LAPORAN AKHIR

KAJIAN KERENTANAN DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI KOTA BANDAR LAMPUNG

2010

RINGKASAN
Di masa depan, perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global diperkirakan akan menciptakan pola-pola risiko baru, dan risiko yang lebih tinggi secara umum. Kenaikan permukaan laut akibat mencairnya gletser dan es kutub dan ekspansi termal akan memberikan kontribusi pada peningkatan banjir pesisir. Bandar Lampung sebagai kota pesisir akan terpengaruh secara serius oleh perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Saat ini, beberapa wilayah pesisir sudah dipengaruhi oleh peningkatan permukaan laut. Banjir dan kekeringan juga terjadi cukup sering. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah melaksanakan berbagai program dan juga mengembangkan strategi jangka menengah dan panjang untuk mengelola bencana. Rencana untuk meningkatkan infrastruktur untuk pengendalian bencana iklim seperti sistem drainase dan tanggul telah disiapkan. Namun, dengan meningkatnya perubahan iklim pada frekuensi dan intensitas kejadian iklim yang ekstrim, desain saat ini mungkin sudah tidak efektif untuk mengelola bencana iklim pada masa mendatang. Oleh karena itu juga sangat penting untuk mempertimbangkan perubahan iklim dalam merancang sistem kontrol bencana iklim. ISET di bawah Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN dengan dukungan dari Yayasan Rockefeller, mengkoordinasikan studi tentang penilaian kerentanan dan adaptasi perubahan iklim yang dilakukan oleh MercyCorps, URDI dan CCROM SEAP-IPB di Bandar Lampung. Penelitian bertujuan (i) mengkaji variabilitas iklim saat ini dan masa depan di Bandar Lampung, (ii) menilai kerentanan dan kapasitas adaptasi serta risiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat kelurahan, (iii) mengidentifikasi dampak langsung dan tidak langsung dari bencana iklim sekarang dan di masa depan di tingkat kelurahan, (iv) mengidentifikasi daerah dan kelompok sosial yang paling rentan, dan dimensi kerentanan, termasuk kapasitas adaptasi masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, (v) mengidentifikasi masalah kelembagaan dan tata kelola pemerintahan yang mngkin mempengaruhi ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan, dan (vi) mengembangkan rekomendasi awal untuk Bandar Lampung dalam meningkatkan ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan

PROFIL DAN IKLIM KOTA BANDAR LAMPUNG Bandar Lampung adalah ibu kota Provinsi Lampung. Secara geografis Bandar Lampung terletak pada 5o20 '- 5o30’ lintang dan bujur 105o28'-105o37'. Bandar Lampung memiliki luas wilayah 19.722 hektar yang terdiri dari 13 kecamatan dan 98 desa (Kelurahan). Kota ini dilalui oleh dua sungai besar yaitu Way Kuala dan Kuripan dan 23 sungai kecil. Semua sungai-sungai ini membentuk DAS yang terletak di daerah Bandar Lampung dan sebagian besar mengarah ke Teluk Lampung. Beberapa jaringan drainase buatan menghubungkan sistem sungai di wilayah ini. Fungsi jaringan drainase ini adalah untuk mengurangi aliran permukaan sebagai akibat dari air hujan yang berlebihan. sistem jaringan drainase yang telah terinstal di Bandar Lampung meliputi Teluk Betung, Tanjung Karang, Panjang dan Kandis.

ii

Warga Bandar Lampung memenuhi kebutuhan air bersih melalui perusahaan air minum daerah (PDAM) dan dengan mengambil air tanah dangkal/dalam melalui sumur gali. Saat ini, PDAM hanya mampu melayani 32% dari total penduduk Bandar Lampung. Kedalaman sumur gali adalah sekitar 30 hingga 50 meter dari permukaan tanah setempat. Bandar Lampung merupakan kota pelabuhan yang penting untuk kawasan Sumatera. Pelabuhan Kota Bandar Lampung terletak di suatu pantai berbentuk teluk sehingga gelombang tinggi sebagai akibat angin kencang tidak sepenuhnya langsung mengenai kawasan pantai. Meskipun demikian, di beberapa tempat kawasan pantai, sudah terjadi abrasi oleh gelombang laut. Di beberapa lokasi, wilayah pesisir merupakan kawasan padat penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal, penduduk membangun rumah tempat tinggal di lahan hasil penimbunan pantai (reklamasi) sehingga terjadi akresi. Banyak dari para pemukim tidak memiliki bukti kepemilikan tanah secara hukum. Kondisi ini akan menjadi salah satu masalah serius dalam mewujudkan rencana Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk menciptakan Water Front City. Jumlah penduduk di Bandar Lampung pada tahun 2008 adalah 822.880 orang dengan kepadatan penduduk sekitar 42 orang per ha. Kepadatan penduduk tidak merata. Kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi berada di Tanjung Karang Tengah dan Teluk Betung Selatan. Berdasarkan kelompok umur, proporsi terbesar penduduk Bandar Lampung adalah kelompok umur 20-24 dengan populasi 95.597 orang, diikuti oleh kelompok usia 15-19 dengan populasi 95.537 orang. Usia produktif (usia 15-55 tahun) di Bandar Lampung mencapai jumlah 546.920 atau 64,75% dari total penduduk. Sumber pendapatan masyarakat bervariasi. Perdagangan adalah mata pencaharian utama penduduk. Sebagian besar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bandar Lampung berasal dari transportasi dan komunikasi (19,6%), industri pengolahan (17,6%), jasa (16,9%) dan perdagangan, hotel, restoran (16,6%). Pertanian hanya berkontribusi 5% terhadap PDRB. Berdasarkan analisis terhadap data iklim historis yang panjang, ditemukan bahwa ada perubahan trend dan variabilitas variabel iklim seperti suhu dan curah hujan. Bukti paling nyata dapat dilihat dari trend peningkatan suhu permukaan ratarata selama 100 tahun terakhir di kota itu. Perubahan curah hujan musiman juga ditemukan, yaitu pergeseran awal musim dan perubahan frekuensi curah hujan ekstrim. Berdasarkan 14 model iklim global (GCM), diindikasikan bahwa curah hujan musim basah (musim hujan) Bandar Lampung City (DJF) di masa depan mungkin sedikit meningkat, terutama di kawasan pesisir. Sebaliknya, curah hujan musim kering (JJA) akan menurun. Namun, analisis iklim di masa mendatang mungkin perlu disempurnakan dengan menggunakan model iklim dengan resolusi tinggi seperti RCM. Penggunaan model global seperti GCM tidak akan mampu menangkap efek lokal. Analisis lebih lanjut mengenai cuaca ekstrim di bawah perubahan iklim juga harus dilakukan. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pemanasan global akan mendatangkan kejadian lebih ekstrim.

iii

Jenis bencana alam yang melanda Kota Bandar Lampung meliputi banjir. Berdasarkan sektor ekonomi. erosi dan sedimentasi juga terjadi di wilayah pesisir. terdiri dari laki-laki 62. hubungan kerja.DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM Kota Bandar Lampung sangat rawan terhadap bencana alam. gempa bumi dan kekeringan. Bencana juga dapat menyebabkan meningkatnya insiden kejahatan seperti pencurian. Berdasarkan sektor ekonomi. survei dan wawancara dilakukan di enam kelurahan. Untuk mengevaluasi dampak sosialekonomi bencana terkait iklim. informasi ini juga dipertajam melalui diskusi kelompok terfokus (FGD) di empat Kelurahan: Panjang Selatan. dan pertanian. dan Pasir Gintung serta melalui studi literatur. dan harga beberapa komoditas. dan Sukabumi Indah). Dampak bencana terhadap kesehatan adalah meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi penyakit. transaksi pola produksi dan nilai-nilai sosial lainnya. Dalam hal hubungan kerja. Ekonomi dampak bencana iklim dapat dievaluasi dari dampaknya terhadap pekerjaan utama. tsunami. Hal ini dapat dilihat dari kerja sama penduduk atau kekerabatan dalam menangani masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. Hubungan sosial antara orang-orang pada saat bencana masih berjalan dengan baik. dan tiga untuk desa pesisir (Kangkung. Abrasi. dan pekerjaan umum (kerusakan fasilitas drainase dan infrastruktur lainnya). perumahan dan sektor perikanan. kekeringan menyebabkan kerugian di bidang pertanian. kesehatan. tetapi ini terjadi hanya di daerah sekitar bencana tersebut. sektor air minum. Batu Putu. Survei ini melibatkan 256 orang. bencana banjir memberikan dampak terbesar pada sektor kesehatan. Selain dari survei. air pasang menyebabkan rob. Bencana ini juga menyebabkan kenaikan harga beberapa produk pertanian seperti padi. Kota Karang. dan batuk / flu / pilek. dampak banjir menyebabkan kerugian untuk sektor infrastruktur. perikanan. perumahan. seperti pertanian. Sedangkan sektor yang paling terkena dampak kekeringan adalah air minum. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan untuk saling membantu saat terjadi bencana. Bencana mengurangi produktivitas kerja terutama jika pekerjaan utama masyarakat rentan terhadap dampak bencana. Pasir Gintung. tanaman dan ternak. dampak dari bencana tersebut menyebabkan penurunan hubungan ‘patron-klien’ yang sebelumnya merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat pesisir. Sementara itu. Karena potensi terulangnya kejadian iklim ekstrim yang dapat menyebabkan bencana di masa depan. Masalah kekurangan minum air meningkat pada musim kemarau panjang atau selama bencana banjir. kondisi perumahan padat penduduk dengan lingkungan relatif kurang nyaman. yaitu. perikanan dan lain-lain.28% dan 36. Kota Karang. iv . perikanan dan air minum. Dari studi ini terungkap bahwa terjadinya bencana iklim (banjir dan kekeringan) mempunyai potensi untuk mengubah urutan nilai-nilai sosial masyarakat. terutama malaria. penduduk di daerah pesisir bersedia untuk pindah sepanjang mereka diberikan fasilitas dan rumah-rumah yang layak dan relokasi tidak jauh dari laut.72% perempuan. Panjang Selatan). tanah longsor. Banjir di wilayah pesisir dapat mengurangi orang yang bekerja di sektor perikanan. tiga Kelurahan non-pantai (Batu Putu. dan rencana pemerintah untuk membangun water front city di daerah pesisir. sehingga mereka masih bisa melakukan pekerjaan mereka saat ini (nelayan).

yang merupakan kombinasi dari mata pencaharian on farm and off farm. Strategi mata pencaharian yang dilakukan oleh penduduk adalah pertanian intensifikasi dan pola pendapatan ganda. sebagian besar warga mengaku bahwa mereka tidak pernah mendapat informasi tentang iklim atau peringatan dini dari pemerintah. Berdasarkan beberapa jenis informasi yang terkait dengan bencana. selain pekerjaan utama. akan lebih rentan (indeks kerentanan tinggi) dibandingkan dengan rumah tangga v . pindah ke daerah yang tidak terkena banjir. seperti istri dan anak-anak yang telah dewasa. EWS (Early Warning System). mereka mengharapkan pemerintah untuk menyediakan perumahan dan pekerjaan baru. jika bencana parah dan memaksa mereka untuk pindah. Yang kedua adalah dengan memberdayakan anggota keluarga. Sebagian besar penduduk memperoleh informasi tentang prakiraan iklim secara tradisional dari para pemimpin tradisional dan para pemuka masyarakat. relokasi ke daerah yag tidak mengaklami kekeringan dan melakukan ritual untuk meminta hujan. memompa air dari sumber terdekat.Sementara beberapa warga di daerah bukan pesisir merasa enggan pindah karena mereka khawatir kehilangan pekerjaan. Namun. atau instansi terkait lainnya dan tidak ada lembaga penanganan bencana di daerah mereka. banyak orang miskin dan sebagian besar wilayah Kelurahan dekat sungai dan pantai dengan daerah terbuka hijau kurang luas. Warga juga menerima ramalan informasi melalui media televisi. pertama dengan keragaman pendapatan. sumber air minum sebagian besar bukan dari PDAM (sistem perpipaan). Namun. Penelitian ini mengevaluasi tingkat risiko iklim pada level Kelurahan (desa). Intensifikasi pertanian dilakukan dengan melakukan diversifikasi tanaman. menambah pasokan makanan dan bahan bakar. mulai dari tinggal di rumah. Kelurahan di mana banyak rumah tangga yang mendirikan rumah/bangunan yang terletak di tepi sungai. mengurangi konsumsi air. Untuk lebih mempersiapkan diri dalam mengelola risiko bencana. masyarakat berharap di tempat tersedia sistem peringatan dini bencana. kepadatan penduduk tinggi. Biasanya kegiatan off farm adalah pekerjaan sampingan. Bentuk adaptasi juga dapat dilihat pada cara mencari nafkah. The coping capacity index dikembangkan berdasarkan indeks kerentanan dan kapasitas adaptasi dari Kelurahan. memperdalam saluran air. Adaptasi selama banjir disikapi oleh penduduk beragam. meninggikan lantai. Hal ini menggambarkan kurangnya respon pemerintah untuk bencana yang terjadi di masyarakat. Indeks kerentanan dan kapasitas Kelurahan diukur dengan menggunakan sejumlah indikator sosial-ekonomi dan biofisik. pembuatan tanggul. RISIKO IKLIM TINGKAT 'KELURAHAN' Tingkat risiko dari sistem untuk bencana atau kejadian iklim ekstrim (extreme climate event /ECE) akan tergantung pada kapasitas sistem untuk mengatasi kejadian (disebut coping capacity index) dan kemungkinan kejadian iklim ekstrim untuk terjadi. Dampak bencana yang mengakibatkan perubahan perilaku merupakan suatu bentuk adaptasi. Pola pendapatan ganda dilakukan dengan dua cara. informasi tentang peringatan bencana lebih berguna daripada informasi lainnya. yang dimiliki oleh seseorang. Adaptasi terhadap kekeringan dalam bentuk membeli air untuk kebutuhan sehari-hari.

kita normalkan semua skor indikator sehingga indeks kerentanan dan indeks kapasitas berada pada kisaran dari 0 hingga 1. VI dan CI akan berkisar dari -0.yang bangunan di tepi sungainya sedikit. Nilai-nilai VI dan CI dinormalisasi sehingga mempunyai nilai yang berada pada kisaran dari 0 ke 1. Kelurahan yang terletak di kuadran 5 akan memiliki VI tinggi dan rendah CI.25 Low Capacity Index 36 kelurahans 2 1 High Capacity Index -0.50 Gambar 1.50 -0. dengan mengurangi nilai indeks dengan 0. Faktor-faktor digunakan untuk normalisasi skor indikator-indikator yang sesuai untuk tahun 2025 dan 2050 adalah sama dengan baseline tahun 2005. dan hanya sebagian kecil wilayah Kelurahan dekat sungai dan pantai dengan lebih banyak daerah terbuka hijau (indeks kerentanan rendah). Untuk mengklasifikasikan Kelurahan berdasarkan coping capacity index mereka. wilayah yang bukan daerah terbuka hijau. Sedangkan Kelurahan yang terletak di kuadran 1 akan memiliki VI rendah dan CI tinggi. penduduk miskin sedikit. Untuk menilai perubahan VI dan CI di masa depan. mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari PDAM. kami hanya mempertimbangkan perubahan kepadatan penduduk (berdasarkan pada proyeksi pemerintah).50 -0. Kelurahan dengan indeks kapasitas adaptasi tinggi adalah kelurahan di mana banyak rumah tangga yang berpendidikan tinggi.25 Index +0. kerugian ekonomi dll) yang disebabkan oleh kejadian bencana akan lebih parah di Kelurahan yang memiliki indeks kerentanan tinggi. Namun. kepadatan penduduk rendah. jika Kelurahan terletak di kuadran 5 terkena bencana tertentu. Dalam studi ini. dan pendidikan (berdasarkan rencana tata ruang atau RTRW) karena data lainnya tidak tersedia. Dengan menggunakan sistem klasifikasi.5. kerentanan (VI) dan indeks kapasitas (CI) masing-masing kelurahan dikurangi sebesar 0. vi .5.50 5 4 14 kelurahans 5 3 +0.5 sampai 0. High Vulnerability Index +0. konsekuensi kejadian bencana di Kelurahan rentan tinggi akan berkurang jika memiliki kapasitas adaptasi tinggi. sumber pendapatan utama masyarakat tidak sensitif terhadap bencana iklim (misalnya perdagangan jauh kurang sensitif dibandingkan pertanian) dan memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik dan infrastruktur jalan.25 Low Vulnerability +0. dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan Kelurahan yang terletak di kuadran 1. Konsekuensi (kerusakan.25 22 kelurahans 21 kelurahans -0. Klasifikasi kelurahan berdasarkan coping capacity index (kuadran 1 sampai 5) dan jumlah kelurahan yang berada di setiap kuadran pada kondisi saat ini (2005). Posisi relatif dari Kelurahan sesuai dengan VI dan CI ditentukan berdasarkan posisi mereka dalam lima kuadrannya (Gambar 1).5.

Kedaton. Panjang Selatan. 6-7 kelurahan di Kuadran 5 akan pindah ke kuadran 4 dan 3 menunjukkan bahwa ada peningkatan coping capacity index. coping capacity index beberapa kelurahan di kuadran 3 dapat berubah menjadi kuadran 4 pada masa yang akan datang (Gambar 2). Gunung Terang. Way Kandis dan Waydadi. Pada tahun 2025 dan 2050.4% di Kuadran 2 dan 21. Sepang Jaya. Kelurahan di kuadran 5 termasuk Bumi Waras. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas bertahan dari kelurahan akan menurun di masa depan (Gambar 3).Analisis menunjukkan bahwa pada saat ini sekitar 14.4% di Kuadran 1 (Kelurahan dengan kerentanan rendah dan indeks kapasitas tinggi). Gambar 2.7% di Kuadran 3. 36. Srengsem. Tanjung Senang. 22.2% dari kelurahan berada pada kuadran 5 yang memiliki coping capacity index tinggi (kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan kapasitas yang rendah atau coping capacity index tinggi). Namun. Jumlah kelurahan menurut coping capacity index (kuadran 1-5) saat ini dan di masa depan (2025 dan 2050) Gambar 3. Coping capacity kelurahan di Bandar Lampung vii . Kangkung. Perwata. Teluk Betung. Kota Karang. Garuntang. 5.1% di kuadran 4.

kami klasifikasi tingkat risiko iklim dari kelurahan berdasarkan coping capacity index dan CCHI (Tabel 1).3.0. dan tanah longsor setiap tahun dan benar-benar kebanjiran ketika rob terjadi. Jenis bencana iklim termasuk banjir. Risiko iklim akan sangat rendah di Kelurahan pada kuadran 1 dan probabilitas dari kejadian iklim ekstrim di kelurahan ini juga rendah.0. Untuk mengakomodasi beberapa bencana iklim yang terhimpun dalam penilaian risiko iklim. serta peningkatan muka laut.0 .5) menjadi tiga kategori. Peta risiko iklim Bandar Lampung berdasarkan Kelurahan dihasilkan melalui tumpang tepat peta coping capacity index dan CCHI pada kondisi iklim saat ini dan masa depan seperti ditunjukkan pada Gambar 2. antara 2.0 Sangat Tinggi (VH) Tinggi (H) Sedang ke Tinggi (M-H) Sedang ke Tinggi (MTinggi (H) H) Sedang (M) Sedang ke Tinggi (MSedang ke Rendah (MH) Sedang Medium (M) L) Sedang ke Rendah (MMedium (M) L) Rendah (L) Sedang ke Rendah (M-L) Rendah Low (L) Sangat Rendah (VL) viii . kekeringan.Untuk menentukan tingkat risiko dari kelurahan terhadap dampak perubahan iklim didefinisikan sebagai fungsi dari probabilitas kejadian iklim yang tidak terduga (ekstrim) dan konsekuensi dari kejadian jika itu terjadi.5 dan lebih dari 3. Selanjutnya. tanah longsor. Kelurahan dengan CCHI sebesar 4. area indeks> 2 menurun pada tahun 2025. Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2005. Seperti digambarkan sebelumnya. kita dapat berharap bahwa kelurahan dengan kerentanan tinggi tetapi indeks kapasitas rendah (di kuadran 5) kemungkinan akan terpengaruh lebih parah oleh kejadian-kejadian yang ekstrim dibandingkan dengan kelurahan dengan kerentanan rendah dan indeks kapasitas tinggi (kuadran 1). Kelurahan dengan CCHI mendekati nol berarti bahwa tidak ada bencana terjadi di kelurahan. Tabel 1. tetapi meningkat sedikit pada tahun 2050. Jadi kita dapat mendefinisikan bahwa risiko iklim akan sangat tinggi di kelurahan pada kuadran 5 jika probabilitas kejadian iklim ekstrim di Kelurahan ini tinggi. Matrix risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index Coping Capacity Index (kuadran) 5 4 3 2 1 Composite Climate Hazard Index (CCHI) > 3.0 dan 3. Kami klasifikasikan indeks bencana iklim (nilai indeks berkisar dari 0 sampai 4. KecamatanTeluk Betung Utara.5 2. kami mengembangkan indeks komposit bencana iklim (composite climate hazard index /CCHI).5 < 2. Di masa depan berdasarkan scenario A2. CCHI di sebagian besar wilayah Bandar Lampung sebagian besar kurang dari 1. yaitu kurang dari 2. Kelurahan dengan CCHI tinggi baik saat ini dan di masa mendatang adalah Kelurahan Gunung Mas.5.5 berarti bahwa seluruh wilayah kelurahan ini terkena banjir dan kekeringan. Kami menggunakan output curah hujan dari 14 model sirkulasi umum (GCM) untuk skenario emisi tinggi (SRESA2) dan skenario emisi rendah (SRESB1).

Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur mereka terhadap risiko iklim (A) & (D) Risiko Iklim Baseline. (F ) Risiko Iklim skenario B1 2050 ix . (C) Risiko Iklim skenario A2 2050. (B) Risiko Iklim skenario A2 2025.Gambar 4. Jumlah Kelurahan menurut kategori risiko iklim A B C D E F Gambar 5. (E) Risiko Iklim skenario B1 2025.

Adaptasi program harus diprioritaskan di Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah dan sedang terkena atau berpotensi terkena indeks bencana iklim yang tinggi.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada Kelurahan dengan kategori risiko iklim Sangat Tinggi (VH) saat ini (kondisi baseline). Sepang Jaya dan kelurahan Kedaton (Kecamatan Kedaton). Analisis di atas menunjukkan bahwa perubahan dalam kondisi sosialekonomi dan biofisik akan mengubah kapasitas ketahanan Kelurahan.1%) berada pada risiko iklim M (Menengah). Sementara banyak dari Kelurahan dengan kategori risiko L-M akan pindah ke kategori risiko sedang (M) (Gambar 5). terutama di bawah skenario SRESB1. Ini termasuk Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat). Yang kedua adalah apa program (pendek dan jangka panjang) inisiatif saat ini untuk mengatasi risiko iklim dan seberapa efektif mereka. yaitu kelurahan Gunung Mas di Kecamatan Teluk Betung Utara dan Kelurahan Garuntang di Kecamatan Teluk Betung Selatan. Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). Ada dua Kelurahan akan pindah dari M-H ke kategori risiko iklim tinggi. akan terkena risiko iklim yang lebih tinggi (Gambar 6.7%) pada risiko iklim L-M (Rendah ke Medium). Ada tiga aspek penting perlu dinilai untuk menilai ketahanan kota terhadap perubahan iklim.2%) dengan kategori risiko M-H. Kategori tertinggi adalah hanya Menengah ke Tinggi (M-H). TATA PEMERINTAHAN DAN SISTEM KELEMBAGAAN Pemerintahan dan lembaga adalah dua faktor penentu yang mempengaruhi ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Sisanya adalah 5 Kelurahan (5. Di masa depan (skenario 2025 dan 2050). Untuk mengurangi tingkat risiko Kelurahan terhadap dampak perubahan iklim. Sedangkan peran pemerintah provinsi diklaim tidak terlalu signifikan. lebih banyak Kelurahan. infrastruktur dan program pengembangan masyarakat harus diarahkan untuk meningkatkan indikator-indikator sosial-ekonomi dan biofisik mempersiapkan kapasitas kerentanan dan adaptasi dari Kelurahan.4%) Kelurahan pada risiko iklim VL (sangat rendah). Kelurahan Kangkung. Ada sekitar 14 Kelurahan (14. Setiap stakeholder memiliki peran dan kontribusi mereka sendiri untuk beradaptasi dan memperkuat masyarakat untuk perubahan iklim. Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Tata pemerintahan dan kelembagaan yang kuat akan meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim.4). Kemitraan ini merupakan prakondisi untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Secara keseluruhan. Bumi Waras dan Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan). Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang Subdistrik). 36 Kelurahan (36.4%) pada risiko L (rendah) dan 21 (21. pemerintah daerah Bandar Lampung memainkan peran besar dalam perubahan iklim baik untuk dukungan keuangan dan pelaksanaan program. Dari hasil analisis terungkap bahwa manajemen perubahan iklim di Kota Bandar Lampung melibatkan stakeholder baik dari internal dan eksternal kota. dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). Ketiga adalah apa kapasitas pemerintah lokal dan institusi untuk mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan jangka pendek dan jangka panjang pembangunan. Yang pertama adalah bagaimana stakeholder memainkan peran mereka dalam mengelola risiko iklim. tetapi memiliki peran lebih dalam mengkoordinasikan program dan x . 22 Kelurahan (22.

Ada sejumlah program dan rencana yang disiapkan oleh pemerintah untuk menangani bencana alam di kota. pemerintah kota Bandar Lampung telah membentuk Badan Pengelolaan Bencana Daerah pada bulan November 2009 meskipun dewan tersebut belum efektif pada pelaksanaan program tersebut. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengintegrasikan aspek perubahan iklim ke dalam dokumen. seperti kawasan sepanjang sungai dan lain-lain. Kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang saat ini masih terbatas. xi . Selain rencana aksi. Terdapat sejumlah kondisi yang menguntungkan di Kota Bandar Lampung. ada beberapa lembaga yang terkait dengan pembentukan tim kota. Sementara sebagian besar kelemahan terkait dengan kebutuhan dalam hal koordinasi yang lebih baik antar sektor dan antar daerah dalam rangka mengurangi ketidakefektifan pelaksanaan proyek. Namun. Hal ini juga menunjukkan kebutuhan untuk memperkuat Tim Kota dalam memperjuangkan untuk memperkenalkan dan mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam dokumen perencanaan daerah. sehingga secara hukum dapat mengikat. sehingga memungkinkan mereka dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasinya. Hal ini dapat dipahami mengingat perubahan iklim adalah masalah yang kompleks. Bagaimanapun. Perlu komitmen politik dan pemahaman yang komprehensif dari Tim Kota untuk memperkenalkan masalah-masalah terkait perubahan iklim. pemerintah pusat dan dukungan donor pada pembiayaan dan beberapa pelaksanaan proyek yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Pemerintah Kota Bandar Lampung juga akan merumuskan rencana pembangunan jangka menengah baru sebagai hasil dari pemilihan langsung yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010. Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. Dalam peraturan dan kebijakan jelas disebutkan bahwa dokumen perencanaan harus mempertimbangkan mitigasi bencana dan adaptasi dan masalah perubahan iklim. Terkait dengan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah. koordinasi antar pemangku kepentingan dan sektor harus diperkuat untuk mendapatkan manfaat maksimal dari program untuk lingkungan dan masyarakat. Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah juga diperlukan. yang dapat secara positif berkontribusi pada proses pengembangan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. perencanaan tata ruang kota dari Bandar Lampung belum mempertimbangkan isu-isu perubahan iklim.kebijakan dari beberapa kota. Di sisi lain. Inisiatif saat ini yang dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai respon untuk manajemen bencana adalah merumuskan program dan rencana aksi dalam mengurangi risiko bencana melalui studi intensif pada tahun 2008. ada ruang untuk memberikan masukan tentang isu-isu perubahan iklim ke dalam RTRW Kota Bandarlampung yang sedang direvisi. Rencana tata ruang (RTRW) yang tidak benar akan menyebabkan kota menghadapi risiko iklim yang lebih tinggi di masa depan. perubahan tata guna lahan. Beberapa masalah yang berpotensi menyebabkan kesulitan untuk menerapkan iklim dalam perencanaan tata ruang termasuk inkonsistensi dalam pelaksanaan perencanaan tata ruang.

PERENCANAAN TINDAKAN ADAPTASI Untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. kita ekstrak sejumlah pelajaran yang dapat berkontribusi dalam mengembangkan strategi adaptasi. atau tabungan masyarakat bahkan kelompok yang mengumpulkan jumlah yang sangat minim. xii • • • • • . dibandingkan melalui proses aplikasi birokrasi yang mungkin berarti dokumen panjang. Mereka yang murah dan bekerja dengan bahan yang tersedia: bagi masyarakat miskin perkotaan. Ini adalah apa yang orang mampu dan yang masuk akal bagi mereka. Seluruh lebih besar daripada jumlah dari bagian-bagian: Banyak strategi adaptasi berhasil karena mereka memanfaatkan upaya kolektif dan kekuatan orang. dan juga mempertimbangkan temuan dari survei dan literatur. tapi ketika manfaat lainnya dapat diturunkan maka solusinya dapat dijalankan. Memanfaatkan dukungan pemerintah memberikan hasil yang lebih baik: Ketika masyarakat mampu bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah kota (dan sebaliknya) strategi adaptasi tampaknya telah berhasil. mereka dapat dengan mudah dikelola dan diakses. masyarakat. dan sektor memberikan respon terhadap risiko iklim saat ini dan bagaimana kapasitas saat ini harus dikembangkan untuk memperkuat kapasitas dalam mengelola risiko iklim di masa mendatang. Sementara intervensi pemerintah sangat dihargai dan instrumental kemandirian lokal tampaknya menjadi karakteristik kunci dari strategi adaptasi. Mereka tidak bergantung atas proyek besar atau intervensi pemerintah: Orangorang telah dibiasakan bergantung pada organisasi masyarakat dan inisiatif yang lebih baik dalam meresponkebutuhan mereka sendiri. Kami belajar beberapa sifat umum yang terlihat dalam strategi adaptasi di tingkat masyarakat: • • Cukup hanya 'kerja mereka': ini adalah sense adaptasi yang sangat praktis yang memiliki bantalan nyata dan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari mereka. Kota Karang. bahan perumahan memulung dari tumpukan material di dekatnya. Demi keselamatan sendiri bukan merupakan faktor motivasi. Adaptasi terhadap peristiwa iklim yang parah harus bekerja sama dengan strategi adaptasi lainnya: Orang-orang yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim mungkin tidak tahu atau peduli untuk merencanakan untuk itu. Proyek percontohan khusus dibutuhkan sebagai bahan pelajaran bagaimana risiko iklim dapat dikelola dengan baik dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran tersebut untuk memperbaiki rencana adaptasi perubahan iklim. dirasakan penting untuk memahami bagaimana orang-orang. Misalnya. Umumnya di kota orang menginginkan akses ke sumber daya dengan cepat dan ini adalah karakteristik yang sangat penting dari strategi adaptasi yang bekerja. jika tidak bermanfaat bagi aspek-aspek lain dari kehidupan mereka. sepeda motor atau aset yang berfungsi lainnya. Orang-orang yang peduli satu sama lain dan ketika kekhawatiran ini diterjemahkan dalam aksi kolektif dapat memberikan hasil yang signifikan. Pasir Gintung. Berdasarkan studi mengenai Penilaian Kerentanan Berbasis Masyarakat (Community Based Vulnerability Assessment /CBA) di Kelurahan Kankung. sumber daya langka. Dapat diakses pada saat dibutuhkan: Dalam rangka untuk mendapatkan modal untuk memulihkan kondisi dari banjir keluarga mungkin menjual televisi.

Tujuan dari pelaksanaan pilot adalah (i) untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim di tingkat kota. orang tua dan laki-laki. bagaimana kapasitas saat ini harus diperkuat dan rencana tata ruang untuk ditingkatkan untuk membentuk ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik dari pilot proyek dalam merancang kebijakan dan strategi jangka panjang untuk mengatasi perubahan iklim. (vii) kohesi masyarakat. dan (vii) strategi keberlanjutan. (ii) menangani risiko saat ini dan masa depan. Untuk proyek-proyek percontohan. Ormas. xiii . Pilot proyek diperlukan untuk membantu pemerintah daerah untuk lebih memahami bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada masyarakat dan sektor. mempengaruhi kebijakan lokal dll. kesehatan. banjir kekeringan. anak-anak. Neighbourhood Vulnerability Index. Penerima manfaat adalah perempuan. dan (vii) mobilitas. (iv) kolaborasi dan keterlibatan pemerintah daerah. narasi komunitas berbagi dan jaringan. subjek adalah orang-orang rentan yang terkena dampak perubahan iklim. pembiayaan biaya rendah perbaikan perumahan. (iv) kota dan program pemerintah nasional (misalnya PNPM). Ada beberapa kriteria tambahan yang harus dilakukan oleh pelaksana proyek percontohan: (i) pelaksanaan pilot proyek harus berkaitan dengan masalah-masalah lokal di masyarakat lokal administratif atau lintas administratif berbatasan dengan isu-isu lingkungan. seperti: erosi. (v) migrasi dan tingkat pertumbuhan. pendidikan. (ix ) memanfaatkan sumber daya yang ada (seperti subsidi. (iii) akses terhadap informasi. dan (ii) pelaksanaan proyek percontohan diarahkan untuk adaptasi dan kegiatan usaha respon terhadap dampak perubahan iklim. (ii) tingkat kapasitas. peta yang terperinci untuk digunakan pemerintah daerah setempat.• Akses lebih ke informasi dapat menyebabkan hasil yang lebih baik: masyarakat miskin perkotaan biasanya terisolasi dan strategi adaptasi tampaknya begitu berhasil meningkatkan akses terhadap informasi. (vi) skalabilitas . LSM. (ii) jaringan sosial yang mungkin timbul dari orang-orang dalam situasi yang mirip dengan tahu bagaimana. kita dapat disimpulkan bahwa adaptasi yang sukses di tingkat masyarakat tergantung dari beberapa faktor yaitu: (i) ketersediaan dana. (vi) kepemimpinan lokal. tanah longsor dll. universitas. (iii) manfaat kepada masyarakat lokal. (iii) tingkat pemerintah daerah setempat. (iii) melaksanakan proyek percontohan dalam hal uji perubahan strategi ketahanan iklim. peningkatan kapasitas lokal. ekonomi yang terkait dengan dampak perubahan iklim. dan (viii) lokal organisasi masyarakat sipil. (vi) pelayanan publik. dan koalisi berbasis luas untuk menangani masalah perubahan iklim). Dari metode pembelajaran. sosial. (v) kerjasama. Tim Kota telah memfasilitasi berbagai pihak untuk mengembangkan sejumlah proyek percontohan. Kota Bandar Lampung berada dalam posisi yang baik untuk pindah ke ketahanan kota sebagaimana sudah tersedia (i) ada kasus dan dapat dilaksanakan. kelompok masyarakat). (ii) untuk melibatkan para stakeholder tingkat kota (pemerintah kota. sektor swasta. Kegiatan proyek percontohan juga dirancang untuk memenuhi kriteria sebagai berikut: (i) replicability. alternatif jaring pengaman sosial. (v) Bahan dan pengetahuan dari industri dan kegiatan ekonomi. baik dalam faktor kesadaran yang meningkat. (iv) inovasi. dan (iv) untuk menguji kapasitas adaptasi masyarakat.

dan membangun kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim.Ada dua proyek percontohan dipilih Asian Cities Climate Change Program (ACCCRN) sebagai kontribusi terhadap tujuan pembangunan dan mengatasi dampak perubahan iklim di Bandar Lampung: (A) Desain Partisipatif Adaptasi Ketahanan Masyarakat di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang. xiv . ekonomi. dan adaptasi terhadap perubahan iklim. dan keterlibatan partisipatif masyarakat dalam rangka membangun kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim". Target jangka panjang adalah untuk (i) untuk mendorong pembentukan kelompok masyarakat dalam adaptasi perubahan iklim. Selanjutnya.Lokal LSM. kesadaran. Selanjutnya. dan rehabilitasi. target dari proyek ini adalah (i) untuk membangun pemahaman dan melaksanakan program kegiatan bagi masyarakat di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang terhadap dampak perubahan iklim (dalam sosial. dan (iii) untuk beradaptasi dengan perubahan iklim melalui pengelolaan limbah. target jangka pendek dari proyek tersebut (i) untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui keterlibatan aktif dan meningkatkan pengetahuan tentang upaya adaptasi perubahan iklim. Tujuan dari proyek ini adalah "untuk meningkatkan pemahaman. (ii) meningkatkan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Tujuan dari proyek ini adalah "sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan ketahanan masyarakat Kecamatan Panjang Selatan terhadap perubahan iklim". manajemen lingkungan. (iii) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang dan (iv) untuk membantu meningkatkan standar hidup masyarakat di bidang kesehatan. dan sektor-sektor kehidupan yang berkelanjutan).LSM Lokal. ketahanan ekonomi rumah tangga. (ii) untuk membangun kesadaran masyarakat dalam memahami dan memecahkan masalah-masalah berkaitan dengan dampak perubahan iklim. penyediaan air minum isi ulang. (B) Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kecamatan Panjang Selatan untuk Mengatasi Perubahan Iklim oleh Mitra Bentala . dan (ii) untuk mendorong penciptaan kolektif untuk dukungan pelaksanaan adaptasi terhadap perubahan iklim di Kecamatan Panjang Selatan. Kota Bandar Lampung untuk Perubahan Iklim oleh Lampung Ikhlas .

Penelitian ini didukung oleh berbagai institusi. Di masa depan. untuk menangani masalah-masalah terkait rencana pembangunan kota dan dalam pelaksanaan program-program perubahan iklim. Saat ini. Laporan ini menjelaskan secara rinci mengenai: (i) karakteristik iklim Bandar Lampung saat ini dan masa depan. beberapa Kelurahan di Kota Bandar Lampung sudah terpengaruh oleh bencana iklim seperti banjir.KATA PENGANTAR Indonesia memiliki lebih dari 17. xv . perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global diperkirakan akan menciptakan pola-pola risiko baru dan secara umum lebih tinggi. masyarakat lokal. Penilaian Kerentanan dan Adaptasi Perubahan Iklim di Kota Bandar Lampung telah dilaksanakan dan hasil penilaian ini disajikan dalam laporan ini. Indonesia adalah negara yang rawan terhadap bencana alam seperti banjir. letusan gunung berapi. dan kebakaran hutan. Institute for Social and Environmental Transition (ISET) adalah pengelola the Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCRN) sebagai bagian dari keseluruhan Rockefeller Foundation Climate Change Initiative. Oleh karena itu. garis pantai lebih dari 80. MercyCorp membantu ISET dalam pelaksanaan program ACCRN di Bandar Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Tim Kota). (iii) Peta kerentanan saat ini dan masa depan dan peta kapasitas serta risiko iklim di Tingkat Kelurahan. (v) rekomendasi awal untuk meningkatkan ketahanan Kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan. Dukungan mereka selama pelaksanaan penelitian ini adalah hal yang terpenting dan sangat dihargai. badai. Urban and Regional Development Institute (URDI). Sebagian besar Kelurahan Bandar Lampung yang terkena dampak adalah yang ditempati oleh keluarga dengan pendapatan rendah dan hidup dalam kemiskinan. dan kemampuan adaptasi yang ada saat ini. Di masa depan. institusi lokal. (ii) Dampak bahaya iklim dan kerentanan masyarakat terhadap kejadian iklim ekstrim. dan LSM lokal. Kami berharap Pemerintah Kota Bandar Lampung dapat memanfaatkan beberapa hasil yang disajikan dalam laporan ini.000 pulau. kekeringan dan juga rob. (iv) Permasalahan pemerintahan dan isu-isu kelembagaan yang dapat mempengaruhi efektivitas pelaksanaan program perubahan iklim. Pemerintah Kota harus menangani hal ini secara lebih serius dalam rencana pengembangan pembangunan kota. peristiwaperistiwa ekstrem dapat terjadi lebih sering dengan intensitas tinggi. tanah longsor. dan ( vi) Rekomendasi pada jenis proyek percontohan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Mereka sangat rentan terhadap dampak dari masalah lingkungan. dan segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah kebutuhan mendesak masyarakat saat ini. Centre for Climate Risk and Opportunity Management in South East Asia and Pacific (CCROM SEAP) Institut Pertanian Bogor.000 km dengan mayoritas penduduk hidup di wilayah pesisir di mana sebagian besar kegiatan ekonomi negara berlangsung. kekeringan. Bandar Lampung merupakan salah satu kota pesisir yang rentan terhadap bencana tersebut.

1. PENDAHULUAN Latar Belakang Studi Tujuan Outputs SEKILAS KONDISI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN DESKRIPSI RESPONDEN Lokasi dan Konteks Geografi Municipal Administration Resources Base Posisi Bandar Lampung dalam Konteks Kawasan Kondisi Demografi dan Sosial Kondisi Ekonomi dan Mata Pencaharian Profil Responden 2. 2.2.2. 4.1. 2.1.1.1. 2. 2. KONDISI IKLIM HISTORIS DI BANDAR LAMPUNG 3.2. 4.7. Kondisi Iklim dan Cuaca Ekstrim 3.1. 2.7. Konteks Sosial 2. 1. Pengaruh ENSO dan IOD terhadap Variabilitas Curah Hujan di Bandar Lampung 3.2.1.2.1.2. 2. Klasifikasi Kelurahan (Desa) Berdasarkan Indeks Kerentanan dan Kapasitas 79 79 83 xvi .1. 4.1. 2. 1. PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF 5.DAFTAR ISI Halaman i xv xvi xviii xx 1 1 2 2 3 3 3 4 7 12 14 15 16 29 41 41 41 42 43 43 46 47 53 53 55 57 68 Ringkasan Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar 1.2.2.6.3 Proyeksi Perubahan Iklim 4.3. 1.2. Analisis Tren Perubahan Iklim di Kota Bandar Lampung 3.2.4. Metodologi untuk Pemetaan Kerentanan dan Kapasitas Adaptif 5. Angin Ekstrim 3.5. Mata Pencaharian dan Ekonomi 3. 2.3.3. DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM Dampak Biofisik Dampak Umum dari Kejadian Iklim Ekstrim Dampak Sosial Ekonomi dari Kejadian Iklim Ekstrim Respon Pemerintah dan Masyarakat terhadap Bencana Akibat Kejadian Iklim Ekstrim 5.7.4. 4. Tren Curah Hujan 3. Tren Suhu 3.

6.1. PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM Climate Hazard di Kota Bandar Lampung Ruang Lingkup Komponen Kepemerintahan dan Kelembagaan Pemetaan peran stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim Permasalahan Perkotaan di Bandar Lampung yang Terkait dengan Adaptasi Perubahan Iklim Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis) Pemetaan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Mapping) Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di daerah dan Penanggulangan Bencana Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim Analisis kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka mengintegrasikan perencanaan ketahanan dalam perubahan iklim (framework organizational capacity) Temuan dan Rekomendasi untuk Perencanaan Ketahanan Kota dalam rangka Perubahan Iklim 87 87 90 93 93 95 96 98 99 105 106 109 113 7. Pembelajaran 8.4. 116 8. 7.9.1. 7.10. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif Kesimpulan Daftar Pustaka Lampiran 118 118 121 122 127 129 136 139 142 xvii .6.2.1.4. 7. Adaptasi dan Ketahanan 8. 7.5. Metodologi untuk Pemetaan Risiko Iklim 6.3. 7. Strategi Adaptasi di Bandar Lampung 8.8. 7. 7.2.7. ADAPTASI 8. 7. 7. ANALISIS RESIKO IKLIM 6. Klasifikasi Kelurahan (Desa) berdasarkan Tingkat Eksposur terhadap Risiko Iklim 7.2. Pilot Project daerah Bandar Lampung sebagai Rencana Aksi Adaptasi 8.5.3.

2009 (dalam %) Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Mata 17 Pencaharian Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Berperan Dalam 20 Mengambil Keputusan Keluarga Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Mata Pencaharian Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar 30 Lampung.DAFTAR TABEL Halaman Nama Kecamatan. 2009 (dalam %) Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Bekerja Pada 32 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan di 4 Kota Bandar Lampung Results of land use/land Cover Classification for 1992 and 6 2006 Images Showing area of each category. 2009 Distrisusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam 22 Organisasi Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Rata-rata Luas Bangunan dan Luas Tanah Masyarakat pada 36 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Cicilan. 2009 (dalam %) Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Warga pada Kelurahan 33 Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Distribusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga dalam 21 Mengikuti Pelatihan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (Rupiah/bulan) Koefisien korelasi antara curah hujan musiman di Bandar 41 xviii 2-1 2-2 2-3 2-4 2-5 2-6 2-7 2-8 2-9 2-10 2-11 2-12 2-13 2-14 2-15 2-16 2-17 2-18 2-19 2-20 3-1 . class percentage and area changed Major Land Use/Cover Conversions from 1992 to 2006 7 Fungsi Bagian Wilayah Kota (BWK) Bandar Lampung 8 Struktur penduduk Kota Bandar Lampung (BPS Kota Bandar 13 Lampung. 2009 Jenis Dinding Rumah Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di 38 Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Indeks Kepemilikan Aset Rumah Tangga Masyarakat Pada 39 Kelurahan Amatan di Lampung Tahun 2009 (dalam %) Akses Masyarakat Terhadap Perbankan dan Asuransi Pada 40 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 40 Tabungan dan Asuransi Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Pengeluaran Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar 35 Lampung. 2009) Produk Domestik Regional Bruto Kota Bandar Lampung 15 Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2007 Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Pada Kelurahan 16 Amatan di Bandar Lampung.

2009 Penyakit Pada Saat Banjir pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Penyakit Pada Saat Kekeringan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. serta Upaya Penanggulangan yang Dilakukan Indikator yang digunakan untuk mendefinisikan Kerentanan dan Kapasitas dan bobotnya Nilai indikator berdasarkan jenis sumber pendapatan utama di suatu kelurahan Matriks risiko sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi jika kejadian tak terduga itu terjadi Bobot dan rumus untuk menghitung indeks bencana iklim Matriks risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index (CCHI.4 Konsentrasi Gas Suhu (0C) dan sea level rise (cm). 2009 Rangkuman Persepsi Masyarakat di Bandar Lampung Terhadap Besaran Dampak Bencana. menurut Kelurahan Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung 50 50 54 59 66 66 70 72 77 77 79 80 87 88 88 89 100 109 110 111 112 113 114 132 133 135 xix . 2009 Persepsi Warga Terhadap Berbagai Macam Informasi Terkait Kebencanaan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Kegiatan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan penanganan bencana yang bersifat non-struktural dan respon masyarakat Dampak Bencana yang Menimpa Warga Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.3-2 3-3 4-1 4-2 4-3 4-4 4-5 4-6 4-7 4-8 5-1 5-2 6-1 6-2 6-3 6-4 7-1 7-2 7-3 7-4 7-5 7-6 7-7 8-1 8-2 8-3 Lampung dengan DMI dan dengan anomali SST Nino3. indeks komposit bencana iklim) Kejadian banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung Analisis Peran dan Kontribusi Pemangku Kepentingan dalam Perubahan Iklim Masalah dan alternatif startegi terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung Program yang terkait dengan Perubahan Iklim Tahun 2006 dan 2008 Jumlah Anggaran yang Terkait dengan Perubahan Iklim TA 2008 Besaran Anggaran Dana Program NUSSP di Kota Bandar Lampung Kegiatan dan sebaran Kegiatan PNPM Mandiri di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Analisis Kapasitas Pemerintahan 1 Layanan-layanan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi bahaya iklim. mengacu pada tahun 1990 Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung Gambaran Dampak Bencana terhadap Nilai Sosial Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.

2009 Distribusi Partisipasi Warga dalam Kegiatan Gotong Royong 26 Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.15E-105. 2007 15 Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan 19 Klasifikasi Tinggi Rendahnya Pendidikan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 5.0 Tren frekuensi hari hujan musiman di Bandar Lampung 45 (105. 5. 5.0 Peluang Curah Hujan Lebih dari Q3 pada Musim Hujan 52 xx 2-1 2-2 2-3 2-4 2-5 2-6 2-7 2-8 2-9 2-10 2-11 3-1 3-2 3-3 3-4 3-5 3-6 3-7 3-8 3-9 3-10 .34S) diekstraksi dari data CRU TS2.15E-105.51S-5.51S-5.DAFTAR GAMBAR Halaman Posisi Kota Bandar Lampung terhadap daerah sekitarnya 3 Peta Administrasi Kota Bandar Lampung 4 Distribusi perubahan penggunaan/penutup lahan Kota Bandar 6 Lampung tahun 1992 dan 2006 Distribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandar Lampung.34E.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.0 Tren musiman kisaran suhu harian (daily temperature range.15E-105.51S-5. 2009 Distribusi Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat 34 Berdasarkan Pendapatan Tetap dan Pendapatan Tambahan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 Plot time series curah musiman di Bandar Lampung 42 Kecepatan angin harian di stasiun pengamatan Teluk Betung.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.15E47 105.31 Desember 1999) Pola spasial tren curah hujan musiman di Bandar Lampung 43 Tren curah hujan musiman di kota Bandar Lampung 45 (105.51S-5. 47 DTR) di Bandar Lampung (105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.15E-105. 42 Lampung (periode 1 Januari 1994 . 2009 Ketersediaan Sarana Pada Kelurahan Amatan di Bandar 28 Lampung.34E. 5.51S-5.34E.34E. 5. 2009 Distribusi Kegiatan Masyarakat Pada Beberapa Kegiatan 27 Sosial Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.34E.0 Trend musiman suhu maksimum harian di Bandar Lampung 47 (105. 2009 Distribusi Masyarakat di Wilayah Pesisir Yang Melakukan 25 Kegiatan Gotong dengan Frekuensi Minimal 1 Kali dalam 1 Tahun Distribusi Tingkat Partisipasi Warga Non Pesisir Lampung 25 pada Kegiatan Gotong Royong Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya.0 Komponen frekuensi rendah dari curah hujan musiman di 46 Bandar Lampung didefinisikan oleh nilai 13-tahun rataan bergerak sederhana (simple moving average) Trend musiman suhu rata-rata di Bandar Lampung (105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.

(C) 2050 Box plot curah hujan bulanan pada musim hujan dan kemarau selama tahun-tahun terjadi bencana dan tahun-tahun tidak terjadi bencana Indeks Bencana Iklim komposit Bandar Lampung (A) & (D) baseline bencana iklim. (E) bencana iklim B1 2025. Tahun 2009 Kenaikan Harga Beberapa Komoditi Pertanian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung. 2009 Dampak Banjir dan Kekeringan Terhadap Pekerjaan Utama pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Nilai Kerugian Dari Pekerjaan Utama Akibat Banjir dan Kekeringan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Bandar Lampung Area pantai yang dipengaruhi oleh gelombang setinggi +100 m Penentuan order aliran tertinggi (A) & pendugaan luas dari luapan air sungai (B) Pengelompokan kelurahan berdasarkan indikator kapasitas dan kerentanan Indeks Kerentanan dan Kapasitas Kelurahan (A) Baseline. (C) bencana iklim A2 2050. (C) Risiko Iklim A2 2050. (E) Risiko Iklim B1 2025.4-1 4-2 4-3 4-4 4-5 4-6 4-7 4-8 4-9 4-10 4-11 4-12 5-1 5-2 5-3 5-4 5-5 6-1 6-2 6-3 6-4 7-1 (DJF) dan kurang dari Q3 pada Musim Kemarau (JJA) dengan Dua Skenario Emisi Bantuan dari Saudara dan Masyarakat Lainnya di saat Bencana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (F) bencana iklim B1 2050 Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur terhadap risiko iklim (A) & (D) Baseline Risiko Iklim. 2009 Kisaran Biaya yang Dikeluarkan oleh Warga (dalam Rupiah) Persentase Media Informasi Prakiraan yang digunakan Adaptasi yang Terjadi di Wilayah Pesisir dan Non Pesisir Ketika Terjadi Bencana Banjir di Lampung Adaptasi Kekeringan Warga di Kelurahan Amatan. (C) 2050 Coping capacity index of Kelurahan of Lampung City (A) Baseline. 2009 Lampung Kerugian Akibat Banjir Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. 2009 Dampak Banjir Terhadap Usaha Sampingan Tambak pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (B) 2025. 2009 Nilai Kerugian Usaha Sampingan Tambak Pada Kelurahan Amatan. (B) 2025. di Bandar Lampung. (B) bencana iklim A2 2025. (B) Risiko Iklim A2 2025. 2009 Kerugian Akibat Kekeringan Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. (F) Risiko Iklim B1 2050 Jumlah kelurahan menurut kategori indeks risiko iklim Pemetaan Pemangku Kepentingan berdasarkan tingkat Kepentingan 57 60 62 62 63 63 64 65 67 69 72 74 82 83 84 85 86 89 90 91 92 106 xxi .

32/2004 8-1 LFA Analisa Problem 8-2 Diagram Alur Aktivitas 8-3 Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kerentanan 107 124 126 134 xxii . 17/2003.7-2 Keterkaitan antara UU No. UU No. 25/2004 dan UU No.

Indonesia telah mengalami bencana terkait iklim yang lebih sering dan parah dalam beberapa tahun terakhir. dan mengarah pada frekuensi dan amplitudo peristiwa cuaca yang lebih tinggi. dan lain-lain. Peningkatan intensitas siklon tropis yang tercatat dalam beberapa dekade terakhir mungkin dapat dikaitkan dengan peningkatan suhu permukaan laut. kelaparan dan kesehatan manusia. Rencana untuk meningkatkan infrastruktur untuk 1 .1. Dengan adanya dampak pada siklus hidrologi. rob.3 persennya terkait bencana hidro-meteorologi (Bappenas dan Bakornas PB. ada sekitar 1. Dalam periode 2003-2005 saja.dengan lebih dari 17.dan mayoritas penduduk yang tinggal di wilayah pesisir di mana sebagian besar kegiatan ekonomi negara itu terjadi sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut. perubahan iklim regional rata-rata. Saat ini. kekeringan. yang mengakibatkan pergeseran zona iklim. Dengan meningkatnya risiko iklim. perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global dapat menciptakan pola-pola baru risiko. letusan gunung berapi. Kota Bandar Lampung merupakan kota pantai yang akan terkena dampak perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Sekitar 24 pulaupulau kecil Indonesia sudah terendam (Departemen Kelautan dan Perikanan 2007). badai. sekitar 42 juta orang di Indonesia tinggal di daerah dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut (Pemerintah Indonesia 2007). Rentang Kepulauan Indonesia yang luas ini . gelombang panas. Mereka merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. dan kebakaran pada berbagai lahan berhutan. Bencana terkait banjir dan angin kencang mencakup sekitar 70% dari total bencana dan sisanya 30% terkait dengan bencana kekeringan. pemanasan global diperkirakan akan mengubah rentang iklim. Kenaikan permukaan laut akibat pencairan gletser dan es kutub dan ekspansi termal akan memberikan kontribusi pada peningkatan banjir di wilayah pesisir banjir. Latar Belakang Studi Di masa depan. dan risiko tersebut secara umum meningkat. Sebagian besar rumah tangga yang tinggal di daerah pesisir memiliki pendapatan antara US $ 2 dan US $ 1-per hari. Variabilitas dan perubahan iklim yang terjadi dengan latar belakang peningkatan populasi global dan proses globalisasi ekonomi dapat mengarah ke peningkatan persaingan atas sumber daya dan kerentanan baru. tanah longsor.000 km garis pantai . Sekitar 53. yang merupakan batas garis kemiskinan (Indonesia Poverty Analysis Program 2006). Indonesia adalah negara yang sudah rawan terhadap bencana alam seperti banjir. Kepadatan penduduk yang tinggi di Indonesia akan lebih meningkatkan kerentanan terhadap bencana iklim. tanah longsor. banyak negara. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah menerapkan berbagai program strategis jangka menengah dan jangka panjang untuk mengelola bencana.000 pulau dan lebih dari 80. kebakaran hutan. terutama negara-negara kurang berkembang dan negara-negara sedang berkembang kemungkina akan mengalami kesulitan untuk mencapai Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) yang terkait dengan kemiskinan. badai.429 kejadian bencana di Indonesia. 2006) Kenaikan permukaan laut menimbulkan risiko lebih lanjut.BAB 1 PENDAHULUAN 1.

mengembangkan rekomendasi awal untuk Kota Bandar Lampung untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan 1. Tujuan Tujuan studi ini adalah untuk: • • • • • • • menilai variabilitas iklim saat ini dan masa depan di Kota Bandar Lampung menilai kerentanan dan kapasitas adaptif serta risiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan mengidentifikasi kerentanana dan kapasitas adaptif serta resiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan. termasuk kapasitas adaptif masyarakat terhadap dampak perubahan iklim mengidentifikasi kelembagaan dan isu-isu tata pemerintahan yang dapat mempengaruhi ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan.mengelola bencana iklim seperti sistem drainase dan tanggul telah disiapkan (Bappeda. maka berbagai desain yang telah direncanakan dan dibuat mungkin akan kurang efektif untuk mengelola bahaya iklim masa depan. dan dimensi kerentanan. Output Output akhir dari studi ini adalah laporan yang mendeskripsikan: • • • • • • Karakteristik iklim saat dan masa depan di Kota Bandar Lampung Dampak bahaya iklim dan kerentanan masyarakat terhadap peristiwa iklim ekstrim.3. dalam kondisi iklim yang berubah dan dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas peristiwa iklim yang ekstrim. 2003). mengindentifikasi dampak langsung dan tidak langsung dari bencana iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan mengidentifikasi daerah dan kelompok-kelompok sosial yang paling rentan. sangat penting bagi kita untuk mempertimbangkan perubahan iklim dalam merancang sistem kontrol bahaya iklim.2. Namun. Karena itu. dan kapasitas adaptif yang ada Peta kerentanan dan kapasitas adaptif serta risiko iklim saat ini dan masa depan pada tingkat Kelurahan Isu tata pemerintahan dan isu kelembagaan yang dapat mempengaruhi efektivitas pelaksanaan program perubahan iklim Rekomendasi awal untuk meningkatkan ketahanan Kota terhadap resiko iklim saat ini dan dan masa depan Rekomendasi jenis proyek percontohan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim 2 . 1.

sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Padang Cermin dan Ketibung Lampung Selatan serta Teluk Lampung. sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan.1 Lokasi dan Konteks Geografi Bandar Lampung adalah ibu kota Propinsi Lampung dan secara geografis terletak pada 5o 20’ . sebelah timur berbatasan dengan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan dan 4).2).BAB 2 SEKILAS KONDISI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN DESKRIPSI RESPONDEN 2. 2001) Gambar 2-1. 3). Letak tersebut berada di teluk lampung dan diujung selatan Pulau Sumatra. sedangkan luas kecamatan terkecil adalah Tanjung Karang Pusat dan Teluk Betung Selatan 3 . Administrasi Kota Secara administratif. Posisi Kota Bandar Lampung terhadap daerah sekitarnya 2. 2009 dan Citra Landsat ETM+. sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gedung Tataan dan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran.18 Km2. Batas wilayah sebagai berikut: 1). yang memiliki luas wilayah 192. gambar 2. Dari ke13 kecamatan.5o 30’ LS dan 105o 28’ -105o 37’ BT. Kemiling merupakan wilayah terluas. 2).2.1. kota Bandar Lampung terdiri dari 13 kecamatan dan 98 kelurahan (Tabel 2. SUMATERA ISLAND South China Sea KALIMANTAN ISLAND BANDAR LAMPUNG MUNICIPALITY BANDAR LAMPUNG CITY Bandar Lampung Java Sea Semarang Indian Ocean JAVA ISLAND (Sumber: Google Earth.

02 11.16 27.go.65 10.64 197.99 10. Nama Kecamatan.22 IBU KOTA Palapa Gedong Air Kota Baru Kupang Kota Bakung Sukaraja Panjang Selatan Sumberejo Kampung Baru Rajabasa Tanjung Seneng Sukarame Sukabumi JML KELURAHAN 11 6 11 10 8 11 7 7 8 4 4 5 6 98 (http://www. dan 23 sungai-sungai kecil (Bappeda Kota Bandar Lampung.07 21.id) Gambar 2-2.14 21. Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan di Kota Bandar Lampung NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KECAMATAN Tanjungkarang Pusat Tanjungkarang Barat Tanjungkarang Timur Teluk Betung Utara Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Panjang Kemiling Kedaton Rajabasa Tanjung Seneng Sukarame Sukabumi Jumlah Luas (ha) 6.11 10. Sumberdaya air (Water resource) Kota Bandar Lampung dilalui oleh 2 sungai besar yaitu Way Kuala dan Kuripan.87 10. Semua sungai tersebut membentuk daerah aliran sungai (DAS) yang berada di dalam 4 .58 15.38 20. Resources Base a.63 16.bandarlampungkota. Peta Administrasi Kota Bandar Lampung 2. 2008).Tabel 2-1.3.88 13.

meskipun banyak diantara para pemukim tidak memiliki bukti kepemilikan lahan yang kuat secara hukum. tetapi 14 tahun kemudian permukiman tersebut berkembang ke arah timur (Kecamtan Tanjung Seneng) dan timur-laut (Kecamatan Sukarame). 5 . sedangkan sisanya yaitu 73% masih harus memanfaatkan air sumur gali. Kebutuhan air bagi penduduk Kota Bandar Lampung dipenuhi melalui PDAM dan pengambilan air tanah dangkal/dalam melalui sumur gali. Pusat kegiatan ekonomi di Kawasan Pesisir dan Pantai di Kota Bandar Lampung antara lain terpusat di Kawasan Pelabuhan. Penggunaan lahan lain yang mengalami penyusutan luas atau alih fungsi lahan total adalah Perkebunan menjadi Pertanian Lahan Kering. sudah terjadi abrasi oleh gelombang laut.wilayah Kota Bandar Lampung dan sebagian besar bermuara di Teluk Lampung. di beberapa tempat kawasan pantai. Perkembangan permukiman penduduk telah menyebabkan menyusutnya luas penggunaan lahan Pertanian Lahan Kering (dry land agriculture). Pada saat sekarang PDAM hanya mampu memenuhi 27% dari total warga Bandar Lampung. Dalam kondisi seperti itu. Fungsi jaringan drainase ini adalah mengurangi limpasan permukaan sebagai akibat kelebihan air hujan. Panjang dan Kandis. Di beberapa lokasi. Meskipun demikian. Sistem sungai di wilayah ini terhubung dengan beberapa jaringan drainase buatan. Keadaan ini dapat menjadi kendala dalam penataan wilayah pesisir. wilayah pesisir merupakan kawasan padat penduduk. Kota Pelabuhan Bandar Lampung terletak dalam suatu pantai berbentuk teluk sehingga gelombang tinggi sebagai akibat angin kencang tidak sepenuhnya langsung mengenai kawasan pantai. Tanjung Karang. realisasi rencana Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk mewujudkan kawasan water front city juga harus memperhitungkan biaya untuk mengatasi problematika pemukiman di wilayah pesisir. c. penduduk membangun rumah tempat tinggal di lahan hasil penimbunan pantai sehingga terjadi akresi. Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal. Kedalaman sumur gali adalah sekitar 30 hingga 50 meter dari muka tanah setempat. Pola perubahan penggunaan lahan selama 14 tahun (1992-2006) dapat dilihat pada Gambar 2-3. Sistem jaringan drainase yang telah terinstal di Bandar Lampung antara lain sistem Teluk Betung. b. Wilayah pesisir (Coastal area) Bandar Lampung merupakan kota pelabuhan yang penting untuk kawasan Sumatera. Penggunaan lahan (Land use) Penggunaan lahan permukiman pada tahun 1992 masih terkonsentrasi di tengah kota Bandar Lampung.

0 60.2 4. Tipe penggunaan/penutup lahan tahun 1992 dan 2006 Tipe penggunaan/penutup lahan Bush Plantation Settlement Bare land Grassland Dry land agriculture Mixed dry land agriculture Paddy field Mining No data 1992 Area (ha) 405.6 -8996.5 7988. Tahun 1992.9 7988.1 244.6 1.4% atau menyusut lebih dari 8900 ha (Tabel 2-2). Pada tahun 1992 jumlah tipe penggunaan/penutup lahan ada 4 tipe tetapi pada tahun 2006 berkembang jadi 9 tipe.0 % 0. sebagai contoh. Tabel tersebut menunjukkan.0 0.0 11571.3 0.6 3843.0 % 2.4 2606.1 0.9 -3823.2 0.0 0. bahwa lebih dari 14 tahun pertanian lahan kering telah berubah menjadi 8 tipe penggunaan lahan yang berbeda-beda.0 793.0 0.0 3.9 13.4 0.4 41.2 594. Distribusi perubahan penggunaan/penutup lahan Kota Bandar Lampung tahun 1992 dan 2006 Alih fungsi lahan di wilayah Bandar Lampung berlangsung sangat cepat.1 20.0 13.0 0.1 100.3.9 6724.0 0. persentase lahan tertinggi adalah pertanian lahan kering (60%) tapi 14 tahun kemudian tipe lahan tersebut menyusut jadi 13.1 100.1 35.6 0.0 4.0 594.8 170.0 perubahan lahan tahun 1992 – 2006 (ha) -325.8 170.3 0. Tabel 2-2.5 0.0 Detail penggunaan/perubahan penutupan lahan di Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada tabel 2.0 0.5 30.2 0.7 19.3 19220.6 2574.5 4118.0 2006 Area (ha) 79.1 244. 6 .1992 2006 Gambar 2-3.3 19220.5 30.

7 153. Arahan sarana dan prasarana. 2.7 7. lapangan dan lainlain. Penggunaan Lahan Utama/Perubahan Penutupan Lahan dari 1992 ke 2006 No 1 2.8 594.5 3605.0 90. Aspek tata ruang merupakan isu strategis yang menjadi perhatian penting bagi pemerintah Kota Bandar Lampung yang dituangkan dalam RTRW. 7 .7 99.6 9.24%. Arahan pengelolaan kawasan perkotaan. hutan. Sekarang ini sedang dilakukan penyusunan RTRW terbaru. kebun. kuburan.Tabel 2-3. From Class Bush Dry land agriculture To Class Settlement Mixed dry land agriculture Bush Plantation Settlement Bare land Grass land Mixed dry land agriculture Paddy field Mining Settlement Dry land agriculture Mixed dry land agriculture Paddy field Mixed dry land agriculture Mining 1992-2006 Area (ha) 39. Luas kawasan terbangun kota Bandar Lampung mencapai > 30% dari wilayah kota selebihnya merupakan lahan non terbangun (ruang terbuka).2 20.2 79. Hal ini terjadi karena tingginya tingkat pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi yang ada di Kota Bandar Lampung (Bappeda Kota Bandar Lampung.8 3.7 4290. Sedangkan ruang terbuka berupa tegalan. Arahan pengembangan kawasan prioritas. Penggunaan lahan di Kota Bandar Lampurrg lebih didominasi oleh permukiman yaitu sebesar 31.4 366. memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap pemanfaatan ruang disamping itu juga memberikan dampak bagi lingkungan disekitarnya. Posisi Bandar Lampung Dalam Konteks Kawasan Kota Bandar Lampung sebagai ibukota Provinsi Lampung dan pusat pemerintahan dengan laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan laju perkembangan pembangunan yang cukup pesat.5 35. RTRW yang berlaku sekarang adalah RTRW 2005-2015 yang merupakan pedoman dalam pengendalian dan pemanfaatan ruang Kota Bandar Lampung sebagaimana yang tertuang pada Perda Nomor 4 Tahun 2004.6 3789. Arahan pengembangan kawasan produksi dan permukiman. 2008). Settlement Secara keseluruhan kondisi penggunaan lahan di Kota Bandar Lampung dikelompokkan dalam kawasan terbangun dan ruang terbuka. Dalam RTRW akan tertuang antara lain: Arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya.4. dan industri. Plantation 4. perkantoran. Kawasan terbangun terdiri dari lahan pekarangan.8 170.9 227. jasa. perdagangan.

Sentra Industri Kecil. Kota Bandar Lampung di bagi menjadi 8 (delapan) Bagian Wilayah Kota (BWK) dimana masing-masing mempunyai fungsi utama dan fungsi pendukung. dengan KDB Kecil. 5. Industri Pariwisata/Hutan Wisata dan Kecil dan Sekolah Polisi Pengembangan Permukiman Negara (Kasiba/Lasiba) BWK H (Telukbetung) Pusat Pemerintahan. Fungsi Bagian Wilayah Kota (BWK) Bandar Lampung WILAYAH BWK A (Gedung Meneng) FUNGSI UTAMA FUNGSI PENDUKUNG Pendidikan Tinggi. Terminal Barang Konservasi dan Hutan dan Industri Pengolahan Lindung BWK D Perdagangan/Jasa dan Kawasan Perumahan Indutri Kecil dan (Sukabumi/Tanjungkara Industri Cagar Budaza ng Timur) BWK E Perdagangan Umum dan Jasa Sarana Penunjang (Tanjungkarang/ Umum Perdagangan/Fungsi Pusat Kota Parkir/Taman. Kesamaan kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan. Rumah Regional dan Pengembangan Sewa/Kost. Perdagangan Grosir dan Industri Kecil dan Pariwisata Pantai Konservasi Sumber : RTRW Kota Bandar lampung. 4. Kesamaan peruntukan lahan. Pusat Pelayanan Kawasan Permukiman Lokal dan Pertanian Skala Kecil BWK B (Sukarame) Perumahan Skala Besar dan Pusat Industri Kecil. Daerah Perdagangan. Perumahan. Terminal Pusat Kebudayaan. 2. Tahun 2005-2015 Selain Bagian Wilayah Kota (BWK) yang telah ditetapkan tersebut. Perumahan Ganda dan Pusat Budaya BWK F Perdagangan/Jasa dan Kawasan Perumahan (Tanjungkarang Barat) Konservasi BWK G Pengembangan Holtikultura.a. tata ruang wilayah Kota Bandar Lampung terdapat beberapa wilayah pengelolaan khusus yaitu: 8 . Perumahan Kavling Besar (Langkapura/Kemiling) Kawasan Konservasi. Keterbatasan kemampuan jangkauan pelayanan. Jasa Umum. Cadangan Pengembangan Kota dan Pusat Pelayanan BWK C (Panjang) Pusat Pelabuhan Samudra. Tabel 2-4. Perdagangan Skala Kota Pengembangan Hutan Kota. Ukuran geometris/ luas kawasan. Fungsi dan dominasi kegiatan di beberapa kawasan kota. 6. Struktur ruang. 3. Adapun alasan dalam pembagian ruang tersebut adalah adalah: 1. Batasan fisik dan administrasi yang ada. 7. Pembagian Wilayah Kota .

Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Tanjungkarang Pusat dan selebihnya pada wilayah Kecamatan Sukabumi dan Tanjungkarang Timur. Pola konservasi direncanakan melalui sumur resapan dengan dimensi setara antara luas lahan tertutup dengan volume sumur resapan yang harus dibangun. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Tanjungkarang Barat. Zona Kawasan 1 (Rechadge Area) Zona Kawasan 1 memberikan kontribusi yang cukup besar untuk mengisi cadangan air tanah dalam. Telukbetung Utara dan Telukbetung Selatan. Tanjungkarang Timur dan Panjang. e. Pola konservasi sebaiknya diterapkan sumur resapan di tipa bangunan rumah dengan volume sumur yang mampu menampung seluruh air hujan yang jatuh diatap dan pekarangan. Sukarame dan Tanjungkarang Barat. Daerah yang termasuk kawasan ini adalah Kecamatan Kedaton. Zona Kawasan 3 (Kawasan Resapan Rendah) Pola konservasi pada kawasan ini adalah penerapan sumur resapan di tiap bangunan dan atau pembuatan dana/waduk buatan skala kecil maupun menengah. c. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Kemiling dan Kecamatan Telukbetung Barat. Zona Kawasan 4 (Kawasan Resapan Sedang) Pada kawasan ini tingkat kepadatan bangunan cukup signifikan dan sudah mencapai titik jenuh untuk lahan permukiman. f. c. Zona Kawasan 2 (Area Penyangga) Pada zona ini direncanakan dibangun kantung-kantung air (penampungan air hujan) skala kecil hingga menengah dan menerapkan aturan perbandingan penggunaan lahan terbuka lebih luas tapi pada lahan tertutup bangunan maksimal rasio 70%:30%. Kawasan Pesisir Kawasan pesisir pantai Kota Bandarlampung terbentang sepanjang ± 27 km yang terletak di BWK H (Telukbetung) dan BWK C (Panjang). Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Sukabumi dan Tanjungkarang Timur. Pada zona kawasan ini perlu dikakukan tindakan serta pengendalian ruang secara ketat. wilayah pesisir tersebut meliputi wilayah Kecamatan Telukbetung Barat (Kelurahan 9 . Zona Kawasan 5 (Kawasan Resapan Tinggi) Pada zona ini didominasi oleh peruntukan lahan permukiman padat. Kawasan Resapan Air Rencana pengelolaan resapan air Kota Bandar Lampung terbagi dalam 6 (enam) zona kawasan yaitu : a. Selebihnya berada di Kecamatan Tanjungkarang Pusat.b. Zona Kawasan 6 (Kawasan Dipengaruhi Air Laut) Distribusi zona ini berada disepanjang kawasan Pantai Teluk Lampung meliputi Kecamatan Telukbetung Selatan dan Kecamatan Panjang. Fungsi utama sebagai kawasan resapan penyangga air tanah dari ancaman interupsi air laut. d. Secara administratif. b.

Pidada dan Srengsem). Langkapura. d. Negeri Olok Gading & tempat lain yang direkomendasikan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung. 10 . (ii) sempadan sungai. Kecamatan Telukbetung Selatan (Way Lunik. • Kawasan Resapan Air Kawasan ini merupakan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan dibawahnya. Kota Karang. Garuntang. Pelabuhan ini merupakan satu-satunya Pelabuhan Ekspor yang dimiliki oleh Kota Bandar Lampung. sistem transportasi laut juga merupakan salah satu komponen penting. Pelabuhan Panjang merupakan Pelabuhan Alam yang cukup terlindungi dari gelombang laut. Dengan demikian Konsep Water Front City di Kota Bandar Lampung telah dibuat dan terus dimatangkan. ekonomis dan sosial budaya yang disesuaikan dengan konsep Bandar Lampung Ecocity. Ketapang. Pesawahan. Pada studi tersebut telah dihasilkan rencana komposisi tata letak zona bangunan gedung dan bukan gedung pada kawasan pesisir kota bandar lampung berdasarkan pembagian zona antara lain: Zona A Kawasan Revitalisasi. Zona C Kawasan Bisnis Terpadu. Konsep reklamasi pantai merupakan salah satu alternatif pengembangan kawasan strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi serta untuk mengatasi kawasan kumuh sepanjang Teluk Lampung dengan syarat pelaksanaan yang ketat baik dari aspek teknis. Dalam rangka penataan kawasan pesisir lebih lanjut. Wilayah yang termasuk zona ini adalah di sepanjang Teluk Lampung. Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung telah melakukan Studi Lanjutan Penataan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Situs Purba di wilayah Kedamaian. Zona kawasan ini meliputi daerah perbukitan/gunung di Tanjungkarang Barat. Seluruh Sungai di Kota Bandarlampung. Kangkung. dan Zona D Kawasan Pariwisata Terpadu. dan sesuai hirarkinya merupakan Pelabuhan Internasional karena terbuka untuk lalu-lintas barang perdagangan dengan luar negeri. Panjang Utara. Dalam perencanaan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Telukbetung. kondisi dan struktur ruang yang ada. Pergudangan & Industri Terpadu.Keteguhan. dan (iii) Taman Cagar Budaya & Ilmu Pengetahuan. Kawasan Lindung Pengelolaan kawasan lindung Kota Bandarlampung terbagi dalam 5 (lima) wilayah kawasan yaitu. Sarana ini merupakan salah satu penunjang kelancaran perdagangan di Bandar Lampung. Penataan wilayah pesisir dilakukan melalui konsep pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu yaitu konsep penataan dan revitalisasi wilayah pesisir berbasis masyarakat dan membagi wilayah pesisir dalam zonasi sesuai potensi. Peningkatan ekspor barang melalui pelabuhan ini tentu saja bisa meningkatkan retribusi dari pelabuhan. Perwata dan Sukamaju). Sukaraja. Zona B Kawasan Pelabuhan. Bumiwaras dan Pecoh Raya) dan Kecamatan Panjang (Kelurahan Panjang Selatan. Keberadaaan kawasan pelabuhan yang berada di ujung Selatan Kota Bandar Lampung telah ikut membuat dinamika lalu lintas pelayaran di wilayah ini cukup ramai. Telukbetung Barat dan wilayah penyangga (Register 17 & 19 Kota Bandarlampung) • Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan in terbagi dalam 3 (tiga) zona kawasan yaitu (i) sempadan pantai.

sedang dan kecil menyebar di seluruh wilayah kota yang mempunyai kesesuaian lahan pemukiman di luar kawasan lindung. Sukarame. pinggir rel kereta api. kawasan jasa/perdagangan.• Kawasan Rawan Bencana. Panjang dan Telukbetung Selatan) • Perdagangan/Jasa Untuk pengembangan kawasan perdagangan terbagi dalam 5 spesifikasi perdagangan yaitu. Kawasan ini merupakan kawasan perbukitan yang rawan longsor dan pinggir sungai/lembah yang terancam banjir serta sepanjang Pantai Teluk Lampung. Zona Industri berada di BWK C (Panjang) beraglomerasi dengan kegiatan pergudangan dan pelabuhan. Sedangkan untuk perbaikan kualitas perumahan meliputi permukiman kumuh. Industri RT Tidak polutif yang menyatu dengan kegiatan permukiman. pengembangan dan perencanaan aktivitas wilayah adalah sebagai berikut : • Perumahan Untuk pengembangan perumahan baik ukuran besar. bukit/Gunung Sari. kawasan industri dan kawasan pariwisata. Perdagangan regional meliputi wilayah Telukbetung Selatan Perdagangan skala kota meliputi wilayah di sepanjang halan utama kota di Kecamatan Telukbetung Selatan dan Tanjungkarang Pusat Perdagangan skala BWK meliputi wilayah di tiap-tiap pusat BWK Perdagangan skala lingkungan meliputi wilayah di tiap-tiap lingkungan permukiman PKL yang beraglomerasi dengan kegiatan perdagangan kota dan perdagangan BWK • Industri Kawasan Industri yang meliputi Kawasan Industri Lampung (KAIL). Berdasarkan potensi pengembangan kawasan tersebut. kawasan nelayan. e. 11 . • Kawasan/Daerah Pengamanan (Catchment Area) Kawasan ini merupakan kawasan pengamanan untuk PDAM Way Rilau yang meliputi wilayah Register 17 (Gunung Betung) • Kawasan Penyangga Banjir Untuk wilayah kawasan penyangga banjir adalah meliputi daerah Register 19. Gedong Meneng. dan BWK Langkapura. Sentra Industri Kecil berada diwilayah BWK Panjang. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Tanjungkarang Pusat. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya yang dikembangkan di Kota Bandar Lampung sesuai dengan potensi yang ada yaitu untuk kawasan permukiman. bantaran sungai.

• Pemerintahan Berada diwilayah BWK H (Telukbetung) dan disetiap pusat kecamatan/kelurahan untuk pemerintahan tingkat kecamatan/kelurahan • Pariwisata Untuk pariwisata pantai berada pada kawasan Teluk Lampung.942 jiwa (49. Penambahan jumlah penduduk yang paling tinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu 10. 2001 dalam RTRW Kota Bandar Lampung 2005-2015). peribadatan. Taman Lingkungan berada di daerah Pusat Lingkungan. Kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan tinggi terdapat di Tanjung Karang Pusat. Untuk Taman Kota menyebar di Pusat Kota seperti daerah Way Halim.32 persen. sedangkan untuk wisata kota berada di wilayah pusat kota. Ini berarti jumlah penduduk laki-laki dan perempuan hampir sama banyak. Namun ternyata persebaran penduduk di Kota Bandar Lampung tidak merata. taman kota dan lingkungan. Penduduk pada tahun 2008 terdiri dari 414.22 persen pertahunnya. Sukarame. RTH Kota dan Danau Buatan • Pendidikan Untuk pendidikan tinggi berada di BWK A (Gedung Meneng). 2. Soekarno – Hatta) • Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka hijau yang diperuntukan untuk Taman Hutan Kota berada di BWK B (Sukarame) dan daerah perbukitan dengan fungsi Ruang Terbuka Hijau. dan Teluk Betung Selatan (RTRW Kota Bandar Lampung 2005-2015).63persen) perempuan. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Berdasarkan data BPS tahun 2005 sampai tahun 2008. Penduduk Kota Bandar Lampung pada tahun 2007 berjumlah 812.36persen) laki-laki dan 407. hutan kota. olahraga dan rekreasi menyebar sesuai dengan hirarki pelayanan dan fasilitas Islamic Centre berada di BWK A (Jl. Untuk permakaman/Kuburan berada di Kecamatan Telukbetung Barat.5. • Fasilitas Sosial Untuk fasilitas kesehatan.880 jiwa (Tabel II-5). Tingkat pertumbuhan penduduk Kota Bandar Lampung dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 berada pada besaran 3. SLTA menyebar di setiap pusat BWK. dengan luas Kota Bandar lampung 19.747 jiwa (naik 1.722 Ha. Menurut kriteria kepadatan penduduk. Luas 12 .30 persen). Tanjungkarang Barat. Kepadatan penduduk pada tahun 2008 rata-rata adalah sebesar 42 jiwa/Ha. dimana dari 13 kecamatan beberapa diataranya memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi sisanya secara umum tergolong kepadatan rendah dan sedang. Kondisi Demografi dan Sosial A. dan SLTP&SD menyebar di pusat lingkungan permukiman.133 jiwa dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 822. Panjang dan Kemiling.67 persen atau 1. jumlah kepadatan penduduk Kota Bandar Lampung sebesar 42 jiwa/Ha adalah termasuk kepadatan rendah (Lembaga Bantuan Teknologi Unila FT – Unila. meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 41 jiwa/Ha atau naik sebesar 1.938 jiwa (50.

700 402.922 812.883 398.746 803. Kristen.wilayah kedua kecamatan ini adalah terkecil dibandingkan dengan 13 kecamatan lain. Islam merupakan agama yang paling banyak dipeluk oleh penduduk Kota Bandar Lampung yaitu mencapai 755.880 Luas (Ha) 19.48persen dari total keseluruhan penduduk Kota bandar lampung namun jumlah ini masih lebih banyak bila dibandingkan dengan penganut agama Hindu atau Budha.433 414.081 jiwa.863 405. Hindu dan Budha. Berdasarkan kelompok usia proporsi terbesar dari penduduk Kota Bandar Lampung ditempati oleh kelompok usia 20-24 tahun yaitu sekitar 95. 2009) Tahun 2005 2006 2007 2008 Jenis Kelamin Laki-Laki 397.50persen disusul dengan kristen Protestan sebanyak 31.BPS.695 jiwa.76 41.920 jiwa atau 64. Menurut Agama Agama-agama yang ada di Kota Lampung terdiri dari Islam.72 Perempuan 395. Struktur Penduduk Menurut umur Gambaran mengenai struktur penduduk menurut usia akan menunjukkan jumlah penduduk yang masih produktif dan yang tidak/belum produktif di Bandar Lampung.938 Jumlah Penduduk 793.133 822.208 409.722 19. Tabel 2-5.942 Sumber: http://Lampung.id B. Katolik.851 jiwa atau 89.18 41. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa dengan banyaknya penduduk dengan umur produktif maka akan berpengaruh terhadap produktifitas penduduk Kota Bandar Lampung serta kemampuan mereka dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana alam. Jika digabungkan penganut agama katolik dan protestan menjadi kelompok minoritas di Kota Bandar lampung dengan persentase sebesar 6. Usia produktif dimulai dari umur 15 -55 tahun dan usia diatas 55 tahun digolongkan kepada usia non produktif.722 19.597 jiwa. 13 . diikuti dengan kelompok umur 15-19 tahun dengan jumlah jumlah 95.714 402.537 jiwa.25 40.722 19. Penduduk yang termasuk kedalam usia produktif pada nantinya akan digolongkan kepada jumlah tenaga kerja yang tersedia di Kota bandar Lampung dan dalam menentukan kebijakan mitigasi bencana. Ini lebih banyak dibandingkan jmlah penganut agama katolik yang hanya 23.go. namun memiliki jumlah kelurahan terbanyak. .722 Kepadatan 40. serta mengevakuasi diri jika terjadi bencana benar-benar terjadi di wilayah mereka. Secara umum diketahui bahwa kelompok usia produktif di Bandar lampung mencapai jumlah 546. Struktur penduduk Kota Bandar Lampung (BPS Kota Bandar Lampung.75persen dari total keseluruhan penduduk Kota Bandar Lampung.

9% (Table II-6). sosial. Distribusi kegiatan ekonomi di Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada Gambar 2-5. 2. jasa-jasa (16. listrik.337 jiwa pada tahun 2005 menjadi 414. pergudangan dan komunikasi. perburuan. Pertanian.6 %). 4). hotel.pdf). dan 5) lainnya (pertambangan dan penggalian. ditandai dengan peningkatan jumlah daerah yang dibangun dan munculnya zona pusat pertumbuhan baru (Bandar Lampung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.334 dengan rincian sebagai berikut: 1). Hubungan Lingkaran-Inti Sebagai Ibukota Provinsi Lampung. Bandar Lampung telah mengalami perkembangan pesat. dan restoran (16.7. PDRB Kota Bandar Lampung sebagian besar dikontribusi oleh pengangkutan dan komunikasi (19.6%).2. dan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang ketahanan masyarakat dalam menghadapai bencana terutama yang disebabkan oleh perubahan iklim. Kondisi ini menguntungkan bagi pertumbuhan dan pembangunan Bandar Lampung menjadi pusat perdagangan. karena sektor tersebut sangat dipengaruhi oleh iklim atau musim. rumah makan dan hotel sebanyak 127. politik. industri pengolahan (17. tanah dan jasa perusahaan) sebanyak 84. usaha persewaan bangunan. Penduduk berumur 15 tahun yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama tahun 2007 berjumlah 342.Kondisi Ekonomi dan Mata Pencaharian Informasi kondisi ekonomi dan matapencaharian dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat. Bandar Lampung menjadi pusat pemerintahan. dan perikanan sebanyak 9. Angkatan kerja merupakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau mencari pekerjaan. Kontribusi lapangan usaha pertanian pada PDRB memberikan sebesar 5.827 jiwa pada tahun 2008. Mata pencaharian penduduk pada dasarnya berhubungan erat dengan tingkat pendapatan. 3). Bandar Lampung strategis karena terletak di daerah transit kegiatan ekonomi antara Pulau Sumatera dan Jawa.6. gas dan air bersih.9%) dan lapangan usaha perdagangan. bangunan. eceran.277. keuangan. Dengan demikian perdagangan merupakan tumpuan mata pencaharian penduduk yang utama. angkutan.go. 2003).6%). kehutanan.229. 2) Industri Pengolahan sebanyak 31. Penduduk dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada sektor pertanian dan perikanan perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar.217 jiwa.797 (http://lampung. 14 . pendidikan dan budaya aktivitas. Jasa kemasyarakatn sebanyak 89.id/tabel/tk11. Perdagangan besar. dan juga pusat kegiatan ekonomi di Provinsi Lampung. Jumlah angkatan kerja di Kota Bandar Lampung meningkat dari 364.bps.814. jasa dan industri. tingkat kesejahteraan serta pengelolaan sumberdaya alam yang terdapat di sekitarnya.

247 1.958 1. Kota Karang.547 1. Selain melalui survey. yang terdiri dari 62.664 6. 15 .353 1.252. 2007 2.517 1.115 No. Kelurahan Sukabumi Indah. Oleh karena itu penggambaran dilakukan dengan menggunakan data survey pada enam kelurahan di Kota Bandar Lampung yang dikelompokkan menjadi wilayah pesisir dan non pesisir.755 1.359 8.894 89.457.462. Distribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandar Lampung.955 394.305 1. Kelurahan Batu Putu.740. dan 3).621 162.049.175 1.394. Persewaan.306.057 1.423 1. Kelurahan Kota Karang.174 95.637 2006 459.784 1.313 153.088. Kelurahan Kangkung.152.795.733 (Sumber: Kota Bandar Lampung Dalam Angka. Sedangkan kelurahan yang termasuk kelompok pesisir adalah: 4). Kelurahan yang termasuk wilayah non pesisir adalah: 1).780 1.069 1.064 453.72 persen perempuan.058 690.263 2.491.382 336.113. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.7.439 10.215 947.235.835.378. penajaman beberapa informasi juga dilakukan melalui focus group discussion (FGD) pada empat lokasi yaitu di Kelurahan Panjang Selatan.450.919 940.28 persen masyarakat adalah laki-laki dan 36.764. Survey melibatkan 256 masyarakat. dan Jasa 8 Perusahaan 9 Jasa-Jasa PDRB / GRDP 1.247 913.382 6. 5).500. Profil Responden Untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kota Bandar Lampung secara lebih luas memiliki keterbatasan dalam hal ketersediaan data sekunder.407 1.015.126 127. Produk Domestik Regional Bruto Kota Bandar Lampung Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2007 Lapangan Usaha 2004 2005 317. 1 2 3 4 5 6 7 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Tanpa Migas Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.780 1.691 2007 622. 2008) Gambar 2-4. Hotel.091 91.563 602.187.163. 2) Kelurahan Pasir Gintung.996 94. Kelurahan Panjang Selatan. 6).321 98.Tabel 2-6. Batu Putu dan Pasir Gintung.

Berdasarkan tabel tersebut. mayoritas masyarakat di kelurahan yang diamati telah lulus SD. Kelurahan SUkabumi Indah merupakan kelurahan dengan tingkat pendidikan tertinggi. Hampir semua penduduk di kelurahan Sukabumi Indah bekerja sebagai tenaga kerja non-pertanian.8 - Tabel 2-8.9 7.2 54.2 7.5 - Sukabumi Kangkung Indah 6. ternyata dari 47. atau pegawai negeri (PNS/ABRI/POLRI). demikian sebaliknya.9 5. Menurut data hasil survey (tabel 2-7). Tabel 2-7. maka sebanyak 40 persen berpendidikan rendah (tidak tamat SD-tamat SD).5 30 2. pemberian ketrampilan maupun model-model percontohan yang akan diberikan. 2009 (dalam %) Pendidikan Tidak Sekolah SD Kelas 1-3 SD Kelas 4-6 SD Tamat SMP Tamat SLTA Tamat Sarjana Muda/ D3 Sarjana Panjang Selatan 12.3 35.5 1. komposisi pekerjaan didominasi oleh pekerja dengan pendidikan yang sangat rendah. Fenomena masyarakat dengan pendidikan rendah ini juga terjadi pada sektor perbaikan (service).4 16. akan semakin mudah menggugah kesadarnnya untuk merespon upaya-upaya adaptasi bencana.2 3.5 persen masyarakat yang bekerja sebagai petani kebun.2 10. Pekerjaan utama masyarakat di Pasir Gintung adalah pada sektor perdagangan (20%).7.8 3.2.5 15 25 10 12. Kebanyakan dari mereka memiliki tingkat pendidikan 16 .5 17.7 28.1 41 10. serta menyerap keterampilan maupun teknologi yang dipekenalkan. Kebanyakan penduduk yang bekerja sebagai pedagang dan buruh non-petani adalah masyarakat dengan pendidikan menengah kebawah (SMP dan SMA).7 12. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat merupakan salah satu indikator dalam menilai kemampuan masyarakat untuk menerima pengetahuan baru. dimana aktivitas pertanian tidak terjadi.8 Batu Putu 20 17. Oleh karena itu tingkat pendidikan masyarakat dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur dalam menilai kerentanan masayarakat terhadap bencana. menguraikan data sebaran pendidikan berdasarkan mata pencaharian di setiap kelurahan dan wilayah. servis (10%). Oleh karena itu semakin tinggi taraf pendidikan masyarakat.1 12.1. masyarakat yang bekerja sebagai petani kebun di Batu Putu banyak yang tingkat pendidikannya tamat sekolah dasar dengan persentase sebesar 15 persen dari total masyarakat di Batu Putu. Meskipun Pasir Gintung berada di dekat kota. buruh non-petani (20%).5 - Pasir Kota Gintung Karang 6 4 10 40 20 18 2 9 17. tenaga kerja perbaikan. dan lainnya (48%). Kontek Sosial A. baik melalui proses latihan dan penyuluhan.2 16.5 5 32. Jika dilihat secara lebih detail lagi.. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.

5 8 12.00 - Petani Ikan Pedagang PNS/ABRI/P OLRI Jasa Sukabumi Indah Buruh Non Pertanian Lainnya Total - 3.68% nya memiliki berpendidikan tinggi.13 Kang kung Pesisir Petani Ikan Pedagang 5.00 4.23 3. Tabel 2-8.45 22.50 2.00 SD Kela s 1-3 7. Lebih dari 12.50 2.13 7.90 16.00 18.00 4.23 6.0 0 48.50 10.9 4 100.50 2.5 0 2.00 15.00 4.6 17 .84 3. 00 2.00 20.5 0 100.50 2.00 16.50 25.00 17.menegah dan tinggi. 00 Batu Putu Pedagang PNS/ABRI/P OLRI Jasa Pasir Gintung Buruh Non Pertanian Lainnya Total 4.23 6.50 20.56 - 7.00 10.00 12.23 9.23 6.9% penduduk yang bekerja di sektor tersebut dan 9.50 12.48 54.23 16.69 5.00 40.00 2.23 3.50 5.5 0 2. 00 3.69 - - 10.68 6.00 2.13 - 3.00 2.00 20. Hal yang sama terjadi pada sektor service.50 2.00 12.50 - - 10.23 3.9 0 12.00 Tamat SD Tamat SMP Tamat Diplom Sarjana SMA a Tota l Non Pesisir Petani Pangan Petani Kebun Pedagang Jasa Pertukangan Buruh Pertanian Buruh Non Pertanian Lainnya Total 5.5 0 2.45 3.50 12.45 3.00 5.00 8.0 0 47.50 2.0 0 2.00 2.50 5.00 SD Kelas 4-6 12.50 2.00 2.00 2. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Mata Pencaharian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung Tahun 2009 (dalam %) Pekerjaan Kel Tidak Sekola h 2.23 3.00 10.00 6.45 3.00 2.23 3.50 15.00 4.00 5. pekerja pemerintahan merupakan lulusan D3 dan sarjana.0 0 20.9 0 41.50 2.23 35.50 17.00 2.00 10.23 12.13 5.00 4.00 6.0 0 100.50 5.00 2. sebagai contoh.13 2.00 2.50 5.2 6 25.56 2.00 4.00 2.

69 5.79 12.3 3 100.14 10.79 1.36 1.Pengrajin Jasa Pertukangan Buruh Non Pertanian Lainnya Kangkung Total Petani Ikan Pedagang Jasa Buruh Non Pertanian Lainnya Kota Karang Total Petani Ikan Pedagang Jasa Buruh Non Pertanian Lainnya Panjang Selatan Total 2. 00 20.5 0 17.57 1.00 7.0 0 100.56 15.00 5.79 1.79 10.00 2.57 3.50 2.56 2.8 6 2.1 4 100.57 5.5 0 5.79 3.07 1.4 3 12.5 0 14. mayoritas pekerjaan di kelurahan pesisir dan non-pesisir didominasi oleh pekerja berpendidikan renah (gambar 2-5).56 2.57 1.57 16.79 1. Pada umumnya mereka yang bekerja pada sektor tersebut berpendidikan rendah (maksimal lulus SD).50 5.69 2.0 0 5.79 1.50 1.50 2.57 7.56 12.13 2.90 2.71 3.00 30.00 32.56 25.13 10.56 2.69 2.14 41. 00 3.50 42. 00 21.93 1.56 5.57 8. Panjang Selatan 18 .56 7. Misalnya di wilayah Kangkung.50 - - Pola yang hampir sama juga terjadi di wilayah pesisir.13 28. pekerja denga lulusan universitas. Berdasarkan ilustrasi diatas.2 1 3. Hanya pelayan publik/pemerintahan dan beberapa pedagang.50 2. sebagian besar masyarakat bekerja sebagai pedagang.64 35.79 3.71 3.50 5.00 10.00 10.82 - - 4 2.79 - Kota Karang 7.50 2.5 0 25.00 5.50 12.3 8 33.00 5.2 9 19. buruh non pertanian dan petani tambak ikan.57 1.50 2.26 2.56 7.00 2.56 7.79 1.07 7.50 15.79 12.6 4 32.50 5.0 0 17.00 15.79 3.

Gambar 2-5.33 persen untuk Sukabumi Indah. termasuk menjadi pekerja di sektor pertanian. Namun saat suami berhalangan hadir. Dari hasil FGD terungkap bahwa dalam pertemuan warga di kelurahan atau balai desa. 2009 B. Dari data tersebut terlihat bahwa keterlibatan istri di wilayah non pesisir lebih banyak daripada wilayah pesisir. Akan tetapi terdapat kelompok keluarga masyarakat yang menyatakan bahwa untuk pengambilan keputusan keluarga tidak bisa dilakukan sendiri oleh suami. Disini terlihat bahwa dalam lingkup yang lebih kecil. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Klasifikasi Tinggi Rendahnya Pendidikan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. maka terlihat konsistensi bahwa partisipasi perempuan dalam membuat keputusan keluarga juga dipengaruhi oleh keterlibatan mereka membantu suami dalam memperoleh penghasilan keluarga. biasanya hanya lelaki yang diundang datang ke pertemuan sedangkan perempuan akan di undang apabila dalam rumah tangga tersebut memang tidak ada pria yang dapat mewakili.98 persen. Alasan yang diungkapkan warga pria adalah karena yang dibicarakan biasanya masalah-masalah yang terkait dengan kaum pria. mereka melibatkan istri mereka dalam membuat keputusan keluarga dan jumlah kelompok ini cukup besar. Jika angka ini disandingkan dengan angka persentase kelompok pencari nafkah dalam keluarga yaitu suami dan istri.82 persen untuk Batu Putu dan 58. Persentase suami istri sebagai pengambil keputusan di kedua wilayah tersebut adalah 58. peran keluarga dimana pengambilan keputusan dilakukan berdua oleh suami istri lebih besar daripada keluarga yang pengambilan keputusannya hanya oleh suami saja. yaitu kepentingan 19 . Hal tersebut terkait dengan pola pikir pria yang beranggapan bahwa kehadiran perempuan di rumah yaitu mengurus anak lebih penting daripada hadir dalam rapat.19 persen. misalnya masalah pertanian. Padahal berdasarkan gambaran peran anggota keluarga dalam mencari nafkah. Yang berarti sebenarnya masalah pertanian juga merupakan masalah perempuan. terlihat perempuan memiliki andil yang cukup besar dalam memenuhi nafkah keluarga. Pengambilan Keputusan Keluarga Anggota keluarga yang cukup dominan dalam membuat keputusan keluarga adalah suami dengan persentase sebesar 55. Pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu kelurahan. sebanyak 34. istri akan diminta hadir sebagai wakil suami. partisipasi anggota keluarga terutama perempuan dalam pengambilan keputusan dapat dilihat pada jumlah perempuan yang diundang menghadiri kegiatan rapat atau musyawarah kelurahan. Bahkan secara spesifik di Kelurahan Batu Putu dan Sukabumi Indah. Dalam pertemuan yang lebih strategis seperti Musrembang. perempuan juga jarang dilibatkan.

Demikian juga dengan program-program bencana.00 0. kepentingan masyarakat bersama.2 7 58.00 0.15 2. dan Ap=Anak Perempuan Dewasa C.04 0. Partisipasi Keluarga Dalam Mengikuti Pelatihan Secara umum keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan untuk meningkatkan ketrampilannya relatif rendah.00 0.84 persen.87 1.2 7 53.3 5 34.00 2.92 0.41 0.00 1.82 20.6 7 55.00 0.00 0. Misalnya pada kasus bencana yang terjadi pada suatu daerah.79 0. Dalam kaitannya dengan bencana.00 7. Tabel 2-9. karena tidak diikut sertakan dalam rapat atau musyawarah. terlihat bahwa keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan sebanyak 14.43 SIAl 0.00 5.35 41.00 5.43 Keterangan : S=suami. I= Istri.00 100.00 0. suara yang mewakili kebutuhan dan kepentingan perempuan menjadi tidak terdengar.63 1.00 100.2 2 41.63 0. perempuan telah memiliki posisi tawar yang relatif sama dengan pria.00 0.00 0.3 3 26.2 6 51.00 5.00 0.79 0.00 0.keluarga.00 0.89 3.3 2 38.00 1.00 (N) 107 34 49 24 127 38 52 37 234 S 41.00 100.1 9 I 0. pemerintah daerahnya menyediakan fasilitas kamar mandi umum dengan kondisi dinding hanya tertutup setengah yang menyebabkan perempuan tidak nyaman dalam melakukan aktivitas di kamar mandi.00 0.43 SAlAp 0.00 4. Padahal.43 Iap 0.51 2. Sehingga program-program atau kebijakan yang dibuat dianggap sudah dapat mewakili.26 1.1 2 28.00 0.85 5.00 0.00 4.00 100.00 0.93 0. Keabsenan atau ketidak akuratan informasi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perempuan menjadi lebih rentan saat terjadi bencana.00 0.08 0.4 1 58. peran lakilaki menjadi lebih dominan dimana mereka merasa bahwa keberadaannya sudah bisa mewakili kepentingan perempuan. Namun dalam lingkup yang lebih luas.00 100.00 0.00 0.93 0.92 2.00 100.56 S Al 0.00 2. Hal ini menunjukkan lemahnya posisi tawar perempuan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.00 0.70 1. 2009 (dalam %) Wilayah / Keluraha n Batu Putu Pasir Gintung Sukabum i Indah Kangkun g Kota Karang Panjang Selatan Non Pesisir Pesisir Grand Total Anggota Rumah Tangga Pengambil Keputusan Grand Total 100. dalam beberapa hal kepentingan atau kebutuhan laki-laki berbeda dengan perempuan.71 Al 0. Kondisi demikian mencerminkan ketidak pekaan terhadap kebutuhan perempuan.4 6 16.57 1.85 IAlAp 0.92 0.00 0.87 3.57 0. Padahal belum tentu seluruh informasi tersebut dapat disampaikan kembali dengan baik kepada para perempuan/ istri di rumah.18 67.9 8 SI 58.00 0.41 1.08 0.00 2.00 0.00 0. seringkali sistem peringatan dini atau informasi yang terkait dengan bencana hanya diberikan dan di bahas dengan para laki-laki/suami.00 0.04 0. Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Berperan Dalam Mengambil Keputusan Keluarga Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.9 2 70.00 0.2 7 55. Al= Anak Laki Dewasa.00 0.00 2.00 100.00 0.00 100. dengan 20 .99 Semua 0. Berdasarkan Tabel 2-10.

89 33.13 9. namun bisa juga dengan cara informal.84 100.26 Total 40 50 31 121 39 56 40 135 256 3 3 5 11 2 7 18 27 38 7.29 5.44 48. Walaupun relatif kecil.29 11. Dari hasil FGD terungkap memang selama ini masyarakat jarang mengikuti pelatihan yang dilakukan secara formal.63 33.00 100.56 7.00 28.11 11.00 100.00 20. terkecuali di Sukabumi Indah.41 5.00 40.00 60. Lain halnya jika masyarakat tersebut cukup aktif dalam mengikuti berbagai macam pelatihan.16 persen masyarakat tidak terlibat dalam kegiatan pelatihan.00 100.00 14.00 36. Beberapa masyarakat bahkan kurang menyadari bahwa kegiatan mata pencaharian mereka pada dasarnya memerlukan suatu ketrampilan tertentu. bahwa suami lebih banyak aktif terlibat dalam pelatihan dibandingkan dengan istri. Masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan relatif aktif dalam mengikuti berbagai macam pelatihan dibandingkan dengan kelurahan lainnya. dan hal ini berlaku secara umum untuk wilayah lainnya.00 100.13 12.33 0. Relatif rendahnya keterlibatan masyarakat dalam mengikuti berbagai macam pelatihan dalam meningkatkan keterampilan hidupnya.00 100. dan ketrampilan tersebut mereka 21 . jika suatu keluarga terkena bencana yang pada akhirnya tidak bisa lagi tergantung pada pekerjaan utamanya (baik jangka pendek maupun jangka panjang).09 5. peningkatan ketrampilan tidak harus selalu diperoleh dengan cara mengikuti pelatihan secara formal.00 42. maka alternatif untuk melakukan pekerjaan tambahan relatif sulit dilakukan karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki masyarakat. keterlibatan masyarakat di pesisir dalam mengikuti pelatihan relatif banyak dibandingkan dengan wilayah non pesisir.00 63.00 100.67 100.15 52.57 38.64 100.21 14. Dalam konteks masyarakat urban dengan tingkat strata ekonomi yang rendah.11 7.00 100. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total Total Res (N) Res Jawab (n) n/N (%) Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Pelatihan (dari n dalam %) Anak Anak Suami Istri LakiPerempuan Laki 66. Dalam kondisi seperti ini.86 44.demikian sebanyak 85. sehingga mengurangi kerentanan akibat bencana. Dalam kenyataannya beberapa pekerjaan yang dilakukan seperti buruh bangunan memerlukan ketrampilan khusus.50 45. yang menyebabkan masih adanya peluang untuk melakukan berbagai macam pekerjaan alternatif.00 Berdasarkan data terlihat.36 0. sekitar 45 persen masyarakat di wilayah tersebut pernah mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan hidupnya.00 16. Tabel 2-10.00 100.89 14.33 34.50 6. akan berdampak terhadap terbatasnya keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat terutama ketika menghadapi berbagai macam kondisi yang mengancam keberlangsungan hidup keluarganya. Distribusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga dalam Mengikuti Pelatihan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.

29 10.86 41. Masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan relatif aktif dalam berorganisasi dibandingkan dengan kelurahan lainnya.00 100.13 55.00 0. terlihat bahwa keterlibatan masyarakat dalam berorganisasi sebanyak 42. Berdasarkan Tabel 2-11. Dari pengakuan warga di Kota Karang dan Pasir Gintung. Tabel. Menurut penuturan 22 . suami lebih banyak aktif terlibat dalam aktifitas berorganiasi dibandingkan dengan istri. 2-11.57 32. D Partisispasi Keluarga Dalam Mengikuti Organisasi Masyarkat Secara umum keterlibatan masyarakat dalam organisasi masyarakat relatif masih rendah. Berdasarkan hasil FGD terungkap berbagai bentuk organisasi serta aktivitasaktivitas organisasi yang berada di lingkungan kelurahan amatan.97 persen merupakan jumlah yang cukup bagi sebuah organisasi untuk berperan dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat.00 0.75 33.00 6.25 35. sekitar 70 persen masyarakat di wilayah tersebut aktif berorganisasi.dapatkan secara otodidak. Walaupun relatif kecil.36 0.25 66.00 0.97 persen. Organisasi merupakah wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreatifitas dan gagasan yang dimiliki masyarakat termasuk berbagai macam upaya mensejahterakan masyarakat setempat.33 42.45 43.00 0.57 4.00 0. maka berdasarkan data tersebut terlihat.41 42.00 18. Distrisusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Organisasi Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. keterlibatan masyarakat di pesisir dalam berorganiasi relatif banyak dibandingkan dengan wilayah non pesisir.14 31.94 6.71 10.46 37. belum pernah ada program bantuan pelatihan baik formal ataupun informal yang ditujukan untuk peningkatan ketrampilan warga baik dari pemerintah daerah maupun LSM setempat.03 persen masyarakat tidak berorganisasi. 2009 Total Respd (N) Res Jawab (n) Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Ormas (dari n dalam %) Anak Anak LakiPerempua Suami Istri Laki n 56.73 Wilayah / Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total n/N (%) Jumlah 40 50 31 121 39 56 40 135 256 16 9 21 46 15 21 28 64 110 40.57 53.00 100.67 57.14 58. maka semakin besar pula akses yang dimiliki masyarakat untuk memperoleh informasi dan bantuan bencana. Hubungannya dengan kebencanaan adalah.30 33.14 53.00 0.00 13.33 28.00 Dengan hanya melihat warga yang aktif berorganisasi.00 100.45 0.00 47. dengan demikian sebanyak 57.74 38.70 46.67 57.00 100.02 38.00 67.67 14.33 0. demikian juga anak laki-laki lebih banyak terlibat dalam organisasi masyarakt dibandingkan dengan anak perempuan dan hal ini berlaku secara umum untuk wilayah lainnya.00 100. akan tetapi dengan keterlibatan sebanyak 42. bila semakin banyak masyarakat terlibat dalam berorganisasi.69 2.50 70.00 100. Walaupun tingkat berorganisasi relatif rendah.00 100.00 3.00 100.97 100.

dan sebagian lagi dimasukkan dalam kas kelompok. namun banyak juga yang bertindak sebagai preman. setiap anggota dibebankan membayar simpanan minimal Rp 1500 per bulan. Pada kegiatan simpan pinjam. persatuan pengaman lingkungan. yang berada di wilayah ini mencakup 10 kelompok. Hasil keuntungan dari bekerja tidak dibagi secara langsung kepada anggota. diperoleh informasi bahwa terdapat banyak paguyuban yang terkait dengan profesi mata pencaharian masyarakat. Pinjaman tersebut tidak dikenakan bunga bila jangka waktu pinjaman hanya sebentar. Kegiatan kelompok yang ditujukan untuk peningkatan ekonomi petani. kelompok nelayan Bahari Mandiri sudah jarang melakukan kegiatan-kegiatan. Pada Kelurahan Batu Putuk terdapat kelompok pertanian dan kelompok kehutanan. namun non anggota harus membayar. Uang hasil penerimaan peminjaman barang dari non anggota sebagian akan di belikan barang lagi. kursi. Walaupun di kelurahan Panjang Selatan terdapat kelompok nelayan. sedangkan bantuan untuk meningkatkan ekonomi petani tidak ada. Gabungan kelompok tani (gapoktan). Namun beberapa waktu belakangan ini. Ide kegiatan tersebut berasal dari kaum perempuan sendiri. ”. namun sebagian besar digunakan untuk membeli peralatan pesta seperti piring. Selain kelompok pertanian. Selain terdapat kelompok bapak-bapak. Bantuan saprodi seperti pupuk juga belum pernah ada. Aktifitas yang dilakukan oleh kelompok pertanian antara lain melakukan pertemuan atau musyawarah untuk membahas suatu masalah. dsb. persatuan pedagang sayur. terdapat juga organisasi masyarakat seperti ‘Petir’ dan ‘Paku Banten’. Sehingga beberapa warga menyebutkan wilayah tersebut dengan sebutan ‘bronx’. Selain adanya paguyuban-paguyuban.. kelompok kehutanan dibentuk dengan tujuan agar warga dapat memperoleh izin untuk menanam di lahan kehutanan.. Kegiatan kelompok ini antara lain membersihkan kebun orang lain secara gotong royong.. karena jumlah anggotanya 8 orang. Wilayah Pasir Gintung yang dekat dengan pasar induk menyebabkan masyarakatnya tidak saja banyak yang menjadi pedagang. dan ada bunga yang relatif kecil bila pinjaman dalam jangka waktu yang lama. Kondisi demikian yang memicu timbulnya organisasi masyarakat seperti ‘Petir’ dan ‘Paku Banten’. maka kegiatan simpan pinjam menjadi terhambat dan saat ini tidak berjalan lagi. namun di wilayah tersebut tidak terdapat koperasai nelayan yang bisa menunjang kegiatan operasional nelayan. padahal dulu berjalan dengan aktif dimana salah satu kegiatannya adalah simpan pinjam. Manfaat menjadi anggota adalah bila mau meminjam peralatan pesta tidak akan dipungut bayaran. Pada Kelurahan Pasir Gintung. teko.manfaat yang dirasa dengan bergabung di kelompok tani adalah memperoleh informasi penanggulangan penyakit. sebagian lainnya akan dimasukkan dalam kas kelompok. juga terdapat kelompok ibu-ibu di Kelurahan Batu Putuk dengan nama kelompok PKK 8. pada Kelurahan Panjang Selatan terdapat organisasi kemasyarakatan yaitu kelompok nelayan Bahari Mandiri.Bapak Mugi. Misalnya ada persatuan tukang bakso. misalnya simpan pinjam masih belum dilakukan. namun karena banyaknya warga yang tidak mengembalikan pinjamannya. gelas. Bantuan bibit pernah satu kali diterima warga yaitu bibit padi tahun 2008”. Organisasi tersebut kegiatannya antara lain mengorganisir perparkiran dan 23 . Menurut penuturan bapak Jumaidi. tokoh masyarakat di Kelurahan Batu Putuk. Keuntungan lainnya sebagai anggota adalah mereka bisa meminjam uang kas kelompok.

wirasawasta. semakin kompak masyarakat dalam melakukan kegiatan kemasyarakatan biasanya akan semakin kuat kohesivitas sosial masyarakat. Sebenarnya telah ada aturan bahwa setiap jumat ada kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan. antara lain meningkatnya kesejahteraan warga serta menurunnya tingkat kejahatan dan ‘kenakalan’ warga di Kelurahan Pasir Gintung. saluran air. Kegiatan gotong royong tidak hanya dilakukan untuk membersihkan lingkungan saja tetapi juga membantu warga yang akan melaksanakan hajatan seperti pesta pernikahan maupun yang memperoleh musibah. Kohesivitas sosial ini yang melahirkan sikap saling tolong menolong ketika terjadi bencana. Tinggi rendahnya kohesivitas sosial dapat terlihat dari beragamnya kegiatan sosial masyarakat. Beberapa kegiatan sosial masyarakat yang berhubungan dengan kebencanaan adalah gotong royong. Namun sifat tolong menolong antar warga tetap ada. Berdasarkan data. Demikian juga bila ada rumah warga yang rusak. di tahun 1970an. menyebabkan banyak penduduk yang beralih menjadi pekebun.7. yaitu dilakukan secara masing-masing warga. Kegiatan gotong royong masyarakat secara rutin dilaksanakan setiap bulan atau setelah terjadi pasang. atau buruh. 24 . Keberadaan paguyuban serta organisasi masyarakat tersebut dirasakan positif oleh warga. Berdasarkan gambar terlihat bahwa sebanyak 48. Terutama dalam hal kebersamaan. tempat sampah. sebanyak 24. melaksanakan kegiatan 3M. pegawai.pengamanan lingkungan. biasanya ditangani sendiri oleh si pemilik tanpa bantuan dari tetangga atau warga lainnya.5 persen melakukan kegiatan gotong royong dengan frekuensi yang sangat jarang. Berbeda dengan Kelurahan Panjang Selatan. namun dalam pelaksanaannya kegiatan kebersihan lingkungan di Kota Karang lebih bersifat individu.11 persen berada di Kota Karang. Dahulu. warganya justru mengaku bahwa kegiatan gotong royong di wilayah tersebut sudah berjalan dengan baik. sehingga sulit untuk melakukan kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Dengan pola mata pencaharian yang beragam seperti itu. yaitu sebanyak 1 kali dalam 1 tahun. Partisipasi Masyarakat Dalam Kelembagaan Salah satu kekuatan masyarakat dalam menghadapi bencana adalah tingginya kohesivitas sosial masyarakat.53 persen berada di Kangkung dan sebanyak 27. dan memperbaiki infrastruktur perdesaan seperti jalan desa. menyebabkan ritme kerja yang tidak sama. sebanyak 78. sebagian besar masayarakat Kota Karang adalah nelayan. diperoleh informasi bahwa kegiatan gotong royong di Kelurahan Kota Karang memang masih belum berjalan dengan baik. Namun karena penghasilan dari nelayan yang saat ini sudah sangat berkurang. Berdasarkan hasil FGD. dan lain sebagainya.36 persen berada di Panjang Selatan. E. Kegiatan yang lebih mengarah kepada individu ini diperkirakan karena adanya perubahan dalam mata pencaharian penduduk. dari sebanyak 135 warga pesisir. menunjukkan distribusi warga di wilayah pesisir yang melakukan kegiatan gotong royong. Gambar 2.

78 persen). Dengan semakin seringnya kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh warga. enam bulan sekali. Distribusi Tingkat Partisipasi Warga Non Pesisir Lampung pada Kegiatan Gotong Royong Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya. frekuensi kegiatan gotong royong masyarakat relatif beragam. sebanyak 66. ada yang dua bulan sekali. Gambar 2-7. bahkan satu tahun satu kali.22 persen). maka di wilayah non pesisir sebagian besar warga melakukan kegiatan gotong royong sebanyak 36 kali dalam setahun atau setiap minggu (57. Distribusi Masyarakat di Wilayah Pesisir Yang Melakukan Kegiatan Gotong dengan Frekuensi Minimal 1 Kali dalam 1 Tahun Pada wilayah non pesisir. maka dampaknya akan lebih besar terasa dibandingkan dengan masyarakat yang melakukan gotong royongnya hanya 1 tahun sekali. Selain itu terdapat juga warga yang melakukan gotong royong lebih dari 1 tahun sekali. Hal ini menggambarkan dari persfektif kualitas gotong royong. dan satu kali dalam satu tahun (32. 2009 25 . ada yang satu bulan sekali.66 persen warga berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong.Gambar 2-6.78 persen warga yang melakukan gotong royong dengan frekuensi seminggu sekali. dapat dilihat pada Gambar 2-7. Dari 121 warga non pesisir. maka sebetulnya masyarakat di wilayah non pesisir memiliki tingkat partisipasi gotong royong yang lebih baik. mengingat di wilayah ini terdapat sekitar 57. Jika dilihat dari frekuensinya.

2009 Dilihat dari partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan warga.Gambar 2. Kegiatan gotong royong yang mendapatkan partisipasi warga paling rendah adalah kegiatan perbaikan taman.8. gotong royong. Kegiatan sosial lain yang memiliki partisipasi relatif besar adalah arisan ibu-ibu (46.09 persen) dan kemudian kegiatan kegiatan 3M (menguras. pengajian juga mendapat partisipasi terbesar dari warga (67. warga di wilayah non pesisir memberikan pastisipasi lebih besar dibandingkan warga diwilayah pesisir kecuali kegiatan perbaikan sampah dan perbaikan jalan. Relatif tingginya partisipasi gotong royong masyarakat di kedua wilayah diakui oleh tokoh masyarat yang menjadi narasumber dalam FGD. Gambar 2-8. Perbaikan sarana ibadah menarik partisipasi besar dari warga di Kelurahan Sukabumi Indah (35. menutup dan mengubur. pengajian merupakan kegiatan sosial masyarakat yang memiliki partisipasi warga terbesar (74. Di wilayah non pesisir. Tokoh masyarakat Kelurahan Panjang Selatan.22 persen). Batu Putu dan Pasir Gintung menyatakan bahwa hubungan antar warga seperti dalam hal kerjasama. menunjukkan bahwa kegiatan perbaikan jalan mendapatkan partisipasi warga paling besar (45. maupun kegiatan-kegiatan perkumpulan telah berjalan cukup baik meskipun untuk Kelurahan Pasir Gintung kegiatan tersebut tidak terjadwal dan terorganisir dengan baik.48 persen).70 persen) dibandingkan kegiatan yang lain. Partisipasi warga terbesar dan terendah dalam kegiatan perbaikan jalan terjadi berturut-turut di Kelurahan Kota Karang dan Panjang Selatan. Jika membandingkan kedua wilayah (pesisir dan non pesisir).77) dibandingkan kegiatan sosial masyarakatnya. Distribusi Partisipasi Warga dalam Kegiatan Gotong Royong Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Hal ini terjadi pada semua kelurahan di kedua wilayah baik pesisir maupun non pesisir. Gambar 2-9) 26 . dan menarik partisipasi terkecil dari Kelurahan Panjang Selatan.

Dengan adanya sarana dan prasarana ini berbagai sektor kehidupan masyarakat dapat lebih dikembangkan dan ditingkatkan hasilnya. Namun.Gambar 2-9. air bersih dan listrik. Sarana kesehatan pada wilayah ini pada umumnya berupa balai kesehatan masyarakat seperti puskesmas maupun posyandu. Mayoritas masyarakat pada seluruh kelurahan menunjukkan bahwa sarana pendidikan seperti bangunan SD. Pada wilayah-wilayah tersebut juga telah ada Jamkesmas. Akses Terhadap Pelayanan Keberadaan sarana dan prasarana merupakan faktor yang menunjang keberhasilan upaya program adaptasi bencana. kepemilikan jamkesmas ini tidak secara otomatis ada. Sarana perbankan pada juga secara umum sudah cukup baik. Demikian juga dengan asuransi. asuransi. baik asuransi 27 . Proses untuk mengurus jamkesda pun cukup rumit dan melalui birokrasi yang cukup pajang. masih sangat sedikit warga yang memanfaatkan jasa perbankan tersebut. khususnya untuk mengobati penyakit-penyakit ringan seperti flu dan batuk. Sarana dan prasarana yang ada di wilayah kelurahankelurahan terpilih yang rentan bencana terdiri dari: pendidikan. biasanya akan di rujuk oleh puskesmas setempat untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. warga harus mengurusnya terlebih dahulu. Warga yang tidak memiliki jamkesmas dapat mempergunakan fasilitas jamkesda. SMP sudah tersedia dalam jumlah yang cukup. bila kondisi warga bertambah parah. Namun. hanya warga Kelurahan Batu Putu yang menyatakan bahwa sarana perbankan di wilayahnya masih kurang. Tidak banyak warga yang tahu tentang keberadaan sarana asuransi di wilayah mereka. kesehatan. 2009 F. fasilitas kesehatan ini sangat membantu masyarakat. Selain biayanya yang cukup terjangkau. namun pada kenyataannya berdasarkan hasil FGD. perbankan. Pada kenyataannya lokasi Batu Putu yang relatif terletak jauh di atas gunung dan jauh dari pusat ibukota menyebabkan bank tidak beroperasi di wilayah tersebut. Distribusi Kegiatan Masyarakat Pada Beberapa Kegiatan Sosial Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. hal ini cukup menyulitkan warga. Hal ini juga ditunjang dengan kenyataan bahwa mereka belum merasa membutuhkan asuransi. Namun demikian. Sebagian besar warga memiliki alasan bahwa jumlah penghasilan yang relatif kecil sehingga tidak tersedia uang yang cukup untuk ditabung. walaupun kelurahan yang lain menyatakan bahwa sarana perbankan di kelurahan mereka sudah cukup baik.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari FGD.500. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen. Namun justru keberadaan perusahaan air minum tersebut yang dirasa warga menyebabkan jumlah debit air menjadi berkurang. Keperluan air untuk mencuci dan mandi dipenuhi dengan menggunakan air sumur bor. dan Kangkung keperluan minum warga biasanya dipenuhi dengan cara membeli air galon isi ulang. Grafik 2-10. Pada wilayah Panjang Selatan. sehingga bila akan digunakan. Seorang ibu dengan enam orang anak yang tinggal di wilayah Kota Karang mengaku bahwa kebutuhan air sehari-hari dipenuhi dengan cara mengambil dari sumur bor dan membeli. pada wilayah pesisir. Padahal. terlebih dahulu harus di diamkan beberapa saat. jiwa maupun kesehatan. Kota Karang. yaitu berwarna keruh dan bahkan di Kelurahan Kota Karang terasa panas.00-Rp 3. namun masyarakatnya menunjukan kecenderungan yang sama dengan warga dari kelurahan lain.pendidikan. Sedangkan air bersih dapat diperoleh dengan membeli baik dari PDAM maupun dari pedagang air keliling. 2009 Sarana electricity dan air bersih pada wilayah ini tersedia dengan baik. berupa jaminan ganti rugi finansial atas harta benda yang rusak atau hilang. Biasanya satu galon air dapat di gunakan selama empat hari. sedangkan air jirigen 28 . warga menggunakan air sumur pompa. bila terjadi bencana yang parah. sehingga air bersih dapat diperoleh dengan jalan membeli. kepemilikan asuransi dapat melindungi masyarakat. Untuk keperluan minum biasanya dipenuhi dengan membeli air galon isi ulang seharga Rp 3. Kelurahan Batu Putu yang merupakan daerah perbukitan. Untuk keperluan mencuci dan mandi. yaitu Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang. Berikut adalah gambaran kebutuhan air bersih pada suatu rumah tangga di Kelurahan Kota Karang. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen yang dapat diperoleh dengan cara membeli. terbukti dengan adanya tiga perusahaan air minum di daerah tersebut. namun kualitas air kurang baik (berwarna keruh) dan terasa panas.00 per galon dengan merek Grand. Ketersediaan Sarana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Hal yang menarik ditunjukkan oleh Kelurahan Sukabumi Indah. mempunyai sumber air yang sangat banyak. Penggunaan air sumur bor tidak dipungut biaya.000. namun kualitas air kurang baik. memiliki kesulitan air bersih. sehingga dalam satu bulan biasanya menghabiskan 7-8 galon. walaupun memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat yang lebih baik dibandingkan dengan kelurahan lain. Sumber listrik pada wilayah ini berasal dari PLN. Penggunaan air sumur bor tidak dipungut biaya.

00 per tiga jirigen. Selain menanam pada lahan sendiri. terdapat tiga perusahaan air minum. penghasilan dari melaut cenderung menurun drastis bahkan terkadang tidak mendapatkan penghasilan. dan Grand. cukup banyak juga warga yang bertani / berkebun di wilayah kawasan milik dinas kehutanan. Jadi secara rata-rata total pengeluaran untuk membeli air pada keluarga tersebut selama satu bulan sebesar Rp 31. Biasanya dalam satu lahan. atau kenek bangunan. Grade. Sumber FGD di Kota Karang.5 persen. warga sengaja menanam beberapa jenis tanaman. Hal ini karena mata pencaharian sebagai nelayan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan cuaca. banyak warga yang memiliki alternatif mata pencaharian lain seperti menjadi buruh non pertanian. Pada kondisi iklim dan cuaca yang menunjang.5 persen warga berprofesi sebagai petani kebun dan diikuti oleh buruh pertanian sebesar 17. 29 . dimana sektor perikanan menjadi salah satu mata pencaharian yang dominan. Kelurahan Batu Putuk berada di lokasi dataran tinggi dimana kondisi lahan di wilayah ini memiliki kesesuaian dengan karaktersitik tanaman perkebunan.1 persen dan 33. dan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang ketahanan masyarakat dalam menghadapai perubahan iklim/ bencana. dan buruh non pertanian. Kelurahan Panjang Selatan. Sewa lahan dikenakan biaya sebesar Rp. 21. Mata Pencaharian dan Ekonomi Informasi kondisi ekonomi masyarakat dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat.00 per tiga jirigen. pengeluaran masayarakat dan kepemilikan lahan serta aset.000. Kondisi ekonomi masyarakat dapat dilihat dari mata pencaharian penduduk.000. tukang becak.000. namun dalam kondisi sebaliknya seperti pasang dan angin besar. durian. sehingga dalam sebulan membutuhkan 30 jirigen. Berdasarkan hasil FGD diperoleh pula informasi bahwa pada wilayah Batu Putuk. sedangkan warga di wilayah Kota Karang dan Kangkung sebesar 32. Kota Karang dan Kangkung berada pada wilayah pesisir.5 persen warga wilayah Panjang Selatan bermata pencaharian sebagai buruh non pertanian. pendapatan. Luas kepemilikan lahan beragam. namun jika diantar (dibawakan). Berikut adalah gambaran umum ekonomi dan mata pencaharian pada enam kelurahan amatan: A.000. sehingga memiliki ketidakpastian. Sehingga memiliki potensi pertanian khususnya tanaman perkebunan seperti coklat. namun umumnya warga memiliki lahan kurang dari satu hektar. penghasilan dari melaut dapat berlimpah. yaitu sebesar 2. Ibu tersebut mengaku bahwa tiga jirigen dapat digunakan selama tiga hari.00. Mata Pencaharian Mata pencaharian penduduk biasanya dipengaruhi oleh kondisi wilayah masing-masing. Sebanyak 20 persen warga Panjang Selatan.diperoleh dengan membeli. pertukangan. Selain itu berdasarkan survey terlihat bahwa sebanyak 42.7.00-Rp 48.5 persen. kopi. Mata pencaharian masyarakat di Batu Putuk dengan persentase paling sedikit adalah pedagang. Keberadaan perusahaan ini memberikan kesempatan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar seperti menjadi buruh dan satpam. harga mencapai Rp 2.2.3 persen warga mengaku bermata pencaharian sebagai nelayan maupun buruh nelayan. Oleh karena itu. Oleh karena itu sebanyak 47.5 persen warga Kota Karang dan 10.000 perhektar per tahun.3 persen memiliki mata pencaharian yang dikelompokkan menjadi ‘lainnya’. 2. 20. yaitu Tri Panca. melinjo dan vanili. Harga air dalam jirigen (2 liter) jika diambil sendiri adalah Rp 1.

masyarakat umumnya memiliki alternatif pekerjaan lain. Kangkung dan Batu Putuk.9 12.6 12. yaitu dekat dengan pasar induk.5 5 2. akan tetapi seringkali karena adanya keterbatasan mengakibatkan setiap keluarga jika ada kesempatan akan memberdayakan anggota keluarganya dalam mencari sumber tambahan. sehingga mata pencaharian penduduknya banyak di sektor jasa. Pada umumnya setiap kepala rumah tangga wajib mencari nafkah untuk keluarganya. terlihat bahwa 30 .6 2. Selain menjadi nelayan. dan lain sebagainya. tidak menggantungkan mata pencarian mereka hanya pada satu sektor.5 42.1 Batu Putu 10 47. 2009 (dalam %) Mata Pencaharian Panjang Selatan 20 5 7. Kota Karang dan Kangkung.5 2.2 6.5 22. Namun demikian. Demikian juga dengan Sukabumi Indah.5 12.5 14. Hal ini berbeda dengan masyarakat di Kelurahan Batu Putu dimana sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya tidak jauh dari pengelolaan sumber daya alam. supir. Kota Karang. dan rumah sakit umum pemerintah terbesar di Propinsi Lampung.6 32. wilayah Kelurahan Batu Putu memiliki tingkat kerentanan yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelurahan lainnya.9 41.3 25. B. Tabel 2-12. setiap anggota rumah tangga akan berusaha untuk memanfaatkan semua potensi yang dimiliki sesuai dengan pemahaman mereka sendiri. pegawai kelurahan. Dengan demikian. jasa dan pegawai negeri (PNS/ABRI/POLRI).3 19.5 2.33 Bila dilihat dari mata pencaharian penduduk.5 25 Pasir Gintung 20 2 10 20 48 Kota Karang 21. Mata Pencaharian Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.6 15. terminal. hampir semua warga di wilayah tersebut bekerja di luar sektor pertanian.5 Sukabumi Indah 3. Mata pencaharian yang juga banyak dilakukan masyarakat adalah pedagang dan buruh non pertanian yaitu sebesar 20 persen.6 7.Lokasi Kelurahan Pasir Gintung sangat strategis. warga pada wilayah Panjang Selatan. yaitu mata pencaharian yang tidak termuat pada pilihan yang disajikan.9 Kangkung Petani Pangan Petani Kebun Perikanan Pedagang Pengrajin PNS/ABRI/ POLRI Jasa Pertukangan Buruh Pertanian Buruh Non Pertanian Lainnya 10. berdasarkan mata pencaharian penduduk. tukang ojek. Berdasarkan Tabel 2-13.5 17. Mereka secara fleksibel akan mencari pekerjaan di ‘darat’ apabila pekerjaan di laut tidak mungkin mereka lakukan.5 12.7 2. Partisipasi Anggota Keluarga dalam Mencari Nafkah Keluarga Dalam mempertahankan hidupnya dan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga.4 33. seperti teknisi. yaitu sebagai buruh non pertanian. Mata pencaharian dengan persentase terbesar adalah masuk dalam kelompok ‘lainnya’ sebesar 48 persen. dengan demikian tugas kepala keluarga dalam mencari nafkah relatif terbantu. wilayah yang rentan terhadap bencana adalah Kelurahan Panjang Selatan.

Biasanya istri membantu suami memilihmilih ikan”. istri. 31 . anak laki-laki saja.. 6). anak laki-laki. suami. dan anak perempuan. Terdapat 31. Hal ini menggambarkan bahwa untuk memenuhi kehidupan keluarga tidak lagi mengandalkan sepenuhnya terhadap penghasilan dari pekerjaan suami. Hal ini diindikasikan dari jumlah masyarakat yang tergantung pada suami sebagai pencari nafkah tunggal dalam keluarga berjumlah kurang dari 50 persen. dimana pekerjaan istri terkait dengan pekerjaan suami..58 persen keluarga masyarakat dimana suami dan istri bekerja bersama-sama untuk menghidupi keluarganya. istri. Suami dan anak laki-laki. ketua RT 14 kelurahan Kota Karang. suami dan istri.56 persen. Dalam kelompok ini semua anggota keluarga yang terdiri dari suami. Selain melibatkan istri. Menurut bapak Aan. dan anak perempuan. dan berdasarkan data terdapat sekitar 2. anak laki-laki. 8).. terdapat sekitar 2. 12). suami saja. beberapa pekerjaan yang melibatkan perempuan ada yang bersifat musiman. Selain pekerjaan yang relatif tetap. baik di pasar maupun secara berkeliling. suami. Misalnya pada Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang. terlihat memiliki pola yang sama. diakui masyarkat telah dilakukan sejak lama.terdapat 13 model rumah tangga dalam mencari nafkah. 11) suami. maka mereka akan menjualkan ikan hasil tangkapan tetangga atau membeli ikan terlebih dulu di pasar. istri. dimana sebagian besar warga pria memiliki mata pencaharian di bidang perikanan. Kondisi yang hampir sama terjadi juga pada masyarakat dengan mata pencaharian pokok di bidang pertanian. ikan harus dipilih-pilih dulu. 2). Pola tersebut tidak terlihat pada Kelurahan Pasir Gintung dan Sukabumi Indah. suami dan anak perempuan. Umumnya ikan yang mereka jual merupakan hasil tangkapan suami. Waktu itu ikan yang terkumpul oleh nelayan jumlahnya banyak dan jenis serta ukurannya macam-macam. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa peran suami secara tunggal dalam menghidupi keluarganya hanya sekitar 46. anak lakilaki dan anak perempuan yang sudah dewasa memiliki pekerjaan. 5) suami. untuk melangsungkan kehidupan keluarga tergantung pada istri. ”. Dari data juga diperoleh informasi. 4).02 persen keluarga masyarakat yang kehidupannya tergantung pada penghasilan kerja istri. atau telah meninggal dunia. 7). 1). dan 13). kegiatan tersebut juga seringkali melibatkan anggota keluarga lainnya. sakit. Sebelum dijual di tempat pelelangan ikan atau di pasar. istri saja. istri. dan anak perempuan. Dengan demikian peran istri tampak sangat jelas dalam membantu meringankankan beban suami. 9). Peran perempuan dalam ekonomi keluarga juga terungkap dalam kegiatan FGD pada kelurahan amatan. Pada banyak kasus perempuan yang bekerja. namun sudah dirasakan sejak dahulu. Jumlah masyarakat terbanyak yang mengandalkan kehidupan keluarga dari hasil kerja istri berada pada Kelurahan Kota Karang. Kegiatan istri bekerja membantu suami. istri dan anak laki-laki. Bahkan bagi suami yang sudah tidak bisa bekerja lagi karena alasan menganggur. dan semua hasilnya diperuntukkan untuk kelangsungan hidup keluarga. namun bila hasil tangkapan suaminya sedikit. maka perempuan bekerja yang berada pada dua kelurahan tersebut banyak yang menjadi pedagang ikan. anak perempuan saja. dan anak laki-laki. yaitu jenis pekerjaan istri terkait dengan pekerjaan yang dilakukan oleh suaminya. karena kesulitan ekonomi bukan hanya dirasakan saat ini saja. 10). misalnya membantu suami di kebun atau sawah.02 persen masyarakat dimana semua anggota keluarganya memiliki mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya. anak laki-laki dan anak perempuan. 3). Dengan demikian secara keseluruhan tergambar peran istri (perempuan) dalam melangsungkan kehidupan suatu keluarga relatif besar.biasanya perempuan banyak dibutuhkan waktu musim ikan.

00 0.00 1.63 0.56 0.27 53.00 100.64 2.56 SI 39.87 2.02 I 2.76 1.00 Keterangan : S=suami.33 5.63 0.00 0.00 2.55 3. 2009 (dalam %) Pencari Nafkah Dalam Keluarga Wilayah/ Kelurahan (N) Non Pesisir Batu Putu 115 Pasir Gintung 38 Sukabumi Indah 49 Sub Total 55 Pesisir Kangkung 28 Kota Karang 132 Panjang Selatan 38 Sub Total 39 Grand Total 247 S 44.82 2.85 44.82 0.63 2.26 28.70 46.00 3.00 0.87 2. dan Ap=Anak Perempuan Dewasa 32 .87 0.00 0.76 31.71 48.56 4.00 2.89 3.00 2.00 0.56 3.00 1. Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Bekerja Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.04 0.00 100.00 2.02 Al 0.24 SIAl 5.40 Grand Total 100.00 0.26 S AlAp 0.64 2.Tabel 2-13.00 100.63 3.82 28.00 2.63 0.08 0.00 0.58 47.26 5.00 0. Al= Anak Laki Dewasa.04 0.58 S Al 2.26 0.00 1.00 0.00 100.21 25.21 SIAp 0.00 4.74 2.00 0.00 0.02 I Al 0.40 Ap 0.63 1.00 0.74 7.49 60.70 31.00 100.76 0.21 S Ap 2.56 3.87 5.00 1.00 100.57 2.00 0.95 21.00 100.63 0. I= Istri.89 10.26 1.00 0.00 0.63 3.00 0.04 0.79 3.08 3.00 4.61 5.00 0.03 2.04 0.71 38.64 2.00 100.24 Semua 2.63 0.00 0.56 3.52 1.74 59.47 24.45 0.74 7.00 0.13 8.00 0.18 35.03 2.00 0.00 0.03 2.87 0.91 5.76 0.87 2.81 AlAp 0.

maka jumlah pendapatan tersebut relatif kecil dan tidak dapat mencukupi seluruh kebutuhan keluarga.001. Sedangkan mayoritas warga di Kelurahan Kangkung memiliki pendapatan berkisar antara Rp 1. Namun apabila dibandingkan dengan banyaknya jumlah anggota keluarga per rumah tangga.C. Besaran pendapatan ini diperoleh dari penjumlahan pendapatan tetap dan pendapatan tambahan.000. Pendapatan tersebut berasal dari pendapatan tetap bulanan sebesar Rp 705. Pendapatan Secara umum pendapatan masyarakat dipengaruhi oleh mata pencahariannya. mayoritas warga di Kelurahan Sukabumi Indah memiliki tingkat pendapatan yang lebih baik. Namun. perikanan dalam hal ini nelayan menjadi salah satu mata pencaharian yang dominan. Dibandingkan dengan tingkat UMR di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Rp 627. Selain menjadi nelayan.12.9 Dari gambaran pendapatan tersebut dapat dikatakan bahwa mayoritas rumah tangga warga pada wilayah Panjang Selatan.001-1. untuk mendapatkan pendapatan tambahan. yaitu dengan rentang pendapatan diatas Rp 2.000.00 hingga Rp 2. mereka juga kadang menjadi pedagang.5 37.000 500. Informasi adanya peranan pekerjaan tambahan dalam kontribusi pendapatan masyarakat di kelurahan amatan juga tergambar dari kegiatan FGD. rata-rata Rp 15.000.5 15 10 12 48 28 12 32.8 16. Mayoritas rumah tangga warga di wilayah Panjang Selatan.228. Sedangkan penghasilan menjadi kenek bangunan sebesar Rp 30.000. Tabel 2-14.00.35/bulan. Pada kondisi biasa. 33 . Penghasilan menjadi tukang becak.1 8.000.00.000 1.7 23.2 17. Kota Karang dan Batu Putuk relatif paling rentan secara ekonomi.000. namun walaupun besar.00 hingga Rp 1.000.000.00 per hari.000. 2009 (dalam %) Klasifikasi Pendapatan (Rp) Panjang Selatan Pasir Gintung Kota Karang Batu Putuk Sukabumi Kangkung Indah 0-500.5 38. maka penghasilan yang diperoleh relatif lebih banyak. tukang becak atau kenek bangunan.000 > 2. pada kondisi sebaliknya pendapatan yang diperoleh menjadi berkurang.00 per hari.781.00-Rp 30.000.421. Secara rata-rata pendapatan rumah tangga respoden sebesar Rp. Pasir Gintung.500. maka pendapatan rata-rata rumah tangga warga pada kelurahan amatan lebih tinggi.26/bulan dan dari pendapatan tambahan lainnya sebesar Rp 534. pekerjaan menjadi kenek bangunan belum tentu diperoleh setiap hari.000.000.000. dan Batu Putuk memiliki penghasilan berkisar antara Rp 500. Ketika kondisi iklim dan cuaca mendukung.001-2. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Dengan data ini terlihat bahwa peranan pekerjaan tambahan memiliki proporsi yang relatif besar yaitu 44. Sementara itu. Pada Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang. dan Kota Karang biasanya memiliki alternatif pekerjaan lain.000.2 42.001 37. Gambar 2.000.08 %.5 45 10 16. warga di Kelurahan Panjang.75/bulan. memperlihatkan distribusi rata-rata pendapatan rumah tangga pada enam kelurahan amatan. khususnya jika terjadi perubahan kondisi sosial ekonomi yang disebabkan oleh bencana. Oleh karena itu. 1. penghasilan dari melaut dalam satu hari berkisar antara Rp 20.9 42.001.213.00.7 28. Kota Karang.2 25.1 9. Pasir Gintung.00.7 35.

Namun. rata-rata produksi kopi pertahun dapat mencapai lima kuintal sedangkan hasil panen coklat dapat mencapai empat kuintal. Namun ada kalanya mengalami paceklik atau gagal panen. hasil perkebunan di wilayah ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi alam. Tanaman hortiklutrura ini dipilih karena memiliki daur yang lebih pendek dibandingkan dengan tanaman perkebunan. yang dijual per periode.Pada Kelurahan Batu Putuk. Bila sedang berhasil. Dalam satu tahun tidak selalu tanaman perkebunan bisa menghasilkan. selain menanam tanaman perkebunan. dengan mayoritas pekerjaan sebagai petani. dengan alasan sambil menunggu tanaman perkebunan menghasilkan. selain bekerja pada lahan sendiri. Untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Pengeluaran Keadaan ekonomi suatu keluarga dapat dikatakan seimbang apabila jumlah pengeluaran sama besar dengan jumlah pendapatan yang dimiliki. Oleh karena itu.11. Gambar 2. kebutuhan hidup dapat dibantu dari hasil sayuran dan buah-buahan. gali lubang’) ke pihak lain. Distribusi Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat Berdasarkan Pendapatan Tetap dan Pendapatan Tambahan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 D. kadang warga juga bekerja pada lahan orang lain. 34 . terlihat bahwa cukup banyak keluarga yang memiliki jumlah pengeluaran dengan pemasukan yang tidak seimbang. Hal ini diperkuat dengan infomasi bahwa pada kelurahan ini masyarakatnya memiliki aset rumah tangga yang lebih banyak dibandingkan dengan kelurahan lainnya. oleh karena itu untuk dapat bertahan hidup sebagian warga melakukan peminjaman atau berhutang (‘tutup lubang. berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada kelurahan amatan. Dari sebaran data terlihat bahwa rata-rata pendapatan rumah warga di Kelurahan Sukabumi Indah relatif lebih besar dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Dengan demikian kelurahan ini bisa dikatakan relatif lebih sejahtera dibandingkan kelurahan lainnya. masyarakat juga memanfaatkan lahannya untuk tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan.

5 45 40 2. Pak Jumaidi. Ia berprofesi sebagai petani coklat. beliau juga melihat kondisi calon peminjam. bank keliling mengenakan bunga pinjaman yang cukup besar.001-2.1 Umumnya warga melakukan pinjaman uang dari tetangga. seperti yang dilakukan oleh beberapa warga di kelurahan pesisir yang akan pergi melaut.7 39. dan akan dibayar dengan hasil coklatnya. Kelebihan tersebut antara lain: prosedur pinjaman relatif lebih cepat.1 33.000 500. sekaligus sebagai pedagang pengumpul di kelurahannya.1 15 52. aset dapat 35 .000. sehingga pinjamannya dapat segera dikembalikan segera setelah coklat warga mengering. 2009 (dalam %) Pengeluaran (Rp) Panjan g Selatan Pasir Gintun g Kota Karang Batu Putu k Sukabum i Indah Kangkun g 0-500.3 38. Jika sedang kepepet tidak punya uang. Biasanya yang diberikan pinjaman adalah warga yang sudah memiliki hasil panen coklat.2 12.9 35. pembayaran dapat dilakukan dengan cara mencicil. Alasan yang dikemukakan adalah karena kondisi yang terdesak serta terdapat beberapa kelebihan dari bank keliling dibandingkan dengan lembaga perbankan.000 > 2. Kepemilikan Tempat Tinggal dan Aset Informasi mengenai kepemilikan tempat tinggal dan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah. Selain itu pinjaman kepada bank keliling (rentenir) juga sering dilakukan oleh sebagian warga.9 45. yang kemudian dijualnya ke penampung di kota. Namun warga tetap melakukan pinjaman kepada bank keliling (rentenir) dibandingkan dengan pinjaman kepada lembaga perbankan. 48 tahun. adalah warga Batu Putu.5 3. tetangga yang dapat memberikan pinjaman jumlahnya relatif terbatas.000 1.5 30 2.000. Pinjaman yang berasal dari tetangga biasanya tidak dikenai bunga. E. warga sekitar biasanya meminjam uang kepada Pak Jumaidi.3 16. Pinjaman tersebut biasanya dikembalikan setelah warga kembali dari melaut dan hasil tangkapan ikan telah terjual. namun sedang di jemur. namun karena kondisi ekonomi warga relatif hampir sama.7 5. Pak Jumaidi tidak membebankan bunga. agen atau pada bank keliling (rentenir). Berbeda dengan pinjaman kepada tetangga yang tanpa bunga. dan umumnya para bank keliling tersebut yang aktif datang menghampiri warga. 2009 Alternatif lain dari warga untuk mendapatkan dana adalah melakukan pinjaman kepada agen atau warung.5 8 28 44 20 8.Tabel 2-15. Tetangga sekitar menjual coklat kepadanya.2 38. Pengeluaran Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. yaitu mencapai 20 persen. namun dalam memberikan pinjaman.001-1. Sumber: FGD di Kelurahan Batu Putu.5 23. tidak perlu adanya agunan.000.001 12.000.

adalah masyarakat di wilayah Sukabumi Indah. menurut haji Karya.63 69.Kepemilikan bangunan dan lahan Secara umum tempat tinggal yang dihuni warga berstatus hak milik. yang ditujukan agar saat terjadi pasang laut. lokasi rumah yang ditempati warga di RT 8 sampai dengan RT 14 sebagian besar adalah hasil sewa kepada tuan tanah di Kelurahan Kota Karang. warga tidak mampu membayar biaya sewa yang murah tersebut.85 55. Demikian juga pada Kelurahan Kota Karang.82 m2. maka warga di wilayah non pesisir yang memiliki kesejahteraan relatif tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Jika ukuran rumah dianggap mencerminkan pandangan umum tentang kesejahteraan warga.65 67. Rumah dengan luas tanah dan luas bangunan seperti itu cukup untuk sebuah keluarga yang beranggotakan sebanyak 4-5 orang/keluarga.12 47. sewa atau bergabung dengan rumah saudara atau orang tua.65 Rata-rata Luas Tanah (m2) 324. dan 118.65 m2 untuk luas bangunan. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Total Grand Total Rata-rata Luas Bangunan (m2) 58. sebagian besar masyarakat bertempat tinggal di lokasi komplek perumahan. dan karena berada di 36 .-. Rata-rata luas bangunan/tanah di wilayah non pesisir adalah 69.91 Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa rata-rata kepemilikan rumah masyarakat adalah sebanyak 61.82 118. Tabel 2-16. pada beberapa lokasi terlihat cukup banyak warga yang menempati rumah dengan lahan ‘di atas laut’. yaitu haji Karya. karena tingkat ekonomi yang sulit. banyak warga yang membangun rumahnya pada lahan ‘di atas laut’ dengan alasan keterbatasan lahan di darat.33 60. Biaya sewa per tahun adalah sebesar Rp.78 m2.60 94.000. maka terlihat bahwa secara umum kesejahteraan warga di wilayah non pesisir lebih besar daripada warga di wilayah pesisir.73 61. Berdasarkan informasi dari warga. Jika dilihat lagi.44 174.36 44.23 54.02 115. Berdasarkan hasil FGD dan observasi di lapangan.78 45.91 m2 untuk luas tanah.36/174. sedangkan di wilayah pesisir rata-ratanya 54.73/68. air laut tidak masuk ke dalam rumah. Dari rumah yang berstatus hak milik maka terlihat rata-rata luas bangunan dan tanah yang dimiliki masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung seperti terlihat pada Tabel 2-16.23 92. pemukiman masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan terlihat padat dan tidak teratur.03 68. Namun adakalanya. Ketinggian pondasi rumah sengaja dibuat lebih dari satu meter. Rata-rata Luas Bangunan dan Luas Tanah Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.66 97. Hal ini disebabkan di wilayah ini. 50. Pada lokasi tertentu.

Sedangkan di wilayah pesisir jumlahnya relatif sedikit yaitu 50. Fakta ini mencerminkan bahwa baik disengaja maupun tidak disengaja masyarakat di pesisir sebagian besar sudah menyesuaikan keadaan rumahnya dengan kondisi alam sekitarnya. Jika dihubungkan dengan bencana. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Zabir. sementara itu rumah yang dindingnya terbuat dari kayu atau bambu relatif lebih kuat terhadap gempa. rumah panggung juga merupakan bentuk rumah yang dianggap paling sesuai dengan kondisi wilayah Kelurahan Kota Karang yang pada umumnya berawa. Selain menjadi identitas budaya. relatif lebih memiliki ketahanan dibandingan dengan wilayah non pesisir. maka tidak demikian halnya untuk saat ini. Cikelet (Kab Garut) Cibinong (Kab Cianjur). maka sebagian besar rumah yang hancur di wilayah beberapa wilayah seperti di Pangalengan (Kabupaten Bandung). 37 .39 persen.perkotaan tanah di lokasi ini memiliki harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan nilai tanah di wilayah lainnya.39 persen. akan tetapi dari sisi ketahanan terhadap bencana gempa. terbuat dari dinding tembok semen. Terdapat kecenderungan dari tahun ke tahun. terungkap bahwa mayoritas warga Kota Karang adalah suku Bugis. Dengan demikian pada saat ini pengelompokan keluarga sejahtera / kurang sejahtera tidak dapat hanya dengan berdasarkan kepemilikan jenis dinding rumah saja. 63 tahun. Dengan memahami konteks ini. maka wilayah pesisir. bila dahulu jenis rumah dengan dinding kayu bisa menggambarkan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Mereka mengetahui bahwa gempa relatif sering terjadi di wilayah pesisir. terlihat bahwa wilayah non pesisir dibandingkan dengan wilayah pesisir memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif tinggi dilihat dari keragaan luas bangunan dan tanahnya relatif luas dan rumahnya yang sebagian besar terbuat dari dinding. maka rumah dinding kayu/bambu relatif lebih kuat. sesepuh masyarakat di Kelurahan Kota Karang. Rumah panggung kayu. sehingga sebagian besar mereka membangunnya dengan dinding yang terbuat dari kayu/bambu. Menurut bapak Zabir. Belajar dari kasus bencana gempa di Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009. Terdapat kecenderungan. memang merupakan rumah ciri khas suku Bugis dan Lampung. biaya untuk membuat dinding tembok semen relatif lebih mahal daripada biaya untuk membuat rumah dari dinding kayu/bambu. Mahalnya harga kayu menyebabkan biaya pembuatan rumah kayu hampir setara dengan membuat rumah permanen dari tembok semen. akan tetapi dari segi ketahanan terhadap bencana gempa. Sehingga seringkali perbedaan ini dijadikan sebagai kriteria dalam menentukan tingkat kesejahteraan satu rumah tangga. semakin sejahtera orang atau semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang maka semakin besar peluang orang untuk membuat rumah yang lebih layak. Pada wilayah tersebut banyak warga memiliki rumah terbuat dari kayu berbentuk rumah panggung. Berdasarkan Tabel II-17. bahwa rumah yang layak adalah rumah yang terbuat dari dinding tembok semen. Terlihat bahwa di wilayah non pesisir jumlah rumah yang dindingnya terbuat dari tembok semen sebanyak 77. salah satu bagian rumah yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bagian dinding rumah. Walaupun secara umum.

pendapatan yang diperoleh masing-masing keluarga dialokasikan juga untuk keperluan belanja investasi keperluan sehari-hari seperti kendaraan. Tembok Semen 20.00 29. khususnya masyarakat di Sukabumi Indah semuanya sudah memiliki TV.61 Grand Total 34.00 38 . telekomunikasi dan kendaraan.52 28.39 11. bahkan terdapat beberapa rumah tangga masyarakat yang memiliki lebih dari satu TV. tapi sebagian besar masyarakat sudah memilikinya.09 77.13 42. Di wilayah non pesisir.Tabel 2-17.78 38.39 Kayu/Bambu 13.60 49.35 100.75 50. Dengan demikian keberadaan TV seharusnya dapat dijadikan sebagai sarana yang efektif untuk menyebarluaskan informasi mengenai bencana. Berikut ini disampaikan Tabel II-18.69 12. Untuk ketiga jenis benda tersebut.87 22. HP dan kompor gas. terutama dalam rangka penanggulangan bencana. Keberadaan TV di non pesisir lebih banyak daripada di pesisir. peralatan elektronik dan lain sebagainya. dapat dikatakan bahwa hampir semua masyarakat di Lampung memilikinya. Berdasarkan tabel tersebut.26 26.83 15.81 22.91 7. yang berisikan mengenai kepemilikan aset keluarga berupa aset rumah tangga.87 30. Jenis Dinding Rumah Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Wilayah / Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Kepemilikan Aset Selain untuk rumah. walaupun tidak semua memiliki TV. Sedangkan di wilayah lainnya.43 26.32 19. terlihat secara umum peralatan keluarga yang banyak dimiliki oleh masyarakat adalah TV.61 17.83 0.96 100.

Tabel 2-18. Indeks Kepemilikan Aset Rumah Tangga Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Lampung Tahun 2009 (dalam %)
Wilayah/ Kelurahan Total Res (N) Peralatan Rumah Tangga TV Mesin Cuci Kul kas Kompor Gas AC Kipas Angin Pom pa Air 0 7 14 21 5 33 9 47 68 Komunikas i Tele HP pon Kendaraan Sepeda Motor Mobil

Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total

40 50 31 121 39 56 40 135 256

33 46 40 119 26 52 33 111 230

0 1 12 13 1 1 0 2 15

1 10 23 34 0 8 3 11 45

21 56 34 111 41 57 40 138 249

0 0 6 6 0 0 0 0 6

5 23 33 61 12 32 20 64 125

2 3 7 12 0 1 1 2 14

20 44 71 135 22 36 12 70 205

3 13 17 33 8 20 20 48 81

27 21 35 83 6 19 2 27 110

1 0 12 13 0 1 0 1 14

Diantara alat komunikasi, kepemilikan telepon ternyata jauh lebih rendah dibandingkan dengan kepemilikan handphone. Dengan dukungan infrastruktur dan banyaknya persaingan di industri telekomunikasi seluler, mengakibatkan handphone merupakan alat komunikasi yang relatif mudah dan murah bagi masyarakat. Walaupun tidak semua masyarakat memilikinya, dapat dikatakan lebih dari 80 persen masyarakat di tiap wilayah telah memiliki alat komunikasi handphone. Bahkan secara khusus di wilayah Sukabumi Indah, rata-rata tiap rumah tangga memiliki HP lebih dari 2. Melalui Hp ini komunikasi antar masyarakat menjadi lebih mudah. Jika terdapat bencana di suatu wilayah, masyarakat di wilayah lainnya relatif dengan mudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan keluargannya yang terkena bencana. Peralatan lainnya yang dimiliki masyarakat adalah kompor gas. Dengan adanya program kompensasi minyak tanah ke gas, kompor gas menjadi peralatan yang penting dimiliki oleh warga. Akan tetapi bagi mereka yang tidak mengandalkan bahan bakarnya pada gas dan minyak tanah, maka peralatan masaknya terbuat dari tungku dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Hal ini terjadi di Kelurahan Batu Putu. Jenis kendaraan yang paling banyak adalah motor, penggunaan motor lebih banyak di non pesisir dibandingkan dengan pesisir, hal ini disebabkan motor merupakan sarana transportasi antar daerah yang realtif murah. Terlebih bagi daerah yang tidak setiap saat dilalui oleh kendaraan umum. F. Akses Pada Lembaga Pembiayaan Pada dasarnya masyarakat kurang mampu atau golongan ekonomi lemah, lebih memerlukan perlindungan keuangan maupun asetnya, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang dari setiap musibah yang terjadi. Namun, karena keterbatasan kemampuan ekonomi; mereka kesulitan mendapatkan akses ke lembaga keuangan seperti perbankan maupun asuransi. Akses masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung terhadap lembaga perbankan relatif besar, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2-19, secara umum akses terhadap perbankan lebih besar daripada asuransi.
39

Tabel 2-19. Akses Masyarakat Terhadap Perbankan dan Asuransi Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009 (dalam %)
Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Non Pesisir Pesisir Grand Total Akses Terhadap Perbankan 12,50 60,00 48,39 71,79 51,79 82,50 41,32 66,67 54,69 Akses Terhadap Asuransi 2,50 20,00 25,81 25,64 8,93 32,50 15,70 20,74 18,36

Terdapat hubungan antara akses terhadap perbankan dengan akses terhadap asuransi. Walaupun persentase akses terhadap asuransi relatif kecil, akan tetapi nilai tersebut relatif besar terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki akses tinggi terhadap perbankan. Makin tinggi akses terhadap perbankan, makin tinggi juga akses terhadap asuransi. Tabel 2-20.memperlihatkan besaran rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk cicilan, tabungan dan asuransi. Tabel 2-20. Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Cicilan, Tabungan dan Asuransi ada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009 (Rupiah/bulan)
Jumlah Res (N) 121 40 50 31 135 39 56 40 256 Rata-Rata Pengeluaran Rumah Tangga Perbulan Untuk Cicilan, Tabungan dan Asuransi Cicilan Kredit %N Tabungan %N Asuransi %N 428.128,97 156.800,00 350.611,11 721.601,19 287.191,49 366.687,50 263.125,00 188.000,00 353.701,31 34,71% 25,00% 36,00% 45,16% 34,81% 41,03% 42,86% 17,50% 34,77% 250.625,00 32.666,67 372.750,00 186.000,00 176.190,48 150.000,00 194.166,67 156.666,67 208.378,38 13,22% 7,50% 16,00% 16,13% 15,56% 15,38% 21,43% 7,50% 14,45% 217.000,00 4,13%

Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Grand Total

200.000,00 221.250,00 136.500,00

2,00% 12,90% 4,44%

245.000,00 82.250,00 173.090,91

3,57% 10,00% 4,30%

Mekanisme pembayaran kredit dan tabungan biasanya menggunakan lembaga perbankan. Jumlah yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk cicilan sebesar Rp 353.701,33/bulan, sedangkan untuk tabungan rata-rata sebesar Rp 208.378,38/bulan, dan untuk asuransi sebesar Rp 173.090,91/bulan.

40

BAB 3 KONDISI IKLIM HISTORIS DI BANDAR LAMPUNG

3.1.

Kondisi Iklim dan Cuaca Ekstrim

3.1.1. Pengaruh ENSO dan IOD terhadap variabilitas curah hujan di Bandar Lampung Tabel 3-1. Koefisien korelasi antara curah hujan musiman di Bandar Lampung dengan DMI dan dengan anomali SST Nino 3.4

Karena kejadian iklim ekstrim di Indonesia sangat terkait dengan fenomena iklim berskala besar seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) (misalnya Boer & Faqih 2004; Faqih 2004; Haylock & McBride 2001; Hendon 2003 ; Kirono et al. 1999; Saji et al. 1999), studi ini menganalisis dampaknya terhadap variabilitas curah hujan di Bandar Lampung. Hubungan dari kedua fenomena tersebut dengan curah hujan musiman diperlihatkan pada Tabel 31. Tabel tersebut menunjukkan bahwa korelasi indeks ENSO (anomali suhu permukaan laut (SPL) Nino-3.4) dan indeks IOD (Dipole Mode Index, DMI) masingmasing dengan curah hujan nampak signifikan selama musim kemarau (JJA) dan musim transisi (SON). Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya musim kering yang berkepanjangan dan penundaan awal musim hujan khususnya selama terjadinya episode ENSO hangat (El Nino). Dampak ini akan semakin diperkuat jika disertai dengan kejadian IOD positif. Studi ini menunjukkan bahwa curah hujan di kedua musim (JJA dan SON) lebih dipengaruhi oleh keragaman IOD dibandingkan ENSO. Ini ditunjukkan dari nilai koefisien korelasi yang lebih besar antara curah hujan dengan DMI dibandingkan dengan indeks Nino-3.4. Pengaruh IOD yang lebih kuat terhadap keragaman curah hujan di Lampung dikarenakan letak geografisnya yang berada di Pulau Sumatra. Beberapa studi telah menunjukkan relatif lebih lemahnya pengaruh ENSO terhadap curah hujan di Sumatera. Penyebabnya ialah dominasi pengaruh lokal akibat kondisi pegunungan di sepanjang sisi barat Sumatra, dan juga adanya sirkulasi aliran udara lintas khatulistiwa yang mempengaruhi keragaman curah hujan, yang berbeda dari sirkulasi yang terkait dengan ENSO (Chang et al . 2004). Selain itu, beberapa studi menemukan adanya pengaruh kuat IOD terhadap keragaman curah hujan di barat Indonesia termasuk Sumatera (misal: Saji et al. 1999). Walaupun korelasi antara curah hujan dan indeks ENSO lebih rendah dari IOD, untuk kondisi tertentu dampak ENSO akan cukup signifikan di Lampung. Sebagai contoh dapat dilihat pada tahun 1996, di mana peristiwa La Nina menyebabkan peningkatan curah hujan yang sangat signifikan, sehingga meningkatkan peluang terjadinya bencana banjir. Di sisi lain, El Nino yang terjadi pada periode tahun 1982-83, 91-92 dan 97-98 berkontribusi terhadap penurunan curah hujan yang menyebabkan tingginya peluang bencana kekeringan.
41

3. Angin ekstrim Selain dampak keragaman iklim yang menyebabkan kejadian iklim ekstrim. Plot time series curah musiman di Bandar Lampung. karena kejadian angin yang tercatat di suatu stasiun cenderung bersifat lokal dan mungkin berbeda secara sangat signifikan dengan stasiun pengamatan yang lain. Gambar 3-2.31 Desember 1999). kami hanya dapat menampilkan hasil pengamatan cuaca harian di satu stasiun.2000 Sesaonal Rainfall (mm) Lampung 1600 1200 800 400 0 Mar-01 Mar-07 Mar-13 Mar-19 Mar-25 Mar-31 Mar-37 Mar-43 Mar-49 Mar-55 Mar-61 Mar-67 Mar-73 Mar-79 Mar-85 Mar-91 Mar-97 Seasonal Time Gambar 3-1. Karena keterbatasan data.2. ini tidak cukup untuk menggambarkan kondisi secara keseluruhan wilayah Bandar Lampung. yaitu di Teluk Betung. 42 . Tentu saja.1. kondisi cuaca ekstrim juga dapat menyebabkan masalah di daerah yang terkena dampak. Pada bagian ini kami mencoba mengidentifikasi kondisi cuaca ekstrim yang disebabkan oleh kecepatan angin ekstrim di Bandar Lampung. Lampung (periode 1 Januari 1994 . kami tidak menemukan adanya kejadian angin ekstrim yang melebihi ambang batas 60 km/jam. Berdasarkan catatan data harian kecepatan angin di stasiun periode 1 Januari 1994 sampai 31 Desember 1999. Kecepatan angin harian di stasiun pengamatan Teluk Betung.

51°BT dan 7. Penggunaan dua jenis data ini dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa pemilihan rentang data yang berbeda akan mempengaruhi hasil tren dan hasil uji statistik yang kemungkinan besar juga akan berbeda. Analisis tren perubahan iklim di kota Bandar Lampung Tren curah hujan Hasil studi menunjukkan bahwa secara global curah hujan di wilayah tropis mengalami tren penurunan khususnya pasca tahun 1970-an (IPCC 2007). Pada bagian ini kami mempelajari tren spasial curah hujan di Bandar Lampung sebagaimana ditunjukkan pada Gambar III-3. Pola spasial tren curah hujan musiman di Bandar Lampung. Pola tren spasial curah hujan musiman berdasarkan data hasil pengamatan diperlihatkan pada Gambar 3-3.5 derajat yang meliputi wilayah daratan global selama periode 1901-2002. Untuk analisa data curah hujan di Bandar Lampung. digunakan pula data curah hujan global CRU TS2.2. apalagi jika ingin dikaitkan dengan dampak perubahan iklim.1. dengan menggunakan data yang relatif jauh lebih panjang akan membantu untuk melihat sejauh mana konsistensi tren yang dihasilkan antar data. Gambar tersebut menunjukkan bahwa curah hujan 43 . Gambar 3-3. terutama dalam tataran lokal.12°LS-6. 3.2.5x0. Meskipun demikian. Data CRU TS2. Selain menggunaan data hasil pengamatan.25°BT-110. Oleh karena itu. nilai curah hujan Bandar Lampung diekstrak dari data tersebut pada kisaran wilayah 110.0 (Mithcell dan Jones 2005) untuk mempelajari tren dengan rentang waktu yang lebih panjang.3.95°LS (Gambar 3-4). tren tersebut bervariasi antar wilayah.0 memiliki resolusi grid 0.

1999) atau Pacific inter-Decadal Oscillation (PDO. Hal ini menunjukkan telah terjadinya banyak hari hujan namun dengan intensitas yang relatif semakin menurun. terdapat kecenderungan perlahan kondisi yang semakin kering yang di musim kemarau yang sedikit mempengaruhi juga penurunan curah hujan di musim berikutnya (SON). 1997). Mantua & Hare 2002. tren curah hujan selama JJA dan SON menunjukkan tren menurun yang relatif lambat selama abad 20. terindikasi bahwa penurunan curah hujan yang terjadi pada SON tidak didukung oleh penurunan frekuensi hari hujan pada musim yang sama. Studi ini menunjukkan bahwa tren yang diperoleh dengan menggunakan data CRU TS2. Tren penurunan pada akhir abad ke-20 (pasca 1970-an) yang cukup signifikan terjadi pada musim kering (MAM dan JJA) tersebut menandakan terjadinya kenaikan peluang kekeringan di Bandar Lampung pada masa tersebut.musiman di kota ini mengalami kecenderungan menurun di semua musim. Fenomena ini jugaberhubungan dengan meningkatkan frekuensi kejadian ENSO yang mengakibatkan berkurangnya curah hujan di Indonesia. Tren penurunan yang relatif lebih tajam ditunjukkan pada musim MAM dan JJA. Sedangkan ketika terjadi musim kemarau. Kemungkinan besar komponen keragaman curah hujan frekuensi rendah tersebut disebabkan oleh pengendali iklim antar-dekadal yang dikenal dengan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO. Mantua et al. termasuk di Bandar Lampung. sementara di musim lainnya (SON dan DJF) cenderung menurun lebih lambat. Folland et al. terlihat adanya peningkatan tren curah hujan yang cukup tajam selama puncak musim hujan (DJF) dan tren peningkatan yang relative lebih lambat selama periode transisi ke musim kemarau (MAM). Sebaliknya. akan tetapi lebih disebabkan adanya pengaruh osilasi keragaman iklim frekuensi rendah terutama yang terjadi di wilayah Samudera Pasifik.0 yang meiliki rentang data relative lebih panjang. Akan tetapi. Namun harus diperhatikan bahwa. Pada Gambar 3-4. Keragaman curah hujan frekuensi rendah yang berperan dalam menentukan tren menurun pada data pengamatan tersebut setelah periode tahun 1970-an dapat dilihat dari plot data pada Gambar III-6. lebih dapat diandalkan untuk menganalisa dampak dari perubahan iklim jangka panjang. jika mengacu pada Gambar III-5. 44 . Hasil ini mengindikasikan bahwa ada kecenderungan terjadinya peningkatan curah hujan dari waktu ke waktu selama musim penghujan (DJF) yang berlanjut di periode transisi MAM. tren CH yang menurun selama periode yang relatif singkat ini kemungkinan besar bukan disebabkan sebagai akibat dari perubahan iklim.

51S5.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.15E-105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.34E. Gambar 3-5. 45 .Gambar 3-4. 5.0.51S5. Tren curah hujan musiman di kota Bandar Lampung (105.15E-105. 5. Tren frekuensi hari hujan musiman di Bandar Lampung (105.34E.0.

2 Tren Suhu Data suhu rata-rata yang diperoleh dari data CRU TS2. baik itu terkait dengan sektor pertanian.Gambar 3-6. hal ini juga menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan suhu harian yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. khususnya di kota Bandar Lampung. 3.0 untuk Bandar Lampung memperlihatkan tren menaik yang signifikan di setiap musim (Gambar 37). Tentunya hal ini akan sangat berpengaruh pada berbagai sektor. Namun demikian. pada Gambar 3-9 terlihat adanya penurunan yang signifikan pada data kisaran suhu harian. Selain itu.2. yang berarti bahwa telah terjadi peningkatan suhu minimum dengan tren menaik yang lebih besar dibandingkan dengan ten suhu maksimu harian. kesehatan maupun sektor lainnya. Tren tersebut juga diikuti oleh peningkatan suhu maksimum harian (Gambar 3-8). Hal ini mengindikasikan terjadinya penurunan nilai selisih antara suhu maksimum dan suhu minimum harian. Komponen frekuensi rendah dari curah hujan musiman di Bandar Lampung didefinisikan oleh nilai 13-tahun rataan bergerak sederhana (simple moving average). 46 .

15E-105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.34E. 5.15E-105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. Trend musiman suhu maksimum harian di Bandar Lampung (105. Gambar 3-8.51S-5.51S-5.34E.0. Trend musiman suhu rata-rata di Bandar Lampung (105.Gambar 3-7. 47 .0. 5.

Gambar 3-9. DTR) di Bandar Lampung (105. t. Model RegCM3 digunakan untuk menghasilkan data historis curah hujan beresolusi tinggi untuk periode tahun 1958-2001.0. b) Dimana R(i. t . Data RegCM3 yang di-rescaling untuk grid-i. b) m Re gCM 3(i. t. b) merupakan faktor skala yang dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini : R(i . ( x) miub_echo_g. b) * R(i. 3. (xiii) ukmo_hadcm3. dengan variabel iklim yang tersedia yaitu curah hujan dan suhu dengan periode 2021 -2030. t . (xii) mri_cgcm2_3_2a. b) merupakan 48 . b) CRU(i. (iv) gfdl_cm2_0. 2009) dan memiliki resolusi horizontal sebesar 1x1 derajat. dan (xiv) ukmo_hadgem1. t. Karena adanya kesalahan sistematis yang dihasilkan oleh model tersebut. 5.51S-5. yang terdiri dari: (i) bccr_bcm2_0. (xi) mpi_echam5.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. 2051-2060. t . (viii) ipsl_cm4. Tren musiman kisaran suhu harian (daily temperature range. Proyeksi Perubahan Iklim Proyeksi iklim masa depan ditentukan berdasarkan data historis hasil pemodelan menggunakan RegCM3 dan juga data proyeksi luaran 14 GCMs. b) = CRU (i. t . (vii) inmcm3_0. (vi) giss_model_e_r. (iii) cnrm_cm3. b) adalah data observasi stasiun-i yang terdekat dengan empat grid dari data RegCM3 pada tahun-t dan bulan-b. (ii) cccma_cgcm3_1. Masutomi.3. t . (v) gfdl_cm2_1. b)) dinyatakan berdasarkan persamaan berikut : r Re gCM 3(i. sedangkan mRegCM3(i. b) = Re gCM 3(i. t . (ix) miroc3_2_medres. dan 2081-2085. tahun-t dan bulan-b (rRegCM3 (i. maka diperlukan koreksi data berdasarkan faktor rescaling sehingga sesuai dengan data obserasi (data CRU).34E. Data luaran GCM tersebut diperoleh dari NIES (National Institute for Environmental Studies. t.15E-105.

model-m. i . Tabel 3. dengan pengurangan intensitas material. i. dan bulan-b dinyatakan dengan B(s. m. model-m. b )   pF(s. perubahan yang cepat dalam struktur ekonomi ke arah layanan dan informasi ekonomi. i. b)}t =1958 Sehingga kondisi iklim di masa depan berdasarkan luaran GCM yang berbeda dapat diduga dengan menggunakan rumus berikut:  F ( s. Dengan karakteristik ini. m. i. i. m. b) = mean{r Re gCM 3(t . tidak akan berubah secara signifikan (Tabel 3. m. Karena terdapat 14 GCMS dan setiap GCM memiliki dua set iklim di masa mendatang (t1 = 2021-2030 dan t2 = 2051-2060). Skenario emisi yang dipilih untuk studi ini adalah SRESA2 dan SRESB1. Demikian pula untuk gas lainnya (CH4 dan N2O. b) adalah iklim di masa mendatang dari luaran GCM di bawah skenario-s. b) = r Re gCM 3(i. m. t . b)   pF ( s. SRESA2 akan menyebabkan emisi gas rumah kaca lebih tinggi di masa depan sementara SRESB1 mengarah ke emisi GHG lebih rendah di masa depan. sementara SRESA2 sebagai skenario acuan. m. dan pengenalan teknologi bersih dan sumber daya yang efisien (IPCC. Fertilitas pola di daerah konvergen sangat lambat. Konsentrasi SO2.nilai rataan curah hujan dari empat grid RegCM3 tersebut. Oleh karena itu. Jadi SRESB1 didefinisikan sebagai skenario kebijakan. 49 . 2000). b) pada periode 1958-2001: 2001 r Re gCM 3(i. i.5 kali kondisi saat ini. model-m. sementara di bawah skenario kebijakan emisi hanya 1.b) merupakan curah hujan proyeksi dengan skenario emisi-s. b)) dihitung dari nilai rataan rRegCM3(I. grid-i. SRESA2 menggambarkan sebuah dunia yang sangat heterogen.3). Data kondisi iklim saat ini (baseline) di grid-i untuk bulan-n (rRegCM3 (i. Kondisi iklim saat ini (baseline) dari luaran GCM pada skenario-s. t . konsentrasi CO2 di atmosfer pada skenario emisi referensi akan lebih dari dua kali lipat. Kedua skenario ini dipilih karena keduanya mencerminkan pemahaman dan pengetahuan tentang ketidakpastian yang mendasari dalam emisi. SRESB1 menggambarkan sebuah dunia yang konvergen dengan populasi global yang sama pada puncak pertengahan abad dan menurun setelah itu. maka secara keseluruhan terdapat 140 data curah hujan untuk setiap periode waktu. grid-i. dalam 100 tahun ke depan. yang menyebabkan terus meningkatnya populasi global.2). yang merupakan alat hitung efek gas rumah kaca. t. b) − B( s. t. Pembangunan ekonomi terutama berorientasi regional dan pertumbuhan ekonomi per kapita dan perubahan teknologi lebih terfragmentasi dan lambat. i. F(s. t. tahun-t dan bulan-b. Tema yang mendasari adalah kemandirian dan mempertahankan identitas lokal. b). Berdasarkan dua skenario dijelaskan di atas. grid i. i. ditentukan peluang curah hujan untuk masa mendatang berdasarkan pola distribusi untuk masing-masing periode tersebut. m. tahun-t dan bulan-b. b) *  1 +  B ( s .

2 0.0-42 25-112 48 18-85 Dalam studi ini dilakukan pendugaan peluang risiko iklim kota Bandar Lampung terkait dengan curah hujan ekstrim pada kondisi iklim saat ini dan masa depan.9 10 0. Curah hujan ekstrim didefinisikan sebagai curah hujan dengan intensitas 50 .2-2.6 21 2.3: Suhu (oC) dan Sea Level Rise (cm).0-20 10 4.10-0.25 2 0.0-4. Konsentrasi Gas (ppmv) 2000 370 2025 440 2050 535 2100 825 CO2: SRESA2: nilai dugaan terbaik : kisaran SRESB1:nilai dugaan terbaik :kisaran CH4: SRESA2: nilai dugaan terbaik :kisaran SRESB1: nilai dugaan terbaik :kisaran N2O: SRESA2: nilai dugaan terbaik SRESB1: nilai dugaan terbaik 370 370 370 1600 430-450 420 410-430 2250 515-555 460 450-470 2850 760-890 550 510-590 4300 1600 1600 1600 316 2200-2300 2050 2000-2100 344 2700-3000 2250 2150-2350 375 3800-4800 2200 2100-2300 452 316 340 360 395 Pada kondisi peningkatan gas rumah kaca.8-1. Catatan sejarah menunjukkan bahwa selama 100 tahun terakhir permukaan laut global telah meningkat antara 0.9 Temperature: SRESA2: Nilai dugaan terbaik : Kisaran SRESB1: Nilai dugaan terbaik : Kisaran Sea Level: SRESA2: Nilai dugaan terbaik : Kisaran SRESB1: Nilai dugaan terbaik : Kisaran 0.5-0. sedangkan permukaan laut meningkat sekitar 0. Tabel 3.0 2 0-4.2.4).1 1.6 1.7-1.7 0.1 0.15-0.9 1.0 4.6 cm per tahun (Tabel 2.15-0. mengacu pada tahun 1990 2000 0.2 2025 0.027 0C per tahun.25 0..2 2100 2.5 2050 1.7 60 0-4.25 cm per tahun (Warrick et al. diperkirakan bahwa suhu global akan meningkat secara konsisten sekitar 0.7 0. 1996).0-22 9.0-41 21 9.3-0.Tabel 3.

Untuk musim penghujan (DJF). curah hujan ekstrim dibandingkan dengan data bahaya iklim (banjir dan kekeringan).melebihi ambang batas kritis. peluang terjadinya kekeringan yang ditandai dengan nilai curah hujan kurang dari Q3 menunjukkan adanya penurunan terutama di daerah bagian dalam dari Bandar Lampung yang relatif lebih jauh dari wilayah pesisir.10 menunjukkan bahwa di masa mendatang akan terjadi peningkatan peluang terjadinya curah hujan terlampaui melebihi Q3 pada musim basah (DJF). Sedangkan untuk musim kering (JJA). Analisis lebih lanjut berdasarkan metodologi yang lebih disempurnakan mungkin diperlukan untuk menduga kondisi perubahan iklim masa depan di wilayah kota Bandar Lampung. Hal ini bisa didukung dengan pemanfaatan teknik-teknik downscaling (statistik maupun dinamik) dengan predictive skill yang jauh lebih baik khusus untuk wilayah ini. Sedangkan pada musim kemarau. sedikit penurunan peluang resiko kekeringan di masa mendatang juga nampak terjadi di wilayah pesisir. khususnya di daerah pesisir pantai di Bandar Lampung. Namun demikian. 51 . Gambar 3. bahaya banjir akan sangat mungkin terjadi jika intensitas curah hujannya melebihi ambang batas kritis. Metodologi untuk menentukan batas kritis dijelaskan dalam Bab 6. Dalam penentuannya. kondisi intensitas hujan yang kurang dari ambang batas kritis akan sangat mungkin menyebabkan kekeringan.

44 0.00 105.25 105.50 -5.34 -5.50 -5.60 -5.10 -5.48 0.44 0.15 105.90 0.46 0.00 0.60 -5.25 105.46 0.25 105.52 0.70 -5.32 B1 2050 JJA-Q3 1.30 -5.00 -5.00 -5.10 -5.3 105.42 0.15 105.20 -5.60 0.80 -5.80 -5.46 0.35 0.42 0.32 1.70 -5.40 -5.3 105.20 -5.35 105.34 DJF-Q3 1.3 105.25 105.2 105.00 105.44 0.44 0.80 -5.40 -5.35 Base Line -5.34 1.46 0.46 0.44 0.00 0.25 105.2 105.42 0.32 1.5 0.34 JJA-Q3 0.2 105.42 0.10 -5.50 -5.48 0.5 0.34 JJA-Q3 1.5 0.15 105.10 -5.70 -5.35 0.42 0.00 105.70 -5.52 0.10 -5.36 0.5 0.00 105.2 105.15 105.5 0.2 105.35 0.48 0.46 0.00 105.15 105.35 0.44 0.3 105.44 0.34 -5.15 105.00 -5.10 -5.35 0.50 -5.30 -5.5 -5.30 -5.00 -5.48 0.36 -5.38 0.5 0.36 -5.00 -5.30 -5.5 0.32 A2 2025 -5.44 0.-5.36 0.32 B1 2025 -5.4 0.80 -5.36 0.32 A2 2025 -5.70 -5.80 -5.70 -5.00 105.2 105.70 -5.90 -5.5 0.70 -5.5 0.25 105.42 0.10 -5.4 0.44 0.46 0.30 -5.50 -5.38 0.38 0.42 0.60 -5.32 -5.60 -5.25 105.40 -5.34 1.3 105.80 -5.80 0.3 105.20 -5.2 105.60 -5.42 0.35 0.60 -5.70 -5.80 -5.40 -5.46 0.36 1.48 0.4 -5.90 -5.10 -5.48 0.36 0.00 -5.15 105.3 105.4 0.48 0.44 -5.52 0.20 -5.3 105.48 0.3 105.60 -5.46 0.50 0.3 105.4 0.36 0.15 105.90 -5.50 -5.4 0.4 0.25 105.36 0.90 0.52 0.10 -5.00 -5.34 JJA-Q3 0.32 DJF-Q3 -5.4 0.48 -5.46 0.32 -5.30 -5.00 105.52 -5.90 -5.52 0.32 A2 2050 -5.80 -5.48 0.60 -5.38 0.52 0.34 -5.25 105.4 0.40 -5.90 -5.30 -5.4 0.34 DJF-Q3 -5.46 0.20 -5.30 -5.34 JJA-Q3 1.20 0.20 -5.2 105.20 -5.25 105.00 105.42 0.35 Base Line -5.2 105.48 -5.30 -5.70 -5.90 0.38 0.00 -5.52 0.44 0.15 0.60 -5.70 0.2 105.5 0.25 105.36 0.5 0.46 0.3 105.44 -5.30 -5.50 -5.90 -5.35 Base Line B1 2025 B1 2050 Figure 3-10 Peluang Curah Hujan Lebih dari Q3 pada Musim Hujan (DJF) dan kurang dari Q3 pada Musim Kemarau (JJA) dengan Dua Skenario Emisi 52 .42 0.30 0.10 -5.80 -5.50 -5.00 -5.40 -5.36 0.20 -5.00 105.70 -5.32 A2 2050 JJA-Q3 1.10 0.52 0.40 -5.50 -5.90 -5.35 105.50 -5.30 0.20 -5.4 0.20 -5.38 0.40 -5.2 105.32 -5.40 -5.40 -5.00 105.34 DJF-Q3 0.10 -5.48 0.4 0.38 -5.38 0.52 0.40 -5.15 105.36 1.38 DJF-Q3 1.35 0.15 105.25 105.00 -5.38 DJF-Q3 0.40 -5.2 105.90 -5.42 0.60 -5.52 0.42 -5.52 0.38 0.80 -5.15 Base Line -5.38 0.00 105.90 0.80 -5.50 0.20 -5.00 105.3 105.60 -5.

erosi dan longsor. yang dapat dikategorikan sebagai dampak terkait kejadian iklim ekstrim adalah banjir. kebakaran hutan dan lahan. Kota Bandar Lampung sebagai salah satu kota yang berada diantara pesisir Teluk Lampung dan Kaki Gunung Betung merupakan salah satu kawasan yang rawan terjadi bencana di Provinsi Lampung. gerkan tanah.3 % dan minimum 72. rawan tsunami. yang dapat dikategorikan sebagai kejadian iklim ekstrem. dengan periodisitas antara 3-6 tahun. Jenis kerawanan yang telah diidentifikasi oleh Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung (2009) adalah rawan banjir. Secara musiman. arus balik pasang pada saat debit aliran besar. Dari berbagai bencana tersebut. rawan gempa bumi. sebagai misal. angina topan. kepadatan bangunan dan permukiman.1. letusan gunung berapi. Banjir tersebut disebabkan oleh banjir akibat sungai.8 mm pada bulan Januari.57oC. 2009). penyempitan dan pendangkalan saluran serta kapasitas drainase saluran yang rendah.34 km/ jam dan rata evaporasi 3. Tabulasi lokasi kejadian/rawan bencana yang telah dilaporkan secara rinci diperlihatkan pada Tabel 4-1. 2009). Kawasan rawan bencana di Kota Bandar Lampung dipengaruhi oleh struktur bebatuan.BAB 4 DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM 4. curah hujan yang tinggi pada musim hujan dapat menimbulkan bencana banjir. tanah longsor. telah diidentifikasi 42 lokasi banjir di Kota Bandar Lampung. keberagamanan etnis. erosi dan sedimentasi. 53 . tsunami. wabah penyakit dan KLB. 2008” (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung. Curah hujan bervariasi dari 67. banjir bandang. Variabilas unsur iklim dapat terjadi terkait dengan fenomena ENSO/El Nino/La Nina. suhu minimum 25. Curah hujan yang tinggi ( > 100 mm/ bulan ) terjadi selama tujuh bulan mulai bulan November s/ d bulan Mei dan musim kemarau (CH < 100 mm/ bulan ) terjadi selama lima bulan mulai bulan Juni s/d bulan Oktober (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung. rawan gelombang pasang. tanah. dengan jumlah curah hujan 2.2 mm pada bulan September s/d 277.34 oC. dan periode kering yang panjang pada musim kemarau dapat menimbulkan bencana kekeringan Dalam Laporan “Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung T. serta bencana lainnya seperti abrasi. Suhu udara maksimum rata – rata 30. epidemik. kecepatan angin rata – rata adalah 2. dan angin topan.Dampak Biofisik Kota Bandar Lampung termasuk beriklim tropis basah yang mendapat pengaruh dari angin musim (Monsoon Asia) . kerusuhan sosial). dan banjir lokal yang terkait dengan berbagai hal antara karena topografi rendah.A. gempa bumi. kekeringan. dan kekeringan) serta (2) bencana yang diakibatkan ulah manusia/man-made disaster (seperti kegagalan teknologi. kondisi bentang alam. 2009) telah dikaji tentang potensi bencana yang ada di Kota Bandar Lampung.257 – 2. kondisi hidrologi. dan lainnya (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung.3 %.95 mm/ hari. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan tersebut. letak geografis. dan rawan kekeringan. Bencana tersebut dibedakan menjadi kelompok utama yaitu: (1) bencana alam/natural disaster (seperti banjir. banjir pantai. kelembaban relat if maksimum rata – rata 89.454 mm/tahun dan hari hujan 76-166 hari/tahun.

Sukamaju. dan sisanya dari air hujan (1% warga). kemudian air tanah atau sumur (38% warga). Gulak Galik. Pidada. Sukajawa. Pasir Gintung. Srengsem Kemiling Kemiling Permai. kesehatan dan pertanian. Pesawahan. Pecoh Jaya. sektor yang paling terkena dampak ialah sektor air minum. Durianpayung Tanjungkarang Timur Campang Raya. pemukiman. Panjang Utara. Batu Putu Telukbetung Selatan Bumiwaras. Panjang Selatan. Tanjung Karang.Tabel 4-1. Kelapa Tiga. dan pekerjaan umum (rusaknya sarana drainase dan infrastuktur lainnya). khususnya ada waktu terjadi banjir (34% warga) dan kemarau (22% warga). Way Laga. Keteguhan. Sumur Putri. Rajabasa Labuhan Dalam. Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung No Bencana 1 Banjir Kecamatan Rajabasa Tanjung Senang Kelurahan Rajabasa Raya. Perwata. Sementara untuk kejadian bencana kekeringan. air permukaan/air sungai (8% warga). Sumber air minum umumnya berasal dari PDAM (53% warga). dan kemudian diikuti oleh sektor air minum. Bakung. perikanan. Kedamaian Tanjungkarang Barat Segalamider. Kota Karang. Baru Panjang Serengsem Telukbetung Selatan Telukbetung Barat Sukamaju Tanjung Senang Way Kandis Telukbetung Selatan Kedaton Panjang Pidada Sumber: Dokumen Rencana Strategis dan Rencana Aksi Daerah Mitigasi Bencana_ Kota Bandar Lampung tahun 2009-2013 2 Abrasi 3 Angin Kencang Tanah Longsor 4 Menurut hasil survai terhadap dampak pada sektor. Jumlah penyakit dirasakan meningkat pada waktu bencana. Gunung Mas. Way Kandis. Kangkung. 54 . Kesulitan air minum meningkat baik pada terjadi musim kemarau panjang (43% warga) maupun banjir (19% warga). Kupang Raya. Susunanbaru. Penengahan. Gotong Royong. Tanjung Senang. N. kejadian bencana banjir memberikan dampak yang paling besar pada sektor kesehatan. Way Gubak. Palapa. Perumnas Way Kandis Telukbetung Utara Kupang Teba. Beringin Raya Tanjungkarang Pusat Kaliawi. Olok Gading Panjang Karang Maritim. Sukaraja Telukbetung Barat Kuripan. Sukadanaham Kedaton Perum Way Halim Sukarame Sukarame Sukabumi T.

bahkan pada 55 . jika tidak berhati-hati ketika berjalan. Pemenuhan air bersih tidak mengalami hambatan. Dampak secara umum adalah sebagai berikut: Wilayah Pesisir Pada wilayah pesisir. warga mengaku tidak terlalu terganggu oleh pasang. Selama ini. Sampah dan limbah pasar sering dibuang ke sungai. Untuk keperluan mencuci dan mandi warga menggunakan air sumur bor. Hal ini sudah biasa dihadapi oleh warga. warga juga sangat mengharapkan pemerintah membuatkan pondasi jalan penghubung antar rumah warga. Hanya saja. warga mengaku electricity tidak terganggu.2. Ketika terjadi pasang warga tetap dapat melaksanakan aktifitasnya. tidak sampai memasuki rumah warga.4. terungkap bahwa warga memerlukan bantuan bibit bakau. Karena itu agar penumpukan sampah ini tidak menyebabkan bau yang tidak enak dan penyakit. tetapi kali ini karena jalan tergenang air. Biasanya mereka menggunakan sepatu dari rumah. Sedangkan upaya untuk mengantisipasi terjadinya abrasi. listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. Pada kondisi pasang. Dimana untuk keperluan minum warga biasanya memenuhinya dengan membeli air galon isi ulang. Hanya saja terjadi sedikit perubahan kebiasaan. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen. Wilayah Non Pesisir Bencana yang rawan terjadi di Pasir Gintung adalah banjir karena hujan. Hanya saja pasang masih kerap terjadi. sehingga menyebabkan pendangkalan sungai dan penyerapan kurang berjalan dengan baik. berdasarkan hasil in depth interview. banjir dan pasang menyebabkan sampah menumpuk di sekitar pemukiman warga. Banjir besar sudah tidak pernah terjadi lagi. pemenuhan air bersih tetap diperoleh dengan cara mengambil dari sumur bor dan membeli. Hal ini disebabkan karena lokasinya yang berdekatan dengan sungai dan pasar. Antara wilayah pesisir dan non pesisir akan merasakan dampak yang berbeda. namun hanya sampai di pondasi rumah saja. Baik pada kondisi normal maupun kondisi paska bencana. potensi bencana terbesar adalah banjir karena pasang atau rob dan abrasi. masih tetap sama dengan kondisi normal. Selain itu. Atau jika genangan air agak tinggi. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. biasanya celana dilipat dahulu agar tidak terkena air. hal ini disebabkan karena salah satu saluran pembuangan sedang dilakukan perbaikan. Banjir terparah terjadi pada tahun 2008. masing-masing warga membersihkan rumahnya dan lingkungan sekitarnya. Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan. namun masih tetap dapat dilalui. dan baru menggunakannya ketika jalan sudah tidak becek lagi. Anak-anak sekolah biasanya tetap masuk. sehingga warga mengaku tidak terlalu terganggu. Jalan di pemukiman warga hanya sedikit tergenang (becek) dan sulit terlihat. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi lokasi tersebut. anak-anak membawa (membungkus) sepatu terlebih dahulu. Banjir saat itu mencapai lebih dari satu meter. Dampak Umum dari Kejadian Iklim Ekstrim Dampak yang dirasakan akibat terjadinya bencana tentu tidaklah sama. dapat menyebabkan terpeleset dan terjatuh. Baik pada Kota Karang maupun Panjang Selatan.

Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan. Baik bencana kekeringan maupun angin kencang. Namun. Selain itu dampak terhadap tanaman pertanian adalah rontoknya bakal buah sebelum waktu pemanenan. listrik sengaja dipadamkan untuk mencegah tersengat aliran listrik. 56 . Sementara itu kondisi jalan hanya terganggu saat air tergenang. Jika dibiarkan berkepanjangan. diperoleh informasi dari warga bahwa langkah mengatasi kekurangan air tersebut adalah dengan mencari atau membuka mata air baru. Berdasarkan hasil FGD dengan warga Kelurahan Batu Putuk. Anak-anak masih tetap dapat sekolah seperti biasa. bencana angin kencang biasanya terjadi pada bulan 12. keduanya tidak terlalu mengganggu aktifitas warga Batu Putuk. Berdasarkan pengetahuan masyarakat. dengan pembagian tugas untuk pria pekerjaan yang lebih berat dibanding wanita. Pada kondisi ini. Jika dibandingkan dengan kondisi dahulu. listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. Biasanya setelah terjadinya angin kencang warga secara swadaya membersihkan lingkungannya agar aktifitas warga segera dapat berjalan normal kembali. Kegiatan pengeborannya berdampak pada berkurangnya debit air di wilayah ini. Sementara itu. Paska terjadi banjir. Langkah lainnya adalah dengan bersiap-siap memiliki penampungan air atau mengambil air di masjid. Pemenuhan air bersih dibantu oleh PDAM secara gratis. Oleh karena itu. Hampir setiap tahun angin kencang terjadi di wilayah ini. sehingga tidak terlalu mengganggu aktifitas warga. Pada saat banjir. Kekeringan ini juga berdampak pada hasil pertanian. Bencana kekeringan di wilayah ini menurut persepsi warga antara lain disebabkan oleh keberadaan beberapa perusahaan air minum. kekeringan dapat memicu munculnya penyakit. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. namun jika dilihat dari mutu air masih tetap sama. Banjir ini hanya berlangsung satu hari. setelah air surut. tanda-tanda terjadinya bencana ini adalah terdengar suara gemuruh. hampir mencapai atap rumah warga. Jika telah mendengar suara itu. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan kondisi alam dalam hal ini ketersediaan air di Batu Putuk. Jalan di pemukiman warga hanya terhalang oleh pohon dan ranting yang berjatuhan. warga mengaku electricity tidak terganggu. namun tetap masih mencukupi kebutuhan warga meskipun harus melakukan penghematan. salah satu keuntungannya adalah tersedia banyak kayu bakar yang berasal dari ranting-ranting yang berjatuhan. namun masih tetap dapat dilalui. Jika terjadi angin kencang biasanya banyak pohon yang tumbang dan genting berjatuhan. Antara pria dan wanita saling bahu membahu membersihkan rumahnya.wilayah tertentu yang letaknya rendah. biasanya warga secara swadaya bergotong royong untuk membersihkannya. jalan dapat dilalui seperti biasa. Pada Kelurahan Batu Putuk. Akibat dari bencana kekeringan adalah ketersediaan air yang mulai berkurang. warga bersiap-siap keluar rumah untuk mencari lokasi yang lapang agar terhindar dari benda-benda yang berjatuhan akibat angin kencang ini. bencana yang biasa terjadi adalah kekeringan dan angin kencang. hasil kebun seperti coklat dan durian mengalami penurunan. sampah biasanya berserakan.

Untuk mendapatkan gambaran mengenai besarnya dampak sosial akibat terjadinya bencana di Kota Bandar Lampung dilihat dari perilaku gotong royong atau kekerabatan warga dalam menanggung masalahmasalah yang terjadi pada masyarakat. tampak bantuan yang terima dari saudara relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bantuan dari masyarakat.4.19 persen (dari total warga wilayah pesisir). Berdasarkan hasil survey terlihat bahwa hubungan gotong royong dan kekerabatan pada masyarakat di kelurahan amatan masih berjalan dengan baik. Dari data terlihat bantuan dari masyarakat lebih banyak di wilayah pesisir daripada wilayah non pesisir. hubungan kerja. Misalnya di daerah pesisir bantuan yang diterima dari saudara sebesar 25. Lebih besarnya bantuan masyarakat di wilayah pesisir ini didukung oleh hasil FGD di Kelurahan Kota karang dan Panjang Selatan. sehingga dengan berbagai status sosial yang ada. Gambar 4-1. Dampak Sosial Terjadinya kejadian iklim ekstrim yang mengakibatkan bencana banjir atau bencana kekeringan secara tidak langsung memiliki potensi untuk mengubah tatanan nilai-nilai sosial masyarakat. Saudara dan anggota masyarakat lainnya yang dimaksud disini adalah saudara dan anggota masyarakat yang tidak terkena bencana. Secara sederhana hubungan kerja patron-klien menggambarkan hubungan dua pihak antara individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) yang memberikan keuntungan berdasarkan sumber-sumber yang dimilikinya bagi seseorang yang statusnya lebih rendah (klien). Tetangga adalah pihak yang memiliki 57 .96 persen. mereka bisa memberikan bantuan kepada korban bencana. Masyarakat menyatakan bahwa ketika terjadi bencana upaya pertama yang akan dihubungi adalah tetangga (masyarakat). Bantuan dari Saudara dan Masyarakat Lainnya di saat Bencana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Hal ini tercermin dari pendapat warga mengenai bantuan yang diberikan saudara dan anggota masyarakat lainnya disaat terjadi bencana. sedangkan bantuan dari masyarakat lainnya sebanyak 22. pola transaksi produksi serta nilai sosial lainnya. 2009 Jika membandingkan angka-angka bantuan dari saudara dan masyarakat.3. Pola yang sama terlihat di wilayah non pesisir.Dampak Sosial Ekonomi dari Kejadian Iklim Ekstrim A.

keberadaan nilai-nilai sosial masyarakat juga dapat dilihat dari keberadaan hubungan kerja patron-klien yang dahulu menjadi bagian dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir. seperti pesta perkawinan. 2 dan 3 hanya terdapat satu juragan atau kelompok” (M. bahkan pada beberapa kelurahan amatan menjadi semakin kuat. Berdasarkan gambaran diatas. Dari hasil wawancara dengan ketua lingkungan setempat terungkap bahwa besarnya bantuan dari masyarakat antara lain disebabkan oleh banyaknya paguyuban yang ada pada wilayah ini. terutama saat terjadi bencana. ikan yang diperoleh dapat mencapai jumlah kuintalan. Juragan itu memiliki banyak anak buah (nelayan). Selain saat bencana. Dari informasi di atas terungkap fakta bahwa adanya bencana tidak menyebabkan perilaku gotong royong di masyarakat menjadi melemah. mata pencaharian dari nelayan sudah tidak bisa diandalkan lagi. Waktu dulu dalam sekali pergi melaut. Zabir.hingga Rp 2000. Tapi kalau sekarang. sehingga diharapkan dapat memberikan pertolongan dalam waktu yang relatif lebih cepat. upaya pertama yang dilakukan masyarakat jika terjadi bencana adalah bersama-sama dengan keluarga dan tetangga mendiskusikan solusi permasalahan yang ada. sekitar tahun 80-an pekerjaan nelayan sangat menjanjikan. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kondisi ekonomi masyarakat yang relatif merata. yaitu Kelurahan Pasir Gintung. 63 th). Hasil FGD menyatakan bahwa masyarakat di semua kelurahan memiliki atau mengadakan iuran bulanan untuk kematian sebesar Rp 1500. maka tingkat kegotong royongan dan kekerabatan masyarakat menjadi tinggi. Setelah itu melaporkan kepada RT setempat. masyarakat juga saling membantu dalam bencana lokal seperti kematian. Dengan adanya kelompok-kelompok paguyuban tersebut. Warga di ketiga wilayah ini menilai bantuan dari saudara dan masyarakat di saat bencana relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya. Di wilayah non pesisir terdapat satu kelurahan yang memiliki tingkat bantuan dari masyarakat relatif tinggi dibandingkan dua kelurahan lainnya.. Pada Kelurahan Panjang Selatan.. Panjang Selatan dan Kota Karang. Hampir semua nelayan kecil bergabung dalam kelompok-kelompok yang dibawahi oleh seorang juragan. Kehidupan nelayan kecil individu saat ini 58 . warga Kelurahan Kota Karang. Menghilangnya para juragan tadi menyebabkan nelayan yang ada sekarang pada umumnya adalah nelayan individu. Bencana yang sering terjadi di Kelurahan Pasir Gintung adalah banjir. Jumlah juragan sekarang sudah sedikit... Pada Kelurahan Kota Karang hubungan patronklien saat ini digambarkan sebagai berikut: “. Secara swadaya warga akan berusaha mengatasi masalah bersama. sehingga saat terkena bencana mereka merasakan penderitaan yang juga sama besar. di wilayah RT 1. maka dapat disimpulkan bahwa wilayah yang relatif memiliki kohesivitas sosial yang tinggi di saat bencana adalah Kelurahan Pasir Gintung.perbulan. Perilaku gotong royong dan kekerabatan tidak hanya muncul saat terjadi bencana banjir. Pada waktu itu banyak warga yang menjadi juragan ikan.. Yang kedua.lokasi tempat tinggal terdekat. Mereka yang membiayai nelayan-nelayan untuk berangkat mencari ikan. terutama dari hasil bagan. seperti gotong royong membersihkan wilayah mereka setelah terjadi banjir. tolong menolong menolong warga juga terjadi pada saat terjadi hajatan atau pesta. rumah roboh atau musibah lainnya.

sesama warga dapat dimintai tenaga bantuan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa adanya perubahan iklim yang mengakibatkan timbulnya bencana memiliki potensi untuk merubah nilai-nilai sosial serta perilaku yang ada di dalam masyarakat. Selanjutnya warga yang bermata pencaharian 59 B. maka terjadinya bencana iklim seperti banjir rob. Hubungan patron.dalam keadaan kesulitan. Pengaruh bencana terhadap perilaku nilai sosial lainnya secara tidak langsung juga dapat dilihat dari meningkatnya kejadian kriminalitas/ kejahatan di suatu wilayah. yang selanjutnya akan berdampak pada kehidupan sosial ekonomi warga. pasang air laut. Biasanya mereka pergi sore dan kembali keesokan harinya dengan membawa hasil ikan yang banyak.Gambaran Dampak Bencana terhadap Nilai Sosial Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.menjadi sulit karena apabila akan pergi melaut biaya operasional harus ditanggung sendiri. perampasan. .hubungan-hubungan sosial baik yang berdasarkan hubungan ketetanggaan maupun hubungan kekerabatan . dimana 1.6% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan 3.Sudah mulai berkurang. dan angin kencang bisa berpotensi terhadap gagal panen dikarenakan nelayan tidak bisa melaut. dan pencurian barang-barang berharga. Dahulu nelayan kecil bila akan pergi melaut dapat dengan mudah meminjam modal ke warung atau agen. Berdasarkan survei. Bila dihubungkan antara fakta berkurangnya hasil ikan antara lain juga disebabkan oleh adanya perubahan iklim. bencana iklim berpengaruh terhadap terjadinya kriminalitas di wilayah kajian. Tindakan kriminalitas tersebut seperti pencopetan. Sedangkan saat ini.5% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas juga bertambah saat kejadian kekeringan di wilayah mereka. dimana kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan masyarakat menjadi lebih rentan. karena si pemberi pinjaman menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman. 2009 No 1 Deskripsi Sistem tolong menolong/ kekerabatan Kondisi saat ini Masih ada:. sehingga bisa langsung mengembalikan modal pinjaman. dengan demikian perubahan iklim juga memiliki andil dalam berkurangnya hubungan patron-klien yang ada dalam masyarakat. perampokan. Tabel 4-2. nelayan kecil seringkali tidak berani meminjam. dan nelayan juga menyadari kondisi melaut saat ini tidak ada jaminan bahwa mereka akan pulang membawa hasil ikan yang cukup dan segera dapat mengembalikan pinjaman. bukan disewa Gotong royong Masih ada: aktivitas bekerja sama antara sejumlah besar warga kelurahan untuk menyelesaikan suatu kegiatan tertentu yang dianggap berguna bagi kepentingan umum. klien Tingkat kejahatan Jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan kejadian kekeringan di wilayah mereka 2 3 4 Dampak Ekonomi Kejadian Iklim Ekstrim Mengingat mata pencaharian utama warga di wilayah kajian bergerak di sektor perikanan yaitu buruh nelayan dan nelayan.

Warga tersebut sebagian besar berasal dari Kelurahan Kota Karang dan Panjang Selatan dimana sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Nilai kerugian berdasrkan pekerjaan sampingan. 1. Dengan demikian masih banyak warga yang menganggap banjir tidak mempengaruhi pekerjaan utamanya. Dampak Banjir dan Kekeringan Terhadap Pekerjaan Utama pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 60 .76 persen dari total warga di wilayah ini. Menurunnya pendapatan mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan warga yang berikutnya mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana dampak bencana terhadap ekonomi disajikan data-data berdasarkan: 1). yaitu hanya7. Hal ini dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat dari sektor perikanan yang mengalami gagal panen. nilai kerugian berdasarkan pekerjaan pokok. Mereka mengalami gagal panen dan penurunan pendapatan. Nilai Kerugian Berdasarkan Pekerjaan Pokok Pada dasarnya bencana apapun akan mengakibatkan kerugian terhadap masyarakat. Bencana yang dibahas disini adalah banjir dan kekeringan. Dalam bahasan ini disampaikan dampak bencana dan kerugian yang dirasakan oleh warga terhadap pekerjaan utama.nilai kerugian berdasarkan sektor.73 persen warga dari total warga di lokasi penelitian. Lain halnya dengan wilayah pesisir. peningkatan jumlah kriminalitas dan urbanisasi. Tidak semua warga menjawab adanya dampak dari bencana terhadap pekerjaan utamanya. Gambar 4-2. baik materil maupum immateril. Bahkan untuk wilayah non pesisir jumlahnya relatif lebih sedikit lagi.sebagai pedagang juga terkena imbasnya. Walaupun demikian bencana banjir ternyata berdampak terhadap 16. dan 2). 4) dampak terhadap harga-harga beberapa komoditi.44 persen yang menganggap banjir mempengaruhi pekerjaan utamanya. disini relatif lebih banyak warga yaitu 24. Dari hasil survey diperoleh informasi. Gambar 4-4. kekeringan. bahwa secara total dampak yang terjadi akibat banjir terhadap pekerjaan utama relatif lebih besar daripada kekeringan. Untuk warga yang bermata pencaharian sebagai petani kebun dan petani pangan pun juga terkena dampak dari bencana iklim seperti banjir. memberikan ilustrasi dampak bencana banjir dan kekeringan terhadap pekerjaan utama warga. 3). dan angin kencang.

kondisi kesulitan mencari ikan biasanya bersifat musiman. Setelah tahun 2000 warga mengaku sulit memprediksi waktu terjadinya angin dan ombak besar. 61 . Diantara kelurahan-kelurahan amatan lain..9 persen warga dari total warga di kelurahan amatan. Biasanya bunga yang diberlakukan cukup tinggi. Oleh karena itu banyak warga yang terpaksa memiliki alternatif mata pencaharian lain seperti tukang becak.Dari hasil FGD. Alternatif lain yang dilakukan warga adalah dengan meminjam ke bank keliling. bisa mencapai wilayah laut lepas dekat gunung krakatau. dengan menggunakan kapal bermotor besar. Berbeda dengan bencana banjir. Hal ini menyebabkan lokasi pencarian atau jangkauan nelayan di kelurahan amatan menjadi terbatas. namun sekarang musim ikan lebih sulit di prediksi. yang pertama. buruh. sebenarnya masalah yang dihadapi nelayan cukup kompleks. buruh. melaut bisa dalam jangkauan yang dekat-dekat saja. sehingga penghasilan dari melaut dapat menurun drastis. Masalah-masalah demikian yang menyebabkan ekonomi nelayan kecil menjadi sangat sulit. aktifitas sebagai nelayan sangat dipengaruhi oleh iklim. sehingga bagi warganya bencana kekeringan lebih berdampak daripada bencana banjir. Tapi Harga kapal seperti itu bisa mencapai ratusan juta. secara rata-rata hanya sebagian kecil saja warga yang merasakan adanya dampak bencana kekeringan terhadap pekerjaan utamanya. Saat itu warga mengetahui bahwa bulan 1 sampai dengan 5 adalah musim angin utara yaitu musim ikan. Bila meminjam ke bank keliling. Masalah yang kedua disebabkan fasilitas nelayan masih kurang.. Dahulu sebelum tahun 2000. kalau lebih jauh sedikit. Bencana kekeringan hanya berdampak terhadap sekitar 9. “. sudah ‘kejeblos’. baik kepada tetangga maupun kepada bank keliling. yaitu terjadi pada bulan 12. menurut warga. jumlah nelayan di Lampung sangat banyak. sehingga para nelayan kecil harus bersaing dengan nelayan besar. Karena itu banyak warga yang terpaksa memilih alternatif mata pencaharian lain seperti tukang becak. masalah tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Secara umum. aktifitas nelayan menjadi terhambat.. mereka terpaksa ‘Gali lubang tutup lubang’. berbeda dengan fasilitas nelayan di pulau Jawa. Menurut salah seorang peserta FGD. tapi kalau nelayan di Jawa jangkauan lebih luas”. Pada kondisi yang demikian. maupun kenek bangunan agar tetap dapat membiayai kebutuhan hidup. yaitu mencapai 20 persen. Sekali berangkat biaya bisa mencapai jutaan. Sekarang kalau mau mendapatkan ikan dalam jumlah besar harus berlayar lebih jauh. sehingga belakangan ini waktu nelayan melaut menjadi semakin tidak menentu. Selain itu. warga mengaku terpaksa berhutang ke warung untuk membeli kebutuhan hidup seperti sembako.kalau dulu. pembayaran dapat dilakukan dengan mencicil. Kelurahan Batu Putuk mayoritas masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai petani dan buruh pertanian. Warga mengaku pada kondisi tersebut. yang fasilitas peralatan perikanannya seperti kapal sudah lebih maju. maupun kenek bangunan agar tetap dapat membiayai kebutuhan hidup. Bencana kekeringan berdampak pada penurunan hasil panen sehingga pendapatan warga yang berprofesi sebagai petani dan pedagang produk pertanian cenderung menurun. mulai dari yang kecil sampai yang memiliki pukat harimau bisa memasuki wilayah perairan. dengan waktu seminggu. Langkah untuk memenuhi kebutuhan hidup biasanya ditempuh dengan jalan meminjam.. Bila penghasilan warga tidak dapat mencukupi. Jadi nelayan kecil cuma bisa dekat-dekat saja. sehingga untuk bertahan mereka terpaksa harus ‘gali lubang tutup lubang’. namun dengan risiko dibebankan bunga.

banjir juga dapat mempengaruhi usaha sampingan yang dimiliki warga. sebagian besar warga di wilayah ini mempunyai pekerjaan utama sebagai petani kebun. Wilayah yang mengalami kerugian yang relatif besar adalah Kangkung.071.000. terutama banjir yang dirasakan oleh warga.150. Kerugian di Kangkung rata-rata sebesar Rp 1. Sedangkan di Batu Putu sebanyak Rp 921. terlihat bahwa banjir yang menimpa hanya mempengaruhi sebagian kecil warga. Batu Putu dan Pasir Gintung. terutama usaha sampingan sebagai petani tambak.Bila dihitung berdasarkan nilai nominal. Namun dari data yang diilustrasikan pada Gambar 4-4. Kerugian rata-rata di daerah Pasir Gintung sebanyak Rp 926. Gambar tersebut menunjukkan rata-rata kerugian akibat bencana.11 persen yang menyatakan terdapat pengaruh banjir terhadap usaha sampingannya (Tambak/Kolam). Gambar 4-4. sebanyak 11. Nilai Kerugian Dari Pekerjaan Utama Akibat Banjir dan Kekeringan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Gambar 4-3. kerugian rata-rata bencana sebesar Rp 662. Berdasarkan gambar tersebut. kerugian yang diakibatkan oleh adanya bencana banjir dan kekeringan seperti terlihat pada Gambar 4-3.765. 2009 2. 2009 62 . dari total warga di lokasi penelitian. Dampak Banjir Terhadap Usaha Sampingan Tambak pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. yang sangat dipengaruhi oleh banjir. Nilai Kerugian Berdasarkan Pekerjaan Sampingan Selain mempengaruhi pekerjaan utama.666.

320. Nilai Kerugian Usaha Sampingan Tambak Pada Kelurahan Amatan. Secara umum nilai kerugian ini relatif kecil. Gambar 4-5. 2009 63 . Gambar 4-6.000. di Bandar Lampung.350. Nilai Kerugian Berdasarkan Sektor-Sektor Strategis Selain mempengaruhi terhadap mata pencaharian warga.000.000. terlihat ada 2 sektor yang nilai kerugiannya relatif besar yaitu sektor kesehatan dengan nilai total mencapai Rp 104.745. Hal ini dapat disebabkan oleh pengetahuan yang terbatas dari warga dalam menaksir jumlah kerugian.Kerugian usaha sampingan tambak yang dirasakan warga seperti terlihat pada Gambar 4-5.000/orang. misalnya untuk sektor infrastruktur senilai Rp 10.000 dan sektor perikanan sebesar Rp 76. Kerugian terbesar justru dialami oleh warga di wilayah Kangkung dengan nilai kerugian rata-rata sebesar Rp 2. Gambar 4-6. 2009 Lampung 3.000 /orang. kerugian bencana juga dapat dihitung berdasarkan sektornya.355. Akan tetapi jika dilihat secara rinci. sektor pemukiman sebesar Rp 8.000. Selain itu banyak warga yang tidak bisa menaksir adanya kerugian terhadap berbagai macam sektor. menyajikan ilustrasi kerugian akibat banjir di Lampung. Berdasarkan gambar tersebut. Kerugian Akibat Banjir Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. Dampak dari banjir yang dirasakan warga terhadap sektor lainnya relatif kecil. Nilai kerugian rata-rata akibat banjir untuk usaha sampingan tambak sebesar Rp 583. Hal ini disebabkan banyak warga yang mempunyai mata pencaharian tambahan sebagai petani tambak ikan. maka distribusinya tidaklah merata.

banyak sumber penyakit seperti diare. Secara umum haarga beras/padi mengalami peningkatan baik pada saat banjir maupun kekeringan. akan tetapi fakta ini memberikan dugaan terhadap sektor rentan terkena bencana. Berdasarkan gambaran ini maka sektor yang rentan terkena bencana kekeringan adalah sektor pertanian. sedangkan disaat kekeringan sekitar 12. bahkan dalam kasus yang ekstrim dapat mengakibatkan kegagalan panen (puso). kenaikan harga rata-rata disaat banjir sebesar 13. nilai kerugian akibat kekeringan lebih kecil daripada kerugian akibat banjir. Kerugian Akibat Kekeringan Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. kegiatan perikanan banyak yang terganggu sehingga supply ikan menjadi berkurang. Tahun 2009 4. Sedangkan untuk komoditi Palawija peningkatan harga memiliki model yang berbeda dengan beras/padi dan ikan/ternak. Meskipun nilainya relatif kecil. terlihat beberapa sektor yang diduga dipengaruhi oleh bencana kekeringan. Kerugian di sektor perikanan disebabkan karena suplai air berkurang. batuk. Berdasarkan Gambar 4-9. perikanan. dan fenomena ini konsisten terjadi baik di pesisir maupun di non pesisir. Untuk komoditi ikan/ternak. Melihat nilai nomimalnya. bencana banjir dan kekeringan juga mempengaruhi perubahan harga-harga secara umum. peningkatan harga di saat banjir relatif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan harga di saat kekeringan.Berbeda dengan kerugian yang terjadi ketika kekeringan. radang tenggorokan dan lain sebagainya. berikut ini disampaikan data mengenai peningkatan harga yang terjadi pada beberapa produk pertanian seperti beras/padi. Hal ini disebabkan pada saat terjadi banjir. palawija dan ikan/ternak. Kerugian di sektor air minum disebabkan oleh berkurangnya sumber air untuk memasok bagi kebutuhan masyarakat. Kerugian di sektor pertanian disebabkan kekeringan menyebabkan produksi menurun. Dampak Terhadap Harga Beberapa Komoditi Selain mempengaruhi pendapatan warga dan beberapa sektor strategis.65 persen. Kerugian di sektor kesehatan terjadi karena dengan adanya kekeringan mengakibatkan menurunnya kualtias lingkungan. 64 . kesehatan dan air minum.79 persen. Gambar 4-7. dampaknya kualitas air menurun sehingga banyak ikan yang mati. Secara total peningkatan harga saat kekeringan lebih tinggi dibandingkan dengan saat banjir.

26 persen) dan Batuk/Flu/Pilek (27. 65 . dan 67 unit Balai Pengobatan. Sedangkan untuk malaria dan diare di wilayah pesisir.87 persen). 22 unit Puskesmas Induk. sampai dengan rumah sakit. tercatat hanya sebanyak 35. DBD dan gatal-gatal cenderung terjadi di wilayah non pesisir. Dari warga yang memberikan penilaian.Gambar 4-8. memperlihatkan wabah penyakit menurut persepsi warga yang biasa terjadi saat banjir. 2009 C. terlihat bahwa jenis penyakit yang seringkali dialami oleh masyarakat adalah Malaria (28. Sedangkan untuk diare dan malaria sebaliknya. Jenis sarana kesehatan paling banyak. 57 unit Puskesmas Pembantu. Penyakit yang dinilai warga relatif rendah terjadi adalah DBD (10. Dari data terlihat jumlah warga non pesisir yang menganggap Batuk/Flu/Pilek. tempat praktek Dokter. yaitu Balai Pengobatan dengan jumlah sebaran terbanyak ada di Kecamatan Tanjung Karang Pusat (11 unit). Tabel IV-3. Jumlah sarana kesehatan di Kota Bandar Lampung menurut sumber Kota Bandar Lampung Dalam Angka (2007) mencapai 157 unit yang terdiri dari 11 unit Rumah Sakit. DBD dan gatal-gatal sebagai penyakit di saat musim hujan lebih besar daripada warga pesisir. Kenaikan Harga Beberapa Komoditi Pertanian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung. Dampak terhadap Kesehatan Sarana kesehatan di Kota Bandar Lampung meliputi sarana kesehatan mulai dari tingkat pelayanan terkecil seperti Puskesmas Pembantu.94 persen dari total warga. Balai Pengobatan.17 persen). Hal ini bisa membentuk dugaan bahwa penyebaran penyakit Batuk/Flu/Pilek. Tidak banyak warga yang menanggapi fenomena wabah penyakit di saat banjir.

90 10.41 0.62 16.72 48.3 2 7.5 0 24.00 0.33 50.0 0 25.0 0 100.33 25.0 0 40 50 31 121 2 19 6 27 5.00 100.7 4 80.0 0 100.3 9 0.0 9.92 28.0 0.Tabel 4-3.0 8 17.16 0.00 0. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Res total (N) Res Jawab (n) Wabah Penyakit Saat Kekeringan Batuk n/N /Flu Kuli Diar (%) /Pilek DBD gatal t Malaria e Grand Total 40 50 31 121 39 11 12 8 31 10 27.44 0.17 10.00 3.00 100.00 8.00 10.5 2 31.67 7.41 39 56 40 135 256 19 27 19 65 92 48.00 5.00 0.26 4.00 0.menunjukkan penyakit yang sering muncul di saat terjadi kekeringan.33 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total Res Tota l (N) Res Jawa b (n) n/N (%) Grand Total 100.00 100.1 1 26.6 90.00 12.09 8.00 5.0 0 100.00 100.21 47.26 0.53 0.0 0 100.30 15.00 50.23 0.33 0.00 0.00 0.79 24.00 19.00 100.26 16.00 5.63 15.9 1 75.5 8 23.0 0 16.8 1 25.70 21.00 0. Penyakit Pada Saat Banjir pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.00 10. Pada wilayah non pesisir dan pesisir.00 44.00 38.31 0.00 3.0 5 18.00 0.0 0 100.00 0.33 33.26 Tabel 4-4. Tabel 4-4.00 0.37 36. Penyakit Pada Saat Kekeringan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. maka yang membedakan antara saat kekeringan maupun saat banjir adalah munculnya penyakit kulit.00 0.15 35.1 3 0. 2009 Wabah Penyakit Pada Saat Banjir Batuk / Gatal Flu Diar Malari /Pilek DBD e gatal a 100.8 7 0.94 26.0 0 100.00 63.35 22.32 29.00 8. penyakit yang sering dialami oleh warga adalah batuk/flu/pilek serta penyakit malaria.0 0 67.6 2 25.44 47.62 27.32 33. Jika dilihat dari jenis penyakitnya.7 7 10.0 0 100.00 66 .0 0 11.79 44.0 0 25.0 0 100.0 0 26.50 48.

45 0.11 0. dan biasanya memerlukan waktu sampai 2 hari. Bila kondisi warga memerlukan perawatan lanjutan.00 0. dan sisanya sebesar 57.67 25.23 1.2 2 0 55. saat sakit dapat langsung datang ke puskes. prosesnya yang harus dilalui oleh warga untuk memperoleh fasilitas jamkesda cukup panjang. keterjangkauan. Kemudian bila warga harus dirujuk ke rumah sakit. warga harus membayar dulu biaya di RS sebagai jaminan.7% warga yang mengaku menerima bantuan dari pemerintah. warga bisa menggunakan fasilitas jamkesda. Jumlah warga yang memiliki kartu kesehatan gratis adalah sebanyak 43. Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh 14.81 19.00 100. akan ada pemantauan (survei) dulu rumahnya dari puskes. lokasi.9 6 24.1 1 16. Hal ini antara lain disebabkan oleh sarana layanan kesehatan tersebut belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat.84 100.0 7 30. Bagi yang tidak punya surat jamkesmas. obat. Namun berbeda dengan jamkesmas. dan mutu layanan kesehatan.29 1. Bagi warga yang memiliki jamkesmas (dulu askes).22 41.00 0.6 7 9.00 11. Pada saat terjadi bencana hanya 27.00 3.3 3 54.35 11.5 6 33.8% warga untuk berobat ketika terjadi bencana iklim dapat dilihat dari gambar berikut.5% warga tidak tahu karena tidak pernah mencatat biaya yang telah dikeluarkan untuk berobat.2 9 0 11.8 4 61. Gambar 4-9.8% warga mengeluarkan uang sendiri untuk biaya berobat.00 8. Akan tetapi sistem pelayanan.Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total 56 40 135 256 9 12 31 62 4 16.0 0 22.61 22.61 Namun menurut hasil survei masyarakat di wilayah kajian menyatakan bahwa belum optimalnya akses.75%. Kisaran Biaya yang Dikeluarkan oleh Warga (dalam Rupiah) Sebenarnya fasilitas kesehatan yang disediakan oleh dinas kesehatan sudah cukup baik. dan rujukan masih dianggap belum dapat berjalan dengan optimal.33 6. nanti bila 67 . yang antara lain penentuannya di lihat dari usaha kepala keluarga.00 0. maka puskes akan memberikan rujukan ke Rumah Sakit. 14. Selain harus ada surat keterangan dari RT. Warga yang diberi surat jamkesmas adalah penduduk miskin. dan layanan yang diberikan.00 100. terutama terkait biaya.00 100.68 4.

B.4. dan mutu layanan kesehatan. Peringatan dini dan hasil pemantauan daerah rawan bencana berupa saran teknis dapat berupa antara lain pengalihan jalur jalan (sementara atau seterusnya). dan serta penanganan lainnya. Kelembagaan lainnya yaitu kelurahan. dan mengetahui cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana. RT. Hal penting yang perlu diketahui masyarakat dan Pemerintah Daerah ialah mengenai hidup harmonis dengan alam di daerah bencana. dan 6% warga memperoleh informasi dari aparat desa setempat. sisanya 28% warga tidak menjawab (Gambar IV-10) 68 . dan masyarakat sampai ke tingkat pengungsian dan penyelamatan korban bencana. SATLAK PB. Tagana diakui masyarakat berfungsi efektif dalam memberikan informasi iklim atau peringatan dini. Pelatihan tata cara pengungsian dan penyelamatan jika terjadi bencana juga sangat diperlukan. baru uang dikembalikan. 2% warga melalui media radio. RW di lingkungan setempat. pengungsian dan atau relokasi. Dengan pelatihan ini terbentuk kesiagaan tinggi menghadapi bencana akan terbentuk.surat2 sudah lengkap. yang diduga menyebabkan timbulnya persepsi warga pada kelurahan amatan yang terkait dengan belum optimalnya akses. Dari hasil survey di enam wilayah kajian didapatkan hasil yang tidak memuaskan dari warga mengenai keberadaan lembaga penanganan bencana di wilayahnya.. 4% warga melalui media koran. Sebanyak 90% warga menyatakan bahwa belum ada kelembagaan penanganan bencana di wilayah mereka. ataupun lembaga terkait lainnya. keterjangkauan. 2% warga dari dinas pemerintah. Kondisi demikian. apa yang perlu dilakukan dan dihindarkan di daerah rawan bencana. SATKORLAK PB. Hasil interview menunjukkan bahwa sekitar 58% warga memperoleh informasi prakiraan BMKG melalui media televisi. EWS (Early Warning System). Respon Masyarakat Terhadap Informasi Bencana Sebagian besar warga di keenam wilayah kajian selama ini masih memperoleh informasi prakiraan iklim secara tradisional baik dari pemuka adat maupun dari tokoh masyarakat di daerah yang bersangkutan. Response Masyarakat Terhadap Keberadaan Kelembagaan Penanganan Bencana Peringatan dini dimaksudkan untuk memberitahukan tingkat kegiatan hasil pengamatan secara kontinu di suatu daerah rawan dengan tujuan agar persiapan secara dini dapat dilakukan guna mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Selain itu warga juga menerima informasi prakiraan dari BMKG. Kelembagaan tersebut diantaranya bernama Tagana (Tanggap Bencana). 90% warga tersebut mengaku belum pernah mendapatkan informasi apapun seputar informasi iklim atau peringatan dini dari PEMDA. Peringatan dini tersebut disosialisasikan kepada masyarakat melalui pemerintah daerah dengan tujuan memberikan kesadaran masyarakat dalam menghindarkan diri dari bencana. Tujuan latihan lebih ditekankan pada alur informasi dan petugas lapangan pejabat teknis. 4. Respon Pemerintah dan Masyarakat terhadap Bencana Akibat Kejadian Iklim Ekstrim A. Hanya 10% warga yang menyatakan ada kelembagaan penanganan bencana di wilayah mereka.

perubahan iklim dan dampak perubahan iklim dirasa warga masih sangat rendah ketersediaannya yaitu kurang dari 35 persen (Tabel 4-5). dan ini mendukung informasi sebelumnya bahwa peran pemerintah dalam memberikan informasi kepada masyarakat relatif masih rendah. dan bertatap muka langsung dengan masyarakat melalui aparatur pemerintah dari pusat sampai daerah. jauh dirasakan berguna menurut warga dibandingkan dengan jenis informasi lainnya.Gambar 4-10. Ketidaktahuan warga mengenai informasi penanganan bencana. sedangkan untuk informasi perubahan iklim sebesar 37. majalah. koran. radio. Tabel IV-5 memberikan ilustrasi persepsi warga terhadap berbagai macam informasi terkait kebencanaan. sedangkan informasi mengenai penganan bencana. jauh dirasakan berguna menurut warga dibandingkan dengan jenis informasi lainnya.78 persen).25 persen warga yang merasakan bahwa informasi tersebut berguna. misalnya untuk informasi penanganan bencana hanya 56. Dari data juga terlihat bahwa informasi mengenai peringatan bencana. penanganan bencana. Hal ini menandakan masih diperlukannya berbagai macam upaya dalam penyampaian informasi terkait kebencanaan tersebut. ternyata informasi mengenai peringatan bencana. Persentase Media Informasi Prakiraan yang digunakan Salah satu peran pemerintah dalam mengurangi dampak dan kerugian bencana adalah dengan cara memberikan informasi terkait kebencanaan seperti peringatan bencana. Secara umum terjadi lag antara kegunaan dan ketersediaan.94 persen. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim terlihat dari rendahnya partisipasi warga dalam memberikan persepsi terhadap informasi tersebut. Dalam tabel ini informasi yang terkait kebencanaan dilihat dari perspektif kegunaan dan ketersediaan. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim. 69 . Hal ini ditunjukkan dari persepsi warga terhadap rendahnya ketersediaan informasi yang terkait kebencanaan di Kota Bandar Lampung. Ketersediaan informasi yang terbanyak adalah mengenai peringatan bencana (50. Informasi ini bisa disampaikan melalui media televisi.89 persen dan informasi dampak perubahan iklim sebesar 35. Berdasarkan beberapa jenis informasi terkait bencana. Hal ini pertanda bahwa kesadaran warga terhadap pentingnya informasi terkait kebencanaan masih kurang.

00 35.50 20.64 30.95 41. Sedangkan kemungkinan untuk merubah jenis pekerjaan secara permanen. Namun.00 50.00 17.00 41.00 56.06 53. jika diberikan pelatihan-pelatihan oleh pemerintah untuk menambah keahlian. baik modal untuk memulai usaha baru atau modal ketrampilan baru.07 17. Tanggapan dan harapan warga adalah sebagai berikut: Wilayah Pesisir Andaikan terjadi bencana yang sangat besar dan pemerintah menyarankan untuk dilakukan relokasi tempat tinggal.00 48.78 10. kondisi perumahan masyarakat yang padat dengan lingkungan yang relatif kurang layak.64 30.00 73.94 19. C. maka mereka bersedia untuk dipindahkan dengan syarat diberikan fasilitas dan tempat tinggal yang layak serta lokasi pindah diharapkan tidak berjauhan dengan laut.94 16.00 61. menjahit serta pengolahan hasil perikanan.39 34. maupun program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Namun hal tersebut tetap berdasarkan persetujuan suami masing-masing.97 74. 70 .46 44. namun jika lokasi tempat tinggal yang sekarang sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali lagi.19 27.69 19.97 Respon Terhadap Isue Relokasi Karena potensi berulangnya kejadian iklim ekstrim yang dapat menyebabkan bencana di masa yang akan datang.73 70.42 37.50 55.50 36.39 37.58 27.00 58.64 22.46 62. agar mereka tetap dapat bekerja seperti semula (melaut).00 45. para nelayan mengaku sulit (tidak bersedia) karena berkaitan dengan keahlian yang dimiliki.50 22.33 44.92 85.26 19. Bentuk bantuan yang diharapkan warga di wilayah pesisir berupa tempat tinggal dan modal.16 17.07 40. maka kepada warga ditanyakan pendapat dan harapan apabila proyek tersebut terlaksana dan pemerintah menetapkan kebijakan relokasi tempat tinggal.93 55. Sedangkan untuk para wanita bersedia untuk dilakukan relokasi tempat tinggal.50 50.30 7.52 38. Keputusan berpindah pun harus merupakan hasil keputusan bersama dengan istri dan keluarga.78 55.41 62.00 8.00 48. para nelayan mengaku bersedia mengikuti pelatihan.37 45. Persepsi Warga Terhadap Berbagai Macam Informasi Terkait Kebencanaan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Wilayah Peringatan Bencana Kegunaa n Ketersedia an Penanganan Bencana Kegunaa n Ketersedia an Perubahan Iklim Kegunaa n Ketersedia an Dampak Iklim Kegunaan Perubahan Ketersedia an Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Grand Total 72. Pelatihan yang diharapkan berupa pelatihan bercocok tanam.83 20.50 36.00 32.07 76.71 55. warga pria mengaku merasa berat hati untuk pindah.71 22.00 70.00 76.31 34.44 47.00 37.00 36.04 33.33 38.25 30.00 51.04 56. perubahan jenis mata pencaharian.00 60.29 57.89 23.00 6.61 38.Tabel 4-5.64 20. serta adanya rencana pemerintah membangun proyek water front city di daerah pesisir.14 25.

sehingga tidak terpikirkan oleh warga apabila mereka harus pindah tempat tinggal ke wilayah lain. seperti tidak membuang sampah sembarang di dalam sungai. karena merasa pekerjaan tersebut terlalu berat bagi mereka. dan membuat tanggul dalam menghadapi banjir. pindah ke lokasi. atau service HP. dan membeli atau membuat sumur pompa atau memperdalam sumur kalau menghadapi kekeringan. bila bencana yang terjadi sangat parah dan memaksa mereka untuk berpindah lokasi. Sebagian besar kegiatan yang bersifat non-struktural seperti pemberdayaan masyarakat. dengan cara melakukan kampanye hidup sehat. asalkan pengelolaan dilakukan dengan baik. Untuk itu perlu juga adanya penyadaran masyarakat mengenai kebiasaan hidup sehat. memperkuat konstruksi rumah. Pelatihan yang diharapkan berupa pelatihan membuat emping. Wargapun bersedia bila ada pelatihan untuk peningkatan ketrampilan mereka. Oleh karena itu kegiatan yang diharapkan masyarakat untuk mencegah terjadinya banjir adalah pengerukan sungai yang dipenuhi oleh sampah-sampah pasar. Kegiatan lain yang diharapkan masyarkat adalah adanya penertiban lingkungan misalnya. Dalam kondisi dimana tidak memiliki pilihan lain. 71 . D. Sedangkan para wanita mengaku bersedia mengikuti program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. asalkan daerah baru tersebut memang lebih layak dibandingkan dengan daerah yang mereka tempati saat ini. Selain itu. misalnya pelatihan pembuatan telur asin. bencana tersebut dianggap sesuatu hal yang biasa. Pada wilayah yang sering mengalami banjir seperti Pasir Gintung. Hal ini terutama diminati oleh ibu-ibu yang masih muda. meninggikan lantai rumah atau membuat rumah denga dua tingkat. sementara yang sudah tua tidak berminat. warga berharap dibekali keterampilan agar dapat bertahan hidup. peraturan zona atau batas aman antara pemukiman dengan sungai. selain itu warga juga mengharapan bantuan peralatan membuat emping. masyarakat Pasir Gintung bersedia untuk relokasi. Identifikasi bentuk kegiatan adaptasi dari pemerintah yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat Bentuk kegiatan adaptasi menghadapi bencana yang dilakukan masyarakat umumnya bersifat struktural (fisik) seperti memperlebar/memperdalam saluran. banjir seringkali disebabkan oleh meluapnya air sungai. penguatan kelembagaan dan lainnya berasal dari program pemerintah. Namun. Kegiatan yang bersifat non-struktural melalui inisiatif masyarakat masih sangat kurang. Keenggan tersebut karena masyarakat khawatir terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan.Wilayah non Pesisir Pada wilayah yang mengalami bencana kekeringan seperti Kelurahan Batu Putuk. mereka berharap pemerintah bisa menyediakan tempat tinggal yang layak dan lapangan pekerjaan yang baru.

Tabel 4-6. Identifikasi Adaptasi Masyarakat Bencana Banjir Adaptasi yang dilakukan oleh warga ketika bencana banjir sangat beragam. pindah ke lokasi yang tidak mengalami banjir. Kegiatan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan penanganan bencana yang bersifat non-struktural dan respon masyarakat NO 1 KEGIATAN PEMERINTAH Komunikasi interaktif melalui radio dan televisi tentang mitigasi bencana Sosialisasi penerapan sistem komunikasi peringatan dini dan tanggap darurat berbasis Keluarga Pembentukan dan penguatan Siaga Bencana Tingkat Kelurahan (SIBAD) di 13 kecamatan Sosialisasi mengenai tanda-tanda terjadinya bencana melalui pertemuan-pertemuan kelompok masyarakat. Gambar 4-11. mulai dari tetap tinggal dirumah. terutama di pemukiman kumuh Masyarakat belum merasakan keberadaan dan fungsi SIBAD Mengikuti pertemuan dan mulai mempersiapkan diri Tidak menyeluruh sampai pada masyarakat Hanya berlangsung 1 bulan. 72 . karena kualitas airnya buruk E. dll Pembuatan atau mereproduksi dan menyebarkan buletin sistem peringatan dini Pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin di kawasan rawan bencana Melakukan Gerakan Bersih Pantai dan Laut bersama masyarakat secara rutin/berkala Melakukan Gerakan Bersih Sungai dan Saluran bersama masyarakat secara rutin/berkala Melarang nelayan ke laut saat bencana gelombang pasang air laut Pembuatan sumur bor untuk fasilitas umum RESPON MASYARAKAT Melaksanakan dengan banyak keterbatasan Belum sepenuhnya sampai pada masyarakat. setelah itu tidak pernah lagi Ikut berpartisipasi setiap bulan 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ikut berpartisipasi setiap bulan Ada yang taat dan ada yang tidak taat Tidak efektif. Misalnya adaptasi yang dilakukan di wilayah non pesisir akan berbeda dengan adaptasi di wilayah pesisir. Adaptasi yang Terjadi di Wilayah Pesisir dan Non Pesisir Ketika Terjadi Bencana Banjir di Lampung. Gambar 4-11. menunjukkan perbedaaan tersebut. kelurahan. meninggikan lantai. menambah persediaan makanan dan menambah persediaan bahan bakar. membuat tanggul. memperdalam saluran air. Jenis adaptasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan wilayah masing-masing.

Sisanya tetap tinggal di rumah. yang tidak bisa diprediksi. 2.69 persen dari total warga di wilayah ini yang pindah lokasi. 41 persen. artinya sebanyak 40. Berbeda halnya dengan banjir yang terjadi di wilayah non pesisir. Sedangkan di wilayah Sukabumi Indah. sedangkan di Kota Karang dan Panjang Selatan berturut turut sebanyak 3. Namun. Hal ini disebabkan karena Berdasarkan hasil FGD. Sedangkan di wilayah pesisir. Warga Pasir Gintung yang keluar rumah ketika banjir adalah sebesar 82 persen. maka perilaku pindah ke lokasi yang tidak banjir banyak dilakukan oleh warga di wilayah non pesisir daripada di wilayah pesisir. di wilayah ini hampir sebagaian besar warga keluar rumah ketika banjir tiba. Lokasi yang menjadi tempat tinggal sementara biasanya rumah sanak saudara yang tidak mengalami banjir. bila bencana yang terjadi sangat parah dan memaksa mereka untuk berpindah lokasi. antara lain becak. Perilaku pindah ke lokasi yang tidak banjir. sebanyak 59. maka fenomena banyaknya warga yang keluar rumah terjadi di wilayah non pesisir. perilaku pindah lokasi hanya terjadi di Pasir Gintung. sebanyak 14. Di wilayah non pesisir. Dari semua warga di Pasir Gintung. Dengan demikian sebagian besar tetap tinggal di rumahnya masingmasing. Jika dilihat secara detail. Perilaku tetap tinggal di rumah ketika banjir tiba.93 persen) warga tetap tinggal di rumah ketika banjir. Banjir rob relatif bisa diantisipasi oleh masyarakat. Seperti yang terjadi di wilayah Pasir Gintung. Jika dilihat berdasarkan wilayah.45 persen warga yang pindah ke lokasi tidak banjir. hanya 9.18 persen. ketika terjadi banjir. Mengingat sebagian besar warga sudah meninggikan rumahnya. Bencana banjir yang terjadi di wilayah pesisir adalah bencana banjir rob. Perilaku ini menggambarkan respon warga yang memilih tetap tinggal dirumah atau keluar sementara. hampir sebagaian besar warga masih tetap tinggal di rumah. Peredaan ini disebabkan karena jenis banjirnya yang berbeda. Secara umum. dari semua warga di kelurahan amatan.78 persen warga yang pindah ke lokasi tidak banjir ketika terjadi banjir.54 persen meninggalkan rumah (keluar rumah) ketika bencana banjir tiba.46 persen. Seperti dijelaskan sebelumnya.57 dan 5 persen dari jumla warga di masingmasing kelurahan. bahwa di wilayah non pesisir. mengingat di wilayah ini. mereka berharap pemerintah menyediakan tempat tinggal dan lapangan pekerjaan yang baru. Sebagai langkah antisipasi. Sedangkan di wilayah pesisir. Tujuannya adalah untuk berpindah ke lokasi yang lebih tinggi. sedangkan di 2 wilayahnya lainnya tidak ada. Faktor-faktor yang mempengaruhi pindah tidaknya warga ke 73 . sebanyak 34 persen yang pindah lokasi. warga yang tetap tinggal rumah sebanyak 29. jumlah warga yang tetap tinggal di rumah lebih besar dibandingkan dengan warga yang keluar rumah. warga menyediakan alat transportasi yang disiapkan dalam menghadapi banjir. warga mengaku tidak mau pindah dikarenakan khawatir terhadap lapangan pekerjaan. Sedangkan di wilayah pesisir hanya 5.Berdasarkan gambar terlihat prilaku warga ketika bencana banjir adalah seperti berikut ini : 1. Perilaku ini menggambarkan respon warga yang mencari tepat tinggal sementara pada saat terjadi banjir. ditemukan fenomena warga yang pindah lokasi di setiap kelurahan dengan jumlah yang relatif sedikit. hanya 7. Sebagian besar (85. Jika dilihat dari wilayah. Secara umum dari total warga mengatakan bahwa ketika bencana banjir tiba. hanya sebagian kecil saja yang keluar rumah. Misalnya di kelurahan Kangkung. maka ketika banjir rob datang.

dan (5) melakukan ritual meminta hujan. karena tanaman tidak tumbuh secara normal. Adaptasi Kekeringan Warga di Kelurahan Amatan. (1) membeli air untuk keperluan sehari-hari. mengurangi konsumsi air dan memompa air dari sumber terdekat. (2) kondisi fisik rumah. Hal ini terjadi di wilayah pesisir. (4) pindah ke lokasi lainnya yang tidak terkena kekeringan. dan (b) munurunnya sanitasi keluarga dan lingkungan. Fenomena kekeringan yang berkepanjangan. dan hal ini sebagian besar dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. Sehingga untuk bertahan. (3) memompa air dari sumber terdekat. (3) alasan keamanan. terlihat bahwa fenomena banjir tidak mempengaruhi warga dalam memupuk persediaan makanan dan bahan bakar. Adaptasi lainnya yang relatif banyak dilakukan selain dari yang telah dijelaskan diatas adalah perilaku membuat tanggul. yang terjadi pada daerah tertentu menyebabkan timbulnya respon masyarakat untuk melakukan ritual mendatangkan hujan. masyarakat harus beradaptasi untuk meminimalisir kerugian kekeringan. agar mencukupi untuk keperluan sehari hari. Dampak kerugian kekeringan dapat (a) berupa penurunan produksi. (2) mengurangi konsumsi air. Berdasarkan Gambar 4-12. Adaptasi terhadap bencana kekeringan yang terjadi di Kota Banda Lampung dapat berupa. 4. Dari berbagai adaptasi tersebut. Bandar Lampung 74 . bahkan banyak yang mati. secara umum terdapat tiga bentuk adaptasi yang relatif banyak dilakukan oleh warga dibandingkan dengan adaptasi lainnya yaitu memberli air. memperdalam saluran dan meninggikan lantai rumah. Semuanya dalam rangka menyediakan dan menjaga ketersediaan air. 3. Untuk lebih detailnya berikut ini dijelaskan adaptasi warga terhadap kekeringan: Gambar 4-12. Bencana Kekeringan Kekeringan biasanya terjadi antara bulan Juni-Agustus.lokasi lain sangat dipengaruhi oleh (1) ada tidaknya famili di lokasi tidak banjir yang bisa membantu mereka.

Proporsi ini terbesar jika dibandingkan dengan kelurahan lainnya di wilayah pesisir. terdapat dua wilayah yang warganya melakukan upaya pengurangan konsumsi air relatif lebih tinggi persentasenya dibandingkan dengan wilayah lainnya. yaitu Sukabumi Indah (27.05 persen warga di wilayah ini membeli air. Demikian juga di dua wilayah lainnya. jumlah warga di wilayah pesisir yang melakukan pembelian air di saat kekeringan sebanyak 37. 3. Tercatat sebanyak 82. Disetiap wilayah biasanya terdapat sumur sebagai sumber air bersama. Perilaku adaptasi memompa air dari sumber terdekat. Akan tetapi warga yang melakukan hal ini tidaklah banyak.1. Perilaku adaptasi memompa air banyak dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. Respon terhadap kekeringan dengan cara membeli air dilakukan terutama untuk keperluan mandi.86 persen. Jika dilihat secara detail proporsi di masing-masing wilayah/kelurahan. Jika dilihat secara detail. Selain itu dapat juga diakibatkan tidak ada orang yang menjual air. Perilaku adaptasi membeli air. Kota Karang dan Panjang Salang. karena keadaan geografis yang tidak memungkinkan orang bisa berjualan air. terutama untuk aktifitas mandi dan mencuci. jual beli air di wilayah ini merupakan hal biasa terjadi pada saat kekeringan. memiliki sumber daya air yang bisa diandalkan ketika kekeringan.85 persen dari total warga Lampung. Respon membeli air. wilayah seperti Pasir Gintung. sedangkan untuk wilayah non pesisir sebanyak 19.59 persen dari total warga di Sukabumi Indah) dan Panjang Selatan (27. Respon pertama saat kekeringan terjadi adalah pengurangan konsumsi air. lebih banyak dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. Berbeda dengan warga di Kelurahan Pasir Gintung dan Sukabumi Indah. Kangkung. Perilaku adaptasi mengurangi konsumsi air. Jika dilihat secara detail untuk setiap kelurahan. sedangkan di Panjang Selatan sebanyak 62. Dengan demikian warga di wilayah ini mengandalkan sumber air yang tersedia. Sementara itu proporsi warga di wilayah pesisir relatif merata dengan kisaran proporsi sebesar 22-30. buang hajat dan keperluan memasak.52 persen dari total warga Lampung.97 persen. Berdasarkan data. 2. persentase jumlah warga yang memompa air dari sumber terdekat di wilayah pesisir lebih besar daripada wilayah non pesisir. Demikian halnya untuk wilayah pesisir. di Kota Karang sebanyak 67. Dengan demikian. walaupun terjadi kekeringan di wilayah Bandar Lampung.27 persen di wilayah pesisir dari total warga yang melakukan pengurangan konsumsi air. tercatat sebanyak 58 persen yang membeli air saat kekeringan terjadi di wilayah ini.50%. semua warga di kelurahan Batu Putu tidak melakukan pembelian air disaat terjadi kekeringan. Hal ini dimungkinkan karena pasokan air di wilayah ini relatif tersedia dibandingkan dengan wilayah lainnya.66 persen di wilayah non pesisir dan 8. Tercatat sebanyak 8. pada situasi seperti ini secara otomoatis masyarakat berperilaku hemat air. Sedangkan di Sukabumi Indah sebanyak 68. Wilayah di pesisir yang relatif banyak membeli air adalah Kelurahan Kangkung. 75 . Dari semua warga di Pasir gintung. Tercatat hanya sebesar 20 persen dari jumlah warga di Pasir Gintung yang memompa air dari sumber terdekat. mengingat kedua lokasi ini berada di dekat perkotaan.7 persen dari total warga masing-masing wilayah. ketersediaan air diperoleh dengan cara memopa air dari sumber terdekat.50 persen dari total warga di Panjang Selatan). Bagi warga yang tidak membeli air.

Yang kedua adalah dengan cara memberdayakan anggota keluarganya. yaitu (1). mereka juga memanfaatkan lahannya untuk menanam tanaman hortikultur seperti sayuran dan buah-buahan. dan (3). Tanaman hortikultur ini memiliki daur yang lebih pendek daripada tanaman perkebunan. seperti istri maupun anak-anak yang sudah dewasa. Rangkuman tentang besaran dampak bencana serta upaya-upaya penanggulang warga terhadap masalah-masalah yang timbul dapat dilihat pada Tabel 4. kebutuhan hidup dapat dibantu dari hasil panen sayuran dan buah-buahan. dapat di bantu oleh harga jual tanaman lain yang relatif lebih stabil. Strategi pola nafkah ganda ini dilakukan hampir di semua kelurahan amatan. Demikan juga adakalanya tanaman perkebunan yang sudah berbuah. dapat ditarik informasi bahwa strategi nafkah yang dilakukan masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung selama ini adalah intensifikasi pertanian dan pola nafkah ganda. menjadi gagal panen karena adanya angin puyuh yang menyebabkan buah menjadi rontok. Pola nafkah ganda (keragaman nafkah). maka keberadaan bencana banjir memberikan dampak kerugian yang lebih lebih besar terhadap ekonomi masyarakat Kota Bandar Lampung. tanaman hortikultur dapat membantu masalah ekonomi yang sulit. Biasanya dalam satu lahan.7 dan Tabel 4-8. Aktivitas di off farm biasanya merupakan sampingan di luar pekerjaan pokok. dimana sambil menunggu hasil panen dari tanaman perkebunan. baik di wilayah pesisir maupun di wilayah non pesisir. Selain menanam tanaman perkebunan. masyarakat menanam beberapa jenis tanaman perkebunan. 76 . (2). yang biasanya terdiri dari aktivitas-aktivitas ekonomi pokok di bidang on farm dan off farm. pertama adalah keragaman nafkah. Intesifikasi dan ekstensifikasi pertanian. yaitu kombinasi dari beberapa matapencaharian yang dimiliki oleh seseorang. Bila dibandingkan antara bencana banjir dan bencana kekeringan. Sehinggan bila harga suatu tanaman jatuh. Berdasarkan hasil survey dan FGD di kelurahan amatan. Migrasi atau gerak penduduk secara permanen. Pola nafkah ini dilakukan dengan dua cara. Strategi ini juga berlaku baik pada masyarakat dengan mata pencaharian baik di sektor on farm maupun di sektor off farm. Intensifikasi pertanian dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Batu Putuk dengan cara diversifikasi keragaman jenis tanaman. Strategi nafkah yang kedua yang dilakukan masyarakat pada kelurahan amatan adalah pola nafkah ganda.Strategi Nafkah Strategi nafkah yang umum terjadi pada masyarakat ada tiga. Dalam kondisi demikian.

Tabel 4-7. Dampak Bencana yang Menimpa Warga Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009
Panjang Selatan Masalah Banji r (%) 10 35 22,5 10 27,5 17,5 42,5 Kek erin gan (%) 10 47,5 5 2,5 10 12,5 25 Pasir Gintung Banj ir (%) 6 18 48 44 4 18 40 Kek erin gan (%) 2 40 2 2 4 6 14 Kota Karang Ban jir (%) 8,9 23,2 8,9 12,5 12,5 19,6 48,2 Keke ringa n (%) 3,6 39,3 10,7 17,9 25 Batu Putuk Keke ringa n (%) 10 32,5 2,5 35 32,5 7,5 Sukabumi Indah Ban jir (%) 12,9 6,5 6,5 3,2 3,2 22,6 Kekerin gan (%) 3,2 54,8 3,2 35,5 Kangkung Ke ker ing an (% ) 5,1 23, 1 2,6 2,6 15, 4 23, 1 30, 8

Ban jir (%) 2,5 5 -

Ban jir (%) 7,7 5,1 7,7 17,9 23,1 41

Pangan Air minum Rumah rusak Kerusakan asset Lapangan pekerjaan berkurang Berhutang Penyakit Penurunan produksi pertanian/t ernak/ ikan Kriminalit as Limbah

22,5

7,5

2

-

21,4

10,7

5

40

-

-

17,9

7,7

7,5 17,5

5 7,5

12

-

3,6 23,2

7,1 5,4

-

-

6,5 3,3

3,2 -

5,1 28,2

5,1 28, 2

Dari Tabel 4-8. dapat ditarik informasi bahwa, secara parsial dampak dari bencana banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung memiliki besaran yang relatif kecil. Besaran dampak ini diperoleh berdasarkan persepsi warga terhadap besarnya dampak bencana yang mereka rasakan pada berbagai aspek ekonomi. Dalam kenyataannya bencana yang terjadi di Bandar Lampung memang relatif masih jarang terjadi, bersifat lokal, dengan skala yang relatif kecil bila dibandingkan dengan daerah-daerah bencana lainnya. Namun bila melihat potensi kejadian iklim ekstrim yang semakin meningkat di masa datang, maka besaran dampak juga akan semakin besar. Tabel 4-8. Rangkuman Persepsi Masyarakat di Bandar Lampung Terhadap Besaran Dampak Bencana, serta Upaya Penanggulangan yang Dilakukan.
No 1 Masalah Terganggunya mata pencaharian utama: turunnya pendapatan Jumlah pengangguran Besaran Upaya Penanggulangan 16,73% warga menyatakan terganggunya Mencari alternatif mata pencaharian utama saat banjir mata pencaharian 9,96% warga menyatakan terganggunya lain, berhutang mata pencaharian utama saat kekeringan

2

11,3% warga mengatakan sangat susah mencari pekerjaan lain saat kejadian bencana banjir 77

3

Kelangkaan Pangan

4

Harga beberapa komoditi

5

Kelangkaan air minum

10,9% warga mengatakan sangat susah mencari pekerjaan lain saat terjadinya bencana kekeringan 5,9% warga menyatakan ada kelangkaan pangan saat tejadi bencana banjir 5,5% warga menyatakan ada kelangkaan pangan saat terjadi bencana kekeringan. Saat terjadi banjir, harga beras: meningkat 13,65 persen, ikan: 28,86 persen, palawija: 24 persen Saat terjadi kekeringan, harga beras meningkat: 12,79 persen, ikan meningkat: 13,71 persen dan palawija: 26,73 persen 19,1% warga menyatakan ada kelangkaan air minum saat terjadi bencana banjir 43,4% warga menyatakan ada kelangkaan air minum saat terjadi bencana kekeringan

Makan seadanya, meminta bantuan, dan berhutang. Makan seadanya, meminta bantuan, dan berhutang.

6

Kerusakan rumah

7

Kerusakan asset

8

Berhutang/ meminjam uang, Timbulnya berbagai penyakit

9

10

Penurunan produksi pertanian/ ternak/ ikan.

11

Evakuasi/ mengungsi Limbah

12

Mencari sumber lain, membeli air galon, menghemat pemakaian air, mengambil air dimasjid. 16,4% warga menyatakan mengalami memperbaiki rumah. kerusakan rumah pasca kejadian bencana banjir pasca kejadian kekeringan hanya 2% warga yang menyatakan mengalami kerusakan rumah 14,8% warga menyatakan mengalami Diperbaiki kerusakan aset pasca kejadian banjir pasca kejadian kekeringan hanya 1,2% warga yang menyatakan mengalami kerusakan aset 15,2% warga mengaku berhutang saat menggadaikan terjadi bencana banjir barang. 16% warga mengaku berhutang saat terjadi bencana kekeringan. 34% warga menyatakan timbul berbagai Berobat dan penyakit saat kejadian bencana banjir memelihara 22,3% warga menyatakan timbul berbagai kebersihan penyakit saat kejadian bencana kekeringan 12,1% warga mengeluhkan nya saat Tanaman dipupuk, kejadian bencana banjir diversifikasi 10,9% warga mengeluhkan nya saat tanaman kejadian bencana kekeringan. mencari pekerjaan lain berhutang 9% warga menyatakan mengungsi saat terjadi bencana banjir tetapi tidak di saat terjadi bencana kekeringan 14,1% warga mengeluhkannya saat dibersihkan dan di kejadian bencana banjir daur ulang 6,6% warga juga mengeluhkan hal serupa saat kejadian bencana kekeringan

78

BAB 5 PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF
5.1. Metodologi untuk Pemetaan Kerentanan dan Kapasitas Adaptif

Untuk menentukan indeks kapasitas dan kerentanan, kami menggunakan data survey sosio-ekonomi 2005 tingkat kelurahan (desa) dari Badan Pusat Statistik (BPS), sedangkan untuk beberapa data biofisik diperoleh dari sektor terkait atau dari citra satelit yang dihasilkan berdasarkan teknik-teknik interpretasi dengan GIS (Tabel 5-1). Semua data dibobot menurut kepentingan relatif mereka dalam membentuk kerentanan (5) dan kapasitas (C) untuk beradaptasi. Tabel 5-1. Indikator yang digunakan untuk mendefinisikan Kerentanan dan Kapasitas dan bobotnya
A A1 A2 Kapasitas Fasilitas listrik Pendidikan 0.07 0.13 0.20 0.27 0.30 Bobot B Kerentanan Jumlah rumah tangga yang tinggal di bantaran sungai Jumlah bangunan pada bantaran sungai Layanan air dari PDAM Kepadatan penduduk Kemiskinan Fraksi pantai Fraksi sungai Fasilitas non-drainase Bukan area terbuka hijau Bobot 0.05 0.05 0.10 0.10 0.20 0.10 0.10 0.20 0.10

0.05 B1 0.25 B2 B3 B4 B5 B6 B7 0.30 B8 0.20 B9 0.20 0.30 0.20 0.10 0.20 0.20

A21 TK A22 SD A23 SMP A24 SMA A25 Universitas A3 A4 Sumber utama pendapatn Fasilitas kesehatan

A41 Puskesmas A42 Poliklinik A43 Posyandu A44 Praktek bidan A45 Praktek dokter A5 Infrastruktur jalan

Catatan: *Pada hal fasilitas, Poliklinik adalah lebih baik dari Puskesmas karena poliklinik dioperasikan oleh pihak swasta, tetapi biaya pada poliklinik lebih tinggi dari biaya di Puskesmas. **Dari PDAM, *** Data dibangkitkan dari citra satelit dan peta topografi, **** Data dari RTRW 2005-2015 (Bappeda, 2003). Data lainnya dari data Potensi Desa BPS (2006). Untuk mengukur posisi relatif kerentanan dan kapasitas untuk beradaptasi suatu kelurahan, kami menentukan indeks kapasitas (CI) dan indeks kerentanan (VI). Indeks Kapasitas (CI) dikembangkan dengan menggunakan lima indikator utama (A1, ..., A5). Setiap indikator diberi skor. Indikator A1 adalah persentase rumah tangga di desa yang menggunakan fasilitas listrik yang mewakili tingkat kekayaan masyarakat dari desa-desa. Indikator A2 adalah pendidikan yang dapat mewakili kapasitas masyarakat di desa-desa dalam mengelola risiko. Semakin tinggi
79

Semua nilai-nilai sub-indikator dinormalisasi berdasarkan populasi dari masing-masing Kelurahan.50 Perdagangan. Jasa 1. Posyandu (Ps).20*Ji) + 1/Pij*(0. maka nilai indikator adalah 0. Semakin baik fasilitas kesehatan di Kelurahan maka kelurahan ini memiliki kapasitas yang lebih tinggi. Rumus untuk menghitung CI adalah sebagai berikut: 80 . Pk). Indikator A3 merupakan sumber penghasilan utama masyarakat di kelurahan. dan kecamatan-k kelurahan-i. Dalam kasus ini misalnya. Indikator ini terdiri dari lima sub-indikator yaitu jumlah TK (N). Penskoran dari nilia IA2 pada tiap kelurahan dihitung menggunakan rumus berikut: IA2i= 1/Pi * (0.pendidikan kapasitas mereka dalam mengelola risiko lebih baik.13*Ei+0.07*Ni+0.33*Uk) Dimana Pi. Klinik Bidan (B) dan Klinik Dokter (D). Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas. Indikator ini lebih lanjut dibagi ke dalam 5 sub-indikator yaitu: jumlah Poliklinik (Pl). maka semua indikator dinormalkan dengan skor tertinggi untuk mendapatkan kisaran skor antara 0 dan 1. Nilai skor di setiap Kelurahan IA4 dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: IA4i= 1/Pi * (0. SMP (J) pada tingkat kelurahan dan jumlah SMA (H) pada tingkat kecamatan dan jumlah Universitas (U) pada tingkat kota. SD (E).27*Sj)+1/Pik*(0.3*Pli+0. kelurahan di mana pertanian merupakan sumber utama pendapatan masyarakat. semua nilai dibagi dengan skor tertinggi untuk mendapatkan nilai-nilai skor indikator berkisar dari 0 hingga 1 Indikator 5 adalah jenis dominan dari infrastruktur jalan. Nilai indikator berdasarkan jenis sumber pendapatan utama di suatu kelurahan No 1 2 3 4 Sumber utama pendapatan Skor (nilai indikator) Pertanian 0. Semua nilainilai sub-indikator dinormalisasi dengan jumlah populasi Kelurahan yang bersangkutan. Untuk kelurahan-kelurahan di mana sumber utama pendapatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim akan memiliki skor kapasitas rendah. dan Pik adalah jumlah populasi pada kelurahan-i.00 Indikator A4 adalah fasilitas kesehatan yang mewakili akses masyarakat ke fasilitas kesehatan. Tabel 5-2.25. Karena nilai indikator sangat kecil. transportasi dan bisnis komunikasi 0.2*Psi+0.25 Pertambangan dan industri 0. Untuk data ini kita mendefinisikan desa di mana infrastruktur jalan yang dominan terbuat dari aspalt akan memiliki nilai 1 Sementara bagi mereka yang non-aspalt akan mempunyai nilai 0. Nilai indikator berdasarkan sumber utama pendapatan disajikan pada Tabel 5-2.75 dll. Pij.2*Di) Karena nilai skor indikator ini sangat kecil.1*Bi+ 0. kecamatan-j Kelurahan-i.2*Pki+0.

Indikator B4 adalah kepadatan penduduk di mana semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka akan lebih tinggi tingkat paparan dari masyarakat terhadap bencana. sedangkan penambahan jarak 100 meter digunakan untuk mengantisipasi air pasang ekstrem. Indeks Kerentanan (VI) juga dikembangkan dengan menggunakan pendekatan yang sama.. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil. Serupa dengan Indeks Kapasitas (CI). Nilai indikator ini dinormalisasikan dengan jumlah penduduk pada kelurahan tersebut. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil. maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dinormalkan dengan nilai maksimalnya. B5 adalah indikator jumlah rumah tangga miskin. semakin tinggi nilai indeks kapasitas. Semua nilai-nilai indikator ini sudah dinormalisasi oleh jumlah maksimum bangunan yang terletak di tepi sungai. karena tingkat pemaparan kelurahan ini terhadap dampak kenaikan permukaan laut akan lebih tinggi daripada yang terletak di pedalaman. Pemilihan nilai-nilai bobot bersifat subjektif. semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimal. Hal ini dikarenakan genangan air pasang tinggi (rob) biasanya digunakan sebagai indikator dampak kenaikan permukaan air laut. Kelurahan dengan fraksi pesisir tinggi akan lebih rentan daripada Kelurahan dengan fraksi pesisir kecil. maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimalnya. Hal ini menempatkan kelurahan tersebut lebih rentan. Indikator B3 adalah fraksi dari Kelurahan yang menerima layanan air minum. Nilai indikator ini adalah dinormalkan dengan ukuran penduduk Kelurahan. Kelurahan di mana sebagian besar masyarakat mendapatkan air minum dari Perusahaan Air Minum Negara (PDAM) akan kurang rentan terhadap dampak kekeringan karena PDAM biasanya masih bisa mensuplai air minum pada semua musim (kering atau basah). Indikator B1 adalah persen dari rumah tangga di Kelurahan yang tinggal di tepi sungai.CI i = ∑ wij * I Aij j =1 5 Di mana subskrip -ith mewakili desa -ith dan Wij adalah nilai bobot untuk indikator A-jth dari desa -ith. Indikator B2 adalah jumlah bangunan yang terletak di tepi sungai. Indikator B6 adalah fraksi wilayah pesisir di Kelurahan. Fraksi pesisir ditentukan dengan membagi daerah yang terkena gelombang pasang 100 m di setiap Kelurahan dengan luas wilayah Kelurahan tersebut(Gambar V-1). B8) sebagaimana ditetapkan dalam Tabel 4.. didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat relatif pentingya suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas.. Dengan rumus ini. agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1. 81 . Untuk mendapatkan nilai-nilai dari indikator berkisar dari 0 hingga 1. Ada delapan indikator utama (B1. agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1. Nilai skor dari indikator ini adalah satu dikurangi dengan nilai skor yang telah dinormalkan tadi. semakin tinggi kapasitas kelurahan. .

Berdasarkan aturan ini. 82 . Dalam studi ini. dan pertemuan antara order-2 mewakili order ke-3. Area pantai yang dipengaruhi oleh gelombang setinggi +100 m Indikator B7 adalah fraksi sungai yang ditentukan berdasarkan urutan (order) sungai. semakin tinggi tingkat kerentannya. bagian dari sungai yang terbentuk sebagai hasil dari pertemuan antara order tertentu dianggap sebagai tingkat order berikutnya. Gambar V-2A mengilustrasikan order tertinggi sungai ditandai dengan garis merah. Namun. ditargetkan luas wilayah banjir seperti yang ditunjukkan pada Gambar V-2B diasumsikan sejauh 100 meter ke kiri dan kanan sisi segmen. Indikator B8 mengindikasikan fraksi kelurahan yang tidak memiliki fasilitas drainase. sungai memiliki order-4 sebagai tingkat tertinggi. dalam kasus di mana dua order dengan tingkat yang berbeda bertemu di segmen tertentu. Semakin tinggi indikator ini. jaringan sungai dinotasikan sebagai angka berdasarkan tingkat (order). yang sangat sering menjadi sasaran banjir. hal itu disebut sebagai order-1. Segmen sungai di mana kita dapat menemukan pertemuan antara order-1 didefinisikan sebagai order ke-2 sungai. Bagian atas aliran sungai diberi nomor notasi sama dengan 1. Dalam kasus ini. Order sungai ditentukan dengan menggunakan metode Strahler (1986). Dalam metode ini. Urutan tertinggi ini biasanya diwakili oleh lokasi dari akumulasi aliran permukaan.Area affected by tide+100 m Gambar 5-1. hal ini dapat mengacu pada order tertinggi. Indikator B9 non-kawasan terbuka hijau yang akan menentukan kapasitas tanah dalam menyerap curah hujan. dengan demikian.

semakin tinggi indeks.5. maka nilai VI dan CI akan berkisar dari -0. Berdasarkan sistem klasifikasi ini. Dengan formula ini.5 ke 0. Sebagai VI dan nilai-nilai CI berkisar dari 0 hingga 1.5. Klasifikasi Kelurahan (Desa) Berdasarkan Indeks Kerentanan dan Kapasitas Untuk mengelompokkan desa-desa berdasarkan tingkat kerentanan dan kapasitas. dengan mengurangi nilai-nilai dengan indeks 0.A B Gambar 5-2.Penentuan order aliran tertinggi (A) & pendugaan luas dari luapan air sungai (B) Formula untuk menghitung CI adalah sebagai berikut: VI i = ∑ wij * I Bij j =1 5 Di mana subskrip -ith mewakili Kelurahan-ith dan Wij bersifat subjektif. jika kelurahan terletak di kuadran 5 terkena bencana tertentu. semakin rentan kelurahan ini. 5.5. didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat kepentingan relatif dari suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas.2. semua nilai-nilai VI dan CI dari semua Kelurahan dikurangi 0. 83 . Kelurahan yang terletak di Kuadran 5 akan memiliki CI rendah dan VI tinggi. Posisi relatif Kelurahan menurut CI dan VI ditentukan berdasarkan posisi mereka di lima Kuadran seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5-3. Sedangkan kelurahan yang terletak di kuadran 1 akan mempunyai VI rendah dan CI tinggi. dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan kelurahan apabila kelurahan tersebut terletak di kuadran 1.

25 -0.25 Low Capacity Index 3 High Capacity Index 2 1 -0. 84 .25 Low Vulnerability +0.50 5 4 +0. ini dikarenakan tidak tersedianya data dari sumber lain.50 -0. kami hanya mempertimbangkan perubahan kepadatan penduduk (berdasarkan proyeksi pemerintah).50 Gambar 5-3. Faktor-faktor yang digunakan untuk normalisasi skor indikator pada 2025 dan 2050 adalah sama dengan tahun baseline 2005.High Vulnerability Index +0.25 Index +0.50 -0. Pengelompokan kelurahan berdasarkan indikator kapasitas dan kerentanan Untuk menilai perubahan V dan C di masa depan. pendidikan dan non-kawasan terbuka hijau (berdasarkan perencanaan wilayah atau RTRW).

mengingat hasil analisis yang diperoleh unuk proyeksi ke depan (2050) pada level yang dapat dikatakan sama dengan kondisi baseline 2005. (C) 2050 Gambar 5-4 menunjukkan nilai indeks untuk kerentanan dan kapasitas untuk setiap kelurahan di Bandar Lampung. namun demikian masih dapat dianggap stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa pada kondisi lingkungan yang sama kemampuan untuk beradaptasi lebih meningkat.51.96. (B) 2025. dan proyeksi pada tahun 2050 menunjukkan nilai indeks 0. 85 . Berdasarkan hasil proyeksi ini menunjukkan bahwa kemampuan kapasitas atau adaptasi masyarakat di Bandar Lampung cukup baik.19 hingga 0.22-0.(A) (B) (C) Gambar 5-4.29-0.02. VI berkisar antara 0.23 hingga 0.41-1.05. Indeks Kerentanan dan Kapasitas Kelurahan (A) Baseline.431. nilai CI bervariasi pada kisaran 0.53.52. Kondisi tersebut ditunjukkan pula dengan semakin meningkatnya nilai indeks CI. sedangkan proyeksi untuk tahun 2050 VI berkisar antara 0. Pada tahun 2005. Berdasarkan hasil ini dapat dijelaskan bahwa tingkat kerentanan sedikit melebar. pada tahun 2025 VI berkisar antara 0. tetapi proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan peningkatan yang signifikan 0. Pada kondisi baseline 2005.

(A)

(B) Figure 5-5. Coping capacity index of Kelurahan of Lampung City (A) Baseline, (B) 2025, (C) 2050

(C)

Kondisi kerentanan dan kapasitas ditunjukkan mulai dari sangat rendah (hijau) hingga sangat tinggi (merah). Berdasarkan Gambar 5-5, terlihat bahwa kondisi baseline 2005 dan kondisi proyeksi pada tahun 2025 dan 2050 tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Namun demikian dari gambaran tahun 2050, terlihat bahwa pada sebagian daerah yang semula ditunjukkan dengan warna merah (sangat tinggi) berubah menjadi oranye (tinggi) dan pada sebagian daerah lain warna kuning (medium) berubah menjadi warna hijau (very low), artinya terjadi penurunan VI atau peningkatan CI. Meskipun ada juga sebagian kecil daerah yang semula berwarna kuning (medium) menjadi oranye (high), artinya terjadi peningkatan VI atau penurunan CI.

86

BAB 6 ANALISIS RISIKO IKLIM

6.1. Metodologi untuk Pemetaan Risiko Iklim Untuk menilai risiko iklim saat ini dan masa depan, kita mengadopsi definisi risiko iklim seperti yang disarankan oleh Beer dan Ziolkowski (1995) dan Jones et al. (2004). Risiko didefinisikan sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian iklim tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi dari kejadian iklim tak terduga jika itu terjadi. Dengan demikian risiko dapat disajikan dalam bentuk matriks risiko (Tabel 6-1). Dari Tabel 6-1, kita dapat mendefinisikan risiko iklim akan sangat tinggi jika kemungkinan terjadi kejadian tak terduga sangat mungkin dan konsekuensi dari peristiwa bencana bersifat katastrofik. Tabel 6-1. Matriks risiko sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi jika kejadian tak terduga itu terjadi. Kemungkinan Konsekuensi katastropik kritis Marginal Probabilitas terjadinya suatu kejadian yang tidak diharapkan Kemungkinan Sangat Mungkin Mungkin kecil Sangat Tinggi Tinggi Medium Tinggi Medium Rendah Medium Rendah Sangat Rendah

Konsekuensi dari kejadian akan tergantung pada rentang adaptasi (coping range) yang dibentuk oleh berbagai biofisik, sosial dan faktor-faktor ekonomi. Coping range merupakan selang toleransi dari suatu sistem terhadap keragaman iklim. Apabila kondisi iklim melewati selang toleransi ini maka sistem akan rusak atau keberlanjutan dari sistem akan terganggu (Boer, 2007). Dalam konteks ini, coping range dapat diwakili oleh indeks kerentanan dan kapasitas. Jadi jika peristiwa tak terduga terjadi di kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan kapasitas yang rendah, dampak dari kejadian itu akan tinggi. Jika itu terjadi di kelurahan dengan kerentanan rendah dan kapasitas yang tinggi, dampaknya diharapkan akan rendah. Dalam studi ini, kami mengadopsi lima tingkat coping capacity index seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.4. Untuk memasukkan beberapa bencana iklim yang ditampung dalam matriks risiko iklim, kita memodifikasi kemungkinan kejadian tak terduga yang didefinisikan dalam Tabel 6-2 sebagai indeks yang disebut indeks komposit bencana iklim/composite climate hazard index (CCHI). The Climate Hazard Index (indeks bencana iklim/CHI) is dihitung mengikuti formula:

CCHI i = ∑ wij * CHI ij
j =1

n

di mana CCHIi adalah indeks bencana iklim komposit dari kelurahan ke-i, wij adalah bobot bencana iklim ke-j di kelurahan ke-i dan CHIij adalah indeks bencana iklim kej dari kelurahan ke-i. Jenis bencana iklim yang dianalisis dalam studi ini adalah
87

banjir, kekeringan, longsor dan kenaikan permukaan laut (robs). Angin yang kuat sangat jarang terjadi di kota karena itu kita mengecualikan dalam analisis ini. Bobot dan formula yang digunakan untuk menghitung indeks bencana iklim diberikan pada Tabel 6-2. Matriks risiko iklim yang disesuaikan disajikan pada Tabel 6-3. Tabel 6-2. Bobot dan rumus untuk menghitung indeks bencana iklim
Tipe bencana Bobot* Formula Probabilitas untuk mempunyai curah hujan melebihi 339 mm dikalikan dengan rataan wilayah Kelurahan yang dipengaruhi oleh banjir. Untuk mendapatkan nilai index antara 0 – 1, maka nilai yang diperoleh dari 1.25 hitungan dinormalisasikan dengan nilai maksimumnya. Probabilitas untuk mempunyai bulan kering dengan panjang lebih dari 6 bulan dikalikan dengan jumlah bulan kering di atas 6 bulan (DM6+). Bulan kering adalah bulan dengan curah hujan kurang dari 129 mm. Jika total bulan kering adalah 8 bulan, maka DM6+ = 2 bulan. Untuk mendapatkan nilai index antara 0 – 1, maka nilai yang diperoleh dari 1.50 hitungan dinormalisasikan dengan nilai maksimumnya. Probabilitas untuk mempunyai curah hujan lebih besar dari nilai Q2 dikalikan dengan indikator kelerengan dari kelurhan bersangkutan. Kelurahan yang memiliki lokasi dengan kelerengan lebih besar dari 45o, 0.75 maka nilai indikator sama dengan 1, selainnya bernilai 0.

Banjir

Kekeringan

Tanah Longsor Kenaikan muka air laut Max CCHI

1.00 Fraksi dari kelurahan yang tergenang akibat kenaikan permukaan air laut 4.50

Catatan: Bobot sangat subjektif dan ditentukan berdasarkan Expert Judgement. Kekeringan memiliki bobot tertinggi karena dampaknya bisa lebih parah daripada banjir pada durasi dan luas wilayah yang terkena dampak. Dampak banjir, longsor dan kenaikan permukaan laut lebih lokal daripada kekeringan. Tabel 6-3. Matriks risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index (CCHI, indeks komposit bencana iklim) Indeks komposit bencana iklim (CCHI) Lebih dari 3.5 Antara 2.0 dan 3.5 Kurang dari 2.0 Sangat Tinggi Tinggi Sedang - Tinggi Tinggi Sedang - Tinggi Sedang Sedang - Tinggi Sedang Sedang - Rendah Sedang Sedang - Rendah Rendah Sedang - Rendah Rendah Sangat Rendah

Coping Capacity Index 5 4 3 2 1

Metodologi untuk menentukan ambang curah hujan yang menyebabkan banjir dan kekeringan didasarkan pada distribusi statistik dari curah hujan bulanan dan data bencana dari 7 kelurahan (Tabel 6-4). Ambang batas kritis curah hujan tersebut ditetapkan berdasarkan karakteristik dari bencana dan waktu terjadinya bencana (bulan dan tahun) dan intensitas curah hujan bulanan regional dari tahun yang bersangkutan (berdasarkan data dari Stasiun Masgar, 05°10'12" LS dan 105°10'29.4" BT).
88

Untuk banjir. Figure VI-1.Table 6-4. Ini berarti bahwa jika curah hujan di bawah 129 mm.4047 -5. JanMar May-Oct Apr-Oct Feb-Sept Every month May-Oct Incident Year 1981-2007 2008 2008 2008.4465 -5.4465 -5.3983 -5. Jadi. banjir akan terjadi.2957 105.2606 105.2571 105.2009 2006 Every year Every year Every year Every year Every year Every year Sumber: Bappeda Lampung (2006) Berdasarkan Boxplot data curah hujan bulanan musim kemarau dan musim hujan (Gambar 6-1). kekeringan akan terjadi. 129 mm Gambar 6-1 Box plot curah hujan bulanan pada musim hujan dan kemarau selama tahun-tahun terjadi bencana dan tahun-tahun tidak terjadi bencana 89 . 339 mm Threshold for drought.4314 Date and Month Oct-Dec Jul 18-Dec Aug-Oct Jan Rainy season May-Aug. Kejadian banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung Type of Disasters Flood Name of Village Panjang Selatan Sukabumi Indah Pasir Gintung Kota Karang Kangkung Batu Putu Drought Panjang Selatan Sukabumi Indah Pasir Gintung Kota Karang Kangkung Batu Putu Sub-District Panjang Sukabumi Tanjung Karang Pusat Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Utara Panjang Sukabumi Tanjung Karang Pusat Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Utara Lon 105.3231 105.4547 -5. jika curah hujan musim hujan di atas nilai ini.4314 -5. kita mengadopsi nilai kritis 339 mm (kuartil 3 dari distribusi) karena banjir tidak terjadi setiap tahun sebagaimana kekeringan.2229 Lat -5.2009 2006.2606 105.3983 -5.4752 -5.4752 -5. Nilai ini diambil sebagai ambang curah hujan yang menyebabkan kekeringan ketika kekeringan terjadi setiap tahun (Tabel 64).4047 -5.3231 105.2229 105. Threshold for flood.4547 -5.2956 105.2571 105.2677 105.2677 105. kami menemukan curah hujan yang memisahkan dua distribusi curah hujan bulanan yaitu sebesar 129 mm.

Catatan: Hijau (<0.50) 90 . Klasifikasi Kelurahan (Desa) berdasarkan Tingkat Eksposur terhadap Risiko Iklim Gambar 6. (E) Bencana Iklim skenario B1 2025. Kuning (1. yaitu di bagian selatan Kecamatan Panjang. (C) Bencana Iklim skenario A2 2050. (B) Bencana Iklim skenario A2 2025.75-1.5 (ditampilkan dalam warna merah pada skenario A2 dan B1). B1 pada`tahun 2025 dan skenario bencana iklim B1 pada tahun 2050. Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah berada pada kisaran indeks <1.75). dan hanya sebagian kecil yang >1. Merah (> 1. (F) Bencana Iklim skenario B1 2050. A2 pada tahun 2050.2 menunjukkan Indeks Komposit Bencana Iklim baseline 2005.6. Catatan: (A) & (D) Bencana Iklim Baseline. skenario bencana iklim A2 pada tahun 2025.5 (ditunjukkan dengan warna hijau dan kuning pada gambar). A B C D E F Gambar 6-2.50).2. Indeks Bencana Iklim komposit Bandar Lampung.

daerah yang memiliki indeks >1. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik. (F) Risiko Iklim B1 skenario 2050 91 . (B) Risiko Iklim skenario A2 2025. Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur mereka terhadap risiko iklim (A) & (D) Risiko Iklim Baseline. Baseline Bencana Iklim tahun 2005.5 sedikit lebih lebar (Gambar 6. (C) Risiko Iklim skenario A2 2050. ketika diproyeksikan dengan skenario A2 dan B1 pada tahun 2025 dan 2050. Kemampuan adaptasi yang lebih tinggi akan memiliki interval toleransi dari sistem yang lebih luas. A B C D E F Gambar 6-3.Dalam skenario A2. yang ditunjukkan oleh sebagian dari Kecamatan Teluk Betung Barat. (E) Risiko Iklim skenario B1 2025.2 B dan C) dari pada baseline atau skenario B1. pada banyak wilayah tidak mengalami perubahan. Adaptasi akan menentukan lebar atau sempitnya coping range (interval toleransi).

yaitu kelurahan Gunung Mas di Kecamatan Teluk Betung Utara dan Kelurahan Garuntang di Kecamatan Teluk Betung Selatan.4).1%) berada pada risiko iklim M (Menengah).Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur risiko iklim ditunjukkan pada Gambar 6. Ada sekitar 14 Kelurahan (14. Sementara banyak dari Kelurahan dengan kategori risiko L-M akan pindah ke kategori risiko sedang (M) (Gambar 6.4). Sisanya adalah 5 Kelurahan (5. Kategori tertinggi adalah hanya Menengah ke Tinggi (M-H). Sepang Jaya dan kelurahan Kedaton (Kecamatan Kedaton). Ini termasuk Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat). Program adaptasi harus diprioritaskan di Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah dan sedang terkena atau berpotensi terkena indeks bencana iklim yang tinggi. 22 Kelurahan (22. infrastruktur dan program pengembangan masyarakat harus diarahkan untuk meningkatkan indikator-indikator sosial-ekonomi dan biofisik dalam mempersiapkan kapasitas kerentanan dan adaptasi dari Kelurahan.7%) pada risiko iklim L-M (Rendah ke Medium).4%) Kelurahan pada risiko iklim VL (sangat rendah). terutama di bawah skenario SRESB1. 36 Kelurahan (36. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada Kelurahan dengan kategori risiko iklim Sangat Tinggi (VH) saat ini (kondisi baseline).4.3.4%) pada risiko L (rendah) dan 21 (21. Jumlah Kelurahan menurut kategori Indeks Risiko Iklim Analisis di atas menunjukkan bahwa bagaimana perubahan dalam kondisi sosialekonomi dan biofisik akan mengubah kapasitas ketahanan Kelurahan. Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang Sub-distrik). Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). Gambar 6. dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Ada dua Kelurahan akan pindah dari M-H ke kategori risiko iklim tinggi. akan terkena risiko iklim yang lebih tinggi (Gambar 6. 92 . Kelurahan Kangkung. lebih banyak Kelurahan. Bumi Waras dan Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan). Untuk mengurangi tingkat risiko Kelurahan terhadap dampak perubahan iklim.2%) dengan kategori risiko M-H. Di masa depan (skenario 2025 dan 2050).

Kota Bandar Lampung terletak lebih dari 50 km sebelah barat laut Gunung Krakatau.1. Berdasarkan data distribusi episentrum gempa dangkal dan menengah di sekitar Selat Sunda. Potensi bencana lain yang dapat mengancam kota Bandar Lampung adalah letusan gunung berapi. Kemungkinan bahaya yang mengancam adalah hujan abu.20-0. kecamatan yang terketak diatas perbukitan dengan ketinggian 700 mdpl yaitu Kedaton dan Rajabasa. Meskipun jaraknya relatif jauh. salah satu gunung berapi yang masih aktif di Selat Sunda. mulai dari material ukuran halus sampai kasar yang dapat mengakibatkan robohnya atap bangunan. namun berdasarkan catatan kejadian. tanah longsor.25 g1. Kota Bandar Lampung termasuk dalam wilayah 4 dan wilayah 5 (Standar Perancangan Ketahanan Gempa – SNI 03-126-2002) dengan percepatan gravitasi 0.BAB 7 PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM 7. 1 Laporan Akhir Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung T. Dilihat dari ketinggian yang dimilikinya. Kompleksitas pengaturan tataguna lahan dan kepadatan penduduk telah membuat kota Bandar Lampung menjadi kota yang sangat rentan terhadap berbagai ancaman seperti gempa bumi. Beberapa daerah tangkapan air sungai yang ada telah rusak terutama pada bagian hulu. kota Bandar Lampung terletak pada jalur patahan berpotensi aktif yang setiap saat dapat menimbulkan ancaman gempa. Sedangkan dibagian tengah karena keterbatasan lahan dan ketidakteraturan dalam penataan lingkungan beberapa wilayah tampungan air/retensi alam dibangun menjadi perumahan. sedangkan kecamatan dengan ketinggian 2-5 mdpl yaitu Teluk Betung Selatan dan Panjang. namun sangat dipengaruhi oleh aktivitas gempa bumi dangkal yang berhubungan dengan aktivitas patahan-patahan. Climate Hazard di Kota Bandar Lampung Kota Bandar Lampung merupakan kawasan dengan bentuk daratan dan perbukitan dengan letak ketinggian berada antara 0-700 mdpl. hal 4-4 93 . rusaknya hutan dan tanaman pertanian serta menyebabkan sakit mata dan saluran pernafasan. Kota Bandar Lampung pernah mengalami dampak letusan gunung api pada tahun 1883 dan 1928. Kondisi diatas menyebabkan kapasitas tampung sungai menjadi berkurang dan pada musim hujan terjadi banjir. terlihat bahwa daerah Kota Bandar Lampung kurang dipengaruhi aktivitas gempa bumi Benioff Zone. Banjir yang terjadi di kota Bandar Lampung disebabkan banyak faktor antara lain bentuk geografis wilayah dan budaya masyarakat yang tidak peduli kelestarian lingkungan. Sedangkan di bagian hilir kepadatan penduduk tinggi mendorong masyarakat memanfaatkan daerah bantaran kali untuk permukimannya segingga muncul kawasan kumuh. Wilayah 4 dan wilayah 5 menunjukan bahwa kota Bandar Lampung merupakan wilayah yang punya probabilitas cukup tinggi untuk kejadian gempa bumi.A 2008. Secara geologis. perkantoran maupun fasilitas umum sehingga daerah parkir air menjadi berkurang. kebakaran dan lain-lain.

sebagian besar model menyatakan bahwa curah hujan bulan DJF akan meningkat. Dari rekaman data historis stasiun pemantauan hujan sekitar Bandar Lampung menunjukan adanya kecenderungan yang menurun jatuhnya hujan di semua musim. Rob sering terjadi di Panjang Selatan. sementara Panjang Selatan mengalami hampir semua ancaman bencana. meskipun keragaman curah hujan 94 . Berdasarkan informasi masyarakat dan studi mitigasi bencana di kota Bandar Lampung menunjukan bahwa kejadian ekstrem yang frekuensinya sering terjadi adalah kekeringan. Kejadian banjir biasanya terjadi pada bulan November – April. Selain ancaman bencana alam yang sering terjadi. sementara rob terjadi antara September dan Desember sedangkan angin ribut antara bulan Desember dan Maret. Perubahan iklim akan memberikan pengaruh dan dampak yang lebih signifikan terhadap masyarakat dan wilayah yang berada di kawasan pesisir/pantai. Longsor sangat dipengaruhi keseimbangan air dalam tanah. termasuk kota Bandar Lampung. termasuk kota Bandar Lampung yang terletak di Teluk Lampung. Teluk Betung Barat pada tanggal 29 Maret 2007. Pada tahun 2080. sedangkan untuk musim kemarau. Longsor merupakan bentuk erosi yang pengangkutan atau pemindahan tanahnya terjadi pada suatu saat yang relatif pendek dalam jumlah (volume) yang sangat besar. Prediksi iklim kota Bandar Lampung di masa depan menunjukan bahwa sebagian model memperkirakan bahwa curah hujan di musim hujan (des-jan) diperirakan bahwa tahun 2025 dan 2050 akan meningkat dan sebagian model memprediksikan akan menurun. banjir dan rob (naiknya muka air laut). Hal ini menunjukan bahwa musim hujan cenderung berakhir dengan cepat dibandingkan dengan kondisi normal yang terjadi di masa lalu (sebelum tahun 1970an). Kota Bandar Lampung juga tidak dapat terhindar dari pengaruh dan dampak perubahan iklim yang sedang terjadi di semua belahan dunia.Bencana longsor merupakan suatu bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Perubahan iklim secara mendasar akan meningkatkan frekuensi dan durasi dari bahaya dan ancaman alam serta berbagai kejadian dan dampak yang dirasakan. angin ribut. Analisis kecenderungan jangka panjang dengan data Climate Research Unit (CRU) untuk kota Bandar Lampung menunjukan hasil yang tidak konsisten dengan analisis trend dikarenakan adanya variasi keragaman data curah hujan dalam satu dekade (IPO) dan juga terkait dengan modulasi frekuensi rendah dari El Nino (ENSO) terutama setelah tahun 1970-an. hanya sebagian model yang memperirakan bahwa curah hujan akan meningkat. dimana awal musim hujan cenderung terlambat dan durasinya lebih pendek pada saat ini. Kekeringan dan banjir terjadi secara dominan di kampung Sukabumi dan Batu Putu. Terjadi penurunan curah hujan yang rendah di musim basah (SON dan DJF) dan penurunan curah hujan yang tinggi di musim kemarau (MAM dan JJA). Kota Karang dan Kangkung. Hasil analisis perubahan iklim dan kejadian ekstrem yang dilakukan CCROM untuk kota Bandar Lampung mengindikasikan terjadinya perubahan signifikan awalnya musim. Kondisi diatas menunjukan bahwa curah hujan kota Bandar Lampung tidak akan berubah dalam atmosfir yang semakin memanas. Berdasarkan catatan pernah terjadi kejadian longsor Bukit Camang di Poncoh Raya. Perubahan iklim menimbulkan dampak yang secara cepat dirasakan masyarakat dengan adanya berbagai kejadian ekstrem.

lingkungan. Hubungan antar sektor dan sistem dalam wilayah perkotaan membutuhkan pendekatan terpadu dan menyeluruh untuk memperkuat kapasitas dan mempertimbangkan tata kepemerintahan dalam berbagai tingkat. LSM. Pembahasan yang akan dilakukan pada bagian ini selanjutnya lebih menguraikan hasil analisis mengenai komponen kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka penilaian tingkat kerentanan kota terhadap perubahan iklim. koordinasi antar sektor dalam perencanaan kota seringkali lemah (misalnya rencana pembangunan ekonomi dan sosial terpisah dari penyusunan rencana pembangunan fisiknya). universitas dan organisasi kemasyarakatan adalah aktor penting dalam penyediaan pelayanan atau mekanisme yang dapat memperkuat kapasitas adaptasi. penyediaan dan penyaluran air bersih. ekonomi dan sumberdaya manusia yang dilakukan oleh CCROM dan Mercy Corps. Tentunya tidak hanya pemerintah kota yang berperan penting dalam pengelolaan sistem. pelaku di luar pemerintah (misalnya swasta. Sebaliknya kota yang rentan dan tidak memiliki daya tahan adalah kota yang memiliki banyak masalah termasuk kemiskinan.akan semakin banyak terjadi. atau dapat mengembangkan rencana kota yang fleksibel terhadap dampak perubahan iklim. Ruang Lingkup Komponen Kepemerintahan dan Kelembagaan Isu tata kepemerintahan (good governance) dan kelembagaan (institutional) membutuhkan perhatian khusus sebagai bagian sistem pengelolaan dan penyediaan dan juga perencanaan adaptasi yang secara langsung mempengaruhi kerentanan dan kapasitas adaptasi pada tingkat individu. LSM. ekonomi dan sumberdaya manusia. transparan dan responsif memungkinkan terjadinya tindakantindakan adaptasi. Ketahanan kota terhadap perubahan iklim dapat terwujud apabila Pemerintah Kota memiliki kemampuan respon cepat terhadap bencana. Seringkali. pelaku sektor informal) yang menjadi aktor utama dalam penyediaan pelayanan. Berbagai faktor tersebut meliputi fisik. penyaluran sosial pelayanan kesehatan. penduduk dan sistem kota terhadap pengaruh dan dampak perubahan iklim sangat bergantung pada berbagai faktor termasuk kapasitas dalam beradaptasi. sektor dan kota. Bagaimanapun juga.2. sektor swasta. Memahami tantangan-tantangan tersebut maka pemerintah 95 . tidak dilibatkan dalam perencanaan untuk memperkuat ketahanan dari pelayanan yang diberikan (misalnya pengurangan risiko bencana. sosial. Misalnya penyediaan pelayanan keuangan bagi masyarakat miskin oleh swasta. Analisis kepemerintahan dan kelembagaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kajian faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kerentanan secara fisik. lingkungan. pendidikan dan kesadaran publik). korupsi dan lemahnya koordinasi. Sistem tata kepemerintahan yang akuntabel. 7. Salah satu komponen dalam faktor sosial yang mempengaruhi tingkat kerentanan kota adalah berkaitan dengan fungsi kepemerintahan dan kelembagaan (governance and institutions). Hal ini menunjukan bahwa intensitas kejadian ekstrem akan semakin meningkat sebagai hasil dari meningkatnya frekuensi dan intensitas El Nino (ENSO). atau penyediaan air minum melalui tanki. Tingkat kerentanan kota. atau perencanaan pengelolaan bencana yang dilakukan LSM dan organisasi kemasyarakatan.

kesehatan. kesehatan dan sektor ekonomi sangat rentan terhadap dampak iklim karena saling ketergantungan dari sistem yang rumit ini. Analisis pemangku kepentingan adalah suatu pengertian yang mengacu pada tindakan untuk menganalisa perilaku pemangku kepentingan terhadap sesuatu (biasanya suatu proyek) dan perubahan yang akan 96 . transportasi. Sistem perkotaan. termasuk kapasitas fiskal pemerintah untuk Mengidentifikasi mekanisme untuk program dan proses perencanaan untuk mencapai integrasi risiko dan adaptasi yang lebih baik 7.selayaknya mempromosikan upaya-upaya untuk memperkuat kapasitas adaptasi yang lebih terkoordinasi dan terencana. kaum perempuan. ketimpangan kesejahteraan dan akses terhadap pelayanan dan terbatasnya perencanaan kota serta tata guna lahan. seperti air. maka suatu rencana dan strategi adaptasi seyogyanya dibuat dan dikembangkan berdasarkan kapasitas yang dimiliki dan memperhatikan faktor-faktor mendasar yang berpengaruh pada kerentanan setiap kelompok sosial yang berbeda. drainage. Kelompok sosial masyarakat. Dengan pengertian tersebut. sering terjadinya kejadian iklim ekstrem. pengelolaan bencana) Menilai bagaimana iklim dan adaptasi yang sekarang ini terintegrasi dalam program-program (jangka pendek dan panjang) dan bagaimana bisa berjalan efektif untuk menyesuaikan dengan risiko iklim di masa depan Menilai kekuatan dan kelemahan dari perencanaan mengintegrasi adaptasi. sampah. laki-laki. energi.3. Kota-kota di Asia memiliki kerentanan tinggi terhadap dampak perubahan iklim. dan anak-anak menghadapi dampak yang berbeda dan mempunyai kapasitas adaptasi yang berbeda. Lingkup penilaian kerentanan dilihat dari aspek tata kepemerintahan dan kelembagaan terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut : Pemetaan peran dari pemangku kepentingan dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor yang dipengaruhi iklim (misalnya air. diperburuk dengan pesatnya urbanisasi. menjadikan pentingnya suatu pendekatan yang mempertimbangkan banyaknya factor berpengaruh pada kerentanan dan siapa serta bagaimana setiap kelompok yang berbeda memiliki tingkat kerentanan yang berbeda pula. Pemetaan peran stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektorsektor terkait dengan perubahan iklim Identifikasi Pemangku Kepentingan (Stakeholder Identification) Bagian ini menguraikan pemetaan dan analisis peran pemangku kepentingan (stakeholder mapping and analysis) dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim. Meluasnya dampak tersebut sangat bergantung tidak saja pada ketersediaan infrastruktur saat ini. perikanan. tapi juga pada kapasitas kelembagaan dan proses kepemerintahan di kota-kota dalam mengelola dampak tersebut. sanitasi. pertanian) Pemetaan proses dan struktur yang ada untuk perencanaan (pembangunan. Adanya ketidakpastian dalam perubahan iklim.

Sekretariat DPRD. Dinas Daerah. Kecamatan dan Kelurahan. Pemangku kepentingan dapat juga dikelompokan berdasarkan lingkup/posisi yaitu lingkup internal.terjadi2. Lembaga Lain. Pemerintah Kota/Kabupaten. Pemetaan dan analisis pemangku kepentingan dilaksanakan melalui beberapa tahapan mulai dari: (i) mengidentifikasi pemangku kepentingan yang terkait langsung dan tidak langsung dengan sektor-sektor perubahan iklim. Pengertian dari Pemerintah Daerah adalah Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur Penyelenggara Pemerintah Daerah. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Organisasi Kemasyarakatan. Pemerintah Provinsi. Pemangku kepentingan terkait perubahan iklim di Kota Semarang adalah orang atau organisasi pemerintah. Terdapat 8 (delapan) Lembaga Teknis Daerah dan 1 (satu) satu satuan pamong praja (Satpol PP) di Kota Bandar Lampung4. Asosiasi. Dinas Daerah adalah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang mempunyai tugas membantu Walikota dalam melaksanakan kewenangan desentralisasi Pemerintah Daerah di bidangnya. sedangkan pemangku kepentingan eksternal yang berada di luar wilayah. Sedangkan yang dimaksud dengan pemangku kepentingan (stakeholder) adalah orang atau organisasi yang terkena dampak baik secara positif maupun negatif atau penyebab suatu dampak dari tindakan yang dilakukan. sektor swasta. lembaga non pemerintah. (iii) memetakan tingkat kepentingan dan kekuatan yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan dalam upaya penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait perubahan iklim. swasta dan masyarakat yang terkena dampak atau menjadi penyebab munculnya berbagai kejadian ekstrem akibat perubahan iklim. Swasta/Dunia Usaha. 2 3 Wikipedia. dan lain-lain. yakni para pemangku kepentingan yang berada di lingkaran pengaruh terdalam dan lingkup eksternal. yakni pemangku kepentingan yang berada diluar pengaruh terdalam. Terdapat 17 Dinas Daerah yang dibentuk di Kota Bandar Lampung3. (ii) menganalisis peran dan tanggung jawab serta kontribusi masing-masing pemangku kepentingan di masing-masing sektor perubahan iklim. Pemangku kepentingan internal berasal dari unsur pemerintah daerah (pemerintah kota). Satuan Polisi Pamong Praja. Lembaga Teknis Daerah. pemangku kepentingan internal yang berada didalam wilayah kota Bandar Lampung. Klasifikasi pemangku kepentingan umumnya dikelompokkan kedalam kategori sebagai berikut: Pemerintah Pusat (kementerian dan lembaga pemerintah non departemen). Dalam konteks ini. namun mempengaruhi dan menentukan proses yang terjadi didalam. stakeholder analysis diakses pada tanggal 8/1/2010 Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Bandar Lampung Perda Nomor 4 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Pamong Praja Kota Bandar Lampung 4 97 . Lembaga Kerjasama Internasional. perguruan tinggi dan lainnya. Lembaga Teknis Daerah adalah merupakan unsur pendukung tugas Walikota dalam melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang sifaktnya spesifik. Yang dimaksud perangkat daerah adalah unsur pembantu Walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari Sekretariat Daerah. Perguruan Tinggi.

Banjir Meskipun Kota Bandar Lampung terletak diatas 100meter diatas permukaan laut (mdpl) akan tetapi Kota Bandar Lampung sering mengalami masalah banjir. banjir yang terjadi di Kota Bandar Lampung juga diakibatkan oleh gundulnya kawasan perbukitan Kota Bandar Lampung sebagai slah satu kawasan hijau kota. Penyempitan saluran dan sedimentasi di daerah ini cukup parah akibat padatnya permukiman penduduk. Penyempitan sungai yang sporadis terjadi hampir di seluruh badan sungai yang dekat dengan permukiman penduduk. Hal lain yang juga sangat berperan menjadi penyebab banjir di kota ini adalah penyempitan sungai yang mempunyai DAS berukuran kecil yang merupakan drainase utama dari daerah pantai di sekitar Telukbetung dan Panjang. buruknya drainase kota. dan berkurangnya daerah terbuka hijau. perbaikan drainase. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah kota Bandar Lampung telah melaksakan berbagai kegiatan baik dilakukan secara sendiri maupun bekerjsama dengan pemeritah pusat dan lembaga swadaya masyarakat. PDAM Way Rilau baru mampu memberikan kepada 66. Akibatnya debit air tertahan dan membanjiri daerahdaerah permukiman yang berada di pinggir sungai. Sebagai akibatnya debit sungai yang berasal dari air hujan tidak bisa menyeberangi jalan utama kota dan menumpuk di daerah permukiman penduduk dan mengakibatkan banjir. Sungai-sungai tersebut adalah Way Kupang di Kecamatan Telukbetung Selatan. Banjir yang terjadi di Kota Bandar Lampung disebabkan atas beberaa hal antara lain tingginya curah hujan. b. Serin terjadi selain masalah banjir. Air Minum dan Sanitasi Sebagaimana yang terjadi di sebagian besar kota di Indonesia. Beberapa program yang telah dilakukan antara lain program kali bersih. kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan. Pemerintah Bandar Lampung mengalami kesulitan untuk mengontrol perubahan fungsi lahan kawasan perbukitan karena umumnya kawasan perbukitan tersebut telah menjadi milik pribadi. Bahkan pada akhir tahun 2008 Kota ini mengalami masalah banjir yang cukup besar yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar. pemberian perijinan yang lebih ketat dan program dan kegiatan lainnya yang bertujuan untuk mengatasi masalah banjir dan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai. Akibatknya para pemilik lahan dapat melakukan apapun terhadap lahan tersebut tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. Selain masalah penyempitan lahan tersebut.7. Akan tetapi sampai dengan thaun 2002. serta Way Galih dan Way Lunik di Kecamatan Panjang. Way Sukamaju di Kecamatan Telukbetung Barat. semakin berkurangnya kawasan perbukitan ini juga mengakibatkan longsor dikawasan tersebut yang tidak jarang memakan korban. berkurangnya luas bantaran sungai. air mimum yang bersumber dari PDAM menjadi sumber utama bagi masyarakat perkotaan untuk memenuhi kebutuhan mereka. PDAM Way Rilau sebagai perusahaan daerah air minum yang memberikan pelayanan air minum di Kota Bandar Lampung berperan besar untuk memenuhi kebutuhan warga kota Bandar Lampung akan air minum.1% penduduk kota Bandar Lampung (Laporan Pembangunan 98 . Permasalahan Perkotaan di Bandar Lampung yang Terkait dengan Adaptasi Perubahan Iklim a.4.

Analisis terhadap peran dan kontribusi masing-masing pemangku kepentingan dikaitkan dengan penanganan dan pengelolaan sektor-sektor terkait perubahan iklim. Oleh karena itu. Akan tetapi pada kenyataannya PDAM Way Rilau tidak dapat memberikan pelayanan secara menerus selama 24 jam karena terbatasnya debit air.5. 7. Situasi sanitasi yang parah menyebabkan berulangnya epidemi infeksi perut sehingga keberjangkitan penyakit thypus di Indonesia tercatat tertinggi di Asia Timur.Manusia 2004. Melalui kegiatan yang saling mendukung ini diharapkan jumlah warga yang memiliki akses terhadap sanitasi akan dapat meningkat. Upaya ini diharapkan bisa menjadi pilihan pemerintah setempat dalam strategi pembangunan sanitasinya. masih sangat banyak warga masyarakat mengenah ke bawah yang belum memperoleh akses air minum dari PDAM ini. Bappenas -. 99 . Program ini diikuti pula oleh berbagai program yang disusun oleh pemerintah kota melalui dinas kesehatan seperti kegiatan kesehatan keluarga dan kampanye hidup sehat. Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk di kawasan miskin perkotaan mengakibatkan kerugian ekonomi serta menurunkan kualitas hidup.BPS – UNDP). hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 30% dari warga kota Bandar Lampung yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan sanitasi yang sehat. Meski persentase ini cukup jauh dari cakupan pelayanan sanitasi nasional yang hanya 40. Bandar Lampung merupakan salah satu kota di Indonesia yang juga menghadapi masalah sanitasi. Data Percik pada tahun 2008 menunjukkan bahwa cakupan pelayanan sanitasi di Kota Bandar Lampung adalah 69.67%. Selain itu.32. Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis) Analisis pemangku kepentingan dimaksudkan untuk melihat sejauhmana peran dan tanggung jawab masing-masing dalam penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim serta potensi kontribusi yang dapat dilakukan masing-masing pemangku kepentingan. Jumlah ini realtif cukup tinggi untuk kawasan perkotaan. Menghadapi masalah ini pemerintah kota Bandar Lampung sejak tahun 2008 dan 2009 mengikuti program Sanitasi Masyarakat (Sanimas) yang bertujuan untuk untuk mengenalkan pilihan lain. yaitu Sistem Pembuangan Limbah Berbasis Masyarakat. terutama di kalangan wanita dan anak-anak. dalam waktu dekat PDM akan menjalin kerjasama dengan pihak swasta untuk meningkatkan debit air sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih luas kepada masyarakat dengan tidak melupakan fungsi sosialnya untuk melayani masyarakat miskin untuk memperoleh air dengan harga yang terjangkau.

• Memberikan bantuan teknis penanganan banjir melalui anggaran pusat. pelaksanaan pengaturan pengelolaan SDA. bangunan gedung dan penanggulangan bencana. penyusunan program dan anggaran. pengawasan dan pengelolaan bangunan gedung Membuat dan mengkoordinasikan rencana dan program di seluruh sektor dan lembaga-lembaga pada skala nasional/regional/daerah Mengintegrasikan rencana adaptasi perubahan iklim ke dalam rencana pembangunan 100 . Tugas dan Tanggung Jawab Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim • Merumuskan kebijakan dan strategi nasional pengelolaan SDA dan penanganan banjir secara nasional. Direktorat Jenderal Bertugas merumuskan dan Cipta Karya pelaksanaan kebijakan dan standarisasi tekbis bidang Cipta karya. peremajaan kawasan kumuh). • Mengkoordinasikan dan memfasilitasi bantuan dan kerjasama penyediaan permukiman layak huni (rusun. pembinaan dan bantuan teknis. permukiman kumuh/nelayan. • Memberikan bantuan teknis pengembangan permukiman. pelaksanaan kebijakan.Tabel 7-1. air minum dan sanitasi. melalui penyelenggaraan fungsi: penyusunan kebijakan. pengoordinasian penyusunan • Merumuskan kebijakan dan strategi nasional pembangunan keciptakaryaan: permukiman. air minum dan sanitasi. bangunan gedung. penyusunan NSPM SDA dan pelaksanaan administrasi urusan Ditjen. • Mengkoordinasikan dan memfasilitasi bantuan dan kerjasama dalam penanganan banjir. pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasi. Bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan serta standarisasi teknis di bidang sumber daya air. fasilitasi pembangunan dan pengelolaan infrastruktur. pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasi. program dan anggaran serta evaluasi kinerja. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. Analisis Peran dan Kontribusi Pemangku Kepentingan dalam Perubahan Iklim Pemangku Kepentingan Pemerintah Pusat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Peran. pembinaan teknis dan penyusunan NSPM. penyediaan air minum. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknik. penyediaan air minum dan sanitasi. pengawasan pembangunan bangunan gedung. penanggulangan darurat bencana Pemerintah Kota Bandar Lampung Badan Perencanaan Bertugas melaksanakan Pembangunan penyusunan dan pelaksanaan Daerah (Bappeda) kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah. pembinaan teknis dan pengawasan pembangunan infrastruktur PU Keciptakaryaan: rumah susun.

pembinaan dan pelaksanana tugas dan pelaksanaan tugas lain yang diberikan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bertugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik di bidang lingkungan hidup. untuk menghindari daerahdaerah kritis bencana Program pembuatan sumur bor untuk air bersih Program penghijauan Program Lingkungan Berbasis Komunitas (PLBK) yaitu transformasi dari masyarakat mandiri ke masyarakat madani terkait dengan tata ruang Program pembuatan ‘embung’ dan perbaikan drainase untuk mengatasi bencana banjir Program PROKASIH (tapi hanya dilakukan setahun sekali karena keterbatasan dana) Program penataan kawasan pantai/pesisir Pembuatan peraturan daerah yang berkaitan dengan lingkungan hidup Peninjauan sistem perijinan pembangunan Penegakan hukum yang berhubungan dengan perubahan tata guna lahan dan ketidak konsistenan dalam rencana tata ruang Perencanaan ruang terbuka hijau di perkotaan sebanyak 30% sebagai daerah resapan Pengawasan pembangunan perumahan dan daerah bisnis dalam rangka melindungi ruang terbuka hijau dari pelanggaran pembangunan Program biopori untuk penyerapan air Program 3R (reduce. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah bidang pengembangan teknologi dan pengendalian lingkungan. Tugas dan Tanggung Jawab perencanaan pembangunan. misalnya penambangan pasir untuk melindungi daerah perbukitan. reuse and recycle) dengan melibatkan kerjasama antara pemerintah. atau bahkan mencabut ijin penambangan jika diperlukan. sektor swasta dan masyarakat Meninjau kembali ruang terbuka hijau sebagai bagian 101 . pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lain yang diberikan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim daerah Melakukan pengawasan daerah yang dilindungi.Pemangku Kepentingan Peran.

melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. pembinaan dan Membangun ‘embung’ untuk mengatasi bencana banjir Program biopori untuk resapan air tapi agak sulit karena belum ada regulasi yang mewajibkan tiap rumah untuk membuat biopori Mengganti paving block dengan grass block karena memiliki daya serap yang lebih baik 102 . penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. promosi kesehatan. Tugas dan Tanggung Jawab Dinas Kesehatan Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum.Pemangku Kepentingan Peran. penyembuhan dan rehabilitasi Pembentukan tim gawat darurat untuk menghadapi bencana Pembentukan Puskesmas Keliling untuk melayani masyarakat di Pulau Pasaran Meningkatkan kapasitas kader Posyandu Dinas Peternakan dan Kehutanan Menyusun kebijakan dalam bidang peternakan dan kehutanan Program pengelolaan hutan (forestasi) • Program penataan kawasan pesisir dengan pengelolaan hutan bakau Dinas Pekerjaan Umum Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang pengelolaan sumber daya air dan energi sumber daya mineral berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan. pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang pelayanan kesehatan. pemberdayaan dan kesehatan lingkungan serta kesehatan keluarga Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim dari paru-paru kota Kampanye publik untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai atau laut Program desentralisasi sampah Pembinaan Taruna Siaga Bencana untuk menghadapi bencana Program penataan kawasan pesisir Penyusunan kebijakan yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan masyarakat Kontribusi terhadap isu perubahan iklim dengan prinsip promosi. pencegahan. pencegahan pemberantasan penyakit.

Tugas dan Tanggung Jawab pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang rekayasa teknis. sumber daya air. peralatan dan perbekalan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. pembinaan dan penyuluhan serta penanggulangan bencana Lembaga Non Pemerintah Mitra Bentala Melakukan advokasi kepada masyarakata serta menjalin kerjasama dengan pemerintah untuk mempromosikan dan mendorong kegiatan pembangunan yang berwawasan lingkungan. pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang pengembangan teknik.Pemangku Kepentingan Peran. Pembuatan kebijakan dan program dalam bidang pertanian Program rehabilitasi pengairan untuk sawah Program pembuatan pompa baru untuk daerah pertanian Pembuatan sumur resapan untuk pertanian dan kehutanan Penyebaran bibit penghijauan ke seluruh kecamatan • Program pemetaan daerah rawan banjir dan longsor di seluruh kecamatan Pusbik Melakukan studi dan Bertanggung jawab dalam memberi advokasi kebijakan dan program kepada pemerintah yang berkaitan dengan lingkungan hidup Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup Mempromosikan kebijakan lokal seperti rumah panggung untuk mengatasi banjir Peninjauan kembali ijin penambangan pasir jika akan merusak lingkungan Kampanye penyelamatan terumbu karang dengan membuat ‘rumpon’ Advokasi kepada masyarakat untuk tidak menebang hutan bakau Program penataan kawasan bukit 103 . operasional dan pengendalian. energi dan geologi. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. tata air serta peralatan dan pompa Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim Dinas Pertanian Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang penanganan dan penanggulangan kebakaran dan bencana berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan.

Tugas dan Tanggung Jawab memberikan masukan kepada pemerintah tentang pengelolaaan lingkungan. terutama di bidang manajemen limbah cair dan produksi bersih. pendidikan lingkungan. wisata lingkungan dan manajemen limbah padat Sahabat Lingkungan Melakukan studi dan advokasi kepada pemerintah dan masyarakat tentang pelestarian lingkungan. Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim dalam rangka melindungi lingkungan hidup dan pencegahan bencana. konservasi lahan. Walhi Walhi adalah LSM yang memperhatikan perlindungan lingkungan untuk mendukung usaha pembangunan berkelanjutan.Pemangku Kepentingan Peran. termasuk meninjau kembali ijin penambangan di kawasan bukit Peningkatan kepedulian masyarakat untuk memperbaiki kualitas lingkungan Pemberdayaan kelompok kecil masyarakat dalam PKL untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Bertanggung jawab dalam memberikan advokasi kebijakan kepada pemerintah daerah dalam hal pembangunan berwawasan lingkungan. PUSBIK juga berperan untuk melakukan advokasi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan. konsistensi dan penegakan hukum Membantu pemerintah dalam pembuatan rencana tata ruang dan penataan kembali Tempat Pembuangan Akhir untuk sampah Program penanaman hutan bakau di daerah pesisir Pengawasan kepada pemerintah dalam hal penegakan hukum Program edukasi lingkungan hidup kepada masyarakat Program pengelolaan sampah dengan memperbanyak TPS Bertugas memberi konsultansi/advokasi kepada pemerintah daerah dalam mengimplementasikan pembangunan yang aman dan ramah lingkungan terutama pembangunan di daerah pantai Bertanggung jawab dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan aktifitas yang berhubungan dengan lingkungan hidup Program penataan hutan bakau di daerah pantai Kampanye dalam rangka menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan Melakukan kajian dan memberikan rekomendasi 104 Perguruan Tinggi Universitas Lampung Memberikan masukan terkait program-program .

Pemetaan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Mapping) Pemetaan pemangku kepentingan merupakan alat untuk mengidentifikasi. baik dalam bentuk pendanaan maupun koordinasi pelaksanaan program. pemetaan pemangku kepentingan dimaksudkan untuk mengetahui pemangku kepentingan mana yang paling mendukung/berpengaruh dalam penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim tersebut. Salah satu teknik analisis yang digunakan adalah dengan melakukan pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping) dengan melihat kekuasaan (power) yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan dan tingkat kepentingan (interest) dari masing-masing pemangku kepentingan. 105 . Sementara peran Pemerintah Provinsi Lampung lebih kepada koordinasi pelaksanaan dengan Pemerintah Pusat dan pemerintah kota/kabupaten lainnya. Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim kepada pemerintah untuk menyusun program yang berkaitan dengan perubahan iklim.Pemangku Kepentingan Peran. Bekerjasama dengan pemerintah untuk melakukan kajian terhadap bahaya perubahan iklim di kota.6. 7. Oleh karena itu pemetaan pemangku kepentingan dilakukan untuk masing-masing sektor terkait perubahan iklim sehingga dapat diidentifikasi siapa yang paling berperan dan bertanggung jawab untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Dalam kaitannya dengan isu perubahan iklim. Tugas dan Tanggung Jawab untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Kemitraan antar pemerintah kota dan pemangku kepentingan (LSM dan Lembaga Pendidikan lainnya) dalam upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim di Kota Bandar Lampung melibatkan pemangku kepentingan dari internal kota dan eksternal kota dengan peran dan kontribusi yang beragam sebagai mana terlihat pada matriks di atas. Kemitraan diatara seluruh pemangku kepentingan merupakan prasyarat untuk menciptakan masyrakat kota yang kuat dalam mengadaptasi perubahan iklim. Selama ini. Meski demikian beberapa LSM Lokal telah secara aktif berkontribusi dalam program dan kegiatan perbaikan lingkungan baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan pihak lain. peran dan kontribusi para pemangku kepentingan melalui program dan kegiatan terkait perubahan iklim tersebut berjalan secara parsial dan belum adanya upaya mengkoordinasikan dalam suatu kerangka kebijakan dan program penanganan perubahan iklim pada tingkat makro/kota. Pemerintah Kota Bandar Lampung memiliki peran utama dalam penanganan sektor terkait perubahan iklim. mengelompokan dan menilai pengaruh terhadap individu atau kelompok yang berbeda.

Beberapa peraturan perundangan terkait dengan perencanaan pembangunan daerah antara lain: (i) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. rencana jangka menengah (5 tahunan) dan rencana tahunan. Secara jelas diatur bahwa proses penganggaran pada tingkat kota/kabupaten harus didasarkan pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). • Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengatur landasan sistem perencanaan mulai dari rencana jangka panjang (20 tahun). Namun masing-masing pemangku kepentingan memiliki memiliki tingkat kepentingan yang berbeda-beda sebagaimana terlihat pada gambar 7. (b) penanggulangan bencana dan (c) penataan ruang. Pemerintah Kota dan Lembaga Kerjasama/donor Internasional. Ringkasan dari ketiga peraturan perundangan tersebut diatas adalah sebagai berikut: • Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur pentahapan dalam proses penganggaran tingkat daerah (provinsi.Level of Interest LOW HIGH A Minimal Effort W O L r e w o P H G I H B Keep Informed NGO University D Key Players Central Government City Government Cooperation/Donor Agency Business Sector C Keep Satisfied Provincial Government Gambar 7-1.7. Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di Daerah mengacu pada peraturan perundangan yang dikeluarkan secara nasional. Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di daerah dan Penanggulangan Bencana Pembahasan mengenai mekanisme dan proses perencanaan pembangunan di daerah didasarkan pada 3 (tiga) lingkup perencanaan pembangunan sebagai berikut: (a) proses perencanaan dan penganggaran pembangunan. (ii) UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan (iii) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. daerah maupun sectoral. Ketiga mekanisme penyusunan dan pengelolaan perencanaan diatas nantinya akan sangat terkait dengan perencanaan adaptasi ketahanan kota terhadap perubahan iklim. efektif dan menuju pencapaian 106 . kabupaten/kota). Pemetaan Pemangku Kepentingan berdasarkan tingkat Kepentingan Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa pelaku utama/kunci dalam penanganan perubahan iklim di Kota Bandar Lampung terdiri dari: Pemerintah Pusat. Tujuan utama dari SPPN adalah untuk menjamin bahwa segala upaya pembangunan di negara ini dapat dilaksanakan secara efisien. baik di tingkat pusat.

UU No. Strategi pelaksanaan penataan ruang terdiri atas: (i) penerapan aturan zoning secara konsisten sebagai bagian dari rencana detail tata ruang. Materi utama dalam penanggulangan bencana meliputi: a) peran dan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah pada setiap tahapan penanganan bencana. Undang-Undang tersebut memberikan arah kebijakan dan strategi dalam rangka memadukan pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan untuk melindungi fungsi ruang dan dampak negatifnya terhadap lingkungan alam. Keterkaitan antara UU No. e) mekanisme pengendalian dalam pengelolaan bencana dan f) mekanisme sanksi. 17/2003. (iii) penegakan hukum yang konsisten. 17/2003. Selain itu menguatkan adanya rencana pembangunan dalam jangka panjang. 25/2004 dan UU No. • Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menekankan perlunya keterpaduan proses perencanaan dan penganggaran.target pembangunan yang telah ditetapkan. Perundangan ini juga menyatakan bahwa rencana kerja tahunan di tingkat pusat dan daerah (RKPD) harus menjadi referensi dalam menyusun anggaran tahunan. sistem perijinan. 32/2004 dapat dilihat dalam Gambar 7-2 Gambar 7-2. (ii) mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang yang sistemik melalui regulasi zoning. Kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan dan penerapan sistem deteksi dini. 24 tahun 2007 pada dasarnya mengatur tahapan dalam penanggulangan bencana mulai dari pra-bencana. UU No. tanggap darurat dan pasca bencana. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang telah ditindaklanjuti dengan terbitnya berbagai peraturan pemerintah. Pengaturan mengenai penataan ruang di Indonesiaa saat ini mengacu pada Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan beberapa peraturan pemerintah yang sudah dikeluarkan. sosialisasi dan diseminasi informasi secara dini terhadap ancaman kerawanan bencana alam 107 . 32/2004 Mekanisme dan Proses Penanggulangan Bencana di daerah juga mengacu pada peraturan perundangan yang ditetapkan secara nasional. b) pembentukan kelembagaan penanganan bencana di tingkat nasional (BNPB) dan daerah (BPBD). insentif dan disinsentif. d) keterliabatan lembaga internasional dan sektor bisnis. jangka menengah dan rencana tahunan (RKPD). Keterkaitan antara UU No. c) hak masyarakat dalam penanganan bencana. UU No. 25/2004 dan UU No.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandar Lampung. lingkungan hidup dan infrastruktur. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. 2. serta penegakan hukum dan perlindungan sosial. Untuk mencapai visi yang telah ditetapkan tersebut. keberadaan badan ini juga akan memberikan respon yang lebih cepat dan lebih baik apabila warga kota menghadapi suatu masalah baik yang terkait dengan perubahan iklim maupun tidak. Kota Bandar Lampung telah melakukan studi mitigasi bencana Kota Bandar Lampung TA 2008. Mewujudkan keselarasan kehidupan beragama. Aman dan Demokratis dengan Dukungan Pelayanan Publik yang Baik. 5. Untuk itu perlu ditingkatkan identifikasi dan pemetaan daerahdaerah rawan bencana agar dapat diantisipasi secara dini sejak sebelum terjadi. Selanjutnya berkaitan dengan visi dan misi tersebut juga telah ditetapkan lima isu pokok dalam pembangunan kota Bandar Lampung yaitu pendidikan. ekonomi kerakyatan. 6. Sedangkan dalam penanganan bencana. 8.kepada masyarakat. 9. Menyelenggarakan pemerintahan yang bersih. Selain itu pada saat yang sama. yaitu : 1. Adil. maka disepakati 9 (sembilan) misi pembangunan daerah Kota Bandar Lampung. Selain itu kota Bandar Lampung juga telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada bulan November 2009. Menegakkan supremasi hukum berdasarkan rasa keadilan yang demokratis. 4. kesehatan. Mengelola sumberdaya alam secara bertanggungjawab dan berkelanjutan. Meningkatnya pembangunan perekonomian dan kesediaan kebutuhan masyarakat. berwibawa. 3. (ii) menganalisis resiko bahaya alam dan bahaya rekayasa manusia/teknologi serta (iii) menyusun indikasi program dan rencana tindak dalam mengurangi resiko bahaya. Menciptakan keamanan dan ketertiban kota serta menanggulangi masalah sosial masyarakat. bertanggungjawab dan partisipatif. 7. Mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Meningkatkan prasarana dan sarana perkotaan yang berkualitas dan sesuai dengan tata ruang. Penyusunan Skenario Design Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung TA 2009 yang bertujuan untuk (i) mengetahui kawasan yang rentan terhadap potensi bencana. Hal ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan memberikan perlindungan terhadap manusia dan harta benda dengan perencanaan wilayah yang peduli/peka terhadap bencana alam. Adapun permasalahan yang dihadapi serta alternatif strategi yang terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung dapat dilihat pada table berikut: 108 . Dengan adanya badan ini maka pemerintah kota akan dapat mengantisipasi permasalahan yang terjadi akibat terjadinya perubahan iklim. visi Kota Bandar Lampung tahun 2005-2010 yaitu : "Mewujudkan Masyarakat Bandar Lampung yang Sejahtera.

Tabel 7-2. Program dan Kegiatan Pemerintah Pemerintah daerah memegang peranan penting dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh daerahnya sebagai akibat dari dampak perubahan iklim global.8. Pada saat yang sama pemerintah daerah juga memiliki kewajiban yang cukup besar untuk membantu warganya dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. banjir. Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektorsektor terkait dengan perubahan iklim a. pengendalian dan pemanfaatan ruang Kerusakan DAS yang cukup tinggi Banyaknya pertambangan (gunung dan bukit) yang merusak lingkungan Meningkatnya pencemaran air permukaan Lemahnya penegakan hukum terhadap perusak lingkungan Lemahnya kesadaran dan disiplin masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan Belum optimalnya pengelolaan sampah Adanya ancaman bencana (longsor. gempa bumi dan tsunami • • Alternatif Strategi Meningkatkan mutu dan kuantitas infrastruktur perkotaan Meningkatkan mutu dan kuantitas bangunan publik dan gedung pemerintah Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana di daerah pinggiran Meningkatkan dan mengembangkan sarana transportasi Meningkatkan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang kota Memperbaiki pengelolaan SDA dan pelestarian fungsi lingkungan hidup Meningkatkan pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup Meningkatkan akses masyarakat dalam pemberdayaan dan pengelolaan SDA dan LH Meningkatkan perlindungan terhadap SDA dari kerusakan dan melindungi kawasan konservasi agar fungsinya sebagai penyangga kehidupan tetap terjada Merehabilitasi lingkungan yang telah rusak Meningkatkan pengelolaan sampah dan manajemen pelayanan persampahan • • • • • • • • • • • • • • • • • • 7. Pemerintah pusat menyusun kerangka kebijakan dan pedoman dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan. Pemerintah daerah diharapkan mampu untuk mengatasai berbagai permasalahan yang muncul akibat dampak perubahan iklim. Hal ini karena semakin banyaknya bencana yang terjadi akibat terjadinya perubahan iklim 109 . Masalah dan alternatif startegi terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung Masalah • • Masih rendahnya mutu dan kuantitas infrastruktur perkotaan Belum meratanya sarana dan prasarana perkotaan di seluruh wilayah kota Terbatasnya kemampuan dana pemerintah daerah dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur daerah Belum efektifnya pelaksanaan penataan.

Pemeliharaan ruang terbuka hijau. ornament kota. Hidup Peningkatan kualitas dan Program Pengelolaan Ruang akses informasi sumber daya Terbuka Hijau alam dan lingkungan hidup. kegagalan panen. nelayan yang tidak dapat melaut karena gelombang tinggi dan hal-hal lainnya mengindikasikan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak buruk bagi warga Indonesia. Kota Bandar Lampung merupakan salah satu kota di Indonesia yang juga berpotensi akan menghadapi berbagai permasalahan sebagai akibat terjadinya perubahan iklim. Tabel 7-3. taman dan hutan kota Program Pembangunan Saluran Drainase/Gorong-gorong Program Rehabilitasi/Pemeliharaan 110 Lingkungan Hidup Pekejaan Umum . Program yang terkait dengan Perubahan Iklim Tahun 2006 dan 2008 Urusan Kesehatan Program 2006 2008 Penurunan angka kesakitan Promosi Kesehatan dan dan kematian akibat penyakit Pemberdayaan Masyarakat Program Pengembangan Lingkungan Sehat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Program PeProgram Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak Pemulihan kualitas Program Pengendalian lingkungan hidup Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Pengendalian pencemaran Program Perlindungan dan dan perusakan lingkungan Konservasi Sumber Daya Alam hidup Penyusunan dokumen Program Pengembangan Kinerja perencanaan pengelolaan Pengelolaan Persampahan sumber daya alam dan ling. Beberapa program kegiatan telah diinisiasi oleh pemerintah untuk menghadapi berbagai permasalahan yang baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan perubahan iklim sebagaimana yang tercantum dalam tabel 7-3 dibawah ini.seperti meluasnya banjir/rob.

5 Milyar ..8 Milyar.270 2.000 27% *Sumber dana Tugas Pembantuan Minimnya informasi tentang perubahan iklim merupakan salah satu alasan yang menyebabkan hal ini terjadi.1.047.054. Artinya program yang dilakukan tidak 111 .000 % 15% 9% 66% 2% 5.325 4.217. Meski secara kuantitas jumlah program pada tahun 2008 telah meengkat akan tetapi hal tersebut masih dirasa belum mencukupi untuk menghadapi kota Bandar Lampung untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim.622.336. jumlah anggaran yang dialokasi oleh pemerintah kota Bandar lampung cukup besar.900 3.689. Akan tetapi secara dilihat dari total persentase jumlah ini hanya sekitar 1 persen dari realisasi pengunaan APBD tahun 2008 yaitu sejumlah Rp.871.326. 11.486.201. Artinya jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan dengan program ataupun kegiatan lainnya.000.000 1.800 99. Tabel 7-4.593.287. khususnya anggaran untuk sektor lingkungan hidup yang mencapai 66 persen dari total anggaran sektor tersebut. 16 Milyar untuk kegiatan yang berkaitan dengan perubahan iklim baik yang bersifat mitigasi maupun adaptasi.dari total alokasi anggaran lima sektor tersebut sebesar Rp. Karena pada dasarnya kegiatan yang dirumuskan oleh pemerintah daerah tersebut merupakan kegiatan rutin yang biasa dilakukan untuk mengatasi permasalahan perkotaan. 5.910 3.000. Jumlah Anggaran yang Terkait dengan Perubahan Iklim TA 2008 Urusan Kesehatan Pekerjaan Umum Lingkungan Hidup Perencanaan Pembangunan Perikanan dan Kelautan* # Realisasi Anggaran Total Anggaran # Terkait PI 21.950 105.100. Pemko Bandar Lampung telah mengalokasikan dana yang bersumber dari APBD sejumlah Rp.500.528. Kondisi serupa juga dapat dilihat dari jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mendanai kegiatan-kegiatan tersebut.780. Dari sisi sektoral. Pemko Bandar Lampung memberikan alokasi yang cukup besar untuk kegiatan mitigasi bencana yaitu sekitar 27 persen dari total anggaran yang ada yaitu sekitar Rp.Urusan 2006 Program 2008 Talud/Brojong Program Pengendalian Penataan Ruang Perencanaan Prasarana wilayah dan Sumber daya Alam Mitigasi Bencana Lingkungan Laut dan Pesisir Kelautan dan perikanan* Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Walikota Bandar Lampung 2007 dan 2009 *Kegiatan bersumber dari dana tugas pembantuan Tabel tersebut menunjukkan masih terbatasnya jumlah program yang dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk mengadatapsi terhadap perubahan iklim.400 8. Pada tahun 2008. 772. Namun demikian melalui anggaran dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui anggaran tugas pembantuan.992.6 Milyar.

Tabel berikut menggambarkan besaran dana dan cost sharing proyek NUSSP di Kota Bandar Lampung: Tabel 7-5 Besaran Anggaran Dana Program NUSSP di Kota Bandar Lampung (dalam Milyar Rph) 2006 ADB Pemda 4. persampahan. Perbandingan ini sesuai dengan kapasitas fiskal Kota bandar Lampung. peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur primer (premiere works) dilingkungan perumahan dan permukiman kumuh yang meliputi : jalan setapak. Namun dengan adanya informasi dan pengetahuan tentang bahaya akibat dari perubahan iklim terhadap daerah dan masyarakat Kota Bandar Lampung diharapkan pemerintah kota Bandar Lampung dimasa mendatang akan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap program yang bertujuan untuk mengadaptasi perubahan iklim. Program dan Kegiatan yang berasal dari Pusat Selain program-program pemerintah.9 2. Kesemua kegiatan ini pada akhirnya ingin mengatasi permasalahan permukiman kumuh (slum area) di kota Bandar Lampung yang merupakan persoalan manajemen pembangunan dan pemukiman perkotaan yang kompleks serta merupakan dampak dari berbagai kebijakan pembangunan. Dalam pelaksanaannya kedua program ini juga mengharuskan adanya kontribusi dari pemerintah daerah. pemerintah kota Bandar Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Pusat melakukan kegiatan Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) dengan menggunakan dana pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) yang bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mengurangi/menurunkan tingkat kemiskinan di perkotaan melalui kemitraan antara pemerintah.secara khusus ditujukan untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh perubahan iklim. pemerintah pusat juga telah melakukan beberapa program yang berkaitan dengan perubahan iklim di Kota Bandar Lampung diantaranya melalui program NUSSP dan PNPM Mandiri Perkotaan. Anggaran proyek ini merupakan cost sharing dengan perbandingan 60 : 40 antara loan ADB dan APBD Kota Bandar Lampung dalam kurun waktu 4 tahun (2006 sampai dengan 2009).6 2007 ADB Pemda 2.38 3.75 4. Sebagai Ibu Kota Propinsi.21 7. dan penerangan jalan. Adapun kegiatankegiatan dan lokasi pelaksanaan program ini selama tahun 2008 di Kota Bandar Lampung adalah sebagai berikut: 112 . b. jalan lingkungan. Kota Bandar Lampung menjadi magnet bagi penduduk disekitar kota tersebut untuk datang dan mencari pekerjaan di kota ini.63 1. drainase. MCK.3 2008 ADB Pemda 5. Pada akhirnya hal ini melahirkan kawasan kumuh di kota. air bersih. Tingginya laju urbanisasi namun tidak didukung dengan kemampuan sumber daya yang datang mengakibatkan kota menghadapi masalah dalam penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur.4 Total Adapun jenis kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek NUSSP ini adalah adalah pembangunan. sektor swasta dan masyarakat.5 8. Untuk menghadapi hal tersebut.

Kec. Ketapang. Teluk Betung Selatan Kel. 18.52 Milyar.17 Milyar yang berasal dari Pemerintah Kota Bandar Lampung. Panjang Kel.yang terdiri dari Rp. Teluk Betung Selatan Kel. Analisa akan dilakukan terhadap enam komponen utama yaitu: peran pemangku kepentingan.5 Milyar berasal dari program dan Rp. Kec. Sukarame. Bakung. Oleh karena itu. Kec. 7. Keteguhan. Kuripan. Teluk Betung Selatan Kel. Teluk Betung Barat Kel.425 km 365 Unit 36 m 636 m 34 m2 2m 66 unit 109 unit 92 unit 17 unit 8 Unit 286 Unit 142. Way Lunik. Way Gubag. Analisis kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka mengintegrasikan perencanaan ketahanan dalam perubahan iklim (framework organizational capacity) Meskipun pemerintah kota merupakan pelaku utama dalam mengantisipasi bahaya yang akan mengancam kota sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. 3. Panjang Kel. Panjang Kel. Kec.6 Ha 12. Kec. Keikutsertaan Kota Bandar Lampung dalam program ini merupakan upaya pemerintah kota untuk mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapi oleh kota Bandar Lampung dan sekaligus memperbaiki infrastruktur perkotaan. Teluk Betung Barat Kel. Kec. pada bagian ini akan dianalisa kemampuan kepemerintahan dan kelembagaan pemangku kepentingan dalam rangka mengintegrasikan perencanan ketahanan dalam perubahan iklim.. Teluk Betung Selatan Kel.15. Untuk tahun anggaran 2010. Kec. Kec. Kec. PNPM Mandiri Perkotaan akan dilaksanakan di 13 wilayah di Kota Bandar Lampung dengan total anggaran sejumlah : Rp. Kec. Kedua program yang sedang dilaksanakan olh Pemerintah Kota Bandar Lampung serta program-program lainnya menujukkan upaya yang menerus dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk meningkatkan kemampuan masyarakat yang secara tidak langsung juga meningkatkan ketahanan mereka untuk menghadapi terjadinya perubahan iklim. Srengsem. Garuntang. Kec. Pecoh Raya. peraturan dan kebijakan.9. Way Laga. namun peran dan kontribusi pemangku kepentingan lainnya juga sangat penting.Tabel 7-6 Kegiatan dan sebaran Kegiatan PNPM Mandiri di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Kegiatan Jalan Setapak Penghubung Tempat Sampah RT Jalan Lingkungan (Jalan Penghubung) Saluran Terbuka (Drainase) Plat Duiker (Drainase) Gorong-gorong (Drainase) Bangunan Pelengkap (drainase) Alat Angkut Sampah Tong Sampah komunal MCK Sumur Dalam (Air Bersih) Lampu Jalan Luas Area Kumuh yang Difasilitasi Jumlah KK yang Merasakan manfaat Volume 14. Teluk Betung Selatan Program lainnya yang juga memberikan kontribusi terhadap perbaikan kualitas kota Bandar Lampung adalah Program PNPM Mandiri Perkotaan. Kec.039 KK • • • • • • • • • • • • Sebaran Lokasi Kel. Teluk Betung Barat Kel. Teluk Betung Barat Kel. Teluk Betung. ketersediaan 113 .

kapasitas pendanaan dan pelaksanaan program/kegiatan. Tabel dibawah ini memperlihatkan kekuatan dan kelemahan masing-masing komponen yang terjadi di Kota Bandar Lampung: Tabel 7-7. Analisis Kapasitas Pemerintahan Komponen Peran Pemangku Kepentingan • • Kekuatan Adanya keterlibatan semua pemangku kepentingan Adanya Program Nasional yang didukung lembaga kerjasama internasional (PNPM dan NUSSP) • Kelemahan Peran dan kontribusi pemangku kepentingan masih parsial belum terintegrasi dalam suatu kebijakan Belum dipahaminya metodologi dan strategi operasional untuk menjabarkan secara lebih lanjut dari peraturan kedalam dokumen rencana Belum meratanya pemahaman dan kapasitas SDM dalam menyusun dan merumuskan substansi mitigasi dan adaptasi bencana dan perubahan iklim.dokumen. kelembagaan daerah. Belum adanya koordinasi antar lembaga dalam 114 . Keenam komponen ini kemudian akan dianalisa kekuatan dan kelemahannya sehingga diketahui sejauh mana kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan kota dalam rangka megintegrasikan perencaaan ketahanan dalam perubahan iklim. Belum adanya dokumen rencana aksi daerah dalam penanggulangan bencana yang memiliki kekuatan hukum dan belum dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan Kelembagaan penanggulangan bencana daerah belum bekerja secara efektif Peraturan dan Kebijakan • Adanya peraturan perundangan • yang mensyaratkan daerah menyusun dokumen rencana yang memperhatikan adaptasi dan mitigasi bencana dan perubahan iklim Dokumen RPJMD (5 tahunan) akan disusun dalam tahun 2010 dan dokumen RTRW sedang dalam proses revisi merupakan kesempatan untuk memasukan substansi adaptasi dan mitigasi bencana serta perubahan iklim Adanya studi-studi terkait mitigasi bencana dan skenario design mitigasi bencana • • Ketersediaan dokumen rencana • • Kelembagaan daerah • • Kapasitas pendanaan • • • Adanya Tim Kota untuk perubahan iklim yang sudah dibentuk dan bekerja Telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bandar Lampung Adanya komitmen untuk mendukung program dan kegiatan perubahan iklim Masih adanya Dana Alokasi Khusus dan tugas pembantuan Adanya dukungan dan bantuan • • • Alokasi belanja langsung untuk program dan kegiatan sektor terkait perubahan iklim masih terbatas (kurang 5 %).

Akan tetapi. Akibatnya para pemangku kepentingan masih sering salah persepsi terhadap terminologi serta aplikasi perubahan iklim. Sementara itu dalam kaitannya dengan peraturan dan kebijakan yang mendukung ketahanan terhadap perubahan iklim. adanya Badan Penanggulan Bencana Daerah juga memberikan kekuatan bagi kota Bandar Lampung untuk mengantisipasi bahaya perubahan iklim.Komponen Kekuatan program nasional yang didukung lembaga internasional Kelemahan pemanfaatan dana program dan kegiatan sehingga masih memungkinkan terjadinya duplikasi Belum berjalannya koordinasi program dan kegiatan lintas sektor dan lintas wilayah Pelaksanaan program dan kegiatan • Adanya program dan kegiatan yang telah dan sedang dilakukan pemangku kepentingan • Tabel tersebut menggambarkan bahwa para pemangku kepentingan di kota Bandar Lampung telah secara bersama-sama terlibat dalam upaya untuk meningkatkan kewaspadaan serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi bahaya perubahan iklim. saat ini pemerintah kota Bandar Lampung sedang menyusun peraturan perundangan yang berkaitan dengan adapatasi dan mitigasi terhadapa bahaya perubahan iklim. Hal ini merupakan kekuatan bagi pemerintah kota untuk mengatasi permasalahan yang potentsial dihadapi oleh kota yang berkaitan dengan perubahan iklim. Akibatnya program dan kebijakan yang diambil sering tumpang tindih. Selain itu. Tim Kota yang terdiri dari berbagi latar belakang institusi ini akan memberikan cukup banyak masukan baik bagi pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya. Keberadaan Tim Kota Perubahan Iklim merupakan sebuah awalan yang bagus bagi kota Bandar Lampung untuk menyusun program yang berkaitan dengan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. umumnya terminilogi dan metodelogi yang berkaitan dengan perubahan iklim yang akan dimasukkan dalam peraturan perundangan tersebut masih belum jelas. Akan tetapi keberadaan kedua tim dan badan ini perlu didorong secara lebih efektif sehingga mampu memberikan kontribusi yang positif di masa mendatang. Agar dokumen tersebut mampu menjawab permasalahan yang akan dihadapi maka aparat pemerintah kota serta pemangku kepentingan lainnya perlu meningkatkan pemahaman tentang perubahan iklim sehingga akan memiliki pemahaman yang sama tentang bahaya perubahan iklim bagi kota Bandar Lampung. 115 . Hal ini dapat diawali dengan berbagai kegiatan studi tentang mitigasi dan adapatasi bahaya perubahan iklim yang selanjutnya dijadikan sebagia masukan penting di dalam dokumen rencana pembangunan tersebut. Hal ini mengakibatkan kebijakan dan peraturna perundangan yang akan disusun menjadi multi tafsir dan kurang dapat diaplikasikan di tingkat lokal. Penyusunan RPJMD yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung pada tahun 2010 merupakan kesempatan yang sangat baik bagi pemerintah kota untuk memasukkan substansi adaptasi dan mitigasi bencana serta perubahan iklim. Akan tetapi pada saat yang sama juga terdapat kelemahan pada komponen ini yaitu belum terintegrasinya program dan kegiatan yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan di kota Bandar Lampung. Pada saat yang sama terdapat beberapa program dari pemerintah seperti PNPM Perkotaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya di kawasan kumuh.

Namun demikian idealnya pemerintah daerah juga harus mengimbangi pendanaan tersebut dengan menaikkan alokasi anggaran pembangunan daerah yang berkaitan dengan perubahan iklim. oleh karena itu pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap bencana yang akan datang sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. dimana diharuskan untuk memenuhi RTH sebesar 30 persen.Adanya komitmen dan dana bantuan baik di tingkat nasional maupun internasional merupakan peluang dan kekuatan bagi pemerintah kota untuk dapat menyusun dan melaksanakan program yang bekaitan dengan perubahan iklim. misalnya dengan pembangunan Talud untuk tanah rawan longsor dan pembangunan drainase di daerah pesisir Pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasiuntuk daerah potensi padi dan penyediaan sumur pompa dan sumur dalam untuk daerah holtikultura Penyusunan RTRW Kota Bandar Lampung yang mengacu pada UndangUndang Penataan Ruang. Anggaran dan dana yang ada ini juga harus didukung dengan kemitraan diantara pemangku kepentingan. • Telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung pada bulan November 2009. Temuan dan Rekomendasi untuk Perencanaan Ketahanan Kota dalam rangka Perubahan Iklim Secara ringkas temuan dan rekomendasi yang dapat diberikan terkait dengan perencanaan ketahanan kota dalam rangka perubahan iklim adalah sebagai berikut: • Terkait Penataan Ruang & Penanggulangan Bencana: RTRW Kota Bandarlampung dalam proses revisi dan merupakan kesempatan untuk memberikan masukan substansi terkait adaptasi perubahan iklim Terdapat beberapa substansi normatif yang harus ada diantaranya RTH dan . namun belum ditetapkan secara legal formal dan dijadikan acuan bagi pemangku kepentingan. Mitigasi Bencana. Telah disusun beberapa studi terkait mitigasi bencana yang intinya menggambarkan kondisi kebencanaan kota. dll. Hal ini perlu dilakukan karena bahaya perubahan iklim tidak lagi bersifat wacana. Adanya program-program pembangunan infrastruktur pada tingkat masyarakat yang responsif terhadap perubahan iklim [PNPM Kota Bandar Lampung]. Melalui kemitraan ini maka akan dihasilkan program-program yang integratif untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan pembangunan perkotaan lainnya serta memberikan kekuatan yang lebih besar kepada masyarakat untuk menghadapi bahaya perubahan iklim. Adanya sosialisasi kepada warga terkait PLBK (Program Lingkungan Berbasis Komunitas) di Bandar Lampung Adanya keterlibatan LSM dalam berbagai program penanganan lingkungan skala masyarakat di Kota Bandar Lampung • • • • • 116 . indikasi program dan rencana tindak penanggulangan bencana kota.10. namun belum efektif dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan. landasan pelaksanaan. 7.

Mengintegrasikan kerangka adaptasi perubahan iklim terhadap dokumen perencanaan pembangunan dan penataan ruang Kota Bandar Lampung Masukan metodologi dan substansi bagi penyusunan dan revisi Rencana Tata Ruang Kota (RTRW) terkait dengan isu dan dampak perubahan iklim Masukan metodologi dan substansi bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Daerah terkait dengan isu dan dampak perubahan iklim • Peningkatan pemahaman dan kepedulian mengenai perubahan iklim untuk semua pemangku kepentingan [pemerintah. • • 117 . Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah diperlukan untuk memungkinkan mereka dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi.Berdasarkan temuan tersebut maka beberapa masukan bagi Pemerintah Kota untuk mengantisipasi bahaya sebagai akibat perubahan iklim adalah sebagai berikut: • Memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang. strategi komunikasi dan capacity building program. masyarakat dan swasta] melalui shared learning. Peningkatan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim dengan menggali dan mengembangkan berbagai upaya dan kearifan lokal melalui pilot project adaptasi perubahan ikilim. Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim.

Mempertimbangkan bahwa mereka yang pindah ke kota lahir di daerah pedesaan di sekitar kota. melainkan kapasitas untuk beradaptasi. Lalu saya mencoba untuk mengekstrak pembelajaran dan faktor-faktor yang mungkin berkontribusi di setiap strategi yang layak dan berhasil. Sementara semuanya terkait kepada adaptasi terhadap peristiwa-peristiwa iklim yang parah. Di antaranya adalah: keragaman. contoh-contoh adaptasi terdahulu. tetapi juga potensi adaptasi baru di kala bencana. Bertahan hidup di wilayah perkotaan di negara-negara berkembang bukanlah untuk yang mudah. Maka untuk pendatang. Strategi adaptasi akan dinilai melalui sudut pandang kapasitas mereka untuk mengatasi fenomena iklim. Maka wajib untuk menantang gagasan-gagasan kita tentang siapa dan apa yang adaptif karena tidaklah mudah bagi kita untuk membicarakan kerentanan. yang mengandalkan siklus alam. Warga miskin kota menunjukkan bahwa mereka berada di antara yang paling mengadopsi dalam mengembangkan strategi adaptasi lantaran mereka harus berkonsolidasi diri dalam konteks perkotaan yang terkadang kejam yang bagi kebanyakan mereka tidaklah familiar dan tidak siap untuk masuk ke dalamnya sejak dini. strategi-strategi tersebut juga berkait kepada adaptasi bertahan hidup yang didasari oleh kebutuhan untuk beradaptasi dan bertahan di kota. Karena adaptasi tidak dapat menghilangkan resiko cuaca yang ekstrim. fleksibilitas dan kesehatan. yang mencari penghidupan dan pemukiman di tempattempat yang paling menantang merupakan testamen kualitas adaptif yang tinggi. kolaborasi. dan lain-lain.1. pindah ke kota menemukan tantangan yang benar-benar berbeda. terhadap peristiwa-peristiwa yang tak terduga di luar kendali langsung mereka. Strategi Adaptasi di Bandar Lampung Berikut ini diuraikan beberapa strategi adaptasi yang berbeda di masyarakatmasyarakat yang diteliti selama Penilaian Kerentanan Berbasis Masyarakat. Di bagian ini kita lihat tidak hanya adaptasi yang sudah dikembangkan masyarakat dan perorangan. saya melihat kepada bagaimana dampaknya dibatasi. produksi pertanian yang melimpah dan aktifitas yang telah berlangsung lama yang sedikit atau tidak membutuhkan pengetahuan dari bangku sekolah. apa yang mereka lakukan dan apa kontribusinya untuk meningkatkan ketahanan. Saya melihat dari awal pada keanekaragaman cara bagaimana masyarakat di setiap kota telah mengembangkan strategi adaptasi. Sejumlah besar populasi masyarakat miskin. 8. kehidupan di kota penuh dengan strategi adaptasi dan bertahan hidup. baik dengan respons mereka. atau persiapan yang memadai. semakin adaptif seseorang atau masyarakat semakin mereka mampu mengatasi perubahan yang mungkin terjadi. Ini adalah studi spekulatif tetapi orang dapat memahami kapasitas untuk adaptasi dengan mengidentifikasi kualitas mereka dan kapasitas masyarakat yang harus beradaptasi. stabilitas ekonomi (tidak harus kesejahteraan).BAB 8 ADAPTASI Adaptasi merupakan kualitas seseorang untuk mengubah dirinya sendiri atau lingkungan sekitarnya dalam rangka menjadi yang lebih cocok untuk bertahan hidup. Kedua gagasan 118 . tetapi mereka dalam serba terbatas untuk merespons resiko fisik seperti banjir. menuju peluang-peluang yang secara konstan berpindah-pindah. pendidikan. Ini adalah komponen kunci ketahanan. ke ekonomi pasar.

Adaptasi terhadap bentang alam meningkatkan permanensi pemukiman dengan mengurangi kebutuhan untuk mengganti pos-pos yang terekspos air dan biaya pemeliharaan yang tinggi. bahkan dari daerah lain di Indonesia. Kebanyakan mereka datang dari kota-kota yang berbeda. selain meningkatkan peluang instalasi layanan publik lokal dan meningkatkan akses. Namun proses ini mendorong secara aktif pembuangan sampah di badan air dan di pantai. penduduk setempat telah berinisiatif untuk memperbaiki struktural di lingkungan mereka tanpa menunggu uluran tangan pemerintah daerah. analisis dilakukan untuk mengumpulkan pembelajaran tentang apa yang membuat adaptasi-adaptasi tersebut layak. Tabel lainnya juga menggambarkan cara-cara adaptasi-adaptasi tersebut berkontribusi kepada tanggap. telah membangun tanggul kecil (setinggi 60 cm) untuk mencegah limpasan air ke dalam rumah selama kondisi banjir tinggi. kesiapsiagaan dan ketahanan bencana. dan adaptasi mereka mereka ke kotanya yg baru dalam bentuk adaptasi terhadap tantangan kondisi fisik dan lingkungan dalam rangka mengamankan kondisi ekonomi yang dibutuhkan. Tinggal di atas air: Keluarga-keluarga yang tinggal di atas air seperti di Kota Karang telah beradaptasi terhadap kebutuhan ekonomi seperti akses ke tempat kerja. dan kurangnya akses ke darat. Bahkan tanpa hak kepemilikan lahan yang jelas. apa faktor yang mungkin berkontribusi dalam keberhasilan. seringkali dengan membangun tanggul-tanggul kecil dari batu yang diisi dengan tanah di dalamnya. Penduduk di bantaran sungai contohnya. Ini untuk mencegah paparan air laut terus menerus dan selanjutnya mengurangi kebutuhan mengganti tonggak rumah setiap enam bulan sekali. investasi berkelanjutan dari pemerintah daerah atau sejumlah 119 • • • • . Perbaikan dan infrastruktur structural: Di beberapa wilayah di Pasir Gintung. peluang dan jasa. pasar. Meningkatnya perumahan yang tahan air: Di kampung nelayan Kota Karang dan Kangkung terdapat banyak adaptasi arsitektur ke atas untuk membuat rumah mereka lebih tahan dari efek destruktif air laut. Konsolidasi kampung secara bertahap: Masyarakat miskin perkotaan seperti di Kangkung (Lingkungan 2) dan Pasir Gintung (Lingkungan 2) telah mengkonsolidasikan kampungnya dan dengan demikian mengurangi kerentanan dengan perbaikan ke atas. sebagaimana halnya hambatan dan peluang. Sebagai contoh di Kangkung.tersebut sangat saling berkaitan. Bandar Lampung • Reklamasi lahan yang progresif: Garis pantai kampung Kangkung telah direklamasi secara progresif sepanjang tahun oleh akumulasi tanah dan sampah. kebanyakan rumah-rumah nelayan yang dibangun di atas tonggak kayu diperkuat dengan sarung beton. Pekerjaan ini dapat dikerjakan ke atas (tidak harus sekaligus) dan memberikan ruang-ruang finansial bagi keluarga. Uang dikumpulkan antar tetangga dan pekerjaan dilakukan secara gotong royong. Hasilnya banyak rumah-rumah yang tadinya berdiri di atas air sekarang berdiri di atas tanah padat. Ternyata tanggul penghalang kecil dan terbatas cukup efektif dan responsif terhadap kebutuhan mereka. Di bawah daftar. Penumpukan sampah memancing hama (tikus dan nyamuk) yang menyebabkan kondisi yang tidak sehat dan angka penyakit malaria yang tinggi.

Kemampuan mengakses dana tunai melalui fasilitas kredit dan gadai: Strategi pertahanan hidup yang banyak digunakan. masyarakat setempat telah memperbaiki sistem drainase secara progresif. Tak bisa dipungkiri bahwa bagaimanapun bebapa orang Bugis Berjaya di kotanya dan mereka memutuskan untuk mengadopsi model-model rumah konvensional (yang berada di atas permukaan tanah) dan maka dari itu kehilangan atributatribut arsitektur adaptif lantaran mereka berakulturasi dengan lingkungan sekitar. Proyek-proyek kolaborasi warga: Warga berkolaborasi dalam rangka memperbaiki lingkungannya dengan menyumbangkan waktu liburnya untuk proyek-proyek warga seperti kerja bakti bersih lingkungan dan membangun tanggul penahan. tetapi digunakan untuk menyimpan barang-barang berukuran besar (seperti gerobak dan bahan bangunan). seperti di sepanjang bantaran sungai di Kota Karang. Proyek-proyek di kampung Pasir Gintung membersihkan 120 . Cara ini membuat mereka lolos dari krisis keuangan periodik dengan memiliki asset-asset yang bisa digadaikan sewaktu-waktu atau orang-orang dan lembaga-lembaga informal dari mana mereka mendapatkan akses ke sumber daya. Membangun rumah panggung: Di beberapa kampung. banjir dan abrasi pantai. rumah dibangun di atas panggung. tetapi menerapkan suku bunga yang tinggi dan ketergantungan pada reputasi seseorang di lingkungannya. melainkan tradisi suku Bugis dari pendatang. Cara lain adalah menjual asset seperti televisi dan sepeda motor untuk menggalang dana di saat darurat atau membutuhkan dana instan. Keluarga-keluarga sering kali membutuhkan akses dana untuk menambah pendapatan mereka dan yang mereka lakukan adalah mencari kredit dari tukang kredit dan toko-toko setempat. ini adalah alternatif yang membantu mereka menghemat pengeluarannya dan penggunaan air.• • • • besar modal selama beberapa tahun. Kelembagaan ini dibentuk untuk kebutuhan alamiah informal. dan memasang pipa air bersih. Penampungan air dan peternakan hewan: Keluarga yang kekurangan air dan makanan mengumpulkan air dengan menampung air hujan untuk kegiatan bersih-bersih dan kadang kala memasak daging (ayam. baik untuk sehari-hari maupun mengatasi kondisi dan bencana cuaca yang ekstrim adalah kemampuan mengakses sumber daya. bahkan meskipun rumah tersebut di atas tanah kering. tetapi menunjukkan bahwa kapasitas masyarakat untuk berhadapan dengan resiko perubahan iklim sendiri dengan proyek-proyek sederhana dan tidak bergantung pada yang besar-besar. atau untuk berpartisipasi dalam arisan warga. Ini tidaklah mengacu pada adaptasi terhadap resiko iklim tertentu. membangun tanggul penahan dan tanggatangga. Beradaptasi terhadap kebutuhan sosial ekonomi. Hal ini mengurangi kejadian dan resiko longsor. ayam betina dan kadang-kadang kambing) untuk tambahan menu makanan mereka. ukuran pertahanan hidup yang reaktif. Keluarga-keluarga tersebut secara tidak sengaja tinggal di rumah panggung di atas laut. Konstruksi ini juga membuat rumah bebas banjir musiman dan dengan demikian mengurangi kerentanan dan kerugian harta benda saat terjadi banjir besar yang tidak normal. dimana lahan sulit diperoleh (di Kota Karang dan Kangkung). meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan resiko-resiko tersebut. Mengumpulkan air membuat mereka mengurangi ketergantungan kepada sistem pengaliran air PDAM yang tidak melayani mereka. tidak melibatkan proses-proses birokrasi atau tabungan. kurangnya fasilitas publik dan lahan.

saluran air buangan yang membantu mereka meyakinkan bahwa air buangan tidak menjadi ancaman atau melimpah dari gorong-gorong dan merusak rumah-rumah dan properti. atau bahkan kelompok-kelompok arisan yang mengumpulkan dana yang sangat minimal. Mereka mandiri. keluarga bisa menjual televise. Respons mereka telah berkembang karena mereka bekerja untuk mereka sendiri. sehingga berkembang oleh aplikasi yang konsisten secara waktu dan sumber daya.2. adaptasi-adaptasi ini memiliki tujuan dan efek terhadap kehidupan mereka setiap hari. dengan kegagalan membersihkan saluran air buangan di bagian hulu akan memperparah kondisi wilayah lain di hilir. dan mengapa warga memilihnya? Meskipun analisis komprehensif hanya bisa dilakukan secara realistis di balik peristiwa iklim yang parah. yang lebih penting adalah bahwa secara yang paling praktis. Ini merupakan poin yang sangat penting untuk dikenali. Pada umumnya. Dalam rangka mengumpulkan modal untuk pulih dari banjir. Bisa diakses pada saat dibutuhkan: Strategi-strategi adaptasi juga harus bisa diakses pada saat dibutuhkan. 8. warga miskin perkotaan tidak menunggu pemerintah untuk menolong mereka. dan untuk warga miskin kota. sumber-sumber tersebut langka. sukses belum tentu dianggap memiliki dampak skala besar. Tidak bergantung kepada proyek-proyek atau intervensi pemerintah yang besar: Di negara yang sumberdaya pemerintahnya terbatas dan mungkin kurang merespons. Pembelajaran Strategi adaptasi yang teridentifikasi di atas memberikan wawasan ke arah pemahaman apa yang disebut strategi yang layak dan berhasil. motor atau asset yang laku dijual. Untuk strategistrategi untuk dikembangkan dan dilaksanakan harus sudah dilakukan. bukan karena terdengar seperti ide-ide yang bagus dan berpotensi. Kegiatan ini disebut gotong royong dan membutuhkan kolaborasi yang konsisten dan terkoordinir antara kelompokkelompok dan wilayah-wilayah yang berbeda di suatu wilayah. Hal inilah yang warga sanggup lakukan dan yang masuk akal bagi mereka. masyarakat di kota menginginkan akses ke sumber-sumber dengan cepat dan ini merupakan karakteristik yang sangat penting dari strategi adaptasi yang berlaku. Contoh-contohnya seperti memulung bahan bangunan dari tukang loak terdekat. Di bawah ini beberapa kualitas umum yang muncul dalam strategi-strategi adaptasi yang tercatat di atas: • Cukup hanya ‘bekerja’: strategi-strategi adaptasi di atas merupakan respons yang sangat praktis terhadap ancaman-ancaman utama dan realita penduduk yang diteliti. terutama pada saat-saat yang sulit. Evolusi hampir selalu meningkat dan berasal dari bahan-bahan yang tidak mahal atau gratis. lalu faktorfaktor apa yang membuatnya terjadi. Jadi mereka lebih 121 • • • . mudah dikelola dan diakses. kita bisa mencari petunjuk-petunjuk yang memudahkan kita untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi kepada strategi-strategi adaptasi yang baik dan efektif. Tidak mahal dan bekerja dengan bahan-bahan yang tersedia: Strategistrategi adaptasi bisa makan waktu untuk berkembang. ketimbang mengikuti proses aplikasi yang birokratis yang mungkin mengharuskan pengurusan surat-surat yang lama. Hal ini bisa menjadi tantangan karena sebagian wilayah lebih berdedikasi ketimbang lainnya dalam kerja bakti bersih lingkungan.

8. Akses lebih kepada informasi akan mendorong keluaran yang lebih baik: Masyarakat yang rentan mengevaluasi situasi mereka secara konstan. Menyeluruh lebih besar daripada sejumlah bagian: Banyak strategi adaptasi berhasil karena mereka memanfaatkan upaya kolektif dan kekuatan masyarakat. Pada kasus yang sangat sederhana. pengetahuan kelompok-kelompok arisan atau suku bunga yang berbeda dari kreditur setempat dapat menambah pilihan-pilihan ekonominya dan mengurangi kerentanannya. Adaptasi terhadap peristiwa iklim yang parah harus dilakukan bersama-sama dengan strategi adaptasi lainnya: Mereka yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim tidak tahu atau tidak peduli apabila tidak memberikan manfaat kepada aspek-aspek kehidupanya. Karena warga miskin kota memiliki pandangan yang sangat praktis. jika investasi masyarakat sesuai atau sejalan dengan investasi pemerintah.3. maka solusi tersebut menjadi berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan intervensi pemerintah diapresiasi dan swadaya masyarakat nampaknya menjadi karakteristik kunci strategi adaptasi. Keselamatan diri sendiri bukanlah faktor yang memotivasi. Jika sesuatu dapat membuat mereka lebih aman dan juga membuat makin sejahtera. pendidikan dan mata pencaharian. Tidak hanya kerelaan untuk bekerja bersama. Strategi adaptasi dapat menolong mereka untuk memiliki akses lebih kepada informasi dan maka dari itu mampu mengambil keputusan yang lebih baik tentang situasi mereka akan mendorong keluaran yang lebih baik. Pilot Project daerah Bandar Lampung sebagai Rencana Aksi Adaptasi Bandar Lampung sedang mencari contoh model untuk menguji pendekatan yang dapat berkontribusi terhadap rencana ketahanan kota. Aktivitas perdana ini ditujukan untuk menguji pendekatan yang inovatif dan berpotensi untuk diduplikasi untuk digunakan dalam meningkatkan ketahanan kota. maka adaptasi yang berhasil bagi mereka adalah yang bekerja dengan strategi lain yang mereka pertimbangkan. Jarang sekali yang berupa upaya perorangan. Masyarakat saling memikirkan satu sama lain dan jika pertimbangan ini diterjemahkan ke dalam aksi kolektif.• • • • bergantung kepada organisasi dan inisiatif masyarakat yang lebih merespons kebutuhan mereka dengan cara mereka sendiri. maka itulahyang mereka inginkan. Saat fase perjanjian dari insiasi ini akan terdapat kesempatan untuk mengimplementasikan proyek skala kecil untuk mengembangkan multi-stakeholder dalam rencana aksi ketahanan kota. perumahan ataupun kesehatan. strategi adaptasi nampaknya akan berhasil. 122 . seperti kesehatan. perumahan. hasilnya bisa signifikan. Contohnya. Masyarakat miskin kota biasanya terisolasi dan maka dari itu strategi adaptasi yang berhasil nampaknya akan meningkatkan akses informasi mereka. baik itu ekonomi. maka akan menghasilkan dampak yang signifikan dan berkelanjutan pada kondisi lingkungan warga. tetapi juga keyakinan bahwa melakukan bersama-sama akan menghasilkan yang lebih baik. tetapi jika manfaat lain dapat diperoleh. Menyesuaikan bantuan pemerintah mendorong hasil yang lebih baik: Jika masyarakat mampu bekerja bersama-sama dengan pemerintah setempat dan kota (dan sebaliknya).

LSM. Berikut ini merupakan pilot project terpilih untuk Bandar Lampung: Pilot Project pertama untuk Bandar Lampung: Desain dari Partisipasi Adaptasi Ketahanan Masyarakat di Kangkung dan Kelurahan Kota Karang. Dapat direplikasi 2. program sukarela. Menanggapi masalah yang terdapat saat ini dan masa depan 3. yaitu kelurahan Kangkung dan Kota Karang. dll.untuk menyiapkan daftar pengaruh perubahan iklim pada level kota . anak kecil. sector swasta. baik dengan peningkatan kesadaran. Tujuan dari proyek ini ialah untuk meningkatkan pengertian. Kolaborasi 6. dan partisipasi masyarakat dalam rangka mewujudkan kapasitas adaptasi untuk 123 . yaitu: . Dan sebagai tanggapan terhadap masalah lokal di kota Bandar Lampung yang disebabkan oleh pengaruh prubahan iklim pada sector lingkungan dan ketersediaan air. banjir. dll.untuk menguji kapasitas adaptasi di dalam masyarakat Target utama dari pilot project ini adalah masyarakat yang rentan terhadap pengaruh perubahan iklim. Didirikian pada tanggan 26 Desember 2004. kapasitas local. dll. mempengaruhi kebijakan local. dan orang – orang tua. Lampung Ikhlas secara aktif telah menerapkan aktivitasaktivitas yang berkaitan dengan respon darurat terhadap bencana. dan grup-grup masyarakat) .Implementasi dari pilot project harus berkaitan dengan masalah local pada administrasi local atau administrasi daerah “cross border” pada masalah lingkungan.Tujuan dari implementasi perdana ini adalah: . kekringan. Terskala 7. seperti erosi. longsor. ekonomi yang berkaitan dengan perubahan iklim . Menguntungkan masyarakat local 4. Universitas.Implementasi dari pilot project ini diarahkan untuk adaptasi dan merespon usaha yang dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim. CBO. kesadaran. Bandar Lampung City to Climate change”. Aktifitas dari pilot project ini harus mengikuti atau sejalan dengan criteria di bawah ini: 1.untuk mengikat para stakeholder tingkat kota (pemerintah kota. kesehatan. Lampung Ikhlas merupakan asosiasi terbuka dan mandiri yang bergerak dibidang solidaritas antara korban bencana alam dan kemanusiaan. Orang yang akan merasakan manfaat dari proyek ini adalah wanita. pendidikan.untuk mengimplementasikan pilot project yang menguji strategi ketahanan terhadap perubahan iklim . social. Inovatif 5. Merupakan strategi yang berkelanjutan Ada beberapa criteria tambahan yang harus diterapkan oleh pilot project. maka mereka telah memilih dua kelurahan untuk menerapkan pilot project. Kota Bandar Lampung pada Perubahan Iklim oleh Lampung Ikhlas (LSM Lokal). Judul dari proyek Lampung Ikhlas ini ialah: “participatory design adaptation of Community Resillience in Kangkung and Kota Karang sub-district.

memperbaiki status kesehatan. termasuk wanita. 2. target dari proyek ini adalah: 1. 4. ekonomi. membantu untuk meningkatkan standar kehidupan masyarakat dalam sector kesehatan. laki-laki dewasa terutama dari keluarga nelayan. ketahanan kehidupan ekonomi. dan peningkatan pengetahuan. dalam hal peningkatan pemasukan. sosialisasi program: untuk membentuk partisipasi sukarela dari masyarakat lokal dalam menerapkan proyek. Yang akan merasakan keuntungan dari program ini ialah: masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim. Yang akan mengimplementasikan aktivitas ini ialah grup-grup yang telah ada di dalam masyarakat. LFA Analisa Problem Aktivitas proyek ini akan mencakup: 1. membangun pengertian dan menerapkan aktivitas dari program untuk lingkungan social di kelurahan Kangkung dan Kota Karang mengenai pengaruh perubahan iklim (dalam lingkup social. UNAVAILABLE OF SUBDISTRICT SPATIAL PLAN UNEXISTENCE OF MANAGEMENT FROM SUB-DISTRICT RESIDENTIAL AND WARD DO NOT ADAPT TO CLIMATE CHANGE THREAT TO WORKING ACTIVIIES SUSTAIBANI LITY VULNERBALE COMMUNITIES TO CLIMATE CHANGE UNEXISTENCE OF GOVERNMENT POLICIES SUPORT TO CLIMATE CHANGE NO SOLIALIZATION OF CLIMATE CHANGE IMPACT AND ADAPTATION UNAPPROPRIATE RESPONSE/ BEHAVIOR TO CLIMATE CHANGE RESIDENTIAL DEVELOPMENT AND WARD DO NOT ADAPT TO CLIMATE CHANGE Gambar 8-1. 124 . dan sector kehidupan yang berkelanjutan). keluarga miskin.menghadapi pengaruh perubahan iklim. Target dari program ini ialah masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim yang mempengaruhi daerah pesisir: kelurahan Kangkung dan Kota Karang. meningkatkan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. meningkatkan kesadaran masyarakat di kelurahan Kangkung dan Kota Karang terhadap perubahan iklim. dan adaptasi terhadap perubahan ikllim. dan lainnya. Untuk lebih jauhnya. 3. anak kecil. manajemen lingkungan. kenyamanan.

Pilot Project kedua di Bandar Lampung: Pembentukan kapasitas “capacity building” untuk kelurahan Panjang Selatan untuk menghadapi perubahan iklim yang dilakukan oleh Mitra Bentala (LSM lokal) Mitra Bentala didirikan pada tanggal 9 April 1995 dengan visi “kedaulatan masyarakat pesisir pantai dan pulau-pulau kecil Lampung dalam manajemen sumber alam yang demokratis. 5. poster.meningkatkan kapasitas masyarakat melalui partisipasi aktif dan meningkatkan pengetahuan mengenai usaha adaptasi terhadap perubahan iklim. dan rehabilitasi. Target dari proyek ini ialah: 1. Mitra Bentala telah memilih implementor pilot project ini yang berada di kelurahan Panjang Selatan. Periode jangka pendek: . institusi pendidikan. survey: untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai daerah dan masalah-masalahny untuk mendukung kesuksesan proyek.membangun kesadaran masyarakat dalam meningkatkan pengertian dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengaruh perubahan iklim. stiker. dan masyarakat dalam aktivitas-aktivitas yang mencakup daerah pesisir dan pulau kecil. 4. Penyediaan saran air bersih: meningkatkan kapasitan masyarakat.usaha adaptasi terhadap perubahan iklim melalui manajemen persampahan. dan . kalender. Focus group discussion (FGD): untuk membentuk kebersamaan. 3. Video dokumentasi: untuk menjelaskan tahap-tahap aktivitas proyek. 7. dan berkelanjutan”. Tujuan dari proyek ini ialah “sebagai usaha untuk menguatkan kapasitas masyarakat dalam usaha untuk meningatkan ketahanan masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan dalam menghadapi perubahan iklim”. kesiapan. kampanye media: untuk mensosialisasikan pengaruh perubahan iklim dalam rangka menumbuhkan ketahanan masyarakat melalui penyebaran leaflet. adil. Sejak didirikannya. 6. . lomba menggambar sampah. Judul proyek Mitra Bentala ini ialah: Pembentukan kapasitas “capacity building” untuk masyarakat kelurahan Panjang Selatan untuk menghadapi perubahan iklim”. Mitra Bentala telah bekerjasama dengan pemerintah. memecahkan masalah minimnya ketersediaan air bersih karena perubahan iklim. dan juga meningkatkan pemasukan dengan melakukan pelatihan daur ulang sampah. Dan sebagai tanggapan terhadap pengaruh perubahan iklim di kelurhana Panjang selatan. sector swasta.2. LSM lokal. dan membentuk grup manajemen air bersih melaluii pelatihan filtrasi air payau dan membangun instalasi filtrasi air payau. dan kemauan dalam masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. penyediaan air minum. manajemen sampah: meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat untuk memecahkan masalah mengenai penyakit akibat perubahan iklim. pembuatan pupuk organic. 125 . dan aktivitas pembangunan fasilitas daur ulang sampah. dan banner.

Installation of drinking water refill training 1. termasuk keluarga nelayan. .2. Periode jangka panjang: .Natural resources training 4. Diagram Alur Aktivitas 126 .Waste management training 5. kepala rumah tangga wanita.mendorong pembentukannya grup masyarakat untuk adaptasi terhadap perubahan iklim.Disaster evacuation sign board route and map 4.mendorong pembentukannya dukungan kolektif untuk penerapan adaptasi terhadap perubahan iklim di kelurahan Panjang Selatan. .Citizen Meeting 3. leaflet. . Eco-feminism education 6. terutama masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim. and t-shirt 3.Documentary film OUTPUT Climate Change Adaptation Community Group Collective Support SUSTAINABLE PLAN Gambar 8-2. Rehabilitation Climate Change Adaptation Ability/Capacity ACCCRN Team Panjang Selatan Subdistrict MITRA BENTALA EFFORT IN CLIMATE CHANGE ADAPTATION Community Capacity Building Building Awareness 1. Diagram Alur Pemikiran Climate change issues POLICY ORIENTATION Adaptation Efforts to Climate Change M&E 1. dan membangun kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. Drinking water installation refill 3. Masyarakat yang akan merasakan keuntungan dari program ini ialah: masyarakat di tiga daerah terpilih kelurahan Panjang Selatan yang berada dipesisir pantai hingga daerah buki. dan lainnya. Waste management and facilities providing 2.Socialization 2. Campaign: poster. Mass-media expose 2. . .

serta bagaimana kapasitas saat ini harus diperkuat dan rencana tata ruang ditingkatkan untuk membentuk ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik dari pilot proyek tersebut dalam merancang kebijakan dan strategi jangka panjang untuk mengatasi perubahan iklim. sumber daya dan perangkat yang dibutuhkan untuk beradaptasi secara efektfi terhadap kondisi yang berbeda. pendidikan sumber daya alam.4. (i) Apa saja faktor-faktor dimana adaptasi bergantung? • Uang • Kapasitas • Pemahaman • Akses informasi Kolaborasi dan keterlibatan pemerintah setempat • Migrasi dan laju pertumbuhan • Penyediaan layanan publik • Mobilitas Kekurangan akses modal yang menghambat kapasitas melakukan investasi. Kurangnya kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi yang berbeda. Beginilah caranya strategi adaptasi dapat membangun ketahanan.Pilot proyek diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam memahami bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada masyarakat dan sektor. apa saja hambatannya dan peluang-peluang apa saja yang ada di masyarakat yang diteliti yang dapat menjadi basis untuk pengembangan ketahanan masyarakat lebih lanjut. pendidikan eco-feminism. rehabilitasi. informasi dan perangkat bergantung kepada akses fisik. Marginalisasi dari pengambilan keputusan dapat menjauhkan dari akses informasi. 127 . Kewajiban untuk belajar tentang adaptasi dan ancaman dan bagaimana meresponsnya. leaflet. 8. dan pembuatan rute dan peta evakuasi saat terjadi bencana. 4. 3. dan peningkatan kewaspadaan terhadap bencana: manajemen pendidikan sumber daya alam. rehabilitas (penanaman pohon). dan (ii) dengan mengurangi dampak peristiwa iklim dengan memfasilitasi kesiapsiagaan bencana dan tanggap bencana. Kapasitas yang berlebihan dapat membatasi kemampuan untuk jadi fleksibel dan mengatasi perubahan secara efektif. sosialisasi: program sosialisasi pada tingkat kelurahan dan grup diskusi pada tingkat kota terpilih. 5. 2. Instalasi isi ulang air minum: pelatihan pemasangan instalasi air minum dan penyediaan instalasi isi ulang air minum. dan kaos. Kesanggupan untuk membangun dapat menghambat atau memicu pembangunan dan adaptasi Akses fisik ke sumber daya. manajemen persampahan: pelatihan manajemen persampahan. Informasi dapat memperkuat dengan memberikan alat untuk mengakses pengetahuan dan sumber daya. dengan menyiapkan sedari awal warga dapat mengurangi resiko dan/atau memfasilitasi respons yang membiarkan mereka untuk pulih seperti sedia kala. pendirian grup manajemen persampahan. Hambatan dan Peluang untuk penguatan kapasitas adaptasi: Di bawah ini dirinci analisis terhadap faktor-faktor eksisting dimana adaptasi bergantung. Kampanye: dokumentasi video dan pembuatan poster. dan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah. Adaptasi dan Ketahanan: Tabel berikut (lihat Lampiran) berusaha untuk mengkategorikan bagaimana adaptasi yang diuraikan di atas bisa dipahami (i) sebagai kontribusi kepada ketahanan. Aktivitas proyek ini akan mencakup: 1.

(ii) Apa saja hambatan dalam mengembangkan strategi adaptasi? Informasi Warga miskin kota memiliki sedikit akses informasi. Kebanyakan mata pencaharian penduduk lokal bergantung pada faktor yang jauh dan di luar kontrol mereka. Kurangnya investasi lokal (oleh pemerintah dan penduduk) menghamat pengembangan alternative Kurangnya kolaborasi dan kohesi masyarakat dapat melemahkan proses-proses dan proyek-proyek kolektif. ekonomi dan politik. kerentanan dapat dikurangi secara besar-besaran dan membuka banyak kemungkinan untuk adaptasi. Dengan sumberdaya yang memadai. Masyarakat yang tidak beruntung sering mengalami penderitaan dari isolasi. proyek dan inisiatif yang efektif yang dapat membantu strategi adaptasi (contoh: menawarkan layanan kesehatan dan air yang berkualitas) Kurangnya sumber daya alam dapat menghambat kapasitas untuk beradaptasi dengan menghambat perangkat yang bisa diakses untuk mengembangkan strategi perubahan dan adaptasi. mereka terjadi di kota-kota yang berbeda dan negeri-negeri yang jauh. Masa depan ekonomi tidak ditentukan oleh dinamika dan faktor lokal. dan dapat memperkecil suara masyarakat dalam mengajukan klaim. ekonomi dan fisik) Modal (dari warga maupun pemerintah setempat) Kolaborasi masyarakat Kolaborasi kelembagaan + jurisdiksi Sumber daya alam Ketergantungan kepada faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol 128 . fisik. yang mengurangi kesempatan mereka. atau membuatnya jadi lebih mahal. Akses (politik. sehingga mereka tidak tahu mengenai perubahan dan peluang di lingkungannya. Ketidaksanggupan pemerintah daerah untuk mengkoordinir aksiaksi mereka secara kelembagaan (antar departemen) dan secara keruangan (lintas wilayah jurisdiksi) dapat menghambat implementasi program.

Penduduk setempat yang saat ini bekerja tidak hanya memberikan mereka ketrampilan. kualitas yang esensial dalam mewujudkan perubahan dan menjamin ketahanan. Masyarakat juga menunjukkan tingginya kolaborasi dan kohesi yang membuat proyek-proyek gotong royong terwujud. Pemerintah daerah mungkin tidak merasakan kebutuhan untuk menyediakan layanan atau berdialog dengan masyarakat. perangkat dan pengaruh politik yang potensial Kebanyakan pemerintah daerah sangat telaten membantu warganya. Keberadaan organisasi masyarakat di kedua kota menunjukkan adanya sumber daya manusia yang dapat berkontribusi kepada proses-proses perubahan sosial dimana masyarakat terlibat Program-program pemerintah kota dan nasional Materi dan ketrampilan dari aktifitas industri dan ekonomi Kepemimpinan lokal Kohesi masyarakat Organisasi masyarakat lokal 8. Pelajaran dapat dengan mudah dipelajari dan ditransfer dari kasus-kasus tersebut karena (i) sudah terbukti bekerja dan (ii) lebih mudah diintroduksi dari masyarakat dan kelompok-kelompok yang datang dari konteks yang sama ketimbang dibawa dari luar. membuatnya tak nampak: Dalam kasus masyarakat yang sampai sekarang tidak dikenal atau didokumentasikan. informasi. mereka juga menggunakan sumber daya yang tersisa. termasuk bagaimana caranya Pemerintah kelurahan setempat Ada banyak adapatasi yang sekarang digunakan dan dikembangkan di dalam lokasi penelitian yang dapat disebarkan dan manfaatnya dipublikasikan. memiliki ketrampilan dan kemauan untuk memperbaiki kondisi yang mengarah kepada adaptasi. Kota-kota yang tak nampak. Ide-ide lainnya ditelaah untuk digunakan sebagai modal dalam pembelajaran dan menjawab isu-isu spesifik terkait kerentanan secara multi dimensi yang muncul dengan sendirinya. Mereka telah terbukti berhasil dan efektif Pengumpulan pengetahuan kolektif dapat membantu mengembangkan strategi adaptasi dengan membuka akses kepada modal sosial.5. karena mereka tidak peduli skala dan asal muasal kebutuhan tersebut. Program dan kebijakan yang ada di kota dan tingkat nasional dirancang untuk memperbaiki kondisi bagi penduduk lokal namun mereka sering tidak diterjemahkan ke dalam inisiatif lokal. sensus dan survai di tingkat masyarakat akan membantu untuk mendokumentasikan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. mereka bisa menjadi sekutu yang kuat. dan menghasilkan pendapatan finansial yang berharga darinya. seperti warga miskin kota di Sukorejo dan pendatang baru di Kota Karang yang terabaikan dan terlupakan. Secara politis. Dengan pendokumentasian wilayah yang lebih baik. Masyarakat lokal yang diteliti menunjukkan kepemimpinan yang kuat. Aktifitas ekonomi yang ada dapat bertindak sebagai dukungan sumberdaya dan politik. Jika dipahamin dan dikoordinasikan dengan lebih baik maka dapat membantu strategi adaptasi.(iii) Apa peluang-peluang yang ada? Kasus-kasus yang ada dan berhasil Jejaring sosial yang mungkin dilakukan dalam situasi serupa. Itikad baik harus dimanfaatkan dan didorong. maka pemerintah kelurahan setempat dapat memiliki ide-ide yang lebih baik tentang layanan yang dibutuhkan (berapa 129 . Preferensi diberikan untuk ketrampilan dan pengalaman yang sudah diterapkan di lokasi penelitian. Namun apresiasi dan pemahaman akan kebutuhan dan kondisi masyarakat masihlah kurang. Mereka seenaknya menguasai lahan yang tak terlihat dan ambigu. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif: Strategi dan proyek-proyek di bawah ini menawarkan beberapa ide-ide yang mungkin dilakukan untuk memperkuat kapasitas adaptif di Bandar Lampung dan Semarang.

Guna ulang yang adaptif: Sudah banyak sumber-sumber yang datang ke warga miskin kota lokal yang dapat membantu menunjang ketahanan. Dengan membuat mereka 130 . Perubahan peningkatan skala kecil membantu untuk membangun rumah yang lebih kokoh dan awet secara bertahap dan dengan anggaran yang terbatas. Sebagai contoh. Pembiayaan beranggaran rendah untuk perbaikan rumah: Terbukti bahwa warga miskin kota dapat memperbaiki kondisi rumah mereka sendiri dan maka mengurangi kerentanan terhadap resiko iklim. Hal ini membantu menjawab ketidak sesuaian informasi dan memperkuat warga miskin kota. dan membayar harga yang sangat mahal. Narasi + jejaring masyarakat berbagi: Banyak masyarakat miskin kota hidup terisolir sampai-sampai mereka tidak tahu bahwa realita mereka sangat mirip dengan masyarakat miskin kota di kampung lain yang jauh. meski masih satu kota. atau murid dalam satu kelas) dan sebagai hasilnya dapat menerima alokasi anggaran yang dibutuhkan. Dengan mendorong pertukaran dan pertemuan warga dapat mendorong formasi jejaring sosial. Hal ini akan membantu menyediakan sumber air alternatif untuk kegiatan-kegiatan selain memasak dan minum dan juga menjadi penampungan sementara air hujan untuk menghindari banjir dadakan. hampir semua anak-anak di atas usia 12 tahun putus sekolah. membuatnya sedikit terpengaruh oleh ombak dan erosi. Kasus-kasus guna ulang yang adaptif sudah terbukti ada di lokasi penelitian: guna ulang sampah untuk reklamasi pantai di Kangkung dan menampung air dari cucuran atap rumah-rumah di atas air di Kota Karang. warga kekurangan akses modal untuk membayar biaya pemasangan pipa PDAM yang akibatnya mereka sangat bergantung pada penjual air. Jika subsidi pendidikan dapat mengamankan kehadiran mereka di sekolah sampai selesai SMA. saling belajar dan membangun jejaring sosial yang dapat membangun ketahanan. Sebagain contoh. Subsidi: Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu yang dihadapi warga miskin kota. satu manfaat potensial adalah sosialisasi konsekuensi program relokasi penduduk. berbagi informasi dan belajar. orang tua mereka tidak mampu membiayai ke SMA dan membutuhkan mereka untuk bekerja. Hal ini meniadakan peluang saling berbagi informasi satu sama lain. kasus di RW 5 Kemijen. Penduduk kota yang dipindah akan mendapatkan keuntungan dengan mendapatkan pengetahuan yang berguna untuk menegosiasi kondisi relokasi dan anti rugi dengan pemerintah daerah dan pengembang. berbagi cerita dan konsekuensi yang berbeda tentang relokasi warga Sukorejo dan Tandang.banyak orang perlu akses ke puskesmas. keduanya merupakan dua contoh pemanfaatan sumberdaya yang ‘gratis’ untuk kegunaan tambahan. layanan sosial tertentu tidaklah terjangkau. tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan. Rumah-rumah panggung di kampung Kota Karang memakai tonggak-tonggak kayu yang diperkuat dengan beton satu per satu. Satu ide lainnya adalah pemanfaatan drum air kosong (berlimpah di kawasan pesisir seperti Kota Karang) untuk menampung air hujan dari atap rumah di Pasir Gintung. Pemerintah dapat membantu dengan akses subsidi terhadap layanan-layanan tersebut untuk menjamin bahwa warga miskin kota mendapatkan manfaat. Subsidi untuk pendidikan dan air bersih akan membantu menunjang ketahanan dan mengurangi kerentanan di banyak komunitas warga miskin kota. Di kampung nelayan Kangkung. Subsidi koneksi akan membantu menurunkan biaya-biaya mereka secara signifikan. mereka dapat mengakses segala macam pekerjaan di kota dan tidak bergantung eksklusif pada pekerjaan di sektor perikanan.

Indeks Kerentanan Lingkungan: Sejumlah kampung telah diidentifikasi memiliki potensi yang membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan iklim. atau ketrampilannya sendiri untuk bertahan hidup. Cara ini akan berguna untuk melihat bagaimana perkembangan yang terjadi. Ini adalah kasus di Semarang dimana industri-industri besar dan warga miskin kota akan membentuk persekutuan yang sulit dipercaya lantaran mereka bersama-sama tinggal di kawasan pelabuhan kota yang sangat terpengaruh oleh perubahan iklim. Gudang kota yang dapat mengumpulkan dan menyimpan barang. 131 . Dengan menyimpan peta rinci di tangan yang dapat mengidentifikasi asset. seperti pengatapan yang lebih baik sebagai contoh. warga dapat membeli bahan bangunan dan perlahan memperbaiki rumahnya secara mandiri. Perbaikan kecil. atau rekening bank yang dapat menyimpan sumbangan. Koalisi luas mengatasi isu perubahan iklim: Mungkin yang terpikir bahwa perubahan iklim hanya terfokus pada warga miskin kota. penduduk dan mengkategorikan bahaya. mereka dapat bersiap-siapa lebih baik terhadap bencana terkait iklim. beberapa potensi tersebut dapat dikurangi dan dengan demikian mengurangi kerentanan lingkungan. Jejaring pengaman sosial alternatif: Pada saat ini hanya sedikit kebijakan terkonsolidasi yang tersisa sebagai jejaring pengaman sosial bencana bagi keluarga yang rumah dan propertinya rusak akibat cuaca yang ekstrim.dapat mengakses pendanaan. dapat mengurangi kerentanan secara signifikan di tempat yang rawan terhadap siklon dan angin kencang. Penduduk yang terpengaruh akhirnya bergantung pada yayasan swasta dan amal. peta-peta dan database penduduk dapat membantu menyediakannya. Peta seperti itu akan juga menjadi sumber vital untuk respons bencana: pada saat terjadi longsor contohnya. Dengan mengumpulkan database yang dapat memantau perkembangan berdasarkan waktu dan ruang. dan akan membiarkan kelompok-kelompok untuk mengetahui strategi apa yang berfungsi dan bidang-bidang apa yang perlu bantuan yang lebih ditargetkan. Tetapi pembentukan koalisi luas tersebut bisa mengumpulkan visibilitas dan dukungan politik. dalam format yang jelas dan dapat diakses sangat penting untuk mengurangi kerentanan dan memperkuat ketahanan. namun ada banyak konstituen yang berpotensi terpengaruh yang menciptakan koalisi besar dan mendorong respons pemerintah terhadap isu ini. Pemerintah daerah hanya mampu menyediakan sumberdaya yang langka yang umumnya disebut tidak cukup. Akses informasi. adalah model-model yang mungkin dilakukan untuk menyimpan sumber-sumber daya pendanaan untuk peristiwa mendatang. dapat menyediakan database instant tentang asset penduduk darimana diawali upaya penyelamatan atau rekonstruksi. Gugus Tugas kota dapat ditugaskan mengelola dana tersebut dan menentukan penggunaannya. dan bagaimana kelurahan ini disbanding dengan wilayah lain. Peta terinci untuk penggunaan pemerintah kelurahan setempat: Pemerintah Kelurahan Tandang menampilkan ukuran kesiagaan dan respons bencana yang bermanfaat. Melalui investasi yang progresif dalam proyek-proyek dan perbaikan. Namun jejaring pengaman sosial lain dapat ditelusuri yang mungkin menyimpan sumber daya di gudangnya. seperti dalam kasus banjir di Pasir Gintung. kelurahan dapat memiliki alat ukur bagaimana kerjanya untuk mengurangi kerentanannya. seperti menyiapkan sistem peringatan dini. tidak bergantung pada proyek pemerintah atau tabungan mereka cukup banyak.

Sejumlah mega proyek yang gagal. dan juga apa yang sudah dilakukan. Air: Air diangkut gerobak ke daerah yang baru dihuni karena tidak ada layanan PDAM. Beradaptasi dengan perubahan iklim mungkin adalah upaya mental yang luas dan dimana terdapat perbedaan budaya yang sulit dipecahkan. yang akhirnya melahirkan keyakinan arogansi bahwa ini mungkin. dibawa ke sana oleh orang luar. Pompa tangan tersedia dan melayani setiap 20 rumah. tetapi tidak ada SMA. malaria adalah penyakit epidemik utama. Drainase mengalir langsung ke sungai. Nilai-nilai Barat di sisi lain sangat determinan dan berupaya menaklukan dan mengontrol negeri ini. ekonomi atau bahkan politik. Sanitasi: Pemukiman di atas air tidak memiliki fasilitas sanitasi yang menciptakan kondisi tidak sehat. Mungkin perubahan yang paling penting dari semuanya tidak didefinisikan dengan perubahan fisik. Kesehatan: Puskesmas tidak buka pada waktunya dan tidak mampu melayani warga. Indonesia adalah sebuah negara dan peradaban yang lingkungannya yang indah dan tidak terkira banyaknya digerus selama berabad-abad. lebih sesuai terhadap lingkungan yang tak terduga dan masa depan yang tak menentu. atau paling tidak bukan satu-satunya cara. dan seiring dengan itu sebuah pola pikir budaya telah berevolusi. Pengelolaan air dilakukan warga setempat. Tabel 8-1. Layanan-layanan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi bahaya iklim. Mungkin ini adalah adaptasi yang paling signfikan. kekurangan gizi tercatat. Sanitasi: Sanitasi sangat buruk di kampung nelayan. kita perlu berpikir adaptasi mental apa yang harus dilakukan. menurut Kelurahan: Bandar Lampung Pasir Gintung Kesehatan: Puskesmas yang terletak di kampung bawah membuat aksesnya terbatas. Sampah bertumpuk di daerah ini juga. Kota Karang Kangkung 132 . informasi bisa disebarkan dan masyarakat dan rumah dapat diperkuat. teronggok dengan sendirinya dan terangkut ke laut. sehingga bantaran sungai terpolusi. tetapi di kampung atas bukit air dipompa ke tangki penampungan umum dan disalurkan secara manual (akses yang sangat rendah). Kepadatan penduduk mencegah penambahan lokal kelas yang kapasitasnya sudah penuh. Ketimbang mencari untuk menaklukan negeri-negeri sekitarnya. Pendidikan: Hanya ada sedikit fasilitas pendidikan dan angka putus sekolah anakanak di atas 12 tahun sangat-sangat tinggi. tetapi yang sederhana dan kurang dikenal luas. Pendidikan: Tersedia SD. Untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim yang bisa terjadi di kawasan perkotaan di masa depan. menghabiskan banyak biaya dan meninggalkan konsekuensi yang menghancurkan. keniscayaan dan asal muasal perubahan iklim dan peristiwa iklim yang parah belumlah diketahui. Pendidikan: Angka bolos sekolah sangat tinggi (30%) secara rata-rata dan bahkan lebih tinggi lagi di daerah tertentu.Pemikiran dan pertimbangan akhir : Saat tembok bisa dibangun. mereka memompa air dari dasar laut (payau) atau mengangkutnya dengan gerobak dari daratan. sedikit sekali WC umum dan sampah dibuang ke kolong rumah. Sanitasi: WC umum tersedia meski sedikit. Air: Di kampung bawah akses PDAM baik (mayoritas). membuktikan bahwa ini bukanlah caranya. Indonesia adalah bebas dan lebih mampu menyatukannya untuk membentuk dirinya. Sampah dibuang di pantai yang mencemari garis pantai. Air: Warga kampung nelayan tidak mempunyai suplai air bersih umum. Anak-anak dikeluarkan dari sekolah oleh orangtuanya untuk bekerja di sektor perikanan dan karenanya mereka setengah buta huruf. Angka putus sekolah tinggi di kampung atas (20%) dibandingkan rata-rata se-kelurahan (10%). Kesehatan: Fasilitas kesehatan langka.

Laju pertumbuhan yang cepat sulit untuk membangun infrastruktur . K = Kangkung 133 .Wabah pandemic .Kampung nelayan . K: tidak ada SMP/SMA Air Hasil campuran untuk kualitas air PDAM (baik/jelek) Sanitasi MCK jarang dan di daerah pesisir sangat buruk Perumahan Warga miskin memiliki rumah yang tidak layak di daerah beresiko Tidak ada dukungan pemerintah Pembangunan Ekonomi Pinjaman pemerintah + subsidi ada tapi tidak menolong membangun ketrampilan Program pemerintah tidak menjangku seluruh penduduk Kesehatan . Drainase) Pengumpulan sampah umumnya baik.Subsidi .Pembangunan ekonomi .Sedikit bidan di Puskesmas .Anak-anak usia 7-14 .Pertumbuhan alami juga mendorong warga setempat ke wilayah beresiko .Urbanisasi trend yang tidak terelakkan di Indonesia Kelompok beresiko .Daerah padat.Daerah baru tidak punya sambungan . tidak ada ruang untuk sekolah .Migrasi terus menerus mendatangi wilayah beresiko (pantai.Anak-anak yang membawa air . khususnya untuk penduduk di pantai .Tabel air yang rendah menghilangkan penggunaan sumur .Warga lereng berjuang untuk mengamankan fasilitas . setengah buta huruf menyulitkan mereka beradaptasi dengan pekerjaan Pelatihan ketrampilan alternatif Demografi Pembangunan Ekonomi -Peningkatan populasi menambah problem sanitasi -Laju pertumbuhan penduduk yang cepat berarti tidak mampu membangun sistem -Pemasangan MCK yang memadai -Kesehatan -Air -Demografi -Rencana tata ruang -Kredit rumah -Demografi -Pembangunan ekonomi -Kesehatan -Pergeseran di pasar global -Modernisasi industri perikanan -Pembangunan pasar kerja sektor urban yang mungkin tidak dapat diakses oleh warga miskin yang tidak berpendidikan -Pelatihan kerja -Keuangan mikro Pendidikan -Kaum tak berpendidikan yang tidak dapat berurusan dengan proses -Warga miskin yang tak mampu beli obat -Yang kurang mobilitas .Lingkungan - Pertumbuhan alami dan migrasi akan mengurangi sumberdaya pendidikan yang ada Ketika anak nelayan besar.Pengunduhan air .Transmigrasi sepertinya berlanjut.Pembangunan ekonomi .Tabel 8-2 Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung Bandar Lampung Kualitas layanan Demografi Pendidikan K: banyak anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi Banyak pendatang baru yang belum tercatat.Keluarga miskin . Di K dan KK disediakan oleh warga Puskesmas sering tidak buka.Daerah miskin dimana orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya .Harga obat mahal Lingkungan (mis.Keluarga di daerah pesisir sedikit mengkonsumsi . kayu diganti -Daerah yang terioslir dan terpinggirkan seperti KK yang tidak terhubung dengan pasar -Kesulitan mengakses wilayah (lereng curam) yang tidak bisa diakses) -Pengangguran muda -Keluarga yang tergantung pada satu mata pencaharian -Daerah terpencil tanpa Puskesmas: kampung di lereng -Kampung nelayan -Anak-anak yang berenang di air -Perempuan yang mencuci -Keluarga di kampung nelayan -Warga miskin -Keluarga baru yang cari rumah -Pendatang -Keluarga dipimpin perempuan -Lanjut usia -Rumah rusak membuat masalah -Pertumbuhan alamiah keluarga -Perluasan rumah di daerah yang sempit Trend ke depan + stressor - - Adaptasi potensial Tautan . laju peningkatan menjadi faktor penentu . Tanggul penguat belum dibangun di daerah perbukitan Warga miskin hanya punya fasilitas kesehatan terbatas.Kesehatan . semua warga harus berbagi kondisi yang membahayakan kesehatan ini -Daerah pesisir -Bantaran sungai -Lereng bukit -Rumah kayu yang perlu dirawat secara rutin. perlu bekerja dengan pemerintah daerah dan kelurahan PG: sekolah sudah penuh.Buruk tanpa layanan PDAM . PG = Pasir Gintung. tapi tidak banyak.Sulit untuk mendukung pertumbuhan yang cepat . tangga dan tembok hanya di daerah yang padat penduduk PG: drainase di bukit menyebabkan banjir bandang di bantaran sungai KK+K: lahan publik terbatas dan jalan setapak yang berbahaya dibangun dari kayu Cakupan layanan PG: kampung atas hanya sumur umum K+KK: sistem darurat dan pedagang swasta MCK ada di PG.Demografi Kondisi sanitasi yang buruk di kampung pesisir menyebarkan penyakit.Penurunan kualitas pipa .Tidak ada sekolah . lereng) .Warga tinggal di atas air punya sedikit sambungan .Pertumbuhan penduduk -Warga miskin -Penghuni bantaran sungai -Rumah yang terancam longsor -Pemerintah tidak punya dana untuk perbaikan -Laju pertumbuhan penduduk terus memaksa warga untuk menghuni daerah yang rentan Penyediaan kesehatan alternatif Pembangunan Ekonomi Proyek warga dengan dana pemerintah -Air -Perumahan -Sanitasi KK = Kota Karang.Pendatang baru dengan sedikit pengetahuan tentang sumberdaya di kota .Anak-anak bekerja membantu orang tuanya .Lingkungan tempat tinggal yang lebih padat .Dengan volume yang meningkat. bahkan tidak ada di daerah terpencil Wilayah beresiko .

Personal Fisik Kesehatan Pendidikan Air Perumahan – Aset Swasta Warga Sekitar Akses ke pekerjaan + penghasilan Keamanan Ekonomi Gambar 8-3. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kerentanan 134 .

menurunkan biaya ekonomi. menurunkan biaya rumah yang mahal. daerah yang lebih aman untuk beredar dan membangun Meningkatkan akses ke layanan (air). sirkulasi dan mengurangi ancaman longsor. membuat ruang penyimpanan dan ruang pengungsian Menyediakan sumber air tambahan untuk mengganti suplai air yang kurang Memungkinkan untuk membeli pangan + material yang dapat mendukung strategi bertahan hidup dan meminjamkan fleksibilitas ekonomi Meningkatkan keterkaitan jejaring sosial dan persatuan warga yang dapat memfasilitasi proyek-proyek dan aksi Dimensi dampaknya . alternatif rumah murah dan penampungan sementara pendatang Meningkatkan modal sosial akibat kolaborasi dan seringkali mobilisasi politik akibat kolaborasi dengan pemerintah Mengamankan keluarga dari banjir musiman.Perumahan Fisik Kesehatan Ekonomi Fisik Perumahan Perumahan Ekonomi Kesiapsiagaan Ya Respons Tidak Perbaikan struktur dan infrastruktur Perbaikan rumah bertahap Ya Tidak Ya Tidak Tinggal di atas air Tidak Tidak Konsolidasi kampung - Sosial Politik Ya Ya Rumah bertingkat Pengunduhan air Akses kredit dan dana tunai - Perumahan Ya Ya - Air Ekonomi Ekonoim Ya Ya Tidak Ya Kolaborasi masyarakat - Sosial Ya Ya 135 .Tabel 8-3 Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung Adaptasi Bandar Lampung Reklamasi progresif Bagaimana kontribusinya kepada ketahanan? Mengurangi dampak gelombang terhadap struktur rumah.Ekonomi . menciptakan investasi jangka panjang Menyediakan akses murah kepada peluang-peluang ekonomi.Fisik . banjir dan epidemic Meningkatkan umur bangunan dan kapasitas warga untuk bertahan dari shock.

Bukti paling nyata dapat dilihat dari trend peningkatan suhu permukaan rata-rata selama 100 tahun terakhir di kota itu. Banjir memberikan dampak terbesar pada sektor perumahan. transportasi. Kedaton. Panjang Selatan. pertanian. kesehatan. drainase dan infrastruktur. serta peningkatan permukaan laut. Sementara itu kekeringan mempengaruhi sektor air minum. Bentuk adaptasi juga dapat dilihat pada strategi menjalani kehidupan. Sedangkan di daerah non-pantai. tanah longsor. Dampak sosial yang disebabkan oleh banjir dan kekeringan dapat dilihat dari hubungan sosial/kekerabatan. kesehatan. Perubahan tersebut berupa curah hujan pada musim hujan (DJF) akan sedikit meningkat. Masyarakat sendiri telah mengembangkan cara mereka untuk beradaptasi. produksi dan pola transaksi dari kriminalitas. Secara umum. dan untuk sementara pindah ke lokasi lain yang tidak terpengaruh oleh banjir. Di Bandar lampung. Dampak dari peristiwa iklim ekstrim dianalisis dalam empat bencana utama. perikanan. sedangkan curah hujan pada musim kering (JJA) akan menurun. pertanian dan perikanan. Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah meliputi. sekitar 19 kelurahan memiliki indeks kerentanan tinggi. Perubahan curah hujan musiman juga ditemukan dalam data historis. yang ditunjukan oleh pergeseran awal musim hujan dan perubahan frekuensi curah hujan ekstrim. Garuntang. terlihat jelas bahwa iklim Kota Bandar Lampung telah mengalami perubahan. Kota Karang. banjir biasanya terjadi di lokasi dengan ketinggian rendah. di daerah pantai atau lembah-lembah. Gunung Terang. hubungan perburuhan. kekeringan. Dampak bencana iklim yang melanda kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas adaptasi yang rendah kemungkinan akan lebih parah daripada di kelurahan dengan indeks kerentanan dan kapasitas adaptasi tinggi. Selama musim kemarau. tindakan adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat di daerah pesisir adalah dengan membeli air bersih. Sementara erosi dan tanah longsor terjadi di perbukitan/pegunungan yang memiliki kemiringan tinggi. Pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer berdasarkan skenario SRESA2 dan SRESB1 akan menyebabkan perubahan iklim Kota Bandar Lampung pada masa yang akan datang.KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil analisis data historis. Dari 19 kelurahan tersebut. Sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir meninggikan lantai dan membangun tanggul untuk beradaptasi terhadap banjir. untuk menyempurnakan skenario perubahan iklim di Kota Bandar Lampung diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan model iklim regional dan statistika downscaling. banjir. sekitar 14 kelurahan memiliki indeks kapasitas adaptasi rendah dan 5 kelurahan lainnya memiliki indeks kapasitas adaptasi tinggi. atau di tempat-tempat dengan sistem drainase yang buruk (daerah nonpesisir). sedangkan di daerah non pesisir dengan mengurangi jumlah konsumsi air. 136 . yaitu. Kangkung. Kelurahan Bumi Waras. Dua bencana iklim umum yang ditemukan di Kota Bandar Lampung adalah Banjir dan kekeringan. Namun. mereka membangun tanggul.

Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk memungkinkan mereka dalam menggunakan informasi berdasarkan keilmuan untuk mengembangkan rencana cakrawala adaptasinya.5 meningkat. Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. Pada masa mendatang. L-M (Rendah ke Menengah) dan M (Menengah) mencakup sekitar 22%. Hal ini dapat dipahami mengingat perubahan iklim adalah masalah yang kompleks. Jaya Sepang. tanah longsor. Sedang ke Rendah (M-L). Tanjung Senang. Srengsem. Pada kondisi saat ini. dan indeks komposit bencana iklim rendah dianggap mempunyai Risiko Iklim Sangat Rendah. yaitu banjir. dan banjir karena air pasang (rob).5. fungsi dari frekuensi dan intensitas dari empat bencana). Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang). Pada tahun 2025 dan 2050 indeks kapasitas adaptasi dan indeks kerentanan beberapa Kelurahan akan meningkat dan pada sebagian kelurahan akan berkurang. dan indeks komposit bencana iklim (CCHI) tinggi dikategorikan telah berada dalam kondisi Risiko Iklim Sangat Tinggi. Bumi Waras. Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). 137 . Indeks Risiko Iklim Kelurahan di Kota Bandar Lampung sebagian besar berada pada kategori. Kelurahan pada tingkat risiko iklim M-H mencakup 14% dari luas wilayah Bandar Lampung. 36% dan 5% dari masing-masing wilayah Bandar Lampung. Tidak ada kebijakan atau program khusus yang berkaitan dengan perubahan iklim dikeluarkan. indeks kapasitas tinggi. Kelurahan Kangkung. indeks kapasitas adaptasi rendah. Kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang masih terbatas. Menengah ke Tinggi (M-H). Sementara yang memiliki tingkat risiko Rendah (L). Manajemen perubahan iklim (adaptasi dan mitigasi) dianggap sebagai konsep baru dan tidak sepenuhnya dipahami oleh pemangku kepentingan di tingkat lokal. Medium (M). Way Kandis dan Waydadi. risiko iklim beberapa tingkat Kelurahan akan berubah. Kota Bandar Lampung sudah terkena beberapa bencana iklim. Dalam skenario A2. Tinggi (H). dan hanya sebagian kecil >1. Kelurahan Sepang Jaya dan Kedaton (Kecamatan Kedaton). CCHI sebagian besar wilayah Bandar Lampung ≤ 1. Rendah (L) dan sangat rendah (VL) . Berdasarkan indeks komposit bencana iklim (CCHI. jumlah Kelurahan dengan CCHI lebih dari 1. Kelurahan dengan indeks risiko iklim antara Menengah ke Tinggi (M-H) meliputi. Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi. Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan) dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). Teluk Betung. sedangkan dengan indeks kerentanan rendah. yaitu di sebagian kecil bagian selatan Kecamatan Panjang. kekeringan.5. baik untuk jangka menengah (5 tahun) dan jangka panjang (20 tahun).Perwata. Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat). Kelurahan pada tingkat risiko VL (Sangat Rendah) mencakup 21% dari wilayah Bandar Lampung.

Ini adalah kesempatan yang baik untuk mengintegrasikan aspek perubahan iklim ke dalam dokumen. Tim Kota. Tim yang diwakili oleh berbagai pemangku kepentingan dari instansi pemerintah. Untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. akademisi. Namun. Masalah-masalah ini adalah kurangnya integrasi. sehingga secara hukum dapat mengikat. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah membentuk Dewan Daerah Bencana pada November 2009. serta bagaimana kapasitas saat ini harus dikembangkan untuk memperkuat pengelolaan risiko iklim di masa mendatang. Dalam peraturan dan kebijakan jelas disebutkan bahwa dokumen perencanaan harus mempertimbangkan mitigasi bencana dan adaptasi dan masalah perubahan iklim. kurangnya alokasi anggaran untuk mendukung penanganan perubahan iklim serta perencanaan tata ruang tidak efektif untuk mengurangi dan menyesuaikan dampak perubahan iklim. dapat secara positif berkontribusi pada proses pengembangan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. dirasakan penting untuk memahami bagaimana orang-orang. Pengelolaan risiko iklim saat ini dan masa depan perlu adanya komitmen politik. LSM dan tokoh masyarakat telah dibentuk untuk merumuskan program-program perubahan iklim untuk Kota Bandar Lampung sebagai bagian dari Asian City Climate Change Resilience Network (ACCCRN). dewan belum efektif pada pelaksanaan program. Keberadaan dewan ini penting untuk memastikan pelaksanaan yang efektif dari program-program penanganan bencana dan perubahan iklim dengan berbagai pemangku kepentingan. masyarakat dan sektor memberikan respon terhadap risiko iklim saat ini. ada beberapa masalah terkait dengan perencanaan dan program yang dihadapi oleh Pemerintah Kota. 138 . Namun. Proyek percontohan khusus dibutuhkan sebagai bahan pelajaran bagaimana risiko iklim dapat dikelola dengan baik dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran tersebut untuk memperbaiki rencana adaptasi perubahan iklim. koordinasi dan visi-misinya dalam manajemen perubahan iklim. Pemerintah Kota juga sedang dalam proses penyusunan rencana pembangunan jangka menengah baru untuk 2011-2014 sebagai hasil dari pemilihan langsung yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010.Sejumlah kondisi yang menguntungkan di Kota Bandar Lampung.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Bandar Lampung Medium Term Development Plan 2005-2010. Bandar Lampung Anonim. 2005. Bandar Lampung City Spatial Plan 2005-2015. Bandar Lampung. Anonim. 2009. Final Report on Design Scenario for Disaster Mitigation. Bandar Lampung. Anonim. 2008. Final Report on Disaster Mitigation Study in Bandar Lampung. Bandar Lampung. Anonim. 2008. Accountabilty Report of Mayor of Bandar Lampung in 2008 (Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Walikota Bandar Lampung Tahun 2008). Bandar Lampung Anonim. 2009. NUSSP Progress Report, Satker Bandar Lampung 2009. Bandar Lampung. Bakosurtanal. Tanpa tahun. Peta Rupa Bumi (Digital) Wilayah Semarang dan Bandar Lampung. Bogor. Bappeda Kota Bandar Lampung. 2008. Buku Dinamika Bandar Lampung Membangun (2008) (File diakses dari media CD) Bappeda Kota Bandar Lampung. 2008. Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung TA. 2008. Kerjasama Bappeda Kota Bandar Lampung dengan PT. Visitama Daya Solusi. Bappeda Kota Bandar Lampung. Tanpa tahun. Peta Lokasi Rawan Banjir di Kota Bandar Lampung. Bappeda Bandar Lampung. Boer, R & Faqih, A. 2004. 'Global climate forcing factors and rainfall variability in West Java: case study in Bandung district', Indonesian Journal of Agricultural Meteorology, vol. 18, no. 2, pp. 1-12. Borst D, Jung D, Murshed SM, Werner U. 2006. Development of a methodology to assess man-made risks in Germany. Nat. Hazards Earth Syst. Sci, 6 : 779-802.) BPS Jakarta. 2005. Potensi Desa Kota Bandar Lampung dan Kota Semarang Tahun 2005 (data digital). Jakarta Chang, CP, Wang, Z, Ju, JH & Li, T. 2004. 'On the relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter', Journal of Climate, 17, 665-672.

139

Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung. Tanpa Tahun. Studi Lanjutan Penataan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Kerjasama Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung Dengan PT. Multi Maestro Desain. (File diakses dari media CD) Eastman, J.R. 1999. Idrisi 32 Tutorial. Clark Labs, Clark University, USA. Faqih, A. 2004. 'Analisis korelasi debit air masuk musim kemarau pada waduk seri DAS Citarum dengan perubahan suhu permukaan laut global (Correlation Analysis of Citarum Dams Inflows with Global Sea Surface Temperatures in Dry Season)', Indonesian Journal of Agricultural Meteorology, vol. 18, no. 1, pp. 1-13. Folland, CK, Parker, DE, Colman, A & Washington, R. 1999. 'Large scale modes of ocean surface temperature since the late nineteenth century', in A Navarra (ed.), Beyond El Nino: Decadal and Interdecadal Climate Variability, SpringerVerlag, Berlin, pp. 73- 102. Haylock, M & McBride, J. 2001. 'Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall', Journal of Climate, vol. 14, no. 18, pp. 3882-7, doi: 10.1175/1520-0442(2001)014<3882:SCAPOI>2.0.CO;2. Hendon, HH. 2003. 'Indonesian rainfall variability: Impacts of ENSO and local air-sea interaction', Journal of Climate, vol. 16, no. 11, pp. 1775-90, doi: 10.1175/15200442(2003)016<1775:IRVIOE>2.0.CO;2. IPCC. 2007. Climate Change 2007: The physical science basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press: Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA Kirono, DGC, Tapper, NJ & McBride, JL. 1999. 'Documenting Indonesian rainfall in the 1997/1998 El Nino event', Physical Geography, vol. 20, no. 5, pp. 422-35. Mantua, N. J. and S. R. Hare. 2002. The pacific decadal oscillation. Journal of Oceanography, 58, 35-44. Mantua, N. J., S. R. Hare, Y. Zhang, J. M. Wallace, and R. C. Francis. 1997. A pacific interdecadal climate oscillation with impacts on salmon production. Bull. Amer. Meteor. Soc., 78, 1069-1079. Mitchell, TD & Jones, PD. 2005. 'An improved method of constructing a database of monthly climate observations and associated high-resolution grids', International Journal of Climatology, vol. 25, no. 6, pp. 693-712. PDAM Way Rilau. 2007. Profil PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung. Bandar Lampung.

140

Saji, NH, Goswami, BN, Vinayachandran, PN & Yamagata, T. 1999. 'A dipolemode in the tropical Indian Ocean', Nature, vol. 401, pp. 360-3. Strahler, A.N. 1986. Physical Geography. John Wiley & Sons, New York. Taylor, John. 2009. Community Based Vulnerability Assessment: Semarang and Bandar Lampung, Indonesia. ACCRN, Mercy Corps. Jakarta, Indonesia.

141

LAMPIRAN 142 .

143 .