Perforasi membran timpani

Definisi
Perforasi atau hilangnya sebagian jaringan dari membran timpani yang menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi dari membrane timpani. Membran timpani adalah organ pada telinga yang berbentuk seperti diafragma, tembus pandang dan fleksibel sesuai dengan fungsinya yang menghantarkan energy berupa suara dan dihantarkan melalui saraf pendengaran berupa getaran dan impuls-impuls ke otak. Perforasi dapat disebabkan oleh berbagai kejadian, seperti infeksi, trauma fisik atau pengobatan sebelumnya yang diberikan.

Gejala Klinis
Beberapa gejala klinis yang timbul pada perforasi membran timpani adalah       Penurunan pendengaran Sensasi mendengar suara siulan saat meniup telinga atau bersin Cairan yang keluar dari telinga dapat terus menerus Tanda-tanda infeksi telinga tengah (demam, nyeri, telinga berdenging) Hilangnya fungsi pendengaran (test pendengaran), hal ini menentukan apakah penderita membutuhkan alat bantuan pendengaran atau tidak. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan biasanya adalah, Otoskopi, timpanometri, Test pendengaran (swabach, webber, dan rinne)

Tatalaksana
Terapi pengobatan pada perforasi membrane timpani ditujukan untuk mengendalikan infeksi pada telinga tengah. Mengingat juga penyebab dari perforasi yang disebabkan pengobatan sebelumnya. Penggunaan anti bacterial sebaiknya digunakan jika hasil kultur dan resistensi sudah didapatkan. Beberapa pengobatan invasive adalah, kauterisasi pada ujung membrane timpani. Penyumbatan pada lubang baik dengan lemak atau bahan sintetis yang tidak menimbulkan reaksi tubuh penerima (timpanoplasty). Pengobatan yang terakhir ini memiliki tingkat keberhasilan 80 hingga 90 % tergantung dari besarnya perforasi maupun komplikasi yang timbul.

Epidemiologi
Insidensi di populasi belum diketahui, tetapi biasanya terdapat pada Negara-negara berkembang atau Negara tertinggal, hal ini disebabkan oleh kurangnya faktor gizi, dan tingkat pelayanan kesehatan dari Negara tersebut.

Etiologi
Penyebab tersering dari perforasi membrane timpani adalah infeksi sebelumnya. Infeksi akut pada telinga tengah seringkali menyebabkan terjadinya kurangnya suplai darah ke membrane timpani yang seringkali berjalan dengan peningkatan tekanan pada telinga dalam, hal ini mengakibatkan robeknya atau hilangnya jaringan membrane timpani, yang biasanya diikuti dengan rasa nyeri. Jika robeknya membrane timpani tidak menyembuh maka akan terjadi hubungan antara telinga tengah dan telinga luar, yang seringkali menyebabkan infeksi yang berulang dan resistensi terhadap antibiotic yang digunakan berulang kali. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah jika infekti telah

menyebar kedalam kepala sehingga menimbulkan infeksi di kepala. Penyebab lain dari perforasi adalah trauma fisik dari telinga, yang tersering adalah pukulan yang keras kearah telinga dalam, tenaga yang timbul dapat memecahkan atau merobek membran timpani. Beberapa trauma yang lain adalah, perubahan tekanan pada telinga yang berubah secara mendadak, pada contohnya sering pada penyelam, yang didahului dengan gangguan pada saluran telinga dan mulut, peradangan ataupun infeksi.

http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/67/perforasi-membran-timfani

Perforasi Gendang Telinga
DEFINISI Perforasi Gendang Telinga ( Eardrum Perforation) adalah suatu keadaan dimana ditemukan lubang pada gendang telinga. Gendang telinga (membran timpani) merupakan pemisah antara telinga luar dan telinga tengah. Jika gelombang suara menyentuhnya maka gendang telinga akan bergetar dan hal ini merupakan awal dari proses perubahan gelombang suara menjadi impuls saraf yang akan menuju ke otak. Jika terjadi kerusakan pada gendang telinga maka proses pendengaranpun akan terganggu. Gendang telinga juga bertindak sebagai penghalang masuknya bahan-bahan dari luar telinga (misalnya bakteri). Jika terjadi perforasi gendang telinga, maka bakteri dengan mudah akan masuk ke dalam telinga dan menyebabkan terjadinya infeksi.

PENYEBAB Lubang pada gendang telinga bisa terjadi jika suatu benda dimasukkan ke dalam telinga (misalnya cotton-bud) atau jika suatu benda secara tidak sengaja masuk ke dalam telinga (misalnya ranting pohon yang terlalu rendah). Terjadinya lubang pada gendang telinga juga bisa disebabkan oleh peningkatan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba (misalnya akibat ledakan, tamparan atau menyelam) atau oleh penurunan tekanan yang juga terjadi secara tibatiba. Infeksi telinga juga bisa menyebabkan perforasi gendang telinga karena terjadi peningkatan tekanan cairan di dalam telinga tengah sehingga mendorong gendang telinga dan akhirnya terbentuklah lubang pada gendang telinga.

GEJALA Perforasi gendang telinga menyebabkan nyeri hebat yang timbul secara tiba-tiba, diikuti oleh perdarahan dari telinga, hilangnya pendengaran dan tinitus (telinga berdenging). Kehilangan pendengaran akan lebih buruk jika disertai oleh gangguan pdada rantai tulang pendengaran atau cedera pada telinga bagian dalam. Cedera pada telinga bagian dalam juga bisa menyebabkan vertigo (perasaan berputar). Dalam waktu 24-48 jam bisa keluar nanah dari telinga, terutama jika telinga kemasukan air.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dengan menggunakan otoskop, dokter bisa melihat adanya lubang pada gendang telinga.

PENGOBATAN Untuk mencegah terjadinya infeksi, biasanya diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut). Penderita harus menjaga agar telinganya tetap kering. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik. Biasanya tanpa pengobatan lebih lanjut, gendang telinga akan membaik. Tetapi jika dalam waktu 2 bulan tidak terjadi perbaikan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki gendang telinga (timpanoplasti).

Konsistensinya bisa encer atau kental. Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. ahli audiologi. pediatrisian. perawat. dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. anatominya juga sangat rumit . 3)Perforasi atik. Letak perforasi di pars flaksida membran timpani. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara. diduga telah terjadi gangguan pada tulang pendengaran dan harus diperbaiki melalui pembedahan. Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting. Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Upaya penutupan perforasi membran timpani permanen secara konservatif masih diperlukan oleh karena terapi secara operatif memerlukan peralatan yang tidak selalu tersedia di rumah sakit kabupaten atau kota dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.blogspot. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani.Jika hilangnya pendengaran bersifat menetap. suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita. saat ini dapat memperoleh sertifikat di bidang keperawatan otorinolaringologi leher dan kepala (CORLN= cerificate in otorhinolaringologyhead and neck nursing). Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi.com/2010/01/perforasi-gendang-telinga. 2)Perforasi marginal. PENCEGAHAN Berhati-hatilah ketika sedang membersihkan telinga dengan menggunakan cotton bud. trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor . Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. Perforasi membran timpani permanen adalah suatu lubang pada membran timpani yang tidak dapat menutup secara spontan dalam waktu 3 bulan setelah perforasi. Obatilah infeksi telinga secara tuntas. http://sehat-enak. yaitu : 1)Perforasi sentral (sub total). trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping. Jika telinga kemasukan sesuatu. Perawat yang terlibat dalam spesialisasi otolaringologi. Gendang telinga/membran timpani/tympanic membrane/eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. mintalah bantuan dokter umum/dokter ahli untuk mengeluarkannya. Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu.html Pendahuluan Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). internis. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah. ahli patologi wicara dan pendidik.

Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. nyeri telinga (otalgia). yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis). Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2. Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Normalnya. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus. dan ligamen. superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan . dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis.dsb. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. tuba eustachii tertutup. kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago. Untuk memahami hal ini lebih lanjut. Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun. cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe.5 sentimeter. atau struktur berbentuk cincin. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah. Anatomi Telinga Dalam Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). otot. Anatomi dan Fisiologi Telinga Anatomi Telinga Luar Telinga luar. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. penting rasanya untuk memahami anatomi dan fisiologi telinga terlebih dahulu secara umum. Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen. glandula seruminosa. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm. menghubngkan telingah ke nasofaring. inkus stapes. Bila ini terjadi. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. yang membantu hantaran suara. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Anatomi Telinga Tengah Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. Ketiga kanalis semisi posterior. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus. di mana suara dihantar telinga tengah.

Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe. umbo. lapisan fibrosa di bagian tengah dimana tangkai maleus dilekatkan. terdiri dari 3 lapis. bergabung dengan nervus vestibularis. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus. dan sakulus. dan bagian dalam yang mengarah ke telinga tengah. bagian luar lanjutan kulit liang telinga. Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam. yang muncul dari kanalis semisirkularis. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Ia berfungsi untuk menghantar getaran suara dari udara menuju tulang pendengaran di dalam telinga tengah. Gendang telinga atau membrana tympani adalah selaput atau membran tipis yang memisahkan telinga luar dan telinga dalam. Pars flaksida. namun dapat juga karean trauma. duktus koklearis. menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). yang muncul dari koklea. sebagain besar gendang telinga merupakan pars tensa. . dan bahwa ada bagian hipotimpanum yang meluas melampaui batas bawah membrana timpani. banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. 1. Kerusakan gendang telinga berupa bolong/pecah (perforasi) terutama disebabkan infeksi telinga tengah (Otitis Media). nervus koklearis (akus-dk). Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang selsel rambut utrikulus. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang. dinamakan organ Corti. Di dalam kanalis auditorius internus. Lapisan fibrosa tidak terdapat di bagian atas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timpani yang disebut membrana Shrapnell menjadi lemas (flaksid). Kerusakan pada gendang telinga dapat menyebabkan tuli yang konduktif. bagian atas gendang telinga (daerah atiq). Akibatnya terja¬di aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak. Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar. dan kanalis semisirkularis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus. Membrana timpani umumnya bulat. utrikulus. Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3.mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. meluas melampaui batas atas membran timpani. 2. merupakan lanjutan mukosa telinga tengah. Tuli konduktif adalah hilangnya pendengaran karena tidak dapat tersampaikannya getaran suara. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. di tengah jaringan ikat. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. Pars tensa. namun tidak sem-purna mengisinya. Di dalam lulang labirin. Labirin membranosa memegang cairan yang dina¬makan endolimfe. Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Gendang telinga secara anatomi dibagi 2 yaitu pars tensa (tegang) dan pars flaksida. akulus. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. Gendang telinga / membran timpani /tympanic membrane / eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya. dan organan Corti.5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran. dan lapisan mukosa dibagian dalam. Jenis tuli lainnya yaitu tuli sensorik yang disebabkan rusaknya sistem saraf pendengaran. mengarah ke medial. hanya terdiri dari dua lapis tanpa jaringa ikat di bagian tengah.

gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. Tetapi biasanya dalam derajat keseriusan yang rendah.6 per 100. Cedera akibat ledakan lebih berat ketika refleksi sedikit atau kerusakan dari gelombang energi ledakan pada rute TM. mencegah bahaya infeksi berulang pada telinga tengah) Epidemiologi Membran timpani lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan telinga tengah atau telinga dalam. Insidensi pertahun dari perforasi traumatik bervariasi antara 1. suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita. Peraturan pemerintah yang baru dalam penggunaan keamanan dan tempat duduk anak-anak untuk MVAs dan proteksi kepala untuk kendaraan sangat menguntungkan sebagai bentuk dari pencegahan sekunder. dan untuk itu dapat menjadi berbagai bentuk dan ukuran. Hal ini dikarenakan meningkatnya kekerasan domestik. Bila gejala dan sumber penyebabnya telah tertangani dan dalam penilaian selama 1 bulan gendang telinga ini tidak menutup spontan. Umumnya dokter THT akan menangani keadaan akut ini dahulu dengan meredakan gejala dan sumber penyebabnya sambil dievaluasi kondisi membran/gendang telinganya. Cedera Tembus: Penyebab sering kedua dari perforasi TM termasuk Q-tips. nyeri telinga (otalgia). trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor dsb.trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping.4-8. Perubahan pada tekanan air selama penyelaman dapat menimbulkan cedera tipe tekanan. Peningkatan mortalitas lebih sering terlihat dalam kelompok ini dikarenakan tingginya keterkaitan dengan trauma intrakranial. bobby pins. Mereka dijelaskan dalam kaitannya dengan empat kuadran TM yang dibedakan dari tangan malleus. Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun. wanita yang secara meningkat menjadi korban dari tamparan tangan terbuka dengan perforasi TM setelahnya. Laki-laki dewasa muda lebih sering mengalami cedera perforasi. Cedera Kompressi: Perubahan mendadak dalam tekanan udara sebagaimana dengan perubahan gradual (barotrauma) dapat menimbulkan kerusakan TM yang signifikan. 2. Ketergantungan pada transportasi kendaraan bermotor telah menambah peningkatan resiko akan terjadinya cedera kepala. Hal ini timbul pada semua kelopok umur dengan predisposisi pada anak yang lebih sering dibandingkan dengan kebiasaan memasukkan benda asing ke dalam kanalis aurikula eksternal. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. biasanya akan disarankan penutupan gendang telinga ini melalui prosedur pembedahan/operasi (tentu setelah dievaluasi manfaat penutupan membran ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi pendengaran. Klasifikasi lebih jauh dari perforasi marginal versus sentral adalah penting untuk management selanjutnya. 3. Luka tembak berada dalam sumber yang meningkat dari trauma tulang temporal. dan klip kertas yang seringkali digunakan untuk membersihkan saluran telinga luar . atau 4 mm perforasi).0000. Telah dijumlahkan sekitar 30-75% dari cedera kepala tumpul dikaitkan dengan lesi tulang temporal. Ukuran secara normal dijelaskan sebagai persentase perforasi (40% perforasi) atau secara langsung untuk perforasi yang kecil (contoh. Etiology Perforasi TM timbul oleh mekanisme yang bervariasi dan sumber energi. kunci. Kecelakaan ski air seringkali terlihat selama musim panas. Ketergantungan terhadap trasportasi telah secara besar meningkatkan resiko dari cedera kepala.

dan keberadaan atau ketiadaan epithelialization harus dievaluasi. 3) pemeriksaan otoscopic harus dilengkapi dengan audiometry nada murni untuk memiliki pemahaman yang lebih baik dari ossicular rantai (kemungkinan erosi yang incus. dgn menyedihkan. anggota keluarga yang Kasar mungkin terlibat. akustik biasanya menyebabkan kerusakan pada labirin juga. hal ini dirasakan untuk menjadi kurang setuju jika hanya mendapatkan terapi observasi Cedera listrik: Konduksi elektrik yang instan dari sengatan listrik diduga dapat menyebabkan kerusakan pada TM baik berupa penekanan atau perubahan tekanan rarefaksi. merupakan kunci untuk diagnosa. Jarang. korban akan mencoba untuk menyembunyikan setiap detail kejadian saat datang ke kantor.Cedera Suhu: Pada komunitas industri. Perforasi Marginal dianggap “tidak aman” karena kulit yang berhubungan dgn kanal eksternal. Sering kali. Dikarenakan kerusakan jaringan dan dikaitkan dengan resiko infeksi. keadaan mucosa. Perforasi Pars flaccida umumnya terkait dengan epitympanic cholesteatoma. tiga hal berikut harus menjadi pertimbangan dipenuhi: 1) Pada tingkat yang perforasi situs. yang pneumatic otoscope. ( sangat berbakat TM atau lem tglue ear juga dapat menampilkan imobilitas). Kecelakaan menyelam dan ski air mungkin juga dapat meledakkan drum. Perforasi Marginal terletak di pinggiran dari membran timpani dengan ketidakhadiran dari annulus fibrosus. tidak ada perforasi. particle panas dapat menembus TM. cedera penetrasi.” Dengan adanya perforasi membrane timpani. adalah cara pertama yang langsung. ketetapan dari rantai). Akhirnya. Skenario seringkali melibatkan orang yang membersihkan telinga dengan alat. Perforasi trauma berbeda dalam ukuran dan lokasi. Sebaliknya. Dalam hal ini. Cedera ini juga kurang untuk bisa sembuh dengan sempurna. orang kedua kurang hati-hati menyikutkan sikunya ke telinga hingga menyebabkan cedera. yang akan dijelaskan pada bab akhir nanti. Perforasi Pars tensa dapat berupa sentral atau marjinal. pasien akan terganggu berulang karena infeksi telinga dan keluar air dari telinganya. dan sisanya dari keadaan di sekitar membran timpani perforasi harus ditentukan. In industrial communities such as ours. Mereka mungkin kecil dan tersembunyi di balik exudates atau sumbatan darah atau juga akan dikaburkan dengan tulang punuk dari kanal anterior dinding. kondisi yang ossicular rantai (jika mungkin). Perforasi Membran Timpani biasanya hadir pada pars tensa. karena . penyembuhan yang spontan sangat jarang dan infeksi berulang dan drainase dapat terjadi. Kapanpun membran timpani yang didiagnosis perforasi. Jenis perforasi ini biasanya di anterior dan inferior. mengkauterisasi ujung-ujungnya seperti berjalan melalui ke dalam telinga. komunikasi patologi ini terletak di tengah dan telinga luar dan dapat dianggap sebagai “hiliran udara yang benar. dengan udara yang cukup di kanal. hot welding slag is occasionally encountered as the culprit for TM injuries. TM yg tak bergerak akan terlihat dengan perforasi. sebuah ledakan kuat di dekat telinga juga dapat meledak pada drum. dan kadang-kadang. ukuran. Jika pemeriksa dapat melihat bagian dari drum. lapisan epithelial dan mucosal merayap dan bertemu di sepanjang batas-batas yang perforasi. Beberapa mungkin akan sulit untuk dilihat pada pemeriksaan. jika drum adalah mobile. Traumatic Perforasi TM yang dapat terluka dalam berbagai cara. Penyebab lain adalah ledakan membran karena tamparan atau kepalan tangan ke telinga. 2) Pada tingkat tengah telinga. Jika perforasi membrane timpani tidak sembuh secara spontan.

Hal Ini adalah salah satu yang dihasilkan dari otitis media akut. Dalam kasus ini. Kehilangan pendengaran konduktif yang disebabkan oleh perforasi membran timpani mempunyai dua penyebab utama: 1) Pengurangan permukaan daerah membran timpani dimana tekanan akustik melebihi tindakannya. Namun. Pada saat myringoplasty. agresif. Pada persambungan ini squamous epithelium memiliki “seperti beludru” penampilannya. Lihat untuk kehilangan pendengaran dengan inordinate yang besar (> 35 dB HL) atau keberadaan vertigo sebagai petunjuk. tetapi juga sangat mengurangi risiko yang dapat mengakibatkan iatrogenic cholesteatoma. obat tetes telinga antibiotik Topical mungkin ditunjukkan jika drainase dan infeksi ada. yang paling shortlive. sehingga menimbulkan cholesteatoma. 2) Pengurangan dari gerakan vibrasi cairan cochlear karena suara mencapai kedua jendela hampir di waktu yang sama tanpa pemendekan dan tahap perubahan -efek dari membran timpani yang utuh Tempat perforasi tidak dapat dikaitkan dengan pola audiomerik tertentu. basah. kehilangan pendengaran lebih sering terjadi lagi di perforasi posterior dibandingkan di anterior . Sebuah pengceualian timbul dengan langka. Namun. Ketika bagian besar dari membran timpani yang hilang atau bila infeksi kronis atau berulang terjadi. TM jadi merah. Adanya cincin merah de-epithelialized sepanjang perforasi rim menunjukkan evagination dari mucosa ke arah luar permukaan membran timpani residu.ketiadaan dari annulus. untungnya . secara umum diamati bahwa kehilangan pendengaran terjadi di frekuensi yang lebih rendah dan perforasi untuk ukuran yang sama. demam berdarah masih menjadi penyebabnya. Hindari diri dari air dan observasi awal adalah satu-satunya perawatan yang diperlukan. Tes Weber dan tes Rinne bermanfaat di sini. Disini. Hal Ini akan memerlukan pembedahan jika mereka tidak menunjukkan tanda-tanda penutupan setelah pengamatan selama beberapa bulan. Nekrosis dari TM sentral secara typikal besar meninggalkan bentuk ladam-lubang yang besar di drum . Hampir semua ini dapat sembuh dalam beberapa hari. necrotizing otitis media akut. dan pembukaan kecil tersebut tidak selalu terlihat. Dalam kasus ini. perforasi tidak hanya meninggalkan kulit yang terperangkap pada permukaan drum. perforasi dapat menjadi permanen. sebagian besar perforasi tetap dibuat. mungkin terjadi. Di negara-negara lain. Hal Ini biasanya disebabkan oleh streptococcus beta dalam kaitannya dengan keparahan seperti infeksi virus campak. Pemeriksaan Otoscopic sering dapat menentukan persambungan antara kulit dan mucosa pada batas-batas perforasi membran timpani. membran timpani harus diperbaiki (myringoplasty) untuk mengembalikan fisiologi normal telinga. kerusakan telinga tulang kecil bagian tengah. dengan oval atau jendela sepanjang perpecahan. Mayoritas posttraumatic dan postotitic perforasi sembuh spontan. dapat dengan mudah maju ke arah telinga. Kebanyakan trauma perforasi (mungkin 90%) dapat sembuh spontan. invagination dari kulit terhadap sisa permukaan membran timpani lebih sulit untuk didiagnosa. Pada semua perforasi trauma. Trauma perforasi yang sangat besar sedikit sekali untuk sembuh. Migrasi kulit ini disukai dengan atrophi mucosa yang terjadi sebagai akibat dari perforasi. dengan asumsi yang diberikan antibiotic. Perforasi dari Infeksi Akut Trauma yang paling sering terjadi adalah perforasi.

Chronic Perforasi Perforasi yang Lama dapat dilihat pada pasien yang mengalami masaalah tuba Eustachio bercampur dengan masalah infeksi bertahun-tahun. Akhirnya. . Topical antibiotik / steroid obat tetes telinga dapat membersihkan drainase. Pada era pra-antibiotik hal ini merupakan salah satu penyebab kronis perforasi. dan tanpa batas usia. bedah rekonstruksi TM (dan eroded ossicles. Kami lebih mengutamakan teknik dasar dalam mayoritas kasus. sekitar TM seringkali menebal dan berparut. akan sembuh. dan Enterobacter. otitis media tuberculosis menyebutkan hal ini. Dengan munculnya AIDS di dekade belakangan ini. Staphylococcus. antibiotics awal membantu necrotisasi. Keberadaan sebuah lubang membran timpani yang tidak sembuh secara spontan kronis seperti otitis media merupakan cacat anatomis dan fungsional yang memerlukan koreksi bedah dalam mayoritas kasus. otorrhea dari infeksi telinga tengah dapat menyebabkan otitis eksternal. yaitu Pseudomonas. Hal Ini sangat jarang yang biasanya dimulai dengan tidak adanya rasa sakit dari penipisan TM diikuti oleh beberapa perforasi. sebagai pengecualian terhadap pernyataan kami bahwa kebanyakan masalah telinga hanya melibatkan satu “komponen”. terutama jika infeksi akan dibersihkan dengan antibiotic oral. Kehilangan pendengaran ini besar secara inordinate dikarenakan keterlibatan telinga dalam dengan basil. Otorrhea Persisten atau berulang melalui perforasi dikenal sebagai otitis media kronis suppurative. Jangan lupa untuk mengevaluasi pendengaran. dan kultur yang positif untuk pewarnaan organisme asam akan mengkonfirmasikan diagnosis. jika bukan jenis streptococcal necrotizing. dapat dipastikan dari riwayat pasien. Myringoplasty ditunjukkan dalam kasus dengan dan tanpa otorrhea. karena memberikan hasil yang lebih baik secara anatomis dan fungsional. dan mastoidectomy dapat menyertai prosedur ini. Summary Sesuai menurut perforasi secara umum. Hal ini dikontraindikasikan ketika perforasi membran timpani hadir hanya dalam liang telinga. Pada kenyataannya. Myringoplasty secara umum dilakukan dengan menggunakan insisi postauricular di bawah anestesi lokal-kecuali untuk anak-anak di mana anestesi umum digunakan. dengan kecil atau besar udara-tulang. jika diperlukan). Sering ada mastoiditis kronis di rongga berdekatan. beberapa perforasi menunjukkan tuberkulosis. pengobatan dan penentuan prognosis. Individu yang terkena mempunyai kehilangan pendengaran konduktif dan mungkin timbul dengan drainase berulang melalui perforasi. Secara insidentil. exudates biasanya mempunya organism yang sama seperti yang terlihat pada otitis eksterna. terutama di hadapan AIDS. Proteus. Tympanoplasty. Kehilangan pendengaran sebesar (> 35 dB HL) dapat menunjukkan kerusakan trauma ossicular. penyebab. dapat dilakukan jika dan ketika tidak ada infeksi. Ventilasi tuba mungkin telah dimasukkan berulang kali.disekeliling manubrium. Temuan ini harus curiga dan waspada. ini juga perlu perhatian pembedahan. dengan jelas keluarnya. Episode dari drainase ini (otorrhea) sering dilakukan oleh air di dalam telinga atau infeksi pernafasan atas. Yang otitis media akut. Membran timpani diperbaiki dengan graft autologous temporalis.

maka teknik Overlay memberikan hasil yang optimal dalam kasus ini. Sixteenth edition.wordpress. In: Lim DJ. Mei. 1. Sep 1998. Balai Penerbit FK-UI. Jakarta. Healy G. IL-6. Amsterdam. 9.. 77. and TNF-α in the Middle Ear Fluid of the Guinea Pig Otitis Media Model Induced by Nonviable Haemophilus Influenzae.. 114. Borglum J. Jika reperforation terjadi setelah myringoplasty (sekitar 5% dari kasus).com/2010/07/06/perforasi-membran-timpani/ ASKEP PERFORASI MEMBRAN TIMPANI 07. Otitis Media and Middle Ear Effusions. The Annals of Otology. 116– 8. 50-4. 2005. 1999. 1997.G. Butterworth-Heinemann. p. Biochemistry. Ryan A. 10. Ontario.. http://satriaperwira. Kawana M. 55 – 7. Murakami Y. 108.8. IL.K. ed. Switzerland. 559-63. Bagian THT Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Surgical anatomy and pathology for reconstructive middle ear surgery. Kelompok studi otologi PERHATI–KL. Jakarta. 770-6. 2002. In: Suzuki JI et al. Geneva.. 5. Nose and Throat Journal. Hamilton. Ovesen T. 6. 4. Jun 1999.. Rosbe K. BC. World Health Organization.B. Hasil operasi pertama dan kedua dari segi graft yang diambil dan reperforasi biasanya secara umum sebanding. 8. Andalibi A.teknik Overlay yang digunakan di beberapa kasus bila sisa anterior dari membran timpani adalah pathologic atau tidak ada. 2.. Jan 2005. Eustachian Tube Function and Middle Ear Gas. The Annals of Otology. 249-50. 6. In: Scott-Brown’s Otolaryngology. Ketika dilakukan dengan benar. Chronic suppurative otitis media: Burden of Illness and Management Options. Otitis Media Supuratif Kronis. Juhn S. Decker. Sato K. 3. In: Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Panduan Penatalaksanaan Baku Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) di Indonesia. 6th edition. Rhinology & Laryngology. Reconstructive Surgery of the Middle Ear. Course of IL-1ß. DAFTAR PUSTAKA 1. 3. New Aspects of Secretory Otitis Media.. Vol. Ear. Elsevier. Adenan A. Browning G. 7. et al. revisi operasi yang diindikasikan setelah beberapa bulan. Kumpulan Kuliah Telinga.F. Aetiopathology of Inflammatory Conditions of the External and Middle Ear..D. 9. Recent Advances in Otitis Media Report of The Eighth Research Conference. 2004. 3/3/15. Nonomura N. Nakano Y. Dalam: Helmi. Helmi. Rhinology and Laryngology. Otitis Media Supuratif Kronis.13 Alamsyah Aris .W. Canalplasty dilakukan kapanpun tulang punuk dari saluran luar hadir yang membatasi kontrol dari batas perforasi.

jadi. otot. inkus dan stapes. atau hantaman keras pada telinga. cedera terhadap osikulus dan bahkan telinga dalam dapat terjadi akibat tindakan ini. Telinga tengah merupakan rongga berisi udara yang merupakan rumah bagi osikuli ( tulang telinga tengah ) dan dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring. Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis auditorius esternus dan menandai batas lateral telinga tengah. Juga berhubungan dengan beberapa sel berisi udara dibagian mastoid tulang temporal. Ada dua jendela kecil( jendela oval) . Selain perforasi membrana timpani. membantu hantaran suara.usaha pasien untuk membersihkan kanalis auditorius esternus sebaiknya dilarang. Telingah tengah mengandung tiga tulang terkecil ( osikuli ) ditubuh : maleus. Anatomi Fisiologi Telinga tengah tersusun atas membrana timpani ( gendang telinga ) disebelah lateral dan kapsul otik disebelah medial. cedera ledakan. normalnya berwarna kelabu mutiara dan translusen. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh persediaan. yang diameternya sekitar 1 cm dan sangat tipis.Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook A. B. Sumber trauma meliputi fraktur tulang tengkorak. celah telinga tengah terletak diantaranya. kunci ) yang didorong terlalu dalam kedalam kanalis auditorius eksternus. Selama infeksi. disebabkan oleh benda asing ( mis lidi kapas. membrana timpani dapat mengalami ruptur bila tekanan dalam telinga tengah lebih besar dari tekanan atmosfer dalam kanalis auditorius eksternus. Pengertian Perforasi membrana timpani biasanya disebabkan oleh trauma atau infeksi. Perforasi lebih jarang. dan likamin. peniti. Membran ini.

Normalnya. Bila ini terjadi. Infeksi terjadi pada selaput rongga telinga. Jendela bulat memberikan jalan keluar getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana yang sangat tipis. Otitis media urolenta terjadi karena infeksi bakteri bisa akut atau kronis. Bagian dataran kaki stapes menjejak pada jendela oval. Tuba bertindak sebagai saluran drainase untuk sekresi abnormal telinga tengah dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. timbul tuli. atau radang tulang telinga. Mastoiditis akut jarang terjadi karena pengobatan otitis media akut dengan antibiotik. yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. eustacii selalu tertutup. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manufer falsalfa atau dengan menguap atau menelan. purulen. Infeksi telinga tengah. kondisi ini dinamakan fistura ferilinfe. Baik anulus jendela bulat maupun jendela oval sangat mudah mengalami robekkan. Infeksi labrinth (telinga interna) merupakan perluasan telinga media. Infeksi dari telinga dari telinga luar. dimana suara dihantarkan ketelinga tengah. menimbulkan mastoiditis kronis menyebabkan nekrose kepada gendang telinga. menghebat sakitnya karena tidak ada ruang untuk menggelembung dalam saluran yang bertulang. membengkak dan getah radang dapat mengisi saluran. Patofisiologi Kuman masuk kebagian eksterna melalui lobang telinga atau melalui tuba eustaci kemudian menimbulkan infeksi. Persaman dengan mastoititis kronik dapat tumbuh cholestheatoma (tumor jinak) yang merupakan kantong berisi kotoran yang infeksi. Rasa sakit terjadi karena tekanan pada kulit yang sangat sensitif. otitis media merupakan gangguan yang paling sering terjadi. menghubungkan telinga tengah kenasofaring.didinding media telinga tengah. Sejenis dermatitis seborrhcic dapat disebabkan karena pemakaian earkone yang lama. dan dataran kaki stapes ditahan oleh anulusyang sangat tipis. gram negatif organisme atau fungus). dan dataran kaki stapes ditahan olehanulus yamg agak tipis. Kegiatan berenang terutama pada air yang terkontaminasi sangat mungkin bisa menimbulkan infeksi telinga luar. Infeksi bisa serous. Tumor ini bisa timbul kembali bila diangkat. C. akut dan kronik. . Tuba eustachii. yang lebarnya sekitar satu mellimeter dan panjangnya sekitar tiga lima melimeter. otitis media yang serous dapat terjadi karena terkumpulnya serum yang steril didalam telinga tengah bila tuba eustacii tersumbat oleh infeksi yang terdahulu atau alergi. pengaruh yang paling utama ialah mengenai keseimbangan. Furunkel dapat juga tumbuh pada saluran. cairan dari telingah dalam dapat mengalami kebocoran ketelinga tengah. otitis eksterna seringkali oleh bakteri (stavilokokus. atau struktur berbentuk cincin. Yang kronis bisa menjalar mastoid.

dan tinitus. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Manifestasi Klinik Gejala otitis media dapat berfariasi beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa. Hasil audiometri pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran. Keputusan melakukan timpanoplasti ( perbaikan membrana timpani ) biasanya didasarkan pada perlunya mencegah potensial infeksi dari air yang memasuki telinga atau keinginan memperbaiki pendengaran pasien. meskipun ada beberapa yang baru sembuh setelah berbulan-bulan. kehilangan pendengaran. Gejala dapat minimal. Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran. yang terjadi ketika tuba eustacii berusaha membuka. Membrana timpani tampak merah dan sering menggelembung. biasanya tidak menyebabkan nyeri. Selama proses penyembuhan telinga harus dilindungi dari air. Pada pemeriksaan otoskopis. dan dapat terlehit gelembung udarta dalam telinga tengah. E. Gejala lain dapat berupa keluarnya cairan dari telinga. sendiri. Pasien harus dilindungi dari air ketika terjadi perforasi membrana timpani. demam. Perforasi yang tak dapat sembuh dengan sendirinya memerlukan pembedahan. pasien harus diobservasi bila ada cairan serebrospinal otorea atau rinorea-cairan jernih cair dari telinga atau hidung. dimana daerah post-aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. Bila terjadi cedera kepala atau patah tulang temporal. Terdapazt berbagai pembedahan semua pada dasarnya dengan meletakkan . dengan berbagai derajat kehilangan pendengasran dan terdapat otorea interniten atau persisten yang berbau busuk biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut. dan bahkan suara letup atau berdering. Membrana timpani tampak kusam pada ostokopi. Diagnosis Penunjang Kebanyakkan perforasi membrana timpani dapat sembuh spontan dalam beberapa minggu setelah ruptur.D. Ada perforasi yang menetap karena terjadi pertumbuhan jaringan parut pada tepi perforasi. Kolesteatoma. sehingga menghambat penyebaran sel epitel melintasi batas dan akhir penyembuhan. Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif. dan tak terjadi nyeri bila aurikula digerakkan. karena auditorius asternus sering tampak normal. Spontan membrana timpani atau setelah miringotomi (insisi membrana timpani). dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih dibelakang membran timpani atau keluar kekanalis eksternus luang perforasi. Evaluasi otoskopik membran timpani memperlihatkan adanya porforasi. rasa penuh dalam telinga atau perasaan bendungan. dan mungkin terdapat otalgia.

dalam telinga tengah. seperti meninitis atau abses otak. dengan pengeluaran cairan purulen menetap dari telinga. Klasifikasi 1. cairan ini sebagai akibat tekanan negatif dalam telinga tengah disebabkan obstruksi tuba eustacii. otitis media dapat hilang tanpa gejala sisa yang serius. 2. biasanya perlu diresepkan preparat otik antibiotika. Kondisi bisa berkembang menjadi subakut ( mis berlangsung tiga minggu sampai tiga bulan ). atau reaksi alergi (mis rinitis alergika). F. Penanganan meliputi pembersihan hati-hati telinga mengunakan mikroskop dan alat pengisap. tanpa adanya infeksi aktif. Kortikosteroid. Secara teori. Cara masuk bakteri pada kebanyakkan pasien kemungkinan melalui tuba eustacii akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring. hemophylus influensae. Bila terjadi pengeluaran cairan. Dengan terapi antibiotika spektrum luas yang tepat dan awal. dosis rendah. Kondisi ini ditemukan terutama pada anak-anak. Otitis media akut adalah infeksi akut telinga tengah. Pembedahan biasanya berhasil menutup porforasi secara permanen dan memperbaiki pendengaran. Antibiotik sistemik biasanya tidak diresepkan kecuali pada kasus infeksi akut. Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustacii seperti obtruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan atas. dan maroksella catarhaelis.pada lubang porforasi untuk memungkinkan penyembuhan. Pemberian tetes antibiotika atau pemberian bubuk antibiotik sering membantu bila ada cairan purulen. Bakteri yang umum ditemuakn sebagai organisme penyebab adalah streptokokus pneumoniae. perlu dicatat . Otitis media serosa tidak perlu ditangani secara medis kecuali terjadi infeksi (otitis media akut). Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada porforasi membran timpani. virulensi bakteri dan status fisik pasien. biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan. hipertropi adenoit). Jarang sekali terjadi kehilangan pendengaran permanen. Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung efektifitas terapi (mis dosis antibiotik oral yang diresepkan dan durasi terapi). Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan pendengaran konduktif. Otitis media serosa (efusi telinga tengah) mengeluarkan cairan. Bila kehilangan pendengaran yang berhubungan dengan efusi telinga tengah menimbulkan masalah bagi pasien maka bisa dilakukan miringotomi dan dipasang tabung untuk menjaga telinga tengah tetap terventilasi. dapat terjadi meskipun jarang. inflamasi jaringan disekitarnya (mis sinusitis. Komplikasi sekunder mengenai mastoit dan komplikasi intrakranier serius. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik kedalam telinga yang normalnya steril. kadang dapat mengurangi edema tuba eustacii pada kasus barotrauma.

Karnisoma yang menyumbat tuba eustacii harus disingkirkan pada orang dewasa yang menderita otitis media serosa unilateral menetap. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membrana timpani. analgetik dan antiinflamasi. kecuali pada bayi harus segera dilakukan parasintesis bila terdapat bulging lakukan parasintesisuntuk melancarkan reinase. Bila tidak ditangani olesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralisis nerfuspasealis. Barotrauma terjadi bila terjadi perubahan tekanan mendadak dalam telinga tengah akibat perubahan tekanan barometrik. dan cairan terperangkap didalam telinga tengah. Sering berhubungan dengan perforasi menetap membrana timpani. Otitis media kronik adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan ireversibel dan biasanya disebabkan karena episode berulang otitis media akut. Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang tidak ditangani. Penatalaksanaan 1. yang merupakan pertumbuhan kulit kedalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ketelinga tengah. Untuk stadium tiga sampai stadium lima diberi antibiotik dosis tinggi. Kulit dari membran timpani literal membentuk kantong luar. kehilangan pendengaran sensorik neural dan atau gangguan keseimmbangan (akibat erosi telinga dalam).  Secara lokal: pada stadium hiperemi diberikan antibiotik tetes. Efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah menjalani radioterapi dan barotrauma (mis penyelam) dan pada pasien dengan disfungsi tuba eustacii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi. dan beberapa ahli infeksi kronik ini dapat mengakibatkan pembentukkan koleosteatoma. Sekarang. Kantong dapat melekat pada struktur telinga tengah dan mastoid. Sebelum penemuan antibiotika. 3.bahwa. dan dinasofaring dan sekaligus mengobatinya. G. yaitu dengan membuat insisi kecil pada kuadran bawah. dan abses otak. penggunaan antibiotika yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koaleses akut menjadi jarang. yang berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. penyebab lain yang mengdasari terjadinya disfungsi tuba eustancii harus dicari. infeksi mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa. bila terjadi pada orang dewasa. seperti pada penyelam atau saat pesawat udara turun. Mastoiditis kronik lebih sering. . Medis  Mencari vokal infeksi dihidung.  Secara sistemik diberikan antibiotik. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkankerusakkan membrana timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid.

Pengobatan lokal diberikan antibiotik tetes telinga. Pengkajian Observasi adanya bukti-bukti OMA :  Setelah ISPA  Otalgia (sakit telinga)  Otorea purulen dapat terjadi  Demam  Keluaran pululen dapat ada. misalnya hal jarum BWG no 16 dan 18 yang ujungnya diberi karet kateter nelatom yang kecil atau karet pentil. Semua tindakan pembersihan tersebut sebaiknya diberikan sambil dilihat dan hati-hati untuk menghindarkan trauma yang tidak diinginkan. b. Pemberian antibiotik tetes telinga hampir tidak gunanya apabila masih ada otore yang produktif. 2. Konsevatif a. Ada beberapa membersihkan sekret tersebut :  Dengan menggunakan kapas lidi. dapat juga tidak . karena adanya gas yang ditimbulkan. Antibiotik yang adekuat oral atau parenteral. Karena itu memberikan antibiotik lokal dianjurkan setelah dilakukan tekhnik lokal. Asuhan Keperawatan a. c.  Displaseme metode dapat dengan menggunakan larutan hidrogen peroksid (H2O2) 3%. plastik. Harus diterangkan dulu cara pemakain H2O2 3 % kedalam telinga yang sakit kemudian dibersihkan dengan kapas lidi baru setelah itu masukkan antibiotik tetes telinga dengan cara kepala dimiringkan dan ragus titekan supaya obat tetes masuk kedalam. Ini diberikan apabila ada eksaserbasi akut yang didahului oleh infeksi hidung atau farings.  Bila mungkin sekret dihisap secara hati-hati dengan menggunakan jarum kecil. Dapat dianjurkan pada penderita atau orang tua penderita yang mempunyai intelegensia yang cukup. Tindakan ini dianjurkan sesering seringnya bila ada otore. Pembersihan sekret diliang telinga (toilet lokal drainage) merupakan yang penting untuk pengobatan otitis kronik.

tinitus. pada OME dapat ditemukan lubang kecil. peka rangsang Kecenderungan menggaruk. vertigo mungkin ada b. Diagnosa Keperawatan 1) Nyeri berhubungan dengan tekanan yang disebabkan oleh proses inflamasi Sasaran pasien 1 : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri/ketidaknyamanan sampai tingkat yang dapat diterima Intervensi keperawatan/ rasional a) Beri analgesik/antipiretik untuk mengurangi nyeri dan demam. gelisah. garis samar-samar. membran abu-abu dangkal. Menangis  Rewel. dan tingkat cairan yang dapat dilihat atau meniskus dibelakang gendang telinga bila terdapat udara diatas cairan. Observasi adanya bukti-bukti otitis media kronis :  Kehilangan pendengaran  Kesulitan berkomunikasi  Perasaan penuh. b) Posisikan untuk kenyamanan sesuai kebutuhan individu c) Pilih tindakan kenyamanan lokal berdasarkan tingkat kerjasama dan mengurangi nyeri yang maksimum ketentuan-ketentuan untuk . atau menarik telinga yang sakit Menggeleng-gelengkan kepala dari samping kesamping Kehilangan nafsu makan Letargi Pemeriksaan otoskopik pada OMA menunjukkan membran utuh yang tampak merah terang dan menonjol. memegang. tanpa garis tulang yang dapat dilihat atau refleks sinar.

khususnya mengenai pemberian antibiotik b) Pertahankan keteraturan pemberian c) Selesaikan program terapi d) Jelaskan bahwa meskipun gejala biasanya kurang dalam 24-48 jam.d) Beri kompres panas eksternal (dengan bantalanpanas pada suhu panas yang rendah. e) Beri kantong es diatas telinga yang sakit untuk mengurangi edema atau tekanan f) Hindari mengunah dengan memberikan cairan atau makanan lunak g) Posisikan dengan telinga yang sakit berada pada posisi dependen Hasil yang diharapkan Tidur dan istirahat dengan tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kenyamanan 2) Risiko tinggi infeksi/cedera berhubungan dengan ketidakadekuatan tindakan/adanya organisme infeksius Intervensi keperawatan/rasional a) Tekankan pentingnya mengikuti instruksi. seluruhnya sampai semua antibiotik yang ditentukn dihabiskan e) Tekankan pentingnya perawatan tindak lanjut f) Gunakan praktik pencegahan g) Dudukkan dengan tegak untuk pemberian makan h) Anjurkan untuk meniup hidung denganperlahan selama infeksi pernapasan atas bukan meniup infeksi tidak akan hilang hidung dengan keras karena resiko pemindahan dari tuba eustachius ketelingah tengah i) Gunakan perminan meniup atau mengunyah permen karet untuk meningkatkan aerasi telinga tengah selama dilakukan UPI j) Hilangkan asap tembakau dan alergen yang diketahui atau yang potensial dari lingkungan Hasil yang diharapkan . bungkus dengan handuk) diatas telinga dengan berbaring pada sisi yang sakit untuk meningkatkan rasa nyaman.

jaringan parut gendeng telnga  Mastoiditis ( inflamasi sistem sel udara mastoideus )  Kolesteatoma ( lesi seperti kista yang dapat masuk dan merusak struktur auditorius sekitarnya )  Infeksi intrakranial. b) Jika drainase-nya banyak. selang plastik berbentuk kumparan ) jatuh keluar dari kanal telinga. c) Jika sumbu atau gulungan kasa kecil telah dimasukkan kedalam telinga setelah pembedahan :  Jaga agar kasa atau sumbu tersebut cukup longgar untuk memungkinkan keluarnya drainase dari telinga karena infeksi dapat berpindah keprosesus mastoideus  Jaga agar sumbu tersebut tidak basa ketika mandi atau berkeramas. putih. seperti meningitis . f) Jelaskan bahwa hal ini normal dan tidak memberikan intervensi yang segera. jika sedang memakai selang kontaminasi ketelinga tengah ketika berenang atau mandi. d) Jelaskan penggunaan penyumbat telinga jika dianjurkan oleh dokter. Pasien etap bebas dari infeksi  Keluarga mematuhi petunjuk Sasaran pasien 2 : pasien tidak mengalami komplikasi penyakit atau modalitas tindakan Intervensi keperawatan/rasional Melihat sasaran sebelumnya a) Bersihkan kanalis eksternal dari drainase dengan usapan kapas steril atau lidi kapas yang dimasukkan kedalam larutan salin normal atau hidrogen peroksida. g) Jelaskan pada keluarga tentang komplikasi OM yang potensial yang dapat terjadi karena pengobatan yang tidak adekuat :  Kehilangan pendengaran konduktif  Perforasi. e) Memberi tahu praktisi bila grommet ( biasanya kecil. bersihkan eksudat dari telinga dan kulit sekitarnya serta berikan barier pelembab seperti jeli petrolium untuk mencegah ekskoriasi.

b) Beri tahu keluarga tentang kemungkinan perubahan perilaku pada saat kehilangan pendengaran. atau permen karet. termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap bunyi di lingkungan. e) Dorong evaluasi lebih lanjut bila kehilangan pendengaran bersifat menetap melewati tahap akut dari penyakit tersebut. . Pasien tetap nyaman selama perjalanan dengan pesawat 3) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit dan hospitalisasi pasien. siapkan keluarga untuk prosedur pembedahan (miringotomi).h) Jelaskan tentang pencegahan ketidaknyamanan telinga selama perjalanan dengan pesawat :  Spray pengerut mukosa nasal atau dekongestan oral dapat diberikan bila anak mengalami ISPA  Ketika turun dari pesawat dan makan. pasien mungkin tidak menyadari ketika sedang diajak bicara. kehilangan pendengaran sementara Sasaran pasien ( keluarga ) 1 : pasien ( keluarga ) mendapatkan dukungan yang adekuat Intervensi keperawatan / rasional Bila tepat. pada jarak lebih dekat. Hasil yang diharapkan Pasien sembuh dari infeksi dan atau pembedahan tanpa komplikasi. Hasil yang diharapkan Keluarga mendemonstrasikan pemahaman tentang prosedur. d) Bicara lebih keras. c) Beri tahu keluarga bahwa pasien tidak mengabaikan mereka tau salah berperilaku. Sasaran pasien ( keluarga ) 2 : keluarga menjukkan perilaku koping yang positif terhadap pasien Intervensi keperawatan / rasional a) Jelaskan bahwa kehilangan pendengaran sementara adalah hal yang umum pada OM karena keluarga mungkin tidak menyadari hal ini. berikan air. Gunakan kesabaran ketika berkomunikasi dengan pasien. dan menghadap ke pasien.

Virulensi kuman tinggi. Otitis media supuratif kronik (OMSK) aktif. Kuman.html Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Oleh : Muhammad al-Fatih II Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah otitis media yang berlangsung lebih 2 bulan karena infeksi bakteri piogenik dan ditandai oleh perforasi membran timpani dan pengeluaran sekret. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. yaitu : Perforasi sentral (sub total). Orang awam biasa menyebutnya congek. Perforasi marginal.Hasil yang diharapkan Keluarga menunjukkan perilaku koping yang posiif terhadap pasien. Daya tahan tubuh rendah akibat gizi kurang. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah. Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan kelanjutan dari otitis media supuratif sub akut dan otitis media supuratif akut (OMA). Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Sekret keluar dari kavum timpani.blogspot. yaitu : Otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna / mukosa / aman.com/2012/04/askep-perforasi-membran-timpani. Keluarga mencari perawatan kesehatan yang tepat untuk pasien. Jenis otitis media supuratif kronik (OMSK). Otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna / tulang / bahaya. Perforasi atik. Terapi lambat diberikan atau terapi tidak adekuat. Pertahanan. Higienitas yang buruk. Hal ini disebabkan oleh : Terapi. Konsistensinya bisa encer atau kental. Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. Higiene. Letak perforasi di pars flaksida membran timpani. Kavum timpani basah atau kering. Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. Tabel Perbedaan Antara Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna & Maligna . Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. Dulu kita kenal sebagai otitis media perforata (OMP). http://alam414m. Otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang.

Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) tergantung dari jenisnya. Prinsip terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna dengan cara konservatif (medikamentosa) sedangkan otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna dengan cara pembedahan. Jaringan patologik. gejala sering berulang. Jarang terjadi komplikasi yang berbahaya. Kolesteatoma ada. Jangan berikan selama lebih 1-2 minggu secara berturut-turut. Berikan selama 3-5 hari. Proses peradangan tidak mengenai tulang. Perforasi membran timpani paling sering tipe marginal & atik. sekret yang keluar tidak cepat kering dan sekret yang selalu kambuh. Perforasi membran timpani yang permanen menyebabkan telinga tengah terpapar langsung & terus-menerus oleh dunia luar. yaitu : . Memperbaiki perforasi membran timpani dan fungsi pendengaran. Tujuannya antara lain : Menghentikan infeksi permanen. Obat antibiotik. yaitu : Obat pencuci telinga. Tindakan ini disebut miringoplasti atau timpanoplasti. Jaringan patologik yang ireversibel telah terbentuk dalam rongga mastoid. tindakan pembedahan dapat pula kita lakukan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. Sumber infeksi yang masih ada dapat terjadi pada nasofaring. Proses peradangan mengenai tulang. Terapi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) memiliki beberapa kesulitan. Miringoplasti dan timpanoplasti kita lakukan jika sekret telah kering namun perforasi membran timpani masih ada. hidung dan sinus paranasalis. Berikan ampisilin asam klavulanat bila terjadi resistensi ampisilin. Perforasi membran timpani tipe sentral. Gizi & higiene. Diantaranya membutuhkan waktu yang lama. Ada 3 cara terapi konservatif (medikamentosa) otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. Obat tetes telinga. Tanda yang menunjukkan adanya sumber infeksi. Juga hindari pemberiannya pada otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang. Sumber infeksi. Pengobatan ini kita berikan bila sekret telinga keluar terus-menerus. Lanjutkan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik & kortikosteroid setelah sekret yang keluar telah berkurang. Berikan eritromisin jika pasien alergi terhadap golongan penisilin. Hal ini disebabkan semua antibiotik tetes telinga bersifat ototoksik. Proses peradangan tidak terbatas pada mukosa. Bahannya H2O2 3%. Selain terapi konservatif (medikamentosa). Masalah ini dapat disebabkan : Perforasi membran timpani. Kadang-kadang tipe sub total (sentral) dengan kolesteatoma. Berikan antibiotik oral golongan ampisilin atau eritromisin sebelum hasil tes resistensi obat kita terima. Kolesteatoma tidak ada. Sering terjadi komplikasi yang berbahaya. Mencegah komplikasi dan kerusakan pendengaran yang lebih berat. Juga setelah kita melakukan observasi selama 2 bulan. faring. Status gizi dan higiene pasien yang kurang.Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Maligna Proses peradangan terbatas pada mukosa.

yaitu : Pengobatan. Kepala & Leher. dr.html . Pembedahan : adenoidektomi & tonsilektomi. 2006. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. dr.THT & Prof. H. Efiaty Arsyad Soepardi. lakukan insisi abses diwaktu yang berlainan.THT (editor). Jika abses subperiosteal retroaurikuler ada.com/2010/06/otitis-media-supuratif-kronik-omsk. Infeksi berulang. Tenggorok. ke-5. Tindakan pembedahan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna yang sering dilakukan yaitu mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Cara mengatasi sumber infeksi. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. H. Adapun terapi konservatif (medikamentosa) hanya bersifat sementara dan kita berikan sebelum melakukan tindakan pembedahan. Ed. http://thtkedokteran. Sp.blogspot. Nurbaiti Iskandar. Daftar Pustaka Sosialisman & Helmi. sebelum melakukan operasi mastoidektomi. Hidung. Sp.Sekret masih ada.

bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen. iritabilitas. vomiting. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun.OTITIS MEDIA Emirza Nur Wicaksono Maret 27. Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar. a. antara lain : demam. demam. hilangnya pendengaran. tinitus dan vertigo. yang ditandai dengan nyeri. letargi. anoreksia. antrum mastoid. serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit. dan media berarti tengah. Otitis berarti peradangan dari telinga. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia. Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh . 2013 [6] comments Definisi Otitis adalah radang telinga. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. dan sel-sel mastoid. tuba eustacheus.

campuran bakteri aerob dan anaerob. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi). Demam dapat hadir. secara khas untuk sedikitnya satu bulan. teori migrasi. biasanya tidak mengenai tulang. atau gendang telinga yang berlubang. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. dan teori implantasi. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius. otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tanda-tanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga. umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik. infeksi saluran nafas atas. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Otitis Media Kronis Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. teori metaplasi. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. gendang telinga.Orang awam biasanya menyebut congek OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe. yang menonjol biasanya disertai nyeri. disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses . Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih. metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis. yaitu: 1. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. destruksi. Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. 2.bakteri pada ruang udara pada tulang temporal. Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek. dan mampu berangiogenesis. Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). b. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi.

Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. dan gangguan keseimbangan. Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. tuli saraf berat unilateral. Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus. Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi). Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya.2 b. Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis. bisa antero-inferior. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1.pembusukan bakteri. 2. Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma. Terbentuk setelah perforasi membran timpani.2  Secondary acquired cholesteatoma. meningitis dan abses otak. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi). Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. 2. . Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom. kadangkadang sub total.1. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. 3. Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. Kolesteatom kongenital. postero-inferior dan postero-superior. umumnya pada apeks petrosa. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani.

Bisa juga disebabkan karena bakteri. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. Hemophylus influenzae. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika). tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. TBC paru. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Otitis Media Akut Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. Diplococcus pneumonie. dan Moraxella catarrhalis. Gram Negatif : Proteus spp. 2. Stapilococcus. Streptococcus pyogenes. Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi). dan tempat tinggal yang padat. antara lain:        Streptococcus. Psedomonas spp. E. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. Coli. Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma. Gram Positif : S. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. diet. Kuman anaerob : Alergi. Genetik . diabetes melitus. Etiologi a. inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis. Albus.3. S. Hemopilus influens. b. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Pyogenes. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. Penyebab OMK antara lain: 1.

Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. 3. Riwayat otitis media sebelumnya Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-), flora tipe usus, dan beberapa organisme lainnya. 5. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. 6. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK. 7. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. 8. Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:
 

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi.

 

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.

Patofisiologi a. Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. b. Otitis Media Kronis

Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan tubuh, lingkungan, dan social ekonomi. Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis, tonsillitis, rhinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani, maka terjadi inflamasi. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah, biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang, tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen, mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. Berenang, kemasukan benda

yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen. Manifestasi Klinis a. Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. Stadium oklusi tuba Eustachius

Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. 2. Stadium hiperemis (presupurasi)

Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. 3. Stadium supurasi

Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga bertambah hebat.Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur. 4. Stadium perforasi

Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak. 5. Stadium resolusi

Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.Pada bayi dan anak kecil gejala khas

berwarna putih mengkilat. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. kejang.5 derajat celsius). discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. diare. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal. tiba-tiba menjerit saat tidur. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar.otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. 1. sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. sulit tidur. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. gelisah. b. Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas. kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip. kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna. Bila terus menerus kambuh. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang. Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. suhu tubuh akan turun dan anak tertidur. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani. Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1. . Gejalanya bervariasi.

Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus. Stadium Oklusi Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga).25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0. Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga. Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. Jika terjadi resistensi.5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Stadium Presupurasi Diberikan antibiotik. . obat tetes hidung dan analgesik. dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. 2. Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga.Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. b. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas. 2. dekongestan lokal atau sistemik. Sumber infeksi lokal harus diobati. Untuk mengetahui organisme penyebabnya. dengan pemberian antibiotik. Penatalaksanaan a. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. dan antipiretik. Pemeriksaan Diagnostik a. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. 1. sebaiknya dilakukan miringotomi. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin.

antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. observasi jika gejala ringan Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. 2. Bila tidak. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Bila tetap. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. Pemberian Antibiotik 1.gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. 3. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. sekret tidak ada lagi. observasi jika gejala ringan Observasi 2 thn Antibiotik jika gejala berat. 5. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan. kadang secara berdenyut. 4. a. Stadium Supurasi Selain antibiotik. dan perforasi menutup. termasuk berkurangnya pendengaran. antibiotik diberikan. pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. mungkin telah terjadi mastoiditis. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Stadium Perforasi Terlihat sekret banyak keluar. Stadium Resolusi Membran timpani berangsur normal kembali. 3. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi. Jika gejala tidak membaik dalam 4872 jam atau ada perburukan gejala. atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua .

6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillin-clavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.        Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi.Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik. pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang . . walaupun dapat membunuh lebih banyak jenis bakteri. dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam.Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim.Pada alergi berat terhadap amoxicillin. follow-up harus dipastikan dapat terlaksana.tahun. yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin . . . . Untuk dapat memilih observasi.Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil. memiliki risiko yang lebih besar. cefpodoxime.Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillinclavulanate. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa. Antibiotik dengan spektrum luas. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. atau cefuroxime. dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir. .Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu.10 Menurut BMJ. kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun. dirawat seharihari di daycare. sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan.

OMK BENIGNA . Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup. .Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat.Pada usia enam tahun ke atas.Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen. 1. Bila didiagnosis kolesteatom. b. . Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. maka mutlak harus dilakukan operasi. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia). c. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. . Otitis Media Kronis Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak. Di Inggris. harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. Cairan yang keluar harus dikultur. b. anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua. Karenanya. dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. Menurut Nursiah. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media.resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi.

Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering.timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping). Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann.a. misalnya asam boric dengan Iodine. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. b. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. Pemberian antibiotik topikal Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. 2. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan . dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. • Toilet telinga secara basah ( syringing). Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril.

Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks. baik pada anak maupun dewasa. Asidum borikum 2.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. c. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. 1984). E.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. polimiksin dan hidrokortison. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob. Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob.dulu. Selain itu dikatakannya. Pseudomonas. Proteus. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. B. Polimiksin B atau polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif. yang akan menyebabkan ototoksik. khususnya B. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. Seperti aminoglokosida yang lain. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. . Terramycin. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. Koli Klebeilla. fragilis Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. Enterobakter. adalah tidak efektif. tetapi resisten terhadap gram positif. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b.

dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Proteus sp. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya . Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh. Bila terjadi kegagalan pengobatan . Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. 60% Proteus mirabilis. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. Koli. 100% E. 92% Enterobakter. 99% Stafilokokus. misalnya golongan beta laktam.2. 3. 93% Pseudomonas. 95% Stafilokokus group A. koagulase positif. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. koagulase positif. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88. Toksik terhadap ginjal dan telinga. 90% Klebsiella. Makin tinggi kadar obat. 96% Proteus sp. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah  Kuman aerob Antibiotik sistemik .69% dan tidak ada perbaikan 4.96% sembuh. membaik 8. Dalam pengunaan antimikroba. makin banyak kuman terbunuh. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. misalnya : Stafilokokus aureus.53% 3.

Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) . Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. 2001): • Mastoidektomi sederhana Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Bila terdapat abses subperiosteal. eritromosin. meskipun dapat mengatasi OMK. 2. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. antara lain (Soepardi.           Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. baik tipe benigna atau maligna. Koli Ampisilin atau sefalosforin S.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. eritromisin Aminoglikosida B. tetapi harus diberikan secara parenteral. aminoglikosida Streptokokus Penisilin. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. Sefalosforin. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. sefalosforin. • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas.

Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma. • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. IV dan V.Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. Komplikasi a. III. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan. Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak . Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. tetapi belum merusak kavum timpani. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap.

Perforasi membrane timpani. 4. tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1. Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi. . . . 5.Tuli yang terjadi secara mendadak .Petrositis.Vertigo (perasaan berputar) .Mastoiditis akut. b. 3. 2. Komplikasi Intratemporal .Labirinitis.Demam dan menggigil. erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a.Parese nervus fasialis. . .Sakit kepala .Tanda-tanda terjadinya komplikasi: .

Empiema subdural/ ekstradural Prognosis a.Abses subperiosteal. abes otak. . sehingga penutupan membrane timpani disarankan. Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air. Komplikasi Ekstratemporal. b. ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) OMA DAN OMK BAB I PENDAHULUAN . OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis.Tromboflebitis. Komplikasi Intrakranial. Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ). .b. .Hidrocephalus otikus. otorea dapat mongering.Abses otak. . Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local. Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti. . c. prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal.

diperkirakan 75 % anak mengalami minimal 1 episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya 3 kali atau lebih.2 Rumusan Masalah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Apa yang dimaksud dengan OMA dan OMK? Bagaimana Etiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana patofisiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana manifestasi klinis pada OMA dan OMK ? Bagaimana pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK ? Bagaimana komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK ? Bagaimana asuhan keperawatan pada OMA dan OMK ? 1.1. Prevalensi terjadinya otitis media di seluruh dunia untuk usia 10 tahun sekitar 62 % sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83 %. Di Inggris. 2. 1.Tujuan Tujuan Umum Tujuan khusus 1. setidaknya 25 % anak mengalami minimal 1 episode sebelum usia 10 tahun ( Abidin.1 Latar Belakang Otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. 6. : Menjelaskan asuhan keperawatan dengan klien OMA dan OMK : Menjelaskan Konsep dasar dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan definisi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan etiologi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan patofisiologi OMA dan OMK Menjelaskan manifestasi klinis OMA dan OMK Menjelaskan pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK Menjelaskan komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK 1.1.4 Manfaat . 3. 4. Di Amerika Serikat. maka diagnosis dini yang tepat dan pengobatan secara tuntas mutlak diperlukan guna mengurangi angka kejadian komplikasi dan perkembangan penyakit menjadi otitis media kronis. 2009. 5. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun Mengingat masih tingginya angka otitis media pada anak-anak.

edisi 3 .2 Otitis Media Kronis . Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. atau gendang telinga yang berlubang. antara lain : demam.Manfaat yang dapat diambil sebagai berikut : 1.1 Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu (Kapita selekta kedokteran. Mengetahui Penatalaksaan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis 2. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia. gendang telinga.1. 2. 1999). hilangnya pendengaran. Demam dapat hadir. demam. otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tandatanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga. yang menonjol biasanya disertai nyeri. tuba eustacheus.1. antrum mastoid. letargi. 2004 ) Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek.1990) Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah (mediastore. anoreksia. iritabilitas. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar.1 Definisi Otitis adalah radang telinga. Otitis berarti peradangan dari telinga. tinitus dan vertigo. yang ditandai dengan nyeri. bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen. iskandar . Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada tulang temporal (CMDT.2009 ) 2. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. dan sel-sel mastoid/( soepardi. serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. dan media berarti tengah. vomiting.

. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi). Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga ( warmasif. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses pembusukan bakteri. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. infeksi saluran nafas atas. disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. teori metaplasi. 2009) Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih.Orang awam biasanya menyebut congek (Alfatih. teori migrasi. Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). secara khas untuk sedikitnya satu bulan. Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. Kolesteatom kongenital. yaitu: 1. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi. 2007) OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe. meningitis dan abses otak. 2. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. dan teori implantasi. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis. campuran bakteri aerob dan anaerob. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. biasanya tidak mengenai tulang. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. dan mampu berangiogenesis.Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. destruksi.

Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom. Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma.2 Etiologi 2. 2. 2. postero-inferior dan postero-superior. bisa antero-inferior. Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi). Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis.2 b. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya.1. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma. Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1. dan gangguan keseimbangan. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi). Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total.2. 2. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. tuli saraf berat unilateral. 3. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus.1 Otitis Media Akut .2  Secondary acquired cholesteatoma. kadangkadang sub total. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. umumnya pada apeks petrosa. Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. Terbentuk setelah perforasi membran timpani. 3.Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani.

Stapilococcus. Penyebab OMK antara lain: 1. TBC paru. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia.Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). Coli. terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Riwayat otitis media sebelumnya . Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder.2009). dan Moraxella catarrhalis. Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. Albus. tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. Psedomonas spp. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. Hemopilus influens. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. Pyogenes. antara lain:        Streptococcus. diet. 3. Hemophylus influenzae. E. S. 2. dan tempat tinggal yang padat. Streptococcus pyogenes. Diplococcus pneumonie. Bisa juga disebabkan karena bakteri.2 Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi) (Mediastore.2. Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media. diabetes melitus. Kuman anaerob : Alergi. inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika). Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Gram Positif : S. Genetik Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini. Gram Negatif : Proteus spp. 2.

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya. 7. . flora tipe usus. 6.Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi. 8. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:     Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah. dan beberapa organisme lainnya. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi. 5. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-). tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4.

Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. . tonsillitis. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri. Dan yang paling berat. sinusitis). tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi. tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. dan social ekonomi. Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang.1 Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi.3. Berenang. rhinitis.2. kemasukan benda yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen. Jika lendir dan nanah bertambah banyak. Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah. alergi. 2. maka terjadi inflamasi. Saat bakteri melalui saluran Eustachius. mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. gangguan fungsi tuba. dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus).3. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah. lingkungan.3 Patofisiologi 2.2 Otitis Media Kronis Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap. pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis. Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). kekebalan tubuh. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani. mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang.

Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.Pada bayi dan anak kecil gejala khas . nadi dan suhu meningkat. suhu badan turun. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.2. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani.4. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. 5. Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali.4 Manifestasi Klinis 2. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang. Di tempat ini akan terjadi ruptur.5 atau 2 bulan. 1. 4. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1. Stadium hiperemis (presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. 1. 2. 3. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Stadium oklusi tuba Eustachius Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. 1. 1. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Efusi tidak dapat dideteksi. tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Stadium perforasi Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi. 1. serta nyeri di telinga bertambah hebat.Pasien tampak sangat sakit.1 Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. dan dapat tidur nyenyak. akan terjadi iskemia.Apabila tekanan tidak berkurang.Pada orang dewasa. didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.Pada anak. Stadium supurasi Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.

OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena . Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna. discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. sulit tidur. dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas. ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang.5 derajat celsius).otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. suhu tubuh akan turun dan anak tertidur. gelisah. sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. 2. berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1. berwarna putih mengkilat. tiba-tiba menjerit saat tidur. kejang. Gejalanya bervariasi.2 Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). diare. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal. Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . 1.4. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil.

telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. Bila terus menerus kambuh, akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip, yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. 2. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik 2.5.1 Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. 2.5.2 Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Untuk mengetahui organisme penyebabnya, dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. 2.6 Penatalaksanaan 2.6.1 Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. 1. 1. Stadium Oklusi

Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. 1. 2. Stadium Presupurasi

Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan

asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. 1. 3. Stadium Supurasi

Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. 1. 4. Stadium Perforasi

Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. 1. 5. Stadium Resolusi

Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap, mungkin telah terjadi mastoiditis. a. Pemberian Antibiotik 1. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. 2. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran. 3. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotik diberikan. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th 2 thn Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Observasi

Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua

tahun. Untuk dapat memilih observasi, follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.10 Menurut BMJ, pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin.

  

 

Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun, dirawat sehari-hari di daycare, dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa, sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillin-clavulanate.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillinclavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.

ü Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime. ü Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin ü Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim. ü Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. ü Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil, pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. ü Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Antibiotik dengan spektrum luas, walaupun dapat membunuh lebih banyak

Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak. harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. memiliki risiko yang lebih besar. Karenanya. ü Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. Menurut Nursiah.jenis bakteri. ü Pada usia enam tahun ke atas. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. Cairan yang keluar harus dikultur. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. Di Inggris.2 Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Bila didiagnosis kolesteatom. ü Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat. Otitis Media Kronis 2. b. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia). maka mutlak harus dilakukan operasi. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen.6. anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari. c. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi. .

2. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. 1981). dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid ( Beasles. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping).1. karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme ( Fairbank. Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering.timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. OMK BENIGNA a. Pemberian antibiotik topikal . OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. misalnya asam boric dengan Iodine. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. 1979). setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. • Toilet telinga secara basah ( syringing). Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril. b.

Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. 1984). polimiksin dan hidrokortison. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. Terramycin. adalah tidak efektif. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Asidum borikum 2. fragilis ( Fairbanks. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. Polimiksin B atau polimiksin E . Seperti aminoglokosida yang lain. Selain itu dikatakannya. 1984). bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob.Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan. yang akan menyebabkan ototoksik. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. baik pada anak maupun dewasa. khususnya B. Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. c. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin.

tetapi resisten terhadap gram positif. 92% Enterobakter. 95% Stafilokokus group A. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif. 93% Pseudomonas. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. makin banyak kuman terbunuh. kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. 99% Stafilokokus. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh. Koli Klebeilla.Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif. misalnya golongan beta laktam. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.69% dan tidak ada perbaikan 4. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. 96% Proteus sp. Toksik terhadap ginjal dan telinga. Koli. Bila terjadi kegagalan pengobatan . Enterobakter. koagulase positif. dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba. 60% Proteus mirabilis. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab.53% 3. . Dalam pengunaan antimikroba. Makin tinggi kadar obat. Proteus. Proteus sp. membaik 8. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. misalnya : Stafilokokus aureus. E. koagulase positif. 2. 100% E. 90% Klebsiella. Pseudomonas.96% sembuh. 3. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. B. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya .

sefalosforin. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. Koli Ampisilin atau sefalosforin S. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. Bila terdapat abses subperiosteal. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P.Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah Kuman aerob Antibiotik sistemik Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. aminoglikosida Streptokokus Penisilin. 2. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. eritromosin. baik tipe benigna atau maligna. tetapi harus diberikan secara parenteral. meskipun dapat mengatasi OMK. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. 2001): • Mastoidektomi sederhana . dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. antara lain (Soepardi. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. eritromisin Aminoglikosida B. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. Sefalosforin.

Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma.Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan. III. tetapi belum merusak kavum timpani. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). . Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. IV dan V. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa.

5.1 Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak Tanda-tanda terjadinya komplikasi: v Sakit kepala v Tuli yang terjadi secara mendadak v Vertigo (perasaan berputar) v Demam dan menggigil.7 Komplikasi 2.7. erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid .7. 2.2 Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi.2. tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1. 3. 4. 2.

.Tromboflebitis. c.Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a.Labirinitis. .Abses subperiosteal.Hidrocephalus otikus.Mastoiditis akut.Petrositis.Abses otak. . . Komplikasi Ekstratemporal.Parese nervus fasialis. .Perforasi membrane timpani. . . b. Komplikasi Intrakranial. . Komplikasi Intratemporal . .

1 Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ).Empiema subdural/ ekstradural 2. pekerjaan.8 Prognosis 2. Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air. sehingga penutupan membrane timpani disarankan. penggunaan minyak. gentamisin ). abes otak.1 Pengkajian 1. prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal. agama. riwayat OMA berkurang. 2. riwayat penggunaan obat( sterptomisin. alamat Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga.8. salisilat. riwayat operasi . pendidikan. Pengumpulan Data    Identitas Pasien : Nama pasien.2 Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local. Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti.. OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis. riwayat alergi. kapas lidi. otorea dapat mongering. suku/bangsa.8. umur. peniti untuk membersihkan telinga Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan Keperawatan pada Otitis Media Kronis 3. kuirin.

Xray : terhadap kondisi patologi. otore berbau busuk 6. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri . hilangnya fungsi. prognosis.2 Diagnosa Keperawatan 1. Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami penyakit telinga. Takut menghadapi tindakan pembedahan 4. keluarnya otore B2 ( Blood ) B3 (Brain) refleks kejut B5 (Bowel) B6 (Bone) : Nadi meningkat : Nyeri telinga. diagnosis. Pengkajian Persistem Tanda-tanda vital : Suhu meningkat. vertigo. 5. anestesi. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan 2. Cemas berhubungan dengan prosedur operasi. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran 3. kekaburan mastoid 5.3 Intervensi dan Rasional . Aktivitas terbatas 3. Tes audiometri : pendengaran menurun b. Pengkajian Psikososial 1. perasaan penuh dan pendengaran menurun.Tes suara bisikan. tes garputala 3. : Nausea vomiting : Malaise. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan 3. infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran 4. kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. Pemeriksaan diagnostik a. nyeri. misal kolestetoma. Nyeri otore berpengaruh pada interaksi 2. Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi. sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik 2. alergi 3. pusing. Pemeriksaan pendengaran .

Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ). bahasa lambang. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga. beri aspirin/analgesik sesuai instruksi. berbicara. klien mampu melakukan metode pengalihan suasana Intervensi Keperawatan: ü Ajarkan klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode relaksasi saat nyeri yang teramat sangat muncul. a. bahasa isyarat. menerima pesan melalui metode pilihan ( misal: komunikasi lisan. relaksasi seperti menarik napas panjang Rasional : Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa mengurangi nyeri yang diderita klien ü Kompres dingin di sekitar area telinga Rasional : Kompres dingin bertujuan mengurangi nyeri karena rasa nyeri teralihkan oleh rasa dingin di sekitar area telinga ü Atur posisi klien Rasional : Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman ü Untuk kolaborasi.1. seperti : tulisan. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien berkurang rasa Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang. berbicara dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik . Rasional: Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien ü Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal. berbicara dengan jelas pada telinga yang baik Intervensi keperawatan: ü Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien. beri sedatif sesuai indikasi Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam 2.

tidak kepada penerjemah.. Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi. 3. Ulangi jika kilen tidak memahami seluruh isi pembicaraan c. ü Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman a. Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dair ya dan tidak Rasional : Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat secara tepat.Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu .Dekati klien dari sisi telinga yang baik b.Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan komunikasi tertulis . Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi d. Alamatkan semua komunikasi pada klien.Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda c. Bicara dengan jelas menghadap individu b. Jika ia hanya mampu berbahasa isyarat.Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya d. Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien . Jika klien dapat membaca ucapan: . sediakan penerjemah.Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas . infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran Tujuan : Persepsi / sensoris baik Kriteria hasil : Klien akan mengalami peningkatan persepsi / sensoris pendengaran sampai pada tingkat fungsional Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat . Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara pada klien dengan mengabaikan keberadaan penerjemah Rasional : Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat diterima dengan baik oleh klien.

pemakaian serta perawatannya yang tepat. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya ü Berikan informasi tentang kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien Rasional : Dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien ü Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia yang dapat membantu klien Rasional : Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada di sekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi . diagnosis. kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. Cemas berhubungan dengan prosedur operasi. ü Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh Rasional : Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif. hilangnya fungsi. nyeri. Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien mampu mengungakpkan ketakutan / kekhawatirannya Intervensi keperawatan : ü Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi Rasional : Harapan-harapan yang tidak realistik tidak dapat mengurangi kecemasan. anestesi. prognosis. maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi ü Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut Rasional : Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengaran rusak secara permanen ü Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik ( baik itu antibiotik sistemik maupun lokal ) Rasional : Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut 4. justru malah menimbulkan ketidakkepercayaan klien terhadap perawat.Rasional : Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan / ketulian.

Rasional : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat meningkatkan pemahaman klien sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan kekambuhan. ü Yakinkan klien bahwa setelah dilakukan pengobatan / pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang Rasional : Klien akan kooperatif / berpartisipasi dalam persiapan pembedahan tympanoplasti ) dan akan mulai mengajak bicara dengan perawat dan keluarga 6. Kriteria hasil : Klien paham mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinyu sesuai aturan. otore berbau busuk Tujuan : Tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Kriteria Hasil : Klien tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Intervensi keperawatan : ü Bina hubungan saling percaya Rasionalisasi : hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial.5. ü Beritahu komplikasi yang mungkin timbul dan bagaimana cara melaporkannya Rasional : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada klien dapat membantu klien dan keluarga untuk melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga dapat dengan cepat ditangani. Rasional : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan. ü Tekankan hal-hal yang penting yang perlu ditindak lanjuti / evaluasi pendengaran. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Tujuan : Klien akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara pencegahan kekambuhan. ( BAB IV PENUTUP . Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri .

2 Saran Hendaknya dilakukan uji kultur pada pasien untuk mengetahui jenis bakteri yang menginfeksi dan untuk pemberian antibiotik yang tepat. C.Buku Ajar Penyakit THT.usu.(2000). Otitis media akut yang tidak diobati secara tuntas dapat berlanjut menjadi Otitis media Kronik yang ditandai denagn adanya perforasi pada membran tympani.Edisi 10.ac.J. Akan tetapi. Adams.Otitis Media Akut.Perencanaan Asuha .2009.EGC:Jakarta Abidin. pada awalnya pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan tonsilitis. karena adanya perluasan infeksi di daerah auries media. DAFTAR PUSTAKA Carpenito.Edisi 6.4.Buku Saku Diagnosis Keperawatan.http:/library. maka pasien akan mengalami otitis meda akut.1 Kesimpulan Dalam kasus ini .EGC:Jakarta George L. 4.1997.Lynda Juall.id(10 September 2009) Rothrock. Taufik.2006.

Kolesteatoma dapat terjadi di kavum timpani dan atau mastoid5. Kolesteatoma telah dikenal sebagai lesi bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal. Apabila terbentuk terus dapat menumpuk sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar4. Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. intervensi pembedahan dan terapi suportif antibiotik. Istilah kolesteatoma diperkenalkan pertama kali oleh Johanes Muller pada tahun 1838 untuk menjelaskan kolesteatoma sebagai dikira sebagai neoplasma lemak di antara sel-sel polihedral1. Definisi Kolesteatom adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin)4. Kolestatoma masih penyebab umum tuli konduksi sedang dan permanen pada anak-anak dan dewasa3. B. Kematian karena komplikasi intrakranial kini tidak umum terjadi disebabkan deteksi dini. mastoid2 atau apex petrosus. Etiologi Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik . A.Kolesteatoma adalah deskumulasi non neoplasma sel epitel kulit pada cavum timpani. Insidensi kolesteatoma tidak diketahui dengan pasti. Meskipun kolesteatoma bukan lesi neoplasma tetapi dapat berbahaya pada penderita1. tetapi keadaan ini merupakan alasan untuk dilakukan bedah telinga. Sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi pada sistem syaraf pusat3.

yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi. ketika menelan atau menguap. migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin8. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. kolesteatoma adalah epitel kulit yang berada pada tempat yang salah atau menurut pemahaman Djaafar (2001) kolesteatoma dapat terjadi karena adanya epitel kulit yang terperangkap. antara lain adalah: teori invaginasi. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma 4. Beberapa pasien dilahirkan dengan sisa kulit yang terperangkap di telinga tengah (kolesteatoma kongenital) atau apex petrosis7. Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat.karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. Sebagaimana diketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamosus epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara 6. Teori metaplasi Terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama4 . teori metaplasi dan teori implantasi. Teori implantasi Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatom terjadi akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. 3. Kulit pada permukaan membran timpani dapat tumbuh melalui perforasi tersebut dan masuk ke dalam telinga tengah7. Perforasi telinga tengah yang disebabkan oleh infeksi kronik atau trauma langsung dapat menjadi kolesteatoma. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang . Teori imigrasi Kolesteatoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah4. Teori invaginasi Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba 4. setelah blust injury. Kantong tersebut menjadi kolesteatoma. C. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Patogenesis Banyak teori dikemukakan oleh para ahli tentang patogenesis kolesteatoma. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi 4 Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. teori imigrasi. Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar6. Kolestoma kongenital dapat terjadi ditelinga tengan dan tempat lain misal pada tulang tengkorak yang berdekatan dengan kolesteatomanya 6. 2. 1. 4. Teori tersebut akan lebih mudah dipahami bila diperhatikan definisi kolesteatoma menurut Gray (1964) yang mengatakan. otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah7.

bersamaan dengan kehilangan pendengaran 6.Kolesteatoma akuisital yang terbentuk setelah anak lahir a. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. dengan akibatnya hilangnya tulang mastoid. 2. kolestetoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah (teori immigrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama (teori metaplasia) 4 . b. D. Gejala Klinis 1. 2. yaitu kistik. yang terbentuk pada masa embrionik dan ditemukan pada telinga dengan membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. F. Kistik tersusun atas sel skuamosa keratinisasi anukleat berdiferesiansi penuh.1. Klasifikasi Kolesteatoma dapat dibagi menjadi dua jenis: 1. Perimatrik atau lamina propria merupakan bagian kolesteatoma yang terdiri atas sel-sel granulasi yang mengandung kristal kolesterol. Lokasi kolesteatoma biasanya di kavum timpani.Kolesteatom kongenital. Diagnosis 1. daerah petrosus mastoid atau di cerebellopontin angle 4 . Nyeri Pasien mengeluh nyeri tumpul dan otore intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekuder9. kolestetoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif ditelinga tengah akibat gangguan tuba (teori invaginasi) 4 . meningitis dan abses otak 4 . Matriks terdiri atas epitel skuamosa keratinisasi seperti susunan kista. Kolestetoma akuisital primer kolestetoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrana timpani. Histologis Kolesteatoma secara histologis adalah kista sel-sel keratinisasi skuamosa benigna yang disusun atas tiga komponen. Perasaan penuh Kantong kolesteatoma dapat membesar sehingga dapat menyebabkan perasaan penuh atau tekanan dalam telinga. Pendengaran berkurang Kolesteatoma dapat tetap asimtomatik dan mencapai ukuran yang cukup besar sebelum terinfeksi atau menimbulkan gangguan pendengaran. matriks dan perimatrik. Perasaan sakit dibelakang atau didalam telinga dapat dirasakan terutama pada malam hari sehingga dapat menyebabkan tidak nyaman pada pasien6. Jaringan granulasi memproduksi enzim proteolitik yang dapat menyebabkan desktruksi terhadap tulang. E. Lapisan perimatriks merupakan lapisan yang bersentuhan dengan tulang. G. Anamnesis Riwayat keluhan pada telinga sebelumnya harus di selidiki untuk memperoleh gejala awal . Kolestetoma akuisital sekunder kolestetoma terbentuk setelah adanya perforasi membrana timpani. Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah satu sisi wajah (sisi telinga yang terinfeksi) 6. 3. 4.diperhebat dengan adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. osikula. dan pembungkus tulang saraf fasialis10.

Terapi bertujuan untuk menghentikan drainase pada telinga dengan mengendalikan infeksi 6. pars placida dan pars tensanya normal. dapat timbul pada telinga tengah atau dalam membrana timpani. riwayat operasi sebelumnya8. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik terdiri atas pemeriksaan kepala dan leher. Derajat tuli konduksi bervariasi tergantung beratnya penyakit5. biasanya karena erosi posesus longus incus atau capitulum stapes8. Gejala yang sering dikeluhkan adalah otore. Pengurangan pendengaran terjadi seiring meluasnya penyakit5. debris atau lapisan kulit sehingga visualisasi dapat lebih jelas. Penatalaksanaan 1. Kolesteatoma akuisital umumnya didiagnosa pada anak dengan usia lebih tua dan dewasa dengan riwayat adanya penyakit telinga tengah. Membran timpani harus diperiksa dengan teliti. gejala vestibular atau komplikasi lainnya1. Kolesteatoma sering ditemukan pada membrana timpani kuadran postero superior dengan membran timpaninya retraksi dan atau perforasi. 3. obstruksi nasal. Terapi pembedahan Kolestoma merupakan penyakit bedah. Penilaian umum untuk menghindari terlewatnya penilaian demam. sebaiknya dibandingkan dengan pemeriksaan audiometri5. pemeriksaan mukosa telinga tengah untuk menilai ada atau tidaknya udema. Tujuan kedua adanya mengembalikan atau memelihara fungsi . Riwayat penyakit dahulu menderita penyakit pada telinga tengah seperti otitis media dan atau perforasi membrana timpani harus ditanyakan. 5. kecurigaan abnormalitas kongenital atau kasus kolesteatoma dengan tuli sensorunerual. Retraksi sering terdapat pada attic atau membran timpani kuadran posterosuperior5. keluasan penyakit dan skrening komplikasi asimptomatik8. tinitus dan vertigo.Audiometri Audiometri nada murni dengan konduksi udara dan tulang. Tujuan utama pembedahan adalah menghilangkan kolesteatoma secara total.Timpanometri. antibiotika dan tetes telinga. Terdapat juga perforasi membrana timpani. Tuli konduksi sedang > 40dB menyatakan terjadinya diskontinuitas ossikula. 2. Terapi awal Terapi awal terdiri atas pembersihan telinga. CT scan tidak essensial untuk penilaian preoperasi. tidak ada riwayat otore atau perforasi sebelumnya.Radiologi Pemeriksaan radiologi preoperasi dengan CT scan tulang temporal tanpa kontras dalam potongan axial dan koronal8 dapat memperlihatkan anatomi. dan jaringan granulasi5. Kolesteatoma kongenital di diagnosa pada anak usia pre sekolah. perubahan status mental dan penilaian lainnya yang dapat memberikan petunjuk kearah komplikasi5.kolesteatoma. otalgia. Pada kantong dengan retraksi yang awal dapat dipasang timpanostomi8. Otomikroskopi merupakan alat pada pemeriksaan fisik untuk mengetahui dengan pasti kolesteatoma. Kolesteatoma kongenital yang melibatkan telinga tengah diidentifikasi sebagai massa putih atau seperti mutiara yang letaknya medial terhadap kuadran anteo superior dari membran timpani intak. 4. ambang penerimaan pembicaraan dan pengenalan kata umumnya dipakai untuk menetapkan tuli konduksi pada telinga yang sakit. H. Akumulasi debris skuamosa dapat dijumpai pada kantongnya. tidak ada riwayat prosedur otologi8. kehilangan pendengaran unilateral progresif dengan otore yang berbau busuk1. Tes Rinne dan Weber dengan menggunakan garputala 512 Hz didapatkan hasil tuli konduksi. otitis media supuratif kronik.5. dikerjakan pada kasus revisi pembedahan sebelumnya. 2. Diperlukan aural toiletisasi untuk menghilangkan otore. dapat menurun pada penderita dengan perforasi membran timpani8. dengan perhatian terutama pada pemeriksaan telinga.

Kolesteatoma besar atau yang mengalami komplikasi memerlukan terapi pembedahan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. konseling preoperatif dianjurkan. Paralisis fasialis Paralisis fasialis disebabkan karena hancurnya tulang diatas nervus fasialis 7. memerlukan follow up lebih lanjut dan aural toilet 1. Pasien yang telah menjalani canal-wall-down prosedure memerlukan follow up tiap 3 bulan untuk pembersihan saluran telinga. Prosedur pembedahan meliputi: a. Prosedur pembedahan diterapkan pada individu dengan tanda-tanda patologis. Follow up meliputi evaluasi setengah tahunan atau tahunan. Komplikasi 1. Bondy Modified Radical Procedure Berbagai macam faktor turut menentukan operasi yang terbaik untuk pasien. tetapi resiko tinggi terjadinya rekurensi dan persisten kolestatoma. Konseling meliputi penjelasan tujuan pembedahan. Kehilangan pendengaran total Setelah operasi sebanyak 3% telinga yang dioperasi mengalami kerusakan permanen karena penyakitnya sendiri aau komplikasi proses penyembuhan. Resiko rekurensi cukup tinggi sehingga ahli bedah disarankan melakukan tympanomastoidectomi setelah 6 bulan sampai 1 tahun setelah operasi pertama3. Canal Wall Up Procedure (CWU) c. Follow up dilakukan 6 bulan sampai dengan 1 tahun untuk mencegah terjadinya kolesteatoma persisten atau rekurensi3. Rangkaian tulang-tulang pendengaran selalu intak1.wall-up prosedur umumnya memerlukan operasi tahap kedua selelah 6-9 bulan dari operasi pertama. Keluasan penyakit akan menentukan keluasan pendekatan pembedahan1. I. Tuli konduksi Tuli konduksi merupakan komplikasi yang sering terjadi karena terjadi erosi rangkaian tulang pendengaran. Canal-walldown prosedur memiliki probabilitas yang tinggi membersihkan permanen kolesteatomanya. Kehilangan pendengaran bervariasi sesuai dengan perkembangan myringostapediopexy atau transmisi suara melalui kantong kolesteatoma ke stapes atau footplate.pendengaran. tinnitus. Canal-wall-up procedure memiliki keuntungan yaitu mempertahankan penampilan normal. Sebagaimana prosedur pembedahan lainnya. Tes tersebut dilakukan dengan maksud untuk menentukan tingkat pendengaran dan keluasan desktruksi yang disebabkan oleh kolesteatomanya sendiri 6. bahkan pada pasien yang asimptomatik3. kehilangan pendengaran). Trancanal Anterior Atticotomi d. Pemeriksaan CT tulang temporal diperlukan untuk membantu keterlibatannya. 2. 3. vertigo. resiko pembedahan (paralisis fasial. Tes pendengaran dan keseimbangan. Pasien harus diberikan penjelasan tentang kemungkinan kehilangan pendengaran total 1. Tuli sensorineural Terdapatnya tuli sensorineural menandakan terdapatnya keterlibatan labyrinth1. rontgen mastoid dan CT scan mastoid diperlukan. Erosi prosesus lentikular dan atau super struktur stapes dapat menyebabkan tuli konduksi sampai dengan 50dB. Rekurensi dapat terjadi setelah pembedahan awal. 4. Tempat umum yang terjadi adalah gangglin genikulatum pada . Follow up Tiap pasien dimonitor selama beberapa tahun. Paralisis dapat berkembang secara akut mengikuti infeksinya atau lambat dari penyebaran kronik kolesteatomanya. 3. Pasien yang menjalani canal. Tujuan ketiga adalah memeliharan sebisa mungkin penampilan anatomi normal. Canal Wall Down Procedure (CWD) b.

S. 2. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid alam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT. Adams. Cholesteatoma: Pathogenesis and Surgical Management. M..asp?id=14160. http://www. 2006.Underbrink. http://www. Fistula labyrinthin Fistula labyrinthin terjadi pada 10% pasien dengan infeksi kronik dengan kolesteatoma. EGC. 2006. nyeri dan atau demam1.Kennedy. 2001.otohns. trombosis sinus lateral dan abses intrakranial terjadi pada 1% penderita kolesteatoma.. maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma. IJMS Vol 31. 2002. 2002.Ajalloueyan. March 2006. http://www..Boies. KOLESTEATOMA EKSTERNA Diposkan oleh Taufik Abidin oleh: Taufik Abidin Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). A. http://www. 9.Paparella. http://www. American Academy of Otolaryngology. 6. 1997.epitimpanicum anterior1. 5.com 4. Fistula dicurigai pada pasien dengan gangguan tuli sensorineural yang sudah berjalan lama dan atau vertigo yang diinduksi dengan suara atau perubahan tekanan pada telinga tengah1. Middle Ear. .Roland. 2006. Department of Otolaringology.html. Jakarta.net/default. 3. 1997. Levine. 10.htm. Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar. Cholesteatoma.. Jakarta. M..emedicine.entnet.com/tumors/procedure_one. University of Texas Medical Branch. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama.. 6. Surgery in Cholesteatoma: Ten years Follow-up. G. of Otolaryngology. Penyakit Telinga Luar dalam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT. Makishma.Hauptman. 1999. Z. Cholesteatoma. Jakarta. Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johanes Muller pada tahun 1838 karena disangka tumor yang ternyata bukan. No 1. L.rcsullivan. Komplikasi intra kranial ditandai dengan gejala otore maladorous supuratif.Anonim.com/www/ears. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. T..earsite.Anonim. Cholesteatoma.. biasanaya dengan nyeri kepala kronik. K. Cholesteatoma.. UTMB..cfm.org/index2. Cholesteatoma. Dept. G. Kelainan Telinga Tengah dalam buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. DAFTAR PUSTAKA 1. EGC. P. R. 5. S. 8. M. Intrakranial Komplikasi intrakranial seperti abses periosteal. L. 7. M. 2006.Djaafar.

juga pada pasien sinusitis. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya kuman. yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa. Terjadinya proses nekrosis diperhebat oleh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. Namun kejadian kolesteatoma sangat jarang terjadi. Pasien mengeluhkan nyeri tumpul sampai nyeri hebat akibat peradangan setempat dan otorea intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekunder. . Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. Kolesteatoma mengerosi tulang yang terkena baik akibat efek penekanan oleh penumpukan debris keratin maupun akibat aktifitas mediasi enzim osteoklas. Kolesteatoma pada liang telinga biasanya unilateral. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ disekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Bila tidak ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga. sering terjadi pada pasien dengan kelainan paru kronik. sehingga akan lembab karena menyerap air sehingga mengundang infeksi. sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Hal yang terakhir ini disebut sebagai kolesteatoma eksterna. Kolesteatoma eksterna disusun atas epitel gepeng & debris tumpukan pengelupasan keratin. Etiologinya belum diketahui. seperti bronkiektasis. Erosi bagian tulang liang telinga dapat sangat progresif memasuki rongga mastoid dan kavum timpani.Kolesteatoma diawali dengan penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga. Kolesteatoma diduga sebagai akibat migrasi epitel yang salah & periostitis sirkumskripta.

Herman.jpg.marshfieldclinic. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal. DAFTAR PUSTAKA Sosialisman. Etiologi / Penyebab Kolesteatoma Komplikasi dari Otitis Media Kronis Penatalaksanaan / Penanganan / Pengobatan / Terapi Kolesteatoma Mastoidektomy dapat menghilangkan kolesteatoma . Kolesteatoma. seringkali diperlukan tindakan bedah dengan melakukan tandur jaringan ke bawah kulit untuk menghilangkan gaung di dinding liang telinga.55-56. Jakarta. ZA. Kolesteatoma sangat berbahaya dan merusak jaringan sekitarnya yang dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran. Yang penting ialah membuat agar liang telinga berbentuk seperti corong. Patofisiologi / Patogenesis Kolesteatoma. seperti pada mastoiditis. Deteksi dan pengobatan secara dini pada otitis media dengan memberikan antibiotika akan menurunkan kolesteatoma. Keratosis Obliterans Dan Kolesteatoma Eksterna. sehingga pembersihan liang telinga secara spontan lebih terjamin. http://www.1. 47-48. Djaafar. Sel epitel debris mengumpul dalam telinga bagian tengah. Jakarta.. membentuk kista yang merusak struktur telinga dan mengurangi pendengaran. tiga kali seminggu sering kali dapat menolong. Kolesteatoma Kolesteatoma adalah suatu kista epithelial yang berisi deskuamasi epitel/keratin. Balai Penerbit FKUI. Pada pasien yang telah mengalami erosi tulang liang telinga. 2006. Balai Penerbit FKUI. 2006. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alcohol atau gliserin dalam perioksida 3%.Penyakit ini dapat dikontrol dengan melakukan pembersihan liang telinga secara periodic misalnya tiap tiga bulan. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal.org/proxy/MC-cattails_2006_sepoct_cyst.

2056) 3. Timpanosklerosis adalah timbunan kolagen dan kalsium di dalam telinga tengah yang dapat mengeras di seputar osikulus sebagai akibta infeksi berulang b.2056) 2.Meningitis . bila dilihat dari arah liang telinga berbentuk bundar dan lekung dan gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya. Definisi . Granuloma kolesterin adalah reaksi system imun terhadap produk samping darah (Kristal kolesterol) di dalam telinga tengah (Brunner & Suddath: 1999. Glomus jugulare adalah tumor yang timbul dari bulbus jugularis (Brunner & Suddath: 1999. meatus autikus eksternus. jenis-jenis Massa Telinga Tengah 1.Labirinitis . nervus fasialis (Brunner & Suddath: 1999. Kesimpulan Telinga adalah salah satu organ pancaindra yang memiliki fungsi yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Penatalaksanaan Pada dasarnya semua jenis massa dilakukan pengangkatan massa melalui pembedahan. umbo. mengarah ke medial.Abses otak MASSA TELINGA TENGAH a.Komplikasi Kolesteatoma Komplikasi terjadi apabila sudah terjadi proses nekrosis tulang yakni : . Sedangkan Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari membrane timpani.2056) 4. KOLESTEATOMA BAB II PEMBAHASAN A. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna/aurikula). dan jika tidak memungkinkan pembedahan digunakan erapi radiasi. kanalis auditorius eksternus dan membran timpani. Neuroma nervus fasialis adalah tumor nervus VII.

Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi. ETIOLOGI Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. Desakan massa + reaksi asam oleh pembusukan bakteri  nekrosis tulang  komplikasi . Apabila terbentuk terus menerus dapat menyebabkan terjadinya penumpukan sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar. B. destruktif. otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah. C. dan mampu berangiogenesis. PATOFISIOLOGI Terdiri dari :    Deskuamasi epitel skuamosa (keratin) Jaringan granulasi yang mensekresi enzim proteolitik Dapat memperluas diri dengan mengorbankan struktur disekelilingnya Erosi tulang terjadi oleh dua mekanisme utama : Efek tekanan  remodelling tulang Aktivitas enzim  meningkatkan proses osteoklastik pada tulang  meningkatkan resorpsi tulang. ketika menelan atau menguap. migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin.kolesteatom adalah kista epitelial berisi deskuamasi epitel (keratin). Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat. Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara.bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal.    Merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman  infeksi Infeksi pelepasan sitokin yang menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatoma menjadi hiperproliferatif.

2. cerebellopontin angle. dan seringkali teridentifikasi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun. 1. Teori Imigrasi. terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. setelah blust injury. akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama. ditemukan pada daerah petrosus mastoid.D. akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. desakan atau tekanan yang mengakibatkan remodeling tulang atau nekrosis tulang. Erosi tulang melalui dua mekanisme. aktivitas enzimatik tepi kolesteatom yang bersifat osteoklastik yang menyebabkan resorpsi tulang. 2. KLASIFIKASI a. b. Kolesteatom Kongenital. Primer terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane timpani. Kolesteatoma Akuisital 1. E. Teori Invaginasi. membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. Teori Implantasi. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. 3. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars flacida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi. 2. akan tetapi telah terjadi retraksi membran timpani. 4. Teori Metaplasi. anterior mesotimpanum atau pada daerah tepi tuba austachii. yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. PATOGENESIS 1. Kolestetoma Akuisital Sekunder .

F.terbentuk setelah perforasi membran timpani. G. akan terbentuk pertumbuhan menonjol (polip). PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Rontgen konvensional posisi Waters dan Stenvers CT scan MRI . Pendengaran berkurang Perasaan cemas Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah 1 sisi wajah atau sisi telinga yang terinfeksi. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga /dari pinggir perforasi membrana timpani. Bila terus menerus kambuh. GEJALA KLINIS Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga) keluar nanah berbau busuk dari telinga tanpa disertai rasa nyeri.

2. pucat ( menendakan adanya stres ) 3. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi. 3. C. PENGKAJIAN 1. hipertensi.ASUHAN KEPERAWATAN A. Sirkulasi  Hipotensi. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. Kriteria hasil :  Ganguan nyeri teradaptasi  Dapat tidur dengan tenang Intervensi :  Kaji nyeri yang dirasakan  Monitor tanda-tanda vital . DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. 4. Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Nutrisi  Adanya mual 4. Aktivitas  Gangguan keseimbangan tubuh  Mudah lelah 2. Tujuan : Setelah dilakukannya tindakan keperawatan 1X24 jam diharapkan klien dapat istirahat dan tidur. PERENCANAAN 1. System pendengaran  Adanya suara abnormal (dengung) 5. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Pola istirahat  Gangguan tidur/kesulitan tidur B.

Intervensi :  Kaji tingkat kecemasan  Berikan penyuluhan tentang kolesteatoma  Yakinkan klien bahwa penyakitnya dapat disembuhkan . Tujuan : Setelah dilakukan tindkan keperawatan diharapkan meminimalakan kerusakan interaksi social. Tujuan : Setelah dilakauakan tindakan keperawatan klien dan keluarga klien tidak cemas. Intervensi :  Kaji kesulitan mendengar  Kaji seberapa parah gangguan pendengaran yang dialami  Anjurkan menggunakan alat bantu dengar setiap diperlukan  Bila mungkin ajarkan komunikasi nonverbal 4. pengetahuan klien terhadap penyakitnya meningkat. Anjurkan klien untuk beradaptasi dengan gangguan yang dirasakan  Kolaborasi dalam pemberian obat penenang/obat tidur 2. Kriteria hasil :  Nyeri dapat teradaptasi  Dapat istirahat dengan nyaman Intervensi :  Monitor dan kaji karakteristik nyeri  Monitor tanda-tanda vital  Ciptaka lingkungan yang tenang dan nyaman 3. Kriteria hasil : Tidak terjadi kecemasan. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi. Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. Kriteria hasil :  Resiko kerusakan interaksi sosialdapat diminimalkan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri.

1970). Beberapa istilah lain yang diperkenalkan oleh para ahli antara lain adalah: keratoma (Schucknecht). Terjadinya proses nekrosis diperhebat olh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. Tetapi dapat juga tanpa gejala. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar. Kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa. 1988). Kolesteatom cepat membesar bila sudah disertai dengan infeksi.2 Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johannes Muller pada tahun 1838 karena disangka kolesteatoma merupakan suatu tumor. Walaupun kolesteatom sudah dikenal sejak pertengahan abad ke 19. kista dermoid (Fertillo. squamous epiteliosis (Birrel.1 Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/terpapar ke dunia luar. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-desac sehingga apabila terdapat serumen yang pada (serumen plug) di liang telinga dalam waktu yang lama. dan menghindari stress.1 Seringkali kolesteatoma dihubungkan dengan kehilangan pendengaran dan infeksi pada telinga yang menghasilkan cairan pada telinga. kolesteatosis (Birrel. Kolesteatom ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman. 1958). maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperagkap sehingga membentuk kolesteatom. epidermoid kolesteatoma (Friedman. Banyak teori telah dikemukakan oleh para ahli . namun sampai sekarang patogenesis penyakit ini masih belum jelas. epidermosis (Sumarkin. Definisi Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi jaringan epitel (keratin). Anjurkan klien untuk rileks. 1958). 1959). ternyata bukan.

yaitu primer dan sekunder. 3. tanpa riwayat infeksi sebelumnya.4 Oleh karena itu Levenson. 1) Kolesteatom Kongenital Kolesteatoma kongenital terjadi karena perkembangan dari proses inklusi pada embrional atau dari sel-sel epitel embrional. baik primer maupun sekunder. Faktor terpenting dari kolesteatoma aquisita. Karena itu kolesteatoma ditemui di belakang dari membran tympani yang intak.3 Etiologi dan patogenesis kolesteatoma belum diketahui dengan jelas. Riwayat otitis media sebelumnya bukan merupakan kriteria eksklusi Tipikal kolesteatom kongenital ditemukan pada bagian anterior mesotympanum atau pada area sekitar tuba eustachius. teori metaplasi dan teori implantasi. 1) Kolesteatom Aquisita Kolesteatoma aquisita dibagi menjadi dua. 2. dkk (1989) membuat modifikasi definisi kolesteatoma kongenita (Tabel 1) Tabel 1. Kolesteatoma aquisita sekunder sebagai konsekuensi langsung dari trauma pada membrane tympani. Klasifikasi dan Patogenesis Berdasarkan etiologi kolesteatoma dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu kongenital dan didapat (akuisita). teori imigrasi. atau adanya riwayat infeksi pada telinga. antara lain: teori invaginasi. 4. kolesteatoma kongenital terjadi pada di belakang membran tympani yang intak.3 Kolesteatoma aquisita primer merupakan manifestasi dari perkembangan membran tympani yang retraksi.tentang pathogenesis kolesteatom.4 Namun definisi ini telah berubah setelah diketajui bahwa hampir 70% anak akan mengalami sekurang-kurangnya satu kali episode otitis media.5 Penelitian Levenson menunjukkan bahwa rata-rata usia terjadinya kolesteatoma kongenital adalah 4. dan sering terjadi pada awal kanak-kanak (6 bulan sampai 5 tahun). Kriteria Kolesteatoma Kongenital Telinga Tengah 3 1. . Dua pertiga kasus terjadi pada kuadran anteroposterior membran tympani. serta teori terjadinya metaplasi mukosa telinga tengah. Dua teori yang sering digunakan adalah kegagalan involusi penebalan epitel ektodermal yang terjadi pada masa perkembangan fetus pada bagian proksimal ganglion genikulatum. Berdasarkan teori klasik oleh Derlacki dan Clemis (1965). adalah epitel skuamous keratinisasi tumbuh melewati batas normal. Terdapatnya masa putih pada membran tympani yang normal Pars tensa dan flaccida yang normal Tidak adanya riwayat otorrhea ataupun perforasi sebelumnya Tidak ada riwayat prosedut otologi sebelumnya 5. tanpa berlanjut ke saluran telinga luar dengan tidak adanya faktor-faktor yang lain seperti perforasi dari membran tympani.5 tahun dengan perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan 3:1.

Fakultas Kedokteran Ilmu Indonesia. maka terjadilah keadaan vakum pada telinga tengah. ed. Matriks epitel yang mengelilinginya meluas ke ruang-ruang yang ada di ruang atik.5 Patogenesis kolesteatoma aquisita sekunder diterangkan dengan beberapa teori. Dulu dianggap bahwa tekanan yang terjadi karena kolesteatom yang membesar menyebabkan destruksi tulang. dan teori invasi epitelial. menyebabkan akumulasi keratin pada kantong tersebut. The National Deaf Children`s Society. Destruksi tulang-tulang pendengaran sering terjadi pada kasus ini. epitel terdeskuamasi diubah menjadi epitel skuamosa stratified keratinisasi akibat terjadinya otitis media akut berulang ataupun kronis. Telah diyakini bahwa proses ini disebabkan infeksi kronik yang terus berlangsung dalam cavum tympani. Pembesaran dapat berjalan semakin ke posterior mencapai aditus ad antrum menyebar ke tulang mastoid. Reaksi peradangan pada ruang Prussack (Prussack’s space).Jika terjadi disfungsi tuba Eustachius. In: Quinn FB. terbentuk lapisan-lapisan deskuamasi epitel dengan kristal kolestrin mengisi kantong. Perluasan proses ini diikuti kerusakkan tulang dinding atik.uk (last access: January 24th. telinga tengah dan mastoid. Sedangkan mekanisme menurut teori invasi epitel adalah bahwa kapanpun terjadi perforasi pada mambran tympani. 2006) 3. Avaiable at: http://www. atau trauma. Daftar Pustaka 1. UTMB. Jika kantong retraksi ini terbentuk maka terjadi perubahan abnormal pola migrasi epitel tympani. In: Soepardi EA.3 Sekali kantong atau kista epitel skuamosa terbentuk dalam rongga telinga tengah.4.org. Kelainan Telinga Tengah. Djaffar Zainul A. Pertumbuhan papiler ke dalam yang menyebabkan perkembangan kolesteoma bermula pada pars flaccida. Sehingga pars flaccida membrana tympani tertarik dari terbentuklah kantong (retraction pocket). Iskandar N. dan septa mastoid untuk memberi tempat bagi kolesteatom yang bertambah besar. Cholesteatoma. Of Otolaryngology. teori metaplasi. 2001. Avaiable at: . 5. Proses osteogenesis ini disertai osteogenesis dalam mastoid dengan adanya sklerosis. rantai osikular. Grand Round Presentation.3. erosi tegmen mastoid ke durameter dan atau ke lateral kanalis semisirkularis yang dapat menyebabkan ketulian dan vertigo. Gadre A. adanya benda asing. Infeksi pada kolesteatoma bukan hanya menyebabkan sklerosis mastoid yang cepat tetapi juga peningkatan proses osteolitik. Ryan MW. editor. Berasarkan teori metaplasia.ndcs. Underbrink M.p. Menurut teori implantasi. epitel squamous akan bermigrasi melewati tepi perforasi dan bejalan ke medial sejajar dengan permukaan bawah gendang telinga merusak epitel kolumnar yang ada. Kini terbukti bahwa erosi tulang disebabkan karena adanya enzim osteolitik atau kolagenase yang disekresi oleh jaringan ikat subepitel. yaitu: teori implantasi. Akumulasi ini semakin lama semakin banyak dan kantong retraksi bertambah besar ke arah medial. yang biasanya disebabkan ventilasi yang buruk pada daerah ini dapa menyebabkan perusakan membran basal menyebabkan pertumbuhan dan proliferasi tangkai sel epitel ke dalam. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Dept. epitel skuamous terimplantasi ke telinga tengah sebagai akibat pembedahan. Jakarta. 49-62 2. Cholesteatoma. editor.

Test Rinne . mastoideus dari telinga yang akan diperiksa. Cara pemeriksaannya . Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Garpu tala 512 Hz. Di lain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara. Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne positif bila sudah tidak mendengar dikatakan Rinne negatif. atau dahi . 3. Cara pemeriksaannya . Penderita ditanyakan apakah masih mendengar suara garpu tala atau tidak ? Bila tidak dapat membedakan ke arah telinga mana yang lebih keras atau dijawab sama kerasnya antara kanan dan kiri artinya tidak terdapat lateralisasi. Cara pemeriksaannya : Garpu tala 512 Hz yang telah digetarkan diletakan pada proc. Juga pada tuli sensorineural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Kepada pasien ditanyakan apakah mendengar sekaligus diinstruksikan supaya mengangkat tangan apabila sudah tidak mendengar lagi. yang telah digetarkan diletakan ujungnya pada vertex. 1. Prinsip pemeriksaan ini adalah membadingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan pada telinga normal hantaran antara telinga kiri dan kanan akan sama.http://www. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Bila penderita sudah mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingg ujung yang bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa.edu/otoref/Grnds/Cholesteatoma-020918/Cholesteatoma. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang pada penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan telinga pemeriksa harus normal.Test Schwabach.utmb. Apabila terdapat penjalaran ke salah satu telinga maka artinya terdapat lateralisasi. .pdf access: January 24th. 2006) (last Pemeriksaan Garpu Tala Pemeriksaan telinga dengan garpu tala ada 3 cara pemeriksaan diantaranya . 2.Test Weber.

Rinne. Bila pasien mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke proc. RINNE POSITIF NEGATIF WEBER TIDAK ADA LATERALISASI LATERALISASI KE ARAH TELINGA YANG SAKIT LATERALISASI KE TELINGA YANG SEHAT SCHWABACH SAMA DENGAN PEMERIKSA MEMANJANG HASIL NORMAL TULI KONDUKTIF POSITIF MEMENDEK TULI SENSORINEURAL Catatan : Pada tuli Konduktf < 30dB . sesudah itu diinstruksikan juga supaya mengangkat tangannya apabila sudah tidak mendengar suara hantaran dari garpu tala. Weber test dan Scwabach test LATAR BELAKANG Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di lingkungan eksternal. Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di memberan timpani persatuan waktu adalah satuan gelombang. Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan Schwabach normal dan bila pasien masih mendengar suara hantaran pada garpu tala maka dikatakan Schwabach memanjang. semakin tinggi frekuensi dan semakin tinggi nada. Gelombang suara . Mastoideus pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke proc. Semakin besar suara semakin besar amplitudo. karena ambang pendengaran lebih rendah pada frekuensi dibandingkan dengan frekuensi lain. yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang seling mengenai memberan timpani.Mastoideus pemeriksa. dan gerakan semacam itu dalam lingukangan secara umum disebut gelombang suara.Mastoideus pasien dan ditanyakan lagi apakah pasien mendengar suara hantaran dari garpu tala?. Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan nada berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelombang persatuan waktu). Rinne bisa masih positif Pemeriksaan Audiometri. Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran pada garpu tala.Garpu tala 512 Hz yang sudah digetarkan diletakan pada proc. Namun nada juga ditentukan oleh factor .faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami selain frekuensi dan frekuensi mempengaruhi kekerasan. Bila pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakan pada proc. Mastoideus pasien kemudian kepada pasien ditanyakan apakah masih mendengar suara dari garpu tala.

Terdiri dari telinga luar. Telinga mempunyai resptor bagi 2 modalitas reseptor sensorik : 1. (William F. Tingkat suatu suara menutupi suara lain berkaitan dengan nadanya. Variasi timbre mempengaruhi mengetahhi suara berbagai alat musik walaupun alat tersebut memberikan nada yang sama. tengah dan dalam. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang bunyi ke otak dimana bunyi tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan.1998) A. Efek penyamaran suara lata akan meningkatan ambang pendengaran dengan besar yang tertentu dan dapat diukir. walaupun masing . Cara paling mudah untuk menggambarkan fungsi dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa dari permulaan sampai akhir dari setiap bagian-bagian telinga yang berbeda. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan telinga dalam.Gannong. Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan frekuensi primer yang menentukan suara ditambah sejumla getaran harmonik yang menyebabkan suara memiliki timbre yang khas. Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara di lingkungan eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran। Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan lempeng kaki stapes. Coclearis) Telinga dibagi menjadi 3 bagian : . Fenomena ini dikenal sebagai masking (penyamaran).Gannom. getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan sensasi bising.masing gelombang bersifat kompleks. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksidi serat-serat saraf. Fenomena ini diperkirakan disebabkan oleh refrakter relative atau absolute pada reseptor dan urat saraf pada saraf audiotik yang sebelumnya teransang oleh ransangan lain. Anatomi system pendengaran (Telinga) Merupakan organ pendengaran dan keseimbangan. 1998) Telah diketahui bahwa adanya suatu suara akan menurunkan kemampuan seseorang mendengar suara lain.memiliki pola berulang. Kecuali pada lingkungan yang sangat kedap suara. Pendengaran (N. didengar sebagai suara musik. (William F.

lalu dengan perlahan disalurkan pada rangkaian tulang-tulang pendengaran. landasan. gelombang suara akan menyebabkan bergetarnya gendang telinga. dan sanggurdi"secara mekanik menghubungkan gendang telinga dengan "tingkap lonjong" di telinga dalam.Telinga luar Auricula Mengumpulkan suara yang diterima Meatus Acusticus Eksternus Menyalurkan atau meneruskan suara ke kanalis auditorius eksterna Canalis Auditorius Eksternus Meneruskan suara ke memberan timpani Membran timpani Sebagai resonator mengubah gelombang udara menjadi gelombang mekanik। Telinga tengah Telinga tengah adalah ruang berisi udara yang menghubungkan rongga hidung dan tenggorokan dihubungkan melalui tuba eustachius. Tuba eustachius lazimnya dalam keadaan tertutup akan tetapi dapat terbuka secara alami ketika anda menelan dan menguap. Telinga tengah terdiri dari : Tuba auditorius (eustachius) Penghubung faring dan cavum naso faringuntuk : Proteksi: melindungi ndari kuman . Pergerakan dari oval window (tingkap lonjong) menyalurkan tekanan gelombang dari bunyi kedalam telinga dalam. yang fungsinya menyamakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga. Tulangtulang yang saling berhubungan ini .sering disebut " martil. Setelah sampai pada gendang telinga.

Sepanjang jalur rumah siput terdiri dari 20. Hal ini dikarenakan pertambahan usia atau terpapar bising yang keras secara terus menerus.sebagai contoh mengerti percakapan. Gangguan pendengaran yang diseperti ini biasa disebut dengan sensorineural atau perseptif. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk . Hampir 90% kasus gangguan pendengaran disebabkan oleh rusak atau lemahnya sel-sel rambut telinga dalam secara perlahan. Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari : Koklea Skala vestibule: mengandung perlimfe media: mengandung endolimfe timani: mengandung perlimfe Skala Skala Organo corti Memngandung sel-sel rambut yang merupakan resseptor pendengaran di memberan basilaris. orang-orang terlihat hanya seperti berguman dan anda sering meminta mereka . dan stapes) Memperkuat gerakan mekanik dan memberan timpani untuk diteruskan ke foramen ovale pada koklea sehingga perlimife pada skala vestibule akan berkembang. menjadi lebih sulit membedakan atau memilah pembicaraan pada kondisi bising. menyamakan tekanan luar dan dalam.Drainase: mengeluarkan cairan. Di otak getaran tersebut akan di intrepertasi sebagai makna suatu bunyi. inkus. Suara-suara nada tinggi tertentu seperti kicauan burung menghilang bersamaan. Aerufungsi: Tuba pendengaran (maleus. Efeknya hampir selalu sama. Telinga dalam dipenuhi oleh cairan dan terdiri dari "cochlea" berbentuk spiral yang disebut rumah siput.000 sel-sel rambut yang mengubah getaran suara menjadi getaran-getaran saraf yang akan dikirim ke otak.

Rambut–rambut pada sel rambut asertif di organ ini menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa di atasnya. kecuali dia berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal (misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap . berjungkir balik. Tiap – tiap telinga memiliki tiga kanalis semesirkularis yang tegak lurus satu sama lain.untuk mengulangi apa yang mereka katakan. melodi akan sulit untuk dikenali dan suaranya tidak benar secara keseluruhan. Dengan hanya 6 atau 7 nada yang salah. Sebuah alat bantu dengar akan dapat membantu menambah kemampuan mendengar anda. Andapun dapat membantu untuk menjaga agar selanjutnya tidak menjadi lebih buruk dari keadaan saat ini dengan menghindari sering terpapar oleh bising yang keras. Vestibularis) a. Canalis Semisirkularis Canalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselarisasi anguler atau rotasional kepala. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk sebagai contoh mengerti percakapan. tidak ada cara apapun yang dapat memperbaikinya. Sacculus Sacculus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea. tetapi tidak memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan. atau memutar kepala. Sacculus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus. Keseimbangan (N. Contoh kecil seperti menghilangkan semua nada tinggi pada piano dan meminta seseorang untuk memainkan sebuah melodi yang terkenal. Sekali sel-sel rambut telinga dalam mengalami kerusakan. c. Utrikulus Utrikulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea. yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel rambut. Sel-sel rambut utrikulus mendeteksi akselerasi atau deselerasi linear horizontal. misalnya ketika memulai atau berhenti berputar. b.

Kelainan telingna luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah astresia liang telinga.VIII yang kemudian neneruskan ransangan ke pusat sensori pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit system saraf pusat dari telinga. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhhubungan satu sama lain. Fisiologi Pendengaran Getaran suara ditangkap ol. Kelainan /Ganggaun Fisiologi Telinga 1. otitis eksterna sirkumsripta. sumbatan oleh serumen. b. osteoma liang teling. Tuli konduktif Karena kelainan ditelinga luaaar atau di telinga tengah a. dan dislokasi tulang pensdengaaran. sehingga memberan timpani bergetar.akselerasi atau deselerasi loner vertical (misalnya melompat atau berada dalam elevator). Orang tersebut mengalamipenurunan atau kehilangan kemampuan total untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan pada : a. Tuli perseptif Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. Selanjutnya stapes menggerakkan perilimfe dalam skala vestibui kemudian getaran diteruskan melalui Rissener yang mendorong endolimfe dan memberan basal ke arah bawah. 2.eh telinga yang dialirkan ke telinga dan mengenai memberan timpani. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion Na menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang N. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah tubakar/sumbatan tuba eustachius. perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar. Organo corti .

maka dalam makalah ini yang diuraikan hanya diagnosis KP pada anak-anak umur 6 tahun keatas dan dewasa. sedangkan lebih dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan yang didengar sama dengan orang dewasa karena luasnya aspek diagnostik KP.b. Usia 6 tahun diambil sebagai batas. Sebagi dokter umum cukuplah memperhatikan keempat aspek penting berikuta ini : Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak.coclearis dan N.vestibularais c. Respon manusia terhadap suara atau percakapan yang didengranya tergantung pada umur pertumbuhannya. Saraf : N. Jenis KP . Pad kedua golongan umur tersbut. Kekurangan Pendengaran Yang dimaksud dengan kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seorang kurang dpat mendengar dan mengerti suara atau percakpan yang didengar untuk mendiagnosis kurang pendengaran. 2. Tuli campuran Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak sempurna sehingga infeksi skunder (tuli persepsi juga). Jenis kurang pendengaran kurang pendengaran penyebab kurang pendengaran Derajat Menentukan 1. kurang dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan berbeda-beda tergantung umurnya. Pusat pendengaran otak 3. Penentuan pada penderita apakah ada KP atau tidak Dalam penentuan apakah ada KP atau tidak pada penderita hal penting yang harus diperhatiakan adalah umur prnderita.

melainkan berdadasarkan adanya masalah psikologis atau omosional. KP jenis sentral Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang otak sampai dengan korteks otak.VIII) c. KP jenis fungsional Pada KP jenis ini tidak dijumpai adanya gangguan atau lesi organic pada system pendengaran baik perifer maupun sentral. 3. d. Untuk KP jenis sentral dan fungsional mengingat masih terbatasnya pengetahuan proses pendengara diwilayah trsebut. Menentukan penyebab KP Menetukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara kempat batasan atau aspek tersebut diatas. b. disamping masih belum banyak dikenal teknik uji pendengaran yang dapat dimanfaatkan untuk bahan diagnostik. KP jenis hantaran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga luar dan atau telinga tengah. untuk itu diperlukan : . KP jenis sensorineural Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (pada koklea dan N. maka pada makalah ini akan dibatasi pada diagnosis KP jenis hantaran sensorineural dan campuran saja. KP jenis campuran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga dalam. e.Jenis KP berdasarkan lokalisasi lesi : a.

Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. a.a. Tes bisik modifikasi c. c. Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto laboratorium) Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. hidung dan tenggorokan ) yang teliti. Alat ini menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. yaitu : a. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan . Pemeriksaan audiometri Tes Fungsi Pendengaran Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Tes garputala d. Tes bisik b. Anamnesis yang luas dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut b. Pemeriksaan umum dan khusus (telinga. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai.

4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB).000 Hz. audiologis dan pasien yang kooperatif.pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel 0-15 >15-25 >25-40 >40-55 >55-70 >70-90 >90 Pendengaran normal Kehilangan pendengaran kecil Kehilangan pendengaran ringan Kehilangan pendengaran sedang Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat Kehilangan pendengaran berat Kehilangan pendengaran berat sekali Klasifikasi . 1000-2000. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 20-20. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1) Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri. Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara.

untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. pendengar diminta untuk mnebaknya. kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. 2) Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan. dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur. . kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. Grafiknya terdiri dari skala decibel. Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita.Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL.

tetapi juga jauh diatasnya. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi. dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar.b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. sedangkan intensitas suara barapa saja. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. . Dengan demikian. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB. Pada audiometri tutur. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah. Kriteria orang tuli : Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB Sedang Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Berat Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi. berarti pendengaran baik. memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga). Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar katakata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya.

ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi). atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan. yaitu : a. deteksi ktulian pada anak-anak c.tuntutan ganti rugi 3) Untuk kedokteran klinik Pencegahan.apakah ada kotoran telinga (serumen). segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya . b. apakah ada lubang gendang telinga. Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. 3) Skrinig anak balita dan SD 4) Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran. 1. Tujuan Ada empat tujuan (Davis. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Manfaat audiometri 1) Untuk kedokteran klinik. Ada 2 macam tes rinne . 1978) : 1) Mediagnostik penyakit telinga 2) Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari. khususnya penyakit telinga 2) Untuk kedokteran klinik Kehakiman. Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien.

b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : 1) Normal : tes rinne positif 2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) 3) Tuli persepsi. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. terdapat 3 kemungkinan : a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. 2. Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus.b. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus. Test Weber .

telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar. Menurut pasien. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. Interpretasi: a. 2) Tuli konduksi pada kedua telinga. missal adanya ototis media disebelah kanan. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan. Jika kedua pasien samasama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi. Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: 1) Tuli konduksi sebelah kanan. Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Test Swabach Tujuan : . 3. sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut.Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. 3) Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. 5) Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. 4) Tuli persepsi pada kedua teling. maka di dengar sebelah kanan. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. b.

maka penguji akan segera memindahkan garputala itu. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding).Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. Bila masih terdengar disebut Rinne Positif. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkainya diletakkan di prosesus mastoideus. dan 2048 Hz. khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. Dalam keadaan normal hantaran melalui udara lebih panjang daripada hantaran tulang. idealnya menggunakan garpu tala dengan frekuensi 512. . Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara. Setelah tidak terdengar garpu tala dipegang di depan telingan kira-kira 2.05 4 komentar: Beranda Langganan: Entri (Atom) Untuk melihat ada tidaknya gangguan fungsi pendengaran pada pekerja dengan menggunakan garpu tala untuk pemeriksaan gangguan fungsi pendengaran oleh peneliti. Bila tidak mungkin cukup dipakai garpu tala dengan frekuensi 512 Hz karena tidak penggunaan garpu tala ini tidak terlalu dipengaruhi oleh suara bising disekitar lingkungan pemeriksaan. Getaran yang datang melalui tengkorak.5 cm. atau tidak mendengar suara. •Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran melalui udara dan tulang pada telinga yang diperiksa. 1024. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. Diposkan oleh neeya_koizora di 01. bila tidak terdengar disebut Rinne Negatif. Test garpu tala untuk pengukuran kualitatif. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala.

pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya.bila sebaliknya (literalisasi pada telinga yang sehat) berarti pada telinga yang sakit terdapat tuli saraf. 4. Bila pasien masih mendengar. kemudian diperdengarkan pada penderita dengan meletakkan garpu tala di dekat MAE pada jarak 1-2 cm dalam posisi tegak dan 2 kaki pada garis yang menghubungkan MAE kanan dan kiri. didengarkan terlebih dulu o/ pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk mencapai intensitas bunyi yang terendah bagi orang normal/ nilai ambang normal). •Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa normal. Bila pada telinga yang sakit (literalisasi pada telinga yang sakit) berarti terdapat tuli konduktif pada telinga tersebut. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan di garis tengah dahi atau kepala. Bila masih dapat mendengar disebut memendek atau tuli saraf. dengan cara dipegang tangkainya kemudian kedua ujung kakinya dibunyikan dengan lunak (dipetik dengan ujung jari/kuku. 1. TES GARPUTALA Ada 4 jenis tes garpu tala yang sering dilakukan : Tes batas atas dan batas bawah Tes Rinne Tes Weber Tes Schwabach Tes-tes ini memiliki tujuan khusus yang berbeda dan saling melengkapi. bila pemeriksa tidak dapat mendengar. 3. Bila terdengar sama atau tidak terdengar disebut tidak ada literalisasi. .•Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan. Jika kira-kira sama mendengarnya disebut sama dengan pemeriksa. Bila bunyi terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut literalisasi ke telinga tersebut. Tes Batas Atas Batas Bawah Tujuan : menentukan frekwensi garpu tala yang dapat di dengar penderita melewati hantaran udara bila dibunyikan pada intensitas ambang normal. disebut memanjang atau terdapat tuli konduktif. THT 1. 2. Cara : Semua garpu tala (dapat dimlai dari frekwensi terendah berurutan sampai frekwensi tertinggi / sebaliknya) dibunyikan satu persatu. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi kemudian dipindahkan ke prosesus mastoideus pemeriksa yang pendengarannya dianggap normal.

kemudian dipancangkan pada planum mastoid. bila tidak mendengar disebut Rinne negatif. Cara : .Penderita terlambat memberi isyarat waktu garpu tala sudah tak terdengar lagi. Bila kedua telinga tak mendengar atau sama-sama mendengar bararti tak ada lateralisasi. Cara : . Bila lebih keras di depan disebut Rinne positif.Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz. Bila mendengar pada satu telinga disebut lateralisasi ke sisi telinga tersebut. kemudian segera dipindah di depan MAE. letakkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid penderita (posterior dari MAE) sampai penderita tak mendengar. penderita ditanya mana yang lebih keras. * Tuli konduksi : batas bawah naik (frekwensi rendah tak terdengar) * Tuli sensori neural : batas atas turun (frekwnsi tinggi tak terdengar) Kesalahan : Garpu tala dibunyikan terlalu keras shg tidak dapat mendeteksi pada frekwensi mana penderita tak mendengar.Interpretasi : * Normal : mendengar garpu tala pada semua frekwensi. terkena rambut. 3. 2. bila lebih keras di belakang Rinne negatif. Interpretasi : * Normal : tidak ada lateralisasi . hal ini dapat terjadi bila telinga yang tidak dites pendengarannya jauh lebih baik daripada yang di tes. . kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus di garis median. . Apabila penderita masih mendengar garpu tala di depan MAE desebut Rinne positif.Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz. biasanya di dahi (dapat pula pada vertex. dagu atau pada gigi insisivus) dengan kedua kaki pada garis horizontal. kemudian cepat pindahkan ke depan MAE penderita. Penderita diminta untuk menunjukkan telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Kesalahan : . Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita. Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada satu telinga penderita. Interpretasi : * Normal : Rinne positif (mendengar) * Tuli konduksi : Rinne negatif ( tidak mendengar) * Tuli sensori neural : Rinne posotof (dengar) Kadang-kadang terjadi false Rinne (pseudo positif atau pseudo negatif) terjadi bila stimulus bunyi ditangkap oleh telinga yang tidak di tes.Garpu tala tidak diletakkan dengan baik pada mastoid atau miring.Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan. jaringan lemak tebal shg penderita tidak mendengar atau getaran terhenti karena kaki garpu tala tersentuh aurikulum. shg waktu dipindahkan di depan MAE getaran garpu tala sudah berhenti.

Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. kaki garpu tala tersentuh sehingga bunyi menghilang. telinga kiri normal b. dapat di interpretasikan : a. c. tetapi bila penderita tidak mendengar. * Pada tuli sensori neural : Schwabach memendek Kesalahan Uji/ Test bisa dikarenakan : * Garpu tala tidak tegak dengan baik. d.* Tuli konduksi : mendengar lebih keras di telinga yang sakit. Garputala . bila pemeriksa tidak mendengar berarti sama-sama normal. Tuli konduksi kanan dan kiri. yaitu tes pada penderita dulu baru ke pemeriksa. secepatnya garpu tala dipindahkan ke mastoid penderita. Tuli sensori neural kiri. bila penderita sudah tidak mendengar maka secepatnya garpu tala dipindahkan pada mastoid pemeriksa. Garpu tala 512 Hz dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita.Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus pada mastoid pemeriksa. Karena menilai kedua telinga sekaligus maka kemungkinannya dapat lebih dari satu. Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka tes dibalik. telinga kanan normal. Cara : . * Tuli sensori neural : mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran lewat tulang antara penderita dgn pemeriksa. Interpretasi : * Normal : Schwabach normal * Pada tuli konduksi : Schwabach memanjang. tetapi kiri lebih berat e. tetapi kanan lebih berat. * Isyarat menghilangnya bunyi tidak segera diberitahukan oleh pasien. terdapat 2 kemungkinan yaitu Schwabach memendek atau normal. Bila penderita masih mendengar maka Schwabach memanjang. Tuli sensori neural kanan dan kiri. Tuli konduksi kanan. 4. bila pemeriksa masih mendengar berarti Schwabach penderita memendek. Tuli konduksi kanan dan sensori neural kiri. Weber . Contoh : lateralisasi ke kanan. bila pemeriksa sudah tidak mendengar.

Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. Caranya ialah garputala digetarkan. Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. makin lama pemeriksa makin mendekat. 1024 Hz dan 2048 Hz. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz. ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. tuli . Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi. sampai pasien mendengar bunyi. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan. asalkan tidak terlalu riuh. Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. dahi. Pada pasien yang pendengarannya masih baik. lima buah. kira-kira 2. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan. dan diperiksa di ruang periksa.5 cm jaraknya dari liang telinga. maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. c. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel. disebut uji rinne positif b. lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. 1000 Hz. 256 hz. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi. garputala digetarkan . Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. Uji berbisik 3. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. sampai 8000 Hz. kemudian telinga kiri. telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. Caranya ialah. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. tidak perlu di ruang kedap suara. Dimulai sejak jarak 6 meter. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. Audiometrik Garputala terdiri dari satu set. Pemeriksa duduk ke samping. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. dengan frekuensi 128 Hz. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek. dengan panjang 6 meter. Pada telinga kanan. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara.2. atau pertengahan gigi seri. 1500 Hz. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. Pasien diberi tahu. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. Ada 3 macam pemeriksaan: a. 512 Hz. sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya.

Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. terdapat 3 kemungkinan : Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. Ada 2 macam tes rinne . weber. tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) . sedang atau berat. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : Normal : tes rinne positif Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) Tuli persepsi. dan swabach Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien.hantar (konduktif). Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. Test rinne. yaitu : Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus).

sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak. Menurut pasien. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus. Test Weber Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Interpretasi: Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan.Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. . tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien.

khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. maka penguji akan segera memindahkan garputala itu. Getaran yang datang melalui tengkorak. Weber dan Swabach Test Weber. Tuli persepsi pada kedua teling. Test Swabach Tujuan : Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. maka di dengar sebelah kanan. . Tuli konduksi pada kedua telinga. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. atau tidak mendengar suara. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan.Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: Tuli konduksi sebelah kanan. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan. Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara. missal adanya ototis media disebelah kanan. Keimpulan test Rinne. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala.

Evaluasi test rinne. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hati dengan apa yang dikatakan Rinne . Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. a. kiri tuli sensory neural 4. Rinne negatif berarti tuli konduktif. Rinne Negatif Palsu. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh diletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex. Telinga kanan tuli konduktif. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Kepada penderita ditanyakan apakah mendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. kiri tuli sensory neural 3. b. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara. Penderita ditanyakan apakah mendengar atau tidak. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapat menegakkan diagnosa secara pasti. Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne (+). Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapa kemungkinan 1. Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-) b. Telinga kanan tuli konduktif. Telinga kanan normal. kiri normal 2. c. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunak pada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum dari telinga yang akan diperiksa. kanan lebih berat 5. Test Rinne. Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. Evaluasi Tets Weber. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang dari hantaran tulang. a. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasi ke kanan. Cara pemeriksaan. Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga mana didengar lebih keras. Kedua telinga tuli sensory neural. Kedua telinga tuli konduktif.Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama. Cara pemeriksaan. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa.

Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 3. Karena telinga pemeriksa normal berarti telinga penderita normal juga. Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya di tangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing). Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bila masih mendengar dikatakan schwabach memanjang. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa. Cara pemeriksaan. Bila pemeriksa tidak mendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita dan ditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. sesudah itu sekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidak mendengar dengungan. Hal ini terjadi pada tuli sensorineural yang unilateral dan berat.negatif palsu. a. Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi. b. Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 2. Evaluasi test schwabach 1. Kemudian setelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getaran tidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative Test Schwabach. Hasil Gangguan Sama normal Memanjang Tuli konduktif Memendek Tulisensorineural Tes Pendengaran 29 Dec . Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidak mendengar dengungan. Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secara lunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita.

Jumlah kata yang kita bisikkan biasanya 5 atau 10. Ada 4 syarat bagi penderita saat kita melakukan tes bisik. Jarak minimal 6 meter. Pertama-tama pemeriksa membisikkan kata pada jarak 1 meter dari penderita. Pemeriksaan audiometri. Misalnya tajam pendengaran penderita 4 meter. Tes Bisik Ada 3 syarat utama bila kita melakukan tes bisik. yaitu : . Demikian seterusnya sampai penderita hanya mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan kepadanya. Pemeriksa membisikkan 1 atau 2 suku kata yang telah dikenal penderita. yaitu : Ruangannya sunyi. Telinga pasien yang diperiksa. yaitu : Syarat tempat. yaitu : Tes bisik. Penderita mengulangi dengan keras dan jelas setiap kata yang kita ucapkan. Ada 2 syarat bagi pemeriksa saat melakukan tes bisik. Ada 2 jenis penilaian pada tes pendengaran. Ada 3 syarat tempat kita melakukan tes bisik. Caranya tragus telinga tersebut kita tekan ke arah meatus akustikus eksterna atau kita menyumbatnya dengan kapas yang telah kita basahi dengan gliserin. Syarat pemeriksa.Tes Pendengaran Oleh : Muhammad al-Fatih II Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. Pemeriksa lalu mundur pada jarak 2 meter dari penderita bilamana penderita mampu mendengar semua kata yang kita bisikkan. Tidak terjadi echo / gema. yaitu : Kedua mata penderita kita tutup agar ia tidak melihat gerakan bibir pemeriksa. Biasanya kita menyebutkan nama benda-benda yang ada disekitar kita. yaitu : Pemeriksa membisikkan kata menggunakan cadangan udara paru-paru setelah fase ekspirasi. Kita kemudian mundur pada jarak 4 meter dari penderita lalu membisikkan 5 kata dan penderita masih mampu mendengar 4 kata (80%). yaitu : Penderita dan pemeriksa sama-sama berdiri. atau tertutup kain korden. Teknik pemeriksaan pada tes bisik. Syarat penderita. Kita maju pada jarak 3 meter dari pasien lalu membisikkan 5 kata dan penderita mampu mendengar semuanya. terbuat dari soft board. Caranya dinding tidak rata. Hanya pemeriksa yang boleh berpindah tempat. kita tutup (masking). Jadi tajam pendengaran penderita kita ukur dari jarak antara pemeriksa dengan penderita dimana penderita masih mampu mendengar 80% dari semua kata yang kita ucapkan (4 dari 5 kata). Tes garpu tala. Kita dapat lebih memastikan tajam pendengaran penderita dengan cara mengulangi pemeriksaan. Telinga pasien yang tidak diperiksa. Tes bisik modifikasi. kita hadapkan ke arah pemeriksa.

512 Hz. Tes Garpu Tala Ada 4 jenis tes garpu tala yang bisa kita lakukan. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. Cara kita memperlebar jarak dengan penderita yaitu dengan menolehkan kepala kita atau kita berada dibelakang penderita sambil melakukan masking (menutup telinga penderita yang tidak kita periksa dengan menekan tragus penderita ke arah meatus akustikus eksternus). yaitu : Kita melakukannya dalam ruangan kedap suara. Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi. Penilaian kualitatif seperti pemeriksaan jenis ketulian pada tes garpu tala dan audiometri. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Kita membisikkan 10 kata dengan intensitas suara lebih kecil dari tes bisik konvensional karena jaraknya juga lebih dekat dari jarak pada tes bisik konvensional. Tes Rinne. Tes Bisik Modifikasi Tes bisik modifikasi merupakan hasil perubahan tertentu dari tes bisik. Tuli sensorineural & konduktif / mix hearing loss (MHL). Frekuensi yang dapat didengar oleh manusia berpendengaran normal. Meliputi 256 Hz. Meliputi 4096 Hz dan 8192 Hz. yaitu : Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL). Tes Weber. Tes Batas Atas & Batas Bawah . Frekuensi tinggi. 32 Hz. Cara kita melakukan tes bisik modifikasi. yaitu : Frekuensi rendah. dan 128 Hz. 1024 Hz. 64 Hz. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL). Frekuensi normal. Misalnya tidak dapat mendengar huruf S dari kata susu sehingga penderita mendengarnya uu. Tes Schwabach. Tes bisik modifikasi kita gunakan sebagai skrining pendengaran dari kelompok orang berpendengaran normal dengan kelompok orang berpendengaran abnormal dari sejumlah besar populasi. Ada 3 jenis frekuensi. Ada 3 jenis ketulian. dan 2048 Hz. Misalnya tes kesehatan pada penerimaan CPNS. Meliputi 16 Hz.Penilaian kuantitatif seperti pemeriksaan tajam pendengaran pada tes bisik maupun tes bisik modifikasi. Pendengaran penderita normal bilamana penderita masih bisa mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan. yaitu : Tes batas atas & batas bawah.

Jika tes Rinne negatif. Batas bawah naik dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi rendah. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Tuli konduktif. Batas atas turun dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi tinggi. Bunyi garpu tala terlebih dahulu didengar oleh pemeriksa sampai bunyinya hampir hilang. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Rinne yang kita lakukan. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Secepatnya garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien pada jarak 1-2 cm secara tegak dan kedua kaki garpu tala berada pada garis hayal yang menghubungkan antara meatus akustikus eksternus kanan dan kiri. Kita bisa memulainya dari garpu tala berfrekuensi paling rendah sampai garpu tala berfrekuensi paling tinggi atau sebaliknya. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garpu tala di depan meatus akustikus eksterna lebih keras daripada di belakang meatus akustikus eksterna (planum mastoid). yaitu : Normal. Hal ini untuk mendapatkan bunyi berintensitas paling rendah bagi orang normal / nilai normal ambang. yaitu : Semua garpu tala kita bunyikan satu per satu. Jika tes Rinne positif. Tuli sensorineural. Tes Rinne Tujuan kita melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien mendengarnya lebih lemah. Segera pindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksternus. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tankainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Jika tes Rinne positif. Tuli sensorineural. Interpretasi tes Rinne dapat false Rinne baik pseudo positif dan pseudo negatif. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya. Tuli konduktif. segera garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien mendengarnya lebih keras.Tujuan kita melakukan tes batas atas & batas bawah yaitu agar kita dapat menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar pasien dengan hantaran udara pada intensitas ambang normal. Ada 3 interpretasi dari hasil tes batas atas & batas bawah yang kita lakukan. yaitu : Normal. Cara kita membunyikan garpu tala yaitu dengan memegang tangkai garpu tala lalu memetik secara lunak kedua kaki garpu tala dengan ujung jari atau kuku kita. Hal ini dapat . Cara kita melakukan tes batas atas & batas bawah. yaitu : Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Kesalahan interpretasi dapat terjadi jika kita membunyikan garpu tala terlalu keras sehingga kita tidak dapat mendeteksi pada frekuensi berapa pasien tidak mampu lagi mendengar bunyi. Ada 2 cara kita melakukan tes Rinne. Jika pasien dapat mendengar garpu tala pada semua frekuensi.

Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri mengalami tuli sensorineural. Telinga kiri dan telinga kanan mengalami tuli sensorineural tetapi telinga kiri lebih parah. Telinga kanan dan telinga kiri mengalami tuli konduktif tetapi telinga kanan lebih parah. Apabila pasien masih bisa mendengar bunyinya berarti Scwabach . Akibatnya getaran kedua kaki garpu tala sudah berhenti saat kita memindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksterna. Menurut pasien. dagu. verteks. segera garpu tala tersebut kita pindahkan dan letakkan tegak lurus pada planum mastoid pasien. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garpu tala saat kita menempatkan garpu tala di planum mastoid pasien. Misalnya terjadi lateralisasi ke kanan maka ada 5 kemungkinan yang bisa terjadi pada telinga pasien. Jika tidak ada lateralisasi. yaitu : Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri normal. Tuli sensorineural. yaitu : Normal. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Cara kita melakukan tes Weber yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis median (dahi. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Weber yang kita lakukan. Jika kedua telinga pasien sama-sama tidak mendengar atau sama-sama mendengar maka berarti tidak ada lateralisasi. Tuli konduktif. Tes Weber Tujuan kita melakukan tes Weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Kesalahan pemeriksaan pada tes Rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. Cara kita melakukan tes Schwabach yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa.terjadi manakala telinga pasien yang tidak kita tes menangkap bunyi garpu tala karena telinga tersebut pendengarannya jauh lebih baik daripada telinga pasien yang kita periksa. tangkai garpu tala mengenai rambut pasien dan kaki garpu tala mengenai aurikulum pasien. Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan garpu tala tidak tegak lurus. atau gigi insisivus) dengan kedua kakinya berada pada garis horizontal. Setelah bunyinya tidak terdengar oleh pemeriksa. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras pada 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Telinga kiri mengalami tuli sensorineural sedangkan telinga kanan normal. Tes Schwabach Tujuan kita melakukan tes Schwabach adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dengan pasien.

Jakarta : EGC. Sardjono Soedjak. Technorati Tags: audiometri. Pertama-tama kita membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pasien. atau pasien lambat memberikan isyarat tentang hilangnya bunyi. garpu tala. Tuli Konduksi Tes Pendengaran Tuli Sensori Neural Tidak dengar huruf lunak Dengar huruf desis Tes Bisik Dengar huruf lunak Tidak dengar huruf desis Normal Batas Atas Menurun Naik Batas Bawah Normal Negatif Tes Rinne Positif. Cara kita memilih apakah Schwabach memendek atau normal yaitu mengulangi tes Schwabach secara terbalik. dengan frekuensi 128 Hz. Kesalahan pemeriksaan pada tes Schwabach dapat saja terjadi. Schwabach memendek. rinne. 1024 Hz dan 2048 Hz. yaitu : Normal. Tuli sensorineural. lima buah. 512 Hz. dr. Sebaliknya jika pemeriksa masih bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek. Setelah pasien tidak mendengarnya. dan diperiksa . Sri Rukmini. Dr.THT & dr. Tuli konduktif.THT. Sri Sukesi.THT. Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. Sebaliknya jika pasien juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek atau normal. schwabach Weber . segera garpu tala kita pindahkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. dr. Garputala 2. Audiometrik Garputala terdiri dari satu set. weber. Sp. 2000. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Schwabach yang kita lakukan.THT. false positif / false negatif Lateralisasi ke sisi sakit Tes Weber Lateralisasi ke sisi sehat Memanjang Tes Schwabach Memendek Daftar Pustaka Prof. Teknik Pemeriksaan Telinga. kaki garpu tala tersentuh. Sp. 256 hz. MHPEd. Misalnya tangkai garpu tala tidak berdiri dengan baik. Sri Herawati. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz.memanjang. Sp. Schwabch normal. Sp. dr. Hidung & Tenggorok. Schwabach memanjang. Uji berbisik 3. Jika pemeriksa juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach normal.

tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. garputala digetarkan . Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. .di ruang periksa. 1500 Hz. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi. dengan panjang 6 meter. sedang atau berat. Pasien diberi tahu. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. Ada 3 macam pemeriksaan: a. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi. sampai 8000 Hz. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol. dahi. asalkan tidak terlalu riuh. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. Pemeriksa duduk ke samping. Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. c. kira-kira 2. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek. ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi. Caranya ialah. Pada telinga kanan. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. disebut uji rinne positif b. sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. makin lama pemeriksa makin mendekat. Caranya ialah garputala digetarkan. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. Dimulai sejak jarak 6 meter. Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. 1000 Hz. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. sampai pasien mendengar bunyi.Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata.5 cm jaraknya dari liang telinga. tidak perlu di ruang kedap suara. tuli hantar (konduktif). Pada pasien yang pendengarannya masih baik. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. kemudian telinga kiri. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. atau pertengahan gigi seri. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal.

ekspresi. • Lakukan inspeksi secara sistematis. Diagnosa Fisik (Physic Diagnostic) PENDAHULUAN Pemeriksaan fisik berasal dari kata physical examination berarti memeriksa tubuh dengan atau tanpa alat untuk mendapatkan informasi yang menggambarkan kondisi pasien pemeriksaan fisik merupakan salah satu bagian dari rangkaian pengkajian. penampilan umum. afektif. tes ini dikatakan negatif. PEMERIKSAAN FISIK TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan dengan 4 cara : Inspeksi. . postur tubuh. untuk itu dokter juga harus menguasai tehnik anamnesa yang benar dan pengamatan yang akurat sesuai dengan kondisi pasien. perkusi dan auskultasi 1. Langkah kerja : • Atur pencahayaan yang cukup • Atur suhu dan suasana ruangan nyaman • Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien • Buka bagian yang diperiksa • Perhatikan kesan pertama pasien : perilaku. Inspeksi Adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat . Kemampuan dokter melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensip sangat diperlukan karena data yang diperolah dari pemeriksaan fisik ini akan menjadi dasar dalam penentuan masalah. bila perlu bandingkan bagian sisi tubuh pasien. Ketika ada penyakit koklea atau tuli saraf. fisiologi tubuh manusia dan patofisiologi serta didukung oleh ketrampilan melalui latihan – latihan sehingga menjadi terbiasa. Untuk dapat memahami pemeriksaan fisik yang baik dan benar dibutuhkan pemahaman terhadap konsep anatomi. Dalam pemeriksaan fisik juga diperlukan integrasi aspek kognitif. tes Weber adalah positif. tidak ada penurunan konduksi udara. Jika pasien melaporkan bahwa suara berasal dari garis tengah dahi. palpasi. Bila suara disebut berasal dari sisi yang terlibat atau rusak. dan psikomotor dari pemeriksa sampai pada meng-interprestasikan dan meng-integrasikan data temuan satu dengan data temuan yang lainnya. Dalam pelaksanaannya pemeriksaan fisik bersamaan dengan metode pengumpulan data lainnya seperti wawancara (anamnesa). suara terlateralisasi ke sisi berlawanan.Definisi:Tes Weber Tes Weber adalah menempatkan sebuah garpu tala bergetar di tengah dahi pasien. dan observasi.

serta kulit dan tulang kepala 4.4 bersama --> menentukan konsistensi dan kualitas benda • Jari dan telapak tangan --> merasakan getaran • Sedikit tekanan --> menentukan rasa sakit 3. Bila pakai kaca mata dilepas 3. Palpasi Adalah pemeriksaan dengan perabaan. Lakukan inpeksi rambut dan rasakan keadaan rambut. Cara kerja : • Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi • Cuci tangan • Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya • Yakinkan tangan hangat tidak dingin • Lakukan perabaan secara sistematis . 4. dengan lentur dan cepat. PEMERIKSAAN KEPALA DAN LEHER KEPALA Cara Kerja : 1. untuk mengetahui keadaan organ-organ didalam tubuh. konsistensi dan permukaan : • Jari telunjuk dan ibu jari --> menentukan besar/ukuran • Jari 2. • Lakukan ketukan dengan ujung jari tengah kanan diatas jari kiri. . menggunakan rasa propioseptif ujung jari dan tangan. Cara Kerja : • Ciptakan suasana tenang dan aman • Pasang Ear piece pada telinga • Pastikan posisi stetoskop tepat dan dapat didengar • Pada bagian sisi membran dapat digosok biar hangat • Lakukan pemeriksaan dengan sistematis sesuai dengan kebutuhan. STETOSKOPBagian-bagian stetoskop : • Ear Pieces --> dihubungkan dengan telinga • Sisi Bell ( Cup ) --> pemeriksaan thorak atau bunyi dengan nada rendah • Sisi diafragma ( membran ) --> Pemeriksaan abdomen atau bunyi dengan nada tinggi. Auskultasi Adalah pemeriksaan mendengarkan suara dalam tubuh dengan menggunakan alat STETOSKOP. atau berdiri 2. Perkusi Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan cara perantara jari tangan. Atur posisi pasien duduk. untuk menentukan ukuran. dengan ujung jari tekan pada permukaan yang akan diperkusi. • Lakukan perkusi secara sistematis sesuai dengan keperluan.3.2. Inspeksi keadaan muka pasien secara sistematis. dengan menggunakan pergerakan pergelangan tangan. bentuk. Cara Kerja : • Lepas Pakaian sesuai dengan keperluan • Luruskan jari tengah kiri .

MATAA. Bola mata Cara Kerja : 1. Inspeksi keadaan bola mata, catat adanya kelainan : endo/eksoptalmus, strabismus. 2. Anjurkan pasien memandang lurus kedepan, catat adanya kelainan nistagmus. 3. Bedakan antara bola mata kanan dan kiri 4. Luruskan jari dan dekatkan dengan jarak 15-30 cm 5. Beritahu pasien untuk mengikuti gerakan jari, dan gerakan jari pada 8 arah untuk mengetahui fungsi otot gerak mata. B. Kelopak Mata 1. Amati kelopak mata, catat adanya kelainan : ptosis, entro/ekstropion, alismata rontok, lesi, xantelasma. 2. Dengan palpasi, catat adanya nyeri tekan dan keadaan benjolan kelopak mata C. Konjungtiva, sclera dan kornea 1. Beritahu pasien melihat lurus ke depan 2. Tekan di bawah kelopak mata ke bawah, amati konjungtiva dan catat adanya kelainan : anemia / pucat. ( normal : tidak anemis ) 3. Kemudian amati sclera, catat adanya kelainan : icterus, vaskularisasi, lesi / benjolan (normal : putih ) 4. Kemudian amati sklera, catat adanya kelainan : kekeruhan ( normal : hitam transparan dan jernih )

D. Pemeriksaan pupil 1. Beritahu pasien pandangan lurus ke depan 2. Dengan menggunakan pen light, senter mata dari arah lateral ke medial 3. Catat dan amati perubahan pupil : lebar pupil, reflek pupil menurun, bandingkan kanan dan kiri Normal : reflek pupil baik, isokor, diameter 3 mm Abnormal : reflek pupil menurun/-, Anisokor, medriasis/meiosis

E. Pemeriksaan tekanan bola mata Tampa alat : Beritahu pasien untuk memejamkan mata, dengan 2 jari tekan bola mata, catat adanya ketegangan dan bandingkan kanan dan kiri. Dengan alat : Dengan alat Tonometri ( perlu ketrampilan khusus ) F. Pemeriksaan tajam penglihatan 1. Siapkan alat : snelen cart dan letakkan dengan jarak 6 meter dari pasien. 2. Atur posisi pasien duduk/atau berdiri, berutahu pasien untuk menebak hurup yang ditunjuk perawat. 3. Perawat berdiri di sebelah kanan alat, pasien diminta menutup salah satu mata ( atau dengan alat penutup ). 4. Kemudian minta pasien untuk menebak hurup mulai dari atas sampai bawah. 5. tentukan tajam penglihatan pasien

G. 1. 2. 3. 4. 5.

Pemeriksaan lapang pandang perawat berdiri di depan pasien bagian yang tidak diperiksa ditutup Beritahu pasien untuk melihat lurus kedepan ( melihat jari ) Gerakkan jari kesamping kiri dan kanan jelaskan kepada pasien, agar memberi tahu saat tidak melihat jari

TELINGA • Pemeriksaan daun telinga, lubang telinga dan membran tympani 1. Atur posisi pasien duduk 2. Perawat berdiri di sebelah sisi pasien, amati daun telinga dan catat : bentuk, adanya lesi atau bejolan. 3. tarik daun telinga ke belakang atas, amati lubang telinga luar , catat adanya : lesi, serumen, dan cairan yang keluar. 4. Gerakkan daun telinga, tekan tragus dan catat adanya nyeri telinga. Catat adanya nyeri telinga. 5. Masukkan spikulum telinga, dengan lampu kepala / othoskop amati lubang telinga dan catat adanya : cerumen atau cairan, adanya benjolan dan tanda radang. 6. Kemudian perhatikan membrane tympani, catat : warna, bentuk, dan keutuhannya. (normal : warna putih mengkilat/transparan kebiruan, datar dan utuh ) 7. Lakukan prosedur 1-6 pada sisi telinga yang lain.

• Pemeriksaan fungsi pendengaran Tujuan : menentukan adanya penurunan pendengaran dan menentukan jenis tuli persepsi atau konduksi. Tehnik pemeriksaan : 1. Voice Test ( tes bisik ) Test ini amat penting bagi dokter umum terutama yang bertugas di puskesmas-puskesmas, dimana peralatan masih sangat terbatas untuk keperluan testpendengaran. Persyaratan yang perlu diingat dalam melakukan test ini ialah : a. Ruangan Test Salah satu sisi atau sudut menyudut ruangan harus ada jaraksebesar 6 meter. Ruangan harus bebas dari kebisingan. Untuk menghindarigema diruangan dapat ditaruh kayu di dalamnya.b. b. Pemeriksa Sebagai sumber bunyi harus mengucapkan kata-kata denganmenggunakan ucapan kata-kata sesudah expirasi normal.Kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 2 suku kata (bisyllabic) yang terdiridari kata-kata sehari-hari. Setiap suku kata diucapkan dengan tekanan yang sama dan antara dua suku kata bisyllabic “Gajah Mada P.B.List” karena telahditera keseimbangan phonemnya untuk bahasa Indonesia. c. Penderita Telinga yang akan di test dihadapkan kepada pemeriksa dantelinga yang tidak sedang ditest harus ditutup dengan kapas atau oleh tangansi penderita sendiri. Penderita tidak boleh melihat gerakan mulut pemeriksa. Cara pemeriksaan. Sebelum melakukan pemeriksaan penderita harus diberi instruksi yang jelasmisalnya anda akan dibisiki kata-kata dan setiap kata yang didengar harusdiulangi dengan suara keras. Kemudian dilakukan test sebagai berikut :

a. Mula-mula penderita pada jarak 6 meter dibisiki beberapa kata bisyllabic.Bila tidak menyahut pemeriksa maju 1 meter (5 meter dari penderita) dan testini dimulai lagi. Bila masih belum menyahut pemeriksa maju 1 meter, dandemikian seterusnya sampai penderita dapat mengulangi 8 kata-kata dari 10kata-kata yang dibisikkan. Jarak dimana penderita dapat menyahut 8 dari 10kata diucapkan di sebut jarak pendengaran.b. b. Cara pemeriksaan yang sama dilakukan untuk telinga yang lain sampaiditemukan satu jarak pendengaran. Evaluasi test. 6 meter - normalb. 5 meter - dalam batas normalc. 4 meter - tuli ringand. 3 – 2 meter - tuli sedange. 1 meter atau kurang - tuli berat. Dengan test suara bisik ini dapat dipergunakan untuk memeriksa secara kasarderajat ketulian (kuantitas). Bila sudah berpengalaman test suara bisik dapatpula secara kasar memeriksa type ketulian misalnya : a. Tuli konduktif sukar mendengar huruf lunak seperti n, m, w (meja dikatakanbecak, gajah dikatakan kaca dan lain-lain). b. Tuli sensori neural sukar mendengar huruf tajam yang umumnyaberfrekwensi tinggi seperti s, sy, c dan lain-lain (cicak dikatakan tidak, kacadikatakan gajah dan lain-lain) 2. Test garputala • Rinne test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udarapada satu telinga. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang darihantaran tulang. Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjangdaripada hantaran tulang. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebihpanjang daripada hantaran udara. Cara pemeriksaan. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunakpada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum daritelinga yang akan diperiksa. Kepada penderita ditanyakan apakahmendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkanhingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikuseksternus dari telinga yang diperiksa. Bila penderita masih mendengardikatakan Rinne (+). Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-). Evaluasi test rinne. Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. Rinnenegatif berarti tuli konduktif. Rinne Negatif Palsu. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hatidengan apa yang dikatakan Rinne negatif palsu. Hal ini terjadi pada tulisensorineural yang unilateral dan berat.Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya ditangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing). Kemudiansetelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getarantidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative.

Normalnya : pasien masih mendengar saat ujung garputala didekatkan pada lubang telinga. • Weber test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan.Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama.

Telinga kanan tuli konduktif. . Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 7. Cara pemeriksaan. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidakmendengar dengungan. Kedua telinga tuli konduktif. • Scwabach Test Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita denganhantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal. Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapakemungkinan 1. Alat ini menghasilkan nadanada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Penderita ditanyakan apakahmendengar atau tidak. kiri tuli sensory neural 3. sesudah itusekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidakmendengar dengungan. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasike kanan. Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga manadidengar lebih keras. Kedua telinga tuli sensory neural. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapatmenegakkan diagnosa secara pasti. Test Audiometri Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. kanan lebih bera 5. Karena telinga pemeriksa normal berarti telingapenderita normal juga. kiri tuli sensory neural 4. tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran.Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabachmemendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi.Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar.Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bilamasih mendengar dikatakan schwabach memanjang. Evaluasi test schwabach 6. Telinga kanan normal.Cara pemeriksaan. Bila pemeriksa tidakmendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengarlagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita danditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. Telinga kanan tuli konduktif. kiri normal 2. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secaralunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segeradipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuhdiletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex. Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 8. Evaluasi Tets Weber. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran).

1000-2000. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 2020. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel Klasifikasi 0-15 Pendengaran normal >15-25 Kehilangan pendengaran kecil >25-40 Kehilangan pendengaran ringan >40-55 Kehilangan pendengaran sedang >55-70 Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat >70-90 Kehilangan pendengaran berat >90 Kehilangan pendengaran berat sekali Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan. dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi. audiologis dan pasien yang kooperatif. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman. maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Grafiknya terdiri dari skala decibel. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri. kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar. 2. suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara. 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri.Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1. untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang. Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya.000 Hz. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur. hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena . Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang.

Untuk kedokteran klinik Kehakiman. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran. apakah ada kotoran telinga (serumen). pendengar diminta untuk mnebaknya. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. berarti pendengaran baik. Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi). Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari.intensitasnya makin dilemahkan. Kriteria orang tuli : 1. Untuk kedokteran klinik Pencegahan. khususnya penyakit telinga 2. Mediagnostik penyakit telinga 2. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Manfaat audiometri 1. memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. 1978) : 1. Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi. Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising. dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. Pada audiometri tutur. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga). 3. . apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB. b. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya. apakah ada lubang gendang telinga. deteksi ktulian pada anak-anak Tujuan Ada empat tujuan (Davis. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi. sedangkan intensitas suara barapa saja. tetapi juga jauh diatasnya. Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB 3. Skrinig anak balita dan SD 4. Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB 2. Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah. Dengan demikian. Untuk kedokteran klinik. Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB 4. Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a.tuntutan ganti rugi 3. yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan.

tanda oliver ( pada saat denyut jantung. Auskultasi : Tempatkan sisi bell pada kelenjar tyroid. raba ke atas dan ke samping. catat : adanya benjolan . ) dan letakkan penggaris diatasnya. catat : pembesaran dan tanda radang tonsil. warna. gigi palsu. Minta pasien menjuliurkan lidah. massa/benjolan. minta pasien membunyikan huruh “ A “. LEHER • Kelenjar Tyroid Inspeksi : Pasien tengadah sedikit. lesi. telan ludah. tentukan titik nol ( titik setinggi manubrium s.Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan a. 5. bentuk. ukur tinggi denyut vena dengan penggaris. Normalnya : saat duduk setinggi manubrium sternum. Amati gigi. catat : kesimetrisan dan tanda radang. tentukan batas atas denyut vena jugularis. jari tengah dan telunjuk ke dua tangan ditempatkan pada ke dua istmus. Test Fistula c. ukuran. Pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa 2. catat : kebersihan gisi. beritahu pasien merubah posisi ke duduk dan amati pulsasi denyut vena. amati uvula. Normalnya : simetris ditengah. Test Romberg b. raba disepanjang trachea muali dari tulang krokoid dan kesamping. tempelkan jari tengah pada bagian bawah trachea. Amati tonsil tampa dan dengan alat cermin. catat : kebersihan dan bau mulut. lesi mukosa 4. catat : bentuk dan kesimetrisan Palpasi : Pasien duduk dan pemeriksa di belakang. Letakkan sisi bell . Buka mulut pasien. cyanosis. tentukan batas atas denyut vena. catat : kesimetrisan. Atau Posisi penderita berbaring setengah duduk. gigi berlubang. • JVP ( tekanan vena jugularis ) Posisi penderita berbaring setengah duduk. • Bising Arteri Karotis Tentukan letak denyut nadi karotis ( dari tengah leher geser ke samping ). Tekan lidah dengan sudip lidah. trachea tertarik ke bawah ). karies gigi. 7. catat : merah. 6. catat : adanya bising ( normal : tidak terdapat) • Trakhea Inspeksi : Pemeriksa disamping kanan pasien. lesi. kesimetrisan. Normalnya : tidak lebih dari 4 cm. konsidstensi. catat : letak trachea. kering. Amati bibir. Test Kalori MULUT DAN TONSIL 1. sumbing 3.

besar. covenrne paru. Normalnya : tidak ada bising.  Abnormal : • Tarchipneu  napas cepat ( > 24 X ) . adanya nyeri. • Dangkal  emfisema. dengan kecepatan normal • Apneustik  ispirasi megap-megap. PERKUSI Cara Kerja : 1. normalnya : tidak ada. pneumonie. Posisi pasien dapat duduk dan atau berbaring 2. Dari arah depan tentukan adanya pelebaran vena dada. PALPASI Cara Kerja : 1. koma DM. pasien diminta napas biasa. Menurun : konsolidasi paru. gagal jantung • Bradipneu  napas lambat ( < 16 X ). dan daya kembang paru 4. sehingga ke dua ibu jara berada diatas Procecus Xypoideus. Misal : pada Srtoke. B. abdominal / thorakoabdominal. ginjal. • Biot  Dalam dan dangkal disertai apneu yang tidak teratur. stroke • Cheyne Stokes  napas dalam. Atur posisi pasien berbaring / setengah duduk . efusi pericard/pleura. pleura Efusi. emfisema. Normalnya : simetris. misal . paru fibrotik. tumor paru. kemudian dangkal dan diserta apneu berulang-ulang. Dari arah samping dan belakang tentukan bentuk dada. catat . ada masa paru Meningkat : Pleura efusi. lakukan palpasi daerah thorax.pada uremia. Dengan posisi berbaring / semi fowler. tentukan : kesimetrisan gerak dada. dengan posisi tangan agak ke atas.stetoskop di daerah arteri karotis. catat : gerak napas simetris atau tidak dan tentukan daya kembang paru ( normalnya 3-5 cm ). mobilitas … ) 3. TBC paru. misal pada lesi pusat pernapasan. Atau Dengan posisi duduk merunduk. tidak ada penggunaan otot napas dan retraksi interkostae. catat adanya bising. misal : meningitis • Kusmoul  Pernapasan lambat dan dalam. tumor paru. Dari arah atas tentukan kesimetrisan dada. PEMERIKSAAN THORAX DAN PARU Tujuan Pemeriksaan : • Mengidentifikasi kelaian bentuk dada • Mengevaluasi fungsi paru A. TBC. adanya benjolan ( tentukan konsistensi. misal . penyakit jantung. 3. ekspirasi sangat pendek. • Asimetris  pneumonie. tumor paru. Atur posisi pasien duduk atau berbaring 2. C. tentukan getaran suara dan bedakan kanan dan kiri. letakkan ke dua tangan pada punggung di bawah scapula. INSPEKSI  Cara Kerja : 1. 5. minta pasien untuk bersuara ( 77 ). koma DM. Letakkan kedua tangan seperti pada no 2/3. Acidosis metabolic • Hyperpneu  napas dalam. misal . 4. letakkan kedua tangan ke dada. catat : gerakan napas dan tanda-tanda sesak napas  Normalnya : Gerak napas simetris 16 – 24 X. Dari arah depan. pada demam.

pleura menebal • Redup  “bleg” : fibrosis berat. emfisema. konsolidasi. fibrosis ) • Suara bronkhovesikuler terdengar di daerah paru • Suara vesikuler tidak terdengar. iga 8 MAL. …. emfisema Suara tambahan Normal : bersih. karena penyempitan bronchus dan alveoli. alveoli. fibrosis. ascites • Menurun  orang tua. • Krepitasi / rales  berasal daru bronchus. pneumothorax 3. 3. catat : suara napas dan adanya suara tambahan. kavitas paru yang berisi cairan ( seperti gesekan rambut / meniup dalam air ) • Whezing  suara seperti bunyi peluid. cavitas paru ) • Pectoriloguy  meningkat sekali.Gunakan tehnik perkusi. suara belum jelas ( misal : pnemonie lobaris. kavitas • Kurang resonan  “deg” : fibrosis. paru kiri lebih tinggi Abnormal : • Meningkat  anak. pneumonie. Kemudian. dan tentukan batas – batas paru Batas paru normal : • Atas : Fossa supraklavikularis kanan-kiri • Bawah : iga 6 MCL. infiltrate. fibrosis 2. catat bunyi resonan Vokal : • Bronkhofoni  meningkat. • Bronkhovesikuler  suara di daerah bronchus ( coste 3-4 di atas sternum ). beritahu pasien untuk mengucapkan satu. edema paru • Pekak  seperti bunyi pada paha : tumor paru. inpirasi lebih keras dan pendek dari ekspirasi. tidak ada suara tambahan Abnormal : • Ronkhi  suara tambahan pada bronchus akibat timbunan lender atau secret pada bronchus. Abnormal : • Suara trac-bronkhial terdengar di daerah bronchus dan paru ( missal . emfisema. iga 10 garis skapularis. effuse pleura. AUSKULTASI Cara kerja : 1. Missal : fibrosis. Atur posisi pasien duduk / berbaring 2. suara jelas • Egovoni  sengau dan mengeras ( pada efusi pleura + konsolidasi paru ) • Menurun / tidak terdengar  Efusi pleura. pneumothorax . seperti meniup besi. efusi. D. Dengan stetoskop. lakuka perkusi secara merata pada daerah paru. Suara napas Normal : • Trachea brobkhial  suara di daerah trachea. nada rendah inspirasi dan ekspirasi tidak terputus. catat adanya perubahan suara perkusi Normalnya : sonor/resonan ( dug ) Abnormal : • Hyperresonan  menggendang ( dang ) : thorax berisi udara. auskultasi paru secara sistematis pada trachea. inpirasi spt vesikuler. ekspirasi seperti trac-bronkhial. bronkus dan paru. dua. • Vesikuler  suara di daerah paru.

Cembung ( bulging precordial ) 5. lebar > 2 cm. Abnormal  Cekung. Pemeriksa berdiri sebelah kanan pasien setinggi bahu pasien 3. emfisema. PS. dan ephygastrik NormaL  Hanya pada daerah ictus 7. INPEKSI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. dinding toraks yang tebal. B. Sifat bunyi jantung Normal : .bersifat tunggal. Fase Systolik dan Dyastolik Normal : Fase systolik normal lebih pendek dari fase dyastolik ( 2 : 3 ) Abnormal : . terdengar “ sesaat setelah inspirasi dalam “ Abnormal : • Splitting BJ 1 patologik  ganngguan sistem konduksi ( misal RBBB ) • Splitting BJ 2 Patologik : karena melambatnya penutupan katub pulmonal pada RBBB. 6. kemudian napas ditahan sebentar” . . Motivasi pasien tenang dan bernapas biasa 4. kepala ditinggikan 15-30 2. Denyut pada apeks kordis 3. trikuspidalis. ASD. Irama dan frekwensi jantung Normal : reguler ( ritmis ) dengan frekwensi 60 – 100 X/mnt 2. Sulit dilihat payudara besar.PEMERIKSAAN JANTUNG A. Amati dan catat pulsasi daerah aorta. Amati dan cata pulsasi denyut vena jugularis Normal tidak ada denyut vena pada prekordial. pulmonal. nampak meningkat dan bergetar ( Thrill ). Denyut vena hanya dapat dilihat pada vena jugularis interna dan eksterna. AUSKULTASI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. Denyut nadi pada daerah lain 1.  Splitting BJ 2 fisiologik  normal Spliting BJ2.Fase systolic memanjang / fase dyastolik memendek . dan efusi perikard. Denyut vena Cara Kerja : 1. Intensitas bunyi jantung Normal : • Di daerah mitral dan trikuspidalis intensitas BJ1 akan lebih tinggi dari BJ 2 • Di daerah pulmonal dan aorta intensitas BJ1 akan lebih rendah dari BJ 2 3. 4.Terbelah/terpisah dikondisikan ( Normal Splitting )  Splitting BJ 1 fisiologik  Normal Splitting BJ1 yang terdengar saat “ Ekspirasi maksimal. Amati dan catat bentuk precordial jantung Normal  datar dan simetris pada kedua sisi. buka pakaian dan atur posisi pasien terlentang. Amati dan catat pulsasi apeks cordis Normal  nampak pada ICS 5 MCL selebar 1-2 cm ( selebar ibu jari ). Abnormal --> bergeser kearah lateroinferior . Bentuk perkordial 2.

Normal : teraba. Geser pada daerah ephigastrik. catat mana yang paling jelas. Adanya Bising ( Murmur ) jantung  adalah bunyi jantung ( bergemuruh ) yang dibangkitkan oleh aliran turbulensi ( pusaran abnormal ) dari aliran darah dalam jantung dan pembuluh darah. catat : pulsasi. kemudian ke daerah aorta. dan murmur Bj2. Normal : tidak terdapat murmur Abnormal : terdapat murmur  kelainan katub . catat : sifat. sulit diraba Abnormal : mudah / meningkat D. 5. Tentukan batas-batas jantung . sehingga terjadi pengisian yang cepat pada ventrikel Normal : tidak terdapat gallop ritme Abnormal : • Gallop ventrikuler ( gallop S3 ) • Gallop atrium / gallop presystolik ( gallop S4 ) • Gallop dapat terjadi S3 dan S4 ( Horse gallop ) Cara Kerja : 1. frekwensi DJ. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah Tricus. catat : sifat. 3. lakukan perkusi dan catat perubahan suara perkusi redup. irama gallop. PERKUSI Cara Kerja : 1. simak Bunyi jantung terutama BJ1. simak Bunyi jantung terutama BJ2. Dengan menggunakan 3 jari tangan dan dengan tekanan ringan. yang disebabkan karena darah mengalir ke ventrikel yang lebih lebar dari normal. tentukan besar denyutan. adanya thrill.. Geser jari ke ICS 3 kiri kemudian sampai ICS 6 . Normal  terba di ICS V MCL selebar 1-2cm ( 1 jari ) Abnormal  ictus bergeser kea rah latero-inferior. kemudian ke daerah mitral. lebar. pulmo dan trikuspidalis. murmur Bj1. 5. splitting BJ1. catat adanya bising aorta. C. 4. catat perubahan perkusi redup 2. Irama Gallop ( gallop ritme )  Adalah irama diamana terdengar bunyi S3 atau S4 secara jelas pada fase Dyastolik. palpasi daerah aorta. 3. kwalitas di banding dg BJ1. lift/heave. tentukan letak. shunt/pirau 6. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah pulmonal. PALPASI Cara Kerja : 1. catat : adanya pulsasi. ada thriil / lift 3. Periksa stetoskop dan gosok sisi membran dengan tangan 2. Normal  tidak ada pulsasi 2. kwalitas di banding dg BJ2. axial line ) menuju medial.Tedengar bunyi “ fruction Rub”  gesekan perikard dg ephicard. splitting BJ2. Geser pada daerah mitral. Lakukan perkusi mulai intercota 2 kiri dari lateral ( Ant. Geser ke daerah ephigastrik. Bila ada murmur ulangi lagi keempat daerah.

nyeri tekan. Catat : lesi. catat : warna. Lakukan inspeksi. Perhatikan bentuk perut Normal : simetris Abnormal : • Membesar dan melebar  ascites • Membesar dan tegang  berisi udara ( ilius ) • Membesar dan tegang daerah suprapubik  retensi urine . catat : adanya benjolan. tanda radang dan lesi. Catat : nyeri dan adanya benjolan • Bila ada benjolan tentukan konsistensi. dan perhatikan Kedaan kulit dan permukaan perut Normalnya : datar. posisi pasien duduk. menonjol 5. Kandung kencing dalam keadaan kosong 2. ukuran dan kesimetrisan payudara Normal : bulat agak simetris. Inspeksi. Kedua lengan.PEMERIKSAAN PAYUDARA DAN KETIAK Inspeksi 1. bau. tidak ada lesi Abnormal : • Strie berwarna ungu  syndrome chusing • Pelebaran vena abdomen  Chirrosis • Dinding perut tebal  odema • Berbintil atau ada lesi  neurofibroma • Ada masa / benjolan abnormal  tumor 6. catat : adanya keluaran. PALPASI Cara Kerja : • Lakukan palpasi pada areola. jumlah. konsistensi dan nyeri. Normal : gelap. kedua tangan rileks disisi tubuh. bantal dikepala dan lutut sedikit fleksi 3. datar/menonjol/masuk kedalam. • Lakukan palpasi payudara dengan 3 jari tangan memutar searah jarum jam kea rah areola. dan catat adanya : benjolan. mobilisasinya. tanda radang dan lesi 4. PEMERIKSAAN ABDOMEN Abdomen dibagi menjadi 9 regio : INSPEKSI Cara Kerja : 1. Strie livide/gravidarum. 2. benjolan dan tanda radang. besar. • Palpasi daerah ketiak terutama daerah limfe nodi. warna. Mintalah penderita untuk menunjukkan daerah sakit untuk dilakukan pemeriksaan terakhir 5. Posisi berbaring. disamping atau didada 4. tidak tegang. Mulai inspeksi bentuk. amati ketiak. Inspeksi areola mama. kecil/sedang/besar 3. Buka lengan pasien. pakaian atas dibuka.

untuk menentukan batas bawah hepar. redup bila ada organ dibawahnya ( misal hati ) Abnormal : • Hypertympani  terdapat udara • Pekak  terdapat Cairan 2. Perhatikan Gerakan dinding perut Normal : mengempis saat ekspirasi dan menggembung saat inspirasi. catat adanya tanda radang dan hernia AUSKULTASI Cara Kerja : 1. lakukan perkusi dari kwadran kanan atas memutar searah jarum jam. Lanjutkan dengan pemeriksaan organ. . PALPASI Cara Kerja : 1. • Lakukan perkusi daerah paru ke bawah. Cara : • Lakukan perkusi pada MCL kanan bawah umbilicus ke atas sampai terdengar bunyi redup. Perhatikan umbilicus. dan adanya masa superficial atau masa feces yang mengeras. catat adanya perubahan suara perkusi : Normalnya : tynpani. lutut sedikit fleksi. PERKUSI Cara Kerja : 1. Dengan merubah posisi/menggerakkan abdomen. 2. 4. untuk menentukan batas atas • Lakukan perkusi di sekitar daerah 1 dan 2 untuk menentukan batas-batas hepar yang lain. gerakan peristaltic pada orang kurus. Lakukan palpasi perlahan dengan tekanan ringan. kelaparan 3. catat bising aorta. pada seluruh daerah perut 3. Tentukan ketegangan. catat gerakan air ( tanda ascites ). cata bising dan peristaltic usus. lakukan perkusi di daerah hepar untuk menentukan batas dan tanda pembesaran hepar.• Membesar asimetris  tumor. pembesaran organ dalam perut 7. Normal : Bunyi “ Klikc Grugles “. Beritahu pasien untuk bernapas dengan mulut. Normalnya : tidak ada 3. Normal : tidak ada. Gunakan stetoskop sisi membrane dan hangatkan dulu 2. 5-35X/mnt Abnormal : • Bising dan peristaltic menurun / hilang  illeus paralitik. Letakkan stetoskop pada daerah ephigastrik. post operasi • Bising meningkat “ metalik sound “  illius obstruktif • Peristaltik meningkat dan memanjang ( borboritmi ) diare. Lakukan auskultasi pada satu tempat saja ( kuadran kanan bawah ). adanya nyeri tekan. AbnormaL: • Terjadi sebaliknya  kelumpuhan otot diafragma • Tegang tidak bergerak  peritonitis • Gerakan setempat  peristaltic pada illius • Perhatikan denyutan pada didnding perut • Normal : dapat terlihat pada ephigastrika pada orang kurus 8.

konsistensi dan bentuk permukaannya. Penilaian : 0 ( Plegia ) : Tidak ada kontraksi otot 1 ( parese ) : Ada kontraksi. mobilitas • Tanda radang dan fraktur Cara kerja : • Ispkesi tulang. Normal : Sulit di raba. tentukan besar. benjolan abnormal. saat pasien melepas napas. dan pegang otot dan lakukan penilaian. lunak dan ujung tumpul  hepatomegali • Teraba nyata ( membesar ). teraba bila ada pembesaran PEMERIKSAAN SISTEM MUSKULOSKELETAL OTOT Hal – hal yang perlu diperhatikan : • Bentuk. . tanda radang. ujung ireguler  hepatoma Lien • Letakkan tangan kiri menyangga punggung kanan penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas . tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. rasakan adanya masa hepar. tonus dan spasme otot • Kekuatan otot UJi Kekuatan Otot Cara kerja : • Tentukan otot/ektrimitas yang akan di uji • Beritahu pasien untuk mengikuti perintah. pembesaran. kontraksi dan tremor. rasakan adanya masa hepar.obliq ) di bawah kostae kanan. • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran limfa • Minta pasien napas dalam. • Minta pasien napas dalam. krepitasi. ujung tajam. konsistensi. saat pasien melepas napas. tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. nyeri tekan. • Palpasi tulang. tidak timbul gerakan 2 ( parese ) : Timbul gerakan tidak mampu melawan gravitasi 3 ( parese ) : Mampu melawan gravitasi 4 ( good ) : mampu menahan dengan tahanan ringan 5 ( Normal ): mampu menahan dengan tahanan maksimal TULANG Hal-hal yang perlu diperhatikan : • Adanya kelainan bentuk / deformitas • Masa abnormal : besar. konsistensi dan bentuk permukaan. Normal : tidak teraba / teraba kenyal.Hati • Letakkan tangan kiri menyangga belakang penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas . Abnormal : • Teraba nyata ( membesar ). • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran hepar. tentukan kwalitas benjolan. pembesaran. catat adanya deformitas. keras tidak merata. konsistensi dan bentuk permukaannya.obliq ) di daerah tempat redup hepar bawah / di bawah kostae. ukuran dan kesimetrisan otot • Adanya atropi.

Uji CTS ( Carpal Tunnel Syndrome ) Uji PHALEN’S • Fleksikan pergelangan tangan ke dua tangan dengan sudut maksimal. 2. nampak tegang  odema. erosi. Warna kulit Normal : nampak lembab. elastisitas menurun. ekstensi. crusta. adanya kekakua sendi dan nyeri gerak • Tentukan ROM sendi : Rotasi. Tanda BALON Tekan kantung suprapatela dengan jari tangan. protaksi. inverse/eversi. Soliter. lichenifikasi. Uji TINEL’S • Lakukan perkusi ringan di atas syaraf median pergelangan tangan • Abnormal : ada kesemutan atau kesetrum 3. Tekstur dan konsistensi Normal : halus dan elastis Abnormal : kasar. pigmentasi. tentukan : 1. jari yang lain meraba adanya cairan. vesikel. Angkat Tungkai Lurus • Angkat tungkai pasien. peradangan 3. macula. nodula. eskoriasi. dan palpasi adanya nyeri tekan • Palpasi dan gerakan sendi. Unilateral. Kelainan / lesi kulit Normal : tidak terdapat Abnormal : Terdapat lesi kulit. • Abnormal : Baal / kesemutan pada jari-jari dan tangan. distribusi dan konfigurasinya. tahan selama 60 detik.PERSENDIAN Hal-hal Yang perlu diperhatikan : • Tanda-tanda radang sendi • Bunyi gerak sendi ( krepitasi ) • Stiffnes dan pembatasan gerak sendi ( ROM ) Cara Kerja : • Ispeksi sendi terhadap tanda radang. PEMERIKSAAN SISTEM INTEGUMEN KULITInspeksi 1. ulceratif. General. scar. Kemerahan Abnormal : cyanosis / pucat 2. pronasi/supinasi. bentuk Lesi • Lesi Primer : bulla. luruskan sampai timbul nyeri. Tekstur kulit Normal : tegang dan elastis ( dewasa ). fleksi. catat : krepitasi. papula. dorsofleksikan tungkai kaki • Abnormal : nyeri tajan ke rah belakang tungkai  ketegangan / kompresi syaraf 2. Bergerombol Palpasi 1. hypopigmentasi. elastisitas meningkat ( tegang ) . lembek dan kurang elastis ( orang tua ) Abnormal : menurun  dehidrasi. fissura. pustula • Lesi Sekunder : Tumor. plaque. PEMERIKSAAN KHUSUS 1.

2. Persiapan sebelum pemeriksaan: . suhu meningkat ( infeksi ) 3. catat warna dan suhu . lesi. pengeluaran cairan atau darah dan sebagainya. kemudian lepas. dingin  kekurangan oksigen CR ( capilari Refiil ) • Tekan Ujung jari berarapa detik. Tujuan Pemeriksaan Genetalia: • Melihat dan mengetahui organ organ yang termasuk dalam genetalia • Mengetahui adanya abnormalitas pada genetalia. Adanya hyponestesia/anestesia 5. elastisitas kuku. dehidrasi 4. ODEM • Tekan beberapa saat kulit tungkai. hangat Abnormal : pucat. Adanya nyeri Pemeriksaan Khusus AKRAL • Ispeksi dan palpasi jari-jari tangan. catat perubahan warna Normal : warna berubah merah lagi < 3 detik Abnormal : > 3 detik  gangguan sirkulasi. Tumor. dahi amati adanya lekukan ( pitting ) Normal : tidak ada pitting Abnormal : terdapat pitting ( non pitting pada beri-beri ) KUKU • Observasi warna kuku. • Melakukan perawatan genetalia • Mengetahui kemajuan proses persalinan pada ibu hamil atau persalinan Metode yang Digunakan pada pria: • Inspeksi • Palpasi Metode yang digunakan pada wanita: • Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar dan bagian dalam. atau benjolan. Normal : tidak pucat. Suhu Normal : hangat Abnormal : dingin ( kekurangan oksigen/sirkulasi ). atau iritasi. perut. infeksi. luka. edema. warna dan pertumbuhan rambut PEMERIKSAAN FISIK GENITALIAUntuk mengetahui apakah pasien mempunyai masalah dengan genetalia (alat vital) baik intern/ekstern. tanda radang Abnormal : • Jari tabuh ( clumbing Finger )  penykait jantung kronik • Puti tebal  jamur RAMBUT TUBUH • Ispeksi distribusi. bentuk kuku. Turgor kulit Normal : baik Abnormal : menurun / jelek  orang tua. misalnya varises.

amati lubang uretra dan kepala penis untuk mengetahui adanya ulkus. jaringan parut. f) Menjaga privasi pasien. dan adanya kelainan lain yang tampak pada penis. e) Perawat harus dapt memeberi penjelasan kepada pasien tentang tujuan pengkajian sehingga pasien dapat diajak bekerja sama dan tidak merasa malu. Pada Wanita: 1. dan kemungkinan adanya cairan kental yang keluar. Angkat skrotrum dan amati area di belakang skrotrum. eritema. d) Palpasi saluran sperma dengan jempol dan jari telunjuk.1) Menyiapakan alat yang digunakan: a) Lampu yang dapat diatur pencahayaanya b) Handscone atau sarung tangan c) Meja pemeriksaan dengan sanggurdi. perhatikan adana lesi. eksoriasi. b) Perawat meminta pasien untuk berkemih sebelum pemeriksaan. c) Bantu pasien melakukan posisi litotomi di tempat tidur atau meja periksa untuk pengkajian genital eksternal. licin. d) Meminta ijin pada pasien jika melakukan pengkajian. c) Pada pria yang tidak dikhitan. pegang penis dan buka kulup penis. Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar: a) Beri kesempatan kepada pasien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum pengkajian dimulai. perhatikan penyebaran dan pola pertumbuhan rambut pubis. b) Inspeksi kulit. fisura. 2) Palpasi a) Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya nyeri tekan. dan kelicinannya. Langkah pemeriksaan fisik genitalia Pada Pria : 1) Inspeksi a) Pertama tama inspeksi rambut pubis. atau nodular. Saluran sperma biasanya ditemukan pada puncak bagian lateral skrotum dan teraba lebih keras daripada epidedimis. tidak ada benjolan atau massa. d) Amati kulit dan area pubi. ukuran. dan rabas ( bila pasien malu. c) Papasi epidemis yang memanjang dari puncak testis ke belakang. c) Mulai dengan mengamati rambut pubis. 2) Menyiapkan tempat yang nyaman sehingga dapat menjaga privasi pasien. konstitensi. Bantu mengatur posisi litotomi. ulkus. dan bandingkan sesuai usia perkembangan pasien. bengkak. perhatikan distribusi dan jumlahnya.penis dapat dibuka oleh pasien sendiri ). bentuk. Palpasi tiap testis dan perhatikan ukuran. 3) Hal yang harus diperhatikan: a) Pengkajian dilakukan sesuai kebutuhan dengan tetap menjga kesopanan dan harga diri pasien dan perawat. benjolan . . dan selimuti bagian yang tidak diamati. Lubang uretra normalnya terletak di tengah kepala penis. Catat bila rambut pubis tumbuh sedikit atau tidak sama sekali. peradangan. benjolan. spatula plastic. Pada beberapa kelainan lubang uretra ada yang terletak di bawah batang penis ( hipospadia ) dan ada yang terletak di atas batang penis ( epispadia ) d) Inspeksi skotrum dan perhatikan bila ada tanda kemerahan. baskom. b) Anjurkan pasien membuka celana. Bila diperlukan urine untuk specimen laboratorium. Testis normalnya teraba elastis. dan ekskorasi. b) Palpasi stroktum dan testis dengan menggunakan jempol dan tiga jari pertama. Normalnya epididimis teraba lunak. dan berukuran sekitar 2-4 cm. leukoplakia.

c) Siapkan speculum dengan ukuran dan bentuk ang sesuai dan lumasi dengan air hangat terutama bila akan mengambil specimen. Normalnya serviks dapat digerakkan tanpa terasa nteri. dan neri tekan. d) Letakkan dua jari pada pintu vagina dan tekankan ke bawah kea rah perianal. dan mobilitasnya. massa.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot. atur lampu untuk memperjelas penglihatan dan amati ukuran. dan meatus uretra. j) Bila sudah selesai. dan warna serviks .dan tes keseimbangan. labia minora. Tangan yang ada di abdomen tekankan ke bawah kea rah kuadran kanan bawah. dan tarik keluar secara perlahan-lahan. PEMERIKSAAN FISIK EKSTREMITAS Ekstremitas atas • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan tangan. kemudian memasukkan jari tersebut ke lobang vagina dengan penekanan ke arah posterior. dan nyeri tekan ( normalnya tidak teraba) ulangi untuk ovarium sebelahnya. letakkan pada serviks dan kunci bilah sehingga tetap membuka. sedangkan pada para membentuk celah. m) Palpasi uterus dengan cara jari-jari tangan yang ada dalam vagina menghadap ke atas. Tangan yang ada diluar letakkan di abdomen dan tekankan ke bawah. f) Bila spekulum sudah berada di vagina. Keluarkan jari bila sudah selesai. g) Buka bilah speculum. temperature. konsistensi. laserisasi. 2. nodular. . regularitas. n) Palpasi ovarium dengan cara menggeser dua jari yang ada dalam vagina ke formiks lateral kanan. Normalnya bentuk serviks melingkar atau oval pada nulipara. massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot. Palpasi uterus untuk mengetahui ukuran. h) Bila serviks sudah terlihat. Tindakan ini bermanfaat untuk mempergunakan dan memilih speculum yang tepat. bentuk. gerak dan tekanan. rabas. mobilitas. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri. keluarkan dua jari Anda. dan putar speculum kea rah posisi horizontal dan pertahankan penekanan pada sisi bawah / posterior. mobilitas. dan identifikasi kelunakan serta permukaan serviks. l) Palpasi serviks dengan dua jari anda dan perhatikan posisi. Palpasi ovarium kanan untuk mengetahui ukuran. ukuran. klitoris. konsistensi.klitoris. k) Lakuakan palpasi secara bimanual bila diperlukan dengan cara memakai sarung tangan steril. erosi. kendurkan sekrup speculum. rabas atau nodular. bentuk. b) Lumasi jari telunjuk Anda dengan air steril. tutup speculum. ulkus. ambil dengan cara usapan menggunakan aplikator dari kapas. e) Yakinkan bahwa tidak ada rambut pubis pada pintu vagina dan masukkan speculum dengan sudut 45° dan hati-hati dengan menggunakan tangan yang satunya sehingga tida menjepit rambut pubis atau labia. masukkan ke dalam vagina. Pengkajian alat kelamin bagian dalam a) Atur posisi pasien secara tepat dan pakai sarung tangan steril. Perhatikan setiap ada pembengkakan. dan amati bagian dalam labia mayora. konsistensi. dan meraba dinding vagina untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan nodular. i) Bila diperlukan specimen sitologi. rasa.dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. melumasi jari telunjuk dan jari tengah.e) Buka labuia minora. sentuhan.

Pemeriksaan Refleks Repleks biasanya tidak terlalu singkat terjadinya pada pasien yang lebih dewasa. 4) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot biseps.dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. Pengujian refleks tidak berarti menentukan pungsi saraf pusat. Pemeriksaan Refleks Otot Triseps 1) Posisi pasien tidur terlentang. 5) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan. 2) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. sentuhan. rasa. implus-implus saraf merambat sepanjang jalur saraf aferen ke bagian dorsal segmen batang spinal.Ekstremitas bawah • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan kaki. 7) Terlihat gerakan ektensi pada siku akibat kontraksi otot triseps dan terasa tarikan tendon otot triseps dibawah telunjuk pemeriksa. Menimbulkan reaksi repleks memungkinkan perawat untuk mengkaji integritas jalur-jalur sensori dan gerak dari lengkung repleks dan segmen batang spinal spesifik. 5) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot triseps. 2) Bila siku tangan kanan yang akan diperiksa. 3) Carilah tendon biseps dengan meraba fossa kubiti. 3) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. maka akan teraba keras bila siku difleksikan. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri. Pemeriksaan Refleks Tendon Patela 1) Posisi pasien tidur terlentang atau duduk. Kemudian sebuah saraf motor mengirim implus kembali ke otot dan menyebabkan respon refleks terjadi. 2) Pemeriksa berdiri dan menghadap pada sisi kanan pasien. 1991). diatas jari telunjuk kiri pemeriksa. Implus-implus bergerak ke saraf motor eferen dalam batang spinal. 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas jari telunjuk kiri pemeriksa. maka diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 90 derajat dan rileks. gerak dan tekanan. diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 60 derajat dan rileks. Pemeriksaan Refleks Otot Biseps 1) Posisi pasien tidur terlentang dan siku kanan yang akan diperiksa. . temperature.massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot. 4) Carilah tendon triseps 5 cm diatas siku ( proksimal ujung olecranon ). 6) Terlihat gerakan fleksi pada siku akibat kontraksi otot biseps dan terasa tarikan tendon otot biseps dibawah telunjuk pemeriksa.. Respon repleks pada ekstremitas bawah berkurang sebelum ekstremitas-ekstremitas atas terpengaruh (Seidel et al. Saat otot dan tendon di regangkan selama pengujian refleks.dan tes keseimbangan.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot.

lutut pasien fleksi 60 derajat dan bila duduk lutut fleksi 90 derajat. 3) Bila pasien tidur terlentang lutut fleksi 90 derajat dan disilangkan diatas kaki berlawanan. untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif. 2) Bila pasien tidur terlentang pemeriksa berdiri dan bila pasien duduk pemeriksa jongkok disisi kiri pasien. bila pasien duduk kaki menggelantung bebas. 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas tendon patella. tertama pada pasien yang baru masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat. Pemeriksaan fisik Mutlak dilakukan pada setiap pasien. 5) Carilah tendon achiles diantara 2 cekungan pada tumit yang terasa keras dan makin tegang bila posisi kaki dorsofleksi. KESIMPULAN Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu. memastikan/membuktikan hasil anamnesa. baik untuk untuk menegakkan diagnosa. 7) Terlihat gerakan ektensi pada lutut akibat kontraksi otot quadriseps femoris. Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat. sewaktu-waktu sesuai kebutuhan pasien. . Pemeriksaan Refleks Tendon Achiles 1) Pasien tidur terlentang atau duduk. 4) Pergelangan kaki dorsofleksikan dan tangan kiri pemeriksa memegang/ menahan kaki pasien. 6) Ayunkan reflek hammer diatas tendon achiles. 5) Carilah 2 cekungan pada lutut dibawah patela inferolateral/ inferomedial. menentukan masalah dan merencanakan tindakan yang tepat bagi pasien. 4) Tangan kiri pemeriksa menahan pada fossa poplitea. Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting dan harus di lakukan pada kondisi tersebut. baik pasien dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. secara rutin pada pasien yang sedang di rawat. diantara 2 cekungan tersebut terdapat tendon patela yang terasa keras dan tegang.3) Bila posisi pasien tidur terlentang. 7) Terasa gerakan plantar fleksi kaki yang mendorong tangan kiri pemeriksa dan tampak kontraksi otot gastrocnemius.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful