UNDANG-UNDANG DASAR 1945

A. Pengantar
Untuk mengetahui berbagai macam kekurangan dan kelemahan yang terdapat dalam pasalpasal UUD 1945 kita harus mengkaji secara objektif dan ilmiah tentang isi dari UUD 1945 tersebut. Untuk itu kita perlu membedakan pengertian UUD (hukum dasar tertulis), Convensi (hukum dasar tidak tertulis) dan Konstitusi.

B. Hukum Dasar Tertulis (Undang-Undang Dasar).
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pengertian hukum dasar meliputi dua macam, yaitu, hukum dasar tertulis (Undang-Undang Dasar) dan hukum dasar tidak tertulis (convensi). Oleh karena sifatnya tertulis maka Undang-Undang Dasar itu rumusannya tertulis dan tidak mudah berubah. Secara umum menurut E.C.S. Wade dalam bukunya Constitutional Law, UndangUndang Dasar menurut sifat dan fungsinya adalah : Suatu naskah yang memaparkan kerangka dan tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintahan suatu negara dan menentukan pokokpokok cara kerja badan-badan tersebut. Jadi pada prinsip mekanisme dan dasar dari setiap sistem pemerintahan diatur dalam Undang-Undang Dasar. Bagi mereka yang memandang negara dari sudut kekuasaan dan menganggapnya sebagai suatu organisasi kekuasaan, maka Undang-Undang Dasar dapat dipandang sebagai lembaga kekuasaan, maka Undang-Undang Dasar dapat dipandang sebagai lembaga atau sekumpulan asas yang menetapkan bagaimana kekuasaan tersebut dibagi antara Badan Legislatif, Eksekutif dan Badan Yudikatif (walaupun di Indonesia tidak menganut sistem Tria Politica tersebut). Undang-Undang Dasar menentukan cara-cara bagaimana pusat-pusat kekuasaan ini bekerjasama dan menyesuaikan diri satu sama lain. Undang-Undang Dasar merekam hubunganhubungan kekuasaan dalam suatu negara (Budiarjo, 1981 : 95,96). Dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Undang-Undang Dasar 1945 bersifat singkat dan supel. Undang-Undang Dasar 1945 hanya memuat 37 pasal, adapun pasal-pasal lain hanya memuat aturan peralihan dan aturan tambahan. hal ini mengandung makna: (1) Telah cukup jikalau Undang-Undang dasar hanya memuat aturan-aturan pokok, hanya memuat garis-garis besar instruksi kepada pemerintah pusat dan lain-lain penyelenggara negara untuk menyelenggarakan kehidupan negara dan kesejahteraan sosial. (2) Sifatnya yang “supel” (elastic) dimaksudkan bahwa kita senantiasa harus ingat bahwa masyarakat itu harus terus berkembang, dinamis, negara Indonesia akan terus tumbuh dan berkembang seiring dengan perubahan zaman. Berhubungan dengan ini janganlah terlalu tergesa-gesa memberikan kristalisasi, memberikan bentuk (Gestaltung) kepada pikiranpikiran yang masih belum berubah, memang sifat aturan yang tertulis itu bersifat mengikat, oleh karena itu makin “supel” sifat aturan itu makin baik. Jadi kita harus menjaga supaya sistem Undang-Undang Dasar jangan sampai ketinggalan zaman. Menurut Padmowahyono seluruh kegiatan negara dikelompokkan menjadi dua macam yaitu : (1) Penyelenggaraan kehidupan negara. (2) Penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

1981 : 25.26). (3) Diterima oleh seluruh rakyat. yang dalam percakapan seharihari memakai kata “Grondwet” (grond = dasar. (2) Sebagaimana tersebut dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945. Terjemahkan dari istilah tersebut adalah Undang-Undang Dasar. bahwa UUD 1945 bersifat singkat dan supel. Hal ini terbukti dengan disebutnya istilah Konstitusi Republik Indonesia Serikat bagi Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat (Totopandoyo. Convesi ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : (1) Merupakan kebiasaan yang berulang kali dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara. dipergunakan juga istilah lain yaitu “Konstitusi”. D. Demokrasi Indonesia Sebagaimana Dijabarkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Secara filosofis bahwa demokrasi Indonesia mendasarkan pada rakyat adalah sebagai asal mula kekuasaan negara dan sekaligus sebagai tujuan kekuasaan negara. (2) Tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar dan berjalan sejajar. wet = Undang-Undang) yang kedua-duannya menunjukkan naskah tertulis. Konstitusi Di samping pengertian Undang-Undang Dasar. Istilah konstitusi berasal dari bahasa Inggris “Constitution” atau dari bahasa Belanda “Constitutie”. Struktur Pemerintahan Indonesia Berdasarkan UUD 1945 1. (3) Memuat norma-norma. oleh karena itu . Rakyat merupakan penjelmaan sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Namun pengertian konstitusi dalam praktek ketatanegaraan umumnya dapat mempunyai arti : (1) Lebih luas daripada pengertian Undang-Undang Dasar. (4) Undang-Undang Dasar 1945 dalam tertib hukum Indonesia merupakan peraturan hukum positif yang tertinggi. E. serta memuat hak-hak asasi manusia. yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara meksipun sifatnya tidak tertulis. dan hal ini memang sesuai dengan kebiasaan orang Belanda dan Jerman. merupakan suatu hukum positif yang mengikat pemerintah sebagai penyelenggara negara. memuat aturan-aturan yaitu memuat aturan-aturan pokok yang setiap kali harus dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. sehingga memungkinkan sebagai aturan-aturan dasar yang tidak terdapat dalam Undang-Undang Dasar. aturan-aturan serta ketentuan-ketentuan yang dapat dan harus dilaksanakan secara konstitusional. (4) Bersifat sebagai pelengkap.Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas maka sifat-sifat Undang-Undang Dasar 1945 adalah sebagai berikut : (1) Oleh karena sifatnya tertulis maka rumusannya jelas. C. atau (2) Sama dengna pengertian Undang-Undang Dasar. Dalam praktek ketatanegaraan negara Republik Indonesia pengertian konstitusi adalah sama dengan pengertian Undang-Undang Dasar. di samping itu sebagai alat kontrol terhadap norma-norma hukum positif yang lebih rendah dalam hierarkhi tertib hukum Indonesia. Hukum Dasar yang Tidak Tertulis (Convensi) Convensi adalah Hukum Dasar yang tidak tertulis. maupun mengikat bagi setiap warga negara.

1986 : 44). 3) Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 (1) “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang Berbentuk Republik” Kemudian penjelasan terhadap pasal ini UUD 1945 menyebutkan “Menetapkan bentuk negara kesatuan dan Republik mengandung isi Pokok Pikiran Kedaulatan Rakyat”. (4) Suatu sistem perwakilan (5) Suatu sistem pemilihan kekuasaan mayoritas. 2) Pokok Pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 “Negara yang berkedaulatan rakyat. Rakyat adalah sebagai asal mula kekuasaan negara yang sebagai tujuan kekuasaan negara. baik secara langsung maupun tidak langsung dengan melalui wakil pilihan mereka. 4) Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 Ayat (2) “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan oleh Majelisk Permusyawaratan Rakyat”. Adapun rincian struktural ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan demokrasi menurut UUD 1945 adalah sebagai berikut.dalam pengertian demokrasi kebebasan individu harus diletakkan dalam kerangka tujuan bersama. yaitu : (1) Keterlibatan warga negara dalam pembuatan keputusan politik. (3) Tingkat kebebasan atau kemerdekaan tertentu yang diakui dan dipakai oleh warga negara. berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan” (Pokok Pikiran III). Secara umum di dalam sistem pemerintahan yang demokratis senantiasa mengandung unsurunsur yang paling penting dan mendasar. bukan bersifat liberal yang hanya mendasarkan kepada kebebasan individu saja dan juga bukan demokrasi klass. Ciri lain yang tidak boleh diabaikan adalah keterlibatan atau partisipasi warga negara baik langsung maupun tidak langsung di dalam proses pemerintahan negara (Lyman Tower Sargen. Kebebasan menurut individu yang diletakkan demi tujuan kesejahteraan bersama inilah yang menurut istilah pendiri negara disebut asas kebersamaan. (1) Konsep Kekuasaan Konsep kekuasaan negara menurut demokrasi sebagaimana terdapat dalam UUD 1945 adalah sebagai berikut. Oleh karena itu “rakyat” adalah merupakan paradigma sentral kekuasaan negara. . Berdasarkan unsur-unsur tersebut maka demokrasi mengandung ciri yang merupakan patokan yaitu setiap sistem demokrasi adalah ide bahwa warga negara seharusnya terlibat dalam hal tertentu dalam bidang pembuatan keputusan-keputusan politik. Penjabaran Demokrasi menurut UUD 1945 dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Rumusan kedaulatan di tangan rakyat menunjukkan bahwa kedudukan rakyatlah yang tertinggi dan paling sentral. (2) Tingkat kebersamaan tertentu di antara warga negara. asas kekeluargaan akan tetapi “Bukan Nepotisme”. (a) Kekuasaan di Tangan Rakyat 1) Pembukaan UUD 1945 Alinea IV “…… maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat ……”.

didelegasikan kepada Mahkamah Agung (Pasal 24 ayat (1) UUD 1945). Kedaulatan politik rakyat dilaksanakan lewat Pemilu untuk membentuk MPR dan DPR setiap 5 tahun sekali. (e) Rakyat kembali mengadakan Pemilu setelah membentuk MPR dan DPR (rangkaian kegiatan 5 tahunan sebagai realisasi periodisasi kekuasaan). didelegasikan kepada Presiden dan DPR (Pasal 5 ayat (1) UUD 1945). “Presiden yang diangkat oleh Majelis bertindak dan bertanggung jawab kepada Majelis ……”. 5) Kekuasaan Konsultatif. atau pengawasan didelegasikan kepada Bada Pemeriksaan Keuangan (BPK) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).. 3) Kekuasaan Yudikatif. didelegasikan kepada Presiden (Pasal 4 ayat (1) UUD 1945). Mekanisme pendelegasian kekuasaan yang demikian ini dalam khasanah ilmu hukum tatanegara dan ilmu politik didekan dengan istilah “distribution of power” yang merupakan unsur mutlak dari negara demokrasi. 1) Kekuasaan Eksekutif. pengawasan kekuasaan dan pertanggungjawaban kekuasaan. (Pasal 16 UUD 1945). didelegasikan kepada Dewan Pertimbangan Agung (DPA). (b) Pasal 7 UUD 1945. 2) Kekuasaan Legislatif. “… DPR dapat senantiasa mengawasi tindakan-tindakan Presiden …”. (c) Penjelasan UUD 1945 tentang sistem Pemerintahan Negara angka VII. menurut UUD 1945 mencakup antara lain : Periode kekuasaan. 4) Kekuasaan Inspektif.. (3) Konsep Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan menurut UUD 1945 dirinci sebagai berikut: . Dalam pembatasan kekuasaan menurut konsep mekanisme 5 tahunan kekuasaan sebagaimana tersebut di atas. Pasal 23 ayat (5) UUD 1945 ”. “Dewan Perwakilan Rakyat mengawasi jalannya pemerintahan yang dijalankan oleh Presiden dalam jangka waktu 5 tahun”. (d) Penjelasan UUD 1945 tentang sistem Pemerintahan Negara angka III. Hal ini termuat dalam Penjelasan UUD 1945 tentang sistem pemerintahan negara angka VII. “Majelis Permusyawaratan Rakyat memilih Presiden dan Wakil Presiden untuk periode waktu lima tahun”. dan dilakukan oleh suatu Majelis Permusyawaratan Rakyat. Untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) ……”. dapat dilihat melalui proses atau mekanisme 5 tahunan kekuasaan dalam UUD 1945 sebagai berikut. oleh karena itu pembagian kekuasaan menurut demokrasi sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 adalah sebagai berikut. (2) Pembatasan Kekuasaan Pembatasan kekuasaan menurut konsep UUD 1945. (a) Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 “Kedaulatan di tangan rakyat…”. (b) Pembangian Kekuasaan Sebagaimana dijelaskan bahwa kekuasaan tertinggi adalah di tangan rakyat.Berdasarkan ketentuan tersebut dapat disimpulan bahwa dalam negara Republik Indonesia pemegang kekuasaan tertinggi atau kedaulatan tertinggi adalah dijalankan atau dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.

yaitu “… oleh karena itu sistem negara yang terbentuk dalam UUD 1945. (b) Pasal 2 ayat (1). ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan menurut aturan yang ditetapkan dengna Undang-Undang”. Dalam penjelasan terhadap pasal 1 ayat (2) UUD 1945 disebutkan bahwa : “Majelis Permusyawaratan Rakyat ialah penyelenggara negara yang tertinggi. . (5) Konsep Partisipasi Konsep partisipasi menurut UUD 1945 adalah sebagai berikut : (a) Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang dasar 1945 “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tiada kecualinya”. harus berdasar atas kedaulatan rakyat dan berdasar atas permusyawaran perwakilan. (b) Namun demikian jikalau mufakat itu tidak tercapai. Memang aliran inisesuai dengan sifat masyarakat Indonesia”. artinya segala keputusan yang diambil sejauh mungkin diusahakan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. Berdasarkan ketentuan tersebut di atas maka konsep pengawasan menurut demoraksi Indonesia sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pada dasarnya adalah sebagai berikut : (a) Dilakukan oleh seluruh warga negara. (4) Konsep Pengawasan Konsep pengawasan menurut UUD 1945 ditentukan sebagai berikut : (a) Pasal 1 ayat (2).”Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota-anggota DPR. (b) Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul. karena kekuasaan di dalam sistem ketatanegaraan Indonesia adalah di tangan rakyat. maka dimungkinkan pengambilan keputusan itu melalui suara terbanyak. (b) Secara formal ketatanegaraan pengawasan berada pada DPR. (c) Penjelasan UUD 1945 tentang kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat disebutkan : “… kecuali itu anggota-anggota DPR semuanya merangkas menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. (c) Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara”. “Segala putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara terbanyak”. “Kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”. (b) Pasal 2 ayat (3) UUD 1945. Majelis ini dianggap sebagai penjelmaan rakyat yang memegang kedaulatan negara”. Ketentuan-ketentuan tersebut di atas mengandung pokok pikiran bahwa konsep pengambilan keputusan yang dianut dalam hukum tata negara Indonesia adalah berdasarkan : (a) Keputusan didasarkan pada suatu musyawarah sebagai asasnya.(a) Penjelasan UUD 1945 tentang Pokok Pikiran ke III. Oleh karena itu DPR dapat senantiasa mengawasi tindakantindakan Presiden ……”. mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang”.

Agama (Bab XI UUD 1945) . sosial. Presiden Tidak Bertanggungjawab Kepada DPR f. Hal Keuangan (Bab VIII UUD 1945) 9. F. Dewan Pertimbangan Agung (DPA)(Bab IV UUD 1945) 5. yaitu jaminan bahwa ketentuan hukumnya dapat dipahami. Peradilan yang bebas dari suatu pengaruh kekuasaan atau kekuatan lain dan tidak memihak. Kementerian Negara (Bab V UUD 1945) 6. Kekuasaan Pemerintahan Negara (Bab III UUD 1945) 4. b. dapat dilaksanakan dan aman dalam melaksanakannya. Kekuasaan Kehakiman (Bab IX UUD 1945) 10. yang dirinci sebagai berikut. Negara Indonesia adlaah negara hukum. Dewan Perwakilan Rakyat (Bab VII UUD 1945) 8. Sistem Konstitusiona c. 2. maka konsep partisipasi menyangkut seluruh aspek kehidupan kenegaraan dan kemasyarakat dan partisipasi itu terbuka untuk warga negara Indonesia (Thaib. Menteri Negara Tidak Bertanggungjawab Kepada Dewan Perwakilan Rakyat g. Pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi yang mengandung persamaan dalam bidang politik. a. Pemerintahan Daerah (Bab VI UUD 1945) 7. Indonesia ialah Negara Berdasarkan atas Hukum (Rechtsstaat) b. Warga Negara (Bab X UUD 1945) 11. 1994 : 100-112). Sistem Pemerintahan Negara Menurut UUD 1945 Sistem Pemerintahan Negara Indonesia dijelaskan secara terici dan sistematis dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945. Presiden ialah Penyelenggara Pemerintahan Negara yang Tertinggi di Bahwa Majelis e. Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945) 2. Kekuasaan Negara yang Tertinggi di Tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat(MPR) d. dan kebudayaan. ekonomi. negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan bukan berdasarkan atas kekuasaan. hukum. c. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)(Bab II UUD 1945) 3. Ciri-ciri suatu negara hukum adalah : a. Negara Indonesia adalah Negara Hukum Menurut Penjelasan UUD 1945. adapun isi pokok dari ke 16 Bab tersebut adalah sebagai berikut : 1. oleh karena itu sistem pemerintahan negara ini dikenal dengan “Tujuh Kunci Pokok Sistem Pemerintahan Negara”.Berdasarkan ketentuan sebagaimana termuat dalam UUD 1945 tersebut di atas. Sifat negara hukum hanya dapat ditunjukkan jikalau alat-alat perlengkapannya bertindak menurut dan terikat kepada aturanaturan yang ditentukan lebih dahulu oleh alat-alat perlengkapan yang dikuasai untuk mengadakan aturan-aturan itu. Sistem Pemerintahan Negara Indonesia ini dibagi atas tujuh yang secara sistematis merupakan pengejawantahan kedaulatan rakyat. Jaminan kepastian hukum. Isi Pokok Batang Tubuh UUD 1945 Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa UUD 1945 terbagi atas 16 Bab. Kekuasaan Kepala Negara Tidak Tak-terbatas 3. Menteri Negara ialah Pembantu Presiden.

Hubungan Antara DPR dengan Presiden Sebagai sesama lembaga negara dan sessama anggota badan legislatif maka DPR dan Presiden bersama-sama mempunyai tugas antara lain : a. Dengan demikian dimaksudkan supaya seluruh golongan. Kesejahteraan Sosial (Bab XIV UUD 1945) 15. untuk menjalankan pemerintahan (pasal 4 ayat 1) sesuai dengan Garis-Garis Besar Haluan Negara yang telah ditetapkan oleh Majelis (pasal 3).12. . 3. 2. Aturan Peralihan dan Aturan Tambahan G. ditambah dengan utusan-utusan daerah dan golongan-golongan menurut aturan yang ditetapkan dengan Undang-Undang (Pasal 2 ayat 1). Hubungan Antara MPR dan Presiden Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pemegang kekuasaan Negara tertinggi (pasal 1 ayat 2) mengangkat presiden (pasal 6 ayat 2). dan b. MPR mengemudikan pembuatan Undang-Undang serta peraturan-peraturan lainnya agar Undang-Undang serta peraturan-peraturan itu sesuai dengan UUD. Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 (Bab XVI UUD 1945) 17. Membuat Undang-Undang (pasal 5 ayat 1. Pendidikan (Bab XIII UUD 1945) 14. melainkan termasuk juga bidang legislatif yang dijalankannya bersama-sama DPR (Pasal 5). Presiden harus memperhatikan. Bendera dan Bahasa (Bab XV UUD 1945) 16. Dalam menjalankan tugas pokok dalam bidang eksekutif (pasal 4 ayat 1) Presiden tidak hanya menyelenggarakan pemerintahan negara yang garis-garis besarnya telah ditentukan oleh MPR saja. Melalui wewenang DPR ia juga menilai dan mengawasi wewenang lembaga-lembaga lainnya. yaitu hak untuk mengusulkan Rancangan Undang-Undang (pasal 21 ayat 1). Pertahanan Negara (Bab XII UUD 1945) 13. (2) hak inisiatif. 20 dan 21). Bentuk kerjasama antara DPR dan Presiden tidak boleh mengikari partner legislatifnya. Hubungan Antara MPR dan DPR Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat. MPR mempunyai tugas yang sangat luas. berkonsultasi dan dalma banyak hal. memberikan keterangan-keterangan serta laporan-laporan kepada DPR dan meminta pendapatnya. serta menjalankan keputusan Majelis. menurut UUD 1945. seluruh daerah akan mempunyai wakil dalam Majelis sehingga MPR itu akan betulbetul dapat dianggap sebagai penjelmaan rakyat. Untuk pengawasan tersebut maka DPR mempunyai beberapa wewenang yaitu : a. mendengarkan. melalui wewenang DPR. yaitu hak untuk menyusun rancangan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (pasal 23 ayat 1). (1) hak budget. Sebagai imbalan dari kepercayaan Majelis yang diberikan kepadanya. Hubungan Antara Lembaga-lembaga Negara Berdasarkan UndangUndang Dasar 1945 1. Menetapkan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (pasal 23 ayat 1).

7. Mereka adalah pembantu Presiden (pasal 17 ayat 1). (1) hak amandemen (mengadakan perubahan). 7/DPR/III/ 71. Memang yang dimaksudkan adalah bahwa para menteri itu pemimpin-pemimpin negara.72. menteri mengetahuni seluk-belik mengenai lingkungan pekerjaannya. oleh karena itu menteri-menterilah yang terutama menjalanan pemerintahan dalam prakteknya. Hubungan Antara DPR dengan Menteri-Menteri Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa Menteri-Menteri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden (pasal 17 ayat 2). (2) hak interpelasi (meminta keterangan) (3) hak bertanya (4) hak angket (hak untuk mengadakan suatu penyelidikan). mereka bukan pegawai tinggi biasa. Berhubung dengan itu harus diadakan jaminan dalam bentuk UUD tentang kedudukan para hakim. 4. para menteri bekerjasama satu sama lain secara erat di bawah pimpinan presiden. pasal 6 dan keputusan DPR No. sebagai syarat mencapai suatu keputusan yang seadil-adilnya. Meskipun kedudukan para menteri negara tengantung kepada Presiden. 6. Sebagai pemimpin departemen (pasal 17 ayat 3). Hubungan Antara Mahkamah Agung dengan Lembaga Negara Lainnya Dalam pasal 24 ayat 1 UUD 1945 disebutkan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain Badan Kehakiman menurut Undang-Undang. Hubungan Antara BPK dengan DPR Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bertugas memerikasa langsung tanggung jawab tentang keuangan negara dan hasil pemeriksaannya itu diberitahukan kepada DPR (pasal 23 ayat 5) untuk mengikuti dan menilai kebijaksanaan ekonomis financial pemerintah yang dijalankan oleh aparatur administrasi negara yang dipimpin oleh pemerintah. akan tetapi tergantung kepada Presiden. sedangkan dalma penjelasannya dikemukan bahwa menteri-menteri itu tidak bertanggungjawab kepada DPR. Untuk menetapkan politik pemerintah dan koordinasi dalam pemerintah negara. Penafsiran tentang kedudukan menteri-menteri itu tidak bisa dilepaskan dari penafsiran tentang kedudukan Presiden yang juga dalma penjelasan UUD 1945. Hubungan Antara Presiden dengan Menteri-Menteri Presiden mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri negara (pasal 17 ayat 2) dan menteri-menteri itu formal tidak bertanggung jawab kepada DPR. Menurut Undang-Undang No. Akan tetapi UUD 145 tidak menetapkan hubungan antara Mahkamah Agung dengan lembaga-lembaga lainnya. dalam pasal tentang kementerian negara (pasal 17) diterangkan bahwa Presiden yang bertanggung jawab kepada DPR (sistem Kabinet Presidensial). 5. 10 tahun 1966. artinya kedudukannya tidak tergantung kepada Dewan.b. . akan tetapi tergantung kepada Presiden. Susunan dan kekuasaan Badan-Badang Kehakiman tersebut diatur dengan Undang-Undang (pasal 24 ayat 2). Berhubungan dengna itu menteri mempunyai pengaruh besar terhadap Presiden dalam menuntun politik negara yang menyangkut departemennya. Dalam penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan pemerintah ataupunn kekuasaan serta kekuatan lainnya.

III/MPR/1978.Undang-Undang No. Lembaga Tertinggi Negara adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). yang dalam melakukan kewajibannya dibantu oleh Wakil Presiden. b. dapat dikenakan hukuman penjara selama-lamanua satu tahun enam bulan atau dengan hukuman dengan sebanyak-banyaknya Rp 1. 5 tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan menegaskan. MPR dapat memberhentikan Presiden sebelum masa jabatannya karena : (1) Atas permintaan sendiri (2) Berhalangan tetap (mangkat. MPR sebagai lembaga penjelmaan seluruh Rakyat Indonesia adalah pemegang kekuasaan Negara Tertinggi dan pelaksana dari Kedaulatan Rakyat. Mahkamah Agung . III/MPR/1978 Hubungan tata kerja Lembaga Tertinggi Negara dengan lembaga-lembaga Tinggi Negara. MPR memilih dan mengangkat Presiden/Mandataris dan Wakil Presiden untuk membantu Presiden. menurut Ketetapan MPR No.008. d. Dewan Pertimbangan Agung (DPA) DPA adalah Badan Penasehat pemerintahyang berkewajiban memberikan jawaban atas pertanyaan Presiden. karena badan ini tidak lepas dari pertanggung jawabannya kepada masyarakat dan Negara. bahwa BPK adalah lembaga tinggi negara yang dalam pelaksanaan terlepas dari pengaruh dan kekuasaan pemerintah. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) BPK adalah Badan yang memeriksa tentang tanggungjawab keuangan negara. Hubungan Antara DPA dengan Presiden Menurut pasal 16 ayat (2) UUD 1945 dinyatakan bahwa DPA berkewajiban member jawaban atas pertanyaan Presiden dan berhak mengajukan usul kepada Pemerintah dalam bidang politik dan kebijaksanaan Pemerintah. a. (3) Sungguh-sungguh melanggar Haluan Negara. akan tetapi tidak berdiri di atas pemerintah. Kedudukan dan Hubungan Tata Negara Lembaga Tertinggi Negara dengan/atau Lembaga-lembaga tinggi Negara Menurut Ketetapan MPR No. Presiden Presiden adalah penyelenggara Kekuasaan Pemerintahan Negara Tertinggi di bawah MPR. c. akan tetapi tidak berdiri di atas pemerintah.000. 9. Barang siapa yang sengaja tidak memenuhi kewajiban untuk memberikan keterangan yang diminta BPK dengan jalan menolak atau menghindarkan diri untuk memberikan keterangan. b. DPA adalah sebuah Badan Penasehat yang berkedudukannya tidak berada di bawah kekuasaan Presiden. Lembaga-lembaga Tinggi Negara yang sesuai dengan urut-urutan yang terdapat dalam UUD 1945 adalah sebagai berikut. yang dalam pelaksanaan tugasnya terlaps dari pengaruh kekuasaan Pemerintah. e. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) DPR yang seluruh anggotanya adalah juga anggota MPR berkewajiban senantiasa mengawasi tindakan-tindakan Presiden dalam rangka melaksanakan haluan negara. MPR memberikan mandat kepada Presiden untuk melaksanakan Garis-garis besar Haluan Negara dan putusan-putusan MPR lainnya. adalah sebagai berikut : a.000. berhenti atau tidak dapat melaksanakan kewajiban dalam masa jabatan).

Semua lembaga-lembaga negara termasuk MPR. setelah MPR menetapkan UUD terikat dan mematuhi UUD 2. 6. 3. terlepas dari pengaruh kekuasaan Pemerintah dan pengaruhpengaruh lainnya. UUD 1945 kini menjadi sumber kekuasaan serta pedoman bagi segala penyelenggaraan Pemerintahan Negara. Presiden bersama DPR membuat Undang-Undang 7. 10. 4. Mahkamah Agung dan Badan Pemeriksa Keuangan adalah lembaga-lembaga yang ditetapkan UUD. DPA sebagai Lembaga Negara yang ditetapkan oleh UUD terikat dan bertanggung jawan kepada nasihat dan usulnya yang diterima Presiden. justru menjamin agar lembaga-lembaga tersebut tidak dipengaruhi oleh kekuasaan/kekuatan apapun dalam melaksanakan tugasnya. 5. .Mahkamah Agung adalah suatu Badan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman yang dalam pelaksanaan tugasnya. Susunan Kekuasaan dan Hubungan Lembaga-Lembaga Negara Menurut Sistem UUD 1945 Keterangan 1. DPR sebagai bagian dari MPR menjalankan tugas penilaian dan pengawasan terhadap segala pelaksanaan jalannya Pemerintahan Negara. Presiden sebagai penyelenggara pemerintahan yang tertinggi di bawah MPR harus mempertanggungjawabkan segala pelaksanaan jalannya pemerintahan negara kepada MPR.

DPR mendapat bahan-bahan tentang penggunaan uang negara dari laporan BPK. 3. 4. Dalam bidang pengawasan DPR sebagai bagian utama dari MPR mempunyai peranan penting terhadap badang eksekutif. c) angket.11. Presiden sebagai pemimpin Penyelenggaraan Pemerintahan bertanggung jawab kepada MPR 1. 3. Bagan Pengawasan 1. 2. Bagan Eksekutif 12. Presiden dapat minta nasihat dari DPA dan DPA dapat mengajukan usulnya tanpa diminta. DPR menggunakan hak inisiatifnya dalam menyusun rancangan Undang-Undang. Dalam bidang legislatif DPR dan Presiden bekerjasama dalam ikatan partnership. Dalam bidang eksekutif Presiden merupakan “Central Figure” sebagai penyelenggara pemerintahan tertinggi di bawah MPR. d) amandemen. DPR menggunakan hak budgetnya dalam menyetujui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Rancangan Anggaran Belanja Negara. 2. Pelaksanaannya dibantu/didampingi DPA dan kerjasama dengan DPR. Untuk tugas pengawasan ini DPR mempunyai hak-hak sebagai berikut : a) bertanya. 2. 3. Dalam melaksanakan tugas. 13. b) interpelasi. Bagan Legislatif 1. .

Hak Asasi Manusia Menurut UUD 1945 1. Bagan Penilaian 1. Penjabatan Hak-hak Asasi Manusia dalam UUD 1945 Dalam rentangan sejarah berdirinya bangsa dan negara Indonesia dalam kenyataannya secara resmi deklarasi Bangsa Indonesia telah lebih dulu dirumuskan dari pada Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia PBB. MA merupakan peradilan kasasi dan mengawasi kegiatan-kegiatan pengadilan-pengadilan lainnya. Upaya konseptualisasi hak-hak asasi manusia baik di Barat maupun di Timur kendatipun upaya tersebut masih bersifat lokal. BPK menilai dan meneliti kemanfaatan/penggunaan serta sahnya penggunaan uang negara. paradigma serta kerangka konseptual tidak lahir secara mendadak sebagaimana kita lihat dalam “Universal Declaration of Human Right” 10 Desember 1948. partial. 3. H. adapun Deklarasi PBB pada tahun 1948. namun melalui suatu proses yang cukup panjang dalam sejarah peradaban manusia. MA berhak menguji keserasian peraturan-peraturan yang lebih rendah dari Undang-Undang terhadap peraturan-peraturan serta kaidah-kaidah lainnya. Dari perspektif sejarah deklarasi yang ditandatangani oleh Majelis Umum PBB tersebut dihayati sebagai suatu pengakuan yuridis formal dan merupakan titik kulminasiperjuangan sebagian besar umat manusia di belahan dunia khususnya yang tergabung dalam PBB. Hal ini merupakan fakta pada dunia bahwa bangsa Indonesia sebelum tercapainya pernyataan hak-hak asasi sedunia PBB telah . Hak-hak asasi Manusia dan Permasalahannya Hak-hak asasi manusia sebagai gagasan. karena Pembukaan UUD 1945 dan pasal-pasalnya diundangkan tanggal 18 Agustus 1945. 2.14. 2. dan sporadikal.

Hak atas Kebebasan untuk Mengeluarkan Pendapat Undang-Undang Dasar 1945. Declaration of Human Right. Hal ini juga telah ditekankan oleh para pendiri negara. Rincian hak-hak asasi manusia dalam pasal-pasal UUD 1945 adalah sebagai berikut : a. mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagaimana ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 18 : . bahwa kebebasan manusia itu bukanlah kebebasan individualis. Declaration of Human Right. melainkan. Pasal 26. Hak atas Kedudukan yang Sama di Dalam Hukum Undang-Undang Dasar 1945. Dalam Pembukaan UUD 1945 Alinea I dinyatakan bahwa “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa”. menerimadan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat-pendapat dengan cara apapun juga dan tidak memandang batas-batas. d. Pasal 19 : Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat. (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Declaration of Human Right. Declaration of Human Right. dalam hak ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat-pendapat dengan tidak mendapat gangguan.mengangkat hak-hak asasi manusia dan melindungi dalam kehidupan negara yang tertuang dalam UUD 1945. Pasal 20 : (1) Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berkumpul dan berapat. Pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul. Pasal 21. Pasal 29 : (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam pernyataan terkandung pengakuan secara yuridis hak asasi manusia tentang kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia PBB pasal 1. menempatkan manusia dalam hubungannya dengan bangsa (makhluk sosial). Convenant on Civil and Political Right. dan untuk mencari. Sehingga hak asasi manusi tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban asasi manusia. Sekalian orang berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap perbedaan yang memperkosa pernyataan ini dan terhadap segala hasutan yang ditujukan kepada perbedaan semacam ini. Hak atas Kebebasan Beragama Undang-Undang Dasar 1945. Convenant on Civil and Political Right. pasal 19: b. Pasal 7 : Sekalian orang adalah sama terhadap Undang-Undang dan berhak atas perlindungan hukum yang sama dengan tak ada perbedaan. Hak atas Kebebasan Berkumpul Kemerdekaan berserikat dan berkumpul. mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.Dasar filosofis hak asasi manusia sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. c. (2) Tiada seorang juapun dapat dipaksakan memasuki salah satu perkumpulan. Convenant of Civil and Political Right. Pasal 27 ayat (1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengna tidak ada lagi kecualinya.

Declaration of Human Rights. perumahan dan perawatan kesehatannya. Declaration of Human Rights. Social and Cultural Right. Pasal 26 : (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli. pakaian. h. harus mendapatkan perlindungan sosial yang sama. serta usaha-usaha sosial yang diperlukan. Pasal 22. (2) Ibu dan anak-anak berhak mendapat perawatan dan bantuan istimewa. baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan. Pasal 8. Social. Convenant on Civil and Political Right. . Hak atas Kebebasan Berserikat Undang-Undang Dasar 1945. Hak atas Penghidupan yang Layak Undang-Undang Dasar 1945. termasuk soal makanan. g. Pasal 13. Pasal 27. Pasal 34 : Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 27 ayat 2). dan baik di tempat umum maupun yan tersendiri. Pasal 31 : (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional. Pasal 25 : (1) setiap orang berhak atas tingkat hidup yang menjamin kesehatan dan keadaan baik untuk dirinya sendiri dan keluarganya. dan berhak atas jaminan di waktu mengalami pengangguran. Social and Cultural Right. melakukannya beribadat dan menepatinya. (2). lanjut usia atau mengalami kekuarangan nafkah lain-lain karena keadaan diluar kekuasaannya. Convenant of Economic. yan diatur dalam undang-undang. f.Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran keinsyafan batin dan agamanya. Declaration of Human Right. janda. Hak atas Kewarga Negaraan Undang-Undang Dasar 1945. mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagaimana ditetapkan dengan undang-undang. e. Pasal 15 : (1) Setiap orang berhak atas sesuatu kewarganegaraan. Pasal 11. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dikuasai oleh negara (Pasal 34). Hak atas Pengajaran Undang-Undang Dasar 1945. Declaration of Human Right. dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang. dan Cultural Right. Convenant on Economic. Convenant on Economic. (2) Syarat-syarat yang mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-undang. baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. (4) : Setiap orang berhak mendirikan dan memasuku serikat-serikat sekerja untuk melindungi kepentingannya. Pasal 26. Semua anak-anak. Pasal 23. dalam hal ini termasuk kebebasan untuk menyatakan agama atau kepercayaannya dengan cara mengajarkannya. pasal 28 : Kemerdekaan berserikat dan berkumpul.

Pasal 24 .Declaration of Human Rights. Convenant on Civil and Political Right. Pasal 29 : (2) Setiap orang mempunyai kewajiban terhadap suatu masyarakat di mana ia mendapat kemungkinan untuk mengembangkan pribadinya dengan penuh dan bebas.