Perforasi membran timpani

Definisi
Perforasi atau hilangnya sebagian jaringan dari membran timpani yang menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi dari membrane timpani. Membran timpani adalah organ pada telinga yang berbentuk seperti diafragma, tembus pandang dan fleksibel sesuai dengan fungsinya yang menghantarkan energy berupa suara dan dihantarkan melalui saraf pendengaran berupa getaran dan impuls-impuls ke otak. Perforasi dapat disebabkan oleh berbagai kejadian, seperti infeksi, trauma fisik atau pengobatan sebelumnya yang diberikan.

Gejala Klinis
Beberapa gejala klinis yang timbul pada perforasi membran timpani adalah       Penurunan pendengaran Sensasi mendengar suara siulan saat meniup telinga atau bersin Cairan yang keluar dari telinga dapat terus menerus Tanda-tanda infeksi telinga tengah (demam, nyeri, telinga berdenging) Hilangnya fungsi pendengaran (test pendengaran), hal ini menentukan apakah penderita membutuhkan alat bantuan pendengaran atau tidak. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan biasanya adalah, Otoskopi, timpanometri, Test pendengaran (swabach, webber, dan rinne)

Tatalaksana
Terapi pengobatan pada perforasi membrane timpani ditujukan untuk mengendalikan infeksi pada telinga tengah. Mengingat juga penyebab dari perforasi yang disebabkan pengobatan sebelumnya. Penggunaan anti bacterial sebaiknya digunakan jika hasil kultur dan resistensi sudah didapatkan. Beberapa pengobatan invasive adalah, kauterisasi pada ujung membrane timpani. Penyumbatan pada lubang baik dengan lemak atau bahan sintetis yang tidak menimbulkan reaksi tubuh penerima (timpanoplasty). Pengobatan yang terakhir ini memiliki tingkat keberhasilan 80 hingga 90 % tergantung dari besarnya perforasi maupun komplikasi yang timbul.

Epidemiologi
Insidensi di populasi belum diketahui, tetapi biasanya terdapat pada Negara-negara berkembang atau Negara tertinggal, hal ini disebabkan oleh kurangnya faktor gizi, dan tingkat pelayanan kesehatan dari Negara tersebut.

Etiologi
Penyebab tersering dari perforasi membrane timpani adalah infeksi sebelumnya. Infeksi akut pada telinga tengah seringkali menyebabkan terjadinya kurangnya suplai darah ke membrane timpani yang seringkali berjalan dengan peningkatan tekanan pada telinga dalam, hal ini mengakibatkan robeknya atau hilangnya jaringan membrane timpani, yang biasanya diikuti dengan rasa nyeri. Jika robeknya membrane timpani tidak menyembuh maka akan terjadi hubungan antara telinga tengah dan telinga luar, yang seringkali menyebabkan infeksi yang berulang dan resistensi terhadap antibiotic yang digunakan berulang kali. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah jika infekti telah

menyebar kedalam kepala sehingga menimbulkan infeksi di kepala. Penyebab lain dari perforasi adalah trauma fisik dari telinga, yang tersering adalah pukulan yang keras kearah telinga dalam, tenaga yang timbul dapat memecahkan atau merobek membran timpani. Beberapa trauma yang lain adalah, perubahan tekanan pada telinga yang berubah secara mendadak, pada contohnya sering pada penyelam, yang didahului dengan gangguan pada saluran telinga dan mulut, peradangan ataupun infeksi.

http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/67/perforasi-membran-timfani

Perforasi Gendang Telinga
DEFINISI Perforasi Gendang Telinga ( Eardrum Perforation) adalah suatu keadaan dimana ditemukan lubang pada gendang telinga. Gendang telinga (membran timpani) merupakan pemisah antara telinga luar dan telinga tengah. Jika gelombang suara menyentuhnya maka gendang telinga akan bergetar dan hal ini merupakan awal dari proses perubahan gelombang suara menjadi impuls saraf yang akan menuju ke otak. Jika terjadi kerusakan pada gendang telinga maka proses pendengaranpun akan terganggu. Gendang telinga juga bertindak sebagai penghalang masuknya bahan-bahan dari luar telinga (misalnya bakteri). Jika terjadi perforasi gendang telinga, maka bakteri dengan mudah akan masuk ke dalam telinga dan menyebabkan terjadinya infeksi.

PENYEBAB Lubang pada gendang telinga bisa terjadi jika suatu benda dimasukkan ke dalam telinga (misalnya cotton-bud) atau jika suatu benda secara tidak sengaja masuk ke dalam telinga (misalnya ranting pohon yang terlalu rendah). Terjadinya lubang pada gendang telinga juga bisa disebabkan oleh peningkatan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba (misalnya akibat ledakan, tamparan atau menyelam) atau oleh penurunan tekanan yang juga terjadi secara tibatiba. Infeksi telinga juga bisa menyebabkan perforasi gendang telinga karena terjadi peningkatan tekanan cairan di dalam telinga tengah sehingga mendorong gendang telinga dan akhirnya terbentuklah lubang pada gendang telinga.

GEJALA Perforasi gendang telinga menyebabkan nyeri hebat yang timbul secara tiba-tiba, diikuti oleh perdarahan dari telinga, hilangnya pendengaran dan tinitus (telinga berdenging). Kehilangan pendengaran akan lebih buruk jika disertai oleh gangguan pdada rantai tulang pendengaran atau cedera pada telinga bagian dalam. Cedera pada telinga bagian dalam juga bisa menyebabkan vertigo (perasaan berputar). Dalam waktu 24-48 jam bisa keluar nanah dari telinga, terutama jika telinga kemasukan air.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dengan menggunakan otoskop, dokter bisa melihat adanya lubang pada gendang telinga.

PENGOBATAN Untuk mencegah terjadinya infeksi, biasanya diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut). Penderita harus menjaga agar telinganya tetap kering. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik. Biasanya tanpa pengobatan lebih lanjut, gendang telinga akan membaik. Tetapi jika dalam waktu 2 bulan tidak terjadi perbaikan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki gendang telinga (timpanoplasti).

Gendang telinga/membran timpani/tympanic membrane/eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. Obatilah infeksi telinga secara tuntas. Letak perforasi di pars flaksida membran timpani.Jika hilangnya pendengaran bersifat menetap. Jika telinga kemasukan sesuatu. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. yaitu : 1)Perforasi sentral (sub total). http://sehat-enak. Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. pediatrisian. ahli patologi wicara dan pendidik. Perforasi membran timpani permanen adalah suatu lubang pada membran timpani yang tidak dapat menutup secara spontan dalam waktu 3 bulan setelah perforasi. Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. PENCEGAHAN Berhati-hatilah ketika sedang membersihkan telinga dengan menggunakan cotton bud. internis. Perawat yang terlibat dalam spesialisasi otolaringologi. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting. suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita. trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping. diduga telah terjadi gangguan pada tulang pendengaran dan harus diperbaiki melalui pembedahan. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi. saat ini dapat memperoleh sertifikat di bidang keperawatan otorinolaringologi leher dan kepala (CORLN= cerificate in otorhinolaringologyhead and neck nursing). ahli audiologi. 3)Perforasi atik. anatominya juga sangat rumit .html Pendahuluan Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. 2)Perforasi marginal. Upaya penutupan perforasi membran timpani permanen secara konservatif masih diperlukan oleh karena terapi secara operatif memerlukan peralatan yang tidak selalu tersedia di rumah sakit kabupaten atau kota dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. perawat. mintalah bantuan dokter umum/dokter ahli untuk mengeluarkannya. trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor .blogspot. Konsistensinya bisa encer atau kental.com/2010/01/perforasi-gendang-telinga. Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah. dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Ketiga kanalis semisi posterior. dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan . Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. inkus stapes. tuba eustachii tertutup. cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Anatomi Telinga Tengah Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara.dsb. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. nyeri telinga (otalgia). Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. otot. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Bila ini terjadi. glandula seruminosa. Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen. menghubngkan telingah ke nasofaring. yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval. Untuk memahami hal ini lebih lanjut. kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga.5 sentimeter. gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. dan ligamen. yang membantu hantaran suara. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun. yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Normalnya. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Anatomi dan Fisiologi Telinga Anatomi Telinga Luar Telinga luar. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2. Anatomi Telinga Dalam Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis). Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus. atau struktur berbentuk cincin. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm. di mana suara dihantar telinga tengah. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. penting rasanya untuk memahami anatomi dan fisiologi telinga terlebih dahulu secara umum. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut.

Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang selsel rambut utrikulus. dan kanalis semisirkularis. bagian atas gendang telinga (daerah atiq). terdiri dari 3 lapis. merupakan lanjutan mukosa telinga tengah.mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak.5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran. bergabung dengan nervus vestibularis. dinamakan organ Corti. Di dalam lulang labirin. sebagain besar gendang telinga merupakan pars tensa. Kerusakan pada gendang telinga dapat menyebabkan tuli yang konduktif. mengarah ke medial. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Tuli konduktif adalah hilangnya pendengaran karena tidak dapat tersampaikannya getaran suara. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. 1. duktus koklearis. di tengah jaringan ikat. akulus. Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). Kerusakan gendang telinga berupa bolong/pecah (perforasi) terutama disebabkan infeksi telinga tengah (Otitis Media). Di dalam kanalis auditorius internus. yang muncul dari kanalis semisirkularis. dan lapisan mukosa dibagian dalam. Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang. Ia berfungsi untuk menghantar getaran suara dari udara menuju tulang pendengaran di dalam telinga tengah. dan organan Corti. Pars flaksida. . Pars tensa. meluas melampaui batas atas membran timpani. banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Akibatnya terja¬di aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak. bagian luar lanjutan kulit liang telinga. namun tidak sem-purna mengisinya. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. Gendang telinga atau membrana tympani adalah selaput atau membran tipis yang memisahkan telinga luar dan telinga dalam. Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus. Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). nervus koklearis (akus-dk). dan bahwa ada bagian hipotimpanum yang meluas melampaui batas bawah membrana timpani. umbo. Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar. lapisan fibrosa di bagian tengah dimana tangkai maleus dilekatkan.Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe. Gendang telinga secara anatomi dibagi 2 yaitu pars tensa (tegang) dan pars flaksida. Labirin membranosa memegang cairan yang dina¬makan endolimfe. dan bagian dalam yang mengarah ke telinga tengah. 2. utrikulus. Jenis tuli lainnya yaitu tuli sensorik yang disebabkan rusaknya sistem saraf pendengaran. hanya terdiri dari dua lapis tanpa jaringa ikat di bagian tengah. Gendang telinga / membran timpani /tympanic membrane / eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. Lapisan fibrosa tidak terdapat di bagian atas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timpani yang disebut membrana Shrapnell menjadi lemas (flaksid). Membrana timpani umumnya bulat. dan sakulus. yang muncul dari koklea. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam. namun dapat juga karean trauma.

Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun. Hal ini dikarenakan meningkatnya kekerasan domestik. kunci. Telah dijumlahkan sekitar 30-75% dari cedera kepala tumpul dikaitkan dengan lesi tulang temporal. Cedera Tembus: Penyebab sering kedua dari perforasi TM termasuk Q-tips. Ketergantungan pada transportasi kendaraan bermotor telah menambah peningkatan resiko akan terjadinya cedera kepala. atau 4 mm perforasi). Mereka dijelaskan dalam kaitannya dengan empat kuadran TM yang dibedakan dari tangan malleus. Kecelakaan ski air seringkali terlihat selama musim panas. Laki-laki dewasa muda lebih sering mengalami cedera perforasi. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. Insidensi pertahun dari perforasi traumatik bervariasi antara 1. Umumnya dokter THT akan menangani keadaan akut ini dahulu dengan meredakan gejala dan sumber penyebabnya sambil dievaluasi kondisi membran/gendang telinganya. dan klip kertas yang seringkali digunakan untuk membersihkan saluran telinga luar . Hal ini timbul pada semua kelopok umur dengan predisposisi pada anak yang lebih sering dibandingkan dengan kebiasaan memasukkan benda asing ke dalam kanalis aurikula eksternal.4-8.trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping. dan untuk itu dapat menjadi berbagai bentuk dan ukuran.0000. trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor dsb.6 per 100. mencegah bahaya infeksi berulang pada telinga tengah) Epidemiologi Membran timpani lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan telinga tengah atau telinga dalam. Ukuran secara normal dijelaskan sebagai persentase perforasi (40% perforasi) atau secara langsung untuk perforasi yang kecil (contoh. 2. Tetapi biasanya dalam derajat keseriusan yang rendah. suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita. Cedera Kompressi: Perubahan mendadak dalam tekanan udara sebagaimana dengan perubahan gradual (barotrauma) dapat menimbulkan kerusakan TM yang signifikan. nyeri telinga (otalgia). Etiology Perforasi TM timbul oleh mekanisme yang bervariasi dan sumber energi. Cedera akibat ledakan lebih berat ketika refleksi sedikit atau kerusakan dari gelombang energi ledakan pada rute TM. Peningkatan mortalitas lebih sering terlihat dalam kelompok ini dikarenakan tingginya keterkaitan dengan trauma intrakranial. Klasifikasi lebih jauh dari perforasi marginal versus sentral adalah penting untuk management selanjutnya. Luka tembak berada dalam sumber yang meningkat dari trauma tulang temporal. wanita yang secara meningkat menjadi korban dari tamparan tangan terbuka dengan perforasi TM setelahnya. Peraturan pemerintah yang baru dalam penggunaan keamanan dan tempat duduk anak-anak untuk MVAs dan proteksi kepala untuk kendaraan sangat menguntungkan sebagai bentuk dari pencegahan sekunder. biasanya akan disarankan penutupan gendang telinga ini melalui prosedur pembedahan/operasi (tentu setelah dievaluasi manfaat penutupan membran ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi pendengaran. bobby pins. 3. Perubahan pada tekanan air selama penyelaman dapat menimbulkan cedera tipe tekanan. gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. Bila gejala dan sumber penyebabnya telah tertangani dan dalam penilaian selama 1 bulan gendang telinga ini tidak menutup spontan. Ketergantungan terhadap trasportasi telah secara besar meningkatkan resiko dari cedera kepala.

Kapanpun membran timpani yang didiagnosis perforasi. merupakan kunci untuk diagnosa. komunikasi patologi ini terletak di tengah dan telinga luar dan dapat dianggap sebagai “hiliran udara yang benar. 2) Pada tingkat tengah telinga. ( sangat berbakat TM atau lem tglue ear juga dapat menampilkan imobilitas). Kecelakaan menyelam dan ski air mungkin juga dapat meledakkan drum. dan kadang-kadang. dgn menyedihkan. Dikarenakan kerusakan jaringan dan dikaitkan dengan resiko infeksi. hal ini dirasakan untuk menjadi kurang setuju jika hanya mendapatkan terapi observasi Cedera listrik: Konduksi elektrik yang instan dari sengatan listrik diduga dapat menyebabkan kerusakan pada TM baik berupa penekanan atau perubahan tekanan rarefaksi. Dalam hal ini. cedera penetrasi. karena . orang kedua kurang hati-hati menyikutkan sikunya ke telinga hingga menyebabkan cedera. mengkauterisasi ujung-ujungnya seperti berjalan melalui ke dalam telinga. yang akan dijelaskan pada bab akhir nanti. Perforasi Marginal terletak di pinggiran dari membran timpani dengan ketidakhadiran dari annulus fibrosus. Mereka mungkin kecil dan tersembunyi di balik exudates atau sumbatan darah atau juga akan dikaburkan dengan tulang punuk dari kanal anterior dinding. dan keberadaan atau ketiadaan epithelialization harus dievaluasi. hot welding slag is occasionally encountered as the culprit for TM injuries. ukuran. Cedera ini juga kurang untuk bisa sembuh dengan sempurna. ketetapan dari rantai). jika drum adalah mobile. penyembuhan yang spontan sangat jarang dan infeksi berulang dan drainase dapat terjadi. tidak ada perforasi.Cedera Suhu: Pada komunitas industri. dan sisanya dari keadaan di sekitar membran timpani perforasi harus ditentukan. Sering kali. Perforasi trauma berbeda dalam ukuran dan lokasi. dengan udara yang cukup di kanal. particle panas dapat menembus TM. anggota keluarga yang Kasar mungkin terlibat. yang pneumatic otoscope. Skenario seringkali melibatkan orang yang membersihkan telinga dengan alat. TM yg tak bergerak akan terlihat dengan perforasi. Traumatic Perforasi TM yang dapat terluka dalam berbagai cara. adalah cara pertama yang langsung. Penyebab lain adalah ledakan membran karena tamparan atau kepalan tangan ke telinga. kondisi yang ossicular rantai (jika mungkin). Jika pemeriksa dapat melihat bagian dari drum. Jenis perforasi ini biasanya di anterior dan inferior. Akhirnya. Perforasi Membran Timpani biasanya hadir pada pars tensa. korban akan mencoba untuk menyembunyikan setiap detail kejadian saat datang ke kantor. akustik biasanya menyebabkan kerusakan pada labirin juga. Sebaliknya. Jarang. lapisan epithelial dan mucosal merayap dan bertemu di sepanjang batas-batas yang perforasi. 3) pemeriksaan otoscopic harus dilengkapi dengan audiometry nada murni untuk memiliki pemahaman yang lebih baik dari ossicular rantai (kemungkinan erosi yang incus. Perforasi Marginal dianggap “tidak aman” karena kulit yang berhubungan dgn kanal eksternal. Perforasi Pars flaccida umumnya terkait dengan epitympanic cholesteatoma. keadaan mucosa. tiga hal berikut harus menjadi pertimbangan dipenuhi: 1) Pada tingkat yang perforasi situs. pasien akan terganggu berulang karena infeksi telinga dan keluar air dari telinganya. Jika perforasi membrane timpani tidak sembuh secara spontan. Perforasi Pars tensa dapat berupa sentral atau marjinal. In industrial communities such as ours.” Dengan adanya perforasi membrane timpani. sebuah ledakan kuat di dekat telinga juga dapat meledak pada drum. Beberapa mungkin akan sulit untuk dilihat pada pemeriksaan.

sehingga menimbulkan cholesteatoma. untungnya . Pemeriksaan Otoscopic sering dapat menentukan persambungan antara kulit dan mucosa pada batas-batas perforasi membran timpani. Trauma perforasi yang sangat besar sedikit sekali untuk sembuh. Nekrosis dari TM sentral secara typikal besar meninggalkan bentuk ladam-lubang yang besar di drum . Migrasi kulit ini disukai dengan atrophi mucosa yang terjadi sebagai akibat dari perforasi. Disini. mungkin terjadi. Hal Ini adalah salah satu yang dihasilkan dari otitis media akut. perforasi tidak hanya meninggalkan kulit yang terperangkap pada permukaan drum. Di negara-negara lain. perforasi dapat menjadi permanen. demam berdarah masih menjadi penyebabnya. Hal Ini akan memerlukan pembedahan jika mereka tidak menunjukkan tanda-tanda penutupan setelah pengamatan selama beberapa bulan. kehilangan pendengaran lebih sering terjadi lagi di perforasi posterior dibandingkan di anterior . Kehilangan pendengaran konduktif yang disebabkan oleh perforasi membran timpani mempunyai dua penyebab utama: 1) Pengurangan permukaan daerah membran timpani dimana tekanan akustik melebihi tindakannya. Adanya cincin merah de-epithelialized sepanjang perforasi rim menunjukkan evagination dari mucosa ke arah luar permukaan membran timpani residu. Lihat untuk kehilangan pendengaran dengan inordinate yang besar (> 35 dB HL) atau keberadaan vertigo sebagai petunjuk. Namun. basah. Hal Ini biasanya disebabkan oleh streptococcus beta dalam kaitannya dengan keparahan seperti infeksi virus campak. necrotizing otitis media akut. sebagian besar perforasi tetap dibuat. dengan asumsi yang diberikan antibiotic. Dalam kasus ini.ketiadaan dari annulus. Pada saat myringoplasty. Mayoritas posttraumatic dan postotitic perforasi sembuh spontan. agresif. Namun. Pada persambungan ini squamous epithelium memiliki “seperti beludru” penampilannya. invagination dari kulit terhadap sisa permukaan membran timpani lebih sulit untuk didiagnosa. membran timpani harus diperbaiki (myringoplasty) untuk mengembalikan fisiologi normal telinga. obat tetes telinga antibiotik Topical mungkin ditunjukkan jika drainase dan infeksi ada. Hindari diri dari air dan observasi awal adalah satu-satunya perawatan yang diperlukan. dapat dengan mudah maju ke arah telinga. Tes Weber dan tes Rinne bermanfaat di sini. 2) Pengurangan dari gerakan vibrasi cairan cochlear karena suara mencapai kedua jendela hampir di waktu yang sama tanpa pemendekan dan tahap perubahan -efek dari membran timpani yang utuh Tempat perforasi tidak dapat dikaitkan dengan pola audiomerik tertentu. secara umum diamati bahwa kehilangan pendengaran terjadi di frekuensi yang lebih rendah dan perforasi untuk ukuran yang sama. tetapi juga sangat mengurangi risiko yang dapat mengakibatkan iatrogenic cholesteatoma. kerusakan telinga tulang kecil bagian tengah. Ketika bagian besar dari membran timpani yang hilang atau bila infeksi kronis atau berulang terjadi. Pada semua perforasi trauma. Kebanyakan trauma perforasi (mungkin 90%) dapat sembuh spontan. Sebuah pengceualian timbul dengan langka. Dalam kasus ini. dan pembukaan kecil tersebut tidak selalu terlihat. dengan oval atau jendela sepanjang perpecahan. yang paling shortlive. Perforasi dari Infeksi Akut Trauma yang paling sering terjadi adalah perforasi. TM jadi merah. Hampir semua ini dapat sembuh dalam beberapa hari.

Jangan lupa untuk mengevaluasi pendengaran. Pada kenyataannya. dan tanpa batas usia. Kehilangan pendengaran ini besar secara inordinate dikarenakan keterlibatan telinga dalam dengan basil. dapat dilakukan jika dan ketika tidak ada infeksi. Individu yang terkena mempunyai kehilangan pendengaran konduktif dan mungkin timbul dengan drainase berulang melalui perforasi. Episode dari drainase ini (otorrhea) sering dilakukan oleh air di dalam telinga atau infeksi pernafasan atas. jika bukan jenis streptococcal necrotizing. terutama di hadapan AIDS. otitis media tuberculosis menyebutkan hal ini. dan kultur yang positif untuk pewarnaan organisme asam akan mengkonfirmasikan diagnosis. Kami lebih mengutamakan teknik dasar dalam mayoritas kasus. yaitu Pseudomonas. dengan jelas keluarnya. bedah rekonstruksi TM (dan eroded ossicles. jika diperlukan). Otorrhea Persisten atau berulang melalui perforasi dikenal sebagai otitis media kronis suppurative. akan sembuh. otorrhea dari infeksi telinga tengah dapat menyebabkan otitis eksternal. Chronic Perforasi Perforasi yang Lama dapat dilihat pada pasien yang mengalami masaalah tuba Eustachio bercampur dengan masalah infeksi bertahun-tahun. beberapa perforasi menunjukkan tuberkulosis. Summary Sesuai menurut perforasi secara umum. antibiotics awal membantu necrotisasi. karena memberikan hasil yang lebih baik secara anatomis dan fungsional. dan mastoidectomy dapat menyertai prosedur ini. dengan kecil atau besar udara-tulang. Sering ada mastoiditis kronis di rongga berdekatan. Myringoplasty ditunjukkan dalam kasus dengan dan tanpa otorrhea. Proteus. ini juga perlu perhatian pembedahan. Hal ini dikontraindikasikan ketika perforasi membran timpani hadir hanya dalam liang telinga. Ventilasi tuba mungkin telah dimasukkan berulang kali. sekitar TM seringkali menebal dan berparut.disekeliling manubrium. terutama jika infeksi akan dibersihkan dengan antibiotic oral. Secara insidentil. exudates biasanya mempunya organism yang sama seperti yang terlihat pada otitis eksterna. Temuan ini harus curiga dan waspada. sebagai pengecualian terhadap pernyataan kami bahwa kebanyakan masalah telinga hanya melibatkan satu “komponen”. penyebab. Membran timpani diperbaiki dengan graft autologous temporalis. Hal Ini sangat jarang yang biasanya dimulai dengan tidak adanya rasa sakit dari penipisan TM diikuti oleh beberapa perforasi. pengobatan dan penentuan prognosis. dapat dipastikan dari riwayat pasien. Tympanoplasty. Dengan munculnya AIDS di dekade belakangan ini. Kehilangan pendengaran sebesar (> 35 dB HL) dapat menunjukkan kerusakan trauma ossicular. . Yang otitis media akut. Akhirnya. dan Enterobacter. Keberadaan sebuah lubang membran timpani yang tidak sembuh secara spontan kronis seperti otitis media merupakan cacat anatomis dan fungsional yang memerlukan koreksi bedah dalam mayoritas kasus. Pada era pra-antibiotik hal ini merupakan salah satu penyebab kronis perforasi. Staphylococcus. Myringoplasty secara umum dilakukan dengan menggunakan insisi postauricular di bawah anestesi lokal-kecuali untuk anak-anak di mana anestesi umum digunakan. Topical antibiotik / steroid obat tetes telinga dapat membersihkan drainase.

. Helmi. Geneva.. Sixteenth edition. In: Lim DJ. 2005. Nakano Y. Healy G.13 Alamsyah Aris . Balai Penerbit FK-UI. Rhinology & Laryngology. Recent Advances in Otitis Media Report of The Eighth Research Conference. Ketika dilakukan dengan benar. Rhinology and Laryngology. 3. Biochemistry. Elsevier. Nose and Throat Journal. Borglum J.. ed.. Ear. Chronic suppurative otitis media: Burden of Illness and Management Options.com/2010/07/06/perforasi-membran-timpani/ ASKEP PERFORASI MEMBRAN TIMPANI 07. Vol. 770-6. 2004. Panduan Penatalaksanaan Baku Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) di Indonesia. http://satriaperwira.G. Jun 1999. Dalam: Helmi. Adenan A. Ovesen T. 1. 3/3/15.W. 1999. 6th edition. Mei. 9.. Eustachian Tube Function and Middle Ear Gas. Kelompok studi otologi PERHATI–KL. and TNF-α in the Middle Ear Fluid of the Guinea Pig Otitis Media Model Induced by Nonviable Haemophilus Influenzae. Jika reperforation terjadi setelah myringoplasty (sekitar 5% dari kasus). IL-6.F. maka teknik Overlay memberikan hasil yang optimal dalam kasus ini. 5. 77. Ryan A.D. Jakarta. 559-63. Hasil operasi pertama dan kedua dari segi graft yang diambil dan reperforasi biasanya secara umum sebanding. 9.. 116– 8. Sep 1998. Aetiopathology of Inflammatory Conditions of the External and Middle Ear. Otitis Media Supuratif Kronis. 7.K. Butterworth-Heinemann. BC. Murakami Y. Kawana M. 2002.. The Annals of Otology. Sato K. p. 3. 6. 55 – 7.wordpress. Bagian THT Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. et al. 108. The Annals of Otology. Decker. 8. 10. Reconstructive Surgery of the Middle Ear. In: Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 50-4. Surgical anatomy and pathology for reconstructive middle ear surgery. Otitis Media Supuratif Kronis. Kumpulan Kuliah Telinga. Ontario. Canalplasty dilakukan kapanpun tulang punuk dari saluran luar hadir yang membatasi kontrol dari batas perforasi. World Health Organization.B. Amsterdam. Rosbe K. Switzerland. In: Scott-Brown’s Otolaryngology. 114. 249-50. New Aspects of Secretory Otitis Media. IL. Browning G. revisi operasi yang diindikasikan setelah beberapa bulan. Nonomura N. Hamilton.teknik Overlay yang digunakan di beberapa kasus bila sisa anterior dari membran timpani adalah pathologic atau tidak ada. Jan 2005. Andalibi A. Juhn S. 1997. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Jakarta. 6.8. 4. In: Suzuki JI et al. Otitis Media and Middle Ear Effusions. Course of IL-1ß..

membrana timpani dapat mengalami ruptur bila tekanan dalam telinga tengah lebih besar dari tekanan atmosfer dalam kanalis auditorius eksternus.usaha pasien untuk membersihkan kanalis auditorius esternus sebaiknya dilarang. Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis auditorius esternus dan menandai batas lateral telinga tengah. B. Juga berhubungan dengan beberapa sel berisi udara dibagian mastoid tulang temporal. Telingah tengah mengandung tiga tulang terkecil ( osikuli ) ditubuh : maleus. disebabkan oleh benda asing ( mis lidi kapas. jadi. normalnya berwarna kelabu mutiara dan translusen. cedera terhadap osikulus dan bahkan telinga dalam dapat terjadi akibat tindakan ini. yang diameternya sekitar 1 cm dan sangat tipis. Sumber trauma meliputi fraktur tulang tengkorak. otot. celah telinga tengah terletak diantaranya. Perforasi lebih jarang. Telinga tengah merupakan rongga berisi udara yang merupakan rumah bagi osikuli ( tulang telinga tengah ) dan dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring. Ada dua jendela kecil( jendela oval) . Anatomi Fisiologi Telinga tengah tersusun atas membrana timpani ( gendang telinga ) disebelah lateral dan kapsul otik disebelah medial. Pengertian Perforasi membrana timpani biasanya disebabkan oleh trauma atau infeksi. atau hantaman keras pada telinga. kunci ) yang didorong terlalu dalam kedalam kanalis auditorius eksternus. Selain perforasi membrana timpani. Selama infeksi. Membran ini.Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook A. cedera ledakan. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh persediaan. inkus dan stapes. membantu hantaran suara. peniti. dan likamin.

purulen. dan dataran kaki stapes ditahan olehanulus yamg agak tipis. cairan dari telingah dalam dapat mengalami kebocoran ketelinga tengah. Baik anulus jendela bulat maupun jendela oval sangat mudah mengalami robekkan. Rasa sakit terjadi karena tekanan pada kulit yang sangat sensitif. Infeksi dari telinga dari telinga luar. Normalnya. C.didinding media telinga tengah. gram negatif organisme atau fungus). Tumor ini bisa timbul kembali bila diangkat. Persaman dengan mastoititis kronik dapat tumbuh cholestheatoma (tumor jinak) yang merupakan kantong berisi kotoran yang infeksi. otitis eksterna seringkali oleh bakteri (stavilokokus. Jendela bulat memberikan jalan keluar getaran suara. Bagian dataran kaki stapes menjejak pada jendela oval. eustacii selalu tertutup. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manufer falsalfa atau dengan menguap atau menelan. Infeksi bisa serous. menghubungkan telinga tengah kenasofaring. Patofisiologi Kuman masuk kebagian eksterna melalui lobang telinga atau melalui tuba eustaci kemudian menimbulkan infeksi. timbul tuli. yang lebarnya sekitar satu mellimeter dan panjangnya sekitar tiga lima melimeter. atau struktur berbentuk cincin. dimana suara dihantarkan ketelinga tengah. kondisi ini dinamakan fistura ferilinfe. otitis media merupakan gangguan yang paling sering terjadi. Infeksi labrinth (telinga interna) merupakan perluasan telinga media. pengaruh yang paling utama ialah mengenai keseimbangan. yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. . dan dataran kaki stapes ditahan oleh anulusyang sangat tipis. Yang kronis bisa menjalar mastoid. menghebat sakitnya karena tidak ada ruang untuk menggelembung dalam saluran yang bertulang. Jendela bulat ditutupi oleh membrana yang sangat tipis. Kegiatan berenang terutama pada air yang terkontaminasi sangat mungkin bisa menimbulkan infeksi telinga luar. akut dan kronik. Sejenis dermatitis seborrhcic dapat disebabkan karena pemakaian earkone yang lama. otitis media yang serous dapat terjadi karena terkumpulnya serum yang steril didalam telinga tengah bila tuba eustacii tersumbat oleh infeksi yang terdahulu atau alergi. Mastoiditis akut jarang terjadi karena pengobatan otitis media akut dengan antibiotik. Furunkel dapat juga tumbuh pada saluran. Otitis media urolenta terjadi karena infeksi bakteri bisa akut atau kronis. Infeksi terjadi pada selaput rongga telinga. Infeksi telinga tengah. Bila ini terjadi. menimbulkan mastoiditis kronis menyebabkan nekrose kepada gendang telinga. Tuba bertindak sebagai saluran drainase untuk sekresi abnormal telinga tengah dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. atau radang tulang telinga. Tuba eustachii. membengkak dan getah radang dapat mengisi saluran.

Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Pada pemeriksaan otoskopis. Selama proses penyembuhan telinga harus dilindungi dari air. rasa penuh dalam telinga atau perasaan bendungan. sehingga menghambat penyebaran sel epitel melintasi batas dan akhir penyembuhan. dan tak terjadi nyeri bila aurikula digerakkan. kehilangan pendengaran. Keputusan melakukan timpanoplasti ( perbaikan membrana timpani ) biasanya didasarkan pada perlunya mencegah potensial infeksi dari air yang memasuki telinga atau keinginan memperbaiki pendengaran pasien. biasanya tidak menyebabkan nyeri. Membrana timpani tampak kusam pada ostokopi. Manifestasi Klinik Gejala otitis media dapat berfariasi beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat. Membrana timpani tampak merah dan sering menggelembung. pasien harus diobservasi bila ada cairan serebrospinal otorea atau rinorea-cairan jernih cair dari telinga atau hidung. dan dapat terlehit gelembung udarta dalam telinga tengah. sendiri. Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran. yang terjadi ketika tuba eustacii berusaha membuka. Spontan membrana timpani atau setelah miringotomi (insisi membrana timpani). Bila terjadi cedera kepala atau patah tulang temporal. Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif. Gejala dapat minimal. karena auditorius asternus sering tampak normal. Perforasi yang tak dapat sembuh dengan sendirinya memerlukan pembedahan. Gejala lain dapat berupa keluarnya cairan dari telinga. Evaluasi otoskopik membran timpani memperlihatkan adanya porforasi. dan tinitus. Diagnosis Penunjang Kebanyakkan perforasi membrana timpani dapat sembuh spontan dalam beberapa minggu setelah ruptur. demam. Kolesteatoma. E. dan mungkin terdapat otalgia. dimana daerah post-aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih dibelakang membran timpani atau keluar kekanalis eksternus luang perforasi. dengan berbagai derajat kehilangan pendengasran dan terdapat otorea interniten atau persisten yang berbau busuk biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut. dan bahkan suara letup atau berdering. meskipun ada beberapa yang baru sembuh setelah berbulan-bulan. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa. Terdapazt berbagai pembedahan semua pada dasarnya dengan meletakkan . Pasien harus dilindungi dari air ketika terjadi perforasi membrana timpani. Ada perforasi yang menetap karena terjadi pertumbuhan jaringan parut pada tepi perforasi.D. Hasil audiometri pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran.

dengan pengeluaran cairan purulen menetap dari telinga. biasanya perlu diresepkan preparat otik antibiotika. Otitis media serosa tidak perlu ditangani secara medis kecuali terjadi infeksi (otitis media akut). Penanganan meliputi pembersihan hati-hati telinga mengunakan mikroskop dan alat pengisap.pada lubang porforasi untuk memungkinkan penyembuhan. inflamasi jaringan disekitarnya (mis sinusitis. dapat terjadi meskipun jarang. Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan pendengaran konduktif. Bakteri yang umum ditemuakn sebagai organisme penyebab adalah streptokokus pneumoniae. seperti meninitis atau abses otak. Otitis media serosa (efusi telinga tengah) mengeluarkan cairan. dosis rendah. Komplikasi sekunder mengenai mastoit dan komplikasi intrakranier serius. Kondisi bisa berkembang menjadi subakut ( mis berlangsung tiga minggu sampai tiga bulan ). Jarang sekali terjadi kehilangan pendengaran permanen. Pemberian tetes antibiotika atau pemberian bubuk antibiotik sering membantu bila ada cairan purulen. Antibiotik sistemik biasanya tidak diresepkan kecuali pada kasus infeksi akut. Klasifikasi 1. tanpa adanya infeksi aktif. cairan ini sebagai akibat tekanan negatif dalam telinga tengah disebabkan obstruksi tuba eustacii. Pembedahan biasanya berhasil menutup porforasi secara permanen dan memperbaiki pendengaran. Kondisi ini ditemukan terutama pada anak-anak. dalam telinga tengah. kadang dapat mengurangi edema tuba eustacii pada kasus barotrauma. otitis media dapat hilang tanpa gejala sisa yang serius. Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung efektifitas terapi (mis dosis antibiotik oral yang diresepkan dan durasi terapi). dan maroksella catarhaelis. Secara teori. virulensi bakteri dan status fisik pasien. Dengan terapi antibiotika spektrum luas yang tepat dan awal. Bila kehilangan pendengaran yang berhubungan dengan efusi telinga tengah menimbulkan masalah bagi pasien maka bisa dilakukan miringotomi dan dipasang tabung untuk menjaga telinga tengah tetap terventilasi. Bila terjadi pengeluaran cairan. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada porforasi membran timpani. F. atau reaksi alergi (mis rinitis alergika). Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik kedalam telinga yang normalnya steril. biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan. hipertropi adenoit). Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustacii seperti obtruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan atas. 2. Cara masuk bakteri pada kebanyakkan pasien kemungkinan melalui tuba eustacii akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring. perlu dicatat . hemophylus influensae. Otitis media akut adalah infeksi akut telinga tengah. Kortikosteroid.

Untuk stadium tiga sampai stadium lima diberi antibiotik dosis tinggi. kecuali pada bayi harus segera dilakukan parasintesis bila terdapat bulging lakukan parasintesisuntuk melancarkan reinase. infeksi mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa. analgetik dan antiinflamasi. yang merupakan pertumbuhan kulit kedalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ketelinga tengah. dan dinasofaring dan sekaligus mengobatinya. Barotrauma terjadi bila terjadi perubahan tekanan mendadak dalam telinga tengah akibat perubahan tekanan barometrik. dan beberapa ahli infeksi kronik ini dapat mengakibatkan pembentukkan koleosteatoma. Sering berhubungan dengan perforasi menetap membrana timpani.bahwa. Kulit dari membran timpani literal membentuk kantong luar. 3. penggunaan antibiotika yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koaleses akut menjadi jarang.  Secara sistemik diberikan antibiotik. Sebelum penemuan antibiotika. dan cairan terperangkap didalam telinga tengah. Bila tidak ditangani olesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralisis nerfuspasealis. Kantong dapat melekat pada struktur telinga tengah dan mastoid. yaitu dengan membuat insisi kecil pada kuadran bawah. penyebab lain yang mengdasari terjadinya disfungsi tuba eustancii harus dicari. G. Karnisoma yang menyumbat tuba eustacii harus disingkirkan pada orang dewasa yang menderita otitis media serosa unilateral menetap. Sekarang. Otitis media kronik adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan ireversibel dan biasanya disebabkan karena episode berulang otitis media akut.  Secara lokal: pada stadium hiperemi diberikan antibiotik tetes. Mastoiditis kronik lebih sering. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membrana timpani. yang berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. Efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah menjalani radioterapi dan barotrauma (mis penyelam) dan pada pasien dengan disfungsi tuba eustacii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi. dan abses otak. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkankerusakkan membrana timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid. . kehilangan pendengaran sensorik neural dan atau gangguan keseimmbangan (akibat erosi telinga dalam). Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang tidak ditangani. Medis  Mencari vokal infeksi dihidung. bila terjadi pada orang dewasa. Penatalaksanaan 1. seperti pada penyelam atau saat pesawat udara turun.

Pengkajian Observasi adanya bukti-bukti OMA :  Setelah ISPA  Otalgia (sakit telinga)  Otorea purulen dapat terjadi  Demam  Keluaran pululen dapat ada. c. Karena itu memberikan antibiotik lokal dianjurkan setelah dilakukan tekhnik lokal. Pengobatan lokal diberikan antibiotik tetes telinga. dapat juga tidak .  Bila mungkin sekret dihisap secara hati-hati dengan menggunakan jarum kecil. Konsevatif a. Semua tindakan pembersihan tersebut sebaiknya diberikan sambil dilihat dan hati-hati untuk menghindarkan trauma yang tidak diinginkan. Ada beberapa membersihkan sekret tersebut :  Dengan menggunakan kapas lidi. karena adanya gas yang ditimbulkan. Tindakan ini dianjurkan sesering seringnya bila ada otore. Antibiotik yang adekuat oral atau parenteral. Harus diterangkan dulu cara pemakain H2O2 3 % kedalam telinga yang sakit kemudian dibersihkan dengan kapas lidi baru setelah itu masukkan antibiotik tetes telinga dengan cara kepala dimiringkan dan ragus titekan supaya obat tetes masuk kedalam. Pembersihan sekret diliang telinga (toilet lokal drainage) merupakan yang penting untuk pengobatan otitis kronik. 2.  Displaseme metode dapat dengan menggunakan larutan hidrogen peroksid (H2O2) 3%. Ini diberikan apabila ada eksaserbasi akut yang didahului oleh infeksi hidung atau farings. plastik. Dapat dianjurkan pada penderita atau orang tua penderita yang mempunyai intelegensia yang cukup. Pemberian antibiotik tetes telinga hampir tidak gunanya apabila masih ada otore yang produktif. misalnya hal jarum BWG no 16 dan 18 yang ujungnya diberi karet kateter nelatom yang kecil atau karet pentil. b. Asuhan Keperawatan a.

membran abu-abu dangkal. gelisah. peka rangsang Kecenderungan menggaruk. Diagnosa Keperawatan 1) Nyeri berhubungan dengan tekanan yang disebabkan oleh proses inflamasi Sasaran pasien 1 : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri/ketidaknyamanan sampai tingkat yang dapat diterima Intervensi keperawatan/ rasional a) Beri analgesik/antipiretik untuk mengurangi nyeri dan demam. garis samar-samar. tanpa garis tulang yang dapat dilihat atau refleks sinar. dan tingkat cairan yang dapat dilihat atau meniskus dibelakang gendang telinga bila terdapat udara diatas cairan. pada OME dapat ditemukan lubang kecil. vertigo mungkin ada b. atau menarik telinga yang sakit Menggeleng-gelengkan kepala dari samping kesamping Kehilangan nafsu makan Letargi Pemeriksaan otoskopik pada OMA menunjukkan membran utuh yang tampak merah terang dan menonjol. memegang. Menangis  Rewel. b) Posisikan untuk kenyamanan sesuai kebutuhan individu c) Pilih tindakan kenyamanan lokal berdasarkan tingkat kerjasama dan mengurangi nyeri yang maksimum ketentuan-ketentuan untuk . tinitus. Observasi adanya bukti-bukti otitis media kronis :  Kehilangan pendengaran  Kesulitan berkomunikasi  Perasaan penuh.

bungkus dengan handuk) diatas telinga dengan berbaring pada sisi yang sakit untuk meningkatkan rasa nyaman. seluruhnya sampai semua antibiotik yang ditentukn dihabiskan e) Tekankan pentingnya perawatan tindak lanjut f) Gunakan praktik pencegahan g) Dudukkan dengan tegak untuk pemberian makan h) Anjurkan untuk meniup hidung denganperlahan selama infeksi pernapasan atas bukan meniup infeksi tidak akan hilang hidung dengan keras karena resiko pemindahan dari tuba eustachius ketelingah tengah i) Gunakan perminan meniup atau mengunyah permen karet untuk meningkatkan aerasi telinga tengah selama dilakukan UPI j) Hilangkan asap tembakau dan alergen yang diketahui atau yang potensial dari lingkungan Hasil yang diharapkan . e) Beri kantong es diatas telinga yang sakit untuk mengurangi edema atau tekanan f) Hindari mengunah dengan memberikan cairan atau makanan lunak g) Posisikan dengan telinga yang sakit berada pada posisi dependen Hasil yang diharapkan Tidur dan istirahat dengan tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kenyamanan 2) Risiko tinggi infeksi/cedera berhubungan dengan ketidakadekuatan tindakan/adanya organisme infeksius Intervensi keperawatan/rasional a) Tekankan pentingnya mengikuti instruksi. khususnya mengenai pemberian antibiotik b) Pertahankan keteraturan pemberian c) Selesaikan program terapi d) Jelaskan bahwa meskipun gejala biasanya kurang dalam 24-48 jam.d) Beri kompres panas eksternal (dengan bantalanpanas pada suhu panas yang rendah.

bersihkan eksudat dari telinga dan kulit sekitarnya serta berikan barier pelembab seperti jeli petrolium untuk mencegah ekskoriasi. c) Jika sumbu atau gulungan kasa kecil telah dimasukkan kedalam telinga setelah pembedahan :  Jaga agar kasa atau sumbu tersebut cukup longgar untuk memungkinkan keluarnya drainase dari telinga karena infeksi dapat berpindah keprosesus mastoideus  Jaga agar sumbu tersebut tidak basa ketika mandi atau berkeramas. seperti meningitis . f) Jelaskan bahwa hal ini normal dan tidak memberikan intervensi yang segera. d) Jelaskan penggunaan penyumbat telinga jika dianjurkan oleh dokter. e) Memberi tahu praktisi bila grommet ( biasanya kecil. Pasien etap bebas dari infeksi  Keluarga mematuhi petunjuk Sasaran pasien 2 : pasien tidak mengalami komplikasi penyakit atau modalitas tindakan Intervensi keperawatan/rasional Melihat sasaran sebelumnya a) Bersihkan kanalis eksternal dari drainase dengan usapan kapas steril atau lidi kapas yang dimasukkan kedalam larutan salin normal atau hidrogen peroksida. g) Jelaskan pada keluarga tentang komplikasi OM yang potensial yang dapat terjadi karena pengobatan yang tidak adekuat :  Kehilangan pendengaran konduktif  Perforasi. b) Jika drainase-nya banyak. selang plastik berbentuk kumparan ) jatuh keluar dari kanal telinga. jaringan parut gendeng telnga  Mastoiditis ( inflamasi sistem sel udara mastoideus )  Kolesteatoma ( lesi seperti kista yang dapat masuk dan merusak struktur auditorius sekitarnya )  Infeksi intrakranial. jika sedang memakai selang kontaminasi ketelinga tengah ketika berenang atau mandi. putih.

Sasaran pasien ( keluarga ) 2 : keluarga menjukkan perilaku koping yang positif terhadap pasien Intervensi keperawatan / rasional a) Jelaskan bahwa kehilangan pendengaran sementara adalah hal yang umum pada OM karena keluarga mungkin tidak menyadari hal ini. siapkan keluarga untuk prosedur pembedahan (miringotomi). pada jarak lebih dekat. c) Beri tahu keluarga bahwa pasien tidak mengabaikan mereka tau salah berperilaku. berikan air. Hasil yang diharapkan Pasien sembuh dari infeksi dan atau pembedahan tanpa komplikasi. dan menghadap ke pasien. .h) Jelaskan tentang pencegahan ketidaknyamanan telinga selama perjalanan dengan pesawat :  Spray pengerut mukosa nasal atau dekongestan oral dapat diberikan bila anak mengalami ISPA  Ketika turun dari pesawat dan makan. Gunakan kesabaran ketika berkomunikasi dengan pasien. kehilangan pendengaran sementara Sasaran pasien ( keluarga ) 1 : pasien ( keluarga ) mendapatkan dukungan yang adekuat Intervensi keperawatan / rasional Bila tepat. pasien mungkin tidak menyadari ketika sedang diajak bicara. Pasien tetap nyaman selama perjalanan dengan pesawat 3) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit dan hospitalisasi pasien. b) Beri tahu keluarga tentang kemungkinan perubahan perilaku pada saat kehilangan pendengaran. Hasil yang diharapkan Keluarga mendemonstrasikan pemahaman tentang prosedur. d) Bicara lebih keras. termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap bunyi di lingkungan. atau permen karet. e) Dorong evaluasi lebih lanjut bila kehilangan pendengaran bersifat menetap melewati tahap akut dari penyakit tersebut.

Dulu kita kenal sebagai otitis media perforata (OMP). Tabel Perbedaan Antara Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna & Maligna .html Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Oleh : Muhammad al-Fatih II Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah otitis media yang berlangsung lebih 2 bulan karena infeksi bakteri piogenik dan ditandai oleh perforasi membran timpani dan pengeluaran sekret. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah. Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. Sekret keluar dari kavum timpani. Hal ini disebabkan oleh : Terapi.blogspot. Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan kelanjutan dari otitis media supuratif sub akut dan otitis media supuratif akut (OMA). Pertahanan. Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. Orang awam biasa menyebutnya congek. Perforasi marginal.com/2012/04/askep-perforasi-membran-timpani. Jenis otitis media supuratif kronik (OMSK). Higiene. yaitu : Perforasi sentral (sub total). Letak perforasi di pars flaksida membran timpani. Perforasi atik. Konsistensinya bisa encer atau kental. Keluarga mencari perawatan kesehatan yang tepat untuk pasien. Kavum timpani basah atau kering. http://alam414m. Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. Terapi lambat diberikan atau terapi tidak adekuat. Kuman. Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. Daya tahan tubuh rendah akibat gizi kurang. Virulensi kuman tinggi. Higienitas yang buruk.Hasil yang diharapkan Keluarga menunjukkan perilaku koping yang posiif terhadap pasien. Otitis media supuratif kronik (OMSK) aktif. yaitu : Otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna / mukosa / aman. Otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna / tulang / bahaya.

Status gizi dan higiene pasien yang kurang. Hal ini disebabkan semua antibiotik tetes telinga bersifat ototoksik. Lanjutkan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik & kortikosteroid setelah sekret yang keluar telah berkurang. Proses peradangan mengenai tulang. Berikan eritromisin jika pasien alergi terhadap golongan penisilin. hidung dan sinus paranasalis. Tujuannya antara lain : Menghentikan infeksi permanen. Bahannya H2O2 3%. Masalah ini dapat disebabkan : Perforasi membran timpani. Jaringan patologik yang ireversibel telah terbentuk dalam rongga mastoid. tindakan pembedahan dapat pula kita lakukan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. Jaringan patologik. Obat antibiotik. Proses peradangan tidak terbatas pada mukosa. Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) tergantung dari jenisnya. Terapi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) memiliki beberapa kesulitan. Juga setelah kita melakukan observasi selama 2 bulan. Memperbaiki perforasi membran timpani dan fungsi pendengaran. Selain terapi konservatif (medikamentosa). Jangan berikan selama lebih 1-2 minggu secara berturut-turut. Berikan antibiotik oral golongan ampisilin atau eritromisin sebelum hasil tes resistensi obat kita terima. Ada 3 cara terapi konservatif (medikamentosa) otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. gejala sering berulang. Miringoplasti dan timpanoplasti kita lakukan jika sekret telah kering namun perforasi membran timpani masih ada. Tanda yang menunjukkan adanya sumber infeksi. Obat tetes telinga. Berikan selama 3-5 hari. Prinsip terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna dengan cara konservatif (medikamentosa) sedangkan otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna dengan cara pembedahan. Perforasi membran timpani yang permanen menyebabkan telinga tengah terpapar langsung & terus-menerus oleh dunia luar. Proses peradangan tidak mengenai tulang. Jarang terjadi komplikasi yang berbahaya. Sumber infeksi yang masih ada dapat terjadi pada nasofaring. Sumber infeksi. Berikan ampisilin asam klavulanat bila terjadi resistensi ampisilin. Gizi & higiene. yaitu : . yaitu : Obat pencuci telinga. Tindakan ini disebut miringoplasti atau timpanoplasti. Pengobatan ini kita berikan bila sekret telinga keluar terus-menerus. Sering terjadi komplikasi yang berbahaya. Juga hindari pemberiannya pada otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang.Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Maligna Proses peradangan terbatas pada mukosa. sekret yang keluar tidak cepat kering dan sekret yang selalu kambuh. Kolesteatoma tidak ada. Mencegah komplikasi dan kerusakan pendengaran yang lebih berat. Perforasi membran timpani paling sering tipe marginal & atik. Diantaranya membutuhkan waktu yang lama. Kolesteatoma ada. Perforasi membran timpani tipe sentral. faring. Kadang-kadang tipe sub total (sentral) dengan kolesteatoma.

THT (editor). http://thtkedokteran. Jika abses subperiosteal retroaurikuler ada. Adapun terapi konservatif (medikamentosa) hanya bersifat sementara dan kita berikan sebelum melakukan tindakan pembedahan. Tenggorok. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Pembedahan : adenoidektomi & tonsilektomi. Kepala & Leher. Ed. yaitu : Pengobatan. Nurbaiti Iskandar.Sekret masih ada. Tindakan pembedahan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna yang sering dilakukan yaitu mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. ke-5. H. H. lakukan insisi abses diwaktu yang berlainan. Hidung. dr.blogspot. Cara mengatasi sumber infeksi. 2006.html . Efiaty Arsyad Soepardi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Daftar Pustaka Sosialisman & Helmi. sebelum melakukan operasi mastoidektomi.com/2010/06/otitis-media-supuratif-kronik-omsk. Sp.THT & Prof. dr. Sp. Infeksi berulang.

antrum mastoid. yang ditandai dengan nyeri. a. serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun. Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar. bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen. antara lain : demam. dan media berarti tengah. Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh . Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. vomiting. dan sel-sel mastoid.OTITIS MEDIA Emirza Nur Wicaksono Maret 27. tuba eustacheus. demam. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia. anoreksia. Otitis berarti peradangan dari telinga. tinitus dan vertigo. letargi. iritabilitas. 2013 [6] comments Definisi Otitis adalah radang telinga. hilangnya pendengaran. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah.

Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet. yang menonjol biasanya disertai nyeri. atau gendang telinga yang berlubang. yaitu: 1. infeksi saluran nafas atas. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses . dan teori implantasi. teori migrasi. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. secara khas untuk sedikitnya satu bulan. Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih.bakteri pada ruang udara pada tulang temporal. otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tanda-tanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga. b.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. Otitis Media Kronis Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. Demam dapat hadir. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. dan mampu berangiogenesis. campuran bakteri aerob dan anaerob. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. teori metaplasi. 2. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi). Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. biasanya tidak mengenai tulang. destruksi. disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu.Orang awam biasanya menyebut congek OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. gendang telinga. metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis. Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa.

tuli saraf berat unilateral. 3. Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi). Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. kadangkadang sub total.2  Secondary acquired cholesteatoma. Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. umumnya pada apeks petrosa. . Kolesteatom kongenital. Terbentuk setelah perforasi membran timpani. Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani. Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh. 2. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus.pembusukan bakteri. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom. 2. postero-inferior dan postero-superior. Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. bisa antero-inferior. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi). Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya.2 b. Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. meningitis dan abses otak. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. dan gangguan keseimbangan.1. Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1.

inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis. Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi). berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma.3. Penyebab OMK antara lain: 1. Streptococcus pyogenes. Bisa juga disebabkan karena bakteri. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika). Pyogenes. Gram Negatif : Proteus spp. antara lain:        Streptococcus. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. b. TBC paru. dan Moraxella catarrhalis. Otitis Media Akut Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. Diplococcus pneumonie. tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. 2. dan tempat tinggal yang padat. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Coli. Etiologi a. Albus. Psedomonas spp. Hemopilus influens. diabetes melitus. Stapilococcus. S. Hemophylus influenzae. Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. Genetik . Gram Positif : S. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. E. Kuman anaerob : Alergi. diet.

Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. 3. Riwayat otitis media sebelumnya Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-), flora tipe usus, dan beberapa organisme lainnya. 5. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. 6. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK. 7. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. 8. Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:
 

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi.

 

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.

Patofisiologi a. Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. b. Otitis Media Kronis

Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan tubuh, lingkungan, dan social ekonomi. Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis, tonsillitis, rhinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani, maka terjadi inflamasi. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah, biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang, tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen, mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. Berenang, kemasukan benda

yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen. Manifestasi Klinis a. Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. Stadium oklusi tuba Eustachius

Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. 2. Stadium hiperemis (presupurasi)

Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. 3. Stadium supurasi

Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga bertambah hebat.Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur. 4. Stadium perforasi

Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak. 5. Stadium resolusi

Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.Pada bayi dan anak kecil gejala khas

Setelah terjadi ruptur membran tinmpani.5 derajat celsius). Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut.otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang. tiba-tiba menjerit saat tidur. Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1. gelisah. Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1. kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. kejang. sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. berwarna putih mengkilat. sulit tidur. b. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. . diare. 1. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas. Gejalanya bervariasi. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip. discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. Bila terus menerus kambuh. suhu tubuh akan turun dan anak tertidur. kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat .

dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. dengan pemberian antibiotik.Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. Penatalaksanaan a. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. dekongestan lokal atau sistemik. 2. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0. Stadium Oklusi Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. dan antipiretik. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. obat tetes hidung dan analgesik. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. Stadium Presupurasi Diberikan antibiotik. Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. sebaiknya dilakukan miringotomi.5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun.25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0. Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. 2. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung. Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Pemeriksaan Diagnostik a. . Untuk mengetahui organisme penyebabnya. Sumber infeksi lokal harus diobati. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. b. Jika terjadi resistensi. Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. 1.

Stadium Perforasi Terlihat sekret banyak keluar. Jika gejala tidak membaik dalam 4872 jam atau ada perburukan gejala. sekret tidak ada lagi. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Stadium Resolusi Membran timpani berangsur normal kembali. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi. 3. kadang secara berdenyut. Bila tidak. antibiotik diberikan. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. 5. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. 2. Pemberian Antibiotik 1. observasi jika gejala ringan Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. 4. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. mungkin telah terjadi mastoiditis. observasi jika gejala ringan Observasi 2 thn Antibiotik jika gejala berat. termasuk berkurangnya pendengaran. dan perforasi menutup.gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua . 3. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat. a. Stadium Supurasi Selain antibiotik. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan. Bila tetap.

kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin. dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir. .10 Menurut BMJ. sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. . memiliki risiko yang lebih besar. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam. . Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi.Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil. dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam.        Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. . walaupun dapat membunuh lebih banyak jenis bakteri.Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun. Antibiotik dengan spektrum luas. cefpodoxime. pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.tahun. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.Pada alergi berat terhadap amoxicillin. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. atau cefuroxime.Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Untuk dapat memilih observasi. . Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang .Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas.Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillinclavulanate. yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin . Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik. dirawat seharihari di daycare. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillin-clavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.

harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. Cairan yang keluar harus dikultur. Menurut Nursiah. Karenanya. OMK BENIGNA . Otitis Media Kronis Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia). . Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak.Pada usia enam tahun ke atas. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup. b. dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi. b. maka mutlak harus dilakukan operasi.Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. 1. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. Di Inggris. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. . . Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. Bila didiagnosis kolesteatom. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi.Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat.resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. c. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi.

2. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan.a. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan . karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping).timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid. misalnya asam boric dengan Iodine. Pemberian antibiotik topikal Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. b. Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. • Toilet telinga secara basah ( syringing). Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah.

c. Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. B. E. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks. Proteus. khususnya B. Pseudomonas. Enterobakter. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. yang akan menyebabkan ototoksik. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. fragilis Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. polimiksin dan hidrokortison. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. 1984).dulu. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Seperti aminoglokosida yang lain. Asidum borikum 2. tetapi resisten terhadap gram positif.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. Terramycin. Polimiksin B atau polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. . adalah tidak efektif. bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. Selain itu dikatakannya. baik pada anak maupun dewasa. Koli Klebeilla. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan.

Toksik terhadap ginjal dan telinga. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Makin tinggi kadar obat. 96% Proteus sp.69% dan tidak ada perbaikan 4.2. 95% Stafilokokus group A. koagulase positif. Dalam pengunaan antimikroba. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik.96% sembuh. koagulase positif. 60% Proteus mirabilis. misalnya golongan beta laktam. 90% Klebsiella. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. 100% E. 93% Pseudomonas. kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba. Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah  Kuman aerob Antibiotik sistemik . Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. Proteus sp. 99% Stafilokokus. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88.53% 3. makin banyak kuman terbunuh. membaik 8. Koli. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya . Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. 92% Enterobakter. Bila terjadi kegagalan pengobatan . misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. misalnya : Stafilokokus aureus. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh. 3.

maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif.           Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. tetapi harus diberikan secara parenteral. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P. • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) . dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. baik tipe benigna atau maligna. aminoglikosida Streptokokus Penisilin. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. eritromosin. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. 2001): • Mastoidektomi sederhana Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. Koli Ampisilin atau sefalosforin S.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. meskipun dapat mengatasi OMK. Bila terdapat abses subperiosteal. sefalosforin. 2. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. antara lain (Soepardi. Sefalosforin. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. eritromisin Aminoglikosida B.

III. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. IV dan V.Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. tetapi belum merusak kavum timpani. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa. Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak . Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). Komplikasi a. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan.

Demam dan menggigil.Labirinitis. 5. Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi.Vertigo (perasaan berputar) . .Parese nervus fasialis. Komplikasi Intratemporal . 3.Tanda-tanda terjadinya komplikasi: .Mastoiditis akut. . erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a. . b.Tuli yang terjadi secara mendadak .Petrositis. . . tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1. 2.Perforasi membrane timpani. 4.Sakit kepala .

Abses subperiosteal. . . .Tromboflebitis. Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ). b. ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) OMA DAN OMK BAB I PENDAHULUAN . abes otak. c. prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal. sehingga penutupan membrane timpani disarankan.Hidrocephalus otikus. Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti. . .Empiema subdural/ ekstradural Prognosis a. Komplikasi Ekstratemporal. otorea dapat mongering. Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local. Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air.Abses otak.b. OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis. Komplikasi Intrakranial.

4 Manfaat .1. : Menjelaskan asuhan keperawatan dengan klien OMA dan OMK : Menjelaskan Konsep dasar dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan definisi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan etiologi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan patofisiologi OMA dan OMK Menjelaskan manifestasi klinis OMA dan OMK Menjelaskan pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK Menjelaskan komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK 1. diperkirakan 75 % anak mengalami minimal 1 episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya 3 kali atau lebih. 1. 3. 2. Di Amerika Serikat.1. 6. 5.2 Rumusan Masalah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Apa yang dimaksud dengan OMA dan OMK? Bagaimana Etiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana patofisiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana manifestasi klinis pada OMA dan OMK ? Bagaimana pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK ? Bagaimana komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK ? Bagaimana asuhan keperawatan pada OMA dan OMK ? 1. 2009.1 Latar Belakang Otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. setidaknya 25 % anak mengalami minimal 1 episode sebelum usia 10 tahun ( Abidin. 4. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun Mengingat masih tingginya angka otitis media pada anak-anak. maka diagnosis dini yang tepat dan pengobatan secara tuntas mutlak diperlukan guna mengurangi angka kejadian komplikasi dan perkembangan penyakit menjadi otitis media kronis. Prevalensi terjadinya otitis media di seluruh dunia untuk usia 10 tahun sekitar 62 % sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83 %. Di Inggris.Tujuan Tujuan Umum Tujuan khusus 1.

2 Otitis Media Kronis . otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tandatanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. tinitus dan vertigo. dan sel-sel mastoid/( soepardi. vomiting. atau gendang telinga yang berlubang. edisi 3 . hilangnya pendengaran.1. letargi. 2004 ) Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.Manfaat yang dapat diambil sebagai berikut : 1. tuba eustacheus.1 Definisi Otitis adalah radang telinga. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun. dan media berarti tengah. iritabilitas. 1999).1.1990) Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah (mediastore. yang menonjol biasanya disertai nyeri. serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit.1 Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu (Kapita selekta kedokteran. Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada tulang temporal (CMDT. antrum mastoid. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar.2009 ) 2. bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen. anoreksia. 2. Mengetahui Penatalaksaan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis 2. antara lain : demam. iskandar . Demam dapat hadir. demam. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia. Otitis berarti peradangan dari telinga. gendang telinga. yang ditandai dengan nyeri.

destruksi. 2007) OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe. Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. Kolesteatom kongenital. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi). 2. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. dan mampu berangiogenesis. umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah.Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis. campuran bakteri aerob dan anaerob. biasanya tidak mengenai tulang. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. dan teori implantasi. yaitu: 1. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius. disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi. secara khas untuk sedikitnya satu bulan. meningitis dan abses otak. Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga ( warmasif. . Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. teori metaplasi. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses pembusukan bakteri. teori migrasi. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. infeksi saluran nafas atas. 2009) Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih.Orang awam biasanya menyebut congek (Alfatih.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering.

2. Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus. Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi). Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total.2 b. Terbentuk setelah perforasi membran timpani.2 Etiologi 2. bisa antero-inferior.1. 2.1 Otitis Media Akut . dan gangguan keseimbangan. Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh. 2. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma. Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi). 3. 2. kadangkadang sub total.Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani. 3. tuli saraf berat unilateral. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1. postero-inferior dan postero-superior. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma. umumnya pada apeks petrosa. Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya.2  Secondary acquired cholesteatoma. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal.

2. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. TBC paru. diet. Gram Negatif : Proteus spp. tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. dan Moraxella catarrhalis. E. Riwayat otitis media sebelumnya . Penyebab OMK antara lain: 1. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. Gram Positif : S. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. dan tempat tinggal yang padat. S. 3. Hemopilus influens. Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. Diplococcus pneumonie. diabetes melitus. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Psedomonas spp. Streptococcus pyogenes. Genetik Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini. Albus. Hemophylus influenzae.2009). Kuman anaerob : Alergi. tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas.Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). Bisa juga disebabkan karena bakteri.2 Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi) (Mediastore. 2. Coli. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika). inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis. antara lain:        Streptococcus. Stapilococcus. terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik.2. Pyogenes.

Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. 7. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. 8.Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi. Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-). Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK. tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. 5. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:     Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. flora tipe usus. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya. . Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah. dan beberapa organisme lainnya. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. 6. Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel.

mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. alergi. maka terjadi inflamasi. tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi. Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah. gangguan fungsi tuba. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani.3. Dan yang paling berat. Berenang. lingkungan. Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran. 2. kekebalan tubuh. Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis. cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.3 Patofisiologi 2. rhinitis. sinusitis).2 Otitis Media Kronis Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap. Saat bakteri melalui saluran Eustachius. kemasukan benda yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen. biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang. Jika lendir dan nanah bertambah banyak.2.3.1 Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. . Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. tonsillitis. mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen. dan social ekonomi. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah.

Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. 3. nadi dan suhu meningkat. keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi.1 Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.Pada bayi dan anak kecil gejala khas . Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang. 2. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. Kadang berwarna normal atau keruh pucat.Apabila tekanan tidak berkurang. 1. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1. suhu badan turun. Stadium oklusi tuba Eustachius Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Efusi tidak dapat dideteksi. Stadium hiperemis (presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Stadium supurasi Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.4 Manifestasi Klinis 2. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi. dan dapat tidur nyenyak. 1. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering.Pada anak.4. akan terjadi iskemia. 5. Di tempat ini akan terjadi ruptur. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. serta nyeri di telinga bertambah hebat. 1.5 atau 2 bulan. 1.Pada orang dewasa.2. 1. 4. Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali.Pasien tampak sangat sakit. Stadium perforasi Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi.

Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. 1. sulit tidur. berwarna putih mengkilat.otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. diare. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani. 2. kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . gelisah.2 Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1. berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal. Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. suhu tubuh akan turun dan anak tertidur.5 derajat celsius). Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. kejang. Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena . kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna. tiba-tiba menjerit saat tidur. Gejalanya bervariasi.4. ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang. OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom.

telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. Bila terus menerus kambuh, akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip, yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. 2. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik 2.5.1 Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. 2.5.2 Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Untuk mengetahui organisme penyebabnya, dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. 2.6 Penatalaksanaan 2.6.1 Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. 1. 1. Stadium Oklusi

Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. 1. 2. Stadium Presupurasi

Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan

asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. 1. 3. Stadium Supurasi

Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. 1. 4. Stadium Perforasi

Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. 1. 5. Stadium Resolusi

Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap, mungkin telah terjadi mastoiditis. a. Pemberian Antibiotik 1. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. 2. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran. 3. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotik diberikan. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th 2 thn Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Observasi

Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua

tahun. Untuk dapat memilih observasi, follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.10 Menurut BMJ, pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin.

  

 

Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun, dirawat sehari-hari di daycare, dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa, sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillin-clavulanate.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillinclavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.

ü Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime. ü Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin ü Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim. ü Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. ü Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil, pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. ü Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Antibiotik dengan spektrum luas, walaupun dapat membunuh lebih banyak

ü Pada usia enam tahun ke atas. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia). Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak. Bila didiagnosis kolesteatom. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. c.6. Di Inggris.2 Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Cairan yang keluar harus dikultur. dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi.jenis bakteri. b. ü Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat. memiliki risiko yang lebih besar. maka mutlak harus dilakukan operasi. Otitis Media Kronis 2. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup. anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari. . perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. Karenanya. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua. Menurut Nursiah. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. ü Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari.

Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. • Toilet telinga secara basah ( syringing). setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. 1981). Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah.1. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme ( Fairbank. dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid ( Beasles. OMK BENIGNA a. Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping). dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. 2. kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Pemberian antibiotik topikal . b. 1979).timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. misalnya asam boric dengan Iodine. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa.

c. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu. 1984). Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. polimiksin dan hidrokortison. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. yang akan menyebabkan ototoksik. Seperti aminoglokosida yang lain. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Terramycin. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. khususnya B.Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. baik pada anak maupun dewasa. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. adalah tidak efektif. Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. fragilis ( Fairbanks. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. Polimiksin B atau polimiksin E . Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. Asidum borikum 2. Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. 1984). Selain itu dikatakannya.

fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya . Enterobakter. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. 60% Proteus mirabilis. Pseudomonas. . misalnya : Stafilokokus aureus. B. 99% Stafilokokus. membaik 8. dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba. koagulase positif. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini.Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif. 93% Pseudomonas. Koli. kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. E. Dalam pengunaan antimikroba. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Koli Klebeilla. makin banyak kuman terbunuh.96% sembuh. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif. 95% Stafilokokus group A. Toksik terhadap ginjal dan telinga. 92% Enterobakter. 2. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. 100% E. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88. misalnya golongan beta laktam. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. Proteus sp. Proteus.53% 3. 96% Proteus sp. Makin tinggi kadar obat. Bila terjadi kegagalan pengobatan . koagulase positif. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. 90% Klebsiella.69% dan tidak ada perbaikan 4. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh. tetapi resisten terhadap gram positif. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. 3.

aminoglikosida Streptokokus Penisilin. Sefalosforin. meskipun dapat mengatasi OMK. 2001): • Mastoidektomi sederhana . 2. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. antara lain (Soepardi. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P.Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah Kuman aerob Antibiotik sistemik Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P. Bila terdapat abses subperiosteal. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. tetapi harus diberikan secara parenteral. eritromisin Aminoglikosida B. sefalosforin. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. baik tipe benigna atau maligna. Koli Ampisilin atau sefalosforin S. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. eritromosin. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob.

Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. III. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma. . Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. IV dan V. Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan. tetapi belum merusak kavum timpani. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan.

3. 2. tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1.7 Komplikasi 2. erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid .2 Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi.1 Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak Tanda-tanda terjadinya komplikasi: v Sakit kepala v Tuli yang terjadi secara mendadak v Vertigo (perasaan berputar) v Demam dan menggigil. 2.7.2. 4.7. 5.

.Abses otak.Abses subperiosteal.Labirinitis. . . c. .Hidrocephalus otikus. Komplikasi Intratemporal . b.Parese nervus fasialis. .Tromboflebitis.Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a. Komplikasi Ekstratemporal.Perforasi membrane timpani.Petrositis. Komplikasi Intrakranial. . .Mastoiditis akut. . .

. otorea dapat mongering. umur. suku/bangsa. peniti untuk membersihkan telinga Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang. agama. riwayat alergi. kapas lidi.8.Empiema subdural/ ekstradural 2. Pengumpulan Data    Identitas Pasien : Nama pasien. OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis. 2. Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air. riwayat operasi . Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti. riwayat OMA berkurang. kuirin. penggunaan minyak.8 Prognosis 2. salisilat. pendidikan.8.1 Pengkajian 1. sehingga penutupan membrane timpani disarankan. gentamisin ). alamat Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga. prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan Keperawatan pada Otitis Media Kronis 3. abes otak.2 Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local.1 Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ). riwayat penggunaan obat( sterptomisin. pekerjaan.

prognosis. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran 3. Takut menghadapi tindakan pembedahan 4. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan 3.2 Diagnosa Keperawatan 1. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri . Pengkajian Persistem Tanda-tanda vital : Suhu meningkat. 5. nyeri.Tes suara bisikan. sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik 2. Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami penyakit telinga. Aktivitas terbatas 3. infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran 4. Xray : terhadap kondisi patologi. diagnosis. hilangnya fungsi. Pemeriksaan diagnostik a. anestesi. Pengkajian Psikososial 1. vertigo. pusing. kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. kekaburan mastoid 5. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan 2. otore berbau busuk 6. Cemas berhubungan dengan prosedur operasi.3 Intervensi dan Rasional . alergi 3. tes garputala 3. : Nausea vomiting : Malaise. keluarnya otore B2 ( Blood ) B3 (Brain) refleks kejut B5 (Bowel) B6 (Bone) : Nadi meningkat : Nyeri telinga. Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi. perasaan penuh dan pendengaran menurun. misal kolestetoma. Nyeri otore berpengaruh pada interaksi 2. Pemeriksaan pendengaran . Tes audiometri : pendengaran menurun b.

beri aspirin/analgesik sesuai instruksi. klien mampu melakukan metode pengalihan suasana Intervensi Keperawatan: ü Ajarkan klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode relaksasi saat nyeri yang teramat sangat muncul. a. relaksasi seperti menarik napas panjang Rasional : Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa mengurangi nyeri yang diderita klien ü Kompres dingin di sekitar area telinga Rasional : Kompres dingin bertujuan mengurangi nyeri karena rasa nyeri teralihkan oleh rasa dingin di sekitar area telinga ü Atur posisi klien Rasional : Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman ü Untuk kolaborasi. bahasa lambang. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga. menerima pesan melalui metode pilihan ( misal: komunikasi lisan. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ). seperti : tulisan. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien berkurang rasa Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang.1. bahasa isyarat. berbicara dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik . berbicara dengan jelas pada telinga yang baik Intervensi keperawatan: ü Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien. beri sedatif sesuai indikasi Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam 2. berbicara. Rasional: Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien ü Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal.

sediakan penerjemah. Jika ia hanya mampu berbahasa isyarat. Jika klien dapat membaca ucapan: .Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas .. 3. tidak kepada penerjemah.Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan komunikasi tertulis . Alamatkan semua komunikasi pada klien.Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda c. Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara pada klien dengan mengabaikan keberadaan penerjemah Rasional : Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat diterima dengan baik oleh klien. Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi d. Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi. ü Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman a. Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien .Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya d.Dekati klien dari sisi telinga yang baik b. Ulangi jika kilen tidak memahami seluruh isi pembicaraan c.Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu . infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran Tujuan : Persepsi / sensoris baik Kriteria hasil : Klien akan mengalami peningkatan persepsi / sensoris pendengaran sampai pada tingkat fungsional Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat . Bicara dengan jelas menghadap individu b. Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dair ya dan tidak Rasional : Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat secara tepat.

kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. prognosis. ü Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh Rasional : Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif. hilangnya fungsi. maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi ü Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut Rasional : Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengaran rusak secara permanen ü Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik ( baik itu antibiotik sistemik maupun lokal ) Rasional : Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut 4. pemakaian serta perawatannya yang tepat.Rasional : Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan / ketulian. diagnosis. justru malah menimbulkan ketidakkepercayaan klien terhadap perawat. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya ü Berikan informasi tentang kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien Rasional : Dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien ü Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia yang dapat membantu klien Rasional : Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada di sekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi . Cemas berhubungan dengan prosedur operasi. anestesi. Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien mampu mengungakpkan ketakutan / kekhawatirannya Intervensi keperawatan : ü Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi Rasional : Harapan-harapan yang tidak realistik tidak dapat mengurangi kecemasan. nyeri.

ü Beritahu komplikasi yang mungkin timbul dan bagaimana cara melaporkannya Rasional : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada klien dapat membantu klien dan keluarga untuk melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga dapat dengan cepat ditangani. Rasional : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Tujuan : Klien akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara pencegahan kekambuhan.5. ( BAB IV PENUTUP . Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri . Rasional : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat meningkatkan pemahaman klien sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan kekambuhan. ü Yakinkan klien bahwa setelah dilakukan pengobatan / pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang Rasional : Klien akan kooperatif / berpartisipasi dalam persiapan pembedahan tympanoplasti ) dan akan mulai mengajak bicara dengan perawat dan keluarga 6. ü Tekankan hal-hal yang penting yang perlu ditindak lanjuti / evaluasi pendengaran. otore berbau busuk Tujuan : Tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Kriteria Hasil : Klien tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Intervensi keperawatan : ü Bina hubungan saling percaya Rasionalisasi : hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial. Kriteria hasil : Klien paham mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinyu sesuai aturan.

2009.4.ac.Edisi 6.EGC:Jakarta George L.Buku Saku Diagnosis Keperawatan.2 Saran Hendaknya dilakukan uji kultur pada pasien untuk mengetahui jenis bakteri yang menginfeksi dan untuk pemberian antibiotik yang tepat.J. C. karena adanya perluasan infeksi di daerah auries media.Perencanaan Asuha .id(10 September 2009) Rothrock.(2000).http:/library. Adams.Otitis Media Akut.Buku Ajar Penyakit THT.2006.Edisi 10.1997. 4. Taufik.usu. Akan tetapi. Otitis media akut yang tidak diobati secara tuntas dapat berlanjut menjadi Otitis media Kronik yang ditandai denagn adanya perforasi pada membran tympani. pada awalnya pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan tonsilitis. DAFTAR PUSTAKA Carpenito.1 Kesimpulan Dalam kasus ini .EGC:Jakarta Abidin. maka pasien akan mengalami otitis meda akut.Lynda Juall.

Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. B. Kolesteatoma dapat terjadi di kavum timpani dan atau mastoid5. Insidensi kolesteatoma tidak diketahui dengan pasti. tetapi keadaan ini merupakan alasan untuk dilakukan bedah telinga. Definisi Kolesteatom adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin)4. Kematian karena komplikasi intrakranial kini tidak umum terjadi disebabkan deteksi dini.Kolesteatoma adalah deskumulasi non neoplasma sel epitel kulit pada cavum timpani. Kolesteatoma telah dikenal sebagai lesi bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal. A. Apabila terbentuk terus dapat menumpuk sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar4. Sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi pada sistem syaraf pusat3. Meskipun kolesteatoma bukan lesi neoplasma tetapi dapat berbahaya pada penderita1. mastoid2 atau apex petrosus. Istilah kolesteatoma diperkenalkan pertama kali oleh Johanes Muller pada tahun 1838 untuk menjelaskan kolesteatoma sebagai dikira sebagai neoplasma lemak di antara sel-sel polihedral1. intervensi pembedahan dan terapi suportif antibiotik. Kolestatoma masih penyebab umum tuli konduksi sedang dan permanen pada anak-anak dan dewasa3. Etiologi Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik .

Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat. otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah7. Kulit pada permukaan membran timpani dapat tumbuh melalui perforasi tersebut dan masuk ke dalam telinga tengah7. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma 4. yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. 3. teori metaplasi dan teori implantasi. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang . Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara 6. C. 4. Kantong tersebut menjadi kolesteatoma. Perforasi telinga tengah yang disebabkan oleh infeksi kronik atau trauma langsung dapat menjadi kolesteatoma. 1. Patogenesis Banyak teori dikemukakan oleh para ahli tentang patogenesis kolesteatoma. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi. Teori invaginasi Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba 4. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi 4 Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. ketika menelan atau menguap. teori imigrasi. Teori imigrasi Kolesteatoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah4. Teori metaplasi Terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama4 .karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. antara lain adalah: teori invaginasi. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar6. setelah blust injury. migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin8. Kolestoma kongenital dapat terjadi ditelinga tengan dan tempat lain misal pada tulang tengkorak yang berdekatan dengan kolesteatomanya 6. Sebagaimana diketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamosus epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar. 2. kolesteatoma adalah epitel kulit yang berada pada tempat yang salah atau menurut pemahaman Djaafar (2001) kolesteatoma dapat terjadi karena adanya epitel kulit yang terperangkap. Teori implantasi Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatom terjadi akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. Beberapa pasien dilahirkan dengan sisa kulit yang terperangkap di telinga tengah (kolesteatoma kongenital) atau apex petrosis7. Teori tersebut akan lebih mudah dipahami bila diperhatikan definisi kolesteatoma menurut Gray (1964) yang mengatakan.

Histologis Kolesteatoma secara histologis adalah kista sel-sel keratinisasi skuamosa benigna yang disusun atas tiga komponen.Kolesteatom kongenital. kolestetoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah (teori immigrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama (teori metaplasia) 4 . bersamaan dengan kehilangan pendengaran 6. E. matriks dan perimatrik. b. F. Kistik tersusun atas sel skuamosa keratinisasi anukleat berdiferesiansi penuh. Perasaan penuh Kantong kolesteatoma dapat membesar sehingga dapat menyebabkan perasaan penuh atau tekanan dalam telinga.diperhebat dengan adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis.1. Perasaan sakit dibelakang atau didalam telinga dapat dirasakan terutama pada malam hari sehingga dapat menyebabkan tidak nyaman pada pasien6. Klasifikasi Kolesteatoma dapat dibagi menjadi dua jenis: 1. Lokasi kolesteatoma biasanya di kavum timpani. yang terbentuk pada masa embrionik dan ditemukan pada telinga dengan membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. dengan akibatnya hilangnya tulang mastoid. Pendengaran berkurang Kolesteatoma dapat tetap asimtomatik dan mencapai ukuran yang cukup besar sebelum terinfeksi atau menimbulkan gangguan pendengaran. Jaringan granulasi memproduksi enzim proteolitik yang dapat menyebabkan desktruksi terhadap tulang. Lapisan perimatriks merupakan lapisan yang bersentuhan dengan tulang. Kolestetoma akuisital sekunder kolestetoma terbentuk setelah adanya perforasi membrana timpani.Kolesteatoma akuisital yang terbentuk setelah anak lahir a. Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah satu sisi wajah (sisi telinga yang terinfeksi) 6. Diagnosis 1. Matriks terdiri atas epitel skuamosa keratinisasi seperti susunan kista. osikula. Gejala Klinis 1. daerah petrosus mastoid atau di cerebellopontin angle 4 . G. D. 2. yaitu kistik. 2. meningitis dan abses otak 4 . 4. dan pembungkus tulang saraf fasialis10. Anamnesis Riwayat keluhan pada telinga sebelumnya harus di selidiki untuk memperoleh gejala awal . kolestetoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif ditelinga tengah akibat gangguan tuba (teori invaginasi) 4 . Perimatrik atau lamina propria merupakan bagian kolesteatoma yang terdiri atas sel-sel granulasi yang mengandung kristal kolesterol. 3. Nyeri Pasien mengeluh nyeri tumpul dan otore intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekuder9. Kolestetoma akuisital primer kolestetoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrana timpani.

keluasan penyakit dan skrening komplikasi asimptomatik8. Membran timpani harus diperiksa dengan teliti. 2. Penatalaksanaan 1. kecurigaan abnormalitas kongenital atau kasus kolesteatoma dengan tuli sensorunerual. otalgia. Diperlukan aural toiletisasi untuk menghilangkan otore. Terapi bertujuan untuk menghentikan drainase pada telinga dengan mengendalikan infeksi 6. dengan perhatian terutama pada pemeriksaan telinga. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik terdiri atas pemeriksaan kepala dan leher.kolesteatoma. sebaiknya dibandingkan dengan pemeriksaan audiometri5. antibiotika dan tetes telinga.5. biasanya karena erosi posesus longus incus atau capitulum stapes8. Akumulasi debris skuamosa dapat dijumpai pada kantongnya. dan jaringan granulasi5. 4. otitis media supuratif kronik. Penilaian umum untuk menghindari terlewatnya penilaian demam. kehilangan pendengaran unilateral progresif dengan otore yang berbau busuk1. Tuli konduksi sedang > 40dB menyatakan terjadinya diskontinuitas ossikula. Terapi pembedahan Kolestoma merupakan penyakit bedah. Otomikroskopi merupakan alat pada pemeriksaan fisik untuk mengetahui dengan pasti kolesteatoma. 3. 2. perubahan status mental dan penilaian lainnya yang dapat memberikan petunjuk kearah komplikasi5. Tujuan kedua adanya mengembalikan atau memelihara fungsi . Gejala yang sering dikeluhkan adalah otore. ambang penerimaan pembicaraan dan pengenalan kata umumnya dipakai untuk menetapkan tuli konduksi pada telinga yang sakit. 5.Timpanometri. tidak ada riwayat prosedur otologi8. Derajat tuli konduksi bervariasi tergantung beratnya penyakit5. Kolesteatoma sering ditemukan pada membrana timpani kuadran postero superior dengan membran timpaninya retraksi dan atau perforasi. Terapi awal Terapi awal terdiri atas pembersihan telinga. riwayat operasi sebelumnya8. Tujuan utama pembedahan adalah menghilangkan kolesteatoma secara total. Pengurangan pendengaran terjadi seiring meluasnya penyakit5. tinitus dan vertigo. CT scan tidak essensial untuk penilaian preoperasi.Audiometri Audiometri nada murni dengan konduksi udara dan tulang. debris atau lapisan kulit sehingga visualisasi dapat lebih jelas. Kolesteatoma kongenital yang melibatkan telinga tengah diidentifikasi sebagai massa putih atau seperti mutiara yang letaknya medial terhadap kuadran anteo superior dari membran timpani intak. Pada kantong dengan retraksi yang awal dapat dipasang timpanostomi8.Radiologi Pemeriksaan radiologi preoperasi dengan CT scan tulang temporal tanpa kontras dalam potongan axial dan koronal8 dapat memperlihatkan anatomi. pemeriksaan mukosa telinga tengah untuk menilai ada atau tidaknya udema. dikerjakan pada kasus revisi pembedahan sebelumnya. Riwayat penyakit dahulu menderita penyakit pada telinga tengah seperti otitis media dan atau perforasi membrana timpani harus ditanyakan. dapat menurun pada penderita dengan perforasi membran timpani8. H. Retraksi sering terdapat pada attic atau membran timpani kuadran posterosuperior5. Kolesteatoma kongenital di diagnosa pada anak usia pre sekolah. obstruksi nasal. Terdapat juga perforasi membrana timpani. Tes Rinne dan Weber dengan menggunakan garputala 512 Hz didapatkan hasil tuli konduksi. pars placida dan pars tensanya normal. dapat timbul pada telinga tengah atau dalam membrana timpani. Kolesteatoma akuisital umumnya didiagnosa pada anak dengan usia lebih tua dan dewasa dengan riwayat adanya penyakit telinga tengah. tidak ada riwayat otore atau perforasi sebelumnya. gejala vestibular atau komplikasi lainnya1.

memerlukan follow up lebih lanjut dan aural toilet 1. Paralisis dapat berkembang secara akut mengikuti infeksinya atau lambat dari penyebaran kronik kolesteatomanya. Komplikasi 1. Tes tersebut dilakukan dengan maksud untuk menentukan tingkat pendengaran dan keluasan desktruksi yang disebabkan oleh kolesteatomanya sendiri 6. Tuli konduksi Tuli konduksi merupakan komplikasi yang sering terjadi karena terjadi erosi rangkaian tulang pendengaran. Keluasan penyakit akan menentukan keluasan pendekatan pembedahan1. Pemeriksaan CT tulang temporal diperlukan untuk membantu keterlibatannya. Paralisis fasialis Paralisis fasialis disebabkan karena hancurnya tulang diatas nervus fasialis 7.pendengaran. resiko pembedahan (paralisis fasial. Kehilangan pendengaran bervariasi sesuai dengan perkembangan myringostapediopexy atau transmisi suara melalui kantong kolesteatoma ke stapes atau footplate. I. Rekurensi dapat terjadi setelah pembedahan awal. Bondy Modified Radical Procedure Berbagai macam faktor turut menentukan operasi yang terbaik untuk pasien. Canal-walldown prosedur memiliki probabilitas yang tinggi membersihkan permanen kolesteatomanya. Prosedur pembedahan meliputi: a. Rangkaian tulang-tulang pendengaran selalu intak1. tetapi resiko tinggi terjadinya rekurensi dan persisten kolestatoma. Resiko rekurensi cukup tinggi sehingga ahli bedah disarankan melakukan tympanomastoidectomi setelah 6 bulan sampai 1 tahun setelah operasi pertama3. Prosedur pembedahan diterapkan pada individu dengan tanda-tanda patologis. Canal Wall Down Procedure (CWD) b. Kehilangan pendengaran total Setelah operasi sebanyak 3% telinga yang dioperasi mengalami kerusakan permanen karena penyakitnya sendiri aau komplikasi proses penyembuhan. Pasien yang telah menjalani canal-wall-down prosedure memerlukan follow up tiap 3 bulan untuk pembersihan saluran telinga. Canal Wall Up Procedure (CWU) c. Tes pendengaran dan keseimbangan. bahkan pada pasien yang asimptomatik3. Pasien yang menjalani canal. Pasien harus diberikan penjelasan tentang kemungkinan kehilangan pendengaran total 1. Konseling meliputi penjelasan tujuan pembedahan. kehilangan pendengaran). 3. Tuli sensorineural Terdapatnya tuli sensorineural menandakan terdapatnya keterlibatan labyrinth1.wall-up prosedur umumnya memerlukan operasi tahap kedua selelah 6-9 bulan dari operasi pertama. 4. tinnitus. konseling preoperatif dianjurkan. Erosi prosesus lentikular dan atau super struktur stapes dapat menyebabkan tuli konduksi sampai dengan 50dB. Kolesteatoma besar atau yang mengalami komplikasi memerlukan terapi pembedahan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Sebagaimana prosedur pembedahan lainnya. Follow up meliputi evaluasi setengah tahunan atau tahunan. rontgen mastoid dan CT scan mastoid diperlukan. Follow up dilakukan 6 bulan sampai dengan 1 tahun untuk mencegah terjadinya kolesteatoma persisten atau rekurensi3. 2. vertigo. Follow up Tiap pasien dimonitor selama beberapa tahun. Tujuan ketiga adalah memeliharan sebisa mungkin penampilan anatomi normal. 3. Canal-wall-up procedure memiliki keuntungan yaitu mempertahankan penampilan normal. Trancanal Anterior Atticotomi d. Tempat umum yang terjadi adalah gangglin genikulatum pada .

9. Komplikasi intra kranial ditandai dengan gejala otore maladorous supuratif. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. M. L.rcsullivan.Djaafar.earsite.Boies. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid alam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT. S.. 2006. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama. http://www. Levine.otohns. S.. Penyakit Telinga Luar dalam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT. University of Texas Medical Branch. 7. Department of Otolaringology.emedicine. .com/tumors/procedure_one. http://www. L.Kennedy. 2002. Fistula dicurigai pada pasien dengan gangguan tuli sensorineural yang sudah berjalan lama dan atau vertigo yang diinduksi dengan suara atau perubahan tekanan pada telinga tengah1. Middle Ear. EGC.. 6.. Cholesteatoma. Surgery in Cholesteatoma: Ten years Follow-up. Jakarta..Anonim. UTMB. Kelainan Telinga Tengah dalam buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.Ajalloueyan. 10. 1999. 2002. 2. T.Roland.. 3.com 4. 5. IJMS Vol 31.net/default. 1997.Hauptman.Paparella.. March 2006. Dept. Cholesteatoma. G.asp?id=14160. Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johanes Muller pada tahun 1838 karena disangka tumor yang ternyata bukan. Makishma. American Academy of Otolaryngology.. http://www. http://www. Z. 2006. K. 6. EGC. A. biasanaya dengan nyeri kepala kronik. 2001. of Otolaryngology. Intrakranial Komplikasi intrakranial seperti abses periosteal. 1997.entnet. nyeri dan atau demam1.org/index2.cfm. http://www.Underbrink. Jakarta. R. P. 2006.com/www/ears.epitimpanicum anterior1. M. Cholesteatoma.html. M. Cholesteatoma: Pathogenesis and Surgical Management.htm. trombosis sinus lateral dan abses intrakranial terjadi pada 1% penderita kolesteatoma.. 8. 5. Adams. M. 2006.. Cholesteatoma. No 1. KOLESTEATOMA EKSTERNA Diposkan oleh Taufik Abidin oleh: Taufik Abidin Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Fistula labyrinthin Fistula labyrinthin terjadi pada 10% pasien dengan infeksi kronik dengan kolesteatoma. DAFTAR PUSTAKA 1. Cholesteatoma.Anonim. G. Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar. maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma. Jakarta.

Etiologinya belum diketahui. Kolesteatoma mengerosi tulang yang terkena baik akibat efek penekanan oleh penumpukan debris keratin maupun akibat aktifitas mediasi enzim osteoklas. Kolesteatoma diduga sebagai akibat migrasi epitel yang salah & periostitis sirkumskripta. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ disekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. sering terjadi pada pasien dengan kelainan paru kronik. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya kuman. sehingga akan lembab karena menyerap air sehingga mengundang infeksi. Pasien mengeluhkan nyeri tumpul sampai nyeri hebat akibat peradangan setempat dan otorea intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekunder. seperti bronkiektasis. Hal yang terakhir ini disebut sebagai kolesteatoma eksterna. Terjadinya proses nekrosis diperhebat oleh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. . Kolesteatoma pada liang telinga biasanya unilateral. sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. Erosi bagian tulang liang telinga dapat sangat progresif memasuki rongga mastoid dan kavum timpani. juga pada pasien sinusitis. Kolesteatoma eksterna disusun atas epitel gepeng & debris tumpukan pengelupasan keratin.Kolesteatoma diawali dengan penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga. Namun kejadian kolesteatoma sangat jarang terjadi. Bila tidak ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga. yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa.

marshfieldclinic. Deteksi dan pengobatan secara dini pada otitis media dengan memberikan antibiotika akan menurunkan kolesteatoma. ZA. DAFTAR PUSTAKA Sosialisman. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal.. Kolesteatoma Kolesteatoma adalah suatu kista epithelial yang berisi deskuamasi epitel/keratin. 2006.55-56. tiga kali seminggu sering kali dapat menolong. Etiologi / Penyebab Kolesteatoma Komplikasi dari Otitis Media Kronis Penatalaksanaan / Penanganan / Pengobatan / Terapi Kolesteatoma Mastoidektomy dapat menghilangkan kolesteatoma . 2006. Yang penting ialah membuat agar liang telinga berbentuk seperti corong. seperti pada mastoiditis. http://www. Sel epitel debris mengumpul dalam telinga bagian tengah. 47-48. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alcohol atau gliserin dalam perioksida 3%.org/proxy/MC-cattails_2006_sepoct_cyst. seringkali diperlukan tindakan bedah dengan melakukan tandur jaringan ke bawah kulit untuk menghilangkan gaung di dinding liang telinga.Penyakit ini dapat dikontrol dengan melakukan pembersihan liang telinga secara periodic misalnya tiap tiga bulan. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal. Herman. Balai Penerbit FKUI. Kolesteatoma. Pada pasien yang telah mengalami erosi tulang liang telinga. Jakarta.jpg. Keratosis Obliterans Dan Kolesteatoma Eksterna. Balai Penerbit FKUI. sehingga pembersihan liang telinga secara spontan lebih terjamin. Jakarta. Patofisiologi / Patogenesis Kolesteatoma. Kolesteatoma sangat berbahaya dan merusak jaringan sekitarnya yang dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran. Djaafar. membentuk kista yang merusak struktur telinga dan mengurangi pendengaran.1.

Glomus jugulare adalah tumor yang timbul dari bulbus jugularis (Brunner & Suddath: 1999. meatus autikus eksternus.Labirinitis . Sedangkan Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari membrane timpani. mengarah ke medial.2056) 3. bila dilihat dari arah liang telinga berbentuk bundar dan lekung dan gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya.2056) 4. Definisi . KOLESTEATOMA BAB II PEMBAHASAN A. umbo. Kesimpulan Telinga adalah salah satu organ pancaindra yang memiliki fungsi yang sangat vital bagi kehidupan manusia.2056) 2.Meningitis . Neuroma nervus fasialis adalah tumor nervus VII. dan jika tidak memungkinkan pembedahan digunakan erapi radiasi.Komplikasi Kolesteatoma Komplikasi terjadi apabila sudah terjadi proses nekrosis tulang yakni : . Granuloma kolesterin adalah reaksi system imun terhadap produk samping darah (Kristal kolesterol) di dalam telinga tengah (Brunner & Suddath: 1999. Penatalaksanaan Pada dasarnya semua jenis massa dilakukan pengangkatan massa melalui pembedahan. jenis-jenis Massa Telinga Tengah 1.Abses otak MASSA TELINGA TENGAH a. nervus fasialis (Brunner & Suddath: 1999. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna/aurikula). kanalis auditorius eksternus dan membran timpani. Timpanosklerosis adalah timbunan kolagen dan kalsium di dalam telinga tengah yang dapat mengeras di seputar osikulus sebagai akibta infeksi berulang b.

Desakan massa + reaksi asam oleh pembusukan bakteri  nekrosis tulang  komplikasi . ETIOLOGI Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. ketika menelan atau menguap. C. B. otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah.    Merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman  infeksi Infeksi pelepasan sitokin yang menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatoma menjadi hiperproliferatif.kolesteatom adalah kista epitelial berisi deskuamasi epitel (keratin). Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin. destruktif. PATOFISIOLOGI Terdiri dari :    Deskuamasi epitel skuamosa (keratin) Jaringan granulasi yang mensekresi enzim proteolitik Dapat memperluas diri dengan mengorbankan struktur disekelilingnya Erosi tulang terjadi oleh dua mekanisme utama : Efek tekanan  remodelling tulang Aktivitas enzim  meningkatkan proses osteoklastik pada tulang  meningkatkan resorpsi tulang. Apabila terbentuk terus menerus dapat menyebabkan terjadinya penumpukan sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar.bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi. dan mampu berangiogenesis. Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat. Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara.

2. Teori Imigrasi. 2. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi. E. 2. timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars flacida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. Teori Implantasi. Kolesteatom Kongenital. Teori Invaginasi. 3. anterior mesotimpanum atau pada daerah tepi tuba austachii. Kolestetoma Akuisital Sekunder . PATOGENESIS 1. desakan atau tekanan yang mengakibatkan remodeling tulang atau nekrosis tulang. b. ditemukan pada daerah petrosus mastoid. dan seringkali teridentifikasi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun. 1.D. akan tetapi telah terjadi retraksi membran timpani. Teori Metaplasi. yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. KLASIFIKASI a. aktivitas enzimatik tepi kolesteatom yang bersifat osteoklastik yang menyebabkan resorpsi tulang. setelah blust injury. akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama. membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. 4. Kolesteatoma Akuisital 1. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. cerebellopontin angle. Erosi tulang melalui dua mekanisme. Primer terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane timpani.

Bila terus menerus kambuh. Pendengaran berkurang Perasaan cemas Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah 1 sisi wajah atau sisi telinga yang terinfeksi. akan terbentuk pertumbuhan menonjol (polip). Terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga /dari pinggir perforasi membrana timpani. F. G. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Rontgen konvensional posisi Waters dan Stenvers CT scan MRI .terbentuk setelah perforasi membran timpani. GEJALA KLINIS Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga) keluar nanah berbau busuk dari telinga tanpa disertai rasa nyeri.

Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi. PENGKAJIAN 1. pucat ( menendakan adanya stres ) 3. hipertensi. Kriteria hasil :  Ganguan nyeri teradaptasi  Dapat tidur dengan tenang Intervensi :  Kaji nyeri yang dirasakan  Monitor tanda-tanda vital . 2. Tujuan : Setelah dilakukannya tindakan keperawatan 1X24 jam diharapkan klien dapat istirahat dan tidur. Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. C. Pola istirahat  Gangguan tidur/kesulitan tidur B. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. PERENCANAAN 1. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya.ASUHAN KEPERAWATAN A. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Nutrisi  Adanya mual 4. Aktivitas  Gangguan keseimbangan tubuh  Mudah lelah 2. System pendengaran  Adanya suara abnormal (dengung) 5. 3. 4. Sirkulasi  Hipotensi.

Kriteria hasil :  Nyeri dapat teradaptasi  Dapat istirahat dengan nyaman Intervensi :  Monitor dan kaji karakteristik nyeri  Monitor tanda-tanda vital  Ciptaka lingkungan yang tenang dan nyaman 3. pengetahuan klien terhadap penyakitnya meningkat. Intervensi :  Kaji kesulitan mendengar  Kaji seberapa parah gangguan pendengaran yang dialami  Anjurkan menggunakan alat bantu dengar setiap diperlukan  Bila mungkin ajarkan komunikasi nonverbal 4. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri. Intervensi :  Kaji tingkat kecemasan  Berikan penyuluhan tentang kolesteatoma  Yakinkan klien bahwa penyakitnya dapat disembuhkan . Kriteria hasil : Tidak terjadi kecemasan. Anjurkan klien untuk beradaptasi dengan gangguan yang dirasakan  Kolaborasi dalam pemberian obat penenang/obat tidur 2. Tujuan : Setelah dilakukan tindkan keperawatan diharapkan meminimalakan kerusakan interaksi social. Tujuan : Setelah dilakauakan tindakan keperawatan klien dan keluarga klien tidak cemas. Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. Kriteria hasil :  Resiko kerusakan interaksi sosialdapat diminimalkan. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya.

 Anjurkan klien untuk rileks. squamous epiteliosis (Birrel.1 Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/terpapar ke dunia luar. epidermoid kolesteatoma (Friedman. 1958). 1988). Banyak teori telah dikemukakan oleh para ahli . epidermosis (Sumarkin. Terjadinya proses nekrosis diperhebat olh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. 1959). Kolesteatom cepat membesar bila sudah disertai dengan infeksi. Kolesteatom ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar. kolesteatosis (Birrel. maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperagkap sehingga membentuk kolesteatom. Definisi Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi jaringan epitel (keratin). kista dermoid (Fertillo. ternyata bukan.1 Seringkali kolesteatoma dihubungkan dengan kehilangan pendengaran dan infeksi pada telinga yang menghasilkan cairan pada telinga. Beberapa istilah lain yang diperkenalkan oleh para ahli antara lain adalah: keratoma (Schucknecht). Tetapi dapat juga tanpa gejala. Walaupun kolesteatom sudah dikenal sejak pertengahan abad ke 19. namun sampai sekarang patogenesis penyakit ini masih belum jelas. 1958). yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa.2 Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johannes Muller pada tahun 1838 karena disangka kolesteatoma merupakan suatu tumor. Kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-desac sehingga apabila terdapat serumen yang pada (serumen plug) di liang telinga dalam waktu yang lama. 1970). dan menghindari stress.

5 Penelitian Levenson menunjukkan bahwa rata-rata usia terjadinya kolesteatoma kongenital adalah 4. Riwayat otitis media sebelumnya bukan merupakan kriteria eksklusi Tipikal kolesteatom kongenital ditemukan pada bagian anterior mesotympanum atau pada area sekitar tuba eustachius. Klasifikasi dan Patogenesis Berdasarkan etiologi kolesteatoma dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu kongenital dan didapat (akuisita).3 Kolesteatoma aquisita primer merupakan manifestasi dari perkembangan membran tympani yang retraksi. Berdasarkan teori klasik oleh Derlacki dan Clemis (1965). teori imigrasi. atau adanya riwayat infeksi pada telinga. Faktor terpenting dari kolesteatoma aquisita. dan sering terjadi pada awal kanak-kanak (6 bulan sampai 5 tahun). kolesteatoma kongenital terjadi pada di belakang membran tympani yang intak.4 Oleh karena itu Levenson. 4. teori metaplasi dan teori implantasi. 3. Karena itu kolesteatoma ditemui di belakang dari membran tympani yang intak.tentang pathogenesis kolesteatom. Kriteria Kolesteatoma Kongenital Telinga Tengah 3 1.3 Etiologi dan patogenesis kolesteatoma belum diketahui dengan jelas. .4 Namun definisi ini telah berubah setelah diketajui bahwa hampir 70% anak akan mengalami sekurang-kurangnya satu kali episode otitis media. tanpa berlanjut ke saluran telinga luar dengan tidak adanya faktor-faktor yang lain seperti perforasi dari membran tympani. 1) Kolesteatom Kongenital Kolesteatoma kongenital terjadi karena perkembangan dari proses inklusi pada embrional atau dari sel-sel epitel embrional. antara lain: teori invaginasi. dkk (1989) membuat modifikasi definisi kolesteatoma kongenita (Tabel 1) Tabel 1. baik primer maupun sekunder. Dua pertiga kasus terjadi pada kuadran anteroposterior membran tympani. tanpa riwayat infeksi sebelumnya. Terdapatnya masa putih pada membran tympani yang normal Pars tensa dan flaccida yang normal Tidak adanya riwayat otorrhea ataupun perforasi sebelumnya Tidak ada riwayat prosedut otologi sebelumnya 5. 1) Kolesteatom Aquisita Kolesteatoma aquisita dibagi menjadi dua. Dua teori yang sering digunakan adalah kegagalan involusi penebalan epitel ektodermal yang terjadi pada masa perkembangan fetus pada bagian proksimal ganglion genikulatum.5 tahun dengan perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan 3:1. 2. serta teori terjadinya metaplasi mukosa telinga tengah. Kolesteatoma aquisita sekunder sebagai konsekuensi langsung dari trauma pada membrane tympani. yaitu primer dan sekunder. adalah epitel skuamous keratinisasi tumbuh melewati batas normal.

3. Avaiable at: . Iskandar N. erosi tegmen mastoid ke durameter dan atau ke lateral kanalis semisirkularis yang dapat menyebabkan ketulian dan vertigo. Avaiable at: http://www. editor. 5. Daftar Pustaka 1. adanya benda asing.org. dan teori invasi epitelial. Gadre A. Matriks epitel yang mengelilinginya meluas ke ruang-ruang yang ada di ruang atik. Telah diyakini bahwa proses ini disebabkan infeksi kronik yang terus berlangsung dalam cavum tympani. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. atau trauma. Grand Round Presentation. Cholesteatoma. maka terjadilah keadaan vakum pada telinga tengah. Reaksi peradangan pada ruang Prussack (Prussack’s space). Dept. epitel terdeskuamasi diubah menjadi epitel skuamosa stratified keratinisasi akibat terjadinya otitis media akut berulang ataupun kronis. Destruksi tulang-tulang pendengaran sering terjadi pada kasus ini. yang biasanya disebabkan ventilasi yang buruk pada daerah ini dapa menyebabkan perusakan membran basal menyebabkan pertumbuhan dan proliferasi tangkai sel epitel ke dalam. editor. Jakarta. yaitu: teori implantasi. Cholesteatoma. Infeksi pada kolesteatoma bukan hanya menyebabkan sklerosis mastoid yang cepat tetapi juga peningkatan proses osteolitik. Berasarkan teori metaplasia. UTMB. menyebabkan akumulasi keratin pada kantong tersebut. rantai osikular. Sedangkan mekanisme menurut teori invasi epitel adalah bahwa kapanpun terjadi perforasi pada mambran tympani. Kini terbukti bahwa erosi tulang disebabkan karena adanya enzim osteolitik atau kolagenase yang disekresi oleh jaringan ikat subepitel. Jika kantong retraksi ini terbentuk maka terjadi perubahan abnormal pola migrasi epitel tympani. In: Soepardi EA. In: Quinn FB. dan septa mastoid untuk memberi tempat bagi kolesteatom yang bertambah besar. epitel squamous akan bermigrasi melewati tepi perforasi dan bejalan ke medial sejajar dengan permukaan bawah gendang telinga merusak epitel kolumnar yang ada. Kelainan Telinga Tengah. 2006) 3. telinga tengah dan mastoid. Underbrink M. Ryan MW. Sehingga pars flaccida membrana tympani tertarik dari terbentuklah kantong (retraction pocket). Pertumbuhan papiler ke dalam yang menyebabkan perkembangan kolesteoma bermula pada pars flaccida.ndcs. Menurut teori implantasi. Fakultas Kedokteran Ilmu Indonesia.uk (last access: January 24th. epitel skuamous terimplantasi ke telinga tengah sebagai akibat pembedahan. Proses osteogenesis ini disertai osteogenesis dalam mastoid dengan adanya sklerosis.5 Patogenesis kolesteatoma aquisita sekunder diterangkan dengan beberapa teori.3 Sekali kantong atau kista epitel skuamosa terbentuk dalam rongga telinga tengah. Of Otolaryngology. Akumulasi ini semakin lama semakin banyak dan kantong retraksi bertambah besar ke arah medial. Dulu dianggap bahwa tekanan yang terjadi karena kolesteatom yang membesar menyebabkan destruksi tulang. 2001. 49-62 2. ed. terbentuk lapisan-lapisan deskuamasi epitel dengan kristal kolestrin mengisi kantong. Pembesaran dapat berjalan semakin ke posterior mencapai aditus ad antrum menyebar ke tulang mastoid.Jika terjadi disfungsi tuba Eustachius.p. teori metaplasi.4. The National Deaf Children`s Society. Perluasan proses ini diikuti kerusakkan tulang dinding atik. Djaffar Zainul A.

Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. mastoideus dari telinga yang akan diperiksa. Cara pemeriksaannya . Apabila terdapat penjalaran ke salah satu telinga maka artinya terdapat lateralisasi. . Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne positif bila sudah tidak mendengar dikatakan Rinne negatif. Di lain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara.Test Weber.edu/otoref/Grnds/Cholesteatoma-020918/Cholesteatoma. Penderita ditanyakan apakah masih mendengar suara garpu tala atau tidak ? Bila tidak dapat membedakan ke arah telinga mana yang lebih keras atau dijawab sama kerasnya antara kanan dan kiri artinya tidak terdapat lateralisasi. Prinsip pemeriksaan ini adalah membadingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan pada telinga normal hantaran antara telinga kiri dan kanan akan sama. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang pada penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan telinga pemeriksa harus normal. atau dahi .Test Schwabach. 2006) (last Pemeriksaan Garpu Tala Pemeriksaan telinga dengan garpu tala ada 3 cara pemeriksaan diantaranya .Test Rinne .http://www. Cara pemeriksaannya . Kepada pasien ditanyakan apakah mendengar sekaligus diinstruksikan supaya mengangkat tangan apabila sudah tidak mendengar lagi. 3. Bila penderita sudah mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingg ujung yang bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa. 1. Cara pemeriksaannya : Garpu tala 512 Hz yang telah digetarkan diletakan pada proc.pdf access: January 24th. yang telah digetarkan diletakan ujungnya pada vertex.utmb. Garpu tala 512 Hz. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Juga pada tuli sensorineural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. 2.

RINNE POSITIF NEGATIF WEBER TIDAK ADA LATERALISASI LATERALISASI KE ARAH TELINGA YANG SAKIT LATERALISASI KE TELINGA YANG SEHAT SCHWABACH SAMA DENGAN PEMERIKSA MEMANJANG HASIL NORMAL TULI KONDUKTIF POSITIF MEMENDEK TULI SENSORINEURAL Catatan : Pada tuli Konduktf < 30dB . Bila pasien mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke proc. sesudah itu diinstruksikan juga supaya mengangkat tangannya apabila sudah tidak mendengar suara hantaran dari garpu tala. Mastoideus pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke proc. Gelombang suara .faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami selain frekuensi dan frekuensi mempengaruhi kekerasan. Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan Schwabach normal dan bila pasien masih mendengar suara hantaran pada garpu tala maka dikatakan Schwabach memanjang. yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang seling mengenai memberan timpani. Mastoideus pasien kemudian kepada pasien ditanyakan apakah masih mendengar suara dari garpu tala. Semakin besar suara semakin besar amplitudo. Namun nada juga ditentukan oleh factor . Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran pada garpu tala. Rinne. Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di memberan timpani persatuan waktu adalah satuan gelombang. semakin tinggi frekuensi dan semakin tinggi nada.Mastoideus pemeriksa.Garpu tala 512 Hz yang sudah digetarkan diletakan pada proc. Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan nada berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelombang persatuan waktu). karena ambang pendengaran lebih rendah pada frekuensi dibandingkan dengan frekuensi lain. Rinne bisa masih positif Pemeriksaan Audiometri. dan gerakan semacam itu dalam lingukangan secara umum disebut gelombang suara. Bila pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakan pada proc. Weber test dan Scwabach test LATAR BELAKANG Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di lingkungan eksternal.Mastoideus pasien dan ditanyakan lagi apakah pasien mendengar suara hantaran dari garpu tala?.

Terdiri dari telinga luar. tengah dan dalam. Coclearis) Telinga dibagi menjadi 3 bagian : . Anatomi system pendengaran (Telinga) Merupakan organ pendengaran dan keseimbangan. Tingkat suatu suara menutupi suara lain berkaitan dengan nadanya. 1998) Telah diketahui bahwa adanya suatu suara akan menurunkan kemampuan seseorang mendengar suara lain.Gannong. (William F. Efek penyamaran suara lata akan meningkatan ambang pendengaran dengan besar yang tertentu dan dapat diukir. Telinga mempunyai resptor bagi 2 modalitas reseptor sensorik : 1. didengar sebagai suara musik. Fenomena ini dikenal sebagai masking (penyamaran). walaupun masing .1998) A. Pendengaran (N.Gannom. Cara paling mudah untuk menggambarkan fungsi dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa dari permulaan sampai akhir dari setiap bagian-bagian telinga yang berbeda. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang bunyi ke otak dimana bunyi tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksidi serat-serat saraf. Kecuali pada lingkungan yang sangat kedap suara.memiliki pola berulang. Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan frekuensi primer yang menentukan suara ditambah sejumla getaran harmonik yang menyebabkan suara memiliki timbre yang khas. Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara di lingkungan eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran। Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan lempeng kaki stapes. getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan sensasi bising. (William F. Fenomena ini diperkirakan disebabkan oleh refrakter relative atau absolute pada reseptor dan urat saraf pada saraf audiotik yang sebelumnya teransang oleh ransangan lain.masing gelombang bersifat kompleks. Variasi timbre mempengaruhi mengetahhi suara berbagai alat musik walaupun alat tersebut memberikan nada yang sama. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan telinga dalam.

Setelah sampai pada gendang telinga. lalu dengan perlahan disalurkan pada rangkaian tulang-tulang pendengaran.sering disebut " martil. gelombang suara akan menyebabkan bergetarnya gendang telinga. Telinga tengah terdiri dari : Tuba auditorius (eustachius) Penghubung faring dan cavum naso faringuntuk : Proteksi: melindungi ndari kuman . Tulangtulang yang saling berhubungan ini . landasan.Telinga luar Auricula Mengumpulkan suara yang diterima Meatus Acusticus Eksternus Menyalurkan atau meneruskan suara ke kanalis auditorius eksterna Canalis Auditorius Eksternus Meneruskan suara ke memberan timpani Membran timpani Sebagai resonator mengubah gelombang udara menjadi gelombang mekanik। Telinga tengah Telinga tengah adalah ruang berisi udara yang menghubungkan rongga hidung dan tenggorokan dihubungkan melalui tuba eustachius. Pergerakan dari oval window (tingkap lonjong) menyalurkan tekanan gelombang dari bunyi kedalam telinga dalam. Tuba eustachius lazimnya dalam keadaan tertutup akan tetapi dapat terbuka secara alami ketika anda menelan dan menguap. yang fungsinya menyamakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga. dan sanggurdi"secara mekanik menghubungkan gendang telinga dengan "tingkap lonjong" di telinga dalam.

Efeknya hampir selalu sama. Aerufungsi: Tuba pendengaran (maleus. Di otak getaran tersebut akan di intrepertasi sebagai makna suatu bunyi.Drainase: mengeluarkan cairan. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk . Sepanjang jalur rumah siput terdiri dari 20. Telinga dalam dipenuhi oleh cairan dan terdiri dari "cochlea" berbentuk spiral yang disebut rumah siput. dan stapes) Memperkuat gerakan mekanik dan memberan timpani untuk diteruskan ke foramen ovale pada koklea sehingga perlimife pada skala vestibule akan berkembang. inkus. Hampir 90% kasus gangguan pendengaran disebabkan oleh rusak atau lemahnya sel-sel rambut telinga dalam secara perlahan. Hal ini dikarenakan pertambahan usia atau terpapar bising yang keras secara terus menerus.sebagai contoh mengerti percakapan. menjadi lebih sulit membedakan atau memilah pembicaraan pada kondisi bising. Suara-suara nada tinggi tertentu seperti kicauan burung menghilang bersamaan. menyamakan tekanan luar dan dalam. Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari : Koklea Skala vestibule: mengandung perlimfe media: mengandung endolimfe timani: mengandung perlimfe Skala Skala Organo corti Memngandung sel-sel rambut yang merupakan resseptor pendengaran di memberan basilaris. orang-orang terlihat hanya seperti berguman dan anda sering meminta mereka .000 sel-sel rambut yang mengubah getaran suara menjadi getaran-getaran saraf yang akan dikirim ke otak. Gangguan pendengaran yang diseperti ini biasa disebut dengan sensorineural atau perseptif.

Sekali sel-sel rambut telinga dalam mengalami kerusakan. b. c. Tiap – tiap telinga memiliki tiga kanalis semesirkularis yang tegak lurus satu sama lain. atau memutar kepala. Rambut–rambut pada sel rambut asertif di organ ini menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa di atasnya. Contoh kecil seperti menghilangkan semua nada tinggi pada piano dan meminta seseorang untuk memainkan sebuah melodi yang terkenal. Sel-sel rambut utrikulus mendeteksi akselerasi atau deselerasi linear horizontal. Utrikulus Utrikulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea. melodi akan sulit untuk dikenali dan suaranya tidak benar secara keseluruhan. tetapi tidak memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan. Canalis Semisirkularis Canalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselarisasi anguler atau rotasional kepala. Andapun dapat membantu untuk menjaga agar selanjutnya tidak menjadi lebih buruk dari keadaan saat ini dengan menghindari sering terpapar oleh bising yang keras. Sebuah alat bantu dengar akan dapat membantu menambah kemampuan mendengar anda. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk sebagai contoh mengerti percakapan. Sacculus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus. tidak ada cara apapun yang dapat memperbaikinya. yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel rambut. Sacculus Sacculus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea. misalnya ketika memulai atau berhenti berputar. Keseimbangan (N. berjungkir balik. kecuali dia berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal (misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap . Vestibularis) a.untuk mengulangi apa yang mereka katakan. Dengan hanya 6 atau 7 nada yang salah.

2. Fisiologi Pendengaran Getaran suara ditangkap ol. Kelainan /Ganggaun Fisiologi Telinga 1. Selanjutnya stapes menggerakkan perilimfe dalam skala vestibui kemudian getaran diteruskan melalui Rissener yang mendorong endolimfe dan memberan basal ke arah bawah. otitis eksterna sirkumsripta. Kelainan telingna luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah astresia liang telinga. Tuli perseptif Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. osteoma liang teling. sumbatan oleh serumen.akselerasi atau deselerasi loner vertical (misalnya melompat atau berada dalam elevator). Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah tubakar/sumbatan tuba eustachius.eh telinga yang dialirkan ke telinga dan mengenai memberan timpani. b. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion Na menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang N. sehingga memberan timpani bergetar. dan dislokasi tulang pensdengaaran. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhhubungan satu sama lain. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit system saraf pusat dari telinga. perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar.VIII yang kemudian neneruskan ransangan ke pusat sensori pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis. Tuli konduktif Karena kelainan ditelinga luaaar atau di telinga tengah a. Orang tersebut mengalamipenurunan atau kehilangan kemampuan total untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan pada : a. Organo corti .

Tuli campuran Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak sempurna sehingga infeksi skunder (tuli persepsi juga). Kekurangan Pendengaran Yang dimaksud dengan kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seorang kurang dpat mendengar dan mengerti suara atau percakpan yang didengar untuk mendiagnosis kurang pendengaran. maka dalam makalah ini yang diuraikan hanya diagnosis KP pada anak-anak umur 6 tahun keatas dan dewasa. Pad kedua golongan umur tersbut.b. Pusat pendengaran otak 3. Respon manusia terhadap suara atau percakapan yang didengranya tergantung pada umur pertumbuhannya.coclearis dan N. sedangkan lebih dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan yang didengar sama dengan orang dewasa karena luasnya aspek diagnostik KP. Penentuan pada penderita apakah ada KP atau tidak Dalam penentuan apakah ada KP atau tidak pada penderita hal penting yang harus diperhatiakan adalah umur prnderita. Sebagi dokter umum cukuplah memperhatikan keempat aspek penting berikuta ini : Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak. Usia 6 tahun diambil sebagai batas. Jenis KP . Saraf : N. 2. kurang dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan berbeda-beda tergantung umurnya. Jenis kurang pendengaran kurang pendengaran penyebab kurang pendengaran Derajat Menentukan 1.vestibularais c.

melainkan berdadasarkan adanya masalah psikologis atau omosional. Menentukan penyebab KP Menetukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara kempat batasan atau aspek tersebut diatas.Jenis KP berdasarkan lokalisasi lesi : a. b. KP jenis campuran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga dalam. KP jenis fungsional Pada KP jenis ini tidak dijumpai adanya gangguan atau lesi organic pada system pendengaran baik perifer maupun sentral. KP jenis sentral Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang otak sampai dengan korteks otak.VIII) c. Untuk KP jenis sentral dan fungsional mengingat masih terbatasnya pengetahuan proses pendengara diwilayah trsebut. KP jenis sensorineural Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (pada koklea dan N. disamping masih belum banyak dikenal teknik uji pendengaran yang dapat dimanfaatkan untuk bahan diagnostik. e. KP jenis hantaran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga luar dan atau telinga tengah. maka pada makalah ini akan dibatasi pada diagnosis KP jenis hantaran sensorineural dan campuran saja. d. untuk itu diperlukan : . 3.

hidung dan tenggorokan ) yang teliti. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri. c.a. Pemeriksaan audiometri Tes Fungsi Pendengaran Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. Alat ini menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Tes bisik b. Anamnesis yang luas dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut b. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan . Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. Tes bisik modifikasi c. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Tes garputala d. Pemeriksaan umum dan khusus (telinga. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. yaitu : a. Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto laboratorium) Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. a.

sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 20-20. Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1) Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang. 1000-2000. audiologis dan pasien yang kooperatif. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri.pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran.000 Hz. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel 0-15 >15-25 >25-40 >40-55 >55-70 >70-90 >90 Pendengaran normal Kehilangan pendengaran kecil Kehilangan pendengaran ringan Kehilangan pendengaran sedang Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat Kehilangan pendengaran berat Kehilangan pendengaran berat sekali Klasifikasi . 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB).

yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi. Grafiknya terdiri dari skala decibel. suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur.Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. . hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar. pendengar diminta untuk mnebaknya. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman. dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan. untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. 2) Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan.

tetapi juga jauh diatasnya. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. Dengan demikian. Pada audiometri tutur. sedangkan intensitas suara barapa saja. berarti pendengaran baik. tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB. berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah. apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi. Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar katakata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat.b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya. dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. . memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. Kriteria orang tuli : Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB Sedang Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Berat Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga).

1. yaitu : a. Ada 2 macam tes rinne . segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus).apakah ada kotoran telinga (serumen). Tujuan Ada empat tujuan (Davis. apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus. 3) Skrinig anak balita dan SD 4) Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising. atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. b. deteksi ktulian pada anak-anak c. 1978) : 1) Mediagnostik penyakit telinga 2) Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya . khususnya penyakit telinga 2) Untuk kedokteran klinik Kehakiman.tuntutan ganti rugi 3) Untuk kedokteran klinik Pencegahan. Manfaat audiometri 1) Untuk kedokteran klinik. ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi). Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. apakah ada lubang gendang telinga. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran. Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien.

tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Test Weber . b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). 2. terdapat 3 kemungkinan : a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal.b. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : 1) Normal : tes rinne positif 2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) 3) Tuli persepsi. Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras.

4) Tuli persepsi pada kedua teling. b. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. missal adanya ototis media disebelah kanan. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: 1) Tuli konduksi sebelah kanan. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua pasien samasama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi. maka di dengar sebelah kanan. 2) Tuli konduksi pada kedua telinga. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. 3. Test Swabach Tujuan : . 3) Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. Interpretasi: a.Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Menurut pasien. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak. sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. 5) Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan.

khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. Getaran yang datang melalui tengkorak. 1024. Diposkan oleh neeya_koizora di 01. Test garpu tala untuk pengukuran kualitatif. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara.05 4 komentar: Beranda Langganan: Entri (Atom) Untuk melihat ada tidaknya gangguan fungsi pendengaran pada pekerja dengan menggunakan garpu tala untuk pemeriksaan gangguan fungsi pendengaran oleh peneliti. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala.5 cm. Dalam keadaan normal hantaran melalui udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Bila tidak mungkin cukup dipakai garpu tala dengan frekuensi 512 Hz karena tidak penggunaan garpu tala ini tidak terlalu dipengaruhi oleh suara bising disekitar lingkungan pemeriksaan. Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara. maka penguji akan segera memindahkan garputala itu.Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. bila tidak terdengar disebut Rinne Negatif. . ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). •Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran melalui udara dan tulang pada telinga yang diperiksa. Bila masih terdengar disebut Rinne Positif. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. Setelah tidak terdengar garpu tala dipegang di depan telingan kira-kira 2. dan 2048 Hz. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkainya diletakkan di prosesus mastoideus. atau tidak mendengar suara. idealnya menggunakan garpu tala dengan frekuensi 512.

kemudian diperdengarkan pada penderita dengan meletakkan garpu tala di dekat MAE pada jarak 1-2 cm dalam posisi tegak dan 2 kaki pada garis yang menghubungkan MAE kanan dan kiri. •Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa normal. THT 1. Tes Batas Atas Batas Bawah Tujuan : menentukan frekwensi garpu tala yang dapat di dengar penderita melewati hantaran udara bila dibunyikan pada intensitas ambang normal. 4. Bila pada telinga yang sakit (literalisasi pada telinga yang sakit) berarti terdapat tuli konduktif pada telinga tersebut. Bila bunyi terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut literalisasi ke telinga tersebut. disebut memanjang atau terdapat tuli konduktif. . didengarkan terlebih dulu o/ pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk mencapai intensitas bunyi yang terendah bagi orang normal/ nilai ambang normal). Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi kemudian dipindahkan ke prosesus mastoideus pemeriksa yang pendengarannya dianggap normal. Bila masih dapat mendengar disebut memendek atau tuli saraf. 2. 3. Bila terdengar sama atau tidak terdengar disebut tidak ada literalisasi. Cara : Semua garpu tala (dapat dimlai dari frekwensi terendah berurutan sampai frekwensi tertinggi / sebaliknya) dibunyikan satu persatu. 1. dengan cara dipegang tangkainya kemudian kedua ujung kakinya dibunyikan dengan lunak (dipetik dengan ujung jari/kuku. Jika kira-kira sama mendengarnya disebut sama dengan pemeriksa. TES GARPUTALA Ada 4 jenis tes garpu tala yang sering dilakukan : Tes batas atas dan batas bawah Tes Rinne Tes Weber Tes Schwabach Tes-tes ini memiliki tujuan khusus yang berbeda dan saling melengkapi.•Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan.bila sebaliknya (literalisasi pada telinga yang sehat) berarti pada telinga yang sakit terdapat tuli saraf. Bila pasien masih mendengar. bila pemeriksa tidak dapat mendengar. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan di garis tengah dahi atau kepala. pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya.

Cara : . letakkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid penderita (posterior dari MAE) sampai penderita tak mendengar. Penderita diminta untuk menunjukkan telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. dagu atau pada gigi insisivus) dengan kedua kaki pada garis horizontal. .Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz.Garpu tala tidak diletakkan dengan baik pada mastoid atau miring. Kesalahan : . Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada satu telinga penderita. * Tuli konduksi : batas bawah naik (frekwensi rendah tak terdengar) * Tuli sensori neural : batas atas turun (frekwnsi tinggi tak terdengar) Kesalahan : Garpu tala dibunyikan terlalu keras shg tidak dapat mendeteksi pada frekwensi mana penderita tak mendengar. shg waktu dipindahkan di depan MAE getaran garpu tala sudah berhenti. hal ini dapat terjadi bila telinga yang tidak dites pendengarannya jauh lebih baik daripada yang di tes.Penderita terlambat memberi isyarat waktu garpu tala sudah tak terdengar lagi. Apabila penderita masih mendengar garpu tala di depan MAE desebut Rinne positif.Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz. Interpretasi : * Normal : tidak ada lateralisasi . 3. 2. biasanya di dahi (dapat pula pada vertex. Cara : . kemudian dipancangkan pada planum mastoid. kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus di garis median.Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan. Bila kedua telinga tak mendengar atau sama-sama mendengar bararti tak ada lateralisasi. Bila lebih keras di depan disebut Rinne positif. Bila mendengar pada satu telinga disebut lateralisasi ke sisi telinga tersebut. kemudian cepat pindahkan ke depan MAE penderita. Interpretasi : * Normal : Rinne positif (mendengar) * Tuli konduksi : Rinne negatif ( tidak mendengar) * Tuli sensori neural : Rinne posotof (dengar) Kadang-kadang terjadi false Rinne (pseudo positif atau pseudo negatif) terjadi bila stimulus bunyi ditangkap oleh telinga yang tidak di tes. . jaringan lemak tebal shg penderita tidak mendengar atau getaran terhenti karena kaki garpu tala tersentuh aurikulum. Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita. bila lebih keras di belakang Rinne negatif. terkena rambut. penderita ditanya mana yang lebih keras. kemudian segera dipindah di depan MAE. bila tidak mendengar disebut Rinne negatif.Interpretasi : * Normal : mendengar garpu tala pada semua frekwensi.

telinga kanan normal. Tuli sensori neural kiri. d. telinga kiri normal b. c. Weber . * Tuli sensori neural : mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. bila penderita sudah tidak mendengar maka secepatnya garpu tala dipindahkan pada mastoid pemeriksa. Garpu tala 512 Hz dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita. Interpretasi : * Normal : Schwabach normal * Pada tuli konduksi : Schwabach memanjang. Tuli konduksi kanan dan kiri. Contoh : lateralisasi ke kanan. dapat di interpretasikan : a.* Tuli konduksi : mendengar lebih keras di telinga yang sakit. Garputala . secepatnya garpu tala dipindahkan ke mastoid penderita. Tuli konduksi kanan. bila pemeriksa tidak mendengar berarti sama-sama normal. Cara : . bila pemeriksa masih mendengar berarti Schwabach penderita memendek. terdapat 2 kemungkinan yaitu Schwabach memendek atau normal. * Pada tuli sensori neural : Schwabach memendek Kesalahan Uji/ Test bisa dikarenakan : * Garpu tala tidak tegak dengan baik. Tuli sensori neural kanan dan kiri. Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka tes dibalik.Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus pada mastoid pemeriksa. bila pemeriksa sudah tidak mendengar. tetapi kiri lebih berat e. Karena menilai kedua telinga sekaligus maka kemungkinannya dapat lebih dari satu. kaki garpu tala tersentuh sehingga bunyi menghilang. tetapi kanan lebih berat. Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. yaitu tes pada penderita dulu baru ke pemeriksa. Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran lewat tulang antara penderita dgn pemeriksa. Bila penderita masih mendengar maka Schwabach memanjang. tetapi bila penderita tidak mendengar. * Isyarat menghilangnya bunyi tidak segera diberitahukan oleh pasien. 4. Tuli konduksi kanan dan sensori neural kiri.

Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. 1024 Hz dan 2048 Hz. tidak perlu di ruang kedap suara. Pemeriksa duduk ke samping. Ada 3 macam pemeriksaan: a. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. 512 Hz. dengan panjang 6 meter. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. atau pertengahan gigi seri. lima buah. Dimulai sejak jarak 6 meter. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. garputala digetarkan . Uji berbisik 3. sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya.2. tuli . ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi. Pasien diberi tahu. 1500 Hz. kemudian telinga kiri. 1000 Hz. sampai 8000 Hz. Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan. kira-kira 2. lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi. sampai pasien mendengar bunyi. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. asalkan tidak terlalu riuh. telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. makin lama pemeriksa makin mendekat. maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. Pada pasien yang pendengarannya masih baik. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek. dengan frekuensi 128 Hz. 256 hz. dahi. Caranya ialah garputala digetarkan. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel.Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata. c. Pada telinga kanan. dan diperiksa di ruang periksa. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. disebut uji rinne positif b. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. Caranya ialah. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol.5 cm jaraknya dari liang telinga. Audiometrik Garputala terdiri dari satu set.

Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : Normal : tes rinne positif Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) Tuli persepsi. segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. Ada 2 macam tes rinne . terdapat 3 kemungkinan : Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) . Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. sedang atau berat.hantar (konduktif). weber. dan swabach Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. Test rinne. yaitu : Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus).

sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak. Menurut pasien. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Test Weber Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Interpretasi: Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan. Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. .Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul.

maka penguji akan segera memindahkan garputala itu. Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. atau tidak mendengar suara. .Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: Tuli konduksi sebelah kanan. missal adanya ototis media disebelah kanan. Tuli konduksi pada kedua telinga. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala. Test Swabach Tujuan : Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. Getaran yang datang melalui tengkorak. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan. khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. Tuli persepsi pada kedua teling. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. Keimpulan test Rinne. Weber dan Swabach Test Weber. maka di dengar sebelah kanan.

kiri normal 2. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hati dengan apa yang dikatakan Rinne . Telinga kanan normal. kiri tuli sensory neural 4. Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-) b.Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama. Kepada penderita ditanyakan apakah mendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. Kedua telinga tuli konduktif. Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga mana didengar lebih keras. Rinne negatif berarti tuli konduktif. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunak pada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum dari telinga yang akan diperiksa. kiri tuli sensory neural 3. b. Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapat menegakkan diagnosa secara pasti. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh diletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang dari hantaran tulang. c. Test Rinne. Kedua telinga tuli sensory neural. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara. a. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa. Telinga kanan tuli konduktif. Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapa kemungkinan 1. Evaluasi test rinne. Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne (+). Penderita ditanyakan apakah mendengar atau tidak. a. Cara pemeriksaan. Rinne Negatif Palsu. Cara pemeriksaan. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Telinga kanan tuli konduktif. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasi ke kanan. Evaluasi Tets Weber. Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. kanan lebih berat 5.

Hasil Gangguan Sama normal Memanjang Tuli konduktif Memendek Tulisensorineural Tes Pendengaran 29 Dec . Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya di tangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing). Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bila masih mendengar dikatakan schwabach memanjang. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidak mendengar dengungan. Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar. Karena telinga pemeriksa normal berarti telinga penderita normal juga. Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 2. sesudah itu sekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidak mendengar dengungan. Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal. Cara pemeriksaan. Hal ini terjadi pada tuli sensorineural yang unilateral dan berat. b. Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi.negatif palsu. a. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa. Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 3. Kemudian setelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getaran tidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative Test Schwabach. Bila pemeriksa tidak mendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita dan ditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secara lunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita. Evaluasi test schwabach 1.

terbuat dari soft board. yaitu : Ruangannya sunyi. Ada 4 syarat bagi penderita saat kita melakukan tes bisik. Ada 2 syarat bagi pemeriksa saat melakukan tes bisik. yaitu : Kedua mata penderita kita tutup agar ia tidak melihat gerakan bibir pemeriksa. Pemeriksa lalu mundur pada jarak 2 meter dari penderita bilamana penderita mampu mendengar semua kata yang kita bisikkan. Telinga pasien yang diperiksa. Jarak minimal 6 meter. Kita dapat lebih memastikan tajam pendengaran penderita dengan cara mengulangi pemeriksaan. Misalnya tajam pendengaran penderita 4 meter. yaitu : Tes bisik. Pertama-tama pemeriksa membisikkan kata pada jarak 1 meter dari penderita. Pemeriksaan audiometri. kita hadapkan ke arah pemeriksa. yaitu : Penderita dan pemeriksa sama-sama berdiri. Tidak terjadi echo / gema. Teknik pemeriksaan pada tes bisik. yaitu : Pemeriksa membisikkan kata menggunakan cadangan udara paru-paru setelah fase ekspirasi. Ada 3 syarat tempat kita melakukan tes bisik. Telinga pasien yang tidak diperiksa. Tes Bisik Ada 3 syarat utama bila kita melakukan tes bisik. yaitu : Syarat tempat. Jumlah kata yang kita bisikkan biasanya 5 atau 10. Kita maju pada jarak 3 meter dari pasien lalu membisikkan 5 kata dan penderita mampu mendengar semuanya. Biasanya kita menyebutkan nama benda-benda yang ada disekitar kita. Tes bisik modifikasi. Tes garpu tala. Pemeriksa membisikkan 1 atau 2 suku kata yang telah dikenal penderita. atau tertutup kain korden. Syarat penderita. Hanya pemeriksa yang boleh berpindah tempat. yaitu : . Demikian seterusnya sampai penderita hanya mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan kepadanya. Caranya dinding tidak rata. Ada 2 jenis penilaian pada tes pendengaran. Syarat pemeriksa. Jadi tajam pendengaran penderita kita ukur dari jarak antara pemeriksa dengan penderita dimana penderita masih mampu mendengar 80% dari semua kata yang kita ucapkan (4 dari 5 kata).Tes Pendengaran Oleh : Muhammad al-Fatih II Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. kita tutup (masking). Penderita mengulangi dengan keras dan jelas setiap kata yang kita ucapkan. Caranya tragus telinga tersebut kita tekan ke arah meatus akustikus eksterna atau kita menyumbatnya dengan kapas yang telah kita basahi dengan gliserin. Kita kemudian mundur pada jarak 4 meter dari penderita lalu membisikkan 5 kata dan penderita masih mampu mendengar 4 kata (80%).

Penilaian kuantitatif seperti pemeriksaan tajam pendengaran pada tes bisik maupun tes bisik modifikasi. 512 Hz. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. yaitu : Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL). Tuli sensorineural & konduktif / mix hearing loss (MHL). Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi. Tes Rinne. Frekuensi normal. Misalnya tidak dapat mendengar huruf S dari kata susu sehingga penderita mendengarnya uu. dan 2048 Hz. Tes Weber. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL). Tes bisik modifikasi kita gunakan sebagai skrining pendengaran dari kelompok orang berpendengaran normal dengan kelompok orang berpendengaran abnormal dari sejumlah besar populasi. yaitu : Kita melakukannya dalam ruangan kedap suara. Tes Batas Atas & Batas Bawah . Kita membisikkan 10 kata dengan intensitas suara lebih kecil dari tes bisik konvensional karena jaraknya juga lebih dekat dari jarak pada tes bisik konvensional. 1024 Hz. 64 Hz. Tes Bisik Modifikasi Tes bisik modifikasi merupakan hasil perubahan tertentu dari tes bisik. yaitu : Tes batas atas & batas bawah. Ada 3 jenis frekuensi. Penilaian kualitatif seperti pemeriksaan jenis ketulian pada tes garpu tala dan audiometri. dan 128 Hz. Frekuensi yang dapat didengar oleh manusia berpendengaran normal. Meliputi 256 Hz. Tes Schwabach. Meliputi 16 Hz. yaitu : Frekuensi rendah. Cara kita memperlebar jarak dengan penderita yaitu dengan menolehkan kepala kita atau kita berada dibelakang penderita sambil melakukan masking (menutup telinga penderita yang tidak kita periksa dengan menekan tragus penderita ke arah meatus akustikus eksternus). Cara kita melakukan tes bisik modifikasi. Frekuensi tinggi. Tes Garpu Tala Ada 4 jenis tes garpu tala yang bisa kita lakukan. 32 Hz. Ada 3 jenis ketulian. Pendengaran penderita normal bilamana penderita masih bisa mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan. Meliputi 4096 Hz dan 8192 Hz. Misalnya tes kesehatan pada penerimaan CPNS.

Tuli sensorineural. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garpu tala di depan meatus akustikus eksterna lebih keras daripada di belakang meatus akustikus eksterna (planum mastoid). Batas bawah naik dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi rendah. Hal ini dapat . Kita bisa memulainya dari garpu tala berfrekuensi paling rendah sampai garpu tala berfrekuensi paling tinggi atau sebaliknya. Jika tes Rinne negatif. Tes Rinne positif jika pasien mendengarnya lebih keras. Tuli sensorineural. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. segera garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tankainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Tuli konduktif. Ada 3 interpretasi dari hasil tes batas atas & batas bawah yang kita lakukan. Cara kita membunyikan garpu tala yaitu dengan memegang tangkai garpu tala lalu memetik secara lunak kedua kaki garpu tala dengan ujung jari atau kuku kita. yaitu : Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Hal ini untuk mendapatkan bunyi berintensitas paling rendah bagi orang normal / nilai normal ambang. yaitu : Normal. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien mendengarnya lebih lemah. yaitu : Semua garpu tala kita bunyikan satu per satu. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Rinne yang kita lakukan. Secepatnya garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien pada jarak 1-2 cm secara tegak dan kedua kaki garpu tala berada pada garis hayal yang menghubungkan antara meatus akustikus eksternus kanan dan kiri. yaitu : Normal. Cara kita melakukan tes batas atas & batas bawah. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya. Kesalahan interpretasi dapat terjadi jika kita membunyikan garpu tala terlalu keras sehingga kita tidak dapat mendeteksi pada frekuensi berapa pasien tidak mampu lagi mendengar bunyi. Tuli konduktif. Tes Rinne Tujuan kita melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. Batas atas turun dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi tinggi. Ada 2 cara kita melakukan tes Rinne. Jika tes Rinne positif. Bunyi garpu tala terlebih dahulu didengar oleh pemeriksa sampai bunyinya hampir hilang. Interpretasi tes Rinne dapat false Rinne baik pseudo positif dan pseudo negatif. Jika tes Rinne positif.Tujuan kita melakukan tes batas atas & batas bawah yaitu agar kita dapat menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar pasien dengan hantaran udara pada intensitas ambang normal. Segera pindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksternus. Jika pasien dapat mendengar garpu tala pada semua frekuensi. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya.

yaitu : Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri normal. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. tangkai garpu tala mengenai rambut pasien dan kaki garpu tala mengenai aurikulum pasien. Cara kita melakukan tes Weber yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis median (dahi. dagu. Misalnya terjadi lateralisasi ke kanan maka ada 5 kemungkinan yang bisa terjadi pada telinga pasien. Telinga kiri mengalami tuli sensorineural sedangkan telinga kanan normal. Tuli sensorineural. Telinga kiri dan telinga kanan mengalami tuli sensorineural tetapi telinga kiri lebih parah. Tes Schwabach Tujuan kita melakukan tes Schwabach adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dengan pasien. yaitu : Normal. Kesalahan pemeriksaan pada tes Rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Menurut pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garpu tala sudah berhenti saat kita memindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksterna. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Weber yang kita lakukan. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras pada 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garpu tala saat kita menempatkan garpu tala di planum mastoid pasien. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit. segera garpu tala tersebut kita pindahkan dan letakkan tegak lurus pada planum mastoid pasien. Telinga kanan dan telinga kiri mengalami tuli konduktif tetapi telinga kanan lebih parah. Tuli konduktif. Setelah bunyinya tidak terdengar oleh pemeriksa. Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri mengalami tuli sensorineural. Apabila pasien masih bisa mendengar bunyinya berarti Scwabach . Cara kita melakukan tes Schwabach yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. Jika tidak ada lateralisasi. Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan garpu tala tidak tegak lurus. atau gigi insisivus) dengan kedua kakinya berada pada garis horizontal. Tes Weber Tujuan kita melakukan tes Weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien.terjadi manakala telinga pasien yang tidak kita tes menangkap bunyi garpu tala karena telinga tersebut pendengarannya jauh lebih baik daripada telinga pasien yang kita periksa. Jika kedua telinga pasien sama-sama tidak mendengar atau sama-sama mendengar maka berarti tidak ada lateralisasi. verteks.

THT. Misalnya tangkai garpu tala tidak berdiri dengan baik. schwabach Weber . Tuli sensorineural. Sp. Sardjono Soedjak. Pertama-tama kita membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pasien. Sri Sukesi. dr. Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz. kaki garpu tala tersentuh. Hidung & Tenggorok. Technorati Tags: audiometri. Schwabch normal. 1024 Hz dan 2048 Hz. Sp. 512 Hz.memanjang. garpu tala. Sebaliknya jika pemeriksa masih bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek. dan diperiksa . Jakarta : EGC. Tuli konduktif. dr. dengan frekuensi 128 Hz. segera garpu tala kita pindahkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. MHPEd. dr. 2000. Sri Rukmini. Tuli Konduksi Tes Pendengaran Tuli Sensori Neural Tidak dengar huruf lunak Dengar huruf desis Tes Bisik Dengar huruf lunak Tidak dengar huruf desis Normal Batas Atas Menurun Naik Batas Bawah Normal Negatif Tes Rinne Positif. yaitu : Normal.THT & dr. 256 hz. Garputala 2. Uji berbisik 3. Kesalahan pemeriksaan pada tes Schwabach dapat saja terjadi. rinne. Teknik Pemeriksaan Telinga. atau pasien lambat memberikan isyarat tentang hilangnya bunyi. Setelah pasien tidak mendengarnya. Jika pemeriksa juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach normal. Schwabach memanjang. Sp. weber. Cara kita memilih apakah Schwabach memendek atau normal yaitu mengulangi tes Schwabach secara terbalik. false positif / false negatif Lateralisasi ke sisi sakit Tes Weber Lateralisasi ke sisi sehat Memanjang Tes Schwabach Memendek Daftar Pustaka Prof. lima buah. Sebaliknya jika pasien juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek atau normal. Sri Herawati. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Schwabach yang kita lakukan.THT. Sp. Audiometrik Garputala terdiri dari satu set. Dr. Schwabach memendek.THT.

makin lama pemeriksa makin mendekat. sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi. garputala digetarkan . tidak perlu di ruang kedap suara. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. asalkan tidak terlalu riuh. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. sedang atau berat. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan. Dimulai sejak jarak 6 meter. . Pemeriksa duduk ke samping. Caranya ialah. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi. telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. Caranya ialah garputala digetarkan. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol. maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi. Pasien diberi tahu. dahi. 1500 Hz. kemudian telinga kiri. c. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek.di ruang periksa. sampai 8000 Hz. tuli hantar (konduktif). atau pertengahan gigi seri. sampai pasien mendengar bunyi.Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata.5 cm jaraknya dari liang telinga. Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. dengan panjang 6 meter. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. 1000 Hz. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi. Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. kira-kira 2. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. Ada 3 macam pemeriksaan: a. Pada telinga kanan. Pada pasien yang pendengarannya masih baik. disebut uji rinne positif b. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan.

fisiologi tubuh manusia dan patofisiologi serta didukung oleh ketrampilan melalui latihan – latihan sehingga menjadi terbiasa. tes ini dikatakan negatif.Definisi:Tes Weber Tes Weber adalah menempatkan sebuah garpu tala bergetar di tengah dahi pasien. suara terlateralisasi ke sisi berlawanan. PEMERIKSAAN FISIK TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan dengan 4 cara : Inspeksi. Kemampuan dokter melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensip sangat diperlukan karena data yang diperolah dari pemeriksaan fisik ini akan menjadi dasar dalam penentuan masalah. Langkah kerja : • Atur pencahayaan yang cukup • Atur suhu dan suasana ruangan nyaman • Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien • Buka bagian yang diperiksa • Perhatikan kesan pertama pasien : perilaku. Ketika ada penyakit koklea atau tuli saraf. Bila suara disebut berasal dari sisi yang terlibat atau rusak. tidak ada penurunan konduksi udara. Dalam pelaksanaannya pemeriksaan fisik bersamaan dengan metode pengumpulan data lainnya seperti wawancara (anamnesa). Jika pasien melaporkan bahwa suara berasal dari garis tengah dahi. penampilan umum. dan psikomotor dari pemeriksa sampai pada meng-interprestasikan dan meng-integrasikan data temuan satu dengan data temuan yang lainnya. Diagnosa Fisik (Physic Diagnostic) PENDAHULUAN Pemeriksaan fisik berasal dari kata physical examination berarti memeriksa tubuh dengan atau tanpa alat untuk mendapatkan informasi yang menggambarkan kondisi pasien pemeriksaan fisik merupakan salah satu bagian dari rangkaian pengkajian. ekspresi. postur tubuh. dan observasi. untuk itu dokter juga harus menguasai tehnik anamnesa yang benar dan pengamatan yang akurat sesuai dengan kondisi pasien. palpasi. tes Weber adalah positif. Untuk dapat memahami pemeriksaan fisik yang baik dan benar dibutuhkan pemahaman terhadap konsep anatomi. afektif. bila perlu bandingkan bagian sisi tubuh pasien. perkusi dan auskultasi 1. Inspeksi Adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat . • Lakukan inspeksi secara sistematis. Dalam pemeriksaan fisik juga diperlukan integrasi aspek kognitif. .

atau berdiri 2. dengan ujung jari tekan pada permukaan yang akan diperkusi.2. STETOSKOPBagian-bagian stetoskop : • Ear Pieces --> dihubungkan dengan telinga • Sisi Bell ( Cup ) --> pemeriksaan thorak atau bunyi dengan nada rendah • Sisi diafragma ( membran ) --> Pemeriksaan abdomen atau bunyi dengan nada tinggi. konsistensi dan permukaan : • Jari telunjuk dan ibu jari --> menentukan besar/ukuran • Jari 2. PEMERIKSAAN KEPALA DAN LEHER KEPALA Cara Kerja : 1. serta kulit dan tulang kepala 4.3. Atur posisi pasien duduk. 4. . Lakukan inpeksi rambut dan rasakan keadaan rambut. Auskultasi Adalah pemeriksaan mendengarkan suara dalam tubuh dengan menggunakan alat STETOSKOP. bentuk. Cara Kerja : • Lepas Pakaian sesuai dengan keperluan • Luruskan jari tengah kiri . dengan menggunakan pergerakan pergelangan tangan. Palpasi Adalah pemeriksaan dengan perabaan. Inspeksi keadaan muka pasien secara sistematis. menggunakan rasa propioseptif ujung jari dan tangan. dengan lentur dan cepat. untuk mengetahui keadaan organ-organ didalam tubuh. • Lakukan perkusi secara sistematis sesuai dengan keperluan.4 bersama --> menentukan konsistensi dan kualitas benda • Jari dan telapak tangan --> merasakan getaran • Sedikit tekanan --> menentukan rasa sakit 3. Bila pakai kaca mata dilepas 3. Cara kerja : • Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi • Cuci tangan • Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya • Yakinkan tangan hangat tidak dingin • Lakukan perabaan secara sistematis . • Lakukan ketukan dengan ujung jari tengah kanan diatas jari kiri. untuk menentukan ukuran. Perkusi Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan cara perantara jari tangan. Cara Kerja : • Ciptakan suasana tenang dan aman • Pasang Ear piece pada telinga • Pastikan posisi stetoskop tepat dan dapat didengar • Pada bagian sisi membran dapat digosok biar hangat • Lakukan pemeriksaan dengan sistematis sesuai dengan kebutuhan.

MATAA. Bola mata Cara Kerja : 1. Inspeksi keadaan bola mata, catat adanya kelainan : endo/eksoptalmus, strabismus. 2. Anjurkan pasien memandang lurus kedepan, catat adanya kelainan nistagmus. 3. Bedakan antara bola mata kanan dan kiri 4. Luruskan jari dan dekatkan dengan jarak 15-30 cm 5. Beritahu pasien untuk mengikuti gerakan jari, dan gerakan jari pada 8 arah untuk mengetahui fungsi otot gerak mata. B. Kelopak Mata 1. Amati kelopak mata, catat adanya kelainan : ptosis, entro/ekstropion, alismata rontok, lesi, xantelasma. 2. Dengan palpasi, catat adanya nyeri tekan dan keadaan benjolan kelopak mata C. Konjungtiva, sclera dan kornea 1. Beritahu pasien melihat lurus ke depan 2. Tekan di bawah kelopak mata ke bawah, amati konjungtiva dan catat adanya kelainan : anemia / pucat. ( normal : tidak anemis ) 3. Kemudian amati sclera, catat adanya kelainan : icterus, vaskularisasi, lesi / benjolan (normal : putih ) 4. Kemudian amati sklera, catat adanya kelainan : kekeruhan ( normal : hitam transparan dan jernih )

D. Pemeriksaan pupil 1. Beritahu pasien pandangan lurus ke depan 2. Dengan menggunakan pen light, senter mata dari arah lateral ke medial 3. Catat dan amati perubahan pupil : lebar pupil, reflek pupil menurun, bandingkan kanan dan kiri Normal : reflek pupil baik, isokor, diameter 3 mm Abnormal : reflek pupil menurun/-, Anisokor, medriasis/meiosis

E. Pemeriksaan tekanan bola mata Tampa alat : Beritahu pasien untuk memejamkan mata, dengan 2 jari tekan bola mata, catat adanya ketegangan dan bandingkan kanan dan kiri. Dengan alat : Dengan alat Tonometri ( perlu ketrampilan khusus ) F. Pemeriksaan tajam penglihatan 1. Siapkan alat : snelen cart dan letakkan dengan jarak 6 meter dari pasien. 2. Atur posisi pasien duduk/atau berdiri, berutahu pasien untuk menebak hurup yang ditunjuk perawat. 3. Perawat berdiri di sebelah kanan alat, pasien diminta menutup salah satu mata ( atau dengan alat penutup ). 4. Kemudian minta pasien untuk menebak hurup mulai dari atas sampai bawah. 5. tentukan tajam penglihatan pasien

G. 1. 2. 3. 4. 5.

Pemeriksaan lapang pandang perawat berdiri di depan pasien bagian yang tidak diperiksa ditutup Beritahu pasien untuk melihat lurus kedepan ( melihat jari ) Gerakkan jari kesamping kiri dan kanan jelaskan kepada pasien, agar memberi tahu saat tidak melihat jari

TELINGA • Pemeriksaan daun telinga, lubang telinga dan membran tympani 1. Atur posisi pasien duduk 2. Perawat berdiri di sebelah sisi pasien, amati daun telinga dan catat : bentuk, adanya lesi atau bejolan. 3. tarik daun telinga ke belakang atas, amati lubang telinga luar , catat adanya : lesi, serumen, dan cairan yang keluar. 4. Gerakkan daun telinga, tekan tragus dan catat adanya nyeri telinga. Catat adanya nyeri telinga. 5. Masukkan spikulum telinga, dengan lampu kepala / othoskop amati lubang telinga dan catat adanya : cerumen atau cairan, adanya benjolan dan tanda radang. 6. Kemudian perhatikan membrane tympani, catat : warna, bentuk, dan keutuhannya. (normal : warna putih mengkilat/transparan kebiruan, datar dan utuh ) 7. Lakukan prosedur 1-6 pada sisi telinga yang lain.

• Pemeriksaan fungsi pendengaran Tujuan : menentukan adanya penurunan pendengaran dan menentukan jenis tuli persepsi atau konduksi. Tehnik pemeriksaan : 1. Voice Test ( tes bisik ) Test ini amat penting bagi dokter umum terutama yang bertugas di puskesmas-puskesmas, dimana peralatan masih sangat terbatas untuk keperluan testpendengaran. Persyaratan yang perlu diingat dalam melakukan test ini ialah : a. Ruangan Test Salah satu sisi atau sudut menyudut ruangan harus ada jaraksebesar 6 meter. Ruangan harus bebas dari kebisingan. Untuk menghindarigema diruangan dapat ditaruh kayu di dalamnya.b. b. Pemeriksa Sebagai sumber bunyi harus mengucapkan kata-kata denganmenggunakan ucapan kata-kata sesudah expirasi normal.Kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 2 suku kata (bisyllabic) yang terdiridari kata-kata sehari-hari. Setiap suku kata diucapkan dengan tekanan yang sama dan antara dua suku kata bisyllabic “Gajah Mada P.B.List” karena telahditera keseimbangan phonemnya untuk bahasa Indonesia. c. Penderita Telinga yang akan di test dihadapkan kepada pemeriksa dantelinga yang tidak sedang ditest harus ditutup dengan kapas atau oleh tangansi penderita sendiri. Penderita tidak boleh melihat gerakan mulut pemeriksa. Cara pemeriksaan. Sebelum melakukan pemeriksaan penderita harus diberi instruksi yang jelasmisalnya anda akan dibisiki kata-kata dan setiap kata yang didengar harusdiulangi dengan suara keras. Kemudian dilakukan test sebagai berikut :

a. Mula-mula penderita pada jarak 6 meter dibisiki beberapa kata bisyllabic.Bila tidak menyahut pemeriksa maju 1 meter (5 meter dari penderita) dan testini dimulai lagi. Bila masih belum menyahut pemeriksa maju 1 meter, dandemikian seterusnya sampai penderita dapat mengulangi 8 kata-kata dari 10kata-kata yang dibisikkan. Jarak dimana penderita dapat menyahut 8 dari 10kata diucapkan di sebut jarak pendengaran.b. b. Cara pemeriksaan yang sama dilakukan untuk telinga yang lain sampaiditemukan satu jarak pendengaran. Evaluasi test. 6 meter - normalb. 5 meter - dalam batas normalc. 4 meter - tuli ringand. 3 – 2 meter - tuli sedange. 1 meter atau kurang - tuli berat. Dengan test suara bisik ini dapat dipergunakan untuk memeriksa secara kasarderajat ketulian (kuantitas). Bila sudah berpengalaman test suara bisik dapatpula secara kasar memeriksa type ketulian misalnya : a. Tuli konduktif sukar mendengar huruf lunak seperti n, m, w (meja dikatakanbecak, gajah dikatakan kaca dan lain-lain). b. Tuli sensori neural sukar mendengar huruf tajam yang umumnyaberfrekwensi tinggi seperti s, sy, c dan lain-lain (cicak dikatakan tidak, kacadikatakan gajah dan lain-lain) 2. Test garputala • Rinne test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udarapada satu telinga. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang darihantaran tulang. Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjangdaripada hantaran tulang. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebihpanjang daripada hantaran udara. Cara pemeriksaan. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunakpada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum daritelinga yang akan diperiksa. Kepada penderita ditanyakan apakahmendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkanhingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikuseksternus dari telinga yang diperiksa. Bila penderita masih mendengardikatakan Rinne (+). Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-). Evaluasi test rinne. Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. Rinnenegatif berarti tuli konduktif. Rinne Negatif Palsu. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hatidengan apa yang dikatakan Rinne negatif palsu. Hal ini terjadi pada tulisensorineural yang unilateral dan berat.Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya ditangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing). Kemudiansetelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getarantidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative.

Normalnya : pasien masih mendengar saat ujung garputala didekatkan pada lubang telinga. • Weber test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan.Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama.

Evaluasi Tets Weber. Kedua telinga tuli konduktif.Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bilamasih mendengar dikatakan schwabach memanjang. tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. kanan lebih bera 5. kiri tuli sensory neural 3. Penderita ditanyakan apakahmendengar atau tidak. Cara pemeriksaan. Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapakemungkinan 1. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapatmenegakkan diagnosa secara pasti. Telinga kanan tuli konduktif. . Kedua telinga tuli sensory neural. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasike kanan. Karena telinga pemeriksa normal berarti telingapenderita normal juga.Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuhdiletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex.Cara pemeriksaan. Alat ini menghasilkan nadanada murni dengan frekuensi melalui aerphon. kiri normal 2. Telinga kanan tuli konduktif. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). sesudah itusekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidakmendengar dengungan. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. • Scwabach Test Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita denganhantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal. Bila pemeriksa tidakmendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengarlagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita danditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 7. Test Audiometri Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segeradipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secaralunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita. Telinga kanan normal. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidakmendengar dengungan. kiri tuli sensory neural 4. Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga manadidengar lebih keras.Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabachmemendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi. Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 8. Evaluasi test schwabach 6.

Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1.000 Hz. Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara. Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan. Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 2020. maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang. suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). 2. Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. 1000-2000. audiologis dan pasien yang kooperatif. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel Klasifikasi 0-15 Pendengaran normal >15-25 Kehilangan pendengaran kecil >25-40 Kehilangan pendengaran ringan >40-55 Kehilangan pendengaran sedang >55-70 Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat >70-90 Kehilangan pendengaran berat >90 Kehilangan pendengaran berat sekali Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena . Grafiknya terdiri dari skala decibel.Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman.

berarti pendengaran baik. dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). pendengar diminta untuk mnebaknya. tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga). Mediagnostik penyakit telinga 2. ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi).intensitasnya makin dilemahkan. tetapi juga jauh diatasnya. berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah. b. apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus.tuntutan ganti rugi 3. apakah ada kotoran telinga (serumen). Skrinig anak balita dan SD 4. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a. Dengan demikian. Untuk kedokteran klinik Pencegahan. sedangkan intensitas suara barapa saja. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. Kriteria orang tuli : 1. Manfaat audiometri 1. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya. Untuk kedokteran klinik. Untuk kedokteran klinik Kehakiman. Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran. Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. . khususnya penyakit telinga 2. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB. Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB 3. Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi. atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan. apakah ada lubang gendang telinga. Pada audiometri tutur. Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB 2. 1978) : 1. memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi. 3. Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB 4. deteksi ktulian pada anak-anak Tujuan Ada empat tujuan (Davis.

Atau Posisi penderita berbaring setengah duduk. lesi mukosa 4. ) dan letakkan penggaris diatasnya. kesimetrisan. 6. telan ludah. bentuk. catat : kesimetrisan dan tanda radang. tentukan batas atas denyut vena jugularis. catat : kebersihan dan bau mulut. catat : kesimetrisan. ukur tinggi denyut vena dengan penggaris. Test Kalori MULUT DAN TONSIL 1. Normalnya : simetris ditengah. lesi. catat : letak trachea. LEHER • Kelenjar Tyroid Inspeksi : Pasien tengadah sedikit. raba disepanjang trachea muali dari tulang krokoid dan kesamping. catat : adanya benjolan . Pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa 2. tanda oliver ( pada saat denyut jantung. gigi palsu. 7. catat : kebersihan gisi. Auskultasi : Tempatkan sisi bell pada kelenjar tyroid. minta pasien membunyikan huruh “ A “. tentukan batas atas denyut vena. • Bising Arteri Karotis Tentukan letak denyut nadi karotis ( dari tengah leher geser ke samping ). Normalnya : tidak lebih dari 4 cm. jari tengah dan telunjuk ke dua tangan ditempatkan pada ke dua istmus.Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan a. catat : merah. massa/benjolan. Amati bibir. Test Fistula c. • JVP ( tekanan vena jugularis ) Posisi penderita berbaring setengah duduk. catat : adanya bising ( normal : tidak terdapat) • Trakhea Inspeksi : Pemeriksa disamping kanan pasien. Tekan lidah dengan sudip lidah. trachea tertarik ke bawah ). karies gigi. tentukan titik nol ( titik setinggi manubrium s. raba ke atas dan ke samping. Buka mulut pasien. konsidstensi. amati uvula. Normalnya : saat duduk setinggi manubrium sternum. tempelkan jari tengah pada bagian bawah trachea. Test Romberg b. Minta pasien menjuliurkan lidah. lesi. 5. catat : bentuk dan kesimetrisan Palpasi : Pasien duduk dan pemeriksa di belakang. kering. gigi berlubang. warna. cyanosis. Amati tonsil tampa dan dengan alat cermin. ukuran. Amati gigi. catat : pembesaran dan tanda radang tonsil. Letakkan sisi bell . sumbing 3. beritahu pasien merubah posisi ke duduk dan amati pulsasi denyut vena.

gagal jantung • Bradipneu  napas lambat ( < 16 X ). Dari arah depan tentukan adanya pelebaran vena dada. normalnya : tidak ada. koma DM. lakukan palpasi daerah thorax. ginjal. Posisi pasien dapat duduk dan atau berbaring 2. Letakkan kedua tangan seperti pada no 2/3. letakkan kedua tangan ke dada. catat adanya bising. TBC. ekspirasi sangat pendek. ada masa paru Meningkat : Pleura efusi. 4. efusi pericard/pleura. letakkan ke dua tangan pada punggung di bawah scapula. pneumonie. Dari arah samping dan belakang tentukan bentuk dada. misal . emfisema. pasien diminta napas biasa. • Dangkal  emfisema. stroke • Cheyne Stokes  napas dalam. catat : gerakan napas dan tanda-tanda sesak napas  Normalnya : Gerak napas simetris 16 – 24 X. Menurun : konsolidasi paru. Dari arah atas tentukan kesimetrisan dada. • Biot  Dalam dan dangkal disertai apneu yang tidak teratur. PERKUSI Cara Kerja : 1. minta pasien untuk bersuara ( 77 ). tentukan getaran suara dan bedakan kanan dan kiri. dengan posisi tangan agak ke atas. Dengan posisi berbaring / semi fowler. catat . tumor paru. pada demam. INSPEKSI  Cara Kerja : 1. dengan kecepatan normal • Apneustik  ispirasi megap-megap. catat : gerak napas simetris atau tidak dan tentukan daya kembang paru ( normalnya 3-5 cm ). kemudian dangkal dan diserta apneu berulang-ulang. Dari arah depan. • Asimetris  pneumonie. misal pada lesi pusat pernapasan. Atur posisi pasien duduk atau berbaring 2. penyakit jantung. tentukan : kesimetrisan gerak dada. PEMERIKSAAN THORAX DAN PARU Tujuan Pemeriksaan : • Mengidentifikasi kelaian bentuk dada • Mengevaluasi fungsi paru A.stetoskop di daerah arteri karotis. C. paru fibrotik. Atur posisi pasien berbaring / setengah duduk . adanya nyeri. covenrne paru. adanya benjolan ( tentukan konsistensi. sehingga ke dua ibu jara berada diatas Procecus Xypoideus. mobilitas … ) 3. Misal : pada Srtoke. abdominal / thorakoabdominal. 3. 5. misal . pleura Efusi. Normalnya : simetris. Acidosis metabolic • Hyperpneu  napas dalam. tumor paru. misal . B. TBC paru. PALPASI Cara Kerja : 1.pada uremia. Atau Dengan posisi duduk merunduk. misal : meningitis • Kusmoul  Pernapasan lambat dan dalam. Normalnya : tidak ada bising.  Abnormal : • Tarchipneu  napas cepat ( > 24 X ) . koma DM. tumor paru. tidak ada penggunaan otot napas dan retraksi interkostae. besar. dan daya kembang paru 4.

edema paru • Pekak  seperti bunyi pada paha : tumor paru. nada rendah inspirasi dan ekspirasi tidak terputus. pneumonie. • Vesikuler  suara di daerah paru. catat : suara napas dan adanya suara tambahan. effuse pleura. ekspirasi seperti trac-bronkhial. pneumothorax . paru kiri lebih tinggi Abnormal : • Meningkat  anak. ascites • Menurun  orang tua. kavitas • Kurang resonan  “deg” : fibrosis. suara jelas • Egovoni  sengau dan mengeras ( pada efusi pleura + konsolidasi paru ) • Menurun / tidak terdengar  Efusi pleura. pleura menebal • Redup  “bleg” : fibrosis berat. 3. dan tentukan batas – batas paru Batas paru normal : • Atas : Fossa supraklavikularis kanan-kiri • Bawah : iga 6 MCL. karena penyempitan bronchus dan alveoli. alveoli. bronkus dan paru. D. Atur posisi pasien duduk / berbaring 2. • Krepitasi / rales  berasal daru bronchus. efusi. Dengan stetoskop. tidak ada suara tambahan Abnormal : • Ronkhi  suara tambahan pada bronchus akibat timbunan lender atau secret pada bronchus. lakuka perkusi secara merata pada daerah paru. inpirasi spt vesikuler. suara belum jelas ( misal : pnemonie lobaris. emfisema. emfisema. inpirasi lebih keras dan pendek dari ekspirasi. fibrosis. kavitas paru yang berisi cairan ( seperti gesekan rambut / meniup dalam air ) • Whezing  suara seperti bunyi peluid. Abnormal : • Suara trac-bronkhial terdengar di daerah bronchus dan paru ( missal . pneumothorax 3. cavitas paru ) • Pectoriloguy  meningkat sekali. iga 8 MAL. seperti meniup besi. catat adanya perubahan suara perkusi Normalnya : sonor/resonan ( dug ) Abnormal : • Hyperresonan  menggendang ( dang ) : thorax berisi udara. dua. auskultasi paru secara sistematis pada trachea. emfisema Suara tambahan Normal : bersih. Suara napas Normal : • Trachea brobkhial  suara di daerah trachea. infiltrate. AUSKULTASI Cara kerja : 1. catat bunyi resonan Vokal : • Bronkhofoni  meningkat. fibrosis ) • Suara bronkhovesikuler terdengar di daerah paru • Suara vesikuler tidak terdengar.Gunakan tehnik perkusi. beritahu pasien untuk mengucapkan satu. …. iga 10 garis skapularis. fibrosis 2. Missal : fibrosis. Kemudian. • Bronkhovesikuler  suara di daerah bronchus ( coste 3-4 di atas sternum ). konsolidasi.

trikuspidalis. dan ephygastrik NormaL  Hanya pada daerah ictus 7. dan efusi perikard. ASD. INPEKSI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. Sulit dilihat payudara besar. Abnormal  Cekung. Intensitas bunyi jantung Normal : • Di daerah mitral dan trikuspidalis intensitas BJ1 akan lebih tinggi dari BJ 2 • Di daerah pulmonal dan aorta intensitas BJ1 akan lebih rendah dari BJ 2 3. Denyut nadi pada daerah lain 1.  Splitting BJ 2 fisiologik  normal Spliting BJ2. buka pakaian dan atur posisi pasien terlentang. Denyut vena Cara Kerja : 1. Bentuk perkordial 2.Terbelah/terpisah dikondisikan ( Normal Splitting )  Splitting BJ 1 fisiologik  Normal Splitting BJ1 yang terdengar saat “ Ekspirasi maksimal. Denyut pada apeks kordis 3. Abnormal --> bergeser kearah lateroinferior . nampak meningkat dan bergetar ( Thrill ). Sifat bunyi jantung Normal : . 4. B. Irama dan frekwensi jantung Normal : reguler ( ritmis ) dengan frekwensi 60 – 100 X/mnt 2. . lebar > 2 cm. Pemeriksa berdiri sebelah kanan pasien setinggi bahu pasien 3. Fase Systolik dan Dyastolik Normal : Fase systolik normal lebih pendek dari fase dyastolik ( 2 : 3 ) Abnormal : . AUSKULTASI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1.bersifat tunggal. Denyut vena hanya dapat dilihat pada vena jugularis interna dan eksterna. terdengar “ sesaat setelah inspirasi dalam “ Abnormal : • Splitting BJ 1 patologik  ganngguan sistem konduksi ( misal RBBB ) • Splitting BJ 2 Patologik : karena melambatnya penutupan katub pulmonal pada RBBB. emfisema. PS. kemudian napas ditahan sebentar” . Amati dan cata pulsasi denyut vena jugularis Normal tidak ada denyut vena pada prekordial. Motivasi pasien tenang dan bernapas biasa 4.PEMERIKSAAN JANTUNG A. Amati dan catat pulsasi daerah aorta. Amati dan catat bentuk precordial jantung Normal  datar dan simetris pada kedua sisi. Amati dan catat pulsasi apeks cordis Normal  nampak pada ICS 5 MCL selebar 1-2 cm ( selebar ibu jari ). Cembung ( bulging precordial ) 5. 6. pulmonal.Fase systolic memanjang / fase dyastolik memendek . kepala ditinggikan 15-30 2. dinding toraks yang tebal.

Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah Tricus. dan murmur Bj2. kemudian ke daerah mitral. adanya thrill. catat perubahan perkusi redup 2. Normal  terba di ICS V MCL selebar 1-2cm ( 1 jari ) Abnormal  ictus bergeser kea rah latero-inferior. lebar. Normal : tidak terdapat murmur Abnormal : terdapat murmur  kelainan katub . ada thriil / lift 3. irama gallop. Periksa stetoskop dan gosok sisi membran dengan tangan 2. Geser pada daerah ephigastrik. Lakukan perkusi mulai intercota 2 kiri dari lateral ( Ant. palpasi daerah aorta. PALPASI Cara Kerja : 1. Geser jari ke ICS 3 kiri kemudian sampai ICS 6 . PERKUSI Cara Kerja : 1. 4. C. Irama Gallop ( gallop ritme )  Adalah irama diamana terdengar bunyi S3 atau S4 secara jelas pada fase Dyastolik. 3. 5. splitting BJ1.. splitting BJ2. sehingga terjadi pengisian yang cepat pada ventrikel Normal : tidak terdapat gallop ritme Abnormal : • Gallop ventrikuler ( gallop S3 ) • Gallop atrium / gallop presystolik ( gallop S4 ) • Gallop dapat terjadi S3 dan S4 ( Horse gallop ) Cara Kerja : 1. yang disebabkan karena darah mengalir ke ventrikel yang lebih lebar dari normal. axial line ) menuju medial. shunt/pirau 6. tentukan besar denyutan. murmur Bj1. catat mana yang paling jelas. tentukan letak. 3. kemudian ke daerah aorta. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah pulmonal. lift/heave. catat adanya bising aorta. simak Bunyi jantung terutama BJ1. Normal  tidak ada pulsasi 2. Adanya Bising ( Murmur ) jantung  adalah bunyi jantung ( bergemuruh ) yang dibangkitkan oleh aliran turbulensi ( pusaran abnormal ) dari aliran darah dalam jantung dan pembuluh darah. kwalitas di banding dg BJ2. Normal : teraba. simak Bunyi jantung terutama BJ2. Geser pada daerah mitral. 5. Tentukan batas-batas jantung . Geser ke daerah ephigastrik. pulmo dan trikuspidalis. Bila ada murmur ulangi lagi keempat daerah. catat : adanya pulsasi. kwalitas di banding dg BJ1. catat : sifat. catat : pulsasi. sulit diraba Abnormal : mudah / meningkat D. Dengan menggunakan 3 jari tangan dan dengan tekanan ringan. catat : sifat. lakukan perkusi dan catat perubahan suara perkusi redup. frekwensi DJ.Tedengar bunyi “ fruction Rub”  gesekan perikard dg ephicard.

amati ketiak. Normal : gelap. PALPASI Cara Kerja : • Lakukan palpasi pada areola. tidak ada lesi Abnormal : • Strie berwarna ungu  syndrome chusing • Pelebaran vena abdomen  Chirrosis • Dinding perut tebal  odema • Berbintil atau ada lesi  neurofibroma • Ada masa / benjolan abnormal  tumor 6. Kandung kencing dalam keadaan kosong 2. bantal dikepala dan lutut sedikit fleksi 3. Buka lengan pasien. • Palpasi daerah ketiak terutama daerah limfe nodi.PEMERIKSAAN PAYUDARA DAN KETIAK Inspeksi 1. dan perhatikan Kedaan kulit dan permukaan perut Normalnya : datar. catat : adanya keluaran. bau. Perhatikan bentuk perut Normal : simetris Abnormal : • Membesar dan melebar  ascites • Membesar dan tegang  berisi udara ( ilius ) • Membesar dan tegang daerah suprapubik  retensi urine . tanda radang dan lesi. jumlah. Mulai inspeksi bentuk. kedua tangan rileks disisi tubuh. Catat : nyeri dan adanya benjolan • Bila ada benjolan tentukan konsistensi. disamping atau didada 4. konsistensi dan nyeri. • Lakukan palpasi payudara dengan 3 jari tangan memutar searah jarum jam kea rah areola. ukuran dan kesimetrisan payudara Normal : bulat agak simetris. Catat : lesi. Strie livide/gravidarum. pakaian atas dibuka. datar/menonjol/masuk kedalam. kecil/sedang/besar 3. Inspeksi. posisi pasien duduk. tidak tegang. benjolan dan tanda radang. Kedua lengan. tanda radang dan lesi 4. nyeri tekan. catat : warna. Lakukan inspeksi. 2. Mintalah penderita untuk menunjukkan daerah sakit untuk dilakukan pemeriksaan terakhir 5. menonjol 5. dan catat adanya : benjolan. Inspeksi areola mama. PEMERIKSAAN ABDOMEN Abdomen dibagi menjadi 9 regio : INSPEKSI Cara Kerja : 1. catat : adanya benjolan. besar. Posisi berbaring. mobilisasinya. warna.

adanya nyeri tekan. pada seluruh daerah perut 3. lutut sedikit fleksi. 2. AbnormaL: • Terjadi sebaliknya  kelumpuhan otot diafragma • Tegang tidak bergerak  peritonitis • Gerakan setempat  peristaltic pada illius • Perhatikan denyutan pada didnding perut • Normal : dapat terlihat pada ephigastrika pada orang kurus 8. kelaparan 3. Lakukan palpasi perlahan dengan tekanan ringan. Perhatikan umbilicus. . cata bising dan peristaltic usus. 5-35X/mnt Abnormal : • Bising dan peristaltic menurun / hilang  illeus paralitik. Normalnya : tidak ada 3. catat adanya perubahan suara perkusi : Normalnya : tynpani.• Membesar asimetris  tumor. pembesaran organ dalam perut 7. PERKUSI Cara Kerja : 1. Cara : • Lakukan perkusi pada MCL kanan bawah umbilicus ke atas sampai terdengar bunyi redup. Beritahu pasien untuk bernapas dengan mulut. Lakukan auskultasi pada satu tempat saja ( kuadran kanan bawah ). Normal : Bunyi “ Klikc Grugles “. Lanjutkan dengan pemeriksaan organ. Normal : tidak ada. post operasi • Bising meningkat “ metalik sound “  illius obstruktif • Peristaltik meningkat dan memanjang ( borboritmi ) diare. gerakan peristaltic pada orang kurus. dan adanya masa superficial atau masa feces yang mengeras. Perhatikan Gerakan dinding perut Normal : mengempis saat ekspirasi dan menggembung saat inspirasi. catat gerakan air ( tanda ascites ). catat adanya tanda radang dan hernia AUSKULTASI Cara Kerja : 1. Tentukan ketegangan. 4. PALPASI Cara Kerja : 1. lakukan perkusi dari kwadran kanan atas memutar searah jarum jam. Letakkan stetoskop pada daerah ephigastrik. • Lakukan perkusi daerah paru ke bawah. lakukan perkusi di daerah hepar untuk menentukan batas dan tanda pembesaran hepar. Gunakan stetoskop sisi membrane dan hangatkan dulu 2. Dengan merubah posisi/menggerakkan abdomen. untuk menentukan batas bawah hepar. catat bising aorta. untuk menentukan batas atas • Lakukan perkusi di sekitar daerah 1 dan 2 untuk menentukan batas-batas hepar yang lain. redup bila ada organ dibawahnya ( misal hati ) Abnormal : • Hypertympani  terdapat udara • Pekak  terdapat Cairan 2.

tonus dan spasme otot • Kekuatan otot UJi Kekuatan Otot Cara kerja : • Tentukan otot/ektrimitas yang akan di uji • Beritahu pasien untuk mengikuti perintah. catat adanya deformitas. Abnormal : • Teraba nyata ( membesar ). • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran limfa • Minta pasien napas dalam. konsistensi dan bentuk permukaannya. • Palpasi tulang. rasakan adanya masa hepar. • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran hepar. pembesaran. benjolan abnormal. tidak timbul gerakan 2 ( parese ) : Timbul gerakan tidak mampu melawan gravitasi 3 ( parese ) : Mampu melawan gravitasi 4 ( good ) : mampu menahan dengan tahanan ringan 5 ( Normal ): mampu menahan dengan tahanan maksimal TULANG Hal-hal yang perlu diperhatikan : • Adanya kelainan bentuk / deformitas • Masa abnormal : besar. tentukan kwalitas benjolan. konsistensi dan bentuk permukaannya. Penilaian : 0 ( Plegia ) : Tidak ada kontraksi otot 1 ( parese ) : Ada kontraksi. nyeri tekan. ujung ireguler  hepatoma Lien • Letakkan tangan kiri menyangga punggung kanan penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas . teraba bila ada pembesaran PEMERIKSAAN SISTEM MUSKULOSKELETAL OTOT Hal – hal yang perlu diperhatikan : • Bentuk. konsistensi. .Hati • Letakkan tangan kiri menyangga belakang penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas .obliq ) di daerah tempat redup hepar bawah / di bawah kostae. saat pasien melepas napas. pembesaran. keras tidak merata. kontraksi dan tremor. tanda radang. tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. krepitasi. tekan segera dengan jari kanan secara perlahan.obliq ) di bawah kostae kanan. Normal : tidak teraba / teraba kenyal. ukuran dan kesimetrisan otot • Adanya atropi. saat pasien melepas napas. • Minta pasien napas dalam. rasakan adanya masa hepar. tentukan besar. dan pegang otot dan lakukan penilaian. Normal : Sulit di raba. lunak dan ujung tumpul  hepatomegali • Teraba nyata ( membesar ). ujung tajam. mobilitas • Tanda radang dan fraktur Cara kerja : • Ispkesi tulang. konsistensi dan bentuk permukaan.

peradangan 3. nodula. Tekstur dan konsistensi Normal : halus dan elastis Abnormal : kasar. Angkat Tungkai Lurus • Angkat tungkai pasien. dorsofleksikan tungkai kaki • Abnormal : nyeri tajan ke rah belakang tungkai  ketegangan / kompresi syaraf 2. Soliter. hypopigmentasi. pustula • Lesi Sekunder : Tumor. Tekstur kulit Normal : tegang dan elastis ( dewasa ). crusta. eskoriasi. tentukan : 1. luruskan sampai timbul nyeri. Tanda BALON Tekan kantung suprapatela dengan jari tangan. PEMERIKSAAN KHUSUS 1. lichenifikasi. adanya kekakua sendi dan nyeri gerak • Tentukan ROM sendi : Rotasi. fissura. Uji TINEL’S • Lakukan perkusi ringan di atas syaraf median pergelangan tangan • Abnormal : ada kesemutan atau kesetrum 3. inverse/eversi. bentuk Lesi • Lesi Primer : bulla. ulceratif. erosi. Bergerombol Palpasi 1. tahan selama 60 detik. • Abnormal : Baal / kesemutan pada jari-jari dan tangan. Kelainan / lesi kulit Normal : tidak terdapat Abnormal : Terdapat lesi kulit.PERSENDIAN Hal-hal Yang perlu diperhatikan : • Tanda-tanda radang sendi • Bunyi gerak sendi ( krepitasi ) • Stiffnes dan pembatasan gerak sendi ( ROM ) Cara Kerja : • Ispeksi sendi terhadap tanda radang. lembek dan kurang elastis ( orang tua ) Abnormal : menurun  dehidrasi. Kemerahan Abnormal : cyanosis / pucat 2. papula. 2. Unilateral. catat : krepitasi. plaque. PEMERIKSAAN SISTEM INTEGUMEN KULITInspeksi 1. pigmentasi. ekstensi. elastisitas meningkat ( tegang ) . scar. dan palpasi adanya nyeri tekan • Palpasi dan gerakan sendi. distribusi dan konfigurasinya. Warna kulit Normal : nampak lembab. fleksi. Uji CTS ( Carpal Tunnel Syndrome ) Uji PHALEN’S • Fleksikan pergelangan tangan ke dua tangan dengan sudut maksimal. nampak tegang  odema. elastisitas menurun. macula. jari yang lain meraba adanya cairan. General. pronasi/supinasi. vesikel. protaksi.

edema. Adanya nyeri Pemeriksaan Khusus AKRAL • Ispeksi dan palpasi jari-jari tangan. Adanya hyponestesia/anestesia 5. Persiapan sebelum pemeriksaan: . dehidrasi 4. atau iritasi. infeksi. kemudian lepas. warna dan pertumbuhan rambut PEMERIKSAAN FISIK GENITALIAUntuk mengetahui apakah pasien mempunyai masalah dengan genetalia (alat vital) baik intern/ekstern. pengeluaran cairan atau darah dan sebagainya. Tujuan Pemeriksaan Genetalia: • Melihat dan mengetahui organ organ yang termasuk dalam genetalia • Mengetahui adanya abnormalitas pada genetalia. bentuk kuku. atau benjolan. hangat Abnormal : pucat. • Melakukan perawatan genetalia • Mengetahui kemajuan proses persalinan pada ibu hamil atau persalinan Metode yang Digunakan pada pria: • Inspeksi • Palpasi Metode yang digunakan pada wanita: • Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar dan bagian dalam. Turgor kulit Normal : baik Abnormal : menurun / jelek  orang tua. ODEM • Tekan beberapa saat kulit tungkai. dahi amati adanya lekukan ( pitting ) Normal : tidak ada pitting Abnormal : terdapat pitting ( non pitting pada beri-beri ) KUKU • Observasi warna kuku. tanda radang Abnormal : • Jari tabuh ( clumbing Finger )  penykait jantung kronik • Puti tebal  jamur RAMBUT TUBUH • Ispeksi distribusi. lesi. misalnya varises. catat perubahan warna Normal : warna berubah merah lagi < 3 detik Abnormal : > 3 detik  gangguan sirkulasi. catat warna dan suhu . luka. dingin  kekurangan oksigen CR ( capilari Refiil ) • Tekan Ujung jari berarapa detik. suhu meningkat ( infeksi ) 3. Normal : tidak pucat. Tumor. elastisitas kuku. Suhu Normal : hangat Abnormal : dingin ( kekurangan oksigen/sirkulasi ). perut.2.

jaringan parut. c) Pada pria yang tidak dikhitan. Pada beberapa kelainan lubang uretra ada yang terletak di bawah batang penis ( hipospadia ) dan ada yang terletak di atas batang penis ( epispadia ) d) Inspeksi skotrum dan perhatikan bila ada tanda kemerahan. konstitensi. d) Amati kulit dan area pubi. benjolan.penis dapat dibuka oleh pasien sendiri ). dan ekskorasi. dan kelicinannya. licin. b) Palpasi stroktum dan testis dengan menggunakan jempol dan tiga jari pertama. dan bandingkan sesuai usia perkembangan pasien. baskom. Pada Wanita: 1. eritema. d) Palpasi saluran sperma dengan jempol dan jari telunjuk. Angkat skrotrum dan amati area di belakang skrotrum. ulkus. Palpasi tiap testis dan perhatikan ukuran. eksoriasi. dan selimuti bagian yang tidak diamati. dan berukuran sekitar 2-4 cm. Normalnya epididimis teraba lunak. fisura. peradangan. 2) Menyiapkan tempat yang nyaman sehingga dapat menjaga privasi pasien. perhatikan distribusi dan jumlahnya. benjolan . 3) Hal yang harus diperhatikan: a) Pengkajian dilakukan sesuai kebutuhan dengan tetap menjga kesopanan dan harga diri pasien dan perawat. Bila diperlukan urine untuk specimen laboratorium. c) Bantu pasien melakukan posisi litotomi di tempat tidur atau meja periksa untuk pengkajian genital eksternal. c) Papasi epidemis yang memanjang dari puncak testis ke belakang.1) Menyiapakan alat yang digunakan: a) Lampu yang dapat diatur pencahayaanya b) Handscone atau sarung tangan c) Meja pemeriksaan dengan sanggurdi. f) Menjaga privasi pasien. Testis normalnya teraba elastis. e) Perawat harus dapt memeberi penjelasan kepada pasien tentang tujuan pengkajian sehingga pasien dapat diajak bekerja sama dan tidak merasa malu. bentuk. Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar: a) Beri kesempatan kepada pasien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum pengkajian dimulai. . b) Inspeksi kulit. leukoplakia. Langkah pemeriksaan fisik genitalia Pada Pria : 1) Inspeksi a) Pertama tama inspeksi rambut pubis. Catat bila rambut pubis tumbuh sedikit atau tidak sama sekali. Lubang uretra normalnya terletak di tengah kepala penis. Bantu mengatur posisi litotomi. c) Mulai dengan mengamati rambut pubis. pegang penis dan buka kulup penis. dan adanya kelainan lain yang tampak pada penis. amati lubang uretra dan kepala penis untuk mengetahui adanya ulkus. 2) Palpasi a) Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya nyeri tekan. b) Anjurkan pasien membuka celana. ukuran. bengkak. dan rabas ( bila pasien malu. perhatikan adana lesi. spatula plastic. d) Meminta ijin pada pasien jika melakukan pengkajian. tidak ada benjolan atau massa. Saluran sperma biasanya ditemukan pada puncak bagian lateral skrotum dan teraba lebih keras daripada epidedimis. dan kemungkinan adanya cairan kental yang keluar. atau nodular. perhatikan penyebaran dan pola pertumbuhan rambut pubis. b) Perawat meminta pasien untuk berkemih sebelum pemeriksaan.

m) Palpasi uterus dengan cara jari-jari tangan yang ada dalam vagina menghadap ke atas.klitoris. Palpasi ovarium kanan untuk mengetahui ukuran. Keluarkan jari bila sudah selesai.e) Buka labuia minora. f) Bila spekulum sudah berada di vagina. k) Lakuakan palpasi secara bimanual bila diperlukan dengan cara memakai sarung tangan steril. dan amati bagian dalam labia mayora. konsistensi. c) Siapkan speculum dengan ukuran dan bentuk ang sesuai dan lumasi dengan air hangat terutama bila akan mengambil specimen. Palpasi uterus untuk mengetahui ukuran. Normalnya bentuk serviks melingkar atau oval pada nulipara. 2.dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. kemudian memasukkan jari tersebut ke lobang vagina dengan penekanan ke arah posterior. e) Yakinkan bahwa tidak ada rambut pubis pada pintu vagina dan masukkan speculum dengan sudut 45° dan hati-hati dengan menggunakan tangan yang satunya sehingga tida menjepit rambut pubis atau labia. sedangkan pada para membentuk celah. laserisasi. n) Palpasi ovarium dengan cara menggeser dua jari yang ada dalam vagina ke formiks lateral kanan. massa. bentuk. g) Buka bilah speculum. dan warna serviks . nodular. klitoris. dan nyeri tekan ( normalnya tidak teraba) ulangi untuk ovarium sebelahnya. rabas atau nodular. tutup speculum. l) Palpasi serviks dengan dua jari anda dan perhatikan posisi. Normalnya serviks dapat digerakkan tanpa terasa nteri. Tangan yang ada diluar letakkan di abdomen dan tekankan ke bawah. Pengkajian alat kelamin bagian dalam a) Atur posisi pasien secara tepat dan pakai sarung tangan steril. dan meatus uretra. . massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot. labia minora. ulkus. keluarkan dua jari Anda. dan neri tekan. masukkan ke dalam vagina. Tindakan ini bermanfaat untuk mempergunakan dan memilih speculum yang tepat.dan tes keseimbangan. kendurkan sekrup speculum. rabas. konsistensi. konsistensi. dan meraba dinding vagina untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan nodular. temperature. j) Bila sudah selesai. rasa. d) Letakkan dua jari pada pintu vagina dan tekankan ke bawah kea rah perianal. Perhatikan setiap ada pembengkakan.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot. bentuk. Tangan yang ada di abdomen tekankan ke bawah kea rah kuadran kanan bawah. dan mobilitasnya. i) Bila diperlukan specimen sitologi. dan identifikasi kelunakan serta permukaan serviks. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri. ukuran. mobilitas. dan tarik keluar secara perlahan-lahan. dan putar speculum kea rah posisi horizontal dan pertahankan penekanan pada sisi bawah / posterior. gerak dan tekanan. letakkan pada serviks dan kunci bilah sehingga tetap membuka. regularitas. erosi. mobilitas. melumasi jari telunjuk dan jari tengah. b) Lumasi jari telunjuk Anda dengan air steril. h) Bila serviks sudah terlihat. PEMERIKSAAN FISIK EKSTREMITAS Ekstremitas atas • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan tangan. ambil dengan cara usapan menggunakan aplikator dari kapas. sentuhan. atur lampu untuk memperjelas penglihatan dan amati ukuran.

6) Terlihat gerakan fleksi pada siku akibat kontraksi otot biseps dan terasa tarikan tendon otot biseps dibawah telunjuk pemeriksa. 2) Bila siku tangan kanan yang akan diperiksa. 2) Pemeriksa berdiri dan menghadap pada sisi kanan pasien.. Saat otot dan tendon di regangkan selama pengujian refleks. implus-implus saraf merambat sepanjang jalur saraf aferen ke bagian dorsal segmen batang spinal.massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot.dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. Respon repleks pada ekstremitas bawah berkurang sebelum ekstremitas-ekstremitas atas terpengaruh (Seidel et al. Menimbulkan reaksi repleks memungkinkan perawat untuk mengkaji integritas jalur-jalur sensori dan gerak dari lengkung repleks dan segmen batang spinal spesifik. diatas jari telunjuk kiri pemeriksa. Kemudian sebuah saraf motor mengirim implus kembali ke otot dan menyebabkan respon refleks terjadi. gerak dan tekanan. Pemeriksaan Refleks Otot Biseps 1) Posisi pasien tidur terlentang dan siku kanan yang akan diperiksa. temperature. . 2) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot. sentuhan. Implus-implus bergerak ke saraf motor eferen dalam batang spinal. rasa. diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 60 derajat dan rileks. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri.dan tes keseimbangan. 5) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot triseps. 1991). Pemeriksaan Refleks Repleks biasanya tidak terlalu singkat terjadinya pada pasien yang lebih dewasa. Pemeriksaan Refleks Otot Triseps 1) Posisi pasien tidur terlentang. 5) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan. 4) Carilah tendon triseps 5 cm diatas siku ( proksimal ujung olecranon ). maka diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 90 derajat dan rileks. 3) Carilah tendon biseps dengan meraba fossa kubiti. maka akan teraba keras bila siku difleksikan. 3) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. Pemeriksaan Refleks Tendon Patela 1) Posisi pasien tidur terlentang atau duduk. 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas jari telunjuk kiri pemeriksa.Ekstremitas bawah • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan kaki. 7) Terlihat gerakan ektensi pada siku akibat kontraksi otot triseps dan terasa tarikan tendon otot triseps dibawah telunjuk pemeriksa. 4) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot biseps. Pengujian refleks tidak berarti menentukan pungsi saraf pusat.

5) Carilah tendon achiles diantara 2 cekungan pada tumit yang terasa keras dan makin tegang bila posisi kaki dorsofleksi. . lutut pasien fleksi 60 derajat dan bila duduk lutut fleksi 90 derajat. tertama pada pasien yang baru masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat. secara rutin pada pasien yang sedang di rawat. untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif. 7) Terlihat gerakan ektensi pada lutut akibat kontraksi otot quadriseps femoris. KESIMPULAN Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu. baik pasien dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Pemeriksaan fisik Mutlak dilakukan pada setiap pasien.3) Bila posisi pasien tidur terlentang. bila pasien duduk kaki menggelantung bebas. 5) Carilah 2 cekungan pada lutut dibawah patela inferolateral/ inferomedial. baik untuk untuk menegakkan diagnosa. memastikan/membuktikan hasil anamnesa. 3) Bila pasien tidur terlentang lutut fleksi 90 derajat dan disilangkan diatas kaki berlawanan. diantara 2 cekungan tersebut terdapat tendon patela yang terasa keras dan tegang. 4) Pergelangan kaki dorsofleksikan dan tangan kiri pemeriksa memegang/ menahan kaki pasien. sewaktu-waktu sesuai kebutuhan pasien. Pemeriksaan Refleks Tendon Achiles 1) Pasien tidur terlentang atau duduk. Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting dan harus di lakukan pada kondisi tersebut. 7) Terasa gerakan plantar fleksi kaki yang mendorong tangan kiri pemeriksa dan tampak kontraksi otot gastrocnemius. 6) Ayunkan reflek hammer diatas tendon achiles. 2) Bila pasien tidur terlentang pemeriksa berdiri dan bila pasien duduk pemeriksa jongkok disisi kiri pasien. menentukan masalah dan merencanakan tindakan yang tepat bagi pasien. Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat. 4) Tangan kiri pemeriksa menahan pada fossa poplitea. 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas tendon patella.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful