P. 1
3 Kajian Kerentanan Kota Bandar Lampung1

3 Kajian Kerentanan Kota Bandar Lampung1

|Views: 23|Likes:
Published by Erland Prasetya

More info:

Published by: Erland Prasetya on May 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2015

pdf

text

original

Sections

  • 1.1. Latar Belakang Studi
  • Gambar 2-1 Posisi Kota Bandar Lampung terhadap daerah sekitarnya
  • Gambar 2-2 Peta Administrasi Kota Bandar Lampung
  • Tabel 2-4. Fungsi Bagian Wilayah Kota (BWK) Bandar Lampung
  • Distribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandar Lampung, 2007
  • BAB 3 KONDISI IKLIM HISTORIS DI BANDAR LAMPUNG
  • 3.1. Kondisi Iklim dan Cuaca Ekstrim
  • Gambar 3-1 Plot time series curah musiman di Bandar Lampung.
  • 3.1.2. Angin ekstrim
  • 3.2. Analisis tren perubahan iklim di kota Bandar Lampung
  • 3.2.1. Tren curah hujan
  • Gambar 3-3 Pola spasial tren curah hujan musiman di Bandar Lampung.
  • BAB 4 DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM
  • Tabel 4-1. Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung
  • Gambar 4-9 Kisaran Biaya yang Dikeluarkan oleh Warga (dalam Rupiah)
  • Gambar 4-10 Persentase Media Informasi Prakiraan yang digunakan
  • BAB 5 PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF
  • Tabel 6-2. Bobot dan rumus untuk menghitung indeks bencana iklim
  • Gambar 6.4. Jumlah Kelurahan menurut kategori Indeks Risiko Iklim
  • Tabel 7-7. Analisis Kapasitas Pemerintahan
  • 8.2. Pembelajaran
  • 8.4. Adaptasi dan Ketahanan:
  • 8.5. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif:
  • Tabel 8-2 Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung
  • Tabel 8-3 Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KERENTANAN DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI KOTA BANDAR LAMPUNG

2010

RINGKASAN
Di masa depan, perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global diperkirakan akan menciptakan pola-pola risiko baru, dan risiko yang lebih tinggi secara umum. Kenaikan permukaan laut akibat mencairnya gletser dan es kutub dan ekspansi termal akan memberikan kontribusi pada peningkatan banjir pesisir. Bandar Lampung sebagai kota pesisir akan terpengaruh secara serius oleh perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Saat ini, beberapa wilayah pesisir sudah dipengaruhi oleh peningkatan permukaan laut. Banjir dan kekeringan juga terjadi cukup sering. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah melaksanakan berbagai program dan juga mengembangkan strategi jangka menengah dan panjang untuk mengelola bencana. Rencana untuk meningkatkan infrastruktur untuk pengendalian bencana iklim seperti sistem drainase dan tanggul telah disiapkan. Namun, dengan meningkatnya perubahan iklim pada frekuensi dan intensitas kejadian iklim yang ekstrim, desain saat ini mungkin sudah tidak efektif untuk mengelola bencana iklim pada masa mendatang. Oleh karena itu juga sangat penting untuk mempertimbangkan perubahan iklim dalam merancang sistem kontrol bencana iklim. ISET di bawah Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN dengan dukungan dari Yayasan Rockefeller, mengkoordinasikan studi tentang penilaian kerentanan dan adaptasi perubahan iklim yang dilakukan oleh MercyCorps, URDI dan CCROM SEAP-IPB di Bandar Lampung. Penelitian bertujuan (i) mengkaji variabilitas iklim saat ini dan masa depan di Bandar Lampung, (ii) menilai kerentanan dan kapasitas adaptasi serta risiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat kelurahan, (iii) mengidentifikasi dampak langsung dan tidak langsung dari bencana iklim sekarang dan di masa depan di tingkat kelurahan, (iv) mengidentifikasi daerah dan kelompok sosial yang paling rentan, dan dimensi kerentanan, termasuk kapasitas adaptasi masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, (v) mengidentifikasi masalah kelembagaan dan tata kelola pemerintahan yang mngkin mempengaruhi ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan, dan (vi) mengembangkan rekomendasi awal untuk Bandar Lampung dalam meningkatkan ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan

PROFIL DAN IKLIM KOTA BANDAR LAMPUNG Bandar Lampung adalah ibu kota Provinsi Lampung. Secara geografis Bandar Lampung terletak pada 5o20 '- 5o30’ lintang dan bujur 105o28'-105o37'. Bandar Lampung memiliki luas wilayah 19.722 hektar yang terdiri dari 13 kecamatan dan 98 desa (Kelurahan). Kota ini dilalui oleh dua sungai besar yaitu Way Kuala dan Kuripan dan 23 sungai kecil. Semua sungai-sungai ini membentuk DAS yang terletak di daerah Bandar Lampung dan sebagian besar mengarah ke Teluk Lampung. Beberapa jaringan drainase buatan menghubungkan sistem sungai di wilayah ini. Fungsi jaringan drainase ini adalah untuk mengurangi aliran permukaan sebagai akibat dari air hujan yang berlebihan. sistem jaringan drainase yang telah terinstal di Bandar Lampung meliputi Teluk Betung, Tanjung Karang, Panjang dan Kandis.

ii

Warga Bandar Lampung memenuhi kebutuhan air bersih melalui perusahaan air minum daerah (PDAM) dan dengan mengambil air tanah dangkal/dalam melalui sumur gali. Saat ini, PDAM hanya mampu melayani 32% dari total penduduk Bandar Lampung. Kedalaman sumur gali adalah sekitar 30 hingga 50 meter dari permukaan tanah setempat. Bandar Lampung merupakan kota pelabuhan yang penting untuk kawasan Sumatera. Pelabuhan Kota Bandar Lampung terletak di suatu pantai berbentuk teluk sehingga gelombang tinggi sebagai akibat angin kencang tidak sepenuhnya langsung mengenai kawasan pantai. Meskipun demikian, di beberapa tempat kawasan pantai, sudah terjadi abrasi oleh gelombang laut. Di beberapa lokasi, wilayah pesisir merupakan kawasan padat penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal, penduduk membangun rumah tempat tinggal di lahan hasil penimbunan pantai (reklamasi) sehingga terjadi akresi. Banyak dari para pemukim tidak memiliki bukti kepemilikan tanah secara hukum. Kondisi ini akan menjadi salah satu masalah serius dalam mewujudkan rencana Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk menciptakan Water Front City. Jumlah penduduk di Bandar Lampung pada tahun 2008 adalah 822.880 orang dengan kepadatan penduduk sekitar 42 orang per ha. Kepadatan penduduk tidak merata. Kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi berada di Tanjung Karang Tengah dan Teluk Betung Selatan. Berdasarkan kelompok umur, proporsi terbesar penduduk Bandar Lampung adalah kelompok umur 20-24 dengan populasi 95.597 orang, diikuti oleh kelompok usia 15-19 dengan populasi 95.537 orang. Usia produktif (usia 15-55 tahun) di Bandar Lampung mencapai jumlah 546.920 atau 64,75% dari total penduduk. Sumber pendapatan masyarakat bervariasi. Perdagangan adalah mata pencaharian utama penduduk. Sebagian besar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bandar Lampung berasal dari transportasi dan komunikasi (19,6%), industri pengolahan (17,6%), jasa (16,9%) dan perdagangan, hotel, restoran (16,6%). Pertanian hanya berkontribusi 5% terhadap PDRB. Berdasarkan analisis terhadap data iklim historis yang panjang, ditemukan bahwa ada perubahan trend dan variabilitas variabel iklim seperti suhu dan curah hujan. Bukti paling nyata dapat dilihat dari trend peningkatan suhu permukaan ratarata selama 100 tahun terakhir di kota itu. Perubahan curah hujan musiman juga ditemukan, yaitu pergeseran awal musim dan perubahan frekuensi curah hujan ekstrim. Berdasarkan 14 model iklim global (GCM), diindikasikan bahwa curah hujan musim basah (musim hujan) Bandar Lampung City (DJF) di masa depan mungkin sedikit meningkat, terutama di kawasan pesisir. Sebaliknya, curah hujan musim kering (JJA) akan menurun. Namun, analisis iklim di masa mendatang mungkin perlu disempurnakan dengan menggunakan model iklim dengan resolusi tinggi seperti RCM. Penggunaan model global seperti GCM tidak akan mampu menangkap efek lokal. Analisis lebih lanjut mengenai cuaca ekstrim di bawah perubahan iklim juga harus dilakukan. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pemanasan global akan mendatangkan kejadian lebih ekstrim.

iii

Panjang Selatan). Pasir Gintung. transaksi pola produksi dan nilai-nilai sosial lainnya. Jenis bencana alam yang melanda Kota Bandar Lampung meliputi banjir. kondisi perumahan padat penduduk dengan lingkungan relatif kurang nyaman. tetapi ini terjadi hanya di daerah sekitar bencana tersebut. Berdasarkan sektor ekonomi. dan pertanian. kekeringan menyebabkan kerugian di bidang pertanian. informasi ini juga dipertajam melalui diskusi kelompok terfokus (FGD) di empat Kelurahan: Panjang Selatan. Hal ini dapat dilihat dari kerja sama penduduk atau kekerabatan dalam menangani masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. Sementara itu. Bencana juga dapat menyebabkan meningkatnya insiden kejahatan seperti pencurian. survei dan wawancara dilakukan di enam kelurahan.28% dan 36. perumahan dan sektor perikanan. Abrasi. Survei ini melibatkan 256 orang.DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM Kota Bandar Lampung sangat rawan terhadap bencana alam. dan Pasir Gintung serta melalui studi literatur. dan Sukabumi Indah). yaitu. penduduk di daerah pesisir bersedia untuk pindah sepanjang mereka diberikan fasilitas dan rumah-rumah yang layak dan relokasi tidak jauh dari laut. Bencana mengurangi produktivitas kerja terutama jika pekerjaan utama masyarakat rentan terhadap dampak bencana. tanaman dan ternak. terutama malaria. Untuk mengevaluasi dampak sosialekonomi bencana terkait iklim. sehingga mereka masih bisa melakukan pekerjaan mereka saat ini (nelayan). Dari studi ini terungkap bahwa terjadinya bencana iklim (banjir dan kekeringan) mempunyai potensi untuk mengubah urutan nilai-nilai sosial masyarakat. perikanan dan air minum. tiga Kelurahan non-pantai (Batu Putu. kesehatan. Sedangkan sektor yang paling terkena dampak kekeringan adalah air minum. gempa bumi dan kekeringan. Berdasarkan sektor ekonomi. bencana banjir memberikan dampak terbesar pada sektor kesehatan. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan untuk saling membantu saat terjadi bencana.72% perempuan. Dampak bencana terhadap kesehatan adalah meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi penyakit. tsunami. Ekonomi dampak bencana iklim dapat dievaluasi dari dampaknya terhadap pekerjaan utama. Bencana ini juga menyebabkan kenaikan harga beberapa produk pertanian seperti padi. dan rencana pemerintah untuk membangun water front city di daerah pesisir. Selain dari survei. erosi dan sedimentasi juga terjadi di wilayah pesisir. terdiri dari laki-laki 62. Kota Karang. dampak banjir menyebabkan kerugian untuk sektor infrastruktur. sektor air minum. dan harga beberapa komoditas. iv . perikanan. perumahan. Kota Karang. dampak dari bencana tersebut menyebabkan penurunan hubungan ‘patron-klien’ yang sebelumnya merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat pesisir. tanah longsor. Dalam hal hubungan kerja. Batu Putu. hubungan kerja. dan tiga untuk desa pesisir (Kangkung. Karena potensi terulangnya kejadian iklim ekstrim yang dapat menyebabkan bencana di masa depan. seperti pertanian. air pasang menyebabkan rob. dan batuk / flu / pilek. Hubungan sosial antara orang-orang pada saat bencana masih berjalan dengan baik. Masalah kekurangan minum air meningkat pada musim kemarau panjang atau selama bencana banjir. dan pekerjaan umum (kerusakan fasilitas drainase dan infrastruktur lainnya). perikanan dan lain-lain. Banjir di wilayah pesisir dapat mengurangi orang yang bekerja di sektor perikanan.

banyak orang miskin dan sebagian besar wilayah Kelurahan dekat sungai dan pantai dengan daerah terbuka hijau kurang luas. Indeks kerentanan dan kapasitas Kelurahan diukur dengan menggunakan sejumlah indikator sosial-ekonomi dan biofisik. atau instansi terkait lainnya dan tidak ada lembaga penanganan bencana di daerah mereka. Berdasarkan beberapa jenis informasi yang terkait dengan bencana. Intensifikasi pertanian dilakukan dengan melakukan diversifikasi tanaman. yang dimiliki oleh seseorang. Adaptasi selama banjir disikapi oleh penduduk beragam. mengurangi konsumsi air. sebagian besar warga mengaku bahwa mereka tidak pernah mendapat informasi tentang iklim atau peringatan dini dari pemerintah. memompa air dari sumber terdekat. masyarakat berharap di tempat tersedia sistem peringatan dini bencana. pembuatan tanggul. relokasi ke daerah yag tidak mengaklami kekeringan dan melakukan ritual untuk meminta hujan. Strategi mata pencaharian yang dilakukan oleh penduduk adalah pertanian intensifikasi dan pola pendapatan ganda. sumber air minum sebagian besar bukan dari PDAM (sistem perpipaan). Hal ini menggambarkan kurangnya respon pemerintah untuk bencana yang terjadi di masyarakat. kepadatan penduduk tinggi. jika bencana parah dan memaksa mereka untuk pindah. Namun. Bentuk adaptasi juga dapat dilihat pada cara mencari nafkah. meninggikan lantai. The coping capacity index dikembangkan berdasarkan indeks kerentanan dan kapasitas adaptasi dari Kelurahan.Sementara beberapa warga di daerah bukan pesisir merasa enggan pindah karena mereka khawatir kehilangan pekerjaan. mulai dari tinggal di rumah. Sebagian besar penduduk memperoleh informasi tentang prakiraan iklim secara tradisional dari para pemimpin tradisional dan para pemuka masyarakat. memperdalam saluran air. akan lebih rentan (indeks kerentanan tinggi) dibandingkan dengan rumah tangga v . Adaptasi terhadap kekeringan dalam bentuk membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. mereka mengharapkan pemerintah untuk menyediakan perumahan dan pekerjaan baru. Biasanya kegiatan off farm adalah pekerjaan sampingan. menambah pasokan makanan dan bahan bakar. Kelurahan di mana banyak rumah tangga yang mendirikan rumah/bangunan yang terletak di tepi sungai. Dampak bencana yang mengakibatkan perubahan perilaku merupakan suatu bentuk adaptasi. seperti istri dan anak-anak yang telah dewasa. RISIKO IKLIM TINGKAT 'KELURAHAN' Tingkat risiko dari sistem untuk bencana atau kejadian iklim ekstrim (extreme climate event /ECE) akan tergantung pada kapasitas sistem untuk mengatasi kejadian (disebut coping capacity index) dan kemungkinan kejadian iklim ekstrim untuk terjadi. pindah ke daerah yang tidak terkena banjir. EWS (Early Warning System). Pola pendapatan ganda dilakukan dengan dua cara. yang merupakan kombinasi dari mata pencaharian on farm and off farm. Namun. Penelitian ini mengevaluasi tingkat risiko iklim pada level Kelurahan (desa). selain pekerjaan utama. pertama dengan keragaman pendapatan. Yang kedua adalah dengan memberdayakan anggota keluarga. informasi tentang peringatan bencana lebih berguna daripada informasi lainnya. Warga juga menerima ramalan informasi melalui media televisi. Untuk lebih mempersiapkan diri dalam mengelola risiko bencana.

sumber pendapatan utama masyarakat tidak sensitif terhadap bencana iklim (misalnya perdagangan jauh kurang sensitif dibandingkan pertanian) dan memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik dan infrastruktur jalan. kerentanan (VI) dan indeks kapasitas (CI) masing-masing kelurahan dikurangi sebesar 0. High Vulnerability Index +0. Nilai-nilai VI dan CI dinormalisasi sehingga mempunyai nilai yang berada pada kisaran dari 0 ke 1. dan pendidikan (berdasarkan rencana tata ruang atau RTRW) karena data lainnya tidak tersedia.5. konsekuensi kejadian bencana di Kelurahan rentan tinggi akan berkurang jika memiliki kapasitas adaptasi tinggi.yang bangunan di tepi sungainya sedikit.50 Gambar 1.5 sampai 0.50 -0. penduduk miskin sedikit. Klasifikasi kelurahan berdasarkan coping capacity index (kuadran 1 sampai 5) dan jumlah kelurahan yang berada di setiap kuadran pada kondisi saat ini (2005).50 -0. Dengan menggunakan sistem klasifikasi. Faktor-faktor digunakan untuk normalisasi skor indikator-indikator yang sesuai untuk tahun 2025 dan 2050 adalah sama dengan baseline tahun 2005. kami hanya mempertimbangkan perubahan kepadatan penduduk (berdasarkan pada proyeksi pemerintah). Dalam studi ini. Namun.25 Low Vulnerability +0.50 5 4 14 kelurahans 5 3 +0. kita normalkan semua skor indikator sehingga indeks kerentanan dan indeks kapasitas berada pada kisaran dari 0 hingga 1. Untuk menilai perubahan VI dan CI di masa depan. dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan Kelurahan yang terletak di kuadran 1. Konsekuensi (kerusakan.25 22 kelurahans 21 kelurahans -0. VI dan CI akan berkisar dari -0. kepadatan penduduk rendah. Kelurahan dengan indeks kapasitas adaptasi tinggi adalah kelurahan di mana banyak rumah tangga yang berpendidikan tinggi. Sedangkan Kelurahan yang terletak di kuadran 1 akan memiliki VI rendah dan CI tinggi. Kelurahan yang terletak di kuadran 5 akan memiliki VI tinggi dan rendah CI.25 Low Capacity Index 36 kelurahans 2 1 High Capacity Index -0.5. jika Kelurahan terletak di kuadran 5 terkena bencana tertentu. dan hanya sebagian kecil wilayah Kelurahan dekat sungai dan pantai dengan lebih banyak daerah terbuka hijau (indeks kerentanan rendah). kerugian ekonomi dll) yang disebabkan oleh kejadian bencana akan lebih parah di Kelurahan yang memiliki indeks kerentanan tinggi. Posisi relatif dari Kelurahan sesuai dengan VI dan CI ditentukan berdasarkan posisi mereka dalam lima kuadrannya (Gambar 1). dengan mengurangi nilai indeks dengan 0. Untuk mengklasifikasikan Kelurahan berdasarkan coping capacity index mereka.25 Index +0.5. mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari PDAM. wilayah yang bukan daerah terbuka hijau. vi .

Kangkung. Perwata. 36. coping capacity index beberapa kelurahan di kuadran 3 dapat berubah menjadi kuadran 4 pada masa yang akan datang (Gambar 2). Kedaton. Panjang Selatan. Namun. Srengsem. Gambar 2.1% di kuadran 4.2% dari kelurahan berada pada kuadran 5 yang memiliki coping capacity index tinggi (kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan kapasitas yang rendah atau coping capacity index tinggi). Sepang Jaya.Analisis menunjukkan bahwa pada saat ini sekitar 14. Kelurahan di kuadran 5 termasuk Bumi Waras.7% di Kuadran 3. Tanjung Senang. 6-7 kelurahan di Kuadran 5 akan pindah ke kuadran 4 dan 3 menunjukkan bahwa ada peningkatan coping capacity index. Teluk Betung. 22. Gunung Terang.4% di Kuadran 1 (Kelurahan dengan kerentanan rendah dan indeks kapasitas tinggi). 5. Kota Karang.4% di Kuadran 2 dan 21. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas bertahan dari kelurahan akan menurun di masa depan (Gambar 3). Coping capacity kelurahan di Bandar Lampung vii . Way Kandis dan Waydadi. Garuntang. Jumlah kelurahan menurut coping capacity index (kuadran 1-5) saat ini dan di masa depan (2025 dan 2050) Gambar 3. Pada tahun 2025 dan 2050.

Untuk mengakomodasi beberapa bencana iklim yang terhimpun dalam penilaian risiko iklim. Jadi kita dapat mendefinisikan bahwa risiko iklim akan sangat tinggi di kelurahan pada kuadran 5 jika probabilitas kejadian iklim ekstrim di Kelurahan ini tinggi. Seperti digambarkan sebelumnya. Di masa depan berdasarkan scenario A2.5) menjadi tiga kategori. dan tanah longsor setiap tahun dan benar-benar kebanjiran ketika rob terjadi. tetapi meningkat sedikit pada tahun 2050. kekeringan. Peta risiko iklim Bandar Lampung berdasarkan Kelurahan dihasilkan melalui tumpang tepat peta coping capacity index dan CCHI pada kondisi iklim saat ini dan masa depan seperti ditunjukkan pada Gambar 2. tanah longsor.0 dan 3. Kelurahan dengan CCHI tinggi baik saat ini dan di masa mendatang adalah Kelurahan Gunung Mas. Kami klasifikasikan indeks bencana iklim (nilai indeks berkisar dari 0 sampai 4. KecamatanTeluk Betung Utara. Kelurahan dengan CCHI mendekati nol berarti bahwa tidak ada bencana terjadi di kelurahan. Matrix risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index Coping Capacity Index (kuadran) 5 4 3 2 1 Composite Climate Hazard Index (CCHI) > 3. area indeks> 2 menurun pada tahun 2025.5 < 2.3.5 berarti bahwa seluruh wilayah kelurahan ini terkena banjir dan kekeringan.5 2.5 dan lebih dari 3. antara 2. yaitu kurang dari 2.0 . Kelurahan dengan CCHI sebesar 4.0.0. CCHI di sebagian besar wilayah Bandar Lampung sebagian besar kurang dari 1. Selanjutnya. Risiko iklim akan sangat rendah di Kelurahan pada kuadran 1 dan probabilitas dari kejadian iklim ekstrim di kelurahan ini juga rendah.5. kami mengembangkan indeks komposit bencana iklim (composite climate hazard index /CCHI). kami klasifikasi tingkat risiko iklim dari kelurahan berdasarkan coping capacity index dan CCHI (Tabel 1). kita dapat berharap bahwa kelurahan dengan kerentanan tinggi tetapi indeks kapasitas rendah (di kuadran 5) kemungkinan akan terpengaruh lebih parah oleh kejadian-kejadian yang ekstrim dibandingkan dengan kelurahan dengan kerentanan rendah dan indeks kapasitas tinggi (kuadran 1). Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2005. serta peningkatan muka laut.Untuk menentukan tingkat risiko dari kelurahan terhadap dampak perubahan iklim didefinisikan sebagai fungsi dari probabilitas kejadian iklim yang tidak terduga (ekstrim) dan konsekuensi dari kejadian jika itu terjadi. Jenis bencana iklim termasuk banjir. Kami menggunakan output curah hujan dari 14 model sirkulasi umum (GCM) untuk skenario emisi tinggi (SRESA2) dan skenario emisi rendah (SRESB1).0 Sangat Tinggi (VH) Tinggi (H) Sedang ke Tinggi (M-H) Sedang ke Tinggi (MTinggi (H) H) Sedang (M) Sedang ke Tinggi (MSedang ke Rendah (MH) Sedang Medium (M) L) Sedang ke Rendah (MMedium (M) L) Rendah (L) Sedang ke Rendah (M-L) Rendah Low (L) Sangat Rendah (VL) viii . Tabel 1.

(B) Risiko Iklim skenario A2 2025. Jumlah Kelurahan menurut kategori risiko iklim A B C D E F Gambar 5. (C) Risiko Iklim skenario A2 2050. Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur mereka terhadap risiko iklim (A) & (D) Risiko Iklim Baseline. (F ) Risiko Iklim skenario B1 2050 ix . (E) Risiko Iklim skenario B1 2025.Gambar 4.

4%) pada risiko L (rendah) dan 21 (21. 22 Kelurahan (22. Yang pertama adalah bagaimana stakeholder memainkan peran mereka dalam mengelola risiko iklim. Ini termasuk Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat). Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang Subdistrik). Secara keseluruhan. Sedangkan peran pemerintah provinsi diklaim tidak terlalu signifikan. Tata pemerintahan dan kelembagaan yang kuat akan meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Sepang Jaya dan kelurahan Kedaton (Kecamatan Kedaton). dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). terutama di bawah skenario SRESB1. Setiap stakeholder memiliki peran dan kontribusi mereka sendiri untuk beradaptasi dan memperkuat masyarakat untuk perubahan iklim. 36 Kelurahan (36. yaitu kelurahan Gunung Mas di Kecamatan Teluk Betung Utara dan Kelurahan Garuntang di Kecamatan Teluk Betung Selatan. Kemitraan ini merupakan prakondisi untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.1%) berada pada risiko iklim M (Menengah).7%) pada risiko iklim L-M (Rendah ke Medium). Ada tiga aspek penting perlu dinilai untuk menilai ketahanan kota terhadap perubahan iklim. tetapi memiliki peran lebih dalam mengkoordinasikan program dan x . Ada dua Kelurahan akan pindah dari M-H ke kategori risiko iklim tinggi. Dari hasil analisis terungkap bahwa manajemen perubahan iklim di Kota Bandar Lampung melibatkan stakeholder baik dari internal dan eksternal kota. akan terkena risiko iklim yang lebih tinggi (Gambar 6. Ketiga adalah apa kapasitas pemerintah lokal dan institusi untuk mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan jangka pendek dan jangka panjang pembangunan. infrastruktur dan program pengembangan masyarakat harus diarahkan untuk meningkatkan indikator-indikator sosial-ekonomi dan biofisik mempersiapkan kapasitas kerentanan dan adaptasi dari Kelurahan. lebih banyak Kelurahan. Sementara banyak dari Kelurahan dengan kategori risiko L-M akan pindah ke kategori risiko sedang (M) (Gambar 5). Analisis di atas menunjukkan bahwa perubahan dalam kondisi sosialekonomi dan biofisik akan mengubah kapasitas ketahanan Kelurahan. Adaptasi program harus diprioritaskan di Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah dan sedang terkena atau berpotensi terkena indeks bencana iklim yang tinggi. Kelurahan Kangkung. Untuk mengurangi tingkat risiko Kelurahan terhadap dampak perubahan iklim.2%) dengan kategori risiko M-H. Bumi Waras dan Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan). Di masa depan (skenario 2025 dan 2050).4%) Kelurahan pada risiko iklim VL (sangat rendah).Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada Kelurahan dengan kategori risiko iklim Sangat Tinggi (VH) saat ini (kondisi baseline). pemerintah daerah Bandar Lampung memainkan peran besar dalam perubahan iklim baik untuk dukungan keuangan dan pelaksanaan program.4). Sisanya adalah 5 Kelurahan (5. TATA PEMERINTAHAN DAN SISTEM KELEMBAGAAN Pemerintahan dan lembaga adalah dua faktor penentu yang mempengaruhi ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Yang kedua adalah apa program (pendek dan jangka panjang) inisiatif saat ini untuk mengatasi risiko iklim dan seberapa efektif mereka. Kategori tertinggi adalah hanya Menengah ke Tinggi (M-H). Ada sekitar 14 Kelurahan (14.

Bagaimanapun. perencanaan tata ruang kota dari Bandar Lampung belum mempertimbangkan isu-isu perubahan iklim. Terdapat sejumlah kondisi yang menguntungkan di Kota Bandar Lampung. Selain rencana aksi. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengintegrasikan aspek perubahan iklim ke dalam dokumen. seperti kawasan sepanjang sungai dan lain-lain. sehingga memungkinkan mereka dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasinya. Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah juga diperlukan. Perlu komitmen politik dan pemahaman yang komprehensif dari Tim Kota untuk memperkenalkan masalah-masalah terkait perubahan iklim. pemerintah kota Bandar Lampung telah membentuk Badan Pengelolaan Bencana Daerah pada bulan November 2009 meskipun dewan tersebut belum efektif pada pelaksanaan program tersebut. Hal ini dapat dipahami mengingat perubahan iklim adalah masalah yang kompleks. Pemerintah Kota Bandar Lampung juga akan merumuskan rencana pembangunan jangka menengah baru sebagai hasil dari pemilihan langsung yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010. perubahan tata guna lahan. Namun. Terkait dengan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah. pemerintah pusat dan dukungan donor pada pembiayaan dan beberapa pelaksanaan proyek yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Dalam peraturan dan kebijakan jelas disebutkan bahwa dokumen perencanaan harus mempertimbangkan mitigasi bencana dan adaptasi dan masalah perubahan iklim. Beberapa masalah yang berpotensi menyebabkan kesulitan untuk menerapkan iklim dalam perencanaan tata ruang termasuk inkonsistensi dalam pelaksanaan perencanaan tata ruang. Inisiatif saat ini yang dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai respon untuk manajemen bencana adalah merumuskan program dan rencana aksi dalam mengurangi risiko bencana melalui studi intensif pada tahun 2008.kebijakan dari beberapa kota. ada beberapa lembaga yang terkait dengan pembentukan tim kota. ada ruang untuk memberikan masukan tentang isu-isu perubahan iklim ke dalam RTRW Kota Bandarlampung yang sedang direvisi. xi . Di sisi lain. Kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang saat ini masih terbatas. Sementara sebagian besar kelemahan terkait dengan kebutuhan dalam hal koordinasi yang lebih baik antar sektor dan antar daerah dalam rangka mengurangi ketidakefektifan pelaksanaan proyek. Hal ini juga menunjukkan kebutuhan untuk memperkuat Tim Kota dalam memperjuangkan untuk memperkenalkan dan mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam dokumen perencanaan daerah. Ada sejumlah program dan rencana yang disiapkan oleh pemerintah untuk menangani bencana alam di kota. yang dapat secara positif berkontribusi pada proses pengembangan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. sehingga secara hukum dapat mengikat. Rencana tata ruang (RTRW) yang tidak benar akan menyebabkan kota menghadapi risiko iklim yang lebih tinggi di masa depan. koordinasi antar pemangku kepentingan dan sektor harus diperkuat untuk mendapatkan manfaat maksimal dari program untuk lingkungan dan masyarakat. Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim.

Ini adalah apa yang orang mampu dan yang masuk akal bagi mereka. Berdasarkan studi mengenai Penilaian Kerentanan Berbasis Masyarakat (Community Based Vulnerability Assessment /CBA) di Kelurahan Kankung. xii • • • • • . mereka dapat dengan mudah dikelola dan diakses. jika tidak bermanfaat bagi aspek-aspek lain dari kehidupan mereka. kita ekstrak sejumlah pelajaran yang dapat berkontribusi dalam mengembangkan strategi adaptasi. Mereka yang murah dan bekerja dengan bahan yang tersedia: bagi masyarakat miskin perkotaan. sumber daya langka. Dapat diakses pada saat dibutuhkan: Dalam rangka untuk mendapatkan modal untuk memulihkan kondisi dari banjir keluarga mungkin menjual televisi. Seluruh lebih besar daripada jumlah dari bagian-bagian: Banyak strategi adaptasi berhasil karena mereka memanfaatkan upaya kolektif dan kekuatan orang. dirasakan penting untuk memahami bagaimana orang-orang. Demi keselamatan sendiri bukan merupakan faktor motivasi. bahan perumahan memulung dari tumpukan material di dekatnya. Umumnya di kota orang menginginkan akses ke sumber daya dengan cepat dan ini adalah karakteristik yang sangat penting dari strategi adaptasi yang bekerja. Mereka tidak bergantung atas proyek besar atau intervensi pemerintah: Orangorang telah dibiasakan bergantung pada organisasi masyarakat dan inisiatif yang lebih baik dalam meresponkebutuhan mereka sendiri. dan juga mempertimbangkan temuan dari survei dan literatur. atau tabungan masyarakat bahkan kelompok yang mengumpulkan jumlah yang sangat minim. Adaptasi terhadap peristiwa iklim yang parah harus bekerja sama dengan strategi adaptasi lainnya: Orang-orang yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim mungkin tidak tahu atau peduli untuk merencanakan untuk itu. Orang-orang yang peduli satu sama lain dan ketika kekhawatiran ini diterjemahkan dalam aksi kolektif dapat memberikan hasil yang signifikan. dibandingkan melalui proses aplikasi birokrasi yang mungkin berarti dokumen panjang. tapi ketika manfaat lainnya dapat diturunkan maka solusinya dapat dijalankan. Memanfaatkan dukungan pemerintah memberikan hasil yang lebih baik: Ketika masyarakat mampu bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah kota (dan sebaliknya) strategi adaptasi tampaknya telah berhasil. sepeda motor atau aset yang berfungsi lainnya. dan sektor memberikan respon terhadap risiko iklim saat ini dan bagaimana kapasitas saat ini harus dikembangkan untuk memperkuat kapasitas dalam mengelola risiko iklim di masa mendatang. Misalnya. Kami belajar beberapa sifat umum yang terlihat dalam strategi adaptasi di tingkat masyarakat: • • Cukup hanya 'kerja mereka': ini adalah sense adaptasi yang sangat praktis yang memiliki bantalan nyata dan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari mereka. masyarakat. Sementara intervensi pemerintah sangat dihargai dan instrumental kemandirian lokal tampaknya menjadi karakteristik kunci dari strategi adaptasi. Proyek percontohan khusus dibutuhkan sebagai bahan pelajaran bagaimana risiko iklim dapat dikelola dengan baik dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran tersebut untuk memperbaiki rencana adaptasi perubahan iklim.PERENCANAAN TINDAKAN ADAPTASI Untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Kota Karang. Pasir Gintung.

narasi komunitas berbagi dan jaringan. kelompok masyarakat). Dari metode pembelajaran. universitas. (v) Bahan dan pengetahuan dari industri dan kegiatan ekonomi. kesehatan. seperti: erosi. ekonomi yang terkait dengan dampak perubahan iklim. (iii) tingkat pemerintah daerah setempat. Penerima manfaat adalah perempuan. peta yang terperinci untuk digunakan pemerintah daerah setempat. banjir kekeringan. (iii) akses terhadap informasi. anak-anak. Untuk proyek-proyek percontohan. (v) kerjasama. (iv) kolaborasi dan keterlibatan pemerintah daerah. dan (vii) strategi keberlanjutan. pendidikan. Pilot proyek diperlukan untuk membantu pemerintah daerah untuk lebih memahami bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada masyarakat dan sektor. alternatif jaring pengaman sosial. Tujuan dari pelaksanaan pilot adalah (i) untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim di tingkat kota. baik dalam faktor kesadaran yang meningkat. (iii) manfaat kepada masyarakat lokal. peningkatan kapasitas lokal. (ii) jaringan sosial yang mungkin timbul dari orang-orang dalam situasi yang mirip dengan tahu bagaimana. xiii . (iv) kota dan program pemerintah nasional (misalnya PNPM). bagaimana kapasitas saat ini harus diperkuat dan rencana tata ruang untuk ditingkatkan untuk membentuk ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik dari pilot proyek dalam merancang kebijakan dan strategi jangka panjang untuk mengatasi perubahan iklim. LSM. (ix ) memanfaatkan sumber daya yang ada (seperti subsidi. (iv) inovasi. Kegiatan proyek percontohan juga dirancang untuk memenuhi kriteria sebagai berikut: (i) replicability. sosial. dan (vii) mobilitas. (iii) melaksanakan proyek percontohan dalam hal uji perubahan strategi ketahanan iklim. Neighbourhood Vulnerability Index. kita dapat disimpulkan bahwa adaptasi yang sukses di tingkat masyarakat tergantung dari beberapa faktor yaitu: (i) ketersediaan dana. dan koalisi berbasis luas untuk menangani masalah perubahan iklim). mempengaruhi kebijakan lokal dll. tanah longsor dll. sektor swasta. (vii) kohesi masyarakat. (ii) tingkat kapasitas. Tim Kota telah memfasilitasi berbagai pihak untuk mengembangkan sejumlah proyek percontohan. dan (ii) pelaksanaan proyek percontohan diarahkan untuk adaptasi dan kegiatan usaha respon terhadap dampak perubahan iklim. (vi) skalabilitas .• Akses lebih ke informasi dapat menyebabkan hasil yang lebih baik: masyarakat miskin perkotaan biasanya terisolasi dan strategi adaptasi tampaknya begitu berhasil meningkatkan akses terhadap informasi. (vi) kepemimpinan lokal. Kota Bandar Lampung berada dalam posisi yang baik untuk pindah ke ketahanan kota sebagaimana sudah tersedia (i) ada kasus dan dapat dilaksanakan. Ormas. pembiayaan biaya rendah perbaikan perumahan. (ii) untuk melibatkan para stakeholder tingkat kota (pemerintah kota. dan (iv) untuk menguji kapasitas adaptasi masyarakat. Ada beberapa kriteria tambahan yang harus dilakukan oleh pelaksana proyek percontohan: (i) pelaksanaan pilot proyek harus berkaitan dengan masalah-masalah lokal di masyarakat lokal administratif atau lintas administratif berbatasan dengan isu-isu lingkungan. orang tua dan laki-laki. (v) migrasi dan tingkat pertumbuhan. dan (viii) lokal organisasi masyarakat sipil. subjek adalah orang-orang rentan yang terkena dampak perubahan iklim. (vi) pelayanan publik. (ii) menangani risiko saat ini dan masa depan.

LSM Lokal. target jangka pendek dari proyek tersebut (i) untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui keterlibatan aktif dan meningkatkan pengetahuan tentang upaya adaptasi perubahan iklim. xiv . dan sektor-sektor kehidupan yang berkelanjutan). ekonomi. Tujuan dari proyek ini adalah "untuk meningkatkan pemahaman. dan adaptasi terhadap perubahan iklim. kesadaran. (iii) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang dan (iv) untuk membantu meningkatkan standar hidup masyarakat di bidang kesehatan. ketahanan ekonomi rumah tangga. Tujuan dari proyek ini adalah "sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan ketahanan masyarakat Kecamatan Panjang Selatan terhadap perubahan iklim". dan keterlibatan partisipatif masyarakat dalam rangka membangun kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim". dan (ii) untuk mendorong penciptaan kolektif untuk dukungan pelaksanaan adaptasi terhadap perubahan iklim di Kecamatan Panjang Selatan. (B) Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kecamatan Panjang Selatan untuk Mengatasi Perubahan Iklim oleh Mitra Bentala . penyediaan air minum isi ulang.Lokal LSM. (ii) untuk membangun kesadaran masyarakat dalam memahami dan memecahkan masalah-masalah berkaitan dengan dampak perubahan iklim. (ii) meningkatkan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.Ada dua proyek percontohan dipilih Asian Cities Climate Change Program (ACCCRN) sebagai kontribusi terhadap tujuan pembangunan dan mengatasi dampak perubahan iklim di Bandar Lampung: (A) Desain Partisipatif Adaptasi Ketahanan Masyarakat di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang. dan rehabilitasi. dan membangun kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. dan (iii) untuk beradaptasi dengan perubahan iklim melalui pengelolaan limbah. Selanjutnya. Selanjutnya. Kota Bandar Lampung untuk Perubahan Iklim oleh Lampung Ikhlas . target dari proyek ini adalah (i) untuk membangun pemahaman dan melaksanakan program kegiatan bagi masyarakat di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang terhadap dampak perubahan iklim (dalam sosial. manajemen lingkungan. Target jangka panjang adalah untuk (i) untuk mendorong pembentukan kelompok masyarakat dalam adaptasi perubahan iklim.

letusan gunung berapi. garis pantai lebih dari 80. Pemerintah Kota harus menangani hal ini secara lebih serius dalam rencana pengembangan pembangunan kota. Centre for Climate Risk and Opportunity Management in South East Asia and Pacific (CCROM SEAP) Institut Pertanian Bogor. Indonesia adalah negara yang rawan terhadap bencana alam seperti banjir. perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global diperkirakan akan menciptakan pola-pola risiko baru dan secara umum lebih tinggi. Laporan ini menjelaskan secara rinci mengenai: (i) karakteristik iklim Bandar Lampung saat ini dan masa depan. tanah longsor. beberapa Kelurahan di Kota Bandar Lampung sudah terpengaruh oleh bencana iklim seperti banjir. dan segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah kebutuhan mendesak masyarakat saat ini. masyarakat lokal. Bandar Lampung merupakan salah satu kota pesisir yang rentan terhadap bencana tersebut. (iii) Peta kerentanan saat ini dan masa depan dan peta kapasitas serta risiko iklim di Tingkat Kelurahan. Kami berharap Pemerintah Kota Bandar Lampung dapat memanfaatkan beberapa hasil yang disajikan dalam laporan ini.000 pulau. institusi lokal. Urban and Regional Development Institute (URDI). Oleh karena itu. (ii) Dampak bahaya iklim dan kerentanan masyarakat terhadap kejadian iklim ekstrim. Di masa depan. Di masa depan. dan kebakaran hutan. (iv) Permasalahan pemerintahan dan isu-isu kelembagaan yang dapat mempengaruhi efektivitas pelaksanaan program perubahan iklim. Mereka sangat rentan terhadap dampak dari masalah lingkungan. Penelitian ini didukung oleh berbagai institusi. dan kemampuan adaptasi yang ada saat ini. (v) rekomendasi awal untuk meningkatkan ketahanan Kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan. Sebagian besar Kelurahan Bandar Lampung yang terkena dampak adalah yang ditempati oleh keluarga dengan pendapatan rendah dan hidup dalam kemiskinan. untuk menangani masalah-masalah terkait rencana pembangunan kota dan dalam pelaksanaan program-program perubahan iklim. peristiwaperistiwa ekstrem dapat terjadi lebih sering dengan intensitas tinggi.KATA PENGANTAR Indonesia memiliki lebih dari 17. MercyCorp membantu ISET dalam pelaksanaan program ACCRN di Bandar Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Tim Kota). badai.000 km dengan mayoritas penduduk hidup di wilayah pesisir di mana sebagian besar kegiatan ekonomi negara berlangsung. Institute for Social and Environmental Transition (ISET) adalah pengelola the Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCRN) sebagai bagian dari keseluruhan Rockefeller Foundation Climate Change Initiative. xv . dan ( vi) Rekomendasi pada jenis proyek percontohan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. kekeringan dan juga rob. dan LSM lokal. Saat ini. kekeringan. Dukungan mereka selama pelaksanaan penelitian ini adalah hal yang terpenting dan sangat dihargai. Penilaian Kerentanan dan Adaptasi Perubahan Iklim di Kota Bandar Lampung telah dilaksanakan dan hasil penilaian ini disajikan dalam laporan ini.

Tren Suhu 3.4.2.2.2.1. 2. Analisis Tren Perubahan Iklim di Kota Bandar Lampung 3.1.2.7. KONDISI IKLIM HISTORIS DI BANDAR LAMPUNG 3. Konteks Sosial 2. PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF 5.2.4. 2.5. PENDAHULUAN Latar Belakang Studi Tujuan Outputs SEKILAS KONDISI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN DESKRIPSI RESPONDEN Lokasi dan Konteks Geografi Municipal Administration Resources Base Posisi Bandar Lampung dalam Konteks Kawasan Kondisi Demografi dan Sosial Kondisi Ekonomi dan Mata Pencaharian Profil Responden 2. 1. 4. Pengaruh ENSO dan IOD terhadap Variabilitas Curah Hujan di Bandar Lampung 3.2.1.1. Klasifikasi Kelurahan (Desa) Berdasarkan Indeks Kerentanan dan Kapasitas 79 79 83 xvi .2.6. 4. 2.1. Angin Ekstrim 3.2.DAFTAR ISI Halaman i xv xvi xviii xx 1 1 2 2 3 3 3 4 7 12 14 15 16 29 41 41 41 42 43 43 46 47 53 53 55 57 68 Ringkasan Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar 1.1. Tren Curah Hujan 3.1. 2. 2.2. Metodologi untuk Pemetaan Kerentanan dan Kapasitas Adaptif 5. Kondisi Iklim dan Cuaca Ekstrim 3. 1. 1. 2. DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM Dampak Biofisik Dampak Umum dari Kejadian Iklim Ekstrim Dampak Sosial Ekonomi dari Kejadian Iklim Ekstrim Respon Pemerintah dan Masyarakat terhadap Bencana Akibat Kejadian Iklim Ekstrim 5.3. 4. 2.3 Proyeksi Perubahan Iklim 4.2. Mata Pencaharian dan Ekonomi 3.7.3.1.3. 4. 2.1.7.1.

7.4. 7. PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM Climate Hazard di Kota Bandar Lampung Ruang Lingkup Komponen Kepemerintahan dan Kelembagaan Pemetaan peran stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim Permasalahan Perkotaan di Bandar Lampung yang Terkait dengan Adaptasi Perubahan Iklim Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis) Pemetaan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Mapping) Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di daerah dan Penanggulangan Bencana Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim Analisis kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka mengintegrasikan perencanaan ketahanan dalam perubahan iklim (framework organizational capacity) Temuan dan Rekomendasi untuk Perencanaan Ketahanan Kota dalam rangka Perubahan Iklim 87 87 90 93 93 95 96 98 99 105 106 109 113 7. 116 8.3. 7. ANALISIS RESIKO IKLIM 6. Pembelajaran 8. 7.3. 7. Adaptasi dan Ketahanan 8. 7. 7.10.6.9.5.6. Pilot Project daerah Bandar Lampung sebagai Rencana Aksi Adaptasi 8. ADAPTASI 8.8.1.1.4.2.2. 7. Klasifikasi Kelurahan (Desa) berdasarkan Tingkat Eksposur terhadap Risiko Iklim 7.5. Strategi Adaptasi di Bandar Lampung 8. Metodologi untuk Pemetaan Risiko Iklim 6.2.1. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif Kesimpulan Daftar Pustaka Lampiran 118 118 121 122 127 129 136 139 142 xvii .7. 7.

2009 Jenis Dinding Rumah Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di 38 Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Indeks Kepemilikan Aset Rumah Tangga Masyarakat Pada 39 Kelurahan Amatan di Lampung Tahun 2009 (dalam %) Akses Masyarakat Terhadap Perbankan dan Asuransi Pada 40 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Mata 17 Pencaharian Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Berperan Dalam 20 Mengambil Keputusan Keluarga Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Cicilan. class percentage and area changed Major Land Use/Cover Conversions from 1992 to 2006 7 Fungsi Bagian Wilayah Kota (BWK) Bandar Lampung 8 Struktur penduduk Kota Bandar Lampung (BPS Kota Bandar 13 Lampung.DAFTAR TABEL Halaman Nama Kecamatan. Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan di 4 Kota Bandar Lampung Results of land use/land Cover Classification for 1992 and 6 2006 Images Showing area of each category. 2009 (dalam %) Distribusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga dalam 21 Mengikuti Pelatihan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 40 Tabungan dan Asuransi Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Mata Pencaharian Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar 30 Lampung. 2009 (Rupiah/bulan) Koefisien korelasi antara curah hujan musiman di Bandar 41 xviii 2-1 2-2 2-3 2-4 2-5 2-6 2-7 2-8 2-9 2-10 2-11 2-12 2-13 2-14 2-15 2-16 2-17 2-18 2-19 2-20 3-1 . 2009 (dalam %) Pengeluaran Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar 35 Lampung. 2009) Produk Domestik Regional Bruto Kota Bandar Lampung 15 Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2007 Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Pada Kelurahan 16 Amatan di Bandar Lampung. 2009 Distrisusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam 22 Organisasi Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Warga pada Kelurahan 33 Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Bekerja Pada 32 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Rata-rata Luas Bangunan dan Luas Tanah Masyarakat pada 36 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.

indeks komposit bencana iklim) Kejadian banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung Analisis Peran dan Kontribusi Pemangku Kepentingan dalam Perubahan Iklim Masalah dan alternatif startegi terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung Program yang terkait dengan Perubahan Iklim Tahun 2006 dan 2008 Jumlah Anggaran yang Terkait dengan Perubahan Iklim TA 2008 Besaran Anggaran Dana Program NUSSP di Kota Bandar Lampung Kegiatan dan sebaran Kegiatan PNPM Mandiri di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Analisis Kapasitas Pemerintahan 1 Layanan-layanan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi bahaya iklim. serta Upaya Penanggulangan yang Dilakukan Indikator yang digunakan untuk mendefinisikan Kerentanan dan Kapasitas dan bobotnya Nilai indikator berdasarkan jenis sumber pendapatan utama di suatu kelurahan Matriks risiko sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi jika kejadian tak terduga itu terjadi Bobot dan rumus untuk menghitung indeks bencana iklim Matriks risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index (CCHI. mengacu pada tahun 1990 Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung Gambaran Dampak Bencana terhadap Nilai Sosial Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. menurut Kelurahan Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung 50 50 54 59 66 66 70 72 77 77 79 80 87 88 88 89 100 109 110 111 112 113 114 132 133 135 xix . 2009 Rangkuman Persepsi Masyarakat di Bandar Lampung Terhadap Besaran Dampak Bencana.3-2 3-3 4-1 4-2 4-3 4-4 4-5 4-6 4-7 4-8 5-1 5-2 6-1 6-2 6-3 6-4 7-1 7-2 7-3 7-4 7-5 7-6 7-7 8-1 8-2 8-3 Lampung dengan DMI dan dengan anomali SST Nino3. 2009 Penyakit Pada Saat Banjir pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Persepsi Warga Terhadap Berbagai Macam Informasi Terkait Kebencanaan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Kegiatan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan penanganan bencana yang bersifat non-struktural dan respon masyarakat Dampak Bencana yang Menimpa Warga Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Penyakit Pada Saat Kekeringan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.4 Konsentrasi Gas Suhu (0C) dan sea level rise (cm).

51S-5.0 Tren musiman kisaran suhu harian (daily temperature range. 5. 42 Lampung (periode 1 Januari 1994 .51S-5.15E-105. 5. 2009 Distribusi Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat 34 Berdasarkan Pendapatan Tetap dan Pendapatan Tambahan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 Plot time series curah musiman di Bandar Lampung 42 Kecepatan angin harian di stasiun pengamatan Teluk Betung.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. 2007 15 Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan 19 Klasifikasi Tinggi Rendahnya Pendidikan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 47 DTR) di Bandar Lampung (105. 2009 Distribusi Masyarakat di Wilayah Pesisir Yang Melakukan 25 Kegiatan Gotong dengan Frekuensi Minimal 1 Kali dalam 1 Tahun Distribusi Tingkat Partisipasi Warga Non Pesisir Lampung 25 pada Kegiatan Gotong Royong Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.51S-5.34E.DAFTAR GAMBAR Halaman Posisi Kota Bandar Lampung terhadap daerah sekitarnya 3 Peta Administrasi Kota Bandar Lampung 4 Distribusi perubahan penggunaan/penutup lahan Kota Bandar 6 Lampung tahun 1992 dan 2006 Distribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandar Lampung. 5.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.15E-105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. 2009 Distribusi Kegiatan Masyarakat Pada Beberapa Kegiatan 27 Sosial Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.15E-105.0 Komponen frekuensi rendah dari curah hujan musiman di 46 Bandar Lampung didefinisikan oleh nilai 13-tahun rataan bergerak sederhana (simple moving average) Trend musiman suhu rata-rata di Bandar Lampung (105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. 2009 Distribusi Partisipasi Warga dalam Kegiatan Gotong Royong 26 Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.0 Trend musiman suhu maksimum harian di Bandar Lampung 47 (105.31 Desember 1999) Pola spasial tren curah hujan musiman di Bandar Lampung 43 Tren curah hujan musiman di kota Bandar Lampung 45 (105.15E47 105. 5.34E. 2009 Ketersediaan Sarana Pada Kelurahan Amatan di Bandar 28 Lampung.34E.51S-5. 5.34E.15E-105.0 Tren frekuensi hari hujan musiman di Bandar Lampung 45 (105.34E.0 Peluang Curah Hujan Lebih dari Q3 pada Musim Hujan 52 xx 2-1 2-2 2-3 2-4 2-5 2-6 2-7 2-8 2-9 2-10 2-11 3-1 3-2 3-3 3-4 3-5 3-6 3-7 3-8 3-9 3-10 .51S-5.

2009 Kerugian Akibat Kekeringan Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. 2009 Nilai Kerugian Usaha Sampingan Tambak Pada Kelurahan Amatan. (F) Risiko Iklim B1 2050 Jumlah kelurahan menurut kategori indeks risiko iklim Pemetaan Pemangku Kepentingan berdasarkan tingkat Kepentingan 57 60 62 62 63 63 64 65 67 69 72 74 82 83 84 85 86 89 90 91 92 106 xxi . 2009 Kisaran Biaya yang Dikeluarkan oleh Warga (dalam Rupiah) Persentase Media Informasi Prakiraan yang digunakan Adaptasi yang Terjadi di Wilayah Pesisir dan Non Pesisir Ketika Terjadi Bencana Banjir di Lampung Adaptasi Kekeringan Warga di Kelurahan Amatan. 2009 Dampak Banjir dan Kekeringan Terhadap Pekerjaan Utama pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (B) 2025. (B) bencana iklim A2 2025. (C) 2050 Coping capacity index of Kelurahan of Lampung City (A) Baseline. (C) Risiko Iklim A2 2050.4-1 4-2 4-3 4-4 4-5 4-6 4-7 4-8 4-9 4-10 4-11 4-12 5-1 5-2 5-3 5-4 5-5 6-1 6-2 6-3 6-4 7-1 (DJF) dan kurang dari Q3 pada Musim Kemarau (JJA) dengan Dua Skenario Emisi Bantuan dari Saudara dan Masyarakat Lainnya di saat Bencana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (E) Risiko Iklim B1 2025. (F) bencana iklim B1 2050 Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur terhadap risiko iklim (A) & (D) Baseline Risiko Iklim. di Bandar Lampung. (B) 2025. 2009 Nilai Kerugian Dari Pekerjaan Utama Akibat Banjir dan Kekeringan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (E) bencana iklim B1 2025. Bandar Lampung Area pantai yang dipengaruhi oleh gelombang setinggi +100 m Penentuan order aliran tertinggi (A) & pendugaan luas dari luapan air sungai (B) Pengelompokan kelurahan berdasarkan indikator kapasitas dan kerentanan Indeks Kerentanan dan Kapasitas Kelurahan (A) Baseline. (B) Risiko Iklim A2 2025. 2009 Dampak Banjir Terhadap Usaha Sampingan Tambak pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (C) 2050 Box plot curah hujan bulanan pada musim hujan dan kemarau selama tahun-tahun terjadi bencana dan tahun-tahun tidak terjadi bencana Indeks Bencana Iklim komposit Bandar Lampung (A) & (D) baseline bencana iklim. Tahun 2009 Kenaikan Harga Beberapa Komoditi Pertanian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung. 2009 Lampung Kerugian Akibat Banjir Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. (C) bencana iklim A2 2050.

25/2004 dan UU No. 17/2003. 32/2004 8-1 LFA Analisa Problem 8-2 Diagram Alur Aktivitas 8-3 Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kerentanan 107 124 126 134 xxii . UU No.7-2 Keterkaitan antara UU No.

sekitar 42 juta orang di Indonesia tinggal di daerah dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut (Pemerintah Indonesia 2007). dan kebakaran pada berbagai lahan berhutan. kelaparan dan kesehatan manusia. Mereka merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Indonesia adalah negara yang sudah rawan terhadap bencana alam seperti banjir. Kota Bandar Lampung merupakan kota pantai yang akan terkena dampak perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Sekitar 53. badai. yang mengakibatkan pergeseran zona iklim. Kenaikan permukaan laut akibat pencairan gletser dan es kutub dan ekspansi termal akan memberikan kontribusi pada peningkatan banjir di wilayah pesisir banjir. pemanasan global diperkirakan akan mengubah rentang iklim. Latar Belakang Studi Di masa depan. Kepadatan penduduk yang tinggi di Indonesia akan lebih meningkatkan kerentanan terhadap bencana iklim. banyak negara.1. Sekitar 24 pulaupulau kecil Indonesia sudah terendam (Departemen Kelautan dan Perikanan 2007). Peningkatan intensitas siklon tropis yang tercatat dalam beberapa dekade terakhir mungkin dapat dikaitkan dengan peningkatan suhu permukaan laut.dengan lebih dari 17. Sebagian besar rumah tangga yang tinggal di daerah pesisir memiliki pendapatan antara US $ 2 dan US $ 1-per hari. tanah longsor. kebakaran hutan. Rentang Kepulauan Indonesia yang luas ini . dan lain-lain. yang merupakan batas garis kemiskinan (Indonesia Poverty Analysis Program 2006). Bencana terkait banjir dan angin kencang mencakup sekitar 70% dari total bencana dan sisanya 30% terkait dengan bencana kekeringan.3 persennya terkait bencana hidro-meteorologi (Bappenas dan Bakornas PB. 2006) Kenaikan permukaan laut menimbulkan risiko lebih lanjut. tanah longsor. letusan gunung berapi.000 pulau dan lebih dari 80. Dengan meningkatnya risiko iklim. kekeringan.BAB 1 PENDAHULUAN 1. ada sekitar 1. dan mengarah pada frekuensi dan amplitudo peristiwa cuaca yang lebih tinggi. Dalam periode 2003-2005 saja.429 kejadian bencana di Indonesia. Saat ini. Dengan adanya dampak pada siklus hidrologi. rob.000 km garis pantai . Variabilitas dan perubahan iklim yang terjadi dengan latar belakang peningkatan populasi global dan proses globalisasi ekonomi dapat mengarah ke peningkatan persaingan atas sumber daya dan kerentanan baru. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah menerapkan berbagai program strategis jangka menengah dan jangka panjang untuk mengelola bencana. gelombang panas. dan risiko tersebut secara umum meningkat. badai. Rencana untuk meningkatkan infrastruktur untuk 1 . perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global dapat menciptakan pola-pola baru risiko. Indonesia telah mengalami bencana terkait iklim yang lebih sering dan parah dalam beberapa tahun terakhir. terutama negara-negara kurang berkembang dan negara-negara sedang berkembang kemungkina akan mengalami kesulitan untuk mencapai Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) yang terkait dengan kemiskinan. perubahan iklim regional rata-rata.dan mayoritas penduduk yang tinggal di wilayah pesisir di mana sebagian besar kegiatan ekonomi negara itu terjadi sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

Tujuan Tujuan studi ini adalah untuk: • • • • • • • menilai variabilitas iklim saat ini dan masa depan di Kota Bandar Lampung menilai kerentanan dan kapasitas adaptif serta risiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan mengidentifikasi kerentanana dan kapasitas adaptif serta resiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan.mengelola bencana iklim seperti sistem drainase dan tanggul telah disiapkan (Bappeda. Namun. mengindentifikasi dampak langsung dan tidak langsung dari bencana iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan mengidentifikasi daerah dan kelompok-kelompok sosial yang paling rentan. 2003). maka berbagai desain yang telah direncanakan dan dibuat mungkin akan kurang efektif untuk mengelola bahaya iklim masa depan. 1. dalam kondisi iklim yang berubah dan dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas peristiwa iklim yang ekstrim. Output Output akhir dari studi ini adalah laporan yang mendeskripsikan: • • • • • • Karakteristik iklim saat dan masa depan di Kota Bandar Lampung Dampak bahaya iklim dan kerentanan masyarakat terhadap peristiwa iklim ekstrim. dan dimensi kerentanan. sangat penting bagi kita untuk mempertimbangkan perubahan iklim dalam merancang sistem kontrol bahaya iklim. dan kapasitas adaptif yang ada Peta kerentanan dan kapasitas adaptif serta risiko iklim saat ini dan masa depan pada tingkat Kelurahan Isu tata pemerintahan dan isu kelembagaan yang dapat mempengaruhi efektivitas pelaksanaan program perubahan iklim Rekomendasi awal untuk meningkatkan ketahanan Kota terhadap resiko iklim saat ini dan dan masa depan Rekomendasi jenis proyek percontohan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim 2 . termasuk kapasitas adaptif masyarakat terhadap dampak perubahan iklim mengidentifikasi kelembagaan dan isu-isu tata pemerintahan yang dapat mempengaruhi ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan. mengembangkan rekomendasi awal untuk Kota Bandar Lampung untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan 1. Karena itu.2.3.

sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Padang Cermin dan Ketibung Lampung Selatan serta Teluk Lampung. Dari ke13 kecamatan.18 Km2. SUMATERA ISLAND South China Sea KALIMANTAN ISLAND BANDAR LAMPUNG MUNICIPALITY BANDAR LAMPUNG CITY Bandar Lampung Java Sea Semarang Indian Ocean JAVA ISLAND (Sumber: Google Earth. Posisi Kota Bandar Lampung terhadap daerah sekitarnya 2.5o 30’ LS dan 105o 28’ -105o 37’ BT. sedangkan luas kecamatan terkecil adalah Tanjung Karang Pusat dan Teluk Betung Selatan 3 . 2001) Gambar 2-1. 2009 dan Citra Landsat ETM+. sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gedung Tataan dan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran.BAB 2 SEKILAS KONDISI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN DESKRIPSI RESPONDEN 2. yang memiliki luas wilayah 192. sebelah timur berbatasan dengan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan dan 4). Kemiling merupakan wilayah terluas.2. kota Bandar Lampung terdiri dari 13 kecamatan dan 98 kelurahan (Tabel 2.1 Lokasi dan Konteks Geografi Bandar Lampung adalah ibu kota Propinsi Lampung dan secara geografis terletak pada 5o 20’ . 3). 2).1. Batas wilayah sebagai berikut: 1). Letak tersebut berada di teluk lampung dan diujung selatan Pulau Sumatra. gambar 2.2). Administrasi Kota Secara administratif. sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.

Tabel 2-1. dan 23 sungai-sungai kecil (Bappeda Kota Bandar Lampung. Nama Kecamatan. 2008).07 21. Semua sungai tersebut membentuk daerah aliran sungai (DAS) yang berada di dalam 4 .99 10. Peta Administrasi Kota Bandar Lampung 2.go.65 10.id) Gambar 2-2. Sumberdaya air (Water resource) Kota Bandar Lampung dilalui oleh 2 sungai besar yaitu Way Kuala dan Kuripan.64 197.16 27.38 20. Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan di Kota Bandar Lampung NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KECAMATAN Tanjungkarang Pusat Tanjungkarang Barat Tanjungkarang Timur Teluk Betung Utara Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Panjang Kemiling Kedaton Rajabasa Tanjung Seneng Sukarame Sukabumi Jumlah Luas (ha) 6.3.bandarlampungkota.02 11.63 16.11 10. Resources Base a.87 10.58 15.14 21.22 IBU KOTA Palapa Gedong Air Kota Baru Kupang Kota Bakung Sukaraja Panjang Selatan Sumberejo Kampung Baru Rajabasa Tanjung Seneng Sukarame Sukabumi JML KELURAHAN 11 6 11 10 8 11 7 7 8 4 4 5 6 98 (http://www.88 13.

meskipun banyak diantara para pemukim tidak memiliki bukti kepemilikan lahan yang kuat secara hukum. Panjang dan Kandis. c. Perkembangan permukiman penduduk telah menyebabkan menyusutnya luas penggunaan lahan Pertanian Lahan Kering (dry land agriculture). penduduk membangun rumah tempat tinggal di lahan hasil penimbunan pantai sehingga terjadi akresi. Penggunaan lahan lain yang mengalami penyusutan luas atau alih fungsi lahan total adalah Perkebunan menjadi Pertanian Lahan Kering. Sistem jaringan drainase yang telah terinstal di Bandar Lampung antara lain sistem Teluk Betung. Penggunaan lahan (Land use) Penggunaan lahan permukiman pada tahun 1992 masih terkonsentrasi di tengah kota Bandar Lampung. Kebutuhan air bagi penduduk Kota Bandar Lampung dipenuhi melalui PDAM dan pengambilan air tanah dangkal/dalam melalui sumur gali. Pola perubahan penggunaan lahan selama 14 tahun (1992-2006) dapat dilihat pada Gambar 2-3. b. Wilayah pesisir (Coastal area) Bandar Lampung merupakan kota pelabuhan yang penting untuk kawasan Sumatera. Kedalaman sumur gali adalah sekitar 30 hingga 50 meter dari muka tanah setempat. Fungsi jaringan drainase ini adalah mengurangi limpasan permukaan sebagai akibat kelebihan air hujan. Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal.wilayah Kota Bandar Lampung dan sebagian besar bermuara di Teluk Lampung. Meskipun demikian. di beberapa tempat kawasan pantai. Pusat kegiatan ekonomi di Kawasan Pesisir dan Pantai di Kota Bandar Lampung antara lain terpusat di Kawasan Pelabuhan. Pada saat sekarang PDAM hanya mampu memenuhi 27% dari total warga Bandar Lampung. Sistem sungai di wilayah ini terhubung dengan beberapa jaringan drainase buatan. Tanjung Karang. Dalam kondisi seperti itu. Kota Pelabuhan Bandar Lampung terletak dalam suatu pantai berbentuk teluk sehingga gelombang tinggi sebagai akibat angin kencang tidak sepenuhnya langsung mengenai kawasan pantai. wilayah pesisir merupakan kawasan padat penduduk. tetapi 14 tahun kemudian permukiman tersebut berkembang ke arah timur (Kecamtan Tanjung Seneng) dan timur-laut (Kecamatan Sukarame). Di beberapa lokasi. 5 . sedangkan sisanya yaitu 73% masih harus memanfaatkan air sumur gali. Keadaan ini dapat menjadi kendala dalam penataan wilayah pesisir. realisasi rencana Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk mewujudkan kawasan water front city juga harus memperhitungkan biaya untuk mengatasi problematika pemukiman di wilayah pesisir. sudah terjadi abrasi oleh gelombang laut.

8 170. Pada tahun 1992 jumlah tipe penggunaan/penutup lahan ada 4 tipe tetapi pada tahun 2006 berkembang jadi 9 tipe.0 % 0.0 4.1992 2006 Gambar 2-3.0 0.0 60.0 0.4 0.2 0.6 -8996.3 0.5 4118.2 4.0 793. Tahun 1992.3 0.4 41.3.1 244. 6 .1 35.4% atau menyusut lebih dari 8900 ha (Tabel 2-2). Distribusi perubahan penggunaan/penutup lahan Kota Bandar Lampung tahun 1992 dan 2006 Alih fungsi lahan di wilayah Bandar Lampung berlangsung sangat cepat.1 0.0 3.3 19220.0 % 2.0 0.0 Detail penggunaan/perubahan penutupan lahan di Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada tabel 2.5 0.0 13.5 30.1 20.6 1.7 19. Tipe penggunaan/penutup lahan tahun 1992 dan 2006 Tipe penggunaan/penutup lahan Bush Plantation Settlement Bare land Grassland Dry land agriculture Mixed dry land agriculture Paddy field Mining No data 1992 Area (ha) 405.0 0.2 594. bahwa lebih dari 14 tahun pertanian lahan kering telah berubah menjadi 8 tipe penggunaan lahan yang berbeda-beda.3 19220.6 0.9 13.1 100.5 7988.0 perubahan lahan tahun 1992 – 2006 (ha) -325.1 244.2 0.9 -3823.9 7988.0 11571.0 2006 Area (ha) 79.8 170.5 30.0 0.0 594. Tabel tersebut menunjukkan.6 2574. persentase lahan tertinggi adalah pertanian lahan kering (60%) tapi 14 tahun kemudian tipe lahan tersebut menyusut jadi 13.1 100.9 6724.6 3843. Tabel 2-2. sebagai contoh.4 2606.0 0.

24%. Sekarang ini sedang dilakukan penyusunan RTRW terbaru.7 153. dan industri.0 90.9 227.6 3789. perdagangan. hutan. perkantoran. Luas kawasan terbangun kota Bandar Lampung mencapai > 30% dari wilayah kota selebihnya merupakan lahan non terbangun (ruang terbuka). Arahan pengelolaan kawasan perkotaan. Arahan pengembangan kawasan prioritas. Hal ini terjadi karena tingginya tingkat pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi yang ada di Kota Bandar Lampung (Bappeda Kota Bandar Lampung. 2. Arahan pengembangan kawasan produksi dan permukiman. Penggunaan Lahan Utama/Perubahan Penutupan Lahan dari 1992 ke 2006 No 1 2.8 170.6 9. Settlement Secara keseluruhan kondisi penggunaan lahan di Kota Bandar Lampung dikelompokkan dalam kawasan terbangun dan ruang terbuka. Dalam RTRW akan tertuang antara lain: Arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya. Kawasan terbangun terdiri dari lahan pekarangan.7 4290.2 79. kebun.4. jasa. 2008). memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap pemanfaatan ruang disamping itu juga memberikan dampak bagi lingkungan disekitarnya.8 3. Sedangkan ruang terbuka berupa tegalan.Tabel 2-3. lapangan dan lainlain. Aspek tata ruang merupakan isu strategis yang menjadi perhatian penting bagi pemerintah Kota Bandar Lampung yang dituangkan dalam RTRW.2 20. 7 .5 3605.8 594.7 99.7 7. Plantation 4. RTRW yang berlaku sekarang adalah RTRW 2005-2015 yang merupakan pedoman dalam pengendalian dan pemanfaatan ruang Kota Bandar Lampung sebagaimana yang tertuang pada Perda Nomor 4 Tahun 2004. Penggunaan lahan di Kota Bandar Lampurrg lebih didominasi oleh permukiman yaitu sebesar 31. Posisi Bandar Lampung Dalam Konteks Kawasan Kota Bandar Lampung sebagai ibukota Provinsi Lampung dan pusat pemerintahan dengan laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan laju perkembangan pembangunan yang cukup pesat. kuburan.4 366. From Class Bush Dry land agriculture To Class Settlement Mixed dry land agriculture Bush Plantation Settlement Bare land Grass land Mixed dry land agriculture Paddy field Mining Settlement Dry land agriculture Mixed dry land agriculture Paddy field Mixed dry land agriculture Mining 1992-2006 Area (ha) 39.5 35. Arahan sarana dan prasarana.

4. Batasan fisik dan administrasi yang ada. Terminal Barang Konservasi dan Hutan dan Industri Pengolahan Lindung BWK D Perdagangan/Jasa dan Kawasan Perumahan Indutri Kecil dan (Sukabumi/Tanjungkara Industri Cagar Budaza ng Timur) BWK E Perdagangan Umum dan Jasa Sarana Penunjang (Tanjungkarang/ Umum Perdagangan/Fungsi Pusat Kota Parkir/Taman. Rumah Regional dan Pengembangan Sewa/Kost. Cadangan Pengembangan Kota dan Pusat Pelayanan BWK C (Panjang) Pusat Pelabuhan Samudra. Terminal Pusat Kebudayaan. Tahun 2005-2015 Selain Bagian Wilayah Kota (BWK) yang telah ditetapkan tersebut. Kota Bandar Lampung di bagi menjadi 8 (delapan) Bagian Wilayah Kota (BWK) dimana masing-masing mempunyai fungsi utama dan fungsi pendukung. Fungsi dan dominasi kegiatan di beberapa kawasan kota. Pembagian Wilayah Kota . Perdagangan Skala Kota Pengembangan Hutan Kota.a. tata ruang wilayah Kota Bandar Lampung terdapat beberapa wilayah pengelolaan khusus yaitu: 8 . 5. Ukuran geometris/ luas kawasan. Perdagangan Grosir dan Industri Kecil dan Pariwisata Pantai Konservasi Sumber : RTRW Kota Bandar lampung. Struktur ruang. Industri Pariwisata/Hutan Wisata dan Kecil dan Sekolah Polisi Pengembangan Permukiman Negara (Kasiba/Lasiba) BWK H (Telukbetung) Pusat Pemerintahan. Fungsi Bagian Wilayah Kota (BWK) Bandar Lampung WILAYAH BWK A (Gedung Meneng) FUNGSI UTAMA FUNGSI PENDUKUNG Pendidikan Tinggi. 7. Daerah Perdagangan. dengan KDB Kecil. 6. Keterbatasan kemampuan jangkauan pelayanan. Kesamaan peruntukan lahan. Sentra Industri Kecil. Jasa Umum. 2. Tabel 2-4. Kesamaan kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan. Perumahan Kavling Besar (Langkapura/Kemiling) Kawasan Konservasi. Pusat Pelayanan Kawasan Permukiman Lokal dan Pertanian Skala Kecil BWK B (Sukarame) Perumahan Skala Besar dan Pusat Industri Kecil. 3. Perumahan. Perumahan Ganda dan Pusat Budaya BWK F Perdagangan/Jasa dan Kawasan Perumahan (Tanjungkarang Barat) Konservasi BWK G Pengembangan Holtikultura. Adapun alasan dalam pembagian ruang tersebut adalah adalah: 1.

Tanjungkarang Timur dan Panjang. Kawasan Resapan Air Rencana pengelolaan resapan air Kota Bandar Lampung terbagi dalam 6 (enam) zona kawasan yaitu : a. e. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Sukabumi dan Tanjungkarang Timur. Telukbetung Utara dan Telukbetung Selatan. c.b. Zona Kawasan 2 (Area Penyangga) Pada zona ini direncanakan dibangun kantung-kantung air (penampungan air hujan) skala kecil hingga menengah dan menerapkan aturan perbandingan penggunaan lahan terbuka lebih luas tapi pada lahan tertutup bangunan maksimal rasio 70%:30%. Pada zona kawasan ini perlu dikakukan tindakan serta pengendalian ruang secara ketat. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Kemiling dan Kecamatan Telukbetung Barat. Selebihnya berada di Kecamatan Tanjungkarang Pusat. b. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Tanjungkarang Pusat dan selebihnya pada wilayah Kecamatan Sukabumi dan Tanjungkarang Timur. Zona Kawasan 6 (Kawasan Dipengaruhi Air Laut) Distribusi zona ini berada disepanjang kawasan Pantai Teluk Lampung meliputi Kecamatan Telukbetung Selatan dan Kecamatan Panjang. Zona Kawasan 5 (Kawasan Resapan Tinggi) Pada zona ini didominasi oleh peruntukan lahan permukiman padat. d. wilayah pesisir tersebut meliputi wilayah Kecamatan Telukbetung Barat (Kelurahan 9 . f. Zona Kawasan 3 (Kawasan Resapan Rendah) Pola konservasi pada kawasan ini adalah penerapan sumur resapan di tiap bangunan dan atau pembuatan dana/waduk buatan skala kecil maupun menengah. Zona Kawasan 4 (Kawasan Resapan Sedang) Pada kawasan ini tingkat kepadatan bangunan cukup signifikan dan sudah mencapai titik jenuh untuk lahan permukiman. Secara administratif. Fungsi utama sebagai kawasan resapan penyangga air tanah dari ancaman interupsi air laut. Pola konservasi direncanakan melalui sumur resapan dengan dimensi setara antara luas lahan tertutup dengan volume sumur resapan yang harus dibangun. c. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Tanjungkarang Barat. Pola konservasi sebaiknya diterapkan sumur resapan di tipa bangunan rumah dengan volume sumur yang mampu menampung seluruh air hujan yang jatuh diatap dan pekarangan. Daerah yang termasuk kawasan ini adalah Kecamatan Kedaton. Sukarame dan Tanjungkarang Barat. Zona Kawasan 1 (Rechadge Area) Zona Kawasan 1 memberikan kontribusi yang cukup besar untuk mengisi cadangan air tanah dalam. Kawasan Pesisir Kawasan pesisir pantai Kota Bandarlampung terbentang sepanjang ± 27 km yang terletak di BWK H (Telukbetung) dan BWK C (Panjang).

10 . Ketapang. Kecamatan Telukbetung Selatan (Way Lunik. Kota Karang. sistem transportasi laut juga merupakan salah satu komponen penting. Zona B Kawasan Pelabuhan. Telukbetung. • Kawasan Resapan Air Kawasan ini merupakan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan dibawahnya. Dalam perencanaan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. d.Keteguhan. Pelabuhan ini merupakan satu-satunya Pelabuhan Ekspor yang dimiliki oleh Kota Bandar Lampung. Konsep reklamasi pantai merupakan salah satu alternatif pengembangan kawasan strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi serta untuk mengatasi kawasan kumuh sepanjang Teluk Lampung dengan syarat pelaksanaan yang ketat baik dari aspek teknis. Panjang Utara. Bumiwaras dan Pecoh Raya) dan Kecamatan Panjang (Kelurahan Panjang Selatan. Pidada dan Srengsem). Situs Purba di wilayah Kedamaian. Sarana ini merupakan salah satu penunjang kelancaran perdagangan di Bandar Lampung. Pada studi tersebut telah dihasilkan rencana komposisi tata letak zona bangunan gedung dan bukan gedung pada kawasan pesisir kota bandar lampung berdasarkan pembagian zona antara lain: Zona A Kawasan Revitalisasi. Garuntang. ekonomis dan sosial budaya yang disesuaikan dengan konsep Bandar Lampung Ecocity. (ii) sempadan sungai. Langkapura. dan (iii) Taman Cagar Budaya & Ilmu Pengetahuan. Pergudangan & Industri Terpadu. Negeri Olok Gading & tempat lain yang direkomendasikan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung. kondisi dan struktur ruang yang ada. Peningkatan ekspor barang melalui pelabuhan ini tentu saja bisa meningkatkan retribusi dari pelabuhan. Kangkung. Sukaraja. Perwata dan Sukamaju). Seluruh Sungai di Kota Bandarlampung. Dalam rangka penataan kawasan pesisir lebih lanjut. dan Zona D Kawasan Pariwisata Terpadu. Wilayah yang termasuk zona ini adalah di sepanjang Teluk Lampung. Zona C Kawasan Bisnis Terpadu. Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung telah melakukan Studi Lanjutan Penataan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Telukbetung Barat dan wilayah penyangga (Register 17 & 19 Kota Bandarlampung) • Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan in terbagi dalam 3 (tiga) zona kawasan yaitu (i) sempadan pantai. Penataan wilayah pesisir dilakukan melalui konsep pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu yaitu konsep penataan dan revitalisasi wilayah pesisir berbasis masyarakat dan membagi wilayah pesisir dalam zonasi sesuai potensi. Kawasan Lindung Pengelolaan kawasan lindung Kota Bandarlampung terbagi dalam 5 (lima) wilayah kawasan yaitu. Keberadaaan kawasan pelabuhan yang berada di ujung Selatan Kota Bandar Lampung telah ikut membuat dinamika lalu lintas pelayaran di wilayah ini cukup ramai. Dengan demikian Konsep Water Front City di Kota Bandar Lampung telah dibuat dan terus dimatangkan. Zona kawasan ini meliputi daerah perbukitan/gunung di Tanjungkarang Barat. dan sesuai hirarkinya merupakan Pelabuhan Internasional karena terbuka untuk lalu-lintas barang perdagangan dengan luar negeri. Pelabuhan Panjang merupakan Pelabuhan Alam yang cukup terlindungi dari gelombang laut. Pesawahan.

bantaran sungai. dan BWK Langkapura. kawasan nelayan. kawasan jasa/perdagangan. Sentra Industri Kecil berada diwilayah BWK Panjang. Sukarame. sedang dan kecil menyebar di seluruh wilayah kota yang mempunyai kesesuaian lahan pemukiman di luar kawasan lindung. pinggir rel kereta api. Sedangkan untuk perbaikan kualitas perumahan meliputi permukiman kumuh. Gedong Meneng. pengembangan dan perencanaan aktivitas wilayah adalah sebagai berikut : • Perumahan Untuk pengembangan perumahan baik ukuran besar. 11 . Kawasan Budidaya Kawasan budidaya yang dikembangkan di Kota Bandar Lampung sesuai dengan potensi yang ada yaitu untuk kawasan permukiman. • Kawasan/Daerah Pengamanan (Catchment Area) Kawasan ini merupakan kawasan pengamanan untuk PDAM Way Rilau yang meliputi wilayah Register 17 (Gunung Betung) • Kawasan Penyangga Banjir Untuk wilayah kawasan penyangga banjir adalah meliputi daerah Register 19.• Kawasan Rawan Bencana. Berdasarkan potensi pengembangan kawasan tersebut. bukit/Gunung Sari. kawasan industri dan kawasan pariwisata. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Tanjungkarang Pusat. Industri RT Tidak polutif yang menyatu dengan kegiatan permukiman. Panjang dan Telukbetung Selatan) • Perdagangan/Jasa Untuk pengembangan kawasan perdagangan terbagi dalam 5 spesifikasi perdagangan yaitu. Kawasan ini merupakan kawasan perbukitan yang rawan longsor dan pinggir sungai/lembah yang terancam banjir serta sepanjang Pantai Teluk Lampung. Perdagangan regional meliputi wilayah Telukbetung Selatan Perdagangan skala kota meliputi wilayah di sepanjang halan utama kota di Kecamatan Telukbetung Selatan dan Tanjungkarang Pusat Perdagangan skala BWK meliputi wilayah di tiap-tiap pusat BWK Perdagangan skala lingkungan meliputi wilayah di tiap-tiap lingkungan permukiman PKL yang beraglomerasi dengan kegiatan perdagangan kota dan perdagangan BWK • Industri Kawasan Industri yang meliputi Kawasan Industri Lampung (KAIL). Zona Industri berada di BWK C (Panjang) beraglomerasi dengan kegiatan pergudangan dan pelabuhan. e.

Untuk permakaman/Kuburan berada di Kecamatan Telukbetung Barat. jumlah kepadatan penduduk Kota Bandar Lampung sebesar 42 jiwa/Ha adalah termasuk kepadatan rendah (Lembaga Bantuan Teknologi Unila FT – Unila.63persen) perempuan. Panjang dan Kemiling. 2001 dalam RTRW Kota Bandar Lampung 2005-2015).942 jiwa (49. Penambahan jumlah penduduk yang paling tinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu 10. meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 41 jiwa/Ha atau naik sebesar 1. Penduduk pada tahun 2008 terdiri dari 414. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Berdasarkan data BPS tahun 2005 sampai tahun 2008. Menurut kriteria kepadatan penduduk. SLTA menyebar di setiap pusat BWK. dan Teluk Betung Selatan (RTRW Kota Bandar Lampung 2005-2015). dan SLTP&SD menyebar di pusat lingkungan permukiman. Ini berarti jumlah penduduk laki-laki dan perempuan hampir sama banyak. olahraga dan rekreasi menyebar sesuai dengan hirarki pelayanan dan fasilitas Islamic Centre berada di BWK A (Jl. Taman Lingkungan berada di daerah Pusat Lingkungan.• Pemerintahan Berada diwilayah BWK H (Telukbetung) dan disetiap pusat kecamatan/kelurahan untuk pemerintahan tingkat kecamatan/kelurahan • Pariwisata Untuk pariwisata pantai berada pada kawasan Teluk Lampung. Namun ternyata persebaran penduduk di Kota Bandar Lampung tidak merata. Untuk Taman Kota menyebar di Pusat Kota seperti daerah Way Halim.938 jiwa (50. Luas 12 . sedangkan untuk wisata kota berada di wilayah pusat kota. Kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan tinggi terdapat di Tanjung Karang Pusat.722 Ha. taman kota dan lingkungan. Penduduk Kota Bandar Lampung pada tahun 2007 berjumlah 812.747 jiwa (naik 1. peribadatan.5. Soekarno – Hatta) • Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka hijau yang diperuntukan untuk Taman Hutan Kota berada di BWK B (Sukarame) dan daerah perbukitan dengan fungsi Ruang Terbuka Hijau. • Fasilitas Sosial Untuk fasilitas kesehatan. Tingkat pertumbuhan penduduk Kota Bandar Lampung dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 berada pada besaran 3. hutan kota. 2.36persen) laki-laki dan 407. dengan luas Kota Bandar lampung 19.22 persen pertahunnya. dimana dari 13 kecamatan beberapa diataranya memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi sisanya secara umum tergolong kepadatan rendah dan sedang.32 persen. Sukarame. Kepadatan penduduk pada tahun 2008 rata-rata adalah sebesar 42 jiwa/Ha.67 persen atau 1. RTH Kota dan Danau Buatan • Pendidikan Untuk pendidikan tinggi berada di BWK A (Gedung Meneng).30 persen).880 jiwa (Tabel II-5). Tanjungkarang Barat. Kondisi Demografi dan Sosial A.133 jiwa dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 822.

diikuti dengan kelompok umur 15-19 tahun dengan jumlah jumlah 95. Usia produktif dimulai dari umur 15 -55 tahun dan usia diatas 55 tahun digolongkan kepada usia non produktif. Menurut Agama Agama-agama yang ada di Kota Lampung terdiri dari Islam. serta mengevakuasi diri jika terjadi bencana benar-benar terjadi di wilayah mereka. Secara umum diketahui bahwa kelompok usia produktif di Bandar lampung mencapai jumlah 546.695 jiwa.72 Perempuan 395.880 Luas (Ha) 19. Penduduk yang termasuk kedalam usia produktif pada nantinya akan digolongkan kepada jumlah tenaga kerja yang tersedia di Kota bandar Lampung dan dalam menentukan kebijakan mitigasi bencana.25 40.942 Sumber: http://Lampung. Tabel 2-5. 13 .id B.722 19.714 402.597 jiwa. Kristen. Struktur penduduk Kota Bandar Lampung (BPS Kota Bandar Lampung.081 jiwa. Berdasarkan kelompok usia proporsi terbesar dari penduduk Kota Bandar Lampung ditempati oleh kelompok usia 20-24 tahun yaitu sekitar 95.920 jiwa atau 64. Islam merupakan agama yang paling banyak dipeluk oleh penduduk Kota Bandar Lampung yaitu mencapai 755. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa dengan banyaknya penduduk dengan umur produktif maka akan berpengaruh terhadap produktifitas penduduk Kota Bandar Lampung serta kemampuan mereka dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana alam. . Jika digabungkan penganut agama katolik dan protestan menjadi kelompok minoritas di Kota Bandar lampung dengan persentase sebesar 6. namun memiliki jumlah kelurahan terbanyak.133 822.wilayah kedua kecamatan ini adalah terkecil dibandingkan dengan 13 kecamatan lain.208 409.922 812.722 19. 2009) Tahun 2005 2006 2007 2008 Jenis Kelamin Laki-Laki 397.883 398. Struktur Penduduk Menurut umur Gambaran mengenai struktur penduduk menurut usia akan menunjukkan jumlah penduduk yang masih produktif dan yang tidak/belum produktif di Bandar Lampung.722 Kepadatan 40.433 414.851 jiwa atau 89.700 402.746 803.BPS.76 41.75persen dari total keseluruhan penduduk Kota Bandar Lampung. Katolik.18 41. Ini lebih banyak dibandingkan jmlah penganut agama katolik yang hanya 23.go.537 jiwa.863 405.50persen disusul dengan kristen Protestan sebanyak 31.722 19. Hindu dan Budha.48persen dari total keseluruhan penduduk Kota bandar lampung namun jumlah ini masih lebih banyak bila dibandingkan dengan penganut agama Hindu atau Budha.938 Jumlah Penduduk 793.

politik. Distribusi kegiatan ekonomi di Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada Gambar 2-5. Hubungan Lingkaran-Inti Sebagai Ibukota Provinsi Lampung.6%). 2) Industri Pengolahan sebanyak 31. dan perikanan sebanyak 9. gas dan air bersih. listrik.827 jiwa pada tahun 2008. 14 . Kondisi ini menguntungkan bagi pertumbuhan dan pembangunan Bandar Lampung menjadi pusat perdagangan. Dengan demikian perdagangan merupakan tumpuan mata pencaharian penduduk yang utama. dan restoran (16. bangunan. Kontribusi lapangan usaha pertanian pada PDRB memberikan sebesar 5. rumah makan dan hotel sebanyak 127. industri pengolahan (17.pdf). dan juga pusat kegiatan ekonomi di Provinsi Lampung. Penduduk dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada sektor pertanian dan perikanan perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar. keuangan.Kondisi Ekonomi dan Mata Pencaharian Informasi kondisi ekonomi dan matapencaharian dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat. 2. angkutan.814. dan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang ketahanan masyarakat dalam menghadapai bencana terutama yang disebabkan oleh perubahan iklim. eceran. Perdagangan besar. ditandai dengan peningkatan jumlah daerah yang dibangun dan munculnya zona pusat pertumbuhan baru (Bandar Lampung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. karena sektor tersebut sangat dipengaruhi oleh iklim atau musim. pendidikan dan budaya aktivitas. Penduduk berumur 15 tahun yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama tahun 2007 berjumlah 342. Jumlah angkatan kerja di Kota Bandar Lampung meningkat dari 364.334 dengan rincian sebagai berikut: 1). 3). Bandar Lampung menjadi pusat pemerintahan. PDRB Kota Bandar Lampung sebagian besar dikontribusi oleh pengangkutan dan komunikasi (19. Jasa kemasyarakatn sebanyak 89. hotel.277.337 jiwa pada tahun 2005 menjadi 414. Bandar Lampung strategis karena terletak di daerah transit kegiatan ekonomi antara Pulau Sumatera dan Jawa. jasa-jasa (16.go. jasa dan industri.6 %). kehutanan. Angkatan kerja merupakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau mencari pekerjaan. sosial. Bandar Lampung telah mengalami perkembangan pesat. 2003). Pertanian.bps. Mata pencaharian penduduk pada dasarnya berhubungan erat dengan tingkat pendapatan. perburuan.229.217 jiwa. 4). pergudangan dan komunikasi.9% (Table II-6). tanah dan jasa perusahaan) sebanyak 84.7. tingkat kesejahteraan serta pengelolaan sumberdaya alam yang terdapat di sekitarnya.6.6%).9%) dan lapangan usaha perdagangan.797 (http://lampung. dan 5) lainnya (pertambangan dan penggalian.2. usaha persewaan bangunan.id/tabel/tk11.

215 947. Hotel. Kelurahan Kangkung.637 2006 459.457.064 453.353 1.306.247 913.28 persen masyarakat adalah laki-laki dan 36.174 95.305 1. 5). Selain melalui survey. 2008) Gambar 2-4. Batu Putu dan Pasir Gintung. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.163.780 1.423 1.359 8.115 No.517 1.126 127.462. Kota Karang. 2) Kelurahan Pasir Gintung. Kelurahan Kota Karang.235.407 1. yang terdiri dari 62. dan Jasa 8 Perusahaan 9 Jasa-Jasa PDRB / GRDP 1.691 2007 622.547 1. Kelurahan Batu Putu.152.563 602. Profil Responden Untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kota Bandar Lampung secara lebih luas memiliki keterbatasan dalam hal ketersediaan data sekunder. Survey melibatkan 256 masyarakat.015.439 10. Persewaan.113.057 1.764.378.996 94.7.72 persen perempuan. Distribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandar Lampung.795. 2007 2.313 153.740. Kelurahan Sukabumi Indah.664 6.175 1.784 1. 15 .621 162. Kelurahan yang termasuk wilayah non pesisir adalah: 1).491.049.500.382 336.382 6.955 394.780 1.394. dan 3). Produk Domestik Regional Bruto Kota Bandar Lampung Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2007 Lapangan Usaha 2004 2005 317. Sedangkan kelurahan yang termasuk kelompok pesisir adalah: 4). 1 2 3 4 5 6 7 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Tanpa Migas Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.894 89. Kelurahan Panjang Selatan.958 1.733 (Sumber: Kota Bandar Lampung Dalam Angka. Oleh karena itu penggambaran dilakukan dengan menggunakan data survey pada enam kelurahan di Kota Bandar Lampung yang dikelompokkan menjadi wilayah pesisir dan non pesisir.450.919 940.252.321 98.247 1.088.091 91.069 1.835.263 2.Tabel 2-6. 6).187.755 1. penajaman beberapa informasi juga dilakukan melalui focus group discussion (FGD) pada empat lokasi yaitu di Kelurahan Panjang Selatan.058 690.

Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat merupakan salah satu indikator dalam menilai kemampuan masyarakat untuk menerima pengetahuan baru.9 7. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. akan semakin mudah menggugah kesadarnnya untuk merespon upaya-upaya adaptasi bencana.9 5. Fenomena masyarakat dengan pendidikan rendah ini juga terjadi pada sektor perbaikan (service). Jika dilihat secara lebih detail lagi.5 persen masyarakat yang bekerja sebagai petani kebun.5 1.1 12. Menurut data hasil survey (tabel 2-7).1 41 10. Kelurahan SUkabumi Indah merupakan kelurahan dengan tingkat pendidikan tertinggi. baik melalui proses latihan dan penyuluhan.8 Batu Putu 20 17. serta menyerap keterampilan maupun teknologi yang dipekenalkan.7 12.5 17.5 15 25 10 12. Kontek Sosial A. Meskipun Pasir Gintung berada di dekat kota.8 3. Pekerjaan utama masyarakat di Pasir Gintung adalah pada sektor perdagangan (20%). Oleh karena itu tingkat pendidikan masyarakat dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur dalam menilai kerentanan masayarakat terhadap bencana.2 16. Hampir semua penduduk di kelurahan Sukabumi Indah bekerja sebagai tenaga kerja non-pertanian. menguraikan data sebaran pendidikan berdasarkan mata pencaharian di setiap kelurahan dan wilayah. maka sebanyak 40 persen berpendidikan rendah (tidak tamat SD-tamat SD). tenaga kerja perbaikan. demikian sebaliknya.8 - Tabel 2-8. ternyata dari 47. Kebanyakan dari mereka memiliki tingkat pendidikan 16 .7.1. Tabel 2-7.5 - Sukabumi Kangkung Indah 6. dan lainnya (48%). pemberian ketrampilan maupun model-model percontohan yang akan diberikan.4 16.2 10.5 - Pasir Kota Gintung Karang 6 4 10 40 20 18 2 9 17.2 7. mayoritas masyarakat di kelurahan yang diamati telah lulus SD.2 3. 2009 (dalam %) Pendidikan Tidak Sekolah SD Kelas 1-3 SD Kelas 4-6 SD Tamat SMP Tamat SLTA Tamat Sarjana Muda/ D3 Sarjana Panjang Selatan 12. dimana aktivitas pertanian tidak terjadi. masyarakat yang bekerja sebagai petani kebun di Batu Putu banyak yang tingkat pendidikannya tamat sekolah dasar dengan persentase sebesar 15 persen dari total masyarakat di Batu Putu. komposisi pekerjaan didominasi oleh pekerja dengan pendidikan yang sangat rendah.3 35. servis (10%).5 30 2.2 54. buruh non-petani (20%).7 28.5 5 32. Kebanyakan penduduk yang bekerja sebagai pedagang dan buruh non-petani adalah masyarakat dengan pendidikan menengah kebawah (SMP dan SMA). Berdasarkan tabel tersebut. Oleh karena itu semakin tinggi taraf pendidikan masyarakat.2.. atau pegawai negeri (PNS/ABRI/POLRI).

13 Kang kung Pesisir Petani Ikan Pedagang 5.00 2.00 10.13 7.00 2.84 3.45 3.50 20.23 9.45 3.00 2.23 35.00 2.50 2.00 2.50 12.00 5.00 20.0 0 100.5 0 2.9% penduduk yang bekerja di sektor tersebut dan 9.0 0 47.00 40.50 2.50 2.5 8 12.50 2.50 5.50 17.50 12.23 16.13 5.9 0 41.00 2.23 3.50 2.23 6.00 - Petani Ikan Pedagang PNS/ABRI/P OLRI Jasa Sukabumi Indah Buruh Non Pertanian Lainnya Total - 3.00 Tamat SD Tamat SMP Tamat Diplom Sarjana SMA a Tota l Non Pesisir Petani Pangan Petani Kebun Pedagang Jasa Pertukangan Buruh Pertanian Buruh Non Pertanian Lainnya Total 5.50 2.0 0 20.00 SD Kela s 1-3 7.5 0 2.00 15. 00 Batu Putu Pedagang PNS/ABRI/P OLRI Jasa Pasir Gintung Buruh Non Pertanian Lainnya Total 4.0 0 48.00 18.00 8.00 16.68% nya memiliki berpendidikan tinggi.23 3.00 12.23 3. 00 3.00 4.13 - 3.50 5.0 0 2.9 4 100.50 - - 10.68 6.6 17 .00 4.50 25.00 10.00 4. 00 2.45 22.00 6.5 0 100.23 12.00 2.23 6.50 2.69 - - 10.45 3.2 6 25.00 10.23 3.00 2.00 4. Tabel 2-8.13 2.23 6.48 54. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Mata Pencaharian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung Tahun 2009 (dalam %) Pekerjaan Kel Tidak Sekola h 2.90 16.00 4.00 5. sebagai contoh.50 2.50 15.00 2.9 0 12. Lebih dari 12.69 5.00 2.00 6. pekerja pemerintahan merupakan lulusan D3 dan sarjana. Hal yang sama terjadi pada sektor service.50 5.00 SD Kelas 4-6 12.50 5.56 - 7.23 3.00 2.50 10.00 4.00 17.00 12.56 2.menegah dan tinggi.00 20.5 0 2.

79 1.00 15.00 2.79 12.50 5.2 9 19.57 1.56 25.64 35.50 15.07 1.5 0 17.79 12.50 - - Pola yang hampir sama juga terjadi di wilayah pesisir.79 3.3 3 100. pekerja denga lulusan universitas.57 5.0 0 17.90 2.00 5.82 - - 4 2.79 - Kota Karang 7.26 2.79 3.00 30.8 6 2.56 5.5 0 14.57 8.Pengrajin Jasa Pertukangan Buruh Non Pertanian Lainnya Kangkung Total Petani Ikan Pedagang Jasa Buruh Non Pertanian Lainnya Kota Karang Total Petani Ikan Pedagang Jasa Buruh Non Pertanian Lainnya Panjang Selatan Total 2.2 1 3.57 3.00 5.79 10.56 2.50 2.56 2.14 41.00 5.71 3.50 5. Pada umumnya mereka yang bekerja pada sektor tersebut berpendidikan rendah (maksimal lulus SD).1 4 100.50 1. 00 21.69 2.50 2.13 2. Berdasarkan ilustrasi diatas.6 4 32.00 7.0 0 5.5 0 5.56 7.56 15.00 2.14 10.56 7. mayoritas pekerjaan di kelurahan pesisir dan non-pesisir didominasi oleh pekerja berpendidikan renah (gambar 2-5).57 1.5 0 25.56 12.79 3.50 2.13 10.57 1. 00 3. buruh non pertanian dan petani tambak ikan.79 1.50 2.50 12.79 1.13 28.93 1.50 2.56 2.07 7.00 10.0 0 100.57 7. Misalnya di wilayah Kangkung. sebagian besar masyarakat bekerja sebagai pedagang.69 5. Panjang Selatan 18 .79 1.00 10.56 7.36 1.79 1.00 32.71 3.3 8 33.50 42.50 5. Hanya pelayan publik/pemerintahan dan beberapa pedagang.57 16.69 2. 00 20.4 3 12.

Yang berarti sebenarnya masalah pertanian juga merupakan masalah perempuan. terlihat perempuan memiliki andil yang cukup besar dalam memenuhi nafkah keluarga.98 persen. peran keluarga dimana pengambilan keputusan dilakukan berdua oleh suami istri lebih besar daripada keluarga yang pengambilan keputusannya hanya oleh suami saja. maka terlihat konsistensi bahwa partisipasi perempuan dalam membuat keputusan keluarga juga dipengaruhi oleh keterlibatan mereka membantu suami dalam memperoleh penghasilan keluarga. Disini terlihat bahwa dalam lingkup yang lebih kecil. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Klasifikasi Tinggi Rendahnya Pendidikan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. partisipasi anggota keluarga terutama perempuan dalam pengambilan keputusan dapat dilihat pada jumlah perempuan yang diundang menghadiri kegiatan rapat atau musyawarah kelurahan. misalnya masalah pertanian. Namun saat suami berhalangan hadir. sebanyak 34. Jika angka ini disandingkan dengan angka persentase kelompok pencari nafkah dalam keluarga yaitu suami dan istri.Gambar 2-5.82 persen untuk Batu Putu dan 58. Dari data tersebut terlihat bahwa keterlibatan istri di wilayah non pesisir lebih banyak daripada wilayah pesisir. Pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu kelurahan. mereka melibatkan istri mereka dalam membuat keputusan keluarga dan jumlah kelompok ini cukup besar. Padahal berdasarkan gambaran peran anggota keluarga dalam mencari nafkah. Hal tersebut terkait dengan pola pikir pria yang beranggapan bahwa kehadiran perempuan di rumah yaitu mengurus anak lebih penting daripada hadir dalam rapat. Persentase suami istri sebagai pengambil keputusan di kedua wilayah tersebut adalah 58. Alasan yang diungkapkan warga pria adalah karena yang dibicarakan biasanya masalah-masalah yang terkait dengan kaum pria. Bahkan secara spesifik di Kelurahan Batu Putu dan Sukabumi Indah.19 persen. Akan tetapi terdapat kelompok keluarga masyarakat yang menyatakan bahwa untuk pengambilan keputusan keluarga tidak bisa dilakukan sendiri oleh suami. yaitu kepentingan 19 .33 persen untuk Sukabumi Indah. Pengambilan Keputusan Keluarga Anggota keluarga yang cukup dominan dalam membuat keputusan keluarga adalah suami dengan persentase sebesar 55. istri akan diminta hadir sebagai wakil suami. 2009 B. termasuk menjadi pekerja di sektor pertanian. perempuan juga jarang dilibatkan. biasanya hanya lelaki yang diundang datang ke pertemuan sedangkan perempuan akan di undang apabila dalam rumah tangga tersebut memang tidak ada pria yang dapat mewakili. Dalam pertemuan yang lebih strategis seperti Musrembang. Dari hasil FGD terungkap bahwa dalam pertemuan warga di kelurahan atau balai desa.

00 0.41 0.63 0.00 0.00 0.00 100.00 100.00 100.43 Iap 0.00 0.08 0.2 2 41. seringkali sistem peringatan dini atau informasi yang terkait dengan bencana hanya diberikan dan di bahas dengan para laki-laki/suami. Dalam kaitannya dengan bencana. I= Istri.3 5 34.79 0.57 0.00 0.85 5.00 5.56 S Al 0.00 0. perempuan telah memiliki posisi tawar yang relatif sama dengan pria.87 3.79 0. dengan 20 . terlihat bahwa keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan sebanyak 14.00 0. Berdasarkan Tabel 2-10.26 1.00 0.82 20.85 IAlAp 0. Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Berperan Dalam Mengambil Keputusan Keluarga Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Sehingga program-program atau kebijakan yang dibuat dianggap sudah dapat mewakili.00 0. pemerintah daerahnya menyediakan fasilitas kamar mandi umum dengan kondisi dinding hanya tertutup setengah yang menyebabkan perempuan tidak nyaman dalam melakukan aktivitas di kamar mandi.00 0.keluarga.00 4.15 2. Padahal.43 SAlAp 0.00 2.00 1.6 7 55.00 5. kepentingan masyarakat bersama.00 0.00 0.00 100. Misalnya pada kasus bencana yang terjadi pada suatu daerah.00 0. Kondisi demikian mencerminkan ketidak pekaan terhadap kebutuhan perempuan. Partisipasi Keluarga Dalam Mengikuti Pelatihan Secara umum keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan untuk meningkatkan ketrampilannya relatif rendah. Keabsenan atau ketidak akuratan informasi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perempuan menjadi lebih rentan saat terjadi bencana.2 6 51. 2009 (dalam %) Wilayah / Keluraha n Batu Putu Pasir Gintung Sukabum i Indah Kangkun g Kota Karang Panjang Selatan Non Pesisir Pesisir Grand Total Anggota Rumah Tangga Pengambil Keputusan Grand Total 100.93 0. Namun dalam lingkup yang lebih luas. Hal ini menunjukkan lemahnya posisi tawar perempuan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.89 3.00 0.57 1.43 Keterangan : S=suami.9 8 SI 58.00 5.00 0.63 1.92 2.00 0.9 2 70.99 Semua 0.84 persen.00 2.00 0.4 6 16. dalam beberapa hal kepentingan atau kebutuhan laki-laki berbeda dengan perempuan.00 100.35 41. Padahal belum tentu seluruh informasi tersebut dapat disampaikan kembali dengan baik kepada para perempuan/ istri di rumah.00 0.00 100.51 2.00 0. peran lakilaki menjadi lebih dominan dimana mereka merasa bahwa keberadaannya sudah bisa mewakili kepentingan perempuan.00 4.04 0.3 3 26.00 0.70 1.3 2 38.08 0.00 0.00 0.00 (N) 107 34 49 24 127 38 52 37 234 S 41.00 100. suara yang mewakili kebutuhan dan kepentingan perempuan menjadi tidak terdengar.92 0.92 0.4 1 58.87 1. karena tidak diikut sertakan dalam rapat atau musyawarah. Demikian juga dengan program-program bencana.00 0.71 Al 0.2 7 55.00 0.00 1.1 9 I 0.93 0.1 2 28.00 100.00 2.43 SIAl 0.2 7 53.00 2.41 1.00 0. dan Ap=Anak Perempuan Dewasa C. Tabel 2-9.18 67.00 7. Al= Anak Laki Dewasa.2 7 58.00 0.00 0.04 0.

00 60.33 0.00 63.63 33. akan berdampak terhadap terbatasnya keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat terutama ketika menghadapi berbagai macam kondisi yang mengancam keberlangsungan hidup keluarganya. Masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan relatif aktif dalam mengikuti berbagai macam pelatihan dibandingkan dengan kelurahan lainnya.26 Total 40 50 31 121 39 56 40 135 256 3 3 5 11 2 7 18 27 38 7.89 14.00 Berdasarkan data terlihat.41 5. Relatif rendahnya keterlibatan masyarakat dalam mengikuti berbagai macam pelatihan dalam meningkatkan keterampilan hidupnya.56 7. terkecuali di Sukabumi Indah.00 16.36 0.15 52. namun bisa juga dengan cara informal. dan hal ini berlaku secara umum untuk wilayah lainnya. jika suatu keluarga terkena bencana yang pada akhirnya tidak bisa lagi tergantung pada pekerjaan utamanya (baik jangka pendek maupun jangka panjang).67 100.00 42.00 100. Dalam konteks masyarakat urban dengan tingkat strata ekonomi yang rendah.13 12. sekitar 45 persen masyarakat di wilayah tersebut pernah mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan hidupnya.11 11.21 14.00 100.29 5.00 100.00 100. dan ketrampilan tersebut mereka 21 . Dari hasil FGD terungkap memang selama ini masyarakat jarang mengikuti pelatihan yang dilakukan secara formal.86 44.89 33. Beberapa masyarakat bahkan kurang menyadari bahwa kegiatan mata pencaharian mereka pada dasarnya memerlukan suatu ketrampilan tertentu.33 34.00 36.09 5.00 40. Dalam kenyataannya beberapa pekerjaan yang dilakukan seperti buruh bangunan memerlukan ketrampilan khusus.00 100. Dalam kondisi seperti ini. yang menyebabkan masih adanya peluang untuk melakukan berbagai macam pekerjaan alternatif.50 6.84 100.64 100.50 45.demikian sebanyak 85. Tabel 2-10. bahwa suami lebih banyak aktif terlibat dalam pelatihan dibandingkan dengan istri. Walaupun relatif kecil.00 100.00 28. keterlibatan masyarakat di pesisir dalam mengikuti pelatihan relatif banyak dibandingkan dengan wilayah non pesisir.11 7.00 100.16 persen masyarakat tidak terlibat dalam kegiatan pelatihan. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total Total Res (N) Res Jawab (n) n/N (%) Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Pelatihan (dari n dalam %) Anak Anak Suami Istri LakiPerempuan Laki 66. Lain halnya jika masyarakat tersebut cukup aktif dalam mengikuti berbagai macam pelatihan. peningkatan ketrampilan tidak harus selalu diperoleh dengan cara mengikuti pelatihan secara formal.00 20.00 100.13 9.00 14. Distribusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga dalam Mengikuti Pelatihan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. maka alternatif untuk melakukan pekerjaan tambahan relatif sulit dilakukan karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki masyarakat.44 48.57 38. sehingga mengurangi kerentanan akibat bencana.29 11.

97 persen.33 28.25 35. keterlibatan masyarakat di pesisir dalam berorganiasi relatif banyak dibandingkan dengan wilayah non pesisir.73 Wilayah / Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total n/N (%) Jumlah 40 50 31 121 39 56 40 135 256 16 9 21 46 15 21 28 64 110 40. Hubungannya dengan kebencanaan adalah.00 0.00 Dengan hanya melihat warga yang aktif berorganisasi.69 2.00 3.67 57. akan tetapi dengan keterlibatan sebanyak 42.97 100.33 42. D Partisispasi Keluarga Dalam Mengikuti Organisasi Masyarkat Secara umum keterlibatan masyarakat dalam organisasi masyarakat relatif masih rendah. maka berdasarkan data tersebut terlihat.00 18.57 32.97 persen merupakan jumlah yang cukup bagi sebuah organisasi untuk berperan dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat.36 0.41 42.57 53.86 41.45 43.00 13.00 0.00 100.dapatkan secara otodidak. Masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan relatif aktif dalam berorganisasi dibandingkan dengan kelurahan lainnya.71 10.70 46.00 6.14 58.03 persen masyarakat tidak berorganisasi.02 38. Dari pengakuan warga di Kota Karang dan Pasir Gintung. Menurut penuturan 22 . Distrisusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Organisasi Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.00 0. Berdasarkan Tabel 2-11.00 0.00 100. Tabel.33 0.46 37.13 55.00 100.50 70.25 66.67 14. Berdasarkan hasil FGD terungkap berbagai bentuk organisasi serta aktivitasaktivitas organisasi yang berada di lingkungan kelurahan amatan. bila semakin banyak masyarakat terlibat dalam berorganisasi. Organisasi merupakah wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreatifitas dan gagasan yang dimiliki masyarakat termasuk berbagai macam upaya mensejahterakan masyarakat setempat. dengan demikian sebanyak 57.75 33.00 100.00 0.00 100.94 6. belum pernah ada program bantuan pelatihan baik formal ataupun informal yang ditujukan untuk peningkatan ketrampilan warga baik dari pemerintah daerah maupun LSM setempat. terlihat bahwa keterlibatan masyarakat dalam berorganisasi sebanyak 42. suami lebih banyak aktif terlibat dalam aktifitas berorganiasi dibandingkan dengan istri.45 0. Walaupun relatif kecil. maka semakin besar pula akses yang dimiliki masyarakat untuk memperoleh informasi dan bantuan bencana. Walaupun tingkat berorganisasi relatif rendah.00 100.14 53.14 31.00 0.30 33.29 10. demikian juga anak laki-laki lebih banyak terlibat dalam organisasi masyarakt dibandingkan dengan anak perempuan dan hal ini berlaku secara umum untuk wilayah lainnya.74 38. 2-11.00 100. 2009 Total Respd (N) Res Jawab (n) Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Ormas (dari n dalam %) Anak Anak LakiPerempua Suami Istri Laki n 56.00 100.00 67. sekitar 70 persen masyarakat di wilayah tersebut aktif berorganisasi.00 47.57 4.67 57.

kelompok nelayan Bahari Mandiri sudah jarang melakukan kegiatan-kegiatan. kursi. Uang hasil penerimaan peminjaman barang dari non anggota sebagian akan di belikan barang lagi. Namun beberapa waktu belakangan ini. yang berada di wilayah ini mencakup 10 kelompok. Kondisi demikian yang memicu timbulnya organisasi masyarakat seperti ‘Petir’ dan ‘Paku Banten’.. namun banyak juga yang bertindak sebagai preman. tokoh masyarakat di Kelurahan Batu Putuk. Pada Kelurahan Batu Putuk terdapat kelompok pertanian dan kelompok kehutanan. gelas. namun di wilayah tersebut tidak terdapat koperasai nelayan yang bisa menunjang kegiatan operasional nelayan. ”. Manfaat menjadi anggota adalah bila mau meminjam peralatan pesta tidak akan dipungut bayaran. Walaupun di kelurahan Panjang Selatan terdapat kelompok nelayan. Ide kegiatan tersebut berasal dari kaum perempuan sendiri. Kegiatan kelompok ini antara lain membersihkan kebun orang lain secara gotong royong.Bapak Mugi. Pada Kelurahan Pasir Gintung. Bantuan saprodi seperti pupuk juga belum pernah ada. persatuan pedagang sayur. Bantuan bibit pernah satu kali diterima warga yaitu bibit padi tahun 2008”. Pinjaman tersebut tidak dikenakan bunga bila jangka waktu pinjaman hanya sebentar. Hasil keuntungan dari bekerja tidak dibagi secara langsung kepada anggota. namun sebagian besar digunakan untuk membeli peralatan pesta seperti piring. Pada kegiatan simpan pinjam. Kegiatan kelompok yang ditujukan untuk peningkatan ekonomi petani. sebagian lainnya akan dimasukkan dalam kas kelompok. karena jumlah anggotanya 8 orang. persatuan pengaman lingkungan. Menurut penuturan bapak Jumaidi. Gabungan kelompok tani (gapoktan). Selain terdapat kelompok bapak-bapak. Wilayah Pasir Gintung yang dekat dengan pasar induk menyebabkan masyarakatnya tidak saja banyak yang menjadi pedagang. misalnya simpan pinjam masih belum dilakukan. kelompok kehutanan dibentuk dengan tujuan agar warga dapat memperoleh izin untuk menanam di lahan kehutanan. maka kegiatan simpan pinjam menjadi terhambat dan saat ini tidak berjalan lagi.. juga terdapat kelompok ibu-ibu di Kelurahan Batu Putuk dengan nama kelompok PKK 8. pada Kelurahan Panjang Selatan terdapat organisasi kemasyarakatan yaitu kelompok nelayan Bahari Mandiri. Sehingga beberapa warga menyebutkan wilayah tersebut dengan sebutan ‘bronx’. Keuntungan lainnya sebagai anggota adalah mereka bisa meminjam uang kas kelompok. teko. namun non anggota harus membayar. Aktifitas yang dilakukan oleh kelompok pertanian antara lain melakukan pertemuan atau musyawarah untuk membahas suatu masalah.. Organisasi tersebut kegiatannya antara lain mengorganisir perparkiran dan 23 . namun karena banyaknya warga yang tidak mengembalikan pinjamannya.manfaat yang dirasa dengan bergabung di kelompok tani adalah memperoleh informasi penanggulangan penyakit. Misalnya ada persatuan tukang bakso. Selain kelompok pertanian. terdapat juga organisasi masyarakat seperti ‘Petir’ dan ‘Paku Banten’. dan sebagian lagi dimasukkan dalam kas kelompok. sedangkan bantuan untuk meningkatkan ekonomi petani tidak ada. setiap anggota dibebankan membayar simpanan minimal Rp 1500 per bulan. dsb. dan ada bunga yang relatif kecil bila pinjaman dalam jangka waktu yang lama. Selain adanya paguyuban-paguyuban. padahal dulu berjalan dengan aktif dimana salah satu kegiatannya adalah simpan pinjam. diperoleh informasi bahwa terdapat banyak paguyuban yang terkait dengan profesi mata pencaharian masyarakat.

yaitu dilakukan secara masing-masing warga. warganya justru mengaku bahwa kegiatan gotong royong di wilayah tersebut sudah berjalan dengan baik. menyebabkan ritme kerja yang tidak sama. semakin kompak masyarakat dalam melakukan kegiatan kemasyarakatan biasanya akan semakin kuat kohesivitas sosial masyarakat. namun dalam pelaksanaannya kegiatan kebersihan lingkungan di Kota Karang lebih bersifat individu. saluran air. dan memperbaiki infrastruktur perdesaan seperti jalan desa.36 persen berada di Panjang Selatan. Sebenarnya telah ada aturan bahwa setiap jumat ada kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan. E. di tahun 1970an. dari sebanyak 135 warga pesisir. Berdasarkan hasil FGD. pegawai. menunjukkan distribusi warga di wilayah pesisir yang melakukan kegiatan gotong royong. Demikian juga bila ada rumah warga yang rusak. Kegiatan gotong royong tidak hanya dilakukan untuk membersihkan lingkungan saja tetapi juga membantu warga yang akan melaksanakan hajatan seperti pesta pernikahan maupun yang memperoleh musibah. yaitu sebanyak 1 kali dalam 1 tahun. Berbeda dengan Kelurahan Panjang Selatan. atau buruh. Berdasarkan gambar terlihat bahwa sebanyak 48. Berdasarkan data. Gambar 2.11 persen berada di Kota Karang. tempat sampah. Kegiatan gotong royong masyarakat secara rutin dilaksanakan setiap bulan atau setelah terjadi pasang.5 persen melakukan kegiatan gotong royong dengan frekuensi yang sangat jarang. Tinggi rendahnya kohesivitas sosial dapat terlihat dari beragamnya kegiatan sosial masyarakat. melaksanakan kegiatan 3M. Kohesivitas sosial ini yang melahirkan sikap saling tolong menolong ketika terjadi bencana. dan lain sebagainya. sebanyak 78. sebagian besar masayarakat Kota Karang adalah nelayan. diperoleh informasi bahwa kegiatan gotong royong di Kelurahan Kota Karang memang masih belum berjalan dengan baik. Kegiatan yang lebih mengarah kepada individu ini diperkirakan karena adanya perubahan dalam mata pencaharian penduduk.7. wirasawasta. Beberapa kegiatan sosial masyarakat yang berhubungan dengan kebencanaan adalah gotong royong. Dahulu.53 persen berada di Kangkung dan sebanyak 27. Namun sifat tolong menolong antar warga tetap ada. Keberadaan paguyuban serta organisasi masyarakat tersebut dirasakan positif oleh warga. sebanyak 24. biasanya ditangani sendiri oleh si pemilik tanpa bantuan dari tetangga atau warga lainnya. 24 . Namun karena penghasilan dari nelayan yang saat ini sudah sangat berkurang. menyebabkan banyak penduduk yang beralih menjadi pekebun.pengamanan lingkungan. Terutama dalam hal kebersamaan. Partisipasi Masyarakat Dalam Kelembagaan Salah satu kekuatan masyarakat dalam menghadapi bencana adalah tingginya kohesivitas sosial masyarakat. Dengan pola mata pencaharian yang beragam seperti itu. sehingga sulit untuk melakukan kegiatan dalam waktu yang bersamaan. antara lain meningkatnya kesejahteraan warga serta menurunnya tingkat kejahatan dan ‘kenakalan’ warga di Kelurahan Pasir Gintung.

Gambar 2-7. 2009 25 . frekuensi kegiatan gotong royong masyarakat relatif beragam. dapat dilihat pada Gambar 2-7. Jika dilihat dari frekuensinya. Dengan semakin seringnya kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh warga. Hal ini menggambarkan dari persfektif kualitas gotong royong. enam bulan sekali. Distribusi Masyarakat di Wilayah Pesisir Yang Melakukan Kegiatan Gotong dengan Frekuensi Minimal 1 Kali dalam 1 Tahun Pada wilayah non pesisir. ada yang satu bulan sekali. mengingat di wilayah ini terdapat sekitar 57. maka sebetulnya masyarakat di wilayah non pesisir memiliki tingkat partisipasi gotong royong yang lebih baik.66 persen warga berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong. Dari 121 warga non pesisir. Distribusi Tingkat Partisipasi Warga Non Pesisir Lampung pada Kegiatan Gotong Royong Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya. dan satu kali dalam satu tahun (32. maka dampaknya akan lebih besar terasa dibandingkan dengan masyarakat yang melakukan gotong royongnya hanya 1 tahun sekali. maka di wilayah non pesisir sebagian besar warga melakukan kegiatan gotong royong sebanyak 36 kali dalam setahun atau setiap minggu (57. sebanyak 66. ada yang dua bulan sekali. bahkan satu tahun satu kali.22 persen).78 persen).Gambar 2-6.78 persen warga yang melakukan gotong royong dengan frekuensi seminggu sekali. Selain itu terdapat juga warga yang melakukan gotong royong lebih dari 1 tahun sekali.

dan menarik partisipasi terkecil dari Kelurahan Panjang Selatan. pengajian merupakan kegiatan sosial masyarakat yang memiliki partisipasi warga terbesar (74. Jika membandingkan kedua wilayah (pesisir dan non pesisir).8.22 persen). Kegiatan gotong royong yang mendapatkan partisipasi warga paling rendah adalah kegiatan perbaikan taman. 2009 Dilihat dari partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan warga. Gambar 2-9) 26 .Gambar 2. Tokoh masyarakat Kelurahan Panjang Selatan. Gambar 2-8. gotong royong. Di wilayah non pesisir. Kegiatan sosial lain yang memiliki partisipasi relatif besar adalah arisan ibu-ibu (46. Perbaikan sarana ibadah menarik partisipasi besar dari warga di Kelurahan Sukabumi Indah (35. pengajian juga mendapat partisipasi terbesar dari warga (67.09 persen) dan kemudian kegiatan kegiatan 3M (menguras.48 persen). menutup dan mengubur. Relatif tingginya partisipasi gotong royong masyarakat di kedua wilayah diakui oleh tokoh masyarat yang menjadi narasumber dalam FGD.77) dibandingkan kegiatan sosial masyarakatnya. Hal ini terjadi pada semua kelurahan di kedua wilayah baik pesisir maupun non pesisir. Distribusi Partisipasi Warga dalam Kegiatan Gotong Royong Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. maupun kegiatan-kegiatan perkumpulan telah berjalan cukup baik meskipun untuk Kelurahan Pasir Gintung kegiatan tersebut tidak terjadwal dan terorganisir dengan baik.70 persen) dibandingkan kegiatan yang lain. warga di wilayah non pesisir memberikan pastisipasi lebih besar dibandingkan warga diwilayah pesisir kecuali kegiatan perbaikan sampah dan perbaikan jalan. Batu Putu dan Pasir Gintung menyatakan bahwa hubungan antar warga seperti dalam hal kerjasama. Partisipasi warga terbesar dan terendah dalam kegiatan perbaikan jalan terjadi berturut-turut di Kelurahan Kota Karang dan Panjang Selatan. menunjukkan bahwa kegiatan perbaikan jalan mendapatkan partisipasi warga paling besar (45.

2009 F. asuransi. Selain biayanya yang cukup terjangkau. hanya warga Kelurahan Batu Putu yang menyatakan bahwa sarana perbankan di wilayahnya masih kurang. Pada wilayah-wilayah tersebut juga telah ada Jamkesmas. Demikian juga dengan asuransi. kesehatan. Proses untuk mengurus jamkesda pun cukup rumit dan melalui birokrasi yang cukup pajang. Warga yang tidak memiliki jamkesmas dapat mempergunakan fasilitas jamkesda. biasanya akan di rujuk oleh puskesmas setempat untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. fasilitas kesehatan ini sangat membantu masyarakat. Pada kenyataannya lokasi Batu Putu yang relatif terletak jauh di atas gunung dan jauh dari pusat ibukota menyebabkan bank tidak beroperasi di wilayah tersebut. namun pada kenyataannya berdasarkan hasil FGD. perbankan. Tidak banyak warga yang tahu tentang keberadaan sarana asuransi di wilayah mereka. Sebagian besar warga memiliki alasan bahwa jumlah penghasilan yang relatif kecil sehingga tidak tersedia uang yang cukup untuk ditabung. air bersih dan listrik. Namun. bila kondisi warga bertambah parah. Akses Terhadap Pelayanan Keberadaan sarana dan prasarana merupakan faktor yang menunjang keberhasilan upaya program adaptasi bencana. khususnya untuk mengobati penyakit-penyakit ringan seperti flu dan batuk. masih sangat sedikit warga yang memanfaatkan jasa perbankan tersebut. Namun. kepemilikan jamkesmas ini tidak secara otomatis ada. Dengan adanya sarana dan prasarana ini berbagai sektor kehidupan masyarakat dapat lebih dikembangkan dan ditingkatkan hasilnya. hal ini cukup menyulitkan warga. Sarana dan prasarana yang ada di wilayah kelurahankelurahan terpilih yang rentan bencana terdiri dari: pendidikan. warga harus mengurusnya terlebih dahulu. Sarana kesehatan pada wilayah ini pada umumnya berupa balai kesehatan masyarakat seperti puskesmas maupun posyandu. Distribusi Kegiatan Masyarakat Pada Beberapa Kegiatan Sosial Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. walaupun kelurahan yang lain menyatakan bahwa sarana perbankan di kelurahan mereka sudah cukup baik. Sarana perbankan pada juga secara umum sudah cukup baik. Hal ini juga ditunjang dengan kenyataan bahwa mereka belum merasa membutuhkan asuransi. Namun demikian.Gambar 2-9. SMP sudah tersedia dalam jumlah yang cukup. Mayoritas masyarakat pada seluruh kelurahan menunjukkan bahwa sarana pendidikan seperti bangunan SD. baik asuransi 27 .

terlebih dahulu harus di diamkan beberapa saat. terbukti dengan adanya tiga perusahaan air minum di daerah tersebut.000. berupa jaminan ganti rugi finansial atas harta benda yang rusak atau hilang. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari FGD. memiliki kesulitan air bersih. Keperluan air untuk mencuci dan mandi dipenuhi dengan menggunakan air sumur bor. mempunyai sumber air yang sangat banyak. walaupun memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat yang lebih baik dibandingkan dengan kelurahan lain. sehingga dalam satu bulan biasanya menghabiskan 7-8 galon. Grafik 2-10. warga menggunakan air sumur pompa. Sedangkan air bersih dapat diperoleh dengan membeli baik dari PDAM maupun dari pedagang air keliling. kepemilikan asuransi dapat melindungi masyarakat. Hal yang menarik ditunjukkan oleh Kelurahan Sukabumi Indah. Untuk keperluan minum biasanya dipenuhi dengan membeli air galon isi ulang seharga Rp 3. Sumber listrik pada wilayah ini berasal dari PLN. jiwa maupun kesehatan. Padahal. dan Kangkung keperluan minum warga biasanya dipenuhi dengan cara membeli air galon isi ulang. sehingga bila akan digunakan. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen. Seorang ibu dengan enam orang anak yang tinggal di wilayah Kota Karang mengaku bahwa kebutuhan air sehari-hari dipenuhi dengan cara mengambil dari sumur bor dan membeli. namun kualitas air kurang baik. yaitu Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang.00 per galon dengan merek Grand. Namun justru keberadaan perusahaan air minum tersebut yang dirasa warga menyebabkan jumlah debit air menjadi berkurang.00-Rp 3. sedangkan air jirigen 28 . Penggunaan air sumur bor tidak dipungut biaya. Kota Karang. pada wilayah pesisir. sehingga air bersih dapat diperoleh dengan jalan membeli. Berikut adalah gambaran kebutuhan air bersih pada suatu rumah tangga di Kelurahan Kota Karang.pendidikan. namun masyarakatnya menunjukan kecenderungan yang sama dengan warga dari kelurahan lain. yaitu berwarna keruh dan bahkan di Kelurahan Kota Karang terasa panas. Ketersediaan Sarana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. bila terjadi bencana yang parah. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen yang dapat diperoleh dengan cara membeli. namun kualitas air kurang baik (berwarna keruh) dan terasa panas. Penggunaan air sumur bor tidak dipungut biaya. Untuk keperluan mencuci dan mandi. Biasanya satu galon air dapat di gunakan selama empat hari. 2009 Sarana electricity dan air bersih pada wilayah ini tersedia dengan baik. Pada wilayah Panjang Selatan.500. Kelurahan Batu Putu yang merupakan daerah perbukitan.

Mata pencaharian masyarakat di Batu Putuk dengan persentase paling sedikit adalah pedagang. Hal ini karena mata pencaharian sebagai nelayan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan cuaca. namun umumnya warga memiliki lahan kurang dari satu hektar. dan Grand.diperoleh dengan membeli. Keberadaan perusahaan ini memberikan kesempatan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar seperti menjadi buruh dan satpam. Sebanyak 20 persen warga Panjang Selatan. Selain itu berdasarkan survey terlihat bahwa sebanyak 42. Grade.000. Kelurahan Panjang Selatan. 20. cukup banyak juga warga yang bertani / berkebun di wilayah kawasan milik dinas kehutanan.7. pertukangan. Harga air dalam jirigen (2 liter) jika diambil sendiri adalah Rp 1.5 persen warga wilayah Panjang Selatan bermata pencaharian sebagai buruh non pertanian.000 perhektar per tahun. durian. yaitu Tri Panca.00 per tiga jirigen. Kota Karang dan Kangkung berada pada wilayah pesisir. terdapat tiga perusahaan air minum. pengeluaran masayarakat dan kepemilikan lahan serta aset.5 persen warga berprofesi sebagai petani kebun dan diikuti oleh buruh pertanian sebesar 17. Oleh karena itu sebanyak 47.000.00 per tiga jirigen. pendapatan. warga sengaja menanam beberapa jenis tanaman. Ibu tersebut mengaku bahwa tiga jirigen dapat digunakan selama tiga hari. 2. Biasanya dalam satu lahan.5 persen warga Kota Karang dan 10.3 persen warga mengaku bermata pencaharian sebagai nelayan maupun buruh nelayan. dan buruh non pertanian. yaitu sebesar 2. melinjo dan vanili. penghasilan dari melaut dapat berlimpah. Berdasarkan hasil FGD diperoleh pula informasi bahwa pada wilayah Batu Putuk. atau kenek bangunan. Berikut adalah gambaran umum ekonomi dan mata pencaharian pada enam kelurahan amatan: A. penghasilan dari melaut cenderung menurun drastis bahkan terkadang tidak mendapatkan penghasilan. Pada kondisi iklim dan cuaca yang menunjang. Sewa lahan dikenakan biaya sebesar Rp. harga mencapai Rp 2.3 persen memiliki mata pencaharian yang dikelompokkan menjadi ‘lainnya’. 21. Kelurahan Batu Putuk berada di lokasi dataran tinggi dimana kondisi lahan di wilayah ini memiliki kesesuaian dengan karaktersitik tanaman perkebunan. Mata Pencaharian Mata pencaharian penduduk biasanya dipengaruhi oleh kondisi wilayah masing-masing. namun dalam kondisi sebaliknya seperti pasang dan angin besar. sehingga memiliki ketidakpastian. 29 . Mata Pencaharian dan Ekonomi Informasi kondisi ekonomi masyarakat dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat. Kondisi ekonomi masyarakat dapat dilihat dari mata pencaharian penduduk.000.1 persen dan 33.00-Rp 48.000. sedangkan warga di wilayah Kota Karang dan Kangkung sebesar 32.00. Sehingga memiliki potensi pertanian khususnya tanaman perkebunan seperti coklat. Selain menanam pada lahan sendiri. tukang becak. dimana sektor perikanan menjadi salah satu mata pencaharian yang dominan. dan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang ketahanan masyarakat dalam menghadapai perubahan iklim/ bencana. banyak warga yang memiliki alternatif mata pencaharian lain seperti menjadi buruh non pertanian.5 persen. namun jika diantar (dibawakan).5 persen. kopi. Sumber FGD di Kota Karang. sehingga dalam sebulan membutuhkan 30 jirigen. Luas kepemilikan lahan beragam.2. Oleh karena itu. Jadi secara rata-rata total pengeluaran untuk membeli air pada keluarga tersebut selama satu bulan sebesar Rp 31.

4 33.33 Bila dilihat dari mata pencaharian penduduk.5 2. Mata Pencaharian Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. akan tetapi seringkali karena adanya keterbatasan mengakibatkan setiap keluarga jika ada kesempatan akan memberdayakan anggota keluarganya dalam mencari sumber tambahan. dan lain sebagainya. Kota Karang. terminal.5 22.5 5 2.7 2. Partisipasi Anggota Keluarga dalam Mencari Nafkah Keluarga Dalam mempertahankan hidupnya dan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga. Mata pencaharian dengan persentase terbesar adalah masuk dalam kelompok ‘lainnya’ sebesar 48 persen.5 14. Mata pencaharian yang juga banyak dilakukan masyarakat adalah pedagang dan buruh non pertanian yaitu sebesar 20 persen. seperti teknisi. sehingga mata pencaharian penduduknya banyak di sektor jasa. wilayah Kelurahan Batu Putu memiliki tingkat kerentanan yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelurahan lainnya.9 Kangkung Petani Pangan Petani Kebun Perikanan Pedagang Pengrajin PNS/ABRI/ POLRI Jasa Pertukangan Buruh Pertanian Buruh Non Pertanian Lainnya 10.5 Sukabumi Indah 3. terlihat bahwa 30 . berdasarkan mata pencaharian penduduk. Selain menjadi nelayan.6 32. dengan demikian tugas kepala keluarga dalam mencari nafkah relatif terbantu.3 25. Hal ini berbeda dengan masyarakat di Kelurahan Batu Putu dimana sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya tidak jauh dari pengelolaan sumber daya alam. supir.1 Batu Putu 10 47. yaitu sebagai buruh non pertanian. Kangkung dan Batu Putuk. Namun demikian. tidak menggantungkan mata pencarian mereka hanya pada satu sektor. yaitu dekat dengan pasar induk.5 2. hampir semua warga di wilayah tersebut bekerja di luar sektor pertanian.6 15.5 25 Pasir Gintung 20 2 10 20 48 Kota Karang 21. tukang ojek.6 7.9 12. pegawai kelurahan. wilayah yang rentan terhadap bencana adalah Kelurahan Panjang Selatan.5 12.2 6. 2009 (dalam %) Mata Pencaharian Panjang Selatan 20 5 7.Lokasi Kelurahan Pasir Gintung sangat strategis. Dengan demikian. yaitu mata pencaharian yang tidak termuat pada pilihan yang disajikan. B. Pada umumnya setiap kepala rumah tangga wajib mencari nafkah untuk keluarganya.6 2. Tabel 2-12.9 41. Mereka secara fleksibel akan mencari pekerjaan di ‘darat’ apabila pekerjaan di laut tidak mungkin mereka lakukan. masyarakat umumnya memiliki alternatif pekerjaan lain. Kota Karang dan Kangkung. jasa dan pegawai negeri (PNS/ABRI/POLRI). dan rumah sakit umum pemerintah terbesar di Propinsi Lampung.5 12. setiap anggota rumah tangga akan berusaha untuk memanfaatkan semua potensi yang dimiliki sesuai dengan pemahaman mereka sendiri. Berdasarkan Tabel 2-13.5 17. warga pada wilayah Panjang Selatan.3 19.6 12.5 42. Demikian juga dengan Sukabumi Indah.

Biasanya istri membantu suami memilihmilih ikan”. dan anak laki-laki. anak perempuan saja. dan semua hasilnya diperuntukkan untuk kelangsungan hidup keluarga. beberapa pekerjaan yang melibatkan perempuan ada yang bersifat musiman.56 persen.02 persen keluarga masyarakat yang kehidupannya tergantung pada penghasilan kerja istri.02 persen masyarakat dimana semua anggota keluarganya memiliki mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya. anak lakilaki dan anak perempuan yang sudah dewasa memiliki pekerjaan. Misalnya pada Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang. istri. dan anak perempuan. istri dan anak laki-laki. Dari data juga diperoleh informasi. suami dan anak perempuan. Jumlah masyarakat terbanyak yang mengandalkan kehidupan keluarga dari hasil kerja istri berada pada Kelurahan Kota Karang. terdapat sekitar 2. diakui masyarkat telah dilakukan sejak lama. ikan harus dipilih-pilih dulu. Pada banyak kasus perempuan yang bekerja. 31 . 1). Terdapat 31. atau telah meninggal dunia. suami.. suami. dan berdasarkan data terdapat sekitar 2. Bahkan bagi suami yang sudah tidak bisa bekerja lagi karena alasan menganggur.. misalnya membantu suami di kebun atau sawah. namun bila hasil tangkapan suaminya sedikit. anak laki-laki saja. 9). maka perempuan bekerja yang berada pada dua kelurahan tersebut banyak yang menjadi pedagang ikan. 2). dimana pekerjaan istri terkait dengan pekerjaan suami.terdapat 13 model rumah tangga dalam mencari nafkah. 11) suami. baik di pasar maupun secara berkeliling. dan anak perempuan. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa peran suami secara tunggal dalam menghidupi keluarganya hanya sekitar 46. Selain melibatkan istri. istri. Hal ini diindikasikan dari jumlah masyarakat yang tergantung pada suami sebagai pencari nafkah tunggal dalam keluarga berjumlah kurang dari 50 persen. untuk melangsungkan kehidupan keluarga tergantung pada istri. namun sudah dirasakan sejak dahulu. kegiatan tersebut juga seringkali melibatkan anggota keluarga lainnya.biasanya perempuan banyak dibutuhkan waktu musim ikan. 5) suami. dan 13). 4). 3). Dalam kelompok ini semua anggota keluarga yang terdiri dari suami. 7).58 persen keluarga masyarakat dimana suami dan istri bekerja bersama-sama untuk menghidupi keluarganya. dimana sebagian besar warga pria memiliki mata pencaharian di bidang perikanan. Dengan demikian secara keseluruhan tergambar peran istri (perempuan) dalam melangsungkan kehidupan suatu keluarga relatif besar. 6). dan anak perempuan. 12). Kegiatan istri bekerja membantu suami. Pola tersebut tidak terlihat pada Kelurahan Pasir Gintung dan Sukabumi Indah. Sebelum dijual di tempat pelelangan ikan atau di pasar. anak laki-laki. Dengan demikian peran istri tampak sangat jelas dalam membantu meringankankan beban suami. Umumnya ikan yang mereka jual merupakan hasil tangkapan suami. sakit. istri. Hal ini menggambarkan bahwa untuk memenuhi kehidupan keluarga tidak lagi mengandalkan sepenuhnya terhadap penghasilan dari pekerjaan suami. suami dan istri. Peran perempuan dalam ekonomi keluarga juga terungkap dalam kegiatan FGD pada kelurahan amatan. Suami dan anak laki-laki.. terlihat memiliki pola yang sama. anak laki-laki dan anak perempuan. 10). Selain pekerjaan yang relatif tetap. ”. yaitu jenis pekerjaan istri terkait dengan pekerjaan yang dilakukan oleh suaminya. anak laki-laki. istri saja. maka mereka akan menjualkan ikan hasil tangkapan tetangga atau membeli ikan terlebih dulu di pasar. Kondisi yang hampir sama terjadi juga pada masyarakat dengan mata pencaharian pokok di bidang pertanian. Menurut bapak Aan. istri. suami saja. 8). ketua RT 14 kelurahan Kota Karang. karena kesulitan ekonomi bukan hanya dirasakan saat ini saja. Waktu itu ikan yang terkumpul oleh nelayan jumlahnya banyak dan jenis serta ukurannya macam-macam.

56 0.52 1.00 0.64 2.40 Grand Total 100.00 2.81 AlAp 0.21 SIAp 0. Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Bekerja Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.70 46.00 0.58 S Al 2.87 0.03 2.87 0.00 4.64 2.08 0.00 0.87 5.63 3.45 0.00 100.Tabel 2-13.18 35.87 2.00 100.00 0.00 0.00 2.82 0.00 0.26 S AlAp 0. I= Istri.13 8.26 1.00 0.02 Al 0.61 5.82 2.56 3.63 0.33 5.00 2.03 2.00 1.04 0.76 0.79 3.63 1.00 1.00 Keterangan : S=suami.00 0.71 48.04 0.27 53.74 7.56 3.70 31.08 3.26 28.00 4.21 S Ap 2.76 1.63 0.00 0. Al= Anak Laki Dewasa.56 SI 39.63 0.57 2.95 21.24 SIAl 5.00 0.00 0.00 0.02 I 2.58 47.64 2.49 60.00 100.63 3.47 24.91 5. 2009 (dalam %) Pencari Nafkah Dalam Keluarga Wilayah/ Kelurahan (N) Non Pesisir Batu Putu 115 Pasir Gintung 38 Sukabumi Indah 49 Sub Total 55 Pesisir Kangkung 28 Kota Karang 132 Panjang Selatan 38 Sub Total 39 Grand Total 247 S 44.89 10.00 0.00 0.74 2.00 3.00 0.63 0.00 0.40 Ap 0. dan Ap=Anak Perempuan Dewasa 32 .00 0.74 7.00 0.56 4.82 28.00 100.03 2.76 0.00 0.00 2.00 0.71 38.26 0.56 3.04 0.00 0.87 2.00 100.00 1.63 0.85 44.00 1.24 Semua 2.63 2.02 I Al 0.55 3.00 100.00 100.26 5.74 59.21 25.00 2.76 31.89 3.00 0.04 0.87 2.00 100.

500.001.00-Rp 30.7 23.5 37.9 42. 33 . Kota Karang dan Batu Putuk relatif paling rentan secara ekonomi.000.00 hingga Rp 2. Pada kondisi biasa. mereka juga kadang menjadi pedagang.000. Dengan data ini terlihat bahwa peranan pekerjaan tambahan memiliki proporsi yang relatif besar yaitu 44. memperlihatkan distribusi rata-rata pendapatan rumah tangga pada enam kelurahan amatan.421.00 hingga Rp 1. khususnya jika terjadi perubahan kondisi sosial ekonomi yang disebabkan oleh bencana. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.2 42. Pendapatan tersebut berasal dari pendapatan tetap bulanan sebesar Rp 705. warga di Kelurahan Panjang. perikanan dalam hal ini nelayan menjadi salah satu mata pencaharian yang dominan.8 16.00 per hari. Besaran pendapatan ini diperoleh dari penjumlahan pendapatan tetap dan pendapatan tambahan. pekerjaan menjadi kenek bangunan belum tentu diperoleh setiap hari.7 35.26/bulan dan dari pendapatan tambahan lainnya sebesar Rp 534.2 17. 1.08 %.000.000. Dibandingkan dengan tingkat UMR di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Rp 627.5 15 10 12 48 28 12 32. namun walaupun besar.000 500. Sedangkan mayoritas warga di Kelurahan Kangkung memiliki pendapatan berkisar antara Rp 1.000 > 2.5 38.1 9. tukang becak atau kenek bangunan. Sementara itu. Selain menjadi nelayan. Tabel 2-14.12. Gambar 2. dan Batu Putuk memiliki penghasilan berkisar antara Rp 500.2 25.35/bulan. Secara rata-rata pendapatan rumah tangga respoden sebesar Rp.781.00.000 1.001-2. Pasir Gintung.00 per hari. untuk mendapatkan pendapatan tambahan.1 8.000. yaitu dengan rentang pendapatan diatas Rp 2. rata-rata Rp 15. Sedangkan penghasilan menjadi kenek bangunan sebesar Rp 30. Pendapatan Secara umum pendapatan masyarakat dipengaruhi oleh mata pencahariannya.00. maka pendapatan rata-rata rumah tangga warga pada kelurahan amatan lebih tinggi. Namun apabila dibandingkan dengan banyaknya jumlah anggota keluarga per rumah tangga. maka jumlah pendapatan tersebut relatif kecil dan tidak dapat mencukupi seluruh kebutuhan keluarga.000.7 28.000. Penghasilan menjadi tukang becak.000.000.00. Mayoritas rumah tangga warga di wilayah Panjang Selatan. pada kondisi sebaliknya pendapatan yang diperoleh menjadi berkurang. Pada Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang.000.000.000.001-1. dan Kota Karang biasanya memiliki alternatif pekerjaan lain.001 37. Namun.C.00. Kota Karang.000. penghasilan dari melaut dalam satu hari berkisar antara Rp 20. mayoritas warga di Kelurahan Sukabumi Indah memiliki tingkat pendapatan yang lebih baik.228. 2009 (dalam %) Klasifikasi Pendapatan (Rp) Panjang Selatan Pasir Gintung Kota Karang Batu Putuk Sukabumi Kangkung Indah 0-500.000. Pasir Gintung.9 Dari gambaran pendapatan tersebut dapat dikatakan bahwa mayoritas rumah tangga warga pada wilayah Panjang Selatan.001. Informasi adanya peranan pekerjaan tambahan dalam kontribusi pendapatan masyarakat di kelurahan amatan juga tergambar dari kegiatan FGD. Oleh karena itu. maka penghasilan yang diperoleh relatif lebih banyak.213.000.5 45 10 16.75/bulan. Ketika kondisi iklim dan cuaca mendukung.

masyarakat juga memanfaatkan lahannya untuk tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan. yang dijual per periode. dengan alasan sambil menunggu tanaman perkebunan menghasilkan. terlihat bahwa cukup banyak keluarga yang memiliki jumlah pengeluaran dengan pemasukan yang tidak seimbang. kadang warga juga bekerja pada lahan orang lain. gali lubang’) ke pihak lain. selain bekerja pada lahan sendiri. Gambar 2.Pada Kelurahan Batu Putuk. Bila sedang berhasil. Tanaman hortiklutrura ini dipilih karena memiliki daur yang lebih pendek dibandingkan dengan tanaman perkebunan. Hal ini diperkuat dengan infomasi bahwa pada kelurahan ini masyarakatnya memiliki aset rumah tangga yang lebih banyak dibandingkan dengan kelurahan lainnya. berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada kelurahan amatan. Distribusi Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat Berdasarkan Pendapatan Tetap dan Pendapatan Tambahan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 D. Oleh karena itu. kebutuhan hidup dapat dibantu dari hasil sayuran dan buah-buahan. dengan mayoritas pekerjaan sebagai petani.11. Dengan demikian kelurahan ini bisa dikatakan relatif lebih sejahtera dibandingkan kelurahan lainnya. Dari sebaran data terlihat bahwa rata-rata pendapatan rumah warga di Kelurahan Sukabumi Indah relatif lebih besar dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Pengeluaran Keadaan ekonomi suatu keluarga dapat dikatakan seimbang apabila jumlah pengeluaran sama besar dengan jumlah pendapatan yang dimiliki. rata-rata produksi kopi pertahun dapat mencapai lima kuintal sedangkan hasil panen coklat dapat mencapai empat kuintal. Untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Namun. selain menanam tanaman perkebunan. Dalam satu tahun tidak selalu tanaman perkebunan bisa menghasilkan. 34 . Namun ada kalanya mengalami paceklik atau gagal panen. oleh karena itu untuk dapat bertahan hidup sebagian warga melakukan peminjaman atau berhutang (‘tutup lubang. hasil perkebunan di wilayah ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi alam.

001 12. yang kemudian dijualnya ke penampung di kota. agen atau pada bank keliling (rentenir). Sumber: FGD di Kelurahan Batu Putu. seperti yang dilakukan oleh beberapa warga di kelurahan pesisir yang akan pergi melaut.5 3.000. Pinjaman yang berasal dari tetangga biasanya tidak dikenai bunga. tidak perlu adanya agunan.3 16.000 1. 48 tahun.2 12. Kepemilikan Tempat Tinggal dan Aset Informasi mengenai kepemilikan tempat tinggal dan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah.1 15 52. Pinjaman tersebut biasanya dikembalikan setelah warga kembali dari melaut dan hasil tangkapan ikan telah terjual. Alasan yang dikemukakan adalah karena kondisi yang terdesak serta terdapat beberapa kelebihan dari bank keliling dibandingkan dengan lembaga perbankan. aset dapat 35 . Ia berprofesi sebagai petani coklat.001-1. yaitu mencapai 20 persen.5 30 2.5 8 28 44 20 8. Jika sedang kepepet tidak punya uang.1 Umumnya warga melakukan pinjaman uang dari tetangga.9 45.5 45 40 2. Tetangga sekitar menjual coklat kepadanya.1 33.5 23.3 38. namun dalam memberikan pinjaman. Namun warga tetap melakukan pinjaman kepada bank keliling (rentenir) dibandingkan dengan pinjaman kepada lembaga perbankan. Pengeluaran Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.000. beliau juga melihat kondisi calon peminjam.001-2. tetangga yang dapat memberikan pinjaman jumlahnya relatif terbatas. bank keliling mengenakan bunga pinjaman yang cukup besar.000 500. Pak Jumaidi tidak membebankan bunga.2 38. Pak Jumaidi. E.Tabel 2-15. sehingga pinjamannya dapat segera dikembalikan segera setelah coklat warga mengering.000. 2009 (dalam %) Pengeluaran (Rp) Panjan g Selatan Pasir Gintun g Kota Karang Batu Putu k Sukabum i Indah Kangkun g 0-500.000. Biasanya yang diberikan pinjaman adalah warga yang sudah memiliki hasil panen coklat.7 5. Selain itu pinjaman kepada bank keliling (rentenir) juga sering dilakukan oleh sebagian warga.7 39. Kelebihan tersebut antara lain: prosedur pinjaman relatif lebih cepat. namun karena kondisi ekonomi warga relatif hampir sama. dan akan dibayar dengan hasil coklatnya. Berbeda dengan pinjaman kepada tetangga yang tanpa bunga. pembayaran dapat dilakukan dengan cara mencicil. 2009 Alternatif lain dari warga untuk mendapatkan dana adalah melakukan pinjaman kepada agen atau warung. adalah warga Batu Putu.000 > 2. namun sedang di jemur. warga sekitar biasanya meminjam uang kepada Pak Jumaidi. dan umumnya para bank keliling tersebut yang aktif datang menghampiri warga. sekaligus sebagai pedagang pengumpul di kelurahannya.9 35.

73 61. dan 118. sedangkan di wilayah pesisir rata-ratanya 54. Dari rumah yang berstatus hak milik maka terlihat rata-rata luas bangunan dan tanah yang dimiliki masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung seperti terlihat pada Tabel 2-16.44 174. menurut haji Karya.12 47.02 115. lokasi rumah yang ditempati warga di RT 8 sampai dengan RT 14 sebagian besar adalah hasil sewa kepada tuan tanah di Kelurahan Kota Karang. maka warga di wilayah non pesisir yang memiliki kesejahteraan relatif tinggi dibandingkan dengan yang lainnya.91 Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa rata-rata kepemilikan rumah masyarakat adalah sebanyak 61.23 92.33 60. air laut tidak masuk ke dalam rumah. Tabel 2-16.78 45.-. Berdasarkan hasil FGD dan observasi di lapangan. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Total Grand Total Rata-rata Luas Bangunan (m2) 58. karena tingkat ekonomi yang sulit.65 m2 untuk luas bangunan. dan karena berada di 36 .82 118. sewa atau bergabung dengan rumah saudara atau orang tua. Rata-rata luas bangunan/tanah di wilayah non pesisir adalah 69. adalah masyarakat di wilayah Sukabumi Indah. yaitu haji Karya. warga tidak mampu membayar biaya sewa yang murah tersebut.36 44.78 m2. pada beberapa lokasi terlihat cukup banyak warga yang menempati rumah dengan lahan ‘di atas laut’.73/68. sebagian besar masyarakat bertempat tinggal di lokasi komplek perumahan. Ketinggian pondasi rumah sengaja dibuat lebih dari satu meter.91 m2 untuk luas tanah. yang ditujukan agar saat terjadi pasang laut. Jika ukuran rumah dianggap mencerminkan pandangan umum tentang kesejahteraan warga.66 97.85 55.23 54. Namun adakalanya. Demikian juga pada Kelurahan Kota Karang. banyak warga yang membangun rumahnya pada lahan ‘di atas laut’ dengan alasan keterbatasan lahan di darat.60 94. Hal ini disebabkan di wilayah ini.03 68. Biaya sewa per tahun adalah sebesar Rp.65 67. maka terlihat bahwa secara umum kesejahteraan warga di wilayah non pesisir lebih besar daripada warga di wilayah pesisir. pemukiman masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan terlihat padat dan tidak teratur.63 69.Kepemilikan bangunan dan lahan Secara umum tempat tinggal yang dihuni warga berstatus hak milik. Rumah dengan luas tanah dan luas bangunan seperti itu cukup untuk sebuah keluarga yang beranggotakan sebanyak 4-5 orang/keluarga. Jika dilihat lagi.65 Rata-rata Luas Tanah (m2) 324. Rata-rata Luas Bangunan dan Luas Tanah Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 50.82 m2. Berdasarkan informasi dari warga.000.36/174. Pada lokasi tertentu.

Terdapat kecenderungan dari tahun ke tahun. bila dahulu jenis rumah dengan dinding kayu bisa menggambarkan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Dengan memahami konteks ini. maka sebagian besar rumah yang hancur di wilayah beberapa wilayah seperti di Pangalengan (Kabupaten Bandung). biaya untuk membuat dinding tembok semen relatif lebih mahal daripada biaya untuk membuat rumah dari dinding kayu/bambu. Terlihat bahwa di wilayah non pesisir jumlah rumah yang dindingnya terbuat dari tembok semen sebanyak 77. maka rumah dinding kayu/bambu relatif lebih kuat. sehingga sebagian besar mereka membangunnya dengan dinding yang terbuat dari kayu/bambu. maka wilayah pesisir. Pada wilayah tersebut banyak warga memiliki rumah terbuat dari kayu berbentuk rumah panggung. sesepuh masyarakat di Kelurahan Kota Karang. Dengan demikian pada saat ini pengelompokan keluarga sejahtera / kurang sejahtera tidak dapat hanya dengan berdasarkan kepemilikan jenis dinding rumah saja. Belajar dari kasus bencana gempa di Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009. Sehingga seringkali perbedaan ini dijadikan sebagai kriteria dalam menentukan tingkat kesejahteraan satu rumah tangga.perkotaan tanah di lokasi ini memiliki harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan nilai tanah di wilayah lainnya. Mahalnya harga kayu menyebabkan biaya pembuatan rumah kayu hampir setara dengan membuat rumah permanen dari tembok semen. Menurut bapak Zabir. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Zabir. bahwa rumah yang layak adalah rumah yang terbuat dari dinding tembok semen. 37 . maka tidak demikian halnya untuk saat ini. semakin sejahtera orang atau semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang maka semakin besar peluang orang untuk membuat rumah yang lebih layak. Jika dihubungkan dengan bencana. Mereka mengetahui bahwa gempa relatif sering terjadi di wilayah pesisir. akan tetapi dari sisi ketahanan terhadap bencana gempa. Sedangkan di wilayah pesisir jumlahnya relatif sedikit yaitu 50. Cikelet (Kab Garut) Cibinong (Kab Cianjur). Selain menjadi identitas budaya. 63 tahun. akan tetapi dari segi ketahanan terhadap bencana gempa. memang merupakan rumah ciri khas suku Bugis dan Lampung. terungkap bahwa mayoritas warga Kota Karang adalah suku Bugis.39 persen. relatif lebih memiliki ketahanan dibandingan dengan wilayah non pesisir. Berdasarkan Tabel II-17. terlihat bahwa wilayah non pesisir dibandingkan dengan wilayah pesisir memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif tinggi dilihat dari keragaan luas bangunan dan tanahnya relatif luas dan rumahnya yang sebagian besar terbuat dari dinding. salah satu bagian rumah yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bagian dinding rumah.39 persen. sementara itu rumah yang dindingnya terbuat dari kayu atau bambu relatif lebih kuat terhadap gempa. Fakta ini mencerminkan bahwa baik disengaja maupun tidak disengaja masyarakat di pesisir sebagian besar sudah menyesuaikan keadaan rumahnya dengan kondisi alam sekitarnya. terbuat dari dinding tembok semen. rumah panggung juga merupakan bentuk rumah yang dianggap paling sesuai dengan kondisi wilayah Kelurahan Kota Karang yang pada umumnya berawa. Walaupun secara umum. Rumah panggung kayu. Terdapat kecenderungan.

60 49.43 26.81 22.00 38 . Di wilayah non pesisir.83 0.32 19.Tabel 2-17.96 100. pendapatan yang diperoleh masing-masing keluarga dialokasikan juga untuk keperluan belanja investasi keperluan sehari-hari seperti kendaraan. HP dan kompor gas. walaupun tidak semua memiliki TV. bahkan terdapat beberapa rumah tangga masyarakat yang memiliki lebih dari satu TV.78 38. Sedangkan di wilayah lainnya. telekomunikasi dan kendaraan. Keberadaan TV di non pesisir lebih banyak daripada di pesisir.61 17. tapi sebagian besar masyarakat sudah memilikinya.52 28. Berikut ini disampaikan Tabel II-18. terutama dalam rangka penanggulangan bencana.13 42.39 Kayu/Bambu 13. Dengan demikian keberadaan TV seharusnya dapat dijadikan sebagai sarana yang efektif untuk menyebarluaskan informasi mengenai bencana.87 22.39 11.69 12. Jenis Dinding Rumah Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Wilayah / Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Kepemilikan Aset Selain untuk rumah.61 Grand Total 34.75 50. Untuk ketiga jenis benda tersebut. peralatan elektronik dan lain sebagainya.91 7. khususnya masyarakat di Sukabumi Indah semuanya sudah memiliki TV.26 26.35 100. Berdasarkan tabel tersebut. dapat dikatakan bahwa hampir semua masyarakat di Lampung memilikinya. yang berisikan mengenai kepemilikan aset keluarga berupa aset rumah tangga.87 30.09 77.00 29.83 15. Tembok Semen 20. terlihat secara umum peralatan keluarga yang banyak dimiliki oleh masyarakat adalah TV.

Tabel 2-18. Indeks Kepemilikan Aset Rumah Tangga Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Lampung Tahun 2009 (dalam %)
Wilayah/ Kelurahan Total Res (N) Peralatan Rumah Tangga TV Mesin Cuci Kul kas Kompor Gas AC Kipas Angin Pom pa Air 0 7 14 21 5 33 9 47 68 Komunikas i Tele HP pon Kendaraan Sepeda Motor Mobil

Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total

40 50 31 121 39 56 40 135 256

33 46 40 119 26 52 33 111 230

0 1 12 13 1 1 0 2 15

1 10 23 34 0 8 3 11 45

21 56 34 111 41 57 40 138 249

0 0 6 6 0 0 0 0 6

5 23 33 61 12 32 20 64 125

2 3 7 12 0 1 1 2 14

20 44 71 135 22 36 12 70 205

3 13 17 33 8 20 20 48 81

27 21 35 83 6 19 2 27 110

1 0 12 13 0 1 0 1 14

Diantara alat komunikasi, kepemilikan telepon ternyata jauh lebih rendah dibandingkan dengan kepemilikan handphone. Dengan dukungan infrastruktur dan banyaknya persaingan di industri telekomunikasi seluler, mengakibatkan handphone merupakan alat komunikasi yang relatif mudah dan murah bagi masyarakat. Walaupun tidak semua masyarakat memilikinya, dapat dikatakan lebih dari 80 persen masyarakat di tiap wilayah telah memiliki alat komunikasi handphone. Bahkan secara khusus di wilayah Sukabumi Indah, rata-rata tiap rumah tangga memiliki HP lebih dari 2. Melalui Hp ini komunikasi antar masyarakat menjadi lebih mudah. Jika terdapat bencana di suatu wilayah, masyarakat di wilayah lainnya relatif dengan mudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan keluargannya yang terkena bencana. Peralatan lainnya yang dimiliki masyarakat adalah kompor gas. Dengan adanya program kompensasi minyak tanah ke gas, kompor gas menjadi peralatan yang penting dimiliki oleh warga. Akan tetapi bagi mereka yang tidak mengandalkan bahan bakarnya pada gas dan minyak tanah, maka peralatan masaknya terbuat dari tungku dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Hal ini terjadi di Kelurahan Batu Putu. Jenis kendaraan yang paling banyak adalah motor, penggunaan motor lebih banyak di non pesisir dibandingkan dengan pesisir, hal ini disebabkan motor merupakan sarana transportasi antar daerah yang realtif murah. Terlebih bagi daerah yang tidak setiap saat dilalui oleh kendaraan umum. F. Akses Pada Lembaga Pembiayaan Pada dasarnya masyarakat kurang mampu atau golongan ekonomi lemah, lebih memerlukan perlindungan keuangan maupun asetnya, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang dari setiap musibah yang terjadi. Namun, karena keterbatasan kemampuan ekonomi; mereka kesulitan mendapatkan akses ke lembaga keuangan seperti perbankan maupun asuransi. Akses masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung terhadap lembaga perbankan relatif besar, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2-19, secara umum akses terhadap perbankan lebih besar daripada asuransi.
39

Tabel 2-19. Akses Masyarakat Terhadap Perbankan dan Asuransi Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009 (dalam %)
Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Non Pesisir Pesisir Grand Total Akses Terhadap Perbankan 12,50 60,00 48,39 71,79 51,79 82,50 41,32 66,67 54,69 Akses Terhadap Asuransi 2,50 20,00 25,81 25,64 8,93 32,50 15,70 20,74 18,36

Terdapat hubungan antara akses terhadap perbankan dengan akses terhadap asuransi. Walaupun persentase akses terhadap asuransi relatif kecil, akan tetapi nilai tersebut relatif besar terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki akses tinggi terhadap perbankan. Makin tinggi akses terhadap perbankan, makin tinggi juga akses terhadap asuransi. Tabel 2-20.memperlihatkan besaran rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk cicilan, tabungan dan asuransi. Tabel 2-20. Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Cicilan, Tabungan dan Asuransi ada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009 (Rupiah/bulan)
Jumlah Res (N) 121 40 50 31 135 39 56 40 256 Rata-Rata Pengeluaran Rumah Tangga Perbulan Untuk Cicilan, Tabungan dan Asuransi Cicilan Kredit %N Tabungan %N Asuransi %N 428.128,97 156.800,00 350.611,11 721.601,19 287.191,49 366.687,50 263.125,00 188.000,00 353.701,31 34,71% 25,00% 36,00% 45,16% 34,81% 41,03% 42,86% 17,50% 34,77% 250.625,00 32.666,67 372.750,00 186.000,00 176.190,48 150.000,00 194.166,67 156.666,67 208.378,38 13,22% 7,50% 16,00% 16,13% 15,56% 15,38% 21,43% 7,50% 14,45% 217.000,00 4,13%

Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Grand Total

200.000,00 221.250,00 136.500,00

2,00% 12,90% 4,44%

245.000,00 82.250,00 173.090,91

3,57% 10,00% 4,30%

Mekanisme pembayaran kredit dan tabungan biasanya menggunakan lembaga perbankan. Jumlah yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk cicilan sebesar Rp 353.701,33/bulan, sedangkan untuk tabungan rata-rata sebesar Rp 208.378,38/bulan, dan untuk asuransi sebesar Rp 173.090,91/bulan.

40

BAB 3 KONDISI IKLIM HISTORIS DI BANDAR LAMPUNG

3.1.

Kondisi Iklim dan Cuaca Ekstrim

3.1.1. Pengaruh ENSO dan IOD terhadap variabilitas curah hujan di Bandar Lampung Tabel 3-1. Koefisien korelasi antara curah hujan musiman di Bandar Lampung dengan DMI dan dengan anomali SST Nino 3.4

Karena kejadian iklim ekstrim di Indonesia sangat terkait dengan fenomena iklim berskala besar seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) (misalnya Boer & Faqih 2004; Faqih 2004; Haylock & McBride 2001; Hendon 2003 ; Kirono et al. 1999; Saji et al. 1999), studi ini menganalisis dampaknya terhadap variabilitas curah hujan di Bandar Lampung. Hubungan dari kedua fenomena tersebut dengan curah hujan musiman diperlihatkan pada Tabel 31. Tabel tersebut menunjukkan bahwa korelasi indeks ENSO (anomali suhu permukaan laut (SPL) Nino-3.4) dan indeks IOD (Dipole Mode Index, DMI) masingmasing dengan curah hujan nampak signifikan selama musim kemarau (JJA) dan musim transisi (SON). Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya musim kering yang berkepanjangan dan penundaan awal musim hujan khususnya selama terjadinya episode ENSO hangat (El Nino). Dampak ini akan semakin diperkuat jika disertai dengan kejadian IOD positif. Studi ini menunjukkan bahwa curah hujan di kedua musim (JJA dan SON) lebih dipengaruhi oleh keragaman IOD dibandingkan ENSO. Ini ditunjukkan dari nilai koefisien korelasi yang lebih besar antara curah hujan dengan DMI dibandingkan dengan indeks Nino-3.4. Pengaruh IOD yang lebih kuat terhadap keragaman curah hujan di Lampung dikarenakan letak geografisnya yang berada di Pulau Sumatra. Beberapa studi telah menunjukkan relatif lebih lemahnya pengaruh ENSO terhadap curah hujan di Sumatera. Penyebabnya ialah dominasi pengaruh lokal akibat kondisi pegunungan di sepanjang sisi barat Sumatra, dan juga adanya sirkulasi aliran udara lintas khatulistiwa yang mempengaruhi keragaman curah hujan, yang berbeda dari sirkulasi yang terkait dengan ENSO (Chang et al . 2004). Selain itu, beberapa studi menemukan adanya pengaruh kuat IOD terhadap keragaman curah hujan di barat Indonesia termasuk Sumatera (misal: Saji et al. 1999). Walaupun korelasi antara curah hujan dan indeks ENSO lebih rendah dari IOD, untuk kondisi tertentu dampak ENSO akan cukup signifikan di Lampung. Sebagai contoh dapat dilihat pada tahun 1996, di mana peristiwa La Nina menyebabkan peningkatan curah hujan yang sangat signifikan, sehingga meningkatkan peluang terjadinya bencana banjir. Di sisi lain, El Nino yang terjadi pada periode tahun 1982-83, 91-92 dan 97-98 berkontribusi terhadap penurunan curah hujan yang menyebabkan tingginya peluang bencana kekeringan.
41

karena kejadian angin yang tercatat di suatu stasiun cenderung bersifat lokal dan mungkin berbeda secara sangat signifikan dengan stasiun pengamatan yang lain. 42 . Plot time series curah musiman di Bandar Lampung. kondisi cuaca ekstrim juga dapat menyebabkan masalah di daerah yang terkena dampak. kami tidak menemukan adanya kejadian angin ekstrim yang melebihi ambang batas 60 km/jam.2. Kecepatan angin harian di stasiun pengamatan Teluk Betung. Pada bagian ini kami mencoba mengidentifikasi kondisi cuaca ekstrim yang disebabkan oleh kecepatan angin ekstrim di Bandar Lampung. ini tidak cukup untuk menggambarkan kondisi secara keseluruhan wilayah Bandar Lampung.1. Angin ekstrim Selain dampak keragaman iklim yang menyebabkan kejadian iklim ekstrim.2000 Sesaonal Rainfall (mm) Lampung 1600 1200 800 400 0 Mar-01 Mar-07 Mar-13 Mar-19 Mar-25 Mar-31 Mar-37 Mar-43 Mar-49 Mar-55 Mar-61 Mar-67 Mar-73 Mar-79 Mar-85 Mar-91 Mar-97 Seasonal Time Gambar 3-1. 3. yaitu di Teluk Betung.31 Desember 1999). Lampung (periode 1 Januari 1994 . Karena keterbatasan data. Gambar 3-2. Tentu saja. kami hanya dapat menampilkan hasil pengamatan cuaca harian di satu stasiun. Berdasarkan catatan data harian kecepatan angin di stasiun periode 1 Januari 1994 sampai 31 Desember 1999.

Oleh karena itu.5x0. dengan menggunakan data yang relatif jauh lebih panjang akan membantu untuk melihat sejauh mana konsistensi tren yang dihasilkan antar data. 3.1.0 memiliki resolusi grid 0. nilai curah hujan Bandar Lampung diekstrak dari data tersebut pada kisaran wilayah 110. apalagi jika ingin dikaitkan dengan dampak perubahan iklim. Pola tren spasial curah hujan musiman berdasarkan data hasil pengamatan diperlihatkan pada Gambar 3-3. Pola spasial tren curah hujan musiman di Bandar Lampung. Selain menggunaan data hasil pengamatan. tren tersebut bervariasi antar wilayah. digunakan pula data curah hujan global CRU TS2.25°BT-110. Analisis tren perubahan iklim di kota Bandar Lampung Tren curah hujan Hasil studi menunjukkan bahwa secara global curah hujan di wilayah tropis mengalami tren penurunan khususnya pasca tahun 1970-an (IPCC 2007). Gambar tersebut menunjukkan bahwa curah hujan 43 . Meskipun demikian.95°LS (Gambar 3-4). Data CRU TS2. Pada bagian ini kami mempelajari tren spasial curah hujan di Bandar Lampung sebagaimana ditunjukkan pada Gambar III-3. Penggunaan dua jenis data ini dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa pemilihan rentang data yang berbeda akan mempengaruhi hasil tren dan hasil uji statistik yang kemungkinan besar juga akan berbeda.5 derajat yang meliputi wilayah daratan global selama periode 1901-2002. Untuk analisa data curah hujan di Bandar Lampung.2.0 (Mithcell dan Jones 2005) untuk mempelajari tren dengan rentang waktu yang lebih panjang. Gambar 3-3. terutama dalam tataran lokal.3.51°BT dan 7.2.12°LS-6.

Mantua & Hare 2002. Tren penurunan yang relatif lebih tajam ditunjukkan pada musim MAM dan JJA. Studi ini menunjukkan bahwa tren yang diperoleh dengan menggunakan data CRU TS2. sementara di musim lainnya (SON dan DJF) cenderung menurun lebih lambat. Namun harus diperhatikan bahwa. 1997). Sedangkan ketika terjadi musim kemarau. akan tetapi lebih disebabkan adanya pengaruh osilasi keragaman iklim frekuensi rendah terutama yang terjadi di wilayah Samudera Pasifik. terdapat kecenderungan perlahan kondisi yang semakin kering yang di musim kemarau yang sedikit mempengaruhi juga penurunan curah hujan di musim berikutnya (SON). Akan tetapi. Keragaman curah hujan frekuensi rendah yang berperan dalam menentukan tren menurun pada data pengamatan tersebut setelah periode tahun 1970-an dapat dilihat dari plot data pada Gambar III-6. Hasil ini mengindikasikan bahwa ada kecenderungan terjadinya peningkatan curah hujan dari waktu ke waktu selama musim penghujan (DJF) yang berlanjut di periode transisi MAM.musiman di kota ini mengalami kecenderungan menurun di semua musim. Sebaliknya. Pada Gambar 3-4. Tren penurunan pada akhir abad ke-20 (pasca 1970-an) yang cukup signifikan terjadi pada musim kering (MAM dan JJA) tersebut menandakan terjadinya kenaikan peluang kekeringan di Bandar Lampung pada masa tersebut. Mantua et al. Kemungkinan besar komponen keragaman curah hujan frekuensi rendah tersebut disebabkan oleh pengendali iklim antar-dekadal yang dikenal dengan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO. Folland et al. tren CH yang menurun selama periode yang relatif singkat ini kemungkinan besar bukan disebabkan sebagai akibat dari perubahan iklim. jika mengacu pada Gambar III-5. Fenomena ini jugaberhubungan dengan meningkatkan frekuensi kejadian ENSO yang mengakibatkan berkurangnya curah hujan di Indonesia. lebih dapat diandalkan untuk menganalisa dampak dari perubahan iklim jangka panjang. terindikasi bahwa penurunan curah hujan yang terjadi pada SON tidak didukung oleh penurunan frekuensi hari hujan pada musim yang sama. tren curah hujan selama JJA dan SON menunjukkan tren menurun yang relatif lambat selama abad 20. 1999) atau Pacific inter-Decadal Oscillation (PDO. termasuk di Bandar Lampung. Hal ini menunjukkan telah terjadinya banyak hari hujan namun dengan intensitas yang relatif semakin menurun. 44 .0 yang meiliki rentang data relative lebih panjang. terlihat adanya peningkatan tren curah hujan yang cukup tajam selama puncak musim hujan (DJF) dan tren peningkatan yang relative lebih lambat selama periode transisi ke musim kemarau (MAM).

5.34E. Tren frekuensi hari hujan musiman di Bandar Lampung (105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.51S5.0.15E-105.15E-105. Tren curah hujan musiman di kota Bandar Lampung (105. Gambar 3-5.Gambar 3-4. 5.0. 45 .34E.51S5.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.

2 Tren Suhu Data suhu rata-rata yang diperoleh dari data CRU TS2. 46 . Komponen frekuensi rendah dari curah hujan musiman di Bandar Lampung didefinisikan oleh nilai 13-tahun rataan bergerak sederhana (simple moving average).Gambar 3-6. Selain itu. Hal ini mengindikasikan terjadinya penurunan nilai selisih antara suhu maksimum dan suhu minimum harian. Tren tersebut juga diikuti oleh peningkatan suhu maksimum harian (Gambar 3-8).2. pada Gambar 3-9 terlihat adanya penurunan yang signifikan pada data kisaran suhu harian. baik itu terkait dengan sektor pertanian.0 untuk Bandar Lampung memperlihatkan tren menaik yang signifikan di setiap musim (Gambar 37). Namun demikian. 3. khususnya di kota Bandar Lampung. hal ini juga menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan suhu harian yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. Tentunya hal ini akan sangat berpengaruh pada berbagai sektor. yang berarti bahwa telah terjadi peningkatan suhu minimum dengan tren menaik yang lebih besar dibandingkan dengan ten suhu maksimu harian. kesehatan maupun sektor lainnya.

Gambar 3-7.51S-5.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. Trend musiman suhu rata-rata di Bandar Lampung (105. Trend musiman suhu maksimum harian di Bandar Lampung (105.51S-5. 5.15E-105.0.34E.15E-105. 47 . Gambar 3-8.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.34E. 5.0.

(ix) miroc3_2_medres. ( x) miub_echo_g. b) adalah data observasi stasiun-i yang terdekat dengan empat grid dari data RegCM3 pada tahun-t dan bulan-b. b)) dinyatakan berdasarkan persamaan berikut : r Re gCM 3(i. b) merupakan 48 . b) m Re gCM 3(i. 2009) dan memiliki resolusi horizontal sebesar 1x1 derajat. DTR) di Bandar Lampung (105.34E. 2051-2060. b) * R(i. (viii) ipsl_cm4. (iv) gfdl_cm2_0. (iii) cnrm_cm3. (v) gfdl_cm2_1.51S-5. t . (vi) giss_model_e_r. dan 2081-2085. t. tahun-t dan bulan-b (rRegCM3 (i. t . b) CRU(i.15E-105. Masutomi. (xii) mri_cgcm2_3_2a. 3. dengan variabel iklim yang tersedia yaitu curah hujan dan suhu dengan periode 2021 -2030. t. t . t . t. t . dan (xiv) ukmo_hadgem1. b) = Re gCM 3(i.3. t. t . Tren musiman kisaran suhu harian (daily temperature range.Gambar 3-9. (ii) cccma_cgcm3_1. Data luaran GCM tersebut diperoleh dari NIES (National Institute for Environmental Studies. b) Dimana R(i. sedangkan mRegCM3(i. (vii) inmcm3_0. (xiii) ukmo_hadcm3. Data RegCM3 yang di-rescaling untuk grid-i.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. Karena adanya kesalahan sistematis yang dihasilkan oleh model tersebut. b) = CRU (i. (xi) mpi_echam5. Proyeksi Perubahan Iklim Proyeksi iklim masa depan ditentukan berdasarkan data historis hasil pemodelan menggunakan RegCM3 dan juga data proyeksi luaran 14 GCMs.0. 5. b) merupakan faktor skala yang dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini : R(i . Model RegCM3 digunakan untuk menghasilkan data historis curah hujan beresolusi tinggi untuk periode tahun 1958-2001. maka diperlukan koreksi data berdasarkan faktor rescaling sehingga sesuai dengan data obserasi (data CRU). yang terdiri dari: (i) bccr_bcm2_0.

m.2). sementara SRESA2 sebagai skenario acuan. Kondisi iklim saat ini (baseline) dari luaran GCM pada skenario-s. t. i. m. yang merupakan alat hitung efek gas rumah kaca. t . Jadi SRESB1 didefinisikan sebagai skenario kebijakan. 49 . t. dan bulan-b dinyatakan dengan B(s. Oleh karena itu. m. i. i. konsentrasi CO2 di atmosfer pada skenario emisi referensi akan lebih dari dua kali lipat. Skenario emisi yang dipilih untuk studi ini adalah SRESA2 dan SRESB1.3). Fertilitas pola di daerah konvergen sangat lambat. b) − B( s. m. dalam 100 tahun ke depan. m. maka secara keseluruhan terdapat 140 data curah hujan untuk setiap periode waktu. b)}t =1958 Sehingga kondisi iklim di masa depan berdasarkan luaran GCM yang berbeda dapat diduga dengan menggunakan rumus berikut:  F ( s. Data kondisi iklim saat ini (baseline) di grid-i untuk bulan-n (rRegCM3 (i. b) pada periode 1958-2001: 2001 r Re gCM 3(i. Dengan karakteristik ini. Tabel 3. tahun-t dan bulan-b. SRESA2 akan menyebabkan emisi gas rumah kaca lebih tinggi di masa depan sementara SRESB1 mengarah ke emisi GHG lebih rendah di masa depan. yang menyebabkan terus meningkatnya populasi global. i . t . i. Kedua skenario ini dipilih karena keduanya mencerminkan pemahaman dan pengetahuan tentang ketidakpastian yang mendasari dalam emisi. 2000). b)) dihitung dari nilai rataan rRegCM3(I. b) = mean{r Re gCM 3(t . m. t. b)   pF ( s. grid-i. sementara di bawah skenario kebijakan emisi hanya 1. dengan pengurangan intensitas material. ditentukan peluang curah hujan untuk masa mendatang berdasarkan pola distribusi untuk masing-masing periode tersebut.b) merupakan curah hujan proyeksi dengan skenario emisi-s. i.5 kali kondisi saat ini. Konsentrasi SO2. Tema yang mendasari adalah kemandirian dan mempertahankan identitas lokal. Berdasarkan dua skenario dijelaskan di atas. SRESA2 menggambarkan sebuah dunia yang sangat heterogen. grid i.nilai rataan curah hujan dari empat grid RegCM3 tersebut. tahun-t dan bulan-b. tidak akan berubah secara signifikan (Tabel 3. i. b) = r Re gCM 3(i. b) *  1 +  B ( s . b) adalah iklim di masa mendatang dari luaran GCM di bawah skenario-s. model-m. grid-i. b). m. model-m. Demikian pula untuk gas lainnya (CH4 dan N2O. Pembangunan ekonomi terutama berorientasi regional dan pertumbuhan ekonomi per kapita dan perubahan teknologi lebih terfragmentasi dan lambat. b )   pF(s. Karena terdapat 14 GCMS dan setiap GCM memiliki dua set iklim di masa mendatang (t1 = 2021-2030 dan t2 = 2051-2060). i. SRESB1 menggambarkan sebuah dunia yang konvergen dengan populasi global yang sama pada puncak pertengahan abad dan menurun setelah itu. dan pengenalan teknologi bersih dan sumber daya yang efisien (IPCC. model-m. perubahan yang cepat dalam struktur ekonomi ke arah layanan dan informasi ekonomi. F(s.

6 21 2.0-22 9.7 60 0-4. diperkirakan bahwa suhu global akan meningkat secara konsisten sekitar 0.6 cm per tahun (Tabel 2.25 0.0-20 10 4.25 2 0.7 0.3-0.1 1.5-0.9 10 0. Catatan sejarah menunjukkan bahwa selama 100 tahun terakhir permukaan laut global telah meningkat antara 0.1 0.6 1.7 0.25 cm per tahun (Warrick et al.9 1.15-0.2 2025 0. 1996).3: Suhu (oC) dan Sea Level Rise (cm). Curah hujan ekstrim didefinisikan sebagai curah hujan dengan intensitas 50 .5 2050 1.0-41 21 9.7-1.0-4. Konsentrasi Gas (ppmv) 2000 370 2025 440 2050 535 2100 825 CO2: SRESA2: nilai dugaan terbaik : kisaran SRESB1:nilai dugaan terbaik :kisaran CH4: SRESA2: nilai dugaan terbaik :kisaran SRESB1: nilai dugaan terbaik :kisaran N2O: SRESA2: nilai dugaan terbaik SRESB1: nilai dugaan terbaik 370 370 370 1600 430-450 420 410-430 2250 515-555 460 450-470 2850 760-890 550 510-590 4300 1600 1600 1600 316 2200-2300 2050 2000-2100 344 2700-3000 2250 2150-2350 375 3800-4800 2200 2100-2300 452 316 340 360 395 Pada kondisi peningkatan gas rumah kaca.15-0.8-1. Tabel 3.2..10-0.2-2.2 2100 2. mengacu pada tahun 1990 2000 0. sedangkan permukaan laut meningkat sekitar 0.0 2 0-4.2 0.4).9 Temperature: SRESA2: Nilai dugaan terbaik : Kisaran SRESB1: Nilai dugaan terbaik : Kisaran Sea Level: SRESA2: Nilai dugaan terbaik : Kisaran SRESB1: Nilai dugaan terbaik : Kisaran 0.027 0C per tahun.0 4.Tabel 3.0-42 25-112 48 18-85 Dalam studi ini dilakukan pendugaan peluang risiko iklim kota Bandar Lampung terkait dengan curah hujan ekstrim pada kondisi iklim saat ini dan masa depan.

sedikit penurunan peluang resiko kekeringan di masa mendatang juga nampak terjadi di wilayah pesisir. Namun demikian.melebihi ambang batas kritis. khususnya di daerah pesisir pantai di Bandar Lampung. Untuk musim penghujan (DJF). Sedangkan untuk musim kering (JJA). 51 . Gambar 3.10 menunjukkan bahwa di masa mendatang akan terjadi peningkatan peluang terjadinya curah hujan terlampaui melebihi Q3 pada musim basah (DJF). peluang terjadinya kekeringan yang ditandai dengan nilai curah hujan kurang dari Q3 menunjukkan adanya penurunan terutama di daerah bagian dalam dari Bandar Lampung yang relatif lebih jauh dari wilayah pesisir. Hal ini bisa didukung dengan pemanfaatan teknik-teknik downscaling (statistik maupun dinamik) dengan predictive skill yang jauh lebih baik khusus untuk wilayah ini. kondisi intensitas hujan yang kurang dari ambang batas kritis akan sangat mungkin menyebabkan kekeringan. bahaya banjir akan sangat mungkin terjadi jika intensitas curah hujannya melebihi ambang batas kritis. Metodologi untuk menentukan batas kritis dijelaskan dalam Bab 6. Analisis lebih lanjut berdasarkan metodologi yang lebih disempurnakan mungkin diperlukan untuk menduga kondisi perubahan iklim masa depan di wilayah kota Bandar Lampung. Dalam penentuannya. Sedangkan pada musim kemarau. curah hujan ekstrim dibandingkan dengan data bahaya iklim (banjir dan kekeringan).

48 0.5 0.34 DJF-Q3 -5.40 -5.15 105.10 -5.80 -5.44 0.40 -5.80 -5.25 105.80 -5.5 0.15 105.90 -5.2 105.48 0.60 -5.48 0.00 -5.40 -5.15 105.50 -5.4 0.70 -5.38 0.46 0.3 105.44 0.80 -5.35 0.5 0.20 -5.80 -5.3 105.42 0.42 0.15 105.48 0.00 105.90 -5.44 -5.44 0.40 -5.35 0.15 105.40 -5.70 -5.00 -5.50 -5.60 -5.30 -5.70 -5.25 105.10 -5.20 -5.70 -5.60 -5.44 0.80 -5.42 -5.25 105.00 105.5 0.48 0.10 -5.52 0.40 -5.00 -5.34 1.-5.00 -5.42 0.36 1.80 -5.3 105.46 0.5 0.40 -5.50 -5.10 -5.52 0.42 0.36 0.50 -5.60 -5.60 -5.90 -5.60 -5.60 0.30 -5.46 0.50 -5.00 -5.10 -5.00 -5.50 -5.80 0.00 0.35 Base Line -5.48 0.38 0.90 -5.4 0.42 0.90 -5.40 -5.38 0.42 0.44 0.34 DJF-Q3 0.70 -5.42 0.5 0.44 0.00 -5.70 -5.25 105.36 0.32 DJF-Q3 -5.80 -5.38 -5.4 0.00 105.15 0.5 0.80 -5.46 0.70 -5.30 -5.15 105.32 A2 2050 JJA-Q3 1.2 105.25 105.00 0.20 -5.32 -5.35 0.60 -5.25 105.10 -5.4 0.52 0.20 -5.46 0.3 105.2 105.32 A2 2025 -5.4 0.25 105.2 105.35 0.4 0.44 0.38 0.2 105.5 0.30 -5.36 0.52 0.30 0.38 0.30 -5.25 105.3 105.38 DJF-Q3 1.00 105.38 0.35 Base Line B1 2025 B1 2050 Figure 3-10 Peluang Curah Hujan Lebih dari Q3 pada Musim Hujan (DJF) dan kurang dari Q3 pada Musim Kemarau (JJA) dengan Dua Skenario Emisi 52 .32 A2 2025 -5.48 0.46 0.00 105.90 0.50 -5.42 0.40 -5.32 1.36 0.80 -5.35 105.00 105.90 -5.35 0.70 -5.36 1.38 0.35 Base Line -5.52 0.70 -5.44 0.90 -5.15 105.4 0.48 -5.36 0.20 -5.3 105.5 0.46 0.38 0.32 A2 2050 -5.10 0.10 -5.60 -5.48 -5.52 0.35 0.25 105.20 -5.2 105.5 -5.60 -5.34 -5.32 B1 2025 -5.52 0.00 -5.34 -5.00 105.32 B1 2050 JJA-Q3 1.32 -5.44 0.70 -5.60 -5.15 105.46 0.46 0.2 105.4 0.25 105.36 0.4 0.42 0.4 0.2 105.52 0.3 105.2 105.4 0.20 -5.2 105.38 0.5 0.35 105.20 -5.46 0.50 0.15 105.90 0.52 0.44 0.15 Base Line -5.52 -5.3 105.50 -5.90 0.50 -5.20 -5.34 -5.00 105.36 0.4 -5.10 -5.34 JJA-Q3 0.46 0.25 105.90 0.42 0.00 105.36 0.10 -5.46 0.20 0.00 -5.40 -5.3 105.25 105.52 0.50 0.48 0.3 105.38 DJF-Q3 0.30 -5.34 JJA-Q3 0.34 JJA-Q3 1.5 0.2 105.60 -5.35 0.10 -5.30 -5.3 105.34 DJF-Q3 1.70 -5.40 -5.50 -5.34 JJA-Q3 1.42 0.30 -5.00 105.20 -5.3 105.36 -5.90 -5.30 0.00 105.52 0.00 105.30 -5.00 -5.20 -5.32 -5.32 1.34 1.2 105.10 -5.48 0.80 -5.48 0.40 -5.36 -5.70 0.44 -5.15 105.30 -5.

kerusuhan sosial). tsunami. epidemik. Suhu udara maksimum rata – rata 30.3 %. rawan tsunami. rawan gempa bumi. Curah hujan yang tinggi ( > 100 mm/ bulan ) terjadi selama tujuh bulan mulai bulan November s/ d bulan Mei dan musim kemarau (CH < 100 mm/ bulan ) terjadi selama lima bulan mulai bulan Juni s/d bulan Oktober (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung.BAB 4 DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM 4. 2008” (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung. Kawasan rawan bencana di Kota Bandar Lampung dipengaruhi oleh struktur bebatuan. erosi dan sedimentasi. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan tersebut. letak geografis.34 km/ jam dan rata evaporasi 3. Tabulasi lokasi kejadian/rawan bencana yang telah dilaporkan secara rinci diperlihatkan pada Tabel 4-1. letusan gunung berapi. banjir pantai.257 – 2.95 mm/ hari. yang dapat dikategorikan sebagai kejadian iklim ekstrem. suhu minimum 25. dan lainnya (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung. keberagamanan etnis. dengan jumlah curah hujan 2. kondisi hidrologi. kekeringan. tanah.1. Secara musiman. Dari berbagai bencana tersebut. gempa bumi. Kota Bandar Lampung sebagai salah satu kota yang berada diantara pesisir Teluk Lampung dan Kaki Gunung Betung merupakan salah satu kawasan yang rawan terjadi bencana di Provinsi Lampung. rawan gelombang pasang.3 % dan minimum 72.34 oC. dan kekeringan) serta (2) bencana yang diakibatkan ulah manusia/man-made disaster (seperti kegagalan teknologi. yang dapat dikategorikan sebagai dampak terkait kejadian iklim ekstrim adalah banjir. erosi dan longsor. arus balik pasang pada saat debit aliran besar. serta bencana lainnya seperti abrasi. 2009). 2009) telah dikaji tentang potensi bencana yang ada di Kota Bandar Lampung.57oC. 2009).2 mm pada bulan September s/d 277. Bencana tersebut dibedakan menjadi kelompok utama yaitu: (1) bencana alam/natural disaster (seperti banjir. dengan periodisitas antara 3-6 tahun. kelembaban relat if maksimum rata – rata 89. Variabilas unsur iklim dapat terjadi terkait dengan fenomena ENSO/El Nino/La Nina.454 mm/tahun dan hari hujan 76-166 hari/tahun. banjir bandang. tanah longsor. kondisi bentang alam. curah hujan yang tinggi pada musim hujan dapat menimbulkan bencana banjir. wabah penyakit dan KLB. Curah hujan bervariasi dari 67.A.Dampak Biofisik Kota Bandar Lampung termasuk beriklim tropis basah yang mendapat pengaruh dari angin musim (Monsoon Asia) . kecepatan angin rata – rata adalah 2. kebakaran hutan dan lahan. dan periode kering yang panjang pada musim kemarau dapat menimbulkan bencana kekeringan Dalam Laporan “Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung T. 53 .8 mm pada bulan Januari. dan rawan kekeringan. kepadatan bangunan dan permukiman. angina topan. Jenis kerawanan yang telah diidentifikasi oleh Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung (2009) adalah rawan banjir. penyempitan dan pendangkalan saluran serta kapasitas drainase saluran yang rendah. sebagai misal. gerkan tanah. dan angin topan. telah diidentifikasi 42 lokasi banjir di Kota Bandar Lampung. dan banjir lokal yang terkait dengan berbagai hal antara karena topografi rendah. Banjir tersebut disebabkan oleh banjir akibat sungai.

Palapa. Sukamaju. Penengahan. dan sisanya dari air hujan (1% warga). 54 . Kota Karang. Perwata. Rajabasa Labuhan Dalam. Kupang Raya. air permukaan/air sungai (8% warga). Olok Gading Panjang Karang Maritim. Kelapa Tiga. Baru Panjang Serengsem Telukbetung Selatan Telukbetung Barat Sukamaju Tanjung Senang Way Kandis Telukbetung Selatan Kedaton Panjang Pidada Sumber: Dokumen Rencana Strategis dan Rencana Aksi Daerah Mitigasi Bencana_ Kota Bandar Lampung tahun 2009-2013 2 Abrasi 3 Angin Kencang Tanah Longsor 4 Menurut hasil survai terhadap dampak pada sektor. Sumur Putri. Srengsem Kemiling Kemiling Permai. Jumlah penyakit dirasakan meningkat pada waktu bencana. Tanjung Karang. dan pekerjaan umum (rusaknya sarana drainase dan infrastuktur lainnya). pemukiman. Pidada. Panjang Selatan. Gulak Galik. Sementara untuk kejadian bencana kekeringan. Kangkung. Tanjung Senang.Tabel 4-1. Batu Putu Telukbetung Selatan Bumiwaras. Way Laga. Sukadanaham Kedaton Perum Way Halim Sukarame Sukarame Sukabumi T. Panjang Utara. Pesawahan. Pasir Gintung. Durianpayung Tanjungkarang Timur Campang Raya. Susunanbaru. sektor yang paling terkena dampak ialah sektor air minum. Way Gubak. Gunung Mas. N. Keteguhan. Pecoh Jaya. Sukajawa. Bakung. dan kemudian diikuti oleh sektor air minum. Beringin Raya Tanjungkarang Pusat Kaliawi. Sukaraja Telukbetung Barat Kuripan. Sumber air minum umumnya berasal dari PDAM (53% warga). kesehatan dan pertanian. perikanan. Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung No Bencana 1 Banjir Kecamatan Rajabasa Tanjung Senang Kelurahan Rajabasa Raya. kejadian bencana banjir memberikan dampak yang paling besar pada sektor kesehatan. khususnya ada waktu terjadi banjir (34% warga) dan kemarau (22% warga). Kesulitan air minum meningkat baik pada terjadi musim kemarau panjang (43% warga) maupun banjir (19% warga). Kedamaian Tanjungkarang Barat Segalamider. Gotong Royong. Way Kandis. Perumnas Way Kandis Telukbetung Utara Kupang Teba. kemudian air tanah atau sumur (38% warga).

anak-anak membawa (membungkus) sepatu terlebih dahulu. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen. masih tetap sama dengan kondisi normal. Karena itu agar penumpukan sampah ini tidak menyebabkan bau yang tidak enak dan penyakit. Pemenuhan air bersih tidak mengalami hambatan. dapat menyebabkan terpeleset dan terjatuh. namun hanya sampai di pondasi rumah saja. Selain itu. tidak sampai memasuki rumah warga. biasanya celana dilipat dahulu agar tidak terkena air. jika tidak berhati-hati ketika berjalan. Sampah dan limbah pasar sering dibuang ke sungai. dan baru menggunakannya ketika jalan sudah tidak becek lagi. warga mengaku electricity tidak terganggu. bahkan pada 55 . Pada kondisi pasang. Anak-anak sekolah biasanya tetap masuk. sehingga menyebabkan pendangkalan sungai dan penyerapan kurang berjalan dengan baik. Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan. listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. Dampak Umum dari Kejadian Iklim Ekstrim Dampak yang dirasakan akibat terjadinya bencana tentu tidaklah sama. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. masing-masing warga membersihkan rumahnya dan lingkungan sekitarnya. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi lokasi tersebut. Hal ini disebabkan karena lokasinya yang berdekatan dengan sungai dan pasar. banjir dan pasang menyebabkan sampah menumpuk di sekitar pemukiman warga. Hanya saja pasang masih kerap terjadi. berdasarkan hasil in depth interview. Biasanya mereka menggunakan sepatu dari rumah. Selama ini. Ketika terjadi pasang warga tetap dapat melaksanakan aktifitasnya. Banjir besar sudah tidak pernah terjadi lagi. potensi bencana terbesar adalah banjir karena pasang atau rob dan abrasi.4. Hal ini sudah biasa dihadapi oleh warga. Banjir saat itu mencapai lebih dari satu meter. Banjir terparah terjadi pada tahun 2008. tetapi kali ini karena jalan tergenang air. Baik pada Kota Karang maupun Panjang Selatan. warga mengaku tidak terlalu terganggu oleh pasang. Jalan di pemukiman warga hanya sedikit tergenang (becek) dan sulit terlihat. namun masih tetap dapat dilalui. Hanya saja. warga juga sangat mengharapkan pemerintah membuatkan pondasi jalan penghubung antar rumah warga. Dimana untuk keperluan minum warga biasanya memenuhinya dengan membeli air galon isi ulang. pemenuhan air bersih tetap diperoleh dengan cara mengambil dari sumur bor dan membeli. Antara wilayah pesisir dan non pesisir akan merasakan dampak yang berbeda. Wilayah Non Pesisir Bencana yang rawan terjadi di Pasir Gintung adalah banjir karena hujan. Atau jika genangan air agak tinggi. Baik pada kondisi normal maupun kondisi paska bencana. terungkap bahwa warga memerlukan bantuan bibit bakau. Untuk keperluan mencuci dan mandi warga menggunakan air sumur bor. Dampak secara umum adalah sebagai berikut: Wilayah Pesisir Pada wilayah pesisir. Hanya saja terjadi sedikit perubahan kebiasaan.2. Sedangkan upaya untuk mengantisipasi terjadinya abrasi. sehingga warga mengaku tidak terlalu terganggu. hal ini disebabkan karena salah satu saluran pembuangan sedang dilakukan perbaikan.

diperoleh informasi dari warga bahwa langkah mengatasi kekurangan air tersebut adalah dengan mencari atau membuka mata air baru. Sementara itu. Antara pria dan wanita saling bahu membahu membersihkan rumahnya. hampir mencapai atap rumah warga. Jika dibiarkan berkepanjangan.wilayah tertentu yang letaknya rendah. Selain itu dampak terhadap tanaman pertanian adalah rontoknya bakal buah sebelum waktu pemanenan. Paska terjadi banjir. hasil kebun seperti coklat dan durian mengalami penurunan. tanda-tanda terjadinya bencana ini adalah terdengar suara gemuruh. warga bersiap-siap keluar rumah untuk mencari lokasi yang lapang agar terhindar dari benda-benda yang berjatuhan akibat angin kencang ini. 56 . namun masih tetap dapat dilalui. listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. listrik sengaja dipadamkan untuk mencegah tersengat aliran listrik. dengan pembagian tugas untuk pria pekerjaan yang lebih berat dibanding wanita. Jika terjadi angin kencang biasanya banyak pohon yang tumbang dan genting berjatuhan. Pada saat banjir. bencana yang biasa terjadi adalah kekeringan dan angin kencang. namun tetap masih mencukupi kebutuhan warga meskipun harus melakukan penghematan. Namun. Pada Kelurahan Batu Putuk. kekeringan dapat memicu munculnya penyakit. warga mengaku electricity tidak terganggu. keduanya tidak terlalu mengganggu aktifitas warga Batu Putuk. sampah biasanya berserakan. Langkah lainnya adalah dengan bersiap-siap memiliki penampungan air atau mengambil air di masjid. biasanya warga secara swadaya bergotong royong untuk membersihkannya. setelah air surut. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. Jika telah mendengar suara itu. salah satu keuntungannya adalah tersedia banyak kayu bakar yang berasal dari ranting-ranting yang berjatuhan. Kegiatan pengeborannya berdampak pada berkurangnya debit air di wilayah ini. Biasanya setelah terjadinya angin kencang warga secara swadaya membersihkan lingkungannya agar aktifitas warga segera dapat berjalan normal kembali. Hampir setiap tahun angin kencang terjadi di wilayah ini. Jika dibandingkan dengan kondisi dahulu. Akibat dari bencana kekeringan adalah ketersediaan air yang mulai berkurang. Berdasarkan pengetahuan masyarakat. Berdasarkan hasil FGD dengan warga Kelurahan Batu Putuk. Baik bencana kekeringan maupun angin kencang. namun jika dilihat dari mutu air masih tetap sama. Kekeringan ini juga berdampak pada hasil pertanian. Sementara itu kondisi jalan hanya terganggu saat air tergenang. Anak-anak masih tetap dapat sekolah seperti biasa. Oleh karena itu. Pemenuhan air bersih dibantu oleh PDAM secara gratis. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan kondisi alam dalam hal ini ketersediaan air di Batu Putuk. Banjir ini hanya berlangsung satu hari. sehingga tidak terlalu mengganggu aktifitas warga. jalan dapat dilalui seperti biasa. Bencana kekeringan di wilayah ini menurut persepsi warga antara lain disebabkan oleh keberadaan beberapa perusahaan air minum. Pada kondisi ini. Jalan di pemukiman warga hanya terhalang oleh pohon dan ranting yang berjatuhan. bencana angin kencang biasanya terjadi pada bulan 12. Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan.

Dari data terlihat bantuan dari masyarakat lebih banyak di wilayah pesisir daripada wilayah non pesisir. Lebih besarnya bantuan masyarakat di wilayah pesisir ini didukung oleh hasil FGD di Kelurahan Kota karang dan Panjang Selatan. Berdasarkan hasil survey terlihat bahwa hubungan gotong royong dan kekerabatan pada masyarakat di kelurahan amatan masih berjalan dengan baik. sehingga dengan berbagai status sosial yang ada. mereka bisa memberikan bantuan kepada korban bencana. Saudara dan anggota masyarakat lainnya yang dimaksud disini adalah saudara dan anggota masyarakat yang tidak terkena bencana. Masyarakat menyatakan bahwa ketika terjadi bencana upaya pertama yang akan dihubungi adalah tetangga (masyarakat).Dampak Sosial Ekonomi dari Kejadian Iklim Ekstrim A. Secara sederhana hubungan kerja patron-klien menggambarkan hubungan dua pihak antara individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) yang memberikan keuntungan berdasarkan sumber-sumber yang dimilikinya bagi seseorang yang statusnya lebih rendah (klien). 2009 Jika membandingkan angka-angka bantuan dari saudara dan masyarakat. Misalnya di daerah pesisir bantuan yang diterima dari saudara sebesar 25. hubungan kerja. Pola yang sama terlihat di wilayah non pesisir. Gambar 4-1. Tetangga adalah pihak yang memiliki 57 .19 persen (dari total warga wilayah pesisir). Bantuan dari Saudara dan Masyarakat Lainnya di saat Bencana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.4. Dampak Sosial Terjadinya kejadian iklim ekstrim yang mengakibatkan bencana banjir atau bencana kekeringan secara tidak langsung memiliki potensi untuk mengubah tatanan nilai-nilai sosial masyarakat. Untuk mendapatkan gambaran mengenai besarnya dampak sosial akibat terjadinya bencana di Kota Bandar Lampung dilihat dari perilaku gotong royong atau kekerabatan warga dalam menanggung masalahmasalah yang terjadi pada masyarakat. sedangkan bantuan dari masyarakat lainnya sebanyak 22. Hal ini tercermin dari pendapat warga mengenai bantuan yang diberikan saudara dan anggota masyarakat lainnya disaat terjadi bencana. pola transaksi produksi serta nilai sosial lainnya.3.96 persen. tampak bantuan yang terima dari saudara relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bantuan dari masyarakat.

Mereka yang membiayai nelayan-nelayan untuk berangkat mencari ikan. maka dapat disimpulkan bahwa wilayah yang relatif memiliki kohesivitas sosial yang tinggi di saat bencana adalah Kelurahan Pasir Gintung. yaitu Kelurahan Pasir Gintung. sekitar tahun 80-an pekerjaan nelayan sangat menjanjikan.. rumah roboh atau musibah lainnya.. Setelah itu melaporkan kepada RT setempat. terutama dari hasil bagan.. Zabir. Di wilayah non pesisir terdapat satu kelurahan yang memiliki tingkat bantuan dari masyarakat relatif tinggi dibandingkan dua kelurahan lainnya.hingga Rp 2000. Bencana yang sering terjadi di Kelurahan Pasir Gintung adalah banjir. Dari informasi di atas terungkap fakta bahwa adanya bencana tidak menyebabkan perilaku gotong royong di masyarakat menjadi melemah. Dengan adanya kelompok-kelompok paguyuban tersebut. Berdasarkan gambaran diatas. Jumlah juragan sekarang sudah sedikit. Warga di ketiga wilayah ini menilai bantuan dari saudara dan masyarakat di saat bencana relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya. bahkan pada beberapa kelurahan amatan menjadi semakin kuat. Secara swadaya warga akan berusaha mengatasi masalah bersama. Tapi kalau sekarang. 2 dan 3 hanya terdapat satu juragan atau kelompok” (M. Dari hasil wawancara dengan ketua lingkungan setempat terungkap bahwa besarnya bantuan dari masyarakat antara lain disebabkan oleh banyaknya paguyuban yang ada pada wilayah ini. Perilaku gotong royong dan kekerabatan tidak hanya muncul saat terjadi bencana banjir. Pada Kelurahan Kota Karang hubungan patronklien saat ini digambarkan sebagai berikut: “. Waktu dulu dalam sekali pergi melaut. ikan yang diperoleh dapat mencapai jumlah kuintalan. Hampir semua nelayan kecil bergabung dalam kelompok-kelompok yang dibawahi oleh seorang juragan. Menghilangnya para juragan tadi menyebabkan nelayan yang ada sekarang pada umumnya adalah nelayan individu. Hasil FGD menyatakan bahwa masyarakat di semua kelurahan memiliki atau mengadakan iuran bulanan untuk kematian sebesar Rp 1500. seperti gotong royong membersihkan wilayah mereka setelah terjadi banjir. terutama saat terjadi bencana. Kehidupan nelayan kecil individu saat ini 58 . maka tingkat kegotong royongan dan kekerabatan masyarakat menjadi tinggi. sehingga saat terkena bencana mereka merasakan penderitaan yang juga sama besar. Yang kedua.. masyarakat juga saling membantu dalam bencana lokal seperti kematian. keberadaan nilai-nilai sosial masyarakat juga dapat dilihat dari keberadaan hubungan kerja patron-klien yang dahulu menjadi bagian dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kondisi ekonomi masyarakat yang relatif merata. warga Kelurahan Kota Karang.. Pada Kelurahan Panjang Selatan.perbulan. sehingga diharapkan dapat memberikan pertolongan dalam waktu yang relatif lebih cepat. 63 th). mata pencaharian dari nelayan sudah tidak bisa diandalkan lagi.lokasi tempat tinggal terdekat. Panjang Selatan dan Kota Karang. tolong menolong menolong warga juga terjadi pada saat terjadi hajatan atau pesta. Pada waktu itu banyak warga yang menjadi juragan ikan. upaya pertama yang dilakukan masyarakat jika terjadi bencana adalah bersama-sama dengan keluarga dan tetangga mendiskusikan solusi permasalahan yang ada. di wilayah RT 1. Selain saat bencana. seperti pesta perkawinan. Juragan itu memiliki banyak anak buah (nelayan).

sesama warga dapat dimintai tenaga bantuan. 2009 No 1 Deskripsi Sistem tolong menolong/ kekerabatan Kondisi saat ini Masih ada:.menjadi sulit karena apabila akan pergi melaut biaya operasional harus ditanggung sendiri. Biasanya mereka pergi sore dan kembali keesokan harinya dengan membawa hasil ikan yang banyak. Tabel 4-2.Sudah mulai berkurang. perampasan. Selanjutnya warga yang bermata pencaharian 59 B. karena si pemberi pinjaman menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman. Dahulu nelayan kecil bila akan pergi melaut dapat dengan mudah meminjam modal ke warung atau agen. dan nelayan juga menyadari kondisi melaut saat ini tidak ada jaminan bahwa mereka akan pulang membawa hasil ikan yang cukup dan segera dapat mengembalikan pinjaman. dengan demikian perubahan iklim juga memiliki andil dalam berkurangnya hubungan patron-klien yang ada dalam masyarakat. dan pencurian barang-barang berharga.5% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas juga bertambah saat kejadian kekeringan di wilayah mereka. dimana kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan masyarakat menjadi lebih rentan. Hubungan patron. bencana iklim berpengaruh terhadap terjadinya kriminalitas di wilayah kajian. Berdasarkan survei.Gambaran Dampak Bencana terhadap Nilai Sosial Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.6% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan 3. Bila dihubungkan antara fakta berkurangnya hasil ikan antara lain juga disebabkan oleh adanya perubahan iklim. yang selanjutnya akan berdampak pada kehidupan sosial ekonomi warga. Pengaruh bencana terhadap perilaku nilai sosial lainnya secara tidak langsung juga dapat dilihat dari meningkatnya kejadian kriminalitas/ kejahatan di suatu wilayah. sehingga bisa langsung mengembalikan modal pinjaman. . dan angin kencang bisa berpotensi terhadap gagal panen dikarenakan nelayan tidak bisa melaut. bukan disewa Gotong royong Masih ada: aktivitas bekerja sama antara sejumlah besar warga kelurahan untuk menyelesaikan suatu kegiatan tertentu yang dianggap berguna bagi kepentingan umum. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa adanya perubahan iklim yang mengakibatkan timbulnya bencana memiliki potensi untuk merubah nilai-nilai sosial serta perilaku yang ada di dalam masyarakat. dimana 1.dalam keadaan kesulitan. nelayan kecil seringkali tidak berani meminjam.hubungan-hubungan sosial baik yang berdasarkan hubungan ketetanggaan maupun hubungan kekerabatan . Sedangkan saat ini. Tindakan kriminalitas tersebut seperti pencopetan. maka terjadinya bencana iklim seperti banjir rob. pasang air laut. perampokan. klien Tingkat kejahatan Jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan kejadian kekeringan di wilayah mereka 2 3 4 Dampak Ekonomi Kejadian Iklim Ekstrim Mengingat mata pencaharian utama warga di wilayah kajian bergerak di sektor perikanan yaitu buruh nelayan dan nelayan.

Hal ini dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat dari sektor perikanan yang mengalami gagal panen.sebagai pedagang juga terkena imbasnya. 1. yaitu hanya7.76 persen dari total warga di wilayah ini. Dalam bahasan ini disampaikan dampak bencana dan kerugian yang dirasakan oleh warga terhadap pekerjaan utama. kekeringan. nilai kerugian berdasarkan pekerjaan pokok. Untuk warga yang bermata pencaharian sebagai petani kebun dan petani pangan pun juga terkena dampak dari bencana iklim seperti banjir. Bencana yang dibahas disini adalah banjir dan kekeringan. 4) dampak terhadap harga-harga beberapa komoditi.nilai kerugian berdasarkan sektor. Mereka mengalami gagal panen dan penurunan pendapatan. Gambar 4-4.73 persen warga dari total warga di lokasi penelitian. Gambar 4-2. Nilai kerugian berdasrkan pekerjaan sampingan. 2009 60 . Warga tersebut sebagian besar berasal dari Kelurahan Kota Karang dan Panjang Selatan dimana sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Dengan demikian masih banyak warga yang menganggap banjir tidak mempengaruhi pekerjaan utamanya. Lain halnya dengan wilayah pesisir. peningkatan jumlah kriminalitas dan urbanisasi. Menurunnya pendapatan mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan warga yang berikutnya mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran.44 persen yang menganggap banjir mempengaruhi pekerjaan utamanya. Walaupun demikian bencana banjir ternyata berdampak terhadap 16. baik materil maupum immateril. disini relatif lebih banyak warga yaitu 24. dan angin kencang. 3). Dari hasil survey diperoleh informasi. Tidak semua warga menjawab adanya dampak dari bencana terhadap pekerjaan utamanya. dan 2). Bahkan untuk wilayah non pesisir jumlahnya relatif lebih sedikit lagi. memberikan ilustrasi dampak bencana banjir dan kekeringan terhadap pekerjaan utama warga. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana dampak bencana terhadap ekonomi disajikan data-data berdasarkan: 1). Nilai Kerugian Berdasarkan Pekerjaan Pokok Pada dasarnya bencana apapun akan mengakibatkan kerugian terhadap masyarakat. Dampak Banjir dan Kekeringan Terhadap Pekerjaan Utama pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. bahwa secara total dampak yang terjadi akibat banjir terhadap pekerjaan utama relatif lebih besar daripada kekeringan.

kalau dulu. bisa mencapai wilayah laut lepas dekat gunung krakatau. buruh. kondisi kesulitan mencari ikan biasanya bersifat musiman. namun sekarang musim ikan lebih sulit di prediksi.Dari hasil FGD. dengan waktu seminggu. sehingga penghasilan dari melaut dapat menurun drastis.. yaitu mencapai 20 persen.. mereka terpaksa ‘Gali lubang tutup lubang’. Karena itu banyak warga yang terpaksa memilih alternatif mata pencaharian lain seperti tukang becak. Sekali berangkat biaya bisa mencapai jutaan. Bila penghasilan warga tidak dapat mencukupi. Saat itu warga mengetahui bahwa bulan 1 sampai dengan 5 adalah musim angin utara yaitu musim ikan. Bencana kekeringan hanya berdampak terhadap sekitar 9. Tapi Harga kapal seperti itu bisa mencapai ratusan juta. mulai dari yang kecil sampai yang memiliki pukat harimau bisa memasuki wilayah perairan. dengan menggunakan kapal bermotor besar. sehingga para nelayan kecil harus bersaing dengan nelayan besar. masalah tersebut disebabkan oleh beberapa hal. tapi kalau nelayan di Jawa jangkauan lebih luas”.. sehingga bagi warganya bencana kekeringan lebih berdampak daripada bencana banjir. Masalah yang kedua disebabkan fasilitas nelayan masih kurang. aktifitas sebagai nelayan sangat dipengaruhi oleh iklim. buruh.. berbeda dengan fasilitas nelayan di pulau Jawa. Dahulu sebelum tahun 2000. Masalah-masalah demikian yang menyebabkan ekonomi nelayan kecil menjadi sangat sulit. Alternatif lain yang dilakukan warga adalah dengan meminjam ke bank keliling. Secara umum. Setelah tahun 2000 warga mengaku sulit memprediksi waktu terjadinya angin dan ombak besar. sudah ‘kejeblos’. Langkah untuk memenuhi kebutuhan hidup biasanya ditempuh dengan jalan meminjam. melaut bisa dalam jangkauan yang dekat-dekat saja. maupun kenek bangunan agar tetap dapat membiayai kebutuhan hidup. warga mengaku terpaksa berhutang ke warung untuk membeli kebutuhan hidup seperti sembako. secara rata-rata hanya sebagian kecil saja warga yang merasakan adanya dampak bencana kekeringan terhadap pekerjaan utamanya. Diantara kelurahan-kelurahan amatan lain. yang fasilitas peralatan perikanannya seperti kapal sudah lebih maju. Hal ini menyebabkan lokasi pencarian atau jangkauan nelayan di kelurahan amatan menjadi terbatas. Biasanya bunga yang diberlakukan cukup tinggi. Kelurahan Batu Putuk mayoritas masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai petani dan buruh pertanian. baik kepada tetangga maupun kepada bank keliling. “. Warga mengaku pada kondisi tersebut. pembayaran dapat dilakukan dengan mencicil. namun dengan risiko dibebankan bunga. kalau lebih jauh sedikit. sehingga belakangan ini waktu nelayan melaut menjadi semakin tidak menentu. 61 . Pada kondisi yang demikian. Menurut salah seorang peserta FGD. Bila meminjam ke bank keliling. Selain itu. yang pertama. Jadi nelayan kecil cuma bisa dekat-dekat saja. Sekarang kalau mau mendapatkan ikan dalam jumlah besar harus berlayar lebih jauh. jumlah nelayan di Lampung sangat banyak. aktifitas nelayan menjadi terhambat. sebenarnya masalah yang dihadapi nelayan cukup kompleks. sehingga untuk bertahan mereka terpaksa harus ‘gali lubang tutup lubang’. Oleh karena itu banyak warga yang terpaksa memiliki alternatif mata pencaharian lain seperti tukang becak. Berbeda dengan bencana banjir. menurut warga. yaitu terjadi pada bulan 12.9 persen warga dari total warga di kelurahan amatan. Bencana kekeringan berdampak pada penurunan hasil panen sehingga pendapatan warga yang berprofesi sebagai petani dan pedagang produk pertanian cenderung menurun. maupun kenek bangunan agar tetap dapat membiayai kebutuhan hidup.

Wilayah yang mengalami kerugian yang relatif besar adalah Kangkung.666. Sedangkan di Batu Putu sebanyak Rp 921. yang sangat dipengaruhi oleh banjir. Gambar 4-4. terlihat bahwa banjir yang menimpa hanya mempengaruhi sebagian kecil warga. Nilai Kerugian Berdasarkan Pekerjaan Sampingan Selain mempengaruhi pekerjaan utama. Kerugian di Kangkung rata-rata sebesar Rp 1.000. Batu Putu dan Pasir Gintung. Dampak Banjir Terhadap Usaha Sampingan Tambak pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. kerugian rata-rata bencana sebesar Rp 662.Bila dihitung berdasarkan nilai nominal. 2009 62 . terutama banjir yang dirasakan oleh warga. Namun dari data yang diilustrasikan pada Gambar 4-4. 2009 2. terutama usaha sampingan sebagai petani tambak.071. sebagian besar warga di wilayah ini mempunyai pekerjaan utama sebagai petani kebun. dari total warga di lokasi penelitian. kerugian yang diakibatkan oleh adanya bencana banjir dan kekeringan seperti terlihat pada Gambar 4-3. sebanyak 11. Berdasarkan gambar tersebut.765. Gambar tersebut menunjukkan rata-rata kerugian akibat bencana. banjir juga dapat mempengaruhi usaha sampingan yang dimiliki warga. Gambar 4-3.11 persen yang menyatakan terdapat pengaruh banjir terhadap usaha sampingannya (Tambak/Kolam). Kerugian rata-rata di daerah Pasir Gintung sebanyak Rp 926.150. Nilai Kerugian Dari Pekerjaan Utama Akibat Banjir dan Kekeringan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.

Nilai kerugian rata-rata akibat banjir untuk usaha sampingan tambak sebesar Rp 583.Kerugian usaha sampingan tambak yang dirasakan warga seperti terlihat pada Gambar 4-5.000 dan sektor perikanan sebesar Rp 76.320. kerugian bencana juga dapat dihitung berdasarkan sektornya.000. Gambar 4-6.350. Secara umum nilai kerugian ini relatif kecil. sektor pemukiman sebesar Rp 8. 2009 Lampung 3. Kerugian terbesar justru dialami oleh warga di wilayah Kangkung dengan nilai kerugian rata-rata sebesar Rp 2. Gambar 4-5. Hal ini disebabkan banyak warga yang mempunyai mata pencaharian tambahan sebagai petani tambak ikan. Gambar 4-6. di Bandar Lampung.745. misalnya untuk sektor infrastruktur senilai Rp 10. menyajikan ilustrasi kerugian akibat banjir di Lampung. maka distribusinya tidaklah merata. Selain itu banyak warga yang tidak bisa menaksir adanya kerugian terhadap berbagai macam sektor. Kerugian Akibat Banjir Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung.000. Akan tetapi jika dilihat secara rinci.000 /orang. Dampak dari banjir yang dirasakan warga terhadap sektor lainnya relatif kecil. Nilai Kerugian Usaha Sampingan Tambak Pada Kelurahan Amatan. terlihat ada 2 sektor yang nilai kerugiannya relatif besar yaitu sektor kesehatan dengan nilai total mencapai Rp 104.000/orang.000.355.000. Hal ini dapat disebabkan oleh pengetahuan yang terbatas dari warga dalam menaksir jumlah kerugian. 2009 63 . Berdasarkan gambar tersebut. Nilai Kerugian Berdasarkan Sektor-Sektor Strategis Selain mempengaruhi terhadap mata pencaharian warga.

bahkan dalam kasus yang ekstrim dapat mengakibatkan kegagalan panen (puso). Kerugian di sektor perikanan disebabkan karena suplai air berkurang. peningkatan harga di saat banjir relatif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan harga di saat kekeringan. batuk. berikut ini disampaikan data mengenai peningkatan harga yang terjadi pada beberapa produk pertanian seperti beras/padi. Hal ini disebabkan pada saat terjadi banjir. Gambar 4-7.79 persen. Melihat nilai nomimalnya. kenaikan harga rata-rata disaat banjir sebesar 13. sedangkan disaat kekeringan sekitar 12. Kerugian Akibat Kekeringan Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung.Berbeda dengan kerugian yang terjadi ketika kekeringan. akan tetapi fakta ini memberikan dugaan terhadap sektor rentan terkena bencana. kegiatan perikanan banyak yang terganggu sehingga supply ikan menjadi berkurang. dampaknya kualitas air menurun sehingga banyak ikan yang mati. radang tenggorokan dan lain sebagainya. 64 . kesehatan dan air minum. Berdasarkan Gambar 4-9. palawija dan ikan/ternak. Kerugian di sektor kesehatan terjadi karena dengan adanya kekeringan mengakibatkan menurunnya kualtias lingkungan. Kerugian di sektor pertanian disebabkan kekeringan menyebabkan produksi menurun. Secara total peningkatan harga saat kekeringan lebih tinggi dibandingkan dengan saat banjir. Berdasarkan gambaran ini maka sektor yang rentan terkena bencana kekeringan adalah sektor pertanian. Sedangkan untuk komoditi Palawija peningkatan harga memiliki model yang berbeda dengan beras/padi dan ikan/ternak. Secara umum haarga beras/padi mengalami peningkatan baik pada saat banjir maupun kekeringan. terlihat beberapa sektor yang diduga dipengaruhi oleh bencana kekeringan. banyak sumber penyakit seperti diare.65 persen. bencana banjir dan kekeringan juga mempengaruhi perubahan harga-harga secara umum. Kerugian di sektor air minum disebabkan oleh berkurangnya sumber air untuk memasok bagi kebutuhan masyarakat. Tahun 2009 4. Dampak Terhadap Harga Beberapa Komoditi Selain mempengaruhi pendapatan warga dan beberapa sektor strategis. Meskipun nilainya relatif kecil. dan fenomena ini konsisten terjadi baik di pesisir maupun di non pesisir. Untuk komoditi ikan/ternak. nilai kerugian akibat kekeringan lebih kecil daripada kerugian akibat banjir. perikanan.

Penyakit yang dinilai warga relatif rendah terjadi adalah DBD (10.94 persen dari total warga. sampai dengan rumah sakit. 57 unit Puskesmas Pembantu. yaitu Balai Pengobatan dengan jumlah sebaran terbanyak ada di Kecamatan Tanjung Karang Pusat (11 unit). tercatat hanya sebanyak 35. Dampak terhadap Kesehatan Sarana kesehatan di Kota Bandar Lampung meliputi sarana kesehatan mulai dari tingkat pelayanan terkecil seperti Puskesmas Pembantu. 22 unit Puskesmas Induk. memperlihatkan wabah penyakit menurut persepsi warga yang biasa terjadi saat banjir. Balai Pengobatan. Sedangkan untuk diare dan malaria sebaliknya. Dari warga yang memberikan penilaian.87 persen). Jumlah sarana kesehatan di Kota Bandar Lampung menurut sumber Kota Bandar Lampung Dalam Angka (2007) mencapai 157 unit yang terdiri dari 11 unit Rumah Sakit. Jenis sarana kesehatan paling banyak. Sedangkan untuk malaria dan diare di wilayah pesisir. terlihat bahwa jenis penyakit yang seringkali dialami oleh masyarakat adalah Malaria (28.17 persen). Tidak banyak warga yang menanggapi fenomena wabah penyakit di saat banjir. dan 67 unit Balai Pengobatan. Dari data terlihat jumlah warga non pesisir yang menganggap Batuk/Flu/Pilek. tempat praktek Dokter. DBD dan gatal-gatal sebagai penyakit di saat musim hujan lebih besar daripada warga pesisir.26 persen) dan Batuk/Flu/Pilek (27. 65 . DBD dan gatal-gatal cenderung terjadi di wilayah non pesisir. Tabel IV-3.Gambar 4-8. Kenaikan Harga Beberapa Komoditi Pertanian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung. Hal ini bisa membentuk dugaan bahwa penyebaran penyakit Batuk/Flu/Pilek. 2009 C.

30 15.00 0.62 16.00 10.44 47.0 8 17.21 47. 2009 Wabah Penyakit Pada Saat Banjir Batuk / Gatal Flu Diar Malari /Pilek DBD e gatal a 100.00 0.6 2 25.00 0.62 27.00 63.00 8.94 26.33 50.0 0 26.00 19.7 4 80.0 0 100.00 0.50 48.16 0.15 35.41 0.90 10.0 0 16.44 0.72 48.32 29.0 0 100.00 100.00 0.0 0 100.37 36.00 100.0 0.41 39 56 40 135 256 19 27 19 65 92 48.Tabel 4-3.32 33.0 0 11.00 0.26 0.0 0 100.35 22.17 10.6 90. penyakit yang sering dialami oleh warga adalah batuk/flu/pilek serta penyakit malaria.33 33.00 5.8 7 0.53 0.menunjukkan penyakit yang sering muncul di saat terjadi kekeringan.70 21.33 0.0 0 40 50 31 121 2 19 6 27 5.26 4.09 8.00 50.5 2 31.00 38.79 24.92 28.00 8.0 0 25.31 0.9 1 75.0 0 25.0 9.00 0.00 3.00 12.00 100.00 66 .00 0.1 3 0. Penyakit Pada Saat Banjir pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.33 25.26 16.0 0 100.7 7 10.23 0.0 0 100.00 0.5 0 24. Tabel 4-4.79 44.00 44.8 1 25.00 100. Jika dilihat dari jenis penyakitnya.00 100.26 Tabel 4-4. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Res total (N) Res Jawab (n) Wabah Penyakit Saat Kekeringan Batuk n/N /Flu Kuli Diar (%) /Pilek DBD gatal t Malaria e Grand Total 40 50 31 121 39 11 12 8 31 10 27.00 10.3 9 0.5 8 23.00 0.1 1 26. Pada wilayah non pesisir dan pesisir.3 2 7.63 15.00 0.0 5 18. Penyakit Pada Saat Kekeringan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. maka yang membedakan antara saat kekeringan maupun saat banjir adalah munculnya penyakit kulit.0 0 67.00 5.67 7.33 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total Res Tota l (N) Res Jawa b (n) n/N (%) Grand Total 100.0 0 100.00 3.00 5.0 0 100.

00 100.1 1 16. terutama terkait biaya.22 41.2 9 0 11.84 100. saat sakit dapat langsung datang ke puskes. Bagi yang tidak punya surat jamkesmas. 14.29 1. Akan tetapi sistem pelayanan.61 22. dan mutu layanan kesehatan. dan biasanya memerlukan waktu sampai 2 hari.00 0.00 3. lokasi.2 2 0 55.00 8. maka puskes akan memberikan rujukan ke Rumah Sakit. dan rujukan masih dianggap belum dapat berjalan dengan optimal. Warga yang diberi surat jamkesmas adalah penduduk miskin. Namun berbeda dengan jamkesmas.8 4 61. warga bisa menggunakan fasilitas jamkesda. Bila kondisi warga memerlukan perawatan lanjutan.6 7 9. Gambar 4-9.23 1.3 3 54.5% warga tidak tahu karena tidak pernah mencatat biaya yang telah dikeluarkan untuk berobat.Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total 56 40 135 256 9 12 31 62 4 16. obat.00 0. Pada saat terjadi bencana hanya 27.61 Namun menurut hasil survei masyarakat di wilayah kajian menyatakan bahwa belum optimalnya akses.45 0. Jumlah warga yang memiliki kartu kesehatan gratis adalah sebanyak 43.35 11. dan layanan yang diberikan.75%.0 0 22.81 19. prosesnya yang harus dilalui oleh warga untuk memperoleh fasilitas jamkesda cukup panjang.8% warga untuk berobat ketika terjadi bencana iklim dapat dilihat dari gambar berikut. keterjangkauan.5 6 33. akan ada pemantauan (survei) dulu rumahnya dari puskes. Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh 14.68 4. Kisaran Biaya yang Dikeluarkan oleh Warga (dalam Rupiah) Sebenarnya fasilitas kesehatan yang disediakan oleh dinas kesehatan sudah cukup baik.9 6 24.00 0.00 100.33 6.00 11.7% warga yang mengaku menerima bantuan dari pemerintah. Kemudian bila warga harus dirujuk ke rumah sakit. warga harus membayar dulu biaya di RS sebagai jaminan. nanti bila 67 .00 100. yang antara lain penentuannya di lihat dari usaha kepala keluarga. Selain harus ada surat keterangan dari RT.8% warga mengeluarkan uang sendiri untuk biaya berobat. Bagi warga yang memiliki jamkesmas (dulu askes). dan sisanya sebesar 57. Hal ini antara lain disebabkan oleh sarana layanan kesehatan tersebut belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat.0 7 30.11 0.67 25.

Respon Masyarakat Terhadap Informasi Bencana Sebagian besar warga di keenam wilayah kajian selama ini masih memperoleh informasi prakiraan iklim secara tradisional baik dari pemuka adat maupun dari tokoh masyarakat di daerah yang bersangkutan. SATLAK PB. Pelatihan tata cara pengungsian dan penyelamatan jika terjadi bencana juga sangat diperlukan. 4% warga melalui media koran. B. yang diduga menyebabkan timbulnya persepsi warga pada kelurahan amatan yang terkait dengan belum optimalnya akses. Tagana diakui masyarakat berfungsi efektif dalam memberikan informasi iklim atau peringatan dini. baru uang dikembalikan. RW di lingkungan setempat. apa yang perlu dilakukan dan dihindarkan di daerah rawan bencana. Hasil interview menunjukkan bahwa sekitar 58% warga memperoleh informasi prakiraan BMKG melalui media televisi. Dengan pelatihan ini terbentuk kesiagaan tinggi menghadapi bencana akan terbentuk. Peringatan dini dan hasil pemantauan daerah rawan bencana berupa saran teknis dapat berupa antara lain pengalihan jalur jalan (sementara atau seterusnya). RT. Tujuan latihan lebih ditekankan pada alur informasi dan petugas lapangan pejabat teknis. SATKORLAK PB. Kondisi demikian. 2% warga dari dinas pemerintah. pengungsian dan atau relokasi. Response Masyarakat Terhadap Keberadaan Kelembagaan Penanganan Bencana Peringatan dini dimaksudkan untuk memberitahukan tingkat kegiatan hasil pengamatan secara kontinu di suatu daerah rawan dengan tujuan agar persiapan secara dini dapat dilakukan guna mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Kelembagaan tersebut diantaranya bernama Tagana (Tanggap Bencana). sisanya 28% warga tidak menjawab (Gambar IV-10) 68 . Dari hasil survey di enam wilayah kajian didapatkan hasil yang tidak memuaskan dari warga mengenai keberadaan lembaga penanganan bencana di wilayahnya. dan serta penanganan lainnya. dan masyarakat sampai ke tingkat pengungsian dan penyelamatan korban bencana.4. Hanya 10% warga yang menyatakan ada kelembagaan penanganan bencana di wilayah mereka. Respon Pemerintah dan Masyarakat terhadap Bencana Akibat Kejadian Iklim Ekstrim A. dan 6% warga memperoleh informasi dari aparat desa setempat.surat2 sudah lengkap. Hal penting yang perlu diketahui masyarakat dan Pemerintah Daerah ialah mengenai hidup harmonis dengan alam di daerah bencana. Selain itu warga juga menerima informasi prakiraan dari BMKG. Sebanyak 90% warga menyatakan bahwa belum ada kelembagaan penanganan bencana di wilayah mereka. Kelembagaan lainnya yaitu kelurahan. 90% warga tersebut mengaku belum pernah mendapatkan informasi apapun seputar informasi iklim atau peringatan dini dari PEMDA. 2% warga melalui media radio. EWS (Early Warning System).. ataupun lembaga terkait lainnya. Peringatan dini tersebut disosialisasikan kepada masyarakat melalui pemerintah daerah dengan tujuan memberikan kesadaran masyarakat dalam menghindarkan diri dari bencana. dan mengetahui cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana. 4. dan mutu layanan kesehatan. keterjangkauan.

25 persen warga yang merasakan bahwa informasi tersebut berguna. sedangkan informasi mengenai penganan bencana. radio. Persentase Media Informasi Prakiraan yang digunakan Salah satu peran pemerintah dalam mengurangi dampak dan kerugian bencana adalah dengan cara memberikan informasi terkait kebencanaan seperti peringatan bencana. 69 .Gambar 4-10. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim dirasa warga masih sangat rendah ketersediaannya yaitu kurang dari 35 persen (Tabel 4-5). jauh dirasakan berguna menurut warga dibandingkan dengan jenis informasi lainnya. Hal ini ditunjukkan dari persepsi warga terhadap rendahnya ketersediaan informasi yang terkait kebencanaan di Kota Bandar Lampung. koran. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim. dan bertatap muka langsung dengan masyarakat melalui aparatur pemerintah dari pusat sampai daerah. Hal ini menandakan masih diperlukannya berbagai macam upaya dalam penyampaian informasi terkait kebencanaan tersebut.89 persen dan informasi dampak perubahan iklim sebesar 35. sedangkan untuk informasi perubahan iklim sebesar 37. Tabel IV-5 memberikan ilustrasi persepsi warga terhadap berbagai macam informasi terkait kebencanaan. Hal ini pertanda bahwa kesadaran warga terhadap pentingnya informasi terkait kebencanaan masih kurang. misalnya untuk informasi penanganan bencana hanya 56. Berdasarkan beberapa jenis informasi terkait bencana. Secara umum terjadi lag antara kegunaan dan ketersediaan. jauh dirasakan berguna menurut warga dibandingkan dengan jenis informasi lainnya. Dalam tabel ini informasi yang terkait kebencanaan dilihat dari perspektif kegunaan dan ketersediaan. majalah.94 persen.78 persen). Dari data juga terlihat bahwa informasi mengenai peringatan bencana. Ketersediaan informasi yang terbanyak adalah mengenai peringatan bencana (50. penanganan bencana. dan ini mendukung informasi sebelumnya bahwa peran pemerintah dalam memberikan informasi kepada masyarakat relatif masih rendah. Ketidaktahuan warga mengenai informasi penanganan bencana. Informasi ini bisa disampaikan melalui media televisi. ternyata informasi mengenai peringatan bencana. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim terlihat dari rendahnya partisipasi warga dalam memberikan persepsi terhadap informasi tersebut.

50 22.50 20.71 22.89 23. Persepsi Warga Terhadap Berbagai Macam Informasi Terkait Kebencanaan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Wilayah Peringatan Bencana Kegunaa n Ketersedia an Penanganan Bencana Kegunaa n Ketersedia an Perubahan Iklim Kegunaa n Ketersedia an Dampak Iklim Kegunaan Perubahan Ketersedia an Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Grand Total 72.92 85. menjahit serta pengolahan hasil perikanan.71 55. warga pria mengaku merasa berat hati untuk pindah. C. maupun program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. jika diberikan pelatihan-pelatihan oleh pemerintah untuk menambah keahlian.00 61.14 25.29 57. Namun hal tersebut tetap berdasarkan persetujuan suami masing-masing. kondisi perumahan masyarakat yang padat dengan lingkungan yang relatif kurang layak.58 27.78 55.00 58.61 38. namun jika lokasi tempat tinggal yang sekarang sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali lagi.00 73.64 30. 70 .50 36.41 62.00 48.46 44.00 36.00 6.73 70.69 19.25 30.07 17.04 56.94 19.00 51.00 48.00 32.00 8.00 45.39 34.50 55.16 17.00 41. baik modal untuk memulai usaha baru atau modal ketrampilan baru. para nelayan mengaku bersedia mengikuti pelatihan.37 45.00 37.07 76.33 44. Sedangkan untuk para wanita bersedia untuk dilakukan relokasi tempat tinggal.42 37.50 50.78 10.00 60.39 37. Pelatihan yang diharapkan berupa pelatihan bercocok tanam.44 47.95 41.04 33.83 20.00 76.19 27. perubahan jenis mata pencaharian.00 70.97 74.Tabel 4-5. Namun.64 22. Tanggapan dan harapan warga adalah sebagai berikut: Wilayah Pesisir Andaikan terjadi bencana yang sangat besar dan pemerintah menyarankan untuk dilakukan relokasi tempat tinggal. Keputusan berpindah pun harus merupakan hasil keputusan bersama dengan istri dan keluarga.52 38. maka kepada warga ditanyakan pendapat dan harapan apabila proyek tersebut terlaksana dan pemerintah menetapkan kebijakan relokasi tempat tinggal.50 36.31 34.26 19.64 20. maka mereka bersedia untuk dipindahkan dengan syarat diberikan fasilitas dan tempat tinggal yang layak serta lokasi pindah diharapkan tidak berjauhan dengan laut.00 50.00 56.07 40.46 62.94 16.93 55.30 7.97 Respon Terhadap Isue Relokasi Karena potensi berulangnya kejadian iklim ekstrim yang dapat menyebabkan bencana di masa yang akan datang.06 53. agar mereka tetap dapat bekerja seperti semula (melaut).64 30.00 35. serta adanya rencana pemerintah membangun proyek water front city di daerah pesisir.00 17. para nelayan mengaku sulit (tidak bersedia) karena berkaitan dengan keahlian yang dimiliki.33 38. Bentuk bantuan yang diharapkan warga di wilayah pesisir berupa tempat tinggal dan modal. Sedangkan kemungkinan untuk merubah jenis pekerjaan secara permanen.

Identifikasi bentuk kegiatan adaptasi dari pemerintah yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat Bentuk kegiatan adaptasi menghadapi bencana yang dilakukan masyarakat umumnya bersifat struktural (fisik) seperti memperlebar/memperdalam saluran. Hal ini terutama diminati oleh ibu-ibu yang masih muda. asalkan daerah baru tersebut memang lebih layak dibandingkan dengan daerah yang mereka tempati saat ini. dengan cara melakukan kampanye hidup sehat. meninggikan lantai rumah atau membuat rumah denga dua tingkat. masyarakat Pasir Gintung bersedia untuk relokasi. selain itu warga juga mengharapan bantuan peralatan membuat emping. atau service HP. misalnya pelatihan pembuatan telur asin. bencana tersebut dianggap sesuatu hal yang biasa. karena merasa pekerjaan tersebut terlalu berat bagi mereka. seperti tidak membuang sampah sembarang di dalam sungai. memperkuat konstruksi rumah. Kegiatan yang bersifat non-struktural melalui inisiatif masyarakat masih sangat kurang. Pelatihan yang diharapkan berupa pelatihan membuat emping. D. warga berharap dibekali keterampilan agar dapat bertahan hidup. penguatan kelembagaan dan lainnya berasal dari program pemerintah. asalkan pengelolaan dilakukan dengan baik. Oleh karena itu kegiatan yang diharapkan masyarakat untuk mencegah terjadinya banjir adalah pengerukan sungai yang dipenuhi oleh sampah-sampah pasar. Dalam kondisi dimana tidak memiliki pilihan lain. 71 . banjir seringkali disebabkan oleh meluapnya air sungai. Selain itu. Namun. sementara yang sudah tua tidak berminat. bila bencana yang terjadi sangat parah dan memaksa mereka untuk berpindah lokasi. Sedangkan para wanita mengaku bersedia mengikuti program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Sebagian besar kegiatan yang bersifat non-struktural seperti pemberdayaan masyarakat. pindah ke lokasi. dan membuat tanggul dalam menghadapi banjir. sehingga tidak terpikirkan oleh warga apabila mereka harus pindah tempat tinggal ke wilayah lain. Kegiatan lain yang diharapkan masyarkat adalah adanya penertiban lingkungan misalnya. peraturan zona atau batas aman antara pemukiman dengan sungai. Untuk itu perlu juga adanya penyadaran masyarakat mengenai kebiasaan hidup sehat. Pada wilayah yang sering mengalami banjir seperti Pasir Gintung. Wargapun bersedia bila ada pelatihan untuk peningkatan ketrampilan mereka. mereka berharap pemerintah bisa menyediakan tempat tinggal yang layak dan lapangan pekerjaan yang baru. dan membeli atau membuat sumur pompa atau memperdalam sumur kalau menghadapi kekeringan.Wilayah non Pesisir Pada wilayah yang mengalami bencana kekeringan seperti Kelurahan Batu Putuk. Keenggan tersebut karena masyarakat khawatir terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan.

Adaptasi yang Terjadi di Wilayah Pesisir dan Non Pesisir Ketika Terjadi Bencana Banjir di Lampung. menambah persediaan makanan dan menambah persediaan bahan bakar. meninggikan lantai. terutama di pemukiman kumuh Masyarakat belum merasakan keberadaan dan fungsi SIBAD Mengikuti pertemuan dan mulai mempersiapkan diri Tidak menyeluruh sampai pada masyarakat Hanya berlangsung 1 bulan. membuat tanggul. 72 . Jenis adaptasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan wilayah masing-masing. dll Pembuatan atau mereproduksi dan menyebarkan buletin sistem peringatan dini Pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin di kawasan rawan bencana Melakukan Gerakan Bersih Pantai dan Laut bersama masyarakat secara rutin/berkala Melakukan Gerakan Bersih Sungai dan Saluran bersama masyarakat secara rutin/berkala Melarang nelayan ke laut saat bencana gelombang pasang air laut Pembuatan sumur bor untuk fasilitas umum RESPON MASYARAKAT Melaksanakan dengan banyak keterbatasan Belum sepenuhnya sampai pada masyarakat. Gambar 4-11. menunjukkan perbedaaan tersebut. pindah ke lokasi yang tidak mengalami banjir. Misalnya adaptasi yang dilakukan di wilayah non pesisir akan berbeda dengan adaptasi di wilayah pesisir. Kegiatan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan penanganan bencana yang bersifat non-struktural dan respon masyarakat NO 1 KEGIATAN PEMERINTAH Komunikasi interaktif melalui radio dan televisi tentang mitigasi bencana Sosialisasi penerapan sistem komunikasi peringatan dini dan tanggap darurat berbasis Keluarga Pembentukan dan penguatan Siaga Bencana Tingkat Kelurahan (SIBAD) di 13 kecamatan Sosialisasi mengenai tanda-tanda terjadinya bencana melalui pertemuan-pertemuan kelompok masyarakat. memperdalam saluran air. Gambar 4-11. setelah itu tidak pernah lagi Ikut berpartisipasi setiap bulan 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ikut berpartisipasi setiap bulan Ada yang taat dan ada yang tidak taat Tidak efektif.Tabel 4-6. karena kualitas airnya buruk E. kelurahan. mulai dari tetap tinggal dirumah. Identifikasi Adaptasi Masyarakat Bencana Banjir Adaptasi yang dilakukan oleh warga ketika bencana banjir sangat beragam.

Dengan demikian sebagian besar tetap tinggal di rumahnya masingmasing.Berdasarkan gambar terlihat prilaku warga ketika bencana banjir adalah seperti berikut ini : 1.45 persen warga yang pindah ke lokasi tidak banjir. Banjir rob relatif bisa diantisipasi oleh masyarakat. warga mengaku tidak mau pindah dikarenakan khawatir terhadap lapangan pekerjaan. Tujuannya adalah untuk berpindah ke lokasi yang lebih tinggi. Seperti dijelaskan sebelumnya. Namun. hanya 7. Bencana banjir yang terjadi di wilayah pesisir adalah bencana banjir rob. hanya 9.93 persen) warga tetap tinggal di rumah ketika banjir. ketika terjadi banjir. Secara umum dari total warga mengatakan bahwa ketika bencana banjir tiba. warga menyediakan alat transportasi yang disiapkan dalam menghadapi banjir. hampir sebagaian besar warga masih tetap tinggal di rumah. bila bencana yang terjadi sangat parah dan memaksa mereka untuk berpindah lokasi.57 dan 5 persen dari jumla warga di masingmasing kelurahan. 2. Jika dilihat berdasarkan wilayah. sebanyak 59. Hal ini disebabkan karena Berdasarkan hasil FGD. 41 persen. Sisanya tetap tinggal di rumah. ditemukan fenomena warga yang pindah lokasi di setiap kelurahan dengan jumlah yang relatif sedikit. Warga Pasir Gintung yang keluar rumah ketika banjir adalah sebesar 82 persen.69 persen dari total warga di wilayah ini yang pindah lokasi. sedangkan di Kota Karang dan Panjang Selatan berturut turut sebanyak 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pindah tidaknya warga ke 73 . Di wilayah non pesisir. maka perilaku pindah ke lokasi yang tidak banjir banyak dilakukan oleh warga di wilayah non pesisir daripada di wilayah pesisir. Misalnya di kelurahan Kangkung. Sedangkan di wilayah pesisir. Lokasi yang menjadi tempat tinggal sementara biasanya rumah sanak saudara yang tidak mengalami banjir. mengingat di wilayah ini. Sebagian besar (85. perilaku pindah lokasi hanya terjadi di Pasir Gintung. sebanyak 14. Sedangkan di wilayah Sukabumi Indah. dari semua warga di kelurahan amatan. sedangkan di 2 wilayahnya lainnya tidak ada. antara lain becak. Perilaku pindah ke lokasi yang tidak banjir. warga yang tetap tinggal rumah sebanyak 29. maka ketika banjir rob datang. jumlah warga yang tetap tinggal di rumah lebih besar dibandingkan dengan warga yang keluar rumah. Sedangkan di wilayah pesisir. Peredaan ini disebabkan karena jenis banjirnya yang berbeda. Secara umum. Perilaku ini menggambarkan respon warga yang mencari tepat tinggal sementara pada saat terjadi banjir. Perilaku tetap tinggal di rumah ketika banjir tiba. Dari semua warga di Pasir Gintung. Berbeda halnya dengan banjir yang terjadi di wilayah non pesisir. Sedangkan di wilayah pesisir hanya 5. Jika dilihat dari wilayah. yang tidak bisa diprediksi.46 persen. bahwa di wilayah non pesisir.54 persen meninggalkan rumah (keluar rumah) ketika bencana banjir tiba. maka fenomena banyaknya warga yang keluar rumah terjadi di wilayah non pesisir. Mengingat sebagian besar warga sudah meninggikan rumahnya. artinya sebanyak 40. Perilaku ini menggambarkan respon warga yang memilih tetap tinggal dirumah atau keluar sementara.18 persen. hanya sebagian kecil saja yang keluar rumah. mereka berharap pemerintah menyediakan tempat tinggal dan lapangan pekerjaan yang baru. Jika dilihat secara detail. di wilayah ini hampir sebagaian besar warga keluar rumah ketika banjir tiba. Sebagai langkah antisipasi.78 persen warga yang pindah ke lokasi tidak banjir ketika terjadi banjir. Seperti yang terjadi di wilayah Pasir Gintung. sebanyak 34 persen yang pindah lokasi.

dan (5) melakukan ritual meminta hujan. Dampak kerugian kekeringan dapat (a) berupa penurunan produksi. yang terjadi pada daerah tertentu menyebabkan timbulnya respon masyarakat untuk melakukan ritual mendatangkan hujan. terlihat bahwa fenomena banjir tidak mempengaruhi warga dalam memupuk persediaan makanan dan bahan bakar. dan hal ini sebagian besar dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. Adaptasi terhadap bencana kekeringan yang terjadi di Kota Banda Lampung dapat berupa. karena tanaman tidak tumbuh secara normal. memperdalam saluran dan meninggikan lantai rumah. Dari berbagai adaptasi tersebut. 3. Sehingga untuk bertahan. (1) membeli air untuk keperluan sehari-hari. agar mencukupi untuk keperluan sehari hari. 4. mengurangi konsumsi air dan memompa air dari sumber terdekat. (2) kondisi fisik rumah. Bencana Kekeringan Kekeringan biasanya terjadi antara bulan Juni-Agustus.lokasi lain sangat dipengaruhi oleh (1) ada tidaknya famili di lokasi tidak banjir yang bisa membantu mereka. Semuanya dalam rangka menyediakan dan menjaga ketersediaan air. (3) alasan keamanan. masyarakat harus beradaptasi untuk meminimalisir kerugian kekeringan. Adaptasi Kekeringan Warga di Kelurahan Amatan. (3) memompa air dari sumber terdekat. Untuk lebih detailnya berikut ini dijelaskan adaptasi warga terhadap kekeringan: Gambar 4-12. (4) pindah ke lokasi lainnya yang tidak terkena kekeringan. secara umum terdapat tiga bentuk adaptasi yang relatif banyak dilakukan oleh warga dibandingkan dengan adaptasi lainnya yaitu memberli air. Berdasarkan Gambar 4-12. Fenomena kekeringan yang berkepanjangan. Hal ini terjadi di wilayah pesisir. bahkan banyak yang mati. dan (b) munurunnya sanitasi keluarga dan lingkungan. (2) mengurangi konsumsi air. Bandar Lampung 74 . Adaptasi lainnya yang relatif banyak dilakukan selain dari yang telah dijelaskan diatas adalah perilaku membuat tanggul.

persentase jumlah warga yang memompa air dari sumber terdekat di wilayah pesisir lebih besar daripada wilayah non pesisir. tercatat sebanyak 58 persen yang membeli air saat kekeringan terjadi di wilayah ini. Disetiap wilayah biasanya terdapat sumur sebagai sumber air bersama. karena keadaan geografis yang tidak memungkinkan orang bisa berjualan air. Respon membeli air. jual beli air di wilayah ini merupakan hal biasa terjadi pada saat kekeringan. memiliki sumber daya air yang bisa diandalkan ketika kekeringan.1. Dengan demikian warga di wilayah ini mengandalkan sumber air yang tersedia. wilayah seperti Pasir Gintung.86 persen. Jika dilihat secara detail untuk setiap kelurahan. pada situasi seperti ini secara otomoatis masyarakat berperilaku hemat air. walaupun terjadi kekeringan di wilayah Bandar Lampung.27 persen di wilayah pesisir dari total warga yang melakukan pengurangan konsumsi air. yaitu Sukabumi Indah (27. Perilaku adaptasi memompa air banyak dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. jumlah warga di wilayah pesisir yang melakukan pembelian air di saat kekeringan sebanyak 37. Demikian juga di dua wilayah lainnya. Selain itu dapat juga diakibatkan tidak ada orang yang menjual air. Perilaku adaptasi membeli air. 75 . Kangkung.97 persen. Berdasarkan data.7 persen dari total warga masing-masing wilayah. Perilaku adaptasi memompa air dari sumber terdekat. Jika dilihat secara detail proporsi di masing-masing wilayah/kelurahan. Perilaku adaptasi mengurangi konsumsi air. terutama untuk aktifitas mandi dan mencuci. buang hajat dan keperluan memasak. Jika dilihat secara detail. di Kota Karang sebanyak 67. Sementara itu proporsi warga di wilayah pesisir relatif merata dengan kisaran proporsi sebesar 22-30. Respon pertama saat kekeringan terjadi adalah pengurangan konsumsi air.66 persen di wilayah non pesisir dan 8.85 persen dari total warga Lampung. ketersediaan air diperoleh dengan cara memopa air dari sumber terdekat. Dengan demikian. Demikian halnya untuk wilayah pesisir. Proporsi ini terbesar jika dibandingkan dengan kelurahan lainnya di wilayah pesisir. Tercatat hanya sebesar 20 persen dari jumlah warga di Pasir Gintung yang memompa air dari sumber terdekat.50 persen dari total warga di Panjang Selatan).05 persen warga di wilayah ini membeli air. sedangkan di Panjang Selatan sebanyak 62. Kota Karang dan Panjang Salang.50%. Sedangkan di Sukabumi Indah sebanyak 68. sedangkan untuk wilayah non pesisir sebanyak 19. Bagi warga yang tidak membeli air. 3. Tercatat sebanyak 8. 2. Hal ini dimungkinkan karena pasokan air di wilayah ini relatif tersedia dibandingkan dengan wilayah lainnya. Tercatat sebanyak 82.52 persen dari total warga Lampung. Respon terhadap kekeringan dengan cara membeli air dilakukan terutama untuk keperluan mandi. Wilayah di pesisir yang relatif banyak membeli air adalah Kelurahan Kangkung. Berbeda dengan warga di Kelurahan Pasir Gintung dan Sukabumi Indah. Dari semua warga di Pasir gintung. terdapat dua wilayah yang warganya melakukan upaya pengurangan konsumsi air relatif lebih tinggi persentasenya dibandingkan dengan wilayah lainnya. Akan tetapi warga yang melakukan hal ini tidaklah banyak. semua warga di kelurahan Batu Putu tidak melakukan pembelian air disaat terjadi kekeringan.59 persen dari total warga di Sukabumi Indah) dan Panjang Selatan (27. lebih banyak dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. mengingat kedua lokasi ini berada di dekat perkotaan.

Rangkuman tentang besaran dampak bencana serta upaya-upaya penanggulang warga terhadap masalah-masalah yang timbul dapat dilihat pada Tabel 4. Intesifikasi dan ekstensifikasi pertanian. dapat di bantu oleh harga jual tanaman lain yang relatif lebih stabil. Pola nafkah ganda (keragaman nafkah). kebutuhan hidup dapat dibantu dari hasil panen sayuran dan buah-buahan. baik di wilayah pesisir maupun di wilayah non pesisir. Pola nafkah ini dilakukan dengan dua cara. pertama adalah keragaman nafkah. Demikan juga adakalanya tanaman perkebunan yang sudah berbuah. Strategi nafkah yang kedua yang dilakukan masyarakat pada kelurahan amatan adalah pola nafkah ganda. masyarakat menanam beberapa jenis tanaman perkebunan. Strategi ini juga berlaku baik pada masyarakat dengan mata pencaharian baik di sektor on farm maupun di sektor off farm. dan (3). menjadi gagal panen karena adanya angin puyuh yang menyebabkan buah menjadi rontok. Yang kedua adalah dengan cara memberdayakan anggota keluarganya. mereka juga memanfaatkan lahannya untuk menanam tanaman hortikultur seperti sayuran dan buah-buahan. Biasanya dalam satu lahan. Berdasarkan hasil survey dan FGD di kelurahan amatan.7 dan Tabel 4-8. Intensifikasi pertanian dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Batu Putuk dengan cara diversifikasi keragaman jenis tanaman. maka keberadaan bencana banjir memberikan dampak kerugian yang lebih lebih besar terhadap ekonomi masyarakat Kota Bandar Lampung. 76 . dimana sambil menunggu hasil panen dari tanaman perkebunan. Dalam kondisi demikian. Aktivitas di off farm biasanya merupakan sampingan di luar pekerjaan pokok. Bila dibandingkan antara bencana banjir dan bencana kekeringan. yaitu (1). seperti istri maupun anak-anak yang sudah dewasa. Strategi pola nafkah ganda ini dilakukan hampir di semua kelurahan amatan. Selain menanam tanaman perkebunan. tanaman hortikultur dapat membantu masalah ekonomi yang sulit. dapat ditarik informasi bahwa strategi nafkah yang dilakukan masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung selama ini adalah intensifikasi pertanian dan pola nafkah ganda. (2).Strategi Nafkah Strategi nafkah yang umum terjadi pada masyarakat ada tiga. Migrasi atau gerak penduduk secara permanen. Sehinggan bila harga suatu tanaman jatuh. yang biasanya terdiri dari aktivitas-aktivitas ekonomi pokok di bidang on farm dan off farm. Tanaman hortikultur ini memiliki daur yang lebih pendek daripada tanaman perkebunan. yaitu kombinasi dari beberapa matapencaharian yang dimiliki oleh seseorang.

Tabel 4-7. Dampak Bencana yang Menimpa Warga Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009
Panjang Selatan Masalah Banji r (%) 10 35 22,5 10 27,5 17,5 42,5 Kek erin gan (%) 10 47,5 5 2,5 10 12,5 25 Pasir Gintung Banj ir (%) 6 18 48 44 4 18 40 Kek erin gan (%) 2 40 2 2 4 6 14 Kota Karang Ban jir (%) 8,9 23,2 8,9 12,5 12,5 19,6 48,2 Keke ringa n (%) 3,6 39,3 10,7 17,9 25 Batu Putuk Keke ringa n (%) 10 32,5 2,5 35 32,5 7,5 Sukabumi Indah Ban jir (%) 12,9 6,5 6,5 3,2 3,2 22,6 Kekerin gan (%) 3,2 54,8 3,2 35,5 Kangkung Ke ker ing an (% ) 5,1 23, 1 2,6 2,6 15, 4 23, 1 30, 8

Ban jir (%) 2,5 5 -

Ban jir (%) 7,7 5,1 7,7 17,9 23,1 41

Pangan Air minum Rumah rusak Kerusakan asset Lapangan pekerjaan berkurang Berhutang Penyakit Penurunan produksi pertanian/t ernak/ ikan Kriminalit as Limbah

22,5

7,5

2

-

21,4

10,7

5

40

-

-

17,9

7,7

7,5 17,5

5 7,5

12

-

3,6 23,2

7,1 5,4

-

-

6,5 3,3

3,2 -

5,1 28,2

5,1 28, 2

Dari Tabel 4-8. dapat ditarik informasi bahwa, secara parsial dampak dari bencana banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung memiliki besaran yang relatif kecil. Besaran dampak ini diperoleh berdasarkan persepsi warga terhadap besarnya dampak bencana yang mereka rasakan pada berbagai aspek ekonomi. Dalam kenyataannya bencana yang terjadi di Bandar Lampung memang relatif masih jarang terjadi, bersifat lokal, dengan skala yang relatif kecil bila dibandingkan dengan daerah-daerah bencana lainnya. Namun bila melihat potensi kejadian iklim ekstrim yang semakin meningkat di masa datang, maka besaran dampak juga akan semakin besar. Tabel 4-8. Rangkuman Persepsi Masyarakat di Bandar Lampung Terhadap Besaran Dampak Bencana, serta Upaya Penanggulangan yang Dilakukan.
No 1 Masalah Terganggunya mata pencaharian utama: turunnya pendapatan Jumlah pengangguran Besaran Upaya Penanggulangan 16,73% warga menyatakan terganggunya Mencari alternatif mata pencaharian utama saat banjir mata pencaharian 9,96% warga menyatakan terganggunya lain, berhutang mata pencaharian utama saat kekeringan

2

11,3% warga mengatakan sangat susah mencari pekerjaan lain saat kejadian bencana banjir 77

3

Kelangkaan Pangan

4

Harga beberapa komoditi

5

Kelangkaan air minum

10,9% warga mengatakan sangat susah mencari pekerjaan lain saat terjadinya bencana kekeringan 5,9% warga menyatakan ada kelangkaan pangan saat tejadi bencana banjir 5,5% warga menyatakan ada kelangkaan pangan saat terjadi bencana kekeringan. Saat terjadi banjir, harga beras: meningkat 13,65 persen, ikan: 28,86 persen, palawija: 24 persen Saat terjadi kekeringan, harga beras meningkat: 12,79 persen, ikan meningkat: 13,71 persen dan palawija: 26,73 persen 19,1% warga menyatakan ada kelangkaan air minum saat terjadi bencana banjir 43,4% warga menyatakan ada kelangkaan air minum saat terjadi bencana kekeringan

Makan seadanya, meminta bantuan, dan berhutang. Makan seadanya, meminta bantuan, dan berhutang.

6

Kerusakan rumah

7

Kerusakan asset

8

Berhutang/ meminjam uang, Timbulnya berbagai penyakit

9

10

Penurunan produksi pertanian/ ternak/ ikan.

11

Evakuasi/ mengungsi Limbah

12

Mencari sumber lain, membeli air galon, menghemat pemakaian air, mengambil air dimasjid. 16,4% warga menyatakan mengalami memperbaiki rumah. kerusakan rumah pasca kejadian bencana banjir pasca kejadian kekeringan hanya 2% warga yang menyatakan mengalami kerusakan rumah 14,8% warga menyatakan mengalami Diperbaiki kerusakan aset pasca kejadian banjir pasca kejadian kekeringan hanya 1,2% warga yang menyatakan mengalami kerusakan aset 15,2% warga mengaku berhutang saat menggadaikan terjadi bencana banjir barang. 16% warga mengaku berhutang saat terjadi bencana kekeringan. 34% warga menyatakan timbul berbagai Berobat dan penyakit saat kejadian bencana banjir memelihara 22,3% warga menyatakan timbul berbagai kebersihan penyakit saat kejadian bencana kekeringan 12,1% warga mengeluhkan nya saat Tanaman dipupuk, kejadian bencana banjir diversifikasi 10,9% warga mengeluhkan nya saat tanaman kejadian bencana kekeringan. mencari pekerjaan lain berhutang 9% warga menyatakan mengungsi saat terjadi bencana banjir tetapi tidak di saat terjadi bencana kekeringan 14,1% warga mengeluhkannya saat dibersihkan dan di kejadian bencana banjir daur ulang 6,6% warga juga mengeluhkan hal serupa saat kejadian bencana kekeringan

78

BAB 5 PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF
5.1. Metodologi untuk Pemetaan Kerentanan dan Kapasitas Adaptif

Untuk menentukan indeks kapasitas dan kerentanan, kami menggunakan data survey sosio-ekonomi 2005 tingkat kelurahan (desa) dari Badan Pusat Statistik (BPS), sedangkan untuk beberapa data biofisik diperoleh dari sektor terkait atau dari citra satelit yang dihasilkan berdasarkan teknik-teknik interpretasi dengan GIS (Tabel 5-1). Semua data dibobot menurut kepentingan relatif mereka dalam membentuk kerentanan (5) dan kapasitas (C) untuk beradaptasi. Tabel 5-1. Indikator yang digunakan untuk mendefinisikan Kerentanan dan Kapasitas dan bobotnya
A A1 A2 Kapasitas Fasilitas listrik Pendidikan 0.07 0.13 0.20 0.27 0.30 Bobot B Kerentanan Jumlah rumah tangga yang tinggal di bantaran sungai Jumlah bangunan pada bantaran sungai Layanan air dari PDAM Kepadatan penduduk Kemiskinan Fraksi pantai Fraksi sungai Fasilitas non-drainase Bukan area terbuka hijau Bobot 0.05 0.05 0.10 0.10 0.20 0.10 0.10 0.20 0.10

0.05 B1 0.25 B2 B3 B4 B5 B6 B7 0.30 B8 0.20 B9 0.20 0.30 0.20 0.10 0.20 0.20

A21 TK A22 SD A23 SMP A24 SMA A25 Universitas A3 A4 Sumber utama pendapatn Fasilitas kesehatan

A41 Puskesmas A42 Poliklinik A43 Posyandu A44 Praktek bidan A45 Praktek dokter A5 Infrastruktur jalan

Catatan: *Pada hal fasilitas, Poliklinik adalah lebih baik dari Puskesmas karena poliklinik dioperasikan oleh pihak swasta, tetapi biaya pada poliklinik lebih tinggi dari biaya di Puskesmas. **Dari PDAM, *** Data dibangkitkan dari citra satelit dan peta topografi, **** Data dari RTRW 2005-2015 (Bappeda, 2003). Data lainnya dari data Potensi Desa BPS (2006). Untuk mengukur posisi relatif kerentanan dan kapasitas untuk beradaptasi suatu kelurahan, kami menentukan indeks kapasitas (CI) dan indeks kerentanan (VI). Indeks Kapasitas (CI) dikembangkan dengan menggunakan lima indikator utama (A1, ..., A5). Setiap indikator diberi skor. Indikator A1 adalah persentase rumah tangga di desa yang menggunakan fasilitas listrik yang mewakili tingkat kekayaan masyarakat dari desa-desa. Indikator A2 adalah pendidikan yang dapat mewakili kapasitas masyarakat di desa-desa dalam mengelola risiko. Semakin tinggi
79

SD (E). Semua nilai-nilai sub-indikator dinormalisasi berdasarkan populasi dari masing-masing Kelurahan. Penskoran dari nilia IA2 pada tiap kelurahan dihitung menggunakan rumus berikut: IA2i= 1/Pi * (0. Indikator ini lebih lanjut dibagi ke dalam 5 sub-indikator yaitu: jumlah Poliklinik (Pl). Untuk data ini kita mendefinisikan desa di mana infrastruktur jalan yang dominan terbuat dari aspalt akan memiliki nilai 1 Sementara bagi mereka yang non-aspalt akan mempunyai nilai 0. Karena nilai indikator sangat kecil. Indikator ini terdiri dari lima sub-indikator yaitu jumlah TK (N). Semakin baik fasilitas kesehatan di Kelurahan maka kelurahan ini memiliki kapasitas yang lebih tinggi.3*Pli+0. SMP (J) pada tingkat kelurahan dan jumlah SMA (H) pada tingkat kecamatan dan jumlah Universitas (U) pada tingkat kota.50 Perdagangan. Jasa 1.25 Pertambangan dan industri 0. transportasi dan bisnis komunikasi 0.25. Pij. Klinik Bidan (B) dan Klinik Dokter (D). semua nilai dibagi dengan skor tertinggi untuk mendapatkan nilai-nilai skor indikator berkisar dari 0 hingga 1 Indikator 5 adalah jenis dominan dari infrastruktur jalan. dan kecamatan-k kelurahan-i. Nilai indikator berdasarkan sumber utama pendapatan disajikan pada Tabel 5-2. Pk).2*Di) Karena nilai skor indikator ini sangat kecil. kelurahan di mana pertanian merupakan sumber utama pendapatan masyarakat. Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas. Indikator A3 merupakan sumber penghasilan utama masyarakat di kelurahan. maka nilai indikator adalah 0. Rumus untuk menghitung CI adalah sebagai berikut: 80 .00 Indikator A4 adalah fasilitas kesehatan yang mewakili akses masyarakat ke fasilitas kesehatan.2*Psi+0. Nilai skor di setiap Kelurahan IA4 dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: IA4i= 1/Pi * (0.07*Ni+0. kecamatan-j Kelurahan-i.pendidikan kapasitas mereka dalam mengelola risiko lebih baik. Posyandu (Ps). Untuk kelurahan-kelurahan di mana sumber utama pendapatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim akan memiliki skor kapasitas rendah.20*Ji) + 1/Pij*(0.27*Sj)+1/Pik*(0.75 dll. Tabel 5-2.1*Bi+ 0.33*Uk) Dimana Pi.13*Ei+0. Dalam kasus ini misalnya. dan Pik adalah jumlah populasi pada kelurahan-i. Nilai indikator berdasarkan jenis sumber pendapatan utama di suatu kelurahan No 1 2 3 4 Sumber utama pendapatan Skor (nilai indikator) Pertanian 0. maka semua indikator dinormalkan dengan skor tertinggi untuk mendapatkan kisaran skor antara 0 dan 1.2*Pki+0. Semua nilainilai sub-indikator dinormalisasi dengan jumlah populasi Kelurahan yang bersangkutan.

... agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil. sedangkan penambahan jarak 100 meter digunakan untuk mengantisipasi air pasang ekstrem. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil. Kelurahan dengan fraksi pesisir tinggi akan lebih rentan daripada Kelurahan dengan fraksi pesisir kecil. Dengan rumus ini. Fraksi pesisir ditentukan dengan membagi daerah yang terkena gelombang pasang 100 m di setiap Kelurahan dengan luas wilayah Kelurahan tersebut(Gambar V-1). B8) sebagaimana ditetapkan dalam Tabel 4. Hal ini menempatkan kelurahan tersebut lebih rentan. Indikator B3 adalah fraksi dari Kelurahan yang menerima layanan air minum. Hal ini dikarenakan genangan air pasang tinggi (rob) biasanya digunakan sebagai indikator dampak kenaikan permukaan air laut. Nilai indikator ini adalah dinormalkan dengan ukuran penduduk Kelurahan. semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimal. maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimalnya. karena tingkat pemaparan kelurahan ini terhadap dampak kenaikan permukaan laut akan lebih tinggi daripada yang terletak di pedalaman. didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat relatif pentingya suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas.CI i = ∑ wij * I Aij j =1 5 Di mana subskrip -ith mewakili desa -ith dan Wij adalah nilai bobot untuk indikator A-jth dari desa -ith. Nilai indikator ini dinormalisasikan dengan jumlah penduduk pada kelurahan tersebut. Untuk mendapatkan nilai-nilai dari indikator berkisar dari 0 hingga 1. Pemilihan nilai-nilai bobot bersifat subjektif. maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dinormalkan dengan nilai maksimalnya. B5 adalah indikator jumlah rumah tangga miskin. Semua nilai-nilai indikator ini sudah dinormalisasi oleh jumlah maksimum bangunan yang terletak di tepi sungai. agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1. Kelurahan di mana sebagian besar masyarakat mendapatkan air minum dari Perusahaan Air Minum Negara (PDAM) akan kurang rentan terhadap dampak kekeringan karena PDAM biasanya masih bisa mensuplai air minum pada semua musim (kering atau basah). Indikator B2 adalah jumlah bangunan yang terletak di tepi sungai. Indikator B1 adalah persen dari rumah tangga di Kelurahan yang tinggal di tepi sungai. Indeks Kerentanan (VI) juga dikembangkan dengan menggunakan pendekatan yang sama. Nilai skor dari indikator ini adalah satu dikurangi dengan nilai skor yang telah dinormalkan tadi. Ada delapan indikator utama (B1. Indikator B6 adalah fraksi wilayah pesisir di Kelurahan. . Indikator B4 adalah kepadatan penduduk di mana semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka akan lebih tinggi tingkat paparan dari masyarakat terhadap bencana. Serupa dengan Indeks Kapasitas (CI). 81 . semakin tinggi kapasitas kelurahan. semakin tinggi nilai indeks kapasitas.

Bagian atas aliran sungai diberi nomor notasi sama dengan 1. Gambar V-2A mengilustrasikan order tertinggi sungai ditandai dengan garis merah. bagian dari sungai yang terbentuk sebagai hasil dari pertemuan antara order tertentu dianggap sebagai tingkat order berikutnya. Semakin tinggi indikator ini. jaringan sungai dinotasikan sebagai angka berdasarkan tingkat (order). Namun. dan pertemuan antara order-2 mewakili order ke-3. Dalam studi ini. Dalam metode ini. semakin tinggi tingkat kerentannya. dalam kasus di mana dua order dengan tingkat yang berbeda bertemu di segmen tertentu. sungai memiliki order-4 sebagai tingkat tertinggi. Indikator B8 mengindikasikan fraksi kelurahan yang tidak memiliki fasilitas drainase. 82 . Segmen sungai di mana kita dapat menemukan pertemuan antara order-1 didefinisikan sebagai order ke-2 sungai. Indikator B9 non-kawasan terbuka hijau yang akan menentukan kapasitas tanah dalam menyerap curah hujan. hal ini dapat mengacu pada order tertinggi.Area affected by tide+100 m Gambar 5-1. Urutan tertinggi ini biasanya diwakili oleh lokasi dari akumulasi aliran permukaan. dengan demikian. Area pantai yang dipengaruhi oleh gelombang setinggi +100 m Indikator B7 adalah fraksi sungai yang ditentukan berdasarkan urutan (order) sungai. Berdasarkan aturan ini. Dalam kasus ini. yang sangat sering menjadi sasaran banjir. ditargetkan luas wilayah banjir seperti yang ditunjukkan pada Gambar V-2B diasumsikan sejauh 100 meter ke kiri dan kanan sisi segmen. Order sungai ditentukan dengan menggunakan metode Strahler (1986). hal itu disebut sebagai order-1.

5.A B Gambar 5-2. Kelurahan yang terletak di Kuadran 5 akan memiliki CI rendah dan VI tinggi. 83 . Sedangkan kelurahan yang terletak di kuadran 1 akan mempunyai VI rendah dan CI tinggi.5 ke 0. didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat kepentingan relatif dari suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas. Berdasarkan sistem klasifikasi ini. dengan mengurangi nilai-nilai dengan indeks 0.5. semakin tinggi indeks. Sebagai VI dan nilai-nilai CI berkisar dari 0 hingga 1. dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan kelurahan apabila kelurahan tersebut terletak di kuadran 1. Klasifikasi Kelurahan (Desa) Berdasarkan Indeks Kerentanan dan Kapasitas Untuk mengelompokkan desa-desa berdasarkan tingkat kerentanan dan kapasitas. semakin rentan kelurahan ini.5. maka nilai VI dan CI akan berkisar dari -0.2. 5. jika kelurahan terletak di kuadran 5 terkena bencana tertentu.Penentuan order aliran tertinggi (A) & pendugaan luas dari luapan air sungai (B) Formula untuk menghitung CI adalah sebagai berikut: VI i = ∑ wij * I Bij j =1 5 Di mana subskrip -ith mewakili Kelurahan-ith dan Wij bersifat subjektif. Posisi relatif Kelurahan menurut CI dan VI ditentukan berdasarkan posisi mereka di lima Kuadran seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5-3. Dengan formula ini. semua nilai-nilai VI dan CI dari semua Kelurahan dikurangi 0.

Pengelompokan kelurahan berdasarkan indikator kapasitas dan kerentanan Untuk menilai perubahan V dan C di masa depan.25 Low Vulnerability +0.50 -0.50 -0.High Vulnerability Index +0.50 5 4 +0. kami hanya mempertimbangkan perubahan kepadatan penduduk (berdasarkan proyeksi pemerintah). Faktor-faktor yang digunakan untuk normalisasi skor indikator pada 2025 dan 2050 adalah sama dengan tahun baseline 2005.25 Index +0.25 Low Capacity Index 3 High Capacity Index 2 1 -0. 84 .50 Gambar 5-3. pendidikan dan non-kawasan terbuka hijau (berdasarkan perencanaan wilayah atau RTRW). ini dikarenakan tidak tersedianya data dari sumber lain.25 -0.

19 hingga 0. Pada tahun 2005.431.52. Kondisi tersebut ditunjukkan pula dengan semakin meningkatnya nilai indeks CI. (B) 2025. nilai CI bervariasi pada kisaran 0.41-1. VI berkisar antara 0. pada tahun 2025 VI berkisar antara 0.05.23 hingga 0.(A) (B) (C) Gambar 5-4. mengingat hasil analisis yang diperoleh unuk proyeksi ke depan (2050) pada level yang dapat dikatakan sama dengan kondisi baseline 2005.29-0. (C) 2050 Gambar 5-4 menunjukkan nilai indeks untuk kerentanan dan kapasitas untuk setiap kelurahan di Bandar Lampung.22-0. 85 . sedangkan proyeksi untuk tahun 2050 VI berkisar antara 0. Hal ini mengindikasikan bahwa pada kondisi lingkungan yang sama kemampuan untuk beradaptasi lebih meningkat.96. Berdasarkan hasil ini dapat dijelaskan bahwa tingkat kerentanan sedikit melebar.02.53. dan proyeksi pada tahun 2050 menunjukkan nilai indeks 0. Pada kondisi baseline 2005. Indeks Kerentanan dan Kapasitas Kelurahan (A) Baseline. Berdasarkan hasil proyeksi ini menunjukkan bahwa kemampuan kapasitas atau adaptasi masyarakat di Bandar Lampung cukup baik. namun demikian masih dapat dianggap stabil. tetapi proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan peningkatan yang signifikan 0.51.

(A)

(B) Figure 5-5. Coping capacity index of Kelurahan of Lampung City (A) Baseline, (B) 2025, (C) 2050

(C)

Kondisi kerentanan dan kapasitas ditunjukkan mulai dari sangat rendah (hijau) hingga sangat tinggi (merah). Berdasarkan Gambar 5-5, terlihat bahwa kondisi baseline 2005 dan kondisi proyeksi pada tahun 2025 dan 2050 tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Namun demikian dari gambaran tahun 2050, terlihat bahwa pada sebagian daerah yang semula ditunjukkan dengan warna merah (sangat tinggi) berubah menjadi oranye (tinggi) dan pada sebagian daerah lain warna kuning (medium) berubah menjadi warna hijau (very low), artinya terjadi penurunan VI atau peningkatan CI. Meskipun ada juga sebagian kecil daerah yang semula berwarna kuning (medium) menjadi oranye (high), artinya terjadi peningkatan VI atau penurunan CI.

86

BAB 6 ANALISIS RISIKO IKLIM

6.1. Metodologi untuk Pemetaan Risiko Iklim Untuk menilai risiko iklim saat ini dan masa depan, kita mengadopsi definisi risiko iklim seperti yang disarankan oleh Beer dan Ziolkowski (1995) dan Jones et al. (2004). Risiko didefinisikan sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian iklim tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi dari kejadian iklim tak terduga jika itu terjadi. Dengan demikian risiko dapat disajikan dalam bentuk matriks risiko (Tabel 6-1). Dari Tabel 6-1, kita dapat mendefinisikan risiko iklim akan sangat tinggi jika kemungkinan terjadi kejadian tak terduga sangat mungkin dan konsekuensi dari peristiwa bencana bersifat katastrofik. Tabel 6-1. Matriks risiko sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi jika kejadian tak terduga itu terjadi. Kemungkinan Konsekuensi katastropik kritis Marginal Probabilitas terjadinya suatu kejadian yang tidak diharapkan Kemungkinan Sangat Mungkin Mungkin kecil Sangat Tinggi Tinggi Medium Tinggi Medium Rendah Medium Rendah Sangat Rendah

Konsekuensi dari kejadian akan tergantung pada rentang adaptasi (coping range) yang dibentuk oleh berbagai biofisik, sosial dan faktor-faktor ekonomi. Coping range merupakan selang toleransi dari suatu sistem terhadap keragaman iklim. Apabila kondisi iklim melewati selang toleransi ini maka sistem akan rusak atau keberlanjutan dari sistem akan terganggu (Boer, 2007). Dalam konteks ini, coping range dapat diwakili oleh indeks kerentanan dan kapasitas. Jadi jika peristiwa tak terduga terjadi di kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan kapasitas yang rendah, dampak dari kejadian itu akan tinggi. Jika itu terjadi di kelurahan dengan kerentanan rendah dan kapasitas yang tinggi, dampaknya diharapkan akan rendah. Dalam studi ini, kami mengadopsi lima tingkat coping capacity index seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.4. Untuk memasukkan beberapa bencana iklim yang ditampung dalam matriks risiko iklim, kita memodifikasi kemungkinan kejadian tak terduga yang didefinisikan dalam Tabel 6-2 sebagai indeks yang disebut indeks komposit bencana iklim/composite climate hazard index (CCHI). The Climate Hazard Index (indeks bencana iklim/CHI) is dihitung mengikuti formula:

CCHI i = ∑ wij * CHI ij
j =1

n

di mana CCHIi adalah indeks bencana iklim komposit dari kelurahan ke-i, wij adalah bobot bencana iklim ke-j di kelurahan ke-i dan CHIij adalah indeks bencana iklim kej dari kelurahan ke-i. Jenis bencana iklim yang dianalisis dalam studi ini adalah
87

banjir, kekeringan, longsor dan kenaikan permukaan laut (robs). Angin yang kuat sangat jarang terjadi di kota karena itu kita mengecualikan dalam analisis ini. Bobot dan formula yang digunakan untuk menghitung indeks bencana iklim diberikan pada Tabel 6-2. Matriks risiko iklim yang disesuaikan disajikan pada Tabel 6-3. Tabel 6-2. Bobot dan rumus untuk menghitung indeks bencana iklim
Tipe bencana Bobot* Formula Probabilitas untuk mempunyai curah hujan melebihi 339 mm dikalikan dengan rataan wilayah Kelurahan yang dipengaruhi oleh banjir. Untuk mendapatkan nilai index antara 0 – 1, maka nilai yang diperoleh dari 1.25 hitungan dinormalisasikan dengan nilai maksimumnya. Probabilitas untuk mempunyai bulan kering dengan panjang lebih dari 6 bulan dikalikan dengan jumlah bulan kering di atas 6 bulan (DM6+). Bulan kering adalah bulan dengan curah hujan kurang dari 129 mm. Jika total bulan kering adalah 8 bulan, maka DM6+ = 2 bulan. Untuk mendapatkan nilai index antara 0 – 1, maka nilai yang diperoleh dari 1.50 hitungan dinormalisasikan dengan nilai maksimumnya. Probabilitas untuk mempunyai curah hujan lebih besar dari nilai Q2 dikalikan dengan indikator kelerengan dari kelurhan bersangkutan. Kelurahan yang memiliki lokasi dengan kelerengan lebih besar dari 45o, 0.75 maka nilai indikator sama dengan 1, selainnya bernilai 0.

Banjir

Kekeringan

Tanah Longsor Kenaikan muka air laut Max CCHI

1.00 Fraksi dari kelurahan yang tergenang akibat kenaikan permukaan air laut 4.50

Catatan: Bobot sangat subjektif dan ditentukan berdasarkan Expert Judgement. Kekeringan memiliki bobot tertinggi karena dampaknya bisa lebih parah daripada banjir pada durasi dan luas wilayah yang terkena dampak. Dampak banjir, longsor dan kenaikan permukaan laut lebih lokal daripada kekeringan. Tabel 6-3. Matriks risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index (CCHI, indeks komposit bencana iklim) Indeks komposit bencana iklim (CCHI) Lebih dari 3.5 Antara 2.0 dan 3.5 Kurang dari 2.0 Sangat Tinggi Tinggi Sedang - Tinggi Tinggi Sedang - Tinggi Sedang Sedang - Tinggi Sedang Sedang - Rendah Sedang Sedang - Rendah Rendah Sedang - Rendah Rendah Sangat Rendah

Coping Capacity Index 5 4 3 2 1

Metodologi untuk menentukan ambang curah hujan yang menyebabkan banjir dan kekeringan didasarkan pada distribusi statistik dari curah hujan bulanan dan data bencana dari 7 kelurahan (Tabel 6-4). Ambang batas kritis curah hujan tersebut ditetapkan berdasarkan karakteristik dari bencana dan waktu terjadinya bencana (bulan dan tahun) dan intensitas curah hujan bulanan regional dari tahun yang bersangkutan (berdasarkan data dari Stasiun Masgar, 05°10'12" LS dan 105°10'29.4" BT).
88

4047 -5.4465 -5. 129 mm Gambar 6-1 Box plot curah hujan bulanan pada musim hujan dan kemarau selama tahun-tahun terjadi bencana dan tahun-tahun tidak terjadi bencana 89 .3983 -5.4752 -5. Nilai ini diambil sebagai ambang curah hujan yang menyebabkan kekeringan ketika kekeringan terjadi setiap tahun (Tabel 64). Figure VI-1.2571 105.2229 105.2009 2006. Untuk banjir.4547 -5.2677 105. Ini berarti bahwa jika curah hujan di bawah 129 mm.3983 -5.2606 105.2009 2006 Every year Every year Every year Every year Every year Every year Sumber: Bappeda Lampung (2006) Berdasarkan Boxplot data curah hujan bulanan musim kemarau dan musim hujan (Gambar 6-1).2956 105.2229 Lat -5. Jadi. kekeringan akan terjadi.4314 -5.4047 -5. 339 mm Threshold for drought.4465 -5. JanMar May-Oct Apr-Oct Feb-Sept Every month May-Oct Incident Year 1981-2007 2008 2008 2008.3231 105.2606 105. banjir akan terjadi. kita mengadopsi nilai kritis 339 mm (kuartil 3 dari distribusi) karena banjir tidak terjadi setiap tahun sebagaimana kekeringan. jika curah hujan musim hujan di atas nilai ini. Threshold for flood.4752 -5.2571 105.4314 Date and Month Oct-Dec Jul 18-Dec Aug-Oct Jan Rainy season May-Aug.2677 105.2957 105.Table 6-4.4547 -5. kami menemukan curah hujan yang memisahkan dua distribusi curah hujan bulanan yaitu sebesar 129 mm.3231 105. Kejadian banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung Type of Disasters Flood Name of Village Panjang Selatan Sukabumi Indah Pasir Gintung Kota Karang Kangkung Batu Putu Drought Panjang Selatan Sukabumi Indah Pasir Gintung Kota Karang Kangkung Batu Putu Sub-District Panjang Sukabumi Tanjung Karang Pusat Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Utara Panjang Sukabumi Tanjung Karang Pusat Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Utara Lon 105.

2 menunjukkan Indeks Komposit Bencana Iklim baseline 2005. Klasifikasi Kelurahan (Desa) berdasarkan Tingkat Eksposur terhadap Risiko Iklim Gambar 6. Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah berada pada kisaran indeks <1. Indeks Bencana Iklim komposit Bandar Lampung.50) 90 . (C) Bencana Iklim skenario A2 2050. yaitu di bagian selatan Kecamatan Panjang. Kuning (1.50). (B) Bencana Iklim skenario A2 2025. Catatan: Hijau (<0. (F) Bencana Iklim skenario B1 2050. A2 pada tahun 2050.6.75).5 (ditampilkan dalam warna merah pada skenario A2 dan B1). skenario bencana iklim A2 pada tahun 2025. B1 pada`tahun 2025 dan skenario bencana iklim B1 pada tahun 2050. Catatan: (A) & (D) Bencana Iklim Baseline.5 (ditunjukkan dengan warna hijau dan kuning pada gambar). Merah (> 1.75-1.2. A B C D E F Gambar 6-2. dan hanya sebagian kecil yang >1. (E) Bencana Iklim skenario B1 2025.

(B) Risiko Iklim skenario A2 2025. Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur mereka terhadap risiko iklim (A) & (D) Risiko Iklim Baseline.2 B dan C) dari pada baseline atau skenario B1. A B C D E F Gambar 6-3.5 sedikit lebih lebar (Gambar 6. (C) Risiko Iklim skenario A2 2050. pada banyak wilayah tidak mengalami perubahan. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik. daerah yang memiliki indeks >1. yang ditunjukkan oleh sebagian dari Kecamatan Teluk Betung Barat. ketika diproyeksikan dengan skenario A2 dan B1 pada tahun 2025 dan 2050. (F) Risiko Iklim B1 skenario 2050 91 . Baseline Bencana Iklim tahun 2005. Adaptasi akan menentukan lebar atau sempitnya coping range (interval toleransi). Kemampuan adaptasi yang lebih tinggi akan memiliki interval toleransi dari sistem yang lebih luas.Dalam skenario A2. (E) Risiko Iklim skenario B1 2025.

4). infrastruktur dan program pengembangan masyarakat harus diarahkan untuk meningkatkan indikator-indikator sosial-ekonomi dan biofisik dalam mempersiapkan kapasitas kerentanan dan adaptasi dari Kelurahan. Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Program adaptasi harus diprioritaskan di Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah dan sedang terkena atau berpotensi terkena indeks bencana iklim yang tinggi. 92 . Bumi Waras dan Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan).3.4. yaitu kelurahan Gunung Mas di Kecamatan Teluk Betung Utara dan Kelurahan Garuntang di Kecamatan Teluk Betung Selatan. Kelurahan Kangkung. Ada sekitar 14 Kelurahan (14. akan terkena risiko iklim yang lebih tinggi (Gambar 6.1%) berada pada risiko iklim M (Menengah).4). Di masa depan (skenario 2025 dan 2050). Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang Sub-distrik). 36 Kelurahan (36. dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). Ada dua Kelurahan akan pindah dari M-H ke kategori risiko iklim tinggi. Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame).7%) pada risiko iklim L-M (Rendah ke Medium). Gambar 6. Untuk mengurangi tingkat risiko Kelurahan terhadap dampak perubahan iklim. Sepang Jaya dan kelurahan Kedaton (Kecamatan Kedaton). 22 Kelurahan (22. Sementara banyak dari Kelurahan dengan kategori risiko L-M akan pindah ke kategori risiko sedang (M) (Gambar 6. terutama di bawah skenario SRESB1. Jumlah Kelurahan menurut kategori Indeks Risiko Iklim Analisis di atas menunjukkan bahwa bagaimana perubahan dalam kondisi sosialekonomi dan biofisik akan mengubah kapasitas ketahanan Kelurahan.Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur risiko iklim ditunjukkan pada Gambar 6.4%) Kelurahan pada risiko iklim VL (sangat rendah).2%) dengan kategori risiko M-H. Kategori tertinggi adalah hanya Menengah ke Tinggi (M-H).4%) pada risiko L (rendah) dan 21 (21. lebih banyak Kelurahan. Sisanya adalah 5 Kelurahan (5. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada Kelurahan dengan kategori risiko iklim Sangat Tinggi (VH) saat ini (kondisi baseline). Ini termasuk Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat).

Kota Bandar Lampung terletak lebih dari 50 km sebelah barat laut Gunung Krakatau. Meskipun jaraknya relatif jauh.A 2008. Secara geologis. rusaknya hutan dan tanaman pertanian serta menyebabkan sakit mata dan saluran pernafasan. Sedangkan dibagian tengah karena keterbatasan lahan dan ketidakteraturan dalam penataan lingkungan beberapa wilayah tampungan air/retensi alam dibangun menjadi perumahan. kota Bandar Lampung terletak pada jalur patahan berpotensi aktif yang setiap saat dapat menimbulkan ancaman gempa. perkantoran maupun fasilitas umum sehingga daerah parkir air menjadi berkurang.25 g1. 1 Laporan Akhir Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung T. namun berdasarkan catatan kejadian. mulai dari material ukuran halus sampai kasar yang dapat mengakibatkan robohnya atap bangunan. Beberapa daerah tangkapan air sungai yang ada telah rusak terutama pada bagian hulu. namun sangat dipengaruhi oleh aktivitas gempa bumi dangkal yang berhubungan dengan aktivitas patahan-patahan. Berdasarkan data distribusi episentrum gempa dangkal dan menengah di sekitar Selat Sunda. Potensi bencana lain yang dapat mengancam kota Bandar Lampung adalah letusan gunung berapi. sedangkan kecamatan dengan ketinggian 2-5 mdpl yaitu Teluk Betung Selatan dan Panjang. kecamatan yang terketak diatas perbukitan dengan ketinggian 700 mdpl yaitu Kedaton dan Rajabasa. Kompleksitas pengaturan tataguna lahan dan kepadatan penduduk telah membuat kota Bandar Lampung menjadi kota yang sangat rentan terhadap berbagai ancaman seperti gempa bumi.BAB 7 PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM 7. Kondisi diatas menyebabkan kapasitas tampung sungai menjadi berkurang dan pada musim hujan terjadi banjir. hal 4-4 93 . tanah longsor. kebakaran dan lain-lain. Kota Bandar Lampung termasuk dalam wilayah 4 dan wilayah 5 (Standar Perancangan Ketahanan Gempa – SNI 03-126-2002) dengan percepatan gravitasi 0.20-0. Sedangkan di bagian hilir kepadatan penduduk tinggi mendorong masyarakat memanfaatkan daerah bantaran kali untuk permukimannya segingga muncul kawasan kumuh. terlihat bahwa daerah Kota Bandar Lampung kurang dipengaruhi aktivitas gempa bumi Benioff Zone. Kemungkinan bahaya yang mengancam adalah hujan abu. Dilihat dari ketinggian yang dimilikinya. salah satu gunung berapi yang masih aktif di Selat Sunda.1. Climate Hazard di Kota Bandar Lampung Kota Bandar Lampung merupakan kawasan dengan bentuk daratan dan perbukitan dengan letak ketinggian berada antara 0-700 mdpl. Kota Bandar Lampung pernah mengalami dampak letusan gunung api pada tahun 1883 dan 1928. Banjir yang terjadi di kota Bandar Lampung disebabkan banyak faktor antara lain bentuk geografis wilayah dan budaya masyarakat yang tidak peduli kelestarian lingkungan. Wilayah 4 dan wilayah 5 menunjukan bahwa kota Bandar Lampung merupakan wilayah yang punya probabilitas cukup tinggi untuk kejadian gempa bumi.

Longsor sangat dipengaruhi keseimbangan air dalam tanah. Hal ini menunjukan bahwa musim hujan cenderung berakhir dengan cepat dibandingkan dengan kondisi normal yang terjadi di masa lalu (sebelum tahun 1970an). Kondisi diatas menunjukan bahwa curah hujan kota Bandar Lampung tidak akan berubah dalam atmosfir yang semakin memanas. sementara Panjang Selatan mengalami hampir semua ancaman bencana. meskipun keragaman curah hujan 94 . Pada tahun 2080. Kota Bandar Lampung juga tidak dapat terhindar dari pengaruh dan dampak perubahan iklim yang sedang terjadi di semua belahan dunia. Perubahan iklim secara mendasar akan meningkatkan frekuensi dan durasi dari bahaya dan ancaman alam serta berbagai kejadian dan dampak yang dirasakan. Perubahan iklim menimbulkan dampak yang secara cepat dirasakan masyarakat dengan adanya berbagai kejadian ekstrem. Kekeringan dan banjir terjadi secara dominan di kampung Sukabumi dan Batu Putu. Kejadian banjir biasanya terjadi pada bulan November – April. Berdasarkan catatan pernah terjadi kejadian longsor Bukit Camang di Poncoh Raya. Teluk Betung Barat pada tanggal 29 Maret 2007. Longsor merupakan bentuk erosi yang pengangkutan atau pemindahan tanahnya terjadi pada suatu saat yang relatif pendek dalam jumlah (volume) yang sangat besar.Bencana longsor merupakan suatu bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Terjadi penurunan curah hujan yang rendah di musim basah (SON dan DJF) dan penurunan curah hujan yang tinggi di musim kemarau (MAM dan JJA). banjir dan rob (naiknya muka air laut). Rob sering terjadi di Panjang Selatan. Perubahan iklim akan memberikan pengaruh dan dampak yang lebih signifikan terhadap masyarakat dan wilayah yang berada di kawasan pesisir/pantai. dimana awal musim hujan cenderung terlambat dan durasinya lebih pendek pada saat ini. Dari rekaman data historis stasiun pemantauan hujan sekitar Bandar Lampung menunjukan adanya kecenderungan yang menurun jatuhnya hujan di semua musim. Berdasarkan informasi masyarakat dan studi mitigasi bencana di kota Bandar Lampung menunjukan bahwa kejadian ekstrem yang frekuensinya sering terjadi adalah kekeringan. sementara rob terjadi antara September dan Desember sedangkan angin ribut antara bulan Desember dan Maret. Selain ancaman bencana alam yang sering terjadi. Prediksi iklim kota Bandar Lampung di masa depan menunjukan bahwa sebagian model memperkirakan bahwa curah hujan di musim hujan (des-jan) diperirakan bahwa tahun 2025 dan 2050 akan meningkat dan sebagian model memprediksikan akan menurun. Kota Karang dan Kangkung. hanya sebagian model yang memperirakan bahwa curah hujan akan meningkat. Analisis kecenderungan jangka panjang dengan data Climate Research Unit (CRU) untuk kota Bandar Lampung menunjukan hasil yang tidak konsisten dengan analisis trend dikarenakan adanya variasi keragaman data curah hujan dalam satu dekade (IPO) dan juga terkait dengan modulasi frekuensi rendah dari El Nino (ENSO) terutama setelah tahun 1970-an. sebagian besar model menyatakan bahwa curah hujan bulan DJF akan meningkat. termasuk kota Bandar Lampung. sedangkan untuk musim kemarau. termasuk kota Bandar Lampung yang terletak di Teluk Lampung. Hasil analisis perubahan iklim dan kejadian ekstrem yang dilakukan CCROM untuk kota Bandar Lampung mengindikasikan terjadinya perubahan signifikan awalnya musim. angin ribut.

Tentunya tidak hanya pemerintah kota yang berperan penting dalam pengelolaan sistem. Sistem tata kepemerintahan yang akuntabel. Ruang Lingkup Komponen Kepemerintahan dan Kelembagaan Isu tata kepemerintahan (good governance) dan kelembagaan (institutional) membutuhkan perhatian khusus sebagai bagian sistem pengelolaan dan penyediaan dan juga perencanaan adaptasi yang secara langsung mempengaruhi kerentanan dan kapasitas adaptasi pada tingkat individu. transparan dan responsif memungkinkan terjadinya tindakantindakan adaptasi. tidak dilibatkan dalam perencanaan untuk memperkuat ketahanan dari pelayanan yang diberikan (misalnya pengurangan risiko bencana. ekonomi dan sumberdaya manusia yang dilakukan oleh CCROM dan Mercy Corps. lingkungan. penduduk dan sistem kota terhadap pengaruh dan dampak perubahan iklim sangat bergantung pada berbagai faktor termasuk kapasitas dalam beradaptasi. pelaku di luar pemerintah (misalnya swasta. atau dapat mengembangkan rencana kota yang fleksibel terhadap dampak perubahan iklim. 7. atau perencanaan pengelolaan bencana yang dilakukan LSM dan organisasi kemasyarakatan. koordinasi antar sektor dalam perencanaan kota seringkali lemah (misalnya rencana pembangunan ekonomi dan sosial terpisah dari penyusunan rencana pembangunan fisiknya).2. Misalnya penyediaan pelayanan keuangan bagi masyarakat miskin oleh swasta. Sebaliknya kota yang rentan dan tidak memiliki daya tahan adalah kota yang memiliki banyak masalah termasuk kemiskinan. penyediaan dan penyaluran air bersih.akan semakin banyak terjadi. Memahami tantangan-tantangan tersebut maka pemerintah 95 . Analisis kepemerintahan dan kelembagaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kajian faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kerentanan secara fisik. universitas dan organisasi kemasyarakatan adalah aktor penting dalam penyediaan pelayanan atau mekanisme yang dapat memperkuat kapasitas adaptasi. Bagaimanapun juga. LSM. Hal ini menunjukan bahwa intensitas kejadian ekstrem akan semakin meningkat sebagai hasil dari meningkatnya frekuensi dan intensitas El Nino (ENSO). Ketahanan kota terhadap perubahan iklim dapat terwujud apabila Pemerintah Kota memiliki kemampuan respon cepat terhadap bencana. penyaluran sosial pelayanan kesehatan. sektor swasta. LSM. Hubungan antar sektor dan sistem dalam wilayah perkotaan membutuhkan pendekatan terpadu dan menyeluruh untuk memperkuat kapasitas dan mempertimbangkan tata kepemerintahan dalam berbagai tingkat. pelaku sektor informal) yang menjadi aktor utama dalam penyediaan pelayanan. korupsi dan lemahnya koordinasi. sosial. Pembahasan yang akan dilakukan pada bagian ini selanjutnya lebih menguraikan hasil analisis mengenai komponen kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka penilaian tingkat kerentanan kota terhadap perubahan iklim. sektor dan kota. Seringkali. pendidikan dan kesadaran publik). Salah satu komponen dalam faktor sosial yang mempengaruhi tingkat kerentanan kota adalah berkaitan dengan fungsi kepemerintahan dan kelembagaan (governance and institutions). Tingkat kerentanan kota. Berbagai faktor tersebut meliputi fisik. atau penyediaan air minum melalui tanki. lingkungan. ekonomi dan sumberdaya manusia.

pertanian) Pemetaan proses dan struktur yang ada untuk perencanaan (pembangunan. Analisis pemangku kepentingan adalah suatu pengertian yang mengacu pada tindakan untuk menganalisa perilaku pemangku kepentingan terhadap sesuatu (biasanya suatu proyek) dan perubahan yang akan 96 . tapi juga pada kapasitas kelembagaan dan proses kepemerintahan di kota-kota dalam mengelola dampak tersebut. energi. transportasi. sampah. Pemetaan peran stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektorsektor terkait dengan perubahan iklim Identifikasi Pemangku Kepentingan (Stakeholder Identification) Bagian ini menguraikan pemetaan dan analisis peran pemangku kepentingan (stakeholder mapping and analysis) dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim.selayaknya mempromosikan upaya-upaya untuk memperkuat kapasitas adaptasi yang lebih terkoordinasi dan terencana. Lingkup penilaian kerentanan dilihat dari aspek tata kepemerintahan dan kelembagaan terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut : Pemetaan peran dari pemangku kepentingan dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor yang dipengaruhi iklim (misalnya air. maka suatu rencana dan strategi adaptasi seyogyanya dibuat dan dikembangkan berdasarkan kapasitas yang dimiliki dan memperhatikan faktor-faktor mendasar yang berpengaruh pada kerentanan setiap kelompok sosial yang berbeda. menjadikan pentingnya suatu pendekatan yang mempertimbangkan banyaknya factor berpengaruh pada kerentanan dan siapa serta bagaimana setiap kelompok yang berbeda memiliki tingkat kerentanan yang berbeda pula. kaum perempuan.3. Meluasnya dampak tersebut sangat bergantung tidak saja pada ketersediaan infrastruktur saat ini. kesehatan dan sektor ekonomi sangat rentan terhadap dampak iklim karena saling ketergantungan dari sistem yang rumit ini. kesehatan. Kelompok sosial masyarakat. drainage. Dengan pengertian tersebut. Sistem perkotaan. Kota-kota di Asia memiliki kerentanan tinggi terhadap dampak perubahan iklim. ketimpangan kesejahteraan dan akses terhadap pelayanan dan terbatasnya perencanaan kota serta tata guna lahan. diperburuk dengan pesatnya urbanisasi. dan anak-anak menghadapi dampak yang berbeda dan mempunyai kapasitas adaptasi yang berbeda. laki-laki. seperti air. pengelolaan bencana) Menilai bagaimana iklim dan adaptasi yang sekarang ini terintegrasi dalam program-program (jangka pendek dan panjang) dan bagaimana bisa berjalan efektif untuk menyesuaikan dengan risiko iklim di masa depan Menilai kekuatan dan kelemahan dari perencanaan mengintegrasi adaptasi. sering terjadinya kejadian iklim ekstrem. perikanan. termasuk kapasitas fiskal pemerintah untuk Mengidentifikasi mekanisme untuk program dan proses perencanaan untuk mencapai integrasi risiko dan adaptasi yang lebih baik 7. Adanya ketidakpastian dalam perubahan iklim. sanitasi.

sektor swasta. Lembaga Kerjasama Internasional.terjadi2. Pemerintah Kota/Kabupaten. Dinas Daerah. (iii) memetakan tingkat kepentingan dan kekuatan yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan dalam upaya penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait perubahan iklim. Dalam konteks ini. Pemangku kepentingan dapat juga dikelompokan berdasarkan lingkup/posisi yaitu lingkup internal. Lembaga Teknis Daerah. Satuan Polisi Pamong Praja. Sekretariat DPRD. Swasta/Dunia Usaha. pemangku kepentingan internal yang berada didalam wilayah kota Bandar Lampung. Dinas Daerah adalah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang mempunyai tugas membantu Walikota dalam melaksanakan kewenangan desentralisasi Pemerintah Daerah di bidangnya. Pemetaan dan analisis pemangku kepentingan dilaksanakan melalui beberapa tahapan mulai dari: (i) mengidentifikasi pemangku kepentingan yang terkait langsung dan tidak langsung dengan sektor-sektor perubahan iklim. Organisasi Kemasyarakatan. stakeholder analysis diakses pada tanggal 8/1/2010 Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Bandar Lampung Perda Nomor 4 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Pamong Praja Kota Bandar Lampung 4 97 . Pemerintah Provinsi. Pengertian dari Pemerintah Daerah adalah Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur Penyelenggara Pemerintah Daerah. Terdapat 17 Dinas Daerah yang dibentuk di Kota Bandar Lampung3. swasta dan masyarakat yang terkena dampak atau menjadi penyebab munculnya berbagai kejadian ekstrem akibat perubahan iklim. Pemangku kepentingan internal berasal dari unsur pemerintah daerah (pemerintah kota). yakni pemangku kepentingan yang berada diluar pengaruh terdalam. (ii) menganalisis peran dan tanggung jawab serta kontribusi masing-masing pemangku kepentingan di masing-masing sektor perubahan iklim. Yang dimaksud perangkat daerah adalah unsur pembantu Walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari Sekretariat Daerah. yakni para pemangku kepentingan yang berada di lingkaran pengaruh terdalam dan lingkup eksternal. namun mempengaruhi dan menentukan proses yang terjadi didalam. sedangkan pemangku kepentingan eksternal yang berada di luar wilayah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Terdapat 8 (delapan) Lembaga Teknis Daerah dan 1 (satu) satu satuan pamong praja (Satpol PP) di Kota Bandar Lampung4. Lembaga Teknis Daerah adalah merupakan unsur pendukung tugas Walikota dalam melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang sifaktnya spesifik. Lembaga Lain. Asosiasi. Klasifikasi pemangku kepentingan umumnya dikelompokkan kedalam kategori sebagai berikut: Pemerintah Pusat (kementerian dan lembaga pemerintah non departemen). lembaga non pemerintah. Perguruan Tinggi. Sedangkan yang dimaksud dengan pemangku kepentingan (stakeholder) adalah orang atau organisasi yang terkena dampak baik secara positif maupun negatif atau penyebab suatu dampak dari tindakan yang dilakukan. perguruan tinggi dan lainnya. 2 3 Wikipedia. dan lain-lain. Kecamatan dan Kelurahan. Pemangku kepentingan terkait perubahan iklim di Kota Semarang adalah orang atau organisasi pemerintah.

4. Pemerintah Bandar Lampung mengalami kesulitan untuk mengontrol perubahan fungsi lahan kawasan perbukitan karena umumnya kawasan perbukitan tersebut telah menjadi milik pribadi. banjir yang terjadi di Kota Bandar Lampung juga diakibatkan oleh gundulnya kawasan perbukitan Kota Bandar Lampung sebagai slah satu kawasan hijau kota. Sungai-sungai tersebut adalah Way Kupang di Kecamatan Telukbetung Selatan. Beberapa program yang telah dilakukan antara lain program kali bersih. b. Penyempitan sungai yang sporadis terjadi hampir di seluruh badan sungai yang dekat dengan permukiman penduduk.7. kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan.1% penduduk kota Bandar Lampung (Laporan Pembangunan 98 . pemberian perijinan yang lebih ketat dan program dan kegiatan lainnya yang bertujuan untuk mengatasi masalah banjir dan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai. Permasalahan Perkotaan di Bandar Lampung yang Terkait dengan Adaptasi Perubahan Iklim a. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah kota Bandar Lampung telah melaksakan berbagai kegiatan baik dilakukan secara sendiri maupun bekerjsama dengan pemeritah pusat dan lembaga swadaya masyarakat. perbaikan drainase. Way Sukamaju di Kecamatan Telukbetung Barat. serta Way Galih dan Way Lunik di Kecamatan Panjang. Akibatnya debit air tertahan dan membanjiri daerahdaerah permukiman yang berada di pinggir sungai. Banjir yang terjadi di Kota Bandar Lampung disebabkan atas beberaa hal antara lain tingginya curah hujan. Banjir Meskipun Kota Bandar Lampung terletak diatas 100meter diatas permukaan laut (mdpl) akan tetapi Kota Bandar Lampung sering mengalami masalah banjir. Serin terjadi selain masalah banjir. Penyempitan saluran dan sedimentasi di daerah ini cukup parah akibat padatnya permukiman penduduk. semakin berkurangnya kawasan perbukitan ini juga mengakibatkan longsor dikawasan tersebut yang tidak jarang memakan korban. berkurangnya luas bantaran sungai. PDAM Way Rilau baru mampu memberikan kepada 66. Hal lain yang juga sangat berperan menjadi penyebab banjir di kota ini adalah penyempitan sungai yang mempunyai DAS berukuran kecil yang merupakan drainase utama dari daerah pantai di sekitar Telukbetung dan Panjang. buruknya drainase kota. Akan tetapi sampai dengan thaun 2002. Air Minum dan Sanitasi Sebagaimana yang terjadi di sebagian besar kota di Indonesia. Selain masalah penyempitan lahan tersebut. PDAM Way Rilau sebagai perusahaan daerah air minum yang memberikan pelayanan air minum di Kota Bandar Lampung berperan besar untuk memenuhi kebutuhan warga kota Bandar Lampung akan air minum. Bahkan pada akhir tahun 2008 Kota ini mengalami masalah banjir yang cukup besar yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar. dan berkurangnya daerah terbuka hijau. Akibatknya para pemilik lahan dapat melakukan apapun terhadap lahan tersebut tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. air mimum yang bersumber dari PDAM menjadi sumber utama bagi masyarakat perkotaan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sebagai akibatnya debit sungai yang berasal dari air hujan tidak bisa menyeberangi jalan utama kota dan menumpuk di daerah permukiman penduduk dan mengakibatkan banjir.

Upaya ini diharapkan bisa menjadi pilihan pemerintah setempat dalam strategi pembangunan sanitasinya. Selain itu. Bappenas -. Akan tetapi pada kenyataannya PDAM Way Rilau tidak dapat memberikan pelayanan secara menerus selama 24 jam karena terbatasnya debit air. Program ini diikuti pula oleh berbagai program yang disusun oleh pemerintah kota melalui dinas kesehatan seperti kegiatan kesehatan keluarga dan kampanye hidup sehat. masih sangat banyak warga masyarakat mengenah ke bawah yang belum memperoleh akses air minum dari PDAM ini. Analisis terhadap peran dan kontribusi masing-masing pemangku kepentingan dikaitkan dengan penanganan dan pengelolaan sektor-sektor terkait perubahan iklim.5. 99 . Menghadapi masalah ini pemerintah kota Bandar Lampung sejak tahun 2008 dan 2009 mengikuti program Sanitasi Masyarakat (Sanimas) yang bertujuan untuk untuk mengenalkan pilihan lain. dalam waktu dekat PDM akan menjalin kerjasama dengan pihak swasta untuk meningkatkan debit air sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih luas kepada masyarakat dengan tidak melupakan fungsi sosialnya untuk melayani masyarakat miskin untuk memperoleh air dengan harga yang terjangkau. Jumlah ini realtif cukup tinggi untuk kawasan perkotaan. Data Percik pada tahun 2008 menunjukkan bahwa cakupan pelayanan sanitasi di Kota Bandar Lampung adalah 69.Manusia 2004. Oleh karena itu. terutama di kalangan wanita dan anak-anak. Melalui kegiatan yang saling mendukung ini diharapkan jumlah warga yang memiliki akses terhadap sanitasi akan dapat meningkat.32. Meski persentase ini cukup jauh dari cakupan pelayanan sanitasi nasional yang hanya 40. Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk di kawasan miskin perkotaan mengakibatkan kerugian ekonomi serta menurunkan kualitas hidup. Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis) Analisis pemangku kepentingan dimaksudkan untuk melihat sejauhmana peran dan tanggung jawab masing-masing dalam penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim serta potensi kontribusi yang dapat dilakukan masing-masing pemangku kepentingan. yaitu Sistem Pembuangan Limbah Berbasis Masyarakat.BPS – UNDP).67%. hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 30% dari warga kota Bandar Lampung yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan sanitasi yang sehat. Situasi sanitasi yang parah menyebabkan berulangnya epidemi infeksi perut sehingga keberjangkitan penyakit thypus di Indonesia tercatat tertinggi di Asia Timur. 7. Bandar Lampung merupakan salah satu kota di Indonesia yang juga menghadapi masalah sanitasi.

• Mengkoordinasikan dan memfasilitasi bantuan dan kerjasama dalam penanganan banjir. • Memberikan bantuan teknis penanganan banjir melalui anggaran pusat. • Memberikan bantuan teknis pengembangan permukiman. bangunan gedung. penyediaan air minum dan sanitasi. fasilitasi pembangunan dan pengelolaan infrastruktur. Direktorat Jenderal Bertugas merumuskan dan Cipta Karya pelaksanaan kebijakan dan standarisasi tekbis bidang Cipta karya. pengawasan dan pengelolaan bangunan gedung Membuat dan mengkoordinasikan rencana dan program di seluruh sektor dan lembaga-lembaga pada skala nasional/regional/daerah Mengintegrasikan rencana adaptasi perubahan iklim ke dalam rencana pembangunan 100 . air minum dan sanitasi. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. pengoordinasian penyusunan • Merumuskan kebijakan dan strategi nasional pembangunan keciptakaryaan: permukiman. air minum dan sanitasi. Tugas dan Tanggung Jawab Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim • Merumuskan kebijakan dan strategi nasional pengelolaan SDA dan penanganan banjir secara nasional. pembinaan dan bantuan teknis. • Mengkoordinasikan dan memfasilitasi bantuan dan kerjasama penyediaan permukiman layak huni (rusun.Tabel 7-1. pelaksanaan pengaturan pengelolaan SDA. pembinaan teknis dan penyusunan NSPM. pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasi. penyusunan NSPM SDA dan pelaksanaan administrasi urusan Ditjen. penyusunan program dan anggaran. pengawasan pembangunan bangunan gedung. pembinaan teknis dan pengawasan pembangunan infrastruktur PU Keciptakaryaan: rumah susun. penyediaan air minum. Analisis Peran dan Kontribusi Pemangku Kepentingan dalam Perubahan Iklim Pemangku Kepentingan Pemerintah Pusat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Peran. pelaksanaan kebijakan. peremajaan kawasan kumuh). program dan anggaran serta evaluasi kinerja. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknik. Bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan serta standarisasi teknis di bidang sumber daya air. penanggulangan darurat bencana Pemerintah Kota Bandar Lampung Badan Perencanaan Bertugas melaksanakan Pembangunan penyusunan dan pelaksanaan Daerah (Bappeda) kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah. melalui penyelenggaraan fungsi: penyusunan kebijakan. pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasi. permukiman kumuh/nelayan. bangunan gedung dan penanggulangan bencana.

Tugas dan Tanggung Jawab perencanaan pembangunan. pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lain yang diberikan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim daerah Melakukan pengawasan daerah yang dilindungi. pembinaan dan pelaksanana tugas dan pelaksanaan tugas lain yang diberikan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bertugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik di bidang lingkungan hidup. misalnya penambangan pasir untuk melindungi daerah perbukitan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. untuk menghindari daerahdaerah kritis bencana Program pembuatan sumur bor untuk air bersih Program penghijauan Program Lingkungan Berbasis Komunitas (PLBK) yaitu transformasi dari masyarakat mandiri ke masyarakat madani terkait dengan tata ruang Program pembuatan ‘embung’ dan perbaikan drainase untuk mengatasi bencana banjir Program PROKASIH (tapi hanya dilakukan setahun sekali karena keterbatasan dana) Program penataan kawasan pantai/pesisir Pembuatan peraturan daerah yang berkaitan dengan lingkungan hidup Peninjauan sistem perijinan pembangunan Penegakan hukum yang berhubungan dengan perubahan tata guna lahan dan ketidak konsistenan dalam rencana tata ruang Perencanaan ruang terbuka hijau di perkotaan sebanyak 30% sebagai daerah resapan Pengawasan pembangunan perumahan dan daerah bisnis dalam rangka melindungi ruang terbuka hijau dari pelanggaran pembangunan Program biopori untuk penyerapan air Program 3R (reduce. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah bidang pengembangan teknologi dan pengendalian lingkungan.Pemangku Kepentingan Peran. sektor swasta dan masyarakat Meninjau kembali ruang terbuka hijau sebagai bagian 101 . reuse and recycle) dengan melibatkan kerjasama antara pemerintah. atau bahkan mencabut ijin penambangan jika diperlukan.

pencegahan. pencegahan pemberantasan penyakit. penyembuhan dan rehabilitasi Pembentukan tim gawat darurat untuk menghadapi bencana Pembentukan Puskesmas Keliling untuk melayani masyarakat di Pulau Pasaran Meningkatkan kapasitas kader Posyandu Dinas Peternakan dan Kehutanan Menyusun kebijakan dalam bidang peternakan dan kehutanan Program pengelolaan hutan (forestasi) • Program penataan kawasan pesisir dengan pengelolaan hutan bakau Dinas Pekerjaan Umum Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang pengelolaan sumber daya air dan energi sumber daya mineral berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan.Pemangku Kepentingan Peran. Tugas dan Tanggung Jawab Dinas Kesehatan Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. pemberdayaan dan kesehatan lingkungan serta kesehatan keluarga Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim dari paru-paru kota Kampanye publik untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai atau laut Program desentralisasi sampah Pembinaan Taruna Siaga Bencana untuk menghadapi bencana Program penataan kawasan pesisir Penyusunan kebijakan yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan masyarakat Kontribusi terhadap isu perubahan iklim dengan prinsip promosi. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. pembinaan dan Membangun ‘embung’ untuk mengatasi bencana banjir Program biopori untuk resapan air tapi agak sulit karena belum ada regulasi yang mewajibkan tiap rumah untuk membuat biopori Mengganti paving block dengan grass block karena memiliki daya serap yang lebih baik 102 . pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang pelayanan kesehatan. promosi kesehatan. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum.

tata air serta peralatan dan pompa Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim Dinas Pertanian Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang penanganan dan penanggulangan kebakaran dan bencana berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan.Pemangku Kepentingan Peran. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. peralatan dan perbekalan. Pembuatan kebijakan dan program dalam bidang pertanian Program rehabilitasi pengairan untuk sawah Program pembuatan pompa baru untuk daerah pertanian Pembuatan sumur resapan untuk pertanian dan kehutanan Penyebaran bibit penghijauan ke seluruh kecamatan • Program pemetaan daerah rawan banjir dan longsor di seluruh kecamatan Pusbik Melakukan studi dan Bertanggung jawab dalam memberi advokasi kebijakan dan program kepada pemerintah yang berkaitan dengan lingkungan hidup Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup Mempromosikan kebijakan lokal seperti rumah panggung untuk mengatasi banjir Peninjauan kembali ijin penambangan pasir jika akan merusak lingkungan Kampanye penyelamatan terumbu karang dengan membuat ‘rumpon’ Advokasi kepada masyarakat untuk tidak menebang hutan bakau Program penataan kawasan bukit 103 . energi dan geologi. Tugas dan Tanggung Jawab pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang rekayasa teknis. pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang pengembangan teknik. sumber daya air. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. operasional dan pengendalian. pembinaan dan penyuluhan serta penanggulangan bencana Lembaga Non Pemerintah Mitra Bentala Melakukan advokasi kepada masyarakata serta menjalin kerjasama dengan pemerintah untuk mempromosikan dan mendorong kegiatan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim dalam rangka melindungi lingkungan hidup dan pencegahan bencana. PUSBIK juga berperan untuk melakukan advokasi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan. konservasi lahan. Walhi Walhi adalah LSM yang memperhatikan perlindungan lingkungan untuk mendukung usaha pembangunan berkelanjutan. termasuk meninjau kembali ijin penambangan di kawasan bukit Peningkatan kepedulian masyarakat untuk memperbaiki kualitas lingkungan Pemberdayaan kelompok kecil masyarakat dalam PKL untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Bertanggung jawab dalam memberikan advokasi kebijakan kepada pemerintah daerah dalam hal pembangunan berwawasan lingkungan. pendidikan lingkungan. Tugas dan Tanggung Jawab memberikan masukan kepada pemerintah tentang pengelolaaan lingkungan. konsistensi dan penegakan hukum Membantu pemerintah dalam pembuatan rencana tata ruang dan penataan kembali Tempat Pembuangan Akhir untuk sampah Program penanaman hutan bakau di daerah pesisir Pengawasan kepada pemerintah dalam hal penegakan hukum Program edukasi lingkungan hidup kepada masyarakat Program pengelolaan sampah dengan memperbanyak TPS Bertugas memberi konsultansi/advokasi kepada pemerintah daerah dalam mengimplementasikan pembangunan yang aman dan ramah lingkungan terutama pembangunan di daerah pantai Bertanggung jawab dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan aktifitas yang berhubungan dengan lingkungan hidup Program penataan hutan bakau di daerah pantai Kampanye dalam rangka menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan Melakukan kajian dan memberikan rekomendasi 104 Perguruan Tinggi Universitas Lampung Memberikan masukan terkait program-program . wisata lingkungan dan manajemen limbah padat Sahabat Lingkungan Melakukan studi dan advokasi kepada pemerintah dan masyarakat tentang pelestarian lingkungan.Pemangku Kepentingan Peran. terutama di bidang manajemen limbah cair dan produksi bersih.

Kemitraan antar pemerintah kota dan pemangku kepentingan (LSM dan Lembaga Pendidikan lainnya) dalam upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Tugas dan Tanggung Jawab untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Meski demikian beberapa LSM Lokal telah secara aktif berkontribusi dalam program dan kegiatan perbaikan lingkungan baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan pihak lain. 7. Dalam kaitannya dengan isu perubahan iklim. mengelompokan dan menilai pengaruh terhadap individu atau kelompok yang berbeda. Selama ini. peran dan kontribusi para pemangku kepentingan melalui program dan kegiatan terkait perubahan iklim tersebut berjalan secara parsial dan belum adanya upaya mengkoordinasikan dalam suatu kerangka kebijakan dan program penanganan perubahan iklim pada tingkat makro/kota. Penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim di Kota Bandar Lampung melibatkan pemangku kepentingan dari internal kota dan eksternal kota dengan peran dan kontribusi yang beragam sebagai mana terlihat pada matriks di atas. Kemitraan diatara seluruh pemangku kepentingan merupakan prasyarat untuk menciptakan masyrakat kota yang kuat dalam mengadaptasi perubahan iklim. Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim kepada pemerintah untuk menyusun program yang berkaitan dengan perubahan iklim. baik dalam bentuk pendanaan maupun koordinasi pelaksanaan program. Bekerjasama dengan pemerintah untuk melakukan kajian terhadap bahaya perubahan iklim di kota.6. Sementara peran Pemerintah Provinsi Lampung lebih kepada koordinasi pelaksanaan dengan Pemerintah Pusat dan pemerintah kota/kabupaten lainnya. Pemetaan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Mapping) Pemetaan pemangku kepentingan merupakan alat untuk mengidentifikasi. Salah satu teknik analisis yang digunakan adalah dengan melakukan pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping) dengan melihat kekuasaan (power) yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan dan tingkat kepentingan (interest) dari masing-masing pemangku kepentingan. 105 . pemetaan pemangku kepentingan dimaksudkan untuk mengetahui pemangku kepentingan mana yang paling mendukung/berpengaruh dalam penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim tersebut. Oleh karena itu pemetaan pemangku kepentingan dilakukan untuk masing-masing sektor terkait perubahan iklim sehingga dapat diidentifikasi siapa yang paling berperan dan bertanggung jawab untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.Pemangku Kepentingan Peran. Pemerintah Kota Bandar Lampung memiliki peran utama dalam penanganan sektor terkait perubahan iklim.

efektif dan menuju pencapaian 106 . Tujuan utama dari SPPN adalah untuk menjamin bahwa segala upaya pembangunan di negara ini dapat dilaksanakan secara efisien. baik di tingkat pusat. rencana jangka menengah (5 tahunan) dan rencana tahunan. Namun masing-masing pemangku kepentingan memiliki memiliki tingkat kepentingan yang berbeda-beda sebagaimana terlihat pada gambar 7. Ringkasan dari ketiga peraturan perundangan tersebut diatas adalah sebagai berikut: • Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur pentahapan dalam proses penganggaran tingkat daerah (provinsi. kabupaten/kota). daerah maupun sectoral. Secara jelas diatur bahwa proses penganggaran pada tingkat kota/kabupaten harus didasarkan pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).Level of Interest LOW HIGH A Minimal Effort W O L r e w o P H G I H B Keep Informed NGO University D Key Players Central Government City Government Cooperation/Donor Agency Business Sector C Keep Satisfied Provincial Government Gambar 7-1. Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di daerah dan Penanggulangan Bencana Pembahasan mengenai mekanisme dan proses perencanaan pembangunan di daerah didasarkan pada 3 (tiga) lingkup perencanaan pembangunan sebagai berikut: (a) proses perencanaan dan penganggaran pembangunan. Beberapa peraturan perundangan terkait dengan perencanaan pembangunan daerah antara lain: (i) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Pemerintah Kota dan Lembaga Kerjasama/donor Internasional. Pemetaan Pemangku Kepentingan berdasarkan tingkat Kepentingan Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa pelaku utama/kunci dalam penanganan perubahan iklim di Kota Bandar Lampung terdiri dari: Pemerintah Pusat. • Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengatur landasan sistem perencanaan mulai dari rencana jangka panjang (20 tahun). Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di Daerah mengacu pada peraturan perundangan yang dikeluarkan secara nasional. (ii) UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan (iii) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. (b) penanggulangan bencana dan (c) penataan ruang. Ketiga mekanisme penyusunan dan pengelolaan perencanaan diatas nantinya akan sangat terkait dengan perencanaan adaptasi ketahanan kota terhadap perubahan iklim.7.

Perundangan ini juga menyatakan bahwa rencana kerja tahunan di tingkat pusat dan daerah (RKPD) harus menjadi referensi dalam menyusun anggaran tahunan. Undang-Undang tersebut memberikan arah kebijakan dan strategi dalam rangka memadukan pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan untuk melindungi fungsi ruang dan dampak negatifnya terhadap lingkungan alam. Selain itu menguatkan adanya rencana pembangunan dalam jangka panjang. Keterkaitan antara UU No. insentif dan disinsentif. Materi utama dalam penanggulangan bencana meliputi: a) peran dan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah pada setiap tahapan penanganan bencana. jangka menengah dan rencana tahunan (RKPD). sosialisasi dan diseminasi informasi secara dini terhadap ancaman kerawanan bencana alam 107 . (iii) penegakan hukum yang konsisten. 32/2004 Mekanisme dan Proses Penanggulangan Bencana di daerah juga mengacu pada peraturan perundangan yang ditetapkan secara nasional. sistem perijinan. Kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan dan penerapan sistem deteksi dini. 17/2003. b) pembentukan kelembagaan penanganan bencana di tingkat nasional (BNPB) dan daerah (BPBD). 17/2003. e) mekanisme pengendalian dalam pengelolaan bencana dan f) mekanisme sanksi. 24 tahun 2007 pada dasarnya mengatur tahapan dalam penanggulangan bencana mulai dari pra-bencana. Pengaturan mengenai penataan ruang di Indonesiaa saat ini mengacu pada Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan beberapa peraturan pemerintah yang sudah dikeluarkan. 32/2004 dapat dilihat dalam Gambar 7-2 Gambar 7-2. UU No.target pembangunan yang telah ditetapkan. • Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menekankan perlunya keterpaduan proses perencanaan dan penganggaran. tanggap darurat dan pasca bencana. d) keterliabatan lembaga internasional dan sektor bisnis. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang telah ditindaklanjuti dengan terbitnya berbagai peraturan pemerintah. 25/2004 dan UU No. c) hak masyarakat dalam penanganan bencana. Strategi pelaksanaan penataan ruang terdiri atas: (i) penerapan aturan zoning secara konsisten sebagai bagian dari rencana detail tata ruang. (ii) mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang yang sistemik melalui regulasi zoning. Keterkaitan antara UU No. UU No. 25/2004 dan UU No. UU No.

Aman dan Demokratis dengan Dukungan Pelayanan Publik yang Baik. 5. ekonomi kerakyatan. Adil. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandar Lampung. visi Kota Bandar Lampung tahun 2005-2010 yaitu : "Mewujudkan Masyarakat Bandar Lampung yang Sejahtera. Penyusunan Skenario Design Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung TA 2009 yang bertujuan untuk (i) mengetahui kawasan yang rentan terhadap potensi bencana. 6. Meningkatkan prasarana dan sarana perkotaan yang berkualitas dan sesuai dengan tata ruang. kesehatan. maka disepakati 9 (sembilan) misi pembangunan daerah Kota Bandar Lampung. Mewujudkan keselarasan kehidupan beragama. bertanggungjawab dan partisipatif. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Menyelenggarakan pemerintahan yang bersih. berwibawa. Hal ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan memberikan perlindungan terhadap manusia dan harta benda dengan perencanaan wilayah yang peduli/peka terhadap bencana alam. keberadaan badan ini juga akan memberikan respon yang lebih cepat dan lebih baik apabila warga kota menghadapi suatu masalah baik yang terkait dengan perubahan iklim maupun tidak. serta penegakan hukum dan perlindungan sosial. Selain itu kota Bandar Lampung juga telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada bulan November 2009. Untuk mencapai visi yang telah ditetapkan tersebut. 8. Meningkatnya pembangunan perekonomian dan kesediaan kebutuhan masyarakat. Mengelola sumberdaya alam secara bertanggungjawab dan berkelanjutan. 4.kepada masyarakat. Untuk itu perlu ditingkatkan identifikasi dan pemetaan daerahdaerah rawan bencana agar dapat diantisipasi secara dini sejak sebelum terjadi. 7. Kota Bandar Lampung telah melakukan studi mitigasi bencana Kota Bandar Lampung TA 2008. Menegakkan supremasi hukum berdasarkan rasa keadilan yang demokratis. Menciptakan keamanan dan ketertiban kota serta menanggulangi masalah sosial masyarakat. 3. Adapun permasalahan yang dihadapi serta alternatif strategi yang terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung dapat dilihat pada table berikut: 108 . Selain itu pada saat yang sama. 2. 9. Dengan adanya badan ini maka pemerintah kota akan dapat mengantisipasi permasalahan yang terjadi akibat terjadinya perubahan iklim. yaitu : 1. Mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan dalam penanganan bencana. (ii) menganalisis resiko bahaya alam dan bahaya rekayasa manusia/teknologi serta (iii) menyusun indikasi program dan rencana tindak dalam mengurangi resiko bahaya. lingkungan hidup dan infrastruktur. Selanjutnya berkaitan dengan visi dan misi tersebut juga telah ditetapkan lima isu pokok dalam pembangunan kota Bandar Lampung yaitu pendidikan.

gempa bumi dan tsunami • • Alternatif Strategi Meningkatkan mutu dan kuantitas infrastruktur perkotaan Meningkatkan mutu dan kuantitas bangunan publik dan gedung pemerintah Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana di daerah pinggiran Meningkatkan dan mengembangkan sarana transportasi Meningkatkan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang kota Memperbaiki pengelolaan SDA dan pelestarian fungsi lingkungan hidup Meningkatkan pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup Meningkatkan akses masyarakat dalam pemberdayaan dan pengelolaan SDA dan LH Meningkatkan perlindungan terhadap SDA dari kerusakan dan melindungi kawasan konservasi agar fungsinya sebagai penyangga kehidupan tetap terjada Merehabilitasi lingkungan yang telah rusak Meningkatkan pengelolaan sampah dan manajemen pelayanan persampahan • • • • • • • • • • • • • • • • • • 7. Pada saat yang sama pemerintah daerah juga memiliki kewajiban yang cukup besar untuk membantu warganya dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Program dan Kegiatan Pemerintah Pemerintah daerah memegang peranan penting dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh daerahnya sebagai akibat dari dampak perubahan iklim global. Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektorsektor terkait dengan perubahan iklim a. Hal ini karena semakin banyaknya bencana yang terjadi akibat terjadinya perubahan iklim 109 . banjir.Tabel 7-2. Pemerintah daerah diharapkan mampu untuk mengatasai berbagai permasalahan yang muncul akibat dampak perubahan iklim. Masalah dan alternatif startegi terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung Masalah • • Masih rendahnya mutu dan kuantitas infrastruktur perkotaan Belum meratanya sarana dan prasarana perkotaan di seluruh wilayah kota Terbatasnya kemampuan dana pemerintah daerah dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur daerah Belum efektifnya pelaksanaan penataan. pengendalian dan pemanfaatan ruang Kerusakan DAS yang cukup tinggi Banyaknya pertambangan (gunung dan bukit) yang merusak lingkungan Meningkatnya pencemaran air permukaan Lemahnya penegakan hukum terhadap perusak lingkungan Lemahnya kesadaran dan disiplin masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan Belum optimalnya pengelolaan sampah Adanya ancaman bencana (longsor.8. Pemerintah pusat menyusun kerangka kebijakan dan pedoman dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan.

Hidup Peningkatan kualitas dan Program Pengelolaan Ruang akses informasi sumber daya Terbuka Hijau alam dan lingkungan hidup. taman dan hutan kota Program Pembangunan Saluran Drainase/Gorong-gorong Program Rehabilitasi/Pemeliharaan 110 Lingkungan Hidup Pekejaan Umum . ornament kota. Beberapa program kegiatan telah diinisiasi oleh pemerintah untuk menghadapi berbagai permasalahan yang baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan perubahan iklim sebagaimana yang tercantum dalam tabel 7-3 dibawah ini. Tabel 7-3. kegagalan panen. Kota Bandar Lampung merupakan salah satu kota di Indonesia yang juga berpotensi akan menghadapi berbagai permasalahan sebagai akibat terjadinya perubahan iklim. nelayan yang tidak dapat melaut karena gelombang tinggi dan hal-hal lainnya mengindikasikan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak buruk bagi warga Indonesia. Program yang terkait dengan Perubahan Iklim Tahun 2006 dan 2008 Urusan Kesehatan Program 2006 2008 Penurunan angka kesakitan Promosi Kesehatan dan dan kematian akibat penyakit Pemberdayaan Masyarakat Program Pengembangan Lingkungan Sehat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Program PeProgram Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak Pemulihan kualitas Program Pengendalian lingkungan hidup Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Pengendalian pencemaran Program Perlindungan dan dan perusakan lingkungan Konservasi Sumber Daya Alam hidup Penyusunan dokumen Program Pengembangan Kinerja perencanaan pengelolaan Pengelolaan Persampahan sumber daya alam dan ling. Pemeliharaan ruang terbuka hijau.seperti meluasnya banjir/rob.

Urusan 2006 Program 2008 Talud/Brojong Program Pengendalian Penataan Ruang Perencanaan Prasarana wilayah dan Sumber daya Alam Mitigasi Bencana Lingkungan Laut dan Pesisir Kelautan dan perikanan* Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Walikota Bandar Lampung 2007 dan 2009 *Kegiatan bersumber dari dana tugas pembantuan Tabel tersebut menunjukkan masih terbatasnya jumlah program yang dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk mengadatapsi terhadap perubahan iklim.593.100. 772.047.689.5 Milyar .400 8.871.900 3.000.287.528. khususnya anggaran untuk sektor lingkungan hidup yang mencapai 66 persen dari total anggaran sektor tersebut. Pemko Bandar Lampung memberikan alokasi yang cukup besar untuk kegiatan mitigasi bencana yaitu sekitar 27 persen dari total anggaran yang ada yaitu sekitar Rp. Artinya program yang dilakukan tidak 111 .486.054. Dari sisi sektoral.622. 16 Milyar untuk kegiatan yang berkaitan dengan perubahan iklim baik yang bersifat mitigasi maupun adaptasi. 11.800 99.992.336.500.780. Jumlah Anggaran yang Terkait dengan Perubahan Iklim TA 2008 Urusan Kesehatan Pekerjaan Umum Lingkungan Hidup Perencanaan Pembangunan Perikanan dan Kelautan* # Realisasi Anggaran Total Anggaran # Terkait PI 21. Pemko Bandar Lampung telah mengalokasikan dana yang bersumber dari APBD sejumlah Rp.6 Milyar. 5. Karena pada dasarnya kegiatan yang dirumuskan oleh pemerintah daerah tersebut merupakan kegiatan rutin yang biasa dilakukan untuk mengatasi permasalahan perkotaan.270 2. Tabel 7-4.000 27% *Sumber dana Tugas Pembantuan Minimnya informasi tentang perubahan iklim merupakan salah satu alasan yang menyebabkan hal ini terjadi.326.325 4.217. Akan tetapi secara dilihat dari total persentase jumlah ini hanya sekitar 1 persen dari realisasi pengunaan APBD tahun 2008 yaitu sejumlah Rp.000 % 15% 9% 66% 2% 5.. Kondisi serupa juga dapat dilihat dari jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mendanai kegiatan-kegiatan tersebut.dari total alokasi anggaran lima sektor tersebut sebesar Rp. Pada tahun 2008. Artinya jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan dengan program ataupun kegiatan lainnya. Namun demikian melalui anggaran dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui anggaran tugas pembantuan.8 Milyar.950 105.000 1. Meski secara kuantitas jumlah program pada tahun 2008 telah meengkat akan tetapi hal tersebut masih dirasa belum mencukupi untuk menghadapi kota Bandar Lampung untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim.1.201. jumlah anggaran yang dialokasi oleh pemerintah kota Bandar lampung cukup besar.910 3.000.

sektor swasta dan masyarakat. Tingginya laju urbanisasi namun tidak didukung dengan kemampuan sumber daya yang datang mengakibatkan kota menghadapi masalah dalam penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur.21 7.75 4. Adapun kegiatankegiatan dan lokasi pelaksanaan program ini selama tahun 2008 di Kota Bandar Lampung adalah sebagai berikut: 112 .3 2008 ADB Pemda 5. Perbandingan ini sesuai dengan kapasitas fiskal Kota bandar Lampung. jalan lingkungan.6 2007 ADB Pemda 2. drainase. air bersih. Dalam pelaksanaannya kedua program ini juga mengharuskan adanya kontribusi dari pemerintah daerah. b. Kota Bandar Lampung menjadi magnet bagi penduduk disekitar kota tersebut untuk datang dan mencari pekerjaan di kota ini. Anggaran proyek ini merupakan cost sharing dengan perbandingan 60 : 40 antara loan ADB dan APBD Kota Bandar Lampung dalam kurun waktu 4 tahun (2006 sampai dengan 2009). Pada akhirnya hal ini melahirkan kawasan kumuh di kota. MCK. Namun dengan adanya informasi dan pengetahuan tentang bahaya akibat dari perubahan iklim terhadap daerah dan masyarakat Kota Bandar Lampung diharapkan pemerintah kota Bandar Lampung dimasa mendatang akan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap program yang bertujuan untuk mengadaptasi perubahan iklim.9 2.63 1. pemerintah pusat juga telah melakukan beberapa program yang berkaitan dengan perubahan iklim di Kota Bandar Lampung diantaranya melalui program NUSSP dan PNPM Mandiri Perkotaan.4 Total Adapun jenis kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek NUSSP ini adalah adalah pembangunan. Untuk menghadapi hal tersebut. pemerintah kota Bandar Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Pusat melakukan kegiatan Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) dengan menggunakan dana pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) yang bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mengurangi/menurunkan tingkat kemiskinan di perkotaan melalui kemitraan antara pemerintah.5 8. persampahan. Sebagai Ibu Kota Propinsi.secara khusus ditujukan untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh perubahan iklim. dan penerangan jalan. Tabel berikut menggambarkan besaran dana dan cost sharing proyek NUSSP di Kota Bandar Lampung: Tabel 7-5 Besaran Anggaran Dana Program NUSSP di Kota Bandar Lampung (dalam Milyar Rph) 2006 ADB Pemda 4. Kesemua kegiatan ini pada akhirnya ingin mengatasi permasalahan permukiman kumuh (slum area) di kota Bandar Lampung yang merupakan persoalan manajemen pembangunan dan pemukiman perkotaan yang kompleks serta merupakan dampak dari berbagai kebijakan pembangunan.38 3. Program dan Kegiatan yang berasal dari Pusat Selain program-program pemerintah. peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur primer (premiere works) dilingkungan perumahan dan permukiman kumuh yang meliputi : jalan setapak.

Kec.9. Keikutsertaan Kota Bandar Lampung dalam program ini merupakan upaya pemerintah kota untuk mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapi oleh kota Bandar Lampung dan sekaligus memperbaiki infrastruktur perkotaan. Kec.. Teluk Betung Selatan Kel. Kec. Untuk tahun anggaran 2010. Way Gubag. Keteguhan. Kec. Analisa akan dilakukan terhadap enam komponen utama yaitu: peran pemangku kepentingan. pada bagian ini akan dianalisa kemampuan kepemerintahan dan kelembagaan pemangku kepentingan dalam rangka mengintegrasikan perencanan ketahanan dalam perubahan iklim.6 Ha 12. Garuntang. 7. Analisis kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka mengintegrasikan perencanaan ketahanan dalam perubahan iklim (framework organizational capacity) Meskipun pemerintah kota merupakan pelaku utama dalam mengantisipasi bahaya yang akan mengancam kota sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. Kec. Panjang Kel. Bakung. Kec. Teluk Betung.17 Milyar yang berasal dari Pemerintah Kota Bandar Lampung. PNPM Mandiri Perkotaan akan dilaksanakan di 13 wilayah di Kota Bandar Lampung dengan total anggaran sejumlah : Rp. Kec.5 Milyar berasal dari program dan Rp. Teluk Betung Selatan Kel. Teluk Betung Selatan Kel. Ketapang. Panjang Kel.039 KK • • • • • • • • • • • • Sebaran Lokasi Kel. Pecoh Raya. namun peran dan kontribusi pemangku kepentingan lainnya juga sangat penting. Kuripan. Panjang Kel. Sukarame.15. 3. Kec. Kec. Way Lunik. 18.425 km 365 Unit 36 m 636 m 34 m2 2m 66 unit 109 unit 92 unit 17 unit 8 Unit 286 Unit 142. Way Laga. Oleh karena itu. Teluk Betung Barat Kel. Teluk Betung Barat Kel. Srengsem. Kec. Kec. Kedua program yang sedang dilaksanakan olh Pemerintah Kota Bandar Lampung serta program-program lainnya menujukkan upaya yang menerus dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk meningkatkan kemampuan masyarakat yang secara tidak langsung juga meningkatkan ketahanan mereka untuk menghadapi terjadinya perubahan iklim. peraturan dan kebijakan. Teluk Betung Selatan Program lainnya yang juga memberikan kontribusi terhadap perbaikan kualitas kota Bandar Lampung adalah Program PNPM Mandiri Perkotaan.yang terdiri dari Rp. Kec. Teluk Betung Barat Kel.Tabel 7-6 Kegiatan dan sebaran Kegiatan PNPM Mandiri di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Kegiatan Jalan Setapak Penghubung Tempat Sampah RT Jalan Lingkungan (Jalan Penghubung) Saluran Terbuka (Drainase) Plat Duiker (Drainase) Gorong-gorong (Drainase) Bangunan Pelengkap (drainase) Alat Angkut Sampah Tong Sampah komunal MCK Sumur Dalam (Air Bersih) Lampu Jalan Luas Area Kumuh yang Difasilitasi Jumlah KK yang Merasakan manfaat Volume 14. ketersediaan 113 . Teluk Betung Barat Kel.52 Milyar. Teluk Betung Selatan Kel.

dokumen. Analisis Kapasitas Pemerintahan Komponen Peran Pemangku Kepentingan • • Kekuatan Adanya keterlibatan semua pemangku kepentingan Adanya Program Nasional yang didukung lembaga kerjasama internasional (PNPM dan NUSSP) • Kelemahan Peran dan kontribusi pemangku kepentingan masih parsial belum terintegrasi dalam suatu kebijakan Belum dipahaminya metodologi dan strategi operasional untuk menjabarkan secara lebih lanjut dari peraturan kedalam dokumen rencana Belum meratanya pemahaman dan kapasitas SDM dalam menyusun dan merumuskan substansi mitigasi dan adaptasi bencana dan perubahan iklim. kelembagaan daerah. Belum adanya dokumen rencana aksi daerah dalam penanggulangan bencana yang memiliki kekuatan hukum dan belum dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan Kelembagaan penanggulangan bencana daerah belum bekerja secara efektif Peraturan dan Kebijakan • Adanya peraturan perundangan • yang mensyaratkan daerah menyusun dokumen rencana yang memperhatikan adaptasi dan mitigasi bencana dan perubahan iklim Dokumen RPJMD (5 tahunan) akan disusun dalam tahun 2010 dan dokumen RTRW sedang dalam proses revisi merupakan kesempatan untuk memasukan substansi adaptasi dan mitigasi bencana serta perubahan iklim Adanya studi-studi terkait mitigasi bencana dan skenario design mitigasi bencana • • Ketersediaan dokumen rencana • • Kelembagaan daerah • • Kapasitas pendanaan • • • Adanya Tim Kota untuk perubahan iklim yang sudah dibentuk dan bekerja Telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bandar Lampung Adanya komitmen untuk mendukung program dan kegiatan perubahan iklim Masih adanya Dana Alokasi Khusus dan tugas pembantuan Adanya dukungan dan bantuan • • • Alokasi belanja langsung untuk program dan kegiatan sektor terkait perubahan iklim masih terbatas (kurang 5 %). kapasitas pendanaan dan pelaksanaan program/kegiatan. Keenam komponen ini kemudian akan dianalisa kekuatan dan kelemahannya sehingga diketahui sejauh mana kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan kota dalam rangka megintegrasikan perencaaan ketahanan dalam perubahan iklim. Belum adanya koordinasi antar lembaga dalam 114 . Tabel dibawah ini memperlihatkan kekuatan dan kelemahan masing-masing komponen yang terjadi di Kota Bandar Lampung: Tabel 7-7.

Selain itu. Hal ini dapat diawali dengan berbagai kegiatan studi tentang mitigasi dan adapatasi bahaya perubahan iklim yang selanjutnya dijadikan sebagia masukan penting di dalam dokumen rencana pembangunan tersebut. Hal ini mengakibatkan kebijakan dan peraturna perundangan yang akan disusun menjadi multi tafsir dan kurang dapat diaplikasikan di tingkat lokal. Hal ini merupakan kekuatan bagi pemerintah kota untuk mengatasi permasalahan yang potentsial dihadapi oleh kota yang berkaitan dengan perubahan iklim. adanya Badan Penanggulan Bencana Daerah juga memberikan kekuatan bagi kota Bandar Lampung untuk mengantisipasi bahaya perubahan iklim. Tim Kota yang terdiri dari berbagi latar belakang institusi ini akan memberikan cukup banyak masukan baik bagi pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya. Akan tetapi keberadaan kedua tim dan badan ini perlu didorong secara lebih efektif sehingga mampu memberikan kontribusi yang positif di masa mendatang. 115 . Keberadaan Tim Kota Perubahan Iklim merupakan sebuah awalan yang bagus bagi kota Bandar Lampung untuk menyusun program yang berkaitan dengan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. umumnya terminilogi dan metodelogi yang berkaitan dengan perubahan iklim yang akan dimasukkan dalam peraturan perundangan tersebut masih belum jelas. Agar dokumen tersebut mampu menjawab permasalahan yang akan dihadapi maka aparat pemerintah kota serta pemangku kepentingan lainnya perlu meningkatkan pemahaman tentang perubahan iklim sehingga akan memiliki pemahaman yang sama tentang bahaya perubahan iklim bagi kota Bandar Lampung. Sementara itu dalam kaitannya dengan peraturan dan kebijakan yang mendukung ketahanan terhadap perubahan iklim. Pada saat yang sama terdapat beberapa program dari pemerintah seperti PNPM Perkotaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya di kawasan kumuh. Akan tetapi pada saat yang sama juga terdapat kelemahan pada komponen ini yaitu belum terintegrasinya program dan kegiatan yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan di kota Bandar Lampung. Akibatnya program dan kebijakan yang diambil sering tumpang tindih. Penyusunan RPJMD yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung pada tahun 2010 merupakan kesempatan yang sangat baik bagi pemerintah kota untuk memasukkan substansi adaptasi dan mitigasi bencana serta perubahan iklim. saat ini pemerintah kota Bandar Lampung sedang menyusun peraturan perundangan yang berkaitan dengan adapatasi dan mitigasi terhadapa bahaya perubahan iklim.Komponen Kekuatan program nasional yang didukung lembaga internasional Kelemahan pemanfaatan dana program dan kegiatan sehingga masih memungkinkan terjadinya duplikasi Belum berjalannya koordinasi program dan kegiatan lintas sektor dan lintas wilayah Pelaksanaan program dan kegiatan • Adanya program dan kegiatan yang telah dan sedang dilakukan pemangku kepentingan • Tabel tersebut menggambarkan bahwa para pemangku kepentingan di kota Bandar Lampung telah secara bersama-sama terlibat dalam upaya untuk meningkatkan kewaspadaan serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi bahaya perubahan iklim. Akan tetapi. Akibatnya para pemangku kepentingan masih sering salah persepsi terhadap terminologi serta aplikasi perubahan iklim.

• Telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung pada bulan November 2009. Adanya program-program pembangunan infrastruktur pada tingkat masyarakat yang responsif terhadap perubahan iklim [PNPM Kota Bandar Lampung].10. Adanya sosialisasi kepada warga terkait PLBK (Program Lingkungan Berbasis Komunitas) di Bandar Lampung Adanya keterlibatan LSM dalam berbagai program penanganan lingkungan skala masyarakat di Kota Bandar Lampung • • • • • 116 . Mitigasi Bencana. 7. namun belum ditetapkan secara legal formal dan dijadikan acuan bagi pemangku kepentingan. Temuan dan Rekomendasi untuk Perencanaan Ketahanan Kota dalam rangka Perubahan Iklim Secara ringkas temuan dan rekomendasi yang dapat diberikan terkait dengan perencanaan ketahanan kota dalam rangka perubahan iklim adalah sebagai berikut: • Terkait Penataan Ruang & Penanggulangan Bencana: RTRW Kota Bandarlampung dalam proses revisi dan merupakan kesempatan untuk memberikan masukan substansi terkait adaptasi perubahan iklim Terdapat beberapa substansi normatif yang harus ada diantaranya RTH dan . Anggaran dan dana yang ada ini juga harus didukung dengan kemitraan diantara pemangku kepentingan. Telah disusun beberapa studi terkait mitigasi bencana yang intinya menggambarkan kondisi kebencanaan kota. dimana diharuskan untuk memenuhi RTH sebesar 30 persen. misalnya dengan pembangunan Talud untuk tanah rawan longsor dan pembangunan drainase di daerah pesisir Pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasiuntuk daerah potensi padi dan penyediaan sumur pompa dan sumur dalam untuk daerah holtikultura Penyusunan RTRW Kota Bandar Lampung yang mengacu pada UndangUndang Penataan Ruang. namun belum efektif dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan. oleh karena itu pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap bencana yang akan datang sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. landasan pelaksanaan. Namun demikian idealnya pemerintah daerah juga harus mengimbangi pendanaan tersebut dengan menaikkan alokasi anggaran pembangunan daerah yang berkaitan dengan perubahan iklim. Melalui kemitraan ini maka akan dihasilkan program-program yang integratif untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan pembangunan perkotaan lainnya serta memberikan kekuatan yang lebih besar kepada masyarakat untuk menghadapi bahaya perubahan iklim. indikasi program dan rencana tindak penanggulangan bencana kota. Hal ini perlu dilakukan karena bahaya perubahan iklim tidak lagi bersifat wacana.Adanya komitmen dan dana bantuan baik di tingkat nasional maupun internasional merupakan peluang dan kekuatan bagi pemerintah kota untuk dapat menyusun dan melaksanakan program yang bekaitan dengan perubahan iklim. dll.

Peningkatan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim dengan menggali dan mengembangkan berbagai upaya dan kearifan lokal melalui pilot project adaptasi perubahan ikilim.Berdasarkan temuan tersebut maka beberapa masukan bagi Pemerintah Kota untuk mengantisipasi bahaya sebagai akibat perubahan iklim adalah sebagai berikut: • Memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang. Mengintegrasikan kerangka adaptasi perubahan iklim terhadap dokumen perencanaan pembangunan dan penataan ruang Kota Bandar Lampung Masukan metodologi dan substansi bagi penyusunan dan revisi Rencana Tata Ruang Kota (RTRW) terkait dengan isu dan dampak perubahan iklim Masukan metodologi dan substansi bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Daerah terkait dengan isu dan dampak perubahan iklim • Peningkatan pemahaman dan kepedulian mengenai perubahan iklim untuk semua pemangku kepentingan [pemerintah. • • 117 . Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. masyarakat dan swasta] melalui shared learning. strategi komunikasi dan capacity building program. Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah diperlukan untuk memungkinkan mereka dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi.

Maka wajib untuk menantang gagasan-gagasan kita tentang siapa dan apa yang adaptif karena tidaklah mudah bagi kita untuk membicarakan kerentanan. saya melihat kepada bagaimana dampaknya dibatasi. terhadap peristiwa-peristiwa yang tak terduga di luar kendali langsung mereka. Strategi Adaptasi di Bandar Lampung Berikut ini diuraikan beberapa strategi adaptasi yang berbeda di masyarakatmasyarakat yang diteliti selama Penilaian Kerentanan Berbasis Masyarakat. 8. semakin adaptif seseorang atau masyarakat semakin mereka mampu mengatasi perubahan yang mungkin terjadi. strategi-strategi tersebut juga berkait kepada adaptasi bertahan hidup yang didasari oleh kebutuhan untuk beradaptasi dan bertahan di kota. Sejumlah besar populasi masyarakat miskin. pindah ke kota menemukan tantangan yang benar-benar berbeda. Bertahan hidup di wilayah perkotaan di negara-negara berkembang bukanlah untuk yang mudah. Maka untuk pendatang. stabilitas ekonomi (tidak harus kesejahteraan). Karena adaptasi tidak dapat menghilangkan resiko cuaca yang ekstrim. kolaborasi. kehidupan di kota penuh dengan strategi adaptasi dan bertahan hidup. yang mengandalkan siklus alam. contoh-contoh adaptasi terdahulu. yang mencari penghidupan dan pemukiman di tempattempat yang paling menantang merupakan testamen kualitas adaptif yang tinggi. melainkan kapasitas untuk beradaptasi. Kedua gagasan 118 . ke ekonomi pasar. dan lain-lain. atau persiapan yang memadai. Sementara semuanya terkait kepada adaptasi terhadap peristiwa-peristiwa iklim yang parah. Strategi adaptasi akan dinilai melalui sudut pandang kapasitas mereka untuk mengatasi fenomena iklim.BAB 8 ADAPTASI Adaptasi merupakan kualitas seseorang untuk mengubah dirinya sendiri atau lingkungan sekitarnya dalam rangka menjadi yang lebih cocok untuk bertahan hidup.1. Ini adalah studi spekulatif tetapi orang dapat memahami kapasitas untuk adaptasi dengan mengidentifikasi kualitas mereka dan kapasitas masyarakat yang harus beradaptasi. Warga miskin kota menunjukkan bahwa mereka berada di antara yang paling mengadopsi dalam mengembangkan strategi adaptasi lantaran mereka harus berkonsolidasi diri dalam konteks perkotaan yang terkadang kejam yang bagi kebanyakan mereka tidaklah familiar dan tidak siap untuk masuk ke dalamnya sejak dini. Mempertimbangkan bahwa mereka yang pindah ke kota lahir di daerah pedesaan di sekitar kota. Lalu saya mencoba untuk mengekstrak pembelajaran dan faktor-faktor yang mungkin berkontribusi di setiap strategi yang layak dan berhasil. baik dengan respons mereka. Di antaranya adalah: keragaman. pendidikan. Saya melihat dari awal pada keanekaragaman cara bagaimana masyarakat di setiap kota telah mengembangkan strategi adaptasi. tetapi juga potensi adaptasi baru di kala bencana. apa yang mereka lakukan dan apa kontribusinya untuk meningkatkan ketahanan. produksi pertanian yang melimpah dan aktifitas yang telah berlangsung lama yang sedikit atau tidak membutuhkan pengetahuan dari bangku sekolah. fleksibilitas dan kesehatan. Ini adalah komponen kunci ketahanan. tetapi mereka dalam serba terbatas untuk merespons resiko fisik seperti banjir. menuju peluang-peluang yang secara konstan berpindah-pindah. Di bagian ini kita lihat tidak hanya adaptasi yang sudah dikembangkan masyarakat dan perorangan.

apa faktor yang mungkin berkontribusi dalam keberhasilan. analisis dilakukan untuk mengumpulkan pembelajaran tentang apa yang membuat adaptasi-adaptasi tersebut layak. Ini untuk mencegah paparan air laut terus menerus dan selanjutnya mengurangi kebutuhan mengganti tonggak rumah setiap enam bulan sekali. telah membangun tanggul kecil (setinggi 60 cm) untuk mencegah limpasan air ke dalam rumah selama kondisi banjir tinggi. Perbaikan dan infrastruktur structural: Di beberapa wilayah di Pasir Gintung. selain meningkatkan peluang instalasi layanan publik lokal dan meningkatkan akses. Bandar Lampung • Reklamasi lahan yang progresif: Garis pantai kampung Kangkung telah direklamasi secara progresif sepanjang tahun oleh akumulasi tanah dan sampah. Tabel lainnya juga menggambarkan cara-cara adaptasi-adaptasi tersebut berkontribusi kepada tanggap. kesiapsiagaan dan ketahanan bencana. Tinggal di atas air: Keluarga-keluarga yang tinggal di atas air seperti di Kota Karang telah beradaptasi terhadap kebutuhan ekonomi seperti akses ke tempat kerja. Konsolidasi kampung secara bertahap: Masyarakat miskin perkotaan seperti di Kangkung (Lingkungan 2) dan Pasir Gintung (Lingkungan 2) telah mengkonsolidasikan kampungnya dan dengan demikian mengurangi kerentanan dengan perbaikan ke atas. Sebagai contoh di Kangkung. dan adaptasi mereka mereka ke kotanya yg baru dalam bentuk adaptasi terhadap tantangan kondisi fisik dan lingkungan dalam rangka mengamankan kondisi ekonomi yang dibutuhkan. investasi berkelanjutan dari pemerintah daerah atau sejumlah 119 • • • • . bahkan dari daerah lain di Indonesia. seringkali dengan membangun tanggul-tanggul kecil dari batu yang diisi dengan tanah di dalamnya. Namun proses ini mendorong secara aktif pembuangan sampah di badan air dan di pantai. pasar. Penumpukan sampah memancing hama (tikus dan nyamuk) yang menyebabkan kondisi yang tidak sehat dan angka penyakit malaria yang tinggi. Bahkan tanpa hak kepemilikan lahan yang jelas. Kebanyakan mereka datang dari kota-kota yang berbeda. Uang dikumpulkan antar tetangga dan pekerjaan dilakukan secara gotong royong. peluang dan jasa. dan kurangnya akses ke darat. Hasilnya banyak rumah-rumah yang tadinya berdiri di atas air sekarang berdiri di atas tanah padat. penduduk setempat telah berinisiatif untuk memperbaiki struktural di lingkungan mereka tanpa menunggu uluran tangan pemerintah daerah. Adaptasi terhadap bentang alam meningkatkan permanensi pemukiman dengan mengurangi kebutuhan untuk mengganti pos-pos yang terekspos air dan biaya pemeliharaan yang tinggi. Ternyata tanggul penghalang kecil dan terbatas cukup efektif dan responsif terhadap kebutuhan mereka. kebanyakan rumah-rumah nelayan yang dibangun di atas tonggak kayu diperkuat dengan sarung beton. Meningkatnya perumahan yang tahan air: Di kampung nelayan Kota Karang dan Kangkung terdapat banyak adaptasi arsitektur ke atas untuk membuat rumah mereka lebih tahan dari efek destruktif air laut. Penduduk di bantaran sungai contohnya. Pekerjaan ini dapat dikerjakan ke atas (tidak harus sekaligus) dan memberikan ruang-ruang finansial bagi keluarga. Di bawah daftar.tersebut sangat saling berkaitan. sebagaimana halnya hambatan dan peluang.

tetapi menerapkan suku bunga yang tinggi dan ketergantungan pada reputasi seseorang di lingkungannya. tetapi digunakan untuk menyimpan barang-barang berukuran besar (seperti gerobak dan bahan bangunan). melainkan tradisi suku Bugis dari pendatang. banjir dan abrasi pantai. kurangnya fasilitas publik dan lahan. dimana lahan sulit diperoleh (di Kota Karang dan Kangkung). rumah dibangun di atas panggung. seperti di sepanjang bantaran sungai di Kota Karang. ini adalah alternatif yang membantu mereka menghemat pengeluarannya dan penggunaan air. masyarakat setempat telah memperbaiki sistem drainase secara progresif. Konstruksi ini juga membuat rumah bebas banjir musiman dan dengan demikian mengurangi kerentanan dan kerugian harta benda saat terjadi banjir besar yang tidak normal. Tak bisa dipungkiri bahwa bagaimanapun bebapa orang Bugis Berjaya di kotanya dan mereka memutuskan untuk mengadopsi model-model rumah konvensional (yang berada di atas permukaan tanah) dan maka dari itu kehilangan atributatribut arsitektur adaptif lantaran mereka berakulturasi dengan lingkungan sekitar. Keluarga-keluarga sering kali membutuhkan akses dana untuk menambah pendapatan mereka dan yang mereka lakukan adalah mencari kredit dari tukang kredit dan toko-toko setempat. Proyek-proyek kolaborasi warga: Warga berkolaborasi dalam rangka memperbaiki lingkungannya dengan menyumbangkan waktu liburnya untuk proyek-proyek warga seperti kerja bakti bersih lingkungan dan membangun tanggul penahan. ukuran pertahanan hidup yang reaktif. Mengumpulkan air membuat mereka mengurangi ketergantungan kepada sistem pengaliran air PDAM yang tidak melayani mereka. Ini tidaklah mengacu pada adaptasi terhadap resiko iklim tertentu.• • • • besar modal selama beberapa tahun. bahkan meskipun rumah tersebut di atas tanah kering. Kelembagaan ini dibentuk untuk kebutuhan alamiah informal. Cara ini membuat mereka lolos dari krisis keuangan periodik dengan memiliki asset-asset yang bisa digadaikan sewaktu-waktu atau orang-orang dan lembaga-lembaga informal dari mana mereka mendapatkan akses ke sumber daya. Cara lain adalah menjual asset seperti televisi dan sepeda motor untuk menggalang dana di saat darurat atau membutuhkan dana instan. tidak melibatkan proses-proses birokrasi atau tabungan. meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan resiko-resiko tersebut. Penampungan air dan peternakan hewan: Keluarga yang kekurangan air dan makanan mengumpulkan air dengan menampung air hujan untuk kegiatan bersih-bersih dan kadang kala memasak daging (ayam. Proyek-proyek di kampung Pasir Gintung membersihkan 120 . Beradaptasi terhadap kebutuhan sosial ekonomi. Hal ini mengurangi kejadian dan resiko longsor. atau untuk berpartisipasi dalam arisan warga. dan memasang pipa air bersih. baik untuk sehari-hari maupun mengatasi kondisi dan bencana cuaca yang ekstrim adalah kemampuan mengakses sumber daya. Membangun rumah panggung: Di beberapa kampung. Kemampuan mengakses dana tunai melalui fasilitas kredit dan gadai: Strategi pertahanan hidup yang banyak digunakan. Keluarga-keluarga tersebut secara tidak sengaja tinggal di rumah panggung di atas laut. tetapi menunjukkan bahwa kapasitas masyarakat untuk berhadapan dengan resiko perubahan iklim sendiri dengan proyek-proyek sederhana dan tidak bergantung pada yang besar-besar. membangun tanggul penahan dan tanggatangga. ayam betina dan kadang-kadang kambing) untuk tambahan menu makanan mereka.

warga miskin perkotaan tidak menunggu pemerintah untuk menolong mereka. Bisa diakses pada saat dibutuhkan: Strategi-strategi adaptasi juga harus bisa diakses pada saat dibutuhkan. kita bisa mencari petunjuk-petunjuk yang memudahkan kita untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi kepada strategi-strategi adaptasi yang baik dan efektif. ketimbang mengikuti proses aplikasi yang birokratis yang mungkin mengharuskan pengurusan surat-surat yang lama. atau bahkan kelompok-kelompok arisan yang mengumpulkan dana yang sangat minimal. dengan kegagalan membersihkan saluran air buangan di bagian hulu akan memperparah kondisi wilayah lain di hilir. adaptasi-adaptasi ini memiliki tujuan dan efek terhadap kehidupan mereka setiap hari. motor atau asset yang laku dijual. Ini merupakan poin yang sangat penting untuk dikenali.saluran air buangan yang membantu mereka meyakinkan bahwa air buangan tidak menjadi ancaman atau melimpah dari gorong-gorong dan merusak rumah-rumah dan properti. masyarakat di kota menginginkan akses ke sumber-sumber dengan cepat dan ini merupakan karakteristik yang sangat penting dari strategi adaptasi yang berlaku. sumber-sumber tersebut langka.2. Di bawah ini beberapa kualitas umum yang muncul dalam strategi-strategi adaptasi yang tercatat di atas: • Cukup hanya ‘bekerja’: strategi-strategi adaptasi di atas merupakan respons yang sangat praktis terhadap ancaman-ancaman utama dan realita penduduk yang diteliti. 8. dan untuk warga miskin kota. Respons mereka telah berkembang karena mereka bekerja untuk mereka sendiri. Evolusi hampir selalu meningkat dan berasal dari bahan-bahan yang tidak mahal atau gratis. Mereka mandiri. dan mengapa warga memilihnya? Meskipun analisis komprehensif hanya bisa dilakukan secara realistis di balik peristiwa iklim yang parah. Tidak mahal dan bekerja dengan bahan-bahan yang tersedia: Strategistrategi adaptasi bisa makan waktu untuk berkembang. sehingga berkembang oleh aplikasi yang konsisten secara waktu dan sumber daya. Kegiatan ini disebut gotong royong dan membutuhkan kolaborasi yang konsisten dan terkoordinir antara kelompokkelompok dan wilayah-wilayah yang berbeda di suatu wilayah. Hal inilah yang warga sanggup lakukan dan yang masuk akal bagi mereka. Jadi mereka lebih 121 • • • . lalu faktorfaktor apa yang membuatnya terjadi. Hal ini bisa menjadi tantangan karena sebagian wilayah lebih berdedikasi ketimbang lainnya dalam kerja bakti bersih lingkungan. keluarga bisa menjual televise. Pembelajaran Strategi adaptasi yang teridentifikasi di atas memberikan wawasan ke arah pemahaman apa yang disebut strategi yang layak dan berhasil. mudah dikelola dan diakses. Dalam rangka mengumpulkan modal untuk pulih dari banjir. Tidak bergantung kepada proyek-proyek atau intervensi pemerintah yang besar: Di negara yang sumberdaya pemerintahnya terbatas dan mungkin kurang merespons. terutama pada saat-saat yang sulit. yang lebih penting adalah bahwa secara yang paling praktis. sukses belum tentu dianggap memiliki dampak skala besar. Contoh-contohnya seperti memulung bahan bangunan dari tukang loak terdekat. bukan karena terdengar seperti ide-ide yang bagus dan berpotensi. Pada umumnya. Untuk strategistrategi untuk dikembangkan dan dilaksanakan harus sudah dilakukan.

Sedangkan intervensi pemerintah diapresiasi dan swadaya masyarakat nampaknya menjadi karakteristik kunci strategi adaptasi. Menyesuaikan bantuan pemerintah mendorong hasil yang lebih baik: Jika masyarakat mampu bekerja bersama-sama dengan pemerintah setempat dan kota (dan sebaliknya). Pada kasus yang sangat sederhana. Masyarakat saling memikirkan satu sama lain dan jika pertimbangan ini diterjemahkan ke dalam aksi kolektif. Saat fase perjanjian dari insiasi ini akan terdapat kesempatan untuk mengimplementasikan proyek skala kecil untuk mengembangkan multi-stakeholder dalam rencana aksi ketahanan kota. pendidikan dan mata pencaharian. maka akan menghasilkan dampak yang signifikan dan berkelanjutan pada kondisi lingkungan warga. Contohnya. 8. maka adaptasi yang berhasil bagi mereka adalah yang bekerja dengan strategi lain yang mereka pertimbangkan. pengetahuan kelompok-kelompok arisan atau suku bunga yang berbeda dari kreditur setempat dapat menambah pilihan-pilihan ekonominya dan mengurangi kerentanannya. Aktivitas perdana ini ditujukan untuk menguji pendekatan yang inovatif dan berpotensi untuk diduplikasi untuk digunakan dalam meningkatkan ketahanan kota.• • • • bergantung kepada organisasi dan inisiatif masyarakat yang lebih merespons kebutuhan mereka dengan cara mereka sendiri. Jika sesuatu dapat membuat mereka lebih aman dan juga membuat makin sejahtera. jika investasi masyarakat sesuai atau sejalan dengan investasi pemerintah. tetapi jika manfaat lain dapat diperoleh. Strategi adaptasi dapat menolong mereka untuk memiliki akses lebih kepada informasi dan maka dari itu mampu mengambil keputusan yang lebih baik tentang situasi mereka akan mendorong keluaran yang lebih baik. maka solusi tersebut menjadi berfungsi sebagaimana mestinya. Menyeluruh lebih besar daripada sejumlah bagian: Banyak strategi adaptasi berhasil karena mereka memanfaatkan upaya kolektif dan kekuatan masyarakat. Keselamatan diri sendiri bukanlah faktor yang memotivasi. baik itu ekonomi. Akses lebih kepada informasi akan mendorong keluaran yang lebih baik: Masyarakat yang rentan mengevaluasi situasi mereka secara konstan. Pilot Project daerah Bandar Lampung sebagai Rencana Aksi Adaptasi Bandar Lampung sedang mencari contoh model untuk menguji pendekatan yang dapat berkontribusi terhadap rencana ketahanan kota. perumahan. seperti kesehatan. Jarang sekali yang berupa upaya perorangan. Tidak hanya kerelaan untuk bekerja bersama. maka itulahyang mereka inginkan. strategi adaptasi nampaknya akan berhasil. tetapi juga keyakinan bahwa melakukan bersama-sama akan menghasilkan yang lebih baik. Adaptasi terhadap peristiwa iklim yang parah harus dilakukan bersama-sama dengan strategi adaptasi lainnya: Mereka yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim tidak tahu atau tidak peduli apabila tidak memberikan manfaat kepada aspek-aspek kehidupanya. hasilnya bisa signifikan. perumahan ataupun kesehatan.3. Masyarakat miskin kota biasanya terisolasi dan maka dari itu strategi adaptasi yang berhasil nampaknya akan meningkatkan akses informasi mereka. Karena warga miskin kota memiliki pandangan yang sangat praktis. 122 .

kesadaran. Terskala 7. Universitas. Menanggapi masalah yang terdapat saat ini dan masa depan 3. Menguntungkan masyarakat local 4.Tujuan dari implementasi perdana ini adalah: . LSM. Lampung Ikhlas merupakan asosiasi terbuka dan mandiri yang bergerak dibidang solidaritas antara korban bencana alam dan kemanusiaan. yaitu: . Dan sebagai tanggapan terhadap masalah lokal di kota Bandar Lampung yang disebabkan oleh pengaruh prubahan iklim pada sector lingkungan dan ketersediaan air. Lampung Ikhlas secara aktif telah menerapkan aktivitasaktivitas yang berkaitan dengan respon darurat terhadap bencana. Aktifitas dari pilot project ini harus mengikuti atau sejalan dengan criteria di bawah ini: 1. dll. maka mereka telah memilih dua kelurahan untuk menerapkan pilot project. kesehatan. longsor. Didirikian pada tanggan 26 Desember 2004.Implementasi dari pilot project ini diarahkan untuk adaptasi dan merespon usaha yang dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim. pendidikan. anak kecil. ekonomi yang berkaitan dengan perubahan iklim . dan orang – orang tua. mempengaruhi kebijakan local. dan grup-grup masyarakat) . program sukarela.Implementasi dari pilot project harus berkaitan dengan masalah local pada administrasi local atau administrasi daerah “cross border” pada masalah lingkungan. dan partisipasi masyarakat dalam rangka mewujudkan kapasitas adaptasi untuk 123 . Bandar Lampung City to Climate change”. seperti erosi. Merupakan strategi yang berkelanjutan Ada beberapa criteria tambahan yang harus diterapkan oleh pilot project. Kota Bandar Lampung pada Perubahan Iklim oleh Lampung Ikhlas (LSM Lokal). banjir. Tujuan dari proyek ini ialah untuk meningkatkan pengertian. dll.untuk menguji kapasitas adaptasi di dalam masyarakat Target utama dari pilot project ini adalah masyarakat yang rentan terhadap pengaruh perubahan iklim. kekringan. social. dll. Berikut ini merupakan pilot project terpilih untuk Bandar Lampung: Pilot Project pertama untuk Bandar Lampung: Desain dari Partisipasi Adaptasi Ketahanan Masyarakat di Kangkung dan Kelurahan Kota Karang. Orang yang akan merasakan manfaat dari proyek ini adalah wanita.untuk mengimplementasikan pilot project yang menguji strategi ketahanan terhadap perubahan iklim .untuk mengikat para stakeholder tingkat kota (pemerintah kota. Dapat direplikasi 2. Inovatif 5. yaitu kelurahan Kangkung dan Kota Karang. sector swasta. Kolaborasi 6. Judul dari proyek Lampung Ikhlas ini ialah: “participatory design adaptation of Community Resillience in Kangkung and Kota Karang sub-district.untuk menyiapkan daftar pengaruh perubahan iklim pada level kota . CBO. baik dengan peningkatan kesadaran. kapasitas local.

keluarga miskin. 3. meningkatkan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. membangun pengertian dan menerapkan aktivitas dari program untuk lingkungan social di kelurahan Kangkung dan Kota Karang mengenai pengaruh perubahan iklim (dalam lingkup social. sosialisasi program: untuk membentuk partisipasi sukarela dari masyarakat lokal dalam menerapkan proyek. UNAVAILABLE OF SUBDISTRICT SPATIAL PLAN UNEXISTENCE OF MANAGEMENT FROM SUB-DISTRICT RESIDENTIAL AND WARD DO NOT ADAPT TO CLIMATE CHANGE THREAT TO WORKING ACTIVIIES SUSTAIBANI LITY VULNERBALE COMMUNITIES TO CLIMATE CHANGE UNEXISTENCE OF GOVERNMENT POLICIES SUPORT TO CLIMATE CHANGE NO SOLIALIZATION OF CLIMATE CHANGE IMPACT AND ADAPTATION UNAPPROPRIATE RESPONSE/ BEHAVIOR TO CLIMATE CHANGE RESIDENTIAL DEVELOPMENT AND WARD DO NOT ADAPT TO CLIMATE CHANGE Gambar 8-1. ketahanan kehidupan ekonomi. Target dari program ini ialah masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim yang mempengaruhi daerah pesisir: kelurahan Kangkung dan Kota Karang.menghadapi pengaruh perubahan iklim. kenyamanan. LFA Analisa Problem Aktivitas proyek ini akan mencakup: 1. Yang akan mengimplementasikan aktivitas ini ialah grup-grup yang telah ada di dalam masyarakat. manajemen lingkungan. dalam hal peningkatan pemasukan. ekonomi. 124 . 2. anak kecil. dan peningkatan pengetahuan. Untuk lebih jauhnya. meningkatkan kesadaran masyarakat di kelurahan Kangkung dan Kota Karang terhadap perubahan iklim. target dari proyek ini adalah: 1. memperbaiki status kesehatan. dan lainnya. termasuk wanita. membantu untuk meningkatkan standar kehidupan masyarakat dalam sector kesehatan. dan adaptasi terhadap perubahan ikllim. dan sector kehidupan yang berkelanjutan). laki-laki dewasa terutama dari keluarga nelayan. 4. Yang akan merasakan keuntungan dari program ini ialah: masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim.

4. dan kemauan dalam masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim.usaha adaptasi terhadap perubahan iklim melalui manajemen persampahan. 125 . 5. kampanye media: untuk mensosialisasikan pengaruh perubahan iklim dalam rangka menumbuhkan ketahanan masyarakat melalui penyebaran leaflet.2. dan membentuk grup manajemen air bersih melaluii pelatihan filtrasi air payau dan membangun instalasi filtrasi air payau. memecahkan masalah minimnya ketersediaan air bersih karena perubahan iklim. 3. Focus group discussion (FGD): untuk membentuk kebersamaan.membangun kesadaran masyarakat dalam meningkatkan pengertian dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengaruh perubahan iklim. poster. dan banner. pembuatan pupuk organic. 6. Dan sebagai tanggapan terhadap pengaruh perubahan iklim di kelurhana Panjang selatan. Target dari proyek ini ialah: 1. lomba menggambar sampah. 7. dan rehabilitasi. kesiapan. Mitra Bentala telah bekerjasama dengan pemerintah. sector swasta. dan berkelanjutan”. . Penyediaan saran air bersih: meningkatkan kapasitan masyarakat. manajemen sampah: meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat untuk memecahkan masalah mengenai penyakit akibat perubahan iklim. stiker. penyediaan air minum. kalender. adil. Sejak didirikannya. dan aktivitas pembangunan fasilitas daur ulang sampah. Pilot Project kedua di Bandar Lampung: Pembentukan kapasitas “capacity building” untuk kelurahan Panjang Selatan untuk menghadapi perubahan iklim yang dilakukan oleh Mitra Bentala (LSM lokal) Mitra Bentala didirikan pada tanggal 9 April 1995 dengan visi “kedaulatan masyarakat pesisir pantai dan pulau-pulau kecil Lampung dalam manajemen sumber alam yang demokratis. survey: untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai daerah dan masalah-masalahny untuk mendukung kesuksesan proyek. Periode jangka pendek: . Video dokumentasi: untuk menjelaskan tahap-tahap aktivitas proyek. Tujuan dari proyek ini ialah “sebagai usaha untuk menguatkan kapasitas masyarakat dalam usaha untuk meningatkan ketahanan masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan dalam menghadapi perubahan iklim”. dan . dan masyarakat dalam aktivitas-aktivitas yang mencakup daerah pesisir dan pulau kecil. Mitra Bentala telah memilih implementor pilot project ini yang berada di kelurahan Panjang Selatan. institusi pendidikan. Judul proyek Mitra Bentala ini ialah: Pembentukan kapasitas “capacity building” untuk masyarakat kelurahan Panjang Selatan untuk menghadapi perubahan iklim”. dan juga meningkatkan pemasukan dengan melakukan pelatihan daur ulang sampah.meningkatkan kapasitas masyarakat melalui partisipasi aktif dan meningkatkan pengetahuan mengenai usaha adaptasi terhadap perubahan iklim. LSM lokal.

terutama masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim.2. Periode jangka panjang: . Campaign: poster. termasuk keluarga nelayan. and t-shirt 3. Installation of drinking water refill training 1. .Natural resources training 4. . Drinking water installation refill 3. kepala rumah tangga wanita.Waste management training 5. dan lainnya. Eco-feminism education 6. Masyarakat yang akan merasakan keuntungan dari program ini ialah: masyarakat di tiga daerah terpilih kelurahan Panjang Selatan yang berada dipesisir pantai hingga daerah buki. . Mass-media expose 2.mendorong pembentukannya grup masyarakat untuk adaptasi terhadap perubahan iklim. dan membangun kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. .Documentary film OUTPUT Climate Change Adaptation Community Group Collective Support SUSTAINABLE PLAN Gambar 8-2. Diagram Alur Pemikiran Climate change issues POLICY ORIENTATION Adaptation Efforts to Climate Change M&E 1.Citizen Meeting 3.mendorong pembentukannya dukungan kolektif untuk penerapan adaptasi terhadap perubahan iklim di kelurahan Panjang Selatan. . leaflet. Waste management and facilities providing 2.Disaster evacuation sign board route and map 4. Diagram Alur Aktivitas 126 .Socialization 2. Rehabilitation Climate Change Adaptation Ability/Capacity ACCCRN Team Panjang Selatan Subdistrict MITRA BENTALA EFFORT IN CLIMATE CHANGE ADAPTATION Community Capacity Building Building Awareness 1.

Beginilah caranya strategi adaptasi dapat membangun ketahanan. pendirian grup manajemen persampahan. 127 . Kesanggupan untuk membangun dapat menghambat atau memicu pembangunan dan adaptasi Akses fisik ke sumber daya. Informasi dapat memperkuat dengan memberikan alat untuk mengakses pengetahuan dan sumber daya. Kapasitas yang berlebihan dapat membatasi kemampuan untuk jadi fleksibel dan mengatasi perubahan secara efektif. manajemen persampahan: pelatihan manajemen persampahan. rehabilitas (penanaman pohon). 2. serta bagaimana kapasitas saat ini harus diperkuat dan rencana tata ruang ditingkatkan untuk membentuk ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik dari pilot proyek tersebut dalam merancang kebijakan dan strategi jangka panjang untuk mengatasi perubahan iklim. leaflet. Kampanye: dokumentasi video dan pembuatan poster. 3. (i) Apa saja faktor-faktor dimana adaptasi bergantung? • Uang • Kapasitas • Pemahaman • Akses informasi Kolaborasi dan keterlibatan pemerintah setempat • Migrasi dan laju pertumbuhan • Penyediaan layanan publik • Mobilitas Kekurangan akses modal yang menghambat kapasitas melakukan investasi. Adaptasi dan Ketahanan: Tabel berikut (lihat Lampiran) berusaha untuk mengkategorikan bagaimana adaptasi yang diuraikan di atas bisa dipahami (i) sebagai kontribusi kepada ketahanan. Aktivitas proyek ini akan mencakup: 1. apa saja hambatannya dan peluang-peluang apa saja yang ada di masyarakat yang diteliti yang dapat menjadi basis untuk pengembangan ketahanan masyarakat lebih lanjut. Instalasi isi ulang air minum: pelatihan pemasangan instalasi air minum dan penyediaan instalasi isi ulang air minum. informasi dan perangkat bergantung kepada akses fisik. dan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah. Kewajiban untuk belajar tentang adaptasi dan ancaman dan bagaimana meresponsnya. dengan menyiapkan sedari awal warga dapat mengurangi resiko dan/atau memfasilitasi respons yang membiarkan mereka untuk pulih seperti sedia kala. pendidikan eco-feminism. 4. dan pembuatan rute dan peta evakuasi saat terjadi bencana. dan peningkatan kewaspadaan terhadap bencana: manajemen pendidikan sumber daya alam. Marginalisasi dari pengambilan keputusan dapat menjauhkan dari akses informasi. sosialisasi: program sosialisasi pada tingkat kelurahan dan grup diskusi pada tingkat kota terpilih. 5. dan (ii) dengan mengurangi dampak peristiwa iklim dengan memfasilitasi kesiapsiagaan bencana dan tanggap bencana. rehabilitasi. Kurangnya kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi yang berbeda. 8. dan kaos. Hambatan dan Peluang untuk penguatan kapasitas adaptasi: Di bawah ini dirinci analisis terhadap faktor-faktor eksisting dimana adaptasi bergantung. pendidikan sumber daya alam. sumber daya dan perangkat yang dibutuhkan untuk beradaptasi secara efektfi terhadap kondisi yang berbeda.4.Pilot proyek diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam memahami bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada masyarakat dan sektor.

Masyarakat yang tidak beruntung sering mengalami penderitaan dari isolasi. Ketidaksanggupan pemerintah daerah untuk mengkoordinir aksiaksi mereka secara kelembagaan (antar departemen) dan secara keruangan (lintas wilayah jurisdiksi) dapat menghambat implementasi program. ekonomi dan politik. fisik. kerentanan dapat dikurangi secara besar-besaran dan membuka banyak kemungkinan untuk adaptasi.(ii) Apa saja hambatan dalam mengembangkan strategi adaptasi? Informasi Warga miskin kota memiliki sedikit akses informasi. Masa depan ekonomi tidak ditentukan oleh dinamika dan faktor lokal. mereka terjadi di kota-kota yang berbeda dan negeri-negeri yang jauh. Kebanyakan mata pencaharian penduduk lokal bergantung pada faktor yang jauh dan di luar kontrol mereka. ekonomi dan fisik) Modal (dari warga maupun pemerintah setempat) Kolaborasi masyarakat Kolaborasi kelembagaan + jurisdiksi Sumber daya alam Ketergantungan kepada faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol 128 . Kurangnya investasi lokal (oleh pemerintah dan penduduk) menghamat pengembangan alternative Kurangnya kolaborasi dan kohesi masyarakat dapat melemahkan proses-proses dan proyek-proyek kolektif. yang mengurangi kesempatan mereka. atau membuatnya jadi lebih mahal. dan dapat memperkecil suara masyarakat dalam mengajukan klaim. sehingga mereka tidak tahu mengenai perubahan dan peluang di lingkungannya. Akses (politik. proyek dan inisiatif yang efektif yang dapat membantu strategi adaptasi (contoh: menawarkan layanan kesehatan dan air yang berkualitas) Kurangnya sumber daya alam dapat menghambat kapasitas untuk beradaptasi dengan menghambat perangkat yang bisa diakses untuk mengembangkan strategi perubahan dan adaptasi. Dengan sumberdaya yang memadai.

maka pemerintah kelurahan setempat dapat memiliki ide-ide yang lebih baik tentang layanan yang dibutuhkan (berapa 129 . Mereka telah terbukti berhasil dan efektif Pengumpulan pengetahuan kolektif dapat membantu mengembangkan strategi adaptasi dengan membuka akses kepada modal sosial. sensus dan survai di tingkat masyarakat akan membantu untuk mendokumentasikan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Program dan kebijakan yang ada di kota dan tingkat nasional dirancang untuk memperbaiki kondisi bagi penduduk lokal namun mereka sering tidak diterjemahkan ke dalam inisiatif lokal. Pemerintah daerah mungkin tidak merasakan kebutuhan untuk menyediakan layanan atau berdialog dengan masyarakat. Aktifitas ekonomi yang ada dapat bertindak sebagai dukungan sumberdaya dan politik. informasi. Penduduk setempat yang saat ini bekerja tidak hanya memberikan mereka ketrampilan. Dengan pendokumentasian wilayah yang lebih baik. Jika dipahamin dan dikoordinasikan dengan lebih baik maka dapat membantu strategi adaptasi. Kota-kota yang tak nampak.5. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif: Strategi dan proyek-proyek di bawah ini menawarkan beberapa ide-ide yang mungkin dilakukan untuk memperkuat kapasitas adaptif di Bandar Lampung dan Semarang. Masyarakat lokal yang diteliti menunjukkan kepemimpinan yang kuat. Mereka seenaknya menguasai lahan yang tak terlihat dan ambigu. mereka bisa menjadi sekutu yang kuat. Pelajaran dapat dengan mudah dipelajari dan ditransfer dari kasus-kasus tersebut karena (i) sudah terbukti bekerja dan (ii) lebih mudah diintroduksi dari masyarakat dan kelompok-kelompok yang datang dari konteks yang sama ketimbang dibawa dari luar. membuatnya tak nampak: Dalam kasus masyarakat yang sampai sekarang tidak dikenal atau didokumentasikan. Ide-ide lainnya ditelaah untuk digunakan sebagai modal dalam pembelajaran dan menjawab isu-isu spesifik terkait kerentanan secara multi dimensi yang muncul dengan sendirinya. Itikad baik harus dimanfaatkan dan didorong. Namun apresiasi dan pemahaman akan kebutuhan dan kondisi masyarakat masihlah kurang. mereka juga menggunakan sumber daya yang tersisa. termasuk bagaimana caranya Pemerintah kelurahan setempat Ada banyak adapatasi yang sekarang digunakan dan dikembangkan di dalam lokasi penelitian yang dapat disebarkan dan manfaatnya dipublikasikan. karena mereka tidak peduli skala dan asal muasal kebutuhan tersebut.(iii) Apa peluang-peluang yang ada? Kasus-kasus yang ada dan berhasil Jejaring sosial yang mungkin dilakukan dalam situasi serupa. kualitas yang esensial dalam mewujudkan perubahan dan menjamin ketahanan. memiliki ketrampilan dan kemauan untuk memperbaiki kondisi yang mengarah kepada adaptasi. Preferensi diberikan untuk ketrampilan dan pengalaman yang sudah diterapkan di lokasi penelitian. dan menghasilkan pendapatan finansial yang berharga darinya. perangkat dan pengaruh politik yang potensial Kebanyakan pemerintah daerah sangat telaten membantu warganya. Keberadaan organisasi masyarakat di kedua kota menunjukkan adanya sumber daya manusia yang dapat berkontribusi kepada proses-proses perubahan sosial dimana masyarakat terlibat Program-program pemerintah kota dan nasional Materi dan ketrampilan dari aktifitas industri dan ekonomi Kepemimpinan lokal Kohesi masyarakat Organisasi masyarakat lokal 8. Masyarakat juga menunjukkan tingginya kolaborasi dan kohesi yang membuat proyek-proyek gotong royong terwujud. seperti warga miskin kota di Sukorejo dan pendatang baru di Kota Karang yang terabaikan dan terlupakan. Secara politis.

kasus di RW 5 Kemijen. Hal ini membantu menjawab ketidak sesuaian informasi dan memperkuat warga miskin kota. meski masih satu kota. Perubahan peningkatan skala kecil membantu untuk membangun rumah yang lebih kokoh dan awet secara bertahap dan dengan anggaran yang terbatas. orang tua mereka tidak mampu membiayai ke SMA dan membutuhkan mereka untuk bekerja. saling belajar dan membangun jejaring sosial yang dapat membangun ketahanan. Rumah-rumah panggung di kampung Kota Karang memakai tonggak-tonggak kayu yang diperkuat dengan beton satu per satu. Dengan membuat mereka 130 . Subsidi: Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu yang dihadapi warga miskin kota. Kasus-kasus guna ulang yang adaptif sudah terbukti ada di lokasi penelitian: guna ulang sampah untuk reklamasi pantai di Kangkung dan menampung air dari cucuran atap rumah-rumah di atas air di Kota Karang. Hal ini akan membantu menyediakan sumber air alternatif untuk kegiatan-kegiatan selain memasak dan minum dan juga menjadi penampungan sementara air hujan untuk menghindari banjir dadakan. layanan sosial tertentu tidaklah terjangkau.banyak orang perlu akses ke puskesmas. mereka dapat mengakses segala macam pekerjaan di kota dan tidak bergantung eksklusif pada pekerjaan di sektor perikanan. Penduduk kota yang dipindah akan mendapatkan keuntungan dengan mendapatkan pengetahuan yang berguna untuk menegosiasi kondisi relokasi dan anti rugi dengan pemerintah daerah dan pengembang. Sebagai contoh. Subsidi koneksi akan membantu menurunkan biaya-biaya mereka secara signifikan. Jika subsidi pendidikan dapat mengamankan kehadiran mereka di sekolah sampai selesai SMA. berbagi cerita dan konsekuensi yang berbeda tentang relokasi warga Sukorejo dan Tandang. Di kampung nelayan Kangkung. keduanya merupakan dua contoh pemanfaatan sumberdaya yang ‘gratis’ untuk kegunaan tambahan. Pembiayaan beranggaran rendah untuk perbaikan rumah: Terbukti bahwa warga miskin kota dapat memperbaiki kondisi rumah mereka sendiri dan maka mengurangi kerentanan terhadap resiko iklim. Hal ini meniadakan peluang saling berbagi informasi satu sama lain. atau murid dalam satu kelas) dan sebagai hasilnya dapat menerima alokasi anggaran yang dibutuhkan. berbagi informasi dan belajar. tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sebagain contoh. Dengan mendorong pertukaran dan pertemuan warga dapat mendorong formasi jejaring sosial. satu manfaat potensial adalah sosialisasi konsekuensi program relokasi penduduk. hampir semua anak-anak di atas usia 12 tahun putus sekolah. Guna ulang yang adaptif: Sudah banyak sumber-sumber yang datang ke warga miskin kota lokal yang dapat membantu menunjang ketahanan. Subsidi untuk pendidikan dan air bersih akan membantu menunjang ketahanan dan mengurangi kerentanan di banyak komunitas warga miskin kota. Pemerintah dapat membantu dengan akses subsidi terhadap layanan-layanan tersebut untuk menjamin bahwa warga miskin kota mendapatkan manfaat. membuatnya sedikit terpengaruh oleh ombak dan erosi. Narasi + jejaring masyarakat berbagi: Banyak masyarakat miskin kota hidup terisolir sampai-sampai mereka tidak tahu bahwa realita mereka sangat mirip dengan masyarakat miskin kota di kampung lain yang jauh. warga kekurangan akses modal untuk membayar biaya pemasangan pipa PDAM yang akibatnya mereka sangat bergantung pada penjual air. dan membayar harga yang sangat mahal. Satu ide lainnya adalah pemanfaatan drum air kosong (berlimpah di kawasan pesisir seperti Kota Karang) untuk menampung air hujan dari atap rumah di Pasir Gintung.

Peta seperti itu akan juga menjadi sumber vital untuk respons bencana: pada saat terjadi longsor contohnya. seperti menyiapkan sistem peringatan dini. seperti pengatapan yang lebih baik sebagai contoh. beberapa potensi tersebut dapat dikurangi dan dengan demikian mengurangi kerentanan lingkungan. Gugus Tugas kota dapat ditugaskan mengelola dana tersebut dan menentukan penggunaannya. dan bagaimana kelurahan ini disbanding dengan wilayah lain. adalah model-model yang mungkin dilakukan untuk menyimpan sumber-sumber daya pendanaan untuk peristiwa mendatang. Akses informasi. Jejaring pengaman sosial alternatif: Pada saat ini hanya sedikit kebijakan terkonsolidasi yang tersisa sebagai jejaring pengaman sosial bencana bagi keluarga yang rumah dan propertinya rusak akibat cuaca yang ekstrim. Koalisi luas mengatasi isu perubahan iklim: Mungkin yang terpikir bahwa perubahan iklim hanya terfokus pada warga miskin kota. Melalui investasi yang progresif dalam proyek-proyek dan perbaikan. Gudang kota yang dapat mengumpulkan dan menyimpan barang. Cara ini akan berguna untuk melihat bagaimana perkembangan yang terjadi. atau ketrampilannya sendiri untuk bertahan hidup. Dengan menyimpan peta rinci di tangan yang dapat mengidentifikasi asset. Namun jejaring pengaman sosial lain dapat ditelusuri yang mungkin menyimpan sumber daya di gudangnya. dalam format yang jelas dan dapat diakses sangat penting untuk mengurangi kerentanan dan memperkuat ketahanan. mereka dapat bersiap-siapa lebih baik terhadap bencana terkait iklim. warga dapat membeli bahan bangunan dan perlahan memperbaiki rumahnya secara mandiri. Perbaikan kecil. Peta terinci untuk penggunaan pemerintah kelurahan setempat: Pemerintah Kelurahan Tandang menampilkan ukuran kesiagaan dan respons bencana yang bermanfaat. Tetapi pembentukan koalisi luas tersebut bisa mengumpulkan visibilitas dan dukungan politik. dan akan membiarkan kelompok-kelompok untuk mengetahui strategi apa yang berfungsi dan bidang-bidang apa yang perlu bantuan yang lebih ditargetkan. Ini adalah kasus di Semarang dimana industri-industri besar dan warga miskin kota akan membentuk persekutuan yang sulit dipercaya lantaran mereka bersama-sama tinggal di kawasan pelabuhan kota yang sangat terpengaruh oleh perubahan iklim. seperti dalam kasus banjir di Pasir Gintung. Indeks Kerentanan Lingkungan: Sejumlah kampung telah diidentifikasi memiliki potensi yang membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan iklim. Pemerintah daerah hanya mampu menyediakan sumberdaya yang langka yang umumnya disebut tidak cukup. dapat mengurangi kerentanan secara signifikan di tempat yang rawan terhadap siklon dan angin kencang. 131 . namun ada banyak konstituen yang berpotensi terpengaruh yang menciptakan koalisi besar dan mendorong respons pemerintah terhadap isu ini. atau rekening bank yang dapat menyimpan sumbangan. peta-peta dan database penduduk dapat membantu menyediakannya. penduduk dan mengkategorikan bahaya. Penduduk yang terpengaruh akhirnya bergantung pada yayasan swasta dan amal. Dengan mengumpulkan database yang dapat memantau perkembangan berdasarkan waktu dan ruang. dapat menyediakan database instant tentang asset penduduk darimana diawali upaya penyelamatan atau rekonstruksi.dapat mengakses pendanaan. tidak bergantung pada proyek pemerintah atau tabungan mereka cukup banyak. kelurahan dapat memiliki alat ukur bagaimana kerjanya untuk mengurangi kerentanannya.

Sanitasi: Pemukiman di atas air tidak memiliki fasilitas sanitasi yang menciptakan kondisi tidak sehat. Sampah bertumpuk di daerah ini juga. Anak-anak dikeluarkan dari sekolah oleh orangtuanya untuk bekerja di sektor perikanan dan karenanya mereka setengah buta huruf. Untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim yang bisa terjadi di kawasan perkotaan di masa depan. tetapi yang sederhana dan kurang dikenal luas. Angka putus sekolah tinggi di kampung atas (20%) dibandingkan rata-rata se-kelurahan (10%). Sanitasi: Sanitasi sangat buruk di kampung nelayan. Indonesia adalah sebuah negara dan peradaban yang lingkungannya yang indah dan tidak terkira banyaknya digerus selama berabad-abad. kekurangan gizi tercatat. ekonomi atau bahkan politik. dan seiring dengan itu sebuah pola pikir budaya telah berevolusi. tetapi di kampung atas bukit air dipompa ke tangki penampungan umum dan disalurkan secara manual (akses yang sangat rendah). menghabiskan banyak biaya dan meninggalkan konsekuensi yang menghancurkan. Air: Di kampung bawah akses PDAM baik (mayoritas). Kota Karang Kangkung 132 . malaria adalah penyakit epidemik utama. informasi bisa disebarkan dan masyarakat dan rumah dapat diperkuat. Drainase mengalir langsung ke sungai. Pengelolaan air dilakukan warga setempat. kita perlu berpikir adaptasi mental apa yang harus dilakukan. Air: Warga kampung nelayan tidak mempunyai suplai air bersih umum. Mungkin perubahan yang paling penting dari semuanya tidak didefinisikan dengan perubahan fisik. Kesehatan: Puskesmas tidak buka pada waktunya dan tidak mampu melayani warga. yang akhirnya melahirkan keyakinan arogansi bahwa ini mungkin. Kesehatan: Fasilitas kesehatan langka. sedikit sekali WC umum dan sampah dibuang ke kolong rumah. menurut Kelurahan: Bandar Lampung Pasir Gintung Kesehatan: Puskesmas yang terletak di kampung bawah membuat aksesnya terbatas. dan juga apa yang sudah dilakukan. Sanitasi: WC umum tersedia meski sedikit. mereka memompa air dari dasar laut (payau) atau mengangkutnya dengan gerobak dari daratan. Mungkin ini adalah adaptasi yang paling signfikan. tetapi tidak ada SMA. Air: Air diangkut gerobak ke daerah yang baru dihuni karena tidak ada layanan PDAM. Kepadatan penduduk mencegah penambahan lokal kelas yang kapasitasnya sudah penuh. dibawa ke sana oleh orang luar. Nilai-nilai Barat di sisi lain sangat determinan dan berupaya menaklukan dan mengontrol negeri ini. sehingga bantaran sungai terpolusi. Indonesia adalah bebas dan lebih mampu menyatukannya untuk membentuk dirinya. teronggok dengan sendirinya dan terangkut ke laut. lebih sesuai terhadap lingkungan yang tak terduga dan masa depan yang tak menentu. Layanan-layanan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi bahaya iklim. Ketimbang mencari untuk menaklukan negeri-negeri sekitarnya. Pendidikan: Hanya ada sedikit fasilitas pendidikan dan angka putus sekolah anakanak di atas 12 tahun sangat-sangat tinggi. membuktikan bahwa ini bukanlah caranya. Beradaptasi dengan perubahan iklim mungkin adalah upaya mental yang luas dan dimana terdapat perbedaan budaya yang sulit dipecahkan. Sampah dibuang di pantai yang mencemari garis pantai. Pendidikan: Angka bolos sekolah sangat tinggi (30%) secara rata-rata dan bahkan lebih tinggi lagi di daerah tertentu. atau paling tidak bukan satu-satunya cara. keniscayaan dan asal muasal perubahan iklim dan peristiwa iklim yang parah belumlah diketahui. Tabel 8-1. Sejumlah mega proyek yang gagal. Pompa tangan tersedia dan melayani setiap 20 rumah.Pemikiran dan pertimbangan akhir : Saat tembok bisa dibangun. Pendidikan: Tersedia SD.

Tidak ada sekolah . PG = Pasir Gintung. setengah buta huruf menyulitkan mereka beradaptasi dengan pekerjaan Pelatihan ketrampilan alternatif Demografi Pembangunan Ekonomi -Peningkatan populasi menambah problem sanitasi -Laju pertumbuhan penduduk yang cepat berarti tidak mampu membangun sistem -Pemasangan MCK yang memadai -Kesehatan -Air -Demografi -Rencana tata ruang -Kredit rumah -Demografi -Pembangunan ekonomi -Kesehatan -Pergeseran di pasar global -Modernisasi industri perikanan -Pembangunan pasar kerja sektor urban yang mungkin tidak dapat diakses oleh warga miskin yang tidak berpendidikan -Pelatihan kerja -Keuangan mikro Pendidikan -Kaum tak berpendidikan yang tidak dapat berurusan dengan proses -Warga miskin yang tak mampu beli obat -Yang kurang mobilitas . tapi tidak banyak. perlu bekerja dengan pemerintah daerah dan kelurahan PG: sekolah sudah penuh.Anak-anak yang membawa air .Urbanisasi trend yang tidak terelakkan di Indonesia Kelompok beresiko . tangga dan tembok hanya di daerah yang padat penduduk PG: drainase di bukit menyebabkan banjir bandang di bantaran sungai KK+K: lahan publik terbatas dan jalan setapak yang berbahaya dibangun dari kayu Cakupan layanan PG: kampung atas hanya sumur umum K+KK: sistem darurat dan pedagang swasta MCK ada di PG. Di K dan KK disediakan oleh warga Puskesmas sering tidak buka.Warga tinggal di atas air punya sedikit sambungan . lereng) .Kesehatan .Subsidi .Daerah padat.Sedikit bidan di Puskesmas .Demografi Kondisi sanitasi yang buruk di kampung pesisir menyebarkan penyakit.Anak-anak bekerja membantu orang tuanya . K = Kangkung 133 . kayu diganti -Daerah yang terioslir dan terpinggirkan seperti KK yang tidak terhubung dengan pasar -Kesulitan mengakses wilayah (lereng curam) yang tidak bisa diakses) -Pengangguran muda -Keluarga yang tergantung pada satu mata pencaharian -Daerah terpencil tanpa Puskesmas: kampung di lereng -Kampung nelayan -Anak-anak yang berenang di air -Perempuan yang mencuci -Keluarga di kampung nelayan -Warga miskin -Keluarga baru yang cari rumah -Pendatang -Keluarga dipimpin perempuan -Lanjut usia -Rumah rusak membuat masalah -Pertumbuhan alamiah keluarga -Perluasan rumah di daerah yang sempit Trend ke depan + stressor - - Adaptasi potensial Tautan .Pembangunan ekonomi .Kampung nelayan .Harga obat mahal Lingkungan (mis.Keluarga miskin . Tanggul penguat belum dibangun di daerah perbukitan Warga miskin hanya punya fasilitas kesehatan terbatas.Keluarga di daerah pesisir sedikit mengkonsumsi .Lingkungan - Pertumbuhan alami dan migrasi akan mengurangi sumberdaya pendidikan yang ada Ketika anak nelayan besar.Dengan volume yang meningkat. Drainase) Pengumpulan sampah umumnya baik.Pertumbuhan alami juga mendorong warga setempat ke wilayah beresiko .Daerah miskin dimana orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya .Pembangunan ekonomi .Wabah pandemic .Migrasi terus menerus mendatangi wilayah beresiko (pantai.Anak-anak usia 7-14 .Pertumbuhan penduduk -Warga miskin -Penghuni bantaran sungai -Rumah yang terancam longsor -Pemerintah tidak punya dana untuk perbaikan -Laju pertumbuhan penduduk terus memaksa warga untuk menghuni daerah yang rentan Penyediaan kesehatan alternatif Pembangunan Ekonomi Proyek warga dengan dana pemerintah -Air -Perumahan -Sanitasi KK = Kota Karang.Pendatang baru dengan sedikit pengetahuan tentang sumberdaya di kota . K: tidak ada SMP/SMA Air Hasil campuran untuk kualitas air PDAM (baik/jelek) Sanitasi MCK jarang dan di daerah pesisir sangat buruk Perumahan Warga miskin memiliki rumah yang tidak layak di daerah beresiko Tidak ada dukungan pemerintah Pembangunan Ekonomi Pinjaman pemerintah + subsidi ada tapi tidak menolong membangun ketrampilan Program pemerintah tidak menjangku seluruh penduduk Kesehatan . bahkan tidak ada di daerah terpencil Wilayah beresiko .Sulit untuk mendukung pertumbuhan yang cepat .Transmigrasi sepertinya berlanjut.Laju pertumbuhan yang cepat sulit untuk membangun infrastruktur .Daerah baru tidak punya sambungan . laju peningkatan menjadi faktor penentu .Pengunduhan air .Tabel air yang rendah menghilangkan penggunaan sumur .Tabel 8-2 Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung Bandar Lampung Kualitas layanan Demografi Pendidikan K: banyak anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi Banyak pendatang baru yang belum tercatat.Penurunan kualitas pipa .Warga lereng berjuang untuk mengamankan fasilitas . tidak ada ruang untuk sekolah . khususnya untuk penduduk di pantai .Buruk tanpa layanan PDAM .Lingkungan tempat tinggal yang lebih padat . semua warga harus berbagi kondisi yang membahayakan kesehatan ini -Daerah pesisir -Bantaran sungai -Lereng bukit -Rumah kayu yang perlu dirawat secara rutin.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kerentanan 134 .Personal Fisik Kesehatan Pendidikan Air Perumahan – Aset Swasta Warga Sekitar Akses ke pekerjaan + penghasilan Keamanan Ekonomi Gambar 8-3.

menciptakan investasi jangka panjang Menyediakan akses murah kepada peluang-peluang ekonomi. sirkulasi dan mengurangi ancaman longsor.Perumahan Fisik Kesehatan Ekonomi Fisik Perumahan Perumahan Ekonomi Kesiapsiagaan Ya Respons Tidak Perbaikan struktur dan infrastruktur Perbaikan rumah bertahap Ya Tidak Ya Tidak Tinggal di atas air Tidak Tidak Konsolidasi kampung - Sosial Politik Ya Ya Rumah bertingkat Pengunduhan air Akses kredit dan dana tunai - Perumahan Ya Ya - Air Ekonomi Ekonoim Ya Ya Tidak Ya Kolaborasi masyarakat - Sosial Ya Ya 135 . menurunkan biaya ekonomi. banjir dan epidemic Meningkatkan umur bangunan dan kapasitas warga untuk bertahan dari shock.Ekonomi . menurunkan biaya rumah yang mahal. membuat ruang penyimpanan dan ruang pengungsian Menyediakan sumber air tambahan untuk mengganti suplai air yang kurang Memungkinkan untuk membeli pangan + material yang dapat mendukung strategi bertahan hidup dan meminjamkan fleksibilitas ekonomi Meningkatkan keterkaitan jejaring sosial dan persatuan warga yang dapat memfasilitasi proyek-proyek dan aksi Dimensi dampaknya . daerah yang lebih aman untuk beredar dan membangun Meningkatkan akses ke layanan (air). alternatif rumah murah dan penampungan sementara pendatang Meningkatkan modal sosial akibat kolaborasi dan seringkali mobilisasi politik akibat kolaborasi dengan pemerintah Mengamankan keluarga dari banjir musiman.Fisik .Tabel 8-3 Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung Adaptasi Bandar Lampung Reklamasi progresif Bagaimana kontribusinya kepada ketahanan? Mengurangi dampak gelombang terhadap struktur rumah.

yang ditunjukan oleh pergeseran awal musim hujan dan perubahan frekuensi curah hujan ekstrim. mereka membangun tanggul. untuk menyempurnakan skenario perubahan iklim di Kota Bandar Lampung diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan model iklim regional dan statistika downscaling. Sedangkan di daerah non-pantai. terlihat jelas bahwa iklim Kota Bandar Lampung telah mengalami perubahan. 136 . banjir. Gunung Terang. transportasi. Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah meliputi. banjir biasanya terjadi di lokasi dengan ketinggian rendah. di daerah pantai atau lembah-lembah. Dari 19 kelurahan tersebut. serta peningkatan permukaan laut. Selama musim kemarau. Dampak bencana iklim yang melanda kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas adaptasi yang rendah kemungkinan akan lebih parah daripada di kelurahan dengan indeks kerentanan dan kapasitas adaptasi tinggi. Perubahan curah hujan musiman juga ditemukan dalam data historis. Kedaton. drainase dan infrastruktur. sedangkan curah hujan pada musim kering (JJA) akan menurun. Sementara erosi dan tanah longsor terjadi di perbukitan/pegunungan yang memiliki kemiringan tinggi. produksi dan pola transaksi dari kriminalitas. Banjir memberikan dampak terbesar pada sektor perumahan. Bentuk adaptasi juga dapat dilihat pada strategi menjalani kehidupan. Secara umum. Namun. Kota Karang. Masyarakat sendiri telah mengembangkan cara mereka untuk beradaptasi. sekitar 14 kelurahan memiliki indeks kapasitas adaptasi rendah dan 5 kelurahan lainnya memiliki indeks kapasitas adaptasi tinggi. Kangkung. Dampak dari peristiwa iklim ekstrim dianalisis dalam empat bencana utama. Kelurahan Bumi Waras. yaitu. Sementara itu kekeringan mempengaruhi sektor air minum. kesehatan. atau di tempat-tempat dengan sistem drainase yang buruk (daerah nonpesisir). kesehatan. Perubahan tersebut berupa curah hujan pada musim hujan (DJF) akan sedikit meningkat. hubungan perburuhan. sedangkan di daerah non pesisir dengan mengurangi jumlah konsumsi air. pertanian. Panjang Selatan. dan untuk sementara pindah ke lokasi lain yang tidak terpengaruh oleh banjir. perikanan. tanah longsor. Dampak sosial yang disebabkan oleh banjir dan kekeringan dapat dilihat dari hubungan sosial/kekerabatan. pertanian dan perikanan. sekitar 19 kelurahan memiliki indeks kerentanan tinggi. Di Bandar lampung. Sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir meninggikan lantai dan membangun tanggul untuk beradaptasi terhadap banjir. Dua bencana iklim umum yang ditemukan di Kota Bandar Lampung adalah Banjir dan kekeringan. Pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer berdasarkan skenario SRESA2 dan SRESB1 akan menyebabkan perubahan iklim Kota Bandar Lampung pada masa yang akan datang. kekeringan. Bukti paling nyata dapat dilihat dari trend peningkatan suhu permukaan rata-rata selama 100 tahun terakhir di kota itu.KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil analisis data historis. Garuntang. tindakan adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat di daerah pesisir adalah dengan membeli air bersih.

CCHI sebagian besar wilayah Bandar Lampung ≤ 1. Srengsem. Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan) dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). Indeks Risiko Iklim Kelurahan di Kota Bandar Lampung sebagian besar berada pada kategori. sedangkan dengan indeks kerentanan rendah. Kelurahan Kangkung. Sementara yang memiliki tingkat risiko Rendah (L). dan indeks komposit bencana iklim (CCHI) tinggi dikategorikan telah berada dalam kondisi Risiko Iklim Sangat Tinggi. Sedang ke Rendah (M-L). Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. Kelurahan pada tingkat risiko iklim M-H mencakup 14% dari luas wilayah Bandar Lampung. Kota Bandar Lampung sudah terkena beberapa bencana iklim. Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). Way Kandis dan Waydadi. Jaya Sepang. Dalam skenario A2. dan indeks komposit bencana iklim rendah dianggap mempunyai Risiko Iklim Sangat Rendah. Pada kondisi saat ini. Tinggi (H). yaitu banjir. Kelurahan dengan indeks risiko iklim antara Menengah ke Tinggi (M-H) meliputi. Manajemen perubahan iklim (adaptasi dan mitigasi) dianggap sebagai konsep baru dan tidak sepenuhnya dipahami oleh pemangku kepentingan di tingkat lokal. 36% dan 5% dari masing-masing wilayah Bandar Lampung. dan hanya sebagian kecil >1. kekeringan. Kelurahan Sepang Jaya dan Kedaton (Kecamatan Kedaton).Perwata. risiko iklim beberapa tingkat Kelurahan akan berubah. fungsi dari frekuensi dan intensitas dari empat bencana). Pada masa mendatang. Tidak ada kebijakan atau program khusus yang berkaitan dengan perubahan iklim dikeluarkan. Hal ini dapat dipahami mengingat perubahan iklim adalah masalah yang kompleks. Pada tahun 2025 dan 2050 indeks kapasitas adaptasi dan indeks kerentanan beberapa Kelurahan akan meningkat dan pada sebagian kelurahan akan berkurang. indeks kapasitas tinggi. Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang). 137 .5 meningkat. Bumi Waras. dan banjir karena air pasang (rob). Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Medium (M). L-M (Rendah ke Menengah) dan M (Menengah) mencakup sekitar 22%. Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat). Rendah (L) dan sangat rendah (VL) . Menengah ke Tinggi (M-H). Tanjung Senang. jumlah Kelurahan dengan CCHI lebih dari 1. Teluk Betung. baik untuk jangka menengah (5 tahun) dan jangka panjang (20 tahun).5. Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk memungkinkan mereka dalam menggunakan informasi berdasarkan keilmuan untuk mengembangkan rencana cakrawala adaptasinya.5. Kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang masih terbatas. Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi. yaitu di sebagian kecil bagian selatan Kecamatan Panjang. tanah longsor. indeks kapasitas adaptasi rendah. Berdasarkan indeks komposit bencana iklim (CCHI. Kelurahan pada tingkat risiko VL (Sangat Rendah) mencakup 21% dari wilayah Bandar Lampung.

akademisi. Namun. Proyek percontohan khusus dibutuhkan sebagai bahan pelajaran bagaimana risiko iklim dapat dikelola dengan baik dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran tersebut untuk memperbaiki rencana adaptasi perubahan iklim. dewan belum efektif pada pelaksanaan program. Ini adalah kesempatan yang baik untuk mengintegrasikan aspek perubahan iklim ke dalam dokumen. 138 . ada beberapa masalah terkait dengan perencanaan dan program yang dihadapi oleh Pemerintah Kota. Untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Pengelolaan risiko iklim saat ini dan masa depan perlu adanya komitmen politik. Keberadaan dewan ini penting untuk memastikan pelaksanaan yang efektif dari program-program penanganan bencana dan perubahan iklim dengan berbagai pemangku kepentingan. Namun. Masalah-masalah ini adalah kurangnya integrasi. masyarakat dan sektor memberikan respon terhadap risiko iklim saat ini. Pemerintah Kota juga sedang dalam proses penyusunan rencana pembangunan jangka menengah baru untuk 2011-2014 sebagai hasil dari pemilihan langsung yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010. Tim Kota.Sejumlah kondisi yang menguntungkan di Kota Bandar Lampung. dapat secara positif berkontribusi pada proses pengembangan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. LSM dan tokoh masyarakat telah dibentuk untuk merumuskan program-program perubahan iklim untuk Kota Bandar Lampung sebagai bagian dari Asian City Climate Change Resilience Network (ACCCRN). Dalam peraturan dan kebijakan jelas disebutkan bahwa dokumen perencanaan harus mempertimbangkan mitigasi bencana dan adaptasi dan masalah perubahan iklim. Tim yang diwakili oleh berbagai pemangku kepentingan dari instansi pemerintah. kurangnya alokasi anggaran untuk mendukung penanganan perubahan iklim serta perencanaan tata ruang tidak efektif untuk mengurangi dan menyesuaikan dampak perubahan iklim. serta bagaimana kapasitas saat ini harus dikembangkan untuk memperkuat pengelolaan risiko iklim di masa mendatang. dirasakan penting untuk memahami bagaimana orang-orang. koordinasi dan visi-misinya dalam manajemen perubahan iklim. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah membentuk Dewan Daerah Bencana pada November 2009. sehingga secara hukum dapat mengikat.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Bandar Lampung Medium Term Development Plan 2005-2010. Bandar Lampung Anonim. 2005. Bandar Lampung City Spatial Plan 2005-2015. Bandar Lampung. Anonim. 2009. Final Report on Design Scenario for Disaster Mitigation. Bandar Lampung. Anonim. 2008. Final Report on Disaster Mitigation Study in Bandar Lampung. Bandar Lampung. Anonim. 2008. Accountabilty Report of Mayor of Bandar Lampung in 2008 (Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Walikota Bandar Lampung Tahun 2008). Bandar Lampung Anonim. 2009. NUSSP Progress Report, Satker Bandar Lampung 2009. Bandar Lampung. Bakosurtanal. Tanpa tahun. Peta Rupa Bumi (Digital) Wilayah Semarang dan Bandar Lampung. Bogor. Bappeda Kota Bandar Lampung. 2008. Buku Dinamika Bandar Lampung Membangun (2008) (File diakses dari media CD) Bappeda Kota Bandar Lampung. 2008. Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung TA. 2008. Kerjasama Bappeda Kota Bandar Lampung dengan PT. Visitama Daya Solusi. Bappeda Kota Bandar Lampung. Tanpa tahun. Peta Lokasi Rawan Banjir di Kota Bandar Lampung. Bappeda Bandar Lampung. Boer, R & Faqih, A. 2004. 'Global climate forcing factors and rainfall variability in West Java: case study in Bandung district', Indonesian Journal of Agricultural Meteorology, vol. 18, no. 2, pp. 1-12. Borst D, Jung D, Murshed SM, Werner U. 2006. Development of a methodology to assess man-made risks in Germany. Nat. Hazards Earth Syst. Sci, 6 : 779-802.) BPS Jakarta. 2005. Potensi Desa Kota Bandar Lampung dan Kota Semarang Tahun 2005 (data digital). Jakarta Chang, CP, Wang, Z, Ju, JH & Li, T. 2004. 'On the relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter', Journal of Climate, 17, 665-672.

139

Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung. Tanpa Tahun. Studi Lanjutan Penataan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Kerjasama Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung Dengan PT. Multi Maestro Desain. (File diakses dari media CD) Eastman, J.R. 1999. Idrisi 32 Tutorial. Clark Labs, Clark University, USA. Faqih, A. 2004. 'Analisis korelasi debit air masuk musim kemarau pada waduk seri DAS Citarum dengan perubahan suhu permukaan laut global (Correlation Analysis of Citarum Dams Inflows with Global Sea Surface Temperatures in Dry Season)', Indonesian Journal of Agricultural Meteorology, vol. 18, no. 1, pp. 1-13. Folland, CK, Parker, DE, Colman, A & Washington, R. 1999. 'Large scale modes of ocean surface temperature since the late nineteenth century', in A Navarra (ed.), Beyond El Nino: Decadal and Interdecadal Climate Variability, SpringerVerlag, Berlin, pp. 73- 102. Haylock, M & McBride, J. 2001. 'Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall', Journal of Climate, vol. 14, no. 18, pp. 3882-7, doi: 10.1175/1520-0442(2001)014<3882:SCAPOI>2.0.CO;2. Hendon, HH. 2003. 'Indonesian rainfall variability: Impacts of ENSO and local air-sea interaction', Journal of Climate, vol. 16, no. 11, pp. 1775-90, doi: 10.1175/15200442(2003)016<1775:IRVIOE>2.0.CO;2. IPCC. 2007. Climate Change 2007: The physical science basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press: Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA Kirono, DGC, Tapper, NJ & McBride, JL. 1999. 'Documenting Indonesian rainfall in the 1997/1998 El Nino event', Physical Geography, vol. 20, no. 5, pp. 422-35. Mantua, N. J. and S. R. Hare. 2002. The pacific decadal oscillation. Journal of Oceanography, 58, 35-44. Mantua, N. J., S. R. Hare, Y. Zhang, J. M. Wallace, and R. C. Francis. 1997. A pacific interdecadal climate oscillation with impacts on salmon production. Bull. Amer. Meteor. Soc., 78, 1069-1079. Mitchell, TD & Jones, PD. 2005. 'An improved method of constructing a database of monthly climate observations and associated high-resolution grids', International Journal of Climatology, vol. 25, no. 6, pp. 693-712. PDAM Way Rilau. 2007. Profil PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung. Bandar Lampung.

140

Saji, NH, Goswami, BN, Vinayachandran, PN & Yamagata, T. 1999. 'A dipolemode in the tropical Indian Ocean', Nature, vol. 401, pp. 360-3. Strahler, A.N. 1986. Physical Geography. John Wiley & Sons, New York. Taylor, John. 2009. Community Based Vulnerability Assessment: Semarang and Bandar Lampung, Indonesia. ACCRN, Mercy Corps. Jakarta, Indonesia.

141

LAMPIRAN 142 .

143 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->