Perforasi membran timpani

Definisi
Perforasi atau hilangnya sebagian jaringan dari membran timpani yang menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi dari membrane timpani. Membran timpani adalah organ pada telinga yang berbentuk seperti diafragma, tembus pandang dan fleksibel sesuai dengan fungsinya yang menghantarkan energy berupa suara dan dihantarkan melalui saraf pendengaran berupa getaran dan impuls-impuls ke otak. Perforasi dapat disebabkan oleh berbagai kejadian, seperti infeksi, trauma fisik atau pengobatan sebelumnya yang diberikan.

Gejala Klinis
Beberapa gejala klinis yang timbul pada perforasi membran timpani adalah       Penurunan pendengaran Sensasi mendengar suara siulan saat meniup telinga atau bersin Cairan yang keluar dari telinga dapat terus menerus Tanda-tanda infeksi telinga tengah (demam, nyeri, telinga berdenging) Hilangnya fungsi pendengaran (test pendengaran), hal ini menentukan apakah penderita membutuhkan alat bantuan pendengaran atau tidak. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan biasanya adalah, Otoskopi, timpanometri, Test pendengaran (swabach, webber, dan rinne)

Tatalaksana
Terapi pengobatan pada perforasi membrane timpani ditujukan untuk mengendalikan infeksi pada telinga tengah. Mengingat juga penyebab dari perforasi yang disebabkan pengobatan sebelumnya. Penggunaan anti bacterial sebaiknya digunakan jika hasil kultur dan resistensi sudah didapatkan. Beberapa pengobatan invasive adalah, kauterisasi pada ujung membrane timpani. Penyumbatan pada lubang baik dengan lemak atau bahan sintetis yang tidak menimbulkan reaksi tubuh penerima (timpanoplasty). Pengobatan yang terakhir ini memiliki tingkat keberhasilan 80 hingga 90 % tergantung dari besarnya perforasi maupun komplikasi yang timbul.

Epidemiologi
Insidensi di populasi belum diketahui, tetapi biasanya terdapat pada Negara-negara berkembang atau Negara tertinggal, hal ini disebabkan oleh kurangnya faktor gizi, dan tingkat pelayanan kesehatan dari Negara tersebut.

Etiologi
Penyebab tersering dari perforasi membrane timpani adalah infeksi sebelumnya. Infeksi akut pada telinga tengah seringkali menyebabkan terjadinya kurangnya suplai darah ke membrane timpani yang seringkali berjalan dengan peningkatan tekanan pada telinga dalam, hal ini mengakibatkan robeknya atau hilangnya jaringan membrane timpani, yang biasanya diikuti dengan rasa nyeri. Jika robeknya membrane timpani tidak menyembuh maka akan terjadi hubungan antara telinga tengah dan telinga luar, yang seringkali menyebabkan infeksi yang berulang dan resistensi terhadap antibiotic yang digunakan berulang kali. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah jika infekti telah

menyebar kedalam kepala sehingga menimbulkan infeksi di kepala. Penyebab lain dari perforasi adalah trauma fisik dari telinga, yang tersering adalah pukulan yang keras kearah telinga dalam, tenaga yang timbul dapat memecahkan atau merobek membran timpani. Beberapa trauma yang lain adalah, perubahan tekanan pada telinga yang berubah secara mendadak, pada contohnya sering pada penyelam, yang didahului dengan gangguan pada saluran telinga dan mulut, peradangan ataupun infeksi.

http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/67/perforasi-membran-timfani

Perforasi Gendang Telinga
DEFINISI Perforasi Gendang Telinga ( Eardrum Perforation) adalah suatu keadaan dimana ditemukan lubang pada gendang telinga. Gendang telinga (membran timpani) merupakan pemisah antara telinga luar dan telinga tengah. Jika gelombang suara menyentuhnya maka gendang telinga akan bergetar dan hal ini merupakan awal dari proses perubahan gelombang suara menjadi impuls saraf yang akan menuju ke otak. Jika terjadi kerusakan pada gendang telinga maka proses pendengaranpun akan terganggu. Gendang telinga juga bertindak sebagai penghalang masuknya bahan-bahan dari luar telinga (misalnya bakteri). Jika terjadi perforasi gendang telinga, maka bakteri dengan mudah akan masuk ke dalam telinga dan menyebabkan terjadinya infeksi.

PENYEBAB Lubang pada gendang telinga bisa terjadi jika suatu benda dimasukkan ke dalam telinga (misalnya cotton-bud) atau jika suatu benda secara tidak sengaja masuk ke dalam telinga (misalnya ranting pohon yang terlalu rendah). Terjadinya lubang pada gendang telinga juga bisa disebabkan oleh peningkatan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba (misalnya akibat ledakan, tamparan atau menyelam) atau oleh penurunan tekanan yang juga terjadi secara tibatiba. Infeksi telinga juga bisa menyebabkan perforasi gendang telinga karena terjadi peningkatan tekanan cairan di dalam telinga tengah sehingga mendorong gendang telinga dan akhirnya terbentuklah lubang pada gendang telinga.

GEJALA Perforasi gendang telinga menyebabkan nyeri hebat yang timbul secara tiba-tiba, diikuti oleh perdarahan dari telinga, hilangnya pendengaran dan tinitus (telinga berdenging). Kehilangan pendengaran akan lebih buruk jika disertai oleh gangguan pdada rantai tulang pendengaran atau cedera pada telinga bagian dalam. Cedera pada telinga bagian dalam juga bisa menyebabkan vertigo (perasaan berputar). Dalam waktu 24-48 jam bisa keluar nanah dari telinga, terutama jika telinga kemasukan air.

DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dengan menggunakan otoskop, dokter bisa melihat adanya lubang pada gendang telinga.

PENGOBATAN Untuk mencegah terjadinya infeksi, biasanya diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut). Penderita harus menjaga agar telinganya tetap kering. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik. Biasanya tanpa pengobatan lebih lanjut, gendang telinga akan membaik. Tetapi jika dalam waktu 2 bulan tidak terjadi perbaikan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki gendang telinga (timpanoplasti).

Perforasi membran timpani permanen adalah suatu lubang pada membran timpani yang tidak dapat menutup secara spontan dalam waktu 3 bulan setelah perforasi. ahli patologi wicara dan pendidik. Upaya penutupan perforasi membran timpani permanen secara konservatif masih diperlukan oleh karena terapi secara operatif memerlukan peralatan yang tidak selalu tersedia di rumah sakit kabupaten atau kota dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor . Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. anatominya juga sangat rumit . Di antara mereka yang dapat membantu diagnosis dan atau menangani kelainan otologik adalah ahli otolaringologi. Obatilah infeksi telinga secara tuntas. ahli audiologi. Konsistensinya bisa encer atau kental. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar. Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita.blogspot. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara. Deteksi awal dan diagnosis akurat gangguan otologik sangat penting. perawat. Perawat yang terlibat dalam spesialisasi otolaringologi. PENCEGAHAN Berhati-hatilah ketika sedang membersihkan telinga dengan menggunakan cotton bud.html Pendahuluan Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Letak perforasi di pars flaksida membran timpani. saat ini dapat memperoleh sertifikat di bidang keperawatan otorinolaringologi leher dan kepala (CORLN= cerificate in otorhinolaringologyhead and neck nursing). Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. 2)Perforasi marginal. Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. mintalah bantuan dokter umum/dokter ahli untuk mengeluarkannya.Jika hilangnya pendengaran bersifat menetap. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. pediatrisian. Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul.com/2010/01/perforasi-gendang-telinga. 3)Perforasi atik. yaitu : 1)Perforasi sentral (sub total). Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. Gendang telinga/membran timpani/tympanic membrane/eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. internis. diduga telah terjadi gangguan pada tulang pendengaran dan harus diperbaiki melalui pembedahan. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. Jika telinga kemasukan sesuatu. trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping. http://sehat-enak.

Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Anatomi Telinga Tengah Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Normalnya. Anatomi dan Fisiologi Telinga Anatomi Telinga Luar Telinga luar.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. atau struktur berbentuk cincin. Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen. Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun. inkus stapes. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. otot. nyeri telinga (otalgia). Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis). menghubngkan telingah ke nasofaring. yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus. dan ligamen. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus. yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian. begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval. penting rasanya untuk memahami anatomi dan fisiologi telinga terlebih dahulu secara umum. Anatomi Telinga Dalam Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Bila ini terjadi. Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. superior dan lateral erletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan . Ketiga kanalis semisi posterior. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga).5 sentimeter. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. yang membantu hantaran suara. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm. gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. tuba eustachii tertutup. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2. di mana suara dihantar telinga tengah. dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis.dsb. Untuk memahami hal ini lebih lanjut. glandula seruminosa.

Gendang telinga atau membrana tympani adalah selaput atau membran tipis yang memisahkan telinga luar dan telinga dalam. umbo. Kerusakan pada gendang telinga dapat menyebabkan tuli yang konduktif. Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang selsel rambut utrikulus. yang muncul dari koklea. Organ ahir reseptor ini distimulasi oleh perubahan kecepatan dan arah gerakan seseorang. hanya terdiri dari dua lapis tanpa jaringa ikat di bagian tengah. dan bahwa ada bagian hipotimpanum yang meluas melampaui batas bawah membrana timpani. Di dalam kanalis auditorius internus. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. yang muncul dari kanalis semisirkularis. bergabung dengan nervus vestibularis. Jenis tuli lainnya yaitu tuli sensorik yang disebabkan rusaknya sistem saraf pendengaran. mengarah ke medial. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus. Di dalam lulang labirin. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Kerusakan gendang telinga berupa bolong/pecah (perforasi) terutama disebabkan infeksi telinga tengah (Otitis Media). Membrana timpani umumnya bulat.Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe. Pars tensa. duktus koklearis. bagian luar lanjutan kulit liang telinga. Tuli konduktif adalah hilangnya pendengaran karena tidak dapat tersampaikannya getaran suara. Penyebab robeknya membran ini antara lain disebabkan oleh infeksi telinga tengah(otitis). lapisan fibrosa di bagian tengah dimana tangkai maleus dilekatkan. Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). dan kanalis semisirkularis. Gendang telinga / membran timpani /tympanic membrane / eardrum adalah suatu membran/selaput yang terletak antara telinga luar dan telinga tengah. Bila terjadi kerusakan pada membran ini dapat dipastikan bahwa fungsi pendengaran seseorang terganggu. 1. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus. Akibatnya terja¬di aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak. Robeknya membran ini merupakan salah satu kerusakan yang sering dialami baik pada anak-anak maupun dewasa. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam. menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). merupakan lanjutan mukosa telinga tengah. nervus koklearis (akus-dk). Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya. dan organan Corti. terdiri dari 3 lapis. . dan bagian dalam yang mengarah ke telinga tengah. Ia berfungsi untuk menghantar getaran suara dari udara menuju tulang pendengaran di dalam telinga tengah. meluas melampaui batas atas membran timpani. yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. 2. Labirin membranosa memegang cairan yang dina¬makan endolimfe.mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan. banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar. Fungsi membran ini sangat vital dalam proses mendengar. di tengah jaringan ikat. Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3. dan sakulus. bagian atas gendang telinga (daerah atiq). Pars flaksida. akulus.5 cm dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran. Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak. dinamakan organ Corti. utrikulus. namun tidak sem-purna mengisinya. dan lapisan mukosa dibagian dalam. Gendang telinga secara anatomi dibagi 2 yaitu pars tensa (tegang) dan pars flaksida. Lapisan fibrosa tidak terdapat di bagian atas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timpani yang disebut membrana Shrapnell menjadi lemas (flaksid). sebagain besar gendang telinga merupakan pars tensa. namun dapat juga karean trauma.

gelisah dan tiba-tiba keluar cairan/nanah dengan atau tanpa darah. Peningkatan mortalitas lebih sering terlihat dalam kelompok ini dikarenakan tingginya keterkaitan dengan trauma intrakranial. wanita yang secara meningkat menjadi korban dari tamparan tangan terbuka dengan perforasi TM setelahnya. Etiology Perforasi TM timbul oleh mekanisme yang bervariasi dan sumber energi. menyelam dengan kedalaman yang dianggap tidak aman. dan klip kertas yang seringkali digunakan untuk membersihkan saluran telinga luar . Ketergantungan pada transportasi kendaraan bermotor telah menambah peningkatan resiko akan terjadinya cedera kepala. Cedera Tembus: Penyebab sering kedua dari perforasi TM termasuk Q-tips. Laki-laki dewasa muda lebih sering mengalami cedera perforasi. Luka tembak berada dalam sumber yang meningkat dari trauma tulang temporal. nyeri telinga (otalgia). Ketergantungan terhadap trasportasi telah secara besar meningkatkan resiko dari cedera kepala. atau 4 mm perforasi). 3. Kecelakaan ski air seringkali terlihat selama musim panas. Peraturan pemerintah yang baru dalam penggunaan keamanan dan tempat duduk anak-anak untuk MVAs dan proteksi kepala untuk kendaraan sangat menguntungkan sebagai bentuk dari pencegahan sekunder. Hal ini dikarenakan meningkatnya kekerasan domestik. dan untuk itu dapat menjadi berbagai bentuk dan ukuran. Ukuran secara normal dijelaskan sebagai persentase perforasi (40% perforasi) atau secara langsung untuk perforasi yang kecil (contoh. Klasifikasi lebih jauh dari perforasi marginal versus sentral adalah penting untuk management selanjutnya. Umumnya dokter THT akan menangani keadaan akut ini dahulu dengan meredakan gejala dan sumber penyebabnya sambil dievaluasi kondisi membran/gendang telinganya. mencegah bahaya infeksi berulang pada telinga tengah) Epidemiologi Membran timpani lebih sering mengalami trauma dibandingkan dengan telinga tengah atau telinga dalam. Telah dijumlahkan sekitar 30-75% dari cedera kepala tumpul dikaitkan dengan lesi tulang temporal. bobby pins.0000. Cedera akibat ledakan lebih berat ketika refleksi sedikit atau kerusakan dari gelombang energi ledakan pada rute TM. Perubahan pada tekanan air selama penyelaman dapat menimbulkan cedera tipe tekanan. Mereka dijelaskan dalam kaitannya dengan empat kuadran TM yang dibedakan dari tangan malleus. suara ledakan yang berada didekat sekali dengan telinga kita. kunci. Bila gejala dan sumber penyebabnya telah tertangani dan dalam penilaian selama 1 bulan gendang telinga ini tidak menutup spontan.trauma baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya tertusuk alat pembersih kuping. trauma kepala akibat kecelakaan kendaraan bermotor dsb.6 per 100. Tetapi biasanya dalam derajat keseriusan yang rendah. Hal ini timbul pada semua kelopok umur dengan predisposisi pada anak yang lebih sering dibandingkan dengan kebiasaan memasukkan benda asing ke dalam kanalis aurikula eksternal. Umumnya tanda dan gejala robeknya gendang telinga antara lain nyeri telinga yang hebat disertai keluar darah dari telinga (yang disebabkan trauma) sedangkan yang disebabkan infeksi umumnya terdapat demam yang tak turun-turun. Insidensi pertahun dari perforasi traumatik bervariasi antara 1. Cedera Kompressi: Perubahan mendadak dalam tekanan udara sebagaimana dengan perubahan gradual (barotrauma) dapat menimbulkan kerusakan TM yang signifikan.4-8. biasanya akan disarankan penutupan gendang telinga ini melalui prosedur pembedahan/operasi (tentu setelah dievaluasi manfaat penutupan membran ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi pendengaran. 2.

Perforasi Membran Timpani biasanya hadir pada pars tensa. ( sangat berbakat TM atau lem tglue ear juga dapat menampilkan imobilitas). cedera penetrasi. merupakan kunci untuk diagnosa. Dikarenakan kerusakan jaringan dan dikaitkan dengan resiko infeksi. Traumatic Perforasi TM yang dapat terluka dalam berbagai cara. adalah cara pertama yang langsung. 3) pemeriksaan otoscopic harus dilengkapi dengan audiometry nada murni untuk memiliki pemahaman yang lebih baik dari ossicular rantai (kemungkinan erosi yang incus. Mereka mungkin kecil dan tersembunyi di balik exudates atau sumbatan darah atau juga akan dikaburkan dengan tulang punuk dari kanal anterior dinding. Perforasi Marginal dianggap “tidak aman” karena kulit yang berhubungan dgn kanal eksternal. Perforasi Marginal terletak di pinggiran dari membran timpani dengan ketidakhadiran dari annulus fibrosus. Jika pemeriksa dapat melihat bagian dari drum. dan keberadaan atau ketiadaan epithelialization harus dievaluasi. tiga hal berikut harus menjadi pertimbangan dipenuhi: 1) Pada tingkat yang perforasi situs. karena . korban akan mencoba untuk menyembunyikan setiap detail kejadian saat datang ke kantor. dan sisanya dari keadaan di sekitar membran timpani perforasi harus ditentukan. ukuran. penyembuhan yang spontan sangat jarang dan infeksi berulang dan drainase dapat terjadi. Skenario seringkali melibatkan orang yang membersihkan telinga dengan alat. tidak ada perforasi. dan kadang-kadang. Jika perforasi membrane timpani tidak sembuh secara spontan. Perforasi trauma berbeda dalam ukuran dan lokasi. 2) Pada tingkat tengah telinga. anggota keluarga yang Kasar mungkin terlibat. komunikasi patologi ini terletak di tengah dan telinga luar dan dapat dianggap sebagai “hiliran udara yang benar. ketetapan dari rantai). dgn menyedihkan.Cedera Suhu: Pada komunitas industri. Kapanpun membran timpani yang didiagnosis perforasi. hal ini dirasakan untuk menjadi kurang setuju jika hanya mendapatkan terapi observasi Cedera listrik: Konduksi elektrik yang instan dari sengatan listrik diduga dapat menyebabkan kerusakan pada TM baik berupa penekanan atau perubahan tekanan rarefaksi. particle panas dapat menembus TM. yang akan dijelaskan pada bab akhir nanti. lapisan epithelial dan mucosal merayap dan bertemu di sepanjang batas-batas yang perforasi. TM yg tak bergerak akan terlihat dengan perforasi. hot welding slag is occasionally encountered as the culprit for TM injuries. pasien akan terganggu berulang karena infeksi telinga dan keluar air dari telinganya. mengkauterisasi ujung-ujungnya seperti berjalan melalui ke dalam telinga. keadaan mucosa. Beberapa mungkin akan sulit untuk dilihat pada pemeriksaan. jika drum adalah mobile. Dalam hal ini. Kecelakaan menyelam dan ski air mungkin juga dapat meledakkan drum. Jarang. Sering kali. Sebaliknya. Jenis perforasi ini biasanya di anterior dan inferior. orang kedua kurang hati-hati menyikutkan sikunya ke telinga hingga menyebabkan cedera. Perforasi Pars tensa dapat berupa sentral atau marjinal. akustik biasanya menyebabkan kerusakan pada labirin juga. Penyebab lain adalah ledakan membran karena tamparan atau kepalan tangan ke telinga. yang pneumatic otoscope. Cedera ini juga kurang untuk bisa sembuh dengan sempurna. kondisi yang ossicular rantai (jika mungkin). dengan udara yang cukup di kanal. Perforasi Pars flaccida umumnya terkait dengan epitympanic cholesteatoma. Akhirnya. In industrial communities such as ours.” Dengan adanya perforasi membrane timpani. sebuah ledakan kuat di dekat telinga juga dapat meledak pada drum.

Perforasi dari Infeksi Akut Trauma yang paling sering terjadi adalah perforasi. Pada semua perforasi trauma. obat tetes telinga antibiotik Topical mungkin ditunjukkan jika drainase dan infeksi ada. tetapi juga sangat mengurangi risiko yang dapat mengakibatkan iatrogenic cholesteatoma. 2) Pengurangan dari gerakan vibrasi cairan cochlear karena suara mencapai kedua jendela hampir di waktu yang sama tanpa pemendekan dan tahap perubahan -efek dari membran timpani yang utuh Tempat perforasi tidak dapat dikaitkan dengan pola audiomerik tertentu. Pemeriksaan Otoscopic sering dapat menentukan persambungan antara kulit dan mucosa pada batas-batas perforasi membran timpani. agresif. Hindari diri dari air dan observasi awal adalah satu-satunya perawatan yang diperlukan. Tes Weber dan tes Rinne bermanfaat di sini. Mayoritas posttraumatic dan postotitic perforasi sembuh spontan. kehilangan pendengaran lebih sering terjadi lagi di perforasi posterior dibandingkan di anterior . Pada saat myringoplasty. Sebuah pengceualian timbul dengan langka. Pada persambungan ini squamous epithelium memiliki “seperti beludru” penampilannya. Hal Ini akan memerlukan pembedahan jika mereka tidak menunjukkan tanda-tanda penutupan setelah pengamatan selama beberapa bulan. necrotizing otitis media akut. Kebanyakan trauma perforasi (mungkin 90%) dapat sembuh spontan. Hal Ini biasanya disebabkan oleh streptococcus beta dalam kaitannya dengan keparahan seperti infeksi virus campak. perforasi dapat menjadi permanen. Dalam kasus ini. Ketika bagian besar dari membran timpani yang hilang atau bila infeksi kronis atau berulang terjadi. Nekrosis dari TM sentral secara typikal besar meninggalkan bentuk ladam-lubang yang besar di drum .ketiadaan dari annulus. dapat dengan mudah maju ke arah telinga. Di negara-negara lain. Disini. invagination dari kulit terhadap sisa permukaan membran timpani lebih sulit untuk didiagnosa. Dalam kasus ini. sebagian besar perforasi tetap dibuat. Lihat untuk kehilangan pendengaran dengan inordinate yang besar (> 35 dB HL) atau keberadaan vertigo sebagai petunjuk. dengan oval atau jendela sepanjang perpecahan. Migrasi kulit ini disukai dengan atrophi mucosa yang terjadi sebagai akibat dari perforasi. membran timpani harus diperbaiki (myringoplasty) untuk mengembalikan fisiologi normal telinga. Hal Ini adalah salah satu yang dihasilkan dari otitis media akut. untungnya . TM jadi merah. perforasi tidak hanya meninggalkan kulit yang terperangkap pada permukaan drum. Hampir semua ini dapat sembuh dalam beberapa hari. dengan asumsi yang diberikan antibiotic. Adanya cincin merah de-epithelialized sepanjang perforasi rim menunjukkan evagination dari mucosa ke arah luar permukaan membran timpani residu. Kehilangan pendengaran konduktif yang disebabkan oleh perforasi membran timpani mempunyai dua penyebab utama: 1) Pengurangan permukaan daerah membran timpani dimana tekanan akustik melebihi tindakannya. yang paling shortlive. mungkin terjadi. Namun. kerusakan telinga tulang kecil bagian tengah. basah. sehingga menimbulkan cholesteatoma. Trauma perforasi yang sangat besar sedikit sekali untuk sembuh. dan pembukaan kecil tersebut tidak selalu terlihat. demam berdarah masih menjadi penyebabnya. Namun. secara umum diamati bahwa kehilangan pendengaran terjadi di frekuensi yang lebih rendah dan perforasi untuk ukuran yang sama.

dan tanpa batas usia. Sering ada mastoiditis kronis di rongga berdekatan. jika bukan jenis streptococcal necrotizing. Dengan munculnya AIDS di dekade belakangan ini. otorrhea dari infeksi telinga tengah dapat menyebabkan otitis eksternal. dapat dipastikan dari riwayat pasien. Jangan lupa untuk mengevaluasi pendengaran. Hal ini dikontraindikasikan ketika perforasi membran timpani hadir hanya dalam liang telinga. Kami lebih mengutamakan teknik dasar dalam mayoritas kasus. otitis media tuberculosis menyebutkan hal ini. exudates biasanya mempunya organism yang sama seperti yang terlihat pada otitis eksterna. Staphylococcus. Akhirnya. Secara insidentil. dapat dilakukan jika dan ketika tidak ada infeksi. Proteus. terutama jika infeksi akan dibersihkan dengan antibiotic oral. Temuan ini harus curiga dan waspada. Otorrhea Persisten atau berulang melalui perforasi dikenal sebagai otitis media kronis suppurative. terutama di hadapan AIDS. Myringoplasty ditunjukkan dalam kasus dengan dan tanpa otorrhea. antibiotics awal membantu necrotisasi. dan kultur yang positif untuk pewarnaan organisme asam akan mengkonfirmasikan diagnosis. Individu yang terkena mempunyai kehilangan pendengaran konduktif dan mungkin timbul dengan drainase berulang melalui perforasi. Chronic Perforasi Perforasi yang Lama dapat dilihat pada pasien yang mengalami masaalah tuba Eustachio bercampur dengan masalah infeksi bertahun-tahun. dengan kecil atau besar udara-tulang. penyebab. beberapa perforasi menunjukkan tuberkulosis. Kehilangan pendengaran sebesar (> 35 dB HL) dapat menunjukkan kerusakan trauma ossicular. Yang otitis media akut.disekeliling manubrium. dan mastoidectomy dapat menyertai prosedur ini. . ini juga perlu perhatian pembedahan. bedah rekonstruksi TM (dan eroded ossicles. karena memberikan hasil yang lebih baik secara anatomis dan fungsional. Episode dari drainase ini (otorrhea) sering dilakukan oleh air di dalam telinga atau infeksi pernafasan atas. dan Enterobacter. jika diperlukan). Ventilasi tuba mungkin telah dimasukkan berulang kali. Keberadaan sebuah lubang membran timpani yang tidak sembuh secara spontan kronis seperti otitis media merupakan cacat anatomis dan fungsional yang memerlukan koreksi bedah dalam mayoritas kasus. Pada kenyataannya. yaitu Pseudomonas. dengan jelas keluarnya. Topical antibiotik / steroid obat tetes telinga dapat membersihkan drainase. Kehilangan pendengaran ini besar secara inordinate dikarenakan keterlibatan telinga dalam dengan basil. sekitar TM seringkali menebal dan berparut. Tympanoplasty. Pada era pra-antibiotik hal ini merupakan salah satu penyebab kronis perforasi. akan sembuh. Hal Ini sangat jarang yang biasanya dimulai dengan tidak adanya rasa sakit dari penipisan TM diikuti oleh beberapa perforasi. Summary Sesuai menurut perforasi secara umum. Membran timpani diperbaiki dengan graft autologous temporalis. pengobatan dan penentuan prognosis. sebagai pengecualian terhadap pernyataan kami bahwa kebanyakan masalah telinga hanya melibatkan satu “komponen”. Myringoplasty secara umum dilakukan dengan menggunakan insisi postauricular di bawah anestesi lokal-kecuali untuk anak-anak di mana anestesi umum digunakan.

116– 8.K. Ontario. 114. Jika reperforation terjadi setelah myringoplasty (sekitar 5% dari kasus). 1999. Sep 1998.B. 8. Ryan A. Kelompok studi otologi PERHATI–KL.8. In: Suzuki JI et al. 9.. Hasil operasi pertama dan kedua dari segi graft yang diambil dan reperforasi biasanya secara umum sebanding.13 Alamsyah Aris .teknik Overlay yang digunakan di beberapa kasus bila sisa anterior dari membran timpani adalah pathologic atau tidak ada. revisi operasi yang diindikasikan setelah beberapa bulan.G. World Health Organization. 10. Kumpulan Kuliah Telinga. Otitis Media Supuratif Kronis. 559-63. Panduan Penatalaksanaan Baku Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) di Indonesia. Murakami Y. Aetiopathology of Inflammatory Conditions of the External and Middle Ear. BC. Balai Penerbit FK-UI. 2002. 6th edition. Kawana M. Canalplasty dilakukan kapanpun tulang punuk dari saluran luar hadir yang membatasi kontrol dari batas perforasi.. Browning G. Eustachian Tube Function and Middle Ear Gas. New Aspects of Secretory Otitis Media. Rhinology and Laryngology. 6. Biochemistry. Juhn S. Jakarta.. Reconstructive Surgery of the Middle Ear. Hamilton. DAFTAR PUSTAKA 1. IL-6. Jun 1999. Surgical anatomy and pathology for reconstructive middle ear surgery. In: Lim DJ. 2005. Chronic suppurative otitis media: Burden of Illness and Management Options. Elsevier. Sato K. Andalibi A. Switzerland. Recent Advances in Otitis Media Report of The Eighth Research Conference. 5. ed.. Rosbe K. 1. Course of IL-1ß. Nose and Throat Journal. and TNF-α in the Middle Ear Fluid of the Guinea Pig Otitis Media Model Induced by Nonviable Haemophilus Influenzae. 770-6. Jan 2005. 3/3/15. Sixteenth edition. 2004. 55 – 7.com/2010/07/06/perforasi-membran-timpani/ ASKEP PERFORASI MEMBRAN TIMPANI 07. et al. Healy G.. Ear.. Helmi. In: Ballenger’s Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. maka teknik Overlay memberikan hasil yang optimal dalam kasus ini. Mei. Rhinology & Laryngology. Decker. IL..D. http://satriaperwira. Borglum J. The Annals of Otology. Ketika dilakukan dengan benar. Jakarta. Geneva. Otitis Media and Middle Ear Effusions. Adenan A. Otitis Media Supuratif Kronis.. 77. In: Scott-Brown’s Otolaryngology.F. p. Ovesen T. Nonomura N. The Annals of Otology. Amsterdam. Butterworth-Heinemann. 2. 3. 7.W. 3. 1997. 249-50. Nakano Y. Vol. 108. 6. 50-4. 4.wordpress. 9. Dalam: Helmi. Bagian THT Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

kunci ) yang didorong terlalu dalam kedalam kanalis auditorius eksternus. Pengertian Perforasi membrana timpani biasanya disebabkan oleh trauma atau infeksi. Selain perforasi membrana timpani. celah telinga tengah terletak diantaranya. cedera ledakan. Ada dua jendela kecil( jendela oval) . Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh persediaan. Telingah tengah mengandung tiga tulang terkecil ( osikuli ) ditubuh : maleus. Juga berhubungan dengan beberapa sel berisi udara dibagian mastoid tulang temporal. Anatomi Fisiologi Telinga tengah tersusun atas membrana timpani ( gendang telinga ) disebelah lateral dan kapsul otik disebelah medial.Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook A. Sumber trauma meliputi fraktur tulang tengkorak.usaha pasien untuk membersihkan kanalis auditorius esternus sebaiknya dilarang. jadi. otot. cedera terhadap osikulus dan bahkan telinga dalam dapat terjadi akibat tindakan ini. Selama infeksi. yang diameternya sekitar 1 cm dan sangat tipis. Membran ini. membrana timpani dapat mengalami ruptur bila tekanan dalam telinga tengah lebih besar dari tekanan atmosfer dalam kanalis auditorius eksternus. Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis auditorius esternus dan menandai batas lateral telinga tengah. inkus dan stapes. Perforasi lebih jarang. atau hantaman keras pada telinga. Telinga tengah merupakan rongga berisi udara yang merupakan rumah bagi osikuli ( tulang telinga tengah ) dan dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring. dan likamin. membantu hantaran suara. B. normalnya berwarna kelabu mutiara dan translusen. disebabkan oleh benda asing ( mis lidi kapas. peniti.

purulen. C. gram negatif organisme atau fungus). Mastoiditis akut jarang terjadi karena pengobatan otitis media akut dengan antibiotik. Furunkel dapat juga tumbuh pada saluran. akut dan kronik. dimana suara dihantarkan ketelinga tengah. otitis eksterna seringkali oleh bakteri (stavilokokus. Patofisiologi Kuman masuk kebagian eksterna melalui lobang telinga atau melalui tuba eustaci kemudian menimbulkan infeksi. . Infeksi dari telinga dari telinga luar. dan dataran kaki stapes ditahan olehanulus yamg agak tipis. Bagian dataran kaki stapes menjejak pada jendela oval. Bila ini terjadi. yang lebarnya sekitar satu mellimeter dan panjangnya sekitar tiga lima melimeter. Baik anulus jendela bulat maupun jendela oval sangat mudah mengalami robekkan. Persaman dengan mastoititis kronik dapat tumbuh cholestheatoma (tumor jinak) yang merupakan kantong berisi kotoran yang infeksi. Yang kronis bisa menjalar mastoid. atau radang tulang telinga. Rasa sakit terjadi karena tekanan pada kulit yang sangat sensitif. eustacii selalu tertutup. Tumor ini bisa timbul kembali bila diangkat. Tuba eustachii. Jendela bulat memberikan jalan keluar getaran suara. menghubungkan telinga tengah kenasofaring. kondisi ini dinamakan fistura ferilinfe. yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Infeksi terjadi pada selaput rongga telinga. membengkak dan getah radang dapat mengisi saluran. pengaruh yang paling utama ialah mengenai keseimbangan. menghebat sakitnya karena tidak ada ruang untuk menggelembung dalam saluran yang bertulang. Infeksi telinga tengah. cairan dari telingah dalam dapat mengalami kebocoran ketelinga tengah. otitis media merupakan gangguan yang paling sering terjadi.didinding media telinga tengah. atau struktur berbentuk cincin. Sejenis dermatitis seborrhcic dapat disebabkan karena pemakaian earkone yang lama. namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manufer falsalfa atau dengan menguap atau menelan. menimbulkan mastoiditis kronis menyebabkan nekrose kepada gendang telinga. Kegiatan berenang terutama pada air yang terkontaminasi sangat mungkin bisa menimbulkan infeksi telinga luar. Infeksi labrinth (telinga interna) merupakan perluasan telinga media. timbul tuli. Infeksi bisa serous. Normalnya. Tuba bertindak sebagai saluran drainase untuk sekresi abnormal telinga tengah dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer. Otitis media urolenta terjadi karena infeksi bakteri bisa akut atau kronis. Jendela bulat ditutupi oleh membrana yang sangat tipis. otitis media yang serous dapat terjadi karena terkumpulnya serum yang steril didalam telinga tengah bila tuba eustacii tersumbat oleh infeksi yang terdahulu atau alergi. dan dataran kaki stapes ditahan oleh anulusyang sangat tipis.

Membrana timpani tampak merah dan sering menggelembung. Hasil audiometri pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran. Spontan membrana timpani atau setelah miringotomi (insisi membrana timpani). Evaluasi otoskopik membran timpani memperlihatkan adanya porforasi. Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran. dan tinitus. Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif.D. meskipun ada beberapa yang baru sembuh setelah berbulan-bulan. sehingga menghambat penyebaran sel epitel melintasi batas dan akhir penyembuhan. Membrana timpani tampak kusam pada ostokopi. pasien harus diobservasi bila ada cairan serebrospinal otorea atau rinorea-cairan jernih cair dari telinga atau hidung. rasa penuh dalam telinga atau perasaan bendungan. dengan berbagai derajat kehilangan pendengasran dan terdapat otorea interniten atau persisten yang berbau busuk biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut. Gejala lain dapat berupa keluarnya cairan dari telinga. E. Bila terjadi cedera kepala atau patah tulang temporal. dimana daerah post-aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. Kolesteatoma. dan bahkan suara letup atau berdering. Manifestasi Klinik Gejala otitis media dapat berfariasi beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat. Pada pemeriksaan otoskopis. Terdapazt berbagai pembedahan semua pada dasarnya dengan meletakkan . Pasien harus dilindungi dari air ketika terjadi perforasi membrana timpani. karena auditorius asternus sering tampak normal. kehilangan pendengaran. yang terjadi ketika tuba eustacii berusaha membuka. Perforasi yang tak dapat sembuh dengan sendirinya memerlukan pembedahan. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Ada perforasi yang menetap karena terjadi pertumbuhan jaringan parut pada tepi perforasi. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa. sendiri. Keputusan melakukan timpanoplasti ( perbaikan membrana timpani ) biasanya didasarkan pada perlunya mencegah potensial infeksi dari air yang memasuki telinga atau keinginan memperbaiki pendengaran pasien. biasanya tidak menyebabkan nyeri. dan tak terjadi nyeri bila aurikula digerakkan. dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih dibelakang membran timpani atau keluar kekanalis eksternus luang perforasi. dan dapat terlehit gelembung udarta dalam telinga tengah. Selama proses penyembuhan telinga harus dilindungi dari air. Diagnosis Penunjang Kebanyakkan perforasi membrana timpani dapat sembuh spontan dalam beberapa minggu setelah ruptur. dan mungkin terdapat otalgia. Gejala dapat minimal. demam.

Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik kedalam telinga yang normalnya steril. Pemberian tetes antibiotika atau pemberian bubuk antibiotik sering membantu bila ada cairan purulen. dosis rendah. Bila terjadi pengeluaran cairan. Pembedahan biasanya berhasil menutup porforasi secara permanen dan memperbaiki pendengaran. virulensi bakteri dan status fisik pasien. Dengan terapi antibiotika spektrum luas yang tepat dan awal. inflamasi jaringan disekitarnya (mis sinusitis. dalam telinga tengah. Bakteri yang umum ditemuakn sebagai organisme penyebab adalah streptokokus pneumoniae. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada porforasi membran timpani. dan maroksella catarhaelis. Kondisi bisa berkembang menjadi subakut ( mis berlangsung tiga minggu sampai tiga bulan ). Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustacii seperti obtruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan atas. otitis media dapat hilang tanpa gejala sisa yang serius. dengan pengeluaran cairan purulen menetap dari telinga. Kondisi ini ditemukan terutama pada anak-anak. dapat terjadi meskipun jarang. Otitis media akut adalah infeksi akut telinga tengah. cairan ini sebagai akibat tekanan negatif dalam telinga tengah disebabkan obstruksi tuba eustacii. Secara teori. Jarang sekali terjadi kehilangan pendengaran permanen. Otitis media serosa tidak perlu ditangani secara medis kecuali terjadi infeksi (otitis media akut). Klasifikasi 1. F. Antibiotik sistemik biasanya tidak diresepkan kecuali pada kasus infeksi akut. Komplikasi sekunder mengenai mastoit dan komplikasi intrakranier serius. Penanganan meliputi pembersihan hati-hati telinga mengunakan mikroskop dan alat pengisap. perlu dicatat . 2. Cara masuk bakteri pada kebanyakkan pasien kemungkinan melalui tuba eustacii akibat kontaminasi sekresi dalam nasofaring. kadang dapat mengurangi edema tuba eustacii pada kasus barotrauma.pada lubang porforasi untuk memungkinkan penyembuhan. atau reaksi alergi (mis rinitis alergika). Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung efektifitas terapi (mis dosis antibiotik oral yang diresepkan dan durasi terapi). hipertropi adenoit). biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan. Kortikosteroid. tanpa adanya infeksi aktif. seperti meninitis atau abses otak. Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan pendengaran konduktif. Otitis media serosa (efusi telinga tengah) mengeluarkan cairan. Bila kehilangan pendengaran yang berhubungan dengan efusi telinga tengah menimbulkan masalah bagi pasien maka bisa dilakukan miringotomi dan dipasang tabung untuk menjaga telinga tengah tetap terventilasi. hemophylus influensae. biasanya perlu diresepkan preparat otik antibiotika.

yaitu dengan membuat insisi kecil pada kuadran bawah. Efusi telinga tengah sering terlihat pada pasien setelah menjalani radioterapi dan barotrauma (mis penyelam) dan pada pasien dengan disfungsi tuba eustacii akibat infeksi atau alergi saluran napas atas yang terjadi. Penatalaksanaan 1. yang berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. seperti pada penyelam atau saat pesawat udara turun. Untuk stadium tiga sampai stadium lima diberi antibiotik dosis tinggi. . Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membrana timpani. dan beberapa ahli infeksi kronik ini dapat mengakibatkan pembentukkan koleosteatoma. Medis  Mencari vokal infeksi dihidung. yang merupakan pertumbuhan kulit kedalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ketelinga tengah. Sebelum penemuan antibiotika. bila terjadi pada orang dewasa. Sering berhubungan dengan perforasi menetap membrana timpani. Karnisoma yang menyumbat tuba eustacii harus disingkirkan pada orang dewasa yang menderita otitis media serosa unilateral menetap. dan dinasofaring dan sekaligus mengobatinya. kecuali pada bayi harus segera dilakukan parasintesis bila terdapat bulging lakukan parasintesisuntuk melancarkan reinase. Sekarang.bahwa. Kebanyakan kasus mastoiditis akut sekarang ditemukan pada pasien yang tidak mendapatkan perawatan telinga yang memadai dan mengalami infeksi telinga yang tidak ditangani. dan abses otak. G.  Secara lokal: pada stadium hiperemi diberikan antibiotik tetes. Bila tidak ditangani olesteatoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralisis nerfuspasealis. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkankerusakkan membrana timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid. Kantong dapat melekat pada struktur telinga tengah dan mastoid. analgetik dan antiinflamasi. Barotrauma terjadi bila terjadi perubahan tekanan mendadak dalam telinga tengah akibat perubahan tekanan barometrik. infeksi mastoid merupakan infeksi yang mengancam jiwa. kehilangan pendengaran sensorik neural dan atau gangguan keseimmbangan (akibat erosi telinga dalam).  Secara sistemik diberikan antibiotik. dan cairan terperangkap didalam telinga tengah. Otitis media kronik adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan ireversibel dan biasanya disebabkan karena episode berulang otitis media akut. Kulit dari membran timpani literal membentuk kantong luar. penyebab lain yang mengdasari terjadinya disfungsi tuba eustancii harus dicari. Mastoiditis kronik lebih sering. penggunaan antibiotika yang bijaksana pada otitis media akut telah menyebabkan mastoiditis koaleses akut menjadi jarang. 3.

Pembersihan sekret diliang telinga (toilet lokal drainage) merupakan yang penting untuk pengobatan otitis kronik. Konsevatif a. plastik. Asuhan Keperawatan a. Karena itu memberikan antibiotik lokal dianjurkan setelah dilakukan tekhnik lokal.  Bila mungkin sekret dihisap secara hati-hati dengan menggunakan jarum kecil. Semua tindakan pembersihan tersebut sebaiknya diberikan sambil dilihat dan hati-hati untuk menghindarkan trauma yang tidak diinginkan.  Displaseme metode dapat dengan menggunakan larutan hidrogen peroksid (H2O2) 3%. Ini diberikan apabila ada eksaserbasi akut yang didahului oleh infeksi hidung atau farings. 2. misalnya hal jarum BWG no 16 dan 18 yang ujungnya diberi karet kateter nelatom yang kecil atau karet pentil. Pengobatan lokal diberikan antibiotik tetes telinga. Ada beberapa membersihkan sekret tersebut :  Dengan menggunakan kapas lidi. Antibiotik yang adekuat oral atau parenteral. b. Pemberian antibiotik tetes telinga hampir tidak gunanya apabila masih ada otore yang produktif. karena adanya gas yang ditimbulkan. Tindakan ini dianjurkan sesering seringnya bila ada otore. Pengkajian Observasi adanya bukti-bukti OMA :  Setelah ISPA  Otalgia (sakit telinga)  Otorea purulen dapat terjadi  Demam  Keluaran pululen dapat ada. c. Harus diterangkan dulu cara pemakain H2O2 3 % kedalam telinga yang sakit kemudian dibersihkan dengan kapas lidi baru setelah itu masukkan antibiotik tetes telinga dengan cara kepala dimiringkan dan ragus titekan supaya obat tetes masuk kedalam. dapat juga tidak . Dapat dianjurkan pada penderita atau orang tua penderita yang mempunyai intelegensia yang cukup.

dan tingkat cairan yang dapat dilihat atau meniskus dibelakang gendang telinga bila terdapat udara diatas cairan. Observasi adanya bukti-bukti otitis media kronis :  Kehilangan pendengaran  Kesulitan berkomunikasi  Perasaan penuh. tanpa garis tulang yang dapat dilihat atau refleks sinar. atau menarik telinga yang sakit Menggeleng-gelengkan kepala dari samping kesamping Kehilangan nafsu makan Letargi Pemeriksaan otoskopik pada OMA menunjukkan membran utuh yang tampak merah terang dan menonjol. b) Posisikan untuk kenyamanan sesuai kebutuhan individu c) Pilih tindakan kenyamanan lokal berdasarkan tingkat kerjasama dan mengurangi nyeri yang maksimum ketentuan-ketentuan untuk . peka rangsang Kecenderungan menggaruk. memegang. garis samar-samar. Menangis  Rewel. membran abu-abu dangkal. vertigo mungkin ada b. pada OME dapat ditemukan lubang kecil. tinitus. Diagnosa Keperawatan 1) Nyeri berhubungan dengan tekanan yang disebabkan oleh proses inflamasi Sasaran pasien 1 : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri/ketidaknyamanan sampai tingkat yang dapat diterima Intervensi keperawatan/ rasional a) Beri analgesik/antipiretik untuk mengurangi nyeri dan demam. gelisah.

d) Beri kompres panas eksternal (dengan bantalanpanas pada suhu panas yang rendah. seluruhnya sampai semua antibiotik yang ditentukn dihabiskan e) Tekankan pentingnya perawatan tindak lanjut f) Gunakan praktik pencegahan g) Dudukkan dengan tegak untuk pemberian makan h) Anjurkan untuk meniup hidung denganperlahan selama infeksi pernapasan atas bukan meniup infeksi tidak akan hilang hidung dengan keras karena resiko pemindahan dari tuba eustachius ketelingah tengah i) Gunakan perminan meniup atau mengunyah permen karet untuk meningkatkan aerasi telinga tengah selama dilakukan UPI j) Hilangkan asap tembakau dan alergen yang diketahui atau yang potensial dari lingkungan Hasil yang diharapkan . bungkus dengan handuk) diatas telinga dengan berbaring pada sisi yang sakit untuk meningkatkan rasa nyaman. khususnya mengenai pemberian antibiotik b) Pertahankan keteraturan pemberian c) Selesaikan program terapi d) Jelaskan bahwa meskipun gejala biasanya kurang dalam 24-48 jam. e) Beri kantong es diatas telinga yang sakit untuk mengurangi edema atau tekanan f) Hindari mengunah dengan memberikan cairan atau makanan lunak g) Posisikan dengan telinga yang sakit berada pada posisi dependen Hasil yang diharapkan Tidur dan istirahat dengan tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda kenyamanan 2) Risiko tinggi infeksi/cedera berhubungan dengan ketidakadekuatan tindakan/adanya organisme infeksius Intervensi keperawatan/rasional a) Tekankan pentingnya mengikuti instruksi.

jika sedang memakai selang kontaminasi ketelinga tengah ketika berenang atau mandi. Pasien etap bebas dari infeksi  Keluarga mematuhi petunjuk Sasaran pasien 2 : pasien tidak mengalami komplikasi penyakit atau modalitas tindakan Intervensi keperawatan/rasional Melihat sasaran sebelumnya a) Bersihkan kanalis eksternal dari drainase dengan usapan kapas steril atau lidi kapas yang dimasukkan kedalam larutan salin normal atau hidrogen peroksida. g) Jelaskan pada keluarga tentang komplikasi OM yang potensial yang dapat terjadi karena pengobatan yang tidak adekuat :  Kehilangan pendengaran konduktif  Perforasi. jaringan parut gendeng telnga  Mastoiditis ( inflamasi sistem sel udara mastoideus )  Kolesteatoma ( lesi seperti kista yang dapat masuk dan merusak struktur auditorius sekitarnya )  Infeksi intrakranial. seperti meningitis . e) Memberi tahu praktisi bila grommet ( biasanya kecil. d) Jelaskan penggunaan penyumbat telinga jika dianjurkan oleh dokter. c) Jika sumbu atau gulungan kasa kecil telah dimasukkan kedalam telinga setelah pembedahan :  Jaga agar kasa atau sumbu tersebut cukup longgar untuk memungkinkan keluarnya drainase dari telinga karena infeksi dapat berpindah keprosesus mastoideus  Jaga agar sumbu tersebut tidak basa ketika mandi atau berkeramas. f) Jelaskan bahwa hal ini normal dan tidak memberikan intervensi yang segera. bersihkan eksudat dari telinga dan kulit sekitarnya serta berikan barier pelembab seperti jeli petrolium untuk mencegah ekskoriasi. putih. selang plastik berbentuk kumparan ) jatuh keluar dari kanal telinga. b) Jika drainase-nya banyak.

pasien mungkin tidak menyadari ketika sedang diajak bicara. atau permen karet. Hasil yang diharapkan Keluarga mendemonstrasikan pemahaman tentang prosedur. termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap bunyi di lingkungan. dan menghadap ke pasien. kehilangan pendengaran sementara Sasaran pasien ( keluarga ) 1 : pasien ( keluarga ) mendapatkan dukungan yang adekuat Intervensi keperawatan / rasional Bila tepat. pada jarak lebih dekat. berikan air. b) Beri tahu keluarga tentang kemungkinan perubahan perilaku pada saat kehilangan pendengaran. d) Bicara lebih keras. Pasien tetap nyaman selama perjalanan dengan pesawat 3) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit dan hospitalisasi pasien. Gunakan kesabaran ketika berkomunikasi dengan pasien. siapkan keluarga untuk prosedur pembedahan (miringotomi). . Hasil yang diharapkan Pasien sembuh dari infeksi dan atau pembedahan tanpa komplikasi. e) Dorong evaluasi lebih lanjut bila kehilangan pendengaran bersifat menetap melewati tahap akut dari penyakit tersebut. c) Beri tahu keluarga bahwa pasien tidak mengabaikan mereka tau salah berperilaku. Sasaran pasien ( keluarga ) 2 : keluarga menjukkan perilaku koping yang positif terhadap pasien Intervensi keperawatan / rasional a) Jelaskan bahwa kehilangan pendengaran sementara adalah hal yang umum pada OM karena keluarga mungkin tidak menyadari hal ini.h) Jelaskan tentang pencegahan ketidaknyamanan telinga selama perjalanan dengan pesawat :  Spray pengerut mukosa nasal atau dekongestan oral dapat diberikan bila anak mengalami ISPA  Ketika turun dari pesawat dan makan.

Sekret yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dapat berlangsung terus-menerus atau hilang timbul. Daya tahan tubuh rendah akibat gizi kurang.html Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Oleh : Muhammad al-Fatih II Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah otitis media yang berlangsung lebih 2 bulan karena infeksi bakteri piogenik dan ditandai oleh perforasi membran timpani dan pengeluaran sekret. yaitu : Perforasi sentral (sub total). yaitu : Otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna / mukosa / aman. Kavum timpani basah atau kering. Sekret keluar dari kavum timpani. Virulensi kuman tinggi. Letak perforasi di sentral dan pars tensa membran timpani. Higiene. Terapi lambat diberikan atau terapi tidak adekuat. Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan kelanjutan dari otitis media supuratif sub akut dan otitis media supuratif akut (OMA). Konsistensinya bisa encer atau kental.Hasil yang diharapkan Keluarga menunjukkan perilaku koping yang posiif terhadap pasien. Otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang. Otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna / tulang / bahaya. Ada 3 tipe perforasi membran timpani berdasarkan letaknya. Perforasi atik. Higienitas yang buruk. Letak perforasi di pars flaksida membran timpani.com/2012/04/askep-perforasi-membran-timpani.blogspot. Hal ini disebabkan oleh : Terapi. Keluarga mencari perawatan kesehatan yang tepat untuk pasien. Pertahanan. Dulu kita kenal sebagai otitis media perforata (OMP). Otitis media supuratif kronik (OMSK) aktif. Sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Perforasi marginal. http://alam414m. Seluruh tepi perforasi masih mengandung sisa membran timpani. Warnanya bisa kuning atau berupa nanah. Kuman. Tabel Perbedaan Antara Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna & Maligna . Orang awam biasa menyebutnya congek. Jenis otitis media supuratif kronik (OMSK).

Juga setelah kita melakukan observasi selama 2 bulan. Kadang-kadang tipe sub total (sentral) dengan kolesteatoma.Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Benigna Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Maligna Proses peradangan terbatas pada mukosa. Obat tetes telinga. Lanjutkan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik & kortikosteroid setelah sekret yang keluar telah berkurang. Tujuannya antara lain : Menghentikan infeksi permanen. Gizi & higiene. Pengobatan ini kita berikan bila sekret telinga keluar terus-menerus. faring. Status gizi dan higiene pasien yang kurang. Diantaranya membutuhkan waktu yang lama. Jangan berikan selama lebih 1-2 minggu secara berturut-turut. gejala sering berulang. Ada 3 cara terapi konservatif (medikamentosa) otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. Masalah ini dapat disebabkan : Perforasi membran timpani. Proses peradangan tidak mengenai tulang. Berikan ampisilin asam klavulanat bila terjadi resistensi ampisilin. Jarang terjadi komplikasi yang berbahaya. Memperbaiki perforasi membran timpani dan fungsi pendengaran. Sering terjadi komplikasi yang berbahaya. Berikan antibiotik oral golongan ampisilin atau eritromisin sebelum hasil tes resistensi obat kita terima. Juga hindari pemberiannya pada otitis media supuratif kronik (OMSK) tenang. Sumber infeksi yang masih ada dapat terjadi pada nasofaring. Hal ini disebabkan semua antibiotik tetes telinga bersifat ototoksik. hidung dan sinus paranasalis. yaitu : Obat pencuci telinga. Proses peradangan mengenai tulang. Bahannya H2O2 3%. Prinsip terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna dengan cara konservatif (medikamentosa) sedangkan otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna dengan cara pembedahan. Jaringan patologik yang ireversibel telah terbentuk dalam rongga mastoid. Berikan eritromisin jika pasien alergi terhadap golongan penisilin. Obat antibiotik. Kolesteatoma tidak ada. sekret yang keluar tidak cepat kering dan sekret yang selalu kambuh. Kolesteatoma ada. Mencegah komplikasi dan kerusakan pendengaran yang lebih berat. Miringoplasti dan timpanoplasti kita lakukan jika sekret telah kering namun perforasi membran timpani masih ada. Sumber infeksi. tindakan pembedahan dapat pula kita lakukan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) benigna. Proses peradangan tidak terbatas pada mukosa. Perforasi membran timpani tipe sentral. Berikan selama 3-5 hari. Selain terapi konservatif (medikamentosa). Tindakan ini disebut miringoplasti atau timpanoplasti. Terapi Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) memiliki beberapa kesulitan. Jaringan patologik. Tanda yang menunjukkan adanya sumber infeksi. yaitu : . Perforasi membran timpani paling sering tipe marginal & atik. Terapi otitis media supuratif kronik (OMSK) tergantung dari jenisnya. Perforasi membran timpani yang permanen menyebabkan telinga tengah terpapar langsung & terus-menerus oleh dunia luar.

Pembedahan : adenoidektomi & tonsilektomi. Tenggorok. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ed.html .THT & Prof. Tindakan pembedahan pada otitis media supuratif kronik (OMSK) maligna yang sering dilakukan yaitu mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Infeksi berulang. ke-5. lakukan insisi abses diwaktu yang berlainan. dr. Sp. Efiaty Arsyad Soepardi. 2006. Kepala & Leher. H. Adapun terapi konservatif (medikamentosa) hanya bersifat sementara dan kita berikan sebelum melakukan tindakan pembedahan.blogspot. http://thtkedokteran. Cara mengatasi sumber infeksi. yaitu : Pengobatan.com/2010/06/otitis-media-supuratif-kronik-omsk. Jika abses subperiosteal retroaurikuler ada. H. Kelainan Telinga Luar dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Sp. Nurbaiti Iskandar. dr.Sekret masih ada. Hidung. Daftar Pustaka Sosialisman & Helmi. sebelum melakukan operasi mastoidektomi.THT (editor).

tuba eustacheus. serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. 2013 [6] comments Definisi Otitis adalah radang telinga. Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar. vomiting. yang ditandai dengan nyeri. bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen.OTITIS MEDIA Emirza Nur Wicaksono Maret 27. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun. anoreksia. Otitis berarti peradangan dari telinga. a. Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh . demam. antara lain : demam. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. iritabilitas. hilangnya pendengaran. dan media berarti tengah. tinitus dan vertigo. letargi. dan sel-sel mastoid. antrum mastoid.

destruksi. Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. atau gendang telinga yang berlubang. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi). Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. b. gendang telinga. teori metaplasi. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi. 2. campuran bakteri aerob dan anaerob. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. secara khas untuk sedikitnya satu bulan.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. Demam dapat hadir. Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). yang menonjol biasanya disertai nyeri. infeksi saluran nafas atas. otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tanda-tanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. Otitis Media Kronis Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. yaitu: 1. metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis. dan teori implantasi. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik. teori migrasi. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet.Orang awam biasanya menyebut congek OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe. Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses .bakteri pada ruang udara pada tulang temporal. biasanya tidak mengenai tulang. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. dan mampu berangiogenesis. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit.

Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. meningitis dan abses otak.pembusukan bakteri. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi). Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. 2. 2. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani. Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom. Terbentuk setelah perforasi membran timpani. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. postero-inferior dan postero-superior. kadangkadang sub total. Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh.2  Secondary acquired cholesteatoma. Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis. Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. 3. umumnya pada apeks petrosa. . bisa antero-inferior. Kolesteatom kongenital. Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1. Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi). dan gangguan keseimbangan.2 b. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa.1. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus. tuli saraf berat unilateral. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1.

Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. Hemopilus influens. Otitis Media Akut Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). Hemophylus influenzae. Coli. antara lain:        Streptococcus. E. Diplococcus pneumonie. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika). Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi). Streptococcus pyogenes. Stapilococcus. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma. Gram Negatif : Proteus spp. Gram Positif : S. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. Pyogenes. Penyebab OMK antara lain: 1. inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. Genetik . Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. Psedomonas spp. S. dan Moraxella catarrhalis. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. 2. b. diet. Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. Kuman anaerob : Alergi. TBC paru. diabetes melitus. Albus.3. Bisa juga disebabkan karena bakteri. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril. Etiologi a. tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. dan tempat tinggal yang padat.

Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. 3. Riwayat otitis media sebelumnya Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-), flora tipe usus, dan beberapa organisme lainnya. 5. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. 6. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK. 7. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya, namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. 8. Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:
 

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi.

 

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.

Patofisiologi a. Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri.Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. b. Otitis Media Kronis

Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap, tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi, kekebalan tubuh, lingkungan, dan social ekonomi. Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis, tonsillitis, rhinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani, maka terjadi inflamasi. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah, biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang, tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen, mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. Berenang, kemasukan benda

yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen. Manifestasi Klinis a. Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. Stadium oklusi tuba Eustachius

Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. 2. Stadium hiperemis (presupurasi)

Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat. 3. Stadium supurasi

Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga bertambah hebat.Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur. 4. Stadium perforasi

Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak. 5. Stadium resolusi

Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar.Pada bayi dan anak kecil gejala khas

Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1. sulit tidur. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. b. OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna. Bila terus menerus kambuh. gelisah. . kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. suhu tubuh akan turun dan anak tertidur.5 derajat celsius). dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). Penyebabnya biasanya adalah bakteri. Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang. kejang. akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani. berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1.otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. 1. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. Gejalanya bervariasi. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. diare. berwarna putih mengkilat. Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil. tiba-tiba menjerit saat tidur.

Jika terjadi resistensi. dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. Pemeriksaan Diagnostik a. Penatalaksanaan a. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). 1. Stadium Presupurasi Diberikan antibiotik. dan antipiretik. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. 2. Untuk mengetahui organisme penyebabnya. b. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. sebaiknya dilakukan miringotomi. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. Stadium Oklusi Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus. dengan pemberian antibiotik.Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. Sumber infeksi lokal harus diobati. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung.5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0. . Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga. dekongestan lokal atau sistemik. Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. 2. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop.25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0. obat tetes hidung dan analgesik.

5. 3. 4. atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua . antibiotik diberikan. Stadium Supurasi Selain antibiotik. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. sekret tidak ada lagi. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. Stadium Perforasi Terlihat sekret banyak keluar.gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan. kadang secara berdenyut. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pemberian Antibiotik 1. dan perforasi menutup. antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. termasuk berkurangnya pendengaran. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi. observasi jika gejala ringan Observasi 2 thn Antibiotik jika gejala berat. 3. mungkin telah terjadi mastoiditis. 2. Bila tidak. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Stadium Resolusi Membran timpani berangsur normal kembali. observasi jika gejala ringan Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. Bila tetap. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat. Jika gejala tidak membaik dalam 4872 jam atau ada perburukan gejala. a. pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya.

antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillinclavulanate. Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi.Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa.10 Menurut BMJ. yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin . pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. dirawat seharihari di daycare. Antibiotik dengan spektrum luas.tahun. pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua.Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang . AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari. . Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam.Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. . Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. memiliki risiko yang lebih besar.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. Untuk dapat memilih observasi. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam. follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. walaupun dapat membunuh lebih banyak jenis bakteri. sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. cefpodoxime.Pada alergi berat terhadap amoxicillin.        Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. . .Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil. .6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillin-clavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. atau cefuroxime. dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir. sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin.

1. c. Karenanya. Menurut Nursiah. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. Di Inggris.resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi.Pada usia enam tahun ke atas. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. . harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. maka mutlak harus dilakukan operasi.Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga.Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat. Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak. Otitis Media Kronis Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia). Cairan yang keluar harus dikultur. perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. . dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi. OMK BENIGNA . Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari. Bila didiagnosis kolesteatom. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua. b. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. b. . Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen.

Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. misalnya asam boric dengan Iodine. dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Pemberian antibiotik topikal Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. • Toilet telinga secara basah ( syringing). Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan . karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping). Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. b. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid.timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran.a. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. 2. kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah.

fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Proteus. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. adalah tidak efektif. khususnya B. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. Enterobakter. baik pada anak maupun dewasa. Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. 1984). polimiksin dan hidrokortison. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Asidum borikum 2. Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks.5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Koli Klebeilla. tetapi resisten terhadap gram positif. Pseudomonas. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob. fragilis Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. c.dulu. E. bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. . Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. Terramycin. B. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. Seperti aminoglokosida yang lain. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. yang akan menyebabkan ototoksik. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. Selain itu dikatakannya. Polimiksin B atau polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif.

Koli. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif.2. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. 96% Proteus sp. 90% Klebsiella. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya . Makin tinggi kadar obat. koagulase positif. Bila terjadi kegagalan pengobatan . 60% Proteus mirabilis. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. 93% Pseudomonas. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon.96% sembuh. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. koagulase positif. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88. Proteus sp. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. misalnya : Stafilokokus aureus. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. misalnya golongan beta laktam. 3. 92% Enterobakter. dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba. 95% Stafilokokus group A. Dalam pengunaan antimikroba. 100% E. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah  Kuman aerob Antibiotik sistemik . makin banyak kuman terbunuh. 99% Stafilokokus. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. Toksik terhadap ginjal dan telinga.53% 3. membaik 8. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.69% dan tidak ada perbaikan 4.

tetapi harus diberikan secara parenteral. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P. eritromisin Aminoglikosida B. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. Bila terdapat abses subperiosteal. • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. baik tipe benigna atau maligna. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. 2. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. antara lain (Soepardi. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. 2001): • Mastoidektomi sederhana Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. Sefalosforin. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. meskipun dapat mengatasi OMK. Koli Ampisilin atau sefalosforin S.           Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. sefalosforin. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. aminoglikosida Streptokokus Penisilin. maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) . eritromosin.

Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). III. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma.Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak . Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. Komplikasi a. • Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. tetapi belum merusak kavum timpani. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. IV dan V. Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa. yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior.

tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1.Mastoiditis akut. .Demam dan menggigil.Tuli yang terjadi secara mendadak . b.Tanda-tanda terjadinya komplikasi: .Sakit kepala . . .Parese nervus fasialis. . 3. 2.Petrositis. Komplikasi Intratemporal .Vertigo (perasaan berputar) . Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi.Labirinitis.Perforasi membrane timpani. erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a. . 5. 4.

OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis. Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ). prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal. Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti.Empiema subdural/ ekstradural Prognosis a.b. . .Tromboflebitis. Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local. abes otak. b. Komplikasi Ekstratemporal. ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) OMA DAN OMK BAB I PENDAHULUAN .Abses subperiosteal.Abses otak. otorea dapat mongering. . . Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air. .Hidrocephalus otikus. c. sehingga penutupan membrane timpani disarankan. Komplikasi Intrakranial.

setidaknya 25 % anak mengalami minimal 1 episode sebelum usia 10 tahun ( Abidin. Di negara tersebut otitis media paling sering terjadi pada usia 3-6 tahun Mengingat masih tingginya angka otitis media pada anak-anak. Di Inggris. 1. 2. 5. 6.Tujuan Tujuan Umum Tujuan khusus 1. 4.1. diperkirakan 75 % anak mengalami minimal 1 episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya 3 kali atau lebih. Prevalensi terjadinya otitis media di seluruh dunia untuk usia 10 tahun sekitar 62 % sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83 %.1.1 Latar Belakang Otitis media juga merupakan salah satu penyakit langganan anak. maka diagnosis dini yang tepat dan pengobatan secara tuntas mutlak diperlukan guna mengurangi angka kejadian komplikasi dan perkembangan penyakit menjadi otitis media kronis.2 Rumusan Masalah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Apa yang dimaksud dengan OMA dan OMK? Bagaimana Etiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana patofisiologi pada OMA dan OMK ? Bagaimana manifestasi klinis pada OMA dan OMK ? Bagaimana pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK ? Bagaimana komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK ? Bagaimana asuhan keperawatan pada OMA dan OMK ? 1. Di Amerika Serikat. : Menjelaskan asuhan keperawatan dengan klien OMA dan OMK : Menjelaskan Konsep dasar dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan definisi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan etiologi dari penyakit OMA dan OMK Menjelaskan patofisiologi OMA dan OMK Menjelaskan manifestasi klinis OMA dan OMK Menjelaskan pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada OMA dan OMK Menjelaskan komplikasi dan prognosis pada OMA dan OMK 1. 3. 2009.4 Manfaat .

2004 ) Otitis media akut adalah dari yang timbulnya cepat dan berdurasi pendek.1 Otitis Media Akut Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu (Kapita selekta kedokteran. hilangnya pendengaran. serta gejala penyerta lainnay tergantung berat ringannya penyakit.1 Definisi Otitis adalah radang telinga. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. atau gendang telinga yang berlubang.1990) Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah (mediastore.1.2 Otitis Media Kronis .1. iskandar . bulging hingga perforasi membrana tympani yang dapat diikuti dengan drainase purulen. tetapi paling sering ditemukan pada anak-anak terutama 3 bulan-3 tahun. Otiitis media akut adalah proses infeksi yang ditentukan oleh adanya cairan di telinga atau gangguan dengar. yang ditandai dengan nyeri. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. edisi 3 .2009 ) 2. tinitus dan vertigo. dan media berarti tengah. demam. Otitis berarti peradangan dari telinga. seringkali dengan aliran dengan materi yang bernanah. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah. tuba eustacheus. Otitis media akut bisa terjadi pada semua usia. 1999). vomiting. Demam dapat hadir. dan sel-sel mastoid/( soepardi. letargi. antrum mastoid.Manfaat yang dapat diambil sebagai berikut : 1. otitis media akut biasanya berhubungan dengan akumulasi cairan di telinga tengah bersama dengan tandatanda atau gejala-gejala dari infeksi telinga. yang menonjol biasanya disertai nyeri. Otitis media akut adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada ruang udara pada tulang temporal (CMDT. iritabilitas. antara lain : demam. Mengetahui Penatalaksaan pada klien Otitis Media Akut dan Otitis Media Kronis 2. gendang telinga. 2. anoreksia.

Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. .Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. secara khas untuk sedikitnya satu bulan. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya) Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik. destruksi.yaitu   OMK aktif ialah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet. terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. campuran bakteri aerob dan anaerob. Kolesteatom dapat diklasifikasikan atas dua jenis: a. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa) Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi).Orang awam biasanya menyebut congek (Alfatih. Otitis media kronik adalah perforasi pada gendang telinga ( warmasif. yaitu: 1. dan mampu berangiogenesis. Kolesteatom kongenital. disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius. infeksi saluran nafas atas. luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses pembusukan bakteri. teori migrasi. Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). dan teori implantasi. Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja. umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. biasanya tidak mengenai tulang. meningitis dan abses otak. 2. teori metaplasi. 2009) Otitis media kronis adalah peradangan teliga tengah yang gigih. 2007) OMK dibagi dapat dibagi menjadi 2 tipe. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. metaplasi dari mukosa telinga tengah OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis.

3. Bentuk perforasi membran timpani adalah : 1. 2. bisa antero-inferior. postero-inferior dan postero-superior. Terbentuk setelah perforasi membran timpani. Kolesteatom yang terjadi pada daerah atik atau pars flasida1.1 Otitis Media Akut .2.Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital menurut Derlaki dan Clemis (1965) adalah : 1.1. Perforasi marginal yang sangat besar digambarkan sebagai perforasi total. umumnya pada apeks petrosa. kadangkadang sub total. Kolesteatom akuisital atau didapat  Primary acquired cholesteatoma. Perforasi sentral Lokasi pada pars tensa. Pada seluruh tepi perforasi masih ada terdapat sisa membran timpani. Berkembang dibelakang membran timpani yang masih utuh.2 Etiologi 2. berhubungan dengan primary acquired cholesteatoma.2 b. Perforasi atik Terjadi pada pars flaksida. Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal. Kolesteatom timbul akibat proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida akibat adanya tekanan negatif pada telinga tengah karena adanya gangguan tuba (teori invaginasi). 2. Kolesteatom yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membran timpani. Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous selama perkembangan. dan gangguan keseimbangan. Perforasi pada pinggir postero-superior berhubungan dengan kolesteatom. 3. Perforasi marginal Terdapat pada pinggir membran timpani dan adanya erosi dari anulus fibrosus. Kolesteatom ini dapat menyebabkan parese nervus fasialis. Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya. 2. Kolesteatom terjadi akibat masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berkangsung lama (teori metaplasi).2  Secondary acquired cholesteatoma. tuli saraf berat unilateral.

Diplococcus pneumonie. Sistem selsel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media. Kuman anaerob : Alergi. dan tempat tinggal yang padat. S. Paling sering terjadi bila terdapat disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas. hipertrofi adenoid) atau reaksi alergik ( rhinitis alergika).2. tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder. Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. Pyogenes. 3. diet. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. inflamasi jaringan disekitarnya (sinusitis.2 Otitis Media Kronis Otitis media kronis terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi) (Mediastore. E. Penyebab OMK antara lain: 1. Gram Positif : S. Coli. Bisa juga disebabkan karena bakteri. Hemopilus influens. Streptococcus pyogenes. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: otitis media akut penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. Psedomonas spp. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum. Penyebab utama otitis media akut adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya adalah steril.2009). dan Moraxella catarrhalis. Genetik Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini. 2. Lingkungan Hubungan penderita OMK dan faktor sosioekonomi belum jelas. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae. antara lain:        Streptococcus. Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus maupun bakteri. tetapi kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden OMK yang lebih tinggi. Albus. TBC paru. Stapilococcus. Riwayat otitis media sebelumnya . terutama apakah insiden OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. diabetes melitus.Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan atas (common cold). 2. Hemophylus influenzae. Gram Negatif : Proteus spp.

6. Yang menarik adalah dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya. Berlanjutnya obstruksi tuba eustachius yang mengurangi penutupan spontan pada perforasi. Infeksi Bakteri yang diisolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif. sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. Pada pinggir perforasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertumbuhan yang cepat diatas sisi medial dari membran timpani. Autoimun Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap OMK. Proses ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan/ atau otitis media dengan efusi. flora tipe usus. . 5. Infeksi saluran nafas atas Banyak penderita mengeluh keluarnya sekret telinga sesudah terjadi infeksi saluran nafas atas. 8. Alergi Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal. Organisme yang terutama dijumpai adalah bakteri Gram (-). Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan melalui mekanisme migrasi epitel. tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi keadaan kronis 4. 7. Gangguan fungsi tuba eustachius Pada otitis media kronis aktif tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomena primer atau sekunder masih belum diketahui. dan beberapa organisme lainnya. Keadaan ini menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. namun hal ini belum terbukti kemungkinannya. Infeksi virus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam telinga tengah. Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perforasi membran timpani yang menetap pada OMK adalah:     Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut.

tetapi dalam hal ini merupakan stadium kronis dari otitis media akut (OMA) dengan perforasi yang sudah terbentuk diikuti dengan keluarnya sekret yang terus menerus. sinusitis). Jika lendir dan nanah bertambah banyak. Terjadinya OMK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang. mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran. OMK disebabkan oleh multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong abses di dalam lipatan mukosa yang masing-masing harus dibuang. Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan besar untuk kembali normal. kemasukan benda yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen. dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. tonsillitis. dan social ekonomi. maka terjadi inflamasi. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.3.2 Otitis Media Kronis Patofisiologi OMK belum diketahui secara lengkap. Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani. Dan yang paling berat. Bila terjadi perforasi membrane timpani yang permanen. Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). rhinitis. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri.1 Otitis Media Akut Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.2. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat serta perbaikan fungsi telinga tengah. alergi. Fokus infeksi biasanya terjadi pada nasofaring (adenoiditis. Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Bila terbentuk pus akan terperangkap di dalam kantung mukosa di telinga tengah. tetapi dengan penatalaksanaan yang baik perubahan menetap pada mukosa telinga tengah jarang terjadi. pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Berenang. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. kekebalan tubuh. mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. lingkungan.3 Patofisiologi 2. biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. . tersumbatnya saluran menyebabkan transudasi. Saat bakteri melalui saluran Eustachius.3. gangguan fungsi tuba. 2.

2.4. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi. Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. 1. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. 1. dan dapat tidur nyenyak.Apabila tekanan tidak berkurang. 1. Di tempat ini akan terjadi ruptur.Pada bayi dan anak kecil gejala khas . 1. Stadium perforasi Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi. 5. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. serta nyeri di telinga bertambah hebat. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1. Stadium oklusi tuba Eustachius Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah.Pasien tampak sangat sakit. Stadium supurasi Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.4 Manifestasi Klinis 2. 4. suhu badan turun.2. Efusi tidak dapat dideteksi. 3. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat.5 atau 2 bulan. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa.1 Otitis Media Akut Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. akan terjadi iskemia.Pada orang dewasa. nadi dan suhu meningkat. didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar. Stadium hiperemis (presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang.Pada anak. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah : 1. keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. 1. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering.

Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal. dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit. sulit tidur. 2. kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . diare. ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang. Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. 1. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom. kejang. OMK tipe maligna dengan kolesteatoma: Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas.5 derajat celsius). Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . berwarna putih mengkilat.4. Gejalanya bervariasi. sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani. discharge mukoid dapat konstan atau intermitten.otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39. gelisah. Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. suhu tubuh akan turun dan anak tertidur. berdasarkan pada lokasi perforasi gendang telinga: 1. kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil. Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga). Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit.2 Otitis Media Kronis Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis: 1. OMK tipe benigna: Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk . tiba-tiba menjerit saat tidur. Otitis media kronis bisa kambuh setelah infeksi tenggorokan dan hidung (misalnya pilek) atau karena . Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna.

telinga kemasukan air ketika mandi atau berenang. Penyebabnya biasanya adalah bakteri. Dari telinga keluar nanah berbau busuk tanpa disertai rasa nyeri. Bila terus menerus kambuh, akan terbentuk pertumbuhan menonjol yang disebut polip, yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. Infeksi yang menetap juga bisa menyebabkan kerusakan pada tulang-tulang pendengaran (tulang-tulang kecil di telinga tengah yang mengantarkan suara dari telinga luar ke telinga dalam) sehingga terjadi tuli konduktif. 2. Perforasi marginal (lubang terdapat di pinggiran gendang telinga). Bisa terjadi tuli konduktif dan keluarnya nanah dari telinga.

2.5 Pemeriksaan Diagnostik 2.5.1 Otitis Media Akut Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga. 2.5.2 Otitis Media Kronis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Untuk mengetahui organisme penyebabnya, dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid. 2.6 Penatalaksanaan 2.6.1 Otitis Media Akut Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik. 1. 1. Stadium Oklusi

Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman. 1. 2. Stadium Presupurasi

Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan

asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. 1. 3. Stadium Supurasi

Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. 1. 4. Stadium Perforasi

Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari. 1. 5. Stadium Resolusi

Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup. Bila tidak, antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila tetap, mungkin telah terjadi mastoiditis. a. Pemberian Antibiotik 1. OMA umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. 2. Sekitar 80% OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran. 3. Observasi dapat dilakukan pada sebagian besar kasus. Jika gejala tidak membaik dalam 48-72 jam atau ada perburukan gejala, antibiotik diberikan. American Academy of Pediatrics (AAP) mengkategorikan OMA yang dapat diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut: Usia < 6 bln 6 bln – 2 th 2 thn Diagnosis pasti Antibiotik Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Diagnosis meragukan Antibiotik Antibiotik jika gejala berat, observasi jika gejala ringan Observasi

Yang dimaksud dengan gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam <39°C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang – berat atau demam 39°C. Pilihan observasi selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan – dua tahun dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua

tahun. Untuk dapat memilih observasi, follow-up harus dipastikan dapat terlaksana. Analgesia tetap diberikan pada masa observasi. British Medical Journal memberikan kriteria yang sedikit berbeda untuk menerapkan observasi ini.10 Menurut BMJ, pilihan observasi dapat dilakukan terutama pada anak tanpa gejala umum seperti demam dan muntah. Jika diputuskan untuk memberikan antibiotik, pilihan pertama untuk sebagian besar anak adalah amoxicillin.

  

 

Sumber seperti AAFP (American Academy of Family Physician) menganjurkan pemberian 40 mg/kg berat badan/hari pada anak dengan risiko rendah dan 80 mg/kg berat badan/hari untuk anak dengan risiko tinggi. Risiko tinggi yang dimaksud antara lain adalah usia kurang dari dua tahun, dirawat sehari-hari di daycare, dan ada riwayat pemberian antibiotik dalam tiga bulan terakhir. WHO menganjurkan 15 mg/kg berat badan/pemberian dengan maksimumnya 500 mg. AAP menganjurkan dosis 80-90 mg/kg berat badan/hari.6 Dosis ini terkait dengan meningkatnya persentase bakteri yang tidak dapat diatasi dengan dosis standar di Amerika Serikat. Sampai saat ini di Indonesia tidak ada data yang mengemukakan hal serupa, sehingga pilihan yang bijak adalah menggunakan dosis 40 mg/kg/hari. Dokumentasi adanya bakteri yang resisten terhadap dosis standar harus didasari hasil kultur dan tes resistensi terhadap antibiotik. Antibiotik pada OMA akan menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam. Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua. Misalnya: Pada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, antibiotik yang kemudian dipilih adalah amoxicillin-clavulanate.6 Sumber lain menyatakan pemberian amoxicillinclavulanate dilakukan jika gejala tidak membaik dalam tujuh hari atau kembali muncul dalam 14 hari.

ü Jika pasien alergi ringan terhadap amoxicillin, dapat diberikan cephalosporin seperti cefdinir, cefpodoxime, atau cefuroxime. ü Pada alergi berat terhadap amoxicillin, yang diberikan adalah azithromycin atau clarithromycin ü Pilihan lainnya adalah erythromycin-sulfisoxazole atau sulfamethoxazole-trimethoprim. ü Namun kedua kombinasi ini bukan pilihan pada OMA yang tidak membaik dengan amoxicillin. ü Jika pemberian amoxicillin-clavulanate juga tidak memberikan hasil, pilihan yang diambil adalah ceftriaxone selama tiga hari. ü Perlu diperhatikan bahwa cephalosporin yang digunakan pada OMA umumnya merupakan generasi kedua atau generasi ketiga dengan spektrum luas. Demikian juga azythromycin atau clarythromycin. Antibiotik dengan spektrum luas, walaupun dapat membunuh lebih banyak

Obat lain      Pemberian obat-obatan lain seperti antihistamin (antialergi) atau dekongestan tidak memberikan manfaat bagi anak. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen. perubahanperubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi. Pemberian Analgesia/pereda nyeri    Penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia). Bakteri normal di tubuh akan dapat terbunuh sehingga keseimbangan flora di tubuh terganggu. Pemberian antibiotik sebagai profilaksis untuk mencegah berulangnya OMA tidak memiliki bukti yang cukup.jenis bakteri.2 Penyebab penyakit telinga kronis yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. harus dipastikan bahwa anak tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna. Bila didiagnosis kolesteatom.6. Dan karena itu pemberian antibiotik selama lima hari dianggap cukup pada otitis media. Selain itu risiko terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik akan lebih besar. maka mutlak harus dilakukan operasi. pemberian antibiotik cukup 5-7 hari. b. ü Tidak adanya perbedaan bermakna antara pemberian antibiotik dalam jangka waktu kurang dari tujuh hari dibandingkan dengan pemberian lebih dari tujuh hari. Otitis Media Kronis 2. prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi. memiliki risiko yang lebih besar. ü Pada usia enam tahun ke atas. ü Pemberian antibiotik pada otitis media dilakukan selama sepuluh hari pada anak berusia di bawah dua tahun atau anak dengan gejala berat. dimana pengobatan dapat dibagi atas : Konservatif dan Operasi. . Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi. Karenanya. c. Pemberian antibiotik dalam waktu yang lebih lama meningkatkan risiko efek samping dan resistensi bakteri. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis. Di Inggris. dan proses infeksi yang terdapat ditelinga. pilihan ini hanya digunakan pada kasus-kasus dengan indikasi jelas penggunaan antibiotik lini kedua. Myringotomy (myringotomy: melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di belakangnya) juga hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus di mana terjadi gejala yang sangat berat atau ada komplikasi. Pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. Cairan yang keluar harus dikultur. Menurut Nursiah. anjuran pemberian antibiotik adalah 3-7 hari atau lima hari.

Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. dengan bantuan mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti. setelah dibersihkan dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk.1. air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi. tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan kemastoid ( Beasles. Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril. OMK BENIGNA a. 1981). Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan “ displacement methode” seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann. 1979). Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah. OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK adalah : 1. karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme ( Fairbank. • Toilet telinga secara basah ( syringing). Pemberian antibiotik topikal . • Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptik. dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga. OMSK BENIGNA TENANG Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan. Cara ini sebaiknya dilakukan diklinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Cara pembersihan liang telinga ( toilet telinga) : • Toilet telinga secara kering ( dry mopping). 2. misalnya asam boric dengan Iodine. Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah. Pembersihan liang telinga dan kavum timpan ( toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikroorganisme. Pada orang dewasa yang koperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anastesi. kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Pemberian serbuk antibiotik dalam jangka panjang dapat menimbulkan reaksi sensitifitas pada kulit.timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran. b.

1984). Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah. adalah tidak efektif. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. fragilis ( Fairbanks. Polimiksin efektif melawan Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan organisme gram positif (Fairbanks. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a. maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. yang akan menyebabkan ototoksik. bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid tetes mata. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b. kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. Gentamisin dan Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negatif dan gentamisin kerjanya “sedang” dalam melawan Streptokokus. Asidum borikum 2. Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga akan sakit bila diteteskan. Rif menganjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman.Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. baik pada anak maupun dewasa. polimiksin dan hidrokortison. Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin. khususnya B. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. 1984). Tidak ada satu pun aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob. Seperti aminoglokosida yang lain. Terramycin. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa. c.Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotik topikal untuk OMSK. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada ot itis media kronik adalah : 1. Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum. tetapi juga efektif melawan kuman anaerob. bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal. Selain itu dikatakannya. Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret profus dengan hasil cukup memuaskan. Polimiksin B atau polimiksin E .5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu.

95% Stafilokokus group A. membaik 8. Proteus. Koli Klebeilla.53% 3. Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. makin banyak kuman terbunuh. koagulase positif. sedikitnya perlu diketahui daya bunuhnya terhadap masingmasing jenis kuman penyebab. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. E. 93% Pseudomonas. dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap mikroba. misalnya golongan beta laktam.69% dan tidak ada perbaikan 4. Dalam pengunaan antimikroba. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini. daya penetrasi antimikroba di masing jaringan tubuh. 2. tetapi resisten terhadap gram positif. koagulase positif. toksisitas obat terhadap kondisi tubuhnya . 92% Enterobakter. antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. 100% E. 90% Klebsiella.Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif. . Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. 60% Proteus mirabilis. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid terhadap : Stafilokokus. misalnya : Stafilokokus aureus. kadar hambat minimal terhadap masing-masing kuman penyebab. Bila terjadi kegagalan pengobatan . 3. perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. 96% Proteus sp. Koli. Makin tinggi kadar obat. Enterobakter. Pemberian antibiotik sistemik Pemilihan antibiotik sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan kultur kuman penyebab. 99% Stafilokokus. 5% Dari penelitian terhadap 50 penderita OMSK yang diberi obat tetes telinga dengan ofloksasin dimana didapat 88. Pseudomonas. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif. B.96% sembuh. Toksik terhadap ginjal dan telinga. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon.

Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah Kuman aerob Antibiotik sistemik Pseudomonas Aminoglikosida atau karbenisilin P. OMK MALIGNA Pengobatan yang tepat untuk OMK maligna adalah operasi. eritromisin Aminoglikosida B. Aureus Anti-stafilikokus penisilin. Morganii Aminoglikosida atau Karbenisilin P. aminoglikosida Streptokokus Penisilin. fragilis Klindamisin Antibiotika golongan kuinolon ( siprofloksasin. dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 24 minggu1. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMK belum pasti cukup. Mirabilis Ampisilin atau sefalosforin P. baik tipe benigna atau maligna. Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada OMK dengan mastoiditis kronis. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim. Bila terdapat abses subperiosteal. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Vulgaris Klebsiella Sefalosforin atau aminoglikosida E. meskipun dapat mengatasi OMK. Sefalosforin. eritromosin. antara lain (Soepardi. Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. 2001): • Mastoidektomi sederhana . maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif. sefalosforin. tetapi harus diberikan secara parenteral. Koli Ampisilin atau sefalosforin S. 2.

• Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty) Dikerjakan pada kasus OMK tipe maligna atau OMK tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. yaitu liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga). tetapi belum merusak kavum timpani. Namun teknik operasi ini pada OMK tipe maligna belum disepakati oleh para ahli karena sering timbul kembali kolesteatoma.Dilakukan pada OMK tipe benigna yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani seringkali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Tujuan operasi adalah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah ada OMSK tipe benigna dengan perforasi yang menetap. dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe 1. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. III. dengan tujuan agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. . Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. • Timpanoplasti Dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMSK tipe benigna yang tidak bisa diatasi dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi adalah menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. • Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (Operasi Bondy) Dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah attic. • Miringoplasti Dilakukan pada OMK tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. Tujuan operasi adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan. Yang dimaksud dengan combined approach di sini adalah membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di kavum timpani melalui dua jalan. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. • Mastoidektomi radikal Dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. IV dan V. Pada tindakan ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik.Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan.

2. 2.7 Komplikasi 2. erosi canalis semisirkularis erosi canalis tulang erosi tegmen timpani dan abses ekstradural erosi pada permukaan lateral mastoid dengan timbulnya abses subperiosteal erosi pada sinus sigmoid . 3.1 Otitis Media Akut Komplikasi yang serius adalah: · Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis) · Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)     Kelumpuhan pada wajah Tuli Peradangan pada selaput otak (meningitis) ·Abses Otak Tanda-tanda terjadinya komplikasi: v Sakit kepala v Tuli yang terjadi secara mendadak v Vertigo (perasaan berputar) v Demam dan menggigil.2 Otitis Media Kronis OMK tipe benigna : Omk tipe benigna tidak menyerang tulang sehingga jarang menimbulkan komplikasi.7.2. 4. tetapi jika tidak mencegah invasi (peristiwa masuknya bakteri ke dalam tubuh) organisme baru dari nasofaring dapat menjadi superimpose otitis media supuratif akut eksaserbsi akut dapat menimbulkan komplikasi dengan terjadinya tromboplebitis vaskuler OMK tipe maligna : Komplikasi dimana terbentuknya kolesteatom berupa : 1. 5.7.

. .Parese nervus fasialis.Abses otak.Perforasi membrane timpani. c. .Tromboflebitis. Komplikasi Intratemporal . .Abses subperiosteal.Mastoiditis akut. b. .Labirinitis. . . Komplikasi Intrakranial.Menurut Shanbough (2003) komplikasi OMK terbagi atas: a.Hidrocephalus otikus. .Petrositis. Komplikasi Ekstratemporal. .

otorea dapat mongering. riwayat penggunaan obat( sterptomisin. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN Asuhan Keperawatan pada Otitis Media Kronis 3. 2. pekerjaan. suku/bangsa. sehingga penutupan membrane timpani disarankan.8 Prognosis 2.8. salisilat..1 Pengkajian 1. alamat Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga. Pengumpulan Data    Identitas Pasien : Nama pasien. umur.1 Otitis Media Akut Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat (antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup ). riwayat OMA berkurang. abes otak. Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air. pendidikan. OMK tipe maligna Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis.8. gentamisin ). kapas lidi. riwayat alergi. peniti untuk membersihkan telinga Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang. Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti. penggunaan minyak.Empiema subdural/ ekstradural 2.2 Otitis Media Kronik OMK tipe benigna Prognosis dengan pengobatan local. agama. kuirin. riwayat operasi . prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal.

kekaburan mastoid 5. Pengkajian Psikososial 1. sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik 2. otore berbau busuk 6. Takut menghadapi tindakan pembedahan 4. pusing. tes garputala 3.3 Intervensi dan Rasional . Tes audiometri : pendengaran menurun b. Aktivitas terbatas 3. perasaan penuh dan pendengaran menurun. kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. hilangnya fungsi. vertigo. alergi 3.2 Diagnosa Keperawatan 1. anestesi. prognosis. Cemas berhubungan dengan prosedur operasi. keluarnya otore B2 ( Blood ) B3 (Brain) refleks kejut B5 (Bowel) B6 (Bone) : Nadi meningkat : Nyeri telinga. Pengkajian Persistem Tanda-tanda vital : Suhu meningkat. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran 3. Xray : terhadap kondisi patologi. Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi. Pemeriksaan pendengaran . infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran 4. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri . diagnosis. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan 3. Pemeriksaan diagnostik a. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan 2. : Nausea vomiting : Malaise. nyeri. Nyeri otore berpengaruh pada interaksi 2. misal kolestetoma. Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami penyakit telinga. 5.Tes suara bisikan.

menerima pesan melalui metode pilihan ( misal: komunikasi lisan.1. beri sedatif sesuai indikasi Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam 2. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga. bahasa lambang. relaksasi seperti menarik napas panjang Rasional : Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa mengurangi nyeri yang diderita klien ü Kompres dingin di sekitar area telinga Rasional : Kompres dingin bertujuan mengurangi nyeri karena rasa nyeri teralihkan oleh rasa dingin di sekitar area telinga ü Atur posisi klien Rasional : Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman ü Untuk kolaborasi. berbicara. bahasa isyarat. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien berkurang rasa Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang. berbicara dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik . klien mampu melakukan metode pengalihan suasana Intervensi Keperawatan: ü Ajarkan klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode relaksasi saat nyeri yang teramat sangat muncul. seperti : tulisan. berbicara dengan jelas pada telinga yang baik Intervensi keperawatan: ü Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien. Rasional: Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien ü Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ). beri aspirin/analgesik sesuai instruksi. a.

. Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi d.Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan komunikasi tertulis . Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara pada klien dengan mengabaikan keberadaan penerjemah Rasional : Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat diterima dengan baik oleh klien.Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda c. 3.Dekati klien dari sisi telinga yang baik b. tidak kepada penerjemah. infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran Tujuan : Persepsi / sensoris baik Kriteria hasil : Klien akan mengalami peningkatan persepsi / sensoris pendengaran sampai pada tingkat fungsional Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat . Jika ia hanya mampu berbahasa isyarat.Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu . Alamatkan semua komunikasi pada klien. Jika klien dapat membaca ucapan: . Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi. Bicara dengan jelas menghadap individu b.Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas . sediakan penerjemah. ü Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman a.Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya d. Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dair ya dan tidak Rasional : Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat secara tepat. Ulangi jika kilen tidak memahami seluruh isi pembicaraan c. Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien .

maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi ü Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut Rasional : Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengaran rusak secara permanen ü Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik ( baik itu antibiotik sistemik maupun lokal ) Rasional : Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut 4. anestesi. nyeri. kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi. pemakaian serta perawatannya yang tepat.Rasional : Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan / ketulian. diagnosis. ü Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh Rasional : Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif. prognosis. Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang / hilang Kriteria hasil : Klien mampu mengungakpkan ketakutan / kekhawatirannya Intervensi keperawatan : ü Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi Rasional : Harapan-harapan yang tidak realistik tidak dapat mengurangi kecemasan. justru malah menimbulkan ketidakkepercayaan klien terhadap perawat. Cemas berhubungan dengan prosedur operasi. hilangnya fungsi. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya ü Berikan informasi tentang kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien Rasional : Dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien ü Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia yang dapat membantu klien Rasional : Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada di sekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi .

ü Beritahu komplikasi yang mungkin timbul dan bagaimana cara melaporkannya Rasional : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada klien dapat membantu klien dan keluarga untuk melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga dapat dengan cepat ditangani.5. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Tujuan : Klien akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara pencegahan kekambuhan. Rasional : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat meningkatkan pemahaman klien sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan kekambuhan. Kriteria hasil : Klien paham mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan Intervensi keperawatan : ü Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinyu sesuai aturan. otore berbau busuk Tujuan : Tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Kriteria Hasil : Klien tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain Intervensi keperawatan : ü Bina hubungan saling percaya Rasionalisasi : hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial. Rasional : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri . ( BAB IV PENUTUP . ü Tekankan hal-hal yang penting yang perlu ditindak lanjuti / evaluasi pendengaran. ü Yakinkan klien bahwa setelah dilakukan pengobatan / pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang Rasional : Klien akan kooperatif / berpartisipasi dalam persiapan pembedahan tympanoplasti ) dan akan mulai mengajak bicara dengan perawat dan keluarga 6.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito.(2000).2009. 4.Buku Ajar Penyakit THT. Taufik.Buku Saku Diagnosis Keperawatan.4. Adams.2006.2 Saran Hendaknya dilakukan uji kultur pada pasien untuk mengetahui jenis bakteri yang menginfeksi dan untuk pemberian antibiotik yang tepat.J. maka pasien akan mengalami otitis meda akut. Akan tetapi.ac.1997.Edisi 10.1 Kesimpulan Dalam kasus ini .usu. pada awalnya pasien mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan tonsilitis. Otitis media akut yang tidak diobati secara tuntas dapat berlanjut menjadi Otitis media Kronik yang ditandai denagn adanya perforasi pada membran tympani.http:/library.Edisi 6.EGC:Jakarta Abidin. C.id(10 September 2009) Rothrock. karena adanya perluasan infeksi di daerah auries media.Perencanaan Asuha .EGC:Jakarta George L.Otitis Media Akut.Lynda Juall.

Meskipun kolesteatoma bukan lesi neoplasma tetapi dapat berbahaya pada penderita1. Kolesteatoma telah dikenal sebagai lesi bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal. Sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi pada sistem syaraf pusat3. intervensi pembedahan dan terapi suportif antibiotik. mastoid2 atau apex petrosus. B. Apabila terbentuk terus dapat menumpuk sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar4. Kolesteatoma dapat terjadi di kavum timpani dan atau mastoid5. Kematian karena komplikasi intrakranial kini tidak umum terjadi disebabkan deteksi dini. tetapi keadaan ini merupakan alasan untuk dilakukan bedah telinga. Insidensi kolesteatoma tidak diketahui dengan pasti. Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. Kolestatoma masih penyebab umum tuli konduksi sedang dan permanen pada anak-anak dan dewasa3.Kolesteatoma adalah deskumulasi non neoplasma sel epitel kulit pada cavum timpani. Definisi Kolesteatom adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin)4. Istilah kolesteatoma diperkenalkan pertama kali oleh Johanes Muller pada tahun 1838 untuk menjelaskan kolesteatoma sebagai dikira sebagai neoplasma lemak di antara sel-sel polihedral1. A. Etiologi Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik .

Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar6. Teori tersebut akan lebih mudah dipahami bila diperhatikan definisi kolesteatoma menurut Gray (1964) yang mengatakan. 4. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi. Kulit pada permukaan membran timpani dapat tumbuh melalui perforasi tersebut dan masuk ke dalam telinga tengah7. antara lain adalah: teori invaginasi.karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. Teori metaplasi Terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama4 . Sebagaimana diketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamosus epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar. otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah7. ketika menelan atau menguap. 1. Beberapa pasien dilahirkan dengan sisa kulit yang terperangkap di telinga tengah (kolesteatoma kongenital) atau apex petrosis7. Teori imigrasi Kolesteatoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah4. Kolestoma kongenital dapat terjadi ditelinga tengan dan tempat lain misal pada tulang tengkorak yang berdekatan dengan kolesteatomanya 6. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Kantong tersebut menjadi kolesteatoma. teori metaplasi dan teori implantasi. teori imigrasi. Perforasi telinga tengah yang disebabkan oleh infeksi kronik atau trauma langsung dapat menjadi kolesteatoma. Teori invaginasi Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba 4. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma 4. 2. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi 4 Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. 3. Patogenesis Banyak teori dikemukakan oleh para ahli tentang patogenesis kolesteatoma. yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang . C. Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat. migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin8. Teori implantasi Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatom terjadi akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara 6. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani. setelah blust injury. kolesteatoma adalah epitel kulit yang berada pada tempat yang salah atau menurut pemahaman Djaafar (2001) kolesteatoma dapat terjadi karena adanya epitel kulit yang terperangkap.

diperhebat dengan adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. dengan akibatnya hilangnya tulang mastoid.Kolesteatoma akuisital yang terbentuk setelah anak lahir a. Jaringan granulasi memproduksi enzim proteolitik yang dapat menyebabkan desktruksi terhadap tulang. Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah satu sisi wajah (sisi telinga yang terinfeksi) 6. bersamaan dengan kehilangan pendengaran 6. Kolestetoma akuisital sekunder kolestetoma terbentuk setelah adanya perforasi membrana timpani. b. kolestetoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah (teori immigrasi) atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama (teori metaplasia) 4 . D. Kistik tersusun atas sel skuamosa keratinisasi anukleat berdiferesiansi penuh. dan pembungkus tulang saraf fasialis10. daerah petrosus mastoid atau di cerebellopontin angle 4 .Kolesteatom kongenital. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis. yaitu kistik. F. Kolestetoma akuisital primer kolestetoma yang terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrana timpani. Lokasi kolesteatoma biasanya di kavum timpani. G.1. Pendengaran berkurang Kolesteatoma dapat tetap asimtomatik dan mencapai ukuran yang cukup besar sebelum terinfeksi atau menimbulkan gangguan pendengaran. matriks dan perimatrik. E. kolestetoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida karena adanya tekanan negatif ditelinga tengah akibat gangguan tuba (teori invaginasi) 4 . Klasifikasi Kolesteatoma dapat dibagi menjadi dua jenis: 1. Nyeri Pasien mengeluh nyeri tumpul dan otore intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekuder9. Diagnosis 1. Gejala Klinis 1. 2. Perimatrik atau lamina propria merupakan bagian kolesteatoma yang terdiri atas sel-sel granulasi yang mengandung kristal kolesterol. 3. osikula. meningitis dan abses otak 4 . 2. Matriks terdiri atas epitel skuamosa keratinisasi seperti susunan kista. Lapisan perimatriks merupakan lapisan yang bersentuhan dengan tulang. 4. Perasaan sakit dibelakang atau didalam telinga dapat dirasakan terutama pada malam hari sehingga dapat menyebabkan tidak nyaman pada pasien6. Perasaan penuh Kantong kolesteatoma dapat membesar sehingga dapat menyebabkan perasaan penuh atau tekanan dalam telinga. yang terbentuk pada masa embrionik dan ditemukan pada telinga dengan membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. Histologis Kolesteatoma secara histologis adalah kista sel-sel keratinisasi skuamosa benigna yang disusun atas tiga komponen. Anamnesis Riwayat keluhan pada telinga sebelumnya harus di selidiki untuk memperoleh gejala awal .

Tujuan kedua adanya mengembalikan atau memelihara fungsi . 2. riwayat operasi sebelumnya8. Penatalaksanaan 1. 5. Derajat tuli konduksi bervariasi tergantung beratnya penyakit5. Pengurangan pendengaran terjadi seiring meluasnya penyakit5. 2. debris atau lapisan kulit sehingga visualisasi dapat lebih jelas. Penilaian umum untuk menghindari terlewatnya penilaian demam. 4.Radiologi Pemeriksaan radiologi preoperasi dengan CT scan tulang temporal tanpa kontras dalam potongan axial dan koronal8 dapat memperlihatkan anatomi. Pada kantong dengan retraksi yang awal dapat dipasang timpanostomi8. tidak ada riwayat otore atau perforasi sebelumnya. dengan perhatian terutama pada pemeriksaan telinga. otalgia. tidak ada riwayat prosedur otologi8. Terdapat juga perforasi membrana timpani. 3. Terapi awal Terapi awal terdiri atas pembersihan telinga. Tuli konduksi sedang > 40dB menyatakan terjadinya diskontinuitas ossikula. keluasan penyakit dan skrening komplikasi asimptomatik8. antibiotika dan tetes telinga. tinitus dan vertigo. Riwayat penyakit dahulu menderita penyakit pada telinga tengah seperti otitis media dan atau perforasi membrana timpani harus ditanyakan.5. ambang penerimaan pembicaraan dan pengenalan kata umumnya dipakai untuk menetapkan tuli konduksi pada telinga yang sakit. Terapi pembedahan Kolestoma merupakan penyakit bedah.Timpanometri. Kolesteatoma sering ditemukan pada membrana timpani kuadran postero superior dengan membran timpaninya retraksi dan atau perforasi. Terapi bertujuan untuk menghentikan drainase pada telinga dengan mengendalikan infeksi 6. Akumulasi debris skuamosa dapat dijumpai pada kantongnya. sebaiknya dibandingkan dengan pemeriksaan audiometri5. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik terdiri atas pemeriksaan kepala dan leher. pars placida dan pars tensanya normal. Membran timpani harus diperiksa dengan teliti. Gejala yang sering dikeluhkan adalah otore. perubahan status mental dan penilaian lainnya yang dapat memberikan petunjuk kearah komplikasi5. Kolesteatoma kongenital yang melibatkan telinga tengah diidentifikasi sebagai massa putih atau seperti mutiara yang letaknya medial terhadap kuadran anteo superior dari membran timpani intak. dan jaringan granulasi5. kehilangan pendengaran unilateral progresif dengan otore yang berbau busuk1. Tes Rinne dan Weber dengan menggunakan garputala 512 Hz didapatkan hasil tuli konduksi. dapat menurun pada penderita dengan perforasi membran timpani8.Audiometri Audiometri nada murni dengan konduksi udara dan tulang. obstruksi nasal. dikerjakan pada kasus revisi pembedahan sebelumnya. pemeriksaan mukosa telinga tengah untuk menilai ada atau tidaknya udema. H. Retraksi sering terdapat pada attic atau membran timpani kuadran posterosuperior5. dapat timbul pada telinga tengah atau dalam membrana timpani. kecurigaan abnormalitas kongenital atau kasus kolesteatoma dengan tuli sensorunerual. gejala vestibular atau komplikasi lainnya1. CT scan tidak essensial untuk penilaian preoperasi. biasanya karena erosi posesus longus incus atau capitulum stapes8. Diperlukan aural toiletisasi untuk menghilangkan otore. Otomikroskopi merupakan alat pada pemeriksaan fisik untuk mengetahui dengan pasti kolesteatoma.kolesteatoma. Tujuan utama pembedahan adalah menghilangkan kolesteatoma secara total. Kolesteatoma kongenital di diagnosa pada anak usia pre sekolah. otitis media supuratif kronik. Kolesteatoma akuisital umumnya didiagnosa pada anak dengan usia lebih tua dan dewasa dengan riwayat adanya penyakit telinga tengah.

resiko pembedahan (paralisis fasial. Konseling meliputi penjelasan tujuan pembedahan. Rekurensi dapat terjadi setelah pembedahan awal. Tes tersebut dilakukan dengan maksud untuk menentukan tingkat pendengaran dan keluasan desktruksi yang disebabkan oleh kolesteatomanya sendiri 6. Kehilangan pendengaran bervariasi sesuai dengan perkembangan myringostapediopexy atau transmisi suara melalui kantong kolesteatoma ke stapes atau footplate. memerlukan follow up lebih lanjut dan aural toilet 1. Komplikasi 1. 3. 2. kehilangan pendengaran). Trancanal Anterior Atticotomi d. Paralisis fasialis Paralisis fasialis disebabkan karena hancurnya tulang diatas nervus fasialis 7. Tuli konduksi Tuli konduksi merupakan komplikasi yang sering terjadi karena terjadi erosi rangkaian tulang pendengaran. Keluasan penyakit akan menentukan keluasan pendekatan pembedahan1. Pasien harus diberikan penjelasan tentang kemungkinan kehilangan pendengaran total 1. Canal Wall Up Procedure (CWU) c. Resiko rekurensi cukup tinggi sehingga ahli bedah disarankan melakukan tympanomastoidectomi setelah 6 bulan sampai 1 tahun setelah operasi pertama3. tetapi resiko tinggi terjadinya rekurensi dan persisten kolestatoma. Paralisis dapat berkembang secara akut mengikuti infeksinya atau lambat dari penyebaran kronik kolesteatomanya. Kolesteatoma besar atau yang mengalami komplikasi memerlukan terapi pembedahan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Tujuan ketiga adalah memeliharan sebisa mungkin penampilan anatomi normal. Canal-walldown prosedur memiliki probabilitas yang tinggi membersihkan permanen kolesteatomanya. Canal-wall-up procedure memiliki keuntungan yaitu mempertahankan penampilan normal. Follow up Tiap pasien dimonitor selama beberapa tahun. Pasien yang menjalani canal. bahkan pada pasien yang asimptomatik3. Tuli sensorineural Terdapatnya tuli sensorineural menandakan terdapatnya keterlibatan labyrinth1. konseling preoperatif dianjurkan. Tes pendengaran dan keseimbangan. Pemeriksaan CT tulang temporal diperlukan untuk membantu keterlibatannya. 4. tinnitus. Canal Wall Down Procedure (CWD) b. Sebagaimana prosedur pembedahan lainnya. Tempat umum yang terjadi adalah gangglin genikulatum pada . Pasien yang telah menjalani canal-wall-down prosedure memerlukan follow up tiap 3 bulan untuk pembersihan saluran telinga. Erosi prosesus lentikular dan atau super struktur stapes dapat menyebabkan tuli konduksi sampai dengan 50dB. rontgen mastoid dan CT scan mastoid diperlukan. Prosedur pembedahan meliputi: a. Prosedur pembedahan diterapkan pada individu dengan tanda-tanda patologis. I. 3. vertigo. Bondy Modified Radical Procedure Berbagai macam faktor turut menentukan operasi yang terbaik untuk pasien.pendengaran. Follow up dilakukan 6 bulan sampai dengan 1 tahun untuk mencegah terjadinya kolesteatoma persisten atau rekurensi3. Follow up meliputi evaluasi setengah tahunan atau tahunan. Rangkaian tulang-tulang pendengaran selalu intak1.wall-up prosedur umumnya memerlukan operasi tahap kedua selelah 6-9 bulan dari operasi pertama. Kehilangan pendengaran total Setelah operasi sebanyak 3% telinga yang dioperasi mengalami kerusakan permanen karena penyakitnya sendiri aau komplikasi proses penyembuhan.

M. March 2006.epitimpanicum anterior1. Cholesteatoma. Intrakranial Komplikasi intrakranial seperti abses periosteal. University of Texas Medical Branch. http://www. Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johanes Muller pada tahun 1838 karena disangka tumor yang ternyata bukan. Penyakit Telinga Luar dalam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT. S. 2002.org/index2. maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk kolesteatoma.Roland. Cholesteatoma: Pathogenesis and Surgical Management. 2006.net/default. http://www. Jakarta. A. nyeri dan atau demam1. 1997. 3. American Academy of Otolaryngology. http://www.Hauptman.Anonim. G..emedicine. 6..com/www/ears.Paparella. Jakarta. 1997. DAFTAR PUSTAKA 1... Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-de-sac sehingga apabila terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama. Jakarta. 9. 2001.. Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia luar.entnet.. . trombosis sinus lateral dan abses intrakranial terjadi pada 1% penderita kolesteatoma.Kennedy. UTMB. Levine. Kelainan Telinga Tengah dalam buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.otohns. M..earsite. T. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.com 4. 2. Makishma.cfm. M.html. 6.com/tumors/procedure_one. Cholesteatoma. EGC. Department of Otolaringology. R. Fistula labyrinthin Fistula labyrinthin terjadi pada 10% pasien dengan infeksi kronik dengan kolesteatoma. http://www. Middle Ear. Surgery in Cholesteatoma: Ten years Follow-up.Anonim. 2006. biasanaya dengan nyeri kepala kronik.. 2006.Boies. of Otolaryngology.. KOLESTEATOMA EKSTERNA Diposkan oleh Taufik Abidin oleh: Taufik Abidin Kolesteatoma adalah suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). 5. G. 2002.Djaafar. Komplikasi intra kranial ditandai dengan gejala otore maladorous supuratif. http://www. EGC.Ajalloueyan. 5. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid alam buku Boies Buku Ajar Penyakit THT. S. Adams. Fistula dicurigai pada pasien dengan gangguan tuli sensorineural yang sudah berjalan lama dan atau vertigo yang diinduksi dengan suara atau perubahan tekanan pada telinga tengah1. Z.. Cholesteatoma.Underbrink. P.htm. 10. L. IJMS Vol 31. Cholesteatoma. No 1. 2006.asp?id=14160. 8. Cholesteatoma. L. 1999.rcsullivan. M. Dept. 7. K.

Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tempat tumbuhnya kuman. . sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Erosi bagian tulang liang telinga dapat sangat progresif memasuki rongga mastoid dan kavum timpani. yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa. Kolesteatoma diduga sebagai akibat migrasi epitel yang salah & periostitis sirkumskripta. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ disekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Hal yang terakhir ini disebut sebagai kolesteatoma eksterna. juga pada pasien sinusitis. Pasien mengeluhkan nyeri tumpul sampai nyeri hebat akibat peradangan setempat dan otorea intermitten akibat erosi tulang dan infeksi sekunder. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. sehingga akan lembab karena menyerap air sehingga mengundang infeksi. sering terjadi pada pasien dengan kelainan paru kronik. Etiologinya belum diketahui. Kolesteatoma eksterna disusun atas epitel gepeng & debris tumpukan pengelupasan keratin. Namun kejadian kolesteatoma sangat jarang terjadi. Kolesteatoma pada liang telinga biasanya unilateral.Kolesteatoma diawali dengan penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga. seperti bronkiektasis. Bila tidak ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga. Kolesteatoma mengerosi tulang yang terkena baik akibat efek penekanan oleh penumpukan debris keratin maupun akibat aktifitas mediasi enzim osteoklas. Terjadinya proses nekrosis diperhebat oleh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri.

http://www. Deteksi dan pengobatan secara dini pada otitis media dengan memberikan antibiotika akan menurunkan kolesteatoma. 2006. sehingga pembersihan liang telinga secara spontan lebih terjamin. Kolesteatoma. Djaafar. Pada pasien yang telah mengalami erosi tulang liang telinga. seperti pada mastoiditis.55-56. Etiologi / Penyebab Kolesteatoma Komplikasi dari Otitis Media Kronis Penatalaksanaan / Penanganan / Pengobatan / Terapi Kolesteatoma Mastoidektomy dapat menghilangkan kolesteatoma . Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal.org/proxy/MC-cattails_2006_sepoct_cyst. Herman.1. Balai Penerbit FKUI. Patofisiologi / Patogenesis Kolesteatoma. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alcohol atau gliserin dalam perioksida 3%.Penyakit ini dapat dikontrol dengan melakukan pembersihan liang telinga secara periodic misalnya tiap tiga bulan. ZA. Yang penting ialah membuat agar liang telinga berbentuk seperti corong. Kolesteatoma Kolesteatoma adalah suatu kista epithelial yang berisi deskuamasi epitel/keratin. seringkali diperlukan tindakan bedah dengan melakukan tandur jaringan ke bawah kulit untuk menghilangkan gaung di dinding liang telinga. Jakarta. Sel epitel debris mengumpul dalam telinga bagian tengah. 47-48.. Balai Penerbit FKUI. membentuk kista yang merusak struktur telinga dan mengurangi pendengaran. 2006.marshfieldclinic. tiga kali seminggu sering kali dapat menolong. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT edisi kelima hal. Keratosis Obliterans Dan Kolesteatoma Eksterna. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Sosialisman. Kolesteatoma sangat berbahaya dan merusak jaringan sekitarnya yang dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran.jpg.

Definisi . umbo. Neuroma nervus fasialis adalah tumor nervus VII. kanalis auditorius eksternus dan membran timpani. Kesimpulan Telinga adalah salah satu organ pancaindra yang memiliki fungsi yang sangat vital bagi kehidupan manusia. nervus fasialis (Brunner & Suddath: 1999.2056) 4. Sedangkan Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari membrane timpani.2056) 2. Timpanosklerosis adalah timbunan kolagen dan kalsium di dalam telinga tengah yang dapat mengeras di seputar osikulus sebagai akibta infeksi berulang b.Komplikasi Kolesteatoma Komplikasi terjadi apabila sudah terjadi proses nekrosis tulang yakni : . bila dilihat dari arah liang telinga berbentuk bundar dan lekung dan gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna/aurikula). jenis-jenis Massa Telinga Tengah 1. Penatalaksanaan Pada dasarnya semua jenis massa dilakukan pengangkatan massa melalui pembedahan.Meningitis . Glomus jugulare adalah tumor yang timbul dari bulbus jugularis (Brunner & Suddath: 1999.Labirinitis . dan jika tidak memungkinkan pembedahan digunakan erapi radiasi.Abses otak MASSA TELINGA TENGAH a. mengarah ke medial. meatus autikus eksternus.2056) 3. Granuloma kolesterin adalah reaksi system imun terhadap produk samping darah (Kristal kolesterol) di dalam telinga tengah (Brunner & Suddath: 1999. KOLESTEATOMA BAB II PEMBAHASAN A.

Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar. Desakan massa + reaksi asam oleh pembusukan bakteri  nekrosis tulang  komplikasi . migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin. ketika menelan atau menguap. otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah. ETIOLOGI Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah.kolesteatom adalah kista epitelial berisi deskuamasi epitel (keratin).    Merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman  infeksi Infeksi pelepasan sitokin yang menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatoma menjadi hiperproliferatif. destruktif. B. Apabila terbentuk terus menerus dapat menyebabkan terjadinya penumpukan sehingga menyebabkan kolesteatom bertambah besar. C. Deskuamasi tersebut dapat berasal dari kanalis auditoris externus atau membrana timpani. Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat. PATOFISIOLOGI Terdiri dari :    Deskuamasi epitel skuamosa (keratin) Jaringan granulasi yang mensekresi enzim proteolitik Dapat memperluas diri dengan mengorbankan struktur disekelilingnya Erosi tulang terjadi oleh dua mekanisme utama : Efek tekanan  remodelling tulang Aktivitas enzim  meningkatkan proses osteoklastik pada tulang  meningkatkan resorpsi tulang. Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi.bersifat desktruksif pada kranium yang dapat mengerosi dan menghancurkan struktur penting pada tulang temporal. dan mampu berangiogenesis. Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara.

cerebellopontin angle. Kolesteatom Kongenital. Migrasi ini berperan penting dalam akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani.D. Teori Invaginasi. Kolesteatoma Akuisital 1. 2. Erosi tulang melalui dua mekanisme. anterior mesotimpanum atau pada daerah tepi tuba austachii. E. terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah. desakan atau tekanan yang mengakibatkan remodeling tulang atau nekrosis tulang. aktivitas enzimatik tepi kolesteatom yang bersifat osteoklastik yang menyebabkan resorpsi tulang. dan seringkali teridentifikasi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun. yang paling sering adalah Pseudomonas aerogenusa. Kolestetoma Akuisital Sekunder . Teori Implantasi. kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars flacida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah disertai infeksi. b. akibat adanya implantasi epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi. KLASIFIKASI a. 2. 4. 1. setelah blust injury. akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama. Teori Metaplasi. membrana timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. akan tetapi telah terjadi retraksi membran timpani. Teori Imigrasi. Primer terbentuk tanpa didahului oleh perforasi membrane timpani. pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi. 3. PATOGENESIS 1. 2. Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. ditemukan pada daerah petrosus mastoid.

Bila terus menerus kambuh. F. GEJALA KLINIS Perforasi sentral (lubang terdapat di tengah-tengah gendang telinga) keluar nanah berbau busuk dari telinga tanpa disertai rasa nyeri. yang berasal dari telinga tengah dan melalui lubang pada gendang telinga akan menonjol ke dalam saluran telinga luar. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Rontgen konvensional posisi Waters dan Stenvers CT scan MRI . akan terbentuk pertumbuhan menonjol (polip). Terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga /dari pinggir perforasi membrana timpani.terbentuk setelah perforasi membran timpani. G. Pendengaran berkurang Perasaan cemas Pusing Perasaan pusing atau kelemahan otot dapat terjadi di salah 1 sisi wajah atau sisi telinga yang terinfeksi.

PENGKAJIAN 1. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Tujuan : Setelah dilakukannya tindakan keperawatan 1X24 jam diharapkan klien dapat istirahat dan tidur. Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. C. pucat ( menendakan adanya stres ) 3. hipertensi. Kriteria hasil :  Ganguan nyeri teradaptasi  Dapat tidur dengan tenang Intervensi :  Kaji nyeri yang dirasakan  Monitor tanda-tanda vital . Aktivitas  Gangguan keseimbangan tubuh  Mudah lelah 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Pola istirahat  Gangguan tidur/kesulitan tidur B. 3. PERENCANAAN 1. System pendengaran  Adanya suara abnormal (dengung) 5. 4. Sirkulasi  Hipotensi. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. 2. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri. Nutrisi  Adanya mual 4. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi.ASUHAN KEPERAWATAN A.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri. Kriteria hasil :  Resiko kerusakan interaksi sosialdapat diminimalkan. Intervensi :  Kaji tingkat kecemasan  Berikan penyuluhan tentang kolesteatoma  Yakinkan klien bahwa penyakitnya dapat disembuhkan . Gangguan rasa nyaman dan nyeri berhubungan dengan infeksi pada gendang telinga. Cemas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. Kriteria hasil :  Nyeri dapat teradaptasi  Dapat istirahat dengan nyaman Intervensi :  Monitor dan kaji karakteristik nyeri  Monitor tanda-tanda vital  Ciptaka lingkungan yang tenang dan nyaman 3. Intervensi :  Kaji kesulitan mendengar  Kaji seberapa parah gangguan pendengaran yang dialami  Anjurkan menggunakan alat bantu dengar setiap diperlukan  Bila mungkin ajarkan komunikasi nonverbal 4. pengetahuan klien terhadap penyakitnya meningkat. Anjurkan klien untuk beradaptasi dengan gangguan yang dirasakan  Kolaborasi dalam pemberian obat penenang/obat tidur 2. Tujuan : Setelah dilakukan tindkan keperawatan diharapkan meminimalakan kerusakan interaksi social. Resiko kerusakan interaksi sosial berhubungan denagan hambaatan komunikasi. Tujuan : Setelah dilakauakan tindakan keperawatan klien dan keluarga klien tidak cemas. Kriteria hasil : Tidak terjadi kecemasan.

1 Seringkali kolesteatoma dihubungkan dengan kehilangan pendengaran dan infeksi pada telinga yang menghasilkan cairan pada telinga. Beberapa istilah lain yang diperkenalkan oleh para ahli antara lain adalah: keratoma (Schucknecht). Banyak teori telah dikemukakan oleh para ahli . 1988). Kolesteatom ini merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman. Anjurkan klien untuk rileks. dan menghindari stress.2 Istilah kolesteatoma mulai diperkenalkan oleh Johannes Muller pada tahun 1838 karena disangka kolesteatoma merupakan suatu tumor. epidermoid kolesteatoma (Friedman. Tetapi dapat juga tanpa gejala. Terjadinya proses nekrosis diperhebat olh karena adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. namun sampai sekarang patogenesis penyakit ini masih belum jelas. Walaupun kolesteatom sudah dikenal sejak pertengahan abad ke 19. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah cul-desac sehingga apabila terdapat serumen yang pada (serumen plug) di liang telinga dalam waktu yang lama. ternyata bukan. kolesteatosis (Birrel. Definisi Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi jaringan epitel (keratin). 1959). yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa. 1958). 1958). squamous epiteliosis (Birrel. Kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap tulang. kista dermoid (Fertillo.1 Seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/terpapar ke dunia luar. 1970). Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar. epidermosis (Sumarkin. maka dari epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperagkap sehingga membentuk kolesteatom. Kolesteatom cepat membesar bila sudah disertai dengan infeksi.

Karena itu kolesteatoma ditemui di belakang dari membran tympani yang intak. 3.3 Etiologi dan patogenesis kolesteatoma belum diketahui dengan jelas. antara lain: teori invaginasi. adalah epitel skuamous keratinisasi tumbuh melewati batas normal. 4. teori metaplasi dan teori implantasi. tanpa berlanjut ke saluran telinga luar dengan tidak adanya faktor-faktor yang lain seperti perforasi dari membran tympani. Kriteria Kolesteatoma Kongenital Telinga Tengah 3 1. Klasifikasi dan Patogenesis Berdasarkan etiologi kolesteatoma dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu kongenital dan didapat (akuisita). baik primer maupun sekunder. . yaitu primer dan sekunder.3 Kolesteatoma aquisita primer merupakan manifestasi dari perkembangan membran tympani yang retraksi. tanpa riwayat infeksi sebelumnya. Riwayat otitis media sebelumnya bukan merupakan kriteria eksklusi Tipikal kolesteatom kongenital ditemukan pada bagian anterior mesotympanum atau pada area sekitar tuba eustachius. 2. dkk (1989) membuat modifikasi definisi kolesteatoma kongenita (Tabel 1) Tabel 1. 1) Kolesteatom Kongenital Kolesteatoma kongenital terjadi karena perkembangan dari proses inklusi pada embrional atau dari sel-sel epitel embrional. Faktor terpenting dari kolesteatoma aquisita.5 Penelitian Levenson menunjukkan bahwa rata-rata usia terjadinya kolesteatoma kongenital adalah 4.4 Namun definisi ini telah berubah setelah diketajui bahwa hampir 70% anak akan mengalami sekurang-kurangnya satu kali episode otitis media. Dua pertiga kasus terjadi pada kuadran anteroposterior membran tympani. dan sering terjadi pada awal kanak-kanak (6 bulan sampai 5 tahun).5 tahun dengan perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan 3:1. Kolesteatoma aquisita sekunder sebagai konsekuensi langsung dari trauma pada membrane tympani.tentang pathogenesis kolesteatom. kolesteatoma kongenital terjadi pada di belakang membran tympani yang intak.4 Oleh karena itu Levenson. Dua teori yang sering digunakan adalah kegagalan involusi penebalan epitel ektodermal yang terjadi pada masa perkembangan fetus pada bagian proksimal ganglion genikulatum. Berdasarkan teori klasik oleh Derlacki dan Clemis (1965). serta teori terjadinya metaplasi mukosa telinga tengah. 1) Kolesteatom Aquisita Kolesteatoma aquisita dibagi menjadi dua. Terdapatnya masa putih pada membran tympani yang normal Pars tensa dan flaccida yang normal Tidak adanya riwayat otorrhea ataupun perforasi sebelumnya Tidak ada riwayat prosedut otologi sebelumnya 5. teori imigrasi. atau adanya riwayat infeksi pada telinga.

Matriks epitel yang mengelilinginya meluas ke ruang-ruang yang ada di ruang atik. Proses osteogenesis ini disertai osteogenesis dalam mastoid dengan adanya sklerosis. 2006) 3. Of Otolaryngology. maka terjadilah keadaan vakum pada telinga tengah. Iskandar N. Dept. The National Deaf Children`s Society. Underbrink M. Avaiable at: . dan teori invasi epitelial. In: Soepardi EA. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Telah diyakini bahwa proses ini disebabkan infeksi kronik yang terus berlangsung dalam cavum tympani. Avaiable at: http://www. 5. editor. rantai osikular. editor. epitel terdeskuamasi diubah menjadi epitel skuamosa stratified keratinisasi akibat terjadinya otitis media akut berulang ataupun kronis.uk (last access: January 24th. Cholesteatoma. Menurut teori implantasi. menyebabkan akumulasi keratin pada kantong tersebut. Jika kantong retraksi ini terbentuk maka terjadi perubahan abnormal pola migrasi epitel tympani. ed. Sehingga pars flaccida membrana tympani tertarik dari terbentuklah kantong (retraction pocket). teori metaplasi. Sedangkan mekanisme menurut teori invasi epitel adalah bahwa kapanpun terjadi perforasi pada mambran tympani. yaitu: teori implantasi. Dulu dianggap bahwa tekanan yang terjadi karena kolesteatom yang membesar menyebabkan destruksi tulang. 49-62 2.3. telinga tengah dan mastoid. Daftar Pustaka 1.3 Sekali kantong atau kista epitel skuamosa terbentuk dalam rongga telinga tengah. atau trauma. erosi tegmen mastoid ke durameter dan atau ke lateral kanalis semisirkularis yang dapat menyebabkan ketulian dan vertigo. Pembesaran dapat berjalan semakin ke posterior mencapai aditus ad antrum menyebar ke tulang mastoid. yang biasanya disebabkan ventilasi yang buruk pada daerah ini dapa menyebabkan perusakan membran basal menyebabkan pertumbuhan dan proliferasi tangkai sel epitel ke dalam.4.ndcs. Pertumbuhan papiler ke dalam yang menyebabkan perkembangan kolesteoma bermula pada pars flaccida.p.Jika terjadi disfungsi tuba Eustachius. Djaffar Zainul A. adanya benda asing. Fakultas Kedokteran Ilmu Indonesia.org. Akumulasi ini semakin lama semakin banyak dan kantong retraksi bertambah besar ke arah medial. Destruksi tulang-tulang pendengaran sering terjadi pada kasus ini. Jakarta. epitel squamous akan bermigrasi melewati tepi perforasi dan bejalan ke medial sejajar dengan permukaan bawah gendang telinga merusak epitel kolumnar yang ada. dan septa mastoid untuk memberi tempat bagi kolesteatom yang bertambah besar. Kelainan Telinga Tengah.5 Patogenesis kolesteatoma aquisita sekunder diterangkan dengan beberapa teori. Perluasan proses ini diikuti kerusakkan tulang dinding atik. Reaksi peradangan pada ruang Prussack (Prussack’s space). Cholesteatoma. terbentuk lapisan-lapisan deskuamasi epitel dengan kristal kolestrin mengisi kantong. Grand Round Presentation. Berasarkan teori metaplasia. 2001. Infeksi pada kolesteatoma bukan hanya menyebabkan sklerosis mastoid yang cepat tetapi juga peningkatan proses osteolitik. Gadre A. UTMB. Ryan MW. In: Quinn FB. Kini terbukti bahwa erosi tulang disebabkan karena adanya enzim osteolitik atau kolagenase yang disekresi oleh jaringan ikat subepitel. epitel skuamous terimplantasi ke telinga tengah sebagai akibat pembedahan.

Penderita ditanyakan apakah masih mendengar suara garpu tala atau tidak ? Bila tidak dapat membedakan ke arah telinga mana yang lebih keras atau dijawab sama kerasnya antara kanan dan kiri artinya tidak terdapat lateralisasi.http://www.Test Schwabach. 2.pdf access: January 24th. Bila penderita sudah mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingg ujung yang bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa. . Apabila terdapat penjalaran ke salah satu telinga maka artinya terdapat lateralisasi.utmb. Kepada pasien ditanyakan apakah mendengar sekaligus diinstruksikan supaya mengangkat tangan apabila sudah tidak mendengar lagi. Prinsip pemeriksaan ini adalah membadingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan pada telinga normal hantaran antara telinga kiri dan kanan akan sama. Cara pemeriksaannya : Garpu tala 512 Hz yang telah digetarkan diletakan pada proc. Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne positif bila sudah tidak mendengar dikatakan Rinne negatif. Juga pada tuli sensorineural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang.Test Rinne . Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang pada penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan telinga pemeriksa harus normal.Test Weber. Cara pemeriksaannya . 1. atau dahi . Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Di lain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara.edu/otoref/Grnds/Cholesteatoma-020918/Cholesteatoma. Cara pemeriksaannya . 2006) (last Pemeriksaan Garpu Tala Pemeriksaan telinga dengan garpu tala ada 3 cara pemeriksaan diantaranya . Garpu tala 512 Hz. 3. mastoideus dari telinga yang akan diperiksa. yang telah digetarkan diletakan ujungnya pada vertex.

faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami selain frekuensi dan frekuensi mempengaruhi kekerasan. Mastoideus pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke proc. Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di memberan timpani persatuan waktu adalah satuan gelombang. Bila pasien mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke proc. Rinne bisa masih positif Pemeriksaan Audiometri. Gelombang suara .Garpu tala 512 Hz yang sudah digetarkan diletakan pada proc. dan gerakan semacam itu dalam lingukangan secara umum disebut gelombang suara. Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan Schwabach normal dan bila pasien masih mendengar suara hantaran pada garpu tala maka dikatakan Schwabach memanjang.Mastoideus pemeriksa. karena ambang pendengaran lebih rendah pada frekuensi dibandingkan dengan frekuensi lain. RINNE POSITIF NEGATIF WEBER TIDAK ADA LATERALISASI LATERALISASI KE ARAH TELINGA YANG SAKIT LATERALISASI KE TELINGA YANG SEHAT SCHWABACH SAMA DENGAN PEMERIKSA MEMANJANG HASIL NORMAL TULI KONDUKTIF POSITIF MEMENDEK TULI SENSORINEURAL Catatan : Pada tuli Konduktf < 30dB . yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang seling mengenai memberan timpani.Mastoideus pasien dan ditanyakan lagi apakah pasien mendengar suara hantaran dari garpu tala?. Namun nada juga ditentukan oleh factor . semakin tinggi frekuensi dan semakin tinggi nada. Semakin besar suara semakin besar amplitudo. Mastoideus pasien kemudian kepada pasien ditanyakan apakah masih mendengar suara dari garpu tala. Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran pada garpu tala. Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan nada berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelombang persatuan waktu). sesudah itu diinstruksikan juga supaya mengangkat tangannya apabila sudah tidak mendengar suara hantaran dari garpu tala. Rinne. Weber test dan Scwabach test LATAR BELAKANG Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di lingkungan eksternal. Bila pemeriksa sudah tidak mendengar lagi suara hantaran harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakan pada proc.

Coclearis) Telinga dibagi menjadi 3 bagian : . tengah dan dalam. walaupun masing .Gannom. Efek penyamaran suara lata akan meningkatan ambang pendengaran dengan besar yang tertentu dan dapat diukir. Variasi timbre mempengaruhi mengetahhi suara berbagai alat musik walaupun alat tersebut memberikan nada yang sama. getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan sensasi bising. Telinga mempunyai resptor bagi 2 modalitas reseptor sensorik : 1. Kecuali pada lingkungan yang sangat kedap suara. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksidi serat-serat saraf. didengar sebagai suara musik. Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara di lingkungan eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran। Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan lempeng kaki stapes. Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan frekuensi primer yang menentukan suara ditambah sejumla getaran harmonik yang menyebabkan suara memiliki timbre yang khas. Tingkat suatu suara menutupi suara lain berkaitan dengan nadanya. Cara paling mudah untuk menggambarkan fungsi dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa dari permulaan sampai akhir dari setiap bagian-bagian telinga yang berbeda. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang bunyi ke otak dimana bunyi tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan. Fenomena ini diperkirakan disebabkan oleh refrakter relative atau absolute pada reseptor dan urat saraf pada saraf audiotik yang sebelumnya teransang oleh ransangan lain.memiliki pola berulang. (William F. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan telinga dalam.Terdiri dari telinga luar.Gannong.1998) A.masing gelombang bersifat kompleks. Anatomi system pendengaran (Telinga) Merupakan organ pendengaran dan keseimbangan. Pendengaran (N. (William F. Fenomena ini dikenal sebagai masking (penyamaran). 1998) Telah diketahui bahwa adanya suatu suara akan menurunkan kemampuan seseorang mendengar suara lain.

Telinga luar Auricula Mengumpulkan suara yang diterima Meatus Acusticus Eksternus Menyalurkan atau meneruskan suara ke kanalis auditorius eksterna Canalis Auditorius Eksternus Meneruskan suara ke memberan timpani Membran timpani Sebagai resonator mengubah gelombang udara menjadi gelombang mekanik। Telinga tengah Telinga tengah adalah ruang berisi udara yang menghubungkan rongga hidung dan tenggorokan dihubungkan melalui tuba eustachius. lalu dengan perlahan disalurkan pada rangkaian tulang-tulang pendengaran. Tulangtulang yang saling berhubungan ini . Pergerakan dari oval window (tingkap lonjong) menyalurkan tekanan gelombang dari bunyi kedalam telinga dalam. gelombang suara akan menyebabkan bergetarnya gendang telinga. Setelah sampai pada gendang telinga. Telinga tengah terdiri dari : Tuba auditorius (eustachius) Penghubung faring dan cavum naso faringuntuk : Proteksi: melindungi ndari kuman . landasan.sering disebut " martil. Tuba eustachius lazimnya dalam keadaan tertutup akan tetapi dapat terbuka secara alami ketika anda menelan dan menguap. yang fungsinya menyamakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga. dan sanggurdi"secara mekanik menghubungkan gendang telinga dengan "tingkap lonjong" di telinga dalam.

Di otak getaran tersebut akan di intrepertasi sebagai makna suatu bunyi. inkus. Gangguan pendengaran yang diseperti ini biasa disebut dengan sensorineural atau perseptif. Hampir 90% kasus gangguan pendengaran disebabkan oleh rusak atau lemahnya sel-sel rambut telinga dalam secara perlahan. menyamakan tekanan luar dan dalam. Aerufungsi: Tuba pendengaran (maleus. orang-orang terlihat hanya seperti berguman dan anda sering meminta mereka .000 sel-sel rambut yang mengubah getaran suara menjadi getaran-getaran saraf yang akan dikirim ke otak. Hal ini dikarenakan pertambahan usia atau terpapar bising yang keras secara terus menerus. Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari : Koklea Skala vestibule: mengandung perlimfe media: mengandung endolimfe timani: mengandung perlimfe Skala Skala Organo corti Memngandung sel-sel rambut yang merupakan resseptor pendengaran di memberan basilaris. dan stapes) Memperkuat gerakan mekanik dan memberan timpani untuk diteruskan ke foramen ovale pada koklea sehingga perlimife pada skala vestibule akan berkembang. Telinga dalam dipenuhi oleh cairan dan terdiri dari "cochlea" berbentuk spiral yang disebut rumah siput. menjadi lebih sulit membedakan atau memilah pembicaraan pada kondisi bising. Suara-suara nada tinggi tertentu seperti kicauan burung menghilang bersamaan. Sepanjang jalur rumah siput terdiri dari 20. Efeknya hampir selalu sama.Drainase: mengeluarkan cairan.sebagai contoh mengerti percakapan. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk .

Sekali sel-sel rambut telinga dalam mengalami kerusakan. Keseimbangan (N. Sacculus Sacculus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea. Rambut–rambut pada sel rambut asertif di organ ini menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa di atasnya.untuk mengulangi apa yang mereka katakan. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk sebagai contoh mengerti percakapan. Utrikulus Utrikulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara kanalis semisirkularis dan koklea. yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel rambut. Andapun dapat membantu untuk menjaga agar selanjutnya tidak menjadi lebih buruk dari keadaan saat ini dengan menghindari sering terpapar oleh bising yang keras. Vestibularis) a. Tiap – tiap telinga memiliki tiga kanalis semesirkularis yang tegak lurus satu sama lain. tidak ada cara apapun yang dapat memperbaikinya. tetapi tidak memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan. kecuali dia berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal (misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap . b. Sebuah alat bantu dengar akan dapat membantu menambah kemampuan mendengar anda. melodi akan sulit untuk dikenali dan suaranya tidak benar secara keseluruhan. atau memutar kepala. misalnya ketika memulai atau berhenti berputar. Canalis Semisirkularis Canalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselarisasi anguler atau rotasional kepala. Contoh kecil seperti menghilangkan semua nada tinggi pada piano dan meminta seseorang untuk memainkan sebuah melodi yang terkenal. Sacculus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus. berjungkir balik. Sel-sel rambut utrikulus mendeteksi akselerasi atau deselerasi linear horizontal. c. Dengan hanya 6 atau 7 nada yang salah.

Tuli konduktif Karena kelainan ditelinga luaaar atau di telinga tengah a. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah tubakar/sumbatan tuba eustachius. sehingga memberan timpani bergetar. Fisiologi Pendengaran Getaran suara ditangkap ol. perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar.eh telinga yang dialirkan ke telinga dan mengenai memberan timpani. b. 2. Kelainan /Ganggaun Fisiologi Telinga 1. Tuli perseptif Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. osteoma liang teling. dan dislokasi tulang pensdengaaran. sumbatan oleh serumen.VIII yang kemudian neneruskan ransangan ke pusat sensori pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit system saraf pusat dari telinga. Orang tersebut mengalamipenurunan atau kehilangan kemampuan total untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan pada : a. Selanjutnya stapes menggerakkan perilimfe dalam skala vestibui kemudian getaran diteruskan melalui Rissener yang mendorong endolimfe dan memberan basal ke arah bawah. Kelainan telingna luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah astresia liang telinga. otitis eksterna sirkumsripta. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion Na menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang N. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhhubungan satu sama lain.akselerasi atau deselerasi loner vertical (misalnya melompat atau berada dalam elevator). Organo corti .

Kekurangan Pendengaran Yang dimaksud dengan kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seorang kurang dpat mendengar dan mengerti suara atau percakpan yang didengar untuk mendiagnosis kurang pendengaran. 2. Tuli campuran Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak sempurna sehingga infeksi skunder (tuli persepsi juga). sedangkan lebih dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan yang didengar sama dengan orang dewasa karena luasnya aspek diagnostik KP. Sebagi dokter umum cukuplah memperhatikan keempat aspek penting berikuta ini : Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak.b.coclearis dan N. maka dalam makalah ini yang diuraikan hanya diagnosis KP pada anak-anak umur 6 tahun keatas dan dewasa. Usia 6 tahun diambil sebagai batas. Jenis KP . Pusat pendengaran otak 3. Pad kedua golongan umur tersbut. Saraf : N. Jenis kurang pendengaran kurang pendengaran penyebab kurang pendengaran Derajat Menentukan 1. Penentuan pada penderita apakah ada KP atau tidak Dalam penentuan apakah ada KP atau tidak pada penderita hal penting yang harus diperhatiakan adalah umur prnderita. kurang dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan berbeda-beda tergantung umurnya. Respon manusia terhadap suara atau percakapan yang didengranya tergantung pada umur pertumbuhannya.vestibularais c.

KP jenis campuran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga dalam. Untuk KP jenis sentral dan fungsional mengingat masih terbatasnya pengetahuan proses pendengara diwilayah trsebut. disamping masih belum banyak dikenal teknik uji pendengaran yang dapat dimanfaatkan untuk bahan diagnostik. Menentukan penyebab KP Menetukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara kempat batasan atau aspek tersebut diatas.Jenis KP berdasarkan lokalisasi lesi : a. KP jenis hantaran Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga luar dan atau telinga tengah. 3. e. d. untuk itu diperlukan : . KP jenis sentral Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang otak sampai dengan korteks otak. b. maka pada makalah ini akan dibatasi pada diagnosis KP jenis hantaran sensorineural dan campuran saja.VIII) c. melainkan berdadasarkan adanya masalah psikologis atau omosional. KP jenis fungsional Pada KP jenis ini tidak dijumpai adanya gangguan atau lesi organic pada system pendengaran baik perifer maupun sentral. KP jenis sensorineural Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (pada koklea dan N.

Tes bisik modifikasi c. Pemeriksaan audiometri Tes Fungsi Pendengaran Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri.a. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri. Tes bisik b. tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. Tes garputala d. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan . c. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto laboratorium) Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. Anamnesis yang luas dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut b. yaitu : a. Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. hidung dan tenggorokan ) yang teliti. a. maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Alat ini menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Pemeriksaan umum dan khusus (telinga. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal.

Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel 0-15 >15-25 >25-40 >40-55 >55-70 >70-90 >90 Pendengaran normal Kehilangan pendengaran kecil Kehilangan pendengaran ringan Kehilangan pendengaran sedang Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat Kehilangan pendengaran berat Kehilangan pendengaran berat sekali Klasifikasi . 1000-2000. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara. 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang. audiologis dan pasien yang kooperatif. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 20-20.pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran.000 Hz. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1) Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya.

untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar. . pendengar diminta untuk mnebaknya. dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda.Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman. suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). 2) Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan. dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan. Grafiknya terdiri dari skala decibel.

sedangkan intensitas suara barapa saja. Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar katakata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. tetapi juga jauh diatasnya. Kriteria orang tuli : Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB Sedang Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Berat Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi.b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Dengan demikian. Pada audiometri tutur. dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah. memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. . tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga). berarti pendengaran baik. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya.

segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. khususnya penyakit telinga 2) Untuk kedokteran klinik Kehakiman. ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi). Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya.tuntutan ganti rugi 3) Untuk kedokteran klinik Pencegahan.apakah ada kotoran telinga (serumen). yaitu : a. deteksi ktulian pada anak-anak c. 3) Skrinig anak balita dan SD 4) Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran. apakah ada lubang gendang telinga. 1978) : 1) Mediagnostik penyakit telinga 2) Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari. Tujuan Ada empat tujuan (Davis. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. 1. Ada 2 macam tes rinne . Manfaat audiometri 1) Untuk kedokteran klinik. b. Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya . atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan.

Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus. 2.b. Test Weber . Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). terdapat 3 kemungkinan : a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : 1) Normal : tes rinne positif 2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) 3) Tuli persepsi. tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus.

Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. 3. b. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar. Jika kedua pasien samasama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi. Interpretasi: a. 4) Tuli persepsi pada kedua teling. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. missal adanya ototis media disebelah kanan. biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan.Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. 3) Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu. maka di dengar sebelah kanan. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak. Test Swabach Tujuan : . 5) Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: 1) Tuli konduksi sebelah kanan. 2) Tuli konduksi pada kedua telinga. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Menurut pasien. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan.

atau tidak mendengar suara. Bila masih terdengar disebut Rinne Positif. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi.05 4 komentar: Beranda Langganan: Entri (Atom) Untuk melihat ada tidaknya gangguan fungsi pendengaran pada pekerja dengan menggunakan garpu tala untuk pemeriksaan gangguan fungsi pendengaran oleh peneliti. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. •Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran melalui udara dan tulang pada telinga yang diperiksa. dan 2048 Hz. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). bila tidak terdengar disebut Rinne Negatif. idealnya menggunakan garpu tala dengan frekuensi 512. khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. Bila tidak mungkin cukup dipakai garpu tala dengan frekuensi 512 Hz karena tidak penggunaan garpu tala ini tidak terlalu dipengaruhi oleh suara bising disekitar lingkungan pemeriksaan. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala. Dalam keadaan normal hantaran melalui udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Diposkan oleh neeya_koizora di 01. maka penguji akan segera memindahkan garputala itu.Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus.5 cm. Setelah tidak terdengar garpu tala dipegang di depan telingan kira-kira 2. Test garpu tala untuk pengukuran kualitatif. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkainya diletakkan di prosesus mastoideus. Getaran yang datang melalui tengkorak. Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara. . 1024.

Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar bunyi kemudian dipindahkan ke prosesus mastoideus pemeriksa yang pendengarannya dianggap normal. Bila bunyi terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut literalisasi ke telinga tersebut. 2. pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya. Jika kira-kira sama mendengarnya disebut sama dengan pemeriksa. Bila masih dapat mendengar disebut memendek atau tuli saraf. Cara : garpu tala digetarkan dan tangkai garpu tala diletakkan di garis tengah dahi atau kepala. Bila pasien masih mendengar. 4. . dengan cara dipegang tangkainya kemudian kedua ujung kakinya dibunyikan dengan lunak (dipetik dengan ujung jari/kuku. didengarkan terlebih dulu o/ pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk mencapai intensitas bunyi yang terendah bagi orang normal/ nilai ambang normal). bila pemeriksa tidak dapat mendengar.bila sebaliknya (literalisasi pada telinga yang sehat) berarti pada telinga yang sakit terdapat tuli saraf. TES GARPUTALA Ada 4 jenis tes garpu tala yang sering dilakukan : Tes batas atas dan batas bawah Tes Rinne Tes Weber Tes Schwabach Tes-tes ini memiliki tujuan khusus yang berbeda dan saling melengkapi. Cara : Semua garpu tala (dapat dimlai dari frekwensi terendah berurutan sampai frekwensi tertinggi / sebaliknya) dibunyikan satu persatu. Bila pada telinga yang sakit (literalisasi pada telinga yang sakit) berarti terdapat tuli konduktif pada telinga tersebut. 3.•Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan. Tes Batas Atas Batas Bawah Tujuan : menentukan frekwensi garpu tala yang dapat di dengar penderita melewati hantaran udara bila dibunyikan pada intensitas ambang normal. THT 1. 1. kemudian diperdengarkan pada penderita dengan meletakkan garpu tala di dekat MAE pada jarak 1-2 cm dalam posisi tegak dan 2 kaki pada garis yang menghubungkan MAE kanan dan kiri. disebut memanjang atau terdapat tuli konduktif. •Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa normal. Bila terdengar sama atau tidak terdengar disebut tidak ada literalisasi.

bila lebih keras di belakang Rinne negatif.Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz. 2.Penderita terlambat memberi isyarat waktu garpu tala sudah tak terdengar lagi. Apabila penderita masih mendengar garpu tala di depan MAE desebut Rinne positif. . Cara : . bila tidak mendengar disebut Rinne negatif. Tes Rinne Tujuan : membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada satu telinga penderita.Garpu tala tidak diletakkan dengan baik pada mastoid atau miring.Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan. dagu atau pada gigi insisivus) dengan kedua kaki pada garis horizontal. Bila kedua telinga tak mendengar atau sama-sama mendengar bararti tak ada lateralisasi. Bila lebih keras di depan disebut Rinne positif. Penderita diminta untuk menunjukkan telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. jaringan lemak tebal shg penderita tidak mendengar atau getaran terhenti karena kaki garpu tala tersentuh aurikulum. . Kesalahan : . kemudian segera dipindah di depan MAE. letakkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid penderita (posterior dari MAE) sampai penderita tak mendengar. kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus di garis median. terkena rambut.Bunyikan garpu tala frekwensi 512 Hz. Bila mendengar pada satu telinga disebut lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Interpretasi : * Normal : tidak ada lateralisasi . penderita ditanya mana yang lebih keras. * Tuli konduksi : batas bawah naik (frekwensi rendah tak terdengar) * Tuli sensori neural : batas atas turun (frekwnsi tinggi tak terdengar) Kesalahan : Garpu tala dibunyikan terlalu keras shg tidak dapat mendeteksi pada frekwensi mana penderita tak mendengar. Interpretasi : * Normal : Rinne positif (mendengar) * Tuli konduksi : Rinne negatif ( tidak mendengar) * Tuli sensori neural : Rinne posotof (dengar) Kadang-kadang terjadi false Rinne (pseudo positif atau pseudo negatif) terjadi bila stimulus bunyi ditangkap oleh telinga yang tidak di tes. biasanya di dahi (dapat pula pada vertex. kemudian dipancangkan pada planum mastoid.Interpretasi : * Normal : mendengar garpu tala pada semua frekwensi. Tes Weber Tujuan : membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita. Cara : . shg waktu dipindahkan di depan MAE getaran garpu tala sudah berhenti. kemudian cepat pindahkan ke depan MAE penderita. 3. hal ini dapat terjadi bila telinga yang tidak dites pendengarannya jauh lebih baik daripada yang di tes.

dapat di interpretasikan : a. Tes Schwabach Tujuan : membandingkan hantaran lewat tulang antara penderita dgn pemeriksa. Garpu tala 512 Hz dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita. Weber . Tuli konduksi kanan. tetapi kanan lebih berat. d. bila pemeriksa tidak mendengar berarti sama-sama normal.Garpu tala frekwensi 512 Hz dibunyikan kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus pada mastoid pemeriksa. Tuli konduksi kanan dan kiri. Tuli konduksi kanan dan sensori neural kiri. bila pemeriksa sudah tidak mendengar. Interpretasi : * Normal : Schwabach normal * Pada tuli konduksi : Schwabach memanjang. telinga kiri normal b. yaitu tes pada penderita dulu baru ke pemeriksa. Cara : . Tuli sensori neural kanan dan kiri. * Tuli sensori neural : mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. * Pada tuli sensori neural : Schwabach memendek Kesalahan Uji/ Test bisa dikarenakan : * Garpu tala tidak tegak dengan baik. Bila penderita masih mendengar maka Schwabach memanjang. * Isyarat menghilangnya bunyi tidak segera diberitahukan oleh pasien. c. Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka tes dibalik. tetapi bila penderita tidak mendengar. Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. bila pemeriksa masih mendengar berarti Schwabach penderita memendek. terdapat 2 kemungkinan yaitu Schwabach memendek atau normal. telinga kanan normal. secepatnya garpu tala dipindahkan ke mastoid penderita. 4.* Tuli konduksi : mendengar lebih keras di telinga yang sakit. Tuli sensori neural kiri. kaki garpu tala tersentuh sehingga bunyi menghilang. tetapi kiri lebih berat e. bila penderita sudah tidak mendengar maka secepatnya garpu tala dipindahkan pada mastoid pemeriksa. Garputala . Contoh : lateralisasi ke kanan. Karena menilai kedua telinga sekaligus maka kemungkinannya dapat lebih dari satu.

asalkan tidak terlalu riuh. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. makin lama pemeriksa makin mendekat. Pada pasien yang pendengarannya masih baik. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. dengan panjang 6 meter. Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. garputala digetarkan . dan diperiksa di ruang periksa. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi. Uji berbisik 3. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. 512 Hz.2. atau pertengahan gigi seri. Pada telinga kanan. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. Pemeriksa duduk ke samping. 1000 Hz. dahi. sampai pasien mendengar bunyi. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. lima buah. c. Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. dengan frekuensi 128 Hz. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz. 1024 Hz dan 2048 Hz. Audiometrik Garputala terdiri dari satu set. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. Ada 3 macam pemeriksaan: a. ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi.5 cm jaraknya dari liang telinga. tuli .Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata. Pasien diberi tahu. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan. disebut uji rinne positif b. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. sampai 8000 Hz. lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. kemudian telinga kiri. Caranya ialah garputala digetarkan. 256 hz. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek. tidak perlu di ruang kedap suara. kira-kira 2. Dimulai sejak jarak 6 meter. 1500 Hz. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. Caranya ialah. sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi.

Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. Ada 2 macam tes rinne . Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. dan swabach Test Rinne Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. terdapat 3 kemungkinan : Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala. sedang atau berat. segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien.hantar (konduktif). yaitu : Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). weber. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang. Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne : Normal : tes rinne positif Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama) Tuli persepsi. tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. Test rinne. Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-) . Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid).

Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Menurut pasien. Test Weber Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. . biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan. Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Interpretasi: Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke kanan. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus eksternus. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar.Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul. sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya. tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien.

missal adanya ototis media disebelah kanan. Weber dan Swabach Test Weber. maka penguji akan segera memindahkan garputala itu. Tuli konduksi pada kedua telinga. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat. tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan. Dasar : Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh : Getaran yang datang melalui udara. Test Swabach Tujuan : Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan probandus. atau tidak mendengar suara. . Tuli persepsi pada kedua teling. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan. khususnya osteo temporale Cara Kerja : Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala probandus. ke puncak kepala orang yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding).Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya: Tuli konduksi sebelah kanan. maka di dengar sebelah kanan. Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat. Pada saat garputala tidak mendengar suara garputala. Bagi pembanding dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara. Keimpulan test Rinne. Getaran yang datang melalui tengkorak. Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu.

b. Evaluasi test rinne. kanan lebih berat 5. kiri tuli sensory neural 4. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapat menegakkan diagnosa secara pasti. Telinga kanan tuli konduktif. a. Telinga kanan normal. c. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hati dengan apa yang dikatakan Rinne . Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. Telinga kanan tuli konduktif. Evaluasi Tets Weber. Kedua telinga tuli konduktif.Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama. Cara pemeriksaan. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh diletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebih panjang daripada hantaran udara. Penderita ditanyakan apakah mendengar atau tidak. Test Rinne. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang dari hantaran tulang. kiri tuli sensory neural 3. Rinne negatif berarti tuli konduktif. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunak pada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum dari telinga yang akan diperiksa. Kepada penderita ditanyakan apakah mendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-) b. Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga mana didengar lebih keras. kiri normal 2. Rinne Negatif Palsu. a. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasi ke kanan. Cara pemeriksaan. Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjang daripada hantaran tulang. Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapa kemungkinan 1. Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga. Bila penderita masih mendengar dikatakan Rinne (+). Kedua telinga tuli sensory neural. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkan hingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikus eksternus dari telinga yang diperiksa.

Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secara lunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita. Kemudian setelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getaran tidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative Test Schwabach. Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita dengan hantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal. Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar. sesudah itu sekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidak mendengar dengungan. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa. Evaluasi test schwabach 1. Bila pemeriksa tidak mendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengar lagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita dan ditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidak mendengar dengungan. Cara pemeriksaan. Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bila masih mendengar dikatakan schwabach memanjang. Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 2. Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungan dan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 3. Karena telinga pemeriksa normal berarti telinga penderita normal juga. Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabach memendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi. Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya di tangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing).negatif palsu. a. Hasil Gangguan Sama normal Memanjang Tuli konduktif Memendek Tulisensorineural Tes Pendengaran 29 Dec . Hal ini terjadi pada tuli sensorineural yang unilateral dan berat. b.

Caranya dinding tidak rata. Tidak terjadi echo / gema. terbuat dari soft board. yaitu : Penderita dan pemeriksa sama-sama berdiri. Ada 2 syarat bagi pemeriksa saat melakukan tes bisik. Telinga pasien yang tidak diperiksa. Kita maju pada jarak 3 meter dari pasien lalu membisikkan 5 kata dan penderita mampu mendengar semuanya. yaitu : Kedua mata penderita kita tutup agar ia tidak melihat gerakan bibir pemeriksa. Teknik pemeriksaan pada tes bisik. yaitu : . Hanya pemeriksa yang boleh berpindah tempat. Biasanya kita menyebutkan nama benda-benda yang ada disekitar kita. yaitu : Ruangannya sunyi. Syarat pemeriksa. Jadi tajam pendengaran penderita kita ukur dari jarak antara pemeriksa dengan penderita dimana penderita masih mampu mendengar 80% dari semua kata yang kita ucapkan (4 dari 5 kata). Jarak minimal 6 meter. Kita dapat lebih memastikan tajam pendengaran penderita dengan cara mengulangi pemeriksaan. Jumlah kata yang kita bisikkan biasanya 5 atau 10.Tes Pendengaran Oleh : Muhammad al-Fatih II Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita. Misalnya tajam pendengaran penderita 4 meter. yaitu : Pemeriksa membisikkan kata menggunakan cadangan udara paru-paru setelah fase ekspirasi. Syarat penderita. Penderita mengulangi dengan keras dan jelas setiap kata yang kita ucapkan. Ada 2 jenis penilaian pada tes pendengaran. Tes bisik modifikasi. yaitu : Syarat tempat. Ada 4 syarat bagi penderita saat kita melakukan tes bisik. Caranya tragus telinga tersebut kita tekan ke arah meatus akustikus eksterna atau kita menyumbatnya dengan kapas yang telah kita basahi dengan gliserin. Pemeriksaan audiometri. Pertama-tama pemeriksa membisikkan kata pada jarak 1 meter dari penderita. Kita kemudian mundur pada jarak 4 meter dari penderita lalu membisikkan 5 kata dan penderita masih mampu mendengar 4 kata (80%). kita tutup (masking). Ada 3 syarat tempat kita melakukan tes bisik. Pemeriksa lalu mundur pada jarak 2 meter dari penderita bilamana penderita mampu mendengar semua kata yang kita bisikkan. Tes garpu tala. Telinga pasien yang diperiksa. Demikian seterusnya sampai penderita hanya mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan kepadanya. atau tertutup kain korden. kita hadapkan ke arah pemeriksa. Tes Bisik Ada 3 syarat utama bila kita melakukan tes bisik. Pemeriksa membisikkan 1 atau 2 suku kata yang telah dikenal penderita. yaitu : Tes bisik.

dan 128 Hz. Tes Bisik Modifikasi Tes bisik modifikasi merupakan hasil perubahan tertentu dari tes bisik. yaitu : Frekuensi rendah. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. yaitu : Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL). Tes Garpu Tala Ada 4 jenis tes garpu tala yang bisa kita lakukan. 32 Hz. Cara kita melakukan tes bisik modifikasi.Penilaian kuantitatif seperti pemeriksaan tajam pendengaran pada tes bisik maupun tes bisik modifikasi. Frekuensi normal. Meliputi 16 Hz. Meliputi 4096 Hz dan 8192 Hz. Tuli sensorineural & konduktif / mix hearing loss (MHL). 512 Hz. Tes Rinne. dan 2048 Hz. Tes Weber. yaitu : Kita melakukannya dalam ruangan kedap suara. Misalnya tidak dapat mendengar huruf S dari kata susu sehingga penderita mendengarnya uu. Tuli sensorineural / sensorineural hearing loss (SNHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi tinggi. 1024 Hz. 64 Hz. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. Tes Batas Atas & Batas Bawah . Frekuensi tinggi. Ada 3 jenis frekuensi. Cara kita memperlebar jarak dengan penderita yaitu dengan menolehkan kepala kita atau kita berada dibelakang penderita sambil melakukan masking (menutup telinga penderita yang tidak kita periksa dengan menekan tragus penderita ke arah meatus akustikus eksternus). Penilaian kualitatif seperti pemeriksaan jenis ketulian pada tes garpu tala dan audiometri. Tuli konduktif / conductive hearing loss (CHL). Kita membisikkan 10 kata dengan intensitas suara lebih kecil dari tes bisik konvensional karena jaraknya juga lebih dekat dari jarak pada tes bisik konvensional. Misalnya tes kesehatan pada penerimaan CPNS. Tes bisik modifikasi kita gunakan sebagai skrining pendengaran dari kelompok orang berpendengaran normal dengan kelompok orang berpendengaran abnormal dari sejumlah besar populasi. Frekuensi yang dapat didengar oleh manusia berpendengaran normal. Tes Schwabach. Ada 3 jenis ketulian. Pendengaran penderita normal bilamana penderita masih bisa mendengar 80% dari semua kata yang kita bisikkan. yaitu : Tes batas atas & batas bawah. Meliputi 256 Hz.

Tes Rinne Tujuan kita melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan antara hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. Ada 2 cara kita melakukan tes Rinne. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garpu tala di depan meatus akustikus eksterna lebih keras daripada di belakang meatus akustikus eksterna (planum mastoid). Interpretasi tes Rinne dapat false Rinne baik pseudo positif dan pseudo negatif. yaitu : Semua garpu tala kita bunyikan satu per satu. Tuli konduktif.Tujuan kita melakukan tes batas atas & batas bawah yaitu agar kita dapat menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar pasien dengan hantaran udara pada intensitas ambang normal. Tes Rinne positif jika pasien mendengarnya lebih keras. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien mendengarnya lebih lemah. Secepatnya garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien pada jarak 1-2 cm secara tegak dan kedua kaki garpu tala berada pada garis hayal yang menghubungkan antara meatus akustikus eksternus kanan dan kiri. Sebaliknya tes Rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya. Batas atas turun dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi tinggi. Jika pasien dapat mendengar garpu tala pada semua frekuensi. Tuli sensorineural. Kesalahan interpretasi dapat terjadi jika kita membunyikan garpu tala terlalu keras sehingga kita tidak dapat mendeteksi pada frekuensi berapa pasien tidak mampu lagi mendengar bunyi. Jika tes Rinne positif. Tuli sensorineural. Cara kita melakukan tes batas atas & batas bawah. Jika tes Rinne negatif. Tuli konduktif. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. segera garpu tala kita pindahkan di depan meatus akustikus eksternus pasien. Bunyi garpu tala terlebih dahulu didengar oleh pemeriksa sampai bunyinya hampir hilang. Ada 3 interpretasi dari hasil tes batas atas & batas bawah yang kita lakukan. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tankainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Rinne yang kita lakukan. Hal ini untuk mendapatkan bunyi berintensitas paling rendah bagi orang normal / nilai normal ambang. Segera pindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksternus. yaitu : Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). yaitu : Normal. yaitu : Normal. Jika tes Rinne positif. Setelah pasien tidak mendengar bunyinya. Hal ini dapat . Kita bisa memulainya dari garpu tala berfrekuensi paling rendah sampai garpu tala berfrekuensi paling tinggi atau sebaliknya. Batas bawah naik dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi rendah. Cara kita membunyikan garpu tala yaitu dengan memegang tangkai garpu tala lalu memetik secara lunak kedua kaki garpu tala dengan ujung jari atau kuku kita.

segera garpu tala tersebut kita pindahkan dan letakkan tegak lurus pada planum mastoid pasien. Kesalahan pemeriksaan pada tes Rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun pasien. Tes Weber Tujuan kita melakukan tes Weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Menurut pasien. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Weber yang kita lakukan. Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan garpu tala tidak tegak lurus. verteks. Cara kita melakukan tes Schwabach yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. Telinga kiri dan telinga kanan mengalami tuli sensorineural tetapi telinga kiri lebih parah. Cara kita melakukan tes Weber yaitu membunyikan garpu tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis median (dahi. atau gigi insisivus) dengan kedua kakinya berada pada garis horizontal. yaitu : Normal. yaitu : Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri normal. dagu. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit. Setelah bunyinya tidak terdengar oleh pemeriksa. Apabila pasien masih bisa mendengar bunyinya berarti Scwabach . tangkai garpu tala mengenai rambut pasien dan kaki garpu tala mengenai aurikulum pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garpu tala sudah berhenti saat kita memindahkan garpu tala di depan meatus akustikus eksterna. Tes Schwabach Tujuan kita melakukan tes Schwabach adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dengan pasien. Tuli sensorineural. Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garpu tala saat kita menempatkan garpu tala di planum mastoid pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal. Tuli konduktif. Telinga kanan dan telinga kiri mengalami tuli konduktif tetapi telinga kanan lebih parah. Jika pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sehat. Jika tidak ada lateralisasi. Telinga kanan mengalami tuli konduktif sedangkan telinga kiri mengalami tuli sensorineural. telinga mana yang mendengar atau mendengar lebih keras. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras pada 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua telinga pasien sama-sama tidak mendengar atau sama-sama mendengar maka berarti tidak ada lateralisasi. Misalnya terjadi lateralisasi ke kanan maka ada 5 kemungkinan yang bisa terjadi pada telinga pasien.terjadi manakala telinga pasien yang tidak kita tes menangkap bunyi garpu tala karena telinga tersebut pendengarannya jauh lebih baik daripada telinga pasien yang kita periksa. Telinga kiri mengalami tuli sensorineural sedangkan telinga kanan normal.

Sri Sukesi. Sri Rukmini. segera garpu tala kita pindahkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa. Tuli sensorineural. Sp. Hidung & Tenggorok. dr. Uji berbisik 3. dr. Jika pemeriksa juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach normal. schwabach Weber . dan diperiksa . Audiometrik Garputala terdiri dari satu set.THT. atau pasien lambat memberikan isyarat tentang hilangnya bunyi. Sp. lima buah. Setelah pasien tidak mendengarnya. 1024 Hz dan 2048 Hz. Tuli Konduksi Tes Pendengaran Tuli Sensori Neural Tidak dengar huruf lunak Dengar huruf desis Tes Bisik Dengar huruf lunak Tidak dengar huruf desis Normal Batas Atas Menurun Naik Batas Bawah Normal Negatif Tes Rinne Positif. weber. dengan frekuensi 128 Hz. 256 hz. Untuk tes dengan garputala biasanya dipakai garpu tala 512 Hz. Jakarta : EGC. false positif / false negatif Lateralisasi ke sisi sakit Tes Weber Lateralisasi ke sisi sehat Memanjang Tes Schwabach Memendek Daftar Pustaka Prof. Teknik Pemeriksaan Telinga. Pertama-tama kita membunyikan garpu tala 512 Hz lalu meletakkannya tegak lurus pada planum mastoid pasien.THT & dr. Misalnya tangkai garpu tala tidak berdiri dengan baik.THT.memanjang. Rinne dan Schwabach test PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan : 1. Sri Herawati. Sardjono Soedjak. MHPEd. Sebaliknya jika pasien juga sudah tidak bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek atau normal. Technorati Tags: audiometri. kaki garpu tala tersentuh. yaitu : Normal. Dr. Schwabach memendek. 512 Hz. Ada 3 interpretasi dari hasil tes Schwabach yang kita lakukan.THT. garpu tala. Sebaliknya jika pemeriksa masih bisa mendengar bunyinya berarti Schwabach memendek. Garputala 2. dr. Cara kita memilih apakah Schwabach memendek atau normal yaitu mengulangi tes Schwabach secara terbalik. Sp. 2000. Tuli konduktif. Sp. Schwabach memanjang. rinne. Schwabch normal. Kesalahan pemeriksaan pada tes Schwabach dapat saja terjadi.

sampai pasien mendengar bunyi. Hasil uji berbisik orang normal ialah 5/6 – 6/6 Uji Audiometrik Pemeriksaan dilakukan didalam ruang kedap suara. Uji berbisik Uji berbisik dilakukan di ruang yang cukup tenang. Caranya garputala digetarkan kemudian diletakkan pada garis tengah seperti di ubun-ubun. makin lama pemeriksa makin mendekat. Bila lebih keras ke kanan disebut lateralisasi ke kanan. Setelah pasien mengatakan tidak mendnegar lagi. ketika dipegang di dekat liang telinga akan terdengar lagi. Caranya ialah. Uji Schwabach Membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Hantaran disini ialah hantaran melalui udara. Pemeriksaan dilanjutkan dengan frekuensi 500 Hz. Pemeriksaan dimulai dengan frekuensi 250 hz. supaya apabila mendengar bunyi segera memencet tombol. diucapkan secara berbisik pada akhir ekspirasi. maka hantaran melalui udara lebih baik dari hantaran melalui tulang. sampai pasien dapat menyebut kata dengan benar. kira-kira 2. asalkan tidak terlalu riuh. maka dikatakan bahwa telinga pasien uji schwabachnya memendek. sedang atau berat. dan apabila bunyi tidak terdengar lagi pencetan pada tombol dihentikan. Caranya ialah garputala digetarkan. tidak perlu di ruang kedap suara. maka dasar garputala diletakkan ke tulang belakang telinga pemeriksa. dengan panjang 6 meter. . Mula-mula diperiksa hantaran melalui udara (AC) dengan memakaikan headphone pada pasien. lalu diletakkan pada tulang di belakang telinga dengan demikian getaran melalui tulang akan sampai ke telinga dalam. Pemeriksa duduk ke samping. Setelah itu headphone diganti dengan konduktor tulang yang dilekatkan pada ujung tulang mastoid di belakang telinga untuk memeriksa hantaran tulang (BC) dan dilakukan pemeriksaan seperti pada pemeriksaan AC. Pasien harus mengulangi apa yang disebut pemeriksa. Juga dapat terlihat apakah kurang dengarnya ringan. Apabila pemeriksa masih dapat mendengar bunyi. Pasien diberi tahu. atau pertengahan gigi seri. dahi. kemudian intensitas dinaikkan mulai dari 0 desibel.Pemeriksa mengucapkan kata yang terdiri dari 2 suku kata. 1000 Hz. kemudian telinga kiri. Apabila pasien tidak mendengar bunyi dari garputala yang digetrakan itu. sedangkan telinga yang sebelah lagi ditutup dengan jarinya. Dimulai sejak jarak 6 meter. Ada 3 macam pemeriksaan: a. sampai 8000 Hz. Pasien dengan gangguan pendengaran akan mengatakan bahwa salah satu telinga lebih jelas mendengar bunyi garputala itu. Pada pasien yang pendengarannya masih baik.5 cm jaraknya dari liang telinga. disebut uji rinne positif b. Jadi garputala yang tadi diletakkan di tulang telinga belakang telinga tidak terdengar lagi. Uji Weber Membandingkan hantaran tulang telinga kanan dengan teling akiri. Pada telinga kanan. lalu dasarnya ditempelkan pada tulang di belakang telinga passion. 1500 Hz. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui apakah pasien mempunyai pendengaran normal. Uji Rinne Membandingkan hantaran melalui udara dan melalui tulang. maka garputala dipindahkan ke depan liang telinga. garputala digetarkan . telinga yang akan diperiksa ke ruang yang 6 meter itu. c. Pada orang normal akan mengatakan bahwa tidak mendengar perbedaan bunti kiri dan kanan. tuli saraf (sensorineural) atau tuli campur. tuli hantar (konduktif).di ruang periksa.

Bila suara disebut berasal dari sisi yang terlibat atau rusak. Diagnosa Fisik (Physic Diagnostic) PENDAHULUAN Pemeriksaan fisik berasal dari kata physical examination berarti memeriksa tubuh dengan atau tanpa alat untuk mendapatkan informasi yang menggambarkan kondisi pasien pemeriksaan fisik merupakan salah satu bagian dari rangkaian pengkajian. perkusi dan auskultasi 1. tes Weber adalah positif. Inspeksi Adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat . PEMERIKSAAN FISIK TEHNIK PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan dengan 4 cara : Inspeksi. penampilan umum. dan psikomotor dari pemeriksa sampai pada meng-interprestasikan dan meng-integrasikan data temuan satu dengan data temuan yang lainnya. • Lakukan inspeksi secara sistematis. Jika pasien melaporkan bahwa suara berasal dari garis tengah dahi. Langkah kerja : • Atur pencahayaan yang cukup • Atur suhu dan suasana ruangan nyaman • Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien • Buka bagian yang diperiksa • Perhatikan kesan pertama pasien : perilaku. afektif. Dalam pelaksanaannya pemeriksaan fisik bersamaan dengan metode pengumpulan data lainnya seperti wawancara (anamnesa). tes ini dikatakan negatif. suara terlateralisasi ke sisi berlawanan. Kemampuan dokter melakukan pemeriksaan fisik secara komprehensip sangat diperlukan karena data yang diperolah dari pemeriksaan fisik ini akan menjadi dasar dalam penentuan masalah. untuk itu dokter juga harus menguasai tehnik anamnesa yang benar dan pengamatan yang akurat sesuai dengan kondisi pasien. . Untuk dapat memahami pemeriksaan fisik yang baik dan benar dibutuhkan pemahaman terhadap konsep anatomi. fisiologi tubuh manusia dan patofisiologi serta didukung oleh ketrampilan melalui latihan – latihan sehingga menjadi terbiasa. palpasi. dan observasi. Dalam pemeriksaan fisik juga diperlukan integrasi aspek kognitif. bila perlu bandingkan bagian sisi tubuh pasien. postur tubuh. Ketika ada penyakit koklea atau tuli saraf.Definisi:Tes Weber Tes Weber adalah menempatkan sebuah garpu tala bergetar di tengah dahi pasien. ekspresi. tidak ada penurunan konduksi udara.

4. untuk menentukan ukuran. Auskultasi Adalah pemeriksaan mendengarkan suara dalam tubuh dengan menggunakan alat STETOSKOP.4 bersama --> menentukan konsistensi dan kualitas benda • Jari dan telapak tangan --> merasakan getaran • Sedikit tekanan --> menentukan rasa sakit 3. konsistensi dan permukaan : • Jari telunjuk dan ibu jari --> menentukan besar/ukuran • Jari 2. Perkusi Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan cara perantara jari tangan. serta kulit dan tulang kepala 4. Atur posisi pasien duduk. Inspeksi keadaan muka pasien secara sistematis. dengan ujung jari tekan pada permukaan yang akan diperkusi. menggunakan rasa propioseptif ujung jari dan tangan. Cara Kerja : • Lepas Pakaian sesuai dengan keperluan • Luruskan jari tengah kiri . Lakukan inpeksi rambut dan rasakan keadaan rambut.3. bentuk.2. STETOSKOPBagian-bagian stetoskop : • Ear Pieces --> dihubungkan dengan telinga • Sisi Bell ( Cup ) --> pemeriksaan thorak atau bunyi dengan nada rendah • Sisi diafragma ( membran ) --> Pemeriksaan abdomen atau bunyi dengan nada tinggi. untuk mengetahui keadaan organ-organ didalam tubuh. . Palpasi Adalah pemeriksaan dengan perabaan. • Lakukan ketukan dengan ujung jari tengah kanan diatas jari kiri. dengan menggunakan pergerakan pergelangan tangan. Bila pakai kaca mata dilepas 3. atau berdiri 2. dengan lentur dan cepat. Cara kerja : • Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi • Cuci tangan • Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya • Yakinkan tangan hangat tidak dingin • Lakukan perabaan secara sistematis . PEMERIKSAAN KEPALA DAN LEHER KEPALA Cara Kerja : 1. Cara Kerja : • Ciptakan suasana tenang dan aman • Pasang Ear piece pada telinga • Pastikan posisi stetoskop tepat dan dapat didengar • Pada bagian sisi membran dapat digosok biar hangat • Lakukan pemeriksaan dengan sistematis sesuai dengan kebutuhan. • Lakukan perkusi secara sistematis sesuai dengan keperluan.

MATAA. Bola mata Cara Kerja : 1. Inspeksi keadaan bola mata, catat adanya kelainan : endo/eksoptalmus, strabismus. 2. Anjurkan pasien memandang lurus kedepan, catat adanya kelainan nistagmus. 3. Bedakan antara bola mata kanan dan kiri 4. Luruskan jari dan dekatkan dengan jarak 15-30 cm 5. Beritahu pasien untuk mengikuti gerakan jari, dan gerakan jari pada 8 arah untuk mengetahui fungsi otot gerak mata. B. Kelopak Mata 1. Amati kelopak mata, catat adanya kelainan : ptosis, entro/ekstropion, alismata rontok, lesi, xantelasma. 2. Dengan palpasi, catat adanya nyeri tekan dan keadaan benjolan kelopak mata C. Konjungtiva, sclera dan kornea 1. Beritahu pasien melihat lurus ke depan 2. Tekan di bawah kelopak mata ke bawah, amati konjungtiva dan catat adanya kelainan : anemia / pucat. ( normal : tidak anemis ) 3. Kemudian amati sclera, catat adanya kelainan : icterus, vaskularisasi, lesi / benjolan (normal : putih ) 4. Kemudian amati sklera, catat adanya kelainan : kekeruhan ( normal : hitam transparan dan jernih )

D. Pemeriksaan pupil 1. Beritahu pasien pandangan lurus ke depan 2. Dengan menggunakan pen light, senter mata dari arah lateral ke medial 3. Catat dan amati perubahan pupil : lebar pupil, reflek pupil menurun, bandingkan kanan dan kiri Normal : reflek pupil baik, isokor, diameter 3 mm Abnormal : reflek pupil menurun/-, Anisokor, medriasis/meiosis

E. Pemeriksaan tekanan bola mata Tampa alat : Beritahu pasien untuk memejamkan mata, dengan 2 jari tekan bola mata, catat adanya ketegangan dan bandingkan kanan dan kiri. Dengan alat : Dengan alat Tonometri ( perlu ketrampilan khusus ) F. Pemeriksaan tajam penglihatan 1. Siapkan alat : snelen cart dan letakkan dengan jarak 6 meter dari pasien. 2. Atur posisi pasien duduk/atau berdiri, berutahu pasien untuk menebak hurup yang ditunjuk perawat. 3. Perawat berdiri di sebelah kanan alat, pasien diminta menutup salah satu mata ( atau dengan alat penutup ). 4. Kemudian minta pasien untuk menebak hurup mulai dari atas sampai bawah. 5. tentukan tajam penglihatan pasien

G. 1. 2. 3. 4. 5.

Pemeriksaan lapang pandang perawat berdiri di depan pasien bagian yang tidak diperiksa ditutup Beritahu pasien untuk melihat lurus kedepan ( melihat jari ) Gerakkan jari kesamping kiri dan kanan jelaskan kepada pasien, agar memberi tahu saat tidak melihat jari

TELINGA • Pemeriksaan daun telinga, lubang telinga dan membran tympani 1. Atur posisi pasien duduk 2. Perawat berdiri di sebelah sisi pasien, amati daun telinga dan catat : bentuk, adanya lesi atau bejolan. 3. tarik daun telinga ke belakang atas, amati lubang telinga luar , catat adanya : lesi, serumen, dan cairan yang keluar. 4. Gerakkan daun telinga, tekan tragus dan catat adanya nyeri telinga. Catat adanya nyeri telinga. 5. Masukkan spikulum telinga, dengan lampu kepala / othoskop amati lubang telinga dan catat adanya : cerumen atau cairan, adanya benjolan dan tanda radang. 6. Kemudian perhatikan membrane tympani, catat : warna, bentuk, dan keutuhannya. (normal : warna putih mengkilat/transparan kebiruan, datar dan utuh ) 7. Lakukan prosedur 1-6 pada sisi telinga yang lain.

• Pemeriksaan fungsi pendengaran Tujuan : menentukan adanya penurunan pendengaran dan menentukan jenis tuli persepsi atau konduksi. Tehnik pemeriksaan : 1. Voice Test ( tes bisik ) Test ini amat penting bagi dokter umum terutama yang bertugas di puskesmas-puskesmas, dimana peralatan masih sangat terbatas untuk keperluan testpendengaran. Persyaratan yang perlu diingat dalam melakukan test ini ialah : a. Ruangan Test Salah satu sisi atau sudut menyudut ruangan harus ada jaraksebesar 6 meter. Ruangan harus bebas dari kebisingan. Untuk menghindarigema diruangan dapat ditaruh kayu di dalamnya.b. b. Pemeriksa Sebagai sumber bunyi harus mengucapkan kata-kata denganmenggunakan ucapan kata-kata sesudah expirasi normal.Kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 2 suku kata (bisyllabic) yang terdiridari kata-kata sehari-hari. Setiap suku kata diucapkan dengan tekanan yang sama dan antara dua suku kata bisyllabic “Gajah Mada P.B.List” karena telahditera keseimbangan phonemnya untuk bahasa Indonesia. c. Penderita Telinga yang akan di test dihadapkan kepada pemeriksa dantelinga yang tidak sedang ditest harus ditutup dengan kapas atau oleh tangansi penderita sendiri. Penderita tidak boleh melihat gerakan mulut pemeriksa. Cara pemeriksaan. Sebelum melakukan pemeriksaan penderita harus diberi instruksi yang jelasmisalnya anda akan dibisiki kata-kata dan setiap kata yang didengar harusdiulangi dengan suara keras. Kemudian dilakukan test sebagai berikut :

a. Mula-mula penderita pada jarak 6 meter dibisiki beberapa kata bisyllabic.Bila tidak menyahut pemeriksa maju 1 meter (5 meter dari penderita) dan testini dimulai lagi. Bila masih belum menyahut pemeriksa maju 1 meter, dandemikian seterusnya sampai penderita dapat mengulangi 8 kata-kata dari 10kata-kata yang dibisikkan. Jarak dimana penderita dapat menyahut 8 dari 10kata diucapkan di sebut jarak pendengaran.b. b. Cara pemeriksaan yang sama dilakukan untuk telinga yang lain sampaiditemukan satu jarak pendengaran. Evaluasi test. 6 meter - normalb. 5 meter - dalam batas normalc. 4 meter - tuli ringand. 3 – 2 meter - tuli sedange. 1 meter atau kurang - tuli berat. Dengan test suara bisik ini dapat dipergunakan untuk memeriksa secara kasarderajat ketulian (kuantitas). Bila sudah berpengalaman test suara bisik dapatpula secara kasar memeriksa type ketulian misalnya : a. Tuli konduktif sukar mendengar huruf lunak seperti n, m, w (meja dikatakanbecak, gajah dikatakan kaca dan lain-lain). b. Tuli sensori neural sukar mendengar huruf tajam yang umumnyaberfrekwensi tinggi seperti s, sy, c dan lain-lain (cicak dikatakan tidak, kacadikatakan gajah dan lain-lain) 2. Test garputala • Rinne test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang dengan hantaran udarapada satu telinga. Pada telinga normal hantaran udara lebih panjang darihantaran tulang. Juga pada tuli sensorneural hantaran udara lebih panjangdaripada hantaran tulang. Dilain pihak pada tuli konduktif hantaran tulang lebihpanjang daripada hantaran udara. Cara pemeriksaan. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz disentuh secara lunakpada tangan dan pangkalnya diletakkan pada planum mastoideum daritelinga yang akan diperiksa. Kepada penderita ditanyakan apakahmendengar dan sekaligus di instruksikan agar mengangkat tangan bila sudah tidak mendengar. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala dipindahkanhingga ujung bergetar berada kira-kira 3 cm di depan meatus akustikuseksternus dari telinga yang diperiksa. Bila penderita masih mendengardikatakan Rinne (+). Bila tidak mendengar dikatakan Rinne (-). Evaluasi test rinne. Rinne positif berarti normal atau tuli sensorineural. Rinnenegatif berarti tuli konduktif. Rinne Negatif Palsu. Dalam melakukan test rinne harus selalu hati-hatidengan apa yang dikatakan Rinne negatif palsu. Hal ini terjadi pada tulisensorineural yang unilateral dan berat.Pada waktu meletakkan garpu tala di Planum mastoideum getarannya ditangkap oleh telinga yang baik dan tidak di test (cross hearing). Kemudiansetelah garpu tala diletakkan di depan meatus acusticus externus getarantidak terdengar lagi sehingga dikatakan Rinne negative.

Normalnya : pasien masih mendengar saat ujung garputala didekatkan pada lubang telinga. • Weber test Prinsip test ini adalah membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan kanan.Telinga normal hantaran tulang kiri dan kanan akan sama.

kiri tuli sensory neural 4. Schwabach memanjang berarti penderita masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli konduktif 8.Kemudian kepada penderita ditanyakan apakah mendengar. Telinga kanan tuli konduktif.Bila penderita tidak mendengar lagi dikatakan schwabach normal dan bilamasih mendengar dikatakan schwabach memanjang. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuhdiletakkan pangkalnya pada dahi atau vertex.Ada 2 kemungkinan pemeriksa masih mendengar dikatakan schwabachmemendek atau pemeriksa sudah tidak mendengar lagi. Cara pemeriksaan. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Bila mendengar langsung ditanyakan di telinga manadidengar lebih keras. kiri normal 2. Evaluasi Tets Weber. Telinga kanan normal. Bila terdengar lebih keras di kanan disebut lateralisasike kanan. Test Audiometri Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Schwabach normal berarti pemeriksa dan penderita sama-sama tidakmendengar dengungan. Penderita ditanyakan apakahmendengar atau tidak. kiri tuli sensory neural 3. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. Schwabach memendek berarti pemeriksa masih mendengar dengungandan keadaan ini ditemukan pada tuli sensory neural 7. tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. sesudah itusekaligus diinstruksikan agar mengangkat tangannya bila sudah tidakmendengar dengungan. kanan lebih bera 5. Bila penderita mengangkat tangan garpu tala segeradipindahkan ke planum mastoideum pemeriksa. kiri lebih berat Dengan kata lain test weber tidak dapat berdiri sendiri oleh karena tidak dapatmenegakkan diagnosa secara pasti. Kedua telinga tuli konduktif. Kedua telinga tuli sensory neural. . Karena telinga pemeriksa normal berarti telingapenderita normal juga. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Alat ini menghasilkan nadanada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Garpu tala 256 Hz atau 512 Hz yang telah disentuh secaralunak diletakkan pangkalnya pada planum mastoiedum penderita. Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran. Bila terjadi lateralisasi ke kanan maka ada beberapakemungkinan 1. Telinga kanan tuli konduktif. Bila pemeriksa tidakmendengar harus dilakukan cross yaitu garpu tala mula-mula diletakkan pada planum mastoideum pemeriksa kemudian bila sudah tidak mendengarlagi garpu tala segera dipindahkan ke planum mastoideum penderita danditanyakan apakah penderita mendengar dengungan. • Scwabach Test Prinsip tes ini adalah membandingkan hantaran tulang dari penderita denganhantaran tulang pemeriksa dengan catatan bahwa telinga pemeriksa harus normal.Cara pemeriksaan. Evaluasi test schwabach 6.

Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran. kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya. dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi.Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang. sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah : 1. suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone conduction). Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur. audiologis dan pasien yang kooperatif. Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri nada murni. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang. maka derajat ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena . Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda. 2. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Audiometri tutur Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran Kehilangan dalam Desibel Klasifikasi 0-15 Pendengaran normal >15-25 Kehilangan pendengaran kecil >25-40 Kehilangan pendengaran ringan >40-55 Kehilangan pendengaran sedang >55-70 Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat >70-90 Kehilangan pendengaran berat >90 Kehilangan pendengaran berat sekali Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL. Audiometri nada murni Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500. Grafiknya terdiri dari skala decibel. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar.000 Hz. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. 1000-2000. hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 2020. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan sehari-hari. atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman.

Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu : a. Untuk kedokteran klinik Pencegahan. bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dan seterusnya. berbeda dengan audiometri nada murni pada audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai ambang (NPT). Kriteria orang tuli : 1. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. Untuk kedokteran klinik. Dengan demikian. apakah butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar. yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT. Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB 2. . apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi.tuntutan ganti rugi 3. ganti rugi (misalnya dalam bidang kedokteran kehkiman dan asuransi). Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi. Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB 3. memng kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar. tetapi juga jauh diatasnya. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya. b. dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar. khususnya penyakit telinga 2. sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Manfaat audiometri 1. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. apakah ada kotoran telinga (serumen).intensitasnya makin dilemahkan. Untuk kedokteran klinik Kehakiman. 1978) : 1. dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga). 3. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah. Skrinig anak balita dan SD 4. Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB 4. tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. sedangkan intensitas suara barapa saja. apakah ada lubang gendang telinga. Pada audiometri tutur. atau dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan. Mediagnostik penyakit telinga 2. deteksi ktulian pada anak-anak Tujuan Ada empat tujuan (Davis. untuk menentukan penyabab kurang pendengaran. Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat. Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising. pendengar diminta untuk mnebaknya. berarti pendengaran baik. Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari.

Auskultasi : Tempatkan sisi bell pada kelenjar tyroid. ukuran. catat : kebersihan dan bau mulut. massa/benjolan. raba disepanjang trachea muali dari tulang krokoid dan kesamping. Normalnya : tidak lebih dari 4 cm. catat : pembesaran dan tanda radang tonsil. ) dan letakkan penggaris diatasnya. tanda oliver ( pada saat denyut jantung. tentukan batas atas denyut vena jugularis. Normalnya : simetris ditengah. Buka mulut pasien. lesi mukosa 4. trachea tertarik ke bawah ). catat : adanya benjolan . telan ludah. tempelkan jari tengah pada bagian bawah trachea. lesi. Amati bibir. catat : letak trachea.Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan a. gigi berlubang. karies gigi. beritahu pasien merubah posisi ke duduk dan amati pulsasi denyut vena. warna. amati uvula. 7. minta pasien membunyikan huruh “ A “. catat : bentuk dan kesimetrisan Palpasi : Pasien duduk dan pemeriksa di belakang. tentukan batas atas denyut vena. Normalnya : saat duduk setinggi manubrium sternum. kesimetrisan. catat : adanya bising ( normal : tidak terdapat) • Trakhea Inspeksi : Pemeriksa disamping kanan pasien. konsidstensi. catat : merah. Test Kalori MULUT DAN TONSIL 1. Atau Posisi penderita berbaring setengah duduk. gigi palsu. Pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa 2. raba ke atas dan ke samping. Tekan lidah dengan sudip lidah. lesi. jari tengah dan telunjuk ke dua tangan ditempatkan pada ke dua istmus. kering. • Bising Arteri Karotis Tentukan letak denyut nadi karotis ( dari tengah leher geser ke samping ). bentuk. tentukan titik nol ( titik setinggi manubrium s. Letakkan sisi bell . Amati gigi. • JVP ( tekanan vena jugularis ) Posisi penderita berbaring setengah duduk. Test Romberg b. LEHER • Kelenjar Tyroid Inspeksi : Pasien tengadah sedikit. Amati tonsil tampa dan dengan alat cermin. ukur tinggi denyut vena dengan penggaris. 6. 5. catat : kebersihan gisi. sumbing 3. catat : kesimetrisan. cyanosis. Test Fistula c. catat : kesimetrisan dan tanda radang. Minta pasien menjuliurkan lidah.

adanya benjolan ( tentukan konsistensi. kemudian dangkal dan diserta apneu berulang-ulang. emfisema. besar. tumor paru. lakukan palpasi daerah thorax. TBC. misal . paru fibrotik. Normalnya : tidak ada bising. Atur posisi pasien berbaring / setengah duduk . catat adanya bising. 5. abdominal / thorakoabdominal. B. Misal : pada Srtoke. stroke • Cheyne Stokes  napas dalam. pleura Efusi. Atau Dengan posisi duduk merunduk. Acidosis metabolic • Hyperpneu  napas dalam. tumor paru. sehingga ke dua ibu jara berada diatas Procecus Xypoideus. ekspirasi sangat pendek. dan daya kembang paru 4. TBC paru. misal : meningitis • Kusmoul  Pernapasan lambat dan dalam. pneumonie. C. 3. INSPEKSI  Cara Kerja : 1. Atur posisi pasien duduk atau berbaring 2. dengan posisi tangan agak ke atas. Dari arah atas tentukan kesimetrisan dada. pada demam. Dari arah depan tentukan adanya pelebaran vena dada. letakkan ke dua tangan pada punggung di bawah scapula. normalnya : tidak ada. letakkan kedua tangan ke dada.stetoskop di daerah arteri karotis. koma DM. catat . Letakkan kedua tangan seperti pada no 2/3. tumor paru. Posisi pasien dapat duduk dan atau berbaring 2. tidak ada penggunaan otot napas dan retraksi interkostae. misal pada lesi pusat pernapasan. pasien diminta napas biasa. minta pasien untuk bersuara ( 77 ). Dari arah samping dan belakang tentukan bentuk dada. PERKUSI Cara Kerja : 1. Normalnya : simetris. Dengan posisi berbaring / semi fowler. • Asimetris  pneumonie.pada uremia. dengan kecepatan normal • Apneustik  ispirasi megap-megap. Menurun : konsolidasi paru. ginjal. misal . penyakit jantung. misal .  Abnormal : • Tarchipneu  napas cepat ( > 24 X ) . gagal jantung • Bradipneu  napas lambat ( < 16 X ). PEMERIKSAAN THORAX DAN PARU Tujuan Pemeriksaan : • Mengidentifikasi kelaian bentuk dada • Mengevaluasi fungsi paru A. tentukan : kesimetrisan gerak dada. ada masa paru Meningkat : Pleura efusi. • Biot  Dalam dan dangkal disertai apneu yang tidak teratur. 4. mobilitas … ) 3. • Dangkal  emfisema. catat : gerak napas simetris atau tidak dan tentukan daya kembang paru ( normalnya 3-5 cm ). Dari arah depan. tentukan getaran suara dan bedakan kanan dan kiri. adanya nyeri. PALPASI Cara Kerja : 1. catat : gerakan napas dan tanda-tanda sesak napas  Normalnya : Gerak napas simetris 16 – 24 X. koma DM. covenrne paru. efusi pericard/pleura.

catat : suara napas dan adanya suara tambahan. Suara napas Normal : • Trachea brobkhial  suara di daerah trachea. inpirasi spt vesikuler. ascites • Menurun  orang tua. dua. fibrosis 2. …. Missal : fibrosis.Gunakan tehnik perkusi. iga 10 garis skapularis. pneumothorax 3. lakuka perkusi secara merata pada daerah paru. Abnormal : • Suara trac-bronkhial terdengar di daerah bronchus dan paru ( missal . • Krepitasi / rales  berasal daru bronchus. suara belum jelas ( misal : pnemonie lobaris. auskultasi paru secara sistematis pada trachea. inpirasi lebih keras dan pendek dari ekspirasi. emfisema. suara jelas • Egovoni  sengau dan mengeras ( pada efusi pleura + konsolidasi paru ) • Menurun / tidak terdengar  Efusi pleura. konsolidasi. fibrosis ) • Suara bronkhovesikuler terdengar di daerah paru • Suara vesikuler tidak terdengar. Atur posisi pasien duduk / berbaring 2. efusi. pleura menebal • Redup  “bleg” : fibrosis berat. Dengan stetoskop. Kemudian. edema paru • Pekak  seperti bunyi pada paha : tumor paru. dan tentukan batas – batas paru Batas paru normal : • Atas : Fossa supraklavikularis kanan-kiri • Bawah : iga 6 MCL. effuse pleura. kavitas • Kurang resonan  “deg” : fibrosis. iga 8 MAL. • Vesikuler  suara di daerah paru. fibrosis. cavitas paru ) • Pectoriloguy  meningkat sekali. beritahu pasien untuk mengucapkan satu. catat bunyi resonan Vokal : • Bronkhofoni  meningkat. infiltrate. tidak ada suara tambahan Abnormal : • Ronkhi  suara tambahan pada bronchus akibat timbunan lender atau secret pada bronchus. catat adanya perubahan suara perkusi Normalnya : sonor/resonan ( dug ) Abnormal : • Hyperresonan  menggendang ( dang ) : thorax berisi udara. 3. kavitas paru yang berisi cairan ( seperti gesekan rambut / meniup dalam air ) • Whezing  suara seperti bunyi peluid. AUSKULTASI Cara kerja : 1. emfisema Suara tambahan Normal : bersih. paru kiri lebih tinggi Abnormal : • Meningkat  anak. nada rendah inspirasi dan ekspirasi tidak terputus. • Bronkhovesikuler  suara di daerah bronchus ( coste 3-4 di atas sternum ). alveoli. karena penyempitan bronchus dan alveoli. pneumonie. pneumothorax . bronkus dan paru. emfisema. ekspirasi seperti trac-bronkhial. seperti meniup besi. D.

Amati dan catat bentuk precordial jantung Normal  datar dan simetris pada kedua sisi.bersifat tunggal. ASD. kepala ditinggikan 15-30 2.PEMERIKSAAN JANTUNG A. 4. Irama dan frekwensi jantung Normal : reguler ( ritmis ) dengan frekwensi 60 – 100 X/mnt 2. dinding toraks yang tebal. Intensitas bunyi jantung Normal : • Di daerah mitral dan trikuspidalis intensitas BJ1 akan lebih tinggi dari BJ 2 • Di daerah pulmonal dan aorta intensitas BJ1 akan lebih rendah dari BJ 2 3. trikuspidalis.  Splitting BJ 2 fisiologik  normal Spliting BJ2. Amati dan catat pulsasi daerah aorta. Amati dan catat pulsasi apeks cordis Normal  nampak pada ICS 5 MCL selebar 1-2 cm ( selebar ibu jari ). AUSKULTASI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. kemudian napas ditahan sebentar” . Denyut pada apeks kordis 3. dan efusi perikard. Denyut vena hanya dapat dilihat pada vena jugularis interna dan eksterna. nampak meningkat dan bergetar ( Thrill ). Sifat bunyi jantung Normal : . 6. Pemeriksa berdiri sebelah kanan pasien setinggi bahu pasien 3. PS. Amati dan cata pulsasi denyut vena jugularis Normal tidak ada denyut vena pada prekordial. lebar > 2 cm. Denyut nadi pada daerah lain 1. Abnormal  Cekung. Fase Systolik dan Dyastolik Normal : Fase systolik normal lebih pendek dari fase dyastolik ( 2 : 3 ) Abnormal : . terdengar “ sesaat setelah inspirasi dalam “ Abnormal : • Splitting BJ 1 patologik  ganngguan sistem konduksi ( misal RBBB ) • Splitting BJ 2 Patologik : karena melambatnya penutupan katub pulmonal pada RBBB. emfisema. Motivasi pasien tenang dan bernapas biasa 4. Denyut vena Cara Kerja : 1. B. Cembung ( bulging precordial ) 5.Fase systolic memanjang / fase dyastolik memendek . pulmonal. dan ephygastrik NormaL  Hanya pada daerah ictus 7. Bentuk perkordial 2. Sulit dilihat payudara besar. . buka pakaian dan atur posisi pasien terlentang. INPEKSI Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1.Terbelah/terpisah dikondisikan ( Normal Splitting )  Splitting BJ 1 fisiologik  Normal Splitting BJ1 yang terdengar saat “ Ekspirasi maksimal. Abnormal --> bergeser kearah lateroinferior .

Geser pada daerah mitral. lakukan perkusi dan catat perubahan suara perkusi redup. 5. Adanya Bising ( Murmur ) jantung  adalah bunyi jantung ( bergemuruh ) yang dibangkitkan oleh aliran turbulensi ( pusaran abnormal ) dari aliran darah dalam jantung dan pembuluh darah. frekwensi DJ. sehingga terjadi pengisian yang cepat pada ventrikel Normal : tidak terdapat gallop ritme Abnormal : • Gallop ventrikuler ( gallop S3 ) • Gallop atrium / gallop presystolik ( gallop S4 ) • Gallop dapat terjadi S3 dan S4 ( Horse gallop ) Cara Kerja : 1. lebar. Irama Gallop ( gallop ritme )  Adalah irama diamana terdengar bunyi S3 atau S4 secara jelas pada fase Dyastolik. ada thriil / lift 3. irama gallop. catat : adanya pulsasi. Geser pada daerah ephigastrik. shunt/pirau 6. Lakukan perkusi mulai intercota 2 kiri dari lateral ( Ant. Normal : tidak terdapat murmur Abnormal : terdapat murmur  kelainan katub . C. catat : sifat. Dengan menggunakan 3 jari tangan dan dengan tekanan ringan. dan murmur Bj2.Tedengar bunyi “ fruction Rub”  gesekan perikard dg ephicard. Normal  terba di ICS V MCL selebar 1-2cm ( 1 jari ) Abnormal  ictus bergeser kea rah latero-inferior. kemudian ke daerah aorta. kemudian ke daerah mitral. Bila ada murmur ulangi lagi keempat daerah. murmur Bj1. catat mana yang paling jelas. simak Bunyi jantung terutama BJ2. axial line ) menuju medial. 5. kwalitas di banding dg BJ1. sulit diraba Abnormal : mudah / meningkat D. lift/heave. Geser ke daerah ephigastrik. Periksa stetoskop dan gosok sisi membran dengan tangan 2. PERKUSI Cara Kerja : 1. 4. catat perubahan perkusi redup 2. adanya thrill. Normal : teraba. tentukan letak. catat : sifat. kwalitas di banding dg BJ2. tentukan besar denyutan. splitting BJ2.. 3. catat adanya bising aorta. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah pulmonal. splitting BJ1. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah Tricus. simak Bunyi jantung terutama BJ1. 3. palpasi daerah aorta. catat : pulsasi. yang disebabkan karena darah mengalir ke ventrikel yang lebih lebar dari normal. PALPASI Cara Kerja : 1. Tentukan batas-batas jantung . Geser jari ke ICS 3 kiri kemudian sampai ICS 6 . Normal  tidak ada pulsasi 2. pulmo dan trikuspidalis.

PEMERIKSAAN PAYUDARA DAN KETIAK Inspeksi 1. Inspeksi. catat : adanya benjolan. Posisi berbaring. dan catat adanya : benjolan. nyeri tekan. Strie livide/gravidarum. konsistensi dan nyeri. ukuran dan kesimetrisan payudara Normal : bulat agak simetris. jumlah. tanda radang dan lesi. Inspeksi areola mama. menonjol 5. PEMERIKSAAN ABDOMEN Abdomen dibagi menjadi 9 regio : INSPEKSI Cara Kerja : 1. Catat : nyeri dan adanya benjolan • Bila ada benjolan tentukan konsistensi. tanda radang dan lesi 4. • Palpasi daerah ketiak terutama daerah limfe nodi. catat : warna. bantal dikepala dan lutut sedikit fleksi 3. Buka lengan pasien. Kedua lengan. Mulai inspeksi bentuk. PALPASI Cara Kerja : • Lakukan palpasi pada areola. Normal : gelap. Lakukan inspeksi. posisi pasien duduk. disamping atau didada 4. Mintalah penderita untuk menunjukkan daerah sakit untuk dilakukan pemeriksaan terakhir 5. tidak tegang. warna. mobilisasinya. benjolan dan tanda radang. pakaian atas dibuka. besar. Catat : lesi. datar/menonjol/masuk kedalam. 2. bau. dan perhatikan Kedaan kulit dan permukaan perut Normalnya : datar. catat : adanya keluaran. Kandung kencing dalam keadaan kosong 2. amati ketiak. tidak ada lesi Abnormal : • Strie berwarna ungu  syndrome chusing • Pelebaran vena abdomen  Chirrosis • Dinding perut tebal  odema • Berbintil atau ada lesi  neurofibroma • Ada masa / benjolan abnormal  tumor 6. • Lakukan palpasi payudara dengan 3 jari tangan memutar searah jarum jam kea rah areola. kedua tangan rileks disisi tubuh. kecil/sedang/besar 3. Perhatikan bentuk perut Normal : simetris Abnormal : • Membesar dan melebar  ascites • Membesar dan tegang  berisi udara ( ilius ) • Membesar dan tegang daerah suprapubik  retensi urine .

5-35X/mnt Abnormal : • Bising dan peristaltic menurun / hilang  illeus paralitik. . Perhatikan umbilicus. catat gerakan air ( tanda ascites ). catat bising aorta. Normalnya : tidak ada 3. pembesaran organ dalam perut 7. Gunakan stetoskop sisi membrane dan hangatkan dulu 2. kelaparan 3. Dengan merubah posisi/menggerakkan abdomen. PERKUSI Cara Kerja : 1. Beritahu pasien untuk bernapas dengan mulut. Normal : Bunyi “ Klikc Grugles “. gerakan peristaltic pada orang kurus. Normal : tidak ada. AbnormaL: • Terjadi sebaliknya  kelumpuhan otot diafragma • Tegang tidak bergerak  peritonitis • Gerakan setempat  peristaltic pada illius • Perhatikan denyutan pada didnding perut • Normal : dapat terlihat pada ephigastrika pada orang kurus 8. lutut sedikit fleksi. Letakkan stetoskop pada daerah ephigastrik. Cara : • Lakukan perkusi pada MCL kanan bawah umbilicus ke atas sampai terdengar bunyi redup. cata bising dan peristaltic usus. untuk menentukan batas atas • Lakukan perkusi di sekitar daerah 1 dan 2 untuk menentukan batas-batas hepar yang lain. dan adanya masa superficial atau masa feces yang mengeras. PALPASI Cara Kerja : 1. Lakukan palpasi perlahan dengan tekanan ringan. Perhatikan Gerakan dinding perut Normal : mengempis saat ekspirasi dan menggembung saat inspirasi. untuk menentukan batas bawah hepar. catat adanya perubahan suara perkusi : Normalnya : tynpani. lakukan perkusi di daerah hepar untuk menentukan batas dan tanda pembesaran hepar. adanya nyeri tekan. post operasi • Bising meningkat “ metalik sound “  illius obstruktif • Peristaltik meningkat dan memanjang ( borboritmi ) diare. 2. 4. lakukan perkusi dari kwadran kanan atas memutar searah jarum jam. catat adanya tanda radang dan hernia AUSKULTASI Cara Kerja : 1. Lakukan auskultasi pada satu tempat saja ( kuadran kanan bawah ).• Membesar asimetris  tumor. Tentukan ketegangan. Lanjutkan dengan pemeriksaan organ. • Lakukan perkusi daerah paru ke bawah. pada seluruh daerah perut 3. redup bila ada organ dibawahnya ( misal hati ) Abnormal : • Hypertympani  terdapat udara • Pekak  terdapat Cairan 2.

• Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran limfa • Minta pasien napas dalam. konsistensi dan bentuk permukaannya. tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. tidak timbul gerakan 2 ( parese ) : Timbul gerakan tidak mampu melawan gravitasi 3 ( parese ) : Mampu melawan gravitasi 4 ( good ) : mampu menahan dengan tahanan ringan 5 ( Normal ): mampu menahan dengan tahanan maksimal TULANG Hal-hal yang perlu diperhatikan : • Adanya kelainan bentuk / deformitas • Masa abnormal : besar. • Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran hepar. . kontraksi dan tremor. rasakan adanya masa hepar. tonus dan spasme otot • Kekuatan otot UJi Kekuatan Otot Cara kerja : • Tentukan otot/ektrimitas yang akan di uji • Beritahu pasien untuk mengikuti perintah. ukuran dan kesimetrisan otot • Adanya atropi. lunak dan ujung tumpul  hepatomegali • Teraba nyata ( membesar ). ujung tajam. benjolan abnormal. mobilitas • Tanda radang dan fraktur Cara kerja : • Ispkesi tulang. catat adanya deformitas. keras tidak merata. Penilaian : 0 ( Plegia ) : Tidak ada kontraksi otot 1 ( parese ) : Ada kontraksi. konsistensi dan bentuk permukaan. • Palpasi tulang. Normal : tidak teraba / teraba kenyal. Abnormal : • Teraba nyata ( membesar ).Hati • Letakkan tangan kiri menyangga belakang penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas . tentukan kwalitas benjolan. konsistensi. konsistensi dan bentuk permukaannya. pembesaran. Normal : Sulit di raba. pembesaran. • Minta pasien napas dalam. nyeri tekan. tekan segera dengan jari kanan secara perlahan. krepitasi. dan pegang otot dan lakukan penilaian. saat pasien melepas napas. teraba bila ada pembesaran PEMERIKSAAN SISTEM MUSKULOSKELETAL OTOT Hal – hal yang perlu diperhatikan : • Bentuk.obliq ) di daerah tempat redup hepar bawah / di bawah kostae. rasakan adanya masa hepar. tentukan besar. ujung ireguler  hepatoma Lien • Letakkan tangan kiri menyangga punggung kanan penderita pada coste 11 dan 12 • Tempatkan ujung jari kanan ( atas . saat pasien melepas napas. tanda radang.obliq ) di bawah kostae kanan.

dan palpasi adanya nyeri tekan • Palpasi dan gerakan sendi. PEMERIKSAAN KHUSUS 1. eskoriasi. bentuk Lesi • Lesi Primer : bulla. ulceratif. fissura. pigmentasi. distribusi dan konfigurasinya. Angkat Tungkai Lurus • Angkat tungkai pasien. papula. tentukan : 1. Tekstur dan konsistensi Normal : halus dan elastis Abnormal : kasar. Tanda BALON Tekan kantung suprapatela dengan jari tangan. PEMERIKSAAN SISTEM INTEGUMEN KULITInspeksi 1. scar. fleksi. Warna kulit Normal : nampak lembab. ekstensi. catat : krepitasi. luruskan sampai timbul nyeri. • Abnormal : Baal / kesemutan pada jari-jari dan tangan. Uji CTS ( Carpal Tunnel Syndrome ) Uji PHALEN’S • Fleksikan pergelangan tangan ke dua tangan dengan sudut maksimal. inverse/eversi. plaque. peradangan 3. Unilateral. 2. jari yang lain meraba adanya cairan. hypopigmentasi. elastisitas menurun. General. pronasi/supinasi. Tekstur kulit Normal : tegang dan elastis ( dewasa ). vesikel. lichenifikasi. elastisitas meningkat ( tegang ) . tahan selama 60 detik. protaksi. Uji TINEL’S • Lakukan perkusi ringan di atas syaraf median pergelangan tangan • Abnormal : ada kesemutan atau kesetrum 3. crusta. lembek dan kurang elastis ( orang tua ) Abnormal : menurun  dehidrasi. Kelainan / lesi kulit Normal : tidak terdapat Abnormal : Terdapat lesi kulit. adanya kekakua sendi dan nyeri gerak • Tentukan ROM sendi : Rotasi. nodula. Kemerahan Abnormal : cyanosis / pucat 2. macula. pustula • Lesi Sekunder : Tumor.PERSENDIAN Hal-hal Yang perlu diperhatikan : • Tanda-tanda radang sendi • Bunyi gerak sendi ( krepitasi ) • Stiffnes dan pembatasan gerak sendi ( ROM ) Cara Kerja : • Ispeksi sendi terhadap tanda radang. Soliter. Bergerombol Palpasi 1. nampak tegang  odema. erosi. dorsofleksikan tungkai kaki • Abnormal : nyeri tajan ke rah belakang tungkai  ketegangan / kompresi syaraf 2.

Adanya hyponestesia/anestesia 5. Persiapan sebelum pemeriksaan: . edema. hangat Abnormal : pucat. dingin  kekurangan oksigen CR ( capilari Refiil ) • Tekan Ujung jari berarapa detik. atau benjolan. lesi. atau iritasi. Normal : tidak pucat. Tujuan Pemeriksaan Genetalia: • Melihat dan mengetahui organ organ yang termasuk dalam genetalia • Mengetahui adanya abnormalitas pada genetalia. catat warna dan suhu . • Melakukan perawatan genetalia • Mengetahui kemajuan proses persalinan pada ibu hamil atau persalinan Metode yang Digunakan pada pria: • Inspeksi • Palpasi Metode yang digunakan pada wanita: • Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar dan bagian dalam. dehidrasi 4. warna dan pertumbuhan rambut PEMERIKSAAN FISIK GENITALIAUntuk mengetahui apakah pasien mempunyai masalah dengan genetalia (alat vital) baik intern/ekstern. infeksi. dahi amati adanya lekukan ( pitting ) Normal : tidak ada pitting Abnormal : terdapat pitting ( non pitting pada beri-beri ) KUKU • Observasi warna kuku. Suhu Normal : hangat Abnormal : dingin ( kekurangan oksigen/sirkulasi ). luka. bentuk kuku. kemudian lepas. suhu meningkat ( infeksi ) 3. Turgor kulit Normal : baik Abnormal : menurun / jelek  orang tua. ODEM • Tekan beberapa saat kulit tungkai.2. pengeluaran cairan atau darah dan sebagainya. tanda radang Abnormal : • Jari tabuh ( clumbing Finger )  penykait jantung kronik • Puti tebal  jamur RAMBUT TUBUH • Ispeksi distribusi. Adanya nyeri Pemeriksaan Khusus AKRAL • Ispeksi dan palpasi jari-jari tangan. catat perubahan warna Normal : warna berubah merah lagi < 3 detik Abnormal : > 3 detik  gangguan sirkulasi. Tumor. elastisitas kuku. perut. misalnya varises.

Lubang uretra normalnya terletak di tengah kepala penis. benjolan . Bantu mengatur posisi litotomi. dan ekskorasi. amati lubang uretra dan kepala penis untuk mengetahui adanya ulkus. 2) Menyiapkan tempat yang nyaman sehingga dapat menjaga privasi pasien. .penis dapat dibuka oleh pasien sendiri ). fisura. 2) Palpasi a) Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya nyeri tekan. b) Perawat meminta pasien untuk berkemih sebelum pemeriksaan. dan kelicinannya. Langkah pemeriksaan fisik genitalia Pada Pria : 1) Inspeksi a) Pertama tama inspeksi rambut pubis. eritema. dan berukuran sekitar 2-4 cm. d) Amati kulit dan area pubi. Palpasi tiap testis dan perhatikan ukuran. leukoplakia. atau nodular. c) Bantu pasien melakukan posisi litotomi di tempat tidur atau meja periksa untuk pengkajian genital eksternal. dan rabas ( bila pasien malu. c) Mulai dengan mengamati rambut pubis.1) Menyiapakan alat yang digunakan: a) Lampu yang dapat diatur pencahayaanya b) Handscone atau sarung tangan c) Meja pemeriksaan dengan sanggurdi. ukuran. dan selimuti bagian yang tidak diamati. dan adanya kelainan lain yang tampak pada penis. d) Meminta ijin pada pasien jika melakukan pengkajian. d) Palpasi saluran sperma dengan jempol dan jari telunjuk. Bila diperlukan urine untuk specimen laboratorium. tidak ada benjolan atau massa. f) Menjaga privasi pasien. licin. Pada beberapa kelainan lubang uretra ada yang terletak di bawah batang penis ( hipospadia ) dan ada yang terletak di atas batang penis ( epispadia ) d) Inspeksi skotrum dan perhatikan bila ada tanda kemerahan. c) Papasi epidemis yang memanjang dari puncak testis ke belakang. peradangan. bentuk. Saluran sperma biasanya ditemukan pada puncak bagian lateral skrotum dan teraba lebih keras daripada epidedimis. c) Pada pria yang tidak dikhitan. b) Inspeksi kulit. perhatikan penyebaran dan pola pertumbuhan rambut pubis. 3) Hal yang harus diperhatikan: a) Pengkajian dilakukan sesuai kebutuhan dengan tetap menjga kesopanan dan harga diri pasien dan perawat. dan bandingkan sesuai usia perkembangan pasien. benjolan. Catat bila rambut pubis tumbuh sedikit atau tidak sama sekali. Testis normalnya teraba elastis. b) Palpasi stroktum dan testis dengan menggunakan jempol dan tiga jari pertama. Angkat skrotrum dan amati area di belakang skrotrum. pegang penis dan buka kulup penis. eksoriasi. spatula plastic. Normalnya epididimis teraba lunak. Pada Wanita: 1. jaringan parut. Pengkajian alat kelamin wanita bagian luar: a) Beri kesempatan kepada pasien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum pengkajian dimulai. e) Perawat harus dapt memeberi penjelasan kepada pasien tentang tujuan pengkajian sehingga pasien dapat diajak bekerja sama dan tidak merasa malu. b) Anjurkan pasien membuka celana. konstitensi. ulkus. perhatikan distribusi dan jumlahnya. dan kemungkinan adanya cairan kental yang keluar. perhatikan adana lesi. baskom. bengkak.

dan amati bagian dalam labia mayora. dan tarik keluar secara perlahan-lahan. temperature. l) Palpasi serviks dengan dua jari anda dan perhatikan posisi.e) Buka labuia minora.dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. k) Lakuakan palpasi secara bimanual bila diperlukan dengan cara memakai sarung tangan steril. e) Yakinkan bahwa tidak ada rambut pubis pada pintu vagina dan masukkan speculum dengan sudut 45° dan hati-hati dengan menggunakan tangan yang satunya sehingga tida menjepit rambut pubis atau labia. dan identifikasi kelunakan serta permukaan serviks. konsistensi. j) Bila sudah selesai. Normalnya bentuk serviks melingkar atau oval pada nulipara. klitoris. letakkan pada serviks dan kunci bilah sehingga tetap membuka. Tangan yang ada diluar letakkan di abdomen dan tekankan ke bawah.klitoris. laserisasi. ukuran. massa. konsistensi. rabas. b) Lumasi jari telunjuk Anda dengan air steril. Pengkajian alat kelamin bagian dalam a) Atur posisi pasien secara tepat dan pakai sarung tangan steril. f) Bila spekulum sudah berada di vagina.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot. ulkus. kendurkan sekrup speculum. Keluarkan jari bila sudah selesai. Perhatikan setiap ada pembengkakan. dan meatus uretra. bentuk. labia minora. dan mobilitasnya. dan putar speculum kea rah posisi horizontal dan pertahankan penekanan pada sisi bawah / posterior. Normalnya serviks dapat digerakkan tanpa terasa nteri. dan nyeri tekan ( normalnya tidak teraba) ulangi untuk ovarium sebelahnya. c) Siapkan speculum dengan ukuran dan bentuk ang sesuai dan lumasi dengan air hangat terutama bila akan mengambil specimen. konsistensi. . Palpasi ovarium kanan untuk mengetahui ukuran. 2. mobilitas. regularitas.dan tes keseimbangan. rasa. nodular. melumasi jari telunjuk dan jari tengah. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri. dan warna serviks . Palpasi uterus untuk mengetahui ukuran. h) Bila serviks sudah terlihat. sedangkan pada para membentuk celah. ambil dengan cara usapan menggunakan aplikator dari kapas. atur lampu untuk memperjelas penglihatan dan amati ukuran. bentuk. gerak dan tekanan. Tindakan ini bermanfaat untuk mempergunakan dan memilih speculum yang tepat. g) Buka bilah speculum. rabas atau nodular. kemudian memasukkan jari tersebut ke lobang vagina dengan penekanan ke arah posterior. mobilitas. PEMERIKSAAN FISIK EKSTREMITAS Ekstremitas atas • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan tangan. keluarkan dua jari Anda. i) Bila diperlukan specimen sitologi. Tangan yang ada di abdomen tekankan ke bawah kea rah kuadran kanan bawah. dan neri tekan. masukkan ke dalam vagina. m) Palpasi uterus dengan cara jari-jari tangan yang ada dalam vagina menghadap ke atas. sentuhan. tutup speculum. d) Letakkan dua jari pada pintu vagina dan tekankan ke bawah kea rah perianal. massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot. dan meraba dinding vagina untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan nodular. n) Palpasi ovarium dengan cara menggeser dua jari yang ada dalam vagina ke formiks lateral kanan. erosi.

3) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien.dan tes keseimbangan. Saat otot dan tendon di regangkan selama pengujian refleks. maka diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 90 derajat dan rileks. 4) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot biseps.Ekstremitas bawah • • • Inspeksi : bagaimana pergerakan kaki. sentuhan. Pemeriksaan Refleks Otot Biseps 1) Posisi pasien tidur terlentang dan siku kanan yang akan diperiksa. 2) Bila siku tangan kanan yang akan diperiksa. diletakan diatas perut dalam posisi fleksi 60 derajat dan rileks. temperature. . rasa. Respon repleks pada ekstremitas bawah berkurang sebelum ekstremitas-ekstremitas atas terpengaruh (Seidel et al.melakukan pemeriksaan tonus kekuatan otot. 6) Terlihat gerakan fleksi pada siku akibat kontraksi otot biseps dan terasa tarikan tendon otot biseps dibawah telunjuk pemeriksa. maka akan teraba keras bila siku difleksikan. 2) Pemeriksa berdiri dan menghadap pada sisi kanan pasien.dan kekuatan otot Palpasi : apakah ada nyeri tekan. 1991).. 5) Letakan jari telunjuk kiri pemeriksa diatas tendon otot triseps. Pengujian refleks tidak berarti menentukan pungsi saraf pusat. Pemeriksaan Refleks Repleks biasanya tidak terlalu singkat terjadinya pada pasien yang lebih dewasa. Kemudian sebuah saraf motor mengirim implus kembali ke otot dan menyebabkan respon refleks terjadi. Pemeriksaan Refleks Otot Triseps 1) Posisi pasien tidur terlentang. Implus-implus bergerak ke saraf motor eferen dalam batang spinal. implus-implus saraf merambat sepanjang jalur saraf aferen ke bagian dorsal segmen batang spinal. • Reflex : memulai reflex fisiologi seperti biceps dan triceps • Sensorik : apakah pasien dapat membedakan nyeri. 5) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan. 7) Terlihat gerakan ektensi pada siku akibat kontraksi otot triseps dan terasa tarikan tendon otot triseps dibawah telunjuk pemeriksa. Menimbulkan reaksi repleks memungkinkan perawat untuk mengkaji integritas jalur-jalur sensori dan gerak dari lengkung repleks dan segmen batang spinal spesifik. gerak dan tekanan. 2) Pemeriksa berdiri pada sisi kanan pasien. Pemeriksaan Refleks Tendon Patela 1) Posisi pasien tidur terlentang atau duduk. 4) Carilah tendon triseps 5 cm diatas siku ( proksimal ujung olecranon ). 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas jari telunjuk kiri pemeriksa. 3) Carilah tendon biseps dengan meraba fossa kubiti. diatas jari telunjuk kiri pemeriksa.massa/benjolan Motorik : untuk mengamati besar dan bentuk otot.

6) Ayunkan reflek hammer diatas tendon achiles. baik pasien dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. lutut pasien fleksi 60 derajat dan bila duduk lutut fleksi 90 derajat. 4) Pergelangan kaki dorsofleksikan dan tangan kiri pemeriksa memegang/ menahan kaki pasien. baik untuk untuk menegakkan diagnosa. 5) Carilah 2 cekungan pada lutut dibawah patela inferolateral/ inferomedial. menentukan masalah dan merencanakan tindakan yang tepat bagi pasien. . untuk memperoleh data yang sistematif dan komprehensif. memastikan/membuktikan hasil anamnesa. tertama pada pasien yang baru masuk ke tempat pelayanan kesehatan untuk di rawat. 6) Ayunkan hammer reflek sebatas kekuatan ayunan pergelangan tangan diatas tendon patella. 7) Terlihat gerakan ektensi pada lutut akibat kontraksi otot quadriseps femoris. 4) Tangan kiri pemeriksa menahan pada fossa poplitea. KESIMPULAN Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu. sewaktu-waktu sesuai kebutuhan pasien. Jadi pemeriksaan fisik ini sangat penting dan harus di lakukan pada kondisi tersebut. 3) Bila pasien tidur terlentang lutut fleksi 90 derajat dan disilangkan diatas kaki berlawanan.3) Bila posisi pasien tidur terlentang. 7) Terasa gerakan plantar fleksi kaki yang mendorong tangan kiri pemeriksa dan tampak kontraksi otot gastrocnemius. diantara 2 cekungan tersebut terdapat tendon patela yang terasa keras dan tegang. Pemeriksaan Refleks Tendon Achiles 1) Pasien tidur terlentang atau duduk. 2) Bila pasien tidur terlentang pemeriksa berdiri dan bila pasien duduk pemeriksa jongkok disisi kiri pasien. Pemeriksaan fisik menjadi sangat penting karena sangat bermanfaat. bila pasien duduk kaki menggelantung bebas. 5) Carilah tendon achiles diantara 2 cekungan pada tumit yang terasa keras dan makin tegang bila posisi kaki dorsofleksi. secara rutin pada pasien yang sedang di rawat. Pemeriksaan fisik Mutlak dilakukan pada setiap pasien.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful