasi menyatakan layak untuk merubah status Desa menjadi Kelurahan. diberhentikan dengan hormat dari jabatannya dan diberikan penghargaan sesuai dengan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat. f. Masyarakat mengajukan usul perubahan status Desa menjadi Kelurahan kepada BPD dan Kepala Desa. dan unsur masyarakat desa. seluruh kekayaan dan sumber-sumber pendapatan Desa menjadi kekayaan Dacrah Kabupaten/ Kota. dan kesepakatan rapat dituangkan dalam Berita Acara Hasil Rapat BPD tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan. dan l.Negeri Sipil yang tersedia di Kabupaten/Kota bersangkutan. Dalam hal sahnya Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Status Desa Menjadi Kelurahan yang telah ditetapkan oleh Bupati/Walikota sebagaimana domaksud pada huruf k. g. i. (2) Kekayaan dan sumber-sumber pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola oleh Kelurahan bersangkutan untuk kepentingan masyarakat setempat. yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Bupati /Walikota.

SE . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 10 Oktober 2006 MENTERI DALAM NEGERI ttd. pengggabungan dan penghapusan Desa serta perubahan status Desa menjadi Kelurahan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota. f. Pasal 17 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. tujuan. H. b. e. Penghapusan. BAB V PEMBIAYAAN Pasal 14 Pembiayaan pembentukan. tata cara pengalihan kekayaan Desa menjadi kekayaan Daerah. tata cara pengalihan administrasi pemerintahan. c. bimbingan. (2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan melalui pemberian pedoman umum.(1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. syarat. d. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat materi (sesuaikan): a. arahan dan supervisi. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 16 Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang Pembentukan. pelatihan. Penghapusan. BAB VI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 15 (1) Pembinaan dan pengawasan terhadap Pembentukan. MA’RUF. MOH. dan g. mekanisme. Penggabungan Desa dan Perubahan status Desa menjadi Kelurahan dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. pembiayaan. Penggabungan dan Perubahan status Desa menjadi Kelurahan berpedoman pada Peraturan ini. pengaturan prasarana dan sarana.