ASUHAN KEPERAWATAN DEHIDRASI

Disusun Oleh : 1. Ana Wahyuni 2. Ardiyanto 3. Dinia Fitriyana 4. Farah Mekadina 6. Pujiwati 7. Rohdiana Dwi I 8. Suhendra (G01.2003.01687) (G01.2003.01692) (G01.2003.01700) (G01.2003.01706) (G01.2003.01732) (G01.2003.01733) (G01.2003.01741)

5. Panca Wulandari (G01.2003.01730)

PROGRAM D III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2006

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kekurangan volume cairan terjadi jika air dan elektrolit hilang pada proporsi yang sama ketika mereka berada dalam cairan tubuh normal sehingga rasio elektrolit serum terhadap air tetap sama. Hal ini seharusnya tidak dikacaukan dengan istilah dehidrasi yang mengacu pada semata-mata hilangnya air dengan peningkatan kadar natrium serum FVD mungkin timbul sendiri atau dalam kombinasi dengan ketidakseimbangan yang lain kecuali ketidakseimbangan yang timbul bersama, sama konsentrasi elektrolit serum tetap tidak berubah. Kekurangan volume cairan terjadi akibat hilngnya cairan tubuh dan lebih cepat terjadi jika disatukan dengan penurunan masukan cairan FVD mungkin terjadi semata-mata akibat masukan yang tidak adekuat jika penurunan masukan berlangsung lama. Kekurangan cairan yang tidak normal bisa terjadi akibat muntah-muntah, diare, berkeringat dan penurunan masukan seperti pada adanya mual atau ketidakmampuan untuk memperoleh cairan. Banyak masalah yang mungkin terjadi akibat kurangnya cairan adalah intake yang berkurang dan output yang berlebihan yang berupa muntah, diare, perdarahan. dalam hal ini peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat untuk mengatasi masalah kekurngan volume cairan. Maka dari itu kami membuat asuhan keperawatan tentnag dehidrasi yang kelihatannya sepele padahal sangat berbahaya B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah : 1. Mengetahui gambaran secara umum tentang dehidrasi yang meliputi pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinik dan penatalaksanaan. 2. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dehidrasi.

pathway keperawatan. Ruang Lingkup Pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode studi kepustakaan yang merupakan metode pegumpulan data yang mempelajari berbagai sumber buku dan yang berkaitan dengan dehidrasi. Sistematika Penulisan BAB I BAB II Pendahuluan yang berisi latar belakang. Mengetahui permasalahan yang timbul pada pasien dehididrasi dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan. BAB III BAB IV Penutup. pengkajian fokus. terdiri dari kesimpulan dan saran. Konsep Dasar dehidrasi meliputi : pengertian. 4. etiologi / predisposisi.3. C. manifestasi klinik. fokus intervensi dan rasional. Studi pustaka berguna untuk mengenal konsep dan teori untuk kemudian menjadi acuan dalam melaksanakan implementasi. Daftar Pustaka. Memenuhi tugas mata kuliah KMB I. ruang lingkup. metode penulisan dan sistematika penulisan. tujuan penulisan. . D. patofisiologi. penatalaksanaan.

2000 : 139). dapat disimpulkan bawha dehidrasi adalah kekurangan cairan ekstra selular yang mengakibatkan berpindahnya cairan atau hilang dari tubuh. Ignatavicus ada 3 jenis : a. Tekanan osmotik ECF menurun mengakibatkan cairan bergerak dari EFC ke ICF. 2. . 4. Syaifuddin. Dehidrasi adalah keadaan dimana seseorang invididu yang tidak menjalani puasa mengalmai atau beresiko mengalmai dehidrasi vaskuler. 1994 : 303) Berdasarkan pengertian-pengertian di atas. 3. Price. Dehidrasi adalah kekurangan cairan tubuh karena jumlah cairan yang keluar lebih banyak dari pada jumlah cairan yang masuk (Sri Ayu Ambarwati. (Sylvia A. Dehidrasi Isotonik Dehidrasi isotonik adalah air yang hilang diikuti dengan elektrolit sehingga kepekatannya tetap normal. sehingga dipembuluh darah menjadi lebih pekat.BAB II KONSEP DASAR A. maka jenis dehidrasi ini biasnaya tidak mengakibatkan cairan ECF berpindah ke ICF. 2003). Volume vaskuler juga menurun serta terjadi pembengkakan sel. 1992 : 3). Dehidrasi Hipotonik Dehidrasi hipotonik adalah kehilangan pelarut dari ECF melebihi kehilangan cairan. Pengertian dan Klasifikasi Berikut adalah beberapa pengertian tentang dehidrasi : 1. interstitial atau intra vaskuler (Lynda Jual Carpenito. b. Dehidrasi adalah suatu gangguan dalam keseimbangan cairan yang disertai dengan output yang melebihi intaks sehingga jumlah air dalam tubuh berkurang (Drs. Dehidrasi adalah kehilangan cairan tubuh isotik yang disertai kehilangan antrium dan air dalam jumlah yang relatif sama. Klasifikasi dehidrasi menurut Donna D.

Hiperventilasi b. Disfagia f. Diaporesis (keringat berlebihan) h. Dehidrasi hipertonik a. Terapi hipotonik k. Hipersalivasi e. 1. Diabetes Insipedus hormon ADH menurun d. mengakibatkan cairan bergerak dari ICF ke ECF. Suction gastrointestinal (cuci lambung) 2. Diare d. Dehidrasi Hipertonik Dehidrasi hipertonik adalah kehilangan cairan ECF melebihi pelarut pada dehidrasi ini non osmotik ECF menurun. Dehidrasi hipotonik a. Perdarahan b. Rehidrasi cairan berlebihan e. Dehidrasi a. B. Penyakit DM b. Ileustomy (pemotongan usus) g. Fistula f. Diare air c. Etiologi Bermacam-macam penyebab dehidrasi menentukan tipe / jenis-jenis dehidrasi (Menurut Donna D. Puasa j.c. Rehidrasi cairan berlebih c. Gangguan rasa haus . Ignatavicus. 1991 : 253). Luka bakar i. Muntah c. Mal nutrisi berat dan kronis 3.

Infeksi sistemik : suhu tubuh meningkat.g. Gangguan kesadaran h. .

Selama latihan berat pada lingkungan yang panas. Terkumpulnya cairan di adlam ruang non ECF dan non ECF. Patofisiologi Kekurangan volume cairan adalah keadaan yang umum terjadi pada berbagai keadaan dalam klinik. keringat adalah cairan hipotonik yang terdiri dari ari. muntah. diare. Keadaan ini hampir selalu berkaitan dengan kehilangan cairan tubuh melalui ginjal atau di luar ginjal. Penyebab tersering kekurangan volume cairan yang juda sering terjadi adalah tersimpannya cairan pada cidera jaringan luna. Sehingga dapat menyebabkan kekurangan volume jika asupannya tidak mencukupi. luka bakar berat. Perdarahan. peritonitis / obstruksi saluran cerna. Pada prinsipnya cairan menjadi terperangkapdan tidak dapat dipakai oleh tubuh. bisa terjadi kehilagnan 1 L keringat / jam. . Kehilangan Na dan air melalui ginjal tanpa adanya penyakit ginjal terjadi pada 3 keadaan yang paling sering adalah pemakaian diuretik yang berlebihan. Penumpulkan volume cairan yang cepat dan banyak pada ruang-ruang seperti beradal dari volume ECF sehingga dapta mengurangi volume sirkulasi darah efektif.C. Jumlah besar cairan dapat hilang melalui kulit karna penguapan jika luka bakar dirawat dengan metode terbuka. Diuresis osmotik obligatorik juga sering menyebabkan kehilangan Na dan air yang terjadi selama glikosuria pada DM yang tidak terkontrol atau koma hipermosmolar non ketonik pada kasus pemberian makanan tinggi protein secara enternal atau parenteral dapat terbentuk urea dalam jumlah besar yang bisa bertindak sebagai agen osmotik. terutama tiazid atau diuretik sampai yang kuat seperti furosemid. Na (30-70 m Eg/l) dan klorida.

membran mukosa kering . Nadi cepat dan lemah c. D. Haus. otot dan kulit. Dehidrasi ringan (kehilangan cairan 2-5% dari BB semula) a. Pengeluaran urine (1300 ml/hari) e. Kesadaran baik f. 2000) : 1. Karena tekanan arteri ratarata = curah x tahanan perifer total maka penurunan curah jantung mengakibatkan hipotensi. Angiotensin merangsang vasokonstriksi sistemik dan aldosteron meningkatkan reabsorbsi natrium oleh ginjal. Manifestasi Klinis Berikut ini gejala atau tanda dehidrasi berdasarkan tingkatannya (Nelson. Haus meningkat b. Terjadi penahanan aliran darah yang menuju ginjal. peningkatan denyut dan kontraktilitas jantung bertujuan untuk mengembalikan curah jantung dan perfusi jarignan yang normal. Denyut jantung meningkat 2. Respon berupa vasokonstriksi perifer. Dehidrasi sedang (kehilangan cairan 5% dari BB semula) a. saluran cerna. Turgor kulit normal d. gelisah b.Apapun penyebab dari kekurangan volume cairan. nafas normal c. Penurunan perfusi ginjal merangsang mekanisme renin-angiotensinaldosteron. berkurangnya volume ECF menganggu curah jantung dengan mengurangi alir balik vene ke jantung sehingga mengakibatkan penurunan curah jantung. yang kemudian menginduksi respon simpatis. sedangkan aliran yang menuju koroner dan otak relatif dipertahankan. Penurunan tekanan darah dideteksi oleh baroreseptor pada jantung dan arteri karotis dan diteruskan ke pusat vasomotor di batang otak. Jika terjadi hipovolemi yang lebih berat (1000 ml) maka vasokontriksi dan vasokonstriksi yang diperantai oleh angiotensin II yang meningkat. Denyut nadi 90-110 x/menit. Turgor kulit kering.

. Hipotensi g. Pengeluaran urine tidak ada f. lesu c. Suhu tubuh meningkat 3. Larutan garam isotonik (0. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita dehidrasi (Doenges & Sylvia Anderson): 1. Mata cekung e. Nadi cepat dan halus h. Ekstremitas dingin E.45%) diberikan untuk menyediakan air bagi sel-sel dan membantu pembuangan produk-produk sisa metabolisme. 4. Segera setelah pasien mencapai normotensi. separuh dari larutan garam normal (0. Pengeluaran urien berkurang e. Takikardi d. Obat-obatan anti diare Pengeluaran feces yang berlebihan dapat diberikan obat-obat anti diare serta dapat diberikan oralit. 3. Pemberian air minum Pemberian air minum yang mengandung natrium cukup memadai untuk mengatasi ketidakseimbangan yang terjadi. Pemberian cairan intravena Pada kekurangan cairan yang berat. karena akan menambah volume plasma. Lemah.d. Dehidrasi berat (kehilangan cairan 8% dari BB semula) a. maka diperlukan pemberian cairan intravena.9%) merupakan cairan infus terpilih untuk kasus-kasus dengan kadar natrium mendekati normal. Obat-obatan Antiemetik Untuk mengatasi muntah 2. Penurunan kesadaran b.

Pola cairan Gejala : haus berkurang. . membran mukosa mulut kering. cairan kurang Tanda : BB menurun melebihi 2-8% dari BB semula. Pemberian bolus cairan IV Pemberian bolus cairan IV awal dalam suatu uji beban cairan. untuk mengetahui apakah aliran kemih akan meningkat.5. Pengkajian Fokus 1. Pemeliharaan kesehatan 1) Diet rendah garam 2) Pemasukan cairan kurang terpenuhi c. Demografi Jenis kelamin : dehidrasi rentan terjadi pada wanita dari pada pria. yang menunjukkan fungsi ginjal normal. F. Riwayat penyakit dahulu 1) Fistula 2) Ileustomy 3) Suction gastrointestinal 4) DM 5) Diabetes insipedus 6) Perdarahan b. Umur : sering terjadi pada usia di atas 65 tahun. Riwayat Kesehatan a. lidah kotor. 2.

Pemeriksaan fisik 1) Kesadaran : apatis-coma 2) Tekanan darah menurun Nadi meningkat Pernafasan cepat dan dalam Suhu meningkat pada waktu awal 3) BB meningkat 4) Turgor menurun 5) Membran mukosa mulut kering 6) CVP menurun e. Pemeriksaan penunjang Laboratorium 1) Urine a) Osmolalilas kemih > 450 m osmol / kg b) Natrium urine < 10 meg / L (penyebab di luar ginjal) c) Natirum urine > 10 meg / L (penyebab pada ginjal / adrenal) d) OJ urine meningkat e) Jumlah urine menurun (30-50 cc / jam) 2) Darah a) Ht meningkat b) Kadar protein serum meningkat c) Na+ seruim normal d) Rasio buru / kreatin serum > 20 : 1 (N = 10 : 1) e) Glukosa serum : normal / meningkat f) Hb menurun. .d.

G. Pathway Gangguan obsorbsi usus Muntah diare Osmolaritas cairan ekstrasel ↓ Trauma Perdarahan Cairan dari vaskuler ↓ Output >> Luka bakar demam diaporesis >> DM Hiperglikemi Hiperosmolaritas Diuresis osmotik ↑ Poliuri Penggunaan diuretik >> Gangguan pencernaan (disfagia ) puasa Gangguan homonal ADH ↓ Aldosteran ↓ Intake DEHIDRASI Komposisi darah ↓ Regulasi cairan tidak seimbang Cairan interstital ↓ Turgor ↓ Membran mukosa kering Resiko gangguan integritas kulit HB ↓ Anemia Kelemahan Sirkulasi perifer ↓ Sirkulasi darah ke jantung ↓ Tahananan vascular sistemik ↓ c Resiko COP ↓ Komponen darah ↓ HB ↓ Anemia  kolaborasi c Intoleransi aktifitas c Defisit volume cairan Aliran darah ↓ Intoleransi aktivitas .

Konsep Keperawatan .H.

c. b. turgor Rasional : Indikator keadekuatan volume sirkulasi. Resiko penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan aliran darah. Diangosa Keperawatan a. pengisian kapiler. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan intake yang kurang (Doenges. Kriteria hasil : 1) Mempertahankan keseimbangan cairan 2) Tanda vital (N = 80 – 100 x/menit. e. 2. S = 36-37oC 3) Capillary refill < 3 detik 4) Akral hangat 5) Urine output 1-2 cc/kg BB/jam Intervensi : 1) Awasi tanda vital. 2) Awasi jumlah dan tipe masukan cairan. hipotensi data terjadi dengan resiko cedera setelah perubahan posisi. Fokus Intervensi dan Rasional a. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan intake yang kurang. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan turgor kulit menurun. status membran mukosa.1. Resiko penurunan COP berhubungan dengan penurunan tahanan vaskuler sistemik. ukur haluaran urine dengan akurat. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik. d. . 1999) Tujuan : Volume cairan adekuat sehingga kekurangan volume cairan dapat teratasi.

b.5 – 1. 6) Berikan / awasi pemberian cairan IV Rasional : Tindakan darurat untuk memperbaiki ketidakseimbangan cairan. penurunan fungsi ginjal dapat meluas mempengaruhi penyembuhan. oral atau N sesuai indikasi Rasional : Dapat mencegah disritmia jantung. Misal : jadwal masukan cairan. kulit tidak pucat. Rasional : Melibatkan pasien dalam rencana untuk memperbaiki ketidakseimbangan. 4) Identifikasi rencana untuk meningkatkan / mempertahankan keseimbangan cairan optimal. . Tujuan : Mempertahankan / memperbaiki perfusi jaringan.Rasional : Pasien tidak mengkonsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan elektrolit.5 cc / kg / BB 5) CRT < 2 detik. Nadi = 80-100 h. 7) Tambahan kalium. Resiko penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan aliran darah. 2) Kulit hangat 3) Nadi perifer teraba 4) Keluaran urine adekuat 0. 5) Kaji hasil tes fungsi elektrolit / ginjal Rasional : Perpindahan cairan / elektrolit. Kriteria hasil : 1) Tanda-tanda vital stabil TD = 120/80. 3) Diskusikan strategi untuk menghentikan muntah dan penggunaan jaksatif / diuratik Rasional : Membantu pasien menerima perasaan bahwa akibat muntah dan / atau penggunaan laksatif / deuratik mencegah kehilangan lebih lanjut.

6) Observasi kulit pucat. 3) Auskultasi nadi apikal. catat lokasi. ketiseimbangan elektrolit atau pendinginan dekat area jantung bila lavase air dingin digunakan untuk mengontrol perdarahan. Rasional : Perubahan disritmia dan iskemi dapat terjadi sebagai akiabt hipotensi. kefektifan / kebutuhan untuk terapi. ubah posisi dengan sering. 4) Kaji kulit terhadap dingin. Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidakadekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial. 5) Catat haluran urine dan BJ Rasional : Penurunan perfusi ginjal dimanifestasikan sistemik dapat menyebabkan iskemia/gagal dengan penurunan keluaran urine. berkeringat. 2) Selidiki keluhan nyeri dada. awasi kecepatan jantung / irama. pijat dengan minyak. kemerahan. Rasional : Dapat menunjukkan iskemia jantung sehubungan dengan penurunan perfusi. Rasional : Vasokontriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan / atau terjadi sebagai efek samping pemberian vasopresin.6) Kesadaran composmentis 7) Tidak ada nyeri dada Intervensi : 1) Selidiki perubahan tingkat kesadaran. . 7) Awasi nadi oksimetri Rasional : Mengindentifikasi hipoksemia. pengisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah lemah. hipoksia. kualitas. lamanya dan apa yang menghilangkan nyeri. pucat. keluhan pusing. Rasional : Gangguan pada sirkulasi perifer meningkatkan resiko kerusakan kulit.

c. tidak ada kemerahan.8) Berikan cairan IV sesuai indikasi Rasional : Mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi. pucat. kenyal. . Kriteria hasil : 1) Turgor kulit baik. Rasional : Area ini meningkat resikonya untuk kerusakan dan memerlukan pengobatan lebih intensif. Intervensi : 1) Observasi kemerahan. Penggunaan RL di kontraindikasikan pada adanya gagal hati karena metabolisme laktat terganggu. Rasional : Meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit dengan mencegah tekanan lama pada jaringa. meningkatkan tonus kulit. 2) Dorong mandi tiap 2 hari 1 x Rasional : Sering mandi membuat kulit kering. Tujuan : Mengindentifikasi dan mempertahankan kulit halus. perlu untuk mempertahankan aktifitas. tidak ada lecet. Rasional : Perbaikan nutrisi dan hidrasi akan memperbaiki kondisi klien. utuh. 3) Gunakan krim kulit 2 x sehari Rasional : Melicinkan sirkulasi pada kulit. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan turgor kulit menurun. 5) Tekankan pentingnya masukan nutrisi / cairan adekuat. kulit utuh. 4) Diskusikan pentingnya perubahan posisi.

Rasional : Palpitasi nadi tak teratur dapat mengindikasikan kebutuhan perubahan program olah raga atau obat. Rasional : Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik Tujuan : Pasien diharapkan mampu meningkatkan toleransi aktifitas. bantu melakukan latihan rentang gerak sendi pasif / aktif. Berikan lingkungan tenang. tidak ada perubahan EKG. Intervensi : 1) Tingkatkan tirah baring / duduk. 2) Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai indikasi Rasional : Memungkinkan periode tambahan istirahat gangguan. menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan. Rasional : Hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktifitas. 3) Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi. Kriteria hasil : 1) Peningkatan kekuatan otot berhubungan dengan tidak diaporesis. 5) Kaji ulang tanda / gejala yang menunjukkan tidak toleran terhadap aktifitas atau memerlukan pelaporan pada perawat / dokter. Tujuan : Mempertahankan curah jantung. 4) Periksa tanda vital sebelum dan segera aktifitas khususnya penggunaan diuren. Resiko penurunan COP berhubungan dengan penurunan vaskuler sistemik.d. Intervensi : tanpa . Rasional : Meningkatkan istirahat dan ketenganan. e. Kriteria hasil : 1) Tidak ada bunyi jantung tambahan.

nadi perifer. Rasional : Ketidakseimbagnan dapat mengganggu kondisi elektrikal dan fx jantung. natrium. penyimpangan mental cepat menunjukkan tamponade. penurunan nadi perifer. yang merupakan kedaruratan medik. nadi paradoksik. Rasional : Hipotensi tiba-tiba. suhu. frekuensi jantugn tak teratur menunjukkan GGK. 3) Kaji tingkat aktifitas. TD. . 2) Evaluasi bunyi jantung. pengisian kapiler. penyempitan tekanan nadi. respon terhadap aktifitas Rasional : Kelelahan dapat menyertai anemia. 4) Awasi pemeriksaan lab. kalsium.1) Auskultasi bunyi jantung dan paru Rasional : Takipnea. contoh : eletkrolit (kalium. pucat. 5) Catat warna kulit dan kualitas nadi Rasional : Sirkulasi perifer menurun bila curah jantung menurun membuat kulit pucat dan menurunnya kekuatan nadi perifer. magnesium).

3. Dehidrasi bisa pula berujung pada penurunan kesadaran hingga meninggal dunia. B. . 3. 2. Agar dehidrasi tidak berujung pada kematian maka perawat harus mengukur balance cairan. Kaji tingkat kesadaran. Dehidrasi dapat menyerang siapa saja dari anak kecil hingga orang tua dan yang paling sering terkena adalah anak-anak dan orang tua. Dehidrasi lebih mudah menyerang perempuan dibandingkan laki-laki karena tubuh perempuan lebih banyak lemak dari pada laki-laki. Kesimpulan 1. 2. agar output tidak melebihi input. Anjurkan minum 15 menit sekali pada seseorang yang bersiko mengalami dehidrasi.BAB V PENUTUP A. Pantau masukan dan haluran cairan. Saran 1.

Sylive A.kompas. 1994. Rencana Asuhan Keperawatan Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC. 2003. Jakarta : Salemba Merdeka. Marylin Varner. jakarta : EGC.DAFTAR PUSTAKA Ambarwati. 1999. Medical Surgical Nursing. 2001. Volume 2. Ignatavicus.com/kesadaran/0307/14/103451 Carpenito. Bayne. Keperawatan Medikal Bedah. 1997. Lynda Juall. Prince. Edisi 8. Edisi 4. Smeltzer. C. Edisi 1. . Sri Ayu. Suzzone. Jakarta : EGC. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit . Diagnosa Keperawatan. Doenges. 2001. http://www. WB Saunders Company Inc. Tarwoto. Donna D. 1991. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta : EGC. Marilyn E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful