P. 1
Resensi Buku Kelir Tanpa Batas Umar Kayam

Resensi Buku Kelir Tanpa Batas Umar Kayam

|Views: 121|Likes:
Buku karangan Umar Kayam ini secara umum berisi tentang seluk-beluk seni pertunjukan wayang yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Wilayah Jawa Tengah, serta Wilayah Jawa Timur.
Buku karangan Umar Kayam ini secara umum berisi tentang seluk-beluk seni pertunjukan wayang yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Wilayah Jawa Tengah, serta Wilayah Jawa Timur.

More info:

Published by: Annas Marzuki Sulaiman on May 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $2.00 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

05/03/2015

$2.00

USD

RESENSI BUKU

KELIR TANPA BATAS
Umar Kayam

Oleh: ANNAS MARZUKI SULAIMAN

BOYOLALI 2011

menyangkut latar belakang kehidupan dalang. kejawan. Untuk mengadakan penelitian. frekuensi pertunjukan dan pakem atau pola dasar pertunjukan. dan manusia Jawa. Wayang kulit merupakan bentuk kesenian Jawa yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan yang tersedia dalam babakan sejaraah panjang manusia Jawa. Wayang kulit sudah melembaga di dalam lapisan masyarakat Jawa. pendidikan. tempat tinggal. Buku ini terdiri dari enam bab. Semula wayang terikat dan patuh pada otoritas teks tertulis dari India. Pada bab satu berupa bab pendahuluan. Setiap Rebo Legi di rumah Anom Suroto selalu diadakan pertunjukan wayang kulit yang bersifat eksperimentasi estetik dengan berbagai penyimpangan dari yang bersifat konvensional. Buku ini juga membahas tentang kehidupan wayang kulit Jawa sekitar tahun 1993-1995. Dengan demikian wayang kulit bersifat lentur dan adaptatif . serta Wilayah Jawa Timur.Judul Buku Penulis Cetakan Penerbit Tempat terbit Jumlah Hal. penulis mewawancarai para dalang dan berdasarkan buku yang sudah ada. Dalang memiliki peranan sosio-religius sebagai aktualisasi dari tertib semesta. Secara tidak langsung dalang terlibat dalam masyarakat nasional dan modern. Mereka memilki orientasi kepada penguasa dan kepada rakyat. Para dalang banyak yang keluar dari pakem dan bersifat responsive terhadap audiens. : KELIR TANPA BATAS : Umar Kayam : 2001 : Gama Media : Yogyakarta : 312 Halaman Buku karangan Umar Kayam ini secara umum berisi tentang seluk-beluk seni pertunjukan wayang yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah Jawa Tengah. isinya uraian dari penulis mengenai kesenian wayang. menjangkau wilayah pedesaan dan melibatkan banyak dalang. menurutnya wayang merupakan hal yang tak terpisahkan dengan Jawa.

. Jumlah dalang sebanyak 1182 orang. Para dalang memiliki Latar belakang pendidikan beragam. Dalang ditempatkan sebagai orang yang mampu among tempat dan among waktu. yaitu logat Surakarta. Menurut penelitian Sears ada empat otoritas dalam wayang kulit. (3) Wilayah Jawa Timur. Pada Bab dua berisi tentang gambaran umum keberadaan kesenian wayang kulit yang tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. SLTA 25 orang dan PT 10 orang. dan Purbo Asmoro dari Pacitan. PT 2. (2) Wilayah Jawa Tengah. Untuk frekuensi pertunjukan. Yogya. Ada juga tari Reog Ponorogo dan wayang topeng Madura. Gaya seni pertunjukan di Yogyakarta berbeda dengan gaya pertunjukan di Surakarta terutama pada kecreknya. Nganjuk dan Mojokerto. dan yang terbanyak dari Pacitan.83%. Daerah Jawa Timur memiliki dialeg khusus Jawa Timuran yang berbeda dengan JawabTengah dan DIY. otororitas teks keraton dan otoritas estetika barat atau otoritas modern. Sedangkan yang berpendidikan SLTP 20.81%. Dari segi kabahasaan. Para dalang yang berasal dari wilayah Nganjuk. SMP 13 orang. Ki Manteb Soedarsono dari Karanganyar. Pada bab tiga dibahasa mengenai permasalahan penggunaan pakem dalam Berbagai Gaya pertunjukan seni wayang kulit. Di situ terdapat 46 kelompok pertunjukan wayang kulit.81% kota wisata.terhadap lingkungan. otoritas teks Islam. Tulungagung. Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya. Di wilayah Surakarta memiliki dalang kondang yaitu Anom Suroto dari Klaten. Yang berpendidikan SD 18 orang. Tulungagung dan Pacitan pertunjukannya berorientasi ke Surakarta.86%.48%. Pesisiran dan JawaTimuran. Dalang yang paling popular di Yogyakarta adalah Ki Timbul Hadiprayitno dari Bantul dan Ki Hadi Sugito dari Kulon Progo. bahasa Jawa memiliki beberapa macam logat. Wilayah Jawa Tengah. yaitu otoritas teks India. Kelompok terbesar berpusat di Surakarta sebagai negara gung. serta Wilayah Jawa Timur dengan uraian sebagai berikut: (1) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Jawa Timur sudah ada teater tradisional Ludrug dan tari Ngremo. seimbang antara yang berpendidikan rendah maupun yang berpendidikan tinggi. Latar pendidikan dalang di Jawa Tengah yang paling dominan adalah pendidikan sekolah dasar yaitu 64. Di Jawa Tengah terdapat 1174 kelompok pertunjukan wayang kulit. kota pendidika dan . SLTA11.

Rentang waktu lebih panjang. Perhatian tersebut membuat wayang kulit terayomi oleh pemerintah. Gaya Yogyakarta. Wayang kulit dapat dikatakan aebagai seni unggulan Orde Baru. tetapi wayang kulit memiliki satu ciri umum yang terletak pada materi cerita dan cara penyajian cerita. Sulukan adalah nyanyian yang menggambarkan suasana perasaan atau keadaan lingkungan yang disampaikan di sela-sela adegan. yaitu pathet nem. yaitu pembagian urutan cerita berdasarkan iringan musik yang disebut pathet. binatang.. .Pertunjukan wayang kulit selalu melibatkan punokawan sebagai representatif ”suara rakyat” di hadapan penguasa.. Surakarta maupun Jawa Timuran. Pertunjukan dilaksanakan dengan dua macam kepentingan yaitu ruwatan dengan lakon tetap yaitu Murwakala. Dalang sebagai komandan jalannya pertunjukan. Wayang kulit gaya Jawa Timuran lebih mementingkan irama dari pada adegan. sedangkan gaya Jawa Timuran jenis mesik kurang bervariasi. kapan gsamelan dibunyikan dan kapan pesinden harus menyanyi. pathet sanga. sehingga sering pentas di istana presiden pada hari-hari penting nasional. Dan tinggi rendahnya kedudukan. Materi cerita dituturkan dalam bentuk permainan boneka yang terbuat dari kulit yang ditatah berbentuk manusia. yang bersifat sakral dan kesempatan lain yang bersifat profane. Permainan ini diiringi gamelan slendro pelog. Adapun perbedaannya dari beberapa gaya tersebut adalah bahwa gaya Yogyakarta lebih baku dari pada gaya Surakarta. alam dan alat tertentu yang dimainkan oleh seorang dalang. untuk gaya Yogyakarta harus ada sedangkan gaya Surakarta tidak harus ada. dilakukan dalang dari gaya Yogyakarta. Untuk gaya Jawa Timuran membaginya menjadi pathet wolu lajeng sedasa. Surakarta dan JawaTimuran memiliki persamaan dalam pembagian babak. pathet sepuluh dados wolu malih. adegan goro-goro. Ginem atau percakapan antar tokoh disesuaikan dengan kasar halusnya tokoh.. dan pathet serang. Walaupun wayang kulit dibedakan masalah gaya. yang diambil dari epos India yaitu Ramayana dan Mahabarata. Perbedaan dengan gaya Jawa Timuran terletak pada jumlah adegan yang lebih sedikit termasuk jumlah perangnya. dengan beberapa penyanyi yang disebut pesinden. Iringan musik gaya Surakarta lebih bervariasi dari pada gaya Yogyakarta. pathet sanga dan pathet manyura.

Pada bab empat berisi pembahasan mengenai tatanan seni pertunjukan wayang kulit yang mulai memudar. dalang Surakarta mengadakan pertunjukan wayang di kediaman Ki Manteb Sudarsono atau di kediaman Ki Anom Suroto. Hal ini mrndorong dalang muda dari Yogyakarta berusaha mempelajari cara pertunjukan gaya Surakarta terutama sabet Manteb Sudarsono. yaitu cara penempatan wayang di batang pisang dan gambaran tingkah laku tokoh dalam bentuk boneka dari kulit. Dalang juga melibatkan penonton untuk berkomunikasi bahkan penonton dapat tampil menyanyi sesuai pilihannya sendiri. Seni pertunjukan wayang Jawa hampir mutlak dapat menjadi apa saja. terutama dalam memainkan kecrek yang lebih kompleks termasuk masalah memegang wayang dan penggunaan sabet. Kesesuaian gerak-gerik wayang dengan sifat wayang disebut udanagara. Mencairnya batas gaya yang memisahkan gaya Yogyakarta. Mereka saling memanfaatkan elemen gaya yang satu dengan yang lain. Dalang Surakarta dapat meniru gaya Yogyakarta dengan mudah tetapi dalang Yogyakarta mengalami kesulitan untuk meniru gaya Surakarta. Klasifikasi penampilan fisik wayang yang tercermin dalam bentuk wayang disebut wanda. bergerak ke mana saja dan dipertalikan dengan segala hal. Surakarta. Ki Timbul Hadipranoto pernah menggelar pertunjukan wayang di RRI Surakarta. Para dalang gaya Surakarta sering menampilkan pesinden dalam pertunjukan wayang dengan tampilan yang cantik dan berseragam .Yang cukup mendasar dari ketiga gaya pertunjukan wayang tersebut. yaitu bahwa adegan tidak dapat dibuka secara sembarangan tetapi harus ada alasan yang kuat bagi dalang untuk memilih adegan awal untuk membuka cerita. Secara rutin (selapan sekali). Ki Manteb Soedarsono dan Ki Anom Suroto mengundang beberapa dalang dari berbagai gaya termasuk dalang gaya Yogyakarta dalam kegiatan pentas wayang di rumahnya yang disrlenggarakan selapan sekali.sesuai watak. Banyu Mas. Sebagai contoh bahwa dalang terkenal dari Yogyakarta. Para dalang banyak yang datang sebagai penonton untuk silaturahmi dan saling belajar. Sabetan adalah tampilan visual wayang atau cara memainkan wayang di kelir. Ginem juga tidak boleh sembarangan. dan Jawa Timuran tidak berdampak mengenai gaya kehidupan wayang. Seorang dalang harus mampu menysuaikan cara pengucapan tokoh. Dalam pertunjukan wayang kulit para dalang sering melibatkan seni pertunjukan yang lain seperti dangdut dan jaipongan.

karena dalang yang merusak pakem cenderung asal baru dan penonton bertepuk tangan. Untuk kemungkinan perhatian lain. Hampir semua dalang memasukkan seni pertunjukan yang lain beserta peralatannya ke dalam pertunjukan. yang tidak bisa dipertukarkan.dengan posisi menghadap dalang agar dapat komunikasi dengan dalang dengan mudah. enthus. Gaya mendalang seperti ini biasa dilakukan oleh dalang gaya Surakarta. pathet sanga dan pathet manyuro yang mempunyai tempat sendiri-sendiri dalam urutan waktu. tetapi kebanyakan mereka menggunakan nama-nama di luar tatanan seperti setan. . edan. Nama-nama dalang pun tidak lagi berkesan tinggi dan berwibawa. Dalang-dalang yang mencairkan aspek seni pewayangan yang dianggap merusak pakem sebenarnya masih mengikat diri pada pakem. slenk. Dengan demikian pencairan pakem sebenarnya merupakan tuntutan zaman dan masyarakat. Hal ini dikritik oleh dalang Yogyakarta karena dianggap merusak pakem. Dalang dituntut untuk tidak sepenuhnya bertahan pada pakem saja melainkan harus berubah sesuai dengan perubahan zaman. para dalang menggunakan bentuk flash back. memudarnya keutuhan cerita. Pertunjukan wayang tidak selalu urut dari pathet nem. Ki Joko Edan memposisikan tokoh wayang semuanya memiliki kesamaan antara raja dan rakyat biasa. Aspek lain dari seni pertunjukan wayang Jawa terutama gaya Surakarta. Para dalang pada umumnya meninggalkan bahasa klise dan menggunakan kosakata yang komunikatif. yang mencair adalah batas yang memisahkan babak atau adegan cerita yang satu dengan yang lain. sehingga mudah dopahami penonton. Dalam perkembangan selanjutnya pesinden boleh berdiri saat menyanyi. musik yang digunakan menyesuaikan kebutuhan. Humor dan kritik sosial muncul di mana-mana. dan melenyapnya beberapa babak atau adegan karena terdesak oleh acara goro-goro yang terlalu panjang. Mencairnya batas-batas yang memisahkan lakon. Ki Enthus memasukkan seni Jaipongan. Peranan gamelan dan musik lain sangat penting untuk menampilkan salah satu lagu. Dengan mencairnya batas kronologis. Banyak dalang Jawa Timuran yang berorientasi pada gaya Surakarta. Walaupun demikian dalang Yogyakarta seperti Ki Sukoco dan Ki Seno Nugroho juga melakukan gaya seperti itu. Ki Joko Edan dan Ki Manteb Sudarsono hampir dalam semua pementasan menggunakan cara ini. Terjadi perang dingin antara dalang yang merusak pakem dengan dalang berpegang teguh pada pakem.

sabar. dalang harus memiliki sikap merakyat. Gendon di ASKI Surakarta mengadakan eksperimentasi pakeliran padat yang tidak mengikatkan diri pada pakem maupun pada gaya tertentu. sehingga penonton menamakannya dengan pakeliran gadogado. Ki Manteb Soedarsono mempopulerkan pakeliran padat ini. Dia banyak belajar dari dalang-dalang senior dan belajar menatah wayang. sehingga tampak hidup. Pakeliran padat berusaha menggunakan waktu seefektif dan seefisien mungkin. Dalang juga harus bisa menghibur penonton. wayang dapat digunakan sebagai alat untuk koreksi pemerintahan. Menurut Abdul Rahman Wahid. Ki Nartosabdo terkenal karena terampil menata dan mencipta lagu/tembang. berwatak pendeta. yang oleh kaum mapan dijuluki dalang mbalelo. Pakeliran padat juga tidak mengikatkan diri pada struktur adegan tradisional. atau beberapa dalam dalam dua kelir atau tiga kelir dalam satu pertunjukan. Muncul pula kecenderungan tenggelam dalam pendekatan kuantititas pertunjukan dengan beberapa dalang yang bukan berlatar belakang dalang. mengabdi kepada penonton. Ki Hadi Sugito dikenal sebagai dalang yang kreatif dalam menciptakan lakon-lakon carangan berbasis Mahabarata. Pada bab lima dibahas mengenai beberapa profil dalang yang cukup dikenal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. dan suko pitutur. Dia tidak mau . sedangkan Anom Suroto terkenak karena suara emasnya. Dalang yang satu ini memiliki kepiawaian memainkan wayang yang luar biasa. Dalam menghadapi perubahan. menampilkan banyak dalang dalam satu pertunjukan. Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan pembagianya sebagai berikut: Daerah Istimewa Yogyakarta terdidiri dari: (1) Ki Hadi Sugito. Mereka meramu dan memvariasikan pakeliran dengan kreasinya masing-masing. Dia termasuk dalang yang berpegang teguh pada pakeliran gaya Yogyakarta yang tidak mau menggunakan campuran Yogya Solo. dan melayani penonton sehingga tidak ditinggalkan penonton. Sehingga Manteb dijuluki sang maestro atau dalang yang paling kuat. Iringan musik disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Bahasa yang digunakan segar dan lucu. Kehebatan sabetannya tidak ada duanya dan tidak bisa ditiru oleh dalang lain.tetapi dalang harus selalu selektif dan tidak tenggelam dalam hedonisme. Jika Ki Manteb terkenal karena sabetnya. Kreasi dalang semakin meluas. (2) Timbul Ki Hadipraitno. Sampai sekarag dia tetap gigih mempertahankan pedalangan gaya Yogyakarta.

serta urutan cerita yang morak-marik. Ki Purba adalah keturunan dalang. pelawak. Dia banyak menciptakan gendhing-gendhing dan tembang. Pertumbuhan kariernya di tunjang oleh keberadaan RRI. Dengan demikian penanggap lebih banyak. Dia belajar mendalang dari beberapa dalang dari luar desanya. Kecantikan para pesinden memberikan kekuatan tersendiri dan menjadi daya tarik pada dirinya. (3) Ki Edi Suwondo. Dia belajar mendalang secara otodidak. Dia bukan keturunan dalang. Dia beranggapan bahwa pertunjukan wayang gaya Surakarta lebih dinamis dan digemari penonton.menerima cara pedalangan hura-hura atau sekedar menghibur. Kalau siang dia ikut Ki Suparman dengan gaya sabetan Ki Manteb Sudarsono. Joko akhirnya bergerak ke arah seni pertunjukan manusia. (5) Ki Sukoco. Walaupun dia dalang yang berasal dari Yogyakarta dia senang memainkan wayang gaya Surakarta. Bintang tamu. Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Dia adalah keturunan dalang. Dia mampu meniru gaya para dalang dan nyaris sama . Dia pun disebut sebagai dalang setan. pemadatan cerita. Dia menggunakan gaya campuran YogyaSolo. (4) Eko Seno Nugroho. dalang gila yang sama sekali tidak mem. Setelah lulus SMP dia ngenger kepada Ki Suridi sebagai penabuh gamelan. dia sudah mulai mendalang. Dia juga sering mendalang di malam hari. Akhirnya dia berpindah sebagai penabuh pada dalang Ki Suparman. Keinginan itu bangkit saat dia melihat pertunjukan Ki Manteb Sudarsono. (2) Ki Mateb Sudarsono. Pesinden yang cantik-cantik boleh nembang dengan berdiri dan dalang ikut menjadi penonton. Sewaktu dia kelas 2 SMKI. dan penggemarnya menyebutnya dalang demit. (3) Ki Joko Hadiwijoyo. pesinden dan niyaga ditampilkan di panggung untuk nembang dan menari. Dia lebih suka memenuhi selera penonton. Dia dijuluki dalang edan. Dia bisa memainkan dua gaya yaitu gaya Yogyakarta dan Surakarta. tetapi menyukai pertunjukan wayang sejak kecil. Dia tergugah hatinya untuk mewayang sejak kecil.pedulikan pakem. (4) Ki Purbo Asmoro. yang membuatnya dia menjadi sangat terkenal. Dari situlah kariernya dikenal masyarakat luas. Untuk wilayah JawaTengah yaitu: (1) Ki Anom Suroto. Ki Manteb mampu membuat wayang dan memiliki kehebatan dalam sabetan yang sulit ditiru oleh dalang lain. dengan begitu pakeliran berhanti sementara. Pernah Sukoco sebagai peran pengganti dalang Ki Suparman yang ayahnya sebagai penabuh di situ. Ki Anom Suroto sering melakukan penyimpangan dalam pemilihan dan pembagian gending.

Dia membuka komunikasi dengan penonton dengan melayani permintasan lagu. Dia mendapat bimbingan dari ayahnya dengan sangat ketat. Dia selalu menyajikan unsur ekstrensik dan gaya hidup anak muda. Untuk meningkatkan kesejahteraan keluargs dan para pendukung pertunjukan dia melakukan penyegaran teknis berupa pengayaan estetika. Di satu sisi memperttahankan identitas nasional. Dia penganut aliran ilmu sejsati. walaupun dia tetap konsisten dengan bobot pedalangan Jawa Timuran. Dia mendapat julukan dalang priyayi..dia banyak berguru kepada Ki Suleman yang sudah kondang. Dia belum tertarik dengan pergelaran dengan berbagai variasi yang dilakukan oleh dalang Jawa Tengahan. Organisasi ini . Dia membantu RRI Surabaya dalam membina seni karawitan dan pedalangan untuk siaran radio. Dia terkenal sebagai pencipta gending. melalui musik non-gamelan. Untuk wilayah Jawa Timur dalang yang cukup dikenal antara lain: (1) Ki Piet Asmoro. Dia pewaris tradisi pedalangan Jawa Timuran. Ki Purbo terkenal karena cenderung mempergelarkan pakeliran padat. Orde baru merupakan rezim yang paradoksal. (2) Ki Suleman. yang kemudian diperluas dalam Pepadi yang meliputi Jawa dan Madura. di sisi lain membuka diri terhadap arus budaya global. (4) Ki Supeno Atmodjo. Dia menjadi dalang yang laris karena dia banyak berguru kepada para dalang senior maupun yunior dan sering latihan bersama para dalang. (5) Ki Bambang S.dengan beberapa aspek pedalangan mereka.. (3) Surwedi. Dia dijuluki dalang Mblebes yaitu bersifat humor maton. (5) Ki Warseno Slenk. Dia sebagai dalang yang melayani anak muda. Seperti Djoko Edan dia juga mengundang penonton untuk nembang di panggung.. Para dalang pada masa orde baru diatur dan dikendalikan oleh pemerintah. Dia sebagai dalang senior yang dianggap pengayom dalang-dalang muda Jawa Timur. Dia adalah adik Anom Suroto. Mengenai dunia pedalangan. Dia berpegang teguh pada tradisi yang selalu membuat sesaji setiap pertunjukan. Dia betul-betul menjaga tradisi pedalangan Jawa Timuran. Namun demikian posisi dalang sebagai sentral tetap dijaga. Untuk itulah dia menggunakan banyak pesinden. Persatuan dalang diwadahi dalam organisasi Ganasidi intuk wilayah Jawa Tengah dan DIY. Dia banyak belajar dari orang tuanya melalui pertunjukannya. Pada bab enam dibahas mengenai Paradoks Orde Baru. Dia nyantrik kepada Ki Sutomo dengan beban yang sangat berat. Dia keturunan dalang.

Dalam buku ini terlihat keterlibatan penulis dalam pagelaran wayang di beberapa daerah. Setiap pernyataan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan secara moral. Di masa orde baru merupakan peluang yang sangat luas bagi seni pertunjukan wayang. wayang sering dipergelarkan dalam acara-acara untuk kepentingan pemerintah. oleh Suwaji Bastomi dalam biografinya dijuluki dalang setan yaitu dalang yang nggegirisi. Penulis melibatkan banyak personal dalam mengadakan penelitian maupun mencari data-data yang diperlukan. yang membuat penonton kedanan wayang. dalang ketek. Setiap pembahasan tak lupa melibatkan pendapat para pakar yang ahli dalam bidang pedalangan atau merujuk buku yang berkaitan dengan pembahasan materi. sedangkan Manteb menyebut dirinya sendiri dalang rusuh. . dan pengaruh glogbslisasi dari asing ysng masuk ke Indonesia. Bahasa yang digunakan mengalir dan mudah dipahami pembaca. Orde baru membentuk tatakehidupan yang feodalis dan sentralistik. Walaupun demikian mereka juga tetap mendalang di daerah. Kulit. Sehingga mereka rela mayang di RRI tanpa dibayar. Penulis banyak mengutip pendapat groenendael untuk memperkuat penelitiannya. Wayang kulit sering dipergelarkan di tempat-tempat terhormat dan penanggapnya adalah pemerintah. Paradoks Orde Baru pada level Makro halaman 231-246. para pejabat dan para hartawan. Pembahasan masalah julukan para dalang terkesan terlalu luas. Dalang yang belum kondong juga ingin dikenal lebih luas. Wariyun menyebut Ki Manteb dengan dalang lucu. Dengan demikian wayang kulit mengalami perubahan kesenian tradisi pedesaan ke kesenian kota. Ki Manteb. karena yang dibacarakan berkisar pada masalah politik dan masalah pertumbuhan ekonomi Negara. Pembedaan gaya dari beberapa dalang disampaikan dengan cermat. dalang edan. khususnya untuk dalang yang sudah kondang.atas inisiatif jendral Surono. dan berani edan-edanan menciptakan wayang. Kekuasan terpusat pada pribadi presiden Suharto yang kemudian mengalir ke jaringan keluarga dan kroninya. Penulis buku ini sangat teliti dan hati-hati dalam menyampaikan hasil penelitiannya. tampak kurang nyambung dengan pembicaraan masalah dalam buku ini. Untuk kepentingan pemerintah. Penelitian masalah kehidupan dalang dilakukan dengan sangat teliti dan sangat detail. Adanya tabel menunjukkan bahwa penulisnya memiliki ketelitian yang bagus.

Guru bahasa Jawa akan semakin luas wawasannya manakala membaca buku ini.Kesimpulan Secara keseluruhan buku ini sangat bagus. . Pembaca bisa memahami tentang seni pedalangan dengan sangat komplit. Buku ini sangat cocok untuk dimasukkan ke perpustakaan perguruan tinggi maupun sekolah menengah.. Bahkan orang awam pun pantas membaca buku ini untuk menambah wawasan. terutama orang Jawa agar tidak tercerabut dari kejawaannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->