Perforasi membran timpani

Definisi
Perforasi atau hilangnya sebagian jaringan dari membran timpani yang menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi dari membrane timpani. Membran timpani adalah organ pada telinga yang berbentuk seperti diafragma, tembus pandang dan fleksibel sesuai dengan fungsinya yang menghantarkan energy berupa suara dan dihantarkan melalui saraf pendengaran berupa getaran dan impuls-impuls ke otak. Perforasi dapat disebabkan oleh berbagai kejadian, seperti infeksi, trauma fisik atau pengobatan sebelumnya yang diberikan.

Gejala Klinis
Beberapa gejala klinis yang timbul pada perforasi membran timpani adalah       Penurunan pendengaran Sensasi mendengar suara siulan saat meniup telinga atau bersin Cairan yang keluar dari telinga dapat terus menerus Tanda-tanda infeksi telinga tengah (demam, nyeri, telinga berdenging) Hilangnya fungsi pendengaran (test pendengaran), hal ini menentukan apakah penderita membutuhkan alat bantuan pendengaran atau tidak. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan biasanya adalah, Otoskopi, timpanometri, Test pendengaran (swabach, webber, dan rinne)

Tatalaksana
Terapi pengobatan pada perforasi membrane timpani ditujukan untuk mengendalikan infeksi pada telinga tengah. Mengingat juga penyebab dari perforasi yang disebabkan pengobatan sebelumnya. Penggunaan anti bacterial sebaiknya digunakan jika hasil kultur dan resistensi sudah didapatkan. Beberapa pengobatan invasive adalah, kauterisasi pada ujung membrane timpani. Penyumbatan pada lubang baik dengan lemak atau bahan sintetis yang tidak menimbulkan reaksi tubuh penerima (timpanoplasty). Pengobatan yang terakhir ini memiliki tingkat keberhasilan 80 hingga 90 % tergantung dari besarnya perforasi maupun komplikasi yang timbul.

Epidemiologi
Insidensi di populasi belum diketahui, tetapi biasanya terdapat pada Negara-negara berkembang atau Negara tertinggal, hal ini disebabkan oleh kurangnya faktor gizi, dan tingkat pelayanan kesehatan dari Negara tersebut.

Etiologi
Penyebab tersering dari perforasi membrane timpani adalah infeksi sebelumnya. Infeksi akut pada telinga tengah seringkali menyebabkan terjadinya kurangnya suplai darah ke membrane timpani yang seringkali berjalan dengan peningkatan tekanan pada telinga dalam, hal ini mengakibatkan robeknya atau hilangnya jaringan membrane timpani, yang biasanya diikuti dengan rasa nyeri. Jika robeknya membrane timpani tidak menyembuh maka akan terjadi hubungan antara telinga tengah dan telinga luar, yang seringkali menyebabkan infeksi yang berulang dan resistensi terhadap antibiotic yang digunakan berulang kali. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah jika infekti telah

menyebar kedalam kepala sehingga menimbulkan infeksi di kepala. Penyebab lain dari perforasi adalah trauma fisik dari telinga, yang tersering adalah pukulan yang keras kearah telinga dalam, tenaga yang timbul dapat memecahkan atau merobek membran timpani. Beberapa trauma yang lain adalah, perubahan tekanan pada telinga yang berubah secara mendadak, pada contohnya sering pada penyelam, yang didahului dengan gangguan pada saluran telinga dan mulut, peradangan ataupun infeksi.

http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/67/perforasi-membran-timfani

Perforasi Gendang Telinga
DEFINISI Perforasi Gendang Telinga ( Eardrum Perforation) adalah suatu keadaan dimana ditemukan lubang pada gendang telinga. Gendang telinga (membran timpani) merupakan pemisah antara telinga luar dan telinga tengah. Jika gelombang suara menyentuhnya maka gendang telinga akan bergetar dan hal ini merupakan awal dari proses perubahan gelombang suara menjadi impuls saraf yang akan menuju ke otak. Jika terjadi kerusakan pada gendang telinga maka proses pendengaranpun akan terganggu. Gendang telinga juga bertindak sebagai penghalang masuknya bahan-bahan dari luar telinga (misalnya bakteri). Jika terjadi perforasi gendang telinga, maka bakteri dengan mudah akan masuk ke dalam telinga dan menyebabkan terjadinya infeksi.

PENYEBAB Lubang pada gendang telinga bisa terjadi jika suatu benda dimasukkan ke dalam telinga (misalnya cotton-bud) atau jika suatu benda secara tidak sengaja masuk ke dalam telinga (misalnya ranting pohon yang terlalu rendah). Terjadinya lubang pada gendang telinga juga bisa disebabkan oleh peningkatan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba (misalnya akibat ledakan, tamparan atau menyelam) atau oleh penurunan tekanan yang juga terjadi secara tibatiba. Infeksi telinga juga bisa menyebabkan perforasi gendang telinga karena terjadi peningkatan tekanan cairan di dalam telinga tengah sehingga mendorong gendang telinga dan akhirnya terbentuklah lubang pada gendang telinga.

GEJALA Perforasi gendang telinga menyebabkan nyeri hebat yang timbul secara tiba-tiba, diikuti oleh perdarahan dari telinga, hilangnya pendengaran dan tinitus (telinga berdenging). Kehilangan pendengaran akan lebih buruk jika disertai oleh gangguan pdada rantai tulang pendengaran atau cedera pada telinga bagian dalam. Cedera pada telinga bagian dalam juga bisa menyebabkan vertigo (perasaan berputar). Dalam waktu 24-48 jam bisa keluar nanah dari telinga, terutama jika telinga kemasukan air.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dengan menggunakan otoskop, dokter bisa melihat adanya lubang pada gendang telinga.

PENGOBATAN Untuk mencegah terjadinya infeksi, biasanya diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut). Penderita harus menjaga agar telinganya tetap kering. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik. Biasanya tanpa pengobatan lebih lanjut, gendang telinga akan membaik. Tetapi jika dalam waktu 2 bulan tidak terjadi perbaikan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki gendang telinga (timpanoplasti).

Upaya penutupan perforasi membran timpani permanen secara konservatif masih diperlukan oleh karena terapi secara operatif memerlukan peralatan yang tidak selalu tersedia di rumah sakit kabupaten atau kota dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Gendang telinga/membran timpani/tympanic membrane/eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. saat ini dapat memperoleh sertifikat di bidang keperawatan otorinolaringologi leher dan kepala (CORLN= cerificate in otorhinolaringologyhead and neck nursing). PENCEGAHAN Berhati-hatilah ketika sedang membersihkan telinga dengan menggunakan cotton bud. Perforasi membran timpani permanen adalah suatu lubang pada membran timpani yang tidak dapat menutup secara spontan dalam waktu 3 bulan setelah perforasi. Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi.com/2010/01/perforasi-gendang-telinga. dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. http://sehat-enak. pediatrisian. 2)Perforasi marginal. Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting.blogspot. Konsistensinya bisa encer atau kental. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. anatominya juga sangat rumit . Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. yaitu : 1)Perforasi sentral (sub total). diduga telah terjadi gangguan pada tulang pendengaran dan harus diperbaiki melalui pembedahan. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor . suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita.Jika hilangnya pendengaran bersifat menetap. Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). Perawat yang terlibat dalam spesialisasi otolaringologi. internis. mintalah bantuan dokter umum/dokter ahli untuk mengeluarkannya. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. ahli audiologi. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah. Letak perforasi di pars flaksida membran timpani. ahli patologi wicara dan pendidik. Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Obatilah infeksi telinga secara tuntas. 3)Perforasi atik. perawat.html Pendahuluan Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. Jika telinga kemasukan sesuatu.

Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. glandula seruminosa. kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan.5 sentimeter. atau struktur berbentuk cincin. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago. Untuk memahami hal ini lebih lanjut. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis. Anatomi Telinga Dalam Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Bila ini terjadi. Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun. nyeri telinga (otalgia). Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus. menghubngkan telingah ke nasofaring. penting rasanya untuk memahami anatomi dan fisiologi telinga terlebih dahulu secara umum. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval. yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus. superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan .dsb. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2. Anatomi dan Fisiologi Telinga Anatomi Telinga Luar Telinga luar. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. otot. Normalnya. yang membantu hantaran suara. dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis. Ketiga kanalis semisi posterior. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah. tuba eustachii tertutup. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis). Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm. dan ligamen. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus. Anatomi Telinga Tengah Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. di mana suara dihantar telinga tengah. inkus stapes. cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat.

Membrana timpani umumnya bulat. lapisan fibrosa di bagian tengah dimana tangkai maleus dilekatkan. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. Di dalam lulang labirin. 2. bagian atas gendang telinga (daerah atiq).Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe. sebagain besar gendang telinga merupakan pars tensa. Gendang telinga secara anatomi dibagi 2 yaitu pars tensa (tegang) dan pars flaksida. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus. terdiri dari 3 lapis. dan sakulus. menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). Labirin membranosa memegang cairan yang dina¬makan endolimfe. Akibatnya terja¬di aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak. Gendang telinga / membran timpani /tympanic membrane / eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang selsel rambut utrikulus. dan lapisan mukosa dibagian dalam. namun tidak sem-purna mengisinya. Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3. yang muncul dari koklea. banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. dan kanalis semisirkularis. Pars tensa. Pars flaksida. Ia berfungsi untuk menghantar getaran suara dari udara menuju tulang pendengaran di dalam telinga tengah. bagian luar lanjutan kulit liang telinga. nervus koklearis (akus-dk). Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar. . Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). mengarah ke medial. Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak. namun dapat juga karean trauma. Tuli konduktif adalah hilangnya pendengaran karena tidak dapat tersampaikannya getaran suara. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. Di dalam kanalis auditorius internus. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang. yang muncul dari kanalis semisirkularis. dinamakan organ Corti.mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. meluas melampaui batas atas membran timpani. akulus.5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran. utrikulus. Lapisan fibrosa tidak terdapat di bagian atas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timpani yang disebut membrana Shrapnell menjadi lemas (flaksid). Gendang telinga atau membrana tympani adalah selaput atau membran tipis yang memisahkan telinga luar dan telinga dalam. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. duktus koklearis. hanya terdiri dari dua lapis tanpa jaringa ikat di bagian tengah. Kerusakan pada gendang telinga dapat menyebabkan tuli yang konduktif. dan bagian dalam yang mengarah ke telinga tengah. Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. umbo. dan bahwa ada bagian hipotimpanum yang meluas melampaui batas bawah membrana timpani. merupakan lanjutan mukosa telinga tengah. 1. dan organan Corti. Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Kerusakan gendang telinga berupa bolong/pecah (perforasi) terutama disebabkan infeksi telinga tengah (Otitis Media). Jenis tuli lainnya yaitu tuli sensorik yang disebabkan rusaknya sistem saraf pendengaran. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam. di tengah jaringan ikat. bergabung dengan nervus vestibularis.

trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor dsb. Hal ini timbul pada semua kelopok umur dengan predisposisi pada anak yang lebih sering dibandingkan dengan kebiasaan memasukkan benda asing ke dalam kanalis aurikula eksternal. suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita. kunci. Klasifikasi lebih jauh dari perforasi marginal versus sentral adalah penting untuk management selanjutnya. Ketergantungan pada transportasi kendaraan bermotor telah menambah peningkatan resiko akan terjadinya cedera kepala. Ukuran secara normal dijelaskan sebagai persentase perforasi (40% perforasi) atau secara langsung untuk perforasi yang kecil (contoh. Hal ini dikarenakan meningkatnya kekerasan domestik. Etiology Perforasi TM timbul oleh mekanisme yang bervariasi dan sumber energi. Cedera Tembus: Penyebab sering kedua dari perforasi TM termasuk Q-tips. Tetapi biasanya dalam derajat keseriusan yang rendah. Bila gejala dan sumber penyebabnya telah tertangani dan dalam penilaian selama 1 bulan gendang telinga ini tidak menutup spontan. Peraturan pemerintah yang baru dalam penggunaan keamanan dan tempat duduk anak-anak untuk MVAs dan proteksi kepala untuk kendaraan sangat menguntungkan sebagai bentuk dari pencegahan sekunder. Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun. Ketergantungan terhadap trasportasi telah secara besar meningkatkan resiko dari cedera kepala. bobby pins. gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah.6 per 100. Cedera akibat ledakan lebih berat ketika refleksi sedikit atau kerusakan dari gelombang energi ledakan pada rute TM. nyeri telinga (otalgia). dan klip kertas yang seringkali digunakan untuk membersihkan saluran telinga luar . Insidensi pertahun dari perforasi traumatik bervariasi antara 1. Laki-laki dewasa muda lebih sering mengalami cedera perforasi.trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping. Perubahan pada tekanan air selama penyelaman dapat menimbulkan cedera tipe tekanan. Telah dijumlahkan sekitar 30-75% dari cedera kepala tumpul dikaitkan dengan lesi tulang temporal. Umumnya dokter THT akan menangani keadaan akut ini dahulu dengan meredakan gejala dan sumber penyebabnya sambil dievaluasi kondisi membran/gendang telinganya. mencegah bahaya infeksi berulang pada telinga tengah) Epidemiologi Membran timpani lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan telinga tengah atau telinga dalam. wanita yang secara meningkat menjadi korban dari tamparan tangan terbuka dengan perforasi TM setelahnya. biasanya akan disarankan penutupan gendang telinga ini melalui prosedur pembedahan/operasi (tentu setelah dievaluasi manfaat penutupan membran ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi pendengaran. Peningkatan mortalitas lebih sering terlihat dalam kelompok ini dikarenakan tingginya keterkaitan dengan trauma intrakranial. Mereka dijelaskan dalam kaitannya dengan empat kuadran TM yang dibedakan dari tangan malleus. 2.4-8. Luka tembak berada dalam sumber yang meningkat dari trauma tulang temporal. Kecelakaan ski air seringkali terlihat selama musim panas.0000. dan untuk itu dapat menjadi berbagai bentuk dan ukuran. 3. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. Cedera Kompressi: Perubahan mendadak dalam tekanan udara sebagaimana dengan perubahan gradual (barotrauma) dapat menimbulkan kerusakan TM yang signifikan. atau 4 mm perforasi).

adalah cara pertama yang langsung. Perforasi trauma berbeda dalam ukuran dan lokasi. sebuah ledakan kuat di dekat telinga juga dapat meledak pada drum. In industrial communities such as ours. pasien akan terganggu berulang karena infeksi telinga dan keluar air dari telinganya. ketetapan dari rantai). Perforasi Pars flaccida umumnya terkait dengan epitympanic cholesteatoma. ( sangat berbakat TM atau lem tglue ear juga dapat menampilkan imobilitas). Perforasi Membran Timpani biasanya hadir pada pars tensa. 2) Pada tingkat tengah telinga. kondisi yang ossicular rantai (jika mungkin). Mereka mungkin kecil dan tersembunyi di balik exudates atau sumbatan darah atau juga akan dikaburkan dengan tulang punuk dari kanal anterior dinding. orang kedua kurang hati-hati menyikutkan sikunya ke telinga hingga menyebabkan cedera. Beberapa mungkin akan sulit untuk dilihat pada pemeriksaan. Akhirnya. Cedera ini juga kurang untuk bisa sembuh dengan sempurna.” Dengan adanya perforasi membrane timpani. Dalam hal ini. particle panas dapat menembus TM. ukuran. dengan udara yang cukup di kanal. hal ini dirasakan untuk menjadi kurang setuju jika hanya mendapatkan terapi observasi Cedera listrik: Konduksi elektrik yang instan dari sengatan listrik diduga dapat menyebabkan kerusakan pada TM baik berupa penekanan atau perubahan tekanan rarefaksi. Jarang. korban akan mencoba untuk menyembunyikan setiap detail kejadian saat datang ke kantor.Cedera Suhu: Pada komunitas industri. Traumatic Perforasi TM yang dapat terluka dalam berbagai cara. yang akan dijelaskan pada bab akhir nanti. Skenario seringkali melibatkan orang yang membersihkan telinga dengan alat. komunikasi patologi ini terletak di tengah dan telinga luar dan dapat dianggap sebagai “hiliran udara yang benar. hot welding slag is occasionally encountered as the culprit for TM injuries. dan kadang-kadang. Perforasi Pars tensa dapat berupa sentral atau marjinal. penyembuhan yang spontan sangat jarang dan infeksi berulang dan drainase dapat terjadi. jika drum adalah mobile. mengkauterisasi ujung-ujungnya seperti berjalan melalui ke dalam telinga. 3) pemeriksaan otoscopic harus dilengkapi dengan audiometry nada murni untuk memiliki pemahaman yang lebih baik dari ossicular rantai (kemungkinan erosi yang incus. merupakan kunci untuk diagnosa. Dikarenakan kerusakan jaringan dan dikaitkan dengan resiko infeksi. TM yg tak bergerak akan terlihat dengan perforasi. dan keberadaan atau ketiadaan epithelialization harus dievaluasi. Jenis perforasi ini biasanya di anterior dan inferior. Kapanpun membran timpani yang didiagnosis perforasi. dan sisanya dari keadaan di sekitar membran timpani perforasi harus ditentukan. lapisan epithelial dan mucosal merayap dan bertemu di sepanjang batas-batas yang perforasi. dgn menyedihkan. cedera penetrasi. Jika perforasi membrane timpani tidak sembuh secara spontan. akustik biasanya menyebabkan kerusakan pada labirin juga. Jika pemeriksa dapat melihat bagian dari drum. Sebaliknya. Perforasi Marginal terletak di pinggiran dari membran timpani dengan ketidakhadiran dari annulus fibrosus. Penyebab lain adalah ledakan membran karena tamparan atau kepalan tangan ke telinga. keadaan mucosa. tidak ada perforasi. Sering kali. yang pneumatic otoscope. tiga hal berikut harus menjadi pertimbangan dipenuhi: 1) Pada tingkat yang perforasi situs. Perforasi Marginal dianggap “tidak aman” karena kulit yang berhubungan dgn kanal eksternal. karena . Kecelakaan menyelam dan ski air mungkin juga dapat meledakkan drum. anggota keluarga yang Kasar mungkin terlibat.

mungkin terjadi. Pada semua perforasi trauma. Migrasi kulit ini disukai dengan atrophi mucosa yang terjadi sebagai akibat dari perforasi. Pemeriksaan Otoscopic sering dapat menentukan persambungan antara kulit dan mucosa pada batas-batas perforasi membran timpani. Di negara-negara lain. necrotizing otitis media akut. Kebanyakan trauma perforasi (mungkin 90%) dapat sembuh spontan. invagination dari kulit terhadap sisa permukaan membran timpani lebih sulit untuk didiagnosa. membran timpani harus diperbaiki (myringoplasty) untuk mengembalikan fisiologi normal telinga. Adanya cincin merah de-epithelialized sepanjang perforasi rim menunjukkan evagination dari mucosa ke arah luar permukaan membran timpani residu. yang paling shortlive. Disini. kehilangan pendengaran lebih sering terjadi lagi di perforasi posterior dibandingkan di anterior . Pada saat myringoplasty. untungnya . agresif. Tes Weber dan tes Rinne bermanfaat di sini. basah. 2) Pengurangan dari gerakan vibrasi cairan cochlear karena suara mencapai kedua jendela hampir di waktu yang sama tanpa pemendekan dan tahap perubahan -efek dari membran timpani yang utuh Tempat perforasi tidak dapat dikaitkan dengan pola audiomerik tertentu. Hindari diri dari air dan observasi awal adalah satu-satunya perawatan yang diperlukan. dan pembukaan kecil tersebut tidak selalu terlihat. Pada persambungan ini squamous epithelium memiliki “seperti beludru” penampilannya. sebagian besar perforasi tetap dibuat. dengan oval atau jendela sepanjang perpecahan. Sebuah pengceualian timbul dengan langka. kerusakan telinga tulang kecil bagian tengah. Lihat untuk kehilangan pendengaran dengan inordinate yang besar (> 35 dB HL) atau keberadaan vertigo sebagai petunjuk. dengan asumsi yang diberikan antibiotic. Perforasi dari Infeksi Akut Trauma yang paling sering terjadi adalah perforasi. perforasi dapat menjadi permanen. Trauma perforasi yang sangat besar sedikit sekali untuk sembuh. Namun. sehingga menimbulkan cholesteatoma. Hampir semua ini dapat sembuh dalam beberapa hari. dapat dengan mudah maju ke arah telinga. Dalam kasus ini.ketiadaan dari annulus. demam berdarah masih menjadi penyebabnya. Hal Ini biasanya disebabkan oleh streptococcus beta dalam kaitannya dengan keparahan seperti infeksi virus campak. Hal Ini akan memerlukan pembedahan jika mereka tidak menunjukkan tanda-tanda penutupan setelah pengamatan selama beberapa bulan. perforasi tidak hanya meninggalkan kulit yang terperangkap pada permukaan drum. Dalam kasus ini. Ketika bagian besar dari membran timpani yang hilang atau bila infeksi kronis atau berulang terjadi. Nekrosis dari TM sentral secara typikal besar meninggalkan bentuk ladam-lubang yang besar di drum . tetapi juga sangat mengurangi risiko yang dapat mengakibatkan iatrogenic cholesteatoma. Mayoritas posttraumatic dan postotitic perforasi sembuh spontan. Namun. TM jadi merah. secara umum diamati bahwa kehilangan pendengaran terjadi di frekuensi yang lebih rendah dan perforasi untuk ukuran yang sama. Kehilangan pendengaran konduktif yang disebabkan oleh perforasi membran timpani mempunyai dua penyebab utama: 1) Pengurangan permukaan daerah membran timpani dimana tekanan akustik melebihi tindakannya. Hal Ini adalah salah satu yang dihasilkan dari otitis media akut. obat tetes telinga antibiotik Topical mungkin ditunjukkan jika drainase dan infeksi ada.

jika diperlukan). dan Enterobacter. terutama di hadapan AIDS. bedah rekonstruksi TM (dan eroded ossicles. Proteus. Secara insidentil. pengobatan dan penentuan prognosis. Hal Ini sangat jarang yang biasanya dimulai dengan tidak adanya rasa sakit dari penipisan TM diikuti oleh beberapa perforasi. Tympanoplasty. exudates biasanya mempunya organism yang sama seperti yang terlihat pada otitis eksterna. Myringoplasty secara umum dilakukan dengan menggunakan insisi postauricular di bawah anestesi lokal-kecuali untuk anak-anak di mana anestesi umum digunakan. Hal ini dikontraindikasikan ketika perforasi membran timpani hadir hanya dalam liang telinga. Pada era pra-antibiotik hal ini merupakan salah satu penyebab kronis perforasi. dengan jelas keluarnya. sebagai pengecualian terhadap pernyataan kami bahwa kebanyakan masalah telinga hanya melibatkan satu “komponen”. Yang otitis media akut. Kami lebih mengutamakan teknik dasar dalam mayoritas kasus. Temuan ini harus curiga dan waspada. antibiotics awal membantu necrotisasi. beberapa perforasi menunjukkan tuberkulosis.disekeliling manubrium. Individu yang terkena mempunyai kehilangan pendengaran konduktif dan mungkin timbul dengan drainase berulang melalui perforasi. dapat dipastikan dari riwayat pasien. karena memberikan hasil yang lebih baik secara anatomis dan fungsional. jika bukan jenis streptococcal necrotizing. yaitu Pseudomonas. Kehilangan pendengaran ini besar secara inordinate dikarenakan keterlibatan telinga dalam dengan basil. Chronic Perforasi Perforasi yang Lama dapat dilihat pada pasien yang mengalami masaalah tuba Eustachio bercampur dengan masalah infeksi bertahun-tahun. Episode dari drainase ini (otorrhea) sering dilakukan oleh air di dalam telinga atau infeksi pernafasan atas. Jangan lupa untuk mengevaluasi pendengaran. dan kultur yang positif untuk pewarnaan organisme asam akan mengkonfirmasikan diagnosis. dengan kecil atau besar udara-tulang. dan tanpa batas usia. Keberadaan sebuah lubang membran timpani yang tidak sembuh secara spontan kronis seperti otitis media merupakan cacat anatomis dan fungsional yang memerlukan koreksi bedah dalam mayoritas kasus. akan sembuh. Otorrhea Persisten atau berulang melalui perforasi dikenal sebagai otitis media kronis suppurative. dan mastoidectomy dapat menyertai prosedur ini. Sering ada mastoiditis kronis di rongga berdekatan. Myringoplasty ditunjukkan dalam kasus dengan dan tanpa otorrhea. otorrhea dari infeksi telinga tengah dapat menyebabkan otitis eksternal. Staphylococcus. . Akhirnya. Topical antibiotik / steroid obat tetes telinga dapat membersihkan drainase. dapat dilakukan jika dan ketika tidak ada infeksi. ini juga perlu perhatian pembedahan. Ventilasi tuba mungkin telah dimasukkan berulang kali. Kehilangan pendengaran sebesar (> 35 dB HL) dapat menunjukkan kerusakan trauma ossicular. Pada kenyataannya. Membran timpani diperbaiki dengan graft autologous temporalis. terutama jika infeksi akan dibersihkan dengan antibiotic oral. penyebab. Summary Sesuai menurut perforasi secara umum. Dengan munculnya AIDS di dekade belakangan ini. otitis media tuberculosis menyebutkan hal ini. sekitar TM seringkali menebal dan berparut.

W. Sato K. Geneva. 7. Hasil operasi pertama dan kedua dari segi graft yang diambil dan reperforasi biasanya secara umum sebanding. Ear. Ovesen T. In: Lim DJ. Bagian THT Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Adenan A. Vol. New Aspects of Secretory Otitis Media. The Annals of Otology.13 Alamsyah Aris . ed. Surgical anatomy and pathology for reconstructive middle ear surgery.. maka teknik Overlay memberikan hasil yang optimal dalam kasus ini. Nose and Throat Journal. 10. The Annals of Otology. Healy G... 116– 8. Otitis Media and Middle Ear Effusions. Dalam: Helmi. 2. 108. Jika reperforation terjadi setelah myringoplasty (sekitar 5% dari kasus). 9.. Andalibi A. Nonomura N.8. Juhn S. 114. 1999. Eustachian Tube Function and Middle Ear Gas. 8. 1. Panduan Penatalaksanaan Baku Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) di Indonesia.teknik Overlay yang digunakan di beberapa kasus bila sisa anterior dari membran timpani adalah pathologic atau tidak ada. IL. DAFTAR PUSTAKA 1. In: Suzuki JI et al. Jakarta. Sixteenth edition. Kawana M. 55 – 7. 5. Sep 1998. Ketika dilakukan dengan benar. Course of IL-1ß. revisi operasi yang diindikasikan setelah beberapa bulan. 6th edition. 249-50. et al. Rosbe K. 3. Borglum J. Biochemistry. 6. Recent Advances in Otitis Media Report of The Eighth Research Conference. 3/3/15. Nakano Y. IL-6. Otitis Media Supuratif Kronis. Otitis Media Supuratif Kronis. 2002.G. 770-6. Kelompok studi otologi PERHATI–KL.. 4. Jakarta.com/2010/07/06/perforasi-membran-timpani/ ASKEP PERFORASI MEMBRAN TIMPANI 07. Elsevier.. 559-63. 77. 2004. and TNF-α in the Middle Ear Fluid of the Guinea Pig Otitis Media Model Induced by Nonviable Haemophilus Influenzae. Ryan A.K. Rhinology and Laryngology. Chronic suppurative otitis media: Burden of Illness and Management Options. http://satriaperwira. Canalplasty dilakukan kapanpun tulang punuk dari saluran luar hadir yang membatasi kontrol dari batas perforasi. Ontario. Murakami Y. BC. Helmi. In: Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Decker.B.D. World Health Organization. Reconstructive Surgery of the Middle Ear.. Mei. Aetiopathology of Inflammatory Conditions of the External and Middle Ear. Browning G.wordpress. In: Scott-Brown’s Otolaryngology. 2005. Rhinology & Laryngology. Switzerland. 3. Amsterdam. Kumpulan Kuliah Telinga..F. 6. Jan 2005. 50-4. Jun 1999. p. Hamilton. Butterworth-Heinemann. 1997. Balai Penerbit FK-UI. 9.

jadi. B. normalnya berwarna kelabu mutiara dan translusen. Selain perforasi membrana timpani. kunci ) yang didorong terlalu dalam kedalam kanalis auditorius eksternus. Perforasi lebih jarang. cedera ledakan. membantu hantaran suara. Telingah tengah mengandung tiga tulang terkecil ( osikuli ) ditubuh : maleus. atau hantaman keras pada telinga. dan likamin. cedera terhadap osikulus dan bahkan telinga dalam dapat terjadi akibat tindakan ini. Sumber trauma meliputi fraktur tulang tengkorak.Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook A. membrana timpani dapat mengalami ruptur bila tekanan dalam telinga tengah lebih besar dari tekanan atmosfer dalam kanalis auditorius eksternus. peniti. Selama infeksi. otot. Telinga tengah merupakan rongga berisi udara yang merupakan rumah bagi osikuli ( tulang telinga tengah ) dan dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring.usaha pasien untuk membersihkan kanalis auditorius esternus sebaiknya dilarang. inkus dan stapes. yang diameternya sekitar 1 cm dan sangat tipis. Anatomi Fisiologi Telinga tengah tersusun atas membrana timpani ( gendang telinga ) disebelah lateral dan kapsul otik disebelah medial. celah telinga tengah terletak diantaranya. disebabkan oleh benda asing ( mis lidi kapas. Membran ini. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh persediaan. Ada dua jendela kecil( jendela oval) . Juga berhubungan dengan beberapa sel berisi udara dibagian mastoid tulang temporal. Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis auditorius esternus dan menandai batas lateral telinga tengah. Pengertian Perforasi membrana timpani biasanya disebabkan oleh trauma atau infeksi.

Tuba bertindak sebagai saluran drainase untuk sekresi abnormal telinga tengah dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. akut dan kronik. yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Jendela bulat ditutupi oleh membrana yang sangat tipis. C. menghubungkan telinga tengah kenasofaring. Rasa sakit terjadi karena tekanan pada kulit yang sangat sensitif. Jendela bulat memberikan jalan keluar getaran suara. cairan dari telingah dalam dapat mengalami kebocoran ketelinga tengah. Normalnya.didinding media telinga tengah. pengaruh yang paling utama ialah mengenai keseimbangan. otitis media merupakan gangguan yang paling sering terjadi. Bagian dataran kaki stapes menjejak pada jendela oval. Yang kronis bisa menjalar mastoid. atau struktur berbentuk cincin. Infeksi terjadi pada selaput rongga telinga. Kegiatan berenang terutama pada air yang terkontaminasi sangat mungkin bisa menimbulkan infeksi telinga luar. dan dataran kaki stapes ditahan oleh anulusyang sangat tipis. Tumor ini bisa timbul kembali bila diangkat. Persaman dengan mastoititis kronik dapat tumbuh cholestheatoma (tumor jinak) yang merupakan kantong berisi kotoran yang infeksi. Infeksi dari telinga dari telinga luar. Infeksi telinga tengah. timbul tuli. eustacii selalu tertutup. menghebat sakitnya karena tidak ada ruang untuk menggelembung dalam saluran yang bertulang. dimana suara dihantarkan ketelinga tengah. menimbulkan mastoiditis kronis menyebabkan nekrose kepada gendang telinga. otitis eksterna seringkali oleh bakteri (stavilokokus. Baik anulus jendela bulat maupun jendela oval sangat mudah mengalami robekkan. Infeksi labrinth (telinga interna) merupakan perluasan telinga media. dan dataran kaki stapes ditahan olehanulus yamg agak tipis. purulen. atau radang tulang telinga. Otitis media urolenta terjadi karena infeksi bakteri bisa akut atau kronis. Tuba eustachii. kondisi ini dinamakan fistura ferilinfe. otitis media yang serous dapat terjadi karena terkumpulnya serum yang steril didalam telinga tengah bila tuba eustacii tersumbat oleh infeksi yang terdahulu atau alergi. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manufer falsalfa atau dengan menguap atau menelan. Patofisiologi Kuman masuk kebagian eksterna melalui lobang telinga atau melalui tuba eustaci kemudian menimbulkan infeksi. yang lebarnya sekitar satu mellimeter dan panjangnya sekitar tiga lima melimeter. . Sejenis dermatitis seborrhcic dapat disebabkan karena pemakaian earkone yang lama. Furunkel dapat juga tumbuh pada saluran. Infeksi bisa serous. Bila ini terjadi. membengkak dan getah radang dapat mengisi saluran. gram negatif organisme atau fungus). Mastoiditis akut jarang terjadi karena pengobatan otitis media akut dengan antibiotik.

Evaluasi otoskopik membran timpani memperlihatkan adanya porforasi. Keputusan melakukan timpanoplasti ( perbaikan membrana timpani ) biasanya didasarkan pada perlunya mencegah potensial infeksi dari air yang memasuki telinga atau keinginan memperbaiki pendengaran pasien. sendiri. dengan berbagai derajat kehilangan pendengasran dan terdapat otorea interniten atau persisten yang berbau busuk biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut. rasa penuh dalam telinga atau perasaan bendungan. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih dibelakang membran timpani atau keluar kekanalis eksternus luang perforasi. demam. meskipun ada beberapa yang baru sembuh setelah berbulan-bulan. Gejala lain dapat berupa keluarnya cairan dari telinga. Pasien harus dilindungi dari air ketika terjadi perforasi membrana timpani. dan tak terjadi nyeri bila aurikula digerakkan. Ada perforasi yang menetap karena terjadi pertumbuhan jaringan parut pada tepi perforasi. pasien harus diobservasi bila ada cairan serebrospinal otorea atau rinorea-cairan jernih cair dari telinga atau hidung.D. Diagnosis Penunjang Kebanyakkan perforasi membrana timpani dapat sembuh spontan dalam beberapa minggu setelah ruptur. karena auditorius asternus sering tampak normal. Manifestasi Klinik Gejala otitis media dapat berfariasi beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat. yang terjadi ketika tuba eustacii berusaha membuka. Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran. Gejala dapat minimal. Hasil audiometri pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran. dan bahkan suara letup atau berdering. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa. Pada pemeriksaan otoskopis. Terdapazt berbagai pembedahan semua pada dasarnya dengan meletakkan . Membrana timpani tampak kusam pada ostokopi. Kolesteatoma. Bila terjadi cedera kepala atau patah tulang temporal. dan mungkin terdapat otalgia. Selama proses penyembuhan telinga harus dilindungi dari air. Perforasi yang tak dapat sembuh dengan sendirinya memerlukan pembedahan. kehilangan pendengaran. biasanya tidak menyebabkan nyeri. dan tinitus. Spontan membrana timpani atau setelah miringotomi (insisi membrana timpani). Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif. Membrana timpani tampak merah dan sering menggelembung. dan dapat terlehit gelembung udarta dalam telinga tengah. sehingga menghambat penyebaran sel epitel melintasi batas dan akhir penyembuhan. dimana daerah post-aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. E.

dosis rendah. Cara masuk bakteri pada kebanyakkan pasien kemungkinan melalui tuba eustacii akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring. otitis media dapat hilang tanpa gejala sisa yang serius. dan maroksella catarhaelis. hemophylus influensae. Bakteri yang umum ditemuakn sebagai organisme penyebab adalah streptokokus pneumoniae. 2. Pembedahan biasanya berhasil menutup porforasi secara permanen dan memperbaiki pendengaran. inflamasi jaringan disekitarnya (mis sinusitis. Bila kehilangan pendengaran yang berhubungan dengan efusi telinga tengah menimbulkan masalah bagi pasien maka bisa dilakukan miringotomi dan dipasang tabung untuk menjaga telinga tengah tetap terventilasi. dalam telinga tengah. biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan. Dengan terapi antibiotika spektrum luas yang tepat dan awal. Kondisi bisa berkembang menjadi subakut ( mis berlangsung tiga minggu sampai tiga bulan ). Komplikasi sekunder mengenai mastoit dan komplikasi intrakranier serius. Bila terjadi pengeluaran cairan. Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustacii seperti obtruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan atas.pada lubang porforasi untuk memungkinkan penyembuhan. Otitis media serosa tidak perlu ditangani secara medis kecuali terjadi infeksi (otitis media akut). tanpa adanya infeksi aktif. Penanganan meliputi pembersihan hati-hati telinga mengunakan mikroskop dan alat pengisap. Antibiotik sistemik biasanya tidak diresepkan kecuali pada kasus infeksi akut. Pemberian tetes antibiotika atau pemberian bubuk antibiotik sering membantu bila ada cairan purulen. virulensi bakteri dan status fisik pasien. hipertropi adenoit). kadang dapat mengurangi edema tuba eustacii pada kasus barotrauma. F. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada porforasi membran timpani. cairan ini sebagai akibat tekanan negatif dalam telinga tengah disebabkan obstruksi tuba eustacii. Klasifikasi 1. Kondisi ini ditemukan terutama pada anak-anak. Otitis media akut adalah infeksi akut telinga tengah. atau reaksi alergi (mis rinitis alergika). dapat terjadi meskipun jarang. Jarang sekali terjadi kehilangan pendengaran permanen. Secara teori. Kortikosteroid. Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung efektifitas terapi (mis dosis antibiotik oral yang diresepkan dan durasi terapi). dengan pengeluaran cairan purulen menetap dari telinga. Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan pendengaran konduktif. seperti meninitis atau abses otak. Otitis media serosa (efusi telinga tengah) mengeluarkan cairan. biasanya perlu diresepkan preparat otik antibiotika. perlu dicatat . Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik kedalam telinga yang normalnya steril.

infeksi mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkankerusakkan membrana timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid.bahwa. dan cairan terperangkap didalam telinga tengah. Sebelum penemuan antibiotika. seperti pada penyelam atau saat pesawat udara turun. Bila tidak ditangani olesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralisis nerfuspasealis. G. analgetik dan antiinflamasi. Untuk stadium tiga sampai stadium lima diberi antibiotik dosis tinggi. Sering berhubungan dengan perforasi menetap membrana timpani. bila terjadi pada orang dewasa. yang merupakan pertumbuhan kulit kedalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ketelinga tengah. yang berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. kecuali pada bayi harus segera dilakukan parasintesis bila terdapat bulging lakukan parasintesisuntuk melancarkan reinase. Barotrauma terjadi bila terjadi perubahan tekanan mendadak dalam telinga tengah akibat perubahan tekanan barometrik.  Secara lokal: pada stadium hiperemi diberikan antibiotik tetes. Sekarang. Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang tidak ditangani. penyebab lain yang mengdasari terjadinya disfungsi tuba eustancii harus dicari. Karnisoma yang menyumbat tuba eustacii harus disingkirkan pada orang dewasa yang menderita otitis media serosa unilateral menetap. penggunaan antibiotika yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koaleses akut menjadi jarang. yaitu dengan membuat insisi kecil pada kuadran bawah. Kantong dapat melekat pada struktur telinga tengah dan mastoid. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membrana timpani. dan abses otak.  Secara sistemik diberikan antibiotik. dan beberapa ahli infeksi kronik ini dapat mengakibatkan pembentukkan koleosteatoma. Medis  Mencari vokal infeksi dihidung. Penatalaksanaan 1. . Kulit dari membran timpani literal membentuk kantong luar. Mastoiditis kronik lebih sering. Efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah menjalani radioterapi dan barotrauma (mis penyelam) dan pada pasien dengan disfungsi tuba eustacii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi. 3. kehilangan pendengaran sensorik neural dan atau gangguan keseimmbangan (akibat erosi telinga dalam). dan dinasofaring dan sekaligus mengobatinya. Otitis media kronik adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan ireversibel dan biasanya disebabkan karena episode berulang otitis media akut.

plastik. Pengkajian Observasi adanya bukti-bukti OMA :  Setelah ISPA  Otalgia (sakit telinga)  Otorea purulen dapat terjadi  Demam  Keluaran pululen dapat ada.  Bila mungkin sekret dihisap secara hati-hati dengan menggunakan jarum kecil. Harus diterangkan dulu cara pemakain H2O2 3 % kedalam telinga yang sakit kemudian dibersihkan dengan kapas lidi baru setelah itu masukkan antibiotik tetes telinga dengan cara kepala dimiringkan dan ragus titekan supaya obat tetes masuk kedalam. Asuhan Keperawatan a. Dapat dianjurkan pada penderita atau orang tua penderita yang mempunyai intelegensia yang cukup. 2. Pengobatan lokal diberikan antibiotik tetes telinga. Antibiotik yang adekuat oral atau parenteral. Konsevatif a. Semua tindakan pembersihan tersebut sebaiknya diberikan sambil dilihat dan hati-hati untuk menghindarkan trauma yang tidak diinginkan. Pemberian antibiotik tetes telinga hampir tidak gunanya apabila masih ada otore yang produktif. karena adanya gas yang ditimbulkan. misalnya hal jarum BWG no 16 dan 18 yang ujungnya diberi karet kateter nelatom yang kecil atau karet pentil. Pembersihan sekret diliang telinga (toilet lokal drainage) merupakan yang penting untuk pengobatan otitis kronik. b. Ini diberikan apabila ada eksaserbasi akut yang didahului oleh infeksi hidung atau farings. c.  Displaseme metode dapat dengan menggunakan larutan hidrogen peroksid (H2O2) 3%. dapat juga tidak . Ada beberapa membersihkan sekret tersebut :  Dengan menggunakan kapas lidi. Tindakan ini dianjurkan sesering seringnya bila ada otore. Karena itu memberikan antibiotik lokal dianjurkan setelah dilakukan tekhnik lokal.

peka rangsang Kecenderungan menggaruk. Menangis  Rewel. pada OME dapat ditemukan lubang kecil. tanpa garis tulang yang dapat dilihat atau refleks sinar. memegang. gelisah. Observasi adanya bukti-bukti otitis media kronis :  Kehilangan pendengaran  Kesulitan berkomunikasi  Perasaan penuh. membran abu-abu dangkal. tinitus. garis samar-samar. b) Posisikan untuk kenyamanan sesuai kebutuhan individu c) Pilih tindakan kenyamanan lokal berdasarkan tingkat kerjasama dan mengurangi nyeri yang maksimum ketentuan-ketentuan untuk . vertigo mungkin ada b. dan tingkat cairan yang dapat dilihat atau meniskus dibelakang gendang telinga bila terdapat udara diatas cairan. atau menarik telinga yang sakit Menggeleng-gelengkan kepala dari samping kesamping Kehilangan nafsu makan Letargi Pemeriksaan otoskopik pada OMA menunjukkan membran utuh yang tampak merah terang dan menonjol. Diagnosa Keperawatan 1) Nyeri berhubungan dengan tekanan yang disebabkan oleh proses inflamasi Sasaran pasien 1 : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri/ketidaknyamanan sampai tingkat yang dapat diterima Intervensi keperawatan/ rasional a) Beri analgesik/antipiretik untuk mengurangi nyeri dan demam.

bungkus dengan handuk) diatas telinga dengan berbaring pada sisi yang sakit untuk meningkatkan rasa nyaman. khususnya mengenai pemberian antibiotik b) Pertahankan keteraturan pemberian c) Selesaikan program terapi d) Jelaskan bahwa meskipun gejala biasanya kurang dalam 24-48 jam. e) Beri kantong es diatas telinga yang sakit untuk mengurangi edema atau tekanan f) Hindari mengunah dengan memberikan cairan atau makanan lunak g) Posisikan dengan telinga yang sakit berada pada posisi dependen Hasil yang diharapkan Tidur dan istirahat dengan tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kenyamanan 2) Risiko tinggi infeksi/cedera berhubungan dengan ketidakadekuatan tindakan/adanya organisme infeksius Intervensi keperawatan/rasional a) Tekankan pentingnya mengikuti instruksi.d) Beri kompres panas eksternal (dengan bantalanpanas pada suhu panas yang rendah. seluruhnya sampai semua antibiotik yang ditentukn dihabiskan e) Tekankan pentingnya perawatan tindak lanjut f) Gunakan praktik pencegahan g) Dudukkan dengan tegak untuk pemberian makan h) Anjurkan untuk meniup hidung denganperlahan selama infeksi pernapasan atas bukan meniup infeksi tidak akan hilang hidung dengan keras karena resiko pemindahan dari tuba eustachius ketelingah tengah i) Gunakan perminan meniup atau mengunyah permen karet untuk meningkatkan aerasi telinga tengah selama dilakukan UPI j) Hilangkan asap tembakau dan alergen yang diketahui atau yang potensial dari lingkungan Hasil yang diharapkan .

bersihkan eksudat dari telinga dan kulit sekitarnya serta berikan barier pelembab seperti jeli petrolium untuk mencegah ekskoriasi. c) Jika sumbu atau gulungan kasa kecil telah dimasukkan kedalam telinga setelah pembedahan :  Jaga agar kasa atau sumbu tersebut cukup longgar untuk memungkinkan keluarnya drainase dari telinga karena infeksi dapat berpindah keprosesus mastoideus  Jaga agar sumbu tersebut tidak basa ketika mandi atau berkeramas. selang plastik berbentuk kumparan ) jatuh keluar dari kanal telinga. e) Memberi tahu praktisi bila grommet ( biasanya kecil. g) Jelaskan pada keluarga tentang komplikasi OM yang potensial yang dapat terjadi karena pengobatan yang tidak adekuat :  Kehilangan pendengaran konduktif  Perforasi. seperti meningitis . d) Jelaskan penggunaan penyumbat telinga jika dianjurkan oleh dokter. jika sedang memakai selang kontaminasi ketelinga tengah ketika berenang atau mandi. Pasien etap bebas dari infeksi  Keluarga mematuhi petunjuk Sasaran pasien 2 : pasien tidak mengalami komplikasi penyakit atau modalitas tindakan Intervensi keperawatan/rasional Melihat sasaran sebelumnya a) Bersihkan kanalis eksternal dari drainase dengan usapan kapas steril atau lidi kapas yang dimasukkan kedalam larutan salin normal atau hidrogen peroksida. jaringan parut gendeng telnga  Mastoiditis ( inflamasi sistem sel udara mastoideus )  Kolesteatoma ( lesi seperti kista yang dapat masuk dan merusak struktur auditorius sekitarnya )  Infeksi intrakranial. f) Jelaskan bahwa hal ini normal dan tidak memberikan intervensi yang segera. b) Jika drainase-nya banyak. putih.

Hasil yang diharapkan Pasien sembuh dari infeksi dan atau pembedahan tanpa komplikasi. d) Bicara lebih keras. dan menghadap ke pasien. Hasil yang diharapkan Keluarga mendemonstrasikan pemahaman tentang prosedur.h) Jelaskan tentang pencegahan ketidaknyamanan telinga selama perjalanan dengan pesawat :  Spray pengerut mukosa nasal atau dekongestan oral dapat diberikan bila anak mengalami ISPA  Ketika turun dari pesawat dan makan. c) Beri tahu keluarga bahwa pasien tidak mengabaikan mereka tau salah berperilaku. termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap bunyi di lingkungan. Sasaran pasien ( keluarga ) 2 : keluarga menjukkan perilaku koping yang positif terhadap pasien Intervensi keperawatan / rasional a) Jelaskan bahwa kehilangan pendengaran sementara adalah hal yang umum pada OM karena keluarga mungkin tidak menyadari hal ini. e) Dorong evaluasi lebih lanjut bila kehilangan pendengaran bersifat menetap melewati tahap akut dari penyakit tersebut. kehilangan pendengaran sementara Sasaran pasien ( keluarga ) 1 : pasien ( keluarga ) mendapatkan dukungan yang adekuat Intervensi keperawatan / rasional Bila tepat. siapkan keluarga untuk prosedur pembedahan (miringotomi). atau permen karet. . pada jarak lebih dekat. Pasien tetap nyaman selama perjalanan dengan pesawat 3) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit dan hospitalisasi pasien. berikan air. b) Beri tahu keluarga tentang kemungkinan perubahan perilaku pada saat kehilangan pendengaran. Gunakan kesabaran ketika berkomunikasi dengan pasien. pasien mungkin tidak menyadari ketika sedang diajak bicara.

Perforasi atik.com/2012/04/askep-perforasi-membran-timpani. Virulensi kuman tinggi. Konsistensinya bisa encer atau kental. Kavum timpani basah atau kering.Hasil yang diharapkan Keluarga menunjukkan perilaku koping yang posiif terhadap pasien. Kuman. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. Higiene. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah. Otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang. Letak perforasi di pars flaksida membran timpani. Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. yaitu : Otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna / mukosa / aman. Terapi lambat diberikan atau terapi tidak adekuat. Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. Jenis otitis media supuratif kronik (OMSK). Sekret keluar dari kavum timpani. Daya tahan tubuh rendah akibat gizi kurang. http://alam414m. Otitis media supuratif kronik (OMSK) aktif.blogspot. Orang awam biasa menyebutnya congek.html Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Oleh : Muhammad al-Fatih II Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah otitis media yang berlangsung lebih 2 bulan karena infeksi bakteri piogenik dan ditandai oleh perforasi membran timpani dan pengeluaran sekret. Tabel Perbedaan Antara Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna & Maligna . Otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna / tulang / bahaya. Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan kelanjutan dari otitis media supuratif sub akut dan otitis media supuratif akut (OMA). Pertahanan. Perforasi marginal. Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. Higienitas yang buruk. Keluarga mencari perawatan kesehatan yang tepat untuk pasien. yaitu : Perforasi sentral (sub total). Hal ini disebabkan oleh : Terapi. Dulu kita kenal sebagai otitis media perforata (OMP).

Mencegah komplikasi dan kerusakan pendengaran yang lebih berat. Masalah ini dapat disebabkan : Perforasi membran timpani. Status gizi dan higiene pasien yang kurang. Sering terjadi komplikasi yang berbahaya. Memperbaiki perforasi membran timpani dan fungsi pendengaran. hidung dan sinus paranasalis. Juga hindari pemberiannya pada otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang. Proses peradangan tidak terbatas pada mukosa. Miringoplasti dan timpanoplasti kita lakukan jika sekret telah kering namun perforasi membran timpani masih ada. Lanjutkan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik & kortikosteroid setelah sekret yang keluar telah berkurang. Proses peradangan tidak mengenai tulang. Proses peradangan mengenai tulang. Perforasi membran timpani tipe sentral. yaitu : . Selain terapi konservatif (medikamentosa). Hal ini disebabkan semua antibiotik tetes telinga bersifat ototoksik. Diantaranya membutuhkan waktu yang lama. Perforasi membran timpani paling sering tipe marginal & atik. Bahannya H2O2 3%. Berikan selama 3-5 hari. Perforasi membran timpani yang permanen menyebabkan telinga tengah terpapar langsung & terus-menerus oleh dunia luar. yaitu : Obat pencuci telinga. Jangan berikan selama lebih 1-2 minggu secara berturut-turut. Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) tergantung dari jenisnya. Sumber infeksi yang masih ada dapat terjadi pada nasofaring. Tujuannya antara lain : Menghentikan infeksi permanen. faring. Berikan eritromisin jika pasien alergi terhadap golongan penisilin. Kolesteatoma tidak ada. Prinsip terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna dengan cara konservatif (medikamentosa) sedangkan otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna dengan cara pembedahan.Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Maligna Proses peradangan terbatas pada mukosa. Berikan antibiotik oral golongan ampisilin atau eritromisin sebelum hasil tes resistensi obat kita terima. Tanda yang menunjukkan adanya sumber infeksi. Pengobatan ini kita berikan bila sekret telinga keluar terus-menerus. Terapi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) memiliki beberapa kesulitan. Kolesteatoma ada. sekret yang keluar tidak cepat kering dan sekret yang selalu kambuh. Gizi & higiene. Obat tetes telinga. Sumber infeksi. Jaringan patologik yang ireversibel telah terbentuk dalam rongga mastoid. Kadang-kadang tipe sub total (sentral) dengan kolesteatoma. Jaringan patologik. Obat antibiotik. Tindakan ini disebut miringoplasti atau timpanoplasti. Berikan ampisilin asam klavulanat bila terjadi resistensi ampisilin. Jarang terjadi komplikasi yang berbahaya. tindakan pembedahan dapat pula kita lakukan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. gejala sering berulang. Ada 3 cara terapi konservatif (medikamentosa) otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. Juga setelah kita melakukan observasi selama 2 bulan.

http://thtkedokteran.Sekret masih ada. Hidung.html . Pembedahan : adenoidektomi & tonsilektomi. yaitu : Pengobatan. dr.THT & Prof. ke-5. Infeksi berulang.blogspot. Sp. Efiaty Arsyad Soepardi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.THT (editor). H. Tenggorok. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Kepala & Leher. Nurbaiti Iskandar. Cara mengatasi sumber infeksi. H. Daftar Pustaka Sosialisman & Helmi. Jika abses subperiosteal retroaurikuler ada. lakukan insisi abses diwaktu yang berlainan. sebelum melakukan operasi mastoidektomi. Tindakan pembedahan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna yang sering dilakukan yaitu mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Sp. Adapun terapi konservatif (medikamentosa) hanya bersifat sementara dan kita berikan sebelum melakukan tindakan pembedahan. dr. Ed.com/2010/06/otitis-media-supuratif-kronik-omsk.

Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar. tuba eustacheus. Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh . serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit. vomiting. tinitus dan vertigo. anoreksia. hilangnya pendengaran. dan sel-sel mastoid. a. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. yang ditandai dengan nyeri. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. iritabilitas. 2013 [6] comments Definisi Otitis adalah radang telinga.OTITIS MEDIA Emirza Nur Wicaksono Maret 27. bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen. demam. letargi. dan media berarti tengah. antrum mastoid. antara lain : demam. Otitis berarti peradangan dari telinga.

Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis. Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). dan teori implantasi. yaitu: 1. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. 2. infeksi saluran nafas atas. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. yang menonjol biasanya disertai nyeri. b. teori migrasi. otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tanda-tanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga. disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. atau gendang telinga yang berlubang. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. biasanya tidak mengenai tulang.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. teori metaplasi.bakteri pada ruang udara pada tulang temporal. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. dan mampu berangiogenesis.Orang awam biasanya menyebut congek OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses . destruksi. gendang telinga. secara khas untuk sedikitnya satu bulan. Demam dapat hadir. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi). campuran bakteri aerob dan anaerob. Otitis Media Kronis Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius. Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek.

Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. tuli saraf berat unilateral. bisa antero-inferior. postero-inferior dan postero-superior. Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi).pembusukan bakteri. Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi). Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom.1. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa.2 b. 3. Terbentuk setelah perforasi membran timpani. Kolesteatom kongenital. umumnya pada apeks petrosa. kadangkadang sub total. meningitis dan abses otak. Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh. Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya. 2.2  Secondary acquired cholesteatoma. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani. dan gangguan keseimbangan. 2. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus. . Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan.

Coli. Bisa juga disebabkan karena bakteri. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. Kuman anaerob : Alergi. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. b. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Penyebab OMK antara lain: 1. Albus. Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi). Etiologi a. E. diabetes melitus. 2. Stapilococcus. Gram Negatif : Proteus spp. Gram Positif : S. Diplococcus pneumonie. dan tempat tinggal yang padat. S.3. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika). diet. Streptococcus pyogenes. dan Moraxella catarrhalis. Genetik . Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. Psedomonas spp. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis. Otitis Media Akut Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). Hemophylus influenzae. Hemopilus influens. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. TBC paru. antara lain:        Streptococcus. Pyogenes.

Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. 3. Riwayat otitis media sebelumnya Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-), flora tipe usus, dan beberapa organisme lainnya. 5. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. 6. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK. 7. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. 8. Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:
 

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi.

 

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.

Patofisiologi a. Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. b. Otitis Media Kronis

Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan tubuh, lingkungan, dan social ekonomi. Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis, tonsillitis, rhinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani, maka terjadi inflamasi. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah, biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang, tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen, mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. Berenang, kemasukan benda

yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen. Manifestasi Klinis a. Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. Stadium oklusi tuba Eustachius

Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. 2. Stadium hiperemis (presupurasi)

Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. 3. Stadium supurasi

Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga bertambah hebat.Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur. 4. Stadium perforasi

Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak. 5. Stadium resolusi

Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.Pada bayi dan anak kecil gejala khas

berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1. Gejalanya bervariasi. Bila terus menerus kambuh. akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani. sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. gelisah. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas. OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . tiba-tiba menjerit saat tidur. Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. 1. suhu tubuh akan turun dan anak tertidur. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal. kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil. Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. sulit tidur. Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . berwarna putih mengkilat. b. . Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1.5 derajat celsius). kejang. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri.otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. diare. ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar.

Untuk mengetahui organisme penyebabnya. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Jika terjadi resistensi. dan antipiretik.5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. b. Stadium Presupurasi Diberikan antibiotik. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0. 2.25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga).Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. dekongestan lokal atau sistemik. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. Stadium Oklusi Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga. 2. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas. Sumber infeksi lokal harus diobati. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. . Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Pemeriksaan Diagnostik a. dengan pemberian antibiotik. sebaiknya dilakukan miringotomi. 1. Penatalaksanaan a. obat tetes hidung dan analgesik. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani.

Pemberian Antibiotik 1. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Stadium Resolusi Membran timpani berangsur normal kembali. Bila tidak. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. 5. Jika gejala tidak membaik dalam 4872 jam atau ada perburukan gejala. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. observasi jika gejala ringan Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua . mungkin telah terjadi mastoiditis. kadang secara berdenyut. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. termasuk berkurangnya pendengaran. Stadium Supurasi Selain antibiotik.gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. 3. 4. 2. observasi jika gejala ringan Observasi 2 thn Antibiotik jika gejala berat. Stadium Perforasi Terlihat sekret banyak keluar. dan perforasi menutup. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan. pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi. antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. a. 3. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. sekret tidak ada lagi. Bila tetap. antibiotik diberikan. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat.

Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim. follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. .Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam.        Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi. AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi. kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. atau cefuroxime.tahun. . Untuk dapat memilih observasi. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin. . Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik. pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari.Pada alergi berat terhadap amoxicillin. cefpodoxime. dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.10 Menurut BMJ. walaupun dapat membunuh lebih banyak jenis bakteri. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. memiliki risiko yang lebih besar. Antibiotik dengan spektrum luas. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang . Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. . .Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil.Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillin-clavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat.Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin . pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. dirawat seharihari di daycare. sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir. antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillinclavulanate.

anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari. perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia).Pada usia enam tahun ke atas.Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat.resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. Cairan yang keluar harus dikultur. . Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup. Bila didiagnosis kolesteatom. 1. Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak. Di Inggris. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. Karenanya. dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi. Menurut Nursiah. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. Otitis Media Kronis Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. OMK BENIGNA . Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen.Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua. . Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. b. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. c. b. . tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. maka mutlak harus dilakukan operasi.

kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. 2. b. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid.timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping). Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. Pemberian antibiotik topikal Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. misalnya asam boric dengan Iodine. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. • Toilet telinga secara basah ( syringing). Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan . dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi.a. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril.

Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. Selain itu dikatakannya. tetapi resisten terhadap gram positif. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. Seperti aminoglokosida yang lain. Koli Klebeilla. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. Pseudomonas. Polimiksin B atau polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga.dulu. Proteus. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. baik pada anak maupun dewasa. yang akan menyebabkan ototoksik. fragilis Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. khususnya B. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. . B. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. c. polimiksin dan hidrokortison. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. 1984). adalah tidak efektif. Terramycin. Asidum borikum 2. Enterobakter. E.

90% Klebsiella. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. Makin tinggi kadar obat. 99% Stafilokokus. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. 3. Koli. Bila terjadi kegagalan pengobatan . Dalam pengunaan antimikroba. Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif. 95% Stafilokokus group A. misalnya golongan beta laktam.53% 3. Proteus sp. 96% Proteus sp. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. membaik 8. koagulase positif. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. koagulase positif. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan.96% sembuh. dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba.2. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. 60% Proteus mirabilis. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. 92% Enterobakter. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. makin banyak kuman terbunuh. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah  Kuman aerob Antibiotik sistemik .69% dan tidak ada perbaikan 4. misalnya : Stafilokokus aureus. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya . Toksik terhadap ginjal dan telinga. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh. 93% Pseudomonas. 100% E.

sefalosforin. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P. Koli Ampisilin atau sefalosforin S. 2001): • Mastoidektomi sederhana Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. meskipun dapat mengatasi OMK. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. tetapi harus diberikan secara parenteral. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. 2. eritromisin Aminoglikosida B. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob.           Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. baik tipe benigna atau maligna. eritromosin. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. Bila terdapat abses subperiosteal. aminoglikosida Streptokokus Penisilin. Sefalosforin. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. antara lain (Soepardi. • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) .

Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan. Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak . Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani.Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. tetapi belum merusak kavum timpani. Komplikasi a. Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). III. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. IV dan V. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II.

Parese nervus fasialis. . .Vertigo (perasaan berputar) . erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a.Petrositis. Komplikasi Intratemporal .Tuli yang terjadi secara mendadak . b.Perforasi membrane timpani. .Demam dan menggigil. . 5. . Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi. 2. tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1.Labirinitis. 4.Mastoiditis akut.Tanda-tanda terjadinya komplikasi: .Sakit kepala . 3.

.Empiema subdural/ ekstradural Prognosis a. .Abses otak. Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti. c. sehingga penutupan membrane timpani disarankan. ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) OMA DAN OMK BAB I PENDAHULUAN .b. Komplikasi Ekstratemporal. . OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis. otorea dapat mongering.Abses subperiosteal. Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local.Hidrocephalus otikus. prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal. Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air.Tromboflebitis. b. . abes otak. . Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ). Komplikasi Intrakranial.

3.1. maka diagnosis dini yang tepat dan pengobatan secara tuntas mutlak diperlukan guna mengurangi angka kejadian komplikasi dan perkembangan penyakit menjadi otitis media kronis. 2.1. 6. 2009. Prevalensi terjadinya otitis media di seluruh dunia untuk usia 10 tahun sekitar 62 % sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83 %. : Menjelaskan asuhan keperawatan dengan klien OMA dan OMK : Menjelaskan Konsep dasar dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan definisi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan etiologi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan patofisiologi OMA dan OMK Menjelaskan manifestasi klinis OMA dan OMK Menjelaskan pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK Menjelaskan komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK 1. diperkirakan 75 % anak mengalami minimal 1 episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya 3 kali atau lebih. 5. Di Inggris. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun Mengingat masih tingginya angka otitis media pada anak-anak.2 Rumusan Masalah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Apa yang dimaksud dengan OMA dan OMK? Bagaimana Etiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana patofisiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana manifestasi klinis pada OMA dan OMK ? Bagaimana pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK ? Bagaimana komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK ? Bagaimana asuhan keperawatan pada OMA dan OMK ? 1. setidaknya 25 % anak mengalami minimal 1 episode sebelum usia 10 tahun ( Abidin.1 Latar Belakang Otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. 4. Di Amerika Serikat. 1.Tujuan Tujuan Umum Tujuan khusus 1.4 Manfaat .

Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. yang menonjol biasanya disertai nyeri. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. demam. tuba eustacheus.1 Definisi Otitis adalah radang telinga. antara lain : demam. dan media berarti tengah.2009 ) 2. Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar. yang ditandai dengan nyeri.2 Otitis Media Kronis . Mengetahui asuhan keperawatan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1990) Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah (mediastore. antrum mastoid. gendang telinga.1. otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tandatanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun. 2004 ) Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek. iskandar . Otitis berarti peradangan dari telinga. 2. letargi. bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen.1. dan sel-sel mastoid/( soepardi. tinitus dan vertigo. iritabilitas. edisi 3 . anoreksia. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia. 1999). Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada tulang temporal (CMDT. hilangnya pendengaran.1 Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu (Kapita selekta kedokteran.Manfaat yang dapat diambil sebagai berikut : 1. serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit. Demam dapat hadir. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. atau gendang telinga yang berlubang. Mengetahui Penatalaksaan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis 2. vomiting.

Kolesteatom kongenital. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius. umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. dan teori implantasi. . metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. 2007) OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe.Orang awam biasanya menyebut congek (Alfatih. Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). meningitis dan abses otak. Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga ( warmasif. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet. secara khas untuk sedikitnya satu bulan. Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. 2009) Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih.Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi). teori migrasi. teori metaplasi. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses pembusukan bakteri. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik. yaitu: 1. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. 2. campuran bakteri aerob dan anaerob. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. biasanya tidak mengenai tulang. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu. disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. dan mampu berangiogenesis. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. destruksi. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi. infeksi saluran nafas atas.

2. 2.2  Secondary acquired cholesteatoma.2 b. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya.Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1. 3. Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. kadangkadang sub total. Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. tuli saraf berat unilateral. Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi). postero-inferior dan postero-superior. Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. 2. bisa antero-inferior. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma. Terbentuk setelah perforasi membran timpani. Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1.1 Otitis Media Akut . dan gangguan keseimbangan. 3. umumnya pada apeks petrosa. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi).1. Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma. 2. Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total.2 Etiologi 2. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal.

Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. Psedomonas spp. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah.2 Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi) (Mediastore. E. 3. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. Pyogenes. Coli. Bisa juga disebabkan karena bakteri. Diplococcus pneumonie. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas.2009).Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). Genetik Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini. Hemophylus influenzae. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis. S. Streptococcus pyogenes. Gram Positif : S. Riwayat otitis media sebelumnya . hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika). antara lain:        Streptococcus. 2. Gram Negatif : Proteus spp. diabetes melitus. dan tempat tinggal yang padat. Stapilococcus. TBC paru.2. tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. diet. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media. Kuman anaerob : Alergi. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. Penyebab OMK antara lain: 1. Albus. terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. 2. Hemopilus influens. dan Moraxella catarrhalis.

Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:     Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. 7. Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. dan beberapa organisme lainnya. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi. 8. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah. 5. 6. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. flora tipe usus. namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya. tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. . Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-). Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani.Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi.

Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang. biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. 2. Jika lendir dan nanah bertambah banyak. mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah. gangguan fungsi tuba. Saat bakteri melalui saluran Eustachius. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah. lingkungan. rhinitis. Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis.3. cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri. Dan yang paling berat. maka terjadi inflamasi. mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. alergi. tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi. tonsillitis. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri.2.2 Otitis Media Kronis Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. sinusitis). Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Berenang. kekebalan tubuh.1 Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. dan social ekonomi.3.3 Patofisiologi 2. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen. kemasukan benda yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani. . tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi.

Stadium oklusi tuba Eustachius Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah.5 atau 2 bulan. 3. Stadium hiperemis (presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema.4 Manifestasi Klinis 2. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. 4. didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.Apabila tekanan tidak berkurang.Pada bayi dan anak kecil gejala khas . dan dapat tidur nyenyak.4. 1. 1. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang.Pasien tampak sangat sakit.2. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi. Stadium perforasi Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. suhu badan turun. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. 1. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1. 1. akan terjadi iskemia.Pada orang dewasa. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. Di tempat ini akan terjadi ruptur. 5. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. nadi dan suhu meningkat. Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. serta nyeri di telinga bertambah hebat. tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. 1. Stadium supurasi Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.Pada anak.1 Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. 2. dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Kadang berwarna normal atau keruh pucat.

2. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya .2 Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1. tiba-tiba menjerit saat tidur. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . Setelah terjadi ruptur membran tinmpani. Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena . suhu tubuh akan turun dan anak tertidur. berwarna putih mengkilat. Gejalanya bervariasi. sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil.otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna.5 derajat celsius). ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang. Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit.4. diare. kejang. kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. 1. dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. gelisah. sulit tidur.

telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. Bila terus menerus kambuh, akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip, yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. 2. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik 2.5.1 Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. 2.5.2 Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Untuk mengetahui organisme penyebabnya, dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. 2.6 Penatalaksanaan 2.6.1 Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. 1. 1. Stadium Oklusi

Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. 1. 2. Stadium Presupurasi

Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan

asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. 1. 3. Stadium Supurasi

Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. 1. 4. Stadium Perforasi

Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. 1. 5. Stadium Resolusi

Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap, mungkin telah terjadi mastoiditis. a. Pemberian Antibiotik 1. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. 2. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran. 3. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotik diberikan. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th 2 thn Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Observasi

Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua

tahun. Untuk dapat memilih observasi, follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.10 Menurut BMJ, pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin.

  

 

Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun, dirawat sehari-hari di daycare, dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa, sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillin-clavulanate.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillinclavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.

ü Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime. ü Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin ü Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim. ü Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. ü Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil, pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. ü Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Antibiotik dengan spektrum luas, walaupun dapat membunuh lebih banyak

Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia).2 Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. ü Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat. perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. ü Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. ü Pada usia enam tahun ke atas. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. Cairan yang keluar harus dikultur. . Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. Di Inggris.jenis bakteri. dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi. Karenanya. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi.6. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. maka mutlak harus dilakukan operasi. memiliki risiko yang lebih besar. Otitis Media Kronis 2. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua. Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak. Bila didiagnosis kolesteatom. Menurut Nursiah. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari. c. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. b. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen.

air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. • Toilet telinga secara basah ( syringing). Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. OMK BENIGNA a. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. b. 1979).timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. Pemberian antibiotik topikal . Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping). 2. 1981). kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. misalnya asam boric dengan Iodine. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril. Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid ( Beasles.1. karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme ( Fairbank. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik.

Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. adalah tidak efektif. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob. Selain itu dikatakannya. Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. yang akan menyebabkan ototoksik. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. 1984). Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. baik pada anak maupun dewasa. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. Asidum borikum 2. Terramycin. khususnya B. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. fragilis ( Fairbanks. 1984). Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. c. Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks. Polimiksin B atau polimiksin E . Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. polimiksin dan hidrokortison. Seperti aminoglokosida yang lain. Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum.Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1.

96% Proteus sp. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Koli Klebeilla. Enterobakter. Dalam pengunaan antimikroba. Pseudomonas. 3. membaik 8. 2. koagulase positif. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. 93% Pseudomonas. Makin tinggi kadar obat. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. E. Toksik terhadap ginjal dan telinga.Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif. 95% Stafilokokus group A. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh. Koli. Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. 100% E.96% sembuh. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya . 90% Klebsiella. makin banyak kuman terbunuh. koagulase positif. . kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Bila terjadi kegagalan pengobatan . Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. 92% Enterobakter. Proteus sp.69% dan tidak ada perbaikan 4. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. B. tetapi resisten terhadap gram positif. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. 60% Proteus mirabilis. Proteus. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88. misalnya : Stafilokokus aureus. dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif.53% 3. misalnya golongan beta laktam. 99% Stafilokokus.

antara lain (Soepardi. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Koli Ampisilin atau sefalosforin S. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P. Sefalosforin. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob.Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah Kuman aerob Antibiotik sistemik Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. 2001): • Mastoidektomi sederhana . dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. Bila terdapat abses subperiosteal. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. tetapi harus diberikan secara parenteral. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. aminoglikosida Streptokokus Penisilin. baik tipe benigna atau maligna. 2. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. sefalosforin. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. meskipun dapat mengatasi OMK. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. eritromisin Aminoglikosida B. eritromosin.

Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. . Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma. yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. tetapi belum merusak kavum timpani. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. IV dan V. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. III.Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif.

7. 3. erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid .7 Komplikasi 2.1 Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak Tanda-tanda terjadinya komplikasi: v Sakit kepala v Tuli yang terjadi secara mendadak v Vertigo (perasaan berputar) v Demam dan menggigil. tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1.2. 4.2 Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi.7. 2. 2. 5.

.Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a. . .Abses subperiosteal. . .Abses otak.Perforasi membrane timpani.Hidrocephalus otikus.Tromboflebitis. Komplikasi Intrakranial. Komplikasi Intratemporal . Komplikasi Ekstratemporal. . . . c. b. .Mastoiditis akut.Parese nervus fasialis.Petrositis.Labirinitis.

OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis. 2.1 Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ). riwayat OMA berkurang. gentamisin ). otorea dapat mongering. agama.8 Prognosis 2. abes otak. umur. alamat Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga.2 Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local.1 Pengkajian 1.8. pendidikan. peniti untuk membersihkan telinga Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang. pekerjaan. riwayat alergi. Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti. suku/bangsa.Empiema subdural/ ekstradural 2. riwayat penggunaan obat( sterptomisin. penggunaan minyak. sehingga penutupan membrane timpani disarankan. riwayat operasi .. Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air.8. Pengumpulan Data    Identitas Pasien : Nama pasien. salisilat. prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal. kapas lidi. kuirin. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan Keperawatan pada Otitis Media Kronis 3.

keluarnya otore B2 ( Blood ) B3 (Brain) refleks kejut B5 (Bowel) B6 (Bone) : Nadi meningkat : Nyeri telinga. Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran 3. anestesi. pusing.Tes suara bisikan. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan 3. sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik 2. Aktivitas terbatas 3. infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran 4. prognosis.2 Diagnosa Keperawatan 1. alergi 3. Xray : terhadap kondisi patologi. perasaan penuh dan pendengaran menurun. kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. Pemeriksaan pendengaran . kekaburan mastoid 5. Pengkajian Persistem Tanda-tanda vital : Suhu meningkat.3 Intervensi dan Rasional . 5. otore berbau busuk 6. Nyeri otore berpengaruh pada interaksi 2. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri . Takut menghadapi tindakan pembedahan 4. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan 2. diagnosis. Cemas berhubungan dengan prosedur operasi. Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami penyakit telinga. tes garputala 3. vertigo. : Nausea vomiting : Malaise. nyeri. Tes audiometri : pendengaran menurun b. Pengkajian Psikososial 1. hilangnya fungsi. Pemeriksaan diagnostik a. misal kolestetoma.

klien mampu melakukan metode pengalihan suasana Intervensi Keperawatan: ü Ajarkan klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode relaksasi saat nyeri yang teramat sangat muncul. berbicara dengan jelas pada telinga yang baik Intervensi keperawatan: ü Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien. relaksasi seperti menarik napas panjang Rasional : Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa mengurangi nyeri yang diderita klien ü Kompres dingin di sekitar area telinga Rasional : Kompres dingin bertujuan mengurangi nyeri karena rasa nyeri teralihkan oleh rasa dingin di sekitar area telinga ü Atur posisi klien Rasional : Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman ü Untuk kolaborasi. beri aspirin/analgesik sesuai instruksi. Rasional: Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien ü Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal. bahasa lambang. menerima pesan melalui metode pilihan ( misal: komunikasi lisan. beri sedatif sesuai indikasi Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam 2. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ). berbicara. a. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga. berbicara dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik .1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien berkurang rasa Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang. bahasa isyarat. seperti : tulisan.

Bicara dengan jelas menghadap individu b.Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas . ü Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman a.. Ulangi jika kilen tidak memahami seluruh isi pembicaraan c. Jika klien dapat membaca ucapan: .Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu . Alamatkan semua komunikasi pada klien. Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dair ya dan tidak Rasional : Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat secara tepat. 3. Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien .Dekati klien dari sisi telinga yang baik b. Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi. Jika ia hanya mampu berbahasa isyarat. sediakan penerjemah. tidak kepada penerjemah. Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi d.Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya d.Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan komunikasi tertulis . infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran Tujuan : Persepsi / sensoris baik Kriteria hasil : Klien akan mengalami peningkatan persepsi / sensoris pendengaran sampai pada tingkat fungsional Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat .Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda c. Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara pada klien dengan mengabaikan keberadaan penerjemah Rasional : Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat diterima dengan baik oleh klien.

kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya ü Berikan informasi tentang kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien Rasional : Dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien ü Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia yang dapat membantu klien Rasional : Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada di sekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi . justru malah menimbulkan ketidakkepercayaan klien terhadap perawat. nyeri. ü Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh Rasional : Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif. anestesi. diagnosis. hilangnya fungsi. prognosis. maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi ü Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut Rasional : Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengaran rusak secara permanen ü Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik ( baik itu antibiotik sistemik maupun lokal ) Rasional : Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut 4.Rasional : Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan / ketulian. Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien mampu mengungakpkan ketakutan / kekhawatirannya Intervensi keperawatan : ü Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi Rasional : Harapan-harapan yang tidak realistik tidak dapat mengurangi kecemasan. pemakaian serta perawatannya yang tepat. Cemas berhubungan dengan prosedur operasi.

5. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri . ü Tekankan hal-hal yang penting yang perlu ditindak lanjuti / evaluasi pendengaran. Rasional : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat meningkatkan pemahaman klien sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan kekambuhan. ( BAB IV PENUTUP . ü Yakinkan klien bahwa setelah dilakukan pengobatan / pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang Rasional : Klien akan kooperatif / berpartisipasi dalam persiapan pembedahan tympanoplasti ) dan akan mulai mengajak bicara dengan perawat dan keluarga 6. ü Beritahu komplikasi yang mungkin timbul dan bagaimana cara melaporkannya Rasional : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada klien dapat membantu klien dan keluarga untuk melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga dapat dengan cepat ditangani. Rasional : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan. otore berbau busuk Tujuan : Tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Kriteria Hasil : Klien tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Intervensi keperawatan : ü Bina hubungan saling percaya Rasionalisasi : hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial. Kriteria hasil : Klien paham mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinyu sesuai aturan. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Tujuan : Klien akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara pencegahan kekambuhan.

Adams.id(10 September 2009) Rothrock. karena adanya perluasan infeksi di daerah auries media.ac.1997.Buku Ajar Penyakit THT. Akan tetapi. Taufik. 4.2 Saran Hendaknya dilakukan uji kultur pada pasien untuk mengetahui jenis bakteri yang menginfeksi dan untuk pemberian antibiotik yang tepat. maka pasien akan mengalami otitis meda akut.4.Edisi 10. Otitis media akut yang tidak diobati secara tuntas dapat berlanjut menjadi Otitis media Kronik yang ditandai denagn adanya perforasi pada membran tympani.1 Kesimpulan Dalam kasus ini .EGC:Jakarta Abidin.(2000). DAFTAR PUSTAKA Carpenito. pada awalnya pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan tonsilitis.2006.http:/library.J.2009.Otitis Media Akut.EGC:Jakarta George L.Buku Saku Diagnosis Keperawatan.Perencanaan Asuha .usu.Lynda Juall. C.Edisi 6.

Kolesteatoma dapat terjadi di kavum timpani dan atau mastoid5. B. Kolestatoma masih penyebab umum tuli konduksi sedang dan permanen pada anak-anak dan dewasa3. A. Sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi pada sistem syaraf pusat3. intervensi pembedahan dan terapi suportif antibiotik. Kematian karena komplikasi intrakranial kini tidak umum terjadi disebabkan deteksi dini. Etiologi Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik . Definisi Kolesteatom adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin)4. Meskipun kolesteatoma bukan lesi neoplasma tetapi dapat berbahaya pada penderita1. Istilah kolesteatoma diperkenalkan pertama kali oleh Johanes Muller pada tahun 1838 untuk menjelaskan kolesteatoma sebagai dikira sebagai neoplasma lemak di antara sel-sel polihedral1. mastoid2 atau apex petrosus. Apabila terbentuk terus dapat menumpuk sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar4.Kolesteatoma adalah deskumulasi non neoplasma sel epitel kulit pada cavum timpani. Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. Kolesteatoma telah dikenal sebagai lesi bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal. Insidensi kolesteatoma tidak diketahui dengan pasti. tetapi keadaan ini merupakan alasan untuk dilakukan bedah telinga.

Teori imigrasi Kolesteatoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah4. setelah blust injury.karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. kolesteatoma adalah epitel kulit yang berada pada tempat yang salah atau menurut pemahaman Djaafar (2001) kolesteatoma dapat terjadi karena adanya epitel kulit yang terperangkap. teori imigrasi. teori metaplasi dan teori implantasi. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara 6. Perforasi telinga tengah yang disebabkan oleh infeksi kronik atau trauma langsung dapat menjadi kolesteatoma. ketika menelan atau menguap. 4. 1. Kulit pada permukaan membran timpani dapat tumbuh melalui perforasi tersebut dan masuk ke dalam telinga tengah7. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. Kantong tersebut menjadi kolesteatoma. Beberapa pasien dilahirkan dengan sisa kulit yang terperangkap di telinga tengah (kolesteatoma kongenital) atau apex petrosis7. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. Teori implantasi Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatom terjadi akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. 3. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi. 2. migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin8. antara lain adalah: teori invaginasi. Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma 4. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang . yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. C. Patogenesis Banyak teori dikemukakan oleh para ahli tentang patogenesis kolesteatoma. Teori invaginasi Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba 4. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi 4 Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah7. Kolestoma kongenital dapat terjadi ditelinga tengan dan tempat lain misal pada tulang tengkorak yang berdekatan dengan kolesteatomanya 6. Sebagaimana diketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamosus epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar. Teori metaplasi Terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama4 . Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar6. Teori tersebut akan lebih mudah dipahami bila diperhatikan definisi kolesteatoma menurut Gray (1964) yang mengatakan.

Perasaan sakit dibelakang atau didalam telinga dapat dirasakan terutama pada malam hari sehingga dapat menyebabkan tidak nyaman pada pasien6. kolestetoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif ditelinga tengah akibat gangguan tuba (teori invaginasi) 4 . matriks dan perimatrik. yang terbentuk pada masa embrionik dan ditemukan pada telinga dengan membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. Kolestetoma akuisital sekunder kolestetoma terbentuk setelah adanya perforasi membrana timpani. osikula.diperhebat dengan adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. Perasaan penuh Kantong kolesteatoma dapat membesar sehingga dapat menyebabkan perasaan penuh atau tekanan dalam telinga. kolestetoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah (teori immigrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama (teori metaplasia) 4 . Lapisan perimatriks merupakan lapisan yang bersentuhan dengan tulang. 2. Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah satu sisi wajah (sisi telinga yang terinfeksi) 6.Kolesteatoma akuisital yang terbentuk setelah anak lahir a. dengan akibatnya hilangnya tulang mastoid. F.Kolesteatom kongenital. Perimatrik atau lamina propria merupakan bagian kolesteatoma yang terdiri atas sel-sel granulasi yang mengandung kristal kolesterol. Histologis Kolesteatoma secara histologis adalah kista sel-sel keratinisasi skuamosa benigna yang disusun atas tiga komponen. 4. Diagnosis 1. Pendengaran berkurang Kolesteatoma dapat tetap asimtomatik dan mencapai ukuran yang cukup besar sebelum terinfeksi atau menimbulkan gangguan pendengaran. Nyeri Pasien mengeluh nyeri tumpul dan otore intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekuder9. meningitis dan abses otak 4 . Klasifikasi Kolesteatoma dapat dibagi menjadi dua jenis: 1. b. G. Gejala Klinis 1. Anamnesis Riwayat keluhan pada telinga sebelumnya harus di selidiki untuk memperoleh gejala awal . bersamaan dengan kehilangan pendengaran 6. 2. dan pembungkus tulang saraf fasialis10. Kolestetoma akuisital primer kolestetoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrana timpani. Jaringan granulasi memproduksi enzim proteolitik yang dapat menyebabkan desktruksi terhadap tulang. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. D. Lokasi kolesteatoma biasanya di kavum timpani. Matriks terdiri atas epitel skuamosa keratinisasi seperti susunan kista. 3.1. E. yaitu kistik. Kistik tersusun atas sel skuamosa keratinisasi anukleat berdiferesiansi penuh. daerah petrosus mastoid atau di cerebellopontin angle 4 .

Diperlukan aural toiletisasi untuk menghilangkan otore. Membran timpani harus diperiksa dengan teliti. 4. Tujuan kedua adanya mengembalikan atau memelihara fungsi . tidak ada riwayat prosedur otologi8. perubahan status mental dan penilaian lainnya yang dapat memberikan petunjuk kearah komplikasi5. 3. Kolesteatoma kongenital di diagnosa pada anak usia pre sekolah. Penilaian umum untuk menghindari terlewatnya penilaian demam.Timpanometri.kolesteatoma.5. keluasan penyakit dan skrening komplikasi asimptomatik8.Radiologi Pemeriksaan radiologi preoperasi dengan CT scan tulang temporal tanpa kontras dalam potongan axial dan koronal8 dapat memperlihatkan anatomi. Akumulasi debris skuamosa dapat dijumpai pada kantongnya. tinitus dan vertigo. Gejala yang sering dikeluhkan adalah otore. ambang penerimaan pembicaraan dan pengenalan kata umumnya dipakai untuk menetapkan tuli konduksi pada telinga yang sakit. Kolesteatoma kongenital yang melibatkan telinga tengah diidentifikasi sebagai massa putih atau seperti mutiara yang letaknya medial terhadap kuadran anteo superior dari membran timpani intak. Kolesteatoma sering ditemukan pada membrana timpani kuadran postero superior dengan membran timpaninya retraksi dan atau perforasi. Otomikroskopi merupakan alat pada pemeriksaan fisik untuk mengetahui dengan pasti kolesteatoma. obstruksi nasal. Terapi awal Terapi awal terdiri atas pembersihan telinga. Terdapat juga perforasi membrana timpani. antibiotika dan tetes telinga. Terapi bertujuan untuk menghentikan drainase pada telinga dengan mengendalikan infeksi 6. sebaiknya dibandingkan dengan pemeriksaan audiometri5. dapat menurun pada penderita dengan perforasi membran timpani8. pemeriksaan mukosa telinga tengah untuk menilai ada atau tidaknya udema. CT scan tidak essensial untuk penilaian preoperasi. Derajat tuli konduksi bervariasi tergantung beratnya penyakit5. kecurigaan abnormalitas kongenital atau kasus kolesteatoma dengan tuli sensorunerual. Tujuan utama pembedahan adalah menghilangkan kolesteatoma secara total. tidak ada riwayat otore atau perforasi sebelumnya. riwayat operasi sebelumnya8. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik terdiri atas pemeriksaan kepala dan leher. Tuli konduksi sedang > 40dB menyatakan terjadinya diskontinuitas ossikula. Pengurangan pendengaran terjadi seiring meluasnya penyakit5. Tes Rinne dan Weber dengan menggunakan garputala 512 Hz didapatkan hasil tuli konduksi. Kolesteatoma akuisital umumnya didiagnosa pada anak dengan usia lebih tua dan dewasa dengan riwayat adanya penyakit telinga tengah. dikerjakan pada kasus revisi pembedahan sebelumnya. Pada kantong dengan retraksi yang awal dapat dipasang timpanostomi8. Retraksi sering terdapat pada attic atau membran timpani kuadran posterosuperior5. 5. Riwayat penyakit dahulu menderita penyakit pada telinga tengah seperti otitis media dan atau perforasi membrana timpani harus ditanyakan.Audiometri Audiometri nada murni dengan konduksi udara dan tulang. dan jaringan granulasi5. dengan perhatian terutama pada pemeriksaan telinga. 2. Terapi pembedahan Kolestoma merupakan penyakit bedah. Penatalaksanaan 1. dapat timbul pada telinga tengah atau dalam membrana timpani. biasanya karena erosi posesus longus incus atau capitulum stapes8. pars placida dan pars tensanya normal. debris atau lapisan kulit sehingga visualisasi dapat lebih jelas. otalgia. H. kehilangan pendengaran unilateral progresif dengan otore yang berbau busuk1. gejala vestibular atau komplikasi lainnya1. otitis media supuratif kronik. 2.

Follow up dilakukan 6 bulan sampai dengan 1 tahun untuk mencegah terjadinya kolesteatoma persisten atau rekurensi3. Tujuan ketiga adalah memeliharan sebisa mungkin penampilan anatomi normal. Pemeriksaan CT tulang temporal diperlukan untuk membantu keterlibatannya. Konseling meliputi penjelasan tujuan pembedahan. memerlukan follow up lebih lanjut dan aural toilet 1. Canal-walldown prosedur memiliki probabilitas yang tinggi membersihkan permanen kolesteatomanya. Pasien yang telah menjalani canal-wall-down prosedure memerlukan follow up tiap 3 bulan untuk pembersihan saluran telinga. Tuli sensorineural Terdapatnya tuli sensorineural menandakan terdapatnya keterlibatan labyrinth1. Bondy Modified Radical Procedure Berbagai macam faktor turut menentukan operasi yang terbaik untuk pasien.pendengaran. Canal Wall Up Procedure (CWU) c. Keluasan penyakit akan menentukan keluasan pendekatan pembedahan1. bahkan pada pasien yang asimptomatik3. konseling preoperatif dianjurkan. Canal-wall-up procedure memiliki keuntungan yaitu mempertahankan penampilan normal. Pasien yang menjalani canal. Resiko rekurensi cukup tinggi sehingga ahli bedah disarankan melakukan tympanomastoidectomi setelah 6 bulan sampai 1 tahun setelah operasi pertama3. Tuli konduksi Tuli konduksi merupakan komplikasi yang sering terjadi karena terjadi erosi rangkaian tulang pendengaran. Tempat umum yang terjadi adalah gangglin genikulatum pada . Kolesteatoma besar atau yang mengalami komplikasi memerlukan terapi pembedahan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Trancanal Anterior Atticotomi d. Paralisis fasialis Paralisis fasialis disebabkan karena hancurnya tulang diatas nervus fasialis 7. Canal Wall Down Procedure (CWD) b. vertigo. tetapi resiko tinggi terjadinya rekurensi dan persisten kolestatoma. Sebagaimana prosedur pembedahan lainnya. 4. Prosedur pembedahan diterapkan pada individu dengan tanda-tanda patologis. Paralisis dapat berkembang secara akut mengikuti infeksinya atau lambat dari penyebaran kronik kolesteatomanya. Kehilangan pendengaran total Setelah operasi sebanyak 3% telinga yang dioperasi mengalami kerusakan permanen karena penyakitnya sendiri aau komplikasi proses penyembuhan. resiko pembedahan (paralisis fasial. Follow up Tiap pasien dimonitor selama beberapa tahun. kehilangan pendengaran). Follow up meliputi evaluasi setengah tahunan atau tahunan. Erosi prosesus lentikular dan atau super struktur stapes dapat menyebabkan tuli konduksi sampai dengan 50dB. Kehilangan pendengaran bervariasi sesuai dengan perkembangan myringostapediopexy atau transmisi suara melalui kantong kolesteatoma ke stapes atau footplate. Rekurensi dapat terjadi setelah pembedahan awal. 2. Tes pendengaran dan keseimbangan. 3. rontgen mastoid dan CT scan mastoid diperlukan. Tes tersebut dilakukan dengan maksud untuk menentukan tingkat pendengaran dan keluasan desktruksi yang disebabkan oleh kolesteatomanya sendiri 6. tinnitus. Komplikasi 1. Prosedur pembedahan meliputi: a. 3.wall-up prosedur umumnya memerlukan operasi tahap kedua selelah 6-9 bulan dari operasi pertama. Pasien harus diberikan penjelasan tentang kemungkinan kehilangan pendengaran total 1. Rangkaian tulang-tulang pendengaran selalu intak1. I.

University of Texas Medical Branch.com/tumors/procedure_one. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid alam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT. http://www. G. M. Dept. Z. Cholesteatoma.emedicine. 3. Cholesteatoma.earsite. L.net/default. Levine. nyeri dan atau demam1. KOLESTEATOMA EKSTERNA Diposkan oleh Taufik Abidin oleh: Taufik Abidin Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin)... 2006. . 1997. Intrakranial Komplikasi intrakranial seperti abses periosteal. No 1. Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar. http://www. http://www.entnet. Adams. Surgery in Cholesteatoma: Ten years Follow-up.Hauptman. 2006. Jakarta. 9.html. 2002. Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johanes Muller pada tahun 1838 karena disangka tumor yang ternyata bukan.. EGC. T.Kennedy.rcsullivan. Makishma. 2001. M. http://www. 2006. Komplikasi intra kranial ditandai dengan gejala otore maladorous supuratif.. Jakarta.com 4.Paparella. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Department of Otolaringology. Jakarta. maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma.Boies.Anonim. L. of Otolaryngology. Cholesteatoma.Djaafar. 5.. Kelainan Telinga Tengah dalam buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 7. 8. S.Anonim. EGC. 2002. 2006.epitimpanicum anterior1. 5.. biasanaya dengan nyeri kepala kronik. R. http://www. American Academy of Otolaryngology.Underbrink. Cholesteatoma: Pathogenesis and Surgical Management. G. DAFTAR PUSTAKA 1.otohns. trombosis sinus lateral dan abses intrakranial terjadi pada 1% penderita kolesteatoma.. UTMB..com/www/ears. S.cfm. M.Ajalloueyan.asp?id=14160. Cholesteatoma. 1999. IJMS Vol 31. Penyakit Telinga Luar dalam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT. Fistula labyrinthin Fistula labyrinthin terjadi pada 10% pasien dengan infeksi kronik dengan kolesteatoma. 6. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama. Middle Ear.Roland. Cholesteatoma.. 6.. 2. 1997. K. Fistula dicurigai pada pasien dengan gangguan tuli sensorineural yang sudah berjalan lama dan atau vertigo yang diinduksi dengan suara atau perubahan tekanan pada telinga tengah1. P.htm.org/index2. A. M. 10. March 2006.

Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Pasien mengeluhkan nyeri tumpul sampai nyeri hebat akibat peradangan setempat dan otorea intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekunder. Terjadinya proses nekrosis diperhebat oleh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. sehingga akan lembab karena menyerap air sehingga mengundang infeksi. Etiologinya belum diketahui. Namun kejadian kolesteatoma sangat jarang terjadi. Erosi bagian tulang liang telinga dapat sangat progresif memasuki rongga mastoid dan kavum timpani. Hal yang terakhir ini disebut sebagai kolesteatoma eksterna.Kolesteatoma diawali dengan penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya kuman. Bila tidak ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga. yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa. Kolesteatoma diduga sebagai akibat migrasi epitel yang salah & periostitis sirkumskripta. juga pada pasien sinusitis. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ disekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. sering terjadi pada pasien dengan kelainan paru kronik. Kolesteatoma pada liang telinga biasanya unilateral. Kolesteatoma mengerosi tulang yang terkena baik akibat efek penekanan oleh penumpukan debris keratin maupun akibat aktifitas mediasi enzim osteoklas. Kolesteatoma eksterna disusun atas epitel gepeng & debris tumpukan pengelupasan keratin. . seperti bronkiektasis.

ZA. tiga kali seminggu sering kali dapat menolong.55-56. Yang penting ialah membuat agar liang telinga berbentuk seperti corong. Kolesteatoma Kolesteatoma adalah suatu kista epithelial yang berisi deskuamasi epitel/keratin. 47-48. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal. Herman. 2006. Kolesteatoma. Patofisiologi / Patogenesis Kolesteatoma.org/proxy/MC-cattails_2006_sepoct_cyst.Penyakit ini dapat dikontrol dengan melakukan pembersihan liang telinga secara periodic misalnya tiap tiga bulan.1. membentuk kista yang merusak struktur telinga dan mengurangi pendengaran.marshfieldclinic. Balai Penerbit FKUI. Balai Penerbit FKUI.. http://www. seperti pada mastoiditis. Deteksi dan pengobatan secara dini pada otitis media dengan memberikan antibiotika akan menurunkan kolesteatoma. Kolesteatoma sangat berbahaya dan merusak jaringan sekitarnya yang dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran. Jakarta. sehingga pembersihan liang telinga secara spontan lebih terjamin.jpg. DAFTAR PUSTAKA Sosialisman. Pada pasien yang telah mengalami erosi tulang liang telinga. Djaafar. Etiologi / Penyebab Kolesteatoma Komplikasi dari Otitis Media Kronis Penatalaksanaan / Penanganan / Pengobatan / Terapi Kolesteatoma Mastoidektomy dapat menghilangkan kolesteatoma . Jakarta. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alcohol atau gliserin dalam perioksida 3%. Keratosis Obliterans Dan Kolesteatoma Eksterna. Sel epitel debris mengumpul dalam telinga bagian tengah. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal. seringkali diperlukan tindakan bedah dengan melakukan tandur jaringan ke bawah kulit untuk menghilangkan gaung di dinding liang telinga. 2006.

KOLESTEATOMA BAB II PEMBAHASAN A.2056) 3. Sedangkan Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari membrane timpani.Labirinitis . umbo. Kesimpulan Telinga adalah salah satu organ pancaindra yang memiliki fungsi yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Glomus jugulare adalah tumor yang timbul dari bulbus jugularis (Brunner & Suddath: 1999. jenis-jenis Massa Telinga Tengah 1. mengarah ke medial. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna/aurikula). Timpanosklerosis adalah timbunan kolagen dan kalsium di dalam telinga tengah yang dapat mengeras di seputar osikulus sebagai akibta infeksi berulang b. kanalis auditorius eksternus dan membran timpani. nervus fasialis (Brunner & Suddath: 1999. bila dilihat dari arah liang telinga berbentuk bundar dan lekung dan gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya.2056) 4. dan jika tidak memungkinkan pembedahan digunakan erapi radiasi.Meningitis . Neuroma nervus fasialis adalah tumor nervus VII.2056) 2.Abses otak MASSA TELINGA TENGAH a. meatus autikus eksternus.Komplikasi Kolesteatoma Komplikasi terjadi apabila sudah terjadi proses nekrosis tulang yakni : . Granuloma kolesterin adalah reaksi system imun terhadap produk samping darah (Kristal kolesterol) di dalam telinga tengah (Brunner & Suddath: 1999. Penatalaksanaan Pada dasarnya semua jenis massa dilakukan pengangkatan massa melalui pembedahan. Definisi .

kolesteatom adalah kista epitelial berisi deskuamasi epitel (keratin). otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah. Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar. Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat.    Merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman  infeksi Infeksi pelepasan sitokin yang menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatoma menjadi hiperproliferatif. ETIOLOGI Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah.bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal. destruktif. C. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi. Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. PATOFISIOLOGI Terdiri dari :    Deskuamasi epitel skuamosa (keratin) Jaringan granulasi yang mensekresi enzim proteolitik Dapat memperluas diri dengan mengorbankan struktur disekelilingnya Erosi tulang terjadi oleh dua mekanisme utama : Efek tekanan  remodelling tulang Aktivitas enzim  meningkatkan proses osteoklastik pada tulang  meningkatkan resorpsi tulang. dan mampu berangiogenesis. Apabila terbentuk terus menerus dapat menyebabkan terjadinya penumpukan sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar. migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin. ketika menelan atau menguap. B. Desakan massa + reaksi asam oleh pembusukan bakteri  nekrosis tulang  komplikasi .

2. Kolesteatoma Akuisital 1. 2. Teori Invaginasi. 1. akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama. 3. timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars flacida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba. aktivitas enzimatik tepi kolesteatom yang bersifat osteoklastik yang menyebabkan resorpsi tulang. Teori Implantasi. dan seringkali teridentifikasi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. ditemukan pada daerah petrosus mastoid. akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah. 4. desakan atau tekanan yang mengakibatkan remodeling tulang atau nekrosis tulang. 2. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. KLASIFIKASI a. membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. Teori Metaplasi. Primer terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane timpani. PATOGENESIS 1. Teori Imigrasi. setelah blust injury. b.D. akan tetapi telah terjadi retraksi membran timpani. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi. Erosi tulang melalui dua mekanisme. E. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. anterior mesotimpanum atau pada daerah tepi tuba austachii. Kolesteatom Kongenital. yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. Kolestetoma Akuisital Sekunder . kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. cerebellopontin angle.

Bila terus menerus kambuh. GEJALA KLINIS Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga) keluar nanah berbau busuk dari telinga tanpa disertai rasa nyeri. Pendengaran berkurang Perasaan cemas Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah 1 sisi wajah atau sisi telinga yang terinfeksi.terbentuk setelah perforasi membran timpani. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Rontgen konvensional posisi Waters dan Stenvers CT scan MRI . akan terbentuk pertumbuhan menonjol (polip). F. G. Terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga /dari pinggir perforasi membrana timpani.

Nutrisi  Adanya mual 4. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi. Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. PENGKAJIAN 1. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. pucat ( menendakan adanya stres ) 3. Tujuan : Setelah dilakukannya tindakan keperawatan 1X24 jam diharapkan klien dapat istirahat dan tidur.ASUHAN KEPERAWATAN A. System pendengaran  Adanya suara abnormal (dengung) 5. 4. 3. C. Pola istirahat  Gangguan tidur/kesulitan tidur B. Kriteria hasil :  Ganguan nyeri teradaptasi  Dapat tidur dengan tenang Intervensi :  Kaji nyeri yang dirasakan  Monitor tanda-tanda vital . Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. 2. hipertensi. Aktivitas  Gangguan keseimbangan tubuh  Mudah lelah 2. Sirkulasi  Hipotensi. PERENCANAAN 1. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya.

pengetahuan klien terhadap penyakitnya meningkat. Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. Intervensi :  Kaji kesulitan mendengar  Kaji seberapa parah gangguan pendengaran yang dialami  Anjurkan menggunakan alat bantu dengar setiap diperlukan  Bila mungkin ajarkan komunikasi nonverbal 4. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri. Kriteria hasil :  Resiko kerusakan interaksi sosialdapat diminimalkan. Tujuan : Setelah dilakukan tindkan keperawatan diharapkan meminimalakan kerusakan interaksi social. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi. Kriteria hasil : Tidak terjadi kecemasan. Kriteria hasil :  Nyeri dapat teradaptasi  Dapat istirahat dengan nyaman Intervensi :  Monitor dan kaji karakteristik nyeri  Monitor tanda-tanda vital  Ciptaka lingkungan yang tenang dan nyaman 3. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. Anjurkan klien untuk beradaptasi dengan gangguan yang dirasakan  Kolaborasi dalam pemberian obat penenang/obat tidur 2. Intervensi :  Kaji tingkat kecemasan  Berikan penyuluhan tentang kolesteatoma  Yakinkan klien bahwa penyakitnya dapat disembuhkan . Tujuan : Setelah dilakauakan tindakan keperawatan klien dan keluarga klien tidak cemas.

1 Seringkali kolesteatoma dihubungkan dengan kehilangan pendengaran dan infeksi pada telinga yang menghasilkan cairan pada telinga. dan menghindari stress. Tetapi dapat juga tanpa gejala. kolesteatosis (Birrel. maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperagkap sehingga membentuk kolesteatom. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar.1 Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/terpapar ke dunia luar. ternyata bukan. kista dermoid (Fertillo. Beberapa istilah lain yang diperkenalkan oleh para ahli antara lain adalah: keratoma (Schucknecht). epidermoid kolesteatoma (Friedman. Walaupun kolesteatom sudah dikenal sejak pertengahan abad ke 19.2 Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johannes Muller pada tahun 1838 karena disangka kolesteatoma merupakan suatu tumor. Banyak teori telah dikemukakan oleh para ahli . namun sampai sekarang patogenesis penyakit ini masih belum jelas. Kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-desac sehingga apabila terdapat serumen yang pada (serumen plug) di liang telinga dalam waktu yang lama. 1958). Definisi Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi jaringan epitel (keratin). 1988). Anjurkan klien untuk rileks. yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa. 1970). Kolesteatom cepat membesar bila sudah disertai dengan infeksi. Terjadinya proses nekrosis diperhebat olh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. epidermosis (Sumarkin. 1959). squamous epiteliosis (Birrel. Kolesteatom ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman. 1958).

teori metaplasi dan teori implantasi. Terdapatnya masa putih pada membran tympani yang normal Pars tensa dan flaccida yang normal Tidak adanya riwayat otorrhea ataupun perforasi sebelumnya Tidak ada riwayat prosedut otologi sebelumnya 5. 1) Kolesteatom Aquisita Kolesteatoma aquisita dibagi menjadi dua. atau adanya riwayat infeksi pada telinga. tanpa berlanjut ke saluran telinga luar dengan tidak adanya faktor-faktor yang lain seperti perforasi dari membran tympani. Kolesteatoma aquisita sekunder sebagai konsekuensi langsung dari trauma pada membrane tympani. Klasifikasi dan Patogenesis Berdasarkan etiologi kolesteatoma dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu kongenital dan didapat (akuisita). Berdasarkan teori klasik oleh Derlacki dan Clemis (1965). 3.5 tahun dengan perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan 3:1. yaitu primer dan sekunder. serta teori terjadinya metaplasi mukosa telinga tengah. kolesteatoma kongenital terjadi pada di belakang membran tympani yang intak. Faktor terpenting dari kolesteatoma aquisita.3 Kolesteatoma aquisita primer merupakan manifestasi dari perkembangan membran tympani yang retraksi. Dua pertiga kasus terjadi pada kuadran anteroposterior membran tympani. Kriteria Kolesteatoma Kongenital Telinga Tengah 3 1. teori imigrasi. dan sering terjadi pada awal kanak-kanak (6 bulan sampai 5 tahun).tentang pathogenesis kolesteatom. 2. tanpa riwayat infeksi sebelumnya. dkk (1989) membuat modifikasi definisi kolesteatoma kongenita (Tabel 1) Tabel 1. 4. Riwayat otitis media sebelumnya bukan merupakan kriteria eksklusi Tipikal kolesteatom kongenital ditemukan pada bagian anterior mesotympanum atau pada area sekitar tuba eustachius. 1) Kolesteatom Kongenital Kolesteatoma kongenital terjadi karena perkembangan dari proses inklusi pada embrional atau dari sel-sel epitel embrional.4 Oleh karena itu Levenson.5 Penelitian Levenson menunjukkan bahwa rata-rata usia terjadinya kolesteatoma kongenital adalah 4. . adalah epitel skuamous keratinisasi tumbuh melewati batas normal.3 Etiologi dan patogenesis kolesteatoma belum diketahui dengan jelas. Dua teori yang sering digunakan adalah kegagalan involusi penebalan epitel ektodermal yang terjadi pada masa perkembangan fetus pada bagian proksimal ganglion genikulatum.4 Namun definisi ini telah berubah setelah diketajui bahwa hampir 70% anak akan mengalami sekurang-kurangnya satu kali episode otitis media. Karena itu kolesteatoma ditemui di belakang dari membran tympani yang intak. antara lain: teori invaginasi. baik primer maupun sekunder.

Sehingga pars flaccida membrana tympani tertarik dari terbentuklah kantong (retraction pocket). teori metaplasi. dan teori invasi epitelial. Berasarkan teori metaplasia. Djaffar Zainul A. telinga tengah dan mastoid. yaitu: teori implantasi. Dept. Jika kantong retraksi ini terbentuk maka terjadi perubahan abnormal pola migrasi epitel tympani. Iskandar N. epitel skuamous terimplantasi ke telinga tengah sebagai akibat pembedahan. Avaiable at: . Sedangkan mekanisme menurut teori invasi epitel adalah bahwa kapanpun terjadi perforasi pada mambran tympani.uk (last access: January 24th. Kini terbukti bahwa erosi tulang disebabkan karena adanya enzim osteolitik atau kolagenase yang disekresi oleh jaringan ikat subepitel. editor. maka terjadilah keadaan vakum pada telinga tengah. Telah diyakini bahwa proses ini disebabkan infeksi kronik yang terus berlangsung dalam cavum tympani. Matriks epitel yang mengelilinginya meluas ke ruang-ruang yang ada di ruang atik. yang biasanya disebabkan ventilasi yang buruk pada daerah ini dapa menyebabkan perusakan membran basal menyebabkan pertumbuhan dan proliferasi tangkai sel epitel ke dalam. In: Quinn FB. erosi tegmen mastoid ke durameter dan atau ke lateral kanalis semisirkularis yang dapat menyebabkan ketulian dan vertigo. Cholesteatoma. The National Deaf Children`s Society. Underbrink M. Cholesteatoma. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Pertumbuhan papiler ke dalam yang menyebabkan perkembangan kolesteoma bermula pada pars flaccida. Daftar Pustaka 1. ed. menyebabkan akumulasi keratin pada kantong tersebut. rantai osikular. Of Otolaryngology. Reaksi peradangan pada ruang Prussack (Prussack’s space). Avaiable at: http://www. In: Soepardi EA.3 Sekali kantong atau kista epitel skuamosa terbentuk dalam rongga telinga tengah. epitel squamous akan bermigrasi melewati tepi perforasi dan bejalan ke medial sejajar dengan permukaan bawah gendang telinga merusak epitel kolumnar yang ada. editor. 2006) 3.org. 2001. dan septa mastoid untuk memberi tempat bagi kolesteatom yang bertambah besar. Perluasan proses ini diikuti kerusakkan tulang dinding atik. Infeksi pada kolesteatoma bukan hanya menyebabkan sklerosis mastoid yang cepat tetapi juga peningkatan proses osteolitik.5 Patogenesis kolesteatoma aquisita sekunder diterangkan dengan beberapa teori.ndcs.Jika terjadi disfungsi tuba Eustachius. epitel terdeskuamasi diubah menjadi epitel skuamosa stratified keratinisasi akibat terjadinya otitis media akut berulang ataupun kronis. Pembesaran dapat berjalan semakin ke posterior mencapai aditus ad antrum menyebar ke tulang mastoid. Menurut teori implantasi. UTMB. Destruksi tulang-tulang pendengaran sering terjadi pada kasus ini. 49-62 2. Proses osteogenesis ini disertai osteogenesis dalam mastoid dengan adanya sklerosis. Gadre A. Ryan MW. Dulu dianggap bahwa tekanan yang terjadi karena kolesteatom yang membesar menyebabkan destruksi tulang. adanya benda asing.p. 5.4.3. Kelainan Telinga Tengah. Jakarta. terbentuk lapisan-lapisan deskuamasi epitel dengan kristal kolestrin mengisi kantong. Grand Round Presentation. Fakultas Kedokteran Ilmu Indonesia. atau trauma. Akumulasi ini semakin lama semakin banyak dan kantong retraksi bertambah besar ke arah medial.

Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Apabila terdapat penjalaran ke salah satu telinga maka artinya terdapat lateralisasi. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Penderita ditanyakan apakah masih mendengar suara garpu tala atau tidak ? Bila tidak dapat membedakan ke arah telinga mana yang lebih keras atau dijawab sama kerasnya antara kanan dan kiri artinya tidak terdapat lateralisasi. Garpu tala 512 Hz. Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne positif bila sudah tidak mendengar dikatakan Rinne negatif.http://www.Test Rinne . atau dahi . 2006) (last Pemeriksaan Garpu Tala Pemeriksaan telinga dengan garpu tala ada 3 cara pemeriksaan diantaranya . Di lain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara. 1. .pdf access: January 24th.Test Weber. 2. 3. Juga pada tuli sensorineural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Bila penderita sudah mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingg ujung yang bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa. Cara pemeriksaannya . Kepada pasien ditanyakan apakah mendengar sekaligus diinstruksikan supaya mengangkat tangan apabila sudah tidak mendengar lagi. yang telah digetarkan diletakan ujungnya pada vertex.utmb. mastoideus dari telinga yang akan diperiksa.edu/otoref/Grnds/Cholesteatoma-020918/Cholesteatoma. Cara pemeriksaannya .Test Schwabach. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang pada penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan telinga pemeriksa harus normal. Prinsip pemeriksaan ini adalah membadingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan pada telinga normal hantaran antara telinga kiri dan kanan akan sama. Cara pemeriksaannya : Garpu tala 512 Hz yang telah digetarkan diletakan pada proc.

Rinne. RINNE POSITIF NEGATIF WEBER TIDAK ADA LATERALISASI LATERALISASI KE ARAH TELINGA YANG SAKIT LATERALISASI KE TELINGA YANG SEHAT SCHWABACH SAMA DENGAN PEMERIKSA MEMANJANG HASIL NORMAL TULI KONDUKTIF POSITIF MEMENDEK TULI SENSORINEURAL Catatan : Pada tuli Konduktf < 30dB . karena ambang pendengaran lebih rendah pada frekuensi dibandingkan dengan frekuensi lain. yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang seling mengenai memberan timpani. Gelombang suara . Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di memberan timpani persatuan waktu adalah satuan gelombang. Semakin besar suara semakin besar amplitudo.Mastoideus pemeriksa.faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami selain frekuensi dan frekuensi mempengaruhi kekerasan. dan gerakan semacam itu dalam lingukangan secara umum disebut gelombang suara. Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan Schwabach normal dan bila pasien masih mendengar suara hantaran pada garpu tala maka dikatakan Schwabach memanjang. Mastoideus pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke proc. Bila pasien mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke proc. Mastoideus pasien kemudian kepada pasien ditanyakan apakah masih mendengar suara dari garpu tala. sesudah itu diinstruksikan juga supaya mengangkat tangannya apabila sudah tidak mendengar suara hantaran dari garpu tala. Rinne bisa masih positif Pemeriksaan Audiometri.Mastoideus pasien dan ditanyakan lagi apakah pasien mendengar suara hantaran dari garpu tala?. semakin tinggi frekuensi dan semakin tinggi nada. Namun nada juga ditentukan oleh factor . Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran pada garpu tala.Garpu tala 512 Hz yang sudah digetarkan diletakan pada proc. Bila pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakan pada proc. Weber test dan Scwabach test LATAR BELAKANG Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di lingkungan eksternal. Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan nada berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelombang persatuan waktu).

didengar sebagai suara musik. Variasi timbre mempengaruhi mengetahhi suara berbagai alat musik walaupun alat tersebut memberikan nada yang sama. (William F.1998) A. Efek penyamaran suara lata akan meningkatan ambang pendengaran dengan besar yang tertentu dan dapat diukir. Telinga mempunyai resptor bagi 2 modalitas reseptor sensorik : 1. getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan sensasi bising. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan telinga dalam. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksidi serat-serat saraf.masing gelombang bersifat kompleks. Fenomena ini diperkirakan disebabkan oleh refrakter relative atau absolute pada reseptor dan urat saraf pada saraf audiotik yang sebelumnya teransang oleh ransangan lain. Fenomena ini dikenal sebagai masking (penyamaran). (William F. 1998) Telah diketahui bahwa adanya suatu suara akan menurunkan kemampuan seseorang mendengar suara lain.Gannom. Anatomi system pendengaran (Telinga) Merupakan organ pendengaran dan keseimbangan. walaupun masing .Terdiri dari telinga luar. Coclearis) Telinga dibagi menjadi 3 bagian : . Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan frekuensi primer yang menentukan suara ditambah sejumla getaran harmonik yang menyebabkan suara memiliki timbre yang khas. Kecuali pada lingkungan yang sangat kedap suara. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang bunyi ke otak dimana bunyi tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan. Cara paling mudah untuk menggambarkan fungsi dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa dari permulaan sampai akhir dari setiap bagian-bagian telinga yang berbeda. Tingkat suatu suara menutupi suara lain berkaitan dengan nadanya.memiliki pola berulang. tengah dan dalam. Pendengaran (N. Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara di lingkungan eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran। Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan lempeng kaki stapes.Gannong.

sering disebut " martil. yang fungsinya menyamakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga. Tuba eustachius lazimnya dalam keadaan tertutup akan tetapi dapat terbuka secara alami ketika anda menelan dan menguap. landasan. lalu dengan perlahan disalurkan pada rangkaian tulang-tulang pendengaran. Setelah sampai pada gendang telinga. Tulangtulang yang saling berhubungan ini . gelombang suara akan menyebabkan bergetarnya gendang telinga. Telinga tengah terdiri dari : Tuba auditorius (eustachius) Penghubung faring dan cavum naso faringuntuk : Proteksi: melindungi ndari kuman . Pergerakan dari oval window (tingkap lonjong) menyalurkan tekanan gelombang dari bunyi kedalam telinga dalam.Telinga luar Auricula Mengumpulkan suara yang diterima Meatus Acusticus Eksternus Menyalurkan atau meneruskan suara ke kanalis auditorius eksterna Canalis Auditorius Eksternus Meneruskan suara ke memberan timpani Membran timpani Sebagai resonator mengubah gelombang udara menjadi gelombang mekanik। Telinga tengah Telinga tengah adalah ruang berisi udara yang menghubungkan rongga hidung dan tenggorokan dihubungkan melalui tuba eustachius. dan sanggurdi"secara mekanik menghubungkan gendang telinga dengan "tingkap lonjong" di telinga dalam.

Aerufungsi: Tuba pendengaran (maleus. dan stapes) Memperkuat gerakan mekanik dan memberan timpani untuk diteruskan ke foramen ovale pada koklea sehingga perlimife pada skala vestibule akan berkembang.000 sel-sel rambut yang mengubah getaran suara menjadi getaran-getaran saraf yang akan dikirim ke otak. orang-orang terlihat hanya seperti berguman dan anda sering meminta mereka . Hal ini dikarenakan pertambahan usia atau terpapar bising yang keras secara terus menerus. Suara-suara nada tinggi tertentu seperti kicauan burung menghilang bersamaan. menyamakan tekanan luar dan dalam. Hampir 90% kasus gangguan pendengaran disebabkan oleh rusak atau lemahnya sel-sel rambut telinga dalam secara perlahan. inkus. Sepanjang jalur rumah siput terdiri dari 20. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk . Efeknya hampir selalu sama.Drainase: mengeluarkan cairan. Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari : Koklea Skala vestibule: mengandung perlimfe media: mengandung endolimfe timani: mengandung perlimfe Skala Skala Organo corti Memngandung sel-sel rambut yang merupakan resseptor pendengaran di memberan basilaris.sebagai contoh mengerti percakapan. Di otak getaran tersebut akan di intrepertasi sebagai makna suatu bunyi. Telinga dalam dipenuhi oleh cairan dan terdiri dari "cochlea" berbentuk spiral yang disebut rumah siput. Gangguan pendengaran yang diseperti ini biasa disebut dengan sensorineural atau perseptif. menjadi lebih sulit membedakan atau memilah pembicaraan pada kondisi bising.

Vestibularis) a. Sacculus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk sebagai contoh mengerti percakapan. Tiap – tiap telinga memiliki tiga kanalis semesirkularis yang tegak lurus satu sama lain. Rambut–rambut pada sel rambut asertif di organ ini menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa di atasnya. misalnya ketika memulai atau berhenti berputar. atau memutar kepala. Sebuah alat bantu dengar akan dapat membantu menambah kemampuan mendengar anda. b. Canalis Semisirkularis Canalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselarisasi anguler atau rotasional kepala. Utrikulus Utrikulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea. Sel-sel rambut utrikulus mendeteksi akselerasi atau deselerasi linear horizontal. Dengan hanya 6 atau 7 nada yang salah. tetapi tidak memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan.untuk mengulangi apa yang mereka katakan. melodi akan sulit untuk dikenali dan suaranya tidak benar secara keseluruhan. c. Contoh kecil seperti menghilangkan semua nada tinggi pada piano dan meminta seseorang untuk memainkan sebuah melodi yang terkenal. Andapun dapat membantu untuk menjaga agar selanjutnya tidak menjadi lebih buruk dari keadaan saat ini dengan menghindari sering terpapar oleh bising yang keras. tidak ada cara apapun yang dapat memperbaikinya. yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel rambut. Sekali sel-sel rambut telinga dalam mengalami kerusakan. Keseimbangan (N. berjungkir balik. kecuali dia berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal (misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap . Sacculus Sacculus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea.

Organo corti . osteoma liang teling.VIII yang kemudian neneruskan ransangan ke pusat sensori pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis. perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar. otitis eksterna sirkumsripta. sehingga memberan timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhhubungan satu sama lain.eh telinga yang dialirkan ke telinga dan mengenai memberan timpani. Fisiologi Pendengaran Getaran suara ditangkap ol. Tuli konduktif Karena kelainan ditelinga luaaar atau di telinga tengah a. Kelainan telingna luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah astresia liang telinga. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah tubakar/sumbatan tuba eustachius.akselerasi atau deselerasi loner vertical (misalnya melompat atau berada dalam elevator). Selanjutnya stapes menggerakkan perilimfe dalam skala vestibui kemudian getaran diteruskan melalui Rissener yang mendorong endolimfe dan memberan basal ke arah bawah. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit system saraf pusat dari telinga. Kelainan /Ganggaun Fisiologi Telinga 1. b. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion Na menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang N. dan dislokasi tulang pensdengaaran. Orang tersebut mengalamipenurunan atau kehilangan kemampuan total untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan pada : a. Tuli perseptif Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. 2. sumbatan oleh serumen.

Saraf : N. maka dalam makalah ini yang diuraikan hanya diagnosis KP pada anak-anak umur 6 tahun keatas dan dewasa.coclearis dan N. 2.vestibularais c. Sebagi dokter umum cukuplah memperhatikan keempat aspek penting berikuta ini : Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak. Pusat pendengaran otak 3.b. Pad kedua golongan umur tersbut. Kekurangan Pendengaran Yang dimaksud dengan kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seorang kurang dpat mendengar dan mengerti suara atau percakpan yang didengar untuk mendiagnosis kurang pendengaran. Penentuan pada penderita apakah ada KP atau tidak Dalam penentuan apakah ada KP atau tidak pada penderita hal penting yang harus diperhatiakan adalah umur prnderita. Respon manusia terhadap suara atau percakapan yang didengranya tergantung pada umur pertumbuhannya. Jenis kurang pendengaran kurang pendengaran penyebab kurang pendengaran Derajat Menentukan 1. kurang dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan berbeda-beda tergantung umurnya. Usia 6 tahun diambil sebagai batas. Jenis KP . sedangkan lebih dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan yang didengar sama dengan orang dewasa karena luasnya aspek diagnostik KP. Tuli campuran Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak sempurna sehingga infeksi skunder (tuli persepsi juga).

Untuk KP jenis sentral dan fungsional mengingat masih terbatasnya pengetahuan proses pendengara diwilayah trsebut. b. untuk itu diperlukan : .Jenis KP berdasarkan lokalisasi lesi : a. KP jenis sensorineural Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (pada koklea dan N. KP jenis sentral Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang otak sampai dengan korteks otak.VIII) c. KP jenis fungsional Pada KP jenis ini tidak dijumpai adanya gangguan atau lesi organic pada system pendengaran baik perifer maupun sentral. KP jenis hantaran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga luar dan atau telinga tengah. 3. e. melainkan berdadasarkan adanya masalah psikologis atau omosional. d. disamping masih belum banyak dikenal teknik uji pendengaran yang dapat dimanfaatkan untuk bahan diagnostik. Menentukan penyebab KP Menetukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara kempat batasan atau aspek tersebut diatas. KP jenis campuran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga dalam. maka pada makalah ini akan dibatasi pada diagnosis KP jenis hantaran sensorineural dan campuran saja.

Tes bisik modifikasi c. c. Tes garputala d. hidung dan tenggorokan ) yang teliti. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri. Tes bisik b. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran).a. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan . tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto laboratorium) Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. Anamnesis yang luas dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut b. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Alat ini menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. yaitu : a. Pemeriksaan umum dan khusus (telinga. Pemeriksaan audiometri Tes Fungsi Pendengaran Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. a. maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang.

audiologis dan pasien yang kooperatif. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1) Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel 0-15 >15-25 >25-40 >40-55 >55-70 >70-90 >90 Pendengaran normal Kehilangan pendengaran kecil Kehilangan pendengaran ringan Kehilangan pendengaran sedang Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat Kehilangan pendengaran berat Kehilangan pendengaran berat sekali Klasifikasi .pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara. 1000-2000. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang. Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 20-20.000 Hz. sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara.

suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL.Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur. . dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi. dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). Grafiknya terdiri dari skala decibel. atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman. untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. pendengar diminta untuk mnebaknya. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar. 2) Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan.

Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi. berarti pendengaran baik. Dengan demikian. . berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah. tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Pada audiometri tutur. tetapi juga jauh diatasnya. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB.b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. sedangkan intensitas suara barapa saja. Kriteria orang tuli : Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB Sedang Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Berat Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga). Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya. dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar katakata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat.

tuntutan ganti rugi 3) Untuk kedokteran klinik Pencegahan. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya . segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. Ada 2 macam tes rinne . Tujuan Ada empat tujuan (Davis. khususnya penyakit telinga 2) Untuk kedokteran klinik Kehakiman. apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus. b. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Manfaat audiometri 1) Untuk kedokteran klinik. Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan. 1.apakah ada kotoran telinga (serumen). 1978) : 1) Mediagnostik penyakit telinga 2) Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari. ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi). 3) Skrinig anak balita dan SD 4) Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. yaitu : a. deteksi ktulian pada anak-anak c. apakah ada lubang gendang telinga. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran.

Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus.b. Test Weber . Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : 1) Normal : tes rinne positif 2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) 3) Tuli persepsi. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. terdapat 3 kemungkinan : a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. 2.

telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras.Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. maka di dengar sebelah kanan. Jika kedua pasien samasama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi. 3) Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. 5) Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: 1) Tuli konduksi sebelah kanan. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. 2) Tuli konduksi pada kedua telinga. 3. 4) Tuli persepsi pada kedua teling. Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan. Test Swabach Tujuan : . tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Interpretasi: a. Menurut pasien. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar. b. missal adanya ototis media disebelah kanan. sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala.

Setelah tidak terdengar garpu tala dipegang di depan telingan kira-kira 2. atau tidak mendengar suara. 1024. dan 2048 Hz. Getaran yang datang melalui tengkorak. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding).5 cm. . Cara : garpu tala digetarkan dan tangkainya diletakkan di prosesus mastoideus. Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara. Diposkan oleh neeya_koizora di 01.Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. maka penguji akan segera memindahkan garputala itu. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala. Bila tidak mungkin cukup dipakai garpu tala dengan frekuensi 512 Hz karena tidak penggunaan garpu tala ini tidak terlalu dipengaruhi oleh suara bising disekitar lingkungan pemeriksaan.05 4 komentar: Beranda Langganan: Entri (Atom) Untuk melihat ada tidaknya gangguan fungsi pendengaran pada pekerja dengan menggunakan garpu tala untuk pemeriksaan gangguan fungsi pendengaran oleh peneliti. khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. Dalam keadaan normal hantaran melalui udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Test garpu tala untuk pengukuran kualitatif. bila tidak terdengar disebut Rinne Negatif. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. Bila masih terdengar disebut Rinne Positif. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. idealnya menggunakan garpu tala dengan frekuensi 512. •Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran melalui udara dan tulang pada telinga yang diperiksa.

Tes Batas Atas Batas Bawah Tujuan : menentukan frekwensi garpu tala yang dapat di dengar penderita melewati hantaran udara bila dibunyikan pada intensitas ambang normal. •Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa normal. . 3. 1. Bila pasien masih mendengar.bila sebaliknya (literalisasi pada telinga yang sehat) berarti pada telinga yang sakit terdapat tuli saraf. dengan cara dipegang tangkainya kemudian kedua ujung kakinya dibunyikan dengan lunak (dipetik dengan ujung jari/kuku. TES GARPUTALA Ada 4 jenis tes garpu tala yang sering dilakukan : Tes batas atas dan batas bawah Tes Rinne Tes Weber Tes Schwabach Tes-tes ini memiliki tujuan khusus yang berbeda dan saling melengkapi.•Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan. bila pemeriksa tidak dapat mendengar. didengarkan terlebih dulu o/ pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk mencapai intensitas bunyi yang terendah bagi orang normal/ nilai ambang normal). Bila terdengar sama atau tidak terdengar disebut tidak ada literalisasi. 4. pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya. Bila bunyi terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut literalisasi ke telinga tersebut. Bila masih dapat mendengar disebut memendek atau tuli saraf. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan di garis tengah dahi atau kepala. disebut memanjang atau terdapat tuli konduktif. Cara : Semua garpu tala (dapat dimlai dari frekwensi terendah berurutan sampai frekwensi tertinggi / sebaliknya) dibunyikan satu persatu. Bila pada telinga yang sakit (literalisasi pada telinga yang sakit) berarti terdapat tuli konduktif pada telinga tersebut. 2. Jika kira-kira sama mendengarnya disebut sama dengan pemeriksa. kemudian diperdengarkan pada penderita dengan meletakkan garpu tala di dekat MAE pada jarak 1-2 cm dalam posisi tegak dan 2 kaki pada garis yang menghubungkan MAE kanan dan kiri. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi kemudian dipindahkan ke prosesus mastoideus pemeriksa yang pendengarannya dianggap normal. THT 1.

Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz. kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus di garis median. Bila kedua telinga tak mendengar atau sama-sama mendengar bararti tak ada lateralisasi. Interpretasi : * Normal : tidak ada lateralisasi . Bila mendengar pada satu telinga disebut lateralisasi ke sisi telinga tersebut. jaringan lemak tebal shg penderita tidak mendengar atau getaran terhenti karena kaki garpu tala tersentuh aurikulum. . penderita ditanya mana yang lebih keras.Penderita terlambat memberi isyarat waktu garpu tala sudah tak terdengar lagi. Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada satu telinga penderita.Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz. bila tidak mendengar disebut Rinne negatif. Kesalahan : . hal ini dapat terjadi bila telinga yang tidak dites pendengarannya jauh lebih baik daripada yang di tes. Cara : . Cara : . Penderita diminta untuk menunjukkan telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. biasanya di dahi (dapat pula pada vertex. shg waktu dipindahkan di depan MAE getaran garpu tala sudah berhenti. Apabila penderita masih mendengar garpu tala di depan MAE desebut Rinne positif. * Tuli konduksi : batas bawah naik (frekwensi rendah tak terdengar) * Tuli sensori neural : batas atas turun (frekwnsi tinggi tak terdengar) Kesalahan : Garpu tala dibunyikan terlalu keras shg tidak dapat mendeteksi pada frekwensi mana penderita tak mendengar.Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan. kemudian dipancangkan pada planum mastoid. 3. kemudian segera dipindah di depan MAE. Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita. letakkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid penderita (posterior dari MAE) sampai penderita tak mendengar. kemudian cepat pindahkan ke depan MAE penderita.Interpretasi : * Normal : mendengar garpu tala pada semua frekwensi. . Interpretasi : * Normal : Rinne positif (mendengar) * Tuli konduksi : Rinne negatif ( tidak mendengar) * Tuli sensori neural : Rinne posotof (dengar) Kadang-kadang terjadi false Rinne (pseudo positif atau pseudo negatif) terjadi bila stimulus bunyi ditangkap oleh telinga yang tidak di tes. dagu atau pada gigi insisivus) dengan kedua kaki pada garis horizontal. terkena rambut. bila lebih keras di belakang Rinne negatif. Bila lebih keras di depan disebut Rinne positif. 2.Garpu tala tidak diletakkan dengan baik pada mastoid atau miring.

Karena menilai kedua telinga sekaligus maka kemungkinannya dapat lebih dari satu. yaitu tes pada penderita dulu baru ke pemeriksa. dapat di interpretasikan : a. d. bila pemeriksa masih mendengar berarti Schwabach penderita memendek. Tuli sensori neural kanan dan kiri. tetapi bila penderita tidak mendengar. tetapi kanan lebih berat. Tuli konduksi kanan. Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran lewat tulang antara penderita dgn pemeriksa. c. * Isyarat menghilangnya bunyi tidak segera diberitahukan oleh pasien. Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. Interpretasi : * Normal : Schwabach normal * Pada tuli konduksi : Schwabach memanjang.Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus pada mastoid pemeriksa. bila pemeriksa tidak mendengar berarti sama-sama normal. secepatnya garpu tala dipindahkan ke mastoid penderita. Garpu tala 512 Hz dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita. Contoh : lateralisasi ke kanan. telinga kiri normal b. * Pada tuli sensori neural : Schwabach memendek Kesalahan Uji/ Test bisa dikarenakan : * Garpu tala tidak tegak dengan baik. tetapi kiri lebih berat e. terdapat 2 kemungkinan yaitu Schwabach memendek atau normal.* Tuli konduksi : mendengar lebih keras di telinga yang sakit. bila pemeriksa sudah tidak mendengar. Weber . Garputala . kaki garpu tala tersentuh sehingga bunyi menghilang. Tuli sensori neural kiri. Cara : . Tuli konduksi kanan dan sensori neural kiri. Tuli konduksi kanan dan kiri. * Tuli sensori neural : mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. telinga kanan normal. bila penderita sudah tidak mendengar maka secepatnya garpu tala dipindahkan pada mastoid pemeriksa. Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka tes dibalik. Bila penderita masih mendengar maka Schwabach memanjang. 4.

Caranya ialah. Caranya ialah garputala digetarkan. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel. Ada 3 macam pemeriksaan: a. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan. ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi. Uji berbisik 3. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. tidak perlu di ruang kedap suara. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi. disebut uji rinne positif b. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. Audiometrik Garputala terdiri dari satu set. sampai pasien mendengar bunyi. telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. lima buah. dengan panjang 6 meter. Pasien diberi tahu. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. garputala digetarkan . lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. makin lama pemeriksa makin mendekat. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. 512 Hz.5 cm jaraknya dari liang telinga. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. asalkan tidak terlalu riuh. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. sampai 8000 Hz. c. kira-kira 2. dahi. sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz. dengan frekuensi 128 Hz. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan. Dimulai sejak jarak 6 meter.Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata. Pada pasien yang pendengarannya masih baik. 1024 Hz dan 2048 Hz. Pemeriksa duduk ke samping. tuli . maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. kemudian telinga kiri. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. 1500 Hz. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. Pada telinga kanan. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol.2. 1000 Hz. dan diperiksa di ruang periksa. atau pertengahan gigi seri. 256 hz. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi.

Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : Normal : tes rinne positif Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) Tuli persepsi. Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). terdapat 3 kemungkinan : Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. weber. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) .hantar (konduktif). Ada 2 macam tes rinne . Test rinne. dan swabach Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. yaitu : Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). sedang atau berat.

sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak. Test Weber Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Interpretasi: Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan. tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus.Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. . Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Menurut pasien. Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi.

Keimpulan test Rinne. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan. Tuli persepsi pada kedua teling. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. maka penguji akan segera memindahkan garputala itu. Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. Weber dan Swabach Test Weber. . Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara. maka di dengar sebelah kanan.Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: Tuli konduksi sebelah kanan. khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. missal adanya ototis media disebelah kanan. atau tidak mendengar suara. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. Tuli konduksi pada kedua telinga. Getaran yang datang melalui tengkorak. Test Swabach Tujuan : Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding).

Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa. Rinne Negatif Palsu. kiri normal 2. kiri tuli sensory neural 3. kiri tuli sensory neural 4. a. Telinga kanan normal. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang dari hantaran tulang. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara. Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. c. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hati dengan apa yang dikatakan Rinne . kanan lebih berat 5. Evaluasi test rinne. Cara pemeriksaan. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapat menegakkan diagnosa secara pasti. Evaluasi Tets Weber. Test Rinne. b. Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne (+).Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama. a. Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-) b. Rinne negatif berarti tuli konduktif. Cara pemeriksaan. Telinga kanan tuli konduktif. Telinga kanan tuli konduktif. Kepada penderita ditanyakan apakah mendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. Kedua telinga tuli sensory neural. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasi ke kanan. Kedua telinga tuli konduktif. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunak pada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum dari telinga yang akan diperiksa. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Penderita ditanyakan apakah mendengar atau tidak. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh diletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex. Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga mana didengar lebih keras. Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapa kemungkinan 1.

Kemudian setelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getaran tidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative Test Schwabach. Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi. a. Hal ini terjadi pada tuli sensorineural yang unilateral dan berat. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa. Bila pemeriksa tidak mendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita dan ditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. Karena telinga pemeriksa normal berarti telinga penderita normal juga. Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar.negatif palsu. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidak mendengar dengungan. Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bila masih mendengar dikatakan schwabach memanjang. b. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secara lunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita. Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 2. Hasil Gangguan Sama normal Memanjang Tuli konduktif Memendek Tulisensorineural Tes Pendengaran 29 Dec . Cara pemeriksaan. Evaluasi test schwabach 1. sesudah itu sekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidak mendengar dengungan. Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal. Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 3. Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya di tangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing).

yaitu : Tes bisik. Ada 4 syarat bagi penderita saat kita melakukan tes bisik. yaitu : Syarat tempat. Kita kemudian mundur pada jarak 4 meter dari penderita lalu membisikkan 5 kata dan penderita masih mampu mendengar 4 kata (80%). Tes bisik modifikasi. yaitu : Penderita dan pemeriksa sama-sama berdiri. Telinga pasien yang diperiksa. atau tertutup kain korden. yaitu : .Tes Pendengaran Oleh : Muhammad al-Fatih II Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. Hanya pemeriksa yang boleh berpindah tempat. Pemeriksaan audiometri. kita tutup (masking). Demikian seterusnya sampai penderita hanya mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan kepadanya. Jarak minimal 6 meter. Caranya dinding tidak rata. Pemeriksa lalu mundur pada jarak 2 meter dari penderita bilamana penderita mampu mendengar semua kata yang kita bisikkan. Penderita mengulangi dengan keras dan jelas setiap kata yang kita ucapkan. Ada 3 syarat tempat kita melakukan tes bisik. kita hadapkan ke arah pemeriksa. Tidak terjadi echo / gema. Jumlah kata yang kita bisikkan biasanya 5 atau 10. Tes Bisik Ada 3 syarat utama bila kita melakukan tes bisik. Pemeriksa membisikkan 1 atau 2 suku kata yang telah dikenal penderita. Syarat pemeriksa. Caranya tragus telinga tersebut kita tekan ke arah meatus akustikus eksterna atau kita menyumbatnya dengan kapas yang telah kita basahi dengan gliserin. Kita maju pada jarak 3 meter dari pasien lalu membisikkan 5 kata dan penderita mampu mendengar semuanya. Teknik pemeriksaan pada tes bisik. Jadi tajam pendengaran penderita kita ukur dari jarak antara pemeriksa dengan penderita dimana penderita masih mampu mendengar 80% dari semua kata yang kita ucapkan (4 dari 5 kata). Pertama-tama pemeriksa membisikkan kata pada jarak 1 meter dari penderita. yaitu : Ruangannya sunyi. Ada 2 jenis penilaian pada tes pendengaran. Telinga pasien yang tidak diperiksa. yaitu : Kedua mata penderita kita tutup agar ia tidak melihat gerakan bibir pemeriksa. yaitu : Pemeriksa membisikkan kata menggunakan cadangan udara paru-paru setelah fase ekspirasi. Kita dapat lebih memastikan tajam pendengaran penderita dengan cara mengulangi pemeriksaan. Syarat penderita. Biasanya kita menyebutkan nama benda-benda yang ada disekitar kita. Ada 2 syarat bagi pemeriksa saat melakukan tes bisik. Misalnya tajam pendengaran penderita 4 meter. terbuat dari soft board. Tes garpu tala.

Frekuensi yang dapat didengar oleh manusia berpendengaran normal. dan 128 Hz. Tes Weber. yaitu : Tes batas atas & batas bawah. 1024 Hz. 512 Hz. Kita membisikkan 10 kata dengan intensitas suara lebih kecil dari tes bisik konvensional karena jaraknya juga lebih dekat dari jarak pada tes bisik konvensional. Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi. yaitu : Frekuensi rendah. 32 Hz. Tes bisik modifikasi kita gunakan sebagai skrining pendengaran dari kelompok orang berpendengaran normal dengan kelompok orang berpendengaran abnormal dari sejumlah besar populasi. yaitu : Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL). Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. Ada 3 jenis ketulian. Tuli sensorineural & konduktif / mix hearing loss (MHL). Tes Garpu Tala Ada 4 jenis tes garpu tala yang bisa kita lakukan. Pendengaran penderita normal bilamana penderita masih bisa mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan. dan 2048 Hz. Cara kita melakukan tes bisik modifikasi. Meliputi 16 Hz. Ada 3 jenis frekuensi. Meliputi 256 Hz. Frekuensi normal. Tes Schwabach. Cara kita memperlebar jarak dengan penderita yaitu dengan menolehkan kepala kita atau kita berada dibelakang penderita sambil melakukan masking (menutup telinga penderita yang tidak kita periksa dengan menekan tragus penderita ke arah meatus akustikus eksternus). Misalnya tidak dapat mendengar huruf S dari kata susu sehingga penderita mendengarnya uu. Frekuensi tinggi. Misalnya tes kesehatan pada penerimaan CPNS.Penilaian kuantitatif seperti pemeriksaan tajam pendengaran pada tes bisik maupun tes bisik modifikasi. Tes Bisik Modifikasi Tes bisik modifikasi merupakan hasil perubahan tertentu dari tes bisik. Tes Batas Atas & Batas Bawah . Meliputi 4096 Hz dan 8192 Hz. yaitu : Kita melakukannya dalam ruangan kedap suara. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL). Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. 64 Hz. Penilaian kualitatif seperti pemeriksaan jenis ketulian pada tes garpu tala dan audiometri. Tes Rinne.

Ada 3 interpretasi dari hasil tes Rinne yang kita lakukan. Segera pindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksternus. Jika tes Rinne positif. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya. segera garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien. Jika tes Rinne negatif. yaitu : Semua garpu tala kita bunyikan satu per satu. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien mendengarnya lebih lemah. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tankainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Tuli sensorineural. Cara kita membunyikan garpu tala yaitu dengan memegang tangkai garpu tala lalu memetik secara lunak kedua kaki garpu tala dengan ujung jari atau kuku kita. Tuli konduktif. Jika tes Rinne positif. Hal ini untuk mendapatkan bunyi berintensitas paling rendah bagi orang normal / nilai normal ambang. Bunyi garpu tala terlebih dahulu didengar oleh pemeriksa sampai bunyinya hampir hilang. Kita bisa memulainya dari garpu tala berfrekuensi paling rendah sampai garpu tala berfrekuensi paling tinggi atau sebaliknya. yaitu : Normal. Tes Rinne positif jika pasien mendengarnya lebih keras. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya.Tujuan kita melakukan tes batas atas & batas bawah yaitu agar kita dapat menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar pasien dengan hantaran udara pada intensitas ambang normal. Cara kita melakukan tes batas atas & batas bawah. Tuli sensorineural. Ada 3 interpretasi dari hasil tes batas atas & batas bawah yang kita lakukan. Interpretasi tes Rinne dapat false Rinne baik pseudo positif dan pseudo negatif. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Hal ini dapat . yaitu : Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Tes Rinne Tujuan kita melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. Jika pasien dapat mendengar garpu tala pada semua frekuensi. Batas atas turun dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi tinggi. Batas bawah naik dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi rendah. Ada 2 cara kita melakukan tes Rinne. yaitu : Normal. Tuli konduktif. Kesalahan interpretasi dapat terjadi jika kita membunyikan garpu tala terlalu keras sehingga kita tidak dapat mendeteksi pada frekuensi berapa pasien tidak mampu lagi mendengar bunyi. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garpu tala di depan meatus akustikus eksterna lebih keras daripada di belakang meatus akustikus eksterna (planum mastoid). Secepatnya garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien pada jarak 1-2 cm secara tegak dan kedua kaki garpu tala berada pada garis hayal yang menghubungkan antara meatus akustikus eksternus kanan dan kiri.

Cara kita melakukan tes Weber yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis median (dahi. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Tes Weber Tujuan kita melakukan tes Weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan garpu tala tidak tegak lurus. Telinga kiri dan telinga kanan mengalami tuli sensorineural tetapi telinga kiri lebih parah.terjadi manakala telinga pasien yang tidak kita tes menangkap bunyi garpu tala karena telinga tersebut pendengarannya jauh lebih baik daripada telinga pasien yang kita periksa. yaitu : Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri normal. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. verteks. Telinga kiri mengalami tuli sensorineural sedangkan telinga kanan normal. Telinga kanan dan telinga kiri mengalami tuli konduktif tetapi telinga kanan lebih parah. Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri mengalami tuli sensorineural. Jika tidak ada lateralisasi. Kesalahan pemeriksaan pada tes Rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Menurut pasien. Jika kedua telinga pasien sama-sama tidak mendengar atau sama-sama mendengar maka berarti tidak ada lateralisasi. Tuli konduktif. Setelah bunyinya tidak terdengar oleh pemeriksa. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garpu tala saat kita menempatkan garpu tala di planum mastoid pasien. Misalnya terjadi lateralisasi ke kanan maka ada 5 kemungkinan yang bisa terjadi pada telinga pasien. yaitu : Normal. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit. Akibatnya getaran kedua kaki garpu tala sudah berhenti saat kita memindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksterna. tangkai garpu tala mengenai rambut pasien dan kaki garpu tala mengenai aurikulum pasien. Tuli sensorineural. Cara kita melakukan tes Schwabach yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. dagu. Apabila pasien masih bisa mendengar bunyinya berarti Scwabach . atau gigi insisivus) dengan kedua kakinya berada pada garis horizontal. Tes Schwabach Tujuan kita melakukan tes Schwabach adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dengan pasien. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Weber yang kita lakukan. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras pada 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. segera garpu tala tersebut kita pindahkan dan letakkan tegak lurus pada planum mastoid pasien.

Tuli sensorineural. kaki garpu tala tersentuh. Sri Sukesi. Tuli Konduksi Tes Pendengaran Tuli Sensori Neural Tidak dengar huruf lunak Dengar huruf desis Tes Bisik Dengar huruf lunak Tidak dengar huruf desis Normal Batas Atas Menurun Naik Batas Bawah Normal Negatif Tes Rinne Positif. dr. Teknik Pemeriksaan Telinga. yaitu : Normal. Setelah pasien tidak mendengarnya. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz. MHPEd. Tuli konduktif. Uji berbisik 3. dr.THT.memanjang. Dr. Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. lima buah. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Schwabach yang kita lakukan. Kesalahan pemeriksaan pada tes Schwabach dapat saja terjadi. Sri Herawati. dengan frekuensi 128 Hz.THT.THT. weber. rinne. garpu tala. Sri Rukmini. dr. schwabach Weber . 256 hz. Sp. Pertama-tama kita membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pasien. Technorati Tags: audiometri. Misalnya tangkai garpu tala tidak berdiri dengan baik. Sardjono Soedjak. Audiometrik Garputala terdiri dari satu set. Garputala 2. Schwabch normal. Jakarta : EGC. Sp. Schwabach memanjang. 512 Hz.THT & dr. Sp. dan diperiksa . Hidung & Tenggorok. Schwabach memendek. Sebaliknya jika pasien juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek atau normal. Sebaliknya jika pemeriksa masih bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek. Jika pemeriksa juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach normal. 1024 Hz dan 2048 Hz. segera garpu tala kita pindahkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. Cara kita memilih apakah Schwabach memendek atau normal yaitu mengulangi tes Schwabach secara terbalik. 2000. false positif / false negatif Lateralisasi ke sisi sakit Tes Weber Lateralisasi ke sisi sehat Memanjang Tes Schwabach Memendek Daftar Pustaka Prof. atau pasien lambat memberikan isyarat tentang hilangnya bunyi. Sp.

Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. kemudian telinga kiri. Pada pasien yang pendengarannya masih baik. 1000 Hz. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. . dahi. sampai 8000 Hz. maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. kira-kira 2. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Pemeriksa duduk ke samping. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol. sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya. dengan panjang 6 meter. tuli hantar (konduktif).5 cm jaraknya dari liang telinga. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. garputala digetarkan . ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi. Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. Pasien diberi tahu. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. makin lama pemeriksa makin mendekat. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. asalkan tidak terlalu riuh. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. atau pertengahan gigi seri. c. Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi.di ruang periksa. Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam.Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan. tidak perlu di ruang kedap suara. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel. telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi. Pada telinga kanan. 1500 Hz. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. Dimulai sejak jarak 6 meter. Caranya ialah garputala digetarkan. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. sampai pasien mendengar bunyi. Caranya ialah. sedang atau berat. Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. disebut uji rinne positif b. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. Ada 3 macam pemeriksaan: a.

Inspeksi Adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat . tes Weber adalah positif. untuk itu dokter juga harus menguasai tehnik anamnesa yang benar dan pengamatan yang akurat sesuai dengan kondisi pasien. bila perlu bandingkan bagian sisi tubuh pasien. dan psikomotor dari pemeriksa sampai pada meng-interprestasikan dan meng-integrasikan data temuan satu dengan data temuan yang lainnya. • Lakukan inspeksi secara sistematis. Langkah kerja : • Atur pencahayaan yang cukup • Atur suhu dan suasana ruangan nyaman • Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien • Buka bagian yang diperiksa • Perhatikan kesan pertama pasien : perilaku. Dalam pelaksanaannya pemeriksaan fisik bersamaan dengan metode pengumpulan data lainnya seperti wawancara (anamnesa). perkusi dan auskultasi 1. penampilan umum. palpasi. suara terlateralisasi ke sisi berlawanan. Bila suara disebut berasal dari sisi yang terlibat atau rusak. PEMERIKSAAN FISIK TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan dengan 4 cara : Inspeksi. dan observasi. Diagnosa Fisik (Physic Diagnostic) PENDAHULUAN Pemeriksaan fisik berasal dari kata physical examination berarti memeriksa tubuh dengan atau tanpa alat untuk mendapatkan informasi yang menggambarkan kondisi pasien pemeriksaan fisik merupakan salah satu bagian dari rangkaian pengkajian. tes ini dikatakan negatif. Kemampuan dokter melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensip sangat diperlukan karena data yang diperolah dari pemeriksaan fisik ini akan menjadi dasar dalam penentuan masalah. . Ketika ada penyakit koklea atau tuli saraf. afektif. fisiologi tubuh manusia dan patofisiologi serta didukung oleh ketrampilan melalui latihan – latihan sehingga menjadi terbiasa. tidak ada penurunan konduksi udara. Dalam pemeriksaan fisik juga diperlukan integrasi aspek kognitif. Jika pasien melaporkan bahwa suara berasal dari garis tengah dahi. ekspresi. Untuk dapat memahami pemeriksaan fisik yang baik dan benar dibutuhkan pemahaman terhadap konsep anatomi.Definisi:Tes Weber Tes Weber adalah menempatkan sebuah garpu tala bergetar di tengah dahi pasien. postur tubuh.

untuk menentukan ukuran. Cara kerja : • Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi • Cuci tangan • Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya • Yakinkan tangan hangat tidak dingin • Lakukan perabaan secara sistematis . Palpasi Adalah pemeriksaan dengan perabaan. dengan menggunakan pergerakan pergelangan tangan. serta kulit dan tulang kepala 4. menggunakan rasa propioseptif ujung jari dan tangan. dengan ujung jari tekan pada permukaan yang akan diperkusi. Bila pakai kaca mata dilepas 3. Inspeksi keadaan muka pasien secara sistematis. • Lakukan ketukan dengan ujung jari tengah kanan diatas jari kiri. Auskultasi Adalah pemeriksaan mendengarkan suara dalam tubuh dengan menggunakan alat STETOSKOP. konsistensi dan permukaan : • Jari telunjuk dan ibu jari --> menentukan besar/ukuran • Jari 2. Lakukan inpeksi rambut dan rasakan keadaan rambut. untuk mengetahui keadaan organ-organ didalam tubuh. Cara Kerja : • Ciptakan suasana tenang dan aman • Pasang Ear piece pada telinga • Pastikan posisi stetoskop tepat dan dapat didengar • Pada bagian sisi membran dapat digosok biar hangat • Lakukan pemeriksaan dengan sistematis sesuai dengan kebutuhan. • Lakukan perkusi secara sistematis sesuai dengan keperluan. . STETOSKOPBagian-bagian stetoskop : • Ear Pieces --> dihubungkan dengan telinga • Sisi Bell ( Cup ) --> pemeriksaan thorak atau bunyi dengan nada rendah • Sisi diafragma ( membran ) --> Pemeriksaan abdomen atau bunyi dengan nada tinggi. atau berdiri 2. Perkusi Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan cara perantara jari tangan. bentuk.2. Atur posisi pasien duduk.4 bersama --> menentukan konsistensi dan kualitas benda • Jari dan telapak tangan --> merasakan getaran • Sedikit tekanan --> menentukan rasa sakit 3. PEMERIKSAAN KEPALA DAN LEHER KEPALA Cara Kerja : 1. dengan lentur dan cepat. Cara Kerja : • Lepas Pakaian sesuai dengan keperluan • Luruskan jari tengah kiri .3. 4.

MATAA. Bola mata Cara Kerja : 1. Inspeksi keadaan bola mata, catat adanya kelainan : endo/eksoptalmus, strabismus. 2. Anjurkan pasien memandang lurus kedepan, catat adanya kelainan nistagmus. 3. Bedakan antara bola mata kanan dan kiri 4. Luruskan jari dan dekatkan dengan jarak 15-30 cm 5. Beritahu pasien untuk mengikuti gerakan jari, dan gerakan jari pada 8 arah untuk mengetahui fungsi otot gerak mata. B. Kelopak Mata 1. Amati kelopak mata, catat adanya kelainan : ptosis, entro/ekstropion, alismata rontok, lesi, xantelasma. 2. Dengan palpasi, catat adanya nyeri tekan dan keadaan benjolan kelopak mata C. Konjungtiva, sclera dan kornea 1. Beritahu pasien melihat lurus ke depan 2. Tekan di bawah kelopak mata ke bawah, amati konjungtiva dan catat adanya kelainan : anemia / pucat. ( normal : tidak anemis ) 3. Kemudian amati sclera, catat adanya kelainan : icterus, vaskularisasi, lesi / benjolan (normal : putih ) 4. Kemudian amati sklera, catat adanya kelainan : kekeruhan ( normal : hitam transparan dan jernih )

D. Pemeriksaan pupil 1. Beritahu pasien pandangan lurus ke depan 2. Dengan menggunakan pen light, senter mata dari arah lateral ke medial 3. Catat dan amati perubahan pupil : lebar pupil, reflek pupil menurun, bandingkan kanan dan kiri Normal : reflek pupil baik, isokor, diameter 3 mm Abnormal : reflek pupil menurun/-, Anisokor, medriasis/meiosis

E. Pemeriksaan tekanan bola mata Tampa alat : Beritahu pasien untuk memejamkan mata, dengan 2 jari tekan bola mata, catat adanya ketegangan dan bandingkan kanan dan kiri. Dengan alat : Dengan alat Tonometri ( perlu ketrampilan khusus ) F. Pemeriksaan tajam penglihatan 1. Siapkan alat : snelen cart dan letakkan dengan jarak 6 meter dari pasien. 2. Atur posisi pasien duduk/atau berdiri, berutahu pasien untuk menebak hurup yang ditunjuk perawat. 3. Perawat berdiri di sebelah kanan alat, pasien diminta menutup salah satu mata ( atau dengan alat penutup ). 4. Kemudian minta pasien untuk menebak hurup mulai dari atas sampai bawah. 5. tentukan tajam penglihatan pasien

G. 1. 2. 3. 4. 5.

Pemeriksaan lapang pandang perawat berdiri di depan pasien bagian yang tidak diperiksa ditutup Beritahu pasien untuk melihat lurus kedepan ( melihat jari ) Gerakkan jari kesamping kiri dan kanan jelaskan kepada pasien, agar memberi tahu saat tidak melihat jari

TELINGA • Pemeriksaan daun telinga, lubang telinga dan membran tympani 1. Atur posisi pasien duduk 2. Perawat berdiri di sebelah sisi pasien, amati daun telinga dan catat : bentuk, adanya lesi atau bejolan. 3. tarik daun telinga ke belakang atas, amati lubang telinga luar , catat adanya : lesi, serumen, dan cairan yang keluar. 4. Gerakkan daun telinga, tekan tragus dan catat adanya nyeri telinga. Catat adanya nyeri telinga. 5. Masukkan spikulum telinga, dengan lampu kepala / othoskop amati lubang telinga dan catat adanya : cerumen atau cairan, adanya benjolan dan tanda radang. 6. Kemudian perhatikan membrane tympani, catat : warna, bentuk, dan keutuhannya. (normal : warna putih mengkilat/transparan kebiruan, datar dan utuh ) 7. Lakukan prosedur 1-6 pada sisi telinga yang lain.

• Pemeriksaan fungsi pendengaran Tujuan : menentukan adanya penurunan pendengaran dan menentukan jenis tuli persepsi atau konduksi. Tehnik pemeriksaan : 1. Voice Test ( tes bisik ) Test ini amat penting bagi dokter umum terutama yang bertugas di puskesmas-puskesmas, dimana peralatan masih sangat terbatas untuk keperluan testpendengaran. Persyaratan yang perlu diingat dalam melakukan test ini ialah : a. Ruangan Test Salah satu sisi atau sudut menyudut ruangan harus ada jaraksebesar 6 meter. Ruangan harus bebas dari kebisingan. Untuk menghindarigema diruangan dapat ditaruh kayu di dalamnya.b. b. Pemeriksa Sebagai sumber bunyi harus mengucapkan kata-kata denganmenggunakan ucapan kata-kata sesudah expirasi normal.Kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 2 suku kata (bisyllabic) yang terdiridari kata-kata sehari-hari. Setiap suku kata diucapkan dengan tekanan yang sama dan antara dua suku kata bisyllabic “Gajah Mada P.B.List” karena telahditera keseimbangan phonemnya untuk bahasa Indonesia. c. Penderita Telinga yang akan di test dihadapkan kepada pemeriksa dantelinga yang tidak sedang ditest harus ditutup dengan kapas atau oleh tangansi penderita sendiri. Penderita tidak boleh melihat gerakan mulut pemeriksa. Cara pemeriksaan. Sebelum melakukan pemeriksaan penderita harus diberi instruksi yang jelasmisalnya anda akan dibisiki kata-kata dan setiap kata yang didengar harusdiulangi dengan suara keras. Kemudian dilakukan test sebagai berikut :

a. Mula-mula penderita pada jarak 6 meter dibisiki beberapa kata bisyllabic.Bila tidak menyahut pemeriksa maju 1 meter (5 meter dari penderita) dan testini dimulai lagi. Bila masih belum menyahut pemeriksa maju 1 meter, dandemikian seterusnya sampai penderita dapat mengulangi 8 kata-kata dari 10kata-kata yang dibisikkan. Jarak dimana penderita dapat menyahut 8 dari 10kata diucapkan di sebut jarak pendengaran.b. b. Cara pemeriksaan yang sama dilakukan untuk telinga yang lain sampaiditemukan satu jarak pendengaran. Evaluasi test. 6 meter - normalb. 5 meter - dalam batas normalc. 4 meter - tuli ringand. 3 – 2 meter - tuli sedange. 1 meter atau kurang - tuli berat. Dengan test suara bisik ini dapat dipergunakan untuk memeriksa secara kasarderajat ketulian (kuantitas). Bila sudah berpengalaman test suara bisik dapatpula secara kasar memeriksa type ketulian misalnya : a. Tuli konduktif sukar mendengar huruf lunak seperti n, m, w (meja dikatakanbecak, gajah dikatakan kaca dan lain-lain). b. Tuli sensori neural sukar mendengar huruf tajam yang umumnyaberfrekwensi tinggi seperti s, sy, c dan lain-lain (cicak dikatakan tidak, kacadikatakan gajah dan lain-lain) 2. Test garputala • Rinne test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udarapada satu telinga. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang darihantaran tulang. Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjangdaripada hantaran tulang. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebihpanjang daripada hantaran udara. Cara pemeriksaan. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunakpada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum daritelinga yang akan diperiksa. Kepada penderita ditanyakan apakahmendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkanhingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikuseksternus dari telinga yang diperiksa. Bila penderita masih mendengardikatakan Rinne (+). Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-). Evaluasi test rinne. Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. Rinnenegatif berarti tuli konduktif. Rinne Negatif Palsu. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hatidengan apa yang dikatakan Rinne negatif palsu. Hal ini terjadi pada tulisensorineural yang unilateral dan berat.Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya ditangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing). Kemudiansetelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getarantidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative.

Normalnya : pasien masih mendengar saat ujung garputala didekatkan pada lubang telinga. • Weber test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan.Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama.

Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segeradipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa.Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bilamasih mendengar dikatakan schwabach memanjang. kiri tuli sensory neural 4. sesudah itusekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidakmendengar dengungan. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuhdiletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex. Cara pemeriksaan. kiri tuli sensory neural 3.Cara pemeriksaan. Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 7. Kedua telinga tuli konduktif. • Scwabach Test Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita denganhantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal.Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabachmemendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi. kanan lebih bera 5. Telinga kanan tuli konduktif. Kedua telinga tuli sensory neural. kiri normal 2. Telinga kanan tuli konduktif. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapatmenegakkan diagnosa secara pasti. Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapakemungkinan 1. Test Audiometri Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. Evaluasi test schwabach 6. Evaluasi Tets Weber.Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secaralunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita. Telinga kanan normal. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidakmendengar dengungan. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasike kanan. Karena telinga pemeriksa normal berarti telingapenderita normal juga. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Penderita ditanyakan apakahmendengar atau tidak. Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. Bila pemeriksa tidakmendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengarlagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita danditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga manadidengar lebih keras. Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 8. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Alat ini menghasilkan nadanada murni dengan frekuensi melalui aerphon. .

000 Hz. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1. Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena . kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. audiologis dan pasien yang kooperatif. Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500. Grafiknya terdiri dari skala decibel. Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel Klasifikasi 0-15 Pendengaran normal >15-25 Kehilangan pendengaran kecil >25-40 Kehilangan pendengaran ringan >40-55 Kehilangan pendengaran sedang >55-70 Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat >70-90 Kehilangan pendengaran berat >90 Kehilangan pendengaran berat sekali Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi. 1000-2000. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman. 2. untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang. 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB).Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri. hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara. suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 2020. kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur.

Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari. Skrinig anak balita dan SD 4. sedangkan intensitas suara barapa saja. Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi). Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi.intensitasnya makin dilemahkan. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah.tuntutan ganti rugi 3. Untuk kedokteran klinik. pendengar diminta untuk mnebaknya. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB. dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Dengan demikian. tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a. tetapi juga jauh diatasnya. atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan. apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus. berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB 2. Mediagnostik penyakit telinga 2. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga). kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. berarti pendengaran baik. 3. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya. khususnya penyakit telinga 2. Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat. 1978) : 1. Untuk kedokteran klinik Kehakiman. memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. Manfaat audiometri 1. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB 3. Untuk kedokteran klinik Pencegahan. . Kriteria orang tuli : 1. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran. apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi. Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. Pada audiometri tutur. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. b. deteksi ktulian pada anak-anak Tujuan Ada empat tujuan (Davis. Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. apakah ada lubang gendang telinga. Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB 4. apakah ada kotoran telinga (serumen).

• JVP ( tekanan vena jugularis ) Posisi penderita berbaring setengah duduk. catat : kesimetrisan. 5. lesi. • Bising Arteri Karotis Tentukan letak denyut nadi karotis ( dari tengah leher geser ke samping ). ) dan letakkan penggaris diatasnya. telan ludah. amati uvula. Normalnya : tidak lebih dari 4 cm. tanda oliver ( pada saat denyut jantung. Buka mulut pasien. catat : bentuk dan kesimetrisan Palpasi : Pasien duduk dan pemeriksa di belakang. LEHER • Kelenjar Tyroid Inspeksi : Pasien tengadah sedikit. lesi mukosa 4. tempelkan jari tengah pada bagian bawah trachea. catat : kebersihan dan bau mulut. Atau Posisi penderita berbaring setengah duduk. catat : kesimetrisan dan tanda radang. Tekan lidah dengan sudip lidah. catat : merah. cyanosis. Minta pasien menjuliurkan lidah. kesimetrisan. ukur tinggi denyut vena dengan penggaris. tentukan batas atas denyut vena jugularis. raba ke atas dan ke samping. tentukan titik nol ( titik setinggi manubrium s. Test Romberg b. sumbing 3. catat : kebersihan gisi. Pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa 2. beritahu pasien merubah posisi ke duduk dan amati pulsasi denyut vena. gigi palsu. warna. jari tengah dan telunjuk ke dua tangan ditempatkan pada ke dua istmus. ukuran. catat : adanya benjolan . lesi. catat : pembesaran dan tanda radang tonsil. bentuk. Test Kalori MULUT DAN TONSIL 1. Test Fistula c. gigi berlubang. karies gigi. Letakkan sisi bell . massa/benjolan. konsidstensi. Auskultasi : Tempatkan sisi bell pada kelenjar tyroid. tentukan batas atas denyut vena. minta pasien membunyikan huruh “ A “. trachea tertarik ke bawah ).Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan a. catat : adanya bising ( normal : tidak terdapat) • Trakhea Inspeksi : Pemeriksa disamping kanan pasien. catat : letak trachea. 6. Amati bibir. kering. raba disepanjang trachea muali dari tulang krokoid dan kesamping. 7. Normalnya : saat duduk setinggi manubrium sternum. Amati gigi. Normalnya : simetris ditengah. Amati tonsil tampa dan dengan alat cermin.

letakkan kedua tangan ke dada. Dari arah depan tentukan adanya pelebaran vena dada. abdominal / thorakoabdominal. misal . dan daya kembang paru 4.pada uremia. adanya nyeri. C. koma DM. koma DM. misal : meningitis • Kusmoul  Pernapasan lambat dan dalam. misal . besar. kemudian dangkal dan diserta apneu berulang-ulang. • Dangkal  emfisema. Letakkan kedua tangan seperti pada no 2/3. 4. tentukan getaran suara dan bedakan kanan dan kiri. pneumonie. PALPASI Cara Kerja : 1. dengan kecepatan normal • Apneustik  ispirasi megap-megap. PERKUSI Cara Kerja : 1. pleura Efusi. Dari arah depan. Misal : pada Srtoke. minta pasien untuk bersuara ( 77 ). Dengan posisi berbaring / semi fowler. catat : gerak napas simetris atau tidak dan tentukan daya kembang paru ( normalnya 3-5 cm ). 5. sehingga ke dua ibu jara berada diatas Procecus Xypoideus. • Asimetris  pneumonie. 3. Dari arah samping dan belakang tentukan bentuk dada. ginjal. letakkan ke dua tangan pada punggung di bawah scapula.stetoskop di daerah arteri karotis. Acidosis metabolic • Hyperpneu  napas dalam.  Abnormal : • Tarchipneu  napas cepat ( > 24 X ) . misal . catat adanya bising. misal pada lesi pusat pernapasan. Posisi pasien dapat duduk dan atau berbaring 2. Dari arah atas tentukan kesimetrisan dada. pasien diminta napas biasa. normalnya : tidak ada. pada demam. PEMERIKSAAN THORAX DAN PARU Tujuan Pemeriksaan : • Mengidentifikasi kelaian bentuk dada • Mengevaluasi fungsi paru A. stroke • Cheyne Stokes  napas dalam. Atur posisi pasien berbaring / setengah duduk . tidak ada penggunaan otot napas dan retraksi interkostae. catat : gerakan napas dan tanda-tanda sesak napas  Normalnya : Gerak napas simetris 16 – 24 X. Menurun : konsolidasi paru. Normalnya : simetris. penyakit jantung. lakukan palpasi daerah thorax. TBC paru. efusi pericard/pleura. ekspirasi sangat pendek. adanya benjolan ( tentukan konsistensi. Normalnya : tidak ada bising. gagal jantung • Bradipneu  napas lambat ( < 16 X ). Atur posisi pasien duduk atau berbaring 2. Atau Dengan posisi duduk merunduk. INSPEKSI  Cara Kerja : 1. • Biot  Dalam dan dangkal disertai apneu yang tidak teratur. tumor paru. tumor paru. dengan posisi tangan agak ke atas. B. catat . ada masa paru Meningkat : Pleura efusi. covenrne paru. emfisema. tentukan : kesimetrisan gerak dada. paru fibrotik. tumor paru. TBC. mobilitas … ) 3.

effuse pleura. AUSKULTASI Cara kerja : 1. Dengan stetoskop. edema paru • Pekak  seperti bunyi pada paha : tumor paru. tidak ada suara tambahan Abnormal : • Ronkhi  suara tambahan pada bronchus akibat timbunan lender atau secret pada bronchus. inpirasi lebih keras dan pendek dari ekspirasi. iga 8 MAL. catat : suara napas dan adanya suara tambahan. • Krepitasi / rales  berasal daru bronchus. Missal : fibrosis. kavitas paru yang berisi cairan ( seperti gesekan rambut / meniup dalam air ) • Whezing  suara seperti bunyi peluid. catat bunyi resonan Vokal : • Bronkhofoni  meningkat. fibrosis 2. suara jelas • Egovoni  sengau dan mengeras ( pada efusi pleura + konsolidasi paru ) • Menurun / tidak terdengar  Efusi pleura. pneumothorax . …. catat adanya perubahan suara perkusi Normalnya : sonor/resonan ( dug ) Abnormal : • Hyperresonan  menggendang ( dang ) : thorax berisi udara. lakuka perkusi secara merata pada daerah paru. paru kiri lebih tinggi Abnormal : • Meningkat  anak. iga 10 garis skapularis. pneumonie. ekspirasi seperti trac-bronkhial. Kemudian. efusi. emfisema.Gunakan tehnik perkusi. Abnormal : • Suara trac-bronkhial terdengar di daerah bronchus dan paru ( missal . emfisema Suara tambahan Normal : bersih. pneumothorax 3. D. Suara napas Normal : • Trachea brobkhial  suara di daerah trachea. seperti meniup besi. bronkus dan paru. • Bronkhovesikuler  suara di daerah bronchus ( coste 3-4 di atas sternum ). karena penyempitan bronchus dan alveoli. beritahu pasien untuk mengucapkan satu. fibrosis. kavitas • Kurang resonan  “deg” : fibrosis. dan tentukan batas – batas paru Batas paru normal : • Atas : Fossa supraklavikularis kanan-kiri • Bawah : iga 6 MCL. pleura menebal • Redup  “bleg” : fibrosis berat. • Vesikuler  suara di daerah paru. ascites • Menurun  orang tua. nada rendah inspirasi dan ekspirasi tidak terputus. fibrosis ) • Suara bronkhovesikuler terdengar di daerah paru • Suara vesikuler tidak terdengar. cavitas paru ) • Pectoriloguy  meningkat sekali. dua. 3. alveoli. konsolidasi. suara belum jelas ( misal : pnemonie lobaris. infiltrate. auskultasi paru secara sistematis pada trachea. emfisema. Atur posisi pasien duduk / berbaring 2. inpirasi spt vesikuler.

Denyut vena Cara Kerja : 1. Sulit dilihat payudara besar. Fase Systolik dan Dyastolik Normal : Fase systolik normal lebih pendek dari fase dyastolik ( 2 : 3 ) Abnormal : . 4.Fase systolic memanjang / fase dyastolik memendek . pulmonal. Sifat bunyi jantung Normal : . Pemeriksa berdiri sebelah kanan pasien setinggi bahu pasien 3. PS. Amati dan catat pulsasi apeks cordis Normal  nampak pada ICS 5 MCL selebar 1-2 cm ( selebar ibu jari ).PEMERIKSAAN JANTUNG A. Denyut nadi pada daerah lain 1. . emfisema. Cembung ( bulging precordial ) 5. 6. Bentuk perkordial 2. Intensitas bunyi jantung Normal : • Di daerah mitral dan trikuspidalis intensitas BJ1 akan lebih tinggi dari BJ 2 • Di daerah pulmonal dan aorta intensitas BJ1 akan lebih rendah dari BJ 2 3.bersifat tunggal. Abnormal  Cekung. ASD. buka pakaian dan atur posisi pasien terlentang. trikuspidalis. dan efusi perikard. Amati dan catat pulsasi daerah aorta. Amati dan cata pulsasi denyut vena jugularis Normal tidak ada denyut vena pada prekordial. B.  Splitting BJ 2 fisiologik  normal Spliting BJ2. Motivasi pasien tenang dan bernapas biasa 4. INPEKSI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. lebar > 2 cm. dan ephygastrik NormaL  Hanya pada daerah ictus 7. nampak meningkat dan bergetar ( Thrill ). kemudian napas ditahan sebentar” . Abnormal --> bergeser kearah lateroinferior . Denyut vena hanya dapat dilihat pada vena jugularis interna dan eksterna. AUSKULTASI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. Irama dan frekwensi jantung Normal : reguler ( ritmis ) dengan frekwensi 60 – 100 X/mnt 2. dinding toraks yang tebal.Terbelah/terpisah dikondisikan ( Normal Splitting )  Splitting BJ 1 fisiologik  Normal Splitting BJ1 yang terdengar saat “ Ekspirasi maksimal. Amati dan catat bentuk precordial jantung Normal  datar dan simetris pada kedua sisi. kepala ditinggikan 15-30 2. Denyut pada apeks kordis 3. terdengar “ sesaat setelah inspirasi dalam “ Abnormal : • Splitting BJ 1 patologik  ganngguan sistem konduksi ( misal RBBB ) • Splitting BJ 2 Patologik : karena melambatnya penutupan katub pulmonal pada RBBB.

catat : adanya pulsasi. Geser ke daerah ephigastrik. catat adanya bising aorta. catat : pulsasi. Adanya Bising ( Murmur ) jantung  adalah bunyi jantung ( bergemuruh ) yang dibangkitkan oleh aliran turbulensi ( pusaran abnormal ) dari aliran darah dalam jantung dan pembuluh darah. kemudian ke daerah mitral. Normal  tidak ada pulsasi 2. murmur Bj1. frekwensi DJ. catat : sifat. axial line ) menuju medial. catat mana yang paling jelas. kwalitas di banding dg BJ1. lift/heave. kwalitas di banding dg BJ2. Lakukan perkusi mulai intercota 2 kiri dari lateral ( Ant. sehingga terjadi pengisian yang cepat pada ventrikel Normal : tidak terdapat gallop ritme Abnormal : • Gallop ventrikuler ( gallop S3 ) • Gallop atrium / gallop presystolik ( gallop S4 ) • Gallop dapat terjadi S3 dan S4 ( Horse gallop ) Cara Kerja : 1. tentukan besar denyutan. 5. kemudian ke daerah aorta. simak Bunyi jantung terutama BJ1. 4. sulit diraba Abnormal : mudah / meningkat D. Dengan menggunakan 3 jari tangan dan dengan tekanan ringan. Tentukan batas-batas jantung . Normal : tidak terdapat murmur Abnormal : terdapat murmur  kelainan katub . Normal : teraba. shunt/pirau 6. pulmo dan trikuspidalis. irama gallop. Geser pada daerah mitral. simak Bunyi jantung terutama BJ2. PALPASI Cara Kerja : 1. Bila ada murmur ulangi lagi keempat daerah. lebar. 3. dan murmur Bj2. ada thriil / lift 3. Geser pada daerah ephigastrik.Tedengar bunyi “ fruction Rub”  gesekan perikard dg ephicard. palpasi daerah aorta. Periksa stetoskop dan gosok sisi membran dengan tangan 2. 3.. Geser jari ke ICS 3 kiri kemudian sampai ICS 6 . PERKUSI Cara Kerja : 1. Normal  terba di ICS V MCL selebar 1-2cm ( 1 jari ) Abnormal  ictus bergeser kea rah latero-inferior. C. adanya thrill. 5. yang disebabkan karena darah mengalir ke ventrikel yang lebih lebar dari normal. catat : sifat. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah Tricus. splitting BJ1. Irama Gallop ( gallop ritme )  Adalah irama diamana terdengar bunyi S3 atau S4 secara jelas pada fase Dyastolik. lakukan perkusi dan catat perubahan suara perkusi redup. tentukan letak. catat perubahan perkusi redup 2. splitting BJ2. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah pulmonal.

Inspeksi areola mama. Catat : nyeri dan adanya benjolan • Bila ada benjolan tentukan konsistensi. tidak tegang. disamping atau didada 4. tidak ada lesi Abnormal : • Strie berwarna ungu  syndrome chusing • Pelebaran vena abdomen  Chirrosis • Dinding perut tebal  odema • Berbintil atau ada lesi  neurofibroma • Ada masa / benjolan abnormal  tumor 6. besar. Mulai inspeksi bentuk. tanda radang dan lesi 4. tanda radang dan lesi. jumlah. warna. PEMERIKSAAN ABDOMEN Abdomen dibagi menjadi 9 regio : INSPEKSI Cara Kerja : 1. • Lakukan palpasi payudara dengan 3 jari tangan memutar searah jarum jam kea rah areola. nyeri tekan. Buka lengan pasien. Normal : gelap. kecil/sedang/besar 3. datar/menonjol/masuk kedalam. • Palpasi daerah ketiak terutama daerah limfe nodi. Posisi berbaring. mobilisasinya. catat : adanya keluaran. catat : warna. benjolan dan tanda radang. kedua tangan rileks disisi tubuh. Lakukan inspeksi. konsistensi dan nyeri. Perhatikan bentuk perut Normal : simetris Abnormal : • Membesar dan melebar  ascites • Membesar dan tegang  berisi udara ( ilius ) • Membesar dan tegang daerah suprapubik  retensi urine .PEMERIKSAAN PAYUDARA DAN KETIAK Inspeksi 1. Kandung kencing dalam keadaan kosong 2. Catat : lesi. Strie livide/gravidarum. Mintalah penderita untuk menunjukkan daerah sakit untuk dilakukan pemeriksaan terakhir 5. pakaian atas dibuka. PALPASI Cara Kerja : • Lakukan palpasi pada areola. Inspeksi. menonjol 5. amati ketiak. bantal dikepala dan lutut sedikit fleksi 3. 2. dan perhatikan Kedaan kulit dan permukaan perut Normalnya : datar. catat : adanya benjolan. Kedua lengan. dan catat adanya : benjolan. posisi pasien duduk. ukuran dan kesimetrisan payudara Normal : bulat agak simetris. bau.

cata bising dan peristaltic usus. Normal : Bunyi “ Klikc Grugles “. Cara : • Lakukan perkusi pada MCL kanan bawah umbilicus ke atas sampai terdengar bunyi redup. redup bila ada organ dibawahnya ( misal hati ) Abnormal : • Hypertympani  terdapat udara • Pekak  terdapat Cairan 2. Letakkan stetoskop pada daerah ephigastrik.• Membesar asimetris  tumor. Tentukan ketegangan. dan adanya masa superficial atau masa feces yang mengeras. catat adanya perubahan suara perkusi : Normalnya : tynpani. Lakukan auskultasi pada satu tempat saja ( kuadran kanan bawah ). catat adanya tanda radang dan hernia AUSKULTASI Cara Kerja : 1. Beritahu pasien untuk bernapas dengan mulut. Perhatikan umbilicus. Normal : tidak ada. untuk menentukan batas bawah hepar. PALPASI Cara Kerja : 1. pembesaran organ dalam perut 7. • Lakukan perkusi daerah paru ke bawah. 5-35X/mnt Abnormal : • Bising dan peristaltic menurun / hilang  illeus paralitik. Lakukan palpasi perlahan dengan tekanan ringan. Normalnya : tidak ada 3. pada seluruh daerah perut 3. lakukan perkusi di daerah hepar untuk menentukan batas dan tanda pembesaran hepar. adanya nyeri tekan. Lanjutkan dengan pemeriksaan organ. 4. gerakan peristaltic pada orang kurus. Dengan merubah posisi/menggerakkan abdomen. catat gerakan air ( tanda ascites ). PERKUSI Cara Kerja : 1. kelaparan 3. Perhatikan Gerakan dinding perut Normal : mengempis saat ekspirasi dan menggembung saat inspirasi. untuk menentukan batas atas • Lakukan perkusi di sekitar daerah 1 dan 2 untuk menentukan batas-batas hepar yang lain. catat bising aorta. AbnormaL: • Terjadi sebaliknya  kelumpuhan otot diafragma • Tegang tidak bergerak  peritonitis • Gerakan setempat  peristaltic pada illius • Perhatikan denyutan pada didnding perut • Normal : dapat terlihat pada ephigastrika pada orang kurus 8. . lutut sedikit fleksi. 2. lakukan perkusi dari kwadran kanan atas memutar searah jarum jam. Gunakan stetoskop sisi membrane dan hangatkan dulu 2. post operasi • Bising meningkat “ metalik sound “  illius obstruktif • Peristaltik meningkat dan memanjang ( borboritmi ) diare.

ukuran dan kesimetrisan otot • Adanya atropi. • Palpasi tulang. • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran hepar. konsistensi. ujung ireguler  hepatoma Lien • Letakkan tangan kiri menyangga punggung kanan penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas . tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. keras tidak merata. Penilaian : 0 ( Plegia ) : Tidak ada kontraksi otot 1 ( parese ) : Ada kontraksi. • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran limfa • Minta pasien napas dalam. konsistensi dan bentuk permukaannya. dan pegang otot dan lakukan penilaian.obliq ) di daerah tempat redup hepar bawah / di bawah kostae. konsistensi dan bentuk permukaan. tonus dan spasme otot • Kekuatan otot UJi Kekuatan Otot Cara kerja : • Tentukan otot/ektrimitas yang akan di uji • Beritahu pasien untuk mengikuti perintah. kontraksi dan tremor. Normal : Sulit di raba. ujung tajam. pembesaran. saat pasien melepas napas. krepitasi. tidak timbul gerakan 2 ( parese ) : Timbul gerakan tidak mampu melawan gravitasi 3 ( parese ) : Mampu melawan gravitasi 4 ( good ) : mampu menahan dengan tahanan ringan 5 ( Normal ): mampu menahan dengan tahanan maksimal TULANG Hal-hal yang perlu diperhatikan : • Adanya kelainan bentuk / deformitas • Masa abnormal : besar. tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. nyeri tekan. rasakan adanya masa hepar. benjolan abnormal. saat pasien melepas napas. catat adanya deformitas. mobilitas • Tanda radang dan fraktur Cara kerja : • Ispkesi tulang. rasakan adanya masa hepar. Abnormal : • Teraba nyata ( membesar ).obliq ) di bawah kostae kanan. . tentukan kwalitas benjolan. tentukan besar. • Minta pasien napas dalam. lunak dan ujung tumpul  hepatomegali • Teraba nyata ( membesar ). konsistensi dan bentuk permukaannya.Hati • Letakkan tangan kiri menyangga belakang penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas . teraba bila ada pembesaran PEMERIKSAAN SISTEM MUSKULOSKELETAL OTOT Hal – hal yang perlu diperhatikan : • Bentuk. pembesaran. tanda radang. Normal : tidak teraba / teraba kenyal.

Tekstur dan konsistensi Normal : halus dan elastis Abnormal : kasar. distribusi dan konfigurasinya. crusta. eskoriasi. elastisitas menurun. Warna kulit Normal : nampak lembab. nampak tegang  odema. Uji TINEL’S • Lakukan perkusi ringan di atas syaraf median pergelangan tangan • Abnormal : ada kesemutan atau kesetrum 3. • Abnormal : Baal / kesemutan pada jari-jari dan tangan. General. ekstensi. scar. adanya kekakua sendi dan nyeri gerak • Tentukan ROM sendi : Rotasi. PEMERIKSAAN KHUSUS 1. pronasi/supinasi. Unilateral. Soliter. Uji CTS ( Carpal Tunnel Syndrome ) Uji PHALEN’S • Fleksikan pergelangan tangan ke dua tangan dengan sudut maksimal. Kemerahan Abnormal : cyanosis / pucat 2. dorsofleksikan tungkai kaki • Abnormal : nyeri tajan ke rah belakang tungkai  ketegangan / kompresi syaraf 2. ulceratif. catat : krepitasi. Angkat Tungkai Lurus • Angkat tungkai pasien. Tanda BALON Tekan kantung suprapatela dengan jari tangan. protaksi. hypopigmentasi. PEMERIKSAAN SISTEM INTEGUMEN KULITInspeksi 1. fleksi. dan palpasi adanya nyeri tekan • Palpasi dan gerakan sendi. macula. 2. jari yang lain meraba adanya cairan. pigmentasi. nodula. vesikel. lichenifikasi. pustula • Lesi Sekunder : Tumor. Tekstur kulit Normal : tegang dan elastis ( dewasa ). lembek dan kurang elastis ( orang tua ) Abnormal : menurun  dehidrasi. luruskan sampai timbul nyeri. Kelainan / lesi kulit Normal : tidak terdapat Abnormal : Terdapat lesi kulit. Bergerombol Palpasi 1. papula. peradangan 3. tahan selama 60 detik. bentuk Lesi • Lesi Primer : bulla. fissura. erosi. plaque.PERSENDIAN Hal-hal Yang perlu diperhatikan : • Tanda-tanda radang sendi • Bunyi gerak sendi ( krepitasi ) • Stiffnes dan pembatasan gerak sendi ( ROM ) Cara Kerja : • Ispeksi sendi terhadap tanda radang. tentukan : 1. elastisitas meningkat ( tegang ) . inverse/eversi.

Suhu Normal : hangat Abnormal : dingin ( kekurangan oksigen/sirkulasi ). Persiapan sebelum pemeriksaan: . Adanya nyeri Pemeriksaan Khusus AKRAL • Ispeksi dan palpasi jari-jari tangan. luka. lesi. • Melakukan perawatan genetalia • Mengetahui kemajuan proses persalinan pada ibu hamil atau persalinan Metode yang Digunakan pada pria: • Inspeksi • Palpasi Metode yang digunakan pada wanita: • Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar dan bagian dalam. suhu meningkat ( infeksi ) 3. dingin  kekurangan oksigen CR ( capilari Refiil ) • Tekan Ujung jari berarapa detik. atau benjolan. misalnya varises. atau iritasi. Tumor. perut. Turgor kulit Normal : baik Abnormal : menurun / jelek  orang tua. dehidrasi 4. infeksi. Tujuan Pemeriksaan Genetalia: • Melihat dan mengetahui organ organ yang termasuk dalam genetalia • Mengetahui adanya abnormalitas pada genetalia. dahi amati adanya lekukan ( pitting ) Normal : tidak ada pitting Abnormal : terdapat pitting ( non pitting pada beri-beri ) KUKU • Observasi warna kuku. catat warna dan suhu . warna dan pertumbuhan rambut PEMERIKSAAN FISIK GENITALIAUntuk mengetahui apakah pasien mempunyai masalah dengan genetalia (alat vital) baik intern/ekstern. elastisitas kuku. edema. catat perubahan warna Normal : warna berubah merah lagi < 3 detik Abnormal : > 3 detik  gangguan sirkulasi. Adanya hyponestesia/anestesia 5. pengeluaran cairan atau darah dan sebagainya.2. ODEM • Tekan beberapa saat kulit tungkai. Normal : tidak pucat. kemudian lepas. tanda radang Abnormal : • Jari tabuh ( clumbing Finger )  penykait jantung kronik • Puti tebal  jamur RAMBUT TUBUH • Ispeksi distribusi. bentuk kuku. hangat Abnormal : pucat.

Palpasi tiap testis dan perhatikan ukuran. benjolan . 2) Menyiapkan tempat yang nyaman sehingga dapat menjaga privasi pasien. . pegang penis dan buka kulup penis. Lubang uretra normalnya terletak di tengah kepala penis. benjolan. b) Inspeksi kulit. Pada Wanita: 1. d) Meminta ijin pada pasien jika melakukan pengkajian. dan ekskorasi. b) Perawat meminta pasien untuk berkemih sebelum pemeriksaan. perhatikan distribusi dan jumlahnya. bengkak. dan kemungkinan adanya cairan kental yang keluar. bentuk. Langkah pemeriksaan fisik genitalia Pada Pria : 1) Inspeksi a) Pertama tama inspeksi rambut pubis. Saluran sperma biasanya ditemukan pada puncak bagian lateral skrotum dan teraba lebih keras daripada epidedimis. 2) Palpasi a) Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya nyeri tekan.penis dapat dibuka oleh pasien sendiri ). f) Menjaga privasi pasien. c) Pada pria yang tidak dikhitan. amati lubang uretra dan kepala penis untuk mengetahui adanya ulkus. perhatikan penyebaran dan pola pertumbuhan rambut pubis. Pada beberapa kelainan lubang uretra ada yang terletak di bawah batang penis ( hipospadia ) dan ada yang terletak di atas batang penis ( epispadia ) d) Inspeksi skotrum dan perhatikan bila ada tanda kemerahan. e) Perawat harus dapt memeberi penjelasan kepada pasien tentang tujuan pengkajian sehingga pasien dapat diajak bekerja sama dan tidak merasa malu. baskom. dan berukuran sekitar 2-4 cm. eritema. b) Anjurkan pasien membuka celana. atau nodular. d) Amati kulit dan area pubi. ulkus. Catat bila rambut pubis tumbuh sedikit atau tidak sama sekali. peradangan. Testis normalnya teraba elastis. dan rabas ( bila pasien malu.1) Menyiapakan alat yang digunakan: a) Lampu yang dapat diatur pencahayaanya b) Handscone atau sarung tangan c) Meja pemeriksaan dengan sanggurdi. c) Bantu pasien melakukan posisi litotomi di tempat tidur atau meja periksa untuk pengkajian genital eksternal. fisura. c) Mulai dengan mengamati rambut pubis. licin. dan adanya kelainan lain yang tampak pada penis. d) Palpasi saluran sperma dengan jempol dan jari telunjuk. jaringan parut. ukuran. tidak ada benjolan atau massa. dan selimuti bagian yang tidak diamati. konstitensi. Angkat skrotrum dan amati area di belakang skrotrum. dan kelicinannya. dan bandingkan sesuai usia perkembangan pasien. b) Palpasi stroktum dan testis dengan menggunakan jempol dan tiga jari pertama. leukoplakia. c) Papasi epidemis yang memanjang dari puncak testis ke belakang. Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar: a) Beri kesempatan kepada pasien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum pengkajian dimulai. Bantu mengatur posisi litotomi. Bila diperlukan urine untuk specimen laboratorium. eksoriasi. Normalnya epididimis teraba lunak. spatula plastic. perhatikan adana lesi. 3) Hal yang harus diperhatikan: a) Pengkajian dilakukan sesuai kebutuhan dengan tetap menjga kesopanan dan harga diri pasien dan perawat.

Tangan yang ada di abdomen tekankan ke bawah kea rah kuadran kanan bawah. Perhatikan setiap ada pembengkakan. nodular. dan mobilitasnya. Tangan yang ada diluar letakkan di abdomen dan tekankan ke bawah. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri. konsistensi. l) Palpasi serviks dengan dua jari anda dan perhatikan posisi. d) Letakkan dua jari pada pintu vagina dan tekankan ke bawah kea rah perianal. melumasi jari telunjuk dan jari tengah. konsistensi. rabas atau nodular. dan nyeri tekan ( normalnya tidak teraba) ulangi untuk ovarium sebelahnya. klitoris. dan putar speculum kea rah posisi horizontal dan pertahankan penekanan pada sisi bawah / posterior. . sedangkan pada para membentuk celah. Normalnya serviks dapat digerakkan tanpa terasa nteri. f) Bila spekulum sudah berada di vagina. c) Siapkan speculum dengan ukuran dan bentuk ang sesuai dan lumasi dengan air hangat terutama bila akan mengambil specimen. rabas. gerak dan tekanan. konsistensi. k) Lakuakan palpasi secara bimanual bila diperlukan dengan cara memakai sarung tangan steril.e) Buka labuia minora. rasa. Palpasi ovarium kanan untuk mengetahui ukuran.klitoris. m) Palpasi uterus dengan cara jari-jari tangan yang ada dalam vagina menghadap ke atas.dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. kemudian memasukkan jari tersebut ke lobang vagina dengan penekanan ke arah posterior. kendurkan sekrup speculum. tutup speculum. mobilitas. ulkus. dan warna serviks . h) Bila serviks sudah terlihat. dan amati bagian dalam labia mayora. j) Bila sudah selesai. bentuk. bentuk. dan meatus uretra. 2. PEMERIKSAAN FISIK EKSTREMITAS Ekstremitas atas • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan tangan.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot.dan tes keseimbangan. n) Palpasi ovarium dengan cara menggeser dua jari yang ada dalam vagina ke formiks lateral kanan. e) Yakinkan bahwa tidak ada rambut pubis pada pintu vagina dan masukkan speculum dengan sudut 45° dan hati-hati dengan menggunakan tangan yang satunya sehingga tida menjepit rambut pubis atau labia. letakkan pada serviks dan kunci bilah sehingga tetap membuka. Keluarkan jari bila sudah selesai. ukuran. keluarkan dua jari Anda. massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot. mobilitas. dan meraba dinding vagina untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan nodular. sentuhan. laserisasi. Pengkajian alat kelamin bagian dalam a) Atur posisi pasien secara tepat dan pakai sarung tangan steril. g) Buka bilah speculum. ambil dengan cara usapan menggunakan aplikator dari kapas. dan neri tekan. labia minora. dan identifikasi kelunakan serta permukaan serviks. i) Bila diperlukan specimen sitologi. atur lampu untuk memperjelas penglihatan dan amati ukuran. erosi. Palpasi uterus untuk mengetahui ukuran. massa. temperature. dan tarik keluar secara perlahan-lahan. Tindakan ini bermanfaat untuk mempergunakan dan memilih speculum yang tepat. masukkan ke dalam vagina. regularitas. Normalnya bentuk serviks melingkar atau oval pada nulipara. b) Lumasi jari telunjuk Anda dengan air steril.

4) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot biseps.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot.massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot. sentuhan. Menimbulkan reaksi repleks memungkinkan perawat untuk mengkaji integritas jalur-jalur sensori dan gerak dari lengkung repleks dan segmen batang spinal spesifik. Pemeriksaan Refleks Otot Triseps 1) Posisi pasien tidur terlentang. Respon repleks pada ekstremitas bawah berkurang sebelum ekstremitas-ekstremitas atas terpengaruh (Seidel et al. Kemudian sebuah saraf motor mengirim implus kembali ke otot dan menyebabkan respon refleks terjadi. 5) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot triseps. 2) Bila siku tangan kanan yang akan diperiksa. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri. implus-implus saraf merambat sepanjang jalur saraf aferen ke bagian dorsal segmen batang spinal.. maka akan teraba keras bila siku difleksikan. 7) Terlihat gerakan ektensi pada siku akibat kontraksi otot triseps dan terasa tarikan tendon otot triseps dibawah telunjuk pemeriksa. 6) Terlihat gerakan fleksi pada siku akibat kontraksi otot biseps dan terasa tarikan tendon otot biseps dibawah telunjuk pemeriksa.dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. Pemeriksaan Refleks Tendon Patela 1) Posisi pasien tidur terlentang atau duduk. Pemeriksaan Refleks Otot Biseps 1) Posisi pasien tidur terlentang dan siku kanan yang akan diperiksa. maka diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 90 derajat dan rileks.dan tes keseimbangan.Ekstremitas bawah • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan kaki. rasa. Saat otot dan tendon di regangkan selama pengujian refleks. temperature. 4) Carilah tendon triseps 5 cm diatas siku ( proksimal ujung olecranon ). 2) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. 3) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. gerak dan tekanan. Implus-implus bergerak ke saraf motor eferen dalam batang spinal. 2) Pemeriksa berdiri dan menghadap pada sisi kanan pasien. Pengujian refleks tidak berarti menentukan pungsi saraf pusat. 3) Carilah tendon biseps dengan meraba fossa kubiti. Pemeriksaan Refleks Repleks biasanya tidak terlalu singkat terjadinya pada pasien yang lebih dewasa. 1991). 5) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan. . diatas jari telunjuk kiri pemeriksa. diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 60 derajat dan rileks. 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas jari telunjuk kiri pemeriksa.

5) Carilah 2 cekungan pada lutut dibawah patela inferolateral/ inferomedial. tertama pada pasien yang baru masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat. 7) Terasa gerakan plantar fleksi kaki yang mendorong tangan kiri pemeriksa dan tampak kontraksi otot gastrocnemius. 4) Pergelangan kaki dorsofleksikan dan tangan kiri pemeriksa memegang/ menahan kaki pasien. bila pasien duduk kaki menggelantung bebas. secara rutin pada pasien yang sedang di rawat.3) Bila posisi pasien tidur terlentang. KESIMPULAN Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu. 2) Bila pasien tidur terlentang pemeriksa berdiri dan bila pasien duduk pemeriksa jongkok disisi kiri pasien. Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat. baik untuk untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan fisik Mutlak dilakukan pada setiap pasien. baik pasien dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. . Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting dan harus di lakukan pada kondisi tersebut. untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif. 7) Terlihat gerakan ektensi pada lutut akibat kontraksi otot quadriseps femoris. sewaktu-waktu sesuai kebutuhan pasien. 5) Carilah tendon achiles diantara 2 cekungan pada tumit yang terasa keras dan makin tegang bila posisi kaki dorsofleksi. 6) Ayunkan reflek hammer diatas tendon achiles. Pemeriksaan Refleks Tendon Achiles 1) Pasien tidur terlentang atau duduk. 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas tendon patella. memastikan/membuktikan hasil anamnesa. 4) Tangan kiri pemeriksa menahan pada fossa poplitea. diantara 2 cekungan tersebut terdapat tendon patela yang terasa keras dan tegang. lutut pasien fleksi 60 derajat dan bila duduk lutut fleksi 90 derajat. menentukan masalah dan merencanakan tindakan yang tepat bagi pasien. 3) Bila pasien tidur terlentang lutut fleksi 90 derajat dan disilangkan diatas kaki berlawanan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful