LAPORAN AKHIR

KAJIAN KERENTANAN DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI KOTA BANDAR LAMPUNG

2010

RINGKASAN
Di masa depan, perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global diperkirakan akan menciptakan pola-pola risiko baru, dan risiko yang lebih tinggi secara umum. Kenaikan permukaan laut akibat mencairnya gletser dan es kutub dan ekspansi termal akan memberikan kontribusi pada peningkatan banjir pesisir. Bandar Lampung sebagai kota pesisir akan terpengaruh secara serius oleh perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Saat ini, beberapa wilayah pesisir sudah dipengaruhi oleh peningkatan permukaan laut. Banjir dan kekeringan juga terjadi cukup sering. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah melaksanakan berbagai program dan juga mengembangkan strategi jangka menengah dan panjang untuk mengelola bencana. Rencana untuk meningkatkan infrastruktur untuk pengendalian bencana iklim seperti sistem drainase dan tanggul telah disiapkan. Namun, dengan meningkatnya perubahan iklim pada frekuensi dan intensitas kejadian iklim yang ekstrim, desain saat ini mungkin sudah tidak efektif untuk mengelola bencana iklim pada masa mendatang. Oleh karena itu juga sangat penting untuk mempertimbangkan perubahan iklim dalam merancang sistem kontrol bencana iklim. ISET di bawah Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN dengan dukungan dari Yayasan Rockefeller, mengkoordinasikan studi tentang penilaian kerentanan dan adaptasi perubahan iklim yang dilakukan oleh MercyCorps, URDI dan CCROM SEAP-IPB di Bandar Lampung. Penelitian bertujuan (i) mengkaji variabilitas iklim saat ini dan masa depan di Bandar Lampung, (ii) menilai kerentanan dan kapasitas adaptasi serta risiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat kelurahan, (iii) mengidentifikasi dampak langsung dan tidak langsung dari bencana iklim sekarang dan di masa depan di tingkat kelurahan, (iv) mengidentifikasi daerah dan kelompok sosial yang paling rentan, dan dimensi kerentanan, termasuk kapasitas adaptasi masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, (v) mengidentifikasi masalah kelembagaan dan tata kelola pemerintahan yang mngkin mempengaruhi ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan, dan (vi) mengembangkan rekomendasi awal untuk Bandar Lampung dalam meningkatkan ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan

PROFIL DAN IKLIM KOTA BANDAR LAMPUNG Bandar Lampung adalah ibu kota Provinsi Lampung. Secara geografis Bandar Lampung terletak pada 5o20 '- 5o30’ lintang dan bujur 105o28'-105o37'. Bandar Lampung memiliki luas wilayah 19.722 hektar yang terdiri dari 13 kecamatan dan 98 desa (Kelurahan). Kota ini dilalui oleh dua sungai besar yaitu Way Kuala dan Kuripan dan 23 sungai kecil. Semua sungai-sungai ini membentuk DAS yang terletak di daerah Bandar Lampung dan sebagian besar mengarah ke Teluk Lampung. Beberapa jaringan drainase buatan menghubungkan sistem sungai di wilayah ini. Fungsi jaringan drainase ini adalah untuk mengurangi aliran permukaan sebagai akibat dari air hujan yang berlebihan. sistem jaringan drainase yang telah terinstal di Bandar Lampung meliputi Teluk Betung, Tanjung Karang, Panjang dan Kandis.

ii

Warga Bandar Lampung memenuhi kebutuhan air bersih melalui perusahaan air minum daerah (PDAM) dan dengan mengambil air tanah dangkal/dalam melalui sumur gali. Saat ini, PDAM hanya mampu melayani 32% dari total penduduk Bandar Lampung. Kedalaman sumur gali adalah sekitar 30 hingga 50 meter dari permukaan tanah setempat. Bandar Lampung merupakan kota pelabuhan yang penting untuk kawasan Sumatera. Pelabuhan Kota Bandar Lampung terletak di suatu pantai berbentuk teluk sehingga gelombang tinggi sebagai akibat angin kencang tidak sepenuhnya langsung mengenai kawasan pantai. Meskipun demikian, di beberapa tempat kawasan pantai, sudah terjadi abrasi oleh gelombang laut. Di beberapa lokasi, wilayah pesisir merupakan kawasan padat penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal, penduduk membangun rumah tempat tinggal di lahan hasil penimbunan pantai (reklamasi) sehingga terjadi akresi. Banyak dari para pemukim tidak memiliki bukti kepemilikan tanah secara hukum. Kondisi ini akan menjadi salah satu masalah serius dalam mewujudkan rencana Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk menciptakan Water Front City. Jumlah penduduk di Bandar Lampung pada tahun 2008 adalah 822.880 orang dengan kepadatan penduduk sekitar 42 orang per ha. Kepadatan penduduk tidak merata. Kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi berada di Tanjung Karang Tengah dan Teluk Betung Selatan. Berdasarkan kelompok umur, proporsi terbesar penduduk Bandar Lampung adalah kelompok umur 20-24 dengan populasi 95.597 orang, diikuti oleh kelompok usia 15-19 dengan populasi 95.537 orang. Usia produktif (usia 15-55 tahun) di Bandar Lampung mencapai jumlah 546.920 atau 64,75% dari total penduduk. Sumber pendapatan masyarakat bervariasi. Perdagangan adalah mata pencaharian utama penduduk. Sebagian besar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bandar Lampung berasal dari transportasi dan komunikasi (19,6%), industri pengolahan (17,6%), jasa (16,9%) dan perdagangan, hotel, restoran (16,6%). Pertanian hanya berkontribusi 5% terhadap PDRB. Berdasarkan analisis terhadap data iklim historis yang panjang, ditemukan bahwa ada perubahan trend dan variabilitas variabel iklim seperti suhu dan curah hujan. Bukti paling nyata dapat dilihat dari trend peningkatan suhu permukaan ratarata selama 100 tahun terakhir di kota itu. Perubahan curah hujan musiman juga ditemukan, yaitu pergeseran awal musim dan perubahan frekuensi curah hujan ekstrim. Berdasarkan 14 model iklim global (GCM), diindikasikan bahwa curah hujan musim basah (musim hujan) Bandar Lampung City (DJF) di masa depan mungkin sedikit meningkat, terutama di kawasan pesisir. Sebaliknya, curah hujan musim kering (JJA) akan menurun. Namun, analisis iklim di masa mendatang mungkin perlu disempurnakan dengan menggunakan model iklim dengan resolusi tinggi seperti RCM. Penggunaan model global seperti GCM tidak akan mampu menangkap efek lokal. Analisis lebih lanjut mengenai cuaca ekstrim di bawah perubahan iklim juga harus dilakukan. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pemanasan global akan mendatangkan kejadian lebih ekstrim.

iii

Panjang Selatan).28% dan 36. dan pertanian. dan tiga untuk desa pesisir (Kangkung. tiga Kelurahan non-pantai (Batu Putu. Dalam hal hubungan kerja. terdiri dari laki-laki 62. Survei ini melibatkan 256 orang. iv . Sementara itu. gempa bumi dan kekeringan. dan Pasir Gintung serta melalui studi literatur. Ekonomi dampak bencana iklim dapat dievaluasi dari dampaknya terhadap pekerjaan utama. perikanan. perikanan dan air minum. kekeringan menyebabkan kerugian di bidang pertanian. Kota Karang. Abrasi. Bencana mengurangi produktivitas kerja terutama jika pekerjaan utama masyarakat rentan terhadap dampak bencana. Hubungan sosial antara orang-orang pada saat bencana masih berjalan dengan baik. Selain dari survei. Kota Karang.DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM Kota Bandar Lampung sangat rawan terhadap bencana alam. kesehatan. seperti pertanian. informasi ini juga dipertajam melalui diskusi kelompok terfokus (FGD) di empat Kelurahan: Panjang Selatan. tanah longsor. Karena potensi terulangnya kejadian iklim ekstrim yang dapat menyebabkan bencana di masa depan. perumahan dan sektor perikanan. Sedangkan sektor yang paling terkena dampak kekeringan adalah air minum. Jenis bencana alam yang melanda Kota Bandar Lampung meliputi banjir. Bencana juga dapat menyebabkan meningkatnya insiden kejahatan seperti pencurian. Untuk mengevaluasi dampak sosialekonomi bencana terkait iklim. kondisi perumahan padat penduduk dengan lingkungan relatif kurang nyaman. erosi dan sedimentasi juga terjadi di wilayah pesisir. dan rencana pemerintah untuk membangun water front city di daerah pesisir. Masalah kekurangan minum air meningkat pada musim kemarau panjang atau selama bencana banjir. transaksi pola produksi dan nilai-nilai sosial lainnya.72% perempuan. sehingga mereka masih bisa melakukan pekerjaan mereka saat ini (nelayan). dan Sukabumi Indah). perumahan. dan batuk / flu / pilek. yaitu. Berdasarkan sektor ekonomi. tsunami. dan harga beberapa komoditas. Banjir di wilayah pesisir dapat mengurangi orang yang bekerja di sektor perikanan. Bencana ini juga menyebabkan kenaikan harga beberapa produk pertanian seperti padi. hubungan kerja. sektor air minum. bencana banjir memberikan dampak terbesar pada sektor kesehatan. penduduk di daerah pesisir bersedia untuk pindah sepanjang mereka diberikan fasilitas dan rumah-rumah yang layak dan relokasi tidak jauh dari laut. Pasir Gintung. terutama malaria. air pasang menyebabkan rob. Batu Putu. Berdasarkan sektor ekonomi. tanaman dan ternak. Dari studi ini terungkap bahwa terjadinya bencana iklim (banjir dan kekeringan) mempunyai potensi untuk mengubah urutan nilai-nilai sosial masyarakat. survei dan wawancara dilakukan di enam kelurahan. Dampak bencana terhadap kesehatan adalah meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi penyakit. dan pekerjaan umum (kerusakan fasilitas drainase dan infrastruktur lainnya). dampak banjir menyebabkan kerugian untuk sektor infrastruktur. tetapi ini terjadi hanya di daerah sekitar bencana tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kerja sama penduduk atau kekerabatan dalam menangani masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. dampak dari bencana tersebut menyebabkan penurunan hubungan ‘patron-klien’ yang sebelumnya merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat pesisir. perikanan dan lain-lain. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan untuk saling membantu saat terjadi bencana.

EWS (Early Warning System). akan lebih rentan (indeks kerentanan tinggi) dibandingkan dengan rumah tangga v . mulai dari tinggal di rumah. Yang kedua adalah dengan memberdayakan anggota keluarga. RISIKO IKLIM TINGKAT 'KELURAHAN' Tingkat risiko dari sistem untuk bencana atau kejadian iklim ekstrim (extreme climate event /ECE) akan tergantung pada kapasitas sistem untuk mengatasi kejadian (disebut coping capacity index) dan kemungkinan kejadian iklim ekstrim untuk terjadi. Adaptasi terhadap kekeringan dalam bentuk membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. relokasi ke daerah yag tidak mengaklami kekeringan dan melakukan ritual untuk meminta hujan. Sebagian besar penduduk memperoleh informasi tentang prakiraan iklim secara tradisional dari para pemimpin tradisional dan para pemuka masyarakat. informasi tentang peringatan bencana lebih berguna daripada informasi lainnya. mengurangi konsumsi air. masyarakat berharap di tempat tersedia sistem peringatan dini bencana. Berdasarkan beberapa jenis informasi yang terkait dengan bencana. Indeks kerentanan dan kapasitas Kelurahan diukur dengan menggunakan sejumlah indikator sosial-ekonomi dan biofisik. memperdalam saluran air. Untuk lebih mempersiapkan diri dalam mengelola risiko bencana. mereka mengharapkan pemerintah untuk menyediakan perumahan dan pekerjaan baru. yang merupakan kombinasi dari mata pencaharian on farm and off farm. Bentuk adaptasi juga dapat dilihat pada cara mencari nafkah. yang dimiliki oleh seseorang. seperti istri dan anak-anak yang telah dewasa. Namun. memompa air dari sumber terdekat. jika bencana parah dan memaksa mereka untuk pindah. pembuatan tanggul. Namun. selain pekerjaan utama. Pola pendapatan ganda dilakukan dengan dua cara. Warga juga menerima ramalan informasi melalui media televisi. Dampak bencana yang mengakibatkan perubahan perilaku merupakan suatu bentuk adaptasi. The coping capacity index dikembangkan berdasarkan indeks kerentanan dan kapasitas adaptasi dari Kelurahan. pindah ke daerah yang tidak terkena banjir. atau instansi terkait lainnya dan tidak ada lembaga penanganan bencana di daerah mereka. Penelitian ini mengevaluasi tingkat risiko iklim pada level Kelurahan (desa). Intensifikasi pertanian dilakukan dengan melakukan diversifikasi tanaman. Hal ini menggambarkan kurangnya respon pemerintah untuk bencana yang terjadi di masyarakat. Adaptasi selama banjir disikapi oleh penduduk beragam. pertama dengan keragaman pendapatan. Biasanya kegiatan off farm adalah pekerjaan sampingan.Sementara beberapa warga di daerah bukan pesisir merasa enggan pindah karena mereka khawatir kehilangan pekerjaan. meninggikan lantai. menambah pasokan makanan dan bahan bakar. sebagian besar warga mengaku bahwa mereka tidak pernah mendapat informasi tentang iklim atau peringatan dini dari pemerintah. kepadatan penduduk tinggi. Strategi mata pencaharian yang dilakukan oleh penduduk adalah pertanian intensifikasi dan pola pendapatan ganda. Kelurahan di mana banyak rumah tangga yang mendirikan rumah/bangunan yang terletak di tepi sungai. sumber air minum sebagian besar bukan dari PDAM (sistem perpipaan). banyak orang miskin dan sebagian besar wilayah Kelurahan dekat sungai dan pantai dengan daerah terbuka hijau kurang luas.

dengan mengurangi nilai indeks dengan 0. Nilai-nilai VI dan CI dinormalisasi sehingga mempunyai nilai yang berada pada kisaran dari 0 ke 1. Dalam studi ini. wilayah yang bukan daerah terbuka hijau. dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan Kelurahan yang terletak di kuadran 1. penduduk miskin sedikit.50 -0. dan hanya sebagian kecil wilayah Kelurahan dekat sungai dan pantai dengan lebih banyak daerah terbuka hijau (indeks kerentanan rendah).25 Low Vulnerability +0.5.5. Posisi relatif dari Kelurahan sesuai dengan VI dan CI ditentukan berdasarkan posisi mereka dalam lima kuadrannya (Gambar 1). Dengan menggunakan sistem klasifikasi. Klasifikasi kelurahan berdasarkan coping capacity index (kuadran 1 sampai 5) dan jumlah kelurahan yang berada di setiap kuadran pada kondisi saat ini (2005).yang bangunan di tepi sungainya sedikit.25 Index +0.5. jika Kelurahan terletak di kuadran 5 terkena bencana tertentu. sumber pendapatan utama masyarakat tidak sensitif terhadap bencana iklim (misalnya perdagangan jauh kurang sensitif dibandingkan pertanian) dan memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik dan infrastruktur jalan.25 Low Capacity Index 36 kelurahans 2 1 High Capacity Index -0. Untuk menilai perubahan VI dan CI di masa depan. konsekuensi kejadian bencana di Kelurahan rentan tinggi akan berkurang jika memiliki kapasitas adaptasi tinggi.50 Gambar 1. Faktor-faktor digunakan untuk normalisasi skor indikator-indikator yang sesuai untuk tahun 2025 dan 2050 adalah sama dengan baseline tahun 2005. mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari PDAM. Konsekuensi (kerusakan. High Vulnerability Index +0. kerentanan (VI) dan indeks kapasitas (CI) masing-masing kelurahan dikurangi sebesar 0. Kelurahan dengan indeks kapasitas adaptasi tinggi adalah kelurahan di mana banyak rumah tangga yang berpendidikan tinggi. Sedangkan Kelurahan yang terletak di kuadran 1 akan memiliki VI rendah dan CI tinggi. VI dan CI akan berkisar dari -0.5 sampai 0.50 -0. kita normalkan semua skor indikator sehingga indeks kerentanan dan indeks kapasitas berada pada kisaran dari 0 hingga 1. Kelurahan yang terletak di kuadran 5 akan memiliki VI tinggi dan rendah CI.50 5 4 14 kelurahans 5 3 +0. vi . Untuk mengklasifikasikan Kelurahan berdasarkan coping capacity index mereka. dan pendidikan (berdasarkan rencana tata ruang atau RTRW) karena data lainnya tidak tersedia. kerugian ekonomi dll) yang disebabkan oleh kejadian bencana akan lebih parah di Kelurahan yang memiliki indeks kerentanan tinggi. kami hanya mempertimbangkan perubahan kepadatan penduduk (berdasarkan pada proyeksi pemerintah). Namun. kepadatan penduduk rendah.25 22 kelurahans 21 kelurahans -0.

Sepang Jaya. Jumlah kelurahan menurut coping capacity index (kuadran 1-5) saat ini dan di masa depan (2025 dan 2050) Gambar 3.1% di kuadran 4. Pada tahun 2025 dan 2050. Teluk Betung. Srengsem. 6-7 kelurahan di Kuadran 5 akan pindah ke kuadran 4 dan 3 menunjukkan bahwa ada peningkatan coping capacity index. Kedaton. Garuntang. Way Kandis dan Waydadi. Namun. coping capacity index beberapa kelurahan di kuadran 3 dapat berubah menjadi kuadran 4 pada masa yang akan datang (Gambar 2). Kota Karang. Panjang Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas bertahan dari kelurahan akan menurun di masa depan (Gambar 3). 5. Tanjung Senang.2% dari kelurahan berada pada kuadran 5 yang memiliki coping capacity index tinggi (kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan kapasitas yang rendah atau coping capacity index tinggi). 22. Coping capacity kelurahan di Bandar Lampung vii .4% di Kuadran 1 (Kelurahan dengan kerentanan rendah dan indeks kapasitas tinggi). Gambar 2. Gunung Terang. Kangkung.7% di Kuadran 3. 36. Perwata.4% di Kuadran 2 dan 21.Analisis menunjukkan bahwa pada saat ini sekitar 14. Kelurahan di kuadran 5 termasuk Bumi Waras.

kami mengembangkan indeks komposit bencana iklim (composite climate hazard index /CCHI). Jadi kita dapat mendefinisikan bahwa risiko iklim akan sangat tinggi di kelurahan pada kuadran 5 jika probabilitas kejadian iklim ekstrim di Kelurahan ini tinggi.5) menjadi tiga kategori. Di masa depan berdasarkan scenario A2. Kami menggunakan output curah hujan dari 14 model sirkulasi umum (GCM) untuk skenario emisi tinggi (SRESA2) dan skenario emisi rendah (SRESB1).3.0. Untuk mengakomodasi beberapa bencana iklim yang terhimpun dalam penilaian risiko iklim. CCHI di sebagian besar wilayah Bandar Lampung sebagian besar kurang dari 1. tanah longsor.Untuk menentukan tingkat risiko dari kelurahan terhadap dampak perubahan iklim didefinisikan sebagai fungsi dari probabilitas kejadian iklim yang tidak terduga (ekstrim) dan konsekuensi dari kejadian jika itu terjadi.0 . area indeks> 2 menurun pada tahun 2025. kita dapat berharap bahwa kelurahan dengan kerentanan tinggi tetapi indeks kapasitas rendah (di kuadran 5) kemungkinan akan terpengaruh lebih parah oleh kejadian-kejadian yang ekstrim dibandingkan dengan kelurahan dengan kerentanan rendah dan indeks kapasitas tinggi (kuadran 1).5 berarti bahwa seluruh wilayah kelurahan ini terkena banjir dan kekeringan. Matrix risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index Coping Capacity Index (kuadran) 5 4 3 2 1 Composite Climate Hazard Index (CCHI) > 3.5. Kelurahan dengan CCHI sebesar 4. Peta risiko iklim Bandar Lampung berdasarkan Kelurahan dihasilkan melalui tumpang tepat peta coping capacity index dan CCHI pada kondisi iklim saat ini dan masa depan seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Selanjutnya.5 2. dan tanah longsor setiap tahun dan benar-benar kebanjiran ketika rob terjadi. kami klasifikasi tingkat risiko iklim dari kelurahan berdasarkan coping capacity index dan CCHI (Tabel 1). serta peningkatan muka laut. Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2005. Seperti digambarkan sebelumnya. Kami klasifikasikan indeks bencana iklim (nilai indeks berkisar dari 0 sampai 4. Tabel 1.0 dan 3.0 Sangat Tinggi (VH) Tinggi (H) Sedang ke Tinggi (M-H) Sedang ke Tinggi (MTinggi (H) H) Sedang (M) Sedang ke Tinggi (MSedang ke Rendah (MH) Sedang Medium (M) L) Sedang ke Rendah (MMedium (M) L) Rendah (L) Sedang ke Rendah (M-L) Rendah Low (L) Sangat Rendah (VL) viii .5 < 2. Jenis bencana iklim termasuk banjir. kekeringan. Kelurahan dengan CCHI tinggi baik saat ini dan di masa mendatang adalah Kelurahan Gunung Mas. yaitu kurang dari 2. KecamatanTeluk Betung Utara. antara 2. tetapi meningkat sedikit pada tahun 2050. Risiko iklim akan sangat rendah di Kelurahan pada kuadran 1 dan probabilitas dari kejadian iklim ekstrim di kelurahan ini juga rendah. Kelurahan dengan CCHI mendekati nol berarti bahwa tidak ada bencana terjadi di kelurahan.0.5 dan lebih dari 3.

(B) Risiko Iklim skenario A2 2025. (C) Risiko Iklim skenario A2 2050. (E) Risiko Iklim skenario B1 2025. Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur mereka terhadap risiko iklim (A) & (D) Risiko Iklim Baseline. (F ) Risiko Iklim skenario B1 2050 ix . Jumlah Kelurahan menurut kategori risiko iklim A B C D E F Gambar 5.Gambar 4.

TATA PEMERINTAHAN DAN SISTEM KELEMBAGAAN Pemerintahan dan lembaga adalah dua faktor penentu yang mempengaruhi ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Secara keseluruhan. 36 Kelurahan (36. Adaptasi program harus diprioritaskan di Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah dan sedang terkena atau berpotensi terkena indeks bencana iklim yang tinggi.2%) dengan kategori risiko M-H. Ini termasuk Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat).1%) berada pada risiko iklim M (Menengah). Ketiga adalah apa kapasitas pemerintah lokal dan institusi untuk mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan jangka pendek dan jangka panjang pembangunan. Kelurahan Kangkung.4). dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). akan terkena risiko iklim yang lebih tinggi (Gambar 6.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada Kelurahan dengan kategori risiko iklim Sangat Tinggi (VH) saat ini (kondisi baseline). Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). Ada tiga aspek penting perlu dinilai untuk menilai ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Yang pertama adalah bagaimana stakeholder memainkan peran mereka dalam mengelola risiko iklim. Sedangkan peran pemerintah provinsi diklaim tidak terlalu signifikan.7%) pada risiko iklim L-M (Rendah ke Medium). Yang kedua adalah apa program (pendek dan jangka panjang) inisiatif saat ini untuk mengatasi risiko iklim dan seberapa efektif mereka. 22 Kelurahan (22. Ada dua Kelurahan akan pindah dari M-H ke kategori risiko iklim tinggi. Dari hasil analisis terungkap bahwa manajemen perubahan iklim di Kota Bandar Lampung melibatkan stakeholder baik dari internal dan eksternal kota. Sepang Jaya dan kelurahan Kedaton (Kecamatan Kedaton). Ada sekitar 14 Kelurahan (14. pemerintah daerah Bandar Lampung memainkan peran besar dalam perubahan iklim baik untuk dukungan keuangan dan pelaksanaan program.4%) Kelurahan pada risiko iklim VL (sangat rendah). lebih banyak Kelurahan.4%) pada risiko L (rendah) dan 21 (21. yaitu kelurahan Gunung Mas di Kecamatan Teluk Betung Utara dan Kelurahan Garuntang di Kecamatan Teluk Betung Selatan. Sisanya adalah 5 Kelurahan (5. Setiap stakeholder memiliki peran dan kontribusi mereka sendiri untuk beradaptasi dan memperkuat masyarakat untuk perubahan iklim. Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang Subdistrik). Analisis di atas menunjukkan bahwa perubahan dalam kondisi sosialekonomi dan biofisik akan mengubah kapasitas ketahanan Kelurahan. Kategori tertinggi adalah hanya Menengah ke Tinggi (M-H). Sementara banyak dari Kelurahan dengan kategori risiko L-M akan pindah ke kategori risiko sedang (M) (Gambar 5). Bumi Waras dan Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan). terutama di bawah skenario SRESB1. infrastruktur dan program pengembangan masyarakat harus diarahkan untuk meningkatkan indikator-indikator sosial-ekonomi dan biofisik mempersiapkan kapasitas kerentanan dan adaptasi dari Kelurahan. Tata pemerintahan dan kelembagaan yang kuat akan meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). tetapi memiliki peran lebih dalam mengkoordinasikan program dan x . Di masa depan (skenario 2025 dan 2050). Untuk mengurangi tingkat risiko Kelurahan terhadap dampak perubahan iklim. Kemitraan ini merupakan prakondisi untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

ada beberapa lembaga yang terkait dengan pembentukan tim kota. Perlu komitmen politik dan pemahaman yang komprehensif dari Tim Kota untuk memperkenalkan masalah-masalah terkait perubahan iklim. Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengintegrasikan aspek perubahan iklim ke dalam dokumen. Selain rencana aksi. Terdapat sejumlah kondisi yang menguntungkan di Kota Bandar Lampung. Dalam peraturan dan kebijakan jelas disebutkan bahwa dokumen perencanaan harus mempertimbangkan mitigasi bencana dan adaptasi dan masalah perubahan iklim. perencanaan tata ruang kota dari Bandar Lampung belum mempertimbangkan isu-isu perubahan iklim. Hal ini juga menunjukkan kebutuhan untuk memperkuat Tim Kota dalam memperjuangkan untuk memperkenalkan dan mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam dokumen perencanaan daerah. yang dapat secara positif berkontribusi pada proses pengembangan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Namun. seperti kawasan sepanjang sungai dan lain-lain. pemerintah kota Bandar Lampung telah membentuk Badan Pengelolaan Bencana Daerah pada bulan November 2009 meskipun dewan tersebut belum efektif pada pelaksanaan program tersebut. Rencana tata ruang (RTRW) yang tidak benar akan menyebabkan kota menghadapi risiko iklim yang lebih tinggi di masa depan. Pemerintah Kota Bandar Lampung juga akan merumuskan rencana pembangunan jangka menengah baru sebagai hasil dari pemilihan langsung yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010. Bagaimanapun. pemerintah pusat dan dukungan donor pada pembiayaan dan beberapa pelaksanaan proyek yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Di sisi lain. ada ruang untuk memberikan masukan tentang isu-isu perubahan iklim ke dalam RTRW Kota Bandarlampung yang sedang direvisi. sehingga memungkinkan mereka dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasinya. Sementara sebagian besar kelemahan terkait dengan kebutuhan dalam hal koordinasi yang lebih baik antar sektor dan antar daerah dalam rangka mengurangi ketidakefektifan pelaksanaan proyek. Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah juga diperlukan. Beberapa masalah yang berpotensi menyebabkan kesulitan untuk menerapkan iklim dalam perencanaan tata ruang termasuk inkonsistensi dalam pelaksanaan perencanaan tata ruang. perubahan tata guna lahan. Inisiatif saat ini yang dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai respon untuk manajemen bencana adalah merumuskan program dan rencana aksi dalam mengurangi risiko bencana melalui studi intensif pada tahun 2008. Kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang saat ini masih terbatas. xi . koordinasi antar pemangku kepentingan dan sektor harus diperkuat untuk mendapatkan manfaat maksimal dari program untuk lingkungan dan masyarakat. Hal ini dapat dipahami mengingat perubahan iklim adalah masalah yang kompleks. Terkait dengan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah. Ada sejumlah program dan rencana yang disiapkan oleh pemerintah untuk menangani bencana alam di kota.kebijakan dari beberapa kota. sehingga secara hukum dapat mengikat.

dan juga mempertimbangkan temuan dari survei dan literatur. sumber daya langka. Sementara intervensi pemerintah sangat dihargai dan instrumental kemandirian lokal tampaknya menjadi karakteristik kunci dari strategi adaptasi. Kami belajar beberapa sifat umum yang terlihat dalam strategi adaptasi di tingkat masyarakat: • • Cukup hanya 'kerja mereka': ini adalah sense adaptasi yang sangat praktis yang memiliki bantalan nyata dan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari mereka. sepeda motor atau aset yang berfungsi lainnya.PERENCANAAN TINDAKAN ADAPTASI Untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Orang-orang yang peduli satu sama lain dan ketika kekhawatiran ini diterjemahkan dalam aksi kolektif dapat memberikan hasil yang signifikan. Umumnya di kota orang menginginkan akses ke sumber daya dengan cepat dan ini adalah karakteristik yang sangat penting dari strategi adaptasi yang bekerja. Pasir Gintung. xii • • • • • . Seluruh lebih besar daripada jumlah dari bagian-bagian: Banyak strategi adaptasi berhasil karena mereka memanfaatkan upaya kolektif dan kekuatan orang. bahan perumahan memulung dari tumpukan material di dekatnya. Memanfaatkan dukungan pemerintah memberikan hasil yang lebih baik: Ketika masyarakat mampu bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah kota (dan sebaliknya) strategi adaptasi tampaknya telah berhasil. jika tidak bermanfaat bagi aspek-aspek lain dari kehidupan mereka. Ini adalah apa yang orang mampu dan yang masuk akal bagi mereka. tapi ketika manfaat lainnya dapat diturunkan maka solusinya dapat dijalankan. dibandingkan melalui proses aplikasi birokrasi yang mungkin berarti dokumen panjang. Demi keselamatan sendiri bukan merupakan faktor motivasi. kita ekstrak sejumlah pelajaran yang dapat berkontribusi dalam mengembangkan strategi adaptasi. Misalnya. Berdasarkan studi mengenai Penilaian Kerentanan Berbasis Masyarakat (Community Based Vulnerability Assessment /CBA) di Kelurahan Kankung. mereka dapat dengan mudah dikelola dan diakses. Proyek percontohan khusus dibutuhkan sebagai bahan pelajaran bagaimana risiko iklim dapat dikelola dengan baik dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran tersebut untuk memperbaiki rencana adaptasi perubahan iklim. Mereka yang murah dan bekerja dengan bahan yang tersedia: bagi masyarakat miskin perkotaan. masyarakat. dan sektor memberikan respon terhadap risiko iklim saat ini dan bagaimana kapasitas saat ini harus dikembangkan untuk memperkuat kapasitas dalam mengelola risiko iklim di masa mendatang. Adaptasi terhadap peristiwa iklim yang parah harus bekerja sama dengan strategi adaptasi lainnya: Orang-orang yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim mungkin tidak tahu atau peduli untuk merencanakan untuk itu. Dapat diakses pada saat dibutuhkan: Dalam rangka untuk mendapatkan modal untuk memulihkan kondisi dari banjir keluarga mungkin menjual televisi. Kota Karang. dirasakan penting untuk memahami bagaimana orang-orang. atau tabungan masyarakat bahkan kelompok yang mengumpulkan jumlah yang sangat minim. Mereka tidak bergantung atas proyek besar atau intervensi pemerintah: Orangorang telah dibiasakan bergantung pada organisasi masyarakat dan inisiatif yang lebih baik dalam meresponkebutuhan mereka sendiri.

dan (vii) strategi keberlanjutan. dan (vii) mobilitas. (vi) skalabilitas . (ii) jaringan sosial yang mungkin timbul dari orang-orang dalam situasi yang mirip dengan tahu bagaimana. Penerima manfaat adalah perempuan. sektor swasta. peta yang terperinci untuk digunakan pemerintah daerah setempat. anak-anak. (ii) menangani risiko saat ini dan masa depan. pendidikan. Tujuan dari pelaksanaan pilot adalah (i) untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim di tingkat kota. bagaimana kapasitas saat ini harus diperkuat dan rencana tata ruang untuk ditingkatkan untuk membentuk ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik dari pilot proyek dalam merancang kebijakan dan strategi jangka panjang untuk mengatasi perubahan iklim. (iv) kota dan program pemerintah nasional (misalnya PNPM). peningkatan kapasitas lokal. (vi) kepemimpinan lokal. mempengaruhi kebijakan lokal dll. (v) migrasi dan tingkat pertumbuhan. sosial. (iii) tingkat pemerintah daerah setempat. (iv) inovasi. Kota Bandar Lampung berada dalam posisi yang baik untuk pindah ke ketahanan kota sebagaimana sudah tersedia (i) ada kasus dan dapat dilaksanakan. pembiayaan biaya rendah perbaikan perumahan. Kegiatan proyek percontohan juga dirancang untuk memenuhi kriteria sebagai berikut: (i) replicability. ekonomi yang terkait dengan dampak perubahan iklim. seperti: erosi. tanah longsor dll. banjir kekeringan. (v) Bahan dan pengetahuan dari industri dan kegiatan ekonomi. kesehatan. Neighbourhood Vulnerability Index. (ii) tingkat kapasitas. (vi) pelayanan publik. narasi komunitas berbagi dan jaringan. subjek adalah orang-orang rentan yang terkena dampak perubahan iklim. dan (viii) lokal organisasi masyarakat sipil. dan (ii) pelaksanaan proyek percontohan diarahkan untuk adaptasi dan kegiatan usaha respon terhadap dampak perubahan iklim. (iv) kolaborasi dan keterlibatan pemerintah daerah. Ormas. universitas. kita dapat disimpulkan bahwa adaptasi yang sukses di tingkat masyarakat tergantung dari beberapa faktor yaitu: (i) ketersediaan dana. alternatif jaring pengaman sosial. Untuk proyek-proyek percontohan. xiii . (ix ) memanfaatkan sumber daya yang ada (seperti subsidi. kelompok masyarakat). Dari metode pembelajaran. orang tua dan laki-laki. Tim Kota telah memfasilitasi berbagai pihak untuk mengembangkan sejumlah proyek percontohan. Pilot proyek diperlukan untuk membantu pemerintah daerah untuk lebih memahami bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada masyarakat dan sektor. (iii) manfaat kepada masyarakat lokal. baik dalam faktor kesadaran yang meningkat. Ada beberapa kriteria tambahan yang harus dilakukan oleh pelaksana proyek percontohan: (i) pelaksanaan pilot proyek harus berkaitan dengan masalah-masalah lokal di masyarakat lokal administratif atau lintas administratif berbatasan dengan isu-isu lingkungan. (v) kerjasama. (vii) kohesi masyarakat. (ii) untuk melibatkan para stakeholder tingkat kota (pemerintah kota. (iii) akses terhadap informasi.• Akses lebih ke informasi dapat menyebabkan hasil yang lebih baik: masyarakat miskin perkotaan biasanya terisolasi dan strategi adaptasi tampaknya begitu berhasil meningkatkan akses terhadap informasi. dan (iv) untuk menguji kapasitas adaptasi masyarakat. dan koalisi berbasis luas untuk menangani masalah perubahan iklim). LSM. (iii) melaksanakan proyek percontohan dalam hal uji perubahan strategi ketahanan iklim.

Lokal LSM. penyediaan air minum isi ulang. ketahanan ekonomi rumah tangga. (ii) untuk membangun kesadaran masyarakat dalam memahami dan memecahkan masalah-masalah berkaitan dengan dampak perubahan iklim. target dari proyek ini adalah (i) untuk membangun pemahaman dan melaksanakan program kegiatan bagi masyarakat di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang terhadap dampak perubahan iklim (dalam sosial. Kota Bandar Lampung untuk Perubahan Iklim oleh Lampung Ikhlas . dan sektor-sektor kehidupan yang berkelanjutan). dan (ii) untuk mendorong penciptaan kolektif untuk dukungan pelaksanaan adaptasi terhadap perubahan iklim di Kecamatan Panjang Selatan. Selanjutnya. dan (iii) untuk beradaptasi dengan perubahan iklim melalui pengelolaan limbah. dan adaptasi terhadap perubahan iklim.LSM Lokal. (ii) meningkatkan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Target jangka panjang adalah untuk (i) untuk mendorong pembentukan kelompok masyarakat dalam adaptasi perubahan iklim. (B) Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kecamatan Panjang Selatan untuk Mengatasi Perubahan Iklim oleh Mitra Bentala . dan rehabilitasi. Selanjutnya. Tujuan dari proyek ini adalah "sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan ketahanan masyarakat Kecamatan Panjang Selatan terhadap perubahan iklim". kesadaran.Ada dua proyek percontohan dipilih Asian Cities Climate Change Program (ACCCRN) sebagai kontribusi terhadap tujuan pembangunan dan mengatasi dampak perubahan iklim di Bandar Lampung: (A) Desain Partisipatif Adaptasi Ketahanan Masyarakat di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang. xiv . manajemen lingkungan. target jangka pendek dari proyek tersebut (i) untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui keterlibatan aktif dan meningkatkan pengetahuan tentang upaya adaptasi perubahan iklim. ekonomi. (iii) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang dan (iv) untuk membantu meningkatkan standar hidup masyarakat di bidang kesehatan. dan membangun kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. dan keterlibatan partisipatif masyarakat dalam rangka membangun kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim". Tujuan dari proyek ini adalah "untuk meningkatkan pemahaman.

dan kebakaran hutan. Penilaian Kerentanan dan Adaptasi Perubahan Iklim di Kota Bandar Lampung telah dilaksanakan dan hasil penilaian ini disajikan dalam laporan ini. Institute for Social and Environmental Transition (ISET) adalah pengelola the Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCRN) sebagai bagian dari keseluruhan Rockefeller Foundation Climate Change Initiative. beberapa Kelurahan di Kota Bandar Lampung sudah terpengaruh oleh bencana iklim seperti banjir. institusi lokal. masyarakat lokal. perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global diperkirakan akan menciptakan pola-pola risiko baru dan secara umum lebih tinggi. xv . dan kemampuan adaptasi yang ada saat ini. dan LSM lokal. Penelitian ini didukung oleh berbagai institusi. Di masa depan. tanah longsor. Kami berharap Pemerintah Kota Bandar Lampung dapat memanfaatkan beberapa hasil yang disajikan dalam laporan ini. Centre for Climate Risk and Opportunity Management in South East Asia and Pacific (CCROM SEAP) Institut Pertanian Bogor. Indonesia adalah negara yang rawan terhadap bencana alam seperti banjir. badai. peristiwaperistiwa ekstrem dapat terjadi lebih sering dengan intensitas tinggi. dan segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah kebutuhan mendesak masyarakat saat ini. (ii) Dampak bahaya iklim dan kerentanan masyarakat terhadap kejadian iklim ekstrim. MercyCorp membantu ISET dalam pelaksanaan program ACCRN di Bandar Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Tim Kota). Saat ini. kekeringan. dan ( vi) Rekomendasi pada jenis proyek percontohan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Pemerintah Kota harus menangani hal ini secara lebih serius dalam rencana pengembangan pembangunan kota. Sebagian besar Kelurahan Bandar Lampung yang terkena dampak adalah yang ditempati oleh keluarga dengan pendapatan rendah dan hidup dalam kemiskinan. Laporan ini menjelaskan secara rinci mengenai: (i) karakteristik iklim Bandar Lampung saat ini dan masa depan.000 pulau. Bandar Lampung merupakan salah satu kota pesisir yang rentan terhadap bencana tersebut.000 km dengan mayoritas penduduk hidup di wilayah pesisir di mana sebagian besar kegiatan ekonomi negara berlangsung. kekeringan dan juga rob. Dukungan mereka selama pelaksanaan penelitian ini adalah hal yang terpenting dan sangat dihargai. garis pantai lebih dari 80. letusan gunung berapi. untuk menangani masalah-masalah terkait rencana pembangunan kota dan dalam pelaksanaan program-program perubahan iklim. Mereka sangat rentan terhadap dampak dari masalah lingkungan. Oleh karena itu. (iii) Peta kerentanan saat ini dan masa depan dan peta kapasitas serta risiko iklim di Tingkat Kelurahan. (v) rekomendasi awal untuk meningkatkan ketahanan Kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan. (iv) Permasalahan pemerintahan dan isu-isu kelembagaan yang dapat mempengaruhi efektivitas pelaksanaan program perubahan iklim. Di masa depan. Urban and Regional Development Institute (URDI).KATA PENGANTAR Indonesia memiliki lebih dari 17.

4. 2.2.1.2. 2. 2.4. 4.7. Klasifikasi Kelurahan (Desa) Berdasarkan Indeks Kerentanan dan Kapasitas 79 79 83 xvi .3 Proyeksi Perubahan Iklim 4. 2.5.2.1.3. 4.4.7.DAFTAR ISI Halaman i xv xvi xviii xx 1 1 2 2 3 3 3 4 7 12 14 15 16 29 41 41 41 42 43 43 46 47 53 53 55 57 68 Ringkasan Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar 1. 1.1. Analisis Tren Perubahan Iklim di Kota Bandar Lampung 3. Tren Curah Hujan 3. Pengaruh ENSO dan IOD terhadap Variabilitas Curah Hujan di Bandar Lampung 3.1.2.2. Konteks Sosial 2.1.2. 4. Mata Pencaharian dan Ekonomi 3. Metodologi untuk Pemetaan Kerentanan dan Kapasitas Adaptif 5.6. DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM Dampak Biofisik Dampak Umum dari Kejadian Iklim Ekstrim Dampak Sosial Ekonomi dari Kejadian Iklim Ekstrim Respon Pemerintah dan Masyarakat terhadap Bencana Akibat Kejadian Iklim Ekstrim 5. 2. Tren Suhu 3.1.3.2.2. KONDISI IKLIM HISTORIS DI BANDAR LAMPUNG 3.3. 2. Kondisi Iklim dan Cuaca Ekstrim 3. 2.1.1.2. 1.1. Angin Ekstrim 3.2.7. 2. PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF 5.1. PENDAHULUAN Latar Belakang Studi Tujuan Outputs SEKILAS KONDISI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN DESKRIPSI RESPONDEN Lokasi dan Konteks Geografi Municipal Administration Resources Base Posisi Bandar Lampung dalam Konteks Kawasan Kondisi Demografi dan Sosial Kondisi Ekonomi dan Mata Pencaharian Profil Responden 2. 1.

ADAPTASI 8. 7. 7. 7. ANALISIS RESIKO IKLIM 6.1. 116 8.6.5. 7. Metodologi untuk Pemetaan Risiko Iklim 6.3.1.4. Adaptasi dan Ketahanan 8. Klasifikasi Kelurahan (Desa) berdasarkan Tingkat Eksposur terhadap Risiko Iklim 7. PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM Climate Hazard di Kota Bandar Lampung Ruang Lingkup Komponen Kepemerintahan dan Kelembagaan Pemetaan peran stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim Permasalahan Perkotaan di Bandar Lampung yang Terkait dengan Adaptasi Perubahan Iklim Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis) Pemetaan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Mapping) Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di daerah dan Penanggulangan Bencana Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim Analisis kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka mengintegrasikan perencanaan ketahanan dalam perubahan iklim (framework organizational capacity) Temuan dan Rekomendasi untuk Perencanaan Ketahanan Kota dalam rangka Perubahan Iklim 87 87 90 93 93 95 96 98 99 105 106 109 113 7.1.4.8.9. 7. 7. 7. 7.3. 7. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif Kesimpulan Daftar Pustaka Lampiran 118 118 121 122 127 129 136 139 142 xvii . Pilot Project daerah Bandar Lampung sebagai Rencana Aksi Adaptasi 8.7.2.6.2. Pembelajaran 8.10.2. Strategi Adaptasi di Bandar Lampung 8.5.

2009 (dalam %) Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Warga pada Kelurahan 33 Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Mata 17 Pencaharian Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Berperan Dalam 20 Mengambil Keputusan Keluarga Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Distribusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga dalam 21 Mengikuti Pelatihan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (Rupiah/bulan) Koefisien korelasi antara curah hujan musiman di Bandar 41 xviii 2-1 2-2 2-3 2-4 2-5 2-6 2-7 2-8 2-9 2-10 2-11 2-12 2-13 2-14 2-15 2-16 2-17 2-18 2-19 2-20 3-1 . 2009 (dalam %) Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Cicilan. 2009 (dalam %) Rata-rata Luas Bangunan dan Luas Tanah Masyarakat pada 36 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Jenis Dinding Rumah Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di 38 Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Indeks Kepemilikan Aset Rumah Tangga Masyarakat Pada 39 Kelurahan Amatan di Lampung Tahun 2009 (dalam %) Akses Masyarakat Terhadap Perbankan dan Asuransi Pada 40 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. class percentage and area changed Major Land Use/Cover Conversions from 1992 to 2006 7 Fungsi Bagian Wilayah Kota (BWK) Bandar Lampung 8 Struktur penduduk Kota Bandar Lampung (BPS Kota Bandar 13 Lampung. 2009 (dalam %) Pengeluaran Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar 35 Lampung.DAFTAR TABEL Halaman Nama Kecamatan. 2009 (dalam %) Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Bekerja Pada 32 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan di 4 Kota Bandar Lampung Results of land use/land Cover Classification for 1992 and 6 2006 Images Showing area of each category. 2009 Distrisusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam 22 Organisasi Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 40 Tabungan dan Asuransi Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Mata Pencaharian Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar 30 Lampung. 2009) Produk Domestik Regional Bruto Kota Bandar Lampung 15 Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2007 Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Pada Kelurahan 16 Amatan di Bandar Lampung.

2009 Rangkuman Persepsi Masyarakat di Bandar Lampung Terhadap Besaran Dampak Bencana. 2009 Penyakit Pada Saat Kekeringan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. indeks komposit bencana iklim) Kejadian banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung Analisis Peran dan Kontribusi Pemangku Kepentingan dalam Perubahan Iklim Masalah dan alternatif startegi terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung Program yang terkait dengan Perubahan Iklim Tahun 2006 dan 2008 Jumlah Anggaran yang Terkait dengan Perubahan Iklim TA 2008 Besaran Anggaran Dana Program NUSSP di Kota Bandar Lampung Kegiatan dan sebaran Kegiatan PNPM Mandiri di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Analisis Kapasitas Pemerintahan 1 Layanan-layanan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi bahaya iklim. 2009 Persepsi Warga Terhadap Berbagai Macam Informasi Terkait Kebencanaan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Kegiatan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan penanganan bencana yang bersifat non-struktural dan respon masyarakat Dampak Bencana yang Menimpa Warga Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. serta Upaya Penanggulangan yang Dilakukan Indikator yang digunakan untuk mendefinisikan Kerentanan dan Kapasitas dan bobotnya Nilai indikator berdasarkan jenis sumber pendapatan utama di suatu kelurahan Matriks risiko sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi jika kejadian tak terduga itu terjadi Bobot dan rumus untuk menghitung indeks bencana iklim Matriks risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index (CCHI. menurut Kelurahan Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung 50 50 54 59 66 66 70 72 77 77 79 80 87 88 88 89 100 109 110 111 112 113 114 132 133 135 xix . mengacu pada tahun 1990 Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung Gambaran Dampak Bencana terhadap Nilai Sosial Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Penyakit Pada Saat Banjir pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.3-2 3-3 4-1 4-2 4-3 4-4 4-5 4-6 4-7 4-8 5-1 5-2 6-1 6-2 6-3 6-4 7-1 7-2 7-3 7-4 7-5 7-6 7-7 8-1 8-2 8-3 Lampung dengan DMI dan dengan anomali SST Nino3.4 Konsentrasi Gas Suhu (0C) dan sea level rise (cm).

0 Tren musiman kisaran suhu harian (daily temperature range.0 Tren frekuensi hari hujan musiman di Bandar Lampung 45 (105.15E-105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.15E-105.34E.34E.34E.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. 2007 15 Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan 19 Klasifikasi Tinggi Rendahnya Pendidikan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Ketersediaan Sarana Pada Kelurahan Amatan di Bandar 28 Lampung. 47 DTR) di Bandar Lampung (105. 5.51S-5.51S-5.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.15E-105.0 Trend musiman suhu maksimum harian di Bandar Lampung 47 (105.51S-5. 5. 2009 Distribusi Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat 34 Berdasarkan Pendapatan Tetap dan Pendapatan Tambahan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 Plot time series curah musiman di Bandar Lampung 42 Kecepatan angin harian di stasiun pengamatan Teluk Betung. 2009 Distribusi Partisipasi Warga dalam Kegiatan Gotong Royong 26 Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.51S-5.15E47 105. 2009 Distribusi Masyarakat di Wilayah Pesisir Yang Melakukan 25 Kegiatan Gotong dengan Frekuensi Minimal 1 Kali dalam 1 Tahun Distribusi Tingkat Partisipasi Warga Non Pesisir Lampung 25 pada Kegiatan Gotong Royong Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya. 5.0 Komponen frekuensi rendah dari curah hujan musiman di 46 Bandar Lampung didefinisikan oleh nilai 13-tahun rataan bergerak sederhana (simple moving average) Trend musiman suhu rata-rata di Bandar Lampung (105.34E.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.31 Desember 1999) Pola spasial tren curah hujan musiman di Bandar Lampung 43 Tren curah hujan musiman di kota Bandar Lampung 45 (105. 42 Lampung (periode 1 Januari 1994 .DAFTAR GAMBAR Halaman Posisi Kota Bandar Lampung terhadap daerah sekitarnya 3 Peta Administrasi Kota Bandar Lampung 4 Distribusi perubahan penggunaan/penutup lahan Kota Bandar 6 Lampung tahun 1992 dan 2006 Distribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandar Lampung. 5. 2009 Distribusi Kegiatan Masyarakat Pada Beberapa Kegiatan 27 Sosial Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.0 Peluang Curah Hujan Lebih dari Q3 pada Musim Hujan 52 xx 2-1 2-2 2-3 2-4 2-5 2-6 2-7 2-8 2-9 2-10 2-11 3-1 3-2 3-3 3-4 3-5 3-6 3-7 3-8 3-9 3-10 . 5.51S-5.34E.15E-105.

4-1 4-2 4-3 4-4 4-5 4-6 4-7 4-8 4-9 4-10 4-11 4-12 5-1 5-2 5-3 5-4 5-5 6-1 6-2 6-3 6-4 7-1 (DJF) dan kurang dari Q3 pada Musim Kemarau (JJA) dengan Dua Skenario Emisi Bantuan dari Saudara dan Masyarakat Lainnya di saat Bencana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Bandar Lampung Area pantai yang dipengaruhi oleh gelombang setinggi +100 m Penentuan order aliran tertinggi (A) & pendugaan luas dari luapan air sungai (B) Pengelompokan kelurahan berdasarkan indikator kapasitas dan kerentanan Indeks Kerentanan dan Kapasitas Kelurahan (A) Baseline. (C) bencana iklim A2 2050. (B) Risiko Iklim A2 2025. di Bandar Lampung. 2009 Lampung Kerugian Akibat Banjir Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. 2009 Kisaran Biaya yang Dikeluarkan oleh Warga (dalam Rupiah) Persentase Media Informasi Prakiraan yang digunakan Adaptasi yang Terjadi di Wilayah Pesisir dan Non Pesisir Ketika Terjadi Bencana Banjir di Lampung Adaptasi Kekeringan Warga di Kelurahan Amatan. 2009 Dampak Banjir dan Kekeringan Terhadap Pekerjaan Utama pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (B) 2025. (C) Risiko Iklim A2 2050. (F) bencana iklim B1 2050 Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur terhadap risiko iklim (A) & (D) Baseline Risiko Iklim. 2009 Nilai Kerugian Usaha Sampingan Tambak Pada Kelurahan Amatan. (C) 2050 Coping capacity index of Kelurahan of Lampung City (A) Baseline. 2009 Dampak Banjir Terhadap Usaha Sampingan Tambak pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (E) Risiko Iklim B1 2025. (B) 2025. (E) bencana iklim B1 2025. (B) bencana iklim A2 2025. 2009 Kerugian Akibat Kekeringan Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. Tahun 2009 Kenaikan Harga Beberapa Komoditi Pertanian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung. (C) 2050 Box plot curah hujan bulanan pada musim hujan dan kemarau selama tahun-tahun terjadi bencana dan tahun-tahun tidak terjadi bencana Indeks Bencana Iklim komposit Bandar Lampung (A) & (D) baseline bencana iklim. 2009 Nilai Kerugian Dari Pekerjaan Utama Akibat Banjir dan Kekeringan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (F) Risiko Iklim B1 2050 Jumlah kelurahan menurut kategori indeks risiko iklim Pemetaan Pemangku Kepentingan berdasarkan tingkat Kepentingan 57 60 62 62 63 63 64 65 67 69 72 74 82 83 84 85 86 89 90 91 92 106 xxi .

17/2003. 32/2004 8-1 LFA Analisa Problem 8-2 Diagram Alur Aktivitas 8-3 Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kerentanan 107 124 126 134 xxii .7-2 Keterkaitan antara UU No. UU No. 25/2004 dan UU No.

Sekitar 53. badai. Rentang Kepulauan Indonesia yang luas ini .1. 2006) Kenaikan permukaan laut menimbulkan risiko lebih lanjut. Rencana untuk meningkatkan infrastruktur untuk 1 . ada sekitar 1. Kepadatan penduduk yang tinggi di Indonesia akan lebih meningkatkan kerentanan terhadap bencana iklim. dan kebakaran pada berbagai lahan berhutan. Sekitar 24 pulaupulau kecil Indonesia sudah terendam (Departemen Kelautan dan Perikanan 2007). sekitar 42 juta orang di Indonesia tinggal di daerah dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut (Pemerintah Indonesia 2007). kebakaran hutan. letusan gunung berapi. yang merupakan batas garis kemiskinan (Indonesia Poverty Analysis Program 2006). perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global dapat menciptakan pola-pola baru risiko. terutama negara-negara kurang berkembang dan negara-negara sedang berkembang kemungkina akan mengalami kesulitan untuk mencapai Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) yang terkait dengan kemiskinan. Kota Bandar Lampung merupakan kota pantai yang akan terkena dampak perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. yang mengakibatkan pergeseran zona iklim. Bencana terkait banjir dan angin kencang mencakup sekitar 70% dari total bencana dan sisanya 30% terkait dengan bencana kekeringan. kelaparan dan kesehatan manusia. Sebagian besar rumah tangga yang tinggal di daerah pesisir memiliki pendapatan antara US $ 2 dan US $ 1-per hari. rob.BAB 1 PENDAHULUAN 1. Dalam periode 2003-2005 saja.000 km garis pantai .429 kejadian bencana di Indonesia. badai. gelombang panas.000 pulau dan lebih dari 80. dan lain-lain. kekeringan. Indonesia adalah negara yang sudah rawan terhadap bencana alam seperti banjir. pemanasan global diperkirakan akan mengubah rentang iklim. banyak negara. Mereka merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Variabilitas dan perubahan iklim yang terjadi dengan latar belakang peningkatan populasi global dan proses globalisasi ekonomi dapat mengarah ke peningkatan persaingan atas sumber daya dan kerentanan baru. Kenaikan permukaan laut akibat pencairan gletser dan es kutub dan ekspansi termal akan memberikan kontribusi pada peningkatan banjir di wilayah pesisir banjir. dan risiko tersebut secara umum meningkat. Saat ini.3 persennya terkait bencana hidro-meteorologi (Bappenas dan Bakornas PB. tanah longsor.dengan lebih dari 17. dan mengarah pada frekuensi dan amplitudo peristiwa cuaca yang lebih tinggi. Peningkatan intensitas siklon tropis yang tercatat dalam beberapa dekade terakhir mungkin dapat dikaitkan dengan peningkatan suhu permukaan laut. tanah longsor. Latar Belakang Studi Di masa depan.dan mayoritas penduduk yang tinggal di wilayah pesisir di mana sebagian besar kegiatan ekonomi negara itu terjadi sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut. perubahan iklim regional rata-rata. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah menerapkan berbagai program strategis jangka menengah dan jangka panjang untuk mengelola bencana. Indonesia telah mengalami bencana terkait iklim yang lebih sering dan parah dalam beberapa tahun terakhir. Dengan meningkatnya risiko iklim. Dengan adanya dampak pada siklus hidrologi.

sangat penting bagi kita untuk mempertimbangkan perubahan iklim dalam merancang sistem kontrol bahaya iklim. Output Output akhir dari studi ini adalah laporan yang mendeskripsikan: • • • • • • Karakteristik iklim saat dan masa depan di Kota Bandar Lampung Dampak bahaya iklim dan kerentanan masyarakat terhadap peristiwa iklim ekstrim. mengindentifikasi dampak langsung dan tidak langsung dari bencana iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan mengidentifikasi daerah dan kelompok-kelompok sosial yang paling rentan. termasuk kapasitas adaptif masyarakat terhadap dampak perubahan iklim mengidentifikasi kelembagaan dan isu-isu tata pemerintahan yang dapat mempengaruhi ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan. Tujuan Tujuan studi ini adalah untuk: • • • • • • • menilai variabilitas iklim saat ini dan masa depan di Kota Bandar Lampung menilai kerentanan dan kapasitas adaptif serta risiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan mengidentifikasi kerentanana dan kapasitas adaptif serta resiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan. Namun. Karena itu.2. maka berbagai desain yang telah direncanakan dan dibuat mungkin akan kurang efektif untuk mengelola bahaya iklim masa depan. dalam kondisi iklim yang berubah dan dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas peristiwa iklim yang ekstrim.3. dan dimensi kerentanan.mengelola bencana iklim seperti sistem drainase dan tanggul telah disiapkan (Bappeda. mengembangkan rekomendasi awal untuk Kota Bandar Lampung untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan 1. 2003). 1. dan kapasitas adaptif yang ada Peta kerentanan dan kapasitas adaptif serta risiko iklim saat ini dan masa depan pada tingkat Kelurahan Isu tata pemerintahan dan isu kelembagaan yang dapat mempengaruhi efektivitas pelaksanaan program perubahan iklim Rekomendasi awal untuk meningkatkan ketahanan Kota terhadap resiko iklim saat ini dan dan masa depan Rekomendasi jenis proyek percontohan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim 2 .

3). sebelah timur berbatasan dengan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan dan 4).18 Km2. sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Padang Cermin dan Ketibung Lampung Selatan serta Teluk Lampung. Batas wilayah sebagai berikut: 1). Kemiling merupakan wilayah terluas. 2001) Gambar 2-1.1.5o 30’ LS dan 105o 28’ -105o 37’ BT. sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. gambar 2. yang memiliki luas wilayah 192. Letak tersebut berada di teluk lampung dan diujung selatan Pulau Sumatra.2. 2). 2009 dan Citra Landsat ETM+. Posisi Kota Bandar Lampung terhadap daerah sekitarnya 2.BAB 2 SEKILAS KONDISI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN DESKRIPSI RESPONDEN 2. Administrasi Kota Secara administratif.1 Lokasi dan Konteks Geografi Bandar Lampung adalah ibu kota Propinsi Lampung dan secara geografis terletak pada 5o 20’ . SUMATERA ISLAND South China Sea KALIMANTAN ISLAND BANDAR LAMPUNG MUNICIPALITY BANDAR LAMPUNG CITY Bandar Lampung Java Sea Semarang Indian Ocean JAVA ISLAND (Sumber: Google Earth. sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gedung Tataan dan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran. Dari ke13 kecamatan. sedangkan luas kecamatan terkecil adalah Tanjung Karang Pusat dan Teluk Betung Selatan 3 . kota Bandar Lampung terdiri dari 13 kecamatan dan 98 kelurahan (Tabel 2.2).

16 27.3.38 20.07 21.22 IBU KOTA Palapa Gedong Air Kota Baru Kupang Kota Bakung Sukaraja Panjang Selatan Sumberejo Kampung Baru Rajabasa Tanjung Seneng Sukarame Sukabumi JML KELURAHAN 11 6 11 10 8 11 7 7 8 4 4 5 6 98 (http://www.65 10. dan 23 sungai-sungai kecil (Bappeda Kota Bandar Lampung.Tabel 2-1. 2008).bandarlampungkota. Peta Administrasi Kota Bandar Lampung 2.02 11. Sumberdaya air (Water resource) Kota Bandar Lampung dilalui oleh 2 sungai besar yaitu Way Kuala dan Kuripan.63 16. Resources Base a.11 10. Semua sungai tersebut membentuk daerah aliran sungai (DAS) yang berada di dalam 4 . Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan di Kota Bandar Lampung NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KECAMATAN Tanjungkarang Pusat Tanjungkarang Barat Tanjungkarang Timur Teluk Betung Utara Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Panjang Kemiling Kedaton Rajabasa Tanjung Seneng Sukarame Sukabumi Jumlah Luas (ha) 6.go.id) Gambar 2-2.87 10.99 10.64 197.14 21.58 15. Nama Kecamatan.88 13.

Kedalaman sumur gali adalah sekitar 30 hingga 50 meter dari muka tanah setempat. Pada saat sekarang PDAM hanya mampu memenuhi 27% dari total warga Bandar Lampung. Pusat kegiatan ekonomi di Kawasan Pesisir dan Pantai di Kota Bandar Lampung antara lain terpusat di Kawasan Pelabuhan. c. Dalam kondisi seperti itu. Keadaan ini dapat menjadi kendala dalam penataan wilayah pesisir. Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal. Tanjung Karang. penduduk membangun rumah tempat tinggal di lahan hasil penimbunan pantai sehingga terjadi akresi.wilayah Kota Bandar Lampung dan sebagian besar bermuara di Teluk Lampung. Panjang dan Kandis. Pola perubahan penggunaan lahan selama 14 tahun (1992-2006) dapat dilihat pada Gambar 2-3. Meskipun demikian. b. meskipun banyak diantara para pemukim tidak memiliki bukti kepemilikan lahan yang kuat secara hukum. Sistem jaringan drainase yang telah terinstal di Bandar Lampung antara lain sistem Teluk Betung. Fungsi jaringan drainase ini adalah mengurangi limpasan permukaan sebagai akibat kelebihan air hujan. Penggunaan lahan lain yang mengalami penyusutan luas atau alih fungsi lahan total adalah Perkebunan menjadi Pertanian Lahan Kering. Sistem sungai di wilayah ini terhubung dengan beberapa jaringan drainase buatan. realisasi rencana Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk mewujudkan kawasan water front city juga harus memperhitungkan biaya untuk mengatasi problematika pemukiman di wilayah pesisir. Wilayah pesisir (Coastal area) Bandar Lampung merupakan kota pelabuhan yang penting untuk kawasan Sumatera. di beberapa tempat kawasan pantai. Di beberapa lokasi. Penggunaan lahan (Land use) Penggunaan lahan permukiman pada tahun 1992 masih terkonsentrasi di tengah kota Bandar Lampung. sedangkan sisanya yaitu 73% masih harus memanfaatkan air sumur gali. wilayah pesisir merupakan kawasan padat penduduk. Kota Pelabuhan Bandar Lampung terletak dalam suatu pantai berbentuk teluk sehingga gelombang tinggi sebagai akibat angin kencang tidak sepenuhnya langsung mengenai kawasan pantai. tetapi 14 tahun kemudian permukiman tersebut berkembang ke arah timur (Kecamtan Tanjung Seneng) dan timur-laut (Kecamatan Sukarame). Perkembangan permukiman penduduk telah menyebabkan menyusutnya luas penggunaan lahan Pertanian Lahan Kering (dry land agriculture). sudah terjadi abrasi oleh gelombang laut. 5 . Kebutuhan air bagi penduduk Kota Bandar Lampung dipenuhi melalui PDAM dan pengambilan air tanah dangkal/dalam melalui sumur gali.

1 100.0 0.3 19220. Tabel 2-2.5 4118.9 7988.0 0.0 % 0. persentase lahan tertinggi adalah pertanian lahan kering (60%) tapi 14 tahun kemudian tipe lahan tersebut menyusut jadi 13.0 594.8 170.0 0.6 -8996.0 perubahan lahan tahun 1992 – 2006 (ha) -325. Tabel tersebut menunjukkan.5 7988. Distribusi perubahan penggunaan/penutup lahan Kota Bandar Lampung tahun 1992 dan 2006 Alih fungsi lahan di wilayah Bandar Lampung berlangsung sangat cepat.6 3843. Tipe penggunaan/penutup lahan tahun 1992 dan 2006 Tipe penggunaan/penutup lahan Bush Plantation Settlement Bare land Grassland Dry land agriculture Mixed dry land agriculture Paddy field Mining No data 1992 Area (ha) 405.5 30.0 0. 6 . Pada tahun 1992 jumlah tipe penggunaan/penutup lahan ada 4 tipe tetapi pada tahun 2006 berkembang jadi 9 tipe.0 0.1 0.0 2006 Area (ha) 79.1 244.8 170.2 594.4% atau menyusut lebih dari 8900 ha (Tabel 2-2).0 3.0 793.0 % 2.6 0.5 30.5 0.3 19220.4 2606.6 2574.1 100.2 4.3.9 6724. sebagai contoh.1 244.1 35.0 4.9 13.9 -3823.0 60.4 41.0 0.7 19.2 0. Tahun 1992.3 0.0 13.2 0.4 0.0 Detail penggunaan/perubahan penutupan lahan di Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada tabel 2.6 1.0 11571. bahwa lebih dari 14 tahun pertanian lahan kering telah berubah menjadi 8 tipe penggunaan lahan yang berbeda-beda.3 0.1992 2006 Gambar 2-3.1 20.

8 170. Kawasan terbangun terdiri dari lahan pekarangan. Arahan sarana dan prasarana.8 3.2 79. perdagangan.4 366.24%.9 227. From Class Bush Dry land agriculture To Class Settlement Mixed dry land agriculture Bush Plantation Settlement Bare land Grass land Mixed dry land agriculture Paddy field Mining Settlement Dry land agriculture Mixed dry land agriculture Paddy field Mixed dry land agriculture Mining 1992-2006 Area (ha) 39. 2. lapangan dan lainlain. memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap pemanfaatan ruang disamping itu juga memberikan dampak bagi lingkungan disekitarnya.5 3605.6 3789. Dalam RTRW akan tertuang antara lain: Arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya. Sedangkan ruang terbuka berupa tegalan.Tabel 2-3. Penggunaan Lahan Utama/Perubahan Penutupan Lahan dari 1992 ke 2006 No 1 2.0 90.7 7. Hal ini terjadi karena tingginya tingkat pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi yang ada di Kota Bandar Lampung (Bappeda Kota Bandar Lampung. Arahan pengembangan kawasan prioritas. Arahan pengelolaan kawasan perkotaan. 2008).4. RTRW yang berlaku sekarang adalah RTRW 2005-2015 yang merupakan pedoman dalam pengendalian dan pemanfaatan ruang Kota Bandar Lampung sebagaimana yang tertuang pada Perda Nomor 4 Tahun 2004. Posisi Bandar Lampung Dalam Konteks Kawasan Kota Bandar Lampung sebagai ibukota Provinsi Lampung dan pusat pemerintahan dengan laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan laju perkembangan pembangunan yang cukup pesat. dan industri.7 4290. 7 . Aspek tata ruang merupakan isu strategis yang menjadi perhatian penting bagi pemerintah Kota Bandar Lampung yang dituangkan dalam RTRW. perkantoran. Sekarang ini sedang dilakukan penyusunan RTRW terbaru. Penggunaan lahan di Kota Bandar Lampurrg lebih didominasi oleh permukiman yaitu sebesar 31. Arahan pengembangan kawasan produksi dan permukiman.2 20. kuburan. jasa. Plantation 4.7 99.5 35. hutan.6 9.8 594.7 153. Luas kawasan terbangun kota Bandar Lampung mencapai > 30% dari wilayah kota selebihnya merupakan lahan non terbangun (ruang terbuka). kebun. Settlement Secara keseluruhan kondisi penggunaan lahan di Kota Bandar Lampung dikelompokkan dalam kawasan terbangun dan ruang terbuka.

Perumahan. Tabel 2-4. 4. Struktur ruang. 6. Rumah Regional dan Pengembangan Sewa/Kost. Kesamaan kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan. Tahun 2005-2015 Selain Bagian Wilayah Kota (BWK) yang telah ditetapkan tersebut. Fungsi dan dominasi kegiatan di beberapa kawasan kota. Sentra Industri Kecil. Pusat Pelayanan Kawasan Permukiman Lokal dan Pertanian Skala Kecil BWK B (Sukarame) Perumahan Skala Besar dan Pusat Industri Kecil. 5. Terminal Pusat Kebudayaan. Perdagangan Skala Kota Pengembangan Hutan Kota. Kota Bandar Lampung di bagi menjadi 8 (delapan) Bagian Wilayah Kota (BWK) dimana masing-masing mempunyai fungsi utama dan fungsi pendukung. Terminal Barang Konservasi dan Hutan dan Industri Pengolahan Lindung BWK D Perdagangan/Jasa dan Kawasan Perumahan Indutri Kecil dan (Sukabumi/Tanjungkara Industri Cagar Budaza ng Timur) BWK E Perdagangan Umum dan Jasa Sarana Penunjang (Tanjungkarang/ Umum Perdagangan/Fungsi Pusat Kota Parkir/Taman. Jasa Umum. Industri Pariwisata/Hutan Wisata dan Kecil dan Sekolah Polisi Pengembangan Permukiman Negara (Kasiba/Lasiba) BWK H (Telukbetung) Pusat Pemerintahan. Pembagian Wilayah Kota . Ukuran geometris/ luas kawasan.a. Daerah Perdagangan. Kesamaan peruntukan lahan. 3. dengan KDB Kecil. Perumahan Kavling Besar (Langkapura/Kemiling) Kawasan Konservasi. Keterbatasan kemampuan jangkauan pelayanan. Perdagangan Grosir dan Industri Kecil dan Pariwisata Pantai Konservasi Sumber : RTRW Kota Bandar lampung. Fungsi Bagian Wilayah Kota (BWK) Bandar Lampung WILAYAH BWK A (Gedung Meneng) FUNGSI UTAMA FUNGSI PENDUKUNG Pendidikan Tinggi. Batasan fisik dan administrasi yang ada. tata ruang wilayah Kota Bandar Lampung terdapat beberapa wilayah pengelolaan khusus yaitu: 8 . 2. Perumahan Ganda dan Pusat Budaya BWK F Perdagangan/Jasa dan Kawasan Perumahan (Tanjungkarang Barat) Konservasi BWK G Pengembangan Holtikultura. Adapun alasan dalam pembagian ruang tersebut adalah adalah: 1. Cadangan Pengembangan Kota dan Pusat Pelayanan BWK C (Panjang) Pusat Pelabuhan Samudra. 7.

Zona Kawasan 1 (Rechadge Area) Zona Kawasan 1 memberikan kontribusi yang cukup besar untuk mengisi cadangan air tanah dalam. Telukbetung Utara dan Telukbetung Selatan. c. Zona Kawasan 3 (Kawasan Resapan Rendah) Pola konservasi pada kawasan ini adalah penerapan sumur resapan di tiap bangunan dan atau pembuatan dana/waduk buatan skala kecil maupun menengah. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Tanjungkarang Pusat dan selebihnya pada wilayah Kecamatan Sukabumi dan Tanjungkarang Timur. Zona Kawasan 4 (Kawasan Resapan Sedang) Pada kawasan ini tingkat kepadatan bangunan cukup signifikan dan sudah mencapai titik jenuh untuk lahan permukiman. Selebihnya berada di Kecamatan Tanjungkarang Pusat. Fungsi utama sebagai kawasan resapan penyangga air tanah dari ancaman interupsi air laut. Daerah yang termasuk kawasan ini adalah Kecamatan Kedaton. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Tanjungkarang Barat. Kawasan Pesisir Kawasan pesisir pantai Kota Bandarlampung terbentang sepanjang ± 27 km yang terletak di BWK H (Telukbetung) dan BWK C (Panjang). Kawasan Resapan Air Rencana pengelolaan resapan air Kota Bandar Lampung terbagi dalam 6 (enam) zona kawasan yaitu : a. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Sukabumi dan Tanjungkarang Timur. Zona Kawasan 5 (Kawasan Resapan Tinggi) Pada zona ini didominasi oleh peruntukan lahan permukiman padat. Secara administratif. wilayah pesisir tersebut meliputi wilayah Kecamatan Telukbetung Barat (Kelurahan 9 . Zona Kawasan 2 (Area Penyangga) Pada zona ini direncanakan dibangun kantung-kantung air (penampungan air hujan) skala kecil hingga menengah dan menerapkan aturan perbandingan penggunaan lahan terbuka lebih luas tapi pada lahan tertutup bangunan maksimal rasio 70%:30%. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Kemiling dan Kecamatan Telukbetung Barat. f. Pola konservasi sebaiknya diterapkan sumur resapan di tipa bangunan rumah dengan volume sumur yang mampu menampung seluruh air hujan yang jatuh diatap dan pekarangan. e. Pola konservasi direncanakan melalui sumur resapan dengan dimensi setara antara luas lahan tertutup dengan volume sumur resapan yang harus dibangun. Zona Kawasan 6 (Kawasan Dipengaruhi Air Laut) Distribusi zona ini berada disepanjang kawasan Pantai Teluk Lampung meliputi Kecamatan Telukbetung Selatan dan Kecamatan Panjang. d. Sukarame dan Tanjungkarang Barat. b. Tanjungkarang Timur dan Panjang. Pada zona kawasan ini perlu dikakukan tindakan serta pengendalian ruang secara ketat. c.b.

Wilayah yang termasuk zona ini adalah di sepanjang Teluk Lampung. Zona C Kawasan Bisnis Terpadu. Sukaraja. Pesawahan. (ii) sempadan sungai. • Kawasan Resapan Air Kawasan ini merupakan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan dibawahnya. Keberadaaan kawasan pelabuhan yang berada di ujung Selatan Kota Bandar Lampung telah ikut membuat dinamika lalu lintas pelayaran di wilayah ini cukup ramai. Telukbetung Barat dan wilayah penyangga (Register 17 & 19 Kota Bandarlampung) • Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan in terbagi dalam 3 (tiga) zona kawasan yaitu (i) sempadan pantai. dan sesuai hirarkinya merupakan Pelabuhan Internasional karena terbuka untuk lalu-lintas barang perdagangan dengan luar negeri. Pelabuhan Panjang merupakan Pelabuhan Alam yang cukup terlindungi dari gelombang laut. Ketapang. Pada studi tersebut telah dihasilkan rencana komposisi tata letak zona bangunan gedung dan bukan gedung pada kawasan pesisir kota bandar lampung berdasarkan pembagian zona antara lain: Zona A Kawasan Revitalisasi. Zona B Kawasan Pelabuhan. Pelabuhan ini merupakan satu-satunya Pelabuhan Ekspor yang dimiliki oleh Kota Bandar Lampung. ekonomis dan sosial budaya yang disesuaikan dengan konsep Bandar Lampung Ecocity. Seluruh Sungai di Kota Bandarlampung. 10 . Dalam rangka penataan kawasan pesisir lebih lanjut. Dengan demikian Konsep Water Front City di Kota Bandar Lampung telah dibuat dan terus dimatangkan. Penataan wilayah pesisir dilakukan melalui konsep pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu yaitu konsep penataan dan revitalisasi wilayah pesisir berbasis masyarakat dan membagi wilayah pesisir dalam zonasi sesuai potensi. Pidada dan Srengsem). Sarana ini merupakan salah satu penunjang kelancaran perdagangan di Bandar Lampung. Situs Purba di wilayah Kedamaian. sistem transportasi laut juga merupakan salah satu komponen penting. Pergudangan & Industri Terpadu. Kawasan Lindung Pengelolaan kawasan lindung Kota Bandarlampung terbagi dalam 5 (lima) wilayah kawasan yaitu. Telukbetung. Dalam perencanaan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. d. Negeri Olok Gading & tempat lain yang direkomendasikan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung. dan (iii) Taman Cagar Budaya & Ilmu Pengetahuan. Kecamatan Telukbetung Selatan (Way Lunik. Kota Karang. kondisi dan struktur ruang yang ada. Panjang Utara. Bumiwaras dan Pecoh Raya) dan Kecamatan Panjang (Kelurahan Panjang Selatan. Konsep reklamasi pantai merupakan salah satu alternatif pengembangan kawasan strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi serta untuk mengatasi kawasan kumuh sepanjang Teluk Lampung dengan syarat pelaksanaan yang ketat baik dari aspek teknis. Langkapura. dan Zona D Kawasan Pariwisata Terpadu. Kangkung. Perwata dan Sukamaju). Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung telah melakukan Studi Lanjutan Penataan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Garuntang. Peningkatan ekspor barang melalui pelabuhan ini tentu saja bisa meningkatkan retribusi dari pelabuhan.Keteguhan. Zona kawasan ini meliputi daerah perbukitan/gunung di Tanjungkarang Barat.

• Kawasan/Daerah Pengamanan (Catchment Area) Kawasan ini merupakan kawasan pengamanan untuk PDAM Way Rilau yang meliputi wilayah Register 17 (Gunung Betung) • Kawasan Penyangga Banjir Untuk wilayah kawasan penyangga banjir adalah meliputi daerah Register 19.• Kawasan Rawan Bencana. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Tanjungkarang Pusat. kawasan nelayan. Berdasarkan potensi pengembangan kawasan tersebut. Zona Industri berada di BWK C (Panjang) beraglomerasi dengan kegiatan pergudangan dan pelabuhan. kawasan industri dan kawasan pariwisata. 11 . sedang dan kecil menyebar di seluruh wilayah kota yang mempunyai kesesuaian lahan pemukiman di luar kawasan lindung. Sukarame. e. pengembangan dan perencanaan aktivitas wilayah adalah sebagai berikut : • Perumahan Untuk pengembangan perumahan baik ukuran besar. kawasan jasa/perdagangan. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya yang dikembangkan di Kota Bandar Lampung sesuai dengan potensi yang ada yaitu untuk kawasan permukiman. Kawasan ini merupakan kawasan perbukitan yang rawan longsor dan pinggir sungai/lembah yang terancam banjir serta sepanjang Pantai Teluk Lampung. Panjang dan Telukbetung Selatan) • Perdagangan/Jasa Untuk pengembangan kawasan perdagangan terbagi dalam 5 spesifikasi perdagangan yaitu. dan BWK Langkapura. Sedangkan untuk perbaikan kualitas perumahan meliputi permukiman kumuh. bukit/Gunung Sari. bantaran sungai. Perdagangan regional meliputi wilayah Telukbetung Selatan Perdagangan skala kota meliputi wilayah di sepanjang halan utama kota di Kecamatan Telukbetung Selatan dan Tanjungkarang Pusat Perdagangan skala BWK meliputi wilayah di tiap-tiap pusat BWK Perdagangan skala lingkungan meliputi wilayah di tiap-tiap lingkungan permukiman PKL yang beraglomerasi dengan kegiatan perdagangan kota dan perdagangan BWK • Industri Kawasan Industri yang meliputi Kawasan Industri Lampung (KAIL). Industri RT Tidak polutif yang menyatu dengan kegiatan permukiman. Sentra Industri Kecil berada diwilayah BWK Panjang. pinggir rel kereta api. Gedong Meneng.

sedangkan untuk wisata kota berada di wilayah pusat kota.133 jiwa dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 822. Panjang dan Kemiling. RTH Kota dan Danau Buatan • Pendidikan Untuk pendidikan tinggi berada di BWK A (Gedung Meneng). Kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan tinggi terdapat di Tanjung Karang Pusat. dimana dari 13 kecamatan beberapa diataranya memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi sisanya secara umum tergolong kepadatan rendah dan sedang. Menurut kriteria kepadatan penduduk. Sukarame. Tingkat pertumbuhan penduduk Kota Bandar Lampung dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 berada pada besaran 3.747 jiwa (naik 1. meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 41 jiwa/Ha atau naik sebesar 1.880 jiwa (Tabel II-5). Kepadatan penduduk pada tahun 2008 rata-rata adalah sebesar 42 jiwa/Ha. Untuk Taman Kota menyebar di Pusat Kota seperti daerah Way Halim.722 Ha.67 persen atau 1. • Fasilitas Sosial Untuk fasilitas kesehatan. dengan luas Kota Bandar lampung 19.• Pemerintahan Berada diwilayah BWK H (Telukbetung) dan disetiap pusat kecamatan/kelurahan untuk pemerintahan tingkat kecamatan/kelurahan • Pariwisata Untuk pariwisata pantai berada pada kawasan Teluk Lampung. Namun ternyata persebaran penduduk di Kota Bandar Lampung tidak merata.36persen) laki-laki dan 407. dan SLTP&SD menyebar di pusat lingkungan permukiman. dan Teluk Betung Selatan (RTRW Kota Bandar Lampung 2005-2015). Soekarno – Hatta) • Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka hijau yang diperuntukan untuk Taman Hutan Kota berada di BWK B (Sukarame) dan daerah perbukitan dengan fungsi Ruang Terbuka Hijau. Kondisi Demografi dan Sosial A. taman kota dan lingkungan.942 jiwa (49. Luas 12 .63persen) perempuan. Penambahan jumlah penduduk yang paling tinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu 10. jumlah kepadatan penduduk Kota Bandar Lampung sebesar 42 jiwa/Ha adalah termasuk kepadatan rendah (Lembaga Bantuan Teknologi Unila FT – Unila. Ini berarti jumlah penduduk laki-laki dan perempuan hampir sama banyak. peribadatan. Penduduk Kota Bandar Lampung pada tahun 2007 berjumlah 812. 2001 dalam RTRW Kota Bandar Lampung 2005-2015).30 persen). Penduduk pada tahun 2008 terdiri dari 414. olahraga dan rekreasi menyebar sesuai dengan hirarki pelayanan dan fasilitas Islamic Centre berada di BWK A (Jl. Taman Lingkungan berada di daerah Pusat Lingkungan.32 persen. hutan kota. Tanjungkarang Barat. SLTA menyebar di setiap pusat BWK. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Berdasarkan data BPS tahun 2005 sampai tahun 2008. 2.5.938 jiwa (50.22 persen pertahunnya. Untuk permakaman/Kuburan berada di Kecamatan Telukbetung Barat.

883 398.922 812.722 19.18 41. Tabel 2-5.25 40. Jika digabungkan penganut agama katolik dan protestan menjadi kelompok minoritas di Kota Bandar lampung dengan persentase sebesar 6.746 803. namun memiliki jumlah kelurahan terbanyak.wilayah kedua kecamatan ini adalah terkecil dibandingkan dengan 13 kecamatan lain.133 822.920 jiwa atau 64. serta mengevakuasi diri jika terjadi bencana benar-benar terjadi di wilayah mereka.72 Perempuan 395.50persen disusul dengan kristen Protestan sebanyak 31. Berdasarkan kelompok usia proporsi terbesar dari penduduk Kota Bandar Lampung ditempati oleh kelompok usia 20-24 tahun yaitu sekitar 95.208 409.go.863 405.433 414. diikuti dengan kelompok umur 15-19 tahun dengan jumlah jumlah 95. Penduduk yang termasuk kedalam usia produktif pada nantinya akan digolongkan kepada jumlah tenaga kerja yang tersedia di Kota bandar Lampung dan dalam menentukan kebijakan mitigasi bencana. Kristen. Hindu dan Budha. Struktur penduduk Kota Bandar Lampung (BPS Kota Bandar Lampung. 2009) Tahun 2005 2006 2007 2008 Jenis Kelamin Laki-Laki 397.942 Sumber: http://Lampung.537 jiwa.722 19. Katolik.48persen dari total keseluruhan penduduk Kota bandar lampung namun jumlah ini masih lebih banyak bila dibandingkan dengan penganut agama Hindu atau Budha.938 Jumlah Penduduk 793.BPS. Struktur Penduduk Menurut umur Gambaran mengenai struktur penduduk menurut usia akan menunjukkan jumlah penduduk yang masih produktif dan yang tidak/belum produktif di Bandar Lampung. Ini lebih banyak dibandingkan jmlah penganut agama katolik yang hanya 23.76 41. .75persen dari total keseluruhan penduduk Kota Bandar Lampung.597 jiwa.722 19.081 jiwa. Menurut Agama Agama-agama yang ada di Kota Lampung terdiri dari Islam. Usia produktif dimulai dari umur 15 -55 tahun dan usia diatas 55 tahun digolongkan kepada usia non produktif. Secara umum diketahui bahwa kelompok usia produktif di Bandar lampung mencapai jumlah 546.id B. Islam merupakan agama yang paling banyak dipeluk oleh penduduk Kota Bandar Lampung yaitu mencapai 755.880 Luas (Ha) 19.851 jiwa atau 89.714 402. 13 .722 Kepadatan 40.695 jiwa.700 402. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa dengan banyaknya penduduk dengan umur produktif maka akan berpengaruh terhadap produktifitas penduduk Kota Bandar Lampung serta kemampuan mereka dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana alam.

Distribusi kegiatan ekonomi di Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada Gambar 2-5. Mata pencaharian penduduk pada dasarnya berhubungan erat dengan tingkat pendapatan. 2) Industri Pengolahan sebanyak 31. Jasa kemasyarakatn sebanyak 89. 2. hotel.pdf). dan 5) lainnya (pertambangan dan penggalian.bps. ditandai dengan peningkatan jumlah daerah yang dibangun dan munculnya zona pusat pertumbuhan baru (Bandar Lampung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.id/tabel/tk11.217 jiwa. pergudangan dan komunikasi.814. 3).6 %). Hubungan Lingkaran-Inti Sebagai Ibukota Provinsi Lampung. tanah dan jasa perusahaan) sebanyak 84.6%).6. keuangan.6%). Dengan demikian perdagangan merupakan tumpuan mata pencaharian penduduk yang utama. 2003). Pertanian.337 jiwa pada tahun 2005 menjadi 414. listrik. Perdagangan besar. 4). Kontribusi lapangan usaha pertanian pada PDRB memberikan sebesar 5. dan juga pusat kegiatan ekonomi di Provinsi Lampung. Jumlah angkatan kerja di Kota Bandar Lampung meningkat dari 364. jasa dan industri. angkutan. karena sektor tersebut sangat dipengaruhi oleh iklim atau musim. usaha persewaan bangunan. 14 . Penduduk berumur 15 tahun yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama tahun 2007 berjumlah 342.2. sosial. dan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang ketahanan masyarakat dalam menghadapai bencana terutama yang disebabkan oleh perubahan iklim. bangunan. Angkatan kerja merupakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau mencari pekerjaan. eceran. Bandar Lampung strategis karena terletak di daerah transit kegiatan ekonomi antara Pulau Sumatera dan Jawa.go. jasa-jasa (16. dan perikanan sebanyak 9. Kondisi ini menguntungkan bagi pertumbuhan dan pembangunan Bandar Lampung menjadi pusat perdagangan. perburuan. rumah makan dan hotel sebanyak 127.334 dengan rincian sebagai berikut: 1). kehutanan. Bandar Lampung telah mengalami perkembangan pesat. pendidikan dan budaya aktivitas.797 (http://lampung. dan restoran (16. PDRB Kota Bandar Lampung sebagian besar dikontribusi oleh pengangkutan dan komunikasi (19.277. industri pengolahan (17.827 jiwa pada tahun 2008. politik. Bandar Lampung menjadi pusat pemerintahan.9%) dan lapangan usaha perdagangan. gas dan air bersih.7.Kondisi Ekonomi dan Mata Pencaharian Informasi kondisi ekonomi dan matapencaharian dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat.9% (Table II-6). Penduduk dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada sektor pertanian dan perikanan perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar.229. tingkat kesejahteraan serta pengelolaan sumberdaya alam yang terdapat di sekitarnya.

Kelurahan Kangkung.115 No.637 2006 459.500. 2007 2. 1 2 3 4 5 6 7 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Tanpa Migas Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan. Distribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandar Lampung.187.015.306.958 1.152.064 453.049.058 690.996 94. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.057 1.784 1. Oleh karena itu penggambaran dilakukan dengan menggunakan data survey pada enam kelurahan di Kota Bandar Lampung yang dikelompokkan menjadi wilayah pesisir dan non pesisir. Survey melibatkan 256 masyarakat.764.215 947.305 1. Kota Karang. Kelurahan Kota Karang. Persewaan.7.235.780 1. Kelurahan Batu Putu.462.163.780 1.174 95.394. Kelurahan Sukabumi Indah.491.621 162.691 2007 622.835. Sedangkan kelurahan yang termasuk kelompok pesisir adalah: 4). 2) Kelurahan Pasir Gintung.382 6.353 1.175 1.795.126 127. Hotel.457.894 89.547 1.321 98.313 153.733 (Sumber: Kota Bandar Lampung Dalam Angka. 2008) Gambar 2-4.755 1.563 602. Kelurahan yang termasuk wilayah non pesisir adalah: 1). dan Jasa 8 Perusahaan 9 Jasa-Jasa PDRB / GRDP 1.382 336.407 1.72 persen perempuan.247 1. 15 .Tabel 2-6. penajaman beberapa informasi juga dilakukan melalui focus group discussion (FGD) pada empat lokasi yaitu di Kelurahan Panjang Selatan.664 6.740. Profil Responden Untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kota Bandar Lampung secara lebih luas memiliki keterbatasan dalam hal ketersediaan data sekunder.955 394. 6). dan 3).247 913. yang terdiri dari 62.439 10.091 91. 5). Produk Domestik Regional Bruto Kota Bandar Lampung Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2007 Lapangan Usaha 2004 2005 317.088. Kelurahan Panjang Selatan.378.263 2.450. Selain melalui survey.113.28 persen masyarakat adalah laki-laki dan 36.423 1.252. Batu Putu dan Pasir Gintung.359 8.069 1.517 1.919 940.

2 10. atau pegawai negeri (PNS/ABRI/POLRI).5 17.2 16. Kelurahan SUkabumi Indah merupakan kelurahan dengan tingkat pendidikan tertinggi.5 - Pasir Kota Gintung Karang 6 4 10 40 20 18 2 9 17. Kontek Sosial A. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat merupakan salah satu indikator dalam menilai kemampuan masyarakat untuk menerima pengetahuan baru. Kebanyakan dari mereka memiliki tingkat pendidikan 16 . Tabel 2-7. menguraikan data sebaran pendidikan berdasarkan mata pencaharian di setiap kelurahan dan wilayah. buruh non-petani (20%). akan semakin mudah menggugah kesadarnnya untuk merespon upaya-upaya adaptasi bencana. Oleh karena itu semakin tinggi taraf pendidikan masyarakat.5 5 32.2. Fenomena masyarakat dengan pendidikan rendah ini juga terjadi pada sektor perbaikan (service).4 16. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. demikian sebaliknya. Kebanyakan penduduk yang bekerja sebagai pedagang dan buruh non-petani adalah masyarakat dengan pendidikan menengah kebawah (SMP dan SMA).5 - Sukabumi Kangkung Indah 6. maka sebanyak 40 persen berpendidikan rendah (tidak tamat SD-tamat SD). pemberian ketrampilan maupun model-model percontohan yang akan diberikan. Menurut data hasil survey (tabel 2-7). Berdasarkan tabel tersebut.5 30 2. tenaga kerja perbaikan.5 1. baik melalui proses latihan dan penyuluhan.7 28. 2009 (dalam %) Pendidikan Tidak Sekolah SD Kelas 1-3 SD Kelas 4-6 SD Tamat SMP Tamat SLTA Tamat Sarjana Muda/ D3 Sarjana Panjang Selatan 12. Pekerjaan utama masyarakat di Pasir Gintung adalah pada sektor perdagangan (20%).2 7. Meskipun Pasir Gintung berada di dekat kota. komposisi pekerjaan didominasi oleh pekerja dengan pendidikan yang sangat rendah. ternyata dari 47. dan lainnya (48%). Oleh karena itu tingkat pendidikan masyarakat dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur dalam menilai kerentanan masayarakat terhadap bencana.8 Batu Putu 20 17.7 12..9 7. mayoritas masyarakat di kelurahan yang diamati telah lulus SD.1 41 10. Hampir semua penduduk di kelurahan Sukabumi Indah bekerja sebagai tenaga kerja non-pertanian.3 35. serta menyerap keterampilan maupun teknologi yang dipekenalkan.1 12.8 - Tabel 2-8. dimana aktivitas pertanian tidak terjadi. masyarakat yang bekerja sebagai petani kebun di Batu Putu banyak yang tingkat pendidikannya tamat sekolah dasar dengan persentase sebesar 15 persen dari total masyarakat di Batu Putu.5 15 25 10 12.5 persen masyarakat yang bekerja sebagai petani kebun.7.2 3.2 54. servis (10%).8 3.9 5.1. Jika dilihat secara lebih detail lagi.

00 - Petani Ikan Pedagang PNS/ABRI/P OLRI Jasa Sukabumi Indah Buruh Non Pertanian Lainnya Total - 3.45 3.13 7.0 0 48.50 2.0 0 20.0 0 2. Tabel 2-8.00 10.68 6.50 17.00 2.23 9.00 10.23 16.00 SD Kelas 4-6 12.50 12.23 35.00 4.50 2.00 12.00 2.45 22.13 - 3.00 20.5 0 2.00 2.00 2.50 25.23 3. Hal yang sama terjadi pada sektor service.5 0 2.00 18.00 40.00 5.50 5.00 4.23 3.69 - - 10.56 2.50 10.menegah dan tinggi.6 17 .50 20.13 Kang kung Pesisir Petani Ikan Pedagang 5.00 5.00 8.23 3.00 2.50 5.48 54.84 3.50 5.00 SD Kela s 1-3 7.9% penduduk yang bekerja di sektor tersebut dan 9.50 2.23 3.50 5.5 0 100.23 6.00 2.00 4.00 2. 00 2.50 2.50 - - 10.00 4. 00 Batu Putu Pedagang PNS/ABRI/P OLRI Jasa Pasir Gintung Buruh Non Pertanian Lainnya Total 4.50 2. pekerja pemerintahan merupakan lulusan D3 dan sarjana.00 12. 00 3.50 2.23 6.00 2.0 0 47.69 5.5 0 2.23 6.50 15. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Mata Pencaharian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung Tahun 2009 (dalam %) Pekerjaan Kel Tidak Sekola h 2.50 2.00 6.00 17.00 6.0 0 100.23 12.00 4.00 2.13 5.45 3.00 16.56 - 7.68% nya memiliki berpendidikan tinggi.00 20.00 4.9 0 12.00 2.00 10.2 6 25.5 8 12.00 Tamat SD Tamat SMP Tamat Diplom Sarjana SMA a Tota l Non Pesisir Petani Pangan Petani Kebun Pedagang Jasa Pertukangan Buruh Pertanian Buruh Non Pertanian Lainnya Total 5.00 15.50 2.90 16.00 2. Lebih dari 12.9 4 100.13 2.9 0 41. sebagai contoh.50 12.45 3.23 3.

50 2. mayoritas pekerjaan di kelurahan pesisir dan non-pesisir didominasi oleh pekerja berpendidikan renah (gambar 2-5).69 2.93 1.57 3.50 2.2 9 19.8 6 2.5 0 5.71 3.56 2.13 28. Berdasarkan ilustrasi diatas.57 1.5 0 14.79 3.07 7.50 1.56 12.14 10.5 0 25.00 10.2 1 3.79 3.0 0 100.57 16.50 12.50 42. sebagian besar masyarakat bekerja sebagai pedagang.56 7.50 15.14 41.3 3 100.00 15.0 0 5. 00 20.00 10.79 12.56 25.13 2.3 8 33.6 4 32.Pengrajin Jasa Pertukangan Buruh Non Pertanian Lainnya Kangkung Total Petani Ikan Pedagang Jasa Buruh Non Pertanian Lainnya Kota Karang Total Petani Ikan Pedagang Jasa Buruh Non Pertanian Lainnya Panjang Selatan Total 2.64 35.79 - Kota Karang 7.79 12.69 5.00 5.82 - - 4 2.57 5.57 7.79 1.00 2.57 1. buruh non pertanian dan petani tambak ikan.69 2.4 3 12.56 15. Misalnya di wilayah Kangkung.50 5.1 4 100.13 10.0 0 17.00 30.79 10. pekerja denga lulusan universitas.56 7. Hanya pelayan publik/pemerintahan dan beberapa pedagang. 00 3.57 8.79 1.79 1.00 2. Pada umumnya mereka yang bekerja pada sektor tersebut berpendidikan rendah (maksimal lulus SD).56 7.71 3.56 5. 00 21.36 1.00 5.50 - - Pola yang hampir sama juga terjadi di wilayah pesisir.26 2.07 1.79 3.50 5.90 2.00 32.50 2.50 5.5 0 17. Panjang Selatan 18 .50 2.00 7.79 1.56 2.00 5.57 1.50 2.79 1.56 2.

Pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu kelurahan. Namun saat suami berhalangan hadir. Disini terlihat bahwa dalam lingkup yang lebih kecil. sebanyak 34. maka terlihat konsistensi bahwa partisipasi perempuan dalam membuat keputusan keluarga juga dipengaruhi oleh keterlibatan mereka membantu suami dalam memperoleh penghasilan keluarga. misalnya masalah pertanian.82 persen untuk Batu Putu dan 58. Dari data tersebut terlihat bahwa keterlibatan istri di wilayah non pesisir lebih banyak daripada wilayah pesisir. perempuan juga jarang dilibatkan. Pengambilan Keputusan Keluarga Anggota keluarga yang cukup dominan dalam membuat keputusan keluarga adalah suami dengan persentase sebesar 55. Jika angka ini disandingkan dengan angka persentase kelompok pencari nafkah dalam keluarga yaitu suami dan istri. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Klasifikasi Tinggi Rendahnya Pendidikan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.33 persen untuk Sukabumi Indah. termasuk menjadi pekerja di sektor pertanian. Dalam pertemuan yang lebih strategis seperti Musrembang. Bahkan secara spesifik di Kelurahan Batu Putu dan Sukabumi Indah. 2009 B. yaitu kepentingan 19 . istri akan diminta hadir sebagai wakil suami. peran keluarga dimana pengambilan keputusan dilakukan berdua oleh suami istri lebih besar daripada keluarga yang pengambilan keputusannya hanya oleh suami saja.Gambar 2-5. mereka melibatkan istri mereka dalam membuat keputusan keluarga dan jumlah kelompok ini cukup besar. Yang berarti sebenarnya masalah pertanian juga merupakan masalah perempuan. Dari hasil FGD terungkap bahwa dalam pertemuan warga di kelurahan atau balai desa.19 persen. biasanya hanya lelaki yang diundang datang ke pertemuan sedangkan perempuan akan di undang apabila dalam rumah tangga tersebut memang tidak ada pria yang dapat mewakili. Alasan yang diungkapkan warga pria adalah karena yang dibicarakan biasanya masalah-masalah yang terkait dengan kaum pria. Akan tetapi terdapat kelompok keluarga masyarakat yang menyatakan bahwa untuk pengambilan keputusan keluarga tidak bisa dilakukan sendiri oleh suami. Hal tersebut terkait dengan pola pikir pria yang beranggapan bahwa kehadiran perempuan di rumah yaitu mengurus anak lebih penting daripada hadir dalam rapat.98 persen. terlihat perempuan memiliki andil yang cukup besar dalam memenuhi nafkah keluarga. Padahal berdasarkan gambaran peran anggota keluarga dalam mencari nafkah. Persentase suami istri sebagai pengambil keputusan di kedua wilayah tersebut adalah 58. partisipasi anggota keluarga terutama perempuan dalam pengambilan keputusan dapat dilihat pada jumlah perempuan yang diundang menghadiri kegiatan rapat atau musyawarah kelurahan.

04 0. Dalam kaitannya dengan bencana. Misalnya pada kasus bencana yang terjadi pada suatu daerah.43 Iap 0.1 9 I 0.00 1.00 0.84 persen. karena tidak diikut sertakan dalam rapat atau musyawarah. 2009 (dalam %) Wilayah / Keluraha n Batu Putu Pasir Gintung Sukabum i Indah Kangkun g Kota Karang Panjang Selatan Non Pesisir Pesisir Grand Total Anggota Rumah Tangga Pengambil Keputusan Grand Total 100.2 7 58.00 7. suara yang mewakili kebutuhan dan kepentingan perempuan menjadi tidak terdengar.00 100.2 2 41.63 0.57 1. Demikian juga dengan program-program bencana.56 S Al 0.00 100.00 0. Namun dalam lingkup yang lebih luas.00 4.00 0.keluarga.3 2 38.92 0.93 0.2 6 51.00 0.00 0. Berdasarkan Tabel 2-10.00 2.9 2 70.00 0.00 2.43 SIAl 0.26 1. dengan 20 . Kondisi demikian mencerminkan ketidak pekaan terhadap kebutuhan perempuan.87 3.00 0.00 0.08 0.00 5.3 3 26.00 0.2 7 53.00 1.85 5.00 2.92 0.93 0. I= Istri.41 0.00 100.43 Keterangan : S=suami.00 0.57 0.00 0.00 0.04 0.00 4. terlihat bahwa keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan sebanyak 14.00 0.4 6 16.00 0. peran lakilaki menjadi lebih dominan dimana mereka merasa bahwa keberadaannya sudah bisa mewakili kepentingan perempuan.00 5.00 0.9 8 SI 58. Padahal belum tentu seluruh informasi tersebut dapat disampaikan kembali dengan baik kepada para perempuan/ istri di rumah. perempuan telah memiliki posisi tawar yang relatif sama dengan pria.15 2.00 0.79 0.71 Al 0. dan Ap=Anak Perempuan Dewasa C.00 100.00 (N) 107 34 49 24 127 38 52 37 234 S 41. kepentingan masyarakat bersama.00 0.79 0. Partisipasi Keluarga Dalam Mengikuti Pelatihan Secara umum keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan untuk meningkatkan ketrampilannya relatif rendah.00 100.18 67.87 1.6 7 55. seringkali sistem peringatan dini atau informasi yang terkait dengan bencana hanya diberikan dan di bahas dengan para laki-laki/suami.08 0.00 0.82 20.3 5 34.35 41. Tabel 2-9. Sehingga program-program atau kebijakan yang dibuat dianggap sudah dapat mewakili.63 1. pemerintah daerahnya menyediakan fasilitas kamar mandi umum dengan kondisi dinding hanya tertutup setengah yang menyebabkan perempuan tidak nyaman dalam melakukan aktivitas di kamar mandi.51 2.00 100.70 1.92 2.00 0.00 0.85 IAlAp 0. dalam beberapa hal kepentingan atau kebutuhan laki-laki berbeda dengan perempuan. Hal ini menunjukkan lemahnya posisi tawar perempuan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.00 100.00 2.00 0. Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Berperan Dalam Mengambil Keputusan Keluarga Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.4 1 58.00 100.00 0. Al= Anak Laki Dewasa.41 1.00 0.00 0.43 SAlAp 0.89 3.00 5.00 0.00 0.99 Semua 0. Keabsenan atau ketidak akuratan informasi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perempuan menjadi lebih rentan saat terjadi bencana.1 2 28. Padahal.2 7 55.00 0.

00 Berdasarkan data terlihat.89 33. namun bisa juga dengan cara informal. sekitar 45 persen masyarakat di wilayah tersebut pernah mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan hidupnya.00 20. akan berdampak terhadap terbatasnya keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat terutama ketika menghadapi berbagai macam kondisi yang mengancam keberlangsungan hidup keluarganya. Dari hasil FGD terungkap memang selama ini masyarakat jarang mengikuti pelatihan yang dilakukan secara formal.00 36.33 34.11 11.16 persen masyarakat tidak terlibat dalam kegiatan pelatihan.00 100.63 33.41 5. Beberapa masyarakat bahkan kurang menyadari bahwa kegiatan mata pencaharian mereka pada dasarnya memerlukan suatu ketrampilan tertentu.00 63. Lain halnya jika masyarakat tersebut cukup aktif dalam mengikuti berbagai macam pelatihan.50 6.84 100.00 28.00 42.00 100.09 5. keterlibatan masyarakat di pesisir dalam mengikuti pelatihan relatif banyak dibandingkan dengan wilayah non pesisir.64 100. Distribusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga dalam Mengikuti Pelatihan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.00 100.00 100.demikian sebanyak 85. yang menyebabkan masih adanya peluang untuk melakukan berbagai macam pekerjaan alternatif.00 40. jika suatu keluarga terkena bencana yang pada akhirnya tidak bisa lagi tergantung pada pekerjaan utamanya (baik jangka pendek maupun jangka panjang). maka alternatif untuk melakukan pekerjaan tambahan relatif sulit dilakukan karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki masyarakat. Tabel 2-10.29 11.56 7. Masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan relatif aktif dalam mengikuti berbagai macam pelatihan dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Dalam konteks masyarakat urban dengan tingkat strata ekonomi yang rendah. Dalam kondisi seperti ini.21 14.00 100.86 44.89 14.13 12.26 Total 40 50 31 121 39 56 40 135 256 3 3 5 11 2 7 18 27 38 7.29 5.15 52.13 9. dan hal ini berlaku secara umum untuk wilayah lainnya. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total Total Res (N) Res Jawab (n) n/N (%) Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Pelatihan (dari n dalam %) Anak Anak Suami Istri LakiPerempuan Laki 66. sehingga mengurangi kerentanan akibat bencana.11 7.57 38. peningkatan ketrampilan tidak harus selalu diperoleh dengan cara mengikuti pelatihan secara formal.00 16.00 100.33 0.00 14.67 100. terkecuali di Sukabumi Indah.00 100. bahwa suami lebih banyak aktif terlibat dalam pelatihan dibandingkan dengan istri.36 0. Walaupun relatif kecil.00 100. dan ketrampilan tersebut mereka 21 .00 60. Dalam kenyataannya beberapa pekerjaan yang dilakukan seperti buruh bangunan memerlukan ketrampilan khusus.50 45. Relatif rendahnya keterlibatan masyarakat dalam mengikuti berbagai macam pelatihan dalam meningkatkan keterampilan hidupnya.44 48.

36 0.25 35.41 42. terlihat bahwa keterlibatan masyarakat dalam berorganisasi sebanyak 42. suami lebih banyak aktif terlibat dalam aktifitas berorganiasi dibandingkan dengan istri.14 53.00 100.57 4.57 53.30 33.00 100.45 0. Berdasarkan hasil FGD terungkap berbagai bentuk organisasi serta aktivitasaktivitas organisasi yang berada di lingkungan kelurahan amatan.29 10. Hubungannya dengan kebencanaan adalah.74 38.67 57. D Partisispasi Keluarga Dalam Mengikuti Organisasi Masyarkat Secara umum keterlibatan masyarakat dalam organisasi masyarakat relatif masih rendah.14 31.dapatkan secara otodidak.57 32. bila semakin banyak masyarakat terlibat dalam berorganisasi. Berdasarkan Tabel 2-11. belum pernah ada program bantuan pelatihan baik formal ataupun informal yang ditujukan untuk peningkatan ketrampilan warga baik dari pemerintah daerah maupun LSM setempat. 2-11.00 100. keterlibatan masyarakat di pesisir dalam berorganiasi relatif banyak dibandingkan dengan wilayah non pesisir. Organisasi merupakah wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreatifitas dan gagasan yang dimiliki masyarakat termasuk berbagai macam upaya mensejahterakan masyarakat setempat.00 0.67 57.71 10.00 100.86 41.00 100.00 100. dengan demikian sebanyak 57.00 0.97 persen.02 38.46 37.00 13.25 66.45 43. akan tetapi dengan keterlibatan sebanyak 42.67 14. Menurut penuturan 22 .69 2.00 18.75 33.33 0. sekitar 70 persen masyarakat di wilayah tersebut aktif berorganisasi.00 67.73 Wilayah / Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total n/N (%) Jumlah 40 50 31 121 39 56 40 135 256 16 9 21 46 15 21 28 64 110 40. Dari pengakuan warga di Kota Karang dan Pasir Gintung. Distrisusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Organisasi Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. maka berdasarkan data tersebut terlihat.00 47.97 100. demikian juga anak laki-laki lebih banyak terlibat dalam organisasi masyarakt dibandingkan dengan anak perempuan dan hal ini berlaku secara umum untuk wilayah lainnya.00 0.00 0.14 58. Masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan relatif aktif dalam berorganisasi dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Walaupun relatif kecil.00 Dengan hanya melihat warga yang aktif berorganisasi.03 persen masyarakat tidak berorganisasi. Walaupun tingkat berorganisasi relatif rendah.70 46.00 100.13 55.94 6. Tabel.00 100.50 70.00 0.33 42.33 28. 2009 Total Respd (N) Res Jawab (n) Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Ormas (dari n dalam %) Anak Anak LakiPerempua Suami Istri Laki n 56.00 6.97 persen merupakan jumlah yang cukup bagi sebuah organisasi untuk berperan dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat.00 3. maka semakin besar pula akses yang dimiliki masyarakat untuk memperoleh informasi dan bantuan bencana.00 0.

Menurut penuturan bapak Jumaidi. Aktifitas yang dilakukan oleh kelompok pertanian antara lain melakukan pertemuan atau musyawarah untuk membahas suatu masalah. dan sebagian lagi dimasukkan dalam kas kelompok. maka kegiatan simpan pinjam menjadi terhambat dan saat ini tidak berjalan lagi. terdapat juga organisasi masyarakat seperti ‘Petir’ dan ‘Paku Banten’. Hasil keuntungan dari bekerja tidak dibagi secara langsung kepada anggota. ”.. namun banyak juga yang bertindak sebagai preman. yang berada di wilayah ini mencakup 10 kelompok. kursi. Wilayah Pasir Gintung yang dekat dengan pasar induk menyebabkan masyarakatnya tidak saja banyak yang menjadi pedagang. gelas. teko. sebagian lainnya akan dimasukkan dalam kas kelompok. setiap anggota dibebankan membayar simpanan minimal Rp 1500 per bulan. juga terdapat kelompok ibu-ibu di Kelurahan Batu Putuk dengan nama kelompok PKK 8. persatuan pedagang sayur.Bapak Mugi. persatuan pengaman lingkungan. diperoleh informasi bahwa terdapat banyak paguyuban yang terkait dengan profesi mata pencaharian masyarakat. Gabungan kelompok tani (gapoktan). Pada Kelurahan Batu Putuk terdapat kelompok pertanian dan kelompok kehutanan. Kegiatan kelompok ini antara lain membersihkan kebun orang lain secara gotong royong. Pada kegiatan simpan pinjam. Namun beberapa waktu belakangan ini. Uang hasil penerimaan peminjaman barang dari non anggota sebagian akan di belikan barang lagi. Ide kegiatan tersebut berasal dari kaum perempuan sendiri. pada Kelurahan Panjang Selatan terdapat organisasi kemasyarakatan yaitu kelompok nelayan Bahari Mandiri. kelompok kehutanan dibentuk dengan tujuan agar warga dapat memperoleh izin untuk menanam di lahan kehutanan. Manfaat menjadi anggota adalah bila mau meminjam peralatan pesta tidak akan dipungut bayaran.manfaat yang dirasa dengan bergabung di kelompok tani adalah memperoleh informasi penanggulangan penyakit. padahal dulu berjalan dengan aktif dimana salah satu kegiatannya adalah simpan pinjam. Selain adanya paguyuban-paguyuban. Bantuan bibit pernah satu kali diterima warga yaitu bibit padi tahun 2008”. namun non anggota harus membayar. Pinjaman tersebut tidak dikenakan bunga bila jangka waktu pinjaman hanya sebentar. Walaupun di kelurahan Panjang Selatan terdapat kelompok nelayan. Sehingga beberapa warga menyebutkan wilayah tersebut dengan sebutan ‘bronx’. namun sebagian besar digunakan untuk membeli peralatan pesta seperti piring. tokoh masyarakat di Kelurahan Batu Putuk. Selain terdapat kelompok bapak-bapak. dsb. misalnya simpan pinjam masih belum dilakukan.. Kondisi demikian yang memicu timbulnya organisasi masyarakat seperti ‘Petir’ dan ‘Paku Banten’. Keuntungan lainnya sebagai anggota adalah mereka bisa meminjam uang kas kelompok. sedangkan bantuan untuk meningkatkan ekonomi petani tidak ada. Misalnya ada persatuan tukang bakso.. Kegiatan kelompok yang ditujukan untuk peningkatan ekonomi petani. Selain kelompok pertanian. Organisasi tersebut kegiatannya antara lain mengorganisir perparkiran dan 23 . namun karena banyaknya warga yang tidak mengembalikan pinjamannya. kelompok nelayan Bahari Mandiri sudah jarang melakukan kegiatan-kegiatan. Bantuan saprodi seperti pupuk juga belum pernah ada. namun di wilayah tersebut tidak terdapat koperasai nelayan yang bisa menunjang kegiatan operasional nelayan. dan ada bunga yang relatif kecil bila pinjaman dalam jangka waktu yang lama. karena jumlah anggotanya 8 orang. Pada Kelurahan Pasir Gintung.

wirasawasta. Berdasarkan gambar terlihat bahwa sebanyak 48. Partisipasi Masyarakat Dalam Kelembagaan Salah satu kekuatan masyarakat dalam menghadapi bencana adalah tingginya kohesivitas sosial masyarakat.53 persen berada di Kangkung dan sebanyak 27. Kegiatan gotong royong tidak hanya dilakukan untuk membersihkan lingkungan saja tetapi juga membantu warga yang akan melaksanakan hajatan seperti pesta pernikahan maupun yang memperoleh musibah. di tahun 1970an. Namun karena penghasilan dari nelayan yang saat ini sudah sangat berkurang. atau buruh. Berbeda dengan Kelurahan Panjang Selatan.7. Kegiatan gotong royong masyarakat secara rutin dilaksanakan setiap bulan atau setelah terjadi pasang. tempat sampah. menyebabkan ritme kerja yang tidak sama.5 persen melakukan kegiatan gotong royong dengan frekuensi yang sangat jarang.36 persen berada di Panjang Selatan. Berdasarkan data. 24 . semakin kompak masyarakat dalam melakukan kegiatan kemasyarakatan biasanya akan semakin kuat kohesivitas sosial masyarakat. Dengan pola mata pencaharian yang beragam seperti itu. saluran air. menunjukkan distribusi warga di wilayah pesisir yang melakukan kegiatan gotong royong. yaitu dilakukan secara masing-masing warga. yaitu sebanyak 1 kali dalam 1 tahun. dan lain sebagainya. dan memperbaiki infrastruktur perdesaan seperti jalan desa. diperoleh informasi bahwa kegiatan gotong royong di Kelurahan Kota Karang memang masih belum berjalan dengan baik. Sebenarnya telah ada aturan bahwa setiap jumat ada kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan. E. Namun sifat tolong menolong antar warga tetap ada.11 persen berada di Kota Karang. menyebabkan banyak penduduk yang beralih menjadi pekebun. Kegiatan yang lebih mengarah kepada individu ini diperkirakan karena adanya perubahan dalam mata pencaharian penduduk. sebagian besar masayarakat Kota Karang adalah nelayan. Terutama dalam hal kebersamaan. namun dalam pelaksanaannya kegiatan kebersihan lingkungan di Kota Karang lebih bersifat individu. dari sebanyak 135 warga pesisir. sehingga sulit untuk melakukan kegiatan dalam waktu yang bersamaan. melaksanakan kegiatan 3M. Gambar 2. Tinggi rendahnya kohesivitas sosial dapat terlihat dari beragamnya kegiatan sosial masyarakat. Beberapa kegiatan sosial masyarakat yang berhubungan dengan kebencanaan adalah gotong royong. Demikian juga bila ada rumah warga yang rusak. sebanyak 78.pengamanan lingkungan. sebanyak 24. Kohesivitas sosial ini yang melahirkan sikap saling tolong menolong ketika terjadi bencana. warganya justru mengaku bahwa kegiatan gotong royong di wilayah tersebut sudah berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil FGD. biasanya ditangani sendiri oleh si pemilik tanpa bantuan dari tetangga atau warga lainnya. Dahulu. pegawai. antara lain meningkatnya kesejahteraan warga serta menurunnya tingkat kejahatan dan ‘kenakalan’ warga di Kelurahan Pasir Gintung. Keberadaan paguyuban serta organisasi masyarakat tersebut dirasakan positif oleh warga.

enam bulan sekali. ada yang dua bulan sekali. Gambar 2-7.66 persen warga berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong.Gambar 2-6.22 persen).78 persen warga yang melakukan gotong royong dengan frekuensi seminggu sekali. Jika dilihat dari frekuensinya. Dari 121 warga non pesisir. Distribusi Masyarakat di Wilayah Pesisir Yang Melakukan Kegiatan Gotong dengan Frekuensi Minimal 1 Kali dalam 1 Tahun Pada wilayah non pesisir. Hal ini menggambarkan dari persfektif kualitas gotong royong. sebanyak 66. Distribusi Tingkat Partisipasi Warga Non Pesisir Lampung pada Kegiatan Gotong Royong Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya. mengingat di wilayah ini terdapat sekitar 57.78 persen). dapat dilihat pada Gambar 2-7. bahkan satu tahun satu kali. Selain itu terdapat juga warga yang melakukan gotong royong lebih dari 1 tahun sekali. maka di wilayah non pesisir sebagian besar warga melakukan kegiatan gotong royong sebanyak 36 kali dalam setahun atau setiap minggu (57. frekuensi kegiatan gotong royong masyarakat relatif beragam. 2009 25 . maka dampaknya akan lebih besar terasa dibandingkan dengan masyarakat yang melakukan gotong royongnya hanya 1 tahun sekali. dan satu kali dalam satu tahun (32. maka sebetulnya masyarakat di wilayah non pesisir memiliki tingkat partisipasi gotong royong yang lebih baik. ada yang satu bulan sekali. Dengan semakin seringnya kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh warga.

Distribusi Partisipasi Warga dalam Kegiatan Gotong Royong Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Tokoh masyarakat Kelurahan Panjang Selatan. Di wilayah non pesisir. Perbaikan sarana ibadah menarik partisipasi besar dari warga di Kelurahan Sukabumi Indah (35. Partisipasi warga terbesar dan terendah dalam kegiatan perbaikan jalan terjadi berturut-turut di Kelurahan Kota Karang dan Panjang Selatan.Gambar 2. Relatif tingginya partisipasi gotong royong masyarakat di kedua wilayah diakui oleh tokoh masyarat yang menjadi narasumber dalam FGD. menunjukkan bahwa kegiatan perbaikan jalan mendapatkan partisipasi warga paling besar (45. menutup dan mengubur. maupun kegiatan-kegiatan perkumpulan telah berjalan cukup baik meskipun untuk Kelurahan Pasir Gintung kegiatan tersebut tidak terjadwal dan terorganisir dengan baik. pengajian merupakan kegiatan sosial masyarakat yang memiliki partisipasi warga terbesar (74. gotong royong. Gambar 2-8. dan menarik partisipasi terkecil dari Kelurahan Panjang Selatan.70 persen) dibandingkan kegiatan yang lain.48 persen). Kegiatan sosial lain yang memiliki partisipasi relatif besar adalah arisan ibu-ibu (46. Hal ini terjadi pada semua kelurahan di kedua wilayah baik pesisir maupun non pesisir.09 persen) dan kemudian kegiatan kegiatan 3M (menguras. Jika membandingkan kedua wilayah (pesisir dan non pesisir).8. 2009 Dilihat dari partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan warga. pengajian juga mendapat partisipasi terbesar dari warga (67. warga di wilayah non pesisir memberikan pastisipasi lebih besar dibandingkan warga diwilayah pesisir kecuali kegiatan perbaikan sampah dan perbaikan jalan. Kegiatan gotong royong yang mendapatkan partisipasi warga paling rendah adalah kegiatan perbaikan taman. Gambar 2-9) 26 . Batu Putu dan Pasir Gintung menyatakan bahwa hubungan antar warga seperti dalam hal kerjasama.77) dibandingkan kegiatan sosial masyarakatnya.22 persen).

Namun. hal ini cukup menyulitkan warga. Namun. air bersih dan listrik. SMP sudah tersedia dalam jumlah yang cukup. Mayoritas masyarakat pada seluruh kelurahan menunjukkan bahwa sarana pendidikan seperti bangunan SD. asuransi. khususnya untuk mengobati penyakit-penyakit ringan seperti flu dan batuk. biasanya akan di rujuk oleh puskesmas setempat untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Dengan adanya sarana dan prasarana ini berbagai sektor kehidupan masyarakat dapat lebih dikembangkan dan ditingkatkan hasilnya. masih sangat sedikit warga yang memanfaatkan jasa perbankan tersebut. warga harus mengurusnya terlebih dahulu. bila kondisi warga bertambah parah. walaupun kelurahan yang lain menyatakan bahwa sarana perbankan di kelurahan mereka sudah cukup baik. Pada wilayah-wilayah tersebut juga telah ada Jamkesmas. Demikian juga dengan asuransi. Akses Terhadap Pelayanan Keberadaan sarana dan prasarana merupakan faktor yang menunjang keberhasilan upaya program adaptasi bencana. baik asuransi 27 . Hal ini juga ditunjang dengan kenyataan bahwa mereka belum merasa membutuhkan asuransi. kepemilikan jamkesmas ini tidak secara otomatis ada. Warga yang tidak memiliki jamkesmas dapat mempergunakan fasilitas jamkesda. hanya warga Kelurahan Batu Putu yang menyatakan bahwa sarana perbankan di wilayahnya masih kurang. 2009 F. Sarana perbankan pada juga secara umum sudah cukup baik. Pada kenyataannya lokasi Batu Putu yang relatif terletak jauh di atas gunung dan jauh dari pusat ibukota menyebabkan bank tidak beroperasi di wilayah tersebut. namun pada kenyataannya berdasarkan hasil FGD. Sarana kesehatan pada wilayah ini pada umumnya berupa balai kesehatan masyarakat seperti puskesmas maupun posyandu.Gambar 2-9. fasilitas kesehatan ini sangat membantu masyarakat. Proses untuk mengurus jamkesda pun cukup rumit dan melalui birokrasi yang cukup pajang. Selain biayanya yang cukup terjangkau. Distribusi Kegiatan Masyarakat Pada Beberapa Kegiatan Sosial Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Sarana dan prasarana yang ada di wilayah kelurahankelurahan terpilih yang rentan bencana terdiri dari: pendidikan. perbankan. Sebagian besar warga memiliki alasan bahwa jumlah penghasilan yang relatif kecil sehingga tidak tersedia uang yang cukup untuk ditabung. Namun demikian. kesehatan. Tidak banyak warga yang tahu tentang keberadaan sarana asuransi di wilayah mereka.

sehingga dalam satu bulan biasanya menghabiskan 7-8 galon. 2009 Sarana electricity dan air bersih pada wilayah ini tersedia dengan baik. jiwa maupun kesehatan. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen yang dapat diperoleh dengan cara membeli. Berikut adalah gambaran kebutuhan air bersih pada suatu rumah tangga di Kelurahan Kota Karang. mempunyai sumber air yang sangat banyak.00 per galon dengan merek Grand. pada wilayah pesisir. Kelurahan Batu Putu yang merupakan daerah perbukitan. walaupun memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat yang lebih baik dibandingkan dengan kelurahan lain. Biasanya satu galon air dapat di gunakan selama empat hari. Ketersediaan Sarana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari FGD. bila terjadi bencana yang parah. dan Kangkung keperluan minum warga biasanya dipenuhi dengan cara membeli air galon isi ulang. Sumber listrik pada wilayah ini berasal dari PLN. Hal yang menarik ditunjukkan oleh Kelurahan Sukabumi Indah. berupa jaminan ganti rugi finansial atas harta benda yang rusak atau hilang. Grafik 2-10.000. terbukti dengan adanya tiga perusahaan air minum di daerah tersebut.00-Rp 3. terlebih dahulu harus di diamkan beberapa saat. Pada wilayah Panjang Selatan. Padahal. memiliki kesulitan air bersih. sehingga air bersih dapat diperoleh dengan jalan membeli. Penggunaan air sumur bor tidak dipungut biaya. sehingga bila akan digunakan. Seorang ibu dengan enam orang anak yang tinggal di wilayah Kota Karang mengaku bahwa kebutuhan air sehari-hari dipenuhi dengan cara mengambil dari sumur bor dan membeli. Namun justru keberadaan perusahaan air minum tersebut yang dirasa warga menyebabkan jumlah debit air menjadi berkurang. Untuk keperluan minum biasanya dipenuhi dengan membeli air galon isi ulang seharga Rp 3. sedangkan air jirigen 28 . Kota Karang. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen. warga menggunakan air sumur pompa. namun masyarakatnya menunjukan kecenderungan yang sama dengan warga dari kelurahan lain. namun kualitas air kurang baik (berwarna keruh) dan terasa panas. Keperluan air untuk mencuci dan mandi dipenuhi dengan menggunakan air sumur bor. Penggunaan air sumur bor tidak dipungut biaya. Untuk keperluan mencuci dan mandi. kepemilikan asuransi dapat melindungi masyarakat. yaitu berwarna keruh dan bahkan di Kelurahan Kota Karang terasa panas. Sedangkan air bersih dapat diperoleh dengan membeli baik dari PDAM maupun dari pedagang air keliling.pendidikan. yaitu Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang. namun kualitas air kurang baik.500.

Kelurahan Batu Putuk berada di lokasi dataran tinggi dimana kondisi lahan di wilayah ini memiliki kesesuaian dengan karaktersitik tanaman perkebunan.7.5 persen. dan buruh non pertanian.2. Pada kondisi iklim dan cuaca yang menunjang. 21.1 persen dan 33. banyak warga yang memiliki alternatif mata pencaharian lain seperti menjadi buruh non pertanian.00 per tiga jirigen. Mata Pencaharian dan Ekonomi Informasi kondisi ekonomi masyarakat dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat. Ibu tersebut mengaku bahwa tiga jirigen dapat digunakan selama tiga hari.000. Jadi secara rata-rata total pengeluaran untuk membeli air pada keluarga tersebut selama satu bulan sebesar Rp 31. Mata pencaharian masyarakat di Batu Putuk dengan persentase paling sedikit adalah pedagang.00 per tiga jirigen. tukang becak. dan Grand. Sumber FGD di Kota Karang.000 perhektar per tahun. durian.5 persen warga wilayah Panjang Selatan bermata pencaharian sebagai buruh non pertanian. sehingga memiliki ketidakpastian. Luas kepemilikan lahan beragam. sedangkan warga di wilayah Kota Karang dan Kangkung sebesar 32. namun umumnya warga memiliki lahan kurang dari satu hektar. Biasanya dalam satu lahan. Oleh karena itu. Kelurahan Panjang Selatan.3 persen memiliki mata pencaharian yang dikelompokkan menjadi ‘lainnya’. Selain menanam pada lahan sendiri. penghasilan dari melaut dapat berlimpah. pertukangan. yaitu Tri Panca. namun dalam kondisi sebaliknya seperti pasang dan angin besar. pengeluaran masayarakat dan kepemilikan lahan serta aset. kopi. penghasilan dari melaut cenderung menurun drastis bahkan terkadang tidak mendapatkan penghasilan. Harga air dalam jirigen (2 liter) jika diambil sendiri adalah Rp 1. Sehingga memiliki potensi pertanian khususnya tanaman perkebunan seperti coklat. Kondisi ekonomi masyarakat dapat dilihat dari mata pencaharian penduduk. Berikut adalah gambaran umum ekonomi dan mata pencaharian pada enam kelurahan amatan: A. namun jika diantar (dibawakan). atau kenek bangunan.3 persen warga mengaku bermata pencaharian sebagai nelayan maupun buruh nelayan.000. Mata Pencaharian Mata pencaharian penduduk biasanya dipengaruhi oleh kondisi wilayah masing-masing. Berdasarkan hasil FGD diperoleh pula informasi bahwa pada wilayah Batu Putuk. Oleh karena itu sebanyak 47. Hal ini karena mata pencaharian sebagai nelayan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan cuaca. Sewa lahan dikenakan biaya sebesar Rp. Keberadaan perusahaan ini memberikan kesempatan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar seperti menjadi buruh dan satpam. 2. Kota Karang dan Kangkung berada pada wilayah pesisir. pendapatan.000.5 persen.diperoleh dengan membeli. cukup banyak juga warga yang bertani / berkebun di wilayah kawasan milik dinas kehutanan. 29 .000. dimana sektor perikanan menjadi salah satu mata pencaharian yang dominan. harga mencapai Rp 2. melinjo dan vanili.5 persen warga Kota Karang dan 10. sehingga dalam sebulan membutuhkan 30 jirigen.5 persen warga berprofesi sebagai petani kebun dan diikuti oleh buruh pertanian sebesar 17. terdapat tiga perusahaan air minum. dan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang ketahanan masyarakat dalam menghadapai perubahan iklim/ bencana. Grade.00. Sebanyak 20 persen warga Panjang Selatan. warga sengaja menanam beberapa jenis tanaman.00-Rp 48. 20. Selain itu berdasarkan survey terlihat bahwa sebanyak 42. yaitu sebesar 2.

wilayah yang rentan terhadap bencana adalah Kelurahan Panjang Selatan.7 2. Selain menjadi nelayan.5 2.5 12.9 Kangkung Petani Pangan Petani Kebun Perikanan Pedagang Pengrajin PNS/ABRI/ POLRI Jasa Pertukangan Buruh Pertanian Buruh Non Pertanian Lainnya 10. setiap anggota rumah tangga akan berusaha untuk memanfaatkan semua potensi yang dimiliki sesuai dengan pemahaman mereka sendiri. Berdasarkan Tabel 2-13.Lokasi Kelurahan Pasir Gintung sangat strategis.3 25. Tabel 2-12.5 12. warga pada wilayah Panjang Selatan.6 2. Mata Pencaharian Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Partisipasi Anggota Keluarga dalam Mencari Nafkah Keluarga Dalam mempertahankan hidupnya dan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga. B.5 5 2.5 14.5 25 Pasir Gintung 20 2 10 20 48 Kota Karang 21.3 19. tukang ojek.5 Sukabumi Indah 3. Mata pencaharian yang juga banyak dilakukan masyarakat adalah pedagang dan buruh non pertanian yaitu sebesar 20 persen.9 41. Hal ini berbeda dengan masyarakat di Kelurahan Batu Putu dimana sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya tidak jauh dari pengelolaan sumber daya alam.5 17.9 12. masyarakat umumnya memiliki alternatif pekerjaan lain. Kangkung dan Batu Putuk. seperti teknisi.4 33. yaitu mata pencaharian yang tidak termuat pada pilihan yang disajikan. tidak menggantungkan mata pencarian mereka hanya pada satu sektor. sehingga mata pencaharian penduduknya banyak di sektor jasa. Namun demikian. dengan demikian tugas kepala keluarga dalam mencari nafkah relatif terbantu. Kota Karang dan Kangkung. Kota Karang. akan tetapi seringkali karena adanya keterbatasan mengakibatkan setiap keluarga jika ada kesempatan akan memberdayakan anggota keluarganya dalam mencari sumber tambahan. Demikian juga dengan Sukabumi Indah. dan rumah sakit umum pemerintah terbesar di Propinsi Lampung. Dengan demikian.6 15.6 12. berdasarkan mata pencaharian penduduk. terminal. Mereka secara fleksibel akan mencari pekerjaan di ‘darat’ apabila pekerjaan di laut tidak mungkin mereka lakukan.5 42. jasa dan pegawai negeri (PNS/ABRI/POLRI). yaitu sebagai buruh non pertanian. supir. Mata pencaharian dengan persentase terbesar adalah masuk dalam kelompok ‘lainnya’ sebesar 48 persen. hampir semua warga di wilayah tersebut bekerja di luar sektor pertanian.2 6.6 7. terlihat bahwa 30 . wilayah Kelurahan Batu Putu memiliki tingkat kerentanan yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelurahan lainnya. yaitu dekat dengan pasar induk.1 Batu Putu 10 47. dan lain sebagainya.5 22.6 32. 2009 (dalam %) Mata Pencaharian Panjang Selatan 20 5 7. Pada umumnya setiap kepala rumah tangga wajib mencari nafkah untuk keluarganya.5 2.33 Bila dilihat dari mata pencaharian penduduk. pegawai kelurahan.

Pola tersebut tidak terlihat pada Kelurahan Pasir Gintung dan Sukabumi Indah. Biasanya istri membantu suami memilihmilih ikan”. suami. 8). 9). dan anak perempuan. namun bila hasil tangkapan suaminya sedikit. istri. kegiatan tersebut juga seringkali melibatkan anggota keluarga lainnya. istri. Bahkan bagi suami yang sudah tidak bisa bekerja lagi karena alasan menganggur. 5) suami. Sebelum dijual di tempat pelelangan ikan atau di pasar.biasanya perempuan banyak dibutuhkan waktu musim ikan. 31 . dan 13). Dengan demikian peran istri tampak sangat jelas dalam membantu meringankankan beban suami. istri dan anak laki-laki. dan anak perempuan. Waktu itu ikan yang terkumpul oleh nelayan jumlahnya banyak dan jenis serta ukurannya macam-macam.58 persen keluarga masyarakat dimana suami dan istri bekerja bersama-sama untuk menghidupi keluarganya. anak laki-laki saja. Umumnya ikan yang mereka jual merupakan hasil tangkapan suami. Hal ini diindikasikan dari jumlah masyarakat yang tergantung pada suami sebagai pencari nafkah tunggal dalam keluarga berjumlah kurang dari 50 persen. Selain melibatkan istri.terdapat 13 model rumah tangga dalam mencari nafkah. ”. Menurut bapak Aan. yaitu jenis pekerjaan istri terkait dengan pekerjaan yang dilakukan oleh suaminya.02 persen masyarakat dimana semua anggota keluarganya memiliki mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya. istri. Dari data juga diperoleh informasi. diakui masyarkat telah dilakukan sejak lama. Jumlah masyarakat terbanyak yang mengandalkan kehidupan keluarga dari hasil kerja istri berada pada Kelurahan Kota Karang. dan anak laki-laki. Pada banyak kasus perempuan yang bekerja. maka perempuan bekerja yang berada pada dua kelurahan tersebut banyak yang menjadi pedagang ikan. terdapat sekitar 2. Kondisi yang hampir sama terjadi juga pada masyarakat dengan mata pencaharian pokok di bidang pertanian. anak laki-laki. anak lakilaki dan anak perempuan yang sudah dewasa memiliki pekerjaan. misalnya membantu suami di kebun atau sawah. maka mereka akan menjualkan ikan hasil tangkapan tetangga atau membeli ikan terlebih dulu di pasar. dimana sebagian besar warga pria memiliki mata pencaharian di bidang perikanan. 11) suami. 1). istri. 3). Peran perempuan dalam ekonomi keluarga juga terungkap dalam kegiatan FGD pada kelurahan amatan. dan berdasarkan data terdapat sekitar 2. 4). baik di pasar maupun secara berkeliling. Selain pekerjaan yang relatif tetap. anak laki-laki dan anak perempuan. anak perempuan saja. dan semua hasilnya diperuntukkan untuk kelangsungan hidup keluarga. ikan harus dipilih-pilih dulu. dan anak perempuan. untuk melangsungkan kehidupan keluarga tergantung pada istri. anak laki-laki. Kegiatan istri bekerja membantu suami. sakit.02 persen keluarga masyarakat yang kehidupannya tergantung pada penghasilan kerja istri. Misalnya pada Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang. Terdapat 31. 7). 2). istri saja. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa peran suami secara tunggal dalam menghidupi keluarganya hanya sekitar 46.56 persen. suami dan istri. 10).. 6). atau telah meninggal dunia. Dengan demikian secara keseluruhan tergambar peran istri (perempuan) dalam melangsungkan kehidupan suatu keluarga relatif besar. namun sudah dirasakan sejak dahulu.. dimana pekerjaan istri terkait dengan pekerjaan suami. Hal ini menggambarkan bahwa untuk memenuhi kehidupan keluarga tidak lagi mengandalkan sepenuhnya terhadap penghasilan dari pekerjaan suami. suami saja. Dalam kelompok ini semua anggota keluarga yang terdiri dari suami. suami. Suami dan anak laki-laki. suami dan anak perempuan. ketua RT 14 kelurahan Kota Karang. beberapa pekerjaan yang melibatkan perempuan ada yang bersifat musiman. terlihat memiliki pola yang sama. karena kesulitan ekonomi bukan hanya dirasakan saat ini saja. 12)..

74 2. Al= Anak Laki Dewasa.76 31.26 28.24 SIAl 5.49 60.70 31.00 Keterangan : S=suami.74 7.03 2.76 0.33 5.76 0.00 0. dan Ap=Anak Perempuan Dewasa 32 .00 0.00 2.00 0.74 7.00 100.04 0.00 1.00 2.87 2.00 0.76 1.47 24.00 0.71 38.63 1.87 2.71 48.00 1.63 3.00 0.40 Ap 0.45 0.58 47.87 5. I= Istri.63 2.21 25.00 0.52 1.87 2.64 2.00 2.00 100.04 0.56 3.00 0.56 0.64 2.79 3.95 21.21 S Ap 2.00 0.00 2.63 0.56 3.00 0.91 5.87 0.89 3.00 0.85 44.63 0.00 0.00 0.26 5.08 3.13 8.00 0.08 0.81 AlAp 0.26 0.00 0.04 0.00 0.82 0.61 5.Tabel 2-13.03 2.24 Semua 2.00 1.58 S Al 2.00 0.00 2.00 1.00 0.63 3.55 3.00 0.40 Grand Total 100.00 0.00 0.00 4. Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Bekerja Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Pencari Nafkah Dalam Keluarga Wilayah/ Kelurahan (N) Non Pesisir Batu Putu 115 Pasir Gintung 38 Sukabumi Indah 49 Sub Total 55 Pesisir Kangkung 28 Kota Karang 132 Panjang Selatan 38 Sub Total 39 Grand Total 247 S 44.02 I 2.64 2.56 4.02 I Al 0.03 2.00 100.87 0.63 0.00 4.57 2.21 SIAp 0.00 100.74 59.18 35.63 0.56 SI 39.00 100.00 100.70 46.26 1.56 3.27 53.63 0.26 S AlAp 0.02 Al 0.82 2.04 0.00 3.00 0.00 100.89 10.82 28.00 100.

mayoritas warga di Kelurahan Sukabumi Indah memiliki tingkat pendapatan yang lebih baik. Mayoritas rumah tangga warga di wilayah Panjang Selatan.00. 33 .1 8.000.75/bulan. Informasi adanya peranan pekerjaan tambahan dalam kontribusi pendapatan masyarakat di kelurahan amatan juga tergambar dari kegiatan FGD. Oleh karena itu.C.000. maka pendapatan rata-rata rumah tangga warga pada kelurahan amatan lebih tinggi. Pada Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang.00 per hari. pada kondisi sebaliknya pendapatan yang diperoleh menjadi berkurang.000. Namun apabila dibandingkan dengan banyaknya jumlah anggota keluarga per rumah tangga. Besaran pendapatan ini diperoleh dari penjumlahan pendapatan tetap dan pendapatan tambahan.00. tukang becak atau kenek bangunan. Sementara itu.00. pekerjaan menjadi kenek bangunan belum tentu diperoleh setiap hari. 1.00 per hari.5 15 10 12 48 28 12 32.213.7 35. maka jumlah pendapatan tersebut relatif kecil dan tidak dapat mencukupi seluruh kebutuhan keluarga. Pasir Gintung.35/bulan.000. Dibandingkan dengan tingkat UMR di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Rp 627. Ketika kondisi iklim dan cuaca mendukung. mereka juga kadang menjadi pedagang.2 17.000.00 hingga Rp 1.00. Sedangkan mayoritas warga di Kelurahan Kangkung memiliki pendapatan berkisar antara Rp 1. namun walaupun besar. Pendapatan tersebut berasal dari pendapatan tetap bulanan sebesar Rp 705.26/bulan dan dari pendapatan tambahan lainnya sebesar Rp 534. Dengan data ini terlihat bahwa peranan pekerjaan tambahan memiliki proporsi yang relatif besar yaitu 44. dan Kota Karang biasanya memiliki alternatif pekerjaan lain.000. Penghasilan menjadi tukang becak.001 37.5 37. Secara rata-rata pendapatan rumah tangga respoden sebesar Rp.000. Tabel 2-14.000. 2009 (dalam %) Klasifikasi Pendapatan (Rp) Panjang Selatan Pasir Gintung Kota Karang Batu Putuk Sukabumi Kangkung Indah 0-500. rata-rata Rp 15. Gambar 2.8 16.421. Selain menjadi nelayan. Pada kondisi biasa.12.9 Dari gambaran pendapatan tersebut dapat dikatakan bahwa mayoritas rumah tangga warga pada wilayah Panjang Selatan. Sedangkan penghasilan menjadi kenek bangunan sebesar Rp 30. Kota Karang dan Batu Putuk relatif paling rentan secara ekonomi.1 9.781.2 42. Pasir Gintung.000. perikanan dalam hal ini nelayan menjadi salah satu mata pencaharian yang dominan.001.5 45 10 16.000.000.001.2 25.001-1.000 500. dan Batu Putuk memiliki penghasilan berkisar antara Rp 500. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.000.00 hingga Rp 2.000 1.000. Pendapatan Secara umum pendapatan masyarakat dipengaruhi oleh mata pencahariannya. khususnya jika terjadi perubahan kondisi sosial ekonomi yang disebabkan oleh bencana.000. maka penghasilan yang diperoleh relatif lebih banyak. memperlihatkan distribusi rata-rata pendapatan rumah tangga pada enam kelurahan amatan.000.08 %.00-Rp 30.500.228.9 42.7 28. penghasilan dari melaut dalam satu hari berkisar antara Rp 20.5 38. yaitu dengan rentang pendapatan diatas Rp 2.001-2. warga di Kelurahan Panjang.7 23. Namun. untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Kota Karang.000 > 2.

masyarakat juga memanfaatkan lahannya untuk tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan. Pengeluaran Keadaan ekonomi suatu keluarga dapat dikatakan seimbang apabila jumlah pengeluaran sama besar dengan jumlah pendapatan yang dimiliki. Dengan demikian kelurahan ini bisa dikatakan relatif lebih sejahtera dibandingkan kelurahan lainnya. berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada kelurahan amatan. oleh karena itu untuk dapat bertahan hidup sebagian warga melakukan peminjaman atau berhutang (‘tutup lubang. hasil perkebunan di wilayah ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi alam. Tanaman hortiklutrura ini dipilih karena memiliki daur yang lebih pendek dibandingkan dengan tanaman perkebunan. kadang warga juga bekerja pada lahan orang lain. dengan alasan sambil menunggu tanaman perkebunan menghasilkan. Bila sedang berhasil. 34 . Distribusi Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat Berdasarkan Pendapatan Tetap dan Pendapatan Tambahan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 D. Dalam satu tahun tidak selalu tanaman perkebunan bisa menghasilkan. dengan mayoritas pekerjaan sebagai petani. selain bekerja pada lahan sendiri. Namun.11. Oleh karena itu.Pada Kelurahan Batu Putuk. Dari sebaran data terlihat bahwa rata-rata pendapatan rumah warga di Kelurahan Sukabumi Indah relatif lebih besar dibandingkan dengan kelurahan lainnya. terlihat bahwa cukup banyak keluarga yang memiliki jumlah pengeluaran dengan pemasukan yang tidak seimbang. gali lubang’) ke pihak lain. Gambar 2. selain menanam tanaman perkebunan. Untuk mendapatkan tambahan pendapatan. rata-rata produksi kopi pertahun dapat mencapai lima kuintal sedangkan hasil panen coklat dapat mencapai empat kuintal. kebutuhan hidup dapat dibantu dari hasil sayuran dan buah-buahan. yang dijual per periode. Namun ada kalanya mengalami paceklik atau gagal panen. Hal ini diperkuat dengan infomasi bahwa pada kelurahan ini masyarakatnya memiliki aset rumah tangga yang lebih banyak dibandingkan dengan kelurahan lainnya.

2009 Alternatif lain dari warga untuk mendapatkan dana adalah melakukan pinjaman kepada agen atau warung.7 39. dan akan dibayar dengan hasil coklatnya.5 3.1 Umumnya warga melakukan pinjaman uang dari tetangga.000. adalah warga Batu Putu. tetangga yang dapat memberikan pinjaman jumlahnya relatif terbatas.000. 2009 (dalam %) Pengeluaran (Rp) Panjan g Selatan Pasir Gintun g Kota Karang Batu Putu k Sukabum i Indah Kangkun g 0-500. Biasanya yang diberikan pinjaman adalah warga yang sudah memiliki hasil panen coklat.7 5. Kepemilikan Tempat Tinggal dan Aset Informasi mengenai kepemilikan tempat tinggal dan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Pinjaman tersebut biasanya dikembalikan setelah warga kembali dari melaut dan hasil tangkapan ikan telah terjual.2 38.001-1.5 23. namun sedang di jemur. Pak Jumaidi tidak membebankan bunga. Ia berprofesi sebagai petani coklat.001-2. Pak Jumaidi. dan umumnya para bank keliling tersebut yang aktif datang menghampiri warga. beliau juga melihat kondisi calon peminjam.3 16.000.Tabel 2-15. Pengeluaran Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Alasan yang dikemukakan adalah karena kondisi yang terdesak serta terdapat beberapa kelebihan dari bank keliling dibandingkan dengan lembaga perbankan.1 15 52. warga sekitar biasanya meminjam uang kepada Pak Jumaidi. Berbeda dengan pinjaman kepada tetangga yang tanpa bunga. agen atau pada bank keliling (rentenir). aset dapat 35 .2 12. tidak perlu adanya agunan.1 33.5 45 40 2. Selain itu pinjaman kepada bank keliling (rentenir) juga sering dilakukan oleh sebagian warga.5 30 2.001 12. namun karena kondisi ekonomi warga relatif hampir sama. E. Tetangga sekitar menjual coklat kepadanya. Pinjaman yang berasal dari tetangga biasanya tidak dikenai bunga. Jika sedang kepepet tidak punya uang.000 > 2. pembayaran dapat dilakukan dengan cara mencicil. yaitu mencapai 20 persen. yang kemudian dijualnya ke penampung di kota. sekaligus sebagai pedagang pengumpul di kelurahannya.5 8 28 44 20 8.9 45. Kelebihan tersebut antara lain: prosedur pinjaman relatif lebih cepat.000 500. seperti yang dilakukan oleh beberapa warga di kelurahan pesisir yang akan pergi melaut. sehingga pinjamannya dapat segera dikembalikan segera setelah coklat warga mengering. 48 tahun.3 38.000. Sumber: FGD di Kelurahan Batu Putu.000 1.9 35. Namun warga tetap melakukan pinjaman kepada bank keliling (rentenir) dibandingkan dengan pinjaman kepada lembaga perbankan. namun dalam memberikan pinjaman. bank keliling mengenakan bunga pinjaman yang cukup besar.

Demikian juga pada Kelurahan Kota Karang. maka terlihat bahwa secara umum kesejahteraan warga di wilayah non pesisir lebih besar daripada warga di wilayah pesisir. Rumah dengan luas tanah dan luas bangunan seperti itu cukup untuk sebuah keluarga yang beranggotakan sebanyak 4-5 orang/keluarga.Kepemilikan bangunan dan lahan Secara umum tempat tinggal yang dihuni warga berstatus hak milik. Rata-rata luas bangunan/tanah di wilayah non pesisir adalah 69.36 44. Rata-rata Luas Bangunan dan Luas Tanah Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.91 Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa rata-rata kepemilikan rumah masyarakat adalah sebanyak 61. Tabel 2-16.85 55. lokasi rumah yang ditempati warga di RT 8 sampai dengan RT 14 sebagian besar adalah hasil sewa kepada tuan tanah di Kelurahan Kota Karang.91 m2 untuk luas tanah. pemukiman masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan terlihat padat dan tidak teratur.78 45.65 Rata-rata Luas Tanah (m2) 324. Hal ini disebabkan di wilayah ini.12 47. Namun adakalanya.78 m2.82 118.66 97. pada beberapa lokasi terlihat cukup banyak warga yang menempati rumah dengan lahan ‘di atas laut’. Biaya sewa per tahun adalah sebesar Rp. Ketinggian pondasi rumah sengaja dibuat lebih dari satu meter.65 m2 untuk luas bangunan. sewa atau bergabung dengan rumah saudara atau orang tua.73 61. Pada lokasi tertentu. Jika ukuran rumah dianggap mencerminkan pandangan umum tentang kesejahteraan warga. dan karena berada di 36 . Dari rumah yang berstatus hak milik maka terlihat rata-rata luas bangunan dan tanah yang dimiliki masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung seperti terlihat pada Tabel 2-16.36/174. yaitu haji Karya.33 60. adalah masyarakat di wilayah Sukabumi Indah. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Total Grand Total Rata-rata Luas Bangunan (m2) 58. warga tidak mampu membayar biaya sewa yang murah tersebut.23 92.73/68.60 94. menurut haji Karya. Berdasarkan informasi dari warga. maka warga di wilayah non pesisir yang memiliki kesejahteraan relatif tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. air laut tidak masuk ke dalam rumah. Jika dilihat lagi.65 67.03 68.23 54.000. sebagian besar masyarakat bertempat tinggal di lokasi komplek perumahan.44 174. sedangkan di wilayah pesisir rata-ratanya 54.02 115. 50. Berdasarkan hasil FGD dan observasi di lapangan.63 69.-. dan 118.82 m2. banyak warga yang membangun rumahnya pada lahan ‘di atas laut’ dengan alasan keterbatasan lahan di darat. yang ditujukan agar saat terjadi pasang laut. karena tingkat ekonomi yang sulit.

Mahalnya harga kayu menyebabkan biaya pembuatan rumah kayu hampir setara dengan membuat rumah permanen dari tembok semen. Menurut bapak Zabir. akan tetapi dari sisi ketahanan terhadap bencana gempa. Terdapat kecenderungan. sementara itu rumah yang dindingnya terbuat dari kayu atau bambu relatif lebih kuat terhadap gempa. Berdasarkan Tabel II-17. Selain menjadi identitas budaya. Belajar dari kasus bencana gempa di Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009. maka rumah dinding kayu/bambu relatif lebih kuat. bila dahulu jenis rumah dengan dinding kayu bisa menggambarkan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Sedangkan di wilayah pesisir jumlahnya relatif sedikit yaitu 50. salah satu bagian rumah yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bagian dinding rumah.39 persen. Sehingga seringkali perbedaan ini dijadikan sebagai kriteria dalam menentukan tingkat kesejahteraan satu rumah tangga. maka tidak demikian halnya untuk saat ini. Walaupun secara umum. maka sebagian besar rumah yang hancur di wilayah beberapa wilayah seperti di Pangalengan (Kabupaten Bandung). Dengan demikian pada saat ini pengelompokan keluarga sejahtera / kurang sejahtera tidak dapat hanya dengan berdasarkan kepemilikan jenis dinding rumah saja. biaya untuk membuat dinding tembok semen relatif lebih mahal daripada biaya untuk membuat rumah dari dinding kayu/bambu. Cikelet (Kab Garut) Cibinong (Kab Cianjur). Mereka mengetahui bahwa gempa relatif sering terjadi di wilayah pesisir. Dengan memahami konteks ini. terbuat dari dinding tembok semen. akan tetapi dari segi ketahanan terhadap bencana gempa. Terlihat bahwa di wilayah non pesisir jumlah rumah yang dindingnya terbuat dari tembok semen sebanyak 77. 63 tahun.perkotaan tanah di lokasi ini memiliki harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan nilai tanah di wilayah lainnya. rumah panggung juga merupakan bentuk rumah yang dianggap paling sesuai dengan kondisi wilayah Kelurahan Kota Karang yang pada umumnya berawa. 37 . Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Zabir. relatif lebih memiliki ketahanan dibandingan dengan wilayah non pesisir. maka wilayah pesisir. Fakta ini mencerminkan bahwa baik disengaja maupun tidak disengaja masyarakat di pesisir sebagian besar sudah menyesuaikan keadaan rumahnya dengan kondisi alam sekitarnya. sehingga sebagian besar mereka membangunnya dengan dinding yang terbuat dari kayu/bambu. Rumah panggung kayu. semakin sejahtera orang atau semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang maka semakin besar peluang orang untuk membuat rumah yang lebih layak.39 persen. Jika dihubungkan dengan bencana. sesepuh masyarakat di Kelurahan Kota Karang. Pada wilayah tersebut banyak warga memiliki rumah terbuat dari kayu berbentuk rumah panggung. terungkap bahwa mayoritas warga Kota Karang adalah suku Bugis. bahwa rumah yang layak adalah rumah yang terbuat dari dinding tembok semen. terlihat bahwa wilayah non pesisir dibandingkan dengan wilayah pesisir memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif tinggi dilihat dari keragaan luas bangunan dan tanahnya relatif luas dan rumahnya yang sebagian besar terbuat dari dinding. Terdapat kecenderungan dari tahun ke tahun. memang merupakan rumah ciri khas suku Bugis dan Lampung.

39 11. tapi sebagian besar masyarakat sudah memilikinya.09 77. Jenis Dinding Rumah Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Wilayah / Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Kepemilikan Aset Selain untuk rumah.43 26. telekomunikasi dan kendaraan. Berikut ini disampaikan Tabel II-18. dapat dikatakan bahwa hampir semua masyarakat di Lampung memilikinya. walaupun tidak semua memiliki TV. yang berisikan mengenai kepemilikan aset keluarga berupa aset rumah tangga. khususnya masyarakat di Sukabumi Indah semuanya sudah memiliki TV.69 12.91 7. bahkan terdapat beberapa rumah tangga masyarakat yang memiliki lebih dari satu TV.13 42. Sedangkan di wilayah lainnya.96 100.83 15.75 50. Di wilayah non pesisir.83 0. Keberadaan TV di non pesisir lebih banyak daripada di pesisir. Untuk ketiga jenis benda tersebut.52 28. terutama dalam rangka penanggulangan bencana.60 49. Tembok Semen 20. Berdasarkan tabel tersebut.61 Grand Total 34. Dengan demikian keberadaan TV seharusnya dapat dijadikan sebagai sarana yang efektif untuk menyebarluaskan informasi mengenai bencana.81 22.87 30.Tabel 2-17. HP dan kompor gas.00 29.87 22.35 100.39 Kayu/Bambu 13.00 38 .61 17. peralatan elektronik dan lain sebagainya.26 26. pendapatan yang diperoleh masing-masing keluarga dialokasikan juga untuk keperluan belanja investasi keperluan sehari-hari seperti kendaraan. terlihat secara umum peralatan keluarga yang banyak dimiliki oleh masyarakat adalah TV.78 38.32 19.

Tabel 2-18. Indeks Kepemilikan Aset Rumah Tangga Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Lampung Tahun 2009 (dalam %)
Wilayah/ Kelurahan Total Res (N) Peralatan Rumah Tangga TV Mesin Cuci Kul kas Kompor Gas AC Kipas Angin Pom pa Air 0 7 14 21 5 33 9 47 68 Komunikas i Tele HP pon Kendaraan Sepeda Motor Mobil

Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total

40 50 31 121 39 56 40 135 256

33 46 40 119 26 52 33 111 230

0 1 12 13 1 1 0 2 15

1 10 23 34 0 8 3 11 45

21 56 34 111 41 57 40 138 249

0 0 6 6 0 0 0 0 6

5 23 33 61 12 32 20 64 125

2 3 7 12 0 1 1 2 14

20 44 71 135 22 36 12 70 205

3 13 17 33 8 20 20 48 81

27 21 35 83 6 19 2 27 110

1 0 12 13 0 1 0 1 14

Diantara alat komunikasi, kepemilikan telepon ternyata jauh lebih rendah dibandingkan dengan kepemilikan handphone. Dengan dukungan infrastruktur dan banyaknya persaingan di industri telekomunikasi seluler, mengakibatkan handphone merupakan alat komunikasi yang relatif mudah dan murah bagi masyarakat. Walaupun tidak semua masyarakat memilikinya, dapat dikatakan lebih dari 80 persen masyarakat di tiap wilayah telah memiliki alat komunikasi handphone. Bahkan secara khusus di wilayah Sukabumi Indah, rata-rata tiap rumah tangga memiliki HP lebih dari 2. Melalui Hp ini komunikasi antar masyarakat menjadi lebih mudah. Jika terdapat bencana di suatu wilayah, masyarakat di wilayah lainnya relatif dengan mudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan keluargannya yang terkena bencana. Peralatan lainnya yang dimiliki masyarakat adalah kompor gas. Dengan adanya program kompensasi minyak tanah ke gas, kompor gas menjadi peralatan yang penting dimiliki oleh warga. Akan tetapi bagi mereka yang tidak mengandalkan bahan bakarnya pada gas dan minyak tanah, maka peralatan masaknya terbuat dari tungku dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Hal ini terjadi di Kelurahan Batu Putu. Jenis kendaraan yang paling banyak adalah motor, penggunaan motor lebih banyak di non pesisir dibandingkan dengan pesisir, hal ini disebabkan motor merupakan sarana transportasi antar daerah yang realtif murah. Terlebih bagi daerah yang tidak setiap saat dilalui oleh kendaraan umum. F. Akses Pada Lembaga Pembiayaan Pada dasarnya masyarakat kurang mampu atau golongan ekonomi lemah, lebih memerlukan perlindungan keuangan maupun asetnya, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang dari setiap musibah yang terjadi. Namun, karena keterbatasan kemampuan ekonomi; mereka kesulitan mendapatkan akses ke lembaga keuangan seperti perbankan maupun asuransi. Akses masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung terhadap lembaga perbankan relatif besar, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2-19, secara umum akses terhadap perbankan lebih besar daripada asuransi.
39

Tabel 2-19. Akses Masyarakat Terhadap Perbankan dan Asuransi Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009 (dalam %)
Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Non Pesisir Pesisir Grand Total Akses Terhadap Perbankan 12,50 60,00 48,39 71,79 51,79 82,50 41,32 66,67 54,69 Akses Terhadap Asuransi 2,50 20,00 25,81 25,64 8,93 32,50 15,70 20,74 18,36

Terdapat hubungan antara akses terhadap perbankan dengan akses terhadap asuransi. Walaupun persentase akses terhadap asuransi relatif kecil, akan tetapi nilai tersebut relatif besar terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki akses tinggi terhadap perbankan. Makin tinggi akses terhadap perbankan, makin tinggi juga akses terhadap asuransi. Tabel 2-20.memperlihatkan besaran rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk cicilan, tabungan dan asuransi. Tabel 2-20. Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Cicilan, Tabungan dan Asuransi ada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009 (Rupiah/bulan)
Jumlah Res (N) 121 40 50 31 135 39 56 40 256 Rata-Rata Pengeluaran Rumah Tangga Perbulan Untuk Cicilan, Tabungan dan Asuransi Cicilan Kredit %N Tabungan %N Asuransi %N 428.128,97 156.800,00 350.611,11 721.601,19 287.191,49 366.687,50 263.125,00 188.000,00 353.701,31 34,71% 25,00% 36,00% 45,16% 34,81% 41,03% 42,86% 17,50% 34,77% 250.625,00 32.666,67 372.750,00 186.000,00 176.190,48 150.000,00 194.166,67 156.666,67 208.378,38 13,22% 7,50% 16,00% 16,13% 15,56% 15,38% 21,43% 7,50% 14,45% 217.000,00 4,13%

Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Grand Total

200.000,00 221.250,00 136.500,00

2,00% 12,90% 4,44%

245.000,00 82.250,00 173.090,91

3,57% 10,00% 4,30%

Mekanisme pembayaran kredit dan tabungan biasanya menggunakan lembaga perbankan. Jumlah yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk cicilan sebesar Rp 353.701,33/bulan, sedangkan untuk tabungan rata-rata sebesar Rp 208.378,38/bulan, dan untuk asuransi sebesar Rp 173.090,91/bulan.

40

BAB 3 KONDISI IKLIM HISTORIS DI BANDAR LAMPUNG

3.1.

Kondisi Iklim dan Cuaca Ekstrim

3.1.1. Pengaruh ENSO dan IOD terhadap variabilitas curah hujan di Bandar Lampung Tabel 3-1. Koefisien korelasi antara curah hujan musiman di Bandar Lampung dengan DMI dan dengan anomali SST Nino 3.4

Karena kejadian iklim ekstrim di Indonesia sangat terkait dengan fenomena iklim berskala besar seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) (misalnya Boer & Faqih 2004; Faqih 2004; Haylock & McBride 2001; Hendon 2003 ; Kirono et al. 1999; Saji et al. 1999), studi ini menganalisis dampaknya terhadap variabilitas curah hujan di Bandar Lampung. Hubungan dari kedua fenomena tersebut dengan curah hujan musiman diperlihatkan pada Tabel 31. Tabel tersebut menunjukkan bahwa korelasi indeks ENSO (anomali suhu permukaan laut (SPL) Nino-3.4) dan indeks IOD (Dipole Mode Index, DMI) masingmasing dengan curah hujan nampak signifikan selama musim kemarau (JJA) dan musim transisi (SON). Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya musim kering yang berkepanjangan dan penundaan awal musim hujan khususnya selama terjadinya episode ENSO hangat (El Nino). Dampak ini akan semakin diperkuat jika disertai dengan kejadian IOD positif. Studi ini menunjukkan bahwa curah hujan di kedua musim (JJA dan SON) lebih dipengaruhi oleh keragaman IOD dibandingkan ENSO. Ini ditunjukkan dari nilai koefisien korelasi yang lebih besar antara curah hujan dengan DMI dibandingkan dengan indeks Nino-3.4. Pengaruh IOD yang lebih kuat terhadap keragaman curah hujan di Lampung dikarenakan letak geografisnya yang berada di Pulau Sumatra. Beberapa studi telah menunjukkan relatif lebih lemahnya pengaruh ENSO terhadap curah hujan di Sumatera. Penyebabnya ialah dominasi pengaruh lokal akibat kondisi pegunungan di sepanjang sisi barat Sumatra, dan juga adanya sirkulasi aliran udara lintas khatulistiwa yang mempengaruhi keragaman curah hujan, yang berbeda dari sirkulasi yang terkait dengan ENSO (Chang et al . 2004). Selain itu, beberapa studi menemukan adanya pengaruh kuat IOD terhadap keragaman curah hujan di barat Indonesia termasuk Sumatera (misal: Saji et al. 1999). Walaupun korelasi antara curah hujan dan indeks ENSO lebih rendah dari IOD, untuk kondisi tertentu dampak ENSO akan cukup signifikan di Lampung. Sebagai contoh dapat dilihat pada tahun 1996, di mana peristiwa La Nina menyebabkan peningkatan curah hujan yang sangat signifikan, sehingga meningkatkan peluang terjadinya bencana banjir. Di sisi lain, El Nino yang terjadi pada periode tahun 1982-83, 91-92 dan 97-98 berkontribusi terhadap penurunan curah hujan yang menyebabkan tingginya peluang bencana kekeringan.
41

3. 42 . ini tidak cukup untuk menggambarkan kondisi secara keseluruhan wilayah Bandar Lampung. Tentu saja. Plot time series curah musiman di Bandar Lampung. Berdasarkan catatan data harian kecepatan angin di stasiun periode 1 Januari 1994 sampai 31 Desember 1999. Angin ekstrim Selain dampak keragaman iklim yang menyebabkan kejadian iklim ekstrim. kondisi cuaca ekstrim juga dapat menyebabkan masalah di daerah yang terkena dampak.2000 Sesaonal Rainfall (mm) Lampung 1600 1200 800 400 0 Mar-01 Mar-07 Mar-13 Mar-19 Mar-25 Mar-31 Mar-37 Mar-43 Mar-49 Mar-55 Mar-61 Mar-67 Mar-73 Mar-79 Mar-85 Mar-91 Mar-97 Seasonal Time Gambar 3-1. yaitu di Teluk Betung. kami tidak menemukan adanya kejadian angin ekstrim yang melebihi ambang batas 60 km/jam. Gambar 3-2.31 Desember 1999). karena kejadian angin yang tercatat di suatu stasiun cenderung bersifat lokal dan mungkin berbeda secara sangat signifikan dengan stasiun pengamatan yang lain. Lampung (periode 1 Januari 1994 .1.2. Karena keterbatasan data. kami hanya dapat menampilkan hasil pengamatan cuaca harian di satu stasiun. Kecepatan angin harian di stasiun pengamatan Teluk Betung. Pada bagian ini kami mencoba mengidentifikasi kondisi cuaca ekstrim yang disebabkan oleh kecepatan angin ekstrim di Bandar Lampung.

terutama dalam tataran lokal.51°BT dan 7.1. Selain menggunaan data hasil pengamatan. digunakan pula data curah hujan global CRU TS2. Penggunaan dua jenis data ini dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa pemilihan rentang data yang berbeda akan mempengaruhi hasil tren dan hasil uji statistik yang kemungkinan besar juga akan berbeda.3.5x0. nilai curah hujan Bandar Lampung diekstrak dari data tersebut pada kisaran wilayah 110. Data CRU TS2.0 memiliki resolusi grid 0.25°BT-110.2.2.95°LS (Gambar 3-4). Pada bagian ini kami mempelajari tren spasial curah hujan di Bandar Lampung sebagaimana ditunjukkan pada Gambar III-3. Pola spasial tren curah hujan musiman di Bandar Lampung. 3.12°LS-6. dengan menggunakan data yang relatif jauh lebih panjang akan membantu untuk melihat sejauh mana konsistensi tren yang dihasilkan antar data. Untuk analisa data curah hujan di Bandar Lampung. Pola tren spasial curah hujan musiman berdasarkan data hasil pengamatan diperlihatkan pada Gambar 3-3.5 derajat yang meliputi wilayah daratan global selama periode 1901-2002. tren tersebut bervariasi antar wilayah. Gambar 3-3. Oleh karena itu. Analisis tren perubahan iklim di kota Bandar Lampung Tren curah hujan Hasil studi menunjukkan bahwa secara global curah hujan di wilayah tropis mengalami tren penurunan khususnya pasca tahun 1970-an (IPCC 2007).0 (Mithcell dan Jones 2005) untuk mempelajari tren dengan rentang waktu yang lebih panjang. Meskipun demikian. Gambar tersebut menunjukkan bahwa curah hujan 43 . apalagi jika ingin dikaitkan dengan dampak perubahan iklim.

jika mengacu pada Gambar III-5. Hasil ini mengindikasikan bahwa ada kecenderungan terjadinya peningkatan curah hujan dari waktu ke waktu selama musim penghujan (DJF) yang berlanjut di periode transisi MAM. lebih dapat diandalkan untuk menganalisa dampak dari perubahan iklim jangka panjang. terdapat kecenderungan perlahan kondisi yang semakin kering yang di musim kemarau yang sedikit mempengaruhi juga penurunan curah hujan di musim berikutnya (SON). Mantua & Hare 2002. tren curah hujan selama JJA dan SON menunjukkan tren menurun yang relatif lambat selama abad 20. 1999) atau Pacific inter-Decadal Oscillation (PDO. 1997). Namun harus diperhatikan bahwa. Sebaliknya. Kemungkinan besar komponen keragaman curah hujan frekuensi rendah tersebut disebabkan oleh pengendali iklim antar-dekadal yang dikenal dengan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO. Akan tetapi. Keragaman curah hujan frekuensi rendah yang berperan dalam menentukan tren menurun pada data pengamatan tersebut setelah periode tahun 1970-an dapat dilihat dari plot data pada Gambar III-6. Folland et al. Tren penurunan yang relatif lebih tajam ditunjukkan pada musim MAM dan JJA. tren CH yang menurun selama periode yang relatif singkat ini kemungkinan besar bukan disebabkan sebagai akibat dari perubahan iklim. 44 . Studi ini menunjukkan bahwa tren yang diperoleh dengan menggunakan data CRU TS2.0 yang meiliki rentang data relative lebih panjang. Hal ini menunjukkan telah terjadinya banyak hari hujan namun dengan intensitas yang relatif semakin menurun. Tren penurunan pada akhir abad ke-20 (pasca 1970-an) yang cukup signifikan terjadi pada musim kering (MAM dan JJA) tersebut menandakan terjadinya kenaikan peluang kekeringan di Bandar Lampung pada masa tersebut.musiman di kota ini mengalami kecenderungan menurun di semua musim. Mantua et al. Pada Gambar 3-4. Sedangkan ketika terjadi musim kemarau. terindikasi bahwa penurunan curah hujan yang terjadi pada SON tidak didukung oleh penurunan frekuensi hari hujan pada musim yang sama. terlihat adanya peningkatan tren curah hujan yang cukup tajam selama puncak musim hujan (DJF) dan tren peningkatan yang relative lebih lambat selama periode transisi ke musim kemarau (MAM). sementara di musim lainnya (SON dan DJF) cenderung menurun lebih lambat. akan tetapi lebih disebabkan adanya pengaruh osilasi keragaman iklim frekuensi rendah terutama yang terjadi di wilayah Samudera Pasifik. termasuk di Bandar Lampung. Fenomena ini jugaberhubungan dengan meningkatkan frekuensi kejadian ENSO yang mengakibatkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.

34E.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.0. Gambar 3-5. 45 .15E-105. Tren frekuensi hari hujan musiman di Bandar Lampung (105. 5.51S5.34E. 5.51S5. Tren curah hujan musiman di kota Bandar Lampung (105.0.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.Gambar 3-4.15E-105.

Tentunya hal ini akan sangat berpengaruh pada berbagai sektor.2. Komponen frekuensi rendah dari curah hujan musiman di Bandar Lampung didefinisikan oleh nilai 13-tahun rataan bergerak sederhana (simple moving average). 46 .2 Tren Suhu Data suhu rata-rata yang diperoleh dari data CRU TS2. Tren tersebut juga diikuti oleh peningkatan suhu maksimum harian (Gambar 3-8). Namun demikian. kesehatan maupun sektor lainnya. pada Gambar 3-9 terlihat adanya penurunan yang signifikan pada data kisaran suhu harian. baik itu terkait dengan sektor pertanian. yang berarti bahwa telah terjadi peningkatan suhu minimum dengan tren menaik yang lebih besar dibandingkan dengan ten suhu maksimu harian.Gambar 3-6. hal ini juga menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan suhu harian yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. Hal ini mengindikasikan terjadinya penurunan nilai selisih antara suhu maksimum dan suhu minimum harian. 3. Selain itu. khususnya di kota Bandar Lampung.0 untuk Bandar Lampung memperlihatkan tren menaik yang signifikan di setiap musim (Gambar 37).

5.0. Gambar 3-8. 5. Trend musiman suhu maksimum harian di Bandar Lampung (105.34E. 47 .15E-105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.51S-5.0.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.Gambar 3-7.15E-105.34E. Trend musiman suhu rata-rata di Bandar Lampung (105.51S-5.

Gambar 3-9. t. t . b) adalah data observasi stasiun-i yang terdekat dengan empat grid dari data RegCM3 pada tahun-t dan bulan-b. Karena adanya kesalahan sistematis yang dihasilkan oleh model tersebut.51S-5. t . ( x) miub_echo_g.0. dan 2081-2085. sedangkan mRegCM3(i. dengan variabel iklim yang tersedia yaitu curah hujan dan suhu dengan periode 2021 -2030. tahun-t dan bulan-b (rRegCM3 (i. b) m Re gCM 3(i. Data RegCM3 yang di-rescaling untuk grid-i. (ii) cccma_cgcm3_1. Proyeksi Perubahan Iklim Proyeksi iklim masa depan ditentukan berdasarkan data historis hasil pemodelan menggunakan RegCM3 dan juga data proyeksi luaran 14 GCMs. (viii) ipsl_cm4. t. t . t. Masutomi. (v) gfdl_cm2_1. b) = CRU (i. yang terdiri dari: (i) bccr_bcm2_0. b)) dinyatakan berdasarkan persamaan berikut : r Re gCM 3(i. 3. Model RegCM3 digunakan untuk menghasilkan data historis curah hujan beresolusi tinggi untuk periode tahun 1958-2001. maka diperlukan koreksi data berdasarkan faktor rescaling sehingga sesuai dengan data obserasi (data CRU). 5. DTR) di Bandar Lampung (105. Data luaran GCM tersebut diperoleh dari NIES (National Institute for Environmental Studies. b) * R(i. dan (xiv) ukmo_hadgem1. t . (iii) cnrm_cm3. b) CRU(i. (xii) mri_cgcm2_3_2a. b) Dimana R(i. (vii) inmcm3_0. b) merupakan 48 .15E-105. (ix) miroc3_2_medres. (vi) giss_model_e_r.34E.3. (xiii) ukmo_hadcm3. (iv) gfdl_cm2_0. b) merupakan faktor skala yang dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini : R(i . t. t . b) = Re gCM 3(i. 2051-2060. 2009) dan memiliki resolusi horizontal sebesar 1x1 derajat.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. (xi) mpi_echam5. Tren musiman kisaran suhu harian (daily temperature range. t .

5 kali kondisi saat ini. Data kondisi iklim saat ini (baseline) di grid-i untuk bulan-n (rRegCM3 (i. i. sementara SRESA2 sebagai skenario acuan. tidak akan berubah secara signifikan (Tabel 3. b) *  1 +  B ( s . dalam 100 tahun ke depan.b) merupakan curah hujan proyeksi dengan skenario emisi-s. Kedua skenario ini dipilih karena keduanya mencerminkan pemahaman dan pengetahuan tentang ketidakpastian yang mendasari dalam emisi. i. Fertilitas pola di daerah konvergen sangat lambat. t. dengan pengurangan intensitas material. b) = mean{r Re gCM 3(t . dan pengenalan teknologi bersih dan sumber daya yang efisien (IPCC. b) adalah iklim di masa mendatang dari luaran GCM di bawah skenario-s. perubahan yang cepat dalam struktur ekonomi ke arah layanan dan informasi ekonomi. b) = r Re gCM 3(i. F(s. Skenario emisi yang dipilih untuk studi ini adalah SRESA2 dan SRESB1. b)) dihitung dari nilai rataan rRegCM3(I.3). yang menyebabkan terus meningkatnya populasi global. model-m. Pembangunan ekonomi terutama berorientasi regional dan pertumbuhan ekonomi per kapita dan perubahan teknologi lebih terfragmentasi dan lambat. Jadi SRESB1 didefinisikan sebagai skenario kebijakan. Karena terdapat 14 GCMS dan setiap GCM memiliki dua set iklim di masa mendatang (t1 = 2021-2030 dan t2 = 2051-2060). SRESA2 akan menyebabkan emisi gas rumah kaca lebih tinggi di masa depan sementara SRESB1 mengarah ke emisi GHG lebih rendah di masa depan. m. b)   pF ( s. i. b )   pF(s. b) pada periode 1958-2001: 2001 r Re gCM 3(i. m. model-m. i. Dengan karakteristik ini. model-m. Konsentrasi SO2. i. sementara di bawah skenario kebijakan emisi hanya 1. Oleh karena itu. b). grid-i. Tema yang mendasari adalah kemandirian dan mempertahankan identitas lokal. Demikian pula untuk gas lainnya (CH4 dan N2O. m. m. tahun-t dan bulan-b. konsentrasi CO2 di atmosfer pada skenario emisi referensi akan lebih dari dua kali lipat. t . b)}t =1958 Sehingga kondisi iklim di masa depan berdasarkan luaran GCM yang berbeda dapat diduga dengan menggunakan rumus berikut:  F ( s. m. maka secara keseluruhan terdapat 140 data curah hujan untuk setiap periode waktu. m. t . yang merupakan alat hitung efek gas rumah kaca. i. 49 . i. SRESA2 menggambarkan sebuah dunia yang sangat heterogen.nilai rataan curah hujan dari empat grid RegCM3 tersebut. tahun-t dan bulan-b. t. b) − B( s. Tabel 3. dan bulan-b dinyatakan dengan B(s. m. i . ditentukan peluang curah hujan untuk masa mendatang berdasarkan pola distribusi untuk masing-masing periode tersebut. grid i. Kondisi iklim saat ini (baseline) dari luaran GCM pada skenario-s. grid-i.2). Berdasarkan dua skenario dijelaskan di atas. 2000). SRESB1 menggambarkan sebuah dunia yang konvergen dengan populasi global yang sama pada puncak pertengahan abad dan menurun setelah itu. t.

0 2 0-4.0 4. Tabel 3.0-41 21 9.7 0.3: Suhu (oC) dan Sea Level Rise (cm). Curah hujan ekstrim didefinisikan sebagai curah hujan dengan intensitas 50 .2 2025 0.10-0. Konsentrasi Gas (ppmv) 2000 370 2025 440 2050 535 2100 825 CO2: SRESA2: nilai dugaan terbaik : kisaran SRESB1:nilai dugaan terbaik :kisaran CH4: SRESA2: nilai dugaan terbaik :kisaran SRESB1: nilai dugaan terbaik :kisaran N2O: SRESA2: nilai dugaan terbaik SRESB1: nilai dugaan terbaik 370 370 370 1600 430-450 420 410-430 2250 515-555 460 450-470 2850 760-890 550 510-590 4300 1600 1600 1600 316 2200-2300 2050 2000-2100 344 2700-3000 2250 2150-2350 375 3800-4800 2200 2100-2300 452 316 340 360 395 Pada kondisi peningkatan gas rumah kaca.0-20 10 4.6 cm per tahun (Tabel 2.6 21 2.2 2100 2.2.0-42 25-112 48 18-85 Dalam studi ini dilakukan pendugaan peluang risiko iklim kota Bandar Lampung terkait dengan curah hujan ekstrim pada kondisi iklim saat ini dan masa depan.7 0.2 0.25 2 0.1 1.7-1.5-0.15-0.0-22 9. Catatan sejarah menunjukkan bahwa selama 100 tahun terakhir permukaan laut global telah meningkat antara 0.6 1.1 0.9 Temperature: SRESA2: Nilai dugaan terbaik : Kisaran SRESB1: Nilai dugaan terbaik : Kisaran Sea Level: SRESA2: Nilai dugaan terbaik : Kisaran SRESB1: Nilai dugaan terbaik : Kisaran 0. mengacu pada tahun 1990 2000 0..5 2050 1.25 cm per tahun (Warrick et al. diperkirakan bahwa suhu global akan meningkat secara konsisten sekitar 0.2-2.8-1.15-0.3-0.0-4.9 10 0.7 60 0-4. sedangkan permukaan laut meningkat sekitar 0.4).25 0.9 1.Tabel 3. 1996).027 0C per tahun.

kondisi intensitas hujan yang kurang dari ambang batas kritis akan sangat mungkin menyebabkan kekeringan. Metodologi untuk menentukan batas kritis dijelaskan dalam Bab 6. curah hujan ekstrim dibandingkan dengan data bahaya iklim (banjir dan kekeringan). Sedangkan pada musim kemarau. khususnya di daerah pesisir pantai di Bandar Lampung. Dalam penentuannya. Analisis lebih lanjut berdasarkan metodologi yang lebih disempurnakan mungkin diperlukan untuk menduga kondisi perubahan iklim masa depan di wilayah kota Bandar Lampung.melebihi ambang batas kritis. Untuk musim penghujan (DJF). sedikit penurunan peluang resiko kekeringan di masa mendatang juga nampak terjadi di wilayah pesisir. peluang terjadinya kekeringan yang ditandai dengan nilai curah hujan kurang dari Q3 menunjukkan adanya penurunan terutama di daerah bagian dalam dari Bandar Lampung yang relatif lebih jauh dari wilayah pesisir. bahaya banjir akan sangat mungkin terjadi jika intensitas curah hujannya melebihi ambang batas kritis. Hal ini bisa didukung dengan pemanfaatan teknik-teknik downscaling (statistik maupun dinamik) dengan predictive skill yang jauh lebih baik khusus untuk wilayah ini. 51 . Gambar 3. Sedangkan untuk musim kering (JJA). Namun demikian.10 menunjukkan bahwa di masa mendatang akan terjadi peningkatan peluang terjadinya curah hujan terlampaui melebihi Q3 pada musim basah (DJF).

30 0.52 0.46 0.00 -5.3 105.36 1.60 -5.38 0.3 105.10 -5.52 -5.5 0.42 0.5 0.44 0.00 -5.36 -5.80 -5.4 0.42 0.10 -5.32 -5.90 -5.35 Base Line B1 2025 B1 2050 Figure 3-10 Peluang Curah Hujan Lebih dari Q3 pada Musim Hujan (DJF) dan kurang dari Q3 pada Musim Kemarau (JJA) dengan Dua Skenario Emisi 52 .15 105.32 A2 2050 JJA-Q3 1.00 -5.52 0.48 0.52 0.60 -5.25 105.10 -5.36 0.5 0.5 0.44 0.20 -5.32 A2 2025 -5.44 0.48 0.15 105.90 -5.40 -5.38 -5.60 -5.52 0.52 0.44 0.00 105.00 0.70 0.15 105.36 0.30 -5.25 105.34 -5.52 0.34 -5.50 -5.20 -5.80 -5.5 0.00 105.70 -5.00 -5.20 -5.42 0.15 105.4 0.42 0.25 105.3 105.46 0.30 -5.34 DJF-Q3 1.35 Base Line -5.60 -5.2 105.46 0.44 0.60 -5.25 105.25 105.70 -5.50 -5.34 DJF-Q3 -5.3 105.15 105.60 -5.60 -5.25 105.70 -5.35 Base Line -5.20 -5.5 0.40 -5.90 -5.00 105.80 -5.52 0.35 0.48 0.3 105.32 DJF-Q3 -5.38 0.2 105.90 -5.34 1.70 -5.42 0.36 0.35 0.4 0.36 1.32 -5.00 -5.00 -5.15 Base Line -5.4 0.20 -5.50 -5.00 105.40 -5.5 -5.30 -5.50 0.36 0.4 0.60 -5.3 105.-5.38 0.3 105.90 -5.44 0.70 -5.35 0.50 -5.38 0.48 -5.80 -5.36 0.34 JJA-Q3 1.46 0.32 A2 2025 -5.25 105.46 0.90 -5.2 105.42 0.3 105.46 0.10 0.90 0.38 0.00 -5.34 DJF-Q3 0.00 -5.30 -5.32 B1 2025 -5.48 0.70 -5.80 0.80 -5.3 105.32 1.2 105.50 0.15 105.70 -5.00 -5.4 0.10 -5.00 105.52 0.70 -5.2 105.2 105.42 0.46 0.30 -5.00 -5.20 -5.34 JJA-Q3 0.2 105.48 0.38 0.42 -5.25 105.34 JJA-Q3 0.52 0.35 105.70 -5.90 -5.50 -5.2 105.46 0.00 0.5 0.80 -5.15 105.38 0.10 -5.00 105.2 105.34 -5.90 0.10 -5.20 -5.5 0.30 -5.50 -5.80 -5.00 105.44 -5.40 -5.15 0.40 -5.38 DJF-Q3 0.20 -5.44 0.48 0.15 105.00 105.35 0.36 -5.4 0.44 0.40 -5.35 0.60 -5.25 105.42 0.80 -5.60 0.20 -5.40 -5.38 0.32 A2 2050 -5.4 0.20 -5.50 -5.34 1.52 0.50 -5.52 0.30 0.46 0.40 -5.44 0.2 105.10 -5.10 -5.90 -5.15 105.25 105.32 1.10 -5.5 0.46 0.44 0.15 105.40 -5.42 0.40 -5.42 0.00 105.48 0.36 0.20 -5.48 0.70 -5.36 0.48 0.00 105.44 -5.25 105.38 0.00 105.40 -5.35 105.60 -5.2 105.30 -5.30 -5.20 0.4 0.80 -5.4 0.50 -5.48 0.4 -5.50 -5.25 105.90 0.5 0.60 -5.3 105.36 0.32 -5.2 105.80 -5.38 DJF-Q3 1.42 0.5 0.35 0.46 0.90 0.48 -5.70 -5.35 0.80 -5.10 -5.4 0.46 0.30 -5.34 JJA-Q3 1.3 105.10 -5.32 B1 2050 JJA-Q3 1.40 -5.3 105.30 -5.00 105.

2 mm pada bulan September s/d 277. letak geografis. angina topan. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan tersebut. dan banjir lokal yang terkait dengan berbagai hal antara karena topografi rendah. epidemik. tanah. 2009). Tabulasi lokasi kejadian/rawan bencana yang telah dilaporkan secara rinci diperlihatkan pada Tabel 4-1. curah hujan yang tinggi pada musim hujan dapat menimbulkan bencana banjir. dengan periodisitas antara 3-6 tahun. kondisi bentang alam. Jenis kerawanan yang telah diidentifikasi oleh Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung (2009) adalah rawan banjir. gerkan tanah. 2009) telah dikaji tentang potensi bencana yang ada di Kota Bandar Lampung. rawan gelombang pasang. yang dapat dikategorikan sebagai dampak terkait kejadian iklim ekstrim adalah banjir.8 mm pada bulan Januari. tsunami.1. erosi dan sedimentasi. kerusuhan sosial). kondisi hidrologi.57oC. Suhu udara maksimum rata – rata 30. telah diidentifikasi 42 lokasi banjir di Kota Bandar Lampung. penyempitan dan pendangkalan saluran serta kapasitas drainase saluran yang rendah. banjir pantai. Kawasan rawan bencana di Kota Bandar Lampung dipengaruhi oleh struktur bebatuan. 2009). dan lainnya (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung. gempa bumi. serta bencana lainnya seperti abrasi. dengan jumlah curah hujan 2. Curah hujan yang tinggi ( > 100 mm/ bulan ) terjadi selama tujuh bulan mulai bulan November s/ d bulan Mei dan musim kemarau (CH < 100 mm/ bulan ) terjadi selama lima bulan mulai bulan Juni s/d bulan Oktober (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung. Banjir tersebut disebabkan oleh banjir akibat sungai. sebagai misal. Kota Bandar Lampung sebagai salah satu kota yang berada diantara pesisir Teluk Lampung dan Kaki Gunung Betung merupakan salah satu kawasan yang rawan terjadi bencana di Provinsi Lampung.BAB 4 DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM 4. dan angin topan.34 oC.257 – 2. yang dapat dikategorikan sebagai kejadian iklim ekstrem.Dampak Biofisik Kota Bandar Lampung termasuk beriklim tropis basah yang mendapat pengaruh dari angin musim (Monsoon Asia) . tanah longsor. keberagamanan etnis. kebakaran hutan dan lahan. rawan gempa bumi. letusan gunung berapi. Secara musiman. 2008” (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung.3 %. Variabilas unsur iklim dapat terjadi terkait dengan fenomena ENSO/El Nino/La Nina. banjir bandang. arus balik pasang pada saat debit aliran besar. dan kekeringan) serta (2) bencana yang diakibatkan ulah manusia/man-made disaster (seperti kegagalan teknologi. Curah hujan bervariasi dari 67.95 mm/ hari. dan periode kering yang panjang pada musim kemarau dapat menimbulkan bencana kekeringan Dalam Laporan “Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung T.454 mm/tahun dan hari hujan 76-166 hari/tahun. Bencana tersebut dibedakan menjadi kelompok utama yaitu: (1) bencana alam/natural disaster (seperti banjir. 53 . rawan tsunami. kecepatan angin rata – rata adalah 2. suhu minimum 25. wabah penyakit dan KLB. kekeringan.34 km/ jam dan rata evaporasi 3. kepadatan bangunan dan permukiman.A. erosi dan longsor. Dari berbagai bencana tersebut.3 % dan minimum 72. dan rawan kekeringan. kelembaban relat if maksimum rata – rata 89.

dan sisanya dari air hujan (1% warga). pemukiman. Kedamaian Tanjungkarang Barat Segalamider. Bakung. Kupang Raya. Baru Panjang Serengsem Telukbetung Selatan Telukbetung Barat Sukamaju Tanjung Senang Way Kandis Telukbetung Selatan Kedaton Panjang Pidada Sumber: Dokumen Rencana Strategis dan Rencana Aksi Daerah Mitigasi Bencana_ Kota Bandar Lampung tahun 2009-2013 2 Abrasi 3 Angin Kencang Tanah Longsor 4 Menurut hasil survai terhadap dampak pada sektor. Jumlah penyakit dirasakan meningkat pada waktu bencana. Way Gubak. Olok Gading Panjang Karang Maritim. N. Keteguhan. Panjang Utara. Penengahan. air permukaan/air sungai (8% warga). Susunanbaru. Gulak Galik. Sumur Putri. Pasir Gintung. Sukaraja Telukbetung Barat Kuripan. Kesulitan air minum meningkat baik pada terjadi musim kemarau panjang (43% warga) maupun banjir (19% warga). Sukadanaham Kedaton Perum Way Halim Sukarame Sukarame Sukabumi T. Gunung Mas. Beringin Raya Tanjungkarang Pusat Kaliawi. Perwata. kemudian air tanah atau sumur (38% warga). Batu Putu Telukbetung Selatan Bumiwaras. Durianpayung Tanjungkarang Timur Campang Raya. Way Kandis. Pidada. Pesawahan. Tanjung Senang. Sumber air minum umumnya berasal dari PDAM (53% warga). Panjang Selatan. Sementara untuk kejadian bencana kekeringan. Kangkung. khususnya ada waktu terjadi banjir (34% warga) dan kemarau (22% warga). Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung No Bencana 1 Banjir Kecamatan Rajabasa Tanjung Senang Kelurahan Rajabasa Raya. kesehatan dan pertanian. dan pekerjaan umum (rusaknya sarana drainase dan infrastuktur lainnya). Sukajawa. Way Laga. Perumnas Way Kandis Telukbetung Utara Kupang Teba. dan kemudian diikuti oleh sektor air minum. sektor yang paling terkena dampak ialah sektor air minum. Palapa. Sukamaju. Pecoh Jaya. Kelapa Tiga. Gotong Royong. Rajabasa Labuhan Dalam. Srengsem Kemiling Kemiling Permai. Kota Karang. 54 . kejadian bencana banjir memberikan dampak yang paling besar pada sektor kesehatan. perikanan. Tanjung Karang.Tabel 4-1.

dapat menyebabkan terpeleset dan terjatuh. Karena itu agar penumpukan sampah ini tidak menyebabkan bau yang tidak enak dan penyakit. biasanya celana dilipat dahulu agar tidak terkena air. namun masih tetap dapat dilalui.4. Dimana untuk keperluan minum warga biasanya memenuhinya dengan membeli air galon isi ulang. Banjir besar sudah tidak pernah terjadi lagi. Untuk keperluan mencuci dan mandi warga menggunakan air sumur bor. Selama ini. Sedangkan upaya untuk mengantisipasi terjadinya abrasi. sehingga menyebabkan pendangkalan sungai dan penyerapan kurang berjalan dengan baik. Wilayah Non Pesisir Bencana yang rawan terjadi di Pasir Gintung adalah banjir karena hujan. berdasarkan hasil in depth interview. Baik pada Kota Karang maupun Panjang Selatan. hal ini disebabkan karena salah satu saluran pembuangan sedang dilakukan perbaikan. tetapi kali ini karena jalan tergenang air. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi lokasi tersebut. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen. Baik pada kondisi normal maupun kondisi paska bencana. Pada kondisi pasang. tidak sampai memasuki rumah warga. Anak-anak sekolah biasanya tetap masuk. warga juga sangat mengharapkan pemerintah membuatkan pondasi jalan penghubung antar rumah warga. Sampah dan limbah pasar sering dibuang ke sungai. Hanya saja. pemenuhan air bersih tetap diperoleh dengan cara mengambil dari sumur bor dan membeli. dan baru menggunakannya ketika jalan sudah tidak becek lagi. Antara wilayah pesisir dan non pesisir akan merasakan dampak yang berbeda. Hanya saja pasang masih kerap terjadi. Dampak Umum dari Kejadian Iklim Ekstrim Dampak yang dirasakan akibat terjadinya bencana tentu tidaklah sama.2. Pemenuhan air bersih tidak mengalami hambatan. Selain itu. warga mengaku electricity tidak terganggu. Jalan di pemukiman warga hanya sedikit tergenang (becek) dan sulit terlihat. masing-masing warga membersihkan rumahnya dan lingkungan sekitarnya. Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan. Biasanya mereka menggunakan sepatu dari rumah. terungkap bahwa warga memerlukan bantuan bibit bakau. jika tidak berhati-hati ketika berjalan. Hanya saja terjadi sedikit perubahan kebiasaan. banjir dan pasang menyebabkan sampah menumpuk di sekitar pemukiman warga. sehingga warga mengaku tidak terlalu terganggu. Hal ini sudah biasa dihadapi oleh warga. Atau jika genangan air agak tinggi. potensi bencana terbesar adalah banjir karena pasang atau rob dan abrasi. namun hanya sampai di pondasi rumah saja. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. Hal ini disebabkan karena lokasinya yang berdekatan dengan sungai dan pasar. warga mengaku tidak terlalu terganggu oleh pasang. bahkan pada 55 . Dampak secara umum adalah sebagai berikut: Wilayah Pesisir Pada wilayah pesisir. Ketika terjadi pasang warga tetap dapat melaksanakan aktifitasnya. Banjir terparah terjadi pada tahun 2008. anak-anak membawa (membungkus) sepatu terlebih dahulu. listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. Banjir saat itu mencapai lebih dari satu meter. masih tetap sama dengan kondisi normal.

Berdasarkan pengetahuan masyarakat. Jalan di pemukiman warga hanya terhalang oleh pohon dan ranting yang berjatuhan. hampir mencapai atap rumah warga. Paska terjadi banjir. dengan pembagian tugas untuk pria pekerjaan yang lebih berat dibanding wanita. Baik bencana kekeringan maupun angin kencang. Langkah lainnya adalah dengan bersiap-siap memiliki penampungan air atau mengambil air di masjid. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan kondisi alam dalam hal ini ketersediaan air di Batu Putuk. setelah air surut. Jika dibandingkan dengan kondisi dahulu. namun masih tetap dapat dilalui. Hampir setiap tahun angin kencang terjadi di wilayah ini. Pada kondisi ini. tanda-tanda terjadinya bencana ini adalah terdengar suara gemuruh. Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan. Banjir ini hanya berlangsung satu hari. hasil kebun seperti coklat dan durian mengalami penurunan. Namun. warga mengaku electricity tidak terganggu. 56 . Jika telah mendengar suara itu. jalan dapat dilalui seperti biasa. Antara pria dan wanita saling bahu membahu membersihkan rumahnya. Berdasarkan hasil FGD dengan warga Kelurahan Batu Putuk. diperoleh informasi dari warga bahwa langkah mengatasi kekurangan air tersebut adalah dengan mencari atau membuka mata air baru. listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. sehingga tidak terlalu mengganggu aktifitas warga. Pemenuhan air bersih dibantu oleh PDAM secara gratis. Pada saat banjir. keduanya tidak terlalu mengganggu aktifitas warga Batu Putuk. Biasanya setelah terjadinya angin kencang warga secara swadaya membersihkan lingkungannya agar aktifitas warga segera dapat berjalan normal kembali. Bencana kekeringan di wilayah ini menurut persepsi warga antara lain disebabkan oleh keberadaan beberapa perusahaan air minum. Kegiatan pengeborannya berdampak pada berkurangnya debit air di wilayah ini. salah satu keuntungannya adalah tersedia banyak kayu bakar yang berasal dari ranting-ranting yang berjatuhan. Sementara itu kondisi jalan hanya terganggu saat air tergenang. Pada Kelurahan Batu Putuk. Sementara itu. sampah biasanya berserakan. namun tetap masih mencukupi kebutuhan warga meskipun harus melakukan penghematan. Selain itu dampak terhadap tanaman pertanian adalah rontoknya bakal buah sebelum waktu pemanenan.wilayah tertentu yang letaknya rendah. Jika terjadi angin kencang biasanya banyak pohon yang tumbang dan genting berjatuhan. Jika dibiarkan berkepanjangan. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. warga bersiap-siap keluar rumah untuk mencari lokasi yang lapang agar terhindar dari benda-benda yang berjatuhan akibat angin kencang ini. biasanya warga secara swadaya bergotong royong untuk membersihkannya. Anak-anak masih tetap dapat sekolah seperti biasa. Oleh karena itu. Akibat dari bencana kekeringan adalah ketersediaan air yang mulai berkurang. kekeringan dapat memicu munculnya penyakit. Kekeringan ini juga berdampak pada hasil pertanian. bencana yang biasa terjadi adalah kekeringan dan angin kencang. namun jika dilihat dari mutu air masih tetap sama. bencana angin kencang biasanya terjadi pada bulan 12. listrik sengaja dipadamkan untuk mencegah tersengat aliran listrik.

4. Gambar 4-1. Secara sederhana hubungan kerja patron-klien menggambarkan hubungan dua pihak antara individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) yang memberikan keuntungan berdasarkan sumber-sumber yang dimilikinya bagi seseorang yang statusnya lebih rendah (klien). sehingga dengan berbagai status sosial yang ada. hubungan kerja. sedangkan bantuan dari masyarakat lainnya sebanyak 22. tampak bantuan yang terima dari saudara relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bantuan dari masyarakat. Lebih besarnya bantuan masyarakat di wilayah pesisir ini didukung oleh hasil FGD di Kelurahan Kota karang dan Panjang Selatan. mereka bisa memberikan bantuan kepada korban bencana. Untuk mendapatkan gambaran mengenai besarnya dampak sosial akibat terjadinya bencana di Kota Bandar Lampung dilihat dari perilaku gotong royong atau kekerabatan warga dalam menanggung masalahmasalah yang terjadi pada masyarakat. Hal ini tercermin dari pendapat warga mengenai bantuan yang diberikan saudara dan anggota masyarakat lainnya disaat terjadi bencana.96 persen. Dampak Sosial Terjadinya kejadian iklim ekstrim yang mengakibatkan bencana banjir atau bencana kekeringan secara tidak langsung memiliki potensi untuk mengubah tatanan nilai-nilai sosial masyarakat.19 persen (dari total warga wilayah pesisir). pola transaksi produksi serta nilai sosial lainnya. Masyarakat menyatakan bahwa ketika terjadi bencana upaya pertama yang akan dihubungi adalah tetangga (masyarakat). 2009 Jika membandingkan angka-angka bantuan dari saudara dan masyarakat. Saudara dan anggota masyarakat lainnya yang dimaksud disini adalah saudara dan anggota masyarakat yang tidak terkena bencana.Dampak Sosial Ekonomi dari Kejadian Iklim Ekstrim A. Berdasarkan hasil survey terlihat bahwa hubungan gotong royong dan kekerabatan pada masyarakat di kelurahan amatan masih berjalan dengan baik. Pola yang sama terlihat di wilayah non pesisir. Bantuan dari Saudara dan Masyarakat Lainnya di saat Bencana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Dari data terlihat bantuan dari masyarakat lebih banyak di wilayah pesisir daripada wilayah non pesisir. Tetangga adalah pihak yang memiliki 57 .3. Misalnya di daerah pesisir bantuan yang diterima dari saudara sebesar 25.

rumah roboh atau musibah lainnya. warga Kelurahan Kota Karang. Pada Kelurahan Panjang Selatan. seperti gotong royong membersihkan wilayah mereka setelah terjadi banjir. 2 dan 3 hanya terdapat satu juragan atau kelompok” (M.lokasi tempat tinggal terdekat. di wilayah RT 1. Pada Kelurahan Kota Karang hubungan patronklien saat ini digambarkan sebagai berikut: “. Setelah itu melaporkan kepada RT setempat. Dengan adanya kelompok-kelompok paguyuban tersebut. maka dapat disimpulkan bahwa wilayah yang relatif memiliki kohesivitas sosial yang tinggi di saat bencana adalah Kelurahan Pasir Gintung. Yang kedua.. Dari hasil wawancara dengan ketua lingkungan setempat terungkap bahwa besarnya bantuan dari masyarakat antara lain disebabkan oleh banyaknya paguyuban yang ada pada wilayah ini. bahkan pada beberapa kelurahan amatan menjadi semakin kuat. Hampir semua nelayan kecil bergabung dalam kelompok-kelompok yang dibawahi oleh seorang juragan. tolong menolong menolong warga juga terjadi pada saat terjadi hajatan atau pesta.. Warga di ketiga wilayah ini menilai bantuan dari saudara dan masyarakat di saat bencana relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya. masyarakat juga saling membantu dalam bencana lokal seperti kematian. Menghilangnya para juragan tadi menyebabkan nelayan yang ada sekarang pada umumnya adalah nelayan individu.. sehingga diharapkan dapat memberikan pertolongan dalam waktu yang relatif lebih cepat. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kondisi ekonomi masyarakat yang relatif merata. sekitar tahun 80-an pekerjaan nelayan sangat menjanjikan. 63 th).. yaitu Kelurahan Pasir Gintung. Tapi kalau sekarang. Kehidupan nelayan kecil individu saat ini 58 . Berdasarkan gambaran diatas. mata pencaharian dari nelayan sudah tidak bisa diandalkan lagi. Mereka yang membiayai nelayan-nelayan untuk berangkat mencari ikan. terutama saat terjadi bencana. Panjang Selatan dan Kota Karang. Perilaku gotong royong dan kekerabatan tidak hanya muncul saat terjadi bencana banjir. Selain saat bencana.. ikan yang diperoleh dapat mencapai jumlah kuintalan. maka tingkat kegotong royongan dan kekerabatan masyarakat menjadi tinggi. Bencana yang sering terjadi di Kelurahan Pasir Gintung adalah banjir. Jumlah juragan sekarang sudah sedikit.hingga Rp 2000. upaya pertama yang dilakukan masyarakat jika terjadi bencana adalah bersama-sama dengan keluarga dan tetangga mendiskusikan solusi permasalahan yang ada. Dari informasi di atas terungkap fakta bahwa adanya bencana tidak menyebabkan perilaku gotong royong di masyarakat menjadi melemah. Di wilayah non pesisir terdapat satu kelurahan yang memiliki tingkat bantuan dari masyarakat relatif tinggi dibandingkan dua kelurahan lainnya. seperti pesta perkawinan. sehingga saat terkena bencana mereka merasakan penderitaan yang juga sama besar. Juragan itu memiliki banyak anak buah (nelayan). Pada waktu itu banyak warga yang menjadi juragan ikan. Hasil FGD menyatakan bahwa masyarakat di semua kelurahan memiliki atau mengadakan iuran bulanan untuk kematian sebesar Rp 1500.perbulan. terutama dari hasil bagan. keberadaan nilai-nilai sosial masyarakat juga dapat dilihat dari keberadaan hubungan kerja patron-klien yang dahulu menjadi bagian dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir. Zabir. Waktu dulu dalam sekali pergi melaut. Secara swadaya warga akan berusaha mengatasi masalah bersama.

menjadi sulit karena apabila akan pergi melaut biaya operasional harus ditanggung sendiri. dan angin kencang bisa berpotensi terhadap gagal panen dikarenakan nelayan tidak bisa melaut. 2009 No 1 Deskripsi Sistem tolong menolong/ kekerabatan Kondisi saat ini Masih ada:. karena si pemberi pinjaman menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman. Hubungan patron.Sudah mulai berkurang. perampasan. dan nelayan juga menyadari kondisi melaut saat ini tidak ada jaminan bahwa mereka akan pulang membawa hasil ikan yang cukup dan segera dapat mengembalikan pinjaman.6% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan 3. dimana 1. Tindakan kriminalitas tersebut seperti pencopetan. bencana iklim berpengaruh terhadap terjadinya kriminalitas di wilayah kajian. perampokan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa adanya perubahan iklim yang mengakibatkan timbulnya bencana memiliki potensi untuk merubah nilai-nilai sosial serta perilaku yang ada di dalam masyarakat.hubungan-hubungan sosial baik yang berdasarkan hubungan ketetanggaan maupun hubungan kekerabatan . Selanjutnya warga yang bermata pencaharian 59 B. dengan demikian perubahan iklim juga memiliki andil dalam berkurangnya hubungan patron-klien yang ada dalam masyarakat. maka terjadinya bencana iklim seperti banjir rob. Biasanya mereka pergi sore dan kembali keesokan harinya dengan membawa hasil ikan yang banyak. yang selanjutnya akan berdampak pada kehidupan sosial ekonomi warga. sesama warga dapat dimintai tenaga bantuan.Gambaran Dampak Bencana terhadap Nilai Sosial Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Pengaruh bencana terhadap perilaku nilai sosial lainnya secara tidak langsung juga dapat dilihat dari meningkatnya kejadian kriminalitas/ kejahatan di suatu wilayah.5% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas juga bertambah saat kejadian kekeringan di wilayah mereka. Sedangkan saat ini. Tabel 4-2. Dahulu nelayan kecil bila akan pergi melaut dapat dengan mudah meminjam modal ke warung atau agen.dalam keadaan kesulitan. dimana kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan masyarakat menjadi lebih rentan. Bila dihubungkan antara fakta berkurangnya hasil ikan antara lain juga disebabkan oleh adanya perubahan iklim. sehingga bisa langsung mengembalikan modal pinjaman. nelayan kecil seringkali tidak berani meminjam. . pasang air laut. klien Tingkat kejahatan Jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan kejadian kekeringan di wilayah mereka 2 3 4 Dampak Ekonomi Kejadian Iklim Ekstrim Mengingat mata pencaharian utama warga di wilayah kajian bergerak di sektor perikanan yaitu buruh nelayan dan nelayan. Berdasarkan survei. bukan disewa Gotong royong Masih ada: aktivitas bekerja sama antara sejumlah besar warga kelurahan untuk menyelesaikan suatu kegiatan tertentu yang dianggap berguna bagi kepentingan umum. dan pencurian barang-barang berharga.

Nilai Kerugian Berdasarkan Pekerjaan Pokok Pada dasarnya bencana apapun akan mengakibatkan kerugian terhadap masyarakat. Dalam bahasan ini disampaikan dampak bencana dan kerugian yang dirasakan oleh warga terhadap pekerjaan utama. yaitu hanya7. kekeringan. 1. dan 2). dan angin kencang. 2009 60 . Hal ini dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat dari sektor perikanan yang mengalami gagal panen. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana dampak bencana terhadap ekonomi disajikan data-data berdasarkan: 1). Gambar 4-2. peningkatan jumlah kriminalitas dan urbanisasi.76 persen dari total warga di wilayah ini. memberikan ilustrasi dampak bencana banjir dan kekeringan terhadap pekerjaan utama warga. Lain halnya dengan wilayah pesisir. Walaupun demikian bencana banjir ternyata berdampak terhadap 16.sebagai pedagang juga terkena imbasnya. Dari hasil survey diperoleh informasi.44 persen yang menganggap banjir mempengaruhi pekerjaan utamanya. Dampak Banjir dan Kekeringan Terhadap Pekerjaan Utama pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. nilai kerugian berdasarkan pekerjaan pokok. baik materil maupum immateril. Nilai kerugian berdasrkan pekerjaan sampingan. 3). Gambar 4-4. Warga tersebut sebagian besar berasal dari Kelurahan Kota Karang dan Panjang Selatan dimana sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. bahwa secara total dampak yang terjadi akibat banjir terhadap pekerjaan utama relatif lebih besar daripada kekeringan.73 persen warga dari total warga di lokasi penelitian. Menurunnya pendapatan mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan warga yang berikutnya mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran. 4) dampak terhadap harga-harga beberapa komoditi. Bencana yang dibahas disini adalah banjir dan kekeringan.nilai kerugian berdasarkan sektor. Mereka mengalami gagal panen dan penurunan pendapatan. Dengan demikian masih banyak warga yang menganggap banjir tidak mempengaruhi pekerjaan utamanya. Bahkan untuk wilayah non pesisir jumlahnya relatif lebih sedikit lagi. disini relatif lebih banyak warga yaitu 24. Untuk warga yang bermata pencaharian sebagai petani kebun dan petani pangan pun juga terkena dampak dari bencana iklim seperti banjir. Tidak semua warga menjawab adanya dampak dari bencana terhadap pekerjaan utamanya.

aktifitas sebagai nelayan sangat dipengaruhi oleh iklim. Masalah yang kedua disebabkan fasilitas nelayan masih kurang. baik kepada tetangga maupun kepada bank keliling. Tapi Harga kapal seperti itu bisa mencapai ratusan juta. sehingga belakangan ini waktu nelayan melaut menjadi semakin tidak menentu.. yang fasilitas peralatan perikanannya seperti kapal sudah lebih maju. sehingga untuk bertahan mereka terpaksa harus ‘gali lubang tutup lubang’. yaitu terjadi pada bulan 12. buruh. Pada kondisi yang demikian. Selain itu. Alternatif lain yang dilakukan warga adalah dengan meminjam ke bank keliling. Berbeda dengan bencana banjir. tapi kalau nelayan di Jawa jangkauan lebih luas”. buruh. mereka terpaksa ‘Gali lubang tutup lubang’. sehingga penghasilan dari melaut dapat menurun drastis. Dahulu sebelum tahun 2000. Kelurahan Batu Putuk mayoritas masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai petani dan buruh pertanian. “.kalau dulu. pembayaran dapat dilakukan dengan mencicil. Diantara kelurahan-kelurahan amatan lain. Langkah untuk memenuhi kebutuhan hidup biasanya ditempuh dengan jalan meminjam. jumlah nelayan di Lampung sangat banyak. Biasanya bunga yang diberlakukan cukup tinggi. yang pertama. Sekali berangkat biaya bisa mencapai jutaan. sebenarnya masalah yang dihadapi nelayan cukup kompleks. Hal ini menyebabkan lokasi pencarian atau jangkauan nelayan di kelurahan amatan menjadi terbatas. Bencana kekeringan berdampak pada penurunan hasil panen sehingga pendapatan warga yang berprofesi sebagai petani dan pedagang produk pertanian cenderung menurun. kalau lebih jauh sedikit.. yaitu mencapai 20 persen. menurut warga. Bila meminjam ke bank keliling. secara rata-rata hanya sebagian kecil saja warga yang merasakan adanya dampak bencana kekeringan terhadap pekerjaan utamanya. Saat itu warga mengetahui bahwa bulan 1 sampai dengan 5 adalah musim angin utara yaitu musim ikan. Bencana kekeringan hanya berdampak terhadap sekitar 9. maupun kenek bangunan agar tetap dapat membiayai kebutuhan hidup. namun dengan risiko dibebankan bunga. masalah tersebut disebabkan oleh beberapa hal. berbeda dengan fasilitas nelayan di pulau Jawa. Sekarang kalau mau mendapatkan ikan dalam jumlah besar harus berlayar lebih jauh.9 persen warga dari total warga di kelurahan amatan. Oleh karena itu banyak warga yang terpaksa memiliki alternatif mata pencaharian lain seperti tukang becak. namun sekarang musim ikan lebih sulit di prediksi. Secara umum. Setelah tahun 2000 warga mengaku sulit memprediksi waktu terjadinya angin dan ombak besar. maupun kenek bangunan agar tetap dapat membiayai kebutuhan hidup. sudah ‘kejeblos’. dengan menggunakan kapal bermotor besar. Jadi nelayan kecil cuma bisa dekat-dekat saja. Bila penghasilan warga tidak dapat mencukupi. aktifitas nelayan menjadi terhambat. Warga mengaku pada kondisi tersebut. Karena itu banyak warga yang terpaksa memilih alternatif mata pencaharian lain seperti tukang becak... bisa mencapai wilayah laut lepas dekat gunung krakatau. Menurut salah seorang peserta FGD. 61 . sehingga bagi warganya bencana kekeringan lebih berdampak daripada bencana banjir. warga mengaku terpaksa berhutang ke warung untuk membeli kebutuhan hidup seperti sembako. dengan waktu seminggu. kondisi kesulitan mencari ikan biasanya bersifat musiman.Dari hasil FGD. mulai dari yang kecil sampai yang memiliki pukat harimau bisa memasuki wilayah perairan. melaut bisa dalam jangkauan yang dekat-dekat saja. Masalah-masalah demikian yang menyebabkan ekonomi nelayan kecil menjadi sangat sulit. sehingga para nelayan kecil harus bersaing dengan nelayan besar.

Gambar 4-3. 2009 2. terutama usaha sampingan sebagai petani tambak. Nilai Kerugian Berdasarkan Pekerjaan Sampingan Selain mempengaruhi pekerjaan utama. sebagian besar warga di wilayah ini mempunyai pekerjaan utama sebagai petani kebun. Nilai Kerugian Dari Pekerjaan Utama Akibat Banjir dan Kekeringan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.765.000.666. Wilayah yang mengalami kerugian yang relatif besar adalah Kangkung. Gambar 4-4. yang sangat dipengaruhi oleh banjir. Dampak Banjir Terhadap Usaha Sampingan Tambak pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. banjir juga dapat mempengaruhi usaha sampingan yang dimiliki warga.Bila dihitung berdasarkan nilai nominal. terutama banjir yang dirasakan oleh warga.11 persen yang menyatakan terdapat pengaruh banjir terhadap usaha sampingannya (Tambak/Kolam). 2009 62 . dari total warga di lokasi penelitian. Kerugian rata-rata di daerah Pasir Gintung sebanyak Rp 926. sebanyak 11. Gambar tersebut menunjukkan rata-rata kerugian akibat bencana.150.071. Kerugian di Kangkung rata-rata sebesar Rp 1. terlihat bahwa banjir yang menimpa hanya mempengaruhi sebagian kecil warga. Namun dari data yang diilustrasikan pada Gambar 4-4. Batu Putu dan Pasir Gintung. kerugian yang diakibatkan oleh adanya bencana banjir dan kekeringan seperti terlihat pada Gambar 4-3. Sedangkan di Batu Putu sebanyak Rp 921. kerugian rata-rata bencana sebesar Rp 662. Berdasarkan gambar tersebut.

Gambar 4-6.000. Hal ini dapat disebabkan oleh pengetahuan yang terbatas dari warga dalam menaksir jumlah kerugian. Nilai Kerugian Berdasarkan Sektor-Sektor Strategis Selain mempengaruhi terhadap mata pencaharian warga.000 /orang. terlihat ada 2 sektor yang nilai kerugiannya relatif besar yaitu sektor kesehatan dengan nilai total mencapai Rp 104.320. Secara umum nilai kerugian ini relatif kecil. Akan tetapi jika dilihat secara rinci. Kerugian Akibat Banjir Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. 2009 Lampung 3. menyajikan ilustrasi kerugian akibat banjir di Lampung.000.000. misalnya untuk sektor infrastruktur senilai Rp 10.350. di Bandar Lampung. Kerugian terbesar justru dialami oleh warga di wilayah Kangkung dengan nilai kerugian rata-rata sebesar Rp 2. Dampak dari banjir yang dirasakan warga terhadap sektor lainnya relatif kecil. Hal ini disebabkan banyak warga yang mempunyai mata pencaharian tambahan sebagai petani tambak ikan. Nilai kerugian rata-rata akibat banjir untuk usaha sampingan tambak sebesar Rp 583.000 dan sektor perikanan sebesar Rp 76. 2009 63 . Nilai Kerugian Usaha Sampingan Tambak Pada Kelurahan Amatan. Selain itu banyak warga yang tidak bisa menaksir adanya kerugian terhadap berbagai macam sektor.Kerugian usaha sampingan tambak yang dirasakan warga seperti terlihat pada Gambar 4-5.000. kerugian bencana juga dapat dihitung berdasarkan sektornya. Gambar 4-6.000/orang. Gambar 4-5. sektor pemukiman sebesar Rp 8. maka distribusinya tidaklah merata.355.745. Berdasarkan gambar tersebut.

Gambar 4-7. radang tenggorokan dan lain sebagainya. Sedangkan untuk komoditi Palawija peningkatan harga memiliki model yang berbeda dengan beras/padi dan ikan/ternak. nilai kerugian akibat kekeringan lebih kecil daripada kerugian akibat banjir. kenaikan harga rata-rata disaat banjir sebesar 13. Secara umum haarga beras/padi mengalami peningkatan baik pada saat banjir maupun kekeringan. Meskipun nilainya relatif kecil. Melihat nilai nomimalnya. Tahun 2009 4.79 persen. sedangkan disaat kekeringan sekitar 12. dampaknya kualitas air menurun sehingga banyak ikan yang mati. bencana banjir dan kekeringan juga mempengaruhi perubahan harga-harga secara umum. dan fenomena ini konsisten terjadi baik di pesisir maupun di non pesisir. Secara total peningkatan harga saat kekeringan lebih tinggi dibandingkan dengan saat banjir. Kerugian Akibat Kekeringan Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. palawija dan ikan/ternak. Kerugian di sektor air minum disebabkan oleh berkurangnya sumber air untuk memasok bagi kebutuhan masyarakat. Untuk komoditi ikan/ternak. perikanan. batuk. Berdasarkan gambaran ini maka sektor yang rentan terkena bencana kekeringan adalah sektor pertanian. Berdasarkan Gambar 4-9.65 persen. kesehatan dan air minum.Berbeda dengan kerugian yang terjadi ketika kekeringan. Kerugian di sektor perikanan disebabkan karena suplai air berkurang. banyak sumber penyakit seperti diare. terlihat beberapa sektor yang diduga dipengaruhi oleh bencana kekeringan. akan tetapi fakta ini memberikan dugaan terhadap sektor rentan terkena bencana. 64 . Kerugian di sektor pertanian disebabkan kekeringan menyebabkan produksi menurun. Dampak Terhadap Harga Beberapa Komoditi Selain mempengaruhi pendapatan warga dan beberapa sektor strategis. Kerugian di sektor kesehatan terjadi karena dengan adanya kekeringan mengakibatkan menurunnya kualtias lingkungan. kegiatan perikanan banyak yang terganggu sehingga supply ikan menjadi berkurang. bahkan dalam kasus yang ekstrim dapat mengakibatkan kegagalan panen (puso). Hal ini disebabkan pada saat terjadi banjir. berikut ini disampaikan data mengenai peningkatan harga yang terjadi pada beberapa produk pertanian seperti beras/padi. peningkatan harga di saat banjir relatif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan harga di saat kekeringan.

dan 67 unit Balai Pengobatan.17 persen). Dari warga yang memberikan penilaian. 2009 C.87 persen). tempat praktek Dokter. terlihat bahwa jenis penyakit yang seringkali dialami oleh masyarakat adalah Malaria (28. Jenis sarana kesehatan paling banyak. Penyakit yang dinilai warga relatif rendah terjadi adalah DBD (10. Dari data terlihat jumlah warga non pesisir yang menganggap Batuk/Flu/Pilek. Kenaikan Harga Beberapa Komoditi Pertanian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung. memperlihatkan wabah penyakit menurut persepsi warga yang biasa terjadi saat banjir. 65 . yaitu Balai Pengobatan dengan jumlah sebaran terbanyak ada di Kecamatan Tanjung Karang Pusat (11 unit). tercatat hanya sebanyak 35. Tabel IV-3. sampai dengan rumah sakit.Gambar 4-8. 57 unit Puskesmas Pembantu.94 persen dari total warga. Dampak terhadap Kesehatan Sarana kesehatan di Kota Bandar Lampung meliputi sarana kesehatan mulai dari tingkat pelayanan terkecil seperti Puskesmas Pembantu. Tidak banyak warga yang menanggapi fenomena wabah penyakit di saat banjir. DBD dan gatal-gatal sebagai penyakit di saat musim hujan lebih besar daripada warga pesisir.26 persen) dan Batuk/Flu/Pilek (27. Hal ini bisa membentuk dugaan bahwa penyebaran penyakit Batuk/Flu/Pilek. Balai Pengobatan. Sedangkan untuk malaria dan diare di wilayah pesisir. DBD dan gatal-gatal cenderung terjadi di wilayah non pesisir. Jumlah sarana kesehatan di Kota Bandar Lampung menurut sumber Kota Bandar Lampung Dalam Angka (2007) mencapai 157 unit yang terdiri dari 11 unit Rumah Sakit. Sedangkan untuk diare dan malaria sebaliknya. 22 unit Puskesmas Induk.

30 15.32 29.menunjukkan penyakit yang sering muncul di saat terjadi kekeringan.26 Tabel 4-4.00 44.8 1 25.7 7 10.0 0 100. Penyakit Pada Saat Kekeringan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.00 19. Pada wilayah non pesisir dan pesisir.1 3 0.17 10.7 4 80.50 48.0 0 11.0 0 100.0 0 16.62 27.33 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total Res Tota l (N) Res Jawa b (n) n/N (%) Grand Total 100. Jika dilihat dari jenis penyakitnya.31 0.70 21. Tabel 4-4.72 48.0 0 25.09 8.6 90.3 9 0.41 0.94 26.35 22.0 0 100.00 38.00 10.00 5.00 5.79 24.00 8.79 44.0 0.0 5 18.00 0.23 0.00 12.41 39 56 40 135 256 19 27 19 65 92 48.33 25.5 0 24.6 2 25.00 0.67 7.26 4.00 3.44 0.00 0.0 0 100.00 100.00 0.0 9.00 10.37 36.21 47.15 35.00 63.0 0 100.32 33. maka yang membedakan antara saat kekeringan maupun saat banjir adalah munculnya penyakit kulit.00 100.62 16.0 0 100.00 0.00 66 .00 0.00 100.9 1 75.63 15.53 0.16 0.3 2 7.0 0 25.00 100.44 47.0 0 40 50 31 121 2 19 6 27 5.00 8.0 0 100.90 10.00 0.92 28.0 8 17.00 5.5 8 23.0 0 67.Tabel 4-3.33 50.0 0 100.5 2 31. penyakit yang sering dialami oleh warga adalah batuk/flu/pilek serta penyakit malaria.33 33.8 7 0. 2009 Wabah Penyakit Pada Saat Banjir Batuk / Gatal Flu Diar Malari /Pilek DBD e gatal a 100.00 0.0 0 26. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Res total (N) Res Jawab (n) Wabah Penyakit Saat Kekeringan Batuk n/N /Flu Kuli Diar (%) /Pilek DBD gatal t Malaria e Grand Total 40 50 31 121 39 11 12 8 31 10 27.26 0.26 16.00 100. Penyakit Pada Saat Banjir pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.00 0.00 0.00 0.00 50.33 0.00 3.1 1 26.

Bila kondisi warga memerlukan perawatan lanjutan.29 1. obat.3 3 54. nanti bila 67 .75%.00 0.45 0. akan ada pemantauan (survei) dulu rumahnya dari puskes. terutama terkait biaya.8 4 61. maka puskes akan memberikan rujukan ke Rumah Sakit.23 1.11 0.6 7 9. Kisaran Biaya yang Dikeluarkan oleh Warga (dalam Rupiah) Sebenarnya fasilitas kesehatan yang disediakan oleh dinas kesehatan sudah cukup baik.8% warga untuk berobat ketika terjadi bencana iklim dapat dilihat dari gambar berikut. Warga yang diberi surat jamkesmas adalah penduduk miskin. Bagi yang tidak punya surat jamkesmas. dan mutu layanan kesehatan.9 6 24. dan biasanya memerlukan waktu sampai 2 hari.68 4. dan rujukan masih dianggap belum dapat berjalan dengan optimal.7% warga yang mengaku menerima bantuan dari pemerintah. Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh 14.33 6. warga bisa menggunakan fasilitas jamkesda. Hal ini antara lain disebabkan oleh sarana layanan kesehatan tersebut belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Bagi warga yang memiliki jamkesmas (dulu askes).5% warga tidak tahu karena tidak pernah mencatat biaya yang telah dikeluarkan untuk berobat.00 8.1 1 16. yang antara lain penentuannya di lihat dari usaha kepala keluarga.61 Namun menurut hasil survei masyarakat di wilayah kajian menyatakan bahwa belum optimalnya akses.00 11.00 0.0 7 30.2 9 0 11. keterjangkauan.5 6 33.00 100.84 100.00 3. dan layanan yang diberikan.Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total 56 40 135 256 9 12 31 62 4 16. Akan tetapi sistem pelayanan. warga harus membayar dulu biaya di RS sebagai jaminan. Namun berbeda dengan jamkesmas. saat sakit dapat langsung datang ke puskes.35 11.00 100.0 0 22.8% warga mengeluarkan uang sendiri untuk biaya berobat.22 41.00 0.81 19.2 2 0 55.00 100. prosesnya yang harus dilalui oleh warga untuk memperoleh fasilitas jamkesda cukup panjang. Jumlah warga yang memiliki kartu kesehatan gratis adalah sebanyak 43. dan sisanya sebesar 57. 14.61 22.67 25. Selain harus ada surat keterangan dari RT. Kemudian bila warga harus dirujuk ke rumah sakit. lokasi. Pada saat terjadi bencana hanya 27. Gambar 4-9.

SATLAK PB. Kelembagaan tersebut diantaranya bernama Tagana (Tanggap Bencana). Peringatan dini dan hasil pemantauan daerah rawan bencana berupa saran teknis dapat berupa antara lain pengalihan jalur jalan (sementara atau seterusnya)..4. Respon Masyarakat Terhadap Informasi Bencana Sebagian besar warga di keenam wilayah kajian selama ini masih memperoleh informasi prakiraan iklim secara tradisional baik dari pemuka adat maupun dari tokoh masyarakat di daerah yang bersangkutan. Kondisi demikian. Selain itu warga juga menerima informasi prakiraan dari BMKG. yang diduga menyebabkan timbulnya persepsi warga pada kelurahan amatan yang terkait dengan belum optimalnya akses. Respon Pemerintah dan Masyarakat terhadap Bencana Akibat Kejadian Iklim Ekstrim A. dan mutu layanan kesehatan. Tujuan latihan lebih ditekankan pada alur informasi dan petugas lapangan pejabat teknis. Peringatan dini tersebut disosialisasikan kepada masyarakat melalui pemerintah daerah dengan tujuan memberikan kesadaran masyarakat dalam menghindarkan diri dari bencana. apa yang perlu dilakukan dan dihindarkan di daerah rawan bencana. SATKORLAK PB. EWS (Early Warning System). 2% warga melalui media radio. sisanya 28% warga tidak menjawab (Gambar IV-10) 68 . RW di lingkungan setempat. pengungsian dan atau relokasi. baru uang dikembalikan. Hal penting yang perlu diketahui masyarakat dan Pemerintah Daerah ialah mengenai hidup harmonis dengan alam di daerah bencana. Dari hasil survey di enam wilayah kajian didapatkan hasil yang tidak memuaskan dari warga mengenai keberadaan lembaga penanganan bencana di wilayahnya. 90% warga tersebut mengaku belum pernah mendapatkan informasi apapun seputar informasi iklim atau peringatan dini dari PEMDA. 4% warga melalui media koran. dan mengetahui cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana. Tagana diakui masyarakat berfungsi efektif dalam memberikan informasi iklim atau peringatan dini. Pelatihan tata cara pengungsian dan penyelamatan jika terjadi bencana juga sangat diperlukan. dan masyarakat sampai ke tingkat pengungsian dan penyelamatan korban bencana. RT. Dengan pelatihan ini terbentuk kesiagaan tinggi menghadapi bencana akan terbentuk. B.surat2 sudah lengkap. Hasil interview menunjukkan bahwa sekitar 58% warga memperoleh informasi prakiraan BMKG melalui media televisi. dan serta penanganan lainnya. 4. Sebanyak 90% warga menyatakan bahwa belum ada kelembagaan penanganan bencana di wilayah mereka. Kelembagaan lainnya yaitu kelurahan. 2% warga dari dinas pemerintah. ataupun lembaga terkait lainnya. Hanya 10% warga yang menyatakan ada kelembagaan penanganan bencana di wilayah mereka. keterjangkauan. dan 6% warga memperoleh informasi dari aparat desa setempat. Response Masyarakat Terhadap Keberadaan Kelembagaan Penanganan Bencana Peringatan dini dimaksudkan untuk memberitahukan tingkat kegiatan hasil pengamatan secara kontinu di suatu daerah rawan dengan tujuan agar persiapan secara dini dapat dilakukan guna mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

94 persen.25 persen warga yang merasakan bahwa informasi tersebut berguna. 69 . koran. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim. Hal ini pertanda bahwa kesadaran warga terhadap pentingnya informasi terkait kebencanaan masih kurang. Informasi ini bisa disampaikan melalui media televisi. ternyata informasi mengenai peringatan bencana. Berdasarkan beberapa jenis informasi terkait bencana. Ketersediaan informasi yang terbanyak adalah mengenai peringatan bencana (50. sedangkan informasi mengenai penganan bencana. Dalam tabel ini informasi yang terkait kebencanaan dilihat dari perspektif kegunaan dan ketersediaan. majalah. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim dirasa warga masih sangat rendah ketersediaannya yaitu kurang dari 35 persen (Tabel 4-5). radio. dan ini mendukung informasi sebelumnya bahwa peran pemerintah dalam memberikan informasi kepada masyarakat relatif masih rendah.78 persen).Gambar 4-10. jauh dirasakan berguna menurut warga dibandingkan dengan jenis informasi lainnya. sedangkan untuk informasi perubahan iklim sebesar 37. Hal ini menandakan masih diperlukannya berbagai macam upaya dalam penyampaian informasi terkait kebencanaan tersebut. misalnya untuk informasi penanganan bencana hanya 56. jauh dirasakan berguna menurut warga dibandingkan dengan jenis informasi lainnya. Hal ini ditunjukkan dari persepsi warga terhadap rendahnya ketersediaan informasi yang terkait kebencanaan di Kota Bandar Lampung. dan bertatap muka langsung dengan masyarakat melalui aparatur pemerintah dari pusat sampai daerah. Ketidaktahuan warga mengenai informasi penanganan bencana. Dari data juga terlihat bahwa informasi mengenai peringatan bencana. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim terlihat dari rendahnya partisipasi warga dalam memberikan persepsi terhadap informasi tersebut.89 persen dan informasi dampak perubahan iklim sebesar 35. Tabel IV-5 memberikan ilustrasi persepsi warga terhadap berbagai macam informasi terkait kebencanaan. Secara umum terjadi lag antara kegunaan dan ketersediaan. penanganan bencana. Persentase Media Informasi Prakiraan yang digunakan Salah satu peran pemerintah dalam mengurangi dampak dan kerugian bencana adalah dengan cara memberikan informasi terkait kebencanaan seperti peringatan bencana.

00 48.00 76. Bentuk bantuan yang diharapkan warga di wilayah pesisir berupa tempat tinggal dan modal. perubahan jenis mata pencaharian.44 47.58 27.95 41.69 19.00 50.07 17. Tanggapan dan harapan warga adalah sebagai berikut: Wilayah Pesisir Andaikan terjadi bencana yang sangat besar dan pemerintah menyarankan untuk dilakukan relokasi tempat tinggal. Namun.00 70. jika diberikan pelatihan-pelatihan oleh pemerintah untuk menambah keahlian.14 25.97 Respon Terhadap Isue Relokasi Karena potensi berulangnya kejadian iklim ekstrim yang dapat menyebabkan bencana di masa yang akan datang.25 30.71 55.78 55.64 22.30 7.64 30.00 36. agar mereka tetap dapat bekerja seperti semula (melaut).94 16. Pelatihan yang diharapkan berupa pelatihan bercocok tanam. warga pria mengaku merasa berat hati untuk pindah.83 20.50 50.00 56.39 37.26 19. baik modal untuk memulai usaha baru atau modal ketrampilan baru.00 60.50 22.37 45.00 6.19 27.00 48. Sedangkan untuk para wanita bersedia untuk dilakukan relokasi tempat tinggal. menjahit serta pengolahan hasil perikanan.00 73.00 51.33 44.00 37. para nelayan mengaku bersedia mengikuti pelatihan. para nelayan mengaku sulit (tidak bersedia) karena berkaitan dengan keahlian yang dimiliki.00 61.00 41.04 56.07 76.00 32.00 45.78 10.89 23. maka kepada warga ditanyakan pendapat dan harapan apabila proyek tersebut terlaksana dan pemerintah menetapkan kebijakan relokasi tempat tinggal. Namun hal tersebut tetap berdasarkan persetujuan suami masing-masing. serta adanya rencana pemerintah membangun proyek water front city di daerah pesisir.92 85.07 40. 70 .50 36. C. maupun program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.16 17.00 17.50 20.00 8.64 20.04 33.93 55.73 70.39 34.50 55. Persepsi Warga Terhadap Berbagai Macam Informasi Terkait Kebencanaan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Wilayah Peringatan Bencana Kegunaa n Ketersedia an Penanganan Bencana Kegunaa n Ketersedia an Perubahan Iklim Kegunaa n Ketersedia an Dampak Iklim Kegunaan Perubahan Ketersedia an Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Grand Total 72.00 58.06 53.00 35.71 22. namun jika lokasi tempat tinggal yang sekarang sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali lagi.52 38.31 34.64 30. Sedangkan kemungkinan untuk merubah jenis pekerjaan secara permanen.61 38.33 38.29 57.46 62.97 74. Keputusan berpindah pun harus merupakan hasil keputusan bersama dengan istri dan keluarga.41 62.42 37.50 36. kondisi perumahan masyarakat yang padat dengan lingkungan yang relatif kurang layak.Tabel 4-5. maka mereka bersedia untuk dipindahkan dengan syarat diberikan fasilitas dan tempat tinggal yang layak serta lokasi pindah diharapkan tidak berjauhan dengan laut.94 19.46 44.

Dalam kondisi dimana tidak memiliki pilihan lain. selain itu warga juga mengharapan bantuan peralatan membuat emping. Untuk itu perlu juga adanya penyadaran masyarakat mengenai kebiasaan hidup sehat. asalkan daerah baru tersebut memang lebih layak dibandingkan dengan daerah yang mereka tempati saat ini. misalnya pelatihan pembuatan telur asin. Kegiatan yang bersifat non-struktural melalui inisiatif masyarakat masih sangat kurang. Selain itu. banjir seringkali disebabkan oleh meluapnya air sungai. Hal ini terutama diminati oleh ibu-ibu yang masih muda. sehingga tidak terpikirkan oleh warga apabila mereka harus pindah tempat tinggal ke wilayah lain. Keenggan tersebut karena masyarakat khawatir terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan. penguatan kelembagaan dan lainnya berasal dari program pemerintah. asalkan pengelolaan dilakukan dengan baik. 71 . bencana tersebut dianggap sesuatu hal yang biasa. pindah ke lokasi. karena merasa pekerjaan tersebut terlalu berat bagi mereka. Pada wilayah yang sering mengalami banjir seperti Pasir Gintung. warga berharap dibekali keterampilan agar dapat bertahan hidup. D. sementara yang sudah tua tidak berminat. Identifikasi bentuk kegiatan adaptasi dari pemerintah yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat Bentuk kegiatan adaptasi menghadapi bencana yang dilakukan masyarakat umumnya bersifat struktural (fisik) seperti memperlebar/memperdalam saluran. bila bencana yang terjadi sangat parah dan memaksa mereka untuk berpindah lokasi. peraturan zona atau batas aman antara pemukiman dengan sungai. Sebagian besar kegiatan yang bersifat non-struktural seperti pemberdayaan masyarakat. Kegiatan lain yang diharapkan masyarkat adalah adanya penertiban lingkungan misalnya. meninggikan lantai rumah atau membuat rumah denga dua tingkat. seperti tidak membuang sampah sembarang di dalam sungai. Pelatihan yang diharapkan berupa pelatihan membuat emping. masyarakat Pasir Gintung bersedia untuk relokasi. Oleh karena itu kegiatan yang diharapkan masyarakat untuk mencegah terjadinya banjir adalah pengerukan sungai yang dipenuhi oleh sampah-sampah pasar. dan membuat tanggul dalam menghadapi banjir. memperkuat konstruksi rumah. mereka berharap pemerintah bisa menyediakan tempat tinggal yang layak dan lapangan pekerjaan yang baru. dengan cara melakukan kampanye hidup sehat. Sedangkan para wanita mengaku bersedia mengikuti program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Wargapun bersedia bila ada pelatihan untuk peningkatan ketrampilan mereka. atau service HP. Namun.Wilayah non Pesisir Pada wilayah yang mengalami bencana kekeringan seperti Kelurahan Batu Putuk. dan membeli atau membuat sumur pompa atau memperdalam sumur kalau menghadapi kekeringan.

menambah persediaan makanan dan menambah persediaan bahan bakar. 72 . Kegiatan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan penanganan bencana yang bersifat non-struktural dan respon masyarakat NO 1 KEGIATAN PEMERINTAH Komunikasi interaktif melalui radio dan televisi tentang mitigasi bencana Sosialisasi penerapan sistem komunikasi peringatan dini dan tanggap darurat berbasis Keluarga Pembentukan dan penguatan Siaga Bencana Tingkat Kelurahan (SIBAD) di 13 kecamatan Sosialisasi mengenai tanda-tanda terjadinya bencana melalui pertemuan-pertemuan kelompok masyarakat. terutama di pemukiman kumuh Masyarakat belum merasakan keberadaan dan fungsi SIBAD Mengikuti pertemuan dan mulai mempersiapkan diri Tidak menyeluruh sampai pada masyarakat Hanya berlangsung 1 bulan. meninggikan lantai. setelah itu tidak pernah lagi Ikut berpartisipasi setiap bulan 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ikut berpartisipasi setiap bulan Ada yang taat dan ada yang tidak taat Tidak efektif. dll Pembuatan atau mereproduksi dan menyebarkan buletin sistem peringatan dini Pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin di kawasan rawan bencana Melakukan Gerakan Bersih Pantai dan Laut bersama masyarakat secara rutin/berkala Melakukan Gerakan Bersih Sungai dan Saluran bersama masyarakat secara rutin/berkala Melarang nelayan ke laut saat bencana gelombang pasang air laut Pembuatan sumur bor untuk fasilitas umum RESPON MASYARAKAT Melaksanakan dengan banyak keterbatasan Belum sepenuhnya sampai pada masyarakat. Identifikasi Adaptasi Masyarakat Bencana Banjir Adaptasi yang dilakukan oleh warga ketika bencana banjir sangat beragam. kelurahan.Tabel 4-6. Gambar 4-11. Gambar 4-11. membuat tanggul. Misalnya adaptasi yang dilakukan di wilayah non pesisir akan berbeda dengan adaptasi di wilayah pesisir. mulai dari tetap tinggal dirumah. memperdalam saluran air. Adaptasi yang Terjadi di Wilayah Pesisir dan Non Pesisir Ketika Terjadi Bencana Banjir di Lampung. Jenis adaptasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan wilayah masing-masing. pindah ke lokasi yang tidak mengalami banjir. menunjukkan perbedaaan tersebut. karena kualitas airnya buruk E.

45 persen warga yang pindah ke lokasi tidak banjir. sebanyak 59. Sebagian besar (85.78 persen warga yang pindah ke lokasi tidak banjir ketika terjadi banjir. Dari semua warga di Pasir Gintung. Namun. Peredaan ini disebabkan karena jenis banjirnya yang berbeda. warga mengaku tidak mau pindah dikarenakan khawatir terhadap lapangan pekerjaan. Berbeda halnya dengan banjir yang terjadi di wilayah non pesisir. hanya 7. Perilaku ini menggambarkan respon warga yang memilih tetap tinggal dirumah atau keluar sementara. sebanyak 14. Secara umum dari total warga mengatakan bahwa ketika bencana banjir tiba. mereka berharap pemerintah menyediakan tempat tinggal dan lapangan pekerjaan yang baru.46 persen. maka fenomena banyaknya warga yang keluar rumah terjadi di wilayah non pesisir. ditemukan fenomena warga yang pindah lokasi di setiap kelurahan dengan jumlah yang relatif sedikit. Sedangkan di wilayah pesisir. sedangkan di 2 wilayahnya lainnya tidak ada. yang tidak bisa diprediksi. Seperti dijelaskan sebelumnya. Sedangkan di wilayah pesisir. bila bencana yang terjadi sangat parah dan memaksa mereka untuk berpindah lokasi. Secara umum. perilaku pindah lokasi hanya terjadi di Pasir Gintung. Jika dilihat dari wilayah. hanya sebagian kecil saja yang keluar rumah. Sedangkan di wilayah Sukabumi Indah. 41 persen. dari semua warga di kelurahan amatan. Lokasi yang menjadi tempat tinggal sementara biasanya rumah sanak saudara yang tidak mengalami banjir. sebanyak 34 persen yang pindah lokasi.57 dan 5 persen dari jumla warga di masingmasing kelurahan.93 persen) warga tetap tinggal di rumah ketika banjir. maka ketika banjir rob datang.Berdasarkan gambar terlihat prilaku warga ketika bencana banjir adalah seperti berikut ini : 1. ketika terjadi banjir. artinya sebanyak 40. Jika dilihat secara detail. Seperti yang terjadi di wilayah Pasir Gintung. Dengan demikian sebagian besar tetap tinggal di rumahnya masingmasing.54 persen meninggalkan rumah (keluar rumah) ketika bencana banjir tiba. Warga Pasir Gintung yang keluar rumah ketika banjir adalah sebesar 82 persen. hanya 9. Hal ini disebabkan karena Berdasarkan hasil FGD. antara lain becak. mengingat di wilayah ini. Sisanya tetap tinggal di rumah.18 persen. hampir sebagaian besar warga masih tetap tinggal di rumah. 2. Di wilayah non pesisir. Jika dilihat berdasarkan wilayah. Sebagai langkah antisipasi. Perilaku pindah ke lokasi yang tidak banjir. bahwa di wilayah non pesisir. jumlah warga yang tetap tinggal di rumah lebih besar dibandingkan dengan warga yang keluar rumah. Mengingat sebagian besar warga sudah meninggikan rumahnya. Tujuannya adalah untuk berpindah ke lokasi yang lebih tinggi. Bencana banjir yang terjadi di wilayah pesisir adalah bencana banjir rob. Perilaku tetap tinggal di rumah ketika banjir tiba. Misalnya di kelurahan Kangkung. warga menyediakan alat transportasi yang disiapkan dalam menghadapi banjir. maka perilaku pindah ke lokasi yang tidak banjir banyak dilakukan oleh warga di wilayah non pesisir daripada di wilayah pesisir. Banjir rob relatif bisa diantisipasi oleh masyarakat. Faktor-faktor yang mempengaruhi pindah tidaknya warga ke 73 . Sedangkan di wilayah pesisir hanya 5. warga yang tetap tinggal rumah sebanyak 29. di wilayah ini hampir sebagaian besar warga keluar rumah ketika banjir tiba. Perilaku ini menggambarkan respon warga yang mencari tepat tinggal sementara pada saat terjadi banjir.69 persen dari total warga di wilayah ini yang pindah lokasi. sedangkan di Kota Karang dan Panjang Selatan berturut turut sebanyak 3.

secara umum terdapat tiga bentuk adaptasi yang relatif banyak dilakukan oleh warga dibandingkan dengan adaptasi lainnya yaitu memberli air. Dampak kerugian kekeringan dapat (a) berupa penurunan produksi. Dari berbagai adaptasi tersebut. Fenomena kekeringan yang berkepanjangan. memperdalam saluran dan meninggikan lantai rumah. 3. masyarakat harus beradaptasi untuk meminimalisir kerugian kekeringan. bahkan banyak yang mati. Hal ini terjadi di wilayah pesisir.lokasi lain sangat dipengaruhi oleh (1) ada tidaknya famili di lokasi tidak banjir yang bisa membantu mereka. (2) mengurangi konsumsi air. (3) alasan keamanan. dan (5) melakukan ritual meminta hujan. Sehingga untuk bertahan. terlihat bahwa fenomena banjir tidak mempengaruhi warga dalam memupuk persediaan makanan dan bahan bakar. yang terjadi pada daerah tertentu menyebabkan timbulnya respon masyarakat untuk melakukan ritual mendatangkan hujan. 4. Bencana Kekeringan Kekeringan biasanya terjadi antara bulan Juni-Agustus. dan (b) munurunnya sanitasi keluarga dan lingkungan. agar mencukupi untuk keperluan sehari hari. mengurangi konsumsi air dan memompa air dari sumber terdekat. Adaptasi lainnya yang relatif banyak dilakukan selain dari yang telah dijelaskan diatas adalah perilaku membuat tanggul. Untuk lebih detailnya berikut ini dijelaskan adaptasi warga terhadap kekeringan: Gambar 4-12. (4) pindah ke lokasi lainnya yang tidak terkena kekeringan. Adaptasi terhadap bencana kekeringan yang terjadi di Kota Banda Lampung dapat berupa. (3) memompa air dari sumber terdekat. Adaptasi Kekeringan Warga di Kelurahan Amatan. karena tanaman tidak tumbuh secara normal. (2) kondisi fisik rumah. dan hal ini sebagian besar dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. Berdasarkan Gambar 4-12. Bandar Lampung 74 . (1) membeli air untuk keperluan sehari-hari. Semuanya dalam rangka menyediakan dan menjaga ketersediaan air.

Berdasarkan data. 2. Jika dilihat secara detail untuk setiap kelurahan. Jika dilihat secara detail. persentase jumlah warga yang memompa air dari sumber terdekat di wilayah pesisir lebih besar daripada wilayah non pesisir. sedangkan untuk wilayah non pesisir sebanyak 19. jual beli air di wilayah ini merupakan hal biasa terjadi pada saat kekeringan. Tercatat sebanyak 8. Tercatat hanya sebesar 20 persen dari jumlah warga di Pasir Gintung yang memompa air dari sumber terdekat. Sedangkan di Sukabumi Indah sebanyak 68. Perilaku adaptasi memompa air banyak dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. walaupun terjadi kekeringan di wilayah Bandar Lampung. Sementara itu proporsi warga di wilayah pesisir relatif merata dengan kisaran proporsi sebesar 22-30. Perilaku adaptasi membeli air.86 persen. Dengan demikian warga di wilayah ini mengandalkan sumber air yang tersedia. Hal ini dimungkinkan karena pasokan air di wilayah ini relatif tersedia dibandingkan dengan wilayah lainnya. Bagi warga yang tidak membeli air. Wilayah di pesisir yang relatif banyak membeli air adalah Kelurahan Kangkung.66 persen di wilayah non pesisir dan 8. Kota Karang dan Panjang Salang. Kangkung. terutama untuk aktifitas mandi dan mencuci. ketersediaan air diperoleh dengan cara memopa air dari sumber terdekat.97 persen. mengingat kedua lokasi ini berada di dekat perkotaan. jumlah warga di wilayah pesisir yang melakukan pembelian air di saat kekeringan sebanyak 37. 75 . Tercatat sebanyak 82. Akan tetapi warga yang melakukan hal ini tidaklah banyak. Selain itu dapat juga diakibatkan tidak ada orang yang menjual air. di Kota Karang sebanyak 67. Proporsi ini terbesar jika dibandingkan dengan kelurahan lainnya di wilayah pesisir. tercatat sebanyak 58 persen yang membeli air saat kekeringan terjadi di wilayah ini. Perilaku adaptasi mengurangi konsumsi air. pada situasi seperti ini secara otomoatis masyarakat berperilaku hemat air. Demikian halnya untuk wilayah pesisir. Respon terhadap kekeringan dengan cara membeli air dilakukan terutama untuk keperluan mandi. semua warga di kelurahan Batu Putu tidak melakukan pembelian air disaat terjadi kekeringan.52 persen dari total warga Lampung.05 persen warga di wilayah ini membeli air.1.50 persen dari total warga di Panjang Selatan).50%.27 persen di wilayah pesisir dari total warga yang melakukan pengurangan konsumsi air. Respon membeli air. sedangkan di Panjang Selatan sebanyak 62. 3. Respon pertama saat kekeringan terjadi adalah pengurangan konsumsi air. terdapat dua wilayah yang warganya melakukan upaya pengurangan konsumsi air relatif lebih tinggi persentasenya dibandingkan dengan wilayah lainnya. Jika dilihat secara detail proporsi di masing-masing wilayah/kelurahan. memiliki sumber daya air yang bisa diandalkan ketika kekeringan. Berbeda dengan warga di Kelurahan Pasir Gintung dan Sukabumi Indah. wilayah seperti Pasir Gintung. karena keadaan geografis yang tidak memungkinkan orang bisa berjualan air. Demikian juga di dua wilayah lainnya. Dari semua warga di Pasir gintung.85 persen dari total warga Lampung. Perilaku adaptasi memompa air dari sumber terdekat. buang hajat dan keperluan memasak. Disetiap wilayah biasanya terdapat sumur sebagai sumber air bersama.7 persen dari total warga masing-masing wilayah. Dengan demikian.59 persen dari total warga di Sukabumi Indah) dan Panjang Selatan (27. yaitu Sukabumi Indah (27. lebih banyak dilakukan oleh warga di wilayah pesisir.

Sehinggan bila harga suatu tanaman jatuh. 76 .Strategi Nafkah Strategi nafkah yang umum terjadi pada masyarakat ada tiga.7 dan Tabel 4-8. dimana sambil menunggu hasil panen dari tanaman perkebunan. Yang kedua adalah dengan cara memberdayakan anggota keluarganya. tanaman hortikultur dapat membantu masalah ekonomi yang sulit. Pola nafkah ini dilakukan dengan dua cara. maka keberadaan bencana banjir memberikan dampak kerugian yang lebih lebih besar terhadap ekonomi masyarakat Kota Bandar Lampung. Dalam kondisi demikian. menjadi gagal panen karena adanya angin puyuh yang menyebabkan buah menjadi rontok. pertama adalah keragaman nafkah. Migrasi atau gerak penduduk secara permanen. (2). Intensifikasi pertanian dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Batu Putuk dengan cara diversifikasi keragaman jenis tanaman. yang biasanya terdiri dari aktivitas-aktivitas ekonomi pokok di bidang on farm dan off farm. Selain menanam tanaman perkebunan. dapat ditarik informasi bahwa strategi nafkah yang dilakukan masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung selama ini adalah intensifikasi pertanian dan pola nafkah ganda. Bila dibandingkan antara bencana banjir dan bencana kekeringan. Intesifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Berdasarkan hasil survey dan FGD di kelurahan amatan. kebutuhan hidup dapat dibantu dari hasil panen sayuran dan buah-buahan. Strategi pola nafkah ganda ini dilakukan hampir di semua kelurahan amatan. Biasanya dalam satu lahan. yaitu kombinasi dari beberapa matapencaharian yang dimiliki oleh seseorang. Strategi nafkah yang kedua yang dilakukan masyarakat pada kelurahan amatan adalah pola nafkah ganda. Demikan juga adakalanya tanaman perkebunan yang sudah berbuah. masyarakat menanam beberapa jenis tanaman perkebunan. Tanaman hortikultur ini memiliki daur yang lebih pendek daripada tanaman perkebunan. Pola nafkah ganda (keragaman nafkah). dan (3). baik di wilayah pesisir maupun di wilayah non pesisir. yaitu (1). mereka juga memanfaatkan lahannya untuk menanam tanaman hortikultur seperti sayuran dan buah-buahan. dapat di bantu oleh harga jual tanaman lain yang relatif lebih stabil. Strategi ini juga berlaku baik pada masyarakat dengan mata pencaharian baik di sektor on farm maupun di sektor off farm. seperti istri maupun anak-anak yang sudah dewasa. Aktivitas di off farm biasanya merupakan sampingan di luar pekerjaan pokok. Rangkuman tentang besaran dampak bencana serta upaya-upaya penanggulang warga terhadap masalah-masalah yang timbul dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4-7. Dampak Bencana yang Menimpa Warga Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009
Panjang Selatan Masalah Banji r (%) 10 35 22,5 10 27,5 17,5 42,5 Kek erin gan (%) 10 47,5 5 2,5 10 12,5 25 Pasir Gintung Banj ir (%) 6 18 48 44 4 18 40 Kek erin gan (%) 2 40 2 2 4 6 14 Kota Karang Ban jir (%) 8,9 23,2 8,9 12,5 12,5 19,6 48,2 Keke ringa n (%) 3,6 39,3 10,7 17,9 25 Batu Putuk Keke ringa n (%) 10 32,5 2,5 35 32,5 7,5 Sukabumi Indah Ban jir (%) 12,9 6,5 6,5 3,2 3,2 22,6 Kekerin gan (%) 3,2 54,8 3,2 35,5 Kangkung Ke ker ing an (% ) 5,1 23, 1 2,6 2,6 15, 4 23, 1 30, 8

Ban jir (%) 2,5 5 -

Ban jir (%) 7,7 5,1 7,7 17,9 23,1 41

Pangan Air minum Rumah rusak Kerusakan asset Lapangan pekerjaan berkurang Berhutang Penyakit Penurunan produksi pertanian/t ernak/ ikan Kriminalit as Limbah

22,5

7,5

2

-

21,4

10,7

5

40

-

-

17,9

7,7

7,5 17,5

5 7,5

12

-

3,6 23,2

7,1 5,4

-

-

6,5 3,3

3,2 -

5,1 28,2

5,1 28, 2

Dari Tabel 4-8. dapat ditarik informasi bahwa, secara parsial dampak dari bencana banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung memiliki besaran yang relatif kecil. Besaran dampak ini diperoleh berdasarkan persepsi warga terhadap besarnya dampak bencana yang mereka rasakan pada berbagai aspek ekonomi. Dalam kenyataannya bencana yang terjadi di Bandar Lampung memang relatif masih jarang terjadi, bersifat lokal, dengan skala yang relatif kecil bila dibandingkan dengan daerah-daerah bencana lainnya. Namun bila melihat potensi kejadian iklim ekstrim yang semakin meningkat di masa datang, maka besaran dampak juga akan semakin besar. Tabel 4-8. Rangkuman Persepsi Masyarakat di Bandar Lampung Terhadap Besaran Dampak Bencana, serta Upaya Penanggulangan yang Dilakukan.
No 1 Masalah Terganggunya mata pencaharian utama: turunnya pendapatan Jumlah pengangguran Besaran Upaya Penanggulangan 16,73% warga menyatakan terganggunya Mencari alternatif mata pencaharian utama saat banjir mata pencaharian 9,96% warga menyatakan terganggunya lain, berhutang mata pencaharian utama saat kekeringan

2

11,3% warga mengatakan sangat susah mencari pekerjaan lain saat kejadian bencana banjir 77

3

Kelangkaan Pangan

4

Harga beberapa komoditi

5

Kelangkaan air minum

10,9% warga mengatakan sangat susah mencari pekerjaan lain saat terjadinya bencana kekeringan 5,9% warga menyatakan ada kelangkaan pangan saat tejadi bencana banjir 5,5% warga menyatakan ada kelangkaan pangan saat terjadi bencana kekeringan. Saat terjadi banjir, harga beras: meningkat 13,65 persen, ikan: 28,86 persen, palawija: 24 persen Saat terjadi kekeringan, harga beras meningkat: 12,79 persen, ikan meningkat: 13,71 persen dan palawija: 26,73 persen 19,1% warga menyatakan ada kelangkaan air minum saat terjadi bencana banjir 43,4% warga menyatakan ada kelangkaan air minum saat terjadi bencana kekeringan

Makan seadanya, meminta bantuan, dan berhutang. Makan seadanya, meminta bantuan, dan berhutang.

6

Kerusakan rumah

7

Kerusakan asset

8

Berhutang/ meminjam uang, Timbulnya berbagai penyakit

9

10

Penurunan produksi pertanian/ ternak/ ikan.

11

Evakuasi/ mengungsi Limbah

12

Mencari sumber lain, membeli air galon, menghemat pemakaian air, mengambil air dimasjid. 16,4% warga menyatakan mengalami memperbaiki rumah. kerusakan rumah pasca kejadian bencana banjir pasca kejadian kekeringan hanya 2% warga yang menyatakan mengalami kerusakan rumah 14,8% warga menyatakan mengalami Diperbaiki kerusakan aset pasca kejadian banjir pasca kejadian kekeringan hanya 1,2% warga yang menyatakan mengalami kerusakan aset 15,2% warga mengaku berhutang saat menggadaikan terjadi bencana banjir barang. 16% warga mengaku berhutang saat terjadi bencana kekeringan. 34% warga menyatakan timbul berbagai Berobat dan penyakit saat kejadian bencana banjir memelihara 22,3% warga menyatakan timbul berbagai kebersihan penyakit saat kejadian bencana kekeringan 12,1% warga mengeluhkan nya saat Tanaman dipupuk, kejadian bencana banjir diversifikasi 10,9% warga mengeluhkan nya saat tanaman kejadian bencana kekeringan. mencari pekerjaan lain berhutang 9% warga menyatakan mengungsi saat terjadi bencana banjir tetapi tidak di saat terjadi bencana kekeringan 14,1% warga mengeluhkannya saat dibersihkan dan di kejadian bencana banjir daur ulang 6,6% warga juga mengeluhkan hal serupa saat kejadian bencana kekeringan

78

BAB 5 PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF
5.1. Metodologi untuk Pemetaan Kerentanan dan Kapasitas Adaptif

Untuk menentukan indeks kapasitas dan kerentanan, kami menggunakan data survey sosio-ekonomi 2005 tingkat kelurahan (desa) dari Badan Pusat Statistik (BPS), sedangkan untuk beberapa data biofisik diperoleh dari sektor terkait atau dari citra satelit yang dihasilkan berdasarkan teknik-teknik interpretasi dengan GIS (Tabel 5-1). Semua data dibobot menurut kepentingan relatif mereka dalam membentuk kerentanan (5) dan kapasitas (C) untuk beradaptasi. Tabel 5-1. Indikator yang digunakan untuk mendefinisikan Kerentanan dan Kapasitas dan bobotnya
A A1 A2 Kapasitas Fasilitas listrik Pendidikan 0.07 0.13 0.20 0.27 0.30 Bobot B Kerentanan Jumlah rumah tangga yang tinggal di bantaran sungai Jumlah bangunan pada bantaran sungai Layanan air dari PDAM Kepadatan penduduk Kemiskinan Fraksi pantai Fraksi sungai Fasilitas non-drainase Bukan area terbuka hijau Bobot 0.05 0.05 0.10 0.10 0.20 0.10 0.10 0.20 0.10

0.05 B1 0.25 B2 B3 B4 B5 B6 B7 0.30 B8 0.20 B9 0.20 0.30 0.20 0.10 0.20 0.20

A21 TK A22 SD A23 SMP A24 SMA A25 Universitas A3 A4 Sumber utama pendapatn Fasilitas kesehatan

A41 Puskesmas A42 Poliklinik A43 Posyandu A44 Praktek bidan A45 Praktek dokter A5 Infrastruktur jalan

Catatan: *Pada hal fasilitas, Poliklinik adalah lebih baik dari Puskesmas karena poliklinik dioperasikan oleh pihak swasta, tetapi biaya pada poliklinik lebih tinggi dari biaya di Puskesmas. **Dari PDAM, *** Data dibangkitkan dari citra satelit dan peta topografi, **** Data dari RTRW 2005-2015 (Bappeda, 2003). Data lainnya dari data Potensi Desa BPS (2006). Untuk mengukur posisi relatif kerentanan dan kapasitas untuk beradaptasi suatu kelurahan, kami menentukan indeks kapasitas (CI) dan indeks kerentanan (VI). Indeks Kapasitas (CI) dikembangkan dengan menggunakan lima indikator utama (A1, ..., A5). Setiap indikator diberi skor. Indikator A1 adalah persentase rumah tangga di desa yang menggunakan fasilitas listrik yang mewakili tingkat kekayaan masyarakat dari desa-desa. Indikator A2 adalah pendidikan yang dapat mewakili kapasitas masyarakat di desa-desa dalam mengelola risiko. Semakin tinggi
79

Semua nilai-nilai sub-indikator dinormalisasi berdasarkan populasi dari masing-masing Kelurahan.00 Indikator A4 adalah fasilitas kesehatan yang mewakili akses masyarakat ke fasilitas kesehatan. Posyandu (Ps). Dalam kasus ini misalnya.2*Psi+0. Indikator A3 merupakan sumber penghasilan utama masyarakat di kelurahan.3*Pli+0. Indikator ini terdiri dari lima sub-indikator yaitu jumlah TK (N).2*Di) Karena nilai skor indikator ini sangat kecil.1*Bi+ 0.33*Uk) Dimana Pi.13*Ei+0. Nilai indikator berdasarkan jenis sumber pendapatan utama di suatu kelurahan No 1 2 3 4 Sumber utama pendapatan Skor (nilai indikator) Pertanian 0.25.50 Perdagangan.2*Pki+0. Nilai skor di setiap Kelurahan IA4 dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: IA4i= 1/Pi * (0. kelurahan di mana pertanian merupakan sumber utama pendapatan masyarakat. transportasi dan bisnis komunikasi 0. Penskoran dari nilia IA2 pada tiap kelurahan dihitung menggunakan rumus berikut: IA2i= 1/Pi * (0.20*Ji) + 1/Pij*(0. Nilai indikator berdasarkan sumber utama pendapatan disajikan pada Tabel 5-2. Semakin baik fasilitas kesehatan di Kelurahan maka kelurahan ini memiliki kapasitas yang lebih tinggi.75 dll. Jasa 1. dan kecamatan-k kelurahan-i. SD (E). Semua nilainilai sub-indikator dinormalisasi dengan jumlah populasi Kelurahan yang bersangkutan. Untuk data ini kita mendefinisikan desa di mana infrastruktur jalan yang dominan terbuat dari aspalt akan memiliki nilai 1 Sementara bagi mereka yang non-aspalt akan mempunyai nilai 0. Untuk kelurahan-kelurahan di mana sumber utama pendapatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim akan memiliki skor kapasitas rendah. Rumus untuk menghitung CI adalah sebagai berikut: 80 . Tabel 5-2. kecamatan-j Kelurahan-i. Indikator ini lebih lanjut dibagi ke dalam 5 sub-indikator yaitu: jumlah Poliklinik (Pl). semua nilai dibagi dengan skor tertinggi untuk mendapatkan nilai-nilai skor indikator berkisar dari 0 hingga 1 Indikator 5 adalah jenis dominan dari infrastruktur jalan.pendidikan kapasitas mereka dalam mengelola risiko lebih baik. dan Pik adalah jumlah populasi pada kelurahan-i. Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas. Pk). Karena nilai indikator sangat kecil. Klinik Bidan (B) dan Klinik Dokter (D). Pij.25 Pertambangan dan industri 0. maka semua indikator dinormalkan dengan skor tertinggi untuk mendapatkan kisaran skor antara 0 dan 1. SMP (J) pada tingkat kelurahan dan jumlah SMA (H) pada tingkat kecamatan dan jumlah Universitas (U) pada tingkat kota.07*Ni+0.27*Sj)+1/Pik*(0. maka nilai indikator adalah 0.

Ada delapan indikator utama (B1. sedangkan penambahan jarak 100 meter digunakan untuk mengantisipasi air pasang ekstrem. Indikator B6 adalah fraksi wilayah pesisir di Kelurahan. Nilai indikator ini dinormalisasikan dengan jumlah penduduk pada kelurahan tersebut. Fraksi pesisir ditentukan dengan membagi daerah yang terkena gelombang pasang 100 m di setiap Kelurahan dengan luas wilayah Kelurahan tersebut(Gambar V-1). maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dinormalkan dengan nilai maksimalnya. Semua nilai-nilai indikator ini sudah dinormalisasi oleh jumlah maksimum bangunan yang terletak di tepi sungai. Indikator B4 adalah kepadatan penduduk di mana semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka akan lebih tinggi tingkat paparan dari masyarakat terhadap bencana. B8) sebagaimana ditetapkan dalam Tabel 4.. Indikator B2 adalah jumlah bangunan yang terletak di tepi sungai.CI i = ∑ wij * I Aij j =1 5 Di mana subskrip -ith mewakili desa -ith dan Wij adalah nilai bobot untuk indikator A-jth dari desa -ith. Indikator B3 adalah fraksi dari Kelurahan yang menerima layanan air minum. Hal ini dikarenakan genangan air pasang tinggi (rob) biasanya digunakan sebagai indikator dampak kenaikan permukaan air laut. Kelurahan di mana sebagian besar masyarakat mendapatkan air minum dari Perusahaan Air Minum Negara (PDAM) akan kurang rentan terhadap dampak kekeringan karena PDAM biasanya masih bisa mensuplai air minum pada semua musim (kering atau basah). . maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimalnya. didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat relatif pentingya suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas. semakin tinggi nilai indeks kapasitas. Hal ini menempatkan kelurahan tersebut lebih rentan. agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1. Untuk mendapatkan nilai-nilai dari indikator berkisar dari 0 hingga 1. Indeks Kerentanan (VI) juga dikembangkan dengan menggunakan pendekatan yang sama.. agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1.. semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimal. Nilai indikator ini adalah dinormalkan dengan ukuran penduduk Kelurahan. Serupa dengan Indeks Kapasitas (CI). karena tingkat pemaparan kelurahan ini terhadap dampak kenaikan permukaan laut akan lebih tinggi daripada yang terletak di pedalaman. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil. Kelurahan dengan fraksi pesisir tinggi akan lebih rentan daripada Kelurahan dengan fraksi pesisir kecil. Pemilihan nilai-nilai bobot bersifat subjektif. Indikator B1 adalah persen dari rumah tangga di Kelurahan yang tinggal di tepi sungai. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil. semakin tinggi kapasitas kelurahan. 81 . Nilai skor dari indikator ini adalah satu dikurangi dengan nilai skor yang telah dinormalkan tadi. B5 adalah indikator jumlah rumah tangga miskin. Dengan rumus ini.

Dalam studi ini. Order sungai ditentukan dengan menggunakan metode Strahler (1986). hal itu disebut sebagai order-1. hal ini dapat mengacu pada order tertinggi. sungai memiliki order-4 sebagai tingkat tertinggi. Indikator B8 mengindikasikan fraksi kelurahan yang tidak memiliki fasilitas drainase. Dalam kasus ini. Dalam metode ini. jaringan sungai dinotasikan sebagai angka berdasarkan tingkat (order). dan pertemuan antara order-2 mewakili order ke-3. semakin tinggi tingkat kerentannya. dalam kasus di mana dua order dengan tingkat yang berbeda bertemu di segmen tertentu. Urutan tertinggi ini biasanya diwakili oleh lokasi dari akumulasi aliran permukaan. Berdasarkan aturan ini. Semakin tinggi indikator ini. bagian dari sungai yang terbentuk sebagai hasil dari pertemuan antara order tertentu dianggap sebagai tingkat order berikutnya. yang sangat sering menjadi sasaran banjir. Area pantai yang dipengaruhi oleh gelombang setinggi +100 m Indikator B7 adalah fraksi sungai yang ditentukan berdasarkan urutan (order) sungai. 82 . Segmen sungai di mana kita dapat menemukan pertemuan antara order-1 didefinisikan sebagai order ke-2 sungai. Gambar V-2A mengilustrasikan order tertinggi sungai ditandai dengan garis merah. ditargetkan luas wilayah banjir seperti yang ditunjukkan pada Gambar V-2B diasumsikan sejauh 100 meter ke kiri dan kanan sisi segmen. Indikator B9 non-kawasan terbuka hijau yang akan menentukan kapasitas tanah dalam menyerap curah hujan. Bagian atas aliran sungai diberi nomor notasi sama dengan 1.Area affected by tide+100 m Gambar 5-1. dengan demikian. Namun.

Sebagai VI dan nilai-nilai CI berkisar dari 0 hingga 1.5 ke 0. Sedangkan kelurahan yang terletak di kuadran 1 akan mempunyai VI rendah dan CI tinggi. semakin tinggi indeks. semua nilai-nilai VI dan CI dari semua Kelurahan dikurangi 0. didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat kepentingan relatif dari suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas. Berdasarkan sistem klasifikasi ini. Posisi relatif Kelurahan menurut CI dan VI ditentukan berdasarkan posisi mereka di lima Kuadran seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5-3.5.5.Penentuan order aliran tertinggi (A) & pendugaan luas dari luapan air sungai (B) Formula untuk menghitung CI adalah sebagai berikut: VI i = ∑ wij * I Bij j =1 5 Di mana subskrip -ith mewakili Kelurahan-ith dan Wij bersifat subjektif. dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan kelurahan apabila kelurahan tersebut terletak di kuadran 1. maka nilai VI dan CI akan berkisar dari -0. 5. Kelurahan yang terletak di Kuadran 5 akan memiliki CI rendah dan VI tinggi.5. 83 . semakin rentan kelurahan ini. Dengan formula ini.A B Gambar 5-2. dengan mengurangi nilai-nilai dengan indeks 0. Klasifikasi Kelurahan (Desa) Berdasarkan Indeks Kerentanan dan Kapasitas Untuk mengelompokkan desa-desa berdasarkan tingkat kerentanan dan kapasitas.2. jika kelurahan terletak di kuadran 5 terkena bencana tertentu.

25 -0.50 -0.25 Low Vulnerability +0. 84 . pendidikan dan non-kawasan terbuka hijau (berdasarkan perencanaan wilayah atau RTRW).25 Index +0.50 -0.25 Low Capacity Index 3 High Capacity Index 2 1 -0. ini dikarenakan tidak tersedianya data dari sumber lain. Faktor-faktor yang digunakan untuk normalisasi skor indikator pada 2025 dan 2050 adalah sama dengan tahun baseline 2005. Pengelompokan kelurahan berdasarkan indikator kapasitas dan kerentanan Untuk menilai perubahan V dan C di masa depan.High Vulnerability Index +0.50 5 4 +0.50 Gambar 5-3. kami hanya mempertimbangkan perubahan kepadatan penduduk (berdasarkan proyeksi pemerintah).

(B) 2025. Berdasarkan hasil proyeksi ini menunjukkan bahwa kemampuan kapasitas atau adaptasi masyarakat di Bandar Lampung cukup baik. 85 .02. sedangkan proyeksi untuk tahun 2050 VI berkisar antara 0. Hal ini mengindikasikan bahwa pada kondisi lingkungan yang sama kemampuan untuk beradaptasi lebih meningkat. namun demikian masih dapat dianggap stabil. tetapi proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan peningkatan yang signifikan 0. dan proyeksi pada tahun 2050 menunjukkan nilai indeks 0.51.05. pada tahun 2025 VI berkisar antara 0. Kondisi tersebut ditunjukkan pula dengan semakin meningkatnya nilai indeks CI.53. Pada kondisi baseline 2005.431. Berdasarkan hasil ini dapat dijelaskan bahwa tingkat kerentanan sedikit melebar.19 hingga 0.22-0.(A) (B) (C) Gambar 5-4. VI berkisar antara 0.41-1.29-0. (C) 2050 Gambar 5-4 menunjukkan nilai indeks untuk kerentanan dan kapasitas untuk setiap kelurahan di Bandar Lampung. Pada tahun 2005.23 hingga 0.52. Indeks Kerentanan dan Kapasitas Kelurahan (A) Baseline. nilai CI bervariasi pada kisaran 0. mengingat hasil analisis yang diperoleh unuk proyeksi ke depan (2050) pada level yang dapat dikatakan sama dengan kondisi baseline 2005.96.

(A)

(B) Figure 5-5. Coping capacity index of Kelurahan of Lampung City (A) Baseline, (B) 2025, (C) 2050

(C)

Kondisi kerentanan dan kapasitas ditunjukkan mulai dari sangat rendah (hijau) hingga sangat tinggi (merah). Berdasarkan Gambar 5-5, terlihat bahwa kondisi baseline 2005 dan kondisi proyeksi pada tahun 2025 dan 2050 tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Namun demikian dari gambaran tahun 2050, terlihat bahwa pada sebagian daerah yang semula ditunjukkan dengan warna merah (sangat tinggi) berubah menjadi oranye (tinggi) dan pada sebagian daerah lain warna kuning (medium) berubah menjadi warna hijau (very low), artinya terjadi penurunan VI atau peningkatan CI. Meskipun ada juga sebagian kecil daerah yang semula berwarna kuning (medium) menjadi oranye (high), artinya terjadi peningkatan VI atau penurunan CI.

86

BAB 6 ANALISIS RISIKO IKLIM

6.1. Metodologi untuk Pemetaan Risiko Iklim Untuk menilai risiko iklim saat ini dan masa depan, kita mengadopsi definisi risiko iklim seperti yang disarankan oleh Beer dan Ziolkowski (1995) dan Jones et al. (2004). Risiko didefinisikan sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian iklim tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi dari kejadian iklim tak terduga jika itu terjadi. Dengan demikian risiko dapat disajikan dalam bentuk matriks risiko (Tabel 6-1). Dari Tabel 6-1, kita dapat mendefinisikan risiko iklim akan sangat tinggi jika kemungkinan terjadi kejadian tak terduga sangat mungkin dan konsekuensi dari peristiwa bencana bersifat katastrofik. Tabel 6-1. Matriks risiko sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi jika kejadian tak terduga itu terjadi. Kemungkinan Konsekuensi katastropik kritis Marginal Probabilitas terjadinya suatu kejadian yang tidak diharapkan Kemungkinan Sangat Mungkin Mungkin kecil Sangat Tinggi Tinggi Medium Tinggi Medium Rendah Medium Rendah Sangat Rendah

Konsekuensi dari kejadian akan tergantung pada rentang adaptasi (coping range) yang dibentuk oleh berbagai biofisik, sosial dan faktor-faktor ekonomi. Coping range merupakan selang toleransi dari suatu sistem terhadap keragaman iklim. Apabila kondisi iklim melewati selang toleransi ini maka sistem akan rusak atau keberlanjutan dari sistem akan terganggu (Boer, 2007). Dalam konteks ini, coping range dapat diwakili oleh indeks kerentanan dan kapasitas. Jadi jika peristiwa tak terduga terjadi di kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan kapasitas yang rendah, dampak dari kejadian itu akan tinggi. Jika itu terjadi di kelurahan dengan kerentanan rendah dan kapasitas yang tinggi, dampaknya diharapkan akan rendah. Dalam studi ini, kami mengadopsi lima tingkat coping capacity index seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.4. Untuk memasukkan beberapa bencana iklim yang ditampung dalam matriks risiko iklim, kita memodifikasi kemungkinan kejadian tak terduga yang didefinisikan dalam Tabel 6-2 sebagai indeks yang disebut indeks komposit bencana iklim/composite climate hazard index (CCHI). The Climate Hazard Index (indeks bencana iklim/CHI) is dihitung mengikuti formula:

CCHI i = ∑ wij * CHI ij
j =1

n

di mana CCHIi adalah indeks bencana iklim komposit dari kelurahan ke-i, wij adalah bobot bencana iklim ke-j di kelurahan ke-i dan CHIij adalah indeks bencana iklim kej dari kelurahan ke-i. Jenis bencana iklim yang dianalisis dalam studi ini adalah
87

banjir, kekeringan, longsor dan kenaikan permukaan laut (robs). Angin yang kuat sangat jarang terjadi di kota karena itu kita mengecualikan dalam analisis ini. Bobot dan formula yang digunakan untuk menghitung indeks bencana iklim diberikan pada Tabel 6-2. Matriks risiko iklim yang disesuaikan disajikan pada Tabel 6-3. Tabel 6-2. Bobot dan rumus untuk menghitung indeks bencana iklim
Tipe bencana Bobot* Formula Probabilitas untuk mempunyai curah hujan melebihi 339 mm dikalikan dengan rataan wilayah Kelurahan yang dipengaruhi oleh banjir. Untuk mendapatkan nilai index antara 0 – 1, maka nilai yang diperoleh dari 1.25 hitungan dinormalisasikan dengan nilai maksimumnya. Probabilitas untuk mempunyai bulan kering dengan panjang lebih dari 6 bulan dikalikan dengan jumlah bulan kering di atas 6 bulan (DM6+). Bulan kering adalah bulan dengan curah hujan kurang dari 129 mm. Jika total bulan kering adalah 8 bulan, maka DM6+ = 2 bulan. Untuk mendapatkan nilai index antara 0 – 1, maka nilai yang diperoleh dari 1.50 hitungan dinormalisasikan dengan nilai maksimumnya. Probabilitas untuk mempunyai curah hujan lebih besar dari nilai Q2 dikalikan dengan indikator kelerengan dari kelurhan bersangkutan. Kelurahan yang memiliki lokasi dengan kelerengan lebih besar dari 45o, 0.75 maka nilai indikator sama dengan 1, selainnya bernilai 0.

Banjir

Kekeringan

Tanah Longsor Kenaikan muka air laut Max CCHI

1.00 Fraksi dari kelurahan yang tergenang akibat kenaikan permukaan air laut 4.50

Catatan: Bobot sangat subjektif dan ditentukan berdasarkan Expert Judgement. Kekeringan memiliki bobot tertinggi karena dampaknya bisa lebih parah daripada banjir pada durasi dan luas wilayah yang terkena dampak. Dampak banjir, longsor dan kenaikan permukaan laut lebih lokal daripada kekeringan. Tabel 6-3. Matriks risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index (CCHI, indeks komposit bencana iklim) Indeks komposit bencana iklim (CCHI) Lebih dari 3.5 Antara 2.0 dan 3.5 Kurang dari 2.0 Sangat Tinggi Tinggi Sedang - Tinggi Tinggi Sedang - Tinggi Sedang Sedang - Tinggi Sedang Sedang - Rendah Sedang Sedang - Rendah Rendah Sedang - Rendah Rendah Sangat Rendah

Coping Capacity Index 5 4 3 2 1

Metodologi untuk menentukan ambang curah hujan yang menyebabkan banjir dan kekeringan didasarkan pada distribusi statistik dari curah hujan bulanan dan data bencana dari 7 kelurahan (Tabel 6-4). Ambang batas kritis curah hujan tersebut ditetapkan berdasarkan karakteristik dari bencana dan waktu terjadinya bencana (bulan dan tahun) dan intensitas curah hujan bulanan regional dari tahun yang bersangkutan (berdasarkan data dari Stasiun Masgar, 05°10'12" LS dan 105°10'29.4" BT).
88

4314 Date and Month Oct-Dec Jul 18-Dec Aug-Oct Jan Rainy season May-Aug. Kejadian banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung Type of Disasters Flood Name of Village Panjang Selatan Sukabumi Indah Pasir Gintung Kota Karang Kangkung Batu Putu Drought Panjang Selatan Sukabumi Indah Pasir Gintung Kota Karang Kangkung Batu Putu Sub-District Panjang Sukabumi Tanjung Karang Pusat Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Utara Panjang Sukabumi Tanjung Karang Pusat Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Utara Lon 105. banjir akan terjadi. Nilai ini diambil sebagai ambang curah hujan yang menyebabkan kekeringan ketika kekeringan terjadi setiap tahun (Tabel 64). kita mengadopsi nilai kritis 339 mm (kuartil 3 dari distribusi) karena banjir tidak terjadi setiap tahun sebagaimana kekeringan. JanMar May-Oct Apr-Oct Feb-Sept Every month May-Oct Incident Year 1981-2007 2008 2008 2008.4547 -5. 129 mm Gambar 6-1 Box plot curah hujan bulanan pada musim hujan dan kemarau selama tahun-tahun terjadi bencana dan tahun-tahun tidak terjadi bencana 89 .2606 105. Untuk banjir.3231 105.4752 -5.2957 105. kekeringan akan terjadi.2571 105.3983 -5.4752 -5.2571 105.2677 105.4465 -5.4047 -5.2677 105.2229 105.2606 105.2009 2006.4314 -5.2009 2006 Every year Every year Every year Every year Every year Every year Sumber: Bappeda Lampung (2006) Berdasarkan Boxplot data curah hujan bulanan musim kemarau dan musim hujan (Gambar 6-1). Figure VI-1.4047 -5.2229 Lat -5. Jadi.4547 -5.4465 -5.3231 105. Ini berarti bahwa jika curah hujan di bawah 129 mm.2956 105.3983 -5.Table 6-4. Threshold for flood. kami menemukan curah hujan yang memisahkan dua distribusi curah hujan bulanan yaitu sebesar 129 mm. jika curah hujan musim hujan di atas nilai ini. 339 mm Threshold for drought.

50). Merah (> 1. (B) Bencana Iklim skenario A2 2025. yaitu di bagian selatan Kecamatan Panjang. (E) Bencana Iklim skenario B1 2025.75).6. (C) Bencana Iklim skenario A2 2050. Indeks Bencana Iklim komposit Bandar Lampung. skenario bencana iklim A2 pada tahun 2025.5 (ditunjukkan dengan warna hijau dan kuning pada gambar). dan hanya sebagian kecil yang >1.2 menunjukkan Indeks Komposit Bencana Iklim baseline 2005. B1 pada`tahun 2025 dan skenario bencana iklim B1 pada tahun 2050.5 (ditampilkan dalam warna merah pada skenario A2 dan B1). A B C D E F Gambar 6-2. Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah berada pada kisaran indeks <1. Kuning (1. Klasifikasi Kelurahan (Desa) berdasarkan Tingkat Eksposur terhadap Risiko Iklim Gambar 6.50) 90 . (F) Bencana Iklim skenario B1 2050. A2 pada tahun 2050.2. Catatan: Hijau (<0. Catatan: (A) & (D) Bencana Iklim Baseline.75-1.

5 sedikit lebih lebar (Gambar 6. Baseline Bencana Iklim tahun 2005. (E) Risiko Iklim skenario B1 2025. daerah yang memiliki indeks >1. yang ditunjukkan oleh sebagian dari Kecamatan Teluk Betung Barat.2 B dan C) dari pada baseline atau skenario B1.Dalam skenario A2. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik. Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur mereka terhadap risiko iklim (A) & (D) Risiko Iklim Baseline. (F) Risiko Iklim B1 skenario 2050 91 . pada banyak wilayah tidak mengalami perubahan. (B) Risiko Iklim skenario A2 2025. A B C D E F Gambar 6-3. Adaptasi akan menentukan lebar atau sempitnya coping range (interval toleransi). (C) Risiko Iklim skenario A2 2050. Kemampuan adaptasi yang lebih tinggi akan memiliki interval toleransi dari sistem yang lebih luas. ketika diproyeksikan dengan skenario A2 dan B1 pada tahun 2025 dan 2050.

4).Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur risiko iklim ditunjukkan pada Gambar 6. Bumi Waras dan Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan). Di masa depan (skenario 2025 dan 2050). dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). Jumlah Kelurahan menurut kategori Indeks Risiko Iklim Analisis di atas menunjukkan bahwa bagaimana perubahan dalam kondisi sosialekonomi dan biofisik akan mengubah kapasitas ketahanan Kelurahan. Program adaptasi harus diprioritaskan di Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah dan sedang terkena atau berpotensi terkena indeks bencana iklim yang tinggi. Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang Sub-distrik). Sepang Jaya dan kelurahan Kedaton (Kecamatan Kedaton). Ada dua Kelurahan akan pindah dari M-H ke kategori risiko iklim tinggi.7%) pada risiko iklim L-M (Rendah ke Medium). terutama di bawah skenario SRESB1. 36 Kelurahan (36. Ini termasuk Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat). 22 Kelurahan (22.4%) Kelurahan pada risiko iklim VL (sangat rendah). Kategori tertinggi adalah hanya Menengah ke Tinggi (M-H). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada Kelurahan dengan kategori risiko iklim Sangat Tinggi (VH) saat ini (kondisi baseline). yaitu kelurahan Gunung Mas di Kecamatan Teluk Betung Utara dan Kelurahan Garuntang di Kecamatan Teluk Betung Selatan. Kelurahan Kangkung. Untuk mengurangi tingkat risiko Kelurahan terhadap dampak perubahan iklim. infrastruktur dan program pengembangan masyarakat harus diarahkan untuk meningkatkan indikator-indikator sosial-ekonomi dan biofisik dalam mempersiapkan kapasitas kerentanan dan adaptasi dari Kelurahan.4%) pada risiko L (rendah) dan 21 (21.3. 92 .2%) dengan kategori risiko M-H.4. Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). akan terkena risiko iklim yang lebih tinggi (Gambar 6. Sisanya adalah 5 Kelurahan (5. Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). Sementara banyak dari Kelurahan dengan kategori risiko L-M akan pindah ke kategori risiko sedang (M) (Gambar 6. Gambar 6.1%) berada pada risiko iklim M (Menengah). Ada sekitar 14 Kelurahan (14.4). lebih banyak Kelurahan.

Banjir yang terjadi di kota Bandar Lampung disebabkan banyak faktor antara lain bentuk geografis wilayah dan budaya masyarakat yang tidak peduli kelestarian lingkungan. Potensi bencana lain yang dapat mengancam kota Bandar Lampung adalah letusan gunung berapi. Kota Bandar Lampung termasuk dalam wilayah 4 dan wilayah 5 (Standar Perancangan Ketahanan Gempa – SNI 03-126-2002) dengan percepatan gravitasi 0. Sedangkan di bagian hilir kepadatan penduduk tinggi mendorong masyarakat memanfaatkan daerah bantaran kali untuk permukimannya segingga muncul kawasan kumuh. Dilihat dari ketinggian yang dimilikinya.A 2008. Kota Bandar Lampung pernah mengalami dampak letusan gunung api pada tahun 1883 dan 1928. Secara geologis. Kota Bandar Lampung terletak lebih dari 50 km sebelah barat laut Gunung Krakatau. hal 4-4 93 . mulai dari material ukuran halus sampai kasar yang dapat mengakibatkan robohnya atap bangunan. Kondisi diatas menyebabkan kapasitas tampung sungai menjadi berkurang dan pada musim hujan terjadi banjir. Sedangkan dibagian tengah karena keterbatasan lahan dan ketidakteraturan dalam penataan lingkungan beberapa wilayah tampungan air/retensi alam dibangun menjadi perumahan. kebakaran dan lain-lain. tanah longsor.25 g1.1. perkantoran maupun fasilitas umum sehingga daerah parkir air menjadi berkurang. Wilayah 4 dan wilayah 5 menunjukan bahwa kota Bandar Lampung merupakan wilayah yang punya probabilitas cukup tinggi untuk kejadian gempa bumi. namun sangat dipengaruhi oleh aktivitas gempa bumi dangkal yang berhubungan dengan aktivitas patahan-patahan. kota Bandar Lampung terletak pada jalur patahan berpotensi aktif yang setiap saat dapat menimbulkan ancaman gempa. Beberapa daerah tangkapan air sungai yang ada telah rusak terutama pada bagian hulu. Kompleksitas pengaturan tataguna lahan dan kepadatan penduduk telah membuat kota Bandar Lampung menjadi kota yang sangat rentan terhadap berbagai ancaman seperti gempa bumi. rusaknya hutan dan tanaman pertanian serta menyebabkan sakit mata dan saluran pernafasan. Kemungkinan bahaya yang mengancam adalah hujan abu. Berdasarkan data distribusi episentrum gempa dangkal dan menengah di sekitar Selat Sunda. terlihat bahwa daerah Kota Bandar Lampung kurang dipengaruhi aktivitas gempa bumi Benioff Zone. sedangkan kecamatan dengan ketinggian 2-5 mdpl yaitu Teluk Betung Selatan dan Panjang. salah satu gunung berapi yang masih aktif di Selat Sunda.20-0.BAB 7 PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM 7. namun berdasarkan catatan kejadian. Meskipun jaraknya relatif jauh. 1 Laporan Akhir Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung T. Climate Hazard di Kota Bandar Lampung Kota Bandar Lampung merupakan kawasan dengan bentuk daratan dan perbukitan dengan letak ketinggian berada antara 0-700 mdpl. kecamatan yang terketak diatas perbukitan dengan ketinggian 700 mdpl yaitu Kedaton dan Rajabasa.

Longsor merupakan bentuk erosi yang pengangkutan atau pemindahan tanahnya terjadi pada suatu saat yang relatif pendek dalam jumlah (volume) yang sangat besar. Selain ancaman bencana alam yang sering terjadi. Analisis kecenderungan jangka panjang dengan data Climate Research Unit (CRU) untuk kota Bandar Lampung menunjukan hasil yang tidak konsisten dengan analisis trend dikarenakan adanya variasi keragaman data curah hujan dalam satu dekade (IPO) dan juga terkait dengan modulasi frekuensi rendah dari El Nino (ENSO) terutama setelah tahun 1970-an. Kekeringan dan banjir terjadi secara dominan di kampung Sukabumi dan Batu Putu. sementara rob terjadi antara September dan Desember sedangkan angin ribut antara bulan Desember dan Maret.Bencana longsor merupakan suatu bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Longsor sangat dipengaruhi keseimbangan air dalam tanah. meskipun keragaman curah hujan 94 . banjir dan rob (naiknya muka air laut). Perubahan iklim akan memberikan pengaruh dan dampak yang lebih signifikan terhadap masyarakat dan wilayah yang berada di kawasan pesisir/pantai. Kejadian banjir biasanya terjadi pada bulan November – April. sedangkan untuk musim kemarau. Perubahan iklim menimbulkan dampak yang secara cepat dirasakan masyarakat dengan adanya berbagai kejadian ekstrem. Kondisi diatas menunjukan bahwa curah hujan kota Bandar Lampung tidak akan berubah dalam atmosfir yang semakin memanas. dimana awal musim hujan cenderung terlambat dan durasinya lebih pendek pada saat ini. termasuk kota Bandar Lampung. angin ribut. Berdasarkan catatan pernah terjadi kejadian longsor Bukit Camang di Poncoh Raya. sebagian besar model menyatakan bahwa curah hujan bulan DJF akan meningkat. Berdasarkan informasi masyarakat dan studi mitigasi bencana di kota Bandar Lampung menunjukan bahwa kejadian ekstrem yang frekuensinya sering terjadi adalah kekeringan. termasuk kota Bandar Lampung yang terletak di Teluk Lampung. Teluk Betung Barat pada tanggal 29 Maret 2007. Rob sering terjadi di Panjang Selatan. Pada tahun 2080. hanya sebagian model yang memperirakan bahwa curah hujan akan meningkat. Perubahan iklim secara mendasar akan meningkatkan frekuensi dan durasi dari bahaya dan ancaman alam serta berbagai kejadian dan dampak yang dirasakan. Kota Karang dan Kangkung. Prediksi iklim kota Bandar Lampung di masa depan menunjukan bahwa sebagian model memperkirakan bahwa curah hujan di musim hujan (des-jan) diperirakan bahwa tahun 2025 dan 2050 akan meningkat dan sebagian model memprediksikan akan menurun. Terjadi penurunan curah hujan yang rendah di musim basah (SON dan DJF) dan penurunan curah hujan yang tinggi di musim kemarau (MAM dan JJA). Hal ini menunjukan bahwa musim hujan cenderung berakhir dengan cepat dibandingkan dengan kondisi normal yang terjadi di masa lalu (sebelum tahun 1970an). sementara Panjang Selatan mengalami hampir semua ancaman bencana. Kota Bandar Lampung juga tidak dapat terhindar dari pengaruh dan dampak perubahan iklim yang sedang terjadi di semua belahan dunia. Hasil analisis perubahan iklim dan kejadian ekstrem yang dilakukan CCROM untuk kota Bandar Lampung mengindikasikan terjadinya perubahan signifikan awalnya musim. Dari rekaman data historis stasiun pemantauan hujan sekitar Bandar Lampung menunjukan adanya kecenderungan yang menurun jatuhnya hujan di semua musim.

transparan dan responsif memungkinkan terjadinya tindakantindakan adaptasi. atau dapat mengembangkan rencana kota yang fleksibel terhadap dampak perubahan iklim. penyaluran sosial pelayanan kesehatan. lingkungan. Bagaimanapun juga. Memahami tantangan-tantangan tersebut maka pemerintah 95 . pelaku di luar pemerintah (misalnya swasta. Sistem tata kepemerintahan yang akuntabel. sektor swasta. sosial. atau penyediaan air minum melalui tanki. Berbagai faktor tersebut meliputi fisik. pendidikan dan kesadaran publik). LSM. ekonomi dan sumberdaya manusia. Ruang Lingkup Komponen Kepemerintahan dan Kelembagaan Isu tata kepemerintahan (good governance) dan kelembagaan (institutional) membutuhkan perhatian khusus sebagai bagian sistem pengelolaan dan penyediaan dan juga perencanaan adaptasi yang secara langsung mempengaruhi kerentanan dan kapasitas adaptasi pada tingkat individu. Tentunya tidak hanya pemerintah kota yang berperan penting dalam pengelolaan sistem. korupsi dan lemahnya koordinasi. Ketahanan kota terhadap perubahan iklim dapat terwujud apabila Pemerintah Kota memiliki kemampuan respon cepat terhadap bencana. Pembahasan yang akan dilakukan pada bagian ini selanjutnya lebih menguraikan hasil analisis mengenai komponen kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka penilaian tingkat kerentanan kota terhadap perubahan iklim. sektor dan kota. Hubungan antar sektor dan sistem dalam wilayah perkotaan membutuhkan pendekatan terpadu dan menyeluruh untuk memperkuat kapasitas dan mempertimbangkan tata kepemerintahan dalam berbagai tingkat. Hal ini menunjukan bahwa intensitas kejadian ekstrem akan semakin meningkat sebagai hasil dari meningkatnya frekuensi dan intensitas El Nino (ENSO). universitas dan organisasi kemasyarakatan adalah aktor penting dalam penyediaan pelayanan atau mekanisme yang dapat memperkuat kapasitas adaptasi. Seringkali. Sebaliknya kota yang rentan dan tidak memiliki daya tahan adalah kota yang memiliki banyak masalah termasuk kemiskinan. koordinasi antar sektor dalam perencanaan kota seringkali lemah (misalnya rencana pembangunan ekonomi dan sosial terpisah dari penyusunan rencana pembangunan fisiknya). LSM. Misalnya penyediaan pelayanan keuangan bagi masyarakat miskin oleh swasta. penduduk dan sistem kota terhadap pengaruh dan dampak perubahan iklim sangat bergantung pada berbagai faktor termasuk kapasitas dalam beradaptasi. pelaku sektor informal) yang menjadi aktor utama dalam penyediaan pelayanan. 7. Tingkat kerentanan kota. tidak dilibatkan dalam perencanaan untuk memperkuat ketahanan dari pelayanan yang diberikan (misalnya pengurangan risiko bencana. Analisis kepemerintahan dan kelembagaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kajian faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kerentanan secara fisik. Salah satu komponen dalam faktor sosial yang mempengaruhi tingkat kerentanan kota adalah berkaitan dengan fungsi kepemerintahan dan kelembagaan (governance and institutions).2. lingkungan. ekonomi dan sumberdaya manusia yang dilakukan oleh CCROM dan Mercy Corps. atau perencanaan pengelolaan bencana yang dilakukan LSM dan organisasi kemasyarakatan. penyediaan dan penyaluran air bersih.akan semakin banyak terjadi.

maka suatu rencana dan strategi adaptasi seyogyanya dibuat dan dikembangkan berdasarkan kapasitas yang dimiliki dan memperhatikan faktor-faktor mendasar yang berpengaruh pada kerentanan setiap kelompok sosial yang berbeda.selayaknya mempromosikan upaya-upaya untuk memperkuat kapasitas adaptasi yang lebih terkoordinasi dan terencana. seperti air. tapi juga pada kapasitas kelembagaan dan proses kepemerintahan di kota-kota dalam mengelola dampak tersebut. Dengan pengertian tersebut. laki-laki. Meluasnya dampak tersebut sangat bergantung tidak saja pada ketersediaan infrastruktur saat ini. Lingkup penilaian kerentanan dilihat dari aspek tata kepemerintahan dan kelembagaan terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut : Pemetaan peran dari pemangku kepentingan dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor yang dipengaruhi iklim (misalnya air. transportasi. dan anak-anak menghadapi dampak yang berbeda dan mempunyai kapasitas adaptasi yang berbeda. energi. Analisis pemangku kepentingan adalah suatu pengertian yang mengacu pada tindakan untuk menganalisa perilaku pemangku kepentingan terhadap sesuatu (biasanya suatu proyek) dan perubahan yang akan 96 . sering terjadinya kejadian iklim ekstrem. perikanan.3. diperburuk dengan pesatnya urbanisasi. Kota-kota di Asia memiliki kerentanan tinggi terhadap dampak perubahan iklim. menjadikan pentingnya suatu pendekatan yang mempertimbangkan banyaknya factor berpengaruh pada kerentanan dan siapa serta bagaimana setiap kelompok yang berbeda memiliki tingkat kerentanan yang berbeda pula. kaum perempuan. kesehatan dan sektor ekonomi sangat rentan terhadap dampak iklim karena saling ketergantungan dari sistem yang rumit ini. pengelolaan bencana) Menilai bagaimana iklim dan adaptasi yang sekarang ini terintegrasi dalam program-program (jangka pendek dan panjang) dan bagaimana bisa berjalan efektif untuk menyesuaikan dengan risiko iklim di masa depan Menilai kekuatan dan kelemahan dari perencanaan mengintegrasi adaptasi. Pemetaan peran stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektorsektor terkait dengan perubahan iklim Identifikasi Pemangku Kepentingan (Stakeholder Identification) Bagian ini menguraikan pemetaan dan analisis peran pemangku kepentingan (stakeholder mapping and analysis) dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim. pertanian) Pemetaan proses dan struktur yang ada untuk perencanaan (pembangunan. sampah. Kelompok sosial masyarakat. kesehatan. Sistem perkotaan. ketimpangan kesejahteraan dan akses terhadap pelayanan dan terbatasnya perencanaan kota serta tata guna lahan. drainage. Adanya ketidakpastian dalam perubahan iklim. termasuk kapasitas fiskal pemerintah untuk Mengidentifikasi mekanisme untuk program dan proses perencanaan untuk mencapai integrasi risiko dan adaptasi yang lebih baik 7. sanitasi.

Lembaga Kerjasama Internasional. Dalam konteks ini. swasta dan masyarakat yang terkena dampak atau menjadi penyebab munculnya berbagai kejadian ekstrem akibat perubahan iklim. sektor swasta. namun mempengaruhi dan menentukan proses yang terjadi didalam. Lembaga Lain. Pemangku kepentingan terkait perubahan iklim di Kota Semarang adalah orang atau organisasi pemerintah. yakni para pemangku kepentingan yang berada di lingkaran pengaruh terdalam dan lingkup eksternal. Lembaga Teknis Daerah. Pengertian dari Pemerintah Daerah adalah Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur Penyelenggara Pemerintah Daerah. Sedangkan yang dimaksud dengan pemangku kepentingan (stakeholder) adalah orang atau organisasi yang terkena dampak baik secara positif maupun negatif atau penyebab suatu dampak dari tindakan yang dilakukan.terjadi2. 2 3 Wikipedia. perguruan tinggi dan lainnya. Asosiasi. lembaga non pemerintah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). dan lain-lain. pemangku kepentingan internal yang berada didalam wilayah kota Bandar Lampung. Dinas Daerah. Terdapat 8 (delapan) Lembaga Teknis Daerah dan 1 (satu) satu satuan pamong praja (Satpol PP) di Kota Bandar Lampung4. stakeholder analysis diakses pada tanggal 8/1/2010 Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Bandar Lampung Perda Nomor 4 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Pamong Praja Kota Bandar Lampung 4 97 . Lembaga Teknis Daerah adalah merupakan unsur pendukung tugas Walikota dalam melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang sifaktnya spesifik. Satuan Polisi Pamong Praja. Swasta/Dunia Usaha. Pemangku kepentingan dapat juga dikelompokan berdasarkan lingkup/posisi yaitu lingkup internal. Kecamatan dan Kelurahan. Yang dimaksud perangkat daerah adalah unsur pembantu Walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari Sekretariat Daerah. Organisasi Kemasyarakatan. sedangkan pemangku kepentingan eksternal yang berada di luar wilayah. Pemangku kepentingan internal berasal dari unsur pemerintah daerah (pemerintah kota). Terdapat 17 Dinas Daerah yang dibentuk di Kota Bandar Lampung3. (ii) menganalisis peran dan tanggung jawab serta kontribusi masing-masing pemangku kepentingan di masing-masing sektor perubahan iklim. Sekretariat DPRD. Dinas Daerah adalah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang mempunyai tugas membantu Walikota dalam melaksanakan kewenangan desentralisasi Pemerintah Daerah di bidangnya. Pemerintah Provinsi. yakni pemangku kepentingan yang berada diluar pengaruh terdalam. Pemerintah Kota/Kabupaten. Klasifikasi pemangku kepentingan umumnya dikelompokkan kedalam kategori sebagai berikut: Pemerintah Pusat (kementerian dan lembaga pemerintah non departemen). Pemetaan dan analisis pemangku kepentingan dilaksanakan melalui beberapa tahapan mulai dari: (i) mengidentifikasi pemangku kepentingan yang terkait langsung dan tidak langsung dengan sektor-sektor perubahan iklim. (iii) memetakan tingkat kepentingan dan kekuatan yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan dalam upaya penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait perubahan iklim. Perguruan Tinggi.

perbaikan drainase. buruknya drainase kota.1% penduduk kota Bandar Lampung (Laporan Pembangunan 98 . Penyempitan sungai yang sporadis terjadi hampir di seluruh badan sungai yang dekat dengan permukiman penduduk.7. Way Sukamaju di Kecamatan Telukbetung Barat. Akan tetapi sampai dengan thaun 2002. Selain masalah penyempitan lahan tersebut. semakin berkurangnya kawasan perbukitan ini juga mengakibatkan longsor dikawasan tersebut yang tidak jarang memakan korban. PDAM Way Rilau baru mampu memberikan kepada 66. Permasalahan Perkotaan di Bandar Lampung yang Terkait dengan Adaptasi Perubahan Iklim a. Sungai-sungai tersebut adalah Way Kupang di Kecamatan Telukbetung Selatan. Akibatknya para pemilik lahan dapat melakukan apapun terhadap lahan tersebut tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. Banjir Meskipun Kota Bandar Lampung terletak diatas 100meter diatas permukaan laut (mdpl) akan tetapi Kota Bandar Lampung sering mengalami masalah banjir. b. dan berkurangnya daerah terbuka hijau. air mimum yang bersumber dari PDAM menjadi sumber utama bagi masyarakat perkotaan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Banjir yang terjadi di Kota Bandar Lampung disebabkan atas beberaa hal antara lain tingginya curah hujan. Hal lain yang juga sangat berperan menjadi penyebab banjir di kota ini adalah penyempitan sungai yang mempunyai DAS berukuran kecil yang merupakan drainase utama dari daerah pantai di sekitar Telukbetung dan Panjang. pemberian perijinan yang lebih ketat dan program dan kegiatan lainnya yang bertujuan untuk mengatasi masalah banjir dan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai. PDAM Way Rilau sebagai perusahaan daerah air minum yang memberikan pelayanan air minum di Kota Bandar Lampung berperan besar untuk memenuhi kebutuhan warga kota Bandar Lampung akan air minum.4. Pemerintah Bandar Lampung mengalami kesulitan untuk mengontrol perubahan fungsi lahan kawasan perbukitan karena umumnya kawasan perbukitan tersebut telah menjadi milik pribadi. serta Way Galih dan Way Lunik di Kecamatan Panjang. Sebagai akibatnya debit sungai yang berasal dari air hujan tidak bisa menyeberangi jalan utama kota dan menumpuk di daerah permukiman penduduk dan mengakibatkan banjir. Air Minum dan Sanitasi Sebagaimana yang terjadi di sebagian besar kota di Indonesia. kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan. Serin terjadi selain masalah banjir. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah kota Bandar Lampung telah melaksakan berbagai kegiatan baik dilakukan secara sendiri maupun bekerjsama dengan pemeritah pusat dan lembaga swadaya masyarakat. Penyempitan saluran dan sedimentasi di daerah ini cukup parah akibat padatnya permukiman penduduk. Beberapa program yang telah dilakukan antara lain program kali bersih. Bahkan pada akhir tahun 2008 Kota ini mengalami masalah banjir yang cukup besar yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar. banjir yang terjadi di Kota Bandar Lampung juga diakibatkan oleh gundulnya kawasan perbukitan Kota Bandar Lampung sebagai slah satu kawasan hijau kota. Akibatnya debit air tertahan dan membanjiri daerahdaerah permukiman yang berada di pinggir sungai. berkurangnya luas bantaran sungai.

Akan tetapi pada kenyataannya PDAM Way Rilau tidak dapat memberikan pelayanan secara menerus selama 24 jam karena terbatasnya debit air. Program ini diikuti pula oleh berbagai program yang disusun oleh pemerintah kota melalui dinas kesehatan seperti kegiatan kesehatan keluarga dan kampanye hidup sehat. Upaya ini diharapkan bisa menjadi pilihan pemerintah setempat dalam strategi pembangunan sanitasinya. Bandar Lampung merupakan salah satu kota di Indonesia yang juga menghadapi masalah sanitasi. Meski persentase ini cukup jauh dari cakupan pelayanan sanitasi nasional yang hanya 40. masih sangat banyak warga masyarakat mengenah ke bawah yang belum memperoleh akses air minum dari PDAM ini.Manusia 2004. 99 .67%. Selain itu.32. Bappenas -.BPS – UNDP). Oleh karena itu. hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 30% dari warga kota Bandar Lampung yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan sanitasi yang sehat. Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk di kawasan miskin perkotaan mengakibatkan kerugian ekonomi serta menurunkan kualitas hidup. yaitu Sistem Pembuangan Limbah Berbasis Masyarakat. 7. Data Percik pada tahun 2008 menunjukkan bahwa cakupan pelayanan sanitasi di Kota Bandar Lampung adalah 69. Melalui kegiatan yang saling mendukung ini diharapkan jumlah warga yang memiliki akses terhadap sanitasi akan dapat meningkat. Jumlah ini realtif cukup tinggi untuk kawasan perkotaan.5. Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis) Analisis pemangku kepentingan dimaksudkan untuk melihat sejauhmana peran dan tanggung jawab masing-masing dalam penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim serta potensi kontribusi yang dapat dilakukan masing-masing pemangku kepentingan. Situasi sanitasi yang parah menyebabkan berulangnya epidemi infeksi perut sehingga keberjangkitan penyakit thypus di Indonesia tercatat tertinggi di Asia Timur. terutama di kalangan wanita dan anak-anak. dalam waktu dekat PDM akan menjalin kerjasama dengan pihak swasta untuk meningkatkan debit air sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih luas kepada masyarakat dengan tidak melupakan fungsi sosialnya untuk melayani masyarakat miskin untuk memperoleh air dengan harga yang terjangkau. Analisis terhadap peran dan kontribusi masing-masing pemangku kepentingan dikaitkan dengan penanganan dan pengelolaan sektor-sektor terkait perubahan iklim. Menghadapi masalah ini pemerintah kota Bandar Lampung sejak tahun 2008 dan 2009 mengikuti program Sanitasi Masyarakat (Sanimas) yang bertujuan untuk untuk mengenalkan pilihan lain.

pelaksanaan kebijakan. pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasi. pengawasan pembangunan bangunan gedung. bangunan gedung dan penanggulangan bencana. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. • Memberikan bantuan teknis pengembangan permukiman. peremajaan kawasan kumuh). • Memberikan bantuan teknis penanganan banjir melalui anggaran pusat. pelaksanaan pengaturan pengelolaan SDA. pembinaan teknis dan pengawasan pembangunan infrastruktur PU Keciptakaryaan: rumah susun. • Mengkoordinasikan dan memfasilitasi bantuan dan kerjasama dalam penanganan banjir. Direktorat Jenderal Bertugas merumuskan dan Cipta Karya pelaksanaan kebijakan dan standarisasi tekbis bidang Cipta karya. permukiman kumuh/nelayan. Analisis Peran dan Kontribusi Pemangku Kepentingan dalam Perubahan Iklim Pemangku Kepentingan Pemerintah Pusat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Peran. penyusunan NSPM SDA dan pelaksanaan administrasi urusan Ditjen. air minum dan sanitasi. penyediaan air minum dan sanitasi. Bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan serta standarisasi teknis di bidang sumber daya air. bangunan gedung. penanggulangan darurat bencana Pemerintah Kota Bandar Lampung Badan Perencanaan Bertugas melaksanakan Pembangunan penyusunan dan pelaksanaan Daerah (Bappeda) kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah. penyediaan air minum. fasilitasi pembangunan dan pengelolaan infrastruktur. program dan anggaran serta evaluasi kinerja. penyusunan program dan anggaran. pengoordinasian penyusunan • Merumuskan kebijakan dan strategi nasional pembangunan keciptakaryaan: permukiman. Tugas dan Tanggung Jawab Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim • Merumuskan kebijakan dan strategi nasional pengelolaan SDA dan penanganan banjir secara nasional. pembinaan dan bantuan teknis. melalui penyelenggaraan fungsi: penyusunan kebijakan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknik. pengawasan dan pengelolaan bangunan gedung Membuat dan mengkoordinasikan rencana dan program di seluruh sektor dan lembaga-lembaga pada skala nasional/regional/daerah Mengintegrasikan rencana adaptasi perubahan iklim ke dalam rencana pembangunan 100 . pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasi.Tabel 7-1. • Mengkoordinasikan dan memfasilitasi bantuan dan kerjasama penyediaan permukiman layak huni (rusun. pembinaan teknis dan penyusunan NSPM. air minum dan sanitasi.

sektor swasta dan masyarakat Meninjau kembali ruang terbuka hijau sebagai bagian 101 . atau bahkan mencabut ijin penambangan jika diperlukan. pembinaan dan pelaksanana tugas dan pelaksanaan tugas lain yang diberikan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bertugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik di bidang lingkungan hidup. pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lain yang diberikan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim daerah Melakukan pengawasan daerah yang dilindungi. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. untuk menghindari daerahdaerah kritis bencana Program pembuatan sumur bor untuk air bersih Program penghijauan Program Lingkungan Berbasis Komunitas (PLBK) yaitu transformasi dari masyarakat mandiri ke masyarakat madani terkait dengan tata ruang Program pembuatan ‘embung’ dan perbaikan drainase untuk mengatasi bencana banjir Program PROKASIH (tapi hanya dilakukan setahun sekali karena keterbatasan dana) Program penataan kawasan pantai/pesisir Pembuatan peraturan daerah yang berkaitan dengan lingkungan hidup Peninjauan sistem perijinan pembangunan Penegakan hukum yang berhubungan dengan perubahan tata guna lahan dan ketidak konsistenan dalam rencana tata ruang Perencanaan ruang terbuka hijau di perkotaan sebanyak 30% sebagai daerah resapan Pengawasan pembangunan perumahan dan daerah bisnis dalam rangka melindungi ruang terbuka hijau dari pelanggaran pembangunan Program biopori untuk penyerapan air Program 3R (reduce.Pemangku Kepentingan Peran. reuse and recycle) dengan melibatkan kerjasama antara pemerintah. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah bidang pengembangan teknologi dan pengendalian lingkungan. misalnya penambangan pasir untuk melindungi daerah perbukitan. Tugas dan Tanggung Jawab perencanaan pembangunan.

pemberdayaan dan kesehatan lingkungan serta kesehatan keluarga Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim dari paru-paru kota Kampanye publik untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai atau laut Program desentralisasi sampah Pembinaan Taruna Siaga Bencana untuk menghadapi bencana Program penataan kawasan pesisir Penyusunan kebijakan yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan masyarakat Kontribusi terhadap isu perubahan iklim dengan prinsip promosi. pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang pelayanan kesehatan. promosi kesehatan. pencegahan pemberantasan penyakit. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. penyembuhan dan rehabilitasi Pembentukan tim gawat darurat untuk menghadapi bencana Pembentukan Puskesmas Keliling untuk melayani masyarakat di Pulau Pasaran Meningkatkan kapasitas kader Posyandu Dinas Peternakan dan Kehutanan Menyusun kebijakan dalam bidang peternakan dan kehutanan Program pengelolaan hutan (forestasi) • Program penataan kawasan pesisir dengan pengelolaan hutan bakau Dinas Pekerjaan Umum Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang pengelolaan sumber daya air dan energi sumber daya mineral berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. Tugas dan Tanggung Jawab Dinas Kesehatan Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan.Pemangku Kepentingan Peran. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. pembinaan dan Membangun ‘embung’ untuk mengatasi bencana banjir Program biopori untuk resapan air tapi agak sulit karena belum ada regulasi yang mewajibkan tiap rumah untuk membuat biopori Mengganti paving block dengan grass block karena memiliki daya serap yang lebih baik 102 . melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. pencegahan.

pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang pengembangan teknik. energi dan geologi. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. peralatan dan perbekalan. operasional dan pengendalian. Pembuatan kebijakan dan program dalam bidang pertanian Program rehabilitasi pengairan untuk sawah Program pembuatan pompa baru untuk daerah pertanian Pembuatan sumur resapan untuk pertanian dan kehutanan Penyebaran bibit penghijauan ke seluruh kecamatan • Program pemetaan daerah rawan banjir dan longsor di seluruh kecamatan Pusbik Melakukan studi dan Bertanggung jawab dalam memberi advokasi kebijakan dan program kepada pemerintah yang berkaitan dengan lingkungan hidup Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup Mempromosikan kebijakan lokal seperti rumah panggung untuk mengatasi banjir Peninjauan kembali ijin penambangan pasir jika akan merusak lingkungan Kampanye penyelamatan terumbu karang dengan membuat ‘rumpon’ Advokasi kepada masyarakat untuk tidak menebang hutan bakau Program penataan kawasan bukit 103 . sumber daya air.Pemangku Kepentingan Peran. Tugas dan Tanggung Jawab pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang rekayasa teknis. tata air serta peralatan dan pompa Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim Dinas Pertanian Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang penanganan dan penanggulangan kebakaran dan bencana berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. pembinaan dan penyuluhan serta penanggulangan bencana Lembaga Non Pemerintah Mitra Bentala Melakukan advokasi kepada masyarakata serta menjalin kerjasama dengan pemerintah untuk mempromosikan dan mendorong kegiatan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

Walhi Walhi adalah LSM yang memperhatikan perlindungan lingkungan untuk mendukung usaha pembangunan berkelanjutan.Pemangku Kepentingan Peran. konservasi lahan. Tugas dan Tanggung Jawab memberikan masukan kepada pemerintah tentang pengelolaaan lingkungan. wisata lingkungan dan manajemen limbah padat Sahabat Lingkungan Melakukan studi dan advokasi kepada pemerintah dan masyarakat tentang pelestarian lingkungan. termasuk meninjau kembali ijin penambangan di kawasan bukit Peningkatan kepedulian masyarakat untuk memperbaiki kualitas lingkungan Pemberdayaan kelompok kecil masyarakat dalam PKL untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Bertanggung jawab dalam memberikan advokasi kebijakan kepada pemerintah daerah dalam hal pembangunan berwawasan lingkungan. Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim dalam rangka melindungi lingkungan hidup dan pencegahan bencana. terutama di bidang manajemen limbah cair dan produksi bersih. PUSBIK juga berperan untuk melakukan advokasi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan. konsistensi dan penegakan hukum Membantu pemerintah dalam pembuatan rencana tata ruang dan penataan kembali Tempat Pembuangan Akhir untuk sampah Program penanaman hutan bakau di daerah pesisir Pengawasan kepada pemerintah dalam hal penegakan hukum Program edukasi lingkungan hidup kepada masyarakat Program pengelolaan sampah dengan memperbanyak TPS Bertugas memberi konsultansi/advokasi kepada pemerintah daerah dalam mengimplementasikan pembangunan yang aman dan ramah lingkungan terutama pembangunan di daerah pantai Bertanggung jawab dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan aktifitas yang berhubungan dengan lingkungan hidup Program penataan hutan bakau di daerah pantai Kampanye dalam rangka menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan Melakukan kajian dan memberikan rekomendasi 104 Perguruan Tinggi Universitas Lampung Memberikan masukan terkait program-program . pendidikan lingkungan.

peran dan kontribusi para pemangku kepentingan melalui program dan kegiatan terkait perubahan iklim tersebut berjalan secara parsial dan belum adanya upaya mengkoordinasikan dalam suatu kerangka kebijakan dan program penanganan perubahan iklim pada tingkat makro/kota. Salah satu teknik analisis yang digunakan adalah dengan melakukan pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping) dengan melihat kekuasaan (power) yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan dan tingkat kepentingan (interest) dari masing-masing pemangku kepentingan. mengelompokan dan menilai pengaruh terhadap individu atau kelompok yang berbeda. Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim kepada pemerintah untuk menyusun program yang berkaitan dengan perubahan iklim. Oleh karena itu pemetaan pemangku kepentingan dilakukan untuk masing-masing sektor terkait perubahan iklim sehingga dapat diidentifikasi siapa yang paling berperan dan bertanggung jawab untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.6.Pemangku Kepentingan Peran. Kemitraan antar pemerintah kota dan pemangku kepentingan (LSM dan Lembaga Pendidikan lainnya) dalam upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Sementara peran Pemerintah Provinsi Lampung lebih kepada koordinasi pelaksanaan dengan Pemerintah Pusat dan pemerintah kota/kabupaten lainnya. 7. baik dalam bentuk pendanaan maupun koordinasi pelaksanaan program. Meski demikian beberapa LSM Lokal telah secara aktif berkontribusi dalam program dan kegiatan perbaikan lingkungan baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan pihak lain. Kemitraan diatara seluruh pemangku kepentingan merupakan prasyarat untuk menciptakan masyrakat kota yang kuat dalam mengadaptasi perubahan iklim. Pemerintah Kota Bandar Lampung memiliki peran utama dalam penanganan sektor terkait perubahan iklim. Dalam kaitannya dengan isu perubahan iklim. pemetaan pemangku kepentingan dimaksudkan untuk mengetahui pemangku kepentingan mana yang paling mendukung/berpengaruh dalam penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim tersebut. Tugas dan Tanggung Jawab untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim di Kota Bandar Lampung melibatkan pemangku kepentingan dari internal kota dan eksternal kota dengan peran dan kontribusi yang beragam sebagai mana terlihat pada matriks di atas. 105 . Selama ini. Pemetaan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Mapping) Pemetaan pemangku kepentingan merupakan alat untuk mengidentifikasi. Bekerjasama dengan pemerintah untuk melakukan kajian terhadap bahaya perubahan iklim di kota.

Ringkasan dari ketiga peraturan perundangan tersebut diatas adalah sebagai berikut: • Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur pentahapan dalam proses penganggaran tingkat daerah (provinsi. daerah maupun sectoral. (ii) UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan (iii) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Ketiga mekanisme penyusunan dan pengelolaan perencanaan diatas nantinya akan sangat terkait dengan perencanaan adaptasi ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di daerah dan Penanggulangan Bencana Pembahasan mengenai mekanisme dan proses perencanaan pembangunan di daerah didasarkan pada 3 (tiga) lingkup perencanaan pembangunan sebagai berikut: (a) proses perencanaan dan penganggaran pembangunan. Secara jelas diatur bahwa proses penganggaran pada tingkat kota/kabupaten harus didasarkan pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). (b) penanggulangan bencana dan (c) penataan ruang. Pemetaan Pemangku Kepentingan berdasarkan tingkat Kepentingan Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa pelaku utama/kunci dalam penanganan perubahan iklim di Kota Bandar Lampung terdiri dari: Pemerintah Pusat. Pemerintah Kota dan Lembaga Kerjasama/donor Internasional. baik di tingkat pusat. Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di Daerah mengacu pada peraturan perundangan yang dikeluarkan secara nasional. kabupaten/kota). rencana jangka menengah (5 tahunan) dan rencana tahunan. efektif dan menuju pencapaian 106 . Tujuan utama dari SPPN adalah untuk menjamin bahwa segala upaya pembangunan di negara ini dapat dilaksanakan secara efisien.7. • Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengatur landasan sistem perencanaan mulai dari rencana jangka panjang (20 tahun). Beberapa peraturan perundangan terkait dengan perencanaan pembangunan daerah antara lain: (i) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Namun masing-masing pemangku kepentingan memiliki memiliki tingkat kepentingan yang berbeda-beda sebagaimana terlihat pada gambar 7.Level of Interest LOW HIGH A Minimal Effort W O L r e w o P H G I H B Keep Informed NGO University D Key Players Central Government City Government Cooperation/Donor Agency Business Sector C Keep Satisfied Provincial Government Gambar 7-1.

sistem perijinan. c) hak masyarakat dalam penanganan bencana. Keterkaitan antara UU No. 17/2003. 17/2003. 25/2004 dan UU No. (iii) penegakan hukum yang konsisten. sosialisasi dan diseminasi informasi secara dini terhadap ancaman kerawanan bencana alam 107 .target pembangunan yang telah ditetapkan. Materi utama dalam penanggulangan bencana meliputi: a) peran dan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah pada setiap tahapan penanganan bencana. UU No. tanggap darurat dan pasca bencana. insentif dan disinsentif. Pengaturan mengenai penataan ruang di Indonesiaa saat ini mengacu pada Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan beberapa peraturan pemerintah yang sudah dikeluarkan. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang telah ditindaklanjuti dengan terbitnya berbagai peraturan pemerintah. 32/2004 Mekanisme dan Proses Penanggulangan Bencana di daerah juga mengacu pada peraturan perundangan yang ditetapkan secara nasional. e) mekanisme pengendalian dalam pengelolaan bencana dan f) mekanisme sanksi. b) pembentukan kelembagaan penanganan bencana di tingkat nasional (BNPB) dan daerah (BPBD). jangka menengah dan rencana tahunan (RKPD). Perundangan ini juga menyatakan bahwa rencana kerja tahunan di tingkat pusat dan daerah (RKPD) harus menjadi referensi dalam menyusun anggaran tahunan. UU No. Kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan dan penerapan sistem deteksi dini. 25/2004 dan UU No. (ii) mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang yang sistemik melalui regulasi zoning. Keterkaitan antara UU No. Strategi pelaksanaan penataan ruang terdiri atas: (i) penerapan aturan zoning secara konsisten sebagai bagian dari rencana detail tata ruang. 24 tahun 2007 pada dasarnya mengatur tahapan dalam penanggulangan bencana mulai dari pra-bencana. Undang-Undang tersebut memberikan arah kebijakan dan strategi dalam rangka memadukan pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan untuk melindungi fungsi ruang dan dampak negatifnya terhadap lingkungan alam. Selain itu menguatkan adanya rencana pembangunan dalam jangka panjang. 32/2004 dapat dilihat dalam Gambar 7-2 Gambar 7-2. UU No. d) keterliabatan lembaga internasional dan sektor bisnis. • Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menekankan perlunya keterpaduan proses perencanaan dan penganggaran.

Hal ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan memberikan perlindungan terhadap manusia dan harta benda dengan perencanaan wilayah yang peduli/peka terhadap bencana alam. Meningkatkan prasarana dan sarana perkotaan yang berkualitas dan sesuai dengan tata ruang. Menegakkan supremasi hukum berdasarkan rasa keadilan yang demokratis. Untuk itu perlu ditingkatkan identifikasi dan pemetaan daerahdaerah rawan bencana agar dapat diantisipasi secara dini sejak sebelum terjadi. maka disepakati 9 (sembilan) misi pembangunan daerah Kota Bandar Lampung. Adil. Untuk mencapai visi yang telah ditetapkan tersebut. 5. Sedangkan dalam penanganan bencana. keberadaan badan ini juga akan memberikan respon yang lebih cepat dan lebih baik apabila warga kota menghadapi suatu masalah baik yang terkait dengan perubahan iklim maupun tidak. Penyusunan Skenario Design Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung TA 2009 yang bertujuan untuk (i) mengetahui kawasan yang rentan terhadap potensi bencana. Dengan adanya badan ini maka pemerintah kota akan dapat mengantisipasi permasalahan yang terjadi akibat terjadinya perubahan iklim. 6. (ii) menganalisis resiko bahaya alam dan bahaya rekayasa manusia/teknologi serta (iii) menyusun indikasi program dan rencana tindak dalam mengurangi resiko bahaya. yaitu : 1. Mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menyelenggarakan pemerintahan yang bersih. Meningkatnya pembangunan perekonomian dan kesediaan kebutuhan masyarakat. Mewujudkan keselarasan kehidupan beragama. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 3. Aman dan Demokratis dengan Dukungan Pelayanan Publik yang Baik. bertanggungjawab dan partisipatif. kesehatan. 4. 2. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandar Lampung. Selain itu kota Bandar Lampung juga telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada bulan November 2009. visi Kota Bandar Lampung tahun 2005-2010 yaitu : "Mewujudkan Masyarakat Bandar Lampung yang Sejahtera. ekonomi kerakyatan. serta penegakan hukum dan perlindungan sosial. Adapun permasalahan yang dihadapi serta alternatif strategi yang terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung dapat dilihat pada table berikut: 108 .kepada masyarakat. berwibawa. Selanjutnya berkaitan dengan visi dan misi tersebut juga telah ditetapkan lima isu pokok dalam pembangunan kota Bandar Lampung yaitu pendidikan. Mengelola sumberdaya alam secara bertanggungjawab dan berkelanjutan. Menciptakan keamanan dan ketertiban kota serta menanggulangi masalah sosial masyarakat. Selain itu pada saat yang sama. 9. 8. lingkungan hidup dan infrastruktur. Kota Bandar Lampung telah melakukan studi mitigasi bencana Kota Bandar Lampung TA 2008. 7.

Masalah dan alternatif startegi terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung Masalah • • Masih rendahnya mutu dan kuantitas infrastruktur perkotaan Belum meratanya sarana dan prasarana perkotaan di seluruh wilayah kota Terbatasnya kemampuan dana pemerintah daerah dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur daerah Belum efektifnya pelaksanaan penataan. Program dan Kegiatan Pemerintah Pemerintah daerah memegang peranan penting dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh daerahnya sebagai akibat dari dampak perubahan iklim global. gempa bumi dan tsunami • • Alternatif Strategi Meningkatkan mutu dan kuantitas infrastruktur perkotaan Meningkatkan mutu dan kuantitas bangunan publik dan gedung pemerintah Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana di daerah pinggiran Meningkatkan dan mengembangkan sarana transportasi Meningkatkan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang kota Memperbaiki pengelolaan SDA dan pelestarian fungsi lingkungan hidup Meningkatkan pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup Meningkatkan akses masyarakat dalam pemberdayaan dan pengelolaan SDA dan LH Meningkatkan perlindungan terhadap SDA dari kerusakan dan melindungi kawasan konservasi agar fungsinya sebagai penyangga kehidupan tetap terjada Merehabilitasi lingkungan yang telah rusak Meningkatkan pengelolaan sampah dan manajemen pelayanan persampahan • • • • • • • • • • • • • • • • • • 7.Tabel 7-2. Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektorsektor terkait dengan perubahan iklim a. pengendalian dan pemanfaatan ruang Kerusakan DAS yang cukup tinggi Banyaknya pertambangan (gunung dan bukit) yang merusak lingkungan Meningkatnya pencemaran air permukaan Lemahnya penegakan hukum terhadap perusak lingkungan Lemahnya kesadaran dan disiplin masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan Belum optimalnya pengelolaan sampah Adanya ancaman bencana (longsor. Pada saat yang sama pemerintah daerah juga memiliki kewajiban yang cukup besar untuk membantu warganya dalam beradaptasi dengan perubahan iklim.8. Pemerintah pusat menyusun kerangka kebijakan dan pedoman dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan. Hal ini karena semakin banyaknya bencana yang terjadi akibat terjadinya perubahan iklim 109 . banjir. Pemerintah daerah diharapkan mampu untuk mengatasai berbagai permasalahan yang muncul akibat dampak perubahan iklim.

Pemeliharaan ruang terbuka hijau. nelayan yang tidak dapat melaut karena gelombang tinggi dan hal-hal lainnya mengindikasikan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak buruk bagi warga Indonesia. taman dan hutan kota Program Pembangunan Saluran Drainase/Gorong-gorong Program Rehabilitasi/Pemeliharaan 110 Lingkungan Hidup Pekejaan Umum . Kota Bandar Lampung merupakan salah satu kota di Indonesia yang juga berpotensi akan menghadapi berbagai permasalahan sebagai akibat terjadinya perubahan iklim. Hidup Peningkatan kualitas dan Program Pengelolaan Ruang akses informasi sumber daya Terbuka Hijau alam dan lingkungan hidup. Tabel 7-3. Program yang terkait dengan Perubahan Iklim Tahun 2006 dan 2008 Urusan Kesehatan Program 2006 2008 Penurunan angka kesakitan Promosi Kesehatan dan dan kematian akibat penyakit Pemberdayaan Masyarakat Program Pengembangan Lingkungan Sehat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Program PeProgram Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak Pemulihan kualitas Program Pengendalian lingkungan hidup Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Pengendalian pencemaran Program Perlindungan dan dan perusakan lingkungan Konservasi Sumber Daya Alam hidup Penyusunan dokumen Program Pengembangan Kinerja perencanaan pengelolaan Pengelolaan Persampahan sumber daya alam dan ling. ornament kota.seperti meluasnya banjir/rob. kegagalan panen. Beberapa program kegiatan telah diinisiasi oleh pemerintah untuk menghadapi berbagai permasalahan yang baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan perubahan iklim sebagaimana yang tercantum dalam tabel 7-3 dibawah ini.

287. Artinya program yang dilakukan tidak 111 .100.528.871.047.000.325 4.500.336.900 3.1.217. Kondisi serupa juga dapat dilihat dari jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mendanai kegiatan-kegiatan tersebut. Tabel 7-4. 772.000 % 15% 9% 66% 2% 5. 16 Milyar untuk kegiatan yang berkaitan dengan perubahan iklim baik yang bersifat mitigasi maupun adaptasi.270 2.8 Milyar. Akan tetapi secara dilihat dari total persentase jumlah ini hanya sekitar 1 persen dari realisasi pengunaan APBD tahun 2008 yaitu sejumlah Rp.593.dari total alokasi anggaran lima sektor tersebut sebesar Rp. khususnya anggaran untuk sektor lingkungan hidup yang mencapai 66 persen dari total anggaran sektor tersebut. 5.201..5 Milyar . Dari sisi sektoral.950 105. Jumlah Anggaran yang Terkait dengan Perubahan Iklim TA 2008 Urusan Kesehatan Pekerjaan Umum Lingkungan Hidup Perencanaan Pembangunan Perikanan dan Kelautan* # Realisasi Anggaran Total Anggaran # Terkait PI 21. Karena pada dasarnya kegiatan yang dirumuskan oleh pemerintah daerah tersebut merupakan kegiatan rutin yang biasa dilakukan untuk mengatasi permasalahan perkotaan. Pemko Bandar Lampung memberikan alokasi yang cukup besar untuk kegiatan mitigasi bencana yaitu sekitar 27 persen dari total anggaran yang ada yaitu sekitar Rp.780.689. Pemko Bandar Lampung telah mengalokasikan dana yang bersumber dari APBD sejumlah Rp.000 1.992.400 8.000. Namun demikian melalui anggaran dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui anggaran tugas pembantuan.326. Pada tahun 2008.6 Milyar.910 3. Meski secara kuantitas jumlah program pada tahun 2008 telah meengkat akan tetapi hal tersebut masih dirasa belum mencukupi untuk menghadapi kota Bandar Lampung untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim.000 27% *Sumber dana Tugas Pembantuan Minimnya informasi tentang perubahan iklim merupakan salah satu alasan yang menyebabkan hal ini terjadi.Urusan 2006 Program 2008 Talud/Brojong Program Pengendalian Penataan Ruang Perencanaan Prasarana wilayah dan Sumber daya Alam Mitigasi Bencana Lingkungan Laut dan Pesisir Kelautan dan perikanan* Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Walikota Bandar Lampung 2007 dan 2009 *Kegiatan bersumber dari dana tugas pembantuan Tabel tersebut menunjukkan masih terbatasnya jumlah program yang dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk mengadatapsi terhadap perubahan iklim. Artinya jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan dengan program ataupun kegiatan lainnya.054.486.622. 11.800 99. jumlah anggaran yang dialokasi oleh pemerintah kota Bandar lampung cukup besar.

air bersih.4 Total Adapun jenis kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek NUSSP ini adalah adalah pembangunan. drainase. Kesemua kegiatan ini pada akhirnya ingin mengatasi permasalahan permukiman kumuh (slum area) di kota Bandar Lampung yang merupakan persoalan manajemen pembangunan dan pemukiman perkotaan yang kompleks serta merupakan dampak dari berbagai kebijakan pembangunan. Perbandingan ini sesuai dengan kapasitas fiskal Kota bandar Lampung. peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur primer (premiere works) dilingkungan perumahan dan permukiman kumuh yang meliputi : jalan setapak. Tabel berikut menggambarkan besaran dana dan cost sharing proyek NUSSP di Kota Bandar Lampung: Tabel 7-5 Besaran Anggaran Dana Program NUSSP di Kota Bandar Lampung (dalam Milyar Rph) 2006 ADB Pemda 4.75 4. Anggaran proyek ini merupakan cost sharing dengan perbandingan 60 : 40 antara loan ADB dan APBD Kota Bandar Lampung dalam kurun waktu 4 tahun (2006 sampai dengan 2009). persampahan. Adapun kegiatankegiatan dan lokasi pelaksanaan program ini selama tahun 2008 di Kota Bandar Lampung adalah sebagai berikut: 112 . Kota Bandar Lampung menjadi magnet bagi penduduk disekitar kota tersebut untuk datang dan mencari pekerjaan di kota ini. Namun dengan adanya informasi dan pengetahuan tentang bahaya akibat dari perubahan iklim terhadap daerah dan masyarakat Kota Bandar Lampung diharapkan pemerintah kota Bandar Lampung dimasa mendatang akan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap program yang bertujuan untuk mengadaptasi perubahan iklim. pemerintah kota Bandar Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Pusat melakukan kegiatan Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) dengan menggunakan dana pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) yang bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mengurangi/menurunkan tingkat kemiskinan di perkotaan melalui kemitraan antara pemerintah. Program dan Kegiatan yang berasal dari Pusat Selain program-program pemerintah.21 7.9 2. jalan lingkungan. b.6 2007 ADB Pemda 2.63 1.5 8. pemerintah pusat juga telah melakukan beberapa program yang berkaitan dengan perubahan iklim di Kota Bandar Lampung diantaranya melalui program NUSSP dan PNPM Mandiri Perkotaan. Untuk menghadapi hal tersebut. sektor swasta dan masyarakat. Tingginya laju urbanisasi namun tidak didukung dengan kemampuan sumber daya yang datang mengakibatkan kota menghadapi masalah dalam penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur.secara khusus ditujukan untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Sebagai Ibu Kota Propinsi. Dalam pelaksanaannya kedua program ini juga mengharuskan adanya kontribusi dari pemerintah daerah.38 3. dan penerangan jalan. MCK.3 2008 ADB Pemda 5. Pada akhirnya hal ini melahirkan kawasan kumuh di kota.

Teluk Betung Barat Kel.17 Milyar yang berasal dari Pemerintah Kota Bandar Lampung. Srengsem.. Panjang Kel. Kec. Garuntang. Kec. Kec. Kec. Teluk Betung Barat Kel. Sukarame. Keikutsertaan Kota Bandar Lampung dalam program ini merupakan upaya pemerintah kota untuk mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapi oleh kota Bandar Lampung dan sekaligus memperbaiki infrastruktur perkotaan. Kec. Kedua program yang sedang dilaksanakan olh Pemerintah Kota Bandar Lampung serta program-program lainnya menujukkan upaya yang menerus dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk meningkatkan kemampuan masyarakat yang secara tidak langsung juga meningkatkan ketahanan mereka untuk menghadapi terjadinya perubahan iklim. Kec. Way Laga.yang terdiri dari Rp. Untuk tahun anggaran 2010.5 Milyar berasal dari program dan Rp. ketersediaan 113 .Tabel 7-6 Kegiatan dan sebaran Kegiatan PNPM Mandiri di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Kegiatan Jalan Setapak Penghubung Tempat Sampah RT Jalan Lingkungan (Jalan Penghubung) Saluran Terbuka (Drainase) Plat Duiker (Drainase) Gorong-gorong (Drainase) Bangunan Pelengkap (drainase) Alat Angkut Sampah Tong Sampah komunal MCK Sumur Dalam (Air Bersih) Lampu Jalan Luas Area Kumuh yang Difasilitasi Jumlah KK yang Merasakan manfaat Volume 14. Pecoh Raya. Teluk Betung Selatan Kel. pada bagian ini akan dianalisa kemampuan kepemerintahan dan kelembagaan pemangku kepentingan dalam rangka mengintegrasikan perencanan ketahanan dalam perubahan iklim.425 km 365 Unit 36 m 636 m 34 m2 2m 66 unit 109 unit 92 unit 17 unit 8 Unit 286 Unit 142. Teluk Betung Selatan Program lainnya yang juga memberikan kontribusi terhadap perbaikan kualitas kota Bandar Lampung adalah Program PNPM Mandiri Perkotaan. Kuripan. 18. Teluk Betung Selatan Kel. Panjang Kel. Teluk Betung Selatan Kel.9.52 Milyar. Ketapang. Panjang Kel. Kec.039 KK • • • • • • • • • • • • Sebaran Lokasi Kel. Bakung. Oleh karena itu. 7. 3. Teluk Betung. Teluk Betung Selatan Kel. Keteguhan. Analisa akan dilakukan terhadap enam komponen utama yaitu: peran pemangku kepentingan. Kec. Way Gubag. peraturan dan kebijakan. Analisis kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka mengintegrasikan perencanaan ketahanan dalam perubahan iklim (framework organizational capacity) Meskipun pemerintah kota merupakan pelaku utama dalam mengantisipasi bahaya yang akan mengancam kota sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. Kec.15.6 Ha 12. namun peran dan kontribusi pemangku kepentingan lainnya juga sangat penting. Way Lunik. Kec. Kec. Kec. PNPM Mandiri Perkotaan akan dilaksanakan di 13 wilayah di Kota Bandar Lampung dengan total anggaran sejumlah : Rp. Teluk Betung Barat Kel. Teluk Betung Barat Kel.

kapasitas pendanaan dan pelaksanaan program/kegiatan. Keenam komponen ini kemudian akan dianalisa kekuatan dan kelemahannya sehingga diketahui sejauh mana kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan kota dalam rangka megintegrasikan perencaaan ketahanan dalam perubahan iklim. Belum adanya dokumen rencana aksi daerah dalam penanggulangan bencana yang memiliki kekuatan hukum dan belum dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan Kelembagaan penanggulangan bencana daerah belum bekerja secara efektif Peraturan dan Kebijakan • Adanya peraturan perundangan • yang mensyaratkan daerah menyusun dokumen rencana yang memperhatikan adaptasi dan mitigasi bencana dan perubahan iklim Dokumen RPJMD (5 tahunan) akan disusun dalam tahun 2010 dan dokumen RTRW sedang dalam proses revisi merupakan kesempatan untuk memasukan substansi adaptasi dan mitigasi bencana serta perubahan iklim Adanya studi-studi terkait mitigasi bencana dan skenario design mitigasi bencana • • Ketersediaan dokumen rencana • • Kelembagaan daerah • • Kapasitas pendanaan • • • Adanya Tim Kota untuk perubahan iklim yang sudah dibentuk dan bekerja Telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bandar Lampung Adanya komitmen untuk mendukung program dan kegiatan perubahan iklim Masih adanya Dana Alokasi Khusus dan tugas pembantuan Adanya dukungan dan bantuan • • • Alokasi belanja langsung untuk program dan kegiatan sektor terkait perubahan iklim masih terbatas (kurang 5 %).dokumen. kelembagaan daerah. Analisis Kapasitas Pemerintahan Komponen Peran Pemangku Kepentingan • • Kekuatan Adanya keterlibatan semua pemangku kepentingan Adanya Program Nasional yang didukung lembaga kerjasama internasional (PNPM dan NUSSP) • Kelemahan Peran dan kontribusi pemangku kepentingan masih parsial belum terintegrasi dalam suatu kebijakan Belum dipahaminya metodologi dan strategi operasional untuk menjabarkan secara lebih lanjut dari peraturan kedalam dokumen rencana Belum meratanya pemahaman dan kapasitas SDM dalam menyusun dan merumuskan substansi mitigasi dan adaptasi bencana dan perubahan iklim. Tabel dibawah ini memperlihatkan kekuatan dan kelemahan masing-masing komponen yang terjadi di Kota Bandar Lampung: Tabel 7-7. Belum adanya koordinasi antar lembaga dalam 114 .

Sementara itu dalam kaitannya dengan peraturan dan kebijakan yang mendukung ketahanan terhadap perubahan iklim. Selain itu. Tim Kota yang terdiri dari berbagi latar belakang institusi ini akan memberikan cukup banyak masukan baik bagi pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya. umumnya terminilogi dan metodelogi yang berkaitan dengan perubahan iklim yang akan dimasukkan dalam peraturan perundangan tersebut masih belum jelas. Akibatnya para pemangku kepentingan masih sering salah persepsi terhadap terminologi serta aplikasi perubahan iklim. Pada saat yang sama terdapat beberapa program dari pemerintah seperti PNPM Perkotaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya di kawasan kumuh. Akan tetapi. Penyusunan RPJMD yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung pada tahun 2010 merupakan kesempatan yang sangat baik bagi pemerintah kota untuk memasukkan substansi adaptasi dan mitigasi bencana serta perubahan iklim. Akan tetapi pada saat yang sama juga terdapat kelemahan pada komponen ini yaitu belum terintegrasinya program dan kegiatan yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan di kota Bandar Lampung. Hal ini dapat diawali dengan berbagai kegiatan studi tentang mitigasi dan adapatasi bahaya perubahan iklim yang selanjutnya dijadikan sebagia masukan penting di dalam dokumen rencana pembangunan tersebut. Hal ini mengakibatkan kebijakan dan peraturna perundangan yang akan disusun menjadi multi tafsir dan kurang dapat diaplikasikan di tingkat lokal.Komponen Kekuatan program nasional yang didukung lembaga internasional Kelemahan pemanfaatan dana program dan kegiatan sehingga masih memungkinkan terjadinya duplikasi Belum berjalannya koordinasi program dan kegiatan lintas sektor dan lintas wilayah Pelaksanaan program dan kegiatan • Adanya program dan kegiatan yang telah dan sedang dilakukan pemangku kepentingan • Tabel tersebut menggambarkan bahwa para pemangku kepentingan di kota Bandar Lampung telah secara bersama-sama terlibat dalam upaya untuk meningkatkan kewaspadaan serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi bahaya perubahan iklim. Keberadaan Tim Kota Perubahan Iklim merupakan sebuah awalan yang bagus bagi kota Bandar Lampung untuk menyusun program yang berkaitan dengan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. 115 . adanya Badan Penanggulan Bencana Daerah juga memberikan kekuatan bagi kota Bandar Lampung untuk mengantisipasi bahaya perubahan iklim. Hal ini merupakan kekuatan bagi pemerintah kota untuk mengatasi permasalahan yang potentsial dihadapi oleh kota yang berkaitan dengan perubahan iklim. Akibatnya program dan kebijakan yang diambil sering tumpang tindih. Agar dokumen tersebut mampu menjawab permasalahan yang akan dihadapi maka aparat pemerintah kota serta pemangku kepentingan lainnya perlu meningkatkan pemahaman tentang perubahan iklim sehingga akan memiliki pemahaman yang sama tentang bahaya perubahan iklim bagi kota Bandar Lampung. saat ini pemerintah kota Bandar Lampung sedang menyusun peraturan perundangan yang berkaitan dengan adapatasi dan mitigasi terhadapa bahaya perubahan iklim. Akan tetapi keberadaan kedua tim dan badan ini perlu didorong secara lebih efektif sehingga mampu memberikan kontribusi yang positif di masa mendatang.

dll. namun belum efektif dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan. dimana diharuskan untuk memenuhi RTH sebesar 30 persen. Mitigasi Bencana. Melalui kemitraan ini maka akan dihasilkan program-program yang integratif untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan pembangunan perkotaan lainnya serta memberikan kekuatan yang lebih besar kepada masyarakat untuk menghadapi bahaya perubahan iklim. Anggaran dan dana yang ada ini juga harus didukung dengan kemitraan diantara pemangku kepentingan. Telah disusun beberapa studi terkait mitigasi bencana yang intinya menggambarkan kondisi kebencanaan kota.Adanya komitmen dan dana bantuan baik di tingkat nasional maupun internasional merupakan peluang dan kekuatan bagi pemerintah kota untuk dapat menyusun dan melaksanakan program yang bekaitan dengan perubahan iklim. Adanya sosialisasi kepada warga terkait PLBK (Program Lingkungan Berbasis Komunitas) di Bandar Lampung Adanya keterlibatan LSM dalam berbagai program penanganan lingkungan skala masyarakat di Kota Bandar Lampung • • • • • 116 .10. oleh karena itu pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap bencana yang akan datang sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. misalnya dengan pembangunan Talud untuk tanah rawan longsor dan pembangunan drainase di daerah pesisir Pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasiuntuk daerah potensi padi dan penyediaan sumur pompa dan sumur dalam untuk daerah holtikultura Penyusunan RTRW Kota Bandar Lampung yang mengacu pada UndangUndang Penataan Ruang. landasan pelaksanaan. • Telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung pada bulan November 2009. Hal ini perlu dilakukan karena bahaya perubahan iklim tidak lagi bersifat wacana. Temuan dan Rekomendasi untuk Perencanaan Ketahanan Kota dalam rangka Perubahan Iklim Secara ringkas temuan dan rekomendasi yang dapat diberikan terkait dengan perencanaan ketahanan kota dalam rangka perubahan iklim adalah sebagai berikut: • Terkait Penataan Ruang & Penanggulangan Bencana: RTRW Kota Bandarlampung dalam proses revisi dan merupakan kesempatan untuk memberikan masukan substansi terkait adaptasi perubahan iklim Terdapat beberapa substansi normatif yang harus ada diantaranya RTH dan . namun belum ditetapkan secara legal formal dan dijadikan acuan bagi pemangku kepentingan. indikasi program dan rencana tindak penanggulangan bencana kota. Namun demikian idealnya pemerintah daerah juga harus mengimbangi pendanaan tersebut dengan menaikkan alokasi anggaran pembangunan daerah yang berkaitan dengan perubahan iklim. Adanya program-program pembangunan infrastruktur pada tingkat masyarakat yang responsif terhadap perubahan iklim [PNPM Kota Bandar Lampung]. 7.

Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah diperlukan untuk memungkinkan mereka dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi. • • 117 . Mengintegrasikan kerangka adaptasi perubahan iklim terhadap dokumen perencanaan pembangunan dan penataan ruang Kota Bandar Lampung Masukan metodologi dan substansi bagi penyusunan dan revisi Rencana Tata Ruang Kota (RTRW) terkait dengan isu dan dampak perubahan iklim Masukan metodologi dan substansi bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Daerah terkait dengan isu dan dampak perubahan iklim • Peningkatan pemahaman dan kepedulian mengenai perubahan iklim untuk semua pemangku kepentingan [pemerintah. masyarakat dan swasta] melalui shared learning. Peningkatan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim dengan menggali dan mengembangkan berbagai upaya dan kearifan lokal melalui pilot project adaptasi perubahan ikilim.Berdasarkan temuan tersebut maka beberapa masukan bagi Pemerintah Kota untuk mengantisipasi bahaya sebagai akibat perubahan iklim adalah sebagai berikut: • Memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang. strategi komunikasi dan capacity building program.

pindah ke kota menemukan tantangan yang benar-benar berbeda. kolaborasi. contoh-contoh adaptasi terdahulu. tetapi mereka dalam serba terbatas untuk merespons resiko fisik seperti banjir. dan lain-lain. apa yang mereka lakukan dan apa kontribusinya untuk meningkatkan ketahanan.BAB 8 ADAPTASI Adaptasi merupakan kualitas seseorang untuk mengubah dirinya sendiri atau lingkungan sekitarnya dalam rangka menjadi yang lebih cocok untuk bertahan hidup. Strategi Adaptasi di Bandar Lampung Berikut ini diuraikan beberapa strategi adaptasi yang berbeda di masyarakatmasyarakat yang diteliti selama Penilaian Kerentanan Berbasis Masyarakat. tetapi juga potensi adaptasi baru di kala bencana. stabilitas ekonomi (tidak harus kesejahteraan). Di bagian ini kita lihat tidak hanya adaptasi yang sudah dikembangkan masyarakat dan perorangan. terhadap peristiwa-peristiwa yang tak terduga di luar kendali langsung mereka. melainkan kapasitas untuk beradaptasi. Warga miskin kota menunjukkan bahwa mereka berada di antara yang paling mengadopsi dalam mengembangkan strategi adaptasi lantaran mereka harus berkonsolidasi diri dalam konteks perkotaan yang terkadang kejam yang bagi kebanyakan mereka tidaklah familiar dan tidak siap untuk masuk ke dalamnya sejak dini. ke ekonomi pasar. Strategi adaptasi akan dinilai melalui sudut pandang kapasitas mereka untuk mengatasi fenomena iklim. produksi pertanian yang melimpah dan aktifitas yang telah berlangsung lama yang sedikit atau tidak membutuhkan pengetahuan dari bangku sekolah. menuju peluang-peluang yang secara konstan berpindah-pindah. Sementara semuanya terkait kepada adaptasi terhadap peristiwa-peristiwa iklim yang parah. strategi-strategi tersebut juga berkait kepada adaptasi bertahan hidup yang didasari oleh kebutuhan untuk beradaptasi dan bertahan di kota. Saya melihat dari awal pada keanekaragaman cara bagaimana masyarakat di setiap kota telah mengembangkan strategi adaptasi. Ini adalah studi spekulatif tetapi orang dapat memahami kapasitas untuk adaptasi dengan mengidentifikasi kualitas mereka dan kapasitas masyarakat yang harus beradaptasi. semakin adaptif seseorang atau masyarakat semakin mereka mampu mengatasi perubahan yang mungkin terjadi. pendidikan. Mempertimbangkan bahwa mereka yang pindah ke kota lahir di daerah pedesaan di sekitar kota. 8. Sejumlah besar populasi masyarakat miskin. Maka wajib untuk menantang gagasan-gagasan kita tentang siapa dan apa yang adaptif karena tidaklah mudah bagi kita untuk membicarakan kerentanan. yang mengandalkan siklus alam. kehidupan di kota penuh dengan strategi adaptasi dan bertahan hidup. Di antaranya adalah: keragaman. saya melihat kepada bagaimana dampaknya dibatasi. Lalu saya mencoba untuk mengekstrak pembelajaran dan faktor-faktor yang mungkin berkontribusi di setiap strategi yang layak dan berhasil. Bertahan hidup di wilayah perkotaan di negara-negara berkembang bukanlah untuk yang mudah. fleksibilitas dan kesehatan. baik dengan respons mereka.1. Maka untuk pendatang. Ini adalah komponen kunci ketahanan. Kedua gagasan 118 . atau persiapan yang memadai. yang mencari penghidupan dan pemukiman di tempattempat yang paling menantang merupakan testamen kualitas adaptif yang tinggi. Karena adaptasi tidak dapat menghilangkan resiko cuaca yang ekstrim.

dan adaptasi mereka mereka ke kotanya yg baru dalam bentuk adaptasi terhadap tantangan kondisi fisik dan lingkungan dalam rangka mengamankan kondisi ekonomi yang dibutuhkan. Di bawah daftar. dan kurangnya akses ke darat. Tabel lainnya juga menggambarkan cara-cara adaptasi-adaptasi tersebut berkontribusi kepada tanggap. Uang dikumpulkan antar tetangga dan pekerjaan dilakukan secara gotong royong. analisis dilakukan untuk mengumpulkan pembelajaran tentang apa yang membuat adaptasi-adaptasi tersebut layak. Penumpukan sampah memancing hama (tikus dan nyamuk) yang menyebabkan kondisi yang tidak sehat dan angka penyakit malaria yang tinggi. Konsolidasi kampung secara bertahap: Masyarakat miskin perkotaan seperti di Kangkung (Lingkungan 2) dan Pasir Gintung (Lingkungan 2) telah mengkonsolidasikan kampungnya dan dengan demikian mengurangi kerentanan dengan perbaikan ke atas. Penduduk di bantaran sungai contohnya. kesiapsiagaan dan ketahanan bencana. sebagaimana halnya hambatan dan peluang. Ini untuk mencegah paparan air laut terus menerus dan selanjutnya mengurangi kebutuhan mengganti tonggak rumah setiap enam bulan sekali. penduduk setempat telah berinisiatif untuk memperbaiki struktural di lingkungan mereka tanpa menunggu uluran tangan pemerintah daerah. telah membangun tanggul kecil (setinggi 60 cm) untuk mencegah limpasan air ke dalam rumah selama kondisi banjir tinggi. Bandar Lampung • Reklamasi lahan yang progresif: Garis pantai kampung Kangkung telah direklamasi secara progresif sepanjang tahun oleh akumulasi tanah dan sampah. Kebanyakan mereka datang dari kota-kota yang berbeda. Tinggal di atas air: Keluarga-keluarga yang tinggal di atas air seperti di Kota Karang telah beradaptasi terhadap kebutuhan ekonomi seperti akses ke tempat kerja.tersebut sangat saling berkaitan. peluang dan jasa. kebanyakan rumah-rumah nelayan yang dibangun di atas tonggak kayu diperkuat dengan sarung beton. seringkali dengan membangun tanggul-tanggul kecil dari batu yang diisi dengan tanah di dalamnya. pasar. apa faktor yang mungkin berkontribusi dalam keberhasilan. Pekerjaan ini dapat dikerjakan ke atas (tidak harus sekaligus) dan memberikan ruang-ruang finansial bagi keluarga. Perbaikan dan infrastruktur structural: Di beberapa wilayah di Pasir Gintung. Sebagai contoh di Kangkung. Hasilnya banyak rumah-rumah yang tadinya berdiri di atas air sekarang berdiri di atas tanah padat. Meningkatnya perumahan yang tahan air: Di kampung nelayan Kota Karang dan Kangkung terdapat banyak adaptasi arsitektur ke atas untuk membuat rumah mereka lebih tahan dari efek destruktif air laut. selain meningkatkan peluang instalasi layanan publik lokal dan meningkatkan akses. bahkan dari daerah lain di Indonesia. Ternyata tanggul penghalang kecil dan terbatas cukup efektif dan responsif terhadap kebutuhan mereka. Namun proses ini mendorong secara aktif pembuangan sampah di badan air dan di pantai. investasi berkelanjutan dari pemerintah daerah atau sejumlah 119 • • • • . Adaptasi terhadap bentang alam meningkatkan permanensi pemukiman dengan mengurangi kebutuhan untuk mengganti pos-pos yang terekspos air dan biaya pemeliharaan yang tinggi. Bahkan tanpa hak kepemilikan lahan yang jelas.

bahkan meskipun rumah tersebut di atas tanah kering. tetapi menunjukkan bahwa kapasitas masyarakat untuk berhadapan dengan resiko perubahan iklim sendiri dengan proyek-proyek sederhana dan tidak bergantung pada yang besar-besar. banjir dan abrasi pantai. tidak melibatkan proses-proses birokrasi atau tabungan. Tak bisa dipungkiri bahwa bagaimanapun bebapa orang Bugis Berjaya di kotanya dan mereka memutuskan untuk mengadopsi model-model rumah konvensional (yang berada di atas permukaan tanah) dan maka dari itu kehilangan atributatribut arsitektur adaptif lantaran mereka berakulturasi dengan lingkungan sekitar. Penampungan air dan peternakan hewan: Keluarga yang kekurangan air dan makanan mengumpulkan air dengan menampung air hujan untuk kegiatan bersih-bersih dan kadang kala memasak daging (ayam. Membangun rumah panggung: Di beberapa kampung. Keluarga-keluarga sering kali membutuhkan akses dana untuk menambah pendapatan mereka dan yang mereka lakukan adalah mencari kredit dari tukang kredit dan toko-toko setempat. Kemampuan mengakses dana tunai melalui fasilitas kredit dan gadai: Strategi pertahanan hidup yang banyak digunakan. Konstruksi ini juga membuat rumah bebas banjir musiman dan dengan demikian mengurangi kerentanan dan kerugian harta benda saat terjadi banjir besar yang tidak normal. Ini tidaklah mengacu pada adaptasi terhadap resiko iklim tertentu. tetapi menerapkan suku bunga yang tinggi dan ketergantungan pada reputasi seseorang di lingkungannya. Mengumpulkan air membuat mereka mengurangi ketergantungan kepada sistem pengaliran air PDAM yang tidak melayani mereka. dan memasang pipa air bersih. Keluarga-keluarga tersebut secara tidak sengaja tinggal di rumah panggung di atas laut. masyarakat setempat telah memperbaiki sistem drainase secara progresif. ayam betina dan kadang-kadang kambing) untuk tambahan menu makanan mereka. Kelembagaan ini dibentuk untuk kebutuhan alamiah informal. Proyek-proyek kolaborasi warga: Warga berkolaborasi dalam rangka memperbaiki lingkungannya dengan menyumbangkan waktu liburnya untuk proyek-proyek warga seperti kerja bakti bersih lingkungan dan membangun tanggul penahan. Cara lain adalah menjual asset seperti televisi dan sepeda motor untuk menggalang dana di saat darurat atau membutuhkan dana instan.• • • • besar modal selama beberapa tahun. kurangnya fasilitas publik dan lahan. atau untuk berpartisipasi dalam arisan warga. Hal ini mengurangi kejadian dan resiko longsor. melainkan tradisi suku Bugis dari pendatang. rumah dibangun di atas panggung. ini adalah alternatif yang membantu mereka menghemat pengeluarannya dan penggunaan air. Proyek-proyek di kampung Pasir Gintung membersihkan 120 . ukuran pertahanan hidup yang reaktif. membangun tanggul penahan dan tanggatangga. seperti di sepanjang bantaran sungai di Kota Karang. dimana lahan sulit diperoleh (di Kota Karang dan Kangkung). Beradaptasi terhadap kebutuhan sosial ekonomi. tetapi digunakan untuk menyimpan barang-barang berukuran besar (seperti gerobak dan bahan bangunan). baik untuk sehari-hari maupun mengatasi kondisi dan bencana cuaca yang ekstrim adalah kemampuan mengakses sumber daya. meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan resiko-resiko tersebut. Cara ini membuat mereka lolos dari krisis keuangan periodik dengan memiliki asset-asset yang bisa digadaikan sewaktu-waktu atau orang-orang dan lembaga-lembaga informal dari mana mereka mendapatkan akses ke sumber daya.

sehingga berkembang oleh aplikasi yang konsisten secara waktu dan sumber daya. ketimbang mengikuti proses aplikasi yang birokratis yang mungkin mengharuskan pengurusan surat-surat yang lama. Ini merupakan poin yang sangat penting untuk dikenali. yang lebih penting adalah bahwa secara yang paling praktis. keluarga bisa menjual televise. dengan kegagalan membersihkan saluran air buangan di bagian hulu akan memperparah kondisi wilayah lain di hilir. Mereka mandiri. motor atau asset yang laku dijual. Kegiatan ini disebut gotong royong dan membutuhkan kolaborasi yang konsisten dan terkoordinir antara kelompokkelompok dan wilayah-wilayah yang berbeda di suatu wilayah. Di bawah ini beberapa kualitas umum yang muncul dalam strategi-strategi adaptasi yang tercatat di atas: • Cukup hanya ‘bekerja’: strategi-strategi adaptasi di atas merupakan respons yang sangat praktis terhadap ancaman-ancaman utama dan realita penduduk yang diteliti. 8. Tidak mahal dan bekerja dengan bahan-bahan yang tersedia: Strategistrategi adaptasi bisa makan waktu untuk berkembang.saluran air buangan yang membantu mereka meyakinkan bahwa air buangan tidak menjadi ancaman atau melimpah dari gorong-gorong dan merusak rumah-rumah dan properti. sukses belum tentu dianggap memiliki dampak skala besar. Untuk strategistrategi untuk dikembangkan dan dilaksanakan harus sudah dilakukan. terutama pada saat-saat yang sulit. warga miskin perkotaan tidak menunggu pemerintah untuk menolong mereka. adaptasi-adaptasi ini memiliki tujuan dan efek terhadap kehidupan mereka setiap hari. dan mengapa warga memilihnya? Meskipun analisis komprehensif hanya bisa dilakukan secara realistis di balik peristiwa iklim yang parah. masyarakat di kota menginginkan akses ke sumber-sumber dengan cepat dan ini merupakan karakteristik yang sangat penting dari strategi adaptasi yang berlaku. Evolusi hampir selalu meningkat dan berasal dari bahan-bahan yang tidak mahal atau gratis. Dalam rangka mengumpulkan modal untuk pulih dari banjir. Bisa diakses pada saat dibutuhkan: Strategi-strategi adaptasi juga harus bisa diakses pada saat dibutuhkan. Contoh-contohnya seperti memulung bahan bangunan dari tukang loak terdekat. Hal ini bisa menjadi tantangan karena sebagian wilayah lebih berdedikasi ketimbang lainnya dalam kerja bakti bersih lingkungan. Jadi mereka lebih 121 • • • . dan untuk warga miskin kota.2. Hal inilah yang warga sanggup lakukan dan yang masuk akal bagi mereka. Pembelajaran Strategi adaptasi yang teridentifikasi di atas memberikan wawasan ke arah pemahaman apa yang disebut strategi yang layak dan berhasil. kita bisa mencari petunjuk-petunjuk yang memudahkan kita untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi kepada strategi-strategi adaptasi yang baik dan efektif. lalu faktorfaktor apa yang membuatnya terjadi. Pada umumnya. atau bahkan kelompok-kelompok arisan yang mengumpulkan dana yang sangat minimal. Tidak bergantung kepada proyek-proyek atau intervensi pemerintah yang besar: Di negara yang sumberdaya pemerintahnya terbatas dan mungkin kurang merespons. bukan karena terdengar seperti ide-ide yang bagus dan berpotensi. sumber-sumber tersebut langka. Respons mereka telah berkembang karena mereka bekerja untuk mereka sendiri. mudah dikelola dan diakses.

Menyesuaikan bantuan pemerintah mendorong hasil yang lebih baik: Jika masyarakat mampu bekerja bersama-sama dengan pemerintah setempat dan kota (dan sebaliknya).• • • • bergantung kepada organisasi dan inisiatif masyarakat yang lebih merespons kebutuhan mereka dengan cara mereka sendiri. 8. Strategi adaptasi dapat menolong mereka untuk memiliki akses lebih kepada informasi dan maka dari itu mampu mengambil keputusan yang lebih baik tentang situasi mereka akan mendorong keluaran yang lebih baik.3. Pada kasus yang sangat sederhana. Menyeluruh lebih besar daripada sejumlah bagian: Banyak strategi adaptasi berhasil karena mereka memanfaatkan upaya kolektif dan kekuatan masyarakat. Sedangkan intervensi pemerintah diapresiasi dan swadaya masyarakat nampaknya menjadi karakteristik kunci strategi adaptasi. perumahan ataupun kesehatan. Jika sesuatu dapat membuat mereka lebih aman dan juga membuat makin sejahtera. tetapi juga keyakinan bahwa melakukan bersama-sama akan menghasilkan yang lebih baik. Contohnya. perumahan. Tidak hanya kerelaan untuk bekerja bersama. baik itu ekonomi. Adaptasi terhadap peristiwa iklim yang parah harus dilakukan bersama-sama dengan strategi adaptasi lainnya: Mereka yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim tidak tahu atau tidak peduli apabila tidak memberikan manfaat kepada aspek-aspek kehidupanya. strategi adaptasi nampaknya akan berhasil. Masyarakat saling memikirkan satu sama lain dan jika pertimbangan ini diterjemahkan ke dalam aksi kolektif. hasilnya bisa signifikan. Jarang sekali yang berupa upaya perorangan. maka adaptasi yang berhasil bagi mereka adalah yang bekerja dengan strategi lain yang mereka pertimbangkan. maka akan menghasilkan dampak yang signifikan dan berkelanjutan pada kondisi lingkungan warga. 122 . maka itulahyang mereka inginkan. pengetahuan kelompok-kelompok arisan atau suku bunga yang berbeda dari kreditur setempat dapat menambah pilihan-pilihan ekonominya dan mengurangi kerentanannya. Saat fase perjanjian dari insiasi ini akan terdapat kesempatan untuk mengimplementasikan proyek skala kecil untuk mengembangkan multi-stakeholder dalam rencana aksi ketahanan kota. maka solusi tersebut menjadi berfungsi sebagaimana mestinya. tetapi jika manfaat lain dapat diperoleh. Keselamatan diri sendiri bukanlah faktor yang memotivasi. Pilot Project daerah Bandar Lampung sebagai Rencana Aksi Adaptasi Bandar Lampung sedang mencari contoh model untuk menguji pendekatan yang dapat berkontribusi terhadap rencana ketahanan kota. pendidikan dan mata pencaharian. seperti kesehatan. Karena warga miskin kota memiliki pandangan yang sangat praktis. Aktivitas perdana ini ditujukan untuk menguji pendekatan yang inovatif dan berpotensi untuk diduplikasi untuk digunakan dalam meningkatkan ketahanan kota. Akses lebih kepada informasi akan mendorong keluaran yang lebih baik: Masyarakat yang rentan mengevaluasi situasi mereka secara konstan. Masyarakat miskin kota biasanya terisolasi dan maka dari itu strategi adaptasi yang berhasil nampaknya akan meningkatkan akses informasi mereka. jika investasi masyarakat sesuai atau sejalan dengan investasi pemerintah.

banjir. kesehatan. pendidikan. yaitu: . maka mereka telah memilih dua kelurahan untuk menerapkan pilot project. Terskala 7. dll. kapasitas local. longsor. Menguntungkan masyarakat local 4. Inovatif 5. Aktifitas dari pilot project ini harus mengikuti atau sejalan dengan criteria di bawah ini: 1. LSM. program sukarela.untuk mengikat para stakeholder tingkat kota (pemerintah kota. Universitas. Tujuan dari proyek ini ialah untuk meningkatkan pengertian. Menanggapi masalah yang terdapat saat ini dan masa depan 3.Tujuan dari implementasi perdana ini adalah: . Orang yang akan merasakan manfaat dari proyek ini adalah wanita. Dapat direplikasi 2. seperti erosi. Lampung Ikhlas merupakan asosiasi terbuka dan mandiri yang bergerak dibidang solidaritas antara korban bencana alam dan kemanusiaan. CBO. mempengaruhi kebijakan local. Kolaborasi 6. dll. Bandar Lampung City to Climate change”. dan orang – orang tua. Berikut ini merupakan pilot project terpilih untuk Bandar Lampung: Pilot Project pertama untuk Bandar Lampung: Desain dari Partisipasi Adaptasi Ketahanan Masyarakat di Kangkung dan Kelurahan Kota Karang.Implementasi dari pilot project harus berkaitan dengan masalah local pada administrasi local atau administrasi daerah “cross border” pada masalah lingkungan. sector swasta. Judul dari proyek Lampung Ikhlas ini ialah: “participatory design adaptation of Community Resillience in Kangkung and Kota Karang sub-district. dan grup-grup masyarakat) . dan partisipasi masyarakat dalam rangka mewujudkan kapasitas adaptasi untuk 123 . Didirikian pada tanggan 26 Desember 2004. Dan sebagai tanggapan terhadap masalah lokal di kota Bandar Lampung yang disebabkan oleh pengaruh prubahan iklim pada sector lingkungan dan ketersediaan air.untuk menyiapkan daftar pengaruh perubahan iklim pada level kota . Merupakan strategi yang berkelanjutan Ada beberapa criteria tambahan yang harus diterapkan oleh pilot project.untuk menguji kapasitas adaptasi di dalam masyarakat Target utama dari pilot project ini adalah masyarakat yang rentan terhadap pengaruh perubahan iklim. ekonomi yang berkaitan dengan perubahan iklim . Kota Bandar Lampung pada Perubahan Iklim oleh Lampung Ikhlas (LSM Lokal). anak kecil. yaitu kelurahan Kangkung dan Kota Karang. Lampung Ikhlas secara aktif telah menerapkan aktivitasaktivitas yang berkaitan dengan respon darurat terhadap bencana. kesadaran. kekringan. social.untuk mengimplementasikan pilot project yang menguji strategi ketahanan terhadap perubahan iklim . baik dengan peningkatan kesadaran.Implementasi dari pilot project ini diarahkan untuk adaptasi dan merespon usaha yang dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim. dll.

dan lainnya. Untuk lebih jauhnya. kenyamanan. Yang akan mengimplementasikan aktivitas ini ialah grup-grup yang telah ada di dalam masyarakat. dan peningkatan pengetahuan. membantu untuk meningkatkan standar kehidupan masyarakat dalam sector kesehatan. 4. target dari proyek ini adalah: 1. meningkatkan kesadaran masyarakat di kelurahan Kangkung dan Kota Karang terhadap perubahan iklim. meningkatkan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. 2. anak kecil. termasuk wanita. laki-laki dewasa terutama dari keluarga nelayan. sosialisasi program: untuk membentuk partisipasi sukarela dari masyarakat lokal dalam menerapkan proyek. dan adaptasi terhadap perubahan ikllim. manajemen lingkungan. dan sector kehidupan yang berkelanjutan). Yang akan merasakan keuntungan dari program ini ialah: masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim.menghadapi pengaruh perubahan iklim. memperbaiki status kesehatan. keluarga miskin. ekonomi. dalam hal peningkatan pemasukan. 124 . ketahanan kehidupan ekonomi. LFA Analisa Problem Aktivitas proyek ini akan mencakup: 1. UNAVAILABLE OF SUBDISTRICT SPATIAL PLAN UNEXISTENCE OF MANAGEMENT FROM SUB-DISTRICT RESIDENTIAL AND WARD DO NOT ADAPT TO CLIMATE CHANGE THREAT TO WORKING ACTIVIIES SUSTAIBANI LITY VULNERBALE COMMUNITIES TO CLIMATE CHANGE UNEXISTENCE OF GOVERNMENT POLICIES SUPORT TO CLIMATE CHANGE NO SOLIALIZATION OF CLIMATE CHANGE IMPACT AND ADAPTATION UNAPPROPRIATE RESPONSE/ BEHAVIOR TO CLIMATE CHANGE RESIDENTIAL DEVELOPMENT AND WARD DO NOT ADAPT TO CLIMATE CHANGE Gambar 8-1. membangun pengertian dan menerapkan aktivitas dari program untuk lingkungan social di kelurahan Kangkung dan Kota Karang mengenai pengaruh perubahan iklim (dalam lingkup social. 3. Target dari program ini ialah masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim yang mempengaruhi daerah pesisir: kelurahan Kangkung dan Kota Karang.

2. memecahkan masalah minimnya ketersediaan air bersih karena perubahan iklim. dan . dan banner. adil. Dan sebagai tanggapan terhadap pengaruh perubahan iklim di kelurhana Panjang selatan.membangun kesadaran masyarakat dalam meningkatkan pengertian dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengaruh perubahan iklim. stiker. Penyediaan saran air bersih: meningkatkan kapasitan masyarakat. Judul proyek Mitra Bentala ini ialah: Pembentukan kapasitas “capacity building” untuk masyarakat kelurahan Panjang Selatan untuk menghadapi perubahan iklim”. Mitra Bentala telah bekerjasama dengan pemerintah. Mitra Bentala telah memilih implementor pilot project ini yang berada di kelurahan Panjang Selatan. Video dokumentasi: untuk menjelaskan tahap-tahap aktivitas proyek. Tujuan dari proyek ini ialah “sebagai usaha untuk menguatkan kapasitas masyarakat dalam usaha untuk meningatkan ketahanan masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan dalam menghadapi perubahan iklim”. dan kemauan dalam masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Pilot Project kedua di Bandar Lampung: Pembentukan kapasitas “capacity building” untuk kelurahan Panjang Selatan untuk menghadapi perubahan iklim yang dilakukan oleh Mitra Bentala (LSM lokal) Mitra Bentala didirikan pada tanggal 9 April 1995 dengan visi “kedaulatan masyarakat pesisir pantai dan pulau-pulau kecil Lampung dalam manajemen sumber alam yang demokratis. 7. 5. 4. penyediaan air minum. dan aktivitas pembangunan fasilitas daur ulang sampah. dan berkelanjutan”. kalender. 3. manajemen sampah: meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat untuk memecahkan masalah mengenai penyakit akibat perubahan iklim. Sejak didirikannya. LSM lokal. Focus group discussion (FGD): untuk membentuk kebersamaan. kampanye media: untuk mensosialisasikan pengaruh perubahan iklim dalam rangka menumbuhkan ketahanan masyarakat melalui penyebaran leaflet. dan juga meningkatkan pemasukan dengan melakukan pelatihan daur ulang sampah. 125 .usaha adaptasi terhadap perubahan iklim melalui manajemen persampahan. survey: untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai daerah dan masalah-masalahny untuk mendukung kesuksesan proyek. pembuatan pupuk organic. dan rehabilitasi. Target dari proyek ini ialah: 1. dan membentuk grup manajemen air bersih melaluii pelatihan filtrasi air payau dan membangun instalasi filtrasi air payau.meningkatkan kapasitas masyarakat melalui partisipasi aktif dan meningkatkan pengetahuan mengenai usaha adaptasi terhadap perubahan iklim. dan masyarakat dalam aktivitas-aktivitas yang mencakup daerah pesisir dan pulau kecil. institusi pendidikan. Periode jangka pendek: . lomba menggambar sampah. . sector swasta. kesiapan. poster. 6.

mendorong pembentukannya dukungan kolektif untuk penerapan adaptasi terhadap perubahan iklim di kelurahan Panjang Selatan. kepala rumah tangga wanita. Installation of drinking water refill training 1. . Waste management and facilities providing 2. . .Natural resources training 4.Documentary film OUTPUT Climate Change Adaptation Community Group Collective Support SUSTAINABLE PLAN Gambar 8-2. Diagram Alur Pemikiran Climate change issues POLICY ORIENTATION Adaptation Efforts to Climate Change M&E 1.mendorong pembentukannya grup masyarakat untuk adaptasi terhadap perubahan iklim. Periode jangka panjang: . Diagram Alur Aktivitas 126 . Masyarakat yang akan merasakan keuntungan dari program ini ialah: masyarakat di tiga daerah terpilih kelurahan Panjang Selatan yang berada dipesisir pantai hingga daerah buki. termasuk keluarga nelayan. leaflet.Disaster evacuation sign board route and map 4.Waste management training 5.2.Socialization 2. Campaign: poster. terutama masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim. Mass-media expose 2. dan membangun kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. Eco-feminism education 6.Citizen Meeting 3. . Drinking water installation refill 3. dan lainnya. and t-shirt 3. . Rehabilitation Climate Change Adaptation Ability/Capacity ACCCRN Team Panjang Selatan Subdistrict MITRA BENTALA EFFORT IN CLIMATE CHANGE ADAPTATION Community Capacity Building Building Awareness 1.

Marginalisasi dari pengambilan keputusan dapat menjauhkan dari akses informasi. sosialisasi: program sosialisasi pada tingkat kelurahan dan grup diskusi pada tingkat kota terpilih. Instalasi isi ulang air minum: pelatihan pemasangan instalasi air minum dan penyediaan instalasi isi ulang air minum. dan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah. pendirian grup manajemen persampahan. serta bagaimana kapasitas saat ini harus diperkuat dan rencana tata ruang ditingkatkan untuk membentuk ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik dari pilot proyek tersebut dalam merancang kebijakan dan strategi jangka panjang untuk mengatasi perubahan iklim. dengan menyiapkan sedari awal warga dapat mengurangi resiko dan/atau memfasilitasi respons yang membiarkan mereka untuk pulih seperti sedia kala. dan peningkatan kewaspadaan terhadap bencana: manajemen pendidikan sumber daya alam. pendidikan eco-feminism. Kurangnya kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi yang berbeda. Beginilah caranya strategi adaptasi dapat membangun ketahanan. Kapasitas yang berlebihan dapat membatasi kemampuan untuk jadi fleksibel dan mengatasi perubahan secara efektif. informasi dan perangkat bergantung kepada akses fisik. 2. 3. manajemen persampahan: pelatihan manajemen persampahan. 4. rehabilitasi. Kewajiban untuk belajar tentang adaptasi dan ancaman dan bagaimana meresponsnya. 8. dan kaos. Informasi dapat memperkuat dengan memberikan alat untuk mengakses pengetahuan dan sumber daya. sumber daya dan perangkat yang dibutuhkan untuk beradaptasi secara efektfi terhadap kondisi yang berbeda. 5. leaflet.Pilot proyek diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam memahami bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada masyarakat dan sektor.4. Kesanggupan untuk membangun dapat menghambat atau memicu pembangunan dan adaptasi Akses fisik ke sumber daya. dan (ii) dengan mengurangi dampak peristiwa iklim dengan memfasilitasi kesiapsiagaan bencana dan tanggap bencana. Adaptasi dan Ketahanan: Tabel berikut (lihat Lampiran) berusaha untuk mengkategorikan bagaimana adaptasi yang diuraikan di atas bisa dipahami (i) sebagai kontribusi kepada ketahanan. Aktivitas proyek ini akan mencakup: 1. pendidikan sumber daya alam. dan pembuatan rute dan peta evakuasi saat terjadi bencana. apa saja hambatannya dan peluang-peluang apa saja yang ada di masyarakat yang diteliti yang dapat menjadi basis untuk pengembangan ketahanan masyarakat lebih lanjut. 127 . rehabilitas (penanaman pohon). Kampanye: dokumentasi video dan pembuatan poster. (i) Apa saja faktor-faktor dimana adaptasi bergantung? • Uang • Kapasitas • Pemahaman • Akses informasi Kolaborasi dan keterlibatan pemerintah setempat • Migrasi dan laju pertumbuhan • Penyediaan layanan publik • Mobilitas Kekurangan akses modal yang menghambat kapasitas melakukan investasi. Hambatan dan Peluang untuk penguatan kapasitas adaptasi: Di bawah ini dirinci analisis terhadap faktor-faktor eksisting dimana adaptasi bergantung.

atau membuatnya jadi lebih mahal. yang mengurangi kesempatan mereka. kerentanan dapat dikurangi secara besar-besaran dan membuka banyak kemungkinan untuk adaptasi. Masyarakat yang tidak beruntung sering mengalami penderitaan dari isolasi. Masa depan ekonomi tidak ditentukan oleh dinamika dan faktor lokal. ekonomi dan politik. fisik. ekonomi dan fisik) Modal (dari warga maupun pemerintah setempat) Kolaborasi masyarakat Kolaborasi kelembagaan + jurisdiksi Sumber daya alam Ketergantungan kepada faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol 128 . Dengan sumberdaya yang memadai. mereka terjadi di kota-kota yang berbeda dan negeri-negeri yang jauh. proyek dan inisiatif yang efektif yang dapat membantu strategi adaptasi (contoh: menawarkan layanan kesehatan dan air yang berkualitas) Kurangnya sumber daya alam dapat menghambat kapasitas untuk beradaptasi dengan menghambat perangkat yang bisa diakses untuk mengembangkan strategi perubahan dan adaptasi. Kebanyakan mata pencaharian penduduk lokal bergantung pada faktor yang jauh dan di luar kontrol mereka. Kurangnya investasi lokal (oleh pemerintah dan penduduk) menghamat pengembangan alternative Kurangnya kolaborasi dan kohesi masyarakat dapat melemahkan proses-proses dan proyek-proyek kolektif. Ketidaksanggupan pemerintah daerah untuk mengkoordinir aksiaksi mereka secara kelembagaan (antar departemen) dan secara keruangan (lintas wilayah jurisdiksi) dapat menghambat implementasi program.(ii) Apa saja hambatan dalam mengembangkan strategi adaptasi? Informasi Warga miskin kota memiliki sedikit akses informasi. Akses (politik. dan dapat memperkecil suara masyarakat dalam mengajukan klaim. sehingga mereka tidak tahu mengenai perubahan dan peluang di lingkungannya.

Ide-ide lainnya ditelaah untuk digunakan sebagai modal dalam pembelajaran dan menjawab isu-isu spesifik terkait kerentanan secara multi dimensi yang muncul dengan sendirinya. Secara politis. Penduduk setempat yang saat ini bekerja tidak hanya memberikan mereka ketrampilan. perangkat dan pengaruh politik yang potensial Kebanyakan pemerintah daerah sangat telaten membantu warganya. dan menghasilkan pendapatan finansial yang berharga darinya. Preferensi diberikan untuk ketrampilan dan pengalaman yang sudah diterapkan di lokasi penelitian. Aktifitas ekonomi yang ada dapat bertindak sebagai dukungan sumberdaya dan politik. termasuk bagaimana caranya Pemerintah kelurahan setempat Ada banyak adapatasi yang sekarang digunakan dan dikembangkan di dalam lokasi penelitian yang dapat disebarkan dan manfaatnya dipublikasikan. Dengan pendokumentasian wilayah yang lebih baik. sensus dan survai di tingkat masyarakat akan membantu untuk mendokumentasikan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. membuatnya tak nampak: Dalam kasus masyarakat yang sampai sekarang tidak dikenal atau didokumentasikan. Masyarakat lokal yang diteliti menunjukkan kepemimpinan yang kuat. Masyarakat juga menunjukkan tingginya kolaborasi dan kohesi yang membuat proyek-proyek gotong royong terwujud. mereka bisa menjadi sekutu yang kuat. Itikad baik harus dimanfaatkan dan didorong. kualitas yang esensial dalam mewujudkan perubahan dan menjamin ketahanan. mereka juga menggunakan sumber daya yang tersisa. Namun apresiasi dan pemahaman akan kebutuhan dan kondisi masyarakat masihlah kurang. seperti warga miskin kota di Sukorejo dan pendatang baru di Kota Karang yang terabaikan dan terlupakan. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif: Strategi dan proyek-proyek di bawah ini menawarkan beberapa ide-ide yang mungkin dilakukan untuk memperkuat kapasitas adaptif di Bandar Lampung dan Semarang. Pelajaran dapat dengan mudah dipelajari dan ditransfer dari kasus-kasus tersebut karena (i) sudah terbukti bekerja dan (ii) lebih mudah diintroduksi dari masyarakat dan kelompok-kelompok yang datang dari konteks yang sama ketimbang dibawa dari luar. Program dan kebijakan yang ada di kota dan tingkat nasional dirancang untuk memperbaiki kondisi bagi penduduk lokal namun mereka sering tidak diterjemahkan ke dalam inisiatif lokal. memiliki ketrampilan dan kemauan untuk memperbaiki kondisi yang mengarah kepada adaptasi. karena mereka tidak peduli skala dan asal muasal kebutuhan tersebut.5. Jika dipahamin dan dikoordinasikan dengan lebih baik maka dapat membantu strategi adaptasi. Mereka telah terbukti berhasil dan efektif Pengumpulan pengetahuan kolektif dapat membantu mengembangkan strategi adaptasi dengan membuka akses kepada modal sosial. informasi. Kota-kota yang tak nampak. Keberadaan organisasi masyarakat di kedua kota menunjukkan adanya sumber daya manusia yang dapat berkontribusi kepada proses-proses perubahan sosial dimana masyarakat terlibat Program-program pemerintah kota dan nasional Materi dan ketrampilan dari aktifitas industri dan ekonomi Kepemimpinan lokal Kohesi masyarakat Organisasi masyarakat lokal 8. maka pemerintah kelurahan setempat dapat memiliki ide-ide yang lebih baik tentang layanan yang dibutuhkan (berapa 129 .(iii) Apa peluang-peluang yang ada? Kasus-kasus yang ada dan berhasil Jejaring sosial yang mungkin dilakukan dalam situasi serupa. Mereka seenaknya menguasai lahan yang tak terlihat dan ambigu. Pemerintah daerah mungkin tidak merasakan kebutuhan untuk menyediakan layanan atau berdialog dengan masyarakat.

berbagi cerita dan konsekuensi yang berbeda tentang relokasi warga Sukorejo dan Tandang. Dengan membuat mereka 130 . orang tua mereka tidak mampu membiayai ke SMA dan membutuhkan mereka untuk bekerja. Dengan mendorong pertukaran dan pertemuan warga dapat mendorong formasi jejaring sosial. layanan sosial tertentu tidaklah terjangkau. Subsidi: Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu yang dihadapi warga miskin kota. meski masih satu kota. Narasi + jejaring masyarakat berbagi: Banyak masyarakat miskin kota hidup terisolir sampai-sampai mereka tidak tahu bahwa realita mereka sangat mirip dengan masyarakat miskin kota di kampung lain yang jauh. dan membayar harga yang sangat mahal. Sebagai contoh. Guna ulang yang adaptif: Sudah banyak sumber-sumber yang datang ke warga miskin kota lokal yang dapat membantu menunjang ketahanan. mereka dapat mengakses segala macam pekerjaan di kota dan tidak bergantung eksklusif pada pekerjaan di sektor perikanan. hampir semua anak-anak di atas usia 12 tahun putus sekolah. Subsidi koneksi akan membantu menurunkan biaya-biaya mereka secara signifikan. Perubahan peningkatan skala kecil membantu untuk membangun rumah yang lebih kokoh dan awet secara bertahap dan dengan anggaran yang terbatas. Hal ini membantu menjawab ketidak sesuaian informasi dan memperkuat warga miskin kota. Kasus-kasus guna ulang yang adaptif sudah terbukti ada di lokasi penelitian: guna ulang sampah untuk reklamasi pantai di Kangkung dan menampung air dari cucuran atap rumah-rumah di atas air di Kota Karang. berbagi informasi dan belajar. Pemerintah dapat membantu dengan akses subsidi terhadap layanan-layanan tersebut untuk menjamin bahwa warga miskin kota mendapatkan manfaat. Rumah-rumah panggung di kampung Kota Karang memakai tonggak-tonggak kayu yang diperkuat dengan beton satu per satu. Pembiayaan beranggaran rendah untuk perbaikan rumah: Terbukti bahwa warga miskin kota dapat memperbaiki kondisi rumah mereka sendiri dan maka mengurangi kerentanan terhadap resiko iklim. Hal ini akan membantu menyediakan sumber air alternatif untuk kegiatan-kegiatan selain memasak dan minum dan juga menjadi penampungan sementara air hujan untuk menghindari banjir dadakan. Jika subsidi pendidikan dapat mengamankan kehadiran mereka di sekolah sampai selesai SMA. Hal ini meniadakan peluang saling berbagi informasi satu sama lain. Penduduk kota yang dipindah akan mendapatkan keuntungan dengan mendapatkan pengetahuan yang berguna untuk menegosiasi kondisi relokasi dan anti rugi dengan pemerintah daerah dan pengembang. Sebagain contoh. saling belajar dan membangun jejaring sosial yang dapat membangun ketahanan. satu manfaat potensial adalah sosialisasi konsekuensi program relokasi penduduk. tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan. atau murid dalam satu kelas) dan sebagai hasilnya dapat menerima alokasi anggaran yang dibutuhkan. keduanya merupakan dua contoh pemanfaatan sumberdaya yang ‘gratis’ untuk kegunaan tambahan.banyak orang perlu akses ke puskesmas. kasus di RW 5 Kemijen. Subsidi untuk pendidikan dan air bersih akan membantu menunjang ketahanan dan mengurangi kerentanan di banyak komunitas warga miskin kota. warga kekurangan akses modal untuk membayar biaya pemasangan pipa PDAM yang akibatnya mereka sangat bergantung pada penjual air. Satu ide lainnya adalah pemanfaatan drum air kosong (berlimpah di kawasan pesisir seperti Kota Karang) untuk menampung air hujan dari atap rumah di Pasir Gintung. Di kampung nelayan Kangkung. membuatnya sedikit terpengaruh oleh ombak dan erosi.

Penduduk yang terpengaruh akhirnya bergantung pada yayasan swasta dan amal. 131 . beberapa potensi tersebut dapat dikurangi dan dengan demikian mengurangi kerentanan lingkungan. atau rekening bank yang dapat menyimpan sumbangan. seperti pengatapan yang lebih baik sebagai contoh. kelurahan dapat memiliki alat ukur bagaimana kerjanya untuk mengurangi kerentanannya. Peta seperti itu akan juga menjadi sumber vital untuk respons bencana: pada saat terjadi longsor contohnya. Akses informasi. dalam format yang jelas dan dapat diakses sangat penting untuk mengurangi kerentanan dan memperkuat ketahanan. Ini adalah kasus di Semarang dimana industri-industri besar dan warga miskin kota akan membentuk persekutuan yang sulit dipercaya lantaran mereka bersama-sama tinggal di kawasan pelabuhan kota yang sangat terpengaruh oleh perubahan iklim. dan akan membiarkan kelompok-kelompok untuk mengetahui strategi apa yang berfungsi dan bidang-bidang apa yang perlu bantuan yang lebih ditargetkan. seperti menyiapkan sistem peringatan dini. Perbaikan kecil. Namun jejaring pengaman sosial lain dapat ditelusuri yang mungkin menyimpan sumber daya di gudangnya. atau ketrampilannya sendiri untuk bertahan hidup. Dengan menyimpan peta rinci di tangan yang dapat mengidentifikasi asset. Gudang kota yang dapat mengumpulkan dan menyimpan barang. Cara ini akan berguna untuk melihat bagaimana perkembangan yang terjadi. peta-peta dan database penduduk dapat membantu menyediakannya. tidak bergantung pada proyek pemerintah atau tabungan mereka cukup banyak. Jejaring pengaman sosial alternatif: Pada saat ini hanya sedikit kebijakan terkonsolidasi yang tersisa sebagai jejaring pengaman sosial bencana bagi keluarga yang rumah dan propertinya rusak akibat cuaca yang ekstrim. warga dapat membeli bahan bangunan dan perlahan memperbaiki rumahnya secara mandiri. Indeks Kerentanan Lingkungan: Sejumlah kampung telah diidentifikasi memiliki potensi yang membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan iklim.dapat mengakses pendanaan. dan bagaimana kelurahan ini disbanding dengan wilayah lain. dapat mengurangi kerentanan secara signifikan di tempat yang rawan terhadap siklon dan angin kencang. Gugus Tugas kota dapat ditugaskan mengelola dana tersebut dan menentukan penggunaannya. adalah model-model yang mungkin dilakukan untuk menyimpan sumber-sumber daya pendanaan untuk peristiwa mendatang. Tetapi pembentukan koalisi luas tersebut bisa mengumpulkan visibilitas dan dukungan politik. namun ada banyak konstituen yang berpotensi terpengaruh yang menciptakan koalisi besar dan mendorong respons pemerintah terhadap isu ini. Dengan mengumpulkan database yang dapat memantau perkembangan berdasarkan waktu dan ruang. Koalisi luas mengatasi isu perubahan iklim: Mungkin yang terpikir bahwa perubahan iklim hanya terfokus pada warga miskin kota. seperti dalam kasus banjir di Pasir Gintung. Pemerintah daerah hanya mampu menyediakan sumberdaya yang langka yang umumnya disebut tidak cukup. Melalui investasi yang progresif dalam proyek-proyek dan perbaikan. penduduk dan mengkategorikan bahaya. mereka dapat bersiap-siapa lebih baik terhadap bencana terkait iklim. dapat menyediakan database instant tentang asset penduduk darimana diawali upaya penyelamatan atau rekonstruksi. Peta terinci untuk penggunaan pemerintah kelurahan setempat: Pemerintah Kelurahan Tandang menampilkan ukuran kesiagaan dan respons bencana yang bermanfaat.

membuktikan bahwa ini bukanlah caranya. yang akhirnya melahirkan keyakinan arogansi bahwa ini mungkin. Layanan-layanan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi bahaya iklim. Pengelolaan air dilakukan warga setempat. ekonomi atau bahkan politik. Nilai-nilai Barat di sisi lain sangat determinan dan berupaya menaklukan dan mengontrol negeri ini. Drainase mengalir langsung ke sungai. Pendidikan: Hanya ada sedikit fasilitas pendidikan dan angka putus sekolah anakanak di atas 12 tahun sangat-sangat tinggi. Air: Air diangkut gerobak ke daerah yang baru dihuni karena tidak ada layanan PDAM. tetapi di kampung atas bukit air dipompa ke tangki penampungan umum dan disalurkan secara manual (akses yang sangat rendah). dibawa ke sana oleh orang luar. Kesehatan: Fasilitas kesehatan langka. Mungkin perubahan yang paling penting dari semuanya tidak didefinisikan dengan perubahan fisik. lebih sesuai terhadap lingkungan yang tak terduga dan masa depan yang tak menentu. Kepadatan penduduk mencegah penambahan lokal kelas yang kapasitasnya sudah penuh. Sanitasi: Pemukiman di atas air tidak memiliki fasilitas sanitasi yang menciptakan kondisi tidak sehat. Indonesia adalah bebas dan lebih mampu menyatukannya untuk membentuk dirinya. Air: Di kampung bawah akses PDAM baik (mayoritas). tetapi tidak ada SMA. Sampah bertumpuk di daerah ini juga. Sejumlah mega proyek yang gagal. Indonesia adalah sebuah negara dan peradaban yang lingkungannya yang indah dan tidak terkira banyaknya digerus selama berabad-abad. dan juga apa yang sudah dilakukan. Mungkin ini adalah adaptasi yang paling signfikan.Pemikiran dan pertimbangan akhir : Saat tembok bisa dibangun. Pendidikan: Angka bolos sekolah sangat tinggi (30%) secara rata-rata dan bahkan lebih tinggi lagi di daerah tertentu. Untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim yang bisa terjadi di kawasan perkotaan di masa depan. Kesehatan: Puskesmas tidak buka pada waktunya dan tidak mampu melayani warga. sehingga bantaran sungai terpolusi. Sanitasi: Sanitasi sangat buruk di kampung nelayan. sedikit sekali WC umum dan sampah dibuang ke kolong rumah. atau paling tidak bukan satu-satunya cara. menghabiskan banyak biaya dan meninggalkan konsekuensi yang menghancurkan. teronggok dengan sendirinya dan terangkut ke laut. Pompa tangan tersedia dan melayani setiap 20 rumah. Pendidikan: Tersedia SD. Sanitasi: WC umum tersedia meski sedikit. mereka memompa air dari dasar laut (payau) atau mengangkutnya dengan gerobak dari daratan. Kota Karang Kangkung 132 . kekurangan gizi tercatat. Anak-anak dikeluarkan dari sekolah oleh orangtuanya untuk bekerja di sektor perikanan dan karenanya mereka setengah buta huruf. Beradaptasi dengan perubahan iklim mungkin adalah upaya mental yang luas dan dimana terdapat perbedaan budaya yang sulit dipecahkan. informasi bisa disebarkan dan masyarakat dan rumah dapat diperkuat. menurut Kelurahan: Bandar Lampung Pasir Gintung Kesehatan: Puskesmas yang terletak di kampung bawah membuat aksesnya terbatas. kita perlu berpikir adaptasi mental apa yang harus dilakukan. Ketimbang mencari untuk menaklukan negeri-negeri sekitarnya. keniscayaan dan asal muasal perubahan iklim dan peristiwa iklim yang parah belumlah diketahui. Angka putus sekolah tinggi di kampung atas (20%) dibandingkan rata-rata se-kelurahan (10%). Sampah dibuang di pantai yang mencemari garis pantai. Tabel 8-1. malaria adalah penyakit epidemik utama. Air: Warga kampung nelayan tidak mempunyai suplai air bersih umum. dan seiring dengan itu sebuah pola pikir budaya telah berevolusi. tetapi yang sederhana dan kurang dikenal luas.

bahkan tidak ada di daerah terpencil Wilayah beresiko .Wabah pandemic . Drainase) Pengumpulan sampah umumnya baik.Tabel 8-2 Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung Bandar Lampung Kualitas layanan Demografi Pendidikan K: banyak anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi Banyak pendatang baru yang belum tercatat. lereng) . K: tidak ada SMP/SMA Air Hasil campuran untuk kualitas air PDAM (baik/jelek) Sanitasi MCK jarang dan di daerah pesisir sangat buruk Perumahan Warga miskin memiliki rumah yang tidak layak di daerah beresiko Tidak ada dukungan pemerintah Pembangunan Ekonomi Pinjaman pemerintah + subsidi ada tapi tidak menolong membangun ketrampilan Program pemerintah tidak menjangku seluruh penduduk Kesehatan . K = Kangkung 133 .Keluarga di daerah pesisir sedikit mengkonsumsi .Tidak ada sekolah .Pertumbuhan penduduk -Warga miskin -Penghuni bantaran sungai -Rumah yang terancam longsor -Pemerintah tidak punya dana untuk perbaikan -Laju pertumbuhan penduduk terus memaksa warga untuk menghuni daerah yang rentan Penyediaan kesehatan alternatif Pembangunan Ekonomi Proyek warga dengan dana pemerintah -Air -Perumahan -Sanitasi KK = Kota Karang.Migrasi terus menerus mendatangi wilayah beresiko (pantai. Tanggul penguat belum dibangun di daerah perbukitan Warga miskin hanya punya fasilitas kesehatan terbatas.Daerah baru tidak punya sambungan .Warga tinggal di atas air punya sedikit sambungan .Sulit untuk mendukung pertumbuhan yang cepat . setengah buta huruf menyulitkan mereka beradaptasi dengan pekerjaan Pelatihan ketrampilan alternatif Demografi Pembangunan Ekonomi -Peningkatan populasi menambah problem sanitasi -Laju pertumbuhan penduduk yang cepat berarti tidak mampu membangun sistem -Pemasangan MCK yang memadai -Kesehatan -Air -Demografi -Rencana tata ruang -Kredit rumah -Demografi -Pembangunan ekonomi -Kesehatan -Pergeseran di pasar global -Modernisasi industri perikanan -Pembangunan pasar kerja sektor urban yang mungkin tidak dapat diakses oleh warga miskin yang tidak berpendidikan -Pelatihan kerja -Keuangan mikro Pendidikan -Kaum tak berpendidikan yang tidak dapat berurusan dengan proses -Warga miskin yang tak mampu beli obat -Yang kurang mobilitas . kayu diganti -Daerah yang terioslir dan terpinggirkan seperti KK yang tidak terhubung dengan pasar -Kesulitan mengakses wilayah (lereng curam) yang tidak bisa diakses) -Pengangguran muda -Keluarga yang tergantung pada satu mata pencaharian -Daerah terpencil tanpa Puskesmas: kampung di lereng -Kampung nelayan -Anak-anak yang berenang di air -Perempuan yang mencuci -Keluarga di kampung nelayan -Warga miskin -Keluarga baru yang cari rumah -Pendatang -Keluarga dipimpin perempuan -Lanjut usia -Rumah rusak membuat masalah -Pertumbuhan alamiah keluarga -Perluasan rumah di daerah yang sempit Trend ke depan + stressor - - Adaptasi potensial Tautan .Keluarga miskin .Tabel air yang rendah menghilangkan penggunaan sumur .Buruk tanpa layanan PDAM . PG = Pasir Gintung.Pembangunan ekonomi .Anak-anak bekerja membantu orang tuanya . khususnya untuk penduduk di pantai .Anak-anak yang membawa air .Anak-anak usia 7-14 .Pengunduhan air .Sedikit bidan di Puskesmas .Lingkungan tempat tinggal yang lebih padat .Laju pertumbuhan yang cepat sulit untuk membangun infrastruktur .Pembangunan ekonomi .Lingkungan - Pertumbuhan alami dan migrasi akan mengurangi sumberdaya pendidikan yang ada Ketika anak nelayan besar.Kesehatan . Di K dan KK disediakan oleh warga Puskesmas sering tidak buka.Subsidi .Daerah padat. tapi tidak banyak.Harga obat mahal Lingkungan (mis. laju peningkatan menjadi faktor penentu .Warga lereng berjuang untuk mengamankan fasilitas .Demografi Kondisi sanitasi yang buruk di kampung pesisir menyebarkan penyakit.Kampung nelayan .Pertumbuhan alami juga mendorong warga setempat ke wilayah beresiko .Urbanisasi trend yang tidak terelakkan di Indonesia Kelompok beresiko . tidak ada ruang untuk sekolah .Daerah miskin dimana orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya .Transmigrasi sepertinya berlanjut.Penurunan kualitas pipa . tangga dan tembok hanya di daerah yang padat penduduk PG: drainase di bukit menyebabkan banjir bandang di bantaran sungai KK+K: lahan publik terbatas dan jalan setapak yang berbahaya dibangun dari kayu Cakupan layanan PG: kampung atas hanya sumur umum K+KK: sistem darurat dan pedagang swasta MCK ada di PG.Pendatang baru dengan sedikit pengetahuan tentang sumberdaya di kota .Dengan volume yang meningkat. semua warga harus berbagi kondisi yang membahayakan kesehatan ini -Daerah pesisir -Bantaran sungai -Lereng bukit -Rumah kayu yang perlu dirawat secara rutin. perlu bekerja dengan pemerintah daerah dan kelurahan PG: sekolah sudah penuh.

Personal Fisik Kesehatan Pendidikan Air Perumahan – Aset Swasta Warga Sekitar Akses ke pekerjaan + penghasilan Keamanan Ekonomi Gambar 8-3. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kerentanan 134 .

Ekonomi . sirkulasi dan mengurangi ancaman longsor.Perumahan Fisik Kesehatan Ekonomi Fisik Perumahan Perumahan Ekonomi Kesiapsiagaan Ya Respons Tidak Perbaikan struktur dan infrastruktur Perbaikan rumah bertahap Ya Tidak Ya Tidak Tinggal di atas air Tidak Tidak Konsolidasi kampung - Sosial Politik Ya Ya Rumah bertingkat Pengunduhan air Akses kredit dan dana tunai - Perumahan Ya Ya - Air Ekonomi Ekonoim Ya Ya Tidak Ya Kolaborasi masyarakat - Sosial Ya Ya 135 .Fisik . banjir dan epidemic Meningkatkan umur bangunan dan kapasitas warga untuk bertahan dari shock. menciptakan investasi jangka panjang Menyediakan akses murah kepada peluang-peluang ekonomi. menurunkan biaya ekonomi.Tabel 8-3 Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung Adaptasi Bandar Lampung Reklamasi progresif Bagaimana kontribusinya kepada ketahanan? Mengurangi dampak gelombang terhadap struktur rumah. menurunkan biaya rumah yang mahal. alternatif rumah murah dan penampungan sementara pendatang Meningkatkan modal sosial akibat kolaborasi dan seringkali mobilisasi politik akibat kolaborasi dengan pemerintah Mengamankan keluarga dari banjir musiman. membuat ruang penyimpanan dan ruang pengungsian Menyediakan sumber air tambahan untuk mengganti suplai air yang kurang Memungkinkan untuk membeli pangan + material yang dapat mendukung strategi bertahan hidup dan meminjamkan fleksibilitas ekonomi Meningkatkan keterkaitan jejaring sosial dan persatuan warga yang dapat memfasilitasi proyek-proyek dan aksi Dimensi dampaknya . daerah yang lebih aman untuk beredar dan membangun Meningkatkan akses ke layanan (air).

yaitu. Selama musim kemarau.KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil analisis data historis. Bukti paling nyata dapat dilihat dari trend peningkatan suhu permukaan rata-rata selama 100 tahun terakhir di kota itu. transportasi. Dampak bencana iklim yang melanda kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas adaptasi yang rendah kemungkinan akan lebih parah daripada di kelurahan dengan indeks kerentanan dan kapasitas adaptasi tinggi. Bentuk adaptasi juga dapat dilihat pada strategi menjalani kehidupan. perikanan. Dua bencana iklim umum yang ditemukan di Kota Bandar Lampung adalah Banjir dan kekeringan. serta peningkatan permukaan laut. Dampak dari peristiwa iklim ekstrim dianalisis dalam empat bencana utama. sedangkan di daerah non pesisir dengan mengurangi jumlah konsumsi air. mereka membangun tanggul. yang ditunjukan oleh pergeseran awal musim hujan dan perubahan frekuensi curah hujan ekstrim. Sementara erosi dan tanah longsor terjadi di perbukitan/pegunungan yang memiliki kemiringan tinggi. sedangkan curah hujan pada musim kering (JJA) akan menurun. Kota Karang. terlihat jelas bahwa iklim Kota Bandar Lampung telah mengalami perubahan. Sedangkan di daerah non-pantai. untuk menyempurnakan skenario perubahan iklim di Kota Bandar Lampung diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan model iklim regional dan statistika downscaling. di daerah pantai atau lembah-lembah. 136 . hubungan perburuhan. sekitar 19 kelurahan memiliki indeks kerentanan tinggi. kesehatan. Di Bandar lampung. Sementara itu kekeringan mempengaruhi sektor air minum. dan untuk sementara pindah ke lokasi lain yang tidak terpengaruh oleh banjir. Secara umum. pertanian dan perikanan. sekitar 14 kelurahan memiliki indeks kapasitas adaptasi rendah dan 5 kelurahan lainnya memiliki indeks kapasitas adaptasi tinggi. Banjir memberikan dampak terbesar pada sektor perumahan. Perubahan curah hujan musiman juga ditemukan dalam data historis. Garuntang. kesehatan. Perubahan tersebut berupa curah hujan pada musim hujan (DJF) akan sedikit meningkat. Masyarakat sendiri telah mengembangkan cara mereka untuk beradaptasi. Pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer berdasarkan skenario SRESA2 dan SRESB1 akan menyebabkan perubahan iklim Kota Bandar Lampung pada masa yang akan datang. Dampak sosial yang disebabkan oleh banjir dan kekeringan dapat dilihat dari hubungan sosial/kekerabatan. Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah meliputi. Kelurahan Bumi Waras. banjir biasanya terjadi di lokasi dengan ketinggian rendah. pertanian. banjir. Namun. Panjang Selatan. drainase dan infrastruktur. Kedaton. tanah longsor. kekeringan. produksi dan pola transaksi dari kriminalitas. tindakan adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat di daerah pesisir adalah dengan membeli air bersih. Dari 19 kelurahan tersebut. Sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir meninggikan lantai dan membangun tanggul untuk beradaptasi terhadap banjir. Gunung Terang. atau di tempat-tempat dengan sistem drainase yang buruk (daerah nonpesisir). Kangkung.

Kelurahan pada tingkat risiko iklim M-H mencakup 14% dari luas wilayah Bandar Lampung. CCHI sebagian besar wilayah Bandar Lampung ≤ 1. Kota Bandar Lampung sudah terkena beberapa bencana iklim. 36% dan 5% dari masing-masing wilayah Bandar Lampung. indeks kapasitas tinggi. Kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang masih terbatas. Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat). dan banjir karena air pasang (rob). Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk memungkinkan mereka dalam menggunakan informasi berdasarkan keilmuan untuk mengembangkan rencana cakrawala adaptasinya. yaitu banjir. Kelurahan dengan indeks risiko iklim antara Menengah ke Tinggi (M-H) meliputi.5. baik untuk jangka menengah (5 tahun) dan jangka panjang (20 tahun). L-M (Rendah ke Menengah) dan M (Menengah) mencakup sekitar 22%. jumlah Kelurahan dengan CCHI lebih dari 1. Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang). Jaya Sepang. Berdasarkan indeks komposit bencana iklim (CCHI.5 meningkat. yaitu di sebagian kecil bagian selatan Kecamatan Panjang. Kelurahan Sepang Jaya dan Kedaton (Kecamatan Kedaton). Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan) dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). Pada tahun 2025 dan 2050 indeks kapasitas adaptasi dan indeks kerentanan beberapa Kelurahan akan meningkat dan pada sebagian kelurahan akan berkurang. Kelurahan pada tingkat risiko VL (Sangat Rendah) mencakup 21% dari wilayah Bandar Lampung.Perwata. Indeks Risiko Iklim Kelurahan di Kota Bandar Lampung sebagian besar berada pada kategori. fungsi dari frekuensi dan intensitas dari empat bencana). Dalam skenario A2. dan hanya sebagian kecil >1. Way Kandis dan Waydadi. Kelurahan Kangkung. Bumi Waras. sedangkan dengan indeks kerentanan rendah. Teluk Betung. risiko iklim beberapa tingkat Kelurahan akan berubah. Manajemen perubahan iklim (adaptasi dan mitigasi) dianggap sebagai konsep baru dan tidak sepenuhnya dipahami oleh pemangku kepentingan di tingkat lokal. Hal ini dapat dipahami mengingat perubahan iklim adalah masalah yang kompleks. Tidak ada kebijakan atau program khusus yang berkaitan dengan perubahan iklim dikeluarkan. Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi. Menengah ke Tinggi (M-H). Pada masa mendatang.5. tanah longsor. Sementara yang memiliki tingkat risiko Rendah (L). dan indeks komposit bencana iklim (CCHI) tinggi dikategorikan telah berada dalam kondisi Risiko Iklim Sangat Tinggi. Medium (M). Sedang ke Rendah (M-L). Pada kondisi saat ini. Srengsem. 137 . Tinggi (H). kekeringan. indeks kapasitas adaptasi rendah. Tanjung Senang. dan indeks komposit bencana iklim rendah dianggap mempunyai Risiko Iklim Sangat Rendah. Rendah (L) dan sangat rendah (VL) .

138 . koordinasi dan visi-misinya dalam manajemen perubahan iklim. Namun. sehingga secara hukum dapat mengikat. masyarakat dan sektor memberikan respon terhadap risiko iklim saat ini. dapat secara positif berkontribusi pada proses pengembangan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Pemerintah Kota juga sedang dalam proses penyusunan rencana pembangunan jangka menengah baru untuk 2011-2014 sebagai hasil dari pemilihan langsung yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010. serta bagaimana kapasitas saat ini harus dikembangkan untuk memperkuat pengelolaan risiko iklim di masa mendatang. LSM dan tokoh masyarakat telah dibentuk untuk merumuskan program-program perubahan iklim untuk Kota Bandar Lampung sebagai bagian dari Asian City Climate Change Resilience Network (ACCCRN). kurangnya alokasi anggaran untuk mendukung penanganan perubahan iklim serta perencanaan tata ruang tidak efektif untuk mengurangi dan menyesuaikan dampak perubahan iklim. Tim yang diwakili oleh berbagai pemangku kepentingan dari instansi pemerintah. Untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. dewan belum efektif pada pelaksanaan program. Pengelolaan risiko iklim saat ini dan masa depan perlu adanya komitmen politik. Ini adalah kesempatan yang baik untuk mengintegrasikan aspek perubahan iklim ke dalam dokumen. Keberadaan dewan ini penting untuk memastikan pelaksanaan yang efektif dari program-program penanganan bencana dan perubahan iklim dengan berbagai pemangku kepentingan. ada beberapa masalah terkait dengan perencanaan dan program yang dihadapi oleh Pemerintah Kota.Sejumlah kondisi yang menguntungkan di Kota Bandar Lampung. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah membentuk Dewan Daerah Bencana pada November 2009. Tim Kota. dirasakan penting untuk memahami bagaimana orang-orang. Masalah-masalah ini adalah kurangnya integrasi. Proyek percontohan khusus dibutuhkan sebagai bahan pelajaran bagaimana risiko iklim dapat dikelola dengan baik dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran tersebut untuk memperbaiki rencana adaptasi perubahan iklim. Dalam peraturan dan kebijakan jelas disebutkan bahwa dokumen perencanaan harus mempertimbangkan mitigasi bencana dan adaptasi dan masalah perubahan iklim. akademisi. Namun.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Bandar Lampung Medium Term Development Plan 2005-2010. Bandar Lampung Anonim. 2005. Bandar Lampung City Spatial Plan 2005-2015. Bandar Lampung. Anonim. 2009. Final Report on Design Scenario for Disaster Mitigation. Bandar Lampung. Anonim. 2008. Final Report on Disaster Mitigation Study in Bandar Lampung. Bandar Lampung. Anonim. 2008. Accountabilty Report of Mayor of Bandar Lampung in 2008 (Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Walikota Bandar Lampung Tahun 2008). Bandar Lampung Anonim. 2009. NUSSP Progress Report, Satker Bandar Lampung 2009. Bandar Lampung. Bakosurtanal. Tanpa tahun. Peta Rupa Bumi (Digital) Wilayah Semarang dan Bandar Lampung. Bogor. Bappeda Kota Bandar Lampung. 2008. Buku Dinamika Bandar Lampung Membangun (2008) (File diakses dari media CD) Bappeda Kota Bandar Lampung. 2008. Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung TA. 2008. Kerjasama Bappeda Kota Bandar Lampung dengan PT. Visitama Daya Solusi. Bappeda Kota Bandar Lampung. Tanpa tahun. Peta Lokasi Rawan Banjir di Kota Bandar Lampung. Bappeda Bandar Lampung. Boer, R & Faqih, A. 2004. 'Global climate forcing factors and rainfall variability in West Java: case study in Bandung district', Indonesian Journal of Agricultural Meteorology, vol. 18, no. 2, pp. 1-12. Borst D, Jung D, Murshed SM, Werner U. 2006. Development of a methodology to assess man-made risks in Germany. Nat. Hazards Earth Syst. Sci, 6 : 779-802.) BPS Jakarta. 2005. Potensi Desa Kota Bandar Lampung dan Kota Semarang Tahun 2005 (data digital). Jakarta Chang, CP, Wang, Z, Ju, JH & Li, T. 2004. 'On the relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter', Journal of Climate, 17, 665-672.

139

Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung. Tanpa Tahun. Studi Lanjutan Penataan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Kerjasama Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung Dengan PT. Multi Maestro Desain. (File diakses dari media CD) Eastman, J.R. 1999. Idrisi 32 Tutorial. Clark Labs, Clark University, USA. Faqih, A. 2004. 'Analisis korelasi debit air masuk musim kemarau pada waduk seri DAS Citarum dengan perubahan suhu permukaan laut global (Correlation Analysis of Citarum Dams Inflows with Global Sea Surface Temperatures in Dry Season)', Indonesian Journal of Agricultural Meteorology, vol. 18, no. 1, pp. 1-13. Folland, CK, Parker, DE, Colman, A & Washington, R. 1999. 'Large scale modes of ocean surface temperature since the late nineteenth century', in A Navarra (ed.), Beyond El Nino: Decadal and Interdecadal Climate Variability, SpringerVerlag, Berlin, pp. 73- 102. Haylock, M & McBride, J. 2001. 'Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall', Journal of Climate, vol. 14, no. 18, pp. 3882-7, doi: 10.1175/1520-0442(2001)014<3882:SCAPOI>2.0.CO;2. Hendon, HH. 2003. 'Indonesian rainfall variability: Impacts of ENSO and local air-sea interaction', Journal of Climate, vol. 16, no. 11, pp. 1775-90, doi: 10.1175/15200442(2003)016<1775:IRVIOE>2.0.CO;2. IPCC. 2007. Climate Change 2007: The physical science basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press: Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA Kirono, DGC, Tapper, NJ & McBride, JL. 1999. 'Documenting Indonesian rainfall in the 1997/1998 El Nino event', Physical Geography, vol. 20, no. 5, pp. 422-35. Mantua, N. J. and S. R. Hare. 2002. The pacific decadal oscillation. Journal of Oceanography, 58, 35-44. Mantua, N. J., S. R. Hare, Y. Zhang, J. M. Wallace, and R. C. Francis. 1997. A pacific interdecadal climate oscillation with impacts on salmon production. Bull. Amer. Meteor. Soc., 78, 1069-1079. Mitchell, TD & Jones, PD. 2005. 'An improved method of constructing a database of monthly climate observations and associated high-resolution grids', International Journal of Climatology, vol. 25, no. 6, pp. 693-712. PDAM Way Rilau. 2007. Profil PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung. Bandar Lampung.

140

Saji, NH, Goswami, BN, Vinayachandran, PN & Yamagata, T. 1999. 'A dipolemode in the tropical Indian Ocean', Nature, vol. 401, pp. 360-3. Strahler, A.N. 1986. Physical Geography. John Wiley & Sons, New York. Taylor, John. 2009. Community Based Vulnerability Assessment: Semarang and Bandar Lampung, Indonesia. ACCRN, Mercy Corps. Jakarta, Indonesia.

141

LAMPIRAN 142 .

143 .