Perforasi membran timpani

Definisi
Perforasi atau hilangnya sebagian jaringan dari membran timpani yang menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi dari membrane timpani. Membran timpani adalah organ pada telinga yang berbentuk seperti diafragma, tembus pandang dan fleksibel sesuai dengan fungsinya yang menghantarkan energy berupa suara dan dihantarkan melalui saraf pendengaran berupa getaran dan impuls-impuls ke otak. Perforasi dapat disebabkan oleh berbagai kejadian, seperti infeksi, trauma fisik atau pengobatan sebelumnya yang diberikan.

Gejala Klinis
Beberapa gejala klinis yang timbul pada perforasi membran timpani adalah       Penurunan pendengaran Sensasi mendengar suara siulan saat meniup telinga atau bersin Cairan yang keluar dari telinga dapat terus menerus Tanda-tanda infeksi telinga tengah (demam, nyeri, telinga berdenging) Hilangnya fungsi pendengaran (test pendengaran), hal ini menentukan apakah penderita membutuhkan alat bantuan pendengaran atau tidak. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan biasanya adalah, Otoskopi, timpanometri, Test pendengaran (swabach, webber, dan rinne)

Tatalaksana
Terapi pengobatan pada perforasi membrane timpani ditujukan untuk mengendalikan infeksi pada telinga tengah. Mengingat juga penyebab dari perforasi yang disebabkan pengobatan sebelumnya. Penggunaan anti bacterial sebaiknya digunakan jika hasil kultur dan resistensi sudah didapatkan. Beberapa pengobatan invasive adalah, kauterisasi pada ujung membrane timpani. Penyumbatan pada lubang baik dengan lemak atau bahan sintetis yang tidak menimbulkan reaksi tubuh penerima (timpanoplasty). Pengobatan yang terakhir ini memiliki tingkat keberhasilan 80 hingga 90 % tergantung dari besarnya perforasi maupun komplikasi yang timbul.

Epidemiologi
Insidensi di populasi belum diketahui, tetapi biasanya terdapat pada Negara-negara berkembang atau Negara tertinggal, hal ini disebabkan oleh kurangnya faktor gizi, dan tingkat pelayanan kesehatan dari Negara tersebut.

Etiologi
Penyebab tersering dari perforasi membrane timpani adalah infeksi sebelumnya. Infeksi akut pada telinga tengah seringkali menyebabkan terjadinya kurangnya suplai darah ke membrane timpani yang seringkali berjalan dengan peningkatan tekanan pada telinga dalam, hal ini mengakibatkan robeknya atau hilangnya jaringan membrane timpani, yang biasanya diikuti dengan rasa nyeri. Jika robeknya membrane timpani tidak menyembuh maka akan terjadi hubungan antara telinga tengah dan telinga luar, yang seringkali menyebabkan infeksi yang berulang dan resistensi terhadap antibiotic yang digunakan berulang kali. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah jika infekti telah

menyebar kedalam kepala sehingga menimbulkan infeksi di kepala. Penyebab lain dari perforasi adalah trauma fisik dari telinga, yang tersering adalah pukulan yang keras kearah telinga dalam, tenaga yang timbul dapat memecahkan atau merobek membran timpani. Beberapa trauma yang lain adalah, perubahan tekanan pada telinga yang berubah secara mendadak, pada contohnya sering pada penyelam, yang didahului dengan gangguan pada saluran telinga dan mulut, peradangan ataupun infeksi.

http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/67/perforasi-membran-timfani

Perforasi Gendang Telinga
DEFINISI Perforasi Gendang Telinga ( Eardrum Perforation) adalah suatu keadaan dimana ditemukan lubang pada gendang telinga. Gendang telinga (membran timpani) merupakan pemisah antara telinga luar dan telinga tengah. Jika gelombang suara menyentuhnya maka gendang telinga akan bergetar dan hal ini merupakan awal dari proses perubahan gelombang suara menjadi impuls saraf yang akan menuju ke otak. Jika terjadi kerusakan pada gendang telinga maka proses pendengaranpun akan terganggu. Gendang telinga juga bertindak sebagai penghalang masuknya bahan-bahan dari luar telinga (misalnya bakteri). Jika terjadi perforasi gendang telinga, maka bakteri dengan mudah akan masuk ke dalam telinga dan menyebabkan terjadinya infeksi.

PENYEBAB Lubang pada gendang telinga bisa terjadi jika suatu benda dimasukkan ke dalam telinga (misalnya cotton-bud) atau jika suatu benda secara tidak sengaja masuk ke dalam telinga (misalnya ranting pohon yang terlalu rendah). Terjadinya lubang pada gendang telinga juga bisa disebabkan oleh peningkatan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba (misalnya akibat ledakan, tamparan atau menyelam) atau oleh penurunan tekanan yang juga terjadi secara tibatiba. Infeksi telinga juga bisa menyebabkan perforasi gendang telinga karena terjadi peningkatan tekanan cairan di dalam telinga tengah sehingga mendorong gendang telinga dan akhirnya terbentuklah lubang pada gendang telinga.

GEJALA Perforasi gendang telinga menyebabkan nyeri hebat yang timbul secara tiba-tiba, diikuti oleh perdarahan dari telinga, hilangnya pendengaran dan tinitus (telinga berdenging). Kehilangan pendengaran akan lebih buruk jika disertai oleh gangguan pdada rantai tulang pendengaran atau cedera pada telinga bagian dalam. Cedera pada telinga bagian dalam juga bisa menyebabkan vertigo (perasaan berputar). Dalam waktu 24-48 jam bisa keluar nanah dari telinga, terutama jika telinga kemasukan air.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dengan menggunakan otoskop, dokter bisa melihat adanya lubang pada gendang telinga.

PENGOBATAN Untuk mencegah terjadinya infeksi, biasanya diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut). Penderita harus menjaga agar telinganya tetap kering. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik. Biasanya tanpa pengobatan lebih lanjut, gendang telinga akan membaik. Tetapi jika dalam waktu 2 bulan tidak terjadi perbaikan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki gendang telinga (timpanoplasti).

PENCEGAHAN Berhati-hatilah ketika sedang membersihkan telinga dengan menggunakan cotton bud. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. anatominya juga sangat rumit . Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah. Letak perforasi di pars flaksida membran timpani. diduga telah terjadi gangguan pada tulang pendengaran dan harus diperbaiki melalui pembedahan. suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita. ahli audiologi. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor . Gendang telinga/membran timpani/tympanic membrane/eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. ahli patologi wicara dan pendidik. Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. Konsistensinya bisa encer atau kental. Perforasi membran timpani permanen adalah suatu lubang pada membran timpani yang tidak dapat menutup secara spontan dalam waktu 3 bulan setelah perforasi. perawat. Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. saat ini dapat memperoleh sertifikat di bidang keperawatan otorinolaringologi leher dan kepala (CORLN= cerificate in otorhinolaringologyhead and neck nursing). Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. Obatilah infeksi telinga secara tuntas. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. yaitu : 1)Perforasi sentral (sub total). Jika telinga kemasukan sesuatu.html Pendahuluan Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). http://sehat-enak. mintalah bantuan dokter umum/dokter ahli untuk mengeluarkannya. pediatrisian. trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping.blogspot. Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi.Jika hilangnya pendengaran bersifat menetap. dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. Perawat yang terlibat dalam spesialisasi otolaringologi. 2)Perforasi marginal. Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. 3)Perforasi atik. Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). internis.com/2010/01/perforasi-gendang-telinga. Upaya penutupan perforasi membran timpani permanen secara konservatif masih diperlukan oleh karena terapi secara operatif memerlukan peralatan yang tidak selalu tersedia di rumah sakit kabupaten atau kota dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa.

otot. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Anatomi dan Fisiologi Telinga Anatomi Telinga Luar Telinga luar. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. nyeri telinga (otalgia). dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis. Normalnya. di mana suara dihantar telinga tengah. Bila ini terjadi. gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. Anatomi Telinga Dalam Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian. glandula seruminosa. Ketiga kanalis semisi posterior. tuba eustachii tertutup. dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen. yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus. yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis). atau struktur berbentuk cincin. Anatomi Telinga Tengah Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga. penting rasanya untuk memahami anatomi dan fisiologi telinga terlebih dahulu secara umum. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago. dan ligamen. Untuk memahami hal ini lebih lanjut. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.dsb. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval.5 sentimeter. yang membantu hantaran suara. inkus stapes. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm. kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. menghubngkan telingah ke nasofaring. yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2. superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan .

bagian luar lanjutan kulit liang telinga. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. hanya terdiri dari dua lapis tanpa jaringa ikat di bagian tengah. sebagain besar gendang telinga merupakan pars tensa. Jenis tuli lainnya yaitu tuli sensorik yang disebabkan rusaknya sistem saraf pendengaran. merupakan lanjutan mukosa telinga tengah. dinamakan organ Corti. Kerusakan pada gendang telinga dapat menyebabkan tuli yang konduktif. nervus koklearis (akus-dk). di tengah jaringan ikat. 2. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam. mengarah ke medial. namun dapat juga karean trauma. Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. Pars flaksida. Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar. Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya. Lapisan fibrosa tidak terdapat di bagian atas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timpani yang disebut membrana Shrapnell menjadi lemas (flaksid). banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. . Tuli konduktif adalah hilangnya pendengaran karena tidak dapat tersampaikannya getaran suara. yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. dan bagian dalam yang mengarah ke telinga tengah. akulus. Gendang telinga atau membrana tympani adalah selaput atau membran tipis yang memisahkan telinga luar dan telinga dalam. utrikulus. namun tidak sem-purna mengisinya. Gendang telinga secara anatomi dibagi 2 yaitu pars tensa (tegang) dan pars flaksida. 1. Gendang telinga / membran timpani /tympanic membrane / eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. meluas melampaui batas atas membran timpani. bagian atas gendang telinga (daerah atiq). Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang selsel rambut utrikulus. Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3.5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus. bergabung dengan nervus vestibularis. dan bahwa ada bagian hipotimpanum yang meluas melampaui batas bawah membrana timpani. duktus koklearis. umbo. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang. terdiri dari 3 lapis. Labirin membranosa memegang cairan yang dina¬makan endolimfe. lapisan fibrosa di bagian tengah dimana tangkai maleus dilekatkan. dan sakulus. Di dalam lulang labirin. Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Pars tensa. dan kanalis semisirkularis. menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Kerusakan gendang telinga berupa bolong/pecah (perforasi) terutama disebabkan infeksi telinga tengah (Otitis Media). dan lapisan mukosa dibagian dalam. Di dalam kanalis auditorius internus. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus. Akibatnya terja¬di aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak. Membrana timpani umumnya bulat.Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe.mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. yang muncul dari koklea. Ia berfungsi untuk menghantar getaran suara dari udara menuju tulang pendengaran di dalam telinga tengah. Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak. dan organan Corti. yang muncul dari kanalis semisirkularis.

6 per 100. trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor dsb. Telah dijumlahkan sekitar 30-75% dari cedera kepala tumpul dikaitkan dengan lesi tulang temporal. Peningkatan mortalitas lebih sering terlihat dalam kelompok ini dikarenakan tingginya keterkaitan dengan trauma intrakranial. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. Etiology Perforasi TM timbul oleh mekanisme yang bervariasi dan sumber energi. Perubahan pada tekanan air selama penyelaman dapat menimbulkan cedera tipe tekanan. Hal ini timbul pada semua kelopok umur dengan predisposisi pada anak yang lebih sering dibandingkan dengan kebiasaan memasukkan benda asing ke dalam kanalis aurikula eksternal.4-8. gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. 2. Luka tembak berada dalam sumber yang meningkat dari trauma tulang temporal. Cedera Kompressi: Perubahan mendadak dalam tekanan udara sebagaimana dengan perubahan gradual (barotrauma) dapat menimbulkan kerusakan TM yang signifikan. wanita yang secara meningkat menjadi korban dari tamparan tangan terbuka dengan perforasi TM setelahnya. Ketergantungan terhadap trasportasi telah secara besar meningkatkan resiko dari cedera kepala. Cedera akibat ledakan lebih berat ketika refleksi sedikit atau kerusakan dari gelombang energi ledakan pada rute TM. biasanya akan disarankan penutupan gendang telinga ini melalui prosedur pembedahan/operasi (tentu setelah dievaluasi manfaat penutupan membran ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi pendengaran. Cedera Tembus: Penyebab sering kedua dari perforasi TM termasuk Q-tips. Tetapi biasanya dalam derajat keseriusan yang rendah.trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping. Ketergantungan pada transportasi kendaraan bermotor telah menambah peningkatan resiko akan terjadinya cedera kepala. suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita. bobby pins. Ukuran secara normal dijelaskan sebagai persentase perforasi (40% perforasi) atau secara langsung untuk perforasi yang kecil (contoh. Bila gejala dan sumber penyebabnya telah tertangani dan dalam penilaian selama 1 bulan gendang telinga ini tidak menutup spontan. mencegah bahaya infeksi berulang pada telinga tengah) Epidemiologi Membran timpani lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan telinga tengah atau telinga dalam. 3. dan untuk itu dapat menjadi berbagai bentuk dan ukuran. dan klip kertas yang seringkali digunakan untuk membersihkan saluran telinga luar . Kecelakaan ski air seringkali terlihat selama musim panas. nyeri telinga (otalgia). Klasifikasi lebih jauh dari perforasi marginal versus sentral adalah penting untuk management selanjutnya. Hal ini dikarenakan meningkatnya kekerasan domestik. kunci. atau 4 mm perforasi). Peraturan pemerintah yang baru dalam penggunaan keamanan dan tempat duduk anak-anak untuk MVAs dan proteksi kepala untuk kendaraan sangat menguntungkan sebagai bentuk dari pencegahan sekunder. Laki-laki dewasa muda lebih sering mengalami cedera perforasi. Mereka dijelaskan dalam kaitannya dengan empat kuadran TM yang dibedakan dari tangan malleus. Umumnya dokter THT akan menangani keadaan akut ini dahulu dengan meredakan gejala dan sumber penyebabnya sambil dievaluasi kondisi membran/gendang telinganya. Insidensi pertahun dari perforasi traumatik bervariasi antara 1. Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun.0000.

dgn menyedihkan. ketetapan dari rantai). Perforasi Marginal dianggap “tidak aman” karena kulit yang berhubungan dgn kanal eksternal.Cedera Suhu: Pada komunitas industri. pasien akan terganggu berulang karena infeksi telinga dan keluar air dari telinganya. Traumatic Perforasi TM yang dapat terluka dalam berbagai cara. dan keberadaan atau ketiadaan epithelialization harus dievaluasi. cedera penetrasi. yang pneumatic otoscope. mengkauterisasi ujung-ujungnya seperti berjalan melalui ke dalam telinga. sebuah ledakan kuat di dekat telinga juga dapat meledak pada drum. yang akan dijelaskan pada bab akhir nanti. hal ini dirasakan untuk menjadi kurang setuju jika hanya mendapatkan terapi observasi Cedera listrik: Konduksi elektrik yang instan dari sengatan listrik diduga dapat menyebabkan kerusakan pada TM baik berupa penekanan atau perubahan tekanan rarefaksi. Beberapa mungkin akan sulit untuk dilihat pada pemeriksaan. Mereka mungkin kecil dan tersembunyi di balik exudates atau sumbatan darah atau juga akan dikaburkan dengan tulang punuk dari kanal anterior dinding. Jenis perforasi ini biasanya di anterior dan inferior. Cedera ini juga kurang untuk bisa sembuh dengan sempurna. kondisi yang ossicular rantai (jika mungkin). Skenario seringkali melibatkan orang yang membersihkan telinga dengan alat. Dikarenakan kerusakan jaringan dan dikaitkan dengan resiko infeksi. dan kadang-kadang. TM yg tak bergerak akan terlihat dengan perforasi. Kapanpun membran timpani yang didiagnosis perforasi. hot welding slag is occasionally encountered as the culprit for TM injuries. Sering kali. Penyebab lain adalah ledakan membran karena tamparan atau kepalan tangan ke telinga. Perforasi Membran Timpani biasanya hadir pada pars tensa. Jarang. ( sangat berbakat TM atau lem tglue ear juga dapat menampilkan imobilitas). dengan udara yang cukup di kanal. particle panas dapat menembus TM. Sebaliknya. merupakan kunci untuk diagnosa. tidak ada perforasi. orang kedua kurang hati-hati menyikutkan sikunya ke telinga hingga menyebabkan cedera. penyembuhan yang spontan sangat jarang dan infeksi berulang dan drainase dapat terjadi. tiga hal berikut harus menjadi pertimbangan dipenuhi: 1) Pada tingkat yang perforasi situs. In industrial communities such as ours. akustik biasanya menyebabkan kerusakan pada labirin juga. Perforasi trauma berbeda dalam ukuran dan lokasi. Dalam hal ini. dan sisanya dari keadaan di sekitar membran timpani perforasi harus ditentukan. ukuran. komunikasi patologi ini terletak di tengah dan telinga luar dan dapat dianggap sebagai “hiliran udara yang benar. Jika pemeriksa dapat melihat bagian dari drum. Perforasi Pars tensa dapat berupa sentral atau marjinal. 3) pemeriksaan otoscopic harus dilengkapi dengan audiometry nada murni untuk memiliki pemahaman yang lebih baik dari ossicular rantai (kemungkinan erosi yang incus. 2) Pada tingkat tengah telinga.” Dengan adanya perforasi membrane timpani. Perforasi Pars flaccida umumnya terkait dengan epitympanic cholesteatoma. jika drum adalah mobile. korban akan mencoba untuk menyembunyikan setiap detail kejadian saat datang ke kantor. adalah cara pertama yang langsung. Perforasi Marginal terletak di pinggiran dari membran timpani dengan ketidakhadiran dari annulus fibrosus. Jika perforasi membrane timpani tidak sembuh secara spontan. anggota keluarga yang Kasar mungkin terlibat. karena . keadaan mucosa. Kecelakaan menyelam dan ski air mungkin juga dapat meledakkan drum. Akhirnya. lapisan epithelial dan mucosal merayap dan bertemu di sepanjang batas-batas yang perforasi.

untungnya . tetapi juga sangat mengurangi risiko yang dapat mengakibatkan iatrogenic cholesteatoma. Kebanyakan trauma perforasi (mungkin 90%) dapat sembuh spontan. demam berdarah masih menjadi penyebabnya. Pemeriksaan Otoscopic sering dapat menentukan persambungan antara kulit dan mucosa pada batas-batas perforasi membran timpani. secara umum diamati bahwa kehilangan pendengaran terjadi di frekuensi yang lebih rendah dan perforasi untuk ukuran yang sama. Lihat untuk kehilangan pendengaran dengan inordinate yang besar (> 35 dB HL) atau keberadaan vertigo sebagai petunjuk. sehingga menimbulkan cholesteatoma. dapat dengan mudah maju ke arah telinga. Namun. Mayoritas posttraumatic dan postotitic perforasi sembuh spontan. mungkin terjadi. Di negara-negara lain. TM jadi merah. Hal Ini akan memerlukan pembedahan jika mereka tidak menunjukkan tanda-tanda penutupan setelah pengamatan selama beberapa bulan. Pada persambungan ini squamous epithelium memiliki “seperti beludru” penampilannya. necrotizing otitis media akut. Nekrosis dari TM sentral secara typikal besar meninggalkan bentuk ladam-lubang yang besar di drum . Trauma perforasi yang sangat besar sedikit sekali untuk sembuh. kerusakan telinga tulang kecil bagian tengah. Disini. Sebuah pengceualian timbul dengan langka. invagination dari kulit terhadap sisa permukaan membran timpani lebih sulit untuk didiagnosa. Kehilangan pendengaran konduktif yang disebabkan oleh perforasi membran timpani mempunyai dua penyebab utama: 1) Pengurangan permukaan daerah membran timpani dimana tekanan akustik melebihi tindakannya. Migrasi kulit ini disukai dengan atrophi mucosa yang terjadi sebagai akibat dari perforasi. Hampir semua ini dapat sembuh dalam beberapa hari. perforasi dapat menjadi permanen. Pada saat myringoplasty. Pada semua perforasi trauma. Namun. agresif. dan pembukaan kecil tersebut tidak selalu terlihat. obat tetes telinga antibiotik Topical mungkin ditunjukkan jika drainase dan infeksi ada. kehilangan pendengaran lebih sering terjadi lagi di perforasi posterior dibandingkan di anterior . basah. Ketika bagian besar dari membran timpani yang hilang atau bila infeksi kronis atau berulang terjadi. sebagian besar perforasi tetap dibuat. Tes Weber dan tes Rinne bermanfaat di sini.ketiadaan dari annulus. Hal Ini biasanya disebabkan oleh streptococcus beta dalam kaitannya dengan keparahan seperti infeksi virus campak. Hindari diri dari air dan observasi awal adalah satu-satunya perawatan yang diperlukan. Adanya cincin merah de-epithelialized sepanjang perforasi rim menunjukkan evagination dari mucosa ke arah luar permukaan membran timpani residu. Dalam kasus ini. membran timpani harus diperbaiki (myringoplasty) untuk mengembalikan fisiologi normal telinga. yang paling shortlive. dengan oval atau jendela sepanjang perpecahan. Hal Ini adalah salah satu yang dihasilkan dari otitis media akut. dengan asumsi yang diberikan antibiotic. 2) Pengurangan dari gerakan vibrasi cairan cochlear karena suara mencapai kedua jendela hampir di waktu yang sama tanpa pemendekan dan tahap perubahan -efek dari membran timpani yang utuh Tempat perforasi tidak dapat dikaitkan dengan pola audiomerik tertentu. perforasi tidak hanya meninggalkan kulit yang terperangkap pada permukaan drum. Dalam kasus ini. Perforasi dari Infeksi Akut Trauma yang paling sering terjadi adalah perforasi.

Temuan ini harus curiga dan waspada. dapat dipastikan dari riwayat pasien. exudates biasanya mempunya organism yang sama seperti yang terlihat pada otitis eksterna. Pada era pra-antibiotik hal ini merupakan salah satu penyebab kronis perforasi. sekitar TM seringkali menebal dan berparut. . dengan jelas keluarnya. Kehilangan pendengaran ini besar secara inordinate dikarenakan keterlibatan telinga dalam dengan basil. jika diperlukan). Tympanoplasty. Pada kenyataannya. Kami lebih mengutamakan teknik dasar dalam mayoritas kasus. Proteus. yaitu Pseudomonas. terutama di hadapan AIDS. Chronic Perforasi Perforasi yang Lama dapat dilihat pada pasien yang mengalami masaalah tuba Eustachio bercampur dengan masalah infeksi bertahun-tahun. Episode dari drainase ini (otorrhea) sering dilakukan oleh air di dalam telinga atau infeksi pernafasan atas. dan mastoidectomy dapat menyertai prosedur ini. Jangan lupa untuk mengevaluasi pendengaran.disekeliling manubrium. otitis media tuberculosis menyebutkan hal ini. sebagai pengecualian terhadap pernyataan kami bahwa kebanyakan masalah telinga hanya melibatkan satu “komponen”. terutama jika infeksi akan dibersihkan dengan antibiotic oral. Myringoplasty secara umum dilakukan dengan menggunakan insisi postauricular di bawah anestesi lokal-kecuali untuk anak-anak di mana anestesi umum digunakan. otorrhea dari infeksi telinga tengah dapat menyebabkan otitis eksternal. Topical antibiotik / steroid obat tetes telinga dapat membersihkan drainase. Summary Sesuai menurut perforasi secara umum. Individu yang terkena mempunyai kehilangan pendengaran konduktif dan mungkin timbul dengan drainase berulang melalui perforasi. pengobatan dan penentuan prognosis. Kehilangan pendengaran sebesar (> 35 dB HL) dapat menunjukkan kerusakan trauma ossicular. Yang otitis media akut. Dengan munculnya AIDS di dekade belakangan ini. Keberadaan sebuah lubang membran timpani yang tidak sembuh secara spontan kronis seperti otitis media merupakan cacat anatomis dan fungsional yang memerlukan koreksi bedah dalam mayoritas kasus. dan tanpa batas usia. karena memberikan hasil yang lebih baik secara anatomis dan fungsional. Ventilasi tuba mungkin telah dimasukkan berulang kali. Otorrhea Persisten atau berulang melalui perforasi dikenal sebagai otitis media kronis suppurative. bedah rekonstruksi TM (dan eroded ossicles. dengan kecil atau besar udara-tulang. dan kultur yang positif untuk pewarnaan organisme asam akan mengkonfirmasikan diagnosis. Hal Ini sangat jarang yang biasanya dimulai dengan tidak adanya rasa sakit dari penipisan TM diikuti oleh beberapa perforasi. Akhirnya. Secara insidentil. beberapa perforasi menunjukkan tuberkulosis. Hal ini dikontraindikasikan ketika perforasi membran timpani hadir hanya dalam liang telinga. jika bukan jenis streptococcal necrotizing. penyebab. Sering ada mastoiditis kronis di rongga berdekatan. dan Enterobacter. akan sembuh. antibiotics awal membantu necrotisasi. dapat dilakukan jika dan ketika tidak ada infeksi. ini juga perlu perhatian pembedahan. Staphylococcus. Myringoplasty ditunjukkan dalam kasus dengan dan tanpa otorrhea. Membran timpani diperbaiki dengan graft autologous temporalis.

Ketika dilakukan dengan benar. 6th edition.8. Geneva. Dalam: Helmi.com/2010/07/06/perforasi-membran-timpani/ ASKEP PERFORASI MEMBRAN TIMPANI 07. 9. Kawana M. Jun 1999. In: Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Sixteenth edition. Eustachian Tube Function and Middle Ear Gas. 6. p.. IL. Hamilton. Vol. Otitis Media and Middle Ear Effusions.K. Ontario.. Adenan A. 116– 8. Sato K. New Aspects of Secretory Otitis Media.. Surgical anatomy and pathology for reconstructive middle ear surgery.F. Biochemistry. Helmi. ed. Jika reperforation terjadi setelah myringoplasty (sekitar 5% dari kasus). Hasil operasi pertama dan kedua dari segi graft yang diambil dan reperforasi biasanya secara umum sebanding. 8. Butterworth-Heinemann... 1999. Recent Advances in Otitis Media Report of The Eighth Research Conference. 1. Murakami Y. and TNF-α in the Middle Ear Fluid of the Guinea Pig Otitis Media Model Induced by Nonviable Haemophilus Influenzae. 108. In: Scott-Brown’s Otolaryngology. 5. Nakano Y. 2005. et al. Chronic suppurative otitis media: Burden of Illness and Management Options.. 770-6. BC. Rhinology & Laryngology. Nose and Throat Journal.. 1997. World Health Organization. 114. Otitis Media Supuratif Kronis. Otitis Media Supuratif Kronis. Healy G. 9. Canalplasty dilakukan kapanpun tulang punuk dari saluran luar hadir yang membatasi kontrol dari batas perforasi. The Annals of Otology.B. 7. 3. Ryan A. In: Lim DJ. Course of IL-1ß. Reconstructive Surgery of the Middle Ear. Ovesen T. In: Suzuki JI et al. revisi operasi yang diindikasikan setelah beberapa bulan. Aetiopathology of Inflammatory Conditions of the External and Middle Ear. Ear.wordpress. 249-50. 77. Bagian THT Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.G. 50-4.teknik Overlay yang digunakan di beberapa kasus bila sisa anterior dari membran timpani adalah pathologic atau tidak ada. IL-6. 55 – 7. Browning G. Switzerland.13 Alamsyah Aris . DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Jakarta. 6. 3/3/15. 2004. The Annals of Otology. 10. Jan 2005. 559-63. Rhinology and Laryngology. Rosbe K. Elsevier. Nonomura N. Decker. http://satriaperwira. Borglum J. Sep 1998. Kumpulan Kuliah Telinga. 3. Panduan Penatalaksanaan Baku Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) di Indonesia..D. 4. 2002.W. Mei. maka teknik Overlay memberikan hasil yang optimal dalam kasus ini. Jakarta. Amsterdam. Andalibi A. Kelompok studi otologi PERHATI–KL. Balai Penerbit FK-UI. Juhn S.

peniti. otot. disebabkan oleh benda asing ( mis lidi kapas. dan likamin. B. Anatomi Fisiologi Telinga tengah tersusun atas membrana timpani ( gendang telinga ) disebelah lateral dan kapsul otik disebelah medial. Juga berhubungan dengan beberapa sel berisi udara dibagian mastoid tulang temporal. Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis auditorius esternus dan menandai batas lateral telinga tengah. cedera ledakan. kunci ) yang didorong terlalu dalam kedalam kanalis auditorius eksternus.usaha pasien untuk membersihkan kanalis auditorius esternus sebaiknya dilarang. Telinga tengah merupakan rongga berisi udara yang merupakan rumah bagi osikuli ( tulang telinga tengah ) dan dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring.Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook A. jadi. Sumber trauma meliputi fraktur tulang tengkorak. Selain perforasi membrana timpani. Ada dua jendela kecil( jendela oval) . atau hantaman keras pada telinga. normalnya berwarna kelabu mutiara dan translusen. Selama infeksi. Pengertian Perforasi membrana timpani biasanya disebabkan oleh trauma atau infeksi. membantu hantaran suara. Perforasi lebih jarang. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh persediaan. celah telinga tengah terletak diantaranya. Telingah tengah mengandung tiga tulang terkecil ( osikuli ) ditubuh : maleus. inkus dan stapes. Membran ini. yang diameternya sekitar 1 cm dan sangat tipis. cedera terhadap osikulus dan bahkan telinga dalam dapat terjadi akibat tindakan ini. membrana timpani dapat mengalami ruptur bila tekanan dalam telinga tengah lebih besar dari tekanan atmosfer dalam kanalis auditorius eksternus.

Tuba eustachii. C. Infeksi bisa serous. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manufer falsalfa atau dengan menguap atau menelan. Persaman dengan mastoititis kronik dapat tumbuh cholestheatoma (tumor jinak) yang merupakan kantong berisi kotoran yang infeksi. dan dataran kaki stapes ditahan oleh anulusyang sangat tipis. Infeksi telinga tengah. menimbulkan mastoiditis kronis menyebabkan nekrose kepada gendang telinga. pengaruh yang paling utama ialah mengenai keseimbangan. . otitis eksterna seringkali oleh bakteri (stavilokokus. Sejenis dermatitis seborrhcic dapat disebabkan karena pemakaian earkone yang lama. Furunkel dapat juga tumbuh pada saluran. cairan dari telingah dalam dapat mengalami kebocoran ketelinga tengah. eustacii selalu tertutup. otitis media yang serous dapat terjadi karena terkumpulnya serum yang steril didalam telinga tengah bila tuba eustacii tersumbat oleh infeksi yang terdahulu atau alergi. menghubungkan telinga tengah kenasofaring. Tuba bertindak sebagai saluran drainase untuk sekresi abnormal telinga tengah dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. dimana suara dihantarkan ketelinga tengah.didinding media telinga tengah. kondisi ini dinamakan fistura ferilinfe. timbul tuli. atau radang tulang telinga. Infeksi labrinth (telinga interna) merupakan perluasan telinga media. yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. gram negatif organisme atau fungus). yang lebarnya sekitar satu mellimeter dan panjangnya sekitar tiga lima melimeter. purulen. menghebat sakitnya karena tidak ada ruang untuk menggelembung dalam saluran yang bertulang. Jendela bulat ditutupi oleh membrana yang sangat tipis. membengkak dan getah radang dapat mengisi saluran. Otitis media urolenta terjadi karena infeksi bakteri bisa akut atau kronis. Infeksi dari telinga dari telinga luar. Bagian dataran kaki stapes menjejak pada jendela oval. akut dan kronik. Patofisiologi Kuman masuk kebagian eksterna melalui lobang telinga atau melalui tuba eustaci kemudian menimbulkan infeksi. Tumor ini bisa timbul kembali bila diangkat. Jendela bulat memberikan jalan keluar getaran suara. Yang kronis bisa menjalar mastoid. otitis media merupakan gangguan yang paling sering terjadi. Kegiatan berenang terutama pada air yang terkontaminasi sangat mungkin bisa menimbulkan infeksi telinga luar. Mastoiditis akut jarang terjadi karena pengobatan otitis media akut dengan antibiotik. dan dataran kaki stapes ditahan olehanulus yamg agak tipis. Baik anulus jendela bulat maupun jendela oval sangat mudah mengalami robekkan. Rasa sakit terjadi karena tekanan pada kulit yang sangat sensitif. Bila ini terjadi. Infeksi terjadi pada selaput rongga telinga. atau struktur berbentuk cincin. Normalnya.

Terdapazt berbagai pembedahan semua pada dasarnya dengan meletakkan . dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih dibelakang membran timpani atau keluar kekanalis eksternus luang perforasi. Bila terjadi cedera kepala atau patah tulang temporal. Hasil audiometri pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran. dengan berbagai derajat kehilangan pendengasran dan terdapat otorea interniten atau persisten yang berbau busuk biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut. dan dapat terlehit gelembung udarta dalam telinga tengah.D. Keputusan melakukan timpanoplasti ( perbaikan membrana timpani ) biasanya didasarkan pada perlunya mencegah potensial infeksi dari air yang memasuki telinga atau keinginan memperbaiki pendengaran pasien. Membrana timpani tampak merah dan sering menggelembung. Gejala dapat minimal. karena auditorius asternus sering tampak normal. Gejala lain dapat berupa keluarnya cairan dari telinga. Evaluasi otoskopik membran timpani memperlihatkan adanya porforasi. Pasien harus dilindungi dari air ketika terjadi perforasi membrana timpani. sendiri. Membrana timpani tampak kusam pada ostokopi. Diagnosis Penunjang Kebanyakkan perforasi membrana timpani dapat sembuh spontan dalam beberapa minggu setelah ruptur. Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. rasa penuh dalam telinga atau perasaan bendungan. dan tak terjadi nyeri bila aurikula digerakkan. meskipun ada beberapa yang baru sembuh setelah berbulan-bulan. Perforasi yang tak dapat sembuh dengan sendirinya memerlukan pembedahan. pasien harus diobservasi bila ada cairan serebrospinal otorea atau rinorea-cairan jernih cair dari telinga atau hidung. sehingga menghambat penyebaran sel epitel melintasi batas dan akhir penyembuhan. Spontan membrana timpani atau setelah miringotomi (insisi membrana timpani). dimana daerah post-aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. biasanya tidak menyebabkan nyeri. Manifestasi Klinik Gejala otitis media dapat berfariasi beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat. yang terjadi ketika tuba eustacii berusaha membuka. kehilangan pendengaran. dan mungkin terdapat otalgia. Pada pemeriksaan otoskopis. Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran. dan tinitus. E. Ada perforasi yang menetap karena terjadi pertumbuhan jaringan parut pada tepi perforasi. dan bahkan suara letup atau berdering. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa. demam. Kolesteatoma. Selama proses penyembuhan telinga harus dilindungi dari air.

Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustacii seperti obtruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan atas. Bila kehilangan pendengaran yang berhubungan dengan efusi telinga tengah menimbulkan masalah bagi pasien maka bisa dilakukan miringotomi dan dipasang tabung untuk menjaga telinga tengah tetap terventilasi. perlu dicatat . biasanya perlu diresepkan preparat otik antibiotika. Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung efektifitas terapi (mis dosis antibiotik oral yang diresepkan dan durasi terapi). Penanganan meliputi pembersihan hati-hati telinga mengunakan mikroskop dan alat pengisap. dalam telinga tengah. Antibiotik sistemik biasanya tidak diresepkan kecuali pada kasus infeksi akut. Jarang sekali terjadi kehilangan pendengaran permanen. Kortikosteroid. Otitis media serosa tidak perlu ditangani secara medis kecuali terjadi infeksi (otitis media akut). Klasifikasi 1. cairan ini sebagai akibat tekanan negatif dalam telinga tengah disebabkan obstruksi tuba eustacii. dapat terjadi meskipun jarang. dosis rendah. Otitis media serosa (efusi telinga tengah) mengeluarkan cairan. Secara teori. dan maroksella catarhaelis.pada lubang porforasi untuk memungkinkan penyembuhan. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada porforasi membran timpani. otitis media dapat hilang tanpa gejala sisa yang serius. tanpa adanya infeksi aktif. Kondisi ini ditemukan terutama pada anak-anak. Bakteri yang umum ditemuakn sebagai organisme penyebab adalah streptokokus pneumoniae. seperti meninitis atau abses otak. inflamasi jaringan disekitarnya (mis sinusitis. Kondisi bisa berkembang menjadi subakut ( mis berlangsung tiga minggu sampai tiga bulan ). Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik kedalam telinga yang normalnya steril. 2. biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan. Cara masuk bakteri pada kebanyakkan pasien kemungkinan melalui tuba eustacii akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring. Dengan terapi antibiotika spektrum luas yang tepat dan awal. Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan pendengaran konduktif. virulensi bakteri dan status fisik pasien. Bila terjadi pengeluaran cairan. Pemberian tetes antibiotika atau pemberian bubuk antibiotik sering membantu bila ada cairan purulen. F. Otitis media akut adalah infeksi akut telinga tengah. Komplikasi sekunder mengenai mastoit dan komplikasi intrakranier serius. Pembedahan biasanya berhasil menutup porforasi secara permanen dan memperbaiki pendengaran. hipertropi adenoit). kadang dapat mengurangi edema tuba eustacii pada kasus barotrauma. hemophylus influensae. dengan pengeluaran cairan purulen menetap dari telinga. atau reaksi alergi (mis rinitis alergika).

yang berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. kehilangan pendengaran sensorik neural dan atau gangguan keseimmbangan (akibat erosi telinga dalam). . Medis  Mencari vokal infeksi dihidung. Penatalaksanaan 1.bahwa. G. 3. yaitu dengan membuat insisi kecil pada kuadran bawah. Otitis media kronik adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan ireversibel dan biasanya disebabkan karena episode berulang otitis media akut. Karnisoma yang menyumbat tuba eustacii harus disingkirkan pada orang dewasa yang menderita otitis media serosa unilateral menetap. Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang tidak ditangani. penyebab lain yang mengdasari terjadinya disfungsi tuba eustancii harus dicari. analgetik dan antiinflamasi. Sebelum penemuan antibiotika. penggunaan antibiotika yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koaleses akut menjadi jarang. Efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah menjalani radioterapi dan barotrauma (mis penyelam) dan pada pasien dengan disfungsi tuba eustacii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi. Kantong dapat melekat pada struktur telinga tengah dan mastoid. infeksi mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa.  Secara lokal: pada stadium hiperemi diberikan antibiotik tetes. Sering berhubungan dengan perforasi menetap membrana timpani. Mastoiditis kronik lebih sering. yang merupakan pertumbuhan kulit kedalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ketelinga tengah. dan cairan terperangkap didalam telinga tengah. dan beberapa ahli infeksi kronik ini dapat mengakibatkan pembentukkan koleosteatoma. Sekarang. bila terjadi pada orang dewasa. Barotrauma terjadi bila terjadi perubahan tekanan mendadak dalam telinga tengah akibat perubahan tekanan barometrik. seperti pada penyelam atau saat pesawat udara turun.  Secara sistemik diberikan antibiotik. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkankerusakkan membrana timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid. Bila tidak ditangani olesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralisis nerfuspasealis. dan abses otak. Untuk stadium tiga sampai stadium lima diberi antibiotik dosis tinggi. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membrana timpani. kecuali pada bayi harus segera dilakukan parasintesis bila terdapat bulging lakukan parasintesisuntuk melancarkan reinase. Kulit dari membran timpani literal membentuk kantong luar. dan dinasofaring dan sekaligus mengobatinya.

Harus diterangkan dulu cara pemakain H2O2 3 % kedalam telinga yang sakit kemudian dibersihkan dengan kapas lidi baru setelah itu masukkan antibiotik tetes telinga dengan cara kepala dimiringkan dan ragus titekan supaya obat tetes masuk kedalam. Ini diberikan apabila ada eksaserbasi akut yang didahului oleh infeksi hidung atau farings. karena adanya gas yang ditimbulkan. misalnya hal jarum BWG no 16 dan 18 yang ujungnya diberi karet kateter nelatom yang kecil atau karet pentil.  Bila mungkin sekret dihisap secara hati-hati dengan menggunakan jarum kecil. 2. Asuhan Keperawatan a. dapat juga tidak .  Displaseme metode dapat dengan menggunakan larutan hidrogen peroksid (H2O2) 3%. Pemberian antibiotik tetes telinga hampir tidak gunanya apabila masih ada otore yang produktif. Ada beberapa membersihkan sekret tersebut :  Dengan menggunakan kapas lidi. Antibiotik yang adekuat oral atau parenteral. Pengobatan lokal diberikan antibiotik tetes telinga. Pembersihan sekret diliang telinga (toilet lokal drainage) merupakan yang penting untuk pengobatan otitis kronik. Pengkajian Observasi adanya bukti-bukti OMA :  Setelah ISPA  Otalgia (sakit telinga)  Otorea purulen dapat terjadi  Demam  Keluaran pululen dapat ada. c. Karena itu memberikan antibiotik lokal dianjurkan setelah dilakukan tekhnik lokal. Dapat dianjurkan pada penderita atau orang tua penderita yang mempunyai intelegensia yang cukup. plastik. Konsevatif a. Tindakan ini dianjurkan sesering seringnya bila ada otore. Semua tindakan pembersihan tersebut sebaiknya diberikan sambil dilihat dan hati-hati untuk menghindarkan trauma yang tidak diinginkan. b.

b) Posisikan untuk kenyamanan sesuai kebutuhan individu c) Pilih tindakan kenyamanan lokal berdasarkan tingkat kerjasama dan mengurangi nyeri yang maksimum ketentuan-ketentuan untuk . atau menarik telinga yang sakit Menggeleng-gelengkan kepala dari samping kesamping Kehilangan nafsu makan Letargi Pemeriksaan otoskopik pada OMA menunjukkan membran utuh yang tampak merah terang dan menonjol. Diagnosa Keperawatan 1) Nyeri berhubungan dengan tekanan yang disebabkan oleh proses inflamasi Sasaran pasien 1 : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri/ketidaknyamanan sampai tingkat yang dapat diterima Intervensi keperawatan/ rasional a) Beri analgesik/antipiretik untuk mengurangi nyeri dan demam. pada OME dapat ditemukan lubang kecil. tinitus. vertigo mungkin ada b. dan tingkat cairan yang dapat dilihat atau meniskus dibelakang gendang telinga bila terdapat udara diatas cairan. memegang. peka rangsang Kecenderungan menggaruk. tanpa garis tulang yang dapat dilihat atau refleks sinar. Observasi adanya bukti-bukti otitis media kronis :  Kehilangan pendengaran  Kesulitan berkomunikasi  Perasaan penuh. gelisah. membran abu-abu dangkal. garis samar-samar. Menangis  Rewel.

khususnya mengenai pemberian antibiotik b) Pertahankan keteraturan pemberian c) Selesaikan program terapi d) Jelaskan bahwa meskipun gejala biasanya kurang dalam 24-48 jam. seluruhnya sampai semua antibiotik yang ditentukn dihabiskan e) Tekankan pentingnya perawatan tindak lanjut f) Gunakan praktik pencegahan g) Dudukkan dengan tegak untuk pemberian makan h) Anjurkan untuk meniup hidung denganperlahan selama infeksi pernapasan atas bukan meniup infeksi tidak akan hilang hidung dengan keras karena resiko pemindahan dari tuba eustachius ketelingah tengah i) Gunakan perminan meniup atau mengunyah permen karet untuk meningkatkan aerasi telinga tengah selama dilakukan UPI j) Hilangkan asap tembakau dan alergen yang diketahui atau yang potensial dari lingkungan Hasil yang diharapkan . bungkus dengan handuk) diatas telinga dengan berbaring pada sisi yang sakit untuk meningkatkan rasa nyaman. e) Beri kantong es diatas telinga yang sakit untuk mengurangi edema atau tekanan f) Hindari mengunah dengan memberikan cairan atau makanan lunak g) Posisikan dengan telinga yang sakit berada pada posisi dependen Hasil yang diharapkan Tidur dan istirahat dengan tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kenyamanan 2) Risiko tinggi infeksi/cedera berhubungan dengan ketidakadekuatan tindakan/adanya organisme infeksius Intervensi keperawatan/rasional a) Tekankan pentingnya mengikuti instruksi.d) Beri kompres panas eksternal (dengan bantalanpanas pada suhu panas yang rendah.

jika sedang memakai selang kontaminasi ketelinga tengah ketika berenang atau mandi. jaringan parut gendeng telnga  Mastoiditis ( inflamasi sistem sel udara mastoideus )  Kolesteatoma ( lesi seperti kista yang dapat masuk dan merusak struktur auditorius sekitarnya )  Infeksi intrakranial. g) Jelaskan pada keluarga tentang komplikasi OM yang potensial yang dapat terjadi karena pengobatan yang tidak adekuat :  Kehilangan pendengaran konduktif  Perforasi. Pasien etap bebas dari infeksi  Keluarga mematuhi petunjuk Sasaran pasien 2 : pasien tidak mengalami komplikasi penyakit atau modalitas tindakan Intervensi keperawatan/rasional Melihat sasaran sebelumnya a) Bersihkan kanalis eksternal dari drainase dengan usapan kapas steril atau lidi kapas yang dimasukkan kedalam larutan salin normal atau hidrogen peroksida. seperti meningitis . d) Jelaskan penggunaan penyumbat telinga jika dianjurkan oleh dokter. c) Jika sumbu atau gulungan kasa kecil telah dimasukkan kedalam telinga setelah pembedahan :  Jaga agar kasa atau sumbu tersebut cukup longgar untuk memungkinkan keluarnya drainase dari telinga karena infeksi dapat berpindah keprosesus mastoideus  Jaga agar sumbu tersebut tidak basa ketika mandi atau berkeramas. e) Memberi tahu praktisi bila grommet ( biasanya kecil. f) Jelaskan bahwa hal ini normal dan tidak memberikan intervensi yang segera. putih. b) Jika drainase-nya banyak. bersihkan eksudat dari telinga dan kulit sekitarnya serta berikan barier pelembab seperti jeli petrolium untuk mencegah ekskoriasi. selang plastik berbentuk kumparan ) jatuh keluar dari kanal telinga.

Sasaran pasien ( keluarga ) 2 : keluarga menjukkan perilaku koping yang positif terhadap pasien Intervensi keperawatan / rasional a) Jelaskan bahwa kehilangan pendengaran sementara adalah hal yang umum pada OM karena keluarga mungkin tidak menyadari hal ini. berikan air. termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap bunyi di lingkungan.h) Jelaskan tentang pencegahan ketidaknyamanan telinga selama perjalanan dengan pesawat :  Spray pengerut mukosa nasal atau dekongestan oral dapat diberikan bila anak mengalami ISPA  Ketika turun dari pesawat dan makan. Pasien tetap nyaman selama perjalanan dengan pesawat 3) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit dan hospitalisasi pasien. Gunakan kesabaran ketika berkomunikasi dengan pasien. b) Beri tahu keluarga tentang kemungkinan perubahan perilaku pada saat kehilangan pendengaran. Hasil yang diharapkan Pasien sembuh dari infeksi dan atau pembedahan tanpa komplikasi. e) Dorong evaluasi lebih lanjut bila kehilangan pendengaran bersifat menetap melewati tahap akut dari penyakit tersebut. atau permen karet. kehilangan pendengaran sementara Sasaran pasien ( keluarga ) 1 : pasien ( keluarga ) mendapatkan dukungan yang adekuat Intervensi keperawatan / rasional Bila tepat. c) Beri tahu keluarga bahwa pasien tidak mengabaikan mereka tau salah berperilaku. . pasien mungkin tidak menyadari ketika sedang diajak bicara. siapkan keluarga untuk prosedur pembedahan (miringotomi). dan menghadap ke pasien. d) Bicara lebih keras. Hasil yang diharapkan Keluarga mendemonstrasikan pemahaman tentang prosedur. pada jarak lebih dekat.

http://alam414m. Terapi lambat diberikan atau terapi tidak adekuat. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah.blogspot. Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan kelanjutan dari otitis media supuratif sub akut dan otitis media supuratif akut (OMA). Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. Kuman. Orang awam biasa menyebutnya congek. Otitis media supuratif kronik (OMSK) aktif. Sekret keluar dari kavum timpani. Konsistensinya bisa encer atau kental. Virulensi kuman tinggi. Daya tahan tubuh rendah akibat gizi kurang. Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. Higiene. Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Keluarga mencari perawatan kesehatan yang tepat untuk pasien. Jenis otitis media supuratif kronik (OMSK). Letak perforasi di pars flaksida membran timpani. yaitu : Otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna / mukosa / aman. Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. Hal ini disebabkan oleh : Terapi. Tabel Perbedaan Antara Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna & Maligna . Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. Otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang.Hasil yang diharapkan Keluarga menunjukkan perilaku koping yang posiif terhadap pasien. Pertahanan. Dulu kita kenal sebagai otitis media perforata (OMP). Kavum timpani basah atau kering. yaitu : Perforasi sentral (sub total). Higienitas yang buruk. Perforasi atik.html Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Oleh : Muhammad al-Fatih II Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah otitis media yang berlangsung lebih 2 bulan karena infeksi bakteri piogenik dan ditandai oleh perforasi membran timpani dan pengeluaran sekret.com/2012/04/askep-perforasi-membran-timpani. Perforasi marginal. Otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna / tulang / bahaya.

Perforasi membran timpani tipe sentral. Proses peradangan tidak terbatas pada mukosa. Proses peradangan mengenai tulang. Mencegah komplikasi dan kerusakan pendengaran yang lebih berat. Sumber infeksi.Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Maligna Proses peradangan terbatas pada mukosa. Gizi & higiene. Masalah ini dapat disebabkan : Perforasi membran timpani. faring. Jaringan patologik yang ireversibel telah terbentuk dalam rongga mastoid. yaitu : . Jarang terjadi komplikasi yang berbahaya. hidung dan sinus paranasalis. Kolesteatoma tidak ada. Prinsip terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna dengan cara konservatif (medikamentosa) sedangkan otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna dengan cara pembedahan. Jangan berikan selama lebih 1-2 minggu secara berturut-turut. sekret yang keluar tidak cepat kering dan sekret yang selalu kambuh. Berikan ampisilin asam klavulanat bila terjadi resistensi ampisilin. Tindakan ini disebut miringoplasti atau timpanoplasti. Sumber infeksi yang masih ada dapat terjadi pada nasofaring. Proses peradangan tidak mengenai tulang. Status gizi dan higiene pasien yang kurang. Kadang-kadang tipe sub total (sentral) dengan kolesteatoma. Pengobatan ini kita berikan bila sekret telinga keluar terus-menerus. Terapi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) memiliki beberapa kesulitan. yaitu : Obat pencuci telinga. tindakan pembedahan dapat pula kita lakukan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) tergantung dari jenisnya. gejala sering berulang. Tujuannya antara lain : Menghentikan infeksi permanen. Perforasi membran timpani yang permanen menyebabkan telinga tengah terpapar langsung & terus-menerus oleh dunia luar. Miringoplasti dan timpanoplasti kita lakukan jika sekret telah kering namun perforasi membran timpani masih ada. Tanda yang menunjukkan adanya sumber infeksi. Juga hindari pemberiannya pada otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang. Kolesteatoma ada. Selain terapi konservatif (medikamentosa). Memperbaiki perforasi membran timpani dan fungsi pendengaran. Obat antibiotik. Hal ini disebabkan semua antibiotik tetes telinga bersifat ototoksik. Lanjutkan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik & kortikosteroid setelah sekret yang keluar telah berkurang. Juga setelah kita melakukan observasi selama 2 bulan. Diantaranya membutuhkan waktu yang lama. Obat tetes telinga. Jaringan patologik. Ada 3 cara terapi konservatif (medikamentosa) otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. Perforasi membran timpani paling sering tipe marginal & atik. Berikan selama 3-5 hari. Berikan antibiotik oral golongan ampisilin atau eritromisin sebelum hasil tes resistensi obat kita terima. Berikan eritromisin jika pasien alergi terhadap golongan penisilin. Sering terjadi komplikasi yang berbahaya. Bahannya H2O2 3%.

Sekret masih ada. Tenggorok. sebelum melakukan operasi mastoidektomi. 2006. Efiaty Arsyad Soepardi.THT (editor). Tindakan pembedahan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna yang sering dilakukan yaitu mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Sp. Daftar Pustaka Sosialisman & Helmi. http://thtkedokteran. Adapun terapi konservatif (medikamentosa) hanya bersifat sementara dan kita berikan sebelum melakukan tindakan pembedahan. Kepala & Leher.html . Cara mengatasi sumber infeksi. dr. yaitu : Pengobatan. Hidung. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Infeksi berulang. dr. Jika abses subperiosteal retroaurikuler ada. lakukan insisi abses diwaktu yang berlainan. ke-5. H.blogspot. Nurbaiti Iskandar.THT & Prof. H. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pembedahan : adenoidektomi & tonsilektomi. Sp.com/2010/06/otitis-media-supuratif-kronik-omsk. Ed.

tuba eustacheus. 2013 [6] comments Definisi Otitis adalah radang telinga. tinitus dan vertigo.OTITIS MEDIA Emirza Nur Wicaksono Maret 27. Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar. yang ditandai dengan nyeri. vomiting. anoreksia. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun. iritabilitas. dan sel-sel mastoid. a. antara lain : demam. Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh . dan media berarti tengah. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia. demam. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen. serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit. Otitis berarti peradangan dari telinga. hilangnya pendengaran. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. letargi. antrum mastoid.

b. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi. secara khas untuk sedikitnya satu bulan. Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. yaitu: 1. teori migrasi. disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. teori metaplasi. otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tanda-tanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). yang menonjol biasanya disertai nyeri. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses . destruksi. gendang telinga. 2. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. dan teori implantasi. umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Demam dapat hadir.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. dan mampu berangiogenesis. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. campuran bakteri aerob dan anaerob. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa.Orang awam biasanya menyebut congek OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe. Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih. Otitis Media Kronis Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet. infeksi saluran nafas atas.bakteri pada ruang udara pada tulang temporal. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi). metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius. Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek. biasanya tidak mengenai tulang. atau gendang telinga yang berlubang. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik.

Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi). Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani.1. Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma. kadangkadang sub total. Terbentuk setelah perforasi membran timpani. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani. postero-inferior dan postero-superior. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1. Kolesteatom kongenital. Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. . bisa antero-inferior. 2. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis. meningitis dan abses otak. 2. 3. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus.2  Secondary acquired cholesteatoma. dan gangguan keseimbangan. Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1.pembusukan bakteri. Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. umumnya pada apeks petrosa. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom.2 b. tuli saraf berat unilateral. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi).

Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. Albus. Bisa juga disebabkan karena bakteri. Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. b. diabetes melitus. Hemophylus influenzae. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika). Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. Otitis Media Akut Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). 2. Kuman anaerob : Alergi. inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis. Pyogenes. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. dan tempat tinggal yang padat. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma. E. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. Psedomonas spp. Streptococcus pyogenes. Diplococcus pneumonie. Penyebab OMK antara lain: 1. S. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. Stapilococcus. diet. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi). Hemopilus influens.3. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. dan Moraxella catarrhalis. Etiologi a. Coli. Gram Positif : S. Genetik . antara lain:        Streptococcus. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Gram Negatif : Proteus spp. TBC paru.

Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. 3. Riwayat otitis media sebelumnya Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-), flora tipe usus, dan beberapa organisme lainnya. 5. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. 6. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK. 7. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. 8. Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:
 

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi.

 

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.

Patofisiologi a. Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. b. Otitis Media Kronis

Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan tubuh, lingkungan, dan social ekonomi. Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis, tonsillitis, rhinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani, maka terjadi inflamasi. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah, biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang, tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen, mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. Berenang, kemasukan benda

yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen. Manifestasi Klinis a. Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. Stadium oklusi tuba Eustachius

Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. 2. Stadium hiperemis (presupurasi)

Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. 3. Stadium supurasi

Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga bertambah hebat.Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur. 4. Stadium perforasi

Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak. 5. Stadium resolusi

Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.Pada bayi dan anak kecil gejala khas

kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. . Gejalanya bervariasi. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. berwarna putih mengkilat. 1. suhu tubuh akan turun dan anak tertidur. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1. Bila terus menerus kambuh. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal. Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang.otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. kejang. ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang. discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip. sulit tidur. gelisah. b. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. diare. berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1.5 derajat celsius). Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . tiba-tiba menjerit saat tidur.

Untuk mengetahui organisme penyebabnya. Penatalaksanaan a. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0. Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya.Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. Stadium Oklusi Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. dengan pemberian antibiotik. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). . dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. obat tetes hidung dan analgesik.5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Jika terjadi resistensi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. 1. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas. 2. Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga. Sumber infeksi lokal harus diobati. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. 2. Pemeriksaan Diagnostik a. dan antipiretik. b. dekongestan lokal atau sistemik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus. dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. sebaiknya dilakukan miringotomi.25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. Stadium Presupurasi Diberikan antibiotik.

sekret tidak ada lagi. Stadium Resolusi Membran timpani berangsur normal kembali. termasuk berkurangnya pendengaran. Bila tetap. antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat. observasi jika gejala ringan Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila tidak. 5.gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. mungkin telah terjadi mastoiditis. antibiotik diberikan. atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua . Stadium Supurasi Selain antibiotik. Pemberian Antibiotik 1. a. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan. Jika gejala tidak membaik dalam 4872 jam atau ada perburukan gejala. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. dan perforasi menutup. 4. Stadium Perforasi Terlihat sekret banyak keluar. 3. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. 2. kadang secara berdenyut. observasi jika gejala ringan Observasi 2 thn Antibiotik jika gejala berat. 3. pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus.

walaupun dapat membunuh lebih banyak jenis bakteri. dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillin-clavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam. .Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil.Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis.10 Menurut BMJ. Antibiotik dengan spektrum luas. . follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. . Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa.Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. .6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. memiliki risiko yang lebih besar. AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari. sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin. antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillinclavulanate. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. .Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik. pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.        Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Untuk dapat memilih observasi. yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin . Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang .Pada alergi berat terhadap amoxicillin.Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi. dirawat seharihari di daycare.tahun. dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir. sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. atau cefuroxime. cefpodoxime.

dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi. c. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia). Otitis Media Kronis Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. b. Karenanya. Menurut Nursiah. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua. harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri.Pada usia enam tahun ke atas. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan.Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup. perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. . Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen.resisten terhadap antibiotik akan lebih besar.Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak. . dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. OMK BENIGNA . tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari. Di Inggris. Bila didiagnosis kolesteatom. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. . 1. Cairan yang keluar harus dikultur. b. maka mutlak harus dilakukan operasi.

Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan . dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. b. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. 2. karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping). Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. misalnya asam boric dengan Iodine. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. • Toilet telinga secara basah ( syringing). Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga.timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril.a. Pemberian antibiotik topikal Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa.

Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Koli Klebeilla. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Pseudomonas. Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. B. yang akan menyebabkan ototoksik. Asidum borikum 2. bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. c. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. tetapi resisten terhadap gram positif. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. Selain itu dikatakannya. 1984). Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. E. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. fragilis Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. Seperti aminoglokosida yang lain. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal. polimiksin dan hidrokortison. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan. Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks. Terramycin. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. Proteus. Polimiksin B atau polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. baik pada anak maupun dewasa. Enterobakter. khususnya B. adalah tidak efektif.dulu. Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. .

93% Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga. kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya . misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. misalnya golongan beta laktam. 3.96% sembuh. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. 60% Proteus mirabilis. 95% Stafilokokus group A. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh.53% 3. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah  Kuman aerob Antibiotik sistemik . 92% Enterobakter. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. 100% E. koagulase positif. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. 90% Klebsiella. Dalam pengunaan antimikroba. 99% Stafilokokus. Koli. 96% Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. Makin tinggi kadar obat. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. Bila terjadi kegagalan pengobatan . dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. koagulase positif. misalnya : Stafilokokus aureus. Proteus sp. membaik 8.2.69% dan tidak ada perbaikan 4. makin banyak kuman terbunuh. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.

Bila terdapat abses subperiosteal. Sefalosforin. 2. meskipun dapat mengatasi OMK. eritromosin. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. baik tipe benigna atau maligna. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. 2001): • Mastoidektomi sederhana Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. sefalosforin.           Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Koli Ampisilin atau sefalosforin S. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P. antara lain (Soepardi. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. eritromisin Aminoglikosida B. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) . Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. tetapi harus diberikan secara parenteral. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. aminoglikosida Streptokokus Penisilin. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P.

Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak . • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. Komplikasi a. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma. IV dan V.Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa. III. yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan.

Petrositis. . .Demam dan menggigil.Sakit kepala . . erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a. 4. 2.Perforasi membrane timpani. .Tanda-tanda terjadinya komplikasi: . Komplikasi Intratemporal . b. 5.Labirinitis. . Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi. tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1. 3.Mastoiditis akut.Vertigo (perasaan berputar) .Tuli yang terjadi secara mendadak .Parese nervus fasialis.

c. Komplikasi Intrakranial. . .Tromboflebitis. b. Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti. . sehingga penutupan membrane timpani disarankan. Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ).Abses otak. abes otak. otorea dapat mongering. . . prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal. Komplikasi Ekstratemporal.Abses subperiosteal. Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local.Empiema subdural/ ekstradural Prognosis a. OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis.Hidrocephalus otikus. ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) OMA DAN OMK BAB I PENDAHULUAN . Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air.b.

2009. 6. Prevalensi terjadinya otitis media di seluruh dunia untuk usia 10 tahun sekitar 62 % sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83 %. Di Inggris.2 Rumusan Masalah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Apa yang dimaksud dengan OMA dan OMK? Bagaimana Etiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana patofisiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana manifestasi klinis pada OMA dan OMK ? Bagaimana pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK ? Bagaimana komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK ? Bagaimana asuhan keperawatan pada OMA dan OMK ? 1.1. 3. setidaknya 25 % anak mengalami minimal 1 episode sebelum usia 10 tahun ( Abidin. diperkirakan 75 % anak mengalami minimal 1 episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya 3 kali atau lebih. Di Amerika Serikat. : Menjelaskan asuhan keperawatan dengan klien OMA dan OMK : Menjelaskan Konsep dasar dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan definisi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan etiologi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan patofisiologi OMA dan OMK Menjelaskan manifestasi klinis OMA dan OMK Menjelaskan pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK Menjelaskan komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK 1. 5. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun Mengingat masih tingginya angka otitis media pada anak-anak. 2.1 Latar Belakang Otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak.4 Manfaat . 4. 1. maka diagnosis dini yang tepat dan pengobatan secara tuntas mutlak diperlukan guna mengurangi angka kejadian komplikasi dan perkembangan penyakit menjadi otitis media kronis.1.Tujuan Tujuan Umum Tujuan khusus 1.

2 Otitis Media Kronis . tuba eustacheus.1 Definisi Otitis adalah radang telinga. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun. Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada tulang temporal (CMDT.2009 ) 2. Demam dapat hadir. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. dan media berarti tengah.1. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. demam. 1999). Otitis berarti peradangan dari telinga. antara lain : demam. 2004 ) Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek. yang ditandai dengan nyeri. iskandar . dan sel-sel mastoid/( soepardi. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. vomiting. hilangnya pendengaran. 2. antrum mastoid.1990) Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah (mediastore. edisi 3 .Manfaat yang dapat diambil sebagai berikut : 1. Mengetahui Penatalaksaan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis 2. otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tandatanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga.1 Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu (Kapita selekta kedokteran. atau gendang telinga yang berlubang. Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar. iritabilitas. letargi. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia.1. gendang telinga. serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit. tinitus dan vertigo. anoreksia. yang menonjol biasanya disertai nyeri. bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen.

Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. meningitis dan abses otak. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. dan teori implantasi. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu. Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga ( warmasif. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. 2007) OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe.Orang awam biasanya menyebut congek (Alfatih. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik. infeksi saluran nafas atas. destruksi. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. Kolesteatom kongenital.Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi). 2. yaitu: 1. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. secara khas untuk sedikitnya satu bulan. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses pembusukan bakteri. biasanya tidak mengenai tulang. teori migrasi. Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis. . disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. teori metaplasi. Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. 2009) Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih. dan mampu berangiogenesis. campuran bakteri aerob dan anaerob.

1.2 Etiologi 2. umumnya pada apeks petrosa. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi).Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani. tuli saraf berat unilateral. Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh.1 Otitis Media Akut . Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma.2  Secondary acquired cholesteatoma.2. 2. Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi). Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis. Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. postero-inferior dan postero-superior. Terbentuk setelah perforasi membran timpani. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom. 3. 3. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus.2 b. 2. kadangkadang sub total. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. 2. Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. bisa antero-inferior. dan gangguan keseimbangan.

2009). dan tempat tinggal yang padat. Streptococcus pyogenes. tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. Stapilococcus. inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis. Hemophylus influenzae.2. S. dan Moraxella catarrhalis. Riwayat otitis media sebelumnya . diabetes melitus. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. Coli. Gram Positif : S. Diplococcus pneumonie. diet. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media. Penyebab OMK antara lain: 1. Psedomonas spp. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum.Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). TBC paru. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika).2 Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi) (Mediastore. Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. Pyogenes. Genetik Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. Hemopilus influens. terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Bisa juga disebabkan karena bakteri. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. 2. Gram Negatif : Proteus spp. E. Albus. Kuman anaerob : Alergi. 2. 3. antara lain:        Streptococcus.

6. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. flora tipe usus. 8. namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK.Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi. dan beberapa organisme lainnya. . Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. 5. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. 7. Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-). tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:     Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal.

Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis. tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi. 2.3. Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). lingkungan. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri.2 Otitis Media Kronis Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap. tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. . pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. rhinitis. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. Jika lendir dan nanah bertambah banyak. Berenang. sinusitis). mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.3 Patofisiologi 2. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. kemasukan benda yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen.2. dan social ekonomi.1 Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri. Dan yang paling berat. tonsillitis. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen. biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah. alergi. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang. cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. kekebalan tubuh. gangguan fungsi tuba. tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi.3. Saat bakteri melalui saluran Eustachius. maka terjadi inflamasi.

3. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. nadi dan suhu meningkat. 4. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi. 2.Pada bayi dan anak kecil gejala khas . dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. dan dapat tidur nyenyak. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu.4 Manifestasi Klinis 2. Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. 1. akan terjadi iskemia. serta nyeri di telinga bertambah hebat.2. Stadium supurasi Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.Pada orang dewasa. Stadium oklusi tuba Eustachius Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Di tempat ini akan terjadi ruptur. 1. Stadium hiperemis (presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang.4. 1.1 Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. 1. didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar. Kadang berwarna normal atau keruh pucat.Pada anak.Pasien tampak sangat sakit. 5. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.5 atau 2 bulan. 1. Stadium perforasi Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi. suhu badan turun.Apabila tekanan tidak berkurang. keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Efusi tidak dapat dideteksi.

1. discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal.2 Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1. gelisah. ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). kejang. diare. berwarna putih mengkilat. Gejalanya bervariasi. 2. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas.4. suhu tubuh akan turun dan anak tertidur. Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena . sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil. berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1. Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . sulit tidur. Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. tiba-tiba menjerit saat tidur. kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani.5 derajat celsius).otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna.

telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. Bila terus menerus kambuh, akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip, yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. 2. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik 2.5.1 Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. 2.5.2 Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Untuk mengetahui organisme penyebabnya, dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. 2.6 Penatalaksanaan 2.6.1 Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. 1. 1. Stadium Oklusi

Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. 1. 2. Stadium Presupurasi

Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan

asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. 1. 3. Stadium Supurasi

Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. 1. 4. Stadium Perforasi

Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. 1. 5. Stadium Resolusi

Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap, mungkin telah terjadi mastoiditis. a. Pemberian Antibiotik 1. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. 2. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran. 3. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotik diberikan. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th 2 thn Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Observasi

Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua

tahun. Untuk dapat memilih observasi, follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.10 Menurut BMJ, pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin.

  

 

Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun, dirawat sehari-hari di daycare, dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa, sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillin-clavulanate.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillinclavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.

ü Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime. ü Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin ü Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim. ü Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. ü Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil, pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. ü Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Antibiotik dengan spektrum luas, walaupun dapat membunuh lebih banyak

Cairan yang keluar harus dikultur. Bila didiagnosis kolesteatom. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen.6. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. ü Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. Di Inggris. Karenanya. ü Pada usia enam tahun ke atas. dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi.jenis bakteri. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua.2 Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Menurut Nursiah. harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. b. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup. maka mutlak harus dilakukan operasi. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. memiliki risiko yang lebih besar. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. . anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari. Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia). perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. ü Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat. Otitis Media Kronis 2. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. c.

Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. misalnya asam boric dengan Iodine. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Pemberian antibiotik topikal . air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi.1. kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. • Toilet telinga secara basah ( syringing). dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. 1979). Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. OMK BENIGNA a. b. 2. Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme ( Fairbank. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. 1981). tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid ( Beasles. Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping). setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk.timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran.

Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu. Polimiksin B atau polimiksin E . Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. Asidum borikum 2. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks.Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. 1984). bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Terramycin. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. Seperti aminoglokosida yang lain. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. c. Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. fragilis ( Fairbanks. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan. Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. 1984). khususnya B. yang akan menyebabkan ototoksik. Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal. adalah tidak efektif. Selain itu dikatakannya. baik pada anak maupun dewasa. polimiksin dan hidrokortison. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob.

3. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. misalnya : Stafilokokus aureus. . Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif. Dalam pengunaan antimikroba. Proteus sp. 96% Proteus sp. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. Enterobakter. 60% Proteus mirabilis. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88.Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif. 100% E. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya .96% sembuh. koagulase positif. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Koli Klebeilla. Bila terjadi kegagalan pengobatan . Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. 99% Stafilokokus. 95% Stafilokokus group A. makin banyak kuman terbunuh. Proteus. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh.53% 3. Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. Toksik terhadap ginjal dan telinga. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba. koagulase positif. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. tetapi resisten terhadap gram positif.69% dan tidak ada perbaikan 4. B. Pseudomonas. 2. E. kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. membaik 8. 93% Pseudomonas. misalnya golongan beta laktam. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. 92% Enterobakter. Makin tinggi kadar obat. Koli. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. 90% Klebsiella. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf.

Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. meskipun dapat mengatasi OMK. tetapi harus diberikan secara parenteral. sefalosforin. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Sefalosforin. 2. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P.Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah Kuman aerob Antibiotik sistemik Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. Koli Ampisilin atau sefalosforin S. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. 2001): • Mastoidektomi sederhana . seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. aminoglikosida Streptokokus Penisilin. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. eritromosin. baik tipe benigna atau maligna. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. eritromisin Aminoglikosida B. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P. Bila terdapat abses subperiosteal. antara lain (Soepardi.

Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior.Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. . • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. IV dan V. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. III. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. tetapi belum merusak kavum timpani. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran.

7.7. 2. 5. 2. 3.7 Komplikasi 2.2 Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi.1 Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak Tanda-tanda terjadinya komplikasi: v Sakit kepala v Tuli yang terjadi secara mendadak v Vertigo (perasaan berputar) v Demam dan menggigil.2. erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid . tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1. 4.

Komplikasi Intratemporal .Parese nervus fasialis. . Komplikasi Ekstratemporal. . c. . .Tromboflebitis.Labirinitis. Komplikasi Intrakranial.Perforasi membrane timpani. .Abses subperiosteal. .Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a.Mastoiditis akut. .Hidrocephalus otikus. b. .Petrositis.Abses otak. .

Empiema subdural/ ekstradural 2. kapas lidi.2 Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local. alamat Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga.8. riwayat penggunaan obat( sterptomisin. OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis.1 Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ). penggunaan minyak. otorea dapat mongering. gentamisin ). Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti. salisilat. umur. abes otak. riwayat alergi. riwayat OMA berkurang. peniti untuk membersihkan telinga Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang. Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air. agama. pendidikan.1 Pengkajian 1.8. riwayat operasi . pekerjaan. Pengumpulan Data    Identitas Pasien : Nama pasien. kuirin. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan Keperawatan pada Otitis Media Kronis 3. sehingga penutupan membrane timpani disarankan.8 Prognosis 2. 2. prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal.. suku/bangsa.

sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik 2. vertigo. otore berbau busuk 6. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri . nyeri. Pengkajian Persistem Tanda-tanda vital : Suhu meningkat. : Nausea vomiting : Malaise. 5. Pemeriksaan pendengaran . kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran 4. perasaan penuh dan pendengaran menurun. Cemas berhubungan dengan prosedur operasi. hilangnya fungsi. diagnosis. Xray : terhadap kondisi patologi. kekaburan mastoid 5.2 Diagnosa Keperawatan 1. Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami penyakit telinga. alergi 3. pusing. Aktivitas terbatas 3. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan 2. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan 3. Nyeri otore berpengaruh pada interaksi 2. Pemeriksaan diagnostik a. Takut menghadapi tindakan pembedahan 4. keluarnya otore B2 ( Blood ) B3 (Brain) refleks kejut B5 (Bowel) B6 (Bone) : Nadi meningkat : Nyeri telinga. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran 3. Pengkajian Psikososial 1. prognosis. anestesi. Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi.Tes suara bisikan. Tes audiometri : pendengaran menurun b. misal kolestetoma. tes garputala 3.3 Intervensi dan Rasional .

relaksasi seperti menarik napas panjang Rasional : Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa mengurangi nyeri yang diderita klien ü Kompres dingin di sekitar area telinga Rasional : Kompres dingin bertujuan mengurangi nyeri karena rasa nyeri teralihkan oleh rasa dingin di sekitar area telinga ü Atur posisi klien Rasional : Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman ü Untuk kolaborasi. berbicara dengan jelas pada telinga yang baik Intervensi keperawatan: ü Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien. bahasa lambang. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien berkurang rasa Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang. beri aspirin/analgesik sesuai instruksi.1. berbicara. menerima pesan melalui metode pilihan ( misal: komunikasi lisan. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ). berbicara dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik . beri sedatif sesuai indikasi Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam 2. Rasional: Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien ü Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal. bahasa isyarat. seperti : tulisan. klien mampu melakukan metode pengalihan suasana Intervensi Keperawatan: ü Ajarkan klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode relaksasi saat nyeri yang teramat sangat muncul. a.

Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan komunikasi tertulis . infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran Tujuan : Persepsi / sensoris baik Kriteria hasil : Klien akan mengalami peningkatan persepsi / sensoris pendengaran sampai pada tingkat fungsional Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat . Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi d.Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu .Dekati klien dari sisi telinga yang baik b. Bicara dengan jelas menghadap individu b. Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi.Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya d. Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dair ya dan tidak Rasional : Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat secara tepat. Jika ia hanya mampu berbahasa isyarat.Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas . Jika klien dapat membaca ucapan: . sediakan penerjemah. 3. Alamatkan semua komunikasi pada klien. ü Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman a.. Ulangi jika kilen tidak memahami seluruh isi pembicaraan c.Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda c. Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara pada klien dengan mengabaikan keberadaan penerjemah Rasional : Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat diterima dengan baik oleh klien. Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien . tidak kepada penerjemah.

hilangnya fungsi. Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien mampu mengungakpkan ketakutan / kekhawatirannya Intervensi keperawatan : ü Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi Rasional : Harapan-harapan yang tidak realistik tidak dapat mengurangi kecemasan. maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi ü Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut Rasional : Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengaran rusak secara permanen ü Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik ( baik itu antibiotik sistemik maupun lokal ) Rasional : Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut 4. prognosis. anestesi. justru malah menimbulkan ketidakkepercayaan klien terhadap perawat. nyeri. diagnosis. kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi.Rasional : Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan / ketulian. Cemas berhubungan dengan prosedur operasi. ü Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh Rasional : Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya ü Berikan informasi tentang kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien Rasional : Dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien ü Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia yang dapat membantu klien Rasional : Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada di sekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi . pemakaian serta perawatannya yang tepat.

5. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Tujuan : Klien akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara pencegahan kekambuhan. Rasional : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan. Rasional : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat meningkatkan pemahaman klien sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan kekambuhan. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri . ü Tekankan hal-hal yang penting yang perlu ditindak lanjuti / evaluasi pendengaran. ü Yakinkan klien bahwa setelah dilakukan pengobatan / pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang Rasional : Klien akan kooperatif / berpartisipasi dalam persiapan pembedahan tympanoplasti ) dan akan mulai mengajak bicara dengan perawat dan keluarga 6. ( BAB IV PENUTUP . Kriteria hasil : Klien paham mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinyu sesuai aturan. otore berbau busuk Tujuan : Tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Kriteria Hasil : Klien tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Intervensi keperawatan : ü Bina hubungan saling percaya Rasionalisasi : hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial. ü Beritahu komplikasi yang mungkin timbul dan bagaimana cara melaporkannya Rasional : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada klien dapat membantu klien dan keluarga untuk melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga dapat dengan cepat ditangani.

Edisi 10.http:/library.Buku Ajar Penyakit THT. C. Otitis media akut yang tidak diobati secara tuntas dapat berlanjut menjadi Otitis media Kronik yang ditandai denagn adanya perforasi pada membran tympani.id(10 September 2009) Rothrock.Perencanaan Asuha .ac.2 Saran Hendaknya dilakukan uji kultur pada pasien untuk mengetahui jenis bakteri yang menginfeksi dan untuk pemberian antibiotik yang tepat.2006.usu.J.Buku Saku Diagnosis Keperawatan.1 Kesimpulan Dalam kasus ini . pada awalnya pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan tonsilitis.Edisi 6.EGC:Jakarta Abidin.1997. Adams.4.Lynda Juall.EGC:Jakarta George L.2009.Otitis Media Akut. Taufik. Akan tetapi.(2000). karena adanya perluasan infeksi di daerah auries media. maka pasien akan mengalami otitis meda akut. 4. DAFTAR PUSTAKA Carpenito.

Kolesteatoma dapat terjadi di kavum timpani dan atau mastoid5. mastoid2 atau apex petrosus. Kematian karena komplikasi intrakranial kini tidak umum terjadi disebabkan deteksi dini. Definisi Kolesteatom adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin)4. Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. intervensi pembedahan dan terapi suportif antibiotik. Kolestatoma masih penyebab umum tuli konduksi sedang dan permanen pada anak-anak dan dewasa3. Insidensi kolesteatoma tidak diketahui dengan pasti. B.Kolesteatoma adalah deskumulasi non neoplasma sel epitel kulit pada cavum timpani. Sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi pada sistem syaraf pusat3. Istilah kolesteatoma diperkenalkan pertama kali oleh Johanes Muller pada tahun 1838 untuk menjelaskan kolesteatoma sebagai dikira sebagai neoplasma lemak di antara sel-sel polihedral1. Apabila terbentuk terus dapat menumpuk sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar4. A. Etiologi Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik . tetapi keadaan ini merupakan alasan untuk dilakukan bedah telinga. Meskipun kolesteatoma bukan lesi neoplasma tetapi dapat berbahaya pada penderita1. Kolesteatoma telah dikenal sebagai lesi bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal.

Teori tersebut akan lebih mudah dipahami bila diperhatikan definisi kolesteatoma menurut Gray (1964) yang mengatakan. 2. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang . Kulit pada permukaan membran timpani dapat tumbuh melalui perforasi tersebut dan masuk ke dalam telinga tengah7. Teori metaplasi Terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama4 . Kantong tersebut menjadi kolesteatoma. setelah blust injury. kolesteatoma adalah epitel kulit yang berada pada tempat yang salah atau menurut pemahaman Djaafar (2001) kolesteatoma dapat terjadi karena adanya epitel kulit yang terperangkap. antara lain adalah: teori invaginasi. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi. Teori invaginasi Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba 4. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara 6. Patogenesis Banyak teori dikemukakan oleh para ahli tentang patogenesis kolesteatoma. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma 4. Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat. otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah7. C. 3. migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin8. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Sebagaimana diketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamosus epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar. yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. Kolestoma kongenital dapat terjadi ditelinga tengan dan tempat lain misal pada tulang tengkorak yang berdekatan dengan kolesteatomanya 6. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. teori metaplasi dan teori implantasi. Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar6.karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. 4. Perforasi telinga tengah yang disebabkan oleh infeksi kronik atau trauma langsung dapat menjadi kolesteatoma. 1. Beberapa pasien dilahirkan dengan sisa kulit yang terperangkap di telinga tengah (kolesteatoma kongenital) atau apex petrosis7. teori imigrasi. Teori implantasi Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatom terjadi akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. ketika menelan atau menguap. Teori imigrasi Kolesteatoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah4. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi 4 Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman.

1. G. 3. F. Kolestetoma akuisital sekunder kolestetoma terbentuk setelah adanya perforasi membrana timpani. kolestetoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif ditelinga tengah akibat gangguan tuba (teori invaginasi) 4 . dan pembungkus tulang saraf fasialis10. Diagnosis 1. Perasaan penuh Kantong kolesteatoma dapat membesar sehingga dapat menyebabkan perasaan penuh atau tekanan dalam telinga. Kolestetoma akuisital primer kolestetoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrana timpani. Jaringan granulasi memproduksi enzim proteolitik yang dapat menyebabkan desktruksi terhadap tulang. Matriks terdiri atas epitel skuamosa keratinisasi seperti susunan kista. 2. Klasifikasi Kolesteatoma dapat dibagi menjadi dua jenis: 1. bersamaan dengan kehilangan pendengaran 6. yaitu kistik. D. Nyeri Pasien mengeluh nyeri tumpul dan otore intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekuder9. osikula.diperhebat dengan adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. Kistik tersusun atas sel skuamosa keratinisasi anukleat berdiferesiansi penuh.Kolesteatoma akuisital yang terbentuk setelah anak lahir a. Perasaan sakit dibelakang atau didalam telinga dapat dirasakan terutama pada malam hari sehingga dapat menyebabkan tidak nyaman pada pasien6. Lapisan perimatriks merupakan lapisan yang bersentuhan dengan tulang. Anamnesis Riwayat keluhan pada telinga sebelumnya harus di selidiki untuk memperoleh gejala awal . b. Lokasi kolesteatoma biasanya di kavum timpani. Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah satu sisi wajah (sisi telinga yang terinfeksi) 6. matriks dan perimatrik. daerah petrosus mastoid atau di cerebellopontin angle 4 . dengan akibatnya hilangnya tulang mastoid. meningitis dan abses otak 4 .Kolesteatom kongenital. Gejala Klinis 1. 2. Perimatrik atau lamina propria merupakan bagian kolesteatoma yang terdiri atas sel-sel granulasi yang mengandung kristal kolesterol. 4. kolestetoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah (teori immigrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama (teori metaplasia) 4 . E. Histologis Kolesteatoma secara histologis adalah kista sel-sel keratinisasi skuamosa benigna yang disusun atas tiga komponen. yang terbentuk pada masa embrionik dan ditemukan pada telinga dengan membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. Pendengaran berkurang Kolesteatoma dapat tetap asimtomatik dan mencapai ukuran yang cukup besar sebelum terinfeksi atau menimbulkan gangguan pendengaran. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis.

Audiometri Audiometri nada murni dengan konduksi udara dan tulang. Riwayat penyakit dahulu menderita penyakit pada telinga tengah seperti otitis media dan atau perforasi membrana timpani harus ditanyakan. biasanya karena erosi posesus longus incus atau capitulum stapes8. kehilangan pendengaran unilateral progresif dengan otore yang berbau busuk1. Pengurangan pendengaran terjadi seiring meluasnya penyakit5. dapat timbul pada telinga tengah atau dalam membrana timpani. Kolesteatoma kongenital di diagnosa pada anak usia pre sekolah. Pada kantong dengan retraksi yang awal dapat dipasang timpanostomi8. 3. tinitus dan vertigo. dan jaringan granulasi5. kecurigaan abnormalitas kongenital atau kasus kolesteatoma dengan tuli sensorunerual. Akumulasi debris skuamosa dapat dijumpai pada kantongnya. pemeriksaan mukosa telinga tengah untuk menilai ada atau tidaknya udema. 5. Tes Rinne dan Weber dengan menggunakan garputala 512 Hz didapatkan hasil tuli konduksi. gejala vestibular atau komplikasi lainnya1. Terdapat juga perforasi membrana timpani. H. antibiotika dan tetes telinga. pars placida dan pars tensanya normal. Membran timpani harus diperiksa dengan teliti. Terapi pembedahan Kolestoma merupakan penyakit bedah. CT scan tidak essensial untuk penilaian preoperasi. Penatalaksanaan 1. tidak ada riwayat prosedur otologi8. Kolesteatoma akuisital umumnya didiagnosa pada anak dengan usia lebih tua dan dewasa dengan riwayat adanya penyakit telinga tengah. Tuli konduksi sedang > 40dB menyatakan terjadinya diskontinuitas ossikula. Kolesteatoma sering ditemukan pada membrana timpani kuadran postero superior dengan membran timpaninya retraksi dan atau perforasi. 4. dapat menurun pada penderita dengan perforasi membran timpani8. Tujuan utama pembedahan adalah menghilangkan kolesteatoma secara total. otitis media supuratif kronik. 2. perubahan status mental dan penilaian lainnya yang dapat memberikan petunjuk kearah komplikasi5. obstruksi nasal. debris atau lapisan kulit sehingga visualisasi dapat lebih jelas. dengan perhatian terutama pada pemeriksaan telinga. Retraksi sering terdapat pada attic atau membran timpani kuadran posterosuperior5. Tujuan kedua adanya mengembalikan atau memelihara fungsi . Otomikroskopi merupakan alat pada pemeriksaan fisik untuk mengetahui dengan pasti kolesteatoma. dikerjakan pada kasus revisi pembedahan sebelumnya. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik terdiri atas pemeriksaan kepala dan leher. keluasan penyakit dan skrening komplikasi asimptomatik8. 2. Kolesteatoma kongenital yang melibatkan telinga tengah diidentifikasi sebagai massa putih atau seperti mutiara yang letaknya medial terhadap kuadran anteo superior dari membran timpani intak.Timpanometri. Terapi bertujuan untuk menghentikan drainase pada telinga dengan mengendalikan infeksi 6. Penilaian umum untuk menghindari terlewatnya penilaian demam. ambang penerimaan pembicaraan dan pengenalan kata umumnya dipakai untuk menetapkan tuli konduksi pada telinga yang sakit. otalgia. Terapi awal Terapi awal terdiri atas pembersihan telinga. riwayat operasi sebelumnya8.kolesteatoma. tidak ada riwayat otore atau perforasi sebelumnya. Gejala yang sering dikeluhkan adalah otore.Radiologi Pemeriksaan radiologi preoperasi dengan CT scan tulang temporal tanpa kontras dalam potongan axial dan koronal8 dapat memperlihatkan anatomi.5. Diperlukan aural toiletisasi untuk menghilangkan otore. sebaiknya dibandingkan dengan pemeriksaan audiometri5. Derajat tuli konduksi bervariasi tergantung beratnya penyakit5.

Bondy Modified Radical Procedure Berbagai macam faktor turut menentukan operasi yang terbaik untuk pasien. tetapi resiko tinggi terjadinya rekurensi dan persisten kolestatoma. tinnitus. Tujuan ketiga adalah memeliharan sebisa mungkin penampilan anatomi normal. Sebagaimana prosedur pembedahan lainnya. 3. Pemeriksaan CT tulang temporal diperlukan untuk membantu keterlibatannya. 3. Tuli sensorineural Terdapatnya tuli sensorineural menandakan terdapatnya keterlibatan labyrinth1. Keluasan penyakit akan menentukan keluasan pendekatan pembedahan1. Trancanal Anterior Atticotomi d. memerlukan follow up lebih lanjut dan aural toilet 1. kehilangan pendengaran).wall-up prosedur umumnya memerlukan operasi tahap kedua selelah 6-9 bulan dari operasi pertama. Konseling meliputi penjelasan tujuan pembedahan. Tuli konduksi Tuli konduksi merupakan komplikasi yang sering terjadi karena terjadi erosi rangkaian tulang pendengaran. Canal Wall Up Procedure (CWU) c. Prosedur pembedahan diterapkan pada individu dengan tanda-tanda patologis. Erosi prosesus lentikular dan atau super struktur stapes dapat menyebabkan tuli konduksi sampai dengan 50dB. I. 2. Kehilangan pendengaran bervariasi sesuai dengan perkembangan myringostapediopexy atau transmisi suara melalui kantong kolesteatoma ke stapes atau footplate. Resiko rekurensi cukup tinggi sehingga ahli bedah disarankan melakukan tympanomastoidectomi setelah 6 bulan sampai 1 tahun setelah operasi pertama3. Canal-walldown prosedur memiliki probabilitas yang tinggi membersihkan permanen kolesteatomanya. Pasien yang menjalani canal. konseling preoperatif dianjurkan. Kehilangan pendengaran total Setelah operasi sebanyak 3% telinga yang dioperasi mengalami kerusakan permanen karena penyakitnya sendiri aau komplikasi proses penyembuhan. Paralisis fasialis Paralisis fasialis disebabkan karena hancurnya tulang diatas nervus fasialis 7. bahkan pada pasien yang asimptomatik3. Pasien yang telah menjalani canal-wall-down prosedure memerlukan follow up tiap 3 bulan untuk pembersihan saluran telinga. Tempat umum yang terjadi adalah gangglin genikulatum pada . Follow up dilakukan 6 bulan sampai dengan 1 tahun untuk mencegah terjadinya kolesteatoma persisten atau rekurensi3. Prosedur pembedahan meliputi: a. rontgen mastoid dan CT scan mastoid diperlukan. Canal-wall-up procedure memiliki keuntungan yaitu mempertahankan penampilan normal. Tes tersebut dilakukan dengan maksud untuk menentukan tingkat pendengaran dan keluasan desktruksi yang disebabkan oleh kolesteatomanya sendiri 6. Rekurensi dapat terjadi setelah pembedahan awal. resiko pembedahan (paralisis fasial. Tes pendengaran dan keseimbangan. Kolesteatoma besar atau yang mengalami komplikasi memerlukan terapi pembedahan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Rangkaian tulang-tulang pendengaran selalu intak1. Canal Wall Down Procedure (CWD) b. Follow up meliputi evaluasi setengah tahunan atau tahunan. 4. Komplikasi 1. Pasien harus diberikan penjelasan tentang kemungkinan kehilangan pendengaran total 1. Paralisis dapat berkembang secara akut mengikuti infeksinya atau lambat dari penyebaran kronik kolesteatomanya. Follow up Tiap pasien dimonitor selama beberapa tahun.pendengaran. vertigo.

EGC. 5. No 1.htm.cfm.. S.epitimpanicum anterior1. http://www.otohns. IJMS Vol 31. 2002. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama. Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johanes Muller pada tahun 1838 karena disangka tumor yang ternyata bukan. http://www. M. Cholesteatoma: Pathogenesis and Surgical Management. Cholesteatoma. http://www. Jakarta.rcsullivan.Boies.Roland. Levine. Dept.com/tumors/procedure_one.Kennedy.earsite. Fistula labyrinthin Fistula labyrinthin terjadi pada 10% pasien dengan infeksi kronik dengan kolesteatoma. 10. maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma. 9. of Otolaryngology.com/www/ears. M. Intrakranial Komplikasi intrakranial seperti abses periosteal. Surgery in Cholesteatoma: Ten years Follow-up..Djaafar. 1997. T. Jakarta. Department of Otolaringology. EGC. . A. Komplikasi intra kranial ditandai dengan gejala otore maladorous supuratif..Paparella. Cholesteatoma. 2. 8. Cholesteatoma. R. March 2006. P. nyeri dan atau demam1. 7. Z. 2006.entnet. G. Cholesteatoma. Makishma. Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar. 2006. M.Underbrink.org/index2. Adams. 2002. Middle Ear. K. Jakarta. 2006..asp?id=14160. http://www. 3. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid alam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT. S. KOLESTEATOMA EKSTERNA Diposkan oleh Taufik Abidin oleh: Taufik Abidin Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin).Anonim.Ajalloueyan... L. 2001.. Fistula dicurigai pada pasien dengan gangguan tuli sensorineural yang sudah berjalan lama dan atau vertigo yang diinduksi dengan suara atau perubahan tekanan pada telinga tengah1. trombosis sinus lateral dan abses intrakranial terjadi pada 1% penderita kolesteatoma. 1999. G.com 4.. L.Anonim. Kelainan Telinga Tengah dalam buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.Hauptman. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. M.html. biasanaya dengan nyeri kepala kronik.net/default. 1997. DAFTAR PUSTAKA 1. University of Texas Medical Branch. American Academy of Otolaryngology..emedicine. 6. 6. 2006. 5. Cholesteatoma. UTMB.. http://www. Penyakit Telinga Luar dalam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT.

yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa. Kolesteatoma eksterna disusun atas epitel gepeng & debris tumpukan pengelupasan keratin. Kolesteatoma mengerosi tulang yang terkena baik akibat efek penekanan oleh penumpukan debris keratin maupun akibat aktifitas mediasi enzim osteoklas. Erosi bagian tulang liang telinga dapat sangat progresif memasuki rongga mastoid dan kavum timpani. seperti bronkiektasis. Namun kejadian kolesteatoma sangat jarang terjadi. Etiologinya belum diketahui. Terjadinya proses nekrosis diperhebat oleh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya kuman. Hal yang terakhir ini disebut sebagai kolesteatoma eksterna. Kolesteatoma pada liang telinga biasanya unilateral. Bila tidak ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga. Kolesteatoma diduga sebagai akibat migrasi epitel yang salah & periostitis sirkumskripta. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ disekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. sehingga akan lembab karena menyerap air sehingga mengundang infeksi.Kolesteatoma diawali dengan penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga. juga pada pasien sinusitis. Pasien mengeluhkan nyeri tumpul sampai nyeri hebat akibat peradangan setempat dan otorea intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekunder. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. sering terjadi pada pasien dengan kelainan paru kronik. .

Herman.1. Patofisiologi / Patogenesis Kolesteatoma. 2006. Balai Penerbit FKUI.Penyakit ini dapat dikontrol dengan melakukan pembersihan liang telinga secara periodic misalnya tiap tiga bulan. Kolesteatoma Kolesteatoma adalah suatu kista epithelial yang berisi deskuamasi epitel/keratin. Sel epitel debris mengumpul dalam telinga bagian tengah. Djaafar. Pada pasien yang telah mengalami erosi tulang liang telinga. seringkali diperlukan tindakan bedah dengan melakukan tandur jaringan ke bawah kulit untuk menghilangkan gaung di dinding liang telinga.jpg. 2006. ZA. Keratosis Obliterans Dan Kolesteatoma Eksterna. Kolesteatoma sangat berbahaya dan merusak jaringan sekitarnya yang dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran.. Etiologi / Penyebab Kolesteatoma Komplikasi dari Otitis Media Kronis Penatalaksanaan / Penanganan / Pengobatan / Terapi Kolesteatoma Mastoidektomy dapat menghilangkan kolesteatoma . Jakarta.55-56. membentuk kista yang merusak struktur telinga dan mengurangi pendengaran. 47-48. http://www. Balai Penerbit FKUI. Deteksi dan pengobatan secara dini pada otitis media dengan memberikan antibiotika akan menurunkan kolesteatoma. Jakarta. tiga kali seminggu sering kali dapat menolong. Kolesteatoma. seperti pada mastoiditis. DAFTAR PUSTAKA Sosialisman. Yang penting ialah membuat agar liang telinga berbentuk seperti corong. sehingga pembersihan liang telinga secara spontan lebih terjamin. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alcohol atau gliserin dalam perioksida 3%. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal.org/proxy/MC-cattails_2006_sepoct_cyst.marshfieldclinic.

jenis-jenis Massa Telinga Tengah 1. Sedangkan Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari membrane timpani. dan jika tidak memungkinkan pembedahan digunakan erapi radiasi. Timpanosklerosis adalah timbunan kolagen dan kalsium di dalam telinga tengah yang dapat mengeras di seputar osikulus sebagai akibta infeksi berulang b. umbo. bila dilihat dari arah liang telinga berbentuk bundar dan lekung dan gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya. Granuloma kolesterin adalah reaksi system imun terhadap produk samping darah (Kristal kolesterol) di dalam telinga tengah (Brunner & Suddath: 1999. nervus fasialis (Brunner & Suddath: 1999.2056) 2.2056) 4.Komplikasi Kolesteatoma Komplikasi terjadi apabila sudah terjadi proses nekrosis tulang yakni : .2056) 3. Neuroma nervus fasialis adalah tumor nervus VII. mengarah ke medial. Glomus jugulare adalah tumor yang timbul dari bulbus jugularis (Brunner & Suddath: 1999. Kesimpulan Telinga adalah salah satu organ pancaindra yang memiliki fungsi yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna/aurikula).Labirinitis .Meningitis . kanalis auditorius eksternus dan membran timpani.Abses otak MASSA TELINGA TENGAH a. meatus autikus eksternus. Definisi . KOLESTEATOMA BAB II PEMBAHASAN A. Penatalaksanaan Pada dasarnya semua jenis massa dilakukan pengangkatan massa melalui pembedahan.

dan mampu berangiogenesis. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara. Desakan massa + reaksi asam oleh pembusukan bakteri  nekrosis tulang  komplikasi . PATOFISIOLOGI Terdiri dari :    Deskuamasi epitel skuamosa (keratin) Jaringan granulasi yang mensekresi enzim proteolitik Dapat memperluas diri dengan mengorbankan struktur disekelilingnya Erosi tulang terjadi oleh dua mekanisme utama : Efek tekanan  remodelling tulang Aktivitas enzim  meningkatkan proses osteoklastik pada tulang  meningkatkan resorpsi tulang. migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin. Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat. destruktif. Apabila terbentuk terus menerus dapat menyebabkan terjadinya penumpukan sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar. B. ETIOLOGI Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. C. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi. Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar. Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani.kolesteatom adalah kista epitelial berisi deskuamasi epitel (keratin).    Merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman  infeksi Infeksi pelepasan sitokin yang menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatoma menjadi hiperproliferatif. otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah.bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal. ketika menelan atau menguap.

2.D. 1. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama. Kolesteatom Kongenital. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. KLASIFIKASI a. PATOGENESIS 1. ditemukan pada daerah petrosus mastoid. Primer terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane timpani. 4. 2. b. membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. 3. Teori Imigrasi. Teori Metaplasi. Kolesteatoma Akuisital 1. setelah blust injury. akan tetapi telah terjadi retraksi membran timpani. cerebellopontin angle. Kolestetoma Akuisital Sekunder . terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah. dan seringkali teridentifikasi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun. timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars flacida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. aktivitas enzimatik tepi kolesteatom yang bersifat osteoklastik yang menyebabkan resorpsi tulang. Teori Invaginasi. yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. desakan atau tekanan yang mengakibatkan remodeling tulang atau nekrosis tulang. anterior mesotimpanum atau pada daerah tepi tuba austachii. Teori Implantasi. 2. Erosi tulang melalui dua mekanisme. E.

F.terbentuk setelah perforasi membran timpani. GEJALA KLINIS Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga) keluar nanah berbau busuk dari telinga tanpa disertai rasa nyeri. Bila terus menerus kambuh. Pendengaran berkurang Perasaan cemas Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah 1 sisi wajah atau sisi telinga yang terinfeksi. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga /dari pinggir perforasi membrana timpani. G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Rontgen konvensional posisi Waters dan Stenvers CT scan MRI . akan terbentuk pertumbuhan menonjol (polip).

C.ASUHAN KEPERAWATAN A. Aktivitas  Gangguan keseimbangan tubuh  Mudah lelah 2. PENGKAJIAN 1. Kriteria hasil :  Ganguan nyeri teradaptasi  Dapat tidur dengan tenang Intervensi :  Kaji nyeri yang dirasakan  Monitor tanda-tanda vital . DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Nutrisi  Adanya mual 4. Pola istirahat  Gangguan tidur/kesulitan tidur B. pucat ( menendakan adanya stres ) 3. 2. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. 3. Sirkulasi  Hipotensi. Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. hipertensi. Tujuan : Setelah dilakukannya tindakan keperawatan 1X24 jam diharapkan klien dapat istirahat dan tidur. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. System pendengaran  Adanya suara abnormal (dengung) 5. PERENCANAAN 1. 4.

Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. Intervensi :  Kaji kesulitan mendengar  Kaji seberapa parah gangguan pendengaran yang dialami  Anjurkan menggunakan alat bantu dengar setiap diperlukan  Bila mungkin ajarkan komunikasi nonverbal 4. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri. Kriteria hasil :  Resiko kerusakan interaksi sosialdapat diminimalkan. Tujuan : Setelah dilakukan tindkan keperawatan diharapkan meminimalakan kerusakan interaksi social. Kriteria hasil : Tidak terjadi kecemasan. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. pengetahuan klien terhadap penyakitnya meningkat. Anjurkan klien untuk beradaptasi dengan gangguan yang dirasakan  Kolaborasi dalam pemberian obat penenang/obat tidur 2. Tujuan : Setelah dilakauakan tindakan keperawatan klien dan keluarga klien tidak cemas. Kriteria hasil :  Nyeri dapat teradaptasi  Dapat istirahat dengan nyaman Intervensi :  Monitor dan kaji karakteristik nyeri  Monitor tanda-tanda vital  Ciptaka lingkungan yang tenang dan nyaman 3. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi. Intervensi :  Kaji tingkat kecemasan  Berikan penyuluhan tentang kolesteatoma  Yakinkan klien bahwa penyakitnya dapat disembuhkan .

maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperagkap sehingga membentuk kolesteatom. Terjadinya proses nekrosis diperhebat olh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. epidermosis (Sumarkin. 1959). namun sampai sekarang patogenesis penyakit ini masih belum jelas. 1970). Tetapi dapat juga tanpa gejala. Banyak teori telah dikemukakan oleh para ahli . squamous epiteliosis (Birrel.2 Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johannes Muller pada tahun 1838 karena disangka kolesteatoma merupakan suatu tumor. Kolesteatom ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman. dan menghindari stress.1 Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/terpapar ke dunia luar. kista dermoid (Fertillo. yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa. 1988).1 Seringkali kolesteatoma dihubungkan dengan kehilangan pendengaran dan infeksi pada telinga yang menghasilkan cairan pada telinga. 1958). Definisi Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi jaringan epitel (keratin). Beberapa istilah lain yang diperkenalkan oleh para ahli antara lain adalah: keratoma (Schucknecht). kolesteatosis (Birrel. Walaupun kolesteatom sudah dikenal sejak pertengahan abad ke 19. Kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. ternyata bukan. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-desac sehingga apabila terdapat serumen yang pada (serumen plug) di liang telinga dalam waktu yang lama. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar. 1958). Kolesteatom cepat membesar bila sudah disertai dengan infeksi. Anjurkan klien untuk rileks. epidermoid kolesteatoma (Friedman.

adalah epitel skuamous keratinisasi tumbuh melewati batas normal.tentang pathogenesis kolesteatom.5 tahun dengan perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan 3:1. Kriteria Kolesteatoma Kongenital Telinga Tengah 3 1.3 Kolesteatoma aquisita primer merupakan manifestasi dari perkembangan membran tympani yang retraksi. Berdasarkan teori klasik oleh Derlacki dan Clemis (1965). atau adanya riwayat infeksi pada telinga.3 Etiologi dan patogenesis kolesteatoma belum diketahui dengan jelas. kolesteatoma kongenital terjadi pada di belakang membran tympani yang intak.5 Penelitian Levenson menunjukkan bahwa rata-rata usia terjadinya kolesteatoma kongenital adalah 4. teori metaplasi dan teori implantasi. 2. 4. serta teori terjadinya metaplasi mukosa telinga tengah. tanpa riwayat infeksi sebelumnya. Dua pertiga kasus terjadi pada kuadran anteroposterior membran tympani. 1) Kolesteatom Aquisita Kolesteatoma aquisita dibagi menjadi dua. antara lain: teori invaginasi.4 Namun definisi ini telah berubah setelah diketajui bahwa hampir 70% anak akan mengalami sekurang-kurangnya satu kali episode otitis media. 3.4 Oleh karena itu Levenson. baik primer maupun sekunder. Faktor terpenting dari kolesteatoma aquisita. Riwayat otitis media sebelumnya bukan merupakan kriteria eksklusi Tipikal kolesteatom kongenital ditemukan pada bagian anterior mesotympanum atau pada area sekitar tuba eustachius. yaitu primer dan sekunder. Klasifikasi dan Patogenesis Berdasarkan etiologi kolesteatoma dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu kongenital dan didapat (akuisita). Terdapatnya masa putih pada membran tympani yang normal Pars tensa dan flaccida yang normal Tidak adanya riwayat otorrhea ataupun perforasi sebelumnya Tidak ada riwayat prosedut otologi sebelumnya 5. Kolesteatoma aquisita sekunder sebagai konsekuensi langsung dari trauma pada membrane tympani. Karena itu kolesteatoma ditemui di belakang dari membran tympani yang intak. Dua teori yang sering digunakan adalah kegagalan involusi penebalan epitel ektodermal yang terjadi pada masa perkembangan fetus pada bagian proksimal ganglion genikulatum. tanpa berlanjut ke saluran telinga luar dengan tidak adanya faktor-faktor yang lain seperti perforasi dari membran tympani. . dan sering terjadi pada awal kanak-kanak (6 bulan sampai 5 tahun). dkk (1989) membuat modifikasi definisi kolesteatoma kongenita (Tabel 1) Tabel 1. teori imigrasi. 1) Kolesteatom Kongenital Kolesteatoma kongenital terjadi karena perkembangan dari proses inklusi pada embrional atau dari sel-sel epitel embrional.

org. Pembesaran dapat berjalan semakin ke posterior mencapai aditus ad antrum menyebar ke tulang mastoid. Kelainan Telinga Tengah. Menurut teori implantasi. Pertumbuhan papiler ke dalam yang menyebabkan perkembangan kolesteoma bermula pada pars flaccida. Cholesteatoma. Djaffar Zainul A. Perluasan proses ini diikuti kerusakkan tulang dinding atik. Sehingga pars flaccida membrana tympani tertarik dari terbentuklah kantong (retraction pocket). Avaiable at: http://www.ndcs. editor. Akumulasi ini semakin lama semakin banyak dan kantong retraksi bertambah besar ke arah medial. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Dept. telinga tengah dan mastoid. Of Otolaryngology.p. 2001. Fakultas Kedokteran Ilmu Indonesia. Proses osteogenesis ini disertai osteogenesis dalam mastoid dengan adanya sklerosis. Grand Round Presentation. erosi tegmen mastoid ke durameter dan atau ke lateral kanalis semisirkularis yang dapat menyebabkan ketulian dan vertigo. Gadre A.Jika terjadi disfungsi tuba Eustachius. Matriks epitel yang mengelilinginya meluas ke ruang-ruang yang ada di ruang atik. Avaiable at: . Destruksi tulang-tulang pendengaran sering terjadi pada kasus ini. Daftar Pustaka 1. rantai osikular. Sedangkan mekanisme menurut teori invasi epitel adalah bahwa kapanpun terjadi perforasi pada mambran tympani.5 Patogenesis kolesteatoma aquisita sekunder diterangkan dengan beberapa teori. yang biasanya disebabkan ventilasi yang buruk pada daerah ini dapa menyebabkan perusakan membran basal menyebabkan pertumbuhan dan proliferasi tangkai sel epitel ke dalam. Reaksi peradangan pada ruang Prussack (Prussack’s space). maka terjadilah keadaan vakum pada telinga tengah. 2006) 3. Infeksi pada kolesteatoma bukan hanya menyebabkan sklerosis mastoid yang cepat tetapi juga peningkatan proses osteolitik. Berasarkan teori metaplasia. 5. Cholesteatoma. epitel terdeskuamasi diubah menjadi epitel skuamosa stratified keratinisasi akibat terjadinya otitis media akut berulang ataupun kronis. atau trauma. yaitu: teori implantasi. dan teori invasi epitelial. Iskandar N. teori metaplasi. Dulu dianggap bahwa tekanan yang terjadi karena kolesteatom yang membesar menyebabkan destruksi tulang. epitel skuamous terimplantasi ke telinga tengah sebagai akibat pembedahan.4. UTMB. In: Soepardi EA. adanya benda asing. menyebabkan akumulasi keratin pada kantong tersebut. In: Quinn FB. Telah diyakini bahwa proses ini disebabkan infeksi kronik yang terus berlangsung dalam cavum tympani. epitel squamous akan bermigrasi melewati tepi perforasi dan bejalan ke medial sejajar dengan permukaan bawah gendang telinga merusak epitel kolumnar yang ada. Underbrink M. Kini terbukti bahwa erosi tulang disebabkan karena adanya enzim osteolitik atau kolagenase yang disekresi oleh jaringan ikat subepitel. The National Deaf Children`s Society. ed. dan septa mastoid untuk memberi tempat bagi kolesteatom yang bertambah besar. editor. terbentuk lapisan-lapisan deskuamasi epitel dengan kristal kolestrin mengisi kantong. Ryan MW.uk (last access: January 24th.3 Sekali kantong atau kista epitel skuamosa terbentuk dalam rongga telinga tengah. 49-62 2.3. Jakarta. Jika kantong retraksi ini terbentuk maka terjadi perubahan abnormal pola migrasi epitel tympani.

Kepada pasien ditanyakan apakah mendengar sekaligus diinstruksikan supaya mengangkat tangan apabila sudah tidak mendengar lagi. Penderita ditanyakan apakah masih mendengar suara garpu tala atau tidak ? Bila tidak dapat membedakan ke arah telinga mana yang lebih keras atau dijawab sama kerasnya antara kanan dan kiri artinya tidak terdapat lateralisasi. atau dahi . yang telah digetarkan diletakan ujungnya pada vertex. Juga pada tuli sensorineural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. 2. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Garpu tala 512 Hz. mastoideus dari telinga yang akan diperiksa. Cara pemeriksaannya : Garpu tala 512 Hz yang telah digetarkan diletakan pada proc. Cara pemeriksaannya . Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang pada penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan telinga pemeriksa harus normal.Test Rinne . Bila penderita sudah mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingg ujung yang bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa.edu/otoref/Grnds/Cholesteatoma-020918/Cholesteatoma.utmb. 1.Test Schwabach.pdf access: January 24th. Cara pemeriksaannya . Apabila terdapat penjalaran ke salah satu telinga maka artinya terdapat lateralisasi. Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne positif bila sudah tidak mendengar dikatakan Rinne negatif. Prinsip pemeriksaan ini adalah membadingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan pada telinga normal hantaran antara telinga kiri dan kanan akan sama.Test Weber.http://www. Di lain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. . 2006) (last Pemeriksaan Garpu Tala Pemeriksaan telinga dengan garpu tala ada 3 cara pemeriksaan diantaranya . 3.

Bila pasien mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke proc. yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang seling mengenai memberan timpani. karena ambang pendengaran lebih rendah pada frekuensi dibandingkan dengan frekuensi lain. Weber test dan Scwabach test LATAR BELAKANG Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di lingkungan eksternal. Mastoideus pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke proc. Mastoideus pasien kemudian kepada pasien ditanyakan apakah masih mendengar suara dari garpu tala. Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di memberan timpani persatuan waktu adalah satuan gelombang. Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran pada garpu tala. semakin tinggi frekuensi dan semakin tinggi nada. Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan Schwabach normal dan bila pasien masih mendengar suara hantaran pada garpu tala maka dikatakan Schwabach memanjang.Garpu tala 512 Hz yang sudah digetarkan diletakan pada proc. Gelombang suara . sesudah itu diinstruksikan juga supaya mengangkat tangannya apabila sudah tidak mendengar suara hantaran dari garpu tala.Mastoideus pasien dan ditanyakan lagi apakah pasien mendengar suara hantaran dari garpu tala?.Mastoideus pemeriksa. Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan nada berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelombang persatuan waktu). Rinne. Bila pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakan pada proc. RINNE POSITIF NEGATIF WEBER TIDAK ADA LATERALISASI LATERALISASI KE ARAH TELINGA YANG SAKIT LATERALISASI KE TELINGA YANG SEHAT SCHWABACH SAMA DENGAN PEMERIKSA MEMANJANG HASIL NORMAL TULI KONDUKTIF POSITIF MEMENDEK TULI SENSORINEURAL Catatan : Pada tuli Konduktf < 30dB . Namun nada juga ditentukan oleh factor . dan gerakan semacam itu dalam lingukangan secara umum disebut gelombang suara. Semakin besar suara semakin besar amplitudo.faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami selain frekuensi dan frekuensi mempengaruhi kekerasan. Rinne bisa masih positif Pemeriksaan Audiometri.

getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan sensasi bising. Cara paling mudah untuk menggambarkan fungsi dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa dari permulaan sampai akhir dari setiap bagian-bagian telinga yang berbeda. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan telinga dalam. Telinga mempunyai resptor bagi 2 modalitas reseptor sensorik : 1.memiliki pola berulang. Coclearis) Telinga dibagi menjadi 3 bagian : . walaupun masing . Variasi timbre mempengaruhi mengetahhi suara berbagai alat musik walaupun alat tersebut memberikan nada yang sama.1998) A. Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan frekuensi primer yang menentukan suara ditambah sejumla getaran harmonik yang menyebabkan suara memiliki timbre yang khas. (William F.Terdiri dari telinga luar. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksidi serat-serat saraf. Fenomena ini dikenal sebagai masking (penyamaran). Anatomi system pendengaran (Telinga) Merupakan organ pendengaran dan keseimbangan.masing gelombang bersifat kompleks. Pendengaran (N. Efek penyamaran suara lata akan meningkatan ambang pendengaran dengan besar yang tertentu dan dapat diukir. tengah dan dalam. 1998) Telah diketahui bahwa adanya suatu suara akan menurunkan kemampuan seseorang mendengar suara lain. Fenomena ini diperkirakan disebabkan oleh refrakter relative atau absolute pada reseptor dan urat saraf pada saraf audiotik yang sebelumnya teransang oleh ransangan lain.Gannom. (William F. didengar sebagai suara musik. Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara di lingkungan eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran। Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan lempeng kaki stapes.Gannong. Tingkat suatu suara menutupi suara lain berkaitan dengan nadanya. Kecuali pada lingkungan yang sangat kedap suara. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang bunyi ke otak dimana bunyi tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan.

Tulangtulang yang saling berhubungan ini . gelombang suara akan menyebabkan bergetarnya gendang telinga. yang fungsinya menyamakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga.sering disebut " martil. Pergerakan dari oval window (tingkap lonjong) menyalurkan tekanan gelombang dari bunyi kedalam telinga dalam.Telinga luar Auricula Mengumpulkan suara yang diterima Meatus Acusticus Eksternus Menyalurkan atau meneruskan suara ke kanalis auditorius eksterna Canalis Auditorius Eksternus Meneruskan suara ke memberan timpani Membran timpani Sebagai resonator mengubah gelombang udara menjadi gelombang mekanik। Telinga tengah Telinga tengah adalah ruang berisi udara yang menghubungkan rongga hidung dan tenggorokan dihubungkan melalui tuba eustachius. lalu dengan perlahan disalurkan pada rangkaian tulang-tulang pendengaran. landasan. Telinga tengah terdiri dari : Tuba auditorius (eustachius) Penghubung faring dan cavum naso faringuntuk : Proteksi: melindungi ndari kuman . Setelah sampai pada gendang telinga. Tuba eustachius lazimnya dalam keadaan tertutup akan tetapi dapat terbuka secara alami ketika anda menelan dan menguap. dan sanggurdi"secara mekanik menghubungkan gendang telinga dengan "tingkap lonjong" di telinga dalam.

Drainase: mengeluarkan cairan. Hal ini dikarenakan pertambahan usia atau terpapar bising yang keras secara terus menerus. menyamakan tekanan luar dan dalam. Gangguan pendengaran yang diseperti ini biasa disebut dengan sensorineural atau perseptif. Aerufungsi: Tuba pendengaran (maleus.sebagai contoh mengerti percakapan. Efeknya hampir selalu sama. Suara-suara nada tinggi tertentu seperti kicauan burung menghilang bersamaan.000 sel-sel rambut yang mengubah getaran suara menjadi getaran-getaran saraf yang akan dikirim ke otak. Telinga dalam dipenuhi oleh cairan dan terdiri dari "cochlea" berbentuk spiral yang disebut rumah siput. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk . orang-orang terlihat hanya seperti berguman dan anda sering meminta mereka . dan stapes) Memperkuat gerakan mekanik dan memberan timpani untuk diteruskan ke foramen ovale pada koklea sehingga perlimife pada skala vestibule akan berkembang. inkus. Hampir 90% kasus gangguan pendengaran disebabkan oleh rusak atau lemahnya sel-sel rambut telinga dalam secara perlahan. menjadi lebih sulit membedakan atau memilah pembicaraan pada kondisi bising. Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari : Koklea Skala vestibule: mengandung perlimfe media: mengandung endolimfe timani: mengandung perlimfe Skala Skala Organo corti Memngandung sel-sel rambut yang merupakan resseptor pendengaran di memberan basilaris. Di otak getaran tersebut akan di intrepertasi sebagai makna suatu bunyi. Sepanjang jalur rumah siput terdiri dari 20.

melodi akan sulit untuk dikenali dan suaranya tidak benar secara keseluruhan. Sacculus Sacculus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea. Rambut–rambut pada sel rambut asertif di organ ini menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa di atasnya. b.untuk mengulangi apa yang mereka katakan. kecuali dia berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal (misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap . Sekali sel-sel rambut telinga dalam mengalami kerusakan. c. misalnya ketika memulai atau berhenti berputar. yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel rambut. Andapun dapat membantu untuk menjaga agar selanjutnya tidak menjadi lebih buruk dari keadaan saat ini dengan menghindari sering terpapar oleh bising yang keras. Keseimbangan (N. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk sebagai contoh mengerti percakapan. Tiap – tiap telinga memiliki tiga kanalis semesirkularis yang tegak lurus satu sama lain. Canalis Semisirkularis Canalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselarisasi anguler atau rotasional kepala. Sacculus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus. Sebuah alat bantu dengar akan dapat membantu menambah kemampuan mendengar anda. Sel-sel rambut utrikulus mendeteksi akselerasi atau deselerasi linear horizontal. tetapi tidak memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan. tidak ada cara apapun yang dapat memperbaikinya. Contoh kecil seperti menghilangkan semua nada tinggi pada piano dan meminta seseorang untuk memainkan sebuah melodi yang terkenal. Utrikulus Utrikulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea. Vestibularis) a. Dengan hanya 6 atau 7 nada yang salah. berjungkir balik. atau memutar kepala.

eh telinga yang dialirkan ke telinga dan mengenai memberan timpani. otitis eksterna sirkumsripta. 2.akselerasi atau deselerasi loner vertical (misalnya melompat atau berada dalam elevator). Orang tersebut mengalamipenurunan atau kehilangan kemampuan total untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan pada : a. Organo corti . Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah tubakar/sumbatan tuba eustachius.VIII yang kemudian neneruskan ransangan ke pusat sensori pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit system saraf pusat dari telinga. Fisiologi Pendengaran Getaran suara ditangkap ol. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhhubungan satu sama lain. osteoma liang teling. Tuli perseptif Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. b. sehingga memberan timpani bergetar. Tuli konduktif Karena kelainan ditelinga luaaar atau di telinga tengah a. sumbatan oleh serumen. Selanjutnya stapes menggerakkan perilimfe dalam skala vestibui kemudian getaran diteruskan melalui Rissener yang mendorong endolimfe dan memberan basal ke arah bawah. perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar. Kelainan telingna luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah astresia liang telinga. dan dislokasi tulang pensdengaaran. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion Na menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang N. Kelainan /Ganggaun Fisiologi Telinga 1.

Sebagi dokter umum cukuplah memperhatikan keempat aspek penting berikuta ini : Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak. Usia 6 tahun diambil sebagai batas. Pad kedua golongan umur tersbut. Jenis kurang pendengaran kurang pendengaran penyebab kurang pendengaran Derajat Menentukan 1. Pusat pendengaran otak 3. Respon manusia terhadap suara atau percakapan yang didengranya tergantung pada umur pertumbuhannya. sedangkan lebih dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan yang didengar sama dengan orang dewasa karena luasnya aspek diagnostik KP. Tuli campuran Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak sempurna sehingga infeksi skunder (tuli persepsi juga). Jenis KP .b.vestibularais c. Kekurangan Pendengaran Yang dimaksud dengan kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seorang kurang dpat mendengar dan mengerti suara atau percakpan yang didengar untuk mendiagnosis kurang pendengaran. Saraf : N. Penentuan pada penderita apakah ada KP atau tidak Dalam penentuan apakah ada KP atau tidak pada penderita hal penting yang harus diperhatiakan adalah umur prnderita. 2.coclearis dan N. kurang dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan berbeda-beda tergantung umurnya. maka dalam makalah ini yang diuraikan hanya diagnosis KP pada anak-anak umur 6 tahun keatas dan dewasa.

b. d.Jenis KP berdasarkan lokalisasi lesi : a. Untuk KP jenis sentral dan fungsional mengingat masih terbatasnya pengetahuan proses pendengara diwilayah trsebut.VIII) c. e. maka pada makalah ini akan dibatasi pada diagnosis KP jenis hantaran sensorineural dan campuran saja. KP jenis hantaran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga luar dan atau telinga tengah. KP jenis sentral Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang otak sampai dengan korteks otak. 3. Menentukan penyebab KP Menetukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara kempat batasan atau aspek tersebut diatas. KP jenis fungsional Pada KP jenis ini tidak dijumpai adanya gangguan atau lesi organic pada system pendengaran baik perifer maupun sentral. untuk itu diperlukan : . KP jenis sensorineural Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (pada koklea dan N. melainkan berdadasarkan adanya masalah psikologis atau omosional. disamping masih belum banyak dikenal teknik uji pendengaran yang dapat dimanfaatkan untuk bahan diagnostik. KP jenis campuran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga dalam.

Alat ini menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Anamnesis yang luas dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut b. hidung dan tenggorokan ) yang teliti. a. Pemeriksaan audiometri Tes Fungsi Pendengaran Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto laboratorium) Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. Pemeriksaan umum dan khusus (telinga. Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. yaitu : a. Tes bisik b. Tes garputala d. c. Tes bisik modifikasi c. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan .a. maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri.

Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1) Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500.pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 20-20. 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang.000 Hz. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara. 1000-2000. sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel 0-15 >15-25 >25-40 >40-55 >55-70 >70-90 >90 Pendengaran normal Kehilangan pendengaran kecil Kehilangan pendengaran ringan Kehilangan pendengaran sedang Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat Kehilangan pendengaran berat Kehilangan pendengaran berat sekali Klasifikasi . Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri. audiologis dan pasien yang kooperatif. Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari.

Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur.Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan. untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). 2) Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. . Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar. hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi. Grafiknya terdiri dari skala decibel. atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman. pendengar diminta untuk mnebaknya. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar.

. Dengan demikian. Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar katakata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat. tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. tetapi juga jauh diatasnya. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. Pada audiometri tutur. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB. apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi. dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga). Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya. memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. Kriteria orang tuli : Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB Sedang Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Berat Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi. berarti pendengaran baik.b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. sedangkan intensitas suara barapa saja.

atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan. yaitu : a. b. Tujuan Ada empat tujuan (Davis. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi). Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya . apakah ada lubang gendang telinga. khususnya penyakit telinga 2) Untuk kedokteran klinik Kehakiman.apakah ada kotoran telinga (serumen). Ada 2 macam tes rinne . 1978) : 1) Mediagnostik penyakit telinga 2) Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari.tuntutan ganti rugi 3) Untuk kedokteran klinik Pencegahan. Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). 1. segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. deteksi ktulian pada anak-anak c. apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran. Manfaat audiometri 1) Untuk kedokteran klinik. 3) Skrinig anak balita dan SD 4) Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising.

Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Test Weber . Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. 2. terdapat 3 kemungkinan : a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus.b. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : 1) Normal : tes rinne positif 2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) 3) Tuli persepsi. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus.

Jika kedua pasien samasama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. Test Swabach Tujuan : . Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar.Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan. Interpretasi: a. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: 1) Tuli konduksi sebelah kanan. Menurut pasien. 3) Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. b. 3. 2) Tuli konduksi pada kedua telinga. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. missal adanya ototis media disebelah kanan. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. 5) Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. 4) Tuli persepsi pada kedua teling. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan. maka di dengar sebelah kanan. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak.

khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. Setelah tidak terdengar garpu tala dipegang di depan telingan kira-kira 2. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkainya diletakkan di prosesus mastoideus. maka penguji akan segera memindahkan garputala itu.5 cm. 1024. . Diposkan oleh neeya_koizora di 01. •Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran melalui udara dan tulang pada telinga yang diperiksa. idealnya menggunakan garpu tala dengan frekuensi 512. atau tidak mendengar suara. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). Bila tidak mungkin cukup dipakai garpu tala dengan frekuensi 512 Hz karena tidak penggunaan garpu tala ini tidak terlalu dipengaruhi oleh suara bising disekitar lingkungan pemeriksaan. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala. bila tidak terdengar disebut Rinne Negatif.Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. Test garpu tala untuk pengukuran kualitatif. Dalam keadaan normal hantaran melalui udara lebih panjang daripada hantaran tulang. dan 2048 Hz. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi.05 4 komentar: Beranda Langganan: Entri (Atom) Untuk melihat ada tidaknya gangguan fungsi pendengaran pada pekerja dengan menggunakan garpu tala untuk pemeriksaan gangguan fungsi pendengaran oleh peneliti. Bila masih terdengar disebut Rinne Positif. Getaran yang datang melalui tengkorak. Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara.

•Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa normal.•Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan. 3. Bila bunyi terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut literalisasi ke telinga tersebut. dengan cara dipegang tangkainya kemudian kedua ujung kakinya dibunyikan dengan lunak (dipetik dengan ujung jari/kuku. kemudian diperdengarkan pada penderita dengan meletakkan garpu tala di dekat MAE pada jarak 1-2 cm dalam posisi tegak dan 2 kaki pada garis yang menghubungkan MAE kanan dan kiri. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi kemudian dipindahkan ke prosesus mastoideus pemeriksa yang pendengarannya dianggap normal. bila pemeriksa tidak dapat mendengar. Jika kira-kira sama mendengarnya disebut sama dengan pemeriksa. Cara : Semua garpu tala (dapat dimlai dari frekwensi terendah berurutan sampai frekwensi tertinggi / sebaliknya) dibunyikan satu persatu. Bila terdengar sama atau tidak terdengar disebut tidak ada literalisasi. Bila masih dapat mendengar disebut memendek atau tuli saraf. Bila pada telinga yang sakit (literalisasi pada telinga yang sakit) berarti terdapat tuli konduktif pada telinga tersebut. 1. TES GARPUTALA Ada 4 jenis tes garpu tala yang sering dilakukan : Tes batas atas dan batas bawah Tes Rinne Tes Weber Tes Schwabach Tes-tes ini memiliki tujuan khusus yang berbeda dan saling melengkapi. disebut memanjang atau terdapat tuli konduktif. Bila pasien masih mendengar. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan di garis tengah dahi atau kepala. Tes Batas Atas Batas Bawah Tujuan : menentukan frekwensi garpu tala yang dapat di dengar penderita melewati hantaran udara bila dibunyikan pada intensitas ambang normal. THT 1. pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya. 4.bila sebaliknya (literalisasi pada telinga yang sehat) berarti pada telinga yang sakit terdapat tuli saraf. 2. didengarkan terlebih dulu o/ pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk mencapai intensitas bunyi yang terendah bagi orang normal/ nilai ambang normal). .

Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz. Bila lebih keras di depan disebut Rinne positif. Penderita diminta untuk menunjukkan telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita. biasanya di dahi (dapat pula pada vertex. Apabila penderita masih mendengar garpu tala di depan MAE desebut Rinne positif. jaringan lemak tebal shg penderita tidak mendengar atau getaran terhenti karena kaki garpu tala tersentuh aurikulum. Cara : . Bila kedua telinga tak mendengar atau sama-sama mendengar bararti tak ada lateralisasi. terkena rambut. Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada satu telinga penderita. dagu atau pada gigi insisivus) dengan kedua kaki pada garis horizontal. Cara : . kemudian dipancangkan pada planum mastoid. penderita ditanya mana yang lebih keras. Kesalahan : . Bila mendengar pada satu telinga disebut lateralisasi ke sisi telinga tersebut. 2. . * Tuli konduksi : batas bawah naik (frekwensi rendah tak terdengar) * Tuli sensori neural : batas atas turun (frekwnsi tinggi tak terdengar) Kesalahan : Garpu tala dibunyikan terlalu keras shg tidak dapat mendeteksi pada frekwensi mana penderita tak mendengar. 3. kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus di garis median. Interpretasi : * Normal : tidak ada lateralisasi .Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan. bila lebih keras di belakang Rinne negatif. . hal ini dapat terjadi bila telinga yang tidak dites pendengarannya jauh lebih baik daripada yang di tes. kemudian cepat pindahkan ke depan MAE penderita.Interpretasi : * Normal : mendengar garpu tala pada semua frekwensi. kemudian segera dipindah di depan MAE. Interpretasi : * Normal : Rinne positif (mendengar) * Tuli konduksi : Rinne negatif ( tidak mendengar) * Tuli sensori neural : Rinne posotof (dengar) Kadang-kadang terjadi false Rinne (pseudo positif atau pseudo negatif) terjadi bila stimulus bunyi ditangkap oleh telinga yang tidak di tes. shg waktu dipindahkan di depan MAE getaran garpu tala sudah berhenti. bila tidak mendengar disebut Rinne negatif.Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz.Penderita terlambat memberi isyarat waktu garpu tala sudah tak terdengar lagi.Garpu tala tidak diletakkan dengan baik pada mastoid atau miring. letakkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid penderita (posterior dari MAE) sampai penderita tak mendengar.

secepatnya garpu tala dipindahkan ke mastoid penderita. Tuli sensori neural kanan dan kiri. yaitu tes pada penderita dulu baru ke pemeriksa. Bila penderita masih mendengar maka Schwabach memanjang. terdapat 2 kemungkinan yaitu Schwabach memendek atau normal. Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran lewat tulang antara penderita dgn pemeriksa. Interpretasi : * Normal : Schwabach normal * Pada tuli konduksi : Schwabach memanjang. kaki garpu tala tersentuh sehingga bunyi menghilang. Garputala . Tuli sensori neural kiri.Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus pada mastoid pemeriksa. bila pemeriksa masih mendengar berarti Schwabach penderita memendek. Tuli konduksi kanan. dapat di interpretasikan : a. 4. bila pemeriksa tidak mendengar berarti sama-sama normal.* Tuli konduksi : mendengar lebih keras di telinga yang sakit. bila penderita sudah tidak mendengar maka secepatnya garpu tala dipindahkan pada mastoid pemeriksa. d. tetapi kiri lebih berat e. Tuli konduksi kanan dan kiri. Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. Tuli konduksi kanan dan sensori neural kiri. bila pemeriksa sudah tidak mendengar. * Isyarat menghilangnya bunyi tidak segera diberitahukan oleh pasien. c. tetapi kanan lebih berat. Karena menilai kedua telinga sekaligus maka kemungkinannya dapat lebih dari satu. Garpu tala 512 Hz dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita. Contoh : lateralisasi ke kanan. Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka tes dibalik. Cara : . telinga kanan normal. * Tuli sensori neural : mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. tetapi bila penderita tidak mendengar. telinga kiri normal b. Weber . * Pada tuli sensori neural : Schwabach memendek Kesalahan Uji/ Test bisa dikarenakan : * Garpu tala tidak tegak dengan baik.

kemudian telinga kiri. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. atau pertengahan gigi seri. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi. Caranya ialah garputala digetarkan. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. garputala digetarkan . Dimulai sejak jarak 6 meter. Uji berbisik 3. Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. asalkan tidak terlalu riuh. telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. 1024 Hz dan 2048 Hz. makin lama pemeriksa makin mendekat. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. Pasien diberi tahu. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. c. sampai pasien mendengar bunyi. tuli . Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. Ada 3 macam pemeriksaan: a. 1500 Hz. Audiometrik Garputala terdiri dari satu set. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. dengan panjang 6 meter. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. Caranya ialah. lima buah. dengan frekuensi 128 Hz. tidak perlu di ruang kedap suara. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek. 256 hz. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel. 1000 Hz. disebut uji rinne positif b. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan.Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. kira-kira 2. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. Pada telinga kanan.5 cm jaraknya dari liang telinga.2. lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. Pemeriksa duduk ke samping. dahi. maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. dan diperiksa di ruang periksa. 512 Hz. Pada pasien yang pendengarannya masih baik. sampai 8000 Hz. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan.

Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. yaitu : Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). sedang atau berat. terdapat 3 kemungkinan : Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. Ada 2 macam tes rinne . Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien.hantar (konduktif). Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) . weber. tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Test rinne. Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. dan swabach Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : Normal : tes rinne positif Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) Tuli persepsi.

Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi. tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak.Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. Test Weber Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. . Interpretasi: Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus. Menurut pasien. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus.

Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: Tuli konduksi sebelah kanan. Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. maka penguji akan segera memindahkan garputala itu. missal adanya ototis media disebelah kanan. Getaran yang datang melalui tengkorak. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan. Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara. Tuli persepsi pada kedua teling. Weber dan Swabach Test Weber. khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala. . Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. Keimpulan test Rinne. Tuli konduksi pada kedua telinga. Test Swabach Tujuan : Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan. atau tidak mendengar suara. maka di dengar sebelah kanan. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding).

Kepada penderita ditanyakan apakah mendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunak pada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum dari telinga yang akan diperiksa. Evaluasi Tets Weber. Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-) b. Rinne Negatif Palsu. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh diletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hati dengan apa yang dikatakan Rinne . kanan lebih berat 5. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasi ke kanan. Rinne negatif berarti tuli konduktif. Telinga kanan tuli konduktif. Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapa kemungkinan 1. kiri tuli sensory neural 4.Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama. Telinga kanan normal. kiri tuli sensory neural 3. c. a. Test Rinne. Kedua telinga tuli sensory neural. b. Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga mana didengar lebih keras. Cara pemeriksaan. Evaluasi test rinne. Penderita ditanyakan apakah mendengar atau tidak. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa. kiri normal 2. Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapat menegakkan diagnosa secara pasti. Cara pemeriksaan. a. Telinga kanan tuli konduktif. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang dari hantaran tulang. Kedua telinga tuli konduktif. Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne (+).

Hal ini terjadi pada tuli sensorineural yang unilateral dan berat. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidak mendengar dengungan. Karena telinga pemeriksa normal berarti telinga penderita normal juga. Kemudian setelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getaran tidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative Test Schwabach. Hasil Gangguan Sama normal Memanjang Tuli konduktif Memendek Tulisensorineural Tes Pendengaran 29 Dec . Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 2.negatif palsu. Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal. Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya di tangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing). Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar. a. b. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secara lunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita. sesudah itu sekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidak mendengar dengungan. Evaluasi test schwabach 1. Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 3. Cara pemeriksaan. Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi. Bila pemeriksa tidak mendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita dan ditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bila masih mendengar dikatakan schwabach memanjang. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa.

Ada 2 syarat bagi pemeriksa saat melakukan tes bisik. Telinga pasien yang tidak diperiksa. kita hadapkan ke arah pemeriksa. Demikian seterusnya sampai penderita hanya mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan kepadanya. Hanya pemeriksa yang boleh berpindah tempat. yaitu : . Tes bisik modifikasi. Biasanya kita menyebutkan nama benda-benda yang ada disekitar kita. Caranya tragus telinga tersebut kita tekan ke arah meatus akustikus eksterna atau kita menyumbatnya dengan kapas yang telah kita basahi dengan gliserin. Tidak terjadi echo / gema. Kita dapat lebih memastikan tajam pendengaran penderita dengan cara mengulangi pemeriksaan. Ada 4 syarat bagi penderita saat kita melakukan tes bisik. Tes Bisik Ada 3 syarat utama bila kita melakukan tes bisik. Pemeriksa membisikkan 1 atau 2 suku kata yang telah dikenal penderita. Teknik pemeriksaan pada tes bisik. yaitu : Pemeriksa membisikkan kata menggunakan cadangan udara paru-paru setelah fase ekspirasi. Pemeriksa lalu mundur pada jarak 2 meter dari penderita bilamana penderita mampu mendengar semua kata yang kita bisikkan. Caranya dinding tidak rata. Kita maju pada jarak 3 meter dari pasien lalu membisikkan 5 kata dan penderita mampu mendengar semuanya. yaitu : Tes bisik. kita tutup (masking). Jumlah kata yang kita bisikkan biasanya 5 atau 10. Tes garpu tala.Tes Pendengaran Oleh : Muhammad al-Fatih II Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. Syarat pemeriksa. yaitu : Penderita dan pemeriksa sama-sama berdiri. Penderita mengulangi dengan keras dan jelas setiap kata yang kita ucapkan. terbuat dari soft board. Pertama-tama pemeriksa membisikkan kata pada jarak 1 meter dari penderita. Jadi tajam pendengaran penderita kita ukur dari jarak antara pemeriksa dengan penderita dimana penderita masih mampu mendengar 80% dari semua kata yang kita ucapkan (4 dari 5 kata). yaitu : Syarat tempat. yaitu : Kedua mata penderita kita tutup agar ia tidak melihat gerakan bibir pemeriksa. Telinga pasien yang diperiksa. yaitu : Ruangannya sunyi. Jarak minimal 6 meter. Ada 3 syarat tempat kita melakukan tes bisik. Misalnya tajam pendengaran penderita 4 meter. atau tertutup kain korden. Kita kemudian mundur pada jarak 4 meter dari penderita lalu membisikkan 5 kata dan penderita masih mampu mendengar 4 kata (80%). Ada 2 jenis penilaian pada tes pendengaran. Pemeriksaan audiometri. Syarat penderita.

Tes Weber. yaitu : Tes batas atas & batas bawah. Pendengaran penderita normal bilamana penderita masih bisa mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan. Cara kita melakukan tes bisik modifikasi. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. 64 Hz. Meliputi 256 Hz. dan 128 Hz. Cara kita memperlebar jarak dengan penderita yaitu dengan menolehkan kepala kita atau kita berada dibelakang penderita sambil melakukan masking (menutup telinga penderita yang tidak kita periksa dengan menekan tragus penderita ke arah meatus akustikus eksternus). Penilaian kualitatif seperti pemeriksaan jenis ketulian pada tes garpu tala dan audiometri. 32 Hz. Tes Bisik Modifikasi Tes bisik modifikasi merupakan hasil perubahan tertentu dari tes bisik. Tes bisik modifikasi kita gunakan sebagai skrining pendengaran dari kelompok orang berpendengaran normal dengan kelompok orang berpendengaran abnormal dari sejumlah besar populasi. yaitu : Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL). Kita membisikkan 10 kata dengan intensitas suara lebih kecil dari tes bisik konvensional karena jaraknya juga lebih dekat dari jarak pada tes bisik konvensional. Tes Rinne. Frekuensi yang dapat didengar oleh manusia berpendengaran normal. Frekuensi normal. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Ada 3 jenis frekuensi. dan 2048 Hz. Ada 3 jenis ketulian. Tes Schwabach. 512 Hz. Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi. yaitu : Frekuensi rendah. yaitu : Kita melakukannya dalam ruangan kedap suara. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL). Meliputi 4096 Hz dan 8192 Hz. Tes Garpu Tala Ada 4 jenis tes garpu tala yang bisa kita lakukan. Meliputi 16 Hz. Tes Batas Atas & Batas Bawah . 1024 Hz. Misalnya tidak dapat mendengar huruf S dari kata susu sehingga penderita mendengarnya uu. Frekuensi tinggi.Penilaian kuantitatif seperti pemeriksaan tajam pendengaran pada tes bisik maupun tes bisik modifikasi. Misalnya tes kesehatan pada penerimaan CPNS. Tuli sensorineural & konduktif / mix hearing loss (MHL).

Jika pasien dapat mendengar garpu tala pada semua frekuensi. Batas atas turun dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi tinggi. Batas bawah naik dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi rendah. Bunyi garpu tala terlebih dahulu didengar oleh pemeriksa sampai bunyinya hampir hilang. Jika tes Rinne positif. Tuli konduktif. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garpu tala di depan meatus akustikus eksterna lebih keras daripada di belakang meatus akustikus eksterna (planum mastoid). yaitu : Normal. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Cara kita melakukan tes batas atas & batas bawah. Segera pindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksternus. Ada 2 cara kita melakukan tes Rinne. Hal ini dapat . Kita bisa memulainya dari garpu tala berfrekuensi paling rendah sampai garpu tala berfrekuensi paling tinggi atau sebaliknya. Tuli sensorineural. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Rinne yang kita lakukan. Kesalahan interpretasi dapat terjadi jika kita membunyikan garpu tala terlalu keras sehingga kita tidak dapat mendeteksi pada frekuensi berapa pasien tidak mampu lagi mendengar bunyi. Tuli sensorineural. Jika tes Rinne positif. yaitu : Normal.Tujuan kita melakukan tes batas atas & batas bawah yaitu agar kita dapat menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar pasien dengan hantaran udara pada intensitas ambang normal. Tuli konduktif. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tankainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Tes Rinne positif jika pasien mendengarnya lebih keras. segera garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya. Secepatnya garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien pada jarak 1-2 cm secara tegak dan kedua kaki garpu tala berada pada garis hayal yang menghubungkan antara meatus akustikus eksternus kanan dan kiri. Hal ini untuk mendapatkan bunyi berintensitas paling rendah bagi orang normal / nilai normal ambang. Jika tes Rinne negatif. Tes Rinne Tujuan kita melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. yaitu : Semua garpu tala kita bunyikan satu per satu. Interpretasi tes Rinne dapat false Rinne baik pseudo positif dan pseudo negatif. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien mendengarnya lebih lemah. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Ada 3 interpretasi dari hasil tes batas atas & batas bawah yang kita lakukan. Cara kita membunyikan garpu tala yaitu dengan memegang tangkai garpu tala lalu memetik secara lunak kedua kaki garpu tala dengan ujung jari atau kuku kita. yaitu : Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus).

telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garpu tala saat kita menempatkan garpu tala di planum mastoid pasien. Tes Weber Tujuan kita melakukan tes Weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Tuli sensorineural. Misalnya terjadi lateralisasi ke kanan maka ada 5 kemungkinan yang bisa terjadi pada telinga pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. verteks. Cara kita melakukan tes Weber yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis median (dahi. Telinga kanan dan telinga kiri mengalami tuli konduktif tetapi telinga kanan lebih parah.terjadi manakala telinga pasien yang tidak kita tes menangkap bunyi garpu tala karena telinga tersebut pendengarannya jauh lebih baik daripada telinga pasien yang kita periksa. Kesalahan pemeriksaan pada tes Rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. yaitu : Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri normal. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Weber yang kita lakukan. Telinga kiri mengalami tuli sensorineural sedangkan telinga kanan normal. Menurut pasien. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. yaitu : Normal. Tes Schwabach Tujuan kita melakukan tes Schwabach adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dengan pasien. Jika tidak ada lateralisasi. atau gigi insisivus) dengan kedua kakinya berada pada garis horizontal. segera garpu tala tersebut kita pindahkan dan letakkan tegak lurus pada planum mastoid pasien. dagu. tangkai garpu tala mengenai rambut pasien dan kaki garpu tala mengenai aurikulum pasien. Apabila pasien masih bisa mendengar bunyinya berarti Scwabach . Cara kita melakukan tes Schwabach yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan garpu tala tidak tegak lurus. Jika kedua telinga pasien sama-sama tidak mendengar atau sama-sama mendengar maka berarti tidak ada lateralisasi. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras pada 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Telinga kiri dan telinga kanan mengalami tuli sensorineural tetapi telinga kiri lebih parah. Tuli konduktif. Akibatnya getaran kedua kaki garpu tala sudah berhenti saat kita memindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksterna. Setelah bunyinya tidak terdengar oleh pemeriksa. Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri mengalami tuli sensorineural.

Garputala 2. Teknik Pemeriksaan Telinga. Schwabach memanjang. lima buah. Schwabch normal. Sri Rukmini.THT. Pertama-tama kita membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pasien. Kesalahan pemeriksaan pada tes Schwabach dapat saja terjadi. Uji berbisik 3. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz. Tuli konduktif. MHPEd. Sp. yaitu : Normal. Misalnya tangkai garpu tala tidak berdiri dengan baik. Sardjono Soedjak. Sp. kaki garpu tala tersentuh. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Schwabach yang kita lakukan. rinne. Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. 256 hz. dr. Cara kita memilih apakah Schwabach memendek atau normal yaitu mengulangi tes Schwabach secara terbalik.THT & dr. Jakarta : EGC. Tuli Konduksi Tes Pendengaran Tuli Sensori Neural Tidak dengar huruf lunak Dengar huruf desis Tes Bisik Dengar huruf lunak Tidak dengar huruf desis Normal Batas Atas Menurun Naik Batas Bawah Normal Negatif Tes Rinne Positif. 1024 Hz dan 2048 Hz. Audiometrik Garputala terdiri dari satu set. Setelah pasien tidak mendengarnya. dr. Sebaliknya jika pemeriksa masih bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek. Dr. dr. Jika pemeriksa juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach normal. 512 Hz. Sp. Tuli sensorineural. dengan frekuensi 128 Hz. Sp. Technorati Tags: audiometri. dan diperiksa . Sri Sukesi. weber.memanjang. Schwabach memendek.THT.THT. segera garpu tala kita pindahkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. schwabach Weber . Sebaliknya jika pasien juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek atau normal. Sri Herawati. garpu tala. Hidung & Tenggorok. atau pasien lambat memberikan isyarat tentang hilangnya bunyi. 2000. false positif / false negatif Lateralisasi ke sisi sakit Tes Weber Lateralisasi ke sisi sehat Memanjang Tes Schwabach Memendek Daftar Pustaka Prof.

Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. 1500 Hz. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. makin lama pemeriksa makin mendekat. lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel. . sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya. tidak perlu di ruang kedap suara. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi.5 cm jaraknya dari liang telinga. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi. disebut uji rinne positif b. dengan panjang 6 meter. sampai pasien mendengar bunyi. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. Ada 3 macam pemeriksaan: a. Dimulai sejak jarak 6 meter. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. Pasien diberi tahu. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. asalkan tidak terlalu riuh.di ruang periksa. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. 1000 Hz. maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. kira-kira 2. Pada pasien yang pendengarannya masih baik. Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi. Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. c. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek. kemudian telinga kiri. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. garputala digetarkan . Pemeriksa duduk ke samping. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol. Caranya ialah garputala digetarkan. Caranya ialah. atau pertengahan gigi seri. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. sampai 8000 Hz. Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi. dahi. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. sedang atau berat. Pada telinga kanan.Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata. tuli hantar (konduktif).

afektif. dan observasi. PEMERIKSAAN FISIK TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan dengan 4 cara : Inspeksi. untuk itu dokter juga harus menguasai tehnik anamnesa yang benar dan pengamatan yang akurat sesuai dengan kondisi pasien. Inspeksi Adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat . Ketika ada penyakit koklea atau tuli saraf. palpasi. Bila suara disebut berasal dari sisi yang terlibat atau rusak. Langkah kerja : • Atur pencahayaan yang cukup • Atur suhu dan suasana ruangan nyaman • Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien • Buka bagian yang diperiksa • Perhatikan kesan pertama pasien : perilaku. suara terlateralisasi ke sisi berlawanan. . ekspresi.Definisi:Tes Weber Tes Weber adalah menempatkan sebuah garpu tala bergetar di tengah dahi pasien. Kemampuan dokter melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensip sangat diperlukan karena data yang diperolah dari pemeriksaan fisik ini akan menjadi dasar dalam penentuan masalah. Jika pasien melaporkan bahwa suara berasal dari garis tengah dahi. tes ini dikatakan negatif. Dalam pelaksanaannya pemeriksaan fisik bersamaan dengan metode pengumpulan data lainnya seperti wawancara (anamnesa). penampilan umum. tidak ada penurunan konduksi udara. Diagnosa Fisik (Physic Diagnostic) PENDAHULUAN Pemeriksaan fisik berasal dari kata physical examination berarti memeriksa tubuh dengan atau tanpa alat untuk mendapatkan informasi yang menggambarkan kondisi pasien pemeriksaan fisik merupakan salah satu bagian dari rangkaian pengkajian. perkusi dan auskultasi 1. Untuk dapat memahami pemeriksaan fisik yang baik dan benar dibutuhkan pemahaman terhadap konsep anatomi. • Lakukan inspeksi secara sistematis. tes Weber adalah positif. dan psikomotor dari pemeriksa sampai pada meng-interprestasikan dan meng-integrasikan data temuan satu dengan data temuan yang lainnya. Dalam pemeriksaan fisik juga diperlukan integrasi aspek kognitif. fisiologi tubuh manusia dan patofisiologi serta didukung oleh ketrampilan melalui latihan – latihan sehingga menjadi terbiasa. postur tubuh. bila perlu bandingkan bagian sisi tubuh pasien.

• Lakukan perkusi secara sistematis sesuai dengan keperluan. dengan lentur dan cepat. 4. . untuk menentukan ukuran. menggunakan rasa propioseptif ujung jari dan tangan. dengan ujung jari tekan pada permukaan yang akan diperkusi. Palpasi Adalah pemeriksaan dengan perabaan. Cara kerja : • Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi • Cuci tangan • Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya • Yakinkan tangan hangat tidak dingin • Lakukan perabaan secara sistematis . bentuk. konsistensi dan permukaan : • Jari telunjuk dan ibu jari --> menentukan besar/ukuran • Jari 2. Auskultasi Adalah pemeriksaan mendengarkan suara dalam tubuh dengan menggunakan alat STETOSKOP. Cara Kerja : • Lepas Pakaian sesuai dengan keperluan • Luruskan jari tengah kiri . Perkusi Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan cara perantara jari tangan. Atur posisi pasien duduk. dengan menggunakan pergerakan pergelangan tangan. untuk mengetahui keadaan organ-organ didalam tubuh. • Lakukan ketukan dengan ujung jari tengah kanan diatas jari kiri.2. PEMERIKSAAN KEPALA DAN LEHER KEPALA Cara Kerja : 1. serta kulit dan tulang kepala 4. atau berdiri 2. Lakukan inpeksi rambut dan rasakan keadaan rambut. Cara Kerja : • Ciptakan suasana tenang dan aman • Pasang Ear piece pada telinga • Pastikan posisi stetoskop tepat dan dapat didengar • Pada bagian sisi membran dapat digosok biar hangat • Lakukan pemeriksaan dengan sistematis sesuai dengan kebutuhan. Bila pakai kaca mata dilepas 3.4 bersama --> menentukan konsistensi dan kualitas benda • Jari dan telapak tangan --> merasakan getaran • Sedikit tekanan --> menentukan rasa sakit 3.3. Inspeksi keadaan muka pasien secara sistematis. STETOSKOPBagian-bagian stetoskop : • Ear Pieces --> dihubungkan dengan telinga • Sisi Bell ( Cup ) --> pemeriksaan thorak atau bunyi dengan nada rendah • Sisi diafragma ( membran ) --> Pemeriksaan abdomen atau bunyi dengan nada tinggi.

MATAA. Bola mata Cara Kerja : 1. Inspeksi keadaan bola mata, catat adanya kelainan : endo/eksoptalmus, strabismus. 2. Anjurkan pasien memandang lurus kedepan, catat adanya kelainan nistagmus. 3. Bedakan antara bola mata kanan dan kiri 4. Luruskan jari dan dekatkan dengan jarak 15-30 cm 5. Beritahu pasien untuk mengikuti gerakan jari, dan gerakan jari pada 8 arah untuk mengetahui fungsi otot gerak mata. B. Kelopak Mata 1. Amati kelopak mata, catat adanya kelainan : ptosis, entro/ekstropion, alismata rontok, lesi, xantelasma. 2. Dengan palpasi, catat adanya nyeri tekan dan keadaan benjolan kelopak mata C. Konjungtiva, sclera dan kornea 1. Beritahu pasien melihat lurus ke depan 2. Tekan di bawah kelopak mata ke bawah, amati konjungtiva dan catat adanya kelainan : anemia / pucat. ( normal : tidak anemis ) 3. Kemudian amati sclera, catat adanya kelainan : icterus, vaskularisasi, lesi / benjolan (normal : putih ) 4. Kemudian amati sklera, catat adanya kelainan : kekeruhan ( normal : hitam transparan dan jernih )

D. Pemeriksaan pupil 1. Beritahu pasien pandangan lurus ke depan 2. Dengan menggunakan pen light, senter mata dari arah lateral ke medial 3. Catat dan amati perubahan pupil : lebar pupil, reflek pupil menurun, bandingkan kanan dan kiri Normal : reflek pupil baik, isokor, diameter 3 mm Abnormal : reflek pupil menurun/-, Anisokor, medriasis/meiosis

E. Pemeriksaan tekanan bola mata Tampa alat : Beritahu pasien untuk memejamkan mata, dengan 2 jari tekan bola mata, catat adanya ketegangan dan bandingkan kanan dan kiri. Dengan alat : Dengan alat Tonometri ( perlu ketrampilan khusus ) F. Pemeriksaan tajam penglihatan 1. Siapkan alat : snelen cart dan letakkan dengan jarak 6 meter dari pasien. 2. Atur posisi pasien duduk/atau berdiri, berutahu pasien untuk menebak hurup yang ditunjuk perawat. 3. Perawat berdiri di sebelah kanan alat, pasien diminta menutup salah satu mata ( atau dengan alat penutup ). 4. Kemudian minta pasien untuk menebak hurup mulai dari atas sampai bawah. 5. tentukan tajam penglihatan pasien

G. 1. 2. 3. 4. 5.

Pemeriksaan lapang pandang perawat berdiri di depan pasien bagian yang tidak diperiksa ditutup Beritahu pasien untuk melihat lurus kedepan ( melihat jari ) Gerakkan jari kesamping kiri dan kanan jelaskan kepada pasien, agar memberi tahu saat tidak melihat jari

TELINGA • Pemeriksaan daun telinga, lubang telinga dan membran tympani 1. Atur posisi pasien duduk 2. Perawat berdiri di sebelah sisi pasien, amati daun telinga dan catat : bentuk, adanya lesi atau bejolan. 3. tarik daun telinga ke belakang atas, amati lubang telinga luar , catat adanya : lesi, serumen, dan cairan yang keluar. 4. Gerakkan daun telinga, tekan tragus dan catat adanya nyeri telinga. Catat adanya nyeri telinga. 5. Masukkan spikulum telinga, dengan lampu kepala / othoskop amati lubang telinga dan catat adanya : cerumen atau cairan, adanya benjolan dan tanda radang. 6. Kemudian perhatikan membrane tympani, catat : warna, bentuk, dan keutuhannya. (normal : warna putih mengkilat/transparan kebiruan, datar dan utuh ) 7. Lakukan prosedur 1-6 pada sisi telinga yang lain.

• Pemeriksaan fungsi pendengaran Tujuan : menentukan adanya penurunan pendengaran dan menentukan jenis tuli persepsi atau konduksi. Tehnik pemeriksaan : 1. Voice Test ( tes bisik ) Test ini amat penting bagi dokter umum terutama yang bertugas di puskesmas-puskesmas, dimana peralatan masih sangat terbatas untuk keperluan testpendengaran. Persyaratan yang perlu diingat dalam melakukan test ini ialah : a. Ruangan Test Salah satu sisi atau sudut menyudut ruangan harus ada jaraksebesar 6 meter. Ruangan harus bebas dari kebisingan. Untuk menghindarigema diruangan dapat ditaruh kayu di dalamnya.b. b. Pemeriksa Sebagai sumber bunyi harus mengucapkan kata-kata denganmenggunakan ucapan kata-kata sesudah expirasi normal.Kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 2 suku kata (bisyllabic) yang terdiridari kata-kata sehari-hari. Setiap suku kata diucapkan dengan tekanan yang sama dan antara dua suku kata bisyllabic “Gajah Mada P.B.List” karena telahditera keseimbangan phonemnya untuk bahasa Indonesia. c. Penderita Telinga yang akan di test dihadapkan kepada pemeriksa dantelinga yang tidak sedang ditest harus ditutup dengan kapas atau oleh tangansi penderita sendiri. Penderita tidak boleh melihat gerakan mulut pemeriksa. Cara pemeriksaan. Sebelum melakukan pemeriksaan penderita harus diberi instruksi yang jelasmisalnya anda akan dibisiki kata-kata dan setiap kata yang didengar harusdiulangi dengan suara keras. Kemudian dilakukan test sebagai berikut :

a. Mula-mula penderita pada jarak 6 meter dibisiki beberapa kata bisyllabic.Bila tidak menyahut pemeriksa maju 1 meter (5 meter dari penderita) dan testini dimulai lagi. Bila masih belum menyahut pemeriksa maju 1 meter, dandemikian seterusnya sampai penderita dapat mengulangi 8 kata-kata dari 10kata-kata yang dibisikkan. Jarak dimana penderita dapat menyahut 8 dari 10kata diucapkan di sebut jarak pendengaran.b. b. Cara pemeriksaan yang sama dilakukan untuk telinga yang lain sampaiditemukan satu jarak pendengaran. Evaluasi test. 6 meter - normalb. 5 meter - dalam batas normalc. 4 meter - tuli ringand. 3 – 2 meter - tuli sedange. 1 meter atau kurang - tuli berat. Dengan test suara bisik ini dapat dipergunakan untuk memeriksa secara kasarderajat ketulian (kuantitas). Bila sudah berpengalaman test suara bisik dapatpula secara kasar memeriksa type ketulian misalnya : a. Tuli konduktif sukar mendengar huruf lunak seperti n, m, w (meja dikatakanbecak, gajah dikatakan kaca dan lain-lain). b. Tuli sensori neural sukar mendengar huruf tajam yang umumnyaberfrekwensi tinggi seperti s, sy, c dan lain-lain (cicak dikatakan tidak, kacadikatakan gajah dan lain-lain) 2. Test garputala • Rinne test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udarapada satu telinga. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang darihantaran tulang. Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjangdaripada hantaran tulang. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebihpanjang daripada hantaran udara. Cara pemeriksaan. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunakpada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum daritelinga yang akan diperiksa. Kepada penderita ditanyakan apakahmendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkanhingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikuseksternus dari telinga yang diperiksa. Bila penderita masih mendengardikatakan Rinne (+). Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-). Evaluasi test rinne. Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. Rinnenegatif berarti tuli konduktif. Rinne Negatif Palsu. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hatidengan apa yang dikatakan Rinne negatif palsu. Hal ini terjadi pada tulisensorineural yang unilateral dan berat.Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya ditangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing). Kemudiansetelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getarantidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative.

Normalnya : pasien masih mendengar saat ujung garputala didekatkan pada lubang telinga. • Weber test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan.Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama.

Evaluasi test schwabach 6. Karena telinga pemeriksa normal berarti telingapenderita normal juga. • Scwabach Test Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita denganhantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidakmendengar dengungan. . Bila pemeriksa tidakmendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengarlagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita danditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. sesudah itusekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidakmendengar dengungan. Telinga kanan normal. Penderita ditanyakan apakahmendengar atau tidak. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuhdiletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex. kiri normal 2. Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapakemungkinan 1. Evaluasi Tets Weber.Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabachmemendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi.Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. Kedua telinga tuli konduktif. Kedua telinga tuli sensory neural. Telinga kanan tuli konduktif. kanan lebih bera 5.Cara pemeriksaan. kiri tuli sensory neural 4. Test Audiometri Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 7. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Telinga kanan tuli konduktif. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segeradipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secaralunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita.Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bilamasih mendengar dikatakan schwabach memanjang. Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga manadidengar lebih keras. Cara pemeriksaan. Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 8. kiri tuli sensory neural 3. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapatmenegakkan diagnosa secara pasti. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasike kanan. Alat ini menghasilkan nadanada murni dengan frekuensi melalui aerphon.

Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. Grafiknya terdiri dari skala decibel. 1000-2000. kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel Klasifikasi 0-15 Pendengaran normal >15-25 Kehilangan pendengaran kecil >25-40 Kehilangan pendengaran ringan >40-55 Kehilangan pendengaran sedang >55-70 Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat >70-90 Kehilangan pendengaran berat >90 Kehilangan pendengaran berat sekali Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri. audiologis dan pasien yang kooperatif. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur. 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1. untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran. Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena . Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 2020.Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan.000 Hz. sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman. dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri. Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500. 2.

Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran. Untuk kedokteran klinik Kehakiman. dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. tetapi juga jauh diatasnya. Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi. Mediagnostik penyakit telinga 2. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB. Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. 1978) : 1. b. Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB 3. Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB 2. berarti pendengaran baik. tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising. deteksi ktulian pada anak-anak Tujuan Ada empat tujuan (Davis. Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB 4. memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga). Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a. Kriteria orang tuli : 1. . sedangkan intensitas suara barapa saja. dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). Skrinig anak balita dan SD 4.tuntutan ganti rugi 3.intensitasnya makin dilemahkan. yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. Dengan demikian. Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah. atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan. apakah ada kotoran telinga (serumen). Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari. Manfaat audiometri 1. pendengar diminta untuk mnebaknya. ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi). apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus. khususnya penyakit telinga 2. 3. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. apakah ada lubang gendang telinga. Pada audiometri tutur. Untuk kedokteran klinik Pencegahan. Untuk kedokteran klinik.

massa/benjolan. catat : kesimetrisan. Tekan lidah dengan sudip lidah. ukuran. tentukan batas atas denyut vena. Test Fistula c. warna. Normalnya : simetris ditengah. 7. Normalnya : saat duduk setinggi manubrium sternum. tanda oliver ( pada saat denyut jantung. lesi. kering. catat : adanya bising ( normal : tidak terdapat) • Trakhea Inspeksi : Pemeriksa disamping kanan pasien. catat : pembesaran dan tanda radang tonsil. tentukan titik nol ( titik setinggi manubrium s. Auskultasi : Tempatkan sisi bell pada kelenjar tyroid. telan ludah. 6. catat : letak trachea. karies gigi. tempelkan jari tengah pada bagian bawah trachea. catat : adanya benjolan . Amati bibir. catat : kebersihan dan bau mulut. ) dan letakkan penggaris diatasnya. Buka mulut pasien. catat : merah. Test Romberg b. minta pasien membunyikan huruh “ A “. cyanosis. catat : bentuk dan kesimetrisan Palpasi : Pasien duduk dan pemeriksa di belakang. raba ke atas dan ke samping. konsidstensi. LEHER • Kelenjar Tyroid Inspeksi : Pasien tengadah sedikit. Normalnya : tidak lebih dari 4 cm. lesi mukosa 4. gigi berlubang. bentuk. • JVP ( tekanan vena jugularis ) Posisi penderita berbaring setengah duduk. • Bising Arteri Karotis Tentukan letak denyut nadi karotis ( dari tengah leher geser ke samping ). Letakkan sisi bell . catat : kesimetrisan dan tanda radang. gigi palsu. kesimetrisan. trachea tertarik ke bawah ). lesi. Atau Posisi penderita berbaring setengah duduk.Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan a. Test Kalori MULUT DAN TONSIL 1. amati uvula. Pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa 2. beritahu pasien merubah posisi ke duduk dan amati pulsasi denyut vena. 5. sumbing 3. Amati tonsil tampa dan dengan alat cermin. raba disepanjang trachea muali dari tulang krokoid dan kesamping. catat : kebersihan gisi. jari tengah dan telunjuk ke dua tangan ditempatkan pada ke dua istmus. ukur tinggi denyut vena dengan penggaris. Minta pasien menjuliurkan lidah. tentukan batas atas denyut vena jugularis. Amati gigi.

minta pasien untuk bersuara ( 77 ). TBC.stetoskop di daerah arteri karotis. ginjal. misal pada lesi pusat pernapasan. catat : gerak napas simetris atau tidak dan tentukan daya kembang paru ( normalnya 3-5 cm ). normalnya : tidak ada. misal : meningitis • Kusmoul  Pernapasan lambat dan dalam. pasien diminta napas biasa. sehingga ke dua ibu jara berada diatas Procecus Xypoideus. Normalnya : simetris. pneumonie. Dari arah depan tentukan adanya pelebaran vena dada. • Biot  Dalam dan dangkal disertai apneu yang tidak teratur. • Asimetris  pneumonie. 5. 4. misal . paru fibrotik. koma DM. tentukan : kesimetrisan gerak dada. INSPEKSI  Cara Kerja : 1. stroke • Cheyne Stokes  napas dalam. penyakit jantung. misal . tumor paru.pada uremia. Dari arah samping dan belakang tentukan bentuk dada. ekspirasi sangat pendek. catat . tentukan getaran suara dan bedakan kanan dan kiri. emfisema. catat adanya bising. Dari arah depan. covenrne paru. • Dangkal  emfisema. pleura Efusi. tumor paru. koma DM. PEMERIKSAAN THORAX DAN PARU Tujuan Pemeriksaan : • Mengidentifikasi kelaian bentuk dada • Mengevaluasi fungsi paru A. tumor paru. TBC paru.  Abnormal : • Tarchipneu  napas cepat ( > 24 X ) . pada demam. besar. Atau Dengan posisi duduk merunduk. Dengan posisi berbaring / semi fowler. letakkan kedua tangan ke dada. Misal : pada Srtoke. Atur posisi pasien berbaring / setengah duduk . misal . adanya benjolan ( tentukan konsistensi. 3. PALPASI Cara Kerja : 1. Normalnya : tidak ada bising. Letakkan kedua tangan seperti pada no 2/3. C. tidak ada penggunaan otot napas dan retraksi interkostae. Menurun : konsolidasi paru. B. lakukan palpasi daerah thorax. catat : gerakan napas dan tanda-tanda sesak napas  Normalnya : Gerak napas simetris 16 – 24 X. dengan posisi tangan agak ke atas. dengan kecepatan normal • Apneustik  ispirasi megap-megap. PERKUSI Cara Kerja : 1. efusi pericard/pleura. Posisi pasien dapat duduk dan atau berbaring 2. dan daya kembang paru 4. letakkan ke dua tangan pada punggung di bawah scapula. mobilitas … ) 3. Acidosis metabolic • Hyperpneu  napas dalam. Atur posisi pasien duduk atau berbaring 2. Dari arah atas tentukan kesimetrisan dada. gagal jantung • Bradipneu  napas lambat ( < 16 X ). kemudian dangkal dan diserta apneu berulang-ulang. abdominal / thorakoabdominal. ada masa paru Meningkat : Pleura efusi. adanya nyeri.

Missal : fibrosis. • Bronkhovesikuler  suara di daerah bronchus ( coste 3-4 di atas sternum ). kavitas • Kurang resonan  “deg” : fibrosis. cavitas paru ) • Pectoriloguy  meningkat sekali. emfisema. auskultasi paru secara sistematis pada trachea. paru kiri lebih tinggi Abnormal : • Meningkat  anak. tidak ada suara tambahan Abnormal : • Ronkhi  suara tambahan pada bronchus akibat timbunan lender atau secret pada bronchus. pneumothorax . Dengan stetoskop. dua. bronkus dan paru. pneumothorax 3. fibrosis ) • Suara bronkhovesikuler terdengar di daerah paru • Suara vesikuler tidak terdengar. iga 8 MAL. 3. lakuka perkusi secara merata pada daerah paru. edema paru • Pekak  seperti bunyi pada paha : tumor paru. emfisema Suara tambahan Normal : bersih. • Vesikuler  suara di daerah paru. seperti meniup besi. konsolidasi. catat : suara napas dan adanya suara tambahan. nada rendah inspirasi dan ekspirasi tidak terputus. suara jelas • Egovoni  sengau dan mengeras ( pada efusi pleura + konsolidasi paru ) • Menurun / tidak terdengar  Efusi pleura. effuse pleura. catat adanya perubahan suara perkusi Normalnya : sonor/resonan ( dug ) Abnormal : • Hyperresonan  menggendang ( dang ) : thorax berisi udara. fibrosis 2. kavitas paru yang berisi cairan ( seperti gesekan rambut / meniup dalam air ) • Whezing  suara seperti bunyi peluid. pneumonie.Gunakan tehnik perkusi. ascites • Menurun  orang tua. • Krepitasi / rales  berasal daru bronchus. Suara napas Normal : • Trachea brobkhial  suara di daerah trachea. fibrosis. infiltrate. alveoli. efusi. …. karena penyempitan bronchus dan alveoli. AUSKULTASI Cara kerja : 1. pleura menebal • Redup  “bleg” : fibrosis berat. suara belum jelas ( misal : pnemonie lobaris. inpirasi spt vesikuler. Atur posisi pasien duduk / berbaring 2. Kemudian. dan tentukan batas – batas paru Batas paru normal : • Atas : Fossa supraklavikularis kanan-kiri • Bawah : iga 6 MCL. catat bunyi resonan Vokal : • Bronkhofoni  meningkat. Abnormal : • Suara trac-bronkhial terdengar di daerah bronchus dan paru ( missal . ekspirasi seperti trac-bronkhial. beritahu pasien untuk mengucapkan satu. emfisema. inpirasi lebih keras dan pendek dari ekspirasi. iga 10 garis skapularis. D.

bersifat tunggal. kemudian napas ditahan sebentar” . Amati dan catat pulsasi daerah aorta. lebar > 2 cm.Terbelah/terpisah dikondisikan ( Normal Splitting )  Splitting BJ 1 fisiologik  Normal Splitting BJ1 yang terdengar saat “ Ekspirasi maksimal. Pemeriksa berdiri sebelah kanan pasien setinggi bahu pasien 3. Amati dan catat pulsasi apeks cordis Normal  nampak pada ICS 5 MCL selebar 1-2 cm ( selebar ibu jari ). Amati dan cata pulsasi denyut vena jugularis Normal tidak ada denyut vena pada prekordial. Intensitas bunyi jantung Normal : • Di daerah mitral dan trikuspidalis intensitas BJ1 akan lebih tinggi dari BJ 2 • Di daerah pulmonal dan aorta intensitas BJ1 akan lebih rendah dari BJ 2 3. Sifat bunyi jantung Normal : . nampak meningkat dan bergetar ( Thrill ). Cembung ( bulging precordial ) 5. INPEKSI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. Denyut vena Cara Kerja : 1. dinding toraks yang tebal. PS.PEMERIKSAAN JANTUNG A. Abnormal --> bergeser kearah lateroinferior . terdengar “ sesaat setelah inspirasi dalam “ Abnormal : • Splitting BJ 1 patologik  ganngguan sistem konduksi ( misal RBBB ) • Splitting BJ 2 Patologik : karena melambatnya penutupan katub pulmonal pada RBBB. . B. Fase Systolik dan Dyastolik Normal : Fase systolik normal lebih pendek dari fase dyastolik ( 2 : 3 ) Abnormal : .Fase systolic memanjang / fase dyastolik memendek .  Splitting BJ 2 fisiologik  normal Spliting BJ2. pulmonal. 6. Sulit dilihat payudara besar. Abnormal  Cekung. AUSKULTASI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. Denyut pada apeks kordis 3. trikuspidalis. buka pakaian dan atur posisi pasien terlentang. Denyut nadi pada daerah lain 1. emfisema. kepala ditinggikan 15-30 2. Irama dan frekwensi jantung Normal : reguler ( ritmis ) dengan frekwensi 60 – 100 X/mnt 2. dan efusi perikard. dan ephygastrik NormaL  Hanya pada daerah ictus 7. Amati dan catat bentuk precordial jantung Normal  datar dan simetris pada kedua sisi. ASD. Motivasi pasien tenang dan bernapas biasa 4. 4. Denyut vena hanya dapat dilihat pada vena jugularis interna dan eksterna. Bentuk perkordial 2.

ada thriil / lift 3. 5. 3. Bila ada murmur ulangi lagi keempat daerah.Tedengar bunyi “ fruction Rub”  gesekan perikard dg ephicard. Normal : tidak terdapat murmur Abnormal : terdapat murmur  kelainan katub . Normal : teraba. Tentukan batas-batas jantung . Normal  tidak ada pulsasi 2. catat : sifat. C. 4. Geser jari ke ICS 3 kiri kemudian sampai ICS 6 . kwalitas di banding dg BJ2. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah Tricus.. Normal  terba di ICS V MCL selebar 1-2cm ( 1 jari ) Abnormal  ictus bergeser kea rah latero-inferior. frekwensi DJ. kwalitas di banding dg BJ1. catat : pulsasi. catat : sifat. PALPASI Cara Kerja : 1. 5. dan murmur Bj2. Dengan menggunakan 3 jari tangan dan dengan tekanan ringan. tentukan besar denyutan. axial line ) menuju medial. Lakukan perkusi mulai intercota 2 kiri dari lateral ( Ant. Geser pada daerah ephigastrik. splitting BJ2. adanya thrill. tentukan letak. lift/heave. palpasi daerah aorta. catat mana yang paling jelas. murmur Bj1. 3. sehingga terjadi pengisian yang cepat pada ventrikel Normal : tidak terdapat gallop ritme Abnormal : • Gallop ventrikuler ( gallop S3 ) • Gallop atrium / gallop presystolik ( gallop S4 ) • Gallop dapat terjadi S3 dan S4 ( Horse gallop ) Cara Kerja : 1. simak Bunyi jantung terutama BJ1. catat perubahan perkusi redup 2. lebar. Adanya Bising ( Murmur ) jantung  adalah bunyi jantung ( bergemuruh ) yang dibangkitkan oleh aliran turbulensi ( pusaran abnormal ) dari aliran darah dalam jantung dan pembuluh darah. catat : adanya pulsasi. sulit diraba Abnormal : mudah / meningkat D. lakukan perkusi dan catat perubahan suara perkusi redup. Geser pada daerah mitral. Geser ke daerah ephigastrik. catat adanya bising aorta. irama gallop. simak Bunyi jantung terutama BJ2. Periksa stetoskop dan gosok sisi membran dengan tangan 2. kemudian ke daerah aorta. pulmo dan trikuspidalis. kemudian ke daerah mitral. splitting BJ1. PERKUSI Cara Kerja : 1. yang disebabkan karena darah mengalir ke ventrikel yang lebih lebar dari normal. Irama Gallop ( gallop ritme )  Adalah irama diamana terdengar bunyi S3 atau S4 secara jelas pada fase Dyastolik. shunt/pirau 6. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah pulmonal.

PEMERIKSAAN PAYUDARA DAN KETIAK Inspeksi 1. dan catat adanya : benjolan. catat : adanya benjolan. posisi pasien duduk. Posisi berbaring. Normal : gelap. Perhatikan bentuk perut Normal : simetris Abnormal : • Membesar dan melebar  ascites • Membesar dan tegang  berisi udara ( ilius ) • Membesar dan tegang daerah suprapubik  retensi urine . PEMERIKSAAN ABDOMEN Abdomen dibagi menjadi 9 regio : INSPEKSI Cara Kerja : 1. tanda radang dan lesi 4. kecil/sedang/besar 3. nyeri tekan. datar/menonjol/masuk kedalam. 2. disamping atau didada 4. Kedua lengan. Kandung kencing dalam keadaan kosong 2. bantal dikepala dan lutut sedikit fleksi 3. Mulai inspeksi bentuk. tanda radang dan lesi. tidak ada lesi Abnormal : • Strie berwarna ungu  syndrome chusing • Pelebaran vena abdomen  Chirrosis • Dinding perut tebal  odema • Berbintil atau ada lesi  neurofibroma • Ada masa / benjolan abnormal  tumor 6. benjolan dan tanda radang. jumlah. Catat : lesi. catat : adanya keluaran. PALPASI Cara Kerja : • Lakukan palpasi pada areola. kedua tangan rileks disisi tubuh. • Palpasi daerah ketiak terutama daerah limfe nodi. ukuran dan kesimetrisan payudara Normal : bulat agak simetris. warna. mobilisasinya. tidak tegang. Inspeksi areola mama. bau. amati ketiak. Catat : nyeri dan adanya benjolan • Bila ada benjolan tentukan konsistensi. konsistensi dan nyeri. Mintalah penderita untuk menunjukkan daerah sakit untuk dilakukan pemeriksaan terakhir 5. pakaian atas dibuka. besar. menonjol 5. Buka lengan pasien. • Lakukan palpasi payudara dengan 3 jari tangan memutar searah jarum jam kea rah areola. catat : warna. Inspeksi. dan perhatikan Kedaan kulit dan permukaan perut Normalnya : datar. Strie livide/gravidarum. Lakukan inspeksi.

4. dan adanya masa superficial atau masa feces yang mengeras. AbnormaL: • Terjadi sebaliknya  kelumpuhan otot diafragma • Tegang tidak bergerak  peritonitis • Gerakan setempat  peristaltic pada illius • Perhatikan denyutan pada didnding perut • Normal : dapat terlihat pada ephigastrika pada orang kurus 8. untuk menentukan batas atas • Lakukan perkusi di sekitar daerah 1 dan 2 untuk menentukan batas-batas hepar yang lain. catat gerakan air ( tanda ascites ). Lakukan auskultasi pada satu tempat saja ( kuadran kanan bawah ). Perhatikan umbilicus. lakukan perkusi dari kwadran kanan atas memutar searah jarum jam. Dengan merubah posisi/menggerakkan abdomen. Perhatikan Gerakan dinding perut Normal : mengempis saat ekspirasi dan menggembung saat inspirasi. PALPASI Cara Kerja : 1. redup bila ada organ dibawahnya ( misal hati ) Abnormal : • Hypertympani  terdapat udara • Pekak  terdapat Cairan 2. gerakan peristaltic pada orang kurus. catat adanya tanda radang dan hernia AUSKULTASI Cara Kerja : 1. Normalnya : tidak ada 3. • Lakukan perkusi daerah paru ke bawah. . Lakukan palpasi perlahan dengan tekanan ringan.• Membesar asimetris  tumor. Tentukan ketegangan. 2. pembesaran organ dalam perut 7. cata bising dan peristaltic usus. pada seluruh daerah perut 3. Lanjutkan dengan pemeriksaan organ. Beritahu pasien untuk bernapas dengan mulut. catat bising aorta. kelaparan 3. catat adanya perubahan suara perkusi : Normalnya : tynpani. lakukan perkusi di daerah hepar untuk menentukan batas dan tanda pembesaran hepar. post operasi • Bising meningkat “ metalik sound “  illius obstruktif • Peristaltik meningkat dan memanjang ( borboritmi ) diare. Normal : tidak ada. Gunakan stetoskop sisi membrane dan hangatkan dulu 2. Cara : • Lakukan perkusi pada MCL kanan bawah umbilicus ke atas sampai terdengar bunyi redup. 5-35X/mnt Abnormal : • Bising dan peristaltic menurun / hilang  illeus paralitik. Normal : Bunyi “ Klikc Grugles “. adanya nyeri tekan. untuk menentukan batas bawah hepar. lutut sedikit fleksi. PERKUSI Cara Kerja : 1. Letakkan stetoskop pada daerah ephigastrik.

rasakan adanya masa hepar. lunak dan ujung tumpul  hepatomegali • Teraba nyata ( membesar ). saat pasien melepas napas. tonus dan spasme otot • Kekuatan otot UJi Kekuatan Otot Cara kerja : • Tentukan otot/ektrimitas yang akan di uji • Beritahu pasien untuk mengikuti perintah. tentukan besar. kontraksi dan tremor. benjolan abnormal. konsistensi dan bentuk permukaannya.obliq ) di bawah kostae kanan. tanda radang. konsistensi dan bentuk permukaan. Normal : tidak teraba / teraba kenyal. • Minta pasien napas dalam. • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran limfa • Minta pasien napas dalam. catat adanya deformitas. pembesaran. tidak timbul gerakan 2 ( parese ) : Timbul gerakan tidak mampu melawan gravitasi 3 ( parese ) : Mampu melawan gravitasi 4 ( good ) : mampu menahan dengan tahanan ringan 5 ( Normal ): mampu menahan dengan tahanan maksimal TULANG Hal-hal yang perlu diperhatikan : • Adanya kelainan bentuk / deformitas • Masa abnormal : besar. saat pasien melepas napas.obliq ) di daerah tempat redup hepar bawah / di bawah kostae. konsistensi dan bentuk permukaannya. teraba bila ada pembesaran PEMERIKSAAN SISTEM MUSKULOSKELETAL OTOT Hal – hal yang perlu diperhatikan : • Bentuk. pembesaran. ukuran dan kesimetrisan otot • Adanya atropi. • Palpasi tulang. rasakan adanya masa hepar. dan pegang otot dan lakukan penilaian. krepitasi. Abnormal : • Teraba nyata ( membesar ). . tentukan kwalitas benjolan. Normal : Sulit di raba. konsistensi. Penilaian : 0 ( Plegia ) : Tidak ada kontraksi otot 1 ( parese ) : Ada kontraksi. tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. ujung tajam. ujung ireguler  hepatoma Lien • Letakkan tangan kiri menyangga punggung kanan penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas . mobilitas • Tanda radang dan fraktur Cara kerja : • Ispkesi tulang. tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. keras tidak merata. • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran hepar. nyeri tekan.Hati • Letakkan tangan kiri menyangga belakang penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas .

2. luruskan sampai timbul nyeri. protaksi. Tekstur dan konsistensi Normal : halus dan elastis Abnormal : kasar. Tanda BALON Tekan kantung suprapatela dengan jari tangan. tentukan : 1. elastisitas menurun. pronasi/supinasi. elastisitas meningkat ( tegang ) . adanya kekakua sendi dan nyeri gerak • Tentukan ROM sendi : Rotasi. plaque. ekstensi. pustula • Lesi Sekunder : Tumor. dorsofleksikan tungkai kaki • Abnormal : nyeri tajan ke rah belakang tungkai  ketegangan / kompresi syaraf 2. Kelainan / lesi kulit Normal : tidak terdapat Abnormal : Terdapat lesi kulit.PERSENDIAN Hal-hal Yang perlu diperhatikan : • Tanda-tanda radang sendi • Bunyi gerak sendi ( krepitasi ) • Stiffnes dan pembatasan gerak sendi ( ROM ) Cara Kerja : • Ispeksi sendi terhadap tanda radang. Kemerahan Abnormal : cyanosis / pucat 2. Bergerombol Palpasi 1. Soliter. PEMERIKSAAN KHUSUS 1. Angkat Tungkai Lurus • Angkat tungkai pasien. lembek dan kurang elastis ( orang tua ) Abnormal : menurun  dehidrasi. pigmentasi. nodula. PEMERIKSAAN SISTEM INTEGUMEN KULITInspeksi 1. papula. ulceratif. crusta. catat : krepitasi. eskoriasi. distribusi dan konfigurasinya. Unilateral. Tekstur kulit Normal : tegang dan elastis ( dewasa ). fissura. Uji TINEL’S • Lakukan perkusi ringan di atas syaraf median pergelangan tangan • Abnormal : ada kesemutan atau kesetrum 3. dan palpasi adanya nyeri tekan • Palpasi dan gerakan sendi. vesikel. macula. fleksi. erosi. bentuk Lesi • Lesi Primer : bulla. scar. inverse/eversi. • Abnormal : Baal / kesemutan pada jari-jari dan tangan. Uji CTS ( Carpal Tunnel Syndrome ) Uji PHALEN’S • Fleksikan pergelangan tangan ke dua tangan dengan sudut maksimal. General. nampak tegang  odema. lichenifikasi. tahan selama 60 detik. jari yang lain meraba adanya cairan. peradangan 3. Warna kulit Normal : nampak lembab. hypopigmentasi.

dingin  kekurangan oksigen CR ( capilari Refiil ) • Tekan Ujung jari berarapa detik. Adanya nyeri Pemeriksaan Khusus AKRAL • Ispeksi dan palpasi jari-jari tangan. misalnya varises. suhu meningkat ( infeksi ) 3. luka. catat perubahan warna Normal : warna berubah merah lagi < 3 detik Abnormal : > 3 detik  gangguan sirkulasi. kemudian lepas. hangat Abnormal : pucat. atau benjolan. lesi. Tujuan Pemeriksaan Genetalia: • Melihat dan mengetahui organ organ yang termasuk dalam genetalia • Mengetahui adanya abnormalitas pada genetalia. Tumor.2. pengeluaran cairan atau darah dan sebagainya. dehidrasi 4. Suhu Normal : hangat Abnormal : dingin ( kekurangan oksigen/sirkulasi ). edema. Turgor kulit Normal : baik Abnormal : menurun / jelek  orang tua. catat warna dan suhu . tanda radang Abnormal : • Jari tabuh ( clumbing Finger )  penykait jantung kronik • Puti tebal  jamur RAMBUT TUBUH • Ispeksi distribusi. atau iritasi. warna dan pertumbuhan rambut PEMERIKSAAN FISIK GENITALIAUntuk mengetahui apakah pasien mempunyai masalah dengan genetalia (alat vital) baik intern/ekstern. perut. dahi amati adanya lekukan ( pitting ) Normal : tidak ada pitting Abnormal : terdapat pitting ( non pitting pada beri-beri ) KUKU • Observasi warna kuku. Normal : tidak pucat. • Melakukan perawatan genetalia • Mengetahui kemajuan proses persalinan pada ibu hamil atau persalinan Metode yang Digunakan pada pria: • Inspeksi • Palpasi Metode yang digunakan pada wanita: • Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar dan bagian dalam. Adanya hyponestesia/anestesia 5. infeksi. elastisitas kuku. ODEM • Tekan beberapa saat kulit tungkai. bentuk kuku. Persiapan sebelum pemeriksaan: .

f) Menjaga privasi pasien. Normalnya epididimis teraba lunak. dan kemungkinan adanya cairan kental yang keluar. benjolan . amati lubang uretra dan kepala penis untuk mengetahui adanya ulkus. 3) Hal yang harus diperhatikan: a) Pengkajian dilakukan sesuai kebutuhan dengan tetap menjga kesopanan dan harga diri pasien dan perawat. eksoriasi. benjolan. spatula plastic. b) Anjurkan pasien membuka celana. baskom. Bantu mengatur posisi litotomi. 2) Menyiapkan tempat yang nyaman sehingga dapat menjaga privasi pasien. Saluran sperma biasanya ditemukan pada puncak bagian lateral skrotum dan teraba lebih keras daripada epidedimis. dan adanya kelainan lain yang tampak pada penis.1) Menyiapakan alat yang digunakan: a) Lampu yang dapat diatur pencahayaanya b) Handscone atau sarung tangan c) Meja pemeriksaan dengan sanggurdi.penis dapat dibuka oleh pasien sendiri ). dan bandingkan sesuai usia perkembangan pasien. d) Amati kulit dan area pubi. d) Meminta ijin pada pasien jika melakukan pengkajian. Lubang uretra normalnya terletak di tengah kepala penis. perhatikan distribusi dan jumlahnya. Catat bila rambut pubis tumbuh sedikit atau tidak sama sekali. Pada Wanita: 1. konstitensi. peradangan. e) Perawat harus dapt memeberi penjelasan kepada pasien tentang tujuan pengkajian sehingga pasien dapat diajak bekerja sama dan tidak merasa malu. bentuk. b) Palpasi stroktum dan testis dengan menggunakan jempol dan tiga jari pertama. atau nodular. perhatikan penyebaran dan pola pertumbuhan rambut pubis. ulkus. Testis normalnya teraba elastis. d) Palpasi saluran sperma dengan jempol dan jari telunjuk. dan ekskorasi. dan selimuti bagian yang tidak diamati. Angkat skrotrum dan amati area di belakang skrotrum. perhatikan adana lesi. pegang penis dan buka kulup penis. c) Pada pria yang tidak dikhitan. eritema. bengkak. b) Perawat meminta pasien untuk berkemih sebelum pemeriksaan. tidak ada benjolan atau massa. Bila diperlukan urine untuk specimen laboratorium. c) Bantu pasien melakukan posisi litotomi di tempat tidur atau meja periksa untuk pengkajian genital eksternal. jaringan parut. c) Papasi epidemis yang memanjang dari puncak testis ke belakang. dan rabas ( bila pasien malu. dan kelicinannya. leukoplakia. fisura. Langkah pemeriksaan fisik genitalia Pada Pria : 1) Inspeksi a) Pertama tama inspeksi rambut pubis. 2) Palpasi a) Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya nyeri tekan. Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar: a) Beri kesempatan kepada pasien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum pengkajian dimulai. c) Mulai dengan mengamati rambut pubis. Pada beberapa kelainan lubang uretra ada yang terletak di bawah batang penis ( hipospadia ) dan ada yang terletak di atas batang penis ( epispadia ) d) Inspeksi skotrum dan perhatikan bila ada tanda kemerahan. dan berukuran sekitar 2-4 cm. b) Inspeksi kulit. Palpasi tiap testis dan perhatikan ukuran. ukuran. . licin.

n) Palpasi ovarium dengan cara menggeser dua jari yang ada dalam vagina ke formiks lateral kanan. k) Lakuakan palpasi secara bimanual bila diperlukan dengan cara memakai sarung tangan steril. mobilitas. Palpasi ovarium kanan untuk mengetahui ukuran. massa. rabas atau nodular.dan tes keseimbangan. bentuk.e) Buka labuia minora. g) Buka bilah speculum.dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. 2. temperature. rabas. Tindakan ini bermanfaat untuk mempergunakan dan memilih speculum yang tepat. ambil dengan cara usapan menggunakan aplikator dari kapas. Normalnya bentuk serviks melingkar atau oval pada nulipara. erosi. Tangan yang ada diluar letakkan di abdomen dan tekankan ke bawah. atur lampu untuk memperjelas penglihatan dan amati ukuran. keluarkan dua jari Anda. c) Siapkan speculum dengan ukuran dan bentuk ang sesuai dan lumasi dengan air hangat terutama bila akan mengambil specimen. i) Bila diperlukan specimen sitologi. h) Bila serviks sudah terlihat. PEMERIKSAAN FISIK EKSTREMITAS Ekstremitas atas • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan tangan. bentuk. dan warna serviks . mobilitas. regularitas. sedangkan pada para membentuk celah. dan putar speculum kea rah posisi horizontal dan pertahankan penekanan pada sisi bawah / posterior. dan nyeri tekan ( normalnya tidak teraba) ulangi untuk ovarium sebelahnya. labia minora. gerak dan tekanan. kemudian memasukkan jari tersebut ke lobang vagina dengan penekanan ke arah posterior. dan amati bagian dalam labia mayora. Palpasi uterus untuk mengetahui ukuran.klitoris. m) Palpasi uterus dengan cara jari-jari tangan yang ada dalam vagina menghadap ke atas. dan mobilitasnya. konsistensi. dan identifikasi kelunakan serta permukaan serviks. letakkan pada serviks dan kunci bilah sehingga tetap membuka. l) Palpasi serviks dengan dua jari anda dan perhatikan posisi. . Keluarkan jari bila sudah selesai. dan tarik keluar secara perlahan-lahan. masukkan ke dalam vagina. b) Lumasi jari telunjuk Anda dengan air steril. kendurkan sekrup speculum.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot. sentuhan. j) Bila sudah selesai. dan meatus uretra. massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot. ulkus. melumasi jari telunjuk dan jari tengah. f) Bila spekulum sudah berada di vagina. klitoris. laserisasi. ukuran. nodular. tutup speculum. rasa. Normalnya serviks dapat digerakkan tanpa terasa nteri. Perhatikan setiap ada pembengkakan. dan neri tekan. e) Yakinkan bahwa tidak ada rambut pubis pada pintu vagina dan masukkan speculum dengan sudut 45° dan hati-hati dengan menggunakan tangan yang satunya sehingga tida menjepit rambut pubis atau labia. d) Letakkan dua jari pada pintu vagina dan tekankan ke bawah kea rah perianal. konsistensi. konsistensi. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri. Pengkajian alat kelamin bagian dalam a) Atur posisi pasien secara tepat dan pakai sarung tangan steril. dan meraba dinding vagina untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan nodular. Tangan yang ada di abdomen tekankan ke bawah kea rah kuadran kanan bawah.

Pemeriksaan Refleks Repleks biasanya tidak terlalu singkat terjadinya pada pasien yang lebih dewasa.. 5) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot triseps. Pemeriksaan Refleks Otot Biseps 1) Posisi pasien tidur terlentang dan siku kanan yang akan diperiksa. rasa. 7) Terlihat gerakan ektensi pada siku akibat kontraksi otot triseps dan terasa tarikan tendon otot triseps dibawah telunjuk pemeriksa. Pemeriksaan Refleks Otot Triseps 1) Posisi pasien tidur terlentang.massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot. Menimbulkan reaksi repleks memungkinkan perawat untuk mengkaji integritas jalur-jalur sensori dan gerak dari lengkung repleks dan segmen batang spinal spesifik. Pengujian refleks tidak berarti menentukan pungsi saraf pusat. diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 60 derajat dan rileks. 6) Terlihat gerakan fleksi pada siku akibat kontraksi otot biseps dan terasa tarikan tendon otot biseps dibawah telunjuk pemeriksa. sentuhan. . 4) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot biseps. diatas jari telunjuk kiri pemeriksa. 2) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. Kemudian sebuah saraf motor mengirim implus kembali ke otot dan menyebabkan respon refleks terjadi. 4) Carilah tendon triseps 5 cm diatas siku ( proksimal ujung olecranon ).dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas jari telunjuk kiri pemeriksa. Pemeriksaan Refleks Tendon Patela 1) Posisi pasien tidur terlentang atau duduk. Saat otot dan tendon di regangkan selama pengujian refleks.dan tes keseimbangan. 2) Bila siku tangan kanan yang akan diperiksa. 2) Pemeriksa berdiri dan menghadap pada sisi kanan pasien.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot. maka diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 90 derajat dan rileks. Respon repleks pada ekstremitas bawah berkurang sebelum ekstremitas-ekstremitas atas terpengaruh (Seidel et al. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri. gerak dan tekanan. 5) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan. 3) Carilah tendon biseps dengan meraba fossa kubiti. maka akan teraba keras bila siku difleksikan. 3) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. implus-implus saraf merambat sepanjang jalur saraf aferen ke bagian dorsal segmen batang spinal. temperature. 1991). Implus-implus bergerak ke saraf motor eferen dalam batang spinal.Ekstremitas bawah • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan kaki.

5) Carilah tendon achiles diantara 2 cekungan pada tumit yang terasa keras dan makin tegang bila posisi kaki dorsofleksi. 7) Terasa gerakan plantar fleksi kaki yang mendorong tangan kiri pemeriksa dan tampak kontraksi otot gastrocnemius. lutut pasien fleksi 60 derajat dan bila duduk lutut fleksi 90 derajat. sewaktu-waktu sesuai kebutuhan pasien. baik untuk untuk menegakkan diagnosa. bila pasien duduk kaki menggelantung bebas. 4) Tangan kiri pemeriksa menahan pada fossa poplitea. diantara 2 cekungan tersebut terdapat tendon patela yang terasa keras dan tegang. Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting dan harus di lakukan pada kondisi tersebut. secara rutin pada pasien yang sedang di rawat. 3) Bila pasien tidur terlentang lutut fleksi 90 derajat dan disilangkan diatas kaki berlawanan. memastikan/membuktikan hasil anamnesa. untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif. menentukan masalah dan merencanakan tindakan yang tepat bagi pasien. baik pasien dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Pemeriksaan fisik Mutlak dilakukan pada setiap pasien. tertama pada pasien yang baru masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat. .3) Bila posisi pasien tidur terlentang. 6) Ayunkan reflek hammer diatas tendon achiles. 4) Pergelangan kaki dorsofleksikan dan tangan kiri pemeriksa memegang/ menahan kaki pasien. Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat. 7) Terlihat gerakan ektensi pada lutut akibat kontraksi otot quadriseps femoris. 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas tendon patella. 2) Bila pasien tidur terlentang pemeriksa berdiri dan bila pasien duduk pemeriksa jongkok disisi kiri pasien. KESIMPULAN Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu. Pemeriksaan Refleks Tendon Achiles 1) Pasien tidur terlentang atau duduk. 5) Carilah 2 cekungan pada lutut dibawah patela inferolateral/ inferomedial.