LAPORAN AKHIR

KAJIAN KERENTANAN DAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI KOTA BANDAR LAMPUNG

2010

RINGKASAN
Di masa depan, perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global diperkirakan akan menciptakan pola-pola risiko baru, dan risiko yang lebih tinggi secara umum. Kenaikan permukaan laut akibat mencairnya gletser dan es kutub dan ekspansi termal akan memberikan kontribusi pada peningkatan banjir pesisir. Bandar Lampung sebagai kota pesisir akan terpengaruh secara serius oleh perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Saat ini, beberapa wilayah pesisir sudah dipengaruhi oleh peningkatan permukaan laut. Banjir dan kekeringan juga terjadi cukup sering. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah melaksanakan berbagai program dan juga mengembangkan strategi jangka menengah dan panjang untuk mengelola bencana. Rencana untuk meningkatkan infrastruktur untuk pengendalian bencana iklim seperti sistem drainase dan tanggul telah disiapkan. Namun, dengan meningkatnya perubahan iklim pada frekuensi dan intensitas kejadian iklim yang ekstrim, desain saat ini mungkin sudah tidak efektif untuk mengelola bencana iklim pada masa mendatang. Oleh karena itu juga sangat penting untuk mempertimbangkan perubahan iklim dalam merancang sistem kontrol bencana iklim. ISET di bawah Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN dengan dukungan dari Yayasan Rockefeller, mengkoordinasikan studi tentang penilaian kerentanan dan adaptasi perubahan iklim yang dilakukan oleh MercyCorps, URDI dan CCROM SEAP-IPB di Bandar Lampung. Penelitian bertujuan (i) mengkaji variabilitas iklim saat ini dan masa depan di Bandar Lampung, (ii) menilai kerentanan dan kapasitas adaptasi serta risiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat kelurahan, (iii) mengidentifikasi dampak langsung dan tidak langsung dari bencana iklim sekarang dan di masa depan di tingkat kelurahan, (iv) mengidentifikasi daerah dan kelompok sosial yang paling rentan, dan dimensi kerentanan, termasuk kapasitas adaptasi masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, (v) mengidentifikasi masalah kelembagaan dan tata kelola pemerintahan yang mngkin mempengaruhi ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan, dan (vi) mengembangkan rekomendasi awal untuk Bandar Lampung dalam meningkatkan ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan

PROFIL DAN IKLIM KOTA BANDAR LAMPUNG Bandar Lampung adalah ibu kota Provinsi Lampung. Secara geografis Bandar Lampung terletak pada 5o20 '- 5o30’ lintang dan bujur 105o28'-105o37'. Bandar Lampung memiliki luas wilayah 19.722 hektar yang terdiri dari 13 kecamatan dan 98 desa (Kelurahan). Kota ini dilalui oleh dua sungai besar yaitu Way Kuala dan Kuripan dan 23 sungai kecil. Semua sungai-sungai ini membentuk DAS yang terletak di daerah Bandar Lampung dan sebagian besar mengarah ke Teluk Lampung. Beberapa jaringan drainase buatan menghubungkan sistem sungai di wilayah ini. Fungsi jaringan drainase ini adalah untuk mengurangi aliran permukaan sebagai akibat dari air hujan yang berlebihan. sistem jaringan drainase yang telah terinstal di Bandar Lampung meliputi Teluk Betung, Tanjung Karang, Panjang dan Kandis.

ii

Warga Bandar Lampung memenuhi kebutuhan air bersih melalui perusahaan air minum daerah (PDAM) dan dengan mengambil air tanah dangkal/dalam melalui sumur gali. Saat ini, PDAM hanya mampu melayani 32% dari total penduduk Bandar Lampung. Kedalaman sumur gali adalah sekitar 30 hingga 50 meter dari permukaan tanah setempat. Bandar Lampung merupakan kota pelabuhan yang penting untuk kawasan Sumatera. Pelabuhan Kota Bandar Lampung terletak di suatu pantai berbentuk teluk sehingga gelombang tinggi sebagai akibat angin kencang tidak sepenuhnya langsung mengenai kawasan pantai. Meskipun demikian, di beberapa tempat kawasan pantai, sudah terjadi abrasi oleh gelombang laut. Di beberapa lokasi, wilayah pesisir merupakan kawasan padat penduduk. Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal, penduduk membangun rumah tempat tinggal di lahan hasil penimbunan pantai (reklamasi) sehingga terjadi akresi. Banyak dari para pemukim tidak memiliki bukti kepemilikan tanah secara hukum. Kondisi ini akan menjadi salah satu masalah serius dalam mewujudkan rencana Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk menciptakan Water Front City. Jumlah penduduk di Bandar Lampung pada tahun 2008 adalah 822.880 orang dengan kepadatan penduduk sekitar 42 orang per ha. Kepadatan penduduk tidak merata. Kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi berada di Tanjung Karang Tengah dan Teluk Betung Selatan. Berdasarkan kelompok umur, proporsi terbesar penduduk Bandar Lampung adalah kelompok umur 20-24 dengan populasi 95.597 orang, diikuti oleh kelompok usia 15-19 dengan populasi 95.537 orang. Usia produktif (usia 15-55 tahun) di Bandar Lampung mencapai jumlah 546.920 atau 64,75% dari total penduduk. Sumber pendapatan masyarakat bervariasi. Perdagangan adalah mata pencaharian utama penduduk. Sebagian besar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bandar Lampung berasal dari transportasi dan komunikasi (19,6%), industri pengolahan (17,6%), jasa (16,9%) dan perdagangan, hotel, restoran (16,6%). Pertanian hanya berkontribusi 5% terhadap PDRB. Berdasarkan analisis terhadap data iklim historis yang panjang, ditemukan bahwa ada perubahan trend dan variabilitas variabel iklim seperti suhu dan curah hujan. Bukti paling nyata dapat dilihat dari trend peningkatan suhu permukaan ratarata selama 100 tahun terakhir di kota itu. Perubahan curah hujan musiman juga ditemukan, yaitu pergeseran awal musim dan perubahan frekuensi curah hujan ekstrim. Berdasarkan 14 model iklim global (GCM), diindikasikan bahwa curah hujan musim basah (musim hujan) Bandar Lampung City (DJF) di masa depan mungkin sedikit meningkat, terutama di kawasan pesisir. Sebaliknya, curah hujan musim kering (JJA) akan menurun. Namun, analisis iklim di masa mendatang mungkin perlu disempurnakan dengan menggunakan model iklim dengan resolusi tinggi seperti RCM. Penggunaan model global seperti GCM tidak akan mampu menangkap efek lokal. Analisis lebih lanjut mengenai cuaca ekstrim di bawah perubahan iklim juga harus dilakukan. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pemanasan global akan mendatangkan kejadian lebih ekstrim.

iii

Abrasi.28% dan 36. Selain dari survei. transaksi pola produksi dan nilai-nilai sosial lainnya. air pasang menyebabkan rob. Kota Karang. sektor air minum. dan harga beberapa komoditas. kekeringan menyebabkan kerugian di bidang pertanian. erosi dan sedimentasi juga terjadi di wilayah pesisir. dampak dari bencana tersebut menyebabkan penurunan hubungan ‘patron-klien’ yang sebelumnya merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat pesisir. tetapi ini terjadi hanya di daerah sekitar bencana tersebut.DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM Kota Bandar Lampung sangat rawan terhadap bencana alam. Banjir di wilayah pesisir dapat mengurangi orang yang bekerja di sektor perikanan. kesehatan. Batu Putu. Bencana juga dapat menyebabkan meningkatnya insiden kejahatan seperti pencurian. Sementara itu. Hubungan sosial antara orang-orang pada saat bencana masih berjalan dengan baik. Ekonomi dampak bencana iklim dapat dievaluasi dari dampaknya terhadap pekerjaan utama. Sedangkan sektor yang paling terkena dampak kekeringan adalah air minum. tiga Kelurahan non-pantai (Batu Putu. survei dan wawancara dilakukan di enam kelurahan. Kota Karang.72% perempuan. perumahan dan sektor perikanan. Dampak bencana terhadap kesehatan adalah meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi penyakit. hubungan kerja. terdiri dari laki-laki 62. Pasir Gintung. iv . dan pertanian. gempa bumi dan kekeringan. Survei ini melibatkan 256 orang. yaitu. informasi ini juga dipertajam melalui diskusi kelompok terfokus (FGD) di empat Kelurahan: Panjang Selatan. seperti pertanian. penduduk di daerah pesisir bersedia untuk pindah sepanjang mereka diberikan fasilitas dan rumah-rumah yang layak dan relokasi tidak jauh dari laut. dan Pasir Gintung serta melalui studi literatur. Dalam hal hubungan kerja. perikanan dan air minum. Bencana mengurangi produktivitas kerja terutama jika pekerjaan utama masyarakat rentan terhadap dampak bencana. Hal ini dapat dilihat dari kerja sama penduduk atau kekerabatan dalam menangani masalah-masalah yang terjadi di masyarakat. dan rencana pemerintah untuk membangun water front city di daerah pesisir. Dari studi ini terungkap bahwa terjadinya bencana iklim (banjir dan kekeringan) mempunyai potensi untuk mengubah urutan nilai-nilai sosial masyarakat. Bencana ini juga menyebabkan kenaikan harga beberapa produk pertanian seperti padi. perumahan. kondisi perumahan padat penduduk dengan lingkungan relatif kurang nyaman. bencana banjir memberikan dampak terbesar pada sektor kesehatan. sehingga mereka masih bisa melakukan pekerjaan mereka saat ini (nelayan). dan pekerjaan umum (kerusakan fasilitas drainase dan infrastruktur lainnya). tanah longsor. perikanan dan lain-lain. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan untuk saling membantu saat terjadi bencana. Masalah kekurangan minum air meningkat pada musim kemarau panjang atau selama bencana banjir. Jenis bencana alam yang melanda Kota Bandar Lampung meliputi banjir. Berdasarkan sektor ekonomi. dan Sukabumi Indah). Panjang Selatan). Berdasarkan sektor ekonomi. perikanan. dampak banjir menyebabkan kerugian untuk sektor infrastruktur. tanaman dan ternak. Untuk mengevaluasi dampak sosialekonomi bencana terkait iklim. tsunami. terutama malaria. Karena potensi terulangnya kejadian iklim ekstrim yang dapat menyebabkan bencana di masa depan. dan batuk / flu / pilek. dan tiga untuk desa pesisir (Kangkung.

jika bencana parah dan memaksa mereka untuk pindah. Untuk lebih mempersiapkan diri dalam mengelola risiko bencana. pembuatan tanggul. sebagian besar warga mengaku bahwa mereka tidak pernah mendapat informasi tentang iklim atau peringatan dini dari pemerintah. Strategi mata pencaharian yang dilakukan oleh penduduk adalah pertanian intensifikasi dan pola pendapatan ganda. yang dimiliki oleh seseorang. Namun. EWS (Early Warning System). akan lebih rentan (indeks kerentanan tinggi) dibandingkan dengan rumah tangga v . Penelitian ini mengevaluasi tingkat risiko iklim pada level Kelurahan (desa). Intensifikasi pertanian dilakukan dengan melakukan diversifikasi tanaman. Warga juga menerima ramalan informasi melalui media televisi. Adaptasi selama banjir disikapi oleh penduduk beragam. The coping capacity index dikembangkan berdasarkan indeks kerentanan dan kapasitas adaptasi dari Kelurahan. Dampak bencana yang mengakibatkan perubahan perilaku merupakan suatu bentuk adaptasi. masyarakat berharap di tempat tersedia sistem peringatan dini bencana. pertama dengan keragaman pendapatan. Kelurahan di mana banyak rumah tangga yang mendirikan rumah/bangunan yang terletak di tepi sungai. selain pekerjaan utama. banyak orang miskin dan sebagian besar wilayah Kelurahan dekat sungai dan pantai dengan daerah terbuka hijau kurang luas. menambah pasokan makanan dan bahan bakar. RISIKO IKLIM TINGKAT 'KELURAHAN' Tingkat risiko dari sistem untuk bencana atau kejadian iklim ekstrim (extreme climate event /ECE) akan tergantung pada kapasitas sistem untuk mengatasi kejadian (disebut coping capacity index) dan kemungkinan kejadian iklim ekstrim untuk terjadi. Adaptasi terhadap kekeringan dalam bentuk membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. meninggikan lantai. atau instansi terkait lainnya dan tidak ada lembaga penanganan bencana di daerah mereka. pindah ke daerah yang tidak terkena banjir. yang merupakan kombinasi dari mata pencaharian on farm and off farm. memompa air dari sumber terdekat. Indeks kerentanan dan kapasitas Kelurahan diukur dengan menggunakan sejumlah indikator sosial-ekonomi dan biofisik. kepadatan penduduk tinggi. mengurangi konsumsi air. mulai dari tinggal di rumah.Sementara beberapa warga di daerah bukan pesisir merasa enggan pindah karena mereka khawatir kehilangan pekerjaan. Namun. seperti istri dan anak-anak yang telah dewasa. Pola pendapatan ganda dilakukan dengan dua cara. mereka mengharapkan pemerintah untuk menyediakan perumahan dan pekerjaan baru. Biasanya kegiatan off farm adalah pekerjaan sampingan. Sebagian besar penduduk memperoleh informasi tentang prakiraan iklim secara tradisional dari para pemimpin tradisional dan para pemuka masyarakat. Bentuk adaptasi juga dapat dilihat pada cara mencari nafkah. sumber air minum sebagian besar bukan dari PDAM (sistem perpipaan). relokasi ke daerah yag tidak mengaklami kekeringan dan melakukan ritual untuk meminta hujan. Yang kedua adalah dengan memberdayakan anggota keluarga. Hal ini menggambarkan kurangnya respon pemerintah untuk bencana yang terjadi di masyarakat. Berdasarkan beberapa jenis informasi yang terkait dengan bencana. informasi tentang peringatan bencana lebih berguna daripada informasi lainnya. memperdalam saluran air.

25 22 kelurahans 21 kelurahans -0. kerugian ekonomi dll) yang disebabkan oleh kejadian bencana akan lebih parah di Kelurahan yang memiliki indeks kerentanan tinggi. penduduk miskin sedikit. wilayah yang bukan daerah terbuka hijau. vi . kami hanya mempertimbangkan perubahan kepadatan penduduk (berdasarkan pada proyeksi pemerintah). Konsekuensi (kerusakan. High Vulnerability Index +0.5 sampai 0. kita normalkan semua skor indikator sehingga indeks kerentanan dan indeks kapasitas berada pada kisaran dari 0 hingga 1.50 -0.5. konsekuensi kejadian bencana di Kelurahan rentan tinggi akan berkurang jika memiliki kapasitas adaptasi tinggi.5. Faktor-faktor digunakan untuk normalisasi skor indikator-indikator yang sesuai untuk tahun 2025 dan 2050 adalah sama dengan baseline tahun 2005. kepadatan penduduk rendah. dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan Kelurahan yang terletak di kuadran 1.25 Low Capacity Index 36 kelurahans 2 1 High Capacity Index -0. VI dan CI akan berkisar dari -0. dengan mengurangi nilai indeks dengan 0. Untuk menilai perubahan VI dan CI di masa depan.25 Low Vulnerability +0.yang bangunan di tepi sungainya sedikit. jika Kelurahan terletak di kuadran 5 terkena bencana tertentu. Namun. Sedangkan Kelurahan yang terletak di kuadran 1 akan memiliki VI rendah dan CI tinggi. Kelurahan yang terletak di kuadran 5 akan memiliki VI tinggi dan rendah CI. Nilai-nilai VI dan CI dinormalisasi sehingga mempunyai nilai yang berada pada kisaran dari 0 ke 1. Klasifikasi kelurahan berdasarkan coping capacity index (kuadran 1 sampai 5) dan jumlah kelurahan yang berada di setiap kuadran pada kondisi saat ini (2005).50 -0.50 Gambar 1. Untuk mengklasifikasikan Kelurahan berdasarkan coping capacity index mereka.25 Index +0.5. Dengan menggunakan sistem klasifikasi. sumber pendapatan utama masyarakat tidak sensitif terhadap bencana iklim (misalnya perdagangan jauh kurang sensitif dibandingkan pertanian) dan memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik dan infrastruktur jalan. kerentanan (VI) dan indeks kapasitas (CI) masing-masing kelurahan dikurangi sebesar 0.50 5 4 14 kelurahans 5 3 +0. mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari PDAM. dan hanya sebagian kecil wilayah Kelurahan dekat sungai dan pantai dengan lebih banyak daerah terbuka hijau (indeks kerentanan rendah). Dalam studi ini. dan pendidikan (berdasarkan rencana tata ruang atau RTRW) karena data lainnya tidak tersedia. Kelurahan dengan indeks kapasitas adaptasi tinggi adalah kelurahan di mana banyak rumah tangga yang berpendidikan tinggi. Posisi relatif dari Kelurahan sesuai dengan VI dan CI ditentukan berdasarkan posisi mereka dalam lima kuadrannya (Gambar 1).

Gambar 2.7% di Kuadran 3. Kedaton. Way Kandis dan Waydadi. Jumlah kelurahan menurut coping capacity index (kuadran 1-5) saat ini dan di masa depan (2025 dan 2050) Gambar 3. Tanjung Senang. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas bertahan dari kelurahan akan menurun di masa depan (Gambar 3). Gunung Terang. Namun.2% dari kelurahan berada pada kuadran 5 yang memiliki coping capacity index tinggi (kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan kapasitas yang rendah atau coping capacity index tinggi). Kelurahan di kuadran 5 termasuk Bumi Waras. Sepang Jaya. Panjang Selatan. Srengsem.1% di kuadran 4. Kota Karang. 36. Pada tahun 2025 dan 2050. Perwata. Kangkung. Coping capacity kelurahan di Bandar Lampung vii . coping capacity index beberapa kelurahan di kuadran 3 dapat berubah menjadi kuadran 4 pada masa yang akan datang (Gambar 2).4% di Kuadran 1 (Kelurahan dengan kerentanan rendah dan indeks kapasitas tinggi). Garuntang. 6-7 kelurahan di Kuadran 5 akan pindah ke kuadran 4 dan 3 menunjukkan bahwa ada peningkatan coping capacity index.Analisis menunjukkan bahwa pada saat ini sekitar 14. 5. Teluk Betung. 22.4% di Kuadran 2 dan 21.

area indeks> 2 menurun pada tahun 2025. Untuk mengakomodasi beberapa bencana iklim yang terhimpun dalam penilaian risiko iklim. yaitu kurang dari 2. Kelurahan dengan CCHI mendekati nol berarti bahwa tidak ada bencana terjadi di kelurahan. Kami menggunakan output curah hujan dari 14 model sirkulasi umum (GCM) untuk skenario emisi tinggi (SRESA2) dan skenario emisi rendah (SRESB1). kami mengembangkan indeks komposit bencana iklim (composite climate hazard index /CCHI). Kami klasifikasikan indeks bencana iklim (nilai indeks berkisar dari 0 sampai 4. CCHI di sebagian besar wilayah Bandar Lampung sebagian besar kurang dari 1. Peta risiko iklim Bandar Lampung berdasarkan Kelurahan dihasilkan melalui tumpang tepat peta coping capacity index dan CCHI pada kondisi iklim saat ini dan masa depan seperti ditunjukkan pada Gambar 2. KecamatanTeluk Betung Utara.5) menjadi tiga kategori. Seperti digambarkan sebelumnya.5 dan lebih dari 3. tetapi meningkat sedikit pada tahun 2050.5 2.0 .5 berarti bahwa seluruh wilayah kelurahan ini terkena banjir dan kekeringan.0. tanah longsor.5. kita dapat berharap bahwa kelurahan dengan kerentanan tinggi tetapi indeks kapasitas rendah (di kuadran 5) kemungkinan akan terpengaruh lebih parah oleh kejadian-kejadian yang ekstrim dibandingkan dengan kelurahan dengan kerentanan rendah dan indeks kapasitas tinggi (kuadran 1). Tabel 1. Di masa depan berdasarkan scenario A2.5 < 2. Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2005.0. Matrix risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index Coping Capacity Index (kuadran) 5 4 3 2 1 Composite Climate Hazard Index (CCHI) > 3. kami klasifikasi tingkat risiko iklim dari kelurahan berdasarkan coping capacity index dan CCHI (Tabel 1). Jadi kita dapat mendefinisikan bahwa risiko iklim akan sangat tinggi di kelurahan pada kuadran 5 jika probabilitas kejadian iklim ekstrim di Kelurahan ini tinggi.3.0 Sangat Tinggi (VH) Tinggi (H) Sedang ke Tinggi (M-H) Sedang ke Tinggi (MTinggi (H) H) Sedang (M) Sedang ke Tinggi (MSedang ke Rendah (MH) Sedang Medium (M) L) Sedang ke Rendah (MMedium (M) L) Rendah (L) Sedang ke Rendah (M-L) Rendah Low (L) Sangat Rendah (VL) viii . Kelurahan dengan CCHI sebesar 4.Untuk menentukan tingkat risiko dari kelurahan terhadap dampak perubahan iklim didefinisikan sebagai fungsi dari probabilitas kejadian iklim yang tidak terduga (ekstrim) dan konsekuensi dari kejadian jika itu terjadi. antara 2.0 dan 3. Selanjutnya. serta peningkatan muka laut. dan tanah longsor setiap tahun dan benar-benar kebanjiran ketika rob terjadi. kekeringan. Risiko iklim akan sangat rendah di Kelurahan pada kuadran 1 dan probabilitas dari kejadian iklim ekstrim di kelurahan ini juga rendah. Kelurahan dengan CCHI tinggi baik saat ini dan di masa mendatang adalah Kelurahan Gunung Mas. Jenis bencana iklim termasuk banjir.

Gambar 4. Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur mereka terhadap risiko iklim (A) & (D) Risiko Iklim Baseline. (E) Risiko Iklim skenario B1 2025. Jumlah Kelurahan menurut kategori risiko iklim A B C D E F Gambar 5. (C) Risiko Iklim skenario A2 2050. (B) Risiko Iklim skenario A2 2025. (F ) Risiko Iklim skenario B1 2050 ix .

36 Kelurahan (36. Ini termasuk Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat). lebih banyak Kelurahan. terutama di bawah skenario SRESB1. Ada sekitar 14 Kelurahan (14.7%) pada risiko iklim L-M (Rendah ke Medium). Tata pemerintahan dan kelembagaan yang kuat akan meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. tetapi memiliki peran lebih dalam mengkoordinasikan program dan x . Yang pertama adalah bagaimana stakeholder memainkan peran mereka dalam mengelola risiko iklim.4%) Kelurahan pada risiko iklim VL (sangat rendah). Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame).4). Kelurahan Kangkung. 22 Kelurahan (22. Yang kedua adalah apa program (pendek dan jangka panjang) inisiatif saat ini untuk mengatasi risiko iklim dan seberapa efektif mereka. Untuk mengurangi tingkat risiko Kelurahan terhadap dampak perubahan iklim.1%) berada pada risiko iklim M (Menengah). Setiap stakeholder memiliki peran dan kontribusi mereka sendiri untuk beradaptasi dan memperkuat masyarakat untuk perubahan iklim. infrastruktur dan program pengembangan masyarakat harus diarahkan untuk meningkatkan indikator-indikator sosial-ekonomi dan biofisik mempersiapkan kapasitas kerentanan dan adaptasi dari Kelurahan. pemerintah daerah Bandar Lampung memainkan peran besar dalam perubahan iklim baik untuk dukungan keuangan dan pelaksanaan program. Adaptasi program harus diprioritaskan di Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah dan sedang terkena atau berpotensi terkena indeks bencana iklim yang tinggi. Bumi Waras dan Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan). Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang Subdistrik). Ketiga adalah apa kapasitas pemerintah lokal dan institusi untuk mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan jangka pendek dan jangka panjang pembangunan. yaitu kelurahan Gunung Mas di Kecamatan Teluk Betung Utara dan Kelurahan Garuntang di Kecamatan Teluk Betung Selatan. Kategori tertinggi adalah hanya Menengah ke Tinggi (M-H). Sementara banyak dari Kelurahan dengan kategori risiko L-M akan pindah ke kategori risiko sedang (M) (Gambar 5). Kemitraan ini merupakan prakondisi untuk menciptakan masyarakat yang memiliki kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.4%) pada risiko L (rendah) dan 21 (21. dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). Di masa depan (skenario 2025 dan 2050). Sisanya adalah 5 Kelurahan (5. Ada tiga aspek penting perlu dinilai untuk menilai ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Dari hasil analisis terungkap bahwa manajemen perubahan iklim di Kota Bandar Lampung melibatkan stakeholder baik dari internal dan eksternal kota.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada Kelurahan dengan kategori risiko iklim Sangat Tinggi (VH) saat ini (kondisi baseline).2%) dengan kategori risiko M-H. TATA PEMERINTAHAN DAN SISTEM KELEMBAGAAN Pemerintahan dan lembaga adalah dua faktor penentu yang mempengaruhi ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Secara keseluruhan. Analisis di atas menunjukkan bahwa perubahan dalam kondisi sosialekonomi dan biofisik akan mengubah kapasitas ketahanan Kelurahan. Sedangkan peran pemerintah provinsi diklaim tidak terlalu signifikan. akan terkena risiko iklim yang lebih tinggi (Gambar 6. Ada dua Kelurahan akan pindah dari M-H ke kategori risiko iklim tinggi. Sepang Jaya dan kelurahan Kedaton (Kecamatan Kedaton).

kebijakan dari beberapa kota. Ada sejumlah program dan rencana yang disiapkan oleh pemerintah untuk menangani bencana alam di kota. Beberapa masalah yang berpotensi menyebabkan kesulitan untuk menerapkan iklim dalam perencanaan tata ruang termasuk inkonsistensi dalam pelaksanaan perencanaan tata ruang. Hal ini juga menunjukkan kebutuhan untuk memperkuat Tim Kota dalam memperjuangkan untuk memperkenalkan dan mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam dokumen perencanaan daerah. perencanaan tata ruang kota dari Bandar Lampung belum mempertimbangkan isu-isu perubahan iklim. Selain rencana aksi. Dalam peraturan dan kebijakan jelas disebutkan bahwa dokumen perencanaan harus mempertimbangkan mitigasi bencana dan adaptasi dan masalah perubahan iklim. Rencana tata ruang (RTRW) yang tidak benar akan menyebabkan kota menghadapi risiko iklim yang lebih tinggi di masa depan. seperti kawasan sepanjang sungai dan lain-lain. xi . Hal ini dapat dipahami mengingat perubahan iklim adalah masalah yang kompleks. Namun. Sementara sebagian besar kelemahan terkait dengan kebutuhan dalam hal koordinasi yang lebih baik antar sektor dan antar daerah dalam rangka mengurangi ketidakefektifan pelaksanaan proyek. yang dapat secara positif berkontribusi pada proses pengembangan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengintegrasikan aspek perubahan iklim ke dalam dokumen. Inisiatif saat ini yang dilakukan oleh pemerintah daerah sebagai respon untuk manajemen bencana adalah merumuskan program dan rencana aksi dalam mengurangi risiko bencana melalui studi intensif pada tahun 2008. Di sisi lain. Kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang saat ini masih terbatas. Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah juga diperlukan. Terkait dengan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah. ada ruang untuk memberikan masukan tentang isu-isu perubahan iklim ke dalam RTRW Kota Bandarlampung yang sedang direvisi. Perlu komitmen politik dan pemahaman yang komprehensif dari Tim Kota untuk memperkenalkan masalah-masalah terkait perubahan iklim. sehingga secara hukum dapat mengikat. Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. pemerintah pusat dan dukungan donor pada pembiayaan dan beberapa pelaksanaan proyek yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan. Terdapat sejumlah kondisi yang menguntungkan di Kota Bandar Lampung. ada beberapa lembaga yang terkait dengan pembentukan tim kota. koordinasi antar pemangku kepentingan dan sektor harus diperkuat untuk mendapatkan manfaat maksimal dari program untuk lingkungan dan masyarakat. perubahan tata guna lahan. Bagaimanapun. pemerintah kota Bandar Lampung telah membentuk Badan Pengelolaan Bencana Daerah pada bulan November 2009 meskipun dewan tersebut belum efektif pada pelaksanaan program tersebut. Pemerintah Kota Bandar Lampung juga akan merumuskan rencana pembangunan jangka menengah baru sebagai hasil dari pemilihan langsung yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010. sehingga memungkinkan mereka dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasinya.

kita ekstrak sejumlah pelajaran yang dapat berkontribusi dalam mengembangkan strategi adaptasi. Demi keselamatan sendiri bukan merupakan faktor motivasi. jika tidak bermanfaat bagi aspek-aspek lain dari kehidupan mereka. Seluruh lebih besar daripada jumlah dari bagian-bagian: Banyak strategi adaptasi berhasil karena mereka memanfaatkan upaya kolektif dan kekuatan orang. Misalnya. tapi ketika manfaat lainnya dapat diturunkan maka solusinya dapat dijalankan. Mereka yang murah dan bekerja dengan bahan yang tersedia: bagi masyarakat miskin perkotaan. dirasakan penting untuk memahami bagaimana orang-orang. dan juga mempertimbangkan temuan dari survei dan literatur. mereka dapat dengan mudah dikelola dan diakses.PERENCANAAN TINDAKAN ADAPTASI Untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Memanfaatkan dukungan pemerintah memberikan hasil yang lebih baik: Ketika masyarakat mampu bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah kota (dan sebaliknya) strategi adaptasi tampaknya telah berhasil. Adaptasi terhadap peristiwa iklim yang parah harus bekerja sama dengan strategi adaptasi lainnya: Orang-orang yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim mungkin tidak tahu atau peduli untuk merencanakan untuk itu. Berdasarkan studi mengenai Penilaian Kerentanan Berbasis Masyarakat (Community Based Vulnerability Assessment /CBA) di Kelurahan Kankung. Kami belajar beberapa sifat umum yang terlihat dalam strategi adaptasi di tingkat masyarakat: • • Cukup hanya 'kerja mereka': ini adalah sense adaptasi yang sangat praktis yang memiliki bantalan nyata dan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari mereka. Proyek percontohan khusus dibutuhkan sebagai bahan pelajaran bagaimana risiko iklim dapat dikelola dengan baik dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran tersebut untuk memperbaiki rencana adaptasi perubahan iklim. dibandingkan melalui proses aplikasi birokrasi yang mungkin berarti dokumen panjang. Ini adalah apa yang orang mampu dan yang masuk akal bagi mereka. Orang-orang yang peduli satu sama lain dan ketika kekhawatiran ini diterjemahkan dalam aksi kolektif dapat memberikan hasil yang signifikan. Sementara intervensi pemerintah sangat dihargai dan instrumental kemandirian lokal tampaknya menjadi karakteristik kunci dari strategi adaptasi. dan sektor memberikan respon terhadap risiko iklim saat ini dan bagaimana kapasitas saat ini harus dikembangkan untuk memperkuat kapasitas dalam mengelola risiko iklim di masa mendatang. sumber daya langka. sepeda motor atau aset yang berfungsi lainnya. masyarakat. Pasir Gintung. Kota Karang. Umumnya di kota orang menginginkan akses ke sumber daya dengan cepat dan ini adalah karakteristik yang sangat penting dari strategi adaptasi yang bekerja. atau tabungan masyarakat bahkan kelompok yang mengumpulkan jumlah yang sangat minim. xii • • • • • . Mereka tidak bergantung atas proyek besar atau intervensi pemerintah: Orangorang telah dibiasakan bergantung pada organisasi masyarakat dan inisiatif yang lebih baik dalam meresponkebutuhan mereka sendiri. Dapat diakses pada saat dibutuhkan: Dalam rangka untuk mendapatkan modal untuk memulihkan kondisi dari banjir keluarga mungkin menjual televisi. bahan perumahan memulung dari tumpukan material di dekatnya.

Neighbourhood Vulnerability Index. (iv) kolaborasi dan keterlibatan pemerintah daerah. dan (ii) pelaksanaan proyek percontohan diarahkan untuk adaptasi dan kegiatan usaha respon terhadap dampak perubahan iklim. Ada beberapa kriteria tambahan yang harus dilakukan oleh pelaksana proyek percontohan: (i) pelaksanaan pilot proyek harus berkaitan dengan masalah-masalah lokal di masyarakat lokal administratif atau lintas administratif berbatasan dengan isu-isu lingkungan. Untuk proyek-proyek percontohan. LSM. peta yang terperinci untuk digunakan pemerintah daerah setempat. mempengaruhi kebijakan lokal dll. (vi) pelayanan publik. (v) migrasi dan tingkat pertumbuhan. pendidikan. (v) kerjasama. (iii) tingkat pemerintah daerah setempat. dan (vii) strategi keberlanjutan. dan (vii) mobilitas. (ix ) memanfaatkan sumber daya yang ada (seperti subsidi. (iii) akses terhadap informasi. (ii) jaringan sosial yang mungkin timbul dari orang-orang dalam situasi yang mirip dengan tahu bagaimana. xiii . universitas. (ii) untuk melibatkan para stakeholder tingkat kota (pemerintah kota.• Akses lebih ke informasi dapat menyebabkan hasil yang lebih baik: masyarakat miskin perkotaan biasanya terisolasi dan strategi adaptasi tampaknya begitu berhasil meningkatkan akses terhadap informasi. dan (iv) untuk menguji kapasitas adaptasi masyarakat. dan (viii) lokal organisasi masyarakat sipil. Tujuan dari pelaksanaan pilot adalah (i) untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim di tingkat kota. sosial. (iv) kota dan program pemerintah nasional (misalnya PNPM). orang tua dan laki-laki. baik dalam faktor kesadaran yang meningkat. (ii) tingkat kapasitas. subjek adalah orang-orang rentan yang terkena dampak perubahan iklim. seperti: erosi. Tim Kota telah memfasilitasi berbagai pihak untuk mengembangkan sejumlah proyek percontohan. (iii) manfaat kepada masyarakat lokal. dan koalisi berbasis luas untuk menangani masalah perubahan iklim). alternatif jaring pengaman sosial. Kegiatan proyek percontohan juga dirancang untuk memenuhi kriteria sebagai berikut: (i) replicability. anak-anak. (vi) skalabilitas . narasi komunitas berbagi dan jaringan. (vii) kohesi masyarakat. banjir kekeringan. kelompok masyarakat). kita dapat disimpulkan bahwa adaptasi yang sukses di tingkat masyarakat tergantung dari beberapa faktor yaitu: (i) ketersediaan dana. Kota Bandar Lampung berada dalam posisi yang baik untuk pindah ke ketahanan kota sebagaimana sudah tersedia (i) ada kasus dan dapat dilaksanakan. Pilot proyek diperlukan untuk membantu pemerintah daerah untuk lebih memahami bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada masyarakat dan sektor. Dari metode pembelajaran. Ormas. tanah longsor dll. (ii) menangani risiko saat ini dan masa depan. kesehatan. Penerima manfaat adalah perempuan. ekonomi yang terkait dengan dampak perubahan iklim. (vi) kepemimpinan lokal. pembiayaan biaya rendah perbaikan perumahan. bagaimana kapasitas saat ini harus diperkuat dan rencana tata ruang untuk ditingkatkan untuk membentuk ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik dari pilot proyek dalam merancang kebijakan dan strategi jangka panjang untuk mengatasi perubahan iklim. peningkatan kapasitas lokal. (iii) melaksanakan proyek percontohan dalam hal uji perubahan strategi ketahanan iklim. (iv) inovasi. sektor swasta. (v) Bahan dan pengetahuan dari industri dan kegiatan ekonomi.

Tujuan dari proyek ini adalah "untuk meningkatkan pemahaman. (B) Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kecamatan Panjang Selatan untuk Mengatasi Perubahan Iklim oleh Mitra Bentala . Tujuan dari proyek ini adalah "sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan ketahanan masyarakat Kecamatan Panjang Selatan terhadap perubahan iklim". dan (ii) untuk mendorong penciptaan kolektif untuk dukungan pelaksanaan adaptasi terhadap perubahan iklim di Kecamatan Panjang Selatan. dan keterlibatan partisipatif masyarakat dalam rangka membangun kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim". ekonomi.Ada dua proyek percontohan dipilih Asian Cities Climate Change Program (ACCCRN) sebagai kontribusi terhadap tujuan pembangunan dan mengatasi dampak perubahan iklim di Bandar Lampung: (A) Desain Partisipatif Adaptasi Ketahanan Masyarakat di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang. dan (iii) untuk beradaptasi dengan perubahan iklim melalui pengelolaan limbah. kesadaran. manajemen lingkungan. Target jangka panjang adalah untuk (i) untuk mendorong pembentukan kelompok masyarakat dalam adaptasi perubahan iklim. (ii) untuk membangun kesadaran masyarakat dalam memahami dan memecahkan masalah-masalah berkaitan dengan dampak perubahan iklim. Selanjutnya. (iii) meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang dan (iv) untuk membantu meningkatkan standar hidup masyarakat di bidang kesehatan. dan membangun kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim.Lokal LSM. dan sektor-sektor kehidupan yang berkelanjutan). target jangka pendek dari proyek tersebut (i) untuk meningkatkan kapasitas masyarakat melalui keterlibatan aktif dan meningkatkan pengetahuan tentang upaya adaptasi perubahan iklim. penyediaan air minum isi ulang. ketahanan ekonomi rumah tangga.LSM Lokal. (ii) meningkatkan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Selanjutnya. xiv . dan rehabilitasi. dan adaptasi terhadap perubahan iklim. target dari proyek ini adalah (i) untuk membangun pemahaman dan melaksanakan program kegiatan bagi masyarakat di Kangkung dan Kecamatan Kota Karang terhadap dampak perubahan iklim (dalam sosial. Kota Bandar Lampung untuk Perubahan Iklim oleh Lampung Ikhlas .

untuk menangani masalah-masalah terkait rencana pembangunan kota dan dalam pelaksanaan program-program perubahan iklim. (iii) Peta kerentanan saat ini dan masa depan dan peta kapasitas serta risiko iklim di Tingkat Kelurahan. dan LSM lokal. dan segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah kebutuhan mendesak masyarakat saat ini. tanah longsor. Penilaian Kerentanan dan Adaptasi Perubahan Iklim di Kota Bandar Lampung telah dilaksanakan dan hasil penilaian ini disajikan dalam laporan ini. peristiwaperistiwa ekstrem dapat terjadi lebih sering dengan intensitas tinggi. Mereka sangat rentan terhadap dampak dari masalah lingkungan. Indonesia adalah negara yang rawan terhadap bencana alam seperti banjir. institusi lokal. masyarakat lokal. Penelitian ini didukung oleh berbagai institusi. kekeringan dan juga rob. dan kemampuan adaptasi yang ada saat ini.000 pulau. Centre for Climate Risk and Opportunity Management in South East Asia and Pacific (CCROM SEAP) Institut Pertanian Bogor. Laporan ini menjelaskan secara rinci mengenai: (i) karakteristik iklim Bandar Lampung saat ini dan masa depan. letusan gunung berapi. Di masa depan. Kami berharap Pemerintah Kota Bandar Lampung dapat memanfaatkan beberapa hasil yang disajikan dalam laporan ini.KATA PENGANTAR Indonesia memiliki lebih dari 17. perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global diperkirakan akan menciptakan pola-pola risiko baru dan secara umum lebih tinggi. dan kebakaran hutan. (ii) Dampak bahaya iklim dan kerentanan masyarakat terhadap kejadian iklim ekstrim. xv . Dukungan mereka selama pelaksanaan penelitian ini adalah hal yang terpenting dan sangat dihargai. (iv) Permasalahan pemerintahan dan isu-isu kelembagaan yang dapat mempengaruhi efektivitas pelaksanaan program perubahan iklim. kekeringan. MercyCorp membantu ISET dalam pelaksanaan program ACCRN di Bandar Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Tim Kota). Urban and Regional Development Institute (URDI). Di masa depan. Institute for Social and Environmental Transition (ISET) adalah pengelola the Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCRN) sebagai bagian dari keseluruhan Rockefeller Foundation Climate Change Initiative. dan ( vi) Rekomendasi pada jenis proyek percontohan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. beberapa Kelurahan di Kota Bandar Lampung sudah terpengaruh oleh bencana iklim seperti banjir. (v) rekomendasi awal untuk meningkatkan ketahanan Kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan. Oleh karena itu. Bandar Lampung merupakan salah satu kota pesisir yang rentan terhadap bencana tersebut. Pemerintah Kota harus menangani hal ini secara lebih serius dalam rencana pengembangan pembangunan kota. Sebagian besar Kelurahan Bandar Lampung yang terkena dampak adalah yang ditempati oleh keluarga dengan pendapatan rendah dan hidup dalam kemiskinan. garis pantai lebih dari 80. Saat ini.000 km dengan mayoritas penduduk hidup di wilayah pesisir di mana sebagian besar kegiatan ekonomi negara berlangsung. badai.

2. 2.3.3. 2. Mata Pencaharian dan Ekonomi 3. 2.1.1.7.3 Proyeksi Perubahan Iklim 4. 1. Klasifikasi Kelurahan (Desa) Berdasarkan Indeks Kerentanan dan Kapasitas 79 79 83 xvi .2. 2.2.1. 2.1. Tren Curah Hujan 3.2.4. 4.7. 4.2. Kondisi Iklim dan Cuaca Ekstrim 3. KONDISI IKLIM HISTORIS DI BANDAR LAMPUNG 3. 4.2. 1.2.1.1. 2. Angin Ekstrim 3. Konteks Sosial 2. DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM Dampak Biofisik Dampak Umum dari Kejadian Iklim Ekstrim Dampak Sosial Ekonomi dari Kejadian Iklim Ekstrim Respon Pemerintah dan Masyarakat terhadap Bencana Akibat Kejadian Iklim Ekstrim 5.4. 4. Analisis Tren Perubahan Iklim di Kota Bandar Lampung 3. PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF 5.2. PENDAHULUAN Latar Belakang Studi Tujuan Outputs SEKILAS KONDISI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN DESKRIPSI RESPONDEN Lokasi dan Konteks Geografi Municipal Administration Resources Base Posisi Bandar Lampung dalam Konteks Kawasan Kondisi Demografi dan Sosial Kondisi Ekonomi dan Mata Pencaharian Profil Responden 2.1.2.DAFTAR ISI Halaman i xv xvi xviii xx 1 1 2 2 3 3 3 4 7 12 14 15 16 29 41 41 41 42 43 43 46 47 53 53 55 57 68 Ringkasan Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar 1.6.2. Pengaruh ENSO dan IOD terhadap Variabilitas Curah Hujan di Bandar Lampung 3.2. Metodologi untuk Pemetaan Kerentanan dan Kapasitas Adaptif 5.1.5. Tren Suhu 3.1. 1. 2.1.7.3.

8. ANALISIS RESIKO IKLIM 6. 116 8. 7.1.1. 7.2.5.2. 7. 7. Pembelajaran 8.1.9.4. 7.6. 7. Klasifikasi Kelurahan (Desa) berdasarkan Tingkat Eksposur terhadap Risiko Iklim 7.4.3.10.7.6. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif Kesimpulan Daftar Pustaka Lampiran 118 118 121 122 127 129 136 139 142 xvii . Pilot Project daerah Bandar Lampung sebagai Rencana Aksi Adaptasi 8. Adaptasi dan Ketahanan 8. Strategi Adaptasi di Bandar Lampung 8.5. PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM Climate Hazard di Kota Bandar Lampung Ruang Lingkup Komponen Kepemerintahan dan Kelembagaan Pemetaan peran stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim Permasalahan Perkotaan di Bandar Lampung yang Terkait dengan Adaptasi Perubahan Iklim Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis) Pemetaan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Mapping) Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di daerah dan Penanggulangan Bencana Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim Analisis kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka mengintegrasikan perencanaan ketahanan dalam perubahan iklim (framework organizational capacity) Temuan dan Rekomendasi untuk Perencanaan Ketahanan Kota dalam rangka Perubahan Iklim 87 87 90 93 93 95 96 98 99 105 106 109 113 7. 7. ADAPTASI 8.2. Metodologi untuk Pemetaan Risiko Iklim 6.3. 7. 7.

2009 (Rupiah/bulan) Koefisien korelasi antara curah hujan musiman di Bandar 41 xviii 2-1 2-2 2-3 2-4 2-5 2-6 2-7 2-8 2-9 2-10 2-11 2-12 2-13 2-14 2-15 2-16 2-17 2-18 2-19 2-20 3-1 . 2009 (dalam %) Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Bekerja Pada 32 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Rata-rata Luas Bangunan dan Luas Tanah Masyarakat pada 36 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 40 Tabungan dan Asuransi Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan di 4 Kota Bandar Lampung Results of land use/land Cover Classification for 1992 and 6 2006 Images Showing area of each category. 2009 Mata Pencaharian Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar 30 Lampung. 2009 Distrisusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam 22 Organisasi Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. class percentage and area changed Major Land Use/Cover Conversions from 1992 to 2006 7 Fungsi Bagian Wilayah Kota (BWK) Bandar Lampung 8 Struktur penduduk Kota Bandar Lampung (BPS Kota Bandar 13 Lampung.DAFTAR TABEL Halaman Nama Kecamatan. 2009 (dalam %) Distribusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga dalam 21 Mengikuti Pelatihan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009) Produk Domestik Regional Bruto Kota Bandar Lampung 15 Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2007 Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Pada Kelurahan 16 Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Warga pada Kelurahan 33 Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Cicilan. 2009 (dalam %) Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Mata 17 Pencaharian Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Berperan Dalam 20 Mengambil Keputusan Keluarga Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Jenis Dinding Rumah Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di 38 Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Indeks Kepemilikan Aset Rumah Tangga Masyarakat Pada 39 Kelurahan Amatan di Lampung Tahun 2009 (dalam %) Akses Masyarakat Terhadap Perbankan dan Asuransi Pada 40 Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 (dalam %) Pengeluaran Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar 35 Lampung.

2009 Persepsi Warga Terhadap Berbagai Macam Informasi Terkait Kebencanaan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Kegiatan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan penanganan bencana yang bersifat non-struktural dan respon masyarakat Dampak Bencana yang Menimpa Warga Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. mengacu pada tahun 1990 Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung Gambaran Dampak Bencana terhadap Nilai Sosial Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Rangkuman Persepsi Masyarakat di Bandar Lampung Terhadap Besaran Dampak Bencana. serta Upaya Penanggulangan yang Dilakukan Indikator yang digunakan untuk mendefinisikan Kerentanan dan Kapasitas dan bobotnya Nilai indikator berdasarkan jenis sumber pendapatan utama di suatu kelurahan Matriks risiko sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi jika kejadian tak terduga itu terjadi Bobot dan rumus untuk menghitung indeks bencana iklim Matriks risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index (CCHI. menurut Kelurahan Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung 50 50 54 59 66 66 70 72 77 77 79 80 87 88 88 89 100 109 110 111 112 113 114 132 133 135 xix . indeks komposit bencana iklim) Kejadian banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung Analisis Peran dan Kontribusi Pemangku Kepentingan dalam Perubahan Iklim Masalah dan alternatif startegi terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung Program yang terkait dengan Perubahan Iklim Tahun 2006 dan 2008 Jumlah Anggaran yang Terkait dengan Perubahan Iklim TA 2008 Besaran Anggaran Dana Program NUSSP di Kota Bandar Lampung Kegiatan dan sebaran Kegiatan PNPM Mandiri di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Analisis Kapasitas Pemerintahan 1 Layanan-layanan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi bahaya iklim. 2009 Penyakit Pada Saat Kekeringan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.4 Konsentrasi Gas Suhu (0C) dan sea level rise (cm). 2009 Penyakit Pada Saat Banjir pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.3-2 3-3 4-1 4-2 4-3 4-4 4-5 4-6 4-7 4-8 5-1 5-2 6-1 6-2 6-3 6-4 7-1 7-2 7-3 7-4 7-5 7-6 7-7 8-1 8-2 8-3 Lampung dengan DMI dan dengan anomali SST Nino3.

5. 2007 15 Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan 19 Klasifikasi Tinggi Rendahnya Pendidikan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.34E.34E.51S-5. 5.DAFTAR GAMBAR Halaman Posisi Kota Bandar Lampung terhadap daerah sekitarnya 3 Peta Administrasi Kota Bandar Lampung 4 Distribusi perubahan penggunaan/penutup lahan Kota Bandar 6 Lampung tahun 1992 dan 2006 Distribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandar Lampung.51S-5.15E-105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.34E.0 Tren frekuensi hari hujan musiman di Bandar Lampung 45 (105. 47 DTR) di Bandar Lampung (105. 5.15E47 105. 5.31 Desember 1999) Pola spasial tren curah hujan musiman di Bandar Lampung 43 Tren curah hujan musiman di kota Bandar Lampung 45 (105.34E.51S-5. 42 Lampung (periode 1 Januari 1994 .15E-105.15E-105. 2009 Distribusi Partisipasi Warga dalam Kegiatan Gotong Royong 26 Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.15E-105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.0 Trend musiman suhu maksimum harian di Bandar Lampung 47 (105. 2009 Distribusi Kegiatan Masyarakat Pada Beberapa Kegiatan 27 Sosial Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. 2009 Distribusi Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat 34 Berdasarkan Pendapatan Tetap dan Pendapatan Tambahan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 Plot time series curah musiman di Bandar Lampung 42 Kecepatan angin harian di stasiun pengamatan Teluk Betung.0 Peluang Curah Hujan Lebih dari Q3 pada Musim Hujan 52 xx 2-1 2-2 2-3 2-4 2-5 2-6 2-7 2-8 2-9 2-10 2-11 3-1 3-2 3-3 3-4 3-5 3-6 3-7 3-8 3-9 3-10 .0 Tren musiman kisaran suhu harian (daily temperature range. 5.51S-5. 2009 Distribusi Masyarakat di Wilayah Pesisir Yang Melakukan 25 Kegiatan Gotong dengan Frekuensi Minimal 1 Kali dalam 1 Tahun Distribusi Tingkat Partisipasi Warga Non Pesisir Lampung 25 pada Kegiatan Gotong Royong Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya.0 Komponen frekuensi rendah dari curah hujan musiman di 46 Bandar Lampung didefinisikan oleh nilai 13-tahun rataan bergerak sederhana (simple moving average) Trend musiman suhu rata-rata di Bandar Lampung (105.34E.51S-5.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. 2009 Ketersediaan Sarana Pada Kelurahan Amatan di Bandar 28 Lampung.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.

(B) 2025. 2009 Kerugian Akibat Kekeringan Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. (B) 2025. (B) Risiko Iklim A2 2025. (C) bencana iklim A2 2050. Tahun 2009 Kenaikan Harga Beberapa Komoditi Pertanian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung. Bandar Lampung Area pantai yang dipengaruhi oleh gelombang setinggi +100 m Penentuan order aliran tertinggi (A) & pendugaan luas dari luapan air sungai (B) Pengelompokan kelurahan berdasarkan indikator kapasitas dan kerentanan Indeks Kerentanan dan Kapasitas Kelurahan (A) Baseline. 2009 Dampak Banjir Terhadap Usaha Sampingan Tambak pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.4-1 4-2 4-3 4-4 4-5 4-6 4-7 4-8 4-9 4-10 4-11 4-12 5-1 5-2 5-3 5-4 5-5 6-1 6-2 6-3 6-4 7-1 (DJF) dan kurang dari Q3 pada Musim Kemarau (JJA) dengan Dua Skenario Emisi Bantuan dari Saudara dan Masyarakat Lainnya di saat Bencana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (C) Risiko Iklim A2 2050. (C) 2050 Box plot curah hujan bulanan pada musim hujan dan kemarau selama tahun-tahun terjadi bencana dan tahun-tahun tidak terjadi bencana Indeks Bencana Iklim komposit Bandar Lampung (A) & (D) baseline bencana iklim. (E) bencana iklim B1 2025. (F) Risiko Iklim B1 2050 Jumlah kelurahan menurut kategori indeks risiko iklim Pemetaan Pemangku Kepentingan berdasarkan tingkat Kepentingan 57 60 62 62 63 63 64 65 67 69 72 74 82 83 84 85 86 89 90 91 92 106 xxi . 2009 Kisaran Biaya yang Dikeluarkan oleh Warga (dalam Rupiah) Persentase Media Informasi Prakiraan yang digunakan Adaptasi yang Terjadi di Wilayah Pesisir dan Non Pesisir Ketika Terjadi Bencana Banjir di Lampung Adaptasi Kekeringan Warga di Kelurahan Amatan. di Bandar Lampung. 2009 Nilai Kerugian Dari Pekerjaan Utama Akibat Banjir dan Kekeringan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. (B) bencana iklim A2 2025. (C) 2050 Coping capacity index of Kelurahan of Lampung City (A) Baseline. 2009 Nilai Kerugian Usaha Sampingan Tambak Pada Kelurahan Amatan. 2009 Dampak Banjir dan Kekeringan Terhadap Pekerjaan Utama pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Lampung Kerugian Akibat Banjir Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung. (E) Risiko Iklim B1 2025. (F) bencana iklim B1 2050 Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur terhadap risiko iklim (A) & (D) Baseline Risiko Iklim.

UU No. 17/2003. 32/2004 8-1 LFA Analisa Problem 8-2 Diagram Alur Aktivitas 8-3 Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kerentanan 107 124 126 134 xxii .7-2 Keterkaitan antara UU No. 25/2004 dan UU No.

Dengan meningkatnya risiko iklim. Variabilitas dan perubahan iklim yang terjadi dengan latar belakang peningkatan populasi global dan proses globalisasi ekonomi dapat mengarah ke peningkatan persaingan atas sumber daya dan kerentanan baru. Rentang Kepulauan Indonesia yang luas ini . rob. Peningkatan intensitas siklon tropis yang tercatat dalam beberapa dekade terakhir mungkin dapat dikaitkan dengan peningkatan suhu permukaan laut. banyak negara. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah menerapkan berbagai program strategis jangka menengah dan jangka panjang untuk mengelola bencana.BAB 1 PENDAHULUAN 1.429 kejadian bencana di Indonesia.dengan lebih dari 17. kekeringan. Mereka merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Latar Belakang Studi Di masa depan. yang mengakibatkan pergeseran zona iklim. Indonesia telah mengalami bencana terkait iklim yang lebih sering dan parah dalam beberapa tahun terakhir. badai. Dalam periode 2003-2005 saja. kelaparan dan kesehatan manusia. Saat ini. perubahan iklim yang ditimbulkan oleh pemanasan global dapat menciptakan pola-pola baru risiko. Indonesia adalah negara yang sudah rawan terhadap bencana alam seperti banjir. Kenaikan permukaan laut akibat pencairan gletser dan es kutub dan ekspansi termal akan memberikan kontribusi pada peningkatan banjir di wilayah pesisir banjir.000 pulau dan lebih dari 80. Rencana untuk meningkatkan infrastruktur untuk 1 . sekitar 42 juta orang di Indonesia tinggal di daerah dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut (Pemerintah Indonesia 2007). tanah longsor. dan kebakaran pada berbagai lahan berhutan. ada sekitar 1. Kepadatan penduduk yang tinggi di Indonesia akan lebih meningkatkan kerentanan terhadap bencana iklim. tanah longsor. letusan gunung berapi. perubahan iklim regional rata-rata. dan lain-lain. Sekitar 24 pulaupulau kecil Indonesia sudah terendam (Departemen Kelautan dan Perikanan 2007). 2006) Kenaikan permukaan laut menimbulkan risiko lebih lanjut.000 km garis pantai .dan mayoritas penduduk yang tinggal di wilayah pesisir di mana sebagian besar kegiatan ekonomi negara itu terjadi sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut. kebakaran hutan. yang merupakan batas garis kemiskinan (Indonesia Poverty Analysis Program 2006). pemanasan global diperkirakan akan mengubah rentang iklim. dan mengarah pada frekuensi dan amplitudo peristiwa cuaca yang lebih tinggi. Sebagian besar rumah tangga yang tinggal di daerah pesisir memiliki pendapatan antara US $ 2 dan US $ 1-per hari. badai. dan risiko tersebut secara umum meningkat. terutama negara-negara kurang berkembang dan negara-negara sedang berkembang kemungkina akan mengalami kesulitan untuk mencapai Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) yang terkait dengan kemiskinan.3 persennya terkait bencana hidro-meteorologi (Bappenas dan Bakornas PB. Sekitar 53. Kota Bandar Lampung merupakan kota pantai yang akan terkena dampak perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Dengan adanya dampak pada siklus hidrologi.1. gelombang panas. Bencana terkait banjir dan angin kencang mencakup sekitar 70% dari total bencana dan sisanya 30% terkait dengan bencana kekeringan.

1. dalam kondisi iklim yang berubah dan dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas peristiwa iklim yang ekstrim.2. Namun. maka berbagai desain yang telah direncanakan dan dibuat mungkin akan kurang efektif untuk mengelola bahaya iklim masa depan. 2003). dan kapasitas adaptif yang ada Peta kerentanan dan kapasitas adaptif serta risiko iklim saat ini dan masa depan pada tingkat Kelurahan Isu tata pemerintahan dan isu kelembagaan yang dapat mempengaruhi efektivitas pelaksanaan program perubahan iklim Rekomendasi awal untuk meningkatkan ketahanan Kota terhadap resiko iklim saat ini dan dan masa depan Rekomendasi jenis proyek percontohan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim 2 . mengembangkan rekomendasi awal untuk Kota Bandar Lampung untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan 1.3. termasuk kapasitas adaptif masyarakat terhadap dampak perubahan iklim mengidentifikasi kelembagaan dan isu-isu tata pemerintahan yang dapat mempengaruhi ketahanan kota terhadap risiko iklim saat ini dan masa depan. sangat penting bagi kita untuk mempertimbangkan perubahan iklim dalam merancang sistem kontrol bahaya iklim. mengindentifikasi dampak langsung dan tidak langsung dari bencana iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan mengidentifikasi daerah dan kelompok-kelompok sosial yang paling rentan. Tujuan Tujuan studi ini adalah untuk: • • • • • • • menilai variabilitas iklim saat ini dan masa depan di Kota Bandar Lampung menilai kerentanan dan kapasitas adaptif serta risiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan mengidentifikasi kerentanana dan kapasitas adaptif serta resiko iklim saat ini dan masa depan di tingkat Kelurahan. dan dimensi kerentanan. Karena itu.mengelola bencana iklim seperti sistem drainase dan tanggul telah disiapkan (Bappeda. Output Output akhir dari studi ini adalah laporan yang mendeskripsikan: • • • • • • Karakteristik iklim saat dan masa depan di Kota Bandar Lampung Dampak bahaya iklim dan kerentanan masyarakat terhadap peristiwa iklim ekstrim.

18 Km2.1 Lokasi dan Konteks Geografi Bandar Lampung adalah ibu kota Propinsi Lampung dan secara geografis terletak pada 5o 20’ . sedangkan luas kecamatan terkecil adalah Tanjung Karang Pusat dan Teluk Betung Selatan 3 . Letak tersebut berada di teluk lampung dan diujung selatan Pulau Sumatra. Batas wilayah sebagai berikut: 1). 3). kota Bandar Lampung terdiri dari 13 kecamatan dan 98 kelurahan (Tabel 2.5o 30’ LS dan 105o 28’ -105o 37’ BT.1. yang memiliki luas wilayah 192. gambar 2. SUMATERA ISLAND South China Sea KALIMANTAN ISLAND BANDAR LAMPUNG MUNICIPALITY BANDAR LAMPUNG CITY Bandar Lampung Java Sea Semarang Indian Ocean JAVA ISLAND (Sumber: Google Earth. Posisi Kota Bandar Lampung terhadap daerah sekitarnya 2. sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. 2009 dan Citra Landsat ETM+. 2). sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Padang Cermin dan Ketibung Lampung Selatan serta Teluk Lampung. 2001) Gambar 2-1. Kemiling merupakan wilayah terluas.BAB 2 SEKILAS KONDISI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN DESKRIPSI RESPONDEN 2.2. Administrasi Kota Secara administratif. Dari ke13 kecamatan. sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gedung Tataan dan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran.2). sebelah timur berbatasan dengan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan dan 4).

16 27. Semua sungai tersebut membentuk daerah aliran sungai (DAS) yang berada di dalam 4 .63 16.58 15.02 11. Nama Kecamatan.99 10.id) Gambar 2-2.88 13.65 10.bandarlampungkota. Peta Administrasi Kota Bandar Lampung 2.64 197. Sumberdaya air (Water resource) Kota Bandar Lampung dilalui oleh 2 sungai besar yaitu Way Kuala dan Kuripan.11 10. Luas Wilayah dan Jumlah Kelurahan di Kota Bandar Lampung NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 KECAMATAN Tanjungkarang Pusat Tanjungkarang Barat Tanjungkarang Timur Teluk Betung Utara Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Panjang Kemiling Kedaton Rajabasa Tanjung Seneng Sukarame Sukabumi Jumlah Luas (ha) 6.14 21.38 20.87 10. Resources Base a. 2008).3.07 21.22 IBU KOTA Palapa Gedong Air Kota Baru Kupang Kota Bakung Sukaraja Panjang Selatan Sumberejo Kampung Baru Rajabasa Tanjung Seneng Sukarame Sukabumi JML KELURAHAN 11 6 11 10 8 11 7 7 8 4 4 5 6 98 (http://www. dan 23 sungai-sungai kecil (Bappeda Kota Bandar Lampung.Tabel 2-1.go.

Wilayah pesisir (Coastal area) Bandar Lampung merupakan kota pelabuhan yang penting untuk kawasan Sumatera. penduduk membangun rumah tempat tinggal di lahan hasil penimbunan pantai sehingga terjadi akresi. Sistem jaringan drainase yang telah terinstal di Bandar Lampung antara lain sistem Teluk Betung. tetapi 14 tahun kemudian permukiman tersebut berkembang ke arah timur (Kecamtan Tanjung Seneng) dan timur-laut (Kecamatan Sukarame). Pola perubahan penggunaan lahan selama 14 tahun (1992-2006) dapat dilihat pada Gambar 2-3. di beberapa tempat kawasan pantai. Pada saat sekarang PDAM hanya mampu memenuhi 27% dari total warga Bandar Lampung. sudah terjadi abrasi oleh gelombang laut. Panjang dan Kandis. Kebutuhan air bagi penduduk Kota Bandar Lampung dipenuhi melalui PDAM dan pengambilan air tanah dangkal/dalam melalui sumur gali.wilayah Kota Bandar Lampung dan sebagian besar bermuara di Teluk Lampung. Meskipun demikian. c. Perkembangan permukiman penduduk telah menyebabkan menyusutnya luas penggunaan lahan Pertanian Lahan Kering (dry land agriculture). Di beberapa lokasi. Penggunaan lahan (Land use) Penggunaan lahan permukiman pada tahun 1992 masih terkonsentrasi di tengah kota Bandar Lampung. Penggunaan lahan lain yang mengalami penyusutan luas atau alih fungsi lahan total adalah Perkebunan menjadi Pertanian Lahan Kering. Kedalaman sumur gali adalah sekitar 30 hingga 50 meter dari muka tanah setempat. Dalam kondisi seperti itu. meskipun banyak diantara para pemukim tidak memiliki bukti kepemilikan lahan yang kuat secara hukum. b. Tanjung Karang. Keadaan ini dapat menjadi kendala dalam penataan wilayah pesisir. Kota Pelabuhan Bandar Lampung terletak dalam suatu pantai berbentuk teluk sehingga gelombang tinggi sebagai akibat angin kencang tidak sepenuhnya langsung mengenai kawasan pantai. Sistem sungai di wilayah ini terhubung dengan beberapa jaringan drainase buatan. Pusat kegiatan ekonomi di Kawasan Pesisir dan Pantai di Kota Bandar Lampung antara lain terpusat di Kawasan Pelabuhan. sedangkan sisanya yaitu 73% masih harus memanfaatkan air sumur gali. 5 . realisasi rencana Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk mewujudkan kawasan water front city juga harus memperhitungkan biaya untuk mengatasi problematika pemukiman di wilayah pesisir. Fungsi jaringan drainase ini adalah mengurangi limpasan permukaan sebagai akibat kelebihan air hujan. Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal. wilayah pesisir merupakan kawasan padat penduduk.

6 3843.1 35.9 13. Distribusi perubahan penggunaan/penutup lahan Kota Bandar Lampung tahun 1992 dan 2006 Alih fungsi lahan di wilayah Bandar Lampung berlangsung sangat cepat. persentase lahan tertinggi adalah pertanian lahan kering (60%) tapi 14 tahun kemudian tipe lahan tersebut menyusut jadi 13.1 244.5 30. bahwa lebih dari 14 tahun pertanian lahan kering telah berubah menjadi 8 tipe penggunaan lahan yang berbeda-beda.0 793.9 6724.3 19220.4 0.2 594.0 Detail penggunaan/perubahan penutupan lahan di Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada tabel 2.1 100.2 0.0 0.0 594.1 244.1 20. Tabel 2-2.1 100.9 7988.0 % 2.6 1. Tabel tersebut menunjukkan.4% atau menyusut lebih dari 8900 ha (Tabel 2-2).9 -3823.0 perubahan lahan tahun 1992 – 2006 (ha) -325.0 13.1992 2006 Gambar 2-3.4 41.5 0.3 19220.3 0.3.2 4. Pada tahun 1992 jumlah tipe penggunaan/penutup lahan ada 4 tipe tetapi pada tahun 2006 berkembang jadi 9 tipe.0 3.6 0.8 170.0 0.0 4.5 4118.0 0.0 2006 Area (ha) 79.0 0.2 0. Tipe penggunaan/penutup lahan tahun 1992 dan 2006 Tipe penggunaan/penutup lahan Bush Plantation Settlement Bare land Grassland Dry land agriculture Mixed dry land agriculture Paddy field Mining No data 1992 Area (ha) 405.5 7988. 6 .3 0.6 -8996.0 % 0. Tahun 1992.0 0.0 60.4 2606.1 0. sebagai contoh.7 19.8 170.6 2574.0 11571.0 0.5 30.

perdagangan. Arahan sarana dan prasarana. jasa.Tabel 2-3.7 153. memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap pemanfaatan ruang disamping itu juga memberikan dampak bagi lingkungan disekitarnya. Penggunaan lahan di Kota Bandar Lampurrg lebih didominasi oleh permukiman yaitu sebesar 31. Aspek tata ruang merupakan isu strategis yang menjadi perhatian penting bagi pemerintah Kota Bandar Lampung yang dituangkan dalam RTRW. Dalam RTRW akan tertuang antara lain: Arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya. Sekarang ini sedang dilakukan penyusunan RTRW terbaru. From Class Bush Dry land agriculture To Class Settlement Mixed dry land agriculture Bush Plantation Settlement Bare land Grass land Mixed dry land agriculture Paddy field Mining Settlement Dry land agriculture Mixed dry land agriculture Paddy field Mixed dry land agriculture Mining 1992-2006 Area (ha) 39.8 594.7 7.7 99.24%.8 3. Kawasan terbangun terdiri dari lahan pekarangan. Settlement Secara keseluruhan kondisi penggunaan lahan di Kota Bandar Lampung dikelompokkan dalam kawasan terbangun dan ruang terbuka. 2008).8 170.0 90.5 35.6 9. Plantation 4.9 227.2 20. kebun. RTRW yang berlaku sekarang adalah RTRW 2005-2015 yang merupakan pedoman dalam pengendalian dan pemanfaatan ruang Kota Bandar Lampung sebagaimana yang tertuang pada Perda Nomor 4 Tahun 2004. hutan. Sedangkan ruang terbuka berupa tegalan.4. Arahan pengelolaan kawasan perkotaan. perkantoran. 7 . Hal ini terjadi karena tingginya tingkat pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi yang ada di Kota Bandar Lampung (Bappeda Kota Bandar Lampung. Luas kawasan terbangun kota Bandar Lampung mencapai > 30% dari wilayah kota selebihnya merupakan lahan non terbangun (ruang terbuka). Arahan pengembangan kawasan produksi dan permukiman. Posisi Bandar Lampung Dalam Konteks Kawasan Kota Bandar Lampung sebagai ibukota Provinsi Lampung dan pusat pemerintahan dengan laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi dan laju perkembangan pembangunan yang cukup pesat. dan industri. 2.4 366. Penggunaan Lahan Utama/Perubahan Penutupan Lahan dari 1992 ke 2006 No 1 2.7 4290. Arahan pengembangan kawasan prioritas.6 3789. lapangan dan lainlain.5 3605.2 79. kuburan.

Terminal Pusat Kebudayaan. Perdagangan Grosir dan Industri Kecil dan Pariwisata Pantai Konservasi Sumber : RTRW Kota Bandar lampung. Fungsi Bagian Wilayah Kota (BWK) Bandar Lampung WILAYAH BWK A (Gedung Meneng) FUNGSI UTAMA FUNGSI PENDUKUNG Pendidikan Tinggi. Ukuran geometris/ luas kawasan. tata ruang wilayah Kota Bandar Lampung terdapat beberapa wilayah pengelolaan khusus yaitu: 8 . Rumah Regional dan Pengembangan Sewa/Kost. 4.a. dengan KDB Kecil. 6. Keterbatasan kemampuan jangkauan pelayanan. Kesamaan peruntukan lahan. Perumahan Ganda dan Pusat Budaya BWK F Perdagangan/Jasa dan Kawasan Perumahan (Tanjungkarang Barat) Konservasi BWK G Pengembangan Holtikultura. Kesamaan kepadatan penduduk dan kepadatan bangunan. Struktur ruang. Perumahan. Pusat Pelayanan Kawasan Permukiman Lokal dan Pertanian Skala Kecil BWK B (Sukarame) Perumahan Skala Besar dan Pusat Industri Kecil. Cadangan Pengembangan Kota dan Pusat Pelayanan BWK C (Panjang) Pusat Pelabuhan Samudra. Tahun 2005-2015 Selain Bagian Wilayah Kota (BWK) yang telah ditetapkan tersebut. Terminal Barang Konservasi dan Hutan dan Industri Pengolahan Lindung BWK D Perdagangan/Jasa dan Kawasan Perumahan Indutri Kecil dan (Sukabumi/Tanjungkara Industri Cagar Budaza ng Timur) BWK E Perdagangan Umum dan Jasa Sarana Penunjang (Tanjungkarang/ Umum Perdagangan/Fungsi Pusat Kota Parkir/Taman. Batasan fisik dan administrasi yang ada. Adapun alasan dalam pembagian ruang tersebut adalah adalah: 1. Perdagangan Skala Kota Pengembangan Hutan Kota. 7. Industri Pariwisata/Hutan Wisata dan Kecil dan Sekolah Polisi Pengembangan Permukiman Negara (Kasiba/Lasiba) BWK H (Telukbetung) Pusat Pemerintahan. Sentra Industri Kecil. 2. Tabel 2-4. Kota Bandar Lampung di bagi menjadi 8 (delapan) Bagian Wilayah Kota (BWK) dimana masing-masing mempunyai fungsi utama dan fungsi pendukung. Daerah Perdagangan. Perumahan Kavling Besar (Langkapura/Kemiling) Kawasan Konservasi. Fungsi dan dominasi kegiatan di beberapa kawasan kota. 3. 5. Jasa Umum. Pembagian Wilayah Kota .

Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Tanjungkarang Pusat dan selebihnya pada wilayah Kecamatan Sukabumi dan Tanjungkarang Timur. Zona Kawasan 2 (Area Penyangga) Pada zona ini direncanakan dibangun kantung-kantung air (penampungan air hujan) skala kecil hingga menengah dan menerapkan aturan perbandingan penggunaan lahan terbuka lebih luas tapi pada lahan tertutup bangunan maksimal rasio 70%:30%. Kawasan Pesisir Kawasan pesisir pantai Kota Bandarlampung terbentang sepanjang ± 27 km yang terletak di BWK H (Telukbetung) dan BWK C (Panjang). Telukbetung Utara dan Telukbetung Selatan. Sukarame dan Tanjungkarang Barat. Pola konservasi sebaiknya diterapkan sumur resapan di tipa bangunan rumah dengan volume sumur yang mampu menampung seluruh air hujan yang jatuh diatap dan pekarangan. e. Selebihnya berada di Kecamatan Tanjungkarang Pusat. wilayah pesisir tersebut meliputi wilayah Kecamatan Telukbetung Barat (Kelurahan 9 . Daerah yang termasuk kawasan ini adalah Kecamatan Kedaton. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Sukabumi dan Tanjungkarang Timur. Secara administratif. Fungsi utama sebagai kawasan resapan penyangga air tanah dari ancaman interupsi air laut. Zona Kawasan 5 (Kawasan Resapan Tinggi) Pada zona ini didominasi oleh peruntukan lahan permukiman padat.b. Zona Kawasan 3 (Kawasan Resapan Rendah) Pola konservasi pada kawasan ini adalah penerapan sumur resapan di tiap bangunan dan atau pembuatan dana/waduk buatan skala kecil maupun menengah. Zona Kawasan 6 (Kawasan Dipengaruhi Air Laut) Distribusi zona ini berada disepanjang kawasan Pantai Teluk Lampung meliputi Kecamatan Telukbetung Selatan dan Kecamatan Panjang. f. Tanjungkarang Timur dan Panjang. Kawasan Resapan Air Rencana pengelolaan resapan air Kota Bandar Lampung terbagi dalam 6 (enam) zona kawasan yaitu : a. Pada zona kawasan ini perlu dikakukan tindakan serta pengendalian ruang secara ketat. Pola konservasi direncanakan melalui sumur resapan dengan dimensi setara antara luas lahan tertutup dengan volume sumur resapan yang harus dibangun. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Tanjungkarang Barat. Zona Kawasan 4 (Kawasan Resapan Sedang) Pada kawasan ini tingkat kepadatan bangunan cukup signifikan dan sudah mencapai titik jenuh untuk lahan permukiman. c. Zona Kawasan 1 (Rechadge Area) Zona Kawasan 1 memberikan kontribusi yang cukup besar untuk mengisi cadangan air tanah dalam. c. Daerah yang termasuk zona ini adalah Kecamatan Kemiling dan Kecamatan Telukbetung Barat. d. b.

Telukbetung Barat dan wilayah penyangga (Register 17 & 19 Kota Bandarlampung) • Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan in terbagi dalam 3 (tiga) zona kawasan yaitu (i) sempadan pantai. Pidada dan Srengsem). Panjang Utara. Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung telah melakukan Studi Lanjutan Penataan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Langkapura. Zona B Kawasan Pelabuhan. Pesawahan. Garuntang. Pelabuhan ini merupakan satu-satunya Pelabuhan Ekspor yang dimiliki oleh Kota Bandar Lampung. sistem transportasi laut juga merupakan salah satu komponen penting. Sukaraja. Peningkatan ekspor barang melalui pelabuhan ini tentu saja bisa meningkatkan retribusi dari pelabuhan. Perwata dan Sukamaju). Wilayah yang termasuk zona ini adalah di sepanjang Teluk Lampung. (ii) sempadan sungai. d. Sarana ini merupakan salah satu penunjang kelancaran perdagangan di Bandar Lampung. Keberadaaan kawasan pelabuhan yang berada di ujung Selatan Kota Bandar Lampung telah ikut membuat dinamika lalu lintas pelayaran di wilayah ini cukup ramai. Dalam perencanaan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Kawasan Lindung Pengelolaan kawasan lindung Kota Bandarlampung terbagi dalam 5 (lima) wilayah kawasan yaitu. • Kawasan Resapan Air Kawasan ini merupakan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan dibawahnya. Penataan wilayah pesisir dilakukan melalui konsep pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu yaitu konsep penataan dan revitalisasi wilayah pesisir berbasis masyarakat dan membagi wilayah pesisir dalam zonasi sesuai potensi. dan (iii) Taman Cagar Budaya & Ilmu Pengetahuan. dan Zona D Kawasan Pariwisata Terpadu. Kecamatan Telukbetung Selatan (Way Lunik. Seluruh Sungai di Kota Bandarlampung. Konsep reklamasi pantai merupakan salah satu alternatif pengembangan kawasan strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi serta untuk mengatasi kawasan kumuh sepanjang Teluk Lampung dengan syarat pelaksanaan yang ketat baik dari aspek teknis. Pelabuhan Panjang merupakan Pelabuhan Alam yang cukup terlindungi dari gelombang laut. Bumiwaras dan Pecoh Raya) dan Kecamatan Panjang (Kelurahan Panjang Selatan. dan sesuai hirarkinya merupakan Pelabuhan Internasional karena terbuka untuk lalu-lintas barang perdagangan dengan luar negeri. 10 . Kangkung. Pada studi tersebut telah dihasilkan rencana komposisi tata letak zona bangunan gedung dan bukan gedung pada kawasan pesisir kota bandar lampung berdasarkan pembagian zona antara lain: Zona A Kawasan Revitalisasi. Dalam rangka penataan kawasan pesisir lebih lanjut. Kota Karang. Dengan demikian Konsep Water Front City di Kota Bandar Lampung telah dibuat dan terus dimatangkan. Negeri Olok Gading & tempat lain yang direkomendasikan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung. Zona C Kawasan Bisnis Terpadu. Zona kawasan ini meliputi daerah perbukitan/gunung di Tanjungkarang Barat. Telukbetung. ekonomis dan sosial budaya yang disesuaikan dengan konsep Bandar Lampung Ecocity. Pergudangan & Industri Terpadu. kondisi dan struktur ruang yang ada. Ketapang. Situs Purba di wilayah Kedamaian.Keteguhan.

bukit/Gunung Sari. Sentra Industri Kecil berada diwilayah BWK Panjang. Gedong Meneng. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Tanjungkarang Pusat. • Kawasan/Daerah Pengamanan (Catchment Area) Kawasan ini merupakan kawasan pengamanan untuk PDAM Way Rilau yang meliputi wilayah Register 17 (Gunung Betung) • Kawasan Penyangga Banjir Untuk wilayah kawasan penyangga banjir adalah meliputi daerah Register 19. Kawasan ini merupakan kawasan perbukitan yang rawan longsor dan pinggir sungai/lembah yang terancam banjir serta sepanjang Pantai Teluk Lampung. Zona Industri berada di BWK C (Panjang) beraglomerasi dengan kegiatan pergudangan dan pelabuhan. Panjang dan Telukbetung Selatan) • Perdagangan/Jasa Untuk pengembangan kawasan perdagangan terbagi dalam 5 spesifikasi perdagangan yaitu. Kawasan Budidaya Kawasan budidaya yang dikembangkan di Kota Bandar Lampung sesuai dengan potensi yang ada yaitu untuk kawasan permukiman. kawasan industri dan kawasan pariwisata. pinggir rel kereta api. dan BWK Langkapura. Sukarame. bantaran sungai. Perdagangan regional meliputi wilayah Telukbetung Selatan Perdagangan skala kota meliputi wilayah di sepanjang halan utama kota di Kecamatan Telukbetung Selatan dan Tanjungkarang Pusat Perdagangan skala BWK meliputi wilayah di tiap-tiap pusat BWK Perdagangan skala lingkungan meliputi wilayah di tiap-tiap lingkungan permukiman PKL yang beraglomerasi dengan kegiatan perdagangan kota dan perdagangan BWK • Industri Kawasan Industri yang meliputi Kawasan Industri Lampung (KAIL).• Kawasan Rawan Bencana. kawasan nelayan. e. 11 . Industri RT Tidak polutif yang menyatu dengan kegiatan permukiman. kawasan jasa/perdagangan. Sedangkan untuk perbaikan kualitas perumahan meliputi permukiman kumuh. sedang dan kecil menyebar di seluruh wilayah kota yang mempunyai kesesuaian lahan pemukiman di luar kawasan lindung. pengembangan dan perencanaan aktivitas wilayah adalah sebagai berikut : • Perumahan Untuk pengembangan perumahan baik ukuran besar. Berdasarkan potensi pengembangan kawasan tersebut.

63persen) perempuan. Panjang dan Kemiling. Tanjungkarang Barat. sedangkan untuk wisata kota berada di wilayah pusat kota.942 jiwa (49. Penambahan jumlah penduduk yang paling tinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu 10.722 Ha. taman kota dan lingkungan. 2001 dalam RTRW Kota Bandar Lampung 2005-2015). Sukarame.880 jiwa (Tabel II-5). 2. Soekarno – Hatta) • Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka hijau yang diperuntukan untuk Taman Hutan Kota berada di BWK B (Sukarame) dan daerah perbukitan dengan fungsi Ruang Terbuka Hijau.36persen) laki-laki dan 407. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Berdasarkan data BPS tahun 2005 sampai tahun 2008.67 persen atau 1.5. RTH Kota dan Danau Buatan • Pendidikan Untuk pendidikan tinggi berada di BWK A (Gedung Meneng).32 persen. Kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan tinggi terdapat di Tanjung Karang Pusat.30 persen). olahraga dan rekreasi menyebar sesuai dengan hirarki pelayanan dan fasilitas Islamic Centre berada di BWK A (Jl. Taman Lingkungan berada di daerah Pusat Lingkungan. Untuk permakaman/Kuburan berada di Kecamatan Telukbetung Barat. Kondisi Demografi dan Sosial A. • Fasilitas Sosial Untuk fasilitas kesehatan. Kepadatan penduduk pada tahun 2008 rata-rata adalah sebesar 42 jiwa/Ha. dimana dari 13 kecamatan beberapa diataranya memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi sisanya secara umum tergolong kepadatan rendah dan sedang. Tingkat pertumbuhan penduduk Kota Bandar Lampung dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 berada pada besaran 3. Ini berarti jumlah penduduk laki-laki dan perempuan hampir sama banyak.133 jiwa dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 822. jumlah kepadatan penduduk Kota Bandar Lampung sebesar 42 jiwa/Ha adalah termasuk kepadatan rendah (Lembaga Bantuan Teknologi Unila FT – Unila. Penduduk Kota Bandar Lampung pada tahun 2007 berjumlah 812. peribadatan.747 jiwa (naik 1. dan SLTP&SD menyebar di pusat lingkungan permukiman. Penduduk pada tahun 2008 terdiri dari 414.• Pemerintahan Berada diwilayah BWK H (Telukbetung) dan disetiap pusat kecamatan/kelurahan untuk pemerintahan tingkat kecamatan/kelurahan • Pariwisata Untuk pariwisata pantai berada pada kawasan Teluk Lampung.938 jiwa (50. Untuk Taman Kota menyebar di Pusat Kota seperti daerah Way Halim. dan Teluk Betung Selatan (RTRW Kota Bandar Lampung 2005-2015). SLTA menyebar di setiap pusat BWK. Luas 12 . Namun ternyata persebaran penduduk di Kota Bandar Lampung tidak merata. hutan kota. Menurut kriteria kepadatan penduduk.22 persen pertahunnya. meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 41 jiwa/Ha atau naik sebesar 1. dengan luas Kota Bandar lampung 19.

72 Perempuan 395.746 803. Berdasarkan kelompok usia proporsi terbesar dari penduduk Kota Bandar Lampung ditempati oleh kelompok usia 20-24 tahun yaitu sekitar 95. .938 Jumlah Penduduk 793.48persen dari total keseluruhan penduduk Kota bandar lampung namun jumlah ini masih lebih banyak bila dibandingkan dengan penganut agama Hindu atau Budha. Struktur Penduduk Menurut umur Gambaran mengenai struktur penduduk menurut usia akan menunjukkan jumlah penduduk yang masih produktif dan yang tidak/belum produktif di Bandar Lampung. Struktur penduduk Kota Bandar Lampung (BPS Kota Bandar Lampung.942 Sumber: http://Lampung.880 Luas (Ha) 19. Ini lebih banyak dibandingkan jmlah penganut agama katolik yang hanya 23.go. Jika digabungkan penganut agama katolik dan protestan menjadi kelompok minoritas di Kota Bandar lampung dengan persentase sebesar 6. Islam merupakan agama yang paling banyak dipeluk oleh penduduk Kota Bandar Lampung yaitu mencapai 755. Tabel 2-5.883 398. Penduduk yang termasuk kedalam usia produktif pada nantinya akan digolongkan kepada jumlah tenaga kerja yang tersedia di Kota bandar Lampung dan dalam menentukan kebijakan mitigasi bencana. 2009) Tahun 2005 2006 2007 2008 Jenis Kelamin Laki-Laki 397. Kristen.18 41.863 405.081 jiwa.537 jiwa.50persen disusul dengan kristen Protestan sebanyak 31.BPS. Secara umum diketahui bahwa kelompok usia produktif di Bandar lampung mencapai jumlah 546.25 40.wilayah kedua kecamatan ini adalah terkecil dibandingkan dengan 13 kecamatan lain.851 jiwa atau 89.597 jiwa.76 41.133 822.722 19.208 409.700 402. Usia produktif dimulai dari umur 15 -55 tahun dan usia diatas 55 tahun digolongkan kepada usia non produktif.722 19.922 812. 13 . namun memiliki jumlah kelurahan terbanyak.722 19. Katolik. serta mengevakuasi diri jika terjadi bencana benar-benar terjadi di wilayah mereka.920 jiwa atau 64. diikuti dengan kelompok umur 15-19 tahun dengan jumlah jumlah 95.722 Kepadatan 40. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa dengan banyaknya penduduk dengan umur produktif maka akan berpengaruh terhadap produktifitas penduduk Kota Bandar Lampung serta kemampuan mereka dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana alam.75persen dari total keseluruhan penduduk Kota Bandar Lampung.695 jiwa.714 402.id B.433 414. Menurut Agama Agama-agama yang ada di Kota Lampung terdiri dari Islam. Hindu dan Budha.

dan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang ketahanan masyarakat dalam menghadapai bencana terutama yang disebabkan oleh perubahan iklim.id/tabel/tk11.217 jiwa.Kondisi Ekonomi dan Mata Pencaharian Informasi kondisi ekonomi dan matapencaharian dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat. jasa dan industri.6%). gas dan air bersih.7.bps. pergudangan dan komunikasi.277. Bandar Lampung menjadi pusat pemerintahan. dan restoran (16.334 dengan rincian sebagai berikut: 1). Angkatan kerja merupakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau mencari pekerjaan. Kondisi ini menguntungkan bagi pertumbuhan dan pembangunan Bandar Lampung menjadi pusat perdagangan.6 %). karena sektor tersebut sangat dipengaruhi oleh iklim atau musim.2.9%) dan lapangan usaha perdagangan. pendidikan dan budaya aktivitas. perburuan. angkutan. Mata pencaharian penduduk pada dasarnya berhubungan erat dengan tingkat pendapatan. Bandar Lampung strategis karena terletak di daerah transit kegiatan ekonomi antara Pulau Sumatera dan Jawa.9% (Table II-6). usaha persewaan bangunan. tingkat kesejahteraan serta pengelolaan sumberdaya alam yang terdapat di sekitarnya. politik.229.827 jiwa pada tahun 2008. 2003).pdf). Jasa kemasyarakatn sebanyak 89. eceran. kehutanan. jasa-jasa (16. Perdagangan besar. 2) Industri Pengolahan sebanyak 31. rumah makan dan hotel sebanyak 127. Penduduk dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada sektor pertanian dan perikanan perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar. 2. listrik.6. Jumlah angkatan kerja di Kota Bandar Lampung meningkat dari 364. keuangan. Bandar Lampung telah mengalami perkembangan pesat. Dengan demikian perdagangan merupakan tumpuan mata pencaharian penduduk yang utama.814. 4). hotel. Pertanian. industri pengolahan (17. Penduduk berumur 15 tahun yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama tahun 2007 berjumlah 342. Distribusi kegiatan ekonomi di Kota Bandar Lampung dapat dilihat pada Gambar 2-5. dan 5) lainnya (pertambangan dan penggalian. Kontribusi lapangan usaha pertanian pada PDRB memberikan sebesar 5. sosial.797 (http://lampung.6%). Hubungan Lingkaran-Inti Sebagai Ibukota Provinsi Lampung. PDRB Kota Bandar Lampung sebagian besar dikontribusi oleh pengangkutan dan komunikasi (19. 3). tanah dan jasa perusahaan) sebanyak 84.337 jiwa pada tahun 2005 menjadi 414. dan juga pusat kegiatan ekonomi di Provinsi Lampung. dan perikanan sebanyak 9. 14 .go. bangunan. ditandai dengan peningkatan jumlah daerah yang dibangun dan munculnya zona pusat pertumbuhan baru (Bandar Lampung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

955 394. Profil Responden Untuk menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kota Bandar Lampung secara lebih luas memiliki keterbatasan dalam hal ketersediaan data sekunder. Kelurahan Kota Karang. 5). dan 3).113.175 1.015.664 6. 1 2 3 4 5 6 7 Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Tanpa Migas Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan.637 2006 459.72 persen perempuan.247 913. Kota Karang.733 (Sumber: Kota Bandar Lampung Dalam Angka.058 690.457. Distribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandar Lampung. 15 .764. Kelurahan Batu Putu.247 1. Batu Putu dan Pasir Gintung. Persewaan. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan. dan Jasa 8 Perusahaan 9 Jasa-Jasa PDRB / GRDP 1.621 162. Oleh karena itu penggambaran dilakukan dengan menggunakan data survey pada enam kelurahan di Kota Bandar Lampung yang dikelompokkan menjadi wilayah pesisir dan non pesisir.088.407 1. penajaman beberapa informasi juga dilakukan melalui focus group discussion (FGD) pada empat lokasi yaitu di Kelurahan Panjang Selatan.215 947.394.450. Kelurahan Panjang Selatan.755 1.064 453.115 No. Selain melalui survey.263 2. Kelurahan Kangkung.235.091 91. Sedangkan kelurahan yang termasuk kelompok pesisir adalah: 4).7.462.382 6.835.252. 2007 2.439 10.306. Kelurahan Sukabumi Indah. 2) Kelurahan Pasir Gintung.359 8. Produk Domestik Regional Bruto Kota Bandar Lampung Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2004-2007 Lapangan Usaha 2004 2005 317.423 1.28 persen masyarakat adalah laki-laki dan 36. Kelurahan yang termasuk wilayah non pesisir adalah: 1).491.378.069 1. Hotel.780 1.740. 2008) Gambar 2-4.691 2007 622.780 1.996 94.894 89.563 602.313 153.057 1.500.187.353 1.126 127.Tabel 2-6.795.547 1.321 98.174 95.784 1.517 1. yang terdiri dari 62. Survey melibatkan 256 masyarakat.919 940.049.958 1.163. 6).382 336.152.305 1.

Jika dilihat secara lebih detail lagi.4 16. atau pegawai negeri (PNS/ABRI/POLRI). menguraikan data sebaran pendidikan berdasarkan mata pencaharian di setiap kelurahan dan wilayah.5 - Pasir Kota Gintung Karang 6 4 10 40 20 18 2 9 17.2 16.5 5 32.. Tabel 2-7.9 7. Meskipun Pasir Gintung berada di dekat kota. komposisi pekerjaan didominasi oleh pekerja dengan pendidikan yang sangat rendah. Berdasarkan tabel tersebut. Pekerjaan utama masyarakat di Pasir Gintung adalah pada sektor perdagangan (20%). Oleh karena itu semakin tinggi taraf pendidikan masyarakat. masyarakat yang bekerja sebagai petani kebun di Batu Putu banyak yang tingkat pendidikannya tamat sekolah dasar dengan persentase sebesar 15 persen dari total masyarakat di Batu Putu. Kebanyakan penduduk yang bekerja sebagai pedagang dan buruh non-petani adalah masyarakat dengan pendidikan menengah kebawah (SMP dan SMA). Fenomena masyarakat dengan pendidikan rendah ini juga terjadi pada sektor perbaikan (service).1 41 10.8 Batu Putu 20 17. Oleh karena itu tingkat pendidikan masyarakat dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur dalam menilai kerentanan masayarakat terhadap bencana. Kebanyakan dari mereka memiliki tingkat pendidikan 16 .3 35. akan semakin mudah menggugah kesadarnnya untuk merespon upaya-upaya adaptasi bencana.8 - Tabel 2-8. tenaga kerja perbaikan.1 12. Menurut data hasil survey (tabel 2-7). maka sebanyak 40 persen berpendidikan rendah (tidak tamat SD-tamat SD). Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat merupakan salah satu indikator dalam menilai kemampuan masyarakat untuk menerima pengetahuan baru. Kelurahan SUkabumi Indah merupakan kelurahan dengan tingkat pendidikan tertinggi.5 17.5 15 25 10 12.5 1. buruh non-petani (20%).5 persen masyarakat yang bekerja sebagai petani kebun. mayoritas masyarakat di kelurahan yang diamati telah lulus SD. Hampir semua penduduk di kelurahan Sukabumi Indah bekerja sebagai tenaga kerja non-pertanian. baik melalui proses latihan dan penyuluhan. servis (10%).7 12. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.5 30 2.1.7 28. pemberian ketrampilan maupun model-model percontohan yang akan diberikan. 2009 (dalam %) Pendidikan Tidak Sekolah SD Kelas 1-3 SD Kelas 4-6 SD Tamat SMP Tamat SLTA Tamat Sarjana Muda/ D3 Sarjana Panjang Selatan 12.8 3.2 10. demikian sebaliknya.2 7.9 5. serta menyerap keterampilan maupun teknologi yang dipekenalkan. dan lainnya (48%).2 3. dimana aktivitas pertanian tidak terjadi.5 - Sukabumi Kangkung Indah 6.2 54. Kontek Sosial A.7. ternyata dari 47.2.

23 35.00 10.23 16.00 20.13 - 3.0 0 20.00 4.50 2.00 15.50 25.5 0 2. Hal yang sama terjadi pada sektor service.00 12.00 20.23 3.50 2.0 0 48.0 0 2.23 6.50 12.9% penduduk yang bekerja di sektor tersebut dan 9.0 0 100.45 3.00 SD Kelas 4-6 12.50 2.23 3.5 0 100. pekerja pemerintahan merupakan lulusan D3 dan sarjana.23 3.50 17.50 12.5 8 12.5 0 2.45 22.90 16.00 4.50 2.23 3.84 3.00 4.00 17. Tabel 2-8.00 8. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Mata Pencaharian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung Tahun 2009 (dalam %) Pekerjaan Kel Tidak Sekola h 2.00 4.0 0 47.9 0 12.00 2.00 - Petani Ikan Pedagang PNS/ABRI/P OLRI Jasa Sukabumi Indah Buruh Non Pertanian Lainnya Total - 3.56 - 7. 00 2.00 10.13 5.48 54.50 10.00 6.00 10.00 16.00 2.00 2.50 2.00 40.00 2.2 6 25.00 2.00 Tamat SD Tamat SMP Tamat Diplom Sarjana SMA a Tota l Non Pesisir Petani Pangan Petani Kebun Pedagang Jasa Pertukangan Buruh Pertanian Buruh Non Pertanian Lainnya Total 5. 00 Batu Putu Pedagang PNS/ABRI/P OLRI Jasa Pasir Gintung Buruh Non Pertanian Lainnya Total 4.00 5.00 2.00 2.56 2.50 2.00 6.69 5.69 - - 10.00 2.00 12.00 2.13 7.50 15.68 6.50 5.00 2.23 3.23 6.45 3. sebagai contoh.50 2.50 2.00 SD Kela s 1-3 7.00 18.menegah dan tinggi.5 0 2.00 2.23 6.00 5.13 Kang kung Pesisir Petani Ikan Pedagang 5.50 20.23 12. Lebih dari 12.50 5. 00 3.68% nya memiliki berpendidikan tinggi.45 3.00 4.50 - - 10.23 9.9 0 41.13 2.9 4 100.00 4.6 17 .50 5.50 5.

50 2.13 28.00 2.79 12.0 0 100.56 7.82 - - 4 2.00 5.13 2.00 30. Panjang Selatan 18 .00 5. Pada umumnya mereka yang bekerja pada sektor tersebut berpendidikan rendah (maksimal lulus SD). mayoritas pekerjaan di kelurahan pesisir dan non-pesisir didominasi oleh pekerja berpendidikan renah (gambar 2-5).90 2.07 1.5 0 25.50 42.79 - Kota Karang 7.79 3.79 1.69 2.3 8 33. 00 20.50 2.57 1.00 2.3 3 100. Hanya pelayan publik/pemerintahan dan beberapa pedagang.57 1.07 7. 00 3.57 5.69 2.13 10.79 10.56 15. buruh non pertanian dan petani tambak ikan.6 4 32.64 35.Pengrajin Jasa Pertukangan Buruh Non Pertanian Lainnya Kangkung Total Petani Ikan Pedagang Jasa Buruh Non Pertanian Lainnya Kota Karang Total Petani Ikan Pedagang Jasa Buruh Non Pertanian Lainnya Panjang Selatan Total 2.00 5.79 12.00 10.56 7.50 1.50 12.8 6 2.14 10.00 15.5 0 5.56 5.1 4 100.50 5. pekerja denga lulusan universitas. 00 21.2 1 3.0 0 5.56 2. sebagian besar masyarakat bekerja sebagai pedagang.79 1.57 3.4 3 12.2 9 19.14 41.50 5.5 0 17.56 25.50 2.57 7. Berdasarkan ilustrasi diatas.50 2.50 5.71 3.57 8.79 3.79 3.5 0 14.50 - - Pola yang hampir sama juga terjadi di wilayah pesisir.79 1.56 2.50 2.93 1.26 2.00 32.71 3.79 1.50 15.69 5.0 0 17.57 1.79 1.00 10.36 1.56 7.56 2. Misalnya di wilayah Kangkung.00 7.57 16.56 12.

terlihat perempuan memiliki andil yang cukup besar dalam memenuhi nafkah keluarga. Akan tetapi terdapat kelompok keluarga masyarakat yang menyatakan bahwa untuk pengambilan keputusan keluarga tidak bisa dilakukan sendiri oleh suami.19 persen.98 persen. Disini terlihat bahwa dalam lingkup yang lebih kecil. istri akan diminta hadir sebagai wakil suami. Alasan yang diungkapkan warga pria adalah karena yang dibicarakan biasanya masalah-masalah yang terkait dengan kaum pria.33 persen untuk Sukabumi Indah. Yang berarti sebenarnya masalah pertanian juga merupakan masalah perempuan. mereka melibatkan istri mereka dalam membuat keputusan keluarga dan jumlah kelompok ini cukup besar. Bahkan secara spesifik di Kelurahan Batu Putu dan Sukabumi Indah. termasuk menjadi pekerja di sektor pertanian. Persentase suami istri sebagai pengambil keputusan di kedua wilayah tersebut adalah 58. Namun saat suami berhalangan hadir.Gambar 2-5. Dalam pertemuan yang lebih strategis seperti Musrembang. misalnya masalah pertanian. Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat Berdasarkan Klasifikasi Tinggi Rendahnya Pendidikan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. partisipasi anggota keluarga terutama perempuan dalam pengambilan keputusan dapat dilihat pada jumlah perempuan yang diundang menghadiri kegiatan rapat atau musyawarah kelurahan. perempuan juga jarang dilibatkan. yaitu kepentingan 19 . Jika angka ini disandingkan dengan angka persentase kelompok pencari nafkah dalam keluarga yaitu suami dan istri.82 persen untuk Batu Putu dan 58. 2009 B. Hal tersebut terkait dengan pola pikir pria yang beranggapan bahwa kehadiran perempuan di rumah yaitu mengurus anak lebih penting daripada hadir dalam rapat. Pengambilan Keputusan Keluarga Anggota keluarga yang cukup dominan dalam membuat keputusan keluarga adalah suami dengan persentase sebesar 55. Pada tingkatan yang lebih tinggi yaitu kelurahan. Dari hasil FGD terungkap bahwa dalam pertemuan warga di kelurahan atau balai desa. Dari data tersebut terlihat bahwa keterlibatan istri di wilayah non pesisir lebih banyak daripada wilayah pesisir. Padahal berdasarkan gambaran peran anggota keluarga dalam mencari nafkah. maka terlihat konsistensi bahwa partisipasi perempuan dalam membuat keputusan keluarga juga dipengaruhi oleh keterlibatan mereka membantu suami dalam memperoleh penghasilan keluarga. sebanyak 34. biasanya hanya lelaki yang diundang datang ke pertemuan sedangkan perempuan akan di undang apabila dalam rumah tangga tersebut memang tidak ada pria yang dapat mewakili. peran keluarga dimana pengambilan keputusan dilakukan berdua oleh suami istri lebih besar daripada keluarga yang pengambilan keputusannya hanya oleh suami saja.

00 4.00 0. suara yang mewakili kebutuhan dan kepentingan perempuan menjadi tidak terdengar.00 0.00 0.84 persen.00 0.00 2.89 3. perempuan telah memiliki posisi tawar yang relatif sama dengan pria.keluarga.08 0.00 0.00 0. dengan 20 . Sehingga program-program atau kebijakan yang dibuat dianggap sudah dapat mewakili.00 2.00 100.2 7 58.04 0.08 0.00 0.00 0.00 100. 2009 (dalam %) Wilayah / Keluraha n Batu Putu Pasir Gintung Sukabum i Indah Kangkun g Kota Karang Panjang Selatan Non Pesisir Pesisir Grand Total Anggota Rumah Tangga Pengambil Keputusan Grand Total 100.00 100.00 1.00 0.43 SAlAp 0. Tabel 2-9. Partisipasi Keluarga Dalam Mengikuti Pelatihan Secara umum keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan untuk meningkatkan ketrampilannya relatif rendah. Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Berperan Dalam Mengambil Keputusan Keluarga Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.2 2 41. Keabsenan atau ketidak akuratan informasi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perempuan menjadi lebih rentan saat terjadi bencana. dan Ap=Anak Perempuan Dewasa C.00 4.00 0.41 1.00 0.00 (N) 107 34 49 24 127 38 52 37 234 S 41. dalam beberapa hal kepentingan atau kebutuhan laki-laki berbeda dengan perempuan. Hal ini menunjukkan lemahnya posisi tawar perempuan dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.00 0.3 3 26.00 2.85 5.00 0.92 2.2 6 51.00 0.4 6 16.57 1.6 7 55.00 2. Misalnya pada kasus bencana yang terjadi pada suatu daerah.57 0.00 5.70 1.85 IAlAp 0.79 0.87 3.00 100.00 0.3 5 34.00 0.92 0.00 0. Berdasarkan Tabel 2-10.79 0.63 0.56 S Al 0.00 0.00 100. Padahal.00 1.43 Iap 0.82 20.71 Al 0. Kondisi demikian mencerminkan ketidak pekaan terhadap kebutuhan perempuan.00 0.87 1.43 Keterangan : S=suami.99 Semua 0.93 0.35 41.18 67.00 100.63 1. Demikian juga dengan program-program bencana.04 0.93 0.43 SIAl 0.00 0. Dalam kaitannya dengan bencana. peran lakilaki menjadi lebih dominan dimana mereka merasa bahwa keberadaannya sudah bisa mewakili kepentingan perempuan.00 0.9 8 SI 58.00 0. terlihat bahwa keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan sebanyak 14.00 7.00 100.1 2 28. Namun dalam lingkup yang lebih luas.2 7 55.00 0.00 0. kepentingan masyarakat bersama. seringkali sistem peringatan dini atau informasi yang terkait dengan bencana hanya diberikan dan di bahas dengan para laki-laki/suami.3 2 38.4 1 58.51 2.26 1. Al= Anak Laki Dewasa.9 2 70.00 0.15 2. karena tidak diikut sertakan dalam rapat atau musyawarah.00 5.00 100.00 5.41 0. I= Istri. pemerintah daerahnya menyediakan fasilitas kamar mandi umum dengan kondisi dinding hanya tertutup setengah yang menyebabkan perempuan tidak nyaman dalam melakukan aktivitas di kamar mandi.92 0. Padahal belum tentu seluruh informasi tersebut dapat disampaikan kembali dengan baik kepada para perempuan/ istri di rumah.00 0.1 9 I 0.2 7 53.00 0.

33 34. terkecuali di Sukabumi Indah.56 7.41 5. sekitar 45 persen masyarakat di wilayah tersebut pernah mengikuti pelatihan untuk meningkatkan keterampilan hidupnya.00 100. yang menyebabkan masih adanya peluang untuk melakukan berbagai macam pekerjaan alternatif.00 100. Dalam konteks masyarakat urban dengan tingkat strata ekonomi yang rendah. dan hal ini berlaku secara umum untuk wilayah lainnya. Distribusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga dalam Mengikuti Pelatihan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. maka alternatif untuk melakukan pekerjaan tambahan relatif sulit dilakukan karena keterbatasan keterampilan yang dimiliki masyarakat.00 100.29 11.00 Berdasarkan data terlihat. Masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan relatif aktif dalam mengikuti berbagai macam pelatihan dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Beberapa masyarakat bahkan kurang menyadari bahwa kegiatan mata pencaharian mereka pada dasarnya memerlukan suatu ketrampilan tertentu.67 100.00 100. sehingga mengurangi kerentanan akibat bencana. namun bisa juga dengan cara informal.89 14.86 44.00 100.29 5. Walaupun relatif kecil.00 28.00 16.16 persen masyarakat tidak terlibat dalam kegiatan pelatihan. Relatif rendahnya keterlibatan masyarakat dalam mengikuti berbagai macam pelatihan dalam meningkatkan keterampilan hidupnya.21 14.36 0. akan berdampak terhadap terbatasnya keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat terutama ketika menghadapi berbagai macam kondisi yang mengancam keberlangsungan hidup keluarganya. Lain halnya jika masyarakat tersebut cukup aktif dalam mengikuti berbagai macam pelatihan.44 48.63 33.00 36. Tabel 2-10.64 100.15 52.13 12.00 60. Dalam kondisi seperti ini. Dalam kenyataannya beberapa pekerjaan yang dilakukan seperti buruh bangunan memerlukan ketrampilan khusus.09 5.84 100.00 100.13 9.33 0.00 14.demikian sebanyak 85.00 63.89 33.50 45.00 42. bahwa suami lebih banyak aktif terlibat dalam pelatihan dibandingkan dengan istri. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total Total Res (N) Res Jawab (n) n/N (%) Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Pelatihan (dari n dalam %) Anak Anak Suami Istri LakiPerempuan Laki 66.00 100.11 7.57 38.50 6. peningkatan ketrampilan tidak harus selalu diperoleh dengan cara mengikuti pelatihan secara formal. jika suatu keluarga terkena bencana yang pada akhirnya tidak bisa lagi tergantung pada pekerjaan utamanya (baik jangka pendek maupun jangka panjang). Dari hasil FGD terungkap memang selama ini masyarakat jarang mengikuti pelatihan yang dilakukan secara formal. keterlibatan masyarakat di pesisir dalam mengikuti pelatihan relatif banyak dibandingkan dengan wilayah non pesisir.00 100. dan ketrampilan tersebut mereka 21 .26 Total 40 50 31 121 39 56 40 135 256 3 3 5 11 2 7 18 27 38 7.00 20.00 40.11 11.

41 42. Dari pengakuan warga di Kota Karang dan Pasir Gintung.00 0.00 13. terlihat bahwa keterlibatan masyarakat dalam berorganisasi sebanyak 42.00 0.97 persen.97 100.00 Dengan hanya melihat warga yang aktif berorganisasi.00 0. Berdasarkan Tabel 2-11.00 100.71 10. Menurut penuturan 22 .00 67.02 38.00 100.00 100. Hubungannya dengan kebencanaan adalah.94 6. D Partisispasi Keluarga Dalam Mengikuti Organisasi Masyarkat Secara umum keterlibatan masyarakat dalam organisasi masyarakat relatif masih rendah. akan tetapi dengan keterlibatan sebanyak 42. demikian juga anak laki-laki lebih banyak terlibat dalam organisasi masyarakt dibandingkan dengan anak perempuan dan hal ini berlaku secara umum untuk wilayah lainnya.75 33. maka berdasarkan data tersebut terlihat.50 70.33 28.57 32.00 100.33 42.00 6.00 100. dengan demikian sebanyak 57.14 58.97 persen merupakan jumlah yang cukup bagi sebuah organisasi untuk berperan dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat.dapatkan secara otodidak.00 0. 2-11.03 persen masyarakat tidak berorganisasi.14 53.13 55.25 35.69 2.46 37.86 41.00 100.73 Wilayah / Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total n/N (%) Jumlah 40 50 31 121 39 56 40 135 256 16 9 21 46 15 21 28 64 110 40.33 0. bila semakin banyak masyarakat terlibat dalam berorganisasi.14 31. 2009 Total Respd (N) Res Jawab (n) Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Ormas (dari n dalam %) Anak Anak LakiPerempua Suami Istri Laki n 56.29 10.67 57. belum pernah ada program bantuan pelatihan baik formal ataupun informal yang ditujukan untuk peningkatan ketrampilan warga baik dari pemerintah daerah maupun LSM setempat. Organisasi merupakah wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan kreatifitas dan gagasan yang dimiliki masyarakat termasuk berbagai macam upaya mensejahterakan masyarakat setempat. Walaupun tingkat berorganisasi relatif rendah.00 3. Walaupun relatif kecil.00 100. keterlibatan masyarakat di pesisir dalam berorganiasi relatif banyak dibandingkan dengan wilayah non pesisir. Distrisusi Keterlibatan Anggota Rumah Tangga Dalam Organisasi Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.67 57. sekitar 70 persen masyarakat di wilayah tersebut aktif berorganisasi.45 43. maka semakin besar pula akses yang dimiliki masyarakat untuk memperoleh informasi dan bantuan bencana.36 0.00 0.57 53.70 46.00 18.00 100. suami lebih banyak aktif terlibat dalam aktifitas berorganiasi dibandingkan dengan istri. Berdasarkan hasil FGD terungkap berbagai bentuk organisasi serta aktivitasaktivitas organisasi yang berada di lingkungan kelurahan amatan.45 0.74 38.57 4.00 0.00 47.30 33. Masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan relatif aktif dalam berorganisasi dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Tabel.67 14.25 66.

Hasil keuntungan dari bekerja tidak dibagi secara langsung kepada anggota. Ide kegiatan tersebut berasal dari kaum perempuan sendiri. ”. Manfaat menjadi anggota adalah bila mau meminjam peralatan pesta tidak akan dipungut bayaran. terdapat juga organisasi masyarakat seperti ‘Petir’ dan ‘Paku Banten’. dan ada bunga yang relatif kecil bila pinjaman dalam jangka waktu yang lama. Wilayah Pasir Gintung yang dekat dengan pasar induk menyebabkan masyarakatnya tidak saja banyak yang menjadi pedagang. Gabungan kelompok tani (gapoktan).manfaat yang dirasa dengan bergabung di kelompok tani adalah memperoleh informasi penanggulangan penyakit. Pada Kelurahan Batu Putuk terdapat kelompok pertanian dan kelompok kehutanan. Organisasi tersebut kegiatannya antara lain mengorganisir perparkiran dan 23 . Bantuan saprodi seperti pupuk juga belum pernah ada. sebagian lainnya akan dimasukkan dalam kas kelompok. setiap anggota dibebankan membayar simpanan minimal Rp 1500 per bulan. Uang hasil penerimaan peminjaman barang dari non anggota sebagian akan di belikan barang lagi. Keuntungan lainnya sebagai anggota adalah mereka bisa meminjam uang kas kelompok.. Sehingga beberapa warga menyebutkan wilayah tersebut dengan sebutan ‘bronx’. Menurut penuturan bapak Jumaidi. misalnya simpan pinjam masih belum dilakukan. Bantuan bibit pernah satu kali diterima warga yaitu bibit padi tahun 2008”. Pada kegiatan simpan pinjam.Bapak Mugi. maka kegiatan simpan pinjam menjadi terhambat dan saat ini tidak berjalan lagi. tokoh masyarakat di Kelurahan Batu Putuk. Aktifitas yang dilakukan oleh kelompok pertanian antara lain melakukan pertemuan atau musyawarah untuk membahas suatu masalah. juga terdapat kelompok ibu-ibu di Kelurahan Batu Putuk dengan nama kelompok PKK 8. Kegiatan kelompok yang ditujukan untuk peningkatan ekonomi petani. namun di wilayah tersebut tidak terdapat koperasai nelayan yang bisa menunjang kegiatan operasional nelayan. kursi. dan sebagian lagi dimasukkan dalam kas kelompok. Pinjaman tersebut tidak dikenakan bunga bila jangka waktu pinjaman hanya sebentar. Walaupun di kelurahan Panjang Selatan terdapat kelompok nelayan. gelas. Selain terdapat kelompok bapak-bapak. Selain adanya paguyuban-paguyuban. Kegiatan kelompok ini antara lain membersihkan kebun orang lain secara gotong royong. Pada Kelurahan Pasir Gintung. teko.. persatuan pengaman lingkungan.. Misalnya ada persatuan tukang bakso. diperoleh informasi bahwa terdapat banyak paguyuban yang terkait dengan profesi mata pencaharian masyarakat. karena jumlah anggotanya 8 orang. dsb. Selain kelompok pertanian. namun banyak juga yang bertindak sebagai preman. kelompok kehutanan dibentuk dengan tujuan agar warga dapat memperoleh izin untuk menanam di lahan kehutanan. namun sebagian besar digunakan untuk membeli peralatan pesta seperti piring. pada Kelurahan Panjang Selatan terdapat organisasi kemasyarakatan yaitu kelompok nelayan Bahari Mandiri. Namun beberapa waktu belakangan ini. Kondisi demikian yang memicu timbulnya organisasi masyarakat seperti ‘Petir’ dan ‘Paku Banten’. namun non anggota harus membayar. padahal dulu berjalan dengan aktif dimana salah satu kegiatannya adalah simpan pinjam. yang berada di wilayah ini mencakup 10 kelompok. sedangkan bantuan untuk meningkatkan ekonomi petani tidak ada. namun karena banyaknya warga yang tidak mengembalikan pinjamannya. kelompok nelayan Bahari Mandiri sudah jarang melakukan kegiatan-kegiatan. persatuan pedagang sayur.

Berdasarkan hasil FGD. Demikian juga bila ada rumah warga yang rusak. warganya justru mengaku bahwa kegiatan gotong royong di wilayah tersebut sudah berjalan dengan baik. Berdasarkan gambar terlihat bahwa sebanyak 48. menunjukkan distribusi warga di wilayah pesisir yang melakukan kegiatan gotong royong. Dengan pola mata pencaharian yang beragam seperti itu.7. Kohesivitas sosial ini yang melahirkan sikap saling tolong menolong ketika terjadi bencana. Tinggi rendahnya kohesivitas sosial dapat terlihat dari beragamnya kegiatan sosial masyarakat. Kegiatan gotong royong tidak hanya dilakukan untuk membersihkan lingkungan saja tetapi juga membantu warga yang akan melaksanakan hajatan seperti pesta pernikahan maupun yang memperoleh musibah. Partisipasi Masyarakat Dalam Kelembagaan Salah satu kekuatan masyarakat dalam menghadapi bencana adalah tingginya kohesivitas sosial masyarakat. pegawai. wirasawasta. saluran air. antara lain meningkatnya kesejahteraan warga serta menurunnya tingkat kejahatan dan ‘kenakalan’ warga di Kelurahan Pasir Gintung. Berbeda dengan Kelurahan Panjang Selatan. di tahun 1970an.36 persen berada di Panjang Selatan. sehingga sulit untuk melakukan kegiatan dalam waktu yang bersamaan. dari sebanyak 135 warga pesisir. namun dalam pelaksanaannya kegiatan kebersihan lingkungan di Kota Karang lebih bersifat individu. menyebabkan banyak penduduk yang beralih menjadi pekebun. sebanyak 78. diperoleh informasi bahwa kegiatan gotong royong di Kelurahan Kota Karang memang masih belum berjalan dengan baik.53 persen berada di Kangkung dan sebanyak 27. sebanyak 24. Kegiatan gotong royong masyarakat secara rutin dilaksanakan setiap bulan atau setelah terjadi pasang. melaksanakan kegiatan 3M. E. Sebenarnya telah ada aturan bahwa setiap jumat ada kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan. menyebabkan ritme kerja yang tidak sama. sebagian besar masayarakat Kota Karang adalah nelayan. dan memperbaiki infrastruktur perdesaan seperti jalan desa.5 persen melakukan kegiatan gotong royong dengan frekuensi yang sangat jarang. Kegiatan yang lebih mengarah kepada individu ini diperkirakan karena adanya perubahan dalam mata pencaharian penduduk. Namun karena penghasilan dari nelayan yang saat ini sudah sangat berkurang. dan lain sebagainya. 24 . yaitu sebanyak 1 kali dalam 1 tahun.pengamanan lingkungan. semakin kompak masyarakat dalam melakukan kegiatan kemasyarakatan biasanya akan semakin kuat kohesivitas sosial masyarakat. atau buruh. Keberadaan paguyuban serta organisasi masyarakat tersebut dirasakan positif oleh warga. tempat sampah. Terutama dalam hal kebersamaan.11 persen berada di Kota Karang. yaitu dilakukan secara masing-masing warga. biasanya ditangani sendiri oleh si pemilik tanpa bantuan dari tetangga atau warga lainnya. Berdasarkan data. Namun sifat tolong menolong antar warga tetap ada. Beberapa kegiatan sosial masyarakat yang berhubungan dengan kebencanaan adalah gotong royong. Gambar 2. Dahulu.

Distribusi Tingkat Partisipasi Warga Non Pesisir Lampung pada Kegiatan Gotong Royong Berdasarkan Frekuensi Pelaksanaannya. ada yang satu bulan sekali. Hal ini menggambarkan dari persfektif kualitas gotong royong. frekuensi kegiatan gotong royong masyarakat relatif beragam. mengingat di wilayah ini terdapat sekitar 57. Dengan semakin seringnya kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh warga. ada yang dua bulan sekali. bahkan satu tahun satu kali.66 persen warga berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong.22 persen). Gambar 2-7. Distribusi Masyarakat di Wilayah Pesisir Yang Melakukan Kegiatan Gotong dengan Frekuensi Minimal 1 Kali dalam 1 Tahun Pada wilayah non pesisir. maka dampaknya akan lebih besar terasa dibandingkan dengan masyarakat yang melakukan gotong royongnya hanya 1 tahun sekali. enam bulan sekali. Selain itu terdapat juga warga yang melakukan gotong royong lebih dari 1 tahun sekali. dapat dilihat pada Gambar 2-7. Dari 121 warga non pesisir. maka sebetulnya masyarakat di wilayah non pesisir memiliki tingkat partisipasi gotong royong yang lebih baik. Jika dilihat dari frekuensinya.Gambar 2-6. dan satu kali dalam satu tahun (32. sebanyak 66. maka di wilayah non pesisir sebagian besar warga melakukan kegiatan gotong royong sebanyak 36 kali dalam setahun atau setiap minggu (57.78 persen). 2009 25 .78 persen warga yang melakukan gotong royong dengan frekuensi seminggu sekali.

Jika membandingkan kedua wilayah (pesisir dan non pesisir). gotong royong. Distribusi Partisipasi Warga dalam Kegiatan Gotong Royong Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 Dilihat dari partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan warga. Hal ini terjadi pada semua kelurahan di kedua wilayah baik pesisir maupun non pesisir.22 persen). Gambar 2-9) 26 . pengajian juga mendapat partisipasi terbesar dari warga (67. menunjukkan bahwa kegiatan perbaikan jalan mendapatkan partisipasi warga paling besar (45. maupun kegiatan-kegiatan perkumpulan telah berjalan cukup baik meskipun untuk Kelurahan Pasir Gintung kegiatan tersebut tidak terjadwal dan terorganisir dengan baik. pengajian merupakan kegiatan sosial masyarakat yang memiliki partisipasi warga terbesar (74. warga di wilayah non pesisir memberikan pastisipasi lebih besar dibandingkan warga diwilayah pesisir kecuali kegiatan perbaikan sampah dan perbaikan jalan. Tokoh masyarakat Kelurahan Panjang Selatan.48 persen). Di wilayah non pesisir.8. Relatif tingginya partisipasi gotong royong masyarakat di kedua wilayah diakui oleh tokoh masyarat yang menjadi narasumber dalam FGD. Perbaikan sarana ibadah menarik partisipasi besar dari warga di Kelurahan Sukabumi Indah (35. menutup dan mengubur.77) dibandingkan kegiatan sosial masyarakatnya.09 persen) dan kemudian kegiatan kegiatan 3M (menguras. Kegiatan sosial lain yang memiliki partisipasi relatif besar adalah arisan ibu-ibu (46. Partisipasi warga terbesar dan terendah dalam kegiatan perbaikan jalan terjadi berturut-turut di Kelurahan Kota Karang dan Panjang Selatan.70 persen) dibandingkan kegiatan yang lain. dan menarik partisipasi terkecil dari Kelurahan Panjang Selatan. Kegiatan gotong royong yang mendapatkan partisipasi warga paling rendah adalah kegiatan perbaikan taman. Batu Putu dan Pasir Gintung menyatakan bahwa hubungan antar warga seperti dalam hal kerjasama.Gambar 2. Gambar 2-8.

Pada wilayah-wilayah tersebut juga telah ada Jamkesmas. Akses Terhadap Pelayanan Keberadaan sarana dan prasarana merupakan faktor yang menunjang keberhasilan upaya program adaptasi bencana. kepemilikan jamkesmas ini tidak secara otomatis ada. Tidak banyak warga yang tahu tentang keberadaan sarana asuransi di wilayah mereka. Sarana perbankan pada juga secara umum sudah cukup baik. Selain biayanya yang cukup terjangkau. Hal ini juga ditunjang dengan kenyataan bahwa mereka belum merasa membutuhkan asuransi. perbankan. Distribusi Kegiatan Masyarakat Pada Beberapa Kegiatan Sosial Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Namun. air bersih dan listrik. masih sangat sedikit warga yang memanfaatkan jasa perbankan tersebut. biasanya akan di rujuk oleh puskesmas setempat untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Sebagian besar warga memiliki alasan bahwa jumlah penghasilan yang relatif kecil sehingga tidak tersedia uang yang cukup untuk ditabung. bila kondisi warga bertambah parah. asuransi.Gambar 2-9. Namun demikian. Pada kenyataannya lokasi Batu Putu yang relatif terletak jauh di atas gunung dan jauh dari pusat ibukota menyebabkan bank tidak beroperasi di wilayah tersebut. SMP sudah tersedia dalam jumlah yang cukup. kesehatan. Proses untuk mengurus jamkesda pun cukup rumit dan melalui birokrasi yang cukup pajang. Sarana dan prasarana yang ada di wilayah kelurahankelurahan terpilih yang rentan bencana terdiri dari: pendidikan. 2009 F. Demikian juga dengan asuransi. hal ini cukup menyulitkan warga. Mayoritas masyarakat pada seluruh kelurahan menunjukkan bahwa sarana pendidikan seperti bangunan SD. warga harus mengurusnya terlebih dahulu. hanya warga Kelurahan Batu Putu yang menyatakan bahwa sarana perbankan di wilayahnya masih kurang. Namun. baik asuransi 27 . khususnya untuk mengobati penyakit-penyakit ringan seperti flu dan batuk. fasilitas kesehatan ini sangat membantu masyarakat. Sarana kesehatan pada wilayah ini pada umumnya berupa balai kesehatan masyarakat seperti puskesmas maupun posyandu. walaupun kelurahan yang lain menyatakan bahwa sarana perbankan di kelurahan mereka sudah cukup baik. Dengan adanya sarana dan prasarana ini berbagai sektor kehidupan masyarakat dapat lebih dikembangkan dan ditingkatkan hasilnya. Warga yang tidak memiliki jamkesmas dapat mempergunakan fasilitas jamkesda. namun pada kenyataannya berdasarkan hasil FGD.

500. yaitu Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang. yaitu berwarna keruh dan bahkan di Kelurahan Kota Karang terasa panas. jiwa maupun kesehatan. walaupun memiliki tingkat ekonomi dan pendidikan masyarakat yang lebih baik dibandingkan dengan kelurahan lain. Seorang ibu dengan enam orang anak yang tinggal di wilayah Kota Karang mengaku bahwa kebutuhan air sehari-hari dipenuhi dengan cara mengambil dari sumur bor dan membeli. Untuk keperluan minum biasanya dipenuhi dengan membeli air galon isi ulang seharga Rp 3. bila terjadi bencana yang parah. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari FGD. sedangkan air jirigen 28 . Penggunaan air sumur bor tidak dipungut biaya. sehingga bila akan digunakan. Sedangkan air bersih dapat diperoleh dengan membeli baik dari PDAM maupun dari pedagang air keliling. mempunyai sumber air yang sangat banyak. Biasanya satu galon air dapat di gunakan selama empat hari.00 per galon dengan merek Grand.00-Rp 3. pada wilayah pesisir. Hal yang menarik ditunjukkan oleh Kelurahan Sukabumi Indah. kepemilikan asuransi dapat melindungi masyarakat. Keperluan air untuk mencuci dan mandi dipenuhi dengan menggunakan air sumur bor. berupa jaminan ganti rugi finansial atas harta benda yang rusak atau hilang. sehingga dalam satu bulan biasanya menghabiskan 7-8 galon. Untuk keperluan mencuci dan mandi. Sumber listrik pada wilayah ini berasal dari PLN. Kota Karang. dan Kangkung keperluan minum warga biasanya dipenuhi dengan cara membeli air galon isi ulang.000. Grafik 2-10. Ketersediaan Sarana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. memiliki kesulitan air bersih.pendidikan. terlebih dahulu harus di diamkan beberapa saat. sehingga air bersih dapat diperoleh dengan jalan membeli. Kelurahan Batu Putu yang merupakan daerah perbukitan. 2009 Sarana electricity dan air bersih pada wilayah ini tersedia dengan baik. Penggunaan air sumur bor tidak dipungut biaya. namun kualitas air kurang baik. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen. Pada wilayah Panjang Selatan. namun kualitas air kurang baik (berwarna keruh) dan terasa panas. Namun justru keberadaan perusahaan air minum tersebut yang dirasa warga menyebabkan jumlah debit air menjadi berkurang. warga menggunakan air sumur pompa. Padahal. Berikut adalah gambaran kebutuhan air bersih pada suatu rumah tangga di Kelurahan Kota Karang. terbukti dengan adanya tiga perusahaan air minum di daerah tersebut. namun masyarakatnya menunjukan kecenderungan yang sama dengan warga dari kelurahan lain. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen yang dapat diperoleh dengan cara membeli.

yaitu Tri Panca. 29 . Grade.5 persen warga berprofesi sebagai petani kebun dan diikuti oleh buruh pertanian sebesar 17. Biasanya dalam satu lahan. sedangkan warga di wilayah Kota Karang dan Kangkung sebesar 32. Sumber FGD di Kota Karang. Kelurahan Batu Putuk berada di lokasi dataran tinggi dimana kondisi lahan di wilayah ini memiliki kesesuaian dengan karaktersitik tanaman perkebunan.00 per tiga jirigen. namun dalam kondisi sebaliknya seperti pasang dan angin besar.00-Rp 48. dan merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang ketahanan masyarakat dalam menghadapai perubahan iklim/ bencana. Jadi secara rata-rata total pengeluaran untuk membeli air pada keluarga tersebut selama satu bulan sebesar Rp 31. namun jika diantar (dibawakan). banyak warga yang memiliki alternatif mata pencaharian lain seperti menjadi buruh non pertanian. Sebanyak 20 persen warga Panjang Selatan. Selain menanam pada lahan sendiri.00 per tiga jirigen. 20.3 persen warga mengaku bermata pencaharian sebagai nelayan maupun buruh nelayan. yaitu sebesar 2. tukang becak. Mata Pencaharian Mata pencaharian penduduk biasanya dipengaruhi oleh kondisi wilayah masing-masing.3 persen memiliki mata pencaharian yang dikelompokkan menjadi ‘lainnya’.000.1 persen dan 33. dimana sektor perikanan menjadi salah satu mata pencaharian yang dominan. pertukangan. Kota Karang dan Kangkung berada pada wilayah pesisir. kopi.5 persen warga wilayah Panjang Selatan bermata pencaharian sebagai buruh non pertanian. Hal ini karena mata pencaharian sebagai nelayan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim dan cuaca. Oleh karena itu sebanyak 47. Kelurahan Panjang Selatan. Berdasarkan hasil FGD diperoleh pula informasi bahwa pada wilayah Batu Putuk. Kondisi ekonomi masyarakat dapat dilihat dari mata pencaharian penduduk. terdapat tiga perusahaan air minum.000. penghasilan dari melaut cenderung menurun drastis bahkan terkadang tidak mendapatkan penghasilan. cukup banyak juga warga yang bertani / berkebun di wilayah kawasan milik dinas kehutanan. namun umumnya warga memiliki lahan kurang dari satu hektar. Luas kepemilikan lahan beragam. penghasilan dari melaut dapat berlimpah. sehingga memiliki ketidakpastian.000 perhektar per tahun. Berikut adalah gambaran umum ekonomi dan mata pencaharian pada enam kelurahan amatan: A.5 persen. melinjo dan vanili. harga mencapai Rp 2. durian. 21. warga sengaja menanam beberapa jenis tanaman. Selain itu berdasarkan survey terlihat bahwa sebanyak 42.7. atau kenek bangunan. pengeluaran masayarakat dan kepemilikan lahan serta aset. Harga air dalam jirigen (2 liter) jika diambil sendiri adalah Rp 1. Sehingga memiliki potensi pertanian khususnya tanaman perkebunan seperti coklat. Pada kondisi iklim dan cuaca yang menunjang. sehingga dalam sebulan membutuhkan 30 jirigen. Mata Pencaharian dan Ekonomi Informasi kondisi ekonomi masyarakat dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan masyarakat. dan Grand. pendapatan. Keberadaan perusahaan ini memberikan kesempatan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar seperti menjadi buruh dan satpam. 2.000.5 persen warga Kota Karang dan 10.5 persen.2. dan buruh non pertanian. Ibu tersebut mengaku bahwa tiga jirigen dapat digunakan selama tiga hari. Oleh karena itu.diperoleh dengan membeli. Sewa lahan dikenakan biaya sebesar Rp.00. Mata pencaharian masyarakat di Batu Putuk dengan persentase paling sedikit adalah pedagang.000.

6 15.5 12. akan tetapi seringkali karena adanya keterbatasan mengakibatkan setiap keluarga jika ada kesempatan akan memberdayakan anggota keluarganya dalam mencari sumber tambahan. wilayah Kelurahan Batu Putu memiliki tingkat kerentanan yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelurahan lainnya. setiap anggota rumah tangga akan berusaha untuk memanfaatkan semua potensi yang dimiliki sesuai dengan pemahaman mereka sendiri.5 17.2 6.5 25 Pasir Gintung 20 2 10 20 48 Kota Karang 21. supir. Mata pencaharian yang juga banyak dilakukan masyarakat adalah pedagang dan buruh non pertanian yaitu sebesar 20 persen.6 2. yaitu dekat dengan pasar induk. dan lain sebagainya.5 22.5 5 2. masyarakat umumnya memiliki alternatif pekerjaan lain. warga pada wilayah Panjang Selatan. Mata pencaharian dengan persentase terbesar adalah masuk dalam kelompok ‘lainnya’ sebesar 48 persen.5 42.33 Bila dilihat dari mata pencaharian penduduk. jasa dan pegawai negeri (PNS/ABRI/POLRI). Dengan demikian. tukang ojek. Hal ini berbeda dengan masyarakat di Kelurahan Batu Putu dimana sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya tidak jauh dari pengelolaan sumber daya alam.9 Kangkung Petani Pangan Petani Kebun Perikanan Pedagang Pengrajin PNS/ABRI/ POLRI Jasa Pertukangan Buruh Pertanian Buruh Non Pertanian Lainnya 10. dan rumah sakit umum pemerintah terbesar di Propinsi Lampung. sehingga mata pencaharian penduduknya banyak di sektor jasa. yaitu mata pencaharian yang tidak termuat pada pilihan yang disajikan. wilayah yang rentan terhadap bencana adalah Kelurahan Panjang Selatan. Partisipasi Anggota Keluarga dalam Mencari Nafkah Keluarga Dalam mempertahankan hidupnya dan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga. Selain menjadi nelayan.5 12.6 32.1 Batu Putu 10 47.Lokasi Kelurahan Pasir Gintung sangat strategis. Berdasarkan Tabel 2-13. Mata Pencaharian Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. Kota Karang. seperti teknisi.6 12. Demikian juga dengan Sukabumi Indah.5 Sukabumi Indah 3. Mereka secara fleksibel akan mencari pekerjaan di ‘darat’ apabila pekerjaan di laut tidak mungkin mereka lakukan.5 2.3 25. berdasarkan mata pencaharian penduduk.7 2. 2009 (dalam %) Mata Pencaharian Panjang Selatan 20 5 7. terlihat bahwa 30 . Pada umumnya setiap kepala rumah tangga wajib mencari nafkah untuk keluarganya.9 12.5 2. Tabel 2-12.4 33. terminal. pegawai kelurahan. hampir semua warga di wilayah tersebut bekerja di luar sektor pertanian.9 41.5 14. yaitu sebagai buruh non pertanian. Kota Karang dan Kangkung. tidak menggantungkan mata pencarian mereka hanya pada satu sektor. dengan demikian tugas kepala keluarga dalam mencari nafkah relatif terbantu. Namun demikian. Kangkung dan Batu Putuk.3 19. B.6 7.

anak laki-laki. Umumnya ikan yang mereka jual merupakan hasil tangkapan suami. anak laki-laki saja. Misalnya pada Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang. Peran perempuan dalam ekonomi keluarga juga terungkap dalam kegiatan FGD pada kelurahan amatan.. anak perempuan saja. dan semua hasilnya diperuntukkan untuk kelangsungan hidup keluarga. maka perempuan bekerja yang berada pada dua kelurahan tersebut banyak yang menjadi pedagang ikan. istri. 31 . istri. dan anak perempuan. dan anak perempuan. istri dan anak laki-laki. Dalam kelompok ini semua anggota keluarga yang terdiri dari suami. anak lakilaki dan anak perempuan yang sudah dewasa memiliki pekerjaan. Pola tersebut tidak terlihat pada Kelurahan Pasir Gintung dan Sukabumi Indah. Pada banyak kasus perempuan yang bekerja. dan 13). terlihat memiliki pola yang sama. Dari data juga diperoleh informasi. sakit. suami saja. kegiatan tersebut juga seringkali melibatkan anggota keluarga lainnya. dan berdasarkan data terdapat sekitar 2.02 persen keluarga masyarakat yang kehidupannya tergantung pada penghasilan kerja istri. Dengan demikian peran istri tampak sangat jelas dalam membantu meringankankan beban suami. karena kesulitan ekonomi bukan hanya dirasakan saat ini saja. ”. suami dan istri. Jumlah masyarakat terbanyak yang mengandalkan kehidupan keluarga dari hasil kerja istri berada pada Kelurahan Kota Karang.. Bahkan bagi suami yang sudah tidak bisa bekerja lagi karena alasan menganggur. baik di pasar maupun secara berkeliling. Menurut bapak Aan. ketua RT 14 kelurahan Kota Karang. 5) suami. istri. 4). yaitu jenis pekerjaan istri terkait dengan pekerjaan yang dilakukan oleh suaminya. dimana pekerjaan istri terkait dengan pekerjaan suami. 7). Suami dan anak laki-laki. Terdapat 31. 1). Dengan demikian secara keseluruhan tergambar peran istri (perempuan) dalam melangsungkan kehidupan suatu keluarga relatif besar. Biasanya istri membantu suami memilihmilih ikan”.terdapat 13 model rumah tangga dalam mencari nafkah. anak laki-laki dan anak perempuan. atau telah meninggal dunia. namun sudah dirasakan sejak dahulu. istri saja. terdapat sekitar 2. 2). Selain pekerjaan yang relatif tetap. anak laki-laki. Kegiatan istri bekerja membantu suami. Hal ini diindikasikan dari jumlah masyarakat yang tergantung pada suami sebagai pencari nafkah tunggal dalam keluarga berjumlah kurang dari 50 persen. beberapa pekerjaan yang melibatkan perempuan ada yang bersifat musiman. 9). untuk melangsungkan kehidupan keluarga tergantung pada istri. suami. 8). dan anak perempuan. maka mereka akan menjualkan ikan hasil tangkapan tetangga atau membeli ikan terlebih dulu di pasar. 6). Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa peran suami secara tunggal dalam menghidupi keluarganya hanya sekitar 46. Waktu itu ikan yang terkumpul oleh nelayan jumlahnya banyak dan jenis serta ukurannya macam-macam. Kondisi yang hampir sama terjadi juga pada masyarakat dengan mata pencaharian pokok di bidang pertanian.56 persen. 3). Selain melibatkan istri.02 persen masyarakat dimana semua anggota keluarganya memiliki mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya. ikan harus dipilih-pilih dulu. suami. 12).58 persen keluarga masyarakat dimana suami dan istri bekerja bersama-sama untuk menghidupi keluarganya. 11) suami. 10). Sebelum dijual di tempat pelelangan ikan atau di pasar. Hal ini menggambarkan bahwa untuk memenuhi kehidupan keluarga tidak lagi mengandalkan sepenuhnya terhadap penghasilan dari pekerjaan suami. dan anak laki-laki.. suami dan anak perempuan. misalnya membantu suami di kebun atau sawah. namun bila hasil tangkapan suaminya sedikit. istri. diakui masyarkat telah dilakukan sejak lama.biasanya perempuan banyak dibutuhkan waktu musim ikan. dimana sebagian besar warga pria memiliki mata pencaharian di bidang perikanan.

00 0.61 5.00 0.49 60. I= Istri. 2009 (dalam %) Pencari Nafkah Dalam Keluarga Wilayah/ Kelurahan (N) Non Pesisir Batu Putu 115 Pasir Gintung 38 Sukabumi Indah 49 Sub Total 55 Pesisir Kangkung 28 Kota Karang 132 Panjang Selatan 38 Sub Total 39 Grand Total 247 S 44.87 0.56 3.00 2. Al= Anak Laki Dewasa.Tabel 2-13.00 0.04 0. Distribusi Anggota Rumah Tangga Yang Bekerja Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.76 0.00 0.56 SI 39.70 31.79 3.00 0.63 2.00 0.63 3.00 0.08 3.00 1.08 0.02 I Al 0.64 2.00 1.89 10.00 0.63 0.00 0.00 0.47 24.00 100.57 2.26 5.00 100.00 0.87 2.00 0.00 0.87 2.00 2.71 38.87 0.33 5.58 47.26 0.82 28.24 Semua 2.56 0.18 35.76 31.27 53.00 1.02 I 2.91 5.24 SIAl 5.26 1.00 0.00 0.00 100. dan Ap=Anak Perempuan Dewasa 32 .45 0.00 2.56 4.56 3.76 1.64 2.00 0.89 3.00 4.87 2.00 100.00 2.26 S AlAp 0.63 3.00 2.00 100.00 Keterangan : S=suami.00 4.00 1.04 0.40 Grand Total 100.58 S Al 2.03 2.85 44.71 48.82 0.63 0.21 S Ap 2.26 28.04 0.00 0.82 2.74 7.00 0.64 2.03 2.52 1.74 59.21 SIAp 0.00 100.00 100.00 0.04 0.00 3.70 46.56 3.63 0.76 0.81 AlAp 0.13 8.00 0.63 0.02 Al 0.21 25.74 7.40 Ap 0.00 0.00 100.00 0.74 2.63 1.87 5.03 2.55 3.63 0.95 21.

26/bulan dan dari pendapatan tambahan lainnya sebesar Rp 534. Mayoritas rumah tangga warga di wilayah Panjang Selatan. namun walaupun besar.75/bulan.1 9. 1.5 37. pekerjaan menjadi kenek bangunan belum tentu diperoleh setiap hari.7 23.001-1.000. pada kondisi sebaliknya pendapatan yang diperoleh menjadi berkurang.000.35/bulan.00.00. penghasilan dari melaut dalam satu hari berkisar antara Rp 20.5 38.000. dan Batu Putuk memiliki penghasilan berkisar antara Rp 500. memperlihatkan distribusi rata-rata pendapatan rumah tangga pada enam kelurahan amatan. Selain menjadi nelayan. Tabel 2-14.00 per hari. dan Kota Karang biasanya memiliki alternatif pekerjaan lain.00. Kota Karang.001 37.5 15 10 12 48 28 12 32. Pada kondisi biasa. Pendapatan Secara umum pendapatan masyarakat dipengaruhi oleh mata pencahariannya. Kota Karang dan Batu Putuk relatif paling rentan secara ekonomi. Gambar 2. Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Warga pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.2 42. mayoritas warga di Kelurahan Sukabumi Indah memiliki tingkat pendapatan yang lebih baik. tukang becak atau kenek bangunan.7 35.421.500. Oleh karena itu.00 hingga Rp 2. Pasir Gintung. rata-rata Rp 15.000 1. Ketika kondisi iklim dan cuaca mendukung.000.213. Penghasilan menjadi tukang becak.000.000 500. 33 .001-2. Dibandingkan dengan tingkat UMR di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Rp 627.2 25. Sementara itu.08 %. mereka juga kadang menjadi pedagang. untuk mendapatkan pendapatan tambahan.000.000. 2009 (dalam %) Klasifikasi Pendapatan (Rp) Panjang Selatan Pasir Gintung Kota Karang Batu Putuk Sukabumi Kangkung Indah 0-500.9 42. Pada Kelurahan Panjang Selatan dan Kota Karang. maka pendapatan rata-rata rumah tangga warga pada kelurahan amatan lebih tinggi.5 45 10 16. Sedangkan penghasilan menjadi kenek bangunan sebesar Rp 30. Informasi adanya peranan pekerjaan tambahan dalam kontribusi pendapatan masyarakat di kelurahan amatan juga tergambar dari kegiatan FGD.00 per hari. Pendapatan tersebut berasal dari pendapatan tetap bulanan sebesar Rp 705. khususnya jika terjadi perubahan kondisi sosial ekonomi yang disebabkan oleh bencana. Besaran pendapatan ini diperoleh dari penjumlahan pendapatan tetap dan pendapatan tambahan. maka jumlah pendapatan tersebut relatif kecil dan tidak dapat mencukupi seluruh kebutuhan keluarga. Pasir Gintung.7 28.00.9 Dari gambaran pendapatan tersebut dapat dikatakan bahwa mayoritas rumah tangga warga pada wilayah Panjang Selatan.12.000.781.001.8 16.000.1 8.000. perikanan dalam hal ini nelayan menjadi salah satu mata pencaharian yang dominan.228.C. Dengan data ini terlihat bahwa peranan pekerjaan tambahan memiliki proporsi yang relatif besar yaitu 44. Namun.000.00 hingga Rp 1. Secara rata-rata pendapatan rumah tangga respoden sebesar Rp.000 > 2. Namun apabila dibandingkan dengan banyaknya jumlah anggota keluarga per rumah tangga.000. yaitu dengan rentang pendapatan diatas Rp 2.000. maka penghasilan yang diperoleh relatif lebih banyak.00-Rp 30.001.000.2 17.000. Sedangkan mayoritas warga di Kelurahan Kangkung memiliki pendapatan berkisar antara Rp 1. warga di Kelurahan Panjang.

34 . hasil perkebunan di wilayah ini juga sangat dipengaruhi oleh kondisi alam. Hal ini diperkuat dengan infomasi bahwa pada kelurahan ini masyarakatnya memiliki aset rumah tangga yang lebih banyak dibandingkan dengan kelurahan lainnya. Distribusi Tingkat Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat Berdasarkan Pendapatan Tetap dan Pendapatan Tambahan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 D. masyarakat juga memanfaatkan lahannya untuk tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan.11. dengan alasan sambil menunggu tanaman perkebunan menghasilkan. gali lubang’) ke pihak lain. oleh karena itu untuk dapat bertahan hidup sebagian warga melakukan peminjaman atau berhutang (‘tutup lubang. Bila sedang berhasil. Gambar 2. selain menanam tanaman perkebunan. kebutuhan hidup dapat dibantu dari hasil sayuran dan buah-buahan. Namun ada kalanya mengalami paceklik atau gagal panen. Dengan demikian kelurahan ini bisa dikatakan relatif lebih sejahtera dibandingkan kelurahan lainnya. Oleh karena itu. Dari sebaran data terlihat bahwa rata-rata pendapatan rumah warga di Kelurahan Sukabumi Indah relatif lebih besar dibandingkan dengan kelurahan lainnya. terlihat bahwa cukup banyak keluarga yang memiliki jumlah pengeluaran dengan pemasukan yang tidak seimbang. rata-rata produksi kopi pertahun dapat mencapai lima kuintal sedangkan hasil panen coklat dapat mencapai empat kuintal. Pengeluaran Keadaan ekonomi suatu keluarga dapat dikatakan seimbang apabila jumlah pengeluaran sama besar dengan jumlah pendapatan yang dimiliki. yang dijual per periode. Tanaman hortiklutrura ini dipilih karena memiliki daur yang lebih pendek dibandingkan dengan tanaman perkebunan. dengan mayoritas pekerjaan sebagai petani. Dalam satu tahun tidak selalu tanaman perkebunan bisa menghasilkan. Untuk mendapatkan tambahan pendapatan. kadang warga juga bekerja pada lahan orang lain. Namun. berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada kelurahan amatan.Pada Kelurahan Batu Putuk. selain bekerja pada lahan sendiri.

9 45. seperti yang dilakukan oleh beberapa warga di kelurahan pesisir yang akan pergi melaut. bank keliling mengenakan bunga pinjaman yang cukup besar. sekaligus sebagai pedagang pengumpul di kelurahannya.1 15 52. pembayaran dapat dilakukan dengan cara mencicil.000 500. warga sekitar biasanya meminjam uang kepada Pak Jumaidi.001-2. 48 tahun.3 38. E. sehingga pinjamannya dapat segera dikembalikan segera setelah coklat warga mengering. Pinjaman tersebut biasanya dikembalikan setelah warga kembali dari melaut dan hasil tangkapan ikan telah terjual. Pak Jumaidi tidak membebankan bunga.000 1.2 38.7 5.5 3. Biasanya yang diberikan pinjaman adalah warga yang sudah memiliki hasil panen coklat. yang kemudian dijualnya ke penampung di kota.Tabel 2-15. adalah warga Batu Putu. Pengeluaran Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. namun karena kondisi ekonomi warga relatif hampir sama. Berbeda dengan pinjaman kepada tetangga yang tanpa bunga.5 30 2. namun dalam memberikan pinjaman.000.1 Umumnya warga melakukan pinjaman uang dari tetangga. Pak Jumaidi. aset dapat 35 . tetangga yang dapat memberikan pinjaman jumlahnya relatif terbatas.000.5 23. Jika sedang kepepet tidak punya uang. Alasan yang dikemukakan adalah karena kondisi yang terdesak serta terdapat beberapa kelebihan dari bank keliling dibandingkan dengan lembaga perbankan. dan umumnya para bank keliling tersebut yang aktif datang menghampiri warga. tidak perlu adanya agunan.000.001 12. Kelebihan tersebut antara lain: prosedur pinjaman relatif lebih cepat. dan akan dibayar dengan hasil coklatnya.9 35.1 33.5 8 28 44 20 8. Kepemilikan Tempat Tinggal dan Aset Informasi mengenai kepemilikan tempat tinggal dan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah.5 45 40 2.7 39.3 16.001-1. namun sedang di jemur. Selain itu pinjaman kepada bank keliling (rentenir) juga sering dilakukan oleh sebagian warga. Tetangga sekitar menjual coklat kepadanya. agen atau pada bank keliling (rentenir).000 > 2.000. Ia berprofesi sebagai petani coklat. Namun warga tetap melakukan pinjaman kepada bank keliling (rentenir) dibandingkan dengan pinjaman kepada lembaga perbankan. Sumber: FGD di Kelurahan Batu Putu. 2009 (dalam %) Pengeluaran (Rp) Panjan g Selatan Pasir Gintun g Kota Karang Batu Putu k Sukabum i Indah Kangkun g 0-500. Pinjaman yang berasal dari tetangga biasanya tidak dikenai bunga. yaitu mencapai 20 persen. beliau juga melihat kondisi calon peminjam. 2009 Alternatif lain dari warga untuk mendapatkan dana adalah melakukan pinjaman kepada agen atau warung.2 12.

Rumah dengan luas tanah dan luas bangunan seperti itu cukup untuk sebuah keluarga yang beranggotakan sebanyak 4-5 orang/keluarga. Berdasarkan informasi dari warga.36/174. 50.000. sedangkan di wilayah pesisir rata-ratanya 54.65 Rata-rata Luas Tanah (m2) 324.65 67. maka terlihat bahwa secara umum kesejahteraan warga di wilayah non pesisir lebih besar daripada warga di wilayah pesisir. yang ditujukan agar saat terjadi pasang laut. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Total Grand Total Rata-rata Luas Bangunan (m2) 58. Ketinggian pondasi rumah sengaja dibuat lebih dari satu meter. Rata-rata Luas Bangunan dan Luas Tanah Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. pemukiman masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan terlihat padat dan tidak teratur. maka warga di wilayah non pesisir yang memiliki kesejahteraan relatif tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Jika dilihat lagi. adalah masyarakat di wilayah Sukabumi Indah. Demikian juga pada Kelurahan Kota Karang.65 m2 untuk luas bangunan.60 94.73 61.33 60. air laut tidak masuk ke dalam rumah.36 44. Jika ukuran rumah dianggap mencerminkan pandangan umum tentang kesejahteraan warga.12 47. Hal ini disebabkan di wilayah ini. Biaya sewa per tahun adalah sebesar Rp. Namun adakalanya. yaitu haji Karya. dan karena berada di 36 .23 92.82 m2. warga tidak mampu membayar biaya sewa yang murah tersebut. karena tingkat ekonomi yang sulit. sewa atau bergabung dengan rumah saudara atau orang tua. dan 118. sebagian besar masyarakat bertempat tinggal di lokasi komplek perumahan. Pada lokasi tertentu.73/68.03 68. pada beberapa lokasi terlihat cukup banyak warga yang menempati rumah dengan lahan ‘di atas laut’.78 m2. Tabel 2-16.85 55. menurut haji Karya.91 Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa rata-rata kepemilikan rumah masyarakat adalah sebanyak 61.Kepemilikan bangunan dan lahan Secara umum tempat tinggal yang dihuni warga berstatus hak milik.91 m2 untuk luas tanah.66 97.02 115. Rata-rata luas bangunan/tanah di wilayah non pesisir adalah 69.23 54.63 69. lokasi rumah yang ditempati warga di RT 8 sampai dengan RT 14 sebagian besar adalah hasil sewa kepada tuan tanah di Kelurahan Kota Karang. Berdasarkan hasil FGD dan observasi di lapangan. banyak warga yang membangun rumahnya pada lahan ‘di atas laut’ dengan alasan keterbatasan lahan di darat. Dari rumah yang berstatus hak milik maka terlihat rata-rata luas bangunan dan tanah yang dimiliki masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung seperti terlihat pada Tabel 2-16.78 45.82 118.44 174.-.

terungkap bahwa mayoritas warga Kota Karang adalah suku Bugis.39 persen. Berdasarkan Tabel II-17. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Zabir. Terdapat kecenderungan dari tahun ke tahun. maka sebagian besar rumah yang hancur di wilayah beberapa wilayah seperti di Pangalengan (Kabupaten Bandung). Selain menjadi identitas budaya. memang merupakan rumah ciri khas suku Bugis dan Lampung. Pada wilayah tersebut banyak warga memiliki rumah terbuat dari kayu berbentuk rumah panggung. akan tetapi dari sisi ketahanan terhadap bencana gempa. maka wilayah pesisir. Terdapat kecenderungan. semakin sejahtera orang atau semakin tinggi tingkat pendapatan seseorang maka semakin besar peluang orang untuk membuat rumah yang lebih layak. 37 . Rumah panggung kayu. maka tidak demikian halnya untuk saat ini. Menurut bapak Zabir. Sedangkan di wilayah pesisir jumlahnya relatif sedikit yaitu 50. Walaupun secara umum. Belajar dari kasus bencana gempa di Jawa Barat pada tanggal 2 September 2009. Jika dihubungkan dengan bencana. rumah panggung juga merupakan bentuk rumah yang dianggap paling sesuai dengan kondisi wilayah Kelurahan Kota Karang yang pada umumnya berawa. terbuat dari dinding tembok semen. sementara itu rumah yang dindingnya terbuat dari kayu atau bambu relatif lebih kuat terhadap gempa. salah satu bagian rumah yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bagian dinding rumah. 63 tahun. bila dahulu jenis rumah dengan dinding kayu bisa menggambarkan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. maka rumah dinding kayu/bambu relatif lebih kuat. Terlihat bahwa di wilayah non pesisir jumlah rumah yang dindingnya terbuat dari tembok semen sebanyak 77. sesepuh masyarakat di Kelurahan Kota Karang. Sehingga seringkali perbedaan ini dijadikan sebagai kriteria dalam menentukan tingkat kesejahteraan satu rumah tangga. Fakta ini mencerminkan bahwa baik disengaja maupun tidak disengaja masyarakat di pesisir sebagian besar sudah menyesuaikan keadaan rumahnya dengan kondisi alam sekitarnya. sehingga sebagian besar mereka membangunnya dengan dinding yang terbuat dari kayu/bambu. Cikelet (Kab Garut) Cibinong (Kab Cianjur). bahwa rumah yang layak adalah rumah yang terbuat dari dinding tembok semen. biaya untuk membuat dinding tembok semen relatif lebih mahal daripada biaya untuk membuat rumah dari dinding kayu/bambu.perkotaan tanah di lokasi ini memiliki harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan nilai tanah di wilayah lainnya. terlihat bahwa wilayah non pesisir dibandingkan dengan wilayah pesisir memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif tinggi dilihat dari keragaan luas bangunan dan tanahnya relatif luas dan rumahnya yang sebagian besar terbuat dari dinding. akan tetapi dari segi ketahanan terhadap bencana gempa. Mahalnya harga kayu menyebabkan biaya pembuatan rumah kayu hampir setara dengan membuat rumah permanen dari tembok semen.39 persen. relatif lebih memiliki ketahanan dibandingan dengan wilayah non pesisir. Mereka mengetahui bahwa gempa relatif sering terjadi di wilayah pesisir. Dengan memahami konteks ini. Dengan demikian pada saat ini pengelompokan keluarga sejahtera / kurang sejahtera tidak dapat hanya dengan berdasarkan kepemilikan jenis dinding rumah saja.

26 26. Berdasarkan tabel tersebut.32 19. terlihat secara umum peralatan keluarga yang banyak dimiliki oleh masyarakat adalah TV. Berikut ini disampaikan Tabel II-18.43 26. Untuk ketiga jenis benda tersebut.09 77.00 29. Keberadaan TV di non pesisir lebih banyak daripada di pesisir. pendapatan yang diperoleh masing-masing keluarga dialokasikan juga untuk keperluan belanja investasi keperluan sehari-hari seperti kendaraan. Di wilayah non pesisir. bahkan terdapat beberapa rumah tangga masyarakat yang memiliki lebih dari satu TV.96 100. HP dan kompor gas. Tembok Semen 20.Tabel 2-17.78 38. peralatan elektronik dan lain sebagainya.52 28. yang berisikan mengenai kepemilikan aset keluarga berupa aset rumah tangga. terutama dalam rangka penanggulangan bencana.83 0. Dengan demikian keberadaan TV seharusnya dapat dijadikan sebagai sarana yang efektif untuk menyebarluaskan informasi mengenai bencana.39 Kayu/Bambu 13. Jenis Dinding Rumah Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Wilayah / Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Kepemilikan Aset Selain untuk rumah. walaupun tidak semua memiliki TV.87 22.61 Grand Total 34.13 42. Sedangkan di wilayah lainnya.60 49.91 7.87 30.61 17.75 50. khususnya masyarakat di Sukabumi Indah semuanya sudah memiliki TV.39 11.35 100. dapat dikatakan bahwa hampir semua masyarakat di Lampung memilikinya.00 38 .81 22.69 12.83 15. telekomunikasi dan kendaraan. tapi sebagian besar masyarakat sudah memilikinya.

Tabel 2-18. Indeks Kepemilikan Aset Rumah Tangga Masyarakat Pada Kelurahan Amatan di Lampung Tahun 2009 (dalam %)
Wilayah/ Kelurahan Total Res (N) Peralatan Rumah Tangga TV Mesin Cuci Kul kas Kompor Gas AC Kipas Angin Pom pa Air 0 7 14 21 5 33 9 47 68 Komunikas i Tele HP pon Kendaraan Sepeda Motor Mobil

Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total

40 50 31 121 39 56 40 135 256

33 46 40 119 26 52 33 111 230

0 1 12 13 1 1 0 2 15

1 10 23 34 0 8 3 11 45

21 56 34 111 41 57 40 138 249

0 0 6 6 0 0 0 0 6

5 23 33 61 12 32 20 64 125

2 3 7 12 0 1 1 2 14

20 44 71 135 22 36 12 70 205

3 13 17 33 8 20 20 48 81

27 21 35 83 6 19 2 27 110

1 0 12 13 0 1 0 1 14

Diantara alat komunikasi, kepemilikan telepon ternyata jauh lebih rendah dibandingkan dengan kepemilikan handphone. Dengan dukungan infrastruktur dan banyaknya persaingan di industri telekomunikasi seluler, mengakibatkan handphone merupakan alat komunikasi yang relatif mudah dan murah bagi masyarakat. Walaupun tidak semua masyarakat memilikinya, dapat dikatakan lebih dari 80 persen masyarakat di tiap wilayah telah memiliki alat komunikasi handphone. Bahkan secara khusus di wilayah Sukabumi Indah, rata-rata tiap rumah tangga memiliki HP lebih dari 2. Melalui Hp ini komunikasi antar masyarakat menjadi lebih mudah. Jika terdapat bencana di suatu wilayah, masyarakat di wilayah lainnya relatif dengan mudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan keluargannya yang terkena bencana. Peralatan lainnya yang dimiliki masyarakat adalah kompor gas. Dengan adanya program kompensasi minyak tanah ke gas, kompor gas menjadi peralatan yang penting dimiliki oleh warga. Akan tetapi bagi mereka yang tidak mengandalkan bahan bakarnya pada gas dan minyak tanah, maka peralatan masaknya terbuat dari tungku dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Hal ini terjadi di Kelurahan Batu Putu. Jenis kendaraan yang paling banyak adalah motor, penggunaan motor lebih banyak di non pesisir dibandingkan dengan pesisir, hal ini disebabkan motor merupakan sarana transportasi antar daerah yang realtif murah. Terlebih bagi daerah yang tidak setiap saat dilalui oleh kendaraan umum. F. Akses Pada Lembaga Pembiayaan Pada dasarnya masyarakat kurang mampu atau golongan ekonomi lemah, lebih memerlukan perlindungan keuangan maupun asetnya, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang dari setiap musibah yang terjadi. Namun, karena keterbatasan kemampuan ekonomi; mereka kesulitan mendapatkan akses ke lembaga keuangan seperti perbankan maupun asuransi. Akses masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung terhadap lembaga perbankan relatif besar, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2-19, secara umum akses terhadap perbankan lebih besar daripada asuransi.
39

Tabel 2-19. Akses Masyarakat Terhadap Perbankan dan Asuransi Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009 (dalam %)
Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Non Pesisir Pesisir Grand Total Akses Terhadap Perbankan 12,50 60,00 48,39 71,79 51,79 82,50 41,32 66,67 54,69 Akses Terhadap Asuransi 2,50 20,00 25,81 25,64 8,93 32,50 15,70 20,74 18,36

Terdapat hubungan antara akses terhadap perbankan dengan akses terhadap asuransi. Walaupun persentase akses terhadap asuransi relatif kecil, akan tetapi nilai tersebut relatif besar terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki akses tinggi terhadap perbankan. Makin tinggi akses terhadap perbankan, makin tinggi juga akses terhadap asuransi. Tabel 2-20.memperlihatkan besaran rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk cicilan, tabungan dan asuransi. Tabel 2-20. Rata-rata Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Cicilan, Tabungan dan Asuransi ada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009 (Rupiah/bulan)
Jumlah Res (N) 121 40 50 31 135 39 56 40 256 Rata-Rata Pengeluaran Rumah Tangga Perbulan Untuk Cicilan, Tabungan dan Asuransi Cicilan Kredit %N Tabungan %N Asuransi %N 428.128,97 156.800,00 350.611,11 721.601,19 287.191,49 366.687,50 263.125,00 188.000,00 353.701,31 34,71% 25,00% 36,00% 45,16% 34,81% 41,03% 42,86% 17,50% 34,77% 250.625,00 32.666,67 372.750,00 186.000,00 176.190,48 150.000,00 194.166,67 156.666,67 208.378,38 13,22% 7,50% 16,00% 16,13% 15,56% 15,38% 21,43% 7,50% 14,45% 217.000,00 4,13%

Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Grand Total

200.000,00 221.250,00 136.500,00

2,00% 12,90% 4,44%

245.000,00 82.250,00 173.090,91

3,57% 10,00% 4,30%

Mekanisme pembayaran kredit dan tabungan biasanya menggunakan lembaga perbankan. Jumlah yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk cicilan sebesar Rp 353.701,33/bulan, sedangkan untuk tabungan rata-rata sebesar Rp 208.378,38/bulan, dan untuk asuransi sebesar Rp 173.090,91/bulan.

40

BAB 3 KONDISI IKLIM HISTORIS DI BANDAR LAMPUNG

3.1.

Kondisi Iklim dan Cuaca Ekstrim

3.1.1. Pengaruh ENSO dan IOD terhadap variabilitas curah hujan di Bandar Lampung Tabel 3-1. Koefisien korelasi antara curah hujan musiman di Bandar Lampung dengan DMI dan dengan anomali SST Nino 3.4

Karena kejadian iklim ekstrim di Indonesia sangat terkait dengan fenomena iklim berskala besar seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) (misalnya Boer & Faqih 2004; Faqih 2004; Haylock & McBride 2001; Hendon 2003 ; Kirono et al. 1999; Saji et al. 1999), studi ini menganalisis dampaknya terhadap variabilitas curah hujan di Bandar Lampung. Hubungan dari kedua fenomena tersebut dengan curah hujan musiman diperlihatkan pada Tabel 31. Tabel tersebut menunjukkan bahwa korelasi indeks ENSO (anomali suhu permukaan laut (SPL) Nino-3.4) dan indeks IOD (Dipole Mode Index, DMI) masingmasing dengan curah hujan nampak signifikan selama musim kemarau (JJA) dan musim transisi (SON). Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya musim kering yang berkepanjangan dan penundaan awal musim hujan khususnya selama terjadinya episode ENSO hangat (El Nino). Dampak ini akan semakin diperkuat jika disertai dengan kejadian IOD positif. Studi ini menunjukkan bahwa curah hujan di kedua musim (JJA dan SON) lebih dipengaruhi oleh keragaman IOD dibandingkan ENSO. Ini ditunjukkan dari nilai koefisien korelasi yang lebih besar antara curah hujan dengan DMI dibandingkan dengan indeks Nino-3.4. Pengaruh IOD yang lebih kuat terhadap keragaman curah hujan di Lampung dikarenakan letak geografisnya yang berada di Pulau Sumatra. Beberapa studi telah menunjukkan relatif lebih lemahnya pengaruh ENSO terhadap curah hujan di Sumatera. Penyebabnya ialah dominasi pengaruh lokal akibat kondisi pegunungan di sepanjang sisi barat Sumatra, dan juga adanya sirkulasi aliran udara lintas khatulistiwa yang mempengaruhi keragaman curah hujan, yang berbeda dari sirkulasi yang terkait dengan ENSO (Chang et al . 2004). Selain itu, beberapa studi menemukan adanya pengaruh kuat IOD terhadap keragaman curah hujan di barat Indonesia termasuk Sumatera (misal: Saji et al. 1999). Walaupun korelasi antara curah hujan dan indeks ENSO lebih rendah dari IOD, untuk kondisi tertentu dampak ENSO akan cukup signifikan di Lampung. Sebagai contoh dapat dilihat pada tahun 1996, di mana peristiwa La Nina menyebabkan peningkatan curah hujan yang sangat signifikan, sehingga meningkatkan peluang terjadinya bencana banjir. Di sisi lain, El Nino yang terjadi pada periode tahun 1982-83, 91-92 dan 97-98 berkontribusi terhadap penurunan curah hujan yang menyebabkan tingginya peluang bencana kekeringan.
41

1. 3. kondisi cuaca ekstrim juga dapat menyebabkan masalah di daerah yang terkena dampak. 42 . Berdasarkan catatan data harian kecepatan angin di stasiun periode 1 Januari 1994 sampai 31 Desember 1999. yaitu di Teluk Betung. kami hanya dapat menampilkan hasil pengamatan cuaca harian di satu stasiun. Tentu saja. Angin ekstrim Selain dampak keragaman iklim yang menyebabkan kejadian iklim ekstrim. Karena keterbatasan data. Plot time series curah musiman di Bandar Lampung.2. kami tidak menemukan adanya kejadian angin ekstrim yang melebihi ambang batas 60 km/jam. Lampung (periode 1 Januari 1994 . karena kejadian angin yang tercatat di suatu stasiun cenderung bersifat lokal dan mungkin berbeda secara sangat signifikan dengan stasiun pengamatan yang lain. Kecepatan angin harian di stasiun pengamatan Teluk Betung. ini tidak cukup untuk menggambarkan kondisi secara keseluruhan wilayah Bandar Lampung. Gambar 3-2.2000 Sesaonal Rainfall (mm) Lampung 1600 1200 800 400 0 Mar-01 Mar-07 Mar-13 Mar-19 Mar-25 Mar-31 Mar-37 Mar-43 Mar-49 Mar-55 Mar-61 Mar-67 Mar-73 Mar-79 Mar-85 Mar-91 Mar-97 Seasonal Time Gambar 3-1.31 Desember 1999). Pada bagian ini kami mencoba mengidentifikasi kondisi cuaca ekstrim yang disebabkan oleh kecepatan angin ekstrim di Bandar Lampung.

2.1. Oleh karena itu. Pola spasial tren curah hujan musiman di Bandar Lampung. Meskipun demikian.5 derajat yang meliputi wilayah daratan global selama periode 1901-2002.95°LS (Gambar 3-4). digunakan pula data curah hujan global CRU TS2. terutama dalam tataran lokal. 3. Data CRU TS2.25°BT-110. Analisis tren perubahan iklim di kota Bandar Lampung Tren curah hujan Hasil studi menunjukkan bahwa secara global curah hujan di wilayah tropis mengalami tren penurunan khususnya pasca tahun 1970-an (IPCC 2007). dengan menggunakan data yang relatif jauh lebih panjang akan membantu untuk melihat sejauh mana konsistensi tren yang dihasilkan antar data. tren tersebut bervariasi antar wilayah.2. nilai curah hujan Bandar Lampung diekstrak dari data tersebut pada kisaran wilayah 110.3.12°LS-6. Penggunaan dua jenis data ini dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa pemilihan rentang data yang berbeda akan mempengaruhi hasil tren dan hasil uji statistik yang kemungkinan besar juga akan berbeda.5x0.0 (Mithcell dan Jones 2005) untuk mempelajari tren dengan rentang waktu yang lebih panjang. Gambar tersebut menunjukkan bahwa curah hujan 43 . Selain menggunaan data hasil pengamatan. apalagi jika ingin dikaitkan dengan dampak perubahan iklim.51°BT dan 7. Pola tren spasial curah hujan musiman berdasarkan data hasil pengamatan diperlihatkan pada Gambar 3-3. Gambar 3-3. Untuk analisa data curah hujan di Bandar Lampung.0 memiliki resolusi grid 0. Pada bagian ini kami mempelajari tren spasial curah hujan di Bandar Lampung sebagaimana ditunjukkan pada Gambar III-3.

lebih dapat diandalkan untuk menganalisa dampak dari perubahan iklim jangka panjang. Akan tetapi. Hasil ini mengindikasikan bahwa ada kecenderungan terjadinya peningkatan curah hujan dari waktu ke waktu selama musim penghujan (DJF) yang berlanjut di periode transisi MAM. Folland et al. terindikasi bahwa penurunan curah hujan yang terjadi pada SON tidak didukung oleh penurunan frekuensi hari hujan pada musim yang sama. akan tetapi lebih disebabkan adanya pengaruh osilasi keragaman iklim frekuensi rendah terutama yang terjadi di wilayah Samudera Pasifik. terdapat kecenderungan perlahan kondisi yang semakin kering yang di musim kemarau yang sedikit mempengaruhi juga penurunan curah hujan di musim berikutnya (SON). Namun harus diperhatikan bahwa.musiman di kota ini mengalami kecenderungan menurun di semua musim. Sebaliknya. Tren penurunan yang relatif lebih tajam ditunjukkan pada musim MAM dan JJA. 1997). tren curah hujan selama JJA dan SON menunjukkan tren menurun yang relatif lambat selama abad 20. Sedangkan ketika terjadi musim kemarau. Mantua et al. 44 . Hal ini menunjukkan telah terjadinya banyak hari hujan namun dengan intensitas yang relatif semakin menurun. terlihat adanya peningkatan tren curah hujan yang cukup tajam selama puncak musim hujan (DJF) dan tren peningkatan yang relative lebih lambat selama periode transisi ke musim kemarau (MAM). termasuk di Bandar Lampung. Pada Gambar 3-4. Mantua & Hare 2002. Kemungkinan besar komponen keragaman curah hujan frekuensi rendah tersebut disebabkan oleh pengendali iklim antar-dekadal yang dikenal dengan Interdecadal Pacific Oscillation (IPO. Fenomena ini jugaberhubungan dengan meningkatkan frekuensi kejadian ENSO yang mengakibatkan berkurangnya curah hujan di Indonesia. Studi ini menunjukkan bahwa tren yang diperoleh dengan menggunakan data CRU TS2. jika mengacu pada Gambar III-5. Tren penurunan pada akhir abad ke-20 (pasca 1970-an) yang cukup signifikan terjadi pada musim kering (MAM dan JJA) tersebut menandakan terjadinya kenaikan peluang kekeringan di Bandar Lampung pada masa tersebut. tren CH yang menurun selama periode yang relatif singkat ini kemungkinan besar bukan disebabkan sebagai akibat dari perubahan iklim.0 yang meiliki rentang data relative lebih panjang. sementara di musim lainnya (SON dan DJF) cenderung menurun lebih lambat. 1999) atau Pacific inter-Decadal Oscillation (PDO. Keragaman curah hujan frekuensi rendah yang berperan dalam menentukan tren menurun pada data pengamatan tersebut setelah periode tahun 1970-an dapat dilihat dari plot data pada Gambar III-6.

0.0.34E. 45 .51S5.51S5. 5.15E-105.15E-105.34E.Gambar 3-4.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. Tren frekuensi hari hujan musiman di Bandar Lampung (105.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. Tren curah hujan musiman di kota Bandar Lampung (105. 5. Gambar 3-5.

0 untuk Bandar Lampung memperlihatkan tren menaik yang signifikan di setiap musim (Gambar 37). khususnya di kota Bandar Lampung.Gambar 3-6. Tren tersebut juga diikuti oleh peningkatan suhu maksimum harian (Gambar 3-8). pada Gambar 3-9 terlihat adanya penurunan yang signifikan pada data kisaran suhu harian. baik itu terkait dengan sektor pertanian. kesehatan maupun sektor lainnya. Hal ini mengindikasikan terjadinya penurunan nilai selisih antara suhu maksimum dan suhu minimum harian. 3. Selain itu. Komponen frekuensi rendah dari curah hujan musiman di Bandar Lampung didefinisikan oleh nilai 13-tahun rataan bergerak sederhana (simple moving average). Tentunya hal ini akan sangat berpengaruh pada berbagai sektor. 46 . yang berarti bahwa telah terjadi peningkatan suhu minimum dengan tren menaik yang lebih besar dibandingkan dengan ten suhu maksimu harian.2. hal ini juga menunjukkan bahwa secara umum terjadi peningkatan suhu harian yang semakin tinggi dari waktu ke waktu.2 Tren Suhu Data suhu rata-rata yang diperoleh dari data CRU TS2. Namun demikian.

5.51S-5. Trend musiman suhu maksimum harian di Bandar Lampung (105. 47 .0. Trend musiman suhu rata-rata di Bandar Lampung (105.15E-105. Gambar 3-8.34E.Gambar 3-7.34E. 5.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.34S) diekstraksi dari data CRU TS2.15E-105.0.51S-5.

t . (xiii) ukmo_hadcm3. Masutomi. tahun-t dan bulan-b (rRegCM3 (i. (vii) inmcm3_0. 2051-2060. b) m Re gCM 3(i. t . Karena adanya kesalahan sistematis yang dihasilkan oleh model tersebut. Data luaran GCM tersebut diperoleh dari NIES (National Institute for Environmental Studies. t. (xii) mri_cgcm2_3_2a. b) = CRU (i. t . 5. dengan variabel iklim yang tersedia yaitu curah hujan dan suhu dengan periode 2021 -2030.34S) diekstraksi dari data CRU TS2. Model RegCM3 digunakan untuk menghasilkan data historis curah hujan beresolusi tinggi untuk periode tahun 1958-2001. sedangkan mRegCM3(i. b) CRU(i.3. (vi) giss_model_e_r. (iv) gfdl_cm2_0.34E. Tren musiman kisaran suhu harian (daily temperature range. maka diperlukan koreksi data berdasarkan faktor rescaling sehingga sesuai dengan data obserasi (data CRU). t . Proyeksi Perubahan Iklim Proyeksi iklim masa depan ditentukan berdasarkan data historis hasil pemodelan menggunakan RegCM3 dan juga data proyeksi luaran 14 GCMs. (iii) cnrm_cm3.51S-5. t. t. yang terdiri dari: (i) bccr_bcm2_0. (ix) miroc3_2_medres. b) merupakan 48 . b) Dimana R(i.0. b)) dinyatakan berdasarkan persamaan berikut : r Re gCM 3(i. dan 2081-2085. (v) gfdl_cm2_1. DTR) di Bandar Lampung (105. t . (viii) ipsl_cm4. b) = Re gCM 3(i. ( x) miub_echo_g. t.15E-105. Data RegCM3 yang di-rescaling untuk grid-i. (xi) mpi_echam5. dan (xiv) ukmo_hadgem1. b) * R(i.Gambar 3-9. t . b) merupakan faktor skala yang dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini : R(i . (ii) cccma_cgcm3_1. 2009) dan memiliki resolusi horizontal sebesar 1x1 derajat. 3. b) adalah data observasi stasiun-i yang terdekat dengan empat grid dari data RegCM3 pada tahun-t dan bulan-b.

b) adalah iklim di masa mendatang dari luaran GCM di bawah skenario-s. SRESB1 menggambarkan sebuah dunia yang konvergen dengan populasi global yang sama pada puncak pertengahan abad dan menurun setelah itu. maka secara keseluruhan terdapat 140 data curah hujan untuk setiap periode waktu. m. tidak akan berubah secara signifikan (Tabel 3. i. model-m. Berdasarkan dua skenario dijelaskan di atas. m. Oleh karena itu. b)   pF ( s. model-m. t. SRESA2 menggambarkan sebuah dunia yang sangat heterogen. sementara SRESA2 sebagai skenario acuan. i. i. perubahan yang cepat dalam struktur ekonomi ke arah layanan dan informasi ekonomi. b)}t =1958 Sehingga kondisi iklim di masa depan berdasarkan luaran GCM yang berbeda dapat diduga dengan menggunakan rumus berikut:  F ( s. i. Jadi SRESB1 didefinisikan sebagai skenario kebijakan. m. konsentrasi CO2 di atmosfer pada skenario emisi referensi akan lebih dari dua kali lipat. grid-i. SRESA2 akan menyebabkan emisi gas rumah kaca lebih tinggi di masa depan sementara SRESB1 mengarah ke emisi GHG lebih rendah di masa depan. t. t . i. 49 . m. b )   pF(s. yang menyebabkan terus meningkatnya populasi global. sementara di bawah skenario kebijakan emisi hanya 1. m. dalam 100 tahun ke depan. b) *  1 +  B ( s . Konsentrasi SO2. dengan pengurangan intensitas material. b)) dihitung dari nilai rataan rRegCM3(I. Pembangunan ekonomi terutama berorientasi regional dan pertumbuhan ekonomi per kapita dan perubahan teknologi lebih terfragmentasi dan lambat. Dengan karakteristik ini. t . model-m. b). i. 2000). b) pada periode 1958-2001: 2001 r Re gCM 3(i. m.2).3). b) = mean{r Re gCM 3(t . i. Demikian pula untuk gas lainnya (CH4 dan N2O. i .b) merupakan curah hujan proyeksi dengan skenario emisi-s. Tabel 3. m. F(s. dan pengenalan teknologi bersih dan sumber daya yang efisien (IPCC. yang merupakan alat hitung efek gas rumah kaca.nilai rataan curah hujan dari empat grid RegCM3 tersebut. b) − B( s. grid-i.5 kali kondisi saat ini. Tema yang mendasari adalah kemandirian dan mempertahankan identitas lokal. Kedua skenario ini dipilih karena keduanya mencerminkan pemahaman dan pengetahuan tentang ketidakpastian yang mendasari dalam emisi. Skenario emisi yang dipilih untuk studi ini adalah SRESA2 dan SRESB1. Fertilitas pola di daerah konvergen sangat lambat. grid i. Karena terdapat 14 GCMS dan setiap GCM memiliki dua set iklim di masa mendatang (t1 = 2021-2030 dan t2 = 2051-2060). b) = r Re gCM 3(i. Kondisi iklim saat ini (baseline) dari luaran GCM pada skenario-s. tahun-t dan bulan-b. dan bulan-b dinyatakan dengan B(s. t. Data kondisi iklim saat ini (baseline) di grid-i untuk bulan-n (rRegCM3 (i. ditentukan peluang curah hujan untuk masa mendatang berdasarkan pola distribusi untuk masing-masing periode tersebut. tahun-t dan bulan-b.

0 2 0-4.9 Temperature: SRESA2: Nilai dugaan terbaik : Kisaran SRESB1: Nilai dugaan terbaik : Kisaran Sea Level: SRESA2: Nilai dugaan terbaik : Kisaran SRESB1: Nilai dugaan terbaik : Kisaran 0.0-22 9. sedangkan permukaan laut meningkat sekitar 0.25 0. Konsentrasi Gas (ppmv) 2000 370 2025 440 2050 535 2100 825 CO2: SRESA2: nilai dugaan terbaik : kisaran SRESB1:nilai dugaan terbaik :kisaran CH4: SRESA2: nilai dugaan terbaik :kisaran SRESB1: nilai dugaan terbaik :kisaran N2O: SRESA2: nilai dugaan terbaik SRESB1: nilai dugaan terbaik 370 370 370 1600 430-450 420 410-430 2250 515-555 460 450-470 2850 760-890 550 510-590 4300 1600 1600 1600 316 2200-2300 2050 2000-2100 344 2700-3000 2250 2150-2350 375 3800-4800 2200 2100-2300 452 316 340 360 395 Pada kondisi peningkatan gas rumah kaca.4).2.15-0.6 1.5-0.1 1.0-41 21 9.Tabel 3.0-42 25-112 48 18-85 Dalam studi ini dilakukan pendugaan peluang risiko iklim kota Bandar Lampung terkait dengan curah hujan ekstrim pada kondisi iklim saat ini dan masa depan. Tabel 3. Catatan sejarah menunjukkan bahwa selama 100 tahun terakhir permukaan laut global telah meningkat antara 0.7-1.0-4.7 60 0-4. mengacu pada tahun 1990 2000 0.0 4.9 1.25 2 0.10-0.5 2050 1.15-0.7 0. Curah hujan ekstrim didefinisikan sebagai curah hujan dengan intensitas 50 .8-1.25 cm per tahun (Warrick et al.6 cm per tahun (Tabel 2.3-0..9 10 0. diperkirakan bahwa suhu global akan meningkat secara konsisten sekitar 0.3: Suhu (oC) dan Sea Level Rise (cm).027 0C per tahun.1 0.2-2.2 2100 2.7 0.2 2025 0.2 0.0-20 10 4.6 21 2. 1996).

peluang terjadinya kekeringan yang ditandai dengan nilai curah hujan kurang dari Q3 menunjukkan adanya penurunan terutama di daerah bagian dalam dari Bandar Lampung yang relatif lebih jauh dari wilayah pesisir. kondisi intensitas hujan yang kurang dari ambang batas kritis akan sangat mungkin menyebabkan kekeringan.melebihi ambang batas kritis. khususnya di daerah pesisir pantai di Bandar Lampung. Gambar 3. bahaya banjir akan sangat mungkin terjadi jika intensitas curah hujannya melebihi ambang batas kritis. Dalam penentuannya. Analisis lebih lanjut berdasarkan metodologi yang lebih disempurnakan mungkin diperlukan untuk menduga kondisi perubahan iklim masa depan di wilayah kota Bandar Lampung. Sedangkan untuk musim kering (JJA). Untuk musim penghujan (DJF). 51 .10 menunjukkan bahwa di masa mendatang akan terjadi peningkatan peluang terjadinya curah hujan terlampaui melebihi Q3 pada musim basah (DJF). sedikit penurunan peluang resiko kekeringan di masa mendatang juga nampak terjadi di wilayah pesisir. Namun demikian. Metodologi untuk menentukan batas kritis dijelaskan dalam Bab 6. curah hujan ekstrim dibandingkan dengan data bahaya iklim (banjir dan kekeringan). Hal ini bisa didukung dengan pemanfaatan teknik-teknik downscaling (statistik maupun dinamik) dengan predictive skill yang jauh lebih baik khusus untuk wilayah ini. Sedangkan pada musim kemarau.

30 -5.30 -5.48 0.2 105.40 -5.00 105.80 0.80 -5.30 -5.4 0.50 -5.15 105.2 105.25 105.34 JJA-Q3 1.48 -5.52 -5.40 -5.32 B1 2050 JJA-Q3 1.00 105.25 105.35 Base Line -5.25 105.46 0.36 0.35 0.10 -5.46 0.60 -5.00 105.2 105.48 0.36 0.42 0.00 105.44 0.90 0.90 -5.2 105.5 0.70 -5.25 105.3 105.15 105.25 105.70 -5.48 0.32 A2 2050 JJA-Q3 1.60 -5.90 -5.90 -5.30 -5.10 -5.20 -5.3 105.00 0.70 -5.34 JJA-Q3 0.30 0.48 0.25 105.50 -5.44 -5.00 -5.42 -5.40 -5.5 0.80 -5.40 -5.30 -5.4 0.15 105.36 -5.42 0.32 1.10 -5.34 1.40 -5.50 0.46 0.80 -5.2 105.48 0.10 -5.5 0.-5.10 -5.90 -5.34 DJF-Q3 1.52 0.60 -5.35 0.36 0.60 -5.00 105.20 -5.2 105.20 -5.48 -5.40 -5.42 0.30 0.40 -5.38 DJF-Q3 1.38 0.90 -5.40 -5.2 105.60 -5.38 0.25 105.48 0.00 105.25 105.15 105.44 0.15 105.00 105.10 -5.48 0.52 0.80 -5.46 0.35 0.44 -5.15 105.00 105.00 -5.5 -5.48 0.32 -5.44 0.25 105.00 -5.46 0.46 0.38 0.38 0.44 0.38 -5.10 -5.36 0.90 -5.70 -5.15 0.15 105.50 -5.80 -5.32 -5.4 0.80 -5.46 0.00 -5.40 -5.48 0.50 -5.3 105.35 0.42 0.5 0.00 105.3 105.42 0.46 0.52 0.32 -5.50 -5.34 -5.35 105.60 -5.30 -5.36 0.5 0.70 -5.38 0.30 -5.50 -5.42 0.2 105.30 -5.4 0.46 0.10 -5.32 A2 2025 -5.44 0.80 -5.44 0.5 0.60 -5.36 0.60 0.38 0.52 0.34 1.50 -5.25 105.40 -5.46 0.38 0.15 Base Line -5.00 105.3 105.00 105.60 -5.52 0.3 105.15 105.4 0.00 0.32 A2 2025 -5.50 0.3 105.46 0.90 0.35 Base Line B1 2025 B1 2050 Figure 3-10 Peluang Curah Hujan Lebih dari Q3 pada Musim Hujan (DJF) dan kurang dari Q3 pada Musim Kemarau (JJA) dengan Dua Skenario Emisi 52 .34 DJF-Q3 -5.20 -5.3 105.70 -5.20 -5.48 0.5 0.00 105.2 105.52 0.00 -5.00 -5.52 0.30 -5.34 DJF-Q3 0.40 -5.2 105.3 105.00 -5.90 0.35 105.38 0.32 B1 2025 -5.52 0.52 0.90 -5.90 -5.70 -5.50 -5.4 0.35 Base Line -5.10 -5.60 -5.15 105.44 0.44 0.20 -5.44 0.42 0.36 -5.70 -5.34 JJA-Q3 0.42 0.42 0.35 0.2 105.4 0.20 -5.52 0.35 0.20 -5.38 DJF-Q3 0.46 0.00 -5.4 0.3 105.80 -5.52 0.70 -5.30 -5.3 105.32 DJF-Q3 -5.50 -5.10 0.42 0.70 0.5 0.80 -5.70 -5.00 -5.25 105.32 1.5 0.20 -5.32 A2 2050 -5.20 -5.15 105.60 -5.36 0.34 JJA-Q3 1.60 -5.42 0.90 0.20 -5.10 -5.2 105.70 -5.20 0.36 0.4 0.5 0.80 -5.50 -5.38 0.35 0.5 0.25 105.4 0.34 -5.80 -5.44 0.00 -5.3 105.40 -5.36 1.4 -5.36 1.4 0.34 -5.10 -5.

Kota Bandar Lampung sebagai salah satu kota yang berada diantara pesisir Teluk Lampung dan Kaki Gunung Betung merupakan salah satu kawasan yang rawan terjadi bencana di Provinsi Lampung. kekeringan.Dampak Biofisik Kota Bandar Lampung termasuk beriklim tropis basah yang mendapat pengaruh dari angin musim (Monsoon Asia) . dan angin topan. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan tersebut. tanah. kebakaran hutan dan lahan. dan rawan kekeringan. wabah penyakit dan KLB. Secara musiman. telah diidentifikasi 42 lokasi banjir di Kota Bandar Lampung. tanah longsor.454 mm/tahun dan hari hujan 76-166 hari/tahun.95 mm/ hari. dengan jumlah curah hujan 2. suhu minimum 25. 2008” (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung. curah hujan yang tinggi pada musim hujan dapat menimbulkan bencana banjir. dan banjir lokal yang terkait dengan berbagai hal antara karena topografi rendah. letusan gunung berapi. letak geografis. banjir pantai. 2009). dan lainnya (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung.A. erosi dan longsor. Dari berbagai bencana tersebut. rawan gempa bumi. dengan periodisitas antara 3-6 tahun. Variabilas unsur iklim dapat terjadi terkait dengan fenomena ENSO/El Nino/La Nina.3 % dan minimum 72. Curah hujan bervariasi dari 67. rawan tsunami. sebagai misal. dan kekeringan) serta (2) bencana yang diakibatkan ulah manusia/man-made disaster (seperti kegagalan teknologi. 53 . rawan gelombang pasang. 2009). keberagamanan etnis. serta bencana lainnya seperti abrasi. kondisi hidrologi. erosi dan sedimentasi.BAB 4 DAMPAK KEJADIAN IKLIM EKSTRIM 4. yang dapat dikategorikan sebagai kejadian iklim ekstrem. gempa bumi. dan periode kering yang panjang pada musim kemarau dapat menimbulkan bencana kekeringan Dalam Laporan “Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung T.57oC. Kawasan rawan bencana di Kota Bandar Lampung dipengaruhi oleh struktur bebatuan. Suhu udara maksimum rata – rata 30. yang dapat dikategorikan sebagai dampak terkait kejadian iklim ekstrim adalah banjir.3 %. Jenis kerawanan yang telah diidentifikasi oleh Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung (2009) adalah rawan banjir.2 mm pada bulan September s/d 277.34 km/ jam dan rata evaporasi 3. Tabulasi lokasi kejadian/rawan bencana yang telah dilaporkan secara rinci diperlihatkan pada Tabel 4-1. kepadatan bangunan dan permukiman. Banjir tersebut disebabkan oleh banjir akibat sungai. Bencana tersebut dibedakan menjadi kelompok utama yaitu: (1) bencana alam/natural disaster (seperti banjir. Curah hujan yang tinggi ( > 100 mm/ bulan ) terjadi selama tujuh bulan mulai bulan November s/ d bulan Mei dan musim kemarau (CH < 100 mm/ bulan ) terjadi selama lima bulan mulai bulan Juni s/d bulan Oktober (Bappeda Pemerintah Kota Bandar Lampung. epidemik. tsunami.1.8 mm pada bulan Januari. kerusuhan sosial). kondisi bentang alam. kelembaban relat if maksimum rata – rata 89. banjir bandang. angina topan. penyempitan dan pendangkalan saluran serta kapasitas drainase saluran yang rendah.34 oC. kecepatan angin rata – rata adalah 2. 2009) telah dikaji tentang potensi bencana yang ada di Kota Bandar Lampung. gerkan tanah. arus balik pasang pada saat debit aliran besar.257 – 2.

Durianpayung Tanjungkarang Timur Campang Raya. Gulak Galik. Sumur Putri. Way Gubak. Olok Gading Panjang Karang Maritim. Palapa. Kesulitan air minum meningkat baik pada terjadi musim kemarau panjang (43% warga) maupun banjir (19% warga). Jumlah penyakit dirasakan meningkat pada waktu bencana. Baru Panjang Serengsem Telukbetung Selatan Telukbetung Barat Sukamaju Tanjung Senang Way Kandis Telukbetung Selatan Kedaton Panjang Pidada Sumber: Dokumen Rencana Strategis dan Rencana Aksi Daerah Mitigasi Bencana_ Kota Bandar Lampung tahun 2009-2013 2 Abrasi 3 Angin Kencang Tanah Longsor 4 Menurut hasil survai terhadap dampak pada sektor. Kelapa Tiga. Batu Putu Telukbetung Selatan Bumiwaras. Kangkung. Pecoh Jaya. Pasir Gintung. sektor yang paling terkena dampak ialah sektor air minum. kejadian bencana banjir memberikan dampak yang paling besar pada sektor kesehatan. Kupang Raya. Tanjung Karang. Sukadanaham Kedaton Perum Way Halim Sukarame Sukarame Sukabumi T. Sukamaju. Gotong Royong. Beringin Raya Tanjungkarang Pusat Kaliawi. Gunung Mas. Pidada. kesehatan dan pertanian. dan pekerjaan umum (rusaknya sarana drainase dan infrastuktur lainnya). Tanjung Senang. Sukajawa. Kedamaian Tanjungkarang Barat Segalamider. Way Kandis. Keteguhan. Perwata. Penengahan. Srengsem Kemiling Kemiling Permai. dan sisanya dari air hujan (1% warga). kemudian air tanah atau sumur (38% warga). Susunanbaru. Panjang Selatan. Rajabasa Labuhan Dalam. Perumnas Way Kandis Telukbetung Utara Kupang Teba. dan kemudian diikuti oleh sektor air minum. perikanan. Sementara untuk kejadian bencana kekeringan.Tabel 4-1. pemukiman. air permukaan/air sungai (8% warga). khususnya ada waktu terjadi banjir (34% warga) dan kemarau (22% warga). N. Pesawahan. Bakung. Sukaraja Telukbetung Barat Kuripan. Sumber air minum umumnya berasal dari PDAM (53% warga). Lokasi Kejadian/Rawan Bencana Di Kota Bandar Lampung No Bencana 1 Banjir Kecamatan Rajabasa Tanjung Senang Kelurahan Rajabasa Raya. Kota Karang. Way Laga. Panjang Utara. 54 .

2. Banjir saat itu mencapai lebih dari satu meter. pemenuhan air bersih tetap diperoleh dengan cara mengambil dari sumur bor dan membeli. potensi bencana terbesar adalah banjir karena pasang atau rob dan abrasi. sehingga menyebabkan pendangkalan sungai dan penyerapan kurang berjalan dengan baik. jika tidak berhati-hati ketika berjalan. Wilayah Non Pesisir Bencana yang rawan terjadi di Pasir Gintung adalah banjir karena hujan. Karena itu agar penumpukan sampah ini tidak menyebabkan bau yang tidak enak dan penyakit. banjir dan pasang menyebabkan sampah menumpuk di sekitar pemukiman warga. bahkan pada 55 . hal ini disebabkan karena salah satu saluran pembuangan sedang dilakukan perbaikan. Hal ini disebabkan karena lokasinya yang berdekatan dengan sungai dan pasar. masing-masing warga membersihkan rumahnya dan lingkungan sekitarnya. dapat menyebabkan terpeleset dan terjatuh. biasanya celana dilipat dahulu agar tidak terkena air.4. Sampah dan limbah pasar sering dibuang ke sungai. Antara wilayah pesisir dan non pesisir akan merasakan dampak yang berbeda. Biasanya mereka menggunakan sepatu dari rumah. namun masih tetap dapat dilalui. warga mengaku electricity tidak terganggu. warga juga sangat mengharapkan pemerintah membuatkan pondasi jalan penghubung antar rumah warga. Baik pada kondisi normal maupun kondisi paska bencana. Dampak Umum dari Kejadian Iklim Ekstrim Dampak yang dirasakan akibat terjadinya bencana tentu tidaklah sama. Ketika terjadi pasang warga tetap dapat melaksanakan aktifitasnya. masih tetap sama dengan kondisi normal. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. Selama ini. tetapi kali ini karena jalan tergenang air. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi lokasi tersebut. terungkap bahwa warga memerlukan bantuan bibit bakau. Banjir besar sudah tidak pernah terjadi lagi. Banjir terparah terjadi pada tahun 2008. sedangkan untuk memasak menggunakan air jirigen. Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan. anak-anak membawa (membungkus) sepatu terlebih dahulu. Pada kondisi pasang. warga mengaku tidak terlalu terganggu oleh pasang. Hal ini sudah biasa dihadapi oleh warga. dan baru menggunakannya ketika jalan sudah tidak becek lagi. Baik pada Kota Karang maupun Panjang Selatan. namun hanya sampai di pondasi rumah saja. tidak sampai memasuki rumah warga. Hanya saja pasang masih kerap terjadi. Dampak secara umum adalah sebagai berikut: Wilayah Pesisir Pada wilayah pesisir. Atau jika genangan air agak tinggi. berdasarkan hasil in depth interview. Untuk keperluan mencuci dan mandi warga menggunakan air sumur bor. Anak-anak sekolah biasanya tetap masuk. Pemenuhan air bersih tidak mengalami hambatan. sehingga warga mengaku tidak terlalu terganggu. Hanya saja. Jalan di pemukiman warga hanya sedikit tergenang (becek) dan sulit terlihat. listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. Dimana untuk keperluan minum warga biasanya memenuhinya dengan membeli air galon isi ulang. Hanya saja terjadi sedikit perubahan kebiasaan. Sedangkan upaya untuk mengantisipasi terjadinya abrasi. Selain itu.

Namun. Paska terjadi banjir. jalan dapat dilalui seperti biasa. listrik sengaja dipadamkan untuk mencegah tersengat aliran listrik. Kegiatan pengeborannya berdampak pada berkurangnya debit air di wilayah ini. Pemenuhan air bersih dibantu oleh PDAM secara gratis. Biasanya setelah terjadinya angin kencang warga secara swadaya membersihkan lingkungannya agar aktifitas warga segera dapat berjalan normal kembali. Oleh karena itu. biasanya warga secara swadaya bergotong royong untuk membersihkannya. namun masih tetap dapat dilalui. Sementara itu kondisi jalan hanya terganggu saat air tergenang. salah satu keuntungannya adalah tersedia banyak kayu bakar yang berasal dari ranting-ranting yang berjatuhan. sehingga tidak terlalu mengganggu aktifitas warga. Selain itu dampak terhadap tanaman pertanian adalah rontoknya bakal buah sebelum waktu pemanenan. Pada saat banjir. Antara pria dan wanita saling bahu membahu membersihkan rumahnya. Pada Kelurahan Batu Putuk. keduanya tidak terlalu mengganggu aktifitas warga Batu Putuk. warga bersiap-siap keluar rumah untuk mencari lokasi yang lapang agar terhindar dari benda-benda yang berjatuhan akibat angin kencang ini. Jika terjadi angin kencang biasanya banyak pohon yang tumbang dan genting berjatuhan. Hampir setiap tahun angin kencang terjadi di wilayah ini. Begitu pula halnya dengan transportasi yang juga tidak terlalu terganggu. bencana yang biasa terjadi adalah kekeringan dan angin kencang. Jika dibiarkan berkepanjangan. warga mengaku electricity tidak terganggu. listrik masih tetap menyala dan dapat dipergunakan. 56 . dengan pembagian tugas untuk pria pekerjaan yang lebih berat dibanding wanita. Anak-anak masih tetap dapat sekolah seperti biasa. Baik bencana kekeringan maupun angin kencang.wilayah tertentu yang letaknya rendah. tanda-tanda terjadinya bencana ini adalah terdengar suara gemuruh. Jalan di pemukiman warga hanya terhalang oleh pohon dan ranting yang berjatuhan. Sementara itu. setelah air surut. diperoleh informasi dari warga bahwa langkah mengatasi kekurangan air tersebut adalah dengan mencari atau membuka mata air baru. namun tetap masih mencukupi kebutuhan warga meskipun harus melakukan penghematan. Jika telah mendengar suara itu. Akibat dari bencana kekeringan adalah ketersediaan air yang mulai berkurang. hampir mencapai atap rumah warga. sampah biasanya berserakan. namun jika dilihat dari mutu air masih tetap sama. Banjir ini hanya berlangsung satu hari. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan kondisi alam dalam hal ini ketersediaan air di Batu Putuk. Kekeringan ini juga berdampak pada hasil pertanian. Berdasarkan hasil FGD dengan warga Kelurahan Batu Putuk. Jika dibandingkan dengan kondisi dahulu. Berdasarkan pengetahuan masyarakat. hasil kebun seperti coklat dan durian mengalami penurunan. kekeringan dapat memicu munculnya penyakit. Pada kondisi ini. Langkah lainnya adalah dengan bersiap-siap memiliki penampungan air atau mengambil air di masjid. Kegiatan pendidikan juga tidak mengalami gangguan. Bencana kekeringan di wilayah ini menurut persepsi warga antara lain disebabkan oleh keberadaan beberapa perusahaan air minum. bencana angin kencang biasanya terjadi pada bulan 12.

pola transaksi produksi serta nilai sosial lainnya. Hal ini tercermin dari pendapat warga mengenai bantuan yang diberikan saudara dan anggota masyarakat lainnya disaat terjadi bencana. hubungan kerja. Berdasarkan hasil survey terlihat bahwa hubungan gotong royong dan kekerabatan pada masyarakat di kelurahan amatan masih berjalan dengan baik.19 persen (dari total warga wilayah pesisir). sehingga dengan berbagai status sosial yang ada. Masyarakat menyatakan bahwa ketika terjadi bencana upaya pertama yang akan dihubungi adalah tetangga (masyarakat). mereka bisa memberikan bantuan kepada korban bencana.Dampak Sosial Ekonomi dari Kejadian Iklim Ekstrim A. Saudara dan anggota masyarakat lainnya yang dimaksud disini adalah saudara dan anggota masyarakat yang tidak terkena bencana.96 persen. Misalnya di daerah pesisir bantuan yang diterima dari saudara sebesar 25.3. Secara sederhana hubungan kerja patron-klien menggambarkan hubungan dua pihak antara individu dengan status sosial ekonomi yang lebih tinggi (patron) yang memberikan keuntungan berdasarkan sumber-sumber yang dimilikinya bagi seseorang yang statusnya lebih rendah (klien).4. Untuk mendapatkan gambaran mengenai besarnya dampak sosial akibat terjadinya bencana di Kota Bandar Lampung dilihat dari perilaku gotong royong atau kekerabatan warga dalam menanggung masalahmasalah yang terjadi pada masyarakat. Gambar 4-1. 2009 Jika membandingkan angka-angka bantuan dari saudara dan masyarakat. Pola yang sama terlihat di wilayah non pesisir. Dari data terlihat bantuan dari masyarakat lebih banyak di wilayah pesisir daripada wilayah non pesisir. Dampak Sosial Terjadinya kejadian iklim ekstrim yang mengakibatkan bencana banjir atau bencana kekeringan secara tidak langsung memiliki potensi untuk mengubah tatanan nilai-nilai sosial masyarakat. Lebih besarnya bantuan masyarakat di wilayah pesisir ini didukung oleh hasil FGD di Kelurahan Kota karang dan Panjang Selatan. Tetangga adalah pihak yang memiliki 57 . tampak bantuan yang terima dari saudara relatif lebih tinggi dibandingkan dengan bantuan dari masyarakat. sedangkan bantuan dari masyarakat lainnya sebanyak 22. Bantuan dari Saudara dan Masyarakat Lainnya di saat Bencana Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.

Jumlah juragan sekarang sudah sedikit.. Berdasarkan gambaran diatas. sehingga diharapkan dapat memberikan pertolongan dalam waktu yang relatif lebih cepat. Zabir. seperti gotong royong membersihkan wilayah mereka setelah terjadi banjir. Panjang Selatan dan Kota Karang. Selain saat bencana. bahkan pada beberapa kelurahan amatan menjadi semakin kuat. yaitu Kelurahan Pasir Gintung. Kehidupan nelayan kecil individu saat ini 58 . upaya pertama yang dilakukan masyarakat jika terjadi bencana adalah bersama-sama dengan keluarga dan tetangga mendiskusikan solusi permasalahan yang ada. ikan yang diperoleh dapat mencapai jumlah kuintalan. Mereka yang membiayai nelayan-nelayan untuk berangkat mencari ikan.perbulan. maka dapat disimpulkan bahwa wilayah yang relatif memiliki kohesivitas sosial yang tinggi di saat bencana adalah Kelurahan Pasir Gintung. Waktu dulu dalam sekali pergi melaut.. terutama saat terjadi bencana. Dari informasi di atas terungkap fakta bahwa adanya bencana tidak menyebabkan perilaku gotong royong di masyarakat menjadi melemah.lokasi tempat tinggal terdekat. Perilaku gotong royong dan kekerabatan tidak hanya muncul saat terjadi bencana banjir. rumah roboh atau musibah lainnya. 63 th). masyarakat juga saling membantu dalam bencana lokal seperti kematian. Pada waktu itu banyak warga yang menjadi juragan ikan. Pada Kelurahan Panjang Selatan. Yang kedua. terutama dari hasil bagan. mata pencaharian dari nelayan sudah tidak bisa diandalkan lagi. Dari hasil wawancara dengan ketua lingkungan setempat terungkap bahwa besarnya bantuan dari masyarakat antara lain disebabkan oleh banyaknya paguyuban yang ada pada wilayah ini. sehingga saat terkena bencana mereka merasakan penderitaan yang juga sama besar. Di wilayah non pesisir terdapat satu kelurahan yang memiliki tingkat bantuan dari masyarakat relatif tinggi dibandingkan dua kelurahan lainnya. Setelah itu melaporkan kepada RT setempat. 2 dan 3 hanya terdapat satu juragan atau kelompok” (M. Tapi kalau sekarang..hingga Rp 2000. Secara swadaya warga akan berusaha mengatasi masalah bersama. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya kondisi ekonomi masyarakat yang relatif merata. seperti pesta perkawinan. Bencana yang sering terjadi di Kelurahan Pasir Gintung adalah banjir... Dengan adanya kelompok-kelompok paguyuban tersebut. Juragan itu memiliki banyak anak buah (nelayan). tolong menolong menolong warga juga terjadi pada saat terjadi hajatan atau pesta. Hampir semua nelayan kecil bergabung dalam kelompok-kelompok yang dibawahi oleh seorang juragan. maka tingkat kegotong royongan dan kekerabatan masyarakat menjadi tinggi. sekitar tahun 80-an pekerjaan nelayan sangat menjanjikan. Hasil FGD menyatakan bahwa masyarakat di semua kelurahan memiliki atau mengadakan iuran bulanan untuk kematian sebesar Rp 1500. warga Kelurahan Kota Karang. Pada Kelurahan Kota Karang hubungan patronklien saat ini digambarkan sebagai berikut: “. Menghilangnya para juragan tadi menyebabkan nelayan yang ada sekarang pada umumnya adalah nelayan individu. di wilayah RT 1. Warga di ketiga wilayah ini menilai bantuan dari saudara dan masyarakat di saat bencana relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya. keberadaan nilai-nilai sosial masyarakat juga dapat dilihat dari keberadaan hubungan kerja patron-klien yang dahulu menjadi bagian dalam kehidupan sosial masyarakat pesisir.

2009 No 1 Deskripsi Sistem tolong menolong/ kekerabatan Kondisi saat ini Masih ada:. Tabel 4-2.6% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan 3. dan nelayan juga menyadari kondisi melaut saat ini tidak ada jaminan bahwa mereka akan pulang membawa hasil ikan yang cukup dan segera dapat mengembalikan pinjaman. pasang air laut. . dan pencurian barang-barang berharga. bencana iklim berpengaruh terhadap terjadinya kriminalitas di wilayah kajian. Sedangkan saat ini.5% warga beranggapan bahwa jumlah tindakan kriminalitas juga bertambah saat kejadian kekeringan di wilayah mereka. Tindakan kriminalitas tersebut seperti pencopetan. Hubungan patron. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa adanya perubahan iklim yang mengakibatkan timbulnya bencana memiliki potensi untuk merubah nilai-nilai sosial serta perilaku yang ada di dalam masyarakat. perampokan. sehingga bisa langsung mengembalikan modal pinjaman. Biasanya mereka pergi sore dan kembali keesokan harinya dengan membawa hasil ikan yang banyak. dan angin kencang bisa berpotensi terhadap gagal panen dikarenakan nelayan tidak bisa melaut. perampasan. klien Tingkat kejahatan Jumlah tindakan kriminalitas bertambah saat kejadian banjir dan kejadian kekeringan di wilayah mereka 2 3 4 Dampak Ekonomi Kejadian Iklim Ekstrim Mengingat mata pencaharian utama warga di wilayah kajian bergerak di sektor perikanan yaitu buruh nelayan dan nelayan.dalam keadaan kesulitan. dengan demikian perubahan iklim juga memiliki andil dalam berkurangnya hubungan patron-klien yang ada dalam masyarakat. Berdasarkan survei. Selanjutnya warga yang bermata pencaharian 59 B.Sudah mulai berkurang.hubungan-hubungan sosial baik yang berdasarkan hubungan ketetanggaan maupun hubungan kekerabatan . Dahulu nelayan kecil bila akan pergi melaut dapat dengan mudah meminjam modal ke warung atau agen. nelayan kecil seringkali tidak berani meminjam. karena si pemberi pinjaman menjadi lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman. maka terjadinya bencana iklim seperti banjir rob. bukan disewa Gotong royong Masih ada: aktivitas bekerja sama antara sejumlah besar warga kelurahan untuk menyelesaikan suatu kegiatan tertentu yang dianggap berguna bagi kepentingan umum. Bila dihubungkan antara fakta berkurangnya hasil ikan antara lain juga disebabkan oleh adanya perubahan iklim. dimana 1. Pengaruh bencana terhadap perilaku nilai sosial lainnya secara tidak langsung juga dapat dilihat dari meningkatnya kejadian kriminalitas/ kejahatan di suatu wilayah. yang selanjutnya akan berdampak pada kehidupan sosial ekonomi warga. sesama warga dapat dimintai tenaga bantuan.Gambaran Dampak Bencana terhadap Nilai Sosial Masyarakat pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.menjadi sulit karena apabila akan pergi melaut biaya operasional harus ditanggung sendiri. dimana kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan masyarakat menjadi lebih rentan.

Untuk warga yang bermata pencaharian sebagai petani kebun dan petani pangan pun juga terkena dampak dari bencana iklim seperti banjir. Bencana yang dibahas disini adalah banjir dan kekeringan. Warga tersebut sebagian besar berasal dari Kelurahan Kota Karang dan Panjang Selatan dimana sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. 4) dampak terhadap harga-harga beberapa komoditi.73 persen warga dari total warga di lokasi penelitian. dan 2). memberikan ilustrasi dampak bencana banjir dan kekeringan terhadap pekerjaan utama warga. Mereka mengalami gagal panen dan penurunan pendapatan. Lain halnya dengan wilayah pesisir.nilai kerugian berdasarkan sektor. disini relatif lebih banyak warga yaitu 24. baik materil maupum immateril. yaitu hanya7. Dalam bahasan ini disampaikan dampak bencana dan kerugian yang dirasakan oleh warga terhadap pekerjaan utama. Dari hasil survey diperoleh informasi. 2009 60 .76 persen dari total warga di wilayah ini. Walaupun demikian bencana banjir ternyata berdampak terhadap 16. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana dampak bencana terhadap ekonomi disajikan data-data berdasarkan: 1).44 persen yang menganggap banjir mempengaruhi pekerjaan utamanya. kekeringan. Menurunnya pendapatan mengakibatkan menurunnya tingkat kesejahteraan warga yang berikutnya mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran. Tidak semua warga menjawab adanya dampak dari bencana terhadap pekerjaan utamanya. bahwa secara total dampak yang terjadi akibat banjir terhadap pekerjaan utama relatif lebih besar daripada kekeringan. Gambar 4-4.sebagai pedagang juga terkena imbasnya. Gambar 4-2. 3). Hal ini dikarenakan menurunnya daya beli masyarakat dari sektor perikanan yang mengalami gagal panen. Bahkan untuk wilayah non pesisir jumlahnya relatif lebih sedikit lagi. Dengan demikian masih banyak warga yang menganggap banjir tidak mempengaruhi pekerjaan utamanya. Nilai Kerugian Berdasarkan Pekerjaan Pokok Pada dasarnya bencana apapun akan mengakibatkan kerugian terhadap masyarakat. Nilai kerugian berdasrkan pekerjaan sampingan. nilai kerugian berdasarkan pekerjaan pokok. Dampak Banjir dan Kekeringan Terhadap Pekerjaan Utama pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 1. peningkatan jumlah kriminalitas dan urbanisasi. dan angin kencang.

Biasanya bunga yang diberlakukan cukup tinggi. “. melaut bisa dalam jangkauan yang dekat-dekat saja. Saat itu warga mengetahui bahwa bulan 1 sampai dengan 5 adalah musim angin utara yaitu musim ikan. namun sekarang musim ikan lebih sulit di prediksi. maupun kenek bangunan agar tetap dapat membiayai kebutuhan hidup. yang pertama. Langkah untuk memenuhi kebutuhan hidup biasanya ditempuh dengan jalan meminjam. aktifitas nelayan menjadi terhambat. Berbeda dengan bencana banjir. Sekarang kalau mau mendapatkan ikan dalam jumlah besar harus berlayar lebih jauh. yang fasilitas peralatan perikanannya seperti kapal sudah lebih maju. Kelurahan Batu Putuk mayoritas masyarakatnya memiliki mata pencaharian sebagai petani dan buruh pertanian.. Jadi nelayan kecil cuma bisa dekat-dekat saja. warga mengaku terpaksa berhutang ke warung untuk membeli kebutuhan hidup seperti sembako. Bencana kekeringan berdampak pada penurunan hasil panen sehingga pendapatan warga yang berprofesi sebagai petani dan pedagang produk pertanian cenderung menurun. namun dengan risiko dibebankan bunga. Sekali berangkat biaya bisa mencapai jutaan. Pada kondisi yang demikian. tapi kalau nelayan di Jawa jangkauan lebih luas”. buruh. pembayaran dapat dilakukan dengan mencicil. Setelah tahun 2000 warga mengaku sulit memprediksi waktu terjadinya angin dan ombak besar. mulai dari yang kecil sampai yang memiliki pukat harimau bisa memasuki wilayah perairan. sehingga bagi warganya bencana kekeringan lebih berdampak daripada bencana banjir. Menurut salah seorang peserta FGD. sehingga penghasilan dari melaut dapat menurun drastis. Karena itu banyak warga yang terpaksa memilih alternatif mata pencaharian lain seperti tukang becak.kalau dulu. dengan menggunakan kapal bermotor besar. Tapi Harga kapal seperti itu bisa mencapai ratusan juta. Bila meminjam ke bank keliling. jumlah nelayan di Lampung sangat banyak. sehingga para nelayan kecil harus bersaing dengan nelayan besar.. berbeda dengan fasilitas nelayan di pulau Jawa. yaitu mencapai 20 persen... kondisi kesulitan mencari ikan biasanya bersifat musiman. Alternatif lain yang dilakukan warga adalah dengan meminjam ke bank keliling. masalah tersebut disebabkan oleh beberapa hal. sebenarnya masalah yang dihadapi nelayan cukup kompleks. kalau lebih jauh sedikit.9 persen warga dari total warga di kelurahan amatan. dengan waktu seminggu. menurut warga. Masalah-masalah demikian yang menyebabkan ekonomi nelayan kecil menjadi sangat sulit. Selain itu. Secara umum. maupun kenek bangunan agar tetap dapat membiayai kebutuhan hidup. baik kepada tetangga maupun kepada bank keliling. aktifitas sebagai nelayan sangat dipengaruhi oleh iklim. sudah ‘kejeblos’. bisa mencapai wilayah laut lepas dekat gunung krakatau. Oleh karena itu banyak warga yang terpaksa memiliki alternatif mata pencaharian lain seperti tukang becak. sehingga belakangan ini waktu nelayan melaut menjadi semakin tidak menentu. buruh. Warga mengaku pada kondisi tersebut. Dahulu sebelum tahun 2000.Dari hasil FGD. secara rata-rata hanya sebagian kecil saja warga yang merasakan adanya dampak bencana kekeringan terhadap pekerjaan utamanya. 61 . Bila penghasilan warga tidak dapat mencukupi. Bencana kekeringan hanya berdampak terhadap sekitar 9. yaitu terjadi pada bulan 12. Masalah yang kedua disebabkan fasilitas nelayan masih kurang. sehingga untuk bertahan mereka terpaksa harus ‘gali lubang tutup lubang’. mereka terpaksa ‘Gali lubang tutup lubang’. Hal ini menyebabkan lokasi pencarian atau jangkauan nelayan di kelurahan amatan menjadi terbatas. Diantara kelurahan-kelurahan amatan lain.

Kerugian rata-rata di daerah Pasir Gintung sebanyak Rp 926. kerugian rata-rata bencana sebesar Rp 662. Gambar tersebut menunjukkan rata-rata kerugian akibat bencana.000. Kerugian di Kangkung rata-rata sebesar Rp 1. Sedangkan di Batu Putu sebanyak Rp 921.11 persen yang menyatakan terdapat pengaruh banjir terhadap usaha sampingannya (Tambak/Kolam). Gambar 4-3. dari total warga di lokasi penelitian. Berdasarkan gambar tersebut. Batu Putu dan Pasir Gintung. banjir juga dapat mempengaruhi usaha sampingan yang dimiliki warga. terutama banjir yang dirasakan oleh warga.666. Wilayah yang mengalami kerugian yang relatif besar adalah Kangkung. sebagian besar warga di wilayah ini mempunyai pekerjaan utama sebagai petani kebun. terlihat bahwa banjir yang menimpa hanya mempengaruhi sebagian kecil warga. Dampak Banjir Terhadap Usaha Sampingan Tambak pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 2. Nilai Kerugian Berdasarkan Pekerjaan Sampingan Selain mempengaruhi pekerjaan utama. terutama usaha sampingan sebagai petani tambak. kerugian yang diakibatkan oleh adanya bencana banjir dan kekeringan seperti terlihat pada Gambar 4-3. sebanyak 11.Bila dihitung berdasarkan nilai nominal. Nilai Kerugian Dari Pekerjaan Utama Akibat Banjir dan Kekeringan Pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung. 2009 62 . Namun dari data yang diilustrasikan pada Gambar 4-4.765.150.071. yang sangat dipengaruhi oleh banjir. Gambar 4-4.

di Bandar Lampung.000. Hal ini dapat disebabkan oleh pengetahuan yang terbatas dari warga dalam menaksir jumlah kerugian. Gambar 4-5. Nilai kerugian rata-rata akibat banjir untuk usaha sampingan tambak sebesar Rp 583.000. terlihat ada 2 sektor yang nilai kerugiannya relatif besar yaitu sektor kesehatan dengan nilai total mencapai Rp 104. Hal ini disebabkan banyak warga yang mempunyai mata pencaharian tambahan sebagai petani tambak ikan. Akan tetapi jika dilihat secara rinci.350.000 dan sektor perikanan sebesar Rp 76.745. Secara umum nilai kerugian ini relatif kecil.000.000 /orang. Kerugian Akibat Banjir Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung.355.000/orang.000.320. Berdasarkan gambar tersebut. Gambar 4-6. maka distribusinya tidaklah merata. Gambar 4-6. Dampak dari banjir yang dirasakan warga terhadap sektor lainnya relatif kecil. kerugian bencana juga dapat dihitung berdasarkan sektornya. misalnya untuk sektor infrastruktur senilai Rp 10.Kerugian usaha sampingan tambak yang dirasakan warga seperti terlihat pada Gambar 4-5. menyajikan ilustrasi kerugian akibat banjir di Lampung. Kerugian terbesar justru dialami oleh warga di wilayah Kangkung dengan nilai kerugian rata-rata sebesar Rp 2. Nilai Kerugian Berdasarkan Sektor-Sektor Strategis Selain mempengaruhi terhadap mata pencaharian warga. Nilai Kerugian Usaha Sampingan Tambak Pada Kelurahan Amatan. 2009 Lampung 3. Selain itu banyak warga yang tidak bisa menaksir adanya kerugian terhadap berbagai macam sektor. 2009 63 . sektor pemukiman sebesar Rp 8.

batuk. nilai kerugian akibat kekeringan lebih kecil daripada kerugian akibat banjir. kesehatan dan air minum. Untuk komoditi ikan/ternak. berikut ini disampaikan data mengenai peningkatan harga yang terjadi pada beberapa produk pertanian seperti beras/padi. Meskipun nilainya relatif kecil. terlihat beberapa sektor yang diduga dipengaruhi oleh bencana kekeringan. Sedangkan untuk komoditi Palawija peningkatan harga memiliki model yang berbeda dengan beras/padi dan ikan/ternak. sedangkan disaat kekeringan sekitar 12. Tahun 2009 4. Kerugian di sektor pertanian disebabkan kekeringan menyebabkan produksi menurun. Dampak Terhadap Harga Beberapa Komoditi Selain mempengaruhi pendapatan warga dan beberapa sektor strategis. bencana banjir dan kekeringan juga mempengaruhi perubahan harga-harga secara umum. perikanan.65 persen. Hal ini disebabkan pada saat terjadi banjir. Gambar 4-7. dampaknya kualitas air menurun sehingga banyak ikan yang mati. palawija dan ikan/ternak. akan tetapi fakta ini memberikan dugaan terhadap sektor rentan terkena bencana. Kerugian di sektor kesehatan terjadi karena dengan adanya kekeringan mengakibatkan menurunnya kualtias lingkungan. banyak sumber penyakit seperti diare. Kerugian di sektor perikanan disebabkan karena suplai air berkurang. 64 . radang tenggorokan dan lain sebagainya.Berbeda dengan kerugian yang terjadi ketika kekeringan. peningkatan harga di saat banjir relatif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan harga di saat kekeringan. Kerugian di sektor air minum disebabkan oleh berkurangnya sumber air untuk memasok bagi kebutuhan masyarakat. kenaikan harga rata-rata disaat banjir sebesar 13. Kerugian Akibat Kekeringan Berdasarkan Sektor di Bandar Lampung.79 persen. Secara total peningkatan harga saat kekeringan lebih tinggi dibandingkan dengan saat banjir. Berdasarkan gambaran ini maka sektor yang rentan terkena bencana kekeringan adalah sektor pertanian. dan fenomena ini konsisten terjadi baik di pesisir maupun di non pesisir. kegiatan perikanan banyak yang terganggu sehingga supply ikan menjadi berkurang. Secara umum haarga beras/padi mengalami peningkatan baik pada saat banjir maupun kekeringan. Melihat nilai nomimalnya. bahkan dalam kasus yang ekstrim dapat mengakibatkan kegagalan panen (puso). Berdasarkan Gambar 4-9.

tempat praktek Dokter. 65 . Jenis sarana kesehatan paling banyak. 57 unit Puskesmas Pembantu. dan 67 unit Balai Pengobatan. Dampak terhadap Kesehatan Sarana kesehatan di Kota Bandar Lampung meliputi sarana kesehatan mulai dari tingkat pelayanan terkecil seperti Puskesmas Pembantu. Tabel IV-3.94 persen dari total warga. DBD dan gatal-gatal sebagai penyakit di saat musim hujan lebih besar daripada warga pesisir. Sedangkan untuk diare dan malaria sebaliknya. 22 unit Puskesmas Induk. DBD dan gatal-gatal cenderung terjadi di wilayah non pesisir. Tidak banyak warga yang menanggapi fenomena wabah penyakit di saat banjir. Balai Pengobatan. Kenaikan Harga Beberapa Komoditi Pertanian Pada Kelurahan Amatan di BandarLampung.Gambar 4-8. Jumlah sarana kesehatan di Kota Bandar Lampung menurut sumber Kota Bandar Lampung Dalam Angka (2007) mencapai 157 unit yang terdiri dari 11 unit Rumah Sakit. Sedangkan untuk malaria dan diare di wilayah pesisir.87 persen). sampai dengan rumah sakit. 2009 C. memperlihatkan wabah penyakit menurut persepsi warga yang biasa terjadi saat banjir. Penyakit yang dinilai warga relatif rendah terjadi adalah DBD (10. tercatat hanya sebanyak 35. Dari warga yang memberikan penilaian.26 persen) dan Batuk/Flu/Pilek (27. yaitu Balai Pengobatan dengan jumlah sebaran terbanyak ada di Kecamatan Tanjung Karang Pusat (11 unit). terlihat bahwa jenis penyakit yang seringkali dialami oleh masyarakat adalah Malaria (28. Dari data terlihat jumlah warga non pesisir yang menganggap Batuk/Flu/Pilek. Hal ini bisa membentuk dugaan bahwa penyebaran penyakit Batuk/Flu/Pilek.17 persen).

00 50.00 0.0 0 11.00 0.0 0.30 15.0 0 40 50 31 121 2 19 6 27 5.00 66 .menunjukkan penyakit yang sering muncul di saat terjadi kekeringan.5 2 31.26 16.0 0 25.00 0.0 0 100.0 9.79 44.00 0.00 100.09 8.23 0.00 8. Penyakit Pada Saat Banjir pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.6 90.90 10.00 5.33 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total Res Tota l (N) Res Jawa b (n) n/N (%) Grand Total 100.00 100.0 0 25.3 9 0.8 1 25.37 36.62 16.00 5.00 100.00 5.31 0.33 50.15 35. Penyakit Pada Saat Kekeringan pada Kelurahan Amatan di Bandar Lampung.35 22.32 33.70 21.7 7 10.26 0.67 7.94 26.0 0 100.0 0 100.00 0.00 3.72 48.26 Tabel 4-4.17 10.00 10.00 0.0 0 100.00 44.0 0 67. Tabel 4-4.00 10.16 0.26 4.00 0.0 0 26.00 3.21 47.33 0.32 29.5 0 24.5 8 23.0 0 100.0 0 100.92 28.00 0.00 19.33 33.00 38.0 0 16.41 39 56 40 135 256 19 27 19 65 92 48.62 27.00 0. maka yang membedakan antara saat kekeringan maupun saat banjir adalah munculnya penyakit kulit.8 7 0.50 48.79 24.1 3 0.00 8.00 100. 2009 Wabah Penyakit Pada Saat Banjir Batuk / Gatal Flu Diar Malari /Pilek DBD e gatal a 100. Jika dilihat dari jenis penyakitnya.00 0.1 1 26. Pada wilayah non pesisir dan pesisir.Tabel 4-3.3 2 7.0 8 17.7 4 80.00 12.00 63.00 0.63 15.0 0 100.41 0. penyakit yang sering dialami oleh warga adalah batuk/flu/pilek serta penyakit malaria.44 0.0 5 18.00 100.6 2 25.0 0 100.9 1 75.53 0. 2009 Wilayah/ Kelurahan Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Sub Total Pesisir Kangkung Res total (N) Res Jawab (n) Wabah Penyakit Saat Kekeringan Batuk n/N /Flu Kuli Diar (%) /Pilek DBD gatal t Malaria e Grand Total 40 50 31 121 39 11 12 8 31 10 27.33 25.44 47.

45 0.84 100. nanti bila 67 . akan ada pemantauan (survei) dulu rumahnya dari puskes. Kisaran Biaya yang Dikeluarkan oleh Warga (dalam Rupiah) Sebenarnya fasilitas kesehatan yang disediakan oleh dinas kesehatan sudah cukup baik. dan biasanya memerlukan waktu sampai 2 hari. Gambar 4-9.11 0.8% warga mengeluarkan uang sendiri untuk biaya berobat.5 6 33.8 4 61. Pada saat terjadi bencana hanya 27.3 3 54.00 3. keterjangkauan. Bagi warga yang memiliki jamkesmas (dulu askes). terutama terkait biaya.00 0.00 8. Selain harus ada surat keterangan dari RT. prosesnya yang harus dilalui oleh warga untuk memperoleh fasilitas jamkesda cukup panjang. dan sisanya sebesar 57.61 22. saat sakit dapat langsung datang ke puskes.0 0 22.29 1. Kemudian bila warga harus dirujuk ke rumah sakit. Akan tetapi sistem pelayanan.2 9 0 11.0 7 30. warga bisa menggunakan fasilitas jamkesda. warga harus membayar dulu biaya di RS sebagai jaminan. Hal ini antara lain disebabkan oleh sarana layanan kesehatan tersebut belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh masyarakat.1 1 16.35 11.00 0. 14.00 100. yang antara lain penentuannya di lihat dari usaha kepala keluarga.81 19. Namun berbeda dengan jamkesmas.00 11. Bila kondisi warga memerlukan perawatan lanjutan. Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh 14.5% warga tidak tahu karena tidak pernah mencatat biaya yang telah dikeluarkan untuk berobat.7% warga yang mengaku menerima bantuan dari pemerintah.22 41.8% warga untuk berobat ketika terjadi bencana iklim dapat dilihat dari gambar berikut.00 100. Warga yang diberi surat jamkesmas adalah penduduk miskin. Jumlah warga yang memiliki kartu kesehatan gratis adalah sebanyak 43.2 2 0 55. lokasi. Bagi yang tidak punya surat jamkesmas.68 4.Kota Karang Panjang Selatan Sub Total Grand Total 56 40 135 256 9 12 31 62 4 16.61 Namun menurut hasil survei masyarakat di wilayah kajian menyatakan bahwa belum optimalnya akses. dan rujukan masih dianggap belum dapat berjalan dengan optimal.67 25. obat.75%.00 0.6 7 9.33 6.00 100. dan mutu layanan kesehatan.9 6 24. maka puskes akan memberikan rujukan ke Rumah Sakit.23 1. dan layanan yang diberikan.

2% warga melalui media radio. Peringatan dini dan hasil pemantauan daerah rawan bencana berupa saran teknis dapat berupa antara lain pengalihan jalur jalan (sementara atau seterusnya). 90% warga tersebut mengaku belum pernah mendapatkan informasi apapun seputar informasi iklim atau peringatan dini dari PEMDA. dan masyarakat sampai ke tingkat pengungsian dan penyelamatan korban bencana. Tujuan latihan lebih ditekankan pada alur informasi dan petugas lapangan pejabat teknis. Peringatan dini tersebut disosialisasikan kepada masyarakat melalui pemerintah daerah dengan tujuan memberikan kesadaran masyarakat dalam menghindarkan diri dari bencana. RT. 2% warga dari dinas pemerintah. Selain itu warga juga menerima informasi prakiraan dari BMKG. Kelembagaan lainnya yaitu kelurahan. Response Masyarakat Terhadap Keberadaan Kelembagaan Penanganan Bencana Peringatan dini dimaksudkan untuk memberitahukan tingkat kegiatan hasil pengamatan secara kontinu di suatu daerah rawan dengan tujuan agar persiapan secara dini dapat dilakukan guna mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Respon Masyarakat Terhadap Informasi Bencana Sebagian besar warga di keenam wilayah kajian selama ini masih memperoleh informasi prakiraan iklim secara tradisional baik dari pemuka adat maupun dari tokoh masyarakat di daerah yang bersangkutan. Hasil interview menunjukkan bahwa sekitar 58% warga memperoleh informasi prakiraan BMKG melalui media televisi. Sebanyak 90% warga menyatakan bahwa belum ada kelembagaan penanganan bencana di wilayah mereka. Tagana diakui masyarakat berfungsi efektif dalam memberikan informasi iklim atau peringatan dini. dan mutu layanan kesehatan. dan serta penanganan lainnya. Dengan pelatihan ini terbentuk kesiagaan tinggi menghadapi bencana akan terbentuk. keterjangkauan. 4% warga melalui media koran. Hanya 10% warga yang menyatakan ada kelembagaan penanganan bencana di wilayah mereka. Hal penting yang perlu diketahui masyarakat dan Pemerintah Daerah ialah mengenai hidup harmonis dengan alam di daerah bencana. RW di lingkungan setempat. 4. B. EWS (Early Warning System). Pelatihan tata cara pengungsian dan penyelamatan jika terjadi bencana juga sangat diperlukan. Kondisi demikian. dan mengetahui cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana. Dari hasil survey di enam wilayah kajian didapatkan hasil yang tidak memuaskan dari warga mengenai keberadaan lembaga penanganan bencana di wilayahnya. Kelembagaan tersebut diantaranya bernama Tagana (Tanggap Bencana). baru uang dikembalikan.4. Respon Pemerintah dan Masyarakat terhadap Bencana Akibat Kejadian Iklim Ekstrim A. SATKORLAK PB. yang diduga menyebabkan timbulnya persepsi warga pada kelurahan amatan yang terkait dengan belum optimalnya akses. dan 6% warga memperoleh informasi dari aparat desa setempat. ataupun lembaga terkait lainnya.. SATLAK PB. sisanya 28% warga tidak menjawab (Gambar IV-10) 68 . apa yang perlu dilakukan dan dihindarkan di daerah rawan bencana.surat2 sudah lengkap. pengungsian dan atau relokasi.

25 persen warga yang merasakan bahwa informasi tersebut berguna. Ketidaktahuan warga mengenai informasi penanganan bencana. Hal ini pertanda bahwa kesadaran warga terhadap pentingnya informasi terkait kebencanaan masih kurang. 69 . perubahan iklim dan dampak perubahan iklim terlihat dari rendahnya partisipasi warga dalam memberikan persepsi terhadap informasi tersebut. radio. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim dirasa warga masih sangat rendah ketersediaannya yaitu kurang dari 35 persen (Tabel 4-5). dan bertatap muka langsung dengan masyarakat melalui aparatur pemerintah dari pusat sampai daerah. sedangkan informasi mengenai penganan bencana. Dari data juga terlihat bahwa informasi mengenai peringatan bencana. ternyata informasi mengenai peringatan bencana.94 persen. majalah. Hal ini ditunjukkan dari persepsi warga terhadap rendahnya ketersediaan informasi yang terkait kebencanaan di Kota Bandar Lampung. jauh dirasakan berguna menurut warga dibandingkan dengan jenis informasi lainnya. Berdasarkan beberapa jenis informasi terkait bencana. misalnya untuk informasi penanganan bencana hanya 56. Hal ini menandakan masih diperlukannya berbagai macam upaya dalam penyampaian informasi terkait kebencanaan tersebut. Ketersediaan informasi yang terbanyak adalah mengenai peringatan bencana (50. dan ini mendukung informasi sebelumnya bahwa peran pemerintah dalam memberikan informasi kepada masyarakat relatif masih rendah. penanganan bencana. sedangkan untuk informasi perubahan iklim sebesar 37. Dalam tabel ini informasi yang terkait kebencanaan dilihat dari perspektif kegunaan dan ketersediaan. jauh dirasakan berguna menurut warga dibandingkan dengan jenis informasi lainnya. Persentase Media Informasi Prakiraan yang digunakan Salah satu peran pemerintah dalam mengurangi dampak dan kerugian bencana adalah dengan cara memberikan informasi terkait kebencanaan seperti peringatan bencana.78 persen).Gambar 4-10. koran.89 persen dan informasi dampak perubahan iklim sebesar 35. Tabel IV-5 memberikan ilustrasi persepsi warga terhadap berbagai macam informasi terkait kebencanaan. Secara umum terjadi lag antara kegunaan dan ketersediaan. perubahan iklim dan dampak perubahan iklim. Informasi ini bisa disampaikan melalui media televisi.

44 47.00 36.19 27.69 19.64 22.06 53. Pelatihan yang diharapkan berupa pelatihan bercocok tanam.00 58.83 20.64 20.00 61.71 22.37 45.31 34. baik modal untuk memulai usaha baru atau modal ketrampilan baru.14 25.97 Respon Terhadap Isue Relokasi Karena potensi berulangnya kejadian iklim ekstrim yang dapat menyebabkan bencana di masa yang akan datang. Persepsi Warga Terhadap Berbagai Macam Informasi Terkait Kebencanaan di Bandar Lampung Tahun 2009 (dalam %) Wilayah Peringatan Bencana Kegunaa n Ketersedia an Penanganan Bencana Kegunaa n Ketersedia an Perubahan Iklim Kegunaa n Ketersedia an Dampak Iklim Kegunaan Perubahan Ketersedia an Non Pesisir Batu Putu Pasir Gintung Sukabumi Indah Pesisir Kangkung Kota Karang Panjang Selatan Grand Total 72.30 7.78 55.00 8.50 55.00 50.00 17. Keputusan berpindah pun harus merupakan hasil keputusan bersama dengan istri dan keluarga.25 30.97 74. Bentuk bantuan yang diharapkan warga di wilayah pesisir berupa tempat tinggal dan modal.89 23.07 40. perubahan jenis mata pencaharian. menjahit serta pengolahan hasil perikanan.07 17.00 51.00 73.64 30.33 44.04 33.71 55.78 10.50 36.61 38.46 62.Tabel 4-5.52 38. maupun program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.33 38. jika diberikan pelatihan-pelatihan oleh pemerintah untuk menambah keahlian.07 76.00 37.93 55.00 32. serta adanya rencana pemerintah membangun proyek water front city di daerah pesisir.00 60. warga pria mengaku merasa berat hati untuk pindah.00 48.04 56. Namun.94 16.00 35.00 70. kondisi perumahan masyarakat yang padat dengan lingkungan yang relatif kurang layak.00 48.95 41.50 22. Sedangkan kemungkinan untuk merubah jenis pekerjaan secara permanen. namun jika lokasi tempat tinggal yang sekarang sudah tidak memungkinkan untuk ditinggali lagi.92 85.58 27.46 44.50 36.00 41. Namun hal tersebut tetap berdasarkan persetujuan suami masing-masing.00 45. Tanggapan dan harapan warga adalah sebagai berikut: Wilayah Pesisir Andaikan terjadi bencana yang sangat besar dan pemerintah menyarankan untuk dilakukan relokasi tempat tinggal.16 17. maka kepada warga ditanyakan pendapat dan harapan apabila proyek tersebut terlaksana dan pemerintah menetapkan kebijakan relokasi tempat tinggal. para nelayan mengaku sulit (tidak bersedia) karena berkaitan dengan keahlian yang dimiliki.00 76.73 70.41 62.94 19.26 19.39 34.29 57.42 37. maka mereka bersedia untuk dipindahkan dengan syarat diberikan fasilitas dan tempat tinggal yang layak serta lokasi pindah diharapkan tidak berjauhan dengan laut.50 50.00 56. C.00 6. Sedangkan untuk para wanita bersedia untuk dilakukan relokasi tempat tinggal.39 37.64 30. 70 . agar mereka tetap dapat bekerja seperti semula (melaut). para nelayan mengaku bersedia mengikuti pelatihan.50 20.

Dalam kondisi dimana tidak memiliki pilihan lain. dan membuat tanggul dalam menghadapi banjir. Kegiatan lain yang diharapkan masyarkat adalah adanya penertiban lingkungan misalnya. bencana tersebut dianggap sesuatu hal yang biasa. dengan cara melakukan kampanye hidup sehat. memperkuat konstruksi rumah. Oleh karena itu kegiatan yang diharapkan masyarakat untuk mencegah terjadinya banjir adalah pengerukan sungai yang dipenuhi oleh sampah-sampah pasar. selain itu warga juga mengharapan bantuan peralatan membuat emping. Kegiatan yang bersifat non-struktural melalui inisiatif masyarakat masih sangat kurang. atau service HP. sementara yang sudah tua tidak berminat. 71 . mereka berharap pemerintah bisa menyediakan tempat tinggal yang layak dan lapangan pekerjaan yang baru. Keenggan tersebut karena masyarakat khawatir terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan. Pelatihan yang diharapkan berupa pelatihan membuat emping. Identifikasi bentuk kegiatan adaptasi dari pemerintah yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat Bentuk kegiatan adaptasi menghadapi bencana yang dilakukan masyarakat umumnya bersifat struktural (fisik) seperti memperlebar/memperdalam saluran. masyarakat Pasir Gintung bersedia untuk relokasi. sehingga tidak terpikirkan oleh warga apabila mereka harus pindah tempat tinggal ke wilayah lain. Selain itu. penguatan kelembagaan dan lainnya berasal dari program pemerintah. bila bencana yang terjadi sangat parah dan memaksa mereka untuk berpindah lokasi. asalkan pengelolaan dilakukan dengan baik. Pada wilayah yang sering mengalami banjir seperti Pasir Gintung. Untuk itu perlu juga adanya penyadaran masyarakat mengenai kebiasaan hidup sehat. dan membeli atau membuat sumur pompa atau memperdalam sumur kalau menghadapi kekeringan. misalnya pelatihan pembuatan telur asin. Wargapun bersedia bila ada pelatihan untuk peningkatan ketrampilan mereka.Wilayah non Pesisir Pada wilayah yang mengalami bencana kekeringan seperti Kelurahan Batu Putuk. meninggikan lantai rumah atau membuat rumah denga dua tingkat. Hal ini terutama diminati oleh ibu-ibu yang masih muda. banjir seringkali disebabkan oleh meluapnya air sungai. karena merasa pekerjaan tersebut terlalu berat bagi mereka. pindah ke lokasi. asalkan daerah baru tersebut memang lebih layak dibandingkan dengan daerah yang mereka tempati saat ini. warga berharap dibekali keterampilan agar dapat bertahan hidup. Sebagian besar kegiatan yang bersifat non-struktural seperti pemberdayaan masyarakat. Sedangkan para wanita mengaku bersedia mengikuti program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat. seperti tidak membuang sampah sembarang di dalam sungai. Namun. peraturan zona atau batas aman antara pemukiman dengan sungai. D.

Kegiatan pemerintah dalam meningkatkan kemampuan penanganan bencana yang bersifat non-struktural dan respon masyarakat NO 1 KEGIATAN PEMERINTAH Komunikasi interaktif melalui radio dan televisi tentang mitigasi bencana Sosialisasi penerapan sistem komunikasi peringatan dini dan tanggap darurat berbasis Keluarga Pembentukan dan penguatan Siaga Bencana Tingkat Kelurahan (SIBAD) di 13 kecamatan Sosialisasi mengenai tanda-tanda terjadinya bencana melalui pertemuan-pertemuan kelompok masyarakat. menambah persediaan makanan dan menambah persediaan bahan bakar. karena kualitas airnya buruk E. setelah itu tidak pernah lagi Ikut berpartisipasi setiap bulan 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ikut berpartisipasi setiap bulan Ada yang taat dan ada yang tidak taat Tidak efektif. menunjukkan perbedaaan tersebut. kelurahan. Gambar 4-11. Adaptasi yang Terjadi di Wilayah Pesisir dan Non Pesisir Ketika Terjadi Bencana Banjir di Lampung. mulai dari tetap tinggal dirumah. Gambar 4-11. meninggikan lantai. terutama di pemukiman kumuh Masyarakat belum merasakan keberadaan dan fungsi SIBAD Mengikuti pertemuan dan mulai mempersiapkan diri Tidak menyeluruh sampai pada masyarakat Hanya berlangsung 1 bulan. membuat tanggul. Jenis adaptasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan wilayah masing-masing. Identifikasi Adaptasi Masyarakat Bencana Banjir Adaptasi yang dilakukan oleh warga ketika bencana banjir sangat beragam. Misalnya adaptasi yang dilakukan di wilayah non pesisir akan berbeda dengan adaptasi di wilayah pesisir.Tabel 4-6. pindah ke lokasi yang tidak mengalami banjir. memperdalam saluran air. dll Pembuatan atau mereproduksi dan menyebarkan buletin sistem peringatan dini Pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin di kawasan rawan bencana Melakukan Gerakan Bersih Pantai dan Laut bersama masyarakat secara rutin/berkala Melakukan Gerakan Bersih Sungai dan Saluran bersama masyarakat secara rutin/berkala Melarang nelayan ke laut saat bencana gelombang pasang air laut Pembuatan sumur bor untuk fasilitas umum RESPON MASYARAKAT Melaksanakan dengan banyak keterbatasan Belum sepenuhnya sampai pada masyarakat. 72 .

Sebagian besar (85. antara lain becak.18 persen. Perilaku ini menggambarkan respon warga yang memilih tetap tinggal dirumah atau keluar sementara. bahwa di wilayah non pesisir. Perilaku tetap tinggal di rumah ketika banjir tiba. yang tidak bisa diprediksi. maka fenomena banyaknya warga yang keluar rumah terjadi di wilayah non pesisir.45 persen warga yang pindah ke lokasi tidak banjir. Secara umum. hanya 7.54 persen meninggalkan rumah (keluar rumah) ketika bencana banjir tiba. sebanyak 14. warga yang tetap tinggal rumah sebanyak 29. Misalnya di kelurahan Kangkung. Perilaku ini menggambarkan respon warga yang mencari tepat tinggal sementara pada saat terjadi banjir. ditemukan fenomena warga yang pindah lokasi di setiap kelurahan dengan jumlah yang relatif sedikit. di wilayah ini hampir sebagaian besar warga keluar rumah ketika banjir tiba. Jika dilihat secara detail. perilaku pindah lokasi hanya terjadi di Pasir Gintung. Sedangkan di wilayah Sukabumi Indah. maka perilaku pindah ke lokasi yang tidak banjir banyak dilakukan oleh warga di wilayah non pesisir daripada di wilayah pesisir. sedangkan di 2 wilayahnya lainnya tidak ada. Lokasi yang menjadi tempat tinggal sementara biasanya rumah sanak saudara yang tidak mengalami banjir. Di wilayah non pesisir. mengingat di wilayah ini.93 persen) warga tetap tinggal di rumah ketika banjir. Faktor-faktor yang mempengaruhi pindah tidaknya warga ke 73 . warga menyediakan alat transportasi yang disiapkan dalam menghadapi banjir. hampir sebagaian besar warga masih tetap tinggal di rumah. 2. warga mengaku tidak mau pindah dikarenakan khawatir terhadap lapangan pekerjaan.69 persen dari total warga di wilayah ini yang pindah lokasi. Secara umum dari total warga mengatakan bahwa ketika bencana banjir tiba. Peredaan ini disebabkan karena jenis banjirnya yang berbeda. Bencana banjir yang terjadi di wilayah pesisir adalah bencana banjir rob. Sedangkan di wilayah pesisir. 41 persen. mereka berharap pemerintah menyediakan tempat tinggal dan lapangan pekerjaan yang baru. Perilaku pindah ke lokasi yang tidak banjir. Namun. Hal ini disebabkan karena Berdasarkan hasil FGD. Sedangkan di wilayah pesisir. Dengan demikian sebagian besar tetap tinggal di rumahnya masingmasing. Banjir rob relatif bisa diantisipasi oleh masyarakat. Sisanya tetap tinggal di rumah. artinya sebanyak 40. Jika dilihat berdasarkan wilayah. dari semua warga di kelurahan amatan. Dari semua warga di Pasir Gintung. Warga Pasir Gintung yang keluar rumah ketika banjir adalah sebesar 82 persen.57 dan 5 persen dari jumla warga di masingmasing kelurahan.46 persen. bila bencana yang terjadi sangat parah dan memaksa mereka untuk berpindah lokasi. Sebagai langkah antisipasi. Seperti yang terjadi di wilayah Pasir Gintung. jumlah warga yang tetap tinggal di rumah lebih besar dibandingkan dengan warga yang keluar rumah. Mengingat sebagian besar warga sudah meninggikan rumahnya.Berdasarkan gambar terlihat prilaku warga ketika bencana banjir adalah seperti berikut ini : 1. Seperti dijelaskan sebelumnya. ketika terjadi banjir. sebanyak 59. Jika dilihat dari wilayah. Sedangkan di wilayah pesisir hanya 5.78 persen warga yang pindah ke lokasi tidak banjir ketika terjadi banjir. sebanyak 34 persen yang pindah lokasi. Tujuannya adalah untuk berpindah ke lokasi yang lebih tinggi. hanya sebagian kecil saja yang keluar rumah. hanya 9. maka ketika banjir rob datang. Berbeda halnya dengan banjir yang terjadi di wilayah non pesisir. sedangkan di Kota Karang dan Panjang Selatan berturut turut sebanyak 3.

Adaptasi Kekeringan Warga di Kelurahan Amatan. Adaptasi lainnya yang relatif banyak dilakukan selain dari yang telah dijelaskan diatas adalah perilaku membuat tanggul. Hal ini terjadi di wilayah pesisir. (1) membeli air untuk keperluan sehari-hari. terlihat bahwa fenomena banjir tidak mempengaruhi warga dalam memupuk persediaan makanan dan bahan bakar. Dari berbagai adaptasi tersebut. masyarakat harus beradaptasi untuk meminimalisir kerugian kekeringan. yang terjadi pada daerah tertentu menyebabkan timbulnya respon masyarakat untuk melakukan ritual mendatangkan hujan. Bandar Lampung 74 . mengurangi konsumsi air dan memompa air dari sumber terdekat. Adaptasi terhadap bencana kekeringan yang terjadi di Kota Banda Lampung dapat berupa. dan hal ini sebagian besar dilakukan oleh warga di wilayah pesisir.lokasi lain sangat dipengaruhi oleh (1) ada tidaknya famili di lokasi tidak banjir yang bisa membantu mereka. dan (b) munurunnya sanitasi keluarga dan lingkungan. Berdasarkan Gambar 4-12. (3) alasan keamanan. Semuanya dalam rangka menyediakan dan menjaga ketersediaan air. (4) pindah ke lokasi lainnya yang tidak terkena kekeringan. memperdalam saluran dan meninggikan lantai rumah. agar mencukupi untuk keperluan sehari hari. (3) memompa air dari sumber terdekat. Sehingga untuk bertahan. (2) mengurangi konsumsi air. 3. bahkan banyak yang mati. secara umum terdapat tiga bentuk adaptasi yang relatif banyak dilakukan oleh warga dibandingkan dengan adaptasi lainnya yaitu memberli air. 4. karena tanaman tidak tumbuh secara normal. dan (5) melakukan ritual meminta hujan. Untuk lebih detailnya berikut ini dijelaskan adaptasi warga terhadap kekeringan: Gambar 4-12. Bencana Kekeringan Kekeringan biasanya terjadi antara bulan Juni-Agustus. Dampak kerugian kekeringan dapat (a) berupa penurunan produksi. (2) kondisi fisik rumah. Fenomena kekeringan yang berkepanjangan.

sedangkan untuk wilayah non pesisir sebanyak 19.27 persen di wilayah pesisir dari total warga yang melakukan pengurangan konsumsi air. semua warga di kelurahan Batu Putu tidak melakukan pembelian air disaat terjadi kekeringan. Tercatat sebanyak 8. Kota Karang dan Panjang Salang. memiliki sumber daya air yang bisa diandalkan ketika kekeringan. Demikian juga di dua wilayah lainnya. Demikian halnya untuk wilayah pesisir.59 persen dari total warga di Sukabumi Indah) dan Panjang Selatan (27. Perilaku adaptasi mengurangi konsumsi air.05 persen warga di wilayah ini membeli air.50%. mengingat kedua lokasi ini berada di dekat perkotaan. Wilayah di pesisir yang relatif banyak membeli air adalah Kelurahan Kangkung. ketersediaan air diperoleh dengan cara memopa air dari sumber terdekat. Dari semua warga di Pasir gintung. jual beli air di wilayah ini merupakan hal biasa terjadi pada saat kekeringan. Berbeda dengan warga di Kelurahan Pasir Gintung dan Sukabumi Indah. 3. terdapat dua wilayah yang warganya melakukan upaya pengurangan konsumsi air relatif lebih tinggi persentasenya dibandingkan dengan wilayah lainnya. Tercatat hanya sebesar 20 persen dari jumlah warga di Pasir Gintung yang memompa air dari sumber terdekat. Jika dilihat secara detail untuk setiap kelurahan. Dengan demikian warga di wilayah ini mengandalkan sumber air yang tersedia. Disetiap wilayah biasanya terdapat sumur sebagai sumber air bersama. Tercatat sebanyak 82.86 persen. di Kota Karang sebanyak 67.52 persen dari total warga Lampung. pada situasi seperti ini secara otomoatis masyarakat berperilaku hemat air. Kangkung. Respon terhadap kekeringan dengan cara membeli air dilakukan terutama untuk keperluan mandi.7 persen dari total warga masing-masing wilayah.50 persen dari total warga di Panjang Selatan). Sedangkan di Sukabumi Indah sebanyak 68. Hal ini dimungkinkan karena pasokan air di wilayah ini relatif tersedia dibandingkan dengan wilayah lainnya. Jika dilihat secara detail. wilayah seperti Pasir Gintung. Jika dilihat secara detail proporsi di masing-masing wilayah/kelurahan. 75 . walaupun terjadi kekeringan di wilayah Bandar Lampung. yaitu Sukabumi Indah (27. tercatat sebanyak 58 persen yang membeli air saat kekeringan terjadi di wilayah ini.85 persen dari total warga Lampung.97 persen. Proporsi ini terbesar jika dibandingkan dengan kelurahan lainnya di wilayah pesisir. Dengan demikian. Bagi warga yang tidak membeli air. Akan tetapi warga yang melakukan hal ini tidaklah banyak. terutama untuk aktifitas mandi dan mencuci. sedangkan di Panjang Selatan sebanyak 62. Perilaku adaptasi memompa air banyak dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. Berdasarkan data. Perilaku adaptasi membeli air. buang hajat dan keperluan memasak. Sementara itu proporsi warga di wilayah pesisir relatif merata dengan kisaran proporsi sebesar 22-30. Selain itu dapat juga diakibatkan tidak ada orang yang menjual air.66 persen di wilayah non pesisir dan 8. lebih banyak dilakukan oleh warga di wilayah pesisir. jumlah warga di wilayah pesisir yang melakukan pembelian air di saat kekeringan sebanyak 37. Respon pertama saat kekeringan terjadi adalah pengurangan konsumsi air. 2. Perilaku adaptasi memompa air dari sumber terdekat. Respon membeli air. karena keadaan geografis yang tidak memungkinkan orang bisa berjualan air.1. persentase jumlah warga yang memompa air dari sumber terdekat di wilayah pesisir lebih besar daripada wilayah non pesisir.

pertama adalah keragaman nafkah. kebutuhan hidup dapat dibantu dari hasil panen sayuran dan buah-buahan. masyarakat menanam beberapa jenis tanaman perkebunan.Strategi Nafkah Strategi nafkah yang umum terjadi pada masyarakat ada tiga. Dalam kondisi demikian. Berdasarkan hasil survey dan FGD di kelurahan amatan. Strategi nafkah yang kedua yang dilakukan masyarakat pada kelurahan amatan adalah pola nafkah ganda. Intesifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Pola nafkah ganda (keragaman nafkah). seperti istri maupun anak-anak yang sudah dewasa. dimana sambil menunggu hasil panen dari tanaman perkebunan. Aktivitas di off farm biasanya merupakan sampingan di luar pekerjaan pokok. Strategi ini juga berlaku baik pada masyarakat dengan mata pencaharian baik di sektor on farm maupun di sektor off farm.7 dan Tabel 4-8. Sehinggan bila harga suatu tanaman jatuh. mereka juga memanfaatkan lahannya untuk menanam tanaman hortikultur seperti sayuran dan buah-buahan. yaitu kombinasi dari beberapa matapencaharian yang dimiliki oleh seseorang. dan (3). maka keberadaan bencana banjir memberikan dampak kerugian yang lebih lebih besar terhadap ekonomi masyarakat Kota Bandar Lampung. Rangkuman tentang besaran dampak bencana serta upaya-upaya penanggulang warga terhadap masalah-masalah yang timbul dapat dilihat pada Tabel 4. dapat di bantu oleh harga jual tanaman lain yang relatif lebih stabil. Migrasi atau gerak penduduk secara permanen. Intensifikasi pertanian dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Batu Putuk dengan cara diversifikasi keragaman jenis tanaman. Tanaman hortikultur ini memiliki daur yang lebih pendek daripada tanaman perkebunan. dapat ditarik informasi bahwa strategi nafkah yang dilakukan masyarakat pada kelurahan amatan di Bandar Lampung selama ini adalah intensifikasi pertanian dan pola nafkah ganda. (2). Bila dibandingkan antara bencana banjir dan bencana kekeringan. tanaman hortikultur dapat membantu masalah ekonomi yang sulit. menjadi gagal panen karena adanya angin puyuh yang menyebabkan buah menjadi rontok. Demikan juga adakalanya tanaman perkebunan yang sudah berbuah. yang biasanya terdiri dari aktivitas-aktivitas ekonomi pokok di bidang on farm dan off farm. 76 . Selain menanam tanaman perkebunan. Biasanya dalam satu lahan. baik di wilayah pesisir maupun di wilayah non pesisir. Pola nafkah ini dilakukan dengan dua cara. Strategi pola nafkah ganda ini dilakukan hampir di semua kelurahan amatan. yaitu (1). Yang kedua adalah dengan cara memberdayakan anggota keluarganya.

Tabel 4-7. Dampak Bencana yang Menimpa Warga Kelurahan Amatan di Bandar Lampung, 2009
Panjang Selatan Masalah Banji r (%) 10 35 22,5 10 27,5 17,5 42,5 Kek erin gan (%) 10 47,5 5 2,5 10 12,5 25 Pasir Gintung Banj ir (%) 6 18 48 44 4 18 40 Kek erin gan (%) 2 40 2 2 4 6 14 Kota Karang Ban jir (%) 8,9 23,2 8,9 12,5 12,5 19,6 48,2 Keke ringa n (%) 3,6 39,3 10,7 17,9 25 Batu Putuk Keke ringa n (%) 10 32,5 2,5 35 32,5 7,5 Sukabumi Indah Ban jir (%) 12,9 6,5 6,5 3,2 3,2 22,6 Kekerin gan (%) 3,2 54,8 3,2 35,5 Kangkung Ke ker ing an (% ) 5,1 23, 1 2,6 2,6 15, 4 23, 1 30, 8

Ban jir (%) 2,5 5 -

Ban jir (%) 7,7 5,1 7,7 17,9 23,1 41

Pangan Air minum Rumah rusak Kerusakan asset Lapangan pekerjaan berkurang Berhutang Penyakit Penurunan produksi pertanian/t ernak/ ikan Kriminalit as Limbah

22,5

7,5

2

-

21,4

10,7

5

40

-

-

17,9

7,7

7,5 17,5

5 7,5

12

-

3,6 23,2

7,1 5,4

-

-

6,5 3,3

3,2 -

5,1 28,2

5,1 28, 2

Dari Tabel 4-8. dapat ditarik informasi bahwa, secara parsial dampak dari bencana banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung memiliki besaran yang relatif kecil. Besaran dampak ini diperoleh berdasarkan persepsi warga terhadap besarnya dampak bencana yang mereka rasakan pada berbagai aspek ekonomi. Dalam kenyataannya bencana yang terjadi di Bandar Lampung memang relatif masih jarang terjadi, bersifat lokal, dengan skala yang relatif kecil bila dibandingkan dengan daerah-daerah bencana lainnya. Namun bila melihat potensi kejadian iklim ekstrim yang semakin meningkat di masa datang, maka besaran dampak juga akan semakin besar. Tabel 4-8. Rangkuman Persepsi Masyarakat di Bandar Lampung Terhadap Besaran Dampak Bencana, serta Upaya Penanggulangan yang Dilakukan.
No 1 Masalah Terganggunya mata pencaharian utama: turunnya pendapatan Jumlah pengangguran Besaran Upaya Penanggulangan 16,73% warga menyatakan terganggunya Mencari alternatif mata pencaharian utama saat banjir mata pencaharian 9,96% warga menyatakan terganggunya lain, berhutang mata pencaharian utama saat kekeringan

2

11,3% warga mengatakan sangat susah mencari pekerjaan lain saat kejadian bencana banjir 77

3

Kelangkaan Pangan

4

Harga beberapa komoditi

5

Kelangkaan air minum

10,9% warga mengatakan sangat susah mencari pekerjaan lain saat terjadinya bencana kekeringan 5,9% warga menyatakan ada kelangkaan pangan saat tejadi bencana banjir 5,5% warga menyatakan ada kelangkaan pangan saat terjadi bencana kekeringan. Saat terjadi banjir, harga beras: meningkat 13,65 persen, ikan: 28,86 persen, palawija: 24 persen Saat terjadi kekeringan, harga beras meningkat: 12,79 persen, ikan meningkat: 13,71 persen dan palawija: 26,73 persen 19,1% warga menyatakan ada kelangkaan air minum saat terjadi bencana banjir 43,4% warga menyatakan ada kelangkaan air minum saat terjadi bencana kekeringan

Makan seadanya, meminta bantuan, dan berhutang. Makan seadanya, meminta bantuan, dan berhutang.

6

Kerusakan rumah

7

Kerusakan asset

8

Berhutang/ meminjam uang, Timbulnya berbagai penyakit

9

10

Penurunan produksi pertanian/ ternak/ ikan.

11

Evakuasi/ mengungsi Limbah

12

Mencari sumber lain, membeli air galon, menghemat pemakaian air, mengambil air dimasjid. 16,4% warga menyatakan mengalami memperbaiki rumah. kerusakan rumah pasca kejadian bencana banjir pasca kejadian kekeringan hanya 2% warga yang menyatakan mengalami kerusakan rumah 14,8% warga menyatakan mengalami Diperbaiki kerusakan aset pasca kejadian banjir pasca kejadian kekeringan hanya 1,2% warga yang menyatakan mengalami kerusakan aset 15,2% warga mengaku berhutang saat menggadaikan terjadi bencana banjir barang. 16% warga mengaku berhutang saat terjadi bencana kekeringan. 34% warga menyatakan timbul berbagai Berobat dan penyakit saat kejadian bencana banjir memelihara 22,3% warga menyatakan timbul berbagai kebersihan penyakit saat kejadian bencana kekeringan 12,1% warga mengeluhkan nya saat Tanaman dipupuk, kejadian bencana banjir diversifikasi 10,9% warga mengeluhkan nya saat tanaman kejadian bencana kekeringan. mencari pekerjaan lain berhutang 9% warga menyatakan mengungsi saat terjadi bencana banjir tetapi tidak di saat terjadi bencana kekeringan 14,1% warga mengeluhkannya saat dibersihkan dan di kejadian bencana banjir daur ulang 6,6% warga juga mengeluhkan hal serupa saat kejadian bencana kekeringan

78

BAB 5 PEMETAAN KERENTANAN DAN KAPASITAS ADAPTIF
5.1. Metodologi untuk Pemetaan Kerentanan dan Kapasitas Adaptif

Untuk menentukan indeks kapasitas dan kerentanan, kami menggunakan data survey sosio-ekonomi 2005 tingkat kelurahan (desa) dari Badan Pusat Statistik (BPS), sedangkan untuk beberapa data biofisik diperoleh dari sektor terkait atau dari citra satelit yang dihasilkan berdasarkan teknik-teknik interpretasi dengan GIS (Tabel 5-1). Semua data dibobot menurut kepentingan relatif mereka dalam membentuk kerentanan (5) dan kapasitas (C) untuk beradaptasi. Tabel 5-1. Indikator yang digunakan untuk mendefinisikan Kerentanan dan Kapasitas dan bobotnya
A A1 A2 Kapasitas Fasilitas listrik Pendidikan 0.07 0.13 0.20 0.27 0.30 Bobot B Kerentanan Jumlah rumah tangga yang tinggal di bantaran sungai Jumlah bangunan pada bantaran sungai Layanan air dari PDAM Kepadatan penduduk Kemiskinan Fraksi pantai Fraksi sungai Fasilitas non-drainase Bukan area terbuka hijau Bobot 0.05 0.05 0.10 0.10 0.20 0.10 0.10 0.20 0.10

0.05 B1 0.25 B2 B3 B4 B5 B6 B7 0.30 B8 0.20 B9 0.20 0.30 0.20 0.10 0.20 0.20

A21 TK A22 SD A23 SMP A24 SMA A25 Universitas A3 A4 Sumber utama pendapatn Fasilitas kesehatan

A41 Puskesmas A42 Poliklinik A43 Posyandu A44 Praktek bidan A45 Praktek dokter A5 Infrastruktur jalan

Catatan: *Pada hal fasilitas, Poliklinik adalah lebih baik dari Puskesmas karena poliklinik dioperasikan oleh pihak swasta, tetapi biaya pada poliklinik lebih tinggi dari biaya di Puskesmas. **Dari PDAM, *** Data dibangkitkan dari citra satelit dan peta topografi, **** Data dari RTRW 2005-2015 (Bappeda, 2003). Data lainnya dari data Potensi Desa BPS (2006). Untuk mengukur posisi relatif kerentanan dan kapasitas untuk beradaptasi suatu kelurahan, kami menentukan indeks kapasitas (CI) dan indeks kerentanan (VI). Indeks Kapasitas (CI) dikembangkan dengan menggunakan lima indikator utama (A1, ..., A5). Setiap indikator diberi skor. Indikator A1 adalah persentase rumah tangga di desa yang menggunakan fasilitas listrik yang mewakili tingkat kekayaan masyarakat dari desa-desa. Indikator A2 adalah pendidikan yang dapat mewakili kapasitas masyarakat di desa-desa dalam mengelola risiko. Semakin tinggi
79

Dalam kasus ini misalnya. maka nilai indikator adalah 0. Posyandu (Ps). kecamatan-j Kelurahan-i. transportasi dan bisnis komunikasi 0.pendidikan kapasitas mereka dalam mengelola risiko lebih baik.13*Ei+0.33*Uk) Dimana Pi. Indikator A3 merupakan sumber penghasilan utama masyarakat di kelurahan. Semua nilainilai sub-indikator dinormalisasi dengan jumlah populasi Kelurahan yang bersangkutan.3*Pli+0.2*Di) Karena nilai skor indikator ini sangat kecil.00 Indikator A4 adalah fasilitas kesehatan yang mewakili akses masyarakat ke fasilitas kesehatan. Rumus untuk menghitung CI adalah sebagai berikut: 80 .25 Pertambangan dan industri 0. Karena nilai indikator sangat kecil. Pij. semua nilai dibagi dengan skor tertinggi untuk mendapatkan nilai-nilai skor indikator berkisar dari 0 hingga 1 Indikator 5 adalah jenis dominan dari infrastruktur jalan. Nilai indikator berdasarkan jenis sumber pendapatan utama di suatu kelurahan No 1 2 3 4 Sumber utama pendapatan Skor (nilai indikator) Pertanian 0. Untuk kelurahan-kelurahan di mana sumber utama pendapatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim akan memiliki skor kapasitas rendah. Nilai skor di setiap Kelurahan IA4 dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: IA4i= 1/Pi * (0. Indikator ini terdiri dari lima sub-indikator yaitu jumlah TK (N).07*Ni+0.1*Bi+ 0. Semakin baik fasilitas kesehatan di Kelurahan maka kelurahan ini memiliki kapasitas yang lebih tinggi. Penskoran dari nilia IA2 pada tiap kelurahan dihitung menggunakan rumus berikut: IA2i= 1/Pi * (0. Pk). Tabel 5-2.25. SD (E). dan kecamatan-k kelurahan-i. maka semua indikator dinormalkan dengan skor tertinggi untuk mendapatkan kisaran skor antara 0 dan 1. SMP (J) pada tingkat kelurahan dan jumlah SMA (H) pada tingkat kecamatan dan jumlah Universitas (U) pada tingkat kota. kelurahan di mana pertanian merupakan sumber utama pendapatan masyarakat.2*Pki+0. Jasa 1. Klinik Bidan (B) dan Klinik Dokter (D).27*Sj)+1/Pik*(0. Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas.50 Perdagangan.20*Ji) + 1/Pij*(0.2*Psi+0. Untuk data ini kita mendefinisikan desa di mana infrastruktur jalan yang dominan terbuat dari aspalt akan memiliki nilai 1 Sementara bagi mereka yang non-aspalt akan mempunyai nilai 0. Nilai indikator berdasarkan sumber utama pendapatan disajikan pada Tabel 5-2.75 dll. Semua nilai-nilai sub-indikator dinormalisasi berdasarkan populasi dari masing-masing Kelurahan. Indikator ini lebih lanjut dibagi ke dalam 5 sub-indikator yaitu: jumlah Poliklinik (Pl). dan Pik adalah jumlah populasi pada kelurahan-i.

maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dinormalkan dengan nilai maksimalnya. sedangkan penambahan jarak 100 meter digunakan untuk mengantisipasi air pasang ekstrem. agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1. . Indikator B4 adalah kepadatan penduduk di mana semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka akan lebih tinggi tingkat paparan dari masyarakat terhadap bencana. maka semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimalnya. Untuk mendapatkan nilai-nilai dari indikator berkisar dari 0 hingga 1. semakin tinggi kapasitas kelurahan. Nilai indikator ini dinormalisasikan dengan jumlah penduduk pada kelurahan tersebut. Fraksi pesisir ditentukan dengan membagi daerah yang terkena gelombang pasang 100 m di setiap Kelurahan dengan luas wilayah Kelurahan tersebut(Gambar V-1). didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat relatif pentingya suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas. B5 adalah indikator jumlah rumah tangga miskin. Hal ini menempatkan kelurahan tersebut lebih rentan. semakin tinggi nilai indeks kapasitas. Indikator B3 adalah fraksi dari Kelurahan yang menerima layanan air minum.. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil. karena tingkat pemaparan kelurahan ini terhadap dampak kenaikan permukaan laut akan lebih tinggi daripada yang terletak di pedalaman. semua nilai-nilai dalam indikator ini telah dibagi dengan nilai maksimal. Kelurahan dengan fraksi pesisir tinggi akan lebih rentan daripada Kelurahan dengan fraksi pesisir kecil..CI i = ∑ wij * I Aij j =1 5 Di mana subskrip -ith mewakili desa -ith dan Wij adalah nilai bobot untuk indikator A-jth dari desa -ith. Kelurahan di mana sebagian besar masyarakat mendapatkan air minum dari Perusahaan Air Minum Negara (PDAM) akan kurang rentan terhadap dampak kekeringan karena PDAM biasanya masih bisa mensuplai air minum pada semua musim (kering atau basah). B8) sebagaimana ditetapkan dalam Tabel 4. Indikator B6 adalah fraksi wilayah pesisir di Kelurahan. Dengan rumus ini. Nilai skor dari indikator ini adalah satu dikurangi dengan nilai skor yang telah dinormalkan tadi.. Serupa dengan Indeks Kapasitas (CI). Hal ini dikarenakan genangan air pasang tinggi (rob) biasanya digunakan sebagai indikator dampak kenaikan permukaan air laut. Karena nilai indikator ini akan sangat kecil. 81 . Indikator B1 adalah persen dari rumah tangga di Kelurahan yang tinggal di tepi sungai. Nilai indikator ini adalah dinormalkan dengan ukuran penduduk Kelurahan. Semua nilai-nilai indikator ini sudah dinormalisasi oleh jumlah maksimum bangunan yang terletak di tepi sungai. Pemilihan nilai-nilai bobot bersifat subjektif. Indeks Kerentanan (VI) juga dikembangkan dengan menggunakan pendekatan yang sama. Ada delapan indikator utama (B1. Indikator B2 adalah jumlah bangunan yang terletak di tepi sungai. agar memiliki indikator nilai berkisar dari 0 hingga 1.

hal ini dapat mengacu pada order tertinggi. Indikator B9 non-kawasan terbuka hijau yang akan menentukan kapasitas tanah dalam menyerap curah hujan. Semakin tinggi indikator ini. Urutan tertinggi ini biasanya diwakili oleh lokasi dari akumulasi aliran permukaan. ditargetkan luas wilayah banjir seperti yang ditunjukkan pada Gambar V-2B diasumsikan sejauh 100 meter ke kiri dan kanan sisi segmen. Area pantai yang dipengaruhi oleh gelombang setinggi +100 m Indikator B7 adalah fraksi sungai yang ditentukan berdasarkan urutan (order) sungai. bagian dari sungai yang terbentuk sebagai hasil dari pertemuan antara order tertentu dianggap sebagai tingkat order berikutnya. sungai memiliki order-4 sebagai tingkat tertinggi. jaringan sungai dinotasikan sebagai angka berdasarkan tingkat (order). dan pertemuan antara order-2 mewakili order ke-3. dengan demikian. yang sangat sering menjadi sasaran banjir. 82 . semakin tinggi tingkat kerentannya. Namun. hal itu disebut sebagai order-1. Gambar V-2A mengilustrasikan order tertinggi sungai ditandai dengan garis merah.Area affected by tide+100 m Gambar 5-1. Order sungai ditentukan dengan menggunakan metode Strahler (1986). Dalam studi ini. Dalam kasus ini. dalam kasus di mana dua order dengan tingkat yang berbeda bertemu di segmen tertentu. Berdasarkan aturan ini. Indikator B8 mengindikasikan fraksi kelurahan yang tidak memiliki fasilitas drainase. Bagian atas aliran sungai diberi nomor notasi sama dengan 1. Segmen sungai di mana kita dapat menemukan pertemuan antara order-1 didefinisikan sebagai order ke-2 sungai. Dalam metode ini.

Kelurahan yang terletak di Kuadran 5 akan memiliki CI rendah dan VI tinggi. dengan mengurangi nilai-nilai dengan indeks 0. Dengan formula ini. didasarkan pada pemahaman dan pengetahuan para ahli pada tingkat kepentingan relatif dari suatu indikator dalam menentukan tingkat kapasitas. Sedangkan kelurahan yang terletak di kuadran 1 akan mempunyai VI rendah dan CI tinggi.5. semakin rentan kelurahan ini.2.Penentuan order aliran tertinggi (A) & pendugaan luas dari luapan air sungai (B) Formula untuk menghitung CI adalah sebagai berikut: VI i = ∑ wij * I Bij j =1 5 Di mana subskrip -ith mewakili Kelurahan-ith dan Wij bersifat subjektif. jika kelurahan terletak di kuadran 5 terkena bencana tertentu.5. maka nilai VI dan CI akan berkisar dari -0.A B Gambar 5-2.5. semakin tinggi indeks. Sebagai VI dan nilai-nilai CI berkisar dari 0 hingga 1. dampaknya akan lebih parah dibandingkan dengan kelurahan apabila kelurahan tersebut terletak di kuadran 1. Posisi relatif Kelurahan menurut CI dan VI ditentukan berdasarkan posisi mereka di lima Kuadran seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5-3. 5. semua nilai-nilai VI dan CI dari semua Kelurahan dikurangi 0. Berdasarkan sistem klasifikasi ini.5 ke 0. 83 . Klasifikasi Kelurahan (Desa) Berdasarkan Indeks Kerentanan dan Kapasitas Untuk mengelompokkan desa-desa berdasarkan tingkat kerentanan dan kapasitas.

50 -0. Faktor-faktor yang digunakan untuk normalisasi skor indikator pada 2025 dan 2050 adalah sama dengan tahun baseline 2005.25 Low Vulnerability +0.50 Gambar 5-3. pendidikan dan non-kawasan terbuka hijau (berdasarkan perencanaan wilayah atau RTRW). Pengelompokan kelurahan berdasarkan indikator kapasitas dan kerentanan Untuk menilai perubahan V dan C di masa depan. ini dikarenakan tidak tersedianya data dari sumber lain.25 Index +0.25 -0.50 5 4 +0. 84 . kami hanya mempertimbangkan perubahan kepadatan penduduk (berdasarkan proyeksi pemerintah).50 -0.25 Low Capacity Index 3 High Capacity Index 2 1 -0.High Vulnerability Index +0.

Berdasarkan hasil ini dapat dijelaskan bahwa tingkat kerentanan sedikit melebar.53. Pada tahun 2005. Berdasarkan hasil proyeksi ini menunjukkan bahwa kemampuan kapasitas atau adaptasi masyarakat di Bandar Lampung cukup baik.41-1.22-0. Pada kondisi baseline 2005.29-0.(A) (B) (C) Gambar 5-4. 85 . mengingat hasil analisis yang diperoleh unuk proyeksi ke depan (2050) pada level yang dapat dikatakan sama dengan kondisi baseline 2005.02. Kondisi tersebut ditunjukkan pula dengan semakin meningkatnya nilai indeks CI. dan proyeksi pada tahun 2050 menunjukkan nilai indeks 0.96. Hal ini mengindikasikan bahwa pada kondisi lingkungan yang sama kemampuan untuk beradaptasi lebih meningkat.05. nilai CI bervariasi pada kisaran 0.51. VI berkisar antara 0.431. pada tahun 2025 VI berkisar antara 0. (B) 2025. sedangkan proyeksi untuk tahun 2050 VI berkisar antara 0.23 hingga 0. namun demikian masih dapat dianggap stabil. (C) 2050 Gambar 5-4 menunjukkan nilai indeks untuk kerentanan dan kapasitas untuk setiap kelurahan di Bandar Lampung.52. Indeks Kerentanan dan Kapasitas Kelurahan (A) Baseline.19 hingga 0. tetapi proyeksi untuk tahun 2025 menunjukkan peningkatan yang signifikan 0.

(A)

(B) Figure 5-5. Coping capacity index of Kelurahan of Lampung City (A) Baseline, (B) 2025, (C) 2050

(C)

Kondisi kerentanan dan kapasitas ditunjukkan mulai dari sangat rendah (hijau) hingga sangat tinggi (merah). Berdasarkan Gambar 5-5, terlihat bahwa kondisi baseline 2005 dan kondisi proyeksi pada tahun 2025 dan 2050 tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Namun demikian dari gambaran tahun 2050, terlihat bahwa pada sebagian daerah yang semula ditunjukkan dengan warna merah (sangat tinggi) berubah menjadi oranye (tinggi) dan pada sebagian daerah lain warna kuning (medium) berubah menjadi warna hijau (very low), artinya terjadi penurunan VI atau peningkatan CI. Meskipun ada juga sebagian kecil daerah yang semula berwarna kuning (medium) menjadi oranye (high), artinya terjadi peningkatan VI atau penurunan CI.

86

BAB 6 ANALISIS RISIKO IKLIM

6.1. Metodologi untuk Pemetaan Risiko Iklim Untuk menilai risiko iklim saat ini dan masa depan, kita mengadopsi definisi risiko iklim seperti yang disarankan oleh Beer dan Ziolkowski (1995) dan Jones et al. (2004). Risiko didefinisikan sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian iklim tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi dari kejadian iklim tak terduga jika itu terjadi. Dengan demikian risiko dapat disajikan dalam bentuk matriks risiko (Tabel 6-1). Dari Tabel 6-1, kita dapat mendefinisikan risiko iklim akan sangat tinggi jika kemungkinan terjadi kejadian tak terduga sangat mungkin dan konsekuensi dari peristiwa bencana bersifat katastrofik. Tabel 6-1. Matriks risiko sebagai fungsi dari probabilitas dari kejadian tak terduga untuk terjadi dan konsekuensi jika kejadian tak terduga itu terjadi. Kemungkinan Konsekuensi katastropik kritis Marginal Probabilitas terjadinya suatu kejadian yang tidak diharapkan Kemungkinan Sangat Mungkin Mungkin kecil Sangat Tinggi Tinggi Medium Tinggi Medium Rendah Medium Rendah Sangat Rendah

Konsekuensi dari kejadian akan tergantung pada rentang adaptasi (coping range) yang dibentuk oleh berbagai biofisik, sosial dan faktor-faktor ekonomi. Coping range merupakan selang toleransi dari suatu sistem terhadap keragaman iklim. Apabila kondisi iklim melewati selang toleransi ini maka sistem akan rusak atau keberlanjutan dari sistem akan terganggu (Boer, 2007). Dalam konteks ini, coping range dapat diwakili oleh indeks kerentanan dan kapasitas. Jadi jika peristiwa tak terduga terjadi di kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan kapasitas yang rendah, dampak dari kejadian itu akan tinggi. Jika itu terjadi di kelurahan dengan kerentanan rendah dan kapasitas yang tinggi, dampaknya diharapkan akan rendah. Dalam studi ini, kami mengadopsi lima tingkat coping capacity index seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5.4. Untuk memasukkan beberapa bencana iklim yang ditampung dalam matriks risiko iklim, kita memodifikasi kemungkinan kejadian tak terduga yang didefinisikan dalam Tabel 6-2 sebagai indeks yang disebut indeks komposit bencana iklim/composite climate hazard index (CCHI). The Climate Hazard Index (indeks bencana iklim/CHI) is dihitung mengikuti formula:

CCHI i = ∑ wij * CHI ij
j =1

n

di mana CCHIi adalah indeks bencana iklim komposit dari kelurahan ke-i, wij adalah bobot bencana iklim ke-j di kelurahan ke-i dan CHIij adalah indeks bencana iklim kej dari kelurahan ke-i. Jenis bencana iklim yang dianalisis dalam studi ini adalah
87

banjir, kekeringan, longsor dan kenaikan permukaan laut (robs). Angin yang kuat sangat jarang terjadi di kota karena itu kita mengecualikan dalam analisis ini. Bobot dan formula yang digunakan untuk menghitung indeks bencana iklim diberikan pada Tabel 6-2. Matriks risiko iklim yang disesuaikan disajikan pada Tabel 6-3. Tabel 6-2. Bobot dan rumus untuk menghitung indeks bencana iklim
Tipe bencana Bobot* Formula Probabilitas untuk mempunyai curah hujan melebihi 339 mm dikalikan dengan rataan wilayah Kelurahan yang dipengaruhi oleh banjir. Untuk mendapatkan nilai index antara 0 – 1, maka nilai yang diperoleh dari 1.25 hitungan dinormalisasikan dengan nilai maksimumnya. Probabilitas untuk mempunyai bulan kering dengan panjang lebih dari 6 bulan dikalikan dengan jumlah bulan kering di atas 6 bulan (DM6+). Bulan kering adalah bulan dengan curah hujan kurang dari 129 mm. Jika total bulan kering adalah 8 bulan, maka DM6+ = 2 bulan. Untuk mendapatkan nilai index antara 0 – 1, maka nilai yang diperoleh dari 1.50 hitungan dinormalisasikan dengan nilai maksimumnya. Probabilitas untuk mempunyai curah hujan lebih besar dari nilai Q2 dikalikan dengan indikator kelerengan dari kelurhan bersangkutan. Kelurahan yang memiliki lokasi dengan kelerengan lebih besar dari 45o, 0.75 maka nilai indikator sama dengan 1, selainnya bernilai 0.

Banjir

Kekeringan

Tanah Longsor Kenaikan muka air laut Max CCHI

1.00 Fraksi dari kelurahan yang tergenang akibat kenaikan permukaan air laut 4.50

Catatan: Bobot sangat subjektif dan ditentukan berdasarkan Expert Judgement. Kekeringan memiliki bobot tertinggi karena dampaknya bisa lebih parah daripada banjir pada durasi dan luas wilayah yang terkena dampak. Dampak banjir, longsor dan kenaikan permukaan laut lebih lokal daripada kekeringan. Tabel 6-3. Matriks risiko iklim menurut coping capacity index dan composite climate hazard index (CCHI, indeks komposit bencana iklim) Indeks komposit bencana iklim (CCHI) Lebih dari 3.5 Antara 2.0 dan 3.5 Kurang dari 2.0 Sangat Tinggi Tinggi Sedang - Tinggi Tinggi Sedang - Tinggi Sedang Sedang - Tinggi Sedang Sedang - Rendah Sedang Sedang - Rendah Rendah Sedang - Rendah Rendah Sangat Rendah

Coping Capacity Index 5 4 3 2 1

Metodologi untuk menentukan ambang curah hujan yang menyebabkan banjir dan kekeringan didasarkan pada distribusi statistik dari curah hujan bulanan dan data bencana dari 7 kelurahan (Tabel 6-4). Ambang batas kritis curah hujan tersebut ditetapkan berdasarkan karakteristik dari bencana dan waktu terjadinya bencana (bulan dan tahun) dan intensitas curah hujan bulanan regional dari tahun yang bersangkutan (berdasarkan data dari Stasiun Masgar, 05°10'12" LS dan 105°10'29.4" BT).
88

banjir akan terjadi. jika curah hujan musim hujan di atas nilai ini.2956 105.3231 105.4465 -5.4314 -5.3231 105.4547 -5.2677 105.4752 -5. Untuk banjir.3983 -5.4047 -5. JanMar May-Oct Apr-Oct Feb-Sept Every month May-Oct Incident Year 1981-2007 2008 2008 2008. 339 mm Threshold for drought. kita mengadopsi nilai kritis 339 mm (kuartil 3 dari distribusi) karena banjir tidak terjadi setiap tahun sebagaimana kekeringan. Ini berarti bahwa jika curah hujan di bawah 129 mm.3983 -5. kami menemukan curah hujan yang memisahkan dua distribusi curah hujan bulanan yaitu sebesar 129 mm.2957 105. Threshold for flood.4314 Date and Month Oct-Dec Jul 18-Dec Aug-Oct Jan Rainy season May-Aug.4047 -5.4752 -5. Kejadian banjir dan kekeringan di Kota Bandar Lampung Type of Disasters Flood Name of Village Panjang Selatan Sukabumi Indah Pasir Gintung Kota Karang Kangkung Batu Putu Drought Panjang Selatan Sukabumi Indah Pasir Gintung Kota Karang Kangkung Batu Putu Sub-District Panjang Sukabumi Tanjung Karang Pusat Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Utara Panjang Sukabumi Tanjung Karang Pusat Teluk Betung Barat Teluk Betung Selatan Teluk Betung Utara Lon 105.2009 2006 Every year Every year Every year Every year Every year Every year Sumber: Bappeda Lampung (2006) Berdasarkan Boxplot data curah hujan bulanan musim kemarau dan musim hujan (Gambar 6-1).4547 -5. Figure VI-1.2229 Lat -5. Nilai ini diambil sebagai ambang curah hujan yang menyebabkan kekeringan ketika kekeringan terjadi setiap tahun (Tabel 64).2571 105.2606 105.2571 105.2009 2006. kekeringan akan terjadi.4465 -5.2677 105.2606 105. Jadi. 129 mm Gambar 6-1 Box plot curah hujan bulanan pada musim hujan dan kemarau selama tahun-tahun terjadi bencana dan tahun-tahun tidak terjadi bencana 89 .2229 105.Table 6-4.

50). skenario bencana iklim A2 pada tahun 2025.5 (ditunjukkan dengan warna hijau dan kuning pada gambar). Indeks Bencana Iklim komposit Bandar Lampung.50) 90 . A B C D E F Gambar 6-2.2. (B) Bencana Iklim skenario A2 2025.6. A2 pada tahun 2050.2 menunjukkan Indeks Komposit Bencana Iklim baseline 2005. dan hanya sebagian kecil yang >1. Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah berada pada kisaran indeks <1.75). Catatan: (A) & (D) Bencana Iklim Baseline. yaitu di bagian selatan Kecamatan Panjang. Kuning (1. Merah (> 1. B1 pada`tahun 2025 dan skenario bencana iklim B1 pada tahun 2050. (F) Bencana Iklim skenario B1 2050.75-1. Catatan: Hijau (<0. (C) Bencana Iklim skenario A2 2050. Klasifikasi Kelurahan (Desa) berdasarkan Tingkat Eksposur terhadap Risiko Iklim Gambar 6.5 (ditampilkan dalam warna merah pada skenario A2 dan B1). (E) Bencana Iklim skenario B1 2025.

5 sedikit lebih lebar (Gambar 6.2 B dan C) dari pada baseline atau skenario B1. pada banyak wilayah tidak mengalami perubahan.Dalam skenario A2. A B C D E F Gambar 6-3. Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur mereka terhadap risiko iklim (A) & (D) Risiko Iklim Baseline. yang ditunjukkan oleh sebagian dari Kecamatan Teluk Betung Barat. (B) Risiko Iklim skenario A2 2025. Adaptasi akan menentukan lebar atau sempitnya coping range (interval toleransi). (C) Risiko Iklim skenario A2 2050. Kemampuan adaptasi yang lebih tinggi akan memiliki interval toleransi dari sistem yang lebih luas. ketika diproyeksikan dengan skenario A2 dan B1 pada tahun 2025 dan 2050. Baseline Bencana Iklim tahun 2005. Hal ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik. (F) Risiko Iklim B1 skenario 2050 91 . daerah yang memiliki indeks >1. (E) Risiko Iklim skenario B1 2025.

yaitu kelurahan Gunung Mas di Kecamatan Teluk Betung Utara dan Kelurahan Garuntang di Kecamatan Teluk Betung Selatan. Ada dua Kelurahan akan pindah dari M-H ke kategori risiko iklim tinggi. Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Untuk mengurangi tingkat risiko Kelurahan terhadap dampak perubahan iklim. Sisanya adalah 5 Kelurahan (5. Jumlah Kelurahan menurut kategori Indeks Risiko Iklim Analisis di atas menunjukkan bahwa bagaimana perubahan dalam kondisi sosialekonomi dan biofisik akan mengubah kapasitas ketahanan Kelurahan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada Kelurahan dengan kategori risiko iklim Sangat Tinggi (VH) saat ini (kondisi baseline). Di masa depan (skenario 2025 dan 2050). akan terkena risiko iklim yang lebih tinggi (Gambar 6. infrastruktur dan program pengembangan masyarakat harus diarahkan untuk meningkatkan indikator-indikator sosial-ekonomi dan biofisik dalam mempersiapkan kapasitas kerentanan dan adaptasi dari Kelurahan. dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). Gambar 6. Sepang Jaya dan kelurahan Kedaton (Kecamatan Kedaton). Bumi Waras dan Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan). 92 . 22 Kelurahan (22.7%) pada risiko iklim L-M (Rendah ke Medium). Ini termasuk Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat).3.4%) pada risiko L (rendah) dan 21 (21. terutama di bawah skenario SRESB1.Klasifikasi Kelurahan berdasarkan tingkat eksposur risiko iklim ditunjukkan pada Gambar 6. lebih banyak Kelurahan.2%) dengan kategori risiko M-H. Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). Ada sekitar 14 Kelurahan (14.1%) berada pada risiko iklim M (Menengah).4). 36 Kelurahan (36.4.4). Kategori tertinggi adalah hanya Menengah ke Tinggi (M-H). Program adaptasi harus diprioritaskan di Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah dan sedang terkena atau berpotensi terkena indeks bencana iklim yang tinggi.4%) Kelurahan pada risiko iklim VL (sangat rendah). Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang Sub-distrik). Kelurahan Kangkung. Sementara banyak dari Kelurahan dengan kategori risiko L-M akan pindah ke kategori risiko sedang (M) (Gambar 6.

Beberapa daerah tangkapan air sungai yang ada telah rusak terutama pada bagian hulu. Potensi bencana lain yang dapat mengancam kota Bandar Lampung adalah letusan gunung berapi. Kota Bandar Lampung termasuk dalam wilayah 4 dan wilayah 5 (Standar Perancangan Ketahanan Gempa – SNI 03-126-2002) dengan percepatan gravitasi 0. Kondisi diatas menyebabkan kapasitas tampung sungai menjadi berkurang dan pada musim hujan terjadi banjir. Kemungkinan bahaya yang mengancam adalah hujan abu. namun sangat dipengaruhi oleh aktivitas gempa bumi dangkal yang berhubungan dengan aktivitas patahan-patahan.25 g1. hal 4-4 93 . Sedangkan dibagian tengah karena keterbatasan lahan dan ketidakteraturan dalam penataan lingkungan beberapa wilayah tampungan air/retensi alam dibangun menjadi perumahan. Meskipun jaraknya relatif jauh. Dilihat dari ketinggian yang dimilikinya. sedangkan kecamatan dengan ketinggian 2-5 mdpl yaitu Teluk Betung Selatan dan Panjang. Wilayah 4 dan wilayah 5 menunjukan bahwa kota Bandar Lampung merupakan wilayah yang punya probabilitas cukup tinggi untuk kejadian gempa bumi. kecamatan yang terketak diatas perbukitan dengan ketinggian 700 mdpl yaitu Kedaton dan Rajabasa. perkantoran maupun fasilitas umum sehingga daerah parkir air menjadi berkurang. namun berdasarkan catatan kejadian. kota Bandar Lampung terletak pada jalur patahan berpotensi aktif yang setiap saat dapat menimbulkan ancaman gempa. Kompleksitas pengaturan tataguna lahan dan kepadatan penduduk telah membuat kota Bandar Lampung menjadi kota yang sangat rentan terhadap berbagai ancaman seperti gempa bumi. Climate Hazard di Kota Bandar Lampung Kota Bandar Lampung merupakan kawasan dengan bentuk daratan dan perbukitan dengan letak ketinggian berada antara 0-700 mdpl. Sedangkan di bagian hilir kepadatan penduduk tinggi mendorong masyarakat memanfaatkan daerah bantaran kali untuk permukimannya segingga muncul kawasan kumuh. Secara geologis.BAB 7 PEMERINTAH DAN KELEMBAGAAN DALAM KAJIAN KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM 7. tanah longsor. Berdasarkan data distribusi episentrum gempa dangkal dan menengah di sekitar Selat Sunda. terlihat bahwa daerah Kota Bandar Lampung kurang dipengaruhi aktivitas gempa bumi Benioff Zone. mulai dari material ukuran halus sampai kasar yang dapat mengakibatkan robohnya atap bangunan. rusaknya hutan dan tanaman pertanian serta menyebabkan sakit mata dan saluran pernafasan. Kota Bandar Lampung pernah mengalami dampak letusan gunung api pada tahun 1883 dan 1928.1. 1 Laporan Akhir Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung T. kebakaran dan lain-lain. Kota Bandar Lampung terletak lebih dari 50 km sebelah barat laut Gunung Krakatau.20-0. Banjir yang terjadi di kota Bandar Lampung disebabkan banyak faktor antara lain bentuk geografis wilayah dan budaya masyarakat yang tidak peduli kelestarian lingkungan.A 2008. salah satu gunung berapi yang masih aktif di Selat Sunda.

Perubahan iklim menimbulkan dampak yang secara cepat dirasakan masyarakat dengan adanya berbagai kejadian ekstrem. Teluk Betung Barat pada tanggal 29 Maret 2007. banjir dan rob (naiknya muka air laut). hanya sebagian model yang memperirakan bahwa curah hujan akan meningkat. meskipun keragaman curah hujan 94 . Hal ini menunjukan bahwa musim hujan cenderung berakhir dengan cepat dibandingkan dengan kondisi normal yang terjadi di masa lalu (sebelum tahun 1970an). Kekeringan dan banjir terjadi secara dominan di kampung Sukabumi dan Batu Putu. angin ribut. Longsor sangat dipengaruhi keseimbangan air dalam tanah. Terjadi penurunan curah hujan yang rendah di musim basah (SON dan DJF) dan penurunan curah hujan yang tinggi di musim kemarau (MAM dan JJA). sebagian besar model menyatakan bahwa curah hujan bulan DJF akan meningkat. Berdasarkan catatan pernah terjadi kejadian longsor Bukit Camang di Poncoh Raya.Bencana longsor merupakan suatu bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Analisis kecenderungan jangka panjang dengan data Climate Research Unit (CRU) untuk kota Bandar Lampung menunjukan hasil yang tidak konsisten dengan analisis trend dikarenakan adanya variasi keragaman data curah hujan dalam satu dekade (IPO) dan juga terkait dengan modulasi frekuensi rendah dari El Nino (ENSO) terutama setelah tahun 1970-an. Pada tahun 2080. Rob sering terjadi di Panjang Selatan. Perubahan iklim secara mendasar akan meningkatkan frekuensi dan durasi dari bahaya dan ancaman alam serta berbagai kejadian dan dampak yang dirasakan. Dari rekaman data historis stasiun pemantauan hujan sekitar Bandar Lampung menunjukan adanya kecenderungan yang menurun jatuhnya hujan di semua musim. Kondisi diatas menunjukan bahwa curah hujan kota Bandar Lampung tidak akan berubah dalam atmosfir yang semakin memanas. Selain ancaman bencana alam yang sering terjadi. termasuk kota Bandar Lampung yang terletak di Teluk Lampung. sedangkan untuk musim kemarau. sementara Panjang Selatan mengalami hampir semua ancaman bencana. Prediksi iklim kota Bandar Lampung di masa depan menunjukan bahwa sebagian model memperkirakan bahwa curah hujan di musim hujan (des-jan) diperirakan bahwa tahun 2025 dan 2050 akan meningkat dan sebagian model memprediksikan akan menurun. termasuk kota Bandar Lampung. Perubahan iklim akan memberikan pengaruh dan dampak yang lebih signifikan terhadap masyarakat dan wilayah yang berada di kawasan pesisir/pantai. dimana awal musim hujan cenderung terlambat dan durasinya lebih pendek pada saat ini. Kejadian banjir biasanya terjadi pada bulan November – April. Longsor merupakan bentuk erosi yang pengangkutan atau pemindahan tanahnya terjadi pada suatu saat yang relatif pendek dalam jumlah (volume) yang sangat besar. Berdasarkan informasi masyarakat dan studi mitigasi bencana di kota Bandar Lampung menunjukan bahwa kejadian ekstrem yang frekuensinya sering terjadi adalah kekeringan. Hasil analisis perubahan iklim dan kejadian ekstrem yang dilakukan CCROM untuk kota Bandar Lampung mengindikasikan terjadinya perubahan signifikan awalnya musim. Kota Karang dan Kangkung. sementara rob terjadi antara September dan Desember sedangkan angin ribut antara bulan Desember dan Maret. Kota Bandar Lampung juga tidak dapat terhindar dari pengaruh dan dampak perubahan iklim yang sedang terjadi di semua belahan dunia.

Tingkat kerentanan kota. penduduk dan sistem kota terhadap pengaruh dan dampak perubahan iklim sangat bergantung pada berbagai faktor termasuk kapasitas dalam beradaptasi. penyediaan dan penyaluran air bersih. Hubungan antar sektor dan sistem dalam wilayah perkotaan membutuhkan pendekatan terpadu dan menyeluruh untuk memperkuat kapasitas dan mempertimbangkan tata kepemerintahan dalam berbagai tingkat. LSM. tidak dilibatkan dalam perencanaan untuk memperkuat ketahanan dari pelayanan yang diberikan (misalnya pengurangan risiko bencana. sosial. Analisis kepemerintahan dan kelembagaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kajian faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kerentanan secara fisik. ekonomi dan sumberdaya manusia. sektor dan kota. penyaluran sosial pelayanan kesehatan. Ketahanan kota terhadap perubahan iklim dapat terwujud apabila Pemerintah Kota memiliki kemampuan respon cepat terhadap bencana. Pembahasan yang akan dilakukan pada bagian ini selanjutnya lebih menguraikan hasil analisis mengenai komponen kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka penilaian tingkat kerentanan kota terhadap perubahan iklim. LSM. Berbagai faktor tersebut meliputi fisik.akan semakin banyak terjadi. Sistem tata kepemerintahan yang akuntabel. Tentunya tidak hanya pemerintah kota yang berperan penting dalam pengelolaan sistem. Hal ini menunjukan bahwa intensitas kejadian ekstrem akan semakin meningkat sebagai hasil dari meningkatnya frekuensi dan intensitas El Nino (ENSO). Bagaimanapun juga. atau dapat mengembangkan rencana kota yang fleksibel terhadap dampak perubahan iklim. Memahami tantangan-tantangan tersebut maka pemerintah 95 .2. atau penyediaan air minum melalui tanki. universitas dan organisasi kemasyarakatan adalah aktor penting dalam penyediaan pelayanan atau mekanisme yang dapat memperkuat kapasitas adaptasi. sektor swasta. Salah satu komponen dalam faktor sosial yang mempengaruhi tingkat kerentanan kota adalah berkaitan dengan fungsi kepemerintahan dan kelembagaan (governance and institutions). lingkungan. Misalnya penyediaan pelayanan keuangan bagi masyarakat miskin oleh swasta. korupsi dan lemahnya koordinasi. pendidikan dan kesadaran publik). Seringkali. atau perencanaan pengelolaan bencana yang dilakukan LSM dan organisasi kemasyarakatan. koordinasi antar sektor dalam perencanaan kota seringkali lemah (misalnya rencana pembangunan ekonomi dan sosial terpisah dari penyusunan rencana pembangunan fisiknya). pelaku di luar pemerintah (misalnya swasta. pelaku sektor informal) yang menjadi aktor utama dalam penyediaan pelayanan. Sebaliknya kota yang rentan dan tidak memiliki daya tahan adalah kota yang memiliki banyak masalah termasuk kemiskinan. lingkungan. Ruang Lingkup Komponen Kepemerintahan dan Kelembagaan Isu tata kepemerintahan (good governance) dan kelembagaan (institutional) membutuhkan perhatian khusus sebagai bagian sistem pengelolaan dan penyediaan dan juga perencanaan adaptasi yang secara langsung mempengaruhi kerentanan dan kapasitas adaptasi pada tingkat individu. ekonomi dan sumberdaya manusia yang dilakukan oleh CCROM dan Mercy Corps. transparan dan responsif memungkinkan terjadinya tindakantindakan adaptasi. 7.

selayaknya mempromosikan upaya-upaya untuk memperkuat kapasitas adaptasi yang lebih terkoordinasi dan terencana. Meluasnya dampak tersebut sangat bergantung tidak saja pada ketersediaan infrastruktur saat ini. kaum perempuan. kesehatan dan sektor ekonomi sangat rentan terhadap dampak iklim karena saling ketergantungan dari sistem yang rumit ini. sanitasi. Lingkup penilaian kerentanan dilihat dari aspek tata kepemerintahan dan kelembagaan terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut : Pemetaan peran dari pemangku kepentingan dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor yang dipengaruhi iklim (misalnya air. perikanan.3. Sistem perkotaan. laki-laki. tapi juga pada kapasitas kelembagaan dan proses kepemerintahan di kota-kota dalam mengelola dampak tersebut. diperburuk dengan pesatnya urbanisasi. pengelolaan bencana) Menilai bagaimana iklim dan adaptasi yang sekarang ini terintegrasi dalam program-program (jangka pendek dan panjang) dan bagaimana bisa berjalan efektif untuk menyesuaikan dengan risiko iklim di masa depan Menilai kekuatan dan kelemahan dari perencanaan mengintegrasi adaptasi. transportasi. menjadikan pentingnya suatu pendekatan yang mempertimbangkan banyaknya factor berpengaruh pada kerentanan dan siapa serta bagaimana setiap kelompok yang berbeda memiliki tingkat kerentanan yang berbeda pula. Pemetaan peran stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektorsektor terkait dengan perubahan iklim Identifikasi Pemangku Kepentingan (Stakeholder Identification) Bagian ini menguraikan pemetaan dan analisis peran pemangku kepentingan (stakeholder mapping and analysis) dalam penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait dengan perubahan iklim. drainage. Kelompok sosial masyarakat. ketimpangan kesejahteraan dan akses terhadap pelayanan dan terbatasnya perencanaan kota serta tata guna lahan. Dengan pengertian tersebut. maka suatu rencana dan strategi adaptasi seyogyanya dibuat dan dikembangkan berdasarkan kapasitas yang dimiliki dan memperhatikan faktor-faktor mendasar yang berpengaruh pada kerentanan setiap kelompok sosial yang berbeda. kesehatan. sampah. dan anak-anak menghadapi dampak yang berbeda dan mempunyai kapasitas adaptasi yang berbeda. Kota-kota di Asia memiliki kerentanan tinggi terhadap dampak perubahan iklim. termasuk kapasitas fiskal pemerintah untuk Mengidentifikasi mekanisme untuk program dan proses perencanaan untuk mencapai integrasi risiko dan adaptasi yang lebih baik 7. seperti air. sering terjadinya kejadian iklim ekstrem. energi. Adanya ketidakpastian dalam perubahan iklim. Analisis pemangku kepentingan adalah suatu pengertian yang mengacu pada tindakan untuk menganalisa perilaku pemangku kepentingan terhadap sesuatu (biasanya suatu proyek) dan perubahan yang akan 96 . pertanian) Pemetaan proses dan struktur yang ada untuk perencanaan (pembangunan.

Terdapat 17 Dinas Daerah yang dibentuk di Kota Bandar Lampung3. sedangkan pemangku kepentingan eksternal yang berada di luar wilayah. Pemangku kepentingan dapat juga dikelompokan berdasarkan lingkup/posisi yaitu lingkup internal. yakni pemangku kepentingan yang berada diluar pengaruh terdalam. (ii) menganalisis peran dan tanggung jawab serta kontribusi masing-masing pemangku kepentingan di masing-masing sektor perubahan iklim. 2 3 Wikipedia. sektor swasta. Dinas Daerah. dan lain-lain. Asosiasi. Terdapat 8 (delapan) Lembaga Teknis Daerah dan 1 (satu) satu satuan pamong praja (Satpol PP) di Kota Bandar Lampung4. Dalam konteks ini. lembaga non pemerintah. yakni para pemangku kepentingan yang berada di lingkaran pengaruh terdalam dan lingkup eksternal. Satuan Polisi Pamong Praja. Yang dimaksud perangkat daerah adalah unsur pembantu Walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang terdiri dari Sekretariat Daerah. Perguruan Tinggi. Organisasi Kemasyarakatan.terjadi2. namun mempengaruhi dan menentukan proses yang terjadi didalam. (iii) memetakan tingkat kepentingan dan kekuatan yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan dalam upaya penyediaan dan pengelolaan sektor-sektor terkait perubahan iklim. Sekretariat DPRD. Swasta/Dunia Usaha. Sedangkan yang dimaksud dengan pemangku kepentingan (stakeholder) adalah orang atau organisasi yang terkena dampak baik secara positif maupun negatif atau penyebab suatu dampak dari tindakan yang dilakukan. Kecamatan dan Kelurahan. stakeholder analysis diakses pada tanggal 8/1/2010 Perda Nomor 3 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Bandar Lampung Perda Nomor 4 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Satuan Pamong Praja Kota Bandar Lampung 4 97 . swasta dan masyarakat yang terkena dampak atau menjadi penyebab munculnya berbagai kejadian ekstrem akibat perubahan iklim. Lembaga Lain. Pemangku kepentingan internal berasal dari unsur pemerintah daerah (pemerintah kota). Pemerintah Kota/Kabupaten. Pengertian dari Pemerintah Daerah adalah Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur Penyelenggara Pemerintah Daerah. Dinas Daerah adalah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah yang mempunyai tugas membantu Walikota dalam melaksanakan kewenangan desentralisasi Pemerintah Daerah di bidangnya. pemangku kepentingan internal yang berada didalam wilayah kota Bandar Lampung. Lembaga Teknis Daerah. Klasifikasi pemangku kepentingan umumnya dikelompokkan kedalam kategori sebagai berikut: Pemerintah Pusat (kementerian dan lembaga pemerintah non departemen). Pemangku kepentingan terkait perubahan iklim di Kota Semarang adalah orang atau organisasi pemerintah. perguruan tinggi dan lainnya. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Lembaga Teknis Daerah adalah merupakan unsur pendukung tugas Walikota dalam melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang sifaktnya spesifik. Lembaga Kerjasama Internasional. Pemetaan dan analisis pemangku kepentingan dilaksanakan melalui beberapa tahapan mulai dari: (i) mengidentifikasi pemangku kepentingan yang terkait langsung dan tidak langsung dengan sektor-sektor perubahan iklim. Pemerintah Provinsi.

4. Sungai-sungai tersebut adalah Way Kupang di Kecamatan Telukbetung Selatan. b. Akan tetapi sampai dengan thaun 2002. semakin berkurangnya kawasan perbukitan ini juga mengakibatkan longsor dikawasan tersebut yang tidak jarang memakan korban. Penyempitan saluran dan sedimentasi di daerah ini cukup parah akibat padatnya permukiman penduduk. Pemerintah Bandar Lampung mengalami kesulitan untuk mengontrol perubahan fungsi lahan kawasan perbukitan karena umumnya kawasan perbukitan tersebut telah menjadi milik pribadi. buruknya drainase kota. berkurangnya luas bantaran sungai. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah kota Bandar Lampung telah melaksakan berbagai kegiatan baik dilakukan secara sendiri maupun bekerjsama dengan pemeritah pusat dan lembaga swadaya masyarakat. Bahkan pada akhir tahun 2008 Kota ini mengalami masalah banjir yang cukup besar yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Air Minum dan Sanitasi Sebagaimana yang terjadi di sebagian besar kota di Indonesia. dan berkurangnya daerah terbuka hijau. perbaikan drainase. Sebagai akibatnya debit sungai yang berasal dari air hujan tidak bisa menyeberangi jalan utama kota dan menumpuk di daerah permukiman penduduk dan mengakibatkan banjir. Selain masalah penyempitan lahan tersebut. PDAM Way Rilau sebagai perusahaan daerah air minum yang memberikan pelayanan air minum di Kota Bandar Lampung berperan besar untuk memenuhi kebutuhan warga kota Bandar Lampung akan air minum. Way Sukamaju di Kecamatan Telukbetung Barat. Beberapa program yang telah dilakukan antara lain program kali bersih. Serin terjadi selain masalah banjir. kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan.7. Penyempitan sungai yang sporadis terjadi hampir di seluruh badan sungai yang dekat dengan permukiman penduduk. PDAM Way Rilau baru mampu memberikan kepada 66. banjir yang terjadi di Kota Bandar Lampung juga diakibatkan oleh gundulnya kawasan perbukitan Kota Bandar Lampung sebagai slah satu kawasan hijau kota. Banjir yang terjadi di Kota Bandar Lampung disebabkan atas beberaa hal antara lain tingginya curah hujan. air mimum yang bersumber dari PDAM menjadi sumber utama bagi masyarakat perkotaan untuk memenuhi kebutuhan mereka. serta Way Galih dan Way Lunik di Kecamatan Panjang. Akibatnya debit air tertahan dan membanjiri daerahdaerah permukiman yang berada di pinggir sungai.1% penduduk kota Bandar Lampung (Laporan Pembangunan 98 . Hal lain yang juga sangat berperan menjadi penyebab banjir di kota ini adalah penyempitan sungai yang mempunyai DAS berukuran kecil yang merupakan drainase utama dari daerah pantai di sekitar Telukbetung dan Panjang. pemberian perijinan yang lebih ketat dan program dan kegiatan lainnya yang bertujuan untuk mengatasi masalah banjir dan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai. Akibatknya para pemilik lahan dapat melakukan apapun terhadap lahan tersebut tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. Permasalahan Perkotaan di Bandar Lampung yang Terkait dengan Adaptasi Perubahan Iklim a. Banjir Meskipun Kota Bandar Lampung terletak diatas 100meter diatas permukaan laut (mdpl) akan tetapi Kota Bandar Lampung sering mengalami masalah banjir.

Program ini diikuti pula oleh berbagai program yang disusun oleh pemerintah kota melalui dinas kesehatan seperti kegiatan kesehatan keluarga dan kampanye hidup sehat. masih sangat banyak warga masyarakat mengenah ke bawah yang belum memperoleh akses air minum dari PDAM ini. terutama di kalangan wanita dan anak-anak. 99 .5.67%. Bandar Lampung merupakan salah satu kota di Indonesia yang juga menghadapi masalah sanitasi. Analisis Pemangku Kepentingan (Stakeholder Analysis) Analisis pemangku kepentingan dimaksudkan untuk melihat sejauhmana peran dan tanggung jawab masing-masing dalam penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim serta potensi kontribusi yang dapat dilakukan masing-masing pemangku kepentingan. Upaya ini diharapkan bisa menjadi pilihan pemerintah setempat dalam strategi pembangunan sanitasinya.Manusia 2004. yaitu Sistem Pembuangan Limbah Berbasis Masyarakat. Jumlah ini realtif cukup tinggi untuk kawasan perkotaan. Bappenas -. Analisis terhadap peran dan kontribusi masing-masing pemangku kepentingan dikaitkan dengan penanganan dan pengelolaan sektor-sektor terkait perubahan iklim.BPS – UNDP). Kondisi sanitasi lingkungan yang buruk di kawasan miskin perkotaan mengakibatkan kerugian ekonomi serta menurunkan kualitas hidup. Melalui kegiatan yang saling mendukung ini diharapkan jumlah warga yang memiliki akses terhadap sanitasi akan dapat meningkat. Data Percik pada tahun 2008 menunjukkan bahwa cakupan pelayanan sanitasi di Kota Bandar Lampung adalah 69.32. Oleh karena itu. Meski persentase ini cukup jauh dari cakupan pelayanan sanitasi nasional yang hanya 40. Situasi sanitasi yang parah menyebabkan berulangnya epidemi infeksi perut sehingga keberjangkitan penyakit thypus di Indonesia tercatat tertinggi di Asia Timur. 7. hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 30% dari warga kota Bandar Lampung yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan sanitasi yang sehat. dalam waktu dekat PDM akan menjalin kerjasama dengan pihak swasta untuk meningkatkan debit air sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih luas kepada masyarakat dengan tidak melupakan fungsi sosialnya untuk melayani masyarakat miskin untuk memperoleh air dengan harga yang terjangkau. Akan tetapi pada kenyataannya PDAM Way Rilau tidak dapat memberikan pelayanan secara menerus selama 24 jam karena terbatasnya debit air. Menghadapi masalah ini pemerintah kota Bandar Lampung sejak tahun 2008 dan 2009 mengikuti program Sanitasi Masyarakat (Sanimas) yang bertujuan untuk untuk mengenalkan pilihan lain. Selain itu.

• Memberikan bantuan teknis penanganan banjir melalui anggaran pusat. penyediaan air minum dan sanitasi. penyusunan NSPM SDA dan pelaksanaan administrasi urusan Ditjen. pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasi. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. Tugas dan Tanggung Jawab Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim • Merumuskan kebijakan dan strategi nasional pengelolaan SDA dan penanganan banjir secara nasional. fasilitasi pembangunan dan pengelolaan infrastruktur. melalui penyelenggaraan fungsi: penyusunan kebijakan. peremajaan kawasan kumuh). • Memberikan bantuan teknis pengembangan permukiman. penanggulangan darurat bencana Pemerintah Kota Bandar Lampung Badan Perencanaan Bertugas melaksanakan Pembangunan penyusunan dan pelaksanaan Daerah (Bappeda) kebijakan daerah di bidang perencanaan pembangunan daerah. pembinaan teknis dan pengawasan pembangunan infrastruktur PU Keciptakaryaan: rumah susun. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknik. pengawasan pembangunan bangunan gedung. bangunan gedung dan penanggulangan bencana. pelaksanaan pengaturan pengelolaan SDA. • Mengkoordinasikan dan memfasilitasi bantuan dan kerjasama dalam penanganan banjir. pembinaan teknis dan penyusunan NSPM. pelaksanaan kebijakan. pengawasan dan pengelolaan bangunan gedung Membuat dan mengkoordinasikan rencana dan program di seluruh sektor dan lembaga-lembaga pada skala nasional/regional/daerah Mengintegrasikan rencana adaptasi perubahan iklim ke dalam rencana pembangunan 100 . penyusunan program dan anggaran. Bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan serta standarisasi teknis di bidang sumber daya air. permukiman kumuh/nelayan.Tabel 7-1. • Mengkoordinasikan dan memfasilitasi bantuan dan kerjasama penyediaan permukiman layak huni (rusun. bangunan gedung. air minum dan sanitasi. pembinaan dan bantuan teknis. Analisis Peran dan Kontribusi Pemangku Kepentingan dalam Perubahan Iklim Pemangku Kepentingan Pemerintah Pusat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Peran. program dan anggaran serta evaluasi kinerja. penyediaan air minum. pengoordinasian penyusunan • Merumuskan kebijakan dan strategi nasional pembangunan keciptakaryaan: permukiman. Direktorat Jenderal Bertugas merumuskan dan Cipta Karya pelaksanaan kebijakan dan standarisasi tekbis bidang Cipta karya. pengembangan sistem pembiayaan dan pola investasi. air minum dan sanitasi.

atau bahkan mencabut ijin penambangan jika diperlukan. Tugas dan Tanggung Jawab perencanaan pembangunan. pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lain yang diberikan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim daerah Melakukan pengawasan daerah yang dilindungi. pemberian dukungan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah bidang pengembangan teknologi dan pengendalian lingkungan.Pemangku Kepentingan Peran. untuk menghindari daerahdaerah kritis bencana Program pembuatan sumur bor untuk air bersih Program penghijauan Program Lingkungan Berbasis Komunitas (PLBK) yaitu transformasi dari masyarakat mandiri ke masyarakat madani terkait dengan tata ruang Program pembuatan ‘embung’ dan perbaikan drainase untuk mengatasi bencana banjir Program PROKASIH (tapi hanya dilakukan setahun sekali karena keterbatasan dana) Program penataan kawasan pantai/pesisir Pembuatan peraturan daerah yang berkaitan dengan lingkungan hidup Peninjauan sistem perijinan pembangunan Penegakan hukum yang berhubungan dengan perubahan tata guna lahan dan ketidak konsistenan dalam rencana tata ruang Perencanaan ruang terbuka hijau di perkotaan sebanyak 30% sebagai daerah resapan Pengawasan pembangunan perumahan dan daerah bisnis dalam rangka melindungi ruang terbuka hijau dari pelanggaran pembangunan Program biopori untuk penyerapan air Program 3R (reduce. reuse and recycle) dengan melibatkan kerjasama antara pemerintah. misalnya penambangan pasir untuk melindungi daerah perbukitan. pembinaan dan pelaksanana tugas dan pelaksanaan tugas lain yang diberikan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bertugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik di bidang lingkungan hidup. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. sektor swasta dan masyarakat Meninjau kembali ruang terbuka hijau sebagai bagian 101 .

pemberdayaan dan kesehatan lingkungan serta kesehatan keluarga Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim dari paru-paru kota Kampanye publik untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai atau laut Program desentralisasi sampah Pembinaan Taruna Siaga Bencana untuk menghadapi bencana Program penataan kawasan pesisir Penyusunan kebijakan yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan masyarakat Kontribusi terhadap isu perubahan iklim dengan prinsip promosi. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. pencegahan pemberantasan penyakit. pembinaan dan Membangun ‘embung’ untuk mengatasi bencana banjir Program biopori untuk resapan air tapi agak sulit karena belum ada regulasi yang mewajibkan tiap rumah untuk membuat biopori Mengganti paving block dengan grass block karena memiliki daya serap yang lebih baik 102 .Pemangku Kepentingan Peran. penyembuhan dan rehabilitasi Pembentukan tim gawat darurat untuk menghadapi bencana Pembentukan Puskesmas Keliling untuk melayani masyarakat di Pulau Pasaran Meningkatkan kapasitas kader Posyandu Dinas Peternakan dan Kehutanan Menyusun kebijakan dalam bidang peternakan dan kehutanan Program pengelolaan hutan (forestasi) • Program penataan kawasan pesisir dengan pengelolaan hutan bakau Dinas Pekerjaan Umum Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang pengelolaan sumber daya air dan energi sumber daya mineral berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. promosi kesehatan. pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang pelayanan kesehatan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. Tugas dan Tanggung Jawab Dinas Kesehatan Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan. pencegahan.

operasional dan pengendalian. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum. energi dan geologi. Tugas dan Tanggung Jawab pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang rekayasa teknis.Pemangku Kepentingan Peran. Pembuatan kebijakan dan program dalam bidang pertanian Program rehabilitasi pengairan untuk sawah Program pembuatan pompa baru untuk daerah pertanian Pembuatan sumur resapan untuk pertanian dan kehutanan Penyebaran bibit penghijauan ke seluruh kecamatan • Program pemetaan daerah rawan banjir dan longsor di seluruh kecamatan Pusbik Melakukan studi dan Bertanggung jawab dalam memberi advokasi kebijakan dan program kepada pemerintah yang berkaitan dengan lingkungan hidup Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup Mempromosikan kebijakan lokal seperti rumah panggung untuk mengatasi banjir Peninjauan kembali ijin penambangan pasir jika akan merusak lingkungan Kampanye penyelamatan terumbu karang dengan membuat ‘rumpon’ Advokasi kepada masyarakat untuk tidak menebang hutan bakau Program penataan kawasan bukit 103 . peralatan dan perbekalan. sumber daya air. tata air serta peralatan dan pompa Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim Dinas Pertanian Bertugas melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang penanganan dan penanggulangan kebakaran dan bencana berdasarkan asas otonomi dan tugas pembangunan. pembinaan dan penyuluhan serta penanggulangan bencana Lembaga Non Pemerintah Mitra Bentala Melakukan advokasi kepada masyarakata serta menjalin kerjasama dengan pemerintah untuk mempromosikan dan mendorong kegiatan pembangunan yang berwawasan lingkungan. melalui penyelenggaraan fungsi: perumusan kebijakan teknis. pembinaan dan pelaksanaan tugas dan pelaksanaan tugas lainnya di bidang pengembangan teknik.

Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim dalam rangka melindungi lingkungan hidup dan pencegahan bencana. pendidikan lingkungan. terutama di bidang manajemen limbah cair dan produksi bersih. PUSBIK juga berperan untuk melakukan advokasi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan. termasuk meninjau kembali ijin penambangan di kawasan bukit Peningkatan kepedulian masyarakat untuk memperbaiki kualitas lingkungan Pemberdayaan kelompok kecil masyarakat dalam PKL untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Bertanggung jawab dalam memberikan advokasi kebijakan kepada pemerintah daerah dalam hal pembangunan berwawasan lingkungan. konservasi lahan. Walhi Walhi adalah LSM yang memperhatikan perlindungan lingkungan untuk mendukung usaha pembangunan berkelanjutan.Pemangku Kepentingan Peran. Tugas dan Tanggung Jawab memberikan masukan kepada pemerintah tentang pengelolaaan lingkungan. konsistensi dan penegakan hukum Membantu pemerintah dalam pembuatan rencana tata ruang dan penataan kembali Tempat Pembuangan Akhir untuk sampah Program penanaman hutan bakau di daerah pesisir Pengawasan kepada pemerintah dalam hal penegakan hukum Program edukasi lingkungan hidup kepada masyarakat Program pengelolaan sampah dengan memperbanyak TPS Bertugas memberi konsultansi/advokasi kepada pemerintah daerah dalam mengimplementasikan pembangunan yang aman dan ramah lingkungan terutama pembangunan di daerah pantai Bertanggung jawab dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan aktifitas yang berhubungan dengan lingkungan hidup Program penataan hutan bakau di daerah pantai Kampanye dalam rangka menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan Melakukan kajian dan memberikan rekomendasi 104 Perguruan Tinggi Universitas Lampung Memberikan masukan terkait program-program . wisata lingkungan dan manajemen limbah padat Sahabat Lingkungan Melakukan studi dan advokasi kepada pemerintah dan masyarakat tentang pelestarian lingkungan.

Penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim di Kota Bandar Lampung melibatkan pemangku kepentingan dari internal kota dan eksternal kota dengan peran dan kontribusi yang beragam sebagai mana terlihat pada matriks di atas. peran dan kontribusi para pemangku kepentingan melalui program dan kegiatan terkait perubahan iklim tersebut berjalan secara parsial dan belum adanya upaya mengkoordinasikan dalam suatu kerangka kebijakan dan program penanganan perubahan iklim pada tingkat makro/kota. Selama ini. 7. 105 .6. Meski demikian beberapa LSM Lokal telah secara aktif berkontribusi dalam program dan kegiatan perbaikan lingkungan baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan pihak lain. Sementara peran Pemerintah Provinsi Lampung lebih kepada koordinasi pelaksanaan dengan Pemerintah Pusat dan pemerintah kota/kabupaten lainnya. Oleh karena itu pemetaan pemangku kepentingan dilakukan untuk masing-masing sektor terkait perubahan iklim sehingga dapat diidentifikasi siapa yang paling berperan dan bertanggung jawab untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Potensi Kontribusi dalam rangka penanganan sektor terkait perubahan iklim kepada pemerintah untuk menyusun program yang berkaitan dengan perubahan iklim. Tugas dan Tanggung Jawab untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Pemetaan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Mapping) Pemetaan pemangku kepentingan merupakan alat untuk mengidentifikasi.Pemangku Kepentingan Peran. Dalam kaitannya dengan isu perubahan iklim. pemetaan pemangku kepentingan dimaksudkan untuk mengetahui pemangku kepentingan mana yang paling mendukung/berpengaruh dalam penanganan sektor-sektor terkait perubahan iklim tersebut. Kemitraan diatara seluruh pemangku kepentingan merupakan prasyarat untuk menciptakan masyrakat kota yang kuat dalam mengadaptasi perubahan iklim. Salah satu teknik analisis yang digunakan adalah dengan melakukan pemetaan pemangku kepentingan (stakeholder mapping) dengan melihat kekuasaan (power) yang dimiliki masing-masing pemangku kepentingan dan tingkat kepentingan (interest) dari masing-masing pemangku kepentingan. baik dalam bentuk pendanaan maupun koordinasi pelaksanaan program. Pemerintah Kota Bandar Lampung memiliki peran utama dalam penanganan sektor terkait perubahan iklim. Kemitraan antar pemerintah kota dan pemangku kepentingan (LSM dan Lembaga Pendidikan lainnya) dalam upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan. mengelompokan dan menilai pengaruh terhadap individu atau kelompok yang berbeda. Bekerjasama dengan pemerintah untuk melakukan kajian terhadap bahaya perubahan iklim di kota.

7.Level of Interest LOW HIGH A Minimal Effort W O L r e w o P H G I H B Keep Informed NGO University D Key Players Central Government City Government Cooperation/Donor Agency Business Sector C Keep Satisfied Provincial Government Gambar 7-1. Pemetaan Pemangku Kepentingan berdasarkan tingkat Kepentingan Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa pelaku utama/kunci dalam penanganan perubahan iklim di Kota Bandar Lampung terdiri dari: Pemerintah Pusat. efektif dan menuju pencapaian 106 . Tujuan utama dari SPPN adalah untuk menjamin bahwa segala upaya pembangunan di negara ini dapat dilaksanakan secara efisien. daerah maupun sectoral. Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di Daerah mengacu pada peraturan perundangan yang dikeluarkan secara nasional. Ringkasan dari ketiga peraturan perundangan tersebut diatas adalah sebagai berikut: • Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur pentahapan dalam proses penganggaran tingkat daerah (provinsi. Pemerintah Kota dan Lembaga Kerjasama/donor Internasional. rencana jangka menengah (5 tahunan) dan rencana tahunan. • Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengatur landasan sistem perencanaan mulai dari rencana jangka panjang (20 tahun). Secara jelas diatur bahwa proses penganggaran pada tingkat kota/kabupaten harus didasarkan pada dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Ketiga mekanisme penyusunan dan pengelolaan perencanaan diatas nantinya akan sangat terkait dengan perencanaan adaptasi ketahanan kota terhadap perubahan iklim. Namun masing-masing pemangku kepentingan memiliki memiliki tingkat kepentingan yang berbeda-beda sebagaimana terlihat pada gambar 7. Beberapa peraturan perundangan terkait dengan perencanaan pembangunan daerah antara lain: (i) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. baik di tingkat pusat. Mekanisme dan Proses Perencanaan Pembangunan di daerah dan Penanggulangan Bencana Pembahasan mengenai mekanisme dan proses perencanaan pembangunan di daerah didasarkan pada 3 (tiga) lingkup perencanaan pembangunan sebagai berikut: (a) proses perencanaan dan penganggaran pembangunan. (ii) UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan (iii) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. (b) penanggulangan bencana dan (c) penataan ruang. kabupaten/kota).

UU No. 24 tahun 2007 pada dasarnya mengatur tahapan dalam penanggulangan bencana mulai dari pra-bencana.target pembangunan yang telah ditetapkan. c) hak masyarakat dalam penanganan bencana. 25/2004 dan UU No. (ii) mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang yang sistemik melalui regulasi zoning. Keterkaitan antara UU No. 32/2004 dapat dilihat dalam Gambar 7-2 Gambar 7-2. Selain itu menguatkan adanya rencana pembangunan dalam jangka panjang. e) mekanisme pengendalian dalam pengelolaan bencana dan f) mekanisme sanksi. Strategi pelaksanaan penataan ruang terdiri atas: (i) penerapan aturan zoning secara konsisten sebagai bagian dari rencana detail tata ruang. Kebijakan pembangunan berwawasan lingkungan memberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan dan penerapan sistem deteksi dini. Undang-Undang tersebut memberikan arah kebijakan dan strategi dalam rangka memadukan pemanfaatan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan untuk melindungi fungsi ruang dan dampak negatifnya terhadap lingkungan alam. 17/2003. d) keterliabatan lembaga internasional dan sektor bisnis. Materi utama dalam penanggulangan bencana meliputi: a) peran dan tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah pada setiap tahapan penanganan bencana. Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang telah ditindaklanjuti dengan terbitnya berbagai peraturan pemerintah. 32/2004 Mekanisme dan Proses Penanggulangan Bencana di daerah juga mengacu pada peraturan perundangan yang ditetapkan secara nasional. (iii) penegakan hukum yang konsisten. tanggap darurat dan pasca bencana. b) pembentukan kelembagaan penanganan bencana di tingkat nasional (BNPB) dan daerah (BPBD). Pengaturan mengenai penataan ruang di Indonesiaa saat ini mengacu pada Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan beberapa peraturan pemerintah yang sudah dikeluarkan. • Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah menekankan perlunya keterpaduan proses perencanaan dan penganggaran. insentif dan disinsentif. 17/2003. Keterkaitan antara UU No. Perundangan ini juga menyatakan bahwa rencana kerja tahunan di tingkat pusat dan daerah (RKPD) harus menjadi referensi dalam menyusun anggaran tahunan. sistem perijinan. jangka menengah dan rencana tahunan (RKPD). 25/2004 dan UU No. UU No. sosialisasi dan diseminasi informasi secara dini terhadap ancaman kerawanan bencana alam 107 . UU No.

keberadaan badan ini juga akan memberikan respon yang lebih cepat dan lebih baik apabila warga kota menghadapi suatu masalah baik yang terkait dengan perubahan iklim maupun tidak. Kota Bandar Lampung telah melakukan studi mitigasi bencana Kota Bandar Lampung TA 2008. yaitu : 1. Aman dan Demokratis dengan Dukungan Pelayanan Publik yang Baik. (ii) menganalisis resiko bahaya alam dan bahaya rekayasa manusia/teknologi serta (iii) menyusun indikasi program dan rencana tindak dalam mengurangi resiko bahaya. 3. kesehatan. visi Kota Bandar Lampung tahun 2005-2010 yaitu : "Mewujudkan Masyarakat Bandar Lampung yang Sejahtera. Menciptakan keamanan dan ketertiban kota serta menanggulangi masalah sosial masyarakat. Selanjutnya berkaitan dengan visi dan misi tersebut juga telah ditetapkan lima isu pokok dalam pembangunan kota Bandar Lampung yaitu pendidikan. 7. Sedangkan dalam penanganan bencana. berwibawa. Meningkatnya pembangunan perekonomian dan kesediaan kebutuhan masyarakat. Menegakkan supremasi hukum berdasarkan rasa keadilan yang demokratis. Adapun permasalahan yang dihadapi serta alternatif strategi yang terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung dapat dilihat pada table berikut: 108 . Penyusunan Skenario Design Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung TA 2009 yang bertujuan untuk (i) mengetahui kawasan yang rentan terhadap potensi bencana. bertanggungjawab dan partisipatif. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandar Lampung. 2. Selain itu kota Bandar Lampung juga telah membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada bulan November 2009. Untuk itu perlu ditingkatkan identifikasi dan pemetaan daerahdaerah rawan bencana agar dapat diantisipasi secara dini sejak sebelum terjadi. Mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau berdasarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 8. Mewujudkan keselarasan kehidupan beragama. Untuk mencapai visi yang telah ditetapkan tersebut.kepada masyarakat. Hal ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan memberikan perlindungan terhadap manusia dan harta benda dengan perencanaan wilayah yang peduli/peka terhadap bencana alam. serta penegakan hukum dan perlindungan sosial. 5. Meningkatkan prasarana dan sarana perkotaan yang berkualitas dan sesuai dengan tata ruang. Adil. maka disepakati 9 (sembilan) misi pembangunan daerah Kota Bandar Lampung. Dengan adanya badan ini maka pemerintah kota akan dapat mengantisipasi permasalahan yang terjadi akibat terjadinya perubahan iklim. lingkungan hidup dan infrastruktur. 9. Menyelenggarakan pemerintahan yang bersih. ekonomi kerakyatan. 4. Mengelola sumberdaya alam secara bertanggungjawab dan berkelanjutan. Selain itu pada saat yang sama. 6. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Pemerintah pusat menyusun kerangka kebijakan dan pedoman dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan. Masalah dan alternatif startegi terkait perencanaan pembangunan daerah dan penanggulangan bencana di kota Bandar Lampung Masalah • • Masih rendahnya mutu dan kuantitas infrastruktur perkotaan Belum meratanya sarana dan prasarana perkotaan di seluruh wilayah kota Terbatasnya kemampuan dana pemerintah daerah dalam pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur daerah Belum efektifnya pelaksanaan penataan. Hal ini karena semakin banyaknya bencana yang terjadi akibat terjadinya perubahan iklim 109 . banjir.8. Pemerintah daerah diharapkan mampu untuk mengatasai berbagai permasalahan yang muncul akibat dampak perubahan iklim. Pada saat yang sama pemerintah daerah juga memiliki kewajiban yang cukup besar untuk membantu warganya dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. pengendalian dan pemanfaatan ruang Kerusakan DAS yang cukup tinggi Banyaknya pertambangan (gunung dan bukit) yang merusak lingkungan Meningkatnya pencemaran air permukaan Lemahnya penegakan hukum terhadap perusak lingkungan Lemahnya kesadaran dan disiplin masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan Belum optimalnya pengelolaan sampah Adanya ancaman bencana (longsor. Program dan Kegiatan Pemerintah Pemerintah daerah memegang peranan penting dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh daerahnya sebagai akibat dari dampak perubahan iklim global. gempa bumi dan tsunami • • Alternatif Strategi Meningkatkan mutu dan kuantitas infrastruktur perkotaan Meningkatkan mutu dan kuantitas bangunan publik dan gedung pemerintah Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana di daerah pinggiran Meningkatkan dan mengembangkan sarana transportasi Meningkatkan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang kota Memperbaiki pengelolaan SDA dan pelestarian fungsi lingkungan hidup Meningkatkan pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup Meningkatkan akses masyarakat dalam pemberdayaan dan pengelolaan SDA dan LH Meningkatkan perlindungan terhadap SDA dari kerusakan dan melindungi kawasan konservasi agar fungsinya sebagai penyangga kehidupan tetap terjada Merehabilitasi lingkungan yang telah rusak Meningkatkan pengelolaan sampah dan manajemen pelayanan persampahan • • • • • • • • • • • • • • • • • • 7.Tabel 7-2. Pemetaan Peran Stakeholder dalam penyediaan dan pengelolaan sektorsektor terkait dengan perubahan iklim a.

ornament kota. kegagalan panen. Pemeliharaan ruang terbuka hijau. Beberapa program kegiatan telah diinisiasi oleh pemerintah untuk menghadapi berbagai permasalahan yang baik secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan perubahan iklim sebagaimana yang tercantum dalam tabel 7-3 dibawah ini.seperti meluasnya banjir/rob. Kota Bandar Lampung merupakan salah satu kota di Indonesia yang juga berpotensi akan menghadapi berbagai permasalahan sebagai akibat terjadinya perubahan iklim. taman dan hutan kota Program Pembangunan Saluran Drainase/Gorong-gorong Program Rehabilitasi/Pemeliharaan 110 Lingkungan Hidup Pekejaan Umum . Program yang terkait dengan Perubahan Iklim Tahun 2006 dan 2008 Urusan Kesehatan Program 2006 2008 Penurunan angka kesakitan Promosi Kesehatan dan dan kematian akibat penyakit Pemberdayaan Masyarakat Program Pengembangan Lingkungan Sehat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Program PeProgram Pelayanan Kesehatan Penduduk Miskin Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia Program Peningkatan Keselamatan Ibu Melahirkan dan Anak Pemulihan kualitas Program Pengendalian lingkungan hidup Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Pengendalian pencemaran Program Perlindungan dan dan perusakan lingkungan Konservasi Sumber Daya Alam hidup Penyusunan dokumen Program Pengembangan Kinerja perencanaan pengelolaan Pengelolaan Persampahan sumber daya alam dan ling. Hidup Peningkatan kualitas dan Program Pengelolaan Ruang akses informasi sumber daya Terbuka Hijau alam dan lingkungan hidup. Tabel 7-3. nelayan yang tidak dapat melaut karena gelombang tinggi dan hal-hal lainnya mengindikasikan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak buruk bagi warga Indonesia.

Akan tetapi secara dilihat dari total persentase jumlah ini hanya sekitar 1 persen dari realisasi pengunaan APBD tahun 2008 yaitu sejumlah Rp.dari total alokasi anggaran lima sektor tersebut sebesar Rp.270 2. Namun demikian melalui anggaran dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui anggaran tugas pembantuan. Artinya jumlah ini masih sangat kecil dibandingkan dengan program ataupun kegiatan lainnya.5 Milyar . Pada tahun 2008.217.780.000 % 15% 9% 66% 2% 5.054.100.000.500. Karena pada dasarnya kegiatan yang dirumuskan oleh pemerintah daerah tersebut merupakan kegiatan rutin yang biasa dilakukan untuk mengatasi permasalahan perkotaan.1.800 99. Artinya program yang dilakukan tidak 111 . jumlah anggaran yang dialokasi oleh pemerintah kota Bandar lampung cukup besar.486.992.689.8 Milyar.336.950 105. Pemko Bandar Lampung telah mengalokasikan dana yang bersumber dari APBD sejumlah Rp. Pemko Bandar Lampung memberikan alokasi yang cukup besar untuk kegiatan mitigasi bencana yaitu sekitar 27 persen dari total anggaran yang ada yaitu sekitar Rp.201. Dari sisi sektoral.000. 11.326. Meski secara kuantitas jumlah program pada tahun 2008 telah meengkat akan tetapi hal tersebut masih dirasa belum mencukupi untuk menghadapi kota Bandar Lampung untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim.593.000 27% *Sumber dana Tugas Pembantuan Minimnya informasi tentang perubahan iklim merupakan salah satu alasan yang menyebabkan hal ini terjadi.528.910 3.6 Milyar. Jumlah Anggaran yang Terkait dengan Perubahan Iklim TA 2008 Urusan Kesehatan Pekerjaan Umum Lingkungan Hidup Perencanaan Pembangunan Perikanan dan Kelautan* # Realisasi Anggaran Total Anggaran # Terkait PI 21.000 1. khususnya anggaran untuk sektor lingkungan hidup yang mencapai 66 persen dari total anggaran sektor tersebut. 772. Tabel 7-4.047. 16 Milyar untuk kegiatan yang berkaitan dengan perubahan iklim baik yang bersifat mitigasi maupun adaptasi. 5.900 3..622.287.Urusan 2006 Program 2008 Talud/Brojong Program Pengendalian Penataan Ruang Perencanaan Prasarana wilayah dan Sumber daya Alam Mitigasi Bencana Lingkungan Laut dan Pesisir Kelautan dan perikanan* Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Walikota Bandar Lampung 2007 dan 2009 *Kegiatan bersumber dari dana tugas pembantuan Tabel tersebut menunjukkan masih terbatasnya jumlah program yang dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk mengadatapsi terhadap perubahan iklim. Kondisi serupa juga dapat dilihat dari jumlah anggaran yang dialokasikan untuk mendanai kegiatan-kegiatan tersebut.400 8.871.325 4.

dan penerangan jalan. Kota Bandar Lampung menjadi magnet bagi penduduk disekitar kota tersebut untuk datang dan mencari pekerjaan di kota ini. Program dan Kegiatan yang berasal dari Pusat Selain program-program pemerintah. Sebagai Ibu Kota Propinsi.38 3.6 2007 ADB Pemda 2. Dalam pelaksanaannya kedua program ini juga mengharuskan adanya kontribusi dari pemerintah daerah. MCK.21 7.secara khusus ditujukan untuk mengatasi permasalahan yang diakibatkan oleh perubahan iklim.63 1. Untuk menghadapi hal tersebut. Anggaran proyek ini merupakan cost sharing dengan perbandingan 60 : 40 antara loan ADB dan APBD Kota Bandar Lampung dalam kurun waktu 4 tahun (2006 sampai dengan 2009). pemerintah pusat juga telah melakukan beberapa program yang berkaitan dengan perubahan iklim di Kota Bandar Lampung diantaranya melalui program NUSSP dan PNPM Mandiri Perkotaan. peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur primer (premiere works) dilingkungan perumahan dan permukiman kumuh yang meliputi : jalan setapak. sektor swasta dan masyarakat. persampahan. Adapun kegiatankegiatan dan lokasi pelaksanaan program ini selama tahun 2008 di Kota Bandar Lampung adalah sebagai berikut: 112 .5 8. pemerintah kota Bandar Lampung bekerjasama dengan Pemerintah Pusat melakukan kegiatan Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) dengan menggunakan dana pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) yang bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mengurangi/menurunkan tingkat kemiskinan di perkotaan melalui kemitraan antara pemerintah.3 2008 ADB Pemda 5.4 Total Adapun jenis kegiatan yang dilaksanakan dalam proyek NUSSP ini adalah adalah pembangunan. Pada akhirnya hal ini melahirkan kawasan kumuh di kota. Kesemua kegiatan ini pada akhirnya ingin mengatasi permasalahan permukiman kumuh (slum area) di kota Bandar Lampung yang merupakan persoalan manajemen pembangunan dan pemukiman perkotaan yang kompleks serta merupakan dampak dari berbagai kebijakan pembangunan. air bersih. drainase. Perbandingan ini sesuai dengan kapasitas fiskal Kota bandar Lampung. Namun dengan adanya informasi dan pengetahuan tentang bahaya akibat dari perubahan iklim terhadap daerah dan masyarakat Kota Bandar Lampung diharapkan pemerintah kota Bandar Lampung dimasa mendatang akan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap program yang bertujuan untuk mengadaptasi perubahan iklim. Tabel berikut menggambarkan besaran dana dan cost sharing proyek NUSSP di Kota Bandar Lampung: Tabel 7-5 Besaran Anggaran Dana Program NUSSP di Kota Bandar Lampung (dalam Milyar Rph) 2006 ADB Pemda 4. b.75 4.9 2. jalan lingkungan. Tingginya laju urbanisasi namun tidak didukung dengan kemampuan sumber daya yang datang mengakibatkan kota menghadapi masalah dalam penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur.

PNPM Mandiri Perkotaan akan dilaksanakan di 13 wilayah di Kota Bandar Lampung dengan total anggaran sejumlah : Rp. Keteguhan. Panjang Kel. Panjang Kel. Teluk Betung Selatan Kel. Kec. Teluk Betung Barat Kel. Keikutsertaan Kota Bandar Lampung dalam program ini merupakan upaya pemerintah kota untuk mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapi oleh kota Bandar Lampung dan sekaligus memperbaiki infrastruktur perkotaan. 18. Way Gubag.039 KK • • • • • • • • • • • • Sebaran Lokasi Kel. 7. pada bagian ini akan dianalisa kemampuan kepemerintahan dan kelembagaan pemangku kepentingan dalam rangka mengintegrasikan perencanan ketahanan dalam perubahan iklim. Kec.. Bakung. Teluk Betung Selatan Kel. Kec. namun peran dan kontribusi pemangku kepentingan lainnya juga sangat penting.9. Kec. Untuk tahun anggaran 2010. Kec. Sukarame.Tabel 7-6 Kegiatan dan sebaran Kegiatan PNPM Mandiri di Kota Bandar Lampung tahun 2008 Kegiatan Jalan Setapak Penghubung Tempat Sampah RT Jalan Lingkungan (Jalan Penghubung) Saluran Terbuka (Drainase) Plat Duiker (Drainase) Gorong-gorong (Drainase) Bangunan Pelengkap (drainase) Alat Angkut Sampah Tong Sampah komunal MCK Sumur Dalam (Air Bersih) Lampu Jalan Luas Area Kumuh yang Difasilitasi Jumlah KK yang Merasakan manfaat Volume 14. Kec. Way Lunik. Garuntang. Analisa akan dilakukan terhadap enam komponen utama yaitu: peran pemangku kepentingan. Oleh karena itu. Srengsem.425 km 365 Unit 36 m 636 m 34 m2 2m 66 unit 109 unit 92 unit 17 unit 8 Unit 286 Unit 142. Analisis kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan dalam rangka mengintegrasikan perencanaan ketahanan dalam perubahan iklim (framework organizational capacity) Meskipun pemerintah kota merupakan pelaku utama dalam mengantisipasi bahaya yang akan mengancam kota sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. Teluk Betung Barat Kel. ketersediaan 113 . Panjang Kel. Pecoh Raya.6 Ha 12. Teluk Betung Selatan Kel.yang terdiri dari Rp. Kec. Kec. Kedua program yang sedang dilaksanakan olh Pemerintah Kota Bandar Lampung serta program-program lainnya menujukkan upaya yang menerus dilakukan oleh pemerintah kota Bandar Lampung untuk meningkatkan kemampuan masyarakat yang secara tidak langsung juga meningkatkan ketahanan mereka untuk menghadapi terjadinya perubahan iklim. Kec. Kec.17 Milyar yang berasal dari Pemerintah Kota Bandar Lampung. 3. Teluk Betung Selatan Kel. Teluk Betung. Teluk Betung Barat Kel. Kec. Kec.52 Milyar. Kuripan. Teluk Betung Selatan Program lainnya yang juga memberikan kontribusi terhadap perbaikan kualitas kota Bandar Lampung adalah Program PNPM Mandiri Perkotaan. peraturan dan kebijakan.15. Ketapang.5 Milyar berasal dari program dan Rp. Teluk Betung Barat Kel. Way Laga.

Belum adanya dokumen rencana aksi daerah dalam penanggulangan bencana yang memiliki kekuatan hukum dan belum dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan Kelembagaan penanggulangan bencana daerah belum bekerja secara efektif Peraturan dan Kebijakan • Adanya peraturan perundangan • yang mensyaratkan daerah menyusun dokumen rencana yang memperhatikan adaptasi dan mitigasi bencana dan perubahan iklim Dokumen RPJMD (5 tahunan) akan disusun dalam tahun 2010 dan dokumen RTRW sedang dalam proses revisi merupakan kesempatan untuk memasukan substansi adaptasi dan mitigasi bencana serta perubahan iklim Adanya studi-studi terkait mitigasi bencana dan skenario design mitigasi bencana • • Ketersediaan dokumen rencana • • Kelembagaan daerah • • Kapasitas pendanaan • • • Adanya Tim Kota untuk perubahan iklim yang sudah dibentuk dan bekerja Telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bandar Lampung Adanya komitmen untuk mendukung program dan kegiatan perubahan iklim Masih adanya Dana Alokasi Khusus dan tugas pembantuan Adanya dukungan dan bantuan • • • Alokasi belanja langsung untuk program dan kegiatan sektor terkait perubahan iklim masih terbatas (kurang 5 %). kelembagaan daerah. kapasitas pendanaan dan pelaksanaan program/kegiatan. Tabel dibawah ini memperlihatkan kekuatan dan kelemahan masing-masing komponen yang terjadi di Kota Bandar Lampung: Tabel 7-7. Belum adanya koordinasi antar lembaga dalam 114 . Analisis Kapasitas Pemerintahan Komponen Peran Pemangku Kepentingan • • Kekuatan Adanya keterlibatan semua pemangku kepentingan Adanya Program Nasional yang didukung lembaga kerjasama internasional (PNPM dan NUSSP) • Kelemahan Peran dan kontribusi pemangku kepentingan masih parsial belum terintegrasi dalam suatu kebijakan Belum dipahaminya metodologi dan strategi operasional untuk menjabarkan secara lebih lanjut dari peraturan kedalam dokumen rencana Belum meratanya pemahaman dan kapasitas SDM dalam menyusun dan merumuskan substansi mitigasi dan adaptasi bencana dan perubahan iklim.dokumen. Keenam komponen ini kemudian akan dianalisa kekuatan dan kelemahannya sehingga diketahui sejauh mana kapasitas kepemerintahan dan kelembagaan kota dalam rangka megintegrasikan perencaaan ketahanan dalam perubahan iklim.

Hal ini mengakibatkan kebijakan dan peraturna perundangan yang akan disusun menjadi multi tafsir dan kurang dapat diaplikasikan di tingkat lokal. 115 . Keberadaan Tim Kota Perubahan Iklim merupakan sebuah awalan yang bagus bagi kota Bandar Lampung untuk menyusun program yang berkaitan dengan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Hal ini merupakan kekuatan bagi pemerintah kota untuk mengatasi permasalahan yang potentsial dihadapi oleh kota yang berkaitan dengan perubahan iklim. saat ini pemerintah kota Bandar Lampung sedang menyusun peraturan perundangan yang berkaitan dengan adapatasi dan mitigasi terhadapa bahaya perubahan iklim. Akibatnya program dan kebijakan yang diambil sering tumpang tindih.Komponen Kekuatan program nasional yang didukung lembaga internasional Kelemahan pemanfaatan dana program dan kegiatan sehingga masih memungkinkan terjadinya duplikasi Belum berjalannya koordinasi program dan kegiatan lintas sektor dan lintas wilayah Pelaksanaan program dan kegiatan • Adanya program dan kegiatan yang telah dan sedang dilakukan pemangku kepentingan • Tabel tersebut menggambarkan bahwa para pemangku kepentingan di kota Bandar Lampung telah secara bersama-sama terlibat dalam upaya untuk meningkatkan kewaspadaan serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi bahaya perubahan iklim. adanya Badan Penanggulan Bencana Daerah juga memberikan kekuatan bagi kota Bandar Lampung untuk mengantisipasi bahaya perubahan iklim. Pada saat yang sama terdapat beberapa program dari pemerintah seperti PNPM Perkotaan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya di kawasan kumuh. Selain itu. Sementara itu dalam kaitannya dengan peraturan dan kebijakan yang mendukung ketahanan terhadap perubahan iklim. umumnya terminilogi dan metodelogi yang berkaitan dengan perubahan iklim yang akan dimasukkan dalam peraturan perundangan tersebut masih belum jelas. Akan tetapi pada saat yang sama juga terdapat kelemahan pada komponen ini yaitu belum terintegrasinya program dan kegiatan yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan di kota Bandar Lampung. Agar dokumen tersebut mampu menjawab permasalahan yang akan dihadapi maka aparat pemerintah kota serta pemangku kepentingan lainnya perlu meningkatkan pemahaman tentang perubahan iklim sehingga akan memiliki pemahaman yang sama tentang bahaya perubahan iklim bagi kota Bandar Lampung. Hal ini dapat diawali dengan berbagai kegiatan studi tentang mitigasi dan adapatasi bahaya perubahan iklim yang selanjutnya dijadikan sebagia masukan penting di dalam dokumen rencana pembangunan tersebut. Akan tetapi. Penyusunan RPJMD yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung pada tahun 2010 merupakan kesempatan yang sangat baik bagi pemerintah kota untuk memasukkan substansi adaptasi dan mitigasi bencana serta perubahan iklim. Tim Kota yang terdiri dari berbagi latar belakang institusi ini akan memberikan cukup banyak masukan baik bagi pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya. Akan tetapi keberadaan kedua tim dan badan ini perlu didorong secara lebih efektif sehingga mampu memberikan kontribusi yang positif di masa mendatang. Akibatnya para pemangku kepentingan masih sering salah persepsi terhadap terminologi serta aplikasi perubahan iklim.

namun belum efektif dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan. Adanya program-program pembangunan infrastruktur pada tingkat masyarakat yang responsif terhadap perubahan iklim [PNPM Kota Bandar Lampung].Adanya komitmen dan dana bantuan baik di tingkat nasional maupun internasional merupakan peluang dan kekuatan bagi pemerintah kota untuk dapat menyusun dan melaksanakan program yang bekaitan dengan perubahan iklim. oleh karena itu pemerintah daerah perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap bencana yang akan datang sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim.10. Namun demikian idealnya pemerintah daerah juga harus mengimbangi pendanaan tersebut dengan menaikkan alokasi anggaran pembangunan daerah yang berkaitan dengan perubahan iklim. misalnya dengan pembangunan Talud untuk tanah rawan longsor dan pembangunan drainase di daerah pesisir Pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasiuntuk daerah potensi padi dan penyediaan sumur pompa dan sumur dalam untuk daerah holtikultura Penyusunan RTRW Kota Bandar Lampung yang mengacu pada UndangUndang Penataan Ruang. Anggaran dan dana yang ada ini juga harus didukung dengan kemitraan diantara pemangku kepentingan. Melalui kemitraan ini maka akan dihasilkan program-program yang integratif untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan pembangunan perkotaan lainnya serta memberikan kekuatan yang lebih besar kepada masyarakat untuk menghadapi bahaya perubahan iklim. Adanya sosialisasi kepada warga terkait PLBK (Program Lingkungan Berbasis Komunitas) di Bandar Lampung Adanya keterlibatan LSM dalam berbagai program penanganan lingkungan skala masyarakat di Kota Bandar Lampung • • • • • 116 . indikasi program dan rencana tindak penanggulangan bencana kota. Temuan dan Rekomendasi untuk Perencanaan Ketahanan Kota dalam rangka Perubahan Iklim Secara ringkas temuan dan rekomendasi yang dapat diberikan terkait dengan perencanaan ketahanan kota dalam rangka perubahan iklim adalah sebagai berikut: • Terkait Penataan Ruang & Penanggulangan Bencana: RTRW Kota Bandarlampung dalam proses revisi dan merupakan kesempatan untuk memberikan masukan substansi terkait adaptasi perubahan iklim Terdapat beberapa substansi normatif yang harus ada diantaranya RTH dan . Hal ini perlu dilakukan karena bahaya perubahan iklim tidak lagi bersifat wacana. Mitigasi Bencana. namun belum ditetapkan secara legal formal dan dijadikan acuan bagi pemangku kepentingan. dll. landasan pelaksanaan. 7. dimana diharuskan untuk memenuhi RTH sebesar 30 persen. Telah disusun beberapa studi terkait mitigasi bencana yang intinya menggambarkan kondisi kebencanaan kota. • Telah dibentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung pada bulan November 2009.

Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah diperlukan untuk memungkinkan mereka dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi. Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. • • 117 . strategi komunikasi dan capacity building program.Berdasarkan temuan tersebut maka beberapa masukan bagi Pemerintah Kota untuk mengantisipasi bahaya sebagai akibat perubahan iklim adalah sebagai berikut: • Memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang. masyarakat dan swasta] melalui shared learning. Mengintegrasikan kerangka adaptasi perubahan iklim terhadap dokumen perencanaan pembangunan dan penataan ruang Kota Bandar Lampung Masukan metodologi dan substansi bagi penyusunan dan revisi Rencana Tata Ruang Kota (RTRW) terkait dengan isu dan dampak perubahan iklim Masukan metodologi dan substansi bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Daerah terkait dengan isu dan dampak perubahan iklim • Peningkatan pemahaman dan kepedulian mengenai perubahan iklim untuk semua pemangku kepentingan [pemerintah. Peningkatan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim dengan menggali dan mengembangkan berbagai upaya dan kearifan lokal melalui pilot project adaptasi perubahan ikilim.

tetapi mereka dalam serba terbatas untuk merespons resiko fisik seperti banjir.1. pendidikan. yang mengandalkan siklus alam. tetapi juga potensi adaptasi baru di kala bencana. semakin adaptif seseorang atau masyarakat semakin mereka mampu mengatasi perubahan yang mungkin terjadi. dan lain-lain. 8. strategi-strategi tersebut juga berkait kepada adaptasi bertahan hidup yang didasari oleh kebutuhan untuk beradaptasi dan bertahan di kota. stabilitas ekonomi (tidak harus kesejahteraan). Di antaranya adalah: keragaman. Maka untuk pendatang. Maka wajib untuk menantang gagasan-gagasan kita tentang siapa dan apa yang adaptif karena tidaklah mudah bagi kita untuk membicarakan kerentanan. fleksibilitas dan kesehatan. Ini adalah komponen kunci ketahanan. Di bagian ini kita lihat tidak hanya adaptasi yang sudah dikembangkan masyarakat dan perorangan. apa yang mereka lakukan dan apa kontribusinya untuk meningkatkan ketahanan.BAB 8 ADAPTASI Adaptasi merupakan kualitas seseorang untuk mengubah dirinya sendiri atau lingkungan sekitarnya dalam rangka menjadi yang lebih cocok untuk bertahan hidup. saya melihat kepada bagaimana dampaknya dibatasi. Karena adaptasi tidak dapat menghilangkan resiko cuaca yang ekstrim. atau persiapan yang memadai. baik dengan respons mereka. produksi pertanian yang melimpah dan aktifitas yang telah berlangsung lama yang sedikit atau tidak membutuhkan pengetahuan dari bangku sekolah. kolaborasi. Sementara semuanya terkait kepada adaptasi terhadap peristiwa-peristiwa iklim yang parah. Ini adalah studi spekulatif tetapi orang dapat memahami kapasitas untuk adaptasi dengan mengidentifikasi kualitas mereka dan kapasitas masyarakat yang harus beradaptasi. Saya melihat dari awal pada keanekaragaman cara bagaimana masyarakat di setiap kota telah mengembangkan strategi adaptasi. melainkan kapasitas untuk beradaptasi. Sejumlah besar populasi masyarakat miskin. kehidupan di kota penuh dengan strategi adaptasi dan bertahan hidup. Strategi Adaptasi di Bandar Lampung Berikut ini diuraikan beberapa strategi adaptasi yang berbeda di masyarakatmasyarakat yang diteliti selama Penilaian Kerentanan Berbasis Masyarakat. Mempertimbangkan bahwa mereka yang pindah ke kota lahir di daerah pedesaan di sekitar kota. Lalu saya mencoba untuk mengekstrak pembelajaran dan faktor-faktor yang mungkin berkontribusi di setiap strategi yang layak dan berhasil. ke ekonomi pasar. menuju peluang-peluang yang secara konstan berpindah-pindah. terhadap peristiwa-peristiwa yang tak terduga di luar kendali langsung mereka. contoh-contoh adaptasi terdahulu. Bertahan hidup di wilayah perkotaan di negara-negara berkembang bukanlah untuk yang mudah. Kedua gagasan 118 . Warga miskin kota menunjukkan bahwa mereka berada di antara yang paling mengadopsi dalam mengembangkan strategi adaptasi lantaran mereka harus berkonsolidasi diri dalam konteks perkotaan yang terkadang kejam yang bagi kebanyakan mereka tidaklah familiar dan tidak siap untuk masuk ke dalamnya sejak dini. pindah ke kota menemukan tantangan yang benar-benar berbeda. yang mencari penghidupan dan pemukiman di tempattempat yang paling menantang merupakan testamen kualitas adaptif yang tinggi. Strategi adaptasi akan dinilai melalui sudut pandang kapasitas mereka untuk mengatasi fenomena iklim.

selain meningkatkan peluang instalasi layanan publik lokal dan meningkatkan akses. Kebanyakan mereka datang dari kota-kota yang berbeda. Bahkan tanpa hak kepemilikan lahan yang jelas. analisis dilakukan untuk mengumpulkan pembelajaran tentang apa yang membuat adaptasi-adaptasi tersebut layak. Namun proses ini mendorong secara aktif pembuangan sampah di badan air dan di pantai. investasi berkelanjutan dari pemerintah daerah atau sejumlah 119 • • • • . Sebagai contoh di Kangkung. dan kurangnya akses ke darat. Konsolidasi kampung secara bertahap: Masyarakat miskin perkotaan seperti di Kangkung (Lingkungan 2) dan Pasir Gintung (Lingkungan 2) telah mengkonsolidasikan kampungnya dan dengan demikian mengurangi kerentanan dengan perbaikan ke atas. pasar. Tabel lainnya juga menggambarkan cara-cara adaptasi-adaptasi tersebut berkontribusi kepada tanggap. Ternyata tanggul penghalang kecil dan terbatas cukup efektif dan responsif terhadap kebutuhan mereka. Perbaikan dan infrastruktur structural: Di beberapa wilayah di Pasir Gintung. Bandar Lampung • Reklamasi lahan yang progresif: Garis pantai kampung Kangkung telah direklamasi secara progresif sepanjang tahun oleh akumulasi tanah dan sampah. Tinggal di atas air: Keluarga-keluarga yang tinggal di atas air seperti di Kota Karang telah beradaptasi terhadap kebutuhan ekonomi seperti akses ke tempat kerja. dan adaptasi mereka mereka ke kotanya yg baru dalam bentuk adaptasi terhadap tantangan kondisi fisik dan lingkungan dalam rangka mengamankan kondisi ekonomi yang dibutuhkan. bahkan dari daerah lain di Indonesia. Meningkatnya perumahan yang tahan air: Di kampung nelayan Kota Karang dan Kangkung terdapat banyak adaptasi arsitektur ke atas untuk membuat rumah mereka lebih tahan dari efek destruktif air laut. apa faktor yang mungkin berkontribusi dalam keberhasilan. Adaptasi terhadap bentang alam meningkatkan permanensi pemukiman dengan mengurangi kebutuhan untuk mengganti pos-pos yang terekspos air dan biaya pemeliharaan yang tinggi. penduduk setempat telah berinisiatif untuk memperbaiki struktural di lingkungan mereka tanpa menunggu uluran tangan pemerintah daerah. Di bawah daftar. peluang dan jasa. seringkali dengan membangun tanggul-tanggul kecil dari batu yang diisi dengan tanah di dalamnya. kesiapsiagaan dan ketahanan bencana. Hasilnya banyak rumah-rumah yang tadinya berdiri di atas air sekarang berdiri di atas tanah padat.tersebut sangat saling berkaitan. sebagaimana halnya hambatan dan peluang. Ini untuk mencegah paparan air laut terus menerus dan selanjutnya mengurangi kebutuhan mengganti tonggak rumah setiap enam bulan sekali. Uang dikumpulkan antar tetangga dan pekerjaan dilakukan secara gotong royong. Pekerjaan ini dapat dikerjakan ke atas (tidak harus sekaligus) dan memberikan ruang-ruang finansial bagi keluarga. Penduduk di bantaran sungai contohnya. telah membangun tanggul kecil (setinggi 60 cm) untuk mencegah limpasan air ke dalam rumah selama kondisi banjir tinggi. kebanyakan rumah-rumah nelayan yang dibangun di atas tonggak kayu diperkuat dengan sarung beton. Penumpukan sampah memancing hama (tikus dan nyamuk) yang menyebabkan kondisi yang tidak sehat dan angka penyakit malaria yang tinggi.

ayam betina dan kadang-kadang kambing) untuk tambahan menu makanan mereka. tetapi digunakan untuk menyimpan barang-barang berukuran besar (seperti gerobak dan bahan bangunan). melainkan tradisi suku Bugis dari pendatang. Hal ini mengurangi kejadian dan resiko longsor. Keluarga-keluarga tersebut secara tidak sengaja tinggal di rumah panggung di atas laut. tidak melibatkan proses-proses birokrasi atau tabungan. Mengumpulkan air membuat mereka mengurangi ketergantungan kepada sistem pengaliran air PDAM yang tidak melayani mereka. Membangun rumah panggung: Di beberapa kampung. Proyek-proyek di kampung Pasir Gintung membersihkan 120 .• • • • besar modal selama beberapa tahun. atau untuk berpartisipasi dalam arisan warga. Cara ini membuat mereka lolos dari krisis keuangan periodik dengan memiliki asset-asset yang bisa digadaikan sewaktu-waktu atau orang-orang dan lembaga-lembaga informal dari mana mereka mendapatkan akses ke sumber daya. bahkan meskipun rumah tersebut di atas tanah kering. ini adalah alternatif yang membantu mereka menghemat pengeluarannya dan penggunaan air. banjir dan abrasi pantai. Ini tidaklah mengacu pada adaptasi terhadap resiko iklim tertentu. dan memasang pipa air bersih. seperti di sepanjang bantaran sungai di Kota Karang. rumah dibangun di atas panggung. kurangnya fasilitas publik dan lahan. Keluarga-keluarga sering kali membutuhkan akses dana untuk menambah pendapatan mereka dan yang mereka lakukan adalah mencari kredit dari tukang kredit dan toko-toko setempat. Proyek-proyek kolaborasi warga: Warga berkolaborasi dalam rangka memperbaiki lingkungannya dengan menyumbangkan waktu liburnya untuk proyek-proyek warga seperti kerja bakti bersih lingkungan dan membangun tanggul penahan. Beradaptasi terhadap kebutuhan sosial ekonomi. Kelembagaan ini dibentuk untuk kebutuhan alamiah informal. meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan resiko-resiko tersebut. membangun tanggul penahan dan tanggatangga. ukuran pertahanan hidup yang reaktif. Cara lain adalah menjual asset seperti televisi dan sepeda motor untuk menggalang dana di saat darurat atau membutuhkan dana instan. tetapi menunjukkan bahwa kapasitas masyarakat untuk berhadapan dengan resiko perubahan iklim sendiri dengan proyek-proyek sederhana dan tidak bergantung pada yang besar-besar. tetapi menerapkan suku bunga yang tinggi dan ketergantungan pada reputasi seseorang di lingkungannya. dimana lahan sulit diperoleh (di Kota Karang dan Kangkung). Kemampuan mengakses dana tunai melalui fasilitas kredit dan gadai: Strategi pertahanan hidup yang banyak digunakan. masyarakat setempat telah memperbaiki sistem drainase secara progresif. Konstruksi ini juga membuat rumah bebas banjir musiman dan dengan demikian mengurangi kerentanan dan kerugian harta benda saat terjadi banjir besar yang tidak normal. baik untuk sehari-hari maupun mengatasi kondisi dan bencana cuaca yang ekstrim adalah kemampuan mengakses sumber daya. Tak bisa dipungkiri bahwa bagaimanapun bebapa orang Bugis Berjaya di kotanya dan mereka memutuskan untuk mengadopsi model-model rumah konvensional (yang berada di atas permukaan tanah) dan maka dari itu kehilangan atributatribut arsitektur adaptif lantaran mereka berakulturasi dengan lingkungan sekitar. Penampungan air dan peternakan hewan: Keluarga yang kekurangan air dan makanan mengumpulkan air dengan menampung air hujan untuk kegiatan bersih-bersih dan kadang kala memasak daging (ayam.

Jadi mereka lebih 121 • • • . sukses belum tentu dianggap memiliki dampak skala besar. Tidak mahal dan bekerja dengan bahan-bahan yang tersedia: Strategistrategi adaptasi bisa makan waktu untuk berkembang. Hal ini bisa menjadi tantangan karena sebagian wilayah lebih berdedikasi ketimbang lainnya dalam kerja bakti bersih lingkungan. dan untuk warga miskin kota. sehingga berkembang oleh aplikasi yang konsisten secara waktu dan sumber daya. kita bisa mencari petunjuk-petunjuk yang memudahkan kita untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi kepada strategi-strategi adaptasi yang baik dan efektif. Di bawah ini beberapa kualitas umum yang muncul dalam strategi-strategi adaptasi yang tercatat di atas: • Cukup hanya ‘bekerja’: strategi-strategi adaptasi di atas merupakan respons yang sangat praktis terhadap ancaman-ancaman utama dan realita penduduk yang diteliti. bukan karena terdengar seperti ide-ide yang bagus dan berpotensi. motor atau asset yang laku dijual. dan mengapa warga memilihnya? Meskipun analisis komprehensif hanya bisa dilakukan secara realistis di balik peristiwa iklim yang parah. 8. Hal inilah yang warga sanggup lakukan dan yang masuk akal bagi mereka.saluran air buangan yang membantu mereka meyakinkan bahwa air buangan tidak menjadi ancaman atau melimpah dari gorong-gorong dan merusak rumah-rumah dan properti. Evolusi hampir selalu meningkat dan berasal dari bahan-bahan yang tidak mahal atau gratis. yang lebih penting adalah bahwa secara yang paling praktis. Untuk strategistrategi untuk dikembangkan dan dilaksanakan harus sudah dilakukan. ketimbang mengikuti proses aplikasi yang birokratis yang mungkin mengharuskan pengurusan surat-surat yang lama. mudah dikelola dan diakses. Pada umumnya. terutama pada saat-saat yang sulit. warga miskin perkotaan tidak menunggu pemerintah untuk menolong mereka. Dalam rangka mengumpulkan modal untuk pulih dari banjir. dengan kegagalan membersihkan saluran air buangan di bagian hulu akan memperparah kondisi wilayah lain di hilir. Tidak bergantung kepada proyek-proyek atau intervensi pemerintah yang besar: Di negara yang sumberdaya pemerintahnya terbatas dan mungkin kurang merespons. masyarakat di kota menginginkan akses ke sumber-sumber dengan cepat dan ini merupakan karakteristik yang sangat penting dari strategi adaptasi yang berlaku.2. sumber-sumber tersebut langka. atau bahkan kelompok-kelompok arisan yang mengumpulkan dana yang sangat minimal. Respons mereka telah berkembang karena mereka bekerja untuk mereka sendiri. Contoh-contohnya seperti memulung bahan bangunan dari tukang loak terdekat. Bisa diakses pada saat dibutuhkan: Strategi-strategi adaptasi juga harus bisa diakses pada saat dibutuhkan. Pembelajaran Strategi adaptasi yang teridentifikasi di atas memberikan wawasan ke arah pemahaman apa yang disebut strategi yang layak dan berhasil. lalu faktorfaktor apa yang membuatnya terjadi. adaptasi-adaptasi ini memiliki tujuan dan efek terhadap kehidupan mereka setiap hari. keluarga bisa menjual televise. Kegiatan ini disebut gotong royong dan membutuhkan kolaborasi yang konsisten dan terkoordinir antara kelompokkelompok dan wilayah-wilayah yang berbeda di suatu wilayah. Ini merupakan poin yang sangat penting untuk dikenali. Mereka mandiri.

Masyarakat miskin kota biasanya terisolasi dan maka dari itu strategi adaptasi yang berhasil nampaknya akan meningkatkan akses informasi mereka. seperti kesehatan. pendidikan dan mata pencaharian. Tidak hanya kerelaan untuk bekerja bersama. Strategi adaptasi dapat menolong mereka untuk memiliki akses lebih kepada informasi dan maka dari itu mampu mengambil keputusan yang lebih baik tentang situasi mereka akan mendorong keluaran yang lebih baik. perumahan. Aktivitas perdana ini ditujukan untuk menguji pendekatan yang inovatif dan berpotensi untuk diduplikasi untuk digunakan dalam meningkatkan ketahanan kota. tetapi juga keyakinan bahwa melakukan bersama-sama akan menghasilkan yang lebih baik. Menyeluruh lebih besar daripada sejumlah bagian: Banyak strategi adaptasi berhasil karena mereka memanfaatkan upaya kolektif dan kekuatan masyarakat. strategi adaptasi nampaknya akan berhasil. Jika sesuatu dapat membuat mereka lebih aman dan juga membuat makin sejahtera. pengetahuan kelompok-kelompok arisan atau suku bunga yang berbeda dari kreditur setempat dapat menambah pilihan-pilihan ekonominya dan mengurangi kerentanannya. Sedangkan intervensi pemerintah diapresiasi dan swadaya masyarakat nampaknya menjadi karakteristik kunci strategi adaptasi. tetapi jika manfaat lain dapat diperoleh. Keselamatan diri sendiri bukanlah faktor yang memotivasi. Akses lebih kepada informasi akan mendorong keluaran yang lebih baik: Masyarakat yang rentan mengevaluasi situasi mereka secara konstan. baik itu ekonomi. 122 .• • • • bergantung kepada organisasi dan inisiatif masyarakat yang lebih merespons kebutuhan mereka dengan cara mereka sendiri. Pilot Project daerah Bandar Lampung sebagai Rencana Aksi Adaptasi Bandar Lampung sedang mencari contoh model untuk menguji pendekatan yang dapat berkontribusi terhadap rencana ketahanan kota. Contohnya. Pada kasus yang sangat sederhana. maka itulahyang mereka inginkan. maka solusi tersebut menjadi berfungsi sebagaimana mestinya.3. Jarang sekali yang berupa upaya perorangan. Karena warga miskin kota memiliki pandangan yang sangat praktis. Masyarakat saling memikirkan satu sama lain dan jika pertimbangan ini diterjemahkan ke dalam aksi kolektif. Menyesuaikan bantuan pemerintah mendorong hasil yang lebih baik: Jika masyarakat mampu bekerja bersama-sama dengan pemerintah setempat dan kota (dan sebaliknya). Adaptasi terhadap peristiwa iklim yang parah harus dilakukan bersama-sama dengan strategi adaptasi lainnya: Mereka yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim tidak tahu atau tidak peduli apabila tidak memberikan manfaat kepada aspek-aspek kehidupanya. jika investasi masyarakat sesuai atau sejalan dengan investasi pemerintah. perumahan ataupun kesehatan. maka akan menghasilkan dampak yang signifikan dan berkelanjutan pada kondisi lingkungan warga. 8. Saat fase perjanjian dari insiasi ini akan terdapat kesempatan untuk mengimplementasikan proyek skala kecil untuk mengembangkan multi-stakeholder dalam rencana aksi ketahanan kota. maka adaptasi yang berhasil bagi mereka adalah yang bekerja dengan strategi lain yang mereka pertimbangkan. hasilnya bisa signifikan.

dan partisipasi masyarakat dalam rangka mewujudkan kapasitas adaptasi untuk 123 . ekonomi yang berkaitan dengan perubahan iklim . Kolaborasi 6. kapasitas local. yaitu kelurahan Kangkung dan Kota Karang. Lampung Ikhlas secara aktif telah menerapkan aktivitasaktivitas yang berkaitan dengan respon darurat terhadap bencana.Implementasi dari pilot project harus berkaitan dengan masalah local pada administrasi local atau administrasi daerah “cross border” pada masalah lingkungan.Tujuan dari implementasi perdana ini adalah: . Lampung Ikhlas merupakan asosiasi terbuka dan mandiri yang bergerak dibidang solidaritas antara korban bencana alam dan kemanusiaan. Didirikian pada tanggan 26 Desember 2004. Terskala 7. Kota Bandar Lampung pada Perubahan Iklim oleh Lampung Ikhlas (LSM Lokal). longsor. Tujuan dari proyek ini ialah untuk meningkatkan pengertian.untuk mengimplementasikan pilot project yang menguji strategi ketahanan terhadap perubahan iklim .untuk mengikat para stakeholder tingkat kota (pemerintah kota. Bandar Lampung City to Climate change”. Inovatif 5. anak kecil. Judul dari proyek Lampung Ikhlas ini ialah: “participatory design adaptation of Community Resillience in Kangkung and Kota Karang sub-district. Orang yang akan merasakan manfaat dari proyek ini adalah wanita. Menanggapi masalah yang terdapat saat ini dan masa depan 3. dll. dan grup-grup masyarakat) . seperti erosi. pendidikan. Merupakan strategi yang berkelanjutan Ada beberapa criteria tambahan yang harus diterapkan oleh pilot project. maka mereka telah memilih dua kelurahan untuk menerapkan pilot project. kesehatan. yaitu: . kesadaran. social. kekringan. mempengaruhi kebijakan local. CBO. Dapat direplikasi 2. Universitas.untuk menyiapkan daftar pengaruh perubahan iklim pada level kota . Dan sebagai tanggapan terhadap masalah lokal di kota Bandar Lampung yang disebabkan oleh pengaruh prubahan iklim pada sector lingkungan dan ketersediaan air. dll. dll.Implementasi dari pilot project ini diarahkan untuk adaptasi dan merespon usaha yang dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim. LSM. dan orang – orang tua. Berikut ini merupakan pilot project terpilih untuk Bandar Lampung: Pilot Project pertama untuk Bandar Lampung: Desain dari Partisipasi Adaptasi Ketahanan Masyarakat di Kangkung dan Kelurahan Kota Karang. banjir.untuk menguji kapasitas adaptasi di dalam masyarakat Target utama dari pilot project ini adalah masyarakat yang rentan terhadap pengaruh perubahan iklim. sector swasta. program sukarela. Menguntungkan masyarakat local 4. Aktifitas dari pilot project ini harus mengikuti atau sejalan dengan criteria di bawah ini: 1. baik dengan peningkatan kesadaran.

manajemen lingkungan. 3. 124 . ketahanan kehidupan ekonomi. dalam hal peningkatan pemasukan. dan peningkatan pengetahuan. meningkatkan kesadaran masyarakat di kelurahan Kangkung dan Kota Karang terhadap perubahan iklim. keluarga miskin. 4. Yang akan merasakan keuntungan dari program ini ialah: masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim. 2. membangun pengertian dan menerapkan aktivitas dari program untuk lingkungan social di kelurahan Kangkung dan Kota Karang mengenai pengaruh perubahan iklim (dalam lingkup social. anak kecil. LFA Analisa Problem Aktivitas proyek ini akan mencakup: 1. ekonomi. termasuk wanita. membantu untuk meningkatkan standar kehidupan masyarakat dalam sector kesehatan. dan adaptasi terhadap perubahan ikllim. meningkatkan kapasitas masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. memperbaiki status kesehatan. dan sector kehidupan yang berkelanjutan). sosialisasi program: untuk membentuk partisipasi sukarela dari masyarakat lokal dalam menerapkan proyek. kenyamanan. Target dari program ini ialah masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim yang mempengaruhi daerah pesisir: kelurahan Kangkung dan Kota Karang. dan lainnya. target dari proyek ini adalah: 1. laki-laki dewasa terutama dari keluarga nelayan. Yang akan mengimplementasikan aktivitas ini ialah grup-grup yang telah ada di dalam masyarakat.menghadapi pengaruh perubahan iklim. UNAVAILABLE OF SUBDISTRICT SPATIAL PLAN UNEXISTENCE OF MANAGEMENT FROM SUB-DISTRICT RESIDENTIAL AND WARD DO NOT ADAPT TO CLIMATE CHANGE THREAT TO WORKING ACTIVIIES SUSTAIBANI LITY VULNERBALE COMMUNITIES TO CLIMATE CHANGE UNEXISTENCE OF GOVERNMENT POLICIES SUPORT TO CLIMATE CHANGE NO SOLIALIZATION OF CLIMATE CHANGE IMPACT AND ADAPTATION UNAPPROPRIATE RESPONSE/ BEHAVIOR TO CLIMATE CHANGE RESIDENTIAL DEVELOPMENT AND WARD DO NOT ADAPT TO CLIMATE CHANGE Gambar 8-1. Untuk lebih jauhnya.

adil. 3. dan aktivitas pembangunan fasilitas daur ulang sampah. Video dokumentasi: untuk menjelaskan tahap-tahap aktivitas proyek.meningkatkan kapasitas masyarakat melalui partisipasi aktif dan meningkatkan pengetahuan mengenai usaha adaptasi terhadap perubahan iklim. Tujuan dari proyek ini ialah “sebagai usaha untuk menguatkan kapasitas masyarakat dalam usaha untuk meningatkan ketahanan masyarakat di Kelurahan Panjang Selatan dalam menghadapi perubahan iklim”.usaha adaptasi terhadap perubahan iklim melalui manajemen persampahan. Periode jangka pendek: . memecahkan masalah minimnya ketersediaan air bersih karena perubahan iklim. institusi pendidikan. Target dari proyek ini ialah: 1. 125 . stiker. dan kemauan dalam masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. dan rehabilitasi. . LSM lokal. 5. 7. dan membentuk grup manajemen air bersih melaluii pelatihan filtrasi air payau dan membangun instalasi filtrasi air payau. penyediaan air minum. Mitra Bentala telah bekerjasama dengan pemerintah. dan . Sejak didirikannya. Dan sebagai tanggapan terhadap pengaruh perubahan iklim di kelurhana Panjang selatan. Mitra Bentala telah memilih implementor pilot project ini yang berada di kelurahan Panjang Selatan. dan berkelanjutan”. Judul proyek Mitra Bentala ini ialah: Pembentukan kapasitas “capacity building” untuk masyarakat kelurahan Panjang Selatan untuk menghadapi perubahan iklim”. kesiapan. kalender. manajemen sampah: meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat untuk memecahkan masalah mengenai penyakit akibat perubahan iklim. survey: untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai daerah dan masalah-masalahny untuk mendukung kesuksesan proyek. Pilot Project kedua di Bandar Lampung: Pembentukan kapasitas “capacity building” untuk kelurahan Panjang Selatan untuk menghadapi perubahan iklim yang dilakukan oleh Mitra Bentala (LSM lokal) Mitra Bentala didirikan pada tanggal 9 April 1995 dengan visi “kedaulatan masyarakat pesisir pantai dan pulau-pulau kecil Lampung dalam manajemen sumber alam yang demokratis. pembuatan pupuk organic. Penyediaan saran air bersih: meningkatkan kapasitan masyarakat. poster. 6.membangun kesadaran masyarakat dalam meningkatkan pengertian dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengaruh perubahan iklim. 4. dan masyarakat dalam aktivitas-aktivitas yang mencakup daerah pesisir dan pulau kecil. sector swasta. Focus group discussion (FGD): untuk membentuk kebersamaan. dan banner.2. dan juga meningkatkan pemasukan dengan melakukan pelatihan daur ulang sampah. lomba menggambar sampah. kampanye media: untuk mensosialisasikan pengaruh perubahan iklim dalam rangka menumbuhkan ketahanan masyarakat melalui penyebaran leaflet.

Natural resources training 4.Disaster evacuation sign board route and map 4. . terutama masyarakat yang rentan terhadap perubahan iklim.Waste management training 5.mendorong pembentukannya dukungan kolektif untuk penerapan adaptasi terhadap perubahan iklim di kelurahan Panjang Selatan. Diagram Alur Pemikiran Climate change issues POLICY ORIENTATION Adaptation Efforts to Climate Change M&E 1.Socialization 2. leaflet. kepala rumah tangga wanita. dan lainnya. Eco-feminism education 6. .mendorong pembentukannya grup masyarakat untuk adaptasi terhadap perubahan iklim.Citizen Meeting 3. Installation of drinking water refill training 1. Masyarakat yang akan merasakan keuntungan dari program ini ialah: masyarakat di tiga daerah terpilih kelurahan Panjang Selatan yang berada dipesisir pantai hingga daerah buki. Rehabilitation Climate Change Adaptation Ability/Capacity ACCCRN Team Panjang Selatan Subdistrict MITRA BENTALA EFFORT IN CLIMATE CHANGE ADAPTATION Community Capacity Building Building Awareness 1.Documentary film OUTPUT Climate Change Adaptation Community Group Collective Support SUSTAINABLE PLAN Gambar 8-2. Periode jangka panjang: . . termasuk keluarga nelayan. . and t-shirt 3. dan membangun kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim. Mass-media expose 2. Waste management and facilities providing 2. Campaign: poster. Diagram Alur Aktivitas 126 .2. Drinking water installation refill 3. .

dan penyediaan fasilitas pengelolaan sampah. apa saja hambatannya dan peluang-peluang apa saja yang ada di masyarakat yang diteliti yang dapat menjadi basis untuk pengembangan ketahanan masyarakat lebih lanjut. 8. pendidikan eco-feminism. manajemen persampahan: pelatihan manajemen persampahan.4. Hambatan dan Peluang untuk penguatan kapasitas adaptasi: Di bawah ini dirinci analisis terhadap faktor-faktor eksisting dimana adaptasi bergantung. Aktivitas proyek ini akan mencakup: 1. sumber daya dan perangkat yang dibutuhkan untuk beradaptasi secara efektfi terhadap kondisi yang berbeda. rehabilitas (penanaman pohon). 127 . dengan menyiapkan sedari awal warga dapat mengurangi resiko dan/atau memfasilitasi respons yang membiarkan mereka untuk pulih seperti sedia kala. Kesanggupan untuk membangun dapat menghambat atau memicu pembangunan dan adaptasi Akses fisik ke sumber daya. 2. 5. Kurangnya kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi yang berbeda. dan (ii) dengan mengurangi dampak peristiwa iklim dengan memfasilitasi kesiapsiagaan bencana dan tanggap bencana. rehabilitasi. 3. sosialisasi: program sosialisasi pada tingkat kelurahan dan grup diskusi pada tingkat kota terpilih. informasi dan perangkat bergantung kepada akses fisik. Kampanye: dokumentasi video dan pembuatan poster. serta bagaimana kapasitas saat ini harus diperkuat dan rencana tata ruang ditingkatkan untuk membentuk ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran yang baik dari pilot proyek tersebut dalam merancang kebijakan dan strategi jangka panjang untuk mengatasi perubahan iklim. dan kaos. dan peningkatan kewaspadaan terhadap bencana: manajemen pendidikan sumber daya alam. pendidikan sumber daya alam. Informasi dapat memperkuat dengan memberikan alat untuk mengakses pengetahuan dan sumber daya. leaflet. Kapasitas yang berlebihan dapat membatasi kemampuan untuk jadi fleksibel dan mengatasi perubahan secara efektif. (i) Apa saja faktor-faktor dimana adaptasi bergantung? • Uang • Kapasitas • Pemahaman • Akses informasi Kolaborasi dan keterlibatan pemerintah setempat • Migrasi dan laju pertumbuhan • Penyediaan layanan publik • Mobilitas Kekurangan akses modal yang menghambat kapasitas melakukan investasi. Instalasi isi ulang air minum: pelatihan pemasangan instalasi air minum dan penyediaan instalasi isi ulang air minum. Beginilah caranya strategi adaptasi dapat membangun ketahanan. Kewajiban untuk belajar tentang adaptasi dan ancaman dan bagaimana meresponsnya. dan pembuatan rute dan peta evakuasi saat terjadi bencana. 4. Adaptasi dan Ketahanan: Tabel berikut (lihat Lampiran) berusaha untuk mengkategorikan bagaimana adaptasi yang diuraikan di atas bisa dipahami (i) sebagai kontribusi kepada ketahanan.Pilot proyek diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam memahami bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada masyarakat dan sektor. Marginalisasi dari pengambilan keputusan dapat menjauhkan dari akses informasi. pendirian grup manajemen persampahan.

yang mengurangi kesempatan mereka. Dengan sumberdaya yang memadai. mereka terjadi di kota-kota yang berbeda dan negeri-negeri yang jauh.(ii) Apa saja hambatan dalam mengembangkan strategi adaptasi? Informasi Warga miskin kota memiliki sedikit akses informasi. ekonomi dan politik. Ketidaksanggupan pemerintah daerah untuk mengkoordinir aksiaksi mereka secara kelembagaan (antar departemen) dan secara keruangan (lintas wilayah jurisdiksi) dapat menghambat implementasi program. ekonomi dan fisik) Modal (dari warga maupun pemerintah setempat) Kolaborasi masyarakat Kolaborasi kelembagaan + jurisdiksi Sumber daya alam Ketergantungan kepada faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol 128 . dan dapat memperkecil suara masyarakat dalam mengajukan klaim. Kurangnya investasi lokal (oleh pemerintah dan penduduk) menghamat pengembangan alternative Kurangnya kolaborasi dan kohesi masyarakat dapat melemahkan proses-proses dan proyek-proyek kolektif. Kebanyakan mata pencaharian penduduk lokal bergantung pada faktor yang jauh dan di luar kontrol mereka. atau membuatnya jadi lebih mahal. Masa depan ekonomi tidak ditentukan oleh dinamika dan faktor lokal. Masyarakat yang tidak beruntung sering mengalami penderitaan dari isolasi. Akses (politik. proyek dan inisiatif yang efektif yang dapat membantu strategi adaptasi (contoh: menawarkan layanan kesehatan dan air yang berkualitas) Kurangnya sumber daya alam dapat menghambat kapasitas untuk beradaptasi dengan menghambat perangkat yang bisa diakses untuk mengembangkan strategi perubahan dan adaptasi. kerentanan dapat dikurangi secara besar-besaran dan membuka banyak kemungkinan untuk adaptasi. fisik. sehingga mereka tidak tahu mengenai perubahan dan peluang di lingkungannya.

(iii) Apa peluang-peluang yang ada? Kasus-kasus yang ada dan berhasil Jejaring sosial yang mungkin dilakukan dalam situasi serupa. Mereka telah terbukti berhasil dan efektif Pengumpulan pengetahuan kolektif dapat membantu mengembangkan strategi adaptasi dengan membuka akses kepada modal sosial. Jika dipahamin dan dikoordinasikan dengan lebih baik maka dapat membantu strategi adaptasi. Namun apresiasi dan pemahaman akan kebutuhan dan kondisi masyarakat masihlah kurang. mereka juga menggunakan sumber daya yang tersisa. Secara politis. mereka bisa menjadi sekutu yang kuat. Masyarakat lokal yang diteliti menunjukkan kepemimpinan yang kuat. memiliki ketrampilan dan kemauan untuk memperbaiki kondisi yang mengarah kepada adaptasi. seperti warga miskin kota di Sukorejo dan pendatang baru di Kota Karang yang terabaikan dan terlupakan. karena mereka tidak peduli skala dan asal muasal kebutuhan tersebut. termasuk bagaimana caranya Pemerintah kelurahan setempat Ada banyak adapatasi yang sekarang digunakan dan dikembangkan di dalam lokasi penelitian yang dapat disebarkan dan manfaatnya dipublikasikan. Penduduk setempat yang saat ini bekerja tidak hanya memberikan mereka ketrampilan. Mereka seenaknya menguasai lahan yang tak terlihat dan ambigu. Preferensi diberikan untuk ketrampilan dan pengalaman yang sudah diterapkan di lokasi penelitian. membuatnya tak nampak: Dalam kasus masyarakat yang sampai sekarang tidak dikenal atau didokumentasikan. Program dan kebijakan yang ada di kota dan tingkat nasional dirancang untuk memperbaiki kondisi bagi penduduk lokal namun mereka sering tidak diterjemahkan ke dalam inisiatif lokal. Masyarakat juga menunjukkan tingginya kolaborasi dan kohesi yang membuat proyek-proyek gotong royong terwujud. Keberadaan organisasi masyarakat di kedua kota menunjukkan adanya sumber daya manusia yang dapat berkontribusi kepada proses-proses perubahan sosial dimana masyarakat terlibat Program-program pemerintah kota dan nasional Materi dan ketrampilan dari aktifitas industri dan ekonomi Kepemimpinan lokal Kohesi masyarakat Organisasi masyarakat lokal 8. Itikad baik harus dimanfaatkan dan didorong. Pemerintah daerah mungkin tidak merasakan kebutuhan untuk menyediakan layanan atau berdialog dengan masyarakat. Ide-ide lainnya ditelaah untuk digunakan sebagai modal dalam pembelajaran dan menjawab isu-isu spesifik terkait kerentanan secara multi dimensi yang muncul dengan sendirinya. maka pemerintah kelurahan setempat dapat memiliki ide-ide yang lebih baik tentang layanan yang dibutuhkan (berapa 129 . perangkat dan pengaruh politik yang potensial Kebanyakan pemerintah daerah sangat telaten membantu warganya. Ide-ide spesifik untuk memperkuat kapasitas adaptif: Strategi dan proyek-proyek di bawah ini menawarkan beberapa ide-ide yang mungkin dilakukan untuk memperkuat kapasitas adaptif di Bandar Lampung dan Semarang. kualitas yang esensial dalam mewujudkan perubahan dan menjamin ketahanan.5. informasi. Kota-kota yang tak nampak. Pelajaran dapat dengan mudah dipelajari dan ditransfer dari kasus-kasus tersebut karena (i) sudah terbukti bekerja dan (ii) lebih mudah diintroduksi dari masyarakat dan kelompok-kelompok yang datang dari konteks yang sama ketimbang dibawa dari luar. dan menghasilkan pendapatan finansial yang berharga darinya. Dengan pendokumentasian wilayah yang lebih baik. sensus dan survai di tingkat masyarakat akan membantu untuk mendokumentasikan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Aktifitas ekonomi yang ada dapat bertindak sebagai dukungan sumberdaya dan politik.

berbagi cerita dan konsekuensi yang berbeda tentang relokasi warga Sukorejo dan Tandang. satu manfaat potensial adalah sosialisasi konsekuensi program relokasi penduduk. Pembiayaan beranggaran rendah untuk perbaikan rumah: Terbukti bahwa warga miskin kota dapat memperbaiki kondisi rumah mereka sendiri dan maka mengurangi kerentanan terhadap resiko iklim. meski masih satu kota. Guna ulang yang adaptif: Sudah banyak sumber-sumber yang datang ke warga miskin kota lokal yang dapat membantu menunjang ketahanan. kasus di RW 5 Kemijen. orang tua mereka tidak mampu membiayai ke SMA dan membutuhkan mereka untuk bekerja. mereka dapat mengakses segala macam pekerjaan di kota dan tidak bergantung eksklusif pada pekerjaan di sektor perikanan. atau murid dalam satu kelas) dan sebagai hasilnya dapat menerima alokasi anggaran yang dibutuhkan. Sebagain contoh. Hal ini akan membantu menyediakan sumber air alternatif untuk kegiatan-kegiatan selain memasak dan minum dan juga menjadi penampungan sementara air hujan untuk menghindari banjir dadakan. Narasi + jejaring masyarakat berbagi: Banyak masyarakat miskin kota hidup terisolir sampai-sampai mereka tidak tahu bahwa realita mereka sangat mirip dengan masyarakat miskin kota di kampung lain yang jauh. dan membayar harga yang sangat mahal. Penduduk kota yang dipindah akan mendapatkan keuntungan dengan mendapatkan pengetahuan yang berguna untuk menegosiasi kondisi relokasi dan anti rugi dengan pemerintah daerah dan pengembang. Subsidi koneksi akan membantu menurunkan biaya-biaya mereka secara signifikan. Rumah-rumah panggung di kampung Kota Karang memakai tonggak-tonggak kayu yang diperkuat dengan beton satu per satu. membuatnya sedikit terpengaruh oleh ombak dan erosi. Pemerintah dapat membantu dengan akses subsidi terhadap layanan-layanan tersebut untuk menjamin bahwa warga miskin kota mendapatkan manfaat. Sebagai contoh. Satu ide lainnya adalah pemanfaatan drum air kosong (berlimpah di kawasan pesisir seperti Kota Karang) untuk menampung air hujan dari atap rumah di Pasir Gintung. saling belajar dan membangun jejaring sosial yang dapat membangun ketahanan. Hal ini meniadakan peluang saling berbagi informasi satu sama lain. Hal ini membantu menjawab ketidak sesuaian informasi dan memperkuat warga miskin kota. Di kampung nelayan Kangkung. tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan. warga kekurangan akses modal untuk membayar biaya pemasangan pipa PDAM yang akibatnya mereka sangat bergantung pada penjual air. berbagi informasi dan belajar. keduanya merupakan dua contoh pemanfaatan sumberdaya yang ‘gratis’ untuk kegunaan tambahan. Perubahan peningkatan skala kecil membantu untuk membangun rumah yang lebih kokoh dan awet secara bertahap dan dengan anggaran yang terbatas. Kasus-kasus guna ulang yang adaptif sudah terbukti ada di lokasi penelitian: guna ulang sampah untuk reklamasi pantai di Kangkung dan menampung air dari cucuran atap rumah-rumah di atas air di Kota Karang. Subsidi: Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu yang dihadapi warga miskin kota. Subsidi untuk pendidikan dan air bersih akan membantu menunjang ketahanan dan mengurangi kerentanan di banyak komunitas warga miskin kota. Dengan mendorong pertukaran dan pertemuan warga dapat mendorong formasi jejaring sosial. Dengan membuat mereka 130 .banyak orang perlu akses ke puskesmas. hampir semua anak-anak di atas usia 12 tahun putus sekolah. layanan sosial tertentu tidaklah terjangkau. Jika subsidi pendidikan dapat mengamankan kehadiran mereka di sekolah sampai selesai SMA.

Dengan menyimpan peta rinci di tangan yang dapat mengidentifikasi asset. Jejaring pengaman sosial alternatif: Pada saat ini hanya sedikit kebijakan terkonsolidasi yang tersisa sebagai jejaring pengaman sosial bencana bagi keluarga yang rumah dan propertinya rusak akibat cuaca yang ekstrim. dapat mengurangi kerentanan secara signifikan di tempat yang rawan terhadap siklon dan angin kencang. 131 . Perbaikan kecil. Penduduk yang terpengaruh akhirnya bergantung pada yayasan swasta dan amal. namun ada banyak konstituen yang berpotensi terpengaruh yang menciptakan koalisi besar dan mendorong respons pemerintah terhadap isu ini. Gudang kota yang dapat mengumpulkan dan menyimpan barang. dapat menyediakan database instant tentang asset penduduk darimana diawali upaya penyelamatan atau rekonstruksi. Tetapi pembentukan koalisi luas tersebut bisa mengumpulkan visibilitas dan dukungan politik. Ini adalah kasus di Semarang dimana industri-industri besar dan warga miskin kota akan membentuk persekutuan yang sulit dipercaya lantaran mereka bersama-sama tinggal di kawasan pelabuhan kota yang sangat terpengaruh oleh perubahan iklim. tidak bergantung pada proyek pemerintah atau tabungan mereka cukup banyak. Gugus Tugas kota dapat ditugaskan mengelola dana tersebut dan menentukan penggunaannya. atau ketrampilannya sendiri untuk bertahan hidup. dan akan membiarkan kelompok-kelompok untuk mengetahui strategi apa yang berfungsi dan bidang-bidang apa yang perlu bantuan yang lebih ditargetkan. Dengan mengumpulkan database yang dapat memantau perkembangan berdasarkan waktu dan ruang. Melalui investasi yang progresif dalam proyek-proyek dan perbaikan. Pemerintah daerah hanya mampu menyediakan sumberdaya yang langka yang umumnya disebut tidak cukup. dan bagaimana kelurahan ini disbanding dengan wilayah lain. kelurahan dapat memiliki alat ukur bagaimana kerjanya untuk mengurangi kerentanannya.dapat mengakses pendanaan. Koalisi luas mengatasi isu perubahan iklim: Mungkin yang terpikir bahwa perubahan iklim hanya terfokus pada warga miskin kota. Peta terinci untuk penggunaan pemerintah kelurahan setempat: Pemerintah Kelurahan Tandang menampilkan ukuran kesiagaan dan respons bencana yang bermanfaat. Akses informasi. Cara ini akan berguna untuk melihat bagaimana perkembangan yang terjadi. adalah model-model yang mungkin dilakukan untuk menyimpan sumber-sumber daya pendanaan untuk peristiwa mendatang. Peta seperti itu akan juga menjadi sumber vital untuk respons bencana: pada saat terjadi longsor contohnya. peta-peta dan database penduduk dapat membantu menyediakannya. penduduk dan mengkategorikan bahaya. seperti dalam kasus banjir di Pasir Gintung. Namun jejaring pengaman sosial lain dapat ditelusuri yang mungkin menyimpan sumber daya di gudangnya. dalam format yang jelas dan dapat diakses sangat penting untuk mengurangi kerentanan dan memperkuat ketahanan. atau rekening bank yang dapat menyimpan sumbangan. beberapa potensi tersebut dapat dikurangi dan dengan demikian mengurangi kerentanan lingkungan. mereka dapat bersiap-siapa lebih baik terhadap bencana terkait iklim. warga dapat membeli bahan bangunan dan perlahan memperbaiki rumahnya secara mandiri. seperti pengatapan yang lebih baik sebagai contoh. Indeks Kerentanan Lingkungan: Sejumlah kampung telah diidentifikasi memiliki potensi yang membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan iklim. seperti menyiapkan sistem peringatan dini.

Kesehatan: Fasilitas kesehatan langka. sehingga bantaran sungai terpolusi. malaria adalah penyakit epidemik utama. Tabel 8-1. Air: Air diangkut gerobak ke daerah yang baru dihuni karena tidak ada layanan PDAM. Sanitasi: Pemukiman di atas air tidak memiliki fasilitas sanitasi yang menciptakan kondisi tidak sehat. membuktikan bahwa ini bukanlah caranya. Sejumlah mega proyek yang gagal. dan juga apa yang sudah dilakukan. keniscayaan dan asal muasal perubahan iklim dan peristiwa iklim yang parah belumlah diketahui. Untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim yang bisa terjadi di kawasan perkotaan di masa depan. Pompa tangan tersedia dan melayani setiap 20 rumah. Pengelolaan air dilakukan warga setempat. Layanan-layanan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi bahaya iklim. tetapi yang sederhana dan kurang dikenal luas. Angka putus sekolah tinggi di kampung atas (20%) dibandingkan rata-rata se-kelurahan (10%). menghabiskan banyak biaya dan meninggalkan konsekuensi yang menghancurkan. mereka memompa air dari dasar laut (payau) atau mengangkutnya dengan gerobak dari daratan. Beradaptasi dengan perubahan iklim mungkin adalah upaya mental yang luas dan dimana terdapat perbedaan budaya yang sulit dipecahkan. sedikit sekali WC umum dan sampah dibuang ke kolong rumah. Sanitasi: WC umum tersedia meski sedikit. dan seiring dengan itu sebuah pola pikir budaya telah berevolusi. Kepadatan penduduk mencegah penambahan lokal kelas yang kapasitasnya sudah penuh. informasi bisa disebarkan dan masyarakat dan rumah dapat diperkuat. tetapi di kampung atas bukit air dipompa ke tangki penampungan umum dan disalurkan secara manual (akses yang sangat rendah). yang akhirnya melahirkan keyakinan arogansi bahwa ini mungkin. teronggok dengan sendirinya dan terangkut ke laut. Pendidikan: Hanya ada sedikit fasilitas pendidikan dan angka putus sekolah anakanak di atas 12 tahun sangat-sangat tinggi. kekurangan gizi tercatat. menurut Kelurahan: Bandar Lampung Pasir Gintung Kesehatan: Puskesmas yang terletak di kampung bawah membuat aksesnya terbatas. Mungkin ini adalah adaptasi yang paling signfikan. dibawa ke sana oleh orang luar. lebih sesuai terhadap lingkungan yang tak terduga dan masa depan yang tak menentu. Mungkin perubahan yang paling penting dari semuanya tidak didefinisikan dengan perubahan fisik. tetapi tidak ada SMA. Ketimbang mencari untuk menaklukan negeri-negeri sekitarnya. Sampah dibuang di pantai yang mencemari garis pantai. Air: Warga kampung nelayan tidak mempunyai suplai air bersih umum. Kota Karang Kangkung 132 . Kesehatan: Puskesmas tidak buka pada waktunya dan tidak mampu melayani warga. Pendidikan: Angka bolos sekolah sangat tinggi (30%) secara rata-rata dan bahkan lebih tinggi lagi di daerah tertentu. Drainase mengalir langsung ke sungai. ekonomi atau bahkan politik. kita perlu berpikir adaptasi mental apa yang harus dilakukan. Sampah bertumpuk di daerah ini juga. Pendidikan: Tersedia SD. Air: Di kampung bawah akses PDAM baik (mayoritas).Pemikiran dan pertimbangan akhir : Saat tembok bisa dibangun. atau paling tidak bukan satu-satunya cara. Indonesia adalah bebas dan lebih mampu menyatukannya untuk membentuk dirinya. Nilai-nilai Barat di sisi lain sangat determinan dan berupaya menaklukan dan mengontrol negeri ini. Indonesia adalah sebuah negara dan peradaban yang lingkungannya yang indah dan tidak terkira banyaknya digerus selama berabad-abad. Sanitasi: Sanitasi sangat buruk di kampung nelayan. Anak-anak dikeluarkan dari sekolah oleh orangtuanya untuk bekerja di sektor perikanan dan karenanya mereka setengah buta huruf.

Drainase) Pengumpulan sampah umumnya baik.Wabah pandemic .Subsidi .Harga obat mahal Lingkungan (mis.Transmigrasi sepertinya berlanjut. kayu diganti -Daerah yang terioslir dan terpinggirkan seperti KK yang tidak terhubung dengan pasar -Kesulitan mengakses wilayah (lereng curam) yang tidak bisa diakses) -Pengangguran muda -Keluarga yang tergantung pada satu mata pencaharian -Daerah terpencil tanpa Puskesmas: kampung di lereng -Kampung nelayan -Anak-anak yang berenang di air -Perempuan yang mencuci -Keluarga di kampung nelayan -Warga miskin -Keluarga baru yang cari rumah -Pendatang -Keluarga dipimpin perempuan -Lanjut usia -Rumah rusak membuat masalah -Pertumbuhan alamiah keluarga -Perluasan rumah di daerah yang sempit Trend ke depan + stressor - - Adaptasi potensial Tautan .Warga tinggal di atas air punya sedikit sambungan .Lingkungan - Pertumbuhan alami dan migrasi akan mengurangi sumberdaya pendidikan yang ada Ketika anak nelayan besar.Anak-anak yang membawa air .Pembangunan ekonomi .Pertumbuhan penduduk -Warga miskin -Penghuni bantaran sungai -Rumah yang terancam longsor -Pemerintah tidak punya dana untuk perbaikan -Laju pertumbuhan penduduk terus memaksa warga untuk menghuni daerah yang rentan Penyediaan kesehatan alternatif Pembangunan Ekonomi Proyek warga dengan dana pemerintah -Air -Perumahan -Sanitasi KK = Kota Karang. semua warga harus berbagi kondisi yang membahayakan kesehatan ini -Daerah pesisir -Bantaran sungai -Lereng bukit -Rumah kayu yang perlu dirawat secara rutin.Anak-anak bekerja membantu orang tuanya .Daerah padat.Pengunduhan air . PG = Pasir Gintung. setengah buta huruf menyulitkan mereka beradaptasi dengan pekerjaan Pelatihan ketrampilan alternatif Demografi Pembangunan Ekonomi -Peningkatan populasi menambah problem sanitasi -Laju pertumbuhan penduduk yang cepat berarti tidak mampu membangun sistem -Pemasangan MCK yang memadai -Kesehatan -Air -Demografi -Rencana tata ruang -Kredit rumah -Demografi -Pembangunan ekonomi -Kesehatan -Pergeseran di pasar global -Modernisasi industri perikanan -Pembangunan pasar kerja sektor urban yang mungkin tidak dapat diakses oleh warga miskin yang tidak berpendidikan -Pelatihan kerja -Keuangan mikro Pendidikan -Kaum tak berpendidikan yang tidak dapat berurusan dengan proses -Warga miskin yang tak mampu beli obat -Yang kurang mobilitas .Buruk tanpa layanan PDAM .Sulit untuk mendukung pertumbuhan yang cepat .Daerah baru tidak punya sambungan .Tidak ada sekolah .Kesehatan . perlu bekerja dengan pemerintah daerah dan kelurahan PG: sekolah sudah penuh. K = Kangkung 133 .Dengan volume yang meningkat. khususnya untuk penduduk di pantai . K: tidak ada SMP/SMA Air Hasil campuran untuk kualitas air PDAM (baik/jelek) Sanitasi MCK jarang dan di daerah pesisir sangat buruk Perumahan Warga miskin memiliki rumah yang tidak layak di daerah beresiko Tidak ada dukungan pemerintah Pembangunan Ekonomi Pinjaman pemerintah + subsidi ada tapi tidak menolong membangun ketrampilan Program pemerintah tidak menjangku seluruh penduduk Kesehatan .Pertumbuhan alami juga mendorong warga setempat ke wilayah beresiko .Keluarga di daerah pesisir sedikit mengkonsumsi .Anak-anak usia 7-14 .Pendatang baru dengan sedikit pengetahuan tentang sumberdaya di kota . lereng) .Penurunan kualitas pipa .Urbanisasi trend yang tidak terelakkan di Indonesia Kelompok beresiko . laju peningkatan menjadi faktor penentu . Di K dan KK disediakan oleh warga Puskesmas sering tidak buka.Migrasi terus menerus mendatangi wilayah beresiko (pantai.Pembangunan ekonomi . tidak ada ruang untuk sekolah .Tabel air yang rendah menghilangkan penggunaan sumur . tapi tidak banyak. tangga dan tembok hanya di daerah yang padat penduduk PG: drainase di bukit menyebabkan banjir bandang di bantaran sungai KK+K: lahan publik terbatas dan jalan setapak yang berbahaya dibangun dari kayu Cakupan layanan PG: kampung atas hanya sumur umum K+KK: sistem darurat dan pedagang swasta MCK ada di PG.Warga lereng berjuang untuk mengamankan fasilitas .Tabel 8-2 Adaptasi dan Kerentanan di Bandar Lampung Bandar Lampung Kualitas layanan Demografi Pendidikan K: banyak anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah karena faktor ekonomi Banyak pendatang baru yang belum tercatat.Lingkungan tempat tinggal yang lebih padat . bahkan tidak ada di daerah terpencil Wilayah beresiko .Kampung nelayan .Laju pertumbuhan yang cepat sulit untuk membangun infrastruktur .Keluarga miskin .Sedikit bidan di Puskesmas .Demografi Kondisi sanitasi yang buruk di kampung pesisir menyebarkan penyakit. Tanggul penguat belum dibangun di daerah perbukitan Warga miskin hanya punya fasilitas kesehatan terbatas.Daerah miskin dimana orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya .

Personal Fisik Kesehatan Pendidikan Air Perumahan – Aset Swasta Warga Sekitar Akses ke pekerjaan + penghasilan Keamanan Ekonomi Gambar 8-3. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kerentanan 134 .

Tabel 8-3 Adaptasi dan Ketahanan Bandar Lampung Adaptasi Bandar Lampung Reklamasi progresif Bagaimana kontribusinya kepada ketahanan? Mengurangi dampak gelombang terhadap struktur rumah. membuat ruang penyimpanan dan ruang pengungsian Menyediakan sumber air tambahan untuk mengganti suplai air yang kurang Memungkinkan untuk membeli pangan + material yang dapat mendukung strategi bertahan hidup dan meminjamkan fleksibilitas ekonomi Meningkatkan keterkaitan jejaring sosial dan persatuan warga yang dapat memfasilitasi proyek-proyek dan aksi Dimensi dampaknya . daerah yang lebih aman untuk beredar dan membangun Meningkatkan akses ke layanan (air). alternatif rumah murah dan penampungan sementara pendatang Meningkatkan modal sosial akibat kolaborasi dan seringkali mobilisasi politik akibat kolaborasi dengan pemerintah Mengamankan keluarga dari banjir musiman.Ekonomi . sirkulasi dan mengurangi ancaman longsor. menciptakan investasi jangka panjang Menyediakan akses murah kepada peluang-peluang ekonomi.Perumahan Fisik Kesehatan Ekonomi Fisik Perumahan Perumahan Ekonomi Kesiapsiagaan Ya Respons Tidak Perbaikan struktur dan infrastruktur Perbaikan rumah bertahap Ya Tidak Ya Tidak Tinggal di atas air Tidak Tidak Konsolidasi kampung - Sosial Politik Ya Ya Rumah bertingkat Pengunduhan air Akses kredit dan dana tunai - Perumahan Ya Ya - Air Ekonomi Ekonoim Ya Ya Tidak Ya Kolaborasi masyarakat - Sosial Ya Ya 135 .Fisik . menurunkan biaya ekonomi. banjir dan epidemic Meningkatkan umur bangunan dan kapasitas warga untuk bertahan dari shock. menurunkan biaya rumah yang mahal.

Dari 19 kelurahan tersebut. Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas rendah meliputi. tanah longsor. Di Bandar lampung. yaitu. tindakan adaptasi yang dilakukan oleh masyarakat di daerah pesisir adalah dengan membeli air bersih. Perubahan tersebut berupa curah hujan pada musim hujan (DJF) akan sedikit meningkat. Sementara erosi dan tanah longsor terjadi di perbukitan/pegunungan yang memiliki kemiringan tinggi. produksi dan pola transaksi dari kriminalitas. Bentuk adaptasi juga dapat dilihat pada strategi menjalani kehidupan. Panjang Selatan. 136 . serta peningkatan permukaan laut. Sementara itu kekeringan mempengaruhi sektor air minum. Pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer berdasarkan skenario SRESA2 dan SRESB1 akan menyebabkan perubahan iklim Kota Bandar Lampung pada masa yang akan datang. Dampak sosial yang disebabkan oleh banjir dan kekeringan dapat dilihat dari hubungan sosial/kekerabatan. Bukti paling nyata dapat dilihat dari trend peningkatan suhu permukaan rata-rata selama 100 tahun terakhir di kota itu. sekitar 14 kelurahan memiliki indeks kapasitas adaptasi rendah dan 5 kelurahan lainnya memiliki indeks kapasitas adaptasi tinggi. banjir. Garuntang. sedangkan curah hujan pada musim kering (JJA) akan menurun. pertanian dan perikanan. perikanan. Kangkung. dan untuk sementara pindah ke lokasi lain yang tidak terpengaruh oleh banjir. Namun. kesehatan. mereka membangun tanggul. kekeringan. kesehatan. di daerah pantai atau lembah-lembah. Kota Karang. Dampak bencana iklim yang melanda kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi dan indeks kapasitas adaptasi yang rendah kemungkinan akan lebih parah daripada di kelurahan dengan indeks kerentanan dan kapasitas adaptasi tinggi. yang ditunjukan oleh pergeseran awal musim hujan dan perubahan frekuensi curah hujan ekstrim. pertanian. atau di tempat-tempat dengan sistem drainase yang buruk (daerah nonpesisir). Gunung Terang. Sedangkan di daerah non-pantai. Perubahan curah hujan musiman juga ditemukan dalam data historis. Dua bencana iklim umum yang ditemukan di Kota Bandar Lampung adalah Banjir dan kekeringan. Kelurahan Bumi Waras.KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil analisis data historis. banjir biasanya terjadi di lokasi dengan ketinggian rendah. hubungan perburuhan. sekitar 19 kelurahan memiliki indeks kerentanan tinggi. untuk menyempurnakan skenario perubahan iklim di Kota Bandar Lampung diperlukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan model iklim regional dan statistika downscaling. drainase dan infrastruktur. sedangkan di daerah non pesisir dengan mengurangi jumlah konsumsi air. transportasi. Masyarakat sendiri telah mengembangkan cara mereka untuk beradaptasi. Sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir meninggikan lantai dan membangun tanggul untuk beradaptasi terhadap banjir. Dampak dari peristiwa iklim ekstrim dianalisis dalam empat bencana utama. Kedaton. terlihat jelas bahwa iklim Kota Bandar Lampung telah mengalami perubahan. Secara umum. Selama musim kemarau. Banjir memberikan dampak terbesar pada sektor perumahan.

dan banjir karena air pasang (rob).5. Menengah ke Tinggi (M-H). L-M (Rendah ke Menengah) dan M (Menengah) mencakup sekitar 22%. Srengsem. Rendah (L) dan sangat rendah (VL) .5 meningkat. 36% dan 5% dari masing-masing wilayah Bandar Lampung. Kelurahan Sepang Jaya dan Kedaton (Kecamatan Kedaton). Pada kondisi saat ini. Kota Karang dan Perwata (Kecamatan Teluk Betung Barat). Kelurahan dengan indeks risiko iklim antara Menengah ke Tinggi (M-H) meliputi. tanah longsor. Tidak ada kebijakan atau program khusus yang berkaitan dengan perubahan iklim dikeluarkan. jumlah Kelurahan dengan CCHI lebih dari 1. kekeringan.5. indeks kapasitas adaptasi rendah. Kota Bandar Lampung sudah terkena beberapa bencana iklim. yaitu banjir. Way Kandis dan Waydadi. Kelurahan Waydadi (Kecamatan Sukarame). Bumi Waras. 137 . indeks kapasitas tinggi. dan indeks komposit bencana iklim rendah dianggap mempunyai Risiko Iklim Sangat Rendah. Penelitian ilmiah yang kuat pada skenario perubahan iklim dan dampak perubahan iklim di Kota Bandar Lampung akan diperlukan untuk membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan rencana cakrawala adaptasi perubahan iklim. Pada masa mendatang. Tinggi (H). sedangkan dengan indeks kerentanan rendah. Kelurahan pada tingkat risiko iklim M-H mencakup 14% dari luas wilayah Bandar Lampung. Teluk Betung (Kecamatan Teluk Betung Selatan) dan Kelurahan Panjang Selatan dan Srangsem (Kecamatan Panjang). baik untuk jangka menengah (5 tahun) dan jangka panjang (20 tahun). Pada tahun 2025 dan 2050 indeks kapasitas adaptasi dan indeks kerentanan beberapa Kelurahan akan meningkat dan pada sebagian kelurahan akan berkurang. Medium (M). Teluk Betung. Hal ini dapat dipahami mengingat perubahan iklim adalah masalah yang kompleks. Kelurahan Kangkung. risiko iklim beberapa tingkat Kelurahan akan berubah. Manajemen perubahan iklim (adaptasi dan mitigasi) dianggap sebagai konsep baru dan tidak sepenuhnya dipahami oleh pemangku kepentingan di tingkat lokal. Kelurahan Gunung Terang (Kecamatan Tanjung Karang Barat). Jaya Sepang. Tanjung Senang. Sementara yang memiliki tingkat risiko Rendah (L). Kelurahan dengan indeks kerentanan tinggi.Perwata. dan hanya sebagian kecil >1. Kelurahan pada tingkat risiko VL (Sangat Rendah) mencakup 21% dari wilayah Bandar Lampung. Kelurahan Tanjung Senang dan Way Kandis (Kecamatan Tanjung Senang). Kapasitas pemerintah daerah dalam mengintegrasikan perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang masih terbatas. dan indeks komposit bencana iklim (CCHI) tinggi dikategorikan telah berada dalam kondisi Risiko Iklim Sangat Tinggi. Berdasarkan indeks komposit bencana iklim (CCHI. Dalam skenario A2. Sedang ke Rendah (M-L). Bantuan teknis dan program peningkatan kapasitas untuk aparat pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk memungkinkan mereka dalam menggunakan informasi berdasarkan keilmuan untuk mengembangkan rencana cakrawala adaptasinya. yaitu di sebagian kecil bagian selatan Kecamatan Panjang. CCHI sebagian besar wilayah Bandar Lampung ≤ 1. fungsi dari frekuensi dan intensitas dari empat bencana). Indeks Risiko Iklim Kelurahan di Kota Bandar Lampung sebagian besar berada pada kategori.

Ini adalah kesempatan yang baik untuk mengintegrasikan aspek perubahan iklim ke dalam dokumen. Pemerintah Kota juga sedang dalam proses penyusunan rencana pembangunan jangka menengah baru untuk 2011-2014 sebagai hasil dari pemilihan langsung yang akan dilaksanakan pada bulan Juni 2010. Proyek percontohan khusus dibutuhkan sebagai bahan pelajaran bagaimana risiko iklim dapat dikelola dengan baik dan bagaimana menggunakan metode pembelajaran tersebut untuk memperbaiki rencana adaptasi perubahan iklim. Namun. koordinasi dan visi-misinya dalam manajemen perubahan iklim. Pemerintah Kota Bandar Lampung telah membentuk Dewan Daerah Bencana pada November 2009. Dalam peraturan dan kebijakan jelas disebutkan bahwa dokumen perencanaan harus mempertimbangkan mitigasi bencana dan adaptasi dan masalah perubahan iklim. Masalah-masalah ini adalah kurangnya integrasi. sehingga secara hukum dapat mengikat. Untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap perubahan iklim. LSM dan tokoh masyarakat telah dibentuk untuk merumuskan program-program perubahan iklim untuk Kota Bandar Lampung sebagai bagian dari Asian City Climate Change Resilience Network (ACCCRN). Pengelolaan risiko iklim saat ini dan masa depan perlu adanya komitmen politik. Tim yang diwakili oleh berbagai pemangku kepentingan dari instansi pemerintah. serta bagaimana kapasitas saat ini harus dikembangkan untuk memperkuat pengelolaan risiko iklim di masa mendatang. dirasakan penting untuk memahami bagaimana orang-orang. dewan belum efektif pada pelaksanaan program. Namun. kurangnya alokasi anggaran untuk mendukung penanganan perubahan iklim serta perencanaan tata ruang tidak efektif untuk mengurangi dan menyesuaikan dampak perubahan iklim. 138 .Sejumlah kondisi yang menguntungkan di Kota Bandar Lampung. ada beberapa masalah terkait dengan perencanaan dan program yang dihadapi oleh Pemerintah Kota. akademisi. Tim Kota. masyarakat dan sektor memberikan respon terhadap risiko iklim saat ini. Keberadaan dewan ini penting untuk memastikan pelaksanaan yang efektif dari program-program penanganan bencana dan perubahan iklim dengan berbagai pemangku kepentingan. dapat secara positif berkontribusi pada proses pengembangan ketahanan kota terhadap perubahan iklim.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005. Bandar Lampung Medium Term Development Plan 2005-2010. Bandar Lampung Anonim. 2005. Bandar Lampung City Spatial Plan 2005-2015. Bandar Lampung. Anonim. 2009. Final Report on Design Scenario for Disaster Mitigation. Bandar Lampung. Anonim. 2008. Final Report on Disaster Mitigation Study in Bandar Lampung. Bandar Lampung. Anonim. 2008. Accountabilty Report of Mayor of Bandar Lampung in 2008 (Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Walikota Bandar Lampung Tahun 2008). Bandar Lampung Anonim. 2009. NUSSP Progress Report, Satker Bandar Lampung 2009. Bandar Lampung. Bakosurtanal. Tanpa tahun. Peta Rupa Bumi (Digital) Wilayah Semarang dan Bandar Lampung. Bogor. Bappeda Kota Bandar Lampung. 2008. Buku Dinamika Bandar Lampung Membangun (2008) (File diakses dari media CD) Bappeda Kota Bandar Lampung. 2008. Studi Mitigasi Bencana Kota Bandar Lampung TA. 2008. Kerjasama Bappeda Kota Bandar Lampung dengan PT. Visitama Daya Solusi. Bappeda Kota Bandar Lampung. Tanpa tahun. Peta Lokasi Rawan Banjir di Kota Bandar Lampung. Bappeda Bandar Lampung. Boer, R & Faqih, A. 2004. 'Global climate forcing factors and rainfall variability in West Java: case study in Bandung district', Indonesian Journal of Agricultural Meteorology, vol. 18, no. 2, pp. 1-12. Borst D, Jung D, Murshed SM, Werner U. 2006. Development of a methodology to assess man-made risks in Germany. Nat. Hazards Earth Syst. Sci, 6 : 779-802.) BPS Jakarta. 2005. Potensi Desa Kota Bandar Lampung dan Kota Semarang Tahun 2005 (data digital). Jakarta Chang, CP, Wang, Z, Ju, JH & Li, T. 2004. 'On the relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter', Journal of Climate, 17, 665-672.

139

Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung. Tanpa Tahun. Studi Lanjutan Penataan Kawasan Pesisir Kota Bandar Lampung. Kerjasama Dinas Perikanan Dan Kelautan Kota Bandar Lampung Dengan PT. Multi Maestro Desain. (File diakses dari media CD) Eastman, J.R. 1999. Idrisi 32 Tutorial. Clark Labs, Clark University, USA. Faqih, A. 2004. 'Analisis korelasi debit air masuk musim kemarau pada waduk seri DAS Citarum dengan perubahan suhu permukaan laut global (Correlation Analysis of Citarum Dams Inflows with Global Sea Surface Temperatures in Dry Season)', Indonesian Journal of Agricultural Meteorology, vol. 18, no. 1, pp. 1-13. Folland, CK, Parker, DE, Colman, A & Washington, R. 1999. 'Large scale modes of ocean surface temperature since the late nineteenth century', in A Navarra (ed.), Beyond El Nino: Decadal and Interdecadal Climate Variability, SpringerVerlag, Berlin, pp. 73- 102. Haylock, M & McBride, J. 2001. 'Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall', Journal of Climate, vol. 14, no. 18, pp. 3882-7, doi: 10.1175/1520-0442(2001)014<3882:SCAPOI>2.0.CO;2. Hendon, HH. 2003. 'Indonesian rainfall variability: Impacts of ENSO and local air-sea interaction', Journal of Climate, vol. 16, no. 11, pp. 1775-90, doi: 10.1175/15200442(2003)016<1775:IRVIOE>2.0.CO;2. IPCC. 2007. Climate Change 2007: The physical science basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press: Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA Kirono, DGC, Tapper, NJ & McBride, JL. 1999. 'Documenting Indonesian rainfall in the 1997/1998 El Nino event', Physical Geography, vol. 20, no. 5, pp. 422-35. Mantua, N. J. and S. R. Hare. 2002. The pacific decadal oscillation. Journal of Oceanography, 58, 35-44. Mantua, N. J., S. R. Hare, Y. Zhang, J. M. Wallace, and R. C. Francis. 1997. A pacific interdecadal climate oscillation with impacts on salmon production. Bull. Amer. Meteor. Soc., 78, 1069-1079. Mitchell, TD & Jones, PD. 2005. 'An improved method of constructing a database of monthly climate observations and associated high-resolution grids', International Journal of Climatology, vol. 25, no. 6, pp. 693-712. PDAM Way Rilau. 2007. Profil PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung. Bandar Lampung.

140

Saji, NH, Goswami, BN, Vinayachandran, PN & Yamagata, T. 1999. 'A dipolemode in the tropical Indian Ocean', Nature, vol. 401, pp. 360-3. Strahler, A.N. 1986. Physical Geography. John Wiley & Sons, New York. Taylor, John. 2009. Community Based Vulnerability Assessment: Semarang and Bandar Lampung, Indonesia. ACCRN, Mercy Corps. Jakarta, Indonesia.

141

LAMPIRAN 142 .

143 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful