P. 1
urutan-skripsi

urutan-skripsi

|Views: 2|Likes:
Published by Widdy Armyawan

More info:

Published by: Widdy Armyawan on May 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/30/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi.

Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadangkadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain. Persepsi merupakan respon dari reseptor sensoris terhadap stimulus esksternal ,juga pengenalan dan pemahaman terhadap sensoris yang

diinterpretasikan oleh stimulus yang diterima. Jika diliputi rasa kecemasan yang berat maka kemampuan untuk menilai realita dapat terganggu. Persepsi mengacu pada respon reseptor sensoris terhadap stimulus. Persepsi juga melibatkan kognitif dan pengertian emosional akan objek yang dirasakan. Gangguan persepsi dapat terjadi pada proses sensori penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan pengecapan.

1

Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alcohol dan substansi lingkungan. (Siti Saidah Nasution S.Kp, 2003) Hasil penelitian menyatakan 15 persen dari populasi penduduk di Indonesia terdeteksi mengalami gangguan kesehatan jiwa atau sekitar 34.350.000 jiwa dan persentase itu juga berlaku di semua daerah," kata Gerald, (dalam symposium dan workshop tentang deteksi dini gangguan jiwa khusus para

dokter, yang digelar di Mataram tahun 2008) Diperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2008 berjumlah 229 juta. jiwa. Gangguan jiwa

mengakibatkan bukan saja kerugian ekonomis, material dan tenaga kerja , akan tetapi juga penderitaan yang sukar dapat digambarkan besarnya bagi penderitanya, maupun bagi keluarganya dan orang yang dicintainya, yaitu seperti kegelisahan, kecemasan, keputus-asaan, kekecewaan, kekhawatiran dan

kesedihan yang mendalam.

(www.cpddokter.com).

Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan

2

seseorang atau bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadangkadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain. Halusinasi dapat terjadi pada salah satu dari 5 modalitas sensori utama penglihatan, pendengaran, bau, rasa, dan perabaan persepsi terhadap stimulus eksternal dimana stimulus tersebut sebenarnya tidak ada. (Rowling & Heacock, 1993) Rumah Sakit jiwa Pusat kendari adalah satu-satunya Rumah Sakit Jiwa yang ada di kendari. Berdasarkan data pada tahun 2008 jumlah pasien dengan gangguan jiwa sebanyak 205 orang dengan kriteria laki-laki sebanyak 149 orang (72,68%) perempuan sebanyak 56(27,31%) orang sedangkan jumlah klien halusinasi 70 orang dengan kriteria laki-laki 55 (78,57%) perempuan 15 (21,42%) (sumber buku registrasi ruangan rekam medik). B. Batasan Masalah Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti secara empiris, mengenai Karakteristik penderita halusinasi dirumah

sakit jiwa pusat kendari. C. Rumusan Masalah Halusinasi merupakan keadaan yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan kejiwaaan, halusinasi timbul melalui keadaan seseorang mengalami tekanan atau beban mental yang berat, sehingga berdampak mencenderai diri sendiri dan orang lain berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah

3

dengan pertanyaaan sebagai berikut " bagaimana karakteristik pada penderita halusinasi pendengaran diruang rawat inap RSJ pusat kendari tahun 2009 D. Tujuan penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui karakteristik pada penderita halusinasi pendengaran diruang rawat inap RSJ pusat kendari periode januari – juni tahun 2009 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui gambaran karakteristik pada penderita halusinasi pendengaran berdasarkan usia b. Untuk mengetahui gambaran karakteristik pada penderita halusinasi pendengaran berdasarkan jenis kelamin c. Untuk mengetahui gambaran karakteristik pada penderita halusinasi pendengaran berdasarkan pekerjaan d. Untuk mengetahui gambaran karakteristik pada penderita halusinasi pendengaran berdasarkan pendidikan E. Manfaat Penelitian 1. Bagi institusi kesehatan Diharapkan dapat menambah informasi pada pihak dirumah sakit dalam mengambil kebijakan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dirumah sakit jiwa tersebut

4

Bagi Institusi Akper Pemda Konawe merupakan bahan masukan bagi institusi pendidikan terutama dalam mengetahui dan memahami tentang pasien dengan haluisinasi pendengaran sehingga dapat lebih dipahami. Bagi Peneliti Diharapkan dapat menambah pengetahuan peneliti dalam hal ini bagaimana melaksanakan pelayanan keperawatan terutama dalam menangani klien dengan gangguan halusinasi pendengaran. 4.2. 5. Bagi ilmu pengetahuan Diharapkan dapat menambah informasi yang ada khususnya bagi keperawatan jiwa tersebut dalam menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan halusinasi. 3. Bagi Masyarakat penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi masyarakat khususnya mengenai penyakit gangguan jiwa pada masyarakat terutama yang terkait dengan halusinasi 5 .

Sedangkan rata-rata pasien rawat inap perhari 100 sampai dengan 115 orang. Keadaan Demografi wilayah kerja rumah sakit jiwa pusat kendari meliputi seluruh daerah /kota se provinsi sulawesi tenggraa dengan jumlah penduduk 1. Rumah sakit jiwa No. Lokasi rumah sakit jiwa terletak di jl. rumah sakit jiwa pusat kendari berdiri diatas tanah seluas 140. sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan ranomeeto B. Letak Geografis rumah sakit jiwa pusat kendari adalah rumah sakit jiwa Type B. 6 .BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A.29 kelurahan tobuuha kecamatan mandonga kendari dengan betas –batas wilayah sebagai berikut : a. berdiri secara resmi pada tahun 1986. sebelah timur berbatasan dengan laut banda d. sebelah utara berbatasan dengan kecamatan soropia b.992 M². misi dan budaya kerja yang telah ditetapkan.000 M² dengan luas bangunan 5. dengan status kepemilikan pemerintah daerah.616 jiwa. sebalah barat berbatasdan dengan kecamatan sampara c. Rumah sakit jiwa pusat kendari merupakan pusat rujukan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat dangan sumber daya yang ada sesuai visi.630. Jumlah kunjungan rawat jalan rata-rata perhari adalah 20 sampai dengan 25 orang pengunjung.

sarana gedung a). poliklinik gigi 6. kelas II 4. 7 . Unit rehabilitasi e). jenis pelayanan a). unit laboratorium 7. poliklinik umum 2. poliklinik psioterapi 5. Sarana Dan Prasarana 1. Kantor 1 unit b). unit instalasi farmasi 8. unit rawat jalan 1. Auditorium 1 unit 2. kelas VIP 2. kelas I 3. catatn medik b). poliklinik psikologi 4. Unit rehabilitasi pasien narkoba. UGD Psikiatri d).II. poliklinik psikiatri 3.C.dan III c). Unit rawat inap 1. kelas I.

1987).BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. Menurut Cook dan Fotaine (1987). sedangkan penglihatan. yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan. perabaan halusinasi atau pengecapan). 8 . Pengertian Halusinasi Halusinasi merupakan salah satu gangguan persepsi. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari individu. (1983). Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata. Halusinasi adalah satu persepsi yang salah oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal (Cook & Fontain. gambaran dan pikiran yang sering terjadi tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan (pendengaran. dimana terjadi pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan sensorik (persepsi indra yang salah). Tinjauan Umum Halusinasi 1. penciuman. gangguan menurut Wilson adalah penyerapan/persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik. halusinasi adalah persepsi sensorik tentang suatu objek. Essentials of Mental Health Nursing.

biologis . Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis . Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi. Biasanya kalimat tadi membicarakan 9 . sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung. tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Etiologi Menurut Mary Durant Thomas (1991). psikologis . anti inflamasi dan antibiotik.dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan . Psikopatologi Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. anti kolinergik. kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan. Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi. sosial budaya. Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia. kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik.2. depresi atau keadaan delirium. perubahan sensorik seperti kebutaan. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi. pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping. 3.

Banyak teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik. Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui.Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh.mengenai keadaan pasien sendiri atau yang dialamatkan pada pasien itu. akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. fisiologik dan lain-lain.Bila input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan normal atau patologis. Manifestasi Klinik Tahap I • • Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara 10 .Input ini akan menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar.maka materi-materi yang ada dalam unconsicisus atau preconscius bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi. 4. Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap mendengar atau bicara-bicara sendiri atau bibirnya bergerak-gerak.

ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk Tahap IV • • • Prilaku menyerang teror seperti panik Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk. 11 . pernafasan dan tekanan darah • • Penyempitan kemampuan konsenstrasi Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas Tahap III • Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari pada menolaknya • • • Kesulitan berhubungan dengan orang lain Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik Gejala fisik dari ansietas berat seperti berkeringat.• • • Gerakan mata yang cepat Respon verbal yang lambat Diam dan dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan Tahap II • Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan nadi. tremor.

c. diantaranya : a. Halusinasi penghidu : karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk. biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu. teruatama suara – suara orang. Halusinasi penglihatan : karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya. b. amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah.agitasi.menarik diri atau katatonik • • Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang (www. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.co. Halusinasi pendengaran : karakteristik ditandai dengan mendengar suara. gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks. gambaran geometrik.cc) 5. Biasanya berhubungan dengan stroke.rafani. Kadang – kadang terhidu bau harum. 12 . tumor. kejang dan dementia. urine atau feses. Klasifikasi halusinasi Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik tertentu.

Proses terjadinya halusinasi Halusinasi pendengaran merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi pada klien dengan gangguan jiwa (schizoprenia).d. Tetapi paling sering berupa kata – kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang mempengaruhi tingkah laku klien. sehingga klien menghasilkan respons tertentu seperti : bicara sendiri. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara – suara bising atau mendengung. Bisa juga klien bersikap mendengarkan suara halusinasi tersebut dengan mendengarkan penuh perhatian pada orang lain yang tidak bicara atau pada benda mati. makanan dicerna atau pembentukan urine. Halusinasi pengecap : karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk. e. Halusinasi peraba : karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. psikosa mania depresif dan syndroma otak organik. benda mati atau orang lain. f. Halusinasi pendengaran merupakan suatu tanda mayor dari gangguan schizoprenia dan satu syarat diagnostik minor untuk metankolia involusi. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah. 2007) 6.©2004 Digitized by USU digital library 3 13 . Halusinasi sinestetik : karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri.(Yosep Iyus. bertengkar atau respons lain yang membahayakan. amis dan menjijikkan.

Biologis Gangguan perkembangan dan fungsi otak. 2. Psikologis Keluarga pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respons psikologis klien. daya ingat dan muncul perilaku menarik diri. 3. Faktor Presipitasi 14 . susunan syaraf – syaraf pusat dapat menimbulkan gangguan realita. Gejala yang mungkin timbul adalah : hambatan dalam belajar. berbicara. bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress. Faktor – faktor penyebab halusinasi a. b. Faktor predisposisi 1. sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah : penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.7. konflik sosial budaya (perang. kerusuhan. Sosial budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti : kemiskinan.

Tahap-tahap tampilan klien perilaku yang diperlihatkan adalah : Tahap I Memberi rasa nyaman tingkat ansietas sedang secara umum. tertawa sendiri Menggerakkan bibir tanpa suara Pergerakkan mata yang cepat Respon verbal yang lambat Diam dan berkonsentrasi Tahap II Menyalahkan 15 . kesepian. perasaan tidak berguna. Mengalami ansietas.Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan. isolasi. nonpsikotik. rasa bersalah dan ketakutan. putus asa dan tidak berdaya. tekanan. halusinasi merupakan suatu kesenangan. Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas Fikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontrol kesadaran. Tersenyum.

pernafasan dan tekanan darah Perhatian dengan lingkungan berkurang Konsentrasi terhadap pengalaman sensori kerja Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dengan realitas Tahap III Mengontrol Tingkat kecemasan berat Pengalaman halusinasi tidak dapat ditolak lagi Klien menyerah dan menerima pengalaman sensori (halusinasi) Isi halusinasi menjadi atraktif Kesepian bila pengalaman sensori berakhir psikotik Perintah halusinasi ditaati Sulit berhubungan dengan orang lain Perhatian terhadap lingkungan berkurang hanya beberapa detik 16 .- Tingkat kecemasan berat secara umum halusinasi menyebabkan perasaan antipati - Pengalaman sensori menakutkan Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut Mulai merasa kehilangan kontrol Menarik diri dari orang lain non psikotik Terjadi peningkatan denyut jantung.

bisa berlangsung dalam beberapa jam atau hari apabila tidak ada intervensi terapeutik.- Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat. suara – suara biasanya berasal dari Tuhan. Halusinasi ini menghasilkan tindakan/perilaku pada klien seperti yang telah diuraikan tersebut di atas (tingkat halusinasi. Perilaku panik Resiko tinggi mencederai Agitasi atau kataton Tidak mampu berespon terhadap lingkungan Hubungan Skhizoprenia dengan halusinasi Halusinasi pendengaran adalah paling utama pada skizoprenia. setan. karakteristik dan perilaku yang dapat diamati Pengobatan harus secepat mungkin harus diberikan. tiruan atau relatif. tremor dan berkeringat Tahap IV Klien sudah dikuasai oleh halusinasi Klien panik Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti perintah halusinasi. disini peran keluarga sangat penting karena setelah mendapatkan perawatan di BPK RSJ Propinsi Bali dan klien dinyatakan boleh pulang sehingga 17 .

b Neuroleptika dengan dosis efektif tinggi bermanfaat pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat.1 Farmakoterapi . hasilnya lebih banyak jika mulai diberi dalam dua tahun penyakit.2 Terapi kejang listrik Terapi kejang listrik adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang grandmall secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang pada satu atau dua temples.a Pengobatan harus secepat mungkin harus diberikan. menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif dan sebagai pengawas minum obat (Maramis.2004) 8.2004) . disini peran keluarga sangat penting karena setelah mendapatkan perawatan di RSJ klien dinyatakan boleh pulang sehingga keluarga mempunyai peranan yang sangat penting didalam hal merawat klien. terapi 18 . Penatalaksanaan Medis .keluarga mempunyai peranan yang sangat penting didalam hal merawat klien.a Neuroleptika dengan dosis efektif bermanfaat pada penderita skizoprenia yang menahun. . . menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif dan sebagai pengawas minum obat (Maramis.

Maksudnya supaya klien tidak mengasingkan diri karena dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik. Therapy musik Focus : mendengar. Yaitu menikmati dengan relaksasi musik yang disukai klien. klien lain. . selain itu terapi kerja sangat baik untuk mendorong klien bergaul dengan orang lain. 2. Therapy seni Focus : untuk mengekspresikan perasaan melalui berbagai pekerjaan seni.3 Psikoterapi dan Rehabilitasi Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat membantu karena berhubungan dengan praktis dengan maksud mempersiapkan klien kembali ke masyarakat. dosis terapi kejang listrik 4-5 joule/detik. perawat dan dokter.a Therapy aktivitas 1. seperti therapy modalitas yang terdiri dari : . Therapy menari 19 . bernyanyi.memainkan alat musik. dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan bersama.kejang listrik dapat diberikan pada skizoprenia yang tidak mempan dengan terapi neuroleptika oral atau injeksi. 3.

Focus pada : ekspresi perasaan melalui gerakan tubuh 4. . meningkatkan partisipasi dan kesenangan klien dalam kehidupan. Tinjauan umum tentang karaketristik penderita halusinasi 1. Therapy group (kelompok terapiutik) 2. Therapy relaksasi Belajar dan praktek relaksasi dalam kelompok Rasional : untuk koping / prilaku mal adaptif / deskriptif. usia bayi group activity therapy (therapy aktivitas 20 .b Therapy sosial Klien belajar bersosialisasi dengan klien lain .com) B. Usia Usia disini dimaksud adalah masa pada keadaan tertentu yang dapat mendukung terjadinya gangguan jiwa antara lain : a. Adjunctive kelompok) .c Therapy kelompok Group therapy (therapy kelompok) 1.blogskripsiperawat.d Therapy lingkungan Suasana rumah sakit dibuat seperti suasana di dalam keluarga (home like atmosphere) (www.

Cara memberi makanan Sebaiknya dilakukan dengan tenang. terbuka dan bersahabat. sebaliknya. yang mendalam atau ringan. pemberian yang kaku. dasar perkembangan yang dibentuk pada masa tersebut adalah sosialisasi dan pada masa ini timbul dua masalah yang penting yaitu : cara mengasuh bayi cinta dan kasih sayang ibu akan memberikan rasa hangat aman/ bagi bayi dan dikemudian hari menyebabkan kepribadian yang hangat. Sebaliknya.anak penolakan orang orang tua pada masa ini. akan menimbulkan rasa tidak aman dan ia akan mengembangkan cara menolak dan menentang terhadap 21 . hangat yang akan memberi rasa aman dan dilindungi. sikap ibu yang dingin acuh tak acuh bahkan menolak dan dikemudian hari akan berkembang kepribadian yang bersifat lingkungan. b.Yang dimaksud masa adalah menjelang usia 2-3 tahun. hal-hal yang penting pada fase ini adalah : hubungan orang tua. Usia prasekolah ( antara 2-7 tahun) Pada usia ini sosialisasi mulai dijalankan dan telah tumbuh displin dan otoritas. keras dan tergesa-gesa akan menimbulkan rasa cemas dan tekanan.

diberikan dengan cara yang baik. tegas. pertengkaran dan keributan membingungkan dan menimbulkan rasa cemas serta rasa tidak aman. Anak tidak mendapat kasih sayang. Sebaliknya disiplin yang tidak tegas secara mental. menyebabkan anak akan melawan memberontak atau menuntut berlebihan. Otoritas dan disiplin Disiplin diberikan sesuai dengan kemampuan dan tingkat kematangan anak. Tidak dapat menghayati displin tidak ada panutan. mengakibatkan kepribadian si anak tidak berkembang secara wajar ketika dewasa memiliki kepribadian yang mantap. dia mungkin menurut. Perkawinan tidak harmonis dan kehancuran rumah tangga. sehingga anak menerima sebagai hal yang wajar. Perlindungan yang berlebihan Menunukkan anak atau memaksakan kehendak/mengatur dalam segala hal. menarik diri atau malah menentang dan memberontak. latihan diri sendiri dan akibatnya kurang berhasil sebagai 22 . Disiplin yang diluar kemampuan sianak . dipaksakan dengan cara yang keras kaku.penyerahan penyesuaian yang salah. dan konsisten. Hal tersebut merupakan dasar yang kuat untuk timbulnya tuntutan tingkah laku dan gangguan kepribadian pada anak dikemudian. cenderung mementingkan orangtua.

keras kepala kesempurnaan (perfeksionios). rasa tidak aman dan kemudian hari mungkin menjadi nakal. Agresi dan permusuhan Merupakan hal yang wajar seorang anak akan mengembangkan polapola yang berguna.keras. Perkembangan seksual Pendekatan yang sehat. Reaksi orang tua yang menyebabkan anak menganggap seks adalah tabu. dan selalu ingin 23 . Pengawasan yang berlebihan. terus terang wajar dan obyektif terhadap masalah seksual pada anak akan mengembangkan sikap positif. akan menyebabkan rasa cemas. Sedangkan sikap yang longgar akan menyebabkan anak menjadi nakal dan terbiasa dengan perbuatanperbuatan yang mengganggu ketertiban. kesediaan untuk memberi jawaban secara jelas. memalukan dan sebagainya akan merupakan awal kesulitan seksual dikemudian hari. sehingga timbul tingkah laku mengganggu. menjijikan. menyebabkan anak akan mengekang. Agresi dan permusuhan yang diterima anak akan menyebabkan sikap defend dan mau menang sendiri. Hubungan kakak – adik Persaingan yang sehat antara adik-kakak merupakan hal yang wajar dan menjadi dasar untuk tumbuh dan berkembang secara baik.

lingkungan atau suasan saat itu) apakah mendukung atau mendorong dan tergantung pada pengalamannya dalam menghadapi masalah tersebut. kecelakaan. prasangka. kompensasi berlebihan. kekecewaan yang berlarut-larut dan sebagainya. Pada masa ini. Pada masa ini. sakit perut. Kekecewaan dan pengalaman yang menyakitkan Kematian. Egosentrik 24 . c. perpindahan yang mendadak. pada masa ini terjadi perubahan-perubahan yang penting yaitu timbulnya tanda-tanda sekunder (ciri-ciri diri kewanitaan atau kelaki-lakian) sedang secara kejiwaan. sedang dilain pihak belum sanggup dan belum ingin menerima tanggung jawab atas semua perbuatannya. pada masa ini pterjadi pergolakan yang hebat. Usia remaja Secara jasmaniah. seorang remaja mulai (hak-hak seperti orang dewasa). akan mempengaruhi perkembangan kepribadian.Persaingan yang tidak sehat dan berlebihan (pilih kasih. menghukum tanpa meneliti. anak mulai memperluas lingkungan pergaulannya. Usia anak sekolah Masa ini tandai oleh pertumbuhan jasmaniah dan intelektual yang pesat. Keluar dari batas-batas kelurga d. perceraian. tapi juga tergantung pada keadaan sekitarnya (orang. dan sebagainya) akan merupakan dasar terbentuknya sifat-sifat yang merugikan.

ketidak sanggupan mempunyai anak. idealis adalah sifat-sifat yang sering terlihat. beberapa faktor yang mungkin menyulitkan suatu perkawinan : o perasaan takut yang bersalah mengenai perkawinan dan kehamilan o perasaan takut untuk berperan sebagai orang tua. Usia dewasa muda Seorang yang melalui masa-masa sebelumnya dengan aman dan bahagia akan cukup memiliki kesanggupan dan kepercayaan diri dan umunya ia akan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan pada masa ini. senang berkelompok. masa ini dimulai dari masa pancaran. Suatu lingkungan yang baik dan penuh pengertian akan sangat membantu proses kematangan kepribadian di usia remaja. Masalah-masalah yang penting pada masa ini adalah : 1. hubungan dengan lawan jenis. Sebaliknya yang mengalami banyak gangguan pada masa sebelumnya. bila mengalami masalah pada masa ini mungkin akan mengalami gangguangangguan jiwa. e. Menikah dan menjadi 2. o Perbedaan harapan akan berperan masing-masing (tak ada penyesuaian baru dalam tingkah laku/berpikir) o Masalah-masalah keuangan 25 .bersifat menentang terhadap otoritas.

Persaan terasing karena kehilangan 26 . kesedihan yang mendalam disertai kegelisahan hebat dan mungkin usaha bunuh diri.o Pemilihan dan penyesuaian pekerjaan. masa ini dicapai apabila status pekerjaan dan sosial seseorang sudah mantap. - Penurunan fungsi seksual dan reproduksi Sebagian orang berpendapat perubahan ini sebagai masalah ringan seperti rendah diri dan pesimis. f. Usia dewasa tua Sebagai patokan. g. - Terbatasnya kemungkinan perubahan-perubahan yang baru dalam bidang pekerjaan atau perbaikan kesalahan yang lalu. Masalah-masalah yang mungkin timbul : - menurunnya keadaan jasmaniah perubahan susunan keluarga (anak yang mulai berumah tangga atau bekerja ) maka orang tua sering kesepian. Keluhan psikomatik sampai berat seperti murung. daya ingat. berkurangnya daya belajar. kemampuan jasmaniah dan kemampuan sosial ekonomi menimbulkan rasa cemas dan rasa tidak aman serta sering mengakibatkan kesalah pahaman orangtua terhadap orang dilingkungannya. Usia tua Ada dua hal yang penting yang perlu diperhatikan masa ini berkurangnya daya tanggap.

2007) Didalam mendapatkan laporan umur atau usia pada masyarakat pedesaan yang masih banyak didapatkan buta huruf. 27 . Hal ini antara lain disebabkan perbedaan pekerjaan. sedangkan angka kematian lebih tinggi pada pria. genetika atau kondisi fisiologis. Angka-angka diluar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi dikalangan perempuan. 2003). Untuk mempelajari penyakit anak (Budiarto. Hal tersebut menggambarkan adanya perbedaan tingkat kejadian suatu penyakit pada masing-masing jenis kelamin laki-laki dan perempuan demikian pula dalam hal penyakit kejiwaan . 2003). Untuk keperluan perbandingan maka WHO mengajurkan pembagian pembagian umur sebagai berikut: Menurut tingkat kedewasaan yakni bayi dan anak-anak (0-14 tahun) Intervel 5 tahun yakni 1-4 dan 5-9 dan seterusnya. dapat menimbulkan kesulitan emosional cukup hebat (Yosep Iyus.teman sebaya. kebiasaan hidup. Jenis Kelamin Secara umum setiap penyakit dapat menyerang manusia baik laki-laki maupun perempuan. keterbatasan gerak. 2. Sebab-sebab adanya angka kematian yang lebih tinggi dikalangan wanita. Eko. Di Amerika Serikat dihubungankan dengan kemungkinan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari perawatan (Budiarto. Eko. Tetapi pada beberapa penyakit terdapat perbedaan frekuensi antara laki-laki dan perempuan.

Suatu penelitian dikalangan karyawan amerika yang tergolong white collar employees. misalnya pekerjaan terlalu banyak. Banyak orang menderita depresi dan kecemasan karena masalah pekerjaan ini.3. timbul bermacam keluhan jasmani (sering sakit) sering mengalami kecelakaan dalam pekerjaan dan terlihat ketegangan-ketegangan dalam keluarga karena jadi pemarah dan mudah tersinggung. Pekerjaan Masalah pekerjaan merupakan sumber stress yang kedua setelah masa perkawinan. kenaikan pangkat. pensiun kehilangan pekerjaan (PHK). jabatan. sering bolos. Pekerjaan sebaiknya dipilih berdasarkan bakat dan minat sendiri. mutasi. pekerjaan tidak cocok. Dalam suatu 28 . Mereka menunjukkan berbagai kelainan yang dapat dikelompokkan dalam impaiment of behavior atau emotional disturbances. 2007). pemilihan yang semata-semata dipaksa /disuruh/kompensasi atau karena “kesempatan dan kemudahan” sering mempermudah gangguan penyesuaian dalam pekerjaan. Menyebutkan bahwa 44% dari mereka termasuk yang dibebani pekerjaan yang terlampau berat (over load). Gangguan berupa rasa malas. Dalam pada itu para pemimpin perusahaan dikejutkan oleh besranya ongkos yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan / perawatan dan kehilangan jam kerja. (Yosep Iyus. dan lain sebagainya. Kebanyakan pekerjaan dengan waktu yang sangat sempit ditambah lagi dengan tuntutan yang harus serba cepat dan tepat membuat orang hidup dalam keadaan ketegangan (stress).

4. Hal ini lambat laun mambahayakan kesehatan individu yang bersangkutan . setiap manusia mempunyai potensi yang mengembangkan pikiran. Sumber stress terpenting bukanlah hakikat kehilangan pekerjaan itu sendiri tetapi lebih bersifat perubahan-perubahan domesti psikologis yang berjalan secara perlahan-lahan. Pendidikan Perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor dari dalam dirinya dan diluar faktor dalam diri meliputi semua potensi individu sejak lahir .penelitian nasional yang dilakukan. Melalui pendidikan diharapkan terbentuk kepribadian seseorang yang boleh dikatakan hampir semua kelakuan individu dipengaruhi dan pada orang lain (Nasution 1995) Menurut Tirtaraharja (2000). Pengangguran membawa pengaruh bagi kesehatan jiwa. pendidikan dapat diklasifikasikan dalam 3 bentuk yaitu : 1. sehingga ditinjau dari potensi pendidikan mempunyai tugas untuk mengaktualisasikan potensi tersebut. Pendidikan formal ( lingkungan sekolah ) 29 . perasaan segi sosial bakat dan minat dalam potensi ini akan tetep terpendam jika tidak dikembangkan melalui pendidikan. dikemukakan bahwa kerugian dari sektor ini saja diperkirakan meliputu jimlah antara 50 hingga sampai 75 miliar dollar setahunnya. Hal ini berati lebih dari 750 dollar amerika untuk siap rata-rata karyawan amerika.

Pendidikan Informal (lingkungan keluarga) didalam lingkungan keluarga anak dilatih bertbagai kebiasaan yang baik (habit information) tentang hal-hal yang berhubungan dengan kecekatan. Sistem pendidikan non formal mengalami perkembangan yang sangat pesat. keterampilan dan sikap.dilingkungan sekolah. kesopanan dan moral. 2. Bekal dimaksud baik berupa bekal dasar lanjutan (dari SD dan sekolah lanjutan) ataupun bekal kerja yang langsung dapat digunakan secara aplikatif (sekolah menengah kejuruan dan perguruan tinggi). pendidikan non formal (lingkungan masyarakat) dilingkungan masyarakat. Hal ini bertalian erat 30 . kepada mereka ditanamkan keyakinan-keyakinan yang penting utamnya hal-hal yang bersifat religius. peserta didik untuk memeperluas bekal yang telah diperoleh dari lingkungan kerja keluarganya berupa pengetahuan. Pada masyarakat kita (sebagai masyarakat yang sedang berkembang). Disamping itu. Hal-hal tersebut sangat tepat dilakukan pada masa kanak-kanak sebelum perkembangannya rasio mendominasi perilakunya. peserta didik memperoleh bekal praktis untuk berbagai jenis pekerjaan khususnya mereka yang tidak sempat melanjutkan proses belajarnya melalui jalur formal. Kedua macam bekal tersebut dipersaipkan secara formal dan berguna sebagai sarana penunjang pembangunan diberbagai bidang. Kebiasaan baik dan dan keyakinan-keyakian penting yang mendarah dading merupakan landasan yang sangat diperlukan untuk pembangunan 3.

sikap atau keterampilan namun demikian perubahan sikap dan pengetahuan ini belum tentu merupakan jaminan terjadinya perubahan perilaku sebab perilaku baru tersebut kadang-kadang memerlukan dukungan materil misalnya seorang ibu memerlukan uang untuk dapat mengelola dan memberikan makanan yang bergizi pada anakanaknya (Notoatmodjo. pendidikan orang dewasa apapun isi tingkatan serta metodenya baik formal maupun informal merupakan lanjutan atau pengganti pendidian disekolah ataupun diluar sekolah hasil pendidikan orang dewasa adalah perubahan atau adanya perubahan kemampuan . Menurut Unesco yang dikutip oleh lunardi. selanjutnya perubahan perilaku didasari oleh adanya perubahan penambahan pengetahuan. 2003) 31 . menengah dan tinggi. hal tersebut dapat diartikan bernilai positif karena dapat mengkonpensasikan keterbatasan lapangan kerja formal dilembaga-lembaga pemerintah. Hal demikian dapat dipandang sebagai upaya untuk menciptakan kestabilan nasional. Disamping itu juga dapat memperbesar jumlah angka kerja tingkat dan menengah yang sangat diperlukan untuk memelihara proporsi yang selaras antara pekerja rendah. penampilan atau perilaku. Disegi lain.dengan semakin berkembangnya sektor swasta yang menunjang pembangunan.

Hal ini antara lain disebabkan perbedaan pekerjaan. misalnya pekerjaan terlalu banyak. Usia disini dimaksud adalah masa pada keadaan tertentu yang dapat mendukung terjadinya gangguan jiwa Secara umum setiap penyakit dapat menyerang manusia baik laki-laki maupun perempuan. pensiun kehilangan pekerjaan (PHK). Bisa juga klien bersikap mendengarkan suara halusinasi tersebut dengan mendengarkan penuh perhatian pada orang lain yang tidak bicara atau pada benda mati. kebiasaan hidup. pekerjaan tidak cocok.BAB IV KERANGKA KONSEP A. bertengkar atau respons lain yang membahayakan. Konsep Pemikiran Variabel Yang di Teliti Halusinasi pendengaran merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi pada klien dengan gangguan jiwa (schizoprenia). Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara – suara bising atau mendengung. mutasi. dan lain 32 . jabatan. Tetapi paling sering berupa kata – kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang mempengaruhi tingkah laku klien. genetika atau kondisi fisiologis Masalah pekerjaan merupakan sumber stress yang kedua setelah masa perkawinan. kenaikan pangkat. Banyak orang menderita depresi dan kecemasan karena masalah pekerjaan ini. sehingga klien menghasilkan respons tertentu seperti : bicara sendiri. Tetapi pada beberapa penyakit terdapat perbedaan frekuensi antara laki-laki dan perempuan.

setiap manusia mempunyai potensi yang mengembangkan pikiran. sehingga ditinjau dari potensi pendidikan mempunyai tugas untuk mengaktualisasikan potensi tersebut.Perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor dari dalam dirinya dan diluar faktor dalm diri meliputi semua potensi individu sejak lahir . Melalui pendidikan diharapkan terbentuk kepribadian seseorang yang boleh dikatakan hampir semua kelakuan individu dipengeruhi dan pada orang lain sebagainya. B. Bagan Variabel yang Diteliti dan tidak diteliti Usia Jenis kelamin Pekerjaan Halusinasi Pendengaran Pendidikan Ekonomi Lingkungan Keterangan : : Variabel yang diteliti : Varaibel yang tidak diteliti 33 . perasaan segi sosial bakat dan minat dalam potensi ini akan tetep terpendam jika tidak dikembangkan melalui pendidikan.

Jenis Kelamin Jenis kelamin adalah pengelompokkan jenis kelamin yang dibedakan atas laki-laki dan perempuan Kriteria obyektif : 1 2 = Laki-laki = Perempuan 34 . Definisi operasional dan kriteria obyektif 1. Halusinasi Pendengaran Halusinasi adalah gangguan penyerapan/persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik 2. Usia Usia adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir sampai kunjungan pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo. 2003) Kriteria Obyektif : 0-15 tahun 15-24 tahun 25-44 tahun 45-64 tahun > 65 tahun 3.C.

4. 2004) Kriteria Obyektif : Bekerja : apabila pasien memiliki pekerjaan profesi yang pernah di tekuni Tidak bekerja: apabila pasien tidak memiliki pekerjaan 5. Pendidikan pendidikan adalah suatu ilmu merupakan sumber pengetahuan dari seseorang yang dicapai secara berjenjang dalam bentuk formal (Simonguntong. SMU : Diploma. Pekerjaan Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan secara rutin dalam kehidupan sehari-hari (Simonguntong. 2004) Kriteria Obyektif : Pendidikan Rendah Pendidikan menengah Pendidikan Tinggi : Tidak Sekolah. SD : SMP. perguruan tinggi 35 .

Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien halusinasi periode Januari-Juni 2009 di RSJ pusat kendari yang berjumlah 60 pasien. Sampel Sampel adalah seluruh pasien halusinasi pendengaran di ruang rawat inap RSJ pusat kendari Periode Januari . jenis kelamin.BAB V METODE PENELITIAN A. B. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan survey yang bertujuan untuk mengetahui kejadian halusinasi berdasarkan Usia. 1. 2. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan mulai tanggal 16 . 2008) Populasi dan Sampel 36 .Juni Tahun 2009 yang berjumlah 56 Teknik sampel dalam peneltian ini adalah purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampling berdasarkan ciri-ciri atau sifat tertentu dari populasi (azis Alimul H. pendidikan dan pekerjaan.31 Oktober tahun 2009 di RSJ pusat kendari C.

data sekunder yaitu data yang diperoleh dari tempat penelitian yaitu data jumlah penderita halusinasi pendengaran RSJ pusat Kendari E. pekerjaan dikelompokkan berdasarkan hasil observasi F. jenis kelamin. data primer yaitu data yang diperoleh dengan menggunakan lembar observasi yang telah disediakan oleh peneliti 2. Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan dengan cara manual yang selanjutnya disajikan dalam bentuk master tabel:. Analisis Data Analisis univariat. dan Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : Jenis data 1. f X= N Keterangan : f n k X : Jawaban Responden : jumlah sampel : konstanta (100%) : persentase hasil yang dicapai x k 37 .D. pendidikan. umur. adalah analisis satu variabel tertentu yang akan mendeskripsikan atau menggambarkan keadaan responden dari semua variabel dengan menggunakan rumus.

St 38 . H. 014 Personalia Penyajian Nama pembimbing : Sutarmo S. 1995 : 53) G.(Candra . Peneliti Nama peneliti Nim : Asriadi : 06. Data Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi yang kemudian dinarasikan.

1 Distribusi Responden Menurut Usia Yang Mengalami Gangguan Halusinasi Pendengaran Di Rumah Sakit Jiwa Pusat Kendari Usia (tahun) 0-15 16-24 25-44 45-64 65 > Jumlah Sumber : data primer Distribusi 1 13 33 9 0 56 Persentase 1. 21% 59 % 16% 0% 100 % Berdasarkan tabel 6.79 % 23. b. Distribusi Responden Berdasarkan Jenis 39 . HASIL PENELITIAN 1.BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN A.1 diatas menunjukkan bahwa dari 56 orang responden yang paling banyak pada kelompok usia 25-44 tahun yaitu sebesar 33 (59%) responden kemudian pada kelompok usia 16-24 tahun sebesar 13 (23%). Karakteristik Responden a. pada kelompok usia 45-64 sebsesar 9 (16%) paling sedikit pada kelompok usia 0-15 yaitu sebesar 1(2%) responden. Distribusi Berdasarkan Usia Tabel 6.

78 % 42.3 diatas dari 56 responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 3 orang (5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin yang Mengalami Gangguan Halusinasi Pendengaran Di Rumah Sakit Jiwa Pusat Kendari Jensi kelamin Laki-laki perempuan Jumlah Sumber : Data Primer Distribusi 35 21 56 Persentase 62.35%) dan yang berpendidikan menengah sebanyak 24 (42.78%) d.5 % 100 % Berdasarkan tabel 6.5 %) dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 orang (37.2 diatas dari 56 responden lebih besar yang berjenis kelamin laki-laki yaitu 35orang (62. c.5%).85%) serta yang berpendidikan rendah sebanyak 29 (51. 6. Distribusi Responden berdasarkan pendidikan Tabel 6.Tabel. Distribusi Responden berdasarkan pekerjaan 40 .3 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Responden Yang Mengalami Ganguan Halusinasi Pendengaran Di Rumah Sakit Jiwa Pusat Kendari Pendidikan Rendah Menengah Tinggi Jumlah Sumber : data primer Distribusi 29 24 3 56 Persentase 51.35 % 100 % Berdasarkan tabel 6.5 % 37.85 % 5.

Tabel 6. 41 . PEMBAHASAN Pembahasan analissis tentang karakteristik pada penderita halusinasi pendengaran di rumah sakit jiwa pusat kendari. pendidikan dapat disajikan sebagai berikut : a. sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan rata-rata mereka yang megalami gangguan jiwa khususnya halusinasi pendengaran berada pada rentang usia produktif.4 diatas dari 56 responden yang memiliki pekrjaan sebanyak 24 orang (43%) dan yang tidak bekerja sebanyak 24 (43%) B. pada kelompok usia 45-64 sb 9 (16%) paling sedikit pada kelompok usia 0-15 yaitu sebesar 1(2%) responden. jenis kelamin.44 tahun yakni sebanyak 33 (59%) kemudian pada kelompok usia 16-24 tahun sebesar 13 (23%). Usia Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada rentang usia 25.4 Distribusi Responden Berdasarkan pekerjaan Responden Yang Mengalami Ganguan Halusinasi Pendengaran Di Rumah Sakit Jiwa Pusat Kendari Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja Jumlah Sumber : data primer Distribusi 32 24 56 Persentase 57 % 43 % 100% Berdasarkan tabel 6. Usia responden pada rentang 25-44 tahun merupakan usia produktif . berdasarkan hasil penelitian maka dapat dibahas dengan melihat beberapa variabel penelitian yang meliputi : usia. pekerjaan .

penyebab gangguan jiwa yang dilaporkan antara lain narkoba. karena makin bertambahnya usia sesorang apalagi dalam memasuki usia-usia dewas hingga usia produktif maka semakin banyak tanggung jawab yang diemban seseorang dalam menjalani hidupnya.Secara teoritis bahwa faktor usia dapat mempengaruhi terjadinya gangguan jiwa pada seseorang. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi yang yang dilakukan oleh direktorat kesehatan jiwa Depkes RI. Jenis Kelamin 42 . dan didintegrasi mental. disfungsi mental. tak ayal jika sesorang yang dalam hidupnya memiliki beban dalam tanggung jawabnya menghidupi keluarganya sehingga dalam proses menjalani kehidupannya ia selalu terbebani dan memilki tanggung jawab yang besar. Hal inilah yang memungkinkan sesorang untuk dapat mengalami gangguan jiwa.5% dari jumlah penduduk. Berdasarkan survei satu dari lima orang dewasa mengalami gangguan jiwa atau satu dari anggota keluarga mengalami gejala-gejala gangguan jiwa. b. Kemudian data Survey the indonesian Psyciatris epidemiologic network. menyatakan bahwa angka gangguan jiwa orang dewasa 18. yang menyatakan bahwa penderita gangguan jiwa saat ini cenderung dialami sesorang semenjak sesorang menginjak usia dewasa hingga usia produktif. mental retardasi.

3%). Ketika sesorang tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya maka sesorang akan merasa terbebani sehingga akibat beban tersebut oarang akan merasa tertekan yang akhirnya dapat menyebabkan gejala depresi yang nantinya akan menyebabkan gangguan jiwa pada diri seseorang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita gangguan jiwa khususnya halusinasi pendengaran berjenis kelamin laki-laki yakni sebanyak 35 (62.5%) sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 21(31. Pendidikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita gangguan jiwa khususnya halusinasi pendengaran yang berpendidikan rendah sebanyak 29(51. 43 . Hal inilah yang mungkin dapat menyebabkan seseorang dapat mengalami gangguan jiwa terutama bagi laki-laki. c.78%) reponden. Berdasarkan pengamatan bahwa sebagian besar penderita gangguan jiwa khususnya halusinasi pendengaran lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki dibandingkan yang berjenis kelamin perempuan. Dan yang berpendidikan menengah 24 (42.5%). seorang laki-laki harus bisa menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk memberikan nafkah bagi istri dan anak-anaknya. hal ini karena pada seseorang yang berjenis kelamin laki-laki lebih memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjalani kehidupan apalagi didalam kehidupan rumah tangga.85%) kemudian yang berpendidikan tinggi sebanyak 3 (5.

d. hal ini dikarenakan pada orang yang memilki pendiidkan yang rendah sangat rentan terhadap resiko untuk mengalami gangguan.Berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebagian besar penderita gangguan jiwa khususnya halusinasi pendengaran lebih banyak yang memiliki pendidikan yang rendah dibandingkan dengan yang berpendidikan menegah dan berpendidikan tinggi. selanjutnya perubahan perilaku didasari oleh adanya perubahan penambahan pengetahuan. sikap atau keterampilan (Notoatmodjo. Sehingga dari pendapat diatas dapat diuraikan bahwa bagi orang memiliki pendidikan yang rendah ada kecenderungan untuk bertindak atau bersikap kurang baik yang akhirnya akan berindikasi pada perilaku yang negatif misalnya mencoba obat-obat terlarang yang akhirnya akan meyebabkan gangguan jiwa. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Lunardi dalam Notoatmodjo. 2003). Pekerjaan 44 . penampilan atau perilaku.2003 bahwa pendidikan orang dewasa apapun isi tingkatan serta metodenya baik formal maupun informal merupakan lanjutan atau pengganti pendidikan disekolah ataupun diluar sekolah hasil pendidikan orang dewasa adalah perubahan atau adanya perubahan kemampuan.

seeorang yang tidak memiliki pekerjaan (penangguran) mungkin akan merasa bahwa dirinya tidak berguna. 2007 Bahwa Pengangguran membawa pengaruh bagi kesehatan jiwa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita gangguan jiwa khususnya halusinasi pendengaran yang tidak memilki pekerjaan yakni sebanyak 32 (57%) sedangkan yang memiliki pekerjaan sebanyak 24(43%). hal ini dikarenakan pada orang yang tidak memiliki pekerjaan tingkat stressornya lebih tinggi akibat merasa tertekan apalagi dalam masa-masa sulit seperti saat ini dimana orang-orang yang mencari pekerjaan namun tidak mendapatkannya sehingga pada saat-saat tertentu orang tersebut akan merasa tertekan sehingga dapat menyebabkan depresi yang akhirnya berindikasi terhadap terjadinya gangguan jiwa pada orang yang mengalaminya. Sumber stress terpenting bukanlah hakikat kehilangan pekerjaan itu sendiri tetapi lebih bersifat perubahan-perubahan domestik 45 . Berdasakan pengamatan yang dilakukan sebagian besar penderita gangguan jiwa khususnya halusinasi pendengaran lebih banyak yang bekerja dibandingkan dengan yang tidak memiliki pekerjaan. tidak produktif dan tidak dapat membahagiakan orang-orang yang dicintainya. sebab dengan adanya pekerjaan sesorang dapat menghasilkan materi dari apa yang dikerjakannya. Menurut Iyus Yosep. Pekerjaan bagi sesorang sangat penting sebab pekerjaan menunjang sesorang untuk lebih sejahtera dalam menjalani hidup.

psikologis yang berjalan secara perlahan-lahan. 46 . Oleh karena itu pekerjaan sangat penting bagi sesorang sebab dengan adanya pekerjaan orang akan merasa lebih berguna dan dapat membahagiakan orang-orang yang dicintainya. Hal ini lambat laun mambahayakan kesehatan individu yang bersangkutan .

Dari 56 responden sebagian besar berjenis kelamin laki-laki yaitu 35 orang (62.85%) dan berpendidikan tinggi sebanyak 3 orang (5. Dari 56 responden yang diteliti pada kelompok usia 25-44 tahun yaitu sebesar 33 (59%) responden kemudian pada kelompok usia 16-24 tahun sebesar 13 (23%).5 %) dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 21 orang (37. Dari 56 responden sebagian besar berpendidikan rendah sebanyak 29 (51. Kepada pihak rumah sakit jiwa pusat kendari provinsi sulawesi tenggara untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan sehingga dapat meningkatkan angka kesembuhan bagi pasien dan dapat mengurangi angka kesakitan 47 . Saran Merujuk pada hasil pembahasan dan kesimpulan dalam penelitian ini maka dapat disampaikan beberapa saran berikut : 1.35%) B. pada kelompok usia 45-64 sebsesar 9 (16%) paling sedikit pada kelompok usia 0-15 yaitu sebesar 1(2%) responden 2.78%) berpendidikan menengah sebanyak 24 (42. Dari 56 responden sebagian besar tidak bekerja sebanyak 24 (43%) dan memiliki pekerjaan sebanyak 24 orang (43%) 4. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan dirumah sakit jiwa pusat kendari dapat disimpulkan bahwa: 1.BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN A. 3.5%).

maupun kekambuhan bagi pasien dengan gengguan jiwa khususnya halusinasi pendengaran. bagi peneliti selanjutnya agar dapat memberikan informasi yang lebih akurat lagi tentang karakteristik pada penderita halusinasi pendengaran khususnya dirumah sakit jiwa pusat kendari. 4. 3. kepada masyarakat khususnya bagi para orang tua agar lebih memperhatikan sejak dini tentang kondisi perkembangan remaja putra dan putrinya dalam mendidik agar tidak terjadi gangguan jiwa yang dapat berimplikasi pada penyakit jiwa khususnya halusinasi pendengaran 48 . sehingga lebih baik dan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu keperawatan khusunya pada keperawatan jiwa. 2. Kepada pihak institusi Akper Pemda Konawe agar dapat memperbanyak literatur tentang keperawatan jiwa guna mempermudah jalannya penyusunan penelitian bagi peneliti selanjutnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->