P. 1
Askep - Dehidrasi

Askep - Dehidrasi

|Views: 1,006|Likes:
Published by Dharma Andreyanu

More info:

Published by: Dharma Andreyanu on May 31, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2014

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN DEHIDRASI

Disusun Oleh : 1. Ana Wahyuni 2. Ardiyanto 3. Dinia Fitriyana 4. Farah Mekadina 6. Pujiwati 7. Rohdiana Dwi I 8. Suhendra (G01.2003.01687) (G01.2003.01692) (G01.2003.01700) (G01.2003.01706) (G01.2003.01732) (G01.2003.01733) (G01.2003.01741)

5. Panca Wulandari (G01.2003.01730)

PROGRAM D III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2006

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kekurangan volume cairan terjadi jika air dan elektrolit hilang pada proporsi yang sama ketika mereka berada dalam cairan tubuh normal sehingga rasio elektrolit serum terhadap air tetap sama. Hal ini seharusnya tidak dikacaukan dengan istilah dehidrasi yang mengacu pada semata-mata hilangnya air dengan peningkatan kadar natrium serum FVD mungkin timbul sendiri atau dalam kombinasi dengan ketidakseimbangan yang lain kecuali ketidakseimbangan yang timbul bersama, sama konsentrasi elektrolit serum tetap tidak berubah. Kekurangan volume cairan terjadi akibat hilngnya cairan tubuh dan lebih cepat terjadi jika disatukan dengan penurunan masukan cairan FVD mungkin terjadi semata-mata akibat masukan yang tidak adekuat jika penurunan masukan berlangsung lama. Kekurangan cairan yang tidak normal bisa terjadi akibat muntah-muntah, diare, berkeringat dan penurunan masukan seperti pada adanya mual atau ketidakmampuan untuk memperoleh cairan. Banyak masalah yang mungkin terjadi akibat kurangnya cairan adalah intake yang berkurang dan output yang berlebihan yang berupa muntah, diare, perdarahan. dalam hal ini peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat untuk mengatasi masalah kekurngan volume cairan. Maka dari itu kami membuat asuhan keperawatan tentnag dehidrasi yang kelihatannya sepele padahal sangat berbahaya B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah : 1. Mengetahui gambaran secara umum tentang dehidrasi yang meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik dan penatalaksanaan. 2. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dehidrasi.

BAB III BAB IV Penutup. Studi pustaka berguna untuk mengenal konsep dan teori untuk kemudian menjadi acuan dalam melaksanakan implementasi. pathway keperawatan. . tujuan penulisan. fokus intervensi dan rasional. ruang lingkup. Daftar Pustaka. Sistematika Penulisan BAB I BAB II Pendahuluan yang berisi latar belakang. Konsep Dasar dehidrasi meliputi : pengertian. C. Ruang Lingkup Pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode studi kepustakaan yang merupakan metode pegumpulan data yang mempelajari berbagai sumber buku dan yang berkaitan dengan dehidrasi. penatalaksanaan. Mengetahui permasalahan yang timbul pada pasien dehididrasi dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan. metode penulisan dan sistematika penulisan.3. etiologi / predisposisi. manifestasi klinik. terdiri dari kesimpulan dan saran. patofisiologi. pengkajian fokus. 4. D. Memenuhi tugas mata kuliah KMB I.

1992 : 3). 2003). interstitial atau intra vaskuler (Lynda Jual Carpenito. 2. (Sylvia A. Klasifikasi dehidrasi menurut Donna D. Dehidrasi adalah kekurangan cairan tubuh karena jumlah cairan yang keluar lebih banyak dari pada jumlah cairan yang masuk (Sri Ayu Ambarwati. 3.BAB II KONSEP DASAR A. b. sehingga dipembuluh darah menjadi lebih pekat. maka jenis dehidrasi ini biasnaya tidak mengakibatkan cairan ECF berpindah ke ICF. dapat disimpulkan bawha dehidrasi adalah kekurangan cairan ekstra selular yang mengakibatkan berpindahnya cairan atau hilang dari tubuh. Syaifuddin. 2000 : 139). Price. Volume vaskuler juga menurun serta terjadi pembengkakan sel. Dehidrasi Isotonik Dehidrasi isotonik adalah air yang hilang diikuti dengan elektrolit sehingga kepekatannya tetap normal. Tekanan osmotik ECF menurun mengakibatkan cairan bergerak dari EFC ke ICF. 1994 : 303) Berdasarkan pengertian-pengertian di atas. Dehidrasi adalah suatu gangguan dalam keseimbangan cairan yang disertai dengan output yang melebihi intaks sehingga jumlah air dalam tubuh berkurang (Drs. Dehidrasi adalah kehilangan cairan tubuh isotik yang disertai kehilangan antrium dan air dalam jumlah yang relatif sama. Dehidrasi adalah keadaan dimana seseorang invididu yang tidak menjalani puasa mengalmai atau beresiko mengalmai dehidrasi vaskuler. 4. Ignatavicus ada 3 jenis : a. Dehidrasi Hipotonik Dehidrasi hipotonik adalah kehilangan pelarut dari ECF melebihi kehilangan cairan. . Pengertian dan Klasifikasi Berikut adalah beberapa pengertian tentang dehidrasi : 1.

Diare d. Terapi hipotonik k. Dehidrasi Hipertonik Dehidrasi hipertonik adalah kehilangan cairan ECF melebihi pelarut pada dehidrasi ini non osmotik ECF menurun. Ileustomy (pemotongan usus) g. 1991 : 253). Etiologi Bermacam-macam penyebab dehidrasi menentukan tipe / jenis-jenis dehidrasi (Menurut Donna D. Puasa j. mengakibatkan cairan bergerak dari ICF ke ECF. Diabetes Insipedus hormon ADH menurun d. Rehidrasi cairan berlebih c.c. Muntah c. Dehidrasi hipotonik a. Fistula f. Ignatavicus. Mal nutrisi berat dan kronis 3. Luka bakar i. Diare air c. Penyakit DM b. 1. B. Suction gastrointestinal (cuci lambung) 2. Rehidrasi cairan berlebihan e. Dehidrasi a. Perdarahan b. Diaporesis (keringat berlebihan) h. Disfagia f. Dehidrasi hipertonik a. Hiperventilasi b. Hipersalivasi e. Gangguan rasa haus .

Gangguan kesadaran h.g. Infeksi sistemik : suhu tubuh meningkat. .

muntah. Diuresis osmotik obligatorik juga sering menyebabkan kehilangan Na dan air yang terjadi selama glikosuria pada DM yang tidak terkontrol atau koma hipermosmolar non ketonik pada kasus pemberian makanan tinggi protein secara enternal atau parenteral dapat terbentuk urea dalam jumlah besar yang bisa bertindak sebagai agen osmotik. Na (30-70 m Eg/l) dan klorida. Sehingga dapat menyebabkan kekurangan volume jika asupannya tidak mencukupi. Penyebab tersering kekurangan volume cairan yang juda sering terjadi adalah tersimpannya cairan pada cidera jaringan luna. Kehilangan Na dan air melalui ginjal tanpa adanya penyakit ginjal terjadi pada 3 keadaan yang paling sering adalah pemakaian diuretik yang berlebihan. peritonitis / obstruksi saluran cerna. luka bakar berat. Patofisiologi Kekurangan volume cairan adalah keadaan yang umum terjadi pada berbagai keadaan dalam klinik. Jumlah besar cairan dapat hilang melalui kulit karna penguapan jika luka bakar dirawat dengan metode terbuka. diare. Terkumpulnya cairan di adlam ruang non ECF dan non ECF. Keadaan ini hampir selalu berkaitan dengan kehilangan cairan tubuh melalui ginjal atau di luar ginjal. Pada prinsipnya cairan menjadi terperangkapdan tidak dapat dipakai oleh tubuh. keringat adalah cairan hipotonik yang terdiri dari ari.C. Perdarahan. . terutama tiazid atau diuretik sampai yang kuat seperti furosemid. Penumpulkan volume cairan yang cepat dan banyak pada ruang-ruang seperti beradal dari volume ECF sehingga dapta mengurangi volume sirkulasi darah efektif. bisa terjadi kehilagnan 1 L keringat / jam. Selama latihan berat pada lingkungan yang panas.

Denyut jantung meningkat 2.Apapun penyebab dari kekurangan volume cairan. gelisah b. Turgor kulit kering. Denyut nadi 90-110 x/menit. Haus. 2000) : 1. saluran cerna. Kesadaran baik f. Angiotensin merangsang vasokonstriksi sistemik dan aldosteron meningkatkan reabsorbsi natrium oleh ginjal. Haus meningkat b. otot dan kulit. Dehidrasi ringan (kehilangan cairan 2-5% dari BB semula) a. yang kemudian menginduksi respon simpatis. membran mukosa kering . D. Penurunan tekanan darah dideteksi oleh baroreseptor pada jantung dan arteri karotis dan diteruskan ke pusat vasomotor di batang otak. Nadi cepat dan lemah c. peningkatan denyut dan kontraktilitas jantung bertujuan untuk mengembalikan curah jantung dan perfusi jarignan yang normal. Dehidrasi sedang (kehilangan cairan 5% dari BB semula) a. Karena tekanan arteri ratarata = curah x tahanan perifer total maka penurunan curah jantung mengakibatkan hipotensi. Pengeluaran urine (1300 ml/hari) e. Turgor kulit normal d. Respon berupa vasokonstriksi perifer. sedangkan aliran yang menuju koroner dan otak relatif dipertahankan. Jika terjadi hipovolemi yang lebih berat (1000 ml) maka vasokontriksi dan vasokonstriksi yang diperantai oleh angiotensin II yang meningkat. nafas normal c. Terjadi penahanan aliran darah yang menuju ginjal. Manifestasi Klinis Berikut ini gejala atau tanda dehidrasi berdasarkan tingkatannya (Nelson. berkurangnya volume ECF menganggu curah jantung dengan mengurangi alir balik vene ke jantung sehingga mengakibatkan penurunan curah jantung. Penurunan perfusi ginjal merangsang mekanisme renin-angiotensinaldosteron.

Larutan garam isotonik (0. karena akan menambah volume plasma.d. Ekstremitas dingin E.9%) merupakan cairan infus terpilih untuk kasus-kasus dengan kadar natrium mendekati normal. maka diperlukan pemberian cairan intravena. Pemberian air minum Pemberian air minum yang mengandung natrium cukup memadai untuk mengatasi ketidakseimbangan yang terjadi. 3. Nadi cepat dan halus h. Suhu tubuh meningkat 3. 4. Lemah. Penurunan kesadaran b. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita dehidrasi (Doenges & Sylvia Anderson): 1. Hipotensi g. Mata cekung e. Obat-obatan Antiemetik Untuk mengatasi muntah 2. Takikardi d. lesu c. Pemberian cairan intravena Pada kekurangan cairan yang berat. Segera setelah pasien mencapai normotensi. Dehidrasi berat (kehilangan cairan 8% dari BB semula) a. Pengeluaran urien berkurang e.45%) diberikan untuk menyediakan air bagi sel-sel dan membantu pembuangan produk-produk sisa metabolisme. separuh dari larutan garam normal (0. Obat-obatan anti diare Pengeluaran feces yang berlebihan dapat diberikan obat-obat anti diare serta dapat diberikan oralit. Pengeluaran urine tidak ada f. .

lidah kotor. 2.5. cairan kurang Tanda : BB menurun melebihi 2-8% dari BB semula. Demografi Jenis kelamin : dehidrasi rentan terjadi pada wanita dari pada pria. Pola cairan Gejala : haus berkurang. untuk mengetahui apakah aliran kemih akan meningkat. . Riwayat penyakit dahulu 1) Fistula 2) Ileustomy 3) Suction gastrointestinal 4) DM 5) Diabetes insipedus 6) Perdarahan b. Pemberian bolus cairan IV Pemberian bolus cairan IV awal dalam suatu uji beban cairan. Riwayat Kesehatan a. Umur : sering terjadi pada usia di atas 65 tahun. membran mukosa mulut kering. Pengkajian Fokus 1. yang menunjukkan fungsi ginjal normal. F. Pemeliharaan kesehatan 1) Diet rendah garam 2) Pemasukan cairan kurang terpenuhi c.

Pemeriksaan fisik 1) Kesadaran : apatis-coma 2) Tekanan darah menurun Nadi meningkat Pernafasan cepat dan dalam Suhu meningkat pada waktu awal 3) BB meningkat 4) Turgor menurun 5) Membran mukosa mulut kering 6) CVP menurun e. . Pemeriksaan penunjang Laboratorium 1) Urine a) Osmolalilas kemih > 450 m osmol / kg b) Natrium urine < 10 meg / L (penyebab di luar ginjal) c) Natirum urine > 10 meg / L (penyebab pada ginjal / adrenal) d) OJ urine meningkat e) Jumlah urine menurun (30-50 cc / jam) 2) Darah a) Ht meningkat b) Kadar protein serum meningkat c) Na+ seruim normal d) Rasio buru / kreatin serum > 20 : 1 (N = 10 : 1) e) Glukosa serum : normal / meningkat f) Hb menurun.d.

Pathway Gangguan obsorbsi usus Muntah diare Osmolaritas cairan ekstrasel ↓ Trauma Perdarahan Cairan dari vaskuler ↓ Output >> Luka bakar demam diaporesis >> DM Hiperglikemi Hiperosmolaritas Diuresis osmotik ↑ Poliuri Penggunaan diuretik >> Gangguan pencernaan (disfagia ) puasa Gangguan homonal ADH ↓ Aldosteran ↓ Intake DEHIDRASI Komposisi darah ↓ Regulasi cairan tidak seimbang Cairan interstital ↓ Turgor ↓ Membran mukosa kering Resiko gangguan integritas kulit HB ↓ Anemia Kelemahan Sirkulasi perifer ↓ Sirkulasi darah ke jantung ↓ Tahananan vascular sistemik ↓ c Resiko COP ↓ Komponen darah ↓ HB ↓ Anemia  kolaborasi c Intoleransi aktifitas c Defisit volume cairan Aliran darah ↓ Intoleransi aktivitas .G.

Konsep Keperawatan .H.

pengisian kapiler. S = 36-37oC 3) Capillary refill < 3 detik 4) Akral hangat 5) Urine output 1-2 cc/kg BB/jam Intervensi : 1) Awasi tanda vital. ukur haluaran urine dengan akurat. b. . turgor Rasional : Indikator keadekuatan volume sirkulasi. 2) Awasi jumlah dan tipe masukan cairan. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan turgor kulit menurun. Kriteria hasil : 1) Mempertahankan keseimbangan cairan 2) Tanda vital (N = 80 – 100 x/menit. d. Resiko penurunan COP berhubungan dengan penurunan tahanan vaskuler sistemik. e. Fokus Intervensi dan Rasional a. 1999) Tujuan : Volume cairan adekuat sehingga kekurangan volume cairan dapat teratasi. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan intake yang kurang.1. Diangosa Keperawatan a. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan intake yang kurang (Doenges. 2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik. c. status membran mukosa. Resiko penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran darah. hipotensi data terjadi dengan resiko cedera setelah perubahan posisi.

oral atau N sesuai indikasi Rasional : Dapat mencegah disritmia jantung.Rasional : Pasien tidak mengkonsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit. Misal : jadwal masukan cairan. Tujuan : Mempertahankan / memperbaiki perfusi jaringan. b. penurunan fungsi ginjal dapat meluas mempengaruhi penyembuhan. Rasional : Melibatkan pasien dalam rencana untuk memperbaiki ketidakseimbangan. 5) Kaji hasil tes fungsi elektrolit / ginjal Rasional : Perpindahan cairan / elektrolit. 4) Identifikasi rencana untuk meningkatkan / mempertahankan keseimbangan cairan optimal. kulit tidak pucat. 3) Diskusikan strategi untuk menghentikan muntah dan penggunaan jaksatif / diuratik Rasional : Membantu pasien menerima perasaan bahwa akibat muntah dan / atau penggunaan laksatif / deuratik mencegah kehilangan lebih lanjut. Resiko penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan aliran darah. 6) Berikan / awasi pemberian cairan IV Rasional : Tindakan darurat untuk memperbaiki ketidakseimbangan cairan. 7) Tambahan kalium. Kriteria hasil : 1) Tanda-tanda vital stabil TD = 120/80. .5 – 1. 2) Kulit hangat 3) Nadi perifer teraba 4) Keluaran urine adekuat 0. Nadi = 80-100 h.5 cc / kg / BB 5) CRT < 2 detik.

ubah posisi dengan sering. hipoksia. Rasional : Dapat menunjukkan iskemia jantung sehubungan dengan penurunan perfusi. kualitas. 5) Catat haluran urine dan BJ Rasional : Penurunan perfusi ginjal dimanifestasikan sistemik dapat menyebabkan iskemia/gagal dengan penurunan keluaran urine. Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidakadekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial. lamanya dan apa yang menghilangkan nyeri. pucat. 2) Selidiki keluhan nyeri dada. 7) Awasi nadi oksimetri Rasional : Mengindentifikasi hipoksemia. 3) Auskultasi nadi apikal. catat lokasi. berkeringat. pengisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah lemah. 6) Observasi kulit pucat.6) Kesadaran composmentis 7) Tidak ada nyeri dada Intervensi : 1) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. pijat dengan minyak. kemerahan. ketiseimbangan elektrolit atau pendinginan dekat area jantung bila lavase air dingin digunakan untuk mengontrol perdarahan. 4) Kaji kulit terhadap dingin. Rasional : Vasokontriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan / atau terjadi sebagai efek samping pemberian vasopresin. Rasional : Gangguan pada sirkulasi perifer meningkatkan resiko kerusakan kulit. awasi kecepatan jantung / irama. keluhan pusing. . Rasional : Perubahan disritmia dan iskemi dapat terjadi sebagai akiabt hipotensi. kefektifan / kebutuhan untuk terapi.

5) Tekankan pentingnya masukan nutrisi / cairan adekuat. Kriteria hasil : 1) Turgor kulit baik. tidak ada lecet.8) Berikan cairan IV sesuai indikasi Rasional : Mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi. pucat. Tujuan : Mengindentifikasi dan mempertahankan kulit halus. utuh. Rasional : Area ini meningkat resikonya untuk kerusakan dan memerlukan pengobatan lebih intensif. 2) Dorong mandi tiap 2 hari 1 x Rasional : Sering mandi membuat kulit kering. Rasional : Meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit dengan mencegah tekanan lama pada jaringa. kenyal. Intervensi : 1) Observasi kemerahan. c. kulit utuh. 3) Gunakan krim kulit 2 x sehari Rasional : Melicinkan sirkulasi pada kulit. 4) Diskusikan pentingnya perubahan posisi. . tidak ada kemerahan. meningkatkan tonus kulit. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan turgor kulit menurun. perlu untuk mempertahankan aktifitas. Penggunaan RL di kontraindikasikan pada adanya gagal hati karena metabolisme laktat terganggu. Rasional : Perbaikan nutrisi dan hidrasi akan memperbaiki kondisi klien.

bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif / aktif. menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik Tujuan : Pasien diharapkan mampu meningkatkan toleransi aktifitas. Intervensi : 1) Tingkatkan tirah baring / duduk. tidak ada perubahan EKG. Resiko penurunan COP berhubungan dengan penurunan vaskuler sistemik.d. 4) Periksa tanda vital sebelum dan segera aktifitas khususnya penggunaan diuren. Tujuan : Mempertahankan curah jantung. Kriteria hasil : 1) Tidak ada bunyi jantung tambahan. 5) Kaji ulang tanda / gejala yang menunjukkan tidak toleran terhadap aktifitas atau memerlukan pelaporan pada perawat / dokter. 2) Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai indikasi Rasional : Memungkinkan periode tambahan istirahat gangguan. Rasional : Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktifitas. Berikan lingkungan tenang. Rasional : Meningkatkan istirahat dan ketenganan. Kriteria hasil : 1) Peningkatan kekuatan otot berhubungan dengan tidak diaporesis. Intervensi : tanpa . 3) Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi. Rasional : Palpitasi nadi tak teratur dapat mengindikasikan kebutuhan perubahan program olah raga atau obat. e. Rasional : Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan.

pengisian kapiler. natrium. Rasional : Ketidakseimbagnan dapat mengganggu kondisi elektrikal dan fx jantung. respon terhadap aktifitas Rasional : Kelelahan dapat menyertai anemia. . Rasional : Hipotensi tiba-tiba. kalsium. 4) Awasi pemeriksaan lab. nadi perifer. penyimpangan mental cepat menunjukkan tamponade. suhu. yang merupakan kedaruratan medik. 3) Kaji tingkat aktifitas. frekuensi jantugn tak teratur menunjukkan GGK. contoh : eletkrolit (kalium.1) Auskultasi bunyi jantung dan paru Rasional : Takipnea. nadi paradoksik. TD. penurunan nadi perifer. 5) Catat warna kulit dan kualitas nadi Rasional : Sirkulasi perifer menurun bila curah jantung menurun membuat kulit pucat dan menurunnya kekuatan nadi perifer. 2) Evaluasi bunyi jantung. penyempitan tekanan nadi. pucat. magnesium).

3. Agar dehidrasi tidak berujung pada kematian maka perawat harus mengukur balance cairan. Kaji tingkat kesadaran. Kesimpulan 1. Pantau masukan dan haluran cairan.BAB V PENUTUP A. Saran 1. Dehidrasi lebih mudah menyerang perempuan dibandingkan laki-laki karena tubuh perempuan lebih banyak lemak dari pada laki-laki. Dehidrasi dapat menyerang siapa saja dari anak kecil hingga orang tua dan yang paling sering terkena adalah anak-anak dan orang tua. agar output tidak melebihi input. . 3. 2. 2. Dehidrasi bisa pula berujung pada penurunan kesadaran hingga meninggal dunia. Anjurkan minum 15 menit sekali pada seseorang yang bersiko mengalami dehidrasi. B.

1991. http://www. Smeltzer. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit . . 1994. Ignatavicus. Jakarta : EGC. Tarwoto. Marilyn E. 2001. Volume 2. 2003. WB Saunders Company Inc. Medical Surgical Nursing. Keperawatan Medikal Bedah. jakarta : EGC. Diagnosa Keperawatan. Doenges.DAFTAR PUSTAKA Ambarwati. 1997. Prince. Marylin Varner. Lynda Juall. Bayne. Rencana Asuhan Keperawatan Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Donna D. Edisi 8. 2001. Edisi 1. Jakarta : EGC. C. Suzzone. Sylive A. 1999. Edisi 4.com/kesadaran/0307/14/103451 Carpenito. Sri Ayu. Jakarta : Salemba Merdeka. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.kompas. Jakarta : EGC.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->