KETURUNAN AIRLANGGA

Candi di Jawa Timur

Pada awal abad ke-10 M, tepatnya tahun 929 M, pusat pemerintahan di Jawa berpindah ke Jawa Timur. Mpu Sindok, keturunan raja-raja Mataram Hindu, mendirikan sebuah kerajaan di Jawa Timur dengan pusat pemerintahan di Watugaluh, yang diperkirakan lokasinya berada di daerah Jombang. Mpu Sindok digantikan oleh putrinya, Sri Isyana Tunggawijaya, sehingga raja-raja selanjutnya disebut sebagai Wangsa Isyana. Cucu Ratu Isyana Tunggawijaya, Mahendratta, menikah dengan Raja Bali, Udayana, dan mempunyai putra Airlangga. Raja-raja keturunan Airlangga inilah yang memerintahkan pembangunan sebagian besar candi di Jawa Timur, walaupun terdapat juga candi-candi yang diperkirakan dibangun pada masa yang lebih awal, seperti Candi Badhut di Malang. Dalam Prasasti Dinoyo (760 M) disebutkan tentang adanya Kerajaan Kanjuruhan yang berlokasi di Dinoyo, Malang, yang diyakini mempunyai kaitan erat dengan pembangunan candi Hindu yang dinamakan Candi Badhut. Kecuali Candi Badhut dan Candi Songgoriti di Batu, Malang, pembuatan bangunan batu dalam skala besar baru muncul lagi pada masa pemerintahan Airlangga, misalnya pembangunan Pemandian Belahan dan Candi Jalatunda di Gunung Penanggungan. Candi di Jawa Timur mempunyai ciri yang berbeda dengan yang ada di Jawa tengah dan Yogyakarta. Di Jawa Timur tidak didapati candi berukuran besar atau luas, seperti Borobudur, Prambanan atau Sewu di Jawa Tengah. Satu-satunya candi yang menempati kompleks yang agak luas adalah Candi Panataran di Blitar. Akan tetapi, candi di Jawa Timur umumnya lebih artistik. Tatakan atau kaki candi umumnya lebih tinggi dan berbentuk selasar bertingkat. Untuk sampai ke bangunan utama candi, orang harus melintasi selasar-selasar bertingkat yang dihubungkan dengan tangga. Tubuh bangunan candi di Jawa Timur umumnya ramping dengan atap bertingkat mengecil ke atas dan puncak atap berbentuk kubus. Penggunaan makara di sisi pintu masuk digantikan dengan patung atau
1

ukiran naga. Perbedaan yang mencolok juga terlihat pada reliefnya. Relief pada candi-candi Jawa Timur dipahat dengan teknik pahatan yang dangkal (tipis) dan bergaya simbolis. Objek digambarkan tampak samping dan tokoh yang digambarkan umumnya diambil dari cerita wayang. Candi-candi Hindu di Jawa Timur umumnya dihiasi dengan relief atau patung yang berkaitan dengan Trimurti, tiga dewa dalam ajaran Hindu, atau yang berkaitan dengan Syiwa, misalnya: Durga, Ganesha, dan Agastya. Sosok dan hiasan yang berkaitan dengan ajaran Hindu seringkali dihadirkan bersama dengan sosok dan hiasan yang berkaitan dengan ajaran Buddha, khususnya Buddha Tantrayana. Ciri khas lain candi-candi di Jawa Timur adalah adanya relief yang menampilkan kisah wayang. Rentang waktu pembangunan candi-candi di Jawa Timur lebih panjang dibandingkan dengan yang berlangsung di Jawa Tengah, yang hanya berkisar antara 200-300 tahun. Pembangunanan candi di Jawa timur masih berlangsung sampai abad ke-15. Candi-candi yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit umumnya menggunakan bahan dasar batu bata merah dengan hiasan yang lebih sederhana.Beberapa candi yang dibangun pada akhir masa pemerintahan Kerajaan Majapahit oleh para ahli antropologi dinilai mencerminkan "pemberontakan" yang muncul akibat ketidakpercayaan dan ketidakpuasan masyarakat terhadap keadaan pada masanya yang kacau dan juga sebagai akibat kekuatiran terhadap munculnya budaya baru. Ciri gerakan tersebut adalah: 1) Adanya upacara-upacara mistis-magis yang umumnya dilaksanakan secara rahasia; 2) Dimunculkannya tokoh penyelamat; 3) Adanya tokoh-tokoh yang diyakini sebagai pembela keadilan; 4) Munculnya komunitas yang mengucilkan diri, umumnya ke daerahdaerah pegunungan; serta 5) dimunculkannya kembali budaya "lama" sebagai wujud kerinduan terhadap zaman keemasan yang telah lampau. Ciri-ciri tersebut didapati, di antaranya, di Candi Cetha dan Candi Sukuh. Pada abad ke-13 Kerajaan Majapahit mulai surut pamornya bersamaan dengan masuknya Islam ke pulau Jawa.
2

Candi bercorak Jawa Tengah umumnya memiliki tubuh yang tambun. selain juga dari berbagai prasasti dan tulisan di candi yang bersangkutan. Candi Kidal untuk Raja Anusapati. berdimensi geometris vertikal dengan pusat candi terletak di tengah. Candi Jawi dan Candi Singasari untuk Raja Kertanegara. terdapat 2 corak percandian yakni corak Jawa Tengah (abad 5-10 M) dan corak Jawa Timur (abad 11-15 M). Pemandian Belahan untuk Raja Airlangga. bangunan candi yang ditelantarkan itu mulai tertimbun longsoran tanah dan ditumbuhi belukar. Akibatnya.Pada masa itu banyak bangunan suci yang berkaitan dengan agama Hindu dan Buddha ditinggalkan dan akhirnya dilupakan begitu oleh masyarakat yang sebagian besar telah berganti memeluk agama Islam. keadaannya menjadi lebih parah lagi. Candi yang merupakan tempat pendarmaan. Dinding candi dibongkar dan diambil batunya untuk fondasi rumah atau pengeras jalan. Sejumlah batu berhias pahatan dan arca diambil oleh sinder-sinder perkebunan untuk dipajang di halaman pabrik-pabrik atau rumah dinas milik perkebunan. berundak horisontal dengan bagian paling suci terletak belakang. selain sebagai monumen candi di Jawa Timur diduga kuat juga berfungsi sebagai tempat pendarmaan dan pengabadian raja yang telah meninggal. Candi Jalatunda untuk Raja Udayana. Keterangan mengenai candi-candi di Jawa Timur umumnya bersumber dari Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca (1365) dan Pararaton yang ditulis oleh Mpu Sedah (1481). Ketika kemudian daerah di sekitarnya berkembang menjadi daerah pemukiman. Candi Ngetos untuk Raja Hayamwuruk. sedangkan bata merahnya ditumbuk untuk dijadikan semen merah. sedangkan corak Jawa Timur bertubuh ramping. dimana masing-masing memiliki corak serta karakteristik berbeda. 3 . Dalam wacana arkeologi Indonesia. antara lain :          Candi Jago untuk Raja Wisnuwardhana. Candi Rimbi untuk Ratu Tribhuanatunggadewi. Candi Bajangratu untuk Raja Jayanegara. Candi Surawana untuk Bre Wengker. Berbeda denga candi-candi Jawa Tengah. dan candi Tegawangi untuk Bre Matahun atau Rajasanegara.

Lurah. 4. 22. seperti yang terdapat di Candi Jago. 12. 18. 10.Gentong (dalam pemugaran). 2. 25. Gambar.Indrakila. Tigawangi. di antaranya: 1. Besuki. 5.Panggih.Gayatri.Ngetos.Mleri.Menakjingga. 11. Domasan. Fungsi ruwatan ditandai dengan adanya relief pada kaki candi yang menggambarkan legenda dan cerita yang mengandung pesan moral. terutama candi-candi kecil yang belum terliput. 20. 16.Kedaton. 8. Belum semua candi dimuat dalam situs web ini.Kalicilik.Pamotan. Bacem. Dadi. 9. Gambar Wetan. 14.Jimbe. Bara.Kotes.Lemari. umumnya pembangunannya mempunyai kaitan erat dengan Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. 24. Keyakinan tersebut berkaitan erat dengan konsep “Dewa Raja” yang berkembang kuat di Jawa saat pada masa yang sama.Jabung. Candi di Jawa Timur jumlahnya mencapai puluhan. 19. 6. 15. dan Jawi. 21. Carik. 17. 23. Masih banyak candi. 7. 3. 4 .Pari. Bayi. Surawana. 13.Dalam filosofi Jawa candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa.

Sinta. 30.Sumberawan. dan 38. 34. 31. 28. 37. 32. 27.Sumbernanas.Songgoriti.Selamangleng. 36.Sanggrahan.Sumberjati.Watugede.Sumberjati. 33.Patirtan Jalatunda. 29.Selareja. 35.Watu Lawang.26.Sumur. 5 .

yang diantaranya berbunyi : " Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara. artinya : pada tahun saka 706 atau 734 Masehi. Di dalam lakon Wayang. "KEDI" berarti Suci atau Wadad. Menurut kamus Jawa Kuno Wojo Wasito. Sang Arjuno pernah menyamar Guru Tari di Negara Wirata. Untuk itu dapat kita baca pada prasasti "WANUA" tahun 830 saka. Angdhiri.Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa 6 . bernama "KEDI WRAKANTOLO". 'KEDI" berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. bertahta Raja Pake Panaraban. menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan). Bila kita hubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng. angdhiri rake panaraban".SEJARAH KEDIRI TANGGAL 25 MARET 804 M DITETAPKAN MENJADI HARI JADI KEDIRI Nama Kediri ada yang berpendapat berasal dari kata "KEDI" yang artinya "MANDUL" atau "Wanita yang tidak berdatang bulan". Disamping itu kata Kediri berasal dari kata "DIRI" yang berarti Adeg.

Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek yang berangkat tahun 1116 saka. sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang ("tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri"). Alasannya Prasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 masehi. dinilai 7 . "Tanah Perdikan". namun pendapat beliau.Menurut bapak MM. Kediri. Sukarto Kartoatmojo menyebutkan bahwa "hari jadi Kediri" muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-C.Jawa Kuno seperti : Kitab Samaradana.Dalam prasasti ini menyebutkan. Negara Kertagama dan Kitab Calon Arang. nama Kadiri yang paling tepat dimuculkan pada ketiga prasasti."Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo". yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur.Dalam prasasti itu tertulis "Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri" artinya raja telah kembali kesimanya. sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo.Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri seperti : Prasasti Ceber. maka mereka memperoleh hadiah.Pada prasasti itu juga menyebutkan nama. Pararaton. atau harapannya di Bhumi Kadiri. tepatnya menurut Damais tanggal 31 Agustus 1194. karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja. berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker.

sekaligus idola masyarakat kala 8 . yakni tanggal 19 September 921 dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi.Memang Kiprah Bagawanta Bhari kala itu. bagaimana upaya tokok spiritual ini meyelamatkan lingkungan dari amukan banjir tahunan yang mengancam daerahnya. seperti memperoleh penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha.usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C. pada waktu itu bagawanta Bhari.Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Derah Tingkat II Kediri tanggal 22 Januari 1985 nomor 82 tahun 1985 tentang hari jadi Kediri. seorang tokoh spiritual dari belahan Desa Culanggi. Ketekunannya yang tanpa pamprih inilah akhirnya menghantarkan dirinya sebagai panutan. Page 2 of 2 MENGUKIR KEDIRI LEWAT TANGAN BHAGAWANTA BARI. andai kata Bagawanta Bhari.Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang. kalau hal itu terjadi sekarang ini. tidak mendapatkan penghargaan dari Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tuladong. Tatkala Bagawantabhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing. Boleh dikata. yang pasal 1 berbunyi " Tanggal 25 Maret 804 Masehi ditetapkan menjadi Hari Jadi Kediri. Mungkin saja Kediri tidak akan tampil dalam panggung sejarah. Atau mungkin seperti memperoleh penghargaan Kalpataru sebagai Penyelamat Liangkungan. Dilihat dari ketiga tanggal tersebut menyebutkan nama Kediri ditetapkan tanggal 25 Maret 804 M.

Pembebasan atas pajak itu antara lain berupa "Kring Padammaduy" (Iuran Pemadam Kebakaran).Ketika itu tidak ada istilah Parasamya atau Kalpataru. Budhawara (Hari Rabo). seperti Culanggi dan Kawasan Kabikuannya. Sementara itu daerah seperti wilayah Waruk Sambung dan Wilang. hanya dikenakan "I mas Suwarna" kepada Sri Maharaja setiap bulan "Kesanga" (Centra). Kediri mulai disebut-sebut 9 . Soekarton Kartoadmodjo. namun bagi masyarakat yang berhasil dalam ikut serta memakmurkan negara akan mendapat "Ganjaran" seperti Bagawanta Bhari. "Pamanikan" (Iuran manik-manik. "Tapahaji erhaji" (Iuran yang berkaitan dengan air).itu. Umanis (legi). Prasasti itu diberi nama "HARINJING" B" yang bertahun Masehi 19 September 921 Masehi. tanggal lima belas paro terang. M. "Pakayungan Pakalangkang" (Iuran lumbung padi).Kala itu juga belum ada piagam penghargaan untuknya.Menurut penelitian dari para ahli lembaga Javanologi. permata) dan masih banyak pajak lainnya. Naksatra (bintang) Uttara Bhadrawada. "Manghuri" (Pujangga Kraton). "Tuha hujamman" (Ketua Kelompok masyarakat).M. Sekitar tahun itulah. dewata ahnibudhana. "Tuhan Tuha dagang" (Kepala perdagangan). Drs. Kediri lahir pada Maret 804 Masehi. dirinya juga memperoleh ganjaran itu berupa gelar kehormatan "Wanuta Rama" (ayah yang terhormat atau Kepala Desa) dan tidak dikenakan berbagai macam pajak (Mangilaladrbyahaji) di daerah yang dikuasai Bagawanta Bhari. maka sebagai peringatan atas jasanya itu lalu dibuat prasasti sebagai "Pngeleng-eleng" (Peringatan). bulan Asuji. Dan disebitlah "Selamat tahun saka telah lampau 843. paringkelan Haryang. yoga wrsa.

dalam etimologi "Kadiri" disebut sebagai "Kedi" yang artinya "Mandul". Menurut Drs. gejala usia tua dan gejala informalisasi. kapan sebenarnya Kediri ini benar-benar menjadi pusat dari sebuah Pemerintahan maupun sebagai mana tempat. Dalam bahasa Jawa Kuno. M. berkepribadian atau berswasembada. 10 . masih belum ada pemisah wilayah administratif seperti sekarang ini. dimana perubahan seperti tadi sering terjadi. sehingga peringatan Hari Jadi Kediri yang sekarang ini masih merupakan milik dua wilayah dengan dua kepala wilayah pula. Soepomo paling tidak ada dua gejala.M. nama Kediri tidak ada kaitannya dengan "Kedi" maupun tokok "Rara Kilisuci". Namun berasal dari kata "diri" yang berarti "adeg" (berdiri) yang mendapat awalan "Ka" yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti "Menjadi Raja". Soekarton Kartoadmodjo. tidak berdatang bulan (aprodit).Menurut para ahli. Yaitu adanya Kabupaten dan Kodya Kediri. Menurut Drs. dalam kamus Melayu. Jadi pendapat yang mengkaitkan Kediri dengan perempuan.Perubahan pengucapan "Kadiri" menjadi "Kediri" menurut Drs. Hal ini berdasarkan pada kebiasaan dalam rumpun bahasa Austronesia sebelah barat. apalagi dengan Kedi kurang beralasan.sebagai nama tempat maupun negara.Kediri juga dapat berarti mandiri atau berdiri tegak. "Kedi" juga mempunyai arti "Dikebiri" atau dukun. Soepomo Poejo Soedarmo. Yang pertama. Belum ada sumber resmi seperti prasasti maupun dokumen tertulis lainnya yang dapat menyebutkan. baik Kadiri maupun Kediri sama-sama berasal dari bahasa Sansekerta.Dari prasasti yang diketemukan kala itu. kata "Kediri" dan "Kendiri" sering menggantikan kata sendiri.

jago. Secara geografis pada abad ke-15 kerajaan Panjalu berbatasan dengan Kerajaan Talaga. JENGGALA. sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kerajaan Galunggung. maskulin. Pendiri kerajaan Panjalu adalah Batara Tesnajati yang petilasannya terdapat di Karantenan Gunung Sawal. dan diawali dengan awalan pa(n). dan Cirebon di sebelah utara. Sunda) yang berarti jantan.SEJARAH DAHA-JENGGALA SEJARAH KERAJAAN PANJALU. SINGOSARI1 Kerajaan Panjalu Jawa Barat Panjalu adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang terletak di kaki Gunung Sawal. 11 . maka kemungkinan besar pada awal berdirinya Panjalu adalah suatu daerah kebataraan sama halnya dengan Kebataraan Galunggung yang didirikan oleh Batara Semplak Waja. sebelumnya kawasan Panjalu lebih dikenal dengan sebutan Kabuyutan Sawal atau Kabuyutan Gunung Sawal. Di sebelah timur Panjalu berbatasan dengan Kerajaan Galuh sementara di selatan juga berbatasan dengan Galuh dan Galunggung. JENGGALA. Nama Panjalu mulai dikenal ketika wilayah itu berada dibawah pemerintahan Prabu Sanghyang Ranggagumilang. Istilah Kabuyutan identik dengan daerah kebataraan yaitu daerah yang memiliki kewenangan keagamaan (Hindu) seperti Kabuyutan Galunggung atau Kebataraan Galunggung. dengan demikian seorang Batara selain berperan sebagai Raja juga berperan sebagai Brahmana atau Resiguru. Mengingat gelar Batara yang disandangnya. Daerah kebataraan lebih menitikberatkan pada hal keagamaan atau spiritual. SINGOSARI SEJARAH KERAJAAN PANJALU. Kuningan. Seorang Batara di Kemaharajaan Sunda mempunyai kedudukan yang sangat penting karena seorang Batara mempunyai satu kekuasaan istimewa yaitu kekuasaan untuk mentahbiskan atau menginisiasi penobatan seorang Maharaja yang naik tahta Sunda. Belum diketahui apakah ada kaitan antara Kerajaan Panjalu ini dengan Kerajaan Panjalu (Kediri atau Daha) di Jawa Timur. Panjalu berasal dari kata jalu (bhs.

Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui. sebelum dibelah menjadi dua. Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Kerajaan ini berpusat di kota Daha. yang berpusat di Daha. Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135). Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala. yang berarti kota api. Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kediri berdiri. ditulis bahwa Angka prasasti menunjukkan 1211 Saka dan ditulis Pada suatu saat ada seorang pendeta yang benama Arrya Bharad bertugas membagi Jawa menjadi 2 bagian. Pada akhir November 1042. Jadi. 12 . yaitu Daha. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura. sedangkan urutan raja-raja sesudah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan. Perkembangan Panjalu Masa-masa awal Kerajaan Panjalu atau Kediri tidak banyak diketahui. Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. yaitu Panjalu Jayati. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru. Pada Arca Budha Mahasobya. yang terkenal dengan nama Joko Dolog berangka prasasti 1211 saka.Kerajaan Panjalu dan Jenggala di Jawa Timur Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu. yaitu Kahuripan. yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. nama kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu. yang kemudian masing-masing diberi nama Jenggala dan Panjalu. atau Panjalu Menang.Menurut Nagarakretagama. Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa.

Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara. semuanya semua itu tidak dapat diperdagangkan karena kerajaan kediri tertutup dari laut sebagai jalan perdagangan pada waktu itu. agar dikemudian hari tidak terjadi perebutan tahta. Maka timbullah perebutan bandar antara kerajaan Kediri dan kerajaan Jenggala.Perang tersebut berakhir dengan kekalahan kerajaan Jenggala. keadaan negara tentram. dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama. yaitu meliputi pesisir utara seluruhnya. di Jawa ada Kerajaan Panjalu. tidak memiliki bandar sebuahpun sehingga walaupun hasil pertanian di Kediri sangat besar dan upeti mengalir dengan sangat besar. sedangkan Sumatra dikuasai Kerajaan Sriwijaya. bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab. yaitu menjadi kerajaan Daha (Kediri) dan Kerajaan Jenggala. Kerajaan PanjaluKadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya. pada waktu pemerintahan Airlangga. Hal ini diperkuat kronik Cina berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178. maka pada akhir masa pemerintahannya ia memandang perlu membagi kerajaan menjadi dua bagian untuk diserahkan kepada kedua putranya. Karena raja Airlangga mempunyai 2 orang putera. Lain halnya dengan Kerajaan Kediri. Era Keruntuhan Pada tahun 1019 . dimana keduanya menuntut kekuasaan atas kerajaan Airlangga.Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah.1042 Kerajaan Jawa Timur diperintah oleh seorang Putera dari hasil perkawinan antara Puteri Mahandradata dengan Udayana (seorang Pangeran Bali) yang bernama Airlangga. Pembagian itu terjadi pada tahun 1042. bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra. yang kemudian menimbulkan peperangan besar antara kedua kerajaan tersebut. Jawa. sedangkan ibukotanya berada di sekitar Kecamatan Gedangan sekarang. dan negara mengalami kemajuan yang pesat. Kerajaan Singosari 13 . Kerajaan Jenggala yang berdiri pada tahun 1024 terletak di daerah delta Brantas. Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. pada tahun 1045(menurut sumber lain Kerajaan Jenggala pada tahun 1060 masih ada. dengan demikian menguasai bandar-bandar dan muara sungai besar. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah. dan Sumatra. keamanan terjamin.

Dari kelima raja Singosari tersebut. Kertanegara bergelar Sri Maharajaderaja Sri Kertanegara mempunyai gagasan politik untuk memperluas wilayah kekuasaannya. juga melalui kitab sastra peninggalan zaman Majapahit yang berjudul Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang menjelaskan tentang raja-raja yang memerintah di Singosari serta kitab Pararaton yang juga menceritakan riwayat Ken Arok yang penuh keajaiban. Peta Kekuasaan Singosari Kekuasaan tersebut dicapai oleh Kertanegara karena tindakan politiknya seperti: 14 . mengakibatkan daerah kekuasaan Singasari meluas. maka tahun 1222 M/1144 C Ken Arok menyerang Kediri. raja Kertanegaralah yang paling terkenal. karena dibawah pemerintahan Kertanegara Singosari mencapai puncak kebesarannya. Sebelum menjadi raja. Sebagai raja pertama Singosari maka Ken Arok menandai munculnya dinasti baru yaitu dinasti Rajasa atau dinasti Girindra untuk menambah pemahaman Anda tentang keturunan dinasti Rajasa. Dengan alasan tersebut. maka simaklah silsilah berikut ini: Dengan memperhatikan silsilah tersebut dapat diketahui bahwa nama yang diberi nomor dan diberi kotak/dalam kotak itulah urutan rajaraja Singosari. Ken Arok berkedudukan sebagai Akuwu (Bupati) di Tumapel menggantikan Tunggul Ametung yang dibunuhnya.Keberadaan kerajaan Singosari dibuktikan melalui candi-candi yang banyak ditemukan di Jawa Timur yaitu daerah Singosari sampai Malang. Kitab Pararaton isinya sebagian besar adalah mitos atau dongeng tetapi dari kitab Pararatonlah asal usul Ken Arok menjadi raja dapat diketahui. Gambar 15. Raja pertama sampai ketiga yang diberi tanda (*) mati dibunuh karena persoalan perebutan tahta dan balas dendam. Apa yang dicita-citakan oleh Kertanegara. sehingga Kertajaya mengalami kekalahan pada pertempuran di desa Ganter. Selanjutnya ia berkeinginan melepaskan Tumapel dari kekuasaan kerajaan Kadiri yang diperintah oleh Kertajaya. karena tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung. Keinginannya terpenuhi setelah kaum Brahmana Kadiri meminta perlindungannya. Dengan kemenangannya maka Ken Arok dapat menguasai seluruh kekuasaan kerajaan Kadiri dan menyatakan dirinya sebagai raja Singosari dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.

Dalam kitab Pararaton maupun Negara Kertagama diceritakan bahwa kehidupan sosial masyarakat Singosari cukup baik karena rakyat terbiasa hidup aman dan tenteram sejak pemerintahan Ken Arok bahkan dari raja sampai rakyatnya terbiasa dengan kehidupan religius. Bali. Dari tindakan-tindakan politik Kertanegara tersebut. walaupun tidak ditemukan sumber secara jelas. Kebijakan dalam negeri: Pergantian pejabat kerajaan. 2. Pahang. bahkan pada akhir pemirintahan Kertanegara ketika diserang oleh Jayakatwang. Dalam kehidupan ekonomi. Kertanegara terbunuh. Tujuannya menciptakan kerukunan dan politik yang stabil. di candi Singasari sebagai Bhairawa.1. Menggalang persatuan 'Nusantara' dengan mengutus ekspedisi tentara Pamalayu ke Kerajaan Melayu (Jambi). di satu sisi Kertanegara berhasil mencapai cita-citanya memperluas dan memperkuat Singasari. Contohnya menjalin persekutuan dengan kerajaan Campa. Kebijakan luar negeri: Memelihara keamanan dan melakukan politik perkawinan. tetapi dari sisi yang lain muncul beberapa ancaman yang justru berakibat hancurnya Singasari. Menggalang kerjasama dengan kerajaan lain. Ajaran Tantrayana berkembang dengan baik sejak pemerintahan Wisnuwardhana dan mencapai puncaknya pada masa Kertanegara. Mengutus pasukan ke Sunda. Ada kemungkinan perekonomian ditekankan pada pertanian dan perdagangan karena Singosari merupakan daerah yang subur dan 15 . Ancaman yang muncul dari luar yaitu dari tentara Kubilai-Khan dari Cina Mongol karena Kertanegara tidak mau mengakui kekuasaannya bahkan menghina utusan Kubilai-khan yaitu Meng-chi. Di Sagala sebagai Jina (Wairocana) bersama permaisurinya Bajradewi. bertujuan menggalang pemerintahan yang kompak. sedang melaksanakan upacara Tantrayana bersama Mahamantri dan pendeta terkenal. Kehidupan religius tersebut dibuktikan dengan berkembangnya ajaran baru yaitu ajaran Tantrayana (Syiwa Budha) dengan kitab sucinya Tantra. Setelah Kertanegara meninggal maka didharmakan/diberi penghargaan di candi Jawi sebagai Syiwa Budha. maka jatuhlah Singasari di bawah kekuasaan Jayakatwang dari Kediri. Dari dalam adanya serangan dari Jayakatwang (Kadiri) tahun 1292 yang bekerja sama dengan Arya Wiraraja Bupati Sumenep yang tidak diduga sebelumnya.

dapat memanfaatkan sungai Brantas dan Bengawan Solo sebagai sarana lalu lintas perdagangan dan pelayaran. candi Jago.com dan 16 . 1 Sumber tulisan berasal dari http://www.modul-online. Singosari banyak meninggalkan bangunan berupa candi yang berhubungan dengan agama yaitu seperti candi Kidal.com http://www. Jatim. candi Singosari dan patung Joko Dolok yang merupakan perwujudan Kertanegara terletak di simpang tiga Surabaya.wikipedia.

Pada saat Daha menjadi ibu kota kerajaan yang masih utuh 5. Kerajaan ini berpusat di kota Daha. adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Pada saat Daha menjadi ibu kota Majapahit o o o o o  6 Kepustakaan Latar Belakang 17 .4 4.5 5.2 2. Pada saat Daha menjadi bawahan Majapahit 5.1 1. Daftar isi 1 Latar Belakang     2 Perkembangan Panjalu 3 Karya Sastra Zaman Kadiri 4 Runtuhnya Kadiri 5 Raja-Raja yang Pernah Memerintah Daha o 5. Pada saat Daha menjadi ibu kota Kadiri 5.3 3.KERAJAAN KEDIRI Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu. yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang. Pada saat Daha menjadi bawahan Singhasari 5. Pada saat Daha menjadi ibu kota Panjalu 5.6 6.

saat akhir pemerintahan Airlangga. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru. Menurut Nagarakretagama. Bahkan. Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. 18 . berasal dari Kediri. Pada mulanya. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga. yaitu Kahuripan. [sunting] Perkembangan Panjalu Masa-masa awal Kerajaan Panjalu atau Kadiri tidak banyak diketahui. nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Cina berjudul Ling wai tai ta (1178). pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan. nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai dari pada nama Kadiri. Jadi. Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Pada akhir November 1042. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama. abad ke-12 dan ke-13. sebelum dibelah menjadi dua. nama kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu. yang berpusat di Daha. melainkan pindah ke Daha. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. sedangkan urutan raja-raja sesudah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.Arca Wishnu. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa. yaitu Daha. Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasastiprasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Kadiri. yang berarti kota api. Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura.

Kemudian pada zaman pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana. Karya Sastra Zaman Kadiri Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Panjalu-Kadiri. yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut. sebagai kiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala. di Jawa ada Kerajaan Panjalu. Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab. Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah. sedangkan Sumatra dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. atau Panjalu Menang. Mpu Panuluh juga menulis Kakawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara. Jawa. Runtuhnya Kadiri 19 .Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135). Hal ini diperkuat kronik Cina berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178. Terdapat pula pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu Dharmaja yang menulis Kakawin Smaradahana. Selain itu. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa. dan Sumatra. bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra. yaitu Panjalu Jayati.

Setelah berhasil membunuh Kertanegara. karena dendam masa lalu dimana leluhurnya Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari. Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya. Kadiri menjadi suatu wilayah dibawah kekuasaan Singhasari. 20 . Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang dipimpin oleh Kertanegara. namun hanya bertahan satu tahun dikarenakan serangan gabungan yang dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kadiri. koleksi Museum für Indische Kunst. Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi dekat desa Ganter. Jerman. Berlin-Dahlem. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri. dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama. putra Kertajaya sebagai bupati Kadiri. Ken Arok mengangkat Jayasabha. yaitu Jayakatwang. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Setelah Ken Arok mengangkat Kertajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya. Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Raden Wijaya.Arca Buddha Vajrasattva zaman Kadiri. abad X/XI. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kadiri.

Pada saat Daha menjadi ibu kota kerajaan yang masih utuh Airlangga. Daha kemudian menjadi ibu kota kerajaan bagian barat. prasasti Wates Kulon (1205). berdasarkan prasasti Sirah Keting (1104). Sri Aryeswara. Pada saat Daha menjadi ibu kota Panjalu  Sri Samarawijaya. merupakan pendiri kota Daha sebagai pindahan kota Kahuripan. prasasti Palah (1197). berdasarkan prasasti Galunggung (1194). wilayah kerajaan dibelah menjadi dua. Ketika ia turun takhta tahun 1042.         21 . prasasti Panumbangan (1120). Tidak diketahui dengan pasti apakah ia adalah pengganti langsung Sri Samarawijaya atau bukan. Prasasti Kamulan (1194).Raja-Raja yang Pernah Memerintah Daha Berikut adalah nama-nama raja yang pernah memerintah di Daha. dan Kakawin Bharatayuddha (1157). berdasarkan prasasti Ceker (1182) dan Kakawin Smaradahana. Sri Kameswara. Sri Gandra. ibu kota Kadiri: 1. yaitu Panjalu. dan Pararaton. merupakan putra Airlangga yang namanya ditemukan dalam prasasti Pamwatan (1042). kerajaan yang dipimpin Airlangga tersebut sebelum dibelah sudah bernama Panjalu. 2. Sri Jayawarsa. Nagarakretagama. berdasarkan prasasti Jaring (1181). merupakan raja terbesar Panjalu. dan prasasti Tangkilan (1130). Kertajaya. Sri Jayabhaya. berdasarkan prasasti Padelegan I (1117). berdasarkan prasasti Ngantang (1135). prasasti Talan (1136). Menurut Nagarakretagama. Sri Bameswara. berdasarkan prasasti Angin (1171). berdasarkan prasasti Padelegan II (1159) dan prasasti Kahyunan (1161). Sri Sarweswara.

32:18. yang kemudian menjadi raja Singhasari 4. Rajadewi 1309-1375 Pararaton. Indudewi 1375-1415 Pararaton.29:19. Waringin Pitu 6. 22 . kemudian Gajah Mada.21 4. Jayeswari 1429-1464 Pararaton. Pada Saat Daha Menjadi Bawahan Singhasari Kerajaan Panjalu runtuh tahun 1222 dan menjadi bawahan Singhasari. 31:10. Pada saat Daha menjadi ibu kota Majapahit Menurut Suma Oriental tulisan Tome Pires. Jayakatwang kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri. Jayanagara 1295-1309 Nagarakretagama.27:15. 31:34. 3. karena pemerintahan harian dilaksanakan oleh patih Daha.47:2. Suhita 1415-1429 ? 5. Bhre Daha yang pernah menjabat ialah: 1.4:1 didampingi Patih Arya Tilam. Nag.3. pada tahun 1513 Daha menjadi ibu kota Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya.30:8. 2. Pada saat Daha menjadi bawahan Majapahit Sejak tahun 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit yang paling utama. Berdasarkan prasasti Mula Malurung. Prasasti Sukamerta . Raja yang memimpin bergelar Bhre Daha tapi hanya bersifat simbol. diketahui raja-raja Daha zaman Singhasari. Pada Saat Daha Menjadi Ibu Kota Kadiri Jayakatwang. yaitu:     Mahisa Wunga Teleng putra Ken Arok Guningbhaya adik Mahisa Wunga Teleng Tohjaya kakak Guningbhaya Kertanagara cucu Mahisa Wunga Teleng (dari pihak ibu).didampingi Patih Lembu Sora. adalah keturunan Kertajaya yang menjadi bupati Gelang-Gelang. Manggalawardhani 1464-1474 Prasasti Trailokyapuri [sunting] 6. 5. Tahun 1292 ia memberontak hingga menyebabkan runtuhnya Kerajaan Singhasari. Nama raja ini identik dengan Dyah Ranawijaya yang dikalahkan oleh Sultan Trenggana raja Demak tahun 1527. Tapi pada tahun 1293 ia dikalahkan Raden Wijaya pendiri Majapahit. 29:31.

Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Terj. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. 2001. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Bhratara Poesponegoro & Notosusanto (ed. Jakarta: Balai Pustaka. 1990.Sejak saat itu nama Kediri lebih terkenal dari pada Daha.J. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Slamet Muljana.de Graaf dan T.). 1979.H.   23 . Kepustakaan  H. Pigeaud.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful