P. 1
Tulisan 4 Badan Eksekutif Di Indonesia

Tulisan 4 Badan Eksekutif Di Indonesia

|Views: 51|Likes:
Published by Cecilia Pingkan

More info:

Published by: Cecilia Pingkan on May 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2013

pdf

text

original

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

1

DAFTAR ISI

Daftar Isi Kata Pengantar Tulisan 4 Badan Eksekutif di Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar belakang Badan Eksekutif di Indonesia 2. Rumusan masalah 3. Tujuan BAB 2 PEMBAHASAN A. Teori Sistem 1. Analisis sistem politik menurut David Easton 2. Pendekatan struktural fungsional Gabriel Almond 3. Analisis structural fungsional dalam sistem politik B. Badan Eksekutif − Wewenang badan eksekutif − Beberapa macam badan eksekutif − Badan eksekutif di Negara Komunis − Badan eksekutif di Indonesia

2 4

5

6 7 7

7 8 12 13 16 17 18 21 24

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

2

C. Badan Legislatif D. Masalah Perwakilan BAB 3 PENUTUP Kesimpulan Referensi

28 29

31 31

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

3

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Saya panjtakan kepata Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan limpahan Rahmat-Nya Saya bisa menyelesaikan sebuah karya tulis dengan waktu yang tepat. Berikut ini Saya mempersembahkan sebuah makalah dengan Judul “Badan eksekutif Indonesia” yang menurut saya dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Saya sebagai penulis mohon maaf bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau terdapat kesalahan pada penulisan. Dengan ini saya mempersembahkan makalah dengan penuh rasa terimakasih dan semoga makalah ini memberikan manfaat yang besar untuk para pembaca.

Bekasi, April 2013

Penulis

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

4

TULISAN 4
BADAN EKSEKUTIF INDONESIA

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

5

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar belakang Badan Eksekutif Indonesia Dalam Trias Politica menyatakan adanya pembagian kekuasaan menjadi 3 bagian, yakni lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Ketiga lembaga ini bekerja secara sinergis untuk Pada garis menjalankan roda pemerintahan suatu negara, sehingga ketiga besarnya, lembaga eksekutif bergerak dalam menjalankan lembaga ini terlibat dalam suatu sistem politik yang terdapat di negara tersebut. pemerintahan, lembaga legislatif bergerak dalam bidang pembuatan undangundang, melakukan fungsi pengawasan, dan juga melakukan fungsi pembuatan anggaran (RAPBN), sedangkan lembaga yudikatif bergerak dalam bidang peradilan. Kekuasaan eksekutif dalam suatu negara ialah merupakan kekuasaan dimana dijalankannya segala kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan badan legislatif dan menyelenggarakan undang-undang yang telah diciptakan oleh badan legislatif. Akan tetapi, dalam perkembangannya pada masa negara modern seperti saat ini kekuasaan badan eksekutif jauh lebih luas karena kekuasaannya dapat pula mengajukan rancangan undang-undang pada lembaga legislatif. Ini menunjukkan bahwa peran lembaga eksekutif pada masa negara modern sudah mengalami peningkatan didalam menjalankan kekuasaan. Dalam sejarahnya, Indonesia telah mengalami rotasi pergantian kekuasaan. Ini ditandai dengan adanya masa kekuasaan yang dikenal dengan 3 masa, yaitu masa Orde Lama, masa Orde Baru, dan masa Orde Reformasi. Disetiap masa memiliki ciri khas kekuasaan yang berbeda-beda. Dari perbedaan setiap masa, dapat dilihat

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

6

cara dalam menerapkan kekuasaannya terhadap lembaga-lembaga yang terdapat pada masa itu. Apabila kita membahas tentang eksekutif, kita dapat juga melihat bagaimana pemimpin tersebut dalam memimpin lembaga eksekutifnya. Disetiap masa yang berbeda, Indonesia mengalami beberapa kali pergantian pemimpin. Dimulai dari Orde Lama yaitu pada saat di bawah pimpinan Presiden Soekarno, di mana masa Orde Lama itu sendiri terbagi atas 2 masa, yaitu masa Demokrasi Parlementer dan masa Demokrasi Terpimpin, yang dilanjutkan dengan masa Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto selama 32 tahun, dan masa Reformasi yang telah mengalami beberapa kali pergantian Presiden hingga sekarang ini. Oleh karena itu, penulis mencoba menyajikan suatu makalah yang memiliki konten seperti yang telah disebutkan di atas, dengan judul makalah “Fungsi Lembaga Eksekutif dalam Sistem Politik Indonesia dari Masa Orde Baru hingga Masa Reformasi.” 2. Rumusan Masalah A. Teori Sistem Politik B. Pendekatan Struktural Fungsional Gabriel Almond C. Analisis Struktural Fungsional Dalam Sistem Politik D. Badan Eksekutif E. Badan Legislatif F. Masalah Perwakilan (Representasi) 3. Tujuan Tujuan dari makalah ini untuk melengkapi tugas softkill saya, selain itu member pengetahuan kepada pembaca tentang Badan Eksekutif di Indnesia.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

7

BAB 2 PEMBAHASAN

A. TEORI SISTEM POLITIK 1. Analisis Sistem Politik Menurut David Easton Pendekatan sistem politik pada mulanya terbentuk dengan mengacu pada pendekatan yang terdapat dalam ilmu eksakta. Adapun untuk membedakan sistem politik dengan sistem yang lain maka dapat dilihat dari definisi politik itu sendiri. Sebagai suatu sistem, sistem politik memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu: a. Ciri-ciri identifikasi, yaitu dengan menggambarkan unit-unit dasar dan membuat garis batas yang memisahkan unit-unit tersebut dengan lingkungan luarnya. 1. Unit-unit sistem politik, yaitu unsur-unsur yang mmbentuk sistem 2. Perbatasan (garis batas). Yang termasuk sistem politik kurang lebih yang berkaitan dengan pembuatan keputusan-keputusan yang mengikat masyarakat. b. Input dan Output Agar supaya sistem bekerja dengan baik, dibutuhkan input-input yang mengalir secara konstan. Input akan membuat suatu sistem itu dapat berfungsi; dan dengan output kita dapat mengidentifikasi pekerjaan yang dikerjakan oleh sistem itu. Apa yang terjadi di dalam suatu sistem merupakan akibat dari upaya angggota-anggota sistem yang menanggapi lingkungan yang selalu berubahubah.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

8

c. Diferensiasi dalam suatu sistem. Anggota-anggota dari suatu sistem paling tidak mengenal pembagian kerja minimal yang memberikan suatu struktur tempat berlangusungnya kegiatan-kegiatan itu. d. Integrasi dalam suatu sistem sosial. Suatu sistem harus memiliki mekanisme yang bisa mengintegrasi atau memaksa anggota-anggotanya untuk bekerjasama walaupun dalam keadaan minimal sehingga mereka dapat membuat keputusan-keputusan yang otoritatif. Perbedaan pendapat mulai muncul ketika harus menentukan batas antara sistem politik dengan sistem lain yang terdapat dalam lingkungan sistem politik. Namun demikian, batas akan dapat dilihat apabila kita dapat memahami tindakan politik sebagai sebuah tindakan yang ingin berkaitan dengan pembuatan keputusan yang menyangkut publik. Pada awal abad 1950-an David Easton mengembangkan kerangka kerja untuk menjelaskan kehidupan politik dan bagaimana penerapan secara universal. Kerangka kerja ini disebut sebagai pendekatan sistem politik. Menurut David Easton, kehidupan politik dilihat sebagai sebuah sistem. Kita harus memahami fungsi secara keseluruhan tidak hanya satu bagian fungsi saja. Ini merupakan jantung dari analisis kehidupan politik dari David Easton. Pendekatan sistem politik ini tidak hanya untuk telaah perbandingan politik tapi juga dapat menjelaskan kehidupan politik suatu Negara. Perbedaan sistem politik dengan sistem yang lain, tidak menjadikan jurang pemisah antara sistem politik dengan sistem yang lain. Telah kita ketahui bahwa sistem politik merupakan suatu sistem yang terpenting dalam sebuah Negara dan

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

9

merupakan pengatur input dan output sebuah sistem dalam sebuah tata Negara. Sebuah sistem politik dapat menjadi input bagi sistem yang lainnya. Dalam sistem politik terdapat pembagian kerja antar anggotanya. Pembagian kerja yang ada tidak akan menghancurkan sistem politik karena ada fungsi integratif dalam sistem politik.  Input Input dalam sistem politik dibedakan menjadi dua, yaitu kebutuhan dan dukungan. Input yang berupa kebutuhan muncul sebagai konsekuensi dari kelangkaan atas berbagai sumber-sumber yang langka dalam masyarakat. Input tidak akan sampai (masuk) secara baik dalam sistem politik jika tidak terorganisir secara baik. Oleh sebab itu komunikasi politik menjadi bagian penting dalam hal ini. Terdapat perbedaan tipe komunikasi politik di negara yang demokratis dengan negara yang nondemokratis. Tipe komunikasi politik ini pula yang nantinya akan membedakan besarnya peranan dari organisasi politik. Ada dua jenis pokok input, yang memberikan enerji dan bahan informasi yang akan diproses oleh sistem tersebut dalam suatu sistem politik, yaitu: 1. Tuntutan. Tuntutan-tuntutan (bersal dari orang-orang atau kelompokkelompok dalam masyarakat) disalurkan dengan suatu usaha yang diorganisasikan secara khusus dalam masyarakat yang kemudian menjadi input dalam sistem politik. Tuntutan ini terbagi dua, yaitu tuntutan eksternal (luar sistem) dan tuntutan internal (dalam sistem) 2. Dukungan. Input dukungan (support) menjadi enerji untuk menjaga keberlangusungan fungsi sistem politik itu sendiri, yaitu berupa bentuk tindakan atau pandangan yang memajukan dan merintangi suatu sistem politik, tuntutan-tuntutan di dalamnya, dan keputusan-keputusan yang dihasilkannya.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

10

 Output Output merupakan keputusan otoritatif (yang mengikat) dalam menjawab dan memenuhi input yang masuk. Output sering dimanfaatkan sebagai mekanisme dukungan dalam rangka memenuhi tuntutan-tuntutan yang muncul. Output (keputusan) dari suatu sistem politik merupakan pendorong khas bagi anggota-anggota dari suatu sistem untuk mendukung sistem itu. Dorongan dapat bersifat positif maupun negatif. Dalam hal ini, pemerintah memiliki tanggung jawab tertinggi untuk menyesuaikan atau menyeimbangkan output berupa keputusan dengan input berupa tuntutan.  Politisiasi sebagai Mekanisme Dukungan Cadangan-cadangan yang telah diakumulasikan sebagai akibat dari keputusankeputusan yang lalu bisa ditingkatkan dengan suatu metode rumit untuk menghasilkan dukungan secara tetap melalui proses yang disebut politisiasi. Politisiasi sendiri memiliki pengertian sebagai cara-cara yang ditempuh anggota masyarakat dalam mempelajari pola-pola politik.  Lingkungan Lingkungan mempunyai peranan penting berupa input, baik kebutuhan ataupun dukungan. Kemampuan anggota sistem politik dalam mengelola dan menanggapi desakan ataupun pengaruh lingkungan bergantung pada pengenalannya pada lingkungan itu sendiri. Lingkungan merupakan semua sistem lain yang tidak termasuk dalam sistem politik. Secara garis besar, lingkungan dibagi menjadi dua, yaitu lingkungan dalam (intra societal) dan lingkungan luar (extra societal). Setidaknya ada dua kritik yang dilontarkan atas gagasan Easton, yaitu adanya anggapan bahwa pemikiran Easton terlalu teoretis sehingga sulit untuk diaplikasikan secara nyata. Selain terlalu teoretis, pemikiran Easton dianggap tidak netral karena hanya mengedepankan nilai-nilai liberal Barat dengan tanpa memperhatikan kondisi pada masyarakat yang sedang berkembang.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

11

2. Pendekatan Struktural Fungsional Gabriel Almond Pendekatan struktural fungsional merupakan alat analisis dalam mempelajari sistem politik, pada awalnya adalah pengembangan dari teori struktural fungsional dalam sosiologi. Dalam pendekatan ini, sistem politik merupakan kumpulan dari peranan-peranan yang saling berinteraksi. Menurut Almond, sistem politik adalah sistem interaksi yang terdapat dalam semua masyarakat yang bebas dan merdeka yang melaksanakan fungsi-fungsi integrasi dan adaptasi (baik dalam masyarakat ataupun berhadap-hadapan dengan masyarakat lainnya). Semua sistem politik memiliki persamaan karena sifat universalitas dari struktur dan fungsi politik. Mengenai fungsi politik ini, Almond membaginya dalam dua jenis, fungsi input dan output. Almond menggunakan pendekatan perbandingan dalam menganalisa jenis sistem politik, yang mana harus melalui tiga tahap, yaitu:  Tahap mencari informasi tentang sobjek. Ahli ilmu politik memiliki perhatian yang fokus kepada sistem politik secara keseluruhan, termasuk bagian-bagian (unit-unit), seperti badan legislatif, birokrasi, partai, dan lembaga-lembaga politik lain.  Memilah-milah informasi yang didapat pada tahap satu berdasarkan klasifikasi tertentu. Dengan begitu dapat diketahui perbedaan suatu sistem politik yang satu dengan sistem politik yang lain.  Dengan menganalisa hasil pengklasifikasian itu dapat dilihat keteraturan (regularities) dan ubungan-hubungan di antara berbagai variabel dalam masing-masing sistem politik. Terkait dengan hubungannya dengan lingkungan, perspektif yang digunakan adalah ekologis. Keuntungan dari perspektif ekologis ini adalah dapat mengarahkan perhatian kita pada isu politik yang lebih luas. Agar dapat membuat penilaian yang objektif maka kita harus menempatkan sistem politik dalam

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

12

lingkungannya. Hal ini dilakukan guna mengetahui bagaimana lingkunganlingkungan membatasi atau membantu dilakukannya sebuah pilihan politik. Sifat saling bergantung bukan hanya dalam hubungan antara kebijaksanaan dengan sarana-sarana institusional saja, namun lembaga-lembaga atau bagian dari sistem politik tersebut juga saling bergantung. Untuk dapat mengatasi pengaruh lingkungan, Almond menyebutkan enam kategori kapabilitas sistem politik, yaitu kapabilitas ekstraktif, kapabilitas regulatif, kapabilitas distributif, kapabilitas simbolik, kapabilitas responsif, kapabilitas domestik dan internasional. Ciri sistem politik menurut Gabriel A. Almond: Semua sistem politik mempunyai sturukut politik Semua sistem politik, baik yang modern maupun primitif, menjalankan fungsi yang sama walaupun frekuensinya berbeda yang disebabkan oleh perbedaan struktur. Kemudian sistem politik ini strukturnya dapat diperbandingkan, bagaimana fungsi-fungsi dari sistem-sistem politik itu dijalankan dan bagaimana pula cara/gaya melaksanakannya. Semua struktur politik mempunyai sifat multi-fungsional, betapapun terspesialisasinya sistem itu. Semua sistem politik adalah merupakan sistem campuran apabila dipandang dari pengertian kebudayaan. 3. Analisis Struktural Fungsional dalam Sistem Politik Menurut Gabriel Almond, dalam setiap sistem politik terdapat enam struktur atau lembaga politik, yaitu kelompok kepentingan, partai politik, badan legislatif, badan eksekutif, birokrasi, dan badan peradilan. Dengan melihat keenam struktur dalam setiap sistem politik, kita dapat membandingkan suatu sistem politik dengan sistem politik yang lain. Hanya saja, perbandingan keenam struktur tersebut tidak terlalu membantu kita apabila tidak disertai dengan penelusuran dan pemahaman yang lebih jauh dari bekerjanya sistem politik tersebut.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

13

Suatu analisis struktur menunjukkan jumlah partai politik, dewan yang terdapat dalam parlemen, sistem pemerintahan terpusat atau federal, bagaimana eksekutif, legislatif, dan yudikatif diorganisir dan secara formal dihubungkan satu dengan yang lain. Adapun analisis fungsional menunjukkan bagaimana lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi tersebut berinteraksi untuk menghasilkan dan melaksanakan suatu kebijakan. Input yang masuk dalam sistem politik disalurkan oleh lembaga politik, kemudian akan menghasilkan output, berupa keputusan yang sah dan mengikat yang sebelumnya melalui proses konversi. Dalam konversi terjadi interaksi antara faktor-faktor politik, baik yang bersifat individu, kelompok ataupun organisasi. Fungsi input, meliputi sosialisasi politik dan rekruitmen politik, artikulasi kepentingan, agregasi kepentingan, dan komunikasi politik. Sedangkan fungsi output, antara lain pembuatan kebijakan, penerapan kebijakan, dan penghakiman kebijakan. Keunggulan dari kedua ragam pendekatan yang dikembangkan oleh Easton dan Almond antara lain adalah:  Dalam membuat analisis politik, Easton dan Almond selalu peka akan kompleksitas antara sistem politik dengan sistem sosial yang lebih besar, yang mana sistem politik adalah sub-sistemnya. 

Kesederhanaan pendekatan. Konsep ini dapat dipakai untuk menganalisis
berbagai macam sistem politik, demokratis atau otoriter, tradisional atau modern, dan sebagainya. Konsep Easton dan Almon berasumsi bahwa semua sitem memproses komponen-komponen yang sama sehingga kedua pendekatan itu bermanfaat dalam upaya mencari metode analisis dan pembandingan sistem politik yang seragam.

Konsep yang diajukan oleh Almond memberi arahan untuk mencari data baru yang dapat meluaskan cakrawala perhatian ke masyarakat non-Barat dan non-”modern”.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

14

Kelemahan dari konsep atau pendekatan yang dikembangkan oleh Easton dan Almond:  Analisis yang dikemukakan (baik sistem maupun struktural-fungsional) tidak memberikan rumusan yang terbukti secara empirik (tidak menghasilkan teori).   Tidak menjelaskan hubungan sebab-akibat. Kedua pendekatan itu lebih mentitikberatkan pada penjelasan analisis. Analisis struktural-fungsional Almond memiliki masalah ketidakjelasan konsep tentang fungsi. Almond tidak menjelaskan garis-garis yang membatasi fungsifungsi dalam masyarakat politik.  Kedua pendekatan itu dikritik karena sangat dipengaruhi oleh ideologi demokrasi-liberal Barat. Terlihat jelas pada asumsi Almond yang mengatakan bahwa fungsi-fungsi yang ada di sistem politik di Barat pasti juga ada di sistem non-Barat.  Kedua pendekatan itu juga dikritik kecenderungan ideologisnya karena cara memandang masyarakat yang terlalu organismik. Easton dan Almond menyamakan masyarakat dengan organisme, yang selalu terlibat dalam proses diferensiasi dan koordinasi. Selain itu mereka juga memandang masyarakat sebagai makhluk biologis yang selalu mencari keseimbangan dan keselarasan. Obsesi Almond tentang ekuilibrum dan kestabilan telah membuatnya keliru tentang manfaat yang mungkin terdapat dalam dis-ekuilibrum, seperti revolusi atau perang kemerdekaan. Dis-ekuilibrum bisa dipakai untuk mencniptakan keadilan sosial, ketika cara-cara konvensional tidak mungkin dilakukan. Contohnya perang kemerdekaan melawan penjajah atau pemberontakan melawan kediktatoran.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

15

B. BADAN EKSEKUTIF Badan eksekutif dalam arti yang luas juga mencakup para pegawai negeri sipil dan militer. Dalam sistem presidensial menteri-menteri merupakan pembantu presiden dan langsung dipimpin olehnya, sedangkan dalam sistem parlementer para menteri dipimpin oleh seorang perdana menteri. Jumlah anggota badan eksekutif jauh lebih kecil daripada jumlah anggota badan legislatif, biasanya berjumlah 20 atau 30 orang lebih. Sedangkan badan legislatif yang angggota sampai 1000 orang lebih. Badan eksekutif yang kecil dapat bertindak cepat dan memberi pimpinan yang tepat serta efektif; dalam hal ini ia berbeda dengan badan legislatif yang biasanya terlalu besar untuk mengambil keputusan dengan cepat. Tugas badan eksekutif, menurut tafsiran trias politika, hanya melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah ditetapkan oelh badan legislative serta

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

16

menyelenggarakan undang-undang yang dibuat oleh badan legislative. Akan tetapi dalam pelaksanaannya badan eksekutif leluasa sekali ruang geraknya. Disamping itu jelas dalam perkembangan Negara modern bahwa wewenang badan eksekutif dewasa ini jauh lebih luas daripada hanya melaksanakan undang-undang dasar saja. Perkembangan ini terdorong oleh banyak faktor, seperti perkembangan teknologi, modernisasi yang sudah berjalan jauh, semakin terjalinnya hubungan poltik dan ekonomi antarnegara, krisis ekonomi dan revolusi sosial. Dalam menjalankan tugasnya, badan eksekutif ditunjang oleh orang kerja yang terampil dan ahli serta tersedianya bermacam-macam fasilitas serta alat-alat di masing kementrian. Sebaliknya keahlian serta fasilitas yang tersedia bagi badan legislatif jauh lebih terbatas. Oleh karena itu, badan legislatif berada dalam kedudukan yang kurang menguntungkan dibandingkan badan eksekutif. Hal ini tidak berarti bahwa peranan badan legislatif tidak ada artinya didalam Negara demokratis, badan legislatif tetap penting untuk menjaga jangan sampai badan eksekutif keluar dari garis-garis yang telah ditentukan oelh badan legislative, dan tetap merupakan penghalang atas kecenderungan yang terdapat pada hamper setiap badan eksekutif untuk memperluas ruang lingkup wewenangnya. Wewenang Badan Eksekutif Kekuasaan Badan Eksekutif mencakup beberapa bidang. 1. Administratif, yakni kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang dan peraturan-peraturan perundangan lainnya dan menyelenggarakan administrasi Negara. 2. Legislatif, yaitu membuat rancangan undang-undang dan membimbingnya dalam perwakilan rakyat sampai undang-undang keamanan. 3. Yudikatif, member garis amnesty, dan sebagainya. 4. Diplomatik, yaitu kekuasaan untuk menyelenggarakan hubungan diplomatic dengan Negara-negara lain.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

17

Beberapa Macam Badan Eksekutif Sistem parlementer dengan parliamentary Executive Dalam sistem ini badan eksekutif dan badan legislatif bergantung satu sama lain. Kabinet, sebagai bagian dari eksekutif yang “bertanggung jawab”, harap mencerminkan kekuatan-kekuatan politik dalam legislative yang mendukungnya, dan mati hidupnya kabinet bergantung pada dukungan dalam badan legislative (atas tanggung jawab menteri). Kabinet semacam ini dinamakan Kabinet parlementer. Sifat serta bobot “ketergantungan” ini berbeda dari satu Negara dengan Negara lain, akan tetapi umumnya dicoba untuk mencapai semacam keseimbangan antara badan eksekutif dan badan legislatif. Keseimbangan ini lebih mudah tercapai jika terdapat satu partai yang cukup besar mayoritasnya untuk membentuk kabinet atas kekuatannya sendiri. Kalau tidak ada, maka diusahakan terbentuknya suatu kabinet koalisi berdasarkan kerja sama antara beberapa partai yang bersama-sama mencapai mayoritas dalam badan legislatif. Dibawah ini beberapa contoh Negara yang menerapkan sistem parlementer :

a) Republik Prancis IV (1946-1958)
Oleh karena di Prancis tidak terdapat suatu partai yang cukup besar untuk membentuk kabinet atas kekuasaan sendiri, maka kabinet di Prancis hampir semuanya berdasarkan koalisi. Badan eksekutif terdiri dari seorang presiden yang sedikit sekali kekuasaannya serta para menteri yang dipimpin oleh seorang perdana menteri. Kedudukan menteri tidak boleh dirangkap dengan kedudukan sebagai seorang parlemen.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

18

b) Republik Prancis V
Terdorong oleh kegagalan sistem parlementer Republik Prancis IV karena badan eksekutifnya terlalu banyak didominasikan oleh badan legislative, de Gaulle pada tahun 1958 memprkarsai suatu undangundang dasar baru yang memperkuat kedudukan badan eksekutif. Dengan demikian sistem ini menjurus kepada sistem presidensial. Kedudukan presideng diperkuat karena ia tidak lagi dipilih oleh anggota legislatif, seperti Republik Prancis IV, tetapi dipilih oleh majelis pemilihan yang terdiri atas 80.000 orang. Sampai sekarang sistem ini menunjukkan cukup keseimbangan antara badan eksekutif dan badan legislatif, dan malahan dianggap lebih menjurus ke sistem presidensial.

c) Inggris
Badan eksekutif terdiri atas raja sebagian bagian dari badan eksekutif yang tidak dapat diganggu gugat, serta kurang lebih 20 menteri yang bekerja atas tanggung jawab menteri (ministerial responsibility). Kekuasaan raja bersifat simbolis, sedangkan kekuasaan sesungguhnya adalah di tangan perdana menteri yang memimpin para menteri. Inggris terkenal sebagai tempat asal asas tanggung jawab menteri, akan tetapi di Inggris sendiri masih berbentuk konvensi. Prinsipnya ialah bahwa menteri ataupun seluruh kabinet yang tidak lagi memperoleh kepercayaan dari badan legislatif harus meletakkan jabatan.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

19

a. India
Sistem ketatanegaraan India agak mirip dengan inggris, dan sistem pemerintahannya pun adalah cabinet government. Badan eksekutif terdiri atas seorang presiden sebagai kepala Negara dan menteri-menteri yang dipimpin oleh seorang perdana menteri. Sistem Presidensial dengan Fixed Executive atau Non-Parliamentary Executive. Dalam Sistem ini kelangsungan hidup badan eksekutif tidak bergantung padan badan legislatif, dan badan eksekutif mempunyai masa jabatan tertentu. Kekuasaan badan eksekutif terhadap badan legislative mengakibatkan kedudukan badan eksekutif lebih kuat dalam menghadapi badan legislative. Dibawah ini beberapa contoh Negara yang menerapkan sistem presidensial:

-

a. Amerika Serikat
Badan eksekutif terdiri atas presiden beserta menteri-menteri yang merupakan pembantunya. Presiden dinamakan Chief Executive. Secara formal, sesuai dengan asas trias politika klasik, presiden sama sekali terpisah dari badan legislatif dan tidak boleh mempengaruhi organisasi dan penyelenggaraan pekerjaan kongres.

b. Pakistan (dalam masa Demokrasi Dasar)
Seperti india, Pakistan memulai masa kemerdekaannya dengan suatu parlementer yang mirip dengan sistem di Inggris. Badan eksekutif terdiri atas presiden yang beragama islam beserta menteri-menteri. Perdana menteri merupakan pembantunya yang tidak boleh merangkap menjadi anggota badan legislative. Presiden mempunya wewenang untuk memveto rancangan undang-undang.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

20

Badan Eksekutif di Negara-Negara Komunis Disamping badan eksekutif di Negara – Negara demokratis, perlu juga kita bicrakan badan eksekutif di Negara – Negara komunis. Beberapa perbedaan yang menonjol, oleh karena Dewan Perwakilan Rakyat tidak dilihat sebagai badan legislatif, tetapi sebagai badan dimana semua kekuasaan (eksekutif, legislatif dan yudikatif) dipusatkan. Sistem ini kadang di sebut dengan pemerintahan majelis (assembly government). Perbedaan yang terbesar adalah peranan yang dominan dari Partai komunis yang menyelami semua aparatur kenegaraan. Negara-negara komunis dalam garis besarnya mengikuti pola Uni Soviet. Fungsi Eksekutif di Uni Soviet dibagi antara dua badan, yaitu antara pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat, yakni Presidium Soviet Tertinggi dan Kabinet. Pembagian semacam ini menjadikan perbedaan antara badan eksekutif dan legislatif seperti di Negara demokratis.

Presidium terdiri atas kira-kira 30 orang anggota Soviet Tertinggi, bertindak sebgai steering committee dari Soviet Tertinggi dan menyelenggarakan tugas-tugasnya selama badan itu tidak bersidang. Kedudukan Presidium Soviet Tertinggi dapat dikatakan unik, sebab selain menyelenggarakan wewenang Soviet Tertinggi tertentu juga merupakan kepala kolektif. Dalam menjalankan fungsinya anggotaanggota presidium mempunyai kedudukan yang sama, hanya dalam upacara formal dan protokoler ketua Presidium bertindak atas seluruh Presidium, biasa disebut Presiden Uni Soviet. Wewenang Presidium mencakup bidang eksekutif seperti mengeluarkan dekritdekrit yang dalam sidang Soviet Tertinggi berikutnya disahkan. Dalam wewenag yudikatif, Presidium membatalkan keputusan-keputusan dan aturan-aturan cabinet kalau dianggap tidak sesuai dengan undang-undang. Presidium secara formal bertanggung jawab kepada Soviet Tertinggi, akan tetapi dalam praktiknya

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

21

Presidium membimbing Soviet Tertinggi. Hal ini dimungkinkan karena anggota Presidium merangkap menjadi pemimpin dalam Partai Komunis. Anggota kabinet berkisar anatara 20 dan 50 orang. Secara formal para menteri diangkat oleh Soviet Tertinggi dan bertanggung jawab kepadanya. Dalam praktiknya kabinet lebih berkuasa karena administrasi Negara mencakup dan menguasai hampir semua aspek kehidupan rakyat terutama di bidang ekonomi. Kekuasaan kabinet meliputi bidang legislatif, sebab walaupun secara formal Soviet Tertinggi merupakan badan legislatif yang tertinggi dan merupakan satu-satunya badan yang menyelenggarakan kekuasaan legislatif tetapi dalam praktiknya cabinet merupakan legislator paling penting. Kabinet menyusun rancangan Undang-Undang dan mengajukannya kepada Soviet Tertinggi. Kabinet juga berwenag mengeluarkan aturan-aturan dan keputusan yang bersifat mengikat di seluruh wilayah. Secara formal Soviet Tertinggi mempunyai wewenang untuk membatalkan aturan-aturan dan keputusan ini bila dianggap perlu. Pada hakikatnya kabinet hanya merupakan alat untuk melaksanakan keputusankeputusan yang diambil dalam partai. Hal ini dimungkinkan oleh karena menteri merangkap jabatan anggota pimpinan Partai Komunis. Membahas badan eksekutif di China, situasinya hamper mirip dengan di uni Soviet. Kongres Partai komunis China, Komite Sentral Partai Komunis China, Politbiro dan Standing Committee Politrbiro adalah organ dari Partai Komunis China di tingkat Nasional. Chinese Party Congress dalam teorinya adalah organ partai tertinggi yang berfungsi untuk membuat kebijakan-kebijakan penting. Fungsi utamanya untuk mengumumkan dan member legitimasi dari kebijakan penting bukan sebagai inisiator dari pembuatan kebijakan. Komite Sentral Partai Komunis China (CC PKC) adalah organ yang lebih kecil dibandingkan dengan Chinese Party Congress tetapi jumlahnya masih terhitung besar untuk bias berjalan efektif. Anggota ini dipilih oleh Chinese Party Congress, tapi dalam kenyataannnya adalah nama-nama yang direkomendasikan oleh

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

22

Politbiro setelah berkonsultai dengan elite tertinggi. Anggota Komite Sentral Partai Komunis China merangkap juga sebagai kepala partai di tingkat provinsi, perwakilan dari kelompok minoritas dan juga tokoh dari beragam kelompok seperti petani, buruh, pengusaha maupun militer. Dalam pertemuan dan berkongres fungsi utamanya adalah mendiskusikan serta mengumumkan beragam kebijakan yang akan diambil tapi bukan sebagai pemutus akhir dan penentu. Politbiro adalah kelompok yang lebih kecil jumlahnya dan lebih berkuasa dibandingkan dengan dua organ partai yang dijelaskan sebelumnya. Anggotanyha berkisar antara 25-35 orang. Fungsi utamanya adalah sebagai komando dan markas besar PKC. Anggota Politbiro PKC lebih dari anggota CC PKC adalah elite penting partai yang memiliki kekuasaan, kewenangan dan pengaruh politik yang besar. Kekuasaan, pengaruh dan kewenangan yang terpenting dipegang oleh

Standing Committee of the Politbiro yang anggotanya berkisar hanya 5-9 orang.
Secara formal, kekuasaan pemerintahan dalam konstitusi China terletak di Kongres Rakyat Nasional (KRN/ NPC). Dalam teori, NPC memilih dewan negara yang diketuai oleh perdana menteri. Perdana menteri sering juga disebut sebagai ketua dewan negara. Perdana menteri menurut konstitusi China dinominasikan oleh Presiden yang memegang jabatan ketua Kongres Rakyat Nasional (KRN). Namun dalam praktiknya baik presiden maupun perdana menteri adalah hasil seleksi dari negoisasi tingkat tinggi dalam jajaran elite tertinggi PKC. Perdana menteri di China adalah juga anggota Standing

Committee of the Politbiro. Perdana menteri memegang kekuasaan eksekutif dan
membentuk kementerian Negara. Jumlah kementeerian Negara berkisar 24-60 kementerian.s Perdana menteri di China juga memiliki tugas dan bertanggung jawab untuk mengorganisir birokrasi dan administrasi pemerintahan di tingkat pusat yang kekuasaannya vertical sampai ke tingkat local. Perdana menteri bertanggung

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

23

jawab pada rincian teknis implementasi kebijaka Negara sementara Presiden bertugas untuk mendapatkan dukungan politik bagi kebijakan pemerintah.

Badan Eksekutif Di Indonesia. Dalam masa pra-Demokrasi Terpimpin, YAITU November 1945- Juni 1959 kita kenal badan eksekutif yang terdiri atas presiden serta wakil presiden sebagai bagian dari badan eksekutif yang tidak dapat diganggu gugat dan menteri-menteri yang dipimpin oleh seorang perdana menteri dan yang bekerja atas dasar asas tanggung jawab menteri. Kabinet merupakan kabinet yang dipimpin oleh Wakil Presiden Moh. Hatta yang karena itu dinamakan kabinet presidensial. Jumlah menteri dalam masa sebelum 27 Desember 1949 berkisar 16 (kabinet Sjahrir ke-1) dan 37 (kabinet Amir Syarifuddin ke-2) orang. Jumlah menteri dalam masa sesudahnya berkisar antara 18 (kabinet Wilopo) dan 25 (kabinet Ali Sastroamidjojo ke-2) orang. Para menteri dapat dibagi dalam beberapa golongan yaitu menteri inti dan menteri Negara. Mulai Juni 1959 Undang-Undang Dasar 1945 berlaku kembali dan menurut ketentuan UUD itu badan eksekutif terdiri atas seorang presiden, wakil presiden beserta menteri-menteri. Menteri-menteri membantu presiden dan diangkat serta diberhentikan olehnya. Presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR dan presiden merupakan “Mandataris” MPR dan bertanggung jawab kepada MPR dan kedudukannya untergeordnet kepada MPR. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan selama lima tahun yang hanya dibatasi oleh peraturan-peraturan dalam UUD dimana sesuatu hal diperlukan adanya suatu undang-undang. Selama masa itu presiden tidak boleh dijatuhkan oleh DPR, sebaliknya presiden tidak mempunyai wewenang untuk membubarkan DPR.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

24

Presiden memerlukan persetujuan dari DPR untuk membentuk undang-undang dan untuk menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain. Dalam keadaan memaksa, Presiden menetapkan Peraturan Pemerintah sebagai pengganti undang-undang, maka Peraturan Pemerintah itu kemudian harus mendapat persetujuan DPR. Selain itu presiden berwenang menetapkan Peraturan Pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya dan presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara. Dalam masa Demokrasi Terpimpin tidak ada wakil presiden. Sesuai dengan keinginannya untuk memperkuat kedudukannya, Ir. Soekarno oleh MPRS ditetapkan sebagai Presiden seumur hidup. Begitu pula pejabat teras dari badan legislatif (yaitu pimpinan MPRS dan DPR Gotong Royong) dan dari badan yudikatif (yaitu ketua Mahkamah Agung) diberi status menteri. Kemudian berdasar Penetapan Presiden No. 14 Tahun 1960, presiden diberi wewenang untuk mengambil keputusan dalam keadaan anggota badan legislatif tidak dapat mencapai mufakat mengenai suatu hal atau sesuatu rancangan undang-undang. Dalam masa Orde Baru Ketetapan MPRS yang member kedudukan presiden seumur hidup kepada Ir. Soekarno telah dibatalkan. Dengan Ketetapan MPRS No. XXXXIV Tahun 1968 Jenderal Soeharto dipilih oleh MPRS sebagai presiden. Jabatan wakil presiden untuk sementara tidak diisi. Dengan undang-undang ditetapkan bahwa menteri tidak boleh merangkap menjadi anggota DPR. Dalam sidangnya pada tahun 1973 MPR telah memilih Jenderal Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Wakil Presiden. Sistem presidensial yang digunakan oleh UUD 1945 memberikan kekuasaan yang besar bagi presiden. Di samping sebagai kepala Negara dan kepala pemerintahan, presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR. Hal ini dicantumkan dalam Pasal 5 Ayat (1) UUD 1945 yang asli. Ketentuan ini menunjukan bahwa UUD 1945 yang asli memberikan

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

25

kewenangan legislatif yang besar bagi presiden. Apalagi presiden juga berhak mengeluarkan Peraturan Pemerintahan Pengganti UU (Perpu) sebagaimana diatur dalam Pasal 22 (1) UUD 1945 asli. Kewenangan legislative lainnya dari badan eksekutif menurut UUD 1945 yang asli adalah pengajuan RUU yang disebut sebagai hak inisiatif lembaga eksekutif. Perkembangan politik di Indonesia pada masa awal Orde Baru menunjukan peranan Presiden Soeharto yang semakin dominan. Di samping kewenangan yang diberikan oleh UUD 1945, situasi politik Indonesia memberikan kesempatan yang besar bagi Presiden Soeharto untuk berperan sebagai presiden yang dominan. Presiden Soeharto adalah tokoh utama yang tampil setelah Gerakan 30 S/PKI yang memimpin usaha pemberantasan komunis di Indonesia. Meskipu Jenderal Nasution lebih senior namun posiisnya sebagai Ketua MPRS member peluang kepada Soeharto untuk tampil sebagai presiden berikutnya yang menggantikan Presiden Soekarno. Senioritas Soeharto dalam Angkatan Darat memperkuat posisinya dalam dunia politik Indonesia. Peranan dominan Soeharto semakin menguat seiring dengan usia Orde Baru. Keberhasilan Orde Baru dalam membangun ekonomi, termasuk keberhasilan swasembada beras pada pertengahan decade 1980-an memberikan kedudukan dominan yang semakin kokoh bagi Presiden Soeharto. Kedudukan dominan tersebut menyebabkan tidak asa satu pun di antara elite politik nasional yang dapat dianggap sebagai calon pengganti Presiden Soeharto. Tokoh-tokoh yang lain dianggap sebagai pengikut dari Soeharto. Mereka bersaing antara mereka sendiri untuk mendapat posisi terdekat dengan Soeharto. Sejak awal decade 1990-an, Orde Baru dikuasi sepenuhnya oleh Presiden Soeharto. Dominasi mutlak dalam politik menghasilkan penyelewengan kekuasaan. Penyelewengan kekuasaan ini semakin hebat menjelang berakhirnya Orde Baru pada tahun 1998. Kebebasan berbicara tidak diperbolehkan, persaingan politik antara dua partai dan Golkar menghilang, peranan ABRI yang semakin

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

26

besar seiring dengan meluasnya dwifungsi ABRI, dan munculnya anggota keluarga Soeharto sebagai pengusaha besar yang menggunakan kekuasaan, fasilitas dan keuangan Negara untuk kepentingan bisnis mereka. Kekuasaan yang dominan menghasilkan penyelewengan politik yang meluas yang berujung pada maraknya praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Perkembangan politik tersebut menyulut terjadinya protes besar yang dilakukan oleh para mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia dengan cara menduduki Gedung MPR/DPR di Senayan, Jakarta. Gerakan mahasiswa ini mampu memaksa pimpinan MPR/DPR untuk mendukung gerakan tersebut dan menuntut pengunduran diri Presiden Soeharto. Desakan rakyat tersebut membuat Presiden Soeharto mengambil keputusan untuk mengundurkan diri sebagai Presiden RI pada tangggal 20 Mei 1998 yang menandai berakhirnya periode Orde Baru dalam sejarah politik Indonesia. Masa sesudah Orde Baru dikenal sebagai Orde Reformasi. Yang ingin dilakukan setelah masa Orde Baru adalah melakukan perubahan-perubahan politik sehingga system politik Indonesia menjadi lebih demokratis. Praktik yang kurang atau tidak demokratis dihilangkan dengan melakukan perubahan terhadap peraturan perundangan. UU politik yang baru dan lebih demokratis dikeluarkan pada awal 1999 dan UU tentang pemerintahan daerah yang lebih demokratis dikeluarkan pada pertengahan tahun yang sama. UU politik baru menghasilkan Pemilu 1999 yang dianggap sebagai pemilu yang demokratis yang mendapat pujian dari dunia internasional. Pemerintahan daerah juga mengalami demokratisasi dengan dihilangkannya kedudukan kepala daerah sebagai penguasa tunggal dan DPRD menjadi lembaga legislatif daerah. Langkah terobosan yang dilakukan oleh Orde Reformasi adalah mandemen UUD 1945 yang mengubah UUD 1945 secara dratis sehingga UUD 1945 yang asli menjadi sangat berbeda dibandingkan UUD 1945 hasil amandemen. UUD 1945 hasil amandemen menjadi lebih demokratis dibandingkan dengan UUD 1945 yang

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

27

asli. Amandemen yang dilakukan sebanyak empat tahap dalam empat tahun telah menjadi sebuah bagian terpenting dari proses demokratisasi di Indonesia. UUD 1945 hasil amandemen memperkuat sistem presidensial di Indonesia dengan mengadakan pemilihan umum untuk memilih presiden/wakil presiden secara langsung oleh rakyat. Pilpres memperkuat legitimasi presiden karena ia dipilih langung oleh rakyat seperti DPR. Di samping itu, UUD 1945 hasil amandemen mempersulit pemecetan presiden oleh MPR. Presiden hanya dapat dipecat bila dianggap telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan nterhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela. Hal ini diatur dalam Pasal 7A UUD 1945 hasil amandemen. Proses pemecatan berlangsung panjang karena pelanggaran hukum yang dilakukan oleh presiden harus diverifikasi oleh Mahkamah Konstitusi. Amandemen UUD 1945 mengurangi peranan presiden dalam fungsi legislatif. Pasal 20 (1) UUD 1945 hasil amandemen mengatakan bahwa kekuasaan membentuk UU diegang oleh DPR. Hal ini jelas berbeda dari UUD 194 asli seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa presiden memegang kekuasaan membentuk UU. RUU harus dibicarakan dengan DPR dan badan eksekutif lainnya. Namun apabila presiden tidak mengundangkan sebuah RUU yang telah diseyujui dalam waktu 30 hari setelah RUU disetujui, RUU tersebut sah sebagai UU dan wajib diundangkan (Pasal 20 Ayat 5 UUD 1945 hasil amandemen). Ketentuan ini memberikan hak bagi DPR untuk melakukan by pass sehingga RUU sah menjadi UU tanpa menunggu persetujuan presiden. Presiden di bawah UUD 1945 hasil amandemen adalah presiden dalam sistem presidensial yang demokratis. Tidak dapat diberhentikan oleh DPR karena masalah-masalah politik, sebaliknya tidak dapat membubarkan DPR. Presiden membutuhkan dukungan yang cukup kuat sehingga memerlukan adanya partai politik atau koalisi partai politik yang kuat sehingga presiden dapat memerintah dengan baik. Yang diperlukan oleh Presiden RI dalam sistem presidensial yang

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

28

berlaku sekarang ini adalah kerja sama yang baik dengan DPR sehingga terbentuk sinergi dalam pemerintahan dan diharapkan perbedaan yang terjadi tidak menghambat presiden dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai kepala badan eksekutif.

C. BADAN LEGISLATIF Badan Legislatif mencerminkan salah satu fungsi badan itu, yaitu legislate atau membuat undang-undang. Nama lain yang sering dipakai adalah Assembly yang mengutamakan unsur “berkumpul”. Nama lainnya adalah Parliament, suatu istilah yang menekankan unsur “bicara” dan merundingkan. Sebutan lain mengutamakan representasi atau keterwakilan anggota-anggotanya dan dinamakan

People’s

Representative Body atau Dewan Perwakilan Rakyat. Akan tetapi apa pun perbedaan
dalam istilah namanya dapat dipastikan bahwa badan ini merupakan simbol dari rakyat yang berdaulat. Menurut teori yang berlaku, rakyatlah yang berdaulat. Rakyat yang berdaulat ini mempunyai suatu kehendak (yang oleh Rousseau disebut Volonte Generate atau

General Will . keputusan-keputusan yang diambil oleh badan ini merupakan suara
yang authentic dari general will. Karena itu keputusan keputusannya baik bersifat kebijakan maupun undang-undang mengikat seluruh masyarakat. Dengan berkembangnya gagasan bahwa kedaulatan ada di tangan di rakyat, maka badan legislatif menjadi badan yang berhak menyelenggarakan kedaulatan itu dengan jalan menentukan kebijakan umum dan menuangkannya dalam Undang-Undang. Dalam pada itu badan eksekutif hanya merupakan penyelenggara dari kebijakan umum itu. Rousseau yang merupakan pelopor dari gagasan kedaulatan rakyat tidak menyetujui adanya badan perwakilan tetapi mencita-citakan suatu bentuk demokrasi langsung,

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

29

dimana rakyat secara langsung merundingkan serta memutuskan soal-soal kenegaraan dan politik. Akan tetapi dewasa ini demokrasi langsung seperti yang diinginkan Rousseau dianggap tidak praktis. Dan hanya dipertahankan dalam bentuk khusus dan terbatas seperti referendum dan plebisit. Boleh dikatakan bahwa dalam negara modern dewasa ini rakyat menyelenggarakan kedaulatan yang dimilikinya melalui wakil-wakil yang dipilihnya secara berkala. Badan legislatif dinegara-negara demokrasi disusun sedemikian rupa sehingga ia mewakili mayoritas dari rakyat dan pemerintahan bertanggung jawab kepadanya. Untuk meminjam perumusan CF Strong yang menggabungkan tiga unsur dari suatu demokrasi yaitu reprensentasi, partisipasi dan tanggung jawab politik yaitu : “Demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan yang mayoritas anggota dewasa dari suatu komunitas politik berpartisipasi atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemerintahan akhirnya mempertanggungjawabkan tindakantindakannya kepada mayoritas kepada mayoritas itu”. Atau dengan kata lain negara demokrasi di dasari oleh sistem perwakilan demokratis yang menjamin kedaulatan rakyat. D. MASALAH PERWAKILAN (REPRESENTASI) Biasanya ada dua kategori yang dibedakan. Kategori pertama adalah perwakilan politik dan perwakilan fungsional. Kategori kedua menyangkut pperan anggota parlemen sebagai trustee dan perannya sebagai pengemban “mandat” Perwakilan adalah konsep bahwa seorang atau suatu kelompok mempunyai kemampuan atau kewajiban untuk bicara dan bertindak atas nama suatu kelompok yang lebih besar. Dewasa ini anggota badan legislative pada umumnya mewakili rakyat melalui partai politik. Hal ini dinamakan perwakilan yang bersifat politik. Sekalipun asas perwakilan politik telah menjadi sangat umum, tetapi ada beberapa kalangan yang merasa bahwa partai politik dan perwakilan yang berdasarkan

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

30

kesatuan-kesatuan politik semata-mata mengabaikan berbagai kepentingan dan kekuatan lain yang ada di dalam masyarakat terutama di bidang ekonomi. Di samping itu ditemukan bahwa di beberapa Negara asas perwakilan politik diragukan kewajarannya dan perlu diganti atau sekurang-kurangnya dilengkapi dengan asas perwakilan fungsional. Dianggap bahwa Negara modern dikuasai oleh bermacammacam kepentingan terutama di bidang ekonomi, yang dalam sistem perwakilan politik kurang diperhatikan dan tidak dilibatkan dalam proses politik. Dapat dikatakan bahwa dewasa ini perwakilan politik merupakan sIstem perwakilan yang dianggap paling wajar. Di samping itu beberapa Negara merasa bahwa asas

functional or occupational representation perlu diperhatikan dan sedapat mungkin
diakui kepentingannya di samping sIstem perwakilan politik sebagai cara untuk memasukkan sifat profesional ke dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan umum. Di Indonesia asas perwakilan fungsional (Golongan Karya) juga telah dikenal di samping asas perwakilan politik. Pemilihan Umum tahun 1971 diselenggarakan dengan mengikutsertakan baik partai politik maupun golongan fungsional.

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

31

BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan  Ciri-ciri identifikasi, yaitu dengan menggambarkan unit-unit dasar dan membuat garis batas yang memisahkan unit-unit tersebut dengan lingkungan luarnya.  Dalam sistem politik terdapat pembagian kerja antar anggotanya. Pembagian kerja yang ada tidak akan menghancurkan sistem politik karena ada fungsi integratif dalam sistem politik.

 Input dalam sistem politik dibedakan menjadi dua, yaitu kebutuhan dan
dukungan.

Output merupakan keputusan otoritatif (yang mengikat) dalam menjawab dan memenuhi input yang masuk

 Menurut Gabriel Almond, dalam setiap sistem politik terdapat enam struktur
atau lembaga politik, yaitu kelompok kepentingan, partai politik, badan legislatif, badan eksekutif, birokrasi, dan badan peradilan

Referensi Departemen Penerangan Republik Indonesia, Susunan Kabinet Republik Indonesia 1945-1970 (Jakarta: Pradna Paramita, 1970) Isjwara, F. Pengantar Ilmu Politik. Bandung: Dhiwantara, 1964

Badan Eksekutif Indonesia//Cecilia Pingkan

32

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->