P. 1
Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

Makalah Filsafat Pendidikan Kel. 1

|Views: 30|Likes:
Published by Budhii Yanto

More info:

Published by: Budhii Yanto on May 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/10/2014

pdf

text

original

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada
baik bersifat abstrak ataupun riil meliputi Tuhan,manusia dan alam semesta.Sehingga
untuk faham betul semua masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-
pemetaan dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang
lingkup filsafat.
Sistematika filsafat secara garis besar ada tiga pembahasan pokok atau
bagian yaitu;epistemologi atau teori pengetahuan yang membahas bagaimana kita
memperoleh pengetahuan,ontologi atau teori hakikat yang membahas tentang hakikat
segala sesuatu yang melahirkan pengetahuan dan aksiologi atau teori nilai yang
membahas tentang guna pengetahuan.Mempelajari ketiga cabang tersebut sangatlah
penting dalam memahami filsafat yang begitu luas ruang lingkup dan
pembahansannya.
Ketiga teori di atas sebenarnya sama-sama membahas tentang
hakikat,hanya saja berangkat dari hal yang berbeda dan tujuan yang beda
pula.Epistemologi sebagai teori pengetahuan membahas tentang bagaimana mendapat
pengetahuan,bagaimana kita bisa tahu dan dapat membedakan dengan yang
lain.Ontologi membahas tentang apa objek yang kita kaji,bagaimana wujudnya yang
hakiki dan hubungannya dengan daya pikir.Sedangkan aksiologi sebagai teori nilai
membahas tentang pengetahuan kita akan pengetahuan di atas,klasifikasi,tujuan dan
perkembangannya.





2

B. Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah yang muncul dalam makalah ini, yaitu:
1. Apa yang dimaksud Ontologi dan Bagaimana Persfektifnya dalam Pendidikan
Islam?
2. Apa yang dimaksud dengan Epistemologi dan Bagaimana Persfektifnya dalam
Pendidikan Islam?
3. Apa yang dimaksud Aksiologi dan Bagaimana Persfektifnya dalam
Pendidikan Islam?

C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian ontologi dan Perspektifnya dalam pendidikan
Islam.
2. Untuk mengetahui pengertian Epistomologi dan Perspektifnya dalam
pendidikan Islam.
3. Untuk mengetahui pengertian Aksiologi dan Perspektifnya dalam pendidikan
Islam.













3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ontologi dan Perspektifnya dalam Pendidikan I slam
1. Pengertian Ontologi
Dari sudut etimologi, Ontology berasal dari bahasa Yunani, yaitu ontos yang
beararti ada, dan logos yang berarti pengetahuan, teori atau alasan. Dalam bahasa
Inggris, istilah tersebut diserap menjadi ontology dengan pengertian studi atau ilmu
mengenai yang ada atau berada. Dalam relevansinya dengan filsafat pendidikan
Islam, ontology dipahami sebagai kajian filosofis mengenai hakikat dan esensi
pendidikan Islam, yang dengan itu eksistensi pendidikan Islam dapat dipahami
dengan baik dan diposisikan secara proporsional.
1

Ontologi meliputi apa hakikat ilmu itu,apa hakikat kebenaran,dan kenyataan
yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafati
tentang apa dan bagaimana yang ada itu. Paham monisme yang terpecah menjadi
idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, dan pluralisme dengan berbagai
nuansanya merupakan paham ontologik yang pada akhirnya akan menentukan
pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana yang
ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
2

Ontologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah ada, dan
meliputi persoalan seperti apakah artinya ada, apakah golongan-golongan dari yang
ada?, apakah sifat dasar kenyataan, dan hal ada yang terakhir?, apakah cara-cara yang
berbeda dalam mana entitas dari kategori logis dapat dikatakan ada?. Secara
ontologis, ilmu membahas lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-

1
Marjuni, Filsafat Pendidikan Islam ( Makassar: Alauddin University, 2013) h. 49
2
Purwadi dan Djoko Dwiyanto, Filsafat Jawa “ Ajaran Hidup yang berdasarkan Nilai
Kebijakan Tradisional” (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2006), h. 5


4

daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Obyek penelaahan yang
berada dalam batas prapengalaman dan pascapengalaman diserahkan ilmu kepada
pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak
pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas-batas ontologi tertentu.
Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuwan yang bersifat empiris ini adalah
konsisten dengan asas epistemologi keilmuwan yang mensyaratkan adanya verifikasi
secara empiris dalam proses penemuan/penyusunan pernyataan yang bersifat benar
secara ilmiah. Penafsiran metafisik keilmuwan harus didasarkan kepada karakteristik
obyek ontologis sebagaimana adanya dengan deduksi-deduksi yang dapat
diverifikasikan secara fisik.
3

2. Persfektif Ontologi dalam Pendidikan Islam
Ontologi pendidikan Islam membahas hakikat substansi dan pola organisasi
pendidikan Islam. Secara ontologis, Pendidikan Islam adalah hakikat dari kehidupan
manusia sebagai makhluk berakal dan berfikir. Jika manusia bukan makluk berfikir,
tidak ada pendidikan. Selanjutnya pendidikan sebagai usaha pengembangan diri
manusia, dijadikan alat untuk mendidik.
4

Kajian ontologi ini tidak dapat dipisahkan dengan Sang Pencipta. Allah telah
membekalkan beberapa potensi kepada kita untuk berfikir. Pertanyaan selanjutnya
apakah sebenarnya hakekat pendidikan Islam itu?
3 Kata kunci tentang pendidikan Islam yaitu :
1. Ta’lim, kata ini telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan
Islam. Mengacu pada pengetahuan, berupa pengenalan dan pemahaman
terhadap segenap nama-nama atau benda ciptaan Allah. Rasyid Ridha,

3
Ibid
4
Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), H. 18.


5

mengartikan ta’lim sebagai proses transmisi berbagai Ilmu pengetahuan pada
jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.
5

2. Tarbiyah, kata ini berasal dari kata Rabb, mengandung arti memelihara,
membesarkan dan mendidik yang kedalamannya sudah termasuk makna
mengajar.
6

3. Ta’dib, Syed Muhammad Naquib al-Attas mengungkapkan istilah yang
paling tepat untuk menunjukan pendidikan Islam adalah al-Ta’dib, kata ini
berarti pengenalalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan
ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari
segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan.
7

Dari ketiga kata kunci di atas, berbagai pakar telah merumuskan tentang
pendidikan Islam, sebagai berikut:
1. Ahmad. D. Marimba mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan
jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-
ukuran Islam.
8

2. Saefuddin Anshari mengatakan pendidikan Islam adalah proses bimbingan
(pimpinan, tuntutan, susulan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa
(pikiran, perasaan dan kemauan, intuisi, dsb).
9

3. M. Yusuf al Qardawi mengatakan bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan
manusia seutuhnya akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan
keterampilannya.
10


5
H. Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), h. 124
6
ibid
7
Ibid. h. 126
8
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, (Jakata:Kencana, 2008) , h. 43.
9
ibid
10
ibid


6

4. Ahmad Tafsir mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang
diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan
ajaran Islam.
11

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah
suatu sistem yang dapat mengarahkan kehidupan peserta didik sesuai dengan ideologi
Islam.
Dengan demikian secara ontologis pemahaman terhadap pendidikan Islam
tidak dapat dipisahkan dengan Allah selaku Pencipta manusia. Karena pendidikan
Islam ditujukan pada terbentuknya kepribadian Muslim yang dapat memenuhi
hakikat penciptaannya, yakni menjadi Pengabdi Allah.
B. Pengertian Epistemologi dan Persfektifnya dalam Pendidikan I slam
1. Pengertian Epistomologi
Epistemologi juga disebut teori pengetahuan. Secara etimologi, istilah
epistemologi berasal dari kata Yunani episteme yang artinya pengetahuan dan logos
yang artinya teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang
mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.
12

Pembicaraan tentang epistomologi pada pokoknya berhubungan dengan upaya untuk
menjawab bagaimana karakteristik pengetahuan ilmiah, bagaimana metodologi
memperolehnya dan apa kriteria keabsahan dan kebenarannya, serta bagaimana
menguji setiap kebenaran yang diketahui manusia. Secara sederhana, epistomologi
dapat dipahami sebagai ilmutentang metode dalam menemukan dan mentransfer
pengetahuan yang merupakan salah satu bagian utama pendidikan.
13

Epistemologi adalah studi tentang pengetahuan, bagaimana kita mengetahui
benda-benda. Untuk lebih jelasnya, ada beberapa contoh pertanyaan yang

11
ibid
12
Purwadi dan Djoko Dwiyanto, opcit. H. 7
13
Marjuni, opcit H. 54


7

menggunakan kata “tahu” dan mengandung pengertian yang berbeda-beda, baik
sumbernya maupun validitasnya.
14

a. Tentu saja saya tahu ia sakit, karena saya melihatnya.
b. Percayalah, saya tahu apa yang saya bicarakan.
c. Kami tahu mobilnya baru, karena baru kemarin kami menaikinya.

2. Persfektif Epistomologi dalam Pendidikan Islam
Epistemologi pendidikan Islam membahas seluk beluk dan sumber-sumber
pendidikan Islam. Pendidikan Islam bersumber dari Allah SWT, Yang Maha
Mengetahui Sesuatu. Hukum-hukum yang diciptakan Allahpun dapat dipahami
dengan berbagai metode dan pendekatan. Pendidikan Islam merujuk pada nilai-nilai
Al-Qur’an yang universal dan abadi. Serta didukung oleh hadist Nabi Muhammad
SAW.
15

Ketiga kata kunci tentang Pendidikan Islam di atas disebutkan dalam Al-
Qur’an dan hadist berikut ini. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
benda-benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Malaikat, lalu
berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku jika kamu memang orang-orang yang benar”
(Al-Baqarah ayat: 31) . “Wahai Tuhanku kasihilah mereka berdua, sebagaimana
mereka berdua telah mendidik aku di masa kecil.”(Al-Isra’ ayat 24). Hadist Nabi
Muhammad SAW “Aku dididik oleh Tuhanku (addabani Rabbi), maka dia
memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan (fa ahsana ta’dibi).
16

Selanjutnya objek material Filsafat Pendidikan Islam yaitu segala hal yang
berkaitan dengan usaha manusia untuk menciptakan kondisi yang memberi peluang
berkembangnya kecerdasan dan kepribadian melalui pendidikan. Objek formal:

14
Anonim. Ontologi, Epistomologi, dan Aksiologi Pendidikan. http://anakpesisirlaut
.blogspot.com/2012/11/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi.html.

15
Mey Khumaera. Filsafat Pendidikan Islam dari Segi Ontologis, Epitomologis, dan Aksiologi,
http://meykhumaera.blogspot.com/2012/03/filsafat-pendidikan-islam-dari-segi.html
16
ibid


8

Usaha yang rasional, mendasar, general, dan sistematis dalam mengembangkan
kecerdasan dan kepribadian melalui pendidikan.
17

Untuk lebih jelasnya, objek materi ilmu pendidikan Islam yaitu anak didik.
Sedangkan objek formalnya ialah perbuatan mendidik yang membawa anak, ke arah
tujuan pendidikan Islam. Sehingga secara epistemologi, Kurikulum pendidikan Islam
harus merujuk pada Al-Qur’an dan hadist. Antara lain sebagai berikut:
18

 Larangan mempersekutukan Allah
 Berbuat baik kepada orang tua
 Memelihara, mendidik, dan membimbing anak sebagai tanggung jawab
terhadap amanat Allah.
 Menjauhi perbuatan keji dalam bentuk sikap lahir dan batin
 Menjaui permusuhan dan tindakan tercela
 Menyantuni anak yatim
 Tidak melakukan perbuatan diluar kemampuan
 Berlaku jujur dan adil
 Menepati janji dan menunaikan perintah Allah.
 Berpegang teguh kepada ketentuan hukum Allah, dsb.
Sumber-sumber yang menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk yang
dapat menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya ada pada
surat Al-Alaq, 96: ayat 1-5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
19

Manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan mengatur waktu (QS.
Al-Ashr, 103 :1-3, “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan

17
ibid
18
ibid
19
ibid


9

nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran.”
20

Manusia mendapatkan bagian dari apa yang telah dikerjakannya, (QS an-
Najm, 53-39). “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang
telah diusahakannya”
21

Manusia sebagai makhluk yang memiliki keterikatan dengan moral atau
sopan santun (QS. Al Ankabut 29:8). “Dan Kami wajibkan manusia (berbuat)
kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu,
maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu
Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
22

Dari sebagian ayat di atas, jelaslah bahwa sumber-sumber pendidikan Islam
berasal dari Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup
manusia.
Gaya bahasa Alquran dan ungkapan yang terdapat dalam ayat-ayat Alquran
mengindikasikan bahwa Alquran mengandung nilai-nilai metodologis kependidikan
dengan corak dan ragam yang berbeda sesuai waktu dan tempat. Keragaman metode
pendidikan Alquran yang dimaksudkan untuk memberikan solusi alternative terbaik
bila ditemukan kendala dalam pendidikan Islam khususnya aspek
metodologis.
23
Menurut M. Arifin, tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan
berproses secara efisien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar, menuju tujuan
pendidikan.
24

Menurut al-Nahwali, dalam Alquran dan sunnah Nabi SW. dapat ditemukan
berbagai metode pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan

20
ibid
21
ibid
22
ibid
23
Marjuni, Op. Cit. H. 56

24
M. Arifin. Ilmu Pendidikan Islam suatu tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan Pendekatan
Indispliner (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), H. 197


10

membangkitkan semangat. Metode tersebut mampu menggugat puluhan ribu kaum
mukminin. Dan untuk membuka hati umat manusia agar dapat menerima petunjuk
ilahi, di samping mengokohkan kedudukan mereka di muka bumi dalam masa
panjang. Suatu kedudukan yang tidak pernah dirasakan oleh umat-umat lain di muka
bumi.
25


C. Pengertian Aksiologi dan Persfektifnya dalam Pendidikan I slam
1. Pengertian Aksiologi
Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai ditinjau
dari sudut pandang kefilsafatan. Dewasa ini terdapat banyak cabang pengetahuan
yang bersangkut dengan masalah-masalah nilai, seperti ekonomi, estetika, etika,
filsafat agama, dan epistomologi. Epistomologi berkaitan dengan masalah kebenaran.
Etika bersangkutan dengan masalah kebaikan (dalam arti kesusilaan), dan estetika
bersngkutan dengan masalah keindahan.
26

Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang
pada umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Aksiologi meliputi nilai-
nilai, parameter bagi apa yang disebut sebagai kebenaran atau kenyataan itu,
sebagaimana kehidupan kita yang menjelajahinberbagai kawasan, seperti kawasan
sosial, kawasan fisik materiil dan kawasan simbolok yang masing-masing
menunjukkan aspeknya sendiri-sendiri. Lebih dari itu, aksiologi juga menunjukkan
kaidah-kaidahapa yang harus kita perhatikan di dalam menerapkan ilmu.
Aksiologi meliputi nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian
makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan
kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik,
ataupun fisik material. Lebih dari itu nilai-nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini

25
Marjuni., Op. Cit., h. 57
26
Sabri, Muh. Saleh, dan Wahyuddin. Filsafat Ilmu. ( Makassar, Alauddin Press, 2009) H. 103


11

sebagai suatu yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan
penelitian maupun didalam menerapkan ilmu (Koento Wibisono, 1997). Pada
dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan dan
kemaslahatan manusia.
27

2. Persfektif Aksiologi dalam Pendidikan Islam
Aksiologi sebagai cabang filsafat yang mmbahas nilai baik dan nilai buruk,
indah dan tidak indah (jelek), erat berkaitan dengan pendidikan, karena dunia nilai
akan selalu dipertimbangkan, atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam
menentukan tujuan pendidikan.
28

Pendidikan secara langsung berkaitan dengan nilai, berdasarkan nilai
tersebut, pendidikan dapat menentukan tujuan, motivasi, kurikulum, metode belajar
dan sebagainya. Pendidikan harus terlebih dahulu menentukan nilai mana yang akan
dianut sebelum menentukan kegiatannya. Hal ini berarti nilai terletak dalam tujuan.
Pembahasan nilai-nilai pendidikan terletak di dalam rumusan dan uraian tentang
tujuan pendidikan. Di dalam tujuan pendidikan itukah tersimpul semua nilai
pendidikan yang hendak diwujudkan dalam pribadi peserta didik.
Proses pendidkan tidak mungkin berlangsung tanpa arah tujuan yang hendak
dicapai sebagai garis kebijakannya, sebagai program, dan sebagai tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan dalam isinya maupun rumusannya tidak mungkin ditetapkan tanpa
dimengertidan mengetahui yang tepat tentang nilai-nilai.Kajian tujuan pendidikan
Islam terdiri atas empat macam yaitu:
1. Tujuan Tertinggi/Terakhir: Tujuan akhir ialah tujuan yang hendak dicapai
oleh pendidik terhadap peserta didik melalui suatu proses pendidikan. Jalal
menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi, menurut

27
Purwadi, dan Djoko Dwiyanto, opcit. H. 9
28
Ibid, h.87.


12

Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia (sekali lagi: seluruh
manusia) menjadi manusia yang menghambakan diri kepada Allah. Yang
dimaksud dengan menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah. Islam
menghendaki agar manusia dididik suapaya ia mampu merealisasikan tujuan
hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup
manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Ini diketahui dari
ayat 56 Surat a;-Dzariyat:
29

4`4Ò ¬e^³ÞUE= O}´_^¯-
"·^e"-4Ò ·º)³ ÷pÒ÷³+lu¬4Og¯
^)g÷
Terjemahannya:
dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
30

2. Tujuan umum: Tujuan umum berfungsi sebagai arah tercapainya dapat diukur
karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik
31
.
Menurut Ahmad Tafsir, muslim yang sempurna ialah muslim yang
jasmaninya sehat dan kuat, akalnya cerdas dan pandai, serta hatinya bertaqwa
kepada Allah swt.
32
Dengan dasar itu, ia merumuskan tujuan umum
pendidikan Islam, yaitu menciptakan muslim yang sempurna, atau manusia
yang takwa, atau manusia yang beriman, atau manusia yang beribadah kepada
Allah SWT.
33

3. Tujuan Sementara: Tujuan sementara merupakan penjabaran dari tujuan akhir
serta berfungsi membantu memelihara arah seluruh usaha dan menjadi batu
loncatan untuk mencapai tujuan akhir.
34
Atau dengan kata lain, tujuan yang
akan dicapai setelah peserta didik diberi sejumlah pengetahuan tertentu yang

29
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam ( cet. VIII: Bandung: Rosda, 2008 )
30
Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam ( cet. II: Jakarta: Logos, 1999 ) H. 78
31
Abu Achmad, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan (Yogyakarta, Aditya Media, 1992. H 66
32
Ahmad Tafsir, Op. Cit. H. 50
33
Ibid. H. 51
34
Hery Noer Aly. Op. cit., h. 80


13

direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Misalnya peserta
didik dilatih untuk bicara sampai mereka dapat bicara. Jika sudah demikian
halnya, maka tujuan sementara telah diacapai. Akan tetapi, tidak hanya
sampai disitu, peserta didik tersebut harus diajar berbicara dengan baik dan
sopan.
35

4. Tujuan Operasional: Tujuan operasional adalah suatu tujuan yang dicapai
menurut program yang telah ditentukan atau ditetapkan dalam kurikulum.
Atau tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan
tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah
disiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu, disebut dengn
tujuan operasional. Dalam tujuan operasional ini, lebih banyak dituntut dari
peserta didik adalah suatu kemampuan, dan keterampilan tertentu. Sifat
operasionalnya lebih ditonjolkan daripada sifat penghayatan dan
kepribadian.
36


Berdasarkan apa yang telah diuraikan, dipahami pengetahuan
mengandung nilai, dan kebenaran nilai ilmu pengetahuan yang dikandung
bukan untuk kebesaran ilmu pengetahuan semata yang berdiri hanya mengejar
kebenaran obyektif yang bebas nilai melainkan selalu terikat dengan
kemungkinan terwujudnya kesehjahteraan dan kebahagiaan umat manusia.
37

Eksistensi ilmu pengetahuan bukan saja untuk mendesak pengetahuan,
melainkan kemanusiaanlah yang menggenggam ilmu pengetahuan untuk
kepentingan dirinya dalam rangka penghambaan diri kepada Tuhan Yang
Maha Pencipta. Ilmu pengetahuan harus terbuka pada konteknya, dan agama
yang menjadi konteksnya itu. Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada
tujuan hakikinya, yaitu memahami realitas alam dan memahami eksistensi

35
Marjuni, op. cit., h. 64
36
Ibid., h. 65
37
Anonim., Op. Cit.,


14

Allah, manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya, dan tidakn
mengarahkan ilmu pengetahuan hanya pada praksisnya atau kemudahan-
kemudahan pada material duniawi. Solusi yang diberikan Alquran terhadap
ilmu pengetahuan yang terikat dengan nilai adalah dengan cara
mengembalikan ilmu pengetahuan pada jalur semestinya, sehingga ia menjadi
berkah dan rahmat bagi manusia dan alam, bukan sebaliknya membawa
mudharat atau penderitaan.
38

Nilai dan implikasi aksiologi di dalam pendidikan ialah pendidikan
menguji dan mengintegrasikan semua niloai tersebut di dalam kehidupan
manusia dan membinanya di dalam kepribadian anak. Karena untuk
mengatakan sesuatu bernilai baik itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi
menilai secara mendalam dalam arti untuk membina kepribadian ideal.
Berikut ini beberapa contoh yang dapat kita pergunakan untuk menilai
seseorang itu baik, yaitu:
39

a. Baik, Bu. Saya akan selalu baik dan taat kepada Ibu!
b. Nak, bukanlah ini bacaan yang baik untuk mu?
c. Baiklah, Pak. Aku akan mengamalkan ilmuku.







38
Ibid
39
Ibid


15


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dalam makalah ini adalah:
1. Ontologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah ada, dan
meliputi persoalan seperti apakah artinya ada, apakah golongan-golongan
dari yang ada. Secara ontologis, Pendidikan Islam adalah hakikat dari
kehidupan manusia sebagai makhluk berakal dan berfikir. Jika manusia
bukan makluk berfikir, tidak ada pendidikan.
2. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari
asal mula atau sumber, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.
Epistemologi pendidikan Islam membahas seluk beluk dan sumber-sumber
pendidikan Islam. Pendidikan Islam bersumber dari Allah SWT, Yang Maha
Mengetahui Sesuatu.
3. Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang pada
umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Dalam Perspektifnya,
Pendidikan secara langsung berkaitan dengan nilai, berdasarkan nilai
tersebut, pendidikan dapat menentukan tujuan, motivasi, kurikulum, metode
belajar dan sebagainya. Pendidikan harus terlebih dahulu menentukan nilai
mana yang akan dianut sebelum menentukan kegiatannya. Hal ini berarti nilai
terletak dalam tujuan.




16


B. Saran
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan adalah:
1. Peserta didik sebaiknya dalam menempuh pendidikan berusaha untuk
mengembangkan olah pikir dan daya nalar, sehingga dapat bertindak
sesuai dengan ilmu yang dimiliki.
2. Para pakar dan para pemegang kendali pendidikan Islam diharapkan selalu
untuk memperbaharui metode atau pendekatan dalam membangun
pendidikan Islam secara menyeluruh.




















17



DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abu. 1992. Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Aditya
Media
Anonim. Epistomologi, dan Aksiologi Pendidikan. http://anakpesisirlaut.blogspot.
com/2012/11/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi.html.
Arifin., 2004. Ilmu Pengetahuan Islam dan Praktis berdasarkan Pendekatan
Indisipliner. Jakarta: Bumi Aksara
Basri, Hasan. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia
Jalaluddin. 2012. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
Marjuni. 2013. Filsafat Pendidikan Islam. Makassar: Alauddin University
Mey Khumaera. Filsafat Pendidikan Islam dari Segi Ontologis, Epitomologis, dan
Aksiologi, http://meykhumaera.blogspot.com/2012/03/filsafat-pendidikan-
islam-dari-segi.html
Nata, Abuddin. 2008. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana
Noer Aly, Hery. 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Logos
Purwadi, & Dwiyanto, Djoko. 2006. Filsafat Jawa “ Ajaran hidup yang berdasarkan
Nilai Kebijakan Tradisional. Yogyakarta: Panji Pustaka
Sabri, Saleh, & Wahyuddin. 2009. Filsfat Ilmu. Makassar: Alauddin Press
Tafsir, Ahmad. 2008. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosada








18


13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->