P. 1
Dialektika Kontemporer Edisi i 2013

Dialektika Kontemporer Edisi i 2013

|Views: 459|Likes:
Published by Deden Marrah Adil
Jurnal cetak Dialektika Kontemporer Edisi I Tahun 2013
Jurnal cetak Dialektika Kontemporer Edisi I Tahun 2013

More info:

Published by: Deden Marrah Adil on May 31, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2015

pdf

text

original

DIALEKTIKA KONTEMPORER

Jurnal Sosiologi
Penerbit: Prodi S3 Sosiologi PPs Universitas Negeri Makassar

Penanggungjawab: Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar Asisten Direktur I PPs Universitas Negeri Makassar Asisten Direktur II PPs Universitas Negeri Makassar Ketua Prodi S3 Sosiologi PPs Universitas Negeri Makassar Ketua Dewan Redaksi: Andi Agustang Penyunting Ahli: Idrus Abustam (UNM);T.R.Andi Lolo, (UNHAS); Tahir Kasnawi, (UNHAS); Darmawan Salman (UNHAS); Hamdan Djuhanis, (UIN Alauddin Makassar); Syamsu A.Kamaruddin (UVRI Makassar) ; Bastiana, (UNM); Batara Surya (Universitas 45 Makassar); Andi Tenri Mahmud, (UNIDAYAN Baubau); Arlin Adam, (UVRI Makassar) Penyunting Pelaksana : Muhammad Yahya Dewan Penyunting: Abd Wahab (Kordinator) Amiruddin ; Muh Adil Patu, Andi Akmal Pasluddin, Usman Raidar,Syahrir Ibnu, M.Asdar, AB; Rahmatiah; Chuduriah Sahabuddin. Sekretaris Redaksi Ambo Upe; Rosnah Sulaeman; Mustar. Keuangan: Sudirman Muhammadiyah, Benyamin. Distribusi: Abdullah Rachim (Kordinator), Asrina, Arda Senaman, Karyawan, AK; Syarifuddin, Jalal; Surachmi Inderawaty Razak, Muh Nazir. Layout: Adi Sumandiyar, LM.Deden Marrah Adil; Ridwan Alamat Redaksi : Prodi S3 Sosiologi PPs UNM Kampus PPs UNM Makassar Jl. Bontolangkasa Gunungsari Baru Makassar 90222 Telp (0411) 830368 – Fax (0411) 855288 Makassar Sulawesi Selatan E-mail: jurnaldialektika@gmail.com

Daftar Isi
PENGANTAR EDITOR — Peran Elit Adat dalam Politik Praktis di Sulawesi Selatan Pasca Orde Baru Sudirman Muhammadiyah — RIVALITAS POLITIK LOKAL : Perspektif Sosiologi Kekuasaan atas Hegemoni Parpol Terhadap Calon Perseorangan dalam Pemilihan Walikota Kendari 2012 Ambo Upe — ISLAMOPHOBIA: (Analisis Sosiologi Trust Terhadap Islam di Barat) Syahrir Ibnu — PEMBINAAN SEBAGAI UPAYA REHABILITASI SOSIAL PENGGUNA NAPZA (Studi pada Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa Gowa) Darwis — MARAQDIA BALANIPA (Studi Pergeseran Peran di Polman Provinsi Sulawesi Barat) Muhammad Asdar A.B. — DINAMIKA SOSIAL PRAMURIA : Studi Kasus di Pharos Nite Park, Makassar Benyamin Rongrean — KAOMBO (Kearifan Lokal Buton tentang Hutan dan Lingkungan) La Ode Muhammad Deden Marrah Adil — DAMPAK PROGRAM PENGEMBANGAN KECAMATAN (PPK) TERHADAP PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN BANTIMURUNG KABUPATEN MAROS Adi Sumandiyar — KOMUNIKASI PERKAWINAN ANTAR ETNIK (Studi Kasus Perkawinan Antar Etnik Manado – Jawa di Kota Makassar) Deetje Anna Kawengian — Merajut Persaudaraan Komunitas Lewat Konflik (Studi Suporter Turnamen Sepak Bola Komodo Cup Manggarai NTT di Makassar) Arda Senaman —

iii

Pengantar Editor
Tradisi dan budaya akademik dalam periode waktu teramat panjang, terkesan hanya terjebak dalam proses pendidikan di ruang kelas. Civitas akademika kampus, dosen dan mahasiswa menjalani rutinitas pembelajaran dengan melakukan perkuliahan di kelas, membimbing mahasiswa KKN di tengah masyarakat, membimbing dalam penulisan karya ilmiah. di ujung penyelesaian studi, kemudian menjalani prosesi wisuda alumni. Rutinitas demikian itulah seakan membelenggu civitas akademika, sehingga dinamika akademik hanya berproses dalam pendidikan dengan skala sangat relatif terbatas di ruang kelas. Tradisi akademik yang ideal sudah jelas diamanahkan pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dunia kampus dengan budaya akademik terfokus pada pendidikan, memberi indikasi kalau para dosen dan mahasiswa terasing dari lingkungan masyarakat, dan laksana berumah di atas menara gading. Realitas budaya akademik di luar negeri, terasa amat jauh bedanya, jika dibandingkan dengan apa yang dijalani civitas akademika di republik ini. Kalangan dosen malah berlomba mengajar puluhan mata kuliah dengan jam mengajar lebih dari 24 jam. Akibatnya jika dikalkulasi mata kuliah yang diajarkan dengan jam mengajar, ada dosen yang tidak dapat tidur sehari semalam. Sebaliknya, kampus di luar negeri, tiga pilar akademik itu, pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, berjalan secara beriringan dan bersinergi, menjadikan kampus tersebut betul-betul menjadi bagian dari agen perubahan dari masyarakat di sekitarnya. Tradisi meneliti dikalangan civitas akademika pada kampus di luar negeri tergolong sangat tinggi dan profesional serta membawa manfaat bagi masyarakat. Hasil penelitian dilakukan secara baik dan benar, sesuai kaidah dalam penelitian ilmiah, kemudian dipublikasikan pada jurnal ilmiah yang menjadi rujukan dan inovasi baru bagi perkembangan dan pertumbuhan masyarakat. Publikasi karya ilmiah bagi civitas akademika menjadi salah satu instrumen penting dalam pengembangan budaya akademik. Realitas sosial membali memberi pertanda kalau semangat para dosen melakukan publikasi karya ilmiah tergolong masih sangat kecil. Data publikasi hasil penelitian pada jurnal ilmiah internasional, karya dosen dan cendekiawan Indonesia memalukan dan tertinggal jauh dari negara lain. Data Scimago Institution Ranking (SIR) 2011, peringkat publikasi ilmiah dari Indonesia masih sangat jauh tertinggal dibanding. Malaysia dan Thailand. Indonesia menempati peringkat 64 dari 236 negara, di bawah Thailand pada posisi 42 dan Malaysia pada posisi 43.  Malaysia telah mempunyai 55211 artikel, sedangkan Indonesia sebanyak 13047 artikel. Dari 3042 kampus seluruh dunia masuk peringkat SIR 2011, hanya tiga kampus dari Indonesia, yaitu Universitas Indonesia (UI) peringkat 2451, Institut Teknologi Badung (ITB) peringkat 2466, dan Universitas Gajah Mada (UGM) peringkat 2944. Jumlah tersebut sangat mengenaskan dibandingkan jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia yang sudah melampaui 3000 kampus. Indonesia masih kalah dengan Thailand menyertakan 16 lembaga, Malaysia dengan 14 lembaga, dan Singapura dengan 13 Lembaga. Indonesia hanya setara Vietnam yang juga menyertakan tiga lembaganya, dan masih di atas Filipina dengan 2 lembaga. Bahkan, tiga PTN tersebut  tidak masuk tiga puluh besar di wilayah

iv

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

v

ASEAN. Menyikapi kenyataan demikian, maka Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional menepuh kebijakan guna memacu ketertinggalan itu mengeluarkan ketentuan publikasi untuk program S1/S2/ S3, lewat Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 : Wajib Publikasi Ilmiah Bagi S1/S2/S3). Aturan tersebut berlaku terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Kebijakan itu mewajibkan calon alumni memenuhi ketentuan berikut sebelum ikut ujian ujian akhir yakni. S1 harus ada makalah terbit di jurnal ilmiah. S2 harus ada makalah terbit di jurnal ilmiah nasional terutama terakreditasi Dikti. Program S3 harus ada makalah sudah diterima terbit di jurnal internasional. Kodisi riel pada kampus PPs-UNM juga masih jauh dari harapan, jurnal ilmiah yang memiliki ISSN dari LIPI, hanya empat dari 20 program studi yang ada, yakni; Ilmu Administrasi, Dialektika Kontemporer dari Prodi Sosiologi, Bahasa dan Pendidikan. Tetapi jurnal itu, baru Ilmu Administrasi Publik sudah terbit, ketiga lainnya baru memiliki ISSN. Regulasi persyaratan publikasi jurnal bagi calon sarjana, membuat kalangan civitas akademika kampus panik dan kelabakan. Wadah mempublikasikan karya ilmiah mahasiswa relatif terbatas, sehingga kalau kebijakan itu diberlakukan maksimal, akan menjadi kendala dan hambatan bagi calon mahasiswa merampungkan studinya. Menjawab tantangan masih lemahnya tradisi penelitian dan publikasi karya ilmiah itu, maka Prodi S3 Sosiologi PPs-UNM, bertekad menghadirkan jurnal ilmiah di tengah minimnya penerbitan jurnal. Edisi perdana ini menjadi motivasi dan pemberi nuansa dalam membangun budaya dan tradisi akademik semakin kuat dan kompetitif. Edisi perdana yang hadir di depan pembaca membuat 10 artikel karya ilmiah dari kalangan mahasiswa sosiologi dari jenjang studi S3. Kehadiran jurnal ini sekaligus mencatat sejarah baru bagi perjalanan budaya dan tradisi akademik kampus terutama S3 Sosiologi PPs-UNM, sebagai satu-satunya prodi S3 di luar Pulai Jawa, semakin kuat dimasa-masa mendatang. Naskah yang termuat pada edisi perdana ini, artikel ditulis oleh Sudirman Muhammadiyah dengan judul, Peran Elit Adat dalam Politik Praktis di Sulawesi Selatan Pasca Orde Baru. Hasil penelitian menemukan bahwa persepsi umum bahwa perubahan struktur sosial memengaruhi proses perubahan norma-norma lama tidak terpakai lagi, tokoh-tokoh lama tidak lagi mempunyai status, mereka tidak dapat menggunakan kekuasaan dan politik mereka lagi. Ternyata tidak keseluruhan berlaku bagi elit adat di Sulawesi Selatan, semua partai politik yang ada DPW memiliki elit adat baik sebagai individu maupun dalam bentuk minoritas kelompok, walaupun pada proses selanjutnya mengalami perubahan dari elit adat ke elit nasional. Rekruitmen Elit adat dalam partai politik didasari bahwa mereka memiliki basis massa, dikarenakan kharismatiknya di tengah masyarakat. Ambo Upe menulis tentang, Rivalitas Politik Lokal: Perspektif Sosiologi Kekuasaan atas Hegemoni Parpol Terhadap Calon Perseorangan dalam Pemilihan Walikota Kendari 2012. Dikatakan, perilaku politik pemilih dalam arena pemilihan kepala daerah sangat variatif, sebagian besar masih bersifat pragmatis, dan sebagian lainnya sudah prospektif dengan mengorientasikan pilihannya pada calon yang memiliki visi misi reformis. Kendati demikian, masih juga terdapat pemilih yang berorientasi masa lalu. Tipologi pemilih yang demikian akan membentuk pola orientasi kepada partai politik atau kepada calon perseorangan. Karena itu, semakin tinggi kecerdasan prospektif pemilih, maka semakin besar peluang pasangan calon perseorangan mengkonstruksi objektivasi dan internalisasi politiknya. Semakin gencar pasangan calon perseorangan mengkonstruk objektivasi dan internalisasi politik di berbagai daerah, maka semakin tinggi

vi

Jurnal Sosiologi

intensitas partai politik termasuk incumbent melakukan kunjungan kerja dan sosialisasi program kerja. Penulis ketiga, Syahrir Ibnu menulis tentang, Islamopohobia, Analisis Sosiologi Trust Terhadap Islam di Barat. Dia mengatakanm Islamophobia adalah sebuah gejala dari sebuah doktrin yang telah ada di masyarakat Barat. Keyakinan akan kebenaran Islamophobia semakin membesar ketika terjadinya sebuah tragedi besar yakni pengeboman WTC di Kota New York pada tanggal 11 September 2001. Islamophobia adalah isu yang bukan hanya tak mendasar namun Islamophobia adalah isu yang berusaha memutus kepercayaan Barat terhadap Islam. Islamophobia juga adalah isu yang dijadikan komoditi dalam Pemilu di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat demi mendulang suara. Darwis menulis soal, Pembinaan Sebagai Upaya Rehabilitasi Sosial Pengguna Napza Studi pada Lapas Narkotika Kls IIA Sungguminasa Gowa). Dikatakan, Proses pembinaan dalam upaya rehabilitasi sosial pengguna napza di Narkotika Klas IIA Sungguminasa yaitu: a) Rehabilitasi sosial dalam aspek perilaku, terdiri dari pembinaan perilaku lewat mental dan spiritual, kedisiplinan, pembinaan keagamaan, penyuluhan, penegakan hukum, keterampilan, pembinaan konseling, pembinaan berstruktur dan keperibadian, b) Proses rehabilitasi sosial dalam aspek hukum, menyangkut remisi warga binaan dan ganjaran warga binaan terhadap pelanggaran, c) Aspek ekonomi tentang anggaran operasional lapas, dan d) Aspek integrasi masa pengenalan lingkungan, keterampilan dan kegiatan keagamaan. Disisi lain proses pelaksanaan rehabilitasi sosial belum berfungsi secara optimal sebagai lembaga pemasyarakatan sebab masih adanya residivis. Muhammadi Asdar menulis tentang, MARAQDIA BALANIPA (Studi Pergeseran Peran di Polman Provinsi Sulawesi Barat, dikatakan bahwa pergeseran peran pada Maraqdia Balanipa di Kecamatan Tinambung kabupaten Polman Propinsi Sulawesi Barat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: Komitmen memegang dan memelihara adat. Hal ini menjadi salah satu pemicu terjadinya pergeseran. Hal ini menjadi keniscayaan ketika era modern menjelma menjadi sesuatu yang harus dilakoni dan dihadapi justru terjadi kekendoran dalam memegang dan memelihara adat termasuk memelihara keberadaan Maraqdia di wilayah mandar. Pemekaran wilayah juga berpengaruh pada pergeseran peran nilai maraqdia. Seolah berlomba dengan waktu semua orang mengingkan jabatan yang banyak tersedia. Dalam hal ini tidak bisa dinapikan bahwa keluarga maraqdia pun ikut andil dalam kegiatan politik praktis. Sehingga mengabaikan norma dan nilai kepatutan terhadap komitmen memelihara dan menjaga kelestarian arrajangan balanipa. Benyamin Rongrean Dinamika Sosial Pramuria (Studi Kasus di Pharos Nite-Park, Makassar) Pilihan hidup menjadi seorang pramuria dilatari problema kehidupan yang pernah dihadapi, menyebabkan timbul keinginan mencari kerja agar melupakan masalah berat yang menyelimutinya. Kekecewaan terhadap lingkungan keluar menyebabkan informan lari dari kehidupan sendiri, agar dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Mereka itu sudah tidak mempunyai pilihan lain, memperoleh uang dengan cepat, kecuali bekerja sebagai pramuria. Teori pertukaran perilaku, Homans mengemukakan bahwa seseorang akan semakin cenderung melakukan suatu tindakan manakala tindakan tersebut makin sering disertai imbalan. Persoalan terjadi pada diri pramuria membuat merasa tidak lagi berbuat apa-apa, karena sudah menganggap diri kotor, sehingga tidak ada lagi keinginan mencari pekerjaan lain. La Ode Muhammad Deden Marrah Adil, menulis tentang Kaombo, Kearifan Lokal Buton tentang Hutan dan Lingkungan. Dikatakan, Kaombo salah satu nilai kearifan lokal di tengah masyarakat Buton, nilai kearifan ini merupakan komponen penting terbentuknya kebudayaan nasional, yang dalam perspektif sosiologis merupakan satu dari enam modal sosial (Social Capital) yang seharusnya dapat dioptimalkan untuk memampukan masyarakatnya bergerak secara dinamis dalam rangka perwujudan pembangunan demi terciptanya kehidupan bermasyarakat yang harmonis, stabil dan tidak menciptakan ketegangan-ketegangan (konflik) antar struktur

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

vii

dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dimana nilai kearifan lokal itu bertumpu. Adi Sumandiyar, menulis tentang Dampak Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros Program itu ternyata membawa dampak terhadap peningkatan pendapatan keluarga di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros yaitu berdampak positif dan signifikan, walaupun masih terdapat masyarakat yang belum mampu meningkatkan pendapatan keluarga. Dampak PPK terhadap peningkatan kesempatan kerja di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros yaitu berdampak positif dan signifikan, walaupun masih terdapat masyarakat yang belum mampu mendapatkan kesempatan kerja. Strategi yang dibutuhkan untuk lebih meningkatkan ekonomi masyarakat adalah mengembangkan sumber daya alam dan meningkatkan keterampilan masyarakat untuk adaptasi teknologi. Deetje Anna Kawengian, menulis soal, Komunikasi Perkawinan Antar Etnik (Studi Kasus Perkawinan Antar Etnik Manado – Jawa di Kota Makassar), dikatakan bahwa pola Komunikasi di dalam perkawinan antar etnik Manado-Jawa dapat dilihat dari sisi (a) pendapatan atau kemapanan strata sosial pada umumnya informan menerima apa adanya yang telah diperoleh suami-isteri melalui jenis pekerjaan, (b) dibidang pendidikan anak diberi pelayanan sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga, clan bertanggung jawab dalam pendidikan anak sampai jenjang pendidikan tertentu, (c) pelaksanaan ajaran agama baik yang berbeda agama maupun yang sama ajaran agama dalam keluarga berjalan baik, penuh toleransi saling mendukung antar anggota keluarga, dan (d) lingkungan sosial yang dipraktekkan oleh informan mendapat tanggapan positif dari masyarakat di sekitarnya, tetapi omunikasi baik dan harmonis dalam hidup bertetangga bersama dengan hak clan kewajibannya, baik sebagai makhluk individu mapupun sebagai makhluk sosial Arda Senaman Merajut Persaudaraan Komunitas Lewat Konflik (Studi Suporter Turnamen Sepak Bola Komodo Cup Manggarai NTT di Makassar) Pencegahan konflik yang terjadi dikomunitas sepak bola komodo cup ialah: agar offisial pertandingan mampu membuka ruang diskusi bagi para suporter dengan tujuan, agar mampu mengontrol aksi-aksi yang akan mereka lakukan baik sebelum pertandingan dimulai maupun sesudah pertandingan sepak bola berjalan. Hal ini bertujuan untuk aksi tidak diinginkan mampu diredam dengan cara memberikan pengertian bahwa sepakbola tidak menginginkan sebuah aksi brutal, ekstrem, dan merusak yang akan berakibat buruk terhadap citra persepakbolaan di tanah air dan juga terhadap di mata dunia. Sebab suatu event olah raga tidak menganjurkan adanya konflik yang mengarah ke aksi ekstrem melainkan event olah raga menginginkan terciptanya aksi-aksi sportif yang bukan hanya ditunjukkan oleh pemain dan offisial team, melainkan juga ditunjukkan oleh para suporter yang merupakan bagian dari satu kesatuan pertandingan sepak bola. Dengan demikian maka konflik akan mudah dicegah, sehingga tidak menimbulkan konflik. Kesepuluh naskah yang dimuat pada edisi perdana ini, minimal akan memberi inovasi dan pengetahuan baru bagi masyarakat terkait, pada persoalan ilmu sosial terutama pada pengembangan disiplin ilmu sosiologi. Edisi perdana di hadapan para pembaca ini disadari masih sangat jauh dari sempurna. Kehilapan dan kesalahan dalam soal editing dan ejaan kami sadari masih tetap ada, sehingga segala masukan dan dan kritikan dari pembaca dengan senang hari akan kami terima, guna perbaikan pada edisi terbitan selanjutnya. Redaksi

PERAN ELIT DALAM POLITIK PRAKTIS di SULAWSESI SELATAN PASCA ORDE BARU
Sudirman Muhammadiyah Universitas Veteran Republik Indonesia Makassar Abstract
The research focused on the provincial executive board of political parties, based in Makassar, while the unit of analysis was five political parties (PAN, PDI-P, PKP, PBB, PKB). This is a qualitative research emphasizing deductive empirical data obtained from interviews with a number of indigenous elites involved in political parties in South Sulawesi, documentation study, and participant observation. The data were then processed and analyzed using the steps, namely: reduction, abstraction, unitization, categorization and coding. Verification on the validity of the data and interpretation using verstehen method indicates that the role of indigenous elites in South Sulawesi is still dominant in political life due to the prevalent paternalistic view in the society. The role can be observed in the activities of political parties in the form of recruitment, mobilization of masses and the establishment of new parties. Similarly, in the efforts to uplift the parties as well as in the conflict resolution, political education, the implementation of the party programs and platforms, the involvement of indigenous elites is rarely absent. Keywords: Indigenous Elite, Political Parties, South Sulawesi

Pendahuluan

I

stilah elit menunjuk kepada suatu minoritas pribadi-pribadi yang diangkat untuk melayani suatu kolektivitas dengan cara yang bernilai sosial. Kaum elit adalah minoritas-minoritas yang efektif dan

bertanggung jawab efektif melihat kepada pelaksanaan kegiatan kepentingan dan perhatian kepada orang lain tempat golongan elit ini memberikan tanggapannya. Golongan elit mempunyai arti secara sosial akhirnya bertanggung jawab untuk realisasi tujuan sosial yang utama dan untuk kelanjutan tata sosial. Kelanjutan sebagaimana digunakan di sini, mencakup penyertaan pada suatu proses sosial yang berlangsung, dan sementara artinya tidak sama dengan mempertahankan hidup, maka ia mencakup juga kemungkinan runtuh. Zaman Orde Baru mengenal hanya tiga partai politik membuat elit adat terkonsentrasi memobilisir massa, sikap elit adat terhadap partai politik memengaruhi sifat partisipasi dalam masyarakat dimana masyarakat bersangkutan dikerahkan hanya terjadi apabila elit adat mengadakan usaha melibatkan massa rakyat dalam kegiatan politik. Masyarakat Sulawesi Selatan dapat diidentifikasikan secara komunal, terdiri dari empat etnik dengan bahasa berbeda yaitu etnik Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Secara struktur dalam strata sosial yang jelas antara masyarakat kelas elit atas, elit menengah, elit bawah. Elit adat mempunyai peran tersendiri di tengah masyarakat termasuk memobilisasi massa atau terlibat dalam pembentukan partai politik. Pergeseran tripartai politik ke multipartai membuat elit mengalami perubahan peran dalam perkembangan partai politik khususnya di Sulawesi Selatan tercatat 48 partai politik yang mendeklarasikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Sulawesi

2

Jurnal Sosiologi

Selatan. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, dan memperhatikan lingkup masalah yang berkaitan dengan penelitian ini maka masalah difokuskan pada peran elit adat dalam perkembangan partai politik di Sulawesi Selatan pasca Orde Baru, dan faktor-faktor yang memengaruhi peran elit adat tersebut.

Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif menekankan data empirik induktif, pemahaman berulang. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara. Sesuai metode yang digunakan, maka penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi. Di samping menggunakan teknik observasi untuk melengkapi data yang diperlukan dalam penelitian ini juga digunakan teknik wawancara mendalam (Indepth Interview). Sasaran utama dijadikan pusat perhatian yaitu elit adat terlibat dalam pengembangan partai politik di Sulawesi Selatan, memfokuskan pada pasca Orde Baru atau pada kondisi era reformasi. Teknik pemilihan elit adat dilakukan dengan purposive, dan penentuan jumlah yang diperlukan dilakukan dengan snawball, artinya tergantung pada sejauh mana informasi yang telah diperoleh dapat memenuhi keperluan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan terlibat dan wawancara mendalam (indepth interview), dilakukan oleh peneliti sendiri (bertindak sebagai instrumen penelitian) yang dimulai dalam perencanaan, pelaksanaan, dan analisis data hingga penulisan hasil penelitian. Analisis data secara induktif dilakukan sepanjang proses penelitian sesuai pandangan Schlegel (1994) bahwa agar analisis data lebih berbobot, maka analisis itu berdasarkan data yang langsung dari lapangan.

Pembahasan
Munculnya partai politik di Eropa pada abad ke-19 gereja Katolik menyatukan diri pada pemerintahan demokrasi dan pemilihan sebagai sarana demokrasi dilaksanakan dengan jalan membentuk partai Kristen Demokrat yang secara bertahap melepaskan orientasi keagamaan mereka demi organisasi, program, dan panggilan partai yang diikuti dengan pembentukan partai sosialis. Setelah perang dunia kedua, Partai Komunis lahir sebagai wujud dari hasil revolusi sebagai ciri partai komunis. Sedangkan di beberapa negara yang baru merdeka partai politik muncul dengan misi menanamkan partisipasi dan kesadaran politik pada masyarakat yang merasa tidak puas. Tahap kedua perkembangan partai politik muncul setelah pertengahan abad ke-19. Tahap ketiga perkembangan partai pada akhir abad ke-19, pada periode ini Maurice Duverger secara jitu mengkaitkan pertumbuhan dari apa yang disebut partai-partai di luar parlemen (extra parlementer).

Fungsi Partai Politik
Fungsi partai politik dirumuskan Sigmund dikutip Miriam Budiarjo (1986) menegaskan bahwa fungsi partai politik yaitu sebagai sarana komunikasi. Partai politik sebagai sarana sosialisasi politik. Partai politik sebagai sarana rekruitmen politik, tanpa rekruitmen suatu partai politik tidak memiliki anggota atau elit politik yang diandalkan dalam berbagai kegiatan politik, rekruitmen politik dimaksudkan upaya partai politik untuk mencari dan mengajak orang yang berbakat terlibat aktif dalam kegiatan politik.

Rekruitmen Politik
Rekruitmen politik merupakan suatu proses pertahanan sistem yang dilembagakan secara parsial. Perdagangan politik sebagian besar dipelajari melalui sitem pemagangan (apprenticeship). Perspektif karier setiap generasi dibentuk oleh perioritas-perioritas baru pada keterampilan dan pengetahuan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan yang berubah dan oleh contoh kinerja, baik dan buruk. Pada tahapan awal para pemimpin masa depan sedang

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

3

disaring kapasitas mereka, kapasitas yang tidak dimiliki pendahulunya. Pada saat yang sama para elit secara terus menerus mencari para penerus yang mempunyai gaya, penilaian, temperamen, dan pandangan seperti mereka. Para ahli teori klasik, Mosca, Pareto, dan Michels, masing-masing mengeksplorasi dan mengkaji implikasi jabatan (incumbency). Elit yang berkuasa tidak dengan sendirinya memadai malah sering jabatan menjadi rem terhadap terhadap upaya-upaya untuk memperbaharui rasionalitas fungsi lembaga, karena norma-norma kinerja dan sifatsifat kepemimpinan cenderung diatur oleh para pemegang jabatan itu sendiri (Kuper dan Kuper, 2000).

Tipologi Partai Politik
Berdasarkan data dari Kesatuan Bangsa (Kesbang) Ditsospol Sulawesi Selatan, 48 partai politik yang ada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) di Jakarta mempunyai Dewan Pimpinan Daerah(DPD)/Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di Sulawesi Selatan. Berdasarkan tipologi partai politik dan pengembangannya maka peneliti hanya fokuskan kepada lima partai politik yakni: 1. Partai Amanat Nasional dengan alasan sebagai partai plural dan majemuk yang tentunya memungkin elit adat berperan di dalamnya. 2. Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan dasarnya sebagai pengembangan dari PDI Budiharjono bentukan Orde Baru, partai yang syarat dengan konflik intern dan merupakan partai nasionalis. 3. Partai Keadilan dan Persatuan sebagai partai bentukan KBA (Keluarga Besar ABRI) yang selama Orde Baru sebagai pilar partai Golkar. 4. Partai Bulan Bintang, merupakan partai yang berbasis Islam yang secara historis merupakan gambaran partai Masyumi. 5. Partai Kebangkitan Bangsa, partainya NU yang basis massanya waktu Orde Baru disalurkan di PPP. Kelima partai politik tersebut secara umum mewakili seluruh struktur masyarakat Sulawesi Selatan.

Elit Adat di Sulawesi Selatan
Setiap masyarakat selalu terdapat aturan yang menjadi dasar serta pedoman sikap, tingkah laku dan tindakan yang dianggap harus ditaati karena adanya kepercayaan bahwa aturan itu diwariskan dari nenek moyang mereka. Aturan itu diturunkan (diwarisi) secara turun temurun dari suatu generasi lainnya melalui proses pendidikan yang biasanya dimulai dalam lingkungan keluarga masing-masing (Walinono, 1979: 73). Secara garis besar AR, (elit adat Partai Bulan Bintang) memberi pandangan bahwa besar kecilnya pengaruh aturan adat di dalam kehidupan seseorang, ditentukan oleh seberapa jauh aturan adat mengalami proses internalisasi ke dalam sistem kepribadian seseorang, pengetahuan mengenai aturan adat yang bersangkutan diperoleh dalam proses sosialisasi yang pada hakekatnya adalah proses yang dialami seseorang yang belajar menjalankan peranan dalam kelompok dimana ia menjadi anggotanya, bagi orang-orang tertentu aturan adat itu sudah sedemikian melekat pada dirinya sehingga ia memperoleh aturan itu secara otomatis dan merasa bersalah apabila ia tidak melaksanakan aturan-aturan adat itu. Di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan adek (adat) masih merupakan salah satu di antara aturan yang menjadi dasar dan pedoman bersikap dan bertingkah laku. Adek pada dasarnya berfungsi prefentif yaitu mencegah terjadinya hal-hal yang bertentangan dengan adat masyarakat yang berimplikasi merusak keseimbangan kehidupan sosial.

Sitem Budaya Elit Adat di dalam Partai Politik
Masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya masih berorientasi pada tiga sistem budaya yakni adat (adek), agama (Islam, Kristen, agama lainya), dan keindonesian, dalam hal-hal tertentu ketiga sistem budaya itu masih

4

Jurnal Sosiologi

tetap berdampingan secara otonom dan didukung oleh lapisan masyarakat (Walinono, 1979:165). Orientasi pada ketiga sistem budaya nampak dalam sikap dan tingkah laku elit adat dalam aktivitasnya dalam pengamatan peneliti setiap ada kegiatan formal dalam partai politik (rapat, diskusi, dan sebagainya) dimana elit adat dalam lima partai setiap tindakan dan tingkah lakunya ada yang cenderung mengutamakan aturan adat (Bugis Makassar) sedang yang lainnya mengutamakan sistem budaya agama, tetapi mayoritas mengutamakan nilai-nilai dan aturan ke Indonesian (pengamatan peneliti 20 Juni 2001). Dari ketiga sistem budaya masing-masing elit adat mempunyai argumen berbeda, A.P, menganggap bahwa adat harus ditaati karena nilai dan aturan berasal dari masyarakat Sulawesi Selatan sendiri merupakan warisan dari suatu generasi kegenerasi berikutnya dan ini merupakan daya tarik tersendiri bagi partai politiknya (21 Juni 2001). Anggapan lain A.Y, dan A.S (partainya berbasis Islam) mengemukakan bahwa setiap aktivitas keseharian di partai politik dibudayakan hal Islami yang merupakan manipestasi dari da’wah dengan sendirinya partai politiknya bukan hanya urusan negara (duniawi) tetapi juga akhirat sehingga ada nilai pahalanya (wawancara, 22 Juni 2001). A.B. (parpol berbasis nasionalis) punya sikap berbeda terhadap sistem budaya dipartainya menurutnya aturan-aturan bernegara harus diaplikasikan dalam keseharian masyarakat Indonesia sehingga budaya Indonesia sebagai perekat budaya-budaya lain dapat diwujudkan (23 Juni 2001). Analisis peneliti, bahwa perbedaan perilaku dan sikap elit adat dalam partai politiknya merupakan aktualisasi diri yang merasa bahwa dialah yang superior sehingga sistem budaya lain lebih rendah dan tingkah laku tersebut dipandang sebagai tradisi di dalam partai politiknya. Kesemuanya itu sebagai wujud kepribadian oleh Gert dan Mills dalam Poloma (1994: 331) disinyalir bahwa tingkah laku manusia dan motivasi manusia dalam berbagai tipe masyarakat dengan mempertanyakan bagaimana kelakuan eksternal dan kehidupan hakiki (inner life) individu saling pengaruh memengaruhi dengan individu lain, dalam hal ini struktur karakter dikaitkan dengan struktur sosial termasuk kekeluargaan, agama, ekonomi, militer, dan politik melalui peranan sosial seseorang.

Peran Elit Adat dalam Partai Politik
Elit adat yang masuk dalam kepengurusan partai politik di Sulawesi Selatan sebahagian besar telah aktif pada partai politik sebelumnya (PPP, Golkar, PDI), banyaknya elit adat terlibat dalam partai politik diakui AP, sebagai hal lumrah dan merupakan hak individu tetap eksis di jalur politik. Namun disadari bahwa tidak semua berpolitik mempunyai basis massa, tetapi hanya persepsi kalangan masyarakat bahwa elit adat itu punya strategis. Dari hasil penelitian di lapangan menunjukkan penyebaran elit adat pada 5 partai politik dapat dikategorikan sebagai berikut:

Tabel Elit Adat Dalam Pengurus Partai Politik
No 1 2 3 4 5 Total Partai Politik PAN PDI-P PKP PBB PKB Jumlah Pengurus 112 89 75 79 98 453 Elit Adat 34 30 14 10 15 103

Sumber :Penelitian Lapangan, Juni 2001

Dari data lapangan dapat dijelaskan bahwa semua partai politik di Sulawesi Selatan melibatkan elit adat sebagai pengurus menurut informan kunci bahwa keterlibatan tersebut didasarkan elit adat masih dianggap memiliki kekuatan massa yang dapat membuat partai pilihannya berkembang apalagi partai tersebut merupakan partai yang baru terbentuk. Menurutnya dibanding dengan masa Orde Baru (multipartai terbatas 3 Orsospol) elit saat itu terfokus (tafsiran peneliti mayoritas) di satu partai politik yakni Golongan Karya sehingga menurutnya,

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

5

masyarakat sering pelesetkan Golkar identikkan dengan Golongan Karaeng (wawancara, 4 Juni 2001). Setelah pasca Orde Baru penyebaran elit di berbagai partai politik yang baru dibentuk di Sulawesi Selatan tidak bisa dipungkiri secara fakta bahwa elit adat dibutuhkan banyak partai politik. Hasil temuan peneliti berdasarkan 5 informan kunci yakni A.M (Partai Amanat Nasional), A.P (Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan), A.B (Partai Keadilan dan Persatuan), A.S (Partai Bulan Bintang) dan A. S (Partai Kebangkitan Bangsa) diperoleh dari jumlah pengurus 453 orang terdapat 103 elit adat (lima partai politik). Hasil wawancara dengan A.P. peneliti mengungkap bahwa menurutnya kesalahan selama ini elit adat hanya dijadikan sebagai kendaraan politik oleh Golkar sebab dari sekian banyaknya elit adat yang ada di partai tersebut hanya segelintir saja yang menjadi wakil rakyat bahkan tidak ada sama sekali, menurutnya elit adat hanya dibutuhkan ketika mau Pemilu untuk kampanye (wawancara, 7 Juni 2001). Hasil wawancara mendalam tersebut peneliti mamahami bahwa secara sosiologi politik apa yang diperankan elit adat merupakan pergolakan antara psikologi sosial dengan struktur sosial, dimana elit adat merupakan aset yang punya pandangan historis yang luas bagaimana ia memahami dirinya mempunyai kharismatik di tengah masyarakatnya, tetapi tidak mampu secara kreatif mewakili aspirasi pengikutnya. Hal ini dipertegas seorang sosiolog C. Wright Mills bahwa di dalam masyarakat tidak boleh mengenyampingkan prinsip-prinsip psikologis. Ia mencoba mengaitkan dengan masalah sosiologis dan struktur (Poloma, 1994: 330). Berkaitan dengan hal tersebut struktur karakter individu juga terdapat pada elit adat yang terkait langsung dengan struktur sosial agama, ekonomi, militer, dan politik. Bahkan lebih jauh elit adat memiliki ambisi untuk tetap mempunyai peran di partai politik. Gerth dan Mills mengilustrasikan manusia sebagai mahluk unik disebabkan oleh adanya konstelasi organisme biologis tertentu, struktur fisik, dan peranan seseorang dalam setiap struktur karakter, manusia adalah keseluruhan biologis yang dilengkapi dengan psikis dari berbagai perasaan, sensasi, dan impuls yang bersarang dalam organisme manusia. Dalam pengamatan peneliti hal ini menyebabkan masih adanya elit adat berperan dalam partai politik bahkan rela pindah partai lain yang sejak dulu sebagai pengurus. Menurut A.B dulu partainya adalah Golkar tetapi adanya perubahan tatanan politik, maka ia pun hengkang dari partai Golkar ke PKP dengan berbagai pertimbangan politik (pengamatan, 25 Juli 2001). Hal tersebut menunjukkan bahwa A.B. sebagai elit adat secara psikis tentu mempunyai sensasi dan keinginan yang lain jiwa kepemimpinan dan hasrat ingin berkuasa merupakan fokus dalam setiap perilaku manusia yang menurut Mills sebagai mahluk unik dalam pengertian elit adat merupakan perkembangan dari sebuah historis. Dalam perspektif sosiologi politik kontemporer Mills (1963) menekankan kekuasaan sebagai hal sangat penting dalam suatu masyarakat. Kehidupan sosial dilihat sebagai pertarungan kekuasaan yang tanpa akhir, terkadang berupa konfrontasi fisik (perang), tetapi lebih sering terjadi adalah perjuangan politis dan simbolis. Mills secara tegas menulis bahwa manusia bebas membuat sejarahnya. Himbauan Mills terhadap teori imajinasi sosiologis merupakan kritik terhadap model naturalistis yang sudah dominan. Menurutnya imajinasi sosiologi adalah kemampuan untuk menangkap sejarah dan biografi serta daya gunanya dalam masyarakat tanpa menutup mata dengan ground teori.

Penyelesaian Konflik
Data di lapangan mengungkapkan ketika awal jatuhnya KH. Abd. Rahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia daerah-daerah lain di Indonesia demonstrasi menuntut Gusdur meletakkan jabatannya karena dugaan KKN. Sulawesi Selatan yang dikenal dengan karakter keras tidak terjadi demonstrasi yang besar. Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap Sekretariat Partai Kebangkitan Bangsa (partai pendukung Gus Dur) dengan A.S. Bahwa kondisi Sulawesi Selatan yang rentang demonstrasi pada saat ini dapat diredam dengan konsilidasi

6

Jurnal Sosiologi

para elit adat yang ada di partai lain dan elit adat di luar sistem (wawancara, 29 Juli 2001). Sementara itu elit adat di PBB bahwa meredam konflik di Sulawesi Selatan tidak terlepas dari peran elit adat mengsosialisasikan jalan keluar menurutnya kekuatan lain dari elit adat retorika yang berbanding lurus dengan kharismatiknya hanya parkataan yang benar mampu diikuti rakyat (adanna tongeng) penyambung lidah masyarakat tradisional dengan penguasa. Pengamatan peneliti selama terjadi gelombang demonstrasi di Sulawesi Selatan peran elit adat di partai politik cukup besar ketika anggota partai menyarankan merespon keinginan mahasiswa turun ke jalan beberapa pengurus partai PDI-P menyarankan anggotanya (non elit adat) sebaiknya meminta pertimbangan kepada A.P.(observasi, Juni 2001).

Mobilisasi Massa
Aktivitas dalam partai politik tidak terlepas bagaimana seorang elit adat dapat memahami suatu kondisi lingkungannya, bukan hanya menjadikan masyarakat sebagai alat untuk menekan pemerintah apabila ada tujuan partai politik yang ingin dicapai. Hasil wawancara peneliti terhadap peran elit adat dalam kampanye politik pada saat Pemilu yang lalu, menurut M.A (PKP), elit adat sangat besar peran pada saat Pemilu karena masyarakat Sulawesi Selatan masih menganut sistem patronase yang sukar untuk dihilangkan sehingga apa yang dikatakan tokoh politik panutannya, maka dapat dipastikan massanya ikut sesuai yang diperintahkan elit adat (29/7/2001). Berkaitan dengan mobilisasi massa di Indonesia khususnya Sulawesi Selatan berhubungan dengan tokoh yang berpengaruh bukan partisipasi politik yang berdasar pada kesadaran politik dari masyarakat. Kekuasaan yang dimiliki elit adat dalam memobilisasi massa sebagai wujud kharismatik dari individunya, Adams dalam A. Putra memberi penekanan tentang kekuasaan sebagai: ”Power is that aspect of social relations that marks the relative equality of the actors or operating units; it is derived from the relative control of each actor or unit over elements of the environment of concern to the participant”(Adams, 1975: 9-10). (kekuasaan adalah aspek dari hubungan sosial yang menandai kesamaan relatif para pelaku atau unit yang bekerja di situ kekuasaan ini berasal dari penguasaan relatif atas unsur-unsur lingkungan yang penting dari pelaku). Ini berarti bahwa penguasaan elit adat pada lingkungan masyarakat di Sulawesi Selatan merupakan dasar kekuasaan sosial yang merupakan modal yang kuat dalam memobilisasi massa.

SIMPULAN
Peran elit adat dalam pengembangan partai politik berdasarkan hasil penelitian kualitatif dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Persepsi umum bahwa perubahan struktur sosial memengaruhi proses perubahan norma-norma lama tidak terpakai lagi, tokoh-tokoh lama tidak lagi mempunyai status, mereka tidak dapat menggunakan kekuasaan dan politik mereka lagi. Ternyata tidak keseluruhan berlaku bagi elit adat di Sulawesi Selatan, semua partai politik yang ada DPWnya di daerah ini memiliki elit adat baik sebagai individu maupun dalam bentuk minoritas kelompok, walaupun pada proses selanjutnya mengalami perubahan dari elit adat ke elit nasional. Rekruitmen Elit adat dalam partai politik didasari bahwa mereka memiliki basis massa, dikarenakan kharismatiknya di tengah masyarakat. 2. Faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan elit adat dalam pengembangan partai politik adalah a. Perubahan tatanan politik yang multi partai secara fungsional membangkitkan semangat politik elit adat baik secara individu maupun kelompok. b. Pendidikan politik memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa elit adat bukan hanya milik partai politik tertentu.

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

7

c. Prestise yang merupakan kehormatan yang melekat pada elit adat, status atau peranan tertentu. Dengan masuknya elit adat partai politik tertentu, maka akan mengandung nilai-nilai yang dipandang tinggi, karena hanyalah lewat wadah partai politik elit adat dapat memperoleh kekuasaan. Berdasarkan hasil temuan secara kualitatif dalam penelitian ini yang dipaparkan dalam kesimpulan peneliti, maka berikut ini dikemukakan saran-saran yang bersifat membangun wacana sosiologis. 1. Elit adat sebagai elemen dari struktur masyarakat Sulawesi Selatan sebaiknya jangan hanya dijadikan sebagai alat politik, tetapi potensi yang superior melekat dalam elit dijadikan bagian bermanfaat dan berdaya guna dalam pendidikan politik di Sulawesi Selatan. 2. Elit sebagai patron tidak eksklusif terhadap client karena hubungan keduanya merupakan interaksi yang bersifat timbal balik apalagi masyarakat Sulawesi Selatan masih menganut pola hubungan patronase.

DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa Putra, Heddy Shri. 1988. Minawang Hubungan Patron Klien Di Sulawesi Selatan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Alfian. 1988. Kelompok Elit dan Hubungan Sosial di Pedesaan. Jakarta: Pustaka Grafika. Andrian, F. Charles.1992. Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana. Budiardjo, Miriam.1998. Partisipasi dan Partai Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Duverger, Maurice. 1993. Sosiologi Politik. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Faisal, Sanapiah.1955. Format-Format Penelitian Sosial. Jakrta: Rajawali Press. Gooffman, E. 1954. Symbol Of Class Status. Hinsdale. Harton, Paul B & Charles L.H. 1992. Sosiologi, Edisi III. Jakarta: Erlangga. Huntington, P Samuel dan Jhon Nelson. 1994. Partisipasi Politik di Negara Berkembang. Jakarta: Rineka Cipta. Johson, Doyle Paul. 1991. Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Jilid I). Jakarta: Gramedia. _______________, 1991. Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Jilid II). Jakarta: Gramedia. Kartodirdjo, Sartono.1983. Elit dalam Perspektif Sejarah. Jakarta: LP3ES. Koentjaraningrat.1979. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia. Mas’oed, Mohtar.1994. Sosiologi Politik. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Martin, Roderick.1993. Sosiologi Kekuasaan. Jakarta: Rajawali Pers. Mills, C. Wright.1956. The Power Elit. New York: Oxford University Press. Muhadjir, Noeng. 1992. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin. Parson, Talcott. 1985. Esei-Esei Sosiologi. Jakarta: Aksara Persada Press. Poloma, M. Margaret.1994. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers dan Yasogama. Ritzer, George. 1984. Sosiology A Multiple Paradigm Science. Jakarta: Rajawali Press. Rush, Michael dan Althoff Phillp. 1997. Pengantar sosiologi Politik. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Sanit, Arbi.1995. Sistem Politik Indonesia Kestabilan, Peta Kekuatan Politik, dan Pembangunan. Jakarta: Rajawali Press. Siahaan, Hottman, M. 1986. Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta: Erlangga. Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofian.1995. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES. Soemardjan, Selo. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Veeger, K.J. 1985. Realitas Sosial. Jakarta: Gramedia.

RIVALITAS POLITIK LOKAL Perspektif Sosiologi Kekuasaan atas Hegemoni Parpol Terhadap Calon Perseorangan dalam Pemilihan Walikota Kendari 2012
Ambo Upe FISIP Universitas Haluoleo Kendari Abstract
The Region head elections have been undergone changes significant towards consolidation democrace, it is began from the representation system, the directly elections with giving chance for the politics the couple of independent candidate. The fenomena of the independent candidate at the new local politics area have began in the fith years late. So the sociological studies regard with the politics revility its limited. Therefore it is not found yet the scientific publication held. So this study aims to explain the construction of the politics party hegemony of the independent candidates and to understand the voters tendention in occur the politics revality at the Kendari Mayor elections in the years 2012. To achieve the aims is used the qualitative descriptive approach that based in the natural background and the politics setting in Kendari City. The result of this research showed the couple victory Asrun Musadar that to discrip the manifestation of the hegemony counstruction of the politics party and the incumbent politics party structuration. Beside that the couple of La Ode Geo- Oscar Silverius as the independent candidate failure in the hegemony counter that coused by the internalisation politics was not optimally and the institutional is not force to the lowers people organization. Moreever the couple candidate independent failure its also coused by the vouters tendention of election that have been hegemony by the politics party persuasived. Thus the conclution of this case are the politics revality in region heads elections is following with the pattern dialectically include; the hegemony, counter hegemony, new hegemony, and the re-counter hegemony and so on. Keywords: Election, Local Politic, Hegemony, Politic Party, Independent Candidates

Pendahuluan

P

erjalanan sistem politik Indonesia memasuki babak baru setelah disahkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah.Produk hukum ini merupakan putusan untuk melegitimasi

secara tegas posisi calon perseorangan dapat melenggang dalam perhelatan pemilihan kepala daerah (gubernur, walikota, dan bupati) tanpa melalui jalur partai politik. Putusan tersebut merupakan langkah maju dalam pelembagaan demokrasi, baik secara nasional maupun lokal. Perkembangan wacana calon perseorangan dalam rekrutmen pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah merupakan tuntutan dari dialektika sejarah perpolitikan nasional. Secara historis, sistem kepolitikan bangsa Indonesia hingga dewasa ini telah berkali-kali mengalami perubahan, mulai dari Orde Lama hingga Reformasi. Hal ini sejalan dengan tesis Huntington bahwa demokratisasi Indonesia ibarat gelombang yang pasang, surut, lalu bergulung-gulung kemudian memuncak lagi. Dewasa ini reformasi sering dimaknai sebagai era yang lebih demokratis, akan tetapi Indonesia masih berada dalam masa transisi demokrasi. Transisi yang terjadi ditandai oleh tingginya derajat ketidakpastian, akibat belum

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

9

terlembagakannya pola baru sementara pola lama telah mengalami dekonstruksi pasca liberalisasi (O’Donnel, 1993). Idealnya, perubahan sistem pemilihan dapat berpengaruh positif pada iklim politik yang semakin demokratis. Larry Diamond dan Juan Linz, merumuskan tiga unsur untuk mengukur derajat demokrasi, yakni kompetisi nyata dan meluas di kalangan individu dan kelompok dalam memperebutkan jabatan-jabatan politik tanpa menggunakan paksaan; partisipasi politik yang luas; dan tingkat kebebasan sipil dan politik yang cukup untuk menjamin integritas kompetisi dan partisipasi politik (Lipset, 2007). Sejalan dengan itu, menurut Huntington bahwa parameter terwujudnya demokrasi antara lain pemilihan umum, rotasi kekuasaan, rekrutmen secara terbuka, serta akuntabilitas publik. Dalam konteks Pemilukada, pergantian pemimpin tingkat lokal ini bukanlah semata-mata pergantian penguasa (circulates des elites), melainkan merupakan fase baru untuk menata sistem kemasyarakatan dan pemerintahan yang good governance dan clean governance. Dengan demikian, fenomena yang menarik diteliti dalam perspektif sosiologi kekuasaan pada Pemilukada dewasa ini yaitu terjadinya perubahan sistem pemilihan (electoral reform) yang diasumsikan akan berimplikasi pada tampilnya pasangan calon perseorangan yang mumpuni. Kehadiran regulasi ini memang telah melahirkan kontestan calon perseorangan, namun kehadiran kontestan melalui jalur perseorangan tampaknya belum menuai hasil yang signifikan. Pasalnya, sebagian besar kontestan jalur perseorangan di beberapa wilayah pemilihan, termasuk Pemilukada di Sulawesi Tenggara sampai saat ini belum ada yang memenangkan perebutan kursi nomor wahid tersebut. Pasangan calon perseorangan secara signifikan gagal mendapatkan suara terbanyak dari pemilih termasuk kegagalan calon perseorangan pada pemilihan Walikota Kendari tahun 2012. Berdasarkan serpihan fenomena sosial politik tersebut, besar dugaan bahwa kekalahan pasangan calon perseorangan dalam rivalitas politik pada pemilihan Walikota Kendari tahun 2012 dipicu oleh hegemoni partai politik yang telah lama mengakar pada masyarakat. Untuk memastikan kebenaran pernyataan penelitian ini, secara teknis diajukan dua hal penting untuk dieksplor atas realitas rivalitas politik lokal tersebut. Pertama, bagaimana proses konstruksi hegemoni partai politik atas calon perseorangan pada pemilihan Walikota Kendari tahun 2012? Kedua, bagaimana kecenderungan pemilih di tengah rivalitas politik yang terjadi pada pemilihan Walikota Kendari tahun 2012?

Metode Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dimaksudkan untuk menggambarkan pola rivalitas politik dalam pemilihan Walikota Kendari tahun 2012. Selain data primer juga digunakan data sekunder berupa rekapitulasi hasil perolehan suara yang bersumber dari KPU Kota Kendari. Interpretasi dalam analisis data dilakukan dengan secara mengelaborasi beberapa pandangan teoretis dengan maksud mempertajam analisis. Teknik analisis kualitatif digunakan model Miles and Huberman (1994) yang meliputi tiga tahapan. Pertama, reduksi data (data reduction), yakni merangkum, memilih hal-hal pokok, dan memfokuskan pada hal-hal penting dari data yang telah diperoleh dan mencari polanya. Kedua, penyajian data (data display), yakni menampilkan data yang telah direduksi yang sifatnya sudah terorganisasikan dan mudah dipahami. Ketiga, kesimpulan (conclution drawing), yakni akumulasi dari kesimpulan awal yang disertai dengan bukti yang valid, sehingga kesimpulan yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat menjawab permasalahan penelitian, yaitu memberikan gambaran tentang rivalitas politik dalam pemilihan Walikota Kendari tahun 2012.

Pembahasan
Hajatan demokrasi lokal di Kota Kendari dalam rangka memilih pasangan Walikota dan Wakil Walikota digelar pada tanggal 7 Juli 2012 lalu. Pesta politik lokal ini membuahkan hasil yang menarik dikaji dalam perspektif sosiologi kekuasaan, khususnya berkenaan dengan ruang lingkup usaha pencapaian kekuasaan. Menariknya,

10

Jurnal Sosiologi

pemilihan Walikota diramaikan oleh pasangan calon perseorangan yang secara konseptual dipandang sebagai rival hebat atas tahta partai politik (partitokrasi) yang selama ini mengakar. Pada momentum Pemilukada Kota Kendari tahun 2012 diramaikan oleh lima pasangan calon, empat pasangan calon yang diusung oleh gabungan partai politik, dan sepasang calon perseorangan. Meski telah melakukan kerja keras, namun pasangan calon perseorangan belum mampu menumbangkan hegemoni pasangan dari partai politik. Karena itu, komposisi perolehan suara dari masing-masing calon menjadi hal pokok ditampilkan (display) dalam pembahasan ini sebagai dasar analisis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel Perolehan suara sah pasangan calon Walikota Kendari
No Pasangan Calon 1 2 3 4 5 Suara Sah Dr. Ir. La Ode Maghribi, MT. dan 14.555 H. Rachman Siswanto Latjinta, SE. (9,95%) Dr. La Ode Geo, MS. dan Silverius Oscar Unggul, SP. Dr. Ir. H. Asrun, M.Eng.Sc. dan H. Musadar Mappasomba, SP., M.P. Abd. Hasid Pedansa dan Orda Miradwan Silindae, S.Sos. Drs. H. Tony Herbiansyah, M.Si. dan Muh. Yani Kasim Marewa, SE. 7.889 (5,39%) 81.968 (56,05%) 6.781 (4,64%) 35.054 (23,97%) Jalur 17 partai non sheet Perseorangan PAN, PKS, PPP, Golkar, Demokrat PBR, PDIP, PPDI Hanura, Gerindra, PBB

Tabel di atas menunjukkan secara realistis adanya upaya politik secara konstitusional untuk meraih kekuasaan pada level Walikota dan Wakil Walikota. Peristilahan kekuasaan dalam sosiologi dipopulerkan oleh Weber. Menurutnya, kekuasaan adalah kemampuan untuk melaksanakan keinginan pemegang kekuasaan, meskipun kekuasaan itu ditentang oleh orang lain. Tetapi orang tersebut tidak memiliki kekuatan untuk melawan dan terpaksa patuh kepada pemegang kekuasaan (Johnson, 1986; Henslin, 2006). Sejalan dengan pandangan Weber, Dahl (1994), mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan seseorang memerintah orang lain untuk melakukan sesuatu. Proses meraih kekuasaan dalam ajang pemilihan Walikota Kendari 2012 sebagaimana data di atas secara umum menunjukkan terjadinya rivalitas politik lokal antara pasangan calon dari gabungan partai politik dan pasangan calon perseorangan.

Sumber: Pleno KPU Kota Kendari, 2012

Parpol dan Calon Perseorangan dalam Dialektika Konstruksi Hegemoni
Kajian atas konstruksi kekuasaan seperti yang telah dipaparkan di atas dipandang tepat jika menggunakan kerangka teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann. Konstruksi sosial mulai dikenal sejak Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menulis buku yang berjudul The Social Construction of Reality, A Treatise In The Sociological of Knowledge (1966). Ia menjelaskan bahwa proses sosial berlangsung melalui tindakan dan interaksinya dimana individu menciptakan secara terus manerussuatu realitas yang dimiliki dan dialami secara subjektif. Secara teknis, tesis utama Berger dan Luckmann menjelaskan bahwa manusia dan masyarakat adalah produk yang dialektis, dinamis, dan plural secara kontinum. Proses dialektis tersebut meliputi tiga momen, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Posisi partai politik dan pasangan perseorangan dalam perhelatan politik merupakan proses konstruksi kekuasaan. Salah satu dari kutub tersebut (kutup Parpol dan Perseorangan) akan tampil sebagai pemenang dan

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

11

pihak lain akan kalah. Kemenangan dan kekalahan adalah buah dari upaya konstruksi hegemoni yang telah dilakukan. Dalam konteks pemilihan kepala daerah, kemenangan pasangan Asrun-Musadar pada pemilihan Walikota Kendari tahun 2012 merupakan bentuk keberhasilan dalam mengkonstruksi hegemoni dalam bentuk eksternalisasi politik, dan tentu saja telah mengalami objektivasi dan internalisasi yang cukup lama dilakukan oleh gabungan partai besar yakni PAN, PKS, PPP, Golkar, Demokrat. Koalisi partai pendukung pasangan Asrun-Musadar tampak jelas berasal dari partai besar. Pada dimensi analisis struktural partai pengusung, partai Demokrat merupakan partai penguasa di tingkat pusat, demikian juga PAN sebagai partai di bawah nahkoda penguasa tingkat provinsi, dan tidak kalah pentingnya adalah partai Golkar yang sekian lama mengakar selama Orde Baru berkuasa. Analisis teoritis atas kemenangan pasangan Asrun–Musadar tidak hanya dadasari pada hegemoni partai pengusung, tetapi juga karena hegemoni sang petahana (incumbent). Dalam bingkai teoretis, Parsons dalam kerangka sistem GAIL secara gamblang menguraikan bagaimana suatu sistem mampu mempertahankan keseimbangan (equilibrium). Model analisis Parsons merujuk pada kebutuhan setiap sistem sosial untuk memenuhi persyaratan fungsional yaitu penyesuaian, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola-pola yang laten (Parsons, 1951). Pasangan Asrun–Musadar adalah incumbent, dimana secara struktural melakukan penekanan pada sistem yang ada, dalam hal ini cenderung mempertahankan kekuasaan yang tengah dimilikinya selama lima tahun sebelumnya. Selain kekuatan melalui jalur partai pendukung secara struktural dan jalur birokrasi, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kemenangan pasangan ini juga dipengaruhui oleh jaringan tatanan santri yang cenderung memberi dukungan kepada PKS. Tatanan moril ini secara aktif memainkan peranan dalam politik karena terdapat dorongan kemanusiaan yang tidak dapat dihindarkan atau diabaikan untuk melakukan perbaikan tatanan kehidupan. Karena itu, meskipun para santri secara struktur tidak masuk dalam partai politik, namun perannya di luar sistem cukup berpengaruh. Dalam konteks ini, analisis teori elite Pareto mengenai sirkulasi elite relevan digunakan. Pareto membagi elite ke dalam kelas yang berkuasa (governing elite) yang terdiri dari orang-orang yang secara langsung atau tidak langsung memainkan peran penting dalam mekanisme kekuasaan politik, dan elite yang tidak berkuasa (non-governing elite) yang terdiri dari orang-orang yang terampil tetapi tidak terlibat dalam proses politik (Bottomore, 2006; Hartmann, 2007). Tentu saja keberadaan dan peran elite tidak lepas dari proses politik dan kekuasaan dalam kehidupan suatu masyarakat di mana elite itu berada. Dalam tataran mikro, dilihat pada kelompok elite sosial mana yang dianggap paling berkuasa atau berpengaruh dalam struktur kekuasaan kelompok elite itu yang pada akhirnya memengaruhi posisi dan peran pemilih dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan, sedangkan pada tingkat makro, dilihat pada kekuasaan elite apa saja yang tengah bekuasa dalam kehidupan sistem politik yang juga dimungkinkan memengaruhi peran dan posisi pemilih (Nashir, 2000). Dengan demikian, dalam pandangan struktural fungsional menekankan bahwa partisipasi masyarakat dalam politik tidak didasarkan atas kesadaran politik sebagai implementasi dari kedaulatan politik, melainkan lebih pada dominasi mobilisasi massa secara kolektif. Dengan prinsip kolektivisme, maka organisasi masyarakat mengikat individu sebagai suatu fakta sosial dalam melakukan partisipasinya. Selain itu, pengaruh elite penguasa (the ruling elite) sebagai tuan (patron) dan hamba (client) merupakan strategi kekuatan dalam memobilisasi massa. Lantas bagaimana dengan kehadiran pasangan calon pereseorangan pada pemilihan Walikota Kendari, mampukah melakukan perlawanan hegemoni? Kehadiran pasangan calon perseorangan dalam pentas politik lokal merupakan “perlawanan” atas hegemoni partai politik. Kendati perlawanan atas hegemoni partai politik telah ditempuh oleh La Ode Geo – Oscar Silverius sebagai pasangan calon perseorangan dalam pemilihan

12

Jurnal Sosiologi

Walikota Kendari 2012, namun belum berhasil dicapai dengan mulus. Hal ini didasarkan oleh adanya kekuasaan struktur yang mendominasi (hegemoni). Pemilihan Walikota Kendari merupakan proses reproduksi kekuasaan yang didalamnya terdapat struktur yang mendominasi. Struktur tersebut dapat berupa penanda, penguasaan, dan pembenaran (Giddens, 1984). Struktur penanda (signification) menyangkut simbolik, pemaknaan, penyebutan, dan wacana. Sementara struktur penguasaan (domination) berkenaan dengan penguasaan atas orang dan barang, dan yang tidak kalah pentingnya adalah struktur pembenaran (legitimation) yang menyangkut peraturan normatif yang digunakan oleh petahana dalam membenarkan keberhasilan atau kinerjannya selama berkuasa. Jika hegemoni kelas borjuis atas proletar dibangun atas dasar determinisme ekonomi melalui moda produksi (Marx dan Engels, 1974), maka lain halnya dengan hegemoni partai politik atas calon perseorangan yang dikonstruksi secara politik. Di sini relevan dengan pandangan Gramsci yang melihat hegemoni sebagai konstruksi ideologi, nilai-nilai, dan budaya yang seolah-olah menjadi milik bersama, sehingga legitimasi kepentingan penguasa dipandang sebagai milik masyarakat. Ia meneropong konsep hegemoni antara masyarakat sipil dengan masyarakat politik. Hegemoni partai politik sebagai suatu produk sosial tentu saja tidak mudah diruntuhkan oleh pasangan calon perseorangan. Gramsci (1971) dalam bahasan teorinya memberi solusi untuk melawan hegemoni (counter hegemony) dengan menitikberatkan pada sektor pendidikan. Kaum intelektual menurut Gramsci memegang peranan penting di masyarakat. Kaum intelektual ini meliputi intelektual tradisional yang bersifat independen, otonom, misalnya para profesor. Selain itu, juga terdapat kaum intelektual organik, yaitu mereka yang ada di masyarakat dari kelas yang berkuasa, serta turut aktif dalam pembentukan masyarakat yang diinginkan. Lalu bagaimana dengan konstruksi hegemoni incumbent yang diusung oleh partai politik dalam menghadapi rivalrival politiknya, termasuk pasangan calon perseorangan? Kekalahan pasangan calon perseorangan tampaknya tidak mengejutkan banyak pengamat, bahkan sudah diperkirakan sebelumnya. Sebelum pemilihan berlangsung, sebagian pengamat politik sudah berani memastikan pasangan calon perseorangan gagal meraih suara terbanyak, apalagi pasangan independen sedang berhadapan dengan partai politik mapan sekaligus diramaikan oleh mantan pejabat lama yang ikut maju dalam pemilihan Walikota Kendari. Kemenangan incumbent antara lain karena keberhasilannya mengkonstruk hegemoni dalam bentuk popularitas dan penguasaan opini publik. Kemampuan para incumbent menaikkan citra dirinya tidak terlepas dari kelihaian mereka menguasai media massa. Selama masa kampanye lihai menciptakan isu yang menarik perhatian media, sehingga mendapat publikasi kampanye luas. Hegemoni penguasa dikonstruksi dan dipertahankan melalui dua tingkatan. Pertama, penguasa melestarikan hegemoninya dengan memosisikan para pendukungnya pada jabatan-jabatan tertentu yang dimaksudkan untuk “mengamankan” suara ketika moment perhelatan politik untuk menduduki kursi nomor wahid. Ironisnya, menyingkirkan pejabat-pejabat yang tidak berjuang untuk mencapai kekuasaan. Di sinilah dilema birokrasi yang sarat dengan kepentingan politik perorangan. Kedua, hegemoni dilanggengkan di kalangan grassroot melalui kunjungan kerja sembari menabur senyum dan sedikit “buah tangan” dengan harapan membangun citra sebagai pemimpin yang baik, empati, dan bijaksana. Manuver yang demikian ini akan semakin mengaburkan esensi program kerja sebagaimana yang pernah didengung-dengunkan pada waktu kampanye. Pola hegemoni kepala daerah yang demikian ini tidak pernah akan membangun sikap kritis masyarakat, melainkan selalu mengamputasi “fakultas otak” bagi generasi bangsa yang kritis. Karena itu sebagaimana yang disarankan oleh Gramsci, kontestasi calon perseorangan perlu menjalin hubungan dengan kalangan intelektual untuk memberikan pencerahandan menanamkan kesadaran baru kepada

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

13

masyarakat. Bagi pasangan calon perseorangan haruslah berkolaborasi dengan kedua kaum intelektual ini karena merekalah yang memahami kenyataan yang ada di masyarakat. Di sinilah letak kegagalan pasangan La Ode Geo–Oscar Silverius dalam menjalin hubungan tersebut. Karena itu, setiap pasangan calon perseorangan yang bermaksud melakukan perjuangan melawan hegemoni (counter hegemony) harus saling bekerja sama agar menjadi kekuatan kolektif yang tidak mudah dipatahkan, mulai kalangan intelektual hingga konsolidasi di akar rumput.

Rivalitas Politik dan Kecenderungan Pemilih
Terlepas dari langkah strategis sebagai konstruksi hegemoni antara partai politik dan calon perseorangan, hal yang tidak kalah menarik untuk dipahami adalah kecenderungan pemilih. Kaena itu, pertanyaan sosiologis yang menarik adalah apakah pemilih dewasa ini lebih cenderung kepada identifikasi partai (party identification) atau identifikasi sosok (figure identification). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilih di Kota Kendari memiliki kecenderungan pada sosok figur. Jika demikian, akankah suara pemilih dipastikan diarahkan pada calon perseorangan? Tampaknya konstruksi politik yang terjadi tidak sesederhana itu. Pada Pemilukada Kota Kendari sosok figur diperkuat oleh instrumen partai sebagai kendaraan politik. Kendati demikian, masih terdapat pemilih yang menaruh perhatian pada pasangan calon perseorangan, namun belum cukup signifikan. Menyoal kecenderungan perilaku pemilih, Kleden (Thaha, 2004) menyimpulkan bahwa pemilih lebih cenderung pada identifikasi partai jika partai bernafaskan keagamaan karena dorongan partai. Pada dasarnya setiap partai politik memiliki dogma tersendiri secara struktural khususnya partai yang menggunakan atribut keagamaan. Analisis polarisasi sebagaimana yang disimpulkan oleh Kleden tampaknya sudah tidak relevan dalam politik kekinian, khususnya dalam pemilihan Walikota Kendari tahun 2012. Pasalnya, koalisi partai pengusung tidak didasarkan pada ideologi keagamaan semata. Gabungan partai pengusung pasangan nomor urut 3, nomor 4, dan nomor 5 menggambarkan kolaborasi ideologi nasionalis dan religius. Jadi bukan atas dasar ideologi, namun lebih pada pertimbangan peningkatan elektabilitas. Karena itu, pemilih pun tidak memiliki pertimbangan ideologi partai secara signifikan, melainkan pada konstruksi politik kontemporer yang sedang terbangun pada saat itu (pragmatis). Kecenderungan politik pemilih dalam pemilihan Walikota Kendari tahun 2012 terpola dalam bentuk partisipasi yang didasarkan pada niat dan motivasi peribadi, dan juga masih terdapat pemilih yang datang memberikan hak suaranya dimobilisasi (Huntington dan Nelson, 1994) oleh pasangan calon tertentu, sehingga terkesan proses pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kota Kendari berlangsung tidak jujur dan tidak adil serta penuh dengan praktik kecurangan yang bersifat sistematis, masif, terstruktur dan terencana berdasarkan dokumendokumen yang secara sengaja dibuat dan dipersiapkan (butir gugatan dalam Putusan MK No.54/PHPU/ D-X/2012). Perilaku pemilih model pertama sebagaimana pandangan Huntington dan Nelson memiliki kepentingan tertentu secara subjektif. Kepentingan sebagai tujuan yang dikejar oleh aktor merupakan faktor yang penting dalam perilaku politik, individu maupun kelompok, yang selalu melekat dalam proses politik. Kepentingan merupakan kekuatan pendorong yang utama bagi manusia dan seperti tindakan manusia didasarkan atas pemilikan kepentingan (Nashir, 2000). Di sini Pareto mendefinisikan tindakan logis sebagai tindakan-tindakan yang diarahkan pada tujuan-tujuan yang dapat diusahakan serta mengandung maksud pemilikan yang pada akhirnya dapat dijangkau. Sedangkan yang dimaksudkan dengan tindakan non-logis adalah tindakan-tindakan yang tidak diarahkan pada suatu tujuan, atau diarahkan pada usaha-usaha yang tidak dapat dilakukan, atau didukung oleh alat-alat yang tidak memadai guna melaksanakan usaha tersebut (Varma, 2003).

14

Jurnal Sosiologi

Berkenaan arah pilihan politik pemilih, hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis tentang perilaku pemilih pada Pilkada Sulawesi Tenggara tahun 2007 menemukan rasionalitas politik pemilih yang terimplementasi dalam pola memilih dan pola Golput. Kedua pola ini merupakan perilaku yang dapat berubah-ubah sewaktu-waktu. Domain pertimbangan utamanya sangat ditentukan oleh tujuan atas tindakan para pemilih. Perilaku politik yang didasarkan pada waktu pencapaian tujuan inilah yang disebut dengan rasionalitas diakhronik, yang meliputi rasionalitas retrospektif, pragmatis-adaptif, dan rasionalitas prospektif (Upe, 2008). Rasionalitas ini didasarkan pada stimulus politik yang berupa identifikasi figur, identifikasi partai politik, isu kampanye, juru kampanye, hibah politik, dan pressure groups. Realitas kerasionalan perilaku politik pemilih sepenuhnya ditentukan oleh kesadaran peribadi. Hal ini oleh Etzioni (1968) disebut sebagai masyarakat aktif (active society), masyarakat yang mampu mengendalikan dan menguasai dunia sosial mereka. Menurutnya, dalam masyarakat aktif orang dapat merubah hukum-hukum sosialnya. Dalam konteks demikian, pemilih dipandang sebagai orang yang sangat kreatif. Ia mampu menciptakan tujuan, mengubah keadaan, dan pada gilirannya dapat membentuk pola perilaku pemilih yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan, secara personal maupun kolektif, baik pada masa sekarang maupun yang akan datang. Individu demikian itu memiliki kesadaran pribadi, pengetahuan dan komitmen pada tujuan tertentu yang harus dicapai, dan memiliki fasilitas kekuasaan untuk mengubah suatu tatanan sosial. Dengan demikian, perilaku politik dalam perspektif tindakan sosial adalah tindakan individual dan kelompok dalam melakukan tindakan-tindakan politik memiliki keterkaitan dengan kesadaran dan tujuan politik dari aktor yang memainkannya. Bahkan tingkah laku politik merupakan hasil dari pertemuan faktor-faktor struktur kepribadian, keyakinan politik, tindakan politik individu, dan struktur, serta proses politik menyeluruh (Martin, 1993). Kesadaran yang dimaksud di sini adalah sebuah landasan ideologi yang tertuang dalam visi-misi dari sebuah partai politik untuk diperjuangkan melalui taktik dan strategi tertentu. Karena itu, seorang politisi, politikus, dan politikolog akan berpikir dan bertindak dalam kerangka landasan idealisme dan orientasi yang khas. Penjelasan di atas semakin menegaskan bahwa pemilih memiliki posisi penting dalam rivalitas politik dalam pemilihan kepala daerah. Partai politik dan calon perseorangan adalah dua kubu yang senantiasa mengitari dan mengkonstruk hegemoni mereka melalui simpati pemilih. Masyarakat pemilih merupakan basis sosial politik sebagai arena mengkonstruk hegemoni sekaligus pemilih sebagai elemen yang menentukan kemenangan para pasangan calon yang sedang berada dalam rivalitas untuk mencapai kekuasaan (rivalitokrasi). Rivalitokrasi memiliki makna persaingan dan perlawanan politik untuk mencapai kekuasaan yang tercermin dalam suatu hubungan sosial. Dahrendorf (1986) menarik tiga proposisi mengenai sifat kekuasaan yakni penggunaan kekuasaan serta adanya orang yang berkuasa dan yang dikuasai melekat dalam organisasi sosial; otoritas sebagai kekuasaan yang dianggap sah yang diakui oleh masyarakat; adanya pemaksaan kepentingan dari kelompok yang mempunyai kekuasaan kepada kelompok yang tidak mempunyai kekuasaan.

Penutup
Berdasarkan hasil dan pembahasan sebagaimana yang telah diuraikan di atas, terdapat dua hal pokok sebagai simpulan penelitian. Pertama, kemenangan pasangan Asrun–Musadar menggambarkan bentuk konstruksi hegemoni kekuasaan dalam pemilihan Walikota Kendari. Keberhasilan mencapai suara terbanyak merupakan bentuk eksternalisasi yang diraih setelah berhasil melakukan internalisasi atas keberhasilan kinerja selama menjabat lima tahun sebelumnya. Selain itu, pasangan Asrun–Musadar berhasil diobjektivasi oleh partai besar (PAN, PKS, PPP, Golkar, dan Demokrat). Hal yang tidak kalah pentingnya adalah karena pasangan incumbent

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

15

cenderung mempertahankan (latency) pola lama dengan jargon “lanjutkan”. Sementara pasangan calon La Ode Geo–Oscar Silverius sebagai calon perseorangan hanya menduduki peringkat keempat dari lima pasangan calon. Artinya, pasangan ini gagal melakukan counterhegemony atas pasangan yang diusung oleh partai politik. Kendati demikian, tidak secara keseluruhan kalah total karena masih berhasil melumpuhkan pesaingnya dari pasangan Hasid Pedansa – Orda Silondae yang diusung oleh partai politik yang juga sangat familiar, yaitu PBR, PDIP, PPDI. Kegagalan pasangan calon perseorangan disebabkan oleh kurangnya internalisasi politik yang dilakukan. Di samping itu, pasangan calon perseorangan kurang melakukan objektivasi politik melalui pengkaderan hingga akar rumput. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kehadiran calon perseorangan dalam Pemilukada memungkinkan terjadinya counter hegemony, dan jika berhasil melakukan counterhegemony, maka pasti akan terjadi recounterhegemony partai politik atas pasangan calon perseorangan, sehingga akan terbentuk pola rivalitas politik secara dialektikal melalui proses: hegemony, counter hegemony, hegemony baru, kemudian re-counter hegemony. Begitulah seterusnya. Keberhasilan counter hegemony dan re-counter hegemony sangat ditentukan oleh proses objektivasi, internalisasi, dan struktur politik yang sedang berkembang. Karena itu, pasangan calon perseorangan akan sukar memenangkan pemilihan sebagai bentuk counter hegemoni, jika pasangan tersebut gagal menciptakan objektivasi dan internalisasi. Namun sebaliknya, pasangan calon perseorangan memiliki kans yang besar untuk memenangkan pemilihan sebagai bentuk counter hegemoni, jika pasangan incumbent, atau pasangan lainnya yang diusung oleh partai politik atau gabungan partai politik sedang mengalami objektivasi negatif atau citra negatif. Kedua, perilaku politik pemilih dalam arena pemilihan kepala daerah sangat variatif, sebagian besar masih bersifat pragmatis, dan sebagian lainnya sudah prospektif dengan mengorientasikan pilihannya pada calon yang memiliki visi misi reformis. Kendati demikian, masih juga terdapat pemilih yang berorientasi masa lalu. Tipologi pemilih yang demikian akan membentuk pola orientasi kepada partai politik atau kepada calon perseorangan. Karena itu, semakin tinggi kecerdasan prospektif pemilih, maka semakin besar peluang pasangan calon perseorangan mengkonstruksi objektivasi dan internalisasi politiknya. Semakin gencar pasangan calon perseorangan mengkonstruk objektivasi dan internalisasi politik di berbagai daerah, maka semakin tinggi intensitas partai politik termasuk incumbent melakukan kunjungan kerja dan sosialisasi program kerja.

DAFTAR PUSTAKA
Berger, Peter dan Thommas Luckmann. 1966. The Social Construction of Reality, A Treatise In The Socioligical of Knowledge. London: Penguin Books. Bottomore. 2006. Elite dan Masyarakat. Jakarta: Akbar Tanjung Institute. Dahl, Robert. 1994. Analisis Politik Modern. Jakarta: Bumi Aksara. Dahrendorf, Ralf. 1986. Konflik dalam Masyarakat Industri. Jakarta: Rajawali Pers. Etzioni, Amitai. 1968. The Active Society. New York: The Free Press. Giddens, Anthony. 1984. The Constitution of Society, Outline of the Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press. Gramsci, Antonio. 1971. Selections from the Prison Notebooks. London: Lawrence and Wishart. Hartmann, Michael. 2007. The Sociology of Elites. London and New York: Routledge. Henslin, James M. 2006. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga.

16

Jurnal Sosiologi

Huntington, Samuel P. dan Joan Nelson. 1994. Partisipasi Politik di Negara Berkembang. Jakarta: Rineka Cipta. Johnson, Paul Doyle. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern jilid 1. Jakarta: Gramedia. Lipset, Seymour Martin. 2007. Political Man Basis Sosial Tentang Politik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Martin, Roderick. 1993. Sosiologi Kekuasaan. Jakarta: Rajawali Press. Marx, Karl and Fredercik Engels. 1974. The German Ideologi. New York: International Publisher. Miles, Matthew B. and A. Michael Huberman. 1994. Qualitative Analysis Data. London: Sage. Nashir, Haeder. 2000. Perilaku Politik Elit Muhammadiyah. Yogyakarta: Terawang. O’ Donnel, Guilermo, dkk. (Ed). 1993. Transisi Menuju Demokrasi. Jakarta: LP3ES. Parsons, Talcott. 1951. The Social System. London: Routledge & Kegan Paul. Thaha, Idris (ed). 2004. Pergulatan Partai Politik di Indonesia. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Upe, Ambo. 2008. Sosiologi Politik Kontemporer. Jakarta: Prestasi Pustaka. Varma, SP. 2003. Teori Politik Modern. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

ISLAMOPHOBIA (Analisis Sosiologi Trust Terhadap Islam di Barat)
Syahrir Ibnu Universitas Khairun Ternate Abstract
Islamophobia is a symptom of a doctrine that has existed in the Western societies. The justification for Islamophobia escalates following the great tragedy of the WTC bombing in New York on September 11 2001. Islamophobia is not a rootless issue but a scheme of trying to break the trust of the west against Islam. Islamophobia is an issue raised in the campaign for elections in the European countries and the United States to win votes. Islamic people should make efforts to fight against this issue by using the media to show the true peaceful Islamic life and should not make violence as the only choice to resolve clash of civilizations. Keywords: Islamohobia, Clash of Civilizations

Pendahuluan

I

nterakasi sosial akan berlangsung apabila seorang individu melakukan tindakan dan dari tindakan tersebut menimbulkan reaksi individu lain. Interaksi sosial terjadi jika dua orang atau lebih saling berhadapan,

bekerjasama bahkan pada satu sisi menyebabkan terjadinya persaingan dan pertikaian. Kaitan dengan interaksi antar agama, terdapat fenomena cukup menarik untuk dilakukan penelitian di dalamnya. Terutama dalam kaitannya dengan fungsi agama sebagai perekat atau pemicu konflik antar kelompok masyarakat. Sosiologi, agama dikaji sebagai suatu fakta sosial. Munculnya sosiologi agama diakhir abad ke-19 sebagai sebuah disiplin baru dari sosiologi adalah untuk melihat agama sebagai suatu pengetahuan yang dikaji dari sudut pandang sosiologis. Sosiologi agama tidaklah berpretensi untuk melihat bagaimana seseorang agama atau menentukan agama mana yang paling benar, akan tetapi berusaha untuk menggambarkan dan menganalisis kehidupan beragama secara kolektif yang memusatkan studinya dalam mengamati secara empirik peran agama dalam mengembangkan atau malah menjadi faktor penghambat eksistensi sebuah masyarakat. Selama beberapa abad, peradaban manusia, turut dibentuk dan digerakaan oleh agama. Artinya, aktualisasi agama dan kepercayaan yang unik turut serta memengaruhi prilaku individu dan Marx (1995: 27) memiliki pandangan negatif tentang peran agama yang dianggap oleh Marx sebagai sebuah sistem sosial kelompok dalam suatu masyarakat yang memberikan apresiasi yang cukup besar bagi peran agama dalam membangun yang konstruktif, sementara Karl yang memiliki fungsi destruktif bagi masyarakat. Begitupun oleh Thomas Cullinan (2003: 14) menyebutnya dengan “antusiasme subjektif” dengan jenis keshalehan subjektif yang dimiliki orang-orang yang mempunyai semangat tinggi, tetapi tidak berhubungan dengan watak masyarakat mereka atau persoalan dasar realitas politik yang mereka hadapi. Artinya agama justru dipandangnya sebagai

18

Jurnal Sosiologi

sumber kekerasan. Pandangan ilmuwan tentang agama yang beragam ini juga dengan sendirinya melahirkan beragam perspektif dalam masyarakat tentang agama. Dalam kaitannya dengan Islam, terkhusus pasca tragedi 11 September 2001, tumbuh sebuah perkembangan baru yang cukup mengkuatirkan yakni munculnya isu Islamophobia. Islamophobia adalah suatu kecendrungan baik secara intelektual maupun tataran praktis dimana masyarakat tertentu (masyarakat Barat, Amerika, dan Eropa) memiliki perspektif bahwa Islam adalah agama yang perlu diwaspadai dan sebuah agama yang mengancam kehidupan peradaban barat.

Trust
Trust atau kepercayaan pada dasarnya disebabkan secara alami terbentuk dari hubungan sosial. Menurut R Hardin (2002: 213) trust merupakan konsep dimana kepercayaan disebabkan oleh hubungan dalam dan antar kelompok-kelompok sosial (keluarga, teman, masyarakat, organisasi, perusahaan, negara dan sebagainya). Kepercayaan merupakan salah satu konstruk sosial, suatu elemen dalam realitas sosial bahkan menjadi salah satu dari sosial kapital. Trust merupakan harapan yang muncul dalam sebuah komunitas dalam berperilaku normal, jujur dan bekerjasama yang didasari atas norma-norma umum yang disepakati, demi kepentingan dari anggotaanggota dalam suatu komunitas. Secara umum, Putnam menyatakan bahwa jika dalam masyarakat, seseorang mempercayai orang lain dapat disimpulkan seluruh penduduknya baik, dan semakin terikat suatu komunitas maka semakin timbul kepercayaan sesama penduduk yang mengakibatkan terjalin tingkat kepercayaan yang tinggi antara satu sama lain. Bila kepercayaan akan daya ikat antar sesama mencapai titik kritis, maka masyarakat akan dikelilingi oleh aneka perbuatan jahat atau hina yang akan memunculkan sikap tidak mempercayai diri sendiri. Masyarakat membutuhkan kepercayaan (trust). Bila kepercayaan diantara masyarakat tidak dapat dibangun dengan baik maka tanpa kepercayaan maka akan terjadi kelumpuhan dalam bertindak. Tentunya kerjasama yang kondusif dan produktif bagi keuntungan dua belah pihak tidak dapat dibangun dengan baik. Bahkan dalam taraf tertentu akan memunculkan beragam bentuk kecurigaan yang berujuang meski secara laten pada konflik yang besar. Sosial kapital mengacu pada struktur sosial yang didalamnya terdapat tiga komponen penting yakni jaringan (networking), partisipasi (participation) dan kepercayaan (trust). Modal sosial memfasilitasi interaksi antar komponen sosial dan mengintensifkan pencapaian kolektif dan individual serta pencapaian sasaran kegiatan ekonomi masyarakat dan negara secara umum.

Islamophobia di Barat
Perkembangan Islamophobia di Barat telah mencapai taraf memprihatinkan terkhsusus di negara-negara Eropa. Beragam tindak kekerasan terhadap ummat Islam sering ditemukan. Sebagaimana dilaporkan dalam Press TV dari Washington bahwa di Amerika serikat juga meningkat kasus pelanggaran hak-hak muslim dan semakin meluasnya Islamophobia di Amerika Serikat membuat masyarakat muslim negara itu semakin khawatir. Kekhawatiran atas pelanggaran hak-hak sipil atau hak-hak manusia misalnya penangkapan illegal, penahanan dan tindak kekerasan terhadap para tahanan muslim yang semakin meningkat juga pembuatan karikatur nabi dan kampanye anti jilbab di Eropa. Lembaga Carnegie Endowment for International Peace pada tahun 2010 mengadakan seminar di Ibukota Amerika Serikat untuk membahas ketakutan dan kekhawatiran masyarakat muslim berkaitan dengan semakin ekstensifnya Islamophobia di Amerika Serikat. Professor John Elposito dari Universitas Georgetown dalam pertemuan itu menyatakan bahwa kebanyakan pengacara meyakini bahwa pada prinsipnya orang Islam yang

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

19

menjadi tersangka sebuah perkara tidak diadili dengan adil. beberapa kasus, mengindikasikan hal ini, misalnya kasus yang menimpa Dr. Sami al-Arian seorang dosen di Universitas South Florida yang didakwa berhubungan dengan Jihad Islam Palestina. Secara akademik, kewaspadaan dunia barat terhadap Islam diperkuat oleh buku Samuel P Huntington yaitu Clash of Civilitation tentang benturan antara peradaban kapitalisme barat, konvusionisme China dan Islam. Kontradiksi antar peradaban yang dikemukakan oleh Huntington ini juga dikuti dengan uraian akan terciptanya konflik yang berakar dari benturan peradaban. Kontradiksi dan dialektika yang terjadi ini akan berevolusi menciptakan sebuah tatanan dunia yang baru. Kelemahan mendasar tesis Huntington sama sekali tidak menyinggung sedikitpun tentang fundamentalisme Kristen di Amerika Serikat atau fundamentalisme Yahudi di Israel. Bekembangnya pesatnya Islamophobia di Barat memberikan konsekuensi terbentuknya apa yang dikenal dengan istilah industri rasa takut. Banyak pihak yang mengambil keuntungan dari proyek industri rasa takut ini. Banyak pihak mengeksploitasi ketakutan masyarakat Barat terhadap Islam ini dan menarik keuntungan darinya. Misalnya Steven Emerson yang melakukan penistaan terhadap umat Islam. Dalam sebuah seminar Emerson menyatakan bahwa, kepemimpinan Islam dan tingkat organisasi yang terstruktur rapi mengancam nilai-nilai Barat dan bahwa muslim radikal ingin menaklukkan Amerika Serikat dan juga ingin menguasai Eropa. Dalam pengakuan Steve Kendall, analis senior dari kelompok pengawas media yang berbasis di Amerika, FAIR (Fairness and Accuracy in Reporting) menempatkan Emerson sebagai salah satu dari 12 Islamofobia teratas di Amerika. Mereka membentuk sebuah jaringan dan mengajarkan masyarakat Amerika untuk memandang Islam sebagai sumber rasa takut dan orang muslim di sekitar mereka sebagai tersangka. Apa yang dijelaskan secara akademik oleh Galtung dan Litke lambat laun memperlihatkan kenyataannya di Eropa dan Amerika Serikat melalui gencarnya kampanye Islamophobia. Bahkan Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI), Ekmeleddin Ihsanoglu menyatakan bahwa kebencian terhadap Islam yang berkembang dewasa ini khususnya di dunia Barat dinilai seperti perasaan anti-semitisme yang pernah terjadi tahun 1930-an. Bahkan, para politikus di Barat kini cenderung menggunakan isu imigran muslim ini untuk meraih dukungan suara saat pemilu. Isu imigran muslim telah dijadikan isu politik. Islamophobia lebih mirip perseteruan antar peradaban dan bukan benturan ideologi. Benturan ideologi hanya memilki dampak parsial terhadap sesuatu misalnya penggulingan kekuasaan suatu negara. Namun pertikaian antar peradaban jauh lebih besar, tujuannya jelas menghancurkan sebuah peradaban bahkan membumi hanguskan jejak-jejak kesejarahan peradaban tertentu dari aspek peninggalan fisikal hingga manusianya. Konflik antar peradaban ini sifatnya laten. Isu yang memicu konflik pada prinsipnya termuat berbagai kepentingan atau situasi yang tidak terselesaikan. Konflik juga memiliki evolusi secara bertahap. Umat muslim tidak jarang menghadapi diskriminasi saat mencari kerja atau pada sistem pendidikan di sejumlah negara Eropa. Islam menjadi bagian dari strategi Barat untuk meredam kekuatan Islam, yang mereka sebut sebagai The Green Menace (Bahaya Hijau). Jejak pendapat yang dilakukan di beberapa Negara Eropa mencerminkan rasa takut, kecurigaan dan pendapat negatif terhadap umat Islam dan budaya Islam. Islamophobia yang digabungkan dengan sikap rasis ini, diarahkan tak sedikit kepada imigran asal Turki, Negara-negara Arab dan Asia Selatan. Umat Muslim tak jarang menghadapi diskriminasi saat mencari kerja atau di system pendidikan di sejumlah Negara Eropa. Ada laporan yang mengungkapkan bahwa imigran muslim ini cenderung menjadi sasaran oleh polisi saat memeriksa kartu identitas. Ini merupakan masalah hak asasi serius, tegas Hammarberg. Bahkan ada fenomena menarik yang menunjukkan betapa akutnya Islamophobia di Eropa dan Amerika yakni Federasi Sepak

20

Jurnal Sosiologi

Bola Internasional atau FIFA mengumumkan pada April 2010 lalu, larangan kepada tim sepak bola wanita Iran yang memakai jilbab untuk berpartisipasi dalam Youth Olimpiade Games (Olimpiade untuk remaja) yang dilaksanakan di Singapura. Kondisi ini dengan sendirinya memicu ummat Islam untuk memberikan reaksi. Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak mendesak umat Islam untuk menggunakan media untuk mengatakan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang benar, indah dan menarik dan tidak satupun hal yang ditakuti yang mengakibatkan Islamophobia. Dunia tidak perlu kuatir atau takut terhadap Islam karena sebagai agama, Islam tidak jahat atau penuh kekerasan. Beragam propaganda telah di lakukan oleh para islamophobis agar citra Islam di mata dunia jatuh. Umat Islam disamping melakukan upaya penyeimbangan informasi melalui media juga mengharuskan mereka mengamalkan ajaran Islam yang moderat, dalam doktrinnya tidak menjejalkan kebencian yang sangat besar kepada Barat.

Simpulan
Islamophobia adalah sebuah gejala dari sebuah doktrin yang telah ada di masyarakat Barat. Keyakinan akan kebenaran Islamophobia semakin membesar ketika terjadinya sebuah tragedi besar yakni pengeboman WTC di Kota New York pada tanggal 11 September 2001. Islamophobia adalah isu yang bukan hanya tak mendasar namun Islamophobia adalah isu yang berusaha memutus kepercayaan Barat terhadap Islam. Islamophobia juga adalah isu yang dijadikan komoditi dalam Pemilu di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat demi mendulang suara.

DAFTAR PUSTAKA
Allen, Chris and Nielsen, Jorgen S, 2002, Summary Report on Islamophobia in The EU After 11 September 2001, EUMC Bartkus, Ona Viva; Davis, A. James, 2009. Sosial Capital : Reaching Out Reaching In, Cheltenham. Edward Elgard. The Runnymede Commisison on British Muslim and Islamophobia, 1997, Islamophobia; Its Features and Danger, A Consultation Paper, The Runaway Trust, England. Fukuyama, Francis, 2002, Trust (Kebijakan Sosial dan Penciptaan Kemakmuran), Qalam, yogyakarta Hardin, R. (eds), 2002, Trust and Trustworthiness, Russell Sage Foundation, New York and London. Hauberer, Julia., 2011, Social Capital Theory; Toward A Methodolical Foundation, Germany, VS Research. Hashem,O, 1995. Marxisme dan Agama, Rausyan Fikr institute, yogyakarta Huntington, Samuel P, 2004, Benturan antar Peradaban dan Masa depan Politik Dunia, CV.Qalam, Yogyakarta Inayah. 2012. Peranan Modal Sosial dalam Pembangunan. Jurnal Pengembangan Humaniora Vol. 12 (1) :43-49 Karl-Josef Kuschel, Wim Beuken (et al), 2003, Religion as a Source of Violence Terjemahan Agama Sebagai Sumber Kekerasan?, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Kasyfi , M. Arsyan, 2011,Tinjauan Aspek Kebudayaan dan Historis dalam menyoroti Kegagalan Turki masuk kedalam UniEropa. makalah Rubin, Jeffrey z, 2009, Teori Konflik Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Putnam, R. 1993. “The Prosperous Community — Sosial Capital and Public Life.” American Prospect (13): 35-42 Serageldin, I. and C. Grootaert. 1997. “Defining Sosial Capital: An Integrating View.” Paper presented at Operations Evaluation Department Conference on Evaluation and Development: The Institutional

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

21

Dimension. Washington, DC: The World Bank. Susan, Novri, M.A, 2010, Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer, Kencana, Jakarta Timpe, A. Dale., 1999, Memimpin Manusia, PT Gramedia, Jakarta Weber, Max, 1992, Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme, Pustaka Pelajar, yogyakarta Za’rur, Abu, 2012, Seputar Gerakan Islam, Al-Azhar Press, bogor http://www.instigatorblog.com/the-half-life-of-trust-reputation-and-sosial-capital/2009/11/19 di akses tanggal 7 Februari 2011 http://filipspagnoli.wordpress.com/2008/08/25/human-rights-quote-85-prejudice-and-allports-scale/ tanggal 7 Februari 2011 www.republika.co.id diakses tanggal 8 Februari 2011 www.robertamsterdam.com/2007/10/russian_facing_a_sosial_capital.htm diakses tanggal 7 Februari 2011 www.smearcasting.comdiakses tanggal 7 Februari 2011 diakses

PEMBINAAN SEBAGAI UPAYA REHABILITASI SOSIAL PENGGUNA NAPZA (Studi pada Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa Gowa)
Darwis STIKES Nani Hasanuddin Makassar Abstract
Social rehabilitation process of drug users in terms of coaching in Lapas Narkotika (Narcotics Penitentiary) Class IIA Sungguminasa covered a) rehabilitation of social behavior which consists of mental and spiritual coaching, discipline, religious coaching, education, law enforcement, skills development, guidance and counseling, structured guidance and personality development, b) social rehabilitation in forms of legal actions such as remission and rewards or penalty against infringement, c) financial aspects concerning the operational cost of the penitentiary, and d) process of integration during mapeling (admission orientation), skills development and religious activities. On the other hand, the increasing number of inmate indicated that social rehabilitation programs in the narcotics penitentiary has not functioned optimally as a correctional institution. The process of social reintegration covers: a). prevention, b). therapeutic efforts, c). enforcement d). alternative efforts. Social reintegration undertaken in the Narcotics Penitentiary includes all parties ranging from officers, inmates and the public in order to prevent illicit trafficking or abuse of drugs in the penitentiary. Inhibiting factor in the development of the social rehabilitation efforts is the lack of infrastructure and human resources in specific field such as psychologist and counselor. Keywords: Coaching, Social Rehabilitation, Drug Users

Pendahuluan

P

eredaran dan penggunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza) di Indonesia sudah mencapai kondisi yang sangat mengkhawatirkan karena hampir setiap tahun terjadi peningkatan jumlah kasus

penyalah gunaan obat terlarang itu. Saat ini, Indonesia tidak lagi merupakan tempat transit melainkan sudah menjadi wilayah pemasaran dan peredaran napza internasional, karena didukung oleh letak geografis yang cukup strategis dan jumlah penduduk yang terbesar keempat di dunia, kurang lebih 238 juta jiwa (Sensus Penduduk Indonesia, 2010). Data narkoba dunia menunjukkan bahwa jumlah penyalaguna narkoba sebesar 200 juta orang dan terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 tercatat 3,2 juta (1,5%) orang Indonesia adalah pengguna narkoba dan setiap tahun bertambah 1 juta orang, (UNDOC; 2006). Pembinaan narapidana napza selama sekian tahun berada di dalam lembaga pemasyarakatan nampaknya belum berhasil memulihkan sebahagian dari mereka menjadi manusia yang sadar hukum maupun sebagai anggota masyarakat yang dapat berinteraksi dan berperilaku secara normal dengan sesamanya. Salah satu fungsi Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa di Bollangi adalah memberikan bimbingan, terapi dan pembinaan sebagai upaya rehabilitasi sosial narapidana atau anak didik kasus narkotika berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor : E.KP.09.05-701A Tahun 2003 Tentang Uraian Tugas

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

23

Pejabat Struktural dan Petugas Operasional di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Berdasarkan fakta bahwa Lapas Narkotika Kas IIA Sungguminasa di Bollangi pada satu pihak mempunyai fungsi pembinaan sebagai upaya rehabilitasi terhadap pengguna Napza untuk memahami fenomena ini secara mendalam mengenai tiga hal pokok, yakni proses pembinaan sebagai upaya rehabilitasi sosial yang dilaksanakan di Lapas, proses reintegrasi sosial dilaksanakan oleh Lapas, dan berbagai faktor yang berpengaruh dalam proses pembinaan sebagai upaya rahabilitasi sosial.

Metode Penelitian
Kajian penelitian menggunakan jenis penelitian deskripsi. Pendekatan ini lebih memudahkan peneliti mengungkapkan pengembangan rehabilitasi sosial dari aspek perilaku, hukum, ekonomi, integrasi maupun reintegrasi dan faktor yang berpengaruh proses rehabilitasi sosial. Pendekatan penelitian yang digunakan peneliti adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Gowa tepatnya di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIA Sungguminasa yang berlokasi di Bollangi. Penelitian berlangsung Desember 2011 sampai dengan Juli 2012 (termasuk studi awal). Sumber data primer merupakan sumber data utama yang digunakan untuk menjaring berbagai data dan informasi terkait fokus penelitian yang dikaji, hal tersebut dilakukan lewat observasi dan wawancara mendalam, agar peneliti mengetahui lebih mendalam tentang kegiatan dilakukan petugas. Informan dalam penelitian ini yaitu informan kunci 1 orang, 9 orang fungsi utama dan 3 informan pendukung. Data sekunder diperoleh melalui dokumentasi berupa undang-undang hukum pidana, profil Lapas maupun data lain yang terkait fokus permasalahan dalam penelitian. Data dikumpulkan melalui tiga cara yaitu teknik observasi dan wawancara mendalam serta dokumen dipakai secara terpadu. Tahapan dalam analisis data ditempuh melalui tiga langkah yaitu reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan.

Pembahasan
Proses Pembinaan Sebagai Upaya Rehabilitasi Sosial
Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa di Bollangi, merupakan salah satu lembaga Napza berfungsi menampung, membina, membimbing dan melaksanakan rehabilitasi pada setiap narapidana Napza yang menjalani hukuman di lembaga tersebut. Pembinaan sebagai upaya rehabilitasi itu menyangkut aspek perilaku, ekonomi dan hukum sehingga narapidana yang telah menjalani hukuman dapat kembali ke tengah-tengah masyarakat sebagai mahluk sosial yang berperilaku baik, dapat meningkatkan taraf hidup dan mentaati hukum. Pembinaan dan bimbingan terhadap narapidana di lembaga pemasyarakatan tersebut menemui banyak kendala, terutama untuk menjadikan para narapidana itu sehat secara mental dan spiritual.

Pembinaan Sebagai Upaya Rehabilitasi Sosial menyangkut Aspek Perilaku
Tindakan ini mempunyai andil besar dalam menentukan kesembuhan dari ketergantungan atau kecanduan pengguna Napza. Tindakan mental dan spiritual dari hasil pengamatan meliputi tindakan-tindakan yang membangun, memperbaiki dan menyemangati secara umum hal yang berkaitan dengan mental dan spiritual. Wujud atau bentuk perlakuan yang berkaitan dengan pembinaan sebagai upaya rehabilitasi di lapas khususnya tindakan mental dan spiritual yaitu meningkatkan tingkat pengetahuan, perilaku, sikap, kepercayaan, tindakan, pengalaman, pengamalan motivasi dan perubahan. Goffman (dalam Soe’oed, 1999), bahwa seseorang dapat mengalami proses yang disebut desosialisasi, yaitu proses “pencabutan” diri yang dimiliki seseorang yang disusul dengan resosialisasi, dimana seseorang diberikan suatu diri yang baru tidak saja berbeda tetapi juga tidak sepadan.

24

Jurnal Sosiologi

Berdasarkan pengamatan peneliti bahwa penerapan sistem kedisiplinan telah dijalankan sesuai aturan yang diberlakukan. Setiap tindakan maupun sikap yang dilakukan narapidana selalu diwaspadai petugas dengan demikian tidak ada renggang waktu untuk berbuat sesuatu hal yang buruk karena semua terdeteksi. Norma sebagai prilaku nyata (empiric) yang bersifat objektif, dapat diamati, dan telah terpolakan dalam masyarakat. Norma merupakan tatanan yang menuntut individu didalam masyarakat harus berprilaku dengan baik (Rogers, 1988). Anak bertindak dan berinteraksi dalam keluarga, baik itu kepada bapak, ibu, saudara, jadi keluarga adalah kelompok perantara pertama yang memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada anaknya (Worsley, 1991). Kegiatan pembinaan keagamaan atau spiritual yang dilakukan Lapas Klas IIA Sungguminasa dalam bentuk pencerahan qolbu atau lewat dengan ceramah-ceramah agama yang dilakukan setiap saat. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian bahwa petugas lapas melakukan pencerahan qolbu pada warga binaan dengan cara mendatangkan penceramah dari luar terutama dari tim da’i Pemerintah Kabupaten Gowa, di sisi lain mengadakan latihan tadarrus al-Qur’an terhadap narapidana bahkan membina cara menyebut Al-Qur’an maupun huruf hijaiyyah. Agama mengajarkan tata cara berperilaku dengan baik, sopan santun lewat penugasannya. Menurut Furbach (dalam Hujati 2008:47) memandang bahwa agama dalam bentuk apapun senantiasa menjadi kebutuhan jiwa manusia. Menurut Weber (dalam Scharf 2004), agama berfungsi meredamkan penderitaan yang dihasilkan oleh eksploitasi dan penindasan. Menurut Hawari (2000), program pembinaan sebagai upaya rehabilitasi lamanya 3 bulan meliputi pendidikan agama (kognitif, afektif, dan psikomotor), psikoterapi kelompok (group psychotherapy) dan psikoterapi perorangan (individual psychotherapy), pendidikan umum, pendidikan keterampilan, pendidikan jasmani (olahraga) dan rekreasi. Dengan demikian program tersebut dapat mengurangi aktivitas berfikir untuk kembali menggunakan Napza. Menurut Giddens (2009) bahwa manusia berorientasi pada kepentingan individu atau agen dalam membentuk orientasi masyarakat atau struktur. Adanya kepentingan agen dan struktur yang dilakukan secara berulang membentuk sebuah organisasi. Dengan demikian pengguna Napza tentunya mempunyai kelompok yang terorganisir dengan demikian langkah strategis Lapas menangani senantiasa mewaspadai. Proses perjalanan hukum dirasakan para warga binaan di Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa tentunya membawah dampak positif terhadap pola pikir dan perilaku yang baik. Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian bahwa warga binaan Lapas yang melanggar peraturan yang diberlakukan secara kolektif maka konsekuensi logisnya warga binaan harus menerima ganjaran jika ditemukan bersalah. Gresham M. Sykes tentang The Pains of Inprisonment yaitu kepedihan dalam penjara itu tidak semata-mata berwujud hilangnya kemerdekaan saja, melainkan juga suatu bentuk kesakitan yang terujud karena hilangnya kemerdekaan itu ialah kesakitan atau kepedihan yang disebut M. Sykes (Sanusi Has, 1994: 46) loss of heterosexual relationship (kesakitan karena hilangnya hubungan dengan lawan jenisnya). Loss of autonomy (kesakitan karena hilangnya otonomi), loss of good and service (kesakitan karena kehilangan hak untuk memiliki barang pribadi dan pelayanan), loss of security (kesakitan karena kehilangan keamanan). Dengan demikian supermasi hukum yang ditegakkan pada warga binaan lapas merubah perilaku mereka untuk senantiasa meningkatkan disiplin dan tidak ada pikiran untuk meninggalkan Lapas sebelum batas waktu ditentukan dan mengulangi perbuatan yang haram. Pembinaan keterampilan terhadap warga lapas telah membentuk karakter berperilaku baik karena pikiran disibutkan dengan aktivitas kerajinan tangan. Hal tersebut satu cara dilakukan petugas lapas untuk menghindari Napza setelah bebas maupun kegiatan yang merusak mental warga binaan. Adapun jenis keterampilan yang dikembangkan para warga lapas yaitu; 1) pembinaan rohani lewat jum’at ibadah oleh tim mubalik Pemda Gowa,

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

25

2) peminaan pertukangan, 3) keterampilan las, 4) pembinaan olah raga futsal, 5) kegiatan hiburan (musik). Sebagai warga binaan Lapas, masih perlu sosialisasi, perlu motivasi yang tinggi, walaupun masih dalam rehabilitasi untuk berupaya sembuh dan bisa beraktivitas kembali seperti semula. Pembinaan konseling para warga binaan Lapas klas IIA Sungguminasa membentuk dan memberikan motivasi hidup bagi penderitaan yang dialami atas perbuatannya sebagai pengguna Napza, Berdasarkan pengamatan peneliti bahwa lewat diskusi spritual tentang hukum-hukum agama yang diterapkan para muballig maupun pendeta yang melakukan siraman rohani di lapas membuat warga binaan merasa tenang, damai, bahagia terhadap kebenaran yang ditemukan dalam dirinya terhadap pertobatan yang dilakukan saat menjalani hukuman dilapas karena derita dan keterbelengguan perasaan yang selama ini dirasakan atas keterlibatannya menggunakan Napza. Pembinaan yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Sungguminasa tentunya pembinaan secara berstruktur yang pada umumnya dilakukan berdasarkan hasil pengamatan peneliti bahwa tahap awal pengguna Napza saat memasuki masa hukuman di lapas, berbagai tahapan yang ia jalani seperti tahap pengenalan kepada warga binaan yang lain di lapas, hal tersebut sesuai yang diterapkan lapas terhadap warga binaan saat pertama menjalani masa hukuman. Ada beberapa tahapan pembinaan yang harus dilaksanakan oleh setiap warga binaan pemasyarakatan yaitu: Tahap Awal (1/3 Masa Pidana dan ½ Masa Pidana (Tahap pengamanan maximum security), Tahap Kedua atau Tahap Lanjutan, Tahap kedua atau tahap lanjutan berada pada ½ masa pidana – 2/3 masa pidana. Tahap Ketiga. Pembinaan pada tahap ini masih merupakan pembinaan lanjutan atau bimbingan bagi mereka yang telah melewati 2/3 (dua pertiga) dari masa pidananya sampai ia bebas.” Program pembinaan keperibadian tentunya dilakukan secara berkesinambungan agar nilai yang dibuat betul sesuai dengan keinginan warga binaan. Berdasarkan pengamatan peneliti di lapas bahwa kegiatan warga binaan saat menjelang magrib dan ba’da magrib adalah tadarrus al-qur’an, hafiz al-qur’an dan pada pagi hari tentunya proram kebersihan lingkungan lapas. Keberadaan Lapas Klas IIA Sungguminasa merupakan sistem pemasyarakatan yakni pemulihan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan antara narapidana dengan masyarakat (reintegrasi hidup, kehidupan dan penghidupan). Berdasarkan pengamatan bahwa salah satu upaya untuk mencapai tujuan dan sebagai bentuk perwujudan dari pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia berdasarkan sistem pemasyarakatan bagi narapidana yang memenuhi syarat-syarat yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan berhak mendapatkan remisi. Remisi khusus diberikan pada hari besar keagamaan dianut oleh narapidana dengan ketentuan jika suatu agama mempunyai lebih dari satu hari besar keagamaan dalam setahun, maka yang dipilih adalah hari besar yang paling dimuliakan oleh penganut agama yang bersangkutan. Pemberian remisi khusus dilaksanakan pada setiap Hari Raya Idul Fitri bagi narapidana yang menjalani sisa masa pidananya di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Sungguminasa. Sedangkan remisi khusus bersyarat diberikan secara bersyarat kepada narapidana yang dipidana lebih dari 6 (enam) bulan dan pada saat hari raya agama yang bersangkutan masa yang menjalani pidananya belum cukup 6 (enam) bulan dengan ketentuan apabila selama menjalani masa bersyarat genap 6 (enam) bulan yang bersangkutan senantiasa berkelakuan baik selanjutnya remisi khusus bersyarat tersebut diperhitungkan dalam ekspirasinya. Namun apabila dalam tenggang waktu yang diisyaratkan, ternyata yang bersangkutan melakukan pelanggaran disiplin dan dimasukkan dalam register F maka pemberian remisi khusus bersyaratnya dapat dicabut. Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa merupakan salah satu wadah yang menampung orang-orang yang terlibat pengguna Napza, untuk direhabilitasi lewat dengan paket program kerja yang tentunya ditransfer ke warga binaan Lapas, agar warga yang direhabilitasi mengalami perubahan, baik dari aspek pengetahuan,

26

Jurnal Sosiologi

keterampilan, sopan santu atau perilaku, keterampilan, Agama maupun kesehatan. Namun didalam menjalankan operasionalnya tidak terlepas dari faktor ekonomi, sebab tanpa keterlibatan aspek ekonomi maka lembaga tersebut tidak efektiv merehabilitasi pengguna napza. Berdasarkan pengamatan peneliti di lapas bahwa menú makanan di sajikan warga lapas masih harus ditingkatkan sebab rehabilitasi sosial yang dijalankan membutuhkan stamina tubuh yang baik. Dengan demikian secara aspek ekonomi ada beberapa hal yang peneliti jelaskan berdasarkan hasil wawancara mendalam dan pengamatan di lokasi penelitian di lihat dari masalah makanan, sumber dana, dan sistem penganggaran lembaga pemasyarakatan. Dana yang disiapkan pihak lembaga pemasyarakatan tentunya bersumber dari anggaran pendapatan belanja negara yang terprogram selama satu tahun, yang tentunya dikelola secara efektiv karena anggaran biaya makan 3x makan warga binaan sebanyak Rp 7.600,-/hari/orang dan sedangkan beras diperoleh dari Bulog per triwulan dan penyajiannya dilakukan warga binaan sendiri. Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Sungguminasa telah menyiapkan beberapa bahan kerajinan tangan yang akan dikelola lewat dengan jenis karakteristik atau potensi yang dimiliki warga binaan. Adapun jenis bahan kerajinan tangan yang akan dipasarkan seperti bingkai photo, gantungan kunci, kursi, meja, tempat tidur, dan hasilnya tentunya kemaslahatan warga binaan. Adapun sumber yang lain adalah lahan kebun sebagai sumber Lembaga Pemasyarakatan. Integrasi yang dilakukan para warga binaan dengan petugas Lapas sebagai bentuk proses penyesuaian diantara unsur-unsur yang saling berbeda sehingga menghasilkan pola kehidupan dan pandangan yang memiliki keserasian fungsi dan menyatukan unsur-unsur yang terkait agar warga binaan menyatuh dengan suasana Lembaga Pemasyaraatan. Berdasarkan pengamatan peneliti di lokasi penelitian bahwa sistem integrasi yang terjadi yaitu terjalinnya penyatuhan warga binaan baru dengan warga binaan lama dengan paket program masa pengenalan yang diistilahkan mapenaling. Dengan demikian ada beberapa hal yang dilakukan lapas untuk melakukan integrasi kepada warga binaan agar betul-betul menyatuh dengan alam lapas sebagai berikut: Pengenal lingkungan terhadap penduduk baru warga lapas sangat penting sebab tampa ada pengenalan lebih awal maka akan dikuatirkan terjadi konflik batin dalam bentuk warga binaan baru merasa tersisihkan dengan warga binaan lama dan konflik fisik dalam wujud untuk menghindari permusuhan (perkelahian) sesama warga binaan sehingga merasa damai, tenang, bahagia terhadap hukuman yang mereka jalani. Strategi integrasi kepada warga binaan yang dilakukan petugas lapas merupakan langkah awal untuk menyatuhkan warga binaan baru kepada warga binaan lama agar strategi rehabilitas berjalan dengan normal. Menurut Claude Ake (2000), integrasi pada dasarnya membuat manusia tunduk dan patuh kepada aturan-aturan yang berlaku dan meningkatkan consensus normatif yang mengatur prilaku setiap berkembang diatas nilai-nilai dasar yang dimiliki secara keseluruhan. Aktivitas warga binaan dalam wujud keterampilan, menjahit pakaian, las besi, maupun yang lainnya sebagai bentuk pengewajantahan sesama warga binaan untuk menciptakan kedamaian, ketentraman, solidaritas, penyesuaian, persaudaraan, dan penyatuhan ide antara warga binaan yang mengarah pada bentuk positif dalam wujud melupakan diri terhadap penggunaan napza. Agama merupakan landasan yang sangat fundamental setiap insane yang ada dijagat raya ini, agama membuka jalan terbaik kepada individu untuk meruba pola pikir, bentuk tubuh, maupun lainnya dalam hal penguatan ide maupun yang lainnya sehingga individu sangat membutuhkan agama. Proses integrasi sesame warga binaan yang dilakukan para petugas lapas tentunya mendesain kegiatan-kegiatan keagamaan sebagai wujud integrasi sesama warga binaan, seperti pecerahan qalbu yang dilakukan tim Muballiq ke Lembaga

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

27

Pemasyarakatan Narkotika klas IIA Sungguminasa. Reintegrasi sosial yang diterapkan di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIA Sungguminasa pada dasarnya melakukan kegiatan pengintegrasikan kembali secara sosial dalam upaya penanggulangan pengguna Napza di Lapas. Berdasarkan pengamatan peneliti bahwa ada beberapa upaya reintegrasi yang dilakukan pada warga binaan yaitu: 1) upaya pencegahan, 2) upaya terapi, 3) upaya penindakan, dan 4) upaya alternatif. Keempat upaya yang dilakukan lapas merupakan reintegrasi sosial yang dibutuhkan oleh seluruh pihak yang ada di lapas mulai dari petugas lapas, warga binaan lapas dan masyarakat untuk menjalin adanya reintegrasi sosial dalam rangka mencegah atau timbul adanya pengguna napza di lapas. Secara umum program rehabilitasi sosial yang dilaksnakan berdasarkan program pembinaan pada umumnya yang terdiri atas beberapa tahapan pembinaan yang harus dilaksanakan oleh setiap warga binaan pemasyarakatan akan tetapi pengaruh proses rehabilitasi sosial pengguna napza terdeteksi atau diawasi oleh petugas yang berkompoten. Adapun faktor yang memengaruhi rehabilitasi sosial pengguna Napza di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIA Sungguminasa sehingga memerlukan peninjauan ulang rehabilitasi sosial yang dilakukan yaitu: 1) Tidak adanya psikolog yang ditempatkan di Lapas narkotika Klas IIA Sungguminasa, 2) Masih ditemukan warga binaan senantiasa membutuhkan Napza agar tetap terjaga staminanya disebabkan ketergantungan mental atau otak telah terprogram untuk terus membutuhkan narkoba kendati tubuh tidak lagi membutuhkannya, dan 3) Kurang tersediannya fasilitas rehabilitasi sosial pengguna Napza yang memadai, sehingga terdeteksi kehidupan rohani yang lemah, tidak ada kasih dan kedekatan dengan Tuhan, tidak ada rasa takut akan Tuhan, dan makna hidup yang lemah, sehingga hidup mereka selalu berorientasi pada sekarang dan kenikmatan tidak memiliki disiplin atau penguasaan diri untuk mencapai target untuk menghindari menggunakan Napza.

Rehabilitasi Sosial Pengguna Napza dalam Pendekatan Fungsionalisme Struktural
Lapas Klas IIASungguminasa salah satu lembaga napza yang menampung untuk melakukan pembinaan dan bimbingan kepada setiap warga binaan untuk mendapatkan rehabilitasi sosial secara terstruktur. Dalam pandangan Anthony Giddens instutisi tersebut dipengaruhi warga binaan dalam pengembangannya baik itu fasilitas yang dimiliki maupun jenis kegiatan yang dilakukan, terkait dengan visi dan misinya. Dengan demikian warga binaanlah yang memengaruhi perkembangan struktur yang ada di dalamnya. Talcont Parsons menekankan bahwa, lapas tersebut mempunyai sturuktur di dalamnya dan setiap struktur melakukan kegiatan sesuai dengan Tupoksi masing-masing, hingga kegiatan di dalam berfungsi sesuai dengan bidangnya, sehingga rehabilitasi sosial yang terjadi di dalam wadah tersebut mengalami pengembangan sesuai dengan jenis hukuman dijalani berlandaskan peraturan pemerintah yang berlaku. Pelaksanaan rehabilitasi yang diterima dan yang diberlakukan kepada warga binaan berupa rehabilitasi sosial baik itu dari aspek perilaku, ekonomi, hokum, dan reintegrasi merupakan pengejawantahan dari aturan-aturan yang diberlakukan di Lapas. Salah satu tujuan rehabilitasi sosial agar dapat melakukan penanganan secara serius kepada warga binaan untuk kembali baik secara fisik, mental dan spiritual selama masa tahanan di lapas. Secara struktural bahwa model rehabilitasi sosial yang dilakukan dikaji lewat pendekatan fungsionalisme struktural dan strukturasi oleh Anthony Giddens maupun Talcott Parsons. Reintegrasi sosial pada dasarnya melakukan kegiatan mengintegrasikan kembali secara sosial dalam upaya penanggulangan pengguna napza di Lapas. Upaya reintegrasi dilakukan secara terstruktur baik itu secara upaya pencegahan, upaya terapi, upaya penindakan dan upaya alternative meliputi: upaya pencegahan merupakan salah satu upaya dalam melakukan reintegrasi sosial terhadap penyalahgunaan napza di Lapas. Secara strukturalisasi

28

Jurnal Sosiologi

dalam upaya pencegahan masuknya Napza di Lapas dan upaya untuk memutuskan mata rantai kebutuhan Napza. Agar setiap orang bisa melakukan reintegrasi sosial untuk menanggulangi terjadinya penyalahgunaan Napza atau adanya jaringan Napza di Lapas. Upaya pencegahan dilakukan merupakan latency yakni pemeliharaan sistem yang sudah terpola sehingga keberadaan Lembaga Pemasyarakatan tetap eksis merehabilitasi para warga binaan. Menurut Giddens motivasi tidak sadar menyangkut keinginan tak sadar pelaku yang mengarahkan pada tindakan, tapi bukan tindakan itu sendiri. Kesadaran diskursif menyangkut kemampuan pelaku untuk merefleksikan tindakannya. Pokok dan fungsi untuk menghadapi warga binaan dengan kasus Napza yang mempunyai permasalahan kompleks dan membutuhkan kepedulian yang tinggi dalam upaya penanggulangannya. Termasuk upaya reintegrasi sosial melalui kewaspadaan yang merupakan pilar penting dalam penegakan keamanan dan ketertiban dari kelangsungan kehidupan dalam Lapas. Upaya penindakan merupakan urgen dalam melakukan reintegrasi sosial terhadap pengguna napza di Lapas. Upaya lewat penegakan keamanan dan ketertiban dalam kehidupan warga binaan Lapas untuk memutuskan jaringan penggunaan Napza hal tersebut bukan hal yang mudah karena upaya penindakan hukum sebagai upaya untuk mengamankan segala barang bukti, ataupun langkah-langkah atau indikasi antisipatif agar tidak terjadi adanya gangguan pelanggaran hukum yang dikenakan sanksi kepada warga binaan. Upaya alternatif merupakan wujud dari tindakan reintegrasi sosial yang dapat dilakukan oleh semua pihak yang berkepentingan. Upaya alternatif ini dilakukan sebagai reintefrasi sosial untuk memotong jaringan dan pengaruh isu napza yang memberikan sugesti mencoba, bergaul dan berasmilasi dengan pengguna Napza. Upaya terapi preventif berupa pemberian metode atau cara mencegah.

Simpulan
1. Proses pembinaan dalam upaya rehabilitasi sosial pengguna napza di Narkotika Klas IIA Sungguminasa yaitu: a) Rehabilitasi sosial dalam aspek perilaku, terdiri dari pembinaan perilaku lewat mental dan spiritual, kedisiplinan, pembinaan keagamaan, penyuluhan, penegakan hukum, keterampilan, pembinaan konseling, pembinaan berstruktur dan keperibadian, b) Proses rehabilitasi sosial dalam aspek hukum, menyangkut remisi warga binaan dan ganjaran warga binaan terhadap pelanggaran, c) Aspek ekonomi tentang anggaran operasional lapas, dan d) Aspek integrasi masa pengenalan lingkungan, keterampilan dan kegiatan keagamaan. Disisi lain proses pelaksanaan rehabilitasi sosial belum berfungsi secara optimal sebagai lembaga pemasyarakatan sebab masih adanya residivis. 2. Proses reintegrasi sosial di Lapas Narkotika Klas IIA Sungguminasa yaitu: a) upaya pencegahan, b) upaya terapi, c) upaya penindakan, dan d) upaya alternatif. Dengan demikian, reintegrasi sosial dilakukan di Lapas melibatkan seluruh pihak yang ada di Lapas mulai dari petugas Lapas, warga binaan Lapas dan masyarakat dalam rangka mencegah peredaran gelap atau adanya penyalahgunaan Napza di lembaga pemasyarakatan. 3. Faktor yang berpengaruh dalam proses pembinaan terhadap upaya rehabilitasi sosial adalah infrastruktur dan minimnya sumber daya manusia yang dimiliki oleh lembaga pemasyarakatan, baik jumlah maupun spesifikasi bidang kelimuannya seperti tidak adanya tenaga psikolog dan tenaga konselor hanya ada 1 orang. Berdasarkan kesimpulan yang dikemukakan di atas, maka disarankan kepada semua pihak yang terkait untuk mendukung pelaksanaan rehabilitasi sosial dan reintegrasi sosial,sebagai berikut: 1. Agar Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Klas IIA di Sungguminasa benar-benar berfungsi secara efektif, maka keluarga dan masyarakat hendaknya dilibatkan dalam proses pembinaan rehabilitasi sosial pengguna napza, infrastruktur dilengkapi dan sumber daya manusia yang disiapkan benar-benar sesuai standar baik

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

29

jumlah maupun spesifikasi bidang keilmuannya. 2. Pelaksanaan reintegrasi sosial hendaknya melibatkan semua pihak yang terkait dengan penanganan pengguna napza melalui upaya yang konstruktif yaitu meliputi upaya pencegahan; dalam hal ini semua bentuk kegiatan yang dilakukan warga binaan senantiasa terdeteksi oleh petugas lapas guna mencegah peredaran gelap Napza didalam lapas; upaya terapi dengan cara melakukan tindakan perbaikan mentan dan spiritual; dan upaya penindakan dengan maksud untuk mewujudkan pembinaan kedisiplinan. 3. Agar rehabilitasi sosial pengguna napza dapat dilakukan secara konprehensif, maka pihak yang berwenang dalam penanggulangan napza perlu membangun pusat rehabilitasi pengguna napza terpadu (rehabilitasi medis atau Rumah Sakit Khusus Ketergantungan Napza dan Rehabilitasi Sosial) diluar dari sistem rehabilitasi yang dilakukan oleh lembaga pemasyarakatan.

DAFTAR PUSTAKA
Archer, Jason Cape. 2009. Management of Alcohol and Drug Problems. Australia and New Zealand: Oxford University Press. Barda, Nawawi Arief. 1989. Kebijaksanaan Sanksi Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan. (Makalah). Semarang: Universitas Diponegoro. __________________. 1996. Bunga rampai Kebijakan Hukum Pidana. Bandung: Citra Aditya Bakti. Bee, Dance. 2001. Theory of Social determinant and Youth Behavior. New York: Scribners. Bloom, Hendrik L. 1974. Planning of Health, Development and Application of Social Change Theory. New York: Human Sciences Pres. Blum, Herbert. 1951. The Concept and Theory of Sociology. New Jersey Englewood Cliffs: Prentice Hall. ____________. 2005. Attitudes and The Social Act. New Jersey Englewood Cliffs: Prentice Hall. Bryant, John and Gerry D. 2007. Behavior Principles in Everyday Life. 2nd ed. New Jersey Englewood Cliffs: Prentice Hall. C. Harsono. 1995. Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Jakarta: Djambatan. Darwin, Douglas. 2011. Teori Sosiologi Modern, edisi ke enam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Fuhrmann, Cooley. 1990. Physical Control of Self. New York: West Publishing Company. Fuller, Levine. 2008. Handbook of Medical Sociology. New Jersey: Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs. Hamzah, Andi. 1994. Pelaksanaan Peradilan Pidna Berdasar Teori dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Ghalia Indonesia Chaiden, Albert. 2008. Construction of Reality Sociology Aspect. San Francisco. Jossey-Bass. Giddens, Herbert C. 2009. Compliace, Identification and Internalization: Three Pro-cesses of Attitude Change. In Journal of Conflict Resolution. Vol. 2 No. 1: 51-60 March. Harsono, Murdiatmo. 2006. Determinasi Sosial dalam Interaksionisme Simbolik. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Hawari, D. 2000. Terapi Detoksifikasi dan Rehabilitasi (Pesantren Mutakhir System Terpadu) “Napza” (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif Lain). Jakarta: Universitas Indonesia. Keith F. Punch. 2005. Introduction to Social Research: Quantitative and Qualitative Approaches, Second Edition. London: SAGE. Krech. 1999. Individual Society.Tokyo: McGraw Hill Kogakushr. Kurniawan. 2006. Interaksi Sosial dari Determinasi sosial Manusia.Jakarta: Penerbit Grasindo. J.E. Sahetapi. 1992. Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana. Jakarta: Rajawali Press. Lewis, Bones. 2003. The Social determinant Interaction. New York Published by Free Press.

30

Jurnal Sosiologi

Lukman, S. 2009. Penerapan Rehabilitasi bagi Candu Narkoba dan Psikotropika. Penerbit Dian Sarana Ilmu, Surabaya. Lawrence M. Friedman. 1984. American Law, (New York: W. W Norton & Company. Sofyan, Darmamula. 2006. Perilaku Sosial dari Remaja. Penerbit Bina Sarana Ilmu, Surabaya. Sudirman, Didin. 2007. Reposisi dan Revitalisasi Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia. Jakarta: Alnindra Dunia Perkasa. Suhartanto. 2008. Rehabilitasi dan Pemulihan Kesehatan bagi Korban Napza. Bandung: Tarsito. Sujata, Antonius. 2000. Reformasi dalam Penegakan Hukum. Jakarta: Djambatan. Turner, BS. 2010. Sickness and Social Structure: Parsons Contribution to Medical Sociology. In Talcott Parsons on Economy and Society. London: Routledge dan Kegan Paul. Waldo, Rafik. 2008. Pembinaan melalui Rehabilitasi Sosial. Yogyakarta: Liberty,.

MARAQDIA BALANIPA (Studi Pergeseran Peran di Polman Provinsi Sulawesi Barat)
Muhammad Asdar A.B. Universitas Alasyariah Mandar Abstract
Commitments in holding and maintaining adat/custom has become one of the factors triggering a shift in the role of the Maraqdia Balanipa in Tinambung District of Polman Regency of West Sulawesi Province. While the modern era is transformed into something that should be acted upon and dealt with, the roles in holding and maintaining custom including maintain the existence of maraqdia in the Mandar region shifted. Regional autonomy in forms of decentralization, also affects the role shift of maraqdia values. As if chasing with time, everybody competes to get positions available. It is undeniable that the maraqdia circles are also taking parts in practical politics which, as a matter of fact, transgressing the norms and values of ​​ decency to the commitment of maintaining and preserving the arrajangan Balanipa. Keywords: Maraqdia, Elite, Role Shift

Pendahuluan

G

elar kebangsawanan seperti maraqdia sebagai pemuka pendapat (opinion leader), atau maraqdia sebagai tokoh masyarakat mempunyai kedudukan penting di dalam proses perkembangan dan kemajua masyarakat

Maraqdia menempati posisi strategis, karena menjadi panutan warga di sekitarnya. Sebagai tokoh, pendapat dan kata-katanya didengar dan diikuti. Maraqdia mengkomunikasikan atau menyampaikan pendapat, gagasan dan opini dari sumber kompeten, di samping pendapat dan gagasannya sendiri kepada masyarakat. Seseorang berpengaruh dan ditokohkan oleh lingkungannya. Penokohan tersebut karena pengaruh posisi, kedudukan, kemampuan, dan kepiawaian. Segala tindakan dan ucapannya akan diikuti oleh masyarakat sekitarnya. Pada era prareformasi di Provinsi Sulawesi Barat khususnya di Kecamatan Tinambung peran maraqdia dalam kegiatan sehari-hari di masyarakat sangat dominan tampak dalam kegiatan adat, seperti upacara “pelattigiang” (pemberian daun pacar) dalam acara pernikahan, menjadi penengah dalam setiap adanya konflik di masyarakat, biasanya konflik yang terjadi masalah sengketa tanah dan keluarga. Sebagai seorang pemimpin, layaknya seorang raja, hampir tak ada lagi sebab digantikan oleh sistem pemerintahan modern. Seseorang yang bergelar maraqdia di tengah masyarakat sangat potensial memiliki peran di semua bidang. Peranan tersebut dapat menjadi komunikator melancarkan komunikasi memengaruhi rakyat untuk melakukan kegiatan kemasyarakatan seperti waktu cocok menanam padi, ritual menentukan waktu pernikahan, bahkan dalam memecahkan permasalahan yang dialami masyarakat tertentu. Bahkan posisi maraqdia dapat berperan menyelesaikan konflik sosial, politik, dan persengketaan tanah sekalipun.

32

Jurnal Sosiologi

1. Mengapa terjadi pergeseran peran pada Maraqdia Balanipa di Kecamatan Tinambung kabupaten Polman Propinsi Sulawesi Barat 2. Bagaimana interpretasi peran sosial Maraqdia Balanipa khususnya berkenaan dengan kedudukan dan aktivitasnya di tengah masyarakat 3. Mengapa terjadi perubahan cara pandang masyarakat terutama berkaitan dengan transendensi kedudukan tokoh di tengah-tengah kehidupan mereka

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, menggunakan model fenomenologi, merupakan model studi menggambarkan pemaknaan berdasarkan pada pengalaman hidup dari beberapa individu terhadap suatu peristiwa seperti konflik dan lain-lain. Fenomenologi pada dasarnya berupaya untuk mengeksplorasi struktur kesadaran melalui pengalaman hidup manusia. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar yang lebih populer dengan istilah Polman. Penelitian berlangsung selama 10 bulan, terhitung bulan Juni 2012 sampai bulan Maret 2013. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan FGD langsung dengan informan. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi pustaka yang berkaitan dengan Maraqdia-Maraqdia Balanipa dari dokumentasi yang ada. Data yang diperlukan bersifat deskriptif kualitatif. Untuk maksud tersebut, ada lima teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara, dokumentasi, dan Focus Group Discussion (FGD). Salah satu ciri penelitian kualitatif adalah peneliti merupakan instrumen utama dalam proses penelitian. Oleh karena itu, dalam penelitian ini analisis data telah dilakukan sejak penelitian ini berlangsung hingga berakhirnya proses pengumpulan data.

Pembahasan
Pergeseran peran Maraqdia Balanipa di Kecamatan Tinambung Kabupaten Polman Propinsi Sulawesi Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya pergeseran peran pada sosok Maraqdia Balanipa. Hal ini menjadi salah satu pemicu terjadinya pergeseran. Sebahagian besar informan mengatakan demikian. Hal ini menjadi keniscayaan ketika era modern menjelma menjadi sesuatu yang harus dilakoni dan dihadapi justru terjadi kekendoran dalam memegang dan memelihara adat termasuk memelihara keberadaan maraqdia di wilayah Mandar. Pemekaran wilayah di Indonesia termasuk di Propinsi Sulawesi Barat juga berpengaruh pada pergeseran peran nilai maraqdia. Seolah berlomba dengan waktu semua orang menginginkan jabatan yang banyak tersedia. Dalam hal ini tidak bisa dinapikan bahwa keluarga maraqdia ikut andil dalam kegiatan politik praktis. Sehingga mengabaikan norma dan nilai kepatutan terhadap komitmen untuk memelihara dan menjaga kelestarian arrajangan balanipa. Akses informasi Iptek dan Media Massa. Hal ini menjadi pemicu yang luar biasa terhadap terjadinya pergeseran peran Maraqdia. Masyarakat tidak lagi membutuhkan peran-peran Maraqdia dalam meminta menyelesaikan sebuah permasalahan/konflik karena masyarakat sudah memiliki akses informasi kepada siapa mereka meminta untuk menyelesaikan masalahnya. Interpretasi peran sosial Maraqdia Balanipa khususnya berkenaan dengan kedudukan dan aktivitasnya di tengah masyarakat. Dalam kondisi sosial masyarakat dan era pemerintahan modern sangat memungkinkan eksistensi Maraqdia menjadi lemah dan tidak mempunyai arti/kewenangan yang luas karena sudah tergantikan dengan keberadaan

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

33

dan sistem pemerintahan modern Perubahan cara pandang masyarakat terutama berkaitan dengan transendensi kedudukan tokoh di tengah-tengah kehidupan mereka Cara pandang masyarakat juga sangat bergeseran dari menjadikan Maraqdia sebagai sosok yang dihormati dan disegani menjadi sosok yang biasa saja, sehingga masyarakat banyak yang berpaling dari adanya Maraqdi.

Peran maraqdia
Maraqdia memiliki potensi penting bagi terwujudnya proses pembentukan masyarakat sipil (civil society) sebagai pilar demokratisasi di Indonesia. Walaupun maraqdia identik dengan tradisional namun maraqdia dapat menerima arus modernisasi, sehingga maraqdia memiliki kekuatan yang diperhitungkan, berwibawa dan dipercaya masyarakat, meskipun bukan merupakan ujung tombak satu-satunya. Dalam kondisi sosial yang mengedepankan wacana kemodernan, maraqdia yang tetap konsisten dengan ciri tradisionalitasnya mempunyai ruang garapan cukup luas untuk melakukan pemberdayaan masyarakat. Kedekatan maraqdia dengan masyarakat yang tinggal bersama dalam kesatuan lingkungan yang berada di tengah masyarakat menjadikan maraqdia tidak pernah sepi dari kegiatan sosial kemasyarakatan, sehingga pada akhirnya bisa mewarnai bukan saja dalam wacana keagamaan, tetapi juga dalam setting sosial budaya, bahkan dalam proses pemberdayaan masyarakat.

Perilaku Politik Tokoh Maraqdia
Tindakan dan proses politik yang melibatkan maraqdia sesungguhnya merupakan wujud partisipasi sebagai warga negara bisa dilakukan dengan berbagai bentuk. Tindakan politik meliputi proses pembentukan pendapat politik, kecakapan politik dan bagaimana orang menyadari setiap peristiwa politik. Dasar pemikiran tersebut menjadi ukuran bagi maraqdia dalam menentukan sikap politik, termasuk dalam menentukan pilihan partai politik. Perilaku memilih partai politik bagi maraqdia akan memiliki keterkaitan dengan empat faktor meliputi: kekuasaan, kepentingan, kebijaksanaan dan budaya politik. Pertama, faktor kekuasaan meliputi cara untuk mencapai hal yang diinginkan melalui sumber-sumber kelompok yang ada di masyarakat. Kekuasaan ini merupakan dorongan manusia dalam berperilaku politik termasuk perilaku memilih yang tidak dapat diabaikan. Kedua, faktor kepentingan merupakan tujuan yang dikejar oleh pelaku-pelaku atau kelompok politik. Dalam hal mengejar kepentingan tersebut, manusia membutuhkan nilai-nilai: kekuasaan, pendidikan, kekayaan, kesehatan, keterampilan, kasih sayang, keadilan, dan kejujuran. Ketiga, faktor kebijakan sebagai hasil dari interaksi antara kekuasaan dan kepentingan yang biasanya berbentuk perundang-undangan. Kebijakan akan memiliki implikasi penting dalam perilaku politik terutama yang dilakukan oleh elit masyarakat. Faktor keempat, berupa budaya politik merupakan orientasi subjektif individu terhadap sistem politik. Kebudayaan politik sebagai orientasi nilai dan keyakinan politik yang melekat dalam diri individu dapat dianalisis dalam beberapa orientasi kognitif, afektif dan orientasi evaluatif yang mendasari perilaku politik.

Berpolitik Sebagai Media Pemberdayaan
Berpolitik dalam arti ikut serta memberikan masukan kepada pemerintah yang berkuasa dalam merumuskan kebijakan guna memberikan pelayanan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan, menurut  KH. Abdul Majid merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh ditinggalkan. Menurutnya, seorang tokoh masyarakat tak terkecuali para maraqdia serta tokoh masyarakat hukumnya wajib memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya memilih penguasa lewat Pemilihan Umum (Pemilu) agar pemerintahan ada yang mengendalikan sekaligus yang bertanggung jawab dari amanat yang telah dijalankan.

34

Jurnal Sosiologi

Seorang maraqdia yang juga tokoh masyarakat seharusnya bertindak netral. Artinya tidak ikut serta memobilisasi warga, mengintruksikan ataupun menyuruh untuk memilih partai politik tertentu, apalagi ikut berkampanye secara langsung di forum terbuka.Ada beberapa alasan kenapa seorang tokoh agama harus netral dalam sikap berpolitik. Pertama, para maraqdia dapat memberikan masukan sehubungan dengan upaya membangun masyarakat, kepada siapa pun yang berhasil menjadi penguasa, tanpa ada rasa beban. Kedua, melalui sikap netral dapat menjadi pengayom semua warga yang tergabung dalam berbagai partai politik. Ketiga,masyarakat tidak gampang menuduh mereka sebagai tokoh masyarakat yang tidak memiliki prinsip kuat. Posisi netral, memberikan manfaat dapat menjaga kesucian agama (Islam) karena kecil kemungkinan untuk mencampur-adukkan dalam memberi fatwa budaya dengan permasalahan politik. Dengan demikian, konflik antarkelompok masyarakat yang berbeda dukungan terhadap parpol dapat dihindari. Di sisi lain, dengan posisi netral dirasa tidak memunculkan kendala terkait dengan kegiatan pengembangan agama. Masyarakat akan tetap loyal dan mau menerima dengan rasa taat terhadap peranan tokoh masyarakat. Maraqdia boleh saja mendukung partai politik ataupun ikut serta memobilisasi warga untuk mendukung salah satu calon pemimpin dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), namun ada beberapa catatan yang harus menjadi pegangan. Pertama, berpegang pada prinsip “Amar ma’ruf nahy munkar”. Kedua, tidak ada kepentingan pribadi di balik dukungan. Ketiga, jika dukungan membuahkan hasil maka tokoh agama itu harus bersedia menjadi orang pertama yang berani mengambil jarak dengan pimpinan hasil dukungannya. Berpolitik atau sikap mendukung terhadap proses pemilihan kepala daerah atau kegiatan yang senada lainnya, oleh para tokoh agama menjadi sebuah media untuk melakukan proses pemberdayaan  (empowering). Warga membutuhkan bimbingan dan arahan karena berbagai keterbatasan pengetahuan, pengalaman, serta sarana hidup untuk mencapai kemandirian guna mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan Politik Maraqdia
Proses pendidikan politik maraqdia mengikuti model maraqdia serta manajemen yang diterapkan oleh para pendiri. Latar belakang para pendiri atau pengasuh serta sejarah yang ikut mengawal berpengaruh kuat terhadap bentuk pengelolaan maraqdia termasuk sistem pendidikan manajemen dan kepemimpinan(management and leadership education) yang dikembangkan. Kegiatan yang berjalan yang dilakukan maraqdia seperti salat berjamaah, kajian kitab, musyawarah mencari ketentuan hukum-hukum permasalahan yang berkembang di masyarakat (bahtsul masail) dan yang lain, tidak hanya diikuti oleh masyarakat dalam, tetapi juga oleh masyarakat sekitar maraqdia. Hubungan seperti ini membentuk komunitas yang memiliki ikatan kuat yang terimplementasikan dalam aspek-aspek kehidupan keseharian. Situasi sosial yang terus mengalami perubahan, maka berpolitik menurut pendidikan maraqdia perlu melihat konteks permasalahan. Politik itu ‘haram’ bagi maraqdia karena setelah terjun dalam kiprah politik, pekerjaan dan tanggung jawab maraqdia serta pembinaan moral/akhlak untuk masyarakat semakin ditinggalkan. Berbeda jika berpolitik dapat menjadikan dakwah agama lebih berkembang dan berkualitas. Kegiatan dakwah tidak saja bisa berlangsung menangani permasalahan yang ada di masyarakat, namun juga bisa menjangkau kaum birokrat yang setiap harinya berkutat pekerjaan kantoran terkait dengan kebutuhan bagaimana beragama yang baik dan benar. Jika demikian, maka berpolitik menjadi suatu kewajiban guna merealisasikan tujuan menciptakan kehidupan umat yang sejahtera, sehingga mampu menjalankan kewajiban agama dengan baik. Para tokoh masyarakat setuju jika dilakukan pendidikan politik bagi maraqdia yang berdampak positif terhadap masyarakat sekitar. Menurut mereka, pendidikan politik selain dapat mengembangkan wawasan agama

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

35

terkait dengan permasalahan politik, juga memiliki beberapa tujuan, antara lain (1) supaya para santri memahami esensi demokrasi; (2) bisa menjadi pemilih yang rasional dan bertanggung jawab; (3) mampu berpartisipasi dalam pembangunan politik yang  bermoral; (4) mampu mengembangkan wawasan agama yang relevan dengan alam demokrasi yang sedang berkembang.

Pengaruh Perubahan peranan maraqdia
Perubahan sikap dukungan terhadap Parpol oleh para tokoh masyarakat diperbolehkan, dengan pertimbangan: Pertama, ada tujuan “Amar ma’ruf nahy munkar”, dalam artian partai yang didukung dipandang memiliki kemampuan menegakkan keadilan serta mampu meningkatkan kesejahteraan warga. Kedua, memiliki perangkat baik sumber daya manusia maupun sarana penunjang lain yang secara meyakinkan mampu menunjukkan kinerja yang baik, sehingga untuk mewujudkan tujuan dan harapan tidak banyak mengalami kendala. Di sisi lain, warga dan masyarakat merasa yakin dan mantap untuk mendukungnya. Dalam berpolitik sebenarnya tokoh masyarakat dan para maraqdia memiliki sandaran yang kuat merujuk pada prinsip-prinsip implementasi kebermasyarakatan terkait dengan kegiatan sosial dan politik. Prinsipprinsip tersebut seperti Al-Tawasuth: adalah suatu pola  mengambil jalan tengah diantara dua jalan pemikiran yang ekstrem (tatharruf); Al-Tasamuh adalah toleran terhadap pluralitas pemikiran; Al-Tawazun adalah  keseimbangan, terutama dalam dimensi sosial politik; dan prinsip Al-Taqaddum (progresif) dan Amar Ma’ruf Nahy Munkar (menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran). Untuk mendapatkan hasil dan manfaat, diperlukan keberanian untuk melakukan terobosan kegiatan dengan berbagai pihak sepanjang memberikan manfaat dan kemaslahatan untuk umat. Perubahan perilaku politik dari para tokoh masyarakat menunjukkan ada dinamika kehidupan politik di masyarakat. Dinamika itu menunjukkan adanya pergeseran tujuan dan orientasi dari sebelumnya yang kurang atau tidak memperhatikan kegiatan politik menjadi ikut menunjukkan peran. Terkait dengan pilihan partai politik dari tokoh masyarakat berimplikasi pada dua kelompok bagi santri maupun masyarakat di lingkungan maraqdia . Bagi yang memiliki tingkat ketaatan tinggi terhadap masyarakat , umumnya patuh dan mau mengikuti pilihan para maraqdia. Kelompok masyarakat yang menilai bahwa memilih partai politik merupakan kegiatan yang tidak berhubungan dengan masyarakat , mereka memahami tindakan itu tidak perlu mengikuti para tokoh masyarakat.

Simpulan
1. Pergeseran peran pada Maraqdia Balanipa di Kecamatan Tinambung kabupaten Polman Propinsi Sulawesi Barat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: a. Komitmen memegang dan memelihara adat. Hal ini menjadi salah satu pemicu terjadinya pergeseran. Hal ini menjadi keniscayaan ketika era modern menjelma menjadi sesuatu yang harus dilakoni dan dihadapi justru terjadi kekendoran dalam memegang dan memelihara adat termasuk memelihara keberadaan Maraqdia di wilayah mandar. b. Pemekaran wilayah juga berpengaruh pada pergeseran peran nilai maraqdia. Seolah berlomba dengan waktu semua orang mengingkan jabatan yang banyak tersedia. Dalam hal ini tidak bisa dinapikan bahwa keluarga maraqdia pun ikut andil dalam kegiatan politik praktis. Sehingga mengabaikan norma dan nilai kepatutan terhadap komitmen memelihara dan menjaga kelestarian arrajangan balanipa. c. Akses informasi iptek dan media massa menjadi pemicu luar biasa terhadap terjadinya pergeseran peran maraqdia. Masyarakat tidak lagi membutuhkan peran maraqdia dalam meminta menyelesaikan

36

Jurnal Sosiologi

sebuah permasalahan/konflik karena masyarakat sudah memiliki akses informasi kepada siapa mereka meminta untuk menyelesaikan masalahnya. 2. Interpretasi peran sosial maraqdia Balanipa khususnya berkenaan dengan kedudukan dan aktivitasnya di tengah masyarakat. Dalam kondisi sosial masyarakat dan era pemerintahan modern sangat memungkinkan eksistensi Maraqdia menjadi lemah dan tidak mempunyai arti/kewenangan yang luas karena sudah tergantikan dengan keberadaan dan sistem pemerintahan modern 3. Perubahan cara pandang masyarakat terutama berkaitan dengan transendensi kedudukan tokoh di tengahtengah kehidupan mereka 4. Cara pandang masyarakat juga sangat bergeseran dari menjadikan maraqdia sebagai sosok yang dihormati dan disegani menjadi sosok yang biasa saja, sehingga masyarakat banyak yang berpaling dari adanya maraqdia

DAFTAR PUSTAKA
Abdillah, Ubed. 2002. Politik Identitas Etnik: Pergulatan Tanda Tanpa Identitas. Magelang: Yayasan Indonesiatera. Ahmad, Abdul Kadir. 2003. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kualitatif. Makassar: Indobis Al-Jabiri Mohamed Abed. 2004. Problem Peradaban: Penelusuran Jejak Kebudayaan Arab, Islam dan Timur. Yogyakarta: Belukar. Campbell, Tom. 1994. Tujuh Teori Sosial; Sketsa, Penilaian, dan Perbandingan. Yogyakarta: Kanisius. Castels, Manuel. 1997. The Power of Identity. (Second Edition). United Kingdom: Blackwell Publishing. Coser, Lewis A. 1964. The Function of Social Conflict. London: Collier- Macmillan Limited. Echols, John M. dan Hassan Shadily. 2003. Kamus Inggris Indonesia (An English-lndonesia Dictionary). Cet, XXV, Jakarta: Gramedia. Erikson, Erik. 1989. Identitas dan Siklus Hidup Manusia, diterjemahkan Agus Cremers. Jakarta: Gramedia. Garna, Judistira K. 1992. Teori-Teori Perubahan Sosial. Bandung: Program Pascasarjana Unipersitas Padjajaran. Hamid, Abu, dkk. 2003. Siri’ & Pesse’: Harga Diri Manusia Bugis, Makassar, Mandar, Toraja. Makassar: Pustaka Refleksi. Idham. 2009. Dinamika dan Resolusi Konflik di ATM Kabupaten Mamasa, Makassar. Pasca-UNM. Johnson, Doyle Paul. 1990. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Jorgensen, Marianne W. dan Louise J. Phillips. 2007. Analisis Wacana Teori dan Metode. Terjemahan oleh Imam Suyitno, dkk.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kleden, Ignas. 2001. Timur dan Barat di Indoensia: Persfektif Integrasi baru. Jakarta: The Go-East Institute. Klinken, Gary Van. ’’Pelaku Baru, Identitas Baru: Kekerasan Antar Suku Pada Masa Pasca Soeharto di Indonesia” dalam Dewi Fortuna Anwar dkk. 2005. Konflik Kekerasan Internal; Tinjauan Sejarah, Politik dan Kebijakan di Asia Fasifik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Koentjaraningrat. 1991. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Liliweri, Alo. 2005. Prasangka dan Konflik:Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur. Yogkarta: LKiS. Macdonell, Diane. 2005. Teori-Teori Diskursus. Terjemahan oleh Eko Wijayanto. Jakarta: Teraju. Madjid. Nurcholis. 1992. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina. Mandra, Abdul Muis. 1999. Sejarah Mandar. Majene: Yayasan Saqdawang. Mandra, Abdul Muis. 2004. Mandar Dalam Lontar Mandar. Makalah disampaikan seminar sehari “Perubahan Nama Kabupaten Polewali Mamasa” tanggai 27 Maret 2007 di Makassar.

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

37

Masmiyat, Andi. 2007. Konfiik Sara, Integrasi Terancam; Konsepsi dan Implementasi Tentang Kewaspadaan Nasional. Jakarta: Pensil-324. Muchtar, Rusdi. 2007. Teknik Penulisan llmiah (Bidang IPS): Modul Diklat Fungsional Peneliti Tingkat Pertama. Cibinong: Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Peneliti Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Muhajir, Noeng. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi IV. Yogyakarta: Rake Sarasin. Nasikun. 2006. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Nasution. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Thersito. Paut B.D. 1953. Interview Techniques and Field Relationships. Antropology Today. A.L. Kroeber, editor. Chicago: University of Chicago Press. Pelly, Usman. 1994. Teori-Teori Sosial Budaya. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2005 Tentang Perubahan Nama Kabupaten Polewali Mamasa Menjadi Kabupaten Polewali Mandar yang ditetapkan pada tanggai 30 Desember 2005. Piliang, Yasraf Amir. 1998. Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. Bandung: Mizan. Rahman, Darmawan Mas’ud. 1988. Puang dan Daeng Kajian Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa Mandar. Ujungpandang: PPs UNHAS. Raho, Bernard. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka. Ritser, George dan Duoglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media. Saharuddin. 1985. Mengenal Pitu Ba’bana Binanga (Mandar) dalam Lintasan Sejarah Pemerintahan Daerah di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Mallomo Karya. Sahuding, Sarman. 2004. Pitu Uiunna Salu Dalam Imperium Sejarah: Menguak Kisah Rakyat Mandar ditulis dengan Gaya Jurnalisme Modern. Makassar: Selatan Jaya. Soemardjan, Selo dan Soelaeman Soemardi. 1974. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Tina N.K., Dwia Aries. 2005. Kekerasan Komunal dan Damai: Studi Dinamika dan Pengelolaan Konflik Sosial Luwu. Makassar: PPs UNHAS. UU Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Mamasa UU Nomor 26 Tahun 2004 tentang Pembentukan Provinsi Sulawesi Barat

DINAMIKA SOSIAL PRAMURIA ( Studi Kasus di Pharos Nite-Park, Makassar)
Benyamin Rongrean Universitas Pattimura Ambon Abstract
The choice to become a nightclub hostess arises from conflicts at home. The situation forces a woman to find a job just to run away from the issues surrounding her weight. Disappointment to the family environment causes the informants escape in order to meet the needs of their dependents. They had had no options but to obtain money instantly as prostitutes. External factors such as friends and family environment also contribute to their decisions. Keywords: Social Dynamics, Nightclub Hostess, Environment

Pendahuluan

K

eluarga mempunyai fungsi afeksi, ketidak harmonisan keluarga di dalamnya tidak menerima cinta kasih, dapat berkembang menjadi menyimpang apabila ditambah adanya rasa kesepian yang mendalam. Selain itu

disebabkan keseringan bertengkar antara anggota keluarga, sehingga salah satu dari anggota keluarga tersebut mencari ketenangan, guna menghibur diri di luar rumah (Emka Moamar, 2003:19). Anggota keluarga itu memilih larut kedalam kehidupan malam, disamping itu juga ada unsur kemiskinan dari keluarga, jalan untuk mencari uang yang banyak semakin terbuka luas, tanpa memperhitungkan jenis pekerjaan apa yang dikerjakan sehingga, menimbulkan perilaku menyimpang. Lingkungan memengaruhi seseorang melakukan penyimpangan melalui peniruan, pengaruh eksternal yang jahat. Lingkungan memberikan contoh atau teladan yang paling dekat dengan kita, (Asyahari, 1989: 77). Adapun kehidupan keseharian pramuria akan menimbulkan dinamika di mana yang dimaksud dinamika adalah suatu perubahan yang apabila dihubungkan dengan kehidupan sosial pramuria dalam masyarakat merasa dikucilkan dan dipandang rendah, sehingga pramuria yang bersangkutan memilih pindah ke tempat lain, jauh dari masyarakat yang mengenalnya. Hal ini pula menimbulkan perubahan perilaku baik di tempat kerja maupun dalam keluarganya sendiri. Anggapan timbul karena adanya izin untuk mengadakan pertunjukan oleh sebagian orang dianggap jorok dan porno, di samping itu juga adanya izin untuk menjual minuman keras. Realitas di Indonesia persoalan seks dianggap tabu atau jorok, maka tidak mengherankan apabila pertunjukan seperti itu digolongkan kedalam porno dan night club sebagai penyelenggara dianggap sebagai tempat penyebaran maksiat serta pramuria yang dianggap sebagai teman berbicara atau melayani pengunjung untuk berdansa, mau tidak mau akan terkena sebutan sesuai tempat di mana mereka bekerja. Mereka ini dianggap sebagai pengganggu suami orang dan dicap sebagai pelacur dimana motivasi mereka selalu dihubungkan dengan masalah seks.

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

39

Pramuria dimasukkan ke dalam golongan wanita berprilaku menyimpang, menyimpang dari norma yang berlaku di masyarakat (Kartono, 1981:18). Adanya anggapan tersebut akan menimbulkan pertanyaan, mengapa seseorang bersedia bekerja ditempat yang dianggap sebagai sumber maksiat membuat dirinya dipandang rendah. Pertanyaan ini timbul mengingat, betapa pentingnya harga diri bagi seorang manusia yang diperoleh seseorang antara lain, melalui pandangan masyarakat terhadapnya berdasarkan status sosial dimilikinya. Status sosial seseorang dalam masyarakat ditentukan oleh bermacam hal antara lain pekerjaan. Semakin tinggi derajat pekerjaan semakin tinggi status sosial, sebaliknya semakin rendah derajat pekerjaan tersebut, semakin rendah pula penghargaan orang atau masyarakat terhdap mereka yang mendudukinya. Bartender dalam hal ini dipandang sebagai pekerjaan yang rendah statusnya. Sehingga dengan demikian penghargaan orang lain terhadap mereka pun rendah (Emka, 2003:12) demikian pula pramuria, ketiadaan penghargaan dari orang lain akan membuatnya tersisih dari masyarakat, dan cemas karena mereka telah melakukan sesuatu menyimpang dari apa yang diharapkan masyarakat darinya. Pramuria akan merasa tidak aman dalam masyarakat, hal ini akan mengakibatkan pula konflik dalam dirinya, ketegangan yang merupakan beban batin dalam hidupnya. Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana latar belakang dan alasan sehingga memilih menjadi pramuria, dan bagaimana hubungan sosial kerja, keluarga, dalam keluarga pramuria.

Metode Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan strategi studi kasus yaitu suatu pendekatan melihat objek penelitian sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh langsung oleh peneliti dari respondenden informan melalui wawancara mendalam (independen interview) dan pengamatan (observasi). Lokasi penelitian di Pharos Nite Park, Kota Makassar. Selain itu digunakan juga berbagai data sekunder sebagai data pendukung dihimpun dari berbagai sumber di Pharos Nite Park. Teknik pengumpulan data menggunakan: pengamatan (observasi) partisipasi secara langsung dilapangan dalam jangka waktu tertentu. Pengamatan ini dilakukan sebelum mengadakan penelitian maupun pada saat berlangsungnya penelitian di lokasi. Wawancara mendalam langsung terhadap informan, berpedoman pada daftar pertanyaan. Dokumentasi, yaitu menelaah kembali dokumen-dokumen penting tentang kehidupan sosial pramuria. Dari data diperoleh dalam penelitian ini, dilakukan verifikasi data, yaitu data-data yang relevan yang akan diambil, dan tidak relevan akan dibuang kemudian, dianalisa dengan menggunakan metode kualitatif.

Pembahasan
Rentang umur perempuan yang bekerja sebagai pramuria dalam penelitian ini berkisar antara 22-23 tahun. Dengan umur seperti ini mereka masih dalam keadaan sehat dan masih menginginkan kebebasan, karena dalam usia yang masih relatif muda memungkinkan mereka bekerja sebagai pramuria. Keadaanlah yang memaksa informan untuk bekerja sebagai pramuria, dimana informan hams memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga timbul keinginan untuk bekerja dan menghasilkan uang yang banyak tanpa hams bersusah payah. Masalah keluarga yang dihadapai oleh informan mengambil jalan pintas untuk mengatasi kesulitan hidup agar tetap bertahan. Berkaitan dengan hal pendidikan sebagian informan dalam penelitian ini, berstatus putus sekolah dengan tidak memperoleh ijazah SMU. Meskipun demikian dari hasil pengamatan terlihat bahwa sebagian informan bisa membaca dan menulis. Tersendatnya pendidikan informan disebabkan karena faktor ekonomi dalam hal ini

40

Jurnal Sosiologi

biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Pergaulan yang terlalu bebas pada masa sekolah yang membuat sebagian informan menikah di usia muda. Perkawinan yang tidak terencana secara matang sehingga terjadi keretakan yang memaksa informan harus berpisah dan akhirnya mendorong dirinya untuk bisa melupakan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga memilih menjadi pramuria. Rendahnya tingkat pendidikan yang pernah mereka tempuh tentu saja membawa konsekwensi pada jenis pekerjaan yang pernah menjadi cita-citanya, apalagi mereka yang tidak tamat SMP. Rendahnya pengetahuan dan tidak ada keterampilan yang mereka miliki, membuat mereka susah menyesuaikan diri dengan orang-orang di sekelilingnya yang telah memperoleh ijazah dan keterampilan di tingkat SMU dapatlah menyulitkan dalam bersaing disektor informal. Kekecewaan yang mereka alami akibat perkawinan tidak harmonis, karena putus sekolah, juga karena diperkosa itu membuat putus asa, akhirnya mendorong mereka untuk bekerja sebagai pramuria dari pada mencari pekerjaan lain. Dari kelima informan diketahui suku mereka itu berbeda-beda, antara lain dari luar Sulawesi yaitu dari Sorong dan Manado, sedangkan dari daerah Sulawesi Selatan yaitu suku Makassar dan Sinjai dan ada yang beragama Islam dan Kristen. Hasil pengamatan terlihat bahwa perilaku mereka umumnya peramah dan selalu menyenangi kehidupan bebas, tanpa ada kekangan dari pihak keluarga, dalam bertutur katapun mereka terkesan cerewet dan ceplos (berbicara tanpa dilandasi pikiran), bahkan sering kali berbohong sama tamu untuk memperoleh tip (imbalan) lebih banyak. Dalam kaitan dengan sifat keterbukaan dengan orang diluar dari lingkungannya, ternyata mereka lebih terbuka artinya, mereka mudah untuk diajak bicara, berdialog dan diwancarai, meskipun pada saat mereka diwawancarai informan terasa takut dan curiga. Jika dilihat dari segi solidaritas informan, diketahui dari hasil penelitian mereka tidak menunjukan rasa solidaritas hanya ada rasa kemanusiaan saja. Seperti terlihat saling menjenguk jika ada sesama mereka yang sakit tetapi dalam hal yang mengandung risiko misalnya jika ada teman yang mendapat perlakuan kasar dari pelanggan mereka tidak ikut membantu rekannya karena tidak ingin mendapat risiko yang lebih besar, begitu pula dalam hal saling meminjamkan uang, diketahui bahwa mereka saling memberi pinjaman karena menurut pengakuan, mereka mau memberikan pinjaman apabila orang yang diberi pinjaman pernah membantu informan. Penampilan informan terkesan seksi dan mereka juga selalu menjaga penampilan agar mereka tetap segar, sehat dan cantik dengan cara menjaga kondisi tubuh. Pada siang hari digunakan untuk istirahat. Dalam hal kebiasaan sehari-hari mereka tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Merokok dan minum obat-obat terlarang merupakan hal yang biasa. Bekerja sebagai pramuria dalam pandangan mereka bukanlah sebagai pekerjaan yang tercela atau menyimpang tetapi pekerjaan ini dianggapnya sebagai mata pencaharian yang dapat membantunya dalam kesulitan hidup sehari-hari. Sebagian informan berstatus belum berkeluarga, mereka memilih bekerja sebagai pramuria karena untuk melupakan masalah-masalah yang dihadapinya dengan keluarga. Bentuk rumah sebagian besar semi permanen yang berukuran kecil 4x4 meter persegi, dan kamar kost yang mereka sewa yang berukuran 3x4 meter persegi, karena pada umumnya mereka tidak mempunyai rumah pribadi, sedangkan sebagian dari informan tidak tinggal bersama keluarga, karena mereka tidak ingin pekerjaannya diketahui oleh keluarga. Didalam rumah tidak terdapat perabotan yang mewah, hanya terdapat perabotan yang memang merupakan hiburan bagi informan, seperti halnya televisi, radio, kursi dan beberapa perabotan dapur yang terkesan sangat sederhana. Walaupun mereka tidak memiliki barang-barang mewah, tetapi mereka sudah merasa hidup tenang, jika orang -orang disekitar mereka tidak mencampuri urusan mereka. Dengan tidak tinggalnya informan bersama keluarga otomatis pekerjaan mereka tidak diketahui oleh keluarga dengan demikian mereka aman jauh dari kontrol keluarga.

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

41

Waktu dan Tempat Bekerja
Rata-rata informan telah bekerja selama 1,5 tahun sampai 2 tahun, dengan usia antara 22-23 tahun di Pharos Nite-Park. Jam kerja informan pada hari minggu dimulai dari jam 15.00-02.00 dan hari-hari lain dimulai pada pukul 21.00-02.00, jadi pagi hari mereka gunakan untuk beristirahat dan malam harinya digunakan untuk bekerja. Dari kelima informan diketahui bahwa masing-masing informan mempunyai latar belakang yang berbeda, dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa pada saat mereka menjalankan tugas mereka, antara satu suku dengan suku lain tidak dilihat adanya pengelompokan suku. Informan didalam menjalankan tugasnya lebih menyukai bergaul dengan suku yang berbeda, ini diakibatkan karena antara informan merasa tidak aman bila mereka bergaul sesama suku, informan merasa takut untuk diketahui lebih dalam apa yang mereka kerjakan, informan merasa rahasia mereka akan terbongkar, begitu juga dengan umur, latar belakang keluarga, dan status informan yang sangat berbeda, dapat dilihat bahwa pada saat menjalankan tugas mereka sebagai pramuria, status itu ditinggalkan guna kelancaran mereka bekerja. Sebagai contoh informan berstatus janda, tidak merasa terbebani dengan mekanisme kerja, informan tersebut sama seperti yang lain datang pada waktunya, menjalankan tugas dengan baik, dan khusus buat peraturan yang dibuat oleh perusahaan bahwa, ada hal-hal harus diketahui oleh pramuria, yaitu apabila didalam jangka waktu satu bulan pramuria tidak bisa mengumpulkan pesananan, maka pramuria tersebut akan dikeluarkan dari perusahaan tersebut. Tempat mereka bekerja bermacam-macam, tergantung permintaan tamu, namun tempat tetap mereka bekerja adalah di Paharos Nite-Park. Pesanan adalah waktu yang digunakan oleh tamu untuk menyewa informan selama beberapa jam agar tamu mendapat pelayanan selama berada di diskotek, pesanan ada 2 macam yaitu pesanan dalam dan pesanan luar. Pesanan dalam yaitu penggunaan waktu yang sangat terbatas, misalnya informan hanya disewa 3 jam yang bertempat di Pharos Nite-Park saja. Aktivitas yang mereka lakukan selama pesanan dalam yaitu bercanda ria, disko, minum-minum bersama tamu sambil meraba tubuh informan (maaf kecuali alat kelamin), tetapi ada juga tamu yang hanya minta ditemani saja bercanda ria atau om (keadaan dimana tamu sementara teler karena obat-obatan terlarang) “Jika dipesan” dalam tamu harus membayar RP 30.000 per jam dan harus memesan selama 3 jam, melalui mami (orang yang ditunjuk perusahaan untuk mengkoordinir pramuria yang ada di Pharos Nite-Park) dalam hal ini berperan sebagai perantara antara tamu dan pramuria misalnya dalam mencarikan tamu. Di sini pramuria akan memperoleh tip (pemberian uang secara sukarela oleh tamu kepada pramuria) yang tidak dicampuri oleh perusahaan tetapi dimanfaatkan sendiri oleh pramuria. Jika mereka dipesan 3-4 jam mereka akan mendapat tip kurang lebih 50.000 rupiah dan ini biasanya akan dibagikan kepada mami. Informan mengenal mami melalui teman atau tetangga yang menawar mereka bekerja sebagai pramuria. Jika tamu tidak memperoleh kepuasan dengan hanya pesanan dalam, maka tamu akan pesanan pramuria ke luar. Sementara pesanan luar yaitu penggunaan waktu yang banyak dimana informan di pesanan luar dari tempat kerja. Tempat yang mereka biasa kunjungi jika dipesanan luar yaitu Hotel Pantai Gapura, Hotel Pharos, Hotel Aston, Hotel Dinasty, Pinag Mas, Hotel Cauntry Inn. Biasanya informan dipesanan selama 5-10 jam dengan mendapat pesananan luar maka tip yang diperoleh sekitar 300.000 rupiah sampai 500.000 rupiah, tip ini dimanfaatkan oleh informan tanpa pembagian dengan mami. Mereka sangat menikmati pekerjaan tersebut disebabkan karena adanya keinginan untuk mendapatkan uang yang banyak agar bisa menghidupi pacar dan keluarga yang ada di rumah. Jika semalaman mereka tidak menerima pesanan, dalam arti tidak ada tamu yang ingin memesan, maka sebagian dari mereka merasa kesal dan jengkel.

42

Jurnal Sosiologi

Jika banyak yang memesan mereka merasakan kegembiraan yang amat sangat karena mereka akan mendapatkan uang dan usaha mereka berdandan tidak sia-sia, dengan demikian mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bekerja sebagai pramuria bukanlah sebenarnya kehendak mereka, tetapi keadaannya yang memaksa mereka akhirnya memilih menjadi pramuria dan jika tidak menjadi pramuria responden tidak bisa berbuat apa-apa. Suka duka jadi pramuria yaitu jika ada pelanggan yang tidak membayar sesuai kesepakatan, maka itu adalah hal yang sangat menyakitkan, dan juga bila pengunjung tidak menggunakan “pengaman” dari kelima informan menunjukan adanya kesadaran akan pentingnya kesehatan khususnya masalah penyakit kelamin, dari seluruh pramuria yang bekerja di Pharos Nite-Park, setiap bulannya diadakan pemeriksaan kesehatan secara teratur, ini bertujuan agar pramuria yang ada di Pharos tersebut merasa aman bekerja di tempat itu, sukanya yaitu mereka menikmati hidup sebagai pramuria dapat hidup bersenang-senang. Adapun mengenai masa depan informan, rata-rata informan tidak memikirkan masa depannya, terbukti dari hasil penelitian informan tidak pernah menabung untuk masa depannya, mereka hanya memikirkan hari esok, terkadang penghasilan yang diperoleh habis begitu saja untuk berfoya-foya dengan cara membeli minuman, dan untuk membeli obat-obatan terlarang, Narkotika seperti Shabu-shabu. Kondisi seperti ini menyebabkan seringkali informan berutang antara sesama teman. Adapula informan yang sudah jenuh dan telah memikirkan aspirasi masa depannya dengan penghasilan yang diperolehnya tidak ditabung, tetapi dibelikan perhiasan emas agar suatu saat jika ada keperluan mendadak, emas tersebut dapat dijual. Dengan keadaan yang seperti ini seperti informan berharap suatu hari nanti lepas dan tidak bekerja lagi sebagai pramuria. Rata-rata informan telah bekerja sebagai pramuria selama 1,5 tahun sampai 2 tahun. Mereka menjadi pramuria pertama kali karena ajakan dari teman-teman yang tidak ingin melihat mereka menderita. Lain halnya dengan Pinkan (22 tahun) menjadi pramuria karena kecewa pada keluarga yang tidak menyekolahkan dan sangat disiplin dalam mendidik, sementara informan masih menginginkan kebebasan.Tetapi ada pula informan yang manjadi pramuria karena informan diperkosa 6 orang laki-laki, dan hamil dan lari ke Makassar untuk mencari pekerjaan dan akhirnya menjadi pramuria. Sebab-sebab informan tertarik menjadi pramuria sangat bervariasi. berdasarkan hasil wawancara dengan informan diketahui bahwa sebagian informan tertarik menjadi pramuria karena mereka putus asa dan karena adanya keinginan dari mereka untuk bisa cepat mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras, cukup dengan rayuan dan rabaan, maka mereka akan dapat mengantongi uang sesuai dengan keinginan mereka. Kesederhanaan pola pikir seiring dengan rendahnya pendidikan yang dimilikinya menyebabkan informan menuruti kata hatinya. Hal ini ditandai dengan bertumpuknya konflik batin akibat kekecewaan yang pernah dialaminya bersama dengan teman lelakinya, beserta adanya kekecewaan terhadap lingkungan keluarganya mereka lari mencari kehidupan sendiri dan akhirnya terjerat pada kehidupan malam. Keinginan informan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga membuatnya tidak mempunyai pilihan lain untuk memperoleh uang dengan cepat kecuali dengan menjadi pramuria. Persoalan yang terjadi pada dirinya membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa, tidak adanya keinginan dari mereka untuk mencari pekerjaan lain. Dari hasil penelitian terlihat bahwa tetangga atau teman turut mendukung informan menjadi pramuria, karena adanya ajakan dari teman mereka yang sudah terlebih dahulu menjalani kehidupan seperti itu, mereka menceritakan hal-hal yang gelamor sehingga informan tertarik untuk bekerja sebagai pramuria. Penghasilan yang mereka peroleh rata-rata dalam sebulannya yaitu 800.000 rupiah sampai 1.400.000 rupiah, jika informan dalam semalam dapat pesanan 3-10 jam. Mereka tidak mendapat gaji langsung dari perusahaan,

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

43

apabila mereka tidak dapat pesanan dalam semalam, maka penghasilan mereka berkurang.Dari kelima informan ini dapat dilihat dari latar belakang informan yang berbeda, bahwa didalam usaha untuk mendapatkan pesananan, informan berusaha secara profesional dalam menjalankan pekerjaannya, informan tidak lagi melihat latar belakangnya, tetapi informan menjalankan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh perusahaan, karena dari situlah mereka mendapatkan pesanan. Perusahaan dalam hal ini hanya menyediakan tempat dan sarana bagi mereka untuk mencari penghasilan. Perusahaan hanya mengkoordinir penghasilan mereka dan diberikan pada akhir bulan. Perusahaan dalam hal ini memberi target kepada pelanggan yaitu jika pesanan 1 jam maka pelanggan hams membayar 30.000 rupiah jadi dalam perjamnya, namun uang ini tidak seluruhnya untuk pramuria, tetapi hanya 20.000 rupiah, yang mereka ambil, dan dibayar pada saat akhir bulan, mami mengambil 2.000 rupiah, dan perusahaan 8.000 rupiah. Pendapatan mereka tergantung dari time yang mereka kumpulkan, namun jika mereka dipesanan dan mereka mendapat uang tip, maka uang tip itu tidak di campuri oleh perusahaan tetapi dimanfaatkan sendiri oleh perusahaan. Dalam hal memperoleh tip yang banyak mereka melakukan segala cara agar tamu atau pelanggan merasa kasihan dan tidak segan-segan memberikan tip yang banyak pada informan. Pemanfaatan penghasilan yang mereka peroleh sebagian dipakai untuk keperluan sehari-hari, namun ada juga informan yang memanfaatkan untuk berfoya-foya saja, dengan menghambur-hamburkan uang demi untuk kesenangannya sendiri sehingga ada kalanya uang yang mereka peroleh habis begitu saja. Rata-rata informan tidak menabung untuk masa depan mereka. Mereka hanya memikirkan kesenangan sesaat saja tanpa memikirkan hari esok, jadi ada kalanya mereka kekurangan uang dan mereka akan mengutang ke kantor, atau kepada teman. Dari hasil penelitian diketahui bahwa perilaku mereka umumnya berbeda di rumah dan di tempat kerja, walaupun mereka dari latar belakang yang berbeda seperti umur, status, tingkat pendidikan latar belakang keluarga, tetapi di dalam menjalankan tugas informan selalu memberikan yang terbaik kepada tamunya, jika mereka berada di tempat kerja, tingkah laku mereka bersifat centil, dan sedikit agak manja dan genit. Mereka berpakaian seksi dan terbuka untuk mendapatkan perhatian tamu dengan harapan mendapatkan pesanan yang lebih banyak. Biasanya dalam mencari tamu informan sengaja mendatangi tamu yang duduk sendirian dan menawarkan jasa pada tamu tersebut. Tetapi yang paling berperan penting dalam mencarikan tamu adalah mami. Hubungan pramuria dengan mami sangat dekat, karena itu apa yang dilakukan pramuria harus sepengetahuan mami. Di tempat kerja mereka juga seringkali berkonflik antara sesama pramuria, misalnya ada diantara teman yang meminjamkan uang dan tidak dikembalikan dengan cepat. Hal ini yang sering kali membuat terjadinya konflik diantara mereka yang membuatnya saling berdiam diri dan tidak bertegur sapa. Tetapi jika hal ini diketahui oleh mami, maka mami akan mendamaikan mereka, dimana utang informan dibayarkan dulu oleh perusahaan dan sehabis gajian utang itu akan dipotong sesuai dengan jumlah uang yang diutang. Jika dilihat dari segi solidaritas, ternyata dari hasil penelitian diketahui tidak terdapat solidaritas diantara mereka, ini dilihat jika ada teman mereka yang mendapatkan kekerasan dari tamu, mereka tidak ikut membantu, tetapi hanya melapor ke security, mereka tidak mau mendapatkan masalah. Hubungan mereka adalah sebatas teman sekerja saja yang satu sama lain saling kenal mengenal dan bergaul. Namun tidak ada kelompok- kelompok tertentu karena mereka hanya saling menjenguk jika ada teman yang sakit. Agar mereka tidak diketahui bekerja sebagai pramuria, maka informan tidak memilih untuk bertempat tinggal dengan keluarga, tetapi sebagian informan memilih kost di tempat lain, hanya sekali atau dua kali dalam sebulan mengunjungi keluarganya. Rata-rata keluarga informan tidak mengetahui pekerjaan mereka, keluarga

44

Jurnal Sosiologi

mereka hanya tahu kalau informan hanya bekerja di toko sebagai pelayan atau bekerja di tempat karaoke dan hanya menemani tamu menyanyi. Sikap dan perlakuan anggota keluarga biasa saja, mereka tidak memperlihatkan sikap yang akan membuat keluarga mereka menjadi curiga. Jika mereka menanyakan tentang pekerjaannya, mereka biasanya berdalih sebagai pelayan toko. Hubungan sosial yang terjadi dalam keluarga pramuria bisa dikatakan tidak ada, hal ini diperlihatkan dengan penelitian (Purnomo, Tjahjo, dan Siregar Ashadi, 1984:66) menjelaskan bahwa antara keluarga inti dan pramuria tidak terjalin hubungan yang harmonis, intensitas pertemuan bisa terjadi hanya satu kali setahun. Dengan bekerja sebagai pramuria dapat menunjang ekonomi keluarga informan, dimana informan dapat memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya. Umumnya informan tidak terlalu menghadapi cemohan yang datang dari masyarakat. Bagi informan yang penting mereka tidak mengganggu kehidupan dan tidak menyakiti mereka. Adapun strategi untuk tetap bertahan dalam masyarakat yaitu dengan tidak menggapai cemohan yang ada di sekitar lingkungan mereka. Dilihat dari hubungan sosial informan dengan masyarakat diketahui dari hasil penelitian bahwa mereka tidak bergaul dengan masyarakat sekitarnya karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sehubungan dengan hal tersebut, Dolly adalah tempat prostitusi yang ada di Kota Surabaya menyebutkan bahwa hubungan sosial yang terjadi antara masyarakat lokal dan pekerja seks adalah sangat harmonis (Purnomo, Tjahjo, dan Siregar Ashadi, 1984:29), dijelaskan bahwa aktivitas pada saat makan siang dan malam bersamaan atau membaur dengan masyarakat lokal, saling tukar menukar makanan, makan bersama, kegiatan arisan, dan aktivitas primer dikerjakan bersama. Berbeda halnya dengan pramuria yang ada di Jakarta (Murray, 1994: 38) menjelaskan bahwa tidak adanya hubungan emosional lintas lingkungan, masyarakat lokal dan pramuria, tidak saling mengenal, keakraban dan nilai kekeluargaan tidak ditemukan pada pramuria yang ada di Jakarta. Dari hasil pengumpulan data, dapat dilihat bahwa rata-rata usia informan 22-23 tahun, yang mana dari umur mereka dapat dikategorikan sebagai usia yang masih muda dalam dunia hiburan khususnya pramuria. Dari kelima informan dari sisi agama dapat dilihat bahwa terdapat agama Islam dan Kristen yang mendominasi kehidupan pramuria di Pharos Nite-Park, dari sisi asal informan diketahui bahwa ada yang berasal dari Manado, Sorong, Makassar, Bugis. Dari tingkat pendidikan yang diperoleh oleh informan diketahui bahwa rata-rata informan tamat SMP, dari status informan diketahui bahwa informan berstatus janda dan gadis. Dari kelima informan dapat diketahui bahwa informan bekerja sebagai pramuria 1,5 tahun sampai 2 tahun, yang menyebabkan informan bekerja sebagai pramuria adalah karena adanya pengalaman pribadi seperti karena diperkosa, karena balas dendam, karena putus asa dan karena faktor lingkungan. Jadi dari hasil penelitian ini terlihat bahwa bukan karena faktor ekonomi saja yang menyebabkan informan bekerja sebagai pramuria. Seperti informan yang bersalah dari Manado, bahwa yang menyebabkan informan bekerja sebagai pramuria adalah karena informan tersebut diperkosa, dan nekat lari ke Makassar sebagai bentuk rasa malu yang diterimanya, sehingga informan tersebut bergaul dengan seorang lesbian yang mengakibatkan informan tersebut berperilaku seperti lesbian. Informan yang berasal dari Makassar adalah bersaudara kembar yang terpisah, satu di Makassar dan satunya di Surabaya, kemudian bertemu di Pharos Nite-Park. Inilah faktor yang menyebabkan informan ini bekerja sebagai pramuria karena mereka putus asa dengan pencarian orangtua mereka. Sudah bertahuntahun mereka berusaha mencari orangtuanya dan tidak menemukannya. Akibatnya mereka putus asa dan bekerja sebagai pramuria. Pertama kali yang mengajak informan menjadi pramuria adalah teman dan pacar, yang mana teman informan adalah yang bekerja sebagai pramuria di Pharos Nite-Park atau yang bekerja di tempat lain tetapi sering mengunjungi Pharos Nite-Park. Motivasi informan menjadi pramuria adalah ingin melupakan masa lalu sebagai

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

45

pengalaman pribadi yang kurang menyenangkan, bersenang-senang, dan mencari uang. Mekanisme dalam pekerjaan pada dasarnya adalah sama. Mereka harus mematuhi peraturan yang ada di Pharos Nite-Park, seperti jam kerja dari jam 21.00 - 02.00. Untuk keterlambatan jam masuk perusahaan tersebut membuat aturan dimana akan dikenakan denda 10.000 rupiah per satu jam, atau jika 1 hari tidak masuk tanpa keterangan akan dikenakan denda 30.000 rupiah. Denda itu akan dibayar setelah gajian. Informan harus bekerja seprofesional mungkin, menemani tamu dengan baik, sopan, ramah, serta berpenampilan menarik. Tempat informan kunjungi pada saat melayani tamu luar adalah Dinasty, Imperial Arya Duta, Phaross Inn, Kenari Hotel, Hotel Pantai Gapura, Makassar Golden Hotel, Country Inn, dan Quality Hotel. Dalam mendapatkan tamu, perusahaan telah menunjuk seorang yang menangani masalah pramuria, dia adalah mami yang berperan sebagai pencari tamu. Mami di sini mendapatkan upah 1 jam Rp. 2000 per 1 pramuria, di luar tip yang didapatkan dari pramuria, tamu dan perusahaan sendiri. Istilah yang digunakan dalam pelayanan jasa ini adalah pesananan dalam dan luar. Pesananan dalam adalah pelayanan yang berlaku di dalam perusahaan itu sendiri. Sedangkan pesananan luar adalah pelayanan yang dilakukan di luar perusahaan. Untuk pesananan dalam harga yang harus dibayar adalah 30.000 rupiah per satu jam, dan harus dibayar minimal 3 jam. Jadi meskipun tamu hanya mempesanan satu jam tetapi tamu harus membayar 3 jam, dikalikan dengan 30.000 rupiah. Untuk pesananan luar tarifnya sama, tetapi tamu harus memesan minimal 10 jam dikalikan 30.000 rupiah dan berlaku sehabis jam kerja pramuria 02.00. Informan bekerja 3-10 jam per hari, dan gaji mereka dapatkan tergantung dari pesanan yang mereka kumpulkan, rata-rata informan mendapatkan gaji perbulan 800.000 -1.400.000 rupiah di luar tip yang mereka dapatkan. Tanggapan keluarga informan atas profesi mereka sebagai pramuria adalah mereka lebih banyak diam, atau ada yang tidak mengetahui keluarganya bekerja sebagai pramuria, untuk sikap dan perilaku informan di tempat tinggal, informan lebih banyak berdiam diri di rumah, tidak bergaul dengan lingkungan tempat tinggal dan bersikap cuek, dan untuk hubungan sesama teman, informan lebih banyak menyendiri baik itu di tempat bekerja maupun di rumah. Hubungan perusahaan dengan pramuria harus baik dalam arti pramuria harus mematuhi semua peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan.

Simpulan
Pilihan hidup menjadi seorang pramuria dilatari problema kehidupan yang pernah dihadapi, menyebabkan timbul keinginan mencari kerja agar melupakan masalah berat yang menyelimutinya. Kekecewaan terhadap lingkungan keluar menyebabkan informan lari dari kehidupan sendiri, agar dapat memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Mereka itu sudah tidak mempunyai pilihan lain, memperoleh uang dengan cepat, kecuali bekerja sebagai pramuria. Teori pertukaran perilaku, Homans mengemukakan bahwa seseorang akan semakin cenderung melakukan suatu tindakan manakala tindakan tersebut makin sering disertai imbalan. Persoalan terjadi pada diri pramuria membuat merasa tidak lagi berbuat apa-apa, karena sudah menganggap diri kotor, sehingga tidak ada lagi keinginan mencari pekerjaan lain. Seperti yang dikemukakan oleh Conklin, dalam teori labeling yaitu seseorang menjadi menyimpang karena proses labeling, pemberian julukan, cap, etiket, merek yang diberikan masyarakat kepadanya, sehingga mendefinisikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi perbuatannya. Hubungan sosial dalam lingkungan pramuria adalah tidak terdapat solidaritas di antara sesama pramuria, hubungan mereka hanya sebatas hubungan rekan sekerja yang satu sama lain, saling kenal mengenal dan bergaul dengan tidak terdapat kelompok tertentu. Sikap dan perlakuan terhadap anggota keluarga biasa saja. Mereka tidak memperlihatkan sikap membuat keluarga mereka curiga akan pekerjaan sebagai pramuria.

46

Jurnal Sosiologi

DAFTAR PUSTAKA
Asyahari, lma. 1989. Patologi Sosial. Surabaya: Usaha Nasional. Berry, Dafid. 2000. Pokok-Pokok Pikiran Sosiologi. Jakarta: Rajawali Pers. Emka, Moammar. 2003. Jakarta Under Cover I. Jakarta: Gagas Media. Emka, Moammar. 2003. Jakarta Under Cover II. Jakarta: Gagas Media. Horton, B. Paul, dan Chester, L. Hunt. 1999. Sosiologi Jilid I Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga. Kartono, Kartini. 1981. Patologi Sosial Jilid I. Jakarta: Rajawali. Murray, J. Alison. 1994. 1994. Pedagang Jalanan dan Pelacur Jakarta, Sebuah Kajian Antrologi Sosial. Jakarta: LP3ES. Mage, Ismail. 2003. Campus Under Cover. Jakarta: Citra Harta Prima. Perdana, Divana. 2003. Ekspresi Cinta Dan Jati Diri: Dugem. Jakarta: Diva Press. Poloma, M. Margaret. 1994. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: RajaGrasindo. Purnomo, Tjahjo, dan Siregar Ashadi. 1984. Dolly Membedah Dunia Pelacuran Surabaya Kasus Kompleks Pelacuran Dolly. Jakarta: Grafiti Pers. Pranoto. 2003. Wajah Sebuah Vagina. Jakarta: Galang Press.

KAOMBO (Kearifan Lokal Buton tentang Hutan dan Lingkungan)
La Ode Muhammad Deden Marrah Adil STKIP Pembangunan Indonesia Makassar Abstract
Management of land, forest and environment by companies (corporations/investors) and State-Owned Enterprises (BUMN) under the guise of legislation such as Hak Guna Usaha (HGU) and Forest Management License (HPH) are operated at the expense of the local people. As a result, the local people are economically segregated since the land that they had cultivated for generations has been taken over by the owners with large capital who influenced the making of policy. Even worse, land annexation, logging, theft and inappropriate management of forest continue to occur as forms of public resistance. Illegal logging and hunting widespread on the basis of economic trouble along with difficulties in life that forces them to great lengths to exploit the available natural resources in the forest. Keywords: Kaombo, Forest,Butonese Local Wisdom

Pendahuluan

M

odernisasi merupakan imbas dari globalisasi, yaitu keterbukaan interaksi antar satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Modernisasi ditandai dengan industrialisasi. Modernitas menyentuh aspek kebudayaan

masyarakat dalam mana Archetti (Kuper dan Kuper, 2008: 671) mencirikannya ke dalam tiga bagian, yaitu: 1) dalam bidang budaya, pengandalan pada penalaran dan pengalaman menyebabkan pertumbuhan ilmu pengetahuan dan kesadaran ilmiah, sekularitas, dan rasionalitas instrumental, 2) sebagai moda kehidupan didasarkan pada pertumbuhan masyarakat industri, mobilitas sosial, ekonomi pasar, kemelekan huruf, birokratisasi dan konsolidasi negara bangsa, dan 3) membesarkan sebuah konsepsi bahwa manusia adalah bebas, otonom, bisa mengendalikan diri dan refleksif. Oleh karena itu, industrialisasi sangat identik dengan meningkatnya produktivitas barang dan jasa untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Tidak terkecuali di bidang kehutanan yang ditandai dengan peralihan fungsi hutan untuk keseimbangan ekosistem alam menjadi kawasan industri seperti kelapa sawit, perkebunan teh, pohon jati produksi dan semacamnya. Di sisi lain, laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan pergerakan masyarakat dari kota ke desa menuntut tersedianya pembukaan lahan-lahan hutan menjadi wilayah pemukiman penduduk. Belum lagi usahawan bermodal cukup yang berorientasi keuntungan menanamkan modal tertentu agar memperoleh wilayah hutan sehingga dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk kegiatan industrialisasi produksi barang dan jasa. Negara dalam hal ini Pemerintah selaku pemegang kendali dan kebijakan pengelolaan dan pengadaan tanah bagi kepentingan umum sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Pasal 1 ayat 7 disebutkan bahwa “hak Pengelolaan adalah hak menguasai dari negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegangnya”. Ayat ini bermakna paradoks, karena seolah-olah pemerintah dengan mudah

48

Jurnal Sosiologi

dapat mengatur hak pengelolaan tanah sedangkan di sisi yang lain juga memberikan keleluasaan kepada pihak pemegang aset tanah (perorangan maupun korporasi) atas pengelolaan dan pemanfaatan tanah kawasan hutan sebagai sebuah industri yang dapat menghasilkan barang produksi bernilai komersil, mendatangkan keuntungan dari pajak penghasilan yang dapat diterima negara. Maka tidak mengherankan bilamana Pemerintah menerbitkan ketentuan hukum Hak Pengelolaan Hutan (HPH) kepada setiap warga negara atau korporasi/investor yang dianggap layak dan mampu memberi kontribusi kepada penambahan pundi-pundi uang/kas negara melalui pajak penghasilan produksinya, walau pada akhirnya berpotensi menggeser tatanan nilai dan struktur masyarakat Indonesia di daerah-daerah yang notabene masih berpegang pada nilai kearifan lokal, termasuk dalam hal ini Buton sebagai daerah tingkat II sekaligus bekas pusat wilayah Kesultanan Buton. Sejatinya, pengelolaan dan pemanfaat sumber daya alam hayati dan hewani terutama untuk upaya konservasi hutan, harus dilakukan secara arif dan bijaksana, walaupun tata kelolanya dirancang dalam satuan sistem yang cukup kompleks, tetapi bertujuan untuk mewujudlahirkan kesejahteraan masyarakat. Bagi Pemerintahan Kesultanan Buton hingga bubarnya tahun 1960, sebagaimana termaktub dalam UndangUndang Martabat Tujuh wilayah hutan lindung disebut sebagai Kaombo, tersebar di empat wilayah Bharata (daerah kerajaan otonom) dan 72 wilayah kadie (wilayah setingkat desa). Oleh karena itu, dalam transiterasi leksikalitas bahasa Buton, Kaombo bermakna “hutan larangan”, atau hutan lindung yang pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya alamnya yang tersedia diatur dan diawasi secara ketat oleh syarat Bharata/ Kadie dengan ancaman hukuman tertentu (punishment), namun juga sebagai sebuah penghargaan (reward) bagi mereka yang ikut berjasa, berkontribusi di banyak aspek berkehidupan lingkup Pemerintahan Kesultanan Buton. Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk membangun kesadaran masyarakat tentang arti penting membumikan kembali nilai-nilai kearifan lokal di setiap penjuru nusantara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dalam beberapa dekade terakhir cenderung materialis seiring pesatnya perkembangan modernisasi sebagai imbas dari globalisasi, yaitu berlangsungnya interaksi secara terbuka antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Sebab nilai-nilai kearifan lokal ini merupakan komponen penting terbentuknya kebudayaan nasional, yang dalam perspektif sosiologis merupakan satu dari enam modal sosial (Social Capital) yang seharusnya dapat dioptimalkan untuk memampukan masyarakatnya bergerak secara dinamis dalam rangka perwujudan pembangunan demi terciptanya kehidupan bermasyarakat yang harmonis, stabil dan terhindar dari terciptanya ketegangan-ketegangan (konflik) antar struktur dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dimana nilai kearifan lokal itu bertumpu.

Pembahasan
Struktur dan sistem pengetahuan manusia bergerak dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks. Proses berpikir itu kemudian menjadi ide, konsep lalu diinterpretasikan hingga akhirnya teraktualisasi dalam kehidupan nyata membentuk realitas hidup masyarakat, baik secara objektif maupun subjektif. Sistem pengetahuan tersebut selanjutnya menjadi gugusan komponen sistem kebudayaan sebagai puncak tertinggi output dan outcomenya. Oleh karena itu, kebudayaan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Menyimak pengertian tersebut, maka untuk memahami manusia sebaik mungkin seyogyanya harus sesuai dengan konteks kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan merupakan dimensi hidup dengan tingkah laku manusia. Manusia lahir, tumbuh, dan berkembang bukan hanya ditentukan oleh lingkungan tetapi harus didukung oleh kebudayaannya. Berdasarkan pandangan Berger (Ritzer dan Goodman, 2010), dapat dipahami bahwa kebudayaan merupakan produk pemikiran manusia yang kompleks. Dengan kata lain, kebudayaan merupakan hasil eksternalisasi

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

49

manusia dalam rangka mengadaptasikan dirinya dengan alam, mengubahnya secara fisis dengan bantuan alat yang diciptakannya, berinteraksi dengan bahasa tertentu dan membangun seperangkat simbol-simbol untuk meresapi keseluruhan aspek berkehidupannya. Hal tersebut searah makna tersirat uraian Blummer (1986: 78) kekhasan manusia dalam interaksinya dengan menggunakan simbol dalam proses interaksinya sebagai berikut: The term symbolic interaction refers, of course, to the peculiar and distinctive character of interaction as it takes place between human being. The peculiarity consist in the fact that human being interpret or “define” each other’s actions instead of merely reacting to each other’s actions. Uraian di atas mendeskripsikan secara jelas jika simbol-simbol yang digunakan manusia dalam proses interaksi secara bersama-sama ditafsir/didefinisikan satu sama lain berdasarkan makna yang ada di balik tindakan. Artinya bahwa, perilaku tindakan orang perorang dalam proses interaksi mendapat respon atas sebuah stimulus. Dilakukan secara repetitif sehingga menjadi satu bentuk kebudayaan bagi manusia karena sudah bertransformasi menjadi suatu tindakan sosial. Kebudayaan juga merupakan suatu proses belajar untuk menghasilkan bentuk-bentuk baru dengan mengakumulasikan pengetahuan dan keterampilan, yang tentu saja sifatnya positif (Soekanto, 1978:8). Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana dimaksud adalah menyangkut nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi nafas budaya dalam gerak dinamika kehidupan sosial, dalam hal ini “Kaombo” sebagai salah satu ketentuan hukum yang diatur dalam Undang-Undang Martabat Tujuh Kesultanan Buton. Zahari (1980:171) menguraikan bahwa, Hak-hak dan ketentuan hukum atas tanah di Kesultanan Buton sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Martabat Tujuh terdiri dari: (1) Turakia, adalah tanah yang diberikan kepada syarat kesultanan untuk keperluan tempat tinggal (2) Katampai, adalah tanah yang diberikan kepada syarat kesultanan atas jasa yang bersangkutan kepada kesultanan (3) Tanah pekuburan untuk masyarakat umum dan keluarga syarat kesultanan (4) Tanah dalam lingkungan Benteng Keraton, yaitu tanah kawasan pusat pemerintahan kesultanan Buton yang tidak dapat diperjualbelikan karena masyarakat kawasan hanya memiliki status pakai (5) Tanah bebas, yaitu tanah yang berada di luar status Turakia dan Katampai, dan (6) Kaombo, yaitu kawasan hutan lindung yang harus dilestarikan setiap wilayah Kadie (desa). Kaombo sebagai komponen kebudayaan kesultanan Buton, merupakan seperangkat konsep dan ide tentang tata kelakuan yang harus dilaksanakan pemerintah (kesultanan) dan masyarakat yang terlembaga (legitimatif) dalam sistem peradatan terkait dengan pengelolaan hutan dan lingkungan secara arif dan bijaksana sehingga tidak menimbulkan kerugian dari dampak yang bisa diakibatkannya jika bertolak belakang dengan konsep dan ide Kaombo. Dari beberapa informasi yang dihimpun penulis melalui wawancara langsung dengan salah seorang sejarawan dan budayawan lokal Buton (Syafiuddin, 2012) dijelaskan bahwa, Kaombo merupakan wilayah hutan konservasi Pemerintah Kesultanan Buton yang segala sumber daya isinya terutama pohon/kayunya tidak boleh ditebang, dan secara khusus keberadaan hutan itu kini dikenal sebagai Hutan Lambusango, lalu oleh Lembaga Swadaya Masyarakat asing (Non Goverment Organization/NGO) asing dari berbagai negara telah dinyatakan sebagai paru-paru dunia, sehingga keberadaanya menjadi destinasi wisata, dan landscape model serta objek pengembangan ilmu pengetahuan hayati maupun hewani”.

50

Jurnal Sosiologi

Gambar 1. Ilustrasi Gambar Hutan Kaombo

Sumber: www.google.com

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

51

Berdasarkan uraian di atas, maka sejatinya Kaombo merupakan suatu terminologi ilmiah lingkup kesultanan Buton khususnya tentang wujud nyata sistem konservasi hutan.  Kaombo diwujudupayakan oleh perseorangan atau masyarakat sekitar hutan (wilayah bharata/kadie) berdasarkan legalitas hukum pemerintahan kesultanan Buton. Oleh karena itu, segala isi, potensi sumber daya yang ada dalam hutan tersebut pengelolaannya harus melalui izin kesultanan. Hingga saat itu tidak ada masyarakat yang berani melakukan pembalakan, pencurian dan pemanfaatan isi hutan dengan alasan apapun. Dalam hal ini juga masyarakat memiliki kesadaran kolektif akan arti penting kelestarian ekosistem alam dan hutan. Disamping sebagai seperangkat konsep dan ide, Kaombo sekaligus sebagai sebuah komunikasi simbolik dalam keberlangsungan proses interaksi sosial kemasyarakatan. Bagaimana tidak, kaombo juga dicitrakan pada sebuah wadah tertentu, diikatkan pada setiap pohon/tanaman yang sebelumnya telah diberikan bacaanbacaan magis (mantra) tententu dan bertujuan untuk melindungi tetanaman dari berbagai gangguan yang tidak diinginkan, misalnya gangguan hewan dan manusia secara tidak bertanggung jawab.  Berdasarkan uraian di atas, maka tidak mengherankan apabila masyarakat umum yang semakin heteregon di Buton lebih mengenal Kaombo sebagai barang sesuatu yang memiliki daya magis/kekuatan mistikal, sebab umumnya digantungkan pada pohon buah-buahan atau lingkungan yang oleh pemiliknya dijaga kelola, walau pada hakikatnya juga berfungsi sebagai seperangkat konsep, ide dan pengetahuan tentang pengelolaan dan pelestarian tanah, hutan dan lingkungan, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Ketatanegaraan Kesultanan Buton. Oleh karena itu, pencitraan Kaombo sebagai barang sesuatu yang bernilai magis sesungguhnya tidak lebih dari sekedar transformasi Kaombo ke skala yang lebih mikro, sehingga membentuk sebagai seperangkat simbol tertentu yang digantung ikatkan pada pohon atau tanaman oleh pemiliknya. Kaombo sebagai salah satu unsur penting kearifan nilai budaya smasyarakat Buton secara fungsional bersifat mengikat setiap anggota masyarakat menjalankan peran dan fungsinya sesuai dengan kaidah-kaidah dan tata nilai budaya (lokalitas Buton) dalam mewujudkan harmonisasi hidup manusia dengan lingkungan, terutama kepada alam.

Gambar 2. Kaombo sebagai Simbol Penjaga Tanaman

52

Jurnal Sosiologi

Wilayah Kaombo sumber daya isinya tidak boleh dimanfaatkan sembarang rupa tanpa ada legalitas Pemerintahan Kesultanan Buton terhadap aktivitas ekplorasinya, terlebih lagi mengeksploitasi potensi sumber daya alamnya sebagaimana marak terjadi pada berbagai daerah di Indonesia, baik dilakukan oleh pemerintah melalui Hak Pengusahaan Hutan (HPH) maupun pihak ketiga (korporasi/investor lokal maupun asing). Dengan demikian, Kaombo adalah satuan wilayah hutan secara terbatas, dibawah pengawasan sistem nilai oleh Pemerintah Kesultanan Buton saat itu, dan sejak berintegrasinya Kesultanan Buton ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tanggung jawab terhadap Kaombo itu dilakukan oleh Pemerintah Daerah setempat (Bupati/Walikota) dan instansi pemerintah terkait. Dalam upaya konservasi hayati itu, Kaombo tidak saja sebagai sebuah cakupan wilayah hutan yang dikonservasi (dilindungi), tetapi juga merupakan tata nilai tertinggi yang dianut pahami Pemerintah Kesultanan Buton dan masyarakatnya dalam pengelolaan, dan pemanfaatan hutan secara tepat guna, berkesinambungan serta tidak menyebabkan adanya pengrusakan terhadap lingkungan. Oleh karena itu, sebagai sebuah tata nilai,  Kaombo merupakan seperangkat ide, konsep, gagasan dan pandangan terhadap upaya konservasi alam (hutan) dalam tata kelolanya dalam skala makro. Mangunjaya, Heriyanto, dan Gholami (2007) dalam bukunya tentang upaya konservasi hutan berjudul “Menanam Sebelum Kiamat: Islam, Ekologi dan Gerakan Lingkungan Hidup” menjelaskan bahwa: “Kaombo merupakan upaya reflektif masyarakat Buton t1erhadap rasa hormatnya kepada alam sehingga diperlukan usaha pelestarian berikut isi dan sumber daya yang ada di dalamnya. Dengan kata lain, Kaombo merupakan refleksi sistem ide, konsep, gagasan dan pandangan masyarakat Buton terhadap upaya konservasi alam. Lebih dari itu, Kaombo merupakan konstruksi pemikiran kosmologi, yaitu suatu wujud kebudayaan yang secara fungsional menjadi pedoman atau pengarah perilaku bagi manusia untuk bertindak sesuai anjuran yang terkandung dalam sistem nilai tersebut”. Menyimak uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa, Kaombo erat kaitannya dengan sistem kepercayaan karena menyangkut pemahaman tentang simbol sebagai salah satu komponen kebudayaan lokal. Dengan demikian, secara artikulatif dapat menjadi sosok menakutkan karena dari banyak pengalaman empiris yang telah terjadi dalam lingkup masyarakat Buton, dampak buruk yang dapat ditimbulkan dari pengingkaran pantangan dan larangan yang terdapat di dalamnya bisa bermacam-macam, mulai dari yang terkecil/teringan, seperti terkena sakit secara tiba-tiba, sampai kepada yang terbesar/terberat, misalnya kematian. Terlepas dari unsur magis/mistik yang terdapat dalam “Kaombo” sebagaimana penulis uraian dalam makna artikulatif simbolik sebelum ini, maka hutan konservasi sesungguhnya dari peristilahan hutan konservasi maupun hutan secara luas oleh Pemerintah Kesultanan Buton secara kultural merupakan suatu norma yang hendak mengatur serta mengarahkan moralitas (etika) masyarakatnya ke arah yang lebih manusiawi yang bersumber dari hati nurani, sekaligus perwujudan nilai normatif pengikat kolektivitas perilaku sosial masyarakat. Senada dengan uraian tersebut, Herimanto dan Winarno (2010: 141) mengemukakan relasi teoritik secara maknawi, bahwa moral berkaitan dengan nilai baik-buruk perbuatan manusia. Tindakan yang bermoral adalah tindakan manusia yang dilakukan secara sadar, mau, dan tahu serta tindakan itu berkenaan dengan nilai-nilai moral. Maka kedudukan Kaombo kaitannya dengan moral dalam perspektif interaksionisme simbolik merupakan pandangan yang didasarkan pada segenap asumsi bahwa, individu adalah obyek yang bisa secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain. Mereka menemukan bahwa individu-individu tersebut berinteraksi dengan menggunakan simbol-simbol, yang di dalamnya berisi tanda-tanda, isyarat dan kata-kata. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

53

(pesan verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang disepakati bersama. Senada dengan hal tersebut, Durkheim (Isambert, 2005: 190) menegaskan bahwa setiap pelanggaran moral memprovokasi intervensi oleh ‘masyarakat untuk mencegah ini penyimpangan. Dengan kata lain, setiap fakta moral yang terdiri dari aturan perilaku yang menerapkan sanksi. Esensi interaksionisme simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. Perspektif ini berupaya untuk memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Teori ini menyarankan bahwa, perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Manusia bertindak hanya berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objek-objek di sekeliling mereka. Dalam pandangan perspektif ini, sebagaimana ditegaskan Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakan aturan-aturan, bukan aturanaturan yang menciptakan dan menegakan kehidupan kelompok. Hal ini menegaskan bahwa, Kaombo sejatinya menciptakan tatanan keteraturan dalam pengelolaan dan pemanfaatan tanah, hutan dan lingkungan untuk pencapaian kesejahteraan masyarakat. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka. Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegaskan aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok. Mulyana, (2001: 70) menegaskan bahwa dalam konteks ini pula dikonstruksikan dalam proses interaksi, dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan perannya, melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial. Jika bertumpu pada pandangan Blumer (Poloma, 2010: 258) maka dapat dipahami bahwa simbolisme Kaombo bertumpu pada tiga premis utama, yaitu: (1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan maknamakna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka (2) makna tersebut berasal dan “interaksi sosial seseorang dengan orang lain”, dan (3) makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial berlangsung. Dengan demikian, Blumer menegaskan bahwa aktor memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokkan, dan mentransformir makna dalam hubungannya dengan situasi dimana dia ditempatkan dan arah tindakannya. Berdasarkan ketiga premis perspektif interaksi simbolik tersebut, maka Kaombo sebagai hutan larangan boleh jadi merupakan realitas objektif pemerintahan Kesultanan Buton ketika itu, sebagai bagian dari pengorganisasian hutan dan hasil alamnya agar tidak dikelola secara massal oleh anggota masyarakat yang tidak berhak atau wilayah kadie (Desa) dimana Kaombo itu berada. Kemudian bergerak menjadi menjadi realitas subjektif manakala hutan dan lingkungan yang terjaga terus memberikan sumbangsi besar bagi kestabilan ekosistem hutan dan lingkungan (satwa dan petumbuhan yang ada di dalamnya) sehingga pencegahan terhadap kerusakan lingkungan di Pulau Buton merupakan upaya preventif yang telah dilakukan sejak dulu, bahkan terundangkan dalam Undang-Undang Martabat Tujuh Kesultanan Buton.

Simpulan
Hakikat disajikannya tulisan ini adalah untuk membangun kesadaran masyarakat tentang arti penting membumikan kembali nilai-nilai kearifan lokal di setiap penjuru nusantara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dalam beberapa dekade terakhir cenderung materialis seiring masuk dan berkembangnya

54

Jurnal Sosiologi

modernisasi sebagai imbas dari globalisasi, yaitu berlangsungnya interaksi secara terbuka antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Sebab nilai-nilai kearifan ini merupakan komponen penting terbentuknya kebudayaan nasional, yang dalam perspektif sosiologis merupakan satu dari enam modal sosial (Social Capital) yang seharusnya dapat dioptimalkan untuk memampukan masyarakatnya bergerak secara dinamis dalam rangka perwujudan pembangunan demi terciptanya kehidupan bermasyarakat yang harmonis, stabil dan tidak menciptakan ketegangan-ketegangan (konflik) antar struktur dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dimana nilai kearifan lokal itu bertumpu.

DAFTAR PUSTAKA
Blummer, Herbert. 1986. Symbolic Interacionism, Perspective and Method. Berkeley Los Angeles/London: University of California Press. Fachruddin M. Mangunjaya, Husain Heriyanto, Reza Gholami. 2007. Menanam Sebelum Kiamat: Islam, Ekologi dan Gerakan Lingkungan Hidup. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Herimanto dan Minarno. 2010. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. Isambert, Francois Andre. 2005. Durkheim’s Sociology Of Moral Facts. ISBN 0-203-16825-9 Master e-book ISBN. London and New York: Routledge. Kuper, Adam dan Kuper, Jessica. 2008. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Jilid II. Jakarta: Rajawali Pers. Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi. Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya. Poloma, M. Margaret. 2010. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Raja Grafindopersada. Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana. Soekanto. 1978. Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Zahari, Mulku. 1980. Darul Butuni, Sejarah dan Adatnya. Baubau: Tidak Diterbitkan.

DAMPAK PROGRAM PENGEMBANGAN KECAMATAN (PPK) TERHADAP PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN BANTIMURUNG KABUPATEN MAROS
Adi Sumandiyar Universitas Sawerigading Makassar Abstract
The research conducted in Bantimurung District of Maros Regency aims to (1) analyze the impact of the Kecamatan Development Program (PPK) on the improvement of family income and increased job opportunity in Bantimurung District of Maros Regency, and (2) describe strategies for people economic improvement. Data were collected through field surveys by interviewing 100 people receiving community revolving fund loan of the Usaha Ekonomi Produktif (UEP) (=Productive Economic Business) and the Women’s Group Savings and Loans (SPP) as respondents who were selected by using cluster random sampling method from 8 villages/sub-district in Bantimurung District of Maros Regency. Descriptive analysis of pre and post design and SWOT analysis were used. The result suggests that the program gives a positive and significant impact for the community in terms of the improvement of family income and increased job opportunities. However, there are a number of people who have not been able to increase their revenue and still unemployed. In order to improve the local economy, strategies such as development of natural resources and improvement of people’s skills for technological adaptation are needed. Keywords: Income Family, Employment, Technology Adaptation

Pendahuluan

R

encana pembangunan wilayah harus disusun berdasarkan pada potensi yang dimiliki dan kondisi yang ada sekarang. Kondisi yang ada itu meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya

modal, prasarana dan sarana pembangunan, teknologi aspirasi masyarakat setempat (Adisasmita, 2006). Penentuan program pembangunan oleh masyarakat yang bersangkutan merupakan bentuk perencanaan dari bawah, peningkatan partisipasi masyarakat merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat (social empowering) (Adisasmita, 2006). Kecamatan Bantimurung terletak di Kabupaten Maros, Propinsi Sulawesi-Selatan. Kecamatan Bantimurung terdiri dari 6 desa dan 2 kelurahan dengan jumlah penduduk 27.672 jiwa, 6.281 Kepala Keluarga (KK). Sebagian warga memiliki mata pencaharian petani, selain itu, ada yang bekerja sebagai pedagang dan pegawai negeri sipil (PNS). Sebanyak 25% kepala keluarga di Kecamatan Bantimurung di kategorikan sebagai keluarga miskin. Desa termiskin berada di Desa Baruga, dengan rata-rata penghasilan warga Rp 10.000,/hari, serta 50% warga kecamatan berpendidikan SMP. Kecamatan Bantimurung mulai mengikuti Program Pengembangan Kecamatan (phase II) pada tahun 2003 (perencanaan) dan merupakan kecamatan Matching Grant. Pada tahun pertama, Kecamatan ini mendapat alokasi Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp

56

Jurnal Sosiologi

500.000.000, atau sebanyak Rp 72.248.130, (14,5%) dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) digunakan untuk membiayai kegiatan prasarana. Sedangkan sisanya untuk kegiatan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) yakni sebesar Rp 402.750.000, atau (85,5%). Kecamatan Bantimurung berturut-turut mendapat Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp 500.000.000, (tahun ke II) dan Rp 500.000.000, (tahun ke III). (Sumber; Profil PPK Kecamatan Bantimurung-Kabupaten Maros, 2008). Antusias masyarakat Kecamatan Bantimurung untuk berpartisipasi dalam kegiatan Pogram Pengembangan Kecamatan (PPK) terbilang aktif. Tingkat partisipasi masyarakat tertinggi terjadi pada tahap Musyawarah Antar Desa (MAD) tahap II dan tahap III, yakni mencapai 90%. Secara umum, keterlibatan perempuan dalam kegiatan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) berkisar 70%, sedangkan rata-rata keterlibatan masyarakat miskin adalah 75%. Partisipasi masyarakat miskin tertinggi pada tahap Musyawarah Desa (MD) tahap II (perencanaan) dan Musyawarah Desa tahap III mencapai 90% (Sumber; Profil PPK Kecamatan Bantimurung-Kabupaten Maros, 2008). Kebijakan-kebijakan yang pro-kaum miskin sangat diperlukan agar pertumbuhan ekonomi bersifat pro poor growth (PPG) ialah yang mempunyai dampak positif yang berarti bagi pengurangan kemiskinan, terutama kebijakan yang produktif seperti perluasan akses bagi semua orang ke pendidikan (pendidikan dasar) dan pelayanan kesehatan, peningkatan kesempatan kerja, serta pembangunan sektor pertanian dan ekonomi perdesaan (Tambunan, Tulus, T.H, 2008). Sebelum adanya Program Pengembangan Kecamatan (PPK) masyarakat di Kecamatan Bantimurung sulit untuk mendapatkan bantuan pinjaman dana bergulir. Khususnya bagi masyarakat miskin, sulitnya mendapatkan bantuan pinjaman membuat masyarakat terbatas untuk mengembangkan kegiatan usaha karena keterbatasan modal usaha yang dimiliki oleh masyarakat. Pemberian pinjaman dana bergulir melalui prioritas yang dilihat dari jumlah yang diinginkan oleh masyarakat. Penghasilan yang didapat oleh masyarakat dalam sehari hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan. Selain itu ketersediaan sarana dan prasarana penunjang meliputi sanitasi dan utilitas masih terbatas, selain itu sarana transportasi darat yaitu jalan yang menghubungkan dari desa/ kelurahan masih belum optmal. Dalam hal ini peneliti ingin mengevaluasi bagaimana dampak yang diakibatkan dengan dilaksanakannya Program Pengembangan Kecamatan (PPK) melalui Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang melingkupi Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) dan merekomendasikan strategi yang dibutuhkan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bantimurung serta menjadi dasar dalam pegembangan wilayah. Oleh sebab itu maka dibutuhkan beberapa kajian tentang dampak dari PPK terhadap peningkatan ekonomi masyarakat antara lain; 1) Seberapa besar dampak Program Pengembangan Kecamatan (PPK) terhadap peningkatan pendapatan keluarga di Kecamatan Bantimurung ?, 2) Seberapa besar dampak Program Pengembangan Kecamatan (PPK) terhadap peningkatan kesempatan kerja di Kecamatan Bantimurung?, 3) Bagaimana strategi peningkatan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bantimurung ?

Metode Penelitian
Rancangan penelitian bersifat sebelum dan sesudah dan datanya berbentuk nominal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan didukung data kualitatif, bertujuan untuk memberikan gambaran secara sistematis, cermat dan akurat mengenai fenomena sosial tertentu berupa fakta-fakta, keadaan, suatu individu atau kelompok, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki (Singarimbun dan Effendi, 1989). Penelitian ini telah dilaksanakan selama 2 bulan, mulai bulan Juni sampai dengan bulan Juli tahun 2010. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, karena di Kecamatan Bantimurung

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

57

mendapatkan pinjaman dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang meliputi Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) yang merupakan bagian dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang meliputi 6 desa dan 2 kelurahan. Observasi yang dilakukan peneliti berdampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat serta memberikan rekomendasi strategi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penerima BLM yang bertempat tinggal di Kecamatan Bantimurung dengan unit analisis adalah 623 Orang nasabah Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan 111 Orang nasabah Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) di setiap desa/ kelurahan Kecamatan Bantimurung. Penentuan sampel dilakukan dengan cara cluster random sampling yaitu pengambilan sampel digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas (Sugiyono, 2010; 64). Arikunto, Suharsimi (2006; 134), jika populasinya besar dapat diambil sampel sebesar 10% - 15%. Dalam penelitian ini jumlah populasi sebanyak 734 Orang dan diambil sampel sebesar 10% dari jumlah populasi yaitu 100 Orang. Sampel masing-masing wilayah desa/kelurahan diambil berdasarkan prosentase jumlah nasabah penerima Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang meliputi dana bantuan pinjaman Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) ditiap desa/kelurahan Kecamatan Bantimurung. Data peningkatan pendapatan yaitu; (1) Peningkatan pendapatan, (2) perbaikan pembangunan perumahan; (3) pengeluaran rumah tangga, dan (4) kepemilikan aset. Data peningkatan kesempatan kerja antara lain; (1) peningkatan kesempatan kerja, (2) jumlah tenaga kerja; (2) jenis kegiatan usaha. Data-data tersebut bersumber dari kuesioner sebanyak 100 responden, yang menerima bantuan dana pinjaman bergulir Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP). Data jenis kegiatan pelaksanaan PPK Tahun 2007 ditiap desa/kelurahan meliputi; (1) jenis kegiatan pembangunan infrastruktur tahun 2007; dan (2) biaya kegiatan pembangunan infrastruktur tahun 2007. Data sasaran penerima bantuan pinjaman Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) tahun 2007 ditiap desa/kelurahan meliputi; (1) banyaknya jumlah nasabah tahun 2007, dan (2) banyaknya jumlah pinjaman tahun 2007. Data tersebut diperoleh melalui Kantor Sekretariat Unit Pelaksanaan Kegiatan (UPK) Program Pengembangan Kecamatan (PPK) di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Data penunjang lainnya seperti data gambaran umum wilayah penelitian, data produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Maros tahun 2006 - tahun 2008, data banyaknya keluarga miskin (prasejahtera) ditiap desa/kelurahan di Kecamatan Bantimurung Tahun 2007. Data penelitian di peroleh melalui Dinas Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maros, Dinas Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Maros, dan Dinas Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Untuk mengetahui dampak terhadap peningkatan pendapatan keluarga dan peningkatan kesempatan kerja sebelum dan sesudah dilaksanakannya PPK di Kecamatan Bantimurung, maka digunakan data primer sebelum dan sesudah program dilaksanakan, yang bersumber dari 100 orang responden yang menerima dana bantuan pinjaman bergulir Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP). Analisis SWOT dengan mengidentifikasi kondisi sebenarnya mengenai kekuatan, kelemahan, peluang maupun ancaman yang dihadapi. Data-data yang dikumpulkan mengenai faktor internal berupa kekuatan dan kelemahan dan faktor eksternal berupa peluang dan ancaman yang diperoleh berdasarkan hasil keterangan 100 orang responden ditiap desa/kelurahan dan hasil wawancara dengan instansi terkait yaitu pihak Sekretariat Unit Pengelolaan Kegiatan (UPK) PPK di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut akan dirumuskan strategi pengembangan dengan strategi TOWS.

58

Jurnal Sosiologi

Pembahasan
Peningkatan sebelum dilaksanakannya PPK, dari 100 responden ditiap desa/kelurahan yang menerima dana bantuan pinjaman bergulir, terdapat 89 orang (89%) yang tidak mengalami peningkatan pendapatan dan 11 orang (11%) yang mengalami peningkatan pendapatan. Sedangkan dibandingkan dengan sesudah dilaksanakannya PPK terdapat 96 responden (96%) yang mengalami peningkatan pendapatan dan sebanyak 4 responden (4%) yang tidak mengalami peningkatan pendapatan. Dengan demikian bahwa terdapatnya peningkatan pendapatan keluarga yang disebabkan oleh PPK berdasarkan dari hasil analisis data dan penelitian yang terjadi di lapangan. Hal tersebut sangat relevan dengan kajian teori yang di kemukakan menurut Sjafrizal (2008; 119), pertumbuhan ekonomi daerah akan cenderung lebih cepat pada daerah dimana terdapat konsentrasi kegiatan ekonomi yang cukup besar. Kondisi tersebut selanjutnya akan mendorong proses pembangunan daerah melalui peningkatan penyediaan lapangan kerja dan tingkat pendapatan masyarakat. Demikian sebaliknya bilamana, konsentrasi kegiatan ekonomi pada suatu daerah relatif rendah yang selanjutnya juga mendorong terjadi pengangguran dan rendahnya tingkat pendapatan masyarakat setempat. Selain itu daerah pedesaan yang telah memperlihatkan pola perkembangan ekonomi yang positif adalah daerah dengan prasarana pedesaan dan kegiatan non-pertaniannya berkembang dengan baik di samping kegiatan pertanian. Daerah ini para petani kecil mempunyai kemungkinan menambah pendapatan mereka dengan penerimaan di luar usaha pertanian sehingga dapat mencapai pendapatan total yang layak. Integrasi ekonomi yang semakin baik dan mengecilnya ketimpangan pendapatan akan menciptakan pendapatan rumah tangga (Young et all; Gemmell, N, 1992; 221). Perkembangan perbaikan pembangunan perumahan terdapat 8 orang (8%) yang menambah luas lantai rumah dan sebanyak 92 orang (92%) yang tidak melakukan penambahan luas lantai rumah. Sedangkan dibandingkan dengan sesudah dilaksanakannya PPK dari 100 orang yang menerima bantuan pinjaman bergulir ditiap desa/ kelurahan terdapat 60 responden (60%) yang menambah luas lantai rumah dan sebanyak 40 responden (40%) yang tidak melakukan penambahan luas lantai rumah. Ukuran luas penambahan lantai rumah dari 100 orang responden yang menerima dana pinjaman bergulir ditiap desa/kelurahan sebelum dilaksanakan PPK, dari 100 responden terdapat 8 orang (8%) yang menambah ukuran luas lantai rumah dan yang tidak menambah luas lantai rumah sebanyak 92 orang (92%). Sesudah dilaksanakan PPK dari 100 responden terdapat 60 orang (60%) yang menambah ukuran luas lantai rumah sedangkan yang tidak menambah luas lantai rumah sebanyak 40 (40%). Jika dibandingkan sebelum dilaksanakannya PPK, dari 100 orang responden ditiap desa/kelurahan hanya 8 orang (8%) yang melakukan penambahan luas lantai rumah. Sedangkan sesudah dilaksanakan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dari 100 orang, yang menambah ukuran luas lantai rumah menjadi meningkat sebanyak 60 orang (60%), yang berarti mengalami peningkatan penambahan luas lantai rumah sebanyak 52 orang (52%). Dengan demikian jika ditinjau dari kajian teori seperti yang ada pada indikator kondisi perumahan dengan memperhatikan beberapa aspek penting (Sumber; Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Maros, 2009) yang meliputi; (1) luas lantai rumah yang dimiliki rumah tangga, adalah luas lantai bangunan yang ditempati dan digunakan untuk keperluan sehari-hari; (2) atap rumah adalah penutup bagian atas suatu bangunan, sehingga yang mendiami dibawahnya terlindung dari terik matahari, hujan dan sebagainya; (3) dinding rumah adalah batas penyekat atau bangunan pihak lain atau sisi luar batas dari bangunan; (4) bangunan perumahan; (5) fasilitas air minum yang dimiliki, adalah fasilitas air minum yang dimiliki (secara sendiri, bersama, umum, membeli dan lainnya) dan digunakan oleh rumah tangga; dan (6) sumber penggunaan air bersih adalah sumber air terbanyak yang digunakan rumah tangga yang berasal dari ledeng, pompa air, sumur dan mata air terlindung.

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

59

Selanjutnya menurut Budihardjo, Eko, (1992; 67), persyaratan pokok suatu rumah sehat yang meliputi aspek; (1) harus memenuhi kebutuhan fisiologis, meliputi: suhu optimal di dalam rumah, pencahayaan, perlindungan terhadap kebisingan, ventilasi yang baik, serta tersedianya ruangan untuk latihan dan bermain bagi anak-anak; (2) memenuhi kebutuhan psikologis, meliputi: jaminan privasi yang cukup, kesempatan dan kebebasan untuk kehidupan keluarga secara normal, hubungan yang serasi antara orang tua dan anak, terpenuhinya persyaratan sopan-santun pergaulan, dan sebagainya; (3) memberikan perlindungan terhadap penularan penyakit dan pencemaran, dan (4) memberikan perlindungan/pencegahan terhadap bahaya kecelakaan dalam rumah. Pengeluaran rumah tangga sebelum dilaksanakan PPK dari 100 responden terdapat 22 orang (22%) yang menunjukkan terjadi peningkatan dan 78 orang (78%) yang menunjukkan tidak ada peningkatan pengeluaran. Sedangkan sesudah dilaksanakannya PPK dari 100 responden terdapat 79 orang (79%) yang menunjukkan terjadi peningkatan pengeluaran rumah tangga dan 21 orang (21%) yang menunjukkan tidak terjadi peningkatan pengeluaran. Dengan demikian menurut Adisasmita (2005; 193), untuk mengukur pengeluaran rumah tangga dengan menggunakan indikator kemiskinan secara adalah; (1) tingkat upah; (2) pendapatan; (3) konsumsi; (4) mortalitas anak usia balita; (5) imunisasi; (6) kekurangan gizi anak; (7) tingkat fertilitas; (8) tingkat kematian ibu; (9) harapan hidup rata-rata; (10) tingkat penyerapan anak tingkat sekolah dasar; (11) proporsi pengeluaran pemerintah untuk pelayanan kebutuhan dasar masyarakat; (12) pemenuhan bahan pangan (kalori atau protein); (13) fasilitas air bersih; (14) perkembangan penduduk melek huruf; (15) urbanisasi; (16) pendapatan perkapita dan distribusi pendapatan. Selanjutnya menurut Arsyad, Lincolin (2004; 240), indikator kemiskinan ada beberapa macam yaitu; konsumsi beras per kapita/tahun, tingkat pendapatan, tingkat kecukupan gizi, kebutuhan fisik minimum (KFM), dan tingkat kesejahteraan. Demikian pula menurut Kuncoro (1997; 103) bahwa ”kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma tertentu, pilihan norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran kemiskinan yang didasarkan konsumsi. Garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi (consumptionbased poverty line) terdiri dari 2 (dua) elemen yaitu: (1) pengeluaran yang diperlukan untuk membeli standar gizi minimum dan kebutuhan mendasar lainnya; dan (2) jumlah kebutuhan lain yang sangat bervariasi, yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Sebelum dilaksanakannya PPK dari 100 responden terdapat 91 orang (91%) memiliki aset dan terdapat 9 orang (9%) yang tidak memiliki aset. Sesudah dilaksanakannya PPK dari 100 responden terdapat 94 orang (94%) yang memiliki aset dan terdapat 6 orang (6%) yang tidak memiliki aset. Yang dimaksud dengan aset bergerak adalah kendaraan bermotor dan hewan ternak dan aset yang tidak bergerak adalah tabungan, tanah/ lahan, dan barang elektronik. Penilaian suatu aset dikembangkan dengan harga pasar atau senilai harga pasar. Pengertian penilaian adalah konsep tentang pasar, biaya, dan nilai (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 6 Tahun 2006). Kriteria yang digunakan dalam penilaian kepemilikan aset barang ditentukan meliputi; (1) penilaian tanah menggunakan harga pasar dan nilai jual objek pajak (NJOP); (2) penilaian bangunan dengan menggunakan umur ekonomis, faktor fisik, bahan material, konstruksi dan karakteristik bangunan; (3) penilaian kendaraan bermotor dan mesin-mesin menggunakan faktor fisik, umur ekonomis, merk, jenis, tipe, tahun pembuatan dan spesifikasi teknis dan harga pasar; (4) penilaian perlengkapan alat rumah tangga menggunakan faktor fisik, manfaat, kondisi peralatan dan umur ekonomis; (5) penilaian hewan ternak dan tanaman menggunakan faktor fisik, jenis, umur, manfaat dan harga pasar (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 6 Tahun 2006). Sebelum dilaksanakan PPK dari 100 responden terdapat 10 orang (10%) yang menunjukkan terjadi

60

Jurnal Sosiologi

peningkatan kesempatan kerja dan 90 orang (90%) yang menunjukkan tidak ada peningkatan kesempatan kerja. Sedangkan dibandingkan sesudah dilaksanakannya PPK dari 100 responden terdapat 91 orang (91%) yang menunjukkan terjadi peningkatan kesempatan kerja kerja dan 9 orang (9%) yang menunjukkan tidak terjadi peningkatan pengeluaran. Hal ini di karenakan responden mendapatkan bantuan pinjaman dana bergulir Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) yang dipergunakan untuk menambah modal usaha maupun yang baru memulai membuka usaha, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan kesempatan kerja kerja. Dengan demikian menurut Gemmell, N, (1992; 230) kebutuhan pokok untuk meningkatkan pendapatan bagi masyarakat adalah; (1) kesempatan kerja produktif bagi orang miskin; (2) peningkatan investasi di sektor pertanian tradisional, informal, dan penghapusan kendala pengembangan pada sektor-sektor tersebut; (3) akses pada pelayanan pokok untuk semua penduduk; (4) mengurangi perbedaan akses pada barang dan pelayanan kebutuhan pokok diantara berbagai rumah tangga; (5) peningkatan ekspor untuk membiayai impor untuk memenuhi kebutuhan pokok tanpa terlalu banyak tergantung pada bantuan asing; dan (6) pengadaan lembagalembaga agar mayoritas orang miskin ambil bagian secara aktif dalam usaha-usaha pembangunan. Selanjutnya menurut Kusumosuwidho (Mulyadi, S, 2003; 56), salah satu masalah yang biasa muncul dalam bidang angkatan kerja adalah ketidakseimbangan antara permintaan akan tenaga kerja (demand for labor) dan penawaran tenaga kerja (supply for labor), pada suatu tingkat upah. Ketidakseimbangan tersebut dapat berupa; (1) lebih besarnya penawaran dibanding permintaan terhadap tenaga kerja (adanya excess suply of labor); dan (2) lebih besarnya permintaan dibanding penawaran tenaga kerja (adanya excess demand for labor). Jumlah penyerapan tenaga kerja sebelum dilaksanakan PPK dari 100 responden yang menerima bantuan dana pinjaman terdapat 5 orang (5%) yang menunjukkan terjadi jumlah peningkatan penyerapan tenaga kerja dan 94 orang (94%) yang menunjukkan tidak terjadi jumlah peningkatan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan sesudah dilaksanakannya PPK dari 100 responden yang menerima bantuan dana pinjaman terdapat 85 orang (85%) yang menunjukkan terjadi jumlah peningkatan penyerapan tenaga kerja dan 15 orang (15%) yang menunjukkan tidak terjadi jumlah penyerapan tenaga kerja. Hal ini di karenakan selama dalam tiap 3 bulan dilakukan pencairan dana pinjaman yang mengakibatkan bertambahnya nasabah yang meminjam modal Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Simpan Pinjam Kelompok Perempuan (SPP) serta bertambahnya pula jumlah nasabah yang baru masuk menjadi anggota, untuk memulai usaha. Dengan demikian menurut BPS (Handayani, 2009), “melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit satu jam secara terus menerus dalam seminggu yang lalu termasuk pekerja keluarga tanpa upah yang membantu dalam suatu usaha atau kegiatan ekonomi”. Selanjutnya menurut Tjiptoherijanto (Handayani, M.Th, 2009), tingginya laju pertumbuhan penduduk menyebabkan lapangan pekerjaan yang tersedia tidak mampu menampung secara penuh jumlah tenaga kerja yang ada. Pengembangan usaha berskala kecil pada kelompok-kelompok masyarakat kemudian menjadi salah satu alternatif penyelesaian masalah surplus tenaga kerja, utamanya ditujukan untuk menjadi wadah bagi upaya pembinaan wirausaha di kalangan masyarakat. Jenis kegiatan usaha sebelum dilaksanakan PPK dari 100 responden ditiap desa/kelurahan yang menerima bantuan dana pinjaman, terdapat sebanyak 32 orang (32%) yang mempunyai usaha berjualan dirumah, 18 orang (18%) yang mempunyai usaha membuat kue tradisional, 34 orang (34%) yang memiliki usaha ternak, 3 orang (3%) yang memiliki usaha jualan dirumah dan membuat kue tradisional, 3 orang (3%) memiliki usaha ternak dan jualan dirumah, 1 orang (1%) memiliki usaha jualan dirumah, membuat kue tradisional dan usaha ternak serta yang tidak memiliki usaha sebanyak 9 orang (9%). Sedangkan sesudah dilaksanakannya PPK yaitu sebanyak 23 orang (23%) memiliki usaha jualan dirumah,

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

61

7 orang (7%) memiliki usaha membuat kue tradisional, 25 orang (25%) memiliki usaha ternak, 3 orang (3%) memiliki usaha jualan dirumah dan membuat kue tradisional, 9 orang (95) memiliki usaha dirumah dan jualan ternak, 3 orang (3%) membuat kue tradisional dan usaha ternak, 23 orang (23%) memiliki usaha jualan dirumah, membuat kue tradisional dan usaha ternak, serta yang tidak memiliki usaha mengalami penurunan sebanyak 7 orang (7%). Menurut BPS (Lestari, S.HS, 2009), mendefinisikan unit usaha adalah unit yang melakukan kegiatan yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan dan mempunyai kewenangan yang ditentukan berdasarkan kebenaran lokasi bangunan fisik, dan wilayah operasinya. Unit usaha dibedakan berdasarkan skala usahanya yaitu; usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah dan usaha besar. Menurut Gnyawali dan Fogel (Lestari, S.HS, 2009), landasan pokok yang mempengaruhi pembentukan kewirausahaan adalah meliputi; peluang (opportunity), kemauan berwirausaha (propensity to enterprise), dan kemampuan berwirausaha (ability to enterprise). Selanjutnya menurut Vesper (Lestari, S.HS, 2009) mengidentifikasi empat unsur pembentuk wirausaha yaitu: (1) peluang bisnis yang menguntungkan; (2) pengetahuan teknis kewirausahaan; (3) keterampilan bisnis; dan (4) inisiatif wirausaha. Analisis SWOT yang bertujuan untuk beberapa kemungkinan strategi yang relevan untuk lebih meningkatkan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bantimurung, dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor eksternal yang terdiri dari peluang (opportunity) dan ancaman (trheats) maupun faktor-faktor internal yang terdiri dari kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses). Adapun faktor-faktor yang dimaksud tersebut agar memperoleh suatu strategi untuk lebih meningkatkan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, adalah sebagai berikut:

1. Faktor–faktor eksternal
Faktor-faktor eksternal adalah suatu faktor luar yang berpengaruh yang bertujuan untuk lebih meningkatkan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, yang terdiri dari peluang (opportunity) dan ancaman (trheats). a. Peluang (Opportunity) Berdasarkan hasil keterangan yang diperoleh dari 100 orang responden ditiap desa/kelurahan di Kecamatan Bantimurung serta hasil observasi yang penulis lakukan, adalah sebagai berikut: 1) Tersedianya lahan produktif yang dapat dikelolah oleh masyarakat. 2) Masyarakat dapat diberdayakan sebagai tenaga kerja. b. Ancaman (Trheats) 1) Masuknya teknologi modern berupa mesin traktor yang digunakan untuk menggarap sawah sehingga banyak masyarakat yang berprofesi sebagai petani penggarap sawah tidak mampu bersaing. Adanya rentenir yang menawarkan jasa pinjaman kepada masyarakat dengan bunga pinjaman yang tinggi.

Faktor–faktor internal
Faktor-faktor internal adalah suatu faktor yang terjadi didalam masyarakat yang bertujuan untuk lebih meningkatkan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, yang terdiri dari kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses).

Kekuatan (Strength)
Berdasarkan hasil keterangan yang diperoleh dari 100 orang responden ditiap desa/kelurahan di Kecamatan Bantimurung serta hasil observasi yang penulis lakukan, adalah sebagai berikut:

62

Jurnal Sosiologi

Masyarakat memiliki potensi untuk bekerja. Sifat tenggang rasa (gotong royong) yang dimiliki masyarakat masih dijunjung tinggi.

Kelemahan (Weaknesses)
Berdasarkan hasil keterangan yang diperoleh dari 100 orang responden ditiap desa/kelurahan di Kecamatan Bantimurung serta hasil observasi yang penulis lakukan, adalah sebagai berikut: Modal usaha, sarana dan prasarana yang ada didalam masyarakat masih sangat terbatas. Kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM) yang ada didalam kehidupan masyarakat relatif masih rendah. Berdasarkan hasil keterangan yang diperoleh dari 100 orang responden ditiap desa/kelurahan di Kecamatan Bantimurung serta hasil observasi. Berdasarkan matriks SWOT, maka disusun strategi untuk lebih meningkatkan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan potensi bekerja yang dimiliki oleh masyarakat yang dapat digunakan untuk mengelolah lahan produktif yang tersedia. 2. Mengoptimalkan sifat tenggang rasa (gotong royong) yang dimiliki oleh masyarakat sebagai landasan untuk memberdayakan tenaga kerja yang tersedia. 3. Meningkatkan fasilitas pemberian bantuan modal usaha dan perbaikan sarana dan prasarana agar masyarakat dalam mengelolah lahan produktif dapat menghasilkan hasil pertanian yang maksimal. 4. Meningkatkan pelatihan keterampilan melalui peningkatan kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM) agar tenaga kerja memiliki pengetahuan dalam bekerja sesuai bidang pekerjaannya masing-masing. 5. Meningkatkan kualitas pekerjaan bagi masyarakat yang berprofesi sebagai petani penggarap sawah dan memposisikan harga upah lebih rendah dibandingkan menggunakan mesin traktor. 6. Mengoptimalkan sifat kebersamaan yang dimiliki oleh masyarakat untuk memberikan informasi bahwa mengambil pinjaman di rentenir mengalami kendala karena bunga pinjaman yang tinggi dan tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh. 7. Meningkatkan fasilitas pemberian bantuan modal usaha dan perbaikan sarana dan prasarana yang dapat menunjang masyarakat agar dapat bersaing dengan penggunaan teknologi mesin traktor. 8. Mengoptimalkan pelatihan keterampilan melaui peningkatan kelembagaan dan sumber daya manusia (SDM) agar masyarakat mengetahui dan memahami dengan mengambil pinjaman di rentenir akan berdampak negatif terhadap pendapatannya.

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan antara lain: 1. Dampak PPK terhadap peningkatan pendapatan keluarga di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros yaitu berdampak positif dan signifikan, walaupun masih terdapat masyarakat yang belum mampu meningkatkan pendapatan keluarga. 2. Dampak PPK terhadap peningkatan kesempatan kerja di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros yaitu berdampak positif dan signifikan, walaupun masih terdapat masyarakat yang belum mampu mendapatkan kesempatan kerja. 3. Strategi yang dibutuhkan untuk lebih meningkatkan ekonomi masyarakat adalah mengembangkan sumber daya alam dan meningkatkan keterampilan masyarakat untuk adaptasi teknologi.

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

63

Untuk lebih meningkatkan ekonomi masyarakat di Kecamatan Bantimurung, maka disarankan melakukan upaya– upaya yang menjadi dasar pengembangan wilayah agar Pemerintah Kecamatan Bantimurung di Kabupaten Maros dan PPK sebagai pelaksana program agar; (1) memberikan keterampilan khusus kepada masyarakat petani penggarap sawah agar mampu beradaptasi dalam penggunaan teknologi mesin traktor; dan (2) meningkatkan penyediaan bantuan pinjaman modal usaha yang berguna bagi masyarakat yang berprofesi sebagai penjual untuk menambah modal usaha maupun yang baru untuk memulai membuka usaha serta perbaikan dan rehabilitasi sarana dan prasarana agar masyarakat mudah mengakses ke lokasi daerah pekerjaan yang masih sulit dijangkau oleh kendaraan bermotor.

DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita, Rahardjo. 2005. Dasar - dasar Ekonomi Wilayah, Yogyakarta: Graha Ilmu. _________________. 2006. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan, Yogyakarta: Graha Ilmu. Arsyad, Lincolin. 2004. Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta: Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi TKPN. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek), Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta. Agusta, Ivanovic. 2002. Metode Evaluasi Program Pemberdayaan, Makalah disampaikan pada Kongres dan Seminar Nasional IV Ikatan Sosiologi Indonesia Tahun 2002 di Bogor, 28-29 Agustus 2002, Jawa Barat, (Online), (http://www.artikel.ipb.ac.id/filerPDF/Metode Evaluasi Program Pemberdayaan.pdf, diakses 03 Februari 2010). Badan Pusat Statistik Kabupaten Maros, 2009. Kecamatan Bantimurung Dalam Angka 2009, Sulawesi-Selatan. Budihardjo, Eko. 1992. Sejumlah Masalah Permukiman Kota, Cetakan Kedua, Bandung; Alumni. Gemmell, N. 1992. Ilmu Ekonomi Pembangunan (Beberapa Survei). Jakarta: PT Pustaka LP3S,. Handayani, M.Th. 2009. Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga Pembuat Makanan Olahan Terhadap Pendapatan Keluarga, Jurnal Piramida, 5 (1), Juli 2009, (http://www.universitasudayana.ac.id/filerPDF, diakses 15 Mei 2010). Indikator Kesejahteraan Kabupaten Maros. 2009. Badan Pusat Statistik Kabupaten Maros. Sulawesi Selatan. Jhingan, M.L. 2008. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Edisi ke 1, Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kuncoro, Mudrajad. 1997. Ekonomi Pembangunan (Teori, Masalah dan Kebijakan). Edisi Pertama. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Kunarjo. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Program Pembangunan. Jakarta: Penerbit UI-Press,. Lestari, S.HS, 2009. Kajian Model Penumbuhan Unit Usaha Baru, Jurnal Volume 7, Nomor 3, Tahun 2009, (Online), (http://www.deputibidangpengkajiansumberdayaumkm.org/filerPDF, diakses 15 Mei 2010). Mulyadi, S. 2003. Ekonomi Sumberdaya Manusia (Dalam Perspektif Pembangunan), Edisi Pertama. Jakarta: Rajawali Pers. Program Pengembangan Kecamatan Bantimurung. 2008, Fasilitator Kecamatan di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros. Rangkuti, Freddy. 2002. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis (Reorientasi Konsep Perencanaan Strategis untuk Menghadapi Abad 21). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Singarimbun, M. dan Effendi, S. 1989. Metode Penelitian Survei, Jakarta: LP3ES. Sjafrizal. 2008. Ekonomi Regional (Teori dan Aplikasi). Sumatra Barat: Baduose Media. Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Tambunan, Tulus.T.H. 2008. Pembangunan Ekonomi dan Utang Luar Negeri. Jakarta: Rajawali Pers. Tarigan, Robinson. 2006. Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta: Bumi Aksara (Edisi Revisi).

KOMUNIKASI PERKAWINAN ANTAR ETNIK (Studi Kasus Perkawinan Antar Etnik Manado – Jawa di Kota Makassar)
Deetje Anna Kawengian Universitas Satria Makassar Abstract
The purpose of this study is to identify the functional relationships of inter-ethnic families of Manado-Java couples; to determine the pattern of inter-ethnic communication in Manado-Java marriage; investigate factors that affect the survival Manado-Java inter-ethnic families. The results showed that: the functions of relationships were played by each member of the family with respect to situations and conditions in the household; Bahasa Indonesia is a language used as a means of communication in inter-ethnic marriages of Manado-Jawa tribes because it is easily understood by the whole family and easy to learn and tendency of people around informants using Bahasa Indonesia as the first language. Moreover, the factors that affect the survival of inter-ethnic family, namely: the income, established social strata, education of children, implementation of religious teachings and social environment. Keywords: Communication, Inter, Ethnic Marriage

Pendahuluan

P

erkawinan antar etnik adanya persentuhan antara bahasa, kebiasaan, adat istiadat. dan tradisi yang berbeda dari pihak suami dan isteri, yang berbeda dan mengharuskan pasangan melakukan komunikasi dalam

keluarga untuk menemukan persesuaian atau kesamaan. Keluarga merupakan lembaga penting setelah lembaga agama, pemerintahan, pendidikan, dan l organisasi ekonomi. Lembaga keluarga memiliki beberapa fungsi, tugas dan peran. Adapun fungsi lembaga keluarga, yaitu: memenuhi kebutuhan hidup, pemeliharaan keluarga, pengembangan keturunan, mensosialisasikan anak-anak dan memengaruhi emosi anggota-anggotanya, serta mengembangkan kebudayaan. Tugas lembaga keluarga, yaitu: mengurusi penerimaan anggota keluarga baru, melalui tahapan pelamaran dan perkawinan, hak dan kewajiban suami dan isteri dalam kehidupan berkeluarga, pengaturan harta kekayaan, dan sebagainya denganmengimplementasikan norma-norma dan kaidah-kaidah yang berlaku dalam keluarga tersebut. Sedangkan, peran lembaga keluarga, yaitu: memperkukuh ikatan sosial dan menghasilkan nilai (integrasi dan pemeliharaan tindakan). Perkawinan antar etnik cenderung masih banyak terjadi, termasuk antar-etnik Manado dan Jawa di satu pihak dapat menjadi bagian dari persoalan membangun antar etnik demikian pula dari sisi yang lain berpotensi menimbulkan disharmonisasi antar suami-isteri yaitu keluarga disebabkan oleh perbedaan latar belakang budaya , keyakinan, serta kebiasaan-kebiasaan hidup sehari-hari antar masing-masing etnik.

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

65

1. Bagaimana hubungan fungsional antara anggota keluarga yang berbeda etnik melalui perkawinan ManadoJawa di Kota Makassar? 2. Bagaimana pola komunikasi di dalam perkawinan antar etnik Manado-Jawa? 3. Faktor apa raja yang memengaruhi kelangsungan hidup keluarga antar etnik Manado-Jawa?

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi, suatu model studi menggambarkan pemaknaan berdasar pengalaman hidup dari beberapa individu serta tergolong studi kasus pada sembilan perkawinan keluarga pasangan antar etnik. Penelitian dilakukan di kota Makassar, dengan sasaran perkawinan keluarga pasangan antar etnik Manado-Jawa menggunakan pendekatan kasus dalam penelitian sumber informasi penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah sembilan pasangan keluarga di Kota Makassar. Jumlah laki-laki keturunan Jawa sebanyak lima orang dan keturunan Manado hanya empat orang. Jumlah perempuan keturunan Jawa sebanyak empat orang dan keturunan Manado lima orang. Teknik pengumpulan data digunakan melalui instrumen dalam penelitian yaitu; lembaran observasi, pedoman wawancara dan telaah dokumentasi. Data primer maupun sekunder dikumpulkan selanjutnya dilakukan reduksi. Reduksi dimaksudkan memilih data sekunder dan informasi tentang komunikasi yang terjadi dalam kehidupan keluarga.

Pembahasan
Profit sembilan pasangan keluarga pada perkawinan antar etnik Manado-Jawa merupakan informan kredibel dan representatif memiliki peran masing-masing dalam menjalani kehidupan yang tidak mudah karena adanya perbedaan latar belakang budaya, agama dan bahasa. Tingkat pendidikan informan adalah SMP/sederajat, dan sarjana. Enam pasangan suami isteri (A,B,C,E,F, Jan H) pendidikan sederajat, sedangkan tiga pasangan lainnya (D,G,dan I), tingkat pendidikan suami lebih tinggi dari tingkat pendidikan isteri. Dari sembilan pasangan suami isteri yang menjadi informan, tidak ada satupun pasangan yang tingkat pendidikan isterinya lebih tinggi dari pendidikan suami. Perkawinan antar etnik Jawa-Manado, jenis perbedaan berbeda bukan penghalang atau rintangan bagi mereka untuk membangun suatu keluarga Mereka menerima keadaan, jika isteri bekerja dan atau hanya menjadi ibu rumah tangga Mayoritas dari keluarga emis Jawa-Manado yang menjadi informan penelitian ini, hanya suami bekerja. Jenis pekerjaan suami umumnya karyawan swasta/wiraswasta, yaitu sebanyak enam orang, dan PNS dari berbagai instansi dan lembaga sebanyak 3, sisanya ada 2 informan yang mempunyai jenis pekerjaan wiraswasta. Karakteristik informan isteri umumnya, tidak mempunyai pekerjaan atau sebagai ibu rumah tangga. Ciri khas informan menjalankan ibadah agama dan kepercayaan bervariasi antara agama dianut oleh isteri, suami maupun anak-anak dari keturunan mereka. Ada 2 pasang keluarga yang sama-sama memeluk agama Islam, ada. 4 pasang keluarga sama-sama memeluk agama Kristen, dan sisanya ada 3 pasang keluarga berlainan agama dalam satu keluarga, baik antara isteri dengan suami maupun: dengan anak-anaknya. Isteri memeluk agama Kristen Protestant, ditandai sebanyak 6 orang, ada 2 orang yang beragama Islam dan sisanya ada satu orang beragama Kristen Katolik. Infroman suami mendominasi agama Islam sebagai bentuk ajaran yang harus dijalankan dalam keluarga dan bermasyarakat yang ditandai sebanyak 6 orang sisanya sebanyak 3 orang Kristen Protestant, beragama Kristen Katolik tidak ditemukan dalam penelitian ini. Jumlah anak dalam satu keluarga berada pada rentang 1 sampai 4 orang, dominasi 3 orang anak.

66

Jurnal Sosiologi

Sedangkan jumlah anak laki-laki dalam satu keluarga didominasi oleh satu orang saja. Jumlah anak perempuan dalam satu keluarga didominasi 3 dan 1 orang anak. Hasil analisis data ini menunjukkan terjadi -seimbangan antara jumlah total perempuan dan laki-laki dalam penelitian ini pada sembilan pasangan keluarga berasal dari suku Jawa dan Manado. Usia perkawinan informan antar etnik Jawa-Manado, umumnya di atas sepuluh tahun, bahkan diantara informan usia perkawinannya di atas 30 tahun. Usia awal perkawinan informan dimulai 20 tahun ke atas, mereka melakukan perkenalan 2 sampai 4 tahun untuk saling memahami, baik dari segi kebiasaan dan tradisi, agama dan kepercayaa, sampai kepada urusan pekerjaan. Usia perkawinan paling muda adalah 11 tahun, yaitu informan B, sedangkan usia perkawinan informan paling lama adalah informan G selama 31 tahun. Bahasa pengantar dalam keluarga digunakan para informan yaitu bahasa Indonesia karena mudah dipahami dan dimengerti oleh seluruh anggota keluarga, sehingga pada umumnya informan lebih suka menggunakan bahasa Indonesia yang bisa juga dipahami oleh orang lain, karena bersifat umum dan sebagai bahasa nasional. Sebagian besar kebiasaan selera makanan dan pemilihan menu dalam kehidupan sehari-hari adalah masakan Manado. Tetapi juga masakan dengan selera orang Makassar, kadang diselang seling atau campur-campur dengan masakan Manado dan Jawa, tapi kebanyakan adalah masakan Manado. Kondisi tradisi atau adat istiadat dalam keluarga informan, pada umumnya dilaksanakan sebagaimana mestinya, meskipun ada beberapa fase yang pernah informan lakukan. Hal ini dipengaruhi tempat tinggal atau domisili informan berada. Faktor lingkungan turut menentukan keberadaan kedua etnik dalam keluarga informan untuk dilaksanakan. Sangat berbeda sebelum perkawinan mereka yang masih dilaksanakan tradisi tersebut bersama keluarganya. Suami berfungsi sebagai kepala rumah, bertanggung jawab penuh mencari nafkah dan sumber pendapatan keluarga. Adanya rasa memiliki keluarga, memberikan indikasi keharmonisan dan kelanggengan membina rumah tangga. Setelah suami melakukan pekerjaannya, sebagai pencari nafkah dalam keluarga, maka seluruh gaji diterima diserahkan secara total kepada isteri untuk dikelola dalam menutupi pembiayaan kebutuhan keluarga. Seorang ibu rumah tangga mampu mengelola keuangan diterima dari suaminya dengan baik dan teratur, sehingga kebutuhan hidup keluarga dapat terpenuhi dalam kurun waktu satu bulan. Hal ini dialami informan, bahwa kalau dilihat dari kebutuhan keluarga, sebenarnya belum cukup. Tapi kami sekeluarga mencoba menerima kondisi ini apa adanya, sesuai diberikan Tuhan. Salah satu fungsi anak dalam keluarga adalah membantu ibu di dapur bahkan ada paling tua membagi kerja bagi adik-adiknya dalam kurun waktu satu hari. Perkawinan antaretnik Jawa Manado diwarnai perbedaan agama dianut pasangan, berimbas pada keturunan dan anaknya yang mengikuti agama salah satu dari kedua orang tuanya. Meskipun juga dalam penelitian, diambil keluarga informan yang sama-sama memeluk agama Islam, atau keduanya menganut agama Kristen. Hal ini membuktikan bahwa keragaman agama dalam keluarga, tidak memengaruhi keretakan atau ketiklakharmonisan aggota keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Saling menghargai diantara mereka memberi kebebasan dalam menjalankan ibadah dan selaku istri, selalu menyiapkan fasilitas bagi bapaknya untuk menjalankan perintah Tuhan dan begitu pula sebaliknya. Unsur terpenting dalam keluarga adalah kemapanan dalam hal materi memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga keinginan dan kepuasan batin dan jasmani dapat dirasakan semua anggota keluarga. Terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari, memberi peluang terciptanya kerukunan dan keharmonisan anggota keluarga. Terkadang anggota keluarga terjadi konflik di antara mereka, salah satu unsur penyebabnya adalah materi atau dana tidak tersedia bagi mereka untuk memenuhi keinginannya. Perbedaan antaretnik dipadu dalam satu ikatan perkawinan, dari daerah Jawa dengan daerah Manado, memberikan indikasi hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak, semakin kental dan kokoh dilandasi

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

67

oleh rasa cinta dan kasih sayang. Hasil penelitian menunjukkan, hubungan keluarga informan dengan keluarga lain di Makassar maupun di daerah lain pada umumnya sangat akrab, dan mempunyai ikatan emosional, karena tingginya rasa hormat dan menghargai antara dua budaya dan kebiasaan saling melengkapi dan mewarnai kehidupan didalam keluarga. Tingkat keharmonisan keluarga ditandai frekuensi konflik terjadi lama dalam keluarga. Kerukunan antar anggota keluarga dilandasi sikap tenggang rasa saling menghargai dan sikap toleransi tinggi menjalankan perintah agama masing-masing. Begitu pula ikrar dialami oleh pasangan informan selama perkenalan sampai pada jenjang perkawinan. Pembahasan tentang konflik bermuara pada penyebab konflik, frekuensi konflik, cara penyelesaian konflik yang dilakukan informan dalarn membina hubungan keluarga, baik antara anggota keluarga maupun keluarga lainnya, yang terekam dalam penelitian ini. Penyebab terjadinya konflik dalam rumah tangga, biasa karena anak berkelahi antar kakak beradik, atau dengan anak tetangga disekitar rumah dan biasa juga bapak tidak suka kalau isteri terlalu banyak ngumpul, gosip bersama tetangga karena dia hindari terjadi kesalahpahaman antar keluarga dalam komplek.

Pembahasan
Keberagaman fungsi anggota keluarga diperankan oleh masing-masing individu, mencerminkan kekompakan dan kebersamaan dalam tanggung jawab bersama membina keluarga bahagia, damai dan tentram. Setiap anggota keluarga melaksanakan fungsi ganda tersebut, tidak pernah ada keluhan atau merasa tak mampu dalam mengemban amanah diberikan kepada masing-masing anggota keluarga. Keinginan setiap anggota keluarga tercapai keluarga bahagia, sejahtera, dan harmonis. Oleh karena itu, peran lari setiap anggota keluarga harus sesuai dengan statusnya. Sebagaimana pendapat Talcott Parsons, terdapat dua fungsi esensial keluarga, pertama keluarga sebagai tempat sosialisasi utama bagi anak-anak dan tempat mereka dilahirkan dan kedua tempat stabilitas kepribadian remaja atau orang dewasa. Subandiroso (1987) mengatakan bahwa fungsi keluarga adalah pemenuhan kebutuhan biologis, wadah emosional (perasaan), pendidikan, sosialisasi, ekonomi dan pemuasan sosial. Seorang suami berperan ganda, sebagai pencari nafkah bagi keluarganya, juga berperan sebagai pendidik dan memberikan rasa nyaman bagi anak-anaknya sesuai kegiatan rekreasi dan jalan-jalan, merupakan tanggung jawab besar dan penuh makna dalam mewujudkan kebahagiaan dan keharmonisan sebuah keluarga. Menurut Berger dan Kellner, bahwa bilamana perkawinan dilangsungkan, maka setiap orang harus coba menggabungkan realitasnya dengan realitas orang lain- Isteri menerima dan melaksanakan unsur budaya swami karena keinginan pasangan itu untuk Baling menyesuaikan diri dan melahirkan paham kesamaan dalam perkawinan. Hal ini yang melandasi rasa toleransi dan memahami orang lain, melalui suatu kehidupan bare yang dialaminya. Individu terlibat komunikasi seringkali saling mencocokan berbicara atau saling menyesuaikan diri dalam banyak hal, seperti aksen bicara, tata bahasa dan volume berbicara, teori ini pada awalnya di namakan teori akomodasi bicara. (Speech Accomodation Theory). Titik berat teori akomodasi komunikasi, Garna (1996) pada proses kerja sama dan toleransi yang mcmperlihatkan warga masyarakat tidak atau belum kehilangan identitas masing-masing kelompok. Sejalan dengan pendapat Coser, bahwa konflik juga memainkan peran komunikatif. Sebelum terjadi konflik, beberapa kelompok mungkin tidak yakin akan posisi lawan mereka, namun akibat dari konflik, posisi dan balasbatas antar kelompok Bering kali menjadi jelas. Dengan demikian individu lebih mampu memutuskan tindakan yang tepat dalam hubungan dengan lawannya. Penyelesaian setiap konflik yang terjadi dalam kurun waktu

68

Jurnal Sosiologi

yang begitu singkat dan tidak lama antara satu hari sampai dua hari memberikan petunjuk bahwa prinsip hidup dalam kebersamaan yang mereka junjung tinggi dengan mengorbankan sikap egoisme dan login menang sendiri, sehingga konflik yang terjadi tidak berkepanjangan, apalagi menjadi pembicaraan di kalangan keluarga lain. Didukung oleh pendapat Durkheim (1982) menekankan paksaan eksternal dari lingkungan sosial. Paksaan ini diperhitungkan kalau individu mengejar pelbagai tujuan, sangat mirip dengan fakta objektif dalam lingkungan fisik yang juga diperhitungkan. Model mengenai hakikat rnanuzia yang bersifat implisit itu adalah bahwa manusia bertindak secara rasional dalam memperhitungkan paksaanpaksaan sosial seperti kode hukum dalam inerencanakan tindakannya sendiri. Hasil wawancara dari kesembilan informan pasangan suami-isteri, keluarga menjalani perkawinan antar etnik Manado-Jawa di Makassar, yang dilanjutkat melakukan analisis kritis di temukan proposisi menjadi cikal bakal lahimya teori dan berdasarkan fokus pengamatan penelitian, proposisi ditemukan ada 5 ( lima ) yaitu: 1. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa netral dalam komu­ nikasi antar anggota keluarga beda etnik berfungsi menguatkan kehar­ monisasian komunikasi sehari-hari di keluarga pasangan antar-etnik 2. Budaya kompromi perkawinan untuk mereduksi budaya etnik masing-masing 3. Harmonisasi keluarga sangat tergantung pada faktor budaya lingkungan tempat suami-isteri, dan budaya dari suami-isteri yang tidak saling mendominasi dalam kehidupan keluarga. 4. Perilaku saling memahami dan sikap saling menghargai dapat memperkuat harmonisasi kehidupan keluarga pasangan antar etnik walaupun berbeda agama. 5. Pasangan suami isteri berbeda latarbelakang etnik, berpeluang lebih besar hidup lebih harmonis apabila bertempat tinggal di luar daerah kelahiran salah satu pihak dari pasangan bersangkutan.

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian clan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Fungsi keluarga diperankan oleh masing-masing anggota keluarga sesuai kondisi dan situasi dalam keluarga. Seorang suami bertanggung jawab mencari nafkah, mendidik anak-anaknya, memberikan nasehat dalam berperilaku dan mengajaknya untuk berekreasi. Fungsi isteri sebagai ibu rumah tangga, disamping mendidik anak-anaknya, merawat kesehatarma menasehati, juga membantu suami mencari nafkah. Fungsi anak dalam keluarga, juga diperankan dengan membantu orangtua mencari nafkah atau memberikan bantuan dana bagi anak yang sudah bekerja, membantu orang tua dalam mengelola rumah tangga serta membantu adik-adiknya dalam menyelesaikan problem di bidang pendidikannya. Pola Komunikasi di dalam perkawinan antar etnik Manado-Jawa dapat dilihat dari sisi (a) pendapatan atau kemapanan strata sosial pada umumnya informan menerima apa adanya yang telah diperoleh suami-isteri melalui jenis pekerjaan, (b) dibidang pendidikan anak diberi pelayanan sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga, clan bertanggung jawab dalam pendidikan anak sampai jenjang pendidikan tertentu, (c) pelaksanaan ajaran agama baik yang berbeda agama maupun yang sama ajaran agama dalam keluarga berjalan baik, penuh toleransi saling mendukung antar anggota keluarga, dan (d) lingkungan sosial yang dipraktekkan oleh informan mendapat tanggapan positif dari masyarakat di sekitarnya, tetapi omunikasi baik dan harmonis dalam hidup bertetangga bersama dengan hak clan kewajibannya, baik sebagai makhluk individu mapupun sebagai makhluk sosial. Faktor kebiasaan selera makan dan jenis menu makanan dilakukan oleh informan dalam kehidupan keseharian anggota keluarganya adalah didominasi menu makanan Manado. Di sisi lain, tradisi dan adat istiadat dari kedua etnis Jawa dan Manado dalam keluarga informan, tidak ditemukan dalam penelitian ini. Bahasa sebagai alat komunikasi digunakan dalam lingkungan tempat tinggal dan lingkungan sekolah adalah juga bahasa Indonesia.

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

69

Faktor kebiasaan selera makan dan jenis menu makanan dilakukan oleh informan dalam kehidupan keseharian anggota keluarga adalah didominasi menu makanan Manado. Pasangan yang beda etnik perlu mempersiapkan diri untuk mengenal budaya pasangan terlebih dahulu. Persiapan mental untuk menerima perbedaan latar belakang budaya antar etnik sangat perlu. Keteganganketegangan suami-isteri karena berbeda latar belakang budaya kemungkinan akan Bering muncul dalam perkawinan beda etnik terutama dalam menghadapi keluarga lugs. Dua manusia berbeda latar belakang budaya bertemu maka di situ akan bertemu pula perbedaan pandangan, bahasa, sclera makan, dan keyakinan. Persiapan mental untuk menghadapi perbedaan budaya yang tidak dikenal sebelumnya sangat diperlukan. Pasangan antar etnik harus bersedia berkomitmen untuk hidup dengan seseorang yang berbeda budaya sepanjang hidupnya. Komitmen itupun jugs bisa diperbaharui apabila terjadi perubahan, dan pasangan akan selalu beradabtasi dengan perubahan dalam mempertahankan kehidupan perkawinannya. Pasangan antar etnik harus bersedia menerima kehidupan kelompok lama sendid ataupun kelompok lama pasangannya. Artinya pasangan mau berkomitmen menerima keluarga hw25 yang melahirkan dan keluarga pasangannya, dan bertanggung jawab mempersiapkan masa depan anak-anak sebagai generasi penerus keluarganya.

DAFTAR PUSTAKA
Alo. 2001. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Belajar Anak Agung Ayu Dewi. 1998. Pengasuhan Anak pada Keluarga Perkawinan campuran di Bali, kasus perkawinan campuran antara orang Bali dengan orang Asing dari mancanegara (Tesis Tidak diterbitkan). Yogyakarta: UGM. Anita. Manado Monumen Pluralisme Beragama di Indonesia (Artikel dari Internet). David., Crutchfield, Richard S. and Ballachey, Egerton L. 1962. Individual in society. Tokyo: McGraw-Hill. Dodd, Carley H. 1998. Dynamics of Interkultural Communication (fifth edition), Bostton: McGraw IM. Etty, Maria. 2002. Perjuangan Hidup Berkeluarga. Jakarta: Gramedia. Frederick. 1988. Kelompok Etnis dan Batasnya-Tatanan Sosial dari Perbedaan Budaya. Di terjemahkan oleh Niriing I Soesilo. Jakarta: U1 Press. Garna, Judistira K. 1996. Ilmu-Ilmu Sosial Dasar-Dasar-Konsep-Posisi. Bandung: Pascasarjana UNPAD. Geertz, Hildred. 1983. Keluarga Jawa. Jakarta: Graffiti Pres. Gudykunst, William dan Kim, Young Yun. 1992. Communicating with Stranger. New York: McGraw-Hill. 1999. Kebudayaan Sunda, dalam Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia. editor Koentaraningrat. Jakarta: Djambatan. Haviland, William A. 1999. Antropologi - Jilid 1 (ditedemahkan oleh R.G. Soekarduio), Jakarta: Erlangga. Hidayah, Zulyani. 1997. Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: LP3ES. Horton, Paul B & Hunt, Chester L. 1999. Sosiologi - Jilid 1 dan 2 (ditedemahkan oleh Aminuddin Ram dan Tita Sobari). Jakarta: Erlangga. I Gusti Ngurah. 1999. Kebudayaan Bali dalam Koenoaraningrat-Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan. Winamo. 1986. Perkawinan Campuran Sebagai Aiternatif Terpercaya Proses Peleburan. Malang: Universitas Brawijaya. TL Payung. 1999. Kebudayaan Batak dalam Koentjaranzngrat-Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

70

Jurnal Sosiologi

Ira Nkiro, Abdullah. 2000. Filsafat Jawa. Jakarta: Balai Pustaka Well, John W. 1998. Qualitative Inquiry and Research Design Choosing Among Five Traditions. California: Sage Publication. Joseph A. 1997. Kemunikasi Antarmanusia (diterjemahkan oleh Agus Maulana). Jakarta: Profesional Books. Jhonson, Doyle Paul. 1990. Teori Sosiologi Klasik dun Modern (diterjemahkan oleh Robert M.Z. Lawang). Jakarta: Gramedia. Umar. 1999. Kebudayaan Minangkabau dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (editor Koentjaraningrat). Jakarta: Djambatan. Maxwell, Joseph A. 1996. Qualitative Research Design an Interactive Approach. London: Sage Publication. Miller, Katherine. 2002. Communication Theories, Perspectives, Processes and Contexts. Boston: McGraw Hill Miles, Mattew B. and Hubermen, A. Michael. 1992. Analisis Data Kualitatif (diterjemahkan oleh Tjetjep Rohandi Rohidi). Jakarta: Ul Press Mulyana, Deddy dan Rakhmat, Jalaluddin. 1999. Komunikasi Antarbudaya. Bandung: Rosdakarya. Mulyana, Deddy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya. Nairn, Mochtar. 1984. Merantau Pola Migrasi Suku Minangkabau. Yogyakarta: UGM Press Nazwan, Abu. 2005. Kiat Mengelola Konflik Perkavvinan. Jakarta: Progres Neuman. Pace, Wayne dan Faules, Don F. 1998. Komunikasi Organisasi. diterjemahkan oleh Deddy Mulyana. Bandung: Rosdakarya. Phillips, Bernard. 1979. Sociology from Concepts to Practice. New York: McGraw-Hill. Poloma, Margaret M. 1994. Sosiologi Kontemporer. diterjemahkan oleh tim penerjemah YOSAGAMA. Jakarta: Grafindo

MERAJUT PERSAUDARAAN KOMUNITAS LEWAT KONFLIK (Studi Suporter Turnamen Sepak Bola Komodo Cup Manggarai NTT di Makassar)
Arda Senaman Universitas Satria Makassar Abstract
Conflict prevention among the fans of Komodo Cup Football Tournament is achieved by the ability of officials to open up a discussion for the fans with the goal of controlling the actions that they undertake before and after the game. Conflict resolutions applied are: synchronization between the officials and the security officers so that every conflict can be prevented by persuasive approach, as well as by collaborations with the Government of Makassar. Moreover, conflict resolution was intensified by interactional approach with focused and unfocused interaction. Focused interaction is facilitated by officials through a meeting to discuss activities that they will do during a match. Meanwhile, unfocused interaction facilitates the interaction among supporters to make them feel needed and cared for. And the actors of the conflict are not grudge risk one each others. Keywords: Fostering Brotherhood, Football Fans Conflict, Persuasivbe Approach

Pendahuluan

P

erkembangan sepak bola Internasional mulai Tahun 2000 merangsang munculnya persepakbolaan di berbagai kalangan termasuk komunitas asal daerah Kabupaten Manggarai Flores di Makassar. Pada Tahun

2000 tersebut orang Manggarai di Makassar jumlahnya kurang lebih 5.000 orang. Mereka memiliki organisasi tingkat kecamatan yang sangat solid tetapi sulit untuk mendirikan organisasi tingkat kabupaten. Beberapa tokoh penting asal Manggarai memprakarsai ide untuk membuat turnamen sepak bola antar kecamatan. Ide itu disambut dengan gembira oleh para pemuda Manggarai, dibuatlah turnamen sepak bola dengan nama Komodo Cup. I Tahun 2000. Secara geografis Kabupaten Manggarai Timur terletak di antara: Timur: Kabupaten Ngada/Ngada Regency, Barat:  Kabupaten Manggarai/Manggarai Regency, Utara:  Laut Flores/ Flores Sea, Selatan:  Laut Sawu/Sawu Sea. Luas Daerah Kabupaten Manggarai Timur merupakan pemekaran dari Kabupaten Manggarai mempunyai luas wilayah 2502, 24 km2 yang berada di daratan Pulau Flores yang merupakan wilayah dari tempat komunitas suporter sepak bola komodo cup. Pengurusan turnamen sepak bola memerlukan keahlian, biaya, waktu dan pikiran. Sebagaimana PSSI skala Nasional dan FIFA Internasional. Komunitas Manggarai di Makassar memiliki keberanian yang tekad untuk melakukan turnamen komodo cup yang mempunyai jumlah timnya melebihi PSSI. Adapun yang merupakan permasalahan dalam kajian Komodo Cup yaitu faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya konflik, dan bagaimana komunikasi dalam menyelesaikan konflik suporter.

72

Jurnal Sosiologi

Pembahasan
Kabupaten Manggarai adalah sebuah kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ibu kota kabupaten adalah Ruteng. Luas wilayahnya adalah 7.136,4 km², termasuk Pulau Komodo dengan jumlah penduduk 504.163 jiwa. Kabupaten Manggarai dikenal dengan pertaniannya, antara lain: kopi, cengkeh, vanili, cokelat, dan masih banyak yang lainnya. Orang Manggarai juga terkenal dengan keramah-tamahannya dalam berinteraksi sesama masyarakat. Secara geografis  Kabupaten Manggarai Timur terletak diantara: Timur: Kabupaten Ngada/ Ngada Regency, Barat:  Kabupaten Manggarai/Manggarai Regency, Utara:  Laut Flores/Flores Sea, Selatan:  Laut Sawu/Sawu Sea. Luas daerah Kabupaten Manggarai Timur merupakan pemekaran dari Kabupaten Manggarai mempunyai luas wilayah 2502,24 km2 yang berada di daratan Pulau Flores yang merupakan wilayah dari tempat komunitas suporter sepak bola komodo cup. Di Makassar Sulawesi Selatan komunitas asal Manggarai mudah saling mengenal karena memiliki bahasa dan budaya yang sama apalagi warna kulit yang hampr sama. Permainan bola kaki jauh sebelum mereka selalu praktek pada tim-tim yang tidak tercatat tetapi ada juga tim yang dibentuk setiap kecamatannya tetapi tidak ada yang mengorganisir secara umum oleh organisasi daerah kabupaten. Para suporter sepak bola itu sangat total dalam mendukung tim kesayangan mereka, bahkan tidak sering ada yang sampai rela berkorban jiwa dan raga mereka hanya untuk mendukung tim kesayanganya. Hampir semua suporter di seluruh Indonesia bahkan dunia, pasti mempunyai rasa loyalitas dan fanatik sangat tinggi, tetapi perlu diketahui bahwa salah. Satu dari sekian banyak suporter yang ada di dunia ini, suporter sepak bola juga memiliki predikat fanatik sangat tinggi kepada tim yang mereka dukung dan juga memberikan andil besar dalam kemajuan sepak bola (http://boranan.blogspot.com/2011/11/suporter-sepak-bola-paling-fanatik-ng.html). Beberapa kelompok suporter meski secara individu memproklamirkan jargon untuk mendukung aksi ini. Seperti Aremania yang memiliki jargon Friendship without Frontier, Football without Violence. Agaknya ini menjadi upaya suporter sepakbola dalam memulihkan citra negatif yang dimiliki suporter sepakbola secara keseluruhan. Namun jargon saja tidaklah cukup, seperti kata pepatah jargon tetaplah jargon. It’s nothing but only a silent platform dibutuhkan realisasi yang nyata sebagai wujud dari pembuktiannya. Selain itu juga dibutuhkan tidak hanya sekedar revolusi sosial namun juga kehendak dari dalam diri. Ibarat apa yang terjadi nanti adalah bagian dari representasi ide selama ini yang kesemua mencakup material dan kaidah (maxim) yang tidak bertumpu pada tindakan irrasional dan sporadis semata (http://boranan.blogspot.com/2011/11/suporter-sepak-bola-paling-fanatik-ng.html). Suporter negeri ini tidak luput dari stigma kekerasan. Berbagai perilaku anarkhisme seolah sudah mendarah daging didalam berbagai kejadian yang melibatkan suporter sepakbola tanah air. Bahkan beberapa individu tidak segan membanggakan diri atas perilaku anarkhisme. Seperti slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi “Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan”. Mereka kerapkali menggunakan anarkhisme sebagai media penumpahan ide-ide maupun gejolak hati yang lazim terdapat dalam diri setiap manusia seperti para anarkis yang terlibat dalam kelompok Nihilis di Rusia era Tzar, Leon Czolgosz, grup N17 di Yunani. Meski sepakbola Indonesia tidak akan kehilangan sinergi dahsyat dari suporter sendiri, namun untuk tingkah anarkhisme dan kekerasan yang tercipta sudah barang tentu mengundang estetika negatif dari masyarakat mengenai perilaku semacam ini. Hingga ada celetukan yang berbunyi “kondisi negatif yang melingkupi Suporter Sepakbola negeri ini menjadi komoditas tersendiri oleh berbagai kepentingan tersendiri” (http://lunjap.wordpress.com/2007/09/07/anarkisme-dan-perspektif-suporter-sepakbola-indonesia/). Namun bukan persoalan mudah jika egoisme dikedepankan begitu saja. Hal inilah yang menjadi kendala

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

73

tersendiri ketika sebagian individu/kelompok lebih mengedepankan intuasi yang cenderung menonjolkan sifat ego dibanding kebersamaan dan sifat gotong royong yang lazim dimiliki masyarakat Indonesia. Sepak bola telah menjadi magnet yang mampu menggerakkan kelompok sosial dalam populasi yang cukup besar. Iklim kompetitif antar klub sepak bola sampai merambah pada persaingan sesama suporter, bahkan muncul ke permukaan dengan menonjolkan sisi kedaerahan masing-masing suporter tersebut. Klub dan suporter sepak bola memang satu jejaring sosial yang sulit dipisahkan. Suporter menganggap klub sebagai representasi daerah yang paling diunggulkan dan diidolakan dalam kancah persepakbolaan tanah air. Suporter yang lebih mengedepankan unsur kecintaan pada klubnya bertendensi menjadi awal timbulnya fanatisme buta. Salah satu manifestasi dari fanatisme buta terbukti dengan sering terjadinya konflik antar suporter sepak bola. Seolah-olah klub sepak bola yang didukung adalah klub terbaik dan harus menang, jika kalah maka dapat menjadi stimulus munculnya amarah. Jika seperti itu, sering kali yang menjadi sasaran pelampiasan amarah adalah suporter lawan, bahkan mengarah pada kerusuhan di luar stadion sampai ke tempat-tempat umum yang ikut menjadi pelampiasan amarah para suporter. Tidak sedikit suporter di Indonesia yang masih mengedepankan sisi fanatisme dibandingkan iklim sportivitas, kompetitif, dan menghargai satu sama lain dalam mendukung timnya saat pertandingan berlangsung. Salah satu suporter yang memiliki akar sejarah cukup panjang sebagai kelompok suporter fanatik di kancah sepakbola Indonesia adalah bonek, pendukung tim Persebaya Surabaya. Menurut Nanang, Humas bonek Jabodetabek. Nama bonek pertama kali diciptakan oleh media jawa pos. Akronim Bonek (bondo nekat) tercetus ketika Jawa Pos mengadakan tour ke Senayan untuk mendukung Persebaya di era perserikatan tahun 1987-an. Saat itu, persebaya menjadi salah satu basis kekuatan sepak bola nasional selain Bandung, Jakarta, Medan, Semarang, dan Makassar dimana pusat para suporter tersebut memiliki basis komunitas(http://di29.wordpress.com/2011/01/08/ sihir-ala-messias/), termasuk juga komunitas Suporter Manggarai yang sering melakukan aksi anarkis terhadap sesama suporter, sehingga menimbulkan konflik internal diantara para suporter tersebut. Keinginan yang paling dominan pada masing-masing manusia memang berbeda, meski kebutuhan eksistensial mereka tidaklah berbeda. Sebagai contoh, manusia dapat dikuasai rasa cinta atau destruktif. Dalam banyak situasi, individu berusaha memenuhi salah satu kebutuhan eksistensialnya, kebutuhan yang paling dominan nanti berupa cinta atau keinginan merusak, semua tergantung pada kondisi sosialnya. Dalam konteks suporter sepak bola, hasrat dari masing-masing individu dalam suporter tentu berbeda-beda. Ada yang ingin mencari kebersamaan, kebebasan, atau bahkan melakukan hal-hal bersifat destruktif. Tidak dapat dipungkiri, bahwa perbedaan hasrat pada tiap individu ini turut dipengaruhi oleh latar belakang para suporter yang berasal dari berbagai struktur (kelas atas sampai bawah) masyarakat. Mereka yang berasal dari kelas atas pada umumnya tentu lebih cenderung membawa sifat-sifat unsur kedamaian, karena dalam kehidupan keseharian mereka hidup dalam kondisi yang berkecukupan. Sedangkan individu yang berasal dari kelas bawah, biasanya hidup dalam kondisi kekurangan dan ketertindasan yang tentu saja secara objektif akan cenderung memiliki sifat-sifat memberontak. Namun ketika dihadapkan pada satu objek besar, disini klub sebagai medianya. Di mana suporter melihat klub yang merupakan representasi dari daerahnya, sebagai awal kecintaan mereka pada klub tersebut. Maka, muncullah fanatisme sebagai ajang sekelompok individu dalam suporter untuk mengaktualisasikan rasa kepemilikan dan kecintaan pada sebuah klub, serta rasa kebersamaan. Setelah di masyarakat mereka selalu dibatasi norma-norma yang kurang menyediakan tempat bagi individu untuk lebih menonjolkan eksistensinya (http://di29.wordpress.com/2011/01/08/sihir-ala-messias/). Sepak bola telah menjadi magnet yang mampu menggerakkan kelompok sosial dalam populasi yang cukup

74

Jurnal Sosiologi

besar. Iklim kompetitif antar klub sepakbola sampai merambah pada persaingan antar suporter, bahkan muncul ke permukaan dengan menonjolkan sisi kedaerahan masing masing suporter. Klub dan suporter sepakbola memang adalah satu jejaring sosial yang sulit dipisahkan. Suporter menganggap klub sebagai representasi daerah yang paling diunggulkan dan diidolakan dalam kancah persepakbolaan tanah air. Suporter yang lebih mengedepankan unsur kecintaan pada klubnya bertendensi menjadi awal timbulnya fanatisme buta. Salah satu manifestasi dari fanatisme ialah terbukti dengan sering terjadinya konflik antar suporter sepak bola. Seolah-olah klub sepak bola yang didukung adalah klub terbaik dan harus menang, jika kalah maka dapat menjadi stimulus munculnya amarah. Jika seperti itu, seringkali yang menjadi sasaran pelampiasan amarah adalah suporter lawan, bahkan mengarah pada kerusuhan di luar stadion sampai ke tempat-tempat umum yang ikut menjadi pelampiasan amarah suporter. Tidak sedikit suporter di Indonesia yang masih mengedepankan sisi fanatisme dibandingkan iklim sportivitas, kompetitif, dan menghargai satu sama lain dalam mendukung timnya saat pertandingan berlangsung. Asal-usul orang Manggarai menurut sejarahnya adalah berasal dari Luwu dan Gowa, sebelum Abad 15 berlayar menuju Flores Manggarai. Manggarai merupakan sebuah wilayah Flores Barat Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 1960an, banyak orang Manggarai merantau di Makassar untuk sekolah dan mencari pekerjaan, dengan jumlah yang cukup banyak maka mereka di Makassar membentuk organisasi kerukunan berdasarkan kecamatan asalnya di Manggarai. Dalam perkembangan organisasi yang setiap tahun bertambah jumlah anggotanya yang berdatangan dari daerah Manggarai di Makassar, maka pada tahun 1985 mereka bersatu dan membentuk panitia pertandingan sepak bola sebagai wadah silaturahim dan mempererat rasa persaudaraan. Event tersebut berakhir konflik dan pertandingan putus ditengah jalan. Pada Tahun 2000, semua organisasi kecamatan kembali bersatu untuk membentuk kembali turnamen-turnamen sepak bola dengan nama Komodo Cup. Event ini berlangsung sampai tahun 2011, dengan pelaksanaan setiap tahun atau sekali dalam dua tahun (http://lunjap.wordpress. com/2007/09/07/anarkisme-dan-perspektif-suporter-sepakbola-indonesia/). Karakteristik suporter sepak bola Komodo Cup adalah sebagai berikut; a) komitmen dan patuh terhadap aturan yang telah disepakati, b) suka protes terhadap pelaksanaan kegiatan, c) sering konflik dilapangan sepak bola, d) konflik tidak menaruh rasa dendam,semua konflik dilapangan selesai dilapangan dan kalau berada diluar lapangan, e) orang yang terlibat dalam konflik dilapangan kalau sudah diluar lapangan saling merangkul tanpa dikomando oleh ketua kelompok masing-masing, dan f) sangat berminat untuk membuat tim sepak bola yang baru.Lembaga Sepak Bola Komodo Cup yang terdiri dari beberapa unsur elemen (Arda, 2011), antara lain: 1. Panitia pelaksana adalah panitia pelaksana Komodo Cup I tahun 2000 dibentuk oleh kecamatan komodo sebagai pemrak yaitu Arsa Komodo Cup I, selanjutnya Komodo Cup I sampai IX yang menjadi panitia adalah tim yang menjuarai pertandingan akan menjadi pantia pada Komodo Cup selanjutnya yang terdiri dari panitia: a. Menyediakan lapangan sepak bola. b. Menyediakan fasilitas seperti: bola, kebutuhan acara pembukaan dan acara penutupan. c. Menyediakan piala bergilir, piala tetap untuk sang juara. d. Menyediakan uang pembinaan bagi klub juara I, II, III, dan IV. e. Menyediakan uang hiburan/hadiah hiburan untuk pemain terbaik ,top skor, dan team terbaik. f. Mengatur dan mengumpulkan uang karcis masuk lapangan. g. Menyediakan snak dan makan siang bagi panitia dan komisi disiplin serta tim wasit. h. Menyampaikan informasi (secara tertulis maupun lisan) kepada pihak pemerintah setempat untuk

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

75

memberikan informasi pelaksanaan pertandingan. 2. Komisi disiplin atau komisi pertandingan dilaksanakan oleh panitia pelaksana. Anggota komisi disiplin dipilih dandiambil dari setiap kecamatan yang dipandang memahami peraturan persepakbolaan dengan baik dan figure yang disegani oleh orang Manggarai yang terdiri dari Komisi Disiplin yaitu: a. Membuat peraturan pelaksanaan Komodo Cup, peraturan yang dimaksud mengacuh pada peraturan PSSI; b. Mendaftar team peserta Komodo Cup; c. Membuat pembagian pool dalam kompetisi; d. Membuat jadwal pertandingan; e. Memeriksa keabsahan pemain; f. Membuat berita acara pertandingan; g. Sebagai inspektur pertandingan; dan h. Menyelesaikan konflik yang terjadi di lapangan sepak bola. 3. Tim wasit disediakan oleh panita dan bekerja bersama-sama tim Komisi Disiplin atau Komisi Pertandingan dimana wasit bertugas sebagai: a. Memimpin jalannya pertandingan sebagai wasit utama; b. Hakim garis sebagai asisten wasit; dan c. Komplain terhadap keputusan wasit atau para manager disampaikan kepada komdis. Prospek komodo cup di Makassar kini menjadi suatu kebanggaan bagi Masyarakat Manggarai yang berada di Kota Makassar Sulawesi-Selatan. Mulai Tahun 2000, komunitas masyarakat asal daerah Manggarai Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah dikenal oleh kalangan Armed Makassar, para pemuda pencinta sepak bola, dan juga Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Para politisi yang pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari semua partai menjelang Pemilu, pemilihan wali kota dan pemilihan gubernur. Masyarakat Manggarai yang memiliki pekerjaan bervariasi di Sulawesi Selatan seperti PNS, dosen, karyawan, buruh dan sebagian besar mahasiswa, sangat mendukung dan mengambil bagian dalam turnamen sepak bola komodo cup. Hal ini terbukti dalam melakukan persiapan kostum sepak bola. Biaya operasional tim yang serba mandiri dan swadaya, yang meliputi kebutuhan pengeluaran panitia dan kebutuhan wasit dalam pelaksanaan pertandingan yang dilaksanakan setiap hari minggu yang dimulai pada pukul 08.00–18.00 Wita, lamanya proses pertandingan tersebut dimulai pada bulan April sampai bulan Desember. Oleh karena itu mengakibatkan terjadinya peningkatan jumlah klub yang menjadi peserta turnamen dari tahun ke tahun, yang mulai dilaksanakan pada Tahun 2000 yang mengalami peningkatan secara signifikan yang disetiap tahuhnya, sehinggga pada sampai pada Tahun 2011 peserta Komodo Cup IX jumlah tim menjadi klub (Arda, 2011). Penyebarluasan informasi komodo cup di Makassar sudah menggunakan media cetak dan media elektronik, dimana radio pemerintah Manggaraijuga berperan dalam menyebarluaskan secara langsung pertandingan tersebut yang disiarkan dari Makassar kemudian disiarkan ke radio Pemerintah Manggarai, yang bertujuan agar mampu mendengarkan secara langsung, dimana sorak sorai reporter radio Komodo Cup. Selain itu dengan bertambahnya jumlah mahasiswa asal daerah Manggarai, juga akan berpengaruh terhadap peningkatan jumlah klubKomodo Cup di Makassar. Peningkatan jumlah konflik suporter dalam pertandingan tidak mengurungkan niat tim untuk berpartisipasi dalam Komodo Cup. Turnamen sepak bola komodo cup masyarakat Manggarai di Kota Makassar merupakan suatu kebanggaan dalam rangka membangun rasa persaudaraan dan kekeluargaan sesama warga Manggarai, khususnya dalam

76

Jurnal Sosiologi

membangun dan menciptakan rasa kebersamaan dalam budaya Manggarai, perasaan seaswal, satu bahasa yaitu bahasa Manggarai. Mulai Tahun 1985 orang Manggarai di Makassar sudah merintis pertandingan sepak bola antara kecamatan asalnya dari Manggarai. Pada saat itu pertandingan berakhir konflik yang tidak dapat dikendalikan karena ada campur tangan istri-istri pemain dan pengurus bola di Lapangan yang terlibat konflik. Pada Tahun 2000 komodo cup dimulai dan diprakarsai oleh orang-orang yang mengetahui perkembangan sepak bola secara luas (global), mengetahui secara spesifik peraturan sepak bola dari kalangan akademisi dan para guru olah raga asal daerah Manggarai di Makassar (Arda, 2011). Persatuan orang Manggarai di Kota Makassar didasari oleh kebersamaan orang Manggarai di daerah luhurnya dalam perkataan: “mai taung ga lawa manggarai, lonto torok padir wai rintuk sai, neki weki manga ranga, porong nehu teu ca ambong neka woleng jaong, muku ca puu neka woleng curup, nai ca anggit tuka ca leleng. todo kongkol kote oles”. Jadi dengan prinsip: “Mari kita bersatu Masyarakat Manggarai, duduk berjejer, kaki berbaris nampakan kepala, badan berkumpul, hadir semua muka, seperti tebuh satu rumpun sama bahasanya, seperti pisang satu rumpun sama dalam bercakap, tumbuh berdempet, dan merangkul untuk memperoleh buah yang banyak. Jadi dengan prinsip tersebut semua orang manggari berpartisipasi aktif dalam kegiatan saepak Bola dalam Komodo Cup”. Rasa Persaudaraan tumbuh dan berkembang dalam turnamen sepak bola, walaupun orang Manggarai menganut agama yang berbeda yaitu Muslim dan Mayoritas Katolik, perbedaan agama ini tidak menghambat rasa persaudaraan untuk bersatu karena mempunyai perasaan sama yaitu sama tempat kelahiran dan sama darah Manggarai. Dalam mempersiapkan klubsepak Bola tentu saja mempunyai pengurus (Arda, 2011) yang terdiri atas: a. Ketua kerukunan kecamatan, sebagai penanggung jawab klub, dalam sebuah kecamatan ada yang memiliki satu atau dua bahkan tiga klub yang mengikuti komodo cup dan klub-klub itu harus di sahkan oleh ketua kerukunan kecamatan; b. Manajer Tim, manajer juga bertindak profesional dalam menjalankan tugasnya dalam persiapan pertandingan klubnya; c. Pelatih dan asisten Pelatih yang mempunyai tugas untuk melatih dan mempersiapkan klub sebelum dan pada saat pertandingan berlansung; dan d. Anggota pemain, pemain adalah dipilih oleh pelatih dan yang biasa menjadi pemain adalah orang Manggarai asli dan orang keturunan orang Manggarai. Dalam setiap klub harus berpenampilan sebagaimana layaknya pemain bola nasional yang harus menggunakan kostum dan perlengkapan lainnya. Orang Manggarai harus berkorban untuk keperluan klub yang membutuhkan biaya operasional yang cukup besar nilainya. Selain itu juga mempunyai semangat yang tinggi untuk menyediakan semuanya itu walaupun sebenarnya penghasilan mereka cukup rendah, apalagi sebagian besar pemain itu adalah mahasiswa tetapi tidak hilang semangatnya untuk berkorban. Para suporter sangat antusias untuk mendukung masing-masing klub yang mereka cintai. Oleh sebab itu pembelian karcis untuk menonton dengan harga 5000 rupiah. Informasi yang diumumkan oleh panitia Komodo Cup IX Tahun 2012 bahwa uang masuk dari penjualan karcis setiap hari mencapai 9.000.000 rupiah sehari. Penonton tidak mau absen apalagi yang akan bertanding adalah klub yang mereka cintai dan baggakan yang merupakan berasal dari kecamatannya. Pada setiap hari minggu pelaksanaan pertandingan meliputi 8 klub yang tampil dengan perincian 2 pertandingan pagi dan 2 pertandingan sore. Pelaksanaan pertandingan berjalan terus walaupun di bulan puasa. Dengan jumlah tim yang cukup banyak maka pada bulan puasa tidak semua tim yang tampil (Arda, 2011).

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

77

Pada acara pembukaan Turnamen sepak bola komodo cup dihadiri oleh Pemerintah Kota atau Pemerintah Provinsi yang sekaligus memberi kata sambutan dan membuka turnamen sepak bola tersebut. Pada saat pembukaan pertunjukan budaya caci Manggarai yang dibawakan oleh anak-anak Manggarai, kemudian sebagai pertandingan pertama pada hari pembukaan itu adalah pemain yang menjuarai komodo cub sebelumnya. Demikian halnya pada acara penutupan dihadiri juga oleh unsur pemerintahan sebagaimana pada acara pembukaan, pada saat penutupan diumumkan hasil pertandingan untuk menyebutkan klub-klub yang menjuarai turnamen serta dilakukan penyerahan piala bergilir bagi klub juara I dan penyerahan piala tetap bagi juara I, II, III, dan IV dan juga penyerahan uang pembinaan bagi Juara I sebesar 4.000.000 rupiah, Juara II sebesar 3.500.000 rupiah, Juara III sebesar 3000.000 rupiah, juara IV sebesar 2.500.000 rupiah. Semua para sesepuh Manggarai di Flores Nusa Tenggara Timur mengetahui dan mendukung Turnamen Komodo Cup secara moril, dimana setiap petrtandingan yang dilakukan pada hari Minggu, yang juga komentator komodo dihubungkan langsung dengan radio pemerintah daerah Manggarai Tengah di Ruteng untuk melaporkan jalannya pertandingan secara langsung (live). Jadwal pertandingan Komodo Cup dilaksanakan setiap tahun, tetapi kalau ada Flores Cup atau turnamen sepak bola lainnya dari komunitas Manggarai maka Komodo Cup dilaksanakan pada tahun berikutnya. Namun hal tersebut tidak terlepas dari adanya konflik yang muncul dalam turnamen sepak bola Komodo Cup di Makassar yang disebabkan oleh beberapa hal (Arda, 2011), sebagai berikut: a. Keabsahan pemain dari sebuah klub. Berdasarkan peraturan Komodo Cup yang sudah dibahas pada saat technical meeting sebelum pertandingan dimulai bahwa yang menjadi anggota pemain dalam klub Komodo Cup adalah orang Manggarai atau keturunan orang Manggarai, tetapi dalam kenyataannya ada juga klub yang mengambil pemain yang tidak jelas statusnya dalam kategori orang Manggarai dan manajer tidak mampu menjelaskan eksistensi pemain kepada manajer dari tim lain dan kepada komisi pertandingan; b. Keputusan wasit yang tidak diterima oleh klub yang merasa dirugikan; c. Ketidakdisiplinan penonton dalam memberi komentar terhadap klub lawan; d. Posisi penonton yang tidak yang berada pada daerah yang dilarang oleh panitia; dan e. Manajer atau pelatih yang sengaja melanggar peraturan dari komisi disiplin. Selain itu juga tidak terlepas dari bentuk-bentuk konflik pada saat pertandingan sudah berlangsung (Arda, 2011), antara lain meliputi: a. Menyampaikan protes secara lisan secara perorangan dan kelompok tertentu; b. Suporter mengalami perselisihan terhadap sesama suporter yang berujung dengan konflik fisik sesama suporter; c. Melakukan protes terhadap wasit yang menganggap bahwa telah terjadi kesalahan dalam melakukan ganjaran terhadap para pemain yang berakibat keluarnya kartu yang mengakibatkan tendangan bebas, sehingga ada klub lain yang merasa dirugikan karena keputusan tersebut; dan d. Penyampaian keberatan secara tertulis oleh manajer kepada komisi pertandingan. Menurut Aiswadi dalam Buletin Penelitian Universitas Hasanuddin Makassar, konflik dibedakan atas dua jenis yaitu konflik in group dan konflik out group. Konflik in group menimbukan rendahnya tingkat kekompakan dan partisipasi dan konflik out group menimbulkan benturan antar group. Dengan adanya konflik ini menciptakan adanya dinamika dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Menurut Iskandar dalam Datsir (1992) bahwa masyarakat mencoba melakukan pengelolaan untuk mencapai keseimbangan. Dengan demikiam dalam hal konflik supporter Komodo Cup Makassar Penyelenggara Turnamen selalu mencari jalan

78

Jurnal Sosiologi

keluar untuk menciptakan keseimbangan dalam berbagai konflik yang terjadi di Lapangan Hijau. Dalam menganalisis suatu permasalahan yang melingkupi wilayah makro dan mikro, yang secara khusus membahas tentang suatu permasalahan wilayah secara mikro, maka dibutuhkan pula suatu analisis yang mampu untuk memberikan petunjuk dalam memberikan suatu gambaran secara keseluruhan tentang bagaimana suatu permasalahan mampu untuk dianalisis secara mikro yang sesuai dengan permasalahan yang terjadi. Menurut Goffman (Turner, 1991: 447), salah satu analisis yang paling kreatif proses sosial mikro urutan interaksi atau sekitar proses mikro berlangsung tentang perilaku dan interaksi antara individu, yang membahas tentang bentuk otonomi relatif yang berada dalam urutan interaksi dan tidak mengedepankan sebagai bentuk-bentuk sebelumnya yang mendasar dari konstitutif bentuk fenomena wilayah makro. Menurut Goffman (Turner, 1991: 447), seseorang dapat melengkapi tingkat penjelasan makro sebagaimana individu berinteraksidalam berbagai jenis pengaturan dan pertemuan namun analisis ini tidak akan menggantikan penjelasan tingkat makro yang kebanyakan mereka memberikan kehidupan sosial menjadi nyata adalah praktek individu karena mereka berurusan dengan satu sama lain dalam berbagai jenis situasi. Interaksi yang terjadi dikalangan suporter sepak bola komodo cup ialah berbentuk sporadis yang tidak terkontrol dan terorganisir dengan baik sehingga dengan mudah menimbulkan percikan-percikan konflik yang mengakibatkan badai konflik yang akan menimbulkan permasalahan yang terjadi dikalangan internal suporter tersebut. Namun bukan berarti mereka tidak patuh terhadap aturan yang telah dikeluarkan oleh ketua pimpinan suporter sepakbola komoldo cup. Akan tetapi lemahnya sistem pengawasan yang membuat para suporter sering melakukan aksi-aksi yang menimbulkan konflik dan juga menimbulkan pangaruh yang membawah para suporter kearah bentuk yang lebih ekstrem. Jika hal ini tidak diantisipasi maka offisial dari tim kesayangan mereka akan mendapatkan sanksi dari pihak penyelenggara pertandingan sepak bola Komodo Cup, yang berdampak negatif terhadap kondisi persepakbolaan di Makassar khususnya terutama terhadap tim yang memiliki suporter yang bertindak anarkisme yang di luar dari kontrol. Kontrol yang dimaksud ialah pihak panitia memiliki akses untuk mengadakan diskusi terhadap para suporter sebelum pertandingan dimulai. Dengan tujuan agar mampu memberikan arahan, masukan maupun petunjuk dalam bersikap santun pada saat pertandingan sepak bola berlangsung. Hal ini akan berdampak positif terhadap berlangsungnya pertandingan dikarenakan akan menciptakan suasana yang kondusif, sehingga tidak menimbulkan kerusuhan-kerusuhan yang tidak diinginkan, yang dampak dari kerusuhan tersebut sangat merugikan bahkan mengganggu jalannya suatu pertandingan. Oleh karena itu panitia lebih bersikap represif dan tidak menjalin komunikasi satu arah terhadap para suporter sepak bola dan juga didukung oleh sinkronisasi pola hubungan kerjasama terhadap aparat keamanan. Selanjutnya dalam proses penyajian diri dalam pendekatan dramaturgi (Turner, 1991: 448), menganalogikannya sebagai panggung dan teater, dalam keseluruhan karya dan presentasi diri dalam kehidupan sehari-hari serta kerangka analisis. Peran sebagai panggung sandiwara ialah terdapatnya script, panggung, penonton, alat peraga, dan aktor yang memainkan peran, yang merupakan pemikiran yang selaras dengan teoriperan standar. Jika dianalogikan ke dalam sebuah konflik sepak bola maka yang bertindak sebagai aktor ialah para pelatih dan pemain yang terlibat di dalam sebuah pertandingan, serta terdapatnya para suporter yang berperan sebagai penonton dalam pertandingan sepak bola tersebut. Dimana para suporter inilah yang sering melakukan aksi-aksi yang tidak terpuji misalnya mengadakan konflik sesama suporter pendukung lainnya. Tetapi hal itu hanya berlangsung selama pertandingan sepak bola dilaksanakan akan tetapi mereka kembali akur lagi setelah pertandingan tersebut telah berakhir dan juga para suporter telah membubarkan diri menuju

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

79

tempat tinggal mereka masing-masing. Suporter kerap kali menunjukkan aksi-aksi anarkis mereka jika salah satu dari tim kesayangan mereka menderita kekalahan dengan cara berbau kecurangan, sehingga menimbulkan dampak terhadap pergolakan yang terjadi diantara suporter yang menerima kemenangan, sehingga konflik diantara suporter sangat sulit untuk dihindari meskpun para petugas keamanan telah mengantisipasi kemungkinan terjadinya suatu konflik jika didalam pertandingan tersebut ada salah satu tim yang menerima kekalahan. Suporter memiliki dua bentuk kekalahan, yakni kekalahan memang dikarenakan tin lawan tampil sangat luar biasa serta impresif sepanjang pertandingan sehingga dengan mudah untuk mengalahkan lawannya, serta kekalahan dikarenakan wasit berpihak sebelah terhadap salah satu klub yang sedang bertanding. Kekalahan yang disebabkan oleh keberpihakan wasit kepada salah satu klub ini yang mengakibatkan timbulnya rasa ketidakpuasan yang dialami oleh para pemain, offisial tim, terlebih kepada para suporter yang merupakan pihak yang paling sangat dirugikan dalam pertandingan tersebut, sehingga menimbulkan percikan konflik yang berubah menjadi badai konflik yang sangat sulit untuk ditemukan titik temu dari tujuan mereka berkonflik diantaranya suporter dengan spontanitas mengeluarkan bentuk kekecewaan mereka dengan cara-cara yang sangat ekstrem, misalnya melakukan aksi pembakaran dan pelemparan kedalam lapangan, serta mengakibatkan keselamatan para pemain, offisial penyelenggara, serta penonton yang lainnya dan juga keselamatan mereka senidiri. Dalam hal ini penyelenggara yang merupakan penanggung jawab operasional di Lapangan membutuhkan kemampuan empati yang tinggi dalam menghadapi konflik. Menurut Muhammad Abduh dalam Djauzi (2004: 1) keterampilan komunikasi dan empati merupakan dasar yang kuat untuk menyelsaikan klonflik. Empati adalah kemampuan seorang komunikator untuk mengetahui perasaan diri seseorang dalam komunikasi tatap muka (face to face). Dalam hal ini seorang penentu kebijakan dalam pertandingan sepak bola harus memiliki kemampuan beretika dalam hal: 1) kesanggupan memahami keluhan aktor konflik, 2) kemampuan untuk menumbuhkan empati terhadap pelaku konflik, 3). kemampuan mempertahankan rahasia persatuan, 4) kemampuan Pendekatan antar pribadi, 5) kemampuan untuk menjelaskan peraturan persapakbolaan, kemampuan untuk menolong aktor konflik dalam suasana yang sangat membahayakan. Empati ini sangat penting bagi penyelenggara sepak bola. Goffman (Turner, 1991; 454-455), umumnya menggunakan istilah fokus dan untuk menunjukkan dua tipe dasar interaksi. Interaksi tidak terfokus terdiri dari komunikasi interpersonal yang menghasilkan hanya berdasarkan orang-orang yang ke hadirannya satu sama lain dan cara yang umum sementara masing-masing memodifikasi sikap sendiri karena dia sendiri berada di bawah observasi yang merupakan bagian penting dari tatanan interaksi untuk banyak dari apa yang orang lakukan adalah pertukaran pandangan dan monitor satu sama lain di tempat umum. Interaksi terfokus sebaliknya terjadi ketika orang secara efektif setuju untuk mempertahankan waktu untuk satu fokus perhatian kognitif dan visual seperti dalam percakapan, papan permainan atau tugas bersama yang ditunjang oleh lingkaran yang dekat kontributor. Dalam hal ini para suporter juga mengalami bentuk-bentuk interaksi didalam melakoni peran sebagai suporter klub, yang terdiri dari interaksi terfokus dan interaksi tidak terfokus. Interaksi terfokus terjadi manakala para suporter sepakat untuk membuat suatu komitmen keputusan yang bertujuan untuk memberikan semangat kepada tim kesayangan mereka, selain itu juga mereka membuat program tersendiri yang yang memiliki visimisi yang ditunjang oleh rasa kebersamaan dan solidaritas yang merupakan satu kesatuan dari kelompok suporter tersebut serta didukung oleh offisial tim kesayangan mereka. Sementara yang disebut sebagai interaksi yang tidak terfokus adalah suporter melakukan komunikasi sesama mereka tanpa sepengetahuan orang lain dan biasanya mereka mengadakan pertemuan secara tertutup, tujuan dari hal ini untuk membahas bentuk-bentuk kegiatan yang akan mereka lakukan pada saat pertandingan sedang berlangsung. Bentuk-bentuk kegiatan tersebut baik yang berdampak positif maupun berdampak negatif terhadap

80

Jurnal Sosiologi

tim kesayangan mereka. Namun karena sebagian besar mereka dibawah kontrol oleh offisial tim kesayangan mereka, serta adanya pengaruh-pengaruh yang membuat mereka untuk tidak melakukan hal-hal yang akan merugikan tim kesayangan mereka maka dibuatlah suatu penyamaan persepsi dari hasil pertemuan tersebut, yang bertujuan untuk tetap menjalin koordinasi suporter.

Simpulan
Berdasarkan hasil analisis teoritik terhadap konflik suporter sepak bola komodo cup, yang diselenggarakan di Kota Makassar maka ditemukan kesimpulan permasalahan baik dilevel mikro juga interaksi terhadap para suporter yang akan menjadi bentuk penyelesaian konflik tersebut, yang melingkupi pencegahan dan solusi ialah sebagai berikut: 1. Penyelesaian konflik dilevel mikro: a. Pencegahan konflik yang terjadi dikomunitas sepak bola komodo cup ialah: agar offisial pertandingan mampu membuka ruang diskusi bagi para suporter dengan tujuan, agar mampu mengontrol aksi-aksi yang akan mereka lakukan baik sebelum pertandingan dimulai maupun sesudah pertandingan sepak bola berjalan. Hal ini bertujuan untuk aksi-aksi yang tidak diinginkan mampu diredam dengan cara memberikan pengertian bahwa sepakbola tidak menginginkan sebuah aksi brutal, ekstrem, dan merusak yang akan berakibat buruk terhadap citra persepakbolaan di tanah air dan juga terhadap di mata dunia. Sebab suatu event olah raga tidak menganjurkan adanya konflik yang mengarah ke aksi ekstrem melainkan event olah raga menginginkan terciptanya aksi-aksi sportif yang bukan hanya ditunjukkan oleh pemain dan offisial team, melainkan juga ditunjukkan oleh para suporter yang merupakan bagian dari satu kesatuan pertandingan sepak bola. Dengan demikian maka konflik akan mudah dicegah, sehingga tidak menimbulkan konflik. b. Solusi konflik yang terjadi dikomunitas sepak bola komodo cup ialah: sinkronisasi antara pihak offisial terhadap para aparat keamanan agar setiap konflik mampu dicegah dengan menggunakan pendekatan repsesif juga melakukan hubungan kerjasama terhadap Pemerintah Kota Makassar yang juga merupakan stakeholders dalam pengambilan keputusan terhadap setiap permasalahan yang mengakibatkan keributan dilokasi pertandingan yang ditimbulkan oleh para suporter sepak bola Komodo Cup. Selain itu juga offisial memaksimalkan konsep dan model pendekatan penanganan konflik baik secara lisan maupun tertulis. Dengan demikian maka konflik akan mudah diatasi dan ditemukan solusi yang tepat dan juga mencegah terjadinya konflik yang berkepanjangan. 2. Penyelesasian konflik menggunakan pendekatan interaksi ialah dengan memaksimalkan interaksi terfokus dan interaksi tidak terfokus. Interaksi terfokus agar difasilitasi oleh offisial manakala mereka mengadakan pertemuan untuk membahas kegiatan akan mereka lakukan di saat pertandingan berlangsung. Sementara itu interaksi yang tidak terfokus ialah offisial memfasilitasi setiap interaksi yang dilakukan oleh para suporter, sehingga mereka merasa diperhatikan dan juga dibutuhkan keberadaannya. Offisial harus mampu merangkul dan memperhatikan setiap aspirasi para suporter juga offisial harus mengadakan komunikasi tiga serangkai dimana komunikasi tiga serangkai ini terdiri dari perwakilan suporter, anggota offisial, pihak pemerintah dan aparat keamanan dalam menjaga sistem keamanan didalam menjunjung tinggi nilainilai sportivitas kegiatan olah raga terutama di dunia persepakbolaan, disamping itu juga didukung oleh kesadaran manusiawi dari setiap individu suporter sepak bola Komodo Cup. Dan mengunakan komunikasi budaya sesuai karakteristik komunitas orang Manggarai. Yang paling pentingb dalam Penyelsaian konflik ini adalah penyelenggara Turnamen sepak Bola Harus memiliki kemampuan empati dengan demikian dapat menguasai emosional actor konflik sehungga penyelsaian konflik selalu menggunakan komunikasi memiliki

D i a l ekt i ka Ko n te m p orer

81

etika untu memperkuat persatuan masyarakat Manggarai di Makassar. 3. Komodo Cup dilaksanakan atas keikhlasan hati oranmg Manggarai untuk bersatu melalui Turnamen Sepak Bola. 4. Faktor Penyebab Konflik hanya karena perbedaan pendapat dalam menafsir tindakan wasit perlakukan Pemain oleh supporter.

DAFTAR PUSTAKA
Arda. 2011. Tentang Penyelesaian Konflik Suporter Sepak Bola Komodo Cup di Kota Makassar. Makassar. Universitas Satria. Abduh Muhammad. 2007. Empati Dalam Pelayanan Kesehatan. Makssar: Universitas Hasanuddin Buletin Penelitian. Adam. 2012. Konflik Antar Desa, Studi Kasus di Desa Renda dan Desa Ngali Kecamatan Belo Kabupaten Bima Nusa Tengghara Barat. Uiversitas Negeri Makassar. Disertasi Dassir Muhammad. 2007. Dinamika Wanatani Pada Sub Daerah Aliran Sungai Minraleng Hulu Kabupaten Maros. Makassar: Universitas Hasanuddin Buletin Penelitian. Siardin A. Djemma. 2005. Studi Tentang Manajemen Konflik dalam lingku Kabupaten Wajo. Jurnal Ilmiah Prospek Kopertis Wil. IX Sulawesi. Turner, Jonathan H. 1991. The Structure of Sociological Theory. Belmont, California: A Division of Wadsworth, Inc.

82

Jurnal Sosiologi

Petunjuk Untuk Penulis
1. Naskah yang dikirim ke redaksi belum pernah diterbitkan atau tidak sedang dalam proses penerbitan di media cetak atau media online. Naskah tersebut berupa cetakan (hard copy) dan file (soft copy) dengan jumlah 20-25 halaman dalam ketikan kertas kuarto menggunakan jenis huruf Times New Roman ukuran 12 point. Ketikan menggunakan spasi ganda dengan batas atas dan bawah 3 cm serta batas kiri dan kanan 2,5 cm. 2. Naskah dapat berupa tulisan hasil penelitian atau gagasan konseptual yang kritis, mencerahkan, dan membuka wawasan. 3. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris 4. Sistematika dalam penulisan naskah disusun sebagai berikut: a. Judul naskah ditulis antara 5-15 kata dalam bahasan Indonesia atau bahasa Inggris. b. Nama lengkap penulis tanpa gelar kesarjanaan dan gelar lain. Nama lengkap dan gelar ditulis di akhir tulisan. Nama disertai institusi asal dan alamat lengkap termasuk alamat e-mail guna keperluan korespondensi. c. Abstrak ditulis dalam bahasa Inggris memuat ringkasan tujuan, metode penelitian, pembahasan, dan simpulan. Abstrak dibuat dalam alenia tersendiri dengan maksimal 100 kata. Kata kunci atau key words maksimal lima kata. d. Pendahuluan (tanpa subbab), memuat latar belakang, masalah, dan tujuan penelitian. e. Metode penelitian mengandung sistematika penelitian, mencakup prosedur dan instrumen penelitian. Khusus gagasan konseptual pada bagian metode dapat ditiadakan. f. Pembahasan berisi hasil penelitian dilengkapi ilustrasi berupa tabel, grafik, gambar dan foto jika sekiranya diperlukan. g. Simpulan berupa pernyataan singkat dan jelas tentang hasil penelitian. h. Daftar pustaka 5. Catatan kaki sedapat mungkin dihindari kecuali untuk penjelasan tambahan. 6. Penulisan daftar pustaka disusun secara alfabetis dan kronologis. 7. Pengiriman Naskah: Tulisan dikirim dalam dua bentuk yaitu satu file eletronik dan dua naskah tercetak (2 rangkap) ditujukan kepada: a. File Eletronik: jurnaldialektika@gmail.com b. Naskah tercetak: Pemimpin Redaksi Jurnal Dialektika Kontemporer Program Studi Sosiologi S3 PPs Universitas Negeri Makassar Jl. Bontolangsa Makassar, Sulawesi Selatan 902222 Telp. (0411) 830368 – (0411) 855288

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->