Sistem Pemilihan Umum: Sebuah Perkenalan Apa itu Sistem Pemilihan Umum?

Istilah "Sistem Pemilihan Umum" sudah sering didengar dan dibaca di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Tidak jarang pula dalam media massa, setiap hal yang berhubungan dengan pemilihan umum disebut sebagai "sistem pemilu", mulai dari hak pilih, penyelenggaraan pemilu dan berbagai hal lain. Sesungguhnya istilah "sistem pemilu" memiliki definisi yang lebih sempit dan ketat. "Sistem Pemilihan Umum adalah rangkaian aturan yang menurutnya (1) pemilih mengekspresikan preferensi politik mereka, dan (2) suara dari para pemilih diterjemahkan menjadi kursi." Definisi ini mengisyaratkan bahwa sistem pemilihan umum mengandung elemen-elemen struktur kertas suara dan cara pemberian suara, besar distrik, serta penerjemahan suara menjadi kursi. Dengan demikian hal-hal seperti administrasi pemilihan umum dan hak pilih, walaupun penting berada di luar lingkup pembahasan sistem pemilihan umum. Mengapa Sistem Pemilihan Umum Penting? Tidak diragukan lagi bahwa sistem pemilihan umum memainkan peranan penting dalam sebuah sistem politik, walaupun tidak terdapat kesepakatan mengenai seberapa penting sistem pemilihan umum dalam membangun struktur sebuah sistem politik. Giovanni Sartori menyebutkan bahwa sistem pemilihan umum adalah "sebuah bagian ang paling esensial dari kerja sistem politik. Sistem pemilihan umum bukan hanya instrumen politik yang paling mudah dimanipulasi; ia juga membentuk sistem kepartaian dan mempengaruhi spektrum representasi". Tekanan juga diberikan oleh Arend Lijphart yang mengatakan "sistem pemilihan umum adalah elemen paling mendasar dari demokrasi perwakilan". Dapat kita katakan bahwa "Sistem pemilihan umum mempengaruhi perilaku pemilih dan hasil pemilu, sehingga sistem pemilu juga mempengaruhi representasi politik dan sistem kepartaian". Elemen Sistem Pemilihan Umum Seperti telah disebutkan sebelumnya, elemen dari sistem pemilihan umum adalah: besar distrik struktur kertas suara electoral formula Besar Distrik

Pada masa berlakunya sistem parlementer. tidak hanya partai saja yang diberikan kesempatan menjadi kontestan pemilu. International Institute for Democracy and Electoral Assistance. akan tetapi individu . serta batas ambang pemilihan (electoral threshold). 2008 at 9:28 am (Politik) (Analisa) A. Analisis Sejarah Perjalanan Sistem Pemilu di Indonesia November 26. Berdasarkan definisi tersebut maka kita dapat membedakan distrik menjadi distrik beranggota tunggal (single member district) dan distrik beranggota jamak (multi member district). kombinasi yang digunakan adalah sistem pemilu proporsional representation dan sistem multi partai. Pada masa ini. Complicated permasalahan dan beragam pertimbanganlah yang kemudian mengantarkan Indonesia untuk memilih salah satu sistem yang diterapkannya.10 distrik sedang > 10 distrik besar Sumber: The International IDEA Handbook of Electoral System Design. bangsa Indonesia mengalamai perdebatan panjang pilihan diterakannya sistem pemilihan.Yang dimaksud dengan distrik adalah wilayah geografis suatu negara yang batasbatasnya dihasilkan melalui suatu pembagian untuk tujuan pemilihan umum.5 distrik kecil 6 . Besar distrik bukan berarti berapa jumlah pemilih yang ada dalam distrik tersebut. Pendahuluan Dalam perjalanannya. Termasuk di dalamnya adalah rumus yang digunakan untuk menerjemahkan perolehan suara menjadi kursi. (Stockholm. 1997) Electoral Formula Electoral Formula adalah bagian dari sistem pemilihan umum yang membicarakan penerjemahan suara menjadi kursi. Yang dimaksud dengan besar distrik adalah berapa banyak anggota lembaga perwakilan yang akan dipilih dalam satu distrik pemilihan. Dengan demikian luas sebuah distrik dapat sama besar dengan besar wilayah administrasi pemerintahan. Selanjutnya distrik beranggota jamak dapat dikelompokkan menjadijumlah kursi yang diperebutkan sub kategori 2 . dapat pula berbeda. Swedia.

Dekrit presiden 4 juli 1959 menghidupkan kembali UUD 1945. partai politik yang dihasilkan melalui pemilu demokratis ini di anggap telah menyalahkan kesempatan berkuasa. melalui Penetapan Presiden (PenPres) Nomor 7 tahun 1959 ditetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh partai politik untuk diakui oleh pemerintah. sehingga sejak pemilu 1977 hingga 1992 hanya ada tiga peserta pemilu yakni PPP. diantaranya kekurangan akraban antara wakil rakvat dan rakyat yang diwakilinya. Soekarno dalam usaha membentuk demokrasi terpimpin menyatakan tindakan antara lain menyederhanakan sistem partai dengan mengurangi jumlah partai. dan PD!. Dengan tindakan seperti ini. dan 100 anggota DPR dan jumlah total 460 diangkat dan ABRI (75). Karena kegagalan usaha penyederhanaan partai ketika pemilihan. Karena pendeknya usia setiap kabinet sebagai ulahnya partai-partai. Walaupun demikian. Setelah Orde Lama. modifikasi sistem pemilihan yang digunakan Orde Baru adalah melalui peningkatan utusan golongan/Daerah. Non ABRI (25). tidak mungkin bagi pemerintah menyusun dan melaksanakan suatu rencana kerja yang mantap. Tetapi disisi lain masih terdapat kelemahan-kelemahan. dengan beberapa modifikasi. Selain sistem proporsional tertutup yang digunakan. Penyederhanaan ini dilakukan dengan mencabut maklumat pemerintah tertanggal 3 november 1945.(perseorangan) juga diberi kesempatan untuk mencalonkandiri. Sistem distrik ditolak dan sangat dikecam parpol. seperti duduknya wakil ABRI sebagai anggota panlemen. kabupaten dijamin sekurang-kurangnya 1 kursi. Golkar. . Pada awalnya. tetapi juga mencakup ide baru. penyederhanaan Sistem Multipartai Orde Baru dilakukan dengan suatu kompromi (Konsensus nasional) antara pemerintah dan partai-partai pada tanggal 27 Juli 1967 untuk tetap memakai sistem perwakilan berimbang. karena terlalu mementingkan kepentingan serta ideologi masing-masing kelompok. Pemilu pada era ini di anggap sebagai pemilu yang paling demokratis selama pemerintahan di Indonesia. Diantaranya. di satu sisi Orde Baru telah berhasil mengatasi perlunya pembentukan kabinet koalisi. sehingga gagal menciptakan suasana yang stabil dankondusif untuk menciptkana pembangunan secara berkesinambungan. Peranan penentu dan pimpinan pusat dalam menetapkan daftar calon dianggap sebagai sebab utama mengapa anggota DPR kurang menyuarakan aspirasi rakyat. Orde Baru dengan sistem pemerintahan Presidensialisme menerapkan sistem pemilihan proporsional dengan daftar tertutup kombinasi dengan sistem multipartai yang berangsur-angsur di sederhanakan. dengan alasan karena tidak hanya dikhawatirkan akan mengurangi kekuasaan pimpinan partai. Orde Baru melakukan pengurangan dengan mengelompokkan dan 10 partai menjadi tiga partai pada tahun 1973. serta tidak adanya lagi fragmentasi partai atau terlalu banyak partai. Pada tahun 1960 jumlah partai yang memenuhi syarat tinggal 10 partai.

Begitu juga sistem distrik ataupun sistem proporsional dengan daftar terbuka. atau memperoleh sekurang-kurangnya 4% jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota yang tersebar di kabupaten/kota seluruh Indonesia untuk dapat mengikuti Pemilu berikutnya. sedangkan untuk memilih Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menggunakan sistem distrik. Apakah sistem pemilihan menentukan secara langsung kualitas parlemen atau tidak bisa kita lihat pula dan gagasan pokok keberadaan kedua sistem pemilihan Sistem Perwakilan Berimbang Gagasan pokok sistem Perwakilan Berimbang (Proportional Representation) terletak pada sesuainya jumlah kursi parlemen yang diperoleh suatu golongan atau partai dengan jumlah suara yang diperoleh dan masyarakat. Bobot suatu sistem pemilu dan kepartaian Iebih banyak memang terletak pada mlai demokratis didalamnya. dalam artian hanya terkait dengan bagaimana pemilu dapat memberikan hak kepada setiap pemilih untuk memberikan suaranya sesuai dengan keyakinan pilihannya. yaitu dengan mencantumkan prasyarat Partai Politik Peserta Pemilu harus memperoleh sekurangkurangnya 3% jumlah kursi di DPR. tetaplah partai yang menjadi penentu. dengan harapan rakyat agar pemilihan calon yang diajukan oleh partai politik (parpol) lebih dikenal oleh pemilihnya. Dengan demikian kekuatan suatu partai dalam masyarakat tercermin dalam jumlah kursi yang diperolehnya . maka keberadaan lembaga perwakilan yang benarbenar mencerminkan representasi kedaulatan rakyat merupakan sebuah kebutuhan yang tak terelakkan. dan bagaimana setiap kontestan pemilihan akan memperoleh dukungan secara adil. Sistem Pemilu yang dianut adalah sistem proporsional (perwakilan berimbang) dengan daftar calon terbuka untuk memilih DPR dan DPRD. Pada sistem ini negara dibagi dalam beberapa daerah pemilihan yang besar. Sistem Pemilu ini digunakan sebagai evaluasi sistem yang diterapkan pada masa Orde Baru. Lembaga Perwakilan yang pengisian keanggotaannya dipilih langsung oleh rakyat adalah bentuk rasionalisasi dan prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat yang tercermin dari Pemilihan Umum. atau memperoleh sekurang-kurannya 4% jumlah kursi DPRD Provinsi yang terseban sekurang-kurangnya (setengah) dan jumlah provinsi seluruh Indonesia. Pembatasan pada masa ini dilakukan dengan mekanisme kuota (Threshold). hanya saja memang setelah nama kandidat itu muncul barulah pemilih yang menentukannya secara langsung.B. Partai menentukan seseorang menjadi kandidiat atau tidak. sistem distrik berwakil banyak. Hubungan Sistem Pemilu Dalam Usaha Untuk Merubah Kinerja Parlemen Sejalan dengan tuntutan reformasi. yaitu peluang yang sama bagi setiap kandidat untuk meraih kemenangan. dan setiap daerah pemilihan memilih sejumlah wakil sesuai dengan banyaknya penduduk dalam daerah pemilihan itu.

dukungan masyarakat tercermin dalam jumlah wakil DPR. Sistem Distrik Sistem Distrik. untuk berbagai kursi yang diperebutkan. diantaranya ialah: Dianggap demokratis dan representatif. Selain itu Kelebihan Proposional Terbuka adalah: Representatif. oleh karena semua aliran yang ada dalam masyarakat terwakili dalam parlemen. yang kemudian dibagi lagi menjadi sistem daftar terbtutup dan sistem daftar terbuka. . Demikian pula Sistem Perwakilan Berimbang memiliki kekurangan. Menurut beberapa kalangan Sistem Perwakilan Benmbang memiliki kelebihan. Banyaknya partai yang bersaing menyulitkan suatu partai untuk meraih mayoritas (50% +1) yang perlu membentuk suatu pemerintahan. artinya dukungan masyarakat bagi partai itu sesuai atau proporsional dengan jumlah kursi dalam parlemen. Kemudian juga Dianggap lebih adil karena golongan kecil sekalipun mempunyai kesempatan untuk mendudukkan wakil dalam departemen.dalam parlemen. merupakan sistem pemilihan yang paling tua didasarkan alas kesatuan geografis. Kedudukan yang lebih kuat dari masing-masing anggota DPR akan dapat meningkatkan kualitas DPR. Biasanya sistem Perwakilan Berimbang ini sering dikombinasikan dengan beberapa prosedur lain antara lain dengan sistem daftar (List System). Koalisi semacam mi sering tidak langgeng sehingga tidak membina stabilitas politik. sedangkan jumlah wakil dalam badan itu sesuai dengan jumlah suara yang diperoleh dan masyarakat dalam masing-masing daerah pemilihan. Kelemahan sistem ini. Dalam sistem daftar tertutup setiap partai mengajukan satu daftar calon dan si pemilih memilih memilih satu partai dengan semua calon yang dicalonkan oleh partai itu. Setiap kesatuan geografis mempunyai satu wakil dalam parlemen. Wakil yang terpilih merasa dirinya lebih terikat kepada partai dari pada kepada daerah yang mewakilinya disebabkan partai lebih menonjol perannya daripada kepribadian seseorang. yakni tidak dikenalnya calon wakil oleh pemilih direvisi oleh sistem daftar terbuka dengan pemilih mencoblos wakilnya secara langsung dari daftar nama calon selain memilih tanda gambar. Anggota DPR akan Iebih independen dan kedudukannya dalam hubungan dengan pimpinan partai dan tidak usah terlalu takut akan direcall jika berbeda pendapat dengan pimpinan partai dan pihak lain. Untuk keperluan pemilihan. Memberi peluang bagi orang yang disegani di daerah untuk mendapat tempat di DPR. yakni: Mempermudah fragmentasi partai dan menimbulkan kecendrungan kuat di kalangan anggota untuk memisahkan diri dari partainya dan membentuk partai baru. Terpaksa partai terbesar mengusahakan suatu koalisi dengan beberapa partai lain untuk memperoleh mayoritas dalam parlemen. Wakil rakyat yang dipilih dengan cara mi diharapkan lebih cenderung untuk mengutamakan kepentingan nasional danipada kepentingan daerah. negara dibagi dalam sejumlah besar distrik dari jumlah wakil rakyat dalam parlemen ditentukan oleh jumlah distrik.

berikut implikasi dan konsekuensinya. calon yang kalah dalam suatu distrik kehilangansemua silara yang mendukungnya (banyak suara yang hilang). Lebih mendorong integrasi parpol karena kursi yang diperebutkan dalam setiap distnk pemilihan hanya satu. Watak atau karakter persaingan dalam pemilu. Adapun pengaruh sistem pemilihan terhadap kualitas kinerja parlemen terdapat pada. Dari gagasan-gagasan pokok di atas yang menjadi dasar keberadaan kedua sistem ini. Kurang representatives. Kelebihan Sistem Distrik. Kekurangan Sistem Distrik. Bisa terjadi kesenjangan antara jumlah suara yang diperoleh dan masvarakat danjun1ah kursi yang diperoleh atas parlemen. sehingga hubungannya dengan penduduk lebih erat. sebagian sistem mungkin saja mendorong terjadinya faksionalisme. Sistem pemilihan menentukan keterpaduan internal dan disiplin masing-masing partai. Karakter persaingan berarti apakah ciriciri yang menonjol dan kompetisi dalam pemilu dilaksanakan dan berjalan. 1ebih banyak memang penekanannya terletak pada perwujudan pemerintahan yang representatif dan legitimate dilihat dan sudut kepentingan menegakkan demokrasi. Sebuah sistem pemilu juga bisa mengarah pada pembentukan koalisi atau pemeritahan satu partai dengan kendala yang dihadapi partai mayoritas. Juga diartikan sebagai perilaku politik yang melekat pada partai-partai dan tokoh-tokoh politik. sementara sistem yang lain mungkin dapat memaksa partai-partai untuk bersatu suara dan menekan pembangkangan. karena dalam pemilihan semacam ini faktor kepribadian seseorang merupakan faktor yang penting.Calon dalam satu distrik memperoleh suara terbanyak menang sedang suara-suara yang diberikan kepada calon lain dalam distrik itu dianggap hilang dan tidak diperhitungkan lagi. Bagaimana kecil pun selisih kekalahannya. Juga mendorong ke arah penyederhanaan partai secara ilmiah. Dengan kata lain. karena kecilnya distrik. menguntungkan partai besar. sederhana dan mudah untuk diselenggarakan Terbatasnya jumlah partai dan meningkatnya kerjasama antar partai mempermudah terbentuknya pemerintahan yang stabil dan tercapainya stabilitas nasional. Sistem pemilihan bertindak sebagai wahana penghubung yang memungkinkan rakyat dapat menagih tanggung jawab atau janji wakil-wakil yang telah mereka pilih. sistem pemilihan bisa mendorong atau menghalangi pembentukan . dimana beberapa sayap yang berbeda dan satu partai terus menerus bertentangan satu dengan lainya. Sistem tersebut mungkin bisa memberikan bobot lebih pada proposionalitas jumlah suara yang diraih dengan kursi yang dimenangkan. Dengan demikian dia akan lebih terdorong untuk memperjuangkan kepentingan distrik. yaitu dirancang untuk Menerjemahkan suara yang diperoleh dalam pemilu menjadi kursi di badan-badan legislatif. atau mungkin pula bisa menyalurkan suara (betapapun terpecahnya keadaan partai) ke parlemen yang terdiri dan dua kutub partai-partai besar yang mewakili sudut pandang yang berbeda. Kedudukan terhadap partai lebih bebas. kurang menguntungkan bagi partai kecil dan golongan minoritas. maka wakil yang terpilih biasanya dikenal oleh penduduk distrik.

. Penutup Dari beberapa analisis di atas. Keberadaan sistem pemilihan lembaga perwakilan saat ini.alinasi diantara partai-partai. dapat di simpulkan bahwa sistem pemilu yang diterapkan Indonesia saat ini lebih banyak memang sudah memenuhi sisi nilai demokratis suatu sistem pemilihan disamping suitable dengan kondisi keindonesiaan. sudah cukup mencerminkan representasi kedaulatan rakyat dan rasionalisasi dan prinsip demokrasi. yang pada gilirannya akan mempengaruhi iklim politik yang lebih luas. C. Modifikasi yang diadakan dalam sistem terkini sudah banyak menghilangkan kernungkinan kecendrungan sikap otoriter pelaksanaan sistem oleh penguasa. di mana pengisian keanggotaannva secara keseluruhan dipilih langsung oleh rakyat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful