MAKALAH ELEMEN MESIN PASAK DAN POROS

POLITEKNIK MAUFAKTUR ASTRA
Jl. Gaya Motor Raya No 8, Sunter II, Jakarta Utara 14330, Telp. 021 6519555, Fax 021 6519821, email: sekretariat@polman.astra.ac.id

tetapi jika lenturan dan defleksi puntirannya terlalu besar. beban tekan atau beban puntiran yang bekerja sendiri-sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya. biasanya berpenampang bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear).sprocket dan elemen pemindah lainnya. 1983) Untuk merencanakan sebuah poros. (Josep Edward Shigley. Juga ada poros yang mendapatkan beban tarik atau tekan. 2. sebuah poros harus direncanakan cukup kuat untuk menahan beban-beban yang terjadi. Kekakuan poros Walaupun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup. pulley. Putaran kritis Putaran kritis terjadi jika putaran mesin dinaikkan pada suatu harga putaran tertentu sehingga dapat terjadi getaran yang terlalu besar.POROS Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar. Poros bisa menerima beban lenturan. Kekuatan poros Pada poros transmisi misalnya dapat mengalami beban puntir atau lentur atau gabungan antara puntir dan lentur. flywheel. . 3. 4. Demikian pula untuk poros-poros yang terancam kavitas dan poros mesin yang sering berhenti lama. beban tarikan. Jadi. Untuk itu. maka hal ini akan mengakibatkan ketidaktelitian (pada mesin perkakas) atau getaran dan suara (misalnya pada turbin dan kotak roda gigi). seperti poros baling-baling kapal atau turbin. maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Kelelahan tumbukan atau pengaruh konsentrasi tegangan bila diameter poros diperkecil (poros bertangga) atau bila poros mempunyai alur pasak harus diperhatikan. Korosi Bahan-bahan tahan korosi harus dipilih untuk poros propeller dan pompa bila terjadi kontak dengan fluida yang korosif. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian yang lainnya. maka poros harus direncanakan sedemikian rupa sehingga putaran kerjanya lebih rendah dari putaran kritis. engkol.

. roda gigi. Bahan untuk poros mesin umum biasanya terbuat dari baja karbon konstruksi mesin. Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling. dan baja khrom molybdenum. bukan tujuan. Beberapa diantaranya adalah baja khrom nikel. baja khrom. puli sabuk atau sproket rantai. Poros transmisi Poros transmisi atau poros perpindahan mendapat beban puntir murni atau puntir dan lentur. dimana beban utamanya berupa puntiran. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasinya yang harus kecil. Macam – Macam Poros Poros sebagai penerus daya diklasifikasikan menurut pembebanannya sebagai berikut: 1.5. disebut spindle. dan bentuk serta ukuranya harus teliti. Bahan poros. poros ini berfungsi untuk memindahkan tenaga mekanik salah satu elemen mesin ke elemen mesin yang lain. b. dan lain-lain. sedangkan untuk pembuatan poros yang dipakai untuk meneruskan putaran tinggi dan beban berat umumnya dibuat dari baja paduan dengan pengerasan kulit yang sangat tahan terhadap keausan. seperti poros utama mesin perkakas. Dalam hal ini mendukung elemen mesin hanya suatu cara. Jadi. Dalam hal ini elemen mesin menjadi terpuntir (berputar) dan dibengkokkan. Spindle Poros tranmisi yang relatif pendek. 2.

Kedua-duanya diikat menjadi satu oleh pipi engkol yang pemasangannya menggunakan cara pengingsutan. sedangkan pen engkolnya dari pada baja St. Disamping harga pembuatannya lebih ringan. Gandar Gandar adalah poros yang tidak mendapatkan beban puntir. Poros-poros engkol ini bahan dibuat dari besi tuang khusus. Poros Engkol Ganda Poros engkol ini mempunyai 2 buah pipi engkol terdiri dari satu bahan sedang pemasangan poros engkolnya adalah dengan sambungan ingsutan. besi tuang itu mempunyai sifat dapat menahan getaran-getaran. Didalam praktek dikenal 2 macam poros engkol yaitu : a.terdapat beberapa tipe sebagai berikut: Poros Engkol Poros engkol merupakan bagian dari mesin yang dipakai untuk merubah gerakan naik turun dari torak menjadi gerakan berputar. Poros Engkol Ganda . sedangkan yang besar-besar dibuat dari beberapa bagian yang disambung-sambung dengan cara pengingsutan. Sedangkan pembagian poros berdasarkan bentuknya .60. jarak antara sumbu pen engkol dengan sumbu poros engkol adalah setengah langkah torak. Pipi engkol biasanya dibuat dari baja tuang.bahkan kadangkadang tidak boleh berputar. Poros engkol yang kecil sampai yang sedang biasanya dibuat dari satu bahan yang ditempa kemudian dibubut. b. Contohnya seperti yang dipasang diantara roda-roda kereta barang. Poros Engkol Tunggal Poros ini terdiri dari sebuah poros engkol dan sebuah pen engkol.3.50 atau St.

2 1.maka ⁄ ⁄ ⁄ = Tegangan geser yang diijinkan τa (kg/mm2) untuk pemakaian umum pada poros dapat diperoleh dengan berbagai cara. Harga 5.0 untuk bahan S-C dan baja paduan.74 Bila momen T(kg. Faktor ini dinyatakan dengan Sf1.18 = 5. . salah satunya τa dihitung atas dasar batas kelelahan puntir adalah 18% dari kekuatan tarik σB (sesuai standar ASME) Untuk harga 18% ini faktor keamanan diambil sebesar 1/0.Poros Dengan Beban Puntir Berikut ini akan dibahas rencana sebuah poros yang mendapat pembebanan utama berupa torsi . maka : = Sehigga: T = 9.2 – 2.6.6 ini diambil untuk bahan SF dan 6.seperti pada poros dengan sebuah kopling.8 – 1.mm) dibebankan pada suatu diameter poros tegangan geser ( ⁄ ) yang terjadi adalah: (mm) .0 0.5 adalah daya rencana Jika momen puntir adalah T (kg.mm). Suatu kasus dimana daya P (kW) harus ditransmisikan dan putaran poros n1 (rpm) diberikan: P (kW) Daya yang harus ditransmisikan Daya rata-rata yang diperlukan Daya maksimum yang diperlukan Daya normal 1.0 – 1.

(Cb = 1.5 – 3.3.Selanjutnya perlu ditinjau apakah poros tersebut akan diberi alur pasak atau dibuat bertangga. ) Diperoleh rumus untuk menghitung diameter poros ds (mm) : ⁄ Diameter poros dapat dipilih dari tabel. Jika memang diperkirakan akan terjadi pemakaian dengan beban lentur.0 jika tidak ada beban lentur). Faktor-faktor ini dinyatakan dengan Sf2 dengan harga sebesar 1. mengingat diameter yang dipilih dari tabel lebih besar dari ds yang diperoleh dari perhitungan. perlu ditinjau pula apakah ada kemungkinan pemakaian dengan beban lentur dimasa mendatang.3 sampai 3. • Harga faktor konsentrasi tegangan untuk alur pasak α dan untuk poros bertangga β dapat diperoleh dari diagram Peterson. pilihlah suatu diameter yang lebih besar dari harga yang cocok didalam tabel untuk menyesuaikannya dengan diameter dalam dari bantalan. dan a2 atau β ) sebagai tegangan yang diijinkan yang dikoreksi. • Kt = 1.5 jika terjadi sedikit tumbukan atau kejutan. maka dapat dipertimbangkan pemakaian faktor Cb yang harganya 1.0 jika beban dikenakan dengan kejutan atau tumbukan besar.2 sampai 2. Dari hal-hal diatas maka besarnya τa dapat dihitung dengan : = Faktor Koreksi Momen Puntir. karena pengaruh konsentrasi tegangan cukup besar. Pada tempat dimana akan dipasang bantalan gelinding. • Selanjutnya ukuran pasak dan alur pasak dapat ditentukan dari tabel. Kt (Standar ASME) • Kt = 1. • Kt = 1. Pengaruh kekasaran permukaan juga harus diperhatikan.0 – 1.0. • Bandingkan σ dan β . .0 jika beban dikenakan secara halus. Periksalah perhitungan tegangan. • Meskipun dalam perkiraan sementara bahwa beban hanya puntiran saja.

dan faktor koreksi tumbukan Kt. serta lakukan penyesuaian jika lebih kecil. Poros yang hanya terdapat momen lentur murni Untuk menghitung diameter poros yang hanya terdapat momen lentur saja (bending moment only). dan tentukan masing-masing harganya jika hasil yang terdahulu lebih besar.Bandingkan harga ini dengan τ. faktor lenturan Cb.Cb.Kt dari tegangan geser yang dihitung atas dasar poros tanpa alur pasak. dapat diperoleh dari persamaan berikut : .

Terkait dengan Maximum shear stress theory atau Guest’s theory bahwa besarnya maximum shear stress pada poros dirumuskan : . misalnya besi cor (cast iron). cakupan pembahasan akan lebih terfokus pada pembahasan baja lunak (mild steel) karena menggunakan material S45C sebagai material poros. misalnya : 1. Maximum shear stress theory atau Guest’s theory Teori ini digunakan untuk material yang dapat diregangkan (ductile). misalnya baja lunak (mild steel). Pada pembahasan selanjutnya. Maximum normal stress theory atau Rankine’s theory Teori ini digunakan untuk material yang keras dan getas (brittle). 2. Banyak teori telah diterapkan untuk menghitung elastic failure dari material ketika dikenai beban lentur dan beban puntir.Poros dengan beban punter dan lentur Jika pada poros tersebut terdapat beban lentur dan beban puntir maka perancangan poros harus didasarkan pada kedua beban tersebut.

2. Pengaruh kekasaran permukaan juga harus diperhatikan. Selanjutnya perlu ditinjau apakah poros tersebut akan diberi alur pasak atau dibuat bertangga karena pengaruh konsentrasi tegangan cukup besar. Jadi batas kelelahan puntir adalah 18% dari kekuatan tarik.6 ini diambil untuk bahan SF dengan kekuatan yang dijamin dan 6. Faktor ini dinyatakan dengan . salah satu cara diantaranya dengan menggunakan perhitungan berdasarkan kelelahan puntir yang besarnya diambil 40% dari batas kelelahan tarik yang besarnya kirakira 45% dari kekuatan tarik.Tegangan geser yang diizinkan untuk pemakaian umum pada poros dapat diperoleh dari berbagai cara. Harga 5. dll. sesuai dengan standar ASME.3 sampai 3. Dengan mempertimbangkan jenis beban. Pembebanan berubah-ubah (fluctuating loads) Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai pembebanan tetap (constant loads) yang terjadi pada poros. 1994: 8).0 untuk bahan S-C dengan pengaruh masa dan baja paduan. Untuk harga 18% ini faktor keamanan diambil sebesar . . sifat beban. Dan pada kenyataannya bahwa poros justru akan mengalami pembebanan puntir dan pembebanan lentur yang berubah-ubah.0 (Sularso dan Kiyokatsu suga. Untuk memasukan pengaruh ini kedalam perhitungan perlu diambil faktor yang dinyatakan dalam yang besarnya 1. yang terjadi pada poros maka ASME (American Society of Mechanical Engineers) menganjurkan dalam perhitungan untuk menentukan diameter poros yang dapat diterima (aman) perlu memperhitungkan pengaruh kelelahan karena beban berulang.

.

Pasak benam segi empat (Rectangular Sunk key) Lebar pasak b = 4d Tinggi pasak t = 32 b dimana : d = diameter poros b. roda gigi. Dilihat cara pemasangannya. antara naf roda dan poros cukup dijamin dengan baut tanam (set screw). roda rantai dan lain-lain pada poros sehingga terjamin tidak berputar pada poros. Pemilihan jenis pasak tergantung pada besar kecilnya daya yang bekerja dan kestabilan bagian-bagian yang disambung. Pasak bujur sangkar (Square key) Bentuknya smaa seperti Rectangular sunk key.PASAK Pasak digunakan untuk menyambung dua bagian batang (poros) atau memasang roda. pasak dapat dibedakan yaitu : 1. Pasak memanjang Jenis pasak memanjang yang banyak digunakan ada bermacam-macam yaitu : Sunk Keys (pasak benam) Pasak benam ada beberapa jenis yaitu : a. Untuk daya yang kecil. tetapi lebar dan tebalnya sama yaitu : b = t = 4d .

c. tapi penggunaannya bila pemakaian di atas belum mampu memindahkan daya. maka pasak tersebut dipasang sejajar . Parallel Sunk key (pasak benam sejajar) Bentuknya sama seperti di atas.

Pasak Berkepala (Gib head key) Pasak ini digunakan biasanya untuk poros berputar bolak balik b = 4d t = 32 b = 6d e. .d. Pasak Tembereng (woodruff key) Pasak jenis ini digunakan untuk poros dengan puntir / daya tidak terlalu besar.

Tangent key Pemakaiannya sama seperti pasak pelana. Pasak gigi (Splines) . Pasak Pelana (Saddle key) Jenis pasak ini pemakaian umum untuk menjamin hubungan antara naf roda dengan poros. i. h. biasanya digunakan untuk memindahkan daya relatip kecil. Pasak bulat (Round keys) Jenis pasak ini.f. g. tetapi pasaknya dipasang dua buah berimpit.

Jenis pasak ini bahannya dibuat satu bahan dengan poros dan biasanya digunakan untuk memindahkan daya serta putaran yang cukup besar dan arah kerja putarannya bolak balik. maka sudah barang tentu pasak yang akan direncanakan tersebut juga harus mampu meneruskan daya dan putaran. • Perhitungan kekuatan pasak memanjang Bila direncanakan poros tersebut mampu memindahkan daya sebesar P (KW) dengan putaran (n) rpm. sehingga besar torsi (T) yang bekerja pada poros yaitu : .

besar torsi yang terjadi lebih besar dari torsi yang harus dipindahkan yaitu : T = k. 1) dimana : d = diameter poros. Putus akibat gaya geser b. Dalam perencanaan pasak.> F = L b τ …………………… 2) . Bila diameter poros serta Torsi untuk perencanaan pasak telah diketahui. ada dua kemungkinan pasak tersebut rusak atau putus : a.m) atau T = 16π τ d p 3 dimana p = daya yang akan dipindahkan (watt) n = putaran dalam (rpm) d = Diameter poros τ = Tegangan puntir yang diizinkan untuk bahan poros p Dalam perencanaan pasak. Putus akibat tekanan bidang Bila pasak tersebut diperhitungkan kemungkinan putus akibat gaya geser maka : F=Aτ g g ---------. T p dimana : T = Total untuk perencanaan pasak p T = Torsi yang bekerja pada poros k = Faktor perencanaan = 1.5.25 s/d 1. maka gaya keliling yang bekerja pada pasak dapat dicari yaitu : F = 2/dTp ………………….T = nPπ260 (N.

3) g p g Bila diperhitungkan kemungkinan rusak akibat tekanan bidang : F=Aσ D dimana : σ = Tegangan bidang yang diizinkan untuk bahan pasak D A = Luas bidang pasak yang menekan / bersinggungan terhadap bidang poros.Bila hasil perhitungan.dimana : A = Luas penampang kemungkinan putus tergeser  = L b τ = Tegangan geser yang diizinkan untuk bahan pasak. g Dari pers. maka dari pers.   = L 2t -----. . maka ukuran pasak yang diambil adalah ukuran yang lebih besar. ukurannya tidak ada yang cocok dalam tabel pasak.> F = L 2t σ dimana T = F 2d D p ===== > Tp = L 2t 2d σ ……………… 4) D Bila pasak harus mampu menahan gaya geser dan gaya tekan. 1 & 2 diperoleh : 2/dTp = L b τ ===== > T = L b 2d τ …………………. 3 & 4 diperoleh : L b 2d τ = L 2t σ g g D D b τ = 2t σ ==== > tb = gDτσ2 Untuk ukuran lebar dan tebal pasak biasanya sudah distandarisasi maka hasil perhitungan harus dipilih ukuran yang ada pad astandarisasi.

Di bawah ini dicantumkan ukuran lebar dan tebal pasak. Diameter Poros (mm) 6 8 10 12 17 22 30 38 44 50 58 65 75 Penampang Pasak Lebar (mm) 2 3 4 5 6 8 10 12 14 16 18 20 22 Tebal (mm) 2 3 4 5 6 7 8 8 9 10 11 12 14 Diameter Poros (mm) 85 95 110 130 150 170 200 230 260 290 330 380 440 Penampang Pasak Lebar (mm) 25 28 32 36 40 45 50 56 63 70 80 90 100 Tebal (mm) 14 16 18 20 22 25 28 32 32 36 40 45 50 . sesuai dengan standart yang dipasaran. Tabel standart pasak melintang menurut SI : 2292 dan 2293 – 1963.