TAFSIR TEMATIK (Mengukur relevansi tafsir tematik sebagai rekomendasi metode penafsiran kontemporer

)
Mengkaji berbagai jenis literatur keislaman memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang muslim. Terlebih lagi al-Qur'an yang merupakan poros dari segala ilmu yang ada di bumi ini. Al-Qur'an dengan segala keindahannya, keistimewaannya, kemu'jizatannya, keunikannya serta kesuciannya ternyata tak hanya benda "jamid" yang hanya bisa di lihat dan di baca. Al-Qur'an mempunyai berjuta-juta rahasia serta ke-mukjizat-an, yang hanya akan kita pahami jika kita mau memahami dan mempelajarinya lebih dalam. Tafsir, merupakan salah satu cara untuk kita bisa melihat apa makna yang terkandung dalam kitab kamil (al-Quran) ini. Karena tafsir yang merupakan sebuah disiplin inti dalam khazanah keilmuan Islam adalah sebuah alat interpretasi untuk menguak esensi implisit dari ayat-ayat qur'aniyah. Sebagaimana maklum, bahwa al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab dengan bentuk sastra yang mengungguli nilai sastra yang berkembang pada masyarakat Arab ketika itu, al-Qur'an mempunyai nilai estetika yang tinggi dan disempurnakan juga dengan kelebihannya dalam segi linguistik yang diindikasikan oleh kekayaan bahasanya dimana pada tiap katanya tidak hanya mempunyai satu makna. Dalam al-Qur'an banyak dijelaskan tentang aturan-aturan yang bisa dijadikan pijakan dalam hidup manusia, seperti dasar-dasar akidah, hukum-hukum sosial kemasyarakatan, pemikiran dan lain-lain. Namun disisi lain, Allah tidak menjamin terperincinya masalahmasalah tersebut diatas dalam al-Qur'an. Maka bukan hal yang aneh lagi jika kita menemukan lafadz singkat tapi terhimpun banyak makna. Selain itu, al-Qur'an tidak tersusun secara sistematis serta tidak diturunkan sesuai dengan komposisi kronologisnya. Bahasa al-Qur'an juga banyak yang mengandung majaz ataupun metafor-metafor sehingga kita akan

disinilah posisi urgensi tafsir itu ditunjukkan. Nah. Dari sinilah kemudian banyak sekali penafsiran terhadap al-Qur'an muncul. fiqih. Namun ternyata banyak kelemahan yang . diantaranya adalah tafsir bi al-ma'tsur. Salah satu metode tafsir yang terbilang laris dipakai oleh para ulama klasik adalah metode tahlili atau analitik. sebab poin ini telah banyak disinggung dalam makalah-makalah sebelumnya. dan metode tematik (maudhu'I). Tafsirtafsirpun semakin berkembang. seorang mufasir tidak bisa dihindarkan dari sifat subyektif. ilmiah/saintifik. sufistik. metode komparasi (muqarin). dimana penafsiran dilakukan dengan mengikuti sistematika ayat dalam Al-Qur'an (dari awal sampai akhir). Misalnya. Seperti misalnya pendekatan linguistik murni ataupun dilihat dari bingkai sastranya. pengetahuan seputar metodologi tafsir pun tak terelakkan. kita perlu mengetahui beberapa klasifikasi bahasan teknis dalam menafsirkan al-Qur'an. yang artinya setiap mufasir mempunyai kecenderungan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. yang terdiri dari: metode analitik (tahlili) metode global (ijmali). Kita mengenal ada tiga bentuk dalam tafsir. Namun agaknya penulis tidak perlu memaparkan kembali tentang historisitas munculnya tafsir. Berbicara tentang tafsir. filsafat dan teologi. Dan dalam perkembangannya. metodologi serta corakcoraknya yang semakin banyak bermunculan dan berkembang dewasa ini. metodologi tafsir dibagi menjadi empat macam. Hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya aliran sektarian atau corak-corak penafsiran yang digunakan oleh para mufasir saat ini. Kemudian dari segi metode. Dalam usaha interpretasi ayat al-Qur'an.mengalami kesulitan untuk memahaminya dengan pembacaan yang sederhana. tafsir bi al-ra'yi dan tafsir isyari. bentuk-bentuk tafsir. Sedangkan untuk mengetahui metodologi itu sendiri kita perlu mengarahkan fokus kita pada sisi historis tafsir tersebut. Tafsir menjadi komponen yang sangat penting dalam memahami ayat-ayat qur'aniyah yang maknanya tidak tersajikan secara eksplisit.

metode yang sering digunakan oleh para mufasir (yang sementara diduga dimulai oleh al-Farra') dalam usaha interpretasi al-Qur'an adalah metode analitik (tahlili). penulis akan membahas seputar tafsir Tematik dengan menampilkan uraian historisitas kemunculannya yang dilanjutkan dengan definisi serta bentuk dan langkah-langkah yang digunakan.ditemukan didalamnya. salah satunya adalah kebingungan dalam memahami maksud yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur'an. mengingat terlalu singkatnya uraian yang dihasilkan. metode ini memang cukup bisa mempermudah pemahaman -masyarakat awam khususnya. Demikian juga metode muqarin yang sempat dikembangkan oleh Abu Bakar al-Baqillani. dari situ pulalah kelemahan metode ini tampak. perbedaanya dengan metode lain yang menyangkut kelebihan serta kekurangannya dan yang terakhir adalah nilai relevansi tafsir tematik sebagai metode penafsiran masa kini. Seperti metode Ijmali. Penjelasannya yang terlalu singkat membuatnya tidak bisa menguak makna-makna yang terkandung dalam al-Qur'an. II. metode ini masih menempati posisi teratas sebagai metode yang laris digunakan oleh para mufasir klasik. HISTORISITAS MUNCULNYA TAFSIR TEMATIK Sejak masa kodifikasi tafsir. Sebab dua metode diatas dirasa kurang relevan untuk digunakan. Namun. Dibanding metode yang lain. semisal muqarin atau ijmali.mengenai maksud dari redaksi yang ada dalam mushaf dengan mengandalkan uraian globalnya. . Dari sinilah akhirnya muncul sebuah metode baru yaitu metode tematik yang seakan menjadi problem solving untuk masalah-masalah tersebut. Dalam makalah ini.

Selain itu. . hendaknya mufasir tidak hanya memperhatikan bagian awal saja tetapi juga bagian akhir secara keseluruhan. sasaran yang dituju serta kandungan ayat. Maksudnya adalah. ditakutkan maksud dari ayat-ayat yang lain akan terabaikan. dalil syar'i. Menurut Malik bin Nabi. yaitu unsur-unsur I'jaz. Namun ternyata korelasi yang dimaksud disini adalah korelasi yang mengusung sistematika ayat dan surat dalam mushaf. Sehingga ketika menyajikan interpretasi ayat. Pun Al-Syatibi. norma akhlak dan lain sebagainya. beliau lebih menyukai metode analitik. dan estetika bahasa. beliau juga bermaksud menunjukkan nilai estetika al-Qur'an dengan menelaah sebab pemilihan redaksi serta penggabungan ayat yang satu dengan yang lainnya. karena dari sinilah beliau mencoba menguak kemukjizatannya. umumnya para mufasir menggunakan metode ini disebabkan oleh keinginan kuat mereka untuk menunjukkan kemukjizatan yang ada dalam alQur'an. kemudian surat demi surat hingga akhir berdasarkan susunan yang ada dalam mushaf. jika hanya memperhatikan satu masalah atau bagian tertentu saja. Seperti halnya Ibrahim bin Umar Al-Biqai (809-885 H). beliau lebih memilih metode analitik dalam menjelaskan korelasi antar ayat dalam al-Qur'an. penafsiran dilakukan secara beruntun ayat demi ayat. menyibak arti yang dikehendaki. Metode ini menitikberatkan pada pembahasan kata dan lafadz. balaghah. juga menjelaskan esensi yang dapat diambil dari ayat. misalnya hukum fiqih.Metode tahlili adalah metode penafsiran al-Qur'an yang dilakukan dengan memberikan interpretasi terhadap ayat-ayat al-Qur'an sesuai dengan sistematika yang ada didalamnya. Sebab. Sebab menurut beliau meski dalam satu surat mengandung banyak masalah. namun masalah-masalah tersebut mempunyai korelasi yang kuat antara satu dengan yang lainnya. arti secara etimologi.

dan sebagainya. keterputusan tema yang sama dalam berbagai surat. bukan maksud si pembicara. sehingga hal ini seringkali membuat para pembaca putus asa. Masih banyak sekali para mufasir yang memanfaatkan metode ini. tafsir al-thabary. diantaranya adalah. 745 H). seiring dengan maraknya mufasir yang menonjolkan kelebihankelebihan metode ini. Kuantitas yang begitu banyak serta dibarengi dengan bahasannya yang bersifat teoretis ternyata kurang bisa menyentuh berbagai problema yang ada dalam masyarakat. Tafsir Al-Kasysyaf karya Al-Zamakhsyari (467-538 H). Dengan wujudnya yang berjilid-jilid menjadikan salah satu kendala bagi orang yang ingin membaca serta mendalaminya. sehingga satu tema berpotensi melumpuhkan kesatuan tema yang ada pada bagian sebelumnya. 1270 H). demikian kata Al-Syathibi. kecuali pada saat ia bermaksud untuk memahami arti lahiriah dari satu kosakata menurut tinjauan etimologis. maka ia harus segera memperhatikan seluruh pembicaraan dari awal hingga akhir". Kendati demikian. Berangkat dari pemikiran seperti ini. tafsir ibn Katsir. ternyata metode tahlili juga mempunyai beberapa kelemahan yang bisa mempengaruhi implementasi dari ayat-ayat qur'aniyah yang ada. Disinilah akhirnya metode . rupanya para ulama mencoba untuk mencari sebuah solusi guna mengatasi masalah diatas. dengan berusaha membuat sebuah harmonisasi antara ayat al-Qur'an dengan kebutuhan masyarakat saat ini. atau Al-Bahr Al-Muhith karya Abu Hayyan (w. atau Anwar Al-Tanzil karya Al-Baidhawi (w."Tidak dibenarkan seseorang hanya memperhatikan bagian-bagian dari satu pembicaraan. Kemudian kelemahan yang dinilai paling mendasar adalah metode semacam ini dirasa kurang relevan dengan perkembangan sosial masa kini. atau Ruh Al-Ma'ani karya Al-Alusi (w. 791 H). Misalnya. Kalau arti tersebut tidak dipahaminya. hal ini disebabkan oleh pemaparan tiap tema yang dilakukan secara parsial.

Perwujudan ide ini dalam bentuk satu kitab tafsir dipelopori oleh Syeikh Al-Azhar. Metode tematik tidak hanya . Ternyata munculnya ide seperti ini menuai banyak respon positif dari kalangan para mufasir. Dr. metode ini dinilai mampu menampilkan sebuah materi yang lebih spesifik dan efisien. istinbat al-hukm itu dilakukan. beliau berhasil menerbitkan kitab tafsirnya yang berjudul Tafsir al-Qur'an al-Karim. Sebab tafsir tematik tidak mencakup seluruh ayat-ayat yang ada dalam al-Qur'an. Jum'at Ali Abdul Qadir mengungkapkan bahwa tafsir tematik tidak bisa diartikan dengan menggunakan arti tafsir secara terminologi. TAFSIR TEMATIK Tafsir Tematik adalah metode tafsir yang berusaha menggali isi al-Qur'an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat tertentu yang mempunyai kesatuan maksud dan bersama-sama membahas topik/judul tertentu kemudian disusun secara sistematis sesuai dengan masa turunnya dan selaras dengan sebab-sebab turunnya. Dari definisi diatas. Disinilah beliau menerapkan metode tematik ini. yang dilanjutkan dengan menelisik lebih jauh tentang masalah itu melalui himpunan ayat-ayat quraniyah yang mempunyai keterkaitan erat. Pada tahun 1960. semakin lama metode ini semakin berkembang dengan cepat. Dengan memperhatikan ayat-ayat tersebut berikut penjelasan. III. Dengan mengambil satu tema. Berawal dari sini pulalah. keterangan serta korelasinya dengan ayat-ayat yang lain.tematik dihadirkan untuk menyempurnakan metode tahlili. Mahmud Syaltut. melainkan hanya mengambil pokok pembahasan tertentu untuk ditelaah lebih dalam.

al-Riba fi al-Qur'an oleh Abu al-A'la al-Maududy atau al-Aqiqah fi alQur'an milik Abu Zahra. metode ini bisa digunakan oleh seseorang sebagai dalil atas argumentasi mereka bahwa al-Qur'an sejalan sengan ilmu pengetahuan dan masyarakat. Al-Husaini Abu Farhah yang menulis Al-Futuhat Al-Rabbaniyyah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu'i li Al-Ayat AlQur'aniyyah dalam dua jilid. kemudian menjelaskan pengertian ayat-ayat tersebut yang mempunyai kaitan dengan tema . bahkan beberapa dosen di universitas tersebut telah berhasil mengeluarkan karyakarya ilmiahnya dengan bentuk yang sama. sehingga konklusi yang dihasilkan tampak lebih mudah dicerna oleh kalangan masyarakat dari berbagai strata. dengan memilih banyak topik yang dibicarakan al-Quran. ketua jurusan tafsir fakultas ushuluddin universitas al-Azhar sampai tahun 1981. Selain itu. Dr. metode ini dicetuskan pertama kali oleh Prof. karena disana ada semacam pembacaan realita. Dr. Di Mesir sendiri. Rupanya langkah ini menarik perhatian banyak pihak. Muqawwimat al-Insaniyah fi al-Qur'an karya Ahmad Ibrahim.menginduksi makna-makna yang terkandung dalam teks saja. Prof. dan lain sebagainya. munasabah masing-masing ayat. (2) Menghimpun ayat-ayat al-Quran yang membahas masalah tertentu dari berbagai surat alQuran (sedapat mungkin diurut sesuai dengan masa turunnya. Ahmad Sayyid Al-Kumiy. kemudian menghubungkan ayat-ayat yang beraneka ragam itu satu dengan lain dengan tema sentral tersebut. Diantaranya. Contoh tafsir model ini antara lain. apalagi jika yang dibahas adalah masalah hukum) sambil memperhatikan sebab nuzul. Ada dua bentuk metode penafsiran tematik: (1) Penafsiran satu surat dalam al-Quran dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan khusus atau tema sentral surat tersebut.

c. yang diterbitkan pada tahun 1977. e. Dr.atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh penafsiran dalam satu kesatuan pembahasan sampai ditemukan jawaban-jawaban al-Quran menyangkut tema (persoalan) yang dibahas. Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dalam menghimpun ayat-ayat yang berhubungan dengan tema yang diajukan. Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline). Abdul Hay Al-Farmawiy dalam bukunya yang bertajuk Al-Bidayah fi altafsir al-maudhu'i. Mereka berpendapat. seperti halnya yang dipaparkan oleh seorang guru besar pada fakultas ushuluddin al-Azhar. Prof. d. b. Langkah-langkah dalam penerapan metode tematik: Ada beberapa langkah yang harus ditempuh untuk bisa menerapkan metode tematik atau maudhu'i. Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik). disertai pengetahuan tentang asbab al-nuzulnya. ketika ayat-ayat yang terkumpul disinyalir keras bisa mewakili maksud dari satu tema. maka tidak perlu/harus mengumpulkan ayat-ayat yang lain untuk menjelaskannya. beberapa ulama menekankan bahwa tidak harus mengumpulkan seluruh ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan tema tersebut. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing. Adapun langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: a. .

tanpa perbedaan atau pemaksaan. korelasi dari ayat satu dengan yang lainnya. kita bisa menyimak penjelasannya mengenai korelasi antara ayat tersebut dengan kalimat sesudahnya (‫)ال جأخرٍ سٌة وال ًىم‬. serta alasan Allah memilih dua redaksi diatas mengingat banyak sekali padanan kata yang dimiliki oleh tiap kata dari bahasa Arab. Beliau juga lebih menonjolkan maksud dari penggunaan redaksi. kedudukan. beliau menjabarkan tiap kata yang ada dalam al-Qur'an secara sistematis dari awal surat (al-Fatihah) sampai pada akhir surat (al-Nas). pemahaman linguistik menjadi sasaran utama. Perbedaan metode tematik dengan model penafsiran yang lain a) Tematik vs Analitik Dua metode ini jelas sangat berbeda. atau antara (‫ )وسع كسسيَ السوبوات و األزض‬dengan (‫ )وال يؤدٍ حفظهوب‬. Seperti kata (‫)الحي القيىم‬. Selain itu.f. Salah satu sample konkretnya adalah penjabarannya tentang ayat "kursy". Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok bahasan. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama. mutlak dan muqayyad (terikat). dalam tafsir al-jami' li ahkam al-Qur'an nya yang tersusun sebanyak sebelas jilid berikut fihris nya. Hal ini tampak sekali pada langkah-langkah yang digunakan oleh tiap-tiap metode. Dalam menafsirkan ayat yang terdiri dari sepuluh kalimat ini. atau mengkompromikan antara yang 'am (umum) dan yang khash (khusus). sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara. Beliau juga mencoba menguraikan alasan Allah mengakhiri ayat tersebut dengan . yang mana metode analitik dilakukan dengan cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an sesuai dengan susunan redaksinya dalam mushaf. AlQurthuby misalnya. atau yang pada lahirnya bertentangan. g. beliau menjelaskan tentang apa makna dari kata tersebut. serta kemu'jizatan al-Qur'an.

Sehingga bahasan lebih terfokus pada tema tersebut bukan pada dimensi yang lain dari tiap ayat. Disini al-Shobuny menuangkan interpretasinya secara gamblang dengan menggunakan metode maudhu'i dan metode yang diterapkan oleh beliau termasuk dalam kategori tematik bentuk pertama. kebesaran serta kekuasaan Allah Swt. dan shafwa al-Tafasir (Tafsir-tafsir pilihan). Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya ayat-ayat ilahiyah. Tidak demikian dengan tematik. Pertama. jihad dan lain sebagainya. haji. Salah satu contohnya bisa kita lihat pada kitab tafsir "Cahaya al-Qur'an" yang merupakan terjemahan dari kitab Qabasun min Nur al-Qur'an karya Muhammad Ali alShabuny atau al-Bayan Tafsîr ayât fi Ahkâm min al-Qur'an milik Rawai'. menurut beliau substansi surat ini lebih banyak berkutat pada penetapan-penetapan hukum syar'i seperti puasa. Atau dalam surat Ali 'imran. Komposisi kitab Cahaya al-Qur'an terdiri dari surat al-Baqarah sampai al-An'am. menjelaskan tentang akidah Islam yang beruhubungan dengan keesaan. . yang khusus membahas tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah hukum.menyebutkan dua sifat wajib-Nya ‫)العلي العظين‬. Dalam surat al-Baqarah misalnya. kedua. Begitulah al-Qurthuby menerapkan metode tahlili ini. Disini Ali al-Shobuny mengklasfikasikan ayat dalam sub-sub tertentu sesuai dengan tema yang terkandung di dalamnya. pengarahan dan penetapan syari'at. metode ini lebih menitikberatkan pada satu tema pokok yang kemudian dikolaborasikan dengan ayat-ayat qur'aniyah. berbicara tentang syari'at khususnya yang berkaitan dengan jihad fi sabil al-Allah. yang mana terdapat dua poin penting disana. hal ini disebabkan oleh kedudukannya sebagai ayat madaniyah yang lebih menitikberatkan pada petunjuk.

Seperti masalah perempuan. b) Tematik vs Komparasi Metode komparasi yang familiar dengan sebutan tafsir muqarin adalah metode yang ditempuh dengan cara mengkomparasikan atau membandingkan ayat-ayat al-Qur'an dengan al-Qur'an ataupun sunah yang mempunyai kesamaan redaksi namun substansi yang diusung berbeda. maka mufasir harus mengumpulkan ayat-ayat yang mempunyai keterkaitan dengan tema tersebut. yang mengakibatkan terabaikannya ayat lain yang masih mempunyai keterkaitan. seringkali tafsir yang memakai metode tematik bisa menuntaskan masalah-masalah yang ada dalam al-Qur'an. Jika metode analisis lebih mengarahkan eksploitasi ayatnya pada berbagai segi seperti linguistik. yang artinya mufasir mencari satu tema yang "up to date" di perbincangkan dalam masyarakat saat ini. maka metode tematik melakukan sebaliknya. lalu diikuti dengan konklusi serta solusi yang ditawarkan. Oleh sebab itu. Cakupan teknis metode ini tidak berkutat pada makna kosakata atau dari segi estetikanya (kecuali hanya sebatas yang dibutuhkan dalam pembahasan pokoknya). ataupun sebaliknya redaksi berbeda namun substansi hampir sama. Pembahasan tentang riba misalkan. i'jaz.Untuk bentuk kedua yaitu menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan tema yang dibahas. Hal ini dikarenakan pembahasan yang ada dalam tafsir tahlili lebih diarahkan pada pembahasan ayat secara independent. namun substansi berikut konklusi lah yang menjadi sasaran utama. estetika dan lain sebagainya. etika dalam bermu'amalah atau yang lainnya. serta membandingkan tafsir atau pendapat ulama yang berhubungan dengan interpretasi ayat al- . Atau didahului dengan pembacaan realitas. baru kemudian dikolaborasikan dengan dalil-dalil qur'aniyah. kepemimpinan. Disini tentunya seorang mufasir harus menentukan terlebih dahulu tema yang akan dikajinya.

engkau ciptakan saya dari api sedang dia engkau ciptakan dari tanah. Apakah kamu menyomobongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?") Seperti yang tampak jelas dari dua ayat diatas. umumnya para mufasir hanya menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan perbedaan kandungan pada tiap-tiap ayat tersebut. misalnya Al-Khatib Al-Iskafi dalam kitabnya Durrah al-Tanzil wa Ghurrah al-Ta'wil Dalam mengkomparasikan ayat-ayat al-Qur'an. Shad 75 ‫ اسحكبست ام كٌث هي العبليي‬،‫قبل يببليس هب هٌعك اى جسجد لوب خلقث بيدي‬ (Allah berfirman."hai Iblis. Keduanya mempunyai redaksi yang sedikit berbeda. Mufasir yang menempuh metode ini.Qur'an. Seperti perbedaan yang antara surat al-A'raf ayat 12 dengan surat Shad ayat 75 berikut ini: Surat al-A'raf ayat 12 ‫ خلقحٌي هي ًبز و خلقحَ هي طيي‬،ٌَ‫ قبل أًب خيس ه‬،‫قبل هب هٌعك اال جسجد اذأهسجك‬ Allah berfirman."saya lebih baik daripadanya. apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah kuciptakan dengan kedua tangan-Ku." apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu aku menyuruhmu?" Iblis menjawab. Sama halnya perbedaan yang terjadi antara surat al-Anfal ayat 10 dengan surat Ali Imran ayat 126 sebagai berikut: . namun substansi yang dibawa sama yaitu sama-sama menjelaskan tentang kesombongan Iblis yang tidak mau mengikuti perintah Allah untuk berdujud kepada nabi Adam.

Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Seperti halnya perbedaan antara al-Qurthuby. lain halnya yang diungkapkan oleh Imam al-Kalby. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang maha Perkasa lagi maha Bijaksana). Cakupan makna yang dirangkum dalam tafsir komparasi terbilang lebih sempit dari pada metode tematik. melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Imam Baihaqy dan Imam al-Kalby yang berbeda dalam mengartikan kata (‫ )القيىم‬dalam ayat kursy. Hal ini disebabkan oleh penjelasan mufasir komparasi yang berputar pada pembahasan redaksional . beliau mengatakan al-qoyyum berarti "yang tidak ada permulaannya".Surat Al. Tentu saja tafsir model ini berbeda dengan tafsir tematik.anfal ayat 10 ‫ اى هللا عزيز حكين‬،‫ وهب الٌصس االهي عٌد هللا‬،‫وهب جعلٌَ هللا اال بشسي ولحطوئي بَ قلىبكن‬ (dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu). Ali imran 126 ‫ اى هللا عزيز حكين‬،‫ وهب الٌصس اال هي عٌد هللا‬،َ‫وهب جعلَ هللا اال بشسي لحطوئي قلىبكن ب‬ (dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira (bagi kemenanganmu). Selain menyajikan komparasi antara ayat dengan ayat. dan agar tenteram hatimu karenanya. sesungguhnya Allah maha Perkasa lagi maha Bijaksana). tafsir muqarin ini juga membandingkan tafsir dan pendapat ulama yang berhubungan dengan interpretasi ayat. Al-Qurthuby mengartikan kata tersebut dengan "mengatur atau mengurusi (makhluknya) secara terus-menerus". Nah dari sinilah biasanya seorang mufasir akan menarik sebuah kesimpulan mengenai interpretasi ayat-ayat tersebut. sedangkan makna yang ditawarkan oleh Imam Baihaqy adalah "yang tidak tidur".

juga mencoba menelaah kandungan-kandungan ayatnya. yaitu dari awal hingga akhir surat. c) Tematik vs Global Metode global (Ijmali) adalah metode penafsiran yang mencoba menguak makna alQur'an secara singkat dan global. sehingga tidak bisa membawa esensi al-Qur'an secara komprehensif. sepertinya tafsir yang dilakukan secara tematik mempunyai peran penting sebagai salah satu media masyarakat dalam . Lain halnya dengan tematik yang lebih mengedepankan tema yang diangkat dalam bahasannya. metode inipun terkesan membingungkan sang pembaca.saja. Dalam metode ini. selain menghimpun ayat-ayat yang mempunyai relasi dengan tema. MENGUKUR NILAI RELEVANSI TAFSIR TEMATIK. Sementara tematik. Menghadapi kondisi sosial masyarakat saat ini. langkah-langkah. Hal ini dikarenakan susunannya yang sama dengan metode tahlili. perbedaan dengan model penafsiran yang lain. uraian yang dipaparkan pun lebih jelas dan mengena dalam masalah-masalah yang ada dalam masyarakat. Selain lebih terfokus pada poin sasarannya. Keistimewaan metode ini ada pada kemudahan dalam pemahamannya. sisitematika yang digunakan sama dengan metode tahlili. Disini pulalah letak perbedaan antara tafsir tematik dan tafsir global. sudah sewajarnya pertanyaan seputar relevansi atas aplikasi tafsir tematik dalam kondisi masyarakat saat ini masuk dalam list perbincangan kita. Selain uraiannya yang terlalu singkat. dan lain sebagainya) diatas. hanya saja interpretasi yang dihasilkan lebih singkat dan belum sampai pada analisis yang lebih detail. mencari sinonim-sinonimnya. IV. Imam Jalaluddin al-Sayuthi adalah salah satu imam yang masyhur menerapkan metode ini dalam kitabnya Tafsir al-Jalalain. Setelah sedikit uraian yang menjelaskan tentang sosio-historis serta sisi intern tafsir tematik (bentuk-bentuk.

mereka hanya butuh pemahaman (terhadap suatu ayat) yang telah sampai pada tataran praktis. Menurut sebagian ulama. sehingga bisa dibilang hanya orang-orang tertentu yang memiliki kapabilitas dalam bidang itulah yang dapat memahami kandungan al-Qur'an. mufasir tematik juga harus mempelajari kondisi sosio historis masyarakat dengan memperhatikan . seakan menuntut mereka untuk bisa mendapatkan sesuatu secara instant. karena pembacaan realitas akan dilakukan terlebih dahulu sebelum menetapkan pokok bahasan tersebut. Tahlili misalkan. Namun. Metode tematik bisa dibilang mampu "membumikan al-Qur'an". Sehingga bisa disimpulkan bahwa masyarakat tidak menginginkan teori. bahkan tak jarang kita menemukan orang yang bersikap apriori dalam memahami al-Qur'an lebih mendalam. Selama ini. bahwa salah satu urgensitas tafsir adalah sebagai media dalam mengartikulasikan makna-makna yang terkandung dalam al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia. tafsir yang berkembang ditengah kehidupan masyarakat adalah tafsir dengan metode analitik yang bersifat teoretis. Dibanding tiga metode yang lain. Dalam arti. Umumnya. Lain halnya dengan tafsir tematik yang memang mempunyai jangkauan bahasan lebih spesifik dan aplikatif.memahami makna-makna yang ada pada kalam Allah Swt. Hal ini bisa kita lihat dari langkah awal ketika mufasir tematik menetapkan permasalahan yang akan dibahas. Telah maklum. mampu menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur'an mudah diserap oleh masyarakat dari kalangan manapun. Selain itu. Mufasir tematik tidak akan sembarangan mengambil tema sebagai sasaran bahasannya. tafsir ini lebih menitikberatkan pada penafsiran yang bersifat teoretis. kondisi sebagian besar masyarakat yang cenderung bersikap pragmatis. munculnya tafsir tematik mampu menjadi sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan yang berkembang dalam masyarakat masa kini. masyarakat (awam khususnya) mengalami kesulitan ketika dihadapkan dengan tafsir dengan model yang lain. metode ini dinilai paling relevan untuk diaplikasikan sebagai rekomendasi metode tafsir kontemporer.

mufasir tematik juga berusaha mengkolaborasikannya dengan disiplin keilmuan yang lainnya seperti sains. ketika menafsirkan satu tema dalam satu surat. sebenarnya mereka mempunyai kesamaan orientasi. sehingga tema yang diangkat bisa diprioritaskan pada persoalan yang menyentuh mereka. dalam alQur'an terdapat ayat-ayat yang sifatnya mutasyabih dan itu berarti antara satu surat dengan surat lainnya mempunyai korelasi yang kuat. Namun. Selain itu. mufasir tematik juga mampu menyusun sistematika penulisan secara apik untuk dikonsumsi oleh masyarakat umum. Seiring meningkatnya progresifitas pemikiran manusia. Sehingga jika kita ingin memahami isi al-Qur'an secara komprehensif. Ada juga yang berusaha mengkolaborasikan dua metode sekaligus yaitu tahlili dan maudhu'i. etika bermuamalah. saat inipun banyak sekali bermunculan model-model tafsir dengan beraneka pendekatan yang digunakan.masalah yang sedang berkembang saat itu. Namun di sisi lain. Menurut beliau. Kendati demikian. teologi dan sebagainya. EPILOG Upaya untuk menafsirkan al-Qur'an memang selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Pak Chodjim misalnya. ternyata tidak semua ulama mengamini metode ini. yaitu upaya . V. Karena dalam penerapannya. musyawarah. perempuan. tafsir tematik tidak hanya mengkorelasikan antara ayat dengan ayat. Maka tak heran jika kita temukan puluhan lebih tafsir-tafsir yang menggunakan metode ini beredar di pasaran. ibadah dan lain sebagainya. Selain itu. beliau dikenal sebagai penulis buku-buku best seller seperti Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar dan sekarang sedang menulis tafsir al-Qur'an. maka kita harus menafsirkannya menurut sistematika dalam mushaf. maka beliau akan menarik ayat-ayat yang berhubungan dengan tema tersebut untuk kemudian dibahas lebih lanjut. Seperti masalah riba.

Semoga makalah sederhana ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Para mufasir selalu berusaha sebisa mungkin mentransfer values alQur'an sehingga benar-benar mampu menjadi pijakan hidup bagi manusia. Tafsir tematik salah satunya. yang mana mengharuskan mufasirnya benar-benar memperhatikan langkah-langkah yang harus diambil sebelum mulai menginterpretasikan ayat-ayat tersebut. . Hal ini disebabkan oleh pokok bahasan yang lebih terfokus pada satu tema yang menjadikan penafsiran itu bersifat spesifik dan mudah dicerna. Amin. Demikianlah sedikit uraian yang bisa penulis sampaikan tentang tafsir tematik berikut perangkat-perangkat serta nilai relevansinya. Namun. metode ini mucul dengan tujuan untuk memudahkan para pembaca dalam memahami isi al-Qur'an sekaligus mengaplikasikannya. hal ini tentunya harus didukung dengan adanya tafsir tematik yang ideal. Tafsir tematik dinilai relevan untuk disajikan kepada masyarakat masa kini.membumikan al-Qur'an.

Dar al-Marefah. Cet I. 2003. Terjemahan Eva F. 1976. Sholah Abdul Fattah.BIBLIOGRAFI Maarif. 1993. Robith. Jum'at Ali. al-tafsir wal mufassirun fi 'asyr al-hadits. makalah interpretasi ayat Ilahiyah (dengan menggunakan pendekatan linguistik). Jalal al-fikr fi al-tafsir al-maudhu'I li al-ayat min al-dzikr. 25 Oktober 2006. Abdul qadir. "hal ladayna nazhariyah al-tafsir?" dalam Hassan Hanafi. II. 1998. Membumikan al-Qur'an. cet I. Shihab. Amrullah dari Hassan hanafi. Said. Yogyakarta: SIPRESS. Resensi buku Cahaya al-Qur'an yang diterjemahkan dari buku aslinya Qabasun min Nur alQur'an karya tafsir Muhammad Ali Ash-Shabuny. Artikel yang berisi interview dengan Achmad Chodjim. Dar al-nafais. Dr. penafsiran "Khalifah" dengan metode tematik. cet I. Kita Selalu Butuh Tafsir yang sesuai Zaman. Maramita. Abdul Qadir. M Quraish. Dr. Qadhaya Mu'asharah fi fikrina al-mu'ashir I. makalah Menyelami Dunia Tafsir Elfani. 4 Desember 2006. 2001. Pustaka al-kautsar. Cairo: Dar al-fikr al-'Arabi. Muhammad Sholih. cet. al-Kholidy. . Qashidi. Al-Qur'an dan tantangan Modernitas. Artikel Suryaningsih. 2002. Ahmad Syafii dan Tuhuleley. al-tafsir al-maudhu'i.