Lembaga-Lembaga Negara Sebelum dan Sesudah Amandemen UUD 45

Rio Mamdoeh ASenin, 22 Oktober 2012Tugas Kuliah

http://rio-mamdoeh.blogspot.com/2012/10/lembaga-lembaga-negara-sebelum-dan_7301.html Lembaga-Lembaga Negara Sebelum dan Sesudah Amandemen UUD 45 Rio Mamdoeh A Senin, 22 Oktober 2012Tugas Kuliah Undang- Undang Dasar 1945 adalah konstitusi negara Republik Indonesia yang merupakan aturan tertinggi di negara indonesia yang didalamnya mencakup tentang hukum tata negara indonesia yang menjelaskan sistem penyelenggaraan dan pembagian kekuasaan negara yang dianut negara indonesia. UUD “ 45 sebagai konstitusi negara bukanlah sesuatu yang sakral dan tidak bisa dirubah. Dalam artian UUD atau konstitusi tetap harus mengikuti perkembangan zaman, yang bisa mengadopsi semua tuntutan perubahan yang ada. Kesalahan terbesar pada saat pemerintahan orde baru, ketika menempatkan UUD 1945 pada posisi yang sempurna dan sakral yang sudah tidak membutuhkan perubahan lagi, bahkan celakanya bagi golongan yang yang ingin melakukan perubahan akan harus siap berhadapan dan tersingkir dari parlemen. namun pasca tumbangnya pemerintahan orde baru oleh gerakan pro-demokrasi yang dipelopori oleh mahasiswa, pemuda, dan masyarakat umum menutut untuk dilakukan perubahan ditubuh UUD 1945. Gerakan itu menamakan dirinya sebagai gerakan reformasi, gerakan untuk perubahan yang sudah tidak tahan

lagi menyaksikan pelanggaran konstitusi yang dilakukan oleh pemeritahan orde baru. Walhasil dari seluruh bagian-bagian UUD 1945 yang berhasil ditafsirkan oleh orde baru demi menyelamatkan dan mengamankan kepentingan pribadi dan kelompoknya serta merugikan rakyat berhasil diamandemen, sehingga dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia mengalami perubahan yang cukup derastis terhadap lembaga-lembaga negara. A. 1. Lembaga-Lembaga Negara sebelum amandemen: MPR:

MPR merupakan lembaga tertinggi negara yang diberi kekuasaan tak terbatas (super power) karena “kekuasaan ada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR” dan MPR adalah “penjelmaan dari seluruh rakyat Indonesia” yang berwenang menetapkan UUD, GBHN, mengangkat presiden dan wakil presiden[1]. Dengan kata lain MPR merupakan penjelmaan pendapat dari seluruh warga Indonesia. Susunan keanggotaannya terdiri dari anggota DPR dan utusan daerah serta utusan golongan yang diangkat termasuk didalamnya TNI/Polri. Wewenang MPR antara lain : 1. Membuat putusan-putusan yang tidak dapat dibatalkan oleh lembaga negara yang lain,

termasuk penetapan Garis-Garis Besar Haluan Negara yang pelaksanaannya ditugaskan kepada Presiden/Mandataris. 2. 3. 4. Memberikan penjelasan yang bersifat penafsiran terhadap putusan-putusan Majelis. Menyelesaikan pemilihan dan selanjutnya mengangkat Presiden Wakil Presiden. Meminta pertanggungjawaban dari Presiden/ Mandataris mengenai pelaksanaan Garis-

Garis Besar Haluan Negara dan menilai pertanggungjawaban tersebut. 5. Mencabut mandat dan memberhentikan Presiden dan memberhentikan Presiden dalam

masa jabatannya apabila Presiden/mandataris sungguh-sungguh melanggar Haluan Negara dan/atau Undang-Undang Dasar. 6. Mengubah Undang-Undang Dasar 1945.

Menetapkan Pimpinan Majelis yang dipilih dari dan oleh anggota. Anggota DPR berasal dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih berdasarkan hasil pemilu. Wewenang DPR antara lain : 1. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) DPR merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara. Sebelum adanya amandemen UUD 1945. Memberikan persetujuan atas Anggaran. Mengambil/memberi keputusan terhadap anggota yang melanggar sumpah/janji anggota. 2. Presiden mempunyai kedudukan sebagai kepala pemerintahan dan sekaligus sebagai kepala negara. presiden mempunyai kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. 3. 3. Meskipun demikian. presiden dan wakil presiden diangkat dan diberhentikan oleh MPR dan bertanggung jawab kepada MPR. DPR berkedudukan di tingkat pusat.7. Memberikan persetujuan atas RUU yang diusulkan presiden. 9. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR. 4. Menetapkan Peraturan Tata Tertib Majelis. PRESIDEN Presiden adalah lembaga negara yang memegang kekuasaan eksekutif. 2. sedangkan yang berada di tingkat provinsi disebut DPRD provinsi dan yang berada di kabupaten/kota disebut DPRD kabupaten/kota. Meminta MPR untuk mengadakan sidang istimewa guna meminta pertanggungjawaban presiden. Oleh karena itu Presiden tidak dapat membubarkan DPR yang anggota-anggotanya dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum secara berkala lima tahun sekali. Maksudnya. Memberikan persetujuan atas PERPU. 8. .

Mahkamah Agung adalah pengadilan tertinggi di negara kita. Presiden menjalankan kekuasaan pemerintahan negara tertinggi Presiden selain memegang kekuasaan eksekutif (executive power).Wewenang Presiden antara lain : 1. 4. peradilan militer. 8. Menetapkan Peraturan Pemerintah Mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri pemilihan. 2. 4. Mengajukan tiga orang anggota hakim konstitusi. Mengangkat dan memberhentikan anggota BPK. Wewenang MA antara lain : 1. 6. Perlu diketahui bahwa peradilan di Indonesia dapat dibedakan peradilan umum. Berwenang mengadili pada tingkat kasasi. Mahkamah Agung (MA) Mahkamah Agung merupakan lembaga negara yang memegang kekuasaan kehakiman. Menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (dalam kegentingan yang memaksa) 7. 5. 3. 2. dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. Presiden memegang posisi sentral dan dominan sebagai mandataris MPR. peradilan agama. juga memegang kekuasaan legislative (legislative power) dan kekuasaan yudikatif (judicative power). Tidak ada aturan mengenai batasan periode seseorang dapat menjabat sebagai presiden serta mekanisme pemberhentian presiden dalam masa jabatannya. . menguji peraturan perundangundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. 3. Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Memberikan pertimbangan dalam hal presiden memberi grasi dan rehabilitasi. dan peradilan tata usaha negara (PTUN).

B. BPK dan DPA Disamping lembaga-lembaga tinggi Negara diatas terdapat lembaga tinggi Negara yang lain yang wewenangnya cukup minim. Yang mempunyai fungsi legeslasi. 3) Sembelum memangku jabatannya. MPR MPR adalah Lembaga tinggi negara sejajar kedudukannya dengan lembaga tinggi negara lainnya seperti Presiden. MK. pasca perubahan UUD 1945 Keberadaan MPR telah sangat jauh berbeda dibanding sebelumnya. DPD. yaitu BPK dan DPA. 2) Masa jabatan Anggota MPR adalah lima tahun dan berakhir bersamaan pada saat Anggota MPR yang baru Mengucapkan sumpah/janji. . Lembaga-lembaga Negara pasca Amandemen 1. tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang peraturannya ditetapkan dengan undang-undang. MA. termasuk memilih Presiden dan Wakil Presiden.5. Susunan dan keanggotaan MPR[2] 1) MPR terdiri atas Anggota DPR dan DPD yang dipilih melalui Pemilihan Umum setiap 5 tahun sekali. Adapun wewenang dari Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Kini MPR tidak lagi melaksanakan sepenuhnya kedaulatan rakyat dan tidak lagi berkedudukan sebagai Lembaga Tertinggi Negara dengan kekuasaan yang sangat besar. Anggota MPR mengucapkan sumpah /janji bersama- sama yang dipandu oleh ketua Mahkamah Agung dalam Sidang Paripurna MPR. BPK. DPR. yaitu berkewajiban memberi jawab atas pertanyaan Presiden dan berhak memajukan usul kepada pemerintah.

dalam Sidang Paripurna MPR 3) Memutuskan usul DPR berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi untuk memberhentikan Presiden dan / atau wakil presiden. Konsekuensinya karena pasangan Presiden dan Wapres dipilih oleh rakyat. Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih kembali dalam masa jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatannya. Presiden tidak lagi bertanggung jawab kepada MPR melainkan bertanggung jawab langsung kepada Rakyat Indonesia. Sidang dan Putusan[4] MPR bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di Ibukota Negara. sedangkan setelah adanya amandemen UUD 1945 sekarang menentukan bahwa mereka dipilih secara langsung oleh rakyat. mereka mempunyai legitimasi yang sangat kuat. Sidang MPR sah apabila: 1) Sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota MPR untuk memutus usul Dpr untuk memberhentikan presiden dan/atau wakil presiden. PRESIDEN Berbeda dengan sistem pemilihan Presiden dan Wapres sebelum adanya amandemen dipilih oleh MPR .Tugas dan wewenang[3] 1) 2) Mengubah dan menetapkan Undang –undang Dasar. Setelah amandemen UUD 1945 beberapa wewenang Presiden sudah banyak dikurangi. Pasangan calon Presiden dan Wapres diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol peserta pemilu. 2. antara lain sebagai berikut : . 2) 3) Sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR untuk mengubah dan menetapkan UUD Sekurang-kurangnya 50% ditambah satu dari jumlah anggota MPR untuk selain siding- sidang sebagai mana dimaksud diatas. Melantik Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan hasil pemilihan umum.

Dalam mengangkat duta. tetapi dipilih oleh DPR dengan memperhatikan DPD dan diresmikan oleh Presiden (Pasal 23F ayat (1) perubahan ketiga UUD 1945). Presiden Memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD Memegang kekuasaan yang tertinggi atas angkatan darat. tanpa melibatkan DPR secara nyata.Hakim agung tidak lagi diangkat oleh Presiden melainkan diajukan oleh komisi yudisial untuk diminta persetujuan DPR. angkatan laut dan angkatan melakukan pembahasan dan pemberian persetujuan atas RUU bersama DPR serta mengesahkan RUU menjadi UU. Demikian juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan tidak lagi diangkat oleh Presiden. Pengangkatan pejabat-pejabat tersebut mencerminkan suatu mekanisme ketatanegaraan yang mengarah kepada suatu keseimbangan dan demokratisasi. pengangkatan seorang jaksa agung masih menjadi kewenangan presiden. membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR · · · Membuat perjanjian internasional lainnya dengan persetujuan DPR Menyatakan keadaan bahaya. Presiden memperhatikan pertimbangan DPR . dan hak Presiden antara lain[5]: · · udara. Mengangkat duta dan konsul. · Menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (dalam kegentingan yang memaksa) · · · Menetapkan Peraturan Pemerintah Mengangkat dan memberhentikan Mentri-mentri Menyatakan perang. · Mengajukan Rancangan Undang-undang kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Namun sangat disayangkan. selanjutkan ditetapkan oleh Presiden (Pasal 24A ayat (3) perubahan ketiga UUD 1945). Wewenang. kewajiban.

· · · · · Menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan DPR. dan tanda kehormatan lainnya yang diatur dengan UU Meresmikan anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah. Menetapkan hakim konstitusi dari calon yang diusulkan Presiden. · DPR · Agung · Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR. 2) 3) Membahas dan memerikan persetujuan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Dalam pengaturan ini memperkuat kedudukan DPR terutama ketika berhubungan dengan Presiden. DPR. DPR Melalui perubahan UUD 1945. Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung Memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR Memberi gelar. tanda jasa. dan Mahkamah Menetapkan hakim agung dari calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dan disetujui 3. Tugas dan wewenang DPR[6] 1) Membentuk undang-undang yang dibahasa dengan presiden ntuk mendapat persetujuan bersama. Menerima dan membahas usulan rancangan undang-undang yang diajukan DPD yang berkaitan dengan bidang tertentu dan mengikutsertakannya dalam pembahasan. kekuasaan DPR diperkuat dan dikukuhkan keberadaannya terutama diberikannya kekuasaan membentuk UU yang memang merupakan karakteristik sebuah lembaga legislatif. . Hal ini membalik rumusan sebelum perubahan yang menempatan Presiden sebagai pemegang kekuasaan membentuk UU.

strategis. berbangsa. pendidikan Agama. Hak menyatakan pendapat Hak menyatakan pendapat adalah hak DPR untuk menyatakan pendapat atas: · Kebijakan Pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau di dunia internasional . pertanyaan/pendapat yang dikemukakan secara lisan ataupun tertulis dalam rapat-rapat DPR. 5) 6) Menetapkan APBN bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD. anggaran pendapatan dan belanja Negara serta kebijakang pemerintah. dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.4) Memperhatikan pertimbangan DPD atas rancangan Undang-Undang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. berbangsa. dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat. Hak imunitas Hak imunitas adalah kekebalan hukum dimana setiap anggota DPR tidak dapat dituntut di hadapan dan diluar pengadilan karena pernyataan. HAK-HAK DPR[7] Hak interplasi Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada Pemerintah mengenai kebijakan Pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat. dan bernegara. Hak angket Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undangundang dan/atau kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan hal penting. sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Tata Tertib dan kode etik. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang.

serta berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. maupun perbuatan tercela.pendidikan dan agama 5.· Tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket · Dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum baik berupa pengkhianatan terhadap negara. Anggota BPK dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan . korupsi. penyuapan. Tugas dan Wewenang DPD[9] 1) DPD dapat mengajukan kepada DPR rancangan Undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. 2) DPD memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. BPK merupakan lembaga yang bebas dan mandiri. hubungan pusat dan daerah. pembentukan dan pemekaran. pengolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. tindak pidana berat lainnya. DPD mempunyai fungsi : Pengajuan usul. 4.DPD dipilih secara langsung oleh masyarakat di daerah melalui pemilu. Keberadaanya dimaksudkan untuk memperkuat kesatuan Negara Republik Indonesia. menurut UUD 1945. BPK BPK adalah lembaga tinggi Negara yang memiliki wewenang memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. dan penggabungan daerah. DPD DPD adalah Lembaga negara baru sebagai langkah akomodasi bagi keterwakilan kepentingan daerah dalam badan perwakilan tingkat nasional setelah ditiadakannya utusan daerah dan utusan golongan yang diangkat sebagai anggota MPR. ikut dalam pembahasan dan memberikan pertimbangan yang berkaitan dengan bidang legislasi tertentu[8]. dan/atau Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.

undang . Kewajiban dan wewenang[10] Menurut Undang-Undang Dasar 1945. dan diresmikan oleh Presiden. di bawah MA terdapat badan-badan peradilan dalam lingkungan Peradilan Umum. MAHKAMAH AGUNG Mahkamah Agung adalah lembaga negara yang melakukan kekuasaan kehakiman. 6. kewajiban dan wewenang MA adalah: · Berwenang mengadili pada tingkat kasasi. yaitu kekuasaan yang menyelenggarakan peradilan untuk menegakkan hukum dan keadilan. BPK Berwenang mengawasi dan memeriksa pengelolaan keuangan negara (APBN) dan daerah (APBD) serta menyampaikan hasil pemeriksaan kepada DPR dan DPD dan ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum. lingkungan Peradilan Agama.pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah. lingkungan Peradilan militer dan lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). menguji peraturan perundang undangan di bawah Undang. Mengintegrasi peran BPKP sebagai instansi pengawas internal departemen yang bersangkutan ke dalam BPK. dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh UndangUndang · · Mengajukan 3 orang anggota Hakim Konstitusi Memberikan pertimbangan dalam hal Presiden memberikan grasi dan Rehabilitasi 8. Berkedudukan di ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap provinsi. MAHKAMAH KONSTITUSI . DPA (Dewan Pertimbangan Agung) telah dihapus pasca amandemen keempat 7.

legislatif. dua orang akademisi hukum. 2. 3. terdiri dari 7 orang (termasuk Ketua dan Wakil Ketua yang merangkap Anggota). 9. WEWENANG[12] 1. . Komposisi keanggotaan Komisi Yudisial terdiri atas dua mantan hakim. memutus sengketa hasil pemilu dan memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh presiden dan atau wakil presiden menurut UUD. DPR dan pemerintah dan ditetapkan oleh Presiden. dua orang praktisi hukum. Hakim Konstitusi terdiri dari 9 orang yang diajukan masing-masing oleh Mahkamah Agung. KOMISI YUDISIAL berdasarkan UU no 22 tahun 2004 Komisi Yudisial adalah lembaga negara yang bersifat mandiri dan berfungsi mengawasi perilaku hakim dan mengusulkan nama calon Hakim Agung. Memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara. sehingga mencerminkan perwakilan dari 3 cabang kekuasaan negara yaitu yudikatif. dan satu anggota masyarakat. Anggota Komisi Yudisial adalah pejabat negara. KEANGGOTAAN[11] 1. memutus pembubaran partai politik. MK Mempunyai kewenangan: Menguji UU terhadap UUD. Mengusulkan pengangkatan hakim agung dan hakim ad hoc di Mahkamah Agung kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan.Mahkamah Konstitusi adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan Kehakiman bersama-sama dengan Mahkamah Agung Keberadaanya dimaksudkan sebagai penjaga kemurnian konstitusi (the guardian of the constitution). Anggota Komisi Yudisial memegang jabatan selama masa 5 (lima) tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. dan eksekutif.

yang bisa mengadopsi semua tuntutan perubahan yang ada. Menjaga dan menegakkan kehormatan. ketika menempatkan UUD 1945 pada posisi yang sempurna dan sakral yang sudah tidak membutuhkan perubahan lagi. 3. Mengajukan calon hakim agung ke DPR Kedudukan Lembaga Negara Sebelum dan Sesudah Amandemen UUD 1945 Sebuah Undang-Undang Dasar (UUD) maupun aturan hukum pada umumnya terdiri dari suatu bangunan yang sistematik. Secara internal. Kesalahan terbesar pada saat pemerintahan orde baru. UUD itu harus memiliki hubungan yang positif dengan aturan-aturan lain yang berada diluarnya.2. gerakan untuk perubahan yang sudah tidak tahan lagi menyaksikan pelanggaran konstitusi yang dilakukan oleh . Menetapkan calon hakim agung. TUGAS MENGUSULKAN PENGANGKATAN HAKIM AGUNG DAN HAKIM AD HOC DI MAHKAMAH AGUNG: 1. Sementara secara eksternal. pasca tumbangnya pemerintahan orde baru oleh gerakan pro-demokrasi yang dipelopori oleh mahasiswa. Gerakan itu menamakan dirinya sebagai gerakan reformasi. Arah baru harapan sejarah. UUD itu dituntut untuk memiliki korelasi atau hubungan antar pasal-pasal. Menjaga dan menegakkan pelaksanaan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH). bab-bab dan ayat-ayat yang ada didalamnya. 4. 2. yang tentu memiliki implikasi secara internal maupun secara eksternal sesuai dengan realitas ketatanegaraan. 4. serta perilaku hakim. keluhuran martabat. Menetapkan Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH) bersama-sama dengan Mahkamah Agung. Melakukan pendaftaran calon hakim agung. Melakukan seleksi terhadap calon hakim agung. UUD atau konstitusi negara bukanlah sesuatu yang sakral dan tidak bisa dirubah. Dalam artian UUD atau konstitusi tetap harus mengikuti perkembangan zaman. bahkan celakanya bagi golongan yang yang ingin melakukan perubahan akan harus siap berhadapan dan tersingkir dari parlemen. dan masyarakat umum menutut untuk dilakukan perubahan ditubuh UUD 1945. pemuda. 3.

eksekutif. pemegang kekuasaan dibidang pemerintahan. karena semua masuk dalam suatu sistem yang menjadi perangkat kesatuan. Sesudah Amandemen UUD 1945 . dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk mengamankan posisi eksekutif (Presiden). karena dinilai terlalu banyak yang dirubah dan ditambah. Dalam fungsi legislasi pada masa orde baru. Dari adanya UUD 1945 baik sebelum dan sesudah amandemen sehubungan dengan lembaga-lembaga negara. kedua. sehingga dalam proses amandemen sebagian pakar hukum tata negara menganggap sebagai pembuatan UUD baru. walaupun UUD 1945 telah ditafsirkan secara sepihak olehnya. yaitu pertama. legislatif. Utusan Daerah. yang untuk berlakunya undang-undang itu harus mendapat pengesahan terlebih dahulu oleh Presiden. Kekuasaan membentuk Undang-Undang a. pemegang kekuasaan dibidang kehakiman. seperti nasib undang-undang penyiaran. pasti tidak akan disahkan olehnya. yudikatif. b. Dalam masa pemerintahan Orde Baru (Soeharto). Sehingga. Walhasil orde baru berhasil berkuasa selama 32 tahun. UUD 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia. DPR hanya sekedar memberikan persetujuan atas undang-undang itu. sehingga terjalin perimbangan kekuasaan (Check and Balance) antar lembaga negara. Sebelum Amandemen UUD 1945 Pembagian dan pembatasan kekuasaan oleh Montesquie dibagi menjadi tiga kekuasaan. dan Utusan Golongan. Kekuasaan antar badan eksekutif. Tetapi juga sebaliknya terjalin saling kontrol. yang apabila ada undang-udang yang disinyalir merugikan Presiden. kekuasaan membuat undang-undang ada di tangan Presiden. jika diteropong dari realitas ketatanegaraan akan memiliki implikasi-implikasi atau konsekwensi berbeda. ketika Pasal 2 ayat (1) UUD 1945 mengatakan bahwa susunan MPR di tetapkan dengan undang-undnag. maka pemerintah soeharto menyusun MPR dengan cara mengangkat 60 persen dari fraksi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). memiliki perubahan yang signifikan dan drastis jika dibandingkan dengan sebelum amandemen. Sehingga. Berikut beberapa hal yang menjadi catatan-catatan penting sehubungan dengan hal tersebut: 1. pemegang kekuasaan membentuk undang-undang. legislatif dan yudikatif di Indonesia tidak dianut secara murni dan baku. Walhasil dari seluruh bagian-bagian UUD 1945 yang berhasil ditafsirkan oleh orde baru demi menyelamatkan dan mengamankan kepentingan pribadi dan kelompoknya serta merugikan rakyat berhasil diamandemen. sehingga dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia mengalami perubahan yang cukup derastis terhadap lembaga-lembaga negara. Implikasi tersebut juga menjadi alat ukur kemapanan berdemokrasi di suatu negara. pasca amandemen pertama dan keempat yang berlangsung dari tahun 1999 sampai tahun 2002. Pemerintahan orde baru memang boleh dikatakan telah berhasil membongkar bangunan idealitas dari masing-masing institusi dari penyelenggara negara. ketiga. kekuasan membuat undang-undang dipegang oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). semua undang-undang yang disahkan tidak akan merugikan kekuasaan presiden.pemeritahan orde baru. Seluruh institusi berhasil dimasuki dan dikontrol agar selalu mendukung dan mengamankan posisi sang Presiden. Kekuasaan eksekutif masih mencampuri kewenangan legislatif atau yudikatif.

Dari hasil rancangan undang-undang yang telah disetujui oleh DPR dan Presiden untuk menjadi undangundang tidak lagi bersifat final. tidak-lah terlalu berarti sebab saluran-saluran perlawanan itu telah disumbat dengan berbagai cara dan pendekatan pemerintah orde baru. Kekuasaan kehakiman hanya terdiri atas badan-badan pengadilan yang berpuncak pada mahkamah agung. Dalam pasal 24C ayat (1) UUD 1945 perubahan ketiga. kekuasaan kehakiman ini selain dilakukan oleh Mahkamah Agung juga dilakukan oleh mahkamah konstitusi dan komisi yudisial. DPR juga memiliki fungsi anggaran dan pengawasan (Pasal 20A ayat (1) perubahan kedua UUD 1945). telah terjadi perubahan kewenangan legislasi dari presiden dengan persetujuan DPR kepada DPR dengan persetujuan Presden. Peran mahasiswa dan pers sebagai salah satu pilar demokrasi disumbat independensinya. Selain memilkiki fungsi legislasi. mahkamah agung ternyata banyak dipengaruhi oleh pemerintah. Keterpurukan keadaan itu. Sementara kewenangan mengajukan rancangan undang-undang dibahas oleh DPR dan presiden untuk mendapat persetujaun bersama (Pasal 20 ayat (2) perubahan pertama UUD 1945). Undang-undang tersebut masih dapat dipersoalkan oleh masyarakat yang akan dirugikan jika undang-undang itu jadi dilaksanakan. . Intervensi itu berjalan ketika ada kepentingan nyata pemerintah terhadap objek putusan yang nantinya akan mempengaruhi dinamika dan kestabilan politik dalam negeri. sehingga prosedur pengadilan tinggal-lah sandiwara belaka. yang putusannya bersifat tetap untuk menguji undang-undang terhadap UUD. tetapi dapat dilakukan uji material (yudicial review) oleh mahkamah konstitusi atas permintaan pihak tertentu. terutama eksekutif. atau oleh segolongan masyarakat dinilai behwa undang-undang itu bertentangan dengan norma hukum yang ada diatasnya. maka yang patut dicatat adalah suatu kenyataan bahwa pengesahan undang –undang bukan merupakan suatu yang telah final. Dengan demikian. 2. Lembaga ini dalam tugasnya diakui bersifat mandiri dalam arti tidak boleh diintervensi atau dipengaruhi oleh cabang-cabang kekuasaan lainnya. Setelah amandemen. akhirnya mencapai puncaknya dengan kemarahan rakyat yang memaksa Presiden Soeharto untuk turun dari jabatannya pada tahun 1998. Mahkamah agung tidak dapat bergerak dengan bebas dan independent. Kekuasaan Kehakiman Kekuasan kehakiman menurut UUD 1945 sebelum amandemen dilakukan oleh Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman (Pasal 24 (1)). misalnya melanggar UUD 1945.Sesudah amandemen UUD 1945 kekuasaan legislasi ada ditangan DPR dengan persetujuan dari presiden (Pasal 20 ayat (1) perubahan pertama UUD 1945). Dengan ketentuan-ketentuan baru yang mengatur kekuasan membentuk undang-undang di atas. dalam kasus itu putusan pengadilan sudah diketahui. Misalnya kasus oknum yang dipenjara karena pidato politiknya yang mengkritik pemerintah. disebutkan mahkamah konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir. yang selanjutnya pada tahun 1999 dimulai amandemen pertama UUD yang terus berlanjut sampai amandemen keempat tahun 2002. Namun didalam perjalanannya. maka harus berhadapan dengan penguasa dalam hal ini pengadilan yang didesign menghancurkan perlawanan musuh-musuh politik orde baru. yang apabila ada kekritisan dari mereka. Perlawanan yang dilakukan untuk mengatasi keterpurukan sistem hukum itu.

melantik presiden dan/ atau wakil presiden. maka posisi hakim agung menjadi kuat karena mekanisme pengangkatan hakim agung diatur sedemian rupa dengan melibatkan tiga lembaga. Komisi Yudisial ini memang merupakan lembaga baru yang sengaja dibentuk untuk menangani urusan terkait pengangkatan hakim agung serta penegakan kehormatan. Eksistensi MPR dan Kedaulatan Rakyat a. yaitu DPR. menetapkan GBHN (Pasal 3). Presiden dan Komisi Yudisial. Anggota DPD ini dipandang sebagai pengganti “Utusan Daerah” yang dikenal dalam UUD 1945 sebelum amandemen. keluhuran martabat dan perilaku hakim (Pasal 24B ayat (1) perubahan ketiga UUD 1945). 2. tidak lagi sebagai pelaksana pemegang kedaulatan rakyat sepenuhnya. secara umum dapat disimpulkan bahwa UUD 1945 dan perubahanperubahannya itu telah mengatur mekanisme penyelenggaraan ketatanegaraan. Sebelum Amandemen UUD 1945 Menurut UUD 1945 sebelum amandemen. b. disebutkan bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya menurut Undang-Undang Dasar. Dalam UUD 1945 pasal 1 ayat (2) setelah amandemen. yaitu yang semula berdasarkan UUD 1945 sebelum amandemen sebagai pelaksana kedaulatan rakyat sepenuhnya. Kewenangan MPR tersebut sekilas nampak tidak ada perbedaan dnegan kewenangan yang dimilikinya menurut naskah UUD 1945 sebelum amandemen. Sesudah Amandemen UUD 1945 Dalam sidang tahunan 2002. disamping utusan golongan dan anggota DPR. namun jika dilihat dari perbandingan naskah antara rumusan pasal 1 ayat (2) naskah sebelum amandemen dan naskah baru sesudah perubahan ketiga. ketiga. Keanggotaan MPR terdiri dari anggota DPR dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang dipilih melalui pemilihan umum. dan mengubah UUD (Pasal 37). memberhetikan Presdien dalam masa jabatannya menurut UUD. MPR memiliki tugas dan wewenang menetapkan UUD. bahkan semua lembaga negara lain tunduk pada kekuasaan MPR. Yang anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh presiden dengan persetujuan DPR (Pasal 24B ayat (3) perubahan ketiga UUD 1945). MPR tidak bisa lagi bertindak sendiri seperti yang pernah terjadi dalam kasus pemberhentian Presiden Soekarno tahun 1967 dan . kedua. MPR telah melakukan langkah bijak dengan mengubah posisinya. yudikatif dan eksekutif secara seimbang. Berdasarkan hal tersebut diatas. memilih Presiden dan Wakil Presiden (Pasal 6). yang semula sebagai lembaga tinggi negara dan pemegang sepenuhnya kedaulatan rakyat menjadi lembaga tinggi biasa. maka akan jelas ditemukan bahwa telah terjadi pengurangan kekuasaan MPR. Jadi MPR adalah satu-satunya lembaga yang memegang kedaulatan penuh dari rakyat. pertama. Kemudian untuk memberhentikan Presiden dan atau wakil presiden. maka setelah amandemen ketiga. terdapat hubungan check and balance antara ketiga lembaga tersebut. Selain itu MPR juga memegang kedaulatan penuh dari rakyat (Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 sebelum amandeman). mengubah dan menetapkan UUD.Dengan diamandemennya UUD 1945. Atau dengan kata lain. Kewenangan MPR kini mencakup. yang terkait dengan hubungan kekuasaan legislatif.

antara lain sebagai berikut : Hakim agung tidak lagi diangkat oleh Presiden melainkan diajukan oleh komisi yudisial untuk diminta persetujuan DPR. Jika putusan mahkamah konstitusi dijalankan berdasarkan voting yaitu tidak ada kesepakan bulat diantara semua anggota hakim mahkamah konstitusi. Jika oleh mahkamah konstitusi. Setelah amandemen UUD 1945. Namun sangat disayangkan. ketiga. pengangkatan seorang jaksa agung masih menjadi kewenangan presiden. tetapi dipilih oleh DPR dengan memperhatikan DPD dan diresmikan oleh Presiden (Pasal 23F ayat (1) perubahan ketiga UUD 1945). Demikian juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan tidak lagi diangkat oleh Presiden. tidaklah sulit untuk meraih dukungan suara dari dua orang anggota mahkamah konstitusi. presiden telah memegang 3 suara di mahkamah Konstitusi. sebagai pembentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. namun MPR ternyata tidak memberhentikan Presiden dan/ atau wakil presiden. Dengan ketentuan demikian. Secara politis. penentu dominan apakah presiden dan atau wakil presiden dapat diberhentikan oleh MPR adalah mahkamah konstitusi. 3. dan dalam pengambilan keputusan dapat berdasarkan suara terbanyak. Karena disitu. karena interpretasi atau penafsiran atau penentuan apakah presiden dan atau wakil presiden melanggar hukum. Ketentuan ini yang akan dapat menyelamatakan apabila mereka dituduh oleh DPR telah melanggar hukum. kedua. Mahkamah Konstitusi inilah yang akan menentukan apakah presiden dan atau wakil presiden benarbenar telah melanggar hukum atau tidak (Pasal 7B Ayat (1) dan Pasal 24C Ayat (1) UUD 1945. akan bergantung kepada putusan Mahkamah konstitusi dengan jumlah anggota 9 orang. Selanjunya rancangan undang-undang yang telah dibahas bersama anatar DPR dengan presiden apabila dalam waktu tiga puluh (30) hari semenjak rancangan undang-undang tersebut disetujui tidak disahkan olehPresiden. Bagi seorang Presiden. yang tiga diantaranya diajukan oleh Presiden. tuduhan DPR tersebut dapat saja ditolak oleh mahkamah konstitusi.Presiden Abdulrahman Wahid tahun 2001. presiden dan/ atau wakil presiden diputus tidak melakukan pelanggaran hukum yang dituduhkan itu. Jadi secara politis. Jadi. mahkamah konstitusi memutuskan presiden dan/ atau wakil presiden melanggar hukum. yaitu pertama. mempengaruhi 2 orang lebih mudah dibandingkan dengan harus mempengaruhi lima puluh persen tambah satu dari seluruh anggota MPR. Kasus demikian kemungkinan bisa saja terjadi. sebagai kepala pemerintahan. maka rancangan undang-undang tersebut sah berlaku dan wajib diundangkan (Pasal 20 . Persoalan yang dapat muncul dikemudian hari adalah misalnya. Kekuasan Presiden Kedudukan Presiden sebelum amandemen. tanpa melibatkan DPR secara nyata. maka MPR tidak berwenang memberhentikan yang bersangkutan. kedudukan Presiden sudah banyak dikurangi. mengingat MPR adalah lembaga politik. maka presiden tinggal mencari dukungan suara 2 orang lagi. tetapi harus melibatkan lembaga baru yang bernama Mahkamah Konstitusi. Pengangkatan pejabat-pejabat tersebut mencerminkan suatu mekanisme ketatanegaraan yang mengarah kepada suatu keseimbangan dan demokratisasi. selanjutkan ditetapkan oleh Presiden (Pasal 24A ayat (3) perubahan ketiga UUD 1945). sebagai kepala negara. bukan berdasarkan objektifitas hukum. posisi presiden menjadi semakin kuat.

Memang MPR masih dapat mengehentikan presiden dan/ atau wakil presiden dalam masa jabatannya atas usul DPR (Pasal 7A perubahan ketiga UUD 1945). sehingga pertanggung jawabannya juga kepada MPR. Apakah ia bertanggungjawab kepada rakyat atau kepada MPR yang telah memilih dan mengangkatnya. Jadi putusan mahkamah konstitusi tersebut semata-mata atas dasar pertimbangan hukum. Sebaiknya dalam hal ini perlu dikaitkan dengan sisa masa jabatan presiden dan atau/ wakil presiden itu. lebih dari 12 bulan. Jadi. penyuapan. maka posisi presiden akan aman. majelis boleh memilih presiden dan/ atau wakil presiden pengganti jika sisa masa jabatan itu masih lama. hanya dengan maksud menggugurkan kewajiban konstitusi. korupsi. atau perbuatan tercela. karena presiden dipilih langsung oleh rakyat. Misalnya. yang siapa yang melawan atau membangkang maka harus berhadapan dengan alat pengaman kekuasaan orde baru yang selalu siap menggiring oknum tersebut kemaja pengadilan atau keluar dari keanggotaannya di parlemen. Pelanggaran hukum ini berupa penghianatan terhadap negara. Pertanggung jawaban itu merupakan formalitas belaka yang dilakukan setiap musimnya. Selama tidak diputus melanggar hukum oleh mahkamah konstitusi. Yang menjadi persoalan kemudian adalah pertanggungjawaban presiden dan wakil presiden yang dipilih oleh MPR tersebut. persetujuan atau pengesahan atas rancangan undangundang menjadi undang-undang oleh Presiden tidak mutlak. Selain itu. Ketentuan Pasal 8 ayat (3) UUD 1945 ini menunjukkan bahwa MPR tidak konsisten dengan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung . Pertanggungjawaban Presiden Pada saat pemerintahan orde baru berkuasa. maka sebaiknya pemilihan presiden dan/ atau wakil presiden pengganti diserahkan kembali kepada rakyat. 4. posisi presiden semakin kuat. Hasil dari pertanggung jawaban presiden-pun sudah diketahui yaitu akan diterima secara aklamasi sebab keanggotaan MPR telah didesgn pemerintah orde baru untuk berpihak secara total kepadanya. MPR memiliki kewenangan untuk memberhentikan presiden dengan alasan melanggar haluan negara atau melanggar UUD. presiden tidak lagi bertanggungjawab kepada MPR. di sisi lain. meskipun ia berada dalam kondisi berbeda pandangan dalam penyelenggaraan pemerintahannya dengan parlemen baik kepada DPR maupun kepada DPD. Dengan demikian kewenangan MPR dalam memilih presiden dan/ atau wakil presiden pengganti hanya bersifat sementara dan semata-mata karena pertimbangan tekhnis.ayat (5) perubahan pertama UUD 1945). hal ini akan sangat bergantung kepada keputusan mahkamah konstitusi. karena ia tidak akan mudah dijatuhkan atau diberhentikan oleh MPR. dan/ atau pendapat bahwa presiden dan/ atau wakil presiden tidak lagi memenuhi syarat menjadi presiden dan/ atau wakil presiden. tindak pidana berat lainnya. Pada saat itu. karena menurut pasal 7B ayat (1) menyatakan usul pemberhentian presiden dan/ atau wakil presiden dapat diajukan oleh DPR kepada MPR hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada mahkamah konstitusi untuk memutus pendapat DPR bahwa presiden dan/ atau wakil presiden telah melakukan pelanggaran hukum. presiden dipilih oleh anggota MPR. Kembali kewenangan ini hanya menjadi kewenangan formalitas . Namun demikian. MPR juga dapat memilih presiden dan wakil presiden pengganti apabila terdapat kekosongan jabatan presiden dan wakil presiden ditengah masa jabatannya secara bersamaan (pasal 8 ayat (3) UUD 1945). Namun.

walaupun pemerintah orde baru nyata-nyata melanggar haluan negara atau UUD. Jadi keputusan Mahkamah Konstitusi itu dapat saja dianulir oleh keputusan politik MPR. Apabila Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum atau tidak memenuhi syarat lagi sebagai Presiden maka DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian itu kepada MPR (Pasal 7B (5)). Selanjutnya Mahkamah Konstitusi memeriksa. yang melaksanakan dan mempertanggungjawabkan tugas-tugas pemerintahan adalah menterimenteri. Dalam sistem ini. tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela. Sebab. kepada siapakah pemerintah bertanggung jawab? Dalam sistem pemerintahan parlementer. walaupun Mahkamah Konstitusi telah memutus Presiden telah melanggar hukum atau tidak memenuhi syarat lagi sebagai Presiden. tetapi bukan kepala pemerintahan. Kalau demikian. Artinya. Dugaan pelanggaran hukum untuk memberhentikan Presiden dari jabatannya itu diajukan oleh DPR kepada Mahkamah Konstitusi setelah didukung oleh 2/3 dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR. Selanjutnya MPR menyelenggarakan sidang untuk memutus usul DPR tersebut paling lambat tiga puluh hari sejak MPR menerima usul tersebut (Pasal 7B (6). Presiden dan Wakil Presiden . penyuapan. Sekarang pasca amandemen UUD 1945. kepala pemerintahan dijabat oleh Perdana Menteri. Lalu. mengadili dan memutus usul pemberhentian Presiden itu. Lembaga-lembaga Negara menurut Konstitusi RIS adalah : Presiden Menteri-Menteri Senat Dewan Perwakilan Rakyat Mahkamah Agung Dewan Pengawas Keuangan "Presiden tidak dapat diganggu-gugat". Presiden adalah kepala negara. siapakah yang menjalankan dan yang bertanggung jawab atas tugas pemerintahan? Pada Pasal 118 ayat (2) ditegaskan bahwa ”Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing. Presiden tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas tugas-tugas pemerintahan. korupsi. Presiden dapat saja di impeachment jika terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa penghianatan terhadap negara. pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen (DPR) Lembaga-lembaga Negara menurut UUDS 1950 adalah : 1. Sebagai lembaga politik MPR dapat saja memutuskan tidak memberhentikan Presiden dari jabatannya.belaka yang tidak memiliki kekuatan.masing untuk bagiannya sendiri-sendiri”. Dengan demikian.

namun lembaga ini masih belum berhasil menyelesaikan sebuah UUD. pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan sebuah Dekrit Presiden yang isinya adalah: 1. Pada pada tanggal 22 April 1959 Presiden Soekarno menyampaikan amanat yang berisi anjuran untuk kembali ke UUD 1945. 3. Sifat kesementaraan ini nampak dalam rumusan pasal 134 yang menyatakan bahwa ”Konstituante (Lembaga Pembuat UUD) bersama-sama dengan pemerintah selekaslekasnya menetapkan UUD Republik Indonesia yang akan menggantikan UUDS ini”.html . Atas dasar hal tersebut. demi untuk menyelamatkan bangsa dan negara. Menetapkan berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950. 3. Pembentukan MPRS dan DPAS Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pada dasarnya. maka UUD 1945 berlaku kembali sebagai landasan konstitusional dalam menyelenggarakan pemerintahan Republik Indonesia. Faktor penyebab ketidakberhasilan tersebut adalah adanya pertentangan pendapat di antara partai-partai politik di badan konstituante dan juga di DPR serta di badan-badan pemerintahan. saran untuk kembali kepada UUD 1945 tersebut dapat diterima oleh para anggota Konstituante tetapi dengan pandangan yang berbeda-beda. Menteri-Menteri Dewan Perwakilan Rakyat Mahkamah Agung Dewan Pengawas Keuangan Sesuai dengan namanya. UUDS 1950 bersifat sementara. ternyata jumlah suara yang mendukung anjuran Presiden tersebut belum memenuhi persyaratan yaitu 2/3 suara dari jumlah anggota yang hadir. 4. 2. Anggota Konstituante dipilih melalui pemilihan umum bulan Desember 1955 dan diresmikan tanggal 10 November 1956 di Bandung.blogspot. Oleh karena tidak memperoleh kata sepakat. maka diadakan pemungutan suara.2.com/2012/03/kedudukan-lembaga-negara-sebelum-dan. http://nuragungsugiarto. Sekalipun konstituante telah bekerja kurang lebih selama dua setengah tahun. Menetapkan pembubaran Konsituante. 5. Sekalipun sudah diadakan tiga kali pemungutan suara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful