P. 1
reling kebakaran hutan

reling kebakaran hutan

|Views: 11|Likes:
Published by HarryNormanCrew

More info:

Published by: HarryNormanCrew on Jun 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2014

pdf

text

original

MAKALAH PENCEMARAN KEBAKARAN HUTAN

Mata Kuliah Disusun Oleh NPM

: Bahasa Indonesia : Harry Norman : G1B011004

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BENGKULU
2011/2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT. Atas rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia ini. Tugas ini merupakan salah satu tugas yang harus dibuat sebagai bahan mata kuliah. Kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga kami dapat mengerjakan tugas ini dengan baik. Kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam pembuatan tugas ini. Untuk ini kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki bahkan menyempurnakan kembali di tugas yang akan datang. Bengkulu, 2012 Juni

Penulis

sekitar 72 % hutan asli Indonesia hilang dan dari sisa 28 % dari hutan asli tersebut ternyata 25 % atau sekitar 30 juta hektar dalam kondisi rusak parah.4 juta hektar per tahun yang diakibatkan oleh berbagai sebab. Pergeseran paradigma pembangunan kehutanan yang terjadi di Idonesia tidak telepas dari kesepakatan internasional dalam Konferensi Tingkat Tinggi Dunia mengenai pembangunan berkelan-jutan di Johanesburg tahun 2002 yang meninjau kembali dari konferensi PBB mengenai lingkungan dan Pembangunan di Rio De Janeiro 1992. Pencemaran kabut asap merupakan masalah berulang bahkan selama tahuntahun ketika peristiwa ENSO di Indonesia dan negara-negara tetangganya tidak terjadi. Pembangunan kehutanan di Indonesia telah bergeser dari paradigma management forestry menuju social forestry. dan merupakan hutan tropis terbesar ketiga di dunia.7 juta hektar pertahun bahkan pada tahun 2003 Departemen Kehutanan mengatakan bahwa laju kerusakan hutan mencapai 3. Indonesia mengalami kebakaran hutan yang paling hebat di dunia.BAB I PENDAHULUAN A. Kebakaran dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung pada ekosistem. kontribusi emisi karbon dan dampaknya bagi keanekaragaman hayati. Dari 130 juta hektar luas tutupan hutan Indonesia. Namun kini telah mengalami degradasi yang luar biasa. salah satunya adalah dari kekayaan hutan yang merupakan sandaran hidup bagi sekitar 60 juta rakyat yang bermukim di dan sekitar hutan. LATAR BELAKANG Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Belakangan ini kebakaran hutan menjadi perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi.5 juta hektar. . Masalah yang sama teruiang pada 2002. Selama peristiwa ENSO 1997/98. sementara itu kerusakan hutan dalam 5 tahun seluas 12 juta hektar sehingga 10.5 juta hektar terabaikan. khususnya setelah bencana El Nino (ENSO) 1997/98 yang menghanguskan lahan hutan seluas 25 juta hektar di seluruh dunia. Pembangunan hutan melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Lahan dan Hutan (GN-RHL) yang berjangka waktu lima tahun hanya mampu menyelamatkan 1. hutan pun memiliki fungsi ekologis yang penting bagi kehidupan. Hutan Indonesia memiliki berbagai species yang beraneka ragam. Laporan FWI pada tahun 2002 menyatakan bahwa laju kerusakan hutan mencapai 1. Selain manfaat ekonomi.

ekologi. Laju deforestasi 1. Untuk mengetahui apa saja penyebab dari kebakaran hutan . Untuk mencermati kasus kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia 2.35 juta ha) hutan Indonesia dalam keadaan rusak. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan 2. Dengan laju kerusakan seperti ini. berbagai pakar memprediksi bahwa hutan tropis dataran rendah di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan akan musnah dalam waktu sepuluh tahun. 3.6 juta ha /tahun (2000). Untuk mengetahui dampak dari pencemaran kebakaran hutan terhadap kesehatan 4. Kehancuran tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain pengelolaan yang tidak berkelanjutan. maupun sosial. dan pada berbagai aspek baik ekonomi. B. Kebakaran hutan merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan dampak merugikan di bidang kesehatan dan bidang-bidang lainnya. illegal logging dan kebakaran hutan. Bahkan Bank dunia memperkirakan bahwa hutan di Indonesia akan hilang dalam 10 – 15 tahun ke depan.79 juta ha (total 120.6 juta ha /tahun (2004) dan pada tahun 2005 laju deforestasi sebesar 3. Untuk mengetahui apa saja penyebab terjadinya kebakaran hutan 3. Agar masyarakat menyadari bahwa hutan adalah sumber kehidupan bagi dunia 4. TUJUAN 1. Agar masyarakat waspada terhadap terjadinya kebakaran hutan 3.Pada tahun 1999 tercatat 101. MANFAAT 1. Untuk mengetahui bagaimana cara mencegah terjadinya kebakaran hutan C.8 juta ha /tahun.

. termasuk hasil hutan bukan kayu dan jasa-jasa kehutanan.1. Memberantas pembalakan liar dan perdagangan haram merupakan sasaran terkait. 2) meningkatkan nilai sesungguhnya dari hutan. dan 10) mengembangkan institusi sosial yang mampu mengelola sumber daya secara terintegrasi. 4) mengurangi pembalakan liar dan kebakaran hutan. 5) meningkatkan status hutan dengan mengakui hak-hak masyarakat.BAB II PEMBAHASAN 2. 7) meningkatkan investasi dan peluang bisnis di sektor kehutanan. 6) merestrukturisasi sistem pengelolaan hutan. merestrukturisasi industri perkayuan yang melebihi ketentuan. Kegiatan yang dapat dianggap mendukung langkah-langkah ini adalah mendukung pengembangan sistem sertifikasi pengelolaan hutan yang dilaksanakan oleh pihak ketiga. memonitor dan mengumpulkan data tentang kegiatan penebangan. 9) mengurangi konflik atas lahan. 8) menyeimbangkan antara pemanfaatan dan konservasi. mendukung pusat penanganan pembalakan liar di Kementerian Kehutanan. hutan alam Indonesia sebagai modal alam (natural capital) telah kehilangan lebih dari 50 % potensinya. 3) meningkatkan peran hutan lindung dan hutan konservasi dalam ekonomi lokal. termasuk verifikasi dan pemeriksaan atas konsesi hutan. Pengelolaan Hutan Sejak tahun 1967 sampai tahun 2000 kebijakan pembangunan kehutanan tidak mampu memperbaiki kinerja pengelolaan hutan. Hal ini terlihat dari menurunnya target produksi kayu bulat nasional dari 37 juta m3 per tahun pada awal tahun 1980-an menjadi sebesar 22 juta m3 pada akhir tahun 2000. serta mengembangkan kapasitas pengawasan daerah perbatasan untuk mencegah maraknya perdagangan haram. Dalam dua puluh tahun terakhir. Pentingnya pengelolaan hutan berkelanjutan telah dinyatakan dengan jelas dalam PROPENAS yang menyatakan bahwa sasaran di bidang ini adalah : 1) meningkatkan pengelolaan hutan marginal dan mengembangkan kehutanan sosial berbasis masyarakat.

Surface Fire. Applegate. 1988 mengelompokkan kebakaran hutan kedalam 4 (empat) tipe. Kemudian pemerintah menyalahkan “suku-suku pengembara” yang melakukan perladangan berpindah atas kebakaran yang terjadi. Di pihak lain. Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai risiko terkena dampak EL-NINO dan La-Nina. Tercatat kebakaran hutan terbesar di Indonesia terjadi pada tahun 1997. dalam Cifor. 1). Api merupakan alat yang murah dan efektif untuk membersihkan lahan. dan enam kekuatan yang mendasari terjadinya kebakaran. Areal perkebunan kelapa sawit meningkat dari 120. banyak penyebab kebakaran yang saling terkait erat satu sama lain.000 hektar di tahun 1989 menjadi hampir 3 juta hektar di tahun 1999. yang masing-masing mempunyai skala dampak yang berbeda. Ebert. Dikatakan bahwa identifikasi ini bukan penggolongan yang bersih dan berdiri sendiri. Crown Fire. Menkes-RI. 2001 mengatakan bahwa terdapat perbedaan pemahaman penyebab yang mendasari terjadinya kebakaran. dan disukai oleh usaha-usaha skala besar yang ingin memberikan material kayu berkualitas rendah untuk dapat menanam tanaman industri seperti karet dan kelapa sawit. yaitu: Ground Fire. para pecinta lingkungan hidup menyebutkan bahwa kebakaran-kebakaran yang terjadi merupakan akibat pengelolaan hutan yang buruk. Api sebagai senjata . Dampak dari ELNINO menimbulkan perubahan iklim. Mass Fire. Penelitian Cifor 2001.5 juta hektar hutan di Kalimantan habis terbakar. Pembersihan lahan. Kebakaran ini disusul dengan kebakaran besar tahun 1998. G.2. misalnya. dan pada akhirnya menjadi salah satu factor pencetus kejadian kebakaran hutan. antara lain musim panas yang berkepanjangan sehingga menimbulkan kekeringan. 3). 2). sekitar 3. Kebakaran tak disengaja Kebakaran yang tak disengaja akibat api yang berkobar liar merupakan penyebab penting kedua. Penyebab Kebakaran Hutan Berdasarkan lokasi biomassa dan perilaku api. mengidentifikasi empat penyebab langsung dari kebakaran. Organisasi-organisasi lingkungan hidup menyalahkan perusahaan-perusahaan kayu dan perkebunan. Departemen Kehutanan. 2003 menyebutkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia merupakan kasus yang berulang dalam beberapa tahun terakhir.2. menyalahkan para peladang berpindah sebagai penyebab kebakaran di Kalimantan.

menyebutkan adanya 4 (empat) aspek yang terindentifikasi sebagai dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan adalah :     Dampak Dampak Dampak Dampak Terhadap Sosial. iritasi kulit. Gumpalan asap yang pedas akibat kebakaran yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 meliputi wilayah Sumatra dan Kalimantan. baik fisik maupun non fisik.). Untuk itulah berbagai upaya baik pada tingkat nasional. maupun global. berskala lokal.5). sesak nafas. Sebagian dapat disebutkan antara lain pada aspek kesehatan. bahkan terlalu sering tidak ada lembaga yang kompeten untuk mencegah kebakaran secara tepat. COx.Pembakaran menjadi faktor penting di pedesaan Indonesia di tahun-tahun terakhir. dan lain-lain dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia. mengatakan bahwa akibat yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berskala lokal. regional. Dampak kebakaran menyangkut berbagai aspek. melainkan berskala nasional dan bahkan berskala regional. nasional. regional maupun internasional sudah dilakukan guna menangatasi kebakaran hutan dan lahan. emisi GRK yang selanjutnya menimbulkan permanasan global dan perubahan iklim. sehingga dapat menganggu semua bentuk kegiatan di luar rumah. Kekurang cukupan pencegahan kebakaran Seringkali. misalnya : debu dengan ukuran partikel kecil (PM10 & PM2. Para petani dan masyarakat lokal yang merasa diperlakukan tidak adil dengan hilangnya tanah mereka yang „diambil‟ oleh perusahaan perusahaan perkebunan sekarang menggunakan api 10). Budaya dan Ekonomi Terhadap Ekologis dan Kerusakan Lingkungan Terhadap Hubungan Antar negara terhadap Perhubungan dan Pariwisata Hidayat. menurunnya keanekaragaman sumber daya hayati dan ekosistemnya. 2. penurunan kualitas lingkungan hidup (kesuburan lahan.3. Selain itu juga dapat menimbulkan gangguan jarak pandang/ penglihatan. iritasi mata. dan lain-lain. NOx. antara lain infeksi saluran pernafasan. gas SOx. Berbagai pencemar udara yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan. Syumanda. biodiversitas. dst. juga Singapura dan . Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Kesehatan Secara umum dampak kebakaran hutan terhadap lingkungan sangat luas. serta penurunan kualitas udara. antara lain kerusakan ekologi. Asap yang timbul dari kebakaran hutan dan lahan dapat mengganggu negara tetangga kita seperti Singapura dan Malaysia. pencemaran udara. 2003 menyatakan bahwa kebakaran hutan menimbulkan polutan udara yang dapat menyebabkan penyakit dan membahayakan kesehatan manusia. langsung maupun tidak langsung pada berbagai bidang maupun sektor. Menteri Kesehatan RI.

Dampak kebakaran hutan 1997/98 bagi ekosistem direvisi karena perubahan perhitungan luas kebakaran yang ditemukan. Taconi. CIFOR. Strategi dan Pengendalian Kebakaran Hutan Dalam skala nasional isu kebakaran hutan mendapat perhatian dari pemerintah antara lain dengan adanya Brigade Kebakaran Hutan (Manggala Agni/GALAAG) dibawah kendali Ditjen PHKA-Dephut RI Pada tahun 1998. Disamping LAPAN. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon menunjukkan bahwa kemungkinan biayanya mencapai 2.62-2. the International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) dan the United States Forest Service.: SPRINT/45/VII/03/BJ) dibentuklah Tim Verifikasi dan Validasi Metode Pemantauan Mitigasi Bencana Kebakaran Hutan (Hot Spot) dan Kekeringan . 2. Gambut yang terbakar di Indonesia melepas karbon lebih banyak ke atmosfir daripada yang dilepaskan Amerika Serikat dalam satu tahun.8 miliar dolar. dengan tambahan dana dari Uni Eropa. bagaimana cara api menyebar dan jenis habitat mana yang paling berisiko. Pada skala regional. Namun dalam perjalanannya ternyata terdapat perbedaan-perbedaan antara informasi dari LAPAN dengan dari penyedia informasi lain. biaya ini kemungkinan lebih tinggi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. 2003 menyebutkan bahwa kebakaran yang mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar 1.7 miliar dolar. saat ini banyak stasiun bumi dibangun dan menyediakan informasi serupa (misalnya satelit NOAA). siapa yang bertanggung jawab. Hal itu membuat Indonesia menjadi salah satu pencemar lingkungan terburuk di dunia pada periode tersebut. Atas dasar itulah. berdasarkan Surat Perintah Kepala Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan Teknologi Penginderaan Jau(No.sebagian dari Malaysia dan Thailand. Sekitar 75 juta orang terkena gangguan kesehatan yang disebabkan oleh asap. Perbedaan yang dimaksud terutama menyangkut jumlah dan kejadian hot spot.4. Taconi (2003) mengatakan bahwa di Asia Tenggara keprihatinan mengenai dampak kebakaran hutan cukup signifikan. yang ditunjukkan dengan penandatanganan Perjanjian Lintas Batas Pencemaran Kabut oleh negara-negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada bulan Juni 2002 di Kuala Lumpur. untuk menentukan mengapa kebakaran bisa terjadi. memulai studi multi disiplin yang difokuskan pada delapan lokasi rentan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan. Biaya akibat pencemaran kabut asap sekitar 674-799 juta dolar.

sebagian besar dibakar dengan sengaja. Titik Api terbanyak di Sumatera terdapat di perbatasan Sumatera Utara dan Riau dengan titik terbanyak terdapat di Propinsi Riau (Syumanda.7 juta hektar menjadi 11. 289/MENKES/SK/III/2003. Didasarkan pada data satelit NOAA-12 AVHRR and NOAA-16 AVHRR pada Agustus 2005. Syumanda. Kebakaran hutan di Indonesia yang terjadi tahun 1997/1998 merupakan kebakaran yang terbesar dalam sejarah kebakaran hutan di dunia. Taconi.2001). mencakup 3 (tiga) fase prosedur yaitu :    Fase Pra Bencana Fase Bencana Fase Pasca Bencana Kebakaran Hutan. Hasil analisis data yang dilakukan WALHI dengan menggunakan data hotspot yang dikeluarkan LAPAN tertanggal 1 . diketahui kebakaran terjadi di 65 konsesi HTI. khususnya setelah bencana El Nino (ENSO) 1997/98 yang menghanguskan lahan hutan seluas 25 juta hektar di seluruh dunia (FAO 2001. 2003 mendapatkan angka kerugian senilai 2 milyar lebih untuk sebuah kebakaran tidak lebih dari 10 hari.406 titik api.500 m2. R. Angka ini diperoleh dari hitungan bahwa pada awal Juni ini kita sudah menemukan 2. semak belukar dan padang rumput terbakar.Ditinjau dari sektor kesehatan.18 Agustus 2005 dan ditumpang tindihkan (overlay) dengan Peta Pelepasan Kawasan untuk Perkebunan. Syumanda. Taconi. di 100 konsesi perkebunan dan di 31 . Rowell dan Moore 2001). Peta Konsesi HPH dan HTI yang dikeluarkan Departemen Kehutanan.. Sekitar 10 juta hektar hutan.7 juta hektar.2005) . strategi pengendalian dampak pencemaran udara akibat kebakaran hutan sebagaimana tertuang dalam Kepmen Kesehatan RI no. (Cifor. 2003 menyebutkan bahwa informasi tentang luas dan lokasi kebakaran hutan pada 1997/98 dikumpulkan dan perkiraan luas kawasan yang dilanda kebakaran hutan direvisi dari 9. Kebakaran hutan yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 merupakan bencana besar bagi lingkungan dan ekonomi. maka propinsi Riau mengalami kebakaran terbesar dibanding dengan propinsi lainnya. ditemukan i 3258 hotspots yang tersebar di hampir di seluruh Propinsi Riau kecuali Pekanbaru dan terindikasi terjadi di 100-an perusahaan kehutanan di Riau. 1 titik hotspot mewakili luas 1. Dari hasil pemantauan WALHI dan beberapa ornop di Sumatera dan Kalimantan menunjukan bahwa sampai tanggal 18 Agustus 2005 di Sumatera terdapat 4482 titik panas yang tersebar hampir seluruh Sumatera kecuali Bengkulu. 2005 mengatakan bahwa untuk kebakaran hutan tahun 2005. Diasumsikan dengan resolusi paling tinggi. 2003 mengatakan bahwa belakangan ini kebakaran hutan semakin menarik perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi.

Sebagai contoh : pada bulan Juli 1997 terjadi kasus kebakaran hutan. baik yang disengaja maupun tidak disengaja. contohnya adalah pemadaman.konsesi HPH. Penanganan jenis ini. provinsi. bahkan pada tahun 2008 ini. Berdasarkan data yang ada. yaitu penanganan yang bersifat represif dan penanganan yang bersifat preventif. namun yang lazim digunakan adalah 3 cara berikut: a. Ketidakefektifan penanganan ini juga terlihat dari masih terus terjadinya kebakaran di hutan Indonesia. pemetaan daerah rawan yang dibuat berdasarkan hasil olah data dari masa lalu maupun hasil prediksi b. lebih banyak didominasi oleh penanganan yang sifatnya represif. sampai unit kesatuan pengelolaan hutan. Jadi penanganan yang bersifat preventif ini ada dan dilaksanakan sebelum kebakaran terjadi. Upaya untuk menangani kebakaran hutan ada dua macam. penanganan menjadi lambat dan efek yang muncul (seperti : kabut asap) sudah sampai ke Singapura dan Malaysia. yaitu penanggungjawab di setiap tingkat harus mengupayakan terbentuknya fungsi-fungsi berikut ini : 1. Ada kesamaan bentuk pencegahan yang dilakukan diberbagai tingkat itu. pencegahan kebakaran hutan perlu dilakukan secara terpadu dari tingkat pusat. dan lain-lain. peristiwa kebakaran hutan pada bulan Agustus terjadi di 196 konsesi perusahaan kehutanan dan perkebunan (Syumanda. namun karena banyaknya kendala. Oleh karena itu. daerah. penanganan yang dilakukan pemerintah dalam kasus kebakaran hutan. meskipun hukuman yang dijatuhkan tidak membuat mereka jera. Mapping : pembuatan peta kerawanan hutan di wilayah teritorialnya masing-masing. berbagai ketidakefektifan perlu dikaji ulang sehingga bisa menghasilkan upaya pengendalian kebakaran hutan yang efektif. Hal ini terbukti dari pembakaran hutan yang terjadi secara terus menerus. Sejumlah pihak didakwa sebagai pelaku telah diproses. penanganan yang bersifat preventif adalah setiap usaha. proses peradilan bagi pihakpihak yang diduga terkait dengan kebakaran hutan (secara sengaja). Dengan demikian. 2005). Sementara itu. Upaya pemadaman sudah dijalankan. Penanganan kebakaran hutan yang bersifat represif adalah upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi kebakaran hutan setelah kebakaran hutan itu terjadi. penanganan yang sifatnya represif ini tidak efektif dalam mengatasi kebakaran hutan di Indonesia. pemetaan daerah rawan yang dibuat seiring dengan adanya survai desa (Partisipatory Rural Appraisal) . tindakan atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka menghindarkan atau mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Selama ini. Upaya Preventif Pencegahan Kebakaran Hutan Menurut UU No 45 Tahun 2004. Fungsi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara.

pemetaan daerah rawan dengan menggunakan Global Positioning System atau citra satelit Informasi : penyediaan sistem informasi kebakaran hutan. sedangkan pengawasan adalah tindak lanjut dari hasil analisis pemantauan. harus diterapkan sistem pelaporan yang sederhana dan mudah dimengerti masyarakat.2. meskipun standar ini bisa disesuaikan kembali sehubungan dengan potensi terjadinya kebakaran hutan. Pemantauan adalah kegiatan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya perusakan lingkungan. Penyuluhan dimaksudkan agar menginformasikan kepada masyarakat di setiap wilayah mengenai bahaya dan dampak. diperlukan analisis yang tepat sehingga bisa dijadikan sebuah dasar untuk kebijakan yang tepat. c. . Penyuluhan juga bisa menginformasikan kepada masayarakat mengenai daerah mana saja yang rawan terhadap kebakaran dan upaya pencegahannya. diperlukan standar yang baku dalam berbagai hal berikut :  Metode pelaporan Untuk menjamin adanya konsistensi dan keberlanjutan data yang masuk. 5. Jadi. Ketika data yang masuk sudah lancar. 3. serta peran aktivitas manusia yang seringkali memicu dan menyebabkan kebakaran hutan. Deteksi dini dapat dilaksanakan dengan 2 cara berikut :  analisis kondisi ekologis. 4. dan sumber daya manusia yang tersedia di daerah. fasilitas pendukung. sosial. dan ekonomi suatu wilayah  pengolahan data hasil pengintaian petugas Sosialisasi : pengadaan penyuluhan. Hal ini bisa dilakukan dengan pembuatan sistem deteksi dini (early warning system) di setiap tingkat.  Peralatan Standar minimal peralatan yang harus dimiliki oleh setiap daerah harus bisa diterapkan oleh pemerintah. Adanya standardisasi ini akan memudahkan petugas penanganan kebakaran untuk segera mengambil inisiatif yang tepat dan jelas ketika terjadi kasus kebakaran hutan Supervisi : pemantauan dan pengawasan kepada pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan hutan. Standardisasi : pembuatan dan penggunaan SOP (Standard Operating Procedure) Untuk memudahkan tercapainya pelaksanaan program pencegahan kebakaran hutan maupun efektivitas dalam penanganan kebakaran hutan. Pembinaan merupakan kegiatan yang mengajak masyarakat untuk dapat meminimalkan intensitas terjadinya kebakaran hutan. khususnya data yang berkaitan dengan kebakaran hutan.  Metode Pelatihan untuk Penanganan Kebakaran Hutan Standardisasi ini perlu dilakukan untuk membentuk petugas penanganan kebakaran yang efisien dan efektif dalam mencegah maupun menangani kebakaran hutan yang terjadi. pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat.

aparatur pemerintah. serta kalangan swasta perlu menyediakan fasilitas yang memadai untuk memungkinkan terselenggaranya Pencegahan Kebakaran Hutan secara efisien dan efektif. Peran serta masyarakat menjadi kunci dari keberhasilan upaya pencegahan ini. yaitu : o Pemantauan terbuka : Pemantauan dengan cara mengamati langsung objek yang diamati. dan keterangan dari data-data sekunder. 2) Pengembangan organisasi penyelenggara Pencegahan Kebakaran Hutan Pencegahan Kebakaran Hutan perlu dilakukan secara terpadu antar sektor. dibagi menjadi empat. dan sosialisasi kebijakan yangberkaitan dengan kebakaran hutan. Sementara itu. Untuk mendukung keberhasilan. transfer data. diperlukan berbagai pengembangan fasilitas pendukung yang meliputi : 1) Pengembangan dan sosialisasi hasil pemetaan kawasan rawan kebakaran hutan Hasil pemetaan sebisa mungkin dibuat sampai sedetail mungkin dan disebarkan pada berbagai instansi terkait sehingga bisa digunakan sebagai pedoman kegiatan institusi yang berkepentingan di setiap unit kawasan atau daerah. . pengawasan dapat dilihat melalui 2 pendekatan. Sedangkan. upaya pencegahan yang sudah dikemukakan diatas. Pemantauan. laporan.pemantauan berkaitan langsung dengan penyediaan data. menurut kementerian lingkungan hidup. tingkatan dan daerah. Contohnya : melakukan survei ke daerah-daerah rawan kebakaran hutan. o Pemantauan aktif Pemantauan dengan cara memeriksa langsung dan menghimpun data di lapangan secara primer. yaitu : o Preventif : kegiatan pengawasan untuk pencegahan sebelum terjadinya perusakan lingkungan (pembakaran hutan). militer dan kepolisian. Hal ini akan mendukung kelancaran early warning system. termasuk laporan pemantauan tertutup.kemudian pengawasan merupakan respon dari hasil olah data tersebut. 3) Pengembangan sistem komunikasi Sistem komunikasi perlu dikembangkan seoptimal mungkin sehingga koordinasi antar tingkatan (daerah sampai pusat) maupun antar daerah bisa berjalan cepat. Contoh : patroli hutan o Pemantauan tertutup (intelejen) : Pemantauan yang dilakukan dengan cara penyelidikan yang hanya diketahui oleh aparat tertentu. o Pemantauan pasif : Pemantauan yang dilakukan berdasarkan dokumen. Contohnya : pengawasan untuk menentukan status ketika akan terjadi kebakaran hutan o Represif : kegiatan pengawasan yang bertujuan untuk menanggulangi perusakan yang sedang terjadi atau telah terjadi serta akibat-akibatnya sesudah terjadinya kerusakan lingkungan.

baik secara tradisional (oleh masyarakat). Dengan demikian secara global fungsi hutan terutama sebagai fungsi klimatologis (penyerap/ rosot karbon) dan fungsi ekologis (sebagai habitat biodiversitas) juga mengalami penurunan. Penyebab dan Kerugiannya Kasus kebakaran hutan yang besar di Indonesia dimulai sejak 1980 an. Hal ini dapat dipahami bahwa kegiatan tradisional tersebut telah lama diakukan oleh masyarakat tradisional dengan kearifan lokalnya tidak pernah terjadi kebakaran besar. Hutan-hutan tropis basah yang belum ditebang (belum terganggu) umumnya benar-benar tahan terhadap kebakaran dan hanya akan terbakar setelah periode kemarau yang berkepanjangan. Namun selama ini sebagaimana sudah diketahui banyak pihak. Salah satu penyebab deforestasi hutan adalah kasus kebakaran hutan. Dapat dikatakan bahwa kebakaran hutan adalah side efek dari kesalahan kebijakan dan pengelolaan hutan di Indonesia. terutama selama musim kering. Penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bisa bermacam-macam. imas dan bakar.5. mesikpun pada masa itu juga telah terjadi el Nino. 2003 bahwa meningkatnya frekuensi dan intensitas kebakaran hutan di Indonesia seperti Riau. juga mengurangi kemampuan hutan dalam perannya sebagai fungsi klimatologis atau rosot karbon. dan ditumbuhi semak belukar. Sumatera ataupun di Kalimantan merupakan salah satu akibat dari salah urus pengelolaan hutan sejak awal. Sebaliknya. Kedua fungsi hutan tersebut sangat erat kaitannya dengan kepentingan nasional maupun internasional. . Kebakaran hutan dan lahan merupakan fenomena yang sudah sering terjadi di berbagai tempat di Indonesia. penyebab utamanya adalah akibat aktivitas pembukaan lahan (land clearing) dengan menggunakan api (dibakar). yang akhirnya menjadi ritme keseharian industri kehutanan dan perkebunan di Indonesia. Upaya menyalahkan perladangan tradisional gilir balik adalah sangat tidak beralasan. Kontribusi kebakaran hutan dengan emisi CO2 pada GRK adalah sangat signifikan.2. melepaskan jumlah karbon yang jauh lebih banyak daripada mangrove yang terbakar. Dampak peningkatan GRK ini adalah terjadinya pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim global yang pada akhirnya berdampak pada semua bentuk kehidupan di bumi. mengalami degradasi. yang berdampak ganda disamping mempertinggi emisi CO2 ke atmosfer. hutan-hutan yang telah dibalak. Pada hutan rawa gambut yang terbakar. Munculnya Kasus Kebakaran Hutan. jauh lebih rentan terhadap kebakaran. konversi lahan HPHTI/Perkebunan sawit (swasta). Sependapat dengan Hidayat dkk. ketika industri perkebunan mulai menggeliat dan mulai mempraktekkan budaya tebang.

Perhitungan tersebut belum memasukkan nilai Tegakan Kayu. abu yang tersisa akan mampu menaikkan pH tanah menjadi 5 – 6 sehingga layak untuk ditanami. mencapai lebih dari 2 Milyar rupiah untuk kebakaran hutan tahun 1997/1998 pada delapan provinsi. Fakultas Kehutanan . Di sebagian Kalimantan dan Sumatera misalnya. Demikian halnya dengan PP No. berbagai studi dan kajian telah dilakukan. Pembakaran hutan dan lahan dibeberapa tempat juga dijadikan pilihan untuk menaikkan pH tanah. Dengan melakukan pembakaran. Hasil Hutan Non Kayu. bersama UU No. Sulawesi. yang bila dihitung akan melebihi angka tersebut. Kita bisa membandingkan dengan negara Malaysia yang memberlakukan kebijakan tegas (tanpa kecuali) tentang larangan pembukaan lahan dengan cara bakar. pembukaan HTI dan perkebunan (sektor swasta) serta konflik penguasaan wilayah hutan. dengan pH berkisar antara 3 . 41/99 juga tidak memberikan mandat secara spesifik sama sekali untuk mengembangkan PP tentang kebakaran hutan.Dalam skala lokal kasus kebakaran hutan di Riau dan juga kebakaran hutan di Kalimantan.4 membuat komoditi perkebunan tidak cocok untuk tumbuh dikawasan tersebut. Pemerintah kurang serius untuk meminimalisir apalagi menindak pelaku pembakaran. Bahkan sejumlah bantuan dari UNDP pada tahun 1998 yang telah menghasilkan Rancang Tindak Pengelolaan Bencana Kebakaran tidak dimanfaatkan. dan pulau-pulau lainnya berpengaruh antara lain pada aspek ekonomi (PAD) dan aspek ekologis dan juga segala aspek kehidupan masyarakat terutama aspek sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat. Fungsi Rekreasi. Sebagai contoh bahwa larangan membakar hutan yang terdapat dalam UU Kehutanan ternyata dapat dimentahkan untuk tujuan-tujuan khusus sepanjang mendapat izin dari pejabat yang berwenang (pasal 50 ayat 3 huruf d). Provinsi Riau tentunya menderita kerugian terbesar mengingat Riau mengalami kebakaran terbesar. Jika perhitungan ini memasukkan luasan yang tidak lagi mengeluarkan panas sehingga tak terdeteksi sebagai hot spot tentu nilai yang terhitung akan jauh lebih besar lagi. Sumber Genetika. UU ini juga secara tegas memberikan denda sebesar 500. Keaneka-ragaman Hayati dan Perosot Emisi Karbon. Perhitungan kerugian kebakaran hutan sangatlah besar.000 ringgit dan/ 5 tahun penjara baik bagi pemilik mapun penggarap lahan. Sejak bencana kebakaran hutan yang terjadi di tahun 1997. Dapat disimpulkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah faktor manusia dan faktor yang memicu meluasnya areal kebakaran adalah kegiatan perladangan oleh masyarakat yang sembrono. 6/99 tentang Pengusahaan Hutan dan Pemungutan Hasil Hutan pada Hutan Produksi dimana tidak ada satupun referensinya yang menyinggung masalah pencegahan kebakaran hutan dalam konteks pengusahaan hutan. UU Kehutanan No 41 tahun 1999 kurang memberikan perhatian yang memadai bagi upaya penanggulangan kebakaran. Fungsi Ekologi. Bahkan UU No 23/97 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Berbagai usaha pemadaman kebakaran dilakukan berdasarkan koordinasi di antara beberapa lembaga yang terkait. Kenyataan diatas menunjukkan bahwa prospek adanya suatu kebijakan yang efektif untuk menjawab masalah kebakaran yang muncul setiap tahun sampai saat ini masih suram. propinsi dan daerah dalam menangani kebakaran. Pada bulan Februari 2001. Berbagai lembaga yang terlibat dalam pengelolaan kebakaran tidak memi l iki mandat yang memadai. 4 tahun 2001). 2. pemerintah mengeluarkan satu peraturan baru tentang kebakaran hutan (Peraturan Pemerintah No. yang meliputi polusi dan kerusakan terhadap lingkungan yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan.6. Namun demikian berbagai undang-undang ini jarang ditegakkan. Lembaga operasional kebakaran hutan dfisebut dengan Brigade Kebakaran Hutan. dan pada saat penulisan laporan. diberi nama Manggalka Agni/GALAAG. dalam usaha untuk menghentikan sikap sal ing menyalahkan di kalangan berbagai cabang lembaga pemerintah. tidak ada hukuman resmi penting yang dijatuhkan. Namun menjelang pertengahan tahun 2001 kebakaran hebat telah membakar sebagian besar Sumatera dan Kalimantan pada bulan Juli. baik di tingkat nasional dan di tingkat propinsi. Kelembagaan Kebakaran Hutan Departemen Kehutanan merupakan satu-satunya lembaga pemerintah dengan tugas khusus untuk pencegahan dan pengendal ian kebakaran. Peraturan baru ini mengatur tanggung jawab masing-masing pemerintah pusat. tetapi kebijakan ini tidak terkoordinasi dengan baik dan umumnya tidak ditegakkan. Secara kelembagaan Indonesia belum memiliki suatu organisasi pengelolaan kebakaran yang benar-benar profesional. yang menghambat pencegahan kebakaran lahan dan usaha untuk memadamkan api pada tahun-tahun sebelumya. Direktorat untuk menanggulangi kebakaran hutan berada di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA). menyebarkan kabut sampai jauh ke Malaysia dan Thailand bagian selatan. hampir tidak ada tindakan resmi yang diambi l untuk menghukum berbagai perusahaan yang terlibat dalam pembakaran.IPB bersama Departemen Kehutanan dan ITTO juga menelurkan rancangan kebijakan yang menghasilkan rekomendasi kebijakan operasional. tingkat . dan semua itu belum diadopsi menjadi kebijakan pemerintah. Indonesia juga memiliki beragam undang-undang lingkungan dan peraturan lainnya yang menghukum pelaku pembakaran yang dilakukan secara sengaja.7. Bahkan akibat kebakaran tahun 1997-1998. 2. Peraturan Kebakaran Hutan dan Sanksi Pembakar Hutan Beberapa lembaga pemerintah memiliki berbagai kebijakan tentang pencegahan dan pengendalian kebakaran.

diantaranya adalah bahwa dalam menggunakan api harus ditunggui dan jika ditinggalkan maka api harus benarbenar sudah padam.8. wewenang dan tanggung jawab kelembagaan yang tidak jelas. dan berbagai kemampuan kelembagaan lokal yang lemah. 2.kemampuan dan peralatan yang tidak memadai untuk melakukan tugas-tugas mereka. Praktek Swalling dan Prescribe Burning telah lama dipraktekkan untuk mengelola hutan. Beberapa kelemahan pokok dalam hal pemadaman kebakaran di Indonesia yang diidentifikasi oleh kajian Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup/UNDP meliputi: tumpang tindihnya fungsi di antara berbagai lembaga yang berbeda. Pengurangan Resiko Kebakaran Hutan Pada dasarnya resiko kebakaran hutan dapat dikurangi. mandat yang tidak memadai. . Kearifan lokal masyarakat tradisional yang terbukti membuat selamat hutan selama ratusan tahun perlu digali dengan lebih dalam. Kalangan rimbawan telah familiar dengan istilah manajemen api. Hal ini mengacu pada praktek masyarakat tradisonal yang telah eksis ratusan tahun memanfaatkan api dalam usaha perladangan berpindah.

dan pada berbagai aspek baik ekonomi. maupun sosial. mencakup tingkat kebakaran hutan yang terjadi. namun demikian saat ini semakin terancam akibat sering terjadinya kebakaran hutan dari tahun ke tahun. Luas hutan Indonesia kini diperkirakan mencapai 120. serta sumber pendapatan masyarakat lokal. Bahwa api tidak bisa sepenuhnya dihilangkan dari ekosistem hutan. Indonesia mempunyai luas hutan yang menempati urutan ke tiga dunia setelah Brasil dan Zaire. dampak terhadap kesehatan (berbagai macam penyakit yang ditimbulkan) dan . dan juga bagi kesehatan manusia. serta berskala lokal. regional. Kebakaran hutan merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan dampak merugikan di bidang kesehatan dan bidangbidang lainnya. beberapa tipe vegetasi hutan merupakan klimaks api. maupun sosial. penyebab kebakaran hutan. ekologi. lemahnya peraturan perundangan dan penegakan aturan yang ada. Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk mencermati kasus kebakaran hutan di Indonesia yang terjadi dari tahun 1998-2005. 2003).35 juta ha. ekologi. Penyebab kebakaran hutan di Riau ataupun di tempat lain di Indonesia bersumber pada kebijakan pengelolaan hutan. internasional. Hutan dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu merupakan salah satu sumber daya alam yang penting bagi Indonesia. atau 63 persen luas daratan (Herdiman. Pengurangan resiko kebakaran hutan dapat ditempuh dengan mempertimbanglkan kearifan lokal dari masyarakat tradisional Rimbawan telah menggunakan api dalam praktek kehutanan yang dikenal dengan istilah manajemen api dalam bentuk Swalling dan Prescribe Burning.BAB III PENUTUP I. KESIMPULAN Kebakaran hutan dalam skala besar merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan kerusakan dan kerugian baik pada aspek ekonomi. Dengan sumber yang cukup tinggi bagi pendapatan ekspor. lapangan kerja. dan mekanisme sistem/kelembagaan yang bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan. dan global. dan dapat dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung bagi ekosistem kontribusinya terhadap peningkatan emisi karbon dan dampaknya bagi keanekaragaman hayati. nasional.

Pengurangan resiko kebakaran hutan dapat ditempuh dengan mempertimbanglkan kearifan lokal dari masyarakat tradisional. . Kebakaran hutan dalam skala besar merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan kerusakan dan kerugian baik pada aspek ekonomi. seperti: o o o o o Penghijauan dan reboisasi atau penanaman kembali pohon-pohon Menghentikan pembakaran hutan secara terus-menerus Membentuk gerakkan penghijauaan secara berkalah Melakukan tebang pilih secara teratur Jangan melakukan tindakan yang bisa merugikan seperti hutan terbakar yang dilekukan secara sengaja. maupun sosial. kita sebagai masyarakat hendaknya melakukan hal yang positif. Penyebab kebakaran hutan di Indonesia bersumber pada kebijakan pengelolaan hutan. dan juga bagi kesehatan manusia.pengendalian/pengatasan masalah kebakaran hutan dalam kontek pembangunan kehutanan berkelanjutan di Indonesia. dan mekanisme sistem/kelembagaan yang bertanggung jawab terhadap kebakaran hutan. Rimbawan telah menggunakan api dalam praktek kehutanan yang dikenal dengan istilah manajemen api dalam bentuk Swalling dan Prescribe Burning. Kasus kebakaran hutan yang besar di Indonesia dimulai sejak 1980 an. ketika industri perkebunan mulai menggeliat dan mulai mempraktekkan budaya tebang. Bahwa api tidak bisa sepenuhnya dihilangkan dari ekosistem hutan. II. ekologi. beberapa tipe vegetasi hutan merupakan klimaks api. imas dan bakar. dan dapat dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung bagi ekosistem kontribusinya terhadap peningkatan emisi karbon dan dampaknya bagi keanekaragaman hayati. SARAN Sebaiknya untuk mencegah kebakaran hutan. lemahnya peraturan perundangan dan penegakan aturan yang ada.

Jakarta. Eksekutif Data Strategis Kehutanan 2003.wikipedia. A. dalam FFPMP 2 UPDATE. March 2005. Ditjen PHKA-Dephut-RI.com/akibat-pencemaran-kebakaran-hutan. Jakarta. FWI/GFW. C. Mobilisasi/Sistem Komando Pemadaman Kebakaran Hutan di Propinsi Jambi. Ginson. Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan. 2001. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Dephut-Jica. . 2005.: Global Forest Watch. Bogor . Iowa.H. Ditjen PHKA Dephut. Forest Protection and Nature Conservation. 2005. Kendall/Hunt Publishing Company. Jakarta.V..BAB IV DAFTAR PUSTAKA Departemen Kehutanan.C. Dubuque. Ebert. . Keadaan Hutan Indonesia. Indonesia: Forest Watch Indonesia dan Washington D. . Ditjen PHKA. 1988. http://www. Disasters Violence of Nature and Threats by Man.

. maupun global . 1988 mengelompokkan kebakaran hutan kedalam 4 (empat) tipe. Keadaan Hutan Indonesia. Mass Fire.: Global Forest Watch. Ditjen PHKA Dephut. sebagian besar dibakar dengan sengaja Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan. Namun kini telah mengalami degradasi yang luar biasa Departemen Kehutanan. Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai risiko terkena dampak EL-NINO dan La-Nina FWI/GFW.Nama NPM : Harry Norman : G1B0011004 Artikel Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Sekitar 10 juta hektar hutan. berskala lokal. yang masing-masing mempunyai skala dampak yang berbeda. antara lain kerusakan ekologi. dan merupakan hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Crown Fire. Kebakaran hutan yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 merupakan bencana besar bagi lingkungan dan ekonomi. Berdasarkan lokasi biomassa dan perilaku api. Jakarta. salah satunya adalah dari kekayaan hutan yang merupakan sandaran hidup bagi sekitar 60 juta rakyat yang bermukim di dan sekitar hutan ( http://www.C. Jakarta. menurunnya keanekaragaman sumber daya hayati dan ekosistemnya. langsung maupun tidak langsung pada berbagai bidang maupun sektor.wikipedia. 2001. serta penurunan kualitas udara. semak belukar dan padang rumput terbakar. Bogor . regional.com/akibat-pencemaran-kebakaran-hutan ) Hutan Indonesia memiliki berbagai species yang beraneka ragam. Indonesia: Forest Watch Indonesia dan Washington D. baik fisik maupun non fisik. Eksekutif Data Strategis Kehutanan 2003. Dampak kebakaran menyangkut berbagai aspek. Ebert. nasional. Secara umum dampak kebakaran hutan terhadap lingkungan sangat luas. yaitu: Ground Fire. Surface Fire.

. Dephut-Jica. . Di sebagian Kalimantan dan Sumatera misalnya. Mobilisasi/Sistem Komando Pemadaman Kebakaran Hutan di Propinsi Jambi. A.( http://www. March 2005 Salah satu penyebab deforestasi hutan adalah kasus kebakaran hutan. Jakarta. Kendall/Hunt Publishing Company. dalam FFPMP 2 UPDATE. Mobilisasi/Sistem Komando Pemadaman Kebakaran Hutan di Propinsi Jambi. Perhitungan kerugian kebakaran hutan sangatlah besar. dalam FFPMP 2 UPDATE.wikipedia. juga mengurangi kemampuan hutan dalam perannya sebagai fungsi klimatologis atau rosot karbon.H. Forest Protection and Nature Conservation.V.com/akibat-pencemaran-kebakaran-hutan ) Dari hasil pemantauan WALHI dan beberapa ornop di Sumatera dan Kalimantan menunjukan bahwa sampai tanggal 18 Agustus 2005 di Sumatera terdapat 4482 titik panas yang tersebar hampir seluruh Sumatera kecuali Bengkulu Ginson. 2005. Iowa. Ditjen PHKA-Dephut-RI. Dubuque. Disasters Violence of Nature and Threats by Man. Kedua fungsi hutan tersebut sangat erat kaitannya dengan kepentingan nasional maupun internasional. March 2005 Pembakaran hutan dan lahan dibeberapa tempat juga dijadikan pilihan untuk menaikkan pH tanah. yang berdampak ganda disamping mempertinggi emisi CO2 ke atmosfer. Ginson. 2005. 2005. Ebert. Provinsi Riau tentunya menderita kerugian terbesar mengingat Riau mengalami kebakaran terbesar. C. Dephut-Jica.4 membuat komoditi perkebunan tidak cocok untuk tumbuh dikawasan tersebut Ditjen PHKA. A. mencapai lebih dari 2 Milyar rupiah untuk kebakaran hutan tahun 1997/1998 pada delapan provinsi. Dengan demikian secara global fungsi hutan terutama sebagai fungsi klimatologis (penyerap/ rosot karbon) dan fungsi ekologis (sebagai habitat biodiversitas) juga mengalami penurunan. . dengan pH berkisar antara 3 . Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.. 1988.

Jakarta. . dan dapat dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung bagi ekosistem kontribusinya terhadap peningkatan emisi karbon dan dampaknya bagi keanekaragaman hayati. Ditjen PHKA-Dephut-RI.Kebakaran hutan dalam skala besar merupakan salah satu sebab degradasi hutan dan terbukti menimbulkan kerusakan dan kerugian baik pada aspek ekonomi. 2005. Forest Protection and Nature Conservation. ekologi. maupun sosial. dan juga bagi kesehatan manusia. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Ditjen PHKA.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->