BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kakao berasal dari Benua Amerika pada bagian yang mempunyai iklim tropis. Sangat sulit untuk mengetahui negara bagian mana tepatnya tanaman ini berasal, karena tanaman ini telah tersebar secara luas semenjak penduduk daerah itu masih hidup mengembara. Tanaman ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1560 oleh orang Spanyol melalui Sulawesi (Hall. 1949) dan kakao mulai dibudidayakan secara luas sejak tahun 1970. Pengembangan kakao di Indonesia tersebar di beberapa wilayah, dan yang termasuk propinsi sentra produksi kakao adalah Propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Lampung dan Propinsi Bali. Dalam agribisnis kakao ada beberapa kendala yang dihadapi, khususnya dalam peningkatan produktivitas dan kualitas yang dihasilkan antara lain adalah masih mempergunakan teknologi tradisional dengan bahan tanaman yang tidak berasal dari klon atau biji yang terpilih dan dengan budidaya yang kurang memadai, serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa hama dan penyakit. Selain permasalahan tersebut, dalam era globalisasi dewasa ini terdapat tuntutan terhadap produk yang dihasilkan harus memenuhi kualitas yang tinggi dan proses produksi akrab lingkungan. Fakta di lapang menunjukkan bahwa pengendalian hama di tingkat produsen saat ini masih terbatas pada penggunaan pestisida saja, sementara tuntutan konsumen mengarah kepada persyaratan lingkungan yang diakui oleh WTO (ISO 14000) dan Codex Alimentarius (adanya ambang batas maksimum kandungan zat

Artinya. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah agribisnis kakao secara keseluruhan di sulawesi tenggara. logam berat. residu pestisida dan bahan pencemar lainnya). apabila kakao Indonesia ingin bersaing di pasar global maka mau tak mau persyaratan tersebut harus dipenuhi. B. .tambahan.

Meskipun demikian. Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon. Penyerbukan bunga dilakukan oleh serangga (terutama lalat kecil (midge) Forcipomyia. sebagaimana anggota Sterculiaceae lainnya. namun nampak terangkai karena sering sejumlah bunga muncul dari satu titik tunas. tumbuh langsung dari batang (cauliflorous). di alam dapat mencapai ketinggian 10m. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat. Kakao . Bunga siap diserbuki dalam jangka waktu beberapa hari. Kakao Kakao (Theobroma cacao) merupakan tumbuhan berwujud pohon yang berasal dari Amerika Selatan. dan beberapa lebah Trigona) yang biasanya terjadi pada malam hari1.BAB II PEMBAHASAN A. Bunga kakao. afid. tunggal. dalam pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari 5m tetapi dengan tajuk menyamping yang meluas. Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang produktif. Bunga sempurna berukuran kecil (diameter maksimum 3cm). semut bersayap.

Dalam pengolahan pascapanen. Ukuran buah jauh lebih besar dari bunganya. Buah tumbuh dari bunga yang diserbuki. Brasil (5%). beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi. Apabila masak kulit luar buah biasanya berwarna kuning. Di Indonesia. Warna buah berubah-ubah. Varietas penghasil kakao mulia berasal dari pemuliaan yang dilakukan pada masa kolonial Belanda. dan dikenal dari namanya yang berawalan "DR" (misalnya DR-38). Malaysia (1%) dan Negaranegara lain menghasilkan 9% sisanya. Ghana (19%). Sewaktu muda berwarna hijau hingga ungu. Singkatan ini diambil dari singkatan nama perkebunan tempat dilakukannya seleksi (Djati . Biji dilindungi oleh salut biji (aril) lunak berwarna putih. di bagian dalam. Kamerun (5%). Buah terdiri dari 5 daun buah dan memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji. sebagian besar kakao curah). Endospermia biji mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi. pulp difermentasi selama tiga hari lalu biji dikeringkan di bawah sinar matahari. Walaupun demikian. Dalam istilah pertanian disebut pulp. kakao mulia dihasilkan oleh beberapa perkebunan tua di Jawa.secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem inkompatibilitassendiri (lihat penyerbukan). Indonesia (13%. Kakao sebagai komoditas perdagangan biasanya dibedakan menjadi dua kelompok besar: kakao mulia ("edel cacao") dan kakao curah ("bulk cacao"). Ekuador (4%). Nigeria (5%). dan berbentuk bulat hingga memanjang. Delapan negara penghasil kakao terbesar adalah (data tahun panen 2005) adalah Pantai Gading (38%). Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah.

Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Kualitas kakao curah biasanya rendah. Agrobisnis Kakao Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional.Roenggo.051 ha dimana sebagian besar (87. B. Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. di daerah Ungaran. perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta. Disamping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah. khususnya sebagai penyedia lapangan kerja. Varietas kakao mulia berpenyerbukan sendiri. Jawa Tengah). Perkebunan kakao Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an dan pada tahun 2002. Sebagian besar daerah produsen kakao di Indonesia menghasilkan kakao curah. . Bukan rasa yang diutamakan tetapi biasanya kandungan lemaknya. sumber pendapatan dan devisa negara.7% perkebunan besar swasta.4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6. Pada tahun 2002. areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan. meskipun produksinya lebih tinggi. Kakao curah berasal dari varietas-varietas yang self-incompatible.0% perkebunan besar negara serta 6.

Tergesernya posisi Indonesia tersebut salah satunya disebabkan oleh makin mengganasnya serangan hama PBK. Sulawesi Tangah Maluku dan Sulawesi Tenggara. Indonesia sebenarnya berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia. Kalimantan Timur.Keberhasilan perluasan areal tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan pangsa pasar kakao Indonesia di kancah perkakaoan dunia. Disamping itu kebun yang telah di bangun masih berpeluang untuk ditingkatkan produktivitasnya karena produktivitas rata-rata saat ini kurang dari 50% potensinya. sehingga harga kakao dunia stabil pada tingkat yang tinggi. Di samping itu. apabila berbagai permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dan agribisnis kakao dikembangkan dan dikelola secara baik. walaupun kembali tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003.2 juta ha terutama di Irian Jaya. . Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading (Cote d’Ivoire) pada tahun 2002. Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik untuk segera dimanfaatkan. Di sisi lain situasi perkakaoan dunia beberapa tahun terakhir sering mengalami defisit. Upaya peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang stratigis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao. Indonesia masih memiliki lahan potensial yang cukup besar untuk pengembangan kakao yaitu lebih dari 6. perkakaoan Indonesia dihadapkan pada beberapa permasalahan antara lain: mutu produk yang masih rendah dan masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao.

Untuk mencapai sasaran produksi tersebut diperlukan investasi sebesar Rp 16. pembangunan sarana dan prasaran jalan dan telekomunikasi.35 juta ha dan mampu menghasilkan 1.3 juta ton/tahun biji kakao. dukungan gerakan pengendalian hama PBK secara nasional. Dana pemerintah diharapkan dapat berperan dalam memberikan pelayanan yang baik dan dukungan fasilitas yang tidak bisa ditanggulangi petani seperti biaya penyuluhan dan bimbingan. .1 juta ha dan diharapkan mampu menghasilkan produksi 730 ribu ton/tahun biji kakao.72 triliun dan dukungan berbagai kebijakan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.Dengan kondisi harga kakao dunia yang relatif stabil dan cukup tinggi maka perluasan areal perkebunan kakao Indonesia diperkirakan akan terus berlanjut dan hal ini perlu mendapat dukungan agar kebun yang berhasil dibangun dapat memberikan produktivitas yang tinggi. Beberapa kebijakan pemerintah yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan agribisnis kakao 5 sampai 20 tahun ke depan antara lain: Penghapusan PPN dan berbagai pungutan. Dana investasi tersebut sebagian besar bersumber dari masyarakat karena pengembangan kakao selama ini umumnya dilakukan secara swadaya oleh petani. aktif mengatasi hambatan ekspor dan melakukan lobi untuk menghapuskan potangan harga. Melalui berbagai upaya perbaikan dan perluasan maka areal perkebunan kakao Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 1. sasaran untuk menjadi produsen utama kakao dunia bisa menjadi kenyataan karena pada tahun tersebut total areal perkebunan kakao Indonesia diperkirakan mencapai 1. dukungan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan industri hilir. mendukung upaya pengendalian hama PBK dan perbaikan mutu produksi serta menyediakan fasilitas pendukungnya secara memadai. Pada tahun 2025.

Hal ini tergambarkan dari keseriusan dalam mengikuti semua program yang ada. Sejalan dengan meningkatnya luas areal kakao. Dalam pengertian lain untuk setiap tahunnya rata-rata luas areal tanaman kakao seluas 93. peningkatan produksi juga dapat dipacu melalui peningkatan produktivitas. dari segi lahan pun masih cukup tersedia. Disamping peningkatan areal tanam. areal kakao meningkat terus dari 59. dan lahan yang terluas ada di Kabupaten Kendari yaitu hampir 50 persen dari luas lahan yang ada atau seluas 139. yaitu sekitar 329 ribu hektar lebih. Saat ini di Propinsi Sulawesi Tenggara masih terdapat potensi lahan yang belum diusahakan.547 Ha pada tahun 2002. Selain adanya kebijakan dari berbagai pihak tersebut. produksi komoditas ini juga menunjukkan . perusahaan swasta. Areal tanaman perkebunan kakao meningkat terus.137 Ha pada tahun 1990 menjadi 127.967 ribu hektar.13 persen setiap tahunnya. bagi petani merupakan langkah nyata untuk ikut memajukan agribisnis kakao. Hal ini juga dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat. maupun bantuan dari luar negeri. karena adanya kebijakan dari pemda setempat yang memasukkan tanaman kakao sebagai tanaman prioritas yang dipacu.630 Ha. Potensi Kakao di Sulawesi Tenggara Sektor perkebunan merupakan andalan bagi pemerintah Sulawesi Tenggara dan tanaman perkebunan yang potensial serta paling banyak ditanam oleh masyarakat adalah tanaman kakao. Adanya berbagai program peningkatan kakao. Sejak tahun 1990 hingga 2002 menurut data statistik perkebunan Sulawesi Tenggara. dan rata-rata pertumbuhan 4.C. Peningkatan produktivitas ini sudah dilakukan pemerintah daerah dengan memberikan berbagai pelatihan. bahkan petani yang kebetulan tidak dapat ikut dalam program pelatihan tersebut akan mencari informasi ke petani peserta.

Perkembangan harga kakao di propinsi ini sangat berfluktuatif.767 ha/tahun.kenaikan yang cukup tinggi. Jika pada tahun 1990 produksi yang dicapai baru sekitar 23. Peningkatan ini juga terjadi pada produksinya. walaupun ada berbagai kendala yang dihadapi. dengan rata-rata produksi pertahunnya sebesar 67.115.01 kg/ha. Patokan harga setiap level tata niaga semuanya mengacu kepada harga yang berlaku di Kawasan Industri Makasar (KIMA) yang ada di Propinsi Sulawesi Selatan.900 ribu ton.410 ton. maka 12 tahun kemudian meningkat sangat pesat mencapai 93. Luas areal kakao di Kabupaten Kolaka pada kurun waktu lima tahun belakangan ini memperlihatkan terjadinya penambahan luas sebesar 6.614 ton pada tahun 2002.02 kg/ha) dan yang terendah pada tahun 1996 (891. maupun di tingkat pedagang pengumpul dan pedagang antar pulau (Tabel 3). yaitu sebesar 950.899 ton pada tahun 1998 menjadi 74. Produktivitas ratarata kakao di Propinsi Sulawesi Tenggara. Sudah menjadi rahasia umum.8 persen pertahun selama 1990-2002. yaitu sekitar 9. apabila ada penurunan harga di KIMA maka semua pemain di rantai tata niaga ini akan mengikutinya serta informasi tersebut akan cepat sampai ke . Dari segi produktivitas tanaman kakao sangat bervariasi.23 kg/ha). lebih tinggi dibandingkan produktivitas kakao nasional. Salah satu sentra penghasil kakao di Sulawesi Tenggara adalah Kabupaten Kolaka dengan kecamatan sentra yang paling banyak menghasilkan biji kakao adalah Kecamatan Ladongi.90 kg/ha. yaitu dari 59. Ini berarti respon petani terhadap perkembangan kakao sangat positif. sebesar 966. baik di tingkat petani.567 ton.31 persen pertahun atau rata-rata areal tanamnya 71. produktivitas paling tinggi terjadi pada tahun 1993 (1.

Sedangkan harga rata-rata perkilogram kakao di Kabupaten Kolaka sedikit lebih mahal dibandingkan harga rata–rata propinsi. maka informasi itu sampai ke tangan petani tidak secepat bila terjadi penurunan harga. 1. sementara musim puncak yang terjadi selama ini antara bulan Mei hingga Agustus. Sementara itu untuk melakukan fermentasi petani harus menyimpan dalam peti selama 4 – 6 hari dan setiap harinya mesti diperhatikan kandungan airnya dan menurut petani pekSerjaan ini termasuk melelahkan. Hal ini dikarenakan tidak adanya erbedaan harga antara kakao yang difermentasi dengan yang tidak difermentasi atau lebih umum dengan sebutan asalan.00 (pedagang pengumpul) dan Rp 12.00 (petani). Hal ini disebabkan oleh produksi yang rendah. 10. Oktober dan November. Sebaliknya.00 (pedagang antar pulau). Rp.063. diperoleh harga rata-rata perkilogram kakao pada Tahun 2002 di Sulawesi Tenggara adalah Rp. 10. yaitu : Rp. apabila ada kenaikan harga.00 (pedagang antar pulau). Dengan minimnya data yang terkumpul.488.00 (petani). Dalam tahun 2003 harga kakao tertinggi terjadi di bulan September.125.00 (pedagang pengumpul) dan Rp. 12. Aspek Pemasaran Kakao Dalam satu tahun terakhir ini. Tetapi pada tahun 2001 harga biji kakao yang difermentasi lebih tinggi berkisar antara Rp. Ada perbedaan perilaku penjualan antara desa yang dekat dengan pasar kecamatan (Desa Ladongi) dengan desa yang jauh dari pasar kecamatan (Desa Raraa/Pange- .250.592.tangan petani. D. semua petani yang ada di lokasi penelitian tidak melakukan fermentasi dalam menjual biji kakao. 300 – 500 per kilonya dibandingkan biji yang tidak difermentasi. Rp. 9.750.

700 per kilo Jangka waktu pinjaman rata-rata selama 8 bulan dan pinjaman ini tentunya sesuai dengan luas kakao . Urea Rp. petani responden menjual langsung ke pedagang pengumpul yang sudah menjadi langganan.pange). 125. Pedagang pengumpul baru tersebut berani membeli dengan harga yang lebih tinggi. Pernah ada pedagang pengumpul lainnya yang ingin mencari biji kakao di desa ini. 175. tetapi hal ini tidak berlangsung lama.000 dan harga kredit Rp. 70. yaitu cara yang dilakukan oleh pedagang pengumpul dalam mempertahankan eksistensinya membeli kakao di tingkat petani. Untuk Desa Pange-pange. sehingga para petani banyak menjual kepadanya. Walaupun para petani tersebut bebas menjual ke pedagang pengumpul tersebut.000).000 dan kredit Rp. Selain menjual biji kakao. Petani responden di Desa Ladonge menjual hasil biji kakaonya kepada pedagang pengumpul yang umumnya langsung datang ke rumah petani dan pedagang tersebut bebas menjual kepada siapa saja. 500 perkilo (harga tunai Rp. 300 per kilo (harga tunai Rp.000). petani dikenakan juga bunga. Kata langganan ini disebabkan oleh kondisi petani yang mengantungkan segala keperluan rumah tangga dan budidaya kakaonya kepada pedagang pengumpul tersebut dan pembayarannya dilakukan setiap kali panen dalam bentuk biji kakao. tetapi dari segi jumlah sebenarnya pedagang pengumpul yang mencari kakao di desa ini jumlahnya tetap. Fenomena yang menarik dapat dilihat pada responden di lokasi yang jauh dari pasar kecamatan (Desa Raraa). seperti pada pinjaman beras ada bunga sebesar Rp. caranya dengan mencegat di tengah jalan dan memberikan sedikit ancaman. SP 36 dan KCL dengan bunga sebesar Rp. 85. Dengan melihat kondisi tersebut menyebabkan para pedagang pengumpul yang lama bersatu dan membuat kesepakatan untuk mencegah pedagang pengumpul baru tersebut.

Hal ini secara signifikan dapat mengurangi produksi hingga 40-50 persen. Tidak ada aktivitas pasca panen. 5. pedagang pengumpul sekitar Rp 500.yang mereka miliki.500. 2.00 perkilogram dan pedagang antar pulau sekitar Rp 1.00 per . Marjin pemasaran yang diterima oleh pedagang bakul sekitar Rp 300.00 per kilogram. Biji kakao petani umumnya masuk ke Kawasan Industri Makassar (KIMA) melalui padagang bakul.00 – Rp 2. Di lokasi penelitian serangan hama dan penyakit kakao yang menonjol pada tahun 2003 adalah busuk buah. Bagi petani yang sudah terikat dengan satu pedagang pengumpul mereka tidak boleh meminjam atau menjual ke pedagang pengumpul lainnya.00 – Rp 700. 3.8 persen pertahun. BAB III PENUTUP A. hal ini direpresentasikan dari peningkatan luas tanam 4. Kesimpulan 1.000.13 persen pertahun dan peningkatan produksi 9. Secara umum perkembangan produksi kakao di Propinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan peningkatan. karena tidak ada perbedaan harga antara biji kakao yang difermentasi dengan yang tidak difermentasi. pedagang pengumpul dan pedagang antar pulau. 4. Petani yang dekat ke pasar kecamatan relatif lebih bebas menjual biji kakao dibandingkan petani yang lokasinya jauh dari pasar kecamatan. Pedagang pengumpul yang beroperasi di desa yang jauh dari pasar kecamatan lebih bersifat oligopoli untuk mempertahankan kelancaran pasokan bahan baku dari petani.00 – Rp 500.

. Penanganan serangan hama dan penyakit perlu lebih ditingkatkan mengingat dampak yang ditimbulkan dari serangan tersebut sangat mempengaruhi produksi dan kualitas kakao yang dihasilkan. 2. Dalam rangka peningkatan kualitas biji kakao. Hal ini antara lain dapat dilakukan dengan cara memasukkan materi penanganan pasca panen dalam program-program pelatihan kakao di tingkat petani. Saran 1. karena banyak pengusaha yang memindahkan pabriknya ke Malaysia yang tidak menerapkan pajak namun tetap menggunakan bahan baku kakao Indonesia. maka penanganan pasca panen perlu mendapatkan perhatian lebih serius oleh pemerintah. B.kilogram. Namun demikian resiko yang ditanggung oleh pedagang antar pulau lebih besar dibanding resiko yang ditanggung oleh bakul dan pedagang pengumpul. 3. Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan oleh dinas terkait secara intensif mengenai penanganan serangan hama dan penyakit. Perlu ditinjau lagi mengenai penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dikenakan atas pembelian kakao.

Studi Pendasaran. Budidaya Pengolahan dan Pemasaran Cokelat. Agustian A. Laporan Akhir SL-PHT Petani Murni. Jakarta. Joko. Roesmanto.S. Statistik Perkebunan Indonesia 1998 – 2000. Monitoring dan Evaluasi Pengendalian Hama Terpadu Pada Tanaman Kakao. 29. Jakarta. Market and Price Analysis. 2000. Bagian Proyek Penelitian dan Pengembangan Hama Terpadu Tanaman Perkebunan. Industri Kakao Minta PPN 10 Persen Dihapus . 1991. . Hastuti. Jakarta. McGraw-Hill. 2002. Tanggal 27 Juni 2003. Tumpal H. Yogyakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kakao.A.S. 1992. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2002. Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara.S. Siregar. Prasetyo B. Siswanto. Penebar Swadaya. dan Setyanto. Kajian Sosial Ekonomi. 2003. Profil Coklat. Kompas. Aditya Media. dan Laeli N.DAFTAR PUSTAKA Dahl. Departemen Pertanian. 1997. Pp. Slamet R. Jakarta. The Agricultural Industries. Dale C. Kantor Wilayah Departemen Perdagangan Sulawesi Utara.