P. 1
A.11.Pengambilan-Pengujian-Bahan-dan-campuran.pdf

A.11.Pengambilan-Pengujian-Bahan-dan-campuran.pdf

|Views: 20|Likes:
Published by Annike Fatmawati

More info:

Published by: Annike Fatmawati on May 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/14/2014

pdf

text

original

Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton

1
PEDOMAN
Konstruksi dan Bangunan
Pemanfaatan Asbuton
Buku 2
Pengambilan dan Pengujian Bahan
Serta Pengujian Campuran Beraspal
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA
No: 001 – 02 / BM / 2006
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
i
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
ii
Daftar Isi
Prakata i-v
Daftar Isi ii-v
Daftar Tabel iii-v
Daftar Gambar iii-v
Pendahuluan iv-v
1. Ruang Lingkup 2-1
2. Acuan Normatif 2-1
3. Istilah dan Definisi 2-3
4. Simbol dan Singkatan 2-4
5. Pengambilan Contoh dan Pengujian Asbuton Olahan, Aspal Keras serta Aspal
Cair
2-7
5.1. Pengambilan Contoh 2-7
5.2. Pengujian aspal dan asbuton olahan 2-10
5.2.1. Pengujian Aspal Keras, Bitumen Asbuton Modifikasi dan Aspal Yang
Dimodifikasi Asbuton serta Asbuton Butir
2-10
5.2.2. Pengujian Aspal Cair 2-21
5.2.3. Pengujian Aspal Emulsi 2-28
6. Pengambilan dan Pengujian Agregat 2-37
6.1. Pengambilan dan Penyiapan Contoh Agregat 2-37
6.2. Pengujian Agregat 2-42
7. Pengujian Campuran 2-60
7.1. Pengujian Marshall Campuran Beraspal 2-60
7.2. Pengujian Stabilitas Dinamis 2-62
7.3. Pengujian Bahan Jadi (Kepadatan) 2-65
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
iii
Daftar Tabel
Tabel 2.1 : Jumlah contoh yang dipilih secara acak 2-9
Tabel 2.2 : Temperatur pengujian pada jenis aspal emulsi 2-28
Tabel 2.3a Jumlah bola untuk pengujian abrasi 2-43
Tabel 2.3b Ukuran butir contoh untuk pengujian keausan 2-43
Tabel 2.4 : Berat contoh minimum untuk analisa gradasi 2-53
Daftar Gambar
Gambar 2.1 : Alat pengambil contoh dengan keran 2-8
Gambar 2.2 : Alat pengambil ontoh dengan Tabung celup 2-8
Gambar 2.3 : Alat pengambil contoh dengan Wadah pemberat sekali pakai 2-8
Gambar 2.4 : Pengambilan contoh dengan Kaleng celup 2-9
Gambar 2.5 : Alat pengambil contoh pada pipa 2-9
Gambar 2.6 : Pengujian penetrasi 2.11
Gambar 2.7 : Pengujian titik nyala dengan Cleveland Open Cup 2.12
Gambar 2.8 : Pengujian titi lembek 2-13
Gambar 2.9 : Pengujian daktilitas 2-14
Gambar 2.10 : Piknometer 2-14
Gambar 2.11 : Pinggan berputar 2-15
Gambar 2.12 : Pengujian noda aspal 2-17
Gambar 2.13 : Pengujian viskositas dengan Viskometer Brookfield Termosel 2-18
Gambar 2.14 : Peralatan pengujian kadar air aspal 2-19
Gambar 2.15 : Peralatan Ekstraksi dengan alat Refluks 2-20
Gambar 2.16 : Tabung viskometer untuk pengujian viskositas dengan Saybolt
Furol
2-22
Gambar 2.17 : Pengujian titik nyala Tag Open Cup 2-23
Gambar 2.18 : Instalasi peralatan penyulingan (Destilasi) menggunakan labu
gelas
2-24
Gambar 2.19 : Alat semprotan ketahanan aspal emulsi terhadap air 2-32
Gambar 2.20 : Alat pengujian muatan listrik aspal emulsi 2-33
Gambar 2.21 : Alat pengujian muatan listrik aspal emulsi 2-36
Gambar 2.22 : Instalasi peralatan pengujian kadar air 2-37
Gambar 2.23 : Pengambilan contoh agergat pada timbunan 2-39
Gambar 2.24 : Pengambilan contoh pada ban berjalan 2-39
Gambar 2.25 : Alat pembagi contoh (Splitter) 2-41
Gambar 2.26 : Penyiapan benda uji Metode Perempatan Cara 1 2-41
Gambar 2.27 : Penyiapan benda uji Metode Perempatan Cara 2 2-42
Gambar 2.28 : Penyiapan benda uji Metode Gundukan Mini 2-42
Gambar 2.29 : Mesin abrasi Los Angeles dan contoh agregat 2-44
Gambar 2.30 : Peralatan untuk pembacaan pasir 2-47
Gambar 2.31 : Bentuk agregat 2-48
Gambar 2.32 : Cara pengunaan jangka ukur rasio (proportional caliper device) 2-50
Gambar 2.33 : Alat jangkar ukur rasio untuk menguji kepipihan dan
kelonjongan
2-51
Gambar 2.34 : Ilustrasi alat uji angularitas agregat halus 2-52
Gambar 2.35 : Satu set Saringan 2-54
Gambar 2.36 : Alat pengujian Marshall 2-61
Gambar 2.37a : Alat pemadat campuran beraspal untuk benda uji pengujian
stabilitas dinamis dengan alat Wheel Tracking Machine (WTM)
2-64
Gambar 2.37b : Hubungan Waktu dan deformasi 2-64
Gambar 2.38 : Alat pengambil contoh inti (core drill) 2-65
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
iv
Pendahuluan
Penyusunan buku “Pedoman Pemanfaatan Asbuton” ini, dimaksudkan untuk membantu
dalam memperbaiki dan meningkatkan pemahaman tentang penggunaan Asbuton untuk
pekerjaan perkerasan beraspal, baik untuk campuran beraspal panas maupun campuran
beraspal dingin. Dengan buku pedoman ini, diharapkan dapat memberikan keterangan
yang cukup bagi perencana dan pelaksana dalam merencanakan dan melaksanakan
pekerjaan perkerasan beraspal yang menggunakan Asbuton sehingga didapatkan kinerja
perkerasan beraspal sesuai dengan perencanaan.
Buku Pedoman Pemanfaatan Asbuton ini disajikan dalam 6 buku, dengan ruang lingkup
sebagai berikut:
- Buku 1. Umum
Menguraikan tentang deposit, sifat bitumen dan mineral asbuton, perkembangan dan
prospek pemanfaatannya, illustrasi pengolahan asbuton serta menguraikan jenis-jenis
Asbuton olahan sebagai bahan campuran beraspal. Di samping itu, menguraikan juga
keunggulan penggunaan Asbuton secara teknik serta gambaran manfaat secara
finansial.
Buku 1 ini menguraikan juga hal-hal yang penting dalam pengelolaan lingkungan pada
saat pelaksanaan konstruksi perkerasan beraspal, serta permasalahan pada
perencanaan dan pelaksanaan.
- Buku 2. Pengambilan dan pengujian bahan serta pengujian campuran beraspal
Menguraikan tata cara pengambilan contoh bahan, pengujian bahan (aspal dan
agregat) dan pengujian campuran atau lapis beraspal. Tata cara pengambilan contoh
bahan dan cara pengujian tersebut, diuraikan secara ringkas dan hal ini diperlukan
untuk menentukan sifat-sifat bahan yang menjadi parameter mutu, baik bahan yang
akan atau telah digunakan dapat dievaluasi.
- Buku 3. Campuran beraspal panas dengan asbuton olahan
Menguraikan persyaratan bahan, campuran, hasil pelaksanaan dan persyaratan
peralatan. Disamping itu, menguraikan juga tata cara pembuatan formula campuran
rencana, formula campuran kerja serta tata cara pelaksanaan pencampuran di unit
pusat pencampur, pelaksanaan penghamparan, pelaksanaan pemadatan dan tata
cara pengendalian mutu pekerjaan campuran beraspal panas dengan Asbuton
olahan.
- Buku 4. Campuran beraspal hangat dengan Asbuton Butir
Menguraikan tentang persyaratan bahan, campuran, hasil pelaksanaan dan
persyaratan peralatan. Disamping itu, menguraikan juga tata cara pembuatan formula
campuran rencana, formula campuran kerja serta tata cara pelaksanaan
pencampuran beraspal hangat dengan Asbuton Butir di unit pusat pencampur,
pelaksanaan penghamparan, pelaksanaan pemadatan dan tata cara pengendalian
mutu pekerjaan.
- Buku 5. Campuran beraspal dingin dengan Asbuton Butir dan peremaja Emulsi
persyaratan bahan, campuran, hasil pelaksanaan dan persyaratan peralatan.
Disamping itu, menguraikan juga tata cara pembuatan formula campuran rencana,
formula campuran kerja serta tata cara pelaksanaan pencampuran beraspal dingin
dengan Asbuton Butir dan peremaja aspal emulsi di tempat pencampur, pelaksanaan
penghamparan, pelaksanaan pemadatan dan tata cara pengendalian mutu pekerjaan.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
v
- Buku 6. Lapis penetrasi macadam Asbuton
Menguraikan tentang perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan lapis penetrasi
Macadam sebagai lapis permukaan atau lapis aus yang dihampar dan dipadatkan di
atas lapis pondasi atau permukaan jalan yang telah disiapkan sesuai dengan
Spesifikasi Umum dan yang ditetapkan dalam Gambar Rencana.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
1
Buku 2
Pengambilan dan pengujian bahan serta pengujian campuran
beraspal
1. Ruang Lingkup
Pada Buku 2 ini, dibahas beberapa hal, yaitu mencakup uraian cara pengambilan
contoh bahan, pengujian bahan (aspal dan agregat) dan pengujian campuran atau
lapis beraspal.
Cara pengambilan contoh bahan dan cara pengujian tersebut, diuraikan secara
ringkas dan hal ini diperlukan untuk menentukan sifat-sifat bahan yang menjadi
parameter mutu, baik bahan yang akan atau telah digunakan dapat dievaluasi.
2. Acuan Normatif
SNI 03-1968-1990 : Metode pengujian tentang analisis saringan agregat halus dan
kasar
SNI 03-1969-1990 : Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat
kasar
SNI 03-1970-1990 : Metode pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat
halus
SNI 03-1971-1990 : Metode pengujian kadar air agregat
SNI 03-2417-1991 : Metode pengujian keausan agregat dengan mesin abrasi los
angeles
SNI 06-2432-1991 : Metoda pengujian daktilitas bahan-bahan aspal
SNI 06-2433-1991 : Metoda pengujian titik nyala dan titik bakar dengan alat
Cleveland Open Cup
SNI 06-2434-1991 : Metoda pengujian titik lembek aspal dan ter
SNI 03-2439-1991 : Metode pengujian kelekatan agregat terhadap aspal
SNI 06-2440-1991 : Metoda pengujian kehilangan berat minyak dan aspal dengan
cara A
SNI 06-2441-1991 : Metoda pengujian berat jenis aspal padat
SNI 06-2456-1991 : Metoda pengujian penetrasi bahan-bahan bitumen
SNI 03-3640-1994 : Metode pengujian kadar aspal dengan cara ekstraksi
menggunakan alat soklet
SNI 03-4797-1998 : Metode pengujian pemulihan aspal dengan alat penguap putar
SNI 03-4800-1998 : Spesifikasi aspal cair penguapan cepat
SNI 03-4798-1998 : Pemeriksaan hasil penyulingan
- kadar minyak dan emulsi (%)
- sisa penyulingan
SNI 06-2440-1991 : Metoda pengujian kehilangan berat minyak dan aspal dengan
cara A
SNI 06-2488-1991 : Metode pengujian fraksi aspal cair dengan cara penyulingan
SNI 06-2490-1991 : Metoda pengujian kadar air aspal dan bahan yang
mengandung aspal
SNI 03-3407-1994 : Metode pengujian sifat kekekalan bentuk batu terhadap
larutan natrium sulfat dan magnesium sulfat
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
2
SNI 06-3426-1994 : Tata cara survai kerataan permukaan perkerasan jalan
dengan alat ukur kerataan NAASRA
SNI 03-4141-1996 : Metode pengujian gumpalan lempung dan butir-butir mudah
pecah dalam agregat
SNI 03-4142-1996 : Metode pengujian jumlah bahan dalam agregat yang lolos
saringan no.200 (0,075 mm)
SNI 03-4428-1997 : Metode pengujian agregat halus atau pasir yang mengandung
bahan plastis dengan cara setara pasir
SNI 03-4804-1998 : Metode pengujian bobot isi dan rongga udara dalam agregat
SNI 03-4798-1998 : Spesifikasi aspal emulsi kationik
SNI 06-6721-2002 : Metoda pengujian kekentalan aspal cair dan aspal emulsi
dengan alat saybolt.
SNI 06-6722-2002 : Metode pengujian titik nyala aspal cair dengan alat tag open
cup
SNI 03-6723-2002 : Spesifikasi bahan pengisi untuk campuran beraspal
SNI 06-6399-2002 : Tata cara pengambilan contoh aspal
SNI 03-6894-2002 : Metode pengujian kadar aspal dari campuran beraspal
dengan cara sentrifius
SNI 03-6832-2002 : Spesifikasi aspal emulsi
SNI 03-6819-2002 : Spesifikasi agregat halus untuk campuran beraspal
SNI 03-6755-2002 : Metoda pengujian berat jenis nyata campuran beraspal padat
menggunakan benda uji berlapiskan parafin
SNI 03-6752-2002 : Metoda pengujian kadar air dan kadar fraksi ringan dalam
campuran perkerasan beraspal
SNI 03-6441-2000 : Metode pengujian viskositas aspal minyak dengan alat
brookfield.
SNI 03-6757-2002 : Metode pengujian berat jenis nyata campuran beraspal padat
menggunakan benda uji kering permukaan jenuh.
SNI 03-6877-2002 : Metode pengujian kadar rongga agregat halus yang tidak
dipadatkan
SNI 03-6893-2002 : Metode pengujian berat jenis maksimum campuran beraspal
RSNI M-01-2003 : Metode pengujian campuran beraspal hangat dengan alat
Marshall
RSNI S-01-2003 : Spesifikasi aspal keras berdasarkan penetrasi
RSNI M-04-2004 : Metode Pengujian Kelarutan Aspal
RSNI M-05-2004 : Cara uji ekstraksi kadar aspal dari campuran beraspal
menggunakan tabung refluks gelas
RSNI M-06-2004 : Cara uji campuran beraspal panas untuk ukuran agregat
maksimum dari 25,4 mm (1 inci) sampai dengan 38 mm (1,5
inci) dengan alat Marshall
RSNI M-07-2004 : Cara identifikasi aspal emulsi kationik mantap cepat
RSNI M-12-2004 : Metoda pengujian kelarutan aspal
RSNI T-01-2005 : Cara uji butiran agregat kasar berbentuk pipih, lonjong, atau
pipih dan lonjong
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
3
3. Istilah Dan Definisi
3.1
asbuton
aspal alam dari Pulau Buton yang berbentuk padat dan berbentuk cair atau liquid
3.2
asbuton butir
aspal alam dari Pulau Buton yang berbentuk butiran hasil pengolahan dengan ukuran
butir, kadar air, kadar bitumen dan nilai penetrasi bitumen tertentu
3.3
aspal emulsi
aspal yang didispersikan dalam air atau air yang didispersikan dalam aspal dengan
bantuan bahan pengemulsi (emulgator)
3.4
aspal emulsi mantap cepat (Cationic Rapid Setting, CRS)
aspal emulsi jenis kationik yang partikel aspalnya memisah dengan cepat dari air setelah
kontak dengan udara
3.5
aspal emulsi mantap sedang (Cationic MediumSetting, CMS)
aspal emulsi jenis kationik yang partikel aspalnya memisah dengan sedang dari air
setelah kontak dengan udara
3.6
aspal emulsi mantap lambat (Cationic Slow Setting, CSS)
aspal emulsi jenis kationik yang partikel aspalnya memisah dengan lambat dari air setelah
kontak dengan udara
3.7
bitumen asbuton
bitumen hasil ekstraksi dari Asbuton
3.8
fck
formula Campuran Kerja, rancangan yang diperoleh dari hasil pengujian bahan campuran
dan rencana campuran di laboratorium dengan pengujian kualitas melalui tahapan uji
pencampuran di unit pencampur aspal dan uji gelar pemadatan di lapangan (trial
compaction)
3.9
fcr
formula Campuran Rencana, formula yang diperoleh dari hasil pengujian bahan campuran
dan rencana campuran di laboratorium
3.10
pelelehan
besarnya perubahan bentuk plastis suatu benda uji campuran beraspal yang terjadi akibat
suatu beban sampai batas keruntuhan, dinyatakan dalam satuan panjang
3.11
penyerapan air
air yang diserap agregat dinyatakan dalam persen terhadap berat agregat
3.12
penyerapan aspal
aspal yang diserap agregat dinyatakan dalam persen terhadap berat agregat
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
4
3.13
peremaja
bahan yang digunakan untuk meremajakan/melunakkan bitumen asbuton agar bitumen
memiliki karakteristik yang sesuai sebagai bahan pengikat pada campuran beraspal
3.14
rongga di antara mineral agregat (Voids in Mineral Aggregates, VMA)
volume rongga di antara partikel agregat pada suatu campuran beraspal yang telah
dipadatkan, dinyatakan dalam persen terhadap volume total benda uji campuran
3.15
rongga udara dalam campuran beraspal (Voids in Mixed, VIM)
ruang udara di antara partikel agregat yang diselimuti aspal dalam suatu campuran yang
telah dipadatkan, dinyatakan dalam persen terhadap volume bulk total campuran
3.16
rongga terisi aspal (Voids Filled with Bitumen, VFB)
persen ruang diantara partikel agregat (VMA) yang terisi aspal, tidak termasuk aspal yang
diserap oleh agregat, dinyatakan dalam persen terhadap VMA.
3.17
stabilitas
kemampuan maksimum benda uji campuran beraspal dalam menerima beban sampai
terjadi kelelehan plastis, yang dinyatakan dalam satuan beban
3.18
stabilitas sisa
nilai stabilitas dari benda uji menggunakan aspal emulsi setelah direndam di dalam
penangas selama 2 x 24 jam pada temperatur 25
o
C, atau dengan vakum 1 jam dengan
76 cm Hg
4. Simbol dan Singkatan
a = Berat kertas saring (gram)
A = Berat benda uji dalam keadaan kering permukaan jenuh (gram)
A
t
= Waktu
AASHTO = American Association of State Highway and Transportation Officials
AC = Asphalt Concrete
A
p
= Berat piknometer dengan penutupnya (gram)
A
R
= Kadar residu dlm camp (%)
A
r
= Berat rata-rata residu demulsibility dari 3 pengujian
ASTM = American Standard Testing Material
B = Berat piknometer berisi air (gram)
B
A
= Berat jenis aspal
Ba = Berat benda uji kering permukaan jenuh di dalam air (gram)
Bj = Berat benda uji kering permukaan jenuh (gram)
Bk = Berat benda uji kering oven (gram)
B
r
= Berat residu aspal emulsi dari hasil penyulingan dalam 100 gram
aspal emulsi (benda uji)
Bt = Berat piknometer berisi benda uji dan air (gram)
B
w
= Berat piknometer berisi air suling (gram)
C = Berat piknometer berisi aspal (gram)
CA = agregat kasar, adalah % terhadap agregat tertahan # no.8
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
5
CMS = Cationic Medium Setting
COC = Cleveland Open Cup
CRS = Cationic Rapid Setting
C
S
= Berat jenis semu
CSS = Cationic Slow Setting
cSt = centiStokes
D = Berat piknometer berisi aspal dan air suling (gram)
D
A
= Berat dalam air (gr)
e = Berat Asbuton Butir dalam keadaan kering (gram)
E = Berat di udara (gr)
f = Berat kertas saring berisi mineral (gram)
F = Faktor koreksi untuk tabung viskositas kapiler
FA = Agregat halus, adalah % terhadap agregat lolos # no.8 dan
tertahan # no. 200
FCK = Formula Campuran Kerja
FCR = Formula Campuran Rancangan
FF = bahan pengisi (bila perlu)
F
S
= Berat SSD (gr)
G = BJ bulk
g
1
= Berat mineral dalam kertas saring (gram)
G
1
, G
2
, G
n
= Berat jenis agregat 1, 2, n
g
2
= Berat mineral yang ada dalam larutan aspal (gram)
Gb = Berat jenis aspal
Gmb = Berat Jenis curah contoh campuran padat
Gmb = Berat jenis curah campuran padat (ASTM D 2726)
Gmm = Berat jenis maksimum campuran (tidak ada rongga udara), ASTM
D 2041
G
sa
= Berat Jenis Semu total agregat
Gsb = Berat Jenis curah agregat
Gse = Berat Jenis efektif agregat
h = Kadar aspal dalam campuran beraspal
H = Berat benda uji, gr
i = Berat kertas saring (2) kosong (gram)
j = Berat kertas saring berisi mineral halus (gram)
K = Konstanta untuk Laston : 0,5 - 1,0
K1; K2; K3 = Kadar air benda uji kering (%)
K4; K5; K6 = Kadar air benda uji direndam (%)
K
A
= Kadar air (%)
kPa = Kilo Pascal
L = Berat benda uji setelah oven, gr
L1 = % Berat partikel ringan dari agregat halus
Laston = Lapis Aspal Beton
m = kadar air agregat, %
MC = Medium Curing
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
6
MQ = Marshall Quotient
MS = Medium Setting
P = Gumpalan lempung dan butir-butir mudah pecah dalam agregat (%)
P
1
, P
2
, P
n
= Persentase dalam berat agregat 1, 2, n
Pa = Rongga udara dalam campuran padat, persen dari total volume
Pb = Kadar aspal optimum perkiraan, adalah % terhadap berat
campuran
Pba = Aspal yang terserap, persen berat agregat
Pbe = Kadar aspal efektif, percen berat total campuran
Pen = Penetrasi
Pmm = Total campuran lepas, persentase terhadap berat total campuran =
100 %
Ps = Agregat, persen berat total campuran
psi = Pound Square Inchi
q = Jumlah aliran agregat kering dengan satuan kg per menit
r = Panjang dari agregat dalam ban berjalan dalam satuan meter
R = Kecepatan dari ban berjalan dalam satuan meter per menit 7-31
RC = Rapid Curing
R
d
= Berat benda uji kering oven yang tertahan pada masing-masing
ukuran saringan setelah dilakukan penyaringan basah (gram)
RS = Rapid Setting
RSNI = Rancangan Standar Nasional Indonesia
RTFOT = Rolling Thin Film Oven Test
S = Stabilitas (kg)
S1; S2; S3 = Stabilitas Benda Uji Kering (kg)
S4; S5; S6 = Stabilitas Benda Uji Direndam (kg)
SC = Slow Curing
SNI = Standar Nasional Indonesia
SS = Slow Setting
SSD = Saturated Surface Dry
TFOT = Thin Film Oven Test
TOC = Tag Open Cup
UPCA = Unit Produksi Campuran Aspal
V = Volume silinder
Va = Volume rongga dalam campuran
Vb = Volume aspal
Vba = Volume aspal yang diserap agregat
Vbe = Volume aspal terabsorpsi / yang diserap agregat
VFA = Voids Filled with Asphalt = Volume aspal terabsorpsi / yang diserap
agregat
VIM = Voids In Mix = Volume rongga dalam campuran
VMA = Voids in Mineral Aggregate = Volume rongga diantara mineral
agregat
Vmb = Volume bulk / curah campuran padat
Vmm = Volume campuran tanpa / tidak ada rongga udara
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
7
Vsb = Volume agregat (berdasarkan Berat Jenis Bulk / Curah)
Vse = Volume agregat (berdasarkan Berat Jenis Efektif)
W = Berat benda uji yang mengisi silinder
W1 = Berat kering partikel yang terdekantasi dari agregat halus
W2 = Berat kering agregat halus yang lolos saringan no 4 dan tertahan
pada saringan no. 50
Wb = Berat aspal
wg = Berat Isi air 1.0 g/cm
3
(62.4 lb/ft
3
)
Ws = Berat agregat
Y = Persen emulsi yang rusak adalah perbandingan residu tertahan
dalam saringan dengan berat benda uji
5. Pengambilan Contoh dan Pengujian Asbuton Olahan, Aspal Keras serta Aspal
Cair
5.1. Pengambilan Contoh
Pengambilan contoh aspal untuk pengujian harus mewakili dan dijaga agar tidak
terkontaminasi oleh bahan lain sebelum dilakukan pengujian.
Pengambilan contoh dan pengujian merupakan dua hal yang sangat penting dalam
fungsi pengendalian mutu. Data dari pengujian ini merupakan alat untuk menilai
kualitas produksi apakah memenuhi syarat atau tidak. Dengan alasan ini,
pengambilan contoh dan prosedur pengujian harus dilakukan dengan hati-hati dan
benar.
Salah satu kesalahan yang besar dalam menguji material adalah kegagalan untuk
mengambil contoh yang mewakili.
Apabila contoh yang dikirim ke laboratorium tidak mewakili kondisi bahan yang
sebenarnya, maka hasil pengujian akan sia-sia, bahkan apabila digunakan, mungkin
menyesatkan. Oleh karena itu, pengambilan contoh harus dilakukan dengan
prosedur standar, baik Standar Nasional Indonesia (SNI) maupun AASHTO atau
ASTM atau standar internasional yang lain.
Pengujian kualitas untuk pekerjaan campuran beraspal secara umum dapat
dipisahkan menjadi 3 kelompok, yaitu :
 Pengujian kualitas bahan baku
 Pengujian kualitas bahan olahan atau campuran
 Pengujian kualitas bahan jadi atau terpasang.
a. Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara pemilihan dan ukuran contoh, serta cara pengambilan contoh
aspal di pabrik, tempat penyimpanan, atau saat pengiriman, tapi tidak
mencakup semua permasalahan keselamatan yang berkaitan dengan
penggunaannya.
 Dengan tujuan untuk mendapatkan contoh secara rata-rata yang mewakili
bahan dan memastikan variasi maksimum sifat-sifat bahan.
b. Ringkasan pengambilan contoh :
Alat dan prosedur pengambilan contoh aspal sesuai SNI 06-6399-2002, secara
garis besar sebagai berikut :
1) Pengambilan contoh di pabrik
Terdapat 3 cara pengambilan, yaitu :
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
8
a) Pengambilan contoh dengan keran, sebelum pengambilan contoh
keluarkan minimum 4 liter. Aspal diambil dari keran pada 1/3 bagian atas,
tengah dan 1/3 bagian bawah, dimana dari tiap keran diambil contoh 1 –
4 liter
Desain keran pengambilan contoh yang disarankan sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 2.1.
.
Gambar 2.1. Alat pengambil contoh
dengan keran
b) Pengambilan dengan cara tabung celup (untuk aspal cair, tidak cocok
untuk aspal keras), dengan cara sebagai berikut :
c) Pengambilan contoh cara wadah/kaleng dengan pemberat sekali pakai,
(tidak boleh dipakai kembali).
.
.
Keterangan :
(1) : Sambungan T ¾ “ terbuat dari besi
atau sejenisnya
(2) : ¾” baja/besi sambung 90
o
(3) : ¾“ baja/besi sambung 45
o
(4) : Benang asbes bergasket dililitkan
pada drat/ulir atau dibalut dengan
kain
(5). : Locknut ¾”
(6) : Pipa besi berniple C ¾”
(7) : Pipa baja berulir C ¾” panjang 3”
(8) : Penutup pipa baja tuang
Bentuk dan petunjuk penggunaan
ditun-jukkan pada Gambar 2.3.
 Masukkan wadah dalam keadaan
terbuka kedalam tangki aspal pada
kedalaman yang diinginkan,
 Bila kedalaman telah tercapai,
kemu-dian penutupnya dibuka
dengan cara menarik rantai,
 Biarkan terisi sampai penuh
dengan ditandai oleh berhentinya
gelem-bung udara pada
permukaan aspal.
 Setelah penuh angkat dari tangki
dan tuangkan kedalam tempat
yang bersih
 Tabung dicelupkan kedalam aspal dengan
ujung keran bawah terbuka.
 Pada kedalaman yang diinginkan, rantai dita-rik
sehingga keran bagian bawah tertutup.
 Keluarkan tabung dari tangki,
 Isinya pindahkan kedalam wadah.
Tabung celup ini dapat digunakan untuk
pengambilan contoh ulang, karena kontaminasi
akibat pengambilan contoh sebelumnya dapat
dihindari dengan tindakan kebersihan, dengan
cara menaikkan dan menurunkan tabung yang
kedua ujungnya terbuka 3 atau 4 kali pada jarak
kira-kira ½ - 1 meter pada kedalaman yang
dikehendaki
Gambar 2.3.
Alat pengambil contoh dengan
Wadah pemberat sekali pakai
Gambar 2.2. Alat
pengambilan contoh
celup dengan tabung
celup
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
9
2) Pengambilan contoh dari mobil tangki / truk penyemprot aspal atau
tangki penyimpanan aspal yang dilengkapi alat sirkulasi.
3) Pengambilan contoh dari tangker atau tongkang.
 Untuk bahan cair contoh harus diambil dari atas, tengah dan bawah.
 Untuk semua bahan yang menjadi cair karena pemanasan contoh diambil
hanya pada bagian atas.
4) Pengambilan contoh dari pipa selama pemuatan dan pembongkaran.
5) Pengambilan contoh dari drum
Setelah pengadukan secara sempurna, dilakukan pengambilan contoh
sebanyak 1 liter dari seluruh drum yang terpilih secara acak seperti Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Jumlah contoh yang dipilih secara acak
Dalam pengiriman Yang diambil
2 –8
9 – 27
28 – 64
65 – 125
126 – 216
217 – 343
344 – 512
513 – 729
730 – 1000
1001 - 1331
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
 Aspal diambil dari keran apabila
tangki dilengkapi keran.
 Sebelum pengambilan contoh,
keluarkan sebanyak 4 liter dan
buang.
 Contoh aspal cair dan aspal yang
dicair-kan melalui pemanasan
harus diambil dengan metode celup
dengan menggunakan kaleng.
(lihat Gambar 2.4.)
Gambar 2.4.
Pengambilan contoh
dengan Kaleng celup
 Pengambilan contoh dilakukan dari jaringan
pipa yang mengalirkan aspal.
 Pipa harus dilengkapi keran atau penutup
dan dapat dimasukkan kedalam wadah
contoh. Paling sedikit 3 x 4 liter contoh ha-
rus diambil pada interval seluruh pengang-
kutan atau pembongkaran.
Seluruh contoh dicampur dan diambil 4 liter.
Bila kapasitas 4000 m
3
atau kurang, diambil
paling sedikit 5 contoh masing-masing 4 liter.
Untuk kapasitas 4000 m
3
atau lebih diambil
paling sedikit 10 contoh masing-masing 4 liter.
Gambar 2.5.
Alat pengambil contoh
pada pipa
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
10
6) Pengambilan contoh bahan semi padat atau bahan padat yang belum
dipecah termasuk Asbuton Butir (Drum, barrel, kardus atau kantong).
 Apabila contoh diambil dari produksi menerus atau satu kemasan, dipilih
secara acak seperti pada Tabel 5.9.
 Apabila tidak jelas (tidak menerus) contoh diambil dengan akar tiga dari
jumlah kemasan dilokasi.
7) Pengambilan contoh bahan hasil pemecahan atau berbentuk tepung
 Untuk bentuk timbunan, Contoh berbentuk kasar harus tidak kurang dari 25
kg dan dari contoh tersebut diambil 1 – 1,50 kg untuk pengujian.
 Untuk dalam drum, barrel, kardus atau kantong, Jumlah kemasan diambil
secara acak sesuai Tabel 5.9. Contoh diambil dari bagian tengah setiap
wadah.
8) Pengambilan contoh di tempat tujuan pengiriman
 Pengambilan contoh harus dilaksanakan dalam waktu secepatnya setelah
aspal tiba di lokasi.
 Jumlah contoh yang diperlukan harus diambil tiap pengiriman aspal.
5.2. Pengujian aspal dan asbuton olahan
Pengujian aspal meliputi pengujian aspal keras (padat) termasuk Asbuton olahan,
aspal cair dan emulsi. Aspal cair atau aspal emulsi digunakan untuk lapis resap ikat
(prime coat) atau lapis pengikat (tack coat). Aspal emulsi selain untuk lapis resap
ikat dan lapis ikat, juga digunkaan untuk campuran dingin dengan asbuton butir.
5.2.1. Pengujian Aspal Keras, Bitumen Asbuton Modifikasi dan Aspal Yang
Dimodifikasi Asbuton serta Asbuton Butir
1) Pengujian penetrasi
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian untuk
menentukan penetrasi aspal keras.
Pengujian ini merupakan pengukuran secara empiris terhadap konsistensi
aspal.
Penetrasi adalah masuknya jarum penetrasi ukuran tertentu, beban
tertentu, dan waktu tertentu kedalam aspal pada temperatur tertentu.
 Untuk mendapatkan angka penetrasi aspal keras.
b) Kepentingan dan kegunaan
 Hasil pengujian dalam angka penetrasi menyatakan kekerasan aspal,
makin keras aspal makin kecil angka penetrasi atau sebaliknya.
Berdasarkan pengujian ini aspal keras dapat dikatagorikan dalam
beberapa tingkat kekerasan yang dinyatakan dengan besarnya angka
penetrasi (pen), misal Pen 60, Pen 80 dst.
 Digunakan dalam pekerjaan pengendalian mutu aspal keras atau mutu
bitumen asbuton butir dan untuk keperluan pembangunan serta
pemeliharaan jalan
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 06-2456-1991
 Tuangkan benda uji (aspal) yang telah dipanaskan hingga cukup cair ke
wadah (krus), diamkan 1 - 2 jam pada temperatur ruang, kemudian
rendam kedalam bak perendam bertemperatur 25
o
C, selama 1 - 2 jam.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
11
 Penetrasi aspal, dinyatakan dengan masuknya jarum sebagai akibat beban
(100 gr.) pada temperatur 25
o
C ke dalam permukaan aspal, yang
besarnya diukur dengan angka yang terbaca pada arloji penetrometer.
2) Pengujian titik nyala dan titik bakar dengan Cleveland Open Cup
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, cara pengujian untuk
menentukan titik nyala dan titik bakar aspal dengan menggunakan alat
Cleveland open cup.
Titik nyala adalah temperatur pada saat terlihat nyala singkat kurang dari 5
detik pada suatu titik diatas`permukaan aspal.
Titik bakar adalah temperatur pada saat terlihat nyala sekurang-kurangnya
5 detik pada suatu titik pada permukaan aspal.
 Untuk mendapatkan besaran temperatur dimana terlihat nyala singkat < 5
detik (titik nyala) dan terlihat nyala minimal 5 detik (titik bakar) diatas
permukaan aspal.
b) Kepentingan dan kegunaan
 Penentuan titik nyala dilakukan untuk memastikan bahwa aspal cukup
aman untuk pelaksanaan.
 Titik nyala yang rendah menunjukkan indikasi adanya minyak ringan dalam
aspal.
 Hasil pengujian ini selanjutnya dapat digunakan untuk mengetahui sifat-
sifat bahan terhadap bahaya api, pada temperatur mana bahan akan
terbakar atau menyala.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 06-2433-1991.
 Tuangkan benda uji (aspal) yang telah dipanaskan hingga cukup cair ke
dalam cawan Cleaveland sampai garis batas.
 Tempatkan cawan di atas plat pemanas dan atur letak sumber pemanas,
serta tempatkan nyala penguji dan termometer serta atur pada posisi jarak
masing-masing.
 Pindahkan tempat air berikut
benda uji pada alat penetrasi, atur
jarum penetrasi dengan beban
100 gr. hingga menyentuh
permukaan aspal dan tentukan
angka nol pada arloji
penetrometer.
 Lepaskan pemegang jarum dan
bersamaan itu jalankan stop watch
selama (5 + 0,1) detik dan baca
serta catat angka pada arloji
penetrometer, kemudian lakukan
pengujian pada benda uji yang
sama paling sedikit 3 kali.
Gambar 2.6.
Pengujian penetrasi
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
12
3) Pengujian titik lembek aspal dan ter
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, cara pengujian untuk
menentukan titik lembek bahan aspal dan ter yang berkisar 30
o
C sampai
200
o
C dengan cara ring and ball.
 Untuk mendapatkan besaran titik lembek aspal dan ter.
b) Kepentingan dan kegunaan
 Hasilnya digunakan untuk menentukan temperatur kelelehan dari aspal.
 Hasil pengujian ini selanjutnya dapat digunakan untuk mengetahui
kepekaan aspal terhadap temperatur atau digunakan untuk menentukan
sushu kelelehan dari aspal.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 06-2434-1991.
 Tuangkan benda uji (aspal) yang telah dipanaskan hingga cukup cair ke
dalam cincin cetakan, diamkan pada temperatur kurang 8
o
C dibawah titik
lembek selama 30 menit, kemudian ratakan.
 Pasang dan atur kedua benda uji serta tempatkan pengarah bola
diatasnya, masukkan ke dalam bejana gelas, kemudian diisi air suling
bertemperatur (5+1)
o
C sampai benda uji terendam.
 Tempatkan termometer diantara kedua benda uji dan atur jarak antara
permukaan pelat dasar dengan benda uji pada posisi masing-masing.
 Kemudian tempatkan bola-bola baja di atas tengah benda uji, kemudian
panaskan bejana dengan kenaikan temperatur air 5
o
C/menit.
 Nyalakan “nyala penguji” dan
atur kecepatan pemanasan 5-
6
o
C/menit pada temperatur
antara 56
o
C dan 28
o
C di bawah
titik nyala perkiraan.
 Putar “nyala penguji” hingga
melalui permukaan cawan dalam
waktu 1 detik, Ulangi setiap
kenaikan 2
o
C sampai terlihat
nyala singkat pada permukaan
aspal.
 Titik nyala, dinyatakan dengan
catat temperatur pada saat
terlihat nyala singkat, kemudian
lanjutkan pengamatan sampai
terlihat nyala yang lebih lama
minimal 5 detik, baca dan catat
yang dinyatakan sebagai titik
bakar.
Gambar 2.7. Pengujian titik nyala
dengan Cleveland Open Cup
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
13
4) Pengujian daktilitas bahan-bahan aspal
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan dan cara pengujian
daktilitas bahan aspal
Daktilitas aspal adalah nilai keelastisitasan aspal, yang diukur dari jarak
terpanjang, apabila antara dua cetakan berisi bitumen keras yang ditarik
sebelum putus pada temperatur 25
o
C dan dengan kecepatan 50 mm/menit
 Untuk mendapatkan harga/besaran daktilitas bahan aspal
b) Kepentingan dan kegunaan
 Hasil pengujian ini selanjutnya dapat digunakan untuk mengetahui
elastisitas bahan aspal, yang ditunjukkan oleh benang aspal yang ditarik
hingga putus
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 06-2432-1991.
 Benda uji (aspal) dipanaskan hingga cukup cair pada temperatur antara
80
o
C – 100
o
C diatas titik lembek, kemudian disaring dengan saringan no.
50 dan diaduk.
 Tuangkan benda uji dalam cetakan dan dinginkan pada temperatur ruang
selama 30 - 40 menit, ratakan dengan spatula, kemudian rendam di dalam
bak perendam bertemperatur ruang selama 30 menit.
 Lepaskan benda uji dari plat dasar dan sisi-sisi cetakan, kemudian
tempatkan pada mesin uji daktilitas.
 Kemudian tarik dengan kecepatan teratur 5 cm/menit sampai benda uji
putus, catat jarak antara pemegang benda uji (panjang benda uji) pada
a. Dudukan benda
b. Alat penguji titik lembek
Gambar 2.8. Pengujian titik
lembek aspal dan ter
 Atur kecepatan pemanasan untuk 3
menit per-tama (5 + 0,5)
o
C /menit,
kemudian catat temperatur pada saat
bola baja mendesak turun lapisan
benda uji (aspal) hingga menyentuh
pelat dasar sebagai akibat kecepatan
pemanasan.
 Titik lembek, dinyatakan dengan
temperatur pada saat bola baja dengan
berat tertentu mendesak turun pada
lapisan aspal atau ter yang tertahan
dalam cincin berukuran tertentu,
sehingga aspal atau ter tersebut
menyentuh pelat dasar yang terletak di
bawah cincin pada tinggi 25,4 mm,
sebagai akibat kecepatan pemanasan
tertentu.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
14
saat benda uji (aspal) putus. Lakukan pengujian pada benda uji normal 3
kali
 Daktilitas, dinyatakan dengan hasil rata-rata panjang aspal dalam satuan
cm, sebagai akibat dari ditariknya aspal yang berada dalam cetakan
daktilitas pada dudukannya dari alat penguji daktilitas, dengan kecepatan
teratur 50 mm/menit pada temperatur 25
o
C sampai putus, kemudian diukur
jarak antara kedua dudukan benda uji normal pada saat benda uji putus
(cm).
Gambar 2.9. Pengujian daktilitas
5) Pengujian berat jenis aspal padat
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, cara pengujian untuk
menentukan berat jenis aspal padat dan ter dengan menggunakan
piknometer
 Untuk mendapatkan nilai berat jenis aspal padat dengan menggunakan
rumus berat jenis hasil pengujian
b) Kepentingan dan kegunaan
 Hasil pengujian selanjutnya dapat digunakan dalam pekerjaan
perencanaan campuran dan pengendalian mutu perkerasan jalan
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 06-2441-1991.
 Timbang piknometer dalam keadaan bersih dan kering (=A
p
).
 Isi bejana dengan air suling hingga bagian atas, kemudian rendam dalam
bak perendam pada temperatur ruang, kemudian diangkat.
 Isi piknometer dengan air suling dan tutup, kemudian tempatkan
piknometer ke dalam bejana, rendam kembali bejana berisi piknometer ke
dalam bak perendam selama tidak kurang dari 30 menit.
 Angkat piknometer berisi air suling dan keringkan, kemudian timbang (=B
w
).
 Tuangkan benda uji yang telah dipanaskan hingga cukup cair ke dalam
piknometer yang telah kering hingga terisi ¾ bagian dan biarkan
piknometer sampai dingin selama tidak kurang dari 40 menit, kemudian
timbang dengan ketelitian 1 mg (=C).
b. Alat penguji daktilitas
a. Dudukan benda
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
15
6) Pengujian kehilangan berat minyak dan aspal dengan cara A
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian kehilangan
berat minyak dan aspal dengan cara pemanasan dan tebal tertentu
Kehilangan atau penurunan berat minyak dan aspal, adalah selisih berat
sebelum dan sesudah pemanasan pada tebal dan temperatur tetentu.
 Untuk mendapatkan besaran kehilangan berat minyak dan aspal yang
dinyatakan dalam persen berat semula
b) Kepentingan dan kegunaan
 Pengujian ini dilakukan terhadap aspal dengan mencari besaran
kehilangan berat minyak dan aspal dengan cara A yaitu cara lapisan tipis,
yang selanjutnya dapat digunakan untuk mengetahui stabilitas aspal
setelah pemanasan.
 Selain itu dapat digunakan untuk mengetahui perubahan sifat fisik aspal
selama dalam pencampuran panas di AMP pada temperatur 163
o
C yang
dinyatakan dengan penetrasi, daktilitas dan kekentalan
c) Prinsip pengujian
Alat, kalibrasi, dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 06-2440-
1991.
 Tuangkan benda uji kira-kira (50 ± 0,5) gr ke dalam cawan dan dinginkan,
timbang (=A).
 Tempatkan benda uji diatas pinggan berputar setelah oven mencapai (163
± 1)
o
C.
 Selanjutnya isilah piknometer yang
berisi benda uji dengan air suling dan
tutup
 Angkatlah bejana dari bak perendam
dan tempatkan piknometer di dalamnya,
kemudian masukkan dan diamkan
bejana ke dalam bak perendam selama
kurang dari 30 menit, angkat dan
keringkan, lalu timbang piknometer
berisi aspal dan air suling (=D)
 Berat jenis aspal, dinyatakan dengan
rumus : BJ = (C- A
p
) / {( B
w
- A
p
)-(D-C)}
dimana :
A
p
= Berat piknometer dengan
penutupnya (gram)
B
w
= Berat piknometer berisi air suling
(gram)
C = Berat piknometer berisi aspal
(gram)
D = Berat piknometer berisi aspal
dan air suling (gram)
Gambar 2.10. Piknometer
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
16
7) Pengujian noda untuk aspal minyak
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian noda bahan-
bahan aspal yang hanya berlaku untuk aspal yang dihasilkan dari
petroleum dan tidak digunakan terhadap aspal alam yang mengandung
bahan tetap yang tidak larut dalam xylen
 Untuk mendapatkan noda pada kertas saring akibat tetesan larutan aspal
hasil campuran aspal dengan pelarut tertentu (naptha, xylen, normal
heptan), noda dilihat pada kertas saring tegak lurus pandang dengan sinar
terang dari arah belakang, disarankan gunakan sinar matahari
b) Kepentingan dan kegunaan
 Pengujian ini dimaksudkan untuk menguji homogenitas dan kemurnian
aspal dengan melarutkan aspal dalam bahan tertentu dan perlakuan
tertentu kemudian diteteskan ke kertas saring.
 Bila bentuk noda dari tetesan tidak merata disebut noda positip, namun jika
merata harus diuji ulang dengan cara tertentu untuk meyakinkan bahwa
tetesannya benar-benar merata yang selanjutnya disebut noda negatif.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat, kalibrasi, dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03-6885-
2002.
 Masukkan benda uji (aspal) ke dalam labu gelas kapasitas 50 ml, bila
benda uji tidak dapat mengalir didasar labu pada temperatur ruang,
panaskan labu hingga benda uji tersebar melapisi sera tipis didasar labu,
kemudian dinginkan pada temperatur ruang.
 Masukkan pelarut dengan pipet atau buret sebanyak 10,2 ml, segera tutup
dengan gabus yang dilengkapi pipa gelas sepanjang 200 mm, kemudian
goyangkan labu dengan gerakan melingkar secara cepat selama 5 detik
 Rendam labu dalam pemanas air yang mendidih sedalam lehernya selama
55 detik hingga berupa cairan yang tipis.
 Angkat labu dari pemanas dan digoyang selama 5 detik kemudian rendam
kembali selama 55 detik dan seterusnya ulangi hingga benda uji benar-
benar telah terdispersi. Selanjutnya dinginkan labu serta isinya sampai
mencapai temperatur ruang selama 30 menit.
 Larutan aspal dihangatkan kembali selama 15 menit dalam pemanas air
pada temperatur (32 ± 0,5)
o
C, kemudian aduk dengan menggunakan
batang yang bersih teteskan pada kertas saring whatman no. 50.
 Pasang termometer pada dudukannya.
 Ambil benda uji dari dalam oven setelah
mencapai 5 jam sampai 5 jam 15 menit.
 Dinginkan benda uji pada temperatur
ruang, timbang (=B).
 Kehilangan (penurunan) berat minyak
dan aspal dinyatakan dengan
persamaan:
Penurunan berat = {(A-B) / A} x 100 %
Gambar 2.11
Pinggan berputar
35 cm
14 cm
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
17
 Setelah 5 menit, amati tetesan pada kertas saring tersebut dan catat jenis
nodanya.
 Noda positip, bila tetesan berwarna coklat atau coklat kekuning-kuningan
dengan bagian tengah gelap atau berbintik-bintik
a. Tetesan positip b. Tetesan negatip
Gambar 2.12. Pengujian noda aspal
 Bila tetesan berbentuk lingkaran berwarna coklat merata, maka lakukan
tindakan sebagai berikut :
o Simpan labu berisi larutan tersebut dalam keadaan rapat pada
temperatur ruang dibawah sinar redup selama 24 jam
o Hangatkan kembali pada temperatur (32 ± 0,5)
o
C selama 15 menit,
kemudian aduk sampai merata
o Teteskan larutan dan amati, bila masih tetap berwarna coklat merata
maka noda tersebut sebagai noda negatip dan bila didapat bagian
tengah tetesan berwarna gelap atau berbintik-bintik maka disebut noda
positip. Bila masih meragukan, ulangi.
8) Pengujian viskositas aspal dengan alat Brookfield termosel
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian viskositas
apparen aspal minyak pada temperatur 38
o
C sampai 260
o
C menggunakan
alat Brookfield termosel
Vikositas apparen, adalah perbandingan antara tegangan geser dengan
laju cairan Newtonian atau Non Newtonian. Cairan Newtonian adalah
cairan dimana laju geser berbanding lurus dengan tegangan geser, bila
tidak berbanding lurus disebut cairan Non Newtonian.
 Untuk mendapatkan nilai viskositas aspal
b) Kepentingan dan kegunaan
 Dapat digunakan untuk mengukur viskositas apparen aspal minyak pada
temperatur yang diinginkan, bila didapat sifat viskositas newtonian
 Cara ini dimaksudkan untuk menentukan temperatur campuran dan
pemadatan campuran beraspal panas
c) Prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03–6441–2000.
 Siapkan alat termosel sesuai dengan petunjuk operasional termasuk cara
pengaturan temperatur dan kalibrasinya
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
18
Gambar 2.13. Pengujian viskositas dengan Viskometer Brookfield
Termosel
 Masukkan benda uji ke dalam tabung sesuai dengan spindel yang
digunakan
 Ketinggian cairan harus segaris dengan batang spindel pada garis kira-kira
3,2 mm diatas bagian atas spindel yang meruncing.
 Tempatkan tabung berisi benda uji dengan menggunakan alat penjepit ke
wadah pemanas, kemudian tempatkan viskometer tepat diatas wadah
pemanas.
 Pasang spindel ke viskometer dan turukan viskometer hingga spindel
masuk kedalam benda uji, biarkan aspal sampai mencapai temperatur
pengujian yang konstan selama ± 15 menit.
 Jalankan viskometer sesuai petunjuk operasionalnya, kemudian catat tiga
pembacaan setiap 60 detik dari masing-masing temperatur pengujian.
 Lakukan prosedur yang sama untuk setiap temperatur pengujian yang
diinginkan.
 Kalikan faktor viskositas dengan pembacaan viskometer untuk
mendapatkan viskositas dalam centipois (cP)
9) Pengujian kadar air aspal dan bahan yang mengandung aspal
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan contoh uji, peralatan, pengujian untuk
menentukan kadar air dalam aspal dan bahan yang mengandung aspal
dengan cara penyulingan, termasuk untuk penentuan kadar air dalam
aspal cair jenis RC, MC, SC, serta penentuan kadar air dalam campuran
beraspal.
Kadar air aspal, adalah air yang terkandung di dalam aspal yang akan
mempengaruhi kelekatan aspal terhadap agregat
 Untuk mendapatkan angka kadar air aspal dalam persen (%) dan bahan
yang mengandung aspal
b) Kepentingan dan kegunaan
 Air dalam aspal yang akan mempengaruhi kelekatan aspal terhadap
agregat dalam campuran beraspal dan
 Air yang terdapat pada aspal menyebabkan timbulnya busa pada waktu
dipanaskan dan hal ini membahayakan.
Spindel
Tabung benda uji
Wadah pemanas
Alat pengatur sushu
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
19
c) Ringkasan/prinsip pengujian
 Kadar air aspal dan bahan yang mengandung aspal, dinyatakan dengan
rumus :
Isi air dalam tabung penerima
Kadar air aspal =
Berat benda uji
x 100 %
10) Pengujian Kadar Bitumen Aspal Butir dengan cara Ekstraksi campuran
beraspal menggunakan tabung refluks gelas
a) Lingkup dan tujuan
 Pengujian mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara
pengujian kadar aspal/bitumen yang terkandung dalam campuran
beraspal termasuk Asbuton Butir dengan cara refluks menggunakan
tabung gelas.
Kadar bitumen/aspal yang terkandung dalam campuran beraspal atau
Asbuton Butir adalah banyaknya bitumen/aspal dalam campuran
beraspal atau Asbuton Butir. Aspal atau bitumen yang diperoleh dengan
cara ini dapat digunakan untuk pemeriksaan sifat fisik aspal antara lain:
penetrasi, daktilitas, titik lembek.
 Untuk mendapatkan nilai kadar aspal/bitumen yang terkandung dalam
campuran beraspal termasuk Asbuton Butir.
b) Kepentingan dan kegunaan
Untuk mengetahui kadar aspal/bitumen yang yang terkandung dalam
campuran beraspal termasuk Asbuton Butir yang berguna untuk
perencanaan campuran beraspal.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
(1) Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat RSNI M-05-2004.
Alat, kalibrasi, dan prosedur pengujian
selengkapnya lihat SNI 03-2490-1991.
 Timbang labu gelas kosong (W1)
 Masukkan benda uji (100 gr.) ke
dalam labu gelas dan timbang (W1
+ 100 gr).
 Siapkan rangkaian peralatan
pengujian kadar air, kemudian
pasang labu gelas berisi benda uji
diatas kaki tiga, yang telah diberi
kawat kasa dan rangkaian labu
gelas dengan rangkaian alat penuji
kadar air.
 Panaskan labu berisi benda uji, atur
pemanasan sehingga tetesan
embun yang turun/jatuh dari tabung
pendingin ke tabung penerima
mencapai kecepatan 2 sampai 5
tetes / detik dan teruskan sampai air
dalam tabung penerima tidak
bertambah, kemudian baca dan
catat isi air dalam tabung penerima.
Gambar 2.14. Peralatan
pengujian kadar air aspal
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
20
(2) Panaskan contoh uji pada temperatur 110 °C ± 5 °C, sampai berbentuk
curah dan dengan cara perempatan (quartering), tentukan berat benda
sesuai RSNI M-05-2004 (lihat dibawah ini), atau ± 200 gram untuk
benda uji Asbuton Butir.
Ukuran maksimum Berat benda uji minimum
o 4,75 mm (0,187 inci) = 500 gram
o 9,50 mm (3/8 inci) = 1000 gram
o 12,50 mm (1/2 inci) = 1500 gram
o 19,00 mm (3/4 inci) = 2000 gram
o 25,40 mm (1,0 inci) = 3000 gram
o 38,50 mm (1,5 inci) = 4000 gram
(3) Siapkan benda uji untuk penentuan kadar air sesuai SNI 06-2490-
1991.
(4) Siapkan paling sedikit dua buah benda uji.
(5) Prosedur pengujian yang harus dilakukan diuraikan dibawah ini:
 Letakkan kasa asbes di atas pelat pemanas listrik dan letakkan
tabung gelas di atasnya;
 Atur pemanasan sehingga pelarut yang terkondensasi membasahi
rangka yang berisi benda uji, jaga jangan sampai pelarut berlebih
masuk ke dalam penyaring pada kerucut;
 Teruskan ekstraksi dengan cara refluks, sampai pelarut berwarna
jernih;
 Tentukan berat air dari contoh uji
(W2);
 Keringkan kertas saring dalam oven
110°C ± 5°C dan timbang sampai
berat tetap;
 Timbang berat tiap rangka silinder
yang telah dipasang kertas saring,
dengan ketelitian 0,5 gram;
 Masukkan benda uji ke dalam rangka
yang telah diberi kertas saring
berbentuk kerucut, bila digunakan dua
rangka, benda uji dibagi menjadi dua
bagian dengan berat yang sama.
Benda uji harus terletak dibawah
ujung atas dari kertas saring, tentukan
berat dari masing-masing rangka +
benda uji dengan ketelitian 0,5 gram
(W1);
 Gunakan salah satu pelarut
Trichlorethylene atau Methylene
Chloride;
 Bila digunakan dua rangka, tempatkan
rangka atas pada rangka di bawahnya;
 Tuangkan pelarut kedalam tabung
gelas yang sudah berisi rangka dan
benda uji, dengan permukaan pelarut
berada dibawah ujung kerucut rangka
atas;
1 Pendingin
2 Tabung refluks gelas
3 Rangka kerucut
4 Kasa Asbes
5 Pelat pemanas listrik
Gambar 2.15. Peralatan
Ekstraksi dengan alat Refluks
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
21
 Matikan pelat pemanas listrik dan biarkan tabung cukup dingin
untuk dipegang, lepaskan pendingin dan pindahkan dari tabung;
 Pindahkan rangka dari dalam tabung, biarkan kering di udara,
setelah itu keringkan di dalam oven pada temperatur 110°C ± 5°C ,
setelah kering agregat ditimbang ( W3);
 Saring filtrat dengan kertas saring yang telah ditimbang (B).
keringkan dalam oven pada temperatur 110 °C ± 5° C sampai
berat tetap, timbang (C). W4 = C - B
5.2.2. Pengujian Aspal Cair
Penggunaan aspal cair pada pekerjaan campuran beraspal panas adalah untuk
pekerjaan lapis resap ikat (prime coat) dan lapis pengikat (Tack coat)
1) Pengujian viskositas kinematik dengan alat Saybolt Furol
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan contoh uji, peralatan, kalibrasi, dan pengujian
kekentalan aspal cair juga untuk aspal emulsi dengan alat saybolt
 Untuk menentukan nilai kekentalan aspal cair yang digunakan sebagai
dasar untuk mengklasifikasi jenis aspal cair (Rapid Curing/RC, Medium
Curing/MC, Slow Curing/SC).
b) Kepentingan dan kegunaan
 Kekentalan aspal cair harus cukup rendah untuk dapat menutupi
agregat, makin tinggi kekentalan makin lama dan sukar aspal menutup
permukaan agregat, terutama bila agregat tertutup debu, aspal cair
terlebih dahulu mengikat debu sebelum mencapai permukaan agregat.
Kekentalan aspal cair tergantung kepada kadar aspal yang dicampur,
makin besar kadar aspal makin tinggi kekentalannya.
 Kekentalan pada aspal cair RC/MC/SC 250, yaitu 250 – 500 Cst,
umumnya digunakan sebagai lapis resap ikat, juga digunakan pada
campuran beraspal dingin, untuk tambalan, campuran tanah berpasir
atau campuran pasir
 Kekentalan pada aspal cair RC/MC/SC 70, yaitu 70 – 140 Cst,
dimaksudkan untuk memperoleh temperatur pencampuran dan
pemadatan pada temperatur udara biasa dan umumnya digunakan
untuk agregat berpasir.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat, kalibrasi, dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03-6721-
2002.
 Aduk benda uji (120± 1) ml. hingga merata.
 Bersihkan tabung viskometer dan labu penampung, keringkan,
kemudian sumbat bagian bawah tabung viskometer dengan gabus
penutup, lalu letakkan corong saringan no. 100 di atas tabung
viskometer.
 Tuangkan benda uji melalui saringan ke dalam tabung viskometer
sampai pinggir atas tabung viskometer.
 Aduk benda uji dalam viskometer dengan termometer yang telah
dilengkapi penyangga dengan kecepatan 30-50 putaran/menit. Bila
temperatur konstan, aduk selama 1 menit, kemudian angkat
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
22
termometer dan ambil benda uji yang berlebihan dengan penyedot
sampai batas peluapan.
 Letakkan labu penampung tepat dibawah tabung viskometer, kemudian
lakukan pengujian dengan tarik/cabut penutup gabus sehingga aliran
aspal cair masuk ke dalam labu penampung
 Catat dan hitung waktu (ketelitian ± 0,1 detik) mulai saat benda uji
menyentuh dasar labu sampai terisi tepat pada batas 60 ml labu
viskometer
 Gunakan tabel konversi untuk menentukan kekentalan dalam
kinematis.
2) Pengujian titik nyala dengan alat Tag open cup
Tujuan pengujian adalah sama dengan pengujian titik nyala untuk aspal keras.
Untuk pengujian titik nyala aspal SC digunakan alat Cleveland open cup (COC)
sama dengan untuk pengujian untuk aspal keras, sedangkan untuk jenis aspal
cair RC dan MC digunakan alat Tag open cup (TOC).
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan pengujian titik
nyala aspal cair dengan menggunakan cawan Tag open tag, yang
mempunyai titik nyala lebih kecil dari 93,3
o
C
Titik nyala, adalah temperatur dimana terjadi kilatan nyala api berwarna
biru diatas benda uji setelah melalui pemanasan dengan melewatkan
nyala uji melintang diatas benda uji dengan kecepatan dan interval
tetap
 Untuk mendapatkan titik nyala aspal cair
b) Kepentingan dan kegunaan
 Keamanan dalam pelaksanaan di lapangan dalam hal penggunaan dan
pembuatan aspal cair ini
Gambar 2.16. Tabung viskometer untuk pengujian
viskositas dengan Saybolt Furol
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
23
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03-6722-2002.
3) Pengujian fraksi aspal cair dengan cara penyulingan
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan pengujian untuk
memisahkan fraksi aspal cair berdasarkan perbedaan titik didih dengan
cara penyulingan.
 Untuk mendapatkan tetes awal dan angka isi dari fraksi dalam % pada
penyulingan aspal cair
b) Kepentingan dan kegunaan
 Metode pengujian ini dilakukan terhadap aspal cair jenis RC, MC, dan
Sc pada temperatur yang berbeda-beda, dengan cara memanaskan
dengan kecepatan tertentu dan menampung zat-zat yang menguap,
residu aspal setelah penyulingan pada temperatur 360
o
C digunakan
untuk pengujian sifat fisik aspal selanjutnya, yaitu untuk pengujian
penetrasi, daktilitas, kekentalan absolut, kelarutan.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 06-2488-1991.
 Aduk benda uji (100 ml) secara merata.
 Letakkan alat Tag Open Cup dalam
bak perendam/penangas, masukkan
termometer hingga 6,4 mm di atas
dasar mangkok (cup) dan atur
penahan termometer supaya
temometer tetap tegak.
 Isi bak perendam dengan air atau
larutan air glyserin pada temperatur
paling sedikit 16,5
o
C dibawah titik
nyala perkiraan.
 Masukkan benda uji kedalam mangkok
sampai batas pada posisi ± 3,2 mm
dibawah bibir mangkok.
 Nyalakan pembakar listrik, atur
pemanasan sampai temperatur benda
uji naik dengan kecepatan (1±
0,3)
o
C/menit dan usahakan panjang
nyala tidak lebih dari 4 mm.
 Pada saat temperatur contoh
mencapai (10-15)
o
C dibawah
temperatur perkiraan titik nyala, putar
nyala uji searah dengan kecepatan
satu putaran/detik diatas benda uji,
ulangi hal diatas pada setiap kenaikan
temperatur 1
o
C.
 Titik nyala, dinyatakan dengan catat
temperatur terendah pada saat
pertama kali terlihat titik nyala warna
biru
Gambar 2.17.
Titik nyala Tag Open Cup
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
24
 Timbang labu suling kosong (W1), kemudian masukkan benda uji (±
200 ml dan bebas air) kedalam labu suling dan timbang (W1 + 200 x
berat jenis benda uji).
 Letakkan labu suling berisi benda uji di atas kasa yang ada di atas kaki
tiga/gelang.
 Hubungkan labu suling dengan rangkaian alat penyuling, kemudian
pasang tabung penerima gelas ukur 100 ml pada ujung tabung
pendingin.
 Masukkan termometer kedalam benda uji pada labu suling sampai
ujung termometer berada 65,5 mm dari dasar labu dan tutup mulut labu
suling dengan gabus, kemudian letakkan pembakar gas dibawah labu
suling.
 Lakukan pengujian dengan alirkan air kedalam tabung pendingin dan
nyalakan pembakar gas, kemudian catat waktu dimulainya pengujian
dan catat waktu tetes pertama terjadi dan catat temperaturnya,
perhatikan apakah tetes pertama yang keluar air atau minyak.
 Atur pemanasan agar tetes-tetes uap berikutnya keluar, sesuai dengan
ketentuan.
 Catat isi tiap fraksi hasil penyulingan dalam tabung penerima, masing-
masing pada titik didih 190
o
C, 225
o
C, 260
o
C, 316
o
C, dan 360
o
C.
 Apabila sisa penyulingan diperlukan untuk pengujian sifat fisik aspal
padat dari aspal cair tuangkan sisa/residu destilasi kedalam cawan
timah dan dinginkan sampai temperatur ± 130
o
C dilemari asam,
selanjutnya tuangkan kedalam cetakan benda uji untuk pengujian
penetrasi, daktilitas, kekentalan absolut, dan kemurnian aspal atau
kelarutan.
(Tuangkan residu untuk pengujian penetrasi dan daktilitas aspal cair
jenis RC dan MC. Untuk residu aspal cair SC dilakukan pengujian
kekentalan).
Gambar 2.18. Instalasi peralatan penyulingan (Destilasi)
menggunakan labu gelas
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
25
4) Pengujian penetrasi residu hasil penyulingan
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
penetrasi aspal cair dari residu hasil penyulingan
 Untuk mendapatkan nilai penetrasi aspal cair residu hasil penyulingan
b) Kepentingan dan kegunaan
 Apabila penetrasi setelah penyulingan rendah, aspal sukar melapisi
agregat
 Penetrasi setelah penyulingan adalah 80 sampai 120 untuk jenis
penguapan cepat (RC), 120 sampai 250 untuk jenis penguapan
sedang (MC)
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian penetrasi untuk aspal cair sama dengan
metode pengujian penetrasi untuk aspal keras (berdasarkan SNI 06-2456-
1991), bedanya hanya benda uji (aspal cair) dari residu hasil penyulingan
5) Pengujian daktilitas residu penyulingan
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
daktilitasi aspal cair dari residu hasil penyulingan
 Untuk mendapatkan nilai daktilitas aspal cair
b) Kepentingan dan kegunaan
 Hasil pengujian ini selanjutnya dapat digunakan untuk mengetahui
elastisitas bahan aspal, yang ditunjukkan oleh benang aspal yang
ditarik hingga putus
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian daktilitas untuk aspal cair hampir sama
dengan metode pengujian daktilitas untuk aspal keras (berdasarkan SNI
06-2432-1991), bedanya hanya benda uji (aspal cair) dari residu hasil
penyulingan
6) Pengujian kelarutan dalam TCE dari residu hasil penyulingan
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
kelarutan dalam TCE aspal cair dari residu hasil penyulingan
 Untuk mendapatkan nilai kadar aspal dari aspal cair yang dilarutkan
dalam pelarut TCE
b) Kepentingan dan kegunaan
 Untuk mengetahui bahan-bahan yang bukan termasuk aspal (kotoran
anorganik yang ada di dalam aspal), bila terlalu besar kotoran
anorganik akan mengurangi pelekatan aspal, batas minimum kelarutan
adalah 99 %
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian kelarutan dalam TCE ini sama dengan
prosedur pengujian kadar aspal untuk aspal keras (berdasarkan SNI 06-
2438-1991).
 Timbang bejana kapasitas 150 ml (=A).
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
26
 Masukkan benda uji (aspal) yang telah dikeringkan dibawah temperatur
penguapan sekurang-kurangnya 2 gr. ke dalam bejana dan tuangkan
100 ml TCE, kemudian aduk hingga bitumen larut.
 Siapkan perangkat cawan gooch dan asbetos didalamnya, kemudian
tuangkan larutan aspal ke dalam cawan gooch. Cawan gooch dengan
endapan ditimbang (=B).
 Masukkan cawan gooch ke dalam oven pada temperatur (110 ± 10)
o
C
selama 20 menit, setelah 20 menit keluarkan dari oven, dinginkan,
timbang (=C).
 Kadar aspal dari aspal cair yang dilarutkan dalam pelarut TCE,
dinyatakan dengan persamaan : Kadar aspal = [{A-(B-C)} / A] x 100 %
7) Pengujian kelekatan dalam air (Kelekatan aspal cair pada agregat dalam
air)
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
kelekatan aspal cair dari residu hasil penyulingan terhadap air
 Untuk mendapatkan nilai kelekatan aspal cair pada agregat tertentu di
dalam air
b) Kepentingan dan kegunaan
 Ketahanan aspal cair yang menyelimuti agregat terhadap pengaruh air
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya pada SNI 06-2439-1991
 Siapkan agregat kwarsa (lolos saringan ukuran 1½’’ dan tertahan ¾”)
sebanyak 500 gram
 Panaskan benda uji (25 gr.) pada temperatur 40
o
C dan agregat kwarsa
pada 70
o
C.
 Campur kedua bahan pada wadah sampai seluruh agregat terselimuti
aspal cair, diamkan pada temperatur ruang selama 30 menit, kemudian
pindahkan ke wadah gelas dan isi dengan air suling sampai agregat
terendam.
 Tempatkan pada pemanas pada temperatur 40
o
C selama 3 jam.
 Setelah 3 jam, tentukan luas dalam agregat yang terselimuti aspal cair
secara visual dan tentukan luas permukaan yang terselimuti dalam
persen
8) Pengujian berat jenis
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
berat jenis aspal cair dari residu hasil penyulingan dengan
mengunakan alat Areometer.
Alat areometer mempunyai ukuran garis 0,9 sampai 1,1, garis yang
menunjukkan titik areometer melayang pada aspal cair adalah berat
jenis aspal cair
 Untuk mendapatkan nilai berat jenis aspal cair
b) Kepentingan dan kegunaan
 Kualitas/mutu aspal cair yang digunakan, harus mempunyai nilai berat
jenis antara 0,9 sampai 1,1
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
27
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan AASHTO T 74-1993, secara
garis besar adalah sebagai berikut :
 Tuangkan benda uji ke dalam gelas ukur kapasitas 100 ml.
 Masukkan alat areometer yang mempunyai ukuran 0,9 sampai 1,1 ke
dalam gelas ukur yang berisi benda uji.
 Lihat bagian yang melayang pada garis antara 0,9 sampai 1,1.
 Tentukan berat jenis aspal cair yang ditunjukkan pada garis angka pada
alat areometer, dimana berat jenis aspal cair adalah > 0,9
9) Pengujian kadar air
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
kadar air aspal cair dengan cara penyulingan
Kadar air aspal cair, adalah air yang terkandung di dalam aspal cair,
yang akan mempengaruhi kelekatan aspal cair terhadap agregat.
 Untuk mendapatkan nilai kadar air aspal cair
b) Kepentingan dan kegunaan
 Kelekatan aspal cair yang digunakan terhadap agregat
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian kadar air untuk aspal cair sama dengan
metode pengujian kadar air untuk aspal keras (berdasarkan SNI 06-2490-
1991)
10) Pengujian kekentalan absolut pada 60
o
C (Pengujian kekuatan aspal
dengan viskometer pipa kapiler hampa)
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
kekentalan aspal dengan menggunakan viskometer pipa kapiler hampa
pada temperatur 60
o
C
 Untuk mendapatkan nilai kekentalan absolut aspal cair pada temperatur
60
o
C
b) Kepentingan dan kegunaan
 Kekentalan pada temperatur 60
o
C menunjukkan perilaku alir dan dapat
digunakan untuk keperluan spesifikasi aspal cair atau aspal keras
 Nila kekentalan absolut lebih tinggi dari nilai kekentalan kinematis
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03-6440-2000.
 Siapkan benda uji (aspal cair residu) sebanyal 60 ml. dan seperangkat
alat viskositas.
 Pilih tabung viskometer kapiler sesuai contoh yang mempunyai
viskositas antara 600 sampai 12.800 poise, gunakan tabung no. 100
dengan diameter kapiler 5 mm, faktor kalibrasi 32 poise/detik.
 Tuang benda uji yang telah dipanaskan pada temperatur (135 ± 5,5)
o
C
ke dalam tabung viskositas hingga tanda batas, diamkan sampai
temperatur turun mencapai 60
o
C.
 Pasang tabung viskositas kapiler yang berisi benda uji pada bak
perendam dengan temperatur 60
o
C.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
28
 Pasang alat vakum dan hubungkan dengan tabung viskositas yang
berisi benda uji, jalankan pompa vakum dan atur pada tekanan 300 mm
Hg.
 Ukur waktu yang diperlukan benda uji untuk melewati kapiler (=A
t
,
detik).
 Viskositas aspal cair = A
t
x F
dimana A
t
= waktu; F = Faktor koreksi untuk tabung viskositas
kapiler no. 100 adalah 32
11) Pengujian noda / bintik (Spot test)
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
noda atau bintik aspal cair dari residu hasil penyulingan terhadap air
 Untuk mendapatkan adanya /tidak ada noda aspal cair
b) Kepentingan dan kegunaan
 Pengujian ini dimaksudkan untuk menguji homogenitas dan kemurnian
aspal dengan melarutkan aspal dalam bahan tertentu dan perlakuan
tertentu kemudian diteteskan kekertas saring.
Bila bentuk noda dari tetesan tidak merata disebut noda positip, namun
jika merata harus diuji ulang dengan cara tertentu untuk meyakinkan
bahwa tetesannya benar-benar merata yang selanjutnya disebut noda
negatif.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian kadar air untuk aspal cair sama dengan
metode pengujian titik noda untuk aspal keras (berdasarkan SNI 03-6885-
2002)
5.2.3. Pengujian Aspal Emulsi
1) Pengujian kekentalan/viskositas
Pengujian dilakukan dengan alat Saybolt Furol, Prosedur pengujian serupa
dengan pengujian viskositas untuk aspal cair. digunakan untuk mengklasifikasi
jenis aspal emulsi.
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan contoh uji, peralatan, kalibrasi, dan pengujian
kekentalan aspal emulsi pada temperatur 25
o
C atau 50°C, dengan alat
saybolt furol, tergantung karakteristik kekentalan dari jenis aspal emulsi,
sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Temperatur pengujian pada jenis aspal emulsi
Jenis aspal
Temperatur
pemanasan
Anionik Kationik
25
o
C RS1, MS-1, MS-2, MS-2h CSS
50
o
C RS2, HFRS-2 CRS, CMS
 Untuk menentukan nilai kekentalan aspal cair yang digunakan sebagai
dasar untuk mengklasifikasi jenis aspal emulsi.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
29
b) Kepentingan dan kegunaan
 Semakin viskos (kental) aspal, semakin lama waktu yang diperlukan
untuk mengalir. Nilai viskositas makin besar menunjukkan kekentalan
aspal makin kental.
c) Ringkasan/Prinsip pengujian
(1) Pengujian kekentalan aspal emulsi pada temperatur 25
o
C
 Benda uji (± 100 ml) diaduk kemudian tuangkan kedalam botol.
 Tempatkan botol ke dalam bak perendam pada temperatur 25
o
C
selama 30 menit, kemudian aduk benda uji dengan cara
membalikkan botol beberapa kali.
 Tuang benda uji ke dalam tabung viskometer melalui saringan no.
20.
 Pasang sumbat gabus pada tempatnya, isi kembali tabung
viskometer.
 Tempatkan labu penampung ukuran (60 ± 0,005) ml pada
tempatnya.
 Lakukan pengujian dengan buka sumbat penutup bersamaan itu
tekan pengatur waktu, tampung aspal dan hentikan stopwatch saat
benda uji sudah memenuhi labu sebanyak 60 ml.
 Catat waktu (detik) yang diperlukan untuk mengalirkan aspal
sebanyak 60 ml.
 Konversikan waktu yang diperoleh untuk 60 ml aspal mengalir
dalam detik kedalam satuan viskositas (cst)
(2) Pengujian kekentalan aspal emulsi pada temperatur 50
o
C :
 Benda uji (± 100 ml) diaduk kemudian tuangkan kedalam gelas
kimia.
 Tempatkan benda uji ke dalam bak perendam dengan permukaan
benda uji terletak ± 5,08 cm di bawah permukaan air bak pada
temperatur (71 ± 3)
o
C, kemudian pegang dan putar gelas kimia
dengan kecepatan 60 rpm, gunakan oil tube termometer untuk
memperoleh temperatur yang merata.
 Panaskan benda uji dalam bak perendam pada temperatur (51,4 ±
0,3)
o
C, kemudian tuangkan benda uji melalui saringan no.20
kedalam tabung oil sampai berlebih.
 Atur temperatur bak perendam sampai temperatur benda uji tetap
selama 1 menit pada temperatur (50 ± 0,05)
o
C.
 Angkat oil tube termometer kemudian segera ambil kelebihan
emulsi dari sisi tabung dengan pipet.
 Tempatkan labu penampung ukuran (60 ± 0,005) ml pada
tempatnya.
 Lakukan pengujian dengan buka sumbat penutup bersaman itu
tekan pengatur waktu, tampung aspal dan matikan stopwatch saat
contoh sudah memenuhi labu sebanyak 60 ml.
 Catat waktu yang diperlukan untuk mengalirkan aspal sebanyak 60
ml dlam
 Konversikan waktu yang diperoleh untuk 60 ml aspal mengalir
dalam detik kedalam satuan viskositas (cst)
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
30
2) Pengujian pengendapan
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan car pengujian
pengendapan aspal emulsi
 Pengujian ini menentukan persentase aspal emulsi yang mengendap.
b) Kepentingan dan kegunaan
 Pengujian berguna untuk menghindari terdapatnya pemisahan aspal
dan air pada aspal emulsi yang kurang stabil yang kemungkinan akan
disimpan pada jangka waktu lama.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SKSNI M 07-1994-03.
 Siapkan benda uji masing-masing 500 ml dan masukkan kedalam 2
gelas kimia.
 Gelas ditutup dan disimpan pada temperatur ruang selama 5 hari.
 Pindahkan benda uji ke dalam gelas kimia yang telah diketahui
beratnya.
 Benda uji kemudian dipanaskan hingga air menguap; residu aspal
emulsi kemudian ditimbang.
 Persen pengendapan merupakan selisih antara persen residu bagian
bawah dengan persen residu bagian atas.
3) Pengujian pemisahan (demulsibility)
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan bahan uji, peralatan, dan cara pengujian
pemisahan aspal emulsi dengan cara penyulingan
 Pemisahan (demulsibility) merupakan perbandingan antara berat residu
pemisahan dengan residu aspal emulsi dari hasil penyulingan.
 Pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan pemisahan dari aspal
emulsi jenis cepat mantap, bahan pemisah yang digunakan Calsium
Chlorida (CaCl
2
).
b) Kepentingan dan kegunaan
 Pemisahan yang tinggi menunjukkan jenis aspal emulsi cepat mantap.
 Untuk pengujian aspal emulsi kationik sebagai bahan pelarut adalah
larutan sodium dioctyl sulfosuccinate.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
 Tentukan terlebih dahulu persentase residu aspal emulsi dengan cara
penyulingan dan muatan aspal emulsi (kationik atau anionik).
 Timbang masing-masing tiap satu set saringan no. 14, pan kapasitas
600 ml, dan pengaduk logam, yang akan digunakan.
 Timbang masing-masing sebanyak 100 ± 0,1 gr. aspal emulsi yang
telah dikocok homogen ke dalam tabung logam 600 ml.
 Tempatkan dan biarkan benda uji pada temperatur ruang
 Setelah 2 menit, tambahkan masing-masing ke dalam labu logam 35 ml
larutan kalsium klorida 1,11 gr/lt (untuk aspal emulsi anionik) atau 35 ml
larutan dioktil sodium sulfosuccinate 0,8 % untuk aspal emulai kationik
atau 50 ml larutan kalsium klorida 5,55 gr/lt aspal emulsi campuran.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
31
Selama penambahan larutan dilakukan, aduk isi dalam tabung terus
menerus menerus selama 2 (dua) menit setelah penambahan larutan
selesai.
 Tuangkan campuran ke dalam masing-masing saringan, bilas/cuci
tabung dan batang pengaduk dengan air distilasi. untuk menentukan
besarnya aspal yang menggumpal.
 Remaslah dan pecahkan semua gumpalan dengan alat pengaduk,
kemudian lanjutkan dengan mencuci tabung, pengaduk dan saringan
hingga air pencuci mengalir jernih.
 Tempatkan saringan berikut aspal ke dalam tabung gelas dan
pengaduk logam, masukkan semua ke dalam oven pada temperatur
tetap 163
o
C hingga kering dan beratnya tetap, kemudian timbang dan
catat
 Demulsibility dinyatakan dengan persamaan :
Demulsibility = (A
r
/ B
r
) x 100 %
dimana : A
r
= Berat rata-rata residu demulsibility dari 3 pengujian
B
r
= Berat residu aspal emulsi dari hasil penyulingan dalam
100 gram aspal emulsi (benda uji)
4) Pengujian pelekatan dan ketahanan aspal emulsi terhadap air
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian untuk
mengetahui kemampuan kelekatan aspal emulsi terhadap agregat dan
ketahanan terhadap air.
Kemampuan pelekatan, adalah kemampuan aspal emulsi melekat pada
agregat standar yang dicampur C
a
CO
3
Kemampuan aspal emulsi terhadap air, adalah ketahanan aspal emulsi
setelah melekat pada agregat standar terhadap semprotan air sebagai
simulasi air hujan
Pengujian khususnya untuk jenis aspal emulsi mantap sedang (Medium
Setting).
 Untuk mengetahui/mendapatkan persentae pelekatan aspal emulsi
terhadap agregat dan ketahanan terhadap air
b) Kepentingan dan kegunaan
 Ketahanan kelekatan aspal emulsi pada agregat terhadap air
c) Ringkasan/Prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03-3645-1994.
Siapkan benda uji (aspal emulsi homogen) sebanyak ± 35 gr, agregat
standar ± 461,0 gr yang memenuhi ketentuan, dan air yang tidak boleh
mengandung kadar calsium carbonat (C
a
CO
3
) lebih besar dari 250 ppm.
(1) Pengujian dengan menggunakan agregat kering :
 Masukkan agregat standar ke dalam loyang mixing pan
berkapasitas 3000 ml.
 Masukkan 4 gr bubuk C
a
CO
3
kedalam loyang yang berisi agregat,
aduk selama 1 menit dengan spatula hingga agregat terlapisi bubuk
C
a
CO
3.
 Masukkan benda uji (aspal emulsi) ke dalam loyang yang berisi
agregat yang telah dilapisi serbuk C
a
CO
3
dan aduk selama 5 menit
hingga campuran merata.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
32
 Ambil 1/2 bagian dari campuran tersebut dan tempatkan pada
kertas saring, kemudian amati kelekatan secara visual dalam
prosentase terhadap seluruh permukaan agregat (=A).
 Untuk mengetahui daya tahan terhadap air, selanjutnya semprotkan
air pada sisa campuran (1/2 bagian) yang ada dalam loyang sampai
menutupi seluruh bagian campuran dengan tekanan 0,2 kg/cm
2
,
tinggi semprotan air 305 mm.
 Tuangkan air yang ada dalam loyang.
 Ulangi tahap (5) dan (6) sampai air yang tertuang dari loyang
terlihat jernih.
 Miringkan loyang agar sisa air pada campuran mengalir sempurna.
 Amati pelekatan secara visual dalam prosentase terhadap seluruh
permukaan agregat (=B).
 Ulangi tahap (9) setelah permukaan menjadi kering udara pada
temperatur ruang atau dikeringkan dengan kipas angin
(2) Pengujian dengan menggunakan agregat basah :
 Lakukan tahap (1) sampai (2) pada item 2). seperti tersebut diatas.
 Tetes air dari pipet sebanyak 9,3 ml pada campuran agregat dan
bubuk C
a
CO
3
dalam loyang, aduk sampai air membatasi seluruh
permukaan agregat secara merata.
 Lakukan langkah (3). sampai dengan (10). seperti pada item 2).
Gambar 2.19. Alat semprotan ketahanan aspal emulsi terhadap air
5) Pengujian jenis muatan partikel aspal emulsi
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian untuk
mengetahui muatan partikel aspal emulsi jenis kationik dan anionik.
Aspal emulsi kationik, adalah aspal emulsi yang bermuatan positif
 Aspal emulsi anionik, adalah aspel emulsi yang bermuatan negatif
Katoda, adalah suatu elektroda yang bermuatan negatif dan dapat
menarik aspal emulsi yang bermuatan positif
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
33
Anoda, adalah suatu elektroda yang bermuatan positif dan dapat
menarik aspal emulsi yang bermuatan negatif
 Untuk mengetahui/mendapatkan muatan partikel aspal emulsi (aspal
emulsi kationik atau anionik)
b) Kepentingan dan kegunaan
 Pemilihan aspal emulsi yang tepat untuk dapat mengikat agregat dalam
campuran (campuran dingin) dan sebagai lapis pengikat atau resap ikat
dalam pekerjaan pelapisan
c) Ringkasang/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03-3644-1994.
 Aduk benda uji (250 ml) hingga homogen, kemudian masukkan benda
uji ke dalam gelas kimia
 Masukkan elektroda ke dalam benda uji dalam gelas kimia dengan
kedalaman 25,4 mm dari permukaan benda uji.
 Atur arus listrik sekurang-kurangnya 8 mA dengan menyesuaikan tahan
geser.
 Putuskan arus listrik dan cuci elektroda dengan air mengalir apabila
arus listrik turun menjadi 2 mA atau setelah 30 menit
 Amati aspal yang menempel pada kedua elektroda :
- Apabila aspal menempel pada katoda, maka aspal emulsi adalah
jenis kationik
- Apabila aspal menempel pada anoda, maka aspal emulsi adalah
jenis anionik
Gambar 2.20. Alat pengujian muatan listrik aspal emulsi
6) Pengujian aspal emulsi tertahan saringan no. 20
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian saringan
aspal emulsi
Pengujian ditujukan untuk menentukan bagian aspal emulsi yang
tertahan pada saringan No. 20, merupakan pengujian yang sasarannya
sama dengan pengujian pengendapan, tetapi tidak terdeteksi pada
pengujian tersebut.
 Untuk mengetahui/mendapatkan persentase bagian aspal emulsi yang
tertahan pada saringan No. 20
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
34
b) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03-3643-1994.
 Siapkan benda uji sebanyak 1000 gr yang telah dikocok hingga
merata.(=C).
 Timbang saringan dan pan (=A), kemudian basahi saringan dengan
larutan pencuci (untuk aspal emulsi kationok dengan air suling,
sedangkan untuk aspal emulsi anionik dengan larutan sodium oleat 2
%).
 Tuangkan benda uji ke dalam saringan.
 Cuci tempat benda uji dengan larutan pencuci dan tuangkan kedalam
saringan, tempatkan atau pasang pan dibawah saringan.
 Cuci sisa aspal emulsi yang berada dalam saringan dengan larutan
pencuci hingga larutan terlihat jernih.
 Masukkan ke dalam oven pada temperatur 110 (± 5)
o
C selam 2 jam,
keluarkan saringan dan pan dari oven dan dinginkan dalam desikator.
 Timbang saringan, pan, dan residu sampai berat tetap (=B).
 Aspal emulsi yang tertahan saringan no 20 (=X), dinyatakan dengan
persamaan :
X = {(B-A) / C} x 100 %
7) Pengujian kerusakan campuran aspal emulsi dengan semen
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
aspal emulsi yang rusak dengan cara penambahan semen
 Pengujian dimaksudkan untuk menentukan persentasi aspal emulsi
yang rusak dengan cara menambahkan semen. Pengujian khususnya
untuk jenis aspal emulsi tipe mantap lambat (Slow Setting).
b) Kepentingan dan kegunaan
 Pengujian dilakukan guna menjamin bahwa aspal emulsi tahan
terhadap penggumpalan apabila kontak dengan material halus atau abu
batu.
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SK SNI M 09-1994-03 :
 Siapkan semen portland sebanyak 100 gr dan saring dengan saringan
no. 80, kemudian timbang semen sebanyak (50 ± 0,1) gr ke dalam
panci logam.
 Tambahkan X gr (500 ml) air suling ke dalam contoh uji A gr ( > 250 gr),
sehingga residu (R) menjadi 55 %  {(R x A) / (A + X)} x 100 % =
55 %
 Ambil (100 ± 0,1) gr benda uji dari no. 1, masukkan ke dalam wadah
yang berisi semen, hitung berat isi (=C gr).
 Aduk campuran dengan batang pengaduk secara memutar dengan
kecepatan ± 60 rpm selama 1 menit
 Tambahkan air suling sebanyak 150 ml, kemudian diamkan selama 3
menit, selanjutnya aduk kembali
 Tuangkan campuran melalui saringan no. 14. pada loyang yang
sebelumnya telah ditimbang
 Cuci panci pencampur dengan air suling hingga semua campuran
bersih dan tuangkan kembali ke dalam saringan.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
35
 Bilas saringan dengan air suling yang dialirkan dari ketingian 15 cm,
hingga air yang mengalir jernih
 Masukkan saringan dan penadahnya ke dalam oven pada temperatur
(163 ± 3)
o
C hingga mencapai berat tetap, timbang (=B)
 Hitung kadar campuran emulsi, dengan cara :
Y = Persen emulsi yang rusak adalah perbandingan residu tertahan
dalam saringan dengan berat benda uji = (B / C) x 100 %
8) Pengujian kadar residu aspal emulsi dengan penyulingan
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian residu
aspal emulsi dengan cara penyulingan
 Residu aspal emulsi, adalah sisa hasil penyulingan aspal emulsi yang
terdiri dari aspal dan bahan lainnya
 Penentuan kadar residu dapat pula dilakukan dengan cara penguapan,
tetapi cara ini tidak boleh digunakan untuk penentuan mutu aspal
emulsi.
 Pengujian dimaksudkan untuk menentukan persentase kadar residu
dalam aspal emulsi dengan cara penyulingan.
b) Kepentingan dan kegunaan
 Hasil pengujian selanjutnya dapat digunakan untuk pengujian penetrasi
residu dan daktilitas residu aspal emulsi
c) Ringkasan/prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03-3642-1994.
 Timbang labu penyulingan yang berisi batu didih (=A1) dan gelas ukur
berkapasitas 100 ml (=C1).
 Masukkan benda uji (aspal emulsi) ke dalam labu penyulingan hingga
mencapai berat (200 ± 0,1) gram (=A2).
 Tutup tabung penyulingan dengan gabus yang telah dilubangi untuk
tempat termometer.
 Masukkan temometer dan atur letak ujung termometer 6,4 mm dari
dasar labu penyulingan.
 Alirkan air ke dalam tabung pendingin
 Nyalakan pembakar gas gelang dengan jarak 152,4 mm dari dasar
tabung, atur nyala api supaya tidak terlalu besar untuk menghindari
letupan dan pemanasan dilakukan secara merata berputar sekeliling
dinding labu penyulingan yang berisi benda uji.
 Atur pemanasan benda uji tidak melebihi 100
o
C sampai air habis/tidak
menetes lagi, kemudian besarkan nyala api utuk menaikkan temperatur
benda uji, bila temperatur telah mencapai 260
o
C tahan sampai 15
menit.
 Timbang labu beserta isi residu segera setelah penyulingan selesai
(=B)
 Timbang hasil penyulingan dalam gelas ukur (=C2)
 Kadar (persentase) residu aspal emulsi dinyatakan dengan
persamaan/rumus :
Persen residu = {(B-A1) / (A2-A1)} x 100 %
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
36
 Hitung prosentase hasil penyulingan dengan rumus :
Persen hasil = {(C2-C1) / (A2-A1)} x 100 %
Gambar 2.21. Pengujian kadar residu aspal emulsi dengan
penyulingan
9) Pengujian kadar air aspal emulsi
a) Lingkup dan tujuan
 Mencakup persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian kadar air
aspal emulsi dengan cara penyulingan
Kadar air aspal emulsi, adalah perbandingan jumlah air terhadap
jumlah contoh aspal emulsi
 Untuk menentukan persentase kadar air dalam aspal emulsi.
b) Kepentingan dan kegunaan
 Untuk mengetahui jumlah air yang terkadung dalam aspal emulsi yang
berguna untuk perencanaan campuran atau sebagai lapis resap ikat
atau lapis perekat
c) Ringkasan pengujian
Alat dan prosedur pengujian selengkapnya lihat SNI 03-3641-1994.
 Siapkan benda uji (aspal emulsi) sebanyak (100 ± 0,1) gr untuk benda
uji yang mengandung 25,0 % air atau (50 ± 0,1) gr untuk benda uji yang
mengandung 25,0 % air, kemudian timbang (=B)
 Masukkan benda uji ke dalam labu gelas
 Tambahkan pelarut dan aduk dengan cara mengerakkan labu memutar
searah dalam bidang horizontal
 Tempatkan labu pada kasa diatas kaki tiga dan tempatkan pembakar
gas di bawah kasa
 Nyalakan api dan atur pemanas hingga tetesan yang turun dari ujung
tabung pendingan mempunyai kecepatan 2 sampai 5 tetes/detik,
lanjutkan penyulingan dengan kecepatan yang sama hingga air dalam
tabung penerima tidak bertambah lagi, tunggu beberapa menit setelah
itu matikan.
 Baca dan catat jumlah air yang tertampung dalam tabung penerima (=A
ml)
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
37
 Kadar air aspal emulsi dinyatakan dengan persamaan/rumus :
Kadar air aspal emulsi = (A / B) x 100 %
Gambar 2.22. Instalasi peralatan pengujian kadar air
10) Pengujian penetrasi residu
Alat dan prosedur pengujian penetrasi untuk aspal cair sama dengan prosedur
pengujian penetrasi untuk aspal keras dan bedanya hanya benda uji dari
residu hasil penyulingan. Tata cara pengujian sesuai SNI 06-2456-1991 atau
sebagaimana diuraikan pada Butir 5.2.1.1).
11) Pengujian daktilitas residu
Alat dan prosedur pengujian daktilitas untuk aspal cair hampir sama dengan
prosedur pengujian daktilitas untuk aspal keras, bedanya hanya benda uji dari
residu hasil penyulingan. Tata cara pengujian sesuai SNI 06-2432-1991 atau
sebagaimana diuraikan pada Butir 5.2.1.4).
6. Pengambilan dan Pengujian Agregat
6.1. Pengambilan dan Penyiapan Contoh Agregat
a. Pengambilan contoh agregat
1) Lingkup dan Tujuan
o Metoda ini mencakup cara penyiapan peralatan, sumber contoh,
penentuan ukuran dan jumlah berat, serta cara pengambilan contoh
agregat kasar dan agregat halus.
Pengambilan contoh, adalah pengambilan contoh yang mewakili populasi
o Dengan tujuan untuk keperluan sebagai berikut :
 Penyelidikan pendahuluan terhadap sumber bahan potensial.
 Pengendalian bahan di sumbernya.
 Pengendalian di lokasi penggunaan (pelaksanaan lapangan).
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
38
 Penerimaan atau penolakan bahan.
2) Kepentingan dan kegunaan
o Pengambilan contoh merupakan bagian pekerjaan yang tidak kalah
pentingnya dengan pengujian. Oleh karena itu, pengambil contoh harus
selalu berhati-hati untuk mengambil contoh yang benar-benar
mencerminkan keaslian dan kondisi bahan.
o Pengambilan contoh untuk pengujian pada penyelidikan pendahuluan
biasanya dilakukan oleh kelompok yang bertanggung jawab terhadap
pengembangan sumber bahan potensial.
Pengambilan contoh bahan untuk pengendalian produksi di sumber bahan
atau untuk pengendalian pekerjaan di lokasi dimana bahan digunakan,
berturut-turut dilakukan oleh produsen, kontraktor dan kelompok yang
bertanggung jawab atas penyelesaian pekerjaan.
Pengambilan contoh untuk penetapan keputusan oleh pemesan tentang
diterima atau ditolaknya bahan, dilakukan oleh pemesan sendiri atau oleh
wakil yang ditunjuknya.
3) Prinsip pengambilan Contoh
Alat dan prosedur pengambilan contoh agregat sesuai dengan SNI 03-6889-
2002, pada masing-masing sumber sebagai berikut :
a) Pengambilan contoh dari sumber agregat potensial
Contoh agregat potensial, yang diambil dari sumber alam potensial,
seperti : sisi sungai, dataran, gunung, dll.
 Tentukan lapisan kedalaman (strata) yang akan diambil contoh agregat.
 Lakukan pengupasan permukaan hingga bersih dan gali ukuran (0,8 x
0,6) m. Pada kedalaman yang ditentukan, lakukan pengukuran agregat
nominal dengan saringan.
 Ambil contoh agregat sesuai dengan jumlah berat minimum yang
disyaratkan
b) Pengambilan contoh dari sumber batuan padat/kompak (massive),
Contoh batuan massive yang diambil dari sumber alam potensial, seperti
: dataran, gunung, dll
 Tentukan lapisan kedalaman (strata) yang akan diambil contoh agregat.
 Lakukan pengupasan permukaan hingga bersih dan buang batuan
massive yang lapuk dipermukaan. Pada kedalaman yang ditentukan,
ambil batuan massive dengan ukuran minimum (150 x 150 x 100) m.
 Ambil contoh batuan sesuai dengan jumlah berat minimum yang
disyaratkan (25 kg)
c) Pengambilan contoh dari tumpukan/timbunan agregat bentuk kerucut
Contoh agegat bentuk kerucut, yang diambil pada tumpukan yang
ditimbun dari curahan ban berjalan
 Ukuran agregat nominal dari tumpukan dengan saringan.
 Masukan pelat baja penahan pada lokasi yang telah ditentukan hingga
cukup kokoh/tidak berubah apabila diambil contoh agregat bagian
luarnya.
 Ambil contoh agegat sesuai dengan jumlah berat minimum yang
disyaratkan
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
39
Gambar 2.23. Pengambilan contoh agergat pada timbunan
4) Pengambilan contoh dari tumpukan agregat bentuk trapesium
Contoh agregat bentuk trapesium, yang diambil pada tumpukan yang
ditimbun menggunakan dump truck, alat berat, atau lainnya
 Lakukan pengukuran agregat nominal dengan saringan.
 Masukkan pelat baja pemisah agregat kedalam tumpukan dan keluarkan
agregat yang berada diatas posisi titik pengambilan.
 Pada kedalaman yang ditentukan, ambil conoh agregat sesuai dengan
jumlah berat minimum yang disyaratkan
5) Pengambilan contoh dari ban berjalan (conveyor belt)
 Ukur besarnya agregat dengan saringan, serta tentukan jumlah atau berat
contoh yang diperlukan.)
 perasikan ban berjalan dan tepat pada menit yang ditentukan sebagai
pengambilan contoh, ban berjalan hentikan.
 Ambil contoh agregat sesuai dengan jumlah berat yang disyaratkan,
termasuk bahan-bahan yang halus yang melekat pada ban berjalan
Gambar 2.24. Pengambilan contoh pada ban berjalan
6) Pengambilan contoh dari pengangkutan
Contoh agregat dari pengangkutan, yang diambil pada truk, kereta api, kapal,
atau lainnya
 Ukur nominal agregat dengan saringan, serta tentukan jumlah berat contoh
agregat yang diperlukan.
 Masukkan pelat baja pemisah kedalam agregat pada nomor pengangkutan
dan kwadran yang sesuai, serta keluarkan agregat yang berada diatas
posisi yang akan diambil.
Plat baja penahan
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
40
 Ambil contoh agregat dari strata yang ditentukan
7) Pengambilan contoh dari hamparan lapangan
Contoh agregat hamparan lapangan, yang diambil pada hamparan yang
dihampar dari truk, kereta api, akapal, atau lainnya.
 Lakukan penggalian dengan ukuran (0,8 x 0,8) m.
 Pada kedalaman yang ditentukan, lakukan pengukuran agregat nominal
dengan saringan.
 Ambil contoh sesuai dengan jumlah berat minimum yang disyaratkan
b. Penyiapan benda uji dari contoh agregat
1) Lingkup dan tujuan
o Mencakup cara penyiapan benda uji dari contoh yang datang dari
lapangan yang disesuaikan dengan kondisi agregat serta jumlah benda uji
yang diperlukan, yang dihasilkan mempunai sifat sama dengan contohnya.
Benda uji agregat, adalah bagian dari contoh agregat yang telah disiapkan
dengan cara tertentu dan siap diuji
Contoh agregat, adalah material yang diambil dari satu kelompik material
dengan cara tertentu sehingga mewakili kelompok tersebut.
o Dengan tujuan untuk mendapatkan contoh agregat yang mempunyai sifat
sama dengan contohnya dan siap untuk diuji
2) Prinsip penyiapan benda uji :
Alat dan prosedur penyiapan benda uji sesuai dengan SNI 03-6717-2002,
dimana penyiapan benda uji dari contoh agregat yang telah diambil dari
lapangan dapat dilakukan dengan salah satu dari 3 metode, yaitu :
o Metode pembagi contoh dengan alat spliter
o Metode perempatan cara 1 dan cara 2
o Metode pembentukan gundukan mini
a) Metode alat pembagi contoh Spliter
 Isi contoh agregat secukupnya ke dalam nampan pemasok dan
ratakan, kemudian tumpahkan contoh agregat kedalam spliter dengan
kecepatan tertentu hingga terjadi aliran bebas dan terbagi rata melalui
lubang persegi.
 Lakukan kegiatan pembagian agregat sampai didapat jumlah benda uji
yang direncanakan.
 Simpan hasil pembagian ke dalam wadah sesuai yang telah disiapkan
sebagaimana ditentukan dalam penentuan jumlah benda uji.
b) Metode perempatan (Quartering)
Pilih salah satu cara yang akan digunakan dari :
(1) Metode perempatan cara 1.
 Tumpahkan contoh agregat ke permukaan lantai yang telah
disiapkan, kemudian aduk secara merata dengan menggunakan
sekop dan buat gundukkan membentuk kerucut.
 Tekan puncak kerucut dengan sekop secara hati-hati hingga
terbentuk kerucut terpancung dengan ketebalan dan diameter
yang seragam, usahakan diameter kerucut terpancung sekitar 4
sampai 8 kali ketebalannya.
 Bagi kerucut terpancung dengan sekop menjadi 4 bagian yang
sama, kemudian ambil 2 bagian yang bersilangan dengan sekop
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
41
dan kwas sampai seluruh material terbawa. Lanjutkan
pembagian tersebut sampai mendapatkan jumlah benda uji yang
direncanakan.
 Hasil pembagian masukkan kedalam wadah yang telah disiapkan
sebagai-mana ditentukan dalam penentuan jumlah benda uji
Gambar 2.25. Alat pembagi contoh (Splitter)
Gambar 2.26. Penyiapan benda uji Metode Perempatan Cara 1
(2) Metode perempatan cara 2.
 Tumpahkan contoh agregat kesuatu permukaan lantai yang telah
disiapkan, kemudian aduk contoh agregat secara merata dengan
menggunakan sekop dan buat gundukkan membentuk kerucut.
Pengadukan dan pembentukan kerucut ini dapat juga dilakukan
dengan cara mengangkat ujung plastik secara bergantian hingga
contoh teraduk dan membentuk kerucut.
 Bagilah kerucut terpancung dengan sekop menjadi 4 bagian
yang sama, kemudian ambil 2 bagian yang bersilangan dengan
sekop dan dengan kwas sampai seluruh material terbawa
Bila lantai dasar tidak rata, masukkan tongkat kebawah tepat
dibawah pusat kerucut terpancung, kemudian angkat kedua
ujung, terpal/kanvas atau plastik akan terlipat membagi contoh
menjadi 2 bagian yang sama
a. PEMBENTUKAN
KERUCUT GUNDUKAN
b. PENGADUKAN
c. PEREMPATAN
(QUARTERING)
d. CONTOH SETELAH
TERBAGI EMPAT
e. DUA KUADRAN DIAMBIL DIBUANG, DUA
KUADRAN DIPERTAHANKAN
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
42
a. PENGADUKAN DENGAN
MENGGULUNG KANVAS
b. PEMBENTUKAN KONUS
CONTOH
c. PEREMPATAN
(QUARTERING)
d. CONTOH SETELAH
TERBAGI EMPAT
e. DUA KUADRANBAGIAN DIAMBIL,
DUA KUADRAN DIPERTAHANKAN
Tarik tongkat dari bawah terpal kemudian masukkan kembali
dalam arah tegak lurus dengan pembagian yang pertama,
kemudian angkat tongkat tersebut hingga terbagi menjadi 4
bagian yang sama
 Ambil 2 bagian seperempat contoh yang bersilangan sampai
tidak tersisa. Lanjutkan pembagian sampai mendapatkan jumlah
bahan benda uji yang direncanakan.
 Hasil pembagian masukkan kedalam wadah yang telah disiapkan
sebagaimana ditentukan dalam penentuan jumlah benda uji
Gambar 2.27. Penyiapan benda uji Metode Perempatan Cara 2
c) Metode Gundukan Mini
 Tumpahkan contoh agregat kesuatu permukaan yang datar, keras,
dan tidak mudah terkelupas, aduk sampai merata.
 Kemudian contoh yang sudah merata dibentuk suatu gundukan mini
menyerupai kerucut.
 Ambil contoh paling sedikit lima tempat secara acak pada gundukan
mini tersebut dengan menggunakan sendok atau sekop kecil,
sampai mendapatkan jumlah yang diinginkan
Gambar 2.28. Penyiapan benda uji Metode Gundukan Mini
6.2. Pengujian Agregat
Pengujian agregat diperlukan untuk mengetahui karakteristik fisik dan mekanik
agregat sebelum digunakan sebagai bahan campuran beraspal panas. Jenis
pengujian agregat diuraikan secara ringkas berikut ini.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
43
1) Pengujian keausan agregat dengan mesin abrasi Loa Angeles
a) Lingkup dan tujuan
o Mencakup cara persiapan bahan uji, peralatan, dan cara pengujian
keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles
Pengujian dengan mesin Los Angeles telah digunakan secara luas untuk
menentukan parameter mutu relatif agregat dari berbagai sumber yang
mempunyai komposisi mineral yang mirip.
o Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui ketahanan agregat
terhadap pengausan/abrasi.
b) Kepentingan dan kegunaan
o Pada pekerjaan jalan, agregat akan mengalami proses tambahan seperti
pemecahan, pengikisan akibat cuaca, pengausan akibat lalu lintas. Guna
mengatasi hal tersebut, agregat harus mempunyai daya tahan yang
cukup terhadap pemecahan (crushing), penurunan (degradation) dan
penghancuran (disintegration).
Agregat pada atau didekat permukaan perkerasan memerlukan
kekerasan dan mempunyai daya tahan terhadap pengausan yang lebih
besar dibandingkan dengan agregat yang letaknya pada lapisan lebih
bawah, karena bagian atas perkerasan menerima beban terbesar.
o Pengujian dengan mesin Los Angeles telah digunakan secara luas untuk
menentukan parameter mutu relatif agregat dari berbagai sumber yang
mempunyai komposisi mineral yang mirip.
o Hasil pengujian bahan ini dapat digunakan dalam perencanaan dan
pelaksanaan bahan perkerasan jalan atau konstruksi beton
c) Prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-2417-1991. Ukuran butir
dan berat masing-masing ukuran butir serta jumlah dan berat bola seperti
ditunjukkan pada Tabel 2.3.
o Benda uji/Contoh agregat bersama-sama dengan beberapa buah bola
besi dimasukkan ke dalam mesin Los Angeles.
o Mesin diputar sebanyak 500 putaran dengan kecepatan 30 sampai 33
putaran per menit sehingga antara agregat dengan bola terjadi benturan.
o Keausan agregat dinyatakan sebagai persentase berat bahan yang lolos
saringan 1,70 mm (No. 12) terhadap berat awal contoh.
Tabel 2.3a. Jumlah bola untuk pengujian abrasi
UKURAN BUTIR JML BOLA (bh) BERAT BOLA (gr)
A
B
C
D
12
11
08
06
5000+25
4584+25
3330+20
2500+15
Tabel 2.3b. Ukuran butir contoh untuk pengujian keausan
UKURAN BUTIR BERAT MASING-MASING FRAKSI (gram)
TERTAHAN LOLOS A B C D
37,50 mm
25,00 mm
19,00 mm
12,50 mm
09,50 mm
06,30 mm
04,75 mm
25,00 mm
19,00 mm
12,50 mm
09,50 mm
06,30 mm
04,75 mm
02,36 mm
1250+25
1250+25
1250+10
1250+10
-
-
-
-
-
2500+10
2500+10
-
-
-
-
-
-
-
2500+10
2500+10
-
-
-
-
-
-
-
5000+10
Total 5000+10 5000+10 5000+10 5000+10
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
44
a. Mesin Los Angeles b. Contoh sebelum/sesudah pengujian
Gambar 2.29. Mesin abrasi Los Angeles dan contoh agregat
2) Pengujian kelekatan agregat terhadap aspal
1) Lingkup dan tujuan
o Mencakup cara pesiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
kelekatan agregat terhadap aspal
Pada SNI 06-2439-1991, diuraikan cara pengujian kelekatan agregat
terhadap aspal dengan berbagai pelapisan yaitu pelapisan agregat
dengan aspal keras, aspal cair, dan aspal emulsi.
Kelekatan agregat terhadap aspal, adalah persen luas permukaan
agregat yang terselimuti aspal terhadap keseluruhan permukaaan
o Untuk mendapatkan angka persen kelekatan agregat terhadap aspal
2) Kepentingan dan kegunaan
o Jenis agregat yang menunjukkan sifat ketahanan yang tinggi terhadap
pemisahan aspal (film-stripping), biasanya merupakan bahan agregat
yang cocok untuk campuran beraspal. Agregat semacam ini bersifat
hydrophobik (tidak suka air).
Stripping yaitu pemisahan aspal dari agregat akibat pengaruh air, dapat
membuat agregat tidak cocok untuk bahan campuran beraspal karena
bahan tersebut mempunyai sifat hydrophylik (senang terhadap air).
o Hasil pengujian selanjutnya dapat digunakan dalam pengendalian mutu
agregat pada pembangunan jalan.
3) Prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-2439-1991.
a) Pelapisan agregat kering dengan aspal cair
 Aduk benda uji dan aspal yang telah dipanaskan pada temperatur
tertentu sampai merata selama waktu tertentu, kemudian masukkan
adukan serta wadahnya dalam oven pada temperatur 60°C selama
waktu tertentu.
 Keluarkan adukan beserta wadahnya dari oven dan aduk kembali
sampai dingin, kemudian masukkan adukan kedalam tabung gelas
kimia.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
45
 Isi dengan air suling sebanyak 400 ml kemudian diamkan pada
temperatur ruang selama 16 sampai 18 jam.
 Kelekatan agregat terhadap aspal dinyatakan dengan perkirakan
persen luas permukaan yang masih terselimuti aspal.
b) Pelapisan agregat kering dengan aspal emulsi atau aspal keras
Prosedur pengujian kelekatan agregat dengan menggunakan aspal
emulsi atau aspal keras pada prinsipnya sama, tetapi beberapa tahap
pengujian berlainan seperti temperatur dan lama contoh dalam oven,
lama pengadukan.
3) Pengujian sifat kekekalan bentuk agregat terhadap larutan natrium sulfat
dan magnesium sulfat
1) Lingkup dan tujuan
o Mencakup cara pesiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian sifat
kekekalan agregat terhadap larutan natrium sulfat atau magnesium
sulfat
Sifat kekekalan agregat, adalah agregat yang terbentuk oleh mineral dan
sangat sedikit atau tidak bereaksi dan atau disintegrasi terhadap larutan
natrium sulfat atau magnesium sulfat.
o Untuk memperoleh nilai kekekalan agregat terhadap proses pelarutan,
disintegrasi oleh sebab perendaman didalam larutan natrium atau
magnesium sulfat
2) Kepentingan dan kegunaan
Untuk memperoleh indeks ketangguhan agregat yang akan digunakan
sebagai bahan bangunan
3) Prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-3407-1994
o Rendam benda uji dengan bahan pelarut tertentu (natrium sulfat atau
magnesium sulfat) menggunakan wadah tertutup selama waktu tertentu
(16 sampai 18 jam) dengan tinggi larutan 1 cm diatas benda uji.
o Angkat benda uji, biarkan meniris selama (15 ± 5) menit, keringkan dalam
oven pada temperatur (110 ± 5)
o
C sampai berat tetap dan dinginkan
sampai temperatur ruang, kemudian lakukan perendaman dan
pengeringan hingga 5 kali.
o Cuci dengan larutan tertentu (B
a
Cl
2
atau air panas bertemperatur antara
40 sampai 50
o
C), kemudian keringkan dan dinginkan.
o Selanjutnya diayak dengan saringan tertentu dan timbang butiran yang
tertinggal dan yang lewat diatas saringan tertentu.
o Sifat kekekalan agregat dinyatakan dengan butiran-butiran yang
mengalami perubahan bentuk, misal : retak, pecah, belah, hancur, dan
lain sebagainya bagi benda uji fraksi kasar
4) Pengujian jumlah bahan dalam agregat lolos saringan No. 200
1) Lingkup dan tujuan
o Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
jumlah agregat yang lolos aringan no. 200 (0,075 mm) dengan cara
pencucian
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
46
Butir-butir lempung dan partikel agregat halus atau bahan lain yang
hilang pada saat pencucian agregat dengan air termasuk bahan yang
lolos saringan no. 200.
Pada prosedur ini terdapat dua cara yang dapat diikuti. Pada metoda
pertama hanya digunakan air sebagai bahan pencuci; sedangkan pada
cara yang ke dua digunakan bahan pelarut untuk membantu melepaskan
butir-butir halus dari butir-butir kasar. Kecuali diminta dalam spesifikasi,
pencucian dengan air saja dipandang sudah memadai.
o Untuk memperoleh persen jumlah agregat yang lolos saringan no. 200
2) Kepentingan dan kegunaan
o Pemisahan bahan halus dari agregat kasar lebih mudah dilakukan
dengan pencucian daripada dengan penyaringan.
o Apabila kandungan bahan halus dalam agergat harus ditentukan dengan
teliti, maka metoda ini harus diikuti, sebelum pengujian gradasi dengan
cara kering dilakukan.
o Bahan halus hasil pengujian ini harus dimasukkan dalam perhitungan
gradasi dengan cara kering.
o Air murni dipandang dapat mencuci bahan halus yang terdapat pada
hampir semua jenis agregat.
o Pada beberapa kasus, bahan halus yang menempel kuat pada butir
kasar, misal lempung atau bahan halus yang terdapat pada butir kasar
hasil pemisahan aspal (ekstraksi), perlu dihilangkan dengan air yang
ditambah bahan pelarut.
3) Prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-4142-1996
a) Pencucian dengan menggunakan air
 Benda uji agregat yang sudah diketahui beratnya (dalam keadaan
kering) dicuci dengan air murni atau air yang ditambah bahan pelarut,
dilakukan pada saringan saringan no. 16 yang dibawahnya dipasang
saringan no. 200.
 Contoh yang sudah dicuci dikeringkan dan ditimbang.
 Jumlah bahan dalam agregat yang lolos saringan no. 200, dinyatakan
dengan persen dari selisih berat contoh sebelum dan sesudah
pencucian, yang merupakan bahan halus yang terkandung dalam
agergat.
b) Pencucian dengan mengunakan bahan pelarut
Pencucian dengan menggunakan bahan pelarut pada dasarnya sama
dengan yang diuraikan di atas, kecuali ke dalam air yang digunakan
pertama kali merendam contoh ditambahkan bahan pelarut.
5) Metode pengujian agregat halus atau pasir yang mengandung bahan
plastis dengan cara setara pasir. (sand equivalent)
1) Lingkup dan tujuan
o Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
agregat halus atau pasir yang mengandung bahan plastik dengan cara
setara pasir
o Pengujian ini dilakukan dengan metoda setara pasir (sand equivalent)
dan terbatas pada pasir atau agregat halus yang lolos saringan no. 4
(4,76 mm)
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
47
o Untuk mendapatkan nilai perbandingan antara pembacaan skala
pembacaan pasir terhadap skala pembacaan lumpur pada alat uji setara
pasir yang dinyatakan dalam prosen
2) Kepentingan dan kegunaan
o Pengujian ini ditujukan untuk mendapatkan informasi yang cepat di
lapangan mengenai proporsi relatif debu halus atau bahan mirip lempung
yang terkandung dalam tanah atau agregat.
o Agregat yang digunakan sebagai bahan jalan harus bersih, bebas dari
zat-zat asing seperti tumbuhan, butiran lunak, gumpalan tanah liat
(lempung) atau lapisan tanah liat (lempung).
Kebersihan agregat sering dapat dilihat secara visual, namun dengan
suatu analisa saringan disertai pencucian agregat akan memberikan hasil
yang lebih akurat, bersih atau tidaknya agregat tersebut.
3) Prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-4428-1997
o Benda uji yang sudah disaring (lolos saringan no.4) dan dikeringkan,
masukkan ke dalam tabung plastik/gelas ukur yang berisi larutan kerja
(komposisi dari larutan baku tertentu yang terdiri dari CaCl2, Glycerine,
Formaldehyde dengan air suling sebanyak 3,8 l, diaduk sampai merata,
yang menunjukkan angka pada skala 5).
o Ketuk-ketukan tabung plastik tersebut kemudian diamkan selama 10
menit, tutup tabung plastik dengan penutup gabus yang telah dilengkapi
dengan pipa-pipa, kemudian miringkan sampai hampir mendatar dan
kocok dengan salah satu alat pengocok yang dipilih.
o Tambahkan larutan kerja dengan cara mengalirkan larutan melalui pipa
pengalir yang terpasang pada penutup gabus, mulai dari bagian bawah
pasir bergerak keatas, hingga lumpur yang terdapat dibawah permukaan
pasir naik ke atas lapisan pasir, tambahkan larutan kerja sampai skala
15, kemudian biarkan selama 20 menit ± 15 detik.
o Masukkan beban penguji perlahan sampai permukaan lapisan pasir.
o Banyaknya kandungan bahan-bahan asing dinyatakan dengan hasil
pembacaan pada skala pembacaan pasir yang ditunjukkan oleh keping
skala pembacaan pasir dikurangi dengan tinggi tangkai penunjuk
a. Tabung berskala b. Penuangan c. Pembilasan d. Pembacaan
dan pembilas contoh pasir
Gambar 2.30. Peralatan untuk “pembacaan pasir”
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
48
6) Pengujian Butiran Agregat Kasar berbentuk Pipih, Lonjong, atau Pipih dan
Lonjong
1) Lingkup dan tujuan
o Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
butiran agregat kasar berbentuk pipih, lonjong, dan pipih dan lonjong
Butiran agregat dipisahkan sesuai dengan ukuran saringan yang
ditentukan, kemudian di ukur untuk mendapatkan rasio lebar terhadap
tebal, panjang terhadap lebar, atau panjang terhadap tebal.
Butiran agregat kasar, adalah butiran agregat yang berdiameter lebih
besar dari 9,5 mm (3/8 inci)
Butiran agregat berbentuk lonjong, adalah butiran agregat yang
mempunyai rasio panjang terhadap lebar lebih besar dari nilai yang
ditentukan dalam spesifikasi
Butiran agregat berbentuk pipih, adalah butiran agregat yang mempunyai
rasio lebar terhadap tebal lebih besar dari nilai yang ditentukan dalam
spesifikasi
o Untuk mendapatkan persentase dari butiran agregat kasar berbentuk
pipih, lonjong, atau pipih dan lonjong
2) Kepentingan dan kegunaan
o Bentuk butir (particle shape) agregat dibedakan menjadi 6 katagori yaitu :
bulat, tidak beraturan, berbidang pecah (angular), pipih, panjang, pipih
dan lonjong.
o Pada umumnya ikatan antar butir yang baik diperoleh apabila bentuk butir
bersudut tajam dan berbentuk kubus; ikatan antar butir yang paling buruk
adalah pada butiran agregat yang berbentuk bulat. Agregat berbentuk
kubus mempunyai kecenderungan untuk saling mengunci satu sama lain
apabila dipadatkan.
o Agregat yang pipih dan atau lonjong akan mudah patah apabila
mendapat beban lalu-lintas. Besarnya kepipihan dinyatakan dalam indek
kepipihan.
Banyaknya agregat yang pipih dinyatakan dengan indeks kepipihan
(flackiness index) dan agregat yang panjang dinyatakan dengan indeks
kelonjongan (elongation index).
(a). Agregat lonjong (b). Agregat pipih
(c). Agregat pipih dan lonjong (d). Agregat kubikal (tiak pipih dan lonjong)
Gambar 2.31. Bentuk agregat
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
49
3) Prinsip pengujian
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan RSNI T-01-2005.
Pengujian dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
o Berdasarkan berat, benda uji sebelumnya dikeringkan dalam oven pada
temperatur (110 ± 5)oC sampai beratnya tetap
o Berdasarkan jumlah butiran, pengeringan agregat tidak diperlukan
a) Pengujian kepipihan agregat dan kelonjongan agregat
(1) Pengujian kepipihan agregat
 Gunakan alat jangkar ukur rasio (Proportional caliper device)
pada posisinya dengan perbandingan yang sesuai.
 Atur bukaan yang besar sesuai dengan lebarnya butiran.
 Butiran adalah pipih, jika ketebalannya dapat ditempatkan
dalam bukaan yang lebih kecil.
 Bentuk agregat (kasar) berbentuk pipih, dinyatakan dengan
persen berat butiran yang pipih per berat total butiran.
Atau dapat dinyatakan dengan nilai rata-rata kepipihan, yaitu
persen nilai rata-rata kepipihan per total persen butiran.
(2) Pengujian kelonjongan agregat
 Gunakan alat jangkar ukur rasio pada posisinya dengan
perbandingan yang sesuai.
 Atur bukaan yang besar sesuai dengan panjangnya butiran.
 Butiran adalah lonjong, jika ketebalannya dapat ditempatkan
dalam bukaan yang lebih kecil.
 Bentuk agregat (kasar) berbentuk lonjong, dinyatakan dengan
persen berat butiran yang lonjong per berat total butiran.
Atau dapat dinyatakan dengan nilai rata-rata kelonjongan, yaitu
nilai rata-rata kelonjongan per total persen butiran.
b) Pengujian pipih dan lonjong agregat
 Gunakan alat jangkar ukur rasio pada posisinya dengan
perbandingan yang sesuai.
 Atur bukaan yang besar sesuai dengan panjangnya butiran.
 Butiran adalah pipih dan lonjong, jika ketebalannya dapat
ditempatkan dalam bukaan yang lebih kecil.
 Bentuk agregat (kasar) berbentuk pipih dan lonjong, dinyatakan
dengan persen berat butiran yang pipih dan lonjong per berat total
butiran.
Atau dapat dinyatakan dengan nilai rata-rata kepipihan dan
kelonjongan per total persen butiran.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
50
(a). Pengujian butiran berbentuk lonjong (panjang terhadap lebar)
(b). Pengujian butiran berbentuk pipih (lebar terhadap tebal)
Gambar 2.32. Cara pengunaan jangka ukur rasio
(proportional caliper device)
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
51
Gambar 2.33. Alat jangkar ukur rasio untuk menguji kepipihan dan kelonjongan
7) Pemeriksaan jumlah agregat berbidang pecah (Angularitas)
1) Lingkup dan tujuan
o Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
jumlah agregat berbidang pecah (angularitas)
Angularitas merupakan suatu pengukuran penentuan jumlah agregat
berbidang pecah.
o Untuk mendapatkan persen agregat berbidang pecah
2) Kepentingan dan kegunaan
o Susunan permukaan yang kasar yang menyerupai kekasaran kertas
ampelas mempunyai kecenderungan untuk menambah kekuatan
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
52
campuran, dibanding dengan permukaan yang licin. Ruangan agregat
yang kasar biasanya lebih besar sehingga menyediakan tambahan
bagian untuk diselimuti oleh aspal.
o Agregat dengan permukaan licin dengan mudah dapat dilapisi lapisan
aspal tipis (asphalt film), tetapi permukaan seperti ini tidak dapat
memegang lapisan aspal tersebut tetap pada tempatnya.
3) Prinsip pengujian
a) Untuk angularitas agregat kasar
Angularitas agregat kasar adalah persentase dari berat partikel agregat
lebih besar dari 4,75 mm (No.4) dengan satu atau lebih bidang pecah.
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan Pennsylvania DoT Test
Method No.621.
o Pisahkan agregat diatas saringan 4,75 mm dan singkirkan agregat lolos
saringan 4,75 mm, kemudian ditimbang (= A = berat agregat yg mempunyai
bidang pecah).
o Seleksi dan timbang agregat pecah yang terdapat pada benda uji (= B =
berat total benda uji yang tertahan saringan 4,75 mm).
o Angularitas agregat kasar dinyatakan dengan persamaan :
b) Untuk angularitas agregat halus
Angularitas agregat halus adalah persen rongga udara yang terdapat
pada agregat padat lepas. Agregat halus merupakan agregat lolos
saringan 2,36 mm (No.8). Makin besar nilai rongga udara berarti makin
besar bidang pecah yang terdapat pada agregat halus.
Alat dan prosedur pengujian diuraikan pada AASHTO TP-33 atau ASTM
C 1252.
o Timbang benda uji agregat halus yang mengisi volume silinder (=W=berat
benda uji yang mengisi silinder, dan V = volume selinder).
o Tentukan Berat Jenis Curah agregat halus (=Gsb) yang digunakan untuk
menghitung volume agregat halus (=W/Gsb).
o Angularitas agregat halus dinyatakan dengan persamaan
Angularitas = 100% x
V
(W/Gsb) V ÷
Gambar 2.34. Ilustrasi alat uji angularitas agregat halus
% 100 x
B
A
s Angularita =
Corong
Contoh
Agregat
Kerangk
Silinder dengan
volume yang telah
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
53
8) Pengujian analisa saringan agregat halus dan kasar
Banyaknya contoh yang diperlukan untuk analisis gradasi tergantung ukuran
maksimum agregat, makin besar ukuran maksimum maka makin banyak contoh
yang harus diambil. Tabel 2.4 menunjukkan berat contoh minimum dari
beberapa ukuran agregat.
Tabel 2.4. Berat contoh minimum untuk analisa gradasi
Ukuran maksimum agregat
Berat minimum
contoh
Agregat halus : 4,75 mm (No.4) 500 gram
2,38 mm (No.8) 100 gram
Agregat kasar : 3,5” 35,0 kg
3,0” 30,0 kg
2,5” 25,0 kg
2,0” 20,0 kg
1,5” 15,0 kg
1,0” 10,0 kg
3/4” 5,0 kg
1/2” 2,5 kg
3/8” 1,0 kg
1) Lingkup dan tujuan
o Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara pengujian
penentuan pembagian butiran (gradasi) agregat halus dan agregat kasar
dengan menggunakan saringan
Analisis saringan agregat, adalah penentuan prosentase berat butiran
agregat yang lolos dari satu set saringan, kemudian angka-angka
prosentase digambarkan pada grafik pembagian butir
Analisa saringan kering biasanya digunakan untuk pekerjaan rutin untuk
agregat normal. Namun bila agregat tersebut mengandung abu yang
sangat halus atau mengandung lempung, maka diperlukan analisa
saringan dicuci.
o Beberapa spesifikasi yang mencantumkan persyaratan gradasi, baik
agregat halus maupun agregat kasar, biasanya mengacu pada metoda
pengujian ini.
o Tujuan utama pekerjaan analisa ukuran butir agregat adalah untuk
pengontrolan gradasi agar diperoleh konstruksi campuran yang bermutu
tinggi.
2) Kepentingan dan kegunaan
o Gradasi ditentukan dengan melakukan penyaringan terhadap contoh
bahan melalui sejumlah saringan yang tersusun sedemikian rupa dari
ukuran besar hingga kecil; bahan yang tertinggal dalam tiap saringan
kemudian ditimbang.
o Metoda ini digunakan terutama untuk menentukan gradasi agregat yang
akan digunakan sebagai lapis campuran beraspal, pondasi bawah, lapis
pondasi atas atau lapis perkerasan yang lain.
o Hasil pengujian digunakan untuk menentukan pemenuhan gradasi
terhadap persyaratan dalam spesifikasi, selanjutnya hasil evaluasi dapat
digunakan untuk menerima atau menolak agregat yang akan/telah
digunakan, atau untuk keperluan pengendalian produksi.
o Hasil pengujian dapat digunakan juga untuk pengembangan hubungan
antara porositas dan kepadatan.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
54
3) Prinsip pengujian
Analisa saringan ada 2 macam yaitu : Analisa saringan kering dan analisa
saringan basah (dicuci).
a) Analisa saringan kering
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-1968-1990.
Contoh disiapkan dengan menggunakan metode perempat atau alat
pembagi contoh (spliter).
 Siapkan benda uji (agregat) dengan berat tergantung dari ukuran
maksimum agregat, agregat terdiri dari agregat kasar dan halus
dipisahkan menjadi dua bagian/fraksi dengan saringan 4,75 mm
(No.4), kemudian dikeringkan dalam oven pada temperatur (110 ±
5)
o
C sampai berat konstan.
 Benda uji disaring secara terpisah melalui suatu rangkaian satu set
saringan yang ukurannya makin mengecil yang sesuai.
 Berat butir agreagt yang tertahan pada masing-masing saringan
ditimbang dan dinyatakan sebagai persen berat contoh terhadap total
berat dan menunjukkan gradasi dari masing-masing fraksi.
Gambar 2.35. Satu set Saringan
b) Analisa saringan basah (dicuci)
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-1968-1990.
Contoh dipersiapkan seperti uji untuk analisa saringan kering.
 Benda uji/Contoh yang telah ditimbang keadaan kering ditempatkan
pada panci dan direndam dalam air berisi bahan khusus, kemudian
diaduk perlahan-lahan dengan air pencuci dituangkan pada saringan
halus. Ulangi kegiatan diatas beberapa kali hingga air pencuci jernih.
 Agregat tertahan pada saringan disatukan kembali dengan contoh
pada panci dan contoh yang telah dicuci dikeringkan hingga berat
konstan, kemudian timbang.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
55
 Contoh yang telah dicuci disaring dengan cara yang sama seperti
analisa saringan kering.
 Berat butir yang tertahan pada masing-masing saringan dikonversikan
dalam persen, dengan catatan bahwa berat asli kering sebelum dicuci
merupakan berat awal (100%).
9) Pengujian berat Jenis dan penyerapan air agregat kasar
1) Lingkup dan tujuan
o Pengujian ini mencakup cara persipan benda uji, peralatan, dan cara
pengujian penentuan berat jenis curah, berat jenis curah jenuh
permukaan, berat jenis semu, dan penyerapan air agregat kasar.
Berat jenis curah, adalah perbandingan antara berat agregat kering dan
air suling yang isinya sama dengan isi agregat keadaan jenuh pada
temperatur 25
o
C.
Berat jenis kering permukaan jenuh, adalah perbandingan antara berat
agregat kering permukaan dan air suling yang isinya sama dengan isi
agregat keadaan jenuh pada temperatur 25
o
C.
Berat jenis semu, adalah perbandingan antara berat agregat kering dan
air suling yang isinya sama dengan isi agregat keadaan kering pada
temperatur 25
o
C.
Penyerapan air, adalah perbandingan berat air yang dapat diserap quarry
terhadap berat agregat kering, dinyatakan dalam prosen
o Untuk memperoleh angka berat jenis curah, berat jenis permukaan, berat
jenis semu, serta besarnya angka penyerapan.
2) Kepentingan dan kegunaan
o Berat jenis curah merupakan karakteristik umumnya digunakan untuk
menentukan volume agregat dalam campuran, misal beton aspal, beton
semen dan campuran lain dimana penentuan komposisinya didasarkan
pada volume absolut.
o Berat jenis curah juga digunakan untuk menentukan rongga dalam
agregat.
o Penyerapan digunakan untuk menghitung perubahan berat agregat
akibat air yang terserap pori dalam agregat dibandingkan dengan berat
agregat dalam keadaan kering.
o Hasil pengujian ini dapat digunakan dalam pekerjaan penyelidikan quary
agregat dan perencanaan campuran serta pengendalian mutu
3) Prinsip pengujian :
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-1969-1990.
o Benda uji yang tertahan saringan no.4 (4,75 mm) diperoleh dari alat
pemisah atau kuartering, kemudian cuci untuk menghilangkan debu atau
bahan lain yang melekat pada permukaan, keringkan dalam oven pada
temperatur (110 ± 5)
o
C sampai berat tetap, lalu dinginkan temperatur
ruang dan timbang (=Bk).
o Rendam benda uji dalam air selama 24 jam, agar pori terisi air.
o Keluarkan benda uji dari air, lap dengan kain penyerap sampai selaput air
pada permukaan hilang, kemudian timbang benda uji kering permukaan
jenuh (=Bj).
o Letakkan benda uji didalam keranjang, goncangkan batunya untuk
mengeluarkan udara yang tersekap dan tentukan beratnya di dalam air
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
56
(=Ba), dan ukur temperatur air untuk penyesuaian perhitungan ke
temperatur standar (25°C).
o Berat Jenis dan Penyerapan agregat kasar dinyatakan dengan
persamaan:
- Berat Jenis Curah (bulk specific gravity) =
- Berat Jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry) =
- Berat Jenis semu (apparent specific gravity) =
- Penyerapan (absorpsi) =
dimana : Bk = berat benda uji kering oven, dalam gram
Bj = berat benda uji kering permukaan jenuh, dalam gram
Ba = berat benda uji kering permukaan jenuh di dalam air,
dalam gram
10) Pengujian berat Jenis dan penyerapan air agregat halus
1) Lingkup dan tujuan
o Pengujian ini mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara
pengujian penentuan berat jenis curah dan berat jenis semu serta
penyerapan agregat halus.
Berat jenis curah, adalah perbandingan antara berat agregat kering dan
air suling yang isinya sama dengan isi agregat keadaan jenuh pada
temperatur 25
o
C.
Berat jenis kering permukaan jenuh, adalah perbandingan antara berat
agregat kering permukaan dan air suling yang isinya sama dengan isi
agregat keadaan jenuh pada temperatur 25
o
C.
Berat jenis semu, adalah perbandingan antara berat agregat kering dan
air suling yang isinya sama dengan isi agregat keadaan kering pada
temperatur 25
o
C.
Penyerapan air, adalah perbandingan berat air yang dapat diserap quarry
terhadap berat agregat kering, dinyatakan dalam prosen
o Hasil pengujian ini dapat digunakan dalam pekerjaan penyelidikan quary
agregat dan perencanaan campuran serta pengendalian mutu
2) Kepentingan dan kegunaan
o Berat jenis curah dan berat jenis semu yang umumnya digunakan pada
perhitungan volume yang ditempati agregat pada berbagai campuran
yang menggunakan agregat, misal beton aspal, beton semen atau
campuran lain dimana proporsinya ditentukan menurut volume absolut.
o Berat jenis curah juga digunakan pada perhitungan rongga dalam agregat
serta kadar air dalam agregat.
Ba Bj
Bk
÷
Ba Bj
Bj
÷
% 100 x
Bk
Bk Bj ÷
Ba Bj
Bk
÷
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
57
o Berat jenis curah yang ditentukan berdasarkan kondisi jenuh permukaan
digunakan apabila agregat dalam keadaan basah, yaitu apabila
penyerapan telah berlangsung. Sebailknya, berat jenis curah yang
ditentukan berdasarkan kondisi kering digunakan dalam perhitungan
apabila agregat kering atau dianggap kering.
o Berat jenis semu menyangkut berat isi relatif bahan padat yang
membentuk butir tanpa pori yang dapat diresapi air. Berat isi semu jarang
digunakan dalam konstruksi yang menggunakan agregat.
o Penyerapan digunakan untuk menghitung perubahan berat agregat
sebagai akibat adanya air yang terserap oleh pori.
o Hasil pengujian ini dapat digunakan dalam pekerjaan penyelidikan quary
agregat dan perencanaan campuran serta pengendalian mutu
3) Prinsip pengujian :
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-1970-1990.
o Benda uji yang lolos saringan no.4 (4,75mm), didapat dari alat pemisah
atau kuartering, keringkan dalam oven pada temperatur (110 ± 5)
o
C
sampai berat tetap.
o Benda uji direndam di dalam air selama 24 jam, kemudian buang air
perendam, tebarkan diatas talam dan lakukan pengeringan pada
temperatur udara dengan cara membalik-balikkan benda uji, hingga
tercapai keadaan kering permukaan jenuh.
o Masukkan benda uji kering permukaan jenuh sebanyak 500 gram (=A)
dan air suling ke dalam piknometer, kemudian putar sambil diguncang
sampai tidak terlihat gelembung udara di dalamnya.
o Rendam piknometer dalam air dan ukur temperatur air untuk
penyesuaian perhitungan ke temperatur standar (25°C), kemudian
tambahkan air hingga mencapai tanda batas. Selanjutnya timbang
piknometer berisi air dan benda uji dengan ketelitian 0,1 gr. (=Bt).
o Keluarkan benda uji, keringkan dalam oven sampai berat tetap dan
timbang benda uji setelah dingin (=Bk).
o Berat jenis dan Penyerapan agregat halus dinyatakan dengan persamaan
:
- Berat Jenis Curah (bulk specific gravity) =
Bt - A B
Bk
+
- Berat Jenis kering permukaan jenuh (saturated surface dry) =
Bt - A B
A
+
- Berat Jenis semu (apparent specific gravity) =
Bt - Bk Bk
Bk
+
- Penyerapan (absorpsi) =
x100%
Bk
Bk) (A ÷
dimana : Bk = berat benda uji kering oven (gram)
B = berat piknometer berisi air (gram)
Bt = berat piknometer berisi benda uji dan air (gram)
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
58
A = 500 = berat benda uji dalam keadaan kering
permukaan jenuh (gram)
11) Pengujian partikel ringan dalam agregat
a) Lingkup dan tujuan
o Pengujian ini mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, dan cara
pengujian penentuan persentase partikel ringan yang terdapat dalam
agregat.
Partikel ringan yang dimaksud adalah partikel yang mengapung di atas
larutan yang berat jenisnya 2,0.
o Untuk mengetahui kadar partikel ringan dalam agregat.
b) Kepentingan dan kegunaan
o Adanya partikel ringan pada agregat dengan jumlah besar yang
digunakan sebagai campuran aspal panas akan mengganggu stabilitas
campuran.
o Pada pengujian ini digunakan cairan kental yang mempunyai berat jenis
2,0 untuk memisahkan partikel yang dapat diklasifikasikan sebagai batu
bara atau lignit.
o Cairan yang lebih kental dapat digunakan untuk memeriksa persentase
partikel ringan jenis lain.
o Pengujian ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi butir-butir
agregat yang porus dalam analisis petrografik atau keperluan penelitian.
c) Prinsip pengujian :
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-3416-1994.
(proses pengujian menggunakan agregat halus)
o Benda uji yang lolos saringan no 4 dan tertahan diatas saringan no. 50,
keringkan dalam oven pada temperatur (110 ± 5)
o
C hingga berat tetap,
kemudian diamkan pada temperatur ruang selama 1 menit hingga butiran
yang lolos saringan tersebut diperkirakan kurang dari 1% dan timbang.
Selanjutnya masukkan kedalam gelas kimia 1.
o Aduk di dalam gelas kimia dengan larutan seng klorida, kemudian ambil
partikel yang terapung di atas larutan lalu pindahkan ke dalam gelas
kimia 2 yang kosong. Kembalikan ke gelas kimia 1 larutan yang terbawa
di dalam gelas kimia 2, kemudian dikocok. Ulangi proses kegiatan
tersebut sampai agregat bebas dari partikel yang mengapung.
o Cuci partikel ringan dengan air, kemudian keringkan di dalam oven dan
dinginkan pada temperatur ruang serta timbang partikel ringan.
o Partikel ringan dalam agregat dinyatakan dengan persen berat partikel
ringan dalam agregat halus dengan rumus :
L1 = ( W1 / W2 ) x 100 %
Dimana : L1 = % berat partikel ringan dari agregat halus
W1= Berat kering partikel yang terdekantasi dari agregat
halus
W2 = Berat kering agregat halus yang lolos saringan no 4 dan
tertahan saringan no. 50
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
59
12) Pengujian gumpalan lempung dan butiran yang mudah pecah dalam
agregat
a) Lingkup dan tujuan
o Pengujian ini mencakup persiapan benda uji, peralatan, dan cara
pengujian penentuan perkiraan gumpalan lempung (clay lumps) dan butir
rapuh/mudah pecah (friable particles) yang terdapat dalam agregat alam.
o Untuk memperoleh prosen gumpalan lempung dan butir-butir yang mudah
pecah dalam agregat halus maupun kasar
b) Kepentingan dan kegunaan
o Sebagai bahan jalan, butiran agregat yang lemah tidak dikehendaki.
Butiran-butiran yang menjadi lemah jika terkena air lebih tidak diinginkan
karena perkerasan jalan akan terkena tingkat kebasahan yang tinggi,
selain hal tersebut jika sampai pecah biasanya menunjukkan suatu
kecenderungan bahwa butiran lemah ini mengandung lempung.
o Hasil pengujian ini dapat digunakan digunakan untuk pekerjaan
perencanaan dan pembangunan jalan
c) Prinsip pegujian :
Alat dan prosedur pengujian sesuai dengan SNI 03-4141-1996.
o Masukkan benda uji ke dalam wadah tertentu dengan berat sesuai ukuran
agregat (agregat halus lolos saringan no.4 dan tertahan saringan no.16,
minimum 100 gr, sedangkan untuk agregat kasar beratnya dipisah dalam
beberapa fraksi sesuai dengan ukuran saringan no.4, 3/8”, ¾” dan 1 ½”).
o Isikan air suling ke dalam wadah hingga benda uji yang ada di dalam
cukup terendam dan biarkan selama (24 ± 4) jam, kemudian pecahkan
butir-butir yang mudah dipecah, dengan cara diremas dengan jari atau
telunjuk.
o Pisahkan benda uji yang sudah pecah dari sisa benda uji yang masih utuh
dengan penyaringan basah diatas saringan yang sesuai dengan ukuran
saringan terentu, kemudian keluarkan butir-butir yang tertahan pada
saringan dan keringkan dalam oven pada temperatur (110 ± 5)
o
C hingga
berat tetap dan timbang.
o Gumpalan lempung dan butiran yang mudah pecah dinyatakan dengan
persen dari setiap fraksi ukuran agregat yang mudah pecah dengan
persamaan :
dimana : P = gumpalan lempung dan butir-butir mudah pecah dalam
agregat (%).
W = berat benda uji (gram).
R
d
= berat benda uji kering oven yang tertahan pada masing-
masing ukuran saringan setelah dilakukan penyaringan
basah (gram).
% 100
) (
x
W
R
d
W
P
÷
=
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
60
7. Pengujian Campuran
7.1. Pengujian Marshall Campuran Berapal
Metode Marshall standar diperuntukkan untuk perencanaan campuran beraspal
dengan ukuran agregat maksimum 25 mm (1 inci) adalah sesuai RSNI M-01-
2003. sedangkan untuk ukuran butir maskimum lebih besar dari 25 mm (1 inchi)
digunakan prosedur Marshall modifikasi sesuai RSNI M-06-2004.
Pengujian Marshall dimulai dengan persiapan benda uji, untuk keperluan ini
perlu diperhatikan hal sebagai berikut :
 Bahan yang digunakan masuk spesifikasi
 Kombinasi agregat memenuhi gradasi yang disyaratkan.
 Untuk keperluan analisa volumetrik (density-voids), berat jenis bulk dari semua
agregat yang digunakan pada kombinasi agregat, dan berat jenis aspal keras
harus dihitung terlebih dahulu.
Ukuran benda uji adalah tinggi 64 mm (2 1/2 inci) dan diameter 102 mm (4 inci),
untuk ukuran agregat maksimum 25 mm (1 inci) sesuai RSNI M-01-2003 dan
tinggi 95,2 mm (3,75 inci) dan diameter 152,4 mm (6 inci) untuk ukuran butir
maskimum lebih besar dari 25 mm (1 inchi) sesuai RSNI M-06-2004, yang
dipersiapkan dengan menggunakan prosedur khusus untuk pemanasan,
pencampuran dan pemadatan campuran agregat dengan aspal. Dua prinsip
penting pada perencanaan campuran dengan pengujian Marshall adalah analisa
volumeterik dan analisa stabilitas-kelelehan (flow) dari benda uji padat.
Stabilitas benda uji adalah daya tahan beban maksimum benda uji pada
temperatur 60°C (140°F).
Nilai kelelehan adalah perubahan bentuk suatu campuran beraspal yang terjadi
pada benda uji sejak tidak ada beban hingga beban maksimum yang diberikan
selama pengujian stabilitas.
Pada penentuan kadar aspal optimum untuk suatu kombinasi agregat atau
gradasi tertentu dalam pengujian Marshall, perlu disiapkan suatu seri dari contoh
uji dengan interval kadar aspal yang berbeda sehingga didapatkan suatu kurva
lengkung yang teratur.
Pengujian agar direncanakan dengan dasar ½ % kenaikan kadar aspal dengan
perkiraan minimum dua kadar aspal diatas optimum dan dua kadar aspal
dibawah optimum.
Secara garis besar penyiapan benda uji dan pengujian sebagai berikut :
1) Penyiapan benda uji :
- Jumlah benda uji, minimum tiga buah untuk masing-masing kombinasi
agregat dan aspal.
- Oven dalam kaleng (loyang) agregat yang sudah terukur gradasi dan sifat
mutu lainnya, sampai temperatur yang diinginkan.
- Panaskan aspal terpisah sesuai panas yang diinginkan pula.
- Cetakan dimasukkan dalam oven yang mempunyai temperatur 93
0
C.
- Campur agregat dan aspal sampai merata.
- Keluarkan dari oven cetakan dan siapkan untuk pengisian campuran,
setelah campuran dimasukkan kedalam cetakan tusuk-tusuk dengan
spatula 10 x bagian tengah dan 15 x bagian tepi.
- Padatkan contoh uji sebanyak 2 x 75 tumbukan untuk benda uji standar (4
inci) atau sebanyak 2 x 112 tumbukan untuk benda uji modifikasi (6 inci).
- Setelah kira-kira temperatur hangat keluarkan benda uji dari cetakan
dengan menggunakan Extruder.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
61
- Diamkan contoh 1 malam, kemudian periksa berat isinya.
- Rendam dalam water bath yang mempunyai temperatur 60
0
C selama 30
menit.
2) Pelaksanaan pengujian
Metode Marshall standar seperti diuraikan di atas diperuntukkan untuk
perencanaan campuran beton aspal dengan ukuran agregat maksimum 25
mm (1 inci) sesuai RSNI M-01-2000, sedangkan untuk ukuran butir
maskimum lebih besar dari 25 mm (1 inchi) digunakan prosedur Marshall
modifikasi sesuai RSNI M-06-2004.
Prosedur Marshall yang dimodfikasi pada dasarnya sama dengan metode
Marshall standar, namun karena campuran beraspal menggunakan ukuran
butir maksimum yang lebih besar maka digunakan diameter benda uji yang
lebih besar pula, yaitu 15,24 cm (6 inci) dan tinggi 95,2 mm. Berat palu
penumbuk 10,2 kg (22 lbs) dengan tinggi jatuh 457 mm (18 inci) dan benda
uji secara tipikal mempunyai berat sekitar 4 kg.
Kriteria perencanaan harus diubah di mana stabilitas minimum ditingkatkan
2,25 kali sedangkan kelelehan 1,5 kali dari ukuran benda uji normal (diamter
4 inci).
Pengujian stabilitas dan kelelehan (flow) adalah setelah penentuan berat
jenis bulk benda uji dilaksanakan, pengujian stabilitas dan kelehan
dilaksanakan dengan menggunakan alat uji seperti pada Gambar 2.36.
Alat dan prosedur pengujian berdasarkan SNI 06-2489-1991, secara garis
besar adalah sebagai berikut :
- Rendam benda uji pada temperatur 60°C (140°F) selama 30 menit sampai
40 menit sebelum pengujian.
- Keringkan permukaan benda uji dan letakkan pada tempat yang tersedia
pada alat uji.
- Setel dial pembacaan stabilitas dan kelehan. Lakukan pengujian dengan
kecepatan deformasi konstan 51 mm (2 in.) per menit sampai terjadi
runtuh.
- Catat besarnya stabilitas dan kelelehan yang terjadi pada dial.
Gambar 2.36. Alat pengujian Marshall
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
62
7.2. Pengujian Stabilitas Dinamis
Cara uji stabilitas dinamis yang ditetapkan pada standar diperuntukkan untuk
perencanaan campuran. Alat uji yang digunakan adalah Wheel Tracking
Machine (WTM) pada temperatur 60
o
C dan prosedur pengujian sesuai Manual
for Design and Construction of Asphalt Pavement -Japan Road Association, JRA
(1980). Gambar alat Wheel Tracking Machine (WTM) dan alat pelengkap lainnya
disajikan pada Gambar 2.37a.
Prosedur pembuatan benda uji mengikuti tahapan berikut ini
- Siapkan agregat campuran hasil penggabungan dari beberapa fraksi agregat
sesuai spesifikasi gradasi untuk pengujian dengan alat Marshall yaitu: kira-kira
seberat 9.700 gram atau seberat {30 cm x 30 cm x 5 cm x ¸
Marshall
(gram/cm
3
) x
1,02 x - berat aspal (gram)} gram.
- Keringkan agregat campuran tersebut 28
o
C di atas temperatur pencampuran
dan sekurang-kurangnya 4 jam di dalam oven
- Panaskan wadah pencampur kira-kira 28oC di atas temperatur pencampuran
aspal
- Masukkan agregat campuran yang telah dipanaskan kedalam wadah
pencampur
- Tuangkan aspal yang sudah mencapai tingkat kekentalan seperti pada Tabel 1
sebanyak yang dibutuhkan (sesuai Formula Rancangan Campuran atau
Formula Campuran Kerja) ke dalam agregat campuran yang sudah
dipanaskan, kemudian aduk dengan cepat sampai agregat terselimuti aspal
secara merata.
- Bersihkan perlengkapan cetakan berdiameter 152,1 mm untuk benda uji serta
bagian telapak penumbuk dengan seksama dan panaskan sampai temperatur
antara 90
o
C – 150
o
C.
- Letakkan cetakan benda uji tersebut di atas alas cetakan dan longgarkan
kedua bautnya, oleskan vaselin pada bagian dalam cetakan kemudian letakkan
kertas saring atau kertas penghisap dengan ukuran yang sesuai dengan
ukuran dasar cetakan.
- Masukkan seluruh campuran beraspal panas ke dalam cetakan dan tusuk-
tusuk campuran dengan spatula yang telah dipanaskan sebanyak 15 kali di
sekeliling pinggirannya dan 10 kali di bagian tengahnya.
- Letakkan kertas saring atau kertas penghisap di atas permukaan benda uji
dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran cetakan.
- Siapkan dan setel alat pemadat roda baja sehingga posisi roda baja sesuai
untuk pemadatan dengan tebal benda uji yang direncanakan, kemudian atur
setelan beban pemadat dengan menggeser beban sesuai skala pengukur
beban sehingga berat beban pemadat seberat 220 kg.
- Setel pengatur jumlah lintasan sesuai dengan yang direncanakan (misal jumlah
lintasan hasil kalibrasi sebanyak 35 lintasan) sehingga bila jumlah lintasan
sudah tercapai maka mesin pemadat secara otomatis akan berhenti.
- Letakan cetakan yang sudah berisi campuran beraspal serta telah dipasang
kertas saring atau kertas penghisap tepat atau tegak lurus pada sumbu roda
pemadat dengan mengatur alat pengatur penggerak landasan pemadat secara
manual.
- Padatkan campuran beraspal dengan menggunakan alat pemadat roda baja
dengan beban sebesar 220 kg dan jumlah lintasan sebanyak 35 lintasan;
- Keluarkan benda uji dengan hati-hati dan letakkan di atas permukaan yang
rata dan biarkan selama kira-kira 24 jam pada suhu ruang.
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
63
- Bila diperlukan pendinginan yang lebih cepat dapat digunakan kipas angin
meja.
Pengujian stabilitas dinamis dengan alat Wheel Tracking Machine (WTM) adalah
benda uji yang harus disiapkan adalah sebanyak 3 buah dan pelaksanaan
pengujian dilakukan di laboratorium dalam ruang dengan temperatur 60
o
C.
Pengujian biasanya dilaksanakan selama 60 menit, dan untuk mengevaluasi
deformasi hasil pengujian dilakukan pada saat 45 menit dan 60 menit.
Hasil pengujian umumnya akan menunjukkan hubungan antara waktu dan nilai
deformasi seperti diperlihatkan pada Gambar 2.37b. Disamping itu hasil
pengujian dengan mesin Wheel Tracking Machine ini memperlihatkan nilai
kedalaman alur yang dihubungkan dengan jumlah lintasan beban yang
melewatinya (Stabilitas dinamis, lintasan/mm) makin besar nilai stabilitas
dinamis, lapisan beraspal semakin tahan menerima beban lalu-lintas.
Untuk kasus dimana kurva deformasi berbentuk lengkung berubah, deformasi
konsolidasi diperoleh dengan menarik garis singgung pada titik perubahan
sampai memotong sumbu nilai deformasi, titik perpotongan tersebut disebut
deformasi awal atau konsolidasi.
Hasil pengujian yang dievaluasi umumnya adalah laju deformasi, stabilitas
dinamis, defomasi konsolidasi, nilai-nilai tersebut diperoleh sesuai persamaan
dibawah ini:
( )
2 1 1 2
1 2
C x C x d d
) t (t x 42
DS
÷
÷
=
Dengan:
DS = Stabilitas dinamis (lintasan/mm)
d
1
= Deformasi saat t
1
(45 menit)
d
2
= deformasi saat t
2
(60 menit)
C
1
= Faktor koreksi = 1,5 (Chen) untuk mesin uji kecepatan tetap dan 1,0
(Crunk) untuk mesin uji kecepatan berubah
C
2
= Faktor koreksi = 0,8, untuk benda uji ukuran lebar 150 mm dan = 1,
untuk benda uji ukuran lebar 300 mm
1 2
45 60
t - t
d - d
RD =
Dengan:
RD = laju deformasi
d
1
= deformasi saat t
1
(45 menit)
d
2
= deformasi saat t
2
(60 menit)
t
1
= lamanya waktu pengujian 45 menit
t
2
= lamanya waktu pengujian 60 menit
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
64
Gambar 2.37a. Alat pemadat campuran beraspal untuk benda uji pengujian
stabilitas dinamis dengan alat Wheel Tracking Machine (WTM)
Gambar 2.37b. Hubungan Waktu dan deformasi
Buku 2: Pedoman Pemanfaatan Asbuton
65
7.3. Pengujian Bahan Jadi (Kepadatan)
Untuk pengujian kepadatan lapangan dilakukan dengan pengambilan contoh inti
padat dari core drill atau memotong permukaan perkerasan atau pengujian
dengan nuclear density tester.
Selanjutnya contoh inti padat diuji di laboratorium untuk mendapatkan kepadatan
campuran beraspal.
Pengujian kepadatan dengan cara apapun agar dilaksanakan berdasarkan
pengujian secara acak (random), dengan jumlah minimum tertentu, umumnya
setiap jarak 200 m. Nilai rata-rata kepadatan dan nilai tunggal yang didapat dari
pengujian kepadatan harus masuk dalam kriteria yang dipersyaratkan oleh suatu
proyek (umumnya derajat kepadatanya minimum 98 % dari kepadatan
laboratorium). Pengambilan contoh inti dapat digunakan juga untuk mengukur
ketebalan padat suatu hamparan campuran aspal panas.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian kepadatan dengan core drill :
- Contoh uji yang diambil dari lapangan pada umumnya basah karena pada saat
pengambilan contoh dibantu dengan semprotan air.
- Penimbangan contoh uji untuk mencari berat kering tidak boleh dilakukan
dengan tergesa-gesa. Misalnya pengambilan contoh uji malam hari dan
kemudian penimbangan dilakukan pada pagi hari, hal tersebut dapat
mengakibatkan contoh uji masih mengandung kadar air, dan berakibat berat
contoh menjadi lebih tinggi dari yang sebenarnya. Dengan berat contoh yang
lebih tinggi tersebut kepadatan menjadi lebih tinggi dari yang sebenarnya.
- Penimbangan contoh uji harus dilakukan setelah beratnya konstan. Artinya
tidak ada perubahan berat akibat kadar air yang masih dikandungnya
menguap, atau dengan kata lain penimbangan harus dilakukan setelah contoh
uji benar-benar kering. Pada umumnya sebelum pengujian contoh uji harus
diangin-angin atau dijemur terlebih dahulu untuk menghilangkan kadar air yang
mungkin masih dikandungnya, sampai tercapai berat konstan.
Sebagai tambahan, kadang-kadang dilakukan pengambilan contoh dilapangan
sebelum pemadatan untuk pengujian gradasi dan extraksi. Contoh ini diambil
dari truk atau dari hopper mesin penghampar.
Gambar 2.38. Alat pengambil contoh inti (core drill)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->