Tawuran, Wujud Implementasi Solidaritas Posted on September 29, 2012by f.nugroho setelah berita salah mengenai rohis, kini pemberitaan media kembali menyasar kepada aksi siswa sekolah. kali ini mengenai tawuran yang kembali memakan korban dari sesama pelajar. tidak seperti tawuran yang terjadi sebelumya, kali ini pemberitaan mengenai tawuran begitu gencar hingga berbagai pihak terseret perhatiannya bahkan menteri pendidikan pun sampai turun menemui pelaku pembacokan tawuran. sebenarnya berita tawuran bukanlah berita yang baru bahkan bisa dikatakan berita basi tapi dikemas ulang sehingga terlihat baru. kasus tawuran bukan hanya terjadi di dunia anak sekolah, tapi juga di banyak tempat misal supporter bola, penonton pentas musik, antar warga, dan lain sebagainya. saya bukan pelaku tawuran, tapi sedikit mendengar dari sekitar mengenai fenomena tawuran yang sering terjadi. tawuran bukanlah kejadian spontan tapi sudah menjadi kebutuhan atau bahkan gaya hidup/life style. pernah suatu kali saya berbincang dengan salah seorang supporter bola (tapi kini secara keseluruhan supporter telah berubah), dia mengatakan bahwa nonton bola tanpa tawuran itu tidak asyik. dengan demikian, niat dari nonton bola selain mendukung tim kesayangannya, tapi juga melakukan perlawanan fisik dalam bentuk tawuran. untuk lebih lanjut silakan nonton film “Romeo dan Juliet” versi sepakbola Indonesia. demikian pula kejadian di sekolah, sekolah adalah tempat yang sangat kondusif untuk hidup berkelompok baik kelompok hitam maupun putih. anda pasti sudah paham mengenai kelompok hitam maupun putih, dan tawuran adalah aktivitas yang dilakukan oleh kelompok hitam. kita tidak sedang membicarakan mengenai kelompok putih maupun kelompok abu-abu, tapi khusus kelompok hitam saja. seperti supporter bola, kelompok di sekolah juga memiliki musuh abadi. suatu sekolah akan bermusuhan dengan sekolah lain dan ketika waktunya tiba benturan fisik pun terjadi dan jika perlu pertumpahan darah akan terjadi. jika terjadi salah satu pihak kalah baik dipukul mundur maupun ada korban yang jatuh, kelompok ini akan membalas dendam dengan kejadian serupa. dan demikian seterusnya hingga tidak ada ujungnya. diam bukan berarti berhenti. ibarat bom waktu, ketika waktunya tiba, tawuran pasti akan terjadi. apakah fenomena musuh abadi ini akan berhenti ketika suatu angkatan lulus? tidak sesederhana itu. proses regenerasi terjadi sebagaimana regenerasi siswa sekolah itu sendiri. misal anak junior bergaul dengan senior, mereka akan mewarisi sifat paham dari kakak kelasnya. pewarisan sifat ini tidak dilakukan secara paksa melainkan secara alami. demikian pula ketika ia ada di posisi senior, ia akan mewariskan paham kepada juniornya. demikain selanjutnya hingga bertahun tahun. inilah KESALAHAN FATAL dari pelaku tawuran, mereka tidak mengerti mengapa perang abadi itu terjadi, yang mereka tahu hanyalah SOLIDARITAS harus dijunjung tinggi di antar mereka. kemudian, apakah keikutsertaan mereka dalam ekstrakurikuler akan menghentikan paham mereka? tidak juga. justru ekskul menjadi media mereka untuk melakukan regenerasi. di dalam ekskul ini para senior mengajarkan solidaritas. solidaritas sangat dibutuhkan agar tujuan dari ekskul tercapai. sayangnya solidaritas yang diajarkan dalam ekskul juga melebar menjadi solidaritas di luar ekskul. ketika junior dekat dengan senior, mereka menjadi sangat dekat dan paham-paham dibawa di dalam kelompok menular kepada junior. tapi WAJIB DIINGAT, tidak semua ekskul menjadi sarang “teroris”. dan belum tentu siswa yang ikut ekskul yang di dalamnya banyak terorisnya pasti juga menjadi teroris. semua tergantung dari kekuatan mental dari masing-masing siswa. dan ekskul bukan satu-satunya jalan regenerasi. jadi, JANGAN TAKUT IKUT EKSKUL. SOLIDARITAS adalah kata kunci kehidupan mereka. mereka belum tentu bahkan sangat mungkin tidak tahu apa penyebab mereka ikut dalam perang abadi. pokoknya ketika teman, senior, junior mereka manjadi korban dari lawan, atas nama solidaritas mereka akan turun tangan. sekali lagi, pelaku tawuran, secara kelompok, bukanlah organisasi terbuka yang memiliki susunan kepengurusan dan keanggotaan yang rinci. mereka bukan gerakan bawah tanah tapi mereka bisa saja sewaktu-waktu muncul ke permukaan untuk melanjutkan perang abadi. regenerasi mereka sejalan dan seiring regenerasi siswa sekolah itu sendiri. sistem yang ada di masing-masing sekolah berbeda tapi biasanya tidak jauh dari yang saya sampaikan Fenomena Tawuran Pelajar Di Ibu Kota: Bentuk Anarkisme Dibalik Gerbang Sekolah Satu minggu belakangan ini dunia pendidikan kembali dikejutkan dengan peristiwa tawuran berdarah yang terjadi di kawasan bulungan. Tawuran terjadi antara sma x dan sma y dan mengakibatkan tewasnya salah satu siswa sma akibat tertikam celurit._ Sontak berita ini tersebar di berbagai media atau jaringan sosial dan menimbulkan kontroversi serta pro dan kontra di masyarakat. Aparat hukum pun langsung bertindak dengan menetapkan tersangka penusuk pada tragedi tersebut. Tidak butuh waktu lama, polisi dapat menahan yang bersangkutan dan melanjutkan proses hukum terhadapnya. Tidak hanya aparat hukum yang ikut ambil bagian akibat peristiwa ini, segenap kelompok baik alumni, pengajar, KPAI,_ dan masyarakat umum turut bereaksi. Semuanya berkeinginan untuk mendamaikan kedua belah pihak dan menghentikan tawuran yang seakan sudah menjadi tradisi menyimpang yang sulit untuk dihilangkan. Sungguh disayangkan serangkaian kegiatan tersebut terkesan baru dilakukan setelah jatuhnya korban jiwa. Kegiatan yang dilakukan seakan hanya sebuah reaksi atas peristiwa tersebut. Atau jika tidak ingin dibilang tidak ada aksi, maka bisa dikatakan bahwa aksi pencegahan tersebut gagal, bahkan “dibalas” dengan kematian. Pada dasarnya, tawuran diartikan sebagai bentuk perkelahian kelompok yang bisa terjadi karena berbagai sebab. Pada tawuran pelajar, pengertian ini disempitkan dalam hal pelakunya, yaitu pelakunya itu sendiri. Perbedaan pelaku dalam pengertian tawuran pelajar ini membuat fenomena tersebut memiliki keunikan tersendiri dibandingkan tawuran pada umumnya. Tawuran pelajar umumnya terjadi diantara pelajar yang notabene sebagian besar adalah anak muda berusia dibawah usia 18 tahun. Penyebabnya pun cenderung kekanak-kanakan, misal sentimen almamater. Yang satu merasa lebih superior dibanding yang lain. Atau sekedar saling ejek baik secara langsung maupun melalui media sosial yang berujung pada aksi saling serang di jalan raya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia menggolongkan tawuran pelajar sebagai kenakalan remaja (juvenile deliquency). Sander Diki Zulkarnaen dari KPAI mengatakan dalam tulisannya, secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency)._ Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Satu hal yang perlu dipahami dari fenomena tawuran pelajar adalah bahwa fenomena ini hanyalah gejala dari konflik sosial yang terlihat di lapangan. Artinya, jika dianalisis, konflik itu sendiri sudah dimulai sebelum tawuran itu sendiri terjadi. Konflik inilah yang pada akhirnya menjadi penyebab terjadinya tawuran. Sudah banyak ahli yang memberikan pandangannya mengenai penyebab tawuran. Pendapatnya pun beragam, sebagian menggolongkannya menjadi beberapa faktor yang setidaknya terdiri dari 4 faktor : 1. Faktor internal, pengendalian emosi yang ada pada pelajar itu sendiri. Kecemasan akan permasalahan yang diterimanya membuat pelajar cenderung agresif bahkan anarkis. Kurangnya kemampuan untuk mengontrol emosi yang menggebu-gebu ini diekspresikan dengan perilaku menyimpang, salah satunya tawuran. 2. Faktor Keluarga, orang tua memegang peran penting dalam memberikan pendidikan dini bagi anaknya. Bekal ilmu dasar dalam hal bergaul sangat diperlukan untuk diberikan kepada anak. Sebaliknya, rumah tangga yang penuh kekerasan justru berujung pada perilaku anak yang juga membenarkan tindakan kekerasan tersebut dalam bergaul di lingkungan. 3. Faktor Sekolah, sekolah diharapkan menjadi layer atau penyaring dalam hal kebiasaan atau perilaku menyimpang yang dilakukan oleh remaja. Akan tetapi, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya 4. Faktor lingkungan, pergaulan bebas yang saat ini menjadi ciri khas remaja kota besar turut andil dalam menyebabkan timbulnya tawuran. Misalnya kebiasaan memakai narkoba dan mabuk-mabukan yang dilakukan anak-anak muda. Beberapa orang berpendapat masih ada lagi hal-hal yang menyebabkan terjadinya tawuran. Sebagai contoh, kurangnya figur anti kekerasan. Hal ini juga turut menjadi keprihatinan dimana justru golongan tua atau tokoh masyarakat malah mempertontonkan aksi kekerasan kepada khalayak luas. Kita tidak akan lupa bagaimana sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat diikuti dengan aksi saling jotos, sikut, timpuk, dsb. Seakan tidak ada malunya, para tokoh mempertontonkan aksi yang mencoreng martabat DPR. Atau aksi segenap kelompok yang main hakim sendiri dan bertindak brutal menganiaya kelompok lainnya atas nama agama. Bahkan tokoh agama pun membenarkan aksi kekerasan untuk dilakukan. Maka, bukan suatu hal yang luar biasa jika kita melihat remaja-remaja ibu kota saling tempur membawa senjata tajam saling menghabisi satu sama lain layaknya perang-perang di film-film kolosal produksi Hollywood. Penegakan Hukum Penegakan hukum terhadap pelaku tawuran pelajar memegang peran penting dalam memutus mata rantai fenomena tawuran pelajar ini. Kenekatan atau sifat brutal yang kian menjadi-jadi di kalangan pelajar tentunya tidak bisa dilepaskan dari sistem penegakan hukum itu sendiri. Ada yang perlu dievaluasi dan dibenahi dalam penindakan terhadap para pelaku. Selain itu tetap perlu ada pertimbangan mengenai keunikan dari fenomena itu sendiri dimana pelakunya adalah pelajar yang masih remaja. Artinya, penindakannya pun harus disesuaikan Menurut Prof. Jimmly Assihidiqie, penegakan hukum adalah upaya yang dilakukan untuk menjadikan hukum, baik dalam arti formil yang sempit maupun dalam arti materiel yang luas, sebagai pedoman perilaku dalam setiap perbuatan hukum, baik oleh para subjek hukum yang bersangkutan maupun oleh aparatur penegakan hukum yang resmi diberi tugas dan kewenangan oleh undang-undang untuk menjamin berfungsinya norma-norma hukum yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara._ Pengertian ini tentunya sangat luas, pengertian secara sempit bisa di lakukan dengan mebatasi pada subjek aparatur penegak hukum itu sendiri. Artinya penegakan hukum diartikan sebagai upaya yang dilakukan oleh aparat penegak hukum, seperti polisi, jaksa, dan hakim. Sejauh ini, penindakan terhadap pelaku tawuran masih mengacu pada pasal-pasal yang ada pada KUHP atau undang-undang organik lainnya yang mengatur mengenai tindak pidana kekerasan, pengeroyokan, penganiayaan, dll. Logikanya, tawuran merupakan perbuatan kelompok yang diancam dengan delik kekerasan kelompok atau pengeroyokan sebagaimana diatur dalam pasal 170 KUHP._ Polisi sendiri pada umumnya mengenakan pasal-pasal KUHP pada para pelaku, seperti pasal 170, 351, 338 KUHP. Ini sudah menjadi ciri khas polisi dimana pendekatan yang dilakukan lebih ke arah legal formil. Penindakan dalam bentuk lain bisa dilakukan oleh sekolah dan keluarga si pelaku. Sekolah biasanya melakukan pendekatan disipliner dengan menegakan peraturan internal sekolah. Pada saat ini, kebanyakan sekolah menerapkan sistem poin kepada para siswanya. Pada tahap tertentu, siswa yang terkena poin bisa dikenakan sanksi disiplin atau mengembalikannya kepada orang tua. Masalah terbesar datang dari upaya penanggulangan yang dilakukan oleh kepolisian. Sanksi pidana penjara yang diterapkan kepada pelaku tawuran, dipertanyakan efektifitasnya mengatasi atau mengurangi intensitas tawuran. Terutama di Indonesia, pelaksanaan sanksi pidana terhadap anak-anak juga menghadapi kendala tersendiri. Komnas Perlindungan anak menyatakan bahwa saat ini kondisi Lapas anak (Lembaga Pemasyarakatan Anak) dalam keadaan melebihi kapasitas (over capacity)_ Adi Fahrudin, seorang konsultan hukum, juga menyebutkan bahwa pidana pemenjaraan menimbulkan stigmatisasi dan dehumanisasi bagi anak._ Akibat sebaliknya juga dapat terjadi, dimana pelaku tawuran pelajar yang selesai menjalani hukumannya justru menjadi pahlawan atau “pentolan” di sekolahnya. Hal ini karena proses pemidanaan tak sejalan dengan tujuan pemidanaan di Indonesia. Tujuan pemidanaan yang dianut oleh Undang-undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, tak hanya sekedar keamanan masyarakat (public safety), pembalasan yang adil (retribution and detterence), dan pencegahan kejahatan (crime prevention), namun juga reintegrasi pelaku tindak pidana dalam masyarakat (reintegration of offender into society). Apalagi, dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 dinyatakan bahwa anak-anak mempunyai ciri dan sifat khusus, memerlukan pembinaan dan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial secara utuh, serasi, selaras, dan seimbang._ Oleh karena itu, perlu ada langkah-langkah strategis untuk memberikan alternatif lain dalam penindakan terhadap pelaku tawuran yang lebih cocok dan efektif. Jika bukan dari kita, siapa lagi yang mau peduli. Makalah Fenomena Tawuran Di Indonesia (Maraknya Tawuran Antar Pelajar) Disusun Oleh : Trya Kiromim Baroroh I. PENDAHULUAN Tawuran antar pelajar merupakan fenomena sosial yang sudah dianggap lumrah oleh masyarakat di Indonesia. Bahkan ada sebuah pendapat yang menganggap bahwa tawuran merupakan salah satu kegiatan rutin dari pelajar yang menginjak usia remaja. Tawuran antar pelajar sering terjadi di kota-kota besar yang seharusnya memiliki masyarakat dengan peradaban yang lebih maju. Para pelajar remaja yang sering melakukan aksi tawuran tersebut lebih senang melakukan perkelahian di luar sekolah daripada masuk kelas pada kegiatan belajar mengajar. Tawuran tersebut telah menjadi kegiatan yang turun temurun pada sekolah tersebut. Sehingga tidak heran apabila ada yang berpendapat bahw tawuran sudah membudaya atau sudah menjadi tradisi pada sekolah tertentu. Kerugian yang disebabkan oleh tawuran tidak hanya menimpa korban dari tawuran saja, tetapi juga mengakibatkan kerusakan di tempat mereka melakukan aksi tersebut. Tentunya kebanyakan dari para pelaku tawuran tidak mau bertanggung jawab atas kerusakan yang mereka timbulkan. Biasanya mereka hanya lari setelah puas melakukan tawuran. Akibatnya masyarakat menjadi resah terhadap kegiatan pelajar remaja. Keresahan tersebut sendiri merupakan kerugian dari tawuran yang bersifat psikis. Keresahan ini akan menimbulkan rasa tidak percaya terhadap generasi muda yang seharusnya menjadi agen perubahan bangsa. Dari segi politik, hal tersebut dimanfaatkan oleh para pemegang otoritas untuk melanggengkan status quo-nya. Mereka memanfaatkannya dengan cara membangun opini publik bahwa para pemuda di Indonesia masih balum mampu menduduki otoritas kekuasaan politis di Indonesia. II. PEMBAHASAN Makalah Fenomena Tawuran Di Indonesia 1. Pengertian Tawuran Pelajar Dalam kamus bahasa Indonesia tawuran dapat diartikan sebagai perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang. Sedangkan pelajar adalah adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh orang yang masih dalam proses belajar . Ada juga yang mengartikan Tawuran atau Tubir adalah istilah yang sering digunakan masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota besar sebagai perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Sebab tawuran ada beragam, mulai dari hal sepele sampai hal-hal serius yang menjurus pada tindakan bentrok. 2. Macam - macam Tawuran a. Tawuran di tingkat sekolah Tawuran paling banyak diartikan sebagai perkelahian massal antara dua kubu siswa suatu sekolah. Misalnya tawuran antar SMA XX melawan SMA X yang sering diakibatkan oleh hal-hal sepele, mulai dari saling mengejek, "berebut" siswa/i (contoh kasus: siswa SMA XX sukaterhadap salah satu siswi SMA x yang ternyata sudah merupakan seorang kekasih dari salah seorang siswa SMA X. Maka dengan fakta seperti itu, tawuran sulit dihindarkan), sampai tawuran karena salah satu sekolah memang ingin mengajak tawuran sekolah lain karena hanya ingin bersenang-senang. b. Tawuran di tingkat fakultas Tawuran di tingkat fakultas (kampus) biasanya dilakukan antar mahasiswa kampus itu sendiri, namun berbeda faklutas. Misalnya mahasiswa fakultas XXX mempunyai masalah dengan fakultas lain; maka tawuran biasanya akan terjadi di dalam area universitas/kampus. Sebab tawuran di tingkat fakultas biasanyahampir sama dengan sebab tawuran di tingkat sekolah, namun sudah mencapai tingkat kekerasan yang lebih serius. c. Tawuran antar warga Tawuran antar warga masyarakat biasanya dimulai dengan hal-halsepele, dan juga karena memang kedua kubu masyarakat sudahmenjadi saingan sejak awal 3. Faktor - factor Penyebab Tawuran Ada dua faktor penyebab terjadinya tawuran antar pelajar yaitu factor internal dan faktor eksternal. Yang dimaksud dengan faktor internal disini adalah faktor yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru oleh remaja dalam menanggapi miliu di sekitarnya dan semua pengaruh dari luar. Perilaku merupakan reaksi ketidakmampuan dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan sekitar. Dalam pandangan psikologis, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu (internal), yang sering disebut dengan kepribadian, walau tidak selalu tepat. Sedangkan kondisi di luar (eksternal) adalah factor yang terjadi pada diri individu itu sendiri. a. Faktor internal Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks disini berarti adanya kenekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi,dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat tawuran, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang lain/pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara singkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustasi, memilki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan mamiliki perasaan rendah diri yang kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan . Faktor internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaiakn permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh yang dating dari luar. b. Factor Eksternal  Faktor keluarga. Baik buruknya rumah tangga atau berantakan dan tidaknyasebuah rumah tanggab. perlindungan lebih yang diberikan orang tuac. penolakan orang tua, ada pasangan suami istri yang tidak pernah bisa memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibud. pengaruh buruk dari orang tua, tingkah laku kriminal dantindakan asusila.  Faktor lingkungan sekolah Lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan bisa berupabangunan sekolah yang tidak memenuhi persyaratan, tanpa halaman bermain yang cukup luas, tanpa ruangan olah raga,minimnya fasilitas ruang belajar, jumlah murid di dalam kelas yang terlalu banyak dan padat, ventilasi dan sanitasi yang buruk danlain sebagainya.   Lingkungan-lingkungan sekitar yang tidak selalu baik dan menguntungkan bagi pendidikan dan perkembangan remaja. Dampak Karena Tawuran Pelajar a. Kerugian fisik, pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematian. b. Masyarakat sekitar juga dirugikan. c. Terganggunya proses belajar mengajar. d. Menurunnya moralitas para pelajar. e. Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai. f. Rusaknya sarana prasarana umum, seperti bus, halte dan fasilitas lainnya. Serta fasilitas pribadi seperti kendaraan sendiri.  Peran Guru BK dalam Mengatasi Tawuran Pelajar a. Memberikan pendidikan moral untuk para pelajar. b. Menjadi seorang figur yang baik untuk dicontoh oleh para pelajar. c. Memberikan perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari jati diri. d. Memfasilitasi para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau dilingkungan sekolah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat diwaktu luangnya. Contohnya : membentuk ikatan remaja masjid atau karangtaruna dan membuat acara-acara yang bermanfaat, mewajibkan setiap siswa mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler disekolahnya  Solusi Untuk mengatasi masalah tawuran antar pelajar, di sini penulis akan mengambil dua teori. Yang pertama adalah dari Kartini Kartono. Dia menyebutkan bahwa untuk mengatasi tawuran antar pelajar atau kenakalan remaja pada umumnya adalah: 1. Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun 2. Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat 3. Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remaja Teori yang kedua adalah dari Dryfoos, dia menyebutkan untuk mengatasi tawuran pelajar atau kenakalan remaja pada umumnya harus diadakan program yang meliputi unsur-unsur berikut:      a. Program harus lebih luas cakupannya daripada hanya sekedar berfokus pada kenakalan b. Program harus memiliki komponen-komponen ganda, karena tidakada satu pun komponen yang berdiri sendiri sebagai peluru ajaib yangdapat memerangi kenakalan c. Program harus sudah dimulai sejak awal masa perkembangan anak untuk mencegah masalah belajar dan berperilaku d. Sekolah memainkan peranan penting. e. Upaya-upaya harus diarahkan pada institusional daripada pada perubahan individual, yang menjadi titik berat adalah meningkatkankualitas pendidikan bagi anak-anak yang kurang beruntung  f. Memberi perhatian kepada individu secara intensif dan merancang program unik bagi setiap anak merupakan faktor yang penting dalammenangani anak-anak yang berisiko tinggi untuk menjadi nakal  g. Manfaat yang didapatkan dari suatu program sering kali hilang saat program tersebut dihentikan, oleh karenanya perlu dikembangkan program yang sifatnya berkesinambungan. Kesimpulan Tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh orang yang masih dalam proses belajar. Tetapi macam -macam tawuran ada 3 yaitu : a. Tawuran di tingkat pelajar, b. Tawuran di tingkat universitas, serta c. Tawuran antar warga. Faktor yang menyebabkan tawuran remaja tidaklah hanya datang dari individu siswa itu sendiri. Melainkan juga terjadi karena faktor-faktor lain yang datang dari luar individu, diantaranya faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor lingkungan. Para pelajar yang umumnya masih berusia remaja memiliki kencenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang mana kemungkinan dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, maka inilah peran orangtua dituntut untuk dapat mengarahkan dan mengingatkan anaknya jika sang anak tiba-tiba melakukan kesalahan. Keteladanan seorang guru juga tidak dapat dilepaskan. Guru sebagai pendidik bisa dijadikan instruktur dalam pendidikan kepribadian para siswa agar menjadi insan yang lebih baik. Begitupun dalam mencari teman sepermainan. Sang anak haruslah diberikan pengarahan dari orang dewasa agar mampu memilih teman yang baik. Masyarakat sekitar pun harus bisa membantu para remaja dalam mengembangkan potensinya dengan cara mengakui keberadaanya. Fenomena Tawuran di Jakarta Oleh : May Suhardyanto Premanisme menjalar akut dimana-mana. Seperti tanpa akal sehat dan tak punya hati, dengan sedikit perselisihan, mereka memasang laku premanisme di garda terdepan. Mirisnya, justru ini terjadi di kalangan pelajar, generasi yang seharusnya dipersiapkan untuk melanjutkan dan melestarikan negeri ini. Sementara pertanyaan yang sering dilontarkan adalah “siapa yang seharusnya bertanggung jawab dengan adanya kejadian ini?”. Sayangnya, pertanyaan ini justru bukan berusaha menguraikan masalah. Sebaliknya ini hanya menyudutkan dan tak memberikan solusi apapun bagi kasus ini, yang ada hanya saling menyalahkan dan saling tuduh. Saya mencoba mengajukan satu pertanyaan yang mungkin bisa sangat luas cakupanya “mengapa kejadian tawuran pelajar ini bisa terjadi?”. Fenomena tawuran ini bukan hanya dalam waktu yang singkat, satu atau dua tahun saja. Tapi ini sudah puluhan tahun, bahkan bisa dibilang fenomena tawuran ini merupakan kejadian yang berulang-ulang. Terlepas seberapa besar korban jiwa, berapa banyak yang terlibat dalam tawuran. Yang kita tahu yang terlibat dalam tawuran kebanyakan dari kalangan pelajar. Padahal, mereka adalah harapan bangsa, generasi masa depan yang akan menggantikan generasi tua untuk meneruskan bangsa ini. Tentu bukan hanya satu atau dua orang yang melakukan perkelahian/kekerasan yang dapat dikatakan sebagai tawuran, tetapi perkelahian antar kelompoklah yang dapat dikatakan sebagai tawuran. Banyak tokoh yang mengklasifikasikan”kelompok”. Saya mencoba mengambil dua tokoh, pertama Bierstedt yang mengklasifikasikan kelompok menjadi empat, yakni kelompok statistic, kelompok kemasyarakatan, kelompok sosial, dan kelompok asosiasi. Kedua, W.G Sumner yang membedakan antara in-group/we-group dan out-group/ others-group. Kelompok sosial yang dikatakan oleh Bierstedt dan W.G Summer dapat dicontohkan sebagai kelompok yang terdapat dalam sekolah-sekolah, mereka bukanlah sebuah organisasi. Mereka terbentuk dari kesadaran dan persamaan yang ada diantara mereka, misalkan kesadaraan kesamaan sekolah, kesadaran kesamaan secara ekonomi, gaya hidup dan lain sebagainya. Kesamaan identitas ini menghasilkan kelompok sosial yang didalamnya anggota-anggotanya menganggap dirinya sebagai in-group, tumbuh solidaritas, persahabatan, kerjasama, keteraturan, kedamaian antar anggotanya dan menganggap kelompok lain (out-grups) sebagai saingan/musuh. Intensitas interaksi individu-individu yang terdapat di dalam anggotanya (in-grup) menguatkan tumbuhnya solidaritas, ke-senioritasan diantara mereka,dan menggangap kelompok lain sebagai musuh bersama. Begitupun fenomena tawuran di Jakarta, tidak terlepas dari beberapa kelompok siswa, faktor-faktor tadi dapat dianalogikan pada tawuran yang terjadi antara kelompok siswa SMA 70 dan 06, selain juga secara geografis letak dua sekolah ini memang tidak terlalu jauh sehingga intensitas interaksi antar kelompok siswa 70 dan 06 ini juga salah satu faktor yang menyebabkan seringnya terjadi tawuran antara kelompok yang ada di SMA 70 dan 06,tawuran antara kedua kelompok bukan hanya satu dua kali terjadi tetapi setiap tahunnya terjadi, bisa dibilang ini adalah warisan dari kelompok kelompok seniornya,yang diturunkan ke angkatan berikutnya. Faktor media yang memperlihatkan kekerasan demi kekerasan yang terjadi antar kelompok SMA 70 dan 06 dijakarta ini secara langsung berpengaruh terhadap sekolah sekolah lain, membangkitkan segala permasalah-permasalahan yang selama ini sudah terselesaikan ataupun diredam dari kelompok-kelompok siswa SMA yang ada dijakarta. Terlepas dari berbagai dampak dari kekerasan yang terdapat dalam tawuran ini mulai dari fasilitas umum yang rusak, terganggunya proses belajar, dampak negative yang diterima oleh para pelaku tawuran ini, dan timbulnya korban jiwa, fenomena tawuran ini merupakan permasalahan yang memerlukan perhatian khusus dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga, sekolah itu sendiri, aparutur penegak keamanan, sampai dengan seluruh masyarakat karena jika tawuran ini terjadi secara terus menerus dan melebar terus menerus, ini akan menjadi suatu permasalahan bangsa. Jika watak dan karakter pemuda bangsa terbangun di bawah lingkungan yang kacau dan penuh tawuran. Maka, bukan tidak mungkin negeri ini akan senantiasa kehancuran. FENOMENA TAWURAN PELAJAR BERDASARKAN PERSPEKTIF DIFFERENTIAL ASSOCIATION THEORY Posted on Oktober 9, 2012 | Tinggalkan Komentar FENOMENA TAWURAN PELAJAR BERDASARKAN PERSPEKTIF DIFFERENTIAL ASSOCIATION THEORY I. PENDAHULUAN Tawuran pelajar merupakan salah satu fenomena kenakalan remaja yang sudah dianggap lazim terjadi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Pemandangan beberapa kelompok pelajar saling ejek, saling kejar dan saling serang dengan menggunakan batu, kayu, senjata tajam dan alat-alat lainnya sudah menjadi pemandangan yang “akrab” di mata masyarakat. Pemandangan tersebut mudah ditemui di beberapa tempat tertentu dan dapat beberapa kali terjadi dalam sehari terutama pada jam-jam “bubaran” sekolah. Berita Kompas edisi 29 Juni 1968 telah memuat artikel mengenai tawuran pelajar di Jakarta dengan judul “Bentrokan Peladjar Berdarah” . Meskipun tidak diketahui sejak kapan dimulainya, berdasarkan data yang berhasil dihimpun penulis tersebut, nampak bahwa sejak tahun 1968, fenomena tawuran pelajar sudah terjadi di Indonesia terutama di Jakarta. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak-pihak terkait untuk mencegah, mengantisipasi dan menghilangkannya, namun fenomena tersebut nampaknya terus berlangsung hingga saat ini. Sampai saat ini belum ada data kuantitatif yang jelas tentang jumlah tawuran pelajar. Dari jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Kompas, sebagian besar responden, sekitar 55,9 persen, secara nasional menyatakan bahwa tawuran pelajar makin berkurang, kecuali di Jakarta dan Medan yang mengindikasikan jumlah tawuran pelajar tetap sama bahkan cenderung bertambah . Data Polda Metro Jaya mengklasifikasikan kasus tawuran pelajar sebagai kejadian tawuran warga dan tercatat pada dua tahun terakhir di Jakarta telah terjadi 67 kali tawuran warga. Tahun 2010 telah terjadi 28 kasus dan tahun 2011 dari bulan Januari sampai Agustus telah terjadi 39 kasus . Kejadian tawuran pelajar terakhir yang sempat menggugah kembali positioning khalayak tentang tawuran pelajar adalah bentrokan antara pelajar SMAN 6 Jakarta dengan insan pers. Bentrokan tersebut terjadi pada tanggal 19 September 2011 sebanyak tiga kali di beberapa area di wilayah Jakarta Selatan, diawali di halaman SMAN 6 Jakarta di Jalan Mahakam I Kebayoran Baru Jakarta Selatan dan meluas ke dekat Terminal Blok M dan di depan Kantor Kejaksaan Agung Jakarta. Bentrokan dipicu peristiwa perampasan kaset dan pemukulan terhadap juru kamera Trans7 oleh siswa SMAN 6 Jakarta saat meliput tawuran antara sekelompok pelajar dari SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tawuran pelajar di Jakarta. Upaya-upaya tersebut antara lain: dengan menggabungkan sekolah yang sering tawuran menjadi satu atau memindahkan letak sekolah ke lokasi lainnya untuk memutus permusuhan, namun upaya-upaya tersebut belum menunjukkan dampak sesuai dengan harapan. Kejadian tawuran pelajar SMAN 6 Jakarta dan SMAN 70 Jakarta yang berkembang menjadi bentrokan antara pelajar SMAN 6 dengan insan pers mengindikasikan bahwa konflik tersebut belum sepenuhnya reda. Tawuran pelajar seolah-olah telah menjadi “tradisi” yang tetap lestari, bahkan meluas tidak hanya melawan “sesama” pelajar SMA, tetapi semakin berani mengarah ke pihak-pihak lain. Pada umumnya, tawuran pelajar diamati para peneliti sebagai kenakalan remaja . Para peneliti menyimpulkan bahwa terdapat lima faktor yang menyebabkan terjadinya tawuran pelajar , yaitu: (1) Siswa yang terlibat tawuran pelajar berasal dari keluarga yang tidak harmonis; (2) Siswa yang terlibat tawuran berasal dari sekolah yang berkualitas buruk dan berdisiplin rendah; (3) Siswa yang terlibat tawuran adalah siswa yang tingkat kecerdasan dan prestasi belajarnya rendah; (4) Siswa yang terlibat tawuran adalah pecandu narkoba; dan (5) Siswa yang terlibat tawuran berasal dari keluarga yang tidak mampu. Teori tentang kelima faktor sebagai penyebab tawuran pelajar tersebut telah dipatahkan dengan penelitian oleh pakar kriminologi Muhammad Mustofa dan pakar psikologi Mansoer. Keduanya menyatakan bahwa ketidakberhasilan argumentasi teoritis para peneliti atau pakar sebelumnya karena penelaahannya tidak memperhitungkan tawuran sebagai gejala tingkah laku kelompok yang berbeda dinamika penyimpangannya dengan tingkah laku individu . Menurut mereka, rasa permusuhan yang mendominasi situasi tawuran harus dipahami dalam kerangka dinamika kelompok yang sangat kecil kaitannya dengan karakteristik indiividual anggota kelompok tawuran . Mansoer (1998) membuktikan bahwa siswa yang terlibat tawuran mempunyai hubungan erat dengan orang tuanya, sehingga teori yang menyatakan bahwa siswa yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis menjadi mitos yang salah . Pendapat yang menyatakan sekolah yang berkualitas buruk dan berdisiplin rendah sering terlibat tawuran ternyata juga tidak sepenuhnya benar, sebab kenyataannya ada sekolah yang secara akademis tergolong papan atas keterlibatannya dalam tawuran cukup tinggi . Tawuran pelajar juga tidak dapat dinilai dari berkaitan dengan tingkat kecerdasan dan prestasi belajar. Faktanya, banyak siswa yang cerdas dan berprestasi yang terlibat tawuran, bahkan mereka mempunyai konstribusi dalam mengatur strategi penyerangan maupun penyelamatan diri bagi teman-temannya . Selain itu, tidak terdapat bukti yang kuat bahwa siswa yang terlibat tawuran adalah pecandu narkoba, bahkan untuk melakukan penyerangan dan menyelamatkan diri, seorang siswa harus memiliki kesadaran dan kewaspadaan tinggi serta kondisi fisik yang prima . Selain itu, hasil penelitian Litbang Kompas menunjukkan bahwa tawuran dilakukan sebagai wujud solidaritas pertemanan yang diturunkan oleh senior-seniornya kepada angkatan yang lebih muda . Sebanyak 63,4 persen responden berpendapat bahwa tawuran pelajar diturunkan dari kakak kelas kepada adik-adik kelasnya. Para kakak kelas mengajak, bahkan setengah mengancam adik kelas, agar terlibat tawuran untuk mendukung sekolah. Bukan hanya siswa laki-laki, siswa perempuan pun dilibatkan untuk menyembunyikan berbagai benda untuk tawuran. Hasil penelitian kedua pakar dan Litbang Kompas tersebut sangat menarik. Fenomena tawuran yang selama ini terjadi perlu dipandang bukan sebagai perilaku individual, tetapi harus dipandang sebagai permasalahan unit kolektif yang terlibat. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis menganggap perlu melakukan penelaahan terhadap tawuran pelajar sebagai perilaku kolektif yang seolah-olah telah menjadi tradisi di kalangan pelajar yang melakukan tawuran. Penulis, dalam tulisan ini, bermaksud menganalisa fenomena tawuran pelajar yang marak terjadi di Indonesia khususnya di Jakarta. Analisa tersebut dilakukan dengan menggunakan Differential Association Theory dari Edwin H. Sutherland. Tujuannya adalah agar dapat diketahui faktor-faktor apa yang sebenarnya menyebabkan “tradisi” tawuran di kalangan pelajar tetap terpelihara sampai saat ini sehingga dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait dalam upayanya mencegah, mengantisipasi dan menghilangkan tradisi tawuran pelajar. Untuk itu, permasalahan yang penulis angkat dalam tulisan ini adalah bagaimanakah fenomena tawuran pelajar dilihat dari perspektif Differential Association Theory? II. PEMBAHASAN Teori Differential Association menekankan bahwa semua tingkah laku itu dipelajari, tidak ada yang diturunkan berdasarkan pewarisan orang tua. Tegasnya, pola perilaku jahat tidak diwariskan tapi dipelajari melalui suatu pergaulan yang akrab. Untuk itu, Edwin H. Sutherland kemudian menjelaskan proses terjadinya kejahatan melalui 9 (sembilan) proposisi sebagai berikut : “(1) Criminal behaviour is learned. Negatively, this means that criminal behaviour is not inherited; (2) Criminal behaviour is learned in interaction with other persons in a process of communication. This commu¬nication is verbal in many respects but includes also “the communication of gesture”; (3) The principle part of the learning of criminal behaviour occurs within intimate personal groups. Negatively, this means that the interpersonal agencies of communication, such as movies, and newspaper, plays a relatively unimportant part in the genesis of criminal behaviour; (4) When criminal behaviour is learned, the learning includes (a) techniques of committing the crime, which are sometimes very complicated, sometimes very simple. (b) the specific direction of motives, drives, rationalization and attitudes; (5) The specific direction of motives and drives is learned from definitions of the legal codes as favorable on unfavorable. In some societies and individual is surrounded by persons who inveriably define the legal codes as rules to be observed while in other he is surrounded by person whose definitions are favorable to the violation of legal codes; (6) A person becomes delinquent because of an excess of defini¬tion favorable to violation of law over definitions unfavor¬able to violation of law; (7) Differention Association may vary in frequency, duration, priority and intensity; (8) The process of learning criminal behaviour by association with criminal and anticriminal patterns incloves all of the mechanism that are involved in any other learning; dan (9) While criminal is an expressions of general need and values, it is not explained by those general needs and values since non-criminal behaviour is an expression of the same needs and values.” Tawuran pelajar yang terjadi antara SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta sebenarnya sudah berlangsung lama. Tawuran menjadi hal lumrah antara SMA 70 dengan SMA 6, Bulungan, Jakarta Selatan. Padahal, kedua sekolah itu saling berdekatan, hanya berjarak sekitar 200 meter. Apabila Differential Association Theory dikaitkan dengan fenomena lestarinya “tradisi” tawuran di kalangan pelajar yang marak terjadi, dapat diketahui sebagai berikut: Preposisi I Criminal behaviour is learned. Negatively, this means that criminal behaviour is not inherited. Perilaku tawuran pelajar yang dilakukan oleh seorang siswa merupakan perilaku yang bukan diwariskan atau diturunkan oleh kedua orang tuanya atau sebagai turunan dari gen (seperti teori Lambroso). Perilaku tawuran pelajar merupakan perilaku yang dipelajari (Learning Theory) seperti halnya dikatakan oleh Robert Havighurt bahwa kehidupan adalah belajar begitu pula dengan kejahatan . Belajar tidak hanya sebatas akademis, perilaku merupakan hal yang dipelajari juga baik secara sengaja maupun secara alami. Pelajar yang secara usia merupakan masa pencarian jati diri akan mempelajari semua informasi yang masuk kedalam pikirannya. Apabila pada lingkungannya (sekolah) terdapat suatu tradisi tawuran pelajar, maka hal ini juga merupakan sesuatu yang dapat dipelajarinya baik secara sengaja maupun alamiah karena ia berada pada lingkungan tersebut. Pada lingkungan tersebut, pelajar akan belajar hidup dalam kebersamaan, setia kawan, maupun keorganisasian nonformal (kelompok tawuran). Para pelajar yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam tawuran akan mempelajari pengetahuan dan ketrampilan yang cukup tentang tawuran. Pengetahuan dan ketrampilan tersebut meliputi: tahu siapa yang menjadi lawan dan kawan; tahu dan trampil bagaimana cara melakukan tawuran, antara lain: alat yang digunakan, strategi penyerangan, cara penyelamatan diri, cara membantu kawan, dan lain sebagainya; tahu apa yang akan diperolehnya di mata teman-teman di sekolahnya, seperti: ditakuti, disegani, dianggap setia kawan, dianggap “jagoan”, dan dihargai oleh senior-senior dan teman-temannya; tahu konsekuensi yang akan diterima bila tertangkap polisi; tahu cara menyembunyikan atau menghilangkan barang bukti, dan lain sebagainya. Preposisi 2 Criminal behaviour is learned in interaction with other persons in a process of communication. This commu¬nication is verbal in many respects but includes also “the communication of gesture”. Seluruh pengetahuan mengenai tawuran pelajar dipelajari melalui proses komunikasi dalam interaksinya dengan teman-teman dan senior-senior yang telah memiliki pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan tawuran. Dalam proses komunikasi tersebut terjadi transfer informasi dari pelajar yang senior atau yang sudah berpengalaman kepada pelajar yunior atau yang belum berpengalaman. Komunikasi mereka terjadi dengan intensif di sekolah maupun di luar sekolah. Dalam seminggu, mereka bersekolah selama 6 hari selama rata-rata 5-6 jam per hari, selain itu, kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan juga menambah frekuensi komunikasi yang dilakukan. Jadi, tingginya frekuensi pertemuan mereka mendorong komunikasi mereka menjadi semakin intensif. Preposisi 3 The principle part of the learning of criminal behaviour occurs within intimate personal groups. Negatively, this means that the interpersonal agencies of communication, such as movies, and newspaper, plays a relatively unimportant part in the genesis of criminal behaviour. Tingginya frekuensi pertemuan, intensifnya komunikasi dan tumbuhnya rasa kekeluargaan mendorong timbulnya hubungan personal yang intim diantara pelajar-pelajar di sekolah tersebut. Hubungan pertemanan berkembang menjadi solidaritas kelompok yang kuat dimana mereka merasa senasib sepenanggungan. Mereka akan semakin dekat seperti keluarga dan siap melakukan apa saja untuk membela keluarganya melawan sekolah lainnya sehingga mereka terdorong untuk belajar cara-cara membela diri dan keluarganya apabila menghadapi kelompok lainnya. Hubungan personal yang intim tersebut mempercepat proses transfer informasi di antara pelajar-pelajar dalam kelompok tersebut. Transfer informasi berjalan dengan lancar dan berkembang dengan cepat seiring dengan semakin intimnya hubungan personal mereka sehingga mempercepat dan memperkuat proses pembelajaran yang terjadi dalam kelompok tersebut. Hal ini sangat mendukung terpeliharanya tradisi tawuran di kalangan pelajar tersebut. Preposisi 4 When criminal behaviour is learned, the learning includes (a) techniques of committing the crime, which are sometimes very complicated, sometimes very simple. (b) the specific direction of motives, drives, rationalization and attitudes. Apabila kita melihat siaran televisi yang menyiarkan tawuran pelajar yang terjadi antara SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta, terlihat bahwa tawuran yang terjadi bukan secara spontan. Jelas terlihat bahwa tawuran terjadi secara terencana dengan menggunakan strategi, teknik dan pola-pola yang sudah disusun sebelumnya. Dalam tawuran tersebut, ada seorang pimpinan yang mengatur ritme serangan, kapan saatnya maju dan kapan saatnya mundur serta mengatur pasukannya agar tidak terpecah-pecah pada saat menyerang ataupun bertahan. Kemudian terlihat susunan pasukan yang tertata dimana pasukan yang menggunakan kayu panjang dan rantai berada di posisi depan, sedangkan pasukan yang melempar batu berada di belakang. Walaupun dengan menggunakan strategi sederhana dan tradisional, namun dapat dilihat bahwa tradisi tawuran pelajar ini merupakan suatu perilaku yang perlu dipelajari baik secara teknik, strategi dan polapola yang secara tradisi diturunkan maupun disempurnakan melalui proses komunikasi yang intensif dalam hubungan personal yang intim antara anggota kelompok pelajar tersebut. Keberanian dan sikap nekat para pelajar dalam terlibat dalam tawuran pelajar tersebut menunjukan bahwa terdapat suatu motivasi dan dorongan yang tinggi mengalahkan logika yang ada. Motivasi dan dorongan yang ada dalam suatu kelompok terjadi melalui doktrin-doktrin harga diri menjaga wibawa sekolah, setia kawan antar antar anggota kelompok dan kebersamaan dalam lingkungan kelompok. Agar menjadi terorganisir seperti tayangan tersebut, mereka perlu mempelajari pengetahuan dan ketrampilan baik teknis maupun taktis meliputi: siapa yang menjadi lawan dan kawan; cara melakukan tawuran, antara lain: alat dan sarana yang diperlukan dan digunakan, strategi penyerangan, cara penyelamatan diri, cara membantu kawan, pemahaman peran masing-masing dalam strategi kelompok, dan lain sebagainya; tahu apa yang akan diperolehnya di mata teman-teman di sekolahnya, seperti: ditakuti, disegani, dianggap setia kawan, dianggap “jagoan”, dan dihargai oleh senior-senior dan teman-temannya; konsekuensi yang akan diterima bila tertangkap polisi; tahu cara menyembunyikan atau menghilangkan barang bukti, dan lain sebagainya. Preposisi 5 The specific direction of motives and drives is learned from definitions of the legal codes as favorable on unfavorable. In some societies and individual is surrounded by persons who inveriably define the legal codes as rules to be observed while in other he is surrounded by person whose definitions are favorable to the violation of legal codes. Pelajar dalam usianya dibawah 16 tahun tergolong ke dalam kategori anak, yang diatur dalam UndangUndang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Pengadilan Anak . Perlakukan yuridis terhadap anak berbeda dengan perlakukan yuridis terhadap orang dewasa. Hal ini mengakibatkan aparat penegak hukum lebih mengedepankan pendekatan persuasif dibanding pendekatan yuridis dalam menyelesaikan perkaraperkara tawuran pelajar. Secara umum penyelesaian perkara tawuran pelajar diselesaikan secara mediasi antar sekolah atau kelompok yang terlibat atau pembinaan terhadap pelajar yang terlibat. Sangat jarang pelaku tawuran pelajar yang diproses secara hukum, kecuali ada korban meninggal dunia dalam tawuran tersebut. Selain itu, polisi akan lebih intensif memproses para pelajar apabila terdapat barang bukti antara lain sajam atau senjata api dengan UU Darurat, namun apabila pada diri pelajar tidak ditemukan barang bukti, polisi akan lebih mengedepankan pembinaan terhadap mereka. Lemahnya sanksi hukum sebagai konsekuensi apabila pelajar yang tawuran tertangkap polisi dan adanya peluang tidak diproses apabila tidak ditemukan barang bukti semakin mendorong mereka untuk yakin dan semangat dalam melakukan tawuran. Hal ini mereka pelajari dari kawan-kawannya yang pernah tertangkap atau diproses oleh polisi pada saat atau setelah tawuran. Para pelajar yang pernah tertangkap dan diproses segera membagi informasi dan pengalaman tersebut kepada pelajar-pelajar lainnya sehingga mereka bisa bersama-sama mengantisipasi jeratan-jeratan hukum yang dapat menjeratnya, misalnya: mempergunakan kayu dan gir besi dalam tawuran yang berdasarkan aturan bukan merupakan golongan senjata tajam. Peluang ini yang dimanfaatkan oleh pelajar untuk lebih membesarkan motivasi dan semangat rekanrekannya. Mereka cenderung tetap menjaga dan mempertahankan tradisi tawuran pelajar tersebut karena mereka beranggapan bahwa tindakan mereka masih dalam toleransi pelanggaran hukum dan mudah menghindar dengan menghilangkan atau menyamarkan barang bukti bila ditemukan sehingga rasa ketakutan terhadap sangsi hukum yang akan diterima akibat perilaku tawuran pelajar ini tidak ada atau lemah. Preposisi 6 A person becomes delinquent because of an excess of defini¬tion favorable to violation of law over definitions unfavor¬able to violation of law. Toleransi yuridis terhadap perkara tawuran pelajar menyebabkan pelajar perpandangan bahwa hukum tidak mudah menyentuh mereka. Bahkan pola pembinaan (wajib lapor, membuat surat pernyataan, jalan jongkok, push up dan lainnya) yang dilakukan oleh polisi terhadap pelaku tawuran akan meningkatkan prestisius seorang pelajar di mata pelajar lain karena ada anggapan bahwa apabila seorang pelajar pernah berurusan dengan polisi, ia dianggap lebih jantan, jagoan, berani, semakin berwibawa dan disegani di mata rekan-rekannya. Besarnya dampak yang diperoleh saat melanggar hukum (dipandang jagoan, disegani, dihormati dan berwibawa oleh rekan-rekannya) mengakibatkan pelajar akan cenderung melibatkan diri terhadap tindakan-tindakan yang melanggar hukum agar semakin diakui dalam kelompok tersebut. Hukum dan sangsinya akan semakin dipandang sebagai sesuatu yang harus dilanggar dibanding harus ditaati karena akan berakibat positif terhadap dirinya dalam komunitas dimana ia berada. Preposisi 7 Differention Association may vary in frequency, duration, priority and intensity. Proses pembelajaran yang berlangsung dalam kelompok pelajar pelaku tawuran bukan merupakan proses yang sederhana, namun merupakan proses yang bervariasi dalam frekuensi, durasi, prioritas dan intensitas. Frekuensi, durasi, prioritas dan intensitas dalam komunikasi antarpersonal dalam hubungan yang intim antar pelajar tersebut mempengaruhi berapa banyak transfer informasi yang terjadi dan berapa cepat proses belajar dilakukan. Semakin besar frekuensi, semakin lama durasi, semakin fokus prioritas (melakukan tawuran) yang dituju, dan semakin besar intensitas (kepentingan untuk melakukan tawuran) komunikasi, maka semakin intensif komunikasi dan semakin banyak informasi yang dapat ditranfer dan semakin cepat proses belajar terjadi, demikian pula sebaliknya. Preposisi 8 The process of learning criminal behaviour by association with criminal and anticriminal patterns incloves all of the mechanism that are involved in any other learning. Proses belajar mengenai tawuran pelajar berlangsung selama pelajar berhubungan dan berkomunikasi langsung dengan pelajar senior atau yang telah memiliki pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan dalam melakukan tawuran pelajar. Proses tersebut berlangsung secara terus-menerus secara intensif sehingga pelajar tersebut dapat belajar dengan baik, serta informasi yang dapat diperoleh, diterima dan dimengerti dengan baik oleh pelajar tersebut. Preposisi 9 While criminal is an expressions of general need and values, it is not explained by those general needs and values since non-criminal behaviour is an expression of the same needs and values. Selama proses belajar, pelajar menemukan bahwa tawuran pelajar merupakan cara yang tepat untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Ia menghendaki suatu kondisi dimana teman-temannya dapat menghargai, menghormati, segan dan tunduk kepadanya. Dengan melakukan tawuran, ia dapat memperoleh penghargaan, penghormatan, disegani dan ditakuti oleh teman-temannya tersebut. Dorongan itu menimbulkan hasrat yang besar dari pelajar tersebut untuk memilih melakukan tawuran sehingga angan-angannya tercapai. Ia tidak melihat cara lain untuk mencapai keinginannya, terutama cara-cara yang legal atau tidak melanggar hukum, misalnya berprestasi dalam belajar atau olah raga. Interaksinya dengan para pelaku tawuran menyebabkan tawuran menjadi pilihan yang lebih menjanjikan dan menggiurkan daripada cara- cara lain tersebut. Oleh karena itu, ia lebih memilih tawuran sebagai sarana mencapai tujuan meskipun resiko dan konsekuensi yang mungkin diterimanya cukup besar dan dapat membahayakan dirinya. Berdasarkan pembahasan di atas, selama terjadinya proses belajar dalam interaksi antara pelajar dengan pelajar-pelajar lain telah terjadi suatu transfer budaya dari generasi ke generasi di kalangan pelajar pelaku tawuran. Budaya yang ditransfer adalah budaya tawuran yang merupakan budaya yang berlaku secara umum di lingkungan sekolah tersebut sehingga budaya tersebut dapat tetap lestari dan terjaga dari generasi ke generasi. Hal ini sesuai dengan Teori Cultural Transmission dari penelitian yang dilakukan oleh Clifford R. Shaw dan Henry D. McKay. Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa ada korelasi antara tingkat kejahatan di suatu area dengan kecenderungan orang yang tinggal di area tersebut untuk ikut melakukan kejahatan. Semakin tinggi tingkat kejahatan di suatu area, maka semakin besar kecenderungan orang yang tinggal di lingkungan tersebut untuk melakukan kejahatan. Dan sebaliknya, semakin rendah tingkat kejahatan di suatu area, semakin kecil kecenderungan orang yang tinggal di lingkungan tersebut untuk melakukan kejahatan . Cultural transmission dalam penelitian Clifford R. Shaw dan Henry D. McKay berlaku pula dalam proses belajar mengenai tawuran. Pelajar yang belajar di sekolah yang sering terlibat tawuran akan cenderung lebih mudah untuk terlibat tawuran daripada pelajar yang belajar di sekolah yang tidak terlibat tawuran. Hal ini terjadi karena dalam lingkungan sekolah yang sering terlibat tawuran banyak faktor yang dapat mempengaruhi pelajar untuk memilih tawuran daripada tidak melakukan tawuran. Faktor-faktor tersebut antara lain: a. Mudahnya mereka mengakses pengetahuan mengenai tawuran melalui hubungan antarpersonal dengan teman-teman di sekolahnya; b. Mereka langsung disajikan suatu fakta bahwa dampak melakukan tawuran lebih menguntungkan daripada tidak melakukan tawuran. Mereka dapat lebih dihargai, ditakuti dan disegani oleh teman-teman yang lain sebagaimana teman-teman yang telah melakukan tawuran sebelumnya; c. Mereka dapat mengetahui bahwa resiko melakukan tawuran lebih kecil karena sistem hukum banyak memiliki toleransi dalam menangani tawuran, misalnya: pelaku tawuran tidak akan diproses bila tidak ada korban maupun barang bukti yang diperoleh; dan d. Mereka lebih memilih melakukan tawuran karena merasa bahwa keuntungan yang diterimanya (penghargaan, penghormatan dan pengakuan dari kawan-kawannya) melebihi keuntungan apabila ia menempuh cara lain (berprestasi dalam belajar atau olah raga). III. PENUTUP Berdasarkan pembahasan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa fenomena tawuran pelajar dilihat dari perspektif Differential Association Theory terjadi melalui proses belajar dalam interaksi dengan lingkungan sekolah di mana pelajar tersebut berada. Proses belajar berlangsung secara intensif melalui proses komunikasi yang intensif antar anggota kelompok tersebut sehingga transfer budaya terjadi dan budaya tersebut dapat tetap dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, disarankan bagi pihak terkait perlunya upaya memutuskan mata rantai transfer budaya tawuran dalam lingkungan sekolah sehingga proses tersebut tidak berjalan dengan baik dan tradisi tawuran dapat hilang dengan sendirinya. Pemutusan mata rantai tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi intensitas, durasi, prioritas dan intensitas dalam hubungan interaksi antar individu di sekolah tersebut, misalnya dengan mengatur jadwal masuk kelas antara kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 dengan jadwal masuk pagi dan masuk siang sehingga proses interaksi dan komunikasi tidak berjalan dengan baik.
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful